Ceritasilat Novel Online

Memburu Iblis 13

Eps 13 Memburu Iblis - Sriwidjono

Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono

Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.

"Heh? Ikut termasuk di dalam Buku Rahasia?"

Yap Kiong Lee betul-betul kaget. Otomatis matanya mengerling kepada Hong-Gi-Hiap, Souw Thian Hai.

"Ya! Majikanku itu tertulis pada urutan yang ke enam puluh empat!"

"Enam puluh empat...?"

Sekali lagi Yap Kiong Lee berdesah, namun kali ini sambil mengulum senyum.

Tentu saja pendekar dari istana itu tahu pula tentang daftar di dalam Buku Rahasia itu.

Bahkan khabarnya namanya sendiri juga ikut tertulis pula di urutan yang ke empatbelas.

Namun demikian baru kali ini dia mendengar bahwa urut-urutan nomer tersebut mencapai lebih dari lima puluh.

"Saudara Souw...? Betulkah urut-urutannya sampai sekian banyaknya?"

Akhirnya pendekar dari istana itu bertanya kepada sahabatnya. Tak terduga pendekar sakti yang menempati urutan kelima itu tertawa keras.

"Wah... mana aku tahu? Aku belum pernah melihat buku itu..."

Demikianlah sambil bercakap dan bergurau kedua sahabat itu me layani serangan tombak lawannya.

Mereka tetap tidak mau membalas dan hanya menghindar saja kesana-kemari, sehingga lambat-laun lawan mereka menjadi sadar sendiri akan kelemahannya.

Tapi untuk melangkah mundur dari arena kedua orang pengawal itu merasa takut.

Takut kepada majikannya, Siauw Cungcu.

Sementara itu Siauw Cungcu sendiri telah menempatkan mayat isterinya ke dalam kereta kembali.

Dengan wajah beringas penuh dendam ia melangkah mendekati arena pertempuran.

"Minggir... Biar aku sendiri yang menghadapi mereka!"

Serunya lantang kepada pengawalnya.

Kedua pengawal yang sudah mandi keringat itu cepat-cepat mundur meninggalkan arena.

Mereka benar-benar kehabisan napas.

Panggilan untuk keluar dari arena itu sungguh sangat melegakan mereka.

"Cungcu, hati-hati...! Mereka lihai sekali!"

Kedua orang pengawal itu memberi peringatan.

"Diam! Jaga kereta itu!"

Hardik Siauw Tong Jin.

Kepala kampung yang masih muda itu lalu menghampiri Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai.

Tangan kanannya telah memegang sebuah tongkat besi sepanjang satu depa.

Warnanya hitam mengkilat.

Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai terkejut melihat tongkat itu.

Mereka mengenal ciri-ciri tongkat tersebut.

"Siauw Cungcu, tahan dulu...!"

Tiba-tiba Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai berseru.

"Huh, ada apa? Kalian mau menyangkal lagi?"

Siauw Tong Jin menggeram. Souw Thian Hai menghela napas. Tiba-tiba sikap pendekar sakti itu berubah keras. Matanya mencorong berwibawa.

"Siauw Cungcu! Coba jawab...! Apa hubunganmu dengan Tiat-tung Kai-pang...?"

Pendekar itu tiba-tiba pula membentak.

Sungguh mengherankan Begitu nama perkumpulan pengemis itu disebutkan oleh Souw Thian Hai, maka Siauw Tong Jin tampak kaget sekali.

Matanya terbeliak lebar, seolah menentang mata Souw Thian Hai dengan tegangnya.

"Kau... mengenal ciri perguruanku? Siapakah... kalian?"

Serunya sedikit gugup, sehingga kesan kegarangan dan kebengisannya menjadi berkurang. Souw Thian Hai tersenyum.

"Siauw Cungcu tak perlu kaget. Ciri tongkatmu itu sangat mudah dikenali. Bahkan melihat panjangnya, aku bisa menduga bahwa kau bukan murid Tiat-tung Lo-kai, tetapi murid Tiat-tung Hong-kai."

Siauw Tong Jin semakin terperanjat.

"Kau... kau siapa?"

Geramnya kemudian dengan mata melotot.

Souw Thian Hai terdiam dan tak segera menjawab pertanyaan itu.

Sekilas matanya melirik kepada Yap Kiong Lee, kemudian menarik napas panjang sekali.

Baru sesaat kemudian setelah tidak ada reaksi dari sahabatnya itu, ia menjawab.

"Namaku... Souw Thian Hai! Aku sudah kenal baik dengan gurumu. Bahkan aku juga sudah bersahabat erat dengan Keh-sim Siauw-hiap, orang yang sangat dihormati Tiat-tung Kai-pang."

"Souw... Thian... Hai? Kau... Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang tersohor di dunia persilatan itu?"

Siauw Tong Jin berseru tak percaya.

Lagi-lagi Souw Thian Hai hanya tersenyum tanpa menjawab.

Pendekar sakti itu hanya menggerakkan jari telunjuknya yang sebelah kanan untuk menuding tongkat Siauw Tong Jin.

"Cuss... thaas!"

Serangkum angin tajam menerjang tongkat itu!

Tongkat besi itu terlempar dari tangan Siauw Tong Jin.

Sementara kepala kampung yang masih muda itu tampak terbelalak kesakitan.

Demikianlah, selagi kedua temannya menghadapi Siauw Tong Jin dan pengawalnya, maka Liu Yang Kun sendiri tampak sibuk bercakap-cakap dengan seorang penonton di pinggir arena.

Pemuda itu bergabung dengan para penonton karena ia merasa bahwa kedua temannya itu akan dapat mengatasi persoalan mereka dengan baik.

"Eh, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa mereka berkelahi?"

Pangeran muda itu pura-pura bertanya. Seorang nelayan tua yang baru saja datang di samping Liu Yang Kun menjawab.

"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku baru saja datang. Kata orang di sini baru saja terjadi pembunuhan dan perkosaan."

"Pembunuhan dan perkosaan?"

"Begitulah. Sungguh memprihatinkan sekali. Aku baru saja datang dari pinggir sungai. Disana juga ada peristiwa seperti ini."

"Di pinggir sungai...? Di sana juga ada peristiwa perkosaan dan pembunuhan?"

Liu Yang Kun tersentak kaget.

"Ya! Hmmh! Entahlah, akhir-akhir ini memang banyak sekali tindak kejahatan di kampung ini. Dalam waktu dua hari saja telah terjadi empat kali peristiwa pembunuhan dan perkosaan. Bahkan malah menjadi lima kali bila ditambah dengan peristiwa di tempat ini..."

"Gila! Mengapa demikian? Apakah tidak ada petugas keamanan yang menangani masalah ini?"

"Petugas keamanan?"

Nelayan tua itu menyeringai kecut.

"Di kampung ini tidak ada petugas keamanan. Kalaupun ada, mereka juga takkan bisa mengatasinya. Pelaku-pelaku kejahatan itu adalah orang orang persilatan yang mampu terbang seperti burung..."

"Maksud Lopek?"

Nelayan tua itu memandang Liu Yang Kun sekejap.

"Anak muda. kau tentu bukan orang sini..."

Liu Yang Kun mengangguk.

"Nah, ketahuilah...! Sudah beberapa hari ini banyak orang berbondong-bondong lewat di kampung ini. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang persilatan. Khabarnya mereka hendak menghadiri pesta perkawinan besar di Kota Cin-an. Kedatangan mereka di kampung kecil ini ternyata juga membawa bencana pula. Diantara mereka terdapat penjahat-penjahat yang suka mernperkosa dan membunuh orang, seperti yang kau lihat di tengah arena itu. Siapa yang akan menyangka kalau mereka itu penjahat?"

"Lopek maksudkan kedua orang gagah yang sedang berhadapan dengan si pemilik kereta itu?"

Nelayan tua itu mengangguk.

"Ya. Tidak kita sangka bukan?"

"Kurang ajar...,! Mereka bukan penjahat! Mereka kawanku!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun menggeram.

"A-a-apa...? Ooh!"

Nelayan tua itu berdesah ketakutan dan tiba-tiba saja ia lari meninggalkan tempat itu.

Akibatnya orang-orang di sekeliling merekapun juga ikut-ikutan lari pula, sehingga Liu Yang Kun tertinggal sendirian di tempat tersebut.

"Gila!"

Pemuda itu tersenyum.

Sementara itu perkelahian di dalam arena benar-benar telah berhenti.

Siauw Tong Jin sudah yakin benar bahwa yang ia hadapi adalah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai, tokoh nomer lima di dalam Buku Rahasia itu dan karena itu ia sudah tidak berani berkutik lagi.

"Nah, Siauw Cungcu... Apakah kau masih menyangka bahwa kami yang mencelakakan isterimu?"

Akhirnya Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai mendesak kepala kampung itu.

"Oh, tidak... tidak! Kami tidak berani, Taihiap. aku..aku mengaku salah. Aku dan orang-orangku mohon maaf kepadamu..."

Kedua orang pengawal Siauw Tong Jin itu mendekati majikannya dengan wajah ketakutan. Mereka berdua hampir tidak berani memandang kepada Souw Thian Hai maupun Yap Kiong Lee.

"Dia... dia itu... Hong-Gi-Hiap Souw thian Hai yang amat tersohor itu, Cungcu?"

Bisik mereka kepada Siauw Tong Jin.

"Kalian memang goblok! Untung saja kalian masih hidup sekarang!"

Kepala kampung itu menggeram pendek. Yap Kiong Lee maju ke depan.

"Sudahlah... Cungcu! Mari kita rawat mayat isterimu! Nanti kita selidiki, siapa yang telah menganiayanya. Ehm, nanti..."

Pendekar dari istana itu menghentikan ucapannya, karena beberapa orang laki-laki tampak mendekati mereka. Seorang diantaranya kelihatan lebih berwibawa dari pada yang lainnya.

"Cungcu datang! Cungcu datang...!"

Tiba-tiba terdengar beberapa orang penonton berseru perlahan.

Yap Kiong Lee saling bertukar pandang dengan Souw Thian Hai.

Sementara itu Liu Yang Kun juga telah berada bersama mereka kembali.

Pemuda itu segera membisiki mereka tentang apa yang telah didengarnya dari nelayan tua tadi.

"Maaf, saya adalah kepala kampung di sini. Bolehkah saya bertanya, apa yang telah terjadi di tempat ini?"

Begitu datang orang yang tampak lebih berwibawa tadi bertanya kepada Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai.

Yap Kiong Lee menarik napas panjang, Kemudian diceritakannya serba sedikit apa yang telah terjadi di tempat itu tadi, sehingga dia dan kawan-kawannya berselisih dengan Siauw Tong Jin.

"Nah. Apa kataku...?"

Selesai mendengar cerita Yap Kiong Lee kepala kampung itu berdesah.

"Kampung ini benar-benar telah dikotori oleh ulah para penjahat yang datang bersama-sama para penyeberang sungai. Belum juga selesai aku mengurus peristiwa di tepian sungai tadi, kini telah timbul pula peristiwa yang serupa. Oh, rusak... rusak! Rusak kampungku ini..."

"Cungcu... Cungcu harap bersabar hati menerimanya..."

Para pengikutnya segera membujuk dan menenangkan hatinya.

"Souw Taihiap...!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun berkata kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

"Aku percaya pembunuh itu belum pergi dari kampung ini. Dia tentu masih berkeliaran di sekitar tempat penyeberangan itu. Hmm, bagaimana kalau kita mencarinya ke sana?"

"Tapi tak seorangpun mengetahui wajah pembunuh itu. Bagaimana kita dapat mencarinya?"

Yap Kiong Lee menyahut.

"Siapa bilang tak ada yang melihat wajahnya?"

Tiba-tiba kepala Kampung itu memotong pula. Namun perkataannya segera terhenti. Bahkan air mukanya menjadi pucat ketakutan.

"Siapa? Bagaimana wajah pembunuh itu?"

Siauw Tong Jin yang telah kehilangan isterinya itu mendadak menerkam lengan kepala kampung itu.

"Aduh...!"

Kepala kampung yang tak mengerti silat itu berteriak kesakitan.

"Sabar! Sabar, Siauw Cungcu...!"

Yap Kiong Lee cepat melerai. Siauw Tong Jin melepaskan tangannya. Namun sikapnya masih tampak beringas.

"Siapakah dia? Ayoh, lekas katakan!"

Teriaknya.

Tersinggung juga pengiring kepala kampung itu mendengar dan melihat kekasaran Siauw Tong Jin.

Mereka segera mengepung Siauw Tong Jin dengan sikap mengancam.Tapi dengan cepat Yap Kiong Lee menengahinya.

Pendekar dan istana itu segera menegang lengan kepala kampung itu dan membujuknya.

"Cungcu, kau jangan tersinggung. Siauw-heng ini juga seorang kepala kampung di daerah pantai timur. Dia baru saja kehilangan isterinya sehingga dia tak bisa mengendalikan dirinya. Harap Cungcu bisa memakluminya..."

Kepala kampung itu menghela napas panjang, kemudian mengangguk kepada pengiring-pengiringnya.

"Baiklah, aku memakluminya..."

Desahnya kemudian dengan perlahan.

"Terima kasih, Cungcu. Nah! Sekarang kami harap Cungcu mau mengatakan! Siapakah pembunuh itu? Atau kalau Cungcu belum mengenalnya, katakan bagaimana bentuk dan ciri-ciri wajahnya?"

Tiba-tiba kepala kampung itu menjadi pucat kembali. Matanya melirik ke arah penonton yang mulai berjubel mengelilingi mereka. Souw Thian Hai mendekat pula. Tangannya menepuk pundak kepala kampung itu.

"Cungcu tidak perlu takut. Kami bertigalah yang akan bertanggung-jawab apabila penjahat itu nanti marah. Kami memang sudah lama mendengar khabar tentang penjahat yang suka memperkosa wanita itu. Di daerah Kiang-su banyak wanita korbannya yang diketemukan orang di aliran sungai."

"Ya, akupun pernah mendengarnya pula. Oleh karena itu kita harus mencegahnya. Penjahat itu tidak boleh meraja-lela dengan kekejamannya. Nah Cungcu...! Lekaslah katakan kepada kami ciri-cirinya!"

Yap Kiong Lee menyambung.

"Ba-baiklah...!"

Kepala kampung itu berkata dengan gemetar.

"Menurut keluarga korban yang diketemukan di pinggir sungai itu, mereka... mereka itu terdiri dari dua orang."

"Dua orang?"

Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee berseru hampir berbareng.

"Benar, Penjahat itu terdiri dari dua orang. Yang seorang berperawakan gagah. Sedang yang seorang lagi bertubuh kecil biasa. Namun yang menakutkan ialah kedua-duanya berwajah putih pucat seperti tidak berdarah. Sinar mata mereka juga liar mengerikan."

"Cuma itu saja? Tak ada tanda tanda atau ciri-ciri yang lainnya? Wah... sulit kalau begitu! Bagaimana kita bisa mencarinya? Sangat banyak orang yang memiliki ciri seperti itu..."

Yap Kiong Lee mengeluh.

"Dia tidak menyebutkan namanya?"

Siauw Tong Jin ikut menggeram penasaran. Kepala kampung itu menggelengkan kepalanya.

"Ooooooh...!"

Semuanya mengeluh pendek.

"Untung-untungan kita cari ke pinggir sungai itu. Bagaimana...?"

Liu Yang Kun akhirnya mengajukan usul.

"Ya. Aku juga sependapat. Siapa tahu penjahat itu masih berada di sana?"

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menyetujui usul itu.

"Baiklah! Kalau begitu...???"

Belum juga Yap Kiong Lee menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba dari arah sungai muncul beberapa orang penduduk berlari-lari mendatangi. Mereka berteriak-teriak mencari kepala kampungnya.

"Cungcu...! Cungcu...! Cepatlah ke sungai lagi? Pembunuh itu telah beraksi kembali. Dia..., dia..."

Mereka berseru dan berteriak bersaut-sautan. Kepala kampung itu dengan diikuti oleh Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai segera menyongsong mereka.

"Penjahat itu telah beraksi kembali? Siapakah korbannya? Apakah korbannya juga dibunuh?"

Dengan suara gemetar kepala kampung itu bertanya. Salah seorang dari mereka segera melapor dengan suara terputus-putus karena hampir kehabisan napas.

"Kali ini... kali ini yang diculik... put-put...puteri Cungcu sendiri! Dia... dia... dibawa menyeberang..."

"Apa...??? Ouugh...?"

Kepala kampung itu menjerit lalu pingsan.

Souw Thian Hai saling bertukar pandang dengan Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun.

Dan sekejap kemudian mereka bertiga telah 'terbang' meninggalkan tempat itu.

Begitu cepatnya mereka bergerak sehingga orang-orang yang ada di sekeliling mereka tidak menyadari bahwa mereka bertiga telah pergi.

Baru beberapa saat kemudian orang-orang itu menjadi sadar bahwa mereka telah kehilangan Yap Kiong Lee.

"Bukan main! Sekarang aku makin percaya bahwa pendekar sakti itu benar-benar Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang tersohor itu! Hei! Marilah kita menyusul ke sungai! Souw Taihiap tentu kesana!"

Siauw Tong Jin berseru kepada pengawalnya.

"Ba-bagaimana dengan jenasah Siauw Hujin...?' pengawalnya bertanya ragu.

"Ooouoh... benar! Aku... aku... oooooh!"

Tiba-tiba Siauw Tong Jin mengeluh pendek, kemudian berlari menuju keretanya.

Demikianlah ketika orang-orang di tempat itu sibuk merawat kepala kampungnya yang pingsan dan Siauw Tong Jin bersama para pengawalnya juga sedang sibuk mengurusi jenasah Siauw Hujin, maka Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai bersama dengan Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun telah berada di tepian sungai Huang-ho, atau tempat penyeberangan yang ramai itu.

Yang sampai lebih dahulu adalah Liu Yang Kun.

Kemudian Souw Thian Hai.

Dan yang terakhir, agak jauh beberapa langkah di belakang mereka, adalah Yap Kiong Lee.

Dan merekapun tidak perlu bersusah payah pula untuk bertanya tentang penjahat yang mereka cari?

Karena semua orang telah mengarahkan pandangan mereka ke tengah sungai.

Ke arah perahu besar yang bergoyang-goyang diterjang gelombang air.

Sungai Huang-ho memang lebar dan luas bukan main, sehingga perahu besar setinggi hampir tiga meter itu bagaikan potongan kayu kecil saja di tengah-tengahnya.

Namun bukan keganasan ombak yang mempermainkan perahu itu yang membuat semua orang memperhatikannya, akan tetapi keributan yang terjadi di atas perahu itulah yang menjadi pokok perhatian mereka.

Keributan itu sendiri memang tidak begitu jelas terlihat dari tepian sungai.

Semua orang hanya bisa melihat bahwa diatas perahu besar itu terjadi perkelahian hebat yang melibatkan beberapa orang, Dan pertempuran itu menjadi semakin ribut dan seru ketika beberapa perahu kecil mulai menempel, serta melibatkan para penumpangnya dalam pertikaian tersebut.

"Tampaknya penjahat itu telah dikepung ramai-ramai di atas perahu itu."

Souw Thian Hai berkata kepada Liu Yang Kun.

"Hemm... bagaimana kita bisa ke sana?"

"Di dekat dermaga itu banyak ditambatkan sampan-sampan kecil. Kita pinjam saja sebuah. Bagaimana"?"

Yap Kiong Lee mengajukan usul. Tapi sampan-sampan itu hanya dipergunakan orang di pinggiran sungai yang tidak begitu dalam.

"Bagaimana mungkin ia bisa menerjang gelombang besar yang ada di tengah sana?"

Liu Yang Kun menyatakan keraguannya.

Souw Thian Hai saling pandang dengan Yap Kiong Lee, kemudian tertawa bersama-sama.

Mereka salah terima.

Mereka berdua menyangka bahwa perkataannya tadi Liu Yang Kun menyangsikan kemampuan mereka di atas air.

"Pangeran...,! Meskipun ginkang dan Iwee kang kami belum setinggi Pangeran, namun kalau hanya menyeberangi sungai ini saja kami berdua masih mampu,"

Akhirnya Yap Kiong Lee menjawab hati-hati. Liu Yang Kun terkejut sekali.

"Eh-oh... ja-jangan salah paham! Aku tak bermaksud demikian. Sungguh. Aku tak bermaksud seperti itu. Ini... ini... eh mengapa jadi begini?"

Sekali lagi Souw Thian Hai saling bertatap mata dengan Yap Kiong Lee.

Senyum di bibir mereka menghilang.

Sadarlah mereka kini bahwa Pangeran Liu Yang Kun yang kadang-kadang memang berpikiran sangat sederhana itu tak bermaksud meragukan ilmu mereka.

Dengan penyakitnya itu Liu Yang Kun kadang-kadang memang kurang menyadari akan kehebatan ilmunya sendiri.

Oleh karena itu dengan sabar dan berwibawa Souw Thian Hai melangkah ke depan.

"Sudahlah, Pangeran. Kami berdua hanya bergurau. Pangeran tak usah memasukkannya ke dalam hati. Marilah...! Kita pinjam salah sebuah dari sampan-sampan itu, kemudian kita bawa bersama-sama ke tengah. Dan kita bertiga memang harus berjuang dengan segala kemampuan ilmu kita agar sampan kecil itu tidak terbalik dihantam gelombang,"

Katanya kemudian dengan hati-hati.

"Ya-ya, marilah...!"

Liu Yang Kun menyahut dengan gembira pula.

Dengan uangnya Yap Kiong Lee lalu menyewa sebuah sampan yang agak besar.

Mula-mula pemiliknya memang berkeberatan.

Namun setelah Yap Kiong Lee mau membayar lebih banyak, serta berjanji akan menggantinya kelak apabila sampan itu sampai rusak atau hilang, maka si pem ilik sampan tersebut lalu melepaskannya.

Tapi sementara itu perahu-perahu kecil yang datang dan menempel pada perahu besar tadi sudah bertambah menjadi semakin banyak pula.

Bahkan yang mempergunakan sampan pun tidak cuma mereka sendiri.

Ternyata jauh agak ke tengah sungai telah ada pula sampan-sampan kecil yang ditumpangi oleh pendekar-pendekar persilatan yang kebetulan berada di tempat penyeberangan tersebut.

Semakin ke tengah maka ombak pun semakin terasa menggelora.

Sampan kecil yang mereka tumpangi terasa sulit mereka kendalikan.

Hanya karena kesaktian mereka saja sampan kecil itu tidak tergulung di dalam pusaran gelombang air.

Tiba-tiba Liu Yang Kun tersentak kaget.

Diantara amukan gelombang sungai yang ganas itu, dan juga di antara tebaran perahu lain yang terombang-ambing di sekitar tempat itu matanya melihat sebuah sampan besar yang dinaiki oleh seorang kakek tua.

Dan pemuda itu segera mengenalnya sebagai Lo-sin-ong, guru Tiauw Li Ing.

"Lo-sin-ong...? Oh, mengapa kakek itu berada di sini pula? Lalu dimana Tiauw Li Ing berada? Mengapa dia tidak berada bersama dengan kakek itu?"

"Pangeran! Ada apa?"

Yap Kiong Lee yang melihat kekagetan Liu Yang Kun itu cepat bertanya. Liu Yang Kun terbatuk-batuk. Jari telunjuknya menuding ke tempat dimana Lo-sin-ong tadi berada.

"Aku melihat Lo-sin-ong di sana..."

Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai mencoba untuk mencari arah yang ditunjukkan oleh pemuda itu, tapi sebuah perahu besar melintas menghalang-halangi pandangan mereka.

Bahkan ombak yang diciptakan oleh perahu besar tersebut hampir saja menenggelamkan sampan kecil mereka.

Dan ketika akhirnya mereka bisa menguasai sampan mereka kembali, mereka sudah tidak dapat menemukan sampan Lo sin-ong lagi.

"Sudahlah. Pangeran. Kalau memang jodoh kita tentu akan bertemu dengan dia lagi nanti,"

Yap Kiong Lee membujuk.

"Tapi... tapi aku justru tak ingin bertemu dengan mereka lagi!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun berdesah.

"Eh, mengapa? Bukankah isteri Pangeran itu...?" (Lanjut ke

Jilid 35) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 35

"Ya-ya! Tapi... ah! Biarlah semuanya itu kita pikirkan saja nanti setelah penyakitku ini sembuh."

Liu Yang Kun cepat menjawab dengan suara berat.

Wajahnya kelihatan pucat seperti sedang menahan beban perasaan yang amat berat.

Tentu saja Souw Thian Hai menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya.

Tapi pendekar sakti itu tak mau ikut campur dalam percakapan itu.

Ia pura-pura sibuk mengendalikan sampan mereka.

"Ada sesuatu yang aneh pada Pangeran muda ini..."

Katanya di dalam hati. Kemudian pendekar sakti itu teringat akan Souw Lian Cu, puterinya. Diam-diam hatinya menjadi sedih.

"Rasanya aku seperti melihat getaran cinta diantara mereka berdua. Tapi kenapa nasib seakan-akan selalu memisahkan mereka? Apakah mereka itu memang benar-benar tidak berjodoh?"

Demikianlah, selagi pendekar sakti itu memikirkan hubungan Souw Lian Cu dengan Pangeran Liu Yang Kun, maka di tempat lain Souw Lian Cu sendiri juga sedang berpikir pula tentang hubungannya dengan Liu Yang Kun.

Saat itu Souw Lian Cu juga sedang dalam perjalanan ke kota Cin-an pula bersama rombongan Ui Bun Ting.

Mereka belum begitu jauh dari kota Lai y ing karena keberangkatan mereka memang jauh tertunda akibat kegemparan semalam.

Dan kuda serta kereta yang mereka pergunakan juga tidak dapat mereka kendarai dengan cepat pula, karena kesehatan Ui Bun Ting yang belum baik.

Souw Lian Cu berkuda sendirian di depan.

Sedang kereta yang ditumpangi Ui Bun Ting, Han Sui Nio dan Tui Lan beserta bayinya, berada di belakangnya.

Dan sebagai pengawal dari rombongan tersebut adalah orang-orang Tiam jong-pai yang menyusul Ui Bun Ting tadi malam.

Mereka berkuda di belakang kereta.

Tak ada sinar kegembiraan di wajah Souw Lian Cu.

Gadis ayu itu lebih banyak merenung di atas punggung kudanya.

Hanya sesekali ia tampak melirik atau memandang dengan sudut matanya ke arah kereta, dimana Tui Lan bersama bayinya berada.

Gadis ayu itu merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tui Lan terhadapnya, namun ia tak tahu apa yang disembunyikan oleh sahabatnya itu.

Gadis itu hanya bisa mengingat bahwa sejak siuman dari pingsannya, sahabatnya itu bersikap amat aneh.

Y aitu seperti orang yang kaget, bingung dan sedih luar biasa.

Dan celakanya, sahabatnya itu tak mau mengatakannya apa yang sedang dideritanya.

Bahkan kepada ibunya, Han Sui Nio, Tui Lan juga tak mau berterus terang pula.

"Heran. Dengan akupun Cici Tui Lan juga bersikap aneh. Cici Tui Lan seperti selalu menghindari aku. Apa sebenarnya yang dipikirkannya? Apakah Cici Tui Lan tak menyukai ibunya kawin dengan Ui Bun Ting?"

Souw Lian Cu menerka-nerka di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa pada waktu itu Tui Lan sedang mengalami goncangan pikiran yang hebat sekali.

Pertemuannya yang tak terduga dengan Liu Yang Kun, yang selama ini telah ia anggap mati, benar-benar sangat menggoncangkan jiwanya.

Dia seperti mendapatkan sebuah mukjijat Namun di lain pihak, ketika ia sadar bahwa kemunculan suaminya itu bersama dengan Tiauw Li Ing dan Souw Lian Cu, kegembiraan itu tiba-tiba seperti hilang kembali.

Bahkan kehilangan tersebut seperti meninggalkan bekas-luka yang menyakitkan di dadanya.

Tiba-tiba ia merasa semua kesedihan dan kesengsaraan di dunia ini tertimbun di pundaknya.

Apalagi ketika diketahuinya, suaminya itu pergi ke Cin-an tanpa sedikitpun mempedulikannya.

Semalam, begitu siuman dari pingsannya, yang dicari Tui Lan adalah Liu Yang Kun.

Ia segera bangkit dari pembaringannya.

Matanya nanar melihat kesana-kemari.

Bahkan ketika di dalam kamar itu hanya ada ibunya dan keluarga Ui Bun Ting yang lain ia berlari keluar.

Ke ruang-tengah, dimana terdengar suara orang banyak bercakap-cakap.

Namun di ruang tengah itupun Tui Lan juga tidak dapat melihat wajah Liu Yang Kun.

Yang ada hanya Ui Bun Ting dan beberapa orang saudaranya.

Mereka sedang berbincang ramai dengan Souw Lian Cu, yang tampaknya baru saja masuk ke rumah itu.

Sedang di luar rumah, di jalan raya, terdengar suara ribut para penduduk yang berlarian sambil menangis dan menjerit-jerit.

"Hei, Lan-ji...? Ada apa?"

Ui Bun Ting yang belum sembuh dari pengaruh racun Giok-bin Tok-ong itu cepat menyapa Tui Lan.

Sementara Han Sui Nio yang mengejar Tui Lan dari dalam kamarpun telah berada di belakangnya pula.

Dengan perasaan khawatir wanita tua itu memeluk Tui Lan dari belakang.

"Tui Lan? Apa yang kaucari, nak? Kau mencari bayimu...? Jangan khawatir! Dia ada di kamar belakang. Dia sedang tidur,"

Wanita tua itu membujuk. Namun dengan tegas Tui Lan menggelengkan kepalanya. Matanya tetap nanar mencari kesana kemari. Ui Bun Ting saling pandang dengan Han Sui Nio.

"Lan-ji...! Apakah engkau mencari Giok-bin Tok-ong?"

Dengan hati-hati ketua Tiam-jong-pai itu bertanya.

Tui Lan tidak menjawab.

Tiba-tiba saja gadis itu berlari ke pintu dan melesat ke jalan raya dengan cepatnya.

Dan gadis itu menjadi kaget sekali menyaksikan penduduk yang berlarian di depan rumah itu.

Dan kekagetannya itu semakin menjadi-jadi pula tatkala melihat tembok depan yang roboh serta kubangan yang dalam di depan rumah tersebut.

Ketika Tui Lan hendak berbalik untuk menanyakan semuanya itu, ternyata mereka telah datang kepadanya.

"Ibu...! Oh, ibu! Apa yang telah terjadi? Apa artinya semua ini...?"

Akhirnya Tui Lan menjerit dan menubruk ibunya.

Han Sui Nio cepat memeluk dan mengusap rambut Tui Lan.

Dengan lembut dibawanya gadis itu ke dalam rumah kembali.

Diambilnya sebuah kursi, kemudian Tui Lan disuruhnya duduk dengan baik.

Sedangkan yang lain-lain segera mencari tempat duduk sendiri-sendiri, sambil menunggu di sekitar kursi Tui Lan.

Tak seorangpun yang menyangka kalau gadis itu sedang mencari Liu Yang Kun.

Semuanya mengira kalau Tui Lan sedang mencari Giok-bin Tok-ong, yang pada saat-saat terakhir tadi baru diketahui oleh gadis itu sebagai ayahnya.

Oleh karena itu dengan perlahan-lahan dan hati-hati Ui Bun Ting mencoba untuk menerangkannya.

Namun sebelumnya ketua Tiam-jong-pai itu mengerling dahulu ke arah Souw Lian Cu, karena orang tua itu juga baru saja mendengar nasib Giok bin Tok-ong dari gadis ayu itu.

Ketika gadis ayu berlengan tunggal itu juga menganggukkan kepalanya, maka Ui Bun Ting pun menjadi semakin mantap untuk bercerita.

Mula-mula dia nasehatkan agar Tui Lan tidak berkecil hati ataupun bersedih karena memiliki ayah seperti Giok-bin Tok-ong itu.

Setelah itu dengan hati-hati Ui Bun Ting bercerita pula tentang sepak terjang ayah Tui Lan pada malam itu.

Bagaimanakah kakek jahat itu ketika menculik Han Sui Nio dan membunuhi anggauta keluarga Ui.

Dan bagaimana pula ketika kakek jahat itu melukai dirinya dan hampir membunuh Han Sui Nio, ibu Tui Lan.

Untunglah mereka semua diselamatkan oleh Pangeran Liu Yang kun dan pengawalnya, Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.

Sehingga akhirnya terjadilah peristiwa mengerikan di depan rumah itu, Giok-bin Tok-ong mati oleh ledakan peluru pek-lek-tannya sendiri!

"'Oooh...?!?!"

Tui Lan mengeluh pendek seraya menutupi mukanya.

"Kau sendiri juga hampir dibunuhnya pula, Lan-ji! Ayahmu memang bersumpah akan membasmi semua anak keturunannya sendiri."

Han Sui Nio ikut menyambung cerita Ui Bun Ting.

"Benar. Untunglah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai ayah Nona Souw ini, bersama-sama dengan Pangeran Liu Yang Kun segera menolongmu."

Ui Bun Ting menambahkan. Dengan cepat Tui Lan tengadahkan kepalanya.

"Hong gi-hiap Souw Thian Hai dan Pangeran Liu Yang Kun...?"

Desisnya.

"Lalu...lalu kemanakah mereka itu sekarang?"

"Ayah dan Pangeran Liu Yang Kun telah pergi mendahului ke kota Cin-an, Cici...?"

Souw Lian Cu yang sejak tadi hanya berdiam diri tiba-tiba menyahut.

Tui Lan menoleh dengan kaget sekali.

Gadis itu seperti baru menyadari bahwa Souw Lian Cu juga berada di tempat itu.

Dan tiba-tiba gadis itu menjerit sambil menutup wajahnya.

Selanjutnya tangisnya meledak dan tak bisa dihibur atau dihentikan lagi.

Terpaksa Han Sui Nio memapahnya memasuki kamar.

Demikianlah pagi harinya sikap Tui Lan benar-benar berubah sama sekali.

Gadis itu tak mau berbicara sedikitpun.

Dia hanya merenung dan meneteskan air mata.

Ia segera berlari ke kamar bila ada orang yang mendekatinya.

la benar-benar tak mau berbicara dengan siapapun juga.

Hanya tangis bayinya saja yang mampu menggugah minatnya.

Namun demikian gadis itu tak menolak ketika diajak berkereta ke kota Cin-an.

Hanya saja gadis itu tetap tak mau berbicara dengan siapapun juga.

Dan anehnya gadis itu selalu menghindar bila bertatap muka dengan Souw Lian Cu, orang yang pernah menyelamatkan nyawanya.

Satu-satunya yang dilakukan oleh gadis itu hanyalah menggendong serta membujuk bayinya supaya tidak menangis.

Tentu saja hal itu membuat Ui Bun Ting dan Han Sui Nio sedih sekali.

Mereka tetap menyangka bahwa Giok-bin Tok-ong lah yang menjadi sebab dari kesedihan Tui Lan itu.

Gadis itu tak tahan menerima kenyataan bahwa ia adalah puteri seorang iblis jahat.

Namun demikian kedua orang tua itu juga percaya bahwa kesedihan puteri mereka itu tentu hanya sementara pula.

Besok pagi atau lusa tentu telah sembuh lagi.

Begitulah, seperti yang telah diceritakan di bagian depan, mereka semua berangkat ke kota Cin-an dengan kereta dan kuda.

Ui Bun Ting dan Han Sui Nio yang tak ingin mendapatkan gangguan ataupun kesulitan lagi di dalam perjalanannya sengaja menutup diri di dalam kereta bersama Tui Lan.

Sedangkan Souw Lian Cu dan kedua pengawal Ui Bun Ting yang datang dari Tiam-jong-pai itu penunggang kuda di belakang mereka.

Rombongan itu melaju dengan cepatnya ke arah barat, menyusuri jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh oleh rombongan Yap Kiong Lee semalam.

Mereka memacu kuda dan kereta mereka seolah-olah mereka sedang berpacu dengan matahari yang merangkak di atas punggung mereka.

Bahkan Souw Lian Cu memacu kudanya lebih cepat lagi, sehingga gadis itu seperti terlepas dari rombongan itu.

Dan sementara itu di tempat lain, jauh di depan mereka, yaitu di tempat penyeberangan sungai Huang-ho, rombongan Yap Kiong Lee justru sedang terlibat dalam keributan yang kacau balau, sebuah keributan yang berlangsung di tengah-tengah sungai, yang melibatkan belasan atau puluhan jago-jago silat dari dunia persilatan.

Dan telah diceritakan pula di bagian depan bahwa rombongan Yap Kiong Lee itu telah kehilangan jejak Lo-sin-ong, yang semua mereka lihat lewat dekat sampan mereka.

Dan karena mereka tidak bisa menemukan buruan mereka tersebut maka merekapun lalu meneruskan kembali arah tujuan mereka semula, yaitu ke perahu besar di tengah-tengah sungai, dimana keributan itu terjadi.

Namun untuk mencapai ke perahu besar tersebut sungguh tidak mudah.

Gelombang dan arus air di bagian tengah sungai itu segera menyambut mereka.

Sampan mereka segera meliuk-liuk, berputar putar dan timbul-tenggelam ditelan ombak.

Begitu ganasnya arus sungai tersebut sehingga mereka bertiga benar-benar harus mengerahkan segala kemampuan dan kesaktian mereka.

Demikianlah, berkali-kali sampan kecil itu harus jungkir balik dan timbul tenggelam dihantam gelombang yang ganas.

Namun pada waktu gelombang itu tiba-tiba agak mereda ternyata sampan itu telah berada di samping perahu besar tersebut.

Lega benar hati Yap Kiong Lee bertiga.

Dengan pakaian yang basah oleh percikan air sungai, mereka bertiga segera melambung ke atas geladak perahu besar itu.

Tapi belum juga kaki mereka menginjak lantai perahu, segulung asap tebal yang disertai taburan jarum beracun telah menyongsong kedatangan mereka.

Mereka bertiga cepat menghindar dengan cara masing-masing.

Dan otomatis ketiganya berpencar.

Yap Kiong Lee yang berada di sebelah kiri cepat melejit ke kiri sambil mengebutkan lengan bajunya ke arah gumpalan asap itu.

Sedangkan Souw Thian Hai yang berada di sebelah kanan juga melompat pula ke kanan, sambil tak lupa menyelimutkan mantel pusakanya ke tubuhnya.

Yang agak sulit adalah posisi Liu Yang Kun.

Karena pemuda itu berada di tengah-tengah temannya, maka hanya ada dua jalan untuk menghindar gumpalan asap itu.

Kembali meloncat ke belakang yang berarti harus mencebur ke dalam sungai, atau melenting ke atas melewati gulungan asap tebal tersebut.

Ternyata Liu Yang Kun memilih jalan yang terakhir.

Dengan ginkang warisan Si Raja Kelelawar pemuda itu menjejakkan kakinya, sehingga tubuhnya melayang ke atas seperti burung garuda yang terbang ke angkasa.

Kemudian sambil berjumpalitan beberapa kali pemuda itu mendaratkan kakinya di atas atap perahu.

Semua gerakan pemuda itu dilakukan dengan amat gesit dan cepat luar biasa, serta tidak menimbulkan suara atau desir angin yang berarti, sehingga sepintas lalu tubuh yang jangkung itu seperti bayangan hantu yang berpindah tempat begitu saja.

Dan sungguh kebetulan bagi Liu Yang Kun, karena dari atas atap perahu itu dia bisa melihat dengan jelas seluruh keributan yang terjadi di atas perahu besar tersebut.

Di ujung haluan perahu yang luasnya hampir mencapai dua belas tombak persegi itu tampak tiga orang berseragam hitam-hitam, kuning-kuning dan putih-putih, dikeroyok oleh sembilan atau sepuluh orang berpakaian macam-macam, sehingga tempat yang luas tersebut terasa sempit oleh gerakan mereka, ketiga orang berseragam itu sama sekali tidak memegang senjata, sementara para pengeroyoknya mengepung mereka dengan senjata di tangan.

Namun demikian Liu Yang Kun melihat bahwa ketiga orang berseragam itu sama sekali tidak mengalami kesulitan.

Bahkan setelah beberapa saat melihat pertempuran itu Liu Yang Kun dapat memastikan bahwa ketiga orang berseragam tersebut akan bisa mengatasi lawan-lawannya.

Sedangkan di bagian lain, yaitu di buritan perahu, Liu Yang Kun melihat sebuah pertempuran yang lain, yang justru lebih seru malah.

Bahkan belasan sosok mayat telah tampak berserakan di sekitar pertempuran itu.

Semuanya mati dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Ada yang tubuhnya seperti terbakar dan mengeluarkan bau busuk.

Ada yang lukanya menganga dan mengalirkan cairan kuning seperti bubur cair yang banyak sekali.

Bahkan ada yang kulit tubuhnya berubah menjadi putih meletak seperti kapur dinding, sementara seluruh rambutnya rontok ke bawah.

"Hmm... tampaknya kepulan asap yang disertai taburan jarum beracun tadi datang dari tempat itu."

Liu Yang Kun bergumam perlahan.

Ketika Liu Yang Kun mencoba untuk melihat lebih teliti lagi, maka ia melihat dua orang Ielaki gagah, yang masing-masing telah berusia lebih dari empat puluh tahun, dikeroyok oleh belasan tokoh persilatan yang rata-rata kepandaiannya juga sangat tinggi.

Namun demikian kedua orang gagah yang bersenjatakan ular hidup itu ternyata dapat melayani para pengeroyoknya dengan mudah.

Bahkan ternyata korban yang berjatuhan di sekeliling pertempuran tersebut adalah hasil amukan mereka pula.

"Heran, ilmu silat kedua orang itu mirip sekali dengan ilmu silat Giok-bin Tok-ong..."

Sekali lagi Liu Yang Kun bergumam.

Ternyata Liu Yang Kun sama sekali sudah tak ingat lagi bahwa ia sebenarnya pernah bertemu dengan kedua orang itu.

Bahkan pernah berkelahi malah.

Kedua orang itu memang murid Giok bin Tok ong, Kim Hong San dan Tang Hu.

Mereka tinggal berdua saja sekarang, karena Nyo Kin Ong telah mati dalam pertempuran melawan anak buah Siang Ki dahulu.

"Grobyaaaaag!"

Tiba-tiba terdengar suara keras di bawah atap yang diinjak Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun cepat mendekap di atas seraya bersiap-siaga menghadapi segala kemungkinan.

Apa lagi ketika kemudian terdengar suara angin pukulan yang berderak-derak menerjang dinding perahu.

"Ada orang berkelahi di dalam..."

Pemuda itu berkata di dalam hati.

Sementara itu kedua orang murid Giok-bin Tok-ong semakin tampak beringas mendesak lawan-lawannya.

Tangan mereka semakin latah mengobral racun-racun pembunuh, sehingga korbanpun menjadi semakin bertambah banyak pula.

Souw Thian Hai yang berada lebih dekat dengan pertempuran tersebut segera mendekati.

la menghampiri dua orang lelaki kurus yang juga menonton pertempuran itu.

Dua orang itu berdiri di pinggiran perahu, berlindung di dekat tumpukan barang.

Dan mereka segera memegang hulu pedang yang terikat di belakang punggung mereka ketika mendengar langkah kaki Souw Thian Hai.

"Souw Thian hai..."

Desah mereka kemudian ketika mereka melihat siapa yang datang!

Otomatis mereka melepaskan kembali gagang pedang mereka.

Bahkan dengan cepat mereka membungkukkah tubuh mereka untuk memberi hormat.Souw Thian Hai tidak mengenal mereka.

Namun sebagai seorang pendekar besar yang namanya sangat tersohor dan dikenal orang ia dapat memahami hal itu.

Oleh karena itu dengan sopan pula pendekar itu mengangguk.

"Maaf. Semakin tua ingatanku ini menjadi semakin lemah pula. Bolehkah saya bertanya, siapakah sebenarnya tuan berdua ini,"

Souw Thian Hai bertanya perlahan. Dengan tersipu-sipu kedua orang lelaki kurus itu membungkukkan tubuhnya lagi.

"Ah! Bukannya Tai hiap yang telah lupa kepada kami, tapi kami berdualah yang terlalu kecil sehingga tak mungkin orang seperti kami ini dapat berkenalan dengan Taihiap. Kami hanyalah dua orang murid rendahan dari Tiam-jong-pai,"

Salah seorang dari mereka cepat menjawab. Souw Thian Hai menjadi kikuk pula.

"Ah... jangan berkata seperti itu. Aku menjadi malu terhadap diriku sendiri. Aku memang sering berkunjung ke Tiam-jong-pai, tapi ingatanku yang terbatas ini tentunya tak bisa mengenal cuwi satu persatu. Oleh karena itu... maafkanlah keterbatasanku ini."

"Kami mengerti, Taihiap. Kami berdua memahaminya. Namaku Ong Su, dan ini adikku Ong Kak. Eh... mengapa Taihiap sampai berada disini pula? Bukankah Taihiap kemarin sudah berada di Cin-an untuk menghadiri pernikahan Ciang-bun-jin kami?"

Souw Thian Hai tersenyum, kemudian memalingkan pandangannya ke pertempuran yang tampak semakin seru itu.

"Aku juga heran melihat jiwi berada disini. Padahal malam nanti perhelatan itu sudah akan dilaksanakan. Apakah jiwi sebagai orang Tiam-jong pai tidak ingin menghadiri perkawinan ketuanya?"

Souw Thian Hai balik bertanya.

"Kami... kami eh?!?"

Dengan gugup kedua orang lelaki itu mengawasi Souw Thian Hai. Tapi dengan mulut masih tetap tersenyum Souw Thian Hai kembali memandang kedua orang itu.

"Jangan gugup, Saudara Ong. Aku tidak mencurigai Jiwi. Aku justru ingin mengatakan kepada Jiwi bahwa kedatanganku kemari kemungkinan besar justru sama dengan kepentingan Jiwi."

Ong Cu dan Ong Kak terkejut.

"Apakah...apakah Taihiap juga bermaksud untuk menjemput Ciang-bun-jin kami?"

Ong Su berdesah.

"Ya. Dan Jiwi tak perlu gelisah lagi. Ui Ciang-bun sudah diketemukan. Mungkin sekarang sudah hampir sampai di tempat ini pula."

"Oooh...!"

Kedua saudara Ong itu berseru gembira.

"Tapi... eh, apakah yang sebenarnya yang terjadi di perahu ini? Mengapa mereka saling berkelahi?"

Tiba-tiba Souw Thian Hai mengalihkan pembicaraannya.

"Oh, Tai hiap. Masalahnya cuma orang orang dari Lembah Tak Berwarna itu. Mereka menculik seorang gadis dari kampung itu dan hendak membawanya ke seberang. Karena perahu mereka kecil, maka ketika hendak melewati perahu ini mereka lalu berpindah tempat. Tapi di dalam perahu besar ini ternyata mereka ketemu batunya. Seorang pendekar silat berkepandaian tinggi telah merebut gadis itu dari tangan mereka,"

Ong Su bercerita sambil menunjuk kesana-kemari. Souw Thian Hai mengerutkan dahinya.

"Lalu bagaimana?"

Desaknya. Ong Su lalu menunjuk ke arah korban yang bergelimpangan di sekitar pertempuran.

"Tapi... orang-orang yang mengejar para penculik itu telah sampai pula kemari. Termasuk kami juga. Kami lalu mengeroyok mereka."

"Lalu... di manakah gadis itu?"

Souw Thian hai bertanya.

"Disembunyikan oleh pendekar yang merebutnya dari tangan orang-orang Lembah Tak Berwarna itu. Ternyata pendekar tersebut juga bukan orang baik baik pula. Tiga orang anak buahnya segera melabrak kami. Terpaksa kami berpencar untuk melawan mereka..."

"Begitukah? Hmmh?"

Souw Thian Hai menggeram.

"Benar, Souw Taihiap. Ternyata mereka semua berkepandaian sangat tinggi. Korban segera berjatuhan di tangan mereka. Baik di tangan anak-buah pendekar itu maupun di tangan orang-orang Lembah Tak Berwarna,"

Ong Kak meneruskan cerita kakaknya. Tiba-tiba Ong Su menjatuhkan diri berlutut di depan Souw Thian Hai.

"Souw Taihiap! Kalau Souw Taihiap tidak lekas-lekas membantu kami, orang-orang jahat itu tentu akan membasmi kita semua."

Serunya bersemangat. Souw Thian Hai memandang ke arah pertempuran.

"Kalian memang terlalu gegabah melawan mereka. Mereka semua adalah orang-orang dari perguruan ternama. Saya sendiri belum tentu menang melawan mereka. Apalagi kalau majikan dari ketiga orang berseragam itu juga ada disini."

"Ketiga orang berseragam itu? Siapakah mereka, Taihiap?"

"Mereka itu orang-orang Ui-soa-pai dari Gurun Gobi. Dan pendekar yang Jiwi sebutkan tadi kemungkinan besar adalah pemimpin mereka, yaitu Bok Siang K i."

"Ui-soa-pai? Bok Siang Ki?"

Kedua orang saudara Ong itu menjerit kaget. Dan wajah merekapun segera berubah menjadi pucat. Souw Thian Hai menarik napas. Katanya kemudian.

"Mengapa? Ehm, jangan takut! Mereka justru tidak seberbahaya orang-orang dari Lembah Tak Berwarna itu. Kalaupun Bok Siang Ki itu memang benar-benar berada di sini, kita juga tak perlu takut kepadanya. Aku membawa seorang jago yang bisa menghadapinya."

"Menghadapi Bok Siang Ki? Apakah Taihiap datang bersama Bun-hoat Sian-su...?"

"Bukan! Tanpa Bun-hoat Sian-su pun pemuda itu bisa menghadapi Bok Siang Ki...!"

Souw Thian Hai berkata mantap seraya menunjuk ke arah Liu Yang Kun yang bertengger di atas atap perahu.

"Pemuda... itu...?"

Ong Su dan Ong Kak berdesah tak percaya. Souw Thian Hai tersenyum. Sambil me langkah mendekati pertempuran ia berkata.

"Jangan remehkan dia. Meski masih muda tapi kesaktiannya tidak kalah dengan Bok Siang K i. Lihat saja nanti. Nah, sekarang biarlah aku menolong teman-teman Jiwi dahulu. Kasihan mereka."

Dan kedatangan Souw Thian Hai pun segera tercium pula oleh Kim Hong San dan Tang Hu.

Kedua orang murid Giok-bin Tok-ong itu segera menyongsongnya dengan taburan pasir beracun.

Namun hanya dengan mengebutkan mantel pusakanya Souw Thian Hai bisa merontokkannya ke bawah.

Sebaliknya pendekar sakti itu lalu membalasnya dengan pukulan jarak-jauhnya.

"Siuut! Siiiut! Taas! Duk!"

Sambaran-sambaran angin tajam segera melanda jago dari Lembah Tak Berwarna itu.

Dan ketika mereka mencoba untuk menangkisnya, maka hati merekapun menjadi kaget setengah mati.

Kedua ujung lengan baju Kim Hong San terputus bagian ujungnya, seolah-olah dipotong dengan pisau tajam.

Sementara keadaan Tang Hu lebih parah lagi.

Bagian punggung tangannya yang ia pakai untuk menangkis pukulan angin tajam itu tampak terluka dan berdarah, seperti tergores oleh ujung pedang.

"Gila! Kau siapa...!"

Kim Hong San berteriak. Souw Thian Hai hendak menjawab. Namun sebelum mulutnya terbuka, orang-orang yang baru saja bertempur dengan Kim Hong San itu telah menyebut namanya.

"Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai...???"

Mereka berdesah gembira.

"Huh! Jadi kaukah pendekar yang sangat disohorkan orang itu! Pantas! Pantas! ilmu silatmu sedemikian hebatnya..."

Kim Hong San menggeram.

"Kita harus berhati hati, suheng,"

Tang Hu bergumam pula seraya mengobati lukanya. Souw Thian Hai mengedikkan kepalanya. Dengan nada marah ia membentak.

"Jadi kaliankah penjahat yang suka memperkosa dan membunuh wanita di daerah pantai timur selama beberapa bulan ini?"

"Tak salah. Memang kamilah yang melakukannya! Kami berbuat seperti itu untuk melengkapi kesempurnaan ilmu kami. Kau mau apa? Mau menghukum kami? Ha-he-hehaa! Kau jangan menjadi besar kepala hanya karena namamu tertulis di dalam Buku Rahasia! Kami berdua tidak silau melihatmu! Ha-he-hehaaa...!"

Kim Hong San tertawa terbahak-bahak.

"Gila...! Kalian guru dan murid memang pantas untuk dibunuh! Orang-orang seperti kalian ini sangat berbahaya dan mengotori dunia saja."

"Ha-he-hehaaaa...! Jangan sebut-sebut nama guru kami! Kau akan semakin ketakutan menghadapi kami nanti! Nama Giok-bin Tok-ong lebih tersohor dan lebih tinggi daripada namamu, he-ha-hehaaa...!"Wajah Souw Thian Hai yanq gagah berwibawa itu tiba-tiba menjadi gelap. Dengan nada dalam ia menggeram.

"Kalianlah yang seharusnya tidak menyebut-nyebut nama Giok-bin Tok-ong lagi! Gurumu itu telah tewas berkeping-keping akibat ledakan pek-lek-tannya sendiri tadi malam! Hmmh!"

Seketika suara tawa kedua orang murid Giok-bin Tok-ong itu terputus. Dengan pandang mata marah serta tak percaya mereka menghardik.

"Tutup mulutmu, kau telah berani menghina guru...!"

Ternyata Souw Thian Hai pun sudah tidak bisa menahan kemarahannya pula.

Dengan geram telapak tangannya digosok-gosokkannya ke depan dada, dan sekejap kemudian dari ubun ubun kepalanya, mengepul asap berwarna merah dan putih bergantian.

"Ang-pek Sinkang...?!"

Kim Hong San berdesah kaget. Kemudian bisiknya kepada Tang Hu.

"Sute! Hati-hati! Orang ini tampaknya memang benar-benar berbahaya..."

"Ah, persetan! Aku tidak takut!"

Tak terduga Tang Hu menjawab sambil berteriak.

Tampaknya berita tentang kematian gurunya itu sedikit mempengaruhi perasaannya juga.

Hatinya menjadi bimbang.

Oleh karena itu justru Tang Hu lah yang kemudian memulai pertempuran itu.

Tangan kanannya terayun ke depan, dari bawah ke atas seperti orang menabur benih.

Dan dari telapak tangan itu memang benar-benar berloncatan belasan paku beracun ke arah kepala dan dada Souw Thian Hai.

Dan gerakan ini segera diikuti pula oleh gerak tangan kirinya, dari belakang ke depan, seakan-akan mendorong lajunya paku-paku tersebut.

Sementara itu melihat adik seperguruannya telah memulai serangannya, Kim Hong San juga tidak mau ketinggalan juga.

Dengan tangkas ia melompat ke samping kiri Souw Thian Hai.

Tak lupa te lapak tangan kanannya menebas ke arah pinggang lawannya.

Dan tiupan angin dingin berbau amis segera tercium pula dengan kerasnya.

Melihat kedua orang lawannya mendahului menyerang, apalagi serangan mereka itu betul-betul ganas dan keji, Souw Thian Hai semakin menjadi marah sekali.

Namun demikian pendekar sakti juga tak bisa mengabaikan kedahsyatan serangan tersebut.

Kedua murid Lembah Tak Berwarna itu tentu juga mewarisi kelicikan gurunya, sehingga ia juga harus berhati-hati dan waspada terhadap jebakan-jebakan tersembunyi yang ada di dalam serangan tersebut.

Oleh karena itu demi amannya Souw Thian Hai segera menghindari saja serangan itu.

Kaki kanannya bergeser ke samping dengan cepat, sehingga tubuhnya seolah-olah rebah ke samping.

Kemudian sete lah itu dengan cepat pula tubuh atasnya terayun ke belakang seperti layaknya orang terjengkang ke belakang.

Seluruh gerakan itu dilakukan dengan tangkas dan manis, serta kuda-kuda yang tetap kokoh kuat menghujam bumi, sehingga ketika kedua serangan lawannya dapat ia elakkan, Souw Thian Hai cepat bisa tegak kembali dengan baik.

Lalu sebelum kedua orang lawannya itu menyusuli serangannya lagi, Souw Thian Hai cepat-cepat memotong dan mendahului mereka dengan Tai-lek Pek-khong-ciangnya.

"Cuuus! Cus! Cusss!"

Dan loncatan-loncatan angin tajam segera melesat dari ujung ujung jari tangannya!

Kini ganti Kim Hong San dan Tang Hu yang kelabakan menghadapi tusukan-tusukan angin tajam yang mampu menghunjam melukai kulit daging itu.

Sehingga untuk melindungi diri mereka dari kejaran angin tajam tersebut, Kim Hong San dan Tang Hu terpaksa meledakkan tabir asap tebal di sekeliling mereka.

Souw Thian Hai terpaksa menahan serangannya karena ia tak ingin salah sasaran dan melukai orang-orang yang ada di sekitar pertempuran tersebut.

"Sungguh licik!"

Pendekar sakti itu mengumpat marah. Kemudian teriaknya kepada orang-orang yang ada di buritan tersebut.

"Saudara-saudara, awas...! Jauhkan diri dari arena pertempuran!"

Benar juga peringatan Souw Thian Hai itu.

Sambil masih tetap berlindung di dalam pekatnya asap, kedua murid Giok-bin Tok-ong itu balas menyerang Souw Thian Hai dengan lontaran-lontaran senjata rahasianya.

Dan tentu saja lontaran senjata rahasia yang membabi-buta itu juga akan membahayakan orang lain pula.

Namun ternyata kali ini Souw Thian Hai juga tak ingin menghindari serangan-serangan itu pula.

Selain tak ingin membahayakan keselamatan orang lain, pendekar sakti itu juga ingin lekas-lekas menyelesaikan pertempuran tersebut.

Demikianlah dengan perlindungan mantel pusakanya Souw Thian Hai nekad menerobos tabir asap yang menyelimuti arena pertempuran itu.

Beberapa kali terdengar suara denting senjata rahasia yang menghantam mantel pusakanya, tapi pada saat itu pula Souw Thian Hai me lepaskan tusukan-tusukan angin tajamnya ke arah dari mana senjata rahasia itu datang.

Ternyata siasat Souw Thian Hai tersebut berhasil.

Kim Hong San dan Tang Hu benar-benar kelabakan menghadapi serangan itu.

Selain mereka bingung bagaimana harus menghadapi lawannya yang tak bisa dilukai dengan senjata itu Kim Hong San dan Tang Hu harus menghindari tusukan-tusukan angin tajam yang tak dapat dilihat oleh mata tersebut.

Tapi ternyata Kim Hong San juga tidak kekurangan akal.

la tahu bahwa lawannya dapat mengetahui tempatnya karena ia melepaskan senjata rahasia.

"Sute! Hentikan serangan! Bunuh saja ia dengan racun!Masa dia...eh!"

Kim Hong San berseru namun terpotong karena pundaknya terserempet oleh tusukan angin tajam yang dilepaskan Souw Thian Hai.

"Suheng, kau tidak apa-apa... hei?! bangsat!"

Tang Hu berteriak kaget.

Namun suaranya segera berganti dengan makian pula karena teriakannya itu membuat Souw Thian Hai mengetahui dimana dia berada.

Akibatnya dadanya hampir saja termakan oleh tusukan jari tangan pendekar sakti itu.

Begitulah kedua orang murid Giok-bin Tok-ong itu segera menyadari kesalahan mereka.

Maka untuk selanjutnya mereka berdua lalu berdiam diri di tempat masing-masing dan tetap berlindung di dalam pekatnya asap tebal yang mereka ciptakan.

Kemudian dengan hati-hati mereka meniupkan asap beracun ke sekeliling mereka.

Tapi Souw Thian Hai juga mengenal bahaya pula.

Melihat lawannya berdiam diri, ia cepat-cepat meloncat keluar dari dalam gulungan asap itu.

Ternyata pendekar itu masih ingat akan pertempurannya melawan Giok-bin Tok-ong tadi malam, dimana ia terkena jenis racun yang tidak berwarna maupun berbau, sehingga ia hampir saja celaka di tangan iblis tua itu.

"Pengecut! Ayoh! Kenapa kau melarikan diri dari arena...?"

Tang Hu berteriak dari dalam gulungan asap.

"Hmm... buat apa aku takut bermain-main dengan asapmu? Mending aku melihat dan menunggu kalian di sini. Toh asapmu juga akan sirna ditiup angin..."

Souw Thian Hai menjawab seenaknya.

"Bangsat...!"

Sekali lagi Tang Hu mengumpat kasar.

Tiba-tiba dari dalam kepulan asap itu meluncur dua buah bola api yang melesat ke arah Souw Thian Hai!

Dan serangan yang tak terduga itu sungguh sangat mengejutkan pendekar sakti itu.

Tapi dari mula pendekar itu memang telah bersiap siaga pula.

Oleh karena itu meskipun terkejut pendekar itu tetap tidak kehilangan pengamatannya.

Bahkan sambil menghindar pendekar sakti itu sempat membalas menyerang pula dengan tidak kalah cepatnya.

Dan serangan itu ditujukan ke arah bola api tersebut berasal.

"Cuuuus! Cuuuuuus! Cus!"

"Aduh!"

Terdengar suara Tang Hu mengeluh pendek.

Sementara itu sebuah tiupan angin yang agak kencang telah menghalau tabir asap yang dibuat oleh Kim Hong San itu.

Dan sejalan dengan hilangnya tabir asap itu maka tampaklah tubuh Kim Hong San dan Tang Hu yang sempoyongan terkena pukulan jarak jauh Souw Thian Hai tadi.

"Sute... kau terluka?"

Kim Hong San cepat memegang tubuh adik seperguruannya.

"Bangsat gila! Monyet itu memang lihai sekali! Tanpa melihatpun dia bisa menyerang aku..."

Tang Hu mengeluh dan mengumpat tiada hentinya.

"Tidak aneh! Namanya memang tertulis hanya satu tingkat di bawah nama suhu. Tidak mengherankan bila kepandaiannya sangat tinggi. Kitalah yang terlalu memandang rendah dia. Hmm...lalu bagaimana denganmu? Kau masih bisa meneruskan pertempuran ini?"

Tiba-tiba Tang Hu mengibaskan tangan kakak seperguruannya. Dengan menggeretakkan giginya iam menggeram.

"Mengapa tidak? Aku hanya kaget saja. Aku tidak apa-apa. Aku justru hendak membunuh bangsat itu sekarang! Apalagi ia telah menghina suhu..."

Kim Hong San mendengus pula. Sambil menoleh ke arah Souw Thian Hai ia berkata.

"Aku juga tidak percaya pada omongannya. Masakan suhu sampai bisa mati oleh senjatanya sendiri. Huh! Dia memang patut dibunuh!"

Souw Thian Hai mengangkat bahunya.

"Terserah kalau kalian tidak percaya. Tapi apa yang kukatakan itu memang benar. Kalian akan mengetahuinya pula besok."

"Kurang ajar...!"

Tang Hu mengumpat keras, kemudian menerjang Souw Thian Hai.

Dari kedua tangannya meluncur dua ekor ular kecil yang amat ganas.

Souw Thian Hai segera bergeser ke samping.

Tak lupa telunjuk kanannya yang penuh sinkang itu ia kibaskan ke arah ular itu.

"Cuus...!"

Serangkum angin tajam segera menusuk ke arah ular tersebut.

Tapi sungguh sangat mentakjubkan.

Kedua ekor ular itu seperti bersayap saja pada tubuhnya.

Dengan gesit dan ringan tubuhnya yang pipih panjang itu meliuk dan menggeliat beberapa kali di udara, sehingga angin tajam itu melesat lewat tanpa mengenainya.

Sebaliknya dengan kecepatan yang berlipat ganda ular tersebut meneruskan serangannya ke arah Souw Thian Hai.

Walaupun merasa heran dan takjub, namun kehebatan ular-ular kecil itu tak sampai menggoyahkan ketenangan Souw Thian Hai.

Bahkan dengan kematangannya sebagai seorang pendekar silat besar, Souw Thian Hai justru menyongsong kedatangan dua ekor ular itu.

Bagian atas tubuhnya berputar setengah lingkaran, sehingga mantel pusakanya terayun ke depan menutupi dadanya.

Sementara dari balik mantel pusaka tersebut jari-jari tangannya memuntahkan kembali serangan-serangan angin tajamnya yang menggiriskan itu.

"Whuuuuus...! Cuuus! Cuus!"

Ular-ular itu masih mencoba berkelit beberapa kali di udara.

Namun pada serangan Souw Thian Hai yang terakhir, kesempatan untuk menghindar sudah tidak ada lagi.

Sebuah hentakan yang amat kuat membuat kedua ekor ular kecil itu terpental ke udara.

Tubuh mereka yang pipih panjang itu terpotong menjadi beberapa bagian!

"Gila!"

Sekali lagi Tang Hu mengumpat.

Namun kedua orang murid Giok-bin Tok-ong itu tak punya kesempatan untuk mengobral makiannya lagi, karena di lain saat berondongan angin tajam yang meluncur dari tangan Souw Thian Hai telah membikinnya jungkir-balik untuk mengelakkannya.

Dan saat-saat selanjutnya mereka harus memeras keringat dan memeras tenaga untuk menghadapi Tai-lek Pet-khong-ciang Souw Thian Hai yang dahsyat dan mengerikan itu.

Belasan jurus pun telah berlalu.

Penonton yang berada di buritan perahu itu telah menyingkir jauh-jauh pula.

Serangan angin tajam yang dilontarkan oleh Souw Thian Hai berkelebatan kesana-kemari dan merusakkan dinding-dinding perahu yang dilewatinya.

Sementara Kim Hong San dan Tang Hu pun juga mengobral racun mereka pula untuk menandingi kedahsyatan ilmu Souw Thian Hai tersebut.

Namun semakin lama semakin terlihat bahwa ilmu silat Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai lebih unggul dari pada ilmu kedua murid Giok-bin Tok-ong itu.

Walaupun kedua orang murid lembah Tak Berwarna itu menguras segala kemampuan mereka, tetapi dengan perisai mantel pusakanya Souw Thian Hai mampu bertahan sekaligus mendesak mereka.

Semua macam racun telah dikeluarkan oleh Kim Hong San dan Tang Hu.

Segala macam binatang berbahaya, seperti ular, kala-jengking, kelabang, ulat berbisa juga telah dipergunakan pula oleh kedua orang itu.

Namun semuanya dapat diatasi oleh Souw Thian Hai.

Dengan benteng mantel pusakanya pendekar sakti itu benar benar tak bisa disentuh oleh siapapun juga.

Sehingga akhirnya kedua orang murid Giok-bin Tok-ong tak dapat mengelakkan lagi tusukan-tusukan angin tajam yang dilontarkan oleh Souw Thian Hai.

Darahpun mulai menetes membasahi lantai perahu.

Semakin lama semakin banyak sehingga akhirnya mereka tak kuasa melawan lagi.

"Sute... kita... kita lari saja! Kita... terjun ke air!"

Di dalam kesulitannya Kim Hong San masih bisa berseru kepada Tang Hu.

Lalu tanpa menanti jawaban adiknya ia melompat dalam air yang menggelegak di bawahnya.

Tang Hu yang keadaannya lebih parah segera berlari ke pagar perahu.

Tapi beberapa orang penonton yang berada di dekatnya cepat menyongsongnya dengan taburan senjata rahasia.

"Aduuuh...!"

Tang Hu menjerit keras, kemudian terjungkal ke dalam air pula.

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menghela napas panjang.

Dikebut-kebutkannya lengan bajunya, serta dirapikannya pula kembali pakaiannya yang kedodoran, baru kemudian menemui orang-orang yang ada di buritan perahu tersebut.

Sementara itu pertempuran antara murid-murid Bok Siang Ki melawan para pengeroyok mereka di haluan perahu ternyata juga tidak kalah serunya dibandingkan dengan pertempuran Souw Thian Hai tadi.

Meskipun tidak mempergunakan senjata-senjata beracun, namun pertempuran mereka ternyata tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan pertempuran murid-murid Lembah Tak Berwarna.

Bahkan dipandang dari segi ilmu silat pertempuran di haluan perahu tersebut tampak lebih bermutu, dan lebih mengasyikkan.

Ternyata Yap Kiong Lee telah ikut pula bertempur di antara para pengeroyok itu.

Dengan kepandaiannya yang sangat tinggi pendekar dari istana itu segera menjadi lawan yang paling berbahaya bagi ketiga orang murid perguruan Ui-soa-pai itu.

Bahkan orang termuda dari Sam-eng yang dipanggil dengan nama Pek-eng atau Garuda Putih itu tak mampu beradu dada, satu lawan satu, melawan Yap Kiong Lee.

Sehingga murid termuda dan Ui-soa-pai itu terpaksa berkelebatan kesana-kemari mempergunakan kelebihan ginkangnya untuk mengimbangi desakan Yap Kiong Lee.

"Hmmh... kepandaianmu sungguh hebat sekali. Siapakah sebenarnya engkau ini? Apakah kamu masih mempunyai hubungan perguruan dengan Yap Tai Ciangkun dari Kota raja itu?"

Di dalam kesibukannya Pek-eng masih dapat juga bertanya kepada Yap Kiong Lee. Yap Kiong Lee terperanjat.

"Kau pernah berjumpa dengan adikku?"

Sergahnya cepat. Mendadak Pek-eng tertawa.

"Hahaha... jadi dia itu adikmu? Untunglah aku tidak jadi membunuhnya. Kalau pada waktu itu kami jadi membunuh dia, kau tentu tidak akan punya adik lagi, hahaa..."

"Kurang-ajar...! Apa yang telah kau lakukan terhadap adikku?"

Yap Kiong Lee membentak penasaran. Sekali lagi Pek-eng tertawa semakin keras.

"Hahaha...! Kau tidak perlu khawatir. Kami benar-benar tidak mengganggu adikmu. Bun-hoat Sian-seng telah menolongnya dari cengkeraman kami bertiga."

"Bun-hoat Sian-seng...?"

Yap Kiong Lee bernapas lega. Lega karena adiknya selamat.

"Tapi... apa sebabnya kalian berselisih dengan adikku? Apakah kalian telah berlaku jahat terhadap dia?"

"Bukan kami yang memulainya. Adikmu yang merasa menjadi pembesar kerajaan itulah yang terlalu usil mencampuri urusan kami,"

Pek-eng menggeram.

"Kurang ajar! Adikku tak pernah mengganggu orang lain. Kalaupun adikku memusuhi kalian, tentu haI itu karena kalian telah terbuat jahat kepada orang lain. Adikku tentu hanya bermaksud menghalang-halangi kejahatan kalian..."

Bukan main marahnya Pek-eng.

"Monyet busuk! Kau memang tidak berbeda dengan adikmu! Sama-sama sombongnya. Huh, kaukira aku takut padamu, lihat pukulan...!!!"

Bentaknya keras.

Tiba-tiba Pek eng bergerak semakin cepat.

Dan serangannyapun juga semakin kuat pula.

Bahkan gerakan-gerakannya terasa berubah.

Semakin lama kedua buah lengannya bergerak semakin cepat, sehingga lengan itu seperti berubah menjadi banyak sekali.

Begitu pula dengan kedua buah kakinya.

Yap Kiong Lee tertegun.

Matanya terbeliak.

Ia seperti sedang melawan seorang lelaki bertangan dan berkaki seribu.

"Gila...!"

Yap Kiong Lee mengumpat dan kakinya terus saja mundur.

Dan keadaan pun segera berbalik.

Kini Yap Kiong Lee ganti terdesak dan hanya bisa mengelak dan bertahan saja.

Pendekar dari istana itu seperti terkepung oleh ribuan tangan dan kaki lawannya.

Dan kepungan tersebut semakin lama semakin rapat sehingga akhirnya Yap Kiong Lee merasa seperti berada di dalam kurungan.

Tapi Yap Kiong Lee adalah jago nomer satu di kota raja.

Kakak kandung Yap Kim atau Yap Tai Ciangkun.

Panglima Besar dari seluruh pasukan kerajaan, dan juga keturunan langsung dari Datuk Utara, pada zaman Lima Datuk Persilatan dulu.

Oleh karena itu kepandaian silatnya tentu juga tidak hanya sampai sekian itu saja.

Merasa dirinya dalam bahaya, otomatis ilmu simpanannya keluarganya keluar.

Hong-Lui-Kun-hoat atau Tinju petir dan Badai segera dimainkannya.

Demikianlah di dalam arena itu segera terdengar suara gemuruh disertai hembusan angin berputar yang semakin lama semakin kuat, sehingga orang-orang yang ada di dalamnya seperti tergulung oleh badai!

Dan diantara kurungan angin berputar itu kadang kadang terdengar pula suara letupan keras seperti petir menyambar yang ternyata adalah suara pukulan jarak jauh yang terlepas dari telapak tangan Yap Kiong Lee!

Ternyata Yap Kiong Lee benar-benar telah mengeluarkan ilmu warisan ayahnya yang membuat dirinya dijuluki Hong-Lui-Kun atau Si Tinju Petir dan Badai!

Dan pengaruhnya memang amat hebat.

Ilmu silat Ui-soa-pai yang baru saja dikeluarkan oIeh Pek-eng, yang membuat murid Bok Siang Ki itu seperti memiliki kaki dan lengan seribu, segera tertahan oleh pusaran angin yang keluar dari tangan Yap Kiong Lee.

Bahkan beberapa waktu kemudian murid Bok Siang Ki itu kembali dibikin repot oleh letupan-letupan petir yang melesat dari telapak tangan Yap Kiong Lee.

Untunglah semua orang Ui-soa-pai sudah dibekali dengan ginkang yang tiada duanya di dunia ini.

Sehingga biarpun terdesak, namun Pek-eng masih tetap bisa menyelamatkan diri dari lubang kesulitan.

Melihat adik seperguruannya masih juga dilanda kesulitan, maka Ui-eng segera datang membantu.

Mula-mula diputarnya kedua belah lengannya kuat-kuat, sehingga pengeroyoknya terpaksa berloncatan mundur menjauhinya.

Setelah itu dengan ginkangnya yang sangat tinggi ia melayang mendekati Pek-eng.

Tak ketinggalan kedua belah telapak tangannya mendorong ke arah Yap Kiong Lee.

Sebuah dorongan yang mengandung sinkang maha besar, mengalahkan tiupan topan dan badai yang ditimbulkan Yap Kiong Lee.

"Buuuuuum!"

Dua macam kekuatan yang amat besar saling berbenturan dan menimbulkan suara berdentam keras sekali.

Tubuh Ui-eng sedikit tertahan di udara.

sementara tubuh Yap Kiong Lee tampak terpental menabrak pagar perahu.

ui-eng kemudian mendarat dengan manis di samping Pek-eng, sedang Yap Kiong Lee sambil meringis kesakitan terpaksa berpegangan pada pagar perahu.

Sementara itu dari atap kamar perahu Liu Yang Kun bisa menyaksikan pula kejadian itu.

Namun pemuda itu merasa bimbang untuk memberi pertolongan karena pada saat yang sama suara berderak yang terdengar di bawah atap itu juga semakin keras pula.

"Tampaknya di dalam kamar ini betul-betul ada orang berkelahi. Hmmh... Biarlah aku lihat dulu siapa mereka,"

Pemuda itu berkata di dalam hatinya.

Sekali lagi Liu Yang Kun menoleh ke arah Yap Kiong Lee.

Melihat pendekar dari istana masih punya kemungkinan untuk bertahan beberapa saat lamanya, hatinya menjadi lega.

Dibukanya sedikit atap perahu yang diinjaknya, sehingga di celah-celahnya ia bisa mengintip ke dalam.

"Ah...!"

Tiba-tiba bibir Liu Yang Kun berdesah kaget.

Di dalam ruangan itu ia menyaksikan Bok Siang Ki sedang beradu tangan dengan Lo-sin-ong!

Masing-masing tampak sedang mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, sehingga tubuh mereka tampak mengeluarkan kabut tipis.

Sementara itu di pojok ruangan terlihat tubuh Tiauw Li Ing tergolek pingsan di atas bangku kecil.Otomatis Liu Yang Kun menjadi tegang dan berdebar-debar.

Apalagi ketika dilihatnya badan Lo-sin-ong yang tua itu bergetar hebat seakan-akan sedang menahan beban yang amat berat.

Liu Yang Kun menjadi bimbang.

Menolong atau tidak?

Ketika sekali lagi Liu Yang Kun melongok ke bawah, dilihatnya kakek buta itu telah menekuk kedua lututnya.

Dan wajah kakek tua itu tampak kesakitan, sementara keringatnya mengalir deras membasahi jubahnya.

Sebentar lagi kakek buta itu tentu takkan kuat bertahan lagi.

Akhirnya Liu Yang Kun tak tega menyaksikannya.

Tapi bagaimana ia harus menolongnya?

Lu Yang Kun merasa bahwa Iweekangnya tidak kuat atau lebih tinggi dari pada Bok Siang Ki biarpun di dalam pertempuran mereka kemarin ia bisa mengalahkan orang itu.

Oleh sebab itu ia tak yakin bisa berhasil membantu Lo-sin-ong apa bila ia lalu menyalurkan sinkangnya kepada kakek buta itu.

Salah-salah dia malah dapat mencelakakan orang tua tersebut bila gagal.

Tapi jalan lain tidak ada.

Memisahkan telapak-tangan mereka justru lebih berbahaya bagi Lo-sin ong.

Bok Siang Ki justru akan dapat memanfaatkan tambahan tenaga dalamnya untuk menggencet Lo-sin-ong.

"Oooouugh...!?!"

Tiba-tiba terdengar Lo-sin-ong mengeluh pendek.

Liu Yang Kun terperanjat.

Tanpa berpikir panjang lagi Liu Yang Kun segera menggempur ambrol atap yang diinjaknya.

Dan tubuh pemuda itu segera melayang turun bersama dengan serpihan atap yang dirusakkannya.

Duuug!

Liu Yang kun jatuh persis di belakang Lo-sin-ong.

Begitu menginjakkan kakinya di lantai, pemuda itu segera mengambil kesempatan selagi Bok Siang Ki merasa kaget atas kedatangannya itu dengan menghantam punggung Lo-sin-ong.

Liong-cu i-kang atau tenaga Sakti mustika naga milik Liu Yang Kun yang selama ini telah disempurnakan dan diperhebat kedahsyatannya oleh darah Ceng liong-ong itu cepat mengalir melalui tubuh Lo-sin-ong, kemudian dengan kuat membentur tenaga sakti yang keluar dari tangan Bok Siang Ki.

"Dieeeees...!"

Liu Yang Kun terpental mundur bersama dengan tubuh Lo-sin-ong.

Tapi sebaliknya tubuh Bok Siang Ki pun juga terlempar pula menabrak dinding!

Grobyag!

Dinding kamar yang terbuat dari kayu tebal itu pecah berantakan sehingga tubuh Bok Siang Ki melayang keluar dan tercebur ke dalam sungai.

"Ongya...??"

Ui-eng dan Pek-eng yang sedang mendesak Yap Kiong Lee itu tiba-tiba berteriak ketika menyaksikan tubuh ketuanya tersebut tercebur ke dalam sungai.

Lalu seperti mendapatkan komando saja mereka berdua meloncat meninggalkan Yap kiong Lee.

Keduanya turut terjun ke dalam air.

"Hei...? Kenapa? Ada apa ini?"

Hek-eng yang dari tadi tidak bisa melihat keadaan di sekelilingnya karena disibukkan oleh para pengeroyoknya itu, tiba-tiba menjadi bingung menyaksikan kedua adiknya terjun ke dalam sungai.

Apalagi ketika dilihatnya bangunan di atas geIadak, dimana majikannya tadi membawa Tiauw Li Ing telah jebol dan hampir roboh.

Namun sulit bagi tokoh Ui-soa-pai itu untuk meninggalkan para pengeroyoknya.

Selain pengeroyoknya berjumlah banyak, mereka pun memiliki ilmu yang tinggi pula.

"'Kurang ajar! Kalian memang sudah bosan hidup!"

Akhirnya ia berteriak kesal.

Tiba-tiba Hek-eng meningkatkan ilmu meringankan tubuhnya.

Tubuhnya berkelebat semakin cepat, melenting dan berputar mengelilingi pengeroyoknya.

Semakin Iama semakin cepat, sehingga di mata para pengeroyoknya tiba-tiba tubuh Hek-eng seperti berubah menjadi belasan banyaknya.

Dan setiap bagian dari bayangan itu seperti hidup dan bernyawa pula, yang di dalam gerakannya juga mampu melayani pengeroyoknya.

"Ilmu iblis! Ilmu setan...?"

Beberapa orang pengeroyoknya berdesah ngeri.

Bahkan beberapa orang diantaranya segera jatuh bergelimpangan terkena serangan bayangan-bayangan itu.

Tentu saja Yap Kiong Lee tak mau membiarkan hal itu.

Setelah bisa mengatur pernapasannya kembali, ia beranjak dari pagar perahu.

Tubuhnya meluncur ke dalam arena dan menerjang bayangan Hek-eng yang berkelebatan menguasai arena itu.

"Plaaaak! Plaaaak! Dug...!"

Yap Kiong Lee terpelanting keluar arena kembali.

Tapi sebaliknya lebih dari separuh jumlah bayangan Hek-eng itu juga hilang musnah pula.

Bahkan beberapa saat kemudian sisanya juga melenyapkan diri, sehingga akhirnya tinggal sebuah saja, yaitu tubuh Hek-eng yang asli.

Wajah tokoh Ui-soa-pai itu tampah pucat.

"Gila! Tenaga dalammu sungguh hebat sekali! Siapakah kau...?"

Tokoh Ui-soa-pai itu menggeram marah.

Tubuhnya berhenti berkelebat dan berdiri di depan Yap Kiong Lee.

Sementara itu Liu Yang Kun dan lo-sin ong yang tadi juga terpental oleh hentakan tenaga dalam Bok Siang Ki, cepat bangkit pula kembali.

Liu Yang Kun segera bersiap-siaga menghadapi Bok Siang Ki lagi.

Tapi pemuda itu cepat mengendorkan kembali ototnya ketika melihat lawannya tercebur ke dalam sungai.

"Ooough...?!?!"

Lo-sin-ong yang belum dapat berdiri tegak itu kembali terhuyung-huyung dan mau jatuh.

"Lo-Cianpwe...? Kau terluka?"

Liu Yang Kun berdesis kaget.

"Pangeran? Oh... kaukah yang menolong? Ooouh...!"

Tiba-tiba Lo-sin ong juga menjerit kaget pula begitu mendengar suara Liu Yang Kun.

Hatinya serasa terpukul.

Liu Yang Kun cepat menyambar tubuh kakek tua itu dan menolongnya duduk di tempat yang baik.

Tapi ketika pemuda itu hendak menyalurkan sinkang untuk mengobati luka dalamnya, Lo-sin-ong cepat-cepat menolak.

"Terima kasih. Pangeran, sudah tidak ada gunanya lagi. Jalan darah Boh-ki-hiat dan Koan-ki-hiat di rongga dadaku telah terputus. Sebentar lagi darah akan membanjiri paru-paruku. Aku akan mati. Tapi... tapi aku sungguh sangat berbahagia sekali... karena... karena sebelum mati dapat bertemu denganmu. Oouh... kalau tidak, aku benar-benar akan mati penasaran..."

Kakek buta itu merintih sambil mendekap dadanya. Liu Yang Kun tertegun. Matanya menatap kakek buta itu dengan bingung serta penuh tanda tanya.

"A-apa maksud Lo-Cianpwe...?"

Pemuda itu berbisik.

"Pangeran... Kau benar-benar pemuda yang baik. Tidak selayaknya bila aku sampai berbuat jahat terhadapmu. Aku sungguh sungguh berdosa besar, hanya karena kasihan serta untuk memanjakan muridku, aku telah sampai hati mencelakakanmu.Ouugh... hukk... hukk!"

Lo-sin-ong terbatuk-batuk seperti seorang yang sedang menahan sakit. Liu Yang Kun cepat mencengkeram pundak kakek buta itu.

"Lo-Cianpwe, kau... kau...? Apa yang kau katakan? Aku tak mengerti."

Lo-sin-ong menengadahkan kepalanya.

Matanya yang kosong itu seolah-olah hendak memandang wajah Liu Yang Kun.

Tapi karena bola matanya tidak ada maka lobang itu tampak mengerikan sekali.Tapi Liu Yang Kun sama sekali tak mempedulikan hal itu.

Pemuda itu lebih tertarik pada ucapan yang baru keluar dari mulut kakek itu.

"Lo-Cianpwe! Lo-Cianpwe...! Tampaknya kau menyimpan sebuah rahasia yang hendak kau katakan kepadaku..."

Desak pemuda itu kemudian dengan hati berdebar-debar. Tangan kakek buta itu cepat mencengkeram tangan Liu Yang Kun. Kemudian dengan suara terputus-putus ia bertanya.

"Pangeran? Apakah Pangeran tahu dimana... dimana... isterimu eh, anu... anu... Tiauw Li Ing disembunyikan oleh Bok Siang Ki?"

"Dia... dia berbaring di bangku kecil di pojok ruangan. Ada apa...? Apakah Lo-Cianpwe menginginkan aku untuk membawanya kemari? Dia tampaknya terluka atau pingsan..."

Lo-sin-ong tampak bernapas lega.

"Gadis sengsara... Ah!"

Lo-sin-ong berdesah sedih. Kemudian ujarnya kepada Liu Yang Kun.

"Pangeran, gadis itu tidak bersalah sama sekali. Jangan kau benci atau kau sia-siakan dia. Akulah yang bersalah dan berdosa besar terhadapmu."

Liu Yang Kun semakin tegang dan tidak sabar.

"Lo-Cianpwe! Apa yang hendak kau katakan? cepatlah!"

Namun dengan suara yang semakin lemah dan gemetar seperti lampu kehabisan minyak, Lo-sin-ong memohon.

"Tapi... tapi... maukah Pangeran berjanji... untuk tidak menyakiti atau menyia-nyiakan Tiauw Li Ing?"

Liu Yang Kun yang semakin tidak sabar itu tiba-tiba terdiam.

Matanya yang tajam bagai pisau sembilu itu menatap kakek buta itu dengan ragu.

Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar yang disembunyikan kakek itu.

Sementara itu wajah Lo-sin-ong tampak semakin membiru.

Daya tahannya makin habis.

Beberapa kali kakek buta itu menahan batuk, agar darah segar yang mulai mengisi paru-parunya tidak melonjak ke atas menutupi tenggorokannya.

Liu Yang Kun tak ingin kehilangan waktu lagi.

la harus berterus terang kepada orang-tua itu, supaya semuanya menjadi jelas.

Siapa tahu kakek buta itu tahu asal-usul dan sejarah hidupnya sehingga ia menderita penyakit 'lupa ingatan"

Ini.

"Lo-Cianpwe, mengapa kau berkata demikian. Kalau Tiauw Li Ing itu memang benar-benar isteriku, aku tentu tidak akan menyia-nyiakannya. Biarpun... biarpun... sebenarnya aku merasa sangsi apakah dia benar-benar isteriku. Aku seperti... seperti tidak mempunyai perasaan mesra atau dekat dengan dia. Bahkan di dalam hatiku, aku... aku seperti tidak... tidak menyukainya. Ah, maafkan aku. Lo-Cianpwe,"

Akhirnya Liu Yang Kun berterus terang, wajah yang membiru itu semakin pias dan gemetar.

Walau sudah menduga, namun apa yang dikatakan oleh Liu Yang Kun itu benar-benar sangat memukul hatinya.

Kakek itu semakin merasa sedih atas nasib yang menimpa muridnya.

"Huuk! Huuk! Oouugh...!"

Lo-sin-ong tak bisa menahan batuknya lagi dan darah segar-pun segera membanjir keluar dari mulutnya.

"Lo-Cianpwe! Lo-Cianpwe!"

Liu Yang Kun berseru kaget.

Dengan tangkas Liu Yang Kun menotok dan mengurut beberapa jalan darah di dada dan di leher Lo-sin-ong, sehingga darah yang berdesakan di tenggorokan kakek buta itu surut kembali, dan Lo-sin-ong pun dapat bernapas pula lagi, meski tersengal-sengal.

"Lo-Cianpwe! Lo-Cianpwe...!"

Kemudian pemuda itu mencoba menyadarkannya.

"Oough, Pangeran...? Maaf... maafkanlah aku. A-a-akulah... yang sebenarnya... membuatmu kehilangan ingatan... Aku... aku merasa kasihan... kepada Tiauw Li Ing. Dia... dia... sangat ingin menjadi isterimu, sehingga... sehingga aku terpaksa... terpaksa mencelakaimu. Aku telah menanamkan beberapa buah jarum... di...di kepalamu, agar... agar kau... kehilangan ingatanmu...! Oooooooouuugh...!!"

Tiba-tiba mulut kakek buta itu kembali menyemburkan darah segar.

Kali ini benar-benar sangat banyak, sehingga kakek itu tidak bisa bernapas lagi.

Apa yang diucapkan oleh Lo-sin-ong itu benar-benar mengejutkan Liu Yang Kun.

Begitu kagetnya Liu Yang Kun sehingga pemuda itu tidak bereaksi apa-apa tatkala darah kakek buta itu menyemprot dada serta membasahi pakaiannya.

Bahkan pemuda itu seperti tak peduli pula ketika kakek buta itu melepaskan nyawanya.

Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam hati Liu Yang Kun.

Perasaan kecewa, marah dan penasaran.

Tapi di lain pihak pemuda itu juga merasa bingung pula, kepada siapa atau bagaimana dia harus menumpahkan segala kekecewaan dan kekesalannya itu.

Orang yang telah membuatnya sengsara, yang telah mencelakakan dirinya kini telah mati.

Bahkan di dalam lubuk hatinya pemuda itu seperti tidak dapat menyalahkan perbuatan orang tua itu.

Kakek buta itu berbuat demikian karena terdorong oleh keinginannya untuk membahagiakan muridnya.

"Kelihatannya memang akulah yang bernasib buruk, harus menjadi korban dari maksud baik orang tua itu..."

Akhirnya Liu Yang Kun menyesali nasibnya.

Kemudian dipandanglah oleh pemuda itu mayat Lo-sin-ong yang tergolek di depannya.

Wajah yang dingin pucat itu seolah-olah tidak menampilkan perasaan bersalah kepadanya.

Bahkan mata dan mulut yang kosong itu seakan-akan masih tetap menuntut kepadanya, agar dia tetap menjadi suami Tiauw Li Ing.

Liu Yang Kun bangkit berdiri sambil menghela napas panjang.

Kesepuluh jari tangannya meraba-raba kulit kepalanya.

Dia mencoba untuk mencari jarum-jarum yang ditanamkan oleh Lo-sin-ong itu.

"Sulit sekali. Bagaimana aku harus mencarinya? Kepalaku seperti biasa-biasa saja. Semua terasa wajar, seperti tidak ada kelainan apa-apa. Sakitpun juga tidak. Hemm.."

Liu Yang Kun berdesah kesal karena tak bisa mendapati jarum-jarum itu.

Sekali lagi Liu Yang Kun menarik napas panjang.

Air mukanya tampak semakin kesal.

Apalagi ketika terpandang oleh matanya tubuh Tiauw Li Ing yang tergolek di pojok ruangan.

Oleh karena itu dengan cepat pandangannya beralih ke tempat lain, yaitu ke dinding kayu dimana Bok Siang Ki tadi terlempar keluar.

Dari lobang kayu yang jebol itu Liu Yang Kun dapat menyaksikan pertempuran Yap Kiong Lee melawan Hek-eng, tokoh tertua dari Sam-eng atau Tiga Garuda itu.

Bahkan Liu Yang Kun juga bisa melihat Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai pula.

Pendekar sakti itu sudah bergeser pula ke arena pertempuran tersebut dan berdiri di tepi arena.

"Ah! Tampaknya nasibku masih tetap bergantung kepada pendekar itu atau kepada isterinya..."

Di lain pihak Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai seperti merasa pula diperhatikan oleh Liu Yang Kun. Tiba-tiba kepalanya menoleh dan menatap ke arah lobang tersebut.

"Pangeran...?"

Pendekar sakti itu berdesis perlahan, lalu melangkah menghampiri Liu Yang Kun.

Pendekar sakti itu tampak meningkatkan kewaspadaannya sebelum masuk ke dalam lobang dinding tersebut.

Dan dahinya segera berkerut ketika menyaksikan pemandangan di dalam ruangan sempit itu.

Apalagi ketika terpandang oleh matanya mayat Lo-sin-ong!

"Eh?

Apakah yang telah terjadi di ruangan ini?

Pangeran tidak apa-apa, bukan?"

Pendekar itu bertanya kaget.

"Ternyata Bok Siang Ki lah yang menculik gadis itu. Dan gadis yang menjadi korbannya itu kebetulan adalah murid dari LoCianpwe ini, sehingga mereka lalu berkelahi. Lo-Cianpwe ini dibantu oleh orang-orang kang-ouw yang kebetulan berada di tempat penyeberangan ini. Tapi karena lawan mereka adalah Bok Siang Ki, maka mereka kalah. Untunglah kita segera datang menolong. Meskipun demikian orang tua ini sudah terlanjur dilukai oleh Bok Siang Ki dengan sangat parahnya. Saya tidak bisa menolong jiwanya..."

Liu Yang Kun mencoba menerangkan kepada Souw Thian Hai tentang apa yang kira-kira telah terjadi di tempat itu. (Lanjut ke

Jilid 36) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 36

"Lalu... Kemanakah Bok Siang Ki sekarang? Apakah..."

"Dia terlempar keluar menerobos dinding kayu itu."

"Jadi... Pangeran telah melemparkan dia ke dalam sungai? Ah... tak kusangka sama sekali, Aku memang melihatnya. Tapi aku tak menduga kalau dia yang terlempar itu,"

Ujar Souw Thian Hai kagum.

Souw Thian Hai memandang Liu Yang Kun lekat-lekat.

Ia benar-benar sangat kagum pada Pangeran itu.

Tapi tiba-tiba hatinya menjadi heran ketika menyaksikan kemurungan di wajah Pangeran yang masih muda itu.

Pangeran itu seperti sedang merasa kesal dan tidak gembira atas kemenangannya.

"Pangeran...? Ada sesuatu yang kaupikirkan?"

Souw Thian Hai mendesak. Liu Yang Kun tersentak kaget dari lamunannya.

"Eh-Oh! Benar, Souw Taihiap. Aku sedang memikirkan penyakitku. Aku telah menemukan penyebabnya. Ternyata kakek buta inilah yang telah membuatku menderita penyakit "lupa ingatan"..."

"Hei? Lo-sin-ong...? Apa yang telah diperbuat oleh orang tua ini kepada Pangeran?"

Souw Thian Hai berseru kaget pula.

"Dia telah mengakui sendiri perbuatannya sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir. Katanya dia telah menanamkan beberapa batang jarum kecil ke dalam kepalaku."

Liu Yang Kun menjawab.

Kemudian juga diceritakannya pula kenapa orang tua tersebut berlaku demikian.

Souw Thian Hai tertegun.

Wajahnya menjadi tegang luar biasa.

Ingatannya segera melayang pada peristiwa yang menimpa dirinya sendiri pula beberapa tahun berselang.

Waktu itu dirinya juga mengalami nasib yang sama pula dengan yang dialami oleh pemuda itu.

Dia juga menderita penyakit "lupa ingatan"

Seperti itu.

Bedanya dia dahulu menjadi lupa-diri disebabkan oleh adanya benjolan daging yang menekan syaraf dan jalan darah di kepalanya, sedangkan Liu Yang Kun disebabkan oleh tusukan jarum yang ditanamkan pada urat-urat penting di kulit kepalanya.

"Pangeran...! Kukira aku tahu dimana jarum-jarum itu ditanam. Aku dulu juga menderita penyakit "lupa ingatan"

Pula. Kukira urat syaraf atau jalan darah yang terganggu di kepalamu tidak jauh berbeda dengan aku dahulu. Marilah kubantu mencarinya..."

Souw Thian Hai kemudian mencoba menawarkan bantuannya.Liu Yang Kun tertegun. Tapi hatinya menjadi gembira. Harapannya timbul.

"Souw Taihiap juga pernah menderita penyakit seperti aku pula?"

Liu Yang Kun pura-pura kaget.

"Ah! Kalau begitu... kalau begitu Souw Taihiap tentu bisa menolong aku. Silahkan...!"

Dengan cepat Liu Yang Kun lalu bersila di lantai perahu.

"Souw Taihiap. silahkan...!"

Katanya pasrah.

"Maaf, Pangeran. Aku akan mencobanya melihatnya. Siapa tahu aku bisa menolong Pangeran sekarang? Namun demikian apabila aku tak sanggup Pangeran jangan marah kepadaku. Aku Hanya mencoba..."

Souw Thian Hai merendahkan diri.

"Ah, Souw Taihiap tak perlu berkata demikian. Souw Taihiap dapat mencobanya. Semakin cepat aku sembuh dari penyakitku ini akan semakin baik bagiku. Tapi kalaupun Souw Taihiap tak sanggup menemukan jarum-jarum itu juga tak apa-apa. Kita bisa meminta tolong kepada Souw Hujin nanti..."

"Baiklah, Pangeran. Maaf..."

Souw Thian Hai lalu membungkuk di belakang Liu Yang Kun.

"Pangeran jangan melawan bila kutotok nanti! Kendorkan seluruh urat-urat di kepala! Jangan mengerahkan tenaga! Aku ingin menyelidiki, apakah jarum-jarum tersebut betul-betul ditanam di tempat yang sama dengan gangguan yang ada padaku dahulu..."

Kemudian pendekar sakti itu juga duduk bersila pula dibelakang Liu Yang Kun.

Ia bersemadi sebentar untuk mengerahkan sinkangnya.

Setelah itu dengan hati-hati ia meraba pelipis Liu Yang Kun.

Persis dimana dia dahulu mengalami gangguan jari telunjuknya menotok.

Perlahan saja.

Hanya ingin mengetahui apakah dugaannya benar.

"Aaaah!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun menjerit kaget dan tiba-tiba saja tubuh pemuda itu terhuyung ke samping seperti akan roboh.Memang, pemuda itu sendiri merasakan kesadarannya seperti hilang dalam sekejap tadi.

Totokan dari Souw Thian Hai yang sebenarnya amat sangat perlahan itu ternyata telah membuatnya hampir pingsan.

Namun hal ini justru amat menggembirakan hati Souw Thian Hai.

Pendekar itu hampir bersorak saking gembiranya.

"Bagus, Pangeran! Dugaan saya ternyata benar!"

"Tapi... tapi aku hampir pingsan tadi. Sakit benar rasanya."

Liu Yang Kun mengeluh. Namun suaranya juga terdengar gembira pula.

"Nah, kalau begitu saya akan mencoba menyedotnya keluar. Sekali lagi kuharapkan agar Pangeran tidak melawan bila aku mengerahkan tenaga nanti. Lemaskan saja seluruh urat-urat Pangeran."

"Silahkan, Taihiap."

Demikianlah ternyata apa yang diduga oleh Souw Thian Hai itu memang benar.

Jarum-jarum itu benar-benar ditanam persis di bagian-bagian dimana Souw Thian Hai dulu mengalami gangguan.

Sehingga ketika pendekar sakti itu menyedotnya dengan tenaga saktinya, maka ujung jarum tersebut segera tersembul keluar pula.

Namun untuk mencabut jarum-jarum tersebut, Souw Thian Hai harus benar-benar berhati-hati.

Salah sedikit saja akibatnya akan sangat besar terhadap jiwa Liu Yang Kun.

Dimisalkan sebuah saluran air, urat darah dimana jarum itu ditanam telah mengering akibat tersumbat oleh jarum tersebut.

Oleh karena itu setiap kali jarum-jarum itu diambil, maka saluran-saluran yang telah lama mengering itu akan dibanjiri lagi dengan darah.

Dan hal ini benar-benar sangat menyakitkan bagi Liu Yang Kun!

Aliran darah yang membasahi urat-urat kering itu terasa sangat pedih.

Bahkan juga menggetarkan syaraf-syaraf yang dilaluinya.

Sehingga setiap kali pula tubuh pemuda itu tampak bergetar dengan hebat seperti terserang oleh demam yang amat parah.

"Aaaaaaaan-uuuuuuh...!"

Setiap kali pula pemuda itu berdesis dan menyeringai menahan sakit dan nyeri yang menyerangnya.

Tapi di lain pihak sejalan dengan diambilnya jarum-jarum tersebut dari kepalanya, maka sedikit demi sedikit daya ingat Liu Yang Kun pun juga pulih pula seperti sedia-kala.

Meskipun ingatan yang kembali tersebut juga masih terasa samar-samar pula.

Sementara itu di luar kamar, pertempuran antara Yap Kiong Lee melawan Hek-eng juga telah sampai ke puncaknya pula.

Yap Kiong Lee benar-benar telah mengamuk dengan Hong-Lui-Kun-hoatnya sehingga di atas geladak perahu yang tak begitu luas tersebut seperti bertiup angin puting-beliung yang maha dahsyat.

Bahkan diantara ributnya badai yang menerjang tubuh Hek-eng, sesekali juga terdengar pula suara ledakan-ledakan kecil dari telapak tangan Yap Kiong Lee.

Walaupun Hek-eng juga telah melawannya dengan ilmu andalan Ui-soa-pai yang berbau sihir itu, tetapi karena ilmu tersebut memang belum sempurna ia pelajari maka pengaruhnyapun juga belum sehebat yang dimiliki Bok Siang Ki, ketuanya.

Bahkan kalau diperbandingkan, ilmu andalan Ui-soa-pai yang dikeluarkan oleh Hek-eng tersebut masih belum mencapai sepertiga dari yang dimiliki Bok Siang Ki.

Oleh karena itu sungguh tidak mengherankan bila akhirnya dia terdesak oleh ilmu pukulan Petir dan Badai Yap Kiong Lee.

Dheees!

Dheeek!

"Ouuuugh...!"

Dua buah pukulan Yap Kiong Lee tidak bisa dielakkan oleh Hek-eng.

Pukulan itu menyambar paha dan lengan kirinya, seperti kilatan petir yang meledak, persis di kedua tempat tersebut.

Hek-eng menjerit kesakitan dan tubuhnya terdorong mundur dua langkah.

Tapi Yap Kiong Lee tak mau melepaskannya lagi.

Sekali lagi telapak tangannya mendorong ke depan.

"Wuuuus!"

Sebuah letupan kecil kembali menyambar tubuh Hek-eng. Kali ini terarah ke bagian dada.

"Ah...!"

Hek-eng berdesah seraya melompat ke kiri untuk mengelakkannya.

Tapi bukan main kagetnya dia!

Tangan Yap Kiong Lee yang masih bebas itu tiba-tiba juga melepaskan pukulan pula untuk mencegat gerakannya!

Suaranya menderu bagaikan suara angin ribut!

"Whuuuus!

Dhiesssssss!"

Sekali lagi Hek-eng tak kuasa mengelakkannya.

Bahkan sekarang betul-betul teIah mengenai tubuhnya, sehingga tubuhnya yang tegap itu sampai terlempar menghantam pagar perahu.

Demikian kerasnya sehingga pagar perahu itu berderak patah dan roboh ke dalam air bersama-sama dengan tubuhnya.

Yap Kiong Lee bernapas lega.

Begitu pula dengan tokoh-tokoh persilatan yang tadi mengeroyok Tiga Garuda atau Sam-eng itu.

"Terima kasih. Yap Taihiap...!"

Orang-orang itu menyatakan rasa terima kasihnya.

Pendekar dari istana itu mengangguk, kemudian bergegas mencari kedua orang temannya.

Tapi belum juga lima langkah ia terjalan, tiba-tiba telinganya mendengar suara kecipak air yang amat keras.

Dan tiba-tiba pula matanya melihat berkelebatnya beberapa sosok bayangan melenting ke atas perahu tersebut.

Yap Kiong Lee terbelalak.

Wajahnya menjadi pucat.

Hatinya berdebar-debar.

Beberapa sosok bayangan itu kini berdiri tegak di depannya.

Dan Yap Kiong Lee tidak akan lupa pada wajah-wajah itu.

Bok Siang Ki dan ketiga orang pengikutnya, Sam-eng!

Meskipun salah seorang dari ketiga pengikut Bok Siang Ki tersebut yaitu si Garuda Hitam, tampak pucat dan kesakitan akibat luka-lukanya.

"Hek-eng! Kau kalah melawan orang ini?"

Dengan suara dalam Bok Siang Ki bertanya kepada Hek-eng. Hek-eng tampak menahan geram dan malu. Namun demikian sambil meringis ia menjawab pertanyaan majikannya itu.

"Benar, Ongya. Orang inilah yang telah melukai hamba. Kepandaiannya sangat tinggi..."

"Huh!"

Bok Siang Ki mendengus melalui hidungnya, seolah dia tak memandang sebelah mata kepada kepandaian Yap Kiong Lee.

"Kalau begitu biar kedua saudaramu saja yang melawannya. Kau menjaga disini kalau-kalau ada lagi orang-orang yang hendak membantu dia!"

"Ba-baik, Ongya. Tapi... tapi Ongya sendiri hendak kemana?"

"Aku hendak melanjutkan pertempuranku sendiri yang terputus tadi...,"

Lalu tanpa mempedulikan pandangan orang terhadap dirinya, Bok Siang Ki berjalan ke kamar perahu dimana Souw Thian Hai sedang mengobati Liu Yang Kun.

Kedua belah telapak tangannya terkepal erat siap untuk melontarkan serangan.

Tapi langkahnya segera tertegun diambang pintu kamar itu.

Kedua buah matanya yang mencorong tajam itu menatap seorang lelaki gagah tinggi besar yang berdiri tegar menghadapinya.

Dari sepasang mata lelaki tinggi besar itu juga keluar sinar tajam dan berwibawa pula.

Tidak kalah dengan dirinya.

Bok Siang Ki menarik napas pendek.

Matanya segera beralih ke segala penjuru kamar itu.

Tapi orang yang dicarinya tidak ada.

Ia memang melihat mayat Lo-sin-ong.

Tetapi dia tak melihat pemuda yang tadi telah melemparkan dirinya ke dalam sungai.

"Kau siapa? Dan... dimanakah pemuda yang ada di sini tadi?"

Akhirnya Bok Siang Ki bertanya dengan suara dingin.

Lelaki tinggi besar yang tiada lain adalah Souw Thian Hai itu mendengus pula dengan tidak kalah dinginnya.

Meskipun demikian pendekar sakti itu juga semakin meningkatkan kesiap-siagaannya pula, karena ia tahu bahwa yang dihadapinya adalah Bok Siang Ki, jago silat nomer dua di dunia.

"Tidak ada siapa siapa di sini. Yang kuketahui hanyalah mayat kakek-buta itu. Lo-Cianpwe, kau Bok Siang Ki, bukan?"

Souw Thian Hal menjawab kaku. Bok Siang Ki tertawa dingin.

"Hmm... ternyata kau telah mengenalku. Dan kelihatannya kau tidak merasa gentar menghadapi aku. Kau tampak sangat percaya pada kemampuanmu. Huh, kalau tak salah, melihat dandanan dan perawakanmu... kau tentu Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang disohorkan orang itu. Benarkah...?"

"Tak salah. Aku yang rendah dan bodoh ini memang Souw Thian Hai. Walaupun kepandaianku tidak setinggi kepandaianmu namun aku takkan membiarkan kau berbuat seenakmu sendiri terhadap gadis itu."

Souw Thian hai kemudian menjawab pula sambiI melirik ke arah Tiauw Li Ing yang masih tetap terbaring di tempatnya.

Tiba-tiba Bok Siang Ki menggeretakkan giginya.

Karena Liu Yang Kun tidak ada maka kemarahannya beralih kepada Souw Thian Hai.

"Huh... kau tahu apa tentang gadis itu? Aku justru yang menyelamatkan dia dari cengkeraman murid-murid Giok-bin Tok-ong itu! Kini datang-datang kau malah menuduhku yang tidak-tidak! Huh! Kau anggap apa aku ini? Bangsat!"

Teriaknya lantang. Souw Thian Hai tersenyum dingin. Dengan nada mengejek ia menyahut.

"Ternyata kau juga pandai bersilat lidah pula. Kalau kau memang mau menyelamatkan gadis itu, mengapa kau kemudian justru membunuh gurunya?"

Wajah Bok Siang Ki menjadi merah padam.

"Tutup mulutmu...!"

Bentaknya.

Kemudian tanpa memberi peringatan lagi kakinya menerjang ke arah perut Souw Thian Hai.

Demikian cepat dan hebat tenaganya, sehingga hembusan anginnya saja sampai menggetarkan dinding kamar itu.

Souw Thian Hai terperanjat.

Walaupun sudah bersiap-siaga, namun serangan Bok Siang Ki yang dahsyat tersebut tetap saja mengejutkannya.

Belum juga serangan itu menyentuh tubuhnya, tiupan anginnya sudah lebih dulu menyambar dan menyakiti kulitnya.

Bahkan kulit tersebut seolah-olah hampir terkelupas dari dagingnya.

Dengan hati berdebar-debar Souw Thian Hai mengelak.

Pendekar sakti itu benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan ginkangnya, namun demikian hampir saja gerakannya itu terlambat.

Kaki Bok Siang Ki itu tetap saja menyerempet mantel pusakanya.

"Bheek!"

Mantel pusaka itu tersibak. Tapi berbareng dengan itu Bok Siang Ki pun juga tertegun pula, sehingga serangan berikutnya menjadi tertunda.

"Gila! Rupanya mantelmu itu sangat istimewa. Hampir saja tenagaku membalik ketika mengenainya tadi."

Pemimpin Ui-soa-pai itu menggeram kaget.

Souw Thian Hai tidak menjawab.

Dengan tenang kakinya melangkah keluar dari dalam ruangan itu, seolah-olah ia mau mencari tempat yang lebih lapang untuk arena mereka.

Di atas geladak perahu tidak jauh dari pertempuran Yap Kiong Lee melawan anak buah Bok Siang Ki, kakinya berhenti.

Dan Bok Siang Ki pun mengikutinya pula.

"Di sini lebih lapang, sehingga aku bisa leluasa membuktikan, apakah kau benar-benar nomer dua di dunia Ini..."

Souw Thian hai menantang. Tak terduga Bok Siang Ki tertawa. Tokoh puncak Ui-soa-pai itu seakan-akan telah melupakan kemarahannya.

"Ketahuilah...! Yang membuat urut-urutan itu adalah saya. Semula hal itu kumaksudkan untuk mengail di air keruh. Agar dunia persilatan menjadi ribut. Sehingga Bun-hoat Sian-seng mau keluar dari persembunyiannya. Dan kemudian aku bisa mengakali Buku Rahasianya yang asli. heh heh-heh..., Tetapi biarpun begitu, dalam menyusun urut-urutan tersebut aku juga tidak asal menulis pula. Aku telah menyebarkan orang-orangku untuk menyelidikinya. Termasuk kau juga. Heh-heh-heh...Dan kau memang berada di urutan yang kelima."

Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Namun demikian sesaat kemudian ia telah tidak mempedulikan kata-kata Bok Siang Ki lagi.

"Aku tidak peduli apakah aku nomer lima atau nomer se ratus. Yang jelas aku sekarang hendak membuktikan apakah kau bisa mengalahkan aku atau tidak, Nah... lihat pukulan!"

Souw Thian Hai menyadari bahwa lawannya memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Mungkin setingkat atau dua tingkat di atasnya.

Oleh karena itu ia tak ingin mengulur-ulur waktu lagi.

Begitu bergerak la telah mengeluarkan segala kemampuannya.Dalam sekejap saja kulit tubuhnya telah berubah.

Bagian sebelah kiri berwarna kemerahan, sedangkan bagian sebelah kanan berwarna putih pucat, sehingga wajahnya yang gagah tampan itu tampak aneh dan mengerikan.

Bok Siang Ki menjadi kaget juga melihatnya.

Selama ini dia memang baru mendengar saja dari penuturan orang bahwa ilmu kepandaian Keluarga Souw sangat hebat dan aneh.

Bahkan menurut khabar burung ilmu kepandaian keluarga tersebut masih satu Sumber dengan ilmu kepandaian Bun-hoat Sian-eng.

Kini setelah berhadapan sendiri dengan ilmu silat Souw Thian hai, Bok Siang Ki benar-benar sependapat dengan khabar tersebut.

Ilmu silat yang dikeluarkan oleh Souw Thian Hai memang mirip bahkan boleh dikatakan sama dengan ilmu silat Bun-hoat Sian-seng.

Kalaupun ada sedikit perbedaan, perbedaan itu tidaklah banyak.

Mungkin hanya soal kematangan dan tingkat kesempurnaannya saja.

Semakin lama pertempuran itu berlangsung, Bok Siang Ki semakin banyak melihat kemiripan maupun kesamaan ilmu silat Souw Thian Hai dengan Bun-hoat Sian-seng.

Keduanya sama-sama mempergunakan dua macam tenaga yang satu sama lain diungkapkan secara terpisah.

Bagian anggauta tubuh sebelah kiri mempergunakan dasar tenaga yang bersifat panas.

Gerakan-gerakan yang dikeluarkan oleh Souw Thian Hai ketika menyerangpun juga mirip pula dengan gerakan-gerakan Bun-hoat Sian-seng.

Lontaran lontaran angin tajam yang melesat dari ujung-ujung jari Souw Thian Hai persis dengan sambaran sambaran angin tajam yang keluar dari telapak tangan Bun-hoat Sian-seng.

Keduanya sama-sama bisa merusak atau melukai benda-benda yang dilewatinya, bagaikan tajamnya mata-pedang siluman yang menyambar tanpa terlihat ujudnya.

Untunglah dengan ginkangnya yang tiada bandingnya itu Bok Siang Ki bisa mengelak kesana-kemari.

Tubuhnya berkelebatan dan melayang-layang seperti bayangan hantu yang berputaran di atas geladak itu.

Sehingga akhirnya yang menjadi korban adalah benda-benda disekitarnya.

Setiap kali ia menghindar, maka peralatan perahu yang ada di belakangnya secara berderak patah atau berlubang terlanggar sambaran angin tajam itu.

"Gila! Ilmu silatmu itu benar-benar mirip dengan ilmu silat Bun-hoat Sian-seng! Hmmh! Apakah kau mempunyai hubungan keluarga atau hubungan perguruan dengan orang-tua itu?"

"Aku belum pernah mengenal ataupun bertemu dengan Bun-hoat Sian-seng. Apabila ilmu silatku ini kau anggap mirip dengan ilmu silatnya, kukira hal itu cuma kebetulan saja. Yang jelas kita tak perlu mempersoalkannya. Marilah kita selesaikan dulu pertempuran kita ini!"

"Kurang ajar! Kau kira kau dapat mengalahkan aku, heh? Jangan sombong! Lihatlah ilmuku yang sebenarnya!"

Bok Siang Ki tiba-tiba menggertak marah, dan mendadak pula gerakannya berubah.

Kedua kaki Bok Siang Ki bergerak semakin cepat.

Demikian cepatnya sehingga kedua kaki itu hampir tidak pernah menyentuh lantai.

Tapi sebaliknya, kedua buah lengan Bok Siang Ki justru bergerak semakin lambat malah, lambat namun penuh tenaga.

Dan tenaga yang tersebar dari telapak tangan tersebut seakan-akan selalu bertambah tiada habisnya, sehingga udara di dalam arena itu lambat-laun bertambah sesak dan padat.

Souw Thian Hai terkejut.

Paru-parunya terasa semakin berat untuk mengambil napas.

Bahkan beberapa saat kemudian dia juga semakin sulit menggerakkan anggauta tubuhnya.

Udara yang padat itu bagaikan kolam lumpur yang menyulitkan gerakannya.Otomatis Souw Thian Hai harus mengerahkan sebagian tenaga saktinya untuk melawan serangan udara padat itu.

Sehingga dengan demikian ia tak bisa lagi mencurahkan seluruh kemampuannya untuk melepaskan angin-angin tajam itu.

Namun demikian setiap kali ia bisa meloloskan diri dari himpitan udara padat itu, tangannya segera melepaskan serangan angin tajamnya.

Akan tetapi karena terlalu sering membagi tenaga, maka daya tahan Souw Thian Hai pun juga cepat sekali surut.

Bahkan kelincahan tubuhnya pun akhirnya juga menjadi berkurang pula.

Akibatnya serangan-serangan angin tajam yang dilepaskannyapun juga semakin jarang pula.

Dan akhirnya pendekar sakti itu cuma bisa bertahan saja dari serangan lawannya.

Demikianlah, tiga puluh jurus telah berlalu.

Souw Thian Hai semakin repot menghadapi desakan Bok Siang Ki.

Ilmunya yang selama ini hampir tidak pernah memperoleh tandingan, kini ternyata menjadi seperti tidak berguna melawan ilmu s ilat Bok Siang Ki.

Selain kalah dalam segala-galanya, baik lweekang maupun ginkangnya, ternyata ia juga kalah pula dalam pengalaman.

Pemimpin perguruan Ui-soa-pai itu seakan-akan selalu bisa meramal dan menduga apa yang hendak ia lakukan.

Maka sungguh tidak mengherankan bila beberapa waktu kemudian pendekar sakti itu benar-benar jatuh dalam kesulitan.

Beruntunglah pendekar sakti itu karena ia mengenakan mantel pusaka sebagai perisai, sehingga pukulan ataupun tendangan lawan yang lolos dari pengamatannya dapat tertahan oleh kekuatan mantel pusaka tersebut.

"Huh, kau benar-benar beruntung mengenakan mantel itu. Tampaknya mantel itu memang sebuah mantel pusaka. Eh..., apakah mantel itu mantel kepunyaan mendiang Bit-bo-ong dulu?"

Souw Thian Hai tidak menjawab.

Pendekar sakti itu sedang mencari kesempatan untuk menjebak lawannya.

Diam-diam tangannya telah mempersiapkan belati panjang warisan Bit-bo-ong.

Di dalam kerepotannya pendekar sakti itu hendak mencoba mengecoh Bok Siang Ki.

"Hei? Apa kau tuli? Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa kau ingin dipukul dulu baru mau menjawab? Huh, baiklah! Lihat pukulan!"

Bok Siang Ki berteriak marah.

Tangannya yang penuh tenaga itu tiba-tiba menyambar ke wajah Souw Thian Hai.

Souw Thian Hai cepat menggeliat ke belakang.

Tapi berbareng dengan itu tangannya yang memegang belati tiba-tiba juga menyambar ke depan.

Cepat bukan main!

Dan disertai hentakan tenaga dalam sepenuhnya pula!

Bok Siang Ki terkejut setengah mati!

Namun demikian ketangkasan dan kelincahannya ternyata benar-benar telah mencapai kesempurnaannya.

Bagai kilat tubuhnya bergeser ke samping.

Tangannya yang terulur ke depan itu ditarik pula dengan cepatnya.

Satu setengah kali lebih cepat dari pada gerakan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

Benar-benar suatu kelincahan dan kegesitan yang tiada duanya di dunia.

Namun demikian ketua perguruan Ui-soa-pai itu tiba-tiba menjerit!

"Kurang ajar!

Kau telah melukai aku!

Kau licik!

Kau membokong aku...!"

Ketua Ui-soa-pai itu mengumpat-umpat.

Tangan kanannya memegang dua buah jari kirinya yang terputus separuh.

Untuk beberapa saat lamanya Souw Thian Hai tertegun diam memandang lawannya.

Di dalam waktu yang hanya sekejap tadi ternyata telah terjadi hal-hal yang amat mengejutkan.

Sangat mengejutkan namun juga menimbulkan perasaan amat kagum pula.Ternyata di dalam keadaan yang amat sulit dan tak berdaya tadi, yang bagi orang lain tentu tak mungkin bisa berbuat apa-apa lagi, Bok Siang Ki masih dapat menghindar dari tikaman pisau itu.

Sehingga di samping perasaan kaget Souw Thian Hai diam-diam juga merasa kagum pula atas kesaktian lawannya.

Meskipun perasaan kagum tersebut juga dibarengi dengan perasaan kecewa pula.

Tapi rasa kecewa itu segera berganti dengan rasa gembira pula ketika ternyata Souw Thian Hai menyaksikan lawannya tidak sepenuhnya dapat menghindari serangan pisaunya.

Ketua Ui-soa-pai itu putus dua buah jari tangannya terkena sambaran angin tajam yang terpancar dari mata pisaunya.

Mata pisau itu memang tidak bisa menjangkau tubuh Bok Siang Ki.

Tapi ilmu Tai-lek Pek-khong-ciang yang tersalur pada pisau itu ternyata telah memancar keluar mengenai jari tangan ketua Ui-soa-pai tersebut.

Dan jari tangan itu terbabat putus bagaikan diiris oleh pisau tajam.

Tentu saja keadaan itu benar-benar sangat menggembirakan hati dan menimbulkan harapan di hati Souw Thian Hai.

Dan sekaligus juga telah membukakan hatinya pula.

Ternyata Tai-lek Pek-khong-ciangnya tidak hanya bisa tersalur melalui ujung jarinya saja, tetapi juga bisa disalurkan melalui senjatanya.

Dengan Tai-lek Pek-khong-ciangnya ternyata ketajaman pisau itu dapat menjangkau jarak yang lebih jauh lagi.

Lebih panjang dan pada ukuran pisau itu sendiri.

"Kau licik! Kau membokong aku!"

Sekali lagi Bok Siang Ki mengumpat.

Souw Thian Hai tertawa, meskipun hatinya tetap tegang dan gelisah.

Pendekar sakti itu menyadari bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dengan ketua Ui-soa-pai tersebut.

Jadi semakin hebat lawannya itu marah, maka akan semakin hebat pula sepak terjangnya.

Dan hal itu berarti dirinya semakin berada dalam bahaya pula.

"Siapa yang membokong? Apakah aku tidak boleh mempergunakan senjata untuk mempertahankan diri? Apakah aku harus menyerahkan nyawaku begitu saja bila aku dalam keadaan bahaya?"

Dengan tenang Souw Thian Hai membela diri.

"Persetan! Kubunuh kau...!"

Bok Siang Ki benar benar marah.

Kedua tangannya terulur ke depan kemudian menubruk Souw Thian Hai.

Dan Souw Thian Hai segera menyongsongnya pula dengan sabetan pisaunya.

Dari atas ke bawah, seolah-olah hendak membelah tubuh ketua Ui-soa-pai itu.

Tapi tiba-tiba mata Souw Thian Hai terbeliak lebar.

Pisaunya seakan-akan benar-benar mengenai sasaran.

Tubuh Bok Siang Ki benar-benar seperti terbelah menjadi dua bagian.

Namun yang mengejutkan, tubuh yang terbelah itu tiba-tiba dapat bergerak sendiri-sendiri.

Bahkan setiap bagian yang terbelah itu menjelma menjadi Bok Siang Ki pula secara utuh.

Sehingga kini Souw Thian Hai melawan dua orang Bok Siang Ki yang wajah maupun gerak-geriknya persis satu sama lain.

"Llmu sihir...???"

Souw Thian Hai berdesah seraya mengejap-ngejapkan matanya dengan bingung.

Tapi pendekar sakti itu tak punya kesempatan untuk berpikir lagi.

Dua sosok bayangan Bok Siang Ki itu menyerangnya bergantian.

Mereka berdua seperti saudara kembar yang mempunyai satu hati.

Setiap kali Souw Thian Hai menyerang atau menghadapi salah satu dari mereka, maka yang lain akan segera membantu.

Keduanya dapat bekerja sama dan saling mengisi dengan baiknya.

Dan hal tersebut tentu saja semakin membuat Souw Thian Hai terdesak dan kewalahan.

"Oh, sungguh gila! Ini tentu hanya tipuan! Ini tentu ilmu sihir! Tidak mungkin semuanya asli! Aaagh!"

Di dalam kerepotannya Souw Thian Hai mengeluh.

Namun sudah beberapa kali pendekar sakti itu mencoba untuk memusatkan pikiran dan ilmunya tetap saja lawannya tak berubah.

Bok Siang Ki tetap berjumlah dua orang.

Dan mereka tetap mencecarnya terus seolah-olah mereka itu tak ingin memberinya kesempatan lebih lama lagi.

Beberapa buah pukulan Bok Siang Ki mulai mengenai tubuh Souw Thian Hai.

Meskipun pukulan tersebut tidak mengena dengan telak, apalagi tubuh Souw Thian Hai juga terlindung oleh kekebalan mantel pusaka, namun hentakan dan kekuatan yang tersalur ke dalam pukulan tersebut tetap membuat pendekar sakti itu kesakitan.

Dan ketika pukulan dan tendangan itu juga semakin sering melanda tubuh Souw Thian Hai, maka daya tahan dari pendekar sakti itupun juga menjadi semakin lemah dan kendor pula.

Celakanya, keampuhan Tai-lek Pek-khong-ciang yang selama ini selalu diandalkan Souw Thian Hai, kini seperti melempem menghadapi kedahsyatan ilmu silat Bok Siang Ki.

Loncatan-loncatan angin tajam yang meluncur dari ujung jari maupun dari mata pisaunya seakan-akan tak berpengaruh apa-apa terhadap bayangan Bok Siang Ki.

Angin tajam itu seperti menusuk udara kosong saja.

Tentu saja keadaan Souw Thian Hai semakin payah.

Selain pukulan dan sabetan pisaunya selalu mengenai angin, pukulan dan tendangan Bok Siang Ki juga semakin sering menyentuh kulitnya.

Bahkan pada suatu saat sebuah pukulan Bok Siang Ki tepat mengenai dadanya.

Sehingga biarpun sudah terlindung oleh mantel pusaka, tetap saja pukulan tersebut menyengat kulitnya dan menggetarkan isi dadanya.

Tubuh Souw Thian Hai terbanting ke lantai perahu.

Demikian kerasnya sehingga papan perahu tersebut berderak patah dan tubuh Souw Thian Hai terjeblos ke dalam lunas perahu.

"Ooouugh...!"

Souw Thian Hai mengeluh panjang kemudian suaranya hilang di balik lobang tersebut.

Bok Siang Ki tidak mengejar ke dalam lobang, ketua Ui-soa-pai itu justru melangkah kembali ke dalam perahu.

Dengan penasaran dicarinya Liu Yang Kun yang telah melemparkan dirinya ke dalam sungai tadi.

Tapi pemuda itu tidak ada di sana.

Bahkan di sekitar kamar itupun juga tidak ada pula.

Tentu saja Bok Siang Ki sangat heran.

Kemanakah sebenarnya pemuda itu?

Ketika kemudian Bok Siang Ki menoleh ke haluan perahu, maka dilihatnya ketiga orang pembantunya telah terjun semua mengeroyok Yap Kiong Lee.

Dan jagoan dari istana itu tampak kewalahan sekarang.

Ilmu silatnya yang dahsyat, yang dapat menimbulkan pusaran angin itu memang masih menderu-deru dengan hebatnya.

Namun kerja sama di antara Hek-eng, Ui-eng dan Pek-eng itu seolah-olah telah menciptakan sebuah benteng yang kokoh kuat, yang mampu menahan serta mengurung amukan badai ganas tersebut.

Bahkan ledakan ledakan pukulan petir yang beberapa kali dilepaskan oleh Yap Kiong Lee pun tak bisa menggoyahkan benteng tersebut.

Beberapa kali memang terlihat Hek-eng yang telah terluka dalam itu meringis menahan sakit, dan Pek-eng yang belum begitu sembuh dari patah tulang kakinya itu terpincang-pincang ketika melangkahkan kakinya, namun dengan bantuan Ui-eng mereka berdua dapat bekerja sama dengan baiknya.

Lambat-laun Yap Kiong Lee menyadari pula keadaannya.Apalagi ketika dilihatnya Souw Thian Hai juga sudah kalah dan terjeblos ke dalam lobang perahu, sementara Pangeran Liu Yang Kun juga tidak tampak pula di atas perahu itu.

Kekhawatiran dan kegelisahan atas keselamatan Liu Yang Kun membuat pendekar dari istana itu menjadi nekad dan tak mempedulikan nasibnya lagi.

Tiba-tiba kedua tangannya telah mencabut sepasang pedang pendeknya.

Dan pedang itu segera berkelebatan menyambarnyambar dengan ganasnya.

Yap Kiong Lee memang sengaja mengerahkan seluruh kemampuannya, dan tak begitu memikirkan lagi kese lamatannya.

Sepasang pedang pendeknya menerjang terus tiada hentinya.

Terutama kepada Hek-eng dan Pek-eng yang tampak lebih lemah karena luka-lukanya.

Secara perorangan Hek-eng memang kalah melawan Yap Kiong Lee.Begitu pula dengan saudara-saudara seperguruannya yang lain.

Tapi dengan bekerja sama dalam formasi segitiga, kekuatan mereka benar-benar menjadi berlipat-ganda, bagaikan kekuatan tiga orang dijadikan satu.

Namun demikian kekuatan tersebut sebenarnya juga hanya dititikberatkan pada kecepatan dan penyatuan tenaga mereka saja, sehingga kekuatan itu segera mengalami kesulitan begitu Yap Kiong Lee mempergunakan senjata tajam.

Ketajaman pedang pendek itu tidak dapat mereka lawan hanya dengan persatuan tenaga mereka saja.

Sebenarnya dalam hal seperti ini mereka harus menghadapinya dengan kecepatan mereka.

Tapi celakanya saat ini dua orang diantara mereka telah terluka, Hek-eng dan Pek-eng kurang leluasa untuk bergerak cepat.

Oleh karena itu beberapa jurus kemudian perimbangan kekuatanpun menjadi bergeser pula.

Sepasang pedang pendek Yap Kiong Lee dengan mudah memotong kerja-sama mereka, sehingga formasi atau barisan merekapun menjadi buyar pula.

Bok Siang Ki menggertakkan giginya.

Setindak demi setindak kakinya melangkah mendekati pertempuran.Tangannya sudah bergetaran siap untuk turun tangan.

Namun maksud tersebut segera ditundanya ketika tiba-tiba terdengar suara aba-aba Hek-eng.

"Keluarkan Hwee-coa...! Lemparkan kepadanya!"

Yap Kiong Lee terkejut bukan main.

Wajahnya menjadi pucat.

Kedahsyatan ular-ular kecil itu pernah didengarnya pula.

Bahkan ia seperti tak percaya kalau lawan-lawannya itu benar-benar memiliki ular langka tersebut.

Tapi Yap Kiong Lee benar-benar harus menahan napas.

Ketiga orang lawannya itu memang betul-betul mengeluarkan Hwee-coa.

Malahan di lain saat ular-ular tersebut telah dipergunakan pula untuk menyerangnya.

"Wuuut! Sinnng! Siiiing! Uuuut!"

Ular ular pemakan jantung itu mulai berkelebatan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Mereka melayang dan berloncatan menyambarnyambar.

Semuanya mencari lobang di dalam tubuh Yap Kiong Lee.

Tapi dengan gesit pula Yap Kiong Lee mengelak dan berlindung di balik ayunan pedangnya.

Namun dengan demikian Yap Kiong Lee harus tetap membagi perhatiannya.

Selain harus tetap menghadapi keroyokan Sam Eng, ia juga harus selalu waspada terhadap serangan hwee-coa.

Dan semua itu tentu saja sangat menyulitkan permainan pedangnya.

Otomatis dia tidak bisa melepaskan ilmu pedangnya dengan baik lagi.

"Gila!"

Yap Kiong Lee mengumpat di dalam hatinya.

Dia mulai kewalahan.

Permainan pedangnya mulai terdesak.

Dan ular-ular kecil itu sulit sekali diserang.

Gerakan mereka amat gesit sekali.

Bok Siang Ki menjadi lega sekali melihatnya.

Namun demikian hatinya tetap penasaran.

Liu Yang Kun tetap tak diketemukannya.

"Apakah pemuda itu juga ikut terjun ke dalam sungai pula ketika aku tercebur tadi? Ataukah...? Hei!"

Tiba-tiba ketua Ui-soa-pai itu tersentak kaget.

Pikirannya segera tertuju ke lobang di bawah geladak itu.

Sampai sekarang Souw Thian Hai yang telah dikalahkannya itu belum keluar juga dari lobang tersebut.

Hal itu berarti ruangan di bawah lantai geladak tersebut cukup luas dan bisa untuk bersembunyi pula.

"Jangan-jangan pemuda itu juga bersembunyi di bawah geladak ini pula,"

Sambil menggeram Bok Siang Ki berkelebat kembali ke kamar perahu itu.

Di tempat itu masih ia dapati tubuh Tiauw Li Ing yang tergeletak di pojok ruangan.

Namun ia tak menyentuhnya.

Sebaliknya dengan kasar ia membongkar semua barang yang tertumpuk di dalam ruangan tersebut dan melemparkannya keluar.

"Nah!"

Bok Siang Ki memekik kecil ketika akhirnya ia menemukan sebuah lobang di bawah tumpukan papan.

Bahkan ia juga memperoleh sobekan kecil baju Liu Yang Kun yang terselip di tepian lobang.

Bok Siang Ki segera berdiri di depan lobang tersebut dengan sikap siaga.

"Keluarlah! Kau tidak usah bersembunyi lagi! Cepat!"

Bentaknya kemudian.

"Baiklah, Bok Siang Ki... aku akan keluar! Kau tak perlu berteriak teriak lagi,"

Tiba-tiba terdengar jawaban dari dalam lobang tersebut.

"Whuuuuuus!"

Tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan keluar dari dalam lobang itu.

Dan otomatis dengan sigap pula Bok Siang Ki me langkah mundur dua tindak.

Matanya mencorong tajam.

Sementara kedua tangannya juga sudah siap untuk melontarkan serangan.

Bayangan itu segera berdiri tegak di depan Bok Siang Ki.

Sementara dari dalam lobang tersebut tiba-tiba masih muncul pula sesosok bayangan yang lain, yang segera berdiri pula di belakang bayangan pertama.

Dan ternyata bayangan yang kedua itu tidak datang sendirian.

Bayangan tersebut tampak menggendong seorang wanita yang sedang pingsan.

"Aku tidak akan lari darimu, Bok Siang Ki! Inilah aku...!"

Bayangan pertama yang tidak lain adalah Liu Yang Kun itu berkata dengan suara keren.

"Hati-hati, Pangeran! Dia lihai sekali! Aku baru saja dikalahkannya...!"

Bayangan kedua yang tidak lain adalah Souw Thian Hai itu berbisik.

Wajahnya kelihatan amat pucat, sementara di sudut bibirnya masih tersisa tetesan darah akibat pukulan Bok Siang Ki tadi.

Liu Yang Kun berdesah pendek.

Sekejap matanya melirik ke belakang.

Sikapnya sekarang benar benar sangat berubah.

Kini tampak garang dan berwibawa.

Sikapnya yang semula sering kelihatan ragu dan kurang yakin pada diri sendiri, sekarang sudah hilang.

"Terima kasih Souw Taihiap. Silakan Souw Taihiap beristirahat saja sekalian mengurus gadis itu. Biarlah aku saja yang menghadapi orang ini,"

Dengan tegas Liu Yang Kun berkata. Souw Thian Hai memandang gadis yang ada di dalam gendongannya, kemudian menatap ke arah Liu Yang Kun kembali.

"Baiklah. Tapi ehm, apakah Pangeran benar-benar telah menjadi baik? Maksud saya... maksud saya apakah Pangeran benar-benar telah sembuh dan sehat kembali?"

Liu Yang Kun menghela napas pendek. Sekilas tampak air matanya berlinang.

"Terima kasih, Souw Taihiap. Budimu benar-benar takkan kulupakan. Penyakitku sudah hilang. Aku sudah sembuh. Aku sudah bisa mengingat-ingat lagi siapa diriku..."

Dengan suara bergetar Liu Yang Kun menjawab.

Sementara itu Bok Siang Ki menjadi tidak sabar mendengarkan percakapan mareka.

Dengan tangannya terayun ke depan mengarah ke pinggang Liu Yang Kun.

Suara angin pukulannya berdesir lembut seperti tidak bertenaga.

Namun ketika Liu Yang Kun bergerak agak sedikit terlambat karena terlalu meremehkan kekuatannya, maka tiba-tiba tubuh pemuda itu terguncang dengan hebatnya.

Hampir saja pemuda itu terlempar ke belakang kalau tidak segera mengerahkan tenaga untuk mengatasinya.

Lain halnya dengan Souw Thian Hai yang berdiri di belakang Liu Yang Kun.

Pendekar sakti itu jauh-jauh sudah menyadari betapa dahsyatnya ilmu Bok Siang Ki, sehingga ketika ia melihat tangan ketua Ui-soa-pai itu bergerak dia sudah lebih dulu me loncat ke samping dengan cepatnya.

Meskipun demikian hembusan angin yang lewat masih juga dapat menerbangkan pita rambut yang dikenakan gadis didalam gendongannya itu.

Tak urung Souw Thian Hai berdecak kagum pula.

Ternyata lweekang ketua aliran Ui-soa-pai itu benar-benar hebat bukan main.

oleh sebab itu pula kemudian Souw Thian Hai membawa gadis yang digendongnya itu ke tempat yang aman.

Dibawanya gadis tersebut ke kamar perahu yang rusak itu.

Souw Thian Hai melihat beberapa orang jago silat yang tadi mengeroyok murid-murid Giok-bin Tok-ong Sam-eng tadi.

Mereka semua datang mendekat dengan wajah lega dimukanya.

Walaupun air-muka mereka rata-rata masih tampak pucat menyaksikan pertempuran mengerikan tadi.Sebagian dari orang-orang itu segera menolong Souw Thian Hai, sementara yang lainnya menjenguk keadaan Tiauw Li Ing.

"Souw Thian Hai..."

Salah seorang yang ikut membantu Souw Thian Hai menyapa pelan.

"Gadis yang Taihiap bawa ini adalah cucu kepala kampung di sini. Karena dialah pertempuran di tengah sungai ini berlangsung."

"Hemmmm..."

Souw Thian Hai mengangguk-angguk. Kemudian pendekar sakti itu memandang ke tempat Tiauw Li Ing terbaring.

"Lalu... bagaimana dengan gadis yang seorang itu? Apakah dia juga korban penculikan pula?"

Orang yang berbicara dengan SouwThian Hai itu menghela napas panjang. Matanya juga terarah kepada Tiauw Li Ing.

"Sebenarnya gadis itu juga bermaksud seperti kita pula. Dia juga bermaksud untuk menolong gadis ini. Namun ketika maksudnya itu hampir berhasil tiba-tiba muncul rombongan Bok Siang Ki itu. Mereka dengan mudah menangkap gadis itu. Bahkan kemudian merebut pula gadis itu dari tangan para penculik itu..."

Souw Thian Hai bangkit berdiri.

Dipandangnya pertempuran yang terjadi antara Liu Yang Kun dan Bok Siang Ki.

Juga pertempuran yang seru antara Yap Kiong Lee dengan anak buah Bok Siang Ki.

Tapi ketika pandangannya terarah keluar perahu.

Hatinya menjadi kaget.

"Eh... dimana perahu-perahu yang lain?"

Desahnya sedikit keras begitu menyaksikan perairan yang kosong di sekitar perahu tersebut. Orang yang berada di dekat Souw Thian Hai segera menyahut.

"Perahu ini sudah sejak tadi terputus tali jangkarnya. Kita telah jauh meninggalkan tempat penyeberangan itu. Perahu ini telah hanyut ke hilir..."

"Oooooh! Makanya sepi benar keadaannya""

"Eh, Taihiap...? Apakah..., apakah kita tidak perlu membantu Yap Tai hiap itu...?"

Tiba-tiba orang itu berkata pula ketika dilihatnya Yap Kiong Lee mulai kewalahan menghadapi ular-ular Hwee-coa itu.

"Benar!"

Souw Thian Hai tersentak kaget puIa begitu melihat berkelebatnya ular-ular kecil itu.

"Silakan cuwi mengurus gadis-gadis ini, aku akan menolongnya!"

Souw Thian Hai bergegas mendekati pertempuran Yap Kiong Lee dan lawan-lawannya.

Hatinya segera menjadi tegang dan berdebar ketika mengenali ular-ular kecil yang sangat berbahaya itu.

Apa lagi ketika menyaksikan temannya itu mengalami kesulitan untuk menghadapinya.

Ular-ular yang hanya sejengkal panjangnya itu tampak sangat lincah sekali, dan sulit sekali untuk ditabas dengan pedang.

Sebenarnya agar lebih mudah bagi Yap Kiong Lee untuk mengenyahkan mereka dengan pukulan Petir dan Badainya.

Tapi setiap kali pendekar dari istana itu mempergunakan ilmunya itu, maka ketiga orang lawannya segera bergabung pula untuk menanggulanginya.

Sehingga dengan demikian kerja-sama antara ketiga ekor ular tersebut dengan tuan-tuannya benar-benar sangat sukar ditembus.

"Maaf, Saudara Yap. Ijinkanlah aku membantumu mengenyahkan ular-ular kecil itu. Kau layani saja ketiga orang lawanmu itu baik-baik!"

Souw Thian Hai kemudian menggeram seraya melepaskan serangan Angin tajamnya.

"Cuuuus! Cuuus!"

Meskipun luka dalamnya sedikit mempengaruhi pengerahan tenaganya, namun hentakan 'angin tajam"

Yang dilepaskan oleh Souw Thian Hai tetap saja berdesing dengan kuatnya!

Dan angin tajam itu meluncur dari ujung-jarinya bagaikan tajamnya ujung-pedang yang menghunjam ke sasaran yang ditujunya!

Bahkan kecepatannya justru lebih berlipat ganda dari pada ujung pedang yang sesungguhnya!

Seekor ular yang belum menyadari kedahsyatan ilmu Tai-lek Pek-Khong ciang itu segera terpental menjadi dua bagian, tertabas oleh hentakan angin tajam itu.

Tapi kedua ekor Hwee-coa yang lain cepat menyadari bahaya tersebut.

Sebelum Souw Thian Hai melepaskan ilmunya lagi, mereka telah lebih dulu menghilang di sela-sela lantai geladak itu.

Tampaknya mereka sangat ketakutan menghadapi ilmu Tai-lek Pek-khong-ciang itu, sehingga suara panggilan yang dilontarkan oleh tuan-tuan mereka tidak mereka hiraukan.

"Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai...??"

Ketiga orang pembantu Bok Siang Ki itu berdesah gemetar.

Otomatis mereka juga menghentikan serangan mereka.

Sebenarnya Sam-eng tidak takut menghadapi Souw Thian Hai.

Tapi dengan adanya Yap Kiong Lee di situ, mereka harus berpikir juga dengan seksama.

Apalagi ketika mereka memandang ke arah majikan mereka, mereka mendapatkan majikan mereka itu juga sedang menghadapi lawan yang setimpal pula.

Walaupun sedang sibuk menghadapi Liu Yang Kun, ternyata Bok Siang Ki masih tetap jeli dan tidak melupakan anak buahnya.

Keadaan para pembantunya tersebut segera diketahui pula.

Dan perbandingan kekuatan yang tidak seimbang itu segera memaksanya untuk berpikir kembali.

Apalagi lawannya yang masih amat muda itu terasa semakin sulit ia hadapi.

Oleh karena itu Bok Siang Ki segera mengambil keputusan.

Ia memberi isyarat rahasia kepada pembantu-pembantunya itu untuk mengalah dan meloloskan diri dari tempat itu.

Tapi sementara itu di dalam bilik perahu telah terjadi keributan.

Begitu siuman dari pingsannya tiba-tiba Tiauw Li Ing mengamuk.

Gadis itu masih merasa bahwa dirinya berada dalam cengkeraman para penjahat, sehingga amukannyapun benar-benar menggiriskan hati.

Dasar gadis itu memang memiliki watak yang kejam serta sadis, maka serangannyapun juga tidak tanggung-tanggung pula.

Segenggam paku beracun ia tebarkan ke sekelilingnya.Tentu saja para pendekar kang-ouw itu menjadi kaget setengah mati.

Mereka benar-benar tidak menduga akan hal itu, sehingga tentu saja mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindarinya.

Mereka segera berteriak ngeri dan terjungkal menemui ajalnya.

Hanya ada dua orang yang selamat dari pembantaian tersebut, yaitu dua orang pendekar yang kebetulan sedang merawat putri kepala kampung tadi.

Kedua orang itu segera menyambar tubuh gadis itu dan membawanya menghindari dari kamar tersebut.

"Jangan lari! Lepaskan gadis itu!"

Tiauw Li Ing yang melihat mereka segera berteriak dan mengejar.

"Tiauw Li Ing...?"

Pangeran Liu Yang Kun yang sedang bertempur seru melawan Bok Siang Ki itu memekik marah menyaksikan ulah Tiauw Li Ing.

"Hah? Koko, kau...?"

Tiauw Li Ing yang tidak menyangka dapat bertemu dengan "suaminya' di tempat itu mendadak berteriak kegirangan.

Lalu tanpa mempedulikan orang lain lagi gadis itu berlari mendekati Liu Yang Kun.

Tapi sebaliknya dengan cekatan pula pemuda itu melompat menghindarinya.

Dan kesempatan tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh Bok Siang Ki untuk lolos dari tempat itu.

Ketua partai Ui-soa-pai itu segera menjejakkan kakinya, sehingga tubuhnya melesat ke arah pertempuran anak buahnya.

Sambil melayang ia mengerahkan ilmu sihirnya.

Tiba-tiba dari kedua belah telapak tangannya seperti menyemburkan lidah api.

Dan lidah api itu seperti memancar dengan dahsyatnya menerjang Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai!

"Awas, Saudara Souw...!"

Jagoan dari Istana itu berteriak memperingatkan sahabatnya.

Dan kedua orang sahabat itu buru-buru menghindar dengan melompat sejauh-jauhnya.

Tapi dengan demikian kesempatan tersebut segera dipergunakan oleh Bok Siang Ki dan anak buahnya untuk meloloskan diri dari tempat itu.

Mereka meloncat ke dalam air dan pergi dari tempat tersebut.

Demikianlah, semuanya itu berlangsung dengan cepat sekali.

Sehingga ketika Liu Yang Kun menyadari hal itu, semuanya telah berlalu.

Bok Siang Ki dan anak buahnya telah lenyap ditelan gelombang sungai.

Namun sementara itu di atas geladak perahu, Tiauw Li Ing tampak sangat terpukul hatinya melihat sikap Liu Yang Kun.

Wajah puteri bajak laut itu kelihatan pucat sekali.

Matanya menatap kosong ke depan, sementara air matanya mulai mengumpul di sudut matanya.

Dan bibirnya yang kering itu tampak bergetaran, seolah menahan jerit yang tak kunjung keluar.

Di lain pihak, Liu Yang Kun sudah demikian marahnya terhadap Tiauw Li Ing yang kejam dan telah mencelakakan dirinya, sehingga ia benar-benar mengambil sikap yang sangat bermusuhan dengan bekas isterinya itu.

"Huh! Perbuatanmu sungguh kelewatan dan... tak tahu diri. Membujuk seorang tua renta untuk mencelakakan aku! Kini membunuhi orang yang sebenarnya hendak menolong engkau Ooo... gadis macam apa sebenarnya engkau ini?"

Sergah pemuda itu dengan berangnya.

Tiauw Li Ing benar-benar tak mampu bicara lagi.

Begitu dahsyat pukulan batin yang diterimanya sehingga tiba-tiba tubuhnya sempoyongan ke pagar perahu.

Dan ketika badannya tersandar di atas pagar pendek tersebut, tangannya sama sekali tak berusaha untuk mencari pegangan.

Akibatnya tubuhnya segera terhuyung keluar pagar dan kemudian terjungkal ke bawah, ke dalam air.

Dan anehnya, gadis itu sama sekali tak mau mengerahkan kepandaiannya untuk menyelamatkan diri.

Bahkan dilihat sepintas lalu gadis itu seperti sengaja mau bunuh diri!

"Nona...??"

Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai lah yang kemudian berteriak kaget.

Kedua pendekar itu segera mencari apa saja yang bisa mereka pergunakan sebagai pelampung, Yap Kiong Lee mendapat segulung tali panjang yang kemudian ia ikatkan di pagar perahu dan di pinggangnya, sementara Souw Thian Hai yang memiliki ginkang tinggi itu mengikatkan sebilah papan panjang di bawah telapak sepatunya.

Mereka bergegas meloncat ke dalam air untuk menolong Tiauw Li Ing.

Tapi maksud baik kedua sahabat tersebut sia-sia belaka.

Mereka tak dapat menemukan tubuh Tiauw Li Ing.

Gadis itu bagaikan sudah terhisap oleh arus air yang menggila.

"Aduuuuh...!"

Tiba-tiba Souw Thian Hai berseru kesakitan.

Baik Liu Yang Kun yang ada di atas perahu maupun Yap Kiong Lee yang berada di dalam air di dekat Souw Thian Hai, menoleh dengan kaget!

Tiba-tiba saja mereka menyaksikan sebuah tangan tersembul dari dalam air dan menghantam ke arah Souw Thian Hai!

"Awasss, Saudara Souw...

di sebelah kirimu!"

Dalam gugupnya Yap Kiong Lee menjerit.

"Byuuur!"

Souw Thian-Hai menjejakkan kakinya yang mengenakan papan itu ke arah tangan yang tersembul dari dalam air tersebut.

Dan bentrokan yang terjadi membuat papan yang terikat di kaki Souw Thian Hai itu pecah berantakan kemana-mana sementara pendekar itu sendiri terlempar kembali ke dalam air.

"Saudara Souw...?"

Yap Kiong Lee berseru kaget, lalu meluncur mendekati sahabatnya itu dan memegangi lengannya agar tidak tenggelam.

"Terima kasih, Saudara Yap."

Souw Thian Hai berbisik seraya menatap kesana kemari untuk mencari lawannya tadi.

"Saudara Souw, marilah kita naik saja ke atas perahu! Sungguh berbahaya di tempat ini. Kita tak bisa melihat lawan kita."

"Marilah...!"

Kedua pendekar sakti itu lalu bergegas naik ke atas perahu kembali.

Di atas daratan mereka berdua memang seorang pendekar yang sulit dicari tandingannya.

Tapi di dalam air ternyata kesaktian mereka benar-benar tidak bisa berbuat banyak terhadap lawan.

Sementara itu kedatangan mereka di atas perahu segera disongsong oleh Pangeran Liu Yang Kun.

"Siapakah yang menyerang Jiwi Taihiap di dalam air tadi?"

Pemuda itu bertanya.

"Kami juga tidak mengetahuinya, Pangeran."

Souw Thian Hai cepat menjawab.

"Orang itu selalu bersembunyi di dalam air. Kami hanya bisa... hei... Hei...?? Lihat itu!"

Tiba-tiba pendekar sakti itu mengangkat jari telunjuknya ke seberang.

Dan mata Liu Yang Kun maupun Yap Kiong Lee segera terbelalak!

Mereka melihat Bok Siang Ki melenggang di atas pemukaan air dengan entengnya.

Padahal di atas pundaknya tergantung tubuh Tiauw Li Ing yang tadi tercebur ke dalam sungai.

Tokoh Ui-soa pai itu mendarat di seberang sungai, dimana para pembantunya ternyata telah lebih dulu menunggunya.

"Ah, ternyata Bok Siang Ki lah yang menyerangku di dalam air tadi. Pantas!"

Souw Thian Hai bergumam seraya memegangi pahanya yang pegal akibat benturan tenaga di dalam air tadi.

"Untunglah kita lekas-lekas naik ke perahu tadi. Kalau tidak, hmm... kita benar-benar telah menjadi bangkai."

Yap Kiong Lee bersungut-sungut lega.

Demikianlah, karena tak mungkin bisa mengejar Bok Siang Ki lagi, maka mereka lalu membawa perahu tersebut ke tepian.

Mereka segera menguburkan mayat-mayat yang ada di dalam perahu itu.

Oleh karena perahu tersebut sudah terlalu jauh dan kampung tempat penyeberangan itu maka Yap Kiong Lee meminta kepada dua orang pendekar kang ouw yang masih tersisa, untuk membawa kembali perahu tersebut ke asalnya beserta cucu kepala kampung yang dapat mereka selamatkan itu sekalian.

Sedangkan Liu Yang Kun, Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai, lalu mengambil jalan darat ke tujuan mereka semula, yaitu kota Cin-an.

Karena sudah pulih kembali kesehatannya, maka Liu Yang Kun benar-benar kelihatan sangat gembira di dalam perjalanannya.

Dia bercerita tentang pengalamannya di masa lalu, ketika ia bersama Tui Lan di dalam lorong-lorong gua itu.

Bahkan pemuda itu juga berterus terang pula tentang hubungannya dengan Tui Lan.

Bahkan ia juga tidak menyembunyikan pula kealpaannya, bagaimana ia mempelajari ilmu warisan Bit-bo-ong yang secara kebetulan diketemukan oleh Tui Lan di dalam gua tersebut.

Dan akhirnya pemuda itu juga menceritakan pula perjuangannya untuk keluar dari neraka di bawah tanah itu.

"Akhirnya aku bisa keluar juga dari lorong gelap itu. Namun sayang, aku terpisah dengan isteriku. Aku khawatir dia menjadi korban dari arus air di bawah tanah itu..."

Liu Yang Kun mengakhiri ceritanya.

"Oh!"

Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai mengangguk-angguk.

Keduanya benar-benar tertarik dengan cerita itu.

Terutama Souw Thian Hai yang merasa memiliki buku warisan Bit-bo-ong itu.

Tapi pendekar itu tetap berdiam diri saja.

Demikianlah bersamaan dengan terbenamnya matahari di balik cakrawala, mereka pun tiba pula di pintu gerbang kota Cin-an.

Orang telah mulai menyalakan lampu-lampu mereka, sehingga kota itu tampak hidup dan terang benderang.

Sementara di jalan-jalan yang membelah kota itu kelihatan sebagian dari penduduk kota itu berjalan hilir-mudik dengan kebutuhan mereka masing-masing.

Gedung di mana pusat perguruan Tiam-jong-pai itu berdiri ada di tengah-tengah kota.

Halamannya amat luas, dikelilingi oleh tembok yang tinggi.

Gedung itu sendiri terdiri dari sebuah bangunan induk yang besar, dengan bangunan-bangunan samping dan belakang yang banyak serta indah-indah.

Dan di bagian tengah dari bangunan-bangunan itu terdapat sebuah lapangan yang luas untuk berlatih silat.

Dan pada malam itu ratusan buah lampu teng tampak bergantungan di segala sudut bangunan tersebut.

Ditambah dengan Hiasan kertas berwarna-warni, maka gedung itu benar-benar kelihatan semarak dan meriah sekali.

Kursi dan mejapun tampak ditata dengan rapi, berderet-deret memenuhi pendapa.

Bahkan sampai meluber pula ke halaman.

Beberapa orang pekerja masih kelihatan sibuk merapikan hiasan-hiasan yang ada di dalam pendapa itu.

Sementara beberapa orang gadis dan perempuan setengah-baya juga kelihatan sibuk pula memasang bunga-bunga di kursi pengantin dan di atas meja-meja tamu.

Dan di halaman yang kosong kelihatan pula anak-anak berlarian dengan gembiranya.

Namun demikian ketika Pangeran Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee memasuki gapura halaman itu, beberapa orang tua tampak bergegas menyambut mereka dengan wajah tegang dan khawatir.

Bahkan salah seorang diantara mereka tampak sekali mengungkapkan perasaan kecewanya begitu melihat siapa yang datang.

Tampaknya mereka kecewa karena bukan rombongan Liu Yang Kun yang mereka nantikan.

"Tampaknya rombongan Ui Bun Ting belum sampai di sini."

Souw Thian Hai berbisik kepada Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee.

Namun demikian orang-orang itu segera menyambut pula dengan ramahnya.

Apalagi setelah mengetahui wajah Hong-Gi-Hiap Souw Thian hai dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee yang sangat tersohor itu.

"Ah, marilah jiwi Taihiap...! Silakan masuk! Silakan...!"

Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee membalas pula penghormatan mereka, kemudian melangkah masuk.

"Apakah Ui Ciang-bun belum pulang?"

Sambil berjalan Souw Thian Hai bertanya pelan.

"Belum. Apakah Taihiap juga tidak bertemu dengan beliau?"

Dengan suara seret orang yang tertua diantara para penyambut itu menjawab. Wajahnya kelihatan sedih dan bingung.

"Kami telah mengutus beberapa orang ke kota Lai-yin. kalau-kalau Ciang-bun-jin ada di rumah keluarganya di sana. Tapi sampai sekarang mereka belum kembali juga. Bahkan kami semua mengira, kepergian Taihiap kemarin malam juga karena hal ini..."

Yang lain ikut menyambung pula perkataan orang itu. Tiba-tiba Souw Thian Hai menepuk bahu orang itu.

"Jangan bersedih! kami memang telah menemukan Ui Ciang-bun. Beliau sedang dalam perjalanan kemari. Kami memang sengaja mendahului mereka untuk memberi khabar lebih dahulu..."

"Hhha...???"

Orang-orang Tiam-jong-pai itu bersorak kaget.

"Taihiap telah menemukan Ciang-bun-jin kami? Oh!"

"Wah, kalau begitu kita harus lekas-lekas memberitahukannya kepada susiok...! Kita harus segera mengirimkan rombongan untuk menjemput Ciang-bun-jin."

"Maaf Taihiap... Silakan Taihiap dan rombongan duduk di pendapa dulu! Kami akan me lapor kepada susiok! Oh, Thian... Ciang-bun-jin sudah pulang!"

Murid-murid Tiam-Jong-pai itu segera berlarian memasuki halaman samping untuk menemui susiok mereka.

Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee saling pandang dengan Liu Yang Kun.

Mereka bertiga dapat memaklumi perasaan orang-orang itu, sehingga mereka tidak merasa tersinggung ditinggalkan begitu saja di halaman.

Dengan langkah biasa mereka naik ke pendapa.

Tampaknya keributan kecil itu telah menarik perhatian orang orang yang berada di dalam gedung itu.

Beberapa orang lelaki dan wanita tampak keluar menjenguk mereka bertiga.

Dan salah seorang diantara mereka terdapat seorang wanita yang sangat cantik sekali, menggendong seorang anak kecil.

"Hai-ko. kaukah itu...?"

Wanita itu tiba-tiba menyapa Souw Thian Hai dengan suara merdu. Wajahnya yang gilang-gemilang seperti bidadari itu tampak berseri-seri menyambut kedatangan Souw Thian Hai.

"Ya! Akulah yang datang, Hong moi, Aku datang bersama Saudara Yap dan Pangeran...?"

Souw Thian Hai tidak meneruskan perkataannya karena pinggangnya keburu disodok oleh Yap Kiong Lee.

"Ah...? betulkah itu Saudara Yap? Rasa-rasanya aku sudah tidak mengenalnya lagi. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa..."

Wanita cantik itu yang tidak lain adalah Chu Bwee Hong, isteri Souw Thian Hai, menyambut pula kedatangan Yap Kiong Lee dengan ramahnya.

"Ah... tentu saja Souw Hujin sudah tidak mengenalku lagi. Aku sudah semakin tua sekarang. Tidak sekuat dan segesit dulu lagi, hahaha..."

Yap Kiong Lee yang usianya sejajar dengan Hong-hiap Souw Thian Hai dan tubuhnya masih tegap dan gagah itu cepat-cepat menyahut pula dengan kelakarnya.

Di kala mereka masih amat muda memang merupakan sahabat-sahabat yang baik.

Chu Bwee Hong yang ayu itu bersenyum manis sekali.

"Ah, Saudara Yap ini ada-ada saja. Eh, kenapa sendirian saja? Bagaimana dengan Cici Pek Lian?"

Pek Lian adalah adik seperguruan Yap Kiong Lee sendiri, yang kemudian diperisterikannya. Wanita itu juga merupakan sahabat kental Chu Bwe Hong pula.

"Ah... dia baik-baik saja di rumah. Sayang dia tidak sebahagia Souw Hujin karena dia selalu kutinggalkan bertugas kemana-mana."

Merekapun lalu duduk di pendapa. Chu Bwee Hong tampak ragu-ragu ketika bertatap muka dengan Liu Yang Kun. Wanita ayu itu merasa sudah pernah mengenalnya.

"Beliau adalah Pangeran Liu Yang Kun yang selama ini kami cari-cari. Apakah Souw Hujin sudah lupa kepada beliau?"

Yap Kiong Lee cepat-cepat berbisik kepada Chu Bwee Hong.

"Oooh!"

Wanita ayu itu tersentak kemudian cepat-cepat menganggukkan kepalanya.

Ternyata Liu Yang Kun ikut menjadi gugup pula.

Wajah Souw Hujin yang amat cantik itu mengingatkannya kepada Souw Lian Cu.

Mereka benar-benar mirip, padahal Souw Hujin itu bukanlah ibu kandung Souw Lian Cu.

Sementara itu dari halaman samping tiba-tiba berderap belasan ekor kuda yang melesat keluar melalui pintu depan.

Sebagian dari para penunggangnya adalah orang-orang yang tadi menyambut kedatangan rombongan Liu Yang Kun di pintu halaman.

Tampaknya orang-orang itu hendak menyongsong kedatangan Ui Bun Ting.

Yap Kiong Lee saling bertukar pandang dengan Souw Thian Hai.

Namun sebelum mulut mereka berbicara, tiba-tiba dari ruang dalam muncul seorang lelaki bertubuh jangkung menghampiri mereka.

Dengan langkahnya yang mantap lelaki itu diiringkan oleh beberapa orang muridnya.

Rambutnya telah mulai memutih di kedua pelipisnya.

"Yap Tai-Ciangkun! Souw Taihiap! Selamat datang...! Wah, kami terlambat keluar untuk menyambut kedatangan Jiwi! Maaf! Maafkanlah kami! Mari silakan duduk...!"

Lelaki tua itu yang tidak lain adalah adik seperguruan Ui Bun Ting segera menyapa dan memberi hormat.

"Ah! Kamilah yang terlalu tergesa-gesa. Upacara belum juga mulai, kami sudah terburu-buru datang. Kamilah yang seharusnya meminta maaf..."

Yap Kiong Lee cepat menyahut pula. (Lanjut ke

Jilid 37) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 37 (Tamat) Tidak lama kemudian tamupun mulai berdatangan.

Selain para pejabat di kota itu, datang pula kawan-kawan akrab Ui Bun Ting dari dunia persilatan.

Mereka berbondong-bondong datang untuk ikut memeriahkan perkawinan ketua Tiam-jong-pai itu.

Sama sekali mereka semua tidak tahu bahwa orang yang hendak mereka elu-elukan malam ini belum datang.

Yang sangat repot menyambut dan melayani pertanyaan para tamu adalah Sute Ui Bun Ting tadi.

Sebagai wakil tuan rumah orang-tua itu harus dapat bersikap bijaksana terhadap tamu-tamu kakak seperguruannya.

Demikianlah semakin ma lam tamu yang datang-pun menjadi semakin banyak pula.

Kursi di tengah pendapa telah penuh tamu.

Bahkan deretan kursi yang ditempatkan di ruangan samping pendapa pun juga telah penuh pula.

Terpaksa para murid Tiam-jong-pai memasang kursi lagi di halaman.

Namun demikian rombongan Ui Bun Ting belum juga tiba dari kota Lai-yin.

Tentu saja pihak tuan rumah menjadi gelisah sekali.

Terutama adik seperguruan Ui Bun Ting.

Dengan peluh bercucuran orang tua itu mondar-mandir kesana-kemari, sambil sesekali menatapkan pandangannya keluar halaman, kalau-kalau melihat kedatangan kakaknya.

Oleh karena itu ketika di jalan besar terdengar suara gemuruh dan riuhnya derap kaki kuda, wajahnya seketika menjadi cerah dan berseri-seri.

Ia segera bangkit dari kursinya dan bergegas turun ke halaman.

Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai pun segera mengikutinya pula.

Kedua pendekar itu tersenyum dan mengangguk kepada Liu Yang Kun sehingga Pangeran itu terpaksa bangkit pula mengikuti mereka.

"Maaf, Souw Hujin. Aku akan melihat suasana di jalan itu pula..."

Pemuda itu minta diri kepada Chu Bwee Hong yang duduk di dekatnya.

"Silakan, Pangeran. Biarlah aku menunggu di sini bersama anakku."

Suara gemuruh itu juga menarik perhatian para tamu yang duduk di tempat tersebut.

Namun mereka juga tidak begitu mempedulikannya, karena mereka menyangka bahwa suara itu adalah suara kedatangan para tamu pula.

Mereka baru menjadi kaget ketika puluhan pasukan berkuda yang bersenjata lengkap memasuki halaman itu.

Namun demikian mereka tetap mengira bahwa salah seorang tamu yang berpangkat tinggi datang dengan diiringkan oleh para pengawalnya.

Semua tamu baru merasa kaget setengah mati ketika di belakang pasukan berkuda itu tiba-tiba muncul sebuah kereta kerajaan yang di kanan-kirinya dihiasi panji-panji kekaisaran.

Malahan di kanan-kiri kereta tersebut juga berbaris pula prajurit-prajurit Kim-i-wi dan Gin-i-wi (pengawal Kaisar berbaju emas dan perak) yang sangat terkenal itu.

"Hong Siang...???"

Hampir semua tamu berbisik kaget.

Sementara itu Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai yang melangkah di halaman ikut tertegun pula melihat kejadian yang tidak disangka-sangka tersebut.

Bergegas mereka menyongsong ke depan mendahului adik seperguruan Ui Bun Ting yang berdiri termangu-mangu di tengah halaman.

"Hongsiang...! Benar-benar Hongsiang datang! Eh, Saudara Souw...! Sungguh mengherankan sekali! Mengapa pula Hongsiang yang sudah bertahun-tahun tak mau meninggalkan istananya itu kini tiba-tiba muncul di tempat yang jauh ini? Apakah yang telah terjadi?"

Yap Kiong Lee berseru heran.

"Ehh, mana aku tahu? Lebih baik Saudara Yap menanyakannya saja secara langsung kepada prajurit-prajuritmu itu..."

Tapi ternyata Yap Kiong Lee tak perlu bertanya lagi.

Pendekar dari istana itu segera bisa menebaknya sendiri tatkala melihat kehadiran adiknya diantara para prajurit pengawal itu.

Tentu adiknyalah yang membawa Hongsiang itu kemari.

Para prajurit itu segera menebar dan bersiaga di halaman rumah tersebut.

Namun karena jumlah mereka memang sangat banyak, maka sebagian besar juga masih tetap bertebaran di jalan-raya.

Kereta yang ditumpangi kaisar Han berhenti di tengah-tengah halaman.

Para prajurit Kim-i-wi dan Gin-i-wi yang gagah-gagah itu segera berbaris rapat mengelilinginya.

Yap Tai Ciangkun turun dari atas kudanya dan bergegas menghampiri kereta.

Tapi panglima besar tentara Kerajaan itu segera berhenti ketika melihat Yap Kiong Lee dan Souw Thian Hai mendatangi.

"Twako...? Souw Taihiap...?"

Sapanya gembira. Souw Thian Hai mengangguk pula dengan hormat. Sedangkan Yap Kiong Lee segera merangkul Yap Tai-Ciangkun. Liu Yang Kun berdiri saja di kejauhan.

"Kau bawa Hongsiang kemari?"

Yap Kiong Lee bertanya pendek. Yap Khim menarik napas panjang. Matanya nanar mencari Liu Yang Kun.

"Aku tak bisa menghalangi kehendak Hongsiang untuk segera melihat puteranya. Hm... dimanakah Pangeran Liu Yang Kun?"

Yap Kiong Lee membalikkan tubuhnya.

"Itu dia...!"

Katanya seraya mengarahkan pandangannya kepada Liu Yang Kun. Yap Khim tertegun sebentar, lalu menganggukkan kepalanya kepada pemuda itu.

"Pangeran...!"

Sapanya hormat.

"Yap Tai-Ciangkun, dimanakah anak itu...?"

Tiba-tiba terdengar suara lantang dari dalam kereta. Yap Khim cepat memberi hormat ke arah kereta.

"Pangeran ada disini, Hongsiang..."

Jawabnya tegas pula.

"Mana dia...?"

Tiba-tiba pintu kereta terbuka lebar dan Kaisar Han Kou-Cou atau Kaisar Liu Pang itu melangkah keluar.

Tubuhnya yang tinggi besar itu masih tampak kokoh kuat meskipun rambut dan cambangnya yang lebat itu sudah hampir putih semuanya.

Kecuali para pengawal, semua orang yang berada di tempat itu segera berlutut.

Demikian pula dengan Yap Kiong Lee, Souw Thian Hai dan para undangan yang menghadiri pesta pernikahan itu.

Walaupun sedikit gugup dan ragu-ragu Liu Yang Kun juga menekuk lututnya pula.

"Yang Kun, dimanakah dia...?"

Karena tidak segera bisa melihat Liu Yang Kun, Hongsiang itu menggeram marah.

Baik Yap Khim, Yap Kiong Lee, maupun Souw Thian Hai cepat-cepat berpaling kepada Liu Yang Kun.

Mereka bertiga memandang pemuda itu dengan tajam, seperti menuntut agar pemuda itu segera memperlihatkan diri kepada Hongsiang.

Liu Yang Kun yang untuk beberapa saat lamanya memang seperti orang bingung itu akhirnya menyadari keadaannya.

Ia segera bangkit berdiri.

Kemudian dengan wajah tertunduk ia melangkah menghampiri ayahnya.

Para pengawal Kim-i-wi dan Gin-i-wi cepat menggerakkan ujung tombaknya ke depan.

Siap untuk menerjang Liu Yang Kun apabila pemuda itu berani mengganggu junjungan mereka.

Liu Yang Kun lalu berdiri hanya beberapa langkah di hadapan Kaisar Han.

Pemuda itu lalu menengadahkan kepalanya, dan untuk beberapa waktu lamanya dua pasang mata mereka saling menatap dengan tegangnya.

"Ayahanda...!"

Tiba tiba Liu Yang Kun berdesah pendek serta menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar Han.

"Anakku...!"

Kaisar Han cepat mengelus pula kepala Liu Yang Kun.

Air matanya tampak menetes ke atas pipinya.

Hongsiang yang terkenal sangat keras hati itu ternyata dapat juga meneteskan air mata.

Tapi suasana haru itu segera terputus pula oleh suara derap kaki kuda yang berdentangan di jalan raya.

Bahkan diantara dencingnya suara tapal kaki kuda itu terdengar pula suara derit roda kereta, yang dipacu dengan sekuat tenaga.

"Siapa itu...?"

Hongsiang menoleh ke arah Yap Khin dan berdesis pendek.

Dan suara gemuruh itu berhenti tepat di depan rumah Ui Bun Ting.

Bagaikan kijang Yap Khim dan kakaknya melompat menyibakkan prajurit-prajuritnya, kedua jagoan Kerajaan itu saling berlomba menuju ke jalan raya.

"Siapa...?"

Yap Khim bertanya kepada salah seorang perwiranya yang berada di luar pintu gerbang halaman. Perwira itu menunjuk ke arah Kereta yang berhenti di tepi Jalan.

"Rombongan dari kota Lai yin, Tai-Ciangkun. Ketua Partai Tiam-jong-pai dan anak muridnya,"

Jawabnya hormat.

"Ooh!"

Yap Kiong Lee berdesah lega, kemudian cepat-cepat menyongsong kedatangan pengantin tua itu.

"Nona Souw...!"

Pendekar dari istana itu menyapa halus ketika berpapasan dengan puteri Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

Beberapa langkah dari kereta yang berhenti itu Yap Kiong Lee berhadapan dengan Ui Bun Ting dan Han Sui Nio, calon isteri ketua Partai Tiam-jong-pai itu.

Orang tua itu tampak terheran-heran menyaksikan para prajurit kerajaan yang bertebaran di segala tempat tersebut.

"Yap Taihiap? Ada apa? Mengapa Taihiap membawa prajurit sedemikian banyaknya? Apakah kami mempunyai kesalahan terhadap Hongsiang?"

Ui Bun Ting berseru kaget.

"Tidak! Tidak ada apa-apa, Ui Ciangkun! Jangan salah duga! Kami memang sengaja datang untuk mengiringkan Hongsiang kemari. Hongsiang berkenan untuk menghadiri pesta perkawinanmu..."

Dengan sedikit berbohong Yap Kiong Lee cepat-cepat memberi keterangan untuk meredakan kekhawatiran Ui Bun Ting.

"Hah? Hongsiang berkunjung kemari? Yap Taihiap, mana... mana aku berani menerima kunjungan Hongsiang?"

Ui bun Ting berdesah gugup. Dan ketua partai Tiam-jong-pai itu semakin menjadi gugup lagi ketika Yap Khim atau Yap Tai-Ciangkun datang pula mendekatinya.

"Yap Tai-Ciangkun. selamat datang...!"

Sapanya pelan.

"Selamat berjumpa, Ui Ciang-bun. Bagaimanakah khabar Tiam-jong-pai selama ini? Maaf, Kami terpaksa membuat kaget Tiam-jong-pai dan Ui Ciang-bun hari ini. Hongsiang berkenan datang ke sini untuk menemui puteranya, Pangeran Liu Yang Kun. Dan tentu saja... sekalian menghadiri perkawinan Ui Ciang-bun!"

Yap Khim berkata pula sambiI mengangguk hormat.

"Pangeran Liu Yang Kun...? Pemuda... yang menolong aku itu? Beliau itu putera Hongsiang?"

Ui Bun Ting berseru kaget seraya memandang ke arah Yap Kiong Lee.

"Benar, Ui Ciang-bun. Pemuda itu memang putera Hongsiang. Karena menderita penyakit lupa ingatan, maka beliau pergi meninggalkan istana untuk mencari obatnya, kini beliau sudah sembuh dan berada di sini bersama aku. Dan berita kesembuhan Pangeran ini telah didengar pula oleh Hongsiang. Itulah sebabnya junjungan kita itu berkunjung kemari..."

Pendekar istana itu menjelaskan. Akhirnya Ui Bun Ting seperti tersadar dari mimpinya. Bergegas ketua partai Tiam-jong-pai itu menggandeng lengan Han Sui Nio.

"Kalau begitu antarkanlah kami menemui Hong Siang...! Oh, jangan-jangan beliau tidak mendapatkan pelayanan yang layak!"

Katanya tergesa-gesa.

Yap Kiong Lee dan Yap Tai-Ciangkun cepat mengiringkannya.

Sambil berjalan kedua kakak-beradik itu berkata bahwa Ui Bun Ting tak perlu bersusah-payah melayani kedatangan Hongsiang, karena kehadiran Hongsiang kali ini memang mendadak serta di luar pengetahuan Ui Bun Ting sendiri, apalagi Hongsiang sendiri juga tak suka disanjung-sanjung secara berlebihan pula.

Demikian gugup dan bingungnya Ui Bun Ting dan Han Sui Nio sehingga mereka lupa kepada Tui Lan dan bayinya yang masih berada di dalam kereta.

Apalagi Tui Lan juga tak mau keluar dari kereta itu, wanita muda itu tetap asyik menimang-nimang puterinya.

Bahkan dia juga tetap diam pula ketika kereta itu diparkir di seberang jalan.

Sementara itu dengan sikap yang masih sangat gugup Ui Bun Ting berlutut di depan Hongsiang yang masih merangkul kepala Liu Yang Kun.

"Hmm, Ui Ciang-bun... silakan berdiri!"

Kaisar Han yang sudah bisa mengendalikan perasaan harunya itu kemudian memberikan perintahnya.

"Aku sungguh berbahagia sekali malam ini. Karena pesta perkawinanmu ini aku bisa menemukan kembali puteraku yang hilang. Oleh karena itu aku akan duduk di meja perjamuanmu sampai upacara yang kauadakan selesai. Nah, marilah kita mulai upacaranya sekarang? Yang Kun, kau ikut aku!"

Selesai berbicara Kaisar Han melangkah menuju ke pendapa.

Diikuti oleh Ui Bun Ting, Yap Tai Ciangkun, Yap Kiong Lee, Souw Thian Hai dan para perwira pasukan pengawal kaisar.

Otomatis para tamu yang ada di dalam pendapa segera menyibak dan menyingkir dari deretan kursi utama.

Untuk beberapa langkah Liu Yang Kun memang mengikuti langkah Kaisar Han.

Namun ketika pandangan pemuda itu tertumbuk pada wajah gadis ayu yang juga ikut berjalan di belakang rombongan tersebut tiba-tiba langkahnya terhenti.

Matanya terbeliak lebar seakan-akan melihat sesosok hantu.

"Nona Souw...? Kau?"

Bibir Liu Yang Kun bergetar menyebut nama gadis ayu namun berlengan satu itu.

Matanya tetap nanar seolah-olah baru saat itu ia melihat Souw Lian Cu.

Souw Lian Cu tersentak kaget pula.

Gadis itu juga berhenti melangkah, sehingga mereka berdua lalu berdiri berhadapan dan ditinggalkan oleh rombongan mereka.

Sejenak mereka hanya saling berpandangan saja.

Namun kali ini Souw Lian Cu melihat adanya perubahan pada pandangan Liu Yang Kun.

Berbeda sekali dengan pandang mata pemuda itu kemarin.

Kini pandang mata pemuda itu telah kembali normal seperti yang dikenalnya dulu.

"Pangeran...?"

"Jangan panggil aku begitu! Aku..."

Tiba-tiba Liu Yang Kun berkata agak kesal. Tangannya mencengkeram lengan Souw Lian Cu, sehingga gadis itu menjadi merah mukanya.

"Ah, Pangeran... tanganmu menyakiti lenganku."

"Hmm. biarlah. Aku ingin berbicara denganmu. Marilah kita duduk di pendapa agar ayahandaku tidak mencari aku...!"

"Tapi... tapi...??"

"Dengar, Nona Souw! tidak ada tetapi lagi sekarang. Ayoh!"

Liu Yang Kun berkata tegas dan menarik lengan Souw Lian Cu ke pendapa.

Ketika lewat di dekat Kaisar Han, Liu Yang Kun diminta duduk di sampingnya.

Tapi pemuda itu dengan hormat menolak.

Sambil menuding kepada Souw Lian Cu pemuda itu mencari tempat duduk yang lain.

Dan ternyata Kaisar Han tidak memaksanya.

Kaisar yang bijaksana itu seperti memaklumi hati puteranya.

Kebetulan Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu memperoleh kursi yang agak terpisah sehingga mereka berdua bisa berbincang-bincang dengan leluasa.

"Nona Souw, aku..."

"Ah, Pangeran jangan... jangan begitu. Tidak enak dilihat orang."

Dengan wajah merah Souw Lian Cu melepaskan lengannya dari pegangan tangan Liu Yang Kun.

"Aku tidak peduli. Dan kukira juga tidak ada seorangpun yang memperhatikan kita. Semuanya melihat ke rombongan ayahanda Kaisar. Jadi kita bebas untuk saling berbicara disini."

"Ya. Tapi.. tapi Pangeran jangan terlalu... terlalu...?"

"Terlalu apa?"

Souw Lian Cu segera menundukkan kepalanya.

"Anu... Pangeran jangan terlalu mesra kepadaku! Aku merasa tidak enak kalau dilihat orang. Bukankah...bukankah Pangeran sudah beristri?"

"Heh...?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun tercenung diam. Di dalam pikirannya segera terbayang wajah Tiauw Li Ing yang genit dan kejam itu.

"Eh... kau maksudkan puteri bajak laut yang bernama Tiauw Li Ing itu?"

Akhirnya pemuda itu berkata kesal.

"Ketahuilah, Nona. Aku belum pernah kawin dengan dia. Eh, maksudku... aku belum resmi menikah dengan gadis itu.Semua yang telah terjadi itu hanyalah tipu-dayanya saja. Guru gadis itu telah menanamkan beberapa buah jarum di kepalaku sehingga aku menjadi lupa pada masa-laluku. Nah, selama itu aku dibohongi dan dicekoki pengertian bahwa aku adalah suami Tiauw Li Ing..."

Souw Lian Cu tersenyum melihat kedongkolan Liu Yang Kun.

"Sst! Tenanglah, Pangeran! Jangan keras-keras begitu! Nanti dilihat orang."

"Tapi...tapi kau berprasangka yang bukan-bukan. Aku jadi penasaran."

Sekali lagi Souw Lian Cu tersenyum sehingga wajahnya yang memang sangat cantik itu menjadi semakin manis dilihat oleh Liu Yang Kun.

"Sudahlah, Pangeran. Sekali lagi, tenanglah! Aku juga tidak berprasangka pula secara membabi buta. Aku mempunyai bukti yang sangat kuat..."

"Nah! Kau sudah memulainya kembali!"

Liu Yang Kun menjadi berang kembali.

"Sudah kukatakan bahwa semuanya itu hanya tipu-daya! Antara aku dan Tiauw Li Ing..."

"Sssst! Aku tidak mengatakan hubungan Pangeran dengan gadis itu..."

Dengan cepat Souw Lian Cu memotong.

"Kalau tentang gadis itu aku sudah bisa memakluminya..."

Wajah Liu Yang kun tiba-tiba menjadi pucat. Matanya terbeliak memandang Souw Lian Cu, hatinya menjadi kaget dan bingung.

"Apakah... apakah yang Nona maksudkan?"

Tanyanya kemudian dengan suara gemetar. Namun di dalam hatinya telah timbul bayangan yang sangat menakutkan.

"Sudahlah,Pangeran. Pembicaraan ini tak perlu diperpanjang lagi. Diantara kita memang tidak pernah terjadi apa-apa. Oleh karena itu pula kita tak usah mengungkit-ungkit urusan pribadi masing-masing. Lihatlah, upacara perkawinan telah hampir selesai. Sebentar lagi tentu akan diselingi dengan pertunjukan dan hiburan yang amat menarik."

Tapi bujukan gadis itu justru semakin memanaskan hati Liu Yang kun. Pangeran muda itu justru bertambah berang dan penasaran. Sikapnyapun menjadi bertambah berani pula.

"Tidak! Aku tidak mau menghentikannya! Aku justru akan mengatakannya sekarang! Dulu aku memang selalu ragu-ragu untuk mengeluarkannya! Tapi sekarang... tidak! Nah, nona Souw... ketahuilah! Aku mencintaimu! Aku ingin memperisterimu! Apapun yang terjadi..."

Senyum yang tersungging di bibir Souw Lian Cu tiba-tiba lenyap.

Wajah itu seketika menjadi pucat pasi.

Beberapa kali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ucapan pemuda itu didengar oleh orang lain.

Tapi saat itu sebuah tarian kipas sedang dipertunjukkan oleh sepuluh orang gadis, dan semua mata tertuju ke sana.

Tentu saja hati Souw Lian Cu menjadi lega.

Namun demikian untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka gadis itu segera menyeret Liu Yang Kun keluar.

Untunglah pada saat itu pula beberapa orang tamu banyak yang hilir-mudik di pendapa tersebut, sehingga kepergian mereka tidak menimbulkan perhatian orang lagi.

Mata para prajurit dan pengawal kaisar dengan tajam menatap mereka ketika mereka melewati halaman.

Namun Liu Yang kun tidak peduli.

"Nona Souw... Mengapa tiba-tiba kau membawa aku keluar? Apakah kali ini kau juga akan mengatakan penolakanmu seperti dahulu, sehingga kau takut aku akan mengamuk dan membuat onar di dalam pesta perkawinan ini??"

Liu Yang kun mendesak tak sabar ketika mereka telah berada di pintu gerbang halaman.

"Sabarlah, Pangeran! Aku hendak menunjukkan sesuatu pada Pangeran. Sebuah bukti bahwa apa yang kukatakan tentang istri Pangeran tadi bukanlah mengada-ada. Marilah...!"

"Hah, Tiauw Li Ing lagi! Bosan aku!"

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 5

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert