Ceritasilat Novel Online

Pendekar Buta 7

Eps 7 Pendekar Buta - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Buta - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Buta - Kho Ping Hoo.

Hanya jerit ini saja terdengar satu kali dari dalam pondok di malam sunyi itu, kemudian sunyi tak terdengar suara apa-apa lagi.

"Ibu...!"

A Wan lari memasuki rumah itu.

Anak ini tidak berhasil mengundang datang Sinshe Thio.

Hal ini tidaklah mengherankan.

Sinshe mana yang sudi dipanggil oleh keluarga miskin?

Selain tidak dapat mengharapkan pembayaran yang banyak, jangan-jangan malah harus merogoh saku membelikan obat!

Sinshe Thio mendengar permintaan A Wan supaya suka datang ke rumahnya mengobati seorang Paman yang "jatuh"

Dan luka-luka, hanya menggeleng kepala sambil mengebulkan asap Huncwe (pipa tembakau) yang tebal dan berbau apek ke muka A Wan. Tanpa "uang muka"

Dua tail perak dia tidak akan sudi berangkat, katanya.

A Wan membujuk-bujuk, memohon dan bahkan menangis, namun sin-she Thio tidak melayaninya, malah ditinggal masuk.

A Wan adalah anak yang keras hati, dia tidak putus asa, terus saja dia mengetuk-ngetuk pintu dan merengek-rengek.

Akhirnya, bukan dituruti permohonannya, malah kepalanya mendapat benjol-benjol karena pukulan Huncwe Sinshe itu pada kepalanya.

Sambil menangis akhirnya A Wan berlari pulang dan dia merasa hatinya amat tidak enak memikirkan keadaan si Paman buta.

Jarak yang amat jauh itu ditempuhnya sambil berlari-lari dan seperti ada firasat tidak baik dia mempercepat larinya, malah telinganya serasa mendengar suara Ibunya memanggil-manggilnya.

Dapat dibayangkan betapa kaget, ngeri, dan bingungnya ketika dia masuki pondok, dia melihat tubuh Ibunya tergantung pada ikat pinggang yang ditalikan ke atas tiang.

Ikat pinggang itu melilit leher Ibunya dan dengan mata terbelalak dia melihat betapa kedua kaki Ibunya masih berkelojotan.

Biarpun merasa ngeri dan takut, namun A Wan adalah anak cerdik.

Dia hanya terpaku sebentar, cepat dia merayap naik tiang sambil memekik-mekik dan memanggil nama Ibunya.

Jari-jari tangannya gemetar ketika dia merenggut-renggut ikat pinggang yang terikat kuat-kuat pada tiang.

Seperti seekor kera dia melorot kembali, lari ke dapur mengambil pisau merayap naik lagi dan akhirnya dia dapat memotong ikat pinggang itu sampai putus dan tubuh Ibunya jatuh berdebuk di atas tanah.

"Ibu...! Ibu...!!"

A Wan menubruk dan merangkul Ibunya, menangis sambil menciumi muka Ibunya yang pucat membiru.

"Ibu... kenapa Ibu... ah, bagaimana ini...? Ibuuuuu...!"

Jerit terakhir yang keluar dari mulut A Wan ini seakan-akan dapat membetot kembali semangat janda muda itu yang sudah meninggalkan tubuhnya.

Bibir yang biru itu berkomat-kamit, biji mata yang sudah melotot tanpa cahaya itu bergerak-gerak, lalu terdengar suara janda muda yang bernasib malang itu berbisik-bisik.

"A Wan... balas... budi Kwa Kun Hong... balas... dendam The Sun..."

"Ibu...!Ibuuuuu...!! Ibuuuuu...!!!"

A Wan menggoncang-guncang tubuh Ibunya yang makin lama makin lemas dan makin dingin karena pada saat itu janda muda ini sudah terbebas daripada duka nestapa dan derita sengsara dunia.

Matanya yang tadi melotot sudah meram, mulutnya menyungging senyum dan biarpun muka itu kini pucat dan rambutnya awut-awutan, namun kelihatan tenang dan damai, makin nyata kecantikan aselinya.

Sebaliknya, puteranya yang masih hidup, yang sedang berkembang dalam hidup, nnenangis menggerung-gerung dan memanggil-manggilnya.

Alangkah ganjil penglihatan ini.

Yang hidup menangisi yang mati.

Yang hidup merasa penuh duka lara.

Yang mati tenang diam begitu damai dan tenteram.

Tidakkah janggal ini?

Sudah benarkah itu kalau yang hidup menangisi yang mati?

Ataukah harus sebaliknya?

Kita tinggalkan dulu Yo Wan atau A Wan yang sedang menangis menggerung-gerung memenuhi malam sunyi itu, suara tangisannya tersaing dengan kentung peronda dan dengan suara doa dari kelenteng-kelenteng berdekatan.

Mari kita mengikuti keadaan Kun Hong yang dalam keadaan pingsan dibawa lari oleh seorang gadis aneh.

Kun Hong benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya sejak dia menabrak pohon dan roboh pingsan di belakang pondok itu.

Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan janda Yo setelah dia siuman sebentar hanya untuk mengenal suara mereka Ibu dan anak.

Malah dia pun tidak sadar ketika tubuhnya dikempit oleh seorang wanita dan dibawa lari berlompatan di dalam gelap dengan gerakan ringan dan cepat.

Dengan kesigapan dan kecepatan gerakan yang amat hebat wanita itu akhirnya membawa tubuh Kun Hong meloncat tinggi ke atas genteng sebuah rumah gedung, Kemudian bagaikan seekor kucing saja ringan dan cepatnya, ia telah melayang turun dan menerobos masuk ke sebuah kamar di dalam gedung itu melalui jendela yang terbuka daunnya.

Sebuah kamar yang besar dan indah, dengan pembaringan, meja rias, kursi-kursi dan perabotan lain yang serba halus dan mahal.

Sebuah kamar seorang gadis yang kaya-raya, atau patutnya kamar puteri seorang bangsawan besar.

Gadis itu dengan cepat merebahkan tubuh Kun Hong di atas pembaringan yang bertilam kasur dan kain merah berkembang, lalu dengan cekatan ia melakukan pemeriksaan di bawah penerangan lampu yang cukup terang dan besar.

Keningnya berkerut dan sepasang mata yang bening itu menjadi cemas ketika ia melihat luka membiru di punggung dan kulit yang membengkak di pangkal paha karena sebuah luka bergurat panjang yang menghitam!

"Keji!"

Perlahan ia memaki.

"Senjata beracun dan pukulan maut yang amat kuat..."

Tanpa ragu-ragu lagi ia merobek lebih lebar pakaian yang menutupi pangkal paha Kun Hong, lalu mencabut pedangnya dan dengan ujung pedangnya yang tajam dan runcing itu ia menggurat luka membengkak yang darahnya sudah mengering.

Pecahlah kulit itu dan keluar darah yang menghitam.

Gadis itu meletakkan pedangnya di atas ranjang, berlutut di atas ranjang di sebelah Kun Hong, lalu ia membungkuk dan...

tanpa ragu-ragu lagi ia menggunakan mulutnya yang mungil untuk mengecup dan menyedot ke luar darah hitam dari luka di pangkal paha itu!

Beberapa kali meludahkan darah yang telah disedotnya ke atas lantai, lalu menyedot lagi tanpa memperdulikan bau darah menghitam yang tidak enak itu.

Baru ia berhenti setelah ia menyedot darah yang merah segar.

"Hebat..."

Gumannya.

"Kun Hong benar-benar memiliki Sinkang (hawa sakti) yang luar biasa di dalam tubuhnya sehingga biarpun dia pingsan, racun itu tidak dapat menjalar terus ke dalam tubuh, hanya berhenti di sekitar luka. Kalau tidak demikian, ah, tentu dia takkan dapat disembuhkan lagi..."

Gadis itu lalu duduk bersila, menempelkan kedua telapak tangan pada punggung Kun Hong yang ia dorong miring, kemudian ia menyalurkan hawa sakti di dalam tubuhnya untuk memulihkan tenaga dan menyembuhkan luka di dalam dada Kun Hong.

Sejam kemudian Kun Hong bergerak, mengeluh panjang.

Gadis itu cepat menarik kembali kedua tangannya.

Gerakan ini perlahan sekali akan tetapi cukup membuat Kun Hong maklum bahwa dia sedang berbaring dan di dekatnya terdapat seorang yang duduk bersila.

Serentak Kun Hong menggerakkan tubuhnya dan di lain saat dia sudah meloncat turun dari pembaringan dan berdiri dengan bingung tetapi siap dan waspada.

"Kun Hong, syukur kau telah siuman..."

"Hui Kauw...!"

Hampir saja Kun Hong tidak percaya ketika mendengar suara itu, akan tetapi kini hidungnya mencium keharuman yang biasa keluar dari rambut gadis itu.

Apalagi suara itu tak mungkin dapat dia lupakan.

Di antara serIbu macam suara orang dia pasti akan mengenal suara Hui Kauw si nona Bidadari!

"Betul Kun Hong.

Aku Hui Kauw dan kau berada di dalam kamarku."

Kun Hong teringat segalanya dan dia meraba luka di belakang pangkal pahanya.

Dia menjadi heran sekali.

Luka itu sudah bersih daripada racun yang tadinya mengeram di sekitar luka.

Dia menunduk dan tiba-tiba tercium olehnya bau tak enak dari darah yang kotor oleh racun, bau darah yang agaknya berada di lantai.

"Hui Kauw... kau... kau... dengan cara bagaimana kau tadi mengeluarkan racun dari luka di pahaku?"

"Lukamu tadi menghitam, berbahaya sekali kalau menjalar sampai ke jantung. Aku tidak mengerti cara lain, maka tadi kusedot keluar sampai bersih."

Menjawab begini, agak berubah air muka gadis ini karena tahu sekarang ia teringat betapa perbuatannya tadi sesungguhnya amat tidak sopan dan memalukan.

Kun Hong sudah menduga akan hal ini dan dia manyambar dan menggenggam tangan Hui Kauw.

"Hui Kauw alangkah mulia hatimu. Kenapa kau menolongku sampai begitu?"

Dengan suara tegas namun agak gemetar gadis itu menjawab.

"Kun Hong, ingatlah bahwa bagiku, kau adalah... suamiku, dan bagiku menolongmu adalah kewajibanku."

"Hui Kauw... Hui Kauw..."

Terharu sekali Kun Hong dan untuk sejenak kedua orang muda ini saling berpegang kedua tangan diam saja tak berkata-kata, akan tetapi getaran dari dua pasang tangan itu merupakan pelepasan daripada hati yang penuh keharuan dan kerinduan.

Setelah mereda gelora perasaannya Kun Hong melepaskan kedua tangan Hui Kauw, celingukan ke kanan kiri lalu bertanya.

"Mana dia...?"

"Kau mencari siapa?"

"Janda itu... Yo-Twa-So, di mana dia?"

"Oh, kau maksudkan perempuan hina, pelacur itu?"

Kata Hui Kauw, suaranya terdengar kaku karena hatinya mengkal kalau ia teringat akan wanita muda cantik yang genit cabul dan yang ia lihat memeluk Kun Hong itu.

"Perempuan hina? Pelacur? Apa maksudmu, Hui Kauw?"

Kun Hong bertanya dengan perasaan amat heran mengapa gadis yang berperasaan halus dan berbudi mulia ini bisa tiba-tiba memaki-maki janda Yo sedemikian rupa!

"Dia bukan perempuan baik-baik, Kun Hong, bagaimana kau yang tadinya di keroyok dan melarikan diri itu tiba-tiba bisa berada di dalam pondok perempuan itu?

Sayang aku datang terlambat sehingga tahu-tahu sudah mendengar bahwa kau telah melarikan diri dikejar-kejar para perwira Istana."

Teringatlah sekarang Kun Hong akan pertempuran itu dan cepat-cepat dia bertanya.

"Ah, habis bagaimana dengan para anggauta Hwa I Kaipang? Bagaimana jadinya dengan Hwa I Lokai?"

Tanyanya penuh kekhawatiran. Hui Kauw menarik napas panjang.

"Sebagian besar dari mereka tewas. Lebih dua puluh orang tewas, termasuk Ketuanya. Hanya beberapa orang saja selamat, tapi masih menjadi buruan sampai sekarang."

Kun Hong membanting-banting kaki dan dia menangis di dalam hatinya.

"Celaka, aku benar-benar telah membikin celaka banyak orang gagah. Ah... benar-benar celaka, dan benda yang kulindungi, yang menjatuhkan korban banyak orang gagah itu sekarang masih tertinggal di rumah Yo-Twa-So..."

"Hee? Kau tinggalkan Mahkota itu di sana? Tadi aku sudah heran melihat kau menggeletak tanpa apa-apa, malah tongkatmu juga tidak ada. Wah, berbahaya kalau begitu. Kun Hong aku tidak percaya kepada perempuan itu. Tentu sekarang Mahkota dan tongkatmu sudah ia berikan kepada perwira Istana."

Kun Hong menggeleng kepala.

"Kau salah sangka, Hui Kauw. Perempuan itu adalah seorang janda yang dahulu pernah kutolong. Yo-Twa-So orangnya baik, harap kau jangan keliru sangka yang bukan-bukan!"

"Dia baik? Huhh, kau tertipu, Kun Hong. Memang dia seorang janda muda yang cantik manis. Tapi wataknya tidak sebersih mukanya. Dia seorang perempuan genit dan cabul."

"He?? Apa yang telah terjadi sampai kau menuduhnya demikian? Aku melarikan diri dan membentur pohon, tidak ingat apa-apa. Ketika aku sadar, aku sudah berada dalam pondok Yo-Twa-So, lalu aku pingsan tidak ingat apa-apa lagi. Apakah yang telah terjadi? Apakah kau mengenal Yo-Twa-So?"

"Aku tidak kenal perempuan itu. Akan tetapi ketika aku mengejar dan mencarimu, aku melihat dia main gila dengan The Sun, orang kepercayaan Kaisar, penghimpun para orang kang-ouw di Istana. Coba saja bayangkan, dia main gila dengan The Sun dan setelah Kongcu hidung kerbau itu pergi, dia memelukimu dan menangisimu. Hemmm, masih baik aku tidak tusuk dia dengan pedangku, hanya menendangnya roboh ketika aku merampasmu dan membawamu ke sini."

"Celaka...!!"

Tiba-tiba Kun Hong berseru sambil melompat sehingga mengagetkan Hui Kauw. Kemudian Pendekar Buta itu mengeluh dengan suara seperti orang akan menangis.

"Ah, celaka betul... Yo-Twa-So... Yo-Twa-So... mengapa engkau berkorban untukku sampai sehebat itu??"

Kun Hong menutupi mukanya dengan kedua tangan dan dia benar-benar menangis. Hui Kauw memegang tangan Kun Hong, suaranya gemetar karena ia menduga hal-hal yang hebat.

"Kenapa? Apa artinya semua ini Kun Hong??"

"Ah, Hui Kauw, kau tidak tahu. Dia... dia telah berkorban untuk keselamatanku, pengorbanan yang lebih hebat daripada nyawa...! The Sun itulah orangnya yang telah menipuku, dan dia pula yang telah melukai pangkal pahaku secara curang, kemudian dia yang mengejar ketika aku melarikan diri. Dan aku berada dalam pondok Yo-Twa-So dalam keadaan pingsan tak berdaya. Lalu kau melihat Yo-Twa-So... dan The Sun itu... ah, aku dapat membayangkan apa yang telah dilakukan Yo-Twa-So untuk menyelamatkan nyawaku. Yo-Twa-So tentu tahu bahwa kalau The Sun melihat aku di sana tentu aku akan dibunuhnya. Yo-Twa-So mempergunakan senjata tunggalnya sebagai wanita lemah, yaitu kecantikannya dan ia... ah, ia menggunakan itu untuk memikat The Sun sehingga penjahat itu tidak memperhatikan dan tidak mencari aku lagi..."

Bukan main kagetnya hati Hui Kauw mendengar penjelasan ini.

"Wah... celaka... aku malah menendangnya dua kali! Dan kau... kulihat kau berbedak langes hitam mukamu ketika rebah di kamar itu, dan rambutrnu penuh pupur, sekelebatan kau seperti seorang kakek lagi berbaring... wah kau betul Kun Hong! Tentu Yo-Twa-So telah sengaja menaruh semua itu agar kau disangka seorang tua untuk mengelabuhi mata The Sun. Celaka, ah... alangkah bodohku... Kun Hong, kau maafkan kebodohanku..."

Hui Kauw benar-benar merasa menyesal sekali atas kesembronoannya menuduh yang bukan-bukan kepada seorang wanita yang demikian berbudi. Kun Hong memegang lengan Hui Kauw.

"Hui Kauw, hayo antar aku ke sana, sekarang juga. Selain aku harus menghaturkan terima kasih, juga aku merasa khawatir akan keselamatan Yo-Twa-So dan A Wan, anaknya. Juga, aku harus mengambil kembali tongkatku dan Mahkota itu sebelum terjatuh ke tangan The Sun dan kawan-kawannya."

Karena merasa amat menyesal akan perbuatannya terhadap janda muda itu maka Hui Kauw tidak berani membantah lagi.

Digandengnya tangan Kun Hong dan dibawanya Pendekar Buta itu melesat keluar melalui jendela, terus meloncat naik ke atas genteng dan dua orang itu mempergunakan Ginkang mereka berloncatan dari genteng ke genteng, cepat laksana bayangan hantu di malam gelap.

Waktu itu tengah malam sudah jauh terlewat, malah sudah hampir pagi.

Ayam-ayam jantan sudah mulai berkokok dan sungguhpun belum tampak orang-orang keluar dari rumah masing-masing, namun malam gelap sudah mulai melepaskan dunia daripada cengkramannya yang memabukkan.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kun Hong dan Hui Kauw ketika mereka meloncat turun ke halaman rumah kecil janda Yo, mereka mendengar suara tangis seorang anak kecil yang menggerung-gerung penuh kedukaan.

"A Wan, ada apakah...?"

Kun Hong tidak sabar lagi dan cepat mendorong pintu yang sudah berada di depannya bersama Hui Kauw dia lari memasuki pondok kecil itu.

"Ahhhhh...!"

Tangan Hui Kauw yang menggandengnya menggigil dan suara gadis ini gemetar.

"Ada apa? Hui Kauw, kau melihat apa? A Wan, mengapa kau menangis?"

"Paman...!"

A Wan menubruk kaki Kun Hong dan tangisnya makin menjadi-jadi sampai akhirnya dia menjadi sesak napas dan terguling pingsan di kaki Pendekar Buta itu.

"Kun Hong... dia... Yo-Twa-So itu... entah kenapa dia..."

"Mana Yo-Twa-So? Mana...!"

Hui Kauw menarik tubuh A Wan, dikempitnya dan dengan hati tidak karuan ia menuntun Kun Hong maju.

"Dia di lantai..."

Bisiknya.

Kun Hong berlutut, tangannya meraba dan...

begitu menyentuh tubuh janda Yo, jari-jari tangannya cepat bergerak memeriksa nadi tangan, memeriksa detik jantung, meraba leher.

Dia mengeluh panjang, melepaskan tangan mayat itu, lalu menutupi mukanya dengan tangan mulutnya berkata lirih.

"Yo-Twa-So... kau telah berkorban untukku... alangkah besar budi yang kau limpahkan kepadaku. Yo-Twa-So, biarlah aku bersumpah, aku tidak mau menjadi orang sebelum aku membalas ini semua kepada si keparat The Sun..."

"Tidak...!"

Tiba-tiba A Wan yang sudah siuman melepaskan diri dari pangkuan Hui Kauw yang juga menangis perlahan saking terharunya.

A Wan lari menghampiri dan memeluk tubuh Ibunya, lalu memandang Kun Hong dan berkata lagi.

"Tidak, Paman, tidak boleh begitu. Akulah yang akan membalas dendam Ibu terhadap The Sun! Sebelum... sebelum Ibu mati, ia sudah meninggalkan pesan kepadaku supaya membalas budi Paman dan membalas dendam kepada The Sun. Ah, Ibu... Ibu...!!"

Tiba-tiba Kun Hong yang sudah dapat menguasai perasaannya itu bangkit berdiri dan sekali tarik dia telah membuat A Wan berdiri pula.

"Cukup bertangis-tangisan ini! Tanpa kegagahan, mana bisa kau membalas dendam itu? Dan kalau mempelajari kegagahan, harus pantang menangis kau dengar? A Wan, mulai sekarang kau menjadi muridku!"

"Suhu (guru)..."

A Wan menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Hong, terisak-isak menahan tangisnya.

"Sekarang, ceritakan apa yang telah terjadi dengan Ibumu!"

Sambil menahan isaknya A Wan lalu menceritakan pengalamannya semenjak dia dan Ibunya menolong Kun Hong yang sudah menggeletak pingsan di belakang rumah, kemudian betapa dia disuruh Ibunya memanggil Sinshe Thio akan tetapi biarpun dia membujuk-bujuk Sinshe itu tidak mau menolong malah memaki dan memukulnya.

Kemudian dia bercerita dengan air mata bercucuran akan tetapi tidak berani mengeluarkan suara tangisan betapa ketika dia pulang, dia mendengar jerit Ibunya memanggil namanya dan pada waktu dia memasuki rumah, Ibunya sudah menggantung lehernya dengan ikat pinggang.

Kun Hong menarik napas panjang dan menoleh kepada Hui Kauw, berkata dengan suara tergetar.

"Dia mencuci noda dengan nyawa Hui Kauw, adakah orang yang lebih mulia daripadanya?"

Hui Kauw tidak menjawab, hanya terisak perlahan menekan keharuan hatinya ketika ia memandang ke arah mayat nyonya Yo yang menggeletak di lantai.

Perlahan ia melangkah maju, mengangkat mayat itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas pembaringan, lalu menggunakan selimut butut yang berada di situ untuk menutupi tubuh dan muka mayat itu.

Semua ini ia lakukan penuh hormat dan dengan diam-diam, diikuti pandang mata A Wan dan pendengaran Kun Hong.

Ketika menyingkap selimut tadi, Hui Kauw melihat tongkat Kun Hong, diambilnya tongkat itu dan diserahkannya kepada Kun Hong tanpa berkata-kata.

Kun Hong merasa tangannya tersentuh tongkat, dengan hati lega dia menerima senjata ini.

"A Wan, dahulu kau dan Ibumu diantar Lao Tui pergi ke kota Cin-An, bagaimana kau dan Ibumu bisa tinggal di Kota Raja ini?"

Dengan singkat anak itu menuturkan pengalamannya yang penuh duka dan derita.

Memang amatlah buruk nasib dia dan Ibunya.

Lao Tui yang berhati palsu itu kiranya berlaku curang.

Anak dan Ibu ini tidak diantar ke Cin-An sebagaimana yang dikehendaki nyonya Yo, melainkan diam-diam dia bawa ke Kota Raja!

Setelah tiba di Kota Raja mereka menginap dalam sebuah rumah penginapan dan di tempat inilah diam-diam Lao Tui kabur membawa semua uang pemberian Song-Wangwe, membiarkan janda muda itu bersama anaknya sendirian di Kota Raja yang besar dan ramai itu!

Dapat dibayangkan betapa bingung dan susahnya hati nyonya janda Yo.

Seorang wanita dari dusun seperti dia, kini tahu-tahu berada di kota besar tanpa uang tanpa sandaran!

Dengan amat sengsara janda muda ini bekerja keras sebagai tukang cuci, sekedar untuk dapat mencegah kelaparan dan hidup dalam keadaan amat miskin dengan anaknya.

Tentu saja banyak gangguan ia alami, namun janda muda ini berhati keras dan dapat menjaga diri sehingga biarpun ia dan anaknya hidup miskin dan serba kekurangan, menyewa sebuah pondok seperti gubuk, namun di dalam kemiskinan itu ia tetap dapat menjaga kebersihan diri dan namanya.

"Ibu dan Teecu (murid) hidup dalam kemiskinan, Ibu bekerja mencuci pakaian dan Teecu membantu dengan bekerja sebagai penggembala, sampai pada malam hari itu secara kebetulan sekali kami bertemu dengan Suhu,"

A Wan mengakhiri ceritanya yang didengarkan dengan penuh keharuan hati oleh Kun Hong dan Hui Kauw.

"Memang nasib Ibumu amat buruk, akan tetapi besarkan hatimu, Wan-ji, karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukanlah kehendak manusia. Sudah ditakdirkan Ibumu pergi menyusul arwah Ayahmu di waktu ia masih muda. Mereka itu, Ayah bundamu itu, meninggalkan kau seorang diri di dunia, tentu mereka percaya dengan penuh keyakinan bahwa kau sebagai ahli waris mereka akan mewarisi pula budi pekerti Ayahmu yang gagah perkasa wataknya dan Ibumu yang suci budinya."

A Wan mendengarkan dengan muka tunduk untuk menyembunyikan mukanya yang menjadi merah lagi.

"Wan-ji (anak Wan), ketika kau dan Ibumu menolongku ketika aku pingsan, apakah kau melihat buntalan pakaianku? Adakah kau melihat sesuatu dalam buntalan pakaian itu?"

"Suhu maksudkan sebuah benda seperti topi yang gilang-gemilang berwarna kuning?"

"Betul..."

Kun Hong berdebar gembira.

"Di mana berada benda itu?"

"Ada Teecu simpan. Suhu jangan khawatir, Teecu sembunyikan di tempat rahasia. Begitu melihat benda itu, Teecu dapat menduga bahwa tentu Suhu memperebutkan benda itu dengan musuh-musuh Suhu, maka sengaja Teecu sembunyikan selagi Suhu pingsan. Tunggu sebentar Suhu, Teecu hendak mengambilnya, Teecu di belakang rumah."

Anak itu lalu keluar melalui pintu belakang.

"Kun Hong, cerdik sekali Wan-ji itu, pantas dia menjadi muridmu, pula sudah sepatutnya kalau kita membalas budi mendiang Yo-Twa-So..."

Kata Hui Kauw terharu.

"Kau betul, Hui Kauw. Kita harus membantu Wan-ji mengurus penguburan jenazah Yo-Twa-So dan sambil menanti Wan-ji dan datangnya pagi, baik kau ceritakan pengalamanmu. Tadi itu rumah siapakah? Apakah kau berhasil bertemu dengan orang tuamu?"

Dua orang muda itu duduk berhadapan di atas lantai tanah yang hanya bertikar rombeng di rumah itu.

Di dekat mereka, jenazah nyonya janda Yo terbaring kaku.

Api lampu minyak kecil membuat ruangan itu remang-remang.

Suara Hui Kauw yang halus itu terdengar ketika ia mulai menceritakan pengalamannya setengah berbisik-bisik.

Sebaiknya kita ikuti saja pengalaman nona ini semenjak ia berpisah dari Kun Hong setelah membantu pemuda buta itu memperoleh kembali Mahkota kuno dari tangan Hui Siang dan Bun Wan di Pulau Ching-Coa-To.

Hui Kauw meninggalkan Pulau Ching-Coa-To dengan hati penuh duka nestapa dan perasaan hancur.

Memang, baginya pulau itu bukanlah kenangan yang mendatangkan kenangan indah dan andaikata ia dapat pergi meninggalkan pulau ini setahun yang lalu, agaknya ia akan merasa gembira, bahagia dan bebas seperti Burung terlepas dari sangkarnya.

Ching Toa-Nio dan Hui Siang bukanlah merupakan orang-orang yang mengasihinya, sungguhpun ia sendiri cukup berusaha untuk memaksa hati menyayang mereka untuk membalas budi mereka, terutama budi Ching Toa-Nio yang telah memeliharanya semenjak ia kecil, sungguhpun wanita itu telah menculiknya dari tangan Ayah bundanya yang aseli.

Sesungguhnya, andaikata sebelum terjadi peristiwa kerIbutan karena kedatangan Kun Hong di pulau itu, ia telah berhasil meninggalkan pulau, hal itu akan merupakan kebebasan dan kebahagiaan baginya.

Akan tetapi, apa hendak dikata.

Nasibnya menghendaki lain.

Nasib telah mempertemukan ia dengan Kun Hong Pendekar Buta itu, orang muda buta yang sekaligus menarik hatinya, menjatuhkan cinta kasihnya.

Pengharapannya untuk dapat hidup berbahagia sebagai isteri Kwa Kun Hong timbul ketika Ching Toa-Nio membujuknya untuk melakukan upacara pernikahan dengan Si Pendekar Buta.

Menyaksikan wajah Si Pendekar Buta yang simpatik, budi pekertinya yang baik, sikapnya yang gagah perkasa dan kepandaiannya yang tinggi, di dalam hatinya Hui Kauw sudah jatuh benar-benar.

Kebutaan mata Kun Hong tidak mengecewakan hatinya, malah merupakan hIburan baginya karena dengan demikian laki-laki yang ia harapkan menjadi suaminya itu tidak akan dapat melihat betapa wajahnya yang berkulit halus itu berwarna kehitaman yang menurut pandang mata setiap orang laki-laki tentu amat menjemukan dan buruk!

Siapa dapat mengira bahwa semua itu hanyalah tipuan belaka, siasat yang dijalankan oleh Ching Toa-Nio dan kawan-kawannya untuk menjebak Kun Hong dan menarik pemuda perkasa itu ke pihak mereka.

Tentu saja sebagai seorang laki-laki gagah, Kun Hong merasa terhina dan menolak pernikahan yang hanya merupakan siasat itu.

Akibatnya perasaan Hui Kauw hancur luluh, remuk-redam dan buyarlah semua renungan yang muluk-muluk tentang hidup bahagia bersama Kun Hong.

Kini ia sudah terpisah dari Kun Hong, meninggalkan pemuda itu setelah membantunya mendapatkan Mahkota kuno kembali.

Sedikitnya hatinya telah terhIbur.

Tidak saja ia telah berjasa dan membalas budi Kun Hong, juga ia mendapat kenyataan bahwa Pendekar Buta itu sebetulnya menaruh hati cinta kasih pula kepadanya.

Ia tidak bertepuk tangan sebelah.

Kalau teringat akan ini, ingin rasanya Hui Kauw menari-nari saking bahagia rasa hatinya.

Kun Hong juga mencintainya!

Kebahagiaan apakah di dunia ini yang lebih besar daripada keyakinan bahwa orang yang dicintanya membalas dengan Cinta kasih yang sama besarnya pula?

Namun, duka dan suka memanglah sepasang saudara kembar.

Masing-masing tak dapat berjauhan dan masing-masing siap menggantikan kedudukan saudara kembarnya.

Rasa suka karena pengetahuan tentang cinta kasih Kun Hong kepadanya ini segera tertutup oleh duka yang amat besar, yaitu kenyataan bahwa Kun Hong tidak akan dapat mengawininya karena pemuda buta itu seluruh hati dan perasaannya masih terikat oleh cinta kasihnya kepada mendiang Cui Bi, dan perasaan ini memaksa Si Pendekar Buta untuk bersetia terus kepada mendiang kekasihnya itu!

Demikianlah, dengan dada kosong karena hatinya sudah tertinggal bersama Si Pendekar Buta, dan perasaan amat berat karena semenjak saat itu ia harus hidup sendiri, Hui Kauw melakukan perjalanan cepat sekali dengan tujuan Kota Raja.

Selama hidupnya belum pernah ia melakukan perjalanan jauh, apalagi ke Kota Raja, karena ia seakan-akan "Dikurung"

Oleh Ching Toa-Nio di dalam pulau.

Nenek itu kalau bepergian, tentu Hui Siang yang diajak serta.

Justeru hal ini malah mendatangkan hIburan bukan kecil bagi Hui Kauw.

Biasanya ia hanya melihat pemandangan di sekitar pulau saja, kali ini setelah melakukan perjalanan jauh melalui gunung-gunung, ia terpesona dan beberapa kali sampai terhenti untuk menikmati tamasya alam yang amat indahnya.

Tujuan perjalanannya ini selain minggat dari pulau Ching-Coa-To, adalah untuk mencari Ayah bundanya di Kota Raja.

Hal ini sebenarnya telah menjadi niat hatinya semenjak bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi ia selalu kurang berani melakukannya.

Sekarang karena keadaan memaksanya, ia dapat melaksanakan niatnya itu.

Betapapun perasaan ini mendatangkan kegirangan di hatinya, namun juga mendatangkan keraguan dan kekhawatiran.

Ia sudah tidak ingat lagi bagaimana wajah Ayah bundanya, juga tidak tahu nama mereka.

Yang ia dengar dari pelayan tua di Ching-Coa-To yang merasa sakit hati karena disiksa oleh Ching Twa-Nio dan membuka rahasia ini kepadanya hanyalah bahwa ia bukanlah anak Ching Toa-Nio, bahwa ketika masih amat kecil ia diculik oleh Ching Toa-Nio dari Kota Raja dan bahwa dia adalah anak keluarga kaya raya she Kwee!

Ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat berjumpa dengan Ayah bundanya, apakah ia akan berhasil mencari seorang she Kwee di Kota Raja tanpa bahaya keliru cari?

Bagaimana kalau ia bertemu dengan keluarga Kwee yang kaya raya di Kota Raja akan tetapi sebetulnya keluarga itu bukanlah keluarganya?

Mungkinkah Ayah bundanya akan dapat mengenal puterinya yang lenyap ketika masih amat kecil?

Apalagi kalau ia ingat bahwa sekarang mukanya telah menjadi hitam!

Kalau berpikir sampai di sini, Hui Kauw menjadi amat gelisah.

Para penjaga pintu gerbang tembok Kota Raja, tentu saja tidak membiarkan gadis ini lewat begitu saja tanpa diperiksa.

Akan tetapi melihat sikap yang lemah lembut namun keren, melihat pedang yang tergantung di punggung Hui Kauw, mereka maklum bahwa gadis ini adalah seorang gadis kong-ouw yang berkepandaian, maka mereka tidak berani main gila.

Tentu saja hal ini sebagian besar dikarenakan wajah Hui Kauw yang hitam dan karenanya tidak menarik, andaikata wajahnya yang sebetulnya amat cantik jelita itu tidak bercacat dengan warna kehitaman itu, kiranya ia takkan terluput daripada godaan dan kekurang ajaran para penjaga itu.

Setelah diperiksa sebentar ia lalu diperbolehkan masuk.

Dapat dibayangkan betapa kagum dan herannya hati gadis ini ketika ia telah memasuki Kota Raja dan melihat keramaian yang luar biasa itu.

Bingung ia dibuatnya, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mencari sebuah rumah penginapan.

Seorang pelayan muda dengan muka cengar-cengir menyambutnya.

Pelayan rumah penginapan Kota Raja hampir semua mengenal orang-orang kang-ouw, maka pelayan muda ini pun tentu saja dapat menduga bahwa tamunya seorang wanita muda yang datang sendirian ini tentu seorang wanita kang-ouw.

"Nona mencari kamar? Kebetulan masih ada yang kosong di sebelah belakang. Silakan Nona mengikuti saja."

Hui Kauw tidak senang dan merasa sebal melihat muka pelayan muda yang mesam-mesem ini, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa dan berjalan perlahan mengikuti pelayan itu.

Rumah penginapan itu cukup besar dan mereka berjalan melalui beberapa ruangan.

Di ruangan sebelah dalam terdapat tiga orang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang duduk bercakap-cakap.

Ketika Hui Kauw lewat, mereka menghentikan percakapan itu dan tiga pasang mata dengan cara yang tidak sembunyi-sembunyi menatap gadis ini yang berjalan dengan tenang tanpa menoleh ke sana ke mari.

Akan tetapi diam-diam Hui Kauw melirik dan memperhatikan keadaan di situ sehingga ia dapat tahu betapa kamar-kamar penginapan itu penuh dengan para tamu yang juga semua menengok dan memandangnya dari jendela atau pintu kamar mereka.

Diam-diam ia mendongkol sekali dan menganggap bahwa para lelaki di Kota Raja adalah sebangsa laki-laki kasar dan tidak sopan terhadap wanita.

Kamar itu biarpun kecil tetapi cukup bersih, biarpun baunya apek dan menyebalkan hati Hui Kauw.

Nona ini cepat mengeluarkan beberapa potong uang kecil dan diberikannya kepada pelayan itu.

Otomatis berubah sikap pelayan ini setelah menerima persen yang besar ini, tubuhnya membungkuk-bungkuk mukanya berseri dan senyumnya melebar memperlihatkan deretan gigi menguning.

"Terima kasih, Nona yang gagah. Terima kasih. Adakah sesuatu perintah dari Nona? Barangkali Nona membutuhkan bantuan saya..."

Katanya menjilat. Karena pelayan ini merupakan orang pertama yang dihubunginya dan yang dapat diajaknya bercakap-cakap, Hui Kauw segera berkata.

"Barangkali kau dapat menunjukkan kepadaku di mana rumah keluarga Kwee yang kaya raya di Kota Raja ini."

Biarpun Hui Kauw sudah memandang tajam, ia merasa sukar untuk dapat menangkap perasaan pelayan itu karena mukanya berubah-ubah, matanya terbelalak seperti orang keheranan, kemudian terbayang ketakutan, keningnya berkerut seperti orang bercuriga, tapi mulutnya masih tersenyum.

"Keluarga Kwee...? Kaya raya...? Ehmm, di mana, ya? Nona, di sini banyak sekali keluarga Kwee. Yang kaya raya juga banyak, apalagi yang miskin. Keluarga mana yang Nona maksudkan? Siapa nama Hartawan itu?"

Mendengar ini saja Hui Kauw sudah kecewa. Mana dia bisa tahu namanya? Kalau ia sendiri tahu yang ia maksudkan, tentu ia takkan bertanya-tanya lagi, pikirnya mengkal.

"Aku tidak tahu namanya, yang kuketahui hanya bahwa dia adalah seorang Hartawan she Kwee."

Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang gepeng.

"Wah, susah kalau begitu, Nona. Di sini banyak Hartawan she Kwee, entah ada berapa puluh orang!"

Hui Kauw menggerakkan tangan dan di lain saat ia telah memperlihatkan dua potong uang emas.

"Kau suka menerima hadiah ini?"

Pelayan itu bengong, tak dapat segera menjawab, hanya kalamenjing di lehernya yang kecil itu bergerak naik turun.

Setahun bekerja penuh di penginapan itu, tak mungkin bisa mendapatkan emas dua potong itu, pikirnya mengilar.

Saking kacau hatinya, dia tidak dapat menjawab, hanya mengangguk-angguk seperti ayam mematuki beras.

Hui Kauw menahan senyum.

"Aku tidak mempunyai kenalan di Kota Raja ini, oleh karena itu aku membutuhkan bantuanmu. Kau carilah keterangan tentang keluarga Hartawan Kwee yang pernah diculik anak perempuannya belasan tahun yang lalu. Nah, emas ini menjadi milikmu kalau kau bisa mendapatkan keterangan itu, malah akan kutambah kalau kelak ternyata bahwa keteranganmu tidak keliru."

"Boleh... baik, Nona... akan segera saya kerjakan perintah Nona setelah selesai pekerjaan saya nanti."

Akhirnya si pelayan dapat juga menjawab dan cepat-cepat dia keluar dari kamar itu.

Hui Kauw juga melangkah ke luar kamar dan matanya bersinar-sinar ketika ia melihat berkelebatnya sesosok bayangan yang agaknya mempunyai niat tidak baik.

Akan tetapi karena berada di tempat asing, ia diam saja, hanya bersiap menjaga diri daripada segala kemungkinan.

Malam itu sehabis makan sekedarnya, Hui Kauw merebahkan diri di atas pembaringan.

Jengkel juga hatinya menanti-nanti pelayan yang tak kunjung datang.

Akan tetapi ia menghIbur hati sendiri dengan pikiran bahwa tentu tidak mudah melakukan penyelidikan tentang seorang yang tak diketahui betul keadaannya di dalam kota sebesar itu.

Ia menutup kelambu, akan tetapi sengaja ia tidak membuka pakaian, malah ia berbaring dengan pakaian lengkap dan pedang di dekat bantal.

Lilin sudah ia tiup padam karena memang ia ingin mengaso sambil menenteramkan pikirannya yang risau.

Sukar sekali ia tidur.

Pikirannya kacau-balau, sebagian besar berpikir tentang Kun Hong dengan hati duka, sebagian lagi membayangkan pertemuannya dengan Ayah bundanya.

Masih hidupkah mereka?

Andaikata masih hidup dan dapat bertemu muka dengannya, sukakah mereka menerimanya sebagai anak?

Bagaimana nanti sikap mereka terhadapnya?

Masih adakah kasih sayang?

Dan bagaimana nanti sikapnya sendiri terhadap mereka?

Semua ini membuat dadanya berdebar-debar dan membuat kedua matanya terbuka lebar tidak mau dimeramkan.

Menjelang tengah malam, suara-suara di dalam rumah penginapan besar itu telah lenyap.

Keadaan sunyi menandakan bahwa para tamu sudah tidur.

Dari dalam kamarnya, Hui Kauw dapat mendengar suara orang-orang mendengkur dari kamar lain.

Hal ini makin memusingkan kepalanya dan menjengkelkan hatinya.

Jemu sekali ia di dalam penginapan ini.

SerIbu kali ia lebih suka bermalam di sebuah hutan, di atas dahan pohon besar, lebih segar dan nikmat, dapat mengaso betul-betul.

Hawa di dalam kamar itu pengap, membuat napas menjadi sesak.

Tiba-tiba ia tersentak kaget.

Ada suara di jendela kamarnya.

Tapi, sebagai seorang gadis pendekar yang berilmu tinggi, hanya beberapa detik saja ia tegang, selanjutnya sambil tersenyum mengejek ia tenang-tenang rebah sambil menanti apa yang akan datang.

Hatinya geli mendengar betapa daun jendela dikorek-korek dengan senjata tajam.

Agaknya pencuri yang hendak membuka jendela, pikirnya.

Akan tetapi ketika ia mencurahkan perhatian dan menggunakan pendengarannya, terdengar lebih daripada dua buah kaki yang berpijak di lantai.

Hemm, apakah di Kota Raja yang begini ramainya terdapat juga perampok-perampok?

Benar-benar berani mati penjahat-penjahat ini, pikirnya.

Rumah penginapan adalah tempat umum dan di situ banyak terdapat tamu, bagaimana mereka ini berani datang melakukan kejahatan di sini?

Kalau ketahuan, apakah mereka tak akan dikeroyok mampus?

"Kraaakkk!"

Akhirnya daun jendela terbuka dan tiga sosok bayangan yang ringan gerakannya meloncat memasuki kamar melalui jendela itu.

Diam-diam Hui Kauw kaget karena gerakan tiga orang itu menunjukkan bahwa mereka bukanlah merupakan penjahat-penjahat biasa, melainkan orang-orang yang memiliki kepandaian lumayan.

Akan tetapi ia tetap rebah saja sambil mempersiapkan pedangnya, lalu Hui Kauw membentak halus.

"Tiga orang tikus kecil apakah sudah bosan hidup? Hayo lekas keluar lagi sebelum nonamu habis sabar!"

Memang ia tidak mau mencari perkara di Kota Raja yang asing baginya ini.

Tiga orang itu tidak bergerak, malah seorang di antaranya menyalakan lilin sehingga Hui Kauw dapat melihat bahwa mereka adalah tiga orang tinggi besar yang siang tadi duduk di ruangan tengah.

"Nona muka hitam, jangan sombong,"

Cela seorang di antara mereka.

"Hemm, benar-benar tidak tahu telah diberi kelonggaran,"

Kata orang ke dua. Orang ke tiga yang menyalakan lampu itu berkata sambil memandang Hui Kauw yang sudah bangun dan duduk di pinggir pembaringannya.

"Nona, kami bertiga sudah banyak mengalah, sengaja tidak membikin rIbut di depan umum agar kau tidak mendapatkan malu. Karena itulah maka kami diam-diam mendatangimu di waktu malam begini agar orang-orang tidak ada yang tahu."

Hui Kauw mengerutkan kening, membentak.

"Orang-orang kurang ajar, kalian bicara apa? Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, hayo lekas minggat dari sini!"

Gadis ini sekarang sudah marah dan sudah turun dari pembaringan, berdiri tegak dengan sikap keren dan dengan pedang di tangan.

Seorang di antara mereka yang matanya juling tertawa mengejek, lalu cengar-cengir berkata.

"Nona, agaknya kau belum tahu siapa kami, maka sikapmu kasar. Ketahuilah, kami adalah petugas-petugas dari Istana, kami mata-mata dan penyelidik yang bertugas di rumah penginapan ini. Entah sudah berapa banyaknya mata-mata pengkhianat dan pemberontak kami tangkap! Nah, lebih baik sekarang simpan pedangmu dan kau baik-baik membiarkan kami menggeledah dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan."

"Siapa peduli tentang keadaan kalian? Siapa pun juga kalian, tidak patut memasuki kamar orang seperti pencuri-pencuri busuk. Kalau ada keperluan datanglah besuk dengan cara yang sopan. Aku bukan pengkhianat, bukan pula pemberontak, perduli apa dengan kedudukan kalian? Hayo minggat!"

"Ha-ha-ha, galak benar"

Orang ke dua yang kumisnya panjang tertawa.

"Biarpun mungkin bukan pemberontak, akan tetapi setidaknya tentu sebangsa perampok atau maling tunggal yang datang dari luar Kota Raja hendak mengacau atau mencuri di sini. Nona, tangan panjang, kau menyelidiki keadaan seorang Hartawan di Kota Raja, apa maksudmu selain hendak memindahkan sebagian hartanya ke tanganmu?"

"Keparat, berani kalian menghina orang!"

Tubuh Hui Kauw bergerak dan terdengarlah suara.

"Plak-plak, bluk, nngek!"

Disusul pekik tiga orang itu mengaduh-aduh diakhiri dengan melayangnya tiga tubuh mereka keluar lubang jendela.

Mereka masih terdengar mengaduh-aduh, lalu merangkak-rangkak kemudian terdengar langkah mereka berderap-derap lagi meninggalkan tempat itu!

Hui Kauw tersenyum mengejek dan merasa geli hatinya.

Begitu sajakah penyelidik-penyelidik dari Istana?

Ia membersihkan kedua tangannya dengan taplak meja di kamar itu.

Kedua tangannya baru saja "Makan"

Muka dan kepalannya menjotos dada orang-orang itu.

Dengan tenang Hui Kauw menutupkan daun pintu jendelanya kembali, menyimpan pedangnya lalu merebahkan diri di atas pembaringan seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

Menjelang pagi nona itu tiba-tiba terbangun.

Enak juga ia tidur dari tengah malam tadi.

Tidur pulas tiga empat jam baginya cukup sudah.

Sekarang ia terbangun karena mendengar suara di luar kamarnya.

Banyak orang berkumpul di luar kamarnya, sedikitnya ada sepuluh orang.

Mendengar suara.

"Di sini kamarnya!"

Hui Kauw cepat turun dari pembaringan, menggosok-gosok mukanya dengan sapu tangan, membereskan rambut dan pakaiannya yang kusut, mengikatkan pedang di pinggangnya mengencangkan tali sepatunya, malah untuk menjaga segala kemungkinan ia mengikatkan pula buntalan pakaian di atas punggungnya.

"Duk-duk-duk, buka pintu!"

Pintunya mulai digedor orang.

"Buka pintu! Kami pengawal Istana hendak memeriksa!"

Huh, menyebalkan, pikir Hui Kauw.

Kiranya di Kota Raja berkeliaran segala anjing Istana yang kerjanya hanya mengganggu orang.

Hemm, lihat mereka mau apa terhadapku.

Kakinya melangkah ringan dan sekali tangannya bergerak, pengganjal daun pintu terlepas dan daun-pintu terbuka lebar-lebar.

Dengan tenang Hui Kauw berdiri tegak dengan sikap gagah dan mata tajam menatap keluar kamar.

Kiranya di luar kamarnya telah berkumpul sedikitnya selosin orang, dikepalai laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang bersikap gagah dan sombong, sebuah senjata Ruyung baja yang besar tergantung di pinggangnya.

Melihat pakaian orang ini lebih mewah dan berbeda dari orang-orang yang lain, dapatlah Hui Kauw menduga bahwa orang ini tentu pimpimpin mereka itu.

Dengan tenang ia melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut berhadapan dengan selosin laki-laki yang tampaknya tinggi-tinggi besar dan gagah-gagah itu.

"Hemm, kiranya orang-orang lelaki di Kota Raja, hanya kelihatannya saja gagah dan sombong,"

Kata Hui Kauw perlahan akan tetapi suaranya mengandung penuh penyesalan dan ejekan.

"Malam tadi tiga ekor anjing menggonggong dan berlagak membuat orang sukar tidur enak, dan sekarang pagi-pagi sekali serombongan orang kasar menggedor pintu. Apa kehendak kalian?"

Hui-Kauw sengaja berkata demikian ketika melihat bahwa tiga orang laki-laki malam tadi berada di dalam rombongan ini pula.

Tiga orang laki-laki itu menjadi merah mukanya, mata mereka melotot lebar akan tetapi jelas mereka kelihatan gentar.

Siapa orangnya tidak menjadi gentar kalau malam tadi mengalami hal seperti mereka?

Tanpa mereka ketahui bagaimana caranya, semalam gadis bermuka hitam itu telah membuat mereka kalang-kabut dan babak-belur sehingga dalam keadaan hampir pingsan tahu-tahu mereka mendapatkan diri telah berada di luar kamar!

Tentu saja mereka merasa seperti telah bertemu dan melawan setan karena mereka yang terkenal sebagai orang-orang berkepandaian tinggi bagaimana bisa mengalami hal seperti itu anehnya.

Semalam dengan tubuh sakit-sakit dan semangat terbang melayang, mereka menyeret kedua kaki melarikan diri dan langsung melaporkan hal aneh itu kepada seorang pengawal Istana yang menjadi kepala mereka.

Pengawal Istana yang sekarang membawa sebelas anak buahnya, pagi-pagi sekali mendatangi kamar tamu hotel yang aneh dan mencurigakan itu, bukan lain adalah Tiat-Jiu Souw Ki yang sudah kita kenal lama!

Seperti telah kita ketahui, semenjak masih pangeran, Kaisar yang sekarang, yaitu dahulunya Pangeran Kian Bun Ti, sudah banyak mempunyai kaki tangan terdiri dari jago-jago silat.

Dahulu dia terkenal mempunyai tujuh orang pengawal jagoan yang terdiri dari orang-orang gagah, di antaranya adalah Tiat-Jiu Souw Ki itulah.

Setelah Kian Bun Ti menjadi Kaisar, hanya tiga orang di antara tujuh jagoannya.

yang masih ada dan yang masih dia pergunakan tenaganya sebagai pengawal Istana.

Mereka ini adalah Tiat-Jiu Souw Ki, Bhong Lokai dan Ang Mo-Ko.

Dua orang kakek ini ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada Tiat-Jiu Souw Ki, akan tetapi karena watak mereka yang aneh, jarang sekali mereka keluar kalau tidak menghadapi urusan besar.

Mereka lebih suka bertugas di dalam Istana menjaga keselamatan Kaisar, berbeda dengan Tiat-Jiu Souw Ki yang lebih suka berkeliaran di luar karena baginya, bertugas di luar Istana mempunyai kesempatan lebih banyak untuk melampiaskan nafsu-nafsunya, mudah mencari "Rejeki"

Dengan jalan memeras dan merampas, mudah pula mempermainkan anak isteri orang yang menjadi sebuah di antara hobbynya (kegemarannya)!

Di bagian cerita ini sudah dituturkan betapa Tiat-Jiu Souw Ki yang tadinya berhasil merampas kembali Mahkota kuno yang dicuri oleh Tan Hok dari dalam Istana kemudian "Bertemu batunya"

Ketika nona Tan Loan Ki Si Walet Jelita mempermainkannya, mengalahkannya dan merampas kembali Mahkota itu.

Hati Souw Ki amat penasaran.

Dia, seorang pengawal Kaisar, berjuluk Tiat-Jiu (Si Tangan Besi), ahli main Ruyung baja, masih dibantu anak buah perampok-perampok Hui-Houw-Pang dan Kiang-Liong-Pang dan si Tosu bopeng Ban Kwan Tojin, kalah oleh seorang dara jelita yang masih setengah kanak-kanak!

Mulai saat itu Tiat-Jiu Souw Ki menaruh hati benci pada wanita-wanita kang-ouw.

Maka begitu mendengar dari anak buahnya bahwa di dalam penginapan di Kota Raja itu terdapat seorang wanita kang-ouw yang mencurigakan akan tetapi berilmu tinggi, hatinya tertarik dan penasaran.

Mana bisa di dunia ini ada wanita ke dua yang boleh begitu saja menghinanya?

Demikianlah, pagi-pagi benar dia mengajok sebelas orang anak buahnya yang pilihan mendatangi penginapan itu dan menggedor pintu kamar Hui Kauw.

Melihat sikap Hui Kauw yang menantang dan keren, Tiat-Jiu Souw Ki menjadi panas perutnya.

Dia seorang mata keranjang dan agaknya kalau nona yang terbentuk tubuh menggairahkan ini tidak hitam mukanya, agaknya siang-siang kemarahannya sudah akan mencair kembali.

Akan tetapi kehitaman muka Hui Kauw memang menyembunyikan kecantikannya dan hal ini agaknya membuat Souw Ki makin panas perutnya sehingga meledaklah suaranya membentak.

"He, monyet betina muka hitam! Siapa kau berani bersikap sombong di depan Tiat-Jiu Souw Ki? Mendengar laporan anak buahku, kukira kau seorang tokoh kang-ouw yang bernama besar sehingga pagi-pagi aku datang sendiri untuk melihat. Siapa tahu kiranya hanya seekor monyet hitam, lutung hitam. Hayo lekas berlutut menyerah!"

Hui Kauw adalah seorang yang sebenarnya memiliki watak penyabar dan luas pandangan.

Semalam sudah ia buktikan betapa wataknya amat halus dan pemurah sehingga tiga orang laki-laki kasar yang sudah menghinanya itu masih dia ampuni dan hanya memberi hajaran sedikit dan tidak mengakibatkan luka-luka parah.

Namun, sesabar-sabarnya hati wanita, kalau dimaki dan diperolok tentang keburukan mukanya, ia tentu akan marah juga.

Demikian pula Hui Kauw.

Ia maklum bahwa mukanya memang hitam dan buruk, akan tetapi bukan untuk diperolok oleh seorang laki-laki macam Souw Ki ini.

Dengan kilatan mata berbahaya, gadis itu menudingkan telunjuknya yang runcing ke muka Souw Ki sambil berkata.

"Bangsat rendah bermulut kotor, mukamu sendiri hitam dan buruk, masih berani memaki orang lain? Tidak peduli kau siapa, aku adalah seorang baik-baik yang tidak pernah dan tidak akan melakukan kejahatan. Tentang maksud kedatanganku di Kota Raja, adalah urusanku sendiri, siapa berhak mencampuri? Malam tadi aku masih mengampuni tiga ekor anjing kecil, akan tetapi sekarang kalau ada anjing besar berani menggonggong tak tahu malu, agaknya aku takkan puas kalau belum mampu menghajar moncongnya sampai tanggal semua giginya!"

Dapat dibayangkan betapa marahnya Tiat-Jiu Souw Ki mendengar kata-kata menghina ini.

Jelas bahwa gadis muka hitam ini memakinya sebagai anjing besar yang hendak dihajar moncongnya dan ditanggalkan giginya.

"Bangsat betina, tidak biasa aku, Tiat-Jiu Souw Ki Si Tangan Besi bertempur melawan perempuan, akan tetapi karena kau terlalu kurang ajar sudah semestinya mengenal tangan besiku."

"Hemm, kau mau mengeroyok? Aku tidak takut!"

Kata Hui Kauw, masih tenang sikapnya dan sama sekali ia tidak meraba gagang pedangnya.

Ia tahu bahwa kepandaian seseorang dapat diukur dari sikapnya.

Sikap Souw Ki yang sombong ini sama sekali tidak mencerminkan ilmu yang tinggi sehingga tak perlu pula ia berkhawatir.

"Wah-wah, kau benar-benar memandang rendah, keparat! Agaknya kau memiliki sedikit kepandaian maka berani malang-melintang di Kota Raja. Siapa hendak mengeroyokmu? Dua buah jari tanganku saja sanggup membuat kau berkeok-keok minta ampun. Mari... mari... boleh kita bertanding di tempat yang lapang!"

Dia melangkah lebar ke ruangan dalam di mana terdapat ruangan yang lapang setelah meja kursi didorong ke pinggir tembok.

Dengan lagak gagah dibuat-buat Souw Ki berdiri di tengah ruangan ini, menanti dengan sikap jagoan yang sudah pasti akan mendapat kemenangan, sama sekali tidak sadar bahwa sikapnya ini saja sudah menunjukkan sikap pengecut besar karena sebagai jago, yang menanti bukanlah jago lain melainkan seekor ayam betina!

Hui Kauw dengan senyum dikulum dan menahan kemengkalan hati, melangkah pula ke ruangan ini.

Ia mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada pemimpin orang Istana ini agar selanjutnya ia tidak mendapat banyak gangguan lagi.

Panas juga hatinya melihat betapa laki-laki tinggi besar itu sudah memasang kuda-kuda, mulutnya menyeringai penuh ejekan dan cemooh, matanya melirik memandang rendah.

Menurutkan gelora hati panas Hui Kauw menggenjot tubuhnya dan melayangkan tubuhnya itu ke tengah ruangan, tepat berhadapan dengan Souw Ki.

Pengawal Istana ini kaget, maklum bahwa lawannya ini kiranya benar-benar memiliki kepandaian tinggi, buktinya memiliki Ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lumayan.

Bagus, pikir si pongah, makin tinggi ilmunya makin baik sehingga aku takkan ditertawai anak buahku, disangka hanya pandai mengalahkan wanita cantik dan lemah saja.

Biarlah iblis betina ini kutundukkan dengan kepandaian, pikirnya.

Betapapun juga, setelah berhadapan dengan calon lawannya, Hui Kauw yang berhati lembut itu sudah merasa menyesal.

Ia sedang berusaha mencari orang tuanya.

Kedatangannya di Kota Raja adalah untuk urusan itu, bukan untuk berkelahi!

Sekarang, belum apa-apa ia sudah mendatangkan keonaran dan sudah hendak bentrok dengan petugas-petugas Istana!

"Tiat-Jiu Souw Ki,"

Katanya dengan suara lembut karena penyesalan ini.

"Terus terang saja, aku sebenarnya tidak suka rIbut-rIbut karena kedatanganku di Kota Raja ini bukan untuk mencari kerIbutan dengan siapapun juga. Anak buahmu kuhalau pergi karena mereka malam-malam mengganggu dan memasuki kamarku. Melihat julukanmu, kau tentulah seorang kang-ouw yang tahu akan sopan-santun di dunia kang-ouw, dan biarkanlah aku melanjutkan urusanku sendiri dan kita tidak saling ganggu."

Belasan tahun yang lalu, sebelum bintangnya naik menjadi pengawal pangeran, Tiat-Jiu Souw Ki adalah seorang bajak sungai yang terkenal.

Tentu saja dia tahu akan peraturan dunia persilatan, dunia perantauan dan dunia kaum hitam.

Maka dia tertawa bergelak mendengar ucapan Hui Kauw ini dan menjawab.

"Ha-ha-ha, ucapanmu seperti kau ini seorang tokoh kang-ouw yang hebat saja! Bocah, aku Tiat-Jiu Souw Ki sudah banyak mengenal tokoh kang-ouw dan andaikata kau seorang tokoh sekalipun, kau masih harus menghormati aku, apalagi kau sama sekali tidak kukenal dan kau seorang pelonco dalam dunia kang-ouw, mana bisa aku berlaku sungkan lagi? Kecuali kalau kau mau berterus terang menyatakan siapa namamu, dari mana kau datang dan apa niatmu memasuki Kota Raja, baru aku mau timbang-timbang untuk mengampunimu."

Ucapan ini benar-benar amat sombong dan memandang rendah.

Akan tetapi karena Hui Kauw benar-benar tidak menghendaki terjadinya kerIbutan tanpa sebab penting, ia menahan kemendongkolan hatinya, menjura dan berkata.

"Tiat-Jiu Souw ki, baiklah aku memperkenalkan diri. Namaku Hui Kauw dan aku datang ke Kota Raja ini untuk urusan pribadi, mencari keluargaku. Nah, sekali lagi harap kau dan orang-orangmu jangan mengganggu dan aku berjanji takkan mengganggu kalian di mana saja kalian berada."

Orang yang sombong selalu tidak mau mengalah, sempit pandangan dan tidak menimbang keadaan.

Sikap Hui Kauw ini diterima keliru oleh Souw Ki yang mengira bahwa gadis muka hitam itu merasa jerih terhadap dia!

"Ha-ha-ha, mana bisa begitu gampang?

Kau telah bersikap garang terhadap orang-orangku, nah, sekarang kau harus berlutut tujuh kali minta ampun kepadaku, baru aku Tiat-Jiu Souw Ki mau sudah!" (lanjut ke

Jilid 19) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19

"Kau memang terlalu sombong"."

Hui Kauw membentak.

"Ha-ha-ha, majulah kalau hendak merasai kelihaianku!"

Souw Ki menantang. Hui Kauw maklum bahwa tak mungkin bersilat lidah dengan seorang manusia macam ini sombongnya.

"Lihat serangan!"

Ia membentak dan cepat laksana Burung menyambar tubuhnya sudah bergerak maju dan kedua tangannya bergerak melakukan penyerangan.

Souw Ki yang memandang rendah, melihat datangnya tusukan dengan jari tangan kiri ke arah lehernya, cepat menggerakkan tangan kanan untuk menangkap pergelangan tangan lawan dan bermaksud untuk mengalahkan dalam segebrakan ini karena kalau dia berhasil menangkap tangan kecil itu berarti dia akan menang.

Hatinya girang bukan main melihat tangan kiri itu masih terus melakukan tusukan, agaknya sama sekali tidak perduli akan gerakan tangan kanannya yang hendak menangkap pergelangan tangan.

Wah, begini gampang?

Dia sudah tertawa dalam hatinya karena yakin bahwa pergelangan tangan kiri yang kecil itu sudah pasti akan dapat dia tangkap.

"Ayaaaaa... celaka...!"

Tubuh Souw Ki terjengkang dan roboh terus bergulingan ketika dia sengaja membanting diri ke belakang.

Dia meloncat bangun lagi dengan muka sebentar pucat sebentar merah sedangkan keringat dingin membasahi lehernya.

Dia sebentar marah, sebentar malu karena harus bersikap seperti itu di depan orang banyak.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya ketika dalam gebrakan pertama tadi saja dia sudah hampir celaka.

Kiranya tusukan tangan kiri Hui Kauw memang sengaja dilakukan sebagai umpan.

Gadis itu membiarkan tangan kirinya disambar pergelangannya, akan tetapi tangan kanannya sudah cepat "Memasuki"

Lowongan kedudukan lawan dan menyodok ke arah lambung di bawah iga.

Andaikata Souw Ki tidak cepat-cepat membanting diri ke belakang, biarpun tangan kanannya akan berhasil menangkap pergelangan tangan kiri lawan, namun dia sendiri akan terkena Pukulan maut yang akan mengguncangkan jantungnya dan banyak kemungkinan akan menewaskannya!

Hui Kauw sekarang tersenyum mengejek.

"Tiat-Jiu Souw Ki, sudah kukatakan bahwa aku tidak suka berkelahi mencari kerIbutan. Masih belum terlambat kalau kau sudahi saja pertempuran tiada guna ini."

Tiat-Jiu Souw Ki adalah seorang yang sudah mempunyai banyak pengalaman bertempur dan kepandaiannya pun tinggi tentu saja dia tidak menjadi gentar menghadapi bahaya yang hampir mengalahkannya tadi.

Dia maklum bahwa hal tadi dapat terjadi bukan semata-mata karena lawan terlalu lihai, melainkan karena kesalahannya sendiri.

Dia tadi terlalu memandang rendah lawannya, sama sekali tidak mengira bahwa lawannya, seorang perempuan muda, memiliki kecepatan dan kelihaian seperti itu.

Dia sekarang menjadi penasaran dan marah.

Dibantingnya kaki kanannya dan dia membentak.

"Bocah sombong, jangan banyak mulut. Lihat pukulan!"

Tanpa sungkan-sungkan lagi kini Tiat-jixu Souw Ki menerjang Hui Kauw dengan kedua kepalan tangannya yang kuat terlatih sehingga dia mendapat, julukan Tiat-Jiu atau Si Tangan Besi.

Pukulannya sampai mendatangkan angin saking keras dan cepatnya.

Namun Hui Kauw memiliki keanehan yang sudah matang.

Sebagai puteri Ching Toa-Nio yang sudah mewarisi kepandaian manusia iblis Siauw-Coa-Ong.

Giam Kin, tentu saja Hui Kauw memiliki dasar ilmu silat yang tinggi.

Menghadapi penyerangan Souw Ki yang biarpun ganas namun sebagian besar hanya berdasarkan tenaga kasar itu, ia tidak menjadi gugup.

Dengan tenang namun cepat nona ini menggeser kakinya, mengelak dengan cekatan sekali sambil mengayun kaki kiri membalas dengan sebuah tendangan perlahan namun berbahaya karena yang dijadikan sasaran ujung sepatu adalah pusar lawan!

Tiat-Jiu Souw Ki menggeram dan tangan kirinya menyambar kaki dengan maksud mencengkeramnya hancur, sedangkan tangan kanannya menjotos kepala nona yang besarnya sebanding dengan kepalan tangannya.

Serangan balasan yang dahsyat ini dihadapi oleh Hui Kauw dengan memperlihatkan Ginkangnya yang mengagumkan.

Tanpa menarik kakinya yang menendang itu Hui Kauw sudah menjejakkan kaki kanannya ke atas tanah sehingga tubuhnya mumbul ke atas, lalu bergerak miring untuk membebaskan diri dari pukulan Souw Ki dan otomatis kaki yang menendang juga menyamping, akan tetapi bukan berarti membatalkan tendangan karena kaki itu masih terus menendang dari arah yang berlainan dengan sasaran berubah pula, kini dari "udara"

Nona itu menendang ke arah belakang telinga kanan lawan.

"Setan!"

Souw Ki memaki dan terpaksa dia merendahkan tubuhnya karena tendangan dari atas itu tidak sempat untuk dia tangkis lagi.

Dia hendak menyusuli serangan berikutnya, namun gadis itu lebih cepat lagi.

Ketika tendangannya luput ia melayang turun dan langsung sambil meloncat turun ini ia mengirim pukulan dengan jari tangan terbuka.

Pukulan kedua tangannya yang kecil itu cepat dan bertubi-tubi datangnya, seperti sebuah kitiran angin sehingga kelihatan seakan-akan kedua lengannya berubah menjadi belasan buah banyaknya yang menghujankan pukulan-pukulan ke pelbagai sasaran berbahaya.

Souw Ki terpaksa meloncat ke sana ke mari sambil kedua tangannya sibuk bergerak melindungi bagian tubuh yang lemah.

Dia sampai berkeringat ketika lawannya sudah menerjangnya sebanyak belasan jurus, karena dia benar-benar kalah cepat sehingga sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang, jangankan balas menyerang, bernapas pun agaknya hampir tidak ada kesempatan.

Tubuh Hui Kauw bergerak-gerak makin lama makin cepat, mengitari dirinya sehingga matanya menjadi berkunang dan dia sudah melihat empat lima orang Hui Kauw menari-nari di sekelilingnya!

"Plak-plak-plak!"

Tiga kali telapak tangan Hui Kauw menampar pipi, leher dan pundak.

Panas rasanya dan membuat pandang mata Souw Ki berkunang.

Memang kembali Hui Kauw telah memperlihatkan kemurahan hatinya.

Tiga kali pukulan ini sudah menjadi bukti cukup bahwa dalam ilmu silat tangan kosong, ia jauh lebih lihai dan lebih cepat.

Kalau ia mau, sebagai seorang ahli silat tinggi, sekali menjatuhkan tangan tentu dapat mencari sasaran yang mematikan, akan tetapi sampai tiga kali ia hanya menampar saja.

Souw Ki mengeluh dan cepat dia melompat ke belakang sehingga menabrak kursi yang menjadi remuk!

Dua orang anak buahnya cepat menghampiri nya untuk menolong pemimpin mereka yang terhuyung itu, akan tetapi Souw Ki membentak.

"Pergi kalian!"

Kakinya melayang dan...

dua orang pembantu yang sial itu terlempar dan mengaduh-aduh.

Kiranya saking marah dan mendongkolnya, Si Tangan Besi ini melampiaskan kepada dua orang anak buah yang hendak menolongnya.

"Tiat-Jiu Souw Ki, kiranya sudah cukup sekarang."

Hui Kauw kembali membujuk untuk menyudahi saja pertempuran yang tiada gunanya itu.

"Wuuuttttt!"

Ruyung baja yang berat itu sudah berada di tangan kanan Souw Ki.

"Iblis betina, jangan kira kau sudah mampu mengalahkan aku! Hemmm, memang kau menang cepat, akan tetapi cobalah kecepatanmu dengan Ruyungku, akan hancur kepalamu. Hayo, cabut pedangmu itu!"

Terdengar suara berkerotan ketika Souw Ki menggertak gigi saking marah dan malunya karena dia telah ditelan mentah-mentah oleh seorang dara yang masih hijau.

Tidak sampai tiga puluh jurus dikalahkan.

Hebat ini!

Ketika dia dikalahkan Bi Yan Cu Tan Loan Ki dalam memperebutkan Mahkota, dia masih sanggup menghadapi Walet Jelita itu sampai hampir seratus jurus.

Masa sekarang terhadap gadis muka hitam ini, belum tiga puluh jurus dia sudah kena dikemplang tiga kali.

Kekalahannya terhadap Bi Yan Cu Tan Loan Ki masih dapat dia maklumi setelah dia mendengar bahwa dara lincah itu adalah puteri Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui.

Akan tetapi kekalahan terhadap seorang gadis muka hitam yang tidak ternama sama sekali?

Benar-benar bisa membikin dia muntah darah segar saking dongkolnya!

Hui Kauw makin gelisah.

Celaka, pikirnya, monyet tua ini benar tidak tahu diri.

Kepandaiannya hanya sekian saja mau digunakan untuk menjual lagak.

Tidak dilayani tidak mungkin, kalau dia dilayani dan bertempur menggunakan senjata, tentu lebih hebat ekornya.

Maka ia berdiri dan memandang ragu ketika Souw Ki memutar-mutar Ruyung berat itu di atas kepala dengan sikap beringas.

Melihat keraguan Hui Kauw, kembali Souw Ki si pengung (si tolol) itu salah tafsir, mengira nona ini takut menghadapi senjatanya yang menyeramkan itu.

"Tidak lekas mencabut senjatamu? Nah, rasakan ini Ruyung pencabut nyawa!"

"Weerrr!"

Ruyung yang beratnya tidak kalah dengan tiga perempat karung beras itu melayang dan angin pukulannya saja sudah membuat rambut halus di kepala Hoi Kauw berkibar.

"Singgggg!"

Senjata itu lewat di atas telinga Hui Kauw yang cepat menundukkan kepala untuk mengelak.

Nona ini maklum bahwa biarpun lawannya hanya mengandalkan tenaga besar dan senjata berat, namun Ruyung itu dapat merupakan bahaya juga baginya.

Tangannya bergerak dan di lain detik pedangnya telah terhunus dan berada di tangan kanan.

Kakinya menggeser ke belakang membentuk kuda-kuda yang ringan, kaki kanan berdiri lurus dengan tumit diangkat, kaki kiri menyilang lutut, tangan kiri dikepal dan hanya jari telunjuk dan jari tengah menuding ke atas di belakang kepala, Pedang di tangan kanan melintang dada dari kiri ke kanan dengan pergelangan tangan ditekuk membalik.

Kuda-kuda yang sukar akan tetapi memperlihatkan sikap yang gagah dan manis.

Tiat-Jiu Souw Ki mendapat hati ketika gadis itu tadi mengelak dan sekarang mencabut pedang.

Terang bahwa gadis itu menganggap Ruyungnya ampuh dan berbahaya.

Sambil berseru keras dia kembali menggerakkan Ruyungnya sekuat tenaga.

Kalau gadis ini berani menangkis, aku akan membikin pedangnya patah atau terpental, pikirnya sombong.

Namun tentu saja Hui Kauw bukanlah sebodoh yang disangka Souw Ki.

Gadis ini sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, maklum pula akan bahayanya kalau ia mengadu senjatanya secara keras melawan keras dengan Ruyung lawan, karena ia kalah tenaga dan senjatanya pun kalah berat.

Ia mengandalkan kelincahannya untuk menghindarkan diri daripada semua amukan Ruyung itu, sedangkan pedangnya berkelebat merupakan sinar yang bergulung-gulung mencari kesempatan baik untuk menggores kulit lawan.

Memang hebat juga permainan Ruyung dari Tiat-Jiu Souw Ki ini.

Kalau dalam hal ilmu silat tangan kosong ia adalah seorang nekat yang hanya mengandalkan kekuatan otot-ototnya, kini dalam permainan Ruyungnya, dia benar-benar memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, tidak hanya mempergunakan tenaga otot namun juga mempergunakan kecerdikan otaknya sesuai dengan siasat ilmu Ruyungnya.

Ruyung itu biarpun merupakan senjata berat, namun di tangan Souw Ki berubah menjadi senjata ringan dan cepat sekali diputarnya, mendatangkan angin dan mengeluarkan bunyi.

Hui Kauw melayaninya dengan ilmu pedang yang ia pelajari dari Ibunya, yaitu dari Ching Toa-Nio.

Ilmu pedang dari Ching Toa-Nio ini pada dasarnya adalah Ilmu Pedang Kong-Thong-Pai, karena nyonya ini dahulu pernah belajar ilmu pedang dari seorang tokoh Kong-Thong-Pai yang merahasiakan namanya.

Akan tetapi karena semenjak mudanya Ching Toa-Nio berkecimpung dalam dunia golongan hitam, tentu saja ia mempelajari banyak macam ilmu silat dan juga termasuk ilmu pedang.

Oleh karena inilah, terdorong pula oleh bakat dan kecerdikannya, ia dapat menggabungkan beberapa macam jurus ilmu pedang menjadi satu dengan Ilmu Pedang Kong-Thong-Pai, malah sesudah ia menjadi kekasih Siauw-Coa-Ong Giam Kin si manusia iblis yang banyak mewarisi ilmu silat yang amat tinggi dari Giam Kin, Ia mencampuri pula ilmu pedangnya dengan ilmu yang ia dapat dari kekasihnya ini.

Tidaklah heran apabila ilmu pedang yang kini dimainkan oleh Hui Kauw merupakan ilmu pedang campuran yang selain lihai, juga amat sukar untuk dikenal oleh Souw Ki.

Setelah lewat tiga puluh jurus dan selama itu Hui Kauw hanya mengambil kedudukan mempertahankan dan menjaga diri saja, mulailah Souw Ki kaget dan gentar.

Dia maklum bahwa ternyata gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat, malah agaknya lebih hebat daripada si dara lincah Loan Ki, buktinya kalau dulu Loan Ki melawannya dengan keras dan balas menyerang, adalah gadis ini seenaknya saja mempertahankan diri tanpa balas menyerang.

Kadang-kadang malah gadis ini membenturkan pedangnya dengan Ruyung, Bukan untuk mengadu senjata atau tenaga, melainkan untuk mempermainkannya saja karena begitu bertemu, pedang itu menyelinap di antara gulungan bayang Ruyung lalu menyambar dekat bagian-bagian berbahaya seperti leher, ulu hati, lambung dan tempat-tempat yang sekali tusuk tentu akan menghentikan perjalanan napas!

Memang demikianlah kehendak Hui Kauw, Ia ingin memperlihatkan kepada Tiat-Jiu Souw Ki bahwa kalau ia menghendaki, sudah sejak tadi ia dapat merobohkan orang itu.

Akan tetapi, dasar lawannya yang hendak menang sendiri saja.

Tiat-Jiu Souw Ki pantang mengalah, apalagi dia berada di Kota Raja di mana berkumpul banyak sekali anak buahnya dan juga atasan-atasannya serta teman-teman sekerjanya yang lebih lihai daripadanya.

Bukannya mengaku kalah, dia malah penasaran dan memutar Ruyungnya lebih ganas lagi.

"Manusia tak tahu diri, lepaskan Ruyung!"

Tiba-tiba Hui Kauw membentak, pedangnya berkelebat menyerang dan...

Tiat-Jiu Souw Ki berteriak kesakitan, meloncat mundur sambil terpaksa melepaskan senjatanya karena lengan kanannya serasa terbabat pedang!

Dengan muka pucat dia memeriksa lengannya yang mengeluarkan darah dari siku sampai ke pergelangan, takut kalau-kalau lengannya akan menjadi buntung atau cacad, akan tetapi lega hatinya melihat bahwa lengannya itu hanya luka ringan tergurat ujung pedang, akan tetapi memanjang dari siku sampai pergelangan sehingga mengeluarkan banyak sekali darah.

Sebetulnya macam dari lukanya ini saja cukup menjadikan bukti lawannya si gadis muda itu adalah seorang yang amat lihai dan juga yang telah menaruh hati kepadanya.

Akan tetapi membutakan matanya terhadap kenyataan, bahkan rasa malu dan penasaran membuat dia berseru keras.

"Serbu! Tangkap pemberontak ini!!"

Sebelas orang anak buahnya serentak maju mengeroyok dengan senjata mereka.

Hui Kauw marah sekali dan terpaksa ia mengangkat pedangnya menangkis dan melakukan perlawanan.

Dengan kecepatannya, belum sepuluh jurus ia berhasil melukai lengan dan pundak dua orang pengeroyok sehingga mereka ini terpaksa melepaskan senjata masing-masing, lalu menendang roboh seorang lagi.

Akan tetapi keributan ini menarik datang penjaga sehingga pertempuran di ruangan rumah penginapan itu makin ramai.

Hui Kauw merasa makin marah, penasaran, juga menyesal.

Tahulah ia sekarang bahwa ia berada dalam keadaan yang sulit sekali.

Mencari orang tua belum ketemu, tahu-tahu berada dalam keadaan sesulit ini.

Tiba-tiba terdengar seruan keras dan semua pengeroyok itu melompat mundur, memberi jalan kepada dua orang yang baru tiba.

Hui Kauw merasa lega hatinya, akan tetapi ia tetap waspada.

Ketika ia melirik, ia melihat dua orang laki-laki yang baru datang memasuki ruangan itu, dipandang oleh para pengeroyoknya tadi dengan sikap menghormat.

Ia dapat menduga bahwa dua orang ini tentulah orang lihai yang memiliki kedudukan tinggi sehingga ia makin memperhatikan.

Seorang diantara mereka adalah pemuda yang berpakaian gagah dan berwajah tampan dan halus gerak-geriknya, senyumnya menarik dan matanya tajam, namun Hui Kauw yang berperasaan halus itu dapat menangkap sesuatu yang menyeramkan di balik senyum dan kerling menarik ini, sesuatu yang tak dapat ia mengerti apa adanya akan tetapi yang membuat ia waspada, seperti kalau orang melihat keindahan pada muka dan kulit harimau atau ular yang menyembunyikan sesuatu yang menyeramkan dan mengancam di balik keindahannya itu.

Orang ke dua adalah seorang kakek kurus kecil, usianya lima puluhan, pakaiannya sederhana tapi penutup kepalanya mewah dan berhias permata, mukanya biasa seperti orang kurang tidur sehingga mata itu nampaknya hendak meram saja saking ngantuknya, tangan kanannya memagang sebatang tongkat bengkok.

Melihat orang ini, diam-diam Hui Kauw menduga bahwa tentu kakek ini memiliki kepandaian tinggi, sedangkan orang muda tampan itu sebaliknya malah ia pandang rendah, mungkin hanya seorang putera bangsawan yang berlagak dan sombong.

Pemuda itu bukanlah sembarang orang seperti yang diduga Hui Kauw, karena sebetulnya dia bukan lain adalah The Sun, jago muda Go-Bi-Pai yang amat lihai itu.

Kebetulan dia lewat di jalan raya depan rumah penginapan itu bersama katek yang bukan lain orang adalah Bhong Lokai, seorang di antara para pengawal Kaisar.

Pada saat itu mereka berdua bertemu dengan Tiat-Jiu Souw Ki yang dengan muka pucat dan lengan berdarah berlari ke luar dari rumah penginapan untuk mencari bala bantuan.

Mendengar bahwa di dalam rumah penginapan ada seorang gadis lihai sedang dikeroyok, The Sun tertarik dan mengajak Bhong Lokai untuk melihat.

Begitu memasuki ruangan dan melihat sepak-terjang Hui Kauw yang luar biasa dan yang jelas menyatakan sebagai seorang ahli silat tinggi.

The Sun segera membentak dan menyuruh mundur semua pengeroyok, Tentu saja mereka semua mengenal "The-Kongcu"

Ini, orang yang boleh dibilang duduk di tingkat tinggi daripada deretan orang-orang yang dijadikan tangan kanan Kaisar baru.

Kini pemuda itu tersenyum-senyum sambil memandang Hui Kauw yang cepat membuang muka, tidak sudi bertemu pandang lebih lama lagi dengan pemuda tampan yang cengar-cengir menjual lagak itu.

"Nona yang gagah perkasa, agaknya kau masih amat asing di Kota Raja ini sehingga tidak mengenal siapa para pengeroyokmu ini dan siapa pula aku dan Lo-Enghiong ini. Andaikata kau mengenal kami, baik kau datang dari golongan hitam ataupun putih, agaknya kau tidak nekat membuat rIbut."

Ucapan ini halus, akan tetapi penuh teguran dan mengandung sikap memperlihatkan kekuasaan.

Hui Kauw bukanlah tergolong wanita galak, malah sebaliknya ia mempunyai watak halus dan penyabar.

Akan tetapi karena ia sudah mengalami pengeroyokan yang memanaskan hatinya, juga karena pertemuan pertama dengan The Sun mendatangkan kesan yang tidak sedap di hatinya maka ia pun tidak mau tunduk begitu saja dan menjawab dengan sama dinginnya.

"Memang aku seorang asing di sini, akan tetapi apakah ini merupakan alasan bagi orang-orangmu untuk berlaku sewenang-wenang? Aku tidak mencari keributan, adalah orang-orangmu dan si Tiat-Jiu Souw ki yang sombong tadilah yang memaksaku. Sekarang juga aku minta kalian pergilah dari sini, tinggalkan jangan ganggu aku, aku pun tidak ingin bertempur dengan siapa pun juga!"

Kembali The Sun tersenyum-senyum, yang amat mencurigakan hati Hui Kauw pemuda ini tentu saja sudah mendengar semua persoalannya dari Souw Ki bahwa gadis ini amat mencurigakan, menyuruh pelayan menyelidiki tentang seorang Hartawan she Kwee yang dahulu kehilangan anak perempuannya.

"Nona harus tahu bahwa di Kota Raja ini, kami para petugas yang berkuasa dan berhak mengawasi keamanan Kota Raja. Kau seorang asing datang-datang melakukan penyelidikan tentang seorang Hartawan, bukankah hal itu amat mencurigakan? Tapi yang sudah biarlah lalu, sekarang kuharap kau suka memperkenalkan diri dan mengaku terus terang apa maksudmu melakukan penyelidikan itu dan apa pula maksud kedatangaan Nona di Kota Raja ini?"

Hui Kauw bukan seorang bodoh. Ia dapat mengerti kebenaran dalam ucapan orang muda ini akan tetapi karena ia sudah terlanjur dikeroyok tadi, ia tidak dapat menekan kemendongkolan hatinya begitu saja.

"Sudah kukatakan tadi bahwa namaku Hui Kauw, dan bahwa aku datang untuk urusan pribadi mencari keluarga, tidak menyinggung siapa pun juga dan tidak berniat membikin rIbut. Sudahlah, harap kalian pergi meninggalkan aku!"

"Heh-heh, anak ini memiliki kepandaian, tentu dia mengandalkan kepandaiannya dan perguruannya,"

Tiba-tiba kakek dengan tongkat bengkok itu berkata perlahan dengan mata masih mengantuk.

"Nona, kau murid siapa? Tentu gurumu sudah mengenal aku Bhong Lokai."

"Betul, Nona. Katakan siapa gurumu, mungkin aku The Sun pernah pula mendengar namanya,"

Sambung The Sun.

"Aku tidak mempunyai guru, sudahlah, aku tidak ingin diganggu,"

Jawab Hui Kauw yang merasa gemas bukan main karena nama-nama itu tidak ada artinya sama sekali baginya.

The Sun dari Bhong Lokai adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, semua penjaga Kota Raja menaruh hormat kepada mereka.

Sekarang, di depan para penjaga itu, gadis ini tidak memandang mata kepada mereka, tentu saja mereka menjadi gemas juga.

Hemm, kau mengandalkan apamu?

Demikian The Sun berpikir gemas.

Mukamu hitam buruk, siapa yang tertarik?

Kepandaianmu setinggi langit, mana mampu melawanku.

"Bhong-Lo-Enghiong, dapatkah kau mencari tahu dari perguruan mana nona ini?"

Bhong Lokai tertawa, lalu melangkah maju menghadapi Hui Kauw sambil berkata.

"Nona, pedangmu masih di tangan. Nah, kau boleh coba hadapi tongkat bututku, dalam sepuluh jurus kalau kau belum kalah berarti kau termasuk orang pandai. Dan kau boleh balas menyerangku, aku bukan Bhong Lokai kalau tidak dapat mengenal ilmu pedangmu."

Hui Kauw makin mendongkol. Tua-tua sudah kurang tidur begitu masih bisa berlagak, pikirnya.

"Aku hanya mau membela diri, sama sekali tidak sudi rnencari rIbut dengan siapa pun juga. Kalau kau mau mengganggu aku, silakan, aku tidak takut. Kalau tidak, jangan banyak bicara, pergilah tinggalkan aku!"

"Heh-heh-heh, lihat serangan!"

Bhong Lokai menggerakkan tongkatnya dan Hui Kauw membenarkan dugaannya tadi bahwa kakek ini adalah seorang yang "Berisi", tidak seperti Tiat-Jiu Souw Ki.

Sambaran tongkat bengkok itu tidak mengeluarkan suara, namun ujung tongkat menggetar-getar dan tusukannya mengandung tenaga dalam yang hebat.

Cepat ia mengubah kedudukan kakinya, miring untuk menghindarkan tusukan sambil mengelebatkan pedang mencari kesempatan membalas.

Tiga kali Bhong Lokai menyerang hebat dan tiga kali Hui Kauw mengelak, namun belum juga Bhong Lokai dapat mengenal gerakan mengelak sampai tiga kali ini.

Memang tidak gampang mengenai ilmu silat Hui Kauw karena seperti telah diterangkan tadi, ilmu silat nona ini adalah ciptaan Ching Toa-Nio yang mengawinkan banyak macam ilmu silat.

Karena penasaran, Bhong Lokai tidak berani memandang rendah lagi, kini tongkatnya menyambar-nyambar laksana seekor ular terbang, mengurung diri Hui Kauw dari empat jurusan!

Kalau tidak dapat mengenal ilmu nona ini, setidaknya dia harus dapat merobohkannya!

Namun benar-benar perhitungannya meleset ilmu tongkat dari Bhong Lokai memang aneh sehingga dia memperoleh julukan Koai-Tung (Si Tongkat Aneh), akan tetapi betapapun hebatnya ilmu tongkatnya, dia tidak mampu menembus dinding sinar pedang Hui Kauw yang amat kokoh kuat, Di lain pihak, Hui Kauw masih saja mainkan ilmu pedang warisan Ibu angkatnya, karena dengan ilmu pedang ini pun ia masih mampu menandingi ilmu tongkat kakek itu.

Ia tidak menghendaki pertumpahan darah, tidak mau sembarangan melukai apalagi membunuh orang, maka juga ia tidak sampai mempergunakan ilmu pedang simpanannya yang bersifat ganas dan yang ia tahu amat ampuh dan sekali turun tangan mungkin akan menjatuhkan korban itu.

Lima puluh jurus telah lewat.

Tiba-tiba kakek itu berseru keras sekali ketika pedang Hui Kauw membentur tongkatnya dan tahu-tahu melenting ke atas dan dengan gerakan aneh berlenggang-lenggok mengarah lehernya.

Sambil berseru ini Bhong Lokai menarik tongkatnya dan melompat ke belakang untuk menyelamatkan diri daripada tusukan pedang.

"Tahan dulu!"

Demikian teriaknya dan sepasang mata yang biasanya ngantuk itu kini terbuka agak lebar karena herannya.

"Nona, jawablah yang betul, kau masih terhitung apa dengan Siauw-Coa-Ong Giam Kin?"

Hui Kauw maklum bahwa agaknya kakek ini mengenalnya dari ilmu pedang yang memang mengandung pula inti sari ilmu silat Ayah angkatnya itu, malah dahulu pernah pula ia langsung mendapat petunjuk dan latihan dari Ayah angkatnya itu.

"Dia adalah Ayah angkatku, apa sangkut-pautnya denganmu?"

Jawabnya dengan suara masih tetap dingin. Tiba-tiba kakek itu tertawa dan menoleh kepada The Sun yang juga kelihatan girang.

"Aha, The-Kongcu, kiranya orang sendiri! Nona, kalau begitu kau she Giam pula! Ha-ha-ha, kalau tidak bertempur mana kenal? Nona yang baik, aku adalah kenalan baiknya, malah sahabat baik."

The Sun menjura dengan sikap hormat.

"Kiranya Giam-Taihiap adalah putera angkat mendiang Giam-Lo-Enghiong. Pantas begini lihai. Aku The Sun mengharap supaya kau sudi memaafkan orang-orangku yang salah mata. Tentu saja terhadap puteri angkat Giam Lo-Enghiong, kami tidak menganggap musuh dan sama sekali tidak berani menaruh curiga. Sesungguhnya di antara kita masih ada hubungan persahabatan!"

The Sun lalu mengusir semua penjaga, malah segera memerintah para pengurus rumah penginapan itu untuk menyediakan hidangan untuk menghormati Nona Giam Hui Kauw.

Ruangan yang tadinya dijadikan arena pertempuran, dalam sekejap mata saja diubah menjadi tempat pesta, dengan meja yang ditilami kain merah berkembang dan sebentar kemudian berdatanganlah arak wangi dan masakan-masakan lezat yang masih panas, diambilkan cepat-cepat dari restoran terbesar yang berdekatan.

Hui Kauw merasa tak enak sekali.

Jangan dikira hatinya menjadi girang karena permusuhan berubah menjadi persahabatan, karena makin rendah saja nilai orang-orang ini di dalam pandangannya.

Ia sendiri sudah cukup tahu orang apa adanya Giam Kin Ayah angkatnya itu, maka kalau orang-orang ini mengaku sahabat Ayah angkatnya, terang bahwa mereka ini biarpun memiliki kedudukan tinggi di Kota Raja, juga bukan terdiri dari orang-orang yang baik.

Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat menolak uluran tangan mereka, dan tidak dapat menolak pula penghormatan berupa hidangan itu.

Diam-diam ia lega juga bahwa ia tidak jadi menimbulkan keonaran di Kota Raja dan dapat mencari orang tuanya dengan leluasa.

Beberapa kali The Sun dengan sikap menghormat dan manis menuangkan arak dan mengajak nona itu minum, kemudian dalam percakapan itu The Sun bertanya.

"Nona, saya mendengar dari Souw Ki bahwa kau mencari keluargamu dan kau menyelidiki tentang seorang Hartawan she Kwee yang dahulu kehilangan puterinya. Sebetulnya, kau mencari siapakah? Kau percayalah kepadaku, kalau orang yang kau cari itu betul-betul berada di Kota Raja, aku The Sun pasti akan dapat menemukannya. Anak buahku tersebar di seluruh kota dan mengenal setiap orang penduduk."

"Betul ucapan The Sun ini, Nona,"

Sambung pula Bhong Lokai.

"Kami pasti akan dapat mencarikan orang itu, tidak baik kalau Nona sendiri pergi mencari dan khawatir akan terjadinya hal-hal tidak enak karena salah mengerti."

Diam-diam Hui Kauw mempertimbangkan hal ini.

Tentu saja ia tidak bermaksud untuk membuka rahasianya sendiri, akan tetapi agaknya kalau dibantu oleh The Sun, lebih mudahlah untuk dapat bertemu dengan Ayah bundanya.

Ia meneguk araknya lalu berkata manis, .

"Terima kasih banyak, Ji-wi (kalian berdua) baik sekali. Sebetulnya aku masih keluarga jauh dari seorang she Kwee yang tinggal di Kota Raja semenjak belasan tahun yang lalu. Sayangnya, karena aku hanya mendengar hal ini dari mendiang kakekku, aku yang sejak kecil tak pernah bertemu muka dengan keluarga Kwee itu hanya tahu bahwa di Kota Raja dan belasan tahun yang lalu, keluarga ini kehilangan seorang anak perempuan. Tentu saja aku tidak bermaksud untuk menyusahkan dan merepotkan Ji-wi, akan tetapi kalau Ji-wi dapat mencarikan keluarga ini untukku aku akan berterima kasih sekali."

The Sun menoleh kepada Bhong Lokai yang tampak termenung.

"Lo-eng-hiong kau yang lebih lama tinggal di sini daripada aku, apakah tidak mengenal orang yang dimaksudkan oleh Nona Giam?"

"Nanti dulu... nanti dulu..."

Kakek itu meraba-raba keningnya kemudian mengangkat mukanya memandang Hui Kauw.

"Kau maksudkan Hartawan Kwee yang kehilangan anak perempuannya? Anak perempuan yang diculik penjahat belasan tahun yang lalu? Ah... ahh... jangan-jangan yang kau maksudkan adalah Kwee-Taijin (pembesar Kwee) yang sekarang menjabat pegawai tinggi bagian benda-benda Pusaka di Istana. Aku ingat betul kejadian itu, kurang lebih tujuh belas tahun atau delapan belas tahun yang lalu, pada suatu malam Kota Raja gempar karena puteri Kwee-Wangwe (Hartawan Kwee) yang pada masa itu belum menjadi pembesar namun sudah menjadi kenalan baik dari pangeran Mahkota, kabarnya diculik seorang penjahat wanita yang amat lihai. Banyak penjaga dan pengawal melakukan pengejaran namun banyak yang jatuh menjadi korban penjahat wanita yang lihai itu. Aku ikut pula mengejar akan tetapi sayang tidak bertemu dengan penjahat itu. Kabarnya, penjahat wanita itu akhirnya kena dikepung oleh para pengawal, akan tetapi secara aneh dapat meloloskan diri karena tertolong oleh seorang sakti yang tidak memperlihatkan diri. Benar aneh... dan... jangan-jangan dia itu orang yang kau maksudkan?"

Hui Kauw menahan debaran jantungnya.

Tidak salah lagi tentu mereka itulah Ayah-bundanya.

Anak kecil yang diculik itu, siapa lagi kalau bukan dia?

Penculik itu, penjahat wanita yang lihai, siapa lagi kalau bukan Ibu angkatnya, Ching Toa-Nio yang dahulu masih bernama Liu Bwee Lan?

Dan penolong sakti itu, sudah tentu mendiang Giam Kin!

Dengan kekuatan batinnya ia menekan perasaan agar mukanya tidak menyatakan sesuatu, kemudian ia berkata dengan sikap gembira.

"Tentu dia orangnya! Dia masih pamanku, Paman jauh... ah, Bhong Lo-Enghiong, tolonglah, dapatkah kau menunjukkan kepadaku, di mana rumahnya?"

The Sun dan Bhong Lokai saling bertukar pandang.

Kwee-Taijin adalah seorang yang penting kedudukannya, pemegang kunci gudang benda-benda Pusaka Istana.

Dalam keadaan politik sekacau itu, mana bisa menaruh kepercayaan begitu saja kepada gadis lihai ini untuk mendatangi Kwee-Taijin?

Siapa tahu gadis ini mengandung maksud buruk terhadap pembesar itu?

The Sun tersenyum.

"Mudah saja, Nona. Kami mengenal baik kepada Kwee-Taijin. Marilah, sekarang juga kami antar kau menghadap Kwee-Taijin di rumahnya."

Seorang yang berperasaan halus seperti Hui Kauw, tentu saja dapat menangkap kecurigaan yang terkandung dalam sikap dan pandang mata The Sun dan Bhong Lokai, akan tetapi ia tidak memperdulikannya karena hatinya sudah terlampau girang mendengar keterangan tentang Ayah bundanya ini.

Soal Ayahnya menjadi pembesar atau bukan, itu urusan nanti.

Yang penting baginya, ia dapat bertemu dengan Ayah bundanya yang aseli, yang dikenangnya dan dirindukan semenjak ia mendengar penuturan pelayan tua di Ching-Coa-To.

"Aku tidak bermaksud, merepotkah Ji-wi, tapi..."

Ia bersungkan.

"Ah, tidak apa, Nona. Bukankah di antara kita adalah di antara orang segolongan sendiri? Tidak usah sungkan, apalagi memang kami adalah kenalan baik Kwee-Taijin. Marilah."

Tiga orang itu segera meninggalkan penginapan, diantar oleh anggukan dan sikap menghormat oleh para pelayan dan pengurus rumah penginapan.

Kiranya di depan rumah penginapan sudah tersedia sebuah kereta kuda dan The Sun mempersilakan Hui Kauw naik bersama dia dan Bhong Lokai.

Hui Kauw merasa sungkan sekali, akan tetapi karena hatinya dipenuhi kegembiraan dan ketegangan hendak bertemu orang tuanya, ia tidak banyak menolak dan berangkatlah mereka sebagai pembesar-pembesar yang berkendaraan di Kota Raja!

Rumah Kwee-Taijin amat besar dan mewah sehingga begitu memasuki pekarangan depan itu, hati Hui Kauw sudah berdebaran dan ia merasa dirinya amat kecil.

Rumah Ching Toa-Nio di Ching-Coa-To memang juga besar dan indah, akan tetapi dibandingkan dengan bangunan-bangunan di Kota Raja, benar-benar tidak ada artinya.

Rumah depannya itu dijaga beberapa orang perajurit yang memberi hormat ketika melihat The Sun dan Bhong Lokai.

Otomatis mereka menghormat Hui Kauw pula karena gadis ini datang bersama dua orang tokoh itu.

Apalagi melihat gadis muka hitam ini membawa pedang di pinggang, para penjaga maklum bahwa gadis ini tentulah seorang tokoh kang-ouw yang banyak berkeliaran di Kota Raja karena dibutuhkan bantuan mereka oleh Kaisar.

Penjaga pintu depan segera melapor ke dalam setelah mempersilakan tiga orang tamu ini duduk di ruang tamu yang berada di depan, sebuah ruangan lebar yang penuh gambar-gambar indah dan tulisan-tulisan sajak bergantungan di sepanjang dinding tebal yang dikapur putih.

Diam-diam Hai Kauw membandingkan lukisan dan sajak-sajak itu dengan milik Ibu angkatnya di Ching-Coa-To dan merasa bahwa lukisan-lukisan yang berada di sini tidak mampu melawan keindahan kumpulan Ibu angkatnya.

Tak lama kemudian terdengar derap kaki dari dalam.

Hati Hui Kauw sudah berdegupan tidak karuan, akan tetapi ia terheran ketika melihat bahwa yang muncul dari pintu dalam adalah dua orang muda.

Yaitu seorang gadis dan seorang pemuda.

Mereka masih muda benar, kurang lebih tujuh belas atau enam belas tahun, akan tetapi sikap mereka gesit dan lincah, pakaian mereka mewah dan wajah mereka tampan dan cantik.

"The-Kongcu...!"

Dara remaja itu menegur sambil memberi hormat, suaranya berirama manja dan manis.

Diam-diam Hui Kauw mengerutkan keningnya.

Gadis ini terlalu dimanja dan agaknya tergila-gila kepada The Sun yang tampan!

Bukan hal yang pantas kalau seorang dara remaja seperti dia itu keluar menyambut tamu pria dengan sikap semanis itu.

"Nona Kwee, sepagi ini kau sudah begini gembira dan segar cantik. Hendak ke manakah?"

The Sun menegur dan diam-diam Hui Kauw dapat merasa betapa sikap The Sun ini dibuat-buat manis, seperti sikap seorang dewasa terhadap anak-anak.

Hemm, agaknya pemuda berpengaruh ini tidak seceriwis yang disangkanya, pikir Hui Kauw.

"Aku hendak pergi berburu dengan Kian-Koko (kakak Kian)! Ah, kalau saja kau bisa ikut, The-Kongcu, tentu akan banyak hasilnya. Panahmu selalu tepat mengenai sasaran!"

Dara lincah dan jelita itu berkata pula. The Sun tersenyum dan menggeleng kepala.

"Lain kali saja, sekarang aku banyak urusan. Adik Kian, hati-hati kalau berburu, jangan terlalu jauh meninggalkan tembok kota,"

Pesannya kepada pemuda remaja itu yang sejak tadi memandang kepada Hui Kauw.

"Pelayan memberi tahu bahwa ada Bhong-Lo-Cianpwe dan The-Kongcu bersama seorang nona mencari Ayah,"

Katanya dengan suaranya yang besar dan keras.

"Ayah sedang mandi, kami dipesan supaya mempersilakan kalian bertiga menanti sebentar."

"Baik, baik... tidak apa, ada sedikit urusan"

Kata The Sun.

Sementara itu, pelayan datang membawa hidangan minuman dan Hui Kauw merasa canggung sekali karena dua orang muda itu tiada hentinya memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik.

Ia merasa tidak enak, juga bingung, hatinya menduga-duga.

Dari percakapan ini ia dapat menduga bahwa dara remaja itu tentu adik si pemuda, apalagi kalau dilihat wajah mereka memang terdapat persamaan.

Akan tetapi pemuda ini menyebut Kwee-Taijin sebagai Ayahnya.

Kalau Ayah mereka, Kwee-Taijin yang dimaksudkan itu, benar-benar adalah Ayahnya yang sejati, dengan sendirinya kedua orang muda ini adalah adik-adiknya!

Berpikir sampai di sini, hatinya berdebar tidak karuan dan ia pun balas memandang penuh perhatian.

Makin berdebar hatinya ketika muncul pelayan yang berkata hormat.

"Taijin menanti para tamu di ruangan depan. Silakan Sam-wi masuk."

The Sun dan Bhong Lokai bangkit berdiri, Hui Kauw juga mengikuti gerakan dua orang itu. Dua orang anak muda tadi pun berdiri dan sambil tersenyum manis dara remaja itu berkata kepada The Sun.

"Kami juga akan berangkat, The-Kongcu. Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu dan ada waktu, kami akan girang sekali jika kau menyusul kami ke hutan sebelah Selatan."

The Sun hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan memandang dua orang muda itu yang berlarian ke luar rumah di mana telah menanti para pelayan yang telah mempersiapkan dua ekor kuda besar.

Sebentar kemudian terdengarlah derap kuda mereka meninggalkan tempat itu.

The Sun memberi isyarat kepada Hui Kauw untuk ikut memasuki ruangan depan yang ternyata lebih luas dan lebih mewah daripada ruangan tamu.

Dengan mata tak berkedip Hui Kauw memandang laki-laki setengah tua yang bangun dari kursinya menyambut kedatangan mereka bertiga.

Laki-laki ini usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, rambutnya sudah berwarna dua, akan tetapi yang amat menarik adalah alisnya yang sudah putih seluruhnya.

Wajahnya kurus, lebih kurus daripada badannya yang berkerangka besar, tampan dan gerak-geriknya halus.

Jari-jari tangan yang diangkat ke dada untuk memberi hormat itu memiliki kuku-kuku yang panjang terawat, kuku seorang Sasterawan di jaman itu, senyumnya melebar menyembunyikan sinar duka yang tergores di mukanya sebagai bekas kepahitan hidup.

"Ah, kiranya The-Kongcu dan Bhong-losu yang datang berkunjung. Tidak tahu siapa Nona ini?"

Pembesar itu menyambut dengan suaranya yang halus.

Sikap yang tidak angkuh dan halus itu serta merta mendatangkan kesan baik dan mengharukan di hati Hui Kauw yang cepat-cepat memberi hormat bersama The Sun dan Bhong Lokai.

"Kwee-Taijin,"

Kata Bhong Lokai setelah mereka dipersilakan duduk.

"Justeru kedatangan kami berdua ini untuk mengantar Nona ini yang katanya masih terhitung keluarga dengan Kwee-Taijin."

Hening sejenak, hening yang mencekam hati Hui Kauw, mendatangkan heran bagi Kwee-Taijin dan kedua orang jagoan itu hanya menanti sambil memandang penuh perhatian.

"Nona siapakah...?"

Sepasang mata itu mengeluarkan sinar menyusuri wajah dan bentuk tubuh Hui Kauw, lalu kembali ke wajah gadis itu dan menjadi ragu-ragu dan malah curiga ketika melihat muka yang menghitam itu.

Rasa kecewa memenuhi hati Hui Kauw, membuat ia ingin sekali menangis.

Kalau benar dia ini Ayahnya, mengapa tidak mengenalnya lagi?

Bagaimana ia mungkin mengaku begitu saja sebagai puterinya?

Puteri seorang bangsawan kaya raya?

Apakah orang takkan menyangka dia seorang penipu?

Apa buktinya bahwa ia anak pembesar ini?

Dan bagaimana pula kalau ternyata bukan anaknya?

Suaranya gemetar ketika ia berkata.

"Mohon maaf sebanyaknya, Taijin. Sesungguhnya, urusan ini mengharuskan kehadiran Nyonya Taijin. Apabila diijinkan, saya mohon agar Nyonya Taijin dipersilakan datang, baru saya akan bicara tentang urusan ini..."

Berubah wajah Kwee-Taijin, agaknya dia akan marah, akan tetapi karena yang mengajukan permintaan yang aneh ini adalah seorang gadis, dia dapat menahan kesabarannya.

Adapun Bhong Lokai dan The Sun tidak heran mendengar ini malah The Sun segera berkata.

"Kwee-Taijin, Nona ini tahu bahwa belasan tahun yang lalu puteri Taijin lenyap diculik orang..."

"Ahhh...!"

Pembesar itu berseru kaget.

"Kau tahu...? Di mana dia itu sebenarnya? Di mana anakku...?"

Kemudian pembesar ini sadar akan kegugupannya, maka dia segera bertepuk tangan memanggil pelayan, lalu katanya.

"Pergi menghadap nyonya besar dan katakan bahwa aku minta ia datang ke ruangan depan sekarang juga."

Pelayan pergi dan keadaan hening kembali.

Kini Kwee-Taijin menatap wajah Hui Kauw penuh perhatian dan seperti tadi dia menjadi curiga dan ragu-ragu melihat wajah yang hitam itu karena sepanjang ingatannya, dia tidak mempunyai keluarga atau anak kemenakan yang berwajah hitam seperti nona ini.

"Kau betul-betul tahu tentang puteriku yang diculik orang itu?"

"Saya tahu betul, Taijin,"

Jawab Hui Kauw perlahan dan di dalam hatinya nona ini berdoa semoga nyonya pembesar ini kalau memang betul-betul Ibu kandungnya, akan mengenalnya.

Sementara itu, diam-diam The Sun dan Bhong Lokai telah siap siaga menjaga segala kemungkinan untuk melindungi pembesar itu dan isterinya, karena mereka pun merasa curiga kepada nona muka hitam itu.

Dengan pandang mata tajam The Sun menatap wajah Hui Kauw dan melihat betapa wajah nona yang kehitaman itu menjadi pucat tiba-tiba ketika terdengar langkah ringan dan halus dari sebelah dalam, langkah seorang wanita.

Benar saja, tak lama kemudian muncullah seorang wanita setengah tua yang masih amat cantik dan halus gerak-geriknya, tapi bermata sayu tanda penderitaan batin dan wajahnya yang pucat menandakan kesehatan yang buruk.

Begitu melihat wajah nyonya ini, seketika Hui Kauw memandang dengan mata terbelalak dan ia seperti terkena pesona.

Inilah wajah yang seringkali ia lihat di dalam mimpi, dan sekaligus hatinya jatuh.

Kasih sayang dan keharuan memenuhi hatinya, membuat kedua matanya tak dapat menahan lagi bertitiknya dua air mata, mulutnya serasa kering, lehernya serasa tercekik dan jantung di dalam dada meloncat-loncat.

Juga nyonya itu seperti tercengang melihat Hui Kauw, keningnya berkerut mengingat-ingat karena ia merasa seperti pernah melihat wajah gadis ini.

Hanya muka yang kehitaman itu membuat ia ragu-ragu karena seingatnya belum pernah ia mengenal seorang nona bermuka hitam seperti nona ini.

Melihat adanya The Sun dan Bhong Lokai yang sudah dikenalnya, ia segera menjura dengan hormat yang cepat dibalas oleh kedua orang tamu itu, kemudian ia menghadapi suaminya sambil berkata halus.

"Ada keperluan apakah maka aku dipanggil ke sini?"

Karena hatinya masih merasa tegang, Kwee-Taijin hanya menuding ke arah Hui Kauw sambil berkata.

"Nona ini... dia bilang tahu tentang... Ling-ji (anak Ling)..."

Seketika wajah yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat dan mata yang sayu itu memandang terbelalak kepada Hui Kauw, kedua kakinya yang kecil melangkah maju sampai dekat.

"Kau tahu... kau tahu... mana dia Ling Ling anakku...?"

Hati Hui Kauw seperti ditusuk-tusuk rasanya.

Ia terharu sekali dan diam-diam ia merasa bahagia karena Ibu ini ternyata amat kasih kepada puterinya yang hilang diculik orang.

Akan tetapi ia tidak boleh Sembrono, tidak boleh begitu saja mengaku sebagai anak mereka, karena biarpun hubungan darah di antara mereka telah menggetarkan jiwanya, akan tetapi ia tidak mempunyai bukti yang sah.

Bagaimana kalau wanita ini bukan Ibunya?

"Nyonya..."

Suaranya gemetar dan sukar keluarnya.

"Dapatkah Nyonya katakan, apakah anakmu yang hilang itu mempunyai tanda-tanda atau ciri-ciri sehingga dapat dikenal kembali?"

Nyonya itu meramkan kedua matanya, seakan-akan hendak membayangkan kembali anak kecil yang lenyap di waktu malam itu, ingat ketika dengan amat gembira dan penuh bahagia ia memandikan anak itu setiap hari, anak tunggal yang amat disayanginya.

Dengan jelas tampak dalam bayangan ini betapa anaknya itu mempunyai sebuah tanda merah di belakang leher, seperti tahi lalat tapi merah, dan dulu seringkali ia menggosok-gosok agar tanda itu hilang.

Malah suaminya menghiburnya bahwa tanda tahi lalat seperti itu tidaklah buruk, apalagi kalau anak itu sudah besar kelak tentu akan tertutup oleh rambutnya, pula tanda sekecil itu kiranya malah menjadi penambah manis pada leher yang berkulit putih.

"Ada... ada..."

Katanya sambil membuka mata dan memandang suaminya.

"Kau tentu masih ingat, tahi lalat merah di belakang leher..."

Kwee-Taijin mengerutkan kening mengingat-ingat, kemudian berkata sambil tersenyum penuh harapan.

"Betul, ada tahi lalat merah di tengkuk, Ibunya selalu meributkan hal itu..."

Mendengar ini menggigil kedua kaki Hui Kauw dan serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan nyonya itu, memeluk kedua kakinya sambil menangis!

The Sun dan Bhong Lokai sudah mencelat dari tempat duduk masing-masing karena tadinya mengira bahwa gadis aneh itu hendak melakukan penyerangan, akan tetapi melihat Hui Kauw hanya menangis sambil memeluk dan menciumi kaki nyonya itu, mereka saling pandang dan berdiri bengong.

Juga Kwee-Taijin berdiri dari kursinya dan memandang dengan penuh keheranan.

"Nyonya... kau periksalah ini..."

Hui Kauw sambil menangis dan dengan kepala tunduk menyingkap rambutnya memperlihatkan tengkuk.

Nyonya Kwee, suaminya dan juga dua orang tamu itu memandang dan karena Hui Kauw berlutut di atas lantai, mudah bagi mereka untuk melihat betapa kulit yang kuning halus dari tengkuk itu ternoda oleh sebuah tahi lalat merah sebesar kedele.

Hening sejenak, semua orang seperti kena sihir, kemudian Nyonya Kwee mengeluh, membungkuk meraba tengkuk, memandang lagi, mulutnya berbisik-bisik.

"Ah, mungkinkah ini...? Kau... Ling Ling...? Kau anakku...?"

Juga Kwee-Taijin tak dapat menahan diri berseru.

"Mungkinkah ini? Tidak kelirukah...?"

Mendengar keraguan suami isteri itu, dengan terisak Hui Kauw bangkit berdiri, tegak memandang suami isteri itu dan berkata, suaranya tegas.

"Taijin dan Nyonya, memang amatlah berat bagiku untuk memperkenalkan diri setelah melihat bahwa Ayah dan Ibuku adalah orang-orang kaya raya dan orang bangsawan berpangkat. Alangkah akan mudahnya aku dituduh penipu! Lihatlah baik-baik mukaku, mataku, diriku, andaikata Taijin berdua tidak mengenalku sebagai anak yang diculik orang belasan tahun yang lalu, biarlah aku pergi dari sini."

Keadaan tegang sekali.

The Sun dan Bhong Lokai merasai ketegangan ini dan mereka hanya berdiri tegak menjadi penonton.

Kwee-Taijin nampak bingung, ragu-ragu dan pandang matanya tidak pernah lepas daripada wajah Hui Kauw.

Harus dia akui bahwa wajah ini cantik sekali dan mirip wajah isterinya di waktu muda, akan tetapi mengapa hitam sehingga tampak buruk?

Dia ingat betul bahwa dahulu Ling-ji tidak berwajah hitam, malah kulit muka anaknya dahulu itu putih sekali.

Bagaimana dia dapat menerima gadis yang bermuka hitam, yang menjadi seorang gadis kang-ouw dengan pedang selalu di pinggang ini sebagai puterinya?

Nyonya Kwee mengejar maju dan memegang tangan kiri Hui Kauw dengan kedua tangannya yang dingin dan gemetar, Bibirnya berbisik.

"lihat tanganmu... aku ingat betul... di bawah jari manis kiri terdapat guratan seperti huruf THIAN..."

Ia membalikkan tangan gadis itu, menariknya dekat dan memandang penuh perhatian.

Benar saja, di situ terdapat di antara guratan-guratan telapak tangan itu, guratan yang mirip dengan huruf THIAN, yaitu dua tumpuk garis melintang dipotong garis tegak lurus yang di bawahnya bercabang dua!

"Ahh...

kau betul Ling Ling...

kau anakku...!"

"Ibuuuu...!"

Dua orang wanita itu berpelukan, berciuman dan mereka bertangis-tangisan. Pertemuan yang amat mengharukan.

"Ling Ling... inilah Ayahmu... berilah hormat kepada Ayahmu..."

Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut di depan Kwee-Taijin sambil terisak berkata.

"Ayahhhh..."

Kwee-Taijin mengerutkan kening.

Diam-diam dia kecewa sekali melihat nona ini yang ternyata adalah puterinya sendiri yang dahulu diculik orang.

Kecewa melihat anaknya bermuka hitam seperti ini.

Dia menarik napas dan mengelus rambut Hui Kauw setelah menerima sambaran pandang mata isterinya yang seakan-akan mencelanya.

"Ling-ji... anakku, alangkah banyaknya kau telah mendatangkan sengsara dalam hati Ibumu..."

Sementara itu, The Sun dan Bhong Lokai juga tercengang, kemudian menjadi girang sekali bahwa nona yang kosen itu ternyata adalah puteri Kwee-Taijin yang hilang!

Cepat keduanya lalu menjura dan menghaturkan selamat kepada Kwee-Taijin.

"Kionghi (selamat), Kwee-Taijin, kionghi! Siapa kira hari ini amat baik sehingga tanpa dinyana puterimu telah kembali!"

Kata The Sun.

"Tidak hanya telah kembali, malah membawa kepandaian yang hebat. Kionghi, Taijin, selamat bahwa kau mempunyai puteri yang menjadi anak angkat Siauw-Coa-Ong Giam Kin yang sakti. Ha-ha-ha!"

Bhong Lokai juga memberi selamat.

Kekecewaan Kwee-Taijin agak terhIbur ketika mendengar bahwa puterinya ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi.

Apalagi nama besar Siauw-Coa-Ong tentu saja pernah dia mendengarnya.

Maka ketika dua orang tamunya itu berpamit hendak pergi, dia cepat menahan mereka dan berkata.

"Ji-wi yang membawa datang puteri kami, sudah sepantasnya saya menghaturkan terima kasih dengan tiga cawan arak."

Dua orang itu tertawa-tawa dan tak dapat menolak.

Hidangan disiapkan di meja, sedangkan Kwee-hujin segera mengajak puterinya itu ke dalam sambil memeluknya dan menciuminya.

Setelah berada di rumah Ayah bundanya yang aseli, Hui Kauw atau Kwee Ling mendengar banyak, Ternyata Ibunya hanya mempunyai anak dia seorang saja, adapun dua orang remaja yang dilihatnya itu adalah anak dari isteri muda Kwee-Taijin.

Sebagai seorang kaya raya dan bangsawan yang mempunyai pangkat tinggi pula, Kwee-Taijin mempunyai tiga orang isteri di samping beberapa orang selir yang dianggap sebagai pelayan.

Isteri pertama yang disebut Kwee-Huijin adalah Ibu Hui Kauw itulah, isteri ke dua atau Ji-Huijin (nyonya ke dua) tidak mempunyai anak sedangkan Sam-Huijin (nyonya ke tiga) mempunyai anak dua orang yaitu yang bernama Kwee Kian seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dan yang ke dua adalah seorang dara remaja bernama Kwee Siok.

Dua orang inilah yang berjumpa dengan Hui Kauw pada waktu ia pertama datang di rumah orang tuanya.

Hui Kauw dapat merasakan betapa kecuali Ibu kandungnya, kehadirannya di rumah gedung itu amat tidak disuka oleh keluarga Kwee.

Terutama sekali Sam-hujin dan dua orang anaknya.

Hal ini mudah sekali dimengerti karena sebelum hadir Hui Kauw, maka Kwee Kian dan Kwee Siok merupakan dua orang keturunan keluarga Kwee yang menjadi ahli waris.

Sekarang datang Hui Kauw yang ternyata adalah anak dari isteri pertama, tentu saja mereka merasa dirugikan dan merasa terancam kedudukan mereka!

Hal ini karena dapat dimengerti oleh Hui Kauw, maka tidak mendatangkan rasa sesal di hatinya.

Yang membuat gadis ini murung dan tak enak hati adalah sikap Ayahnya.

Ayahnya itu adalah Ayah kandung, kenapa terhadap dia dingin saja, tidak semanis sikapnya terhadap Kwee Kian dan Kwee Siok?

Juga sikap Ayahnya terhadap Ibunya tidak semanis sikapnya terhadap dua orang isterinya yang lain.

Hui Kauw merasa amat kasihan kepada Ibunya dan diam-diam ia tidak puas kepada Ayahnya.

Agaknya perasaan tidak puas inilah yang membuat Hui Kauw menyatakan kepada Ayah bundanya bahwa ia lebih suka bernama Hui Kauw daripada Kwee Ling, karena nama ini sudah dipakainya semenjak kecil, maka ia minta supaya nama Hui Kauw dijadikan nama alias atau nama sehari-hari.

Hanya Ibu kandungnya sajalah yang tetap menyebutnya Ling Ling, sedangkan orang lain menyebutnya Hui Kauw, juga Ayahnya sendiri.

Pada suatu hari Hui Kauw diajak Ayahnya menghadiri pesta yang diadakan di dalam Istana oleh Kaisar!

Kejadian yang luar biasa, apalagi kalau diingat bahwa kehadiran Hui Kauw itu adalah kehendak Kaisar sendiri yang mendengar tentang kelihaian gadis itu dari The Sun.

"Ayah, perlu benarkah itu sehingga saya yang harus ikut ke Istana? Saya tidak senang dengan pesta-pesta besar,"

Kata Hui Kauw kepada Ayahnya. Aneh Ayahnya kali ini, sikapnya manis sekali dan kini Ayahnya tersenyum.

"Hui Kauw, anak baik, kau tidak tahu. Adalah Kaisar sendiri yang minta supaya kau ikut datang karena beliau telah mendengar bahwa anakku yang diculik dahulu telah pulang dan selain beliau hendak memberi selamat kepadaku, juga ingin berjumpa sendiri denganmu. Ini merupakan hal baik sekali dan merupakan kehormatan besar, anakku. Baiklah kita berdua menggunakan kesempatan ini untuk menghaturkan selamat kepada Kaisar atas pilihan beberapa orang selir baru."

Diam-diam Hui Kauw merasa muak di dalam hatinya.

Banyak sudah ia mendengar dongeng tentang Kaisar-Kaisar dan pembesar-pembesar tinggi yang selalu mengumpulkan sebanyak mungkin gadis-gadis cantik untuk dijadikan selir.

Kejadian ini amat memanaskan hatinya.

Laki-laki yang mempunyai kedudukan tinggi benar-benar merupakan manusia-manusia yang mau menang sendiri saja, yang bertindak sewenang-wenang dan menganggap wanita-wanita hanya sebagai benda permainan belaka!

Sebenarnya tak sudi ia harus menghadapi semua ini, tak sudi ia harus menghadiri pesta itu, akan tetapi bagaimana ia dapat membantah kehendak Ayahnya?

Baru beberapa hari ia berkumpul dengan Ayahnya, tak mungkin ia mengecewakan hati orang tua itu.

Apalagi dalam kesempatan ini, Ayahnya juga mengajak Kwee Kian dan Kwee Siok yang kelihatannya gembira bukan main.

Pemuda dan gadis remaja ini berdandan dengan pakaian terbaru.

Hui Kauw tidak dapat meniru ini, biarpun ia telah diberi banyak pakaian indah oleh orang tuanya.

Gadis ini berpakaian sederhana saja, apalagi ia maklum bahwa mukanya yang hitam itu membuat semua pakaian dan hiasan badan tetap tidak patut.

Bukan main meriahnya pesta yang diadakan di taman bunga Istana itu.

Kaisar baru muncul setelah para undangan memenuhi taman dan semua orang termasuk Hui Kauw menjatuhkan diri berlutut ketika Kaisar berjalan dengan sikap agung menuju ke tempat duduk kehormatan yang telah disediakan untuknya.

Dengan kerling matanya Hui Kauw melihat bahwa Kaisar ini masih muda, berwajah tampan bersikap gagah dengan mulut selalu memperlihatkan senyum yang menyembunyikan keangkuhannya.

Setelah semua orang diperkenankan duduk, Kwee Siok menyentuh tengannya dan berkata.

"Hui Kauw Cici, lihat di sana itu duduk rombongan pengawal-pengawal Istana dan jagoan-jagoan undangan, semua adalah tokoh-tokoh persilatan tingkat tertinggi."

Kwee Kian juga tidak mau ketinggalan berkata lirih.

"Dan yang duduk di sebelah kiri itu, yang berpakaian serba merah, orang tua yang tinggi kurus dan tersenyum-senyum itu, dialah Suhu (Guru) kami. Dialah tokoh besar berilmu tinggi yang berjuluk Ang Mo-Ko!"

Diam-diam Hui Kauw menaruh perhatian.

Memang seorang kakek yang aneh, sudah tua tapi pakaiannya merah semua, duduknya tak jauh dari The Sun yang kelihatan berpakaian serba indah.

Ia tahu bahwa dua orang adik tirinya ini belajar ilmu silat dari seorang tokoh pengawal Istana yang berjuluk Ang Mo-Ko, akan tetapi baru sekarang ia melihat orangnya.

"Cici,"

Kata pula Kwee Siok.

"Diantara tujuh orang pengawal ketika Kaisar masih menjadi pangeran Mahkota, Suhu adalah orang yang paling lihai di antara mereka."

"Mungkin tidak kalah oleh The-Kongcu,"

Kata Kwee Kian.

"Wah, kalau dibandingkan dengan The-Kongcu mungkin masih kalah setingkat,"

Kata Kwee Siok.

"Kian-Koko, kau tahu bahwa The-Kongcu adalah seorang tokoh muda dari Go-Bi yang memiliki kesaktian luar biasa, masa di dunia ada keduanya? Akan tetapi, kalau hanya dengan Bhong Lokai saja sudah pasti Suhu lebih menang!"

Hui Kauw tersenyum di dalam hatinya mendengar perdebatan antara kedua adik tirinya ini dan sekaligus ia dapat menduga bahwa adik tirinya Kwee Siok ini tergila-gila kepada The Sun.

Ia termenung dan diam-diam ia berdoa semoga adik ini tidak akan mengalami nasib buruk dalam percintaan seperti ia sendiri.

Betapapun adik tirinya ini di dalam hatinya tidak suka kepadanya, namun Hui Kauw memang memiliki watak yang penuh welas asih, dan prIbudi yang mulia.

Dahulu pun di Pulau Ching-Coa-To, biarpun ia tahu bahwa Hui Siang diam-diam membencinya, namun ia selalu menaruh iba kepada adik angkat ini.

Apalagi sekarang, dua orang ini betapapun juga adalah adik tirinya, anak-anak dari Ayah kandungnya!

Ternyata menurut percakapan yang ia dengar, Hui Kauw tahu bahwa kali ini Kaisar telah memilih lima orang selir baru di antara puluhan orang gadis yang didatangkan dari pelbagai daerah.

Seperti telah seringkali terjadi, gadis-gadis yang tidak diterima tentu saja menjadi bagian dari para pembesar yang mengurusnya.

Tidaklah mengherankan apabila mereka kini berpesta pora amat gembira, selain untuk memberi selamat kepada Kaisar, juga untuk memberi selamat kepada diri mereka sendiri!

Hui Kauw merasa lega bahwa Ayahnya tidak termasuk pembesar yang mengurus tentang penarikan gadis-gadis ini sehingga kali ini Ayahnya tidak ikut bergembira karena mendapatkan selir baru pula!

Anehnya, selir-selir baru itu tidak hadir di tempat pesta dan yang tampak hanyalah para pengunjung yang membanjirkan hadiah-hadiah berupa benda-benda berharga untuk para selir baru itu!

Tentu saja hal ini dilakukan untuk menjilat Kaisarnya, karena benda-benda berharga yang dikeluarkan itu hanya merupakan umpan untuk memancing ikan yang jauh lebih berharga daripada umpannya, yaitu berupa kenaikan pangkat dan lain-lain.

Hui Kauw sudah merasa lega bahwa Kaisar agaknya tidak akan melihat dan mengenalnya, juga agaknya Ayahnya tidak akan menyinggung-nyinggung tentang dirinya.

Siapa kira tak lama kemudian, seorang pembesar mendatangi Ayahnya dan berbisik-bisik.

Wajah orang tua itu seketika menjadi berseri-seri gembira dan dengan suara bangga dia berkata.

"Hui Kauw... eh, Ling-ji... Kaisar memanggil aku dan kau menghadap. Mari...!"

Ayah yang bangga ini berdiri, menggandeng tangan puterinya dan menjatuhkan diri berlutut di tempat itu juga untuk menghormat panggilan Kaisar, kemudian dia mengajak Hui Kauw berdiri dan berjalan perlahan menuju ke tempat duduk Kaisar.

Di depan Kaisar, Ayah dan anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut lagi, menunduk tanpa berani mengangkat muka untuk memandang Kaisar.

"Aha, inikah Nona yang lihai ilmu silatnya itu?"

Betapapun juga, keadaan dan suara Kaisar ini demikian berwibawa sehingga menekan perasaan Hui Kauw dan membuat nona ini merasa mulutnya kaku dan tenggorokannya kering.

Tak dapat ia mengeluarkan suara untuk menjawab!

"Betul, Yang Mulia, inilah anak hamba Kwee...

Hui Kauw yang bodoh, hamba berdua menghaturkan selamat atas hari baik ini semoga Yang Mulia bertambah kebahagiaan dan dikurniai panjang usia selaksa tahun!"

Kaisar ini tertawa senang.

"Kwee Lai Kin, tak kusangka kau mempunyai seorang anak perempuan yang lihai ilmu silatnya, yang katanya malah menjadi murid dan anak angkat Siauw-Coa-Ong Si Raja Ular! Ha-ha-ha! Eh, kau... Kwee Hui Kauw, benarkah kau diangkat anak oleh Si Raja Ular?"

Tanpa berani mengangkat mukanya, Hui Kauw yang sudah mendapatkan kembali ketenangannya menjawab, (lanjut ke

Jilid 20) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20

"Tidak salah, Yang Mulia..."

"Bagus! Karena Ayahmu adalah pembantuku, berarti kau pun pembantu Istana pula. Hayo kau mainkan beberapa jurus ilmu silat agar dinilai oleh para pengawal dan agar menambah kegembiraan pesta ini."

Bingung dan mengkal hati Hui Kauw. Betapa ceriwisnya Kaisar ini, pikirnya, akan tetapi suasana di situ benar-benar amat berwibawa sehingga ia hampir kehilangan ketenangan hatinya.

"Mohon ampun sebesarnya, Yang Mulia, hamba tidak berani memperlihatkan ilmu silat yang dangkal di hadapan Yang Mulia."

Semua orang yang hadir di situ kaget dan khawatir.

Setiap penolakan kehendak Kaisar dapat dianggap sebagai pembangkangan yang sama artinya dengan pemberontakan!

Wajah Kwee-Taijin sudah berubah pucat seperti kertas kosong.

The Sun mengerutkan keningnya akan tetapi pemuda yang cerdik ini segera berlutut dan berkata.

"Mohon Yang Mulia sudi mengampuninya. Sebagai seorang gadis yang baru kali ini berhadapan dengan Yang Mulia, dan baru kali ini menghadiri pertemuan agung, tentu saja Nona Kwee Hui Kauw merasa malu-malu dan canggung sekali. Hamba usulkan agar supaya seorang di antara para pengawal suka mengawaninya sehingga selain Nona Kwee tidak akan sungkan, juga akan lebih indah ditonton dan lebih mudah dijadikan ukuran bagi kepandaian Nona Kwee yang hebat!"

Kaisar tertawa girang dan bertepuk tangan.

"Bagus, kau memang pintar sekali, The Sun! Kau yang memuji Nona ini kepadaku, tentu kau sudah tahu sampai di mana tingkatnya dan aku beri ijin kepadamu untuk melakukan pemilihan di antara para pengawal itu."

The Sun tentu saja dapat menduga sampai di mana tingkat kepandaian Hui Kauw karena pernah dia melihat gadis itu bertanding melawan Bhong Lokai.

Tadinya dia hendak mengusulkan supaya Bhong Lokai maju melayani nona ini, akan tetapi dia ragu-ragu karena siapa tahu kalau-kalau Bhong Lokai akan kalah.

Biarpun pertandingan kali ini hanya sebagai iseng-iseng dan menguji kepandaian belaka, namun kalau sampai pihak Istana kalah, bukankah hal ini akan merendahkan nama besar Kaisar sendiri yang dianggap mempunyai pengawal yang tidak becus?

Oleh karena itu, dia segera memandang Ang Mo-Ko, tersenyum dan berkata.

"Menurut pendapat hamba, hanya Ang Mo-Ko Lo-Enghiong yang patut untuk melayani Nona Kwee, mengingat bahwa kepandaian Nona Kwee sudah amat tinggi dan kalau lain orang yang melayaninya, akan sukarlah dapat digunakan sebagai ukuran."

Semua orang terkejut mendengar ini, sedangkan Bhong Lokai menjadi merah mukanya.

Terang bahwa The Sun tidak percaya kepadanya, maka mengajukan Ang Mo-Ko yang dianggap lebih pandai.

Memang semua pengawal di Istana juga maklum bahwa sebelum datang The Sun dan para tokoh undangan, di antara para pengawal lama, Ang Mo-Ko merupakan tenaga yang paling boleh diandalkan karena memang hebat ilmu kepandaiannya.

Akan tetapi, banyak di antara para pengawal Istana merasa penasaran.

Untuk menguji kepandaian seorang nona yang begitu muda, mengapa mesti mengajukan Ang Mo-Ko?

Agaknya beberapa orang pengawal muda saja sudah cukuplah.

Benar-benar The-Kongcu sekali ini keterlaluan, pikir mereka.

Malah diam-diam Kwee-Taijin juga kaget sekali dan melirik ke arah orang muda itu.

Apa yang dikehendaki oleh orang muda ini, pikirnya tak enak.

Masa anakku harus diadu dengan Ang Mo-Ko yang lihai?

Hemm, apakah dia sengaja hendak membikin malu kepada Hui Kauw dan aku?

Akan tetapi The Sun tidak memperdulikan semua pandang mata yang ditujukan kepadanya penuh pertanyaan itu.

Juga Kaisar yang tadinya terkejut pula, setelah memandang wajah The Sun yang bersungguh-sungguh, diam-diam merasa amat kagum.

Benarkah gadis ini memiliki kepandaian begitu tinggi sehingga patut dipertemukan dalam pertandingan melawan Ang Mo-Ko?

Dia tertawa dan menjawab.

"The Sun, kau lebih tahu dalam hal ini. Usulmu diterima, lakukanlah!"

The Sun lalu menghampiri Ang Mo-Ko, berkata sambil tersenyum.

"Ang Lo-Enghiong harap suka turun tangan menggembirakan suasana pesta. Akan tetapi hati-hatilah, Nona Kwee benar-benar lihai."

Ang Mo-Ko bangkit berdiri, mengangguk-angguk dan berkata, cukup keras sehingga dapat terdengar oleh Hui Kauw.

"Mendapat kehormatan besar untuk berkenalan dengan kelihaian anak angkat Siauw-Coa-Ong Giam Kin yang sakti."

Yang paling merasa tegang di saat itu adalah Kwee Kian dan Kwee Siok.

Dua orang muda ini saling pandang dan muka mereka berubah sebentar pucat sebentar merah.

Memang dari Ayah mereka, mereka telah mendengar bahwa kakak tiri mereka itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi mereka sendiri yang menjadi murid tokoh besar di Istana, Ang Mo-Ko, diam-diam memandang rendah kepada Hui Kauw.

Malah diam-diam mereka mencari kesempatan baik untuk "Mencoba"

Kepandaian nona muka hitam itu.

Siapa tahu sekarang dalam pesta agung, di depan Kaisar, kakak tiri itu akan dipertandingkan dengan guru mereka!

Karena yang memerintahnya adalah Kaisar sendiri, Hui Kauw tentu saja tidak berani membantah.

Setelah memberi hormat dengan berlutut, ia lalu memenuhi isyarat The Sun, bangkit berdiri dan berjalan tenang ke tengah ruangan, di mana terdapat tempat yang agak tinggi dan memang sengaja dikosongkan.

Kaisar dan para tamu duduknya mengelilingi tempat ini di dalam taman itu sehingga tempat itu menjadi pusat perhatian.

Ang Mo-Ko yang bertubuh tinggi kurus sudah berdiri di situ, menanti dengan sikap tenang.

Kaisar memerintahkan sesuatu kepada pengawal pribadinya yang cepat lari menghampiri The Sun.

Pemuda ini tersenyum mengangguk-angguk, lalu berlari pula ke arena pertandingan, berkata kepada Hui Kauw dan Ang Mo-Ko yang sudah bediri berhadapan.

"Menurut perintah Kaisar, karena di antara para tamu banyak yang tidak tahu ilmu silat, maka untuk menjaga kesusilaan dan mencegah persentuhan tangan, Ji-wi (kalian) diperintahkan menggunakan senjata dalam pertandingan persahabatan ini. Silakan Nona Kwee memilih senjata apa yang dikehendaki, akan saya sediakan."

Hui Kauw memandang Ang Mo-Ko untuk mengetahui pendapat orang tua yang diharuskan menjadi lawannya itu.

Ia melihat kakek itu sambil tersenyum lebar telah mengeluarkan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang Huncwe (Pipa Tembakau) yang putih kemilau seperti perak.

Huncwe ini panjangnya ada tiga perempat meter, ujungnya meruncing dan beberapa sentimeter sebelum ujungnya terdapat "Buahnya"

Merupakan tempat tembakau yang biasanya dinyalakan.

Tahulah Hui Kauw bahwa lawannya adalah seorang ahli totok yang berbahaya karena senjata seperti itu memang tepat untuk menotok jalan darah, bentuknya meruncing tapi ujungnya tumpul.

"Aku tidak ingin berkelahi sungguh-sungguh, mengapa harus bersenjata?"

Katanya ragu-ragu.

"Pula, aku tidak membawa pedangku."

Memang semua pengunjung tidak diperbolehkan membawa senjata, tentu saja kecuali para pengawal yang sudah dipercaya penuh.

Aturan ini belum lama diadakan setelah terjadi perebutan kekuasaan dan makin lama makin banyak terdapat mata-mata dari fihak yang anti Kaisar berkeliaran di Kota Raja.

The Sun tersenyum dan mencabut pedangnya.

"Kalau kau biasa berpedang, kau boleh mempergunakan pedangku, Nona."

"Terima kasih."

Hui Kauw terpaksa menerima pedang The Sun.

"Nah, Kaisar telah memberi tanda. Kalian boleh mulai,"

Kata The Sun yang segera mundur dan berdiri di pinggiran.

Para tamu menahan napas, apalagi Kwee-Taijin ketika melihat betapa anak perempuannya sudah berdiri dengan pedang terhunus di depan Ang Mo-Ko yang masih tersenyum-senyum itu.

Dengan gaya lucu Ang Mo-Ko sekali lagi berlutut memberi hormat kepada Kaisar, lalu berdiri dan berkata.

"Nona Kwee, aku yang tua banyak mengharapkan petunjuk darimu."

"Ah, Lo-Enghiong mengapa berlaku sungkan? Lekaslah bergerak dan lekas pula akhiri permainan ini, aku mana bisa menang dibandingkan dengan seorang tokoh tua?"

Jawab Hui Kauw hati-hati, pedangnya sudah melintang di depan dadanya. Ang Mo-Ko tertawa lagi, lalu menggerakkan Huncwenya sambil berseru.

"Awas Nona, aku mulai!"

Hui Kauw maklum bahwa lawannya bukanlah orang lemah, hal ini tidak hanya dapat ia duga dari sikap kakek itu, juga sekarang jelas dapat dilihat dari dahsyatnya sambaran Huncwe yang melakukan totokan ke arah leher dan lambungnya.

Dua bagian tubuh ini letaknya tidak berdekatan namun ujung Huncwe itu dapat menotok secara beruntun dengan cepat sekali sehingga sukar diduga bagian mana yang akan diserang lebih dahulu karena seakan-akan ujungnya berubah menjadi dua menyerang dengan berbareng!

"Tring!

Tranggggg!"

Bunga api berhamburan menyilaukan mata ketika pedang yang diputar Hui Kauw itu sekaligus bertemu dua kali dengan Huncwe itu.

Karena ia menggunakan pedang orang lain, Hui Kauw dengan tabah berani menangkis sekalian hendak menguji tenaga lawan.

Ia merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi dengan pengerahan hawa murni ia dapat mengusir getaran itu.

Di lain fihak, Ang Mo-Ko berseru keras dan melompat mundur, cepat menarik Huncwenya dan diamat-amati dengan penuh perhatian dan kekhawatiran.

"Wah-wah-wah, untungnya Huncwe yang menjadi jimat hidupku ini tidak rusak!"

Katanya kemudian sambil tertawa.

Tadi dia memang takut kalau-kalau Huncwe kesayangannya ini lecet.

Dengan lagak lucu kakek ini menerjang maju lagi mengirim serangan-serangan kilat.

Hui Kauw juga mainkan pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar putih.

Makin cepat kakek itu menyerangnya, makin cepat pula ia menggerakkan pedangnya, kini tidak hanya untuk mempertahankan diri, juga untuk balas menyerang.

Hebat pertandingan itu dan juga indah sekali karena sambaran Huncwe yang bagaikan kilat menyambar itu selalu lenyap digulung awan putih sinar pedang Hui Kauw, Kadang-kadang dari dalam gulungan awan itu muncrat bunga api dibarengi suara nyaring seakan-akan halilintar menyambar dari gulungan awan mendung.

Tentu saja Ang Mo-Ko maklum akan maksud pertandingan ini.

Tadinya dia hanya bermaksud menguji, Tentu saja dia tidak akan menyerang sungguh-sungguh puteri Kwee-Taijin yang juga menjadi kakak daripada kedua orang muridnya Akan tetapi makin lama penyerangannya menjadi makin dahsyat ketika dia mendapat kenyataan bahwa nona ini ilmu pedangnya sungguh tak boleh dipandang ringan.

Dia harus memeras keringat dan mengerahkan tenaga dan kepandaian kalau tidak mau dikalahkan dan mendapat malu di dalam pertandingan agung itu!

Setelah bertanding lima puluh jurus lebih, Ang Mo-Ko tidak berani main-main lagi dan terpaksa dia mengeluarkan kepandaiannya agar jangan sampai kalah.

Di lain fihak, Hui Kauw juga hendak menjaga namanya, selain juga hendak menjaga muka Ayahnya.

Kalau ia mudah saja dikalahkan, bukan hanya dia yang akan ditertawakan orang, apalagi oleh kedua orang adik tirinya, juga Ayahnya tidak luput daripada ejekan.

Namun, ia tetap tidak mau mempergunakan ilmu silatnya yang ia rahasiakan.

Ia sengaja hanya mainkan ilmu pedang yang ia pelajari dari Ibu angkatnya dan ternyata ilmu pedang itu sudah cukup untuk menandingi Huncwe di tangan Ang Mo-Ko.

Kaisar menjadi amat gembira menyaksikan pertandingan pedang tingkat tinggi melawan Huncwe maut ini dan berkali-kali dia bertepuk tangan memuji karena Kaisar ini pun seorang yang suka sekali akan ilmu silat.

Setelah seratus jurus lewat, Ang Mo-Ko menjadi gelisah dan dia merasa khawatir sekali kalau-kalau akan ditertawai Kaisar dan karena pertandingan ini akan diturunkan pangkatnya kalau dia tidak lekas-lekas dapat mengalahkan nona muda ini.

Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan keras dan tangan kirinya bergerak melakukan serangan pukulan yang aneh sekali, dengan jari tangan terbuka dan dilakukan dari bawah ke atas.

Akan tetapi pukulan ini membawa angin panas yang amat hebat.

Kiranya inilah ilmu pukulan simpanan dari Ang Mo-Ko atau Iblis Merah, karena sebutan ini bukan saja menyindir pakaiannya yang serba merah, namun juga ilmu pukulannya Ang-Tok-Jiu (Tangan Racun Merah).

Ilmu pukulan ini bukan main hebatnya, apabila dilakukan, tangan kirinya berubah menjadi merah seperti kepiting direbus dan dari tangan ini selain keluar hawa pukulan yang panas dan dapat meremukkan tulang membakar kulit daging, juga mengandung hawa beracun!

Hui Kauw kaget bukan main ketika merasai hawa pukulan yang amat panas ini.

Ia adalah puteri angkat dari Ching Toa-Nio dan semenjak kecil ia tinggal di Pulau Ular Hijau, tentu saja ia tahu akan racun-racun berbahaya.

Ia dapat menduga bahwa pukulan lawan ini tentu mengandung racun, maka ia tidak berani menerimanya dan cepat mengelak.

Ang Mo-Ko makin penasaran, Huncwenya terus mendesak diselingi pukulan-pukulan Ang-Tok-Jiu.

Kali ini dia sama sekali tidak mau memberi hati dan niat satu-satunya adalah menjatuhkan atau mengalahkan gadis ini, baik secara halus maupun kasar.

Hal ini dianggapnya penting sekali untuk menjaga nama dan kedudukannya di hadapan Kaisar.

Setelah Ang Mo-Ko mempergunakan ilmu pukulan Ang-Tok-Jiu ini, segera Hui Kauw menjadi terdesak hebat.

Gadis ini tak dapat mempertahankan diri lagi karena ia harus selalu mengelak daripada pukulan tangan kiri lawan sehingga permainan pedangnya tak mampu lagi membendung banjir serangan Huncwe yang bertubi-tubi mendesaknya dengan totokan-totokan berbahaya.

Celaka, pikirnya, kakek merah ini agaknya tidak main-main lagi dan terlalu bernafsu untuk mengalahkanku, pikirnya.

Dan ia tahu bahwa kalau kali ini ia kalah, itu akan terjadi dalam keadaan yang amat berbahaya karena sekali terkena totokan Huncwe atau terkena pukulan beracun, ia akan terluka parah.

Baginya, kalah dari kakek ini di depan Kaisar bukanlah hal yang terlalu ditakuti, akan tetapi tentu saja ia tidak sudi kalau harus menyerahkan diri untuk ditotok atau dipukul sampai terluka parah.

Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan nyaring dan ilmu pedangnya segera berubah hebat.

Kalau tadinya ilmu pedangnya bagaikan ombak-ombak kecil yang amat cepat menggelora, sekarang berubah tenang seperti gelombang lautan besar yang tampaknya tenang dan lambat, namun yang menelan segala yang dihadapinya.

Gerakannya menjadi lambat dan aneh sekali akan tetapi bagi Ang Mo-Ko amat hebat kesudahannya karena kakek ini tiba-tiba saja melihat betapa tangan kirinya berhadapan dengan pedang yang mengandung tenaga dalam yang dahsyat.

Kalau dia melanjutkan serangannya, berarti tangan kirinya akan buntung!

Cepat dia menarik tangan kirinya, akan tetapi pedang itu dengan gerakan lambat dan aneh namun mengandung tenaga menempel yang luar biasa, tahu-tahu telah menghantam Huncwenya.

Terdengar suara nyaring dan...

Huncwe itu terlepas dari tangan Ang Mo-Ko yang tiba-tiba merasa betapa tangan kanannya setengah lumpuh!

Ang Mo-Ko kaget sekali, mengeluarkan suara keras dan melompat ke belakang, keringat dingin membasahi lehernya karena maklum bahwa tadi kalau lawannya berniat buruk, tentu dia akan terluka.

Ternyata pedang itu tidak mengejarnya dan Hui Kauw hanya berdiri dengan pedang melintang di depan dada.

"Kiam-hoat bagus...!!"

Terdengar pujian dari seorang di antara mereka yang tempat duduknya di dekat The Sun, seorang laki-laki setengah tua yang gagah dan tampan, yang bermata tajam bersinar-sinar.

Terdengar tepuk tangan, ternyata Kaisar sendiri yang bertepuk tangan memuji.

Semua orang lalu mengikuti gerakan ini dan meledaklah tepuk tangan dan pujian di taman itu.

Kaisar mengangkat tangan dan semua suara itu berhenti.

"Kwee Hui Kauw, sebagai seorang gadis muda, ilmu silatmu hebat bukan main. Kalau sampai mendapat pujian dari Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui, itu berarti bahwa ilmu pedangmu sudah mencapai tingkat tinggi. Bagus sekali!"

Kata Kaisar dengan suara gembira.

Hui Kauw baru teringat bahwa ia berada di dalam pertemuan agung di mana Kaisar hadir dan melihat betapa Ang Mo-Ko sudah menjatuhkan diri berlutut, ia pun segera berlutut menghadap kepada Kaisar dengan penuh hormat.

Diam-diam ia mencatat ucapan Kaisar tadi bahwa orang setengah tua yang memujinya itu adalah Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui yang amat tersohor sebagai juara ilmu pedang!

"Kwee Hui Kauw, menyaksikan kepandaianmu, kami mengangkatmu sebagai pembantu komandan pengawal Istana.

The Sun yang akan membagi tugas kepadamu.

He, The Sun kau perkenalkan Nona perkasa ini kepada para Enghiong yang hadir!"

Dengan sikap gembira sekali Kaisar itu lalu melanjutkan makan minum dan suasana pesta makin gembira.

Hui Kauw hanya dapat menghaturkan terima kasih sambil berlutut, kemudian ia mengiringkan The Sun yang mengajaknya untuk berkenalan dengan beberapa orang tokoh yang duduk di bagian tamu kehormatan.

Pertama-tama ia diperkenalkan dengan orang setengah tua yang tadi memujinya, yaitu Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui!

Tokoh pedang ini memandangnya dengan tajam penuh selidik, kemudian mengangguk dan berkata.

"Nona Kwee, sebagai puteri angkat Giam Kin, aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan ilmu pedang yang hebat tadi. Lain waktu bila ada kesempatan aku ingin sekali mengajak kau bercakap-cakap tentang ilmu pedangmu itu."

Suara itu terdengar manis memuji, akan tetapi mengandung sesuatu yang mendebarkan jantung Hui Kauw, karena jelas terasa olehnya bahwa tokoh pedang ini nampak tidak puas.

Ia tidak dapat memperhatikan tokoh pedang ini lebih lanjut karena The Sun sudah memperkenalkan dia kepada tokoh-tokoh lain yang banyak terdapat di bagian itu.

Orang ke dua yang diperkenalkan oleh The Sun kepadanya adalah seorang kakek yang berpakaian seperti Tosu tua, bertubuh pendek gemuk akan tetapi mempunyai sepasang lengan yang panjang sekali, usianya sudah lebih dari lima puluh tahun namun mukanya halus seperti muka kanak-kanak.

Tosu ini adalah seorang undangan dan dia bukanlah orang sembarangan karena dia ini bukan lain adalah Paman guru The Sun sendiri!

Tosu pendek ini adalah seorang pertapa Go-Bi, adik seperguruan Hek Lojin yang terkenal dengan sebutan Lui-Kong atau Malaikat Guntur!

Adapun julukan atau nama Pendetanya adalah Thian Te Cu.

Menilik sebutan dan julukan ini, Lui-Kong Thian Te Cu, sudah membuktikan bahwa betapa tokoh ini mempunyai watak jumawa.

Akan tetapi kejumawaannya tidaklah kosong belaka karena dia memang memiliki kepandaian yang amat luar biasa dan dia bahkan pernah membikin rIbut di Go-Bi-Pai, yaitu partai persilatan Go-Bi-San yang amat tersohor.

Berbeda dengan watak Suhengnya, Hek Lojin, yang lebih suka menyembunyikan diri di puncak gunung, Tosu pendek ini menerima undangan The Sun dengan gembira karena sesungguhnya dia masih suka bersenang-senang menikmati kemuliaan duniawi.

"Heh-heh, Nona Kwee masih amat muda hebat ilmunya,"

Kata Lui-Kong Thian Te Cu sambil memandang dengan matanya yang sipit dan menggerak-gerakkan kedua lengannya yang panjang.

"Muka yang cantik jelita disembunyikan di balik kehitaman yang disengaja. Heh-heh, Giam Kin si iblis cilik benar-benar luar biasa, sudah mati meninggalkan keturunan begini hebat!"

Bukan main mengkalnya hati Hui Kauw mendengar ini dan diam-diam ia pun terkejut karena kakek pendek itu benar-benar awas pandang matanya sehingga secara menyindir sudah membuka rahasia mukanya yang hitam, Agaknya dapat menduga bahwa mukanya menjadi hitam karena racun.

Lebih-lebih kagetnya ketika suara ketawa terkekeh yang terakhir dari kakek itu membuat ia hampir roboh karena badannya serasa tertekan hebat membuat kedua kakinya seperti lemah tak bertenaga.

Cepat-cepat nona ini mengerahkah hawa murni di dalam tubuh melindungi jantung karena ia maklum bahwa dengan suara ketawa itu, si kakek aneh telah menyerangnya atau menguji tenaga dalamnya.

Itulah semacam ilmu khikang yang hebat sekali, yang dapat mempergunakan suara ketawa untuk menyerang seseorang yang dikehendaki tanpa mempengaruhi orang lain di sekelilingnya.

Hanya seorang yang Lweekangnya sudah tinggi sekali dapat melakukan hal ini!

Cepat ia menjura kepada kakek itu dan mengucapkan kata-kata merendah.

"Saya yang muda dan bodoh mana berani menerima pujian Lo-Cianpwe?"

Orang ke tiga yang diperkenalkan oleh The Sun adalah seorang yang tidak kalah aneh dan menariknya.

Dia ini seorang Hwesio yang bertubuh tinggi besar, berjubah sederhana dengan dada setengah terbuka sehingga kelihatan bulu dadanya yang lebat.

Usianya tentu tidak kurang dari lima puluh tahun, kepalanya gundul kelimis dan besar sekali sesuai dengan tubuhnya, matanya lebar bundar tapi jarang dibuka karena seringkali meram, alisnya tebal berbentuk golok.

Wajah Hwesio ini tampak angker dan berwibawa, tidak mencerminkan sifat welas asih melainkan mendatangkan rasa segan dan hormat karena jelas dari pribadinya bersinar sifat keras dan kuat yang sukar ditundukkan.

Berbeda dengan para tamu lain, Hwesio ini menghadapi meja kecil di mana terdapat hidangan dari sayur-sayuran tanpa daging, tanda bahwa dia seorang yang Ciak-Jai (pantang daging) akan tetapi suka minum arak, terbukti dari guci besar arak yang disediakan untuknya.

"Nona Kwee, Lo-Suhu ini adalah Bhok Hwesio, tokoh besar dari Siauw-Lim, seorang patriot sejati yang siap mengorbankan tenaga dan jiwa untuk mempertahankan negara. Pernahkan kau mendengar tentang Heng-San Ngo-Lo-Mo (Lima Iblis Tua dari Heng-San)? Nah, begitu Bhok Lo-Suhu ini menginjakkan kaki ke Heng-San dan turun tangan, lima iblis tua terbasmi habis, sarangnya dibakar dan semua dilakukan oleh Bhok Tosuhu seorang diri saja!"

Hui Kauw terkejut.

Pernah ia mendengar ketika masih berada di Ching-Coa-To tentang Heng-San Ngo-Lo-Mo ini, yang terkenal kejam dan amat tinggi kepandaiannya, apalagi kalau maju berlima.

Ibu angkatnya sendiri pernah menyatakan rasa jerihnya kalau harus menghadapi lima orang iblis tua itu dan sekarang Hwesio tua ini seorang diri saja mampu membasminya!

"Omitohud, kaum pemberontak dan pengacau negara kalau tidak dibasmi, tentu membikin sengsara rakyat,"

Komentar Hwesio itu tanpa membuka matanya, akan tetapi senyum yang membayang di Bibirnya yang tebal itu menjadi tanda bahwa dia merasa senang akan pujian The Sun.

"Syukur Nona Kwee sudah terlepas dari Ayah angkat macam Giam Kin yang jahat, seterusnya harap meneladani Ayah sendiri yang mengabdi kepada negara."

Hwesio itu selanjutnya menutup mata dan mulut tidak perduli lagi kepada Hui Kauw.

Masih banyak tokoh-tokoh diperkenalkan oleh The Sun kepada Hui Kauw, akan tetapi selain dua orang yang sudah disebutnya tadi, hanya ada dua orang lagi yang menarik perhatian Hui Kauw, yaitu seorang laki-laki tinggi kurus berambut keriting berkulit hitam yang diperkenalkan sebagai Bhewakala, seorang Pendeta Hindu yang tadinya adalah seorang pertapa di puncak Anapurna di Himalaya.

Dia seorang bangsa Nepal yang berilmu tinggi dan dalam perantauannya di Timur akhirnya dia bertemu dengan The Sun dan dapat dibujuk membantu Kaisar baru dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Seorang lagi tokoh wanita yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, seorang ahli pedang dari Kun-Lun-Pai.

Sebetulnya tokoh wanita ini adalah seorang pelarian dari Kun-Lun-Pai beberapa tahun yang lalu karena sebagai anak murid Kun-Lun ia telah melakukan pelanggaran susila dan ketika ditegur oleh Ketua Kun-Lun-Pai pada waktu itu, ialah Pek Gan Siansu, ia melawan dan akhirnya ia dikalahkan dan diusir oleh Pek Gan Siansu.

Semenjak itu, ia melakukan perantauan dan tidak berani kembali ke Kun-Lun-Pai, akan tetapi dalam perantauannya ini ia malah mendapat penambahan ilmu kepandaian yang hebat sehingga kini ia merupakan tokoh yang lihai sekali.

Wanita ini bernama Gui Hwa dan berjuluk It-To-Kiam (Setangkai Pedang).

"Demikianlah, Kun Hong,"

Kata Hui Kauw mengakhiri penuturannya kepada Kun Hong.

"Selanjutnya aku tinggal bersama orang tuaku. Karena tidak berani menolak perintah Kaisar, aku terpaksa membantu The Sun, akan tetapi bukan membantu di dalam Istana, hanya aku berjanji kepada The Sun akan membantu setiap kali tenagaku dibutuhkan. Dia amat baik kepadaku dan memang keadaan di Kota Raja amat kuat, banyak terdapat tokoh-tokoh pandai. Oleh karena itu, ketika mendengar bahwa ada seorang buta dikeroyok, hatiku kaget bukan main. Cepat-cepat aku keluar dan menuju ke tempat pertempuran untuk mencegah mereka yang mengeroyokmu, akan tetapi, ternyata kau telah dapat melarikan diri dan aku tak berdaya melihat penyembelihan yang dilakukan para pengawal terhadap orang-orang Hwa I Kaipang. Aku menyusul dan mencarimu dengan diam-diam dan aku melihat jejak The Sun di rumah ini..."

Hui Kauw memandang kepada mayat janda Yo yang tak bergerak sambil menarik napas panjang.

"Karena salah sangka setelah melihat The Sun dilayani janda ini aku menjadi marah, menghinanya dan merampasmu, Ah, aku menyesal sekali, Kun Hong."

Selama Hui Kauw berceritera, Kun Hong hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.

Terutama sekali penuturan Hui Kauw tentang orang-orang kosen di Kota Raja amat menarik hatinya.

Agaknya Hwesio yang sanggup menghadapi jurusnya "Sakit Hati"

Tentulah Bhok Hwesio jago tua Siauw-Lim itu. Wah, berat kalau begini. Dia merasa bersyukur bahwa Mahkota kuno itu tidak terampas oleh mereka. Teringat akan ini, Kun Hong berkata heran.

"Ah, kenapa A Wan begini lama belum kembali?"

Karena tadi Hui Kauw asyik berceritera, nona ini pun seperti lupa kepada A Wan. Sekarang ia pun merasa heran dan curiga.

"Biar aku mencarinya di belakang rumah."

Ia bangkit berdiri dan melompat ke luar dari pondok itu melalui pintu belakang.

Baru beberapa menit seperginya Hui Kauw, tiba-tiba Kun Hong memiringkan kepalanya.

Dia mendengar suara banyak kaki dengan gerakan ringan sekali di sekeliling rumah!

Otomatis tangan kanannya menggenggam tongkatnya erat-erat dan seluruh tubuhnya tegang dalam persiapan.

Luka-lukanya biarpun masih terasa sakit, namun sudah tidak berbahaya lagi, punggungnya masih kaku.

Dia masih tetap duduk bersila di atas tikar dengan sikap tenang tapi dengan hati tegang.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang sudah amat dikenalnya, ketawa The Sun!

"Ha-ha-ha, Kwa Kun Hong, kiranya benar kau yang secara pengecut bersembunyi di balik selimut janda muda, pura-pura menjadi seorang kakek.

Ha-ha-ha!"

Berbareng dehgan ucapan itu, tubuh The Sun melayang masuk ke dalam pondok, tertawa-tawa lagi.

"Perempuan keparat, berani kau menipuku, ya?"

Kun Hong mendengarkan penuh perhatian, namun dia sudah bersiap sedia membela diri. Terdengar The Sun hampiri jenazah janda Yo, kemudian pemuda itu menahan pekik.

"Ahhh.."

Kun Hong tersenyum mengejek.

"The Sun manusia keparat, kau lihat baik-baik wanita tak berdosa yang menjadi korbanmu!"

Sehabis mengeluarkan ejekan ini, tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah The Sun dan tongkatnya sudah mengirim tusukan maut.

The Sun kaget dan cepat membanting diri ke kanan sehingga dinding pondok yang tidak kuat itu menjadi jebol, terus tubuhnya menggelinding ke luar.

Kun Hong mengejar terus, juga melalui dinding yang jebol itu.

Setibanya di luar pondok, Pendekar Buta ini berhenti karena dia tidak dapat mengenali lagi di mana adanya The Sun.

Di depan pondok itu ternyata telah menanti banyak orang yang kini menghadapinya setengah mengurung.

"Omitohud... sayang pemuda berilmu tinggi menjadi pemberontak."

Suara ini mengejutkan hati Kun Hong karena dia mengenalnya sebagai suara Hwesio kosen yang pernah memukul punggungnya.

Tentu inilah yang oleh Hui Kauw diceriterakan sebagai Bhok Hwesio, pikirnya.

Entah ada berapa orang tokoh lihai lagi di samping Hwesio ini dan The Sun.

Namun dia tidak takut, hanya dia amat khawatir kalau-kalau Mahkota kuno yang tadi sedang diambil oleh A Wan itu terampas musuh.

Kun Hong tidak dapat melihat bahwa selain Bhok Hwesio dan The Sun, di situ terdapat banyak pengawal dan masih ada lagi seorang kosen, yaitu si pertapa dari Nepal bernama Bhewakala yang berdiri tegak sambil memandang dengan sepasang matanya yang mengandung pengaruh sihir!

Mendengar pujian Bhok Hwesio kepada pemuda buta ini, Bhewakala menaruh perhatian besar karena dia sudah cukup maklum akan kesaktian Bhok Hwesio.

"Mata buta tidak mengapa, kalau hati yang buta benar-benar amat sayang sekali,"

Katanya dengan suaranya yang besar dan bahasanya yang kaku. Mendengar suara ini, Kun Hong dapat menduga siapa tokoh ke dua ini karena dia sudah pula mendengar nama orang itu dari penuturan Hui Kauw.

"Bhok Hwesio dan Pendeta Bhewakala adalah tokoh-tokoh tua yang memiliki ilmu tinggi, sudah tahu aku seorang muda yang buta mengapa masih memusuhiku tanpa sebab? Apa perbuatan ini tidak merendahkan derajat dan mencemarkan nama besar Ji-wi (kalian)?"

Katanya dengan suara keras.

Bhok Hwesio melengak, lebih-lebih Bhewakala yang seketika menjadi pucat mukanya.

Pendeta Nepal ini datang dari Himalaya di mana kepercayaan akan keajaiban dan tahyul masih amat tebal.

Sekarang mendengar seorang buta mengenal namanya begitu saja, tentu dia menjadi heran dan takut-takut.

Siapa tahu pemuda ini adalah sebangsa "Dewa"

Yang menjelma menjadi manusia sehingga biarpun matanya buta akan tetapi tahu akan segala kejadian di dunia ini?

Hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut untuk minta maaf kalau saja The Sun tidak membentak marah.

"Kwa Kun Hong! Jangan coba-coba kau mempengaruhi dua orang Lo-Cianpwe yang terhormat dengan ucapanmu yang beracun! Kau ternyata diakui sebagai Ketua oleh pemberontak-pemberontak Hwa I Kaipang, jelas bahwa kau adalah seorang pemberontak. Lebih baik kau menyerah dan kami berjanji akan mintakan ampun kepada Kaisar, asal kau suka berjanji untuk bekerja sama membela negara daripada rongrongan musuh. Melawan pun tiada gunanya, kau sudah terluka dan apa artinya kepandaianmu menghadapi kesaktian Bhok Lo-Suhu dan Bhewakala?"

"The Sun, kau maklum dalam hatimu bahwa kalau mau bicara tentang ucapan beracun dan perangai binatang, maka kaulah orangnya. Selama hidupku aku tak pernah memusuhimu, mengapa kau mendesakku dan malah kau menjadi sebab kematian seorang janda tak berdosa?"

"Tak usah banyak cakap, lebih baik surat rahasia yang kau terima dari Tan Hok kau serahkan kepadaku, kalau tidak jangan harap dapat meninggalkan Kota Raja dalam keadaan hidup!"

The Sun membentak.

"Manusia rendah, sudah kukatakan bahwa aku tidak membawa surat apa-apa. Terserah kepadamu."

"Saudara The, biarlah aku mencoba menangkap tuna netra yang amat bandel ini!"

Kata Bhewakala yang amat tertarik mendengar percakapan itu dan ingin sekali dia menguji kepandaian si buta ini yang tadi sudah dipuji-puji oleh Bhok Hwesio. Bhok Hwesio tertawa.

"Saudara Bhewakala, berhati-hatilah kau, dia benar-benar lihai sekali."

Pendeta Nepal itu tersenyum.

Dia adalah seorang pertapa Himalaya yang berilmu tinggi, dalam hal kepandaian dan kesaktian, dibandingkan dengan Bhok Hwesio kiranya hanya kalah setingkat, masa dia harus merasa jerih menghadapi seorang muda lagi buta seperti Kun Hong ini?

"Orang muda, menyerahlah, atau kalau tidak, bersiaplah kau kutangkap dan kujadikan tawananku!"

Katanya dan tiba-tiba tubuhnya sudah bergerak secara aneh, kedua kakinya diangkat ujungnya sehingga tubuhnya doyong ke belakang seperti orang akan terjengkang.

Benar-benar gerakan ini merupakan kuda-kuda yang amat aneh dan lucu, apalagi karena kedua lengannya diulur ke depan seperti seorang bapak hendak memondong anaknya, atau lebih mirip seorang yang akan jatuh ke belakang sedang minta tolong.

Kun Hong tak dapat melihat gerakan ini namun dia dapat mendengarkan dan maklum bahwa orang yang akan menangkapnya ini memiliki kepandaian luar biasa dan berbeda dengan orang-orang lain, maka dia pun tidak mau memandang rendah, tubuhnya sudah bergerak pula dengan perlahan, memasang kuda-kuda jurus Sakit Hati.

Kali ini dia tidak mau memusingkan lagi tentang kesabaran, karena maklum bahwa dia telah terkurung dan berada dalam keadaan hidup atau mati.

Apalagi kalau teringat akan janda Yo, hatinya sakit sekali dan mau rasanya dia sekali pukul membunuh The Sun, sedangkan semua orang yang membantu The Sun tentu saja akan dilawannya mati-matian.

Ketika Bhewakala melihat Pendekar Buta itu memasang kuda-kuda dan tidak menjawab permintaannya supaya menyerah, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan panjang dalam bahasa asing, sepasang matanya menjadi lebar dan bercahaya seakan-akan mengeluarkan sinar kilat, lalu tubuh yang doyong ke belakang itu tiba-tiba bergerak maju dengan kedua tangan mencengkeram ke arah pundak dan dada Kun Hong.

Serangan ini hebat bukan main, terbukti dari hawa pukulan yang menggetarkan dada Kun Hong, jauh sebelum kedua tangan orang Nepal itu datang dekat.

Juga bentakan Bhewakala itu mendatangkan perasaan aneh di kepalanya, terdapat dorongan yang hendak memaksa dia menjadi lumpuh, Kun Hong terkejut dan teringatlah dia akan ilmu "Merampas semangat"

Yang pernah dia pelajari dari Paman gurunya, Sin-Eng-Cu Lui Bok.

Dahulu sebelum dia buta, dia dapat mempergunakan ilmu ini untuk mengalahkan lawan, yaitu dengan kekuatan batin dan Lweekang yang disalurkan melalui pandangan matanya.

Sekarang setelah buta, tentu saja dia tidak dapat melakukan ilmu itu.

Teringat ini, dia menduga bahwa lawannya yang aneh ini agaknya mempergunakan ilmu itu pula.

Dia bersyukur bahwa kebutaan matanya membuat dia kebal terhadap penyerangan ilmu ini, karena ilmu ini menundukkan lawan melalui pandangan mata pula.

Dengan pengerahan tenaga batinnya, Kun Hong menghadapi serangan ini dengan jurus Sakit Hati, tongkatnya berkelebat kemerahan dari kanan atas sedangkan tangan kirinya menyambar dengan jari-jari terbuka dari kiri bawah.

"Siuuuuuttttt!"

Inilah jurus Sakit Hati yang hebatnya bukan kepalang, Sejurus ilmu pukulan gabungan dari Ilmu Silat Im-Yang Sin-Hoat dan Kim-Tiauw Kun-hoat, gabungan aneh dari dua macam serangan yang memiliki dua tenaga gaib pula, yaitu Yang-Kang dan Im-Kang.

Bhewakala menjerit ngeri menyaksikan betapa serangannya dihadapi oleh Si Pendekar Buta dengan serangan pula yang luar biasa anehnya sehingga bulu tengkuknya berdiri semua karena kedua tangannya tanpa sebab telah terpental oleh semacam hawa yang tidak kelihatan, yang keluar dari gerakan Pendekar Buta itu.

Tubuhnya yang tinggi kurus secepat kilat ditekuk ke kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat yang memiliki hawa panas seperti baja membara ini, sedangkan kedua tangannya cepat dia gerakkan untuk menangkis sambil mencengkeram pukulan tangan kiri lawan yang menyambar dari bawah.

"Weeeeerrrrr... desssss!! Auuuuuhh...!"

Seperti sebuah layangan putus talinya, tubuh Bhewakala melayang, terlempar sampai lima meter lebih, sebagian rambut kepalanya hangus terlanggar tongkat sedangkan kedua tangannya bertemu dengan tangan kiri Kun Hong tadi, membuat tubuhnya terpental jauh.

Dia roboh terguling, tetapi cepat bangun lagi dengan kedua mata terbelalak keheran-heranan, mukanya merah padam.

Dia berusaha mempertahankan diri tetapi tidak kuat karena tiba-tiba dia muntahkan segumpal darah merah dari mulutnya.

Dalam segebrakan tadi dia telah terluka!

Melihat Pendekar Buta itu masih memasang kuda-kuda Sakit Hati, tak bergerak seperti patung, kaki kanan di depan berjungkit, kaki kiri di belakang dan ditekuk lututnya, tangan kanan memegang tongkat diangkat ke atas melintang, tangan kiri terbuka seperti cakar dan tergantung ke bawah, tokoh Nepal ini menjadi penasaran dan malu sekali.

Selama dua bulan dia berada di Kota Raja sebagai seorang tokoh undangan.

Belum pernah dia melakukan sesuatu jasa sungguhpun dia telah mendemonstrasikan kepandaiannya kepada para pengawal.

Sekarang, sekali turun tangan, menghadapi seorang pengacau muda lagi buta saja, dalam segebrakan dia sudah muntah darah!

Dengan dada panas penuh hawa amarah, Bhewakala merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebatang cambuk hitam yang ujungnya kecil dan panjang sekali.

Cambuk ini tadinya digulung kecil dan dimasukkan saku, sekarang setelah berada di tangannya berubah menjadi cambuk panjang sekali, tidak kurang dari tiga meter panjangnya!

Dia merasa penasaran dan hendak membalas kekalahannya.

Sambil mengeluarkan bentakan aneh, dia sudah memutar cambuknya di atas kepala, makin lama makin cepat dan terdengarlah suara seperti suling ditiup orang.

Aneh, makin cepat saja dia memutar cambuk, maka suara seperti suling itu menjadi makin keras seperti suara sirene!

Kun Hong masih memasang kuda-kuda tanpa bergerak, seluruh inderanya tegang dan dia siap menanti setiap serangan dengan jurus mautnya itu.

Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut ketika ada hawa serangan ujung cambuk yang mengeluarkan suara mengaung aneh itu.

Maklum bahwa tiada gunanya menangkis serangan senjata lemas seperti ini, dia menggerakkan kedua kakinya dan dengan mudah saja mengelak.

Namun ujung cambuk tetap mengejarnya dengan kecepatan kilat, seakan-akan cambuk itu bermata pada ujungnya, dapat mengejar ke mana jua pun dia bergerak.

Hebat ilmu cambuk dari orang Nepal ini, aneh dan berbahaya.

Baiknya Kun Hong memiliki ilmu langkah ajaib yang dinamai Hui-Thian Jip-Te, kalau tidak, tentu dia akan celaka menghadapi penyerangan ilmu cambuk aneh itu.

Untuk membalas dengan serangan lagi, sukar, karena lawannya yang memegang cambuk berada dalam jarak tiga meter sedangkan ujung senjata itu terus mengancamnya.

Terpaksa dia mempergunakan langkah ajaib dan berkali-kali orang Nepal itu mengeluarkan seruan heran dan bingung karena melihat betapa orang yang diserangnya itu enak-enakan saja berloncatan, Kadang-kadang terhuyung-huyung dan jongkok berdiri, namun semua penyerangannya tidak pernah menyentuh kulit lawan!

Saking bingung dan herannya, dia marah-marah dan mengira bahwa Pendekar Buta itu memang sengaja mengejek dan mempermainkannya.

Sama sekali dia tidak tahu bahwa sikap Kun Hong itu sama sekali bukan mengejek, melainkan mati-matian menyelamatkan diri dari kurungan ujung cambuk, karena memang langkah ajaib itu kelihatan aneh dan lucu.

Kemarahan membuat Bhewakala tidak hati-hati lagi.

Dia tidak tahu bahwa dalam melakukan langkah ajaib menghindarkan ujung cambuk, Kun Hong dengan cara memutar makin mendekatinya dan begitu ada kesempatan, pemuda buta ini cepat membalas serangan lawan dengan jurus Sakit Hatinya.

"Haaaaaiiiii!!!!!"

Dengan amat hebat Kun Hong sudah menerjang lawannya dengan jurus mautnya itu.

Bhewakala kaget sekali akan tetapi dia sudah siap.

Cambuknya tiba-tiba melingkar pendek dan memapaki tongkat lawan, sedangkan tangan kirinya sengaja dia kerahkan dengan tenaga penuh untuk memapaki tangan Si Pendekar Buta.

"Saudara Bhewakala, jangan...!"

Terdengar Bhok Hwesio berseru kaget. Namun terlambat.

"Deeeeesssss! Blukkkkk!"

Cambuk itu putus berhamburan bertemu tongkat dan tubuh Bhewakala untuk ke dua kalinya melayang ke belakang, lalu roboh dan kali ini sampai lama dia tidak dapat bangkit, dari mulutnya mengalir darah segar dan napasnya terengah-engah.

Bhok Hwesio menghampirinya.

"Omitohud..."

Seru Hwesio Siauw-Lim yang kosen ini sambil mengurut dada orang Nepal itu beberapa kali.

Diam-diam dia merasa kagum juga kepada Bhewakala karena beberapa menit kemudian tokoh Nepal ini sudah dapat bangun dan duduk bersila untuk memulihkan tenaganya.

Agaknya dia tidak terluka terlalu hebat sehingga tidak membahayakan keselamatan nyawanya.

"Uuuuhhh-uuuhhh... aku tidak dapat mempengaruhinya dengan pandangan mataku... uh-uh-uh, dia hebat... Bhok Lo-Suhu..."

Katanya dengan suara bernada kecewa.

Memang hatinya kecewa sekali karena dia harus menderita kekalahan.

Andaikata lawannya itu, biarpun memiliki ilmu silat luar biasa tingginya, tidak buta seperti sekarang, belum tentu dia akan kalah seperti sekarang ini.

Dengan pandang matanya dia dapat mengerahkan kekuatan batin, dapat mempergunakan ilmu sihirnya untuk membuat lawannya bertekuk lutut tanpa mengulurkan tangan.

Akan tetapi, apa daya, justeru lawannya tidak mempunyai mata sehingga kekuatan batinnya tidak mendapatkan "Pintu"

Untuk memasuki tubuh lawan.

Di lain pihak, diam-diam Kun Hong mengeluh.

Dia telah menderita luka dalam akibat pukulan Bhok Hwesio di punggungnya, sedangkan luka di pangkal pahanya biarpun tidak berbahaya lagi, namun belum sembuh dan masih terasa nyeri dan perih, juga sebagian tenaganya sudah banyak dipergunakan untuk mengusir racun dan untuk menambah daya tahan terhadap luka-luka itu, sekarang dia harus menghadapi lawan tangguh.

Tadi, dalam dua kali bertemu tenaga dengan Bhewakala, sungguhpun dia berada di fihak unggul berkat Sinkang di tubuhnya dan jurus luar biasa itu, namun tenaga yang dia pergunakan amatlah merugikan dirinya sendiri.

Luka dalam di punggungnya menjadi makin nyeri sampai menyesakkan dada, luka di pangkal paha mengucurkan darah baru karena dorongan dari dalam ketika dia mengerahkan tenaga.

Namun pemuda perkasa ini tidak menyatakan sesuatu, tetap memasang kuda-kuda jurus Sakit Hati menghadapi segala kemungkinan, tidak bergerak seperti patung.

Dia harus mempertahankan nyawanya dan untuk ini, mau tidak mau dia harus berani merobohkan lawan, kalau perlu membunuhnya!

Setelah banyak mengalami hal-hal penasaran di dunia kang-ouw, mulai terbukalah pengertian Kun Hong mengapa tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal gagah perkasa dan dia kagumi itu sering kali melakukan pembunuhan.

Kiranya di dunia ini memang terdapat banyak orang-orang yang sudah sepatutnya dibunuh karena hidupnya hanya mengotorkan dunia dan menjadi sumber segala kejahatan!

Sekarang dia tidak rela menyediakan nyawanya untuk dibunuh orang lain, karena hidupnya masih memiliki banyak tugas penting sekali.

Pertama, mencari musuh-musuh Thai-San-Pai dan membantu Paman Beng San membalas sakit hati.

Ke dua, membantu mencari adik Cui Sian yang hilang diculik orang.

Ke tiga, melanjutkan tugas Paman Tan Hok untuk menyampaikan surat rahasia itu kepada yang berhak, yaitu Raja Muda Yung Lo di Utara.

Ke empat, mendidik A Wan sebagai muridnya agar dia dapat membalas budi mendiang Yo-Twa-So.

Ke lima...

Hui Kauw!

Ya, karena adanya Hui Kauw maka dia tidak mau mati dan harus mempertahankan hidupnya.

Biarpun pikirannya melayang-layang seperti itu, namun Kun Hong tidak sedikit pun mengurangi kesiap-siagaannya menghadapi para lawan yang sudah mengurungnya.

"Omitohud... orang muda buta benar-benar lihai sekali. Pinceng kagum... sayang kalau harus membunuhnya. The-Kongcu dan Tan-Sicu, mari bersama-sama Pinceng menangkapnya hidup-hidup!"

Mendengar kata-kata ini, Kun Hong mengerutkan keningnya.

Hemmm, kiranya Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui sudah berada di situ pula.

Inilah berbahaya, pikirnya.

Tertawan oleh orang-orang ini sama dengan mati.

Kalau dia sudah tertawan, bagaimana mungkin melepaskan diri?

Dahulu ketika dia belum buta, pernah pula dia ditawan di Kota Raja, akan tetapi dengan ilmu sihirnya dia dapat melarikan diri (baca Rajawali Emas).

Sekarang, sekali dia tertawan, apa bedanya dengan mati?

Tidak, dia tidak mau ditawan!

Begitu mendengar deru angin dari tiga jurusan, Kun Hong cepat menggunakan langkah-langkah ajaibnya Untuk menyelamatkan diri, sedangkan kedua tangannya sudah siap selalu mencari kesempatan membalas.

Sayang baginya, jurus Sakit Hati itu hanya sejurus saja, dan pula, hanya amat ampuh kalau dipergunakan untuk menghadapi seorang lawan yang menyerang menjadi serangan balasan yang tak terhindarkan.

Sekarang, menghadapi serangan tiga orang yang demikian tinggi ilmu silatnya, Dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mempergunakan jurusnya ini.

Pedang di tangan Sin-Kiam-Eng seperti seekor garuda saja menyambar-nyambar dari tempat yang tidak terduga-duga.

Bukan main hebatnya Ilmu Pedang Sian-Li Kiam-Sut dari Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui ini sehingga dalam menghadapinya, timbul keinginan aneh di hati Kun Hong untuk dapat mempergunakan mata melihat permainan pedang ini!

Tongkatnya sudah repot dipergunakan menangkis serangan Sin-Kiam-Eng, sehingga tinggal sedikit kesempatan untuk menangkis pedang The Sun yang juga amat ganas menyambar-nyambar.

Berkali-kali dia berusaha memukul runtuh pedang The Sun yang dia tahu mengandung racun berbahaya, lebih-lebih dari keinginan dan nafsu hatinya untuk mendapat kesempatan menerjang The Sun dan merenggut nyawa pemuda halus ini untuk membalas sakit hati janda Yo.

Akan tetapi selagi menghadapi dua pedang ini saja dia sudah repot, ditambah lagi sambaran-sambaran aneh dan kuat bukan main dari kedua tangan Bhok Hwesio yang berusaha menangkapnya, mana mungkin dia melakukan serangan balasan?

Kalau sekarang Kun Hong kewalahan menghadapi lawan-lawannya, hal ini bukanlah terlalu aneh.

Pertama, dia telah terluka hebat sehingga tenaganya hanya tinggal tiga per empat bagian.

Ke dua, tiga orang lawannya yang tergolong jagoan-jagoan kelas satu ini mengeroyoknya.

Ke tiga, hatinya sudah gelisah sekali karena sampai saat itu dia tidak tahu ke mana perginya A Wan dan Hui Kauw, dan apa jadinya dengan Mahkota yang menyimpan surat rahasia penting itu.

Pada saat itu pedang The Sun menyambar ke arah kakinya dengan babatan cepat sekali.

Kun Hong melompat ke atas dan cepat sekali menggunakan tongkatnya untuk menindih pedang ini, dengan maksud mempergunakan kesempatan ini dia memukul The Sun dengan tangan kiri.

Akan tetapi pada saat itu pedang Sin-Kiam-Eng sudah menusuknya, menusuk ke arah leher.

Cepat dia miringkan tubuh dari tangan kirinya sudah siap melanjutkan pukulan kepada The Sun yang masih berkutetan hendak menariknya tapi tidak sanggup itu.

"Robohlah..."

Tiba-tiba terdengar bentakan Bhok Hwesio yang mendorong dari samping.

Hebat tenaga dorongan Hwesio ini, seperti angin puyuh saja datangnya.

Kun Hong terkejut, terpaksa membatalkan pukulannya pada The Sun, sebaliknya dia lalu menggunakan tangan kirinya itu mendorong ke arah Bhok Hwesio.

"Deeeeesssss!!!!!"

Tangan kiri Kun Hong bertemu dengan tangan Bhok Hwesio, dari kedua lengan ini mengalir hawa dorongan yang luar biasa saktinya.

Bhok Hwesio berteriak perlahan, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang, sedangkan Kun Hong merasa dadanya sesak dan dia pun terpaksa melompat ke belakang dan berusaha memulihkan napasnya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika merasa betapa punggungnya yang masih luka itu makin nyeri, membuat dia sukar bernapas Kun Hong gugup, bingung, kecewa dan marah bukan main.

Haruskah dia mati dalam keadaan begini?

Haruskah dia mati sebelum menunaikan tugasnya?

Terlintas pikiran aneh pula.

Haruskah dia mati sebelum menyampaikan cinta kasihnya kepada Hui Kauw?

Tidak!

Sekali-kali tidak boleh!

Dan terdengarlah pekik melengking tinggi keluar dari kerongkongannya, pekik yang mengerikan dan mendirikan bulu roma, dibarengi dengan melesatnya tubuhnya dengan jurus Sakit Hati.

Hampir saja Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui menjadi korban karena jago tua ini yang berada di tempat terdekat.

Kun Hong tidak perduli siapa lagi yang berada di dekatnya, tentu terus saja diterjang dengan jurus Sakit Hati sambil mengeluarkan pekik melengking tinggi itu.

Tan Beng Kui terkejut dan cepat melompat jauh menghindarkan diri, juga The Sun kaget bukan main sampai mukanya menjadi pucat dan dia pun menjauhkan diri.

Hanya Bhok Hwesio yang tetap berdiri di tempatnya, memandang dengan penuh kekaguman.

"Dia sudah seperti harimau terluka, tinggal merobohkan saja!"

Kata Hwesio itu membesarkan hati The Sun dan Tan Beng Kui mendesak maju lagi, menggerakan pedang.

Keadaan Kun Hong benar-benar terancam hebat, kalau tidak akan roboh tewas, sedikitnya tentu dia akan tertawan seperti yang dia khawatirkan.

Mendadak terdengar lengking panjang dari atas, lengking yang hampir sama dengan pekik yang keluar dan mulut Kun Hong, akan tetapi lebih panjang dan nyaring.

Mendengar ini, Kun Hong terkejut dan mukanya berubah berseri-seri, lalu dia memekik iagi sambil mengamuk terus, menggerakkan tongkatnya dengan sehingga tubuhnya tertutup sinar pedang kemerahan.

Untuk menjaga dirinya dari desakan tiga orang lawannya yang amat tangguh, tiada lain ilmu kecuali ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam yang dapat melindungi tubuhnya.

Lengking panjang itu makin keras dan tiba-tiba terdengar kelepak sayap di udara.

Bhok Hwesio berseru kagum.

"Omitohud... apalagi ini...?"

Kiranya yang datang ini adalah seekor Burung Rajawali yang besar sekali.

Indah dan gagah Burung itu.

Seekor Burung Rajawali yang jarang kelihatan oleh manusia, bulunya kuning bersih, paruh dan kuku kakinya seperti emas, matanya merah menyala.

Inilah Kim-Tiauw si Rajawali Emas yang datang karena tertarik oleh pekik melengking dari mulut Kun Hong tadi.

Agaknya Burung ini mengenal pekik sahabatnya dan begitu tiba di situ melihat Kun Hong dikeroyok, dia segera mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya yang keemasan itu menyambar turun dengan kekuatan rIbuan kati!

"Awas...!"

Bhok Hwesio memperingatkan kedua orang temannya, juga para pengawal yang mengurung tempat itu.

Namun tetap saja empat orang pengawal roboh terguling terkena sambaran sayap yang memukul ke depan, dan paruh yang kuat itu menerjang Tan Beng Kui.

Pendekar pedang yang berilmu tinggi ini cepat mengelak sambii membacokkan pedangnya pada leher Burung.

Akan tetapi siapa kira, Burung itu sama sekali tidak mengelak, melainkan menggunakan cakarnya untuk menyambar pedang yang membacoknya!

Andaikata bukan Tan Beng Kui yang menyerangnya, pasti pedang itu akan terampas oleh Kim-Tiauw.

Akan tetapi Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui cepat menarik pedangnya, malah melompat mundur tiga langkah untuk menghindarkan diri dari serangan cakar ke dua yang menerjangnya.

"Kim-Tiauw-Ko (Kakak Rajawali Emas)!"

Seru Kun Hong girang ketika mendengar sepak terjang Burung itu.

Burung itu bukan lain adalah Burung kesayangannya, sahabat yang telah berpisah darinya lama sekali (baca Rajawali Emas).

Kegirangan mendatangkan tenaga berlipat ganda sehingga dengan bentakan hebat dia berhasil memukul pedang The Sun terlepas dari tangan pemuda itu.

"Serbu!?"

Terdengar The Sun memberi aba-aba kepada para pengawal, akan tetapi Burung Rajawali itu telah menyambar ke depan dan di lain detik Kun Hong sudah melompat ke atas punggungnya, merangkul lehernya dan membiarkan dirinya dibawa terbang meninggi.

Puluhan batang anak Panah diiringi caci maki melayang mengejar Burung itu, namun tak sebuah pun mengenainya.

Yang menyambar dekat dengan mudah diruntuhkan dengan gerakan cakar kaki yang menangkis!

Benar-benar seekor Burung yang amat tangguh dan kosen.

"Kim-Tiauw ajaib... Omitohud...!"

Bhok Hwesio memuji dan saking kagum dan herannya, kakek sakti ini tadi sampai terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa.

Hal ini menguntungkan Kun Hong dan Rajawali Emas, karena kalau kakek ini tidak terpaku dan menjadi pikun lalu tadi turun tangan, agaknya tidak semudah itu Kim-Tiauw dapat menolong dan melarikan Kun Hong dari tempat yang berbahaya itu.

Kun Hong hampir pingsan saking lelahnya ketika dia duduk di atas punggung Rajawali sambil memeluk lehernya.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 15

Baca Juga: Suling Emas 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert