Ceritasilat Novel Online

Pendekar Lembah Naga 15

Eps 15 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.

Sebaliknya, orang yang selalu waspada akan melihat kenyataan itu, akan melihat kedukaan dan kesengsaraan yang tersembunyi di balik sinar menyilaukan dari kesenangan, Sehingga dia akan bertindak bijaksana dan cerdas, Tidak memasuki kesenangan dengan mata terpejam dan secara membuta saja!

Hal ini dapat dilihat jelas, kalau kita menghadapi makanan lezat.

Orang yang tidak pernah waspada terhadap dirinya sendiri, begitu melihat makanan, yang nampak hanyalah kelezatannya saja dan makanlah dia sepuas-puasnya, dan baru setelah perutnya sakit atau timbul akibat buruk dari makan enak terlampau banyak itu, dia akan mengeluh panjang pendek dan menyalahkan si makanan lezat!

Sebaliknya, orang yang waspada setiap saat akan dirinya sendiri dan akan apa saja yang dihadapinya, melihat juga kelezatan itu akan tetapi di samping itu akan melihat pula akibat-akibat buruk yang menjadi rangkaian kelezatan itu sehingga tindakannya menjadi bijaksana, dia tidak terlalu gembul melainkan makan dengan hati-hati.

Dan andaikata dia sampai terkena sakit perut sekalipun dia tidak akan menyalahkan siapa-siapa, melainkan melihat jelas bahwa kesalahan itu adalah kesalahannya sendiri!

Jelas sekali bedanya, bukan?

Ini bukan berarti bahwa penulis menganjurkan agar kita menolak kesenangan!

Sama sekali tidak menganjurkan apa-apa, juga tidak mencela apa-apa.

Hanya ingin mengajak pembaca untuk mempelajari apa dan bagaimana kesenangan itu dan selanjutnya terserah!

Ada bermacam-macam penangkapan dalam mempelajari sesuatu.

Ada bermacam-macam pengertian.

Mengerti arti kata-katanya saja, seperti biasa orang mengerti dan menikmati filsafat muluk-muluk dan merasakan kesenangan dalam membicarakannya.

Ini adalah pengertian yang tidak ada arti dan manfaatnya bagi kehidupan, Karena pengertian arti kata-katanya saja ini hanya dipergunakan untuk bahan perdebatan memperebutkan kemenangan dan kebenaran kosong, seperti kosongnya kata-kata itu.

Ada pula, pengertian teoritis dan pengertian intelek yang diakui oleh batin, namun hanya sampai di situ saja, tidak disertai penghayatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada pula pengertian mendalam, mengerti yang disertai kesadaran dan kewaspadaan, pengertian ini menciptakan tindakan sendiri yang timbul dari kecerdasan!

Untuk memperoleh pengertian yang terakhir inilah kita belajar!

Pengertian yang tidak terpisah daripada tindakan.

Bukan mengerti lalu bertindak untuk mencapai sesuatu.

Melainkan mengerti dan bertindak melepaskan yang palsu, bukan untuk mencari keuntungan dari pelepasan itu, melainkan karena mengerti bahwa itu palsu.

"Si-moi, aku sungguh merasa bahagia sekali bahwa engkau dapat ikut bersamaku ke utara. Alangkah akan sedih hatiku andaikata engkau belum kembali dan aku terpaksa harus melakukan perjalanan sendiri."

Ciauw Si menatap wajah tampan itu dan tersenyum.

"Engkau adalah suamiku, pangeran. Ke manapun engkau pergi, aku akan ikut. Akan tetapi, kalau boleh aku bertanya, ke manakah kita sekarang ini hendak menuju?"

"Ke Istana Lembah Naga, isteriku. Untuk sementara ini, kita akan tinggal di istana itu. Dan di sana pula, di Lembah Naga, akan diadakan pertemuan antara seluruh orang gagah di dunia kang-ouw itu, di mana aku akan membuktikan bahwa aku tidak akan mengecewakan kalau mereka mau mengangkatku menjadi bengcu dan Jago Nomor Satu di Dunia."

Ciauw Si mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, suamiku. Kurasa amat tidak bijaksana kalau hendak mengangkat diri menjadi jagoan nomor satu di dunia. Di dunia ini terdapat banyak sekali orang pandai, namun tidak ada di antara mereka yang berani mengangkat diri menjadi yang paling pandai. Pangeran, yakin benarkah engkau bahwa kepandaianmu sudah setinggi itu sehingga tidak akan ada yang dapat menandingimu?"

Ceng Han Houw tersenyum bangga.

"Si-moi, tentu saja engkau meragu. Akan tetapi jangan engkau mengira bahwa kepandaianku sama dengan tingkatku ketika kita saling bertemu untuk pertama kali itu. Aku telah mewarisi kepandaian dari guruku, Bu Beng Hud-couw, dan kiranya tidak mungkin aku dapat dikalahkan!"

"Hemm, mudah-mudahan begitu,"

Kata Ciauw Si, akan tetapi alisnya masih berkerut tanda bahwa dia merasa bimbang.

Han Houw maklum akan isi hati Ciauw Si.

Dia lalu menyuruh kusir kereta menghentikan kereta itu.

Mereka berada di lereng sebuah bukit.

Pasukan pengawal berhenti dan, menoleh heran, komandan pasukan lalu mendekatkan kudanya dengan kereta, memberi hormat dan bertanya.

"Ada perintah apakah, pangeran?"

"Berhenti dulu, beristirahat di sini sebentar!"

Kata Pangeran Ceng Han Houw dan dia mengajak Ciauw Si untuk turun dari kereta, kemudian menggandeng tangan isterinya itu menjauhi kereta, ke tempat yang sunyi di padang rumput dekat puncak bukit itu.

"Si-moi, aku sengaja berhenti untuk memperlihatkan kepadamu agar engkau tidak bimbang ragu lagi."

"Maksudmu, pangeran?"

"Engkau telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, karena engkau dibimbing sendiri oleh mendiang kakekmu, pendekar sakti Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai, bukan?"

"Ah, aku hanya mempelajari sedikit sekali dibandingkan dengan kepandaian mendiang kong-kong."

"Betapapun juga, engkau merupakan seorang pendekar wanita yang jarang tandingannya, dan termasuk orang yang memiliki kepandaian silat tingkat tinggi di waktu ini. Oleh karena itu, kepandaianmu cukup untuk menguji sampai di mana tingkat kepandaianku yang kau ragukan itu, isteriku. Nah, sekarang kau boleh mencoba untuk mempergunakan seluruh kepandaian silatmu untuk menyerangku. Lihat, sampai berapa lama aku berhasil mencabut tusuk kondemu itu."

Wajah Ciauw Si berseri-seri.

Sebagai seorang wanita gagah, tentu saja dia paling senang bicara tentang ilmu silat, apalagi mencobanya.

"Eh, mencabut tusuk kondeku bukan hal yang mudah saja, pangeran! Itu melebihi sukarnya merobohkan aku! Karena untuk merobohkan aku banyak bagian tubuh yang dapat diserang dan sebaliknya, kalau aku mencurahkan perhatian dan pertahanan menjaga tusuk kondeku, mana mungkin engkau dapat mengambilnya?"

Uaminya tertawa.

"Itulah sebabnya maka aku sengaja hendak menguji diri sendiri. Kalau aku tidak dapat mengambilnya, anggap saja kepandaianku masih kurang jauh sekali dan akupun tidak akan berani mencalonkan diri menjadi jago nomor satu di dunia."

Ciauw Si mengerutkan alisnya yang bagus.

Tentu saja dia tidak akan tega membiarkan suami tercinta ini gagal.

Akan tetapi, kalau dibiarkan berhasil dan kemudian suaminya menghadapi jagoan-jagoan lihai, tentu akan berbahaya juga.

Maka dia menjadi serba salah.

"Ciauw Si, jangan kau ragu-ragu dan jangan memandang rendah kepada suamimu ini. Ketahuilah bahwa tingkat kepandaianku sekarang ini tidak kalah oleh bekas suboku, Hek-hiat Mo-li sendiri, bahkan aku berani berkata bahwa tingkatku tidak lebih rendah daripada tingkat kepandaian mendiang kong-kongmu!"

"Baiklah,"

Ciauw Si berKata.

"Akan tetapi, pangeran, kalau sampal lima puluh jurus engkau tidak mampu mengambil tusuk kondeku dari kepala, apalagi kalau sampai aku dapat menyentuh bagian tubuhmu yang berbahaya, berjanjilah bahwa engkau tidak akan ikut memasuki pemilihan jago nomor satu di dunia. Bagaimana?"

"Baik, Si-moi,"

Jawab pangeran itu sambil tersenyum, penuh kepercayaan akan diri sendiri.

"Nah, kaw mulailah!"

"Bersiaplah, pangeran. Lihat serangan!"

Ciauw Si mulai melakukan penyerangan dan dia bergerak cepat, menyerang ke bagian tubuh yang berbahaya.

Tentu saja penyerangan itu tanpa disertai tenaga sin-kang, hanya dilakukan cepat saja karena tujuannya hanya untuk sekedar "menyentuh"

Bagian tubuh berbahaya untuk mendapatkan kemenangan.

Ceng Han Houw melihat gerakan yang cepat sekali ini juga segera mengelak dan menangkis, kemudian, membalas dengan sambaran tangan ke arah kepala yang dapat dielakkan pula oleh Ciauw Si.

Mula-mula, wanita lihai ini sengaja mengeluarkan Ilmu Silat San-in Kun-hoat yang amat hebat, yang terdiri dari delapan jurus pilihan.

Jurus-jurus ini dipergunakannya untuk menyerang dan mendesak suaminya, dan selama dia bertualang, jarang ada lawan yang mampu mempertahankan diri kalau dia menyerangnya dengan ilmu silat yang ampuh ini.

Akan tetapi pangeran itu ternyata hebat bukan main.

Gerakan-gerakannya aneh dan lincah lembut, dan setiap serangannya, sampai kedelapan jurus dari San-in Kun-hoat itu dipergunakannya semua, selalu dapat dielakkan dan ditangkis dengan mudah saja!

Bahkan tidak hanya demikian, akan tetapi gerakan kedua tangan suaminya itu sedemikian cepatnya sehingga beberapa kali hampir saja gelung rambutnya dapat disentuhnya!

Ciauw Si merasa terkejut dan juga kagum sekali.

Pangeran yang menjadi suaminya itu ternyata tidak membual, dan memang telah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat sehingga ilmunya San-in Kun-hoat yang merupakan ilmu keturunan dari Cin-ling-pai itu sama sekali tidak berdaya terhadapnya.

Maka kini Ciauw Si tidak lagi mencurahkan kepandaian untuk menyerang, melainkan untuk mempertahankan diri, mempertahankan agar jangan sampai tusuk kondenya dapat dirampas suaminya.

Maka dia merubah gerakannya dan kini dia bersilat dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang gerakannya tenang dan mantap, tidak begitu cepat akan tetapi mengandung daya tahan yang sekuat tembok benteng!

"Bagus!

Ini tentu Thai-kek Sin-kun yang amat terkenal itu!"

Kata Ceng Han Houw dan dia mempercepat gerakannya untuk merampas tusuk konde dari gelung rambut isterinya.

Akan tetapi ke manapun dia bergerak, selalu dia menghadapi pertahanan yang kuat.

Apalagi memang Ciauw Si memusatkan pertahanannya kepada kepala sehingga semua sambaran tangan pangeran itu dapat ditangkisnya!

Tiga puluh jurus telah lewat dan tahulah Ceng Han Houw betapa kuatnya daya tahan dari ilmu silat isterinya itu dan kalau dilanjutkan, jangankan hanya lima puluh jurus, biar sampai seratus jurus kiranya akan sukarlah baginya untuk merampas tusuk konde itu.

Dan dia mengerti bahwa isterinya mati-matian mempertahankan untuk memperoleh kemenangan, karena isterinya itu agaknya khawatir kalau-kalau dia memasuki pemilihan jago nomor satu di dunia, mengkhawatirkan keselamatannya, tentu.

"Isteriku, kau hati-hatilah. Sebelum sepuluh jurus tentu tusuk konde itu akan dapat kurampas!"

Katanya.

Ciauw Si hanya tersenyum dan menganggap suaminya itu berkelakar atau menyombong saja.

Sudah tiga puluh jurus belum mampu merampasnya, mana mungkin sekarang dalam sepuluh jurus akan dapat mengambil tusuk konde itu?

Tiba-tiba Ceng Han Houw mengeluarkan pekik nyaring dan gerakannya berubah sama sekali.

Kini setiap gerakannya mendatang angin berdesir, membuat pakaian Ciauw Si berkibar-kibar seperti dilanda angin besar.

Wanita ini kagum dan terkejut, akan tetapi dia tetap mencurahkan semua daya tahan untuk melindungi kepalanya.

Tiba-tiba tubuh pangeran itu berjungkir balik dan dia sudah memainkan Ilmu Hok-te Sin-kun yang luar biasa, yang didapatnya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw itu.

Ciauw Si terkejut dan bingung sekali ketika yang menyerang ke arah kepalanya bukan dua tangan, melainkan dua buah kaki (Lanjut ke

Jilid 51) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 51 bersepatu!

Akan tetapi dia tetap menangkis gerakan kaki itu dan tiba-tiba dia merasa tubuhnya lemas.

Kiranya jari tangan pangeran itu telah menotok punggungnya dari bawah!

Dan sebelum Ciauw Si roboh, pangeran itu sudah berdiri lagi, dengan kecepatan kilat tangan kirinya menangkap kedua tangan Ciauw Si yang dalam beberapa detik menjadi seperti lumpuh itu, tangan kanannya menyambar ke arah tusuk konde dan pada detik berikutnya Ciauw Si sudah mampu bergerak kembali, akan tetapi tusuk kondenya telah terampas!

"Empat puluh jurus...!"

Ceng Han Houw tersenyum sambil mengacungkan tusuk konde itu ke atas.

Ciauw Si tersenyum dan merangkul pinggang suaminya, memandang penuh kagum.

"Ah, tak kusangka engkau sehebat ini, pangeran! Akan tetapi... betapapun lihai ilmu silatmu, lihai dan aneh dan hal itu harus kuakui, akan tetapi... kalau engkau bertemu dengan lawan yang memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, apakah ilmu silatmu itu akan dapat menandinginya?"

Ceng Han Houw mencium isterinya dan menusukkan kembali tusuk konde itu kegelung rambut isterinya, mematutnya, kemudian dia tersenyum dan berkata.

"Kita tadi sudah saling menguji ilmu silat dan kelihaian gerakan. Kini, mari engkau menguji tenaga sin-kang yang kuperoleh dari pelajaran-pelajaran rahasia itu, juga ilmu gin-kangku. Sebagai cucu mendiang ketua Cin-ling-pai, tentu tenaga sin-kangmu sudah kuat sekali, bukan? Nah, coba kauserang aku dengan tenaga sin-kangmu, Si-moi, tidak seperti tadi, engkau hanya mengandalkan kecepatan gerak saja."

Ciauw Si menggeleng kepala.

"Main-main dengan tenaga sin-kang untuk saling serang adalah amat berbahaya."

"Bukan saling serang maksudku, sayang, melainkan hanya mengukur kekuatan sin-kang masing-masing."

"Baiklah kalau begitu, biar kita mengukur sin-kang dengam mempermainkan sehelai daun,"

Kata Ciauw Si gembira dan wanita ini lalu mengambil sehelai daun kering.

"Kita lihat berapa tinggi kita masing-masing dapat menahan daun ini!"

Dia melemparkan daun itu ke atas dan cepat menggerakkan tangan yang terbuka ke atas, seperti orang menyangga.

Daun yang dilempar ke atas itu tentu saja melayang-layang ke bawah, akan tetapi begitu Ciauw Si menggerakkan tangan...

daun itu tertahan, bahkan naik lagi ke atas!

Wanita muda itu terus menggerak-gerakkan kedua tangannya yang tergetar, penuh tenaga sin-kang dan sehelai daun kering itu terus naik sampai setinggi tiga meter dan bergerak-gerak seperti seekor kupu-kupu, setiap mau melayang turun seperti tertahan oleh tiupan angin dari bawah!

Setelah melihat bahwa daun itu tidak naik lebih tinggi lagi, Pangeran Ceng Han Houw berseru.

"Bagus sekali, Si-moi. Sin-kangmu cukup hebat! Biar kunaikkan lagi daun itu!"

Diapun lalu menggerakkan sebelah tangan, yaitu tangan kirinya ke arah daun itu dan seperti disambar angin yang amat kuat, tiba-tiba daun itu meluncur naik ke atas!

Melihat ini, Ciauw Si terkejut dan kagum bukan main, maka dia lalu menurunkan kedua tangannya dan melangkah mundur, mengusap keringatnya yang membasahi dahi dan leher.

Dia melihat betapa hanya dengan tangan kiri saja pangeran itu mampu membuat daun itu naik dan naik terus.

Hampir dia tidak dapat percaya ketika daun itu terus melayang naik setiap kali pangeran itu menggerakkan tangan kiri sampai daun itu melayang-layang setinggi belasan meter!

Sungguh merupakan demonstrasi tenaga sin-kang yang selamanya belum pernah dilihatnya!

Kini dia mulai percaya bahwa pangeran yang telah menjadi suaminya itu tidak membual ketika mengatakan bahwa dia tidak kalah lihai dibandingkan dengan mendiang ketua Cin-ling-pai!

Sukar diukur lagi betapa kuatnya sin-kang pangeran itu yang mampu membuat daun melayang-layang sampai belasan meter tingginya itu.

Tiba-tiba pangeran itu menyusulkan tangan kanannya.

Kini kedua tangan dengan telapak tangan di atas itu bergerak-gerak, dan tiba-tiba bergerak ke bawah.

Daun yang ringan itupun tiba-tiba meluncur ke bawah seperti sepotong batu yang berat.

Setelah dekat, pangeran itu mengebutkan tangannya dan...

daun itu lenyap dan berhamburanlah tepung halus.

Ternyata daun itu telah dipukul dengan pukulan jarak jauh dan menjadi hancur seperti tepung!

Ceng Han Houw menoleh kepada Ciauw Si sambil tersenyum bangga.

"Bagaimana pendapatmu, Si-moi?"

Ciauw Si merangkul dengan penuh kebanggaan dan kasih sayang.

"Engkau hebat, pangeran, engkau sungguh hebat bukan main..."

Katanya.

"Nah, dalam ilmu silat dan sin-kang agaknya engkau sudah mulai percaya kepadaku. Sekarang akan kuperlihatkan gin-kang yang telah kupelajari. Kau boleh menyerangku secepat mungkin dan aku tidak akan menangkis, melainkan mempergunakan gin-kang untuk menghindarkan semua seranganmu. Kau boleh mempergunakan pedangmu!"

Akan tetapi Ciauw Si tentu saja tidak mau mencabut pedangnya, melainkan mengambil sebatang ranting pohon.

"Biar kupergunakan ini saja,"

Katanya dan mulailah dia menyerang dengan gerakan secepat mungkin.

Dan terjadilah keanehan.

Pangeran Ceng Han Houw mempergunakan ilmu langkah Pat-kwa-po akan tetapi karena dia telah memiliki gin-kang yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu Beng Hud-couw, maka gerakan-gerakan yang aneh itu membuat tubuhnya seolah-olah naik sepatu roda, bergeser ke sana ke mari dengan cepat bukan main dan ke manapun ranting itu menyambar tubuhnya seperti telah lebih dulu terdorong oleh angin gerakan ranting itu, dan selalu dapat menghindarkan dengan lebih cepat lagi!

Sampai puluhan jurus Ciauw Si menyerang, dan selalu mengenai tempat kosong.

Akhirnya dia membuang ranting itu dan merangkul suaminya penuh kebanggaan.

Sambil bergandeng tangan mereka kembali ke tempat para pasukan pengawal menanti dan mereka memasuki kereta.

Pangeran itu memerintahkan pasukan bergerak lagi dan mereka melanjutkan perjalanan ke Lembah Naga.

Di sepanjang perjalanan, sepasang pengantin baru itu tiada hentinya bermain cinta, mencurahkan semua perasaan rindu mereka dengan penuh kemesraan.

Ciauw Si makin tergila-gila kepada Pangeran Ceng Han Houw, sebaliknya sang pangeran itupun makin mendalam rasa cintanya kepada wanita ini, sama sekali berbeda dengan perasaannya terhadap semua selir yang pernah menghiburnya.

Diam-diam dia mengambil keputusan bahwa Ciauw Si adalah calon permaisurinya, dan kalau memang isterinya ini menghendaki, selamanya dia tidak akan mengambil selirpun tidak mengapa!

Seorang Ciauw Si saja sudah cukup baginya, sudah mewakili seluruh wanita di dunia ini!

Beberapa pekan kemudiang di luar Tembok Besar, setelah melalui padang tandus penuh pasir, Sin Liong mulai mendaki pegunungan yang menghadang panjang di depan.

Mulailah dia bertemu dengan pohon-pohon di hutan setelah berhari-hari dia melalui dataran tandus mengering itu.

Tujuannya hanya satu.

Mencari dan menemukan kembali Bi Cu.

Rintangan apapun akan diterjangnya dan dia ingin cepat-cepat tiba di Lembah Naga untuk menemui Pangeran Ceng Han Houw seperti tersebut dalam surat yang ditinggalkan oleh penculik Bi Cu yang diduganya tentulah Kim Hong Liu-nio orangnya.

Karena dia ingin cepat-cepat tiba di Lembah Naga, maka dia melakukan perjalanan cepat dan tidak mau tertunda di tengah jalan.

Dalam waktu beberapa pekan saja tubuh Sin Liong telah menjadi kurus karena kurang makan dan kurang tidur.

Sukar baginya untuk dapat tidur nyenyak dan makan enak karena dia selalu teringat kepada Bi Cu dan setiap teringat kepada kekasihnya itu, timbullah kegelisahan hebat dalam hatinya.

Dia ingin cepat-cepat tiba di Lembah Naga untuk segera melihat bagaimana keadaan kekasihnya itu.

Tak dapat dia bayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai ada orang berani mengganggu Bi Cu!

Ngeri dia memikirkan kemungkinan ini.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa begitu dia muncul di luar Tembok Besar, dia sudah diketahui.

Semenjak berada di Lembah Naga, diam-diam Pangeran Ceng Han Houw sudah mempersiapkan segala sesuatu, Bahkan sudah memasang mata-mata di setiap tempat dari luar tembok sampai ke Lembah Naga sehingga dia akan tahu lebih dulu siapa yang akan datang dari selatan ke Lembah Naga.

Biarpun pertemuan besar dunia kang-ouw belum dimulai, namun dia sudah memasang orang-orangnya untuk mengamati dengan teliti.

Oleh karena itu, maka kedatangan Sin Liong telah lebih dulu diketahuinya.

Selama berada di Lembah Naga, untuk meyakinkan hatinya, Ceng Han Houw sudah menguji pula kepandaiannya sendiri.

Sucinya, Kim Hong Liu-nio hanya dapat bertahan sampai tiga puluh jurus saja melawan dia!

Sedangkan bekas subonya, Hek-hiat Mo-li, juga akhirnya menyerah setelah menghadapinya sampai seratus jurus!

Maka yakinlah dia akan kekuatannya.

Ketika Ceng Han Houw mendengar berita kedatangan Sin Liong, dia cepat menyuruh Hek-hiat Mo-li untuk menghadang.

"Harap subo suka mencoba dan menguji kepandaian pemuda itu agar aku dapat mengukur sampai di mana kelihaian calon pembantu utamaku itu!"

Kata Ceng Han Houw dengan girang.

"Suci, harap kau perkuat penjagaan pada sekeliling istana untuk menjaga segala kemungkinan. Bocah yang menjadi adik angkatku itu memang orang aneh. Mungkin saja dia melakukan hal-hal yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan sebelumnya."

Bi Cu telah berada di dalam istana itu.

Dia diperlakukan dengan baik, seperti seorang tamu agung, akan tetapi tetap saja dara ini merasa sengsara dan kalau saja di situ tidak ada Ciauw Si, tentu dia sudah mengamuk dan nekat mempertaruhkan nyawanya.

Ciauw Si menghiburnya dan berusaha menyadarkan bahwa pangeran tidaklah jahat, bahwa pangeran adalah kakak angkat Sin Liong dan pangeran berusaha agar Sin Liong suka membantunya mengumpulkan orang-orang kang-ouw.

"Percayalah kepadaku, Bi Cu. Engkau tahu, aku adalah cucu ketua Cin-ling-pai yang sejak dahulu merupakan keluarga pendekar dan pahlawan, oleh kaisar lalim dituduh pemberontak dan dikejar-kejar sebagai orang pelarian! Dan untung ada Pangeran Ceng Han Houw yang membebaskan mereka, dan kini pangeran yang telah menjadi suamiku itu ingin mengajak orang-orang gagah dunia kang-ouw untuk bangkit melawan kelaliman kaisar."

Demikian antara lain Ciauw Si membujuk dan akhirnya, terutama melihat kehadiran wanita perkasa itu di situ, Bi Cu dapat menahan sabar dan menanti kedatangan Sin Liong yang katanya sudah diundang datang ke tempat itu.

Betapapun juga, dia merasa gelisah sekali, amat rindu kepada Sin Liong dan takut kalau-kalau pemuda kekasihnya itu mengalami kecelakaan.

Demikianlah, ketika Sin Liong memasuki hutan pertama setelah berhari-hari melalui padang tandus, tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang nenek bermuka hitam yang menyeramkan.

Sin Liong terkejut bukan main, akan tetapi juga marah ketika mengenal nenek itu.

"Hek-hiat Mo-li nenek iblis terkutuk!"

Bentaknya marah, karena pada saat itu dia bukan hanya teringat akan Bi Cu yang dia pikir tentu diculik oleh nenek ini bersama Kim Hong Liu-nio, akan tetapi juga teringat betapa kematian kong-kongnya yang amat disayang dan dihormatinya, yaitu mendiang ketua Cin-ling-pai, Cia Keng Hong, disebabkan oleh nenek ini dan murid perempuannya itu.

Hek-hiat Mo-li mengedip-ngedipkan matanya yang tinggal sebelah kanan saja itu, mulutnya sebetulnya tersenyum akan tetapi karena sudah peyot dan tak bergigi maka nampaknya malah cemberut!

"Bocah lancang, ke sinilah kalau ingin mampus!"

Sin Liong sedang dalam keadaan gelisah dan duka, maka kenekatannya sudah memuncak.

Kini, bertemu dengan orang yang dianggap satu diantara musuh-musuh besarnya ini, dia tidak mau banyak cakap lagi.

Dia lalu mengeluarkan pekik dahsyat dan terus menubruk sambil melakukan serangan yang hebat, cepat seperti kilat menyambar dan dahsyat seperti halilintar di atas kepala lawan.

Hek-hiat Mo-li juga berteriak nyaring dan menangkis dengan lengan kirinya yang bergelang, sedangkan tangan kanannya yang dibuka membentuk cakar telah menyambar ke arah dada Sin Liong, seperti cakar elang yang hendak merobek dada mencengkeram keluar jantung lawan.

Sin Liong maklum akan kelihaian lawan, maka sambil cepat mengelak mudur, kemudian balas menyerang dengan sepenuh tenaganya.

Akan tetapi, nenek itu tidak menangkis malainkan tiba-tiba menjatuhkan diri di depan kaki Sin Liong.

Selagi pemuda ini merasa heran, dia sudah mencelat dari bawah dan mencengkeram ke arah bawah pusar!

Tentu saja Sin Liong terkejut bukan main.

Tak disangkanya nenek itu memiliki akal curang seperti itu dan gerakannya cepat sekali, maka diapun lalu meloncat dan membalikkan tubuhnya untuk mengelak.

Akan tetapi, nenek itu sudah melayang dan mengejarnya dengan tubrukan dari belakangnya.

Mengerikan sekali gerakan nenek yang sakti ini dan biarpun Sin Liong sudah memutar tubuh menangkis, namun tetap saja tangan kanan nenek itu sudah menempel di pundak kirinya.

Bukan sembarangan menempel, melainkan mencengkeram dengan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Otomatis tubuh Sin Liong mengerahkan sin-kang dan Ilmu Thi-khi-i-beng bergerak langsung dari dalam pusar ke pundak.

"Ihh! Thi-khi-i-beng!"

Nenek itu berseru dan seketika tenaga sin-kangnya berhenti mengalir dan dengan gerakan cepat dia dapat melepaskan tangannya dari pundak pemuda itu yang mempunyai daya menyedot yang hebat sekali.

Kembali nenek itu menyerang dengan dahsyat, menggunakan cengkeraman kedua tangannya yang seperti cakar garuda itu dan yang diserangnya adalah bagian-bagian berbahaya yang kiranya tidak dapat dilindungi oleh Thi-khi-i-beng.

Sin Liong kini sudah bersikap hati-hati sekali, maklum akan kelihaian lawan.

Dengan gerakan Thai-kek Sin-kun dia dapat mempertahankan dirinya dengan baik, Bukan hanya mengelak dan menangkis, melainkan juga membalas dengan tamparan-tamparan yang mengandung tenaga amat kuat karena dia telah membalas dengan pukulan-pukulan Thian-te Sin-ciang yang didapatnya dari mendiang Kok Beng Lama.

Tenaga sin-kang dari Sin Liong memang kuat bukan main, karena dia telah menerima pengoperan tenaga ini dari mendiang Kok Beng Lama.

Tenaganya sendiri yang ditambah tenaga kakek sakti itu telah dimatangkannya pula ketika dia mempelajari ilmu-ilmu dari Bu Beng Hud-couw, maka pada saat ini tingkat kekuatan yang ada pada diri pemuda ini setidaknya tidak kalah kuat dibandingkan dengan tenaga Kok Beng Lama ketika masih hidup!

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila Hek-hiat Mo-li terkejut bukan main melihat kenyataan betapa dalam hal adu tenaga, Dia tidak mampu menandingi pemuda itu dan kedua tangannya selalu terpental kalau bertemu depgan lengan pemuda itu.

Akan tetapi, di lain fihak, Sin Liong juga terkejut ketika tiap kali dia berhasil menampar atau memukul, tamparan dan pukulannya yang mengenai sasaran dengan tepat itu membalik seperti mengenai tubuh dari karet yang amat kuat.

Ternyata nenek itu memiliki kekebalan yang amat luar biasa!

Setiap kali dipukul, bukan hanya tangannya sendiri yang terpental, bahkan nenek itu masih terkekeh mentertawakan dia!

Sin Liong menjadi semakin marah dan penasaran.

Dia harus mengalahkan dan merobohkan nenek itu lebih dulu sebelum dia dapat mengharapkan untuk menyelamatkan Bi Cu.

Maka dia lalu mengeluarkan pekik yang dahsyat dan tiba-tiba gerakannya berubah dan nenek itu terkejut sekali.

Hek-hiat Mo-li melihat betapa begitu mengeluarkan pekik dahsyat, pemuda itu kelihatan penuh wibawa, sepasang matanya mencorong seperti mata malaikat dan tubuhnya tergetar dan nampak seolah-olah bertambah besar, kemudian gerakan pemuda itu kelihatan aneh sekali.

Tiba-tiba pemuda itu menyerangnya dengan gerakan yang aneh, kedua lengannya bergerak, yang kanan menghantam ke arah langit dan yang kiri menghantam ke arah bumi!

Itulah satu jurus dari Hok-mo Cap-sha-ciang yang dipelajarinya dari Bu Beng Hud-cow!

Selagi Hek-hiat Mo-li terkejut dan heran, juga bingung menyaksikan serangan aneh yang sama sekali tidak ditujukan kepadanya itu, tiba-tiba ada angin menyambar dari depan, angin itu berpusing karena datang dari arah atas dan bawah, yang diakibartkan oleh gerakan membalik dari kedua tangan pemuda itu dan dia merasa seperti digulungkan oleh pusingan angin pukulan itu!

Hek-hiat Mo-li terkejut bukan main, cepat berusaha untuk meloncat mundur dan menangkis, namun dia tidak mampu keluar dari pusingan angin itu dan biarpun dia berhasil menangkis kedua tangan lawan, tetap saja tubuhnya terpental jauh!

Bukan main kagetnya Hek-hiat Mo-li.

Biarpun tubuhnya kebal dan dia tidak terluka, namun karena terbanting dan bergulingan, tubuhnya yang sudah tua itu terasa sakit-sakit dan pandang matanya yang tinggal sebuah itupun berkunang, kepalanya agak pening!

Tahulah dia bahwa pemuda ini benar-benar luar biasa lihainya.

Baru kurang lebih lima puluh jurus saja dia sudah dibikin terguling-guling seperti itu.

Dia tidak takut, akan tetapi dia enggan untuk dijatuhbangunkan seperti itu, hal yang sungguh memalukan bagi seorang tokoh yang tua dan berkedudukan tinggi seperti dia.

Apalagi, tugasnya memang hanya menguji, maka dia merasa sudah cukup dan berloncatanlah nenek itu ke belakang lalu melarikan diri dengan secepatnya meninggalkan Sin Liong.

Sin Liong tidak mengejar.

Memang nenek itu harus dibunuhnya untuk membalas kematian kong-kongnya, akan tetapi sekarang yang terpenting baginya adalah menemukan kembali dan menolong Bi Cu sampai selamat.

Barulah dia akan mencari musuh-musuhnya kemudian.

Musuh-musuhnya adalah Hek-hiat Mo-li yang harus dibalasnya untuk kematian kong-kongnya, dan Kim Hong Liu-nio pembunuh dari ibu kandungnya.

Tapi, sekarang yang paling perlu adalah menolong Bi Cu.

Maka Sin Liong lalu melanjutkan perjalananya dengan secepatnya menuju ke Lembah Naga.

Kalau tidak ada halangan, dua hari lagi dia akan tiba di Lembah Naga.

Maka dia lalu melakukan perjalanan secepatnya dan biarpun dia tidak bernafsu, namun dia memaksa diri untuk makan buah-buahan dan daging ayam hutan yang ditangkap dan dipanggangnya karena dia maklum bahwa dia akan menghadapi lawan-lawan yang tangguh dan bahwa dia membutuhkan banyak tenaga untuk menolong Bi Cu.

Oleh karena itu dia harus menjaga kesehatan tubuhnya den harus makan agar jangan sampai tubuhnya lemas ketika dia membutuhkan tenaganya nanti.

Dua hari kemudian tibalah dia di perbatasan Lembah Naga.

Dia tiba di luar Rawa Bangkai yang kini telah berubah keadaannya.

Melihat hutan-hutan dan bukit-bukit di sekitar tempat itu, diam-diam Sin Liong merasa terharu.

Inilah tempatnya!

Di sinilah dia terlahir den dibesarkan.

Semua tempat itu, bahkan pohon-pohon besar di sana itu, Kelihatan amat indah dan amat dikenalnya, seperti sahabat-sahahat lama yang kini mengelu-elukan kedatangannya kembali dengan melambai-lambaikan ranting-ranting dan daun-daunnya yang tertiup angin.

Teringat dia akan gerombolan kera besar kecil yang dahulu menjadi sahabat-sahabatnya, bahkan keluarganya karena dia adalah anak pungut seekor kera besar.

Teringat semua itu, naik sedu-sedan dari dadanya berhenti di tenggorokan, membuat dia memandang termenung ke arah hutan-hutan, dan timbul hasratnya ingin memasuki hutan itu untuk mencari sahabat-sahabatnya itu.

Dia merasa betapa amat kerasan dia berada di sekeliling tempat ini, seolah-olah seorang perantau yang telah lama pergi kini kembali ke kampung halamannya, mengingatkan dia akan semua bayangan kehidupannya di waktu dahulu.

Akan tetapi tiba-tiba bayangan Bi Cu membuyarkan semua itu.

Keharuan dan kegembiraan yang dirasakan tadi lenyap, terganti pula oleh kekhawatiran akan keselamatan Bi Cu.

Teringat akan ini, cepat dia berlari lagi ke depan memasuki hutan kecil di luar Lembah Naga.

Kembali dia harus berhenti dan memandang ke depan.

Akan tetapi sekali ini bukan berhenti untuk memandang penuh pesona kepada tempat yang amat dikenalnya itu, melainkan untuk memandang dengan sinar mata mencorong dan berapi kepada orang pemuda tampan dan mewah pakaiannya yang berdiri menghadangnya sambil tersenyum manis itu.

Ceng Han Houw!

Akan tetapi, Sin Liong tidak terpengaruh oleh senyum manis itu.

Kemarahannya sudah menyesak di dada dan begitu bertemu, dia lalu berkata dengan suara kaku dan penuh kemarahan.

"Houw-ko, kalau sekali ini engkau tidak membebaskan Bi Cu, biarlah aku akan mati-matian mengadu nyawa denganmu!"

Lalu dengan sikap mengancam dia mendekati pangeran itu.

Han Houw tersenyum, senang hatinya mendengar betapa pemuda perkasa itu masih menyebutnya Houw-ko!

Dia tadi sudah mendengar pelaporan Hek-hiat Mo-li yang mengatakan bahwa pemuda itu memang lihai dan patut menjadi pembantu utama sang pangeran!

Nenek itu tidak menceritakan betapa dia telah dibikin roboh terguling-guling oleh pemuda itu.

Bahkan ketika ditanya oleh sang pangeran bagaimana pendapatnya tentang tingkat kepandaiannya dan tingkat kepandaian Sin Liong, Hek-hiat Moli menjawab bahwa sang pangeran masih lebih unggul, sungguhpun tidak banyak selisihnya!

Berita ini membuat Han Houw girang sekali dan makin besar keinginan untuk dapat menarik Sin Liong sebagai sekutu dan pembantunya.

Maka, cepat dia menyambut dan makin gembiralah hatinya mendengar betapa Sin Liong, dalam kemarahannya, masih menyebutnya Houw-ko, tanda bahwa pemuda itu masih tidak melupakannya bahwa mereka berdua pernah mengangkat saudara.

Ceng Han Houw membelalakkan kedua matanya dan memperlihatkan sikap terheran-heran, lalu mendekati dan membuka kedua lengannya sambil berkata.

"Aih-aih...! Mengapa engkau menduga-duga yang demikian buruknya terhadap diriku, Liong-te? Kita adalah kakak beradik angkat, sudah seperti kakak dan adik kandung saja dan kita sudah banyak saling bantu, mana mungkin aku ingin menyusahkanmu?"

Sin Liong teringat akan peristiwa ketika dia dan Bi Cu terjatuh ke dalam jurang, maka dia berkata dengan suara dingin.

"Hemm, tidak perlu membujuk lagi, pangeran! Engkau tidak hanya menyusahkan aku berkali-kali, akan tetapi bahkan nyaris membunuhku baru-baru ini. Aku datang bukan untuk mendengarkan omongan manis, bujukan palsu, melainkan untuk menuntut agar engkau membebaskan Bi Cu."

Kembali terdengar ancaman dalam suara ini dan kini Sin Liong tidak lagi menyebut Houw-ko, melainkan pangeran, karena hatinya sudah panas dan marah sekali.

Pangeran Ceng Han Houw tersenyum.

"Ah, engkau salah mengerti, Sin Liong. Peristiwa yang lalu terjadi karena salah pengertian. Engkau begitu keras hati. Akan tetapi kalau menganggap aku bersalah, biarlah aku minta maaf. Tahukah engkau betapa aku menangisimu ketika engkau terjun ke dalam jurang itu? Dan aku sengaja menyuruh bekas suci dan suboku untuk mencarimu sampai dapat! Kemudian, untuk menebus semua kesalahfahaman itu..."

"Engkau menyuruh culik Bi Cu dan memancingku datang ke sini!"

Sin Liong berseru dengan penuh kemarahan. Ceng Han Houw mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Tenang dan sabarlah, Liong-te. Aku bersumpah. Bi Cu dalam keadaan selamat dan baik-baik saja, dia menjadi tamuku yang terhormat. Dengarlah baik-baik lebih dulu. Memang aku menyuruh suci untuk membawa nona Bi Cu ke sini, memang dengan maksud agar engkau menyusul ke sini. Akan tetapi bukan dengan maksud buruk, sama sekali tidak, Liong-te. Melainkan karena aku membutuhkan bantuanmu dan tidak ada jalan lain untuk membujukmu..."

"Hemm, engkau memang curang. Selalu mempergunakan sandera untuk memaksaku. Akan tetapi sekali ini, jangan harap engkau dapat memaksaku melakukan sesuatu, Houw-ko. Bukan engkau lagi yang mengajukan syarat, melainkan aku! Syaratku, bebaskanlah Bi Cu baik-baik dan biarkan kami pergi, kalau tidak, aku akan mengadu nyawa untuk menyelamatkannya, dengan taruhan selembar nyawaku!"

"Ahh, engkau memang gagah perkasa sekali, Liong-te. Dan aku tahu, aku sudah mendengar dari nona Bhe Bi Cu betapa engkau dan dia sudah saling jatuh cinta. Aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Akan tetapi aku sekarang bukanlah Pangeran Ceng Han Houw yang kemarin-kemarin, Liong-te. Aku telah mengambil keputusan untuk menentang kaisar yang lalim, dan aku telah menjadi kakak iparmu sendiri!"

"Apa...? Apa maksudmu...?"

Sin Liong tentu saja terkejut sekali dan merasa heran mendengar ucapan itu.

Dia memandang tajam penuh selidik karena hatinya bertanya-tanya permainan apalagi yang dilakukan oleh pangeran yang curang dan licik ini.

Ceng Han Houw tertawa.

"Adikku, engkau bukan hanya adik angkatku, akan tetapi juga adik iparku. Ketahuilah bahwa aku telah menjadi cucu mantu dari mendiang kong-kongmu, yaitu Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai."

"Ahhh...?"

Tentu saja Sin Liong sama sekali tidak percaya dan menganggap pangeran ini hendak menipu dan membohonginya.

"Tentu engkau tidak percaya, akan tetapi sebentar lagi engkau akan bertemu sendiri dengan piauw-cimu itu. Dengar baik-baik, Sin Liong, aku sekarang telah menjadi suami dari Lie Ciauw Si. Engkau tentu mengenal nama itu, bukan?"

Diam-diam Sin Liong terkejut bukan main, dan teringatlah dia akan pertemuan antara pangeran itu dengan Lie Ciauw Si ketika dia sedang mengantar pangeran itu untuk mencari Ouwyang Bu Sek.

Ketika itu, Sin Liong dan pangeran itu melihat Lie Ciauw Si yang membela ketua-ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang yang dihajar oleh dua orang bengcu, yaitu dua orang dari Lam-hai Sam-lo.

Ketika itupun dia melihat hubungan antara kedua orang itu akrab sekali, akan tetapi sungguh tak pernah disangkanya bahwa mereka akhirnya menjadi suami isteri!

Dia tahu siapa Lie Ciauw Si.

Ketika dia ikut kong-kongnya di Cin-ling-san, dia sudah mendengar tentang keluarga Cin-ling-san itu, atau yang sesungguhnya adalah keluarganya.

Kakeknya, mendiang Cia Keng Hong, mempunyai dua orang anak, yaitu yang pertama adalah Cia Giok Keng yang sudah janda dan kini menjadi isteri pendekar sakti Yap Kun Liong.

Dari suaminya yang pertama, she Lie, Cia Giok Keng mempunyai dua orang anak, yaitu Lie Seng dan Lie Ciauw Si.

Sedangkan putera ketua Cin-ling-pai yang ke dua adalah Cia Bun Houw atau ayah kandungnya sendiri!

Memang benarlah bahwa Lie Ciauw Si itu masih piauw-cinya sendiri, dan kalau kini piauw-cinya itu menikah dengan pangeran ini, maka hal itu berarti bahwa pangeran ini bukan hanya kakak angkatnya, melainkan juga kakak iparnya sendiri!

Betapapun juga, dia masih belum mau percaya.

Bukankah pangeran ini selalu memusuhi keluarga Cin-ling-pai?

Bagaimana mungkin menjadi suami piauw-cinya?

Andaikata benar demikian, tentu pangeran ini menggunakan akal dan kelicikannya untuk menipu piauw-cinya itu!

Melihat Sin Liong mengerutkan alis seperti orang termenung kemudian memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, pangeran itu dapat menduga apa yang diragukan oleh adik angkatnya itu, maka dia lalu berkata.

"Liong-te, engkau tidak tahu apa yang telah terjadi. Telah terjadi perubahan besar pada diriku dan kehidupanku. Ketika aku dan Si-moi saling jumpa, seperti engkau juga mengetahui, yaitu di pusat Sin-ciang Tiat-thouw-pang, kami saling jatuh cinta. Semenjak itu, aku bersimpati dengan keluarga Cin-ling-pai. Engkaupun tahu bahwa yang memusuhi keluarga Cin-ling-pai selama ini adalah bekas subo dan suciku, sedangkan aku sama sekali tidak mempunyai urusan dengan Cin-ling-pai. Ketika aku jatuh cinta kepada Si-moi, maka aku lalu mengusahakan kebebasan keluarga itu dari tuduhan pemberontak dan pelarian. Nah, karena perbuatanku itulah, maka kaisar menaruh curiga dan benci kepadaku, apalagi karena hasutan Pangeran Hun Chih yang ingin mencari kedudukan. Sahabat-sahabatku ditangkapi oleh kaisar yang lalim. Oleh karena itu, aku lalu melarikan diri dari kota raja setelah aku menikah dengan Si-moi, dan kami telah mengambil keputusan untuk menentang kaisar lalim!"

"Hemm, memberontak?"

Sin Liong bertanya, masih tertarik oleh cerita pangeran itu.

"Ah, engkau tentu dapat membedakan antara memberontak dan menentang kelaliman, Liong-te. Aku bukan memberontak untuk merebut kedudukan, melainkan hendak menentang kelaliman yang menyengsarakan rakyat. Dan aku berbesar hati karena isteriku, Lie Ciauw Si, berdiri di sampingku dan membantuku, dan demikian pula kelak seluruh keluarga Cin-ling-pai akan membantuku kalau saatnya tiba. Ketahuilah, Liong-te, aku sekarang sedang berusaha untuk mengadakan pertemuan di Lembah Naga dengan seluruh tokoh kang-ouw dan ahli-ahli silat, partai-partai persilatan di seluruh dunia. Aku hendak mengadakan pemilihan bengcu dan jago nomor satu di dunia. Setelah itu, aku menghimpun seluruh kekuatan kang-ouw dan kita mengadakan gerakan orang gagah sedunia menentang kelaliman kaisar. Nah, karena itulah maka aku menyuruh mengajak nona Bhe Bi Cu ke sini, Liong-te, dengan harapan engkau akan suka membantu pergerakan kami ini."

Sin Liong merasa terheran-heran dan terkejut bukan main, akan tetapi dia belum sepenuhnya dapat mempercaya apa yang diucapkan oleh pangeran itu, yang terdengar terlalu aneh baginya.

"Aku tidak perduli tentang itu semua, Houw-ko. Aku hanya menghendaki Bi Cu selamat dan kami dibiarkan pergi tanpa gangguan. Aku akan berterima kasih kepadamu, Houw-ko, kalau engkau dan siapapun tidak mengganggu selembar rambut Bi Cu."

Diam-diam Han Houw girang bahwa selama ini dia memperlakukan Bi Cu dengan baik.

Memang telah diduganya hal ini.

Orang seperti Sin Liong ini tidak boleh dihadapi dengan kekerasan, akan tetapi harus dengan kehalusan budi untuk menundukkannya.

"Liong-te, tentu engkau belum percaya kalau tidak melihatnya sendiri. Marilah, adikku, mari kita menemui piauw-cimu dan kekasihmu itu. Mereka sedang menanti kita di Istana Lembah Naga."

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan dan penuh harapan, Sin Liong lalu mengikuti Han Houw.

Akan tetapi baru beberapa langkah, pangeran itu bertepuk tangan dan muncullah pasukan-pasukan terpendam dari semua penjuru!

Melihat ini, Sin Liong terkejut bukan main.

Kiranya tempat itu telah dikurung oleh ratusan orang perajurit yang bersenjata lengkap.

Dia bersikap tenang dan waspada, akan tetapi pangeran itu hanya minta disediakan dua ekor kuda.

Dua ekor kuda terbaik dikeluarkan dan berangkatlah dua orang muda ini naik kuda ke Istana Lembah Naga.

"Lihat, adikku, bukankah kita sekarang kembali seperti dulu lagi, ketika mengadakan perjalanan bersama?"

Sin Liong tidak menjawab.

Memang kenangan itu manis dan membayangkan kebaikan-kebaikan pangeran kepadanya, akan tetapi juga membuat dia merasa sebal mengingat akan tingkah pangeran ini setiap kali bertemu wanita muda dan cantik, dan diam-diam dia mengkhawatirkan keadaan Lie Ciauw Si, cucu kong-kongnya itu.

Mengapa wanita cantik yang gagah perkasa itu mau menyerahkan diri kepada seorang pria macam pangeran ini, pikirnya heran.

Di sepanjang perjalanan menuju ke Lembah Naga yang amat dikenalnya itu, Sin Liong mendapat kenyataan betapa tempat itu terjaga dengan amat ketatnya, penuh dengan pasukan, baik yang nampak menjaga di kanan kiri jalan maupun yang menjaga sambil bersembunyi-sembunyi di balik pohon, di dalam semak-semak.

Diam-diam dia terkejut sekali, dan maklumlah dia bahwa kalau dia tidak bersama pangeran itu, Agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat menyelundup ke dalam daerah itu.

Dan kenyataan inipun agak melegakan hatinya, karena seandainya pangeran itu mempunyai niat buruk terhadap dirinya, perlu apa dia akan disambut dan diajak masuk ke Istana Lembah Naga?

Akan tetapi ketika dia dan pangeran itu tiba di depan Istana Lembah Naga yang amat dikenalnya walaupun kini keadaan jauh berbeda dengan dahulu di waktu dia tinggal di situ, kini menjadi sebuah istana yang megah dan indah, dia melihat dua orang wanita berdiri di depan istana itu menyambut.

Dan seorang di antara mereka adalah Bi Cu!

Seketika lenyaplah semua kekhawatirannya.

Dia meloncat turun dari atas kudanya dan di lain saat dia sudah berlari ke depan.

Juga Bi Cu sudah berlari cepat ke depan menyambut.

"Sin Liong...!"

"Bi Cu...!"

Di lain detik mereka berdua sudah saling berangkulan dan berpelukan dengan ketat.

"Sin Liong... ah, Sin Liong...!"

Bi Cu terisak di dada pemuda itu yang merangkul dan mendekapnya dengan hati penuh asa girang dan bahagia.

Kalau saja tidak ingat bahwa di situ berdiri Lie Ciauw Si yang memandang dengan terharu, dan berdiri pula Ceng Han Houw yang tersenyum lebar dan menghampiri isterinya, juga beberapa orang dayang, pengawal dan pelayan, tentu dia dan Bi Cu sudah berciuman.

Akan tetapi hanya pandang mata mereka saja yang saling berciuman dan menyatakan kebahagiaan mereka dan kerinduan hati masing-masing.

Sin Liong tidak perlu bertanya lagi akan keadaan Bi Cu.

Dara itu nampak sehat, dan pakaiannya rapi, rambutnyapun rapi, sungguhpun wajahnya agak pucat dan sinar matanya menunjukkan bahwa dara itu banyak berduka.

Hal itu lumrah, karena tentu Bi Cu selalu memikirkan dia, seperti juga dia tidak pernah dapat melupakan Bi Cu dan selalu mengkhawatirkan keselamatannya.

"Mari kita ke dalam dan bicara di dalam, Liong-te dan nona Che Bi Cu. Marilah, Si-moi."

Mereka berempat lalu memasuki istana itu, Sin Liong bergandengan tangan dengan Bi Cu yang agaknya tidak mau lagi melepaskan tangannya.

Setelah mereka tiba di ruangan dalam dan pangeran itu mempersilakan mereka duduk, Sin Liong lalu menjura kepada pangeran itu dan berkata, suaranya terharu.

"Ternyata ucapanmu terbukti benar, Houw-ko, maka terimalah ucapan terima kasihku. Aku sungguh bersyukur dan berterima kasih sekali bahwa Bi Cu berada dalam keadaan baik dan tidak terganggu."

"Siapakah akan membohongimu. Liong-te? Apalagi setelah aku menjadi kakak iparmu pula. Si-moi, Liong-te, kalian berdua adalah saudara-saudara misan, keduanya adalah cucu ketua Cin-ling-pai, mengapa tidak saling tegur?"

Karena tidak mungkin lagi menyembunyikan dirinya, Sin Liong lalu menjura dengan hormat kepada Ciauw Si dan berkata merendah.

"Mana mungkin aku yang rendah berani mengaku adik misan Lie-lihiap?"

Ciauw Si memandang tajam.

Ketika dia mendengar dari suaminya bahwa Sin Liong sesungguhnya adalah anak kandung pamannya, Cia Bun Houw, dia tidak percaya dan merasa ragu-ragu.

Kalau benar pamannya itu mempunyai seorang putera, mengapa tidak ada seorangpun di antara keluarga mereka yang tahu?

Pula, anak ini katanya pernah ikut kong-kongnya di Cin-ling-pai, bahkan katanya berkenan menerima ilmu-ilmu lengkap dari kong-kongnya itu, termasuk Thi-khi-i-beng!

Akan tetapi kalau sudah begitu, mengapa masih juga belum ada yang tahu?

"Sin Liong, tidak perlu kiranya merendah atau merasa tinggi.

Sebaiknya kalau berterus terang saja seperti kenyataannya.

Aku telah mendengar dari pangeran bahwa engkau adalah putera kandung paman Cia Bun Houw.

Sungguh hal ini aku tidak mengerti sama sekali dan tidak ada seorangpun diantara keluarga Cin-ling-pai yang tahu pula.

Bagaimanakah sesungguhnya?

Kalau engkau putera paman Cia Bun Houw, lalu siapakah ibu kandungmu dan bagaimana sampai tidak seorangpun di antara keluarga Cin-ling-pai yang tahu?"

Sin Liong tahu bahwa semua ucapan itu dikeluarkan oleh wanita perkasa itu dengan hati jujur dan tanpa prasangka buruk, akan tetapi dia mendengarnya dengan hati merasa tertusuk.

Dia menundukkan mukanya lalu berkata lirih.

"Sesungguhnya rahasia ini takkan kuceritakan kepada siapapun juga, hanya tanpa kusengaja telah bocor sehingga diketahui orang. Maafkan, lihiap, aku tidak dapat menceritakan duduknya perkara, karena ini merupakan rahasia pribadi dari pendekar Cia Bun Houw."

Dia menyebut nama ini dengan keras, menandakan bahwa hatinya marah kepada pendekar itu.

"Maka, kalau sampai urusan ini dibicarakan dan rahasia ini dibongkar, biarlah yang membongkarnya dan membicarakannya yang bersangkutan sendiri!"

Lie Ciauw Si dapat memaklumi keadaan Sin Liong yang agaknya diliputi rahasia yang tidak menyenangkan.

"Akan tetapi, engkau sudah pernah dididik oleh mendiang kong-kong. Kalau engkau putera kandung paman Bun Houw, berarti kong-kong Cia Keng Hong adalah kong-kongmu pula, bahkan engkau merupakan keturunan langsung! Engkau she Cia dan engkau laki-laki pula! Mengapa engkaupun tidak mau mengaku kepada kakekmu sendiri?"

Disebutnya nama kakek itu membuat Sin Liong merasa berduka. Dia menarik napas panjang dan berkata.

"Beliau yang sudah berada di tempat baka tentu sudi mengampuni aku. Aku memang sengaja tidak ingin menonjolkan diri sebagai keturunan Cin-ling-pai yang terkenal sebagai keluarga gagah perkasa! Sedangkan aku ini orang apakah? Hanya orang yang tidak diakui! Haruskah aku mendesak-desak untuk membonceng ketenaran nama besar Cin-ling-pai?"

Diam-diam Ciauw Si terkejut dan dia mengerutkan alisnya.

Bocah ini sungguh memiliki watak angkuh, pikirnya.

Akan tetapi dia tidak mendesak, juga tidak menegur karena dia dapat menduga bahwa tentu ada rahasia yang mungkin menyakitkan hati anak itu sehingga dia berkukuh tidak mau mengaku sebagai keluarga Cin-ling-pai.

Selain itu, mana mungkin dia mau menerima pengakuan itu begitu saja bahwa anak itu adalah putera kandung pamannya kalau pamannya Cia Bun Houw itu sendiri tidak pernah mengakui hal itu?

Tiba-tiba Bi Cu yang merasa tidak enak mendengar percakapan itu dan melihat betapa kekasihnya seperti orang tidak senang kalau disinggung soal keturunannya, padahal selama ini Lie Ciauw Si sedemikian ramah dan baiknya, segera berkata.

"Ah, apa sih artinya keturunan? Bagiku, biar Sin Liong itu putera raja ataupun anak pengemis sekalipun sama saja. Menilai manusia bukan dari keturunannya, atau kedudukannya, atau keluarganya atau kekayaan melainkan kepandaiannya, bukan?"

Karena ucapan ini dikeluarkan dengan suara yang terbuka dan jujur, disertai dengan wajah yang cerah dan berseri, maka mereka semua yang mendengarnya menjadi kagum dan tersenyum, juga seketika mengusir suasana yang tidak enak yang ditimbulkan oleh percakapan antara Ciauw Si dan Sin Liong tentang keturunan itu tadi.

"Ha-ha-ha, memang tepat sekali ucapan nona Bhe. Dan ucapan itu sekaligus membuktikan bahwa cintanya terhadapmu sungguh tak terbatas, Liong-te! Biarlah aku mengucapkan selamat kepada kalian berdua!"

Tentu saja Sin Liong dan Bi Cu menerima ucapan selamat dengan minum arak ini dengan girang dan balas menghormat.

Sin Liong adalah seorang pemuda yang jujur dan tidak mempunyai prasangka-prasangka buruk.

Oleh karena itu, dengan adanya Ciauw Si di situ, juga melihat betapa sikap Bi Cu terhadap Ciauw Si amat akrab, melihat pula sikap pangeran yang demikian halus dan ramah, yang bicara seperti seorang pahlawan pejuang yang hendak memperjuangkan nasib rakyat dan hendak menentang kelaliman kaisar, maka diapun kena dibujuk.

Dia sanggup untuk membantu Ceng Han Houw ikut mengatur dan menjaga terlaksananya pemilihan bengcu itu, dan diam-diam diapun tidak mempunyai maksud untuk ikut memasuki pemilihan itu.

Dia ingin melihat apa yang akan terjadi dan akan membiarkan kakak angkatnya itu menjadi bengcu dan berhasil merebut julukan jago nomor satu di dunia.

Dia sendiri sama sekali tidak tertarik dan tidak ingin disebut apa-apa.

Mereka berempat lalu makan minum dalam suasana yang cukup menggembirakan!

Diam-diam Sin Liong merasa heran mengapa pangeran itu tidak mengajak para pembantu lainnya untuk ikut pula berpesta.

Dan diapun masih bingung apa yang akan dilakukannya kalau dia melihat musuh-musuhnya, Kim Hong Liu-nio dan Hek-hiat Mo-li berada di situ.

Melihat tiba-tiba wajah pemuda itu kelihatan murung dan alisnya berkerut, Pangeran Ceng Han Houw yang cerdik itu agaknya sudah dapat menduga melihat adik angkatnya mencari-cari dengan pandang mata, kemudian nampak termenung dan muram wajahnya.

"Liong-te setelah engkau mendengarkan semua keteranganku, maka engkau tentu sudah mengerti sekarang bahwa kita menghadapi suatu perjuangan yang amat penting yang membutuhkan penghimpunan tenaga yang kuat dan kerja sama yang erat. Oleh karena itu, agaknya engkau tentu tahu pula bahwa dalam keadaan seperti ini, di mana kita amat membutuhkan kerja sama dari semua golongan rakyat untuk menentang kelaliman, maka semua urusan pribadi haruslah dikesampingkan lebih dulu."

Sin Liong memandang wajah pangeran itu dengan pandang matanya yang tajam mencorong.

"Houw-ko, apa maksudmu dengan ucapan itu?"

"Liong-te, aku tahu bahwa engkau mempunyai musuh-musuh pribadi, dan terus terang saja, agaknya akan timbul perkelahian kalau engkau bertemu dengan suci Kim Hong Liu-nio dan subo Hek-hiat Mo-li. Aku tidak akan mencampuri urusan itu karena aku tidak mempunyai sangkut-paut dengan urusan pribadi itu. Bahkan isteriku sendiri, Lie Ciauw Si ini, tentu saja juga bermusuhan dengan mereka berdua. Akan tetapi, dalam keadaan seperti sekarang ini, kuharap engkau tidak akan menimbulkan keributan di sini dengan menyerang mereka, karena hal ini akan memberi contoh yang buruk sekali kepada semua pembantu kita dan hanya akan melemahkan kedudukan kita yang sedang menyusun kekuatan dan kerja sama ini. Mengertikah engkau maksudku, Liong-te?"

Diam-diam Sin Liong terkejut.

Pangeran ini sungguh amat cerdik dan berpemandangan tajam sehingga tepat sekali membicarakan apa yang sedang dipikirkannya.

Dia lalu mengangguk dan berkata.

"Aku berjanji takkan membikin ribut, Houw-ko. Akan tetapi dengan syarat bahwa merekapun tidak boleh mengganggu aku dan Bi Cu seujung rambutpun."

Pangeran itu tersenyum dan diam-diam diapun kagum.

Kini Sin Liong benar-benar telah menjadi seorang dewasa yang gagah dan bersikap keras, bukan seperti anak-anak lagi.

Maka dia akan bertindak hati-hati menghadapi orang yang dia tahu merupakan saingan paling berat baginya ini.

"Baik, akan kuperingatkan mereka, Liong-te. Sekarang, karena Liong-te baru saja tiba dan tentu lelah, persilakan Liong-te dan nona Bhe Bi Cu mengaso. Kamar kalian sudah dipersiapkan, tak jauh dari kamar kami."

Tiba-tiba wajah Sin Liong menjadi merah sekali dan cepat dia berkata.

"Houw-ko, kami berdua memang saling mencinta, hal itu hanya Thian saja yang mengetahui. Akan tetapi kami belum menjadi suami isteri maka tak mungkin kami tinggal sekamar!"

"Aku akan tinggal di dalam kamarku sendiri yang biasa saja!"

Bi Cu juga berkata, mukanya merah sekali dan dia menunduk.

"Akan tetapi harap Houw-ko berbaik hati untuk memberi sebuah kamar untukku yang tidak berjauhan dari kamar Bi Cu."

Sin Liong tidak mengatakan bahwa dia ingin menjaga dan melindungi kekasihnya itu, akan tetapi hal ini sudah dimengerti oleh semua orang.

"Baik, baik, tentu saja akan kuatur itu. Maafkan, Liong-te, aku lupa betapa engkau adalah seorang laki-laki sejati dan bahwa kalian belum menikah."

Kata pangeran itu sambil tertawa, teringat betapa dahulu Sin Liong amat "takut"

Terhadap wanita, dan sampai kinipun, Biarpun sudah sama-sama saling mencinta, tetap saja dia tidak mau melakukan "pelanggaran".

Tentu saja bagi Ceng Han Houw, hal ini dianggapnya sebagai suatu sikap kekanak-kanakan dan hijau.

Pangeran itu memberi kesempatan kepada Sin Liong dan Bi Cu untuk bicara empat mata, maka dia lalu mengajak Ciauw Si masuk, Bi Cu lalu mengajak Sin Liong pergi ke sebuah taman di Istana Lembah Naga itu, sebuah taman yang indah dan terawat baik, berbeda dari dahulu ketika dia masih tinggal di situ.

Setelah mereka berada berdua saja di dalam taman itu, Sin Liong dan Bi Cu tak dapat menahan lagi kerinduan hati masing-masing dan merekapun saling rangkul dan saling berciuman sampai hampir kehabisan napas.

Akhirnya, gelora hati yang rindu itu agak mereda dan mereka duduk berdampingan di atas sebuah bangku panjang, dekat kolam ikan di dalam taman itu.

"Sin Liong, aku merasa seperti hidup kembali melihat engkau datang. Untung aku belum mengambil keputusan nekat untuk bunuh diri."

"Ihh!"

Sin Liong terkejut dan merasa ngeri.

"Jangan sekali-kali engkau melakukan hal itu, Bi Cu. Selama hayat masih dikandung badan, kita tidak boleh putus asa, dalam keadaan apapun juga. Lupakah akan cengkeraman maut terhadap diri kita di jurang itu? Buktinya kita berdua masih dapat menyelamatkan diri. Pula, bukankah engkau di sini diperlakukan dengan baik dan patut sebagai tamu?"

"Memang benar, akan tetapi aku diculik! Dan aku dipisahkan darimu, Sin Liong! Jangankan baru tinggal di istana macam ini, biar disuruh tinggal di sorga sekalipun, tanpa engkau di sampingku, leblh baik aku berada di dalam jurang seperti dulu itu asal bersamamu."

Sin Liong merasa terharu sekali dan memegang tangan Bi Cu.

Jari-jari tangan mereka saling genggam dengan getaran perasaan yang amat mesra.

"Kita takkan berpisah lagi untuk selamanya, Bi Cu. Percayalah bahwa akupun tidak akan mau hidup tanpa engkau di dekatku."

Bi Cu menarik napas panjang penuh bahagia dan dia menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya.

Sampai lama mereka tinggal duduk seperti itu, tanpa berkata-kata karena kata-kata sudah tidak ada artinya lagi dalam keadaan seperti itu.

Kata-kata bahkan membuyarkan perasaan dan mengurangi kemesraan yang terasa sekali sampai di sanubari dalam keadaan hening dan sadar sepenuhnya akan kehadiran masing-masing itu.

Akhirnya Bi Cu berbisik.

"Sin Liong, hatiku merasa tidak enak kalau kita berada di sini. Betapapun baiknya pangeran ini, namun jelas bahwa dia hendak mempergunakan engkau maka dia menyuruh orangnya menculikku."

"Akan tetapi, dia sekarang telah berubah sejak menikah dengan..."

"Enci Ciauw Si? Ah, kau tahu, enci Ciauw Si sendiri agaknya pun merasa tidak enak dan tidak suka dengan gerakan dari suaminya itu. Memberontak! Phuh..."

"Bukan memberontak, Bi Cu, melainkan berjuang melawan kelaliman kaisar..."

"Itu kan alasannya! Betapapun juga, aku merasa tidak enak dan tidak suka, Sin Liong. Perlu apa kita ikut campur dengan segala macam gerakan itu? Lebih baik mari kita pergi saja meninggalkan tempat ini!"

Sin Liong menggelengkan kepala.

"Tidak mungkin, Bi Cu. Berbahaya sekali..."

"Tapi Sin Liong, dengan kepandaianmu yang demikian tinggi... eh, kau tahu, pangeran sendiri memujimu di depanku, mengatakan bahwa di dunia ini hanya engkaulah yang memiliki kepandaian yang hampir setingkat dengan kepandaiannya!"

Sin Liong menggeleng kepala.

"Apa dayaku menghadapi penjagaan ribuan orang pasukan? Kau tahu, Lembah Naga ini sudah terkurung oleh ribuan orang pasukan. Memang mungkin bagiku sendiri untuk lolos melalui hutan-hutan lebat yang menjadi tempatku bermain-main ketika aku masih kecil. Akan tetapi membawamu bersamaku berarti akan menyeret engkau ke dalam bahaya besar. Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu, Bi Cu. Lebih baik kita bersabar, tinggal di sini dulu melihat perkembangan dan melihat gelagatnya. Kurasa enci Ciauw Si bukanlah seorang wanita lemah. Dia seorang pendekar wanita keturunan Cin-ling-pai, mungkin saja dia mencinta pangeran, akan tetapi kalau dia dibawa sesat, apalagi memberontak terhadap kerajaan begitu saja dengan maksud memperebutkan kedudukan, pasti dia tidak akan mau."

Dia berhenti sebentar, lalu melanjutkan.

"Biarpun aku sudah berjanji kepada pangeran untuk membantu, akan tetapi membantu untuk melakukan penjagaan dan dalam menghimpun orang-orang kang-ouw dan melakukan pemilihan bengcu, bukan membantunya untuk memberontak. Aku tidak sudi kalau harus membantu dia melakukan kejahatan."

Dua orang muda ini tentu saja tidak tahu akan segala kepalsuan yang terjadi di dalam dunia ini.

Setiap pemberontakan, setiap pembaharuan, setiap gerakan untuk menumbangkan yang lama dan menggantikan dengan yang baru, sudah tentu saja didasari oleh kelemahan-kelemahan dan cacat-cacat dari yang lama, yang akan diberontak itu.

Dan yang memberontak, yang baru, tentu mengeluarkan janji-janji yang muluk-muluk.

Karena, tidak mungkin pemberontakan dan pembaharuan dapat berjalan lancar dan berhasil tanpa bantuan rakyat, rakyat harus diberi janji-janji muluk, menonjolkan kelemahan dan cacat-cacat yang hendak dirobohkan dan mengemukakan janji-janji dan kebaikan-kebaikan dari yang memberontak.

Semua ini hanya merupakan siasat belaka.

Atau mungkin juga janji-janji itu dikeluarkan dengan hati murni oleh para pimpinan.

Akan tetapi sayang, begitu maksud tercapai sudah, maka mereka yang duduk di kursi pimpinan menjadi mabuk kemenangan dan sama sekali melupakan atau sengaja tidak mau ingat lagi akan janji-janji yang telah dikeluarkan ketika mereka mendorong rakyat untuk mem"bantu gerakan mereka itu.

Dan hal seperti ini terus menerus berulang.

Yang berhasil dan menang kemudian menghadapi lagi golongan baru yang ingin menumbangkannya, Dengan janji-janji yang sama pula, dengan penonjolan-penonjolan kesalahan dari yang sedang berkuasa, persis seperti ketika pemberontakan atau pergolakan pertama atau terdahulu itu terjadi.

Dan yang menyedihkan sekali, rakyatpun selalu menurut saja dan dapat saja dimakan propaganda dan dibodohi oleh janji-janji muluk yang tak kunjung terpenuhi itu!

Kapankah di dunia ini muncul pemimpin-pemimpin yang memimpin rakyat berdasarkan cinta kasih, kasih sayang dan sama sekali tidak mendasarkannya untuk memenuhi atau mencapai ambisi pribadi, mengejar-ngejar kemuliaan, kekayaan dan kesenangan pribadi?

Kapankan segala semboyan dan anjuran tentang hal-hal yang baik itu bukan hanya menjadi semboyan kosong belaka melainkan dihayati dalam kehidupan sehari-hari oleh mereka yang mengeluarkan semboyan itu sendiri, Oleh para pemimpin rakyat sehingga tanpa dianjurkan lagi rakyat sudah akan dapat melihatnya dan otomatis akan bersikap dan berwatak sama dengan para pemimpinnya?

Pemimpin sama dengan ayah dan rakyat sama dengan anak.

Setiap perbuatan ayahnya merupakan pendidikan langsung bagi anak.

Sebaliknya apa gunanya seorang ayah gembar-gembor melarang anaknya melakukan sesuatu kalau dia sendiri melakukannya?

Atau apa gunanya para pemimpin menganjurkan rakyat melakukan ini atau itu kalau mereka sendiri tidak melakukannya?

Yang penting dalam hidup ini adalah penghayatan, atau kelakuan sehari-hari yang dapat dilihat, bukan kata-kata kosong yang dapat saja dikeluarkan oleh lidah yang tak bertulang.

Demikianlah, diam-diam Sin Liong dan Bi Cu merasa tidak senang tinggal di Lembah Naga sebagai tamu-tamu agung dari Pangeran Ceng Han Houw, dan mereka merasa khawatir, akan tetapi mereka tidak berdaya karena tempat itu dijaga oleh ribuan orang pasukan.

Dan selain mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua, diam-diam Sin Liong juga amat berprihatin akan nasib Lie Ciauw Si yang telah menyerahkan diri menjadi isteri pangeran itu berdasarkan cinta kasih, bahkan dia mendengar dari Bi Cu yang juga mendengar dari Ciauw Si sendiri, wanita gagah itu menikah dengan Ceng Han Houw tanpa persetujuan keluarga, bahkan tidak disaksikan orang lain karena mereka menikah diam-diam di kuil!

Menerima kebaikan orang lain merupakan hal yang mendatangkan rasa tidak enak kepada seseorang kalau dia tidak mampu untuk melakukan sesuatu sebagai imbalan atau balasan.

Demikian pula dengan Sin Liong.

Dia merasa tidak enak sekali karena di dalam Istana Lembah Naga itu dia diperlakukan dengan amat baiknya oleh Pangeran Ceng Han Houw.

Bahkan semua komandan pengawal menghormatinya dan memandangnya sebagai adik angkat, keluarga dan juga orang terpercaya dari sang pangeran!

Dan memang demikianlah.

Sin Liong boleh pergi ke manapun juga di seluruh daerah itu, akan tetapi tentu saja sendirian.

Kalau dia mengajak Bi Cu, maka mendadak saja penjagaan diperketat dan tempat itu dikurung sehingga tahulah dia bahwa pangeran menghendaki agar Bi Cu tetap tinggal di istana sebagai sandera!

Betapapun juga, Sin Liong sudah membawa Bi Cu berjalan-jalan, keluar masuk hutan dan menunjukkan tempat-tempat di mana dia ketika kecil bermain-main, bahkan dia juga pergi bersama Bi Cu ke dalam hutan di mana dulu dia dipelihara oleh monyet betina besar.

Dia bertemu pula dengan rombongan monyet-monyet, akan tetapi tentu saja tidak ada seekorpun monyet yang mengenalnya.

Padahal dahulu, hampir semua monyet di hutan itu mengenalnya, bahkan mentaati perintahnya.

Akan tetapi diapun cukup cerdik untuk mengetahui bahwa tidak mungkinlah baginya untuk melarikan diri bersama Bi Cu dari tempat itu karena sudah terkepung oleh anak buan pangeran, kecuali kalau dia mau mengambil jalan liar melalui hutan-hutan lagi yang tentu akan menghadapi bahaya-bahaya lain lagi yang tak mau dia menempuhnya karena dia tidak mau membawa kekasihnya ke dalam bahaya.

Karena tidak mau kalau hanya makan tidur saja, maka mulailah Sin Liong ikut melakukan penjagaan.

Pertemuan besar antara orang-orang kang-ouw masih sebulan lagi dan selama itu seluruh lembah dijaga.

Sin Liong sering kali melakukan perondaan di sekeliling lembah yang amat sunyi itu, kadang-kadang membayangkan apa yang akan terjadi di lembah itu.

Dia sudah mengajak Bi Cu beberapa kali mengunjungi kuburan ibu kandungnya, sebuah makam sederhana dan di situ dia bersembahyang bersama Bi Cu.

Kepada Bi Cu dia menceritakan terus terang semua riwayatnya tentang ibunya yang buntung sebelah tangannya, tentang dirinya yang sesungguhnya adalah putera ibunya yang bernama Liong Si Kwi dan pendekar Cia Bun Houw.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan ibu kandungku dan ayah kandungku itu. Akan tetapi jelaslah bahwa aku terlahir karena hubungan antara ibu kandungku dan Cia Bun Houw. Akan tetapi, melihat bahwa ibuku kemudian menjadi isteri paman Kui Hok Boan dan Cia Bun Houw menikah dengan wanita lain, pendekar wanita Yap In Hong itu, maka kuduga bahwa hubungan itu tentu hubungan gelap. Buktinya sampai sekarang menurut enci Ciauw Si, seluruh keluarga Cin-ling-pai tidak ada yang mengetahuinya. Biarpun aku putera pendekar Cia Bun Houw, akan tetapi agaknya... aku hanyalah anak gelap..."

Bi Cu merangkul dan mencium muka yang muram itu.

"Sin Liong, engkau anak terang anak gelap atau setengah gelap, bagiku sama saja. Aku sudah bilang, aku tidak perduli engkau ini anak pendekar Cia Bun Houw, anak raja, anak jembel, anak malaikat atau anak setan! Maka, tidak perlu engkau bermuram seperti ini!"

Tentu saja Sin Liong lalu tersenyum dan wajahnya menjadi cerah kembali.

Sudah beberapa kali semenjak dia dan Bi Cu berada di Lembah Naga, dia mengajak Bi Cu untuk mengunjungi makam ibunya dan pada senja hari itu diapun baru saja kembali dari makam ibu kandungnya seorang diri.

Diapun ingin sekali tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi antara mendiang ibu kandungnya dan pendekar Cia Bun Houw.

Sayang ibunya tidak sempat bercerita kepadanya tentang hal itu.

dan agaknya pendekar Cia Bun Houw juga merahasiakannya, tidak pernah menceritakannya kepada siapapun juga.

Buktinya keluarga Cin-ling-pai tidak ada yang tahu!

Dan diapun tidak sudi bertanya kepada pendekar itu atau mengaku bahwa dia puteranya.

Dia tidak mau mengemis belas kasihan dan kasih sayang dari pendekar yang menjadi ayah kandungnya itu ataupun dari siapa juga.

Kecuali dari Bi Cu agaknya!

Terhadap Bi Cu, apapun akan dilakukannya, tanpa kecuali!

Hemm, kalau pendekar itu mau mengakuinya sebagai putera, baik.

Kalau tidak, diapun tidak butuh menjadi anak pendekar!

Dan dia tersenyum girang mengingat akan sikap Bi Cu kepadanya.

Dara itu mencintanya, mencinta dirinya tanpa kecuali, tidak memperdulikan dia itu keturunan siapa.

Sedikit kekecewaan dan kedukaan tentang ayah kandungnya itu segera lenyap ketika dia teringat Bi Cu yang mencinta dirinya, bukan keturunannya.

Senja telah mendatang dan biarpun cuaca mulai menyuram, karena cahaya matahari yang mulai bersembunyi di balik puncak itu sudah amat lemah, namun pandang matanya yang tajam masih dapat melihat dan merasakan adanya sesuatu yang tidak beres ketika dia memasuki sebuah hutan kecil di luar Lembah Naga menuju pulang itu.

Biasanya, di situ tentu ada belasan orang penjaga yang melakukan penjagaan sambil bersembunyi.

Dia tadipun ketika pergi menuju ke makam ibunya, masih tersenyum melihat gerakan-gerakan mereka.

Para penjaga yang melakukan penjagaan bersembunyi itu hanya berguna untuk menjaga musuh-musuh biasa, akan tetapi kalau yang masuk itu orang pandai, tentu orang itu dapat melihat gerakan-gerakan mereka, pikirnya.

Akan tetapi sekarang, tidak ada gerakan sedikitpun juga.

Suasana di tepi hutan itu sunyi bukan main, sunyi dan mati!

Timbil kecurigaannya karena biasanya, setiap tempat selalu dijaga siang malam secara bergilir, penjagaan yang merupakan sebuah hutan di tepi Lembag Naga merupakan jalan masuk ke lembah itu, tidak terjaga?

Ke mana perginya semua penjaga di situ yang jumlahnya belasan orang itu?

Sebagai seorang yang oleh pangeran dipercaya untuk melakukan perondaan dan menjaga keamanan lembah itu, Sin Liong merasa berkewajiban untuk melakukan pemeriksaan dan kalau perlu menegur komandan penjaga di hutan itu yang dianggapnya lengah sekali.

Sin Liong dengan gerakan ringan sekali lalu meloncat ke arah sebatang pohon tinggi dan dari puncak pohon itu dia meneliti ke bawah, untuk melihat ke mana perginya para penjaga itu.

Dan tiba-tiba, dia menahan seruan heran melihat tubuh beberapa orang penjaga malang-melintang di belakang semak-semak seperti orang tidur nyenyak, ataukah sudah tewas?

Cepat dia meloncat turun dan lari ke tempat itu.

Ternyata nampak belasan orang penjaga yang biasanya menjaga di bagian itu rebah malang-melintang, sama sekali bukan tidur nyenyak atau mati, melainkan tidak sadar dalam keadaan tertotok semua!

Ada musuh menyelundup masuk!

Musuh yang lihai sekali, karena hanya musuh lihai sajalah yang berani merobohkan para penjaga hanya dengan totokan dan tidak membunuh mereka!

Sin Liong tidak mau membuang waktu lagi dan cepat dia lalu berkelebat masuk ke dalam hutan kecil itu dan kembali tak lama kemudian dia sudah memeriksa keadaan sekeliling dengan meloncat dan memanjat ke puncak pohon yang tinggi.

Akhirnya dia melihat gerakan dua orang yang cepat sekali di tengah hutan.

Agaknya dua orang itulah musuh yang menyelundup, dan agaknya dua orang itu sedang menanti malam gelap untuk melanjutkan gerakan mereka, tentu saja untuk menyelundup ke Istana Lembah Naga.

Sin Liong lalu meloncat turun dan cepat sekali dia lalu menuju ke tempat itu, berindap-indap dengan hati-hati, akan tetapi cepat bukan main.

Mereka itu adalah seorang pria dan seorang wanita.

Keduanya sedang duduk di atas rumput, bersila, dan agaknya berunding sambil berbisik-bisik.

Sin Liong mendekati dan mengintai, ingin melihat siapa adanya mereka itu.

Kedua orang itu dari belakang kelihatan belum tua benar.

Akan tetapi, tiba-tiba wanita itu tanpa menoleh telah menggerakkan tangan kirinya ke belakang dan nampak sinar hijau menyambar ke arah rumpun semak-semak di belakang mana Sin Liong mengintai!

Itulah Siang-tok-swa (Pasir Beracun Harum), senjata rahasia yang amat berbahaya!

Sin Liong mengenal bahaya, maka diapun meloncat berdiri dan mengelak ketika sinar hijau itu menyambar.

Akan tetapi tiba-tiba wanita yang tadinya duduk bersila itu tahu-tahu sudah melayang ke arahnya dan menyerangnya sambil membentak.

"Robohlah!"

Akan tetapi tentu saja Sin Liong tidak demikian mudah dirobohkan sungguhpun dia merasa terkejut bukan main menyaksikan kelihaian wanita yang cantik ini.

Dia menggerakkan tangan menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Duk! Aihhhh...!"

Wanita itu agak terhuyung dan mengeluarkan seruan tertahan, karena dia merasa terkejut dan heran betapa pemuda itu bukan hanya mampu menangkis, bahkan tangkisannya sedemikian kuatnya, membuat dia hampir terhuyung.

Tiba-tiba Sin Liong merasa betapa ada angin yang dahsyat menyambar dari samping.

Tahulah dia bahwa ada orang pandai menyerangnya.

Tentu pria tadi, pikirnya, maka sambil memutar kakinya, diapun menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kang karena dia tahu bahwa pukulan ini hebat sekali.

"Desss...!"

Dan akibatnya, keduanya terpental ke belakang dan keduanya sama-sama terkejut.

Apalagi ketika mereka saling mengenal.

Sin Liong memandang terbelalak kepada pria gagah perkasa yang ternyata bukan lain adalah ayah kandungnya sendiri, Cia Bun Houw!

Maka kini teringatlah dia bahwa wanita itu adalah Yap In Hong, ibu tirinya, isteri ayah kandungnya!

Di fihak Cia Bun Houw, diapun mengenal pemuda ini dan alisnya berkerut, mukanya berubah merah karena dia teringat betapa pemuda yang pernah dikasihi oleh mendiang ayahnya itu, bahkan yang telah mewarisi semua ilmu dari ayahnya, ternyata merupakan pemuda yang tidak berbudi, yang telah menghalangi dia dan isterinya membunuh musuh besar mereka, Kim Hong Liu-nio.

Dan sekarang, pemuda ini agaknya malah membantu Pangeran Ceng Han Houw!

"Engkau...?"

Cia Bun Houw membentak dan Yap In Hong juga menunda serangan lanjutannya (Lanjut ke

Jilid 52) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 52 mendengar ini. Dia memandang dan sekarangpun dia teringat kepada Sin Liong.

"Eh, kiranya setan cilik ini berada di sini?"

Diapun membentak marah.

Sin Liong menghadapi mereka dan memandang tajam.

Dia khawatir sekali melihat ayah kandungnya berkeliaran di situ.

Akan tetapi diapun merasa tidak senang melihat ibu tirinya, apalagi mendengar dia disebut setan cilik!

"Harap ji-wi segera pergi dari sini!"

Katanya kemudian.

"Di sini amat berbahaya."

Cia Bun Houw sudah merasa penasaran sekali.

"Dan engkau sendiri?"

"Aku... adalah penjaga di sini, maka aku tahu betapa bahayanya tempat ini."

"Bocah lancang!"

Cia Bun Houw membentak marah.

"Kau kira, kalau engkau yang berjaga, aku lalu merasa takut padamu?"

"Bocah setan ini memang perlu dihajar!"

Yap In Hong berseru karena diapun merasa betapa anak ini amat buruk wataknya, tidak mengenal budi yang telah dilimpahkan oleh ketua Cin-ling-pai, mendiang ayah mertuanya.

Sepatutnya Sin Liong ingat budi dan membantu Cin-ling-pai, bukan malah membantu pangeran pemberontak itu!

Sin Liong juga marah, merasa direndahkan, akan tetapi dia menahan sabar dan hanya menggerak-gerakkan kedua tangannya.

"Pergilah... pergilah...!"

"Engkau yang pergi ke neraka, bocah murtad!"

Cia Bun Houw membentak dan dia sudah menyerang dengan pukulan tangan kanan ke arah kepala Sin Liong.

Akan tetapi, Sin Liong dengan sigap dan cepatnya mengelak, memutar tubuhnya dan tahu-tahu diapun sudah menyerang, bukan kepada ayah kandungnya, melainkan kepada Yap In Hong, dengan pukulan tangan kiri yang cepat dan dahsyat.

Namun Yap In Hong adalah seorang wanita pendekar sakti yang berilmu tinggi, maka dengan cepat dia dapat menangkis pukulan itu.

Terjadilah perkelahian yang seru dan membuat suami isteri pendekar sakti itu terheran-heran tiada habisnya.

Pemuda itu ternyata mampu menghadapi pengeroyokan mereka!

Sama sekali tidak pernah terdesak malah, dan membalas setiap serangan dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyat dan ampuhnya!

Bahkan pemuda itu dapat mainkan Thai-kek Sin-kun dengan amat baiknya, menangkis tenaga pukulan Thian-te Sin-ciang dengan tenaga pukulan Thian-te Sin-ciang pula yang tidak kalah kuatnya!

Bahkan ketika kedua orang suami isteri yang amat lihal itu mendesaknya dengan gerakan cepat, Sin Liong sudah melindungi tubuhnya dengan kekebalan menurut ajaran mendiang Kok Beng Lama dan juga mengerahkan Thi-khi-i-beng untuk menyedot tenaga dua orang pengeroyoknya!

Dua orang suami isteri itu berkali-kali mengeluarkan seruan kaget sekali.

Mereka teringat akan kehebatan Kok Beng Lama dan Cia Keng Hong, karena kehebatan kedua orang kakek sakti itu seolah-olah telah pindah ke dalam diri anak ini!

Tentu saja Sin Liong harus mengerahkan seluruh tenaga yang ada pada dirinya dan mengeluarkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya untuk menghadapi pengeroyokan dua orang yang demikian saktinya.

Hanya dia belum mau mempergunakan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw karena betapapun juga, dia hanya membela diri dan membalas serangan dengan ilmu-ilmu yang didapatnya dari Kok Beng Lama dan Cia Keng Hong sehingga boleh dibilang pemuda ini menghidapi dua orang lawannya dengan ilmu-ilmu yang sama!

Maka mereka itu seolah-olah hanya "berlatih"

Saja, Sungguhpun sebenarnya, sama sekali bukan demikian karena suami isteri yang merasa penasaran itu mendesak dengan hebat.

Apalagi setelah lewat lima puluh jurus kedua orang suami isteri yang lihai itu sama sekali belum mampu merobohkan Sin Liong!

Mereka berdua adalah pendekar-pendekar besar sehingga biarpun kelihatannya mereka mengeroyok Sin Liong dengan dahsyat, namun mereka selalu mengendalikan serangan mereka dan kalau sampai Sin Liong terkena pukulan, tentu saja bukan pukulan mematikan.

Diam-diam Sin Liong juga merasa kagum bukan main.

Ayah kandungnya ini memang hebat, dan ibu tirinyapun hebat.

Melawan mereka satu lawan satu saja kiranya amat sukar baginya untuk memperoleh kemenangan, apalagi harus melayani dua sekaligus.

Entahlah kalau dia mempergunakan ilmunya Hok-mo Cap-sha-ciang.

Akan tetapi dia merasa tidak enak dan malu kalau harus menggunakan ilmu ini kepada mereka, sungguhpun dalam gerakannya itu telah dibantu oleh kemajuan yang didapat ketika dia mempelajari ilmu peninggalan Bu Beng Hud-couw itu.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan muncullah puluhan orang perajurit yang dipimpin oleh seorang kakek tinggi besar yang bukan lain adalah Hai-liong-ong Phang Tek, orang pertama dari Lam-hai Sam-lo!

Itu adalah pasukan penjaga dari sekitar hutan itu yang tertarik oleh perkelahian itu dan segera memasuki hutan dipimpin oleh kakek itu.

Melihat ini, Cia Bun Houw dan Yap In Hong terkejut.

Mereka datang untuk menyelidiki Lembah Naga, sesuai dengan perintah Pangeran Hung Chih.

Akan tetapi kini mereka ketahuan.

Menghadapi Sin Liong seorang saja sudah agak berat, apalagi kalau muncul puluhan orang penjaga.

Mereka tidak takut, akan tetapi maklum bahwa tidak mungkin mereka berdua saja harus melawan ribuan pasukan yang berada di daerah itu.

Maka Cia Bun Houw mengeluarkan suara melengking nyaring yang menjadi isyarat bagi isterinya untuk melarikan diri.

Suara lengkingan dahsyat itu luar biasa sekali, mengandung tenaga khi-kang kuat sehingga beberapa orang pengawal terguling roboh.

Melihat kedua orang itu melarikan diri, Sin Liong tidak mengejar dan membiarkan pasukan pengawal mengejar mereka, yakin bahwa tak mungkin pasukan pengawal itu akan mampu menyusul suami isteri pendekar yang sakti itu.

Sementara itu, Hai-liong-ong Phang Tek yang juga tahu akan kelihaian suami isteri itu dan merasa jerih untuk pergi mengejar sendirian saja, lalu tersenyum kepada Sin Liong dan menjura sambil berkata, suaranya ramah.

"Senang sekali dapat bertemu dan bekerja sama dengan taihiap."

Sin Liong tidak menjadi bangga den senang mendengar disebut taihiap itu, yang dia tahu dilakukan oleh kakek ini untuk menghormatinya karena kakek ini tentu tahu bahwa dia dianggap adik angkat atau bahkan keluarga pangeran.

Dia tidak tahu bahwa memang kakek ini kagum bukan main melihat dia mampu menandingi pengeroyokan dua orang suami isteri yang terkenal sebagai pendekar-pendekar terbesar di masa itu.

Tanpa menjawab, Sin Liong hanya mengangguk kemudian memutar tubuhnya dan pergi dari situ untuk kembali ke kamarnya di Istana Lembah Naga.

Bi Cu telah menyambutnya.

Dara ini tidak mau makan malam sebelum Sin Liong pulang dan begitu kekasihnya datang, dia menyambut dengan teguran.

"Sin Liong, ke mana saja engkau sampai malam begini? Hatiku merasa gelisah selalu."

Sin Liong lalu menceritakan pertemuannya dengan suami isteri pendekar itu, betapa dia bertempur melawan mereka sehingga kemudian pasukan datang dan suami isteri itu melarikan diri.

"Ah, ayah kandungmu dan ibu tirimu?"

Bi Cu bertanya kaget sekali.

Sin Liong mengangguk dan alisnya berkerut, hatinya gelisah.

Tak disangkanya dia akan bertemu dengan keluarga Cin-ling-pai di tempat itu.

Tanpa banyak cakap dia lalu makan malam bersama Bi Cu.

Baru saja selesai makan malam, Pangeran Ceng Han Houw dan Lie Ciauw Si mengunjungi mereka.

"Liong-te, aku mendengar dari pasukan penjaga bahwa senja tadi muncul ayah kandungmu dan ibu tirimu..."

"Harap engkau tidak menyebut-nyebut tentang ayah kandung dan ibu tiri, Houw-ko!"

Sin Liong menegur, merasa tidak senang orang bicara seperti itu.

Kalau Bi Cu yang menyebutnya, hal itu lain lagi!

"Ah, baiklah.

Dan memang sikapmu tadi membuktikan bahwa engkau tidak menganggap mereka ayah dan ibu tiri, Liong-te.

Suami isteri perkasa, pasangan pendekar yang paling hebat di masa ini telah memberi kehormatan kepadaku dan muncul di sini.

Kenapa engkau menerima dan menyambut mereka dengan kepalan, Liong-te?

Bukankah engkau tahu bahwa kita membutuhkan tenaga mereka?

Mengapa engkau tidak menerima mereka secara baik-baik dan mempersilakan mereka masuk sebagai tamu-tamu agung?

Kau tahu, mereka itu adalah paman dan bibi isteriku, berarti paman dan bibiku sendiri.

Kenapa engkau malah menyambut mereka sebagai musuh?"

Sin Liong merasa bingung dengan sikap pangeran ini.

Kata-katanya penuh teguran dan penyesalan, akan tetapi pandang mata pangeran itu membayangkan hati yang gembira!

Dia sudah mengenal baik sinar mata pangeran itu dan tahu bahwa kalau pangeran itu benar-benar sedang marah, tidak seperti itulah sinar matanya.

Dan memang benarlah.

Han Houw kecewa mendengar keluarga Cin-ling-pai yang diharapkannya untuk dapat menjadi sekutunya itu datang sebagai musuh, akan tetapi diapun girang melihat bukti kenyataan bahwa Sin Liong benar-benar hendak membelanya dan setia kepadanya sehingga pemuda ini, untuk menjaga keamanan di situ, tidak segan-segan untuk melawan ayah kandung sendiri!

Tentu saja dia tidak tahu bahwa perkelahian itu bukan disebabkan oleh hal itu, melainkan karena Sin Liong didesak dan diserang oleh mereka.

Juga Lie Ciauw Si segera berkata, suaranya halus tetapi mengandung teguran dan penyesalan.

"Liong-te, mengapa engkau tidak memberitahukan mereka bahwa aku berada di sini dan bahwa aku ingin sekali bertemu dan bicara dengan paman Bun Houw dan bibi In Hong? Ah, aku sudah mengutus orang menyampaikan surat kepada keluarga kami, keluarga Cin-ling-pai, akan tetapi begitu paman dan bibi muncul, engkau malah menyerang mereka."

Sin Liong tahu benar bahwa apa yang keluar dari mulut kakak misannya ini memang jujur dan sebenarnya, berbeda dengan ucapan pangeran yang tentu mengandung hal-hal tersembunyi yang tidak dipercayanya.

Maka diam-diam dia merasa lega bahwa ayah kandungnya itu telah pergi dari Lembah Naga dan berarti lolos dari ancaman bahaya yang dia tidak dapat membayangkan bagaimana.

"Maafkan, Houw-ko dan lihiap."

Dia tetap tidak mau menyebut piauw-ci kepada Lie Ciauw Si, melainkan menyebut lihiap karena kalau dia menyebut piauw-ci, sama artinya bahwa dia menerima Cin-ling-pai sebagai keluarganya.

Padahal, dia tidak akan mengemis akan hal itu.

"Akan tetapi ketika aku melihat betapa mereka berdua merobohkan belasan orang penjaga dengan totokan, aku menjadi curiga dan menyerang mereka. Terjadilah perkelahian kemudian muncul Hai-liong-ong Phang Tek dan pasukan penjaga, dan mereka melarikan diri."

"Sudahlah,"

Pangeran menarik napas panjang seperti orang menyesal, padahal hatinya terasa lega karena betapapun juga, dia agak jerih terhadap suami isteri itu.

"Semua itu terjadi karena salah sangka. Kelak kalau mereka muncul dalam pertemuan rapat besar orang-orang kang-ouw, tentu akan dapat kita terangkan duduknya perkara dan aku mohon maaf kepada paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong!"

Pangeran itu menyebut dua nama ini dengan paman dan bibi, suaranya begitu sungguh-sungguh dan mesra seolah-olah dia memang sudah menerima suami isteri itu menjadi keluarganya.

Hal ini menggirangkan hati Ciauw Si, akan tetapi menimbulkan curiga di dalam hati Sin Liong.

Pemuda ini tahu bahwa sang pangeran menganggap suami isteri itu sebagai saingan besar untuk memperebutkan julukan jagoan nomor satu di dunia!

Aku harus waspada, pikir Sin Liong.

Bukan waspada menjaga keamanan Lembah Naga, melainkan waspada mengamati gerak-gerik pangeran itu untuk menjaga keselamatan Bi Cu dan dirinya sendiri, dan kalau mungkin keselamatan Ciauw Si!

Bagaimanakah suami isteri pendekar itu tiba-tiba dapat muncul di Lembah Naga?

Seperti telah kita ketahui, Cia Bun Houw dan isterinya, Yap In Hong, bersama dengan Lie Seng pergi ke kota raja dan mereka bertiga berhasil melarikan Sun Eng dari dalam tahanan di istana Pageran Ceng Han Houw.

Akan tetapi, Sun Eng tidak dapat ditolong dan meninggal dunia, sedangkan Lie Seng yang merasa berduka sekali itu akhirnya lalu mengikuti seorang hwesio tua untuk mengasingkan diri dari dunia ramai dan masuk menjadi seorang hwesio yang tidak lagi mencampuri urusan duniawi!

Cia Bun Houw dan Yap In Hong lalu kembali ke kota raja dan berhasil menemui Pangeran Hung Chih, kemudian mereka menerima berita baik sekali, yaitu bahwa mereka sekeluarga Cin-ling-pai telah dibebaskan daripada tuduhan memberontak dan tidak lagi menjadi buruan pemerintah.

Dengan girang mereka lalu menyampaikan berita ini kepada kedua orang kakak mereka, yaitu suami isteri Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng yang masih bersembunyi di selatan.

Mereka berdua kemudian menitipkan putera mereka dalam asuhan suami isteri yang lebih tua itu karena mereka sudah berjanji dengan Pangeran Hung Chih untuk membantu pangeran itu menghadapi usaha pemberontakan Ceng Han Houw.

Demikianlah, kedatangan mereka ke utara itu adalah dalam rangka tugas ini, yaitu melakukan penyelidikan tentang kegiatan pangeran peranakan Mongol itu.

Tak mereka sangka, mereka telah dipergoki oleh Sin Liong!

Setelah berhasil melarikan diri keluar dari Lembah Naga, suami isteri ini lalu mengirim laporan tentang Lembah Naga yang terjaga ribuan orang pasukan Mongol dan bangsa-bangsa utara lainnya itu secara panjang lebar, kemudian mengutus seorang di antara para penyelidik untuk membawa laporan itu ke sebelah dalam Tembok Besar.

Mereka berdua sendiri masih menanti di luar Lembah Naga untuk mengikuti perkembangan usaha Pangeran Ceng Han Houw mengadakan pertemuan besar dengan tokoh-tokoh kang-ouw.

Sering kali mereka membicarakan tentang Sin Liong.

"Bocah setan itu benar-benar lihai sekali,"

Kata Yap In Hong.

"Sungguh luar biasa bocah seperti itu memiliki semua ilmu-ilmu Cin-ling-pai sedemikian sempurnanya. Dia telah mewarisi semua kepandaian mendiang suhu Kok Beng Lama!"

"Dan juga kepandaian mendiang ayah!"

Kata Bun Houw sambil menarik napas panjang.

"Aku sendiri sebagai putera tunggal ayah tidak mewarisi Thi-khi-i-beng, juga enci Giok Keng sebagai puteri tunggalnya pun tidak. Yang mewarisi hanyalah kakanda Yap Kun Liong seorang. Akan tetapi siapa kira, bocah setan itu kini mewarisinya, dan dapat mempergunakannya dengan mahir sekali!"

"Dia telah menggabung ilmu-ilmu dua orang guru besar secara hebat. Dia akan merupakan lawan yang tangguh sekali!"

"Memang benar. Sungguh aku tidak mengerti mengapa suhu Kok Beng Lama dan ayahku menurunkan semua ilmu mereka kepada bocah tak berbudi itu sehingga kini semua ilmu kita sendiri dipergunakan untuk melawan kita dan membela pangeran pemberontak. Sungguh penasaran sekali, dan kalau saja mendiang ayah dan mendiang suhu Kok Beng Lama dapat melihat hal ini, tentu mereka berdua akan merasa menyesal sekali."

"Sudahlah, tidak perlu kita gelisah dan khawatir. Bagaimanapun juga, dia masih amat muda dan belum berpengalaman. Mungkin saja dia kena terbujuk oleh pangeran itu, siapa tahu? Kita belum melihat benar bagaimana isi hati anak yang aneh dan keras hati itu. Agaknya tidak mungkin kalau kedua orang tua yang bijaksana itu sampai salah mengenal orang. Kita lihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya di Lembah Naga."

Cia Bun Houw menyetujui pendapat isterinya ini dan mereka menanti sambil memasang mata dengan waspada, menanti perkembangan dan datangnya hari pertemuan para tokoh kang-ouw di Lembah Naga yang undangannya telah disebar oleh kaki tangan Pangeran Ceng Han Houw beberapa bulan sebelumnya.

Semua tokoh kang-ouw yang "merasa berkepandaian"

Diundang, tanpa menentukan siapa orangnya.

Dalam undangan yang disebar itu dikemukakan bahwa dalam pertemuan itu akan dipilih seorang bengcu yang akan memimpin seluruh dunia kang-ouw sebagai jagoan nomor satu di dunia ini!

Suami isteri ini maklum bahwa tentu semua tokoh kang-ouw akan tertarik oleh undangan istimewa ini den Lembah Naga akan menjadi ramai bukan main.

Akan tetapi merekapun tahu bahwa akan terjadi keramaian lain yang sama sekali tidak akan terduga-duga oleh Pangeran Ceng Hen Houw si pemberontak itu.

Mereka menanti saat penentuan itu dengan tenang dan waspada.

Telah terlalu lama kita menginggalkan keadaan Tee Beng Sin si pemuda gemuk yang gagah perkasa itu.

Setelah kita mengetahui bahwa yang memiliki she (nama keturunan) Tee adalah ibu kandungnya yang telah menjadi nikouw, sedangkan ayah kandungnya sesungguhnya adalah Kui Hok Boan, maka nama lengkapnya tentu saja bukan Tee Beng Sin melainkan Kui Beng Sin!

Hal ini merupakan kenyataan pahit bagi Beng Sin karena sesungguhnya dia mulai merasa tidak suka kepada orang yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri itu!

Dengan hati perih sekali setelah dia bertemu dengan ibu kandungnya yang telah menjadi seorang nikouw dalam kuil dan tidak mau mengakui lagi sebagai Tee Cui Hwa dan mengatakan bahwa Tee Cui Hwa telah mati dan bahwa dia adalah Thian Sin Nikouw, ibunya menceritakan tentang riwayat ayah kandungnya yang busuk!

Akan tetapi ada juga sedikit hiburan di dalam hatinya, yaitu bahwa ibunya itu melalui kata-kata Thian Sin Nikouw, telah menyetujui perjodohannya dengan puteri Ciook-piauwsu yang baik budi dan gagah itu.

Dia tidak lagi mengharapkan ayah kandungnya yang sudah ditinggalkannya.

Dia tidak lagi dapat mengharapkan perjodohan dengan seorang di antara dua puteri kembar ayah kandungnya itu, karena Lan dan Lin ternyata adalah adik-adik tirinya sendiri, seayah berlainan ibu!

Maka dengan besar hati dia meninggalkan ibunya dan berangkatlah pemuda gemuk yang berwatak gembira ini menuju ke Su-couw di Ho-nan, di mana dia tahu keluarga Ciook, terutama sekali Ciook Siu Lan dara yang manis itu, telah menantinya dengan penuh harapan.

Dan apa yang dibayangkannya itu memang benar.

Ketika dia tiba di rumah calon mertuanya itu, dia disambut dengan gembira dan meriah sekali.

Siu Lan, dara itu, tidak mengeluarkan sepatahpun kata, akan tetapi wajah yang manis itu menjadi cerah sekali, Sepasang matanya yang bening itu berkaca-kaca, basah dan berkilauan, mulutnya yang mungil itu mengulum senyum dan setelah mengerling dan tersenyum malu-malu kepada Beng Sin, memberi hormat, dia lalu melarikan diri dengan langkah-langkah kecil ke dalam rumah, membanting dirinya di atas pembaringan dalam kamarnya dan...

menangis karena girang!

Ciook-piauwsu dan isterinya, calon ayah dan ibu mertua Beng Sin, menyambut pemuda itu dengan girang, dan mereka mendengarkan dengan wajah serius ketika Beng Sin menceritakan segala yang telah dialaminya.

Pemuda ini merasa bahwa kalau dia mau menjadi keluarga mereka ini, dia harus menceritakan segala keadaannya.

Tentu saja dia tidak mau menceritakan keburukan ayah kandung sendiri.

Yang mula-mula sekali dikatakannya adalah.

"Saya telah membunuh kakak tiri saya sendiri..."

Tentu saja pengakuan ini mengejutkan Ciook-piauwsu dan isterinya.

Akan tetapi setelah Beng Sin menceritakan segalanya, tentang perbuatan Siong Bu yang mencelakakan Lan Lan dan Lin Lin, tentang pertempuran yang terjadi di antara mereka karena marah, kemudian tentang kematian Siong Bu dalam perkelahian itu, Ciook-piauwsu menarik napas panjang dan berkata.

"Engkau tidak bersalah dalam hal itu. Tewas dalam perkelahian memperebutkan kebenaran adalah sudah jamak."

Besar hatinya mendengar pendapat calon ayah mertuanya ini, Beng Sin lalu menceritakan segala-galanya.

Betapa ayah dan ibunya telah berpisah, dan ibunya kini menjadi nikouw dan tidak mau lagi mencampuri urusan duniawi.

Betapa dia sendiri menjadi bentrok dengan ayahnya karena peristiwa kematian kakak tirinya itu dan dia sendiri tidak ingin kembali kepada ayah kandungnya.

Betapa ibunya, sebagai nikouw, merestui perjodohan yang diusulkan oleh keluarga Ciook.

Semua itu didengarkan oleh suami isteri dengan penuh kesungguhan hati dan juga kagum.

Pemuda calon mantunya ini benar-benar seorang yang amat jujur, tidak mau menutupi segala keburukan keluarganya sendiri.

Jauh lebih baik mempunyai seorang mantu yang jujur seperti ini daripada kalau menyembunyikan dan merahasiakan segala kebusukan keluarganya.

Dengan sikap jujur seperti itu, Beng Sin sudah membuktikan bahwa dia tidaklah busuk seperti kakak tirinya atau ayah kandungnya sendiri!

"Saya sendiri sungguh mati tidak pernah dapat mengerti mengapa ayah kandung dan kakak tiri saya begitu tega untuk mencelakakan Lan-moi dan Lin-moi, menyerahkan mereka kepada pangeran keparat itu!"

Akhirnya Beng Sin berkata sambil mengepal tinjunya.

"Kalau saya berkepandaian, tentu akan saya tolong Lan-moi dan Lin-moi! Akan tetapi apa daya saya terhadap seorang seperti pangeran itu?"

"Tenangkan hatimu, Beng Sin,"

Kata calon ayah mertuanya.

"Kedua orang adikmu itu telah selamat."

"Eh? Bagaimana... eh, gak-hu (ayah mertua) bisa tahu...?"

Biarpun agak malu-malu, dia tidak ragu-ragu lagi menyebut ayah mertua sehingga menggirangkan hati Ciook-piauwsu.

"Mereka telah diselamatkan oleh kakak tiri mereka yang bernama Liong begitu, demikian menurut pendengaranku, dan mereka kini bahkan telah kembali ke rumah Ciang-piauwsu ketua Hek-eng-piauwkiok yang menganggap mereka seperti anak sendiri, bahkan mereka datang bersama ayah mereka."

Muka yang gemuk itu memandang dengan melongo, terheran-heran akan tetapi juga girang sekali mendengar bahwa Lan Lan dan Lin Lin selamat.

"Ah, tentu Sin Liong yang menyelamatkan mereka! Sin Liong hebat sekali! Dan mereka berada di kota ini? Bersama ayah?"

Pertanyaan terakhir ini bernada tak senang.

"Benar, dan mereka kini telah membeli rumah sendiri. Engkau harus cepat mengunjungi ayahmu dan adik-adikmu itu, Beng Sin. Kami girang bahwa engkau dapat berkumpul dengan keluargamu yang kini telah pindah ke sini. Sungguh kebetulan sekali dan mudah untuk mengesahkan perjodohan antara engkau dan Siu Lan."

Akan tetapi wajah yang gemuk dan bulat itu menjadi muram dan dia menggeleng kepala.

"Saya tidak akan mengunjungi ayah..."

Suami isteri itu saling pandang, kemudian Ciook-piauwsu berkata, nada suaranya bersungguh-sungguh.

"Beng Sin, kami mengharap engkau tidak mengecewakan hati kami dengan melesetnya pandangan kami tentang dirimu. Kami memandangmu sebagai seorang pemuda gagah perkasa yang baik budi dan bijaksana. Akan tetapi, semua itu akan tidak ada gunanya kalau engkau sekarang hendak bersikap murtad dan kejam terhadap ayah kandung sendiri."

"Akan tetapi, gak-hu..., hanya sayalah yang tahu betapa jahatnya dia... betapa kejamnya... ah, sudah terlalu banyak hal keji dilakukan ayah... saya merasa malu sendiri... bahkan puteri-puterinya sendiripun hendak diserahkan kepada pangeran itu, seperti domba-domba diserahkan kepada jagal untuk disembelih..."

"Cukup, Beng Sin!"

Tiba-tiba Ciook-piauwsu berkata dengan suara keras dan tegas.

"Kami tidak ingin mendengar keburukan-keburukan orang, apalagi kalau orang itu adalah ayah kandungmu. Betapapun banyak penyelewengan yang pernah dilakukannya, apakah engkau sebagai puteranya tidak menaruh hati kasihan dan tidak mau memaafkannya? Dia sekarang... ah, sakit parah..."

"Ahhh...?"

Beng Sin terkejut.

"Benar, Beng Sin,"

Sambung ibu mertuanya.

"Ayahmu itu sedang menderita penyakit yang payah, maka sebaiknya kalau engkau cepat menengoknya agar terhibur hati orang tua itu. Juga, kasihan dua orang adikmu itu yang merasa bingung melihat ayah mereka sakit."

Mendengar betapa Kui Hok Boan sakit payah, dan dua orang gadis kembar itu menjadi bingung, timbul rasa kasihan dalam hati Beng Sin.

Betapapun juga, ayah kandungnya atau bukan, Kui Hok Boan adalah orang yang telah melimpahkan banyak budi kebaikan kepadanya.

Dan dia amat menyayang dua orang dara kembar itu, bahkan pernah dia jatuh hati kepada Lin Lin sebagai seorang pria yang mencinta wanita, sungguhpun kini cintanya itu berubah menjadi cinta seorang kakak terhadap seorang adiknya.

"Baik, saya akan pergi mengunjungi mereka."

Giranglah hati ayah dan ibu mertua ini dan mereka lalu menunjukkan jalan ke arah rumah tinggal Lan Lan, Lin Lin, dan ayah mereka.

Dengan jantung berdebar Beng Sin menuju ke rumah yang cukup besar itu.

Kiranya, dengan bantuan keluarga Ciang-piauwsu, Kui Hok Boan kini membeli sebuah rumah, tentu saja, yang mengurusnya adalah Ciang-piauwsu bersama Kui Lan dan Kui Lin, dan tinggal di rumah ini, Kui Lan dan Kui Lin mempergunakan uang hasil penjualan perhiasan untuk membeli rumah dan perabot-perabot rumah, kemudian sisa harta mereka itu mereka serahkan kepada ayah angkat mereka, Ciang-piauwsu ketua Hek-eng-piauwkiok, untuk "dijalankan"

Sehingga modal itu dapat meng-hasilkan keuntungan dan tidak akan habis dimakan menganggur begitu saja.

Ketika Kui Lan dan Kui Lin melihat siapa orangnya yang datang berkunjung, keduanya menjadi girang dan juga terharu.

Mereka menubruk dan memegangi kedua tangan Beng Sin sambil menangis.

"Sin-ko...!"

Kui Lan terisak.

"Sin-ko, kenapa baru sekarang kau muncul?"

Kui Lin juga menangis.

Beng Sin tidak dapat menahan runtuhnya beberapa butir air matanya melihat dua orang dara kembar yang disayangnya ini.

"Lan-moi... Lin-moi... terima kasih kepada Thian bahwa kalian dalam selamat..."

Katanya berulang-ulang.

Dia terharu sekali memandang wajah Kui Lan yang ternyata sekarang adalah adik tirinya, sedarah dengan dia, seayah!

"Kami diselamatkan oleh Liong-koko,"

Kata Kui Lan.

"Dan Liong-koko yang menyuruh kami membawa ayah pindah ke sini,"

Sambung Kui Lin.

Sukar bagi mulut Beng Sin untuk bertanya tentang ayahnya.

Ah, sudah tahukah dua orang kembar ini bahwa dia adalah saudara sedarah dengan mereka?

Dan sudah dengarkah mereka tentang kematian Siong Bu?

Yang paling buruk harus dibicarakan lebih dulu, pikirnya, maka dia lalu berkata.

"Lan-moi dan Lin-moi, aku... aku telah... membunuh Bu-ko..."

Dua orang dara itu mengangguk dan mengusap air mata.

"Kami sudah mendengar semua itu dari Liong-koko, Sin-ko,"

Kata Kui Lan.

"Bukan salahmu, Sin-ko, Bu-ko memang jahat dan dia tewas dalam perkelahian karena engkau membela kami... ah, kami sudah tahu akan semua itu dari Liong-koko dan dari... dari ayah..."

"Kamipun sudah tahu bahwa engkau adalah putera kandung ayah pula, seperti juga mendiang Bu-ko. Ah, kami sudah mendengar banyak, Sin-ko... tentang ayah... dia... dia..."

Kui Lan tak dapat melanjutkan kata-katanya dan menangis.

Dari kata-kata ayah mereka yang sering mengigau dan bicara sendiri itu, akhirnya keluarlah semua rahasia Kui Hok Boan dan tahulah dua orang dara kembar itu betapa ayahnya dahulu adalah seorang yang amat kejam dan jahat, yang telah menganiaya dan merusak banyak sekali wanita.

Ayah mereka adalah seorang laki-laki mata keranjang yang suka merayu dan menyia-nyiakan wanita yang telah menjadi korbannya.

Bahkan mereka tahu pula bahwa pembunuh ayah Bhe Bi Cu, teman Sin Liong itu, juga adalah ayah mereka sendiri.

Beng Sin mengangguk-angguk.

Agak ringan hatinya setelah mendengar bahwa dua orang adiknya inipun sudah tahu segala hal tentang ayah mereka.

"Bagaimana... ayah...?"

Tanyanya dengan kaku karena dia masih belum dapat menerima kenyataan bahwa Kui Hok Boan adalah ayah kandungnya sendiri.

"Aku mendengar dari keluarga Ciook bahwa dia sakit payah?"

Kui Lan hanya mengangguk, akan tetapi Kui Lin menerangkan.

"Tubuhnya tidak apa-apa, Sin-ko. Jasmaninya tidak sakit akan tetapi..."

"Tetapi bagaimana?"

Beng Sin mendesak, alisnya berkerut dan jantungnya berdebar, dia hampir merasa dapat mengerti.

"Pikirannya... batinnya terpukul hebat dan dia... dia..."

"Seperti anak kecil, atau seperti orang bingung, selalu dalam duka dan sesal. Sungguh kasihan sekali dia, Sin-ko,"

Kui Lan menyambung.

Beng Sin lalu diantar oleh dua orang adiknya, digandeng di kanan kiri, menuju ke dalam dan dengan hati-hati Kui Lan membuka kamar ayahnya.

Terharu bukan main hati pemuda gemuk yang memang berbudi ini ketika melihat orang tua itu.

Kui Hok Boan yang dulu terkenal sebagai seorang pria tampan dengan pakaian yang selalu rapi itu kini seperti seorang jembel tua saja.

Pakaiannya kusut, rambutnya kusut, tu-buhnya kurus kering, matanya sayu dan biarpun kamar itu lengkap dengan pembaringan dan kursi, namun orang tua itu rebah di atas lantai kamar!

Dia menoleh dan ketika bertemu pandang dengan Beng Sin, dia bangkit duduk dan melebarkan matanya.

"Ayah, ini Sin-ko datang menjenguk,"

Kata Kui Lan.

"Ayah, ini kakak Beng Sin. Lupakah ayah kepadanya?"

Kui Lin mengingatkan.

"Beng Sin... Beng Sin... anakku..."

Kata orang tua itu lirih seperti berbisik.

Beng Sin tak dapat menahan keharuan hatinya.

Dia menjatuhkan diri berlutut di depan orang tua itu sambil menitikkah air mata.

"Ayah...!"

Dia tidak dapat bicara apa-apa lagi kecuali menyebut ayah kepada orang tua itu.

Mau bicara apakah?

"Beng Sin, engkau anakku...

ya, engkau telah membunuh Siong Bu!

Kenapa engkau tidak membunuh aku sekalian?

Bunuhlah aku, Beng Sin, seperti aku telah membunuh ibumu, Tee Cui Hwa, seperti aku membunuh ibu Siong Bu, Kwan Siang Li, seperti aku telah membunuh Liong Si Kwi.

Ya, ibu-ibu kalian telah mati di tanganku semua...

hu-huk, mati karena aku...

bunuhlah aku...

hu-huk-huhhhh..."

Dan orang tua itupun menangis seperti anak kecil!

Beng Sin terkejut den momandang dengan muka pucat.

Kui Lin lalu menarik tangan Beng Sin, diajaknya bangun den mereka lalu meninggalkan orang tua itu.

Kui Lan menutupkan kembali daun pintu kamar itu perlahan-lahan.

Suara isak tangis orang tua itu masih terdengar.

"Dia selalu begitu..."

Kata Kui Lin berbisik.

"Kalau ditanggapi, makin menjadi-jadi. Sebaiknya didiamkan dan dia akan tertidur."

Beng Sin menggeleng-geleng kepalanya.

"Sungguh kasihan sekali ayah kita... dia harus menderita batin seperti itu..."

"Itukah hukum karma? Siapa menanam bibitnya dia akan memetik buahnya?"

Kata Kui Lin meragu.

"Betapapun juga, itu merupakan pelajaran bagi kita. Ayah kita pernah melakukan kesesatan dalam kehidupannya, biarlah itu memperingatkan kita agar kita tidak sampai melakukan penyelewengan dan menjadi sesat,"

Kata Kui Lan.

Memang tiga orang anak dari Kui Hok Boan ini tadinya merasa tidak senang akan segala perbuatan jahat ayah kandung mereka dan ada perasaan benci dalam hati mereka.

Akan tetapi setelah menyaksikan keadaan ayah mereka yang begitu mengenaskan, lebih menyedihkan daripada mati sendiri, hidup akan tetapi menderita dalam kedukaan dan penyesalan yang tiada habisnya, timbullah rasa iba.

Apakah artinya segala penyesalan setelah terlambat?

Apakah gunanya penyesalan?

Penyesalan dianggap benar oleh umum karena penyesalan akan membuat orang itu sadar kembali.

Akan tetapi benarkah demikian?

Ataukah penyesalan sekedar merupakan hiburan saja bagi si pelaku, hiburan untuk menutupi batinnya yang menderita akibat perbuatannya sendiri?

Betapa seringnya kita menyesal, akan tetapi betapa seringnya pula perbuatan yang sama kita lakukan dan kita ulang kembali!

Orang yang berbatin lemah dan tumpul selalu berada dalam keadaan tidak waspada dan tidak sadar, sehingga mudah saja dibuai oleh bayangan kesenangan, dan kalau sudah menghadapi kesenangannya, maka tidak teringat apa-apa lagi, tidak teringat akan akibatnya.

Orang yang batinnya lemah dan tumpul seperti itu hanya mementingkan kesenangan.

Baru setelah kesenangan yang dinikmatinya itu kemudian mendatangkan akibat yang tidak menyenangkan, dia merasa menyesal!

Coba andaikata tidak ada akibat yang mendatangkan derita, apakah dia akan menyesali perbuatannya mengejar kesenangan itu?

Tentu saja tidak!

Sama halnya dengan orang makan sambal.

Setiap kali habis makan, kepedasan dan menyesal, menyatakan tobat dan kapok.

Akan tetapi lain saat dia sudah makan sambal lagi!

Demikian pula orang yang melakukan penyelewengan, menyesal dan menangis, bertobat melalui mulut kepada Tuhan.

Akan tetapi begitu berhadapan dengan bayangan kesenangan yang sama, maka diulanglah perbuatan itu untuk kemudian menyesal dan bertobat kembali.

Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan dalam kehidupan kita sehar-hari, dapatkah kita menyangkal kenyataan yang benar ini?

Bukanlah penyesalan yang kita perlukan dalam hidup.

Yang terpenting adalah kewaspadaan dan kesadaran yang timbul karena mengamati diri sendiri setiap saat.

Pengamatan inilah yang akan menimbulkan kebijaksanaan dan kecerdasan, yang akan meniadakan penyelewengan dan kesesatan.

Dan kalau tidak ada penyelewengan dan kesesatan, tidak perlu lagi ada penyesalan dan bertobat.

Kalaupun kecerdasan dan kebijaksanaan yang timbul dari kewaspadaan melihat bahwa apa yang kita lakukan tidak benar, maka seketika itu juga kita menghentikan perbuatan tidak benar itu dan habis sampai di situ saja.

Tidak ada penyesalan, juga tidak ada kerinduan terhadap perbuatan yang lalu itu.

Yang lalu sudah mati, sudah habis dan kewaspadaan adalah sekarang, saat ini, saat demi saat.

Hidup adalah saat demi saat, bukan kemarin, bukan esok.

Akan tetapi sekarang.

Maka hidup waspada dan sadar adalah sekarang ini!

Yang teramat penting dalam hidup adalah sekarang ini.

Sekarang benar!

Apakah benar itu?

Tak dapat diterangkan, karena yang dapat diterangkan adalah benarnya sendiri, benarnya masing-masing, maka terjadilah perebutan kebenaran sendiri-sendiri, dan jelas hal ini adalah tidak benar lagi!

Akan tetapi, apapun yang kita lakukan, kalau didasari dengan cinta kasih, maka benarlah itu!

Dan cinta kasih tidak akan ada selama di situ ada si aku yang ingin benar, ingin senang, ingin baik dan sebagainya!

Melihat keadaan ayahnya, Beng Sin minta kepada calon mertuanya agar pernikahan diundurkan, menanti sampai ayahnya sembuh atau setidaknya agak normal keadaannya.

Karena pada waktu itu, mendengar laporan anak-anaknya tentang perjodohan itu, dia hanya mengangguk saja atau menangis!

Beberapa hari sebelum hari yang ditetapkan untuk pertemuan para tokoh kang-ouw itu tiba, daerah Lembah Naga telah dibanjiri oleh banyak orang kang-ouw.

Juga banyak partai-partai persilatan yang mengutus serombongan anak murid untuk datang berkunjung, bukan untuk memperebutkan kedudukan bengcu atau jago nomor satu di dunia, melainkan untuk menyaksikan pemilihan itu dan untuk melihat siapa yang akan menjadi bengcu.

Tentu saja para utusan itu diberi wewenang untuk menentang kalau pemilihan itu kurang tepat, dan tentu saja merekapun boleh turun tangan kalau untuk membela nama partainya sendiri.

Partai-partai persilatan yang termasuk golongan putih atau bersih tentu telah memesan kepada para utusannya agar tidak mencari permusuhan, dan membuka mata dan telinga dengan waspada menyaksikan perkembangan pemilihan bengcu itu.

Selain tokoh-tokoh kang-ouw perorangan, baik dari golongan hitam maupun putih, maka nampak bendera-bendera yang dibawa oleh para anak murid dari partai persilatan Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai, dan bahkan Siauw-lim-pai juga mengutus rombongannya.

Selain empat partai besar ini, masih terdapat banyak pula partai-partai kecil.

Di antara banyak orang itu, yang jumlahnya hampir ada dua ratus orang, terdapat empat orang pendekar atau due pasang suami isteri yang berpakaian sederhana, akan tetapi kalau para tokoh kang-ouw itu mendengar nama mereka, tentu orang-orang itu akan menjadi gempar.

Dua pasang suami isteri ini adalah Yap Kun Liong tersama Cia Giok Keng, dan Cia Bun Houw bersama Yap In Hong.

Cia Bun Houw dan Yap In Hong terkejut bukan main ketika mereka bertemu dengan kakak-kakak mereka itu dan mendengar bahwa kakak-kakak mereka itu menerima surat dari Lie Ciauw Si bahwa dara itu telah menikah dengan Pangeran Ceng Han Houw dengan upacara pernikahan di kuil tanpa disaksikan keluarga!

Karena pangeran berada dalam keadaan terancam bahaya dan terdesak, maka kami terpaksa mengambil keputusan menikah di kuil, demikian antara lain bunyi surat Ciauw Si.

Selain mohon maaf kepada ibu kandungnya, juga dara itu menyatakan bahwa dia dan sang pangeran sudah saling mencinta dan hanya kematian saja yang akan mampu memisahkan mereka satu dari yang lain.

"Aihh, kenapa anak-anakku begitu bodoh..."

Keluh Cia Giok Keng, keluhan yang sudah dikeluarkan berkali-kali.

Hati ibu ini berduka sekali mengingat akan nasib Lie Seng dan Lie Ciauw Si, dua orang anaknya yang dianggap keliru memilih jodoh.

Juga Cia Bun Houw dan Yap In Hong merasa penasaran sekali mengapa Ciauw Si dapat terpikat oleh pangeran pemberontak murid Hek-hiat Mo-li itu.

Hanya Yap Kun Liong seorang yang tidak mengeluarkan kata, akan tetapi di dalam hatinya pendekar yang sudah matang oleh gemblengan pengalaman hidup ini mengerti apa artinya orang jatuh cinta dan dia sama sekali tidak dapat menyalahkan Lie Seng maupun Lie Ciauw Si.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, enci Keng?"

Cia Bun Houw bertanya kepada encinya.

"Kita datang ke Lemhah Naga ini sebagai utusan kerajaan untuk menyelidiki dan kalau perlu menentang gerakan Ceng Han Houw, akan tetapi ternyata pangeran itu telah menjadi mantumu dan Ciauw Si berada di fihaknya sebagai isterinya!"

Memang amat sukar untuk mengambil keputusan, menghadapi keadaan seperti itu.

Akan tetapi dengan suara gemetar tanda bahwa hatinya terguncang hebat, Cia Giok Keng yang kini mulai nampak tua dalam usianya lima puluh tahun itu, berkata lantang.

"Biar anak sendiri sekalipun, kalau salah harus kita tentang, dan biar orang sendiri, kalau benar juga haruslah kita bela!"

Yap Kun Liong merasa kasihan sekali kepada isterinya yang tercinta ini.

Dia berkata dengan suara yang halus.

"Kita lihat saja bagaimana keadaannya nanti dan bagaimana perkembangannya. Sama sekali kita tidak boleh menurutkan dorongan perasaan hati. Seorang gagah harus adil dan bijaksana, oleh karena itu kita harus waspada dan dapat mengambil tindakan yang setepat-tepatnya. Menyalahkan atau membenarkan orang lain menurutkan perasaan hati sendiri sering kali menyesatkan."

Tiga orang pendekar lainnya mengangguk dan diam-diam membenarkan ucapan itu.

Memang teringat oleh mereka betapa keluarga Cin-ling-pai sejak dahulu dilanda kekecewaan-kekecewaan dan penyesalan-penyesalan, bahkan nyaris dilanda bahaya perpecahan karena pandangan-pandangan yang terlalu menurutkan perasaan hati sendiri.

Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng sudah mengalami pahit getirnya akibat dari pandangan seperti itu.

Juga Cia Bun Houw dan Yap In Hong sudah merasakan betapa sampai bertahun-tahun mereka berdua meninggalkan keluarga Cin-ling-pai karena pandangan mendiang ayah Bun Houw yang menentang perjodohan itu.

Kemudian, terjadi pula pada diri Lie Seng yang memilih jodoh yang tidak disetujui oleh ibu kandungnya dan keluarganya.

Kini terulang kembali oleh Ciauw Si!

Dan justeru apa yang dilakukan oleh Ciauw Si merupakan puncaknya, yang paling hebat di antara semua keturunan Cin-ling-pai.

Ciauw Si memilih sebagai jodohnya orang yang justeru menjadi musuh keluarga Cin-ling-pai, dan bahkan kini menjadi musuh kerajaan, menjadi pemberontak besar!

Benar-benar sukar bagi mereka membayangkan kemungkinan seperti ini.

Lembah Naga menjadi ramai dan kini tampaklah barisan penjaga yang berpakaian indah dan bersenjata lengkap, memenuhi kedua tepi jalan semenjak dari luar daerah sampai ke daerah Lembah Naga, berdiri dengan hormatnya menyambut para tokoh kang-ouw yang berbondong-bondong memasuki daerah itu.

Orang-orang kang-ouw itu diam-diam terkejut juga menyaksikan betapa tempat itu telah terjaga sedemikian kuatnya oleh pasukan yang ratusan orang jumlahnya, bahkan mungkin tidak kurang dari seribu orang!

Dan ketika mereka tiba di Istana Lembah Naga, ternyata tempat itu telah dihias dengan meriah seperti hendak mengadakan pesta besar.

Ruangan depan yang amat luas dan dapat menampung seribu orang itu dihias dan nampak meja kursi dijajar rapi, sedangkan bagian tengahnya dibiarkan kosong.

Pangeran Ceng Han Houw memang cerdik.

Dia segera tahu dari para penyelidiknya siapa-siapa yang menghadiri rapat itu, maka diapun sengaja menyuruh para pembantunya yang tidak terkenal untuk menyambut di depan istana dan mempersilakan semua tamu itu duduk ke ruangan depan.

Dengan demikian, maka di antara para tamu itu tidak ada yang merasa sungkan.

Apalagi dia mendapat kabar bahwa empat orang pendekar Cin-ling-pai yang tadinya menjadi buronan pemerintah itupun datang!

Kalau dia sendiri yang maju menyambut, tentu dia harus memberi hormat kepada ibu kandung Ciauw Si dan keluarganya, dan dia belum dapat membayangkan bagaimana sikap mereka setelah mendengar bahwa Ciauw Si menjadi isterinya.

Dan tindakannya ini melegakan hati banyak tamu, terutama sekali empat orang pendekar Cin-ling-pai itu yang juga belum dapat menentukan bagaimana sikap mereka seandainya pangeran itu sendiri yang menyambut.

Mereka menyusup di antara banyak tamu dan memilih tempat duduk agak di sebelah luar sehingga tidak terlalu menyolok.

Ketika empat orang pendekar Cin-ling-pai ini sudah mengambil tempat duduk dan mereka mencari-cari dengan pandang mata mereka, tidak atau belum nampak adanya Pangeran Ceng Han Houw, atau Lie Ciauw Si.

Bahkan juga Sin Liong tidak nampak.

Memang mereka masih berada di dalam istana, mereka berempat, yaitu Ceng Hang Houw, Lie Ciauw Si, Sin Liong dan Bi Cu.

Baru saja Pangeran Ceng Han Houw mengumpulkan pembantu-pembantunya yang lain, yaitu Kim Hong Liu-nio, Hek-hiat Mo-li, Hai-liong-ong Phang Tek dan yang lain-lain, memberi perintah-perintah kepada mereka.

Barulah dia kini mengadakan perundingan dengan isterinya, yang dihadiri oleh Sin Liong dan Bi Cu.

Wajah Ciauw Si nampak agak pucat.

Jelas bahwa dia merasa gelisah sekali mendengar bahwa ibu kandungnya hadir pula di situ bersama ayah tirinya, paman dan bibinya.

"Aku... aku bingung sekali, tidak tahu bagaimana harus bertemu dengan ibuku,"

Katanya "Bagaimana kalau beliau dipersilakan masuk sehingga aku dapat menghadapnya di sini saja?"

Ceng Han Houw menggelengkan kepalanya.

"Kurasa hal itu kurang biiaksana, Si-moi. Ingat bahwa beliau pada saat ini adalah tamu agung di antara orang-orang kang-ouw, maka kalau dipersilakan masuk, tentu beliau merasa tersinggung karena tentu akan menjadi bahan percakapan para tamu lainnya. Biarlah urusan pribadi dapat kita selesaikan kemudian, Si-moi. Yang terpenting sekarang kita harus menyelesaikan urusan perjuangan seperti yang telah kita rundingkan bersama sebelumnya. Kita berdua, ditemani oleh Liong-te, harus keluar menyambut tamu."

Pangeran itu memandang isterinya yang sudah berpakaian indah.

"Kulihat engkau sudah siap, Si-moi, dan engkau juga, Liong-te. Kalian menemaniku keluar, sebagai isteriku dan sebagai adik angkatku, juga sebagai pembantu-pembantuku yang paling dapat kuandalkan. Hanya kalian yang mendampingi aku keluar. Engkau harap tinggal di dalam istana, nona Bhe, karena selain kurang baik memperkenalkan engkau sebagai tunangan Liong-te, juga kami menghadapi orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan berbahaya sekali, maka lebih aman kalau berada di sini saja."

Bi Cu tidak menjawab melainkan memandang kepada Sin Liong.

Jelas bahwa dia menyerahkan keputusannya kepada kekasihnya itu.

Sin Liong memandang Bi Cu dengan mengangguk.

"Memang sebaiknya engkau menanti di dalam, Bi Cu. Di luar berbahaya kalau sampai terjadi keributan, kuharap saja tidak demikian,"

Katanya melirik kepada sang pangeran yang hanya tersenyum. Mendengar ucapan ini, Bi Cu mengangguk.

"Baiklah, sungguhpun aku akan merasa jauh lebih aman kalau berada di dekatmu, Sin Liong. Akan tetapi akupun tidak mau menjadi pengganggu kalian."

Setelah berkata demikian, Bi Cu bangkit dari kursinya dan kembali ke dalam kamarnya.

Jelas bahwa dia kecewa sekali, akan tetapi Sin Liong merasa bahwa memang lebih baik kalau Bi Cu tinggal di kamarnya, daripada harus menghadapi peristiwa besar itu, di mana dia harus waspada dan siap untuk turun tangan apabila perlu, sedangkan kalau Bi Cu berada di depan, dia kurang leluasa karena harus melindungi kekasihnya itu.

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan, Sin Liong dan Ciauw Si berjalan keluar mengapit sang pangeran yang tampak tenang-tenang saja, senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya.

Ciauw Si berjalan di sebelah kanannya, sedangkan Sin Liong berjalan di sebelah kirinya.

Semua tamu mengangkat kepaka memandang ke dalam ketika terdengar pengumuman keras dari seorang komandan yang berpakaian gagah bahwa sang pangeran akan keluar menyambut para tamu terhormat.

Pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka lebar dan muncullah tiga orang muda itu yang membuat para tamu terbelalak penuh kagum.

Pangeran Ceng Han Houw nampak gagah dan tampan sekali dalam pakaiannya yang serba indah, pakaian seorang pangeran dari sutera biru dengan baju tertutup mantel bulu yang amat indah.

Sebuah topi bulu yang sama dengan mantelnya itu menutupi kepalanya, dihias dengan sehelai bulu burung yang berwarna merah.

Dia berjalan tegak dan halus, pandang matanya bersinar-sinar, menyambar-nyambar ke ruangan yang luas itu, mulutnya tersenyum dan sedikitpun dia tidak kelihatan canggung atau gugup, Sikap seorang pangeran tulen, juga sikap seorang yang gagah perkasa.

Lie Ciauw Si nampak cantik sekali dalam pakaiannya yang juga mewah dan indah.

Wajahnya gemilang dan jelita sekali, dan diapun melangkah dengan sikap tenang dan gagah di samping suaminya.

Sungguh seorang puteri yang cantik jelita dan agung, dan kelihatan begitu serasi dengan pangeran di sampingnya.

Betapapun juga, karena maklum bahwa di antara ratusan pasang mata yang menatapnya itu terdapat sepasang mata ibunya, jantung Ciauw Si terasa berdebar kencang.

Cia Giok Keng tak dapat menahan diri dan dia cepat-cepat mengusap air matanya dengan saputangan ketika melihat puterinya demikian cantik dan agungnya di samping sang pangeran.

Harus diakui bahwa pilihan puterinya itu memang tidak keliru.

Pangeran itu amat tampan dan gagah.

Akan tetapi kalau dia mengingat bahwa pangeran itu adalah seorang pemberontak, dan bahkan murid dari musuh besar Cin-ling-pai, hatinya seperti ditusuk.

Dia merasa tangannya digenggam tangan lain dengan halus dan mesra.

Tahulah dia bahwa tangan suaminya yang menggenggam tangannya itu maka dia menarik napas panjang dan dapat menahan perasaannya, dapat memandang pula dan air matanyapun berhenti mengalir.

Empat orang pendekar ini mengerutkan alisnya ketika melihat Sin Liong berjalan di samping sang pangeran pula.

Hati mereka diliputi perasaan marah, bahkan Yap Kun Liong yang biasanya tidak mudah marah dan mempunyai pandangan yang luas itupun mengerutkan alisnya.

Sungguh dia tidak dapat mengerti mengapa anak itu bisa diperalat oleh Pangeran Ceng Han Houw.

Bukankah anak itu pernah menjadi pilihan orang-orang sakti seperti mendiang Cia Keng Hong dan mendiang Kok Beng Lama?

Mungkinkah dua orang sakti itu salah pilih dan di dalam tubuh anak yang berbakat ini terdapat batin yang rendah?

Dia bergidik melihat sepasang mata anak muda itu yang mencorong, lebih tajam daripada sinar mata sang pangeran sendiri, dan wajah pemuda itu membayangkan keteguhan dan kekerasan hati.

Bagaimana mungkin wajah seperti itu kini dimiliki seorang yang dapat diperalat sedemikian mudahnya oleh pemberontak ini?

Dari tempat duduk para tamu, semua orang dapat melihat pangeran dan dua orang pendampingnya itu, karena memang tempat itu lebih tinggi dan ketika pangeran dan Ciauw Si dan Sin Liong telah mengangguk ke arah tamu, mereka lalu duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan, yaitu di bagian dalam ruangan dan kurang lebih satu meter lebih tinggi daripada tempat duduk para tamu.

Dari tempat duduknya pangeran menyapu semua tamu dengan sinar matanya dan dia dapat melihat keluarga Cin-ling-pai di sebelah luar, Akan tetapi dia pura-pura tidak melihat mereka, sungguhpun hatinya merasa girang sekali.

Kalau saja dia mampu membujuk mereka itu membantunya, tentu kedudukannya akan menjadi semakin kuat.

Selain itu, andaikata tidak berhasil sekalipun, dia akan dapat membuktikan bahwa dia lebih lihai daripada mereka sehingga julukan jago nomor satu di dunia patut dia miliki!

Akan tetapi, Ciauw Si yang memang merasa ngeri untuk bertemu pandang dengan ibu kandungnya di tempat penuh orang itu, lebih banyak menunduk dan membatasi pan-dang matanya agar jangan sampai bentrok dengan pandang mata ibu kandungnya.

Sebaliknya, dengan berani Sin Liong juga menyapukan pandang matanya ke arah semua tamu, dan dia melihat betapa empat pasang sinar mata keluarga Cin-ling-pai memandangnya dengan marah.

Diapun mengerti akan isi hati mereka, akan tetapi, dia tidak peduli.

Kalian akan melihat bahwa aku bukan membantu pangeran ini, melainkan melindungi Bi Cu, pikirnya.

Kini semua tamu sudah berkumpul semua dan ternyata jumlah mereka tidak kurang dari tiga ratus orang!

Namun ruangan yang luas itu sama sekali tidak kelihatan penuh, bahkan masih tampak kursi yang kosong di sebelah luar.

Semua tamu merasa tegang dan juga gembira.

Ruangan itu selain luas dan sejuk karena memperoleh angin dari luar yang terbuka, juga dihias indah dan megah.

Pilar-pilarnya yang besar itu dicat putih, dan dihias kertas-kertas kembang.

Langit-langitnya juga penuh dengan kertas-kertas berwarna dan lampu-lampu teng bermacam-macam bentuk dan warna.

Kain-kain sutera warna-warni menghias pula tempat yang luas itu.

Kursi-kursinya terbuat dari kayu terukir halus, demikian pula meja-mejanya.

Guci-guci kuno terdapat di sudut-sudut dengan ukiran arca-arca binatang yang seperti hidup.

Ketika para pelayan datang menyuguhkan arak yang amat baik dengan guci-guci perak, para tamu menjadi semakin gembira.

Setiap orang tamu menerima sebuah cawan perak yang terukir indah, dan mulailah mereka minum arak sehingga ruangan itu penuh bau arak yang sedap.

Setelah melihat semua tamu sudah menerima hidangan arak, Pangeran Ceng Han Houw lalu bangkit berdiri.

Tubuhnya yang tinggi sedang itu nampak tegak lurus dan nampak wajahnya yang tampan berseri-seri.

Tiba-tiba terdengar suara mengguntur dari komandan jaga yang juga bertugas sebagai pengatur tata tertib.

"Silakan cu-wi menaruh perhatian, sang pangeran hendak bicara!"

Sebetulnya tidak perlu komandan ini berteriak karena semua tamu sudah memandang ke arah pangeran itu, dan semua suara berisik telah berhenti.

Suasana menjadi sunyi sekali, semua mata ditujukan kepada orang yang telah berani mengundang seluruh kaum kang-ouw tanpa pilih bulu itu.

Biasanya pertemuan orang kang-ouw hanyalah memillh golongan mereka sendiri.

Andaikata partai Siauw-lim-pai yang mengadakan pertemuan untuk membicarakan keadaan masyarakat, atau juga membicarakan soal persilatan, tentu yang diundang oleh partai itu hanyalah partai-partai bersih lainnya atau tokoh-tokoh golongan bersih, sama sekali tidak akan mengundang tokoh-tokoh sesat.

Sebaliknya, kaum sesatpun kalau mengadakan pertemuan tidak akan mengundang golongan bersih yang dianggap sebagai orang-orang sombong dan selalu menentang mereka.

Akan tetapi sekali ini, Pangeran Ceng Han Houw mengundang semua golongan, pendeknya dunia persilatan tanpa membedakan antara yang manapun juga!

Tentu saja hal ini amat menarik, apalagi ketika di undangan itu disebutkan bahwa pertemuan itu dimaksudkan untuk memilih jago silat nomor satu di dunia!

Mereka sudah mendengar pula akan sepak terjang pangeran itu yang sudah menundukkan tidak sedikit tokoh-tokoh persilatan, bahkan telah berani menantang ketua Siauw-lim-pai dan mengalahkan tokoh-tokohnya!

Mereka mendengar berita bahwa pangeran ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa!

"Cu-wi yang mulia,"

Terdengar suara pangeran itu, suaranya halus dan diucapkan perlahan saja akan tetapi dapat terdengar sampai jauh di luar ruangan itu karena dia mengerahkan tenaga khi-kangnya sehingga pidato itu sekaligus merupakan demonstrasi kekuatan khi-kangnya yang mengagumkan semua orang.

"Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran cu-wi. Seperti telah kami sebutkan dalam surat selebaran atau undangan, pertemuan ini dimaksudkan untuk mengadakan pemilihan bengcu. Mengapa kita harus memilih seorang bengcu yang memimpin pergerakan seluruh rakyat jelata? Cu-wi tentu telah mendengar akan tindakan-tindakan pemerintah yang kurang bijaksana! Semua orang tahu belaka betapa Kaisar telah melakukan tindakan lalim, dengan menjatuhkan tuduhan memberontak kepada orang-orang gagah perkasa! Akhir-akhir ini banyak pejabat tinggi yang bijaksana telah ditangkapi, dah banyak perkumpulan-perkumpulan orang gagah di selatan telah diobrak-abrik oleh pasukan pemerintah! Oleh karena itu, kita orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan, haruslah bertindak, menghimpun kekuatan untuk me-nentang kelaliman. Dan hal ini baru dapat dilaksanakan dengan baik apabila kita mempunyai seorang bengcu yang bijaksana dan tangguh! Maka dari itu, kita berkumpul semua ini untuk lebih dulu memilih seorang yang memiliki ilmu kepandaian silat paling tinggi, merupakan seorang yang paling lihai dan paling tangguh sehingga boleh disebut jago silat nomor satu di dunia dan dialah yang patut kita angkat menjadi seorang bengcu!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring berseru.

"Kami tidak setuju...!"

Dan seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap berwajah tampan gagah seperti tokoh Si Jin Kui, berpakaian sederhana telah bangkit dari kursinya dan mengacungkan kepalan tangan kanan ke atas.

Semua orang tentu saja terkejut dan menoleh kepadanya.

Kiranya pemuda itu berdiri di antara kelompok yang membawa bendera Siauw-lim-pai.

Pangeran Ceng Han Houw memandang dan tersenyum tenang.

"Setiap orang tamu berhak untuk bicara. Harap enghiong (orang gagah) yang bicara memperkenalkan diri sebelum mengemukakan alasannya tidak setuju!"

Pemuda Siauw-lim-pai yang gagah perkasa itu memandang kepada pangeran yang masih berdiri dengan sinar mata berapi-api, sedikitpun tidak nampak gentar oleh wibawa pangeran itu, dan terdengar dia menjawab lantang.

"Saya bernama Ciu Khai Sun sebagai murid dan utusan Siauw-lim-pai kami. Atas nama Siauw-lim-pai saya menyatakan tidak setuju dengan apa yang dikemukakan oleh pangeran tadi. Memilih seorang bengcu tidaklah disamakan dengan memilih seorang kepala tukang pukul. Seorang bengcu adalah pemimpin rakyat, yang harus dipilih berdasarkan kebijaksanaannya dan cinta kasihnya terhadap rakyat, bukan diukur dari kepandaiannya bersilat. Kalau memilih kepala tukang pukul tentu saja dipilih yang paling kuat."

Terdengar suara ketawa di sana-sini yang disambut oleh tepuk tangan menyambut ucapan lantang dari pemuda Siauw-lim-pai ini.

Pangeran Ceng Han Houw juga tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangan ke atas minta agar suasana menjadi tenang kembali.

"Harap Ciu-enghiong suka melanjutkan,"

Katanya tenang.

"Kami fihak Siauw-lim-pai juga tidak setuju kalau memilih bencu mengingat akan keadaan negara, apalagi kalau dipergunakan untuk menentang pemerintah! Itu namanya berbau pemberontakan. Bengcu di kalangan persilatan adalah seorang bijaksana yang akan mencegah bentrokan-bentrokan, mengambil kebijaksanaan dengan musyawarah apabila terjadi kesalahlahaman, bukan sekali-kali untuk menuntun kita semua dalam pem-berontakan terhadap pemerintah."

Setelah berkata demikian, pemuda gagah itu berhenti sebentar, memandang ke kanan kiri kemudian berkata lagi.

"Hanya itulah pernyataan kami yang tidak setuju."

Suasana menjadi berisik kembali karena para tamu berbisik-bisik dan saling bicara sendiri.

"Cu-wi harap tenang!"

Tiba-tiba terdengar suara pangeran itu yang mengatasi semua suara berisik.

Semua orang memandang dan suasana menjadi tenang lagi.

Ceng Han Houw masih tersenyum ramah dan dia segera menyambung kata-katanya.

"Terima kasih atas sambutan Cui Khai Sun enghiong wakil dari Siauw-lim-pai. Memang setiap orang atau golongan boleh saja mempunyai pendapat masing-masing. Akan tetapi kita berkumpul di sini bukan untuk memperebutkan kebenaran pendapat masing-masing. Kita berkumpul untuk melakukan pemilihan bengcu! Dan apa yang akan diperbuat oleh bengcu yang kita pilih kemudian, itu adalah urusan bengcu itu, dan setuju atau tidak setuju di antara kita boleh diajukan kepada bengcu. Mengatur apa yang akan dan tidak akan dilakukan oleh seorang bengcu, sedangkan bengcu itu sendiri belum dipilih, merupakan hal yang sia-sia saja, bukan? Kita akan memilih bengcu berdasarkan suara. Akan tetapi karena kita adalah orang-orang yang semenjak kecil belajar silat, maka pertemuan ini tidak akan lengkap kalau tidak diadakan pertunjukan ilmu silat. Dan untuk itu, akan meriah dan menarik sekali kalau kita mengadakan pemilihan jagoan nomor satu di dunia. Siapapun boleh mengajukan diri sebagai calon dan aku sendiri sebagai fihak tuan rumah juga mengajukan diri, bersama jago pilihan kami, yaitu adik angkatku sendiri yang bernama Cia Sin Liong!"

Sin Liong terkejut bukan main.

Pertama dia terkejut karena namanya disebut-sebut sebagai calon jago pilihan pangeran dan sebagai adik angkat, ke dua dia terkejut karena she-nya disebut sebagai she Cia.

Rahasianya telah dibongkar oleh pangeran itu di tempat itu, di mana hadir pula keluarga Cip-ling-pai, bahkan hadir pula di situ ayah kandungnya!

"Houw-ko,"

Bisiknya.

"Aku tidak dapat menerima ini!"

Sin Liong bangkit berdiri dan di antara para tamu ada yang bertepuk dan bersorak menyambut jago muda pilihan pangeran ini, akan tetapi Sin Liong segera berseru nyaring.

"Cu-wi, maafkan. Akan tetapi aku tidak berniat menjadi jago apapun, tidak ingin ikut-ikut memperebutkan pilihan jago silat. Pangeran hanya berkelakar saja!"

Dan diapun duduk kembali. Ceng Han Houw tertawa dan berkata lagi dengan lantang.

"Cu-wi, lihat betapa sederhana dan pemalunya adik angkatku ini. Akan tetapi tentang ilmu silat... kiranya aku sendiri masih harus banyak belajar dari dia! Dia tidak mau menjadi calon jagoan, tidak mengapalah, akan tetapi aku mengangkat dia menjadi penguji! Calon-calon yang hendak memasuki pemilihan jago nomor satu di dunia harus dapat melawan dan menandingi kepandaian adik angkatku ini lebih dulu!"

Kembali semua orang bertepuk tangan dan bersorak.

"Houw-ko, aku tidak mau!"

Sin Liong berbisik. Han Houw mundur dan mendekati Sin Liong, menghardik dalam bisikan pula.

"Liong-te, mengapa engkau hendak mengacau aku? Ingat, Bi Cu berada di tanganku, dia kusuruh jaga subo dan suci. Engkau harus membantuku kalau tidak..."

Lie Ciauw Si mendengar bisikan-bisikan ini dan dia memandang dengan mata terbelalak.

Sedangkan Sin Liong sudah menjadi kaget setengah mati mendengar ucapan itu.

Tak disangkanya bahwa dalam saat terakhir itu pangeran ini masih hendak bersikap curang dan ternyata bahwa dia sengaja dipisahkan dari Bi Cu agar pangeran itu dapat menguasai Bi Cu untuk memaksanya!

Akan tetapi dia melihat betapa amat berbahayanya paksaan yang dilakukan oleh pangeran itu.

Dia tidak mungkin mau memenuhi permintaan gila itu, dan lebih baik dia dan Bi Cu mati daripada dia harus membantu pangeran dengan rencana gilanya.

"Aku tidak sudi!"

Katanya dan diapun sudah meloncat dan pergi dari situ, menuju ke dalam untuk mencari Bi Cu.

Para tamu yang sedang berbisik itu hanya melihat Sin Liong melarikan diri ke dalam dan hal ini menambah kuat pernyataan sang pangeran tadi betapa pemuda perkasa itu wataknya sederhana dan amat pemalu.

Agaknya saking malunya pemuda itu telah melarikan diri ke dalam maka merekapun makin keras tertawa dan bersorak.

Sementara itu, Ciauw Si berbisik kepada suaminya.

"Apa yang telah kau lakukan ini, pangeran?"

"Sstt, Si-moi, tanpa siasat tidak mungkin kita akan berhasil."

Pangeran itu berbisik kembali dan dia sudah mengangkat tangan memberi tanda agar para tamu tidak berisik.

"Cu-wi yang mulia! Adik angkatku itu memang pemalu sekali. Akan tetapi jangan cu-wi khawatir. Setiap orang boleh mengajukan diri sebagai calon dan selain adik angkatku itu, aku masih mempunyai seorang penguji lain, yaitu isteriku sendiri! Jangan cu-wi memandang rendah kepada isteriku yang tercinta ini, karena kepandaian silatnya tidak berselisih jauh dari kepandaianku sendiri. Nah, siapa yang mampu menandingi isteri saya dalam lima puluh jurus, dia berhak menjadi calon jago nomor satu di dunia! Inilah isteri saya, Lie Ciauw Si!"

Di bawah tepuk tangan dan sorak-sorai, terpaksa Ciauw Si bangkit berdiri dan menjura ke arah penonton yang menjadi semakin riuh bertepuk tangan memuji karena memang Ciauw Si nampak (Lanjut ke

Jilid 53) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 53 cantik jelita dan menarik sekali.

Wajah Ciauw Si agak pucat, apalagi ketika dia bertemu pandang dengan sepasang mata yang berapi-api, sepasang mata ibu kandungnya!

Dia menjadi lemas dan cepat duduk kembali ke kursinya.

Betapapun juga, dia harus membela suaminya yang tercinta, pikirnya sambil mengepal tinju kirinya.

Sementara itu, keluarga Cin-ling-pai, empat orang pendekar itu sejak tadi sudah berbisik-bisik saling bicara dengan serius dan juga penuh keheranan.

"Pangeran gila, kenapa dia menyebut she Sin Liong sebagai she Cia?"

Kata Bun Houw dengan marah.

"Apa dia sengaja hendak menghina keluarga Cia kami?"

"Mungkin dia hehdak memancing agar kita turun tangan membantah,"

Bisik Cia Giok Keng.

"Akan tetapi dia tidak menyinggung-nyinggung tentang Ciauw Si."

Mereka berempat merasa bingung dan tidak mengerti, apalagi ketika melihat Sin Liong melarikan diri ke dalam.

Apakah yang sedang terjadi?

Permainan apakah yang dilakukan oleh Pangeran itu?

Ketika pangeran itu mengangkat Ciauw Si yang diperkenalkan sebagai isterinya sebagai penguji, Giok Keng dengan gemas memandang kepada puterinya yang menerima pujian para tamu itu dan dia berbisik dengan suara mendesis.

"Biar aku maju sebagai calon menghadapinya!"

"Ah, jangan begitu, enci Keng!"

Adiknya menyela.

"Ingat, kita menghadapi banyak orang, jangan menimbulkan keributan yang hanya akan mendatangkan aib bagi nama keluarga."

Kata Yap Kun Liong menyabarkan isterinya.

Para tamu menjadi semakin berisik ketika mereka melihat seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan bermuka merah, rambutnya riap-riapan dan pakaiannya kasar, meloncat dengan gerakan yang cukup lincah ke depan dan tiba di tengah-tengah ruangan yang tinggi itu, tersenyum dan memberi hormat ke arah pangeran.

Orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya yang tinggi besar itu membayangkan kekuatan dahsyat, sikap dan pakaiannya yang kasar itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang petualang di dunia kang-ouw.

Wajahnya lebar dan matanya, hidungnya serta mulutnya juga serba besar.

"Pangeran, saya Loa Khi berjuluk Tiat-pi-ang-wan (Lutung Merah Berlengan Besi) sama sekali tidak berani mengajukan diri sebagai calon jago nomor satu di dunia, akan tetapi saya mempunyai semacam penyakit, yaitu di mana terdapat pertandingan pibu, tangan saya menjadi gatal-gatal. Biarlah saya memelopori para enghiong di sini agar pertemuan ini menjadi lebih gembira."

Sambil berkata demikian, matanya yang lebar itu melirik ke arah Ciauw Si.

Mengertilah Pangeran Ceng Han Houw bahwa yang mendorong laki-laki kasar ini untuk maju adalah karena pengujinya adalah isterinya yang cantik jelita.

Atau kasarnya, pria itu ingin bersilat menandingi Ciauw Si yang cantik!

Akan tetapi Han Houw hanya tersenyum dan dia berkata kepada isterinya dengan suara halus.

"Isteriku, harap kau suka melayani Loa-eng-hiong."

Sebetulnya di dalam hatinya Ciauw Si merasa mendongkol sekali.

Dia harus melayani segala macam orang kasar seperti itu!

Akan tetapi karena dia maklum bahwa suaminya itu sedang berusaha untuk menentang kelaliman Kaisar, dan karena betapapun juga dia harus membela suaminya yang tercinta, dia tidak berkata sesuatu melainkan bangkit berdiri dan menghampiri orang yang berjuluk Lutung Merah Berlengan Besi itu.

Jantung di dalam dada yang bidang itu terguncang dan berdebar-debar penuh kegirangan.

Loa Khi adalah seorang kang-ouw golongan sesat dan merupakan seorang yang kasar, gila akan kecantikan wanita.

Tadi dari jauh dia melihat betapa cantiknya isteri pangeran itu, dan kini setelah berhadapan, dia terpesona.

Belum pernah rasanya dia berhadapan dengan wanita secantik ini!

Sungguh tidak rugi sekali ini, pikirnya.

Dapat bersentuhan lengan dan tangan dengan wanita seperti ini sungguh merupakan hal yang amat menyenangkan, apalagi kalau diingat bahwa wanita ini bukanlah sembarangan wanita, melainkan isteri se-orang pangeran dan tentu saja merupakan seorang puteri bangsawan simpanan!

Maka diapun menyeringai dan mematut-matut diri agar kelihatan tampan dan gagah.

"Orang she Loa, kau mulailah!"

Ciauw Si berkata, membuyarkan lamunannya itu.

"Eh... oh... mana saya berani mendahului?"

Kata Loa Khi yang meringis seperti seekor lutung aseli.

Bicara demikian, selain meringis Loa Khi juga memainkan matanya yang bundar besar dan menggerak-gerakkan alisnya.

Melihat lagak ini hati Ciauw Si menjadi muak dan panas, dan kalau dia tidak mengingat bahwa suaminya sedang berusaha mengambil hati dunia kang-ouw, tentu dia sudah menjatuhkan tangan maut menyerang orang ini.

"Hemm, kalau begitu sambutlah seranganku!"

Kata Ciauw Si.

Dia memberi kesempatan kepada orang itu untuk memasang kuda-kuda dan memang Loa Khi dengan mulut masih menyeringai telah memasang kuda-kuda dengan gaya yang gagah.

Kedua kakinya dipentang lebar, kedua lutut ditekuk rendah dan kedua lengan disilangkan, tangannya dibuka membentuk cakar naga, tubuh atasnya tegak lurus dan matanya mengerling ke arah lawan yang berada di samping kanan.

Semua tamu menyambut pasangan kuda-kuda ini dengan berbagai macam sikap.

Mereka yang memiliki ilmu kepandaian tinggi memandang dengan senyum mengejek, Karena mereka tahu bahwa kuda-kuda seperti itu hanya indah dipandang saja akan tetapi sesungguhnya tidak memiliki inti yang kuat.

Sebaliknya, mereka yang belum begitu tinggi tingkatnya, merasa kagum karena memang Loa Khi kelihatan gagah dan kokoh kuat dengan kuda-kudanya itu.

Ciauw Si yang sudah tidak sabar lagi melihat lagak orang, mengeluarkan seruan lembut dan mulai menyerang dengan kedua tangannya, menyambar dari kanan kiri, yang kiri menampar ke arah pelipis lawan sedangkan yang kanan menotok ke arah lambung.

Serangan ini sebetulnya hanya merupakan pancingan saja karena pendekar wanita itu tidak mau sembarangan mengeluarkan ilmunya yang tinggi hanya untuk menghadapi seorang seperti laki-laki sombong ini.

Dan melihat serangan yang cukup cepat dan dahsyat ini, Loa Khi cepat menggerakkan kedua tangannya untuk menangkap pergelangan tangan lawan.

Memang yang mendorongnya maju adalah untuk dapat menyentuh tubuh atau memegang lengan wanita cantik itu, maka melihat serangan lawan, dia berusaha secepatnya untuk menangkap pergelangan tangan lawan dan akan memegangnya dengan kuat dan mesra!

Namun Ciauw Si tentu saja maklum akan hal ini dan diapun tidak sudi membiarkan kedua lengannya dipegang.

Dengan cepat dia sudah menarik kembali kedua tangannya dan kini kaki kirinya bergerak menendang dengan cepat.

Akan tetapi, sambil tersenyum lebar lawannya menggerakkan tangan ke bawah dengan maksud menangkis atau kalau mungkin menangkap kaki yang kecil itu!

Sedangkan tangan kiri Loa Khi sudah menyelonong ke depan, ke arah dada Ciauw Si!

"Hemmm...!"

Ciauw Si mendengus marah dan tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat, kedua tangannya bergerak mendorong ke depan.

Itulah pukulan sakti yang merupakan jurus ke tiga dari Ilmu San-in-kun-hoat, ilmu ampuh dari Cin-ling-pai!

Angin pukulan dahsyat menyambar ke depan.

Loa Khi terkejut bukan main dan cepat dia berusaha menangkis sambil mengerahkan tenaga kepada kedua kakinya dan tubuhnya untuk menjaga diri.

"Desss...!"

Betapapun kuatnya dia menangkis, tetap saja kedua tangan Ciauw Si dapat menerobos di antara lengan lawan yang menangkis dan terus menghantam dada.

Untung bagi Loa Khi bahwa Ciauw Si masih ingat bahwa dia hanya bertugas menguji kepandaian lawan, maka dia tidak mempergunakan seluruh tenaga sin-kangnya.

Akan tetapi biarpun demikian, tetap saja tubuh Loa Khi yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting ke atas lantai.

Dia terengah-engah, merasa dadanya sesak dan sukar bernapas!

Karena Loa Khi tidak datang bersama teman-teman dan tidak mempunyai rombongan, maka tidak ada yang menolongnya dan Han Houw memberi isyarat kepada pengawal-pengawalnya.

Dua orang pengawal cepat maju membantu Loa Khi berdiri dan membawa orang yang masih terengah-engah itu ke tempat duduknya yang agak di belakang.

Loa Khi tidak berani banyak cakap lagi dan membiarkan dirinya dituntun kembali ke kursinya, mukanya pucat sekali.

Dia telah dirobohkan kurang dari lima jurus!

Berisiklah para tamu melihat kehebatan Ciauw Si.

Mereka yang tadinya berminat untuk memasuki pemilihan jagoan itu, menjadi kecil nyalinya dan mengurungkan niat hati mereka.

Tentu saja tidak demikian dengan mereka yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Seorang tosu sudah mengeluarkan seruan dan tubuhnya melayang ke tengah ruangan itu.

Tosu ini tinggi kurus, mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, jubahnya kuning dan matanya sipit seperti orang mengantuk.

Setelah dia menjura ke arah pangeran, dia melangkah maju tiga langkah dan terkejutlah pangeran itu melihat betapa di atas lantai itu nampak jejak kaki tosu itu sedalam dua senti!

Tahulah dia bahwa tosu ini amat lihai dan telah mendemonstrasikan kelihaiannya dengan mengerahkan tenaga pada kedua kakinya yang melesak ke dalam lantai ketika dia melangkah perlahan-lahan.

Kalau tadi Han Houw menyebutkan nama isterinya, memperkenalkannya sebagai pembantunya untuk menguji calon jagoan, maksudnya hanyalah untuk memperlihatkan kepada para tokoh kang-ouw, Khususnya kepada keluarga Cin-ling-pai bahwa Lie Ciauw Si selain telah menjadi isterinya juga membantunya untuk menghimpun tenaga dan menentang Kaisar lalim!

Akan tetapi tentu saja bukan maksud hati Han Houw untuk membiarkan isterinya menghadapi semua orang yang ingin mencoba kepandaian.

Dia hanya mengajukan isterinya untuk menghadapi kalau-kalau ada di antara tokoh Cin-ling-pai yang maju, maka kini melihat kelihaian tosu itu, tentu saja Han Houw merasa khawatir dan tidak membiarkan isterinya menghadapi bahaya.

Tosu itu setelah menjura dan memperlihatkan tenaganya melalui injakan kaki yang meninggalkan jejak dalam di atas batu, lalu berkata kepada Ceng Han Houw, suaranya seperti suara ular mendesis namun dapat terdengar satu-satu sampai di bagian luar tempat itu.

"Pangeran, harap maafkan kelancangan pinto. Sesungguhnya pinto datang bukan sekali-kali untuk memperebutkan kedudukan bengcu atau jagoan nomor satu, melainkan karena telah lama pinto mendengar nama besar pangeran sebagai seorang ahli silat yang pandai dan pinto ingin sekali menguji kebodohan sendiri untuk membuktikan sampai di mana kelihaian pangeran."

Ini merupakan tantangan langsung!

Semua orang kang-ouw memandang dengan penuh perhatian karena mereka semua maklum bahwa ucapan itu merupakan tantangan yang tentu didasari urusan pribadi antara tosu itu dan Pangeran Ceng Harl Houw!

Han Houw sendiri mengerutkan alisnya, akan tetapi mulutnya masih tersenyum ramah ketika dia berkata halus dan lantang.

"Dalam menghadapi urusan besar ini, kami terpaksa melupakan urusan pribadi. Akan tetapi kalau totiang ingin saling menguji kepandaian dengan aku, dapat saja totiang memasuki pemilihan jago menurut yang telah ditentukan. Akan tetapi lebih dulu hendaknya totiang memperkenalkan diri."

"Pinto bernama Ciu Hek Lam dan banyak orang menyebut pinto dengan julukan yang amat buruk, yaitu Tok-ciang Sian-jin (Manusia Dewa Bertangan Racun). Tentu pangeran tidak mengenal nama pinto akan tetapi perlu kiranya diketahui bahwa mendiang Gak Song Kam ketua Jeng-hwa-pang adalah sute dari pinto."

Mendengar ini, sebagaian besar di antara para tokoh kang-ouw terkejut.

Memang nama tosu ini tidak terkenal dan hanya beberapa orang saja di antara mereka yang banyak melakukan perjalanan ke utara melewati Tembok Besar mengenal namanya, akan tetapi nama Jeng-hwa-pang tentu saja dikenal mereka.

Kiranya tosu yang lihai ini adalah saudara tua dari mendiang ketua Jeng-hwa-pang, maka tentu saja ilmu kepandaiannya amat tinggi.

Diam-diam Ceng Han Houw mengerti sekarang, Gak Song Kam, ketua Jeng-hwa-pang itu tewas di tangan dia dan Sin Liong, maka agaknya tosu ini datang dengan maksud untuk membalas dendam atas kematian ketua Jeng-hwa-pang itu!

Dia sama sekali tidak merasa takut menghadapi tosu ini, akan tetapi untuk menjaga kewibawaannya, dia tidak mau begitu saja terjun ke dalam urusan pribadi di tempat itu, apalagi karena dia sedang menghadapi urusan besar.

"AH, kiranya totiang ingin menguji kepandaianku. Baiklah, akan tetapi kita tidak boleh melewati peraturan. Cu-wi yang mulia, kami sekarang menunjuk bengcu dari selatan, yaitu locianpwe Hai-liong-ong Phang Tek dan Kim-liong-ong Phang Sun untuk menjadi penguji. Siapa dapat mengalahkan mereka berdua berarti cukup berharga untuk menjadi calon jago nomor satu di dunia!"

Mendengar ini, Phang Tek dan Phang Sun lalu melangkah maju.

Sementara itu, Han Houw sendiri bangkit dari kursinya, menghampiri Ciauw Si yang masih berdiri memandang ke arah ibunya seperti orang terpesona, dan menggandeng tangan Ciauw Si untuk kembali ke tempat duduknya.

Dengan sikap mesra Han Houw berbisik.

"Terima kasih atas bantuanmu, Si-moi."

Mendengar dua orang ini, tahulah tosu dia berhadapan dengan orang-orang pandai.

Dia telah mendengar tentang Lam-hai Sam-lo yang kabarnya kini tinggal dua orang kakak beradik ini.

Akan tetapi dia tidak menjadi gentar melainkan merasa mendongkol karena pangeran itu ternyata tidak mau langsung menghadapinya melainkan menyuruh dua orang ini dengan alasan untuk mengujinya!

Hal ini dianggapnya sebagai tanda bahwa pangeran itu jerih kepadanya, maka diapun menghadapi dua orang kakek itu dan memandang dengan sinar mata tajam dari kedua matanya yang sipit.

"Pinto telah mendengar tentang nama besar Lam-hai Sam-lo,"

Katanya dengan nada suara mengejek.

"Pangeran telah memerintahkan kalian maju, apakah ji-wi (kalian berdua) hendak maju berbareng dan mengeroyok pinto?"

Ucapan ini biarpun hanya merupakan sebuah pertanyaan, namun bernada mengejek dan merendahkan, maka kedua orang datuk dari selatan itu tentu saja menjadi marah sekali.

Mereka tadi maju hanya untuk memperkenalkan diri kepada para tamu setelah nama mereka disebut-sebut oleh pangeran, bukan sekali-kali hendak mengeroyok tosu itu.

Kim-liong-ong Phang Sun, kakek berkepala gundul lonjong yang bertubuh kecil pendek seperti kanak-kanak, yang hanya memakai celana tanpa baju dan kakinyapun telanjang, sudah meloncat ke depan.

Dengan lengan kiri yang dihias gelang emas tebal dia berkata, suaranya sungguh mengejutkan, karena lantang besar tidak seperti bentuk tubuhnya.

"Tosu bulukan! Tekebur sekali ucapanmu! Menghadapi seorang tosu bulukan macam engkau, cucukupun akan berani. Sayang aku tidak pernah punya cucu! Maka biarlah aku mencoba, hendak kulihat apakah kepandaianmu seluas mulutmu! Twako, mundurlah, biarkan aku yang menghajar manusia sombong ini!"

Hai-liong-ong Phang Tek mengerutkan alisnya, lalu mundur sambil berkata.

"Hati-hati, jangan pandang rendah dia."

Hai-liong-ong yang tahu akan kemarahan adiknya merasa khawatir karena menghadapi seorang lawan tangguh seperti tosu ini, kemarahan merupakan hal yang amat merugikan dan mengurangi kewaspadaan.

Kini dua orang itu sudah saling berhadapan.

Keduanya sama kurusnya, hanya yang seorang tinggi dan yang lainnya pendek kecil.

Semua orang kang-ouw yang hadir di situ memandang dengan penuh perhatian dan hati tegang karena mereka semua mengenal siapa adanya Kim-liong-ong, sedangkan tosu tua itu kurang begitu dikenal karena memang jarang muncul di dunia kang-ouw.

Dan oleh karena yang hadir dalam pertemuan besar ini merupakan tokoh-tokoh campuran, banyak pula yang terdiri dari tokoh-tokoh kaum sesat, maka di antara mereka ini sudah ramai mengadakan pertaruhan!

Dan rata-rata menurut anggapan mereka, Kim-liong-ong menduduki tempat unggul, bahkan ada yang mempertaruhkan uang sejumlah dua kali lipat menjagoi kakek pendek kecil itu.

Tok-ciang Sian-jin memandang dengan alis berkerut kepada calon lawannya, kemudian berkata, suaranya halus dan penuh penyesalan.

"Kim-liong-ong, engkau adalah seorang tokoh jauh di selatan sana, sedangkan pinto selamanya berada di utara. Kiranya sampai kita dua orang tua mati oleh usiapun kita tidak akan dapat saling berjumpa, apalagi harus saling berkelahi seperti lawan. Oleh karena itu, pinto menyesal sekali harus berhadapan denganmu, karena sesungguhnya kedatangan pinto ini hanya ingin menghadapi pangeran..."

"Cukup, Tok-ciang Sian-jin. Kalau engkau takut, masih belum terlambat bagimu untuk mengundurkan diri!"

Kim-liong-ong yang bersama Hai-liong-ong kakaknya itu memang telah lama menjadi kaki tangan Pangeran Ceng Han Houw, sudah memotong dengan suara lantang dan sikap merendahkan.

Marahlah tosu itu.

Mukanya menjadi merah kini tidak pucat seperti biasanya, dan biarpun matanya masih sipit, akan tetapi tidak seperti orang mengantuk lagi.

"Engkau hendak menjadi perisai bagi pangeran? Bagus, majulah, orang sombong!"

Bentaknya dan diapun sudah menggerakkan jari-jari tangannya dan terdengar bunyi berkeretakan pada buku-buku jari tangannya dan kedua tangan itu kini nampak kehijauan.

Kiranya kakek ini memang memiliki ilmu yang amat mengerikan, dan kalau sudah begitu, kedua tangannya merupakan benda-benda yang lebih berbahaya daripada sepasang senjata tajam, karena kedua tangan itu dari jari-jari tangan sampai ke siku yang berwarna kehijauan, mengandung hawa beracun yang amat berbahaya bagi lawan.

Itulah sebabnya mengapa dia berani menerima julukan Tok-ciang (Si Tangan Racun).

Akan tetapi, Kim-liong-ong Phang Sun menyeringai melihat ini.

Dia sendiri adalah seorang ahli tentang racun, maka biarpun dia tahu betapa hebat dan berbahayanya kedua tangan lawan itu, namun dia tidak menjadi gentar.

"Kedua tanganmu itu hanya baik untuk menakut-nakuti anak kecil saja. Bagiku tidak ada harganya sama sekali, seperti dua batang gagang sapu butut!"

Dia mengejek.

Tok-ciang Sian-jin menjadi semakin marah.

Memang cerdik Kim-liong-ong ini.

Ketika menerima peringatan kakaknya tadi, diapun sadar akan kemarahan yang membakar hatinya, maka dia sengaja mengeluarkan ejekan-ejekan dan membakar hati lawan.

Dia berhasil, karena tosu itu menjadi semakin marah kini dan dengan gerengan dahsyat dia telah maju menyerang lawan yang bertubuh pendek kecil itu.

Kini keadaannya menjadi terbalik, bukan Kim-liong-ong yang dicekik kemarahan, melainkan lawannya.

Tok-ciang Sian-jin menyerang dengan kedua tangan terbuka, jari-jari tangannya mencengkeram dari kanan kiri dan sebelum serangan itu tiba, hawa pukulannya yang mengandung hawa beracun itu telah menyambar lebih dulu dengan dahsyatnya.

Akan tetapi, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek kecil itu lenyap dari depannya, tubrukan dan cengkeramannya mengenai tempat kosong dan begitu merasa ada angin menyambar dari kanan, tosu itu cepat membalik dan menangkis.

Kiranya, Kim-liong-ong telah mempergunakan kecepatan gerakannya dan mengandalkan tubuhnya yang kecil dan gesit itu untuk menyelinap ketika tadi lawan menyerang, dan cepat memberi pukulan balasan dari arah kanan.

"Dukkk!"

Lengan Tok-ciang Sian-jin bertemu dengan gelang emas tebal yang melingkar di lengan kiri Phang Sun dan akibatnya, Tok-ciang Sin-jin terdorong ke belakang dan agak terbuyung.

Terkejutlah tosu ini dan maklumlah dia bahwa kakek kecil pendek gundul telanjang ini memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya!

Maka diapun lalu menerjang lagi dengan memperlipatgandakan kecepetan gerakannya dan terjadilah perkelahian yang seru dan sangat dahsyat.

Kim-liong-ong Phang Sun telah mengeluarkan sebuah bungkusan sambil berloncatan ke sana-sini, lalu membalurkan bubuk putih ke atas lengannya.

Itulah bubuk penolak racun.

Setelah ini, dia dapat menangkis dan mengadu lengan dengan lawannya, tidak seperti tadi yang mempergunakan gelang emas untuk melindungi lengannya dari hawa racun yang keluar dari lengan lawan.

Memang tidak percuma kalau Kim-liong-ong menjadi tokoh nomor dua dari Lam-hai Sam-lo yang ditakuti oleh semua tokoh di dunia selatan.

Ilmu kepandaiannya memang hebat sekali, gerakannya aneh dan cepat, dan biarpun kaki tangan kecil-kecil, namun setiap gerakan kaki dan tangan itu mengandung hawa pukulan yang kuat, sehingga bahkan tosu itu sendiri sampai beberapa kali terhuyung kalau mereka terpaksa mengadu tenaga.

Banyak di antara mereka yang bertaruh menjagoi Kim-liong-ong kecele.

Ada yang bertaruh bahwa dalam waktu kurang dari tiga puluh jurus tosu itu tentu akan kalah.

Akan tetapi ternyata tosu itu hebat sekali!

Dia dapat mengimbangi semua kelincahan Kim-liong-ong dan setelah bertanding selama lima puluh jurus, ternyata kakek itu sama sekali tidak kalah, bahkan terdesakpun tidak, sungguhpun dia sendiri tidak mampu mendesak kakek kecil itu.

Setelah perkelahian itu berlangsung kurang lebih enam puluh jurus, tiba-tiba Tok-ciang Sian-jin meloncat mundur keluar dari lapangan pertandingan lalu membalikkan tubuh menghadapi Pangeran Ceng Han Houw yang sejak tadi menonton dengan penuh perhatian, menjura dan berkata.

"Sekarang pinto mengharapkan agar pangeran sendiri..."

Baru sampai di situ dia bicara, tiba-tiba ada angin dahsyat menyambar dari belakang, memukul ke arah lambungnya!

Bukan main kagetnya Tok-ciang Sian-jin.

Cepat dia membalik untuk mengelak dan menangkis.

"Plakkk... desss!"

Tubuh tosu itu terpelanting dan roboh, dari mulutnya keluar darah segar karena biarpun dia berhasil menangkis pukulan Kim-liong-ong, akan tetapi tangkisannya kurang tepat dan pukulan kakek pendek kecil itu masih meleset dan mengenai punggungnya.

Tosu itu bangkit duduk dan memejamkan mata untuk mengumpulkan hawa murni dan menahan ini dadanya yang terguncang hebat.

Biarpun dia tidak sampai terluka separah kalau pukulan itu mengenai lambung, namun dia sampai muntah darah dan tentu saja dia tidak mungkin depat melanjutkan pertempuran.

"Sungguh curang!"

Bentak Cui Kai Sun dengan lantang.

Pemuda gagah murid Siauw-lim-pai ini menegur marah sekali.

Kim-liong-ong hanya tersenyum mengejek ke arah pemuda itu.

Melihat betapa di antara para orang kang-ouw yang hadir itu banyak yang memperlihatkan muka tidak senang, Ceng Han Houw cepat bangkit berdiri dan berkata dengan suara yang halus namun berwibawa dan terdengar sampai jauh di luar.

"Cu-wi, hendaknya cu-wi bersikap adil! Tidak ada kecurangan terjadi di sini!"

"Siapa bilang tidak curang? Aku tidak hendak membela Tok-ciang Sian-jin, akan tetapi kami semua melihat tosu itu sedang bicara dengan pangeran ketika Kim-liong-ong menyerangnya dari belakang secara curang sekali!"

Ciu Kai Sun berteriak lagi dan banyak tokoh kang-ouw, teruatama sekali dari golongan bersih, mengangguk menyatakan persetujuan mereka dengan ucapan pemuda gagah itu.

Akan tetapi Pangeran Ceng Han Houw tersenyum.

"Itu adalah kesalahan tosu itu sendiri, pertandingan belum selesai dan..."

"Aku menghitung sendiri bahwa tosu itu telah dapat melayani Kim-liong-ong sampai lima puluh jurus!"

Terdengar suara orang lain membenarkan.

Sekarang Ceng Han Houw tersenyum semakin lebar dan dia mengangkat kedua tangan ke atas untuk minta para tamu diam.

Setelah mereka semua itu tidak berisik lagi, dia lalu berkata, suaranya jelas dan halus.

"Cu-wi sekalian yang sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw tentu tahu bahwa syarat untuk menjadi orang kang-ouw bukan hanya tergantung kepada kepandaian silat saja, melainkan juga membutuhkan kecerdikan dan ketelitian! Memang betul bahwa kami tadi berjanji kepada siapa yang dapat menandingi isteri saya selama lima puluh jurus, dia berhak untuk menjadi calon jagoan. Akan tetapi, tidak ada seorangpun yang berjanji tentang lima puluh jurus itu terhadap dua orang pembantu kami, yaitu Hai-liong-ong dan Kim-liong-ong. Karena tidak ada perjanjjan maka pibu melawan merekapun tidak terbatas jumlah jurusnya. Tadi dalam keadaan belum ada yang kalah atau menang, Tok-ciang Sian-jin menghentikan pibu secara sepihak tanpa memberi tahu kepada Kim-liong-ong, maka kalau dia sampai terpukul, baik dari belakang maupun dari depan, bawah atau dari atas, hal itu adalah kesalahannya sendiri karena dia ceroboh dan lengah. Bukankah demikian, cu-wi?"

Ucapan yang dilakukan dengan suara halus dan penuh wibawa itu diikuti oleh kesunyian yang lengang karena semua tamu saling pandang dan mereka semua mau tidak mau harus membenarkan pembelaan pangeran itu.

Memang tadi pangeran itu berjanji tentang ujian selama lima puluh jurus dalam menghadapi isteri pangeran itu, dan terhadap dua orang pembantunya itu dia tidak berjanji apa-apa.

Oleh karena itu, kekalahan Tok-ciang Sian-jin merupakan kekalahan mutlak, walaupun kekalahan itu adalah akibat dari kelengahannya, bukan akibat dari kalah tinggi ilmunya dibanding dengan Kim-liong-ong Phang Sun.

"Pinto yang bodoh... pinto kena ditipu orang... pinto mengaku kalah."

Tiba-tiba tosu itu bangkit berdiri, dengan muka pucat dan mata bersinar memandang kepada pangeran itu, menjura lalu dengan langkah lebar dia meninggalkan tempat itu sambil mengusap darah dari ujung bibirnya.

Semua tamu hanya mengikuti langkah tosu itu dengan pandang mata dan kini tidak ada lagi yang mau mencampuri karena orang yang bersangkutan sendiri sudah mengakui kebodohannya dan mengaku kalah!

Karena ada yang merasa penasaran, berturut-turut terdapat beberapa orang tokoh yang belum mengenal betul kepandaian Lam-hai Sam-lo, maju memasuki ujian calon jagoan nomor satu di dunia.

Namun, satu demi satu mereka itu dikalahkan oleh Kim-liong-ong atau Hai-liong-ong yang maju bergantian.

Mereka yang sudah tahu akan kelihaian Lam-hai Sam-lo, siang-siang sudah kuncup nyalinya dan tidak berani maju.

Setelah tujuh orang calon semua kalah, kini agaknya tidak ada lagi yang berani maju.

Melihat ini, diam-diam Pangeran Ceng Han Houw merasa penasaran.

Tidak mungkin di antara tokoh kang-ouw tidak ada yang mampu mengalahkan Lam-hai Sam-lo, pikirnya.

Apalagi di situ terdapat tokoh-tokoh Cin-ling-pai yang belum bertindak sesuatu.

"Siapakah lagi yang akan maju mencoba kemampuannya?"

Hai-liong-ong Phang Tek berkata dengan suaranya yang lantang.

Akan tetapi, para tamu hanya saling pandang dan agaknya tidak ada lagi yang berani maju.

Pangeran Ceng Han Houw bangkit berdiri.

"Cu-wi, mengapa cu-wi merasa sungkan? Saya percaya bahwa di antara cu-wi masih banyak orang pandai! Ataukah hanya demikian saja kepandaian para tokoh kang-ouw? Sungguh di luar dugaan kami kalau di dunia kang-ouw ini tidak ada tokoh yang mampu menandingi Lam-hai Sam-lo!"

Ucapan itu halus, namun juga bernada mengejek dan membakar.

Semenjak tadi Cia Giok Keng sudah merah sekali wajahnya dan dia sudah hendak bangkit berdiri.

Akan tetapi adiknya, Cia Bun Houw, memegang lengannya dan berbisik.

"Enci, Lam-hai Sam-lo itu terlalu lihai bagimu."

"Biar!"

Cia Giok Keng, wanita berusia setengah abad yang nampak cantik dan gagah itu, menjawab dengan bisikan mendesis sehingga membuat beberapa orang tamu yang duduk dekat menengok.

"Aku tidak takut. Kalau kalah, biar aku mati di depan mata anak durhaka itu!"

Jelaslah bahwa sumber kemarahan wanita ini adalah melihat puterinya, selain menjadi isteri pangeran itu tanpa minta ijin dulu darinya, juga melihat puterinya itu membantu pangeran yang hendak memberontak itu.

"Enci, itu kurang bijaksana. Apakah engkau ingin semua orang kang-ouw tahu akan pertentangan antara engkau dan puterimu sendiri? Biarkan aku saja yang maju, mereka itu bukan lawanmu, melainkan lawanku!"

Sebelum Cia Giok Keng dapat membantah, disetujui oleh isterinya, yaitu Yap In Hong dan juga Yap Kun Liong yang maklum bahwa dua orang kakek dari selatan, Lam-hai Sam-lo itu memang lihai sekali, sekali bergerak Cia Bun Houw sudah meloncat ke depan.

Semua tamu terkejut bukan main ketika melihat ada bayangan manusia melayang di atas kepala mereka, dari tempat duduk paling belakang dan melayang menuju ke depan, ke tengah ruangan di mana masih menanti Kim-liong-ong Phang Sun dengan lagak sombong itu.

Ketika bayangan manusia itu telah tiba di tengah ruangan dan berdiri, Mereka melihat seorang pria yang amat tampan dan gagah perkasa, dengan pakaian sederhana akan tetapi memiliki wibawa besar dan sepasang matanya menyapu ke arah pangeran, banyak di antara para tokoh kang-ouw mengenalnya dan di samping keheranan mereka, terdengar sorak-sorai menyambut pendekar ini.

Siapakah yang tidak mengenal pendekar sakti Cia Bun Houw, putera Cin-ling-pai yang tersohor itu?

Akan tetapi, banyak alis dikerutkan dengan heran dan menduga-duga.

Isteri pangeran itu adalah cucu ketua Cin-ling-pai, dan kini tokoh Cin-ling-pai ini maju!

Apa artinya ini?

Akan tetapi mereka semua maklum bahwa kalau pendekar sakti ini maju untuk bertanding, maka akan terjadilah pertandingan yang amat hebat di tempat itu dan mereka semua merasa beruntung untuk dapat menyaksikannya.

Wajah Lie Ciauw Si seketika menjadi pucat ketika dia melihat pamannya telah maju di tengah ruangan.

Hampir dia tidak berani menatap wajah yang tampan dan yang nampak gagah penuh wibawa itu.

Sementara itu, Pangeran Ceng Han Houw tersenyum gembira.

Saat yang dinanti-nantikannya telah tiba.

Memang untuk inilah dia mengadakan pertemuan besar itu.

Selain untuk menghimpun orang-crang pandai, juga untuk menonjolkan dirinya sebagai yang terpandai di antara semua orang kang-ouw juga ingin memancing datangnya keluarga Cin-ling-pai.

Kalau dia dapat menarik mereka menjadi sekutunya, dengan umpan kenyataan bahwa Ciauw Si telah menjadi isterinya dan pembantunya, maka hal itu akan baik sekali karena kedudukannya akan menjadi semakin kuat.

Sebaliknya, kalau dia gagal menarik mereka dan mempengaruhi mereka, dia akan dapat mengalahkan mereka satu demi satu sehingga dengan demikian dunia kang-ouw akan melihat bahwa dialah jago nomor satu di dunia, bahkan keluarga Cin-ling-pai yang terkenal sekali itu tidak ada yang mampu menandinginya!

Maka, melihat betapa pendekar sakti Cia Bun Houw sudah maju, dia memandang dengan sinar mata berseri.

Akan tetapi dia hendak membiarkan dulu dua orang pembantunya itu "menguji"

Sampai di mana kehebatan pendekar sakti ini, apakah memang sehebat apa yang dikabarkan orang.

Ketika pendekar sakti itu berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan tergantung di kanan kiri dan memandang dengan sinar mata tajam penuh wibawa kepada pangeran itu, Ceng Han Houw dengan tenang dan dengan bibir masih tersenyum, balas memandang.

Dua pasang mata yang sama-sama mempunyai sinar tajam mencorong dan penuh wibawa itu saling pandang, dan seolah-olah mereka berdua saling mengukur kekuatan masing-masing melalui sinar mata itu.

Suasana menjadi sunyi, sunyi yang menegangkan dan mencekam hati.

Hanya Lie Ciauw Si yang nampak bergerak, kepalanya saja, kadang-kadang diangkat memandang pamannya, kadang-kadang menunduk kembali, kedua tangannya meremas-remas ujung bajunya, jantungnya berdebar penuh ketegangan dan kebingungan.

Akan tetapi suasana yang mencekam itu dipecahkan oleh suara Kim-liong-ong Phang Sun yang lantang, suaranya yang mengandung pura-pura karena sesungguhnya dia sudah tahu siapa adanya pria gagah yang kini berada di dekatnya itu.

"Enghiong dari manakah yang kini maju? Apakah hendak mengajukan diri sebagai calon jagoan? Harap suka memperkenalkan diri."

Baru setelah mendengar teguran ini, Bun Houw membalikkan tubuhnya dan menghadapi Kim-liong-ong yang ternyata berdiri bersama dengan Hai-liong-ong.

Sejenak Bun Houw menatap mereka berdua dengan sikap keren, kemudian terdengarlah suara yang lantang dan jelas.

"Aku bernama Cia Bun Houw dan aku datang mewakili Cin-ling-pai!"

Baru saja dia berkata sampai di sini terdengar suara berbisik di antara para tamu yaitu mereka yang baru sekarang melihat pendekar ini sungguhpun semua telah mendengar nama besarnya, apalagi nama besar Cin-ling-pai, yang akhir-akhir ini menjadi semakin terkenal setelah ada berita bahwa keluarga Cin-ling-pai dituduh sebagai pemberontak, bahkan menjadi pelarian-pelarian pemerintah.

Setelah suara berbisik mereda, Bun Houw melanjutkan kata-katanya.

"Kami dari Cin-ling-pai tidak pernah merasa menjadi orang yang paling pandai di dunia ini. Oleh karena itu, kedatanganku di sinipun sama sekali bukan hendak memperebutkan julukan kosong sebagai jagoan nomor satu di dunia! Akan tetapi aku datang justeru untuk menguji sampai di mana hebatnya orang yang berani menyebut dirinya sebagai jagoan nomor satu di dunia!"

Terdengar tepuk tangan riuh rendah menyambut kata-kata ini dan kebanyakan yang bertepuk tangan adalah orang-orang yang termasuk dalam golongan bersih karena ucapan itu merupakan suara hati mereka pula.

Mereka itu menganggap Bun Houw sebagai wakil mereka, wakil dari golongan putih untuk menentang usaha-usaha kaum sesat yang selalu hendak menonjolkan diri dan melakukan perbuatan-perbuatan demi mencari kedudukan, harta benda, atau nama besar.

Mendengar ucapan yang penuh wibawa ini, melihat sikap pendekar itu yang keren, dan melihat sambutan para orang kang-ouw, kedua orang dari Lam-hai Sam-lo itu mengerutkan alis dan merekapun menjadi bingung.

Akan tetapi Kim-liong-ong yang berwatak angkuh dan selalu memandang rendah lawan itu lalu berkata lantang.

"Cia Bun Houw, ucapanmu itu sungguh menyimpang daripada maksud dari pertemuan besar yang diadakan oleh pangeran ini. Lalu dengan siapa engkau hendak bertanding, kalau jagoan nomor satu belum ditetapkan siapa?"

Bun Houw yang tadipun merasa penasaran menyaksikan kelicikan dan kecurangan kakek kecil pendek ini lalu menjawab.

"Dengan siapa saja yang merasa dirinya jagoan tak terkalahkan. Lam-hai Sam-lo terkenal sebagai datuk-datuk selatan, akan tetapi hari ini aku melihat betapa seorang di antaranya hanyalah seorang tukang berkelahi yang licik dan tak tahu malu. Kalau Lam-hai Sam-lo merasa hebat, boleh saja aku menghadapinya, dan terhadapku, Lam-hai Sam-lo boleh berlaku licik dan curang sesuka hatinya!"

Ucapan ini terlalu hebat!

Lebih-lebih lagi karena terdengar suara tertawa menyambut ucapannya yang terang-terangan mencela dan mengejek kelicikan Kim-liong-ong tadi.

Akan tetapi, Kim-liong-ong dan Hai-liong-ong menjadi amat marah.

Nama besar Lam-hai Sam-lo seperti diinjak-injak oleh pria muda ini!

Kini Hai-liong-ong Phang Tek sudah berkata dengan suara keras.

"Orang muda she Cia yang sombong! Ucapanmu terlalu besar dan engkau menantang Lam-hai Sam-lo. Kami masih ingat bahwa engkau adalah putera ketua Cin-ling-pai, dengan demikian engkau tentu masih keluarga dengan isteri pangeran yang terhormat, maka..."

"Cukup!"

Bun Houw membentak demikian nyaringnya sehingga mengejutkan semua orang karena dalam keadaan marah bentakan tadi mengandung tenaga auman harimau yang amat hebat, terbawa khi-kang dari Ilmu Thian-te Sin-ciang sehingga gema bentakan itu mendatangkan getaran dahsyat.

"Tidak ada hubungannya keluarga dengan urusan ini...! Aku tidak datang membicarakan soal keluarga, dan kalau Lam-hai Sam-lo berani, majulah, tidak usah cerewet. Kalau tidak berani, menggelindinglah pergi dan biarkan aku menghadapi orang yang menggerakkan semua ini!"

Sambil berkata demikian, kembali Bun Houw memandang ke arah Pangeran Ceng Han Houw.

"Paman...!"

Lie Ciauw Si yang mukanya berubah merah membuka mulut, akan tetapi suaranya itu hanya merupakan bisikan dan keburu lengannya disentuh oleh suaminya yang masih tersenyum-senyum saja.

"Tenang, Si-moi dan kita lihat perkembangannya,"

Bisiknya kembali.

Sementara itu, kemarahan Phang Tek dan Phang Sun membuat wajah mereka berubah merah sekali.

"Cia Bun How, benarkah engkau menantang kami berdua untuk maju bersama melawanmu? Orang muda, hati-hatilah engkau dengan jawabanmu!"

Kata Phang Tek yang marah sekali, akan tetapi mengingat akan nama besar Lam-hai Sam-lo, dia merasa tidak enak dan malu kalau harus menghadapi orang muda ini dengan pengeroyokan mereka berdua.

"Lam-hai Sam-lo, mengapa banyak cerewet? Jangankan kini tinggal kalian berdua, biar masih lengkap tiga orangpun aku tidak akan takut melawan kalian. Majulah!"

Cia Bun Houw yang memang sudah mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada mereka ini, sudah berdiri menghadapi mereka dengan kedua kaki terpentang lebar, tubuhnya tegak dan kedua lutut agak ditekuk, sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga, tanda bahwa pada saat itu tenaga sin-kangnya telah naik dari pusar dan berputar-putar di seluruh tubuhnya, siap untuk dipergunakan dalam setiap gerakan.

Dua orang kakek itu masih meragu, selain merasa malu kepada para tokoh kang-ouw, juga mereka merasa sungkan terhadap pangeran karena bukankah orang muda ini masih terhitung paman dari isteri sang pangeran sendiri?

Maka Phang Tek lalu menghadap ke arah pangeran dan berkata.

"Harap paduka maafkan kami berdua yang tidak tahu harus bersikap bagaimana dalam keadaan seperti ini."

Ceng Han Houw yang sejak tadi tersenyum dan wajahnya yang tampan itu tetap nampak berseri, lalu berkata tenang.

"Seorang yang sakti dan gagah perkasa seperti Cia-taihiap telah berkenan meramaikan pertemuan ini dan hendak mempertihatkan kepandaian, hal itu sungguh membuat kita harus berterima kasih sekali. Sekarang Cia-taihiap mengajak kalian berdua untuk bermain-main dan menguji kepandaian, mengapa kalian berdua ragu-ragu lagi?"

Diam-diam Cia Bun Houw terkejut sekali.

Tak disangkanya bahwa pangeran yang masih begitu muda namun ternyata pandai sekali mengatur perasaan sehingga sampai sedemikian jauh tetap tenang dan ramah, sungguh merupakan sikap seorang yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan!

Mulailah dia mengerti mengapa keponakannya itu, seorang gadis gagah perkasa, dapat tunduk terhadap pangeran itu.

Kiranya pangeran itu, biarpun masih muda, selain memiliki wajah yang amat tampan menarik, juga memiliki kekuatan batin yang mengagumkan dan tentu memiliki kepandaian yang tinggi pula!

Dan wajah pucat dari Ciauw Si agak berseri ketika dia mendengar ucapan suaminya itu.

Diam-diam dia melirik ke arah ibunya dan dia melihat ibunya itu berbisik-bisik dengan ayah tirinya, yaitu Yap Kun Liong.

Tentu saja dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh ibunya dan suami ibunya itu.

Sedangkan bibinya, Yap In Hong, hanya memandang ke arah suaminya dengan penuh perhatian karena tentu saja bibi itu tahu bahwa suaminya sedang menghadapi lawan yang amat tangguh kalau dua orang kakek itu benar-benar hendak maju bersama mengeroyoknya.

Sementara itu, dua orang kakek menjadi lega hati mereka.

Jelaslah bahwa pangeran memperkenankan mereka maju bersama menghadapi tokoh Cin-ling-pai ini dan memang sudah menjadi tugas mereka untuk mengukur kepandaian orang-orang tangguh yang menjadi calon lawan majikan mereka.

"Kalau begitu, kami tidak akan menolak tantanganmu, Cia-taihiap."

Setelah mendengar pangeran itu menyebut Cia-taihiap, maka Phang Tek juga tidak berani menyebut lain.

"Kami akan maju bersama menghadapimu."

"Tak perlu banyak cakap, maju dan mulailah!"

Jawab Bun Houw tak sabar lagi.

Dua orang kakek itu lalu memasang kuda-kuda dan melangkah perlahan mengitari Bun Houw dengan lagak dua ekor jago yang memilih-milih tempat yang baik, sudut yang tepat untuk memulai serangan mereka.

Bun Houw tetap berdiri tegak, sama sekali tidak bergerak dan hanya pandang matanya saja yang mengikuti gerakan mereka.

Akhirnya dua orang kakek itu mengambil sudut yang mereka anggap paling menguntungkan, yaitu di kanan kiri pendekar itu.

Phang Tek di sebelah kanan dan Phang Sun di sebelah kiri.

Tiba-tiba, setelah saling memberi tanda dengan sinar mata, keduanya mengeluarkan teriakan nyaring dan mulailah mereka menyerang dari kanan kiri!

"Wuuut...

wuuuttt...

plak-plak plak-plak!"

Dengan gerakan yang mantap Bun Houw menyambut serangan mereka dari kanan kiri itu dengan menggerakkan tubuh dan kedua lengannya bergerak menangkis sehingga dia telah berhasil menangkis masing-masing lawan dua kali dan membuat dua orang kakek itu agak terhuyung!

Kembali Bun Houw berdiri tegak dan kedua orang lawannya kini berada di depan dan belakangnya.

Dua orang kakek itu memandang dengan mata terbelalak karena pertemuan lengan mereka tadi dengan lengan Bun Houw membuat tubuh mereka terasa tergetar hebat.

Dan hal itu tidaklah mengherankan karena Bun Houw telah mempergunakan tenaga Thian-te Sin-ciang yang sudah dilatih sampai di puncaknya!

Dan kini, biarpun Kim-liong-ong Phang Sun berada di belakangnya, Bun Houw tidak menjadi gentar, bahkan sama sekali tidak menggerakkan kepalanya karena ketajaman pendengarannya dapat menangkap segala gerak-gerik lawan di belakang itu seolah-olah dia dapat melihatnya dengan mata, melihat dengan jelas.

Maka dia membagi kekuatannya pada mata dan telinga sehingga dia dapat memperhatikan dan mengikuti segala gerak-gerik dua orang lawannya.

Kembali dua orang kakek itu mengirim serangan dan kini mereka melakukan serangan bertubi-tubi dan sambung-menyambung.

Pukulan-pukulan mereka amat dahsyatnya, semua merupakan pukulan maut dan ternyata tubuh besar Hai-liong-ong Phang Tek itu tidak menghalanginya untuk bergerak cepat sekali, jauh lebih cepat daripada gerakan adiknya yang bertubuh kecil pendek!

Bagaikan seekor singa Phang Tek menyerang dengan kedua tangan dibentuk seperti cakar dan kedua lengannya itu bergerak-gerak seperti seekor naga.

Dan memang sesungguhnya orang pertama dari Lam-hai Sam-to ini adalah seorang ahli silat naga Liong-jiauw-kun dan Liong-jiauw-kiam-sut (Ilmu Pedang Cakar Naga).

Sebaliknya biarpun gerakannya tidak seringan dan secepat kakaknya, namun si pendek Kim-liong-ong Phang Sun itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat sehingga setiap pukulannya mendatangkan angin yang menyambar dahsyat dan mengeluarkan bunyi bercuitan!

Tingkat kepandaian Phang Tek dan Phang Sun memang seimbang, karena kalau Phang Tek lebih cepat gerakannya, Phang Sun lebih kuat pukulannya.

Hal ini terasa benar oleh Bun Houw maka diapun tidak berani memandang rendah dan untuk menghadapi serangan dua orang lawannya yang tangguh ini, Dia telah mainkan Thai-kek Sin-kun, ilmu silat keramat dari ayahnya.

Ilmu silat ini memang merupakan ilmu silat halus yang amat tangguh untuk menjaga diri dan mempunyai daya tahan yang amat kuat sehingga seolah-olah dengan ilmu ini dia dapat menahan serangan seribu orang lawan!

Apalagi pada waktu itu tingkat kepandaian Bun Houw sedang berada di puncaknya, tubuhnya sedang kuat-kuatnya dan dia amat terlatih.

Maka dengan langkah-langkah yang indah dari Thai-kek Sin-kun, dia mampu mengelak ke sana-sini atau menambah dengan tangkisan-tangkisan untuk kemudian melakukan serangan balasan dengan tamparan-tamparan Thian-te Sin-ciang yang amat ampuh itu.

Pertandingan itu sudah lewat lima puluh jurus, namun dua orang pengeroyok itu sama sekali bukan pernah dapat menyentuh tubuh Bun Houw.

Semua tamu memandang ke arah pertempuran dengan mata terbelatak karena kagum.

Yap Kun Liong memandang dengan sikap tenang, tidak seperti isterinya, Cia Giok Keng yang memandang dengan alis berkerut dan tangan terkepal.

Tingkat Cia Giok Keng tidak sedemikian tingginya sehingga dia sukar dapat mengikuti perkembangan dari pertandingan tingkat tinggi itu sehingga dia khawatir kalau-kalau adik kandungnya akan kalah.

Sedangkan Yap In Hong sejak tadi mengikuti gerak-gerik tiga orang yang bertanding itu dengan sikap sama tenangnya dengan kakak kandungnya.

Dia tahu bahwa suaminya tidak akan kalah, karena pada dasarnya suaminya lebih kuat dan andaikata suaminya mau menjatuhkan pukulan-pukulan maut yang ganas, sejak tadi tentu suaminya sudah dapat merobohkan dua orang pengeroyoknya itu, Atau setidaknya seorang di antara mereka.

Lie Ciauw Si yang biarpun amat lihai namun juga tidak setinggi itu tingkatnya, memandang dengan bingung.

Dia tidak tahu harus berfihak mana.

Yang dikeroyok adalah pamannya yang bertindak atas nama Cin-ling-pai, sedangkan dua orang pengeroyoknya itu adalah pembantu-pembantu suaminya yang menggantikan dia.

Tak dapat dia membayangkan apa yang akan dilakukan kalau dia yang masih menjadi penguji dan harus berhadapan dengan pamapnya yang sakti itu!

Sedangkan Pangeran Ceng Han Houw menonton dengan wajah berseri dan beberapa kali dia mengangguk-angguk menyatakan kagumnya terhadap gerak-gerik Cia Bun Houw yang memang merupakan seorang pendekar yang sukar dicari tandingannya.

Akan tetapi, diam-diam pangeran ini merasa khawatir juga.

Dia tahu bahwa dua orang pembantunya itu tidak akan dapat menang, maka mulailah dia memandang ke sana-sini mencari-cari Sin Liong.

Kenapa adik angkatnya itu tidak kembali ke situ?

Kalau ada Sin Liong, sebelum dia sendiri harus berhadapan dengan Cia Bun Houw, yaitu kalau dia gagal membujuk paman isterinya itu, dia akan menyuruh Sin Liong mewakilinya dan "menguji"

Pendekar dari Cin-ling-pai itu!

Biarpun dia tahu bahwa Sin Liong, menurut pengakuannya adalah putera kandung pendekar sakti ini, akan tetapi agaknya di antara mereka berdua belum ada hubungan dan pendekar sakti ini belum tahu akan rahasianya sendiri itu!

Maka hal ini merupakan kunci baginya!

Kehadiran Sin Liong sebagai putera pendekar ini dapat dipergunakannya untuk menarik keluarga Cia itu, dan seandainya di antara ayah dan anak itu tidak ada yang mau mengulurkan tangan, Dia dapat pula mengharapkan bantuan Sin Liong yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian yang tidak banyak selisihnya dengan kepandaiannya sendiri, seorang pembantu yang boleh diharapkan.

Oleh karena itulah, maka melihat dua orang pembantunya itu agaknya terdesak oleh Cia Bun Houw, pangeran itu mulai teringat kepada Sin Liong dan mulai menoleh ke sana-sini untuk mencari adik angkatnya itu.

Ke manakah perginya Sin Liong?

Apa yang terjadi dengan dia?

Mari kita mengikuti Sin Liong yang tadi meninggalkan tempat pertemuan itu.

Setelah Sin Liong mendengar bisikan pangeran yang hendak memksa membantunya dan bahwa Bi Cu berada dalam pengaWasan dan kekuasaan Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio, tahulah Sin Liong bahwa kembali kakak angkatnya itu bertindak curang.

Tahulah dia bahwa Bi Cu sengaja ditawan untuk dijadikan sandera, untuk memaksa dia harus membantu pangeran itu menghadapi para tokoh kang-ouw, membantu Pangeran itu agar berhasil menjadi jagoan nomor satu di dunia dan menjadi bengcu untuk menghimpun tenaga orang-orang kang-ouw dan membantunya melakukan pemberontakan terhadap Kaisar!

Dengan marah sekali Sin Liong lalu berlari ma-suk meninggalkan tempat itu.

Dengar cepat Sin Liong berlari menuju ke kamar Bi Cu untuk mengajak kekasihnya itu segera pergi dari tempat itu sekarang juga.

Daun pintu kamar Bi Cu tertutup dan dengan hati harap-harap cemas Sin Liong menghampiri daun pintu ini dan mendorongnya ke dalam.

Kosong!

Sunyi sekali dalam rumah ini.

Agaknya semua pelayan dan pengawal sudah ber-kumpul di depan, nonton keramaian di luar.

"Bi Cu...!"

Dia berseru memanggil dan memandang ke sana-sini, lalu berjalan menuju ke dalam, membukai setiap daun pintu kamar dan ruangang mencari-cari.

Akhirnya dia tiba di lorong yang menuju ke ruangan belakang den ketika dia memasuki lorong yang lebarnya hanya tiga meter akan tetapi amat panjang itu, tiba-tiba dia melihat gerakan orang dan tahu-tahu di kedua mulut lorong itu, di depan dan belakangnya, sudah berdiri puluhan orang pengawal dengan senjata tombak, pedang dan golok di tangan!

Dia telah dikurung di dalam lorong itu dan tidak ada jalan keluar lagi karena di depan dan belakangnya, di mulut lorong, masing-masing telah berjaga belasan orang pengawal pilihan yang siap dengan senjata mereka.

Dia seolah-olah seperti seekor harimau yang sudah terkurung dan terjebak.

Sin Liong memandang dengan mata bernyala dan muka merah.

"Kembalikan Bi Cu!"

Bentaknya.

"Kembalikan Bi Cu atau... demi Tuhan, takkan ada seorangpun yang akan lolos dari tanganku!"

Suaranya menggetar saking khawatirnya membayangkan Bi Cu berada di tangan mereka.

Dia maklum bahwa Pangeran Ceng Han Houw hendak menggunakan Bi Cu untuk memaksanya.

Akan tetapi sekali ini dia tidak mungkin mau dipermainkan, tidak mungkin dia harus mengalah dan memenuhi kehendak pangeran itu.

Biarpun Bi Cu berada di tangan mereka, dia tidak akan mau tunduk dan menyerah lagi.

Hanya ada dua jalan.

Mereka mengembalikan Bi Cu dalam keadaan utuh dan selamat, atau...

kalau mereka mengganggu kekasihnya, dia akan mengamuk dan membunuh semua orang dalam Istana Lembah Naga itu!

Kedua matanya mencorong seperti mata seekor naga sakti ketika dia memandang kepada para pengawal yang menghadang di mulut lorong itu.

Dengan berani dia terus melangkah maju sambil sekali lagi membentak.

"Kembalikan Bi Cu!"

Akan tetapi pengawal-pengawal yang berjaga di situ adalah pasukan pengawal pilihan yang tadinya menjadi pasukan pilihan dari Raja Sabutai.

Mereka ini, sebagai pasukan pilihan, seolah-olah telah menjadi manusia-manusia robot yang tidak mempunyai keinginan sendiri dan mereka bergerak oleh perintah atasan.

Mereka tadi menerima perintah untuk mencegah pemuda ini pergi ke gudang di belakang, di mana Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio mengurung gadis tawanan itu, dan mereka, pasukan pengawal yang jumlahnya tiga puluh orang itu, akan mentaati perintah ini sampai titik darah terakhir mereka!

Maka, mendengar bentakan-bentakan Sin Liong, mereka itu seolah-olah tidak mendengarnya dan kini para pengawal yang menghadang di depan telah mengangkat senjata mereka dengan muka beringas, Sedangkan pasukan yang berada di belakang Sin Liong kini sudah bergerak maju lagi memasuki lorong itu!

Sin Liong benar-benar dihimpit dari depan dan belakang.

Melihat ini, Sin Liong menjadi semakin marah dan tahulah dia bahwa sekali ini Pangeran Ceng Han Houw benar-benar memperlihatkan kedoknya dan hendak menentangnya mati-matian, maka diapun lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah menerjang ke depan seperti seekor harimau menubruk, tanpa memperdulikan adanya tombak, golok dan pedang yang menyambut tubuhnya.

Dia mengerahkan seluruh tenaganya yang dihimpunnya selama dia mempelajari ilmu dari Bu Beng Hud-couw.

Ada angin dahsyat menyambar ke depan, menyambut belasan orang yang menghadangnya itu, disusul oleh kedua tangan Sin Liong sendiri yang mendorong ke depan.

"Bresssss...!"

Hebat bukan main tenaga sin-kang yang menyambar keluar dari gerakan Sin Liong ini.

Tombak, golok, pedang beterbangan, Terdengar pekik-pekik kesakitan dan belasan orang itu sudah terjengkang dan terpelanting ke kanan kiri seperti setumpuk daun kering diamuk badai!

Sin Liong terus meloncat keluar dari lorong itu, tiba di ruangan belakang yang luas.

Di sini dia berdiri tegak, memandang ke sekelilingnya, mencari-cari Bi Cu.

Belasan orang pengawal yang terpelanting tadi, hanya ada sepuluh orang saja yang sudah bangkit kembali dan yang lima orang tak dapat bangun.

Ditambah oleh lima belas orang lagi, yaitu para pengawal yang mengejar dari belakang tadi, mereka kini mengurung dan mulai menerjang dan mengeroyok Sin Liong dari berbagai jurusan.

Hujan senjata menyerang tubuh Sin Liong!

Sin Liong mengamuk!

Kedua tangannya yang penuh dengan tenaga Thian-te Sin-ciang sampai ke puncak, menyambar-nyambar dan setiap orang pengeroyok yang terkena sentuhan tangan ini, Bahkan terkena sambaran hawa pukulannya saja, tentu terpelanting.

Setiap senjata yang bertemu dengan lengannya tentu patah-patah atau beterbangan terlepas dari pegangan pemiliknya.

Bagaikan sekepok nyamuk menyerang api lilin, para pengawal itu setiap kali maju terpelanting roboh dan setelah mengamuk dengan hebatnya, laksana seekor naga yang mengejar mustika di antara awan-awan hitam, semua pengawal itu roboh dan tubuh mereka malang-melintang memenuhi ruangan itu, merintih-rintih dan mengaduh-aduh.

Darah berceceran di mana-mana dan senjata tajam berserakan.

Sin Liong masih sempat melihat seorang pengawal yang luka terpincang-pincang lari ke belakang, ke sebuah gudang tua jauh di belakang istana itu.

Maka diapun cepat berkelebat dan menuju ke tempat itu.

"Brakkkk!"

Sekali terjang daun pintu kayu yang tebal dari gudang itupun pecah berantakan dan Sin Liong meloncat masuk.

Akan tetapi dia terbelalak berdiri di ambang pintu yang sudah jebol itu, memandang ke dalam.

Gudang itu besar, dan agaknya merupakan gudang yang sudah tidak terpakai lagi karena selain kosong juga tidak terawat, kotor dan jauh berbeda dengan keadaan di dalam istana yang serba mewah dan indah.

Memang gudang ini telah lama dipergunakan hanya untuk menyiksa para tawanan ketika Hek-hiat Mo-li tinggal di situ dan karenanya, setelah Pangeran Ceng Han Houw mempergunakan istana itu, gudang ini tidak dipakai dan hanya ditutup.

Dan sekarang, tempat itu dipergunakan oleh Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio untuk menahan Bi Cu!

Agaknya pengawal yang terluka dan tadi lari masuk untuk melapor, Mengalami nasib sial karena dia sudah meringkuk di sudut itu tak bergerak-gerak, entah pingsan entah mati.

Dan memang ketika dia selesai melapor bahwa semua pengawal tidak mampu menahan pemuda itu, Hek-hiat Mo-li telah "menghadiahi"

Dengan sebuah tendangan yang membuat tulang iga orang itu remuk-remuk!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Sin Liong ketika dia melihat Bi Cu terbelenggu pada sebatang tiang kayu di dalam gudang itu dan di sekeliling tiang itu terdapat tumpukan balok-balok kayu yang sudah disiram minyak dan kini Kim Hong Liu-nio sudah berdiri dekat sambil memegang sebatang obor yang bernyala, siap untuk membakar tumpukan kayu yang mengelilingi Bi Cu itu!

Dara itu juga memandang kepadanya dengan muka pucat dan mata terbelalak, akan tetapi suaranya terdengar penuh kegembiraan ketika dia berseru.

"Sin Liong...!"

Agaknya baru sekarang dia dapat berseru memanggil nama kekasihnya itu karena sejak tadi mulutnya diikat dengan sapu tangan yang kini bergantung di lehernya, tentu sudah dilepaskan oleh Kim Hong Liu-nio.

Dan agaknya wanita ini sudah mempersiapkan diri baik-baik karena selain kedua tangannya sudah mengenakan sarung tangannya yang dapat menahan senjata tajam, di atas punggungnya yang menggendong kayu palang salib itu nampak mengepul hio-hio yang terbakar, dan kini selain tangan kirinya memegang obor, juga tangan kanannya memegang sebatang pedang yang berkilauan!

Dan tidak jauh dari situ berdiri si nenek muka hitam yang menyeringai mengerikan, bersandar pada tongkat bututnya.

"Heh-heh-heh!"

Hek-hiat Mo-li terkekeh dan nampak mulutnya yang tak bergigi lagi.

"Kau bocah bandel, masih mau memamerkan sedikit kepandaian di sini?"

"Hek-hiat Mo-li!"

Sin Liong membentak.

"Lepaskan Bi Cu!"

"Heh-heh, bocah lancang! Hanya ada dua pilihan untukmu. Engkau kembali ke depan dan membantu pangeran sampai dia berhasil dengan cita-citanya, atau engkau akan melihat pacarmu ini dimakan api sampai habis dan engkau sendiri mampus di bawah tongkatku!"

"Nenek iblis!"

Sin Liong membentak dan dia sudah meloncat ke depan dan menerjang nenek itu dengan dahsyatnya!

"Ihh...!

Plakk!"

Nenek itu meloncat untuk menghindar sambil menyabetkan tongkatnya yang dapat ditangkis oleh Sin Liong.

"Bakar dia!"

Teriaknya sambil melawan pemuda yang sudah marah sekali itu.

Kim Hong Liu-nio cepat membakar tumpukan kayu di sekeliling Bi Cu dan apipun berkobarlah.

"Sin Liong...!"

Bi Cu menjerit ketika api berkobar mengelilinginya, mendatangkan hawa panas yang luar biasa.

Pilar di mana dia terbelenggu tidak akan cepat terbakar, dan pembakaran itu memang diatur sedemikian rupa untuk menyiksanya sehingga sebelum api itu akhirnya menjalar ke pilar, terlebih dulu dia akan mengalami siksaan luar biasa dikurung api berkobar yang besar dan amat panas.

Sin Liong mengamuk, dan kini Kim Hong Liu-nio juga sudah maju dengan pedangnya, membantu gurunya mengeroyok Sin Liong.

Pedangnya bergerak dengan amat cepatnya, lenyap bentuk pedang di tangan Kim Hong Liu-nio, berubah menjadi segulung sinar berkilauan yang menyambar-nyambar, mengeluarkan suara berdesing dan berciutan, juga tongkat di tangan nenek muka hitam itu berbahaya bukan main, karena gerakannya didorong oleh sin-kang yang amat hebat.

Sekali ini Sin Liong benar-henar diuji kepandaiannya.

Dua orang lawannya terdiri dari orang-orang yang pandai, terutama sekali nenek hitam itu.

Dan celakanya dia bertanding dengan hati gelisah bukan main melihat api berkobar mengurung Bi Cu.

Sebagian besar perhatiannya tertarik ke arah Bi Cu, dan setiap ada kesempatan, dia meninggalkan dua orang lawannya untuk meloncat ke arah api dalam usahanya untuk menyelamatkan dara itu lebih dulu dari ancaman maut yang mengerikan.

Namun, dua orang lawannya maklum akan niatnya ini dan terus menghadang, bahkan kelengahan Sin Liong karena perhatiannya ter-tarik ke arah Bi Cu membuat dua kali punggung dan pundaknya kena dihantam tongkat Hek-hiat Mo-li!

Kalau saja dia tidak memiliki kekebalan dan cepat menggunakan Thi-khi-i-beng, tentu dia sudah roboh oleh dua kali hantaman itu.

Dia hanya merasa pening sedikit, akan tetapi dengan mengeluarkan jurus Hok-mo Cap-sha-ciang, angin pukulan menyambar dahsyat dan dua orang lawannya itu terkejut dan cepat mengelak sambil meloncat mundur.

Di lain saat, guru dan murid itu sudah menerjang lagi dan kembali Sin Liong terdesak hebat karena dia masih terus mencurahkan perhatiannya kepada Bi Cu yang terus-menerus memanggil namanya.

"Sin Liong... ah, Sin Liong, tolong...!"

Sin Liong tak dapat menahan kegelisahannya dan meloncat ke depan.

Kelengahannya itu dipergunakan oleh Kim Hong Liu-nio untuk menusukkan pedangnya ke arah lambungnya dari kanan.

Untung bagi pemuda ini bahwa dia masih mendengar desir sambaran pedang ini, maka dia mengelak, sungguhpun perhatiannya masih ke depan, ke arah api berkobar.

"Dess...!"

Pukulan tangan kiri dari Kim Hong Liu-nio dengan tepat mengenai punggungnya, sebuah pukulan yang amat kuatnya.

"Ihhh...!"

Kim Hong Liu-nio menjerit karena tangannya itu melekat pada punggung dan tersedotlah hawa murni dari tubuhnya.

Gurunya yang maklum akan keadaan muridnya, cepat menerjang ke depan, ujung tongkatnya berkelebat depan mata Sin Liong.

Pemuda ini menarik tubuh ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh Hek-hiat Mo-li untuk menepuk punggungnya dan membentot kembali tangan muridnya!

Setelah terlepas dari pengaruh Thi-khi-i-beng itu, Kim Hong Liu-nio mengamuk dan menujukan ujung pedangnya ke arah sasaran bagian tubuh yang berbahaya sehingga kembali Sin Liong terpaksa harus melayani dua orang lawan tangguh itu, sementara itu hatinya merasa semakin gelisah.

"Brakkk...!"

Tiba-tiba jendela di belakang gudang itu pecah berantakan dan sesosok bayangan yang amat gesit dan ringannya melayang masuk.

Itu adalah bayangan seorang wanita cantik dan Sin Liong segera mengenal bayangan itu yang bukan lain adalah bayangan Yap In Hong, atau ibu tirinya!

Nyonya yang cantik jelita dan gagah perkasa itu muncul secara demikian tiba-tiba sehingga bukan hanya mengejutkan Sin Liong, akan tetapi juga membuat Kim Hong Liu-nio dan Hek-hiat Mo-li menjadi kaget sekali.

Bagaimanakah Yap In Hong dapat tiba-tiba muncul di tempat itu?

Perlu diketahui bahwa rombongan keluarga Cin-ling-pai itu sesungguhnya berada di Lembah Naga, menghadiri pertemuan besar itu adalah dalam rangka bantuan mereka kepada pemerintah, Yaitu kepada Pangeran Hung Chih yang sudah diberi tugas khusus oleh Kaisar untuk menghadapi usaha pemberontakan Pangeran Ceng Han Houw dengan cara halus, kalau mungkin tanpa menimbulkan perpecahan atau perang saudara yang akan mendatangkan korban besar di antara rakyat.

Oleh karena terikat oleh tugas inilah maka betapapun marahnya hati Cia Giok Keng melihat puterinya membantu pangeran pemberontak yang menjadi suaminya itu, namun Yap Kun Liong dan Cia Bun Houw selalu menyabarkannya.

Ketika Cia Bun Houw sudah maju untuk menentang secara terang-terangan dan dikeroyok oleh kedua orang kakek Lam-hai Sam-lo dan terjadi pertandingan yang amat hebat dan seru, diam-diam Yap In Hong yang mengikuti gerakan mereka maklum bahwa suaminya tidak akan kalah.

Oleh karena itu diapun merasa lega, lalu diam-diam dia berunding dengan kakak kandungnya, Yap Kun Liong, dan Cia Giok Keng yang menyetujui agar dia menyelidik dari bagian belakang istana, sementara Yap Kun Liong dan isterinya siap untuk membantu Cia Bun Houw apabila terjadi sesuatu dan siap pula untuk memberi tanda yang telah ditunggu-tunggu oleh pasukan besar yang menanti di luar lembah!

Demikianlah mengapa Yap In Hong tahu-tahu berada di gudang itu.

Ketika dia menyelinap ke belakang gudang dan mendengar suara orang berkelahi, dia mengintai dan betapa kagetnya ketika dia mengenal Sin Liong dikeroyok oleh Hek-hiat Mo-li dan murid perempuannya, dan melihat pula Bi Cu terkurung api dan dara itu sudah mulai sesak napas dan tubuhnya basah (Lanjut ke

Jilid 54) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 54 semua oleh peluh.

Dia sudah tidak mampu berteriak lagi, hanya mengeluh dan merintih!

Melihat keadaan dara ini, Yap In Hong lalu meloncat dengan kecepatan seekor burung terbang, kakinya menendangi balok-balok terbakar ke kanan kiri sehingga terbukalah jalan baginya untuk menerobos masuk.

Cepat sekali dia sudah menggunakan jari-jari tangannya yang kecil mungil namun mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang yang dahsyat itu untuk mematahkan semua belenggu kaki tangan Bi Cu yang sudah lemas dan pingsan itu, kemudian dia memondohg tubuh dara itu dan sekali meloncat dia telah keluar dari lingkungan api yang berkobar dan membawa Bi Cu ke sebuah sudut gudang yang luas itu.

Ketika melihat Bi Cu pingsan, dia lalu mendudukkan dara itu dan menyandarkannya pada dinding, kemudian dia bangkit berdiri dan memandang ke arah pertempuran.

Sinar matanya berubah ketika dia melihat Sin Liong dikeroyok.

Tadinya, seperti juga suaminya, dia merasa benci kepada anak ini yang dianggapnya seorang anak yang tidak mengenal budi.

Akan tetapi kini melihat anak itu dikeroyok dua secara mati-matian, pandangannya menjadi berubah.

"Hek-hiat Mo-li, sebelum engkau mampus tentu engkau akan menyebar kejahatan saja di dunia ini! Akulah lawanmu, nenek iblis!"

Dia hendak meloncat memasuki gelanggang pertempuran, akan tetapi Sin Liong cepat berkata.

"Yap-lihiap... aku berterima kasih sekali kepadamu, akan tetapi... harap lihiap jangan mencampuri, biarkan aku menghadapi mereka ini! Aku ingin membalaskan kematian kong-kong Cia Keng Hong!"

Suaranya mengandung isak karena saking terharunya melihat Bi Cu diselamatkan oleh ibu tirinya!

Dan juga saking marahnya terhadap dua orang lawannya ini.

Yap In Hong tercengang, karena dia terkejut mendengar ucapan itu dan melihat jalannya pertempuran.

Bocah itu menyebut "kong-kong"

Kepada ayah mertuanya, dan selain menyatakan ingin membalas kematian ketua Cin-ling-pai, juga kini gerakan bocah itu sungguh jauh berbeda!

Kini, pemuda itu mengeluarkan jurus-jurus yang amat luar biasa, dan setiap kali dia menerjang, ada hawa pukulan yang luar biasa dahsyatnya menyambar darinya, membuat dua orang lawannya menjadi terhuyung-huyung!

Yap In Hong adalah seorang wanita sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, akan tetapi belum pernah dia menyaksikan gerakan seperti yang dilakukan Sin Liong pada saat itu, Dan dia dapat melihat dan merasakan kehebatan hawa pukulan yang luar biasa itu.

Maka diapun lalu berdiri saja dan menonton, mendekati Bi Cu dan menjaga dara yang masih pingsan itu.

Sementara itu, tumpukan kayu yang terbakar itu karena tadi ditendangi dan terlempar ke sana-sini, mulai membakar dinding rumah dan pilar!

Tidak mengherankan apabila Yap In Hong pendekar wanita sakti itu tertegun menyaksikan kehebatan gerakan Sin Liong.

Kini, setelah melihat Bi Cu selamat, Sin Liong menjadi demikian lega dan gembira sehingga dia mampu mencurahkan seluruh perhatiannya kepada perkelahian itu dan kini diapun tidak mau memberi hati kepada dua orang lawannya.

Dia mempergunakan langkah-langkah Thai-kek Sin-kun dan dengan gerakan tiba-tiba sekali, dia sudah menerjang dengan jurus dari ilmu silat mujijat Hok-mo Cap-sha-ciang.

Terjangan pertama membuat dua orang wanita itu terhuyung dan terdengar Kim Hong Liu-nio menjerit kecil karena pedangnya membalik dan melukai pundaknya sendiri!

Mereka berdua maklum kini bahwa Sin Liong benar-benar tangguh, dan munculnya Yap In Hong yang berhasil menyelamatkan Bi Cu benar-benar membuat kedua orang itu agak bingung dan gentar.

Maka kini mereka hendak memusatkan tenaga untuk bertahan, maka mereka tidak berpencar, melainkan berdiri berdampingan menghadapi Sin Liong.

Pemuda ini mengeluarkan pekik yang dahsyat, dibarengi dengan gerakan tubuhnya mencelat ke depan dan dia sudah mengirim serangan ke dua dari Hok-mo Cap-sha-ciang.

Kedua tangannya dengan jari-jari terpentang bergerak dari atas ke bawah, dan dua macam tenaga yang berlawanan, yang dari atas panas sekali dan dari bawah dingin sekali menyambar seolah-olah hendak menghimpit dua orang lawan itu.

"Plak-plak... dessss...!"

Hek-hiat Mo-li yang terkejut bukan main menyaksikan serangan yang luar biasa hebat dan ganasnya itu telah mengerahkan tenaganya dan dua kali dia menggunakan tongkat dan lengannya untuk menangkis dua tangan Sin Liong dan akibatnya dia terpental sampai beberapa meter jauhnya dan punggungnya menabrak dinding gudang!

Pada saat Sin Liong melakukan pukulan dahsyat itu dan Hek-hiat Mo-li melakukan penangkisan, Kim Hong Liu-nio yang cerdik sudah menjatuhkan dirinya ke atas lantai, kemudian bagaikan seekor trenggiling dia menggelundung ke arah Sin Liong dan meloncat sambil menaburkan Hui-tok-san, yaitu bubuk kuning ke arah muka Sin Liong, diikuti oleh gulungan sinar merah dari sabuknya yang melakukan totokan ke arah kedua mata pemuda itu dan paling akhir pedangnya meluncur dari tangan, menusuk ke arah lambung!

Sungguh wanita ini hebat dan berbahaya sekali, menggunakan kesempatan itu untuk melakukan serangan maut yang agaknya sukar untuk dapat dihindarkan lawan yang bagaimana tangguhpun!

Akan tetapi pada saat itu, dalam kegembiraannya karena Bi Cu sudah bebas dari bahaya maut, Sin Liong berada dalam keadaan penuh gairah dan di puncak dari kewaspadaannya, Seluruh tubuhnya menggetar dengan sin-kangnya yang memang luar biasa kuatnya, sin-kang yang diwariskan kepadanya oleh mendiang Kok Beng Lama, kemudian digembleng pula oleh mendiang Cia Keng Hong yang menurunkan Thi-khi-i-beng dan semua itu masih ditambah lagi dengan latihan dari kitab-kitab kuno peninggalan Bu Beng Hud-couw sehingga pada saat itu, kiranya sukar dicari bandingannya di dunia persilatan.

Maka, melihat gerakan serangan bertubi-tubi ini, Sin Liong tidak menjadi gugup sama sekali.

Dia dapat mengikuti gerak-gerik lawan ini satu demi satu dan sambaran bubuk kuning ke arah mukanya itu dibuyarkannya dengan tiupan khi-kang yang kuat sehingga uap kuning itu membuyar bahkan menyambar kembali ke muka Kim Hong Liu-nio yang tentu saja tidak takut menghisapnya karena dia telah memakai obat penawar racun Hui-tok-san itu.

Kemudian, totokan ujung sabuk merah ke arah kedua matanya itu hanya dielakkan dengan miringkan kepala, kemudian tusukan pedang ke arah lambungnya itu cepat ditangkapnya dengan tangan dan sekali dia mengerahkan tenaga mencengkeram, pedang ltu dapat dicengkeramnya sampai patah-patah!

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main, hampir tidak percaya akan pandang matanya sendiri!

Betapa mungkin pedangnya yang terbuat dari baja murni itu, yang takkan patah oleh senjata apapun, kini menjadi patah-patah oleh cengkeraman jari-jari tangan pemuda itu?

Dalam gugupnya, dia menggerakkan tangan kanannya itu memukul setelah membuang gagang pedang, memukul dengan kerasnya ke arah dada Sin Liong.

"Bukk!"

Pukulan itu tepat mengenai sasaran karena memang Sin Liong tidak mengelak, akan tetapi telapak tangan wanita itu melekat dan seketika tenaga sin-kang dari telapak tangan itu membanjir tersedot oleh tubuh Sin Liong!

"Aihhh...!"

Kim Hong Liu-nio sudah diberi tahu subonya bagaimana menghadapi Thi-khi-i-beng, maka dia cepat menggunakan ujung sabuknya menotok pergelangan tangan kanannya sendiri sehingga tangan itu lumpuh, kehilangan tenaga dan dengan sendirinya terlepas dari sedotan karena sudah tidak mengandung tenaga sin-kang, dan wanita ini lalu melempar diri ke belakang, Menggelinding dan pada saat dia menggelinding itu, nampak sinar api meluncur ke arah perut, leher dan mata Sin Liong!

Itulah tiga batang hio menyala dan yang dilontarkan secara tepat oleh Kim Hong Liu-nio!

Melihat ini, Sin Liong menjadi marah sekali.

Dia teringat akan kematian ibu kandungnya di tangan wanita ini, maka cepat kedua tangannya menangkap-nangkapi tiga batang hio itu dan secepat kilat dia melemparkan hio-hio itu ke arah pemiliknya.

Betapapun wanita itu berusaha mengelak, namun dia kalah cepat oleh luncuran hio yang dilontarkan dengan tenaga sin-kang yang luar biasa itu.

Terdengar jerit menyayat hati ketika dua di antara tiga batang hio itu mengenai sasarannya dengan tepat, yaitu, yang pertama menancap di antara kedua mata wanita itu sedangkan yang ke dua memasuki dada lewat ulu hatinya.

Wanita itu roboh terjengkang dan agaknya hio yang menembus batok kepalanya itu langsung mengenai pusat otak yang membuat dia tak mampu bergerak lagi dan tak lama kemudain tewaslah Kim Hong Liu-nio dalam keadaan yang hampir sama namun lebih mengerikan daripada kematian mendiang Liong Si Kwi, ibu kandung Sin Liong!

Hek-hiat Mo-li mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang marah dan dia sudah menubruk dari samping, menghantamkan tongkat butut ke arah belakang kepala Sin Liong sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada.

Sin Liong yang sejenak tertegun melihat betapa dia telah berhasil membunuh wanita yang menjadi musuh besarnya, yang telah membunuh ibu kandungnya itu, cepat berbalik ketika merasa ada sambaran angin serangan dahsyat itu.

Dari angin pukulan itu tahulah Sin Liong bahwa nenek ini sudah marah sekali dan telah mengerahkan seluruh tenaganya, agaknya hendak mengadu nyawa dengan dia karena marah melihat muridnya yang terkasih itu tewas.

"Hemm, engkaupun harus mampus untuk pergi menghadap arwah kong-kong!"

Bentaknya dan diapun cepat menangkis dan balas menyerang.

Karena sekali ini Sin Liong tidak mau memberi hati lagi, begitu balas menyerang diapun sudah memilih jurus dari Hok-mo Cap-sha-ciang yang merupakan ilmu simpanan dan yang belum dikenal oleh orang lain sehingga betapapun nenek itu hendak mengelak dan menangkis, tetap saja pukulan aneh itu mengenai dadanya.

"Desss...!"

Tubuh nenek itu terlempar lagi ke belakang dan menghantam dinding, gudang itu seperti tergetar saking kerasnya tubuh nenek itu menumbuk dinding.

Akan tetapi, biarpun pukulan tadi hebat sekali, namun Hek-hiat Mo-li tetap merangkak bangung maju lagi dan memekik-mekik seperti orang gila sambil menyerang dengan tongkatnya, agaknya sedikitpun tidak merasakan pukulan dahsyat itu!

Sip Liong merasa terkejut bukan main.

Pukulannya tadi hebat sekali, dan dia sudah mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang pada tangannya.

Namun ternyata nenek tua itu memiliki kekebalan yang luar biasa sekali, agaknya kekebalan yang sudah melindungi seluruh tubuh bagian dalam sehingga pukulan yang sedemikian ampuhnyapun tidak dapat melukai luar maupun dalam!

Ketika tadi Sin Liong merobohkan Kim Hong Liu-nio setelah melakukan serangan hebat yang membuat guru dan murid itu terdesak hebat, pendekar wanita Yap In Hong memandang dengan mata terbelalak!

Dia merasa heran, terkejut, dan kagum bukan main.

Dia sudah mengenal betul siapa adanya Hek-hiat Mo-li dan betapa lihainya nenek iblis itu, dan diapun tahu bahwa murid nenek itupun lihai bukan main.

Akan tetapi, dikeroyok dua oleh guru dan murid itu, Sin Liong sama sekali tidak kelihatan repot, bahkan dalam waktu singkat saja telah berhasil menewaskan Kim Hong Liu-nio secara demikian luar biasa, menggunakan hio-hio (dupa biting) yang bernyala yang merupakan senjata rahasia dari lawan itu.

Kini tubuh Kim Hong Liu-nio terlentang tak bernyawa lagi, akan tetapi dua batang hio yang menancap di dada dan dahi itu masih mengeluarkan asap harum!

Dan melihat betapa dalam gebrakan selanjutnya Hek-hiat Mo-li sudah kena dihantam sedemikian kerasnya, benar-benar membuat Yap In Hong kagum bukan main!

Dia sendiri pernah melawan nenek ini dan biarpun akhirnya dia bethasil menang, namun harus melalui pertandingan yang amat lama, amat melelahkan dan amat berbahaya.

Dan kini, nenek ini dan biarpun akhirnya dia berpada dahulu, namun dalam perkelahian yang belum lama, Sin Liong telah mampu membuat tubuh nenek itu terlempar dua kali!

Akan tetapi, melihat wajah pemuda itu terkejut dia mengerti sebabnya.

Dia sudah mengenal kekebalan nenek itu yang dahulu pernah membuat dia repot dan bingung juga, maka diapun lalu cepat berkata.

"Sin Liong, kau hantam kedua telapak kakinya!"

Mendengar ini, mengertilah Sin Liong bahwa nenek itu memiliki kelemahan pada telapak kakinya.

Dan memang benarlah demikian.

Di dalam cerita Dewi Maut, pendekar wanita Yap In Hong pernah bertanding mati-matian dengan nenek ini dan seandainya dia tidak dapat menemukan rahasia kelemahan nenek ini, yaitu pada kedua kakinya, belum tentu dia dapat keluar sebagai pemenang.

Kini dia membuka rahasia kelemahan itu kepada Sin Liong.

Mendengar ini, girang hati Sin Liong.

Tadi dia sudah kaget sekali menyaksikan kehebatan ilmu kekebalan nenek ini dan sungguhpun hal itu tidak membuat dia merasa gentar, namun setidaknya dia menjadi bingung karena tidak tahu bagaimana dia akan dapat mengalahkan orang yang tubuhnya kebal seperti itu.

Kini, mendengar petunjuk dari Yap In Hong, dia girang sekali dan cepat dia menghantamkan kedua tangannya ke arah kedua kaki nenek itu dengan pengerahan tenaga sin-kangnya.

Akan tetapi, betapa terkejutnya hati Yap In Hong dan juga Sin Liong sendiri ketika nenek itu hanya mengelakkan sebelah kaki saja, dan sambil terkekeh-kekeh dia menyambut hantaman Sin Liong dengan kakinya!

Justeru dengan telapak kakinya yang dianggap tempat lemah itu.

"Dukkk!"

Kembali tubuh nenek itu terlempar ke belakang, akan tetapi Sin Liong terkejut sekali karena tangannya bertemu dengan benda yang amat keras, yang agaknya tersembunyi di dalam sepatu yang tebal itu.

Kiranya, nenek itu telah melindungi bagian tubuhnya yang lemah itu, yaitu dua telapak kakinya, dengan logam, mungkin baja murni yang amat kuat dan tebal dan melindungi kedua telapak kaki itu dengan disembunyikan di dalam sepatu.

Pantas saja sepatu nenek itu amat tebal!

"Heh-heh-heh, Yap In Hong, kau kira masih akan dapat mengalahkan aku dengan memukul telapak kakiku?

Heh-heh!"

Nenek itu tertawa girang sekali dan dia sudah menerjang lagi ke arah Sin Liong dengan lebih dabsyat!

Sin Liong menjadi marah.

Dia menyambut terjangan nenek itu dengan kedua tangannya, tangan kirinya menangkis tongkat dan terus menangkap tongkat itu, tangan kanan menangkis pukulan tangan kiri lawan dan terus dia mengerahkan Thi-khi-i-beng sehingga tongkat dan tangan nenek itu tersedot dan melekat.

"Heh-heh, siapa takut Thi-khi-i-beng?"

Nenek itu berseru sambil menggerakkan tubuhnya meliuk seperti ular dan tiba-tiba tongkat dan tangannya dapat terlepas dari sedotan karena nenek itu menarik kembali sin-kangnya, dan secepat kilat nenek itu sudah menggerakkan tongkatnya dari jarak yang sedemikian dekatnya untuk menotok jalan darah maut di leher Sin Liong, di bawah telinga kiri!

"Tok!

Prakk!"

Nenek itu terkejut bukan main.

Totokannya tadi tepat mengenai sasaran.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 11

Baca Juga: Istana Pulau Es 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert