Eps 6 Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Buta - Kho Ping Hoo.
Sepasang mata Lauw Teng terbelalak melotot, kemudian dia tertawa berkakakan sampai perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang.
"ha-ha, ha-ha, waduh lahapnya! Lima sekaligus? Ha-ha, tak kusangka kau begini... begini... Ha-ha-ha-ha!"
"Setuju tidak dengan syarat kedua ini?"
Desak Nagai Ici tanpa perdulikan kelakar orang. Wajahnya masih keren dan sikapnya sungguh-sungguh.
"Eeehmmm, sebetulnya susah... mereka ini untuk Kaisar... tetapi biarlah, kami akan cari penggantinya. Nah, kau boleh ambil semua gadis ini, memang cantik-cantik mereka, masing-rnasing memiliki keindahan khas. Ha-ha, boleh kau ambil semua, Nagai Ici. Sekarang katakan, apa syarat ke tiga?"
"Nanti dulu, aku akan membereskan yang sudah diberikan kepadaku,"
Kata pemuda Jepang itu sambil tersenyum.
Wajahnya yang gagah tampan itu berseri ketika dia menghampiri lima orang gadis tawanan itu.
Gadis-gadis itu memandang kepadanya dengan pelbagai perasaan.
Ada yang nampak girang penuh harapan, ada yang takut-takut, akan tetapi rata-rata mereka merasa lebih senang terjatuh kedalam tangan pemuda asing yang ganteng ini daripada berada di tangan para perampok yang kasar dan bermulut kotor itu.
Loan Ki merasa mukanya panas dan dadanya penuh hawa amarah.
Ingin ia meloncat turun dan menyerang orang Jepang yang tamak dan mata keranjang itu.
Masa lima orang gadis dimintanya semua?
Ini sudah keranjingan namanya!
Akan tetapi ia menahan diri dan memandang terus, kali ini pandang matanya terhadap pemuda Jepang itu tidak bersinar kagum seperti tadi, melainkan bersinar panas berapi-api!
Nagai Ici dengan muka berseri-seri dan mulut tersenyum mendekati gadis pertama, tangannya bergerak maju seperti orang hendak memeluk, mukanya mendekat seperti orang hendak mencium!
Gadis itu menjadi merah mukanya dan mundur selangkah, akan tetapi Nagal Ici maju terus dan di lain saat tali yang membelenggu kedua tangan gadis itu sudah putus oleh sekali renggutan tangan Nagai Ici yang amat kuat.
Gadis itu tercengang, melihat kedua tangannya yang sudah bebas dan dengan bingung kini memandang pemuda asing yang sudah menghampiri gadis ke dua melepaskan belenggu, lalu maju untuk menolong gadis-gadis yang lain.
Setelah lima orang gadis itu bebas semua, dia mundur dan membungkuk dengan dalam di depan lima orang gadis itu yang kini hanya bisa berdiri melongo memandangnya dengan sinar mata bingung, heran, dan juga terima kasih bercampur keraguan.
Nagai Ici lalu menghampiri dua kotak tadi, membukanya dan mengambil perhiasan-perhiasan berharga itu, membagi-bagi kepada lima orang gadis tadi sekuat tenaga mereka membawa, malah dia bantu mengalung-ngalungkan perhiasan pada leher dan lengan mereka.
Semua ini ditonton oleh Lauw Teng yang tertawa-tawa, juga para perampok tertawa-tawa karena merasa geli melihat tingkah laku pemuda Jepang yang agaknya hendak mengambil hati para gadis itu sebelum memaksa mereka menjadi selir-selirnya.
Benar-benar seorang pemuda yang cerdik, pikir mereka.
Hal pertama yang dilakukannya adalah membanjiri gadis-gadis itu dengan barang-barang hadiah untuk merebut hati dan kasih!
Yang paling mendongkol adalah Loan Ki.
Hatinya memaki-maki.
"Laki-laki ceriwis! Pemuda gila perempuan! Si mata keranjang menyebalkan!"
Akan tetapi semua orang menjadi terheran-heran, juga Loan Ki, ketika melihat Samurai Merah itu sekali lagi menjura dalam sampai kepalanya hampir menyentuh tanah di depan para gadis itu sambil berkata.
"Sekarang, Nona sekalian silakan pulang ke rumah masing-masing. Kalian kubebaskan!"
Lima orang gadis itu lebih heran dan bingung lagi, mereka saling pandang, tak kuasa mengeluarkan kata-kata saling terharu dan bingungnya, hanya nampak mereka menggeleng kepala, malah ada yang mulai menangis.
Nagai Ici memandang dengan mata terbelalak, kemudian mengerutkan alisnya yang tebal, menggeleng-geleng kepala dan berkata.
"Ah, agaknya Nona sekalian tidak berani pulang sendiri? Baiklah, silakan kalian mengaso di sana, di bawah pohon besar itu, biar aku menyelesaikan urusanku dengan orang-orang ini. Nanti saya yang akan mengantar Nona semua pulang ke kampung dan rumah masing-masing. Lima orang gadis itu menjadi girang sekali dan mulailah wajah mereka berseri-seri dan senyum-senyum manis tersembul di balik keharuan dan air mata, menambah jelita wajah dara-dara muda itu. Dengan langkah halus dan gontai karena terlampau berat beban barang-barang berharga itu, mereka mentaati permintaan Nagai Ici dan pergi ke bawah pohon besar, lalu duduk bersimpuh di atas akar pohon. Loan Ki yang bersembunyi di atas pohon itu, diam-diam menjadi merah mukanya, malu kepada diri sendiri yang tadi memaki-maki pemuda Jepang itu dengan tuduhan yang bukan-bukan. Kini ia kembali mencurahkan perhatiannya kepada pendekar muda dari Jepang itu. Sementara itu, Lauw Teng mulai curiga dan marah. Dia melangkah maju, meraba gagang goloknya dan suaranya sudah kehilangan keramahannya ketika dia bertanya.
"Nagai Ici, apa maksudmu dengan semua ini? Jangan kau main-main denganku!"
Dengan senyum mengejek pemuda Jepang itu membalikkan tubuh menghadapi Ketua Hui-hauw-pang, membungkuk dengan caranya yang dalam pandangan Loan Ki amat lucu itu dan berkata.
"Hui-Houw-Pangcu Lauw Teng. Kau menyanggupi syarat tiga macam, yang dua sudah kau penuhi, terima kasih. Tinggal sebuah syarat lagi, kalau ini kau penuhi, aku Nagai Ici Si Samurai Merah berjanji akan suka menjadi muridmu atau pembantumu."
"Hemm, kau katakan lekas, apa syarat ke tiga itu?"
"Kau dan anak buahmu bukanlah manusia baik-baik. Orang macam kau ini mana patut menjadi guruku? Andaikata kau sepuluh kali lebih pandai sekalipun, tidak sudi aku menjadi murid seorang penjahat keji yang suka menculik gadis dan merampok harta orang lain. Lauw Teng, dengarlah. Syaratku ketiga adalah kalau kau bisa menangkan samuraiku dan bisa memenggal batang leherku, baru aku suka menjadi murid atau pembantumu."
Loan Ki di atas pohon terkikik menahan tawa.
Geli hatinya melihat Lauw Teng si gendut yang menjadi melongo penuh amarah dan kecewa itu, di samping kegirangan hatinya bahwa pemuda Jepang yang menarik hati dan mengagumkannya itu ternyata benar seorang gagah yang hebat.
Kembali ia bersiap sedia untuk membantu Samurai Merah itu andaikata terancam bahaya.
Memang marah sekali Lauw Teng.
Sambil berseru keras dia mencabut goloknya yang tajam berkilauan.
"Bagus, kau Jepang keparat! Kalau kau ingin mampus, kenapa tidak sejak tadi bilang terus terang? Manusia tak tahu diri, diberi hati merogoh jantung, keparat!"
Goloknya berkelebat dan dengan kemarahan meluap-luap Ketua Hui-Houw-Pang itu menerjang Ici.
Serangannya hebat dan dahsyat, golok menyambar menjadi kilat maut menyilaukan mata.
Samurai Merah terkejut juga dan maklum bahwa kini dia menghadapi lawan yang pandai.
Oleh karena itu ia pun tidak berani memandang ringan.
Cepat dia melompat ke belakang sejauh dua meter dan tangannya meraih pinggang.
"Srattt!"
Sinar berkilau ketika samurai yang merupakan pedang panjang melengkung itu tercabut dari sarungnya.
Loan Ki baru sekarang dapat melihat pedang itu dengan jelas.
Ia kagum dan heran.
Kagum karena sebagai puteri seorang pendekar pedang, tentu saja ia juga seorang ahli pedang dan tahu akan pedang-pedang baik.
Biarpun hanya melihat dari tempat jauh, ia dapat menduga bahwa pedang aneh itu terbuat daripada bahan yang baik sekali.
Bukan baja yang baik kalau tidak dapat mengeluarkan suara mengaung seperti itu ketika dicabut dari sarungnya.
Pedang itu tajam seperti silet, bermata sebelah dan termasuk golongan pedang panjang.
Akan tetapi karena agak melengkung, tentu cara memainkannya seperti orang bermain golok.
Anehnya, gagangnya terlampau panjang sehingga ia meragu apakah dengan gagang pedang macam itu orang dapat bersilat dengan baik?
Dengan hati berdebar ia melihat betapa pemuda Jepang itu sudah siap, memasang kuda-kuda yang amat teguh, tubuh merendah, mata tenang tajam memandang lawan dan...
kedua tangannya memegang gagang pedang itu.
Hampir Loan Ki tertawa.
Inilah aneh, pikirnya.
Biarpun tadi sudah menyaksikan sendiri betapa lihainya Samurai Merah ini membabat buntung tangan ketiga orang pembantunya, namun melihat pasangan kuda-kuda Jago muda Jepang itu, Lauw Teng memandang rendah.
Sambil membentak keras dia menerjang lagi, goloknya seperti baling-baling diputar makin lama makin cepat, merupakan gulungan sinar putih mengurung diri lawan.
"Haiiiiit!"
Samurai Merah mengayun samurai sambil meloncat.
Terdengar suara nyaring disusul bunga api muncrat ketika dua senjata itu bertemu di udara.
Diam-diam mereka memuji tenaga lawan yang dapat membuat tangan masing-masing bergetar.
Namun Lauw Teng yang sudah banyak pengalaman itu terus menerjang, mempergunakan kegesitannya karena melihat betapa ilmu pedang lawan ini kurang gesit nampaknya.
Dugaannya keliru.
Biarpun gerak-geriknya kaku dan aneh, kiranya jago muda Jepang itu dapat mengimbangi permainannya, melompat-lompat dan seakan-akan bukan dia yang mainkan pedang, melainkan pedangnya yang bergerak-gerak dan membawa serta tubuhnya.
Tubuh dan pedang seakan-akan menjadi satu ketika mencelat ke kanan kiri untuk menangkis dan balas membacok!
Kalau sudah bersilat seperti itu, tidak banyak bedanya kedudukan tubuhnya dengan para ahli pedang di Tiongkok.
Akan tetapi setiap kali ada kesempatan dan tidak terdesak, tentu dia akan berdiri tegak memasang kuda-kuda di atas tanah, diam tak bergerak bagaikan patung, hanya matanya yang liar bergerak bijinya mengikuti gerakan lawan sedangkan pedangnya yang dipegang dengan kedua tangan itu diacungkan ke depan dada, ujungnya mengikuti gerakan lawan pula.
Loan Ki tertawa senang.
Boleh juga bocah ini, pikirnya.
Apalagi kalau sedang berdiri seperti itu mengikuti gerakan lawan, gagah juga!
"Keparat, mampuslah!"
Teriak Lauw Teng yang sudah menerjang lagi, sejenak dia berhenti dan mengkal hatinya melihat lawannya seperti patung tidak balas menyerang atau lebih tepat, tidak mau mendahului menyerang itu.
Akan tetapi kembali begitu dia menyerang, Samurai Merah itu selain menangkis dan mengelak, juga balas membacok.
Bahkan kali ini tidak ada bacokan golok yang tidak dibalas.
Setiap bacokan dibalas dengan bacokan pula sehingga pertandingan itu ramai bukan main.
Seru dan setiap kali pedang atau golok berkilat, berarti tangan maut menjangkau mencari nyawa!
"Aduh sayang..."
Diam-diam Loan Ki menyesal melihat jalannya pertandingan seperti itu.
"Ilmu pedangnya aneh dan boleh juga, tapi kenapa demikian lambat dan banyak membiarkan kesempatan lalu percuma? Kurang agresip, wah, sayang benar. Kalau lebih agresip sedikit saja, dalam belasan jurus si katak gendut itu tentu sudah dapat dikalahkan."
Memang pendapat Loan Ki ini benar.
Ilmu pedang Samurai Merah itu amat kuat dalam pertahanan, malah setiap bertahan selalu dirangkai dengan serangan balasan.
Akan tetapi kurang cepat dan kurang agresip.
Biasanya, pemain pedang malah menghujani serangan dengan maksud membuat lawan bingung dan lemah pertahanannya sehingga banyak terdapat lowongan-lowongan untuk dimasuki.
Akan tetapi, permainan pedang gaya Jepang ini agaknya hanya mencari lowongan di waktu lawan menyerang.
Memang hal itu benar juga karena setiap penyerangan berarti membuka pintu pertahanan, namun karena dia sendiri sudah diserang, maka tentu saja penyerangan balasannya kurang kuat karena tidak dilakukan dengan tenaga dan perhatian sepenuhnya.
Sebagian tenaga dan perhatian sudah dipakai untuk mempertahankan diri dari penyerangan lawan.
Betapapun juga, lambat laun Samurai Merah dapat mendesak Lauw Teng.
Memang harus diakui bahwa selain ilmu pedangnya aneh dan sukar diduga perkembangannya, juga pemuda ini menang gesit dan menang kuat.
Kini penyerangan Lauw Teng makin lemah dan balasan dari Samurai Merah itu makin hebat.
Malah setiap bacokan dibalas dengan dua tiga kali bacokan sekaligus yang membuat Lauw Teng kelabakan!
Karena makin lama makin repot, timbul rasa takut di hati Lauw Teng sehingga Ketua Hui-Houw-Pang yang amat terkenal di Propinsi Shan-Tung sebagai perkumpulan perampok yang ganas ini mulai berteriak-teriak minta tolong dan bantuan dari anak buahnya!
Inilah saat yang dinanti-nanti oleh para perampok itu.
Semenjak tadi mereka sudah mendongkol dan marah sekali kepada pemuda yang agaknya akan diambil hatinya oleh Ketua mereka.
Mendengar teriakan sang Ketua, mereka serentak lalu melakukan pengeroyokan dengan senjata di tangan.
Samurai Merah tertawa bergelak, lalu mengamuk.
Terdengar pekiknya yang dahsyat.
"Yaaaattt!"
Berkali-kali dan tiap kali dia memekik, tentu seorang di antara pengeroyoknya roboh mandi darah, dan selalu samurainya mendapat korban, membabat putus tangan, kaki, hidung, telinga, bahkan ada dua orang yang puntung lehernya!
Pertempuran makin hebat mengerikan dan biarpun jago muda Jepang itu mengamuk seperti seekor harimau muda, menghadapi pengeroyokan para perampok yang nekat dan rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi itu, dia kewalahan juga.
Loan Ki merasa sudah cukup lama menjadi penonton.
Ia melayang turun dari atas cabang pohon, membuat lima orang gadis yang sudah ketakutan setengah mati menyaksikan orang-orang bertempur, darah muncrat dan tubuh luka-luka itu, kini kaget bukan main melihat betapa dari atas pohon tiba-tiba "Terbang"
Seorang manusia melewati kepala mereka! "Hemmm, Lauw Teng perampok hina, masih beranikah kau menjual lagak mengandalkan pengeroyokan menghina orang?"
Lauw Teng menengok dan wajahnya seketika menjadi pucat.
Tentu saja dia mengenal gadis yang berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang dengan sikap gagah itu.
Siapa lagi kalau bukan dara lincah yang amat perkasa, yang pernah tanpa gentar merobohkan banyak anak buah Hui-Houw-Pang dan Kiang-Liong-Pang digabung menjadi satu.
Apalagi kalau dia ingat bahwa munculnya gadis sakti ini mungkin sekali disusul oleh pendekar buta yang seperti iblis itu, hatinya sudah setengah membeku saking takut dan gentarnya.
"Kawan-kawan... mundur...!"
Dia memekikkan aba-aba ini sambil mendahului anak buahnya lari tunggang-langgang meninggalkan gelanggang pertempuran.
Tentu saja para anak buahnya juga ketakutan melihat munculnya Loan Ki yang sudah mereka kenal kelihaian pedangnya.
Jago muda Jepang itu saja sudah cukup berat dilawan, apalagi muncul dara hebat ini.
Terjadilah perlombaan yang menarik, lomba lari tunggang-langgang bersicepat meninggalkan tempat itu tanpa perdulikan lagi teman-teman yang tewas atau terluka.
Bahkan mereka yang terluka berusaha pula melarikan diri, biarpun mereka harus merangkak-rangkak dan terhuyung-huyung.
Sebentar saja sunyilah di situ dan para penjahat yang tinggal hanyalah mereka yang sudah tewas, yaitu dua orang yang putus lehernya karena mereka ini tentu saja tidak mungkin dapat berlari lagi.
Selain mayat dua orang penjahat ini, di situ berserakan pula potongan-potongan tangan, kaki, hidung, telinga dan ceceran darah.
Mengerikan sekali!
Sampai lama Nagai Ici berdiri melongo memandang Loan Ki yang tersenyum geli menyaksikan tingkah laku para perampok itu, Hampir saja jago muda dari Jepang ini tidak percaya akan pandangan mata sendiri dan pendengaran telinga sendiri.
Mimpikah dia?
Ataukah benar-benar dia melihat Bidadari turun dari kahyangan dan begitu melihat Bidadari ini para perampok yang ganas dan kejam itu lari tunggang-langgang ketakutan?
Inilah hal aneh yang baru pertama kali selama hidupnya dia saksikan.
Seorang dara jelita berpakaian seperti seorang pendekar, yang membawa-bawa pedang di pinggangnya, gadis cilik berusia belasan tahun, ditakuti kawanan perampok yang ganas dan kejam?
Hampir Nagai Ici tertawa geli.
Melihat lima orang gadis tawanan tadi, timbul kasihan di hatinya karena sifat mereka itu sama dengan wanita-wanita di negerinya, lemah-lembut dan tak berdaya membutuhkan pertolongan pria yang kuat.
Akan tetapi dara muda ini, yang membawa-bawa pedang, sama sekali bukan membutuhkan perlindungan dan bantuannya, malah sebaliknya seperti membantunya karena kemunculannya mengusir para penjahat yang tadi sudah membuat dia kewalahan dan repot terdesak.
Laki-laki atau perempuankah orang ini?
Melihat sikap dan gerak-geriknya yang begitu gesit cekatan dan gagah, patutnya seorang pria.
Akan tetapi melihat wajah yang begitu manis dan kulit yang begitu halus, bentuk tubuh yang begitu ramping dan padat tanpa otot-otot tentunya seorang wanita.
Malah wanita yang cantik jelita, dengan mata seperti bintang kejora, pipi sehat kemerahan, mulut yang amat manis.
Bukan main!
Manusiakah atau Bidadarikah?
Setelah semua penjahat melarikan diri, tiba-tiba Loan Ki merasa seakan-akan ada sesuatu yang menarik dan memaksanya menoleh.
Ia membalikkan tubuh memandang dan...
dua pasang mata saling pandang, dua sinar mata bertemu di udara dan seakan-akan mengandung besi sembrani, sinar mata itu bertaut dan saling tempel sukar dilepaskan lagi!
Pandang mata sipemuda penuh keheranan, kekaguman, dan penghormatan.
Pandang mata si pemudi penuh keramahan, pengertian, kegigihan dan setengah mengejek atau menantang!
Bibir Loan Ki bergerak mengarah senyum, geli dan senang hatinya melihat betapa orang itu melongo seperti orang lupa ingatan, pedang bengkok itu masih dipegang dengan kedua tangan, kedua kaki masih memasang kuda-kuda yang lucu dan aneh itu.
Alangkah bagusnya kalau orang itu menjadi patung dan dipasang di depan jalan masuk Pek-Tiok-Lim tempat tinggal Ayahnya, pikir dara yang nakal ini dan pikirannya membuat senyumnya melebar sehingga berkilatlah deretan gigi putih.
Agaknya kilauan gigi putih ini menyadarkan pula Nagai Ici yang terpesona itu.
Dia menarik kedua kakinya, memasukkan pedang Samurai ke dalam sarung pedang, merangkap kedua tangan dalam bentuk sembah, ditempelkan di depan dada lalu dia membungkuk, dalam sekali sampai tubuhnya hampir berlipat dua.
Makin geli hati Loan Ki menyaksikan penghormatan seperti ini, tapi sebagai seorang gadis ia membalas pula dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada dalam bentuk kepalan, dan tubuhnya dibongkokkan sedikit dengan cara menekuk sedikit lutut kirinya.
"Bolehkah hamba bertanya... tuan ini siapakah? Manusia ataukah dewa?"
Tanya Nagai Ici dengan bahasanya yang kaku namun cukup jelas.
Segera dia melengak kaget dan kembali melongo ketika melihat betapa mahluk yang disangkanya dewa itu tiba-tiba terkekeh, tertawa geli sambil menutupi mulutnya dengan tangan, ciri kewanitaan yang berlaku juga di Jepang!
"Hi-hi-hik...
aduh lucunya...
hi-hik, maafkan aku...
tak tahan aku...
ah, kau lucu sekali.
Eh, Nagai Ici yang berjuluk Samurai Merah, pertanyaanmu tadi kukembalikan kepadamu, coba kau terka, aku ini manusia ataukah dewa?
Wah, jangan-jangan kau malah tidak tahu pula dari jenis apa aku ini, laki-laki ataukah perempuan..."
Merah seluruh muka Nagai Ici.
Makin bingung dia.
Juga makin heran dan kaget.
Kalau disebut dewa, terang bukan karena ujudnya jelas manusia, menginjak tanah, tak bersayap, dan malah bau yang harum menyentuh hidungnya.
Tetapi kalau dikatakan manusia, kenapa begini aneh dan datang-datang sudah kenal nama dan julukannya segala!
"Saya...
saya tidak tahu...
eh, maksud saya...
tuan seperti manusia...
dan tentunya seorang wanita pula, tapi...
eh, kalau wanita masa ditakuti para perampok dan, kalau manusia, mana mungkin manusia wanita dapat meloncat turun dari atas pohon yang begitu tinggi?
Dan tuan...
eh, sudah tahu akan nama saya pula..."
Kembali Loan Ki tertawa.
"Nagai Ici, kau cukup gagah perkasa, akan tetapi sungguh amat bodoh. Sudah pasti aku manusia, dan sudah jelas aku bukan laki-laki, masa kau tidak dapat membedakan? Tentang namamu tentu saja aku tahu karena sudah sejak tadi aku mengintai dari atas pohon. Tentang meloncat turun dari pohon, apa sih sukarnya? Yang lebih tinggi lagi aku sanggup meloncati. Perkara perampok-perampok itu takut kepadaku, apa pula anehnya kalau mereka itu pernah kuhajar?"
Kini pandang mata Nagai Ici berubah kagum, kagum bukan main karena baru pertama kali ini selama hidupnya dia menyaksikan seorang wanita yang begini perkasa.
"Maaf, Nona... wah, kau hebat sekali."
Tiba-tiba pandang matanya berubah dan dia mendekat, matanya lekat-lekat memandang arah mulut Loan Ki.
"Astaga! Jadi kau malah pencurinya??"
Kini Loan Ki yang menjadi bingung dan heran, juga geli melihat tingkah orang Jepang yang aneh ini.
Baru saja begitu ketakutan seakan-akan hendak berlutut menyembahnya karena mengira ia dewa, kemudian berubah kemalu-maluan dan ramah, tetapi sekarang tiba-tiba seperti kurang ajar!
"Apa maksudmu?
Pencuri apa?"
Tanyanya dengan kening berkerut. Pemuda Jepang itu meloncat-loncat, kaki tangannya bergerak-gerak dan mukanya seperti orang marah.
"Siapa lagi kalau bukan kau. Ya, kau pencurinya! Tak usah menyangkal, kau gadis nakal. Kau minta pun akan kuberi, kenapa mencuri? Hayo kau mengaku!"
Loan Ki makin terheran dan makin lama ia makin marah.
"Setan alas kau! Jangan kurang ajar, ya? Kau kira aku takut kepadamu?"
Nagai Ici tersenyum mengejek.
"Wah, ini mana bisa dibilang gagah kalau tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatan sendiri? Sudah pandai mencuri, pandai berpura-pura dan menyangkal lagi. Hayo, di kanan kiri Bibirmu yang merah itu masih berlepotan minyak, malah ujung hidungmu yang mancung itupun berminyak. Tak sempat kau mencucinya, ya? Wah, agaknya habis kau ganyang semua panggang paha macan punyaku tadi. Celaka!"
Loan Ki melongo dan baru teringatlah ia akan perbuatannya yang nakal tadi, yaitu mencuri panggang paha macan orang yang sedang mandi.
Mukanya tiba-tiba menjadi merah seperti udang direbus dan otomatis tangan kirinya diangkat untuk menghapus Bibirnya yang kiranya benar-benar penuh minyak!
Wah, repotlah Loan Ki sekarang mengunakan kedua tangannya.
Karena malu dan bingung, Loan Ki menjadi marah sekali.
Dengan telunjuknya yang runcing ia menuding ke arah hidung Nagai Ici, pandang matanya melotot.
"Setan kau! Berani kau memperolokku?"
Nagai Ici tertawa, tubuhnya bergerak-gerak.
"Kau... kau pencuri daging tukang nyolong!"
Kemarahan Loan Ki bukan kepalang lagi.
"Kau... tikus, cacing, kadal, anjing, monyet, babi, kuda!"
Ia memaki-maki sejadinya dan menyebut nama semua binatang. Paling akhir ia mencabut pedangnya dan menantang.
"Hayo kita buktikan di antara kita siapa yang lebih gagah!"
Memang inilah yang dikehendaki Samurai Merah.
Begitu bertemu dengan dara ini, semangatnya langsung terbetot, perhatiannya tertarik, hatinya terpikat tanpa dia sadari lagi.
Tadinya dia hampir percaya bahwa dara jelita dan gagah perkasa ini adalah sebangsa peri atau Bidadari.
Akan tetapi setelah "Bidadari"
Itu bersuara, tahulah dia bahwa mahluk ini ternyata adalah seorang dara jelita yang wajar, seorang manusia yang hidup dan segar gembira lahir batinnya.
Dia kagum bukan main dan melihat cara gadis ini tadi bergerak turun dari pohon, dia menduga bahwa tentu ilmu kepandaiannya juga hebat.
Apalagi kalau diingat bahwa menurut kata gadis itu sendiri, para perampok jahat itu ketakutan kelihatnya karena pernah ia beri hajaran.
Tentu saja hal ini dia sendiri tidak dapat begitu saja mempercayai.
Inilah sebabnya, melihat Bibir dan ujung hidung yang amat lucu indah itu berlepotan minyak, dia sengaja menuduh dan mengejek, dengan maksud membangkitkan amarah gadis itu dan mendapat alasan untuk menguji kepandaiannya.
Dia kurang percaya kalau seorang gadis sehalus dan secantik ini, masih amat muda lagi, dapat "Memberi hajaran"
Kepada seorang kepala penjahat seperti Lauw Teng dan anak buahnya. Akan tetapi sedikitnya dia dapat menduga bahwa gadis yang "Besar mulut"
Ini tentu memiliki ilmu pedang yang lumayan, terbukti dari cara mencabut pedang yang cukup cepat dan cekatan itu.
Maka dia tidak berani memandang rendah dan dia pun segera melolos pedang samurainya dari sarungnya.
"Nona cilik..."
"Jangan sebut-sebut nona cilik. Apa kau sudah tua bangka? Kau sendiri pun masih cilik, paling-paling hanya beberapa tahun lebih tua daripada aku. Lagaknya kaya orang tua saja!"
Nagai Ici tertawa.
Dia sebetulnya seorang yang berwatak pendiam dan serius (sungguh-sungguh), akan tetapi berhadapan dengan dara lincah seperti ini mau tak mau bangkit kegembiraannya, sepasang matanya yang biasanya tenang dan tajam itu kini bersinar-sinar, wajahnya yang gagah tampan berseri-seri.
"Hayo, kau mau bilang apa lekas bilang sebelum pedangku bicara, jangan cuma cengar-cengir seperti kunyuk mencium cuka!"
Loan Ki membentak lagi. Dasar gadis lucu jenaka, sedang marah pun lucu, sama sekali tidak membuat orang takut.
"Nona... besar, maksudku... eh, apa perlunya "Kita mengadu senjata? Senjata pedang adalah benda tajam yang berbahaya, bagaimana kalau sampai melanggar tubuh? Lebih baik kita mengadu kepandaian dengan tangan kosong saja."
"Ihhh, siapa sudi? Tadi sudah kulihat bahwa hanya dengan pedangmu yang bengkok itu kau pandai berkelahi. Kalau bertangan kosong, kau hanya mengandalkan cengkeraman dan tangkapan. Mana aku sudi bersentuh tangan dengan kau? Hayo lekas serang dengan pedangmu!"
Nagai Ici tetap ragu-ragu.
Ia telah belasan tahun mempelajari ilmu pedang, dan selama ini samurainya amat ganas dan dikenal sebagai Samurai Merah.
Ilmu pedangnya adalah ilmu pedang khusus untuk merobohkan lawan, begitu samurainya berkelebat, tentu membabat putus sesuatu.
Mana dia tega melukai nona yang dia kagumi ini?
"Wah, kenapa bengong saja?
Apa kau kira aku takut melihat pedangmu yang bengkok dan jelek itu?
Pedang apa itu, pantasnya untuk potong babi!"
Diejek begini, panas juga hati Nagai Ici. Dia akan memperlihatkan kepandiannya dan tentu saja dia akan berhati-hati agar jangan sampai salah tangan melukai dara ini.
"Hemmm, kau hendak mengenal Samurai Merah? Bersiaplah!"
Bentaknya.
"Samurai Merah atau samurai belang bonteng, perduli apa aku? Hayo serang kalau berani, ngomong saja dari tadi kerjanya!"
Ejek Loan Ki.
Ia sendiri memang berwatak aneh, mudah marah, mudah gembira, lebih banyak gembiranya daripada marahnya.
Sekarang pun kemarahannya karena dimaki tukang nyolong tadi sudah mereda dan ia menghadapi pedang jago muda Jepang itu terutama sekali karena ingin menguji sampai di mana kehebatan ilmu pedang aneh itu.
"Awas!"
Teriak Nagai Ici dan samurainya berkelebat membuat gerakan segitiga di depan tubuhnya.
Indah gaya pertahanan pertama dan dia lalu diam tak bergerak, hanya biji matanya yang hidup meneliti setiap gerakan lawan, terutama gerakan kedua lengan.
Loan Ki sudah tahu bahwa ilmu pedang orang ini memang aneh, sifatnya diam menanti serangan.
Kalau ia pun diam menanti, agaknya mereka berdua akan berdiri berhadapan memasang kuda-kuda dan berdiam terus seperti patung sampai seorang di antara mereka kalah karena menjadi kesemutan akibat berdiri diam terlalu lama.
Maka ia tidak sudi menjadi patung dan cepat bagaikan kilat menyambar, pedangnya berkelebat menjadi segunduk sinar menerjang maju.
"Haaaaiiiiit!"
Nagai Ici berseru keras saking kagetnya melihat betapa ujung pedang gadis itu seakan-akan berubah menjadi belasan batang, tergetar dan menerjang kepadanya secara aneh, sukar diduga ke arah mana ujung pedang itu akan menusuk!
Dia segera, memutar samurainya sekuat tenaga, membabat ke arah bayangan ujung-ujung pedang itu dengan maksud mempergunakan tenaganya untuk menghantam pedang gadis itu agar terlepas dari pegangan.
"Wuuuuuttttt!"
Samurainya yang berat, tajam dan bergerak cepat itu ternyata hanya menghantam angin belaka karena secara tiba-tiba belasan ujung pedang lawan itu sudah lenyap dan kembali berubah menjadi segundukan sinar pedang menyerangnya, kini dari kanan kiri atas bawah tak tentu ujung pangkalnya.
"Bagus...!"
Mau tak mau Nagai Ici berseru memuji.
Inilah hebat, pikirnya.
Ilmu pedang yang luar biasa, jauh lebih hebat daripada ilmu golok Ketua Hui-Houw-Pang tadi.
Maklumlah dia bahwa gadis itu benar-benar bukan hanya mempunyai ilmu "gertak sambal"
Belaka, melainkan benar-benar seorang gadis muda yang "Berisi", yaitu yang memiliki kepandaian tinggi.
Makin gembiralah hatinya dari berkurang keraguannya karena kini dia tidak takut lagi untuk salah tangan sebab maklum bahwa gadis itu cukup mampu menjaga diri.
Cepat dia memutar samurainya dan sinar pedang samurai itu berkilat-kilat menyambar ke arah gulungan sinar pedang Loan Ki.
Dari angin sambaran pedang samurai, Loan Ki maklum bahwa orang muda itu memiliki tenaga gwakang (tenaga luar) yang amat kuat, maka ia tidak berani mengadu pedang, kuatir kalau-kalau pedangnya akan rusak bertemu dengan samurai yang digerakkan oleh tenaga gajah itu.
Ia mempergunakan kegesitannya dan bersilat dengan Ilmu Pedang Sian-Li Kiam-Sut yang luar biasa.
Gerakannya indah dan lemah lembut, seperti seorang Bidadari kahyangan tengah menari, pinggangnya yang ramping bergerak-gerak lemas, lehernya ikut pula bergerak-gerak, langkahnya berlenggang-lenggok dan untuk melengkapi ilmu pedang ini yang memang mengharuskannya sebagai taktik, ia tersenyum-senyum dan mengerling dengan amat manis dan ayunya.
Memang dahulu pencipta ilmu pedang ini, yaitu Si Pendekar Baju Merah Ang I Niocu, sengaja menciptakan ilmu pedang yang luar biasa untuk mengalahkan lawan-lawan berat.
Bentuk tarian indah gemulai disertai senyum dikulum dan kerling memikat sesuai dengan wajah yang cantik jelita, semata-mata adalah taktik untuk mengacaukan konsentrasi (pemusatan pikiran) dan melemahkan daya tempur lawan.
Tentu saja Nagai Ici melihat ini semua dan hatinya berdebar tidak karuan.
Bukan main indahnya ilmu pedang yang seperti tarian itu dan wajah gadis lincah itu makin lama makin cantik menarik.
Akan tetapi pemuda Jepang ini bukanlah seorang manusia biasa yang mudah lumpuh oleh kecantikan wanita.
Semenjak kecil dia sudah digembleng oleh seorang Daimyo (pendekar bernama besar) yang sakti, tidak saja diwarisi ilmu bermain samurai yang ampuh, juga sudah digembleng memperkuat batin dengan cara bersamadhi dan menyatukan pikiran.
Oleh karena ini, biarpun dia amat tertarik dan kagum melihat lawannya, dia segera dapat menekan perasaannya dan memperhebat gerakan samurainya, malah kini dia menguras semua jurus pilihan dan yang paling rahasia dari ilmu pedangnya untuk menghadapi ilmu pedang lawan yang kelemah-gemulai namun mengandung daya serangan yang amat dahsyat.
Diam-diam Loan Ki kagum juga.
ilmu silat aneh dengan pedang aneh pula ini kiranya setelah bergebrak, tidaklah selambat yang ia duga.
Pertahanannya kokoh kuat dan biarpun serangannya tidak terlalu sering, namun tiap kali menyerang laksana kilat menyambar dari udara cerah.
Inilah inti ilmu pedang lawannya dan inilah yang membuat berkali-kali samurainya itu berhasil tiap kali berkelebat.
Kiranya memang mengandung gerakan menyerang tersembunyi seperti kilat yang menyambar dari angkasa yang sehingga sama sekali tidak tersangka-sangka datangnya.
Iapun merasa malu kalau sampai kalah, maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua simpanan jurus ilmu pedangnya.
Hebat bukan main pertandingan itu.
Jauh lebih hebat daripada tadi.
Akan tetapi sekarang tidak nampak mengerikan sehingga lima orang gadis tawanan itu yang sejak tadi melongo dan terheran-heran, sekarang pada berdiri menonton dengan kagum.
Bagi mereka yang tidak mengerti ilmu silat, kelihatannya dua orang muda itu seperti sedang menari-nari secara indah dan aneh.
Pedang dan samurai itu lenyap dari pandangan mata mereka, yang tampak hanyalah segulung sinar pedang seperti awan putih bergerak-gerak, dibarengi melesatnya sinar seperti kilat menyambari awan itu!
Seratus jurus lebih mereka bertanding, hampir satu jam lamanya.
Mereka berdua sudah gobyos (bermandi peluh) dan sudah mulai lelah karena dalam pertandingan itu mereka mempergunakan semua tenaga dan kepandaian.
Loan Ki mulai penasaran dan tidak sabar.
Ia menanti kesempatan baik dan tiba-tiba dengan pengerahan tenaga Lweekangnya ia menghantam samurai lawan sekuatnya.
"Tranggggg!!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang pedang itu bertemu dengan amat kerasnya.
Nagai Ici mengeluarkan suara keras seperti harimau menggereng dan tubuhnya terhuyung mundur tiga langkah.
Loan Ki sendiri tergetar telapak tangannya dan cepat ia memindahkan pedang pada tangan kirinya.
Karena ia sempat melompat kesamping, maka ia tidak sampai terhuyung seperti lawannya.
Keduanya memeriksa pedang, kemudian saling pandang dengan napas terengah-engah.
Nagai Ici tertawa lebih dulu, kagumnya bukan kepalang, akan tetapi dia juga puas dan bangga karena betapapun juga, gadis luar biasa itu sudah berkenalan dengan samurainya yang lihai.
"Heh-heh, kau benar hebat, Nona. Selama hidupku baru kali ini aku melihat seorang gadis muda yang begini hebat. Sebelum ini, mendengar pun belum pernah. Ilmu pedangmu luar biasa, kepandaianmu hebat. Akan tetapi, betapapun juga kau takkan mampu mengalahkan aku."
"Ih, sombongnya! Baru mengandalkan pedang bengkok itu saja sudah berani membuka mulut besar. Kau tidak merasa bahwa aku tadi sengaja mengalah mengingat bahwa kau orang asing? Huh, benar-benar tak punya perasaan dan tidak malu. Pedang bengkokmu itu siapa sih yang takut? Kalau mau, dalam segebrakan aku sanggup membikin putus lehermu, tahu?"
"Ha-ha-ha, Nona benar-benar pandai berkelakar! Sudah jelas kita bertanding sampai mandi keringat belum ada yang terluka, belum ada yang kalah atau menang, bagaimana kau bisa bilang dalam segebrakan dapat memenggal leherku? Ha-ha-ha, lucu!"
"Hemm, dasar tak tahu malu, tak berperasaan. Kau mau bukti?"
Tentu saja Nagai Ici tidak percaya, dia merasa penasaran sekali.
Dia, Samurai Merah yang di Jepang sudah terkenal sekali, mana mungkin dalam segebrakan saja terpenggal lehernya oleh seorang gadis cilik?
"Boleh!
Kau buktikanlah dan coba kau penggal leherku, tidak dalam segebrakan, malah dalam serIbu gebrakan sekalipun boleh!"
Dia menantang dan sengaja dia mengulur lehernya.
"Huh, kau kira aku algojo?"
Loan Ki mendengus marah.
"Biarpun kau kurang ajar setengah mati, tadi kau menentang penjahat, berarti kau bukan penjahat. Aku tidak biasa membunuh orang yang bukan penjahat. Tetapi aku bisa buktikan, bahwa aku serIbu kali lebih pandai daripadamu dan bahwa tadi aku sengaja mengalah, hanya kau yang buta perasaan tidak tahu diri."
"Heh-heh, kau tekebur sekali. Bagaimana kau akan membuktikan?"
"Kau boleh gunakan pedang bengkok pemotong babi itu untuk melawan aku yang akan melayanimu dengan bertangan kosong!"
Loan Ki tersenyum mengejek dan tanpa perdulikan wajah lawan yang kelihatan kaget itu ia menyambung.
"Lebih dari itu malah, dengar wahai kadal, kuda, babi! Tidak saja aku melayani pedang bengkokmu itu dengan tangan kosong, juga aku akan membiarkan kau menyerang sesukamu tanpa membalas. Kalau aku membalas sekali pukulan saja boleh dianggap kalah!"
Nagai Ici melengak.
Benar-benar terlalu gadis liar ini, pikirnya dengan perut terasa panas.
Menghina orang tanpa takaran.
Mana ada aturan seperti ini?
Seorang jantan tulen seperti dia menyerang seorang gadis bertangan kosong menggunakan samurai?
Dan gadis itu malah tidak akan membalas sama sekali?
Waduh, dia dianggap anak kecil yang masih ingusan saja oleh gadis nakal itu keparat!
"Nona, apakah otakmu waras?"
Kini Loan Ki yang melengak, lalu membanting-banting kaki tanda marah.
"Kau yang edan! Kau yang gila, gendeng dan miring otakmu!"
Ia memaki-maki marah lagi sejadi-jadinya asal hatinya yang mengkal dapat merasa "Plong".
Melihat sikap yang sungguh-sungguh itu, mulai meragulah hati Nagai Ici.
Siapa tahu gadis ini bicara sungguh-sungguh?
Wah, hebat kalau begitu.
"Nona, begini saja sekarang. Bukan watakku untuk menyerang seorang lawan, apalagi seorang gadis seperti kau, menggunakan samurai sedangkan yang kuserang bertangan kosong dan tidak akan membalas. Sekarang begini saja, aku menerima tantanganmu tapi caranya begini. Aku akan menyerangmu selama tiga jurus dan aku tanggung dalam tiga jurus itu, aku akan dapat memilih dengan samuraiku satu di antara empat macam benda di tubuhmu, yaitu pertama pita rambutmu, ke dua ujung ikat pinggangmu, ke tiga ujung ronce pedangmu dan ke empat ujung lengan bajumu. Dalam tiga jurus saja pasti sebuah di antara yang empat tadi dapat kubabat putus, malah mungkin lebih dari satu atau keempatnya sekaligus! Tapi kalau hal ini terjadi, kau harus menyatakan bahwa aku tidak kalah olehmu dan bahwa kepandaianku tidak berada di bawah kepandaianmu. Nah, bukankah ini adil namanya!"
Loan Ki mengernyitkan hidungnya, ditarik ke atas ujung hidungnya sehingga nampak lucu sekali.
"Aduh-aduh, sombongnya! Tiga jurus katamu? Jadikan tiga puluh jurus baru aku sudi melayani. Nah, tiga puluh jurus kau boleh menyerangku dengan pedang pemotong babi itu, kalau dapat kau tabas sedikit saja sebuah di antara yang empat itu, biarlah aku mengaku kalah. Akan tetapi kalau dalam tiga puluh jurus tak berhasil bagaimana?"
"Tiga puluh jurus? Tidak berhasil? Tak mungkin!"
"Janji tinggal janji, jangan menyombong dulu. Wah laki-laki kok ceriwis amat, bicara saja!"
"Biarlah aku berjanji, kalau dalam tiga puluh jurus pedangku ini tidak berhasil membabat putus sebuah di antara empat benda tadi, biarlah aku mengangkat kau menjadi guruku!"
"Hi-hik, punya murid macam kau bikin repot saja! Kau berjanji akan merubah sikapmu, tidak ceriwis dan cerewet lagi dan akan taat dan menuruti segala perintahku, bersedia menjadi bujang atau pelayanku?"
Merah wajah Nagai Ici.
Inilah penghinaan besar.
Akan tetapi dia yakin bahwa dia tak mungkin kalah dalam taruhan ini.
Andaikata dia kalah, hal itu berarti bahwa gadis ini benar-benar seorang dewi yang sakti, lebih sakti daripada gurunya di Jepang, maka sudah sepatutnya kalau dia angkat menjadi gurunya yang baru dan sebagai murid, tentu saja dia harus mentaati gurunya dan rela mengabdi dan menjadi pelayan.
"Baik, aku berjanji!"
Dia berkata sambil mengacungkan samurainya ke atas di depan dahi sebagai tanda sumpah.
"Nah, mulai seranglah!"
Seru Loan Ki setelah menyimpan pedangnya.
Sengaja ia miringkan tubuh melambai-lambaikan ujung lengan baju, ikat pinggang, pita rambut dan ronce pedangnya agar mudah dibabat pedang lawan!
Melihat ini, Nagai Ici berseru keras lalu mulai menyerang.
Samurainya berkilat menyambar, kemerahan dan dengan kecepatan yang dahsyat.
Namun tiba-tiba jago muda Jepang itu berseru terheran-heran.
Dia melihat betapa gadis itu kini bergerak amat aneh, jauh bedanya dengan gerakan tadi ketika melawannya dengan pedang.
Tadi gadis itu gerakannya lemah gemulai, seperti seorang penari dari surga, begitu indah menarik.
Sekarang, gadis itu melangkah ke sana ke mari dengan kaku dan aneh, terhuyung-huyung dan meloncat-loncat sambil jongkok berdiri tidak karuan, tubuhnya ditekuk ke sana ke mari, miring ke kanan kiri depan belakang.
Pendeknya gerakan gadis itu sekarang amatlah buruk dilihat seperti gerakan orang mabuk.
Akan tetapi hebatnya, semua sambaran samurainya mengenai angin belaka dan betapapun cepat dan kuat dia menerjang, dia seakan-akan menghadapi dan menyerang bayangannya sendiri.
Tentu saja jago muda Jepang ini tidak pernah mimpi bahwa gadis itu sekarang menggunakan langkah ajaib dari Ilmu Silat Kim-Tiauw-Kun, ilmu yang tergolong di deretan paling tinggi di dunia persilatan.
Inilah ilmu langkah ajaib yang diberi nama Hui-Thian Jip-Te (Terbang ke Langit Ambles ke Bumi) dan yang dipelajari oleh Loan Ki dari Si Pendekar Buta Kwa Kun Hong!
Kiranya karena memiliki modal ilmu ini maka Loan Ki berani menantang dan bersombong di depan Samurai Merah itu.
Tadi ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, namun ia maklum bahwa untuk merobohkan lawan tangguh ini, bukanlah hal mudah baginya.
Akan tetapi sebaliknya, Samurai Merah juga takkan mungkin dapat merobohkannya, apalagi kalau ia menggunakan Hui-Thian Jip-Te untuk menyelamatkan diri.
Makin lama Nagai Ici menjadi makin penasaran.
Dia bertekad mencapai kemenangan, mengeluarkan pekiknya yang dahsyat, samurainya menyambar-nyambar laksana naga sakti mengamuk, Namun hanya tampaknya saja samurainya hampir mengenai sasaran, kenyataannya selalu hanya berhasil membacok angin kosong.
Setelah belasan kali serangannya tidak berhasil, mulailah dia merasa kaget, heran, dan kagum, malah kemudian bulu tengkuknya berdiri meremang saking ngerinya melihat betapa dengan berjongkok dan melompat-lompat seperti katak atau seperti seorang anak kecil bermain-main, gadis itu dengan mudah sekali menghindarkan diri dari sambaran samurainya!
Ilmu ibliskah yang dipergunakan gadis ini?
Tiga puluh jurus lewat dan jangankan samurai itu mengenai sasaran.
Mencium sedikit pun tak pernah.
Nagai Ici adalah seorang laki-laki sejati.
Tepat setelah jurus ke tiga puluh lewat tanpa hasil, dia lalu menghentikan serangannya, melempar samurainya ke atas tanah lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Loan Ki dan berkata.
"Mulai saat ini murid mentaati segala petunjuk dan perintah Guru."
Terbelalak mata Loan Ki memandang.
Tapi yang dipandangnya tetap berlutut dengan kepala tunduk sehingga yang tampak olehnya hanya rambut hitam digelung ke atas itu.
Inilah sama sekali tak pernah diduganya!
Sama sekali (lanjut ke
Jilid 16) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 ia tidak pernah mengira bahwa pemuda ini benar-benar hendak memenuhi janjinya dan mengangkatnya sebagai guru! "Gila!"
Teriaknya.
"Siapa sudi menjadi gurumu? Kalau kau muridku, berarti aku gurumu dan kau akan menyebut Ibu guru kepadaku? Setan, jangan kau menghina, ya? Aku belum tua, lebih muda daripadamu, mana bisa menjadi guru orang dewasa?"
Nagai Ici mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat dalam keadaan masih berlutut.
"Saya sudah menikmati kehebatan ilmu kepandaian Guru dan sudah kalah janji. Terserah bagaimana kehendak Guru, murid hanya akan menurut dan mentaati."
"Baik, kalau begitu dengarkan perintahku. Pertama, kau tak boleh berlutut, hayo lekas berdiri. Aku bukan ratu, bukan pula puteri Istana dan kau lebih tua daripadaku. Bisa kualat aku kalau kau sembah-sembah. Berdirilah!"
Nagai Ici bangkit berdiri dengan sikap hormat.
"Nah, sekarang dengarkan perintahku selanjutnya. Namaku Loan Ki, Tan Loan Ki dan di dunia kang-ouw aku diberi julukan Bi Yan Cu (Si Walet Jelita). Kau tak boleh menyebut aku Ibu guru, sebut saja namaku. Aku pun akan menyebutmu Nagai Ici begitu saja. Mengerti!"
Nagai Ici mengangguk, di dalam hatinya bingung dan juga geli melihat sikap gadis yang luar biasa dan yang sekaligus meruntuhkan hatinya ini, Juga lima orang gadis tawanan yang sejak tadi menonton, diam-diam saling pandang dan tersenyum simpul.
"Sekarang tugasmu yang pertama adalah membantuku mengantar para gadis tawanan itu pulang ke kampung masing-masing."
"Baik, Nona. Tapi... izinkanlah murid mengubur..."
Berhenti Nagai Ici ketika melihat betapa Loan Ki melotot marah.
"Mengapa mesti menyebut diri sendiri murid? Aku bukan gurumu! Bilang saja aku, habis perkara!"
"Maaf, aku... aku akan mengubur mayat-mayat itu lebih dulu..."
Loan Ki mengangguk. Hatinya setuju dan diam-diam ia memuji pribadi orang ini, akan tetapi mulutnya mengomel.
"Manusia jahat seperti binatang, mayatnya sama pula dengan bangkai, perlu apa banyak rewel? Hayo lekas, cepat saja kubur jangan biarkan aku terlalu lama menunggu."
Nagai Ici tersenyum dan cepat-cepat dia menggali lubang untuk mengubur mayat-mayat para penjahat yang menjadi korban samurainya tadi.
Adapun Loan Ki mendekati para gadis tawanan yang menyambutnya penuh hormat.
Dengan terharu mereka menjawab pertanyaan Loan Ki tentang kampung halaman mereka dan tentang pengalaman mereka diculik oleh para penjahat Hui-Houw-Pang untuk dibawa secara paksa ke Kota Raja.
Mereka ini kiranya adalah gadis-gadis yang tinggal di kampung dekat Sungai Kuning, anak dari para petani.
Memang mereka cantik-cantik karena memang mereka adalah kembang yang paling cantik di dalam dusun masing-masing.
Menurut penuturan mereka, sudah terlalu sering terjadi perampokan gadis-gadis ini, baik oleh orang-orang Hui-Houw-Pang maupun oleh para bajak Kiang-Liong-Pang atau para penjahat lain, Yang berusaha untuk mengeduk keuntungan sebesar-besarnya atau mencari muka baik dari Kaisar baru dan para pejabat tinggi di Kota Raja yang akan menyambut gembira persembahan berupa gadis-gadis cantik itu.
Loan Ki mendengarkan dengan hati sakit.
Ia seorang gadis berjiwa sederhana yang tidak mengerti tentang tata negara, tidak tahu-menahu akan keadaan di Kota Raja dan tentang kehidupan para pembesar.
Akan tetapi, mendengar penuturan yang disertai cucuran air mata oleh para gadis itu, pendekar wanita ini menggertak gigi dan menyatakan kebenciannya terhadap Kaisar baru dan para kaki tangannya dengan memaki-maki sejadinya.
Memang, amat menyedihkan kalau dalam sebuah negara, para pembesar yang oleh rakyat dianggap pemimpin, melakukan penyelewengan-penyelewengan dan hanya mementingkan kesenangan pribadi saja.
Sudah terlampau banyak contoh terdapat dalam sejarah kuno betapa kaum ningrat, kaum berkuasa yang memegang tampuk pemerintahan, selalu mabuk akan kekuasaan dan apabila kekuasaan sudah berada di tangan, dimabuk segala macam kemaksiatan!
Mengapa begini?
Mengapa banyak sekali terjadi contoh-contoh menyolok, di mana bekas-bekas pejuang yang dahulu ikut berjuang menumbangkan kekuasaan Mongol, yang dahulu benar-benar menjadi seorang ksatria yang rela dan siap mengorbankan nyawa guna tanah air dan bangsa, setelah perjuangan berhasil dan dia mendapat kedudukan, lalu berubah tabiatnya seperti bumi dengan langit, berubah menjadi ningrat atau pembesar yang menimbun diri dengan perbuatan maksiat?
Mengapa terjadi ini semua?
Jawaban satu-satunya kiranya hanya terletak pada diri pribadi masing-masing!
Kemaksiatan timbul karena dorongan nafsu yang tak dapat dikekang dan yang memaksa manusianya melaksanakan dorongannya.
Ini hanya dapat terjadi kalau si manusia itu lemah batinnya, lemah pertahanan di dalam hatinya sehingga tidak kuat menghadapi penyerbuan nafsu-nafsu yang laksana iblis setiap saat mendobrak pertahanan batin manusia.
Kekuatan batin melemah karena pengaruh keadaan sekeliling, karena keadaan ling kungan hidupnya, karena contoh-contoh hidup yang diperlihatkan atasannya.
Kalau atasannya mabuk kedudukan, bawahannya pun tentu demikian.
Kalau atasannya mabuk wanita, bawahannya pun takkan berbeda jauh dan demikian selanjutnya.
Bagaimana akibatnya kalau para ningrat dan pembesar sudah tenggelam ke dalam gelombang perbuatan maksiat?
Celakalah!
Negara akan menjadi lemah, rakyat akan menjadi sengsara.
Tanda-tanda tentang keadaan para pembesar yang demikian itu, selalu dapat dilihat dari keadaan di Kota Raja.
Apabila seorang pembesar, baik dia berkedudukan tinggi sekali ataupun hanya rendahan, tenggelam dan mabuk akan kemewahan, itulah tanda bahwa pertahanan batinnya menjadi lemah dan dia akan mudah tergelincir ke dalam tindakan maksiat.
Dan segala macam tindakan maksiat di dunia ini mempunyai pengaruh seperti madat.
Diberi satu ingin dua, mendapat dua ingin empat dan seterusnya, tak kenal puas tak kenal kenyang.
Sekali seorang manusia mabuk akan kedudukan, biar dia sudah menjadi Kaisar sekalipun, dia akan merasa tak puas dan iri melihat Kaisar-Kaisar di negara lain yang lebih besar kedudukannya, dan andaikata dia sudah menjadi Kaisar yang paling tinggi kedudukannya di dunia, agaknya dia masih akan mengiri akan kedudukan Tuhan!
Sekali seorang manusia sudah mabuk akan wanita, biar dia sudah mempunyai isteri dan selir sebanyak serIbu orang sekalipun, matanya yang berminyak kiranya akan masih selalu jelalatan (melotot ke sana-sini) untuk mencari seorang wanita lain yang belum dia miliki!
Setelah selesai mengubur mayat-mayat itu, Nagai Ici lalu diajak Loan Ki mengantar para gadis bekas tawanan itu.
Untung bahwa perkampungan mereka tidak jauh dari hutan itu sehingga dalam waktu dua hari saja mereka telah dapat di rumah masing-masing.
Tentu saja mereka dan orang-orang tua mereka girang dan terharu bukan main, berlutut menghaturkan terima kasih kepada Loan Ki dan Nagai Ici.
Akan tetapi dua orang muda perkasa ini tidak mau menerima atau melayani penghormatan mereka dan cepat-cepat pergi tanpa pamit lagi.
Pada pagi hari berikutnya, Loan Ki dan Nagai Ici sudah menunggang kuda berendeng sambil bercakap-cakap.
Nagai Ici kini sudah berubah pakaiannya, merupakan seorang pria muda yang berpakaian gagah, tidak aneh lagi kecuali pedang samurainya yang memang berbeda dengan pedang-pedang yang biasa dibawa oleh para ahli silat di situ.
Loan Ki yang memaksanya berganti pakaian karena gadis ini tidak ingin melihat teman seperjalanannya menjadi pusat perhatian dan keheranan orang.
Dengan sisa uang rampasan dari para perampok Hui-Houw-Pang, mereka membeli pakaian dan membeli dua ekor kuda karena Loan Ki bermaksud mengadakan perjalanan jauh, menyusul Ayahnya di Kota Raja!
Nagai Ici yang tunduk betul kepadanya, penurut dan tidak pernah membantah, benar-benar menyenangkan hati Loan Ki.
Senang dan gembira juga mendapatkan seorang pengiring yang selain gagah dan tampan, juga amat penurut dan setia seperti pemuda Jepang itu.
Dalam perjalanan di pagi hari itu, Loan Ki minta kepada Nagai Ici untuk menceritakan keadaannya!
Menurut penuturan Nagai Ici, di Jepang pada waktu itu (sekitar tahun 1399-1400) baru saja terdapat perdamaian setelah puluhan tahun di negeri itu terjadi perebutan kekuasaan yang mengakibatkan perang saudara terus-menerus.
Kemenangan terakhir pada tahun 1392 tercapai oleh Ashikaga Takauyi dan mulailah di tahun itu apa yang dinamakan jaman Maromaci karena Ashikaga Takauyi menempatkan markasnya di bagian kota Kyoto dan bernama Maromaci.
Kekuasaan yang sesungguhnya berada di tangan Ashikaga Takauyi inilah, Sungguhpun Kaisarnya masih keturunan keluarga Tenno yang berada di Istana Tenno tapi yang keadaannya tidak ubahnya boneka belaka.
Nagai Ici semenjak belasan tahun sudah menjadi yatim piatu dan selanjutnya dia dirawat dan dididik oleh gurunya, seorang Daimyo (pendekar besar) yang membantu perjuangan Ashikaga Takauyi.
Setelah dalam usia lima belas tahun ikut pula mengayun samurai membantu perang saudara yang sudah hampir berakhir itu, Nagai Ici dinyatakan tamat dari perguruan dan diperbolehkan dia berdiri sendiri menjadi seorang di antara golongan Samurai!
Sepak terjangnya sebagai seorang pendekar amat mengesankan sehingga beberapa tahun kemudian, dalam usia dua puluh tahun saja dia sudah dijuluki orang Samurai Merah.
Nagai Ici mempunyai darah perantau atau mungkin juga jiwa petualangnya ingin dia puaskan dengan perantauan.
Seluruh negeri Jepang sudah dia jelajahi dan akhirnya karena pada jaman itu hubungan Jepang dan Tiongkok sudah amat baik, dia mendengar banyak tentang Tiongkok.
Kebudayaan dari negara besar itu, termasuk ilmu silatnya, terbawa ke Jepang dan amat terkenal.
Banyak dongeng yang sering didengar Nagai Ici dalam perantauannya betapa jago-jago silat di Tiongkok seperti dewa-dewa saja saktinya.
Inilah mula-mula yang menjadi pendorong baginya untuk menyeberang laut menuju ke Tiongkok dengan cita-cita untuk mencari seorang guru seperti dewa dan mempelajari kesaktian!
Lama sekali, setelah beberapa tahun lagi, baru dia memperoleh kesempatan berlayar ke Tiongkok bersama perahu ikan yang dengan berani mati menempuh perjalanan berbahaya itu dengan perahu ikan yang kecil.
Seperti telah kita baca dalam bagian terdahulu, begitu mendarat, Nagai Ici dibikin kecewa dan marah menyaksikan perbuatan para bajak laut bangsanya yang merampoki sebuah kota pelabuhan.
Karena merasa malu akan perbuatan bangsanya yang di negerinya terkenal sebagai orang-orang kaya itu, Nagai Ici turun tangan membasmi dan mengusir para bajak laut Tengkorak Hitam kemudian dia menghilang karena tidak ingin dilihat orang lain bahwa dia, seorang Jepang juga, mengamuk dan membasmi bajak laut bangsanya sendiri.
Dalam perjalanan selanjutnya sampai berpekan-pekan, Nagai Ici mulai kecewa karena ternyata bahwa di negara besar yang dahulunya dia sangka segalanya pasti serba hebat itu, kiranya tidak banyak bedanya dengan negerinya sendiri, kalau tidak mau dibilang lebih buruk.
Para petani demikian miskinnya sampai-sampai hidupnya tidak layak sebagai manusia.
Di mana-mana banyak terdapat perampok dan penjahat-penjahat, Penghuni-penghuni dusun demikian sederhana hidupnya dan amatlah bodoh sehingga kadang-kadang Nagai Ici kehabisan harapan dapat bertemu dengan seorang sakti seperti dewa di antara bangsa malah amat miskin ini.
Demikianlah, tentu saja pertemuan dengan Loan Ki amat mengagumkan dan mengirangkan hatinya.
Mulailah timbul harapannya.
Kalau ada seorang gadis remaja sehebat ini, tidak mustahil dia akan bertemu dengan seorang guru sesakti dewa.
Baru gadis ini saja, bukan main!
Belum pernah dia mendengar, apalagi menyaksikan seorang dara remaja memiliki kepandaian seperti ini.
Samurainya itu tidak berdaya sama sekali terhadap gadis ini yang bertangan kosong!
Bukankah ini aneh sekali?
Gurunya sendiri, Daimyo Matsgmori yang amat terkenal di Jepang, belum tentu berani menghadapi tiga puluh jurus serangan samurainya dengan tangan kosong tanpa membalas!
Inilah yang membuat Nagai Ici menjadi penurut.
Biasanya, di negerinya kaum wanita tidaklah mendapat tempat terlalu tinggi, dianggap sebagai mahkluk lemah yang tugasnya hanya menjadi penghIbur kehidupan pria belaka.
Kini dia bertemu "Batunya", seorang dara lincah yang hebat, yang sekaligus membangkitkan harapannya untuk mendapatkan guru pandai di samping sekaligus menjatuhkan hatinya pula, membuat dia bertekuk lutut di dalam hati, tak kuasa menentang sinar mata jeli dari si juita itu.
Anehkah kalau jago muda dari Jepang itu tersenyum-senyum gembira, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar ketika dia mengendarai kuda di samping Loan Ki?
Setelah Kian Bun Ti menduduki singgasana menjadi Kaisar dan terkenal juga dengan nama Hui Ti (pada tahun 1399), timbullah persaingan hebat di Kota Raja untuk memperebutkan kedudukan.
Sebagian banyak pangeran tua merasa tidak puas melihat Hui Ti menjadi Kaisar, karena mereka sudah mengenal Pangeran Kian Bun Ti sebagai seorang muda yang hanya mengejar kesenangan belaka.
Akan tetapi, para pangeran muda dan para pembesar yang mendapat kedudukan baik setelah Kian Bun Ti naik tahta, tentu saja mati-matian membela Kaisar baru ini.
Dengan demikian, maka diam-diam terjadilah permusuhan.
Keadaan Kota Raja seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu tentu akan meletus.
Biarpun Kaisar Hui Ti yang muda itu sendiri adalah seorang yang keahliannya hanya mengejar wanita cantik dan bersenang-senang, namun para pembantunya yang juga mempertahankan kedudukan mereka masing-masing, adalah orang-orang pandai yang banyak pengalaman.
Karena itu, untuk memperkuat kedudukan Kaisar baru ini, para menteri dan pembesar tinggi, terutama golongan bu (militer) segera memperkuat penjagaan, memperkuat barisan dan mendatangkan banyak ahli-ahli dari luar.
Selain itu, setiap hari diadakan pembersihan untuk membasmi mereka yang dianggap sebagai lawan, mereka yang dianggap membahayakan kedudukan Hui Ti dan para pembesar pendukungnya.
Seperti sudah lazim terjadi, bilamana angin puyuh bertiup, yang rontok bukan hanya daun-daun kering dan buah-buan busuk, juga daun-daun segar dan buah-buah muda bisa saja terlanda angin puyuh dan rontok semua.
Dalam keadaan negara pun demikian.
Bilamana kerIbutan terjadi, yang menjadi korban bukan hanya mereka yang memang tersangkut, juga yang tidaktahu apa-apa bisa saja menjadi korban.
Sudah tentu saja menurut rencana para pembesar yang mengatur ini semua, yang harus dibersihkan adalah mereka yang berbahaya, mereka yang diam-diam mempunyai niat untuk melawan dan menumbangkan kekuasaan Kaisar baru untuk diganti dengan Kaisar pilihan mereka sendiri.
Akan tetapi dalam pelaksanaannya banyak sekali terjadi penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan sehingga terjadilah pemerasan, penyelewengan dan kejahatan yang berdasafkan fitnah.
Bisa saja terjadi seorang petugas kecil mendatangi seorang Hartawan dan melancarkan fitnah keji bahwa Hartawan itu termasuk anti Kaisar baru.
Kemudian dengan alasan "Melindungi", si petugas kecil itu menerima "uang jasa"
Yang jumlahnya melebihi besarnya jumlah upahnya sepuluh tahun!
Ini baru contoh kecil-kecilan saja, banyak terjadi hal yang lebih hebat daripada contoh itu.
Kota Raja goncang karena pertentangan-pertentangan ini.
Penduduk Kota Raja dicekam kekuatiran.
Banyak malah yang pergi mengungsi keluar daerah, memilih tempat tinggal di dusun-dusun jauh dari Kota Raja, di mana rakyatnya tidak sedikit pun merasai akibat ketegangan politik di Kota Raja.
Akan tetapi ketenteraman ini pun hanya sementara saja mereka rasakan, karena tak lama kemudian pembersihan dilakukan sampai ke dusun-dusun pula di mana tangan-tangan iseng dari manusia-manusia berbatin rendah itu menyebar fitnah ke sana ke mari sambil mencari kesempatan mengeduk kekayaan sebanyak mungkin.
Kota Raja dijaga ketat.
Semua pintu gerbang Kota Raja dijaga oleh para pasukan pilihan, dan di dalam Kota Raja sendiri penuh dengan mata-mata yang melakukan penyelidikan agar jangan sampai Kota Raja diselundupi kaki tangan lawan.
Memang paling repot menghadapi lawan yang tidak diketahui dari mana datangnya ini.
Lawan-lawan yang bisa saja menyelundup ke dalam golongan pedagang, pengemis, buruh, seniman, malah bisa jadi menyelundup ke dalam golongan pembesar dan perajurit sendiri.
Pada suatu pagi, pagi-pagi sekali di luar pintu gerbang sebelah Utara, tampak seorang laki-laki muda yang pakaiannya sederhana tapi bersih, berdiri dengan tongkat di tangan dan kepala tunduk.
Orang ini bukan lain adalah Si Pendekar Buta, Kwa Kun Hong.
Telah kita ketahui bahwa setelah berpisah dari Song-Bun-Kwi, Pendekar Buta ini pergi ke Kota Raja.
Banyak hal yang harus dia selidiki, selain persoalan yang menyangkut Thai-San-Pai juga soal Mahkota kuno yang mengandung rahasia kenegaraan besar itu, yang kini berada dalam bungkusan pakaian yang digendongnya.
Biarpun dia buta, namun karena kepandaiannya yang tinggi, dia dapat juga melakukan perjalanan cepat.
Sambil bertanya-tanya di sepanjang jalan, akhirnya dia sampai juga di luar pintu gerbang sebelah Utara.
Baru saja dia mendengar keterangan bahwa tidaklah mudah untuk memasuki Kota Raja, karena setiap orang dicurigai dan pintu gerbang dijaga keras.
Sedikit saja menimpulkan kecurigaan para penjaga, tentu akan ditangkap dan dimasukkan tahanan.
Inilah yang membuat Kun Hong ragu-ragu dan hati-hati.
Dia tidak takut dicurigai, tidak takut pula ditangkap.
Akan tetapi karena Mahkota kuno itu berada padanya, amatlah tidak baik kalau sampai dia tertawan.
Mahkota itu harus dia jaga, kalau perlu berkorban nyawa.
Betapapun juga, Kun Hong sudah mempunyai dasar Watak berhati-hati, tidak mau sembarangan mempercaya berita yang didengamya tentang keburukan seseorang.
Dia sudah mendengar dari Tan Hok tentang Pangeran Kian Bun Ti yang sekarang sudah menjadi Kaisar dan bahwa hal ini amatlah buruk akibatnya, karena pangeran itu bukanlah seorang yang patut menjadi Kaisar.
Karena itulah maka mendiang Kaisar tua telah meninggalkan surat rahasia yang disimpan di dalam Mahkota kuno itu, surat rahasia yang memberi kuasa kepada Pangeran Tua Yung Lo di Utara untuk bertindak terhadap Kaisar baru.
Akan tetapi, Kun Hong tidak merasa puas kalau tidak mendengar sendiri keadaan di Kota Raja.
Karena ini, dia sengaja pergi ke Kota Raja hendak melakukan penyelidikan dan mencari sahabat-sahabatnya, yaitu perkumpulan Hwa I Kaipang.
Dia dapat mempercayai Hwa I Kaipang, karenanya dia hendak minta bantuan mereka ini, selain menyelidiki tentang keadaan Kaisar baru, juga menyelidiki tentang musuh-musuh Thai-San-Pai itu.
Selagi Kun Hong berdiri ragu-ragu di luar pintu gerbang tembok Kota Raja, menimbang-nimbang bagaimana dia dapat memasuki Kota Raja yang terjaga kuat itu, tiba-tiba dia mendengar langkah kaki dua orang mendekatinya dari arah belakang.
Dia mengira bahwa dua orang itu tentulah orang-orang yang lewat dan akan memasuki pintu gerbang, maka dia tidak menaruh perhatian.
Baru dia kaget dan heran ketika dua orang itu berhenti di depannya dan terdengar suara halus seorang laki-laki muda.
"Aduh kasihan, semuda ini menanggung derita, tak pandai melihat! Saudara yang buta, kau hendak pergi ke manakah? Biarlah aku menunjukkan jalan yang hendak kau tuju."
Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang pria muda, paling banyak beberapa tahun lebih tua daripadanya, seorang yang gerak-gerik dan tutur bahasanya halus, pantasnya seorang muda terpelajar, akan tetapi di dalam suara itu juga terkandung tenaga seorang ahli tenaga dalam, seorang yang biasa melakukan samadhi dan menguasai peraturan bernapas.
Dia cepat-cepat menjura dengan hormat dan berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak. Anda baik hati benar, sudi memperhatikan seorang buta seperti saya."
Orang itu tertawa, suara ketawanya lembut seperti ketawa wanita.
"Aku dapat menduga bahwa kau bukanlah seorang buta biasa saja. Wajah dan pakaianmu menunjukkan bahwa kau seorang yang berpengetahuan dan terdidik. Kata-kata yang kau ucapkan memperkuat dugaanku. Sahabat, jangan kau curiga. Aku The Sun bermaksud baik terhadap seorang buta yang menarik hatiku. Apakah kau hendak memasuki Kota Raja? Hayo, boleh bersamaku dan aku tanggung kau takkan diganggu para penjaga goblok itu. Aku sudah mereka kenal baik."
Berdebar hati Kun Hong, dia memang tadinya menaruh hati curiga, akan tetapi mendengar penawaran ini, dia benar-benar bersyukur di dalam hati.
Kesempatan terbaik baginya.
Cepat-cepat dia menjura lagi dan berkata.
"Saudara The benar-benar budiman. Aku Kwa Kun Hong seorang buta amat berterima kasih kepadamu. Sesungguhnyalah, aku bermaksud memasuki Kota Raja mengadu untung, siapa tahu di Kota Raja aku dapat menolong banyak orang dan mendapat banyak rejeki."
Hening sejenak, agaknya The Sun itu mengamat-amatinya baik-baik, lalu terdengar dia berkata.
"Ah, saudara Kwa, apakah kau seorang tukang Gwamia (Ahli Nujum)!"
Memang banyak terdapat orang-orang buta yang membuka praktek sebagai ahli nujum, menceritakan nasib orang-orang dengan meraba telapak tangan mereka.
Tentu saja, seperti biasa, ahli-ahli nujum ini sebagian besar hanya tukang bohong belaka, mencari korban di antara orang-orang bodoh yang mudah "Dikempongi"
Dan ditarik uangnya. Kun Hong menggeleng kepala.
"Bukan, aku hanyalah seorang tukang obat biasa, saudara The."
"Ah, begitukah? Baiklah, mari kita memasuki Kota Raja dan kau akan kuantarkan di pusat kota yang paling ramai. Mudah-mudahan saja kau akan dapat menyembuhkan banyak orang sakit dan mendapatkan banyak rejeki seperti yang kau harapkan."
Sambil berkata demikian, orang itu menggerakkan tangan hendak menangkap tongkat Kun Hong, akan tetapi ternyata dia hanya menangkap angin karena seperti tanpa disengaja, Kun Hong sudah lebih dahulu menarik tongkatnya sambil tertawa.
"Terima kasih atas kebaikanmu. Marilah, aku akan mengikuti di belakangmu."
The Sun tertawa, lalu berjalanlah dia perlahan-lahan menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh Kun Hong.
Dengan pendengaran telinganya Kun Hong tahu bahwa orang ke dua juga berjalan di samping The Sun dan diam-diam dia terkejut juga karena orang itu memiliki Ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat, akan tetapi masih juga tidak mampu menandingi kepandaian The Sun yang muda karena jejak kaki The Sun ini sama sekali tidak mengeluarkan suara dan oleh pendengarannya yang amat tajam sekalipun hanya terdengar sedikit seperti langkah seekor kucing saja.
Mulailah dia menaruh curiga.
Terang bahwa orang yang mengaku bernama The Sun bersama temannya yang tidak diperkenalkan kepadanya ini adalah dua orang yang memiliki kepandaian silat tinggi.
Kebetulankah The Sun ini seorang yang berbudi dan menaruh kasihan kepadanya?
Ataukah memang sengaja hendak mendekatinya?
Dia harus berhati-hati.
Karena kehati-hatiannya pula inilah maka tadi dia sengaja tidak membiarkan tongkatnya dipegang orang itu.
Tongkatnya adalah senjata yang paling diandalkan.
Ketika mereka melewati pintu gerbang memasuki Kota Raja, Kun Hong melangkah dengan hati-hati dan telinganya mendengarkan penuh perhatian.
Tidak terjadi sesuatu, kecuali seorang di antara para penjaga agaknya yang menegur dengan suara menghormat.
"Sepagi ini The-Kongcu (tuan muda The) baru pulang, agaknya mendapatkan kesenangan malam tadi. Selamat pagi, Kongcu!"
Lalu disusul suara penjaga ke dua.
"Lo-ji, kau benar lancang mulut! Seorang Siucai (lulusan pelajar) seperti The-Kongcu mana bisa kau samakan dengan kau yang suka keluyuran di waktu malam? Kongcu, kalau Kongcu kehendaki, biar saya mewakili Kongcu menampar muka Lo-ji yang kurang ajar ini!"
The Sun itu tertawa perlahan, agaknya dia amat dihormat, disegani, juga disukai para penjaga, terbukti dari keramahannya dan dari sikap para penjaga yang biarpun amat menghormatinya dan amat takut kepadanya, namun berani pula bermain-main.
"Sudahlah, sepagi ini sudah berkelakar. Jaga saja baik-baik sampai kalian diganti penjaga baru. Aku mengajak sahabat buta tukang obat ini memasuki pintu gerbang, aku yang menanggung dia."
"Silakan... silakan..."
Bak mulut penjaga berkata ramah. Setelah mereka berhasil melewati pintu gerbang dan tiga lapis penjagaan, Kun Hong mendengar The Sun berkata.
"Mulai sekarang tidak ada penjagaan lagi."
Kun Hong menjura dengan hormat.
"Saudara ternyata adalah seorang Kongcu dan seorang Siucai pula, harap suka memaafkan karena mata saya buta, saya tidak tahu dan telah berlaku kurang hormat. Budi Kongcu amat besar, Kongcu amat baik kepada saya dan terima kasih saya ucapkan."
"Ah, saudara Kwa Kun Hong, kenapa begini banyak sungkan? Biarpun kau seorang yang menderita kebutaan, akan tetapi aku pun dapat menduga bahwa kau bukan seorang biasa yang tidak tahu apa-apa, Sikapmu penuh sopan dan kau tahu aturan, tanda bahwa kau pun seorang yang pernah mempelajari kebudayaan. Marilah, mari kuantar kau ke tempat yang ramai agar di sana kau dapat mulai dengan pekerjaan itu."
Kembali Kun Hong menjura, di dalam hati dia merasa amat curiga, akan tetapi di luarnya dia pura-pura bersikap tidak enak.
"Mana saya berani mengganggu Kongcu lebih lama lagi? Budi Kongcu membawa saya masuk saja sudah amat besar. Harap Kongcu meninggalkan saya di sini saja, biar saya berjalan perlahan mencari-cari langganan. Dengan tanya-tanya agaknya saya akan sampai juga ke tempat ramai."
"Ih, mana bisa begitu? Aku pun hendak menuju sejalan denganmu. Marilah, tak usah sungkan."
Telinga Kun Hong yang tajam mendengar betapa orang ke dua yang sejak tadi berjalan bersama The Sun, kini berjalan cepat sekali meninggalkan tempat itu.
Dia heran, akan tetapi tidak bertanya dan pura-pura tidak tahu.
Karena The Sun mendesaknya, tak dapat pula dia menolak dan terpaksa Kun Hong mengikuti pemuda itu menuju ke tengah kota.
Makin lama makin ramailah orang hilir-mudik dan makin ramai orang bercakap-cakap.
Biarpun sepasang mata Kun Hong tak dapat melihat lagi, akan tetapi dahulu sebelum dia menjadi buta kedua matanya, pernah dia datang ke Kota Raja, malah pernah dia menjadi tamu dari Pangeran Kian Bun Ti yang sekarang menjadi Kaisar (baca Rajawali Emas).
Oleh karena itu, sekarang dia dapat membayangkan keadaan Kota Raja ini dengan hanya mendengar keramaian di sekelilingnya dengan pendengaran saja.
"Saudara Kwa, mari kita masuk rumah makan ini dulu. Makan dulu sebelum bekerja adalah hal yang paling baik,"
Kata The Sun sambil tertawa gembira.
Kun Hong mengerutkan keningnya.
Terlalu baik orang ini.
Apakah dia benar-benar baik terhadapnya, ataukah ada sesuatu tersembunyi di balik keramahan ini?
Mana ada seorang Siucai yang agaknya kaya raya dan berpengaruh di Kota Raja, suka menolong, malah sekarang hendak menjamu seorang buta seperti dia?
Akan tetapi, semua ini baru dugaan dan amatlah tidak baik kalau dia menolak tawaran dan keramahan orang, apalagi memang dia merasa tertarik hatinya untuk mengetahui apa gerangan yang menjadi dasar keramahan orang ini.
Sambil mengangguk-angguk dan berucap terima kasih dia mengikuti The Sun memasuki rumah makan yang sudah menyambut mereka dengan asap dan uap yang gurih dan sedap.
Diam-diam timbul pula harapannya untuk dapat bertemu dengan seorang anggauta Hwa I Kaipang, karena bukankah sudah lazim kalau pengemis-pengemis berada di dekat rumah makan untuk mengemis sisa makanan?
Pesanan masakan The Sun cepat dilayani oleh para pelayan yang juga menyebutnya Kongcu dan melayaninya dengan sikap hormat.
"Mari silakan, saudara Kwa,"
Kata pemuda itu sambil mengisi cawan arak dan menyerahkannya kepada Kwa Kun Hong.
Orang buta ini dengan berterima kasih tetapi tetap berhati-hati segera mulai makan minum dengan pengundangnya yang aneh dan ramah.
Rumah makan itu tidak banyak didatangi tamu pada saat itu.
Kun Hong mendengar ada beberapa orang tamu saja di meja sebelah kanannya.
Tiba-tiba dia mendengar beberapa orang memasuki rumah makan itu.
Dari bunyi derap langkah mereka tahulah dia bahwa orang-orang ini adalah ahli-ahli silat, malah beberapa orang di antaranya adalah ahli silat tinggi.
Dia mulai waspada.
Sukar menghitung tepat di tempat gaduh itu, akan tetapi dia tahu bahwa sedikitnya tentu ada lima orang yang datang ini.
Lalu terdengar rIbut-rIbut di sebelah kanannya, dan terdengar suara keren berkata.
"Diam semua, duduk di tempat. Buka semua buntalan, kami datang melakukan penggeledahan!"
Kun Hong mengerutkan keningnya dan bertanya lirih kepada The Sun.
"Saudara The Sun, apakah yang terjadi di sana?"
The Sun tertawa.
"Ah, tidak apa-apa biasa saja terjadi di Kota Raja. Penggeledahan, apalagi? Di Kota Raja sekarang ini banyak terdapat orang-orang jahat, dan semenjak Kaisar muda menggantikan mendiang Kaisar tua, banyak terjadi kerIbutan. Hampir setiap hari ada orang ditangkap dan dihukum mati karena dia menjadi mata-mata musuh dan pengkhianat."
Kun Hong kaget sekali.
"Kalau begitu, kita nanti juga akan digeledah?"
Dia tahu bahwa kalau buntalannya digeledah dan Mahkota itu dilihat oleh para pemeriksa, tentu dia akan ditangkap.
Ini tidak hebat, lebih celaka lagi Mahkota itu tentu akan dirampas dan dengan demikian, surat rahasia itu terampas pula sehingga segala yang telah dia lakukan selama ini untuk mendapatkan kembali Mahkota itu sia-sia belaka!
"Ah, terhadap aku mereka takkan menggeledah,"
Kata The Sun tertawa.
"Karena mereka semua sudah mengenalku. Hanya orang-orang asing yang datang ke Kota Raja dan orang-orang yang mencurigakan saja yang digeledah."
Biarpun Kun Hong tidak gentar menghadapi para penggeledah itu, akan tetapi dia juga merasa tidak enak kalau belum apa-apa dia harus menimbulkan kerIbutan di Kota Raja.
Sebelum dia dapat menemukan orang-orang Hwa I Kaipang dan masih membawa Mahkota itu, tidak baik menimbulkan kerIbutan dan menjadi perhatian para penjaga kota.
Dia segera bangkit berdiri dan berkata.
"Saudara The, banyak terima kasih atas segala kebaikanmu. Aku sudah kenyang dan hendak pergi saja, mulai dengan pekerjaanku."
The Sun memperdengarkan suara kaget.
"Eh, saudara Kwa. Kenapa tergesa-gesa? Apakah kau takut digeledah? Kau kan hanya tukang obat, yang kau bawa di buntalanmu, tentu hanya pakaian dan obat-obatan. Mengapa takut kelihatannya?"
"Tidak... tidak takut. Akan tetapi segan juga aku kalau harus digeledah. Siapa tahu obat-obatku bisa hilang sebagian."
Tiba-tiba The Sun memegang tangan kiri Kun Hong.
"Saudara Kwa, percayalah kepadaku. Aku akan melindungimu dari tangan anjing-anjing itu,"
Bisiknya. Kun Hong berdebar hatinya. Tak salahkah pendengarannya? Siapa yang menyebut para pembantu Kaisar dengan sebutan "Anjing"
Atau "Anjing penjilat", berarti orang itu termasuk golongan anti Kaisar?
Betulkan The Sun ini seorang yang segolongan dengan Tan Hok?
Segolongan dengan Pek-Lian-Pai dan para orang gagah yang menentang Kaisar baru yang dikatakan tidak tepat menduduki singgasana karena wataknya yang tidak baik?
Dia tidak mau percaya begitu saja karena suara orang muda ini mengandung getaran yang sukar ditangkap dasarnya.
The Sun meneriaki pelayan dan cepat membayar harga makanan sambil memberi persen besar kepada pelayan.
Kemudian dia menggandeng tangan Kun Hong diajak keluar.
Bisiknya perlahan.
"Saudara Kwa, apakah kau membawa sesuatu yang kau tidak suka dilihat oleh anjing-anjing itu?"
Sukar bagi Kun Hong untuk menjawab, maka dia diam saja. Selagi mereka berdua berjalan menuju ke pintu, tiba-tiba terdengar oleh Kun Hong orang membentak.
"Hei, orang buta! Berhenti dulu kau, tidak boleh ke luar sebelum digeledah!"
Kun Hong berhenti, siap melawan untuk menyelamatkan surat rahasia di dalam Mahkota. The Sun segera berkata, nyaring.
"Sahabat Kwa yang buta ini datang bersamaku, apa kalian tidak lihat? Dia tamuku, seorang ahli pengobatan yang hanya akan membawa pakaian dan obat-obatan. Apa perlunya digeledah kalau aku sudah menanggungnya?"
Terdengar oleh Kun Hong suara pimpinan para penggeledah itu yang keras dan mengandung tenaga.
"Maaf The-Kongcu. Kami mendapat perintah atasan agar hari ini kami menggeledah setiap orang yang belum pernah kami geledah. Orang buta ini belum pernah kami lihat, terpaksa kami tidak berani lepaskan sebelum digeledah karena kalau kami lakukan hal ini, tentu kami akan mendapat hukuman."
The Sun berkata mengejek.
"Hemmm, kalau begitu lekas selesaikan penggeledahan orang-orang itu, kami menanti di sini."
Dia menarik tangan Kun Hong diajak duduk di atas bangku di pojok. Lalu berbisik.
"Lekas, kau titipkan surat rahasia itu kepadaku!"
Kun Hong kaget dan heran bukan main.
Apa yang dimaksudkan oleh The Sun?
Apakah yang dimaksudkan surat rahasia yang berada di dalam Mahkota?
Bagaimana orang ini bisa tahu?
Dia sendiri yang selalu membawa Mahkota itu, tidak tahu di mana disimpannya surat itu.
"Apa maksudmu?"
Bisiknya tak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti.
"Aku tidak membawa surat apa-apa."
"Ah, Saudara Kwa yang baik, masih tidak percayakah kau kepadaku?"
Bisik The Sun, lalu ditambahkan lebih lirih lagi.
"Aku segolongan denganmu... aku membantu perjuangan... aku membantu Utara..."
Kun Hong lebih tidak mengerti lagi.
Dia sendiri pun tidak tahu dia itu termasuk golongan mana karena biarpun dia mendengar dari Tan Hok tentang pergerakan dan pertentangan di Kota Raja, namun kalau dia belum mendapat kepastian siapa yang tidak benar dalam hal ini, bagaimana dia bisa membantu satu fihak?
Hanya dia dapat menduga bahwa agaknya pemuda she The ini adalah sependukung Raja Muda Yung Lo di Utara.
Padahal surat yang disimpan di dalam Mahkota itupun adalah surat rahasia dari mendiang Kaisar untuk diserahkan kepada Raja Muda Yung Lo.
Tidak akan kelirukah dia kalau Mahkota itu dia berikan kepada pemuda ini agar disampaikan kepada yang berhak menerimanya?
Karena keraguan Kun Hong ini, dia terlambat.
Terdengar derap langkah menghampiri dan bentakan orang tadi.
"He, orang buta. Hayo turunkan buntalanmu itu dan buka. Juga pakaian luarmu, biarkan kami menggeledahmu!"
Kun Hong berdebar, lalu menjawab.
"Saya hanya seorang tukang obat biasa saja, tidak membawa sesuatu, harap kalian jangan mengganggu aku seorang buta..."
"Ha-ha-ha, kau kira akan mampu ngelabui aku Bhe Hap Si Malaikat Bumi? Ha-ha-ha, orang buta, kau menyerahlah!"
Angin cengkeraman yang amat dahsyat menuju dada Kun Hong.
Dia merasa kaget sekali.
Ini bukanlah serangan orang biasa, melainkan jurus yang dikeluarkan oleh seorang ahli silat kelas tinggi!
Masa kalau pangkatnya hanya tukang geledah saja memiliki kepandaian begini tinggi?
Pada saat itu juga dari kanan dan kiri menyambar pula angin pukulan yang jeias membuktikan bahwa penyerang-penyerangnya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat.
Kun Hong cepat menggerakkan kedua kakinya dan dengan langkah ajaib dia dapat menghindarkan tiga serangan sekaligus itu.
"Ha-ha, kau bilang seorang buta biasa?"
Bhe Hap berseru mengejek dan merasa penasaran sekali, lalu menerjang dengan hebat.
Kun Hong diam-diam mengeluh karena mau tidak mau, belum apa-apa dia sudah menimbulkan kerIbutan yang tentu akan berekor tidak baik.
Dia sudah siap menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan orang-orang ini ketika tiba-tiba The Sun membentak.
"Orang-orang tak tahu aturan. Kalian berani menghina tamuku?"
Kun Hong merasa betapa angin menyambar di sampingnya ketika pemuda yang ramah itu berkelebat ke depannya. Terdengar suara gaduh disusul keluhan orang.."The-Kongcu jangan ikut campur!"
Bhe Hap membentak, akan tetapi The Sun menjawab.
"Menyerang tamuku sama dengan menghinaku!"
"The-Kongcu, kami bukan bermaksud begitu..."
Bhe Hap membantah.
"Sudahlah, bebaskan saudara Kwa ini dari pemeriksaan, kalau tidak, terpaksa aku melawan kalian."
"Hemmm, terpaksa pula kami menggunakan kekerasan!"
Bantah Bhe Hap.
Terjadilah pertandingan hebat di rumah makan itu.
Kun Hong bingung.
Haruskah dia membantu?
Dengan pendengaran telinganya, dia dapat menangkap betapa gerakan Bhe Hap dan empat orang pembantunya yang lain amat kuat, cepat dan juga memiliki tenaga Lweekang yang tinggi.
Akan tetapi agaknya orang muda she The ini benar-benar memiliki kepandaian hebat seperti telah diduga oleh Kun Hong.
Buktinya tadi dalam segebrakan saja telah merobohkan seorang lawan dan kini dikeroyok lima tidak terdesak.
Meja kursi beterbangan dan secara kebetulan agaknya beberapa kali dengan amat kerasnya meja dan kursi melayang ke arah tubuh Kun Hong.
Terpaksa pemuda ini mengelak dan hal ini tentu saja mengherankan mereka yang melihatnya.
Seorang buta bagaimana bisa mengelak dari sambaran meja kursi itu?
Kun Hong yang berdiri tegak dan diam memperhatikan jalannya pertandingan, menjadi terheran-heran ketika tiba-tiba Bhe Hap dan teman-temannya meloncat keluar rumah makan dan orang itu berkata.
"Hebat kepandaianmu, The-Kongcu. Akan tetapi, si buta itu pasti akan dapat tertawan oleh kami!"
Lalu terdengar mereka itu berlarian pergi. The Sun menangkap tangan Kun Hong.
"Lekas,"
Bisiknya.
"Mereka itu hanya untuk sementara saja dapat kuusir. Mereka tentu akan datang kembali dengan teman yang lebih banyak, malah tokoh-tokoh pengawal yang lebih kosen datang, kita bisa celaka. Mari cepat kau ikut denganku"
Kun Hong tidak mendapat jalan lain kecuali ikut berlarian cepat bersama The Sun, Dia tidak tahu ke mana dia dibawa, jalannya berliku-liku dan lebih satu jam lamanya mereka melarikan diri.
Akhirnya mereka berhenti di tempat yang sunyi dan The Sun mengajak Kun Hong memasuki sebuah rumah tua di pinggir kota yang sunyi ini.
"Di manakah kita ini?"
Kun Hong bertanya, tongkatnya meraba lantai yang sudah bolong-bolong dan dinding yang tua dan retak-retak.
"Dalam sebuah bangunan bekas Kuil tua yang tak dipakai lagi. Di sini kita aman, takkan ada yang menduga bahwa kau akan bersembunyi di tempat ini. Mari masuklah saja, di belakang ada sebuah kamar yang cukup bersih, kau boleh bersembunyi di sana."
"Saudara The Sun, kau baik sekali..."
Kun Hong menangkap lengan tangan kanan orang muda itu.
Gerakannya ini cepat sekali dan memang amat mengherankan bagaimana seorang yang tidak pandai melihat dapat menangkap lengan orang hanya dengan mendengarkan gerakan orang itu.
"Ah...!"
Kun Hong menghentikan kata-katanya tadi dan kini dia berseru kaget sambil meraba-raba lengan kanan The Sun.
"Saudara The, kau... kau terluka...?"
"Wah, hebat sekali kau, Kwa-Lote! Begitu memegang lenganku kau sudah tahu bahwa aku terluka. Benar-benar ilmu pengobatan yang kau miliki amat tinggi!"
The Sun berseru kaget dan heran. Tapi Kun Hong tidak memperdulikan pujian ini, melainkan segera memeriksa lengan kanan sampai ke pundak.
"Luka ini baru saja. The-Kongcu... kau terluka ketika bertempur tadi!"
Suara Kun Hong agak gemetar saking terharu mengingat betapa orang yang baru saja bertemu dengannya ini telah membelanya sampai terluka.
"Kwa-Lote, jangan panggil Kongcu kepadaku, bikin aku tidak enak saja. Aku sedikit lebih tua darimu, sebut saja Twa-Ko kepadaku. Tentang luka..."
Dia menarik napas panjang.
"Memang anjing-anjing itu amat lihai, maka untung tadi kita sempat melarikan diri. Kalau datang tokoh yang lebih sakti, celaka..."
Kun Hong terheran.
"Tapi... bukankah kau tadi berhasil mengusir mereka? Bagaimana kau bisa terluka?"
The Sun tertawa mengejek.
"Kadang-kadang kepandaian silat saja tidak cukup untuk mencapai kemenangan, Kwa-Lote. Sering kali terjadi, kccerdikan dan akal dapat mengalahkan kepandaian silat. Di antara para petugas Istana tadi, terdapat seorang ahli pukulan Gin-Kong-Jiu (Tangan Sinar Perak) yang lihai, karena selain ilmu pukulan ini mengandung hawa beracun, juga dilakukan dengan pengerahan tenaga Jeng-Kin-Kang (Tenaga SerIbu Kati), Tadi dalam pengeroyokan dia menyerangku dengan pukulan itu. Karena menghadapi pengeroyokan orang-orang berkepandaian tinggi, aku tidak mempunyai kesempatan mengelak lagi, terpaksa aku menyambut pukulan itu dengan tangan kananku. Aku tahu bahwa pada saat itu aku menderita luka dalam, akan tetapi kalau hal itu kuperlihatkan, kita tentu sudah celaka tadi. Aku pura-pura tidak merasa akan hal ini, malah menyerang mereka kalang-kabut. Hal inilah yang membuat mereka kaget dan jerih, mengira bahwa pukulan hebat itu sama sekali tidak mempengaruhiku dan ini pula yang menyebabkan mereka mengaku kalah dan melarikan diri. Ha-ha, Kwa-Lote, kau pikir, bukankah sekali ini ilmu silat kalah oleh akal dan kecerdikan?"
"The Twa-Ko benar-benar gagah dan berbudi. Untuk aku seorang buta, kau sudah mengorbankan diri menderita luka, membuat aku merasa tidak enak sekali."
"Kwa-Lote, di antara kita, perlu apa bicara sungkan seperti itu? Sekali bertemu muka aku tahu bahwa kau bukanlah seorang tukang obat buta biasa saja. Malah aku hampir merasa yakin bahwa kaulah orangnya yang disebut-sebut para teman seperjuangan yang mendesas-desuskan bahwa surat rahasia itu berada di tanganmu."
"Surat rahasia? Apa maksudmu?"
The Sun terdengar kecewa.
"Ah, sampai sekarang kau agaknya masih belum mau percaya kepadaku, Kwa-Lote. Semua orang di antara para pejuang tahu bahwa surat rahasia peninggalan mendiang Kaisar tua berada di tangan bekas pembesar Tan Hok, kemudian dikabarkan bahwa kaulah yang agaknya menguasai surat itu. Kalau memang betul demikian, akulah orangnya yang akan membawa dan mengantarkannya kepada Raja Muda Yung Lo di Utara."
Berdebar jantung Kun Hong.
Ah, kiranya pemuda gagah ini adalah utusan atau pembantu dari raja muda dari Utara itu!
Sungguh kebetulan.
Memang dia sedang mencari orang yang berhak menerima Mahkota kuno berikut rahasianya itu untuk disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo.
Akan tetapi, kehati-hatiannya membuat dia berpikir lebih jauh lagi.
Baru sekarang ini dia berkenalan dengan The Sun.
Bagaimana dia dapat menyerahkan Mahkota demikian saja?
"The Twa-Ko, nanti saja kita bicara tentang itu.
Sekarang biarkan aku mengobati lukamu,"
Katanya sambil menotok dan mengurut jalan-jalan darah di seluruh lengan dan pundak The Sun, kemudian menyalurkan hawa murni melalui telapak tangan kanan pemuda itu.
The Sun terkejut dan berkali-kali mengeluarkan suara memuji.
Setelah luka dalam itu sembuh oleh pengobatan Kun Hong yang mempergunakan Sinkang di tubuhnya, The Sun menarik napas panjang dan berkata.
"Aahhh, ternyata biarpun aku bermata, aku lebih buta daripada kau, Kwa-Lote. Aku hanya mengira bahwa kau seorang di antara saudara-saudara seperjuangan menentang kekuasaan Kaisar muda yang zalim. Tidak tahunya kau adalah seorang ahli yang memiliki kesaktian seperti ini! Benar-benar amat memalukan kalau kuingat betapa tadi aku memperlihatkan kebodohan dan kedangkalan ilmu silatku di depan seorang sakti!"
Kun Hong tersenyum dan menjura.
"The Twa-Ko, kau seorang yang lihai, tidak perlu merendah seperti ini. Aku bukan apa-apa hanya mempunyai sedikit ilmu pengobatan. Terus terang saja, aku bukanlah anggauta pejuang, aku tidak bisa disamakan dengan kau seorang patriot. Secara kebetulan saja aku mempunyai tugas yang ada hubungannya dengan perjuangan menentang Kaisar baru."
"Sudah kuduga, sudah kuduga sebelumnya, kau tentu bukan seorang biasa. Betulkah desas-desus itu bahwa kau menerima surat rahasia dari bekas pembesar Tan Hok? Atau... masih belum percayakah kau kepadaku?"
Bimbang hati Kun Hong, pikirannya bekerja keras dan dia mendapat akal.
"Bukan begitu, The Twa-Ko, akan tetapi soalnya karena aku harus berhubungan dengan orang yang berhak. Sesungguhnya, biarpun aku mempunyai hubungan dengan Paman Tan Hok, akan tetapi aku tidak diserahi sebuah pun surat rahasia, hanya aku merampasnya kembali sebuah Mahkota kuno yang terampas dari tangan Paman Tan Hok."
"Mahkota kuno? Ah, segala benda berharga, apa artinya diperebutkan?"
Terdengar suara The Sun kecewa.
Diam-diam Kun Hong mengambil kesimpulan bahwa pemuda pejuang ini ternyata belum tahu akan rahasia Mahkota kuno yang menjadi tempat penyimpanan surat rahasia yang diperebutkan itu.
"Ah sayang sekali kau tidak tahu tentang surat itu, Kwa-Lote. Surat itu luar biasa pentingnya bagi perjuangan dan kalau sampai terjatuh ke tangan musuh, celaka."
"Surat apakah yang kau maksudkan itu, The Twa-Ko?"
Kun Hong memancing.
The Sun tidak segera menjawab, dari gerakannya tahulah Kun Hong bahwa pemuda itu pergi mendekati pintu, agaknya menyelidik kalau-kalau ada orang yang mendengarkan di tempat itu.
Namun dengan ketajaman telinganya Kun Hong yakin bahwa di tempat itu, selain mereka berdua, tidak ada orang lain lagi.
Kemudian The Sun datang lagi mendekati Kun Hong dan berkata lirih.
"Surat itu adalah surat peninggalan mendiang Kaisar tua yang diserahkan kepada bekas pembesar Tan Hok. Isi surat itu mengatakan bahwa Kaisar tua memberi kekuasaan penuh kepada Raja Muda Yung Lo dari Utara untuk mewakilinya memberi hukuman kepada Kaisar muda yang baru ini andaikata Kaisar baru ini menyeleweng. Nah, bukankah amat penting surat itu? Jika surat itu diperlihatkan kepada para menteri dan pembesar yang berada di Kota Raja, tentu menimbulkan kerIbutan besar karena sebagian besar tentu saja tunduk kepada pesan terakhir Kaisar tua pendiri Kerajaan Beng. Sebaliknya kalau terjatuh ke tangan musuh dan dibasmi, tentu amat merugikan perjuangan."
Mendengar ini, makin menipis keraguan hati Kun Hong.
Tak salah lagi, pemuda gagah ini tentulah seorang pejuang yang diberi kepercayaan dari Raja Muda Yung Lo.
Memang patut diberi kepercayaan karena orang ini amat cerdik.
Kalau tidak cerdik, mana mungkin seorang yang bertugas mata-mata dapat seenaknya tinggal di Kota Raja, malah dikenal oleh para penjaga dan pengawal Istana sebagai seorang Kongcu dan Siucai?
Ingin sekali dia tahu murid siapakah pemuda ini dan sampai di mana tingkat ilmu silatnya.
Tentu saja Kun Hong tidak berani bertanya tentang ini, apalagi menguji kepandaiannya, namun diam-diam dia sudah menjadi makin kagum saja.
"Wah, kalau begitu benar-benar amat penting surat rahasia itu, The-Twako. Sayang aku tidak tahu akan hal itu. Tentang Mahkota kuno ini, aku bermaksud untuk menyerahkan kepada seorang sahabat baikku. Maka kuharap kau sudi menolongku mencarikan sahabatku itu. Dia seorang pejuang kawakan dan tentu kau mengenalnya."
"Siapakah dia?"
"Dia adalah Hwa I Lokai Ketua dari perkumpulan pengemis Hwa I Kaipang."
"Ah, dia...?"
Suara The Sun terdengar seperti orang kaget. Akan tetapi menjadi tenang kembali ketika berkata.
"Tentu saja aku mengenalnya dengan baik. Siapa yang tidak mengenal Hwa I Lokai yang amat lihai? Akan tetapi, mencari Hwa I Lokai kiranya lebih sukar daripada mencari iblis sendiri. Perkumpulan pengemis itu adalah perkumpulan rahasia, sama pengaruhnya seperti perkumpulan Pek-Lian-Pai yang juga menentang Kaisar."
Kun Hong mengangguk-angguk.
"Kurasa kalau kau dapat mencari seorang dua orang anggauta Hwa I Kaipang dan dapat mengajak mereka, tentu akan mudah menjumpai Hwa I Lokai. Tolonglah cari dia dan ajak Hwa I Lokai datang ke sini menemuiku. Asal kau katakan bahwa Kwa Kun Hong yang minta dia datang, pasti dia akan datang ke sini."
"Wah-wah, kiranya kau begini berpengaruh, Kwa-Lote? benar-benar membuat aku makin tunduk dan kagum."
"Bukan, bukan... sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan. Soalnya karena... beberapa tahun yang lalu aku pernah mencampuri urusan dalam mereka, urusan Hwa I Kaipang dan akhirnya aku diangkat mereka menjadi Ketua kehormatan. Itulah, tidak ada sebab lain."
The Sun diam sampai lama, agaknya bimbang dan ragu apakah dia akan mampu mencari kakek itu. Kemudian katanya lagi.
"Kwa-Lote, daripada susah-susah mencari Hwa I Lokai, apakah bedanya kalau kau serahkan saja tugas itu kepadaku? Disuruh ke mana pun aku akan pergi, asal saja urusan itu penting untuk perjuangan."
"Maaf, The Twa-Ko, soalnya bukan tidak percaya kepadamu, akan tetapi aku harus tidak mengecewakan Paman Tan Hok yang sudah menaruh kepercayaan kepadaku."
Akhirnya The Sun pergi setelah berkata.
"Baik akan kucari Hwa I Lokai. Kau tunggulah saja di sini, Lote."
Ternyata Kun Hong harus menanti sehari penuh.
Hari telah mulai sore dan Kun Hong sudah kehabisan sabar.
Selain merasa lelah menunggu dan lapar, dia juga tidak suka berada dalam keadaan yang serba tiada ketentuan itu.
Dia sudah hampir pergi meninggalkan tempat itu untuk mencoba mencari sendiri ketika terdengar derap langkah beberapa orang memasuki bangunan tua ini.
Kun Hong cepat berdiri tegak menanti dengan sikap tenang namun penuh kesiap siagaan.
Kiranya The Sun yang datang itu, bersama tiga orang kakek pengemis.
"Kwa-Lote, tidak mungkin bertemu dengan Hwa I Lokai karena dia sedang pergi keluar kota, agaknya ke Utara. Akan tetapi aku bertemu dengan tiga orang tokoh Hwa I Kaipang, kuajak mereka ke sini."
Adapun tiga orang pengemis tua yang pakaiannya berkembang-kembang itu begitu, melihat Kun Hong lalu serentak menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka berkata.
"Ah, kiranya Kwa-Pangcu (Ketua pengemis Kwa) berada di sini! Kami bertiga pengemis tua menyampaikan hormat kepada Kwa-Pangcu."
"Sam-wi Lokai (Saudara pengemis tua bertiga) tidak usah berlutut dan terlalu sungkan, akan tetapi aku tidak mengenal suara sam-wi. Maaf, sam-wi siapakah dan apa kedudukan sam-wi di Hwa I Kai-pang?"
"Tidak aneh kalau Kwa-Pangcu belum mengenal kami karena sudah bertahun-tahun Kwa-Pangcu tidak pernah datang mengunjungi Hwa I Kaipang. Kami bertiga adalah pembantu-pembantu Lo-pang di samping Coa Lokai, sebagai pengganti dari Sun Lokai dan Beng Lokai yang telah diusir. Kami bertiga tahu semua akan kejadian beberapa tahun yang lalu ketika Kwa-Pangcu datang dan membereskan keruwetan yang terjadi pada Hwa I Kaipang."
Kun Hong mengangguk-angguk.
Teringat dia akan pengalaman-pengalamannya beberapa tahun yang lalu sebelum dia menjadi cacat kedua matanya.
Memang, karena dia berhasil membereskan kerIbutan yang terjadi karena perebutan kedudukan Ketua di perkumpulan Hwa I Kaipang, dia malah diangkat menjadi Ketua mereka (baca Rajawali Emas)!
Dengan menggunakan akal untuk mencegah terjadinya kerIbutan, dia menerima kedudukan Ketua, akan tetapi dia mewakilkannya kembali kepada Hwa I Lokai yang dia angkat menjadi ji-Pangcu (Ketua ke dua).
Tiba-tiba muka Kun Hong mengerut di bagian antara kedua matanya yang buta.
Kenapa ketiga orang pengemis tua ini menyebut Hwa I Lokai sebagai lo-Pangcu, tidak ji-Pangcu?
"Lo-Pangcu kami sedang pergi ke Utara untuk tugas perjuangan, dan Pangcu telah memesan kepada kami apabila ada orang mencarinya untuk menyampaikan pesan rahasia atau surat rahasia, boleh kami mewakilinya.
Oleh karena itu, setelah mendengar keterangan tentang Kwa-Pangcu dari The-Kongcu, kami segera datang menghadap ke sini.
Sekarang, kami menanti perintah dan petunjuk Kwa-Pangcu."
Tiba-tiba Kun Hong membuat gerakan kilat dan tahu-tahu tangannya telah menangkap pergelangan lengan pengemis terdekat, lalu dia membentak.
"Siapakah kalian? Jangan coba-coba mengelabui seorang buta! Kalian bukanlah pembantu-pembantu Hwa I Lokai!"
Pada saat itu terdengar suara rIbut-rIbut di luar bangunan itu dan ternyata banyak sekali orang berpakaian pengawal Istana berlompatan masuk.
Di antara suara mereka, Kun Hong mengenal suara Tiat-Jiu Souw Ki yang berseru.
"Betul dia si buta yang merampas Mahkota kuno. Hati-hati dia lihai!"
Pengemis yang dipegang pergelangan tangannya oleh Kun Hong itu berseru keras dan meronta.
Kun Hong terpaksa melepaskan pegangannya karena dia harus menghadapi bahaya baru yang datang dari luar.
Dia taksir bahwa yang datang ini belasan orang banyaknya dan segera terdengar suara senjata tajam dicabut dan digerakkan.
"Kwa Kun Hong, kau sudah terkepung! Lebih baik menyerah dan serahkan Mahkota serta surat rahasia yang dipercayakan Tan Hok kepadamu!"
Terdengar suara seorang laki-laki tua yang suaranya tinggi melengking.
Dari gerak-gerik mereka itu tahulah Kun Hong bahwa dia dikepung oleh orang-orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi.
Namun dia tidak gentar, siap mempertahankan Mahkota kuno itu dengan taruhan nyawanya.
Hanya satu hal yang membuat dia gelisah, yaitu keselamatan The Sun.
Kasihan kalau sampai pemuda itu ikut celaka karena menolongnya.
Dia ingin memancing pertempuran agar semua orang mengeroyoknya dan memberi kesempatan kepada The Sun dalam kerIbutan itu untuk melarikan diri.
Dia lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing penjilat Kaisar lalim! Kalau memang Kaisar muda yang baru ini seorang yang benar, mengapa takut akan segala surat rahasia peninggalan Kaisar tua? Aku tidak tahu di mana surat yang kalian cari-cari itu, akan tetapi kalau Mahkota kuno memang berada padaku. Akan tetapi jangan harap aku sudi menyerah dan memberikan Mahkota kuno itu kepada siapa pun juga di antara kalian! Kalau kalian dapat, boleh tangkap aku!"
Tentu saja para pengawal Istana itu marah sekali mendengar betapa seorang buta menantang mereka.
Mereka itu memaki-maki dan mulai mendesak maju untuk berlomba menangkap atau merobohkan Kun Hong.
Tiba-tiba tiga orang berpakaian pengemis itu yang berdiri paling dekat dengan Kun Hong dan yang diam-diam telah mempersiapkan senjata mereka, yaitu masing-masing sebatang tongkat, serentak menyerang...
Kun Hong!
Kalau saja Kun Hong tadinya tidak menaruh hati curiga kepada tiga orang ini, agaknya dia akan terkena serangan gelap, atau setidaknya akan terkejut sekali.
Akan tetapi dia tadi memang sudah menduga bahwa tiga orang pengemis ini adalah anggauta-anggauta Hwa I Kaipang yang palsu, yang agaknya sengaja menyamar sebagai anggauta-anggauta Hwa I Kaipang untuk menipunya.
Maka sekarang menghadapi penyerangan mereka, dia malah tertawa mengejek, tubuhnya berkelebat cepat dan aneh, kedua tangannya bekerja dan...
berturut-turut tubuh tiga orang pengemis tua itu melayang ke arah para pengawal yang maju hendak mengeroyoknya.
Akan tetapi Kun Hong segera harus mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi pengereyokan para pengawal Istana yang mulai dengan penyerangan mereka itu.
Mula-mula dia hanya mempergunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari setiap sambaran senjata, akan tetapi karena para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi, Kun Hong mulai menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.
"The Twa-Ko, harap lekas kau pergi!"
Kun Hong sempat berseru beberapa kali karena dia benar-benar nnerasa khawatir kalau-kalau penolongnya itu akan terbawa-bawa.
Akan tetapi tak mungkin dia dapat memperhatikan dan mencari tahu keadaan pemuda itu karena kepungan dan pengeroyokan ketat para pengawal Istana itu benar-benar membuat dia sangat sIbuk.
Telah ada beberapa buah senjata lawan dapat dia pukul dan terlepas dari pegangan, sedangkan tangan kirinya sudah merobohkan tiga orang yang terkena dorongannya.
Akan tetapi serbuan para pengeroyok makin hebat sehingga terpaksa Kun Hong kini mainkan Ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam sambil tidak lupa mencelat ke sana ke mari mempergunakan langkah sakti dari ilmu Silat Kim-Tiauw-Kun.
RIbutlah para pengeroyok itu, terdengar seruan-seruan kaget dan beberapa orang roboh lagi.
Akan tetapi mereka itu roboh hanya untuk sejenak saja karena Kun Hong sama sekali tidak mau mempergunakan pukulan maut, cukup baginya kalau dapat mendorong orang roboh atau membuat senjatanya terlempar.
"The Twa-Ko, tinggalkan aku...!"
Dia sempat berseru lagi sambil berusaha membuka jalan ke luar dari rumah itu.
Dia dapat menduga bahwa waktunya sekarang tentu hampir malam, karena dia tadi telah menunggu sehari penuh dan hawa siang yang panas telah mulai menghilang tadi.
"The Twa-Ko, pergilah, biar aku menghadapi sendiri anjing-anjing ini!"
Serunya lagi.
Dia pikir bahwa kalau hari sudah menjadi gelap dan dia sudah berhasil ke luar dari kepungan dan lari ke luar rumah, agaknya akan lebih mudah baginya untuk melarikan diri.
Tentu saja dia akan dikejar, akan tetapi dia dapat merobohkan setiap (lanjut ke
Jilid 17) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 orang pengejar dan mencoba untuk lari keluar dari tembok Kota Raja, atau mencari tempat sembunyi yang lebih baik.
"Kwa-Lote, jangan khawatir aku membantumu!"
Tiba-tiba suara The Sun terdengar dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di dekatnya, malah kini The Sun menggerakkan pedangnya menangkis beberapa senjata para pengeroyok.
"Ah, jangan, The Twa-Ko. Tak perlu kau membantu, larilah...!"
Kata Kun Hong sambil menghantam runtuh sebuah Tombak panjang dengan tangan kirinya yang dimiringkan.
"Aha, kau hebat, Lote. Tapi, jangan kira aku pengecut! Aku pun berani mengorbankan nyawa untuk perjuangan..."
"Ah, jangan..."
Kun Hong terharu dan saking marahnya kepada para pengeroyok, sekali kaki kirinya menendang, dua orang berteriak kesakitan dan terlempar ke belakang.
"Kwa-Lote, kulihat para perwira Kerajaan datang. Mereka lihai... aku tidak takut, akan tetapi sayang... bagaimana kalau sampai rahasia yang kau bawa terjatuh ke tangan mereka? Lebih baik kau serahkan kepadaku, katakan ke mana harus kusampaikan rahasia itu lebih penting daripada nyawa kita."
Kun Hong memutar otaknya sambil menghadapi pengeroyokan yang makin ketat itu. Benar juga, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Mahkota kuno dengan rahasianya, hanya menyerahkan kepada The Sun.
"Lekas, ambil Mahkota di buntalanku... kau bawa lari..."
"Mahkota...?"
The Sun berbisik, suaranya kecewa.
"untuk apa benda itu? Surat rahasia itu yang penting!"
"Tiada waktu bicara panjang lebar..."
Kun Hong mengambil keluar Mahkota itu dan menyerahkan kepada The Sun dengan tangan kirinya sedangkan tongkatnya diputar melindungi mereka berdua.
"Bawa ini kepada anggauta-anggauta Pek-Lian-Pai, tentu mereka mengerti... lekas kau pergi..."
The Sun menerima Mahkota itu.
Pada saat itu, empat orang perwira yang bersenjata golok telah menerjang masuk.
Gerakan golok mereka berat dan cepat.
Desir angin senjata mereka membuat Kun Hong maklum bahwa kali ini dia harus mempertahankan diri mati-matian karena sekian jumlah musuh amat banyak, juga ternyata makin lama yang datang mengeroyoknya adalah orang-orang yang makin tinggi ilmu kepandaiannya.
"The Twa-Ko lekas pergi! Menanti apa lagi?"
Bentaknya ketika belum juga dia mendengar sahabatnya itu melompat pergi meninggalkannya. Lama The Sun tak menjawab kemudian terdengar suaranya.
"Nanti dulu, aku menanti saat baik..."
Pada saat itu, empat buah golok besar yang bergerak bagaikan empat ekor naga menyambar, bercuitan di atas kepada Kun Hong, dibarengi bentakan seorang di antara para perwira.
"Pemberontak buta, lebih baik kau menyerah!"
Kun Hong terkejut sekali.
Jurus keempat buah golok yang dipersatukan ini benar-benar amat berbahaya.
Cepat dia melintangkan tongkatnya di depan dada dan kakinya yang kiri tiba-tiba menyapu dengan gerakan cepat tak terduga.
Empat orang perwira itu kaget dan meloncat sambil membabatkan golok.
Kun Hong menangkis sekaligus, tongkatnya seakan-akan tergencet empat batang golok dari empat orang perwira yang mempersatukan tenaga.
Kun Hong menanti saat baik untuk memperoleh kemenangan, akan tetapi tiba-tiba dia mendengar The Sun mendekatinya, Dia mengira bahwa sahabatnya ini hendak membantunya karena mengkhawatirkan keadaannya.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika mendada dia merasa betapa jalan darahnya di punggung ditotok orang.
Seketika tubuhnya menjadi lemas seperti lumpuh dan pada saat itu, sebatang pedang tajam yang datang dari tempat The Sun menyambar, menikam ke arah lambungnya!
Kun Hong mengerahkan seluruh tenaga sakti di dalam tubuhnya.
Dia dapat mengusir pengaruh totokan dan jalan darahnya normal kembali, akan tetapi karena pengerahan tenaga ini, gerakannya kurang cepat ketika mengelak dan.
"Craattt!"
Ujung pedang itu biarpun tidak mengenai lambungnya, masih menancap dan mengiris robek kulit dan daging pada pangkal pahanya bagian belakang! "The Sun keparat jahanan!!"
Kun Hong menggereng, tubuhnya menubruk maju, tongkat dan tangan kirinya dikerjakan.
Gerakannya cepat laksana kilat menyambar sehingga dia berhasil merampas kembali Mahkota dari tangan The Sun, akan tetapi dia tidak berhasil merobohkan The Sun yang cepat menghindar pergi sambil tertawa mengejek.
Agaknya pemuda yang ternyata adalah seorang di antara musuh itu telah maklum akan kelihaian Kun Hong dan tidak mau secara ceroboh menyambut serangan tadi.
Kun Hong cepat menyimpan Mahkota dalam buntalannya lagi dan dadanya penuh hawa amarah, penuh dendam dan penasaran.
Ternyata dia telah ditipu oleh The Sun!
Dia telah dipermainkan, dan tahulah dia pula sekarang bahwa tiga orang pengemis tua tadi pun adalah kaki tangan The Sun ini yang menyamar sebagai anggauta-anggauta Hwa I Kaipang!
"The Sun, jahanam pengecut!
Hayo maju lawan aku, jangan sembunyi seperti seorang pengecut hina!"
Kun Hong menantang-nantang dengan kemarahan luar biasa.
Dia tidak lagi bergerak lincah seperti tadi, melainkan berdiri seperti seekor harimau kepepet, akan tetapi setiap ada senjata pengeroyok melayang dekat, sekali menggerakkan tongkat senjata itu akan terpental kembali.
Dari jauh terdengar The Sun menjawab dengan suara mengejek.
"Pengemis buta hina, tak usah kau sombong! Lebih baik menyerah dan takluk. Kalau tidak, sebentar lagi pun kau akan roboh oleh luka itu, ha-ha-ha!"
Kun Hong menggerakkan tubuhnya, mencelat ke arah suara.
Tongkat dan tangan kirinya bergerak aneh ke depan.
Terdengar jerit mengerikan ketika dua orang perwira yang tak sempat menyingkir, tahu-tahu telah terbabat putus pinggang mereka dan hancur mengerikan kepala mereka terkena hantaman atau Cengkeraman tangan kiri Kun Hong.
Kiranya dalam keadaan marah luar biasa ini, tanpa disadarinya Kun Hong telah mempergunakan jurus "Sakit Hati"
Hasil ciptaannya sendiri yang ditunjukkan oleh kakek sakti Song-Bun-Kwi!
Bukan main marahnya para perwira ketika melihat dua orang teman mereka roboh tak bernyawa dalam keadaan yang begitu mengerikan.
Mereka merasa ngeri, akan tetapi kemarahan membuat mereka nekat menyerbu sambil berteriak-teriak.
Kini yang menyerbu adalah perwira-perwira pilihan yang memiliki kepandaian tinggi, karena yang berkepandaian lebih rendah tingkatnya daripada dua orang perwira yang tewas itu tidak ada yang berani maju mendekat!
Seorang perwira tinggi besar bermuka hitam, dia ini adalah orang yang siang tadi datang bersama The Sun dan tidak mengeluarkan kata-kata sesuatu, seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan senjatanya adalah sepasang Ruyung baja yang dipasangi duri, sekarang maju dan menerjang Kun Hong dengan sepasang Ruyungnya menyambar dari kiri dan dari atas.
Berbareng dengan serangan ini, seorang perwira lain yang bertubuh gemuk pendek menerjang dengan pedangnya dari belakang, Menusuk punggung Kun Hong sambil menggerakkan tangan kiri dengan pengerahan tenaga Lweekang untuk bersiap menyusul dengan pukulan apabila pedangnya tidak berhasil.
Beberapa detik kemudian daripada serangan pedang ini, seorang perwira lain yang kurus dan bermuka kuning menyerang pula dari sebelah kanan, senjatanya adalah sepasang kongce (Tombak cagak) yang bergagang pendek.
Gerakannya cepat bertenaga dan ujung kongce itu tergetar dengan hebat ketika dia menusuk ke arah lambung Kun Hong.
Kun Hong sudah seperti orang keranjingan.
Dia tidak bergerak, seperti sebuah patung, akan tetapi andaikata Song-Bun-Kwi berada di situ, tentu kakek yang dijuluki iblis ini akan merasa ngeri melihat kedudukan tubuh atau pasangan kuda-kuda pemuda buta itu, karena dia mengenal betul kuda-kuda mujijat itu.
Tubuh pemuda buta ini tak bergerak seperti patung, kaki kanan di depan dengan ujungnya berjungkit, kaki kiri di belakang ditekuk lututnya, tangan kanan memegang tongkat melintang di atas kepala, tangan kiri dengan jari-jari tangan terbuka seperti hendak mencengkeram sesuatu dari tanah, mulutnya agak terbuka, dadanya turun naik, hidungnya kembang-kempis dan dari ubun-ubun dan kedua lengannya mengepul uap putih!
Inilah kuda-kuda dari jurus Sakit Hati yang amat dahsyat dan mujijat itu!
Dia seakan-akan membiarkan tiga orang perwira dengan senjata masing-masing itu menerjangnya, dan seakan-akan Ruyung baja sepasang itu sudah akan meremukkan kepalanya, pedang si gemuk pendek sudah hampir menembus punggungnya dan senjata kongce itu pasti akan menembus lambungnya.
"Haiiii!!"
Tiba-tiba suara nyaring seperti guntur ini memekakkan telinga semua pengeroyok, tampak sinar kemerahan menyambar menyilaukan mata, tubuh Kun Hong bergerak sedikit dan...
tiga orang perwira itu seakan-akan tertahan gerakannya karena tiba-tiba saja gerakan mereka terhenti, tubuh mereka berdiri kaku seperti disambar halilintar sedangkan Kun Hong sudah memasang kuda-kuda lagi seperti tadi.
Semua pengeroyok berdiri bengong, kemudian muka mereka menjadi pucat dan hati mereka ngeri bukan main ketika tiga orang perwira yang tadinya berdiri, tegak kaku itu tiba-tiba roboh ke atas tanah dan...
tubuh mereka putus menjadi dua di bagian pinggang sedangkan kepala mereka hancur!
Tanpa ada orang yang dapat melihat atau mengetahui bagaimana caranya, tiga orang perwira itu tadi sudah mati seketika karena pinggang mereka terbabat putus dan kepala mereka dihantam remuk!
Inilah akibat dari jurus Sakit Hati yang kembali sudah merobohkan tiga orang korban dalam waktu beberapa detik saja.
Kun Hong menggigit Bibirnya menahan sakit.
Luka di pangkal paha sebelah belakang amat perih dan panas, juga ada rasa gatal-gatal yang amat nyeri.
Seluruh punggungnya terasa kaku.
Dia tahu bahwa lukanya itu amat berbahaya, tertusuk pedang yang ujungnya diberi racun yang amat berbahaya, mungkin racun ular.
Tentu saja dia akan dapat menyembuhkan luka itu kalau dia mendapat kesempatan.
Akan tetapi dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk itu, maka satu-satunya jalan yang dapat dia lakukan hanyalah mengerahkan tenaga dalam dan mendorong hawa sakti di tubuhnya untuk menahan racun itu agar jangan menjalar ke dalam tubuh.
Sementara itu hatinya risau bukan main.
Dia telah membunuh lima orang dalam waktu beberapa detik saja dan dia dapat membayangkan betapa hebat dan mengerikan kematian lima orang lawannya itu.
Akan tetapi pada saat itu, biarpun agak risau dan tak enak hatinya, pikirannya memaksanya untuk tidak mengambil peduli.
Dia didesak, diancam maut, dan perasaannya dilukai oleh penipuan The Sun.
Betapapun marahnya, Kun Hong bukanlah orang nekat yang hendak mengadu nyawa dengan musuh-musuhnya.
Setelah merobohkan tiga orang dan tidak mendengar ada pengeroyok bergerak menyerangnya lagi, kakinya otomatis bergerak melangkah, mempergunakan langkah-langkah yang dia namai Hui-Thian Jip-Te itu menuju ke pintu bangunan tua.
Dia bermaksud untuk melarikan diri, menghindarkan pertempuran lebih jauh.
Tadinya dia melayani pertempuran hanya Karena dia hendak melindungi Mahkota itu.
Dan hampir tanpa dia sadari dia telah menggunakan jurus dahsyat itu sampai menewaskan lima orang karena terdorong kemarahan yang hebat terhadap The Sun yang telah menipunya.
"Penjahat buta jangan lari!"
Terdengar bentakan dan kembali ada belasan senjata mengepungnya.
Kun Hong tersenyum mengejek tapi hatinya mengeluh.
Agaknya para perwira ini benar-benar merupakan anjing-anjing penjilat yang beraninya hanya mengeroyok.
"Aku bosan mendengar suara kalian, aku hendak pergi dari sini. Siapa berani melarang?"
Katanya perlahan sambil melanjutkan langkahnya keluar. Sebatang Toya dengan kuatnya menghantam belakang kepalanya dari kanan, digerakkan oleh dua buah tangan yang bertenaga besar.
"Blukkk!"
Ujung Toya menghantam kepala demikian kerasnya sehingga robohlah seketika orang itu dengan kepala keluar kecap!
Tapi bukan Kun Hong orang itu, melainkan si pemegang Toya sendiri, Ketika Toya tadi menyambar, Kun Hong melejit ke samping, tongkatnya bergerak dan dengan tenaga "Menempel"
Tongkatnya seakan-akan menangkap Toya itu, meneruskan dengan meminjam tenaga malah ditambahhya dengan tenaga sendiri, memaksa Toya itu terayun balik dan menghantam kepala si pemegangnya sendiri!
Para perwira bengong.
Inilah aneh!
Mana mungkin seorang perwira berkepandaian tinggi, terkenal sebagai ahli Toya di antara mereka, mempunyai jurus yang demikian aneh dan goblok sehingga Toya itu berbalik menghantam kepala sendiri?
Memang bagi orang luar, nampaknya di pemegang Toya tadi seperti memukul kepala dengan Toyanya sendiri karena gerakan Kun Hong demikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata.
Hanya sebentar saja para perwira itu bengong, segera mereka menerjang lagi, lebih marah dan penasaran lagi.
Mana patut sekian banyaknya perwira pilihan dari Istana pengepung seorang pemuda buta saja sampai tidak mampu merobohkan atau menawan?
Kun Hong terpaksa menggerakkan tongkatnya lagi karena tak mungkin hanya mengandalkan langkah-langkah ajaib saja menghadapi pengeroyokan dan pengepungan demikian ketat.
Kembali dia mengeluh karena terpaksa dia berlaku kejam, menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan setiap orang yang menghalang jalannya.
Dia tidak mau memberi hati, tidak mau bersabar lagi karena soalnya sekarang adalah mati atau hidup.
Kalau dia kalah, tentu dia akan mati dan kalau dia ingin hidup, dia terpaksa harus merobohkan, melukai bahkan mungkin membunuh orang!
Hebat pertempuran itu.
Bagaikan hujan bermacam senjata menerjang Kun Hong dari semua jurusan.
Dan semua orang kaget, heran, kagum tiada habisnya.
Orang buta itu seperti orang memiliki puluhan pasang mata saja, seakan-akan semua bagian tubuhnya bermata!
Gerakannya aneh dan tampak lambat tapi pada hakekatnya cepat sekali, pukulan dan hantaman tongkatnya perlahan tapi pada hakekatnya amatlah kuat melihat betapa setiap benturan senjata pasti membuat senjata pengeroyok terlepas.
Sudah belasan orang roboh oleh tongkat, tamparan tangan kiri, atau tendangan Kun Hong, Sedikit demi sedikit dia telah mendekati pintu.
Biarpun belum lama dia tinggal di rumah tua ini, dia telah hafal dan sekarang tahulah dia bahwa dia sudah berada dekat dengan pintu keluar.
Dia mengeluarkan suara keras, tongkatnya berkelebat dan kembali robohlah tiga orang pengeroyoknya yang menghadang di depannya.
Sekali dia menggenjot tubuh, dia telah berhasil menerobos pintu dan kini dia telah berada di luar rumah.
Hawa malam yang dingin segar menyambutnya setelah dia keluar dari bangunan itu.
Timbul semangatnya dan dia sudah siap melompat dan mempergunakan ilmu lari cepatnya dengan untung-untungan karena kalau dia menabrak pohon atau terjerumus jurang, tentu dia akan celaka, Dia harus dapat membebaskan diri dari orang-orang itu, apalagi sekarang selain luka itu membuat dia lelah dan kaku, juga amat nyeri.
"Kwa Kun Hong, kau hendak lari ke mana? Lebih baik menyerah dan kalau kau bersedia takluk, aku yang tanggung kau akan mendapat kedudukan besar sebagai Tabib negara!"
Tiba-tiba terdengar suara orang dan mendengar suara ini seketika muka Kun Hong menjadi merah saking marahnya.
Itulah suara The Sun!
Munculnya The Sun ini tiba-tiba menghentikan semua pengeroyokan.
Dengan telinganya Kun Hong dapat mendengar betapa para perwira yang mengepungnya tadi dan yang kini sudah mengejar sampai di luar, membuat lingkaran lebar seakan-akan memberi tempat kepadanya untuk berhadapan dengan The Sun.
Depan bangunan itu memang merupakan pekarangan rumput yang luas.
Kun Hong berhati-hati, tidak mau berlaku sembrono.
Dia mendengar pula suara api menyala-nyala, dan dapat menduga bahwa tempat itu tentu diterangi oleh banyak obor yang dipegang oleh para pengawal dan penjaga.
Dia maklum bahwa The Sun memiliki kepandaian tinggi, hal ini dapat dibuktikan tadi ketika dia menerjang The Sun, dia tidak berhasil mengenai pemuda itu, hanya dapat merampas kembali Mahkota kuno.
Akan tetapi sebaliknya dia kena dicurangi dan dilukai.
Juga dia tahu bahwa kalau dia melanjutkan pertempuran di tempat yang diterangi api obor itu, menghadapi pengeroyokan orang-orang pandai sedangkan dia sudah menderita luka parah, akhirnya dia akan roboh.
Hal ini tidak ada gunanya.
Dia tidak takut mati, akan tetapi khawatir kalau-kalau Mahkota berikut rahasianya dirampas orang-orang ini.
Yang paling penting menyelamatkan Mahkota itu lebih dulu, menyerahkan kepada orang yang dapat dipercaya, baru kemudian menghadapi The Sun dan menghajar orang ini.
Pikiran ini membuat Kun Hong menahan kemarahannya mendengar kata-kata The Sun yang membujuknya supaya menyerah dengan janji diberi kedudukan mulia.
Tanpa menjawab, secara cepat dan tiba-tiba dia melayang ke arah orang itu sambil menggerakkan tongkatnya yang berkelebat lenyap berubah menjadi sinar kemerahan itu.
"Tranggggg!"
Pedang di tangan The Sun menangkis dan bertemu dengan tongkat itu.
Kun Hong merasa betapa pedang pemuda itu adalah sebuah pedang Pusaka yang ampuh sehingga tidak rusak oleh pedang di dalam tongkatnya, juga ternyata betapa tenaga The Sun amat kuat.
Tergetarlah telapak tangannya ketika kedua senjata tadi bertemu.
Di lain pihak, The Sun makin kagum karena pedang Pusakanya yang ampuh itu tidak mampu membikin patah tongkat si buta ini dan telapak tangannya bahkan terasa sakit.
Siapakah sebetulnya The Sun, pemuda yang amat cerdik, juga amat lihai ini?
Baiklah kita menjenguk keadaan pemuda itu.
Di pegunungan Go-Bi-San terdapat banyak sekali puncak-puncak yang menjulang tinggi di angkasa.
Karena keadaan pegunungan yang amat luas dan penuh rahasia alam ini, banyaklah terdapat pertapa-pertapa, orang-orang pandai dan sakti yang mengasingkan diri di sana.
Malah partai Go-Bi-Pai terkenal sebagai partai persilatan besar yang mernpunyai banyak murid pandai.
Akan tetapi bukan hanya Go-Bi-Pai saja yang terdapat di pegunungan itu.
Banyak lagi orang-orang pandai yang tidak bergabung pada partai Go-Bi-Pai ini, diam-diam melakukan pertapaan, malah kadang-kadang mempunyai seorang dua orang murid rahasia yang tiada sangkut-pautnya dengan Go-Bi-Pai yang besar.
The Sun adalah seorang pemuda dari Go-Bi-San.
Ayahnya seorang bekas pembesar pada Pemerintahan Mongol yang melarikan diri setelah bangsa Mongol terusir oleh Ciu Goan Ciang dan para pejuang.
Ayahnya yang bernama The Siu Kai adalah seorang pembesar militer yang memiliki kepandaian tinggi, dan merupakan seorang tokoh dari Go-Bi-San pula.
The Sun masih kecil sekali ketika dibawa lari mengungsi oleh Ayahnya, sedangkan keluarga lain semua tewas dalam kekacauan perang.
The Siu Kai yang terluka hebat ketika lari ke Go-Bi-San membawa puteranya, akhirnya dapat juga mencapai sebuah puncak di mana tinggal gurunya, yaitu seorang Tosu tua bermuka dan berkulit hitam, yang puluhan tahun bertapa di puncak itu tidak mau mencampuri urusan dunia ramai.
Tosu tua ini karena kulitnya yang hitam disebut orang Hek Lojin (Orang Tua Hitam).
Luka parah ditambah penderitaan selama melarikan diri ini tak dapat tertahan lagi oleh The Siu Kai dan dia tewas di depan kaki gurunya setelah berhasil membujuk gurunya agar supaya sudi mendidik The Sun putera tunggalnya.
Demikianlah, The Sun yang masih kecil itu akhirnya dipelihara dan dididik oleh Hek Lojin, diberi pelajaran ilmu silat dan ilmu Sastera sehingga akhirnya menjadi seorang pemuda yang amat pandai, lihai dan cerdik.
Makin lama Hek Lojin makin cinta kepada murid cilik ini sehingga terbangkit pula gairahnya untuk urusan duniawi, akan tetapi bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi muridnya terkasih itulah.
Dia sengaja membawa The Sun turun gunung ke Kota Raja, malah menyuruh muridnya ini menempuh ujian di Kota Raja sehingga berhasil memperoleh gelar Siucai.
Akhirnya karena kepandaiannya, The Sun mendapat kepercayaan dari Pangeran Kian Bun Ti dan setelah pangeran ini menjadi Kaisar, The Sun tetap menjadi orang kepercayaannya, malah mendapat tugas menghimpun kekuatan, mengumpulkan orang-orang pandai untuk memperkuat kedudukan Kaisar baru ini yang maklum akan adanya ancaman-ancaman terhadap kedudukannya.
Memang The Sun orang yang cerdik sekali.
Dia menyebar mata-mata untuk menjaga keamanan Kota Raja, menyebar orang-orang pandai untuk menghubungi tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, malah dia berhasil mendatangkan banyak orang pandai di antaranya beberapa orang sakti yang kini sudah tinggal di Kota Raja pula.
"Sayang, orang muda begini cerdik pandai dan lihai merendahkan diri menjadi anjing Kaisar!"
Tak terasa lagi Kun Hong berseru ketika pemuda itu dapat menangkis tongkatnya dengan tenaga Lweekang yang mengagumkan! The Sun tertawa mengejek.
"Kaulah yang patut disayangkan, seorang pendekar buta ahli pengobatan merendahkan diri menjadi pemberontak, mudah saja dihasut oleh para pengkhianat yang hendak memberontak terhadap pemerintah yang sah!"
Akan tetapi Kun Hong tidak mendengarkan ejekan ini karena kembali dia sudah bergerak, kini ke kiri untuk mencari jalan ke luar.
Akan tetapi angin bertiup dari arah The Sun dan kembali pedang The Sun dengan amat cepatnya telah menghadang di depannya, bahkan mengirim tusukan maut yang amat dahsyat.
Pedang yang ampuh digerakkan dengan jurus-jurus ilmu pedang dari Go-Bi-San ini benar-benar luar biasa, bagi mereka yang dapat memandang tampak sinar yang berkeredepan, bagi Kun Hong terdengar bunyi berdesing-desing seperti sebuah gasing berputar cepat atau seperti kitiran angin dilanda angin kencang.
"Hebat!"
Dia memuji dan cepat menggerakkan tongkat. Kembali terdengar bunyi nyaring.
"Trang-tring-trang-tring! ketika tongkat bertemu dengan pedang dan setelah saling serang bertukar tikaman dan babatan maut sampai tujuh jurus, keduanya kembali terpental ke belakang oleh benturan senjata yang amat keras. Kun Hong diam-diam mengeluh dalam hatinya. Pemuda ini benar-benar lihai. Agaknya kalau dilawan dengan Kim-Tiauw-Kun atau Ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam saja, biarpun akan menang akan tetapi akan menggunakan banyak waktu karena ilmu kepandaian pemuda itu memang tinggi sekali. Untuk mempergunakan jurus sakit Hati, dia merasa tidak tega, Sayang seorang pemuda begini hebat dibunuh.
"Kwa Kun Hong, kau tak mungkin dapat meloloskan diri. Lebih baik kau menyerah dan takluk, mari kita bekerja sama!"
Kembali The Sun membujuk.
"Tutup mulut dan tak perlu kau membujukku."
Kun Hong membentak marah.
"Hmm, kalau begitu kau harus mampus!"
The Sun juga membentak dan segera menerjang dengan kilatan pedangnya yang diputar cepat di depan dadanya.
Kun Hong tahu akan kelihaian lawan ini, maka dia cepat menggerakkan tongkatnya untuk menghadapi dengan jurus-jurus Ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam.
Hebat sekali ilmu pedang warisan Si Raja Pedang Tan Beng San ini karena ke mana pun pedang The Sun bergerak, selalu terbentur oleh tongkat yang malah otomatis dapat pula membalas, bacokan demi bacokan atau tusukan demi tusukan.
Mengagumkan melihat dua orang muda itu bertanding.
Keduanya sama tampan, sama lincah cekatan, sama tinggi ilmu pedangnya.
Baru kali ini Kun Hong menghadapi lawan yang kuat dalam ilmu pedang sehingga dia makin kagum dan makin menyesal mengapa orang seperti ini menjadi lawannya.
Karena tiada niat dalam hatinya untuk bertempur terus, dia mencari kesempatan baik.
Dengan gerakan memutar, tongkatnya melakukan tusukan tujuh kali ke arah punggung lawan.
Menghadapi jurus aneh dari Im-Yang Sin-Kiam ini, The Sun kaget.
Lawan berada di depan, bagaimana ujung tongkatnya seakan-akan mengarah tengkuk dan punggungnya?
Cepat dia melompat ke kiri dan memutar pedangnya melindungi tubuh.
Kesempatan ini dipergunakan Kun Hong untuk lari ke kanan, menggunakan langkah ajaib dari Kim-Tiauw-Kun sehingga beberapa bacokan golok dari para perwira yang berdiri di tempat itu dapat dia hindarkan dengan mudah.
Tiga orang perwira lain yang sudah menghadang dia robohkan dengan dua kali dorongan tangan kiri, kakinya melangkah terus berloncatan ke sana ke mari ketika mainkan langkah-langkah Hui-Thian Jip-Te.
Sebentar saja Kun Hong sudah berhasil lolos dari kepungan yang demikian ketatnya!
Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan berpengaruh di sebelah depannya.
"Pemberontak buta jangan lari! The-Siucai, serahkan dia kepadaku!"
Kata-kata ini dibarengi desir angin tusukan pedang.
Kun Hong terkejut sekali dan cepat-cepat dia membanting diri ke kiri.
Gerakan menyelematkan diri ini dia lakukan tergesa-gesa sehingga luka pada pangkal pahanya terasa nyeri sekali, akan tetapi dia selamat daripada sebuah tusukan yang hampir tidak mengeluarkan suara, demikian halus akan tetapi demikian kuatnya.
Celaka, pikirnya, ilmu pedang orang ini luar biasa sekali.
Karena maklum bahwa yang dihadapinya seorang ahli pedang kawakan yang amat lihai, Kun Hong cepat menggerakkan tongkatnya membalas serangan tadi.
Segera dia terlibat dalam pertandingan pedang sampai belasan jurus dengan penyerang baru ini.
Makin lama makin heran dan terkejut hati Kun Hong.
Pada jurus ke lima belas, dia menggunakan tongkatnya menangkis keras sehingga kedua senjata yang bertemu itu terpental ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Hong untuk berseru.
"Bukankah tuan ini Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui Lo-Enghiong?"
"Hemm, sudah kenal baik lekas menyerah, tak perlu melawan,"
Jawab orang itu yang adalah Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui majikan dari pantai Po-Hai, yaitu Pek-Tiok-Lim, Ayah dari Tan Loan Ki dara lincah!
Kun Hong cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat, wajahnya berubah penuh harapan ketika dia berkata.
"Lo-Enghiong, harap jangan lanjutkan pertempuran, kita orang sendiri! Bukankah adik Loan Ki baik-baik saja? Dia dan aku sudah seperti saudara sendiri, kami bertemu dan bersama mengalami hal-hal hebat di Pulau Cong-coa-to, dan..."
"Tutup mulutmu! Tak perlu membawa-bawa nama anakku ke sini, keparat!"
Bentak Sin-Kiam-Eng sambil menerjang lagi, kini malah lebih hebat karena dia marah sekali.
Kun Hong cepat mengelak dan mengeluh.
Celaka, pikirnya, agaknya gadis nakal lincah itu tidak pernah bercerita kepada Ayahnya tentang dia sehingga Sin-Kiam-Eng tidak mengenalnya dan tentu saja pendekar itu marah mendengar puterinya disebut-sebut namanya oleh seorang yang tidak dikenal!
Sesungguhnya bukan demikianlah soalnya.
Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui yang sudah sejak tadi melihat sepak terjang dan gerakan Kun Hong, diam-diam terkejut dan heran sekali karena gerakan dan langkah-langkah ajaib yang dilakukan oleh pemuda buta ini persis seperti yang dia lihat dilakukan oleh Loan Ki ketika menghadapi serangan-serangan kakek Song-Bun-Kwi!!
Diam-diam dia terheran-heran akan tetapi juga penasaran dan marah sekali.
Jadi puterinya itu dalam perantauannya telah melakukan hubungan dengan seorang buta, menerima pelajaran dari seorang buta yang ternyata sekarang adalah seorang mata-mata pemberontak pula.
Inilah sebabnya ketika melihat betapa The Sun tidak sanggup mengalahkan Kun Hong, dia segera turun tangan, tidak saja untuk menyatakan kemarahannya karena persamaan ilmu dari pemuda ini dengan puterinya, juga untuk mencari jasa.
Sebagai seorang pendatang baru yang diterima oleh The Sun.
Tan Beng Kui yang bercita-cita besar ini segera ingin memperoleh kedudukan tinggi dengan jasa besar.
Ilmu pedang Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui memang hebat bukan main.
Dia, adalah murid kepala dari mendiang Bu-Tek Kiam-Ong Cia Hui Gan Ayah Cia Li Cu yang sekarang menjadi Nyonya Tan Beng San.
Nyonya ini saja ilmu pedangnya sudah hebat luar biasa, apalagi ilmu pedang Sin-Kiam-Eng yang menjadi kakak seperguruannya.
Memang dahulu ketika masih muda, Tan Beng Kui menjadi harapan mendiang gurunya, karena itu semua kepandaiannya diturunkan kepadanya.
Ilmu Pedang Sian-Ii Kiam-Sut adalah ilmu pedang turunan yang sesumber dengan Im-Yang Sin-Kiam, apalagi dimainkan oleh seorang pendekar besar yang sudah matang dalam pengalaman seperti Tan Beng Kui, benar-benar membuat Kun Hong kelabakan ketika dia diterjang dengan dahsyat oleh Sin-Kiam-Eng.
Dengan langkah-langkah Hui-Thian Jip-Te, Kun Hong berusaha menghindarkan diri dari kurungan sinar pedang lawan.
Dia merasa segan untuk balas menyerang setelah kini dia tahu bahwa orang ini adalah Ayah dari Loan Ki.
Tidak sampai hatinya, kalau dia teringat akan suara ketawa dan celoteh Loan Ki yang nakal dan lincah itu.
Betapa dia ada hati untuk melawan Ayah gadis jenaka itu.
Dia merasa menyesal bukan main, menyesal mengapa justeru Ayah dara lincah itu yang kini menghalangi jalan larinya, mengapa Ayah Loan Ki justeru menjadi pembantu Kaisar baru?
Selain kebimbangan ini, ditambah lagi luka di pangkal pahanya yang parah membuat Kun Hong kurang gesit menghadapi ilmu pedang yang hebat dari Tan Beng Kui.
Betapapun lihai dan aneh langkah-langkahnya, namun menghadapi seorang jago kawakan seperti Tan Beng Kui, tanpa melakukan perlawanan sungguh-sungguh, akhirnya dia celaka juga.
"Lo-Enghiong, aku tidak mau bertempur melawanmu..."
Katanya dan kesempatan ini dipergunakan oleh lawannya untuk mendesak, mainkan jurus yang paling sulit dihadapi.
Kun Hong kaget dan masih berusaha menjatuhkan diri ke belakang, namun ujung pedang lawannya masih sempat menggores dagunya, terus merobek baju di dada dan merobek pula kulit dadanya sehingga darah bercucuran membasahi bajunya.
Kun Hong kaget juga karena baru saja dia terhindar dari bahaya maut, karena ujung pedang itu sebenarnya tadi mengarah leher dilanjutkan ke ulu hatinya.
Lebih hebat lagi, pada saat itu dari belakang menyambar gerakan pedang yang amat cepat membabat ke arah lehernya.
Inilah pedang di tangan The Sun yang membentak pula.
"Mampuslah engkau, jembel buta!"
Akan tetapi The Sun terlalu memandang rendah kepada Kun Hong kalau mengira bahwa sekali babat akan berhasil memenggal leher Pendekar Buta, Tongkat di tangan Kun Hong bergerak cepat.
"Tranggg...!"
The Sun kaget setengah mati karena begitu bertemu, tongkat itu terus menyekong melalui bawah lengannya, menusuk ke arah tenggorokannya secara amat aneh dan tidak disangka-sangka olehnya.
"Celaka...!"
Dia berseru keras dan cepat tubuhnya mencelat ke belakang dalam usahanya menghindarkan diri dari bahaya maut ini.
Kun Hong yang sudah marah sekali kepada The Sun juga melesat dalam pengejarannya tanpa menghentikan ancaman tongkatnya ke arah tenggorokan lawan.
"Penjahat buta jangan sombong!"
Tiba-tiba terdengar seruan yang amat berpengaruh, dibarengi melayangnya lengan baju yang membawa serta angin pukulan dahsyat sekali.
"Plakk!"
Tanpa dapat ditangkis atau dihindarkan lagi oleh Kun Hong yang tubuhnya sedang melayang dalam usahanya mengejar The Sun, ujung lengan baju itu telah menghantam punggungnya.
Kun Hong cepat mengerahkan tenaga Lweekangnya untuk menahan pukulan, akan tetapi pukulan itu hebat bukan main sehingga dia merasa seolah-olah terpukul benda keras yang rIbuan kati beratnya.
Tubuhnya terlempar dan terbanting ke atas tanah sampai bergulingan!
Dua batang pedang lain mengejarnya dan langsung menyambar dari kanan kiri.
"Wuuuttt! Singgg!"
Kun Hong melenting ke atas, begitu kedua kakinya menginjak tanah, otomatis dia telah membuat gerakan jurus Sakit Hati.
"Tranggg! Wesss!"
Tongkat dan tangan kirinya telah bergerak tanpa dapat dicegah lagi.
Dua orang perwira yang tadi berlomba untuk membunuhnya setelah melihat dia terluka dan bergulingan, kini berdiri tegak seperti patung, kemudian perlahan-lahan roboh terguling dan...
pinggang mereka ternyata telah putus dan kepala mereka remuk-remuk?
Bukan main ngerinya hati para perwira menyaksikan ini.
Malah orang-orang sakti yang kini sudah berada di situ melengak heran.
"Penjahat keji!"
Terdengar Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui berseru marah dan pedangnya menyambar dengan suara mendesing-desing.
Kun Hong merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit.
Luka di pangkal paha makin panas dan perih, gatal sukar ditahan nyerinya.
Luka di dagu dan dada terus mengucurkan darah sedangkan punggungnya terasa patah-patah tulangnya oleh hantaman ujung lengan baju yang amat hebat tadi.
Dia terheran-heran siapakah gerangan si pemukul ini.
Melihat hebatnya hantaman itu, dia taksir orangnya tidak di bawah.
Song-Bun-Kwi tingkat kepandaiannya.
Celaka, kiranya di Kota Raja telah berkumpul begini banyak orang sakti!!
Karena ini, dengan pikiran sudah pening, Kun Hong berlaku nekat dan menanti setiap lawan dengan jurus Sakit Hati!
Sambaran pedang yang datang cepat laksana kilat dari Sin-Kiam-Eng itu sudah ditunggu oleh Kun Hong.
Dia tidak ingat lagi siapa lawannya, yang teringat olehnya hanya bahwa dia harus melindungi surat rahasia dalam Mahkota dan harus mengalahkan tiap orang musuhnya untuk dapat melarikan diri dari kepungan.
Setelah serangan itu tiba, tubuhnya bergerak, tongkatnya menyambar berbareng dengan tangan kirinya mencengkeram.
"Ayaaaa!!"
Sin-Kiam-Eng berteriak keras dan tubuhnya melayang sampai lima enan meter jauhnya, lalu dia terbanting ke atas tanah dan terengah napasnya, mukanya pucat.
Nyaris dia menjadi korban jurus Sakit Hati yang amat mujijat itu dan biarpun dia tidak menjadi korban, namun tetap saja hawa pukulan tangan kiri Kun Hong yang mengandung hawa Yang-Kang itu telah membuat dadanya serasa panas terbakar.
Cepat-cepat Sin-Kiam-Eng duduk bersila mengatur napas memulihkan tenaga agar jangan sampai isi dadanya terluka.
"Omitohud, ilmu siluman apakah ini?"
Terdengar suara berpengaruh yang tadi dan segumpal hawa dingin menyambar ke arah Kun Hong.
Pemuda buta ini maklum bahwa lawannya yang bersenjata ujung lengan baju, yang tadi berhasil menghantam punggungnya, ternyata adalah seorang Hwesio.
Maklumlah dia bahwa semakin lama dia berada di tempat ini, makin besar bahayanya.
Hantaman kali ini yang mendatangkan segumpal hawa dingin menandakan bahwa dalam hal ilmu tenaga dalam Hwesio ini sudah mencapai tingkat tinggi sehingga sukar dilawan.
Namun dia sudah nekat.
Tiada artinya kalau dia hanya mengelak ke sana ke mari, akhirnya tentu celaka juga, lebih baik mengadu tenaga, tinggal pilih satu antara dua.
Menang dan lolos, atau kalah dan tewas!
Dengan pikiran ini, sambaran dingin itu dia sambut dengan jurus Sakit Hati.
"Dess! Bakkk!!"
Tubuh Kun Hong serasa didorong oleh tenaga yang maha kuat, sehingga kuda-kuda jurus Sakit Hati itu biarpun masih tetap, namun sudah tidak di tempatnya lagi karena kedua kakinya itu bergeser sejauh dua meter lebih, membuat garis di tanah yang dalamnya sampai dua dim lebih!
Dari tempat lima enam meter jauhnya terdengar Hwesio itu berseru heran.
"Omitohud... hebat... hebat"
Diam-diam Kun Hong mengeluh.
Tadi tongkat yang dia gerakkan bertemu dengan benda lemas, agaknya ujung lengan baju, sedangkan tangan kirinya bertemu dengan lengan Hwesio itu yang mengandung getaran tenaga dalam yang hebat pula.
Biarpun berkat dua ilmu sakti Kim-Tiauw-Kun dan Im-Yang Sin-Kiam, dia tadi menggunakan tenaga mujijat sehingga kalau diukur dia tidak kalah tenaga, namun Hwesio yang dapat menyambut jurus Sakit Hati ini sudah terang merupakan lawan yang paling berat!
Dia sudah memasang kuda-kuda lagi dan bersiap sedia mengadu nyawa.
Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk, di atas suara bentakan nyaring.
"Jago-jago kawakan yang mengaku para tokoh Istana, kiranya hanya cacing-cacing busuk yang beraninya mengeroyok pemuda buta!"
Pada saat itu terdengar sorak-sorai, disusul suara senjata saling beradu, tanda terjadi pertempuran besar di tempat itu antara para perwira dan banyak orang yang baru datang dipimpin oleh orang yang membentak tadi.
Kun Hong mengerutkan kening mengingat ingat, dia merasa kenal suara tadi.
Pada saat itu, suara tadi berkata perlahan kepadanya.
"Pangcu (Ketua), silakan pergi mengaso."
"Hwa I Lokai...!"
Kun Hong berseru kaget.
Memang benar.
Yang datang adalah Hwa I Lokai bersama anak buahnya yang dengan nekat sekarang bertanding melawan para jagoan Istana itu.
Karena tidak ada kesempatan untuk bicara lagi setelah Hwa I Lokai kini bertanding melawan tokoh-tokoh Istana, Kun Hong lalu mengamuk, menggunakan jurus Sakit Hati sambil melompat ke sana ke mari.
Para perwira yang lancang berani menyambut atau menghadangnya pasti roboh tak bernyawa lagi.
Dengan jalan membuka jalan darah ini, akhirnya Kun Hong berhasil keluar dari kepungan yang ketat itu dan mulailah dia melarikan diri karena merasa betapa tubuhnya sudah makin lemas dan gemetar.
Ia mengerahkan tenaga terakhir dan lari sekuatnya di malam gelap, lari secara ngawur karena tidak dapat melihat.
Dia hanya menyerahkan nasibnya ke tangan Thian Yang Maha Kuasa.
Agaknya Thian memang masih melindunginya karena secara aneh sekali Kun Hong dapat berlari jauh meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi akhirnya, di tenpat yang sunyi, agaknya daerah penduduk kota yang miskin, dia menabrak pohon besar yang berdiri di belakang sebuah pondok kecil.
Karena dia tertumbuk pada batang pohon itu dengan dahi di depan, pendekar buta ini roboh terguling dalam keadaan pingsan!
Hening sejenak setelah suara beradunya kepala dengan batang pohon dan robohnya tubuh Kun Hong.
Pintu pondok berderit terbuka dan sinar lampu menyorot keluar mengantar bayangan seorang anak laki-laki yang agaknya kaget mendengar suara tadi.
Anak ini melangkah ke luar pintu belakang dan memandang ke kanan kiri.
Seorang anak laki-laki yang tabah.
Biasanya anak sebesar itu, berusia enam tujuh tahun, suka takut-takut akan tempat gelap.
Akan tetapi anak ini biarpun tadi mendengar suara gedebukan aneh, masih berani membuka pintu belakang dan keluar di tempat gelap.
Tak lama kemudian dia sudah menghampiri tubuh yang menggeletak miring di bawah pohon itu dan terdengar teriakan.
"Ibu...! Ibu... mari ke sini, ada orang jatuh... mari bantu aku...!"
Dan tanpa ragu-ragu sedikit pun anak itu sudah mulai berusaha membangunkan Kun Hong yang masih pingsan.
Kali ini kembali membayangkan ketabahan hati anak itu, bahkan membayangkan wataknya yang baik dan suka menolong orang lain.
Seorang wanita muda muncul dari pintu belakang, ragu-ragu sejenak, ngeri melihat kesunyian dan kegelapan malam.
"A-wan...! Kau di mana? Siapa yang jatuh?"
"Di sini, Bu. Lekas, jangan-jangan dia mati."
Ibu muda itu datang menghampiri, tersentak kaget mendengar ucapan terakhir.
"Apa...? Ma... mati...??"
"Mungkin juga belum. Aduh beratnya, lekas bantu, Bu. Mari kita bawa masuk dan beri pertolongan."
Ibu muda itu membulatkan hatinya dan melangkah maju.
Dengan susah payah Kun Hong diangkat dan setengah diseret oleh Ibu dan anak itu, dibawa masuk ke dalarn rumah melalui pintu belakang yang segera ditutup kembali.
"Inkong...!"
"Paman buta...! Betul dia Paman buta...!"
Ibu dan anaknya itu terbelalak memandang wajah Kun Hong yang kini sudah direbahkan di atas tempat tidur bambu yang sederhana.
Keduanya menubruk, memeluk dan mengguncang-guncang tubuh Kun Hong.
Terdengar Kun Kong mengeluh, Bibirnya bergerak perlahan.
"Terlalu banyak musuh... terlalu banyak..."
Kemudian dia menjadi lemas dan mengigau tidak karuan.
"Inkong, ingatlah... Inkong, ini aku janda Yo..."
"Paman, aku A Wan..."
Kun Hong mendengar suara ini, nampak terheran-heran, lalu berkata lirih.
"Yo-Twa-So...? A Wan...? Bagaimana... ahhhhh..."
Dia menjadi lemas dan pingsan lagi.
"Celaka! Inkong terluka hebat. Lihat darahnya begini banyak. Wah, bagaimana ini? A Wan lekas kau buka pakaiannya, bersihkan luka-lukanya, aku akan memasak air..."
Janda itu dengan gugup sekali lalu lari ke sana ke mari mempersiapkan segala keperluan, akan tetapi sesungguhnya tidak tahu betul bagaimana ia harus menolong Kun Hong yang mandi darah itu.
A Wan adalah seorang anak yang tabah.
Biarpun ngeri juga dia melihat semua baju Kun Kong penuh darah, akan tetapi dengan cepat dia membuka pakaian, menurunkan buntalan dari punggung Kun Hong.
Ketika dia membuka buntalan itu untuk mencari pengganti baju, dia melihat Mahkota kecil dari emas yang mencorong terkena sinar lampu.
Terkejutlah dia dan diambilnya Mahkota itu, diamat-amatinya penuh perhatian.
A Wan adalah anak yang cerdik, otaknya lalu bekerja.
Tadi Paman buta bicara tentang musuh banyak, tentu habis berkelahi dikeroyok banyak musuh, pikirnya.
Mengapa berkelahi?
Paman buta ini adalah seorang miskin, pendekar berbudi yang miskin, dari mana bisa mempunyai benda begini indah?
Tak salah lagi, tentu Paman buta berebutan benda ini dengan banyak orang jahat, akhirnya dikeroyok dan luka-luka.
Pikiran ini membuat A Wan cepat membawa lari mahkata itu keluar kamar.
Agak lama dia pergi ke belakang rumah di luar tahu Ibunya yang sIbuk memasak air.
Setelah dia kembali menyelinap ke dalam kamar, dia sudah tidak membawa Mahkota tadi.
Dengan cepat A Wan membersihkan luka-luka di badan Kun Hong, menggunakan sehelai kain bersih.
Ibunya datang membawa air panas.
Ia cepat mengusir rasa jengah dan malu ketika melihat keadaan Kun Hong yang setengah telanjang itu, malah perasaan ini lenyap sama sekali dan terganti rasa ngeri dan cemas melihat betapa dada pemuda buta itu tergurat dari atas ke bawah, juga dagunya terluka dan pangkal paha sebelah belakang biru mengembung, punggungnya juga kebiruan.
Napas pemuda itu terengah-enah, badannya panas sekali.
Dengan air mata mengalir saking bingung dan cemasnya, janda itu lalu membersihkan luka-luka Kun Hong dengan kain yang dicelup air panas.
Hilang sudah semua rasa malu dan segan.
Air matanya mengalir makin deras ketika ia melihat betapa wajah yang tampan itu nampak pucat dan mulutnya terbuka menahan nyeri.
"A Wan, lekas kau pergi panggil Sinshe (tukang obat) Thio di jalan raja Utara. Katakan ada orang sakit, luka-luka, lekaslah!"
"Baik, Ibu. Kasihan Paman buta, bagaimana kalau dia... mati...?"
"Hushh...? Jangan bicara dengan siapa juga tentang dia, ini rahasia, mengerti? Lekas pergi dan lekas kembali!"
A Wan mengangguk dan melompat ke luar, lenyap di dalam kegelapan malam.
Setelah anak itu pergi, janda muda ini tak dapat menahan lagi sedu-sedannya.
Sambil membersihkan luka-luka itu, ia merangkul dan mengguncang-guncang tubuh Kun Hong sambil berseru lirih memanggil.
"Inkong...! Inkong... sadarlah, Inkong..."
Melihat betapa muka itu makin lama seakan-akan makin pucat, ia menjadi amat cemas.
Terbayanglah ia akan semua pengalamannya dahulu ketika pemuda buta ini menolongnya, dan sekarang melihat penolong yang selama ini tak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu kini menggeletak seperti mayat di depannya, nyonya janda Yo tak dapat menahan luapan perasaan hatinya.
"Inkong...!"
Ia mendekap kepala itu, diciuminya dan dibanjiri air mata dengan penuh perasaan.
"Jangan mati, Inkong... jangan tinggalkan aku lagi... setelah Thian mengembalikan kau kepadaku..."
Kemudiah kegelisahan lebih menguasai hatinya.
Ia berhenti menangis dan memeriksa dengan teliti luka-luka di tubuh Kun Hong di bawah sinar lampu remang-remang.
Ia bergidik, jelas bahwa luka-luka itu adalah luka bekas bacokan.
Nampak tanda-tanda yang jelas bahwa penolongnya ini baru saja habis berkelahi dengan hebat.
Wajahnya tiba-tiba pucat.
Kalau penolongnya terluka seperti ini, berarti musuh-musuhnya masih ada.
Siapa tahu melakukan pengejaran sampai ke sini!
Ia tahu bahwa penolongnya sakti, akan tetapi dalam keadaan pingsan seperti ini, kalau musuh datang lalu bagaimana?
Ia kembali bergidik dan merasa ngeri, lalu menoleh ke kanan kiri, matanya jelalatan penuh ketakutan.
Melihat tongkat Kun Hong menggeletak di atas lantai, cepat ia mengambilnya dan dengan tangan gemetar ia menyusupkan tongkat itu ke bawah tilam pembaringan.
Matanya mencari-cari lagi siap menghapus tanda-tanda akan adanya Kun Hong di situ.
Pakaian Kun Hong yang penuh darah berada di sudut kamar, cepat ia menyambarnya, dan melemparkannya ke kolong pembaringan, lalu dengan cekatan ia menggosok-gosok dan menghapus tanda-tanda darah di lantai dengan sehelai kain.
Setelah keadaan kamar itu normal kembali, ia lalu duduk lagi di pinggir pembaringan, memegang lengan tangan Kun Hong dan memandang bingung.
Seperti seekor kelinci bersembunyi dari kejaran harimau, sebentar-sebentar ia menoleh ke arah pintu depan, Bibirnya gemetar berbisik lirih.
"A Wan... kenapa kau belum juga pulang...?"
Terdengar suara langkah kaki di luar rumah. Janda muda itu berseri wajahnya.
"A Wan dan Sinshe datang..."
Pikirnya dan ia sudah bangkit berdiri, Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendengar suara seorang laki-laki di luar pintu pondoknya itu, suara halus tapi penuh ejekan.
"Hemmm, si buta keparat itu menghilang di sini."
Terdengar pintu itu diketuk dari luar.
"Tok-tok-tok!"
Menggigil kedua kaki janda Yo, sesaat ia seperti terpaku dan tak mampu menjawab atau bergerak sedikit pun juga.
"Tok-tok-tok! Hee, sahabat pemilik rumah, harap buka pintu sebentar aku ingin bertanya!"
Terdengar suara halus tadi kini berteriak.
Seperti kilat menyambar sebuah pikiran menyelinap ke dalam kepala janda muda itu.
Ia tahu benar bahwa orang di luar pondoknya itu tentu musuh penolongnya yang datang membawa niat buruk.
Berdegup jantungnya kalau ia ingat bahwa orang itu datang untuk membunuh Si Pendekar Buta!
Hanya beberapa detik pikiran ini memenuhi kepalanya dan timbullah akal seorang wanita yang dengan sepenuh perasaannya berusaha menolong seorang yang amat dikasihinya dan dipujanya daripada bahaya maut.
Sekaligus rasa takut dan cemas lenyap ketika timbul kenekatan di hatinya untuk membela dan melindungi penolongnya itu, wajahnya memancarkan kecerdikan dan tubuhnya tidak menggigil lagi.
Cekatan sekali ia meraih selubung lampu minyak, menggosokkan jari-jari tangannya pada langes yang menempel di selubung lampu, menghampiri Kun Hong memupuri muka pemuda itu dengan langes.
Sebentar saja muka itu berubah hitam, menyembunyikan muka yang aseli dari pemuda itu.
Tangan meraih lain dinding yang masih ada kapurnya, digosok-gosok dan seperti tadi ia menggosokkan kapur itu pada rambut Kun Hong.
Melihat hasilnya kurang memuaskan, ia segera memutar otak, memandang ke kanan kiri, lalu mengambil tempat bedaknya dan menaburkan bedak itu pada kepala Kun Hong yang kini berubah menjadi keputih-putihan seperti rambut ubanan seorang laki-laki tua!
"Tok-tok-tok!
Sahabat, bukakan pintu, kalau tidak kau buka, terpaksa akan kurobohkan!"
Suara di luar mendesak tidak sabar lagi.
"Tunggu sebentar...!"
Janda muda itu berseru kaget, menarik selimut menutupi tubuh Kun Hong sampai ke leher.
Ia lalu melangkah ke pintu kamar, menoleh sekali lagi dan lega hatinya melihat bahwa kini tidak ada lagi tanda-tanda bahwa yang berbaring di dalam kamar itu adalah seorang pemuda yang pingsan, akan tetapi kelihatan seperti seorang laki-laki tua tidur pulas!
Tergesa-gesa ia keluar kamar, teringat akan sesuatu pikirannya yang cerdik dalam usahanya menolong Pendekar Buta itu bekerja keras, melirik ke arah pakaian di tubuhnya dan cepat ia membuka dua buah kancing di dekat leher melonggarkan ikat pinggangnya, mengusutkan pakaiannya di sana sini, melepaskan sebagian rambut dari pita rambutnya yang ia kendurkan, kemudian cepat ia berlari-lari ke arah pintu yang sudah mulai digedor lagi oleh orang di luar itu.
"Aku datang...! Tunggu sebentar... siapa sih yang suka mengganggu orang tidur?"
Kata nyonya janda ini dengan suara yang tiba-tiba berubah genit!
Di ruang tengah ia menyambar lilin yang sudah menyala, kemudian dengan lilin dipegang tinggi-tinggi dengan tangan kiri, ia membuka palang pintu depan dengan tangan kanan.
"Kriiiiitt!"
Daun pintu berderit ketika dibuka perlahan oleh tangan nyonya janda Yo yang agak gemetar. Sinar lilin bergerak-gerak tertiup angin, menerangi wajahnya dan wajah orang yang berdiri di luar pintu.
"Ohhhhh...!"
Dua buah mulut mengeluarkan seruan sama dan dua pasang mata saling pandang.
Mata nyonya Yo memandang dengan perasaan cemas, heran dan seruannya tadi yang memang ia sengaja untuk melengkapi aksinya bergenit tadi menjadi sumbang karena keheranannya ini.
Sama sekali ia tidak mengira akan melihat seorang pemuda yang berpakaian seperti seorang Kongcu terpelajar, sikapnya halus dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda orang jahat.
Hal ini membuatnya ragu-ragu dan sejenak ia hanya bengong, tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.
Di lain fihak, seruan yang keluar dari mulut orang muda itu adalah seruan tercengang dan kagum, lalu sepasang matanya menjelajahi pemandangan didepannya itu dari atas ke bawah lalu kembali lagi dari bawah ke atas.
Sanggul rambut yang awut-awutan, sebagian rambut terurai menutupi sebuah muka yang berkulit putih kuning berbentuk bulat telur, mata yang jernih, hidung mancung mulut kecil manis, pakaian yang biarpun sederhana namun membayangkan bentuk tubuh yang padat dan bagus, baju yang terbuka kancingnya di bagian atas memperlihatkan sebagian leher dan dada yang berkulit halus bersih.
Apalagi di bawah sinar api lilin yang mobat-mabit karena angin, wanita yang berdiri di depannya benar-benar amat manis dan mengairahkan hati.
Orang muda itu bukan lain adalah The Sun.
Pemuda cerdik ini diam-diam meninggalkan gelanggang pertempuran karena maklum bahwa para pengemis anggauta Hwa I Kaipang itu takkan mungkin dapat lepas daripada hantaman para perwira yang selain menang banyak, juga dibantu oleh tokoh-tokoh lihai.
Yang dia pentingkan adalah Kwa Kun Hong, maka cepat dia mengejar ketika melihat Si Pendekar Buta itu mampu meloloskan diri daripada kepungan.
Akan tetapi karena maklum bahwa Pendekar buta itu memiliki jurus yang aneh yang amat dahsyat, dia berlaku hati-hati dan mengejar secara diam-diam.
Dia maklum bahwa orang itu sudah terluka parah dan dia akan mencari kesempatan baik untuk turun tangan.
Akan tetapi dia sama sekali tidak mengira bahwa lawannya itu yang bermata buta dapat berlari secepat itu sampai dia kehilangan jejaknya.
The Sun penasaran dan melakukan pengejaran ke sana ke mari.
Dengan penuh perhatian dia mencari jejak si buta itu dan akhirnya pemuda cerdik ini dapat menyusul sampai ke pondok janda Yo!
Hanya sebentar The Sun terpesona oleh kemanisan wajah nyonya janda muda itu.
Memang dia seorang pemuda yang romantis dan kadang-kadang tidak melewatkan kesempatan baik untuk melayani wanita-wanita cantik yang tergila-gila kepada ketampanan wajahnya atau kepada kedudukannya yang tinggi.
Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa The Sun adalah seorang mata keranjang atau hidung belang yang suka mengganggu wanita, sama sekali bukan.
Hanya dapat dikatakan bahwa pertahanan terhadap kecantikan wanita tidaklah begitu kuat.
Ketika dia teringat lagi akan buronannya, secepat kilat dia menarik ke luar pedangnya dan mengelebatkan pedangnya yang tajam itu di depan muka nyonya Yo yang menjadi pucat seketika.
"Katakan di mana si jahanam buta itu, hayo cepat mengaku sebelum pedangku memenggal lehermu yang putih itu!"
The Sun mengancam matanya tak lepas dari kulit leher putih yang mengintai dari balik baju yang terbuka dua buah kancingnya.
"Apa... apa maksudmu? Eh, Kongcu, harap kau jangan main-main dan simpanlah senjatamu itu yang bisa membikin aku mati ketakutan! Aku sedang pusing dan jengkel merasakan suamiku tua bangka yang berpenyakitan saja, kau datang-datang mengganggu dengan gedoran pintu dan sekarang menuduh yang bukan-bukan, bicara tentang jahanam buta yang sama sekali tidak kumengerti artinya! Apa sih maksudmu sebenarnya dan kau ini siapakah, Kongcu?"
Aneh sekali, ucapan dan nada suara nyonya janda ini jauh berbeda daripada biasanya, sekarang kata-katanya centil, sikapnya genit dan matanya yang bagus itu menyambar-nyambar wajah tampan The Sun!
"Hemm, tak usah kau pura-pura!"
Bentak The Sun tanpa menurunkan pedangnya.
"Aku mengejar seseorang, penjahat buta dan jejaknya lenyap di tempat ini. Tentu dia bersembunyi di dalam rumahmu ini, hayo lekas mengaku dan tunjukkan aku di mana dia!"
Jantung di dalam dada nyonya janda itu serasa hendak meloncat ke luar saking takutnya, akan tetapi ia pura-pura marah dan memandang kepada The Sun dengan mata melotot akan tetapi malah menambah kemanisan wajahnya karena Bibir yang mungil itu mengarah senyum dan sikapnya menantang.
"Apa kau bilang, Kongcu? Hemmm... harap kau jangan pandang rendah kepadaku! Biarpun suamiku tua bangka dan berpenyakitan, tapi jangan kira aku mau berdekatan dengah seorang penjahat, apalagi kalau dia itu buta. Cih, menjijikkan!"
Kembali lirikan mata menyambar dalam kerlingan yang amat manis memikat. Mau tak mau The Sun tersenyum, jantungnya mulai berdebar. Hemm, jelas Sekali wanita muda yang cantik manis ini "Memberi hati"
Kepadanya dengan sikapnya menantang sekali.
Betulkah suaminya tua bangka dan berpenyakitan?
Hal ini saja sudah menjadi alasan kuat.
Akan tetapi, betulkah Kun Hong tidak bersembunyi di situ?
Dia tidak boleh sembrono dan lebih baik menyelidiki lebih dulu.
"Aku tidak percaya! Hayo tunjukkan di mana suamimu dan biar aku melakukan penggeledahan dulu. Dengan siapa saja kau di sini?"
Janda Yo sengaja cemberut, Bibirnya yang merah itu diruncingkan ketika ia melangkah ke samping memberi jalan kepada The Sun.
"Kongcu begini halus dan tampan, tapi galaknya bukan main!"
Ia bersungut-sungut.
"Sudah terang suamiku tua bangka muka hitam yang buruk dan berpenyakitan, kau masih ingin menjenguknya lagi, apakah untuk bahan mengejek dan memperolokku?"
Kembali The Sun berdebar dan tersenyum.
"Mana bisa aku percaya kalau belum melihat sendiri? Siapa bisa percaya seorang cantik jelita seperti kau ini suaminya tua bangka berpenyakitan?"
"Ihh, Kongcu ceriwis!"
Janda Yo membuang muka dengan lagak yang genit dan memikat sekali.
Di dalam hatinya nyonya janda ini berdoa supaya musuh penolongnya ini akan percaya dan tidak akan memeriksa ke dalam kamar.
Akan tetapi The Sun bukanlah seorang bodoh.
Dia amat cerdik dan biarpun kali ini jantungnya sudah berjungkir-balik terkena pengaruh kecantikan janda muda itu, namun dia tidak kehilangan kewaspadaannya dan mendahulukan tugasnya daripada kesenangan hatinya.
"Hayo, perlihatkan aku kamar suamimu!"
Janda Yo mengangkat lilin dan dengan kaki agak menggigil ia melangkah ke arah pintu kamarnya.
Ia berdoa semoga penolongnya itu masih pingsan seperti tadi.
Ketika ia dan The Sun melangkahkan kaki ke ambang pintu kamar, janda Yo sengaja menggoyang-goyang tempat lilin sehingga api lilin itu bergerak-gerak dan keadaan di dalam kamar tidak begitu jelas, hanya tampak remang-remang oleh The Sun betapa seorang laki-laki bermuka kehitaman dan berambut penuh uban sedang berbaring tak bergerak, tidur pulas agaknya!
"Sshhhhh, harap jangan berisik.
Kalau dia bangun, batuknya akan kumat dan akulah yang berabe harus mengurut-urut dadanya..."
Bisik nyonya janda Yo sambil mendekatkan mukanya di telinga The Sun sehingga orang muda itu mencium bau sedap yang agaknya keluar dari rambut wanita muda itu.
Terpikat oleh ini, The Sun tidak jadi melangkah masuk, hanya melepas pandang dengan tajamnya ke arah "Kakek"
Itu lalu sinar matanya berkeliaran ke seluruh kamar yang hanya kecil sederhana itu. Tiba-tiba pedangnya berkelebat, mengeluarkan bunyi mendesing menyambar ke depan! "Crakk!"
Papan ujung pembaringan itu tahu-tahu telah terbelah.
"Oh-oh... jangan... ahh...!"
Janda Yo kaget setengah mati dan menubruk lalu merangkul pundak The Sun, lilin yang dipegangnya jatuh dan padam.
The Sun tersenyum lega.
Kakek itu ternyata masih enak tidur saja.
Kalau di dalam kamar itu terdapat Kun Hong yang bersembunyi, sebagai seorang ahli silat sudah pasti akan keluar mendengar desingan pedangnya tadi.
Terang di situ tidak terdapat orang yang dia kejar, sedangkan kakek tua bangka suami wanita muda yang cantik jelita ini jelas adalah orang yang tiada guna.
Dia menyimpan pedangnya kembali, kemudian tertawa perlahan dan menarik tangan nyonya Yo yang masih gemetar ketakutan itu keluar kamar.
Gelap pekat di luar kamar karena sekarang tidak ada lilin lagi.
"Kau cantik manis..."
"Ah, pergilah... jangan kau ganggu kami yang tidak berdosa... pergilah dari sini, kasihani aku dan suamiku yang tua dan sakit..."
The Sun tertawa, tidak halus seperti biasanya lagi, melainkan suara tertawa yang parau mengandung nafsu kotor.
"Manis, kalau aku tidak kasihan dan cinta kepadamu, tentu pedangku tadi sudah memenggal leher suamimu si tua bangka tiada guna, ha-ha-ha!"
The Sun sudah lama pergi meninggalkan pondok tempat tinggal janda muda itu.
Kini ia tampak terguguk menangis menahan isaknya sambil memeluki dada Kun Hong.
Dengan rambutnya yang kusut dan seluruh mukanya basah air mata, janda muda ini merintih-rintih dalam tangisnya.
"Inkong... bangunlah... jangan mati, Inkong, sembuhlah kembali, jangan sia-siakan pengorbananku..."
Ia menangis lagi dengan amat sedihnya sampai-sampai napasnya menjadi sesak.
Pada saat itu dari pintu kamar melayang masuk sesosok bayangan orang yang amat ringan dan gesit.
Begitu masuk bayangan ini (lanjut ke
Jilid 18) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 menendang dan tubuh nyonya janda ini terguling roboh.
"Ahh...Ahh...!"
Nyonya Yo bersambat lirih, tapi rasa nyeri pada tubuhnya tidak ia perdulikan lagi karena hatinya penuh kekhawatiran terhadap keselamatan Kun Hong yang masih pingsan.
Tadinya ia mengira bahwa orang muda musuh Kun Hong yang tadi datang dan sudah siap untuk menegur.
Akan tetapi alangkah kaget dan heran serta takutnya ketika ia melihat wajah yang jauh berlainan tertimpa sinar api lilin di kamar itu.
Wajah seorang wanita!
Tubuh ramping seorang wanita!
Seorang wanita muda dengan muka kehitaman dan pedang di tangan, kelihatan berdiri dengan penuh amarah.
Nyonya Yo segera menubruk Kun Hong dan memeluk dadanya untuk melindunginya.
"Jangan ganggu dia...! Jangan bunuh dia...!"
Teriaknya dengan suara mengandung isak tangis. Wanita itu kembali bergerak dan sekali lagi tubuh nyonya Yo terlempar dari pinggir pembaringan, malah kini terguling-guling sampai di sudut kamar.
"Perempuan jalang! Lacur! Jangan pegang-pegang dia dengan tanganmu yang kotor!"
Bentak wanita itu yang sudah menyarungkan pedangnya dan melangkah maju mendekati pembaringan. Cekatan sekali ia membungkuk dan kedua tangannya bergerak, tahu-tahu tubuh Kun Hong sudah dikempitnya.
"Heeeiiiii... jangan ganggu dia.".!"
Nyonya Yo biarpun merasa tubuhnya sakit-sakit, dengan nekat berdiri dan hendak merampas tubuh Kun Hong dari tangan wanita itu.
"Diam kau, perempuan hina!"
Wanita itu membentak lagi.
"Dia ini adalah sahabat baikku, tak boleh berada di tempat hina ini berdekatan dengan perempuan lacur macam kau!"
Janda muda itu terbelalak, diam-diam bersyukur bahwa orang ini bukanlah musuh penolongnya.
"Aku... aku... tidak... ah, dia adalah... penolongku..."
Katanya gagap. Wanita itu mendengus marah.
"Huh, dia penolong semua orang, akan tetapi perempuan rendah macam engkau tidak perlu ditolong!"
"Nona, kau siapa? Kenapa engkau memaki-maki aku? Biarpun aku miskin... aku... betul-betul berusaha mengobatinya dan..."
"Tutup mulut! Apa kau kira aku tidak tahu betapa kau main gila dengan setiap orang laki-laki? Hemmm, siapa laki-laki yang tadi keluar dari sini? Bukankah dia kekasihmu pula? Huh, dan kau berani mendekatkan tubuhmu yang hina dan kotor itu dengan Kwa Kun Hong? Menyebalkan!"
Bayangan wanita itu berkelebat dan dalam sekejap mata saja ia dan Kun Hong yang dipondongnya sudah lenyap dari situ.
Nyonya janda Yo berdiri terkesiap, mukanya pucat seperti mayat, matanya terbelalak lebar dan dari kedua matanya itu turun air mata bertitik-titik deras mengalir di sepanjang kedua pipinya.
Untuk sesaat tidak ada suara keluar dari mulutnya, kecuali napas yang terengah-engah.
Teringat ia akan segala hal yang menimpa dirinya, akan segala yang telah dilakukannya.
Kedatangan The Sun tadi membuat ia berada dalam ketakutan hebat.
Takut dan cemas akan keselamatan penolongnya membuat ia bertekat untuk melindungi dan membelanya, menyelamatkannya dengan jalan apa pun juga.
Sebagai seorang wanita yang lemah tak berdaya, ia tahu bahwa senjata satu-satunya yang ada pada dirinya hanyalah kecantikannya.
Dan ia sudah pergunakan itu, sudah memberikan dirinya dengan kata-kata manis dan mulut tersenyum namun dengan hati perih dan seperti disayat-sayat.
Namun usahanya berhasil.
Ia telah menyelamatkan Kun Hong, telah membeli keselamatan penolongnya itu dengan pengorbanan yang paling besar yang dapat dilakukan seorang wanita lemah seperti dia.
Akan tetapi sekarang muncul wanita gagah itu yang memaki-makinya, yang melihat perbuatannya.
"Ya Tuhan... aku perempuan hina... perempuan rendah..."
Janda Yo tak kuat lagi, kedua lututnya lemas dan ia jatuh nglumpruk di atas lantai, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba ia terbelalak memandang ke kanan kiri, menatap pembaringan yang kini sudah kosong, telinganya mendengar gema wanita tadi memaki-makinya.
"Perempuan jalang! Lacur! Jangan pegang-pegang dia dengan tanganmu yang kotor!"
Lalu terdengar lagi.
"Bukankah laki-laki tadi kekasihmu? Huh, dan kau berani mendekatkan tubuhmu yang hina dan kotor itu dengan Kwa Kun Hong?"
"Ooohhhhh...!"
Janda Yo menangis lagi, kini tersedu-sedan, kemudian ia menubruk pembaringan yang kosong itu.
"Kwa Kun Hong... namamu Kwa Kun Hong, Inkong? Setidaknya wanita itu berjasa memberi tahu namamu. Orang mengatakan aku kotor, hina, jalang, lacur... Inkong (Tuan penolong), tidak apalah, asal kau selamat. Badan dan namaku kotor bisa dicuci dengan... ini..."
Janda muda itu melolos ikat pinggangnya dan matanya memandang ke atas, mencari-cari tiang atau usuk genteng rumah itu.
"A Wan...!"
Baca Juga: Istana Pulau Es 11
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 13