Ceritasilat Novel Online

Sepasang Pedang Iblis 15

Eps 15 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.

Keng In berseru penuh kekhawatiran sambil melompat dan lari ke laut ketika dia melihat betapa ombak menyambar tubuh Milana, dilontarkan ke atas dan dihempaskan kembali ke bawah.

Tahu-tahu kini tubuh Milana sudah berada agak jauh ke tengah, gadis itu kelihatan ketakutan, tangannya menggapai-gapai dan terdengar jeritannya lemah.

"Tolooonggg!"

Tanpa berpikir panjang lagi karena khawatir melihat kekasihnya terancam bahaya maut ditelan ombak atau ikan raksasa, Keng In cepat berenang sekuatnya melawan ombak.

Dia sama sekali tidak tahu betapa Milana diam-diam memperhatikan gerakannya ketika dia berenang untuk menolong kekasihnya itu dan tidak tahu betapa gadis itu bersinar-sinar pandang matanya, merasa girang melihat bahwa kepandaiannya berenang biasa saja!

Memang Keng In bukanlah seorang ahli renang yang pandai.

Dia dapat berenang sekedarnya, dan bukan seorang ahli biarpun sejak kecil dia tinggal di Pulau Neraka.

Hal ini karena ibunya selalu melarangnya kalau melihat puteranya yang dimanjakan itu bermain-main di laut, khawatir kalau puteranya dihanyutkan ombak atau diserang ikan besar.

Tentu saja kalau hanya untuk berenang menolong Milana, Keng In merasa dapat melakukannya.

Dia sama sekali tidak menaruh kecurigaan melihat gadis itu dipermainkan ombak dan berteriak-teriak minta tolong.

Kecemasan yang hebat akan kehilangan wanita yang dicintanya itu membuat pemuda yang biasanya cerdik ini menjadi lengah dan sama sekali tidak menduga akan adanya siasat yang dilakukan oleh dara yang masih belum mau menyerah kepadanya itu.

"Milana....! Di mana engkau....?"

Keng In berteriak dengan hati penuh kecemasan.

Dia sudah tiba di bagian gadis itu tadi dipermainkan ombak dan sekarang dara itu tiba-tiba lenyap, seolah-olah tenggelam!

"Milana....!"

Keng In memandang ke kanan dan ke kiri dengan mata liar penuh kekhawatiran.

"Haiii!"

Dia berteriak akan tetapi teriakannya segera lenyap ketika tubuhnya diseret ke bawah.

Keng In gelagapan dan cepat menutup mulut menahan napas sambil berusaha untuk menggerakkan kaki kanannya yang telah ditangkap orang dari bawah!

Milana yang tadi menyelam dan kini sudah menangkap sebelah kaki Keng In, mempertahankan.

Untuk menyerang lawan ini dengan pukulan, masih terlalu berbahaya karena dia tahu bahwa pemuda itu memiliki sin-kang yang amat kuat, maka dia mempergunakan akal, menangkap kaki lawan dan menyeretnya ke bawah agar pemuda itu tak dapat bernapas dan mati lemas!

Terjadilah pergulatan di dalam air laut.

Milana berusaha mempertahankan kaki itu dan menarik ke bawah sedangkan Keng In meronta-ronta dan menarik kakinya sekuat tenaga agar dapat terlepas.

Dia masih belum dapat menduga bahwa Milana yang menangkap kakinya.

Dia mengira bahwa kakinya dililit oleh ikan gurita atau ular laut, atau digigit ikan yang besar.

Akan tetapi Milana salah duga kalau dia mengira akan dapat membuat Keng In kehabisan napas dengan cara menariknya ke bawah.

Pemuda ini biarpun tidak pernah mempelajari ilmu di dalam air, namun sin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali sehingga dia amat kuat menahan napasnya di dalam air, mungkin tidak kalah kuat dibandingkan dengan Milana sendiri!

Karena itulah, usaha Milana untuk membuat pemuda itu lemas kehabisan tenaga tidak berhasil, bahkan tarikan-tarikan kaki Keng In yang amat kuat itu menghabiskan tenaga Milana yang menahannya sehingga akhirnya dia sendiri terbawa timbul ke permukaan air!

Hanya bedanya kalau Milana masih dapat menguasai diri dan sadar sepenuhnya, sebaliknya Keng In menderita kegelisahan luar biasa, membuat pemuda itu gelagapan ketika berhasil timbul di permukaan air dan dia tidak melihat betapa sebuah kepala lain, kepala Milana, juga tersembul di belakangnya.

"Dessss!"

Milana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Dia sadar dan dalam keadaan segar.

Melihat Keng In masih megap-megap dan gelagapan menyedot hawa sebanyaknya, dia sudah mengirim pukulan ke punggung pemuda itu.

"Aduhhhh....!"

Keng In berteriak, akan tetapi tiba-tiba rambutnya dijambak (dicengkeram) tangan yang halus dan kepalanya ditekan ke bawah permukaan air lagi!

Bagaikan orang sekarat, tangan Keng In meraih-raih dan memukul-mukul.

Terpaksa Milana melepaskan cengkeramannya dan menyelam ke bawah, menyambar kaki Keng In dan menyeretnya ke bawah lagi.

Sesampainya di dasar laut yang belum begitu dalam, paling dalam empat meter itu, dia melepaskan kaki Keng In sambil mengikuti tubuh lawan yang meluncur ke atas itu.

"Plak-plak! Desss!"

Dua kali tamparan mengenai kepala Keng In dan hantaman ke dua dengan tepat sekali mengenai leher pemuda itu.

"Augghhh....!"

Kepala Keng In menjadi pening dan tubuhnya mulai menjadi lemas.

Dia masih belum tahu apa yang menyerangnya.

Selagi dia gelagapan, kembali diseret ke bawah tanpa dapat dia lawan, karena kakinya telah dipegang dari bawah bukan hanya satu melainkan keduanya, sekali ini tanpa dicegahnya lagi, Keng In terpaksa banyak menelan air laut, dan kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang dan napasnya hampir putus, perutnya makin penuh air.

Milana masih memegangi kaki kiri Keng In.

Terpaksa dia melepaskan kaki kanan pemuda itu karena dalam kepanikannya Keng In menendangkan kaki kanan.

Ketika terasa oleh Milana betapa kaki kiri itu berkelojotan, semua kebencian dan kemarahannya lenyap tertutup oleh rasa jijik, ngeri dan juga kasihan!

Sungguh jauh bedanya dengan merobohkan lawan dalam pertandingan.

Sekali tangan bergerak memukul, atau pedang menembus dada lawan, beres.

Akan tetapi sekarang, memegang kaki seorang lawan yang berada dalam keadaan sekarat, berkelojotan, benar-benar terasa sekali betapa dia akan menjadi seorang pembunuh yang amat kejam!

Dalam keadaan seperti itu, terbayanglah dia akan kebaikan Keng In, betapa manis dan ramah sikapnya, betapa besar kasih sayang pemuda itu kepadanya, sungguhpun dia tidak dapat membalasnya.

Teringat pula dia betapa ibunya adalah seorang puteri Kaisar yang amat terkenal, yang tentu tidak sudi melakukan pembunuhan secara pengecut seperti yang sekarang dilakukannya itu.

Apa pula ayahnya!

Ayahnya adalah Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia!

Tidak mungkin ayah kandungnya itu akan sudi melakukan pembunuhan securang yang dilakukannya ini.

Kiranya ayah dan ibunya akan lebih suka berkorban nyawa daripada melakukan perbuatan serendah itu!

Teringat akan semua ini, Milana menggigil seluruh tubuhnya.

Dilepaskannya kaki yang mulai lemah gerakan sekaratnya itu sehingga tubuh Keng In meluncur ke atas!

Dia juga menggerakkan kaki menyusul ke atas.

Dia memang harus membebaskan diri dari kekuasaan Keng In, akan tetapi tidak begini caranya!

Untuk menyelamatkan diri melakukan pembunuhan keji dan curang seperti ini, betapa rendahnya itu!

Selama hidupnya dia tentu akan tersiksa oleh bayangan Keng In yang dibunuhnya secara pengecut dan curang.

Tidak!

Dia tidak boleh melakukan kecurangan yang rendah dan hina itu!

Ketika kepalanya tersembul ke permukaan air dan menyedot napas dalam-dalam, Milana melihat tubuh Keng In hampir tenggelam lagi.

Pemuda itu telah pingsan!

Cepat dia menyambar rambut pemuda itu yang riap-riapan karena gelungnya terlepas, kemudian melawan ombak menyeret tubuh Keng In berenang ke darat.

Sejam kemudian, setelah Milana mengeluarkan air dari dalam perut Keng In dengan jalan menindih perut pemuda yang ditelungkupkannya itu sehingga air keluar dari mulutnya, Keng In siuman kembali.

Dia membuka matanya dan sebagai seorang ahli silat tinggi, biarpun kepalanya masih agak pening, sekali bergerak dia telah meloncat bangun dan siap menghadapi lawan!

Melihat Milana duduk di atas rumput dengan pakaian masih basah kuyup, dia terheran dan teringatlah dia akan semua yang dialaminya.

"Ahhh, kau.... kau selamat, Milana?"

Tanyanya.

Milana tersenyum mengejek untuk menyembu-nyikan rasa malunya.

Dia hampir membunuh pemuda ini dan pertama kali yang keluar dari mulut pemuda itu setelah siuman dari pingsannya adalah menanyakan keselamatannya!

Betapa besar cinta pemuda itu kepadanya dan betapa besar bencinya kepada pemuda itu.

Dan dalam hal perasaan ini, lepas daripada jahat tidaknya kelakuan pemuda itu, dia harus merasa malu!

Bukankah cinta merupakan perasaan yang semurni-murninya, sedangkan benci merupakan perasaan yang sekotor-kotornya?

"Tentu saja aku selamat, Keng In.

Bermain dalam air merupakan permainanku sejak kecil!"

"Ehhhh? Dan engkau tadi hampir saja tenggelam ditelan ombak!"

"Hanya dugaanmu saja, memang aku sengaja memancing engkau agar mengira demikian."

"Tapi.... tapi.... apakah kau tidak di-serang gurita, atau ular, atau ikan besar seperti yang kualami? Aku.... aku sampai pingsan dan.... entah bagaimana aku dapat selamat sampai di sini. Apakah Suhu yang menolongku?"

Milana menggeleng kepala.

"Tidak ada ikan menyerangmu. Yang ada hanya aku. Bukan ikan yang menyerangmu, melainkan aku."

"Heehhh....?"

Keng in terbelalak kaget.

"Engkau yang menarik kakiku, dan engkau memukulku?"

Milana mengangguk.

"Dan betapa mudahnya kalau aku mau, betapa mudahnya membunuhmu."

"Kenapa tidak? Kenapa aku tidak mati? Kenapa kau tidak membunuhku dan.... siapakah yang menolongku?"

"Aku yang menyeretmu kembali ke darat selagi engkau pingsan."

"Mengapa, Milana? Bukankah amat mudah kalau hendak membunuhku yang sudah pingsan? Kenapa kau malah menolongku?"

"Aku bukan seorang pembunuh berdarah dingin yang kejam seperti engkau, Keng In. Melihat engkau tidak berdaya, aku malah tidak tega membunuhmu dan menyeretmu ke sini."

"Milana....!"

Keng In hendak memeluk dara itu, akan tetapi Milana mengelak.

"Itu berarti bahwa engkau pun cinta kepadaku, Milana! Ha-ha-ha, rela aku mati tiga kali rasanya kalau ditebus dengan cintamu kepadaku."

"Hemmm, jangan mengira bahwa tidak tega membunuh berarti jatuh cinta. Tidak Keng In. Aku tidak membunuhmu karena aku merasa terlalu rendah dan hina kalau membunuh seorang lawan yang tidak berdaya. Andaikata aku memiliki kepandaian lebih tinggi darimu, sudah lama engkau tewas olehku dalam sebuah pertandingan. Aku bukan keturunan pengecut!"

Setelah berkata demikian, dara ini cepat lari kembali ke pondoknya untuk menukar pakaiannya yang basah kuyup dan ketat menempel di tubuhnya itu.

Keng In terkulai penuh kekecewaan.

Harapannya akan cinta kasih Milana yang tadi membubung setinggi gunung kini pecah berantakan dan terhempas rata seperti air tumpah.

Dengan perasaan ter-tekan kekecewaan dan kedukaan, pemuda ini pergi menemui Cui-beng Koai-ong, gurunya yang bersamadhi di dalam sebuah gua di pantai Pulau Neraka, kemudian menangisi gurunya sambil minta bantuan gurunya agar kerinduan hatinya terobati dan keinginannya memperoleh Milana dengan penyerahan bulat itu terpenuhi.

Kakek yang seperti mayat itu tidak bergerak, juga tidak membuka matanya.

Bahkan bibirnya tidak bergerak, namun ada suara terdengar keluar dari dalam perutnya!

"Goblok engkau untuk jatuh cinta kepada seorang wanita!

Betapa mungkin memaksakan cinta dalam hati wanita yang selalu mudah berubah seperti angin, sebentar bertiup ke timur sebentar ke barat?

Mengikatkan diri dengan wanita berarti membuka pintu neraka yang akan menyiksamu!"

"Biarlah, Suhu. Apa pun akibatnya akan teecu hadapi asal teecu bisa mendapatkan diri Milana, dapat menerima penyerahan dirinya secara suka rela. Teecu tidak dapat melakukan paksaan karena teecu cinta kepadanya, teecu ingin dia menyerah bulat-bulat tanpa paksaan."

"Hemm, hanya ada satu jalan. Tanpa siasat tak mungkin niatmu terlaksana. Gadis puteri Pendekar Siluman itu memiliki kekerasan di balik kelembutannya, kekerasan melebihi baja yang takkan dapat ditundukkan. Kau cari kumpulan racun di dalam peti simpananku. Pergunakan bubuk racun merah dua bagian dicampur dengan sari racun lima warna, campurkan dalam makanan dan berikan kepadanya."

"Aihh....! Racun-racun itu adalah pembunuh-pembunuh yang tidak ada obatnya, Suhu!"

"Memang demikian. Akan tetapi kalau sudah dicampur dengan takaran itu, akan saling memunahkan dan berubah menjadi racun perampas ingatan. Gadismu itu akan lupa segala kalau kau beri racun campuran itu."

"Akan tetapi, apa gunanya kalau dia hilang ingatan, Suhu?"

"Tolol! Kalau dia lupa lagi siapa engkau, lupa siapa yang dibenci dan dicinta, apa sukarnya?"

"Tapi.... tapi...."

"Sudah! Pergilah, dan jangan ganggu aku!"

Keng In tidak berani membantah lagi.

Sampai dua hari lamanya dia termenung memikirkan jalan terbaik.

Dia ingin Milana menyerahkan diri dengan suka rela kepadanya, bukan membuat dara itu seperti boneka tanpa ingatan!

Tiba-tiba dia teringat ketika dahulu bersama Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong dan pasukan pengawal menawan Milana.

Kemudian muncul Gak Bun Beng, pemuda yang sejak kecil selalu menghadapinya sebagai musuh!

Dan pemuda itu telah menyerahkan Hok-mo-kiam kepada Milana, menolong gadis itu membebaskan diri dan rela mengorbankan diri menjadi tawanan.

Bahkan dia telah memukul Bun Beng dengan pukulan Toat-beng-tok-ci, akan tetapi Bun Beng yang sudah tak berdaya itu di tengah jalan dapat lolos berkat pertolongan orang sakti yang dia sangka tentulah paman gurunya sendiri, Bu-tek Siauw-jin.

Ah, ada hubungan apakah antara Bun Beng dan Milana?

Mudah saja diduga bahwa Bun Beng tentu mencinta Milana, kalau tidak, tak mungkin pemuda itu selain menyerahkan Hok-mo-kiam, juga membiarkan dara itu lolos dengan rela mengorbankan dirinya sendiri!

Akan tetapi bagaimana dengan Milana?

Cintakah Milana kepada pemuda itu?

Dia harus mengetahui lebih dulu akan hal ini sebelum dia menggunakan siasat seperti yang dikatakan gurunya.

Beberapa hari kemudian, ketika Milana sedang duduk seorang diri di dalam taman, Keng In datang menghampirinya dan berkata.

"Milana, aku amat berterima kasih kepadamu bahwa beberapa hari yang lalu engkau telah menyelamatkan nyawaku ketika aku pingsan di lautan."

Milana menoleh, kedua pipinya menjadi merah.

"Tak perlu kau mangejek, Keng In. Engkau pingsan karena kecuranganku dan aku sama sekali bukan menolongmu, hanya menghentikan niatku untuk membunuhmu secara pengecut."

"Betapapun juga, aku amat berterima kasih kepadamu, Milana. Aku mengerti engkau tentu jemu melihat betapa aku selalu mengharapkan cintamu. Aku terlalu mencinta engkau, Milana dan hal ini terdorong oleh kenyataan bahwa engkau belum mempunyai pilihan hati. Andaikata engkau telah mencinta seorang pria lain, hemm.... agaknya aku akan tahu diri dan akan mundur."

Tiba-tiba Milana memandang dengan tajam penuh selidik.

"Benarkah itu, Keng In? Apakah engkau akan membebaskan aku kalau aku telah mencinta seorang pria lain?"

"Hemm.... agaknya begitulah. Aku akan malu sekali kalau mengharapkan cinta kasih seorang wanita yang telah mempunyai pilihan orang lain. Hal itu akan amat rendah dan memalukan bagi seorang pria gagah. Kalau engkau memang telah jatuh cinta kepada orang lain, aku takkan menjadi penasaran lagi dan mengerti mengapa kau tidak dapat membalas cintaku."

"Kalau begitu, Keng In. Dengarlah baik-baik. Aku memang telah mencinta pria lain maka aku tidak mungkin dapat menerima dan membalas cintamu!"

Kalau saja wajah pemuda itu tidak berwarna pucat selalu, kiranya tentu Milana akan melihat perubahan mukanya.

Jantung pemuda itu seperti ditusuk rasanya dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk menekan perasaannya yang tertusuk.

"Hemm.... benarkah itu, Milana? Ataukah hanya untuk alasan kosong belaka? Kalau memang benar kata-katamu, engkau harus dapat menyebutkan nama orang yang kau cinta itu."

"Orangnya sudah kau kenal, Keng In. Dia adalah Gak Bun Beng...."

"Aaahhh....!"

Seruan sederhana ini bukan karena kaget, melainkan karena kemarahan yang ditahan-tahannya.

Dugaannya tidak keliru.

Pemuda keparat Gak Bun Beng itu!

"Tapi dia itu anak haram!"

"Wan Keng In! Aku melarangmu menyebutnya dengan penghinaan seperti itu!"

Milana bangkit berdiri, bertolak pinggang dan matanya mengeluarkan sinar berapi-api!

Hal ini tambah meyakinkan hati Keng In bahwa benar-benar dara yang dipujanya ini mencinta Bun Beng!

"Memang kenyataannya begitu!

Dia putera mendiang tokoh iblis Kang-thouw-kwi Gak Liat, sebagai hasil perkosaan iblis itu kepada seorang murid Siauw-lim-pai!"

"Perbuatan ayah atau ibu tiada sangkut-pautnya dengan anaknya! Apa pun yang menjadi riwayat hidup orang tuanya, aku tidak peduli dan Gak Bun Beng tetap merupakan satu-satunya pria yang paling baik bagiku, yang ku.... cinta! Nah, aku sudah mengaku, engkau harus memegang janjimu, Wan Keng In!"

Keng In menahan kemarahannya yang meluap-luap, timbul dari cemburu dan iri hati.

Dia meninggalkan Milana dan gadis ini diam-diam merasa khawatir juga.

Dia tahu bahwa seorang yang sudah rusak akhlaknya seperti pemuda Pulau Neraka ini, sukar diketahui isi hatinya, dan untuk meloloskan diri dari pulau itu seolah-olah tidak ada kemungkinan lagi.

Dia hanya mengharapkan pertolongan dari ibunya, atau ayahnya.

Tidak mungkin ayah bundanya, juga Gak Bun Beng akan diam saja.

Tentu tiga orang itu akan mencarinya dan setiap hari dia mengharap-harap munculnya seorang di antara mereka, atau kalau mungkin ketiganya karena untuk menghadapi Wan Keng In dan gurunya, kecuali ayahnya, agaknya belum tentu kalau ibunya atau Bun Beng akan dapat menang.

Selain mereka bertiga, dia pun mengharapkan pertolongan dari Kaisar yang menjadi kakeknya.

Tentu kakeknya itu kalau mendengar bahwa dia diculik orang akan mengerahkan pasukan mencarinya.

Akan tetapi Milana sama sekali tidak tahu bahwa Wan Keng In akan mengambil siasat yang amat keji, yang sama sekali tidak pernah diduganya, yaitu menggunakan racun yang dicampur dalam makanannya.

Tanpa disadarinya, semenjak makan hidangan yang dicampuri racun oleh Keng In, lambat laun Milana menjadi makin pelupa dan akhirnya dia telah kehilangan ingatan sama sekali!

Hanya samar-samar saja dia masih ingat akan orang-orang yang paling dekat dengan hatinya, yaitu ayah bundanya, dan terutama Gak Bun Beng!

Setelah melihat hasil dari racun seperti yang diajarkan gurunya sehingga keadaan dara tawanannya itu benar-benar tidak ingat apa-apa lagi, Wan Keng In lalu melanjutkan siasatnya.

Malam hari itu dia memasuki kamar pondok Milana, membuka jendela dan sengaja mengeluarkan suara.

"Sstttt.... Milana....!"

Milana yang sudah hampir pulas itu bangun.

Biarpun dia lupa ingatan, namun dia tidak kehilangan kepandaiannya dan sedikit suara itu cukup membuat dia ter-bangun dan siap menghadapi bahaya yang mengancam!

"Siapa....?"

Tegurnya.

"Aku.... Gak Bun Beng!"

"Gak.... Bun.... Beng....?"

Milana sudah meloncat turun dari pembaringannya dan dengan mata terbelalak dia melihat laki-laki yang sudah berada di dalam kamarnya itu.

Seorang pemuda berpakaian sederhana, dengan memakai caping bundar lebar.

Keadaan dalam kamarnya remang-remang sehingga wajah orang itu tidak nampak jelas, akan tetapi andaikata keadaan terang sekalipun, Milana tidak akan mengenal lagi wajah orang yang dicintanya itu.

Yang jelas teringat olehnya hanyalah nama Gak Bun Beng!

Kini melihat orang yang selama ini dipikirkan dan dirindukannya telah datang, tentu saja dia girang bukan main!

"Milana....

betapa rinduku kepadamu....

aku cinta padamu, Milana.

Aku Gak Bun Beng kekasihmu...."

"Koko....!"

Milana berseru lirih dan dalam suaranya ini tercurah seluruh perasaan rindunya.

Ketika pemuda itu memeluknya, Milana menekan mukanya di dada yang bidang itu sambil menangis terisak-isak, tangis kegirangan!

Biarpun pada saat itu Milana berada di bawah pengaruh racun perampas ingatan, namun perasaannya masih berkesan bahwa dia berada dalam keadaan mengkhawatirkan dan yang dirindukannya hanyalah ayah bundanya dan Gak Bun Beng, maka begitu pemuda itu muncul, tentu saja dia menjadi terharu, lega, dan girang.

Kegirangan yang meluap ini membuat dia tidak menolak, bahkan menyambut dengan hangat peluk cium pemuda itu untuk (Lanjut ke

Jilid 46) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 46 melepaskan rindunya yang menyesak dada.

"Milana, kekasihku.... jiwaku sayang...."

Pemuda itu berbisik penuh gairah, mencium dahi, mata, hidung, bibir dengan penuh kemesraan sedangkan dara itu menyambut dengan mata dipejamkan, penuh penyerahan, penuh kebahagiaan.

Akan tetapi ketika pemuda itu memondongnya ke atas pembaringan, ketika dia merasa betapa tangan pemuda itu bergerak melanggar batas kesusilaan, bahkan mulai berusaha menanggalkan pakaiannya, Milana terkejut bukan main, membuka matanya dan meronta sambil berseru.

"Jangan....!"

"Mengapa, Milana? Aku Gak Bun Beng kekasihmu...."

Pemuda itu yang bukan lain adalah Wan Keng In yang menyamar sebagai Bun Beng, memeluk dan mendesak sambil mencium dengan nafsu berahi yang sudah memuncak ke ubun-ubunnya.

"Jangan....!"

Milana kembali menepis tangan yang nakal itu.

"Milana, bukankah kita saling mencinta? Kau akan menjadi isteriku, Sayang...."

"Koko, jangan begini! Biarpun kita saling mencinta, akan tetapi kita belum menikah dan aku bukanlah seorang wanita rendahan yang dengan mudah dan murah dapat menyerahkan diri begini saja!"

Suara dara itu terdengar tegas bercampur nada tidak senang dan kecewa. Milana....!"

Kini Milana meronta, melepaskan diri dan meloncat turun dari atas pembaringan.

Sepasang matanya masih basah oleh air mata kegirangan tadi, akan tetapi alisnya berkerut dan suaranya tegas.

"Gak-koko! Aku menganggap engkau seorang laki-laki yang paling baik di dunia ini, akan tetapi mengapa sekarang engkau hendak melakukan hal yang amat keji?"

"Milana.... aku cinta padamu...."

"Gak-koko, apa yang hendak kau lakukan ini sama sekali bukanlah cinta, melainkan nafsu iblis....! Apakah engkau hendak mengecewakan hatiku dan menodai kasih sayangku?"

Wan Keng In menekan perasaan yang sudah bergelora.

Dia telah menggunakan siasat, meracuni gadis ini agar lupa segala, kemudian dia menyamar sebagai Bun Beng.

Gadis itu memang tertipu, menganggap dia Gak Bun Beng, akan tetapi tetap saja siasatnya tidak berhasil mendapatkan diri dara itu dengan suka rela.

Tadinya, kalau sampai usahanya berhasil dan Milana menyerahkan diri kepada "Gak Bun Beng"

Yang diwakilinya, maka perlahan-lahan dia akan memunahkan racun yang mempengaruhi diri Milana dan karena sudah terlanjur menyerahkan diri, tentu Milana akan menerima kenyataan bahwa dia telah menjadi milik Wan Keng In!

Siapa mengira, biarpun berada dalam keadaan tidak sadar dan lupa ingatan, ternyata gadis itu masih saja tetap mempertahankan kehormatannya, biarpun terhadap Gak Bun Beng, pemuda yiang dicintanya!

"Milana, engkau mengecewakan hatiku!"

Dia membentak marah akan tetapi masih ingat untuk memburukkan nama Gak Bun Beng di depan dara itu.

"Berbulan-bulan aku menahan rindu dan setelah sekarang kita bertemu, engkau menolak pencurahan kasih sayangku. Hemm, apa kau kira tidak ada wanita lain yang akan suka melayani cintaku?"

Setelah berkata demikian, Wan Keng In meninggalkan pondok itu.

"Gak-koko....!"

Milana menjerit dan mengejar, akan tetapi melihat bayangan pemuda itu lenyap dalam gelap, dia lalu kembali ke dalam kamarnya, menjatuhkan diri ke atas pembaringan dan menangis.

Milana merasa bingung sekali.

Dunia seakan-akan menjadi tempat yang tidak menyenangkan baginya.

Dia selalu merasa bingung dan meragu, sekarang ditambah lagi dengan tingkah laki-laki yang paling dicintanya, yang demikian tega hendak merenggut kehormatannya dengan paksa!

Sementara itu Wan Keng In marah bukan main.

Semua ini gara-gara Gak Bun Beng, pikirnya.

Kebenciannya memuncak setelah dia mendengar sendiri betapa Milana mencinta pemuda yang dianggapnya musuh besar itu.

Dia harus mencari Gak Bun Beng, dan membunuhnya!

Baru puas rasa hatinya kalau saingan itu lenyap dari permukaan bumi.

Dia lalu memanggil Kong To Tek, tokoh Pulau Neraka berkepala gundul bermuka merah muda yang menjadi orang kepercayaannya, berpesan kepada pembantu ini agar menjaga Pulau Neraka, melayani kebutuhan gurunya, dan selama dia pergi meninggalkan pulau agar mencampuri hidangan Milana dengan bubukan obat yang telah disiapkannya, hanya sedikit perlu untuk menjaga agar ingatan dara itu tetap kabur dan pelupa!

Setelah meninggalkan semua pesan itu, malam itu juga Wan Keng In naik perahu meninggalkan Pulau Neraka.

Beberapa hari kemudian, semenjak Wan Keng In mendarat dan mulai dengan perjalanannya untuk mencari Gak Bun Beng, mulai geger pula dunia kang-ouw dengan munculnya seorang pemuda yang amat kejam dan ganas, yang menyebar maut di antara orang-orang gagah, seorang pemuda yang lihai bukan main, yang memegang pedang Lam-mo-kiam dan yang bernama....

Gak Bun Beng!

Tentu saja pemuda itu adalah Wan Keng In!

Karena bencinya kepada Bun Beng yang dianggapnya telah merebut hati kekasihnya, dia sengaja menggunakan nama musuhnya untuk malang-melintang, mendatangi perkumpulan-perkumpulan dari golongan bersih, membunuh tokoh-tokohnya yang berani melawannya.

Sebentar saja nama Lam-mo-kiam (Pedang Iblis Jantan) dikenal oleh dunia kang-ouw dengan hati gentar, dan nama Gak Bun Beng yang selalu mengaku keturunan atau putera mendiang datuk kaum sesat Gak Liat itu juga dikenal dengan hati benci.

Memang Keng In sengaja memperkenalkan nama Gak Bun Beng sebagai putera Gak Liat.

Biarpun Gak Liat sudah meninggal dunia, namun nama Kang-thouw-kwi Gak Liat sebagai seorang di antara para datuk kaum sesat amatlah terkenal, maka tidak ada seorang pun yang meragukan lagi bahwa keturunan datuk itu yang bernama Gak Bun Beng tentulah juga jahat sekali seperti ayahnya!

Betapa pun jahat perbuatan Wan Keng In itu, namun hal ini tentu saja tidak disadari oleh pemuda itu sendiri.

Dia menganggap bahwa Bun Beng amat jahat, menghancurkan harapannya, merusak cinta kasihnya, menggagalkan hubungannya dengan dara yang dicintanya.

Dia menganggap Bun Beng semenjak dahulu menantang dan memusuhinya, dan dia menganggap sudah sepatutnya kalau Bun Beng dihukumnya, di antaranya dengan merusak namanya di dunia kang-ouw!

Dan anggapan Wan Keng In ini bukanlah dibuat-buat.

Sudah menjadi kebiasaan kita yang di-anggap lajim bahwa kita menilai seorang dari keturunannya, dari masa lalu, dan karena penilaian inilah maka selalu terdapat permusuhan di dunia ini.

Wan Keng In sudah mendengar bahwa Gak Bun Beng adalah seorang anak haram yang lahir dari seorang wanita yang diperkosa oleh Gak Liat Si Datuk kaum sesat.

Tentu saja dengan sendirinya dia menganggap rendah Gak Bun Beng, dan dianggapnya seorang yang hina dan sudah sepatutnya kalau jahat!

Perahu kecil itu meluncur cepat sekali di antara gumpalan-gumpalan es besar kecil yang malang-melintang di atas air laut.

Dara muda yang mendayung perahu dengan kedua tangannya yang kecil halus namun penuh berisi tenaga sakti itu, mendayung sambil menangis terisak-isak.

Dibiarkannya air matanya turun mengalir di sepanjang hidungnya, di kanan-kiri hidung terus ke pinggir mulut dan meni-tik turun ke dada melalui dagunya.

Matanya tak pernah berkejap, memandang ke depan dengan kosong.

Setelah perahu kecil itu keluar dari gumpalan-gumpalan es, layar kecil dipasang dan angin mulai menggerakkan perahu, dara itu bangkit berdiri, mengemudikan layar berdiri termenung seperti arca.

Isaknya tak terdengar lagi, akan tetapi air mata masih bertitik turun jarang-jarang.

Tangan kiri memegangi tali layar tangan kanan meraba gagang pedang di pinggang.

"Singggg....!"

Tampak kilat berkelebat ketika pedang itu tercabut keluar dari sarungnya.

Tangan kanan itu membawa pedang di depan dahi, tegak dan seolah-olah hendak diciumnya.

Bibir yang halus tipis agak pucat itu bergerak dan terdengar suaranya lirih.

"Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, aku bersumpah untuk membunuh engkau dan semua kaki tanganmu!"

Agaknya sumpah ini meredakan kemarahan dan kedukaan hati Giam Kwi Hong.

Dia menyarungkan kembali pedang Lim-mo-kiam dan duduk di perahu yang meluncur cepat terdorong angin menuju ke darat.

Setelah kini duduk melamun sambil memandang ke barat, arah daratan besar, terbayanglah dia akan wajah seorang yang selama ini amat dirindukannya.

Wajah yang tampan gagah sederhana, wajah Gak Bun Beng!

Dia mengeluh ketika teringat betapa Gak Bun Beng, pria satu-satunya di dunia ini yang telah berhasil merampas kasih hatinya, telah ditunangkan dengan Milana, puteri pamannya.

Hancurlah hatinya.

Musnahlah harapan untuk hidup bahagia!

Memang lucu den janggal sekali manusia dan tingkahnya hidup di dunia ini.

Kita sebagai manusia selalu rindu akan kebahagiaan, selalu gandrung dan mengejar-ngejar apa yang disebut kebahagiaan!

Apakah sebenarnya kebahagiaan yang sebutannya dikenal oleh semua orang, yang selalu dicari dan dikejar oleh manusia, akan tetapi yang agaknya tidak ada seorang pun manusia memilikinya itu?

Apakah sesungguhnya kebahagiaan?

Apakah itu yang disebut hidup bahagia?

Adakah kebahagiaan itu suatu angan-angan kosong yang hanya direka oleh manusia yang merasa tidak bahagia?

Ataukah kebahagiaan itu suatu keadaan tertentu yang dapat dirasakan dan dihayati?

Orang dalam keadaan remuk redam hatinya karena kegagalan cinta seperti Kwi Hong, kiranya kebahagiaan berarti kalau dia dapat hidup bersama orang yang dicintanya!

Orang yang menderita sakit berat, agaknya akan menganggap bahwa kebahagiaan adalah kalau dia sembuh dari penyakitnya!

Orang yang kelaparan tentu akan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sepiring nasi yang akan mengenyangkan perutnya, atau bagi seorang yang kehausan kebahagiaan adalah kalau dia dapat meneguk air jernih sejuk sepuas perutnya!

Orang yang rindu akan kebahagiaan, yang mengejar-ngejar kebahagiaan, berarti bahwa orang itu tidak mengenal kebahagiaan.

Kalau dia tidak mengenal kebahagiaan, bagaimana mungkin dia akan dapat berhasil mencari dan menemukan kebahagiaan?

Kalau dalam pencariannya dia menemukan, tentu yang ditemukan itu bukan kebahagiaan, melainkan sesuatu yang diinginkannya, dan sesuatu yang diinginkan kebetulan sesuatu yang sudah dikenalnya atau dialaminya.

Tak dapat disangkal pula karena memang kenyataan bahwa terpenuhinya keinginan mendatangkan kepuasan, akan tetapi kepuasan ini disusul dengan kebosanan sehingga timbul pula keinginan untuk hal-hal iain yang belum dapat diraihnya.

Demikian terus-menerus kita terseret oleh lingkaran setan yang tiada berkeputusan, dan kebahagiaan pun tak kunjung tiba!

Yang terpenting bagi kita adalah untuk mengetahui mengapa kita mencari kebahagiaan?

Orang yang mencari kebahagiaan berarti tidak berbahagia, bukan?

Kalau sudah bahagia tak mungkin mencari kebahagiaan lagi!

Kalau kita tidak berbahagia, apa sebabnya kita tidak berbahagia?

Inilah yang penting!

Seperti orang yang mencari kewarasan tentulah orang yang tidak waras!

Dan yang penting adalah untuk mengetahui mengapa kita tidak waras, dan apa penyakit yang kita derita.

Yang penting adalah menghilangkan penyakit itu, bukannya mengejar kewarasan.

Yang penting adalah menghilangkan penyebab tidak bahagia atau yang biasa disebut derita dan seggsara itu, bukannya mengejar bahagia!

Kalau tidak ada lagi yang menyebabkan kita tidak bahagia, maka kebahagiaan tentu ada!

Kwi Hong pun dirusak oleh pikirannya sendiri yang seperti semua manusia, tak pernah mengenal diri dan keadaan sendiri, tak pernah puas dengan keadaan seperti apa adanya.

Kekecewaannya mendengar Bun Beng bertunangan dengan Milana, penyesalannya karena dia telah tertipu oleh Bhong Ji Kun dan kawan-kawannya sehingga dia melakukan kesalahan besar di depan pamannya, membuat dia berduka dan sakit hati.

Duka, sakit hati, penyesalan dan kemarahan akhirnya membentuk watak yang keras di dalam hati Kwi Hong.

Membuat dia seolah-olah tidak peduli lagi akan hidupnya, tidak peduli akan keadaan sekitarnya.

Perahunya meluncur cepat, lebih cepat dari tadi setelah berhasil keluar dari gumpalan es yang mengambang di permukaan air kini menuju ke barat, ke arah daratan.

Badai yang mengamuk di bagian selatan Pulau Es tidak mencapai tempat yang dilalui Kwi Hong itu, akan tetapi tetap saja pengaruhnya ada pada air laut yang bergelombang, akan tetapi tidak mengganggu Kwi Hong yang pandai menguasai perahu layarnya, bahkan perahu itu terdorong pula oleh lajunya ombak.

Lima orang nelayan yang melihat betapa di udara sebelah selatan dan timur gelap, tanda bahwa ada badai mengamuk, memandang terheran-heran ketika melihat sebuah perahu layar kecil melaju ke arah pantai.

Mereka sendiri sebagai nelayan-nelayan yang berpengalaman, melihat ancaman badai, tidak berani melanjutkan usaha mereka mencari ikan, dan hanya menanti di pantai.

Tadinya mereka mengira bahwa perahu layar itu tentu milik seorang nelayan yang terserang badai sehingga tersesat sampai ke tempat itu.

Akan tetapi betapa kaget dan herannya hati mereka ketika perahu layar itu tiba di pantai, mereka melihat seorang dara yang cantik jelita turun dari perahu layar meloncat ke darat dan sama sekali tidak mempedulikan mereka.

Akan tetapi tiga orang di antara para nelayan itu adalah orang-orang muda yang kasar.

Melihat seorang dara cantik sendirian saja turun dari perahu itu, mereka segera menghampiri, dan seorang di antara mereka sudah berseru.

"Aiihhh, Nona manis, tunggu dulu!"

"A-ban, jangan ganggu orang!"

Dua orang nelayan tua yang tidak ikut maju menegur, akan tetapi A-ban dan dua orang kawannya itu tidak mau peduli akan teguran itu dan berlari mengejar Kwi Hong yang sudah melangkah hendak pergi.

Mendengar seruan itu, Kwi Hong menghentikan langkahnya, tanpa menoleh, hanya berdiri tegak seperti arca, akan tetapi sepasang alisnya berkerut dan sinar matanya mengeluarkan cahaya kilat.

Hatinya yang sedang dilanda duka, kecewa, penyesa-lan, kemarahan dan sakit hati itu seperti dibakar mendengar orang secara kasar dan kurang ajar menyebutnya nona manis!

Tiga orang nelayan muda itu dengan sikap cengar-cengir sudah tiba di depan Kwi Hong dan mereka makin kagum melihat dara ini dari dekat karena Kwi Hong memang memiliki kecantikan yang mengagumkan.

Melihat alis itu berkerut dan bibir manis itu cemberut, tiga orang itu tersenyum menyeringai.

Mereka mengira bahwa wanita ini tentu bersikap "jual mahal"

Karena jelas bahwa satu kali seruan saja cukup membuat wanita itu berhenti, tanda bahwa "ada kontak".

"Aihhh, Nona, jangan cemberut. Kalau kau marah makin manis, tidak kuat aku memandangnya!"

Kata orang pertama.

"Jangan jual mahal ah, berapa sih harganya?"

Orang ke dua menyambung.

"Kami hanya ingin bicara denganmu, Nona cantik manis, siapakah nama, di mana tempat tinggal, berapa usia, sudah menikah atau belum?"

Orang ke tiga berkata dengan suara dibuat-buat seperti orang bernyanyi.

"Singgg....! Crat-crat-crat....!"

Tiga orang nelayan itu hanya melihat sinar kilat berkelebat menyambar, mereka tidak sempat lagi terheran karena sinar kilat itu adalah sinar pedang Li-mo-kiam yang sudah menyambar ke arah leher mereka dan robohlah tiga orang ini bergelimpangan dengan leher hampir putus dan nyawa melayang, seketika itu juga.

"Ahhh....!"

Dua orang nelayan tua memandang terbelalak dan seketika mereka menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil.

Kwi Hong sendiri terkejut menyaksikan akibat kemarahannya.

Sejenak dia tertegun dan terheran mengapa tiga orang itu dibunuhnya?

Memang mereka kurang ajar, akan tetapi dia sendiri kini merasa betapa dia telah bertindak keterlaluan, karena kesalahan mereka itu belum patut untuk dihukum dengan kematian!

Dia menyesal, akan tetapi sudah terlambat.

Kini mendengar seruan kaget itu dia menoleh dan melihat dua orang nelayan tua berlutut dengan ketakutan, dia lalu berkata, suaranya halus seperti biasa.

"Paman berdua tidak perlu takut. Mereka ini menghinaku dan sudah mati. Kuburlah mayat mereka dan ini perahuku boleh kalian ambil. Kuberikan kepada kalian."

Setelah berkata demikian, Kwi Hong berkelebat dan sekejap mata saja dia telah meloncat dan berlari jauh, kemudian lenyap di antara pohon-pohon.

Dua orang kakek itu terbelalak, sampai lama tidak dapat bangkit berdiri mengira bahwa wanita yang turun dari perahu di waktu laut bergelombang itu tentu seorang siluman atau iblis penghuni lautan!

Semenjak Li-mo-kiam yang sejak diciptakannya selalu haus darah itu berhasil minum darah tiga orang nelayan, pedang iblis itu menjadi makin haus darah.

Pengaruhnya ini dengan cepat dan mudah menjalar ke dalam pikiran Kwi Hong yang pada saat itu pun sedang dihimpit sakit hati, dendam, kekecewaan, kemarahan dan kedukaan, sehingga dara ini berubah menjadi seorang dara yang ganas sekali.

Pendidikan dasar semenjak dia kecil di Pulau Es, gemblengan yang didapatnya dari Pendekar Super Sakti, tentu saja cukup kuat untuk mencegahnya terseret ke dalam lembah kejahatan.

Tidak, Giam Kwi Hong masih belum menjadi seorang wanita iblis yang suka melakukan kejahatan sebagai kesenangannya, sama sekali tidak.

Dia masih berwatak pendekar yang selalu berhasrat menentang kejahatan, akan tetapi perubahan wataknya itu membuat dia menjadi seorang yang amat kejam dan ganas.

Hal ini terbukti di sepanjang perjalanannya menuju ke kota raja.

Setiap kali dia bertemu dengan orang yang dianggapnya jahat, dengan perampok dan bajak sungai, tentu mereka itu menjadi korban kehausan Li-mo-kiam dan dibasminya semua sampai habis ke akar-akarnya, tidak seorang pun diberi ampun.

Maka muncullah nama baru yang amat ditakuti oleh golongan hitam, julukan yang dengan sendirinya diperoleh Kwi Hong karena pedang dan keganasannya.

Perjalanannya ke kota raja dari Pulau Es ini menggoreskan jejak yang mendalam karena perbuatannya membasmi para penjahat itu, dan berkumandanglah nama julukan Mo-kiam Lihiap (Pendekar Wanita Pedang Iblis)!

Karena merasa menyesal sekali bahwa dia telah tertipu oleh para pemberontak sehingga dia melakukan kesalahan besar kepada pamannya, bahkan dialah yang menjadi gara-gara sampai bibi Phoa Ciok Lin tewas, Kwi Hong menjadi seorang pendendam besar dan perasaan ini ditambah kekecewaan dan kedukaan membuat dia seorang yang tidak mengacuhkan segala sesuatu, dan dia menjadi pula seorang pembenci!

Beberapa pekan kemudian tibalah dia di kota raja yang sekarang sudah aman.

Dia mulai melakukan penyelidikan dan mendengar betapa pasukan pemberontak sudah hancur sama sekali oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Puteri Nirahai.

Hal ini tidak menarik hatinya karena dia memang sudah tahu.

Yang ingin diketahuinya adalah di mana adanya Milana dan....

terutama sekali Gak Bun Beng.

Akhirnya dia berhasil mendapat keterangan yang mengejutkan bahwa Milana, puteri dari Panglima Wanita Nirahai, cucu dari Kaisar sendiri, telah lama lenyap diculik orang!

Tidak ada yang tahu siapa penculiknya dan tidak ada pula yang tahu siapa atau di mana adanya Gak Bun Beng.

Hati Kwi Hong menjadi bimbang.

Kalau menurut pesan pamannya, dia harus mencari Milana dan Bun Beng.

Tapi kini sudah kurang semangatnya untuk melaksanakan perintah pamannya itu.

Apa perlunya mencari mereka?

Mereka bukanlah anak kecil.

Bertemu dengan Milana dan Bun Beng, melihat mereka berdua telah menjadi calon suami isteri, hanya akan menusuk perasaannya sendiri saja.

Pamannya telah membencinya.

Kalau dia berhasil menemukan Milana dan Bun Beng, berhasil mengajak mereka pulang ke Pulau Es, tentu dia hanya akan lebih menderita lagi.

Lebih baik tidak lagi bertemu dengan Milana, tidak lagi bertemu dengan pamannya.

Dia tidak lagi akan pergi ke Pulau Es!

Kwi Hong menggigit bibir menahan isaknya yang tersedu dari dalam dadanya.

Digunakan kekerasan hatinya untuk mena-han menetesnya air mata.

Tak perlu dia menangis.

Dia bisa hidup sendiri.

Memang dia seorang yang sebatangkara, seorang yatim piatu.

Ah, ada gurunya yang ke dua.

Bu-tek Siauw-jin!

Kakek sinting itulah satu-satunya orang yang baik kepadanya.

Teringat akan watak kakek yang sinting dan aneh itu, lenyaplah kedukaan hati Kwi Hong dan dia tersenyum geli sendiri.

Tentu saja!

Dia harus pergi mencari kakek yang menjadi gurunya itu, Bu-tek Siauw-jin, tokoh besar Pulau Neraka.

Tentu saja kakek itu kemungkinan besar kembali ke Pulau Neraka.

Berdebar tegang juga hatinya ketika ia mengingat akan hal ini.

Juga pemuda iblis itu, Wan Keng In, dan gurunya yang mengerikan, kakek Mayat Hidup yang berjuluk Cui-beng Koai-ong, berada di Pulau Neraka!

Sungguhpun hal ini pun belum tentu melihat kenyataan betapa pemuda yang menjadi putera bibi Lulu yang kini menjadi isteri pamannya di Pulau Es itu seringkali berkeliaran di daratan besar.

Andaikata benar berada di sana dan dia berjumpa dengan pemuda iblis itu, dia pun tidak takut.

Dia akan menyampaikan pesan bibi Lulu, memberi tahu bahwa bekas Ketua Pulau Neraka itu kini telah menjadi isteri Majikan Pulau Es dan minta supaya pemuda itu suka menyusul ibunya ke Pulau Es.

Akan tetapi kalau pemuda iblis itu tidak mau, dia tidak akan peduli.

Kalau pemuda itu masih memusuhinya seperti dahulu, dia tidak takut menghadapinya.

Setelah dia menerima gemblengan Bu-tek Siauw-jin dan memegang Li-mo-kiam, tidak takut lagi dia berhadapan dengan pemuda iblis itu atau gurunya sekalipun, atau siapa saja!

Dengan pikiran ini pergilah Kwi Hong meninggalkan kota raja, kembali ke utara dan kini tujuan perjalanan hanya satu, yaitu ke Pulau Neraka!

Dia maklum bahwa tidaklah mudah mencari Pulau Neraka akan tetapi dia pernah dibawa oleh bibi Lulu ke pulau itu, dan dapat mengira-ngirakan di sebelah mana letak Pulau Neraka.

Giam Kwi Hong melakukan perjalanan cepat, melalui pegunungan dan hutan-hutan yang sunyi.

Pada suatu pagi, ketika dia keluar dari sebuah hutan, dia melihat dari jauh orang-orang sedang bertempur.

Tiga orang yang bersenjata tongkat hitam melawan lima orang bersenjata toya panjang.

Biarpun ilmu tongkat tiga orang itu aneh dan cukup lihai, namun menghadapi pengeroyokan lima orang yang juga memiliki ilmu toya yang mirip-mirip aliran Siauw-lim-pai, mereka bertiga terdesak hebat.

Kwi Hong tidak mempedulikan urusan orang lain, akan tetapi melihat betapa pertandingan itu tidak adil dan berat sebelah, tiga orang dikeroyok lima, dia cepat meloncat ke tengah arena pertandingan sambil berseru.

"Tahan....!"

Delapan orang itu yang melihat bahwa yang melerai mereka hanya seorang gadis muda, tentu saja tidak mau berhenti bertanding, bahkan dua orang Pek-eng-pang yang merasa bahwa gadis itu mengganggu pihak mereka yang sudah hampir menang, mengira bahwa gadis itu tentu hendak membantu lawan.

Dengan marah mereka menggerakkan toya mereka dan membentak.

"Pergi kau!"

"Sing....! Trak-trakkk!"

Dua batang toya itu patah-patah bertemu dengan Li-mo-kiam.

"Berhenti dan jangan bertempur kataku!"

Kwi Hong membentak, mengelebatkan pedangnya.

Dua orang pemegang toya yaitu orang-orang dari perkumpulan Pek-eng-pang, terkejut dan terbelalak memandang toya yang sudah buntung di tangan mereka.

Toya mereka terbuat dari baja murni yang kuat, mengapa bertemu dengan pedang di tangan gadis itu seolah-olah berubah seperti sebatang bambu saja.

"Siapa kau?"

Seorang di antara lima orang Pek-eng-pang yang menjadi pemimpin mereka berkata.

Orang ini berpakaian seperti jubah pendeta, rambutnya digelung melengkung ke atas.

"Mengapa kau berani mencampuri urusan kami?"

"Aku siapa bukan soal, yang jelas kalian adalah orang-orang tak tahu malu dan pengecut, mengeroyok dengan jumlah lebih besar. Karena itu, aku tidak senang dan kalian harus berhenti bertempur. Kalian boleh bertempur kalau satu lawan satu, atau tiga lawan tiga."

"Perempuan muda yang sombong! Berani sekali kau menghina kami dari Pek-eng-pang, ya? Apakah kau sudah bosan hidup?"

Orang yang dandanannya seperti seorang saikong itu membentak.

"Bukan aku yang bosan hidup, akan tetapi kalian!"

Bentak Kwi Hong yang sudah marah sekali, pedang Li-mo-kiam di tangannya sudah menggetar.

"Siluman betina, kau boleh bantu tikus tikus Koai-tung-pang ini kalau sudah bosan hidup!"

Orang itu berkata dan memberi isyarat kepada empat orang kawannya.

"Tidak perlu dengan mereka, aku sendiri sudah cukup untuk melenyapkan kalian orang-orang sombong!"

Kwi Hong bergerak cepat sekali, pedangnya berubah menjadi kilat menyambar-nyambar.

Lima orang itu terkejut dan cepat mereka menangkis dan balas menyerang.

Akan tetapi, seperti juga tadi, begitu bertemu dengan Li-mo-kiam, toya mereka patah-patah dan sekali ini Li-mo-kiam tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan menyambar ganas ke depan.

Terdengar jerit lima kali disusul robohnya lima batang tubuh para anggauta Pek-eng-pang dan tewas seketika karena leher mereka ditembus pedang Li-mo-kiam yang ganas dan ampuh!

Melihat dara itu berdiri tegak memandang pedang Li-mo-kiam di tangan, pedang yang kembali sudah minum darah lima orang akan tetapi yang agaknya semua darah disedotnya habis karena di permukaan pedang itu sama sekali tidak tampak noda darah, tidak ada setetes pun, tiga orang anggauta Koai-tung-pang menggigil kakinya.

"Mo-kiam Lihiap...."

Mereka bertiga berbisik dan menjatuhkan diri berlutut.

"Kami menghaturkan terima kasih atas bantuan Lihiap,"

Kata seorang di antara mereka. Kwi Hong tersenyum sedikit dan menyimpan pedangnya.

"Kalian sudah mengenalku?"

"Baru sekarang kami bertemu dengan Lihiap, akan tetapi nama besar Mo-kiam Lihiap siapakah yang tidak mengenalnya. Harap Lihiap tidak kepalang menolong kami. Kami adalah anggauta-anggauta Koai-tung-pang di Bukit Srigala, sudah lama kami selalu diganggu oleh pihak Pek-eng-pang yang jauh lebih besar dari perkumpulan kami. Kalau mendengar bahwa ada lima orang anggauta mereka tewas, tentu mereka akan ke sini dan kami akan celaka."

"Lima orang telah mati semua, bagaimana mereka tahu?"

"Lihiap tidak mengerti. Di samping lima orang ini, tadi masih ada seorang lagi yang bersembunyi dan melihat keadaan. Mereka selalu begitu, melepas mata-mata melakukan penyelidikan. Sekarang orang itu tentu telah melapor dan kami akan celaka, mungkin perkumpulan kami akan diserbu! Kini mereka mendapat alasan yang kuat. Lima orang ang-gauta mereka tewas, sungguh hebat sekali...."

Pemimpin tiga orang itu berkata dengan suara gemetar mengandung rasa takut.

"Hemmm, kalian mengira bahwa aku membunuh mereka karena aku membantu kalian? Sama sekali bukan. Aku tidak mau mencampuri urusan kalian yang tiada sangkut pautnya dengan aku! Aku tadi melerai bukan untuk membantu kalian, melainkan karena tidak suka melihat perkelahian yang berat sebelah. Dan, aku membunuh karena mereka menghinaku. Sudahlah!"

Sebelum tiga orang anggauta Koai-tung-pang itu sempat membantah, tubuh Kwi Hong berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

Tiga orang itu saling pandang dengan muka pucat.

"Celaka....!"

Kata pemimpin mereka.

"Kalau begini, kita akan celaka. Lebih baik dia tadi tidak muncul, paling hebat kita hanya dirobohkan oleh orang-orang Pek-eng-pang dan mereka tentu tidak akan membunuh kita. Sekarang, keadaan lain lagi, bukan hanya kita akan celaka, bahkan seluruh Koai-tung-pang tentu akan dihancurkan oleh Pek-eng-pang."

"Lebih baik kita melapor kepada Pangcu (Ketua)!"

Usul seorang di antara mereka.

Tergesa-gesa mereka lalu berlari pergi, meninggalkan lima buah mayat itu untuk cepat-cepat melaporkan kepada ketua mereka di lereng Bukit Srigala yang tidak jauh dari tempat itu.

Kwi Hong sudah melanjutkan perjalanannya dengan cepat, tidak mempedulikan dan sudah melupakan lagi urusan tadi.

Akan tetapi tak lama kemudian, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya ketikar melihat debu mengepul dari depan dan muncullah sepuluh orang berlari-lari cepat mendatangi.

Mereka dikepalai oleh seorang saikong berjubah lebar yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.

Sepuluh orang itu semua memegang sebatang toya panjang dan melihat ini Kwi Hong dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang Pek-eng-pang, kawan-kawan dari lima orang yang dibunuhnya tadi.

Sinar matanya menjadi berkilat berbahaya karena dara ini telah menjadi marah sekali.

"Dia inilah orangnya!"

Seorang di antara mereka menuding, agaknya orang inilah yang tadi menjadi mata-mata dan yang menyaksikan ketika lima orang anggauta mereka itu tewas oleh pedang Li-mo-kiam di tangan Kwi Hong.

Mereka sudah tiba di depan Kwi Hong dan saikong itu membentak marah.

"Nona, benarkah engkau telah membunuh mati lima orang anggauta kami?"

"Kalau benar demikian, kalian mau apakah?"

Saikong itu menjadi makin marah, toya di tangannya sudah bergerak seolah-olah dia hendak menyerang.

"Hemmmm, engkau benar-benar seorang wanita muda yang sombong sekali. Kalau benar demikian, mengapa kau membunuh para anggauta kami?"

"Mereka telah menghinaku, tentu saja kubunuh."

"Perempuan rendah, kau sungguh kejam. Siluman betina yang harus dienyahkan dari muka bumi!"

Saikong itu berteriak dan memberi isyarat kepada anak buahnya. Mereka menyerbu dengan toya mereka sambil mengurung Kwi Hong.

"Awas pedangnya tajam sekali!"

Teriak orang yang tadi mengintai dan melihat betapa toya kawan-kawannya patah semua bertemu dengan pedang.

Akan tetapi teriakannya terlambat karena sudah ada dua batang toya yang patah bertemu pedang, bahkan pedang itu terus membacok ke depan dan dua orang anggauta terpelanting mandi darah!

"Kurung dan serang!

Jangan adukan senjata!"

Saikong itu berseru dan dia sendiri menerjang dengan hebatnya.

Gerakan saikong ini memang hebat, tenaganya besar dan permainan toyanya adalah permainan ilmu toya dari Siauw-lim-pai yang sudah bercampur dengan ilmu silat lain dari golongan hitam.

Kwi Hong bersikap tenang dan terpaksa dia harus mengelak ke sana ke mari karena datangnya senjata lawan seperti hujan.

Mereka berlaku cerdik, mengeroyoknya dari jarak jauh, tidak mau mengadu senjata dan mengandalkan toya mereka yang panjang untuk menyerang darii segenap penjuru.

Tiba-tiba tampak datang delapan orang yang kesemuanya memegang tongkat hitam.

Itulah rombongan Koai-tung-pang yang juga dipimpin oleh ketuanya.

Begitu tiba di situ dan melihat gadis perkasa itu dikeroyok orang-orang Pek-eng-pang sedangkan dua orang di antara mereka telah roboh, Ketua Koai-tung-pang berseru.

"Pek-eng-pangcu (Ketua Pek-eng-pang) dia itu adalah Mo-kiam Lihiap, musuh kita bersama. Mari kami bantu kalian!"

Kini delapan orang Koai-tung-pang itu serentak maju dan mengeroyok Kwi Hong. Tentu saja gadis ini menjadi marah sekali.

"Bagus! Majulah orang-orang pengkhianat dan pengecut!"

Dia begitu marahnya sehingga dialah yang menerjang maju ke orang-orang Koai-tung-pang, mengelebatkan pedangnya dan menggunakan gin-kangnya.

"Singgg-trang-trang-trakk!"

Tiga batang tongkat patah-patah dan dua orang anggauta Koai-tung-pang roboh dan tewas seketika oleh babatan pedang Li-mo-kiam.

Akan tetapi teman-temannya mengurung ketat.

Kini masih ada delapan orang Pek-eng-pang dan enam orang Koai-tung-pang yang mengurung, menyerang dari jarak jauh dan selalu menarik senjata mereka kalau sinar pedang Li-mo-kiam berkelebat.

Menghadapi pengeroyokan ini, biarpun tidak terdesak, Kwi Hong merasa repot juga.

"Wuuuttt.... singgg.... aughhh....!"

Teriakan saling susul terdengar ketika ada sinar kilat menyambar dari luar kepungan, disusul robohnya dua orang anggauta Pek-eng-pang.

Pengepungan menjadi kacau dan mereka cepat membalik.

Kiranya di situ telah berdiri seorang pemuda tampan yang memegang sebatang pedang yang serupa dengan pedang yang berada di tangan Kwi Hong, hanya agak lebih pan-jang.

"Nona Kwi Hong, jangan khawatir, aku membantumu!"

Biarpun Kwi Hong terheran melihat Wan Keng In, pemuda iblis dari Pulau Neraka itu bersikap membantunya, namun dia memang tidak senang kepada pemuda itu, dan membentak.

"Aku tidak butuh bantuanmu!"

"Ha-ha-ha, betapapun juga, aku mau membantumu. Nanti saja kita bicara, sekarang mari kita berlumba membasmi cacing-cacing ini, kita lihat siapa yang lebih hebat antara murid Cui-beng Koai-ong dan murid Bu-tek Siauw-jin!"

"Boleh kau coba! Li-mo-kiam ini tidak akan kalah oleh Lam-mo-kiam itu!"

Jawab Kwi Hong yang segera mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan para pengeroyok.

Wan Keng In juga tidak mau kalah, pedang Lam-mo-kiam di tangannya berkelebatan seperti naga sakti mengamuk.

Yang celaka adalah para pengeroyok itu.

Baru mengeroyok gadis pemegang Li-mo-kiam saja sudah payah, kini ditambah lagi pemuda lihai yang membawa Lam-mo-kiam, Sepasang Pedang Iblis itu mengamuk dan seolah-olah hidup di tangan pemuda dan gadis itu.

Darah berceceran dan muncrat dari tubuh yang hampir putus, mayat berserakan dan tak lama kemudian, habislah semua pengeroyok termasuk ketua kedua buah perkumpulan itu.

Tinggal Kwi Hong dan Keng In yang berdiri memandang pedang mereka yang sedikit pun tidak bernoda darah biarpun Sepasang Pedang Iblis itu telah minum darah belasan orang!

"Ha-ha-ha!

Engkau tidak kecewa menjadi murid Susiok!"

Keng In memuji dan bukan pujian kosong karena dia betul-betul merasa kagum.

Diam-diam dia ingin sekali membuktikan apakah gadis murid susioknya ini akan mampu menandinginya.

Di lain pihak, Kwi Hong juga terheran-heran melihat sikap Keng In yang lain dari dahulu.

Dahulu pemuda iblis itu selalu memusuhinya, akan tetapi mengapa kini membantunya dan bersikap ramah.

Dia tidak peduli akan ini semua dan segera teringat akan pesan Lulu.

Dengan pedang Li-mo-kiam masih di tangan, para korban pedang itu masih berserakan di sekitar kakinya dan darah masih bercucuran, dia berkata.

"Wan Keng In, kebetulan sekali kita saling bertemu di sini. Aku membawa pesan dari ibumu untukmu."

Berkerut alis Keng In mendengar ini. Dia juga sedang terheran memikirkan ke mana perginya ibunya, sungguhpun hal itu tidak menyusahkan hatinya benar.

"Di mana kau berjumpa dengan ibuku? Dan apa yang dipesannya? Eh, Nona. Apakah tidak lebih baik kalau kita bicara di tempat lain, tidak di antara bangkai-bangkai yang menjijikkan ini?"

"Terserah kepadamu,"

Jawab Kwi Hong singkat.

Keng In meloncat dan berlari ke dalam hutan di sebelah kiri, dan Kwi Hong menyusulnya.

Kini mereka berhadapan di bawah sebatang pohon yang besar.

"Nah, di sini kan lebih enak. Akan tetapi mengapa kau tidak menyimpan pedangmu?"

Kwi Hong memandang pedang yang masih dipegangnya.

"Hemmm, menghadapi engkau yang memegang pedang terhunus, lebih baik aku tidak menyimpan pedangku."

Keng In mengangkat alisnya, memandang pedang Lam-mo-kiam di tangannya dan tertawa.

"Ha-ha, aku sampai lupa. Agaknya kau curiga kepadaku."

Dia menyarungkan pedangnya dan diturut pula oleh Kwi Hong.

"Aku bertemu dengan ibumu di Pulau Es...."

"Apa? Ibuku di Pulau Es?"

Keng In benar-benar terkejut sekali karena tidak disangka-sangkanya bahwa ibunya mau pergi ke Pulau Es.

"Benar, tidak itu saja. Malah sekarang Bibi Lulu telah menjadi isteri Paman Suma Han bersama Bibi Nirahai. Mereka bertiga tinggal di Pulau Es sebagai suami isteri."

Dapat dibayangkan betapa kaget hati pemuda itu.

Kaget, malu, kecewa dan marah.

Akhirnya ibunya tunduk juga kepada pria yang belasan tahun lamanya membikin sengsara hatinya.

Ingin dia marah-marah, ingin dia memaki-maki ibunya.

Namun Keng In sekarang telah menjadi seorang pemuda yang cerdik dan tidak mau memperlihatkan perasaan hatinya.

Dia hanya menunduk sejenak, kemudian ketika dia mengangkat muka lagi, wajahnya sudah biasa dan tenang kembali.

"Apakah pesan Ibu kepadamu untukku?"

Kwi Hong benar-benar tercengang.

Sikap Keng In telah berubah sama sekali, jauh bedanya dengan dahulu.

Dahulu pemuda itu seperti iblis, akan tetapi kini bersikap biasa dan bahkan ramah.

"Bibi Lulu hanya berpesan kepadaku, kalau aku bertemu denganmu agar membujukmu supaya engkau suka menyusul ibumu di Pulau Es. Hanya begitulah pesannya."

Keng In tersenyum, dan Kwi Hong harus mengakui bahwa pemuda ini tampan sekali, apalagi kalau tersenyum seperti itu.

"Tentu saja aku harus menyusul Ibu, dan aku harus memberi hormat kepada Ayah tiriku yang sudah lama kukenal nama besarnya itu. Ah, kalau begitu lebih girang hatiku bahwa tadi aku menolongmu. Sekarang kita bukan orang lain lagi. Engkau adalah keponakan Pendekar Super Sakti, juga muridnya, sedangkan aku adalah anak tirinya. Bukankah dengan demikian kita masih dapat dikatakan saudara misan? Apalagi kalau diingat bahwa engkau adalah juga murid Susiok Bu-tek Siauw-jin, berarti kita adalah saudara misan seperguruan pula. Enci Giam Kwi Hong, kauterimalah hormatku dan maafkan segala kesalahanku yang lalu."

Kwi Hong tercengang dan juga menjadi girang.

Ternyata pemuda ini sudah berubah menjadi seorang yang baik, tidak seperti dahulu, jahat seperti iblis.

Dia tersenyum dan membalas penghormatan Keng In sambil berkata.

"Aku juga girang sekali bahwa engkau bersikap baik, Wan Keng In. Dan memang sudah sepatutnya engkau menjadi adikku. Masih teringat olehku ketika masih kecil dahulu, ketika aku ditawan ibumu. Nakalmu bukan main...."

"Wah, Enci Kwi Hong, apakah kau tidak mau melupakan hal yang lalu. Biarlah aku minta ampun kepadamu."

Dan pemuda itu benar-benar menjatuhkan diri berlutut di atas tanah depan kaki Kwi Hong! "Ihhh! Jangan begitu, Adikku!"

Kwi Hong tertawa, membangunkan Keng In dan keduanya lalu duduk di bawah pohon, di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah.

"Enci Kwi Hong, bagaimana engkau sampai tiba di tempat ini! Tentu bukan untuk mencari aku di sini!"

Berat rasa hati Kwi Hong untuk mengaku bahwa dia tadinya hendak mencari Milana dan Bun Beng, bahkan agak malu pula dia mengatakan bahwa dia hendak ke Pulau Neraka mencari gurunya, karena bukankah Pulau Neraka adalah milik pemuda ini?

Maka dia menjawab.

"Aku hendak mencari Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan semua pembantunya."

Keng In menge-rutkan alisnya.

"Hemmm.... mencari mereka ada keperluan apakah, Enci Kwi Hong?"

"Aku mau bunuh mereka!"

"Ehh! Ada apa? Mereka itu lihai-lihai sekali! Mengapa kau hendak membunuh mereka?"

"Mereka itu terutama Bhong Ji Kun, ketika masih menjadi pemberontak, telah menipu aku sehingga aku terpikat bersekutu dengan mereka. Dengan terjadinya hal itu, aku telah melkukan kesalahan besar terhadap pamanku."

"Hemmm, begitukah? Mereka pun pernah membujuk aku. Memang mereka harus dibunuh dan aku akan membantumu, Enci Hong! Bahkan aku dapat membawamu kepada beberapa orang di antara mereka."

"Apa? Benarkah itu, Keng In?"

"Benar, aku tidak membohong. Beberapa hari yang lalu aku melihat beberapa orang anak buah Bhong-koksu itu di dekat pantai Lautan Po-hai, dan agaknya mereka itu bersembunyi di tempat sunyi itu."

Berseri wajah Kwi Hong.

"Benarkah? Bagus, mari kauantar aku ke tempat itu, Keng In. Tentu saja mereka itu harus bersembunyi karena mereka adalah pemberontak yang dikejar-kejar pemerintah."

"Mari, Enci Hong. Tapi engkau benar-benar sudah tidak benci lagi kepadaku, bukan? Sudah kaumaafkan kesalahanku terhadapmu yang sudah-sudah?"

Kalau memikirkan apa yang telah dilakukan oleh pemuda ini di masa lalu, memang sukar untuk melupakannya.

Akan tetapi manusia tidak selamanya baik atau buruk, karena keadaan manusia itu selalu berubah, pikirnya.

Sekarang pemuda ini kelihatan berubah sekali, mungkin hal ini juga terdorong oleh keadaan ibunya yang sudah menjadi isteri Pendekar Super Sakti.

Apalagi pemuda itu jelas ingin membantunya, tentu tidak mempunyai niat buruk.

"Aku tidak lagi memikirkan hal yang lalu, Keng In. Aku percaya kepadamu."

Wajah yang tampan itu berseri girang dan berangkatlah Kwi Hong mengikuti Keng In menuju ke pantai Lautan Po-hai yang tidak berapa jauh, hanya memakan perjalanan beberapa hari saja dari situ.

Seperti telah disaksikan oleh Suma Han dan kedua orang isterinya, di sebelah selatan Pulau Es terjadi badai yang hebat.

Ketika itu, perahu besar yang ditumpangi oleh Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dan teman-temannya sedang berlayar ke selatan.

Bekas Koksu ini dan teman-temannya telah menderita kekalahan total dan kegagalan yang bertubi-tubi sehingga pelayaran itu dilakukan dengan wajah murung dan hati kesal.

Usaha pemberontakan mereka dengan mengangkat Pangeran Yauw Ki Ong gagal sama sekali, dan pangeran itu ternyata mempunyai hati khianat sehingga terpaksa dibunuh oleh Bhong Ji Kun.

Setelah tidak ada lagi pangeran itu, tentu saja mereka tidak mempunyai pegangan untuk memberontak.

Bahkan di Pulau Es mereka mengalami pukulan hebat lagi, semua dikalahkan mutlak oleh Pendekar Super Sakti sehingga mereka mendapatkan pengampunan dan diusir dari pulau sebagai orang-orang yang kalah.

Seperti anjing setelah mengalami gebukan-gebukan!

Bagi orang-orang yang terkenal di dunia persilatan seperti mereka itu, tidak ada yang lebih memalukan dan merendahkan daripada diampuni lawan setelah mereka kalah!

Memang mereka sedang sial.

Usaha pemberontakan gagal sama sekali, disusul dengan kekalahan pribadi menghadapi Majikan Pulau Es.

Kini, selagi mereka bingung ke mana harus pergi dengan perahu mereka karena untuk mendarat amatlah berbahaya setelah mereka kini menjadi orang-orang pelarian, Tiba-tiba saja badai datang mengamuk dan menyerang perahu mereka!

Perahu itu sebetulnya sudah merupakan sebuah perahu besar menurut ukuran perahu umumnya.

Namun, setelah badai mengamuk menimbulkan gelombang-gelombang setinggi anak bukit, perahu itu tidak lebih seperti sebuah mangkuk kecil di tengah telaga.

Dan tenaga orang-orang yang biasanya dianggap orang-orang yang berkepandaian tinggi dan bertenaga besar, kini tiada bedanya seperti tenaga semut-semut saja menghadapi tenaga air laut yang digerakkan badai.

Perahu dilempar ke sana-sini, dilontarkan ke atas dan diseret kembali ke bawah, diputar-putar dan akhirnya perahu itu pecah berkeping-keping!

Bhong Ji Kun dan anak buahnya tentu saja dalam keadaan seperti itu hanya dapat berusaha menyelamatkan diri masing-masing.

Mereka tidak dapat saling melihat ketika perahu itu pecah beran-takan dan mereka terlempar ke lautan yang sedang marah itu.

Barulah mereka saling dapat melihat ketika badai telah lewat ke timur dan lautan di bagian itu agak tenang dan ternyata bahwa yang berhasil mencengkeram sebagian tubuh perahu yang pecah, yang hanya merupakan beberapa potong papan besar bersambung-sambung, hanya ada lima orang saja.

Dalam keadaan setengah pingsan, lima orang ini naik ke atas papan-papan bersambung itu, terengah-engah.

Mereka ini adalah Gozan, orang Mongol yang bertubuh tinggi besar itu, Liong Khek, Si Muka Pucat bertubuh kurus yang bersenjata pancing.

Thai-lek-gu, Si Pendek Gendut bekas jagal babi yang bersenjata sepasang golok, dan dua orang Mongol yang tadinya adalah juru-juru mudi perahu itu.

Berkat pengalaman dan keprigelan dua orang bekas juru mudi inilah, maka pecahan perahu yang kini ditumpangi mereka berlima itu akhirnya dapat keluar dari daerah badai, kemudian dengan susah payah mereka mendayung mempergunakan papan yang berapung, untuk menggerakkan perahu istimewa ini ke darat.

Dan mereka berhasil setelah melalui perjuangan mati hidup selama beberapa hari.

Mereka berhasil mendarat di tempat sunyi, di pantai Lautan Po-hai dalam keadaan tenaga habis dan hampir mati kelaparan!

Kini mereka sudah hampir dua pekan berada di guha-guha pantai Lautan Po-hai.

Tenaga mereka sudah pulih dan pada siang hari itu tiga orang bekas pembantu Koksu bercakap-cakap di depan guha sedangkan dua orang bekas juru mudi kini bertugas sebagai pelayan, memanggang ikan yang mereka tangkap di tepi laut.

"Sudah lama kita menanti di sini, dan Im-kan Seng-jin belum juga muncul,"

Kata Liong Khek yang sebagai orang terlihai di antara mereka berlima tentu saja otomatis menjadi pemimpin mereka.

"Dalam badai seperti itu, biarpun memiliki kepandaian selihai dia, kiranya takkan banyak berdaya,"

Thai-lek-gu berkata menggeleng-gelengkan kepala, masih ngeri kalau mengenangkan peristiwa itu.

Dia tidak dapat berenang sama sekali, maka dapat dibayangkan betapa takutnya ketika itu, hanya untung oleh ombak dia dilemparkan dekat pecahan perahu sehingga dapat menyelamatkan diri.

"Agaknya dia dan yang lain-lain sudah mati ditelan ikan,"

Kata Gozan.

"Lebih baik kita tinggalkan saja dia. Tempat ini pun masih berbahaya. Kalau sampai ada nelayan yang melihat kita dan melaporkan, kita akan celaka. Aku sudah khawatir sekali ketika beberapa hari yang lalu ada perahu kecil meluncur cepat di lautan itu."

"Tak usah khawatir,"

Liong Khek berkata.

"Perahu kecil itu hanya ditumpangi seorang, dan dia agaknya tidak memperhatikan ke sini. Pula, dia sudah pergi beberapa hari yang lalu, kalau memang dia melaporkan, kiranya pada hari itu juga sudah ada pasukan yang datang hendak menangkap kita. Akan tetapi, andaikata demikian, kita takut apa kalau hanya menghadapi pasukan-pasukan biasa?"

"Sekarang lebih baik kita lanjutkan rencana kita,"

Kata pula Gozan.

"Kita dapat pergi ke Mongol melalui dua jalan. Pertama melalui jalan barat, melintasi Propinsi Liao-ning dan melalui Pegunungan Tai-hang-san sebelah utara. Akan tetapi jalan ini berbahaya karena tentu kita akan bertemu dengan para penjaga yang menjaga di Tembok Besar. Jalan ke dua adalah melalui sepanjang Sungai Yalu dan kemudian terus ke barat melalui Mancu."

"Melalui Mancu? Gila, bukankah di sana pusatnya bangsa yang menjajah sekarang?"

"Justeru karena itulah maka kita takkan diperhatikan, karena tidak akan ada yang mengira bahwa kita berani lewat di sana. Di sana banyak terdapat orang Mongol, maka bagiku aman, juga banyak terdapat orang Han. Dengan menyamar, kita mudah saja melalui Mancu, kemudian ke barat dan menyelinap ke Mongol."

Gozan yang sudah hafal akan seluk-beluk daerahnya itu menggambarkan keadaan dengan coretan-coretan di atas tanah depan kakinya.

"Kalau begitu, besok pagi-pagi kita berangkat pergi!"

Kata Liong Khek sambil menarik napas panjang. Tiba-tiba terdedgar suara nyaring merdu.

"Tidak usah besok, sekarang pun kalian akan pergi ke neraka!"

Tampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Kwi Hong dan Keng In!

Pemuda itu tersenyum-senyum saja dan berdiri di pinggiran dengan kedua tangan bersedekap (terlipat di dada).

Mendengar ucapan Kwi Hong dan ketika mereka mengenal dara ini, tiga orang itu sudah meloncat berdiri.

"Nona, apa kehendakmu dan apa artinya kata-katamu itu?"

Liong Khek bertanya, dan mukanya berubah pucat.

"Aku datang untuk membunuh kalian! Mana Si Keparat Bhong Ji Kun, suruh dia keluar!"

"Dia.... mungkin sudah mati. Perahu kami pecah oleh badai dan yang dapat menyelamatkan diri hanya kami berlima. Nona, kami telah dilepaskan pergi oleh paman Nona. Kami telah dimaafkan...."

"Mungkin Paman memaafkan, akan tetapi aku tidak! Penghinaan dan tipuan yang kalian lakukan kepadaku hanya dapat ditebus dengan darah!"

Sambil berkata demikian Kwi Hong sudah mencabut pedangnya.

"Singgg....!"

Kilat berkelebat ketika pedang Li-mo-kiam dihunus.

Tiga orang itu menjadi kaget sekali.

Liong Khek menoleh dan menghadapi Keng In yang masih berdiri tenang dan tersenyum-senyum.

"Wan-Taihiap engkau adalah bekas sekutu kami. Harap kau suka membantu kami dan menyuruh nona ini agar tidak memaksa kami bertanding."

Wan Keng In tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kalian ini orang-orang yang tak dapat dipercaya dan berwatak pengecut, maka kalian memang sudah sepatutnya dibunuh. Akan tetapi karena kalian berhutang kepada Enci Kwi Hong, biarlah dia yang akan menagihnya. Aku hanya akan melenyapkan dua orang tiada guna itu!"

Tiba-tiba tangannya bergerak, tampak sinar berkelebat ketika pedang Lam-mo-kiam dicabut dan tubuhnya hanya berkelebat sebentar lalu dia sudah berdiri lagi di tempat tadi, pedangnya sudah disarungkan kembali, Akan tetapi dua orang pelayan bekas juru mudi yang tadinya berjongkok dekat perapian karena terganggu pekerjaan mereka memanggang ikan itu telah roboh dengan kepala terpisah dari tubuh, lehernya putus disambar sinar pedang Lam-mo-kiam!

Tiga orang itu kaget bukan main dan tahulah mereka bahwa jalan satu-satunya bagi mereka hanyalah melawan!

Melihat sikap pemuda Pulau Neraka yang mereka tahu lihai luar biasa itu, mereka hanya mengharapkan pemuda itu benar-benar memegang kata-katanya dan tidak akan ikut campur, membiarkan dara itu seorang diri saja melawan mereka.

Kalau begini halnya, mereka masih ada harapan.

Biarpun mereka juga maklum bahwa murid dan keponakan Pendekar Super Sakti ini lihai sekali, namun mereka bertiga masa kalah melawan seorang gadis muda?

Apalagi mereka itu telah siap dengan senjata mereka.

Gozan yang tak pernah bersenjata itu mengandalkan kedua tangan dan kakinya dan ilmu gulat disamping ilmu silatnya.

Thai-lek-gu (Kerbau Bertenaga Besar) pun ketika berhasil menyelamatkan diri, sepasang golok penyembelih babinya masih tergantung di punggung.

Adapun Liong Khek sendiri yang kehilangan senjatanya, telah mencuri sebuah pancing dari nelayan di Pantai Po-hai dan sudah membuat senjata pancing baru.

Biarpun tidak sekuat buatannya sendiri dahulu, namun cukup untuk dipergunakan karena memang keistimewaannya adalah mempermainkan senjata aneh ini.

Melihat betapa dua orang itu sudah mengeluarkan senjata masing-masing, dan Gozan sudah berdiri memasang kuda-kuda dengan kedua lengan dikembangkan seperti seorang yang kerinduan siap memeluk kekasihnya, Kwi Hong menggerakkan pedangnya dan membentak.

"Bersiaplah untuk mampus!"

Akan tetapi Liong Khek dan Thai-lek-gu sudah mendahului menggerakkan senjata mereka.

Sepasang golok Si Gendut Pendek itu menyambar dahsyat dari kanan-kiri, dan terdengar suara bersiut nyaring ketika tali pancing itu melecut udara dan mata kailnya membalik, menyambar tengkuk Kwi Hong dari belakang.

Kwi Hong maklum akan kelihaian para lawannya, makin dia cepat memutar pedang menangkis sepasang golok sambil merendahkan tubuh dan menyelinap ke kiri untuk menghindarkan sambaran mata kail.

Si Gendut Pendek itu mengenal Li-mo-kiam, cepat menarik kedua goloknya dan memutar golok itu untuk melanjutkan serangannya, yang kiri menusuk dada, yang kanan menyerampang kaki.

Juga Liong Khek sudah menggerakkan tali pancingnya.

Kwi Hong tadi meloncat ke kiri untuk menjauhi Gozan.

Biarpun orang Mongol itu bertangan kosong, namun dia maklum akan kelihaian orang ini dengan kedua tangannya.

Sekali kena dipegang orang itu, sukarlah untuk dapat lolos lagi.

Karena itu dia selalu bergerak menjauhinya agar jangan sampai Gozan mendapat kesempatan menyergapnya dari belakang.

Wan Keng In hanya berdiri tersenyum.

Melihat wajah pemuda ini, sukar untuk mengetahui apa yang tersembunyi di balik dada dan di balik dahi itu.

Akan tetapi yang sudah jelas, matanya bergerak mengikuti gerak-gerik Kwi Hong, penuh kagum, dan kadang-kadang mata itu dengan liarnya melayang ke arah dada, pinggang, kaki dan wajah yang cantik dari gadis itu.

Pertandingan itu berjalan seru dan biarpun dikeroyok tiga, Kwi Hong tetap saja dapat mendesak.

Hal ini bukan hanya karena tingkat ilmunya memang jauh lebih tinggi, akan tetapi terutama sekali karena tiga orang itu jerih menghadapi keampuhan Li-mo-kiam yang dahsyat dan mengandung hawa mujijat itu.

Betapapun juga, tidaklah terlampau mudah bagi Kwi Hong untuk merobohkan mereka, karena tiga orang itu bertanding untuk mempertahankan nyawa mereka!

Lima puluh jurus telah lewat dan masih belum ada di antara mereka yang terluka, kecuali golok kiri Thai-lek-gu patah ujungnya terbabat Li-mo-kiam.

Karena maklum bahwa kalau mereka hanya mempertahankan diri saja, lambat laun tentu mereka akan menjadi korban Li-mo-kiam, maka tiga orang itu pun berusaha untuk membalas dan merobohkan gadis yang perkasa itu.

Pendeknya, pertandingan itu bagi mereka hanya berarti membunuh atau dibunuh!

Pada saat untuk kesekian kalinya sepasang golok Thai-lek-gu menyambar, Kwi Hong berusaha menangkis dan mematahkan golok dan Si Gendut itu memang hanya mengacau untuk memberi kesempatan kepada teman-temannya.

Melihat dara itu menggerakkan pedang menghalau golok-golok yang mengancamnya, Liong Khek menggerakkan pancingnya yang kini diulur panjang untuk melibat pinggang dan leher dara itu!

Kwi Hong memang suddh menanti hal ini terjadi karena dia merasa penasaran dan kehilangan sabar setelah sekian lamanya belum juga dapat merobohkan mereka.

Begitu tali pancing melecut udara dan menyambar, Kwi Hong menggerakkan tangan kirinya menangkap tali pancing!

Liong Khek berseru girang, dan seruan ini merupakan aba-aba bagi kedua orang temannya.

Sepasang golok itu menyerang dari kanan-kiri, sedangkan Gozan menubruk dari belakang!

Kwi Hong mengerahkan sin-kang, menarik tali pancing dengan tangan kiri, ketika sepasang golok menyambar, kembali dia memutar pedangnya dan melepas tali pancing dengan tiba-tiba sehingga mata kail itu meluncur ke arah pemiliknya!

Tentu saja Liong Khek dapat menyelamatkan diri dan pada saat pedang Kwi Hong berhenti bergerak karena dua batang golok itu ditarik kembali pada saat yang sama, mata kail itu sudah menyambar ke arah mukanya dan sepasang golok sudah menjepit pedang, sedangkan Gozan menubruk dari belakang, tahu-tahu kedua tangannya sudah mencengkeram ke arah pinggang!

Kwi Hong tidak menjadi gugup.

Dia merendahkan tubuh dan dimiringkan, akan tetapi dia tidak mengira bahwa gerakan Gozan memang cepat sekali dan tahu-tahu elakan itu masih belum cukup untuk menghindarkan kedua tangan Gozan dan kini tangan kanan raksasa Mongol itu sudah meraih pinggang Kwi Hong dan lengannya merangkul ketat!

Tentu saja Kwi Hong terkejut sekali.

Pedang yang terjepit sepasang golok itu dia betot sambil mengerahkan tenaga Inti Bumi.

Terdengar suara.

"krakkk!"

Ketika sepasang golok itu patah-patah dan pedangnya terus membabat ke belakang.

"Crokkkk! Aughhh....!"

Tubuh Gozan terguling, lengan kanannya putus sebatas pundak akan tetapi lengan yang besar itu masih melingkari pinggang dan jari-jari tangannya masih mencengkeram baju gadis itu!

"Ihhhh!"

Kwi Hong bergidik dan merenggut lengan itu dengan tangan kirinya, membuangnya ke samping.

"Brettt!"

Baju di bagian perutnya terobek oleh jari-jari tangan itu.

Untung pakaian dalam hanya ikut terobek sedikit sehingga hanya sedikit bagian kulit perutnya yang putih bersih itu tampak!

Sambil menutupi bagian robek dengan tangan kiri, Kwi Hong membalikkan tubuh dan pedangnya berkelebat merupakan gulungan sinar pedang yang seperti kilat menyambar di waktu hujan.

Tampak darah muncrat dan terdengar pekik-pekik mengerikan ketika tubuh Gozan dan tubuh Thai-lek-gu hampir berbareng roboh dengan pinggang hampir terpotong!

Liong Khek menjadi pucat.

Maklum bahwa dia tidak dapat melarikan diri, dia menjadi nekat.

Mata kailnya menyambar dengan gerakan berputaran, mata kail meluncur turun menyerang ke arah mata Kwi Hong!

Dan pada saat berikutnya, dia sendiri telah menubruk dan mengirim pukulan dengan pengerahan sin-kang ke arah dada dara itu.

"Heiiittt.... blessss! Aduhhh....!"

Kwi Hong telah merubah kedudukannya, setengah berjongkok dengan kecepatan mengagumkan sehingga mata kail itu tidak mengenai sasaran, kemudian dari bawah pedangnya meluncur dan amblas memasuki perut Liong Khek sampai menembus punggung dan secepat kilat tubuh dara itu sudah meloncat ke belakang sambil menarik kembali pedangnya sehingga darah yang muncrat itu tidak sampai mengenai pakaiannya.

Liong Khek terhuyung lalu roboh menelungkup tanpa bersambat lagi.

Terdengar orang bertepuk tangan.

"Bagus sekali! Kau sungguh hebat Enci Hong!"

Mulutnya memuji akan tetapi matanya mengincar ke arah sebagian perut yang tidak tertutup tadi!

Kwi Hong segera menutupi perutnya, mengeluarkan selembar saputangan sutera dan menggunakan saputangan itu untuk diikat dan menutupi bagian yang robek.

Kwi Hong menyarungkan pedangnya, memandang tiga buah mayat musuhnya dan dia berlutut, menutupi mukanya, terisak sedikit lalu membuka pula kedua tangan yang menutupi muka dan....

tertawa!

"Kau hebat, Enci Hong.

Tentu kau sudah puas sekarang?"

"Masih belum! Mereka ini hanya kaki tangannya, yang menjadi musuh besar utama adalah Bhong Ji Kun!"

"Akan tetapi agaknya kau kalah dulu oleh badai. Menurut penuturan mereka tadi, perahu mereka (Lanjut ke

Jilid 47) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 47 pecah oleh badai dan hanya mereka yang selamat."

Kwi Hong bangkit berdiri, menarik napas panjang.

"Sayang sekali kalau begitu."

"Aku tahu bahwa kau mendendam sakit hati hebat, karena itu tadi pun aku tidak mau turun tangan membantumu. Tentu saja aku yakin kau akan menang. Kalau aku membantumu tentu kau akan kecewa."

Kwi Hong tersenyum kepadanya.

"Terima kasih, Keng In. Engkau baik sekali. Dan melihat engkau begitu baik, benar-benar menimbulkan rasa kasihan di hatiku."

"Eh, kasihan kepadaku, Enci Hong?"

Keng In benar-benar merasa heran.

"Mengapa engkau merasa kasihan kepadaku?"

Mereka bicara sambil berjalan pergi meninggalkan mayat-mayat itu.

Agaknya mereka berjalan asal menjauhi mayat-mayat itu saja, tanpa tujuan tertentu, berjalan sepanjang pantai laut.

Tiba-tiba Kwi Hong menoleh kepada pemuda itu.

"Keng In, bukankah engkau mencinta Milana?"

Keng In terkejut, mengira bahwa Kwi Hong tahu bahwa dia menculik Milana, akan tetapi dia dapat menekan perasaannya.

"Dugaanmu benar, Enci Hong. Aku mencinta Milana, akan tetapi keadaannya menjadi rusak dan kacau sekarang ini. Milana adalah puteri ayah tiriku, bagaimana mungkin....?"

"Bukan itu saja."

Kwi Hong menghela napas.

Gadis itu merasa hidup sebatang kara, setelah dia menganggap bahwa pamannya membencinya, semua orang membencinya, dan tadinya harapannya tertumpah kepada Bu-tek Siuw-jin.

Kini, sebelum bertemu dengan gurunya itu dia bertemu dengan Keng In yang bersikap baik, maka dia tidak ingat apa-apa lagi dan mendapatkan seorang yang dapat dia ceritakan segalanya untuk menumpahkan semua kedukaan dan kekecewaannya.

"Bukan itu saja, akan tetapi kini Milana lenyap, kabarnya diculik orang...."

"Ehhh....?"

Keng In terkejut, benar-benar terkejut bukan pura-pura.

Hanya kalau Kwi Hong mengira dia terkejut mendengar dara yang dicintanya hilang, adalah sebenarnya Keng In sendiri terkejut bukan karena itu, melainkan karena mengira bahwa Kwi Hong benar-benar telah tahu bahwa dia penculiknya!

"Diculik....

siapa...."

"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tadinya kusangka engkau, akan tetapi melihat perubahan pada dirimu, tentu bukan kau yang melakukan perbuatan keji itu. Akan tetapi, juga bukan karena Milana diculik orang itu yang membuat aku kasihan kepadamu, Keng In."

Dapat dibayangkan betapa lega hati Keng In.

"Eh, ada apakah lagi yang lebih hebat dari berita hilangnya Milana itu?"

"Ada yang lebih hebat, dan lebih menyedihkan untukmu, juga untukku...., bahwa Milana telah ditunangkan dengan Gak Bun Beng."

Berita ini benar-benar merupakan pukulan hebat bagi Keng In!

Di dalam hatinya seolah-olah ada api membakar dan kalau tadinya dia hanya cemburu karena Milana mencinta Bun Beng, kini cemburu itu makin berkobar karena dara yang dicintanya itu ternyata telah dijodohkan dengan pemuda yang makin dibencinya itu.

Akan tetapi dia memang hebat.

Semuda itu dia telah pandai menguasai dirinya sendiri sehingga dia hanya menunduk saja, tidak tampak marahnya hanya kelihatan seperti orang yang berduka.

Sampai lama mereka tidak berkata-kata, hanya melangkah terus perlahan-lahan di sepanjang pantai yang dijilati lidah-lidah ombak yang membuih.

"Enci Hong.... kau tadi bilang bahwa hal itu juga menyedihkan hatimu. Mengapa?"

"Tidak mengertikah engkau? Seperti juga engkau, aku mencinta orang yang bukan dijodohkan denganku...."

Keng In menoleh dan menatap tajam wajah yang menunduk itu.

"Kau.... kau juga mencinta Bun Beng?"

Kwi Hong mengangguk tanpa menoleh sehingga dia tidak melihat betapa sinar kemarahan membuat wajah tampan itu menjadi menakutkan.

Akan tetapi hanya sebentar, karena segera terdengar kata-kata Keng In, halus dan seperti suara orang yang benar-benar berniat jujur dan baik.

"Betapapun juga, Enci Hong. Engkau adalah keponakan dan murid Pendekar Super Sakti, aku adalah anak tirinya. Kiranya sudah menjadi tugas kewajiban kita untuk mencari siapa penculik Milana dan ke mana dia dibawa pergi."

Kini Kwi Hong menoleh dengan pandang mata terheran-heran.

"Kau....? Hendak mencari dan menolong Milana? Ahhh, betapa baik hatimu. Sungguh tak kusangka! Kau membikin aku merasa malu, Keng In. Aku sendiri tadinya sudah tidak peduli karena kedukaan dan kekecewaan-ku. Kau benar, kita harus mencari dia, harus mencari Bun Beng. Biarpun hati kita dihancurkan, dipatahkan, namun kita harus menemukan mereka dan menyuruh mereka kembali ke Pulau Es."

"Kalau begitu marilah kita mencari mereka, Enci. Hong! Lihat, Sepasang Pedang Iblis berada di tangan kita! Ha-ha-ha, Siang-mo-kiam telah menggegerkan dunia. Sekali ini pun akan menggegerkan dunia, akan tetapi dengan cara lain! Kita akan bekerja sama, bahu-membahu menumpas musuh-musuh kita!"

Tentu saja Kwi Hong terbawa oleh kegembiraan Keng In yang mencabut Lam-mo-kiam dan mengangkatnya tinggi-tinggi itu.

Dia tidak mengartikan lain dengan sebutan "musuh-musuh kita"

Maka dia pun mencabut Li-mo-kiam, mengangkatnya di atas kepala dan dengan wajah berseri berseru.

"Siang-mo-kiam akan menggegerkan dunia dan musuh-musuh kita akan tertumpas habis!"

Siang hari itu mereka berhenti di dalam sebuah hutan.

Keng In menurunkan bangkai kijang yang tadi diburu dan bangkai kijang yang tadi diburu dan dibunuhnya.

Kwi Hong sudah mempersiapkan bumbu-bumbu yang tadi mereka beli di dusun terakhir di luar hutan.

Keng In memilih daging-daging yang lunak dan memberikannya kepada Kwi Hong yang melumurinya dengan bumbu yang sudah diaduk dengan air, kemudian daging-daging itu mulai mereka bakar di atas api unggun.

"Sayang tidak ada nasi,"

Kata Kwi Hong.

"Makan daging saja asal cukup banyak juga kenyang. Dan aku masih mempunyai simpanan arak,"

Kata Keng In.

Maka makanlah keduanya.

Kwi Hong makan dengan lahap karena hatinya senang.

Dia merasa mendapatkan teman seperjalanan yang menyenangkan dalam diri Keng In.

Dia merasa seolah-olah Keng In memang sejak dahulu adiknya sendiri!

Dan ajakan Keng In untuk mencari Milana dan Bun Beng menimbulkan semangat kembali, tidak seperti sebelum ini, acuh tak acuh.

Dunia masih lebar dan bukan hanya Bun Beng seorang laki-laki di dunia ini, sungguhpun sukarlah menemukan ke duanya!

Setelah perutnya penuh dengan daging bakar yang harum dan gurih, dan kepadanya agak ringan oleh arak Keng In yang benar-benar keras, harum dan tua itu, Kwi Hong duduk menyandarkan punggungnya di bawah pohon besar.

Tempat itu teduh sekali, melindunginya dari panas matahari.

Angin bertiup dan Kwi Hong yang kelelahan dan kekenyangan itu seperti dikipasi, tanpa disadarinya lagi dia telah tertidur sambil menyandar batang pohon!

Malam hampir tiba ketika Kwi Hong mengeluh dan membuka matanya.

"Auggghh.... kepalaku pening...."

Keng In segera mendekati dan berlutut di depan Kwi Hong. Dara itu membuka matanya, memandang heran.

"Di mana aku....? Kau.... kau....?"

"Enci Hong, kau kenapakah? Aku Keng In. Kau kenapa....?"

"Ahhh, Keng In.... hampir aku lupa kepadamu.... entah, kepalaku pening.... aku bingung...."

"Tenanglah, Enci Hong dan jangan khawatir, aku membawa obat untukmu. Rebahlah dan minum obat ini...."

Keng In mengeluarkan sebotol obat cair yang berbau harum, memberi gadis itu minum obat ini.

Kwi Hong yang berada dalam keadaan setengah ingat itu tidak membantah, dengan penuh kepercayaan dia minum obat itu, kemudian karena kepalanya pening dan pandang matanya berkunang, dia tidur lagi dan tak lama kemudian dia menjadi pulas.

Melihat dara itu sudah tidur nyenyak, Keng In tersenyum lebar dan matanya mengeluarkan sinar yang aneh, kemudian dia menyimpan sisa obat yang masih banyak, membesarkan api unggun dan rebah di atas rumput untuk mengaso.

Sukar baginya untuk bisa tidur pulas karena pikirannya penuh oleh pengalaman hari itu.

Yang selalu terbayang olehnya adalah wajah Bun Beng, dibayangkannya dengan kemarahan dan kebencian besar.

Milana mencinta Bun Beng, dan Kwi Hong juga mencinta Bun Beng!

Semua orang mencinta Bun Beng dan membencinya!

Biarlah dia akan menjadi Gak Bun Beng.

Dia akan makan dan menikmati kembangnya, biarlah Bun Beng yang terkena durinya!

Dia melirik ke arah Kwi Hong.

Obat yang diberikannya tadi akan memperkuat obat yang terdahulu, yang berada di dalam araknya, dan obat itu membutuhkan waktu beberapa lama untuk bekerja dengan baik.

Masih banyak waktu untuk bersenang-senang, pikirnya dan sambil tersenyum karena hatinya lega, tidurlah Keng In.

Pada keesokan harinya, menjelang pagi, Kwi Hong terbangun.

Dia mengejap-ejapkan kedua matanya, lalu menggosok-gosok matanya, mengerutkan alisnya.

Di mana dia dan mengapa dia berada di hutan?

Cuaca remang-remang dan keadaan sekelilingnya hanya diterangi oleh sinar api unggun.

Dia bangkit duduk dan tiba-tiba terdengar suara orang memanggil.

"Kwi Hong....!"

Kwi Hong menoleh ke kanan dan otomatis tubuhnya bersiap siaga.

Biarpun dia tidak ingat apa-apa lagi namun ilmu silat yang sudah mendarah daging di tubuhnya itu menggerakkan tubuh tanpa membutuhkan ingatan lagi!

Melihat munculnya seorang laki-laki muda yang memakai sebuah caping (topi) bundar, dia membentak sambil meloncat berdiri.

"Siapa kau?"

Pemuda bercaping bundar itu terbelalak heran.

"Kwi Hong, lupakah engkau kepadaku, kepada laki-laki yang kaucinta dan yang mencintamu? Lihatlah wajahku, lihatlah capingku, apakah kau tidak ingat kepadaku lagi?"

Kwi Hong tercengang keheranan, me-ngerahkan ingatannya untuk mengenal siapa pemuda ini, akan tetapi percuma saja.

Ada bayangan di balik otaknya bahwa dia memang mengenal pemuda ini dan merasa suka kepada wajah yang tampan itu, akan tetapi tidak ingat lagi.

"Aku tidak tahu.... aku tidak ingat.... siapakah engkau....?"

"Kwi Hong, dewiku tersayang. Aku adalah Gak Bun Beng, kekasihmu!"

Mendengar nama Gak Bun Beng ini, Kwi Hong menjadi lemas.

"Bun.... Bun Beng! Ahhh, Bun Beng....!"

Dan dia menangis sambil jatuh terduduk.

Pemuda itu cepat berlutut di depannya dan melingkarkan lengan ke lehernya, memeluknya dengan mesra.

Biarpun pada waktu itu ingatan Kwi Hong sudah lenyap sama sekali sehingga dia tidak lagi dapat mengingat bagaimana wajah Bun Beng, akan tetapi mendengar nama itu sudah cukup menggerakkan hatinya, nama yang tak pernah terlupa olehnya.

Otomatis, karena hatinya amat tertekan tadinya sebelum dia kehilangan ingatan, dan kini seolah-olah memperoleh obat penawar yang menyejukkan, kedua lengannya balas memeluk pemuda itu.

Mereka berpelukan dan Kwi Hong terisak penuh rasa girang dan lega.

Pemuda itu memegang dagunya, mengangkat muka, dan ketika pemuda itu menciumnya, mencium pipinya, hidungnya, mulutnya, Kwi Hong hanya mengeluarkan suara rintihan terharu dan memejamkan kedua matanya!

Sebelum kehilangan ingatannya, Kwi Hong merasa betapa hatinya hancur, terutama sekali karena Bun Beng yang dicintanya itu dijodohkan dengan Milana.

Habis harapannya untuk dapat berjodoh dengan pemuda yang dicintanya itu, dan telah ada kenyataan bahwa pemuda yang dicintanya itu takkan dapat diraih olehnya, maka cintanya terhadap pemuda itu seolah-olah bertambah, dan dia merasa rindu sekali kepada Gak Bun Beng.

Oleh karena itulah, kerinduan yang masih mencengkeram bawah sadarnya, kini timbul ketika pemuda yang dicintanya itu telah memeluk dan menciumnya.

Tanpa dorongan rasa rindu yang hebat itu kiranya dia tidak akan menerimanya begitu saja pencurahan kasih sayang dari seorang pria terhadapnya, keadaan yang sama sekali masih asing baginya ini.

Tapi sekarang Kwi Hong sama sekali tidak memberontak bahkan di luar kesadarannya, hidung dan bibirnya bergerak membalas ciuman pemuda itu dengan gairah yang meluap-luap.

"Kwi Hong.... ah, Kwi Hong.... kekasihku.... hanya engkaulah wanita yang kucinta....!"

Laki-laki itu berbisik sambil memperketat dekapannya dan membawa Kwi Hong rebah di atas rumput.

"Bun Beng.... ohh, Bun Beng....!"

Kwi Hong memejamkan matanya dan sama sekali tidak peduli lagi akan apa yang dilakukan oleh pemuda yang dicintanya itu terhadap dirinya.

Dia menyerah bulat-bulat, menyerahkan hati dan tubuhnya dengan penuh kerelaan, bahkan dia membantu penyerahan itu karena dia pun membutuhkan kasih sayang pemuda ini.

Maka terjadilah hal yang tak dapat dielakkan lagi dalam keadaan seperti itu.

Hanya pohon-pohon, kabut pagi, dan burung-burung yang baru keluar dari sarangnya saja yang menjadi saksi akan pencurahan cinta berahi yang berlangsung pada pagi hari di bawah pohon besar itu.

Pencurahan nafsu berahi yang terjadi atas kehendak kedua pihak, dengan suka rela, sungguhpun Kwi Hong melakukan-nya dalam keadaan hilang ingatan dan hanya merasa yakin bahwa dia telah menyerahkan tubuhnya kepada orang yang dicintanya, Gak Bun Beng, dan tidak akan merasa menyesal akan apa pun yang menjadi akibatnya.

Adapun pemuda itu, yang mudah saja diduga bukan Gak Bun Beng sesungguhnya melainkan Wan Keng In, mula-mula menggunakan siasat ini, merampas ingatan Kwi Hong dengan obat pemberian gurunya, kemudian menyamar sebagai Bun Beng, bukan semata-mata untuk menikmati kemesraan tanpa perkosaan bersama Kwi Hong yang cantik dan yang dikaguminya, melainkan didasari oleh niat untuk menghancurkan hidup Bun Beng!

Keng In ingin menanam kesan mendalam di hati Kwi Hong bahwa gadis itu telah menyerahkan tubuhnya kepada Bun Beng, dan hal ini tentu saja kelak akan menjadi penghalang bagi Bun Beng untuk melanjutkan perjodohahnya dengan Milana!

Akan tetapi, bukan sampai di situ saja rencananya untuk menjebloskan nama baik Bun Beng ke pecomberan.

Setelah mencurahkan kasih sayangnya kepada pemuda yang dicintanya, pengalaman pertama selama hidupnya yang baru sekarang dialami akan tetapi sama sekali tidak disesalkannya itu, Kwi Hong tertidur lagi kelelahan dan kepuasan.

Ketika dia bangun lagi, pemuda bertopi bundar itu telah berada di sisinya.

Kwi Hong menggeliat, seperti seekor kucing manja, membuka mata dan merangkulkan kedua tangan ke leher laki-laki yang telah duduk di dekatnya, menarik muka yang dicintanya itu dan kembali mereka berciuman.

"Hemmm...., Bun Beng.... aku merasa berbahagia sekali....!"

Keng In tertawa dan menarik tangan Kwi Hong bangun.

"Hayo bangunlah, kita mandi di telaga dekat sini, kemudian melanjutkan perjalanan."

"Eh, ke mana?"

Kwi Hong bertanya sambil tersenyum manis, membetulkan pakaiannya yang awut-awutan seperti juga rambutnya, akan tetapi yang bahkan menambah keaslian kecantikannya.

"Ke mana lagi, sayang? Bukanlah kita telah menjadi suami isteri, biarpun belum resmi? Aku adalah suamimu, maka kau harus ikut bersamaku."

Kwi Hong menggeleng-geleng kepalanya.

"Aku tidak ingat lagi.... di mana rumahmu.... akan tetapi aku tidak peduli, Bun Beng. Bersama denganmu, aku akan selalu merasa bahagia, biar kaubawa ke neraka sekalipun!"

Keng In merangkul dan kembali mereka berciuman.

"Kwi Hong.... pujaan hatiku.... kalau aku membawamu, bukan ke neraka, melainkan ke sorga. Aku.... aku cinta padamu, Kwi Hong....!"

Kalimat terakhir ini menggetarkan jantung Keng In karena dia merasa betapa ucapan itu tidak dibuat-buat seperti kalimat yang lain!

Dia benar-benar merasa jatuh cinta kepada Kwi Hong!

Sudah beberapa kali dia berhubungan dengan wanita, baik dengan perkosaan maupun dengan suka rela karena kenakalannya, akan tetapi semua itu hanyalah peristiwa badani saja.

Anehnya, setelah apa yang terjadi, setelah merasa sampai ke dasar dirinya betapa Kwi Hong benar-benar menyerahkan segala-galanya dengan kasih sayang yang mesra, agaknya kasih sayang dara itu mencekam perasaannya dan menggugah cintanya pula!

Sambil tertawa-tawa bahagia, mereka berdua mandi di air telaga yang jernih.

Mereka mandi dengan telanjang bebas karena di dalam hutan itu sunyi tidak ada orang lain lagi.

Dalam kesempatan ini, sambil berendam di dalam air jernih, kembali kedua insan itu mencurahkan perasaan mereka dan mengulangi perbuatan mereka di bawah pohon tadi.

Bagi dua orang yang sedang dimabok asmara, seperti sepasang pengantin baru, agaknya keduanya tidak pernah merasa puas akan permainan cinta ini.

Keng In yang cerdik itu kini malah merasa khawatir kalau-kalau Kwi Hong sadar dan ingatannya kembali lagi lalu menolak cintanya!

Dia mulai merasa khawatir kalau dia akan kehilangan Kwi Hong yang dicintanya ini!

Sungguh keadaan menjadi terbalik sama sekali!

Karena itu, setiap hari dia selalu mencampurkan obat perampas ingatan ke dalam minuman atau makanan Kwi Hong dan mereka melakukan perjalanan cepat, hanya diseling dengan makan, tidur, dan bermain cinta.

Keng In ingin cepat-cepat mengajak Kwi Hong ke Pulau Neraka, di mana dia ingin menjalankan siasatnya selanjutnya untuk merusak hubungan antara Bun Beng dan Milana.

Selain itu, juga obat yang dibawanya tidak banyak.

Kalau sampal obat itu habis sebelum mereka tiba di Pulau Neraka, tentu akan berbahaya sekali.

Kwi Hong akan sadar kembali dan dia akan menghadapi kesulitan besar.

Biarpun Milana masih dapat mempertahankan harga dirinya dan menolak dengan keras ajakan Keng In yang menyamar Gak Bun Beng untuk bermain cinta, namun dara ini merasa berduka sekali.

Sepanjang ingatannya, kekasihnya yang bernama Gak Bun Beng itu adalah seorang gagah perkasa yang menjunjung tinggi kehormatan.

Akan tetapi siapa kira begitu datang pemuda yang dirindukannya itu hendak melakukan pelanggaran yang amat merendahkan dirinya!

Sepeninggal Bun Beng malam itu, dia menangis dan berduka.

Biarpun dia terbebas dari bahaya itu, namun Milana masih tetap menjadi seorang yang seperti boneka hidup di Pulau Neraka.

Dia masih belum ingat apa-apa karena sebelum pergi Keng In telah memesan kepada anak buahnya yang dipimpin oleh tokoh Pulau Neraka, Si Gundul Kong To Tek untuk setiap hari memberi obat perampas ingatan itu dicampurkan dalam makanan yang disuguhkan kepada Milana.

Pada suatu pagi, Milana duduk termenung seorang diri di belakang pondoknya di Pulau Neraka.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa malam tadi, Giam Kwi Hong keponakan dan murid ayahnya telah mendarat di Pulau Neraka bersama Wan Keng In!

Andaikata dia melihat mereka mendarat, tentu dia akan menganggap Keng In yang memakai caping itu adalah Bun Beng yang selama ini dia pikirkan dengan hati risau, dan dia tentu tidak akan mengenal lagi Kwi Hong yang keadaannya sama dengan dia.

Tiba-tiba muncul Kong To Tek.

Biarpun dia tidak mengenal siapa orang ini, akan tetapi Kong To Tek bukan merupakan orang asing bagi Milana, karena Si Gundul inilah yang melayani segala kebutuhannya.

Pernah dia bertanya kepada Kong To Tek, ke mana perginya Gak Bun Beng yang selama itu belum datang, dan dijawab bahwa pemuda itu sedang pergi, akan tetapi tak lama tentu kembali.

"Nona, Gak Bun Beng telah kembali ke pulau ini."

Kong To Tek berkata kepada Milana sambil menyeringai.

"Dan Nona diharapkan menemuinya di sana."

Terjadi perang di dalam pikiran Milana.

Akan tetapi akhirnya, cinta kasih yang sebetulnya tak pernah padam di dalam hatinya itu menang dan dia mengangguk.

"Di mana dia?"

"Di dalam pondok kuning dekat pantai timur, Nona."

Milana lalu berjalan cepat menuju ke pantai timur.

Dia sudah hafal akan keadaan di Pulau Neraka dan sebentar saja dia telah tiba di pondok itu.

Akan tetapi sunyi saja di luar pondok dan ketika dia mendekat, terdengar olehnya suara orang berbicara dan tertawa, suara seorang laki-laki dan seorang wanita yang bersendau-gurau dan bercintaan.

Dia terheran-heran, lalu mengintai dari jendela dari kamar tunggal pondok kecil itu.

Kamar itu terang sekali dan tampak jelas olehnya segala yang terjadi di dalam kamar.

Dia melihat pemuda bertopi bundar, Gak Bun Beng yang dicintanya, sedang bermain cinta dengan seorang wanita cantik, seorang wanita yang seperti telah dikenalnya akan tetapi dia lupa lagi siapa wanita itu.

Melihat adegan yang selama hidupnya belum pernah disaksikannya itu, melihat betapa pria satu-satunya yang dicintanya bermain gila dengan seorang wanita lain, tak tertahan lagi Milana mengeluarkan suara isak tertahan, membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat itu!

Dari dalam kamar di pondok kuning itu, biarpun dia sedang berkasih-kasihan dengan mesra bersama Kwi Hong, Keng In yang sudah mengatur siasat itu maklum bahwa siasatnya berhasil dan dia mendengar isak tertahan tadi.

Diam diam dia tersenyum bangga ketika menciumi Kwi Hong.

Mampuslah kau, Bun Beng, pikirnya.

Milana tentu takkan sudi melanjutkan perjodohan-nya dengan Bun Beng setelah terjadi dua hal itu.

Pertama, Bun Beng hendak merayunya dan mengajaknya berjina, ke dua, Bun Beng telah bermain cinta dengan wanita lain!

Setelah berhasil, dia akan membebaskan Milana.

Biarlah Milana kembali ke daratan dengan bekal kebencian yang meluap bagi Bun Beng!

Dan dia sendiri....

dia sudah puas dengan Kwi Hong.

Hanya ada satu yang amat membingungkan dan menggelisahkan hati Keng In.

Dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Kwi Hong.

Tidak mungkin kalau selamanya dia harus membuat Kwi Hong kehilangan ingatannya seperti sekarang ini.

Obat itu adalah racun yang berbahaya, kalau terus menerus diberikan, menurut gurunya, bisa membuat gadis itu menjadi gila betul-betul!

Akan tetapi, kalau ingatannya kembali dan Kwi Hong mendapat kenyataan bahwa dia telah menyerahkan dirinya bukan kepada Bun Beng, tapi kepada Keng In, apa yang akan terjadi?

Apakah Kwi Hong mau menerima nasib?

Bagaimana kalau tidak?

Dia takut kehilangan wanita yang dicintanya!

Keng In mengusir rasa gelisahnya.

Setelah kedua orang itu puas berkasih-kasihan dan Kwi Hong tertidur di kamar itu, Keng In segera meninggalkan pondok.

Masih ada sedikit lagi yang harus dia lakukan sebelum dia membebaskan Milana.

Cepat ia pergi ke pondok Milana, memakai caping lebar.

Milana sedang duduk menangis di dalam pondok itu.

Ketika mendengar ada orang datang dia menoleh.

Melihat bahwa yang datang adalah Bun Beng, dia bangkit berdiri.

"Manusia hina! Gak Bun Beng, hayo kau keluar dari sini!"

Keng In membelalakkan matanya dan kelihatan terkejut.

"Milana.... kekasihku, mengapa kau marah marah kepadaku?"

"Jahanam, jangan menyebut kekasih kepadaku! Engkau pernah merayuku, hal itu masih dapat dimaafkan, akan tetapi apa yang telah kau lakukan di dalam pondok kuning bersama perempuan lacur itu?"

"Milana! Perempuan lacur yang mana kau maksudkan? Aku datang bersama Giam Kwi Hong! Masa kau tidak mengenal Giam Kwi Hong?"

Keng In sengaja menekankan nama ini ke dalam ingatan Milana.

"Aku tidak kenal segala Giam Kwi Hong. Yang kulihat adalah bahwa perempuan tak tahu malu di kamar itu bermain gila denganmu. Aku tidak sudi lagi melihat tampangmu. Pergi!"

"Milana! Dia itu bukan perempuan lacur, kalau dia cinta kepadaku, apakah aku harus menolak? Gak Bun Beng bukan laki laki yang suka menolak cinta seorang wanita. Giam Kwi Hong adalah murid dan keponakan ayahmu sendiri. Masa kau lupa?"

Milana kelihatan bingung.

Ayahnya?

Siapa ayahnya?

Giam Kwi Hong?

Seperti pernah dia mendengar nama ini.

Murid dan keponakan ayahnya?

"Siapa?

Ayahku....?"

"Ayahmu Pendekar Super Sakti, Pendekar Siluman Majikan Pulau Es!"

Disebutnya nama ini seolah-olah merupakan guntur di siang hari memasuki telinga Milana.

Inilah kesalahan Keng In.

Nama Suma Han sebagai Pendekar Super Sakti telah berakar dalam ingatan Milana yang menjadi puterinya, maka begitu disebut nama ini, biarpun segala hal yang terjadi masih belum diingatnya, namun yang jelas dia tahu bahwa Bun Beng telah menghina ayahnya karena berjina dengan murid dan keponakan ayahnya itu!

Ini saja sudah cukup baginya.

"Keparat, kau menghina ayahku!"

Tiba-tiba kaki Milana menendang dan sebuah bangku melayang ke arah muka Keng In.

"Haiii!"

Keng In memukul bangku itu.

"Brakk!"

Bangku pecah berantakan akan tetapi Milana sudah menerjang maju dengan pukulan tangannya.

Keng In kaget sekali, tidak mengira bahwa Milana menyerangnya dengan marah seperti itu.

Dia cepat mengelak dan meloncat keluar, di hatinya dia tertawa girang.

Milana sudah mulai membenci Gak Bun Beng!

Karena tidak ingin melayani Milana yang mengamuk itu, Keng In cepat berlari kembali ke pondok kuning.

Akan tetapi tiba-tiba dia berhenti dan berdiri terpukau ketika melihat Kwi Hong sudah berdiri di depan pondok dengan pedang Li mo kiam di tangan dan mukanya merah, sepasang matanya berkilat!

Keng In terperanjat, dan bulu tengkuknya meremang.

Sepasang mata yang marah itu ditujukan kepadanya.

Apakah karena dia tidak memakai caping bundar yang terlempar jauh ketika dia diserang Milana tadi?

Ah, tidak mungkin!

Kwi Hong sudah menganggapnya Bun Beng, pakai caping atau pun tidak!

Akan tetapi mengapa?

"Wan Keng In!

Aku tahu bahwa kau yang menculik Milana.

Hayo serahkan Milana padaku!"

Kwi Hong berseru dan mengelebatkan Li mo kiam di tangannya.

Keng In terbelalak.

Jelas bahwa dara itu adalah Kwi Hong, wanita yang selama hampir dua pekan ini setiap hari berenang dalam lautan cinta yang mesra dengan dia!

Dan wanita ini selalu menganggapnya Gak Bun Beng.

Kenapa sekarang tiba-tiba menyebutnya Wan Keng In?

Sudah sadarkah dia?

Tak mungkin!

Tadi sebelum pergi, dia sudah menyediakan minuman bercampur obat untuk Kwi Hong!

Memang amat mengherankan bagi yang tidak melihat apa yang terjadi dengan diri Kwi Hong ketika Keng In pergi tadi.

Baru saja Keng In pergi dan Kwi Hong masih tidur pulas dengan wajah membayangkan senyum kepuasan, sesosok tubuh yang pendek menyelinap ke dalam kamar itu membuang isi cawan minuman dan menukarnya dengan benda cair yang dituangkan dari guci arak yang dibawanya.

Kemudian bayangan itu menyelinap keluar lagi setelah dia mengguncang kaki Kwi Hong yang terbangun.

Kwi Hong memandang ke kanan-kiri, melihat cawan di atas meja.

"Bun Beng....?"

Dia memanggil akan tetapi tidak ada jawaban.

Diambilnya cawan itu dan diminumnya.

Tiba-tiba dia berteriak kaget, meloncat bangun akan tetapi terbanting jatuh lagi ke atas dipan itu dan jatuh pingsan!Bayangan pendek yang bukan lain adalah seorang kakek tua renta, Bu tek Siauw jin, masuk ke kamar itu dan menggeleng kepala sambil mengeluarkan suara "ck ck ckk!"

Dengan perlahan dia lalu mengurut urut punggung muridnya itu, di sepanjang tulang punggung dari bawah sampai ke tengkuk.

Kwi Hong siuman, bangkit duduk dan menggoyang goyang kepalanya.

"Aihhhhh, di mana aku....?"

"Kwi Hong...."

Dia menoleh, terkejut melihat gurunya telah berdiri di kamar itu. Cepat dia meloncat turun dan berlutut, membetulkan pakaiannya yang tidak karuan.

"Suhu! Apa artinya ini? Di mana tee-cu? Dan.... dan.... Bun Beng...."

Gadis ini telah pulih kembali ingatannya berkat obat yang diberikan Bu tek Siauw jin dan urutan tangannya tadi.

Dia teringat akan semua yang dialaminya dengan Bun Beng maka dia terkejut melihat gurunya dan tidak melihat kekasihnya di situ.

"Kwi Hong,"

Suara Bu tek Siauw jin tidak seperti biasanya, kini terdengar tegas dan sama sekali tidak tampak sendau guraunya, bahkan alisnya yang putih itu berkerut.

"Kau agaknya tidak tahu bahwa kau berada di Pulau Neraka."

"Ehhh....? Apa teecu mimpi....?"

Ada rasa kecewa di hatinya.

Kalau hanya mimpi, jadi semua pengalamannya yang luar biasa dengan Bun Beng itu pun hanya mimpi?

"Tidak, kau tidak mimpi.

Akan tetapi ketahuilah bahwa Milana diculik oleh Wan Keng In, dan kau harus menolongnya keluar dari sini.

Awas, dia datang!"

Kakek itu berkelebat dan lenyap.

Mendengar nama Wan Keng In disebut sebagai penculik Milana, Kwi Hong menjadi terkejut.

Kini teringatlah dia betapa Wan Keng In telah membantunya membunuh tiga orang musuhnya, membantu memberi tahu tempat mereka dan betapa dia melakukan perjalanan bersama Wan Keng In.

Akan tetapi dia lupa lagi di mana dan bagaimana dia berpisah dan Wan Keng In kemudian bertemu Bun Beng.

Di mana sekarang Bun Beng?

Betapapun juga, mendengar perintah gurunya, cepat dia membereskan pakaiannya, menyambar Li mo kiam dan menanti di luar.

Begitu dia mengenal Wan Keng In yang datang, dia segera menegurnya.

"Enci Kwi Hong.... kau.... kau.... bagaimana bisa tahu?"

"Tak perlu kau ketahui, pendeknya aku tahu bahwa kau menculik Milana dan aku minta kau segera membebaskannya agar dapat pergi keluar dari Pulau Neraka ini bersamaku. Selain itu, kalau kau berani menjebak Gak Bun Beng, terpaksa aku takkan memandang persahabatan kita lagi. Di mana dia?"

Keng In menahan ketawanya, hatinya girang.

Kiranya gadis ini masih belum tahu bahwa Gak Bun Beng yang selama belasan hari ini mabuk dalam peluk ciumnya, adalah dia sendiri!

"Oohhh dia?

Begini, Enci Kwi Hong.

Dahulu, ketika kau melakukan perjalanan bersamaku, di tengah jalan aku bertemu dia dan....

dan...., aku mendengar bahwa Milana diculik orang maka aku titipkan kau kepadanya dan aku sendiri lalu mencari Milana, berhasil dan kubawa ke sini....

ada pun....

ada pun dia itu...."

Keng In menjadi bingung sekali, bukan hanya karena Kwi Hong secara tiba-tiba kembali pulih ingatannya, akan tetapi juga karena urusan menjadi berbalik arah!

Kini dia tidak ingin gadis ini pergi meninggalkannya!

Maka dia menekan hatinya dan mengambil keputusan untuk terang terangan saja karena kalau tidak tentu Kwi Hong juga segera pergi meninggalkan dia!

"Begini, Kwi Hong....

dengarlah baik-baik dan tenangkan hatimu.

Kita sama tahu bahwa Milana dan Bun Beng saling mencinta, bahkan mereka telah dijodohkan menjadi calon suami isteri.

Engkau mencinta Bun Beng dan aku mencinta Milana, akan tetapi cinta kita keduanya gagal.

Karena itu, setelah aku melihatmu, aku merasa kasihan, dan....

dan kita berdua yang gagal dalam cinta kasih ini bukanlah telah saling menemukan?

Aku akan bebaskan Milana, biar dia mencari Bun Beng dan menikah.

Aku....

aku akan berbahagia sekali hidup selamanya di sampingmu, Kwi Hong."

Muka Kwi Hong berubah pucat.

Ada firasat tidak enak menyelubungi hatinya.

Dia mulai mengingat ingat.

Cerita Keng In yang pertama tadi tidak masuk akal sama sekali.

Pengakuan yang kedua lebih cocok.

"Wan Keng In, jangan main gila kau! Apa maksudmu? Di mana Bun Beng?"

Dengan nada suara sedih penuh kekhawatiran, Keng In menjawab.

"Bun Beng tidak ada, Kwi Hong. Yang ada hanya Keng In. Bun Beng adalah milik Milana, akan tetapi Keng In adalah milikmu seperti engkau milikku, Kwi Hong."

Wajah itu menjadi makin pucat, jantungnya berdebar tegang.

"Apa....? Apa maksudmu?"

"Kwi Hong, engkau dan aku adalah sama-sama orang yang tidak disukai orang lain, tidak ada yang mencinta, dan gagal dalam cinta. Engkau dan aku yang menguasai Sepasang Pedang Iblis. Kita berdua dengan Sepasang Pedang Iblis di tangan akan menjagoi seluruh dunia. Kalau kita berdua maju, siapa yang akan dapat menandingi kita? Bahkan pamanmu, Pendekar Super Sakti sendiri belum tentu akan dapat menangkan kita berdua. Kita sudah jodoh, Kwi Hong, dan aku cinta padamu."

"Apa....? Kau gila, Keng In!"

"Kita berdua telah gila, akan tetapi dalam kegilaan itu kita dapat sepaham, dan kita akan senasib sependeritaan. Kwi Hong, engkau isteriku, engkau telah menjadi isteriku, selama dua pekan ini.... bukankah kita berdua telah saling mencurahkan cinta kasih, demikian nikmat, demikian mesra.... ah, Kwi Hong, dapatkah kau melupakan semua itu? Haruskah hubungan semesra dan sebahagia itu dihentikan untuk mengejar yang tak mungkin didapat?"

Kini wajah Kwi Hong menjadi merah sekali, air matanya bercucuran.

"Kau.... jadi kau.... kau yang selama ini.... kusangka Bun Beng....?"

"Terpaksa aku menyamar sebagai Bun Beng, karena aku ingin mendapatkan dirimu, cintamu, tanpa perkosaan...."

Terdengar jerit melengking disusul berkelebatnya Li mo kiam ketika Kwi Hong menyerang Keng In.

Pemuda ini cepat menangkis dengan Lam mo kiam dan bertandinglah mereka.

Tidak ada kata kata lagi yang keluar dari mulut mereka, karena keduanya maklum bahwa siapa lengah dia binasa.

Sepasang Pedang Iblis itu kini benar benar beradu kekuatan dan keampuhan yang sama besarnya, digerakkan oleh dua orang muda yang sama lihainya pula.

Setelah kini Kwi Hong digembleng oleh Bu tek Siauw jin, maka dia dapat mengimbangi kelihaian Keng In, karena dengan sin kang yang dilatihnya di Pulau Es digabung dengan sin kang tenaga Inti Bumi yang belum dikuasainya benar, dia kini memiliki tenaga sakti yang mujijat!

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Gak Bun Beng manusia hina! Aku harus membunuhmu!"

Sebuah caping meluncur ke arah Keng In yang sedang bertanding melawan Kwi Hong.

Itu adalah capingnya yang tadi tertinggal di pondok, yang terlepas ketika dia diserang Milana dan kini oleh gadis itu dilemparkan dengan pengerahan sin-kang kepadanya.

Tidak boleh dipandang ringan caping yang dilemparkan oleh Milana ini.

Karena sambitannya mengandung sin kang, maka caping itu meluncur dan berputar seperti sebuah cakram baja yang kalau mengenai leher mungkin akan dapat membuat putus leher itu.

Akan tetapi tentu saja Keng In yang lihai tidak menjadi gentar, bahkan menggunakan tangan kirinya menyambar capingnya itu dan dipakainya lagi!

Dia melakukan ini bukan semata-mata hendak bergurau atau memandang rendah Kwi Hong, melainkan untuk menyakinkan hati Milana yang menganggapnya Bun Beng itu.

Milana yang marah itu tidak peduli mengapa Gak Bun Beng berkelahi melawan wanita yang dijadikan teman bercinta tadi dan yang menurut ucapan Bun Beng adalah Giam Kwi Hong murid ayahnya!

Dia sudah marah sekali kepada Bun Beng.

Pertama, karena Bun Beng sudah mengecewakan hatinya dengan tingkah lakunya yang buruk.

Ke dua, karena Bun Beng telah merusak kehormatan ayahnya dengan berjina bersama murid ayahnya.

Dengan kemarahan meluap Milana sudah melolos sabuk suteranya.

Karena dia tidak mempunyai senjata, kini dia menggunakan sabuk itu untuk menyerang Bun Beng.

Memang senjata ini merupakan senjata ampuh bagi Milana, maka begitu sabuknya meluncur ke udara mengeluarkan ledakan ledakan kecil kemudian menyambar turun ke arah Keng In, pemuda itu terkejut bukan main dan cepat-cepat dia harus meloncat ke kanan untuk mengelak sambil mengelebatkan pedangnya menyambar ujung sabuk.

Akan tetapi sabuk adalah benda lemas, apalagi berada di tangan seorang ahli, sabuk itu seperti seekor ular hidup dapat mengelit serangan, dan kalau mengenai pedang, dapat menjadi lunak sehingga lenyaplah daya ketajaman pedang Lam mo kiam.

Kwi Hong bingung sekali melihat keadaan Milana.

Akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu Milana juga tidak sadar, entah karena apa, seperti dia sendiri yang mengira pemuda ini Gak Bun Beng sehingga dia mau....

digauli dan menyerahkan tubuhnya sampai belasan hari lamanya!

Teringat akan ini, hampir saja dia menjerit-jerit menangis dan kemarahannya tersalur ke pedang Li mo-kiam yang mengamuk dahsyat.

Bantuan Milana itu ternyata membuat Keng In merasa terdesak juga, akan tetapi pemuda ini dapat mempertahankan dirinya dengan baik.

Baginya, melawan kedua orang wanita cantik itu benar benar merupakan hal yang tidak menyenangkan.

Yang dibenci adalah Bun Beng, dan biarpun dia sudah "meloncat"

Milana, namun di lubuk hatinya masih terdapat cinta kasih yang mendalam sehingga dia tidak suka untuk melukai dara ini.

Ada pun terhadap Kwi Hong yang sudah menjadi "isterinya"

Juga tumbuh cinta yang mesra, dan tentu saja dia pun tidak mau melukai, apalagi membunuh Kwi Hong.

Padahal, kedua orang dara itu menyerang sungguh-sungguh untuk membunuhnya.

"Huhhh.... gadis gadis liar....!"

Seruan ini disusul menyambarnya angin dahsyat yang membuat Milana dan Kwi Hong terhuyung ke belakang.

"Suhu, jangan....!"

Keng In berseru ketika melihat gurunya Cui beng Koai ong muncul dan telah menyerang dua orang dara itu dengan dorongan dari jarak jauh.

Akan tetapi kakek itu tidak peduli, sambil bersungut sungut seperti seorang kakek yang marah karena diganggu tidurnya, dia meloncat ke depan seperti terbang saja dan kedua tangannya kembali mengirim hantaman dari jarak jauh, kini dengan pengerahan tenaga sakti yang luar biasa.

"Suhu....!"

Keng In kembali berteriak kaget.

"Dessss!"

Tubuh kedua orang kakek itu terpental ke belakang ketika pukulan dahsyat Cui beng Koai ong bertemu dengan dorongan tangkisan yang dilakukan oleh Bu tek Siauw jin yang muncul secara tiba-tiba di tempat itu.

Melihat gurunya sudah muncul menghadapi kakek mayat hidup yang mengerikan itu, Kwi Hong sudah menyerang Keng In lagi.

Juga Milana melanjutkan penyerangannya kepada Keng In yang tetap dianggapnya Gak Bun Beng itu.

Kini Keng In benar benar merasa khawatir sekali, khawatir dan bingung.

"Haiii, mundur kalian, jangan bantu aku!"

Dia membentak Kong To Tek dan teman temannya, sisa para anggauta Pulau Neraka, yang sudah maju mengurung hendak membantu pemuda ini menghadapi dua orang gadis yang mengamuk itu.

Tentu saja para anggauta Pulau Neraka tidak berani maju, dan melihat betapa Cui beng Koai ong sudah bertanding melawan Bu tek Siauw jin, mereka pun hanya saling pandang dengan bingung.

Membantu dua orang kakek yang saling bertanding ini mereka tidak berani, karena keduanya merupakan datuk Pulau Neraka, membantu Keng In dibentak.

Mereka hanya dapat berdiri menonton dengan wajah tegang dan hati bingung.

Akan tetapi yang paling bingung adalah Wan Keng In.

Dia tidak mengira sama sekali bahwa akan begini jadinya.

Siasatnya yang telah dilaksanakan dengan serapi rapinya telah rusak berantakan dan semua ini adalah gara-gara kakek pendek sinting yang kini bertanding melawan gurunya itu.

Keng In memiliki kecerdikan yang luar biasa sekali.

Sambil menahan serangan Kwi Hong dan Milana dengan Lam mo kiam di tangannya dan menggunakan kelincahannya berkelebatan ke sana sini, otaknya mulai bekerja dan mempertimbang timbangkan keadaan.

Kalau pertandingan itu dilanjutkan dan gurunya menang atas kakek pendek, gurunya yang sudah "kumat"

Kemarahannya itu tentu tidak mau sudah kalau belum membunuh Kwi Hong dan Milana!

Hal ini sama sekali tidak dikehendakinya karena dia maklum bahwa dia sendiri tidak akan mampu mencegah gurunya yang berwatak aneh luar biasa itu.

Sebaliknya, kalau gurunya kalah, dan hal ini mungkin saja mengingat bahwa susioknya Si Pendek Sinting itu memang memiliki kepandaian yang hebat sekali, kalau gurunya kalah tentu dia akan terus didesak oleh dua orang wanita ini.

Kalau mereka dibantu oleh Bu tek Siauw jin, bagaimana dia akan dapat meloloskan diri?

Dan semua anak buah Pulau Neraka tentu tidak akan ada yang berani membantunya menghadapi Bu tek Siauw jin.

Sungguh celaka, pikirnya.

Setelah kedua kakek kakak beradik seperguruan itu bertanding sendiri, keadaan menjadi berbahaya baginya.

Gurunya menang pun celaka, gurunya kalah lebih celaka lagi!

Inilah namanya urusan yang benar benar tidak beres!

Kalau tidak cepat-cepat mengambil tin-dakan yang tepat selagi gurunya dan susioknya (paman gurunya) masih berhantam, tentu akan terlambat.

Tiada jalan lain, dia harus dapat memancing dua orang gadis ini keluar dari pulau sebelum kedua orang kakek sinting itu saling bunuh!

Dengan kecerdikan yang dapat membuat dia memperhitungkannya secara tepat ini, Keng In lalu memutar pedangnya membuat gulungan sinar yang menyilaukan mata, kemudian menggunakan kesempatan selagi dua orang dara itu melangkah mundur, dia meloncat dan melarikan diri!

"Manusia hina hendak lari ke mana kau?"

Milana mengejar.

"Urusan di antara kita belum beres!"

Kwi Hong juga meloncat dan mengejar.

Keng In lari ke tempat perahu di mana terdapat beberapa buah perahu dan memang dia sengaja melakukan ini agar bukan dia seorang yang dapat keluar dari pulau, melainkan juga dua orang dara itu.

Akan tetapi, ketika dia tiba di tepi pantai, pada saat itu tampak sebuah perahu kecil dari mana meloncat ke luar seorang laki laki yang juga memakai caping bundar.

Gak Bun Beng!

Melihat munculnya pemuda ini, diam diam Keng In terkejut dan mengeluh sendiri.

Sungguh sialan dia hari ini!

Sementara itu, ketika Bun Beng yang baru datang melihat Milana, bukan main lega dan girang hatinya.

Dia tidak mem-pedulikan apa-apa lagi dan langsung saja dia menghadang Milana, mengembangkan kedua lengannya dan berkata.

"Milana.... terima kasih kepada Tuhan.... engkau masih dalam keadaan selamat....."

"Kau....? Kau....?"

Milana memandang bengong, sebentar memandang Bun Beng, kemudian memandang Keng In yang juga bercaping bundar dan yang sudah lari terus kini hanya dikejar Kwi Hong seorang.

"Milana, kekasihku.... aku Bun Beng, lupakah kau....? Apa yang telah terjadi, Milana?"

Bun Beng mendekat dan memeluk dengan kaget dan heran melihat kekasihnya itu tidak mengenalnya.

"Desss!"

Sebuah pukulan tangan kanan Milana mengenai dada Bun Beng. Dara itu serta merta memukul begitu mendengar nama Bun Beng.

"Aihhh mengapa, Milana?"

Bun Beng terjengkang.

Biarpun secara otomatis sin kangnya sudah melindungi dada ketika pukulan tiba, namun karena pukul-an itu tidak tersangka sangka, ditambah lagi hatinya yang remuk melihat kekasihnya seperti tidak mengenalnya, bahkan membenci dan memukulnya, Bun Beng terpukul dan sejenak memandang nanar.

Memang Milana masih dipengaruhi obat perampas ingatan.

Gadis ini sendiri bingung ketika di depannya ada "Bun Beng"

Lagi padahal Bun Beng sedang dikejar.

Maka tanpa banyak cakap lagi dia menghantam orang yang mengaku Bun Beng ini.

Baginya, yang teringat hanyalah bahwa nama Gak Bun Beng adalah nama yang dibencinya, karena orang itu telah mengkhianati cintanya!

Setelah memukul, Milana berlari lagi mengejar Bun Beng pertama yang sudah meloncat ke atas sebuah perahu dan mendayung perahu ke tengah lautan.

Kwi Hong juga sudah mendorong perahu kecil.

Melihat ini, Milana meloncat jauh dan bagaikan seekor burung walet dia sudah tiba di atas perahu Kwi Hong yang sudah mulai meluncur itu.

Melihat Milana, Kwi Hong berkata.

"Milana, kau kembalilah. Dia itu Bun Beng kekasihmu, sedangkan yang di depan itu...."

"Tutup mulut dan mari kita kejar jahanam Gak Bun Beng itu!"

"Akan tetapi, Milana...."

"Aku tidak sudi bicara lagi tentang urusanmu. Kau mencintanya, bukan? Aku tidak peduli biar kau seribu kali mencinta Bun Beng!"

"Aih, Milana.... aku.... aku tidak apa-apa dengan Bun Beng...."

Milana memandang dengan penuh kemarahan.

"Apa kau kira mataku ini sudah buta? Kau mau menyangkal bahwa kau berjina dengan laki laki di depan itu?"

Dia menuding ke arah perahu yang ditumpangi Keng In.

Kwi Hong terisak, duduk di perahu dan menangis.

Apa yang harus dijawabnya?

Tak mungkin dia menyangkal.

Agaknya Milana sudah melihat sendiri ketika dia bermain cinta dengan Keng In di pondok kuning, Keng In yang disangkanya Bun Beng!

Kata kata Milana menghancurkan hatinya dan betapapun keras watak gadis ini, karena merasa betapa dia telah terperosok ke jurang kehinaan, dia menangis terisak isak.

Milana juga menjatuhkan diri duduk di atas langkan perahu di depan Kwi Hong.

Gadis itu adalah murid ayahnya.

Giam Kwi Hong.

Kini mulai samar-samar dia mengingat bahwa ayahnya memang mempunyai seorang keponakan yang menjadi muridnya sendiri.

Dan Bun Beng yang mengaku cinta kepadanya, yang juga dicintanya itu, di depan matanya sendiri telah berjina dengan gadis ini!

Hal ini menusuk perasaannya dan Milana juga menangis.

Dua orang gadis itu menangis, membiarkan perahu mereka digerak-gerakkan ombak.

Kemudian keduanya teringat akan Keng In atau yang disangka Bun Beng oleh Milana, maka mereka lalu tanpa bercakap cakap lagi mendayung perahu dan mengembangkan layar, melakukan pengejaran kepada perahu Keng In yang sudah amat jauh, tinggal menjadi titik hitam di depan itu.

Sementara itu, Bun Beng yang merasa terheran heran menyaksikan sikap Milana, tidak melakukan pengejaran karena dia melihat Milana sudah bersama Kwi Hong, tidak perlu dikhawatirkan sama sekali menghadapi Keng In.

Buktinya Keng In telah melarikan diri dikejar dua orang dara itu.

Kalau dia mengejar Milana, tentu akan timbul salah sangka yang makin besar.

Biarlah dia akan menyeli-dikinya kelak apa yang menyebabkan Milana marah marah dan memukulnya seperti itu setelah tadinya dara itu seolah-olah tidak mengenalnya lagi.

Tiba-tiba muncul beberapa belas orang yang mukanya beraneka warna dan langsung mereka itu mengeroyoknya dengan pelbagai senjata di tangan mereka!

Bun Beng mengenal mereka sebagai para penghuni Pulau Neraka yang dipimpin oleh dua orang tokoh yang dikenalnya pula karena dua orang itu dahulu pernah dijumpai dan bahkan dikalahkannya, ketika mereka mengacau di Thian liong pang dan dia menyamar sebagai ketua Thian-liong pang.

Dua orang yang memimpin delapan belas sisa anak buah Pulau Neraka itu bukan lain adalah Kong To Tek yang kepalanya gundul dan mukanya merah muda, pendek dan gendut.

Orang ke dua adalah Chi Song yang juga gendut akan tetapi tinggi besar, juga mukanya merah muda.

Melihat dia diserbu dan dikeroyok, Bun Beng meloncat jauh tinggi melampaui kepala mereka yang berada di belakangnya, kemudian turun ke atas tanah sambil berseru.

"Tahan senjata! Aku datang bukan sebagai musuh!"

"Kami mengenalmu. Engkau adalah Gak Bun Beng, musuh besar tuan muda Wan Keng In. Wan kongcu sudah memesan bahwa jika bertemu dengan engkau, kami harus membunuhmu!"

Kata Kong To Tek Si Kepala Gundul.

Teman temannya sudah mengurung Bun Beng lagi dengan sikap mengancam.

Bun Beng mengangkat tangan ke atas dan berkata nyaring.

"Kalian ini apakah tidak dapat membedakan kawan atau lawan? Aku datang untuk menemui Wan Keng In dan Nona Milana, bukan sebagai musuh karena Wan Keng In sekarang telah menjadi anggauta keluarga Pulau Es. Kulihat mereka tadi berkejaran, apakah sesungguhnya yang terjadi di pulau ini?"

"Tidak perlu banyak bicara! Kawan-kawan, serbu....!"

Kong To Tek dan Chi Song sudah menerjang maju memelopori teman temannya dan begitu maju keduanya telah menggunakan pukulan pukulan maut mereka.

Kong To Tek Si Gendut pendek gundul ini adalah seorang ahli pukulan beracun yang dilakukannya dengan tubuh merendah seperti berjongkok, perutnya mengeluarkan bunyi kok kok dan mulutnya mengeluarkan uap hitam ketika dia memukul ke arah perut Bun Beng.

Pemuda ini sudah mengenal ilmu Si Gundul ini, akan tetapi dia diam saja tidak mengelak atau menangkis.

Hanya ketika pukulan mengenai perutnya, dia mengerahkan sin kangnya.

"Cappp!"

Tangan beracun itu memasuki perut, tersedot sampai sebatas pergelangan tangan dan tidak dapat dicabut kembali!

Kong To Tek memekik kesakitan karena selain tangannya terasa panas sekali, juga hawa beracun itu seperti tertolak dan menyerang dirinya sendiri melalui lengannya yang tersedot ke dalam perut pemuda itu.

"Haiiiittt!"

Chi Song memekik dan tubuhnya sudah mencelat ke depan, seperti terbang dia mengirim sebuah tendangan ke arah kepala Bun Beng.

Tentu saja pemuda ini tidak membiarkan kepalanya ditendang, dan dengan tangan kiri dia menampar, mengenai tulang kering betis kaki yang menendang.

"Krekkk!"

Tubuh Chi Song terpelanting dan dia mengaduh-aduh karena tulang kering kakinya patah.

Pada saat itu, tubuh Kong To Tek terpental ke belakang.

Kiranya Bun Beng telah melepaskan tangan yang disedot perutnya tadi sambil menendang.

Kong To Tek terbanting dekat Chi Song dan dia pun mengaduh aduh karena lengannya seperti dibakar dan dalam keadaan lumpuh!

Para anak buah Pulau Neraka terkejut dan marah melihat betapa dua orang pemimpin mereka roboh.

Mereka adalah orang-orang yang tak mengenal takut, maka sambil berteriak teriak mereka lari menyerbu.

Pada saat itu terdengar teriakan teriakan melengking, sedemikian hebat teriak yang mengandung khi kang kuat sekali itu sehingga belasan orang Pulau Neraka itu bergelimpangan dan seperti lumpuh sesaat karena getaran suara itu.

Bun Beng sendiri cepat mengerahkan sin kangnya karena lengkingan dahsyat itu benar benar luar biasa sekali.

Dia tidak lagi mempedulikan para anak buah Pulau Neraka dan cepat dia melompat dan lari ke arah suara melengking yang luar biasa tadi.

Ketika dia tiba di tengah pulau, dan tiba di tempat dari mana suara lengkingan dahsyat tadi terdengar, dia berdiri terpukau di tempatnya dan tidak bergerak memandang peristiwa hebat yang sedang berlangsung di depan.

Ternyata bahwa kakek pendek yang sakti, yang telah menurunkan ilmu bersama sama Pendekar Super Sakti kepadanya, yaitu kakek Bu-tek Siauw jin yang berkali kali telah menolongnya, sedang bertanding melawan seorang kakek yang lebih tua dan yang mengerikan sekali, seperti seorang mayat hidup, namun yang kesaktiannya tak kalah oleh Si Kakek Pendek yang sinting!

Dan memang pertandingan antara kakak beradik seperguruan itu hebat bukan main.

Selama ini, mereka tidak pernah bentrok, karena biarpun keduanya adalah datuk datuk Pulau Neraka, namun keduanya mempunyai kesenangan yang berbeda.

Bu tek Siauw jin adalah seorang petualang dan perantau, jarang berada di Pulau Neraka, sedangkan Cui beng Koai ong adalah seorang yang suka bertapa, terutama bertapa di bawah tanah tanah kuburan bersama kerangka dan mayat-mayat.

Dengan cara masing-masing, keduanya menambah ilmu mereka sehingga tidak lumrah manusia lagi.

Mereka memang saling tidak menyukai, akan tetapi karena keduanya tahu bahwa masing-masing memiliki kepandaian hebat, mereka saling merasa segan untuk bentrok, apalagi karena mereka masih saudara seperguruan.

Baru setelah Cui beng Koai ong mengambil Wan Keng In sebagai murid, timbul pertentangan dalam batin mereka.

Bu tek Siauw jin juga melakukan perbuatan tandingan, mengambil Kwi Hong sebagai murid pula!

Bahkan lebih dari itu, dia berkenan menurunkan ilmu sin kangnya Tenaga Inti Bumi kepada Gak Bun Beng.

PadaHal-hal hal itu merupakan pantangan bagi datuk datuk Pulau Neraka itu.

Puncak pertentangan itu terjadi ketika Bu tek Siauw jin melihat suhengnya itu hendak membunuh Kwi Hong, maka dia muncul dan melawan.

Andaikata Kwi Hong terbunuh dalam pertandingan melawan Wan Keng In umpamanya, kiranya kakek pendek ini tidak akan mau turut campur.

Pertandingan antara mereka memang hebat dan menyeramkan.

Tadi mereka bertempur menggunakan ilmu silat masing-masing, saling serang dengan gerakan cepat sehingga bayangan mereka menjadi satu, sukar dibedakan lagi.

Namun, sampai seratus jurus belum juga ada yang dapat menang.

Keduanya menjadi penasaran dan mengeluarkan pekik melengking dahsyat untuk mempengaruhi lawan, pekik yang saking hebatnya sampai membuat para anak buah Pulau Neraka terguling dan yang menarik perhatian Bun Beng tadi.

Setelah mengeluarkan pekik itu, kini keduanya berdiri tak berpindah dari tempat mereka dan kalau ditonton oleh yang tidak mengerti tentu akan membuat orang tertawa geli.

Kedua orang kakek itu berdiri saling berhadapan dalam jarak tiga meter, dan mereka itu menggerak gerakkan kedua tangan dengan gerakan memukul dan menangkis.

Padahal tangan mereka itu saling berjauhan dan tanpa ditangkis pun pukulan itu tidak akan mengenai badan.

Akan tetapi, Bun Beng yang melihatnya menjadi kagum dan juga terkejut karena pukulan pukulan jarak jauh mereka itu sedemikian hebatnya sehingga angin pukulannya sampai terasa oleh dia yang berdiri agak jauh!

Tentu saja Bun Beng tidak berani melerai atau mencampuri, hanya menonton dengan hati penuh ketegangan.

Kini tampak kakek mayat hidup itu memukul dengan kedua lengan didorongkan ke depan dengan dahsyat sekali.

Bu-tek Siauw jin juga mendorongkan kedua lengannya ke depan, menyambut serangan suhengnya itu.

Bun Beng seperti merasa tergetar dan tahu betapa di saat itu, dua tenaga raksasa mujijat yang amat kuat saling bertemu di udara, di antara kedua orang kakek itu.

Tampak betapa keduanya agak tergetar dan bergoyang-goyang tubuh mereka.

Kedua lengan mereka tetap dilonjorkan saling dorong dan tubuh mereka tidak bergerak.

Perlahan lahan tam-pak uap mengepul dari kepala kedua kakek itu, dan dengan hati kaget Bun Beng melihat betapa muka Bu tek Siauw-jin penuh dengan peluh yang besar-besar menetes turun, akan tetapi wajah kakek pendek ini tetap berseri, mulutnya tersenyum.

Adapun kakek mayat hidup itu wajahnya keruh dan penuh kemarahan, akan tetapi tidak tampak peluh di mukanya walaupun uap yang mengepul dari kepalanya sama tebalnya dengan uap yang mengepul dari kepala sutenya.

Pertandingan mengadu tenaga sakti ini benar benar amat menegangkan hati Bun Beng sendiri sehingga tanpa disadarinya, tubuhnya juga mengeluarkan banyak keringat!

Dia tidak mempedulikan Kong To Tek dan Chi Song bersama teman-teman mereka yang sudah tiba di situ pula.

Mereka itu sebagai ahli ahli silat tahu apa artinya keadaan kedua orang kakek itu, dan mereka memandang dengan hati tegang, tidak bergerak bahkan ada yang menahan napas.

Bun Beng yang sudah memiliki sin-kang tinggi, dapat menduga bahwa kakek pendek itu terdesak hebat, napasnya sudah mulai memburu dan agaknya akan kalah dalam pertandingan ini.

Akan tetapi, Si Mayat Hidup itu pun harus mngerahkan segenap tenaganya dan andaikata kakek cebol itu roboh, agaknya Si Mayat Hidup pun tidak akan terhindar dari luka dalam yang parah.

Maka dia menjadi makin tegang.

Dia tidak berani mencampuri, apalagi karena dalam keadaan seperti itu, kalau dia mencampuri, selain berbahaya bagi dirinya sendiri, juga berbahaya bagi kedua orang kakek itu.

Sedikit saja perhatian mereka teralih, mereka bisa tewas seketika terpukul oleh getaran hawa sakti yang bukan main dahsyatnya.

Tiba-tiba kakek yang seperti mayat hidup itu mengeluarkan suara menggereng dari perutnya dan darah merah menyembur keluar dari mulut, akan tetapi pengerahan tenaga terakhir ini membuat Bu--tek Siauw jin tak mampu bertahan lagi dan dia roboh terjengkang!

Si kakek mayat hidup mengeluarkan suara ketawa aneh, kemudian tubuhnya meloncat ke atas, kedua kakinya meluncur turun menginjak ke arah tubuh sutenya.

Bu-tek Siauw jin juga mengeluarkan suara ketawa, kelihatan tangannya ber-gerak menghantam, menyambut kaki yang menginjaknya.

Keduanya memekik hebat dan roboh terbanting, dada Bu tek Siauw-jin pecah oleh injakan kaki kiri sedangkan kaki kanan Cui beng Koai ong hancur oleh pukulan sutenya.

"Heh heh.... mampus kau, sute.... heh heh.... augh...."

Cui beng Koai ong terkekeh dan menuding ke arah sutenya.

"Ha ha.... Suheng.... kau yang melayat atau aku yang melayat, nih....?"

Bu tek Siauw jin juga tertawa sambil menuding ke arah suhengnya.

Cui beng Koai ong tertawa lagi lalu terkulai dan seperti juga sutenya, kakek ini tewas seketika.

Kakek mayat hidup itu telah memiliki kekebalan yang luar biasa, akan tetapi kelemahannya adalah pada telapak kakinya, maka begitu kakinya dipukul hancur, nyawanya melayang.

Kakak beradik seperguruan yang keduanya memiliki kesaktian tidak lumrah manusia itu ternyata tewas dalam pertandingan antara mereka sendiri, sebuah pertandingan yang menggetarkan jantung Bun Beng.

Pemuda itu meloncat dekat, sekali pandang saja dia maklum bahwa keduanya telah tewas.

Dia berlutut dekat mayat Bu tek Siauw jin, mengheningkan cipta sebentar sebagai penghormatan terakhir, kemudian dia bangkit berdiri memutar tubuh lalu pergi dari situ.

Anak buah Pulau Neraka hendak menyerbunya, akan tetapi dia membentak.

"Mau apa lagi kalian? Lebih baik urus jenazah kedua orang kakek ini!"

Sikap dan ucapan yang nyaring itu membuat mereka ragu ragu, apalagi karena kedua orang pemimpin mereka, Kong To Tek dan Chi Song, sudah tidak mampu bertanding lagi.

Mereka hanya dapat memandang kepergian Bun Beng seperti sekumpulan serigala yang berniat mengeroyok akan tetapi ditindih rasa jerih.

Perahu yang ditumpangi Milana dan Kwi Hong tidak mampu mengejar perahu Wan Keng In sehingga akhirnya mereka itu tertinggal jauh.

Ketika kedua orang dara ini mencapai tepi pantai dan mendarat, Keng in sudah tidak tampak lagi.

"Milana, dengarlah kata kataku baik baik. Entah apa yang telah terjadi denganmu, agaknya engkau masih belum menguasai ingatanmu, engkau masih belum sadar. Orang yang kita kejar tadi bukanlah Gak Bun Beng. Dia adalah Wan Keng In, manusia jahat yang harus kita bunuh!"

"Bohong! Aku tahu bahwa engkau mencinta Bun Beng, dan aku melihat dengan mata sendiri bahwa kau.... kau telah...."

"Milana, aku sama sekali tidak melakukan sesuatu dengan Bun Beng. Ketahuilah, kau dan Gak Bun Beng telah dijodohkan, dan kini ayahmu minta agar engkau suka kembali ke Pulau Es bersama Bun Beng...."

"Kwi Hong! Tak perlu engkau membujuk aku dengan segala kebohonganmu! Coba jawab, apa engkau mencinta Wan Keng In?"

"Tidak! Aku akan bunuh keparat jahanam itu!" (Lanjut ke

Jilid 48) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 48

"Nah, engkau membenci Keng In, dan engkau mencinta Bun Beng. Sekarang katakan, dengan siapa engkau di dalam pondok itu?"

"Dengan.... dengan...."

Kwi Hong bingung dan gugup sekali.

Maklumlah dia bahwa dia telah masuk perangkap.

Kalau dia menjawab bahwa laki laki dengan siapa dia bermain cinta di dalam pondok itu adalah Keng In, tentu hal ini berlawanan dengan pengakuannya bahwa dia membenci Keng In dan akan membunuhnya.

Tentu saja Milana yang ingatannya belum pulih itu menyangka bahwa laki-laki itu Gak Bun Beng.

"Sudahlah, Kwi Hong, aku sudah melihatnya sendiri, tidak perlu kau membohong lagi. Engkau mencinta Bun Beng, bahkan engkau telah menyerahkan dirimu kepadanya, aku tidak peduli lagi!"

Milana hendak membalikkan tubuh, akan tetapi Kwi Hong memegang lengannya dan membujuk.

"Milana, apa pun yang terjadi, marilah kita ke Pulau Es. Biar nanti ayahmu yang memutuskan segalanya. Engkau masih belum sadar...."

Milana merenggutkan lengannya terlepas dari pegangan Kwi Hong.

"Cukup! Aku tidak sudi lagi bicara denganmu, perempuan tak tahu malu!"

Milana lalu melompat dan pergi meninggalkan Kwi Hong.

Kwi Hong menjatuhkan diri berlutut di atas pasir pantai, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Menangis!

"Bedebah kau, Wan Keng In.

Aku bersumpah, tak kan berhenti sebelum membunuhmu!"

Dia bangkit berdiri dan melangkah dengan terhuyung ke depan, seluruh tubuh terasa lemas karena batin yang tertekan kedukaan.

Milana juga lari secepatnya dengan air mata bercucuran.

Hatinya remuk rendam mengingat akan hubungan cinta kasihnya yang hancur.

Perlakuan Bun Beng terhadap dirinya di Pulau Neraka, ketika pemuda yang menjadi pujaan hatinya itu hendak merayunya dan mengajaknya bermain cinta, masih dapat dimaafkannya biarpun hal itu mengecewakan hatinya.

Masih dapat dimaafkan karena mungkin saking rindu dan cintanya, pemuda itu tidak dapat menahan gairah hatinya yang dikuasai nafsu berahinya pada waktu itu.

Akan tetapi, melihat Bun Beng berjina dengan Giam Kwi Hong, bagaimana dia dapat memaafkannya?

Apalagi mendengar dari mulut Kwi Hong bahwa dia dijodohkan ayahnya dengan Bun Beng.

Siapa sudi menjadi isteri seorang laki laki mata keranjang seperti itu?

Beberapa hari kemudian setelah melakukan perjalanan tanpa tujuan, perlahan-lahan ingatan Milana kembali karena pengaruh obat beracun itu sedikit demi sedikit lenyap setelah dia terbebas dari Pulau Neraka dan tidak diberi racun setiap hari seperti biasa.

Karena kembalinya ingatannya itu sedikit demi sedikit, Milana tidak merasa akan hal ini.

Dia hanya mulai teringat akan keadaan dahulu satu demi satu, ingat akan Kaisar yang menjadi kakeknya di kota raja, akan semua orang yang dikenalnya.

Semua ingatannya pulih, hanya satu hal yang tidak semestinya, yaitu tentang Bun Beng.

Bun Beng sekarang bukanlah Bun Beng dahulu lagi, sekarang menjadi seorang laki laki yang dibencinya.

Karena ini, dia tidak mau kembali ke Pulau Es.

Dia mendengar dari Kwi Hong bahwa dia dijodohkan dengan Bun Beng oleh ayah bundanya, dan dia tidak akan mau menerimanya.

Kalau dia kembali ke Pulau Es, tentu akan terjadi hal yang tidak menyenangkan karena urusan itu.

Maka dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja, menghadap kakeknya dan tinggal di istana sebagai puteri Kaisar yang hidup mulia dan terhormat.

Dan dia akan mencoba untuk melupakan Bun Beng!

Pada suatu siang selagi Milana berjalan cepat melalui pegunungan di sebelah utara kota raja, tiba-tiba muncul belasan orang laki laki yang rambutnya digelung ke atas.

Mereka itu kelihatan bersikap gagah, dan tidak kasar, akan tetapi jelas bahwa mereka sengaja menghadang di jalan dan pemimpin mereka, seorang laki-laki tinggi kurus berjenggot dan berkumis tipis, mengangkat tangan ke atas menyuruh dara itu berhenti.

"Nona harap berhenti dulu!"

Milana mengerutkan alisnya dan dia bertanya.

"Kalian ini siapa dan mau apa menghadang orang lewat?"

Si Tinggi Kurus menjawab.

"Kami adalah orang-orang Tiong gi pang (Perkumpulan Orang Jujur dan Berbudi) yang mengharapkan sumbangan dari semua orang lewat di sini. Maka harap Nona sudi meninggalkan sekedar sumbangan sebelum Nona melanjutkan perjalanan."

Milana marah sekali.

"Kalian perampok?"

Orang itu menggeleng kepala dan para anak buahnya bersikap tidak senang de-ngan sebutan itu.

"Kami sama sekali bukan perampok, bahkan kami pembasmi para perampok yang tadinya banyak berkeliaran di tempat ini mengganggu orang-orang lewat. Akan tetapi perkumpulan kami membutuhkan biaya biaya dan dari siapa lagi kalau tidak dari sumbangan para dermawan yang lewat? Nona seorang wanita muda melakukan perjalanan seorang diri, tentu Nona seorang kang ouw dan sudah maklum akan hal ini. Maka harap Nona tidak bersikap pelit. Kami tanggung bahwa dari sini sampai kota raja, tidak akan ada seorang pun perampok yang berani mengganggumu, Nona."

Tentu saja Milana mengerti dan mengenal perkumpulan seperti itu.

Dia adalah puteri bekas Ketua Thian liong pang, tentu saja tahu akan segala peristiwa dunia kang ouw.

Perkumpulan seperti mereka yang menamakan diri Tiong gi-pang ini adalah perkumpulan yang biasa diejek dengan perampok perampok halus.

Mereka sebetulnya adalah orang-orang gagah yang bersatu untuk menghadapi dunia hitam para perampok, maling dan lain lain.

Akan tetapi karena mereka itu tidak mempunyai penghasilan tetap dan perkumpulan mereka tentu saja membutuhkan biaya, maka mereka mengambil cara ini untuk menutup kebutuhan mereka yang bersahaja, yaitu dengan jalan "memungut sumbangan"

Dari para orang lewat di daerah yang telah mereka "bersihkan"

Itu.

Akan tetapi pada waktu itu, hati dan pikiran Milana sedang dilanda kekecewaan dan kemarahan karena Bun Beng, maka menghadapi hal yang biasanya akan dianggap wajar dan dihadapinya dengan penuh pengertian itu, kini menimbulkan kemarahannya.

"Bilang saja perampok, pakai memutar-mutar omongan segala. Kalau kalian minta sumbangan kepadaku, aku hanya membawa kaki tanganku yang bisa membagi pukulan dan tendangan! Entah kalian mau atau tidak menerima sumbangan ini!"

Dua belas orang itu adalah laki laki gagah, tentu saja mereka menjadi marah sekali mendengar ucapan gadis ini yang amat merendahkan mereka.

Betapapun juga, mereka merasa segan untuk turun tangan mengeroyok seorang wanita muda, dan hanya pimpinan mereka yang tinggi kurus itu melangkah maju, matanya terbelalak marah ketika dia membentak.

"Bocah perempuan sombong! Mungkin kau memiliki sedikit kepandaian silat, akan tetapi hal itu amat tidak baik bagimu, membuatmu sombong sekali mengira di dunia ini tidak ada yang dapat melawanmu! Hemm, kalau memang engkau hanya bisa memberi pukulan dan tendangan, biarlah aku menerima sumbanganmu itu!"

"Kalau begitu, terimalah ini!"

Milana yang sedang risau hatinya itu segera menerjang maju dan mengirim pukulan pu-kulan dengan kecepatan luar biasa.

Biarpun Si laki laki Tinggi Kurus itu berusaha menangkis dan mengelak, namun dia bukanlah lawan dara yang memiliki ilmu silat tinggi itu dan pukulan bertubi tubi dari Milana yang membuatnya terdesak tak mampu membalas serangan, akhirnya mengenai sasaran, pundaknya tertampar dan laki laki itu terpelanting!

Melihat ini kawan kawannya terkejut, penasaran dan marah sekali.

Tanpa dikomando lagi mereka menyerbu, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang menggunakan senjata karena niat mereka hanya untuk menangkap gadis galak itu dan menghadapkannya kepada ketua mereka.

Melihat ini, Milana mengamuk, akan tetapi dia pun mengerti bahwa pengeroyoknya itu bukanlah orang-orang jahat kejam karena mereka itu tidak ada yang menggunakan senjata.

Maka dia pun hanya memukul dan menendang dengan tenaga terbatas agar tidak kesalahan tangan membunuh mereka.

Para pengeroyok itu terkejut sekali ketika mendapat kenyataan betapa lihainya gadis muda itu.

Beberapa orang yang maju lebih dulu terpelanting ke kanan-kiri dan mengaduh aduh, ada yang patah tulang lengan atau kakinya.

Pada saat itu Milana melihat munculnya rombongan orang yang jumlahnya lebih banyak lagi, datang berlari larian ke tempat itu.

Hatinya menjadi gemas, dan dia sudah siap untuk mengamuk dan merobohkan mereka semua!

Tiba-tiba beberapa orang di antara rombongan yang baru datang itu berseru.

"Berhenti semua....! Dia adalah Nona Milana, puteri Ketua Thian liong pang!"

Mendengar seruan ini, para pengeroyok terkejut dan mundur.

Milana juga berhenti mengamuk dan memandang mereka yang baru datang itu.

Di antara orang-orang ini dia mengenal beberapa orang anggauta Thian liong pang!

Lima orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Milana sambil berkata.

"Harap Nona suka memaafkan kami dan teman teman kami, karena tidak tahu maka berani bersikap kurang ajar kepada Nona."

"Hemm, apa artinya ini? Kenapa kalian menjadi anggauta gerombolan ini?"

Tanya Milana dengan alis berkerut.

"Harap Nona tidak salah duga. Perkumpulan Tiong gi pang bukanlah gerombolan perampok.... dan perkumpulan ini didirikan oleh Bhok Toan Kok Pangcu (Ketua)."

"Haii....? Sai cu Lo mo....?"

"Marilah Nona, kuantar menjumpai Pangcu. Ceritanya panjang dan sebaiknya Nona mendengar dari Pangcu sendiri."

Berdebar jantung Milana.

Semua pembantu ibunya telah tewas ketika Thian-liong pang diserbu kaki tangan Koksu.

Kiranya Sai cu Lo mo dapat menyelamatkan diri dan sekarang kakek ini selain masih hidup, juga telah menjadi ketua sebuah perkumpulan.

Dia mengangguk lalu mengikuti rombongan itu memasuki hutan, dipandang penuh kagum oleh anggauta-anggauta perkumpulan Tiong gi pang yang bukan bekas anggauta Thian liong pang.

Di dalam hutan di lereng bukit itu terdapat bangunan pondok pondok sederhana dan inilah pusat perkumpulan Tiong-gi pang yang jumlahnya kurang lebih lima puluh orang itu.

Ketika Milana berhadapan dengan Sai cu Lo mo, gadis ini tidak dapat menahan kesedihan dan keharuannya.

Dia menubruk Sai-cu Lo mo sambil menangis.

"Bhok kongkong (Kakek Bhok)....!"

Dia menangis di pundak itu yang mengelus-elus kepalanya.

Kakek itu duduk di kursi, kedua kakinya telah lumpuh akibat luka lukanya ketika Thian liong pang diserbu oleh anak buah Koksu.

"Nona Milana.... aihhh, Nona...."

Sai-cu Lo mo juga mengejap ngejapkan matanya menahan air matanya.

Akan tetapi kakek ini dapat menekan perasaannya, lalu menuntun nona itu memasuki pondok.

"Mari kita duduk dan bicara, Nona. Kita harus masih bersukur bahwa para pemberontak itu dapat dihancurkan oleh ibumu, dan biarpun Thian liong pang sudah hancur lebur, namun namanya masih tetap baik sebagai pembela negara, Mari duduk dan ceritakanlah. Saya mendengar bahwa Nona terculik. Saya telah mengerahkan semua anak buah perkumpulan ini untuk membantu dan menyelidiki keadaanmu, namun sia sia. Apalagi terdengar berita bahwa engkau diculik orang Pulau Neraka, betulkah ini? Di antara kami tidak ada seorang pun yang tahu di mana letaknya Pulau Neraka itu."

Milana menghapus air matanya, kemudian dia menceritakan kepada pembantu ibunya yang setia itu tentang semua pengalamannya.

Betapa dia diculik oleh Wan Keng In, akan tetapi berhasil mempertahankan kehormatannya sungguhpun dia tidak berdaya untuk keluar dari Pulau Neraka.

Betapa kemudian muncul Giam Kwi Hong dan bersama keponakan dan murid ayahnya itu dia berhasil mendesak Keng In sehingga pemuda itu melarikan diri, sedangkan guru pemuda itu dilawan oleh kakek pendek yang menjadi guru Kwi Hong.

Kemudian, kembali dia terisak menangis ketika menceritakan kelakuan Gak Bun Beng kepadanya.

"Menurut kata Enci Kwi Hong, oleh ayahku telah dijodohkan dengan dia, Kek. Akan tetapi.... aku tidak sudi menjadi isteri manusia rendah itu! Dia tidak saja berusaha untuk menyeret aku ke dalam perjinaan yang kotor, akan tetapi dia juga berjina dengan Giam Kwi Hong...."

Milana menangis lagi.

Dapat dibayangkan betapa marah, duka dan kecewa hati kakek itu.

Gak Bun Beng adalah cucu keponakannya, karena ibu pemuda itu, Bhok Khim, yang dahulu diperkosa oleh Gak Liat Si Iblis Botak sehingga melahirkan Bun Beng (baca cerita PENDEKAR SUPER SAKTI) adalah keponakannya.

Dan dia pernah melamar Milana untuk Bun Beng, yang ditolak oleh ibu Milana dan yang membuat dia mundur teratur ketika mendengar bahwa ibu Milana bukan saja puteri Kaisar, akan tetapi ayah Milana adalah Pendekar Super Sakti!

Dan sekarang, Pendekar Super Sakti bahkan telah menjodohkan puterinya itu dengan Gak Bun Beng, akan tetapi agaknya Bun Beng telah berubah, telah menjadi seorang pemuda berwatak kotor!

"Nona, benar benar terjadikah apa yang kau ceritakan itu kepadaku?

Menurut penglihatanku, Bun Beng bukanlah seorang berwatak bejat...."

"Kalau aku tidak mengalami sendiri dibujuk rayu olehnya, kalau aku tidak melihat sendiri dia berjina dengan Kwi Hong, aku sendiri tentu tidak percaya, Kek. Akan tetapi aku mengalami sendiri dan melihat sendiri...."

Kembali dia terisak dan menutupi mukanya.

"Sudahlah, Nona. Aku sendiri kalau kelak bertemu dengannya, akan menegur dan menghajarnya. Biarpun dia lihai, dia adalah cucu keponakanku, dan biarlah aku mati dalam tangannya kalau dia tidak dapat disadarkan. Sekarang, Nona hendak pergi ke mana?"

"Aku hendak mencari ibu...."

"Beliau tidak lagi berada di kota raja, Nona. Kalau tidak salah dugaanku, dia tentu ikut bersama ayahmu ke Pulau Es."

Milana menghela napas dan menghapus sisa air matanya.

"Aku pun menduga demikian ketika Enci Kwi Hong muncul di Pulau Neraka. Akan tetapi.... aku sendiri tidak ingin ke Pulau Es setelah apa yang terjadi semua itu, setelah ayah menjodohkan aku dengan orang yang demikian rendah. Aku girang bahwa ibu akhirnya telah bersatu dengan ayah. Aku.... aku.... agaknya tidak ada jalan lain, aku akan ke kota raja menghadap Kaisar...."

Dia ragu ragu.

"Nona Milana, biarpun Kaisar adalah kakekmu sendiri dan tentu kau akan diterima di istana, akan tetapi dapatkah engkau menyesuaikan diri dengan kehidupan di istana? Nona sudah biasa hidup bebas, mungkinkah Nona hidup terkurung dan terbatas di dalam istana?"

Milana menarik napas panjang.

"Aku pun meragukan hal itu, Bhok kongkong. Tentu aku tidak kerasan di sana...."

"Kalau begitu, mengapa Nona tidak tinggal saja bersama kami? Ketika aku berhasil menyelamatkan diri dari serbuan anak buah Koksu pemberontak itu, aku bertemu dengan sisa para anggauta Thian-liong pang, dan bertemu dengan sisa anggauta Pek eng pang yang sudah kehilangan pimpinan. Maka kukumpulkan mereka, kusatukan dan karena aku tidak berani menggunakan nama Thian liong pang, juga tidak sudi memakai nama Pek eng pang, aku lalu mendirikan perkumpulan baru bernama Tiong gi pang untuk menolong mereka, dan untuk mencegah mereka terperosok ke dalam lembah kejahatan. Kami sedang memperbaiki sebuah kuil besar dan kuno di hutan sebelah, Nona. Tempat itu akan menjadi pusat Tiong gi-pang, dan kalau Nona suka tinggal bersama kami, hatiku akan menjadi lega dan girang, juga kehadiran Nona sebagai puteri Ketua Thian liong pang tentu akan mempengaruhi para anak buah Tiong gi-pang dan mencegah mereka dari penyelewengan."

Demikianlah mulai hari itu, Milana tinggal bersama Kakek Sai cu Lo mo, bekas pembantu utama ibunya di Thian-liong-pang yang kini telah menjadi pangcu dari perkumpulan Tiong gi pang.

Gadis yang cantik manis dan lincah itu menarik perhatian banyak mata, terutama mata laki laki, ketika dia memasuki kota raja.

Dia memang manis sekali, sepasang matanya jernih dan tajam memandang ke sana sini, bukan hanya untuk mengagumi bangunan bangunan besar di kota raja melainkan juga dengan penuh selidik pandang matanya menyapu wajah orang-orang yang dijumpainya, seolah-olah dia mencari seseorang di kota raja.

Pakaiannya yang serba kuning itu membungkus ketat tubuh yang padat berisi dan langsing.

Di pinggir pinggul yang padat dan pinggang yang langsing itu tergantung pedang, tanda bahwa dara manis berusia kurang lebih dua puluh tahun ini adalah seorang gadis perantau kang ouw yang tidak boleh dipandang ringan!

Gadis baju kuning ini adalah Ang Siok Bi, puteri tunggal ketua Bu tong pai yaitu Ang lojin (Orang Tua Ang) atau Ang Thian Pa.

Seperti telah kita ketahui rombongan piauwsu yang pernah bentrok dengan Gak Bun Beng ketika terjadi pemerkosaan dan pembunuhan suami isteri di dekat telaga, adalah murid murid Bu tong pai.

Setelah mereka itu menyelesaikan tugasnya, pemimpin piauwsu itu lalu menceritakan peristiwa itu kepada Bu tong pai dan Ang Siok Bi juga hadir dalam pertemuan ini.

Ketika mendengar bahwa Gak Bun Beng melakukan perbuatan keji seperti itu, ketua Bu tong pai terkejut bukan main dan hampir tidak dapat percaya kalau yang bercerita bukan muridnya yang dipercayanya.

Terutama sekali Ang Siok Bi, puterinya.

Dara ini telah tahu bahwa dia oleh ayahnya hendak dijodohkan dengan Gak Bun Beng, dan sungguhpun pemuda itu belum menerima perjodohan ini, namun ayahnya masih selalu mengharapkan terjadinya ikatan jodoh itu.

Karena inilah, juga karena dia sendiri pun tertarik dan jatuh cinta kepada pemuda itu, maka Siok Bi menganggap dirinya sebagai tunangan Gak Bun Beng dan tidak menghiraukan lain laki laki lagi, bahkan di dalam lubuk hatinya dia mengambil keputusan tidak akan menikah kalau tidak dengan Bun Beng!

Maka, dapat dibayangkan betapa kaget dan hancur hati dara ini mendengar penuturan para piauwsu yang menduga bahwa Gak Bun Beng melakukan hal yang amat keji, memperkosa dan membunuh seorang wanita, membunuh pula suami wanita itu di dekat telaga.

Pada keesokan harinya, Ketua Bu tong pai tidak melihat puterinya dan dia hanya dapat menghela napas, maklum bahwa kepergian puterinya itu tentu ada hubungannya dengan penuturan murid Bu tong pai tentang Gak Bun Beng.

Dugaan Ketua Bu tong pai ini memang benar.

Siok Bi meninggalkan kuil Bu-tong pai untuk pergi mencari Bun Beng, untuk menyatakan sendiri kebenaran penuturan itu.

Dia harus bertemu dengan pemuda itu dan akan ditanyai tentang peristiwa yang dituturkan oleh kepala piauwsu itu.

Kalau memang benar pemuda itu menjadi seorang penjahat keji, dia akan memusuhinya dan akan diputuskannya hubungan batin yang timbul karena janji ayahnya kepada pemuda itu.

Akan tetapi dia masih tidak percaya bahwa pemuda yang gagah perkasa itu berubah menjadi seorang penjahat cabul yang berhati kejam.

Tiba-tiba Siok Bi menghentikan langkahnya dan menoleh, memandang kepada seorang pemuda yang bercaping bundar dan berpedang di punggungnya.

Gak Bun Beng!

Benarkah Gak Bun Beng pemuda itu?

Telah lama dia tak bertemu dengan pemuda itu, dan ada kemiripan pemuda yang lewat tadi dengan pemuda idaman hatinya.

Dia cepat membalik dan mengejar.

Untuk menegur, dia belum berani karena takut kalau kalau dia salah lihat.

Pemuda yang tampan itu berjalan cepat menuju ke pintu gerbang kota raja.

Siok Bi terpaksa mengikutinya terus, keluar lagi dari kota raja.

Kesangsiannya lenyap ketika dia melihat pemuda di depan itu kini berlari cepat sekali setelah tiba di luar pintu gerbang kota raja.

Siapa lagi kalau bukan Gak Bun Beng yang pandai berlari cepat itu?

"Gak Taihiap....!"

Dia menegur sambil mengejar, mengerahkan gin kangnya untuk berlari cepat.

Pemuda itu berlari terus dan betapa pun Siok Bi mengerahkan kepandaiannya, tetap saja tidak mampu mengejarnya!

Maka dia berseru lagi.

"Gak Taihiap, aku Ang Siok Bi ingin bicara!"

Pemuda itu berhenti dan membalikkan tubuh.

Setelah mereka berhadapan, kem-bali timbul kesangsian di hati Siok Bi.

Dia meragu apakah benar benar pemuda ini Gak Bun Beng.

"Apakah.... apakah aku berhadapan dengan Gak Taihiap,"

Tanyanya sambil menatap wajah yang tampan itu. Pemuda itu tersenyum.

"Agaknya engkau mencari Gak Bun Beng, Nona? Aku bukan Gak Bun Beng, akan tetapi aku adalah sababatnya. Nona siapakah dan ada urusan apa mencari Gak Bun Beng?"

"Ahh.... maaf, saya kira engkau Gak Bun Beng. Saya.... saya.... Ang Siok Bi dan saya mencarinya. Tolong beritahu di mana dia?"

"Hemm, dia tidak mudah dijumpai begitu saja, Nona. Siapakah Nona? Akan saya sampaikan kepadanya."

"Saya adalah tunangannya dari Bu tong pai."

Pemuda itu mengangguk angguk dan mengerutkan alisnya.

"Hemmm.... dari Bu tong pai? Baik, akan saya sampaikan kepadanya, Nona. Sebaiknya Nona pergi ke kota raja lagi, bermalam di sebuah penginapan. Malam ini dia akan datang mengunjungimu."

Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan sebentar saja sudah berada jauh sekali.

Hal ini mengejutkan hati Siok Bi karena dia maklum bahwa kepandaiannya berlari cepat tidak dapat dipakai menandingi ilmu lari cepat pemuda itu!

Betapapun juga, hatinya girang.

Pemuda itu kiranya sahabat Gak Bun Beng dan kalau sudah disampaikan, tentu Gak Bun Beng akan menjumpainya.

Jantungnya berdebar tegang dan dia makin tidak percaya bahwa Gak Bun Beng telah mejadi seorang jahat.

Malam hari itu Siok Bi menanti di dalam kamarnya dengan hati bimbang dan tegang.

Kalau dia teringat betapa dia tadi mengaku sebagai tunangan Gak Bun Beng kepada pemuda itu, jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas.

Bagaimana kalau pemuda tadi menyampaikannya kepada Gak Bun Beng?

Tunangan?

Pemuda itu dahulu menolak usul ayahnya yang hendak menjodohkan mereka.

Bagaimana sekarang secara tak tahu malu dia mengaku tunangannya?

Biarlah, setidaknya pengakuannya itu telah membuka rahasia hatinya terhadap Bun Beng!

Menjelang tengah malam, dia mendengar suara di jendela kamarnya.

Dia memandang terbelalak dan menegur halus.

"Siapa....?"

"Nona Ang Siok Bi, aku adalah Gak Bun Beng. Harap suka membuka jendela."

Terdengar suara dari luar, suara yang halus dan mendebarkan jantungnya.

"Tunggu sebentar!"

Siok Bi membesarkan api penerangan, kemudian secara tak sadar tangannya membereskan rambutnya yang berjuntai di dahi, kemudian membuka daun jendela.

Angin menyambar dari luar memadamkan lampu penerangan sehingga keadaan kamar itu menjadi remang remang, hanya mendapat sorotan lampu penerangan di luar kamar yang dipasang di ujung lorong.

Kemudian tampak bayangan seorang pemuda bertopi caping lebar bundar melayang masuk ke dalam kamar itu.

"Eiihh, kenapa kau memadamkan lampu?"

"Ssssttt.... jangan ribut ribut, nanti semua tamu terbangun. Nona Ang, ada apakah engkau mencari aku?"

"Gak Taihiap.... aku sengaja mencarimu untuk bertanya.... eh, kami mendengar penuturan para piauwsu anak murid Bu-tong pai bahwa engkau telah melakukan perbuatan keji. Aku tidak percaya, akan tetapi aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri...."

"Hemm.... Nona, katakan dulu sebelum aku menjawab. Apakah engkau cinta kepadaku?"

Ditanya demikian yang sama sekali tidak pernah disangkanya, Siok Bi menggigil dan suaranya tersendat sendat ketika dia berkata.

"Aku.... aku.... ahh, aku telah ditunangkan kepadamu oleh ayah...."

"Bagus, Bi moi, aku pun cinta kepadamu. Betapa rinduku kepadamu!"

Setelah berkata demikian pemuda itu sudah memeluknya.

Siok Bi hendak membantah dan menolak, akan tetapi suaranya hilang ditelan ciuman pemuda itu.

Siok Bi makin terkejut dan hendak mendorong, akan tetapi tiba-tiba pundaknya ditotok dan dia roboh dengan lemas!

Hanya kedua matanya yang terbelalak penuh kengerian ketika dia dipondong oleh pemuda itu dan dilempar ke atas pembaringan.

Telinganya mendengar suara yang kini terdengar seperti suara iblis.

"Kau cinta kepadaku dan aku cinta kepadamu! Apalagi yang lebih menarik daripada itu! Marilah kita mencurahkan cinta kasih kita, dan tentang semua perbuatanku dengan wanita lain, tak perlu kau hiraukan, manis!"

Kalau saja dia mampu bergerak, tentu Siok Bi akan melawan mati matian, dan kalau saja dia mampu bersuara tentu dia akan menjerit-jerit dan memaki maki.

Akan tetapi apa daya, dia tidak mampu bersuara, tidak mampu bergerak sehingga dia hanya mampu menangis ketika pemuda itu mulai menggagahi dirinya.

Dia pergi mencari Bun Beng untuk bertanya, untuk membuktikan sendiri apakah benar berita yang disampaikan oleh anak murid Bu tong pai itu.

Siapa mengira, dia kini memperoleh bukti yang mutlak karena dia sendiri menjadi korban kebuasan pemuda yang tadinya dijunjung tinggi itu.

Pemuda yang dirindukan dan dicinta dengan diam diam kini mendatangkan rasa muak, benci dan dendam!

Menjelang pagi, dalam keadaan hampir pingsan, Siok Bi melihat pemuda itu mendekati jendela dan berkata.

"Kalau engkau ingin terus menikmati malam-malam seperti ini dengan aku, Siok Bi yang manis, datanglah kau ke kuil di atas bukit sebelah utara kota raja dan carilah Tiong gi pang. Aku menantimu di sana. Sampai jumpa lagi, kekasihku!"

Tubuh itu berkelebat dan sekali loncat saja lenyap dari dalam kamar.

Siok Bi hanya dapat menangis!

Menangis karena dua hal yang menghancurkan hatinya, yang menghancurkan hidupnya, menghancurkan harapannya.

Pemuda yang diharapkan menjadi jodohnya, yang ditunggunya dengan setia sehingga dia menolak semua pinangan orang, yang diam diam dicintanya, Ternyata telah menjadi seorang yang buas dan hina, seorang penjahat cabul yang kejam sekali melebihi iblis!

Dan di samping ini, dia telah menjadi korban!

Dia telah menjadi seorang yang rusak kehormatannya, tidak mungkin menjadi seorang wanita yang dihormati lagi.

Dia harus membalas dendam ini!

Kalau perlu dia akan mengorbankan nyawa, karena apa artinya hidup ini setelah apa yang terjadi malam tadi?

Setelah totokan itu pulih dengan sendirinya, Siok Bi juga hanya dapat menangis, bahkan menangis pun tidak berani terlalu keras.

Kalau terdengar orang dan ada yang bertanya, apa yang harus dijawabnya?

Peristiwa mengerikan yang menimpa dirinya semalam tidak akan diketahui siapa juga, kecuali dia dan Si Laknat Gak Bun Beng!

Pada keesokan harinya, pagi pagi sekali Siok Bi telah meninggalkan rumah penginapan keluar dari kota raja menuju ke utara.

Menjelang senja barulah dia dapat menemukan kuil yang dimaksudkan oleh Gak Bun Beng ketika hendak meninggalkan kamarnya tadi pagi.

Namun Siok Bi bersikap hati-hati ketika melihat banyak orang keluar masuk di bangunan kuil yang dikelilingi pondok-pondok kecil itu.

Tentu mereka ini para anggauta Tiong gi pang!

Dia datang untuk mencari Gak Bun Beng dan untuk membunuhnya!

Kalau dia muncul begitu saja, bukan hanya usaha membalas dendam itu akan gagal, bahkan dia akan tertawan dan akan menjadi permainan pemuda iblis itu!

Dia harus menahan sabar dan baru turun tangan malam nanti!

Dengan pikiran ini Siok Bi bersembunyi di dalam hutan, menanti datangnya malam.

Dia harus selalu menekan hatinya untuk tidak menangis terus.

Setiap kali teringat akan malapetaka yang menimpa dirinya, ingin dia menjerit-jerit dan menangis.

Malam itu sunyi sekali di luar Kuil Tiong gi-pang, karena memang kuil itu berada di dalam hutan, tidak mempunyai tetangga.

Para anggauta ying sudah lelah karena siang tadi bekerja atau berlatih silat, kini sudah beristirahat di dalam pondok pondok kecil yang dibangun di sekeliling kuil.

Hanya ada beberapa orang penjaga yang meronda secara bergilir untuk menjaga keselamatan dan keamanan kuil mereka.

Sesosok bayangan berkelebat dan menyelinap di bawah bayangan pohon yang gelap.

Bayangan ini adalah Ang Siok Bi yang berhasil melompati pagar yang mengelilingi tempat itu.

Dia ingin memasuki kuil dengan diam diam, mencari dan membunuh Gak Bun Beng, atau kalau gagal, terbunuh.

Akan tetapi, ketika dia menyelinap ke dalam kuil melalui sebuah pintu samping yang terbuka dan tiba di ruangan depan, tiba-tiba ada suara menegurnya.

"Siapa?"

Tiga orang penjaga muncul dengan tiba-tiba, mengejutkan hati Siok Bi, mereka itu adalah dua orang berpedang dan seorang bersenjata tongkat.

Ketika melihat bahwa orang tak terkenal yang berkelebat masuk itu adalah seorang gadis cantik, tiga orang penjaga itu terbelalak heran dan tidak mau sembarangan turun tangan menyerang.

Siok Bi yang mengira bahwa mereka itu tentulah anak buah Gak Bun Beng, sudah mencabut pedangnya dan menerjang tanpa banyak cakap lagi.

Dia harus merobohkan mereka ini sebelum yang lain lain datang!

"Trang trang....

aih....!"

Tiga orang itu terkejut, sedapat mungkin menangkis, akan tetapi gerakan Siok Bi yang lincah dan serangannya yang tak tersangka sangka itu terlalu lihai bagi mereka.

Dua orang terluka lengannya dan seorang lagi terluka dadanya oleh sambaran pedang puteri ketua Bu tong pai yang perkasa ini.

Akan tetapi teriakan mereka mendatangkan tujuh orang penjaga lainnya.

Melihat ini, dengan gemas Siok Bi sudah menggerakkan pedangnya mengamuk sambil berteriak marah.

"Gak Bun Beng manusia busuk! Kiranya engkau pengecut, mengandalkan banyak anak buahmu! Keluarlah kalau kau laki laki, kita mengadu nyawa!"

Mendengar seruan ini, penjaga terheran dan mereka menahan senjata sambil melompat mundur, terdengar bentakan nyaring.

"Tahan senjata!"

Ang Siok Bi juga menahan pedangnya ketika melihat munculnya seorang dara yang amat cantik dan gagah.

Dara ini bukan lain adalah Milana, yang tadi terkejut mendengar suara ribut ribut dan keluar dari kamarnya.

Kebetulan sekali dia mendengar disebutnya nama Gak Bun Beng yang ditantang oleh wanita muda yang mengamuk itu, maka dia cepat menghentikan pertan-dingan.

Sejenak kedua orang wanita muda itu saling berpandangan.

Siok Bi masih memandang marah karena menduga bahwa tentu wanita cantik itu kaki tangan Gak Bun Beng pula, sedangkan Milana menduga duga siapa wanita yang agaknya memusuhi Gak Bun Beng itu, juga dia terheran heran mengapa wanita itu mencari Bun Beng di kuil Tiong-gi-pang.

"Siapakah engkau? Mengapa engkau mengacau Tiong gi-pang?"

Tanyanya.

Para anak buah Tiong gi pang sudah berkumpul dan tiga orang yang terluka itu cepat ditolong dan luka mereka diobati dan dibalut.

Dua di antara mereka terpaksa membuka baju agar luka di tubuh mereka dapat dibalut.

Siok Bi yang sudah nekat melintangkan pedangnya di depan dada sambil menjawab.

"Aku Ang Siok Bi, datang untuk menantang ketua kalian bertanding sampai seorang diantara kami tewas. Akan tetapi kalau para anggauta dan kaki tangannya mau ikut maju aku tidak takut!"

"Hemmm, siapa mencari aku?"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah empat orang anggauta Tiong gi-pang yang menggotong Sai cu Lo mo yang lumpuh.

Begitulah ketua ini kalau menyambut datangnya orang asing atau tamu, duduk di atas papan yang digotong empat orang anak buahnya.

Untuk keperluan sehari-hari, dia bergerak mengandalkan kedua tangannya saja yang dapat dia pergunakan sebagai pengganti kedua kaki, berjalan dengan tubuh terangkat sedikit ke belakang!

Siok Bi menoleh ke kiri dan meman-dang kakek itu dengan bingung.

"Aku tidak mencari engkau, aku mencari Ketua Tiong-gi pang...."

"Hemm, Nona. Akulah Ketua Tiong-gi pang."

Siok Bi makin terkejut, lalu menduga bahwa tentu Gak Bun Beng yang tinggal disini bukan ketuanya. Dengan suara tidak sabar Milana bertanya.

"Sebenarnya apakah kehendakmu dan siapa yang kau cari?"

Dengan agak bingung Siok Bi menjawab.

"Aku mencari Si Bedebah Gak Bun Beng. Suruh dia keluar!"

Milana makin tertarik.

Tentu ada sesuatu terjadi antara gadis itu dengan Bun Beng.

Akan tetapi mengapa mencari Bun Beng di sini?

"Ada urusan apakah engkau mencari Gak Bun Beng?"

Dia masih bertanya memancing.

"Kau tak perlu tahu. Pendeknya aku mencari Gak Bun Beng untuk kubunuh!"

Milana menyarungkan pedang yang tadi sudah dicabutnya. Melihat ini, Siok Bi menjadi heran.

"Engkau salah alamat,"

Kata Milana.

"Gak Bun Beng tidak berada di sini, juga kami bukanlah sahabatnya. Tiong gi pang tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Gak Bun Beng. Marilah kita bicara di dalam. Kalau engkau mempunyai penasaran terhadap Gak Bun Beng, agaknya aku akan dapat membantumu."

Siok Bi makin terheran.

Melihat sikap dara jelita itu, sikap Ketua Tiong gi pang yang lumpuh, sikap para anak buah Tiong gi pang yang sudah mundur dan agaknya tidak memperlihatkan sikap bermusuh kepadanya, dia juga menyarungkan pedang di sarung pedang yang kini tergantung di punggungnya.

Akan tetapi dia masih ragu ragu melihat Milana membuka sebuah pintu batu di atas anak tangga.

Milana yang sudah berada di depan pintu itu menoleh dan berkata.

"Engkau demikian gagah berani sudah menyerbu Tiong gi pang, apakah sekarang menjadi takut untuk memenuhi undanganku masuk ke dalam dan bicara?"

Sai cu Lo mo yang sudah bersedekap penuh rasa duka itu berkata.

"Masuklah, Nona. Kami bukanlah orang-orang jahat. Kalau kami berniat buruk, perlukah memancingmu masuk?"

Siok Bi mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada Sai-cu Lo mo, kemudian dia menudingkan telunjuknya kepada Ketua Tiong gi pang itu dan membentak.

"Aku pernah melihat engkau. Bukankah engkau seorang tokoh Thian-liong pang?"

Sai cu Lo mo menghela napas, kemudian menjawab.

"Dugaanmu benar, Nona. Dan Nona adalah puteri Ketua Bu tong-pai, bukan?"

Siok Bi terkejut.

Dahulu, ketika Thian liong pang mengadakan pertemuan besar di puncak Gunung Ciung lai san di Se cuan, dia ikut ayahnya menghadiri pertemuan besar itu.

Ayahnya, Ang lojin Ketua Bu tong pai, pernah diculik oleh Thian liong pang, sehingga perkumpulan itu dapat dikatakan adalah musuhnya!

"Jadi kalian....

kalian ini....

anggauta-anggauta Thian liong pang....?"

Di samping kekagetan dan kemarahannya, juga ada rasa gentar di hati Siok Bi karena dia maklum betapa lihainya orang-orang Thian liong pang.

"Bukan,"

Jawab Milana.

"Thian liong-pang sudah tidak ada lagi dan engkau menjadi tamu dari Tiong gi pang."

"Dan kau.... sekarang aku mengenalmu! Engkau adalah puteri cantik dari Ketua Thian liong pang!"

Siok Bi berseru lagi, makin terkejut karena dia tahu bahwa puteri Ketua Thian liong-pang memiliki ilmu kepandaian hebat. Milana tersenyum.

"Kalau perkumpulannya tidak ada, ketuanya pun tentu saja tidak ada. Marilah, apakah engkau masih tidak berani memenuhi undanganku? Di dalam kita bicara tentang manusia bernama Gak Bun Beng itu."

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nyaring.

"Gak Bun Beng manusia hina. Hendak lari ke mana engkau?"

Dari jendela melayang masuk sesosok bayangan yang ternyata dia adalah seorang gadis cantik pula, sebaya dengan Siok Bi dan Milana dengan sebatang pedang di tangannya!

Gadis ini sejenak bingung memandang Milana, Siok Bi, Sai-cu Lo mo dan para anggauta Tiong gi-pang, kemudian menoleh ke sana sini, pandang matanya mencari-cari, kemudian dia membentak.

"Hayo suruh Si jahanam keparat Gak Bun Beng keluar untuk menerima kematiannya!"

Sai cu Lo mo menutup muka dengan kedua tangan yang tadi disedekapkan sambil mengeluh.

"Ya Tuhan.... lagi-lagi Bun Beng....?"

Milana juga merasa tertusuk hatinya.

Lagi lagi ada orang yang mencari Gak Bun Beng untuk membunuhnya, dan orang ini juga wanita muda cantik jelita!

"Gak Bun Beng tidak ada di sini mengapa engkau mencarinya ke sini?"

Dia menegur kepada gadis cantik yang baru datang itu.

Gadis itu mengelebatkan pedangnya dan gaya gerakannya menunjukkan bahwa dia memiliki ilmu pedang yang hebat juga!

"Bohong!

Baru saja dia lari dan masuk ke sini!

Hayo suruh dia keluar, kalau tidak, terpaksa aku akan mengobrak abrik tempat ini!"

Milana terkejut.

"Dia di sini?"

Sai cu Lo mo juga terkejut dan cepat memberi perintah kepada anak buahnya.

"Cari bocah setan itu sampai dapat! Periksa semua tempat!"

Dengan cepat mereka semua bergerak pergi, bahkan Sai cu Lo mo sendiri sudah meloncat dari atas papan yang dipikul empat orang anggautanya, tubuhnya yang lumpuh kakinya itu masih dapat bergerak cepat sekali.

Milana juga sudah mencabut pedangnya dan berkelebat lenyap.

Tinggal Siok Bi dan gadis itu saling pandang dengan bingung.

Siok Bi yang berkata.

"Sobat, keadaan kita sama. Aku pun mencari manusia keparat Gak Bun Beng di sini, akan tetapi kita berdua salah alamat. Kurasa jahanam itu tidak berada di sini."

"Tak mungkin! Tadi kuserang, kukejar dan lenyap di tempat ini!"

Gadis itu masih penasaran.

"Akan tetapi orang-orang Tiong gi pang ini bukanlah sahabat Gak Bun Beng. Lihat saja mereka semua marah dan mencari Si Laknat itu,"

Bantah Siok Bi. Gadis itu menarik napas panjang dan mengangguk.

"Akan tetapi...."

"Biarlah kita menanti sampai mereka kembali. Ketahuilah bahwa para pimpinan Tiong gi pang ini adalah bekas tokoh-tokoh Thian liong pang yang lihai."

Mendengar ini, gadis ini terkejut juga, dan berdiri dengan bingung.

Melihat betapa Siok Bi tidak menghunus pedang, dia merasa kikuk dan segera dia menyarungkan pedangnya pula.

Tak lama kemudian, Milana datang lagi ke tempat itu.

Gerakannya membuat Siok Bi dan gadis itu terkejut dan kagum.

Seperti gerakan iblis saja, hanya tampak berkelebat dan tahu tahu telah berada di situ.

Mengertilah mereka berdua bahwa mereka bukan tandingan dara cantik jelita ini!

Milana memandang kepada dara yang baru tiba.

"Benarkah katamu tadi bahwa Gak Bun Beng lari, dan lenyap di tempat ini?"

"Aku tidak membohong. Kalau tidak, apa perlunya aku masuk ke sini dan mengejarnya?"

Milana mengangguk dan menarik napas panjang.

"Kami mencari tanpa hasil dan hal ini memang tidak aneh. Kepandaian Gak Bun Beng tinggi bukan main, dan andaikata kita dapat menemukannya aku masih sangsi apakah kita semua dapat melawannya."

"Aku tidak takut!"

Siok Bi berseru.

"Aku akan mengadu nyawa dengannya!"

Gadis itu pun berseru. Milana mengerutkan alisnya.

"Mari kita bicara di dalam. Agaknya aku dapat menduga apa yang telah terjadi dengan kalian."

Ketika gadis yang baru muncul itu ragu ragu, Milana melanjutkan setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang lain.

"Bukankah kalian berdua menjadi korban Gak Bun Beng yang telah menjadi jai hwa cat (penjahat pemerkosa)?"

Seketika wajah kedua orang dara itu menjadi merah sekali. Milana menghela napas panjang.

"Ketahuilah, aku bukan sahabat Gak Bun Beng dan kalau benar seperti yang kuduga bahwa kalian menjadi korban kebiadabannya, aku bersedia membantu kalian mencarinya dan menghadapinya!"

Siok Bi sudah percaya kepada Milana, maka melihat gadis yang baru datang itu ragu ragu, dia berkata.

"Sebaiknya kita bicara dengan dia, karena dia ini adalah puteri bekas Ketua Thian liong pang."

Gadis itu kelihatan terkejut sekali.

"Apa....?"

Dia menatap wajah Milana dengan tajam.

"Kau.... kau.... Puteri Milana cucu Kaisar? Engkau puteri dari Panglima Wanita Nirahai dan.... dan Pendekar Super Sakti?"

Milana terkejut juga melihat betapa gadis itu mengenal ayah bundanya. Dia mengangguk dan bertanya.

"Siapakah engkau?"

Gadis itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut.

"Harap paduka sudi memaafkan saya yang bersikap kurang hormat...."

Siok Bi juga terkejut sekali mendengar itu.

Kiranya Ketua Thian liong pang adalah Puteri Nirahai?

Dia memang sudah mendengar kabar angin tentang ini, akan tetapi ayahnya sendiri masih kurang percaya.

Dan ternyata bahwa selain puteri Kaisar, juga Ketua Thian liong pang yang pernah menimbulkan geger itu adalah isteri Pendekar Super Sakti!

Dia tidak berlutut seperti gadis itu, akan tetapi dia pun bertunduk dan memandang Milana dengan segan dan hormat.

Milana merangkul gadis itu dan mengangkatnya bangkit berdiri.

"Tak perlu seperti itu. Aku gadis biasa saja, gadis kang ouw seperti kalian. Siapakah namamu?"

"Saya Lu Kim Bwee, dari Kong kong (Kakek) yang pernah menjadi pengawal Kaisar saya mendengar tentang ibu Paduka...."

"Hushh, Enci Kim Bwee, jangan banyak sungkan. Jangan pakai paduka paduka segala kepadaku. Anggap saja kita ini sahabat sahabat yang senasib. Marilah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, mari kita masuk ke dalam dan kita bicara tentang manusia jahanam Gak Bun Beng ini."

Ketiganya memasuki kamar Milana, melalui anak tangga dan daun pintu batu yang tebal itu.

Setelah pintu ditutup kembali, dua orang gadis itu tercengang kagum melihat betapa kamar di balik pintu yang menyeramkan itu amat indah dan bersih.

"Ini kamarku sendiri,"

Milana berkata.

"Aku pun baru dua bulan berada di sini. Duduklah Enci Siok Bi dan Enci Kim Bwee, panggil saja aku Milana."

Dua orang gadis itu duduk di atas kursi yang indah, kemudian mereka saling pandang.

Tidak ada keraguan lagi di hati mereka terhadap dara jelita cucu Kaisar ini.

Milana kembali tersenyum kepada mereka.

"Sungguh mengherankan sekali. Enci berdua muncul dalam waktu yang sama dan dengan niat yang sama pula, yaitu mencari Gak Bun Beng, untuk membunuhnya! Ketahuilah bahwa aku pun membenci Gak Bun Beng dan aku berjanji akan minta bantuan orang-orang Tiong-gi pang untuk mencari jejak manusia itu, kalau sudah dapat ditemukan, biarlah aku akan membantu kalian menghadapinya. Untuk kerja sama ini, sebaiknya kalau kita mengetahui keadaan masing-masing. Nah, sekarang kuminta Enci Siok Bi suka menceritakan pengalamannya, mengapa memusuhi dia, kemudian Enci Kim Bwe, dan kemudian aku sendiri akan menceritakan pengalamanku."

Karena di situ hanya ada mereka bertiga, ditanya begini Siok Bi menangis.

Milana dan Kim Bwee yang melihat Siok Bi menangis, tak dapat menahan kesedihan hati masing-masing dan mereka pun menitikkan air mata, teringat akan nasib buruk yang menimpa mereka.

Sambil terisak Siok Bi menceritakan malapetaka yang menimpa dirinya malam tadi di rumah penginapan di kota raja.

Betapa dia didatangi Gak Bun Beng dalam kamarnya dan ditotok tak berdaya kemudian diperkosa.

Betapa kemudian dia mencarinya ke Tiong gi pang, karena Gak Bun Beng menyebut nama perkumpulan ini sebagai tempat tinggalnya.

Setelah selesai bercerita dia menangis sesenggukan.

Milana mengerutkan alisnya dan mencela.

"Enci Siok Bi, mengapa engkau begitu mudah saja membukai jendela kamar di waktu malam hari memenuhi permintaan seorang laki laki?"

Ang Siok Bi teriak.

"Aih.... harap jangan salah sangka adik Milana.... ketahuilah bahwa semenjak ayah ditolong oleh Gak Bun Beng ketika.... ketika dahulu berada di dalam tahanan.... Thian liong-pang.... ayah mengharapkan agar aku menjadi jodoh orang itu. Dan budi itu tak terlupa oleh kami sehingga aku sudah menganggap diriku sebagai tunangannya, sungguhpun belum resmi dan hanya menjadi niat sepihak. Tentu saja ketika mendengar suaranya aku tidak ragu ragu untuk membiarkan dia masuk. Akan tetapi siapa kira.... dia.... dia menjadi iblis....!"

"Keparat....!"

Milana menampar meja di depannya sehingga meja itu tergetar. Memang dia marah sekali mendengar penuturan itu, marah kepada Bun Beng.

"Dan bagaimana dengan engkau, Enci Kim Bwee? Apakah engkau juga menjadi korban pemuda biadab itu?"

Milana menoleh kepada Lu Kim Bwee. Sebelum menjawab, Kim Bwee mengusap air matanya, kemudian mengangguk.

"Sudah agak lama terjadinya, sudah satu bulan lebih, ketika aku berada di pondok kakekku,"

Dia lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia dan kakeknya kedatangan Bun Beng yang tadinya bersikap mencurigakan, mengintai dari atas genteng, kemudian betapa pemuda itu membohongi mereka dengan cerita bahwa ada suami isteri terbunuh setelah isterinya diperkosa di dekat telaga.

Betapa kakeknya membantu pemuda itu menyelidiki di sekitar telaga dan kiranya pemuda itu hanya membohong untuk memancing kakeknya keluar dari pondok, kemudian diam diam pemuda itu kembali ke pondok dan memperkosanya!

"Baru aku dan kong kong tahu bahwa pembunuh suami isteri itu adalah dia sendiri.

Aku tak mampu melawan karena dia telah menotokku secara tiba-tiba...."

Kembali Kim Bwee mengusap air matanya.

"Semenjak hari itu, aku pergi meninggalkan pondok kakek untuk mencari jahanam itu. Tadi aku bertemu dengannya di jalan. Aku menyerangnya, dan dia lari. Ketika kukejar, dia lari ke arah kuil ini dan lenyap."

"Hemmm, benarkah yang kau serang dan kejar tadi Gak Bun Beng?"

"Cuaca agak gelap, aku tidak dapat melihat mukanya dengan jelas. Akan tetapi siapa lagi pemuda memakai caping lebar itu kalau bukan dia? Pula, dia mentertawakan aku dan dia yang memperkenalkan diri ketika kami bertemu di jalan."

"Tidak salah lagi, tentu dia!"

Siok Bi berseru penuh kemarahan.

"Suami isteri yang dibunuh itu setelah isterinya diperkosa di pinggir telaga, memang menjadi korban kebiadaban Gak Bun Beng. Hal ini aku mendengar juga dari murid ayah yang menjadi piauwsu."

Dia lalu menceritakan kembali cerita yang didengarnya dari para piauwsu yang bertemu dengan Bun Beng di dekat telaga.

Mendengar semua ini, dapat dibayangkan betapa panas rasa hati Milana.

Laki-laki yang dicintanya, pilihan hatinya, bahkan yang oleh ayahnya dijodohkan dengan dia, kiranya adalah seorang laki-laki jahat sekali.

Terhapus sama sekali rasa cinta kasihnya, kini terganti oleh rasa benci yang seperti api bernyala-nyala membakar hatinya.

Sambil menggenggam kedua tangan, dia berkata.

"Kita harus mencari jahanam itu, akan kukerahkan semua anggauta Tiong gi pang untuk menyelidiki, kalau kita sudah ketahui tempatnya, kita serang dan bunuh dia."

Tentu saja Siok Bi dan Kim Bwee menjadi girang.

Mendapat bantuan seorang seperti Milana, cucu Kaisar, puteri Pendekar Super Sakti, tentu saja amat membesarkan hati.

Mereka tahu akan kelihaian Gak Bun Beng dan tadinya mereka pun sudah menduga bahwa andaikata bertemu dengan pemuda itu, tentu mereka yang akan roboh!

Kini harapan mereka untuk membalas dendam kepada pria yang menyeret mereka ke dalam jurang kehinaan itu timbul kembali.

"Kami berdua telah menceritakan penderitaan kami kepadamu, adik Milana yang baik. Akan tetapi engkau sendiri.... mengapakah engkau juga membenci dan mendendam kepada Gak Bun Beng?"

Tanya Siok Bi. Milana menundukkan mukanya dan berulang-ulang menarik napas panjang. Akhirnya dia berkata.

"Dia.... dia adalah.... tunanganku."

Ia kembali menunduk dan menggigit bibirnya.

Dua orang gadis itu terkejut dan mengangguk-angguk, tahu bahwa puteri Pendekar Super Sakti itu mengalami penderitaan batin yang tidak kurang berat daripada yang mereka derita.

Telah hampir setengah bulan Siok Bi dan Kim Bwee tinggal di markas Tiong-gi-pang dan menunggu hasil para anak buah Tiong-gi-pang yang disebar oleh Milana dan Sai-cu Lo-mo untuk mencari jejak Gak Bun Beng.

Pada suatu pagi, dua orang anggauta Tiong-gi-pang datang menghadap.

Kedua orang ini terluka, dada dan perut mereka digores-gores pedang akan tetapi agaknya penyerang mereka hanya ingin menyiksa saja, tidak membunuh sehingga yang pecah-pecah hanya kulit mereka saja.

Tentu saja kedua orang ini menderita nyeri yang hebat.

Sai-cu Lo-mo cepat memeriksa mereka dan memberi obat, sedangkan kedua orang itu bercerita bahwa mereka telah bertemu dengan Gak Bun Beng!

"Di mana Si jahanam itu?"

Kim Bwee bertanya penuh nafsu.

"Kami sedang menyelidik ke selatan, dekat kota Gin-coa-thung malam tadi karena kami mendengar bahwa di sana tampak seorang laki-laki asing yang bertopi lebar. Tiba-tiba muncul Gak Bun Beng. Dia seorang pemuda tampan dengan topi caping lebar. Dia menghadang kami dan mengaku bahwa dia Gak Bun Beng. Kami mencabut senjata, akan tetapi dengan sekali tangkis saja senjata kami patah semua dan pedangnya yang luar biasa itu berkelebat beberapa kali. Kami berusaha melawan, akan tetapi percuma dan pakaian kami robek-robek semua, perut dan dada kami mengeluarkan darah. Kemudian dia berkata bahwa dia merasa kesepian dan rindu kepada Nona bertiga!"

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert