Ceritasilat Novel Online

Memburu Iblis 12

Eps 12 Memburu Iblis - Sriwidjono

Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono

Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.

"Baiklah...! Aku memang sudah kalah. Biarlah aku kembali saja ke Gurun Gobi. Nih, kukembalikan buku itu,"

Tiba-tiba Bok Siang Ki mendengus, Lalu merogoh sakunya dan melemparkan bagian Buku Rahasia yang disimpannya kepada Souw Lian Cu.

Selesai berkata Bok Siang Ki lalu melesat pergi meninggalkan jurang tersebut.

"Hei? Siang Ki...? Kenapa kau"Tunggu...!"

Bu-tek Sin-tong berteriak memanggil. (Lanjut ke

Jilid 32) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 32

"Sudahlah! Aku akan pulang untuk bertapa lagi!"

Terdengar jawaban Bok Siang Ki di tempat yang jauh.

"Bangsat! Lalu bagaimana dengan pertemuan kita di bangunan kuno itu?"

Giok-bin Tok-ong berseru pula.

"Tak usah! Kita tak perlu lagi menguji kepandaian kita! Semuanya sudah kelihatan tadi...!"

Sayup-sayup masih terdengar jawaban Bok Siang Ki.

"Kurang ajar! Huh, benar-benar kurang ajar..!"

Bu-tek Sin-tong menggeram dengan suara mendongkol. Lalu sambungnya pula kepada Giok-bin Tok-ong.

"Eh Tok-ong! Bagaimana menurut pendapatmu?"

Tiba-tiba Giok-bin Tok-ong mengertakkan giginya yang masih utuh.

"Huh...! Mengapa kita mesti takut? kalau satu lawan satu kita memang bukan lawannya. Tapi kalau kita maju bersama-sama? Huh, belum tentu kita kalah!"

"Tapi... bagaimana dengan gadis itu?"

Tiba-tiba Bu-tek Sin-tong merendahkan nada suaranya.

"Persetan dengan perempuan kecil itu! Marilah...!"

Kemudian tanpa menunggu jawaban lagi Giok-bin Tok-ong menyerang Bun-hoat Sian-seng.

Tangannya tiba-tiba telah menggenggam sebuah saputangan hitam, dan saputangan itu kelihatan berkibar ketika menyambar ke depan.

"Wuuuuuuus!"

Bau harum yang sangat semerbak bertiup ke arah hidung Bun-hoat Sian-seng!

Dan bau harum itu terasa nikmat ketika dihirup ke dalam dada!

Terutama bagi wanita muda seperti Souw Lian Cu itu!

Namun hal itu ternyata sangat mengejutkan Bun-hoat Sian-seng.

Sambil mendorong gadis itu ke pinggir, Bun-hoat Sian-seng berbisik.

"Kerahkan tenaga saktimu! Keluarkan kembali bau harum yang kau isap itu! Lekas!"

"Suhu? Mengapa aku...???"

Belum juga gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tubuhnya sudah terhuyung. Matanya yang indah itu terbeliak kaget. Napasnya tersengal-sengal.

"Lian Cu...!"

Bun-hoat Sian-seng berdesah kaget.

Tapi ketika orang tua itu hendak menolong, tiba-tiba Bu-tek Sin-tong juga sudah datang pula menyerangnya.

Kakek kerdil itu menyabetkan rambutnya yang terurai panjang ke arah wajahnya.

Terpaksa Bun-hoat Sian-seng mengurungkan niatnya.

Bergegas orang tua itu mengerahkan Iwee kangnya ke tangan, kemudian mengibaskan tangan tersebut ke depan untuk menyongsong serangan rambut Bu-tek Sin-tong itu.

"Wuuuuuuut! Praaaaaaaaat...!"

Rambut Bu-tek Sin-tong yang bergumpal kaku seperti kawat baja itu terpental balik ketika membentur tangan Bun-hoat Sian-seng.

Bahkan gumpalan rambut itu hampir saja menyambar kepala Giok-bin Tok-ong yang sudah datang kembali dengan saputangannya.

Sementara itu Liu Yang Kun menjadi kaget pula melihat Souw Lian Cu.

Bergegas pemuda itu melompat ke depan untuk menolong.

Tapi gadis itu dengan cepat mengibaskan tangannya, sehingga pemuda itu segera terdorong mundur kembali.

"Nona Souw...? Kau...?"

Tapi gadis itu tak mempedulikannya.

Dengan cepat gadis itu duduk di atas tanah dan berbuat seperti apa yang diperintahkan gurunya, yaitu mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa beracun yang memasuki paru-parunya.

Tentu saja Liu Yang Kun menjadi gelisah melihatnya.

Dengan wajah tegang serta khawatir pemuda itu berdiri di dekat Souw Lian Cu.

"Apa yang telah terjadi, Pangeran?"

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee datang pula menghampiri dan bertanya kepada Liu Yang Kun.

"Entahlah. Mungkin... terkena racun Giok-bin Tok-ong."

"Racun...? Eh, mengapa Pangeran tidak segera mengobatinya? Bukankah Pangeran tadi siang juga berhasil menyembuhkan Hek-pian-hok Ui Bun Ting? Apakah Pangeran lupa membawa mustika itu?"

"Mustika? Mustika apa...? Aku sama sekali tak...?"

Liu Yang Kun bertanya bingung sambil merogoh sakunya.

"Maaf, Pangeran... Saya tak sengaja ketika melihat Pangeran mengeluarkan batu mustika itu. Batu mustika yang tuan genggam dan kemudian tuan tempelkan di pergelangan tangan Ui Bun Ting itu...,"

"Tapi aku sama sekali tak punya batu..., eh?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun tersentak kaget. Tangannya yang merogoh saku tadi tiba-tiba telah keluar memegang Po-tok-cu.

"Eh... ini... ini? Mengapa ada benda semacam ini di sakuku? inikan batu yang Ciangkun maksudkan itu? Oough... ya... ya! Ingat aku sekarang. Aku memang telah menggunakan batu ini untuk menyembuhkan Ui Bun Ting... Tapi... tapi mengapa mendadak aku telah melupakannya?"

Mula mula Yap Kiong Lee menjadi bingung juga menyaksikan keadaan Liu Yang Kun itu.

Namun setelah berpikir lagi dengan lebih seksama, maka jagoan dari Istana itu segera bisa mengurai pula apa yang terjadi.

"Ah, Pangeran tidak perlu terlalu resah memikirkannya. Selama penyakit 'lupa ingatan' itu belum sembuh kembali, maka hal-hal seperti itu akan sering terjadi pada diri Pangeran. Sebab penyakit itu membuat Pangeran seolah-olah memiliki dua jiwa, yaitu... jiwa Pangeran yang asli dan jiwa Pangeran yang cacat. Dalam keadaan sadar seperti sekarang ini Pangeran justru dalam keadaan jiwa yang cacat tersebut, tapi sebaliknya, apabila Pangeran di dalam keadaan tidak sadar, maka Pangeran justru berada dalam keadaan yang normal dan sehat malah. Pada saat yang seperti itu Pangeran justru benar benar sebagai Pangeran Liu Yang Kun yang asli."

Liu Yang Kun mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Tangan pemuda itu juga masih tetap menimang-nimang Po-tok-cu itu pula.

"Nah... itu pulalah sebabnya mengapa Pangeran bisa mengobati Ui Bun Ting, karena pada saat itu Pangeran secara kebetulan bertindak tanpa sadar dan hanya menurutkan naluri saja. Tapi..., lihatlah sekarang! Karena Pangeran telah berada dalam keadaan sadar kembali, maka semuanya itu lalu hilang. Pangeran menyandang sebagai penderita cacat jiwa kembali..."

"Oooooch...!"

Liu Yang Kun berdesah paham.

Sementara itu di depan mereka Souw Lian Cu masih tetap berjuang melawan racun yang masuk ke dalam dadanya.

Dan racun yang terkandung di dalam saputangan Giok-bin Tok-ong itu tampaknya sangat hebat sekali, sehingga gadis sakti semacam Souw Lian Cu pun masih tetap kewalahan mengatasinya.

"Pangeran...? Mengapa Pangeran tidak segera menolongnya?"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee mendesak. Liu Yang Kun tersentak kaget dari lamunannya.

"Eh-uh... ya-ya, baik...!"

Pemuda itu menjawab gugup. Dengan hati-hati pemuda itu lalu duduk bersila di belakang Souw Lian Cu. Tangannya yang menggenggam Po-tok-cu itu ia tempelkan di punggung gadis itu.

"Maaf, nona Souw..."

Gadis itu sedikit terkejut.

Sekejap tubuhnya terasa bergetar.

Namun di lain saat gadis itu dapat tenang kembali, Nafasnya semakin teratur.

Dan pada saat itu pula pertempuran ditengah-tengah arena telah sampai pada puncaknya juga.

Giok-bin Tok-ong benar-benar berpesta-pora dengan segala macam racunnya, sehingga arena pertempuran itu benar-benar seperti neraka saja layaknya.

Segala macam bentuk racun bertebaran dimana-mana.

Akibatnya tidak hanya Bun-hoat Sian-seng yang menjadi repot, tapi Bu-tek Sin-tong pun ikut menjadi sibuk pula menghindari racun-racun itu.

Sambil bertempur kakek kerdil itu mengumpat dan memaki tiada habis-habisnya.

Mengumpat dan memaki Giok-bin Tok-ong, temannya sendiri.

"Gila! Uhh! Banyak benda yang baik serta menyenangkan di dunia ini, tapi... kenapa kau pilih juga barang-barang busuk semacam ini, heh?"

"Heh-heh... peduli amat! Kalau kau tak tahan... yah, silahkan pergi! Biarlah kuhadapi sendiri Bun-hoat Sian-seng ini!"

"Jangan sombong kau! Kau kira kau mampu menghadapi sendiri. Bun... aduh!"

Tiba-tiba Bu-tek Sin-tong mengaduh kesakitan.

Sedikit saja ia membagi perhatiannya ternyata pundaknya telah disambar oleh pukulan lawan.

Dan sekejap kemudian darahpun segera mengucur dari lukanya yang panjang.

Bu-tek Sin-tong cepat mendekap luka itu.

Matanya melancarkan sinar kemarahan yang amat sangat.

Tapi ia tetap tak bisa apa-apa, karena serangan Bun-hoat Sian-seng yang lain telah datang lagi seperti badai.

Tiada jalan yang lain bagi Bu-tek Sin-tong selain mengadu nyawa.

Sambil menghindar kakek kerdil itu mengeluarkan senjata rahasianya yang berbentuk paser-paser kecil berujung ganda.

Begitu ada kesempatan sedikit, maka paser-paser itupun segera melesat menyerang Bun-hoat Sian-seng.

Sebenarnya bukan cuma Bu-tek Sin-tong yang repot, sebab Giok-bin Tok-ong pun juga tidak kalah sibuknya menghadapi Tai-lek Pek-khong-ciang Bun-hoat Sian-seng.

Walaupun tampaknya racun-racunnya dapat menguasai arena, tapi tak sepercik-pun diantaranya yang mampu melumpuhkan lawannya.

Sebaliknya justru hentakan-hentakan "angin tajam"

Bun-hoat Sian-seng yang tidak kelihatan ujudnya itu yang setiap saat selalu mengintai nyawanya.

Bahkan keadaan Giok-bin Tok-ong sendiri sebenarnya lebih parah dari pada Bu-tek Sin-tong.

Sudah beberapa kali ia terhindar dari maut.

Namun demikian ia tetap tak luput dari luka-luka kecil atau goresan-goresan luka yang diakibatkan oleh 'tusukan' angin tajam tersebut.

Pakaian yang dikenakannyapun sudah tidak berbentuk lagi.

Di sana-sini telah sobek atau berlubang, warnanya pun juga sudah dikotori pula oleh bercak bercak darah yang mengering.

Demikianlah, ketika Bu-tek Sin-tong melepaskan paser-pasernya itu, Giok-bin Tok-ong pun telah membarengi pula dengan melemparkan 'peluru mautnya'!

Tampaknya iblis dari Lembah Tak berwarna itu juga sudah berputus-asa pula.Maka pada waktu yang hampir bersamaan ketiga tokoh sakti itu telah melepaskan serangan akhir untuk menghentikan perlawanan musuhnya.

Bun hoat Sian-seng meningkatkan badai 'angin tajamnya", Bu-tek Sin-tong meluncurkan paser-pasernya dan Giok-bin Tok-ong melontarkan senjata pamungkasnya!

Sementara itu Yap Kiong Lee menjadi gugup juga melihat pek-lek-tan yang dilepas oleh Giok-bin Tok-ong itu.

Tanpa pikir panjang lagi ia merangkul tubuh Souw Lian Cu dan Liu Yang kun, serta membawa mereka bertiarap di atas tanah!

"Dhuaaaaaaaaaaaar...!!!"

Malam yang sepi itu tiba tiba dikejutkan oleh suara ledakan pek-lek-tan yang amat dahsyat.

Debu mengepul jauh tinggi ke udara, menggelapkan jurang yang cukup dalam itu!

Seusai suara gema ledakan itu maka keadaan menjadi lengang kembali.

Tinggallah kemudian asap tebal yang sedikit demi sedikit juga hilang ditiup angin.

Dan samar-samar terlihat pula keadaan di bekas arena itu.

Yap Kiong Lee bergegas bangun.

Tanpa memperdulikan debu dan tanah yang berjatuhan dari tubuhnya ia mengguncang tubuh Liu Yang Kun.

"Pangeran...! Pangeran!"

Serunya gugup dan khawatir.

Seberapa bongkah tanah dan batu yang menindih tubuh Liu Yang Kun ia singkirkan.

Dan tubuh yang tertelungkup itu ia balikkan pula.

Namun mata Liu Yang Kun tetap tertutup, meskipun pernapasannya masih tetap berjalan dengan normal.

Demikian gelisahnya Yap Kiong Lee memikirkan keselamatan Liu Yang Kun, sehingga dia lupa kepada Souw Lian Cu.

Dia baru sadar ketika mendengar suara keluhan gadis itu.

"Nona Souw...! Bangunlah! Bagaimana keadaanmu?"

Serunya kemudian agak khawatir pula.

Gadis itu menggeliatkan badannya sehingga tanah dan pasir yang menimbunnya rontok ke bawah.

Dan kemudian seperti orang kaget gadis itu meloncat bangun.

Matanya nyalang melihat ke arena.

Sementara itu asap dan debu yanq bergulung gulung di tempat itu telah bertebaran dibawa angin.

Arena dimana para tokoh sakti tadi bertarung kini telah berubah menjadi kubangan atau sumur besar yang cukup dalam.

Mulut gua yang tadi menganga di belakang arena itu telah tertimbun oleh bongkahan-bongkahan tanah longsor.

Pohon siong tua berbatang besar itu bahkan telah tumbang bersama akar-akarnya.

"Suhu...??? Dimana suhu?"

Souw Lian Cu tiba-tiba menjerit.

"Aku berada di sini, Lian Cu..."

Terdengar suara Bun-hoat Sian-seng lemah namun jelas.

Souw Lian Cu mengerutkan dahinya.

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.

Begitu melihat gurunya berada di dekat pohon siong yang tumbang itu ia segera berlari mendekat.

Sama sekali ia sudah lupa kepada Liu Yang Kun yang telah menolongnya.

Ia baru teringat kembali kepada kekasihnya itu ketika telah berada di depan Bun-hoat Sian-seng.

"Suhu...?"

Gadis itu berdesah bingung dan berdiri termangu-mangu di depan gurunya.

Beberapa kali ia menoleh ke arah dimana Liu Yang Kun masih terbaring.

Bun-hoat Sian seng duduk bersila di atas tanah.

Di depannya tergeletak tubuh Bu-tek Sin tong yang terluka parah.

Baik Bun-hoat Sian-seng maupun Bu-tek Sin-tong hampir tidak mengenakan pakaian sama sekali.

Pakaian mereka nyaris hancur oleh ledakan pek-lek-tan tadi.

"Suhu! kau... kau tidak apa-apa? Dimanakah Giok-bin Tok-ong tadi?"

Souw Lian Cu bertanya gemetar.

Kulit muka Bun-hoat Sian-seng tampak pucat sekali.

Bahkan pada rambut kumisnya yang putih itu masih kelihatan bekas darah yang telah mengering.

Namun demikian orang tua itu tersenyum menyaksikan kekhawatiran muridnya.

"Jangan cemas, Lian Cu, Aku tidak apa-apa. Aku memang terluka cukup parah. Tapi aku bisa menjaga diri. Aku malah mengkhawatirkan luka Bu-tek Sin-tong ini. Dia telah menerima dua macam gempuran sekaligus. Pukulan Tai-lek Pek-khong-ciangku dan ledakan peluru Giok-bin Tok-ong itu! Tapi aku telah membantunya untuk mengembalikan kekuatannya..."

"Ooooh..."

Souw Lian Cu menghela napas lega.

"...Lalu dimanakah Giok-bin Tok-ong sekarang?"

"Dia telah pergi. Tapi dia juga menderita luka pula seperti Kami. Mungkin lebih parah malah... Hemm, bagaimana dengan engkau sendiri? Racun itu sudah kau keluarkan?"

Tiba-tiba Souw Lian Cu tersentak kaget. Gadis itu teringat kembali kepada Liu Yang kun. Otomatis kepalanya menoleh lagi.

"Oooooh!"

Desahnya lega begitu melihat 'kekasihnya' itu telah bangkit berdiri kembali.

"Lian Cu, kenapa kau...? Bagaimana dengan racun itu? Apakah...?"

"Tidak apa-apa. suhu. Racun itu telah hilang. Pemuda itu yang membantuku menghilangkannya."

"Oooooo..."

Bun-hoat Sian-seng mengangguk-angguk.

"...Kalau begitu mengucaplah terima kasih kepadanya. Tampaknya dia terkena hawa ledakan itu pula."

"B-ba-baik, suhu..."

Sementara itu Yap Kiong Lee menolong Liu Yang Kun membersihkan pakaiannya.

"Bagaimana keadaan Pangeran? Ada sesuatu yang tidak beres? Dimanakah mustika itu?"

Jagoan dari istana itu berbisik.

"Tidak apa-apa, Ciangkun. Aku cuma kaget, sehingga tenaga saktiku membalik. Untunglah pada saat yang tepat aku bisa menghentikan saluran tenaga dalamku. Kalau tidak...emm, entah apa jadinya dengan nona Souw tadi,"

Jawab Liu Yang Kun sambil memperlihatkan po-tok-cu yang masih tergenggam di telapak tangannya.

"Syukurlah, Pangeran. Saya sendiri memang sangat tergesa-gesa tadi. Begitu kagetnya saya ketika melihat Giok-bin Tok-ong melemparkan peluru mautnya, sehingga tiada jalan lain yang terpikirkan oleh saya selain membawa Pangeran bertiarap..."

"Peluru Giok-bin Tok-ong itu memang dahsyat bukan main."

Demikianlah, setelah mengucapkan rasa terima kasihnya, Souw Lian Cu lalu mengajak Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee ke tempat Bun-hoat Sian-seng.

Dan gadis itu sedikit tercengang ketika tidak melihat Bu-tek Sin-tong lagi di tempat tersebut.

"Suhu, perkenalkanlah... beliau-beliau ini adalah para bangsawan istana. Beliau..."

"Ooh? Aku sudah dua kali bertemu dengan jiwi (tuan berdua) ini. Tapi aku tak menyangka kalau beliau datang dari istana..."

Bun-hoat Sian-seng memotong perkataan muridnya.

"Suhu sudah mengenal mereka?"

"Sudah. Bukankah jiwi ini bernama Yap Kiong Lee dan..., Liu Yang Kun?"

"Pangeran Liu Yang Kun! Beliau ini adalah putera Hongsiang!"

Souw Lian Cu membetulkan perkataan gurunya.

"Oooh...?"

Bun-hoat Sian-seng tertegun.

"Bukan main. Hongsiang sungguh beruntung sekali memiliki putera seperti ini."

Souw Lian Cu mendengus pelan.

Entah mengapa hatinya tidak senang mendengar gurunya memuji Liu Yang kun.

Oleh karena itu untuk mengalihkan pembicaraan yang kurang ia senangi itu Souw Lian Cu lalu bertanya tentang Bu-tek Sin-tong.

"Suhu, kemanakah Bu-tek Sin-tong tadi?"

Bun-hoat Sian-seng menghela napas panjang.

"Dia telah pergi. Tapi bukunya telah ia kembalikan kepadaku. Inilah dia!"

Katanya kemudian sambil menunjukkan sobekan Buku Rahasia yang semula dibawa oleh Bu-tek Sin-tong.

"Ah, kalau begitu tinggal bagian depan saja yang belum kembali."

Souw Lian Cu berkata pula seraya mengeluarkan sobekan Buku Rahasia yang tadi diberikan oleh Bok Siang ki kepadanya.

Diam-diam gadis itu melirik kepada Liu Yang Kun, karena menurut Giok-bin Tok-ong tadi, sebagian dari buku yang belum kembali itu kini berada di tangan pemuda itu.

Dan ketika gadis itu melihat ke arah gurunya, ia juga menyaksikan gurunya itu menatap aneh kepada Liu Yang Kun.

Tampaknya gurunya itu agak segan pula untuk berbicara tentang buku itu kepada Liu Yang Kun.

Untunglah Liu Yang Kun sendiri dapat merasakan pula sikap mereka itu.

Dengan nada pasrah ia berkata kepada Souw Lian Cu.

"Nona, kau tahu sendiri bagaimana keadaan ingatanku sekarang. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Giok-bin Tok-ong tadi, bahwa aku telah merebut bukunya itu. Tapi yang jelas aku sekarang tidak membawanya. Maka terserah kepadamu, apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku. Tapi bila aku boleh meminta, biarlah penyakitku ini hilang dahulu. Apabila kemudian buku itu memang ada padaku, aku tentu akan mengembalikannya. Bukan watakku untuk memiliki benda yang bukan hakku."

Bun-hoat Sian-seng menjadi bingung mendengar ucapan Liu Yang Kun tersebut. Bolak-balik orang tua itu memandangi Souw Lian Cu dan Liu Yang Kun berganti-ganti.

"Lian Cu...! Ada apa ini sebenarnya? Mengapa Pangeran Liu Yang Kun ini berkata seperti itu?"

Souw Lian Cu tertunduk.

Ia memang belum menceritakan tentang hal Liu Yang Kun itu kepada gurunya.

Karena kini tak mengelak lagi, maka ia pun lalu terpaksa menceritakannya kepada gurunya.

Tapi tentu saja ia tak bercerita tentang masa lalunya dengan pemuda itu.

Ternyata Bun-hoat Sian-seng menjadi heran juga mendengar 'penyakit' yang diderita Liu Yang Kun itu.

Dengan pandang mata heran, namun juga kasihan, orang tua itu mengawasi pemuda yang memiliki ilmu sangat tinggi itu.

"Sayang aku tak mempunyai banyak pengetahuan tentang iImu pengobatan. Rasanya ingin juga ikut membantu mengembalikan ingatannya yang hilang itu. Ehmm, jadi...kau mau membawanya ke depan ibu tirimu itu? Bagus! Agaknya memang cuma dia yang mampu mengobati penyakit itu. Aku juga pernah mendengar tentang kehebatan Bu-eng Sin-yok-ong di masa lalu,"

Katanya kemudian dengan suara perlahan.

"Jadi... suhu setuju aku mengantar... mengantar Pangeran Liu ini?"

Souw Lian Cu bertanya.

"Mengapa tidak? Kau telah berpisah dengan ayahmu sedemikian lamanya. Kini tugasmu juga sudah selesai pula. Tinggal sebagian lagi sobekan Buku Rahasia itu yang belum kembali. Itupun kukira juga sudah tidak sulit lagi. Asal Pangeran Liu Yang Kun ini sudah sembuh kembali, sobekan Buku Rahasia itu tentu akan cepat diketemukan pula..."

Souw Lian Cu memandang Liu Yang Kun dengan sudut matanya, kemudian menghela napas panjang.

"Terima kasih, suhu. Kalau begitu aku akan berangkat lebih dahulu. Aku akan segera kembali apabila sobekan Buku Rahasia yang terakhir itu telah kuketemukan."

Tiba-tiba Liu Yang Kun melangkah maju.

"Lo-Cianpwe, percayalah...! Apabila kelak buku itu memang ada padaku, aku tentu akan segera mengembalikannya kepada Io-Cianpwe!"

Katanya tegas.

"Terima kasih, Pangeran...! Nah, Lian Cu... kau berangkatlah!"

"Suhu, kau...??!"

"Jangan pikirkan aku! Aku dapat mengurus diriku sendiri. Pergilah...!"

Bun-hoat Sianseng berkata dengan suara lembut namun tegas, sehingga Souw Lian Cu tidak berani membantah lagi.

Demikianlah Souw Lian Cu lalu kembali ke dalam kota lagi.

Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee mengikuti di belakangnya.

Karena pintu gerbang kota telah ditutup, maka mereka bertiga terpaksa memanjat dan melompatinya.

Malam telah larut dan penjagapun telah tidur lelap pula, sehingga gerak-gerik mereka tidak ada yang mengetahui.

Pengurus penginapanpun telah tertidur pula.

Terpaksa mereka langsung menuju ke kamar yang mereka pesan, Souw Lian Cu tidur sendiri, sedangkan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee tidur sekamar.

Embun malam telah mulai turun ke bumi.

suatu tanda bahwa malam telah merayap turun pula dari puncaknya.

Suasana di dalam rumah penginapan itu benar-benar sepi.

Sepi dan sunyi bagaikan kuburan.

Satu-satunya benda yang tampak hidup hanyalah lampu minyak yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin.

Banyak tamu yang menginap di penginapan itu, tapi hanya mereka bertiga yang belum memicingkan mata.

Hati dan pikiran mereka masih digeluti oleh peristiwa yang baru saja mereka alami, meskipun sebenarnya mereka telah berusaha untuk melupakannya.

Di kamarnya sendiri, Souw Lian Cu duduk bersila di atas pembaringan.

Gadis itu berusaha untuk bersemadi dan melepaskan lelahnya, tapi hati dan pikirannya tetap saja sulit ia kendalikan.

Apalagi ketika pikirannya melayang kepada ayahnya, Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai, yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan.

Tak terasa air matanya meleleh turun membasahi pipinya.

Dan air mata itu semakin banyak membanjiri pangkuannya tatkala pikirannya mulai merambat menyusuri nasibnya sendiri.

Sejak dilahirkan ke dunia ternyata nasibnya selalu kurang beruntung.

Walaupun dilahirkan di lingkungan keluarga baik-baik serta tersohor, namun sejak berumur dua tahun ia telah ditinggaIkan keluarganya.

Kakek, nenek, serta ibunya mati dibunuh orang.

Sedangkan ayahnya menjadi gila sejak kematian ibu dan kakeknya itu.

Untunglah masih ada keluarga pelayannya yang mau merawat dia.

Tapi musuh yang telah membasmi keluarganya itu ternyata masih saja mencari dirinya.

Ketika ia telah mulai besar, keluarga yang merawatnya itu juga dibasmi pula oleh musuhnya.

Bahkan di dalam kekalutan dan pelariannya akibat peristiwa itu, tangan kirinya juga dibabat putus oleh lawan lawannya.

Saat itu ia telah berusia sebelas atau dua belas tahun.

Pada waktu itu ia ditolong oleh Chu Bwee Hong, Ho Pek Lian dan...

ayahnya sendiri!

Tapi tentu saja ia tak mengenal ayahnya itu.

Apalagi ayahnya itu juga belum sembuh dari sakit gilanya.

Sakit gila atau sakit 'lupa ingatan', persis seperti yang diderita oleh Liu Yang Kun sekarang.

Mengenangkan hal itu diam-diam Souw Lian Cu tersenyum sendirian.

Senyum diantara derai air matanya.

Sungguh aneh sekali.

Mengapa orang-orang yang sangat dekat di hatinya itu mengalami penderitaan yang sama?

Souw Lian Cu menarik napas dalam-dalam.

Tangannya mengambil saputangan dan menyeka air matanya.

Pikirannya segera menerobos dinding kamarnya.

Sedang apakah Liu Yang Kun itu sekarang?

Apakah pemuda itu juga sedang memikirkan dirinya?

"Ah, tentu tidak...

Bukankah ia sudah beristeri?

Bukankah ia sudah kawin dengan Tiauw Li Ing?

Ooooohh...!"

Tiba-tiba Souw Lian Cu berdesah tanpa terasa.

Dan tiba-tiba pula air matanya kembali turun membasahi pipinya.

Pada waktu yang sama di kamar sebelah Liu Yang Kun juga sedang merenung pula seperti halnya Souw Lian Cu.

Dan seperti ada selarik benang yang menghubungkan hati mereka, maka Liu Yang Kun juga sedang berpikir pula tentang gadis itu.

Bahkan begitu asyiknya Liu Yang Kun melamunkan gadis itu, sehingga ucapan dan kata-kata Yap Kiong Lee tidak pernah diperhatikannya.

Dia hanya mengangguk atau menggeleng saja bila jagoan istana itu mengajaknya berbicara.

"Eh, dia... sedang menangis? Tampaknya.,tampaknya dia juga tidak bisa tidur pula,"

Tiba-tiba Liu Yang Kun bergumam lirih seperti kepada dirinya sendiri.

Ternyata saking kuatnya Liu Yang Kun berpikir tentang Souw Lian Cu, maka ilmunya yang sejajar dengan Lin-cui-sui-hoat itu bangkit dengan sendirinya.

Dinding tebal yang memisahkan kamar itu dengan kamar Souw Lian Cu seperti tak kuasa menghalangi tatapan 'mata batinnya'.

Dengan jelas pemuda itu seperti melihat segala tingkah laku Souw Lian Cu.

"Eiiii, Pangeran bilang apa tadi...?!"

Yap Kiong Lee terkejut mendengar gumam Liu Yang Kun tadi. Liu Yang Kun tersentak dari lamunannya. Dengan gugup pemuda itu menjawab.

"Ah, tidak...! T-ti-tidak apa-apa. Ciang kun juga belum mengantuk?"

"Belum. Pikiranku masih tercekam oleh peristiwa di dasar jurang itu. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Bun-hoat Sian seng, Jago Nomor Satu di dunia Persilatan itu. Dan pertarungan dahsyat di dasar jurang itu benar-benar telah membuka mataku pula, betapa kecilnya aku dibandingkan dengan mereka. Namun demikian masih ada juga perasaan bangga menyelinap di dalam hatiku yang kecil ini bila menyaksikan..."

"Menyaksikan apa, Ciangkun...?"

Yap Kiong Lee tersenyum.

"Bila menyaksikan sepak terjang Pangeran tadi!"

Liu Yang Kun menoleh dengan kaget.

"Sepak terjangku? Apa maksud, Ciangkun?"

Sekali lagi Ya Kiong Lee tersenyum.

"Maaf, Pangeran. Saya benar-benar bangga menyaksikan sepak terjang Pangeran di dalam menghadapi mereka tadi. Saya sungguh sangat berbesar hati melihat Pangeran dapat mengalahkan tokoh-tokoh sakti itu. Hmm, saya lantas teringat kepada Hongsiang. Betapa bangganya beliau bila mengetahui puteranya yang dibangga-banggakan itu benar-benar menjadi seorang pendekar yang gagah perkasa."

"Aaaaaaah!"

Liu Yang kun berdesah.

Yap Kiong Lee mengerutkan keningnya.

Ada nada sangsi dan ragu pada suara pemuda itu.

Tapi Yap Kiong Lee segera memakluminya.

Pemuda itu masih belum yakin siapa sebenarnya dirinya.

Tiba-tiba Liu Yang Kun berdiri, sehingga mengejutkan Yap Kiong Lee.

"Ciangkun, silahkan kau beristirahat dahulu...! Mataku sulit sekali dipejamkan. Biarlah aku keluar dulu di halaman. Siapa tahu udara di luar dapat membuatku mengantuk..."

Liu Yang Kun berkata perlahan. Yap Kiong Lee bangkit berdiri pula.

"Tapi... eh, bolehkah saya menemani?"

Liu Yang Kun tersenyum.

"Apakah Ciangkun takut aku akan lari? Ah... Hilangkanlah prasangka seperti itu. Percayalah..."

Katanya kemudian dengan nada bergurau.

"Ah, Pangeran mana... mana aku berani berbuat demikian? Silahkanlah! Silahkan...!"

Yap Kiong Lee menyahut dengan kikuk dan cepat-cepat duduk kembali.

"Terima kasih."

Liu Yang Kun lalu melangkah keluar dari kamar itu.

Ketika menoleh ke kamar Souw Lian Cu, pemuda itu menjadi kaget sekali.

Ternyata gadis itu juga sedang membuka pintunya.

Dan gadis ayu itu juga sedang menoleh pula ke arahnya.

Liu Yang Kun menjadi merah mukanya.

Begitu pula dengan Souw Lian Cu.

Bahkan dengan cepat mereka menundukkan wajah mereka.

Entah mengapa tiba-tiba mereka menjadi kikuk.

Tampaknya mereka menjadi malu karena baru saja masing-masing melamunkan yang lain.

Tapi dengan cepat pula Liu Yang Kun dapat menguasai dirinya kembali.

"Nona hendak kemana...?"

Sapanya dengan suara sedikit gemetar, sehingga pemuda itu menjadi benci kepada suaranya sendiri.

"A-aku tak bisa tidur. Maka... aku bermaksud keluar untuk mencari hawa segar..."

Ternyata Souw Lian Cu pun menjadi gemetar pula ketika menjawab.

"Oh, kalau begitu... sama dengan aku. Aku juga tak bisa tidur."

Liu Yang Kun menghela napas. Perlahan-lahan kakinya melangkah menghampiri Souw Lian Cu. Mendadak ia seperti mendapatkan keberaniannya kembali.

"Kalau memang benar aku pernah menjalin hubungan batin dengan dia, maka sekarang aku harus memperbaikinya kembali."

Pemuda itu berpikir.

"Nona...! Sebenarnya ada sesuatu hal yang hendak aku bicarakan denganmu. Tapi aku takut kau tak mau mendengarkannya."

Liu Yang Kun berkata perlahan ketika sudah berada di depan Souw Lian Cu.

Matanya menatap tajam, seolah-olah ingin menjenguk ke dalam hati gadis itu.

Souw Lian Cu menengadah dengan cepat.

Matanya yang bulat bening seperti bintang kejora itu membalas pandangan Liu Yang Kun dengan tak kalah tajamnya.

"Pangeran hendak berbicara denganku? Berbicara soal apa? Silahkanlah! Aku tentu akan mendengarkannya,"

Katanya perlahan pula, namun tegas. Liu yang Kun menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Tapi tak enak rasanya berbicara di tempat ini. Bagaimana kalau kita berbicara sambil berjalan jalan di luar sana...? Nona keberatan?"

Sekali lagi mata yang bening itu menatap Liu Yang Kun dengan tajamnya. Baru beberapa saat kemudian wajah yang ayu itu menggelengkan kepalanya.

"Marilah..."

Jawabnya pendek.

Sekejap wajah Liu Yang Kun tampak berseri.

Matanya berbinar menandakan kebahagiaan yang amat sangat.

Namun di lain saat pemuda itu menjadi sadar pula kembali.

Tergesa-gesa ia membalikkan badan untuk menyembunyikan rasa kikuknya.

"Marilah...!"

Katanya kemudian sambil melangkah mendahului.

Mereka turun ke halaman, kemudian berjalan ke jalan raya.

Semuanya tampak lengang dan sunyi.

Di beberapa tempat masih kelihatan lampu-lampu minyak yang dipasang penduduk di kanan-kiri jalan itu, sementara lampu-lampu yang lain telah banyak yang mati karena kehabisan minyak.

Beberapa ekor anjing tampak berlarian melintasi jalan itu, sementara di ujung jalan terdengar lolongan mereka yang panjang dan menggiriskan hati.

"Sepi benar""

Liu Yang Kun bergumam.

"Rasa-rasanya tak seorangpun yang masih terjaga pada malam yang telah larut seperti ini. Hmm...rasanya tengkukku juga menjadi tebal. Jangan-jangan Hantu Kuntilanak yang diributkan orang itu tiba-tiba muncul di jalan ini","

Liu Yang Kun mencoba bergurau untuk memancing percakapan dengan Souw Lian Cu. Dan pancingan tersebut agaknya memang berhasil.

"Hmm... lagi-lagi Hantu Kuntilanak! Lagi-lagi Hantu Kuntilanak! Mengapa Pangeran selalu berbicara tentang hantu itu? Apakah Pangeran mempunyai hubungan dengan dia...?"

Dengan nada agak kesal Souw Lian Cu menyahut.

"Maaf, nona Souw""

Liu Yang Kun menyeringai kikuk. Tampaknya gadis ayu itu masih terngiang-ngiang ketika dituduh sebagai Hantu Kuntilanak kemarin dulu.

"Maaf, nona Souw. Saya memang agak penasaran dengan hantu yang dihebohkan orang itu. Diam-diam aku ingin melihatnya, sehingga aku ikut mencarinya pula. Sore tadi aku melihatnya di pintu gerbang kota. Hantu itu sedang mengejar kereta Bu-tek Sin-tong. Aku lantas mengikutinya, tapi kehilangan jejak. Aku cuma mendapatkan reruntuhan kereta itu di jurang. Hantu itu tidak ada di sana. Yang ada justru Giok-bin Tok-ong, Bu-tek Sin-tong dan Han Sui Nio, calon isteri ketua Tiam-jong-pai itu. O leh karena itu...aku...heii? Oh, benar! Wanita muda yang pingsan itu!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun berseru kaget. Dahinya berkerut, matanya bersinar-sinar, seakan-akan ingat sesuatu.

"Wanita muda...? Siapa dia? Apa maksud Pangeran?"

Tentu saja Souw Lian Cu menjadi bingung.

"Benar! Tentu wanita muda itu yang menjadi Hantu Kuntilanak! ingat aku sekarang! Dia menggendong bayi kecil yang masih merah! Oh nona Souw... sungguh berbahaya! Marilah kita kembali ke rumah Ui Ciang-bun (Ketua Ui)!"

Liu Yang Kun berseru tertahan seraya menarik lengan Souw Lian Cu, diajak berlari ke rumah Ui Bun Ting.

"Pang...Pangeran, aku tak... Tak mengerti maksudmu! Aku tak melihat wanita muda itu di jurang sana. Dan aku... Aku juga tak melihat pula... wanita calon isteri Hek-pian-hok Ui Bun Ting itu. Mengapa... mengapa...?"

Sambil berlari Souw Lian Cu bertanya.

"Apakah nona tidak melihatnya ketika bertemu dengan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee...?"

"Melihatnya? Ah! Aku hanya melihat Hong-Lui-Kun seorang saja! Pendekar istana itu tak bersama siapa-siapa..."

Liu Yang Kun menoleh dengan kaget.

Dan kebetulan Souw Lian Cu juga sedang memandanginya, sehingga otomatis mata mereka bentrok satu sama lain.

Liu Yang Kun cepat melepaskan pegangan tangannya.

Wajahnya menjadi merah.

Gadis itu tampak cantik sekali.

Pipinya yang putih halus itu kelihatan merona merah karena dibawa lari.

"Ahhhh...!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun berdesah. Ia seperti merasa ada bara api yang menyala di dalam tubuhnya.

"Kau... Kau kenapa?"

Souw Lian Cu menjerit kecil. Otomatis tangannya yang dilepas oleh Liu Yang Kun tadi menyambar ke depan untuk mencengkeram lengan pemuda itu kembali.

"Ini... Ini... eh, tidak! Aku... Aku tidak apa-apa! Marilah kita segera ke rumah Ui Bun Ting dulu! Sambil berjalan nanti kuceritakan semuanya!"

Dengan halus Liu Yang Kun melepaskan tangannya, kemudian bergegas mendahului berlari.

Souw Lian Cu terpaksa berlari pula mengikutinya.

Untunglah pemuda itu segera bercerita tentang Han Sui Nio dan wanita muda yang disangkanya Hantu kuntilanak itu, sehingga suasana yang kaku itu kembali normal kembali.

Namun gadis ayu tidak tahu bahwa sebenarnya sambil bercerita Liu Yang Kun juga berusaha mati-matian untuk membunuh bara api yang nyaris membakar jiwa raganya itu.

Di perempatan jalan mereka berbelok ke kiri, menuju ke rumah Ui Bun Ting yang ada di ujung jalan tersebut.

Tapi dari arah lain tiba-tiba terlihat dua sosok bayangan menuju ke tempat mereka.

Tentu saja Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu menjadi kaget.

Sudah sekian lamanya mereka menerobos jalan-jalan di kota itu, ternyata baru sekarang mereka melihat orang.

Dan orang itu tampaknya memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi pula.

"Nona Souw, berhati-hatilah. Ada orang datang. Mungkin mereka petugas keamanan kota. Tapi mungkin juga bukan."

Liu Yang Kun berbisik, kemudian bersama-sama Souw Lian Cu mengendorkan langkahnya. Namun yang terjadi kemudian benar-benar di luar dugaan mereka, apalagi untuk Liu Yang Kun! "Koko...?"

Terdengar salah seorang dari kedua bayangan yang datang itu memanggil kepada Liu Yang Kun. Suara seorang wanita muda.

"Pangeran Liu Yang Kun? Benarkah dia itu suamimu?"

Bayangan yang lain segera menyahut pula.

Kali ini suara lelaki, lelaki yang sudah berumur.

Kalau pada saat itu ada petir menyambar, mungkin Liu Yang Kun tidak akan sekaget mendengar suara itu.

Begitu kagetnya pemuda itu, sehingga untuk sesaat ia justru menjadi bengong di tempatnya.

Matanya terbeliak memandang ke arah Tiauw Li Ing dan Lo-sin-ong yang tiba-tiba telah berdiri di depannya.

"Li Ing..."

Desahnya hampir berbisik.

Kedua sosok bayangan itu memang Tiauw Li Ing dan Lo-sin-ong adanya.

Kedatangan mereka di larut malam buta itu benar-benar beruntung sekali.

Sebab begitu datang mereka langsung dapat berjumpa dengan orang yang mereka cari.

Maka tak mengherankan bila Tiauw Li Ing segera menghambur dengan suka citanya ke depan Liu Yang Kun.

Tapi wajah gadis bajak laut itu segera berubah masam dan keruh begitu memandang Souw Lian Cu yang ada di samping 'suaminya'.

Tentu saja gadis itu takkan lupa kepada gadis buntung yang berwajah sangat ayu itu.

Oleh karena itu pandangannya segera berubah curiga kepada Liu Yang Kun.

Curiga dan cemburu!

"Kau...?"

Souw Lian Cu terdengar menggeram pula begitu melihat siapa yang datang. Gadis ini tak mungkin lupa pula kepada Tiauw Li Ing yang telah membunuh Keluarga Chu Seng Kun si ahli pengobatan itu.

"Kau...!"

Tiauw Li Ing balas menggeram. Giginya terkatup rapat, sedangkan matanya menantang liar dan ganas.

"Pembunuh keji! Lihat pembalasanku!"

Sesaat kemudian Souw Lian Cu telah menyerang sambil menjerit keras sekali.

Tiauw Li Ing yang sedang dibakar api cemburu itu segera membalas pula dengan tidak kalah garangnya.

Kedua tangannya yang telah memegang kipas besar dan kipas kecil itu segera menyambar nyambar pula untuk melayani serbuan lawannya.

Sementara Lo-Sin-ong yang datang bersama dia tadi cepat pula menepi untuk menjaga segala kemungkinan.

Semuanya berjalan dengan cepat dan di luar dugaan Liu Yang Kun, sehingga pemuda itu baru menyadari apa yang terjadi setelah kedua wanita muda itu bertarung dengan seru.

"Ini... ini... ini... eh, Lo-Cianpwe! Ba-bagaimana... ini?"

Pemuda itu berseru gugup ke arah Lo-sin-ong.

"Hmh!"

Lo-sin-ong mendengus pendek.

"Inilah akibatnya! Pangeran telah pergi meninggalkan Li Ing tanpa pamit. Kini Pangeran berjalan bersama seorang wanita lain. Isteri mana yang tidak marah melihat itu?"

"Tapi... tapi aku...ah!"

Liu Yang Kun berdesah bingung.

Liu Yang Kun benar-benar bingung dan tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Dia tak ingin Souw Lian Cu terluka atau kalah di dalam perkelahian ini, karena ia sangat membutuhkannya.

Lahir dan batin.

Ia sangat membutuhkan gadis ayu itu sebagai jalan untuk penyembuhan penyakitnya.

Selain itu ia juga tak ingin kehilangan pula.

Entah mengapa, diam-diam ia merasa sangat cocok dengan Souw Lian Cu.

Sebaliknya ia juga merasa kurang pada tempatnya bila ia membiarkan Tiauw Li Ing kalah atau cedera.

Walaupun ia kurang menyukai wanita itu, tapi kenyataannya wanita itu adalah isterinya.

Maka sungguh amat tidak lucu bila ia lebih memberatkan orang lain dari pada isterinya sendiri.

"Ahh...! Hmmh, mengapa isteriku harus dia? Mengapa isteriku bukan nona Souw itu saja, sehingga aku tidak menjadi bingung karenanya?"

Liu Yang Kun merintih di dalam hatinya.

Sementara itu perkelahian dua macan betina itu semakin lama semakin bertambah seru pula.

Masing-masing telah mulai mengeluarkan ilmu-ilmu andalan mereka.

Selain memainkan sepasang kipasnya, Tiauw Li Ing juga sudah mulai mempergunakan senjata-senjata rahasianya yang ampuh pula.

Tapi sebaliknya Souw Lian Cu juga sudah mengeluarkan ilmu warisan keluarganya pula.

Meskipun tangannya tinggal sebuah saja, tapi tangan itu ternyata mampu melepaskan ilmu Tai-kek Sin-ciang maupun Tai-lek Pek-khong-ciang yang dahsyat itu.

Walaupun ilmunya belum setinggi ayahnya, Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai, namun ternyata juga sudah cukup untuk me layani serbuan kipas dan tembakan-tembakan senjata rahasia Tiauw Li Ing.

Ternyata suara pertempuran mereka yang berisik itu membangunkan pula para pemilik atau penghuni rumah di sekitar jalan tersebut.

Meskipun mereka tidak berani keluar, namun secara sembunyi-sembunyi mereka mengintai juga dari balik pintu atau jendela rumah mereka.

Dan rata-rata semuanya menjadi ketakutan menyaksikan bayangan Souw Lian Cu dan Tiauw Li Ing yang berkelebatan kesana-kemari seperti hantu itu.

Apalagi ketika mereka mendengar letupan atau desau angin pukulan yang menyambarnyambar seperti amukan angin puting beliung itu.

Bahkan sesekali mereka juga menyaksikan ledakan-ledakan kecil yang disertai tanah dan pasir yang berhamburan diantara kaki-kaki bayangan yang berkelebatan tersebut.

Bila diperbandingkan agaknya kepandaian Souw Lian Cu dan Tiauw Ling memang tidak terpaut banyak.

Walaupun di dalam hal ilmu silat Souw Lian Cu tampak lebih unggul, namun demikian keunggulan itu ternyata juga tak berarti banyak pula.

Sebab untuk menutupi kekurangannya itu Tiauw Li Ing segera mengeluarkan pula keahliannya dalam melepas senjata rahasia.

Bahkan untuk sementara cara-caranya yang aneh dalam melepas senjata rahasia itu sempat membikin bingung Souw Lian Cu malah.

Demikianlah untuk menghindari serangan senjata rahasia Tiauw Li Ing yang selalu berkelebatan mengancam dirinya itu, Souw Lian Cu setiap saat harus berloncatan mundur menjauhi Tiauw Li Ing.

Sehingga akhirnya pertempuran mereka bergeser terus tanpa terasa.

Selangkah demi selangkah pertempuran itu bergeser mendekati rumah Hek-pian-hok Ui Bun Ting.

Dan rumah Ui Bun Ting sendiri ternyata masih terang-benderang, biarpun semua pintu dan jendela sudah tertutup rapat, namun di ruang tengah masih terdengar suara percakapan orang.

Bahkan dari dekat suara percakapan itu terdengar riuh dan ramai, menandakan bahwa yang sedang bercakap-cakap di dalam ruangan itu tentu lebih dari empat atau lima orang.

Sebenarnyalah bahwa di dalam ruangan itu masih berkumpul seluruh keluarga Ui Bun Ting.

Bahkan diantara mereka duduk pula Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai Han Sui Nio dan Han Tui Lan yang tadi diselamatkan Liu Yang Kun dari tangan Giok-bin Tok-ong.

Sambil menggendong bayinya sesekali Tui Lan menjawab pertanyaan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.

"Jadi... kaukah yang disebut-sebut orang sebagai Hantu Kuntilanak itu, nak?"

Ui Bun Ting bertanya kepada Tui Lan.

"Benar... Anakku ini telah diculik dan dibawa pergi oleh Bu-tek Sin-tong. Katanya anakku ini akan dijadikan pewaris ilmunya kelak. Tentu saja aku tidak boleh. Tapi aku tidak bisa menandingi ginkangnya sehingga aku kehilangan jejaknya.Namun aku terus memburunya. Setiap ada tangis bayi aku tentu singgah untuk menengoknya. Siapa tahu bayi itu anakku. Tapi ternyata ulahku itu diterima salah oleh orang..."

Tui Lan menjawab sambil menerawang jauh.

"Ya, kau dianggap Hantu Kuntilanak karena setiap bayi yang kau tengok tentu mati."

"Sebenarnya bukan demikian... Aku sama sekali tak berbuat apa-apa terhadap bayi-bayi itu. Mereka memang mati karena penyakit. Tampaknya ada penyakit menular yang berjangkit di kalangan anak-anak di daratan pantai timur ini. Tapi sulit untuk memberi pengertian kepada orang-orang itu. Mereka cenderung untuk lebih mempercayai kabar bohong tentang Hantu Kuntilanak itu. Dan kebetulan pula aku sedang mencari hilangnya anakku ini..."

"Benar! Lan-ji (anak Lan)... Kau memang hanya menjadi korban dari khabar bohong itu. Semuanya memang serba kebetulan. Seperti halnya pertemuan kita ini..."

Han Sui Nio membenarkan ucapan Tui Lan.

"Ya... semuanya memang serba kebetulan. Rasa-rasanya kisah kita ini seperti kisah di dalam sandiwara saja. Sebelumnya aku juga tak menyangka kalau aku akan bisa bertemu dengan kau lagi..."

Ui Bun Ting menyambung perkataan calon isterinya.

"...Bahkan aku juga tak mengira kalau kau sudah punya anak dan cucu pula. Hmm, tapi semua itu tak menjadi soal bagiku. Bagiku... Tui Lan juga sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Sama sekali aku tak akan mempersoalkan, apakah dia anak Ang-leng Kok-jin ataukah anak Giok-bin Tok-ong. Yang penting bagi aku sekarang adalah... kita berkumpul sebagai keluarga baru yang berbahagia! Bukankah begitu, Sui Nio? Lan-ji...?"

Tui Lan saling pandang dengan wajah cerah dan bahagia bersama ibunya.

Ibu yang sejak kecil ia anggap sebagai guru.

Guru yang keras dan bengis dalam mendidiknya.

Tapi sekarang Tui Lan tahu, mengapa guru atau ibunya itu bersikap demikian.

Dan semua itu membuat hati Tui Lan semakin bersimpati terhadap ibunya.

Demikianlah, tampaknya di dalam pertemuan mereka malam itu, baik Han Sui Nio maupun Ui Bun Ting telah saling berterus-terang terhadap Tui Lan, sehingga gadis itu menjadi tahu sejarah hidupnya.

Juga sejarah hidup Ui Bun Ting, calon ayah tirinya.

Dan gadis itu tampaknya juga sangat bergembira melihat kebahagiaan ibunya.

Baru kali ini ia me lihat sinar cerah di wajah gurunya, atau ibunya, yang dijuluki orang Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu.

Namun sebaliknya Tui Lan sendiri tampaknya belum mau berterus-terang seperti mereka.

Hal itu terlihat ketika ibunya masih saja bertanya tentang suami atau ayah dari anak yang digendongnya itu.

"Masakan sudah menjadi suami-isteri selama berbulan-bulan di lorong gelap seperti itu suamimu belum juga mau menyebut nama dan asal-usulnya?"

Tapi pertanyaan Han Sui Nio itu segera dipotong oleh Ui Bun Ting.

Ketua Partai Tiam-jong-pai itu juga melihat kejanggalan cerita anak tirinya, namun demikian sebagai orang yang telah arif ia segera bisa meraba bahwa tentu ada sesuatu yang masih dianggap rahasia oleh Han Tui Lan.

Dan ia tak ingin calon isterinya itu tetap terus mendesakkan pertanyaannya.

"Ah, Sui Nio... sudahlah! Mengapa kau masih tetap belum percaya juga kepada Lan-ji? Kalau memang demikian halnya, mau apa lagi...? Apalagi menurut Lan-ji suaminya itu sudah mati. Dia tidak ikut terselamatkan oleh arus air yang membawanya ke Danau Tai-ouw itu. Nah! Tidak baik mencerca orang yang sudah mati, bukan?"

"Aaah!"

Han Sui Nio berdesah perlahan.

"Maafkan ibu, Lan-ji...!"

Kata wanita tua itu kemudian kepada Tui Lan.

Tui Lan tertunduk sendu.

Matanya berkaca-kaca.

Sekejap terbayang wajah Liu Yang Kun, suaminya.

Apalagi ketika terpandang olehnya wajah Chu Siok Eng, bayinya yang mungil itu.

Wajah itu persis wajah ayahnya, bulat panjang dan berdagu runcing, sehingga wajah mungil itu tampak cantik sekali.

Ah...

betapa akan bangganya suaminya bila dapat melihat si mungil ini, desahnya di dalam hati.

"Ada suara perkelahian di jalan!"

Tiba-tiba Ui Bun Ting berseru kaget.

"Eh...? Siapa?"

Tui Lan dan ibunya, Han Sui Nio, berseru pula.

Dan kegugupan mereka ini segera diikuti pula oleh kepanikan para keluarga Ui yang lain.

Semuanya segera menjadi pucat ketakutan.

Perasaan takut dan ngeri yang diciptakan oleh Giok-bin Tok-ong ketika menculik Han Sui Nio siang tadi masih melekat di benak mereka.

Ui Bun Ting bangkit berdiri, tapi Han Sui Nio cepat menahannya.

"Kesehatanmu belum pulih. Kau jangan keluar dulu. Biarlah aku saja yang melihat."

Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu berkata.

"Tapi,... itu sangat berbahaya bagimu! Siapa tahu Giok-bin Tok-ong datang lagi?"

Ui Bun Ting mencegah niat calon isterinya itu pula. Tiba-tiba Tui Lan maju ke depan. Sambil menyerahkan anaknya kepada ibunya, ia berkata.

"Biarlah aku saja yang melihat keluar! Kalaupun diantara mereka itu memang ada Giok-bin Tok-ong, sungguh kebetulan sekali! Aku akan berbicara dengannya! Berbicara yang banyak sekali..."

Han Sui Nio cepat menerima cucunya. Tapi di lain pihak tangannya yang lain cepat menahan lengan Tui Lan pula.

"Jangan! Kalau Giok-bin Tok-ong benar-benar datang, kau akan dibunuhnya! Dia telah bertekad untuk membunuh semua keturunannya! Dia tak ingin punya anak! apalagi anaknya itu seorang perempuan. Kau tidak boleh...oh!"

Katanya gugup. Namun dengan tenang Tui Lan menjawab.

"Jangan khawatir, ibu. Ayah tak akan membunuh aku. Aku sudah beberapa kali berjumpa dengan dia sebelum aku terperosok ke dalam gua di bawah tanah itu. Dia justru lari ketakutan bila kusebutkan nama julukan ibu pada waktu itu."

"Tapi... Lan-ji, kau tak tahu jalan pikiran ayahmu itu. Dia benar-benar seorang iblis yang bisa membunuh darah-dagingnya sendiri. Kau...?"

"Benar, Lan-ji. Kau jangan membahayakan dirimu sendiri. Sudahlah! Lebih baik kita semua tidak usah keluar melihat keributan di luar itu! Kita bertahan saja di dalam rumah."

Ui Bun Ting turut mencegah niat Tui Lan. Tapi Tui Lan sudah tidak bisa dicegah lagi. Bayangan tentang kedatangan ayahnya itu justru menambah keinginannya untuk keluar malah.

"Ayah! Ibu! Kau tidak usah mengkhawatirkan aku. Kalaupun Giok-bin Tok-ong ingin membunuh aku, emm... rasanya juga tidak gampang! Aku bisa menjaga diri. Nah, aku keluar dulu."

Kemudian tanpa mengindahkan lagi cegahan ibunya, Tui Lan 'terbang' ke pintu.

Membukanya, dan selanjutnya...lenyap di dalam kegelapan ma lam.

Han Sui Nio dan Ui Bun Ting hanya mampu saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bukan main! Anak-anak muda sekarang memang hebat-hebat kepandaiannya! Rasanya kita memang tak perlu mengkhawatirkan keselamatannya andaikata yang datang itu bukan tokoh semacam Giok bin Tok-ong..."

Ui Bun Ting berdesah kagum.

"Ya! Kuharap saja yang datang itu bukan tokoh semacam Giok-bin Tok-ong."

Han Sui Nio mengiyakan lalu membawa bayi itu ke dalam dan menidurkannya.

Memang yang datang itu bukanlah Giok-bin Tok-ong.

Suara perkelahian itu adalah suara perkelahian Souw Lian Cu melawan Tiauw Li Ing, yang telah bergeser sampai di tempat tersebut.

Keduanya masih bertarung dengan amat serunya.

Dan oleh karena jalan di depan rumah Ui Bun Ting itu lebih besar serta luas, maka pertempuran mereka seolah-olah telah mendapatkan tempat yang cocok.

Souw Lian Cu agak lebih leluasa untuk berputar-putar mengelilingi lawannya sehingga otomatis pertarungan itu berhenti di tempat tersebut.

Lo-sin-ong dan Liu Yang Kun masih tetap juga mengikuti perkelahian itu dari jarak empat atau lima tombak.

Dan Liu Yang Kun masih tetap juga tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan perselisihan itu.

Perasaannya masih tetap bingung.

Demikian kalutnya perasaan Liu Yang Kun sehingga dia tak menyadari kehadiran Tui Lan di dekat arena pertempuran Souw Lian Cu dan Tiauw Li Ing itu.

Pemuda itu baru sadar ketika Lo-sin-ong menggamitnya.

"Pangeran...? Siapakah yang datang mendekati pertempuran? Aku seperti mendengar desah suara napas seseorang,"

Orang tua itu berbisik.

"Hah? Eh-oh... ya, yaa... ada seorang wanita muda berdiri di pinggir jalan. Tapi... tapi dia hanya menonton dan...tidak berbuat apa-apa."

Lo-sin-ong mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Hemm... aneh benar! Mengapa justru wanita yang keluar dari rumahnya?"

Sementara itu Tui Lan melirik pula ke tempat Liu Yang Kun dan Lo-sin-ong berdiri.

Tapi karena udara sangat gelap, maka ia hanya bisa melihat bayangan mereka saja.

Sungguhpun apabila ia menginginkan, ia dapat mengerahkan 'kemampuannya' untuk melihat mereka dengan jelas.

Namun karena yang lebih menarik perhatiannya adalah pertempuran yang berlangsung di depannya itu, maka ia menjadi kurang menaruh perhatian.

Apalagi Tui Lan juga hanya menduga bahwa mereka itu cuma penduduk yang keluar untuk menyaksikan keributan tersebut, seperti halnya dirinya itu.

"Oonoh...? Souw Lihiap? Souw in-kong, kaukah itu?"

Tiba-tiba gadis itu menjerit kaget begitu mengenali wajah Souw Lian Cu, yang pernah menyelamatkan nyawanya itu.

Bahkan yang juga menyelamatkan nyawa anaknya pula.

Lalu tanpa berpikir panjang lagi Tui Lan menghambur ke dalam pertempuran untuk membantu dewi penolongnya itu.

Dengan telapak tangan kanannya yang terbuka Tui Lan mendorong ke arah Tiauw Li Ing, sementara tangan kirinya siap melancarkan serangan yang lain apabila lawannya itu tidak mau mundur.

Tapi jeritan Tui Lan dan kemudian kedatangannya yang mendadak di dalam arena itu ternyata juga sangat mengejutkan, serta sekaligus juga menggoyahkan konsentrasi Souw Lian Cu.

Padahal pada saat itu Tiauw Li Ing juga sedang melepaskan senjata rahasia segitiga bintangnya.

Senjata rahasia terbentuk bintang berkaki tiga dan berjumlah enam buah itu menyambar dari balik kipas Tiauw Li Ing dalam formasi berurutan yaitu me luncur berjajar seperti halnya kelompok burung bangau yang terbang berbarengan di udara.

"Cici Tui Lan, kau...? Eh, awas! Iblis wanita ini lihai sekali! Kau jangan... aduuuh!"

Tiba-tiba Souw Lian Cu memekik kesakitan.

Sebuah dari senjata rahasia yang menyambar itu menembus lengan tunggalnya.

Persis di atas siku, sehingga otomatis lengan itu menjadi lumpuh dan tak bisa dipergunakan lagi untuk melawan.

Dan selanjutnya Souw Lian Cu hanya mampu menghindar berloncatan atau menyerang dengan kedua kakinya.

"Souw Lihiap...!"

Sekali lagi Tui Lan menjerit seraya menarik telapak tangannya yang dipakai untuk mendorong tadi, untuk kemudian meIompat mengejar Tiauw Li Ing yang terus mendesak Souw Lian Cu.

Tui Lan tidak tahu bahwa pada saat yang bersamaan Liu Yang Kun juga berteriak tertahan pula menyaksikan nasib Souw Lian Cu itu.

Hanya saja pemuda itu tak bisa segera menolong karena dengan cepat lo-sin-ong telah menahan tubuhnya.

Dengan dalih bahwa tak selayaknya bila ia membantu lawan isterinya, orang tua itu mencegah dia untuk turun ke arena.

"Ingat, Pangeran! Kau tidak boleh memusuhi isterimu sendiri! Biarkanlah mereka bertarung sepuasnya, agar isterimu puas, karena semua ini juga akibat dari perbuatanmu sendiri!"

Orang tua itu menasehati.

"Tapi Lo-Cianpwe, dia... dia...?"

"Jangan khawatir, Pangeran! Kawan wanitamu itu takkan mati! isterimu bukanlah seorang pembunuh! Dia anak yang baik! Anak... yang baik...! Percayalah!"

Orang tua itu memotong lagi dengan ucapan yang pasti, biarpun suaranya seperti gemetar dan kurang meyakinkan.

Sementara itu Tiauw Li Ing menjadi kaget sekali ketika tiba-tiba ada bayangan lain yang memotong di depannya.

Otomatis ia menangguhkan langkahnya untuk mengejar Souw Lian Cu.

Dengan hati penasaran karena maksudnya untuk membunuh Souw Lian Cu menjadi terhalang, ia melotot sambil bertolak pinggang.

"Kurang ajar! Siapa berani mengganggu permainanku?"

Pekiknya tinggi.

"Hmh! Inilah aku! Tui Lan dari Teluk Po-hai! Aku adalah teman dari Souw Lihiap! Aku minta jangan kau ganggu dia! Pergilah...!"

Tiauw Li Ing tersentak melihat keberanian Tui Lan.

Tapi sekejap kemudian dia malah tertawa gembira.

Gadis itu merasa telah mendapatkan kelinci pemainan yang lebih menyenangkan malah.

Sementara itu dengan wajah pucat karena kesakitan Souw Lian Cu mendekati Tui Lan.

Wajahnya masih menampilkan perasaan herannya melihat kehadiran Tui Lan di tempat itu.

"Cici, kau...? Dimana pu-puterimu itu...? Apakah kau sudah pulang ke Teluk Po-hai?"

"Belum, Lihiap. Anakku diculik orang, sehingga waktuku banyak terbuang untuk mencarinya. Tapi sekarang sudah kutemukan kembali. Malahan aku sudah berjumpa pula dengan guruku. Bahkan guruku itu ada di sini sekarang. Dia di dalam rumah seberang itu bersama anakku..."

Tui Lan menunjuk ke rumah Ui Bun Ting yang masih terang benderang. Kemudian katanya lagi.

"Lalu... siapa perempuan ini, Lihiap? Mengapa kau berkelahi dengannya?"

Souw Lian Cu menggeretakkan giginya. Tanpa melepaskan kewaspadaannya gadis ayu itu memberi peringatan kepada Tui Lan.

"Hati-hatilah, Cici! Inilah orangnya, jika Cici ingin tahu siapa yang telah membasmi keluarga Chu itu! Kepandaiannya hebat sekali! Oleh karena itu minggirlah! Biarlah aku saja yang melawannya. Dia terlalu berbahaya bagimu!"

Tak terduga keterangan itu justru menyulut api kemarahan di dada Tui Lan!

"Apa...?

Jadi perempuan inikah yanq telah membunuh Chu in-kong dan isterinya yang berbudi itu?

ah, sungguh kebetulan sekali!

Kita dapat membalaskan dendam itu sekarang...!"

"Cici, jangan...! Dia bukan lawanmu! Akupun sudah terluka pula olehnya! Kita tak bisa melawannya! Lebih baik kau pergi saja! Dia masih mempunyai dua orang kawan lagi yang belum turun ke arena. Lihat...I Disana masih ada guru dan suaminya!"

Tapi api kemarahan benar-benar telah membakar seluruh dada Tui Lan. Tanpa menoleh sedikitpun Tui Lan tertawa dingin.

"Lihiap! Aku tak peduli dengan siapa dia datang! Dengan suaminya... gurunya... bahkan dengan kakek gurunyapun aku takkan mundur! Kau tunggulah saja di pinggir, aku akan menghadapinya!"

Geram Tui Lan keras.

"Cici...??"

"Hi-hi-hi, bagus... bagus! Kau sungguh bersemangat dan menyenangkan. aku sangat senang mendapatkan lawan seperti kamu!"

Tiauw Li Ing tertawa semakin gembira. Kemudian sambungnya pula.

"tapi... sebelum mati, kau sebutkan dulu namamu! Dan apa hubungannya denqan keluarga Chu itu!"

"Sudah kukatakan tadi, namaku Tui Lan! Han Tui Lan! Akulah orang yang kau kejar-kejar dari danau Tai Ouw sampai ke rumah Keluarga Chu itu. Akulah orangnya yang dilindungi oleh keluarga Chu itu sehingga kau tega membasmi keluarga itu!"

Tiauw Li Ing tersentak kaget.

"Ah, jadi... kaukah perempuan yang dibawa oleh kakek pencari kayu itu? Oh... sungguh kebetulan sekali kalau begitu. Kami sekeluarga dari Lautan Timur memang selalu mencari-cari kau, karena kau kami anggap mempunyai hubungan dengan binatang langka Ceng-liong-ong itu. Nah... sekarang katakan kepadaku. Bagaimanakah dengan binatang langka itu? Kalau masih hidup, dimana dia sekarang? Tapi kalau sudah mati, dimana pula barang-barang peninggalannya? Lekas katakan!"

"Cici, pergilah... Jangan berkeras kepala di sini! Ingatlah puterimu! Biarlah aku saja yang menghadapinya..."

Souw Lian Cu berusaha mencegah niat Tui Lan untuk melawan Tiauw Li Ing yang ganas.

Tapi Tui Lan tetap teguh pada pendiriannya.

Dengan tangkas ia melepaskan diri dari pegangan tangan Souw Lian Cu, kemudian menerjang ke arah Tiauw Li Ing.

"Wuuuuuusss...!"

Kedua telapak tangannya mendorong ke depan sehingga menimbulkan hembusan angin yang sangat besar!

Dan hembusan angin itu menghantam tubuh Tiauw Li Ing dengan kuatnya!

Namun dengan gesit pula Tiauw Li Ing melompat menghindar.

Biarpun gadis itu tidak memandang sebelah mata kepada Tui Lan, tapi perasaannya juga mengatakan bahwa dia perlu berhati-hati pula.

Selanjutnya mereka lalu saling serang dan saling terjang dengan hebatnya.

Souw Lian Cu tak bisa mencegah lagi.

Terpaksa dengan perasaan was was gadis bertangan buntung itu bersiap siaga untuk menyelamatkan Tui Lan, apabila pada suatu saat temannya itu terjerumus ke dalam kesulitan.

Sama sekali ia tak menyangka bahwa temannya itu justru memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripada dia.

Baru setelah beberapa jurus kemudian gadis buntung itu menjadi kaget.

Apalagi ketika kemudian ia seperti mengenali jurus-jurus ilmu silat yang dikeluarkan oleh Tui Lan.

Dan rasa kaget tersebut ternyata juga tidak hanya dia yang merasakannya.

Ternyata Liu Yang Kun pun ikut merasakannya pula.

Meskipun pemuda itu sudah tidak ingat lagi akan jurus-jurus ilmu silatnya, namun nalurinya segera mengatakan bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan oleh lawan isterinya itu sama dengan miliknya.

Demikianlah pada saat itu Tui Lan memang memainkan Pat-hong Sin-ciang.

Maka tidaklah mengherankan apabila Souw Lian Cu maupun Liu Yang Kun merasa seperti mengenalinya.

Sebagai keturunan Keluarga Souw yang memiliki hubungan khusus dengan tokoh Bit-bo-ong sedikit banyak Souw Lian Cu pernah melihat atau diberi tahu oleh ayahnya tentang ilmu-ilmu warisan Bit-bo ong.

"Ilmu silat Cici Tui Lan itu seperti... seperti ilmu silat warisan Bit-bo-cng. Aah... mengapa dia bisa memainkannya? Dari mana Cici Tui Lan mempelajarinya? Ataukah... di dunia ini ada ilmu silat lain lagi yang gerakannya mirip ilmu silat warisan B it-bo-ong?"

Souw Lian Cu membatin. Sementara itu Liu Yang Kun pun menjadi sibuk pula pikirannya.

"Heran! Rasa-rasanya aku tahu semua gerakannya. Hmm... jangan-jangan dia mempunyai hubungan perguruan dengan aku. Siapa dia sebenarnya...?"

Lima belas jurus segera berlalu.

Bahkan dua puluh juruspun akhirnya juga telah berlangsung dengan cepat.

Tui Lan tetap bertangan kosong, sementara Tiauw Li Ing juga masih melawannya dengan kipas bajanya.

Hanya saja, semakin lama mereka semakin meningkatkan tingkat kemampuan mereka masing-masing.

Secara perlahan namun pasti Tui Lan meningkatkan pengerahan tenaga dalamnya.

Begitu pula halnya dengan Tiauw Li Ing.

Sehingga akhirnya mereka berdua benar-benar berada di dalam kondisi puncak kemampuan masing-masing.

Pat-hong Sin-ciang memang merupakan ilmu iblis yang dahsyat dan mengerikan.

Meski ilmu silat itu dimainkan oleh seorang wanita lembut semacam Tui Lan, namun pengaruhnya ternyata masih tetap saja mendebarkan dan menakutkan.

Semakin kuat Tui Lan mengerahkan tenaga dalamnya, maka menjadi semakin kuat pula daya cekam serta daya pengaruh magisnya.

Dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang hampir sempurna, bayangan Tui Lan berkelebatan mengeliIingi lawannya.

Dan setiap ada kesempatan Tui Lan selalu menekan, mendesak dan menyerang Tiauw Li Ing dari segala arah.

Akibatnya di dalam arena itu lambat-laun seperti ada semacam kekuatan besar yang menghimpit Tiauw Li Ing dari segala penjuru.

Bahkan beberapa waktu kemudian di dalam arena itu seperti timbul semacam kekuatan aneh yang mampu mempengaruhi pikiran dan perasaan orang yang melihatnya.

Karena Iweekang Tiauw Li Ing memang lebih rendah setingkat bila dibandingkan dengan Tui Lan, maka pengaruh serta tekanan Pat-hong Sin-ciang tersebut lambat-laun semakin terasa menghimpit dan menyesakkan dada Tiauw Li Ing.

Bahkan pengaruh magis yang ditimbulkan oleh ilmu warisan Bit-bo-ong tersebut juga mulai menyentuh pula perasaan dan pikiran Tiauw Li Ing.

Selain merasa sesak dan sulit bergerak Tiauw Li Ing juga mulai terpengaruh oleh gerakan-gerakan maupun suara-suara aneh yang dilagukan Tui Lan.

Misalnya saja Tiauw Li Ing mulai terhanyut pula oleh bayangan-bayangan Tui Lan yang pergi datang seperti setan di sekeliling dirinya itu.

Selain itu Tiauw Li Ing juga mulai terpengaruh oleh suara angin pukulan atau hembusan angin berputar yang ditimbulkan oleh gerakan tubuh Tui Lan.

Suara-suara itu lambat-laun seperti suara manusia yang tertawa atau mendengus mengejek Tiauw Li Ing.

Semakin lama semakin ribut, seolah-olah di luar arena itu menjadi semakin banyak penonton yang mencemooh dan mengejek kekalahan Tiauw Li Ing.

Maka Tiauw Li Ing pun akhirnya menyadari keadaannya.

Ternyata lawan yarg dia anggap enteng tersebut memiliki ilmu yang sangat mengerikan malah.

Oleh karena itu sebelum dirinya benar benar jatuh dalam kesulitan, maka Tiauw Li Ing lalu mengeluarkan kantung senjata rahasianya.

Seperti yang dia lakukan terhadap Souw Lian Cu tadi, ia lalu memberondong lawannya dengan peluru-peluru rahasianya.

(Lanjut ke

Jilid 33) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 33 Tiauw Li Ing memang memiliki cara atau ilmu melepas amgi yang hebat dan sulit diduga.

Setiap macam senjata rahasianya mempunyai keanehan keanehan khusus yang setiap saat bisa menjebak atau membingungkan lawannya.

Selain dari pada itu cara melepaskannyapun juga berbeda dengan kebiasaan umum.

Maka tidaklah mengherankan bila ilmu melepas amgi warisan Lo-sin-ong tersebut sangat ditakuti di dunia persilatan.

Tapi yang dihadapi Tiauw Li Ing sekarang adalah pewaris Bu-eng hwee-teng yang tubuhnya dapat bergerak secepat angin.

Walaupun ilmu melepas amgi Tiauw Li Ing itu hebat sekali, namun tetap saja tak bisa menyentuh pakaian Tui Lan.

Memang, kadang-kadang Tui Lan dibuat bingung pula oleh tebaran senjata rahasia Tiauw Li Ing.

Tapi dengan ginkangnya yang sangat tinggi Tui Lan bisa juga menyelamatkan dirinya.

Bahkan setelah itu Tui Lan lalu semakin memperberat tekanannya terhadap Tiauw Li Ing.

Demikianlah, akhirnya Souw Lian Cu yang menjadi terheran-heran menyaksikan kekalahan Tiauw Li Ing itu.

"Praaaaaaak...!!!"

"Aaaaah!"

Tiba-tiba terdengar suara derak yang nyaring ketika ujung lengan baju Tui Lan menghajar badan kipas Tiauw Li Ing!

Selanjutnya kipas baja itu tampak pecah berhamburan ke mana-mana!

Bahkan dua diantara belasan daun kipas yang terbuat dari baja pipih itu melesat melukai pundak Tiauw Li Ing sendiri.

Gadis itu menjerit kesakitan!

Lo-sin-ong terkejut bukan buatan.

Tubuhnya yang kurus itu tiba-tiba melesat ke arena.

"Li Ing...?"

Desahnya ketakutan seraya menangkap tubuh muridnya yang terhuyung-huyung mau jatuh.

Liu Yang Kun terkejut juga.

Namun untuk sesaat pemuda itu hanya terbelalak serta termangu saja di tempatnya.

Baru beberapa saat kemudian pemuda itu tersadar bahwa Tiauw Li Ing itu adalah isterinya.

"Ah!"

Pemuda itu tersentak dan di lain saat tubuhnya telan melenting bagaikan belalang ke tempat isterinya.

Lo-sin-ong yang sedang berusaha menolong Tiauw Li Ing itu memiringkan kepalanya.

Begitu mengenali yang datang di dekatnya adalah Liu Yang Kun hatinya menjadi lega.

"Pangeran...! Tiauw Li Ing terluka. Dia terkena pecahan kipasnya sendiri. Hmh... sungguh mengherankan! Siapakah wanita muda itu?"

Orang tua itu berkata perlahan.

Matanya yang kosong itu tampak bergerak-gerak seakan-akan berusaha untuk bisa melihat wajah Tui Lan yang telah mengalahkan muridnya.

Lalu bagaimana dengan Tui Lan maupun Souw Lian Cu sendiri?

Apa yang kemudian terjadi begitu Liu Yang Kun menampakkan dirinya?

Bagaimana sikap Tui Lan ketika mendadak melihat Liu Yang Kun yang telah disangkanya mati itu berada di depannya?

Dan bagaimana pula sikap Liu Yang Kun yang telah kehilangan ingatannya itu?

Apakah ia bisa mengenali kembali wajah Tui Lan, isterinya sendiri yang asli?

Semuanya memang serba mengejutkan!

Begitu pula yang terjadi pada Yap Kiong Lee pada saat itu!

Beberapa saat yang lalu pendekar dari istana itu menjadi curiga tatkala Liu Yang Kun tidak juga kembali ke kamarnya, ketika dia memeriksa kamar sebelah, ternyata Souw Lian Cu juga tidak ada di tempat.

Sebenarnya pendekar istana itu tak berani menuduh yang bukan-bukan terhadap mereka.

Terutama terhadap Liu Yang Kun.

Tapi mengingat akan tugasnya sendiri untuk membawa Pangeran itu ke istana maka tidak boleh tidak hatinya menjadi khawatir juga.

Apalagi bila mengingat akan sikap Pangeran Liu Yang Kun terhadap istana selama ini.

"Ah! Apabila kali ini aku gagal lagi untuk membawa Pangeran Liu Yang Kun kehadapan Hongsiang, hanyalah hukuman mati yang menantiku di istana...!"

Yap Kiong Lee lalu kembali ke kamarnya.

Diambilnya sepasang pedang pendeknya yang ia taruh di bawah bantal.

Kedua bilah pedang itu lalu ia ikat di lengannya, persis di bawah sikunya.

Di lengan kiri maupun lengan kanan.

Begitu pendeknya pedang itu sehingga lengan bajunya yang lebar segera menutupinya begitu dibawa melangkah.

Di luar penginapan benar-benar gelap-gulita.

Satu satunya lampu minyak yang sore tadi dipasang di pintu halaman sudah padam pula kehabisan bahan bakar.

Suasana betul-betul sunyi.

Sunyi dan sepi.

Yap Kiong Lee benar-benar bingung, kemana ia harus mencari Pangeran Liu Yang Kun.

"Kemanakah dia pergi? Kalau cuma sekedar jalan jalan, mengapa tidak segera kembali? Apakah...?"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee teringat pada rumah Ui Bun Ting.

"Jangan-jangan dia pergi ke sana untuk melihat, apakah Han Sui Nio telah kembali atau belum? Hmm, benar... mungkin dia memang pergi ke rumah itu, B iarlah aku ke sana saja,"

Gumamnya perlahan seraya bergegas pergi ke rumah keluarga Ui Bun Ting itu.

Semakin dekat dengan rumah keluarga Ui Bun Ting, Yap Kiong Lee semakin yakin bahwa dugaannya benar.

Perasaannya yang sudah sangat terlatih mengatakannya demikian.

Tapi ketika ia menginjakkan kakinya di jalan besar yang menuju ke rumah keluarga Ui Bun Ting itu tiba-tiba dadanya berdebar-debar.

Nalurinya seperti mengatakan bahwa ia sedang diikuti orang.

Betul juga.

Ketika dengan tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya, ia melihat seseorang sedang berusaha menyelinap di balik pohon di pinggir jalan.

"Siapa...?"

Yap Kiong Lee berseru kaget.

"Ayoh, keluar...?"

"Ah, Saudara Yap memang awas sekali! Aku benar-benar kagum kepadamu! Nah, saudara Yap... selamat bertemu!"

Terdengar suara berdecak kagum dan tiba-tiba dari balik tembok halaman rumah di sebelah kiri Yap Kiong Lee muncul sesosok bayangan menghampiri.

Sesosok bayangan manusia bertubuh tinggi besar mengenakan mantel lebar berwarna hitam mengkilat.

Tentu saja Yap Kiong Lee terkejut bukan buatan.

Sementara itu dari balik pohon yang dilihat Yap Kiong Lee tadi muncul pula dua sosok bayangan dengan langkah ragu-ragu.

Keduanya menghampiri Yap Kiong Lee dengan sikap waspada.

"Saudara Souw...??"

Yap Kiong Lee menegur bayangan pertama, yang mengenakan mantel hitam itu.

"Benar... akulah yang datang saudara Yap."

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menyahut ramah.

Matanya yang tajam itu melirik ke arah dua orang yang datang.Yap Kiong Lee tersenyum kecut, karena sebenarnya ia tak tahu kalau Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai ada di tempat itu.

Yang ia maksudkan sebenarnya bukan pendekar sakti itu, tapi kedua orang yang baru datang tersebut.

Namun untuk menghilangkan rasa kikuknya pendekar dari istana itu cepat berbisik.

"Saudara Souw...! Apakah mereka itu kawanmu?"

Souw Thian Hai mengerutkan dahinya. Sambil memperhatikan kedua orang yang datang itu ia menjawab.

"Mereka...? Ah, bukan! Aku datang sendirian saja."

Yap Kiong Lee menghela napas. Ditatapnya kedua orang yang baru datang itu lekat-lekat. Semuanya berusia lebih dari empat puluh lima tahun.

"Maaf... Jiwi siapa? Mengapa mengikuti langkahku?"

Dengan suara kaku Yap Kiong Lee bertanya. Kedua orang itu saling pandang sebentar. Yang seorang segera mengangguk kepada yang lain.

"Maaf, Yap Taihiap. Kami berdua tak bermaksud apa-apa terhadap Taihiap. Kami dari partai Tiam-jong-pai bermaksud menjumpai ketua kami di rumah keluarganya di ujung jalan ini. Secara kebetulan kami berjalan di belakang Yap Taihiap. Karena takut mengganggu kepentingan Taihiap maka kami terpaksa berjalan dengan sembunyi-sembunyi. Tak tahunya Taihiap tetap mendengar juga langkah kami..."

Orang yang pertama segera memberi keterangan. Ternyata kedua orang itu datang dari Cin-an. Mereka datang dari Partai Tiam-jong-pai. Bahkan mereka telah mengenal nama besar Yap Kiong Lee pula.

"Aaah!"

Yap Kiong Lee berdesah lega.

"Mengapa malam-malam begini Jiwi mau menemui Ui Ciang bun?"

Kedua orang itu saling pandang lagi satu sama lain. Namun yang seorang segera menjawab pertanyaan itu pula.

"Maaf, besok malam pesta perkawinan Ciang bun jin sudah harus berlangsung. Tapi hingga sekarang Ciang-bun-jin belum juga pulang ke Cin-an. Tentu saja kami menjadi khawatir sekali. Para pengurus segera mengadakan musyawarah dan memutuskan untuk mengirim kami menjemput beliau."

Yap Kiong Lee mengangguk angguk.

"Hmm... memang. Ui Ciang-bun memang baru saja memperoleh halangan, tapi sekarang semuanya sudah beres. Jiwi dapat menemuinya sekarang..."

"Halangan...? Ada apa dengan ketua kami?"

Kedua orang Tiam-jong-pai itu berseru kaget. Souw Thian Hai tampak kaget juga.

"Eh, saudara Yap... ada apa dengan Ui Ciang bun? Apakah ada orang jahat yang telah mencelakainya? Dimanakah Ui Ciang bun sekarang?"

Tanyanya khawatir, karena ketua Tiam-jong-pai itu adalah kawan baiknya pula. Yap Kiong Lee tersenyum tenang.

"Cuwi jangan gelisah! Ui Ciang bun tidak apa-apa. Dia memang baru saja dilukai oleh Giok-bin Tok-ong. Bahkan calon isterinya juga diculik oleh Giok-bin Tok-ong pula. Namun mereka sekarang telah kembali dengan selamat. Silahkan kalau mau menemui mereka...!"

"Baik! Kami berdua memang ditugaskan untuk menjemput Ui Ciang bun..."

Salah seorang dari kedua utusan Tiam-jong-pai itu cepat-cepat menjawab, lalu bergegas mengajak temannya untuk berangkat.

"Terima kasih, Yap Taihiap..."

Sebelum melangkah mereka mengucapkan terima kasih kepada Yap Kiong Lee. Setelah kedua orang itu pergi Souw Thian Hai mendekati Yap Kiong Lee.

"Saudara Yap, mau kemanakah kau malam-malam begini? Apakah ada tugas rahasia dari Hongsiang?"

Yap Kiong Lee tidak segera menjawab. Wajahnya kelihatan agak ragu-ragu. Tapi setelah berpikir sebentar ia lalu berkata.

"Benar, saudara Souw. Aku memang sedang memikul sebuah tugas penting dari Hongsiang. Tapi... eh, saudara Souw sendiri mau kemana pula? Tampaknya kau juga sedang mempunyai kepentingan...?"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee teringat kepada Souw Lian Cu, puteri pendekar sakti itu. Oleh karena itu sebelum Souw Thian Hai menjawab pertanyaan, ia segera meneruskan lagi pertanyaannya.

"Eh... apakah saudara Souw masih mencari puterimu itu?"

Tak terduga wajah pendekar sakti itu tersentak penuh harap. Matanya menatap tegang.

"Benar, saudara Yap. Aku memang tak pernah berhenti mencarinya. Kudengar sebuah berita bahwa seorang pendekar wanita bertangan buntung berkeliaran di daerah pantai timur. Aku curiga jangan-jangan wanita itu... puteriku! Oh, apakah saudara Yap pernah berjumpa dengan dia?"

Yap Kiong Lee tersenyum. Diam-diam hatinya tersentuh. Ternyata selama ini pendekar sakti itu tak pernah melupakan puterinya.

"Saudara Souw... Aku memang telah bertemu dengan puterimu. Bahkan puterimu itu telah melakukan perjalanan bersama aku. Dia memang ingin menemuimu di kota Cin-an. Tapi sekarang..."

"Saudara Yap!"

Souw Thian Hai tiba-tiba mencengkeram lengan Yap Kiong Lee.

"Katakan cepat! Dimanakah dia sekarang?"

Seru pendekar sakti itu dengan suara serak dan gemetar.

Bertahun-tahun bahkan mungkin sudah belasan tahun Yap Kiong Lee bersahabat dengan Souw Thian Hai, namun baru sekarang pendekar dari istana itu melihat pendekar besar yang disohorkan orang itu tampak gugup dan tidak bisa mengendalikan perasaannya.

"Saudara Souw, tenanglah...! Nanti akan kuceritakan semuanya, asalkan..."

"Eh-oh... maaf, maafkanlah aku. Aku... sampai tak bisa menguasai diri."

Souw Thian hai tersipu-sipu. Wajahnya kelihatan sedikit merah.

"Ah, tidak apa-apa. Saya bisa memakluminya, saudara Souw. Marilah...akan kuceritakan semuanya. Tapi... kuminta untuk sementara Saudara Souw merahasiakan sebagian dari ceritaku ini nanti, karena ada sebagian yang menyangkut tugasku sebagai utusan Hongsiang."

Souw Thian Hai memandang sahabatnya sebentar.

Pandangannya tajam menyelidik.

Tampaknya pendekar itu agak tergetar juga hatinya mendengar syarat sahabatnya itu, sehingga dalam sekejap timbul berbagai macam pikiran di dalam otaknya.

Namun rasa ingin tahu terhadap nasib puterinya membuat pendekar itu mengesampingkan semua pikiran tersebut.

Perlahan-lahan ia mengangguk.

"Baik. saudara Yap. Silahkan kau menceritakannya...!"

Katanya kemudian sambil menghela napas.

Yap Kiong Lee mengusap rambutnya yang sedikit basah oleh embun.

Setelah itu dengan jelas dan urut ia bercerita tentang Souw Lian Cu dan Pangeran Liu Yang Kun.

Sedikitpun tidak ada yang disembunyikannya.

Bahkan keadaan Pangeran Liu Yang Kun yang anehpun dia utarakan pula.

Juga tentang maksudPangeran itu untuk berobat kepada Chu Bwe Hong atau nyonya Souw di Cin-an nanti.

"Kata puterimu di dunia ini sudah tidak ada lagi yang mewarisi ilmu pengobatan Bu-eng Sin-yok-ong selain Nyonya Souw, karena Chu Seng Kun, kakak Nyonya Souw telah tewas di tangan putera-puteri Tung-hai-tiauw."

"Apa...? Saudara Chu tewas di tangan anak Tung-hai-tiauw? Kurang ajar!"

Souw Thian Hai tiba-tiba berseru geram.

Berita itu benar-benar sangat mengejutkan hati Souw Thian Hai.

Selain terikat sebagai saudara ipar, Chu Seng Kun juga merupakan sahabat eratnya di masa muda.

Bahkan telah banyak budi yang dilepas oleh sahabatnya itu kepadanya.

"Ya! Bahkan menurut penuturan puterimu, Keluarga Chu Seng Kun dibantai di depan hidungnya!"

"Oh, sungguh keji sekali! Lalu... apa masalahnya sehingga kawanan bajak laut itu bermusuhan dengan Chu Twako?"

Yap kiong Lee menghembuskan napasnya kuat-kuat.

"Kata puterimu... semuanya itu berpangkal pada seorang wanita muda yang hendak melahirkan! Wanita muda itu ditemukan oleh seorang pembantu Chu Seng Kun di dekat rumah mereka. Karena melihat wanita muda itu hendak melahirkan, maka dia dibawa pulang oleh pembantu keluarga Chu tersebut. Eee... tak tahunya wanita muda itu ternyata adalah buronan dari keluarga Tiauw. Oleh karena itu perselisihan pun tak bisa dielakkan lagi. Apalagi Chu Seng Kun berkeras tidak mau menyerahkan wanita muda itu."

"Kurang ajar...!"

Sekali lagi Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menggeram. Kedua tangannya terkepal erat-erat.

"Apapun alasannya... kawanan bajak laut itu memang patut dikutuk! Akupun akan membuat perhitungan pula apabila pada suatu saat berjumpa dengan mereka!"

Yap Kiong Lee berkata penasaran pula.

"Hmm, saudara Yap...! Bagaimana pendapatmu sekarang? Kemana kira-kira Pangeran Liu Yang Kun dan puteriku itu pergi?"

"Entahlah! Tapi aku tadi bermaksud ke rumah keluarga Ui Bun Ting di ujung jalan ini. Aku ingin menengok ke sana. Siapa tahu mereka pergi ke rumah itu?"

"Ah, kalau begitu marilah kita lekas-lekas ke sana pula! Kalau di rumah itu tidak ada, kita mencarinya lagi di tempat lain..."

Ajak Souw Thian Hai bersemangat.

Demikianlah kedua pendekar itu lalu berlari menuju ke rumah Ui Bun Ting.

Mereka tidak menyangka bahwa pada saat yang sama di dalam rumah itu telah terjadi keributan yang hampir saja merenggut nyawa ketua partai Tiam-jong-pai dan calon isterinya.

Memang.

Pada saat itu, ketika di tepi jalan Han Tui Lan sedang tertegun kaget menyaksikan Pangeran Liu Yang Kun tiba-tiba berdiri di depannya, maka di dalam rumahpun Ui Bun Ting beserta seluruh keluarganya juga tertegun pula tatkala tiba-tiba Giok-bin Tok-ong berdiri di depan mereka!

Sambil meringis kegirangan iblis tua itu menghampiri Han Sui Nio yang baru saja selesai menidurkan bayi Tui Lan.

Tak seorangpun mengetahui bagaimana iblis tua itu masuk ke dalam rumah.

"Su-moi, awas...! dia datang kembali!"

Ui Bun Ting berteriak. Suaranya terdengar gemetar kaget dan ketakutan. Han Sui Nio yang baru saja menutup pintu terkejut pula. Dengan wajah pucat wanita itu bersandar pada daun pintu yang ditutupnya.

"K-k-kau... kau... kembali lagi...?"

Pekiknya tertahan di kerongkongan. Kakek iblis itu berhenti tiga langkah di depan Han Sui Nio.

"Benar, anak manis. Aku datang lagi untuk menjemputmu. Marilah kita pulang kembali ke Lembah tak Berwarna, kita lupakan semua ganjalan yang pernah ada diantara kita. Dan kita buka nanti lembaran yang baru..."

"Tidak...! Aku tidak mau! Kau pergilah! Kau pulanglah sendiri ke Lembah Tak berwarna! Jangan ganggu aku!"

Han Sui nio berteriak. Tapi Giok-bin Tok-ong tak mempedulikan teriakan itu. Dia maju selangkah lagi, sehingga iblis tua itu dapat meraih pundak Han Sui Nio.

"Lepaskan dia!"

Tiba-tiba terdengar Ui Bun Ting memekik.

Ternyata di puncak ketakutan dan kekhawatirannya, timbullah keberanian ketua partai Tiam-jong-pai itu.

la berteriak seraya menyerang dengan kedua tangannya.

Tapi dengan tenang Giok-bin Tok-ong mengibaskan lengan bajunya.

Serangkum angin berbau busuk tiba-tiba menyongsong kedatangan Ui Bun Ting.

Dan selanjutnya ketua Partai Tiam-jong pai itu tergetar mundur dengan sempoyongan.

"Huk... huk... huk!"

Ketua Tiam-jong-pai yang masih belum pulih benar sakitnya itu terbatuk-batuk sambil mendekap dadanya.

Ternyata ia telah terluka dalam lagi.

Sebaliknya dengan wajah puas Giok-bin Tok-ong memandang ke arah lawannya itu.

"Heheh... ternyata kau belum mati juga, heh? Siapa yang telah mengobati lukamu siang tadi? Apakah kau telah mendatangkan seorang malaikat yang bisa menghidupkan kembali nyawamu, heh?"

Sambil berkata Giok-bin Tok-ong mengangkat lagi tangannya. Siap untuk melancarkan lagi serangannya.

"Jangan! Jangan bunuh dia...! Bunuh saja aku!"

Tiba-tiba Han Sui Nio menjerit sambil menubruk kaki Giok-bin Tok ong.

Iblis tua dari Lembah Tak Berwarna itu tak mengelak.

Namun dia telah mengerahkan lweekangnya, sehingga Han Sui Nio pun takkan bisa berbuat apa apa bila bermaksud jahat.

Dan sementara itu para penghuni rumah itu juga tak bisa berbuat apa-apa pula.

Mereka telah ketakutan sejak tadi.

Bahkan beberapa orang diantara mereka telah pingsan sejak Giok-bin Tok-ong muncul.

"Hehehe... Sui Nio!"

Giok-bin Tok-ong menoleh dan menunda pukulannya.

"Aku dapat mengampuninya, asal...k au mau menuruti perintahku! Nah, cepatlah kau mengambil keputusan! Kau ikut aku atau tidak?"

Suasana di dalam ruangan itu menjadi tegang luar-biasa.

Han Sui Nio dengan wajah pucat memandang Ui Bun Ting, sementara Ui Bun Ting sendiri dengan bibir yang semakin membiru juga menatap kekasihnya itu.

"Su-moi...?"

Ketua Partai Tiam-jong-pai itu berbisik lemah. Ternyata luka dalamnya semakin parah juga.

"Aku... aku sungguh bahagia bisa mati di depanmu. Oleh karena itu... jangan kau terima ajakannya! Hindarilah dia! Larilah sejauh-jauhnya!"

Giok-bin Tok-ong menggeram marah. Tangannya sudah bergetar lagi. Iblis tua itu benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.

"Kau memang sudah bosan hidup! Setan busuk...!"

Umpatnya keras-keras. Kemudian tangannya menyambar ke depan dengan dahsyatnya.

"Tok-ong, jangannnnn...!!! Aku ikut kau!"

Tak terduga Han Sui Nio memekik dan memeluk kaki Giok Bin Tok-ong erat-erat.

Tangan yang sudah terayun itu mendadak berhenti.

Dan desau angin yang bertiuppun lenyap pula dengan tiba-tiba.

Ternyata pada kesempatan yang terakhir iblis tua itu telah membatalkan pukulannya.

Sebagai gantinya iblis dari lembah Tak Berwarna itu lalu tertawa terkekeh-kekeh.

"Hehheh-heheh... ternyata kau masih dapat berpikir pula dengan baik. Bagus sekali, Sui Nio. Keputusanmu itu telah menyelamatkan jiwa kekasihmu. Nah, kalau begitu mau tunggu apa lagi? Ayolah...!"

Ajak kakek iblis itu kemudian. Lalu dengan kasar kakek iblis itu menarik lengan Han Sui Nio dan diseretnya kepintu.

"Su-moi...! Kau jangan pergi! Kau akan sangat menderita nanti! Biarlah aku saja yang menjadi korban...!"

Dari belakang Ui Bun Ting berteriak dan berusaha mengejar ke pintu.

Tapi pintu itu dengan kasar telah ditutup pula oleh Giok-bin Tok-ong dari luar.

Dan selanjutnya iblis tua itu telah lenyap membawa Han Sui Nio.

"Sui Nio...!"

Ui Bun Ting menjerit lirih.

Ketua Tiam-jong-pai itu lalu meratapi keadaannya.

Hatinya benar-benar pedih.

Pedih bercampur penasaran.

Di depan Giok-bin Tok-ong ternyata dirinya tak lebih dari seoranq lemah yang tak mampu berbuat apa-apa.

Sama sekali hilang kegarangannya sebagai seorang ketua partai persilatan terkemuka di dunia.

Ui Bun Ting lalu membanting pandangannya ke tanah.

Ia benar-benar merasa sedih dan malu.

Malu kepada Han Sui Nio, karena ia sama sekali tak mampu melindungi calon isterinya itu.

Namun wajah itu tiba-tiba terangkat kembali.

Di luar tembok halaman itu terdengar suara perkelahian.

Bahkan beberapa saat kemudian terdengar pula suara umpatan dan cacian.

Suara Giok-bin Tok-ong!

"Oh?

Dengan siapa iblis itu berkelahi?

Ah, jangan-jangan iblis tua itu telah bertemu dengan Tui Lan..."

Bergegas Ui Bun Ting turun ke halaman.

Dia tak memikirkan lagi keadaan tubuhnya yang semakin lemah.

Bahkan di dalam dadanya tumbuh kembali harapannya untuk bisa menyelamatkan Han Sui Nio.

Siapa tahu ada pertolongan yang tak terduga?

Benar juga.

Begitu ia membuka pintu halaman depan, matanya segera menyaksikan pemandangan yang benar-benar diluar dugaannya.

Ia melihat Giok-bin Tok-ong bertempur melawan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.

Han Sui Nio tidak berada di tempat itu.

Calon isterinya itu berada di jalan raya.

Wanita itu sedang memeluk Tui Lan.

Dan beberapa langkah di belakang Han Sui Nio tampak pendekar besar Souw Thian Hai sedang berangkulan dengan seorang gadis berlengan satu.

Pendekar itu kelihatan sangat terharu hatinya.

Wajahnya tengadah memandang ke langit, sambil sesekali menghela napas panjang.

Sementara itu agak jauh di seberang jalan tampak pula wajah seorang pemuda yang tak mungkin dapat dilupakannya.

Liu Yang Kun!

Pemuda itu tampak berdiri termangu-mangu di dekat seorang kakek buta yang sedang sibuk merawat gadis muda.

"Oh-oh... ada apa sebenarnya di tempat ini tadi? Aneh benar suasananya..."

Ui Bun Ting berdesah bingung.

Jalan itu tetap gelap dan sepi.

Walaupun orang-orang yang tinggal di sekitar tempat tersebut juga mendengar keributan itu, namun mereka tetap tidak berani keluar untuk melihatnya.

Mereka justru menutup rapat-rapat pintu dan jendela mereka, kemudian bersembunyi bersama seluruh keluarga mereka di tempat yang aman.

"Lian Cu, anakku...! Kemana saja kau selama ini? Hampir putus asa ayah mencarimu..."

Souw Thian Hai berbisik di telinga puterinya.

Keduanya masih berpelukan.

Perlahan-lahan Souw Lian Cu melepaskan diri dari dekapan ayahnya.

Wajahnya yang basah dengan air mata itu mendongak ke atas.

terbata-bata ia menjawab.

"Maafkanlah aku, ayah... aku memang anak yang tak berbakti. Aku selalu... selalu membuat ayah menderita."

"Tidak, nak... kau tidak bersalah. Ayahlah yang telah menyia-nyiakanmu. Ayah terlalu mementingkan dirinya sendiri, sehingga kau menjadi kecewa karenanya. Seharusnya ayah lebih memperhatikanmu, karena sejak kecil kau tak pernah merasakan kasih sayang orang tua..."

"Ayah...!"

Kedua ayah dan anak itu lalu berpelukan lagi.

Pertemuan itu benar-benar sangat mengharukan, tapi juga sekaligus membahagiakan hati mereka.

Sementara itu Han Sui Nio yang sedang berpelukan dengan Tui Lan tiba-tiba menjerit.

Tui Lan yang ada di dalam pelukannya itu mendadak pingsan.

"Tui Lan...!!!"

Jeritan Sui Nio itu tentu saja amat mengagetkan yang lain.

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dan Souw Lian Cu tersentak kaget dari keharuan mereka.

Liu Yang Kun yanq sedang termangu-mangu bingung itupun juga menoleh pula dengan cepat.

Bahkan Giok-bin Tok-ong yang sedang bertempur dengan Yap Kiong Lee itu juga menjadi kaget sekali.

Tanpa mempedulikan lawannya lagi iblis tua itu melesat menghampiri Han Sui Nio.

"Sui Nio, ada apa...?"

Tanyanya khawatir. Han Sui Nio menoleh sekejap, kemudian mendekap tubuh Tui-Lan kembali.

"Anakmu! Anakmu pingsan!"

Sui Nio menjerit pula sekali lagi.

"Apaaa...? Anakku...?"

Tiba-tiba Giok bin Tok-ong memekik. Wajahnya menjadi tegang. Han Sui Nio menoleh lagi dengan cepat. Tiba-tiba wajahnya menjadi garang ketika menatap Giok bin Tok-ong.

"Benar! Anak ini memang anakmu. Ayah bodoh. Cepat! Obati dia...!"

Bentaknya kemudian dengan keras.

Air muka kakek iblis itu berubah dengan hebat.

Bibirnya menjadi pucat tak berdarah, sementara matanya yang biasa liar dan ganas itu tiba-tiba terpukau diam tak bergerak.

"Anakku...?"

Desahnya seperti tak percaya. Lalu kakek itu tiba-tiba menyambar ke depan. Sekejap saja tubuh Tui Lan telah berpindah dalam pelukannya.

"Tui Laaaan...!"

Han Sui Nio memekik.

"Cici...!"

Souw Lian Cu menjerit pula, kemudian menghambur dari pelukan Souw Thian Hai untuk menolong Tui Lan.

Namun dengan cepat Giok-bin Tok-ong mengebutkan lengan bajunya yang lebar.

Dan serangkum angin berbau amispun segera menahan langkah Souw Lian Cu dengan kuatnya.

"Ooouuugh...!"

Souw Lian Cu mengeluh pendek.

"Lian Cu...!"

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai berteriak kaget dan bergegas menyambar tubuh puterinya itu.

Kemudian sambil membawa puterinya ke pinggir, Souw Thian Hai cepat-cepat mengurut dan menotok di beberapa bagian punggungnya.

Semuanya itu dia lakukan dengan tangkas dan cekatan.

Sehingga napas Souw Lian Cu yang sesak segera pulih kembali seperti semula.

Sementara itu Ui Bun Ting masih tetap juga berdiri bingung di luar pintu halaman rumahnya.

Ketua partai Tiam-jong-pai itu benar-benar tak bisa menerka, apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat itu sebelum dia keluar tadi.

"A-a-apa... yang telah terjadi..."

Desahnya serak.

Benar.

Apa sebenarnya yang telah terjadi?

Mengapa tiba-tiba Giok-bin Tok-ong berkelahi dengan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee?

Dan bagaimana pula tiba-tiba Tui Lan telah berpelukan dengan Han Sui Nio, serta pingsan di dalam pelukannya tersebut?

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pertempuran antara Tui Lan melawan Tiauw Li Ing telah berakhir dengan kemenangan Tui Lan.

Kipas yang dipegang gadis bajak-laut itu telah pecah, dan pecahannya justru melukai pemiliknya sendiri.

Akibatnya Lo-sin-ong dan Liu Yang Kun terpaksa datang menolongnya.

Namun kemunculan Liu Yang Kun itu ternyata sangat mengejutkan hati Tui Lan.

Beberapa saat lamanya gadis itu mengejap-ngejapkan kelopak matanya.

Gadis itu seperti tak percaya pada penglihatannya.

Baru beberapa waktu kemudian gadis itu mengeluh pendek dan tubuhnya terhuyung ke depan.

Tubuh gadis itu tentu akan terbanting ke tanah kalau pada saat yang sama tidak datang Han Sui Nio, yang dengan tangkas menyambar tubuhnya.

Ternyata kedatangan Han Sui Nio bersama Giok-bin Tok-ong dari dalam rumah Ui Bun Ting tadi benar-benar tepat pada waktunya.

Dan kedatangan mereka tersebut ternyata juga bersamaan pula dengan kedatangan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.

Bahkan pendekar istana itu segera menyerang Giok-bin Tok-ong begitu menyaksikan iblis tersebut keluar dari rumah Ui Bun Ting.

Dan pertempuran yang baru saja mulai itu segera bubar kembali ketika terdengar jeritan Han Sui Nio.

Dan seperti yang telah diceritakan pula, tubuh Tui Lan telah berpindah dengan cepat ke tangan Giok-bin Tok-ong.

Bahkan Souw Lian Cu yang bermaksud menolong sahabatnya itu telah terluka dalam pula oleh pukulan iblis dari Lembah Tak Berwarna tersebut.

Semuanya itu berlangsung dengan cepat sekali, sehingga Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai itu tak sempat pula menolong puterinya.

Untunglah luka yang diderita gadis ayu itu tidak begitu parah sehingga Souw Thian Hai segera dapat menolongnya pula.

Namun demikian semua itu telah membangkitkan amarah Souw Thian Hai.

"Bangsat keji...!"

Pendekar besar itu menggertakkan giginya.

"Kau telah melukai puteriku! Hmm... kubunuh kau!"

Tapi Giok-bin Tok-ong sendiri ternyata tidak mengacuhkan ancaman tersebut.

Iblis tua itu sedang sibuk dengan urusannya sendiri.

Urusan Tui Lan yang tiba-tiba dikatakan sebagai anaknya oleh Han Sui Nio.

"Heh? Apa katamu, Sui Nio? Dia... dia... anakku? Betulkah itu...? Kau... kau bohong!"

Sanggah iblis tua itu hampir berteriak.

Matanya liar menunjukkan nafsu membunuh.

Tiba-tiba Han Sui Nio tersadar bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang amat membahayakan nyawa anaknya.

Iblis itu telah bersumpah untuk membunuh semua keturunannya.

Tui Lan tentu akan dihabisinya pula.

Oleh karena itu dengan sangat ketakutan Han Sui Nio menjerit dan berusaha merampas tubuh Tui Lan dari tangan Giok-bin Tok-ong.

"Tidaaaakk...! eh, aku keliru! Dia bukan anakmu! Dia... dia... anak Ang-leng Kok-jin!"

Tapi perubahan sikap dan keadaan Han Sui Nio itu justru menumbuhkan keyakinan di dalam hati Giok-bin Tok-ong, bahwa Tui Lan memang anaknya.

Dengan menyeringai kejam iblis tua itu segera mengangkat tubuh Tui Lan yang tak berdaya.

Namun pada saat itu pulalah Souw Thian Hai telah berada di depannya.

Dengan pengerahan tenaga sepenuhnya pendekar besar itu menyerang.

Tangan kiri menyergap ke arah wajah, sedangkan tangan kanan berusaha menyambar tubuh Tui Lan!

Dan serangan itu memang sangat mengejutkan Giok-bin Tok-ong.

Apalagi ketika terasa olehnya udara yang terpancar dari kedua tangan Souw Thian Hai itu mempunyai pengaruh yang berlawanan.

Panas dan dingin.

Yang tertuju ke arah wajahnya bagaikan jilatan api yang hendak membakar kepalanya.

Sementara yang terarah ke tubuh Tui Lan bagaikan siraman air es yang hendak membekukan tangannya.

"Gila...!!!"

Ketua Lembah Tak Berwarna itu mengumpat kasar.

Dan kemarahannya menjadi semakin hebat pula begitu menyaksikan siapa yang telah menganggunya.

Meskipun gelap ternyata ia mampu mengenali wajah Souw Thian Hai.

"Kau...? Huh!"

Lanjutnya kemudian seraya melompat ke belakang.

Otomatis maksudnya untuk mencekik atau membanting tubuh Tui Lan menjadi tertunda.

Tetapi Souw Thian Hai tak ingin memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk melaksanakan niatnya itu.

Menyadari sergapannya tak berhasil pendekar besar itu segera menyusulinya lagi dengan serangan berikutnya.

Kali ini dengan lompatan panjang ke arah pinggang lawan.

Tumit kanannya berputar dari kanan ke kiri dalam jurus Menebas Rumput Meratakan Tanah, salah sebuah jurus yang pernah mengangkat nama keluarganya di dunia persilatan.

Lagi lagi Giok-bin Tok-ong terperanjat.

Kali ini serangan kaki lawannya diikuti oleh hawa panas yang tak terhingga kuatnya.

Belum juga serangan itu menghantam pinggangnya, kilatan udara panas lebih dulu menerjang bagaikan petir yang hendak menghanguskan tubuhnya.

Dengan tergesa-gesa Giok bin Tok-ong meloncat lagi ke belakang.

Kali ini benar-benar dengan kemarahan yang telah memuncak sampai di ubun-ubunnya.

Sehingga ketika sekali lagi Souw Thian Hai memburunya, ia tak mau mengelak pula.

Dengan geram tangannya yang bebas menyongsong serangan lawannya.

Tapi ternyata Souw Thian Hai tak mau beradu tenaga dengannya.

Pendekar besar itu menggeliat ke samping dengan gesitnya, kemudian dari samping menyerang lagi dengan kedua jari tangannya.

Seleret sinar seperti kilatan petir melesat dari ujung jari-jari tersebut.

Menerjang ke arah lengan Giok-bin Tok-ong, bagaikan kilatan anak panah yang terlepas dari busurnya!

"Cuuuuss!"

"Kurang ajar...!!!"

Iblis dari Lembah Tak Berwarna itu mengumpat kasar.

Otomatis tangannya yang memegang tubuh Tui Lan menangkis kilatan sinar tersebut, sehingga tubuh gadis itu terlepas dari cengkeramannya.

Dan kesempatan itu benar-benar tak disia-siakan oleh Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai!

Dengan cepat tangannya yang lain segera mendorong tubuh Tui Lan ke pinggir!

Sementara itu Liu Yang Kun yang sejak tadi hanya berdiri termangu-mangu di dekat Lo-sin-ong dan Tiauw Li Ing, tiba-tiba seperti disentakkan dari lamunannya.

Pemuda itu bergegas menangkap tubuh Tui Lan yang kebetulan melayang ke arah dirinya.

Sekejap ia menjadi bingung dan salah tingkah, tak tahu apa yang harus ia perbuat terhadap gadis itu.

"Pangeran! Apa yang kau lakukan? Apa yang telah terjadi? Siapakah yang berkelahi itu?"

Lo-sin-ong yang sudah selesai mengobati Tiauw Li Ing itu tiba-tiba bertanya dengan kaget dan waspada.

"Anu... eh... anu, Giok-bin Tok-ong berkelahi dengan seorang lelaki tinggi besar bermantel hitam...!"

Liu Yang Kun menjawab dengan gugup. Ternyata ia tak ingat lagi kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

"Giok-bin Tok-ong...?"

Lo-sin-ong tersentak kaget.

"Benar."

"Eh, mengapa iblis tua itu sampai bisa datang kemari? Oh... sungguh gawat sekali! Kita tak boleh berlama-lama di sini! Kita harus cepat-cepat pergi...!"

Kakek tua itu segera mengangkat tubuh muridnya.

Namun pada saat yang sama gadis itu juga membuka matanya.

Melihat Liu Yang Kun memeluk tubuh Tui Lan, gadis itu cepat melepaskan diri dari pegangan gurunya.

Dengan marah gadis itu berdiri menghadapi Liu Yang Kun.

Namun karena kesehatannya memang belum pulih kembali, maka tubuhnya segera terhuyung mau jatuh.

Bagaikan orang yang awas matanya Lo-sin ong menyambar tubuh Tiauw Li Ing!

"Kau...?

kauuu...?"

Gadis itu menjerit sambil menuding 'suaminya', lalu pingsan di dalam gendongan suhunya.

Tentu saja Lo-sin-ong yang buta itu menjadi bingung dan tak tahu apa yang menyebabkan muridnya bertingkah demikian.

"Oh... dia pingsan! Apa... apa sebenarnya yang terjadi, Pangeran?"

"A-a-aku tak tahu, Lo-Cianpwe... dia... seperti marah sekali,"

Liu Yang Kun tak berani berterus terang.

"Aneh sekali! Kalau begitu kita memang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini! Hemmh, sungguh mengherankan! Malam-malam begini, di tempat seperti ini pula, tiba-tiba muncul sedemikian banyak tokoh-tokoh persilatan yang saling berbenturan..."

Kakek tua itu lalu mengangkat tubuh Tiauw Li ing dan melangkah pergi. Namun langkahnya segera terhenti kembali ketika tak didengarnya langkah Liu Yang Kun di belakangnya.

"Pangeran. Kenapa kau masih tetap berdiri di situ? Ayolah...!"

Ajaknya kemudian dengan suara agak keras.

Liu Yang Kun tersentak kaget, lalu menghela napas panjang.

Kakinya terasa berat sekali untuk melangkah.

Apalagi ketika ia menyadari bahwa beberapa orang telah datang mendekatinya.

Bahkan mengepungnya.

seolah-olah orang-orang itu tidak memperbolehkan dia pergi dari tempat tersebut.

"Yap Taihiap! Nona Souw...? Ini...???"

Bibir Liu Yang Kun bergetar hampir tak bersuara. Matanya juga ikut bergetar pula ketika memandang ke arah kawan-kawannya itu.

"Saudara Liu! Letakkan wanita itu baik-baik. Jangan ganggu dia! Aku bersumpah untuk membalas dendam kepadamu apabila kau sampai berani mengusiknya!"

Souw Lian Cu yang biasa bersikap tenang itu mengancam.

"Pangeran... hendak kau apakan wanita itu? Berikan...berikan dia kepada Ui Ciang bun! Gadis itu adalah anak-tiri Ui Ciang bun..."

Di dalam ketegangannya Yap Kiong Lee lupa menyebut "Pangeran"

Kepada Liu Yang Kun. Untunglah semua orang yang datang mengepung Liu Yang Kun itu juga dalam keadaan tegang pula hatinya, sehingga mereka tidak begitu memikirkan keganjilan itu.

"Betul, Taihiap. Dia anak tiriku. Ampunilah dia..."

Ui Bun Ting yang juga datang bersama Han Sui Nio ikut memohon kepada Liu Yang Kun.

Seketika Liu Yang Kun menjadi sadar, bahwa teman-temannya itu mengkhawatirkan keselamatan wanita yang kini berada di dalam pelukannya.

Agaknya mereka menyangka bahwa dirinya hendak mencelakakan wanita itu.

"Oh, maaf... maaf! Inilah dia! Silahkan kalian merawatnya! Sama sekali aku tak berniat untuk mencelakakannya...! sungguh!"

Terbata-bata Liu Yang Kun berkata sambil menyerahkan tubuh Tui Lan kepada Yap Kiong Lee.

Di lain pihak keributan kecil itu tampaknya didengar pula oleh Lo-sin-ong.

Kakek tua yang belum jauh melangkah dari tempat itu tampak mengerutkan alisnya.

"Pangeran...? Apakah kau mendapatkan kesulitan?"

Tanyanya dingin.

"Oh, tidak! Tidak...! Lo-Cianpwe harap berjalan dahulu! Mereka adalah teman-temanku. Aku hendak berbicara dengan mereka sebentar,"

Liu Yang Kun cepat menyahut.

Namun tentu saja kakek tua itu tak mau dibohongi oleh Liu Yang Kun.

Begitu sulitnya dia dan Tiauw Li Ing mencari Liu Yang Kun.

Kini sete lah pemuda itu dapat mereka ketemukan, bagaimana mungkin kini ia lepaskan begitu saja?

Bagaimana kalau pemuda itu nanti melarikan diri lagi?

"Hmmh!

Kukira masih banyak waktu untuk berbicara dengan mereka nanti.

Yang lebih penting bagi Pangeran sekarang adalah merawat isterimu.

Marilah!

Tinggalkan saja dahulu kawan-kawanmu itu...!"

"Tapi...?"

Liu Yang Kun berdesah bimbang.

Matanya mengawasi Souw Lian Cu, seolah-olah meminta pertimbangan.

Tapi Souw Lian Cu sendiri seperti tak mengacuhkan tatapan mata itu.

Gadis ayu itu bahkan menyibukkan diri di samping Tui Lan yang telah dirawat oleh Ui Bun Ting dan Han Sui Nio.

Yap Kiong Lee lah yang kemudian maju mendekati Liu Yang Kun.

"Pangeran...! Jangan kau ikuti ajakan orang tua itu! Bukankah Pangeran hendak berobat kepada isteri Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai. Nah, lihatlah...! Pendekar besar itu telah datang kemari. Sebentar lagi isterinya tentu akan tiba pula,"

Pendekar dari istana itu mencoba membujuk Liu Yang Kun. Benar saja. Pemuda itu kelihatan terkejut mendengar keterangan tersebut.

"Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai? Betulkah orang yang bertempur dengan Giok-bin Tok-ong itu ayah nona Souw?"

Desah pemuda itu kaget.

"Benar. Tanyakan saja kepada nona Souw kalau Pangeran tak percaya."

Liu Yang Kun mengerutkan dahinya. Tapi sebeIum dia menjawab, tiba-tiba Lo-sin-ong telah berkelebat di depannya.

"Pangeran! Dia berbohong! Jangan hiraukan dia! Mari kita segera pergi dari tempat ini! Isterimu itu harus cepat-cepat mendapatkan perawatan..."

Kakek itu memotong dengan perkataan keras. Tapi Liu Yang Kun sudah tidak bisa dibujuk lagi. Apalagi pemuda itu merasa bahwa luka-luka isterinya tidak begitu parah.

"Lo-Cianpwe, jangan paksa aku...! lebih baik Lo-Cianpwe berjalan lebih dahulu. Aku akan tetap berbicara dahulu dengan kawan-kawanku..."

"Pangeran! Apakah kau...?"

Lo-sin-ong menggeram.

Tangan sudah terangkat.

Siap untuk menyerang.

Namun dengan tangkas Yap Kiong Lee melompat di depannya.

Melihat orang tua di depannya itu sudah mengetahui siapa Liu Yang Kun, pendekar dari istana itu juga tidak mau main sembunyi lagi.

"Lo-Cianpwe, saya benar-benar heran menyaksikan sepak-terjang Lo-Cianpwe saat ini. Rasanya menjadi hilang bayanganku selama ini. Bayangan tentang seorang bekas ketua aliran kepercayaan terkemuka, yang selama hidupnya terkenal sebagai tokoh persilatan yang berbudi luhur dan menjunjung tinggi kebajikan serta keadilan. Yang kulihat sekarang justru kebalikannya. Tokoh itu kini ternyata telah bergaul dengan penjahat. Bahkan menjadi guru dari puteri bajak laut Tung-hai-tiauw yang terkenal itu. Malahan demi muridnya yang jahat itu tokoh tersebut hendak membinasakan putera kaisar yang tidak bersalah..."

Wajah Lo-sin-ong yang buta itu menjadi pucat. Matanya yang kosong itu terbuka mengerikan, seolah-olah ingin melihat orang yang berani berkata kasar kepadanya.

"Cukup...! Siapakah kau?"

Bibir yang pucat gemetaran itu akhirnya menjerit.

"Maaf, Lo-Cianpwe. Aku yang rendah ini adalah Yap Kiong Lee, seorang hamba kerajaan yang khusus diutus oleh Hongsiang untuk menjemput Pangeran Yang Kun."

"Yap Kiong Lee...? Aah!"

Tiba-tiba suara Lo-sin-ong merendah.

"...jadi saudara ini salah seorang dari dua bersaudara Yap yang mengabdi kepada kerajaan itu?"

"Benar. Oleh karena itu kami minta Lo-Cianpwe jangan mengganggu Pangeran Liu Yang Kun. Mengganggu dia sama saja berarti melawan kekuasaan Hongsiang."

Lo-sin-ong tertegun dengan wajah merah-padam.

Ia menjadi serba salah memikirkan nasib Tiauw Li Ing.

Membantu salah, tidak membantu juga salah.

Seperti telah dikatakan oleh Yap Kiong Lee tadi, namanya akan jatuh bila ia tetap membantu Tiauw Li Ing.

Tapi bagaimana ia harus berdiam diri melihat nasib muridnya itu?

Tiba-tiba kakek tua itu menghela napas sedih.

Hatinya merasa menyesal sekali.

Ia terlalu memanjakan Tiauw Li Ing, sehingga selama ini ia cenderung untuk selalu menuruti keinginan muridnya tersebut.

Sampai-sampai ia mencarikan jalan yang kurang terpuji untuk menuruti keinginannya.

"Baiklah. Ciangkun. Melihat ayahmu, Yap Cu Kiat, yang telah kukenal dengan baik, aku tidak akan mengganggu lagi kepada Pangeran Liu Yang Kun. Nah, aku memohon diri..."

Akhirnya kakek itu berkata dengan suara rendah. Selesai berkata kakek sakti itu lalu berkelebat pergi. Dari jauh masih terdengar suara tarikan napasnya yang berat.

"Yap Taihiap...? Betulkah pemuda sakti ini Pangeran Li Yang Kun yang terkenal itu?"

Tiba-tiba Ui Bun Ting berseru seakan-akan tak percaya.

"Benar, Ui Ciang-bun. Tapi kumohon kau jangan membocorkannya dahulu kepada orang lain. Aku dan Pangeran Liu Yang kun sedang mengemban sebuah tugas rahasia dari Hongsiang,"

Yap Kiong Lee cepat-cepat menukas dengan sedikit berbohong.

Di lain pihak Liu Yang Kun hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.

Pemuda yang selama ini tidak pernah merasa sebagai putera Kaisar Han itu beberapa kali tersenyum kecut ketika memandang kepada Yap Kiong Lee.

"Bun Ting...! Tui Lan belum juga siuman dari pingsannya. Bagaimana ini?"

Tiba-tiba Sui Nio menyela pembicaraan mereka.

"Oh! Kalau begitu kita bawa saja dia ke dalam rumah. Marilah...!"

"Benar, Lihiap. Bawalah puterimu ke dalam bersama Ui Ciang-bun! Biarlah aku di sini bersama Pangeran Liu Yang Kun mengawasi pertempuran Souw Taihiap."

Yap Kiong Lee memberi saran pula.

"Aku juga di sini untuk melihat pertempuran ayah,"

Souw Lian Cu yang masih belum pulih kembali kesehatannya itu menyela juga.

"Tapi nona baru saja keracunan..."

Yap Kiong Lee memperingatkan.

"Tidak apa-apa. Keadaanku sudah lebih baik. Ayah telah mengobati aku."

Karena Souw Lian Cu berkeras untuk tinggal maka Ui Bun Ting lalu mengajak Sui Nio saja untuk membawa Tui Lan ke dalam rumahnya.

Ketua Tiam-jong-pai itu berjalan melingkari arena pertempuran yang semakin dahsyat tersebut.

Demikian asyiknya dia mengawasi jalannya pertempuran sehingga ia menjadi kaget ketika tiba-tiba ada dua orang lelaki yang datang menyongsongnya.

"Ciang-bun-jin, apakah yang telah terjadi di sini?"

Kedua orang yang baru datang itu menyapa dengan suara khawatir.

"Oooh...!"

Ui Bun Ting berdesah lega begitu melihat siapa yang datang. Mereka adalah orang-orang Tiam-jong-pai yang tadi dijumpai Yap Kiong Lee di jalan.

"Hmm... syukurlah kalian datang. Mari, tolonglah aku membawa gadis ini ke rumah. Nanti akan kuceritakan semuanya."

"Baik, Ciang-bun..."

Sepeninggal mereka tinggallah kini Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun bersama Souw Lian Cu di pinggir arena itu.

Mereka bertiga menonton pertempuran antara Hong-Gi-Hiap Souw Thian hai melawan Giok-bin Tok-ong yang semakin seru dan menegangkan itu.

Tampaknya kedua-duanya sudah mulai mengeluarkan ilmu-ilmu andalan mereka.

Terbukti sambaran angin pukulan mereka telah mulai merusakkan benda-benda di sekeliling arena pertempuran itu.

Asap maupun cairan-cairan beracun mulai tersebar memenuhi arena sehingga bermacam-macam bau yang menyengat hidung pun mulai mengganggu tempat itu pula.

Bahkan pengaruh dari berbagai macam racun yang tersebar dari tangan Giok-bin Tok-ong itu mulai menyentuh para penonton juga.

Meskipun demikian pengaruh racun itu tampaknya tidak terlalu menyulitkan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

Pendekar itu masih tampak lincah menyerang lawannya.

Bahkan dengan daya perlindungan mantel pusaka warisan Bit-bo-ong itu ia mampu mendesak dan mematahkan serangan Giok-bin Tok-Ong.

Malahan sedikit demi sedikit ia mulai kelihatan mengungguli lawannya.

"Bangsat keparat! Setan! Iblis! Kau hanya mengandalkan mantel pusakamu? Kau tidak berani menyongsong serangan dengan dadamu! Kau hanya mampu berlindung di balik keampuhan mantelmu? Kurang-ajar...!"

Giok-bin Tok-ong mengumpat berkali-kali, karena setiap serangannya selalu tertahan oleh mantel pusaka yang dikenakan oleh Souw Thian hai.

"Hahaha... Kau tak perlu gusar, Tok-ong! Mantel ini memang merupakan senjataku, seperti halnya racun-racun yang kau sebar itu! Mengapa kau mesti marah terhadapku? Marilah kita tentukan di sini, siapakah sebenarnya yang berhak menyandang sebutan Jago Silat Nomer Empat atau Nomer lima itu?"

"Setan busuk... lihat seranganku!!"

Giok-bin Tok-ong menjerit marah.

Ketua Lembah Tak Berwarna itu semakin menggila dengan racun-racunnya, sehingga pertempuran di pinggir jalan itupun semakin menjadi berbahaya dan mengerikan.

Yap Kiong Lee bergegas menarik lengan Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu untuk menjauhi arena.

Apalagi ketika untuk mengimbangi serangan-serangan racun kakek iblis tersebut Souw Thian Hai juga semakin meningkatkan pula Tai-lek Pek-khong-ciangnya.

Kilatan-kilatan sinar tajam berwarna merah dan putih, yang melesat keluar dari ujung jari-jari pendekar itu, juga tampak menggapai semakin jauh keluar arena.

Dan ujung sinar-sinar itu segera menghancurkan pula semua benda-benda yang dilewatinya.

Dan sebentar kemudian Giok-bin Tok-ong pun semakin kelihatan kewalahan menghadapi kilatan-kilatan sinar yang mematikan itu.

Semua gerakannya seolah-olah selalu dicegat dan dipotong oleh sinar yang keluar dari ujung jari lawannya sehingga beberapa kali pula ia terpaksa harus mengerahkan tenaga untuk menangkisnya.

Kllatan-kilatan sinar yang sangat tajam itu memang tidak dapat melukai lengan Giok-bin Tok-ong yang penuh terisi tenaga.

Tapi goresan-goresannya ternyata mampu mencabik-cabik lengan baju yang dikenakan oleh kakek lblis tersebut.

Namun lambat laun iblis tua itu tak sepenuhnya bisa menghindar atau menangkis semua serangan Souw Thian Hai.

Ada satu dua yang terlepas dari pengamatan iblis itu dan menerobos pertahanannya, sehingga melukai kulit dagingnya.

"Setan keparat! Kubunuh kau! Kucerai-beraikan tubuhmu...!"

Giok-bin Tok-ong sudah tidak bisa mengekang kemarahannya lagi.

Tiba tiba dikeluarkannya dua buah senjata pek-lek-tannya!

Tapi hal itu tampaknya sudah diduga pula oleh Souw Thian Hai.

Dengan gesit pendekar itu justru melompat mendekati Giok-bin Tok-ong.

Sambil meloncat pendekar itu berteriak keluar arena.

"Lian Cu! Jauhi arena ini! Cepaaaat...!!!"

"Heh-heh-heh... tampaknya kau sudah ketakutan melihat peluru mautku ini!"

Giok-bin Tok ong tertawa terkekeh-kekeh.

Yap Kiong Lee terkejut.

Bergegas tangannya menarik Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu ke belakang.

Mereka bertiga segera berloncatan menjauhi tempat berbahaya itu.

Wajah Liu Yang Kun juga menampilkan perasaan ngerinya.

Sama sekali pemuda itu sudah melupakan bahwa dirinya pernah beberapa kali menghadapi peluru maut tersebut.

Melihat kawan-kawannya sudah menjauhkan diri, Souw Thian Hai merasa lega.

Dengan sikap yang masih tetap tenang pendekar itu menertawakan ancaman lawannya.

"Kau jangan salah terka, Tok-ong. Aku sama sekali tidak takut menghadapi pelurumu itu. Aku tahu cara menjinakkannya. Hahaha...!"

Souw Thian Hai berdiri bertolak pinggang di depan Giok-bin Tok-ong.

otomatis pertempuran mereka berhenti.Giok-bin Tok-ong melangkah mundur.

Tapi dengan cepat Souw Thian Hai mendesak maju pula, seakan-akan pendekar itu memang tidak takut kepada peluru maut itu.

"Kau bisa menjinakkan peluru ini? Bagaimana caranya...?"

Giok-bin Tok-ong menjadi heran malah. Sekali lagi Souw Thian Hai tertawa.

"Mudah saja. Asalkan aku selalu berusaha di dekatmu, kau tentu takkan berani meledakkannya, haha"! Betul tidak?"

Giok-bin Tok-ong tertegun. Namun sesaat kemudian wajahnya kembali cerah.

"Kau memang cerdik. Tapi kaupun tak selamanya bisa mengejar aku. Selain ginkangmu tidak lebih unggul dari pada aku, akupun juga mampu mencegah kau mendekati aku. Asalkan kubanjiri kau dengan racun-racunku, gerakanmu tentu terhalang..."

"Dan dengan demikian kau akan bisa menjauhi aku. Begitukah?"

Souw Thian Hai meneruskan perkataan lawannya. Pendekar besar itu masih tetap bersikap tenang.

"Tentu saja, Setan Busuk! Dan itu berarti aku dapat dengan leluasa mempergunakan pek-lek-tan kembali, hen-heh-heh...!"

Giok-bin Tok ong tertawa mengejek. Tak terduga Souw Thian Hai pun ikut tertawa pula.

"Ah... jangan buru-buru bergembira dulu! Kalau memang demikian halnya nanti, akupun takkan membiarkan peluru itu meledak di dekatku! Akan kuledakkan peluru itu begitu terlepas dari tanganmu! Apakah kau lupa pada Tai-lek Pek-khong ciangku tadi? Nah... dengan demikian kaupun takkan bisa terlepas dari pengaruh ledakan itu! Paling tidak kita akan sama-sama terluka..."

Wajah Giok-bin Tok-ong menjadi keruh dengan tiba-tiba. Matanya bergetar menunjukkan nafsu membunuh.

"Tidak bisa!"

Teriaknya.

"Kesempatan itu cuma sekilas saja! Dan bidikanmu belum tentu mengenainya!"

Souw Thian Hai masih tetap tertawa juga.

"Terserah kalau pendapatmu begitu? Kita dapat membuktikannya sekarang! Semuanya memang dapat terjadi...!"

"Betul! Marilah kita buktikan?!"

Giok-bin Tok-ong yang sudah menjadi marah itu memekik, kemudian menyerang dengan tangan kirinya.

Tiba-tiba dari telapak tangan iblis tua itu meniup angin berputar yang berbau wangi.

Demikian wanginya sehingga kepala Souw Thian Hai terasa pening dengan tiba-tiba.

Bahkan sekejap kemudian pandangan Souw Thian Hai terasa berputar pula.

"Gila...!"

Pendekar itu berdesah seraya melompat mundur.

Kemudian tiba-tiba kakinya ikut bergetar seakan tidak kuat untuk menopang tubuhnya.

Seketika Souw Thian Hai menjadi sadar bahwa ia telah terkena racun berbahaya.

"Kurang ajar! Kapan iblis tua itu menebarkan racunnya? Rasanya bukan racun berbau wangi ini yang membuatku lemas. Aku baru menghirupnya sedikit saja. Itupun segera kuhembuskan keluar kembali..."

Sambil bertahan Souw Thian Hai berpikir keras.

"Heh-heh-heh... Sekarang tahu rasa kau! Tanpa pek-lek-tan pun aku sekarang dapat membunuhmu! Kau telah terjebak oleh tipu muslihatku! Karena pikiranmu terlalu terpaku pada pek lek-tan ini, kau lalu menjadi lengah! Kau tidak menyadari kalau aku tadi meniupkan sian-hwa-tok (racun bunga dewa] kepadamu! Heh-heh-heh, racun sian-hwa-tok memang tidak berwarna dan berbau. Racun itu mengalir seperti hembusan angin ke hidungmu. Kalau kemudian aku tadi menyerangmu dengan angin pukulan berbau wangi, aku hanya ingin menguji apakan racun sian-hwa-tok itu telah merasuk ke dalam paru-parumu. Heheh, kini aku sudah yakin bahwa kau sudah dalam cengkeraman racun sian-hwa-tok. Tanpa kubunuhpun sebentar lagi kau akan mati dengan sendirinya. Paling-paling kau hanya bisa bertahan sampai matahari terbit nanti. Heh-heh-heh...!"

Giok-bin Tok-ong mengakhiri ejekannya dengan tertawa menyakitkan.

"Ayahhhh...!"

Souw Lian Cu menjerit dengan suara parau, kemudian berlari ke dalam arena dan menubruk kaki ayahnya.

Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun pun ikut melesat ke dalam arena pula.

Yap Kiong Lee segera memegang lengan sahabatnya, sementara Liu Yang Kun segera menghadapi Giok-bin Tok-ong.

"Kau...,? Kenapa kau berada di sini?"

Giok-bin Tok-ong berseru kaget begitu melihat Liu Yang Kun. Otomatis kakinya melangkah mundur, kegarangannya seketika lenyap.

"Selamat bertemu lagi, Orang tua! Tampaknya pertempuran kita di dalam jurang tadi memang belum selesai! Sekarang kau datang ke sini untuk menyelesaikannya! Begitukah...?"

Dengan tenang Liu Yang kun menantang.

Sudah beberapa kali Giok-bin Tok-ong terlibat perkelahian melawan Liu Yang Kun.

Namun selama itu pula ia tak pernah dapat memenangkannya.

Pemuda itu seperti kebal terhadap racun-racunnya, bahkan ledakan pek lek-tannya juga tak bisa membunuh pemuda itu.

Rasa-rasanya pemuda itu seperti iblis saja kepandaiannya.

Namun demikian rasanya malu bagi Giok-bin Tok-ong untuk mengaku kalah begitu saja.

Ia sudah terbiasa menjadi pemenang dan ditakuti oleh setiap orang, dimanapun dia berada.

Apalagi kini lawannya sudah menantangnya.

"Hmm! kau jangan buru-buru berbesar hati dulu dengan kemenanganmu di dalam jurang tadi. Waktu itu aku belum benar-benar mengeluarkan kemampuanku."

Giok-bin Tok ong menjawab tantangan Liu Yang Kun.

"Kalau begitu mau tunggu apa lagi? Apakah kau ingin memberikan dulu obat pemunah racun kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai? Silahkan...! Aku justru akan mengampuni jiwamu kalau kau memang benar-benar memberikan obat pemunah itu."

"Bangsat! Kau kira aku memiliki obat pemunahnya? Huh! Racun itu tidak ada obat pemunahnya. Sekali telah terkena, orang itu akan mati! Habis perkara!"

"Kurang ajar! Kalau begitu kau akan mati lebih dahulu!"

Liu Yang Kun menggeram, kemudian menerjang Giok-bin Tok-ong dengan kedua buah kepalannya.

Iblis tua dari Lembah Tak Berwarna itu cepat menghindar, lalu balas menyerang pula dengan tidak kalah dahsyatnya.

Mereka lalu bertempur dengan sengit.

Karena masing-masing telah saling mengenal tingkat kepandaian lawannya, maka mereka tidak menjadi sungkan lagi.

Masing-masing segera mengeluarkan ilmu andalannya, dan sekali lagi tempat itu menjadi ajang pertempuran yang hebat dan mengerikan.

Sementara itu Souw Thian Hai telah dibawa Yap Kiong Lee dan Souw Lian Cu ke depan pintu halaman rumah Ui Bun Ting.

Di tempat itu Souw Thian Hai dengan dibantu Yap Kiong Lee berusaha menahan pengaruh racun sian-hwa-tok.

Rasa pening di kepala pendekar itu memang telah susut.

Namun hal itu bukan berarti bahwa pengaruh racun tersebut telah hilang.

Souw Lian Cu tidak bisa berbuat apa-apa.

Gadis itu hanya berdiri sedih di belakang ayahnya.

Ia tahu bahwa racun yang menyerang ayahnya sangat keji dan ganas.

Lebih ganas dari pada racun yang hampir merenggut nyawanya di dalam jurang itu.

Souw Lian Cu mengusap air mata yang tiba-tiba meleleh di pipinya.

Kemudian matanya memandang Liu Yang Kun yang sedang bertempur melawan Giok-bin Tok-ong.

Tanpa pertolongan pemuda itu nyawanya juga tidak mungkin tertolong lagi.

"Aaah...!"

Tiba-tiba gadis itu berdesah. Timbul kembali harapannya. Siapa tahu Liu Yang Kun juga mampu mengobati ayahnya? Bergegas Souw Lian Cu menggamit lengan Yap Kiong Lee.

"Yap Ciangkun...! Mengapa kita tidak meminta pertolongan... Pangeran Liu Yang Kun? Bukankah tadi Pangeran Liu Yang Kun juga mampu mengobati aku? Siapa tahu Pangeran Liu Yang Kun juga bisa mengobati ayah?"

Bisik gadis itu.

"Hah? Betul! Nona... betul! Mengapa aku sampai melupakannya? Tapi..., dia sekarang baru bertempur dengan Giok-bin Tok-ong!"

Yap Kiong Lee bersorak gembira.

"Yah, kalau begitu mari kita bantu dia agar dia dapat lekas-lekas mengalahkan Giok-bin Tok-ong!"

Souw Lian Cu berkata penuh semangat.

"Jangan...!"

Tiba-tiba Souw Thian hai berdesah.

"Pemuda itu takkan kalah! Lihat...! Sungguh mengherankan sekali! Dia seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali oleh racun yang disebar Giok-bin Tok-ong! Hmm... benar-benar yang hebat! Rasanya akupun takkan menang melawannya!"

"Bok Siang Ki pun telah dikalahkannya pula, ayah!"

Souw Lian Cu melapor dengan suara bangga pula.

"Bok Siang Ki...? Tokoh dari Gurun Gobi itu juga dikalahkannya?"

Souw Thian Hai berseru heran.

"Benar, Saudara Souw. Aku juga melihatnya pula, Pangeran Liu Yang Kun memang telah mengalahkan tokoh dari Gurun Gobi itu. Bahkan bukan cuma dia. Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong itupun juga pernah dikalahkannya pula,"

Yap Kiong Lee ikut mengiyakan.

"Oh, bukan main...!"

Souw Thian Hai berdesah kagum.

Tiba-tiba terdengar suara berdebuk yang sangat keras dari arena pertempuran.

Ternyata Giok bin Tok-ong yang telah berada di bawah angin itu jatuh berdebam di atas tanah terkena pukulan Liu Yang Kun.

Darah segar tampak menetes dari sudut bibir Giok-bin Tok ong.

Iblis tua itu telah mendapat luka dalam yang cukup parah.

"Bangsat busuk! Kau mempergunakan ilmu sihir untuk mengalahkan aku!"

Iblis tua itu menggeram penuh dendam. Liu Yang Kun menarik napas panjang seraya menyeka keringat yang mengalir di lehernya.

"Terserah apa yang kaukatakan. Tapi yang terang ilmu silat yang kupergunakan tadi bukanlah ilmu sihir. Nah! Bagaimana maumu sekarang? Kita selesaikan terus pertempuran kita ini hingga salah seorang diantara kita mengaku kalah?"

"Tentu saja! Aku masih memiliki senjata pamungkas yang belum kupergunakan. Aku akan menyerah dan bertekuk-lutut kepadamu apabila kau mampu menahan pek-lek-tanku!"

Tantang Giok-bin Tok-ong sengit.

"Baik! Marilah..."

"Pangeran...?"

Tiba-tiba Souw Lian Cu dan Yap Kiong Lee berseru khawatir.

Khawatir terhadap keselamatan Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun menoleh.

Bibirnya tersenyum kepada Souw Lian Cu dan Yap Kiong Lee, seolah-olah pemuda itu ingin mengatakan bahwa mereka tak perlu cemas terhadap keselamatannya.

Pada saat Liu Yang Kun lengah itulah Giok-bin Tok-ong mengulangi tipu muslihatnya lagi.

Tipu muslihat yang tadi ia pergunakan untuk membokong Souw Thian Hai.

Tangan kirinya bergerak ke depan, seolah-olah sedang mengusap lengan kanannya, padahal tangan itu sebenarnya melepaskan racun sian-hwa-tok.Bubuk beracun itu tertiup ke wajah Liu Yang Kun.

Tapi karena racun tersebut tidak berwarna mau pun berbau, maka Liu Yang Kun sama sekali tak merasakannya.

(Lanjut ke

Jilid 34) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 34 Demikianlah, setelah menunggu sejenak Giok-bin Tok-ong pun lalu menyerang lagi.

Seperti yang dia lakukan terhadap Souw Thian Hai tadi, maka sekarangpun kakek iblis itu mempergunakan pukulannya yang berbau wangi.

"Whuuuuus!"

Bau harum mewangi menyebar dari telapak tangan Giok-bin Tok-ong!

Bau harum yang disertai hembusan angin berputar yang amat kuat.

Liu Yang Kun tergagap kaget.

Namun demikian dengan cepat tubuhnya berkisar ke samping, hingga angin pukulan Giok-bin Tok-ong gagal mengenai dirinya.

Kemudian dengan jurus Membelah-Laut-Memutar-Kemudi pemuda itu balas menyerang Giok bin Tok ong.

Sambil menyerang pemuda itu tetap waspada.

Matanya selalu melirik terus ke tangan Giok-bin Tok-ong yang menggenggam pek-lek-tan.

Demikianlah pertempuran berlangsung kembali dengan sengitnya.Masing-masing mengeluarkan jurus-jurus simpanannya.

Mereka bertempur dengan tangkas dan cepat sehingga sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu.

Giok-bin Tok-ong mulai cemas.

Apa yang dinantikannya tak kunjung terlaksana.

Liu Yang Kun tetap segar-bugar.

Sama sekali tak terlihat kalau pemuda itu terkena pengaruh racun sian-hwa-tok.

"Sungguh gila! Tampaknya bocah ini kebal terhadap racun sian-hwa-tok! Satu-satunya jalan kini tinggal pek-lek-tan saja!"

Giok-bin Tok-ong menggerutu. Hatinya panas bukan main sehingga tangannya yang memegang pek-lek-tan mulai gemetaran.

"Nah! Kulihat kau sudah mulai gemetar ketakutan. Apakah kau sudah mulai berpikir untuk menyerah atau melarikan diri?"

Liu Yang Kun sengaja mengejek agar supaya lawannya semakin menjadi marah dan lengah.

Benar juga.

Ejekan itu benar-benar membuat Giok-bin Tok-ong tak bisa mengendalikan diri lagi.

Tanpa mempergunakan akal atau tipu muslihat lagi, kakek iblis itu lalu melontarkan pek-lek-tannya.

Yap Kiong Lee, Souw Thian Hai dan Souw Lian Cu terkesiap.

Otomatis mereka berloncatan menjauhi arena.

Bahkan mereka melompat memasuki halaman rumah keluarga Ui Bun Ting.

Untuk itu Yap Kiong Lee terpaksa harus memberi bantuan kepada Souw Thian Hai, karena pendekar sakti itu tak mampu meloncat lagi dengan baik.

Racun Sian-hwa-tok itu seolah-olah telah melumpuhkan urat-uratnya.

Bersamaan dengan mendaratnya kaki mereka di dalam tembok halaman rumah keluarga Ui Bun Ting, maka terdengarlah suara ledakan yang menggetarkan seluruh isi kota itu.

Semburan debu dan tanah tampak menjulang tinggi ke udara.

Tembok halaman rumah Ui Bun Ting yang terbuat dari susunan batu-bata merah itu bagaikan didorong oleh kekuatan yang maha dahsyat!

Terdengar suaranya yang gemuruh ketika tembok itu roboh ke dalam!

Demikianlah beberapa saat lamanya tempat itu menjadi gelap-gulita oleh debu dan asap yang tersebar kemana-mana.

Sebaliknya di dalam kegelapan itu mulailah terdengar suara jerit dan tangis dari penduduk yang tinggal di sekitar tempat tersebut.

Mereka berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Mereka menyangka ada gempa bumi yang hendak menghancurkan rumah tinggal mereka.

Meski sudah berada di dalam tembok, namun daya hentak dari ledakan peluru Giok-bin Tok-ong tersebut masih tetap terasa oleh Yap Kiong Lee dan kawan-kawannya.

Bahkan Souw Thian Hai yang keadaannya menjadi semakin lemah itu tampak terhuyung-huyung dan hampir terjatuh karenanya.

"Ayah...?"

Souw Lian Cu cepat memapah ayahnya, kemudian dibawa duduk di emper bangunan samping pendapa.

Pada saat itu pula tiba-tiba sebuah benda jatuh di samping mereka.

Benda itu seakan-akan jatuh dari atas langit.

Berdebam keras bersama percikan barang cair yang sedikit membasahi pakaian Souw Lian Cu.

"Lian Cu, apakah itu...?"

Souw Thian Hai berseru kaget.

"Ah, paling-paling batu atau gumpalan tanah yang terlempar akibat ledakan ini..."

Yap Kiong Lee menyambung.

"Saya kira memang... ah! Ayah!"

Mendadak Souw Lian Cu memekik keras sekali.

Gadis itu menuding ke arah potongan kaki yang masih segar di dekatnya.

Kemudian seperti orang yang terserang penyakit gatal gadis itu menggosok-gosok kulit dan pakaiannya yang terkena percikan barang cair tadi.

Barang cair yang tidak lain adalah darah segar yang keluar dari potongan kaki tersebut.

"Potongan kaki...? Oh! Oh, Pangeran!"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee terbelalak dan berdesah ketakutan.

Bergegas pendekar dari istana itu melesat keluar, menerobos kepulan debu dan asap yang masih bertebaran di luar tembok halaman itu.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, melesat pula di belakangnya tubuh Souw Lian Cu mengikutinya.

Ternyata keduanya mempunyai perasaan yang sama yaitu mengkhawatirkan nasib Liu Yang Kun.

Mereka tinggalkan begitu saja Souw Thian Hai di halaman depan Ui Bun Ting.

Karena gelap keduanya terperosok ke dalam lubang yang tercipta akibat letusan tadi.

Meskipun tidak begitu dalam namun cukup membuat mereka kaget.

"Pangeran...! Pangeran...?"

Yap Kiong Lee memanggil-manggil dengan gelisah. Tiada jawaban.

"Dia tidak ada di dalam kubangan ini..."

Souw Lian Cu berbisik di telinga Yap Kiong Lee.

"Benar. Kita cari di luar arena...!"

Yap Kiong Lee mengangguk.

Mereka lalu melompat ke luar.

Sementara itu tebaran debu dan asap yang menggelapkan bekas arena itu telah semakin menipis ditiup angin, sehingga mereka berdua mulai bisa menyaksikan keributan atau kegemparan penduduk yang berlarian di jalan raya itu.

"Ah... kota ini menjadi gempar! Penduduk di kanan kiri jalan ini menjadi ketakutan! Jangan-jangan tubuh Pangeran Liu yang Kun dan Giok-bin Tok-ong, yang terlempar dari arena ini, terinjak-injak oleh kaki mereka..."

Yap Kiong lee berkata gemetar.

"Oh, jangan...!"

Bibir Souw Lian Cu tiba-tiba berdesah serak.

Suaranya seperti tersekat di tenggorokan, sementara air matanya tiba-tiba juga meleleh membasahi pipinya.

Yap Kiong Lee tertegun.

Dahinya berkerut.

Dipandangnya wajah Souw Lian Cu yang putih pucat itu beberapa saat lamanya.

Mereka berdiri di bawah pohon peneduh-jalan yang hampir rontok seluruh daun-daunnya terkena angin ledakan tadi.

Mereka terpaksa menepi karena semakin banyak orang yang keluar dari rumah dan berlarian di jalan itu.

"Nona Souw...? Nona menangis...?"

Souw Lian Cu tersentak kaget. Dengan gugup gadis itu mengusap matanya.

"Yap Taihiap, aku..."

Desahnya kikuk.

"Sudahlah, nona... Nona tak perlu bersedih dulu. Kita belum menemukan jenasah Pangeran Liu Yang Kun. Belum tentu Pangeran meninggal dunia. Mari kita cari sekali lagi!"

Souw Lian Cu menghela napas panjang.

Kakinya melangkah ke tengah jalan lagi.

Tapi baru dua tindak ia melangkah, tiba-tiba terasa ada setetes air yang jatuh membasahi ujung hidungnya.

Sekejap gadis itu terperanjat.

Ia menyangka air matanya menitik lagi.

Namun ketika diusapnya air itu terasa liat dan berbau amis.

Otomatis gadis itu melihat ke atas, ke dahan-dahan pohon yang hampir tak berdaun lagi.

Dan tiba-tiba matanya terbeliak!

Tangannya otomatis mencengkeram lengan Yap Kiong Lee pula!

"Yap Taihiap, lihat...!

Tubuh siapakah yang...

tersampir di atas cabang itu?

Jangan-jangan..."

Jeritnya sesak.

"Uoooh!"

Yap Kiong Lee berseru kaget pula.

Pendekar dari istana itu lalu berkelebat ke atas dahan.

Tangannya cepat menyambar tubuh manusia yang nyaris hancur di atas cabang pohon tersebut.

Segumpal daging terlepas dari tubuh manusia itu dan jatuh ke bawah hampir menimpa Souw Lian Cu.

"Si-siapakah... dia?"

Yap Kiong Lee bergumam seraya meletakkan tubuh manusia yang tidak utuh lagi itu di hadapan Souw Lian Cu.

Mereka tidak segera bisa mengenali wajah manusia itu, karena hampir seluruh tubuh orang itu dibalut oleh gumpalan darah yang sudah mengental.

Pakaian yang dikenakan orang itupun juga sudah hancur pula di sana-sini.

Lengket dengan darah.

Tiba-tiba tubuh yang sudah tidak keruan macamnya itu bergerak-gerak, sehingga tentu saja Yap Kiong Lee dan Souw Lian Cu kaget setengah mati!

Keduanya cepat berloncatan mundur.

"Dia... dia... masih hi-hidup...?"

Souw Lian Cu berteriak, namun suaranya seperti tersangkut di kerongkongannya, ngeri.

"Be-bangsat...! K-k-k-kubunuh k-k kauu...! K-k-kubu...kubunuh kau!"

Bibir yang sudah robek dan tidak utuh lagi itu tiba tiba bergumam dengan suara yang kurang jelas.

Kemudian tubuh itu tampak bergetar untuk beberapa saat, lalu terdiam kembali.

Tampaknya sekarang benar-benar telah mati.

"Dia... dia... Giok-bin Tok-ong! Dia bukan Pangeran Liu Yang Kun!"

Mendadak Souw Lian Cu bersorak gembira.

"Benar. Nona benar. Tapi... tapi dimanakah Pangeran Liu Yang Kun?"

Yap Kiong Lee berdesah gelisah.

"Aku ada di sini, Ciangkun!!"

Sebuah bayangan tiba-tiba melompat turun dari atas pohon itu pula.

Sekejap saja Liu Yang Kun telah berdiri di depan mereka.

Namun keadaan pemuda itu hampir tidak ada bedanya dengan keadaan Giok-bin Tok-ong.

Pakaiannya nyaris hancur pula.

Dan walaupun tubuh pemuda itu masih tampak utuh namun di sana-sini juga tampak luka-luka bakar dan lepotan-lepotan darah kental di sekujur tubuhnya.

Bahkan rambutnya yang panjang itu sudah tidak bisa digelung lagi sekarang.

Sebagian besar telah terbakar habis di dalam ledakan pek-lek-tan itu.Namun demikian pemuda itu masih dapat tersenyum kepada Souw Lian Cu.

"Nona Souw...?"

"Pangeran..."

Tiba-tiba Souw Lian Cu menjadi malu. Mukanya tertunduk dalam-dalam.Sementara itu di dalam kegembiraannya Yap Kiong Lee juga merasa khawatir pula menyaksikan keadaan Liu Yang Kun.

"Pangeran, kau...kau terluka?"

"Tidak!! Cuma sedikit luka-bakar di tanganku. Pek-lek-tan itu memang benar-benar dahsyat. Mungkin tubuhku tadi akan hancur-lebur pula kalau aku tak lekas-lekas berlindung di belakang tubuh Giok-bin Tok-ong itu,"

Dengan tenang Liu Yang Kun menjawab seraya mengawasi tubuh Giok-bin Tok-ong yang telah binasa itu.

"Berlindung di belakang tubuh Giok-bin Tok-ong...?"

Yap Kiong Lee bertanya bingung.

"Ya!"

Liu Yang Kun mengangguk.

"Sejak mula aku bertempur dengan dia, aku memang tak pernah melupakan kata-kata Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai, bahwa aku harus selalu menempel dia. Aku tak boleh terlalu jauh dari dia, agar dia tak berani melepaskan pelurunya. Kalaupun akhirnya ia nekad melepaskannya, maka dengan cepat pula aku dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya aku tadi mengejek serta membakar hatinya, agar dia cepat-cepat melemparkan pelurunya tanpa perhitungan yang matang, sehingga aku dengan mudah dapat mematahkan."

"Bagaimana cara Pangeran mematahkan lemparan pelurunya itu?"

Yap Kiong Lee mendesak. Liu Yang Kun tersenyum mengingat keberanian dirinya tadi. Keberanian yang sebetulnya sangat berbahaya bagi keselamatannya. Keberanian yang bisa merenggut nyawanya.

"Untung-untungan aku tadi menepiskan peluru itu dengan kebutan lengan bajuku. Sementara itu lenganku yang lain cepat menyambar tubuh Giok-bin Tok-ong dengan ilmu Kim-cia-ih-hoatku. Kuringkus tubuh orang tua itu dan kupergunakan sebagal perisai sehingga aku tidak langsung terkena daya-ledak dari pek-lek-tan itu..."

"Ooh, sungguh berbahaya sekali..."

Yap Kiong Lee berdesah lega, walaupun air mukanya menampilkan rasa-ngerinya.

Sementara itu para petugas keamanan kota mulai berdatangan ke tempat itu.

Mereka mulai mengatur orang-orang yang berlarian di tengah jalan dan menanyakan sebab-sebab keributan itu.

"Kita tak usah berurusan dengan mereka. Kita hindari saja mereka! Marilah. Biarlah para petugas keamanan itu yang mengurus mayat Giok-bin Tok-ong..."

Yap Kiong Lee cepat-cepat membisiki Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu.

"Bagaimana dengan ayah?"

Souw Lian Cu menukas.

"Tentu saja kita menemuinya dahulu. Mari!"

Bergegas mereka bertiga meninggalkan tempat itu.

Mereka bertiga menyeberang jalan dan masuk ke halaman rumah keluarga Ui Bun Ting.

Souw Thian Hai masih tetap duduk di tempatnya.

Pendekar besar itu segera berdiri menyambut mereka.

Tampaknya dia telah berhasil mengatasi racun yang menyerang tubuhnya.

"Saudara Yap, bagaimana...? Apa yang telah terjadi?"

"Tidak apa-apa, Saudara Souw. Pangeran Liu Yang Kun selamat. Giok-bin Tok-ong sendirilah yang menjadi korban dari peluru mautnya itu. Sekarang kita semua harus cepat-cepat pergi dari tempat ini karena para petugas keamanan kota ini sudah mulai berdatangan kemari. Kita tak perlu berurusan dengan mereka."

"Tapi, bukankah kau bisa memberi keterangan kepada mereka?"

"Ya. Tapi terlalu banyak membuang waktu nanti. Apalagi aku sedang mengemban tugas penting sekarang. Marilah...! Lebih baik kita tinggalkan kota ini cepat-cepat!"

"Kemana...?"

Souw Thian Hai bertanya.

"Tentu saja ke Cin-an! Bukankah Nyonya Souw berada di sana? Kita bawa Pangeran Liu Yang Kun ke sana agar segera mendapatkan pengobatan dari Nyonya Souw..."

"Oh...!"

Souw Thian Hai berdesah sambil mengangguk-angguk.

"Tapi... tapi bagaimana dengan Cici Tui Lan dan Ui Ciang-bun?"

Souw Lian Cu menyela.

"Apakah kita tidak berangkat saja bersama-sama dengan mereka? bukankah mereka juga akan kembali ke Cin-an pula?"

Yap Kiong Lee memandang Souw Lian Cu sekejap.

"Nona. semakin cepat Pangeran Yang Kun memperoleh pengobatan akan semakin baik. Waktu kita tinggal sedikit saja, karena besok malam pesta perkawinan Ui Ciang-bun telah tiba. Pada saat itu semuanya akan menjadi sibuk sehingga Nyonya Souw juga tidak akan mempunyai banyak kesempatan lagi untuk mengobati Pangeran Liu Yang Kun. Akan tetapi apabila kita berangkat sekarang, maka sebelum tengah-hari besok kita akan sudah berada di Cin-an. Masih ada waktu beberapa saat untuk meminta Nyonya Souw untuk mengobati Pangeran Liu Yang Kun..."

Katanya kemudian.

Souw Lian Cu menundukkan kepalanya.

Ia memahami jalan pikiran Yap Kiong Lee.

Tapi ia juga tak bisa berpangku tangan begitu saja melihat keadaan Tui Lan, sahabatnya.

Apalagi ia seperti melihat sesuatu yang aneh pada diri sahabatnya itu.

"Kalau begitu... kalau begitu... biarlah aku tinggal dulu di sini. Aku akan segera menyusul bila Cici Tui Lan sudah sehat. Boleh bukan?"

Gadis ayu itu akhirnya berkata seraya menoleh kepada ayahnya.

Sebenarnya Souw Thian Hai sendiri tak tega meninggalkan puterinya.

Selain ia sendiri belum hilang rasa rindunya ia juga takut anaknya itu akan pergi meninggalkan dirinya lagi.

Tapi di lain pihak pendekar sakti itu juga menyadari pula akan kepentingan Yap Kiong Lee, sahabatnya itu.

Tanpa dirinya mungkin Chu B wee Hong takkan bersedia mengobati Liu Yang Kun.

Apa boleh buat.

Pendekar besar itu terpaksa mengorbankan kepentingan pribadinya dahulu.

Apalagi kalau diingat bahwa pertemuan dengan puterinya itu juga atas jasa Yap Kiong Lee pula.

Oleh karena itu dengan berat hati terpaksa Souw Thian Hai meluluskan permintaan puterinya untuk tinggal lebih dahulu di kota itu.

"Tapi kau harus cepat-cepat menyusul aku ke kota Cin-an!'"

Pesan pendekar sakti itu tegas.

Demikianlah.

Yap Kiong Lee bersama Liu Yang Kun berangkat ke kota Cin-an dengan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

Mereka bertiga menerobos keributan orang-orang di jalan-raya yang ketakutan akibat ledakan peluru pek-lek-tan tadi.

Beberapa kali Pangeran Liu Yang Kun masih saja berhenti dan menoleh, seakan-akan tidak tega meninggalkan Souw Lian Cu.

"Marilah, Pangeran! Pangeran tidak usah cemas, Souw Lian Cu bisa menjaga dirinya..."

Souw Thian Hai yang sedikit banyak juga mengetahui hubungan puterinya dengan Pangeran itu beberapa kali juga menenangkan hati Liu Yang Kun.

"Oh, maaf... maaf,"

Pemuda itu menjawab dengan paras muka merah.

Beberapa kali mereka bertiga berpapasan dengan petugas petugas keamanan kota.

Bahkan di depan pintu gerbang kota sebelah barat mereka juga bertemu dengan seregu pasukan berkuda yang lengkap dengan persenjataan mereka.

Mereka berbaris menjaga pintu gerbang kota yang telah ditutup rapat.

"Mereka adalah pasukan berkuda dari Kota raja yang ditempatkan di kota ini. Sulit untuk melewati mereka."

Yap Kiong Lee cepat memberi keterangan sebelum teman-temannya bertanya.

"Kita terobos saja...?"

Liu Yang Kun mengusulkan.

"Ah, tidak enak rasanya. Mereka adalah prajurit-prajurit adikku. Lebih baik kita menghindar dan mencari jalan yang lain. Kita melompati tembok saja di tempat yang sepi."

Yap Kiong Lee tidak setuju.

"Tapi... aku belum bisa mengerahkan tenagaku, Saudara Yap."

Souw Thian Hai tiba-tiba berkata. Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun terkejut.

"Jadi..., Saudara Souw belum terbebas dari racun Sian-hwa-tok itu?"

Yap Kiong Lee tersentak kaget.

"Belum sepenuhnya. Aku hanya bisa menahan dan membatasi daya-serangnya saja. Racun itu tetap bercokol di dalam darahku."

Souw Thian Hai menerangkan.

"Oooh! Kalau begitu... eh, bagaimana ini, Pangeran?"

Yap Kiong Lee berdesah seraya menoleh ke arah Liu Yang Kun.

"Dapatkah Pangeran mengobati Souw Taihiap dulu?"

"Tentu. Tentu saja. Marilah kita cari tempat yang baik...!'"

Dengan gugup Liu Yang Kun mengiyakan. Mereka lalu berbelok menyusuri jalan di samping tembok kota. Namun dimana-mana mereka bersua dengan para penduduk yang berlarian dari rumahnya.

"Tampaknya ledakan itu benar-benar membangunkan seluruh penduduk kota ini. Rasanya sampai pagi pun kita takkan mendapatkan tempat yang sesuai dengan keinginan kita. Kita memang harus keluar dari dalam tembok kota..."

Akhirnya Yap Kiong Lee berkata kesal.

"Benar. Kita bantu Souw Taihiap untuk meloncati tembok kota itu."

Liu Yang Kun membenarkan.

"bagaimana, Taihiap? Apakah Taihiap setuju?"

"Baiklah. Aku tidak berkeberatan,"

Jawab pendekar ternama itu kemudian.

Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun merasa lega.

Di tempat yang agak terlindung keduanya lalu menarik lengan Souw Thian hai untuk dibawa melompat ke atas tembok kota.

Hampir saja kaki Souw Thian Hai terpeleset.

Tapi dengan cepat pula tangan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee menahannya.

Di luar tembok mereka lalu berlari menyusup ke dalam gelap.

Dengan hati-hati mereka menerobos hutan, kemudian di tempat yang agak lapang, namun cukup tersembunyi dan jauh dari tembok kota, mereka bertiga berhenti.

Liu Yang Kun lalu meminta kepada Souw Thian Hai untuk duduk bersila agar dapat dia obati.

Souw Thian Hai tidak menolak.

Pendekar itu tampak percaya sepenuhnya kepada Liu Yang Kun.

Dia cuma berdesah pendek ketika melihat ke langit yang mulai bersinar terang.

"Sebentar lagi pagi akan tiba. Kuharap kita tidak terlalu lama di tempat ini..."

Katanya perlahan seperti kepada dirinya sendiri.

"Tidak, Souw Taihiap. Pengobatan ini hanya sebentar. Tak lebih dari sepeminuman teh saja."

Liu Yang Kun menerangkan.

Kemudian Liu Yang Kun merogoh saku di bawah ikat-pinggangnya.

Dikeluarkannya Mustika inti racunnya.

Untunglah benda itu tidak hilang atau terlempar dari sakunya ketika terjadi ledakan tadi.

Dan sungguh beruntung pula bagi dia karena benda pusaka itu tidak ia taruh di saku-bajunya.

Coba kalau benda itu ia tempatkan di dalam saku-bajunya, niscaya benda tersebut telah lenyap bersama bajunya tadi.

Benar juga apa yang dikatakan olen Liu Yang Kun.

Dengan pertolongan Mustika Inti Racunnya maka racun yang berada di dalam tubuh Souw Thian Hai itu segera hilang.

Dengan dorongan tenaga dalam Liu Yang Kun yang tersalur melalui Po-tok-cu tersebut, serta ditunjang oleh tenaga dalam Souw Thian Hai sendiri, maka racun sian tok-hwa pun segera menguap keluar dari dalam tubuh Souw Thian Hai.

Meskipun demikian ternyata langit benar-benar telah menjadi terang.

Dan merekapun mulai dapat melihat kawannya dengan jelas.

Liu Yang Kun telah melepaskan telapak tangannya dari punggung Souw Thian Hai.

Sementara Yap Kiong Lee memandang putera junjungannya itu dengan pandangan kagum.

Namun ketika terpandang olehnya keadaan baju dan rambut Pangeran tersebut, hatinya menjadi geli.

Pangeran itu kini tak lebih seperti seorang pengemis gelandangan akibat ledakan pek-lek tan tadi.

Sama sekali pemuda itu tak kelihatan sebagai seorang Pangeran yang gagah perkasa.

Souw Thian Hai yang telah terhindar dari keganasan racun Sian-tok-hwa itu juga telah membuka matanya pula.

Perlahan-lahan ia membalikkan tubuhnya, lalu dipandangnya wajah Pangeran Liu Yang Kun yang masih amat muda itu dengan kagumnya.

Dan pandangannya itu segera terhenti pada baju atau rompi kulit ular yang melekat di dada Liu Yang Kun.

Sejenak matanya terbeliak heran.

"Terima kasih, Pangeran. Tapi... ehm, bolehkah aku bertanya sedikit?"

Akhirnya pendekar sakti itu berkata. Liu Yang Kun menarik napas panjang. Tangannya menyeka keringat yang mengalir di atas dahinya, lalu matanya terbuka mengawasi wajah Souw Thian Hai pula.

"Souw Taihiap hendak bertanya tentang apa?"

Souw Thian Hai menunjuk ke arah Po-tok-cu dan baju kulit ular yang ada pada Liu Yang Kun.

"Tampaknya kedua buah benda itu adalah pusaka-pusaka yang tak ternilai harganya. Ehmm... bolehkah saya mengetahui namanya...?"

"Ah...!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun berdesah murung.

Kepalanya tertunduk.

Matanya memandang Mustika Inti Racun dan baju kulit ular yang ada pada dirinya itu lama sekali.

Souw Thian Hai menjadi heran.

Ia tak tahu mengapa tiba-tiba Liu Yang Kun itu menjadi murung.

Otomatis ia menoleh kepada Yap Kiong Lee.

Dan pendekar dari istana itu segera maju pula untuk memberi keterangan.

"Maaf, Saudara Souw. Sudah kuceritakan dengan singkat tadi, bahwa Pangeran Liu Yang Kun telah kehilangan masa lampaunya. Itulah sebabnya kenapa kami buru-buru hendak menemui Nyonya Souw."

Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Seperti tidak percaya ia memandang kepada Liu Yang Kun.

"Sungguh mengherankan sekali! Mengapa ada juga orang lain yang terkena musibah seperti aku dulu? Aneh!"

"Benar, Saudara Souw. Itu pula sebabnya kenapa kami ingin meminta pertolongan Nyonya Souw. Dahulu Saudara Souw juga bisa disembuhkan oleh Nyonya Souw..."

"Souw Taihiap, tolonglah aku! Bantulah aku agar Souw Hujin (Nyonya Souw) mau mengobati penyakitku ini..."

Liu Yang Kun meminta pula. Souw Thian Hai tersenyum.

"Tentu! Tentu! Pangeran telah menolong aku, maka sudah sewajarnyalah kalau aku juga menolong Pangeran pula. Nah! Marilah kita berangkat sekarang! Mumpung hari telah terang..."

"Tapi..., apakah kesehatanmu sudah pulih kembali. Saudara Souw?"

Yap Kiong Lee bertanya. Lagi-lagi Souw Thian Hai tersenyum.

"Jangan takut. Aku benar-benar sudah sehat kembali, Paling-paling tinggal melemaskan otot-ototku saja,"

Jawabnya kemudian seraya beranjak mendahului Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun. Liu Yang Kun saling pandang dengan Yap kiong Lee. Mereka berdua segera melangkah pula mengikuti Souw Thian Hai.

"Tapi kita harus segera mencari baju baru untuk mengganti pakaian Pangeran itu. Pangeran tak layak mengenakan pakaian seperti itu,"

Sambil berjalan Yap Kiong Lee berkata kepada Liu Yang Kun.

"Ah... itu mudah nanti. Tanpa bajupun aku tak merasa risi atau dingin."

Liu Yang Kun cepat menjawab.

"Ya, tapi...?"

Yap Kiong Lee tetap pada pendiriannya.

Demikianlah mereka bertiga berjalan terus ke arah barat.

Mereka melewati jalan besar yang semakin lama semakin sering menerobos hutan belukar yang sunyi dan jarang dilalui orang.

Dan tanah yang mereka pijakpun semakin ke barat kelihatan semakin kekuning-kuningan pula warnanya.

"Kita sudah tidak jauh lagi dari aliran sungai Huang-ho."

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai berkata.

"Ya. Dan kitapun akan segera lewat pula di perkampungan penduduk yang padat kembali...,"

Yap Kiong Lee mengiyakan.

"Dan... sebenarnya aku ingin makan dan... beristirahat! Sudah sehari semalam mataku tak terpicingkan sama sekali."

Liu Yang Kun berkata pula. Yap Kiong Lee menoleh dengan cepat.

"Tapi kita tidak mempunyai banyak waktu lagi, Pangeran. Kita sudah harus tiba di Cin-an sebelum tengah hari nanti. Selewatnya waktu itu, Nyonya Souw sudah tidak mempunyai banyak kesempatan lagi. Apalagi kalau rombongan Ui Bun Ting sudah tiba pula dari kota Lai-yin,"

Sergahnya. Souw Thian Hai tertawa.

"Ah! Mengapa Saudara Yap berpikiran demikian? Kita tak perlu tergesa-gesa. Biarlah Pangeran Liu Yang Kun beristirahat bila dia memang menginginkannya. Tentang isteriku nanti, biarlah aku yang mengaturnya."

"Ah, terima kasih... Terima kasih...!"

Pendekar dari istana itu bernapas lega.

Demikian pula dengan Liu Yang Kun.

Semakin lama mereka semakin banyak melihat lahan-lahan pertanian.

Dan merekapun semakin sering pula melihat atau berpapasan dengan para petani yang hendak mengerjakan sawahnya.

"Nah... Pangeran sudah melihatnya sendiri, bukan? Setiap orang yang berpapasan dengan kita tentu memandang kepada Pangeran dengan pandangan heran. Pangeran memang harus cepat-cepat mengenakan pakaian yang pantas."

Yap Kiong Lee bergurau.

"Ya. Kelihatannya semua orang menganggapku gila."

Liu Yang Kun tertawa.

Ketika mereka memasuki dusun yang pertama, yang mula-mula mereka cari adalah pasar.

Yap Kiong Lee segera berputar-putar mencari pakaian yang cocok untuk Liu Yang Kun.

Dipilihnya baju yang berpotongan longgar, yang mempunyai kancing berderet-deret di bagian depannya.

Baju itu sangat cocok dan serasi untuk potongan tubuh Liu Yang Kun.

Apalagi ketika Yap Kiong Lee menambahkan topi atau tutup kepala di kepala Liu Yang Kun.

Pemuda itu semakin tampak tampan berwibawa.

"Nah! Sekarang Pangeran tidak usah merasa malu lagi pergi ke sebuah pesta pernikahan,"

Pendekar dari istana itu memberi komentar.

Souw Thian Hai tersenyum pula.

Diam-diam ia merasa kagum juga kepada Pangeran muda itu.

Sakti, tampan dan rendah hati.

Padahal ia seorang Pangeran yang berkedudukan tinggi serta kaya raya.

Tak mengherankan bila Souw Lian Cu sampai jatuh cinta kepadanya.

"Tapi Lian-ji sudah mengenalnya sejak ia masih berkelana sebagai orang biasa. Sebelum Pangeran ini diakui sebagai putera Hongsiang..."

Katanya kemudian di dalam hati.

Demikianlah, setelah makan pagi sekedarnya mereka lalu melanjutkan lagi perjalanan mereka.

Mereka tidak jadi beristirahat di tempat itu karena Pangeran Liu Yang Kun tidak ingin mengecewakan hati Yap Kiong Lee.

Jalan yang mereka lalui bukan ma in ramainya.

Kuda, kereta, gerobak dorong ataupun pejalan kaki tampak hilir-mudik di jalan itu.

"Heran. Bukankah tempat ini cuma sebuah kampung kecil saja? Kenapa ramainya bukan main?"

Pangeran Liu Yang Kun bertanya heran, Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee menoleh sambil tersenyum.

"Apakah Pangeran belum pernah lewat di tempat ini?"

Souw Thian Hai bertanya.

"Belum."

Liu Yang Kun menjawab cepat.

"Kampung ini sudah dekat dengan tempat penyeberangan. Dan tempat penyeberangan di sini adalah tempat penyeberangan yang paling baik dan aman untuk daerah-daerah di sekitar tempat ini. Maka tidaklah mengherankan bila semua pedagang dan pejalan kaki yang hendak pergi ke barat berkumpul di tempat ini. Sebentar lagi akan dapat kita lihat betapa ramainya tempat penyeberangan itu."

Yap Kiong Lee kemudian memberi keterangan.

"Oooh...!"

Liu Yang Kun mengerti.

Memang benar.

Semakin dekat dengan sungai, jalan itu semakin ramai pula.

Rumah-rumah pendudukpun semakin berdesak-desak pula.

Berpuluh-puluh gerobak maupun kereta tampak berderet-deret di pinggir jalan, menunggu giliran untuk diseberangkan.

Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee kelihatan mengerutkan dahinya juga.

"Tempat penyeberangan ini memang selalu ramai. Namun hari ini rasa-rasanya memang berbeda. Belum pernah kulihat antrian kereta dan gerobak sepanjang ini. Malam tadi ketika aku lewat di sini suasana juga belum seperti ini. hmm... ada apa sebenarnya hari ini?"

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai bergumam perlahan.

"'Baiklah kita tanyakan saja kepada pemilik gerobak dan kereta itu. Kita tentu akan mendapatkan jawaban."

Yap Kiong Lee menyahut. Yap Kiong Lee lalu mendekati salah seorang pengendara kereta itu. Seorang lelaki setengah tua yang rambutnya sudah banyak ubannya.

"Lopek...! Sungguh mengherankan sekali, mengapa hari ini banyak sekali orang yang hendak menyeberang ke arah barat? Apakah ada sesuatu di sebelah barat sana?"

Pengendara kereta itu tersentak bangun dari lamunannya. Dengan gugup ia mengawasi rombongan Yap Kiong Lee. Paras mukanya kelihatan mendongkol karena merasa terganggu istirahatnya.

"Kalian orang mana? Mengapa sampai tak tahu kalau hari ini ada pesta perkawinan di kota Cin-an?"

Katanya kaku.

"Perkawinan...? Oh, benar! Ya-ya... tentu saja kami sudah mengetahuinya. Tapi... apakah semua kereta dan gerobak ini hendak ke sana?"

Yap Kiong Lee bertanya lagi.

"Tentu saja. Mereka semua adalah tamu-tamu yang diundang oleh ketua Tiam-jong-pai itu."

Pengendara kereta itu menjawab semakin kesal.

"Oh? Kalau begitu...?"

"Ah! Sudahlah...! Aku mau beristirahat!"

Pengendara kereta yang semalaman kurang tidur itu mendengus marah seraya merebahkan punggungnya di sandaran kereta.

Matanya tertutup dan tak mempedulikan Yap Kiong Lee lagi.

Pendekar dari istana itu menarik napas panjang.

Hampir saja harga dirinya tersinggung, untunglah pada saat yang sama dari belakang kereta tiba-tiba muncul seorang lelaki gagah berpakaian rapi dan bagus.

Di belakang lelaki gagah itu muncul pula dua orang pengawal berpakaian ringkas-ringkas.

Semuanya membawa tombak panjang.

Begitu datang lelaki gagah itu segera menegur pengendara kereta tersebut.

"A Siang! Kenapa kau berteriak-teriak? Ada persoalan apa?"

Pengendara kereta tua itu segera meloncat turun dengan kagetnya. Wajahnya kelihatan kecut dan ketakutan.

"Maaf...! Maaf, Siauwya! Saya... saya tidak bermaksud mengganggu istirahat nyonya..."

Katanya gugup sambil melirik ke dalam kereta.

"Orang-orang inilah yang mengganggu saya dengan pertanyaan-pertanyaannya..."

Lanjutnya kemudian seraya menuding Yap Kiong Lee beserta Souw Thian Hai dan Liu Yang Kun.

"Hmmh!"

Lelaki gagah itu mendengus, lalu berpaling mengawasi Yap Kiong Lee.

Matanya kelihatan galak ketika menentang mata pendekar dari istana itu.

Diam-diam Yap Kiong Lee merasa lega karena tidak dikenali orang.

Namun demikian hatinya merasa khawatir juga ketika orang itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

Pendekar Souw itu terlalu dikenal di dunia persilatan.

Jangan-jangan orang itu mengenal Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai sehingga perjalanan mereka menjadi terhambat karenanya.

"Hemm... cuwi datang dari mana? Dan ada keperluan apakah sehingga cuwi harus berselisih kata dengan pengendara keretaku?"

Tanya lelaki gagah itu seperti tidak mengenal kepada Souw Thian Hai pula. Sekali lagi Yap Kiong Lee menghela napas lega.

"Maaf, Sebenarnya kami tak bermaksud mengganggu pengendara kereta tuan. Kami cuma ingin bertanya saja tentang sesuatu hal kepadanya, yaitu tentang kereta dan gerobak yang berderet-deret panjang ini. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Tidak biasanya terjadi hal-hal seperti ini sebelumnya."

"Hmm... cuma itu saja?"

Lelaki gagah itu menegaskan. Wajahnya seperti kurang percaya.

"Ya! Memang hanya itu!"

Akhirnya Yap Kiong Lee merasa kesal pula. Lelaki gagah itu mengerutkan dahinya. Agaknya ia juga kurang senang dengan jawaban Yap kiong Lee itu.

"Nah, kalau begitu Cuwi tak usah mengganggu dia lagi. Bukankah cuwi sudah memperoleh jawabannya? Kini biarlah orangku itu beristirahat,"

Katanya kemudian dengan nada dingin.

Hampir saja Liu Yang Kun melompat menghajar mulut lelaki gagah itu.

Untunglah Hong gi-hiap Souw Thian Hai yang berada di sampingnya cepat menahannya.

Yap kiong Lee cepat membalikkan tubuhnya.

Matanya menatap Liu Yang kun.

Mulutnya tersenyum.

"Marilah kita meneruskan perjalanan...!"

Ajaknya kemudian seolah-olah tak ada kejadian apa-apa. Souw Thian Hai tersenyum pula. Senyum kagum menyaksikan ketenangan kawannya.

"Marilah, Pangeran...!"

Pendekar sakti itu berbisik ke telinga Liu Yang Kun.

kemudian menarik lengan pemuda itu dan mengajaknya pergi dan tempat itu.

Liu Yang Kun terpaksa menurut.

Walaupun hatinya masih terasa panas, namun ia tak bisa ikut campur.

Ternyata Yap Kiong Lee sendiri tak merasa tersinggung atas perlakuan orang itu.

Tapi belum juga ada sepuluh langkah mereka berjalan, mendadak terdengar suara jerit lelaki gagah tadi di belakang mereka.

Sebuah jerit yang mengungkapkan perasaan kaget dan kemarahan.

Otomatis mereka bertiga menoleh.

Dan mereka terbelalak kaget ketika menyaksikan lelaki gagah itu memeluk dan mengeluarkan mayat seorang wanita dari dalam keretanya.

Mayat seorang wanita muda yang hampir tidak tertutup pakaian sama sekali.

Liu Yang Kun bertiga cepat berbalik kembali.

Bahkan Yap Kiong Lee cepat melemparkan baju-luarnya untuk menutupi tubuh molek itu.

Sementara itu orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut telah berlarian datang pula mendengar jeritan lelaki gagah tadi.

Namun orang-orang itu segera bubar kembali ketika lelaki gagah itu tiba-tiba berdiri dan berteriak keras sekali.

"Pergiiiii...!!!!!"

Liu Yang Kun bertiga terpaksa melangkah mundur pula.Namun langkah mereka segera terhenti tatkala lelaki gagah itu menuding ke arah mereka.

"Hei, kalian bertiga jangan lari...! Kalian harus mengganti nyawa isteriku! Pengawal! tangkap mereka!"

Teriak lelaki gagah itu.

Kedua orang pengawal bersenjatakan tombak panjang itu segera meloncat menghadapi Liu Yang Kun bertiga.

Gerakan mereka cukup gesit, menandakan bahwa mereka berdua memiliki cukup kepandaian pula.Tapi dengan sikapnya yang masih tetap tenang Yap Kiong Lee mengawasi teman-temannya.

"Hmm, tampaknya kita bertiga dituduh sebagai pembunuh dan pemerkosa isteri orang. Sungguh jelek sekali nasib kita..."

Katanya bergurau.

"Pembunuh dan pemerkosa...?"

Souw Thian Hai dan Liu Yang Kun berdesah hampir berbareng. Keduanya memandang Yap Kiong Lee dengan kening berkerut.

"Benar. Menurut keadaan mayat wanita itu ia tentu telah diperkosa sebelum dibunuh. Dan karena kita tadi berada di tempat ini, bahkan telah bertengkar dengan pengendara kereta itu pula, maka kitalah yang dicurigai oleh suaminya!"

"Tapi kita baru saja datang! Dan kita bertiga tidak pernah berbuat apa-apa di sini!"

Liu Yang Kun menggeram penasaran. Yap Kiong Lee mengangguk hormat.

"Ya! Tapi tak seorang pun mau percaya kepada kita. Apalagi... orang itu!"

Katanya sambil menuding lelaki gagah beserta pengawalnya.

"Jangan banyak cakap! Menyerah sajalah kepada kami! Kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa di depan Siauw Cungcu kami!"

Salah seorang pengawal bertombak itu mengancam seraya menyabetkan ujung tombaknya kepada Yap Kiong Lee.

Sementara pengawal yang seorang lagi segera menerjang Souw Thian Hai pula.

Tampaknya mereka berdua sangat memandang enteng kepada Liu Yang Kun, karena Pangeran itu berusia paling muda diantara lawan-lawan mereka.

Tapi tentu saja Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai dapat mengelakkan serangan tersebut dengan mudahnya.

Bahkan kalau mau, kedua pendekar sakti itu bisa saja membunuh kedua pengawal tersebut dalam sekali pukulan.

Namun mereka tidak ingin melakukannya, karena mereka justru ingin mengetahui masalahnya terlebih dahulu.

Yang kemudian dilakukan oleh kedua pendekar itu hanyalah mengelak dan menghindar saja dari serangan kedua orang pengawal itu.

Bahkan Hong gi-hiap Souw Thian Hai yang mengenakan mantel pusaka warisan Bit-bo-ong itu sama sekali juga tak ingin memamerkan keampuhan mantel pusakanya tersebut.

Sambil berloncatan Yap Kiong Lee berusaha menyelidiki asal-usul lawannya.

"Siauw Cungcu...,.? Eh, apakah tuanmu itu seorang Kepala Kampung?"

Tanya pendekar dari istana itu kepada lawannya.

Pengawal yang belum sadar akan kelemahannya itu semakin ganas mempermainkan tombaknya.

Bahkan pengawal itu mengira kalau Yap Kiong Lee mulai jerih terhadap majikannya.

"Hahaha... kau mulai takut rupanya. Ketahuilah...! Majikan kami itu adalah Siauw Tong Jin, yang mendapat julukan Sin Tung (Si Tongkat Sakti) penguasa tigabelas kampung nelayan di pantai Syan-tung Timur!"

Serunya sombong.

"Oooh...?"

Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai pura-pura berdesah kagum.

"Dan harap kau ketahui pula bahwa majikanku itu ikut tertulis pula namanya di dalam Buku Rahasia yang menghebohkan itu...!"

Pengawal itu semakin tinggi menyombongkan majikannya.

Baca Juga: Suling Emas 5

Baca Juga: Asmara Berdarah 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert