Eps 14 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.
Lalu dia bertepuk tangan, memerintahkan pelayan yang muncul untuk memanggil para pembantunya.
Muncullah Hai-liong-ong Phang Tek dan dua orang Mongol yang masih berada di situ.
Tiga orang itu memandang kepada tubuh Sun Eng yang rebah menelungkup dalam keadaan pingsan dan kedua telapak kakinya yang tadinya putih kemerahan itu kini hitam melepuh, lalu mereka kembali memandang kepada sang pangeran.
"Celaka...!"
Ceng Han Houw mengeluh.
"Perempuan rendah itu tidak mau mengaku, akan tetapi dia membayangkan bahwa surat itu hendak disampaikan kepada Kaisar!"
"Ahhh...!"
Tiga orang inipun menjadi pucat wajahnya dan saling pandang dengan bingung.
"Saat ini tentu belum sampai ke tangan Kaisar, tidak mungkin malam hari ada yang dapat menyampaikan surat itu kepada Kaisar. Akan tetapi kalau sampai besok... ah, kita harus tahu di mana disembunyikan surat itu, atau kepada siapa surat itu diserahkan. Dia keras kepala, tidak mau mengaku...!"
Han Houw menuding ke arah kedua kaki wanita itu.
"Maka, kalian kupanggil untuk merundingkan urusan ini. Bagaimana baiknya?"
"Satu-satunya jalan, dia harus dipaksa untuk mengaku agar kita dapat bergerak malam ini juga dan mencegah surat itu terjatuh ke tangan Kaisar!"
Kata orang Mongol yang lebih muda, yang berusia empat puluh tahun dan bermata tajam namun mengandung kelicikan dan juga wajahnya menyeramkan karena penuh dengan brewok yang hitam dan lebat sekali, kasar seperti kawat-kawat baja.
Ada sesuatu pada sinar matanya yang membuat Hai-liong-ong sendiri bergidik.
Orang ini kejam bukan main, pikir orang pertama dari Lam-hai Sam-lo itu, sungguhpun dia sendiri bukanlah orang yang baik atau tidak kejam.
"Dia keras kepala dan sampai pingsan dia sama sekali tidak mau mengaku,"
Kata Han Houw dengan sikap kehabisan akal.
"Paduka serahkan kepada hamba, dan hamba akan memaksa dia membuka mulut!"
Kata orang Mongol itu.
"Baiklah. Memang itu jalan yang terutama sekali. Kalau engkau bisa menundukkannya dan memaksanya mengaku, itu baik sekali. Kalau tidak, siksa dia sampai mampus!"
Kata sang pangeran penuh geram.
"Lebih baik jangan sampai dia mati dulu, mungkin dia masih berguna untuk kita, pangeran. Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kalau paduka menahan kemarahan dan bersikap teliti,"
Hai-liong-ong memperhatikan.
"Pendapat itu benar, pangeran,"
Sambung orang Mongol yang lebih tua.
"Wanita itu adalah satu-satunya orang yang dapat memungkinkan kita memperoleh kembali surat itu, maka tidak semestinya kalau cepat-cepat dibunuh. Boleh disiksa dan dipaksa mengaku, akan tetapi jangan sampai mati."
Ceng Han Houw mengangguk-angguk.
"Memang aku terburu nafsu mengingat betapa dia telah mempermainkan aku, menipuku, bahkan mengkhianatiku dan membuat aku terancam bahaya begini hebat. Kaubawalah dia dan usahakan sekuatmu agar dia mengaku!"
Katanya kepada orang Mongol brewok itu.
"Harap paduka jangan khawatir, hamba tahu bagaimana harus memperlakukan wanita bandel!"
Orang Mongol itu tersenyum lebar, lalu menghampiri pembaringan dan memondong tubuh yang pingsan itu.
Sinar matanya berkilat ketika dia mencium bau sedap dari leher Sun Eng dan melihat tonjolan dada yang padat di balik baju dan yang nampak membusung karena kedua lengan wanita itu ditelikung ke belakang punggung.
Lalu dia melangkah dari dalam kamar itu sambil tersenyum dingin penuh kekejaman.
Han Houw kini berunding dengan orang Mongol tua dan Hai-liong-ong Phang Tek.
"Sebaliknya kalau Gaulana tidak berhasil memaksa wanita itu mengaku, paduka malain ini juga, atau selambat-lambatnya besok pagi-pagi benar, sebelum surat itu terjatuh ke tangan Kaisar, paduka meninggalkan kota raja dan mengungsi ke utara sambil melihat perkembangannya kelak. Terlalu berbahaya kalau paduka berada di sini. Hamba akan mengawal paduka."
Hai-liong-ong Phang Tek menggeleng kepala.
"Hamba tidak setuju dengan usul itu, Pangeran. Andaikata benar surat itu ke tangan Kaisar, paduka tidak perlu gentar atau tergesa-gesa pergi, karena kepergian yang tergesa-gesa tanpa pamit itu bahkan akan menambah kecurigaan, seolah-olah paduka sudah mengaku salah. Hamba kira, Sri Baginda Kaisar tidak akan begitu mudah percaya laporan seorang wanita rendahan atau orang yang diberinya surat itu. Tentu Sri Baginda Kaisar akan lebih mempercayai paduka dan andaikata pula Kaisar menaruh curiga, tentu beliau akan bertanya dulu kepada paduka dan tidak akan melakukan tindakan ceroboh, mengingat bahwa paduka adalah satidara tiri!"
Han Houw mengangguk-angguk, dapat merasakan kebenaran pendapat ini.
"Akan tetapi, bagaimana kalau beliau memanggilku dan memeriksaku, bertanya tentang surat dari ayahanda Sabutai itu?"
Akhirnya dia bimbang lagi dan suaranya membayangkan kegelisahan.
"Harap paduka tidak khawatir. Banyak sekali alasan yang dapat paduka pergunakan. Misalnya, menyangkal bahwa surat itu adalah surat aseli dari ayahanda paduka Raja Sabutai. Siapa yang dapat memastikan bahwa surat itu aseli? Paduka dapat mengatakan bahwa paduka mempunyai banyak musuh di dunia kang-ouw dan mungkin surat itu adalah surat palsu yang sengaja dibuat oleh musuh paduka untuk mengadu domba."
"Ah, bagus sekali! Akal itu dapat dipakai, dan memang baik sekali! Engkau sungguh bijaksana, Phang-enghiong!"
Sebutan itu menjadi bersifat menghormat dan wajah orang pertama dari Lam-hai Sam-lo itu berseri.
"Bukan hanya itu saja, pangeran. Andaikata Kaisar menaruh curiga, masih banyak waktu bagi paduka untuk bertindak waspada dan karena banyak teman-teman kang-ouw yang membantu paduka, maka apa sukarnya bagi paduka untuk menyembunyikan diri di sekitar sini tanpa harus melarikan diri ke utara? Dengan demikian baik atau buruknya akibat dari perbuatan selir paduka yang berkhianat itu, tetap saja gerakan paduka akan dapat dilanjutkan dengan baik!"
"Bagus! Wah, engkau akan kuangkat menjadi penasihat negara kalau gerakanku berhasil!"
Teriak sang pangeran dengan girang.
Mereka lalu berunding terus dengan asyik sambil makan minum karena kini sang pangeran tidak segelisah tadi setelah menerima petunjuk-petunjuk dan nasihat-nasihat dari Hai-liong-ong Si Raja Naga Laut itu.
Sementara itu, di dalam kamar lain, juga di dalam istana pangeran itu akan tetapi jauh di belakang, terjadi peristiwa lain yang mengerikan.
Dengan berbagai cara, dengan bujukan dan pura-pura mengajak Sun Eng bersekutu, sampai kepada ancaman-ancaman yang paling menakutkan, orang Mongol yang bernama Gaulanu itu berusaha untuk membuat agar Sun Eng mau mengaku di mana surat itu disembunyikan atau kepada siapa diserahkannya.
Namun semua bujukan itu tidak dijawab oleh Sun Eng yang sudah sadar.
"Nona, engkau adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik,"
Demikian Gaulanu mencoba kembali dengan lemah lembut, dengan suaranya yang agak kaku berlogat asing.
"dan percayalah, aku, Gaulanu bukan orang yang tidak dapat mengagumi wanita muda dan cantik. Aku kasihan kepadamu, nona. Aku diperintahkan oleh pangeran, untuk menyiksa, bahkan membunuhmu kalau engkau tidak mau mengaku. Kenapa engkau berkeras kepala, nona? Mengakulah dan aku bersumpah untuk menyelamatkanmu."
"Aku tidak tahu...!"
Sun Eng berkata singkat.
"Nona, kau tahu, kalau engkau menurut, aku bahkan akan mohon kepada pangeran agar engkau seka menjadi selirku. Kubawa engkau ke utara dan engkau akan hidup bahagia... hemmm, aku suka sekali kepadamu, nona."
"Tutup mulutmu dan kalau mau bunuh, lakukanlah!"
Sun Eng menantang marah.
Habislah kesabaran Gaulanu dan dia menyeringai, wajahnya yang penuh brewok itu nampak menyeramkan sekali.
"Perempuan tak tahu diri! Tahukah engkau, siksaan apa yang paling hebat bagi seorang wanita? Engkau pernah diperkosa? Ya? Pernah? Nah, aku akan memperkosamu, mempermainkanmu sesuka hatiku kalau engkau tidak mau mengaku!"
Sun Eng memejamkan mata.
Dia tahu apa artinya itu.
Dan dia memang sudah memperhitungkan kemungkinan itu.
Tidak, dia akan menahan segala siksaan, juga perkosaan.
Bukankah dia sudah membiarkan dirinya diperkosa berkali-kali oleh pangeran itu?
Dia sudah kepalang berkorban, maka biarlah dia akan diapakan juga, akhirnya toh akan mati!
Mati demi Lie Seng!
"Aku tak perduli!"
Bentaknya. Wajah brewokan itu menyeringai.
"Ha, kau kira hanya diperkosa satu kali saja? Hemm, kau tidak tahu laki-laki apa Gaulanu ini. Aku akan memperkosamu sampai engkau tidak kuat bertahan lagi! Dan kalau aku kewalahan, akan kupanggilkan pengawal-pengawal yang paling kuat untuk meggantikan aku, bergilir sampai engkau mati, ya, tidak akan berhenti sampai engkau tidak kuat!"
Akan tetapi Sun Eng sudah nekat, sudah menganggap dirinya mati dan dia memejamkan matanya tanpa mau menjawab lagi.
"Brettttt...!"
Sun Eng hanya memejamkan mata lebih keras lagi ketika merasa betapa bajunya dirobek-robek, kemudian celananya juga.
Tubuhnya hanya menggeliat sedikit ketika dia merasa betapa tangan dan muka brewok itu menjelajahi tubuhnya dengan belaian yang amat kasar.
Selanjutnya, dengan seluruh kekuatan yang ada, Sun Eng mematikan perasaannya dan dia rebah terlentang dengan mata terpejam dan lemas seperti telah menjadi mayat!
Dia tidak merasa apa-apa lagi.
Entah berapa lamanya orang Mongol kasar itu mempermainkan tubuhnya.
Dia tidak tahu, dia tidak perduli lagi, yang dipermainkan seolah-olah bukan tubuhnya lagi, perasaannya sudah mati dan dia matikan pada saat itu.
Dia bahkan seperti dalam keadaan terlupa apa yang sudah terjadi atas dirinya, sampai tiba-tiba pipinya ditampar keras, membuatnya sadar dan pipinya terasa panas.
"Plakkk!"
Tamparan ini disambung sumpah serapah dari mulut Gaulanu.
"Phuh, perempuan hina, perempuan rendah, mayat hidup! Lebih baik bercinta dengan mayat daripada dengan perempuan macammu!"
Dia melompat turun dari pembaringan, mengenakan pakaian lalu meninggalkan kamar itu sambil berkata.
"Lihat saja sampai di mana engkau dapat bertahan! Biarpun engkau seperti mayat, akan tetapi mayat yang cantik dan tentu banyak di antara mereka yang suka, ha-ha!"
Gaulanu keluar dari dalam kamar akan tetapi tidak lama terdengar langkah orang.
Sun Eng tidak mau menengok melainkan memejamkan mata dan mematikan rasa.
Dia memang sudah tahu apa yang akan terjadi dan benar saja.
Ada tangan-tangan dan muka seperti serigala kelaparan menggerayanginya dan melakukan hal-hal yang sama sekali tidak dirasakannya lagi.
Bahkan dia tidak melihat siapa orangnya.
Hal ini berulang-ulang terus.
Tubuhnya sakit-sakit, lelah bukan main, lemas dan akhirnya dia tidak ingat apa-apa lagi!
Ketika air yang disiramkan ke kepalanya membuat Sun Eng siuman, dia mendengar suara Gaulanu memaki-maki.
"Bedebah! Iblis betina! Benar-benar tidak mau mengaku. Biarkan dia begitu dan ikat pula kakinya, hanya lepaskan ikatan kakinya kalau masih ada pengawal yang mau... ha-ha-ha, perempuan seperti dia tidak akan mati kalau hanya ditiduri! Tapi jaga, jangan sampai dia terlepas, dan... awas pula, jangan sampai dia mati. Pangeran menghendaki dia hidup!"
Gaulanu meninggalkan kamar itu dan kini Sun Eng menjadi permainan tangan-tangan jahil dan cabul, akan tetapi kembali dia sudah terlelap ke dalam keadaan tidak sadar.
Malam makin larut dan suasana menjadi sunyi sekali.
Kesunyian yang mengerikan kalau orang melihat keadaan dalam kamar di mana Sun Eng seperti seekor domba yang direjang oleh banyak serigala buas!
Bahkan lebih buas daripada serigala, karena binatang buas apapun juga di dunia ini membunuh mangsanya untuk dimakan, karena kebutuhan perut dan kebutuhan hidup, juga membunuh tanpa ada rasa benci.
Sebaliknya, manusia dapat melakukan perbuatan yang lebih kejam daripada pembunuhan.
Tengah malam telah lewat.
Di dalam kamar tahanan itu Sun Eng masih terlentang di atas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat.
Agaknya kini sudah tidak ada lagi pengawal yang bergairah untuk memperkosanya.
Mungkin juga belasan orang pengawal yang bertugas jaga itu sudah mendapatkan giliran semua.
Kini mereka makan minum dan menggunakan perut dan dada Sun Eng sebagai tempat menaruh mangkok dan cawan arak!
Kadang-kadang mereka memaksa mulut Sun Eng untuk dijejali daging atau dituangi arak, sampai Sun Eng terbatuk-batuk.
Muka wanita yang cantik itu sudah matang biru bekas tamparan, bekas gigitan dan belaian-belaian kasar.
Para pengawal makan minum sambil tertawa-tawa dan bersendau-gurau.
Tentu saja Sun Eng yang menjadi sumber dan bahan gurauan mereka yang kotor.
Sun Eng tidak mendengar semua itu, dia dalam keadaan hampir tidak sadar.
Yang terasa olehnya hanya rasa nyeri yang luar biasa, yang datang bertalu-talu bersama detaknya jantung, bersama denyutnya darah.
Tiap denyut darah mendatangkan rasa nyeri yang menusuk-nusuk.
Akan tetapi dia tidak mau mengeluh, bahkan makin dicurahkan perhatiannya kepada denyut darah yang bertalu-talu dan membawa perasaan nyeri yang sukar dilukiskan itu, rasa nyeri itu secara anehpun tidak terasa lagi olehnya.
Yang ada hanya rasa nyaman!
Hampir dia tidak dapat percaya akan hal ini kalau tidak dirasakannya sendiri.
Itulah peraaaan tubuh yang mati?
Nyaman dan tidak ada rasa apa-apa, seperti nikmatnya keheningan?
Pangeran Ceng Han Houw yang menerima laporan dari Gaulanu bahwa Sun Eng tetap tidak mau mengaku biarpun telah diperkosa secara bergantian, penderitaan yang tiada taranya bagi seorang wanita.
"Dia itu iblis, bukan manusia, pangeran! Kalau manusia, tentu dia sudah menyerah dan mengaku! Kalau tidak ingat akan pesan paduka agar jangan dia sampai mati, tentu akan hamba bunuh dia. Dia itu iblis, sungguh!"
Han Houw merasa heran mengapa ada perasaan marah dan tidak sedap dalam hatinya mendengar betapa Sun Eng diperkosa bergantian dan dalam keadaan terhina dan setengah mati.
Akan tetapi juga ada perasaan kagum terhadap wanita itu.
Seorang wanita yang selain cantik manis, pandai sekali dalam seni bermain cinta, seorang wanita yang penuh keberanian, cerdik bukan main, dan masih ditambah lagi berhati baja dan amat setia, entah kepada siapa kesetiaannya itu ditujukan.
Sayang, sungguh sayang sekali, bukan kepada dia ditujukannya kesetiaan dan cintanya itu.
Mendapatkan cinta kasih seorang wanita seperti itu sungguh beruntung sekali!
Dengan hati kesal dia menggerakkan tangan.
"Sudahlah, engkau harus mengepalai penjagaan malam ini agar jangan sampai dia lolos. Dan ini, kauminumkan kepadanya! Paksakan agar dia menghabiskan sebotol ini."
Gaulanu menerima botol kecil berisi cairan biru itu sambil tersenyum menyeringai.
"Dia akan mati seketika, pangeran? Mengapa tidak menggunakan ini saja?"
Dia mengacungkan tinjunya. Sepasang mata pangeran itu menyambar dan Gaulanu cepat membungkuk.
"Mohon maaf, mohon ampun... bukan maksud hamba main-main..."
"Aku tahu,"
Kata pangeran itu kesal.
"Engkau heran mengapa aku bersusah payah menggunakan racun untuk membunuhnya. Akan tetapi racun ini baru membunuhnya dalam waktu tiga hari, dan pukulanmu akan mematikan seketika. Mengerti sekarang?"
Gaulanu mengangguk-angguk lalu mengundurkan diri.
Dengan kesal Han Houw lalu menyuruh kedua orang pembantunya yang lain meninggalkannya, lalu memanggil semua selir yang lain dan diapun melupakan kekecewaan hatinya terhadap Sun Eng dengan membenamkan diri ke dalam peluk rayu para selirnya yang muda-muda dan cantik-cantik.
Tiga bayangan yang gerakannya gesit dan cepat laksana bayangan setan saja berkelebatan di sekitar istana Pangeran Ceng Han How.
Istana itu terjaga ketat oleh para pengawal, namun gerakan tiga sosok tubuh itu benar-benar hebat luar biasa, sukar diikuti oleh pandangan mata sehingga tiga sosok bayangan itu berhasil memasuki taman bunga, di samping istana tanpa diketahui seorangpun pengawal.
Hal ini tidaklah mengherankan karena tiga sosok bayangan itu adalah bayangan dari tiga orang pendekar sakti, Terutama sekali dua orang di antara mereka, pasangan pria dan wanita yang tampan dan cantik, adalah sepasang suami isteri pendekar yang untuk jaman itu sukar ditemui tandingannya.
Mereka itu adalah Lie Seng, Cia Bun Houw dan Yap In Hong!
Seperti kita ketahui, Lie Seng menjadi gelisah sekali ketika kekasihnya, atau isterinya yang belum dikawininya secara sah, Sun Eng, pergi meninggalkannya tanpa pamit, hanya meninggalkan surat yang amat menggelisahkannya karena kekasihnya itu hendak mendekati Pangeran Ceng Han Houw dan kalau perlu membunuhnya!
Lie Seng tahu betapa lihainya pangeran itu dan tahu pula bahwa kekasihnya itu sengaja hendak berkorban diri untuk menolong keluarga Cin-ling-pai dan hatinya menjadi semakin gelisah ketika dia mencari-cari kekasihnya itu tanpa hasil.
Dia mencari sampai ke kota raja, akan tetapi tidak mendengar di mana adanya Sun Eng.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa Sun Eng pergi bersama pangeran itu, dan dia sendiri telah lebih dulu ke kota raja sehingga ketika dia melakukan penyelidikan ke istana Pangeran Ceng Han Houw, pangeran itu tidak ada, demikian pula tidak ada didengarnya keterangan tentang kekasihnya.
Dalam keadaan bingung ini Lie Seng lalu kembali ke selatan dan dia mencari Cia Bun Houw dan Yap In Hong, dua orang guru dari Sun Eng untuk membantunya.
Juga untuk minta pertanggungan jawab mereka karena dia anggap bahwa mereka itulah yang menjadi sebab sehingga terjadinya semua ini!
Kalau mereka tidak mempengaruhi ibunya sehingga tidak menyetujui dia berjodoh dengan Sun Eng, Tentu sekarang Sun Eng telah menjadi isterinya dengan sah dan tidak akan terjadi Sun Eng melakukan perbuatan nekat seperti itu!
Akhirnya dia dapat menemukan suami isteri pendekar sakti ini, juga ibu kandungnya dan Yap Kun Liong, di Bun-cou.
Dia sudah menduga bahwa empat orang yang menjadi buronan itu tentu bersembunyi di Bun-cou, tempat di mana dulu Cia Bun Houw dan Yap In Hong bersembunyi, di mana mereka mengambil Sun Eng sebagai murid pula.
Ketika Lie Seng memperlihatkan surat peninggalan Sun Eng, semua pendekar itu merasa terkejut dan juga terharu.
Demikian besar cinta kasih Sun Eng kepada Lie Seng sehingga untuk mengangkat harga dirinya, Sun Eng kini melakukan perbuatan nekat yang amat berbahaya dan mempertaruhkan nyawanya untuk menolong keluarga Cin-ling-pai.
"Saya tahu bahwa dia melakukan ini karena merasa rendah diri, karena menjadi isteri saya tanpa persetujuan keluarga, juga tidak secara sah! Dan dia kini hendak mengorbankan dirinya demi keselamatan keluarga Cin-ling-pai! Paman Bun Houw, bagaimanakah kalau sudah begini? Apakah saya harus turun tangan sendiri di kota raja tanpa ada bantuan sedikitpun dari paman berdua bibi yang menjadi guru-guru dari Sun Eng, bahkan yang sedikit banyak ikut bertanggung jawab atas kejadian ini?"
Cia Bun Houw saling pandang dengan isterinya.
Mereka memang menyadari bahwa mereka berdua telah mencegah keponakan ini menikah dengan Sun Eng.
Akan tetapi hal itu mereka lakukan dengan penuh kesadaran bahwa Sun Eng memang tidak pantas menjadi isteri keponakan mereka itu.
Di dalam hati mereka kini tidak lagi membenci Sun Eng, bahkan merasa kasihan.
Maka, mendengar penuturan Lie Seng, mereka merasa tidak enak sekali.
"Lie Seng, biarlah aku menemanimu untuk pergi mencari Sun Eng di kota raja, dan kalau memang benar dia di sana dan terancam bahaya, kita berdua akan menyelamatkannya,"
Kata Bun Houw dengan tenang.
"Akupun akan ikut pergi,"
Kata In Hong, juga dengan tenang.
Nyonya yang usianya sudah tiga puluh lima tahun ini merasa tidak enak sekali.
Watak pendekarnya bangkit maka diapun merasa betapa dia ikut mendesak bekas muridnya itu terdorong rasa bencinya, dan kini, mendengar betapa bekas muridnya itu melakukan tindakan nekat demi menolong dia sekeluarga dengan taruhan nyawa, dia harus ikut pula bertindak dan tidak mungkin dia mendiamkannya saja.
Karena itulah maka dia serta merta, tanpa keraguan lagi, menyatakan keinginannya hendak ikut pergi.
Mendengar penurutan puteranya tentang gadis yang ditolaknya untuk menjadi mantunya itu, sejak tadi Cia Giok Keng, ibu Lie Seng, termenung dan tidak dapat berkata apapun.
Bermacam perasaan mengaduk hatinya.
Dia memang merasa terharu mendengar gadis itu dengan nekat melakukan usaha untuk menyelamatkan mereka berempat, seolah-olah memasuki gua harimau, dan dia merasa berterima kasih sekali.
Akan tetapi, di lain sudut hatinya, tetap terdapat perasaan tidak rela kalau puteranya itu berjodoh dengan wanita yang pernah melakukan penyelewengan seperti yang didengarnya dari adiknya dan adik iparnya.
Dia terlalu mencintai puteranya untuk membiarkan puteranya menikah dengan seorang wanita yang rendah budi dan hina!
Seperti itulah macamnya "cinta"
Yang berada dalam batin kita!
Kita menganggap bahwa perasaan semacam itu adalah cinta kasih yang murni, Cinta terhadap anak diwujudkan dengan keinginan melihat anak itu berbahagia SESUAI dengan keinginan kita!
Kita selalu hendak mengatur kehidupan anak kita menurut selera kita, menurut pendapat kita, menurut pandangan kita.
Kita merasa yakin bahwa anak kita akan berbahagia kalau dia itu menurut kehendak kita melakukan ini, tidak melakukan itu.
Semenjak anak kita masih kecil, kita ingin mengaturnya, membentuknya seperti kita membentuk boneka dari lilin atau lempung.
Tanpa kita sadari sendiri, kita telah menyiksa anak-anak kita sendiri dengan bentukan-bentukan itu.
Kita ingin melihat anak kita yang masih kecil itu bersikap sopan santun, cerdik, pintar, tahu aturan, pendiam dan sebagainya lagi, pendeknya kita ingin melihat anak kila menjadi "anak tauladan"
Seperti yang kita cita-citakan dan gambarkan.
Oleh karena itu, sejak dia masih kecil, kita tekan dan didik dia supaya cocok dengan bentuk gambaran kita.
Kita lupa, tidak sadar bahwa semua ini sama sekali bukanlah tindakan cinta kasih, sama sekali bukan terdorong oleh cinta kita kepada anak kita itu, melainkan terdorong oleh cinta kepada diri sendiri!
Kita ingin mempergunakan anak kita sendiri sebagai jembatan untuk menikmati kesenangan berupa kebanggaan!
Kitalah yang akan berbangga melihat anak kita begini dan begitu sesuai dengan kehendak kita!
Kita akan senang sekali!
Sama sekali kita tidak perduli apakah anak itupun senang bersikap yang kita gariskan itu.
Sudah tentu saja dia tidak senang!
Setiap orang anak ingin bebas, ingin bergembira-ria, ingin berloncatan, berteriak-teriak, bermain-main sesuka hatinya, bersama kawan-kawan sebaya.
Tidak ada seorangpun anak kecil yang normal akan merasa suka menjadi "anak tauladan"
Seperti yang digariskan orang tua, duduk diam seperti patung di depan orang-orang tua yang sedang mengobrol, duduk dengan sopan, bicara lemah lembut, tertawapun "diatur", bernyanyi kalau disuruh nyanyi seperti yang telah diajarkan oleh orang tua di rumah sehingga orang-orang tua lain akan merasa kagum!
Tidak mungkin seorang anak suka bersikap seperti itu.
Dia ingin bebas gembira.
Namun apa daya, orang tua "yang amat mencintanya"
Itu mengajarkan lain, menghendaki lain.
Bukan hanya terhadap anak kita yang masih kecil kita ingin mengatur, ingin membentuk, ingin agar anak itu hidup sesuai dengan kehendak kita, menurutkan garis yang kita buat untuk anak itu.
Bahkan setelah anak itu dewasa sekalipun, selama kita masih dapat menguasainya, kita akan selalu membuat anak kita sebagai jembatan untuk mendapatkan kebanggaan dan kesenangan.
Semua ini mungkin tidak kita rasakan lagi, tidak kita insyafi lagi karena kita tidak sadar akan kenyataan hidup ini.
Kita akan menganggap, bahwa semua itu kita lakukan demi cinta kita kepada anak kita itu!
Inilah alasan yang paling kuat, merupakan alasan tradisional yang dipakai oleh kita orang-orang tua yang selalu merasa benar dalam hal apapun juga!
Bahkan kalau anak kita sudah dewasa, dalam menentukan jodohpun kita selalu mau ikut campur, berdiri terdepan untuk melakukan pemilihan, untuk menerima atau menolak pilihan anak kita berdasarkan penilaian kita, pendapat kita, selera kita sendiri.
Selera dan pandangan anak kita, sejak dia kecil, tidak kita perhatikan!
Kita selalu menganggap bahwa selera dan keinginan anak kita itu salah belaka.
Semua sikap hidup ini harus kita amati, harus kita pandang sejujurnya, harus kita sadari.
Kita sudah tidak merasa keliru lagi karena kita sendiripun diperlakukan demikian oleh orang tua kita semenjak kita masih kecil.
Setiap orang tua akan senang sekali kalau anaknya menjadi seorang "anak penurut"
Dan setiap orang tua akan membenci anak yang "tidak penurut", maka kitapun melanjutkan saja tradisi ini, sikap yang sudah mendarah daging selama ribuan tahun ini.
Maka, perlu kita mengenal diri sendiri, meneliti diri sendiri.
SESUNGGUHNYAKAH KITA MENCINTA ANAK KITA?
Ataukah yang kita namakan cinta itu sesungguhnya bukan lain adalah cinta terhadap diri sendiri, Atau keinginan kita untuk memperoleh kesenangan, kepuasan, kebanggaan melalui anak-anak kita itu?
Sehingga kalau anak kita menurut dan menyenangkan hati kita, kita bilang cinta dan memuji-mujinya, sebaliknya kalau dia tidak menurut kita dan menyusahkan hati kita maka kita lalu membencinya, kita mengutuk dan memakinya sebagai anak tidak berbakti, anak durhaka, dan sebagainya lagi?
Mungkinkah ada cinta kalau kita masih mementingkan diri sendiri, mencari kesenangan untuk diri sendiri?
Nah, marilah para orang tua, kita mawas diri, kita membuka lebar mata kita, memandang yang palsu sebagai yang palsu tanpa memperdulikan apa kata tradisi dan apa kata pendapat umum!
Karena urusan ini adalah urusan kita sendiri, kita dengan anak kita, tidak ada hubungannya sama sekali dengan pandangan si A, si B, atau si Umum sekalipun!
Dan kalau kita benar-benar mencinta anak kita, kita akan berhenti memperlakukan dia sebagai jembatan untuk mencari kepuasan bagi diri kita.
Dan cinta kasih yang demikian ini akan menciptakan tindakan-tindakannya sendiri, dan cinta kasih sudah merupakan pendidikan yang terutama.
Semenjak dahulu, ketika Lie Seng datang bersama Sun Eng lalu timbul keributan, diam-diam Yap Kun Liong sudah merasa kasihan kepada Sun Eng dan diam-diam dia melihat kesalahan yang tidak disadari dari isterinya, dari Cia Bun Houw dan Yap In Hong, sikap mereka yang tidak semestinya terhadap Lie Seng dan Sun Eng.
Oleh karena itu, melihat kesediaan suami isteri pendekar itu untuk pergi ke kota raja dan menolong Sun Eng dari ancaman bahaya maut, dia segera berkata.
"Memang tepat sekali kalau kalian berdua menemani Seng-ji (anak Seng) pergi ke kota raja menolong murid kalian itu, karena kota raja merupakan tempat berbahaya sekali dan untuk dapat menolong murid kalian dari tangan Pangeran Ceng Han How, kiranya hanya kalian berdua yang akan sanggup. Biarlah kami berdua menjaga dan melindungi anak kalian Kong Liang di sini."
Demikianlah, Cia Bun Houw dan Yap In Hong lalu pergi bersama Lie Seng, melakukan perjalanan secepatnya ke kota raja.
Akan tetapi ternyata mereka datang terlambat karena tepat pada malam hari mereka menyusup ke istana Pangeran Ceng Han Houw, Sun Eng telah mengalami penyiksaan yang luar biasa hebatnya.
Baru lewat tengah malam tiga orang pendekar ini memperoleh kesempatan untuk memasuki istana itu.
In Hong yang memiliki gerakan seperti seekor burung rajawali itu menerkam seorang peronda di dekat taman, menotoknya sehingga peronda itu sama sekaii tidak mampu bergerak maupun bersuara.
"Katakan di mana adanya wanita bernama Sun Eng!"
Lie Seng berbisik sambil mengancam penjaga itu dengan cengkeraman pada tengkuknya.
Jari-jari tangan Lie Seng dibuat keras seperti baja sehingga penjaga itu ketakutan setengah mati.
Ketika totokan pada lehernya dibuka dan dia dapat bersuara, dia menjawab dengan tubuh menggigil dan suara gemetar.
"Di... di... kamar tahanan... di belakang..."
"Hayo antar kami!"
Lie Seng berbisik lagi, jantungnya berdebar tegang.
Dia tadi bertanya secara sembarangan saja karena tidak tahu harus mencari Sun Eng di mana.
Dia telah mencari keterangan sebelum menyusup ke dalam istana itu, dan dari keterangan yang diperolehnya dia mendengar bahwa Pangeran Ceng Han Houw mempunyai seorang selir baru, Akan tetapi sumber keterangan itu tidak menyebut nama.
Maka, setelah mengajukan pertanyaan secara untung-untungan itu dan mendengar bahwa Sun Eng telah berada di kamar tahanan, dia terkejut dan juga girang.
Akhirnya dia memperoleh berita tentang Sun Eng, sungguhpun berita itu amat menggelisahkan hatinya.
Ketika akhirnya mereka bertiga tiba di tempat tahanan, mengintai dari balik jendela, hampir saja Lie Seng menjerit.
Dilihatnya tubuh Sun Eng telanjang bulat terlentang seperti telah mati, dan seorang Mongol brewok bersama para pengawal yang jumlahnya sebelas orang sedang duduk makan minum di situ dan bersendau-gurau.
Sendau-gurau mereka itu kotor sekali dan semua ditujukan kepada tubuh Sun Eng yang dijadikan semacam meja tempat menaruh mangkok dan cawan.
"Ngekk!"
Sekali menggerakkan tangannya, tawanan itu telah dibunuh Lie Seng!
Penjaga yang menjadi tawanan itu tewas tanpa sempat mengeluarkan suara dan kini, bagaikan seekor singa kelaparan, Lie Seng sudah menerjang masuk melalui pintu dengan kemarahan yang sudah tak dapat ditahannya lagi.
Cia Bun Houw dan Yap In Hong terkejut melihat kecerobohan Lie Seng, akan tetapi mereka berdua dapat mengerti betapa hancur hati Lie Seng menyaksikan kekasihnya diperlakukan seperti itu.
Mereka sendiripun merasa kasihan sekali melihat bekas murid itu, dan merekapun ikut menyerbu, bahkan Bun Houw sudah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar emas karena itu adalah Hong-cu-kiam, pedangnya yang tipis dan biasanya digulung seperti sabuk pinggang.
Lie Seng mengamuk dahsyat.
Begitu masuk, sekali bergerak dia telah membikin pecah kepala dua orang pengawal yang hanya sempat terbelalak saja kemudian roboh dengan kepala pecah terkena hantaman kedua tangan Lie Seng.
Yap In Hong menendang roboh dua orang pengawal dan cepat sekali Bun Houw menerjang orang Mongol yang kelihatan tangguh itu.
Orang Mongol itu, Gaulanu, sudah meloncat berdiri dan menghunus goloknya, memutar golok dengan garang.
Akan tetapi tiba-tiba ada sinar emas menyambar.
Dia cepat menangkis dengan goloknya sambil menggunakan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut penyerangnya.
Bun Houw mengerahkan tenaganya ketika melihat golok itu menangkis pedangnya.
Terdengar bunyi nyaring dan golok itu patah.
Ketika tangan yang mencengkeram perutnya itu tiba, sinar emas menyambar dan lengan itu buntung sebatas siku!
Gaulanu mengeluarkan teriakan panjang akan tetapi Lie Seng sudah menubruknya dan menghantam dada orang ini dengan penuh kebencian karena tadi orang inilah yang mengeluarkan kata-kata menghina sekali kepada Sun Eng.
Dia tahu atau dapat menduga bahwa agaknya orang ini yang memimpin para pengawal menghina Sun Eng, maka pukulannya itu dilakukan dengan sekuat tenaga, menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya.
"Desss!"
Tubuh Gaulanu terjengkang, dari mulutnya menyembur darah segar dan diapun terbanting dan tewas dengan tulang-tulang iga patah-patah.
"Eng-moi...!"
Lie Seng sudah menubruk kekasihnya, melihat wajah yang matang biru itu, tubuh yang lunglai dan kain tilam yang berceceran darah.
Dia lalu cepat menggulung tilam itu menutupi tubuh telanjang dari leher ke kaki, menggoyang-goyang pundak kekasihnya, memanggil-manggil namanya.
Akan tetapi Sun Eng baru saja dicekoki cairan biru beracun dan dia masih pingsan.
Sementara itu, beberapa orang pengawal sudah berteriak-teriak, akan tetapi segera mereka dirobohkan oleh Yap In Hong dan Cia Bun Houw.
Dalam waktu singkat, semua pengawal yang berada di situ, mereka yang tadi mempermainkan tubuh Sun Eng dan memperkosanya secara bergantian dan kasar tanpa mengenal kasihan sedikitpun juga, kini telah roboh malang melintang menjadi mayat!
"Lie Seng, cepat kita pergi dari sini!
Dukung dia dan lari, kami lindungi!"
Kata Cia Bun Houw kepada keponakannya itu.
Lie Seng lalu memondong tubuh Sun Eng yang terbungkus kain tilam, lalu meloncatlah pemuda itu keluar kamar.
Benar saja, teriakan-terlakan para pengawal sebelum tewas tadi telah mendatangkan pengawal-pengawal lain, akan tetapi sekali ada sinar emas berkelebat, tiga orang terdepan roboh dan yang lain menjadi terkejut sekali.
Apalagi karena mereka hanya melihat bayangan tiga orang yang tak dapat mereka lihat dengan jelas, karena selain tiga orang itu memadamkan semua lampu yang ada dengan pukulan-pukulan jarak jauh, juga gerakan mereka seperti terbang cepatnya, sukar diikuti pandangan mata.
Dengan beberapa lompatan saja, tiga orang yang melarikan tawanan itu sudah menghilang ke dalam kegelapan malam.
"Kejar...!"
"Pukul tanda bahaya!"
Sebagian daripada mereka melakukan pengejaran, dan ada pula yang memukul tanda bahaya, dan keadaan di dalam istana itu menjadi kacau dan hiruk-pikuk.
Pangeran Ceng Han Houw yang sedang tidur pulas kelelahan setelah menghibur diri dan hatinya yang kecewa itu dengan para selirnya, terbangun dan cepat dia berpakaian lalu berlari keluar.
Dia bertemu dengan Hai-liong-ong dan orang Mongol tua.
"Celaka, ada yang melarikan tawanan dan semua penjaganya dibunuh!"
Kata Hai-liong-ong yang segera ikut melakukan pengejaran, menyusul para pengawal yang sudah lebih dulu mengejar.
Akan tetapi dia hanya dapat menyusul para pengawal dan bayangan tiga orang itu sudah lenyap dan tidak lagi diketahui ke arah mana mereka itu lari.
Tentu saja Pangeran Ceng Han Houw menjadi marah sekali dan dia memerintahkan para pengawalnya untuk terus mencari ke seluruh kota raja.
Dia merasa dipermainkan sungguh.
Dia, yang menganggap diri sendiri paling pandai, paling lihai, kini didatangi tiga orang yang telah membunuhi para pengawalnya dan melarikan tawanan tanpa dia dapat mencegahnya, bahkan mengetahui siapa merekapun tidak karena tidak ada seorangpun di antara para pengawalnya yang berhasil melihat tiga orang yang mereka katakan bergerak seperti setan itu!
Tentu saja lenyapnya Sun Eng itu membuat dia khawatir sekali karena surat dari Raja Sabutai itu belum dapat diketahui berada di mana.
Akan tetapi hatinya agak terhibur kalau dia teringat bahwa wanita itu telah dicekoki racun dan dalam waktu tiga hari akan mati.
Sementara itu, dengan menggunakan ilmu kepandaian mereka, tidak berapa sukar bagi tiga orang pendekar sakti itu untuk lolos dari kota raja membawa Sun Eng yang masih belum sadar juga.
Akhirnya, menjelang pagi, mereka berhenti di dalam sebuah kuil tua di luar kota, di tepi sebuah hutan di sebelah selatan kota raja.
Setelah memeriksa keadaan Sun Eng, diam-diam Yap In Hong mengutuk di dalam hatinya.
Sebagai seorang wanita, dia lebih dapat mengetahui apa yang telah dialami oleh Sun Eng, Dia dapat menduga dan membayangkannya dan dia bergidik membayangkan kekejaman yang melampaui batas itu.
Lie Seng terlalu berduka untuk dapat mengerti benar apa yang telah terjadi pada diri kekasihnya, sungguhpun dia dapat menduga bahwa Sun Eng tentu telah mengalami penyiksaan luar biasa dan bukan tidak mungkin mengalami perkosaan.
Yap In Hong membersihkan tubuh Sun Eng, lalu pergi mencari pakaian pada penduduk dusun di sebelah selatan hutan, kemudian mereka bertiga lalu mempergunakan tenaga sakti mereka untuk mengobati luka-luka dalam tubuh Sun Eng dan akhirnya wanita itu mengeluh siuman.
Begitu siuman, Sun Eng mengeluarkan rintihan seperti orang menangis.
Semua orang menjadi terharu melihat dan mendengar ini, bahkan Lie Seng lalu merangkulnya dan ikut menangis.
"Eng-moi... ah, Eng-moi... mengapa kau lakukan semua ini...?"
Dia meratap di dekat telinga kekasihnya.
Mendengar suara ini, sepasang mata itu bergerak perlahan, lalu terbuka.
Sejenak mata itu kosong karena kesadarannya masih belum sepenuhnya, akan tetapi perlahan-lahan melirik ke sana-sini sampai akhirnya pandang mata itu berhenti pada wajah Lie Seng yang berada di atasnya.
Kemudian, seperti digerakkan oleh sesuatu, sepasang mata yang agak membengkak dan kebiruan bekas pukulan itu terbelalak, bibir itu bergerak-gerak, akan tetapi agaknya sukar mengeluarkan suara, kemudian sepasang mata itu menjadi basah dan butiran-butiran air mata berjatuhan keluar!
Sun Eng telah mengenali Lie Seng.
"Eng-moi...! Kau telah selamat...!"
Lie Seng berbisik penuh keharuan dan kasih sayang mendalam.
"Lie Seng koko... kau... kau..."
"Aku berada di sini, Eng-moi, dan kau dan aku tidak akan berpisah lagi!"
Kata pula Lie Seng dengan suara gemetar.
"Koko...!"
Kini Sun Eng yang teringat akan segala yang telah dialaminya, dan melihat bahwa dia belum mati dan bahkan bertemu dengan Lie Seng dalam keadaan seperti sekarang ini, menjerit dengan jantung rasanya seperti disayat-sayat!
Lie Seng merangkulnya, mendekapnya, menghiburnya, akan tetapi Sun Eng menangis terisak-isak.
"Sun Eng, sudahlah, kuatkan hatimu. Betapapun juga, semua itu telah berlalu dan sekarang engkau sudah aman bersama kami..."
Yap In Hong yang keras hati itupun tak dapat menahan runtuhnya air matanya dan dia memegang tangan bekas muridnya itu.
Teringat dia betapa sejak kecil Sun Eng ikut dengan dia dan betapa sudah sering dia tertawa gembira oleh kelincahan anak itu.
Sun Eng menahan isaknya, dan dengan muka basah dia menoleh ke arah subo nya, kemudian memandang wajah suhunya.
"Subo... suhu... mengapa subo dan suhu... mau pula... menyelamatkan aku...?"
Bun Houw menelan ludah sebelum menjawab karena dia melihat isterinya tidak mampu menjawab pertanyaan itu.
"Mengapa, Sun Eng?"
Dia mencoba tersenyum.
"Ingat, engkau adalah murid kami, bukan? Dan engkau adalah isteri Lie Seng keponakanku. Tentu saja kami datang menolongmu dari tangan orang-orang jahat itu."
"Suhu... subo... tidak benci kepadaku... dan menyetujui perjodohan antara aku dan koko Lie Seng...?"
"Sudahlah, Sun Eng, lupakan hal-hal yang telah lalu. Kami tahu sekarang betapa engkau seorang anak baik dan saling mencinta dengan Lie Seng. Tentu saja kami menyetujui..."
Kata Yap In Hong.
"Dan kami tidak membencinya, Sun Eng."
Sun Eng terisak, lalu menggunakan kedua tangannya menutupi mukanya.
"Akan tetapi... tiada gunanya... tiada gunanya..."
"Apa maksudmu, Eng-moi? Percayalah, ibu sendiri tidak akan menghalangi kita menikah! Aku tanggung..."
Akan tetapi Sun Eng menangis semakin mengguguk dan Yap In Hong memberi isyarat kepada Lie Seng untuk membiarkan dulu wanita itu, biar menangis untuk menuangkan semua perasaannya dan tidak boleh diajak bicara tentang perjodohan yang ternyata amat menyinggung perasaannya itu.
Memang benar sekali pendapat In Hong ini.
Setelah dia dibiarkan menangis mengguguk beberapa lamanya, akhirnya tangisnya mereda dan dia mulai merintih karena seluruh tubuhnya terasa nyeri-nyeri, terutama sekali kedua kakinya yang luka-luka bekas kebakar.
Yap In Hong sudah mulai memberi obat luka kebakar, dicampur minyak dan ditutupkan pada luka-luka itu lalu dibalut.
Obat itu amat manjur, karena rasa nyeri itu segera tertutup oleh rasa dingin yang melegakan hati.
"Subo, terima kasih..."
Kata Sun Eng lirih sambil memandang subonya yang dahulu dianggapnya seperti ibu sendiri.
In Hong tersenyum, teringat betapa dahulu di waktu masih kecilnya sering sekali Sun Eng mengucapkan kata-kata itu.
Ah, betapa buta manusia kalau sedang dipengaruhi oleh amarah dan kebencian.
Segala kebaikan orang yang sudah ribuan kali dilakukan akan lenyap begitu saja oleh satu perbuatan yang menyusahkan.
Kini, setelah tiada lagi benci dalam hati In Hong, baru nampak olehnya betapa sesungguhnya selama menjadi muridnya, Sun Eng amat baik kepadanya!
Memang demikian!
Mengapa kita begitu terbiasa sejak kecil untuk menyimpan segala hal yang terjadi di masa lalu?
Mengapa kita selalu mengingat-ingat perbuatan orang lain yang merugikan kita sehingga menimbulkan kebencian?
Mengapa kita tidak mau menghapus semua itu, semua ingatan tentang hal-hal yang terjadi di masa lalu, menguburnya dan tidak pernah membongkarnya lagi, melainkan menujukan seluruh pandang mata kita, seluruh hati dan pikiran kita, seluruh keadaan diri kita lahir batin kepada apa yang terjadi SAAT INI saja?
Mengapa kehidupan kita saat demi saat begitu tergantung kepada apa yang telah terjadi di masa lalu, yang mempengaruhi setiap gerak-gerik kita, setiap sikap kita terhadap orang lain?
Mengapa kita menilai setiap orang lain dari perbuatan-perbuatannya yang lalu?
Apakah keadaan manusia itu dapat ditentukan dari satu kali perbuatannya di masa lalu?
Mengapa ada benci di dalam hati kita?
Mengapa kita mengotori diri sendiri dengan segala macam kebencian, permusuhan, iri hati dan sebagainya itu?
Mengapa kita tidak mau mendobrak dan memberontak terhadap semua ikatan masa lalu itu dan hidup BARU saat demi saat?
Semua pertanyaan ini kiranya teramat penting untuk kita renungkan dan ajukan kepada diri sendiri!
Melihat betapa keadaan kekasihnya sudah agak normal kembali, Lie Seng lalu menyiapkan bubur yang tadi telah dimasak oleh In Hong, sesuap demi sesuap ke mulut kekasihnya.
Sun Eng menerimanya seperti anak kecil, dengan pandang mata tak lepas dari wajah kekasihnya, dengan mata yang masih berlinang air mata, akan tetapi dia tidak terisak lagi.
Setelah Sun Eng selesai makan, dan Lie Seng bersama paman dan bibinya juga sudah makan pagi, barulah Lie Seng berkata.
"Eng-moi, maukah engkau sekarang menceritakan segalanya kepadaku?"
Sun Eng mengangguk, lalu dengan suara tenang, karena memang hal ini sudah dipikirkan sejak tadi, dia bercerita secara singkat.
"Koko, sebelumnya kaumaafkanlah aku sebesar-besarnya bahwa aku telah membuatmu banyak pusing dan duka. Aku merasa sakit hati terhadap pangeran terkutuk itu setelah apa yang terjadi pada keluarga enci Mei Lan. Maka aku lalu menggunakan akal sehingga akhirnya aku berhasil menyelundup ke dalam istana Pangeran Ceng Han Houw sebagai... sebagai selirnya."
Dia berhenti dan menatap wajah Lie Seng, akan tetapi wajah itu biasa saja karena memang sudah diduga Lie Seng sedikit banyak tentang hal itu.
"Akhirnya aku berhasil mendapatkan rahasianya. Pangeran itu bercita-cita untuk menggulingkan kedudukan sri baginda kaisar dan merampas tahta kerajaan."
"Ahh...?"
Tiga orang itu berseru kaget dengan berbareng, tak mengira bahwa ke situ jalannya cerita yang akan mereka dengar.
Sun Eng lalu menceritakan tentang kedatangan Hai-liong-ong Phang Tek dan dua orang Mongol utusan Raja Sabutai yang membawa surat berisi rencana persekutuan antara Pangeran Ceng Han Houw dan Raja Sabutai, rencana penyerbuan mereka untuk merebut tahta kerajaan.
"Aku melihat kesempatan baik sekali, maka aku lalu melarikan surat itu berikut laporanku tentang fitnah yang dijatuhkan atas diri suhu dan subo, atas diri Yap Kun Liong locianpwe dan ibumu, koko. Semua itu lalu kularikan dan kuserahkan kepada Menteri Liang yang sebelumnya telah kuselidiki dan kutahu sebagai seorang menteri yang setia kepada kaisar. Aku menyerahkan itu dan mohon kepadanya agar secepatnya dilaporkan kepada kaisar. Kemudian aku bermaksud melarikan diri dari kota raja... akan tetapi... pangeran terkutuk itu menangkapku dan... dan aku disiksa... disuruh mengaku di mana adanya surat-surat itu, akan tetapi sampai matipun aku tidak sudi mengaku... biar mereka siksa aku, biar mereka bunuh aku..."
"Ah, muridku, engkau telah berjasa untuk kerajaan! Engkau sungguh mengagumkan, tidak mengecewakan menjadi murid kami!"
Cia Bun Houw berseru kagum dan girang, juga bangga bahwa wanita ini adalah muridnya.
"Suhu terlalu memuji. Aku hanya seorang durhaka..."
"Eng-moi, jangan bicarakan hal itu lagi. Engkau telah dimaafkan, dan engkau pun harus memaafkan kami. Sekarang tidak ada apa-apa lagi, engkau akan menjadi isteriku yang sah..."
Sepasang mata yang agak biru karena pukulan itu terbelalak, seolah-olah dia tidak percaya akan apa yang didengarnya, lalu dia menggeleng kepala keras-keras.
"Tidak mungkin, koko... tidak mungkin... aku... aku terlalu hina dan rendah untukmu..."
"Eng-moi, apakah engkau masih tidak dapat melupakan sikap keluargaku yang lalu? Apakah engkau tetap bersakit hati dan tidak mau memaafkan?"
Lie Seng memohon.
"Aku mintakan maaf kepadamu untuk sikap ibuku yang lalu, Eng-moi,"
"Dan kamipun mengharapkan maafmu, muridku!"
Kata Yap In Hong.
"Ah, tidak... jangan salah sangka! Suhu dan subo, sikap suhu dan subo terhadapku memang sudah sepantasnya, aku bukan sakit hati kalau aku berkata bahwa aku... terlalu rendah dan hina bagimu, koko... lebih-lebih sekarang..."
"Sekarang engkau makin agung bagiku, moi-moi, aku makin mencintamu..."
"Tidak! Ingat, koko, aku telah menyerahkan diriku kepada pangeran terkutuk itu, membiarkan dia mempermainkan diriku sebagai selirnya dan aku telah melayaninya sebagai selir terkasih selama hampir dua bulan..."
"Cukup! Aku tidak perduli akan itu semua! Sekali waktu aku akan berhadapan dengan keparat itu. Aku tidak menyalahkan engkau, Eng-moi. Engkau melakukannya itu karena engkau hendak mengorek rahasianya, dan engkau melakukan hal itu dengan perasaan tersiksa, demi menyelamatkan keluarga Cin-ling-pai. Aku tahu benar akan hal itu!"
Wajah itu memandang dengan pucat dan sepasang matanya meredup.
"Koko, hal itu bukan apa-apa bagimu? Ahhh... tapi aku... aku telah mereka siksa... tahukah engkau apa yang dilakukan pangeran itu? Dia menyerahkan aku kepada Mongol brewok dan belasan anak buah pengawal, dan... dan mereka itu... mereka memperkosaku secara biadab, berganti-ganti sampai aku pingsan..."
"Jahanam mereka! Sudah kubunuh mereka semua!"
Lie Seng mengepal tinju dan matanya berubah merah.
"Nah, engkau tahu sekarang betapa diriku semakin kotor, koko. Aku tidak berharga sedikitpun juga lagi bagimu, aku... aku..."
"Jangan bicarakan lagi hal itu, Eng-moi. Aku tetap mencintamu. Dengar... jangan engkau tidak percaya padaku, jangan memandangku seperti itu... aku mencintamu, bukan mencinta tubuhmu saja, aku akan tetap mencintamu biarpun engkau menjadi bagaimanapun juga!"
"Koko...!"
Sun Eng menjerit, Lie Seng merangkul dan mereka berdua bertangisan.
Yap In Hong dan Cia Bun Houw saling pandang dan mata mereka juga basah.
Belum pernah mereka menyaksikan cinta kasih antara pria dan wanita seperti kedua orang ini!
Perasaan hati Sun Eng seperti diremas-remas rasanya.
Dia telah bertekat untuk mengorbankan diri bagi keluarga Lie Seng dan dia akan mati dengan hati tenteram, karena dia telah melakukan sesuatu, berkorban bagi pria yang amat dicinta dan yang amat mencintanya.
Dia tidak akan menyesal mati, atau bahkan kalau sampai ditinggalkan oleh Lie Seng sekalipun.
Akan tetapi, ternyata cinta kasih Lie Seng tetap kepadanya, biarpun dia telah menyerahkan tubuhnya kepada Pangeran Ceng Han Houw, biarpun dia telah diperkosa begitu banyak orang secara amat menghina!
Dia menjadi serba salah sekarang!
Mana mungkin dia hidup di samping Lie Seng kalau ada kenangan seperti itu?
Dia bisa menjadi gila.
Mengapa dia melakukan kegilaan semua itu?
Memang berhasil, akan tetapi Lie Seng...
tetap mencintanya dan akan merana.
"Koko...!"
Dia hanya dapat mengeluh.
Dengan hati-hati mereka membawa pergi Sun Eng yang belum mampu berjalan sendiri karena kedua telapak kakinya terluka berat.
Mereka hanya melakukan perjalanan kalau malam saja, sedangkan di waktu siang mereka bersembunyi.
Mereka takut kalau-kalau akan tersusul oleh orang-orang yang mengejar mereka, yaitu anak buah Pangeran Ceng Han Houw.
Bukan takut melawan, melainkan karena mereka harus melindungi Sun Eng yang masih luka dan lemah, maka tidak baik kalau menghadapi lawan-lawan tangguh.
Tiga hari kemudian, mereka bersembunyi di lereng gunung kecil, di dalam gua yang cukup lebar.
Keadaan Sun Eng sungguh mengkhawatirkan dan suami isteri pendekar itu merasa heran sekali.
Mereka merasa yakin bahwa wanita bekas murid mereka itu tidak menderita luka di dalam tubuh lagi, akan tetapi mengapa kini menjadi semakin parah?
Dan pada mukanya terbayang sinar kebiruan seperti orang keracunan!
Lie Seng amat gelisah, berlutut di samping Sun Eng yang direbahkan di atas lantai gua bertilamkan daun-daun kering yang mereka kumpulkan.
"Eng-moi, engkau kenapakah?"
"Koko..."
Dan Sun Eng tersenyum.
"Hari ini adalah yang terakhir... aku... melihatmu..."
"Eng-moi...!"
"Sun Eng, apa artinya ucapanmu ini?"
Yap In Hong juga berseru kaget.
Mereka bertiga merubung Sun Eng yang kelihatan semakin payah, napasnya terengah-engah dan kadang-kadang menyeringai seperti menahan rasa nyeri di ulu hatinya yang ditekannya dengan tangan.
"Hari... hari ini... aku akan mati... aku girang sekali..."
"Eng-moi...!"
"Aku girang karena berarti engkau akan bebas, koko. Aku tidak lagi membebanimu. Aku tidak patut kau cinta... aku kotor dan hina..."
"Eng-moi, ahhh, Eng-moi, jangan kau menyiksaku dengan kata-katamu itu..."
"Sun Eng, apa maksudmu bahwa hari ini engkau akan mati?"
Cia Bun Houw juga bertanya dan memandang tajam.
"Apakah engkau keracunan?"
Sun Eng mengangguk.
"Mereka telah mencekoki aku dengan racun cairan biru... dan Mongol brewok itu bilang... aku akan mati tiga hari kemudian..."
"Eng-moi...!"
Lie Seng berteriak dan menangislah laki-laki gagah perkasa ini.
"Sun Eng, mengapa engkau tidak mengatakan kepada kami kemarin dulu?"
Yap In Hong menegur dan wanita sakti ini meletakkan tangannya pada ulu hati muridnya, akan tetapi diam-diam dia terkejut sekali karena perasaan tangannya bertemu dengan hawa yang amat dingin!
(Lanjut ke
Jilid 48) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 48
"Memang kusengaja... aku tidak layak hidup lagi... hanya menyusahkan dan menyeret Lie Seng koko ke pecomberan saja... aku harus mati dan aku... aku puas mati dalam pelukanmu, koko..."
"Eng-moi...!"
Lie Seng merangkulnya dan menangis.
"Paman, bibi... tolonglah..., tolonglah...!"
Bun Houw dan In Hong memeriksa nadi dan pernapasan Sun Eng, akan tetapi mereka hanya menarik napas panjang dan menggeleng kepala.
"Racun ini hebat sekali, hawanya dingin tanda bahwa racun ini dari macam yang paling jahat. Apalagi sekarang, bahkan kemarin dulupun kalau tidak mendapatkan obat pemunahnya sukar untuk menyembuhkan..."
"Koko, jangan berduka. Aku memang lebih senang mati... kalau hidup di sampingmu, aku... aku akan selalu menyesal... aku bisa gila mengingat pengalamanku... koko, kau jangan berduka, kudoakan kau hidup bahagia... aku... aku..."
Sun Eng terkulai dan pingsan.
Tiga orang pendekar itu berdaya upaya, akan tetapi Sun Eng tetap tak sadar sampai menjelang tengah hari dia menghembuskan napas terakhir dalam pangkuan dan pelukan Lie Seng.
Pemuda ini sudah kehabisan tangis, hanya termenung saja sambil memangku jenazah Sun Eng.
Baru setelah dibujuk-bujuk oleh Cia Bun Houw dan Yap In Hong, dia mau melepaskan jenazah itu untuk dikubur di lereng bukit itu.
Setelah pemakaman selesai dan jenazah dalam peti sederhana yang mereka peroleh dari dusun di luar hutan itu mereka timbuni tanah, Lie Seng duduk bersila di depan makam, tidak bergerak seperti patung.
Wajahnya pucat sekali dan pandang matanya kosong.
"Seng-ji, sudahlah, mari kita tinggalkan tempat ini,"
Kata Cia Bun Houw dengan suara membujuk.
"Benar pamanmu, Lie Seng. Mari kita pergi,"
Yap In Hong menyambung.
"Tiada gunanya dipikirkan lagi. Sun Eng sudah tidak ada, sudah mendahului kita."
"Pergilah kalian, paman dan bibi. Tidak tahukah kalian bahwa seluruh hidupku, kebahagiaanku, segala-galanya, berada bersama Sun Eng? Biarkan aku sendiri di sini bersamanya, dan jangan ganggu aku lagi... jangan ganggu aku lagi...!"
Kalimat terakhir ini diucapkan dengan suara setengah berteriak.
Cia Bun Houw dan isterinya saling pandang, kemudian menarik napas panjang.
Sejenak mereka memandang pemuda yang duduk bersila di atas tanah itu, kemudian Cia Bun Houw memberi isyarat kepada isterinya dan mereka pergi meninggalkan Lie Seng.
Setelah jauh dari tempat yang menjadi makam Sun Eng itu, Cia Bun Houw berkata kepada isterinya.
"Biarkan dia sendiri. Dalam keadaan seperti itu, sukarlah untuk menghiburnya. Aku hanya khawatir bahwa kedukaan kehilangan kekasihnya itu akan membuat dia membenci keluarganya, karena jalan pikirannya tentu mengingat bahwa perjodohannya dengan Sun Eng telah ditolak keluarganya, bahkan Sun Eng mengalami kematian karena hendak membela keluarganya."
"Maksudmu dengan keluarganya adalah kita berdua, Kun Liong koko dan enci Giok Keng?"
Yap In Hong menegaskan. Suaminya mengangguk sambil menarik napas panjang.
"Dia sudah dewasa, biarkan dia mempertimbangkan semua itu. Dia harus sadar bahwa kita semua melakukan segalanya itu demi kebaikannya, dan andaikata itu salah, apa boleh buat karena kita menolak karena mengingat akan kepentingan Lie Seng."
Cia Bun Houw menarik napas panjang, lalu berkata.
"Isteriku, sekarang kita harus menyelidiki ke kota raja. Tidak mungkin apa yang telah dilakukan oleh murid kita itu kita diamkan saja. Mendiang Sun Eng telah memberi contoh kepada kita. Memang, dalam keadaan terfitnah seperti ini, kita tidak boleh lalu diam saja dan hanya bisa melarikan diri menjadi buronan. Kita tidak harus membiarkan dunia mengecap kita sebagai keluarga pemberontak, dan kelak anak kitapun dicap anak pemberontak! Kita harus berjuang membela diri, menerangkan duduknya perkara kepada kerajaan. Dan sekarang hal itu telah dipelopori oleh Sun Eng. Kita harus menyelidiki kepada Menteri Liang itu, apakah surat-surat dari Sun Eng telah disampaikan kepada kaisar dan bagaimana kemudian keputusan kaisar terhadap keluarga kita dan terhadap pangeran yang hendak berkhianat terhadap kerajaan itu."
Yap In Hong mengangguk.
"Dan andaikata usaha Sun Eng itu gagal dan segala jerih payahnya yang telah dikorbankan sampai kepada nyawanya itu sia-sia, kita pergi menyerbu istana pangeran jahanam itu dan membunuhnya!"
"Akupun berpikir demikian, sungguhpun hal itu bukan merupakan pekerjaan mudah. Mari kita pergi!"
Sepasang suami isteri pendekar sakti itu lalu kembali ke kota raja, mempergunakan ilmu mereka yang tinggi sehingga mereka dapat melakukan perjalanan cepat sekali dan pada senja hari mereka telah tiba di kota raja.
Dengan mudah mereka menyelinap memasuki kota raja tanpa diketahui oleh para penjaga.
Malam telah tiba ketika suami isteri pendekar ini diterima oleh para pengawal di depan istana Menteri Liang.
Karena maklum bahwa nama mereka telah banyak dikenal orang berhubung dengan fitnah pemberontakan itu, maka Cia Bun Houw tidak mau memperkenalkan nama mereka, hanya berkata.
"Harap sampaikan kepada Liang-taijin bahwa kami adalah sahabat-sahabat wanita yang pada beberapa malam yang lalu datang menghadap, dan kami mohon menghadap Liang-taijin karena urusan penting sekali."
Mendengar ini, komandan jaga bergegas melaporkan ke dalam, karena dia maklum bahwa wanita berbaju hitam yang datang menghadap menteri beberapa malam yang lalu adalah seorang yang amat penting dan membawa berita yang amat besar dan rahasia pula.
Dan memang benar dugaannya, begitu Menteri Liang mendengar pelaporan itu, segera dia berkata.
"Cepat persilakan mereka masuk ke ruangan tamu. Jaga agar jangan sampai ada orang luar yang tahu akan kedatangan mereka!"
Cia Bun Houw dan Yap In Hong dipersilakan masuk dan diantar ke ruangan tamu.
Di situ mereka ditinggalkan dan dipersilakan menanti sebentar, sedangkan para pengawal menjaga di luar.
Cia Bun Houw dan isterinya yang ditinggal berdua saja di dalam kamar tunggu yang luas itu saling pandang, bersikap tenang karena mereka tidak mengkhawatirkan sesuatu.
Tak lama kemudian, pintu dalam terbuka dan muncullah seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar, berwajah lembut namun berwibawa, dan gerak-geriknya halus ketika dia memasuki kamar itu.
Bun Houw dan In Hong cepat bangkit berdiri dan memandang, kemudian mereka cepat menjura dengan sikap hormat.
"Apakah kami berdua berhadapan dengan Menteri Liang yang terhormat?"
Cia Bun Houw bertanya.
Pria tua itu memandang dengan penuh kagum, karena dia dapat melihat bahwa dua orang tamunya itu bukanlah orang-orang sembarangan, walaupun pakaian mereka sederhana saja.
"Benar, dan benarkah ji-wi masih sahabat dari lihiap yang memberikan surat-surat kepada kami...?"
"Benar, taijin. Bahkan terus terang saja, kami berdua adalah guru-guru mendiang Sun Eng itu."
"Mendiang...? Ah, aku mendengar bahwa dia telah dapat lolos dilarikan teman-temannya dari istana Pangeran Ceng Han Houw..."
"Benar, kamilah yang melarikannya namun kami terlambat dan dia keracunan, siang tadi meninggal dunia,"
Kata Yap In Hong.
"Ahhh...!"
"Justeru karena kematiannya maka kami datang menghadap paduka, taijin. Murid kami itu telah berkorban untuk keselamatan keluarga Cin-ling-pai dan untuk keselamatan kerajaan yang terancam pemberontakan. Kami ingin men dengar keterangan paduka tentang perkembangan usaha mendiang murid kami itu. Semoga usahanya yang gagah dan yang telah dilakukan dengan korban nyawanya itu tidak akan sia-sia belaka."
"Duduklah, taihiap, lihiap. Duduklah dan mari bicara baik-baik. Sudah tentu begitu menerima laporan dari nona Sun Eng itu, aku cepat-cepat pergi, menghubungi Pangeran Hung Chih dan bersama beliau, pagi-pagi tadi kami sudah pergi menghadap kaisar. Terus terang saja, sri baginda kaisar sendiri dan kami para pejabat yang telah lama mengabdi kepada kerajaan ini, tahu belaka bahwa keluarga Cin-ling-pai, semenjak mendiang Cia Keng Hong taihiap, adalah orang-orang gagah yang setia kepada negara, maka sri baginda dan kami semua sudah dapat menduga bahwa berita tentang pemberontakan mereka hanya fitnah belaka. Maka pelaporan nona Sun Eng itu kami percaya sepenuhnya, dan barulah sri baginda kaisar maklum betapa jahatnya mereka yang menjatuhkan fitnah itu, yang ternyata hanya ditujukan untuk melemahkan kerajaan di samping urusan pribadi mereka sendiri yang memusuhi keluarga Cin-ling-pai. Oleh karena itu sri baginda kaisar telah memberi kekuasaan kepada Pangeran Hung Chih untuk... eh, nanti dulu, sebelum saya melanjutkan penuturan rahasia istana ini, harus kami ketahui siapa sebenarnya lihiap dan taihiap? Biarpun ji-wi sudah mengaku sebagai guru-guru nona Sun Eng, akan tetapi hal itu belum menjelaskan siapa ji-wi."
"Liang-taijin, nama kami tentu telah taijin kenal baik. Saya bernama Cia Bun Houw dan dia ini isteri saya, Yap In Hong."
"Ahhh...!"
Sepasang mata tua itu terbelalak dan wajah yang lembut itu berseri-seri.
"Kami adalah dua orang di antara mereka yang dinamakan pemberontak dan buronan, taijin,"
Sambung Yap In Hong.
Pembesar itu tertawa dan bangkit berdiri, memandang dengan kagum, lalu menjura.
Tentu saja suami isteri pendekar itu cepat membalas.
"Ah, mengapa aku begitu bodoh? Tentu saja! Aku sudah banyak mendengar nama ji-wi enghiong yang pernah berjasa terhadap negara ketika menghadapi pemberontakan Sabutai! Juga nama besar pendekar Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng bukanlah nama asing bagi kami. Dan ji-wi berdua bersama mereka dituduh pemberontak! Betapa jahatnya! Duduklah, taihiap dan lihiap dan dengarkan penuturanku."
Menteri Liang lalu menceritakan keadaan di istana pada waktu itu, betapa kaisar tadinya menaruh kepercayaan kepada Pangeran Ceng Han Houw dari utara yang oleh mendiang ayahanda kaisar sekarang juga diakui sebagai puteranya dan juga kepercayaan kaisar terhadap Kim Hong Liu-nio karena selain wanita itu menjadi suci dari Pangeran Ceng Han Houw, juga wanita itu pernah menyelamatkan kaisar tua dari penyerangan Pangeran Ceng Su Liat yang memberontak.
"Sungguh tidak kami sangka bahwa mereka itu menggunakan kekuasaan kaisar untuk menyerang Cin-ling-pai yang menjadi musuh utama dari Kim Hong Liu-nio yang hendak membalaskan sakit hati gurunya, yaitu Hek-hiat Mo-li. Ah, mereka itu telah mengatur segala-galanya, dan diam-diam bersekutu dengan Raja Sabutai, bahkan dengan Pek-lian-kauw untuk memberontak."
"Lalu apa yang telah dilakukan oleh istana untuk menanggulangi bahaya ini, taijin?"
Tanya Cia Bun Houw.
"Sri baginda telah membaca semua laporan mendiang nona Sun Eng dan beliau telah memberi kekuasaan penuh kepada Pangeran Hung Chih untuk bertindak terhadap kaum pemberontak. Pertama-tama, kaisar memerintahkan agar tuduhan atas diri keluarga Cin-ling-pai dicabut. Mulai saat itu, keluarga Cin-ling-pai sudah bukan pemberontak atau buronan lagi dan hal ini oleh Pangeran Hung Chih akan diumumkan kepada seluruh kepala daerah."
Cia Bun Houw dan Yap In Hong saling pandang dengan girang sekali dan mereka segera bangkit berdiri dan menjura dengan hormat.
"Sungguh kami merasa girang sekali dan banyak terima kasih atas bantuan paduka, juga bantuan Pangeran Hung Chih dan kemurahan sri baginda kaisar."
"Seyogianya ji-wi berterima kasih kepada Sun Eng..."
Menteri Liang menghentikan kata-katanya karena melihat wajah suami isteri itu tiba-tiba nampak berduka sekali, maka disambungnya segera.
"Marilah ji-wi kami antar menemui Pangeran Hung Chih agar dapat bicara lebih jelas lagi, dan mungkin sekali beliau akan mohon bantuan ji-wi untuk menghadapi Pangeran Ceng Han Houw yang selain lihai, juga mempunyai banyak teman-teman yang berilmu tinggi. Apalagi karena sri baginda menghendaki agar Pangeran Hung Chih menggunakan jalan yang halus agar jangan sampai terjadi perang saudara yang akan menggelisahkan rakyat."
Malam itu juga Cia Bun Houw dan isterinya diajak oleh Menteri Liang pergi menghadap Pangeran Hung Chih di istananya.
Seperti juga Menteri Liang, pangeran ini menyambut suami isteri pendekar ini dengan girang sekali.
Suami isteri ini mendengar dari pangeran yang pada waktu itu merupakan orang yang amat berpengaruh di istana, bahwa memang benar Pangeran Hung Chih ini hendak menggunakan jalan halus untuk menanggulangi Pangeran Ceng Han Houw.
"Semua gerak-geriknya telah diawasi dan biarpun tidak ada teguran langsung dari sri baginda kaisar, namun Ceng Han Houw yang telah kehilangan surat penting itu tentu akan bersikap hati-hati dan agaknya dia hendak melanjutkan cita-citanya untuk menjadi jago silat nomor satu di dunia. Melalui kang-ouw ini dia akan menghimpun kekuatan. Oleh karena itu, kami harap bantuan keluarga Cin-ling-pai untuk menentangnya di lapangan itu. Jangan sampai golongan sesat di bawah pimpinannya akan menguasai dunia persilatan dan urusan ini tentu saja ji-wi lebih mengerti bagaimana menanggulanginya daripada kami. Kami tidak ingin mempergunakan kekuatan pasukan kalau tidak perlu sekali, agar jangan sampai menggelisahkan rakyat."
"Harap paduka jangan khawatir. Setelah hamba sekeluarga dibebaskan dari tuduhan dan dapat bergerak leluasa, tidak menjadi buronan pemerintah lagi, kami tentu akan dapat serentak bangkit dan menentang Kim Hong Liu-nio dan Pangeran Ceng Han Houw,"
Jawab Cia Bun Houw.
"Asal saja hal itu jangan dilakukan di kota raja,"
Kata Pangeran Hung Chih.
"Karena kalau para orang gagah menentangnya di kota raja, mau tidak mau istana harus turun tangan dan dengan demikian berarti istana secara langsung menanganinya. Maka sebaiknya ji-wi mengajak semua orang gagah untuk waspada dan turun tangan menentangnya kalau dia beraksi di luar kota raja."
Setelah bertukar pikiran dan menerima jamuan penghormatan yang diadakan oleh Pangeran Hung Chih, Cia Bun Houw dan Yap In Hong lalu malam itu juga meninggalkan kota raja.
Mereka ingin cepat-cepat pergi ke Bun-cou untuk menyampaikan berita yang ada dua macam itu kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.
Dua macam berita duka dan berita gembira.
Berita duka tentang tewasnya Sun Eng dan keadaan Lie Seng yang tenggelam dalam kedukaan besar, dan berita gembira tentang dibebaskannya keluarga Cin-ling-pai dari tuduhan memberontak.
Lie Seng duduk bersila di depan makam Sun Eng itu sampai dua hari dua malam, tak pernah dia meninggalkan tempat itu.
Kadang-kadang timbul dalam hatinya untuk duduk terus di tempat itu sampai mati!
Makin dikenang segala kebaikan Sun Eng, segala pengorbanannya, makin tertusuk rasa hatinya dan berkali-kali dia menangis seperti anak kecil di tempat yang sunyi itu.
Wajahnya sudah pucat sekali dan tubuhnya kurus dan lemah, pandang matanya kosong dan sayu, pakaiannya kusut dan rambutnya awut-awutan.
Keadaan pemuda ini sungguh amat menyedihkan.
Dia telah putus asa, tidak melihat lagi sinar dalam kehidupannya yang dianggapnya gelap pekat tanpa harapan.
Semangat dan gairah hidupnya telah lenyap terbawa pergi oleh Sun Eng.
Pada hari ke tiga, sejak semalam Lie Seng duduk bersila dengan mata dipejamkan dan berada dalam keadaan samadhi yang gelap.
Dia tidak tahu betapa sejak tadi ada seorang hwesio tua menghampirinya, lalu memandang kepada makam baru itu dan berdiri di depannya, kadang-kadang mengangguk-anggukkan kepala, kadang-kadang menggeleng-geleng, menarik napas panjang.
Sampai lama hwesio tua itu berdiri di situ, memandang dengan sinar matanya yang lembut, wajahnya yang tenang dan mengandung seri kebahagiaan.
Hwesio itu berjubah kuning.
Usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, kepalanya yang tak berambut itu terlindung topi hwesio, tangan kirinya memegang tasbih dan pakaiannya amat sederhana dan kasar.
Namun semua itu tidak mengurangi wibawa dan sikapnya yang agung.
"Omitohud... mengapa ada orang merusak diri sendiri seperti ini? Membunuh diri perlahan-lahan dengan membiarkan gelombang duka menyeretnya berlarut-larut...! Orang muda, apakah dengan membiarkan gelombang duka menghanyutkanmu ini kau mengharapkan yang mati akan dapat bangkit kembali?"
Suara itu halus dan karena dikeluarkan dengan penuh perasaan maka mengandung getaran kuat dan mampu menembus dinding samadhi menyentuh kesadaran Lie Seng.
Pemuda ini membuka mata dan mengangkat muka memandang hwesio tua itu dan alisnya berkerut.
"Hwesio, pergilah, tak perlu kau berkhotbah di sini!"
Katanya dengan marah.
Tidak biasanya Lie Seng bersikap seperti ini, akan tetapi dia tidak perduli apapun juga lagi.
Dia sudah lupa diri, yang teringat hanyalah kedukaannya dan ini membuat dia kasar dan tidak bersahabat kepada siapapun juga.
Hwesio tua itu tersenyum akan tetapi pandangan matanya penuh rasa iba.
"Orang muda, pinceng tidak berkhotbah, pinceng merasa kasihan kepadamu, maka pinceng hendak mengingatkan bahwa tindakanmu yang terbuai oleh duka ini sungguh tidak tepat. Berduka atas kematian seseorang merupakan suatu kebodohan, dan tindakan menyeleweng daripada kebenaran."
Pandang mata Lie Seng berapi karena marahnya ketika dia menatap wajah yang ramah itu.
Dengan suara berat dan kesal dia menjawab.
"Bicara memang enak saja! Engkau tidak merasakan, maka engkau mudah saja mencela! Aku telah kehilangan cahaya hidupku, kehilangan semua kebahagiaan dan harapanku, maka perlu apa aku memperdulikan diri sendiri? Kalau aku harus mati, akan kuterima dengan rela! Pergilah, hwesio!"
Akan tetapi hwesio tua itu malah duduk bersila di depan Lie Seng, sikapnya tetap halus dan ramah.
"Omitohud... kegelapan menguasai batinmu, orang muda. Engkau bilang bahwa pinceng tidak merasakan maka mudah mencela? Wahai orang muda, siapakah di dunia ini yang tidak pernah mengalami kematian seseorang yang dikasihinya? Orang muda, mungkin engkau belum pernah mendengar dongeng tentang Sang Buddha dalam menghadapi kematian, dan kalau engkau pernah mendengarnya, biarlah dongeng ini menjadi penyadar bagimu. Seorang wanita kematian anak tunggalnya. Siapapun tahu bahwa cinta kasih seorang ibu kepada anak tunggalnya adalah cinta kasih yang paling murni di antara segala macam cinta kasih di dunia ini. Maka berdukalah wanita itu dan diapun pergi menghadap Sang Buddha, memohon kepada Buddha untuk menghidupkan kembali anak tunggalnya. Dengan tenang Sang Buddha lalu menyuruh wanita itu untuk minta segenggam gandum dari sebuah keluarga yang belum pernah kematian, karena hanya itulah obatnya yang dapat menghidupkan anaknya yang mati. Ibu itu berkelana, akan tetapi biarpun dia akan pergi mengelilingi dunia, di mana ada keluarga yang belum pernah kematian anggauta keluarganya? Akhirnya dia kembali kepada Sang Buddha dan insafkan. Kematian adalah suatu hal yang wajar bagi kehidupan. Ada hidup ada mati. Mengapa kematian harus didukakan benar? Bukankah kita semua akhirnya akan mati pula? Engkau dan pincengpun tidak akan terluput dari kematian. Mengapa kini ada yang mati engkau menyiksa diri dengan kedukaan? Apakah kedukaanmu itu akan dapat menghidupkannya kembali, orang muda?"
Perlahan-lahan ada sisa-sisa air mata menetes dari kedua mata Lie Seng.
Tentu saja, dia pernah mendengar tentang cerita itu.
Anehnya, kini keluar dari mulut hwesio itu, dengan suaranya yang halus lembut, cerita itu mempunyai pengaruh yang lain, menembus sampai ke dasar hatinya dan membuat dia melihat kenyataan itu.
"Losuhu... losuhu tidak tahu orang yang mati ini adalah kekasih saya, isteri saya... saya bukan seorang cengeng, losuhu sudah biasa menghadapi kematian, akan tetapi dia ini... ah, semasa hidupnya menderita begitu banyak kepahitan, dan selagi saya berusaha untuk membuatnya bahagia... dia telah mengambil jalan pendek, dia mengorbankan diri demi keluarga saya, demi kerajaan... ahh, betapa tidak akan hancur hatiku, losuhu...?"
Hwesio tua itu mendengarkan dengan tenang dan sabar sampai Lie Seng berhenti bicara dan menunduk, memejamkan mata.
Kemudian terdengar suara hwesio itu, suaranya lantang namun lembut sekali.
"Orang muda, pandanglah baik-baik dan sadarilah. Lihatlah dengan waspada, siapakah yang kautangisi itu? Siapakah yang kaukasihani itu? Bukankah sesungguhnya, di balik semua keteranganmu tadi, engkau menangisi dirimu sendiri, engkau mengasihani dirimu sendiri?"
Lie Seng mengerutkan alisnya, termenung sejenak lalu terkejut bukan main.
Dia mengangkat muka memandang kepada hwesio tua itu dengan mata terbelalak marah.
"Berani kau menuduhku seperti itu...?"
"Tenang dan pandang sajalah, pandang dengan waspada dan jujur..."
Katanya menggerakkan tangan dan sikapnya yang lembut halus itu seolah-olah membuyarkan kemarahan Lie Seng.
Orang muda ini duduk termenung, memandang kepada diri sendiri dan jantungnya berdebar tidak karuan.
Dia melihat, mula-mula secara samar-samar saja, akan tetapi makin lama menjadi makin jelas dan timbullah keraguan besar.
Benarkah dia berduka karena kasihan kepada Sun Eng?
Ataukah tidak lebih condong karena kasihan kepada diri sendiri?
Dia tidak dapat menjawab.
Dia bingung sekali dan kembali dia memandang kakek itu.
"Losuhu, mohon petunjuk..."
Akhirnya dia berkata.
"Orang muda, bukan maksud pinceng untuk mencelamu, melainkan untuk menyadarkanmu. Engkau sendiri menceritakan betapa kekasihmu hidup menderita banyak kepahitan. Sekarang dia telah meninggal bukankah berarti dia setidaknya terbebas daripada kepahitan-kepahitan itu? Maka, dengan alasan apalagi engkau merasa iba kepadanya? Yang jelas, engkau menangis dan berduka karena iba diri, karena engkau merasa kehilangan, karena engkau ditinggalkan dan merasa kesunyian. Tidakkah demikian?"
Lie Seng mengangguk-angguk, tak dapat membantah kebenaran kata-kata itu.
Kini nampak nyata olehnya.
Sun Eng hidup dalam keadaan sengsara karena menderita batin yang hebat.
Sun Eng selalu menyesalkan penyelewengannya, yang membuatnya merasa rendah diri dan tidak berharga menjadi isterinya.
Apalagi keluarga Cin-ling-pai menolaknya!
Kemudian, untuk mengangkat harga dirinya, Sun Eng telah borkorban dan biarpun usahanya berhasil baik, namun dirinya telah mengalami penghinaan yang membuat dia merasa dirinya menjadi semakin kotor!
Kalau Sun Eng tidak mati, sudah pasti Sun Eng akan semakin menderita karena merasa semakin tidak berharga baginya.
Bukankah kematian itu bahkan merupakan jalan keluar yang baik bagi Sun Eng?
Mengapa dia menangisinya?
Apakah dia ingin melihat Sun Erg tetap hidup dalam keadaan menderita batin yang hebat itu?
"Duka tidak dapat dihilangkan melalui hiburan, tidak pula dapat dihilangkan melalui pelarian, orang muda.
Yang penting kita membuka mata melihat kenyataan, jangan membiarkan duka membutakan mata batin.
Penglihatan yang terang dengan pengamatan yang waspada akan mendatangkan pengertian, dan hanya pengertian mendalam dan kesadaran yang akan meniadakan duka yang tiada guna dan melemahkan lahir batin itu."
Untuk kurang lebih setengah jam lamanya Lie Seng mendengarkan suara kakek itu, suara yang lembut dan tenang, yang mendatangkan ketenangan dalam hatinya, yang membuat hatinya menjadi ringan dan lapang, yang membuat dia kini berani memandang makam Sun Eng tanpa kepedihan hati.
Akhirnya dia menjadi sadar benar-benar akan semua tindakannya yang hanya menurutkan kata hati dan perasaan yang terdorong oleh iba diri belaka.
Dan tiba-tiba saja dia melihat masa depan yang cerah tanpa Sun Eng, yaitu masa depan menjadi seperti kakek ini, yang hidup bebas dalam arti yang seluas-luasnya.
Maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Losuhu, perkenankanlah teecu ikut bersamamu mempelajari hidup dan masuk menjadi hwesio di kuil yang losuhu pimpin."
Hwesio tua itu tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Orang muda, pinceng melihat bahwa engkau bukanlah orang muda sembarangan, melainkan seorang muda yang tentu memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, bukan? Pinceng sendiri bukan ahli silat, namun pinceng dapat mengenal orang pandai. Siapakah namamu dan dari keluarga manakah engkau, orang muda?"
"Teecu bernama Lie Seng, ibu teecu adalah puteri dari mendiang kong-kong Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai."
"Omitohud... sudah pinceng duga. Kiranya engkau adalah cucu pendekar sakti itu, dan sekarang engkau ingin menjadi hwesio? Ah, bukankah itu hanya merupakan pelarian saja bagimu, untuk menghibur hatimu yang berduka dan putus asa? Masuk menjadi hwesio bukan hal yang main-main dan hanya untuk pelarian belaka, sicu."
"Teecu melihat masa depan yang gelap, suhu. Teecu penuh dendam dan sakit hati, kalau teecu melanjutkan hidup ini seperti biasa, tidak dapat dihindarkan lagi teecu tentu akan mengakibatkan kekerasaan dan banjir darah karena teecu tentu akan mengamuk untuk membalas kematian kekasih teecu."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Pinceng sudah melihat hal itu dan karena itulah maka pinceng berusaha menyadarkanmu. Kalau memang masuk menjadi hwesio itu timbul dari tekadmu sendiri, karena kesadaranmu, maka terserah. Pinceng memimpin Kuil Hok-seng-tong di kaki bukit sana. Marilah, sicu."
Lie Seng bangkit dan setelah sekali lagi meraba-raba makam Sun Eng dan mengucapkan selamat tinggal kepada kekasihnya itu, kini dengan hati ringan dan lapang, diapun bangkit dan mengikuti hwesio tua itu turun gunung.
Beberapa bulan kemudian, Lie Seng telah mencukur rambutnya dan berpakaian jubah lebar, menjadi hwesio yang tekun menekuni hidup dan kebatinan di dalam Kuil Hok-seng-tong di bukit sunyi sebelah selatan kota raja itu!
Betapa banyaknya di antara kita yang seperti Lie Seng itu!
Melarikan diri sendiri dari kenyataan hidup!
Melarikan diri dari kepahitan hidup!
Lalu mengejar-ngejar kemanisan hidup!
Padahal, pelarian dari yang pahit dan pengejaran yang manis itu tidak ada bedanya sama sekali.
Melarikan diri dari yang pahit lalu berlindung kepada sesuatu itu berarti juga mengejar kemanisan yang diharapkan bisa didapatkan dari tempat berlindung itu.
Dan selama pengejaran akan sesuatu yang dianggap manis dan menyenangkan ini terjadi, maka kita akan terus menerus terseret ke dalam lingkaran setan yang tiada habisnya.
Pelarian tidak akan melenyapkan duka, pelarian tidak akan melenyapkan kegelisahan dan rasa takut.
Mungkin saja dapat mendatangkan hiburan sesaat, namun duka itu, rasa takut itu, tidak akan lenyap, hanya untuk sementara waktu terselubung saja oleh hiburan yang didatangkan oleh pelarian.
Setiap saat akan muncul kembali!
Kita semua mengenal apa penyesalan itu, apa kekecewaan itu, dan apa rasa takut serta kedukaan itu.
Mengapa kita selalu harus mencari hiburan di mana kita dapat berlindung untuk melarikan diri dari hal-hal yang tidak enak itu?
Mengapa kita tidak pernah berani menghadapi semua itu, menghadapi mereka di waktu mereka itu timbul, menghadapinya dengan langsung, memandangnya dan menanggulanginya di saat mereka muncul sehingga mereka itu akan lenyap di saat itu juga dan takkan pernah muncul kembali?
Penanggulangan ini bukan berarti mengusahakan agar mereka lenyap, sama sekali bukan.
Melainkan menghadapi duka pada saat itu menyerang kita, memandang dan menyelaminya secara langsung, mengenal luar dalam apa sebenarnya duka itu!
Akan tetapi sayang, kita selalu ingin senang, maka begitu timbul sesuatu yang tidak menyenangkan menurut anggapan kita, kita lalu melarikan diri.
"Bi Cu...!"
Teriakan Sin Liong ini nyaring sekali karena memang dia kaget bukan main melihat betapa tubuh Bi Cu juga melayang dan meluncur turun.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa dara itu akan melakukan perbuatan senekat itu, menyusul dia terjatuh ke dalam jurang dengan meloncat.
Kalau dia sendiri yang terjatuh, tentu dia akan mencari akal untuk dapat terhindar dari ancaman maut, akan tetapi kini Bi Cu juga turut jatuh, maka seketika dia menjadi nanar dicekik rasa khawatir yang hebat.
Dia terjatuh dalam keadaan terjengkang, maka tubuhnya terlentang.
sedangkan Bi Cu yang meloncat itu menelungkup.
Cepat Sin Liong menyambar tangan kiri Bi Cu dan dia berhasil menangkap pergelangan lengan kiri dara itu.
Lalu dia merangkul pinggang Bi Cu dengan erat.
Bi Cu juga merangkul sambil memejamkan mata karena ngeri.
"Sin Liong...!"
Isaknya.
Biarpun maklum bahwa mereka melayang ke dalam jurang yang seolah-olah tanpa dasar saking dalamnya, dan bahwa tubuh mereka tentu akan hancur lebur kalau menimpa dasar jurang, namun Sin Liong tidak mau kehilangan semangat dan kesadarannya.
Selagi masih hidup dia harus berdaya upaya menyelamatkan diri!
Dengan cepat kedua tangannya merenggut kancing baju di depan tubuhnya.
Untung pinggang Bi Cu amat ramping sehingga biarpun lengan kanannya sudah melingkari pinggang itu tangan kanannya masih dapat mencapai depan bajunya.
Sekali renggut, terlepaslah semua kancing bajunya dan kini dia memegangi kedua ujung baju yang terbuka itu dengan kedua tangannya, dibentangkan seperti sayap.
Usahanya berhasil!
Dia merasakan tekanan dari bawah seolah-olah luncuran mereka berdua agak tertahan sedikit, tidak selaju tadi, dan bajunya yang dibentangkan itu mengembang dan menangkap angin.
"Bi Cu, cepat buka bajumu... kembangkan bajumu seperti ini... seperti layar...!"
Teriaknya.
Bi Cu menghentikan isaknya.
Mula-mula dia tidak mengerti mengapa dia disuruh membuka bajunya.
Akan tetapi ketika dia memberanikan hati membuka mata dan melihat apa yang dilakukan Sin Liong, Dia cepat menggerakkan kedua tangannya, dengan jari-jari gemetar dia merenggut bajunya.
Setelah dirobeknya baju itu dan di lain saat diapun sudah memegangi ujung kanan kiri bajunya yang dibentangkan.
Kembali ada tenaga menahan dari bawah ketika baju itu menangkap angin dan mengembang.
Luncuran mereka tertahan dan tidak secepat tadi, akan tetapi tentu saja kedua "layar"
Itu tidak cukup kuat untuk menahan dan tubuh mereka masih terus meluncur ke bawah.
Sambil merangkul pinggang Bi Cu, Sin Liong miringkan tubuhnya dan memandang ke bawah.
Hampir pingsan dia karena pening ketika melihat bawah yang demikian dalamnya, akan tetapi dia menggoyang kepala mengusir kepeningan dan rasa ngeri.
Dia melihat sebatang pohon yang tumbuh di dinding tebing itu.
Pohon yang cukup besar.
Itulah yang akan menolong kita, pikirnya.
Kalau gagal mereka tentu akan tewas!
Dia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakkan kakinya sehingga tubuhnya bersama tubuh Bi Cu melayang agak dekat dengan tebing.
Pohon itu seperti melayang ke atas, makin lama makin besar mendekati mereka.
Memang berbahaya sekali.
Kalau terlalu dekat dengan tebing tubuh mereka meluncur, membentur batu tebing sedikit saja, tentu mereka akan tewas sebelum tiba di dasar jurang.
Pohon itu makin besar kini, seolah-olah terbang naik ke arah mereka, bukan mereka yang meluncur ke arah pohon.
Sin Liong siap dengan tangan kirinya sedangkan lengan kanan tetap merangkul pinggang Bi Cu.
Biar maut sekalipun tidak akan mampu memaksa dia melepaskan pinggang dari rangkulan lengan kanannya itu.
"Bresssss...!"
Mereka telah tiba di tengah-tengah pohon itu dan tubuh mereka berhenti meluncur.
Sin Liong telah berhasil!
Tangan kirinya dapat menangkap sebatang cabang pohon itu dan mereka bergantung di situ.
Pakaian mereka robek-robek dan tubuh mereka lecet-lecet, bahkan Bi Cu yang masih dirangkul pinggangnya oleh lengan kanan Sin Liong itu terkulai lemas.
Pingsan!
Sin Liong cepat menarik dirinya duduk di atas cabang, lalu menarik Bi Cu, dipangkunya di tempat aman itu, di dahan yang bercabang.
Lengan kirinya terasa nyeri bukan main.
Baru terasa setelah dia dapat duduk dengan aman di atas dahan.
Ketika digerakkannya lengan itu, hampir dia menjerit dan tahulah dia bahwa lengan itu terkilir pada sambungan paling atas dekat pundak.
"Bi Cu... Bi Cu... sadarlah...!"
Berkali-kali dia memanggil dara yang dipangkunya dan dirangkulnya itu.
Dalam keadaan lengan kirinya terkilir, sukarlah baginya untuk melanjutkan mencari jalan selamat.
Mereka masih tergantung di dalam pohon besar itu yang tumbuh agak miring di dinding yang terjal.
Di bawah curam sekali dan mereka belumlah terbebas sama sekali dari bahaya, sungguhpun sementara ini tidak lagi terancam maut seperti tadi.
Akhirnya Bi Cu bergerak lemah dan bibirnyapun bergerak, berbisik lirih.
"Sin Liong... ah, Sin Liong... jangan tinggalkan aku...!"
Hampir Sin Liong tertawa.
Gadis ini seperti orang tidur mengigau saja!
Akan tetapi hatinya terharu karena igauannya itu membayangkan rasa takutnya, bukan takut mati karena seorang gadis seperti Bi Cu agaknya tidak takut akan kematian, melainkan takut ditinggalkan sendirian di atas sana, bersama Pangeran Ceng Han Houw dan para musuh itu!
Mengingat pangeran itu, Sin Liong menggeram di dalam batinnya.
Sungguh kejam sekali pangeran itu!
Mengapa dahulu dia selalu menganggap pangeran itu orang yang baik budi?
Sekarang dia mulai sadar bahwa apapun yang dilakukan oleh pangeran itu adalah demi kepentingan pangeran itu sendiri.
Andaikata ada perbuatannya yang nampak baik, seperti ketika menyelamatkennya dahulu itu, maka perbuatan itu bukanlah terdorong oleh hati yang baik, melainkan dipergunakan sebagai siasat demi kepentingan dan keuntungan dirinya sendiri belaka.
Baru kini terbuka matanya dan dia mengenal betul orang macam apa adanya Ceng Han Houw yang selama ini dianggapnya sebagai kakak angkat!
Kini Bi Cu sudah membuka matanya.
Terbelalak dia ketika melihat betapa dia berada di atas dahan, dikelilingi daun-daun yang begitu banyaknya dan tubuhnya terasa sakit-sakit.
Teringatlah dia dan dia terbelalak bertanya.
"Eh, Sin Liong, kita... kita ini di alam baka? Ini sorga atau neraka?"
Kini Sin Liong tidak dapat menahan ketawanya.
Akan tetapi dia menyeringai karena lengan kirinya terasa nyeri sekali.
"Heiii, kita di mana ini? Di dalam pohon? Jadi kita belum mati? Wah, ngeri... begini tingginya!"
Bi Cu kini merangkul dahan yang berada di atasnya sambil memandang ke bawah dengan mata terbelalak.
"Kita masih hidup, Bi Cu. Pohon ini menolong kita, akan tetapi lengan kiriku... ah, sakit bukan main, terkilir agaknya. Harus dikembalikan ke tempatnya sebelum aku dapat mencarikan jalan keluar dari sini."
"Ah, kenapa sampai terkilir, Sin Liong? Hemm, aku mengerti sekarang. Tentu ketika melayang jatuh tadi engkau menggunakan tangan kirimu menyambut dahan pohon! Betul tidak?"
Sepasang mata itu bersinar-sinar penuh kegembiraan seperti anak-anak yang dapat menebak teka-teki dengan tepat.
"Aihhhh... kau ini!"
Sin Liong tersenyum lebar, tak dapat ditahannya itu karena sikap Bi Cu yang demikian lincah gembira, padahal mereka berada di mulut maut!
Akan tetapi karena pundak kirinya terasa nyeri bukan main, senyumnya menjadi senyum menyeringai.
"Sakit sekalikah, Sin Liong?"
Bi Cu bertanya sambil memegang lengan kiri itu, akan tetapi tubuhnya bergoyang dan cepat dia menyambar dahan di atasnya lagi dan memandang ke bawah dengan ngeri.
Hampir dia lupa agaknya bahwa dia duduk di atas dahan pohon berada di tempat demikian curamnya.
Gerakannya ini menarik lengan Sin Liong dan tentu saja pemuda itu berteriak saking nyerinya.
"Ah, maaf, Sin Liong. Dapatkah aku membantu?"
"Bi Cu, engkau harus menarik lenganku ini sampai tulangnya kembali ke tempat yang benar. Tariklah kuat-kuat dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirimu memegang dahan dan jangan lupa, kedua kakimu kauikatkan pada dahan di bawah itu. Hati-hati, tempat ini berbahaya sekali. Jangan terlalu banyak bergerak."
Bi Cu mengangguk-angguk, lalu mencari tempat berpegang yang kuat, mengkaitkan kedua kakinya pada dahan di bawah, lalu mengulurkan tangan kanan.
"Mana lenganmu, kesinikan!"
Sin Liong sudah merangkul lengan kanan kepada sebatang dahan, memegang nya erat-erat lalu dia mengulurkan lengan kiri kepada gadis itu.
Bi Cu menangkap pergelangan tangan Sin Liong, lalu mulai menarik.
Sin Liong menyeringai, memejamkan mata karena rasa nyeri yang amat luar biasa terasa olehnya, kiut-miut rasanya, menusuk-nusuk dari pundak sampai ke seluruh tubuh.
"Terus... terus... tarik terus sedikit lagi...!"
Dia berkata terengah-engah.
Bi Cu tidak tega melihat wajah pemuda itu yang menjadi basah oleh peluh yang besar-besar, akan tetapi dia menguatkan hatinya dan membetot terus sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
"Klokkk!"
Terdengar suara pada sambungan lengan dan pundak.
"Sudah...! Cukup...!"
Seru Sin Liong.
Bi Cu melepaskan pegangannya dan melihat betapa Sin Liong menyandarkan kepalanya pada dahan di depan dan lengan kirinya yang sudah tersambung kembali itu tergantung lemas.
"Sin Liong... sakit sekalikah...?"
Suara itu demikian lembutnya dan mengandung isak gemetar sehingga Sin Liong melupakan rasa nyerinya seketika, membuka mata dan memandang gadis itu sambil tersenyum.
"Terima kasih, Bi Cu. Sekarang sudah baik kembali kedudukan tulangnya. Tinggal memulihkan saja. Sayang kita harus tetap tinggal di sini sampai lenganku dapat digerakkan kembali."
Lalu dia bertanya heran.
"Eh, engkau menangis? Engkau tentu... takut sekali, bukan?"
Bi Cu menggunakan punggung tangan menghapus beberapa butir air mata di pipi dan yang tergantung di bulu mata.
Dia menggeleng kepala.
"Tidak takut, bukankah engkau juga di sini. Aku hanya... kasihan sekali padamu tadi. Mukamu menjadi mengerikan ketika engkau menahan nyeri tadi..."
Sin Liong tersenyum.
"Sekarang telah sembuh..."
"Tapi kita tidak bisa ke mana-mana. Bagaimana kita dapat keluar dari tempat ini?"
Sin Liong memandang ke arah dinding tebing.
Memang tidak mudah.
Akan tetapi kalau lengannya sudah sembuh, dia pasti akan menemukan jalan.
Akan tetapi sekarang ini tidak mungkin.
Hanya menggunakan sebelah lengan saja, mana bisa mencari jalan keluar.
Dan benarkah Bi Cu yang mencari jalan keluar, dia tidak tega.
Berbahaya sekali pekerjaanku itu.
Dan untuk sementara waktu mereka aman di pohon itu.
Pohon yang cukup besar dan kuat.
"Kita terpaksa tinggal di sini, Bi Cu."
"Sampai berapa lama?"
"Sampai aku dapat menggerakkan kembali lengan kiriku."
Demikianlah, dua orang muda itu tinggal di pohon itu seperti dua ekor kera!
Dapat dibayangkan betapa sengsara keadaan mereka, apalagi karena lengan kiri Sin Liong belum juga sembuh.
Mereka terpaksa melewatkan malam gelap di dalam pohon itu!
"Hati-hati, jangan sampai engkau tertidur dan terlepas peganganmu sehingga jatuh ke bawah, Bi Cu."
Sin Liong memperingatkan ketika cuaca sudah menjadi gelap.
Hatinya khawatir sekali.
Untung bahwa Bi Cu adalah seorang gadis yang berhati baja, dan juga berwatak riang gembira sehingga dalam keadaan seperti itupun masih suka bergurau!
Sikap lincah jenaka ini membuat mereka tidak begitu merasakan penderitaan yang menekan lahir batin.
"Kalau terlepas mengapa? Malah tidak lagi menderita hidup seperti kera kelaparan begini!"
Jawab Bi Cu berolok-olok.
"Engkau lapar, Bi Cu?"
"Kau kira perutku terbuat daripada batu? Tentu saja aku lapar. Kau tidak?"
"Mungkin."
"Eh, mungkin bagaimana? Jangan berteka-teki engkau! Tinggal menjawab lapar atau tidak, mengapa mungkin? Habis rasanya bagaimana, lapar atau tidak?"
"Aku bilang mungkin, karena menurut patut tentu lapar, akan tetapi tidak terasa karena kalah oleh rasa nyeri di pundakku dan rasa khawatir di hatiku."
"Apa sih yang kaukhawatirkan?"
"Kau masih bertanya lagi? Tentu saja keadaan kita ini. Apakah engkau tidak khawatir?"
"Tidak! Sekarang kita masih hidup, bukan? Dan aman..."
"Hanya lapar."
"Ya, hanya lapar. Sayang aku tidak bisa memburu kelinci. Ah, enaknya daging kelinci bakar dimakan panas-panas, apalagi bagian paha dan pinggul, hemmm... sedap...!"
Mau tidak mau Sin Liong tersenyum dan aneh, membayangkan gambaran itu, diapun mendadak merasa lapar!
Akan tetapi hatinya masih khawatir sekali, bagaimana kalau gadis yang lincah itu menjadi lengah malam nanti, mengantuk dan terlepas lalu jatuh ke bawah sana.
Dia menggigil kalau membayangkan kemungkinan ini, maka diam-diam di dalam keremangan senja, dia mulai menanggalkan bajunya dan dengan hati-hati dirobek-robeknya baju itu menjadi robekan panjang selebar tangan.
Dia merobeknya dengan tangan kanan dan giginya, kemudian dia menggulung robekan-robekan itu menjadi tali yang cukup kuat dan menyambung-nyambungnya.
Setelah selesai, dia lalu menyodorkan satu ujungnya kepada Bi Cu.
"Bi Cu, kau terima ujung tali ini,"
Katanya. Bi Cu menerima ujung tali itu, meraba-rabanya lalu berkata.
"Hemm, sejak tadi engkau diam saja ternyata engkau membuat tali ini? Dari apa kaubuat?"
"Dari bajuku."
"Lalu untuk apa?"
"Ikatkan ujungnya pada pinggangmu, yang kuat. Kalau engkau mengantuk dan terlepas, engkau tidak akan jatuh melainkan tergantung pada tali. Setelah kubelit-belitkan cabang-cabang yang kuat, ujung yang satu lagi akan kuikatkan pada pinggangku."
Bi Cu tidak berkata apa-apa, akan tetapi dari tali yang bergerak-gerak Sin Liong tahu bahwa dara itu melaksanakan petunjuknya.
Hatinya lega.
Kini cuaca sudah gelap sekaii sehingga dia tidak dapat melihat Bi Cu.
Bayangannyapun tidak, karena tidak ada bayangan apa-apa sama sekali.
Gelap pekat malam itu, melihat tangannya sendiripun dia tidak mampu.
Lama mereka dia saja.
Sin Liong selalu mengingat keadaan Bi Cu.
Tadi dia sudah melihat betapa dara itu telah mendapatkan tempat yang enak, di antara dahan besar yang bercabang tiga, Sehingga dara itu dapat duduk terjepit cabang dan tidak akan mudah jatuh dan dapat duduk dengan enak.
Tentu saja seenak-enaknya orang melewatkan malam di atas pohon!
Dia telah melibatkan tali itu pada dahan yang kuat, baru ujungnya diikatkan pada pinggangnya.
Dengan demikian, andaikata salah seorang di antara mereka terlepas dan jatuh, tentu akan tertahan oleh dahan itu dan tergantung, sedangkan orang yang akan dapat menarik dan menyelamatkan yang jatuh.
Dia merasa betapa ada gerakan-gerakan dari arah tempat Bi Cu duduk.
Tali yang mengikat pinggangnya itu seolah-olah menghubungkan dia dengan Bi Cu, setiap dara itu bergerak akan terasa olehnya.
Hal ini menimbulkan perasaan lega pula.
Akan tetapi sampai lama Bi Cu tidak bicara, dan dia tidak dapat bertahan lagi.
"Bi Cu, engkau tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja apa-apa, berada dalam keadaan seperti ini dikatakan tidak apa-apa! Aku sedang memikirkan betapa lucunya keadaan kita ini. Tidakkah engkau merasa lucu, Sin Liong?"
"Lucu?"
Sin Liong mengingat-ingat akan tetapi tidak menemukan apa yang lucu.
"Bagiku tidak lucu melainkan menyedihkan dan sengsara, terutama lengan kiriku."
"Belum sembuhkah lengan kirimu, Sin Liong?"
"Sudah agak mendingan,"
Kata Sin Liong membohong.
Pundaknya membengkak, nyerinya bukan main, akan tetapi letak tulangnya sudah benar.
"Eh, Bi Cu, mengapa kau bilang lucu?"
"Bayangkan saja! Kita saling berpisah, lalu saling jumpa. Dan lihat, apa yang kita alami bersama. Kita terjatuh ke dalam jurang maut, akan tetapi tidak mati dan tersangkut pada pohon ini dan kita terpaksa menjadi dua ekor monyet di sini! Lucu tidak?"
"Mengapa engkau ikut meloncat ke dalam jurang? Sungguh bodoh sekali perbuatanmu itu, mempermainkan nyawa sendiri,"
Sin Liong menegur karena memang marah dia kalau teringat betapa dara itu hampir membuang nyawa dengan sia-sia dan mati konyol.
"Apa?"
Terdengar dara itu berkata marah.
"Dan kau menghendaki aku berada di sana, di atas sana bersama jahanam-jahanam itu sedangkan engkau sendiri enak-enakan berada di bawah sini?"
"Enak-enakan?"
"Ya, enak-enakan! Seribu kali lebih enak berada di sini daripada berada di atas sana bersama iblis-iblis itu!"
Bi Cu membentak.
"Bi Cu..."
"Sudahlah, aku mau tidur!"
"Tidur...? Hati-hatilah, Bi Cu, jangan terlepas dan jatuh..., biarpun sudah terikat akan tetapi ngeri aku memikirkan kau jatuh..."
"Peduli apa? Biar jatuh dan mampus!"
Jawaban ini demikian penuh kemarahan sehingga mengejutkan Sin Liong.
Dia tidak berani bicara lagi, hanya mengingat-ingat mengapa dara itu menjadi marah tidak karuan.
Mungkin karena lapar, mungkin karena takut, dan diapun tidak boleh terlalu cerewet.
Sin Liong duduk dan mengumpulkan napas, mengerahkan hawa murni untuk mengobati lengan kirinya.
Dengan pengerahan hawa dari pusar, ia mengirim hawa yang panas itu menjalar naik dan memenuhi lengannya.
Dia melakukan hal ini sesuai dengan pelajaran dari kitab yang diwarisinya dari Bu Beng Hud-couw.
Dan ternyata hasilnya hebat sekali.
Rasa nyeri di pundaknya perlahan-lahan lenyap, terbungkus hawa panas itu sehingga pundak yang tadinya berdenyut-denyut nyeri, kini menjadi nyaman dan denyut itu makin melemah dan akhirnya tidak terasa nyeri lagi.
Dia melanjutkan usahanya itu, melupakan keadaan sekelilingnya.
Dia harus dapat sembuh semalam ini agar besok dia dapat mencari jalan keluar untuk menyelamatkan dirinya bersama Bi Cu.
"Sin Liong..."
Entah berapa lamanya mereka berdiam sampai Bi Cu memanggilnya itu.
Mungkin kini telah lewat tengah malam.
Siapa tahu?
Dia tadi dalam keadaan setengah bersamadhi dan lupa segala sehingga lupa pula akan waktu.
Panggilan suara Bi Cu itu mengejutkan dan seperti menarik dia kembali kepada kenyataan bahwa dia dan Bi Cu berada, di dalam pohon di atas jurang yang curam, di tengah malam yang gelap pekat.
Akan tetapi baru sekarang Sin Liong melihat perubahan bahwa cuaca tidaklah segelap tadi, bahkan dia dapat melihat bayangan tangannya sendiri sungguhpun dia tidak dapat melihat Bi Cu.
Di langit terdapat bintang-bintang berkelap-kelip.
Aneh sekali melihat bintang-bintang ini, membuat dia hampir tidak percaya bah"wa dia berada di dalam pohong "tergantung"
Antara langit dan jurang, bukan di atas bumi seperti biasa.
"Ada apakah, Bi Cu?"
"Apakah engkau tidak lapar?"
Tadinya Sin Liong sudah lupa segala, juga lupa akan perutnya yang kosong, maka begitu Bi Cu berkata lapar, otomatis perutnya lalu terasa perih dan lapar sekali.
Akan tetapi bersama dengan itu, juga dia merasa lengan kirinya sudah sehat kembali, tidak nyeri sama sekali!
"Tentu saja aku lapar.
Dan engkau?"
"Aku tidak lapar, aku sudah kenyang!"
Hemm, mengajak bergurau lagi, pikir Sin Liong.
"Engkau kenyang? Makan apa?"
Dia melayani.
"Makan paha kelinci panggang dalam khayal!"
Bi Cu tertawa.
"Tapi aku benar-benar kenyang, aku makan daun."
"Daun?"
"Ya, kau pilih daun-daun muda, di ujung ranting. Cobalah, enak tidak pahit dan banyak airnya, lumayan, Sin Liong."
Sin Liong tertarik.
Tangan kanannya meraih dan dengan meraba-raba dia dapat merasakan perbedaan antara daun tua dan daun muda yang lebih kecil dan lebih halus.
Dipetiknya ujung ranting itu dan dengan hati-hati dimakannya sehelai daun muda.
Tentu saja bau daun, akan tetapi tidak bau busuk dan tidak pahit, bahkan ada manis-manisnya sedikit.
Maka dimakannya daun itu sampai beberapa helai.
"Bagaimana rasanya?"
"Kau benar. Daun ini cukup enak dimakan!"
"Hi-hik, engkau harus berterima kasih kepadaku, Sin Liong. Penemuanku ini memungkinkan kita hidup di atas pohon ini seperti dua ekor kera, bukan hanya untuk beberapa hari, bahkan mungkin untuk selamanya!"
"Apa? Selamanya? Mana mungkin?"
"Mungkin saja! Kita setiap hari makan daun muda, dan daun-daun muda itu tentu akan tumbuh lagi, demikian setiap hari. Kita tidak akan kehabisan daun muda. Daun itu mengandung air, jadi kita tidak akan kehausan pula, dan andaikata kehausan, kalau hujan turun, kita tinggal berdongak dan membuka mulut saja! Hi-hik!"
"Tapi mana mungkin kita dapat hidup dan makan daun-daun saja?"
"Siapa bilang tidak mungkin? Eh, Sin Liong, mengapa engkau begitu bodoh? Ingat, binatang-binatang yang terbesar dan terkuat di dunia ini, seperti kerbau, sapi, kuda, bahkan gajah itu makan apa saja? Tidak makan daging tidak makan capcai atau mi bakso, melainkan makan daun dan rumput saja. Akan tetapi mereka itu bukan hanya hidup, bahkan hidup lebih sehat dan lebih kuat daripada manusia!"
"Tapi kita ini manusia, bukan kerbau..."
"Memang, tapi otakmu lebih bodoh daripada kerbau!"
Kembali Bi Cu berkata dengan nada suara marah.
"Bi Cu... aku..."
"Sudahlah! Memang aku yang cerewet dan tolol!"
Kini suara itu bukan hanya marah, bahkan mengandung isak!
Sin Liong melongo.
Untung cuaca masih terlampau gelap untuk mereka dapat saling melihat, kalau tidak tentu dia akan nampak lucu sekali.
Dia benar-benar bingung menghadapi Bi Cu.
Mengapa Bi Cu demikian mudah tertawa gembira, bergurau, akan tetapi di lain saat sudah marah-marah dan cengeng?
Hening lagi sampai lama Sin Liong merasa menyesal sekali bahwa dia begitu bodoh tidak dapat menyelami watak Bi Cu sehingga dia selalu membuat dara itu marah-marah.
Padahal Bi Cu sudah begitu baik kepadanya.
"Bi Cu, kaumaafkanlah aku kalau aku bersalah kepadamu dan membuatmu marah. Percayalah, aku sungguh mati tidak sengaja membikin engkau marah. Aku menyesal akan kebodohanku."
"Siapa bilang engkau bodoh? Engkau terlalu pintar, engkau lihai bukan main, engkau seorang pendekar sakti yang bersikap sederhana dan bodoh, saking pintarnya maka engkau tidak memperhatikan seorang gadis tolol macam aku yang cerewet sehingga aku dibikin kesal...!"
"Maafkan, aku Bi Cu..., aku tidak mengerti mengapa aku selalu membuatmu marah... tadipun engkau sudah marah-marah..."
"Tentu saja aku marah, habis engkau selalu menghendaki aku tidak berada di sini bersamamu, engkau lebih senang aku berada bersama iblis-iblis itu. Engkau sungguh mati tidak menghargai orang, aku suka bersamamu, hidup mati, dan engkau cerewet saja mengkhawatirkan diriku. Mengapa engkau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri?"
"Ahhh...!"
"Apalagi ah-ah!"
Sin Liong kini mengerti dan diapun sadar bahwa dia terlalu mengkhawatirkan keselamatan Bi Cu, tidak ingat bahwa Bi Cu memang tadinya sengaja menyusulnya untuk mati bersama!
"Tidak apa-apa, hanya aku sudah merasa salah.
Engkau tentu mau memaafkan aku, bukan?
Ataukah tiada maaf bagiku?"
"Sudahlah, perutku sudah kenyang, aku mau mengaso."
Sin Liong lalu memetik lagi daun-daun muda dan mengisi perutnya yang kosong dengan daun-daun muda itu.
Seperti sayur mentah, akan tetapi bukan tidak enak, dan lumayan untuk menahan perihnya perut.
Akan tetapi semalam dia tidak tidur, mana mungkin dia tidur?
Dia harus menjaga Bi Cu, siap menolong kalau-kalau dara itu terjatuh dan tergantung pada tali.
Timbul kekhawatirannya, jangan-jangan dara itu kurang kuat mengikat pinggangnya.
Hampir saja mulutnya bertanya, akan tetapi ditahannya karena dia teringat bahwa hal itu malah akan membikin marah dara yang berwatak aneh itu.
Maka diapun melanjutkan menghimpun hawa murni untuk mengobati lengannya kirinya yang biarpun kini sudah tidak terasa nyeri namun dia masih belum berani untuk mempergunakannya dengan pengerahan tenaga.
Luka-luka di tempat sambungan tulang tentu belum pulih benar, pikirnya, maka berbahaya kalau dipakai untuk bekerja berat.
Dan ternyata selanjutnya Bi Cu tidak lagi mengeluarkan suara, sungguhpun kadang-kadang dia masih melakukan gerakan perlahan.
Dan tidak ada terdengar napasnya yang menyatakan bahwa dara itu tertidur.
Tahulah Sin Liong bahwa Bi Cu memang sengaja diam saja sungguhpun dara itu juga tidak dapat tidur dalam keadaan seperti itu.
Pada keesokan harinya, begitu sinar matahari pagi mengusir kegelapan dan mereka dapat saling melihat, Bi Cu segera berkata.
"Bagaimana dengan lengan kirimu?"
Sin Liong menggerak-gerakkan lengan kirinya.
"Sudah tidak nyeri lagi, akan tetapi luka di sekitar sambungan masih belum pulih benar, kiraku belum mungkin dapat dipakai bekerja berat. Kalau sampai luka-luka itu pecah lagi, akan sukarlah pulihnya tanpa obat."
"Kalau begitu biar kita tinggal di sini sampai kau sembuh betul!"
Kata Bi Cu akan tetapi Sin Liong masih dapat menangkap nada suara yang amat kecewa, yang ditutup dengan kemauan keras dan dara itu mengatupkan bibirnya kuat-kuat setelah berkata demikian.
Tentu dara itu telah menderita hebat sekali duduk semalam suntuk di atas dahan itu, pikir Sin Liong.
"Biarpun aku belum dapat bekerja berat dengan lengan kiriku, akan tetapi kiranya aku akan dapat mencarikan tempat yang lebih enak untuk kita, bukan di atas pohon ini, Bi Cu. Kau tinggallah di sini dulu, aku yang mencari tempat yang baik di tebing itu."
"Aku tidak mau di sini sendiri. Aku harus ikut!"
Kata Bi Cu dan Sin Liong tidak mau membantah. Dia melepaskan ikatan di pinggangnya.
"Baiklah, lepaskan ikatan di pinggangmu itu. Tali ini akan ada gunanya kelak."
Bi Cu melepaskan tali yang diikatkan di pinggangnya.
Baru tahulah Sin Liong bahwa ikatan itu kuat sekali sehingga sukar bagi Bi Cu untuk membuka simpulnya.
Ternyata kekhawatirannya semalam tidak ada gunanya.
"Eh, kenapa kau masih memakai bajumu? Bukankah bajumu sudah kaurobek-robek untuk dijadikan tali ini?"
"Itu baju dalamku yang terbuat dari sutera, lebih lemas dan lebih kuat."
"Baju dalam sutera? Wah, tentu indah dan mahal sekali...!"
"Memang, itu baju adik angkat pangeran! Pemberian Pangeran Ceng Han Houw."
"Ihhh!"
Bi Cu melepaskan ujung tali itu seperti orang merasa jijik.
Sin Liong menggulung dan menyimpan di saku bajunya.
"Mari kauikuti aku, tapi hati-hatilah, Bi Cu."
Mulailah keduanya merangkak di antara dahan-dahan dan daun-daun pohon, Sin Liong di depan, diikuti oleh Bi Cu, mendekati tebing ketika mereka merangkak turun dari pohon yang tumbuh miring di tebing itu.
Pohon itu besar dan cukup tinggi, dan batangnya ternyata besar dan kokoh kuat, tertanam di dalam tebing di antara batu-batu.
Sin Liong turun dari batang itu, matanya mencari-cari jalan dan diapun turun ke atas celah-celah batu yang besar.
Dia menanti sebentar untuk memberi kesempatan Bi Cu juga turun.
Ketika Bi Cu sudah (Lanjut ke
Jilid 49) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 49 menaruh kakinya ke celah-celah batu besar dan memandang ke bawah, dia menjerit dan Sin Liong cepat merangkulnya.
Tubuh Bi Cu menggigil dan mengertilah Sin Liong apa yang menyebabkan dara itu ketakutan seperti itu.
"Jangan melihat ke bawah! Pula, di sini tidak berbahaya, di atas pohon itu lebih berbahaya lagi!"
Katanya menghibur dan akhirnya Bi Cu dapat tenang kembali akan tetapi dia tidak mau memandang ke bawah.
Memang mengerikan sekali kalau memandang ke bawah yang demikian curamnya.
Membayangkan tubuh melayang ke bawah saja sudah membuat jantung berdetak dan kaki menggigil.
Sin Liong mencari jalan dengan hati-hati karena lengan kirinya tidak dapat dipakai untuk bergantung, terlalu berbahaya untuk mencoba itu.
Akhirnya mereka tiba di tepian yang lebarnya ada dua meter dan panjangnya empat meter, tempat datar sempit ini ditumbuhi rumput dan merupakan jalan buntu karena dikelilingi batu-batu yang bersusun rata sehingga tentu amat licin dan tidak mungkin didaki.
Jalan satu-satunya dari daratan sempit ini hanyalah jalan yang mereka lalui tadi, yang menuju ke pangkal batang pohon besar.
Betapapun juga, menemukan tempat ini membuat mereka merasa lega.
Bi Cu gembira sekali dan diapun lalu menjatuhkan diri rebah terlentang dengan tarikan napas lega.
Tubuhnya yang terasa lelah semua itu kini dapat berbaring sesukanya di atas rumput dan sebentar saja dara itu sudah tidur pulas, miring menghadap dinding batu!
Sin Liong merasa terharu dan kasihan sekali.
Sampai lama dia memandangi wajah dara yang tidur pulas itu, tidur sambil tersenyum seolah-olah tiada apapun yang mengancam mereka.
Dara itu agaknya merasa beruntung sekali dan lapang hatinya setelah menemukan tempat datar ini sehingga tidurnya demikian nyenyak dan enak.
Sin Liong lalu bangkit berdiri, mengambil keputusan untuk mencari jalar keluar dari tempat itu.
Akan tetapi baru saja beberapa langkah dia meninggalkan Bi Cu, dia teringat dan cepat dia membalikkan tubuhnya, menghampiri batu sebesar sepelukan tangan dan mengangkat.
Akan tetapi baru sedikit dia mengerahkan tenaga pada lengan kirinya, dia hampir berteriak kesakitan, maka cepat dia melepaskan kembali batu itu.
Untung tidak dipaksanya mengangkat tadi.
Jelaslah bahwa lengan kirinya belum boleh dipergunakan untuk bekerja berat dan harus beristirahat beberapa hari sampai pulih betul.
Kini dia hanya menggunakan tangan kanannya, disusupkannya jari-jari tangannya ke bawah batu dan diangkatnya dengan ringan saja lalu batu itu dibawa dan diletakkan di tepi jurang.
Dia memindahkan empat buah batu yang cukup berat dan cukup menjadi penjaga dan penahan tubuh Bi Cu kalau-kalau dara itu dalam tidurnya bergerak dan bergulingan sampai ke tepi jurang!
Setelah yakin bahwa Bi Cu tidak akan terancam bahaya terguling ke dalam jurang, Baru dia meninggalkan Bi Cu dan mencurahkan perhatiannya untuk mencari jalan keluar.
Ditelitinya semua bagian dari dataran sempit itu, melihat ke kanan kiri, ke atas bawah dan depan belakang, mencari-cari jalan yang dapat mereka lalui untuk mendaki ke atas.
Namun, dataran itu benar-benar merupakan jalan buntu, dan satu-satunya yang dapat dilalui hanyalah yang menuju ke pohon besar itu!
Jalan naik ke atas tidak mungkin didaki karena batu-batu itu tersusun demikian rata sehingga merupakan dinding rata yang amat tinggi.
Tidak mungkin mendaki tempat seperti itu.
Dengan menggunakan sin-kang sekuatnya, mungkin juga dia dapat naik untuk beberapa belas tombak tingginya, akan tetapi tidak mungkin kuat bertahan sampai naik setinggi itu, puluhan, bahkan ratusan tombak tingginya.
Dan itupun terkandung bahaya, yaitu sekali kakinya terpeleset, tubuhnya akan jatuh dan biarpun dengan ilmu apa juga dia tidak akan dapat menyelamatkan dirinya lagi!
Apalagi kalau harus menggendong Bi Cu.
Dia tidak mau mengambil resiko berbahaya seperti itu!
Setelah memeriksa, meneliti dan mencari-cari sampai beberapa jam lamanya, akhirnya Sin Liong terduduk dengan pandang mata muram dan dia termenung.
Tidak ada jalan keluar!
Itulah kesimpulan sebagai hasil dari pemeriksaannya.
Mereka sama dengan terkubur hidup-hidup di tempat itu!
Tali dari baju dalamnya yang panjangnya hanya kurang lebih empat lima meter itu tidak ada artinya sama sekali untuk membantu mereka keluar dari tempat ini.
Matahari telah naik agak tinggi dan hawa udara cukup panas ketika Bi Cu terbangun dari tidurnya.
"Haus...!"
Demikian kiranya begitu dia membuka matanya.
Tidak heran kalau dia kehausan karena tubuhnya sama sekali tidak terlindung dari panasnya sinar matahari.
Peluhnya membasahi leher dan mukanya.
Akan tetapi dia kini sudah sadar betul dan bangkit duduk, mengusap keringatnya dan memandang kepada Sin Liong yang menghampirinya.
"Wah, agaknya aku telah tertidur."
"Nyenyak dan enak tidurmu,"
Kata Sin Liong tersenyum.
"Ya, segar rasanya tubuh sekarang, hilang sudah segala kelelahan semalam. Tapi, aku... aku haus bukan main...!"
Dia menjilat-jilat bibirnya yang kering dan mengelus lehernya.
"Haus...?"
Sin Liong baru merasa betapa diapun haus bukah main, apalagi karena dia tadi bekerja mencari tempat yang dapat dijadikan jalan keluar dan baru sekarang dia merasa bahwa kerongkongannya juga kering sekali.
"Ahh, ke mana kita harus mencari minum? Di sekitar sini tidak ada air, juga tidak ada jalan keluar..."
"Tidak ada jalan keluar...?"
Bi Cu bangkit berdiri, memandang ke sana-sini.
"Engkau sudah pasti benar?"
"Entahlah, akan tetapi tadi sudah kuperiksa dan sungguh tidak terdapat jalan keluar dari sini, kecuali ke pohon besar itu. Ahhh... pohon itu! biar kupetik daun-daun muda untukmu..."
"Untukmu juga...!"
"Ya, untukku juga,"
Sin Liong lalu merangkak dengan hati-hati melalui jalan yang tidak mudah itu, Jalan yang mereka lalui pagi tadi, kembali ke batang pohon dan dia memanjat pohon besar itu, memetik daun-daun muda.
Setelah cukup, dia turun dan membawa daun-daun muda itu kepada Bi Cu.
Dengan lahap Bi Cu makan daun-daun muda, mengunyahnya lama-lama untuk mencari airnya.
Dia tidak lapar, hanya haus.
Dan celakanya biarpun daun itu mengandung air, namun rasa air daun itu tidak dapat dan tidak cukup banyak untuk menghilangkan hausnya.
Sin Liong juga makan daun itu dan tahulah dia bahwa daun-daun itu tidak berhasil mengusir haus.
Maka diapun duduk di atas batu sambil termenung.
Akan berapa lamakah mereka dapat bertahan dalam keadaan begini?
Kasihan Bi Cu, pikirnya, akan tetapi mulutnya tidak menyatakan sesuatu karena dia maklum bahwa hal itu hanya akan membikin dara itu menjadi marah.
"Ah, daun-daun keparat ini hanya mampu menahan lapar, tidak mampu menghilangkan haus! Tunggu, aku akan mencari tumbuh-tumbuhan lain!"
Diapun lalu sibuk sekali meneliti setiap tumbuh-tumbuhan di sekeliling tempat itu.
Setiap macam rumput dicabut dan dimakannya, diisap-isap, dan kalau dia menemukan sesuatu larilah dia kepada Sin Liong sambil membawa beberapa batang rumput yang baru saia dicobanya.
"Coba ini. Sin Liong, agaknya manis rasanya!"
Teriaknya girang, dan Sin Liong lalu makan rumput itu dan mengisap-isap.
Memang agak manis, akan tetapi airnya sedikit sekali, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan daun pohon besar itu.
Dan Bi Cu juga tahu hal ini, maka diapun mencari lagi dengan kecewa.
Semua tumbuh-tumbuhan di sekitar tempat itu sudah dicobanya semua!
Akhirnya dia kembali ke dekat Sin Liong dan duduk di atas rumput, kedua alisnya yang hitam kecil berbentuk indah itu berkerut.
Sin Liong merasa kaslhan sekali.
"Bi Cu... tidak ada jalan lain, kita harus makan daun-daun muda ini. Biarpun tidak cukup, akan tetapi lumayan untuk membasahi kerongkongan."
"Iya..."
Jawab Bi Cu sunyi dan lirih lalu dengan enggan dia makan juga daun-daun muda itu satu demi satu dan rasanya makin tidak enak saja baginya.
Makin perlahan dia mengunyah, matanya termenung memandang jauh, kemudian mulutnya berhenti bergerak dan air matanyapun berderai, akan tetapi dia belum terisak, hanya berkata lirih.
"Sin Liong... haruskan kita berdua mati di sini, mati kehausan...?"
Sin Liong mendekatinya dan menyentuh pundaknya.
"Tenanglah, Bi Cu. Daun-daun ini akan menyelamatkan kita untuk sementara waktu..."
"Dan kalau kita sudah tidak kuat bertahan lagi? Sekarangpun aku sudah hampir tidak kuat, Sin Liong, aku... haus bukan main..."
"Ke sanalah, mari... kita berlindung dari cahaya matahari yang panas..."
Dengan lembut Sin Liong lalu menarik tangan dara itu untuk diajak berdiri dan berteduh di dekat dinding batu sehingga mereka agak terlindung dari panas matahari.
Bi Cu hanya menurut saja sambil mengusap air matanya.
Dia menahan kesedihannya agar tidak membuat Sin Liong makin bingung.
Mereka duduk berdekatan di bawah dinding batu itu.
"Bagaimana lenganmu?"
Bi Cu menyentuh lengan kiri Sin Liong. Sentuhan itu lembut dan penuh perhatian.
"Tidak nyeri... akan tetapi belum dapat dipergunakan. Tadi kucoba mengangkat batu, belum sanggup..."
"Kaukah yang menjajarkan batu-batu di sana itu?"
Bi Cu menuding.
"Sudah kuduga demikian. Engkau terlalu baik kepadaku, Sin Liong, selalu menjagaku!"
Ada rasa girang menghujani perasaan Sin Liong, akan tetapi juga membuatnya malu-malu, maka dia lalu berkata.
"Kita di sini hanya berdua saja, kalau tidak saling menjaga, habis bagaimana?"
Setiap hari Sin Liong melakukan siulian untuk mengumpulkan hawa murni dan mengobati lengan kirinya dengan penuh kesungguhan hati.
Akan tetapi, mereka berdua sungguh tersiksa oleh kehausan.
Mereka selalu makan daun muda dari pohon itu dan biarpun tidak dapat terlalu memuaskan perut, setidaknya mereka terhindar dari kelaparan.
Akan tetapi mereka dicekik kehausan, makin lama makin menghebat sehingga tubuh mereka menjadi lemah sekali, pandang mata berkunang dan kepala mereka pening.
Kadang-kadang, di waktu siang hari, kalau matahari sedang panas-panasnya, Bi Cu terengah-engah kehausan, tidak dapat menangis lagi kerana air matanyapun sudah kering, mukaya pucat dan cekung.
"Ahhh... kuda dan sapipun tidak bisa... hanya makan rumput dan daun saja... harus minum, aku harus minum... ah Sin Liong, aku tidak kuat, aku haus..."
Hari itu adalah hari ke tiga dan siang hari, sedang panas-panasnya.
"Bi Cu, kuatkanlah...!"
Kata Sin Liong, padahal dia sendiri juga tersiksa hebat oleh kehausan.
Dia sudah membuka semua kancing bajunya, akan tetapi masih merasa panas dan tubuhnya terasa lemas sekali.
"Sin Liong... aku tidak tahan lagi... tapi aku tidak menyesal... aku rela mati di sini bersamamu, Sin Liong..."
"Bi Cu...!"
Sin Liong merasa kasihan sekali dan dia merangkul dara itu, mendekap kepala dara itu ke dadanya.
Sejenak mereka tak bergerak dalam keadaan seperti itu.
Bi Cu merasa betapa nikmatnya bersandar pada dada Sin Liong, seperti lenyap rasa panas yang menyelinap ke seluruh tubuh dan kepalanya, terasa sejuk terlindung oleh tubuh Sin Liong dari sinar matahari.
Dia merasa betapa tubuh Sin Liong tergetar, dan betapa dada pemuda itu menahan tangis kadang-kadang terisak.
Bi Cu mengangkat mukanya memandang.
Dia melihat Sin Liong memejamkan matanya kuat-kuat, akan tetapi ada dua titik air mata di bawah pelupuk mata pemuda itu.
Diusapnya dua butir air mata itu dengan telunjuknya.
Melihat dua tetes air di telunjuknya, tiba-tiba Bi Cu membawa telunjuknya ke mulutnya dan mengisap dua tetes air mata itu.
Hanya lenyap di lidah, tidak sampai ke tenggorokannya yang kering.
"Sin Liong, jangan menangis..."
Lalu ia hendak menghibur pemuda itu dan mengalihkan pikirannya.
"Eh, bagaimana dengan lengan kirimu...?"
Biarpun dia bersikap gembira yang dibuat-buat, namun suaranya lirih dan serak dan tubuhnya lemah sekali.
"Lengan...? Ah, sudah sembuh sama sekali... kau tunggu, aku akan mencari jalan...!"
Sin Liong bergerak hendak bangkit. Akan tetapi Bi Cu merangkulnya, dan menahannya.
"Tidak perlu sekarang... sedang panas-panasnya, tunggu kalau sudah tidak panas, Sin Liong. Aku... aku ngantuk sekali... biarkan aku tidur..."
Rangkulannya terlepas dan tubuhnya yang lunglai itu melorot ke bawah lalu dia rebah terlentang, berbantal paha Sin Liong.
Melihat keadaan Bi Cu, Sin Liong tidak bergerak, membiarkan dara itu tidur di atas pangkuannya dan diapun memejamkan mata sambil bersandar pada dinding batu.
Keduanya diam saja, tak bergerak seperti tidur, seperti pingsan, seperti telah mati!
Sin Liong masih dalam keadan setengah sadar, akan tetapi dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika dia bersandar dan memejamkan mata, dengan sadar sepenuhnya bahwa Bi Cu tidur di atas pangkuannya, rasa nikmat dan nyaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seluruh urat syaraf di tubuhnya mengendur dan lemas.
Akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa keadaan ini amatlah berbahaya.
Kelemasan seperti ini dapat membuat orang tertidur untuk tidak bangun kembali!
Maka dia mempergunakan seluruh kekuatan batinnya untuk membuka mata dan terkejutlah dia.
Kenapa pandang matanya menjadi gelap?
Butakah dia, atau terserang penyakit buta, atau kehausan yang sangat itu membuat pandang matanya menjadi gelap?
Dia mengangkat mukanya memandang ke atas.
Langitpun gelap!
Tidak ada lagi sinar matahari, padahal tadi amat panasnya.
Apa yang terjadi?
Dia mencari-cari dengan matanya den melihat awan mendung bergumpal-gumpal datang dari arah timur terbawa angin keras.
Bagaimana mungkin siang yang tadinya terang benderang itu tiba-tiba tertutup mendung bergumpal-gumpal seperti itu?
"Bi Cu...!
Bi Cu, bangun...!"
Hati Sin Liong penuh kekhawatiran.
Bi Cu hanya bergoyang-goyang badannya yang lunglai, akan tetapi matanya tetap terpejam!
Pingsankah dia?
Atau...
atau matikah...?
"Bi Cu!
Ohhh, Bi Cu, bangunlah...!
Bangunlah Bi Cu, demi Tuhan...
bangunlah...!"
Sin Liong berteriak-teriak hampir menangis karena mulai takut kalau-kalau Bi Cu sudah mati.
Akhirnya bibir yang kering itu bergerak.
"Hah...? Ada apa...? Kau... mengganggu... orang tidur..."
Bukan main lega rasa hati Sin Liong.
Mau rasanya dia bersorak, dan diapun berseru seperti orang bersorak, akan tetapi tetap sambil menguncang pundak Bi Cu yang masih memejamkan matanya.
"Bi Cu, lihat...! Mendung tebal...! Lihat dan bangunlah!"
"Hehhh...?"
Bi Cu membuka matanya akan tetapi dia sedemikian lemahnya sehingga baru dapat bangkit duduk setelah dirangkul dan ditarik oleh Sin Liong.
"Mana...? Ada apa...?"
"Lihat di atas itu...!"
Pada saat itu terdengar suara menggelegar disertai kilat.
Bi Cu terkejut, memandang ke atas dan diapun melihat mendung bergumpal-gumpal dan kilat menyambar-nyambar disertai guntur meledak-ledak.
"Ada apa di sana itu?"
Bi Cu masih bingung dan merasa ngeri juga karena cuaca menjadi gelap.
"Ada apa? Artinya akan hujan. Air!"
Sin Liong berteriak.
"Air? Mana...?"
Pertanyaan Bi Cu ini dijawab dari udara karena tepat pada saat itu turunlah air hujan yang deras sekali.
"Air...!"
Bi Cu berteriak dan melepaskan dirinya dari Sin Liong, bangkit berdiri akan tetapi dia terhuyung dan tentu akan terbanting kalau tidak cepat dipeluk oleh Sin Liong.
"Air! Hujan turun!"
Sin Liong juga bersorak dan mereka berangkulan, menangis, menengadah sambil membuka mulut lebar-lebar, membiarkan air memasuki mulut mereka, mata mereka, hidung mereka sampai mereka tersedak-sedak, mereka tertawa-tawa dengan air mata bercucuran, mengeluarkan teriakan-teriakan girang yang tidak ada artinya.
"Bi Cu...!"
"Sin Liong...!"
Mereka seperti memperoleh tenaga baru setelah tubuh mereka basah kuyup, Setelah perut mereka terisi air hujan, mereka berangkulan dan tanpa disengaja, tahu-tahu mereka telah berciuman!
Sampai lama mereka berdekapan dan berciuman, ciuman yang sesungguhnya tidak disengaja, terjadi karena kegirangan mereka yang luar biasa, mulut mereka saling bertemu dalam keadaan tertawa gembira, lalu saling kecup, seperti tak dapat dilepaskan lagi.
Baru mereka saling melepaskan ciuman setelah napas mereka terengah-engah, lalu keduanya mundur selangkah, saling pandang dengan mata terbelalak di antara cucuran air hujan dan kilatan guntur di dalam cuaca yang remang-remang, dan keduanya seperti orang terkejut dan memang terkejut karena baru saja sadar betapa mereka saling cium seperti itu, dan tiba-tiba mereka merasa betapa muka mereka menjadi panas karena malu.
"Bi Cu..."
"Sin Liong..."
Mereka saling tubruk dan saling rangkul sambil menangis, entah mengapa mereka menangis mereka sendiri tidak mengerti.
Ada rasa girang, ini sudah jelas karena jatuhnya air hujan itu seolah-olah mengembalikan nyawa mereka yang sudah hampir melayang, ada rasa girang yang lain yang mereka tidak mampu gambarkan, ada rasa haru, akan tetapi juga ada rasa sedih karena mereka menyadari bahwa mereka masih berada dalam ancaman maut, terkubur hidup-hidup dalam tempat yang tidak ada jalan keluarnya ini.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari atas.
Sin Liong menoleh dan cepat dia menarik tubuh Bi Cu, meloncat ke dekat jalan kecil menuju ke pohon besar.
Untung dia bertindak cepat karena terlambat beberapa detik saja mereka berdua tentu akan tertimpa batu-batu dan lumpur yang terbawa air dari atas, dan tentu akan diseret masuk ke dalam jurang.
Sin Liong memegangi lengan Bi Cu, diajaknya dara itu merangkak hati-hati meninggalkan daratan sempit itu, kembali ke pohon, Berpegang pada batang pohon itu, bersandar di situ sambil mmandang ke tempat mereka selama tiga hari berlindung itu, tempat itu kini menjadi sasaran batu-batu dan lumpur yang menimpanya dengan suara gedebukan, diseret air yang tercurah dari atas dan menyapu segala yang berada di atas tempat itu.
Batu-batu, lumpur dan segala apa disapu dan diseretnya turun ke dalam jurang.
Bi Cu bergidik dan mengeluh, lalu dirangkul oleh Sin Liong dan selanjutnya Bi Cu menyembunyikan muka dalam dekapan dada Sin Liong.
Akhirnya hujan berhenti.
Akan tetapi air yang masih mengucur menimpa dataran sempit itu, walaupun kini tidak ada lagi batu yang jatuh menimpa.
Matahari yang sudah mulai condong ke barat itu nampak lagi sinarnya, dan tepat menimpa dinding batu tebing di atas dataran yang sempit itu.
"Bi Cu, lihat...!"
Sin Liong mengangkat muka Bi Cu dan menuding ke arah dinding batu tebing itu.
Bi Cu mengangkat muka dan memandang.
Ada perubahan besar pada dinding batu itu.
Banyak batu-batu yang tanggal, hanyut oleh air.
Batu-batu yang tanggal ini membentuk bekas-bekas lubang dan terdapat celah-celahnya, tidak lagi rata seperti sebelumnya.
Bahkan nampak akar-akar tumbuh-tumbuhan menonjol keluar karena tanah yang tadinya menutupinya terbawa oleh air.
"Hujan membuat tebing itu longsor,"
Bisik Bi Cu.
"Itulah! Dan nampaknya kini tidak sukar untuk mendaki ke atas!"
Kata Sin Liong.
Setelah air dari atas tebing itu berhenti mengalir, Sin Liong lalu menggandeng tangan Bi Cu, dengan hati-hati mereka kembali ke dataran sempit itu.
Tempat itu menjadi bersih, bahkan rumput-rumput dan batu-batu lenyap, semua tinggal dataran batu seperti baru dicuci bersih.
Sin Liong memeriksa dinding tebing.
Tidak licin lagi, melainkan kasar karena disapu air semua permukaannya dan memang benar, nampak celah-celah dan tonjolan-tonjolan yang memungkinkan mereka mendaki ke atas.
Memang amat tinggi hingga bagian atas sekali tidak nampak jelas, akan tetapi yang sudah pasti terdapat perubahan besar pada dinding tebing itu.
"Biar kita tunggu semalam ini, biar tebing itu kering, baru besok kita mencoba untuk naik. Jangan putus harapan, Bi Cu. Selama nyawa masih ada pada tubuh kita, kita harus berusaha dan tidak boleh putus asa."
Bi Cu mengangguk-angguk.
"Memang kita harus dapat keluar dari sini..."
Katanya termenung.
"entah kapan lagi ada hujan turun..."
Malam itu mereka kedinginan!
Akan tetapi Sin Liong yang sudah sehat benar dan sudah pulih kembali lengan kirinya, mendekap tubuh Bi Cu dan mengerahkan sin-kangnya sehingga ada hawa panas dari tubuhnya menjalar ke tubuh Bi Cu.
Dara itu dapat tidur dalam dekapan Sin Liong dan mereka berdua tidak ingat lagi akan sopan santun, karena mereka melakukan hal itu, tidur berdekapan sama sekali bebas daripada nafsu berahi.
Yang ada hanya saling kasihan, saling menaruh kasih sayang dan iba, ingin saling melindungi dan ingin melihat masing-masing dalam keadaan selamat, tidak ada keinginan lain untuk kesenangan pribadi!
Yang ada hanya cinta kasih!
Walaupun tidak diucapkan dengan kata-kata, walaupun dalam batin mereka sendiri tidak pernah ada pertanyaan tentang itu, tidak ada dugaan tentang itu, tidak ada sedikitpun bayangan nafsu mengotorinya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali begitu matahari menyinari langit yang bersih, hari dimulai dengan pagi yang cerah dan bersih, seolah-olah hujan kemarin telah mencuci semua yang berada di atas bumi dan langit.
Segalanya nampak bersih, baru dan dan bahkan batu-batu tebing yang baru terbongkar itu mengeluarkan bau tanah yang sedap.
"Bi Cu, kita mulai mendaki, mencari jalan keluar, mencari jalan hidup. Oleh karena itu ikatkan ujung tali ini pada pinggangmu. Kita tetap bersatu, terikat oleh tali ini. Satu hidup semua hidup, satu gagal semua gagal..."
"Satu mati semua mati!"
Sambung Bi Cu yang segera megikatkan ujung tali itu erat-erat pada pinggangnya yang ramping.
Sin Liong juga mengikatkan ujung yang lain pada pinggangnya.
"Nah, kita mulai,"
Katanya kemudian, mendekati bagian celah terendah dari tebing itu.
"Nanti dulu, Sin Liong,"
Kata Bi Cu dan dara ini lalu menghampirinya dan merangkul kedua pundaknya.
Wajah mereka saling berdekatan dan mereka saling pandang, terlihat betapa wajah masing-masing amat kurus, cekung dan rambut mereka kusut.
Wajah-wajah yang tak dapat dibilang tampan atau cantik dalam keadaan seperti itu.
"Ada apakah, Bi Cu?"
"Sin Liong, malam tadi..."
"Ya...?"
"Kita... telah... berciuman..."
Sin Liong merasa betapa wajahnya panas.
"Aku... aku tidak sengaja... maafkan..."
Bi Cu tersenyum.
"Akupun tidak sengaja... dan sekarang, sebelum kita menempuh jalan maut untuk hidup terus atau mati, aku... aku ingin... seperti malam tadi, akan tetapi sekarang kita sengaja..."
Dia memandang dengan mata berkedap-kedip malu.
Sin Liong lalu mendekapnya, dan mereka berdua sama-sama mendekatkan muka dan merekapun berciuman.
Ciuman yang canggung karena keduanya belum pernah melakukan hal ini selamanya, akan tetapi dorongan hati membuat mereka tahu apa yang harus dilakukan dan dua mulut yang saling mencinta itu berciuman dengan mesra dan lembut.
Ciuman yang sama sekali bersih dari nafsu berahi, namun penuh getaran cinta kasih yang mendalam.
Kembali mereka baru melepaskan ciuman karena perlu bernapas.
Kini pandang mata mereka mengandung kemesraan aneh dan mereka berdua merasa kuat dan berani menempuh apa saja asalkan berdua.
"Mari kita berangkat!"
Kata Bi Cu, suaranya mengandung kesegaran dan kegembiraan, seolah-olah mereka itu hendak berangkat pesiar ke tempat indah, bukan sedang hendak melakukan perjalanan yang amat berbahaya dengan taruhan nyawa!
"Mari!
Engkau tunggu sampai aku naik setingkat, baru engkau mengikuti setiap jejakku.
Mengertikah, Bi Cu."
"Aku mengerti. Kalau engkau bergerak naik, aku diam menjaga. Sebaliknya kalau aku bergerak naik, engkau diam menjaga. Begitukah?"
"Benar sekali. Bedanya, engkau menjaga di bawah dan aku di atas. Sebaiknya kalau selagi aku naik, engkau melibatkan sisa tali pada akar atau batu untuk membantumu kalau-kalau aku terjatuh, demikian pula akan kulakukan kalau engkau yang naik."
"Baik, aku mengerti. Marilah!"
Sin Liong mulai mendaki naik, akan tetapi baru menaruh kaki kanannya ke dalam celah di sebelah atas, dia menoleh ke bawah dan berbisik.
"Bi Cu, aku cinta padamu!"
Bi Cu yang berdongak itupun berbisik mesra.
"Sin Liong, akupun cinta padamu!"
Kata-kata yang diucapkan sebagai salam terakhir ini menambah tenaga yang bukan main, baik bagi Sin Liong maupun bagi Bi Cu.
Sin Liong naik sampai dua meter di atas Bi Cu, lalu berhenti dan menanti sampai Bi Cu mengikuti jejaknya.
Setelah itu, baru dia naik lagi.
Bi Cu bergerak setelah Sin Liong berhenti.
Demikianlah, mereka melakukan pendakian yang luar biasa sukarnya.
Kadang-kadang Bi Cu yang sudah melibatkan sisa tali pada akar atau batu menonjol, harus memejamkan mata melihat betapa Sin Liong melakukan pendakian yang amat sukar, bergantung pada batu dengan kedua kaki tergantung sedemikian rupa.
Ketika tiba gilirannya melalui tempat sukar itu, Sin Liong membantunya dengan menarik tali yang mengikat pinggangnya sehingga baginya tidaklah sesukar Sin Liong yang naik lebih dulu.
Beberapa kali Sin Liong memesan agar Bi Cu jangan sekali-kali menengok ke belakang.
Hal ini karena dia melihat betapa mengerikan kalau melihat ke belakang atau ke bawah.
Dia sendiri terpaksa harus melihat ke bawah karena dia berada di atas Bi Cu.
Akan tetapi dia tidak merasa takut melihat ke bawah, betapapun mengerikan, karena dia sudah bertekad untuk membawa Bi Cu keluar dari tempat ini!
Memang aneh luar biasa!
Hujan kemarin itu benar-benar seperti membuka jalan bagi mereka!
Biarpun masih sukar, akan tetapi toh bukan tidak mungkin mendaki terus ke atas seperti telah dibuktikan oleh dua orang muda yang keras hati itu.
Beberapa kali mereka seperti menghadapi jalan buntu.
Di sebelah atas Sin Liong hanya ada batu rata menonjol yang tidak ada tempat berpegang tangan sama sekali.
Untuk mmendaki batu bundar ini jelas tidak mungkin.
Maka sampai lama Sin Liong berhenti dan berpikir-pikir.
Peluhnya sudah membasahi seluruh tubuh.
Bi Cu yang berdiri di bawah kakinya, berpegang kepada akar pohon yang tumbuh miring itu, bertanya khawatir.
"Ada apakah, Sin Liong? Mengapa berhenti?"
Sebenarnya dia sudah dapat menduga.
Tentu Sin Liong menghadapi jalan buntu!
"Naik terus tidak mungkin,"
Akhirnya Sin Liong menjawab.
"Satu-satunya jalan hanya ke kanan itu dan kita harus melanjutkan pendakian dari situ!"
Dia menunjuk ke kanan di mana terdapat sebuah batu besar menonjol.
Memang agaknya air kemarin mengambil jalan dari situ, karena ada bekasnya dan jalan mendaki dari atas batu menonjol itu tidak begitu sukar.
Akan tetapi untuk mencapai batu menonjol itulah yang sukar, apalagi batu itu menjulur ke depan sehingga setengah tergantung di udara!
Jarak antara Sin Liong dan batu menonjol di kanan itu ada tiga meter dan yang memisahkan mereka adalah celah seperti gua yang tidak mungkin dapat dilalui.
Meloncat?
Mungkin saja dapat dilakukan dengan mudah oleh Sin Liong di tempat biasa, bukan di tempat seperti ini!
"Sin Liong, jangan meloncat ke situ!"
Bi Cu berseru ketika dia membayangkan kemungkinan yang mengerikan ini. Sin Liong menggeleng kepala.
"Tidak, terlalu berbahaya untuk meloncat. Bi Cu, kau lepaskan ikat pinggang itu, maksudku, tali yang mengikat pinggangmu."
"Tidak, aku tidak mau berpisah darimu lagi!"
Jawab Bi Cu cepat-cepat.
"Jangan salah mengerti, Bi Cu. Aku hanya ingin menggunakan tali itu untuk mencapai batu di sebelah kanan itu, setelah aku tiba di situ, baru aku dapat menarikmu ke sana. Hanya itulah jalan satu-satunya agar kita dapat melanjutkan pendakian kita ke atas."
Bi Cu mengerutkan alisnya dan mulutnya cemberut, tanda bahwa hatinya tidak senang, akan tetapi dia tidak membantah lagi dan melepaskan ikatan ujung tali itu dari pinggangnya.
Sin Liong lalu menarik tali itu ke atas, kemudian menggulung ujung yang tadi mengikat pinggang Bi Cu menjadi laso dan dia mengayunkan ujung tali itu ke arah batu yang menonjol.
Ayunannya tepat sekali, ujung tali itu dengan tepat menjerat batu dan ketika ditariknya, jeratnya mengencang dan ujung batu menonjol itu terikat sudah.
Kemudian ia mencoba kekuatan tali itu dengan tarikan keras dan kuat, tidak kurang dari tiga ratus kati kuatnya dan ternyata tali maupun batu dapat bertahan.
Sin Liong memandang ke bawah dan Bi Cu juga sejak tadi mengikuti gerak-geriknya.
Gadis itu tahu apa yang dilakukan Sin Liong, maka tak dapat ditahannya lagi, biarpun hatinya sedang tidak senang, dia berseru.
"Sin Liong, hati-hatilah...!"
In Liong tersenyum.
"Jangan khawatir, batu dan tali ini kuat sekali. Kau lihat bagaimana caranya agar nanti engkau mudah mengikuti jejakku."
Setelah berkata demikian, dengan hati-hati dan perlahan-lahan dia mengayun dirinya ke kanan, perlahan saja agar tidak memberatkan tali itu.
Tubuhnya terayun dan tergantung kepada tali yang bukan hanya mengikat pinggangnya, akan tetapi juga dipegangnya dengan kedua tangan itu.
Dari bawah batu menonjol itu, mudah saja bagi Sin Liong untuk memanjat naik melalui tali dan menangkap tonjolan batu, terus mengangkat tubuhnya naik ke atas batu.
Dia berhasil!
Dan dengan mudah!
Cepat Sin Liong melepaskan tali yang mengikat pinggangnya, juga ujung lain yang mengikat batu, lalu ujung ini diikatkan kepada lengan kanannya.
Dengan demikian dia merasa lebih yakin.
Kemudian dilemparkan ujung tali itu kepada Bi Cu sambil berkata.
"Tangkaplah!"
Bi Cu menangkap ujung tali dan mengikatnya ke pinggangnya.
Melihal dara itu nampak ragu dan takut-takut, Sin Liong berkata.
"Bi Cu, jangan takut. Mudah saja, dan kaulihatlah, ujung ini sudah mengikat lenganku, berarti kalau engkau jatuh ke bawah, aku akan ikut jatuh pula. Kita sudah bersama-sama lagi bukan?"
Ucapan itu menolong banyak, karena, kini Bi Cu mendaki naik ke tempat Sin Liong berayun tadi, kemudian dengan perlahan dia lalu mengayun diri ke kanan, memejamkan matanya karena dia sesungguhnya merasa ngeri bukan main.
Dengan memegangi tali di atasnya dengan kedua tangan, Bi Cu merasa betapa tubuhnya terayun-ayun di udara!
"Nah, memanjatlah naik, perlahan-lahan saja, Bi Cu,"
Terdengar suara Sin Liong di atasnya dan tanpa membuka mata, Bi Cu memanjat hati-hati melalui tali itu dan akhirnya dia ditarik naik oleh Sin Liong yang sudah dapat menangkap pergelangan tangannya.
Setelah tiba di atas batu itu, Bi Cu merangkul Sin Liong dengan tubuh menggigil!
Sin Liong membiarkan Bi Cu dalam dekapannya sampai beberapa lamanya, sampai Bi Cu menjadi tenang kembali, tiada hentinya berbisik membesarkan hati.
"Kita berhasil! Engkau berhasil dengan baik sekali. Dan kita pasti akan sampai di atas!"
Setelah Bi Cu tenang kembali, mereka melanjutkan perjalanan mereka mendaki seperti tadi, dengan kedua ujung tali mengikat pinggang masing-masing.
Pendakian yang sama sekali tidak mudah dan setelah siang, akhirnya, dengan kedua telapak tangan lecet-lecet berdarah, napas terengah-engah, keduanya dapat tiba di atas, di daratan yang aman, di "dunia"
Yang lama.
Keduanya menggulingkan diri di atas tanah di tepi jurang, terengah-engah dengan mulut terbuka tertawa, akan tetapi dengan mata basah air mata.
"Kita selamat!"
Sin Liong berkata.
"Terima kasih kepada hujan!"
Bi Cu berseru lalu dara itu berlutut dan menyembah-nyembah, ditujukan ke atas, ke udara karena dari sanalah datangnya hujan kemarin!
"Kepada hujan?
Kepada Thian (Tuhan) maksudmu...?"
"Tidak, kepada hujan!"
Bi Cu membantah.
"Bukankah hujan yang menyelamatkan kita? Kalau tidak ada hujan kemarin, kita sudah mati kehausan, dan kalau tidak ada huian yang membuka jalan mana mungkin kita naik ke sini? "Tapi Tuhan yang membuat hujan! Tuhan yang mengatur itu semua sehingga kita tertolong."
"Aku tidak tahu, akan tetapi yang jelas, air hujan itu menolong kita. Aku tidak tahu siapa yang mengaturnya, akan tetapi aku tahu benar, air hujan itu memungkinkan kita masih dapat hidup sekarang ini, maka akuu berterima kasih kepada hujan kemarin!"
Sin Liong tidak mau membantah.
Apa artinya berbantah tentang hal siapa yang mengatur air hujan?
Ada dongeng yang mengatakan bahwa hujan diatur oleh Dewa Naga Pengatur Hujan, ada dongeng lain yang mengatakan bahwa dewa ini, malaikat itu, yang mengatur hujan, dan Tuhan hanya memerintahkan para dewa atau para malaikat untuk menunaikan segala macam tugas di alam ini.
Jadi siapa yang berjasa menyelamatkan mereka?
Tidak ada artinya untuk bercekcok tentang teori itu karena bagaimanapun juga, tidak ada seorangpun manusia yang mengetahui dengan sesungguhnya tentang siapa yang mengatur hujan itu.
Yang jelas seperti Bi Cu, air hujan kemarin itulah yang menyelamatkan mereka.
Dan hal itu tidak dapat dibantah lagi, karena merupakan kenyataan sesungguhnya.
Apa yang terjadi di balik kenyataan itu adalah rahasia, dan memperbantahkan sesuatu yang rahasia, yang tidak diketahui, hanya merupakan perbuatan bodoh dan menimbulkan pertentangan saja.
Dan dia jelas tidak ingin bertentangan dengan Bi Cu.
Akan tetapi, tiba-tiba Bi Cu mengeluh dan terguling roboh!
Sin Liong terkejut sekali, menubruk dan merangkulnya.
Ternyata tubuh dara itu panas sekali, akan tetapi ketika Sin Liong merangkulnya, dia menggigil seperti orang kedinginan.
Tahulah Sin Liong bahwa Bi Cu tersereg demam!
Inilah akibat perut kosong, tekanan batin yang amat hebat penuh ketegangan dan ketakutan, kemudian kehujanan dan kedinginan semalam dilanjutkan dengan keletihan dan ketegangan yang amat luar biasa ketika mereka mendaki selama setengah hari tadi.
"Bi Cu...! Bi Cu...!"
Sin Liong memanggil ketika melihat dara itu pingsan, memondongnya dan membawanya ke dalam hutan tak jauh dari tepi jurang itu.
Dia harus mencari air, harus mencari makanan, harus mencari obat untuk Bi Cu.
Sin Liong tidak merasakan betapa tubuhnya sendiri amat lelah dan lapar, yang diperhatikan hanyalah keadaan Bi Cu seorang.
Kita tinggalkan dulu dengan dada lapang Sin Liong dan Bi Cu yang sudah berhasil lolos dari bahaya maut itu dan mari kita mengikuti kembali keadaan Pangeran Ceng Han Houw di istananya di kota raja.
Biarpun pangeran ini melihat kegiatan-kegiatan dilakukan oleh istana, bahkan dia mendengar pula bahwa istana mengumumkan pengampunan dan kebebasan kepada keluarga Cin-ling-pai, namun tidak ada tindakan atau perintah sesuatu dari istana yang ditujukan kepada dirinya.
Oleh karena itu dia merasa agak lega, sungguhpun semenjak peristiwa kehilangan surat Raja Sabutai itu dia tidak lagi berani mengadakan hubungan dengan utara maupun dengan sekutu-sekutunya yang lain.
Dia harus bersikap hati-hati.
Ada dua kemungkinan, pikirnya.
Pertama, kaisar belum pernah menerima surat rahasia itu.
Atau, sudah menerima akan tetapi tidak percaya sepenuhnya atau juga tidak mau menimbulkan keributan antara keluarga istana sendiri, maka kaisar memerintahkan tindakan-tindakan yang berhati-hati.
Dan dia tahu siapa yang ditunjuk oleh kaisar untuk menanggulanginya.
Tentu Pangeran Hung Chih!
Malam itu sunyi sekali di istana Pangeran Ceng Han Houw.
Pangeran yang cerdik ini sudah lama menyuruh orang Mongol pergi dari istananya, bahkan diapun sudah menyuruh Hai-liong-ong Phang Tek kembali ke selatan.
Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan istana dan hidup tenang di istananya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Akan tetapi para pengawalnya yang merupakan orang-orang kepercayaannya, Telah dipesan agar berjaga dengan hati-hati sekali jangan sampai kebobolan seperti ketika Sun Eng lenyap dilarikan orang malam itu.
Dia mengganti para pengawalnya dengan orang-orang pilihan yang mempunyai kepandaian cukup boleh diandalkan.
Dan pada malam yang sunyi itu para pengawal dikejutkan oleh munculnya seorang wanita muda yang cantik jelita dan gagah, yang muncul secara terang-terangan di pintu gerbang dan minta kepada para pengawal agar disampaikan kepada Pangeran Ceng Han Houw bahwa dia hendak bertemu dengan sang pangeran pada waktu itu juga.
Ketika menyatakan ini, wanita cantik itu mengeluarkan sebuah cincin yang dikenal oleh para pengawal sebagai cincin sang pangeran, Cincin tanda bahwa wanita ini adalah kepercayaan sang pangeran!
Tentu saja para pengawal bersikap hormat, lalu mempersilakan wanita itu menanti di dalam ruangan tamu sedangkan kepala pengawal tergopoh-gopoh melaporkan ke dalam istana.
Ketika Ceng Han Houw menerima laporan ini, ada dua macam perasaan mengaduk hatinya.
Pertama tentu saja perasaan girang karena dia sudah dapat menduga siapa adanya wanita itu.
Hanya ada satu wanita di dunia ini yang pernah diberinya cincin kekuasaan dan wanita itu adalah Lie Ciauw Si!
Dan kedua dia merasa curiga dan juga tegang.
Dara perkasa itu adalah cucu dari mendiang ketua Cin-ling-pai dan biarpun saling mencinta dengan dia, Akan tetapi kalau dara itu maklum bahwa dia dimusuhi pula oleh keluarga Cin-ling-pai, Apakah dara itu akan tetap mencintanya dan apakah tidak akan memusuhinya pula?
Diam-diam dia lalu mengatur sikap dan secara kilat dia mencari siasat bagaimana untuk menghadapi dara cantik yang telah menarik hatinya dan yang membuatnya benar-benar jatuh cinta itu.
Setelah merapikan pakaiannya, Pangeran Ceng Han Houw lalu keluar menuju ke ruangan tamu untuk menyambut.
Ketika dia membuka pintu, tamunya itu bangkit berdiri.
Kini mereka berdiri berhadapan dan saling berpandangan.
Tak salah dugaannya, dara itu memang Lie Ciauw Si.
Nampak makin cantik dan makin gagah saja.
Sebaliknya, Ciauw Si juga memandang kepada pangeran itu.
Alangkah tampannya pangeran itu, dalam pakaian yang gemerlapan dan indah!
"Nona Lie Ciauw Si...!
Moi-moi, ternyata engkau datang mengunjungiku...!"
Akhirnya Han Houw berseru girang dan menghampiri, lalu memegang kedua tangan dara itu.
Ciauw Si membiarkan tangannya dipegang karena dia sendiri juga merasa rindu kepada pria yang menjatuhkan hatinya ini dan merasa girang dengan pertemuan ini.
"Pangeran, engkau baik-baik selama ini, bukan?"
"Tentu saja! Ah, Si-moi, betapa rinduku kepadamu...!"
Dan pangeran itu merangkul, terus menciumnya.
Akan tetapi hanya sebentar saja Ciauw Si membiarkan dirinya dicium, lalu dia mendorong dada pangeran itu perlahan.
"Cukup pangeran..."
Katanya sambil melangkah mundur.
"Tapi, Si-moi..."
"Pangeran, akupun rindu kepadamu. Akan tetapi ingat, kita masih belum menjadi suami isteri, oleh karena itu kita harus dapat membatasi diri..."
Pangeran itu maklum bahwa terhadap seorang dara seperti Ciauw Si, dia tidak boleh bertindak ceroboh.
Pula, dia memang sungguh mencinta dara ini dan tidak ingin memperlakukan seperti wanita lain yang disenanginya hanya karena dorongan nafsu berahi semata.
Terhadap Ciauw Si dia mempunyai perasaan lain.
Bukan semata-mata nafsu berahi, melailnkan dia memang kagum dan suka sekali kepada wanita ini, dan kalau sekali waktu dia ingin mempunyai isteri, bukan selir, agaknya inilah pilihannya.
"Si-moi, mari masuk. Ahh, engkau malam-malam begini datang? Tentu belum makan malam."
Pangeran itu lalu memanggil pelayan dan memerintahkan agar cepat disediakan hidangan malam.
Kemudian dengan sikap mesra dan ramah dia mempersilakan Ciauw Si untuk masuk ke bagian dalam istananya.
"Saya tidak akan lama, pangeran, hanya akan membicarakan sesuatu yang penting, yaitu hendak mohon bantuanmu..."
"Aih, Si-moi! Kita baru saja berjumpa setelah berbulan-bulan kita saling berpisah. Masa engkau begitu datang lalu hendak pergi lagi? Itu namanya menyiksa perasaanku! Tidak, engkau harus menjadi tamu agungku, setidaknya untuk semalam dua malam, kita bicara nanti sambil makan malam. Nah, mari kuantar engkau ke kamar tamu, setelah mengaso dan mungkin hendak mandi dulu, kita makan dan bicara. Sungguh engkau tidak boleh menolak permintaanku ini, Si-moi."
Ciauw Si memang tidak dapat menolak, juga tidak ingin menolak.
Pangeran itu demikian ramah dan diapun sesungguhnya rindu kepada pria yang dikasihinya ini.
Pula, apa salahnya tidur di istana yang mewah itu asal saja dia mendapatkan kamar sendiri?
Tidur di rumah penginapanpun sama saja, tidur bersanding kamar dengan orang lain, malah orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya malah.
Bagi seorang gadis kang-ouw, tidur di manapun tidak ada halangannya.
Apalagi tidur di dalam sebuah kamar tersendiri dalam istana pangeran ini!
Dia mengagumi keindahan istana itu yang dengan perabot-perabot indah dan mewah, lukisan-lukisan yang amat indah.
"Silakan, inilah kamarmu, Si-moi. Engkau perlu pelayan?"
"Tidak, tidak... aku tidak biasa dilayani, pangeran. Cukup asal disediakan air hangat saja... dan..."
Seorang pelayan wanita yang muda dan cantik menghampiri.
"Perintahkan segalanya kepada saya, nona, dan saya akan mempersiapkan segala keperluan nona."
Pangeran Ceng Han Houw tersenymm.
"Nah, dia itulah pelayanmu. Sampai nanti, Si-moi."
Pangeran itu lalu membungkuk dan mengundurkan diri.
Diam-diam Ciauw Si girang sekali.
Kekasihnya itu selain tampan dan memiliki kepandaian tinggi, juga amat sopan dan lemah lembut, pikirnya penuh kebanggaan.
Ciauw Si mandi air hangat dan berganti pakaian yang dibawanya dalam buntalan.
Tak lama kemudian, Pangeran Ceng Han Houw sendiri menjemputnya untuk diajak makan malam di kamar makan.
Pangeran itu juga sudah berganti pakaian serba baru yang indah, sehingga diam-diam Ciauw Si merasa malu juga dengan pakaiannya sendiri yang biasa saja, pakaian seorang wanita perantau yang ringkas.
Akan tetapi pangeran itu memandangnya penuh kagum.
"Engkau nampak makin cantik dan gagah saja dalam pakaian itu, Si-moi!"
Memang dia seorang pria yang pandai merayu, maka tentu saja diam-diam Ciauw Si merasa girang sekali.
Wanita mana yang tidak akan merasa girang kalau dipuji?
Apalagi yang memuji adalah pria yang dicintanya.
Pedang Pek-kong-kiam yang memang tidak pernah berpisah dari tubuhnya, terselip di punggungnya.
Ketika mereka tiba di ruangan makan yang indah dan segar karena di mana-mana terdapat pot-pot bunga, di situ telah menanti enam orang wanita muda yang berpakaian mewah dan cantik-cantik sekali dengan sikap yang agak genit menyambut pangeran dan Ciauw Si.
Hidangan telah diatur di atas meja, masih mengepulkan uap karena masih panas.
Para wanita itu menyambut dengan ramah dan mempersilakan pangeran dan Ciauw Si duduk.
Sementara itu, di luar ruangan itu terdengar suara musik dan nyanyian yang dilakukan oleh beberapa orang wanita muda yang cantik pula.
Seluruh ruangan itu penuh dengan bau semerbak harum yang keluar dari pakaian para wanita itu.
Ciauw Si tidak segera duduk, memandang ke sekelilingnya dengan alis berkerut, kemudian dia bertanya kepada Han Houw.
"Pangeran, siapakah mereka ini? Pelayan-pelayan?"
Tanyanya meragu karena tidak mungkin pelayan berpakaian begini indah, apalagi sikap mereka terhadap sang pangeran bukan seperti pelayan yang menghormat, melainkan sikap yang merayu!
Pangeran Ceng Han Houw tersenyum bangga.
"Mereka ini? Ah, mereka ini adalah selir-selirku, Si-moi. Dia itu adalah Hong Kiauw, yang itu Bwee Sian, dan itu..."
"Pangeran, suruh mereka pergi!"
Tiba-tiba Ciauw Si berkata dengan suara dingin dan sepasang matanya memandang marah.
Para selirnya itu terkejut dan cemberut, juga Han Houw terkejut dan bingung.
"Eh... ini..."
Dia tergagap.
"Cukup, suruh mereka pergi atau aku yang akan pergi dari sini!"
Melihat sikap yang tegas dan keras ini, Ceng Han Houw lalu melambaikan tangan menyuruh para selir itu meninggalkan ruangan makan.
Para selir itu cemberut dan mengerling marah, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani membantah.
"Yang main musik dan bernyanyi itu juga! Dan aku tidak mau dilayani, aku ingin bicara denganmu, pangeran!"
Kata Ciauw Si tegas.
"Baiklah... baiklah...!"
Pangeran Ceng Han Houw lalu memberi isyarat kepada para pemain musik, para pelayan dan pengawal untuk meninggalkan ruangan itu.
Sebentar saja mereka sudah pergi semua dan mereka kini hanya berdua saja, Ciauw Si masih berdiri, belum mau duduk.
"Nah, mereka telah pergi, silakan duduk dan mari kita makan dulu sebelum bicara, Si-moi."
Ciauw Si duduk, akan tetapi belum mau menyentuh makanan.
Wajahnya muram dan pandang matanya masih marah.
Tiba-tiba dia menatap wajah pangeran itu dengan tajam dan pertanyaannya mengejutkan pangeran itu.
"Pangeran, aku minta ketegasan. Apakah engkau cinta sungguh-sungguh kepadaku?"
Pangeran Ceng Han Houw mengerti bahwa wanita ini bersungguh-sungguh, bahkan cara bicaranya juga kasar terhadapnya, tanda bahwa perasaan wanita itu terganggu sekali.
Dia tidak boleh main-main dan harus bersikap tegas pula.
"Tentu saja, Si-moi. Aku cinta padamu dengan sepenuh hatiku."
"Pangeran, aku tidak menyalahkan engkau yang mempunyai banyak selir. Aku tahu bahwa memang itu sudah menjadi kebiasaan para bangsawan yang memelihara banyak selir, baik sebelum maupun sesudah menikah. Akan tetapi aku adalah seorang wanita yang membela kebenaran dan keadilan, oleh karena itu, terus terang saja, aku tidak mau menjadi kekasih seorang pria yang mempunyai banyak selir! Aku hanya mau satu sama satu atau... tidak sama sekali! Nah, sebelum hubungan kita makin akrab, aku harap engkau suka memilih, pangeran. Pilihlah, aku ataukah selir-selirmu!"
"Tapi... tapi... apa artinya ini...?"
Pangeran berkata tergagap karena kata-kata yang dikeluarkan Ciauw Si itu sungguh-sungguh tak pernah diduganya.
"Artinya sudah jelas, pangeran. Kalau engkau mencintaku, itu berarti bahwa aku akan menjadi isterimu, dan kalau aku menjadi isterimu, aku tidak ingin melihat engkau mempunyai selir seorangpun. Inilah syaratku, tinggal terserah kepadamu sekarang, pangeran."
Sementara itu, Pangeran Ceng Han Houw sudah dapat menenangkan dirinya kembali.
Dia menarik napas panjang lalu berkata.
"Baiklah, Si-moi. Tentu saja permintaanmu itu amat pantas den aku setuju sekali. Sekarang juga aku akan perintahkan agar mereka itu dipulangkan ke rumah orang tua masing-masing!"
Ciauw Si sendiri kaget mendengar keputusan mendadak itu, akan tetapi sebelum dia sempat berkata-kata, pangeran itu telah memberi tanda tepukan tangan den muncullah seorang pengawal dari pintu belakang.
Biarpun seorang pengawal tadi sudah disuruh pergi meninggalkan ruangan itu, namun mereka itu siap siaga di luar ruangan, menjaga kalau-kalau sang pangeran memanggil mereka.
"Laporkan kepada kepala pengawal bahwa malam ini juga semua selirku harus disuruh pergi dari istana, dan boleh antarkan mereka pulang ke rumah orang tua masing-masing. Hadiah dan kerugian untuk mereka semua akan kukirim kemudian. Laksanakan perintah ini sekarang juga. Mengerti?"
Pengawal itu membelalakkan mata seolah-olah tidak mendengar dengan baik atau merasa ragu akan perintah yang dianggapnya aneh itu.
Untuk menjaga agar jangan sampai terjadi kekeliruan salah dengar yang mengakibatkan dirinya celaka, dia berdiri tegak dan mengulang.
"Paduka memerintahkan agar semua selir paduka malam ini juga dipulangkan ke rumah orang tua masing-masing, dan bahwa hadiah untuk mereka akan paduka kirimkan kemudian?"
"Benar. Lekas laksanakan sekarang juga!"
"Baik, pangeran!"
Pengawal itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu setelah memberi hormat dan Ceng Hen Houw menoleh dengan senyum kepada kekasihnya, lalu memegang tangan kekasihnya dan digandengnya ke meja makan dan dipersilakannya dengan halus nona itu duduk.
"Sudah puaskah engkau sekarang?"
Ciauw Si tersenyum manis dan wajahnya berseri.
"Sungguh tak kuduga bahwa pangeran akan memenuhi permintaanku seketika. Aku girang dan berterima kasih sekali, pangeran. Kini aku tidak ragu-ragu lagi akan cinta kasihmu kepadaku."
Mereka lalu makan minum sambil kadang-kadang saling berpandangan mesra.
Ceng Han Houw berani mengambil keputusan demikian cepat tentang selir-selirnya bukan karena dia tidak sayang kepada selir-selirnya itu, sama sekali tidak.
Dia adalah seorang yang amat cerdik.
Dia tahu bahwa keadaannya pada waktu itu terancam, rahasianya mungkin sudah diketahui oleh kaisar.
Dalam keadaan terjepit ini dia membutuhkan bantuan orang-orang pandai, kalau sewaktu-waktu dia akan turun tangan atau harus membela diri.
Dan Ciauw Si dalam hal ini jauh lebih berharga daripada para selirnya itu.
Apalagi kalau diingat bahwa di belakang Ciauw Si ini berdiri keluarga Cin-ling-pai yang memiliki banyak orang sakti.
Kalau dia dapat memperisteri Ciauw Si dan menarik keluarga Cin-ling-pai menjadi pembantu-pembantunya atau setidaknya menjadi sahabat-sahabat atau keluarga, tentu kedudukannya akan menjadi lebih kuat.
Dibandingkan dengan kemungkinan yang amat baik ini, apa artinya beberapa orang selir itu?
Tentu saja dia merelakan selir-selirnya untuk kemungkinan yang jauh lebih menguntungkan itu.
Setelah mereka selesai makan dan sang pangeran memanggil pelayan membersihkan meja, dia mengajak Ciauw Si duduk di dalam taman yang penuh bunga dan diterangi lampu merah, di dekat kolam ikan.
Hawanya sejuk sekali di situ, dan sunyi.
"Nah, sekarang katakanlah, keperluan apakah yang hendak kausampaikan kepadaku, Si-moi?"
"Pangeran, kedatanganku ini selain hendak mengunjungimu seperti yang pernah kita janjikan ketika kita saling jumpa dahulu, juga untuk minta pertolonganmu. Engkau tentu telah mengetahui, pangeran, bahwa ibu kandungku, ayah tiriku, paman Cia Bun Houw dan juga bibi Yap In Hong, pendeknya semua keluarga Cin-ling-pai, oleh pemerintah dianggap sehagai pemberontak dan buruan."
Pangeran Ceng Han Houw memang sudah menduga akan hal ini, maka dia tidak terkejut dan mengangguk sambil tersenyum, matanya penuh kagum memandang bibir yang sedang bicara tadi.
"Maka, aku mohon bantuanmu agar fitnah yang dijatuhkan atas diri keluarga kami itu dapat dicabut, agar keluarga kami yang semenjak dahulu tidak pernah memberontak itu dibebaskan dari tuduhan. Harap engkau suka membujuk kepada sri baginda kaisar agar bersikap dan bertindak bijaksana..."
Ciauw Si menghentikan kata-katanya karena dia melihat pangeran itu menarik napas dan menggeleng-geleng kepala.
Jantungnya berdebar dan timbul kekhawatiran di dalam hatinya.
"Bagaimana, pangeran?"
Dia mendesak.
"Ciauw Si moi-moi, agaknya engkau belum tahu akan kedudukanku. Dengarlah, aku hanyalah adik tiri dari kaisar, dan sejak kecil aku ikut ibu kandungku yang menjadi permaisuri Raja Sabutai. Biarpun aku diterima oleh mendiang ayah kandungku dan sampai sekarang aku dianggap pangeran di sini, namun diam-diam kaisar membenciku. Oleh karena itu, kalau aku menghadap kaisar dan mengusulkan agar keluarga Cin-ling-pai dibebaskan, bukan saja hal itu akan sia-sia, bahkan tentu kaisar akan memperoleh alasan untuk menangkap aku yang akan dituduhnya bersekongkol dengan pemberontak dan buruan. Kalau engkau menghadap, tentu engkau akan ditangkap pula. Tidak mungkinlah untuk mengharapkan aku dapat membujuk kaisar sampai berhasil."
Mendengar penuturan ini, tentu saja Ciauw Si menjadi terkejut dan kecewa sekali.
Seketika lenyap harapannya untuk dapat menyelamatkan keluarganya dengan perantaraan pangeran ini.
"Ah, lalu bagaimana baiknya...?"
Dia berkata lirih. Ceng Han Houw memegang kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Si-moi, jangan khawatir. Aku masih mempunyai pengaruh besar di antara para pembesar di seluruh daerah. Akan dapat kuusahakan agar para pembesar daerah tidak lagi mengejar-ngejar keluargamu sebagai keluarga pemberontak. Akan tetapi, kita tidak mungkin dapat mengharapkan pengampunan dari kaisar lalim!"
"Pangeran...!"
Ciauw Si terkejut mendengar kekasihnya itu menyebut kaisar lalim.
"Apalagi dia kalau bukan kaisar lalim? Ingat, selamanya keluarga Cin-ling-pai adalah keluarga gagah perkasa yang tidak pernah memberontak, bukan? Akan tetapi, kaisar lalim ini menuduh mereka sebagai pemberontak! Oleh karena itu, kita harus menentang dia, Si-moi! Jalan satu-satunya untuk menolong keluargamu, juga untuk menolong rakyat dari kelalimannya hanyalah dengan jalan menentangnya!"
"Tapi... tapi, pangeran... maaf, bukankah yang memusuhi keluarga Cin-ling-pai justeru adalah sucimu yang bernama Kim Hong Liu-nio dan gurumu yang bernama Hek-hiat Mo-li?"
Pangeran Ceng Han Houw menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Engkau salah mengerti, Si-moi. Memang tentu saja bekas guruku itu, aku telah menjadi murid orang sakti lain sekarang. Hek-hiat Mo-li merupakan musuh dari keluarga Cin-ling-pai akan tetapi ia merupakan urusan pribadi antara Hek-hiat Mo-li dan keluarga Cin-ling-pai. Dan kurasa suci Kim Hong Liu-nio hanyalah menjalankan tugas sebagai murid saja. Akan tetapi, kaisar lalim mempergunakan kesempatan itu untuk membonceng dan dengan pengerahan pasukan menyuruh suci dan subo itu untuk menyerang keluargamu! Tentu saja suci tidak berani membantah kehendak kaisar yang merupakan perintah. Jadi, yang menjadi biang keladi adalah kaisar lalim. Oleh karena itu harus kita tumpas dia!"
Dengan pandainya Ceng Han Houw memutarbalikkan kenyataan sehingga Ciauw Si yang merupakan seorang gadis kang-ouw yang jujur itu terpikat juga akhirnya.
Hatinya mulai menjadi panas kepada kaisar yang memusuhi keluarga Cin-ling-pai, yang menurut pangeran kekasihnya, merupakan golongan yang berbahaya bagi kerajaan!
"Bagi kaisar lalim, golongan-golongan yang tinggi ilmunya merupakan ancaman bahaya bagi keselamatan kerajaan, oleh karena itu dilakukan pembasmian besar-besaran.
Dan semua ini adalah siasat yang diatur oleh Pangeran Hung Chih yang menjilat-jilat kepada kaisar.
Bahkan aku mendengar kabar bahwa Pangeran Hung Chih sedang mengumpulkan orang-orang pandai yang dapat dibelinya untuk menghadapi aku."
"Ahh...?"
"Akan tetapi jangan khawatir, Si-moi. Aku bukanlah Ceng Han Houw seperti yang kaujumpai beberapa bulan yang lalu. Aku telah mewarisi ilmu yang amat tinggi dan aku tidak akan mudah dikalahkan oleh siapapun juga di dunia ini. Maka, aku hendak mengadakan pertemuan besar dengan seluruh jagoan di dunia kang-ouw, untuk memilih jago nomor satu di dunia ini. Kalau aku bisa memenangkan kedudukan itu, tentu semua tokoh kang-ouw di dunia ini akan berpihak kepadaku dan kekuatanku menjadi makin besar. Setelah itu, barulah kita akan menghadapi kaisar lalim. Engkau tentu akan berpihak kepadaku, bukan?"
"Tentu saja, pangeran."
Lalu gadis itu mendesak.
"Tentang keluargaku, bagaimana caramu untuk dapat menolong mereka?"
"Jangan khawatir, untuk sementara ini tidak akan ada pembesar yang berani mengusik mereka. Akan kutulis surat perintah kepada seluruh pembesar agar jangan ada yang mengganggu keluargamu. Surat itu boleh kau berikan kepada ibu kandungmu, dan memperlihatkan kepada setiap pembesar yang hendak mengganggu. Akan kubuat beberapa buah agar dapat kau bagi-bagi kepada mereka, dan percayalah, suratku itu akan merupakan jimat penyelamat yang ampuh. Ingat bahwa saat ini aku masih memegang kekuasaan tinggi sebagai orang kepercayaan kaisar!"
Bukan main lega dan (Lanjut ke
Jilid 50) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 50 girangnya rasa hati Ciauw Si mendengar ini.
Juga ada rasa bangga bahwa pangeran itu, pria yang dikasihinya itu, ternyata mampu untuk menolong keluarganya.
"Ah, terima kasih, pangeran. Engkau sungguh baik hati sekali..."
Ceng Han Houw bangkit berdiri, pindah duduk di dekat gadis itu dan merangkulnya mesra.
"Si-moi, tentu saja aku baik kepadamu karena aku cinta padamu, Si-moi. Aku sudah membuktikan cinta kasihku kepadamu, akan tetapi apakah buktinya bahwa engkau cinta padaku?"
"Pangeran, bukti apakah yang kaukehendaki lagi? Aku sekarang berada dalam pelukanmu, maukah aku kalau aku tidak cinta padamu?"
Ceng Han Houw menciumnya dan untuk beberapa lama mereka berpelukan dan berciuman dengan curahan hati penuh kasih sayang.
"Si-moi..,"
Han Houw berbisik dengan napas agak memburu di dekat telinga kiri gadis itu.
"Kalau engkau benar mencintaku... marilah engkau bermalam di dalam kamarku malam ini, sayang..."
Iba-tiba tubuh yang tadinya lemas menyerah itu menegang dan Ciauw Si melepaskan pelukan pangeran itu, menatap tajam di bawah sinar lampu merah.
Sejenak mereka berpandangan dan terdengar pangeran itu berbisik.
"Maaf Si-moi, bukan maksudku untuk merendahkanmu, akan tetapi sungguh... aku cinta padamu, aku membutuhkanmu, dan dalam keadaan aku dimusuhi oleh kaisar seperti sekarang ini, kalau engkau pergi besok... entah kapan kita bertemu kembali, Si-moi... maka sebelum berpisah, aku ingin memiliki dirimu dulu... aku ingin engkau menjadi isteriku..."
"Pangeran, engkau tahu bahwa hal itu tidak boleh kita lakukan sebelum kita menikah. Aku harus memberitahukan ibuku, dan engkau harus mengajukan pinangan dulu. Baru kalau kita sudah menikah, aku akan menyerahkan jiwa ragaku kepadamu, pangeran. Engkau tahu bahwa aku mencintamu dan akan berbahagia sekali menjadi isterimu..."
"Akan tetapi, moi-moi, mana mungkin kita dapat melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat-dekat ini, setelah engkau mengetahui keadaanku? Pernikahan antara kita tentu akan membuat kaisar menjadi semakin curiga dan tidak senang, karena engkau adalah puteri dari keluarga yang memusuhinya. Dan menghadapi perjuangan ini, belum tentu kalau aku akan keluar dengan selamat. Maka... tidak kasihankah engkau kepadaku? Tegakah engkau membiarkan aku setiap hari merindukanmu, Si moi?"
Ceng Han Houw merayu dan kembali dia sudah memeluk gadis itu.
Belaian, pelukan dan ciuman-ciuman pangeran itu memang sudah membuat Ciauw Si seperti mabuk, maka kini rayuan-rayuan pangeran itu membuat dia semakin bimbang.
Dia hampir tidak dapat berkata-kata lagi dan tidak dapat menolak ketika pangeran itu kembali menciuminya, karena dia sendiri merasa seperti dibuai oleh keadaan yang amat membahagiakan perasaannya.
Akan tetapi ketika pangeran itu semakin berani dalam belaiannya, dia tersentak dan berbisik.
"Kita harus menikah dulu... harus menikah dulu..."
Dan Ciauw Si pun menangis!
Pangeran Ceng Han Houw tidak berani memaksa.
Dia mendekap kepala yang menangis di atas dadanya itu, mengelus rambut yang halus itu dan berbisik.
"Moi-moi, engkau tahu betapa besar cintaku kepadamu. Aku menghormati pendirianmu. Akan tetapi karena aku tidak ingin menderita sengsara dalam kerinduan, maka kuharap engkau akan setuju kalau kita lebih dulu melakukan upacara pernikahan sekarang juga..."
Ciauw Si mengangkat muka dan memandang heran melalui matanya yang basah.
"Apa...? Bagaimana...?"
"Dengar, sayang. Kita dapat menikah sekarang juga di dalam kuil. Kalau kita sudah bersumpah di depan Tuhan, disaksikan Langit dan Bumi, upacaranya dilakukan oleh hwesio dalam kuil, bukankah pernikahan itu sudah sah pula namanya? Hanya belum dirayakan dan disaksikan keluarga dan manusia lain? Akan tetapi setelah disaksikan Tuhan, bukankah itu sudah lebih dari sah?"
Ciauw Si yang sudah bimbang itu dan sudah siap melakukan apa saja dengan kekasihnya, dan hanya melihat pernikahan sebagai hal satu-satunya yang menjadi penghalang, kini melihat jalan keluar ini, menjadi girang sekali.
"Tapi... tapi... dapatkah hal itu dilakukan, pangeran?"
"Tentu saja. Ketua Kuil Hok-te Seng-kun di kota raja adalah seorang sahabatku, dan kita malam ini juga dapat melakukan upacara pernikahan dan sembahyang itu di dalam kuilnya. Dengan demikian kita akan sah menjadi suami isteri."
"Ohhh..."
"Dan engkau akan menjadi isteriku, calon permaisuriku..."
Pangeran itu mencium dan Ciauw Si lalu pasrah.
Pergilah mereka keluar dari taman dan tak lama kemudian, mereka sudah mengendarai sebuah kereta pergi ke Kuil Hok-te Seng-kun di sebelah barat dalam kota raja itu.
Para hwesio itu tentu saja sibuk menyambut kedatangan pangeran dengan hormat sekali.
Liang Sim Hwesio, ketua kuil itu menerima dua orang tamu agungnya di dalam kamar tamu dan ketika sang pangeran menjelaskan maksud kedatangannya dengan gadis cantik itu, sejenak sang hwesio tertegun.
Sungguh permintaan yang aneh sekali dari pangeran itu untuk menikah saat itu juga, tanpa perayaan tanpa saksi, hanya cukup dengan sembahyang saja.
"Dapatkah losuhu melakukan hal itu untuk menolong kami yang hendak menikah secara resmi di kuil ini?"
Tanya sang pangeran, suara dan matanya menuntut dan mendesak.
"Tentu, tentu saja pinceng dapat melakukan itu, pangeran. Dengan senang hati dan pinceng merasa mendapatkan kehormatan yang besar sekali!"
Serunya sambil tersenyum lebar dan wajahnya berseri.
Siapakah tidak akan merasa girang kalau diberi kehormatan untuk melakukan upacara pernikahan seorang pangeran yang terhormat dan mulia?
Tiba-tiba Ciauw Si yang sejak tadi hanya mendengarkan saja dengan kedua pipi kemerahan dan jantung berdebar, merasa malu-malu dan tegang, kini bertanya, suaranya lirih dan agak gemetar, seolah-olah lenyaplah sifat-sifat gagahnya ketika menghadapi peristiwa yang amat mendebarkan dan menegangkan bagi seorang gadis ini.
"Losuhu... apakah... pernikahan seperti ini sudah sah...?"
Hwesio tua itu seperti terkejut mendengar pertanyaan ini, sepasang matanya memandang wajah Ciauw Si dan kemudian wajah sang pangeran.
Begitu bertemu dengan sinar mata sang pangeran, diapun cepat merangkap kedua tangannya depan dada.
"Omitohud...! Tidak ada yang lebih sah daripada peneguhan dan pemberkatan di dalam kuil, disaksikan oleh para dewa dan malaikat, dengan sumpah di meja sembahyang kepada Thian sendiri, siocia!"
Lapanglah rasa hati Ciauw Si mendengar keterangan yang diucapkan dengan suara mantap itu.
Dia merangkap kedua tangannya dan berkata.
"Terima kasih, losuhu."
Mereka tidak usah menanti lama-lama.
Segera meja sembahyang untuk keperluan itu dipersiapkan dan tak lama kemudian dua orang muda itu telah berlutut di depan meja sembahyang dengan penuh khidmat.
Ketika mereka bersembahyang itu, Ciauw Si teringat akan keluarganya dan tak dapat ditahannya lagi menangislah pengantin wanita ini!
Betapapun juga, ia merasa sedih sekali karena menikah tanpa dikelilingi sanak keluarganya, bahkan tidak memakai pakaian pengantin dan tidak disaksikan oleh seorangpun kerabat.
Dia memang sudah mengambil keputusan nekat.
Biarpun bangkitnya gairah nafsu karena dirayu dan dibelai oleh kekasihnya itu merupakan pendorong utama, akan tetapi di samping itu juga ada kenyataan-kenyataan lain yang mendorong Ciauw Si menyerah kepada kekasihnya dengan sekedar upacara pernikahan yang sunyi di kuil itu.
Dia teringat akan peristiwa yang menimpa diri kakaknya, Lie Seng.
Kakaknya itu saling mencinta dengan Sun Eng, akan tetapi ibu kandungnya dan keluarga Cin-ling-pai menentang sehingga terjadi peristiwa yang amat menyedihkan.
Sejak semula dia membela kakaknya dan diam-diam dia tidak setuju dengan sikap orang-orang tua itu yang mau mencampuri urusan cinta kasih antara dua orang muda!
Oleh karena kenyataan inilah maka Ciauw Si menganggap bahwa kehadiran keluarganya dalam pernikahannya sekarang inipun hanya merupakan soal ke dua belaka, yang penting adalah dia dan pangeran!
Dan dia tidak menyerahkan diri begitu saja, mereka berdua tidak akan berjina, melainkan bersatu melalui pernikahan yang sah, di depan hwesio, di dalam kuil, di depan para dewa, di depan Thian!
Maka, halangan bahwa dia belum memberitahukan ibunya dan para keluarganya merupakan halangan yang tipis sekali, ditipiskan oleh peristiwa kakak kandungnya itu!
Apalagi karena diapun merasa sangsi apakah keluarganya akan menyetujui perjodohan antara dia dan Pangeran Ceng Han Houw yang dikenal oleh keluarganya sebagai murid Hek-hiat Mo-li, dan dianggap musuh itu!
Biarlah, pikirnya yang mendorong kenekatannya.
Andaikata keluarganya tidak setuju, seperti juga tidak menyetujui perjodohan kakak kandungnya, dia toh sudah menikah dengan sah di dalam kuil itu!
Karena semua halangan dan hambatan batin ini lenyap oleh pikiran-pikiran itu, maka setelah mereka selesai melakukan upacara sembahyang sebagai sepasang suami isteri, Clauw Si dan Pangeran Ceng Han Houw secepatnya kembali ke istana.
Setibanya mereka di istana, kini tanpa ragu-ragu lagi Ciauw Si dengan rela membiarkan dirinya dipondong oleh suaminya ke dalam kamar dan dia menyerahkan dirinya dengan penuh kemesraan, penuh kasih sayang, dan penuh kerelaan yang pasrah.
Sepasang pengantin ini dibuai gelombang asmara yang menenggelamkan mereka dan membuat mereka lupa akan segala.
Dan niat untuk bermalam satu malam saja itu menjadi berlarut-larut dan, sampai tiga hari tiga malam mereka tidak pernah meninggalkan kamar!
Barulah pada hari ke empat, mengingat akan pentingnya tugas menyelamatkan keluarganya, dengan hati berat Ciauw Si berpamit dan berpisah dari suaminya.
Perpisahan yang berat dan mesra.
Seolah-olah pangeran itu tidak mau melepaskan isterinya dari dekapannya dan Ciauw Si pun segan meninggalkan dada suaminya.
Akan tetapi akhirnya Ciauw Si berangkat juga, dengan pakaian serba indah, dengan seekor kuda pilihan dan bekal yang cukup dari suaminya.
Dia tidak mau dikawal dan pada pagi hari itu, diantar oleh pandangan mata mencinta dari Pangeran Ceng Han Houw, Ciauw Si membalapkan kudanya meninggalkan istana dan keluar dari kota raja.
Sedikitpun Ciauw Si tidak pernah mengira bahwa baru beberapa hari yang lalu, di istana pangeran itu, di mana dia menikmati bulan madu selama tiga hari tiga malam itu, terjadi peristiwa yang amat mengerikan atas diri Sun Eng!
Dia tidak tahu bahwa kakak kandungnya bersama paman dan bibinya, Cia Bun Houw dan Yap In Hong, telah mendatangi istana pangeran itu dan melarikan Sun Eng dari belakang istana.
Dan setelah Ciauw Si pergi, Pangeran Ceng Han Houw berdiri termenung, hatinya bimbang.
Dia merasa girang bahwa dia telah berhasil menjalankan siasatnya, menarik hati Ciauw Si dan memperalat gadis itu untuk menarik keluarga Cin-ling-pai untuk menjadi pembantu-pembantu atau sekutunya.
Akan tetapi, disamping kegirangan ini juga dia merasa betapa sekali ini dia betul-betul jatuh cinta!
Bahwa sekali ini baru dia bertekuk lutut kepada seorang wanita dan bahwa dia sungguh-sungguh mencinta Lie Ciaw Si dan menganggapnya sebagai isteri, bukan sekedar sebagai selir atau alat penghibur belaka.
Maka timbullah kekhawatiran di dalam lubuk hatinya.
Dia maklum bahwa dia telah bermain dengan api yang amat berbahaya!
Dia telah menciptakan perang dalam hatinya sendiri.
Di satu fihak dia sungguh-sungguh mencinta gadis itu, di lain fihak dia hendak memperalat gadis itu demi keuntungan diri sendiri.
"Bi Cu...! Bi Cu, apamu yang sakit...?"
Berkali-kali Sin Liong bertanya ketika dara itu siuman dan mengeluh lirih.
Dia meraba dahi yang panas sekali itu dan Bi Cu berbisik-bisik, mengigau tidak karuan, gelisah dan kaki tangannya bergerak-gerak seperti orang hendak meronta.
"Bi Cu... tenanglah, Bi Cu, tenanglah...!"
Sin Liong membasahi kepala dara itu dengan air.
Bukan main gelisahnya hati Sin Liong melihat keadaan Bi Cu yang mengigau dan tubuhnya panas sekali itu.
Bi Cu diserang demam yang naik turun sampai sehari semalam lamanya.
Sin Liong merasa amat khawatir.
Hutan itu kecil akan tetapi liar, tidak ada gua atau tempat berlindung yang baik untuk Bi Cu.
Terpaksa dia merawat dara itu di bawah pohon-pohon, di dekat sebuah anak sungai yang airnya jernih.
Dengan sambitan batu, Sin Liong membunuh beberapa ekor ayam hutan dan kelinci dan dia memanggang dagingnya, diberikan kepada Bi Cu.
Akan tetapi selama sehari semalam itu, jangankan makan, diajak bicarapun Bi Cu tidak dapat menjawab, keadaannya setengah sadar.
Dia sendiripun sama sekali tidak dapat makan, bahkan tidak pernah tidur sekejap matapun, terus-menerus menjaga Bi Cu, kalau malam membuat api unggun dan selalu membasahi kepala yang panas itu dengan air.
Pada keesokan harinya, barulah Bi Cu sadar dan tidak begitu gelisah lagi, sungguhpun tubuhnya masih panas sekali.
"Sin Liong...!"
Rintihnya.
Sin Liong girang bukan main.
Diusapnya pipi yang basah air mata itu, disingkapnya rambut yang terurai lepas dan dia menatap wajah yang pucat itu.
"Bi Cu, engkau terserang demam. Jangan khawatir, aku menjagamu, engkau akan sembuh kembali."
Bi Cu agak terengah, bibirnya yang pucat mengering itu berkata lemah.
"Aku... aku haus..."
Sin Liong cepat mengambil air yang sudah disediakannya dan memberi minum dara itu dengan air yang ditempatkan pada sehelai daun lebar yang dibentuk seperti cawan.
Setelah minum air beberapa teguk, Bi Cu kelihatan lega dan tenang, lalu rebah kembali setelah tadi dibantu oleh Sin Liong bangkit duduk.
"Berapa lama aku sakit...?"
Bisiknya.
"Engkau dalam keadaan tidak sadar dan demam panas sehari semalam. Tapi engkau akan sembuh. Biar kubuatkan makanan untuk mengisi perutmu. Akan tetapi karena kita berada di hutan dan tidak ada dusun di dekat sini, terpaksa engkau hanya akan makan panggang daging kelinci, Bi Cu."
Bi Cu mengangguk.
Pikirannya sudah terang sekarang dan diam-diam dia merasa terharu melihat Sin Liong menjaga dan merawatnya seperti itu.
Jelas nampak betapa pemuda itu lelah sekali.
Biarpun Bi Cu sudah sadar kini, namun tubuhnya masih lemah dan panasnya masih kadang-kadang datang menyerang membuatnya gelisah sehingga selama beberapa hari dia masih belum dapat bangun karena kalau dia bangkit, Kepalanya terasa pening sekali den pandang matanya berkunang.
Oleh karena itu, selama empat hari empat malam lagi dia terus rebah dijaga Sin Liong siang malam tanpa pernah beristirahat!
Jadi sampai lima hari lima malam Sin Liong tidak pernah tidur, dan makan sedikit, sama sedikitnya dengan Bi Cu karena dia hanya dapat makan kalau Bi Cu juga makan.
Hatinya diliputi kekhawatiran melihat Bi Cu sakit agak payah di tempat sunyi itu.
Dan pada malam hari ke lima itu, lewat tengah malam menjelang pagi, kembali turun hujan lebat di hutan itu!
Sibuk sekali Sin Liong berusaha melindungi badan Bi Cu dari siraman hujan.
Dengan hati penuh kekhawatiran Sin Liong melihat betapa dara itu kedinginan.
Bi Cu bangkit duduk ketika hujan turun, kemudian dia membiarkan dirinya dipeluk oleh Sin Liong.
Kilat menyambar-nyambar dan hujan turun seperti dituangkan dari atas.
Derasnya bukan main sehingga sebentar saja pakaian mereka sudah basah kuyup!
Tidak ada tempat berlindung kecuali bawah pohon-pohon itu!
Api unggun yang dibuat Sin Liong sudah sejak tadi padam dan tadi Sin Liong sibuk mengumpulkan kayu kering yang ditutupinya dengan daun-daun sedapat mungkin.
Tubuh Bi Cu menggigil dalam pelukan Sin Liong.
Sin Liong mengerahkan sin-kangnya sehingga dari tubuhnya keluar hawa panas.
Ini banyak menolong walaupun pakaian mereka basah semua.
Melihat kedua sepatu Bi Cu yang sudah pecah-pecah dan rusak-rusak ketika dipakai mendaki tebing tempo hari, kini basah kuyup dan malah menampung air yang membuat telapak kaki terasa luar biasa dinginnya, Sin Liong berkata.
"Sebaiknya sepatumu dan kaus kaki yang basah semua itu ditanggalkan saja."
Bi Cu yang menyembunyikan mukanya dia dada Sin Liong hanya mengangguk dan Sin Liong lalu melepaskan kedua sepatu dan kaus kaki dari kedua kaki Bi Cu.
Dia merasa betapa tubuh yang dirangkulnya itu gemetaran dan terasa kecil lemah.
Makin erat dia mendekap, dengan hati penuh kasih sayang.
Hujan turun sampai pagi.
Setelah hujan berhenti, Sin Liong cepat membuat api menggunakan kayu-kayu kering yang tadi ditutupinya dengan daun-daunan.
Untung masih terdapat kayu yang kering di tumpukan bawah.
Maka dapat juga dia berhasil menyalakan api unggun yang mengepulkan asap.
Akan tetapi makin lama, api unggun itu makin terang dan menyala-nyala dan dia sudah duduk di dekat api unggun sambil memeluk tubuh Bi Cu.
"Engkau tentu dingin sekali, Bi Cu..."
Katanya penuh iba sambil merangkul dara itu.
Bi Cu menyandarkan kepalanya di pundak Sin Liong, tangan kirinya menjamah-jamah pundak dan lengan pemuda itu, lalu berkata lemah, dengan suara gemetar kedinginan.
"Engkaupun basah kuyup dan kedinginan..."
"Tidak, aku sehat, engkaulah yang sedang sakit, mudah-mudahan engkau tidak jatuh sakit lagi. Ah, baru saja engkau hampir sembuh, disiram hujan lebat..."
Sin Liong berkata khawatir.
Melihat kekhawatiran pemuda itu terhadap dirinya, Bi Cu merasa semakin terharu, apalagi semalam dia mimpi, dan dalam mimpi itu dia membayangkan kembali peristiwa yang terjadi di bawah tebing ketika mereka menyambut hujan dengan bahagia sekali dan mereka telah berpelukan dan berciuman dalam keadaan hampir tidak sadar!
"Sin Liong, engkau...
baik sekali kepadaku...
kalau tidak ada engkau, aku tentu sudah mati dalam keadaan terlantar..."
Suaranya mengandung isak.
Sin Liong menunduk dan memandang wajah yang dekat itu.
Melihat betapa di antara air hujan yang membasahi rambut dara itu dan masih menetes-netes di atas wajah yang pucat itu kini terdapat pula butiran-butiran air mata, dia memeluk lebih erat.
"Tentu saja, Bi Cu. Aku hanya mempunyai engkau di dunia ini..."
"Dan aku... akupun hanya mempunyai engkau... jangan engkau meninggalkan aku lagi selamanya, Sin Liong..."
Sin Liong memeramkan kedua matanya menahan dua butir air mata yang membasahi kedua matanya itu.
Dia menarik napas panjang untuk menekan perasaan harunya, lalu berbisik dekat telinga yang berada dekat dengan mulutnya itu.
"Tahukah engkau, Bi Cu, kata-kata yang sama seperti yang kau katakan itulah yang kuucapkan berulang-ulang selama beberapa hari engkau sakit ini. Aku selalu membisikkan kata-kata itu, agar engkau jangan meninggalkan aku, Bi Cu..."
Mereka tidak berkata-kata lagi.
Tidak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan memang.
Dengan berdiam diri, terasalah oleh mereka, terasa secara mendalam, akan kehadiran masing-masing bukan hanya di dekat tubuh, melainkan di dalam batin masing-masing.
Mereka merasa betapa mereka saling memiliki, saling membutuhkan, merasa seolah-olah mereka berdua itu telah bersatu dalam batin, seperti orang yang memiliki dan membutuhkan anggauta tubuhnya sendiri.
Takkan terpisahkan lagi, senasib sependeritaan.
Hal ini terasa sekali oleh mereka ketika berdekatan dan berdekapan dalam keadaan kedinginan itu.
Akhirnya terdengar bisikan Bi Cu yang masih menyandarkan kepala di atas dada dekat leher Sin Liong.
"Sin Liong, kau khawatir kalau-kalau aku mati...?"
"Ya, ketika melihat engkau mengigau, tidak sadar... ah, khawatir sekali aku."
"Aku tidak akan mati. Tidak, aku tidak mau mati sendiri tanpa engkau, Sin Liong. Seperti juga aku tidak mau hidup sendiri tanpa engkau di dekatku. Aku cinta padamu Sin Liong."
Tanpa diucapkan sekalipun, hal itu sudah terasa amat jelasnya oleh Sin Liong.
Dia mencium mata kiri dara itu.
"Akupun cinta padamu, Bi Cu."
Mereka tidak bicara lagi sampai lama, seolah-olah pengakuan cinta itu adalah kata-kata terakhir di dunia ini dan setelah itu, tidak ada apa-apa lagi yang lebih patut dibicarakan!
Cinta memang maha indah!
Bahkan sudah melampaui kebagusan dan keburukan, sudah melampaui segala yang dapat diperbandingkan, sudah melampaui penilaian dan perbandingan itu sendiri!
Cinta-mencinta membawa kita ke dalam suatu keadaan di mana tidak ada lagi baik buruk, Susah senang, dalam keadaan yang mungkin oleh pandangan umum dianggap sengsara, bisa saja nampak indah oleh adanya cinta.
Cinta membawa suasana nampak indah, di sekeliling kita, di dalam hati kita.
Tidak ada lagi pertentangan, tidak ada lagi kekerasaan, tidak ada lagi susah atau senang.
Yang ada hanya perasaan suka cinta, yang berbeda dengan kesenangan.
Kesenangan mempunyai sebab, mempunyai sesuatu yang menimbulkan kesenangan.
Akan tetapi suka cita adalah perasaan hati yang nyaman dan sejuk tanpa sebab tertentu.
Keadaan ini membuat kita penuh dengan sinar cinta kasih, penuh dengan kebajikan, dengan belas kasihan, dengan apa yang dinamakan prikemanusiaan.
Cinta adalah kebahagiaan.
Manusia dalam cinta adalah manusia yang sesungguhnya manusia, dan sinar kemanusiaannya cemerlang di waktu itu.
Sayang, biarpun kiranya hampir semua orang pernah memasuki keadaan ajaib seperti itu, namun nafsu-nafsu kita terlalu besar sehingga menjauhkan cinta kasih dari batin kita.
Hanya sebersit saja sinar cinta kasih menerangi batin, lalu batin sudah penuh lagi dengan segala kotoran nafsu.
Bahkan celakanya, nafsu-nafsu menggantikan tempat dan memalsukan cinta, membuat cinta kasih yang suci murni menjadi cinta kasih yang palsu, cinta kasih yang sesungguhnya hanyalah cinta kepada diri sendiri belaka, keinginan menyenangkan diri sendiri belaka, seperti yang dapat kita lihat dengan jelas dalam kehidupan kita sekarang ini.
Cinta yang kita hambur-hamburkan sekarang ini melalui mulut hanyalah semacam pemalsuan untuk menutupi keinginan kita yang sebenarnya, keinginan untuk mendapatkan kepuasan melalui harta, melalui sex, melalui apa saja yang dapat menyenangkan diri kita sendiri.
Dan orang yang kita cinta seperti keadaannya sekarang ini hanyalah kita pakai sebagai alat untuk menyenangkan diri saja.
Cinta seperti ini tentu saja menimbulkan cemburu, menimbulkan benci yang dianggap sebagai kebalikannya.
Padahal cinta kasih tidak mempunyai kebalikan!
Cinta kasih bebas dari penilaian baik buruk, untung rugi, atau susah senang.
Hari itu cerah sekali, secerah hati Sin Liong dan Bi Cu.
Dan anehnya, setelah kehujanan seperti itu, keadaan Bi Cu bukan menjadi semakin buruk, bahkan dia menjadi sembuh sama sekali!
Hanya masih agak lemah tubuhnya, akan tetapi dia sembuh.
Tidak panas lagi, tidak pusing lagi.
Hujankah yang menyembuhkannya?
Ataukah pertemuan dua hati yang disahkan dengan kata-kata dari mulut mereka, dalam pengakuan cinta mereka?
Entahlah.
Akan tetapi yang jelas, Sin Liong merasa girang bukan main.
"Bi Cu, engkau baru saja sembuh. Pakaianmu basah kuyup..."
"Hari ini agaknya akan panas, Sin Liong. Aku dapat melepaskan pakaian dan menjemurnya. Tapi..."
Dia mengerling dan matanya bersinar-sinar.
"engkau harus menjauh, tidak boleh mendekat!"
Sin Liong tertawa.
Benar-benar sudah sembuh Bi Cu sekarang.
Sudah mulai lagi dia bertingkah bengal!
Sudah bersinar-sinar kembali kedua mata yang indah itu, kini penuh dengan kelincahan dan kejenakaan.
"Ha-ha, kaukira aku ini tukang intip? Akupun akan pergi memeriksa keadaan sekeliling hutan ini, kalau-kalau terdapat sebuah dusun."
"Kalau ada dusun kau mau apa?"
"Mencarikan pakaian untukmu, dan sepasang sepatu."
"Kau ada uang?"
Sin Liong menggeleng kepala.
"Habis bagaimana kau bisa mendapatkan pakaian dan sepatu?"
Muka Sin Liong menjadi merah.
Dara ini baru saja sembuh sudah pandai mendesaknya dengan omongan dan membuatnya tersudut!
"Aku...
aku akan minta!"
"Uhhh, seperti aku tidak tahu saja. Minta kepada orang dusun yang miskin dan yang pakaiannya mungkin hanya yang menempel pada tubuh mereka?"
"Barangkali ada yang kaya di dusun, ada tuan tanahnya..."
"Dan kau benar-benar akan mengemis, minta begitu saja, dan apakah mereka akan mau memberimu? Sudahlah, Sin Liong, katakan saja bahwa engkau akan mencuri pakaian dan sepatu untukku!"
Sin Liong tersenyum dan terpaksa mengangguk.
"Atau kita pakai saja istilah pinjam dari orang kaya di dusun?"
"Tidak, kau beli saja, atau... tukar dengan ini!"
Bi Cu melepaskan seuntai kalung dari lehernya, dan memberikan benda itu kepada Sin Liong.
Sin Liong memandang kalung emas dengan hiasan kepala burung walet bermata emas itu.
"Ah, bukankah ini lambang dari julukanmu dahulu? Dahulu julukanmu adalah Kim-gan Yan-cu (Burung Walet Bermata Emas), seperti kalung ini!"
Bi Cu tersenyum.
"Justeru karena kalung itulah maka para pengemis di kota raja menjuluki aku demikian. Kalung itu pemberian mendiang suhu Hwa-i Sin-kai."
"Ah, kukira julukan itu karena, matamu..."
"Mataku bagaimana?"
"Matamu indah sekali, Bi Cu, pantas dinamakan mata emas..."
Sin Liong mendekat dan merangkul, mencium mata itu.
"Ihh, engkau perayu!"
Bi Cu mendorong perlahan dada Sin Liong dan pemuda itu lalu pergi sambil tertawa, menggenggam kalung itu erat-erat di dalam kepalan tangannya.
Bi Cu berdiri memandang sambil tersenyum, hatinya senang sekali.
Kemudian pergilah dara ini ke anak sungai yang jernih airnya itu untuk membersihkan diri, dan mencuci pakaian dan menjemur pakaian.
Ternyata dusun yang dicari-cari Sin Liong itu memang ada, akan tetapi jauh sekali dari hutan itu.
Dan dia berhasil memperoleh pakaian wanita dan sepasang sepatu untuk Bi Cu, akan tetapi semua itu hanya ditukarnya dengan rantai kalung saja, sedangkan mainan kalung berupa burung walet bermata emas itu disimpannya.
Rantai kalung dari emas itu saja sudah lebih dari cukup untuk menukar barang-barang itu dan sudah menggirangkan pemilik pakaian dan sepatu yang tidak baru itu.
Matahari telah naik tinggi ketika Sin Liong tiba kembali dalam hutan.
Ternyata Bi Cu telah memakai pakaiannya yang telah dicuci den sudah kering, dan dara itu ternyata sedang sibuk memanggang daging ayam hutan.
"Ah, engkau masih lemah, Bi Cu. Mengapa sibuk menyiapkan makanan untuk kita? "Biar aku yang..."
"Hemm, biarpun agak sukar dan sampai berkali-kali luput, akhirnya aku berhasil juga mendapatkan seekor ayam gemuk. Wah, pakaian dan sepatu itu bagus, Sin Liong!"
Bi Cu girang sekali dan mematut-matut diri dengan pakaian itu setelah kaus kaki dan sepatunya dia pakai dan ternyata pas besarnya.
"Semua itu kutukar dengan rantai kalung, dan mainannya masih kusimpan. Aku merasa sayang sekali untuk menukarkan itu, biar ditukar dengan seribu pakaianpun aku tidak rela!"
Sin Liong mengeluarkan mainan itu dari saku bajunya dan hendak menyerahkan kembali kepada pemiliknya.
Bi Cu menggerakkan tangan menolak.
"Kau simpan sajalah, Sin Liong."
Wajah pemuda itu berseri.
"Terima kasih, Bi Cu. Memang tadinya aku hendak mengajukan permintaan kepadamu!"
Melihat dara itu sudah sehat benar bukan main lega rasa hati Sin Liong.
"Aku akan mencoba pakaian ini!"
Kata Bi Cu sambil berlari kecil menghilang ke balik semak-semak.
Sin Liong tersenyum duduk di atas batu dan memandang mainan burung itu sejenak, lalu mencium benda di telapak tangannya itu, menggenggamnya dan kemudian memasukkannya ke dalam saku baju sebelah dalam.
Pakaiannya sendiri sudah kering ketika dibawanya berlari cepat tadi.
"Wah, engkau memang hebat! Pas sekali pakaian ini, seperti juga sepatunya!"
Bi Cu berseru girang dan Sin Liong cepat menengok.
Muka itu masih agak pucat, rambut yang agak basah itu masih kusut karena di situ tidak ada sisir, akan tetapi matanya bersinar-sinar dan mulutnya tersenyum.
Manis sekali dan kelihatan segar, seperti setangkai bunga bermandikan embun di pagi hari.
"Kau... kau cantik sekali dengan pakaian itu, Bi Cu!"
Kata Sin Liong sambil bangkit berdiri. Bi Cu meruncingkan mulutnya.
"Ih, engkau sekarang menjadi perayu benar! Jangan-jangan engkau akan ketularan penyakit kakak angkatmu itu, Sin Liong!"
Sin Liong menyambar lengannya dan di lain saat mereka sudah saling berangkulan.
"Bi Cu, engkaulah satu-satunya wanita di dunia ini yang akan selalu kurayu dan kupuji."
Sejenak Bi Cu menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya seperti ketika mereka kehujanan semalam.
"Sin Liong, jangan kau tinggalkan aku lagi. Jangan sampai kita saling berpisah, apapun yang akan terjadi. Mau kau berjanji?"
"Tentu saja, Bi Cu."
"Biarpun engkau akan dipaksa oleh siapapun juga?"
Sin Liong mengangguk.
"Kita akan selalu berdampingan, baik dalam keadaan hidup ataupun mati?"
Sin Liong memegang kedua pundak dara itu, membalikkan tubuhnya dan mereka kini saling tatap dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah-olah hendak menjenguk isi hati masing-masing.
Namun, pancaran sinar mata kedua orang insan ini penuh kemesraan dan cinta kasih, terasa benar oleh keduanya.
Sin Liong perlahan-lahan mencium dahi dara itu, gerakan yang lembut dan halus, seperti mencium benda keramat.
"Perlukah aku bersumpah, Bi Cu?"
Bi Cu merangkul leher Sin Liong.
Sejenak dia merangkul ketat, terasa oleh Sin Liong betapa dadanya bertemu dengan dada Bi Cu dalam kemesraan yang mendalam, terasa oleh mereka detak jantung masing-masing saling berlomba.
Kemudian Bi Cu melepaskan rangkulannya, melangkah mundur dan aneh, wajahnya berubah merah.
Sin Liong memandang dan terpesona.
Wajah yang tadinya pucat itu kini mulai menjadi merah dan karenanya menjadi semakin manis dan menarik.
Sinar mata itu semakin berseri penuh cahaya indah.
Mata emas!
"Sin Liong, aku tidak butuh kata-kata sumpah.
Kata-kata hanya kosong, dan aku lebih percaya kepada sinar matamu.
Aku percaya kepadamu."
Lalu dia tersenyum dan suasana penuh hikmat itupun membuyarlah.
"Heii, sudah sejak tadi daging itu matang. Mari kita makan!"
Sin Liong makin gembira hatinya.
Bi Cu benar-benar nampak sudah sembuh.
Maka, sehabis makan, mulai terasalah olehnya betapa tubuhnya amat letih, betapa matanya amat mengantuk.
Setelah semua kegelisahan batinnya hilang, barulah tubuhnya menuntut dan barulah dia sadar akan keadaan jasmaninya.
Maka dia duduk melenggut bersandarkan batang pohon.
Sejak tadi Bi Cu maklum akan keadaan Sin Liong itu.
Maka diam-diam dia memilih tempat yang sejuk di bawah pohon besar, lalu mengumpulkan rumput kering dan mengatur sebuah tempat tidur di tempat itu, menggulung pakaian lamanya sebagai bantal, kemudian dia mendekati Sin Liong dan menyentuh lengannya.
Sin Liong membuka matanya yang mengantuk.
"Sin Liong, kau tidurlah dulu. Kau perlu beristirahat. Aku tidak perlu dijaga lagi. Nah, kau tidurlah!"
Bi Cu menarik tangannya sehingga terpaksa pemuda itu bangkit berdiri dan membiarkan dirinya digandeng ke bawah pohon yang sejuk dan teduh itu.
Melihat tempat tidur dari rumput kering dengan bantal gulungan pakaian itu, Sin Liong tersenyum dan makin beratlah kantuknya.
Dia lalu merebahkan diri dan sebentar saja sudah pulas, membawa wajah Bi Cu yang tersenyum memandangnya itu ke dalam tidurnya.
Enak benar Sin Liong tidur, nyenyak tanpa mimpi.
Sejenak matahari condong jauh ke barat, baru dia terbangun.
Dia menggeliat dengan enak, mengejap-ngejapkan matanya, lalu menoleh ke kanan kiri.
Tidak nampak Bi Cu di situ.
Dia lalu bangkit duduk, kembali mencari-cari dengan pandang matanya.
Dia melihat cuaca yang menunjukkan bahwa waktu itu telah hampir senja.
Tentu Bi Cu sedang pergi mandi ke anak sungai, pikirnya.
Dia menanti, bangkit berdiri dan berjalan-jalan hilir mudik melemaskan kedua kakinya.
Akan tetapi sunyi saja di sekitar situ dan telalu lama baginya menanti munculnya kekasihnya itu.
"Bi Cu...!"
Dia memanggil ke arah anak sungai.
Karena dia mengerahkan tenaga khi-kang, maka dia percaya bahwa panggilannya itu tentu akan terdengar oleh Bi Cu kalau dara itu sedang mandi di sana.
Akan tetapi tidak ada jawaban!
Sin Liong mengerutkan alisnya.
Dara itu suka bergurau dan menggoda orang.
Maka dia lalu berindap-indap menuju ke anak sungai.
Kalau dia melihat Bi Cu sedang mandi telanjang tentu dia akan pergi lagi.
Kalau Bi Cu berpakaian dia akan menggodanya kembali.
Akan tetapi, ketika dia tiba di tepi sungai, di situpun tidak nampak Bi Cu, dia mulai bimbang.
"Bi Cu...!"
Kembali dia memanggil, kini lebih nyaring.
Tetap saja tidak terdengar jawaban.
Dia mencari-cari dengan gerakan cepat kini, berlari dan berloncatan ke sana-sini.
Kemudian dia kembali ke bawah pohon-pohon di mana biasanya mereka berada, di dekat api unggun.
Dan nampaklah surat itu olehnya.
Sebuah sampul surat di dekat perapian yang telah menjadi abu.
Dia yakin benar bahwa sampul itu adalah benda asing dan tidak mungkin berada di tempat itu kemarin.
Tentu ada yang menaruhnya, dan agaknya Bi Cu juga tidak mungkin bisa mempunyai sepotong sampul surat itu!
Tentu orang lain yang menaruhnya!
Dan Bi Cu tidak ada!
Jantungnya berdebar dan wajahnya menjadi agak pucat, secara cepat dia menyambar sampul itu.
Sampul kuning yang halus dan berbau harum!
Dibukanya sampul itu dan dikeluarkannya sepotong surat yang bertuliskan coretan huruf-huruf halus, tulisan wanita!
Cia Sin Liong!
Kalau menghendaki dara itu kembali dalam keadaan sehat, kami persilakan engkau menyusul ke Lembah Naga dan menghadap Pangeran Oguthai!
Surat itu tidak ditandatangani.
Akan tetapi isinya cukup jelas bagi Sin Liong.
Pangeran Oguthai?
Siapa lagi kalau bukan Ceng Han Houw?
Jelaslah kini, Bi Cu diculik orang ketika dia sedang tidur!
Dia mengepal kedua tinjunya, matanya mengeluarkan sinar berapi.
Pangeran Ceng Han Houw yang melakukan ini!
Bukan pangeran itu sendiri yang datang, melainkan utusannya.
Dan dia dapat menduga siapa orangnya.
Agaknya Kim Hong Liu-nio, melihat bahwa surat itu ditulis tangan wanita dan bau harum pada surat itu.
Akan tetapi bagaimana utusan Han Houw dapat mengetahui dia dan Bi Cu berada di situ?
Padahal selama berhari-hari ini, ketika Bi Cu sedang menderita sakit, tidak ada seorangpun berada di sekeliling tempat sunyi itu?
Ah, tentu ketika dia pergi ke dusun mencarikan pakaian dan sepatu pagi tadi!
Begitu pikiran ini memasuki benaknya, tubuhnya sudah mencelat dan berkelebat, lalu dia berlari secepat angin menuju ke dusun yang didatanginya tadi.
Bagaikan orang terbang saja Sin Liong mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk berlari cepat ke dusun itu dan memang hebat sekali dia.
Sebelum malam tiba, dia sudah sampai di dusun itu, memakan waktu kurang dari setengahnya ketika mula-mula dia datang untuk mencarikan pakaian dan sepatu Bi Cu!
Dan mulailah dia bertanya-tanya di seluruh dusun itu apakah ada yang melihat seorang wanita cantik yang pakaian dan gelungannya seperti puteri istana datang ke dusun itu.
Akhirnya, ada seorang petani tua yang menceritakan bahwa memang kemarin dia melihat dua orang wanita di luar dusun, seorang wanita cantik seperti yang digambarkan Sin Liong, dan yang ke dua adalah seorang nenek bermuka hitam yang menyeramkan.
"Kim Hong Liu-nio dan Hek-hiat Mo-li!"
Sin Liong berkata penuh geram dan cepat dia berlari meninggalkan dusun itu.
Dia mengepal kedua tangannya, berhenti berlari ketika tiba di hutan, mengacung-acungkan kepalan tangannya ke atas dan berkata penuh kemarahan.
"Ceng Han Houw! Kim Hong Liu-nio! Hek-hiat Mo-li! Aku bersumpah akan menghancurkan kepala kalian bertiga kalau kalian mengganggu Bi Cu-ku!"
Kemudian dia lari lagi ke utara.
Dia harus cepat-cepat menyusul Bi Cu ke Lembah Naga, jauh di utara, di luar Tembok Besar.
Pangeran Ceng Hen Houw merasa gelisah juga ketika melihat perkembangan yang terjadi di kota raja semenjak peristiwa lenyapnya surat rahasia dari Raja Sabutai kepadanya itu.
Yang paling merisaukan hatinya adalah berita tentang gerakan pasukan-pasukan yang kabarnya diatur sendiri oleh Pangeran Hung Chih.
Pasukan-pasukan yang kuat kabarnya dikerahkan ke perbatasan utara untuk berjaga-jaga di sepanjang Tembok Besar.
Biarpun tidak dijelaskan untuk menghadapi siapa, kecuali penjagaan yang memang selalu diadakan sungguhpun tidak seketat sekarang, namun Ceng Han Houw tentu saja sudah dapat menduga bahwa pasukan itu memang khusus dipersiapkan untuk menghadapi pasukan Raja Sabutai, ayahnya di utara!
Selain itu, juga di selatan Pangeran Hung Chih mengerahkan pasukan untuk mengadakan pembersihan terhadap perkumpulan-perkumpulan yang anti pemerintah, dan terutama sekali perkumpulan Pek-lian-kauw dibasmi oleh pasukan itu.
Padahal, akhir-akhir ini, Pek-lian-kauw mulai menyatakan diri membantu gerakan Ceng Han Houw kalau sewaktu-waktu pangeran ini hendak menumbangkan kekuasaan kaisar!
Bukan itu saja, bahkan ada belasan orang pembesar di kota raja sendiri yang diam-diam anti kaisar dan memang merupakan sahabat-sahabat baik Ceng Han Houw ditangkapi dan dimasukkan tahanan!
Tentu saja Han Houw merasa benar bahwa semua itu merupakan langkah-langkah yang diambil kaisar untuk menentangnya.
Dan ini tak lain tentu hasil dari pengkhianatan Sun Eng yang telah mencuri surat rahasia itu!
Suasana menjadi terasa panas sekali bagi kaki pangeran peranakan Mongol ini.
Dia maklum bahwa lambat-laun kaisar tentu tidak akan merasa sungkan lagi untuk menyuruh orang menangkapnya!
Mengertilah Ceng Han Houw bahwa dia harus bertindak cepat.
Dia segera mengutus anak buahnya yang setia untuk mempercepat dilaksanakannya pertemuan besar di dunia kang-ouw untuk memilih apa yang dinamakan bengcu (pemimpin rakyat) dan memilih pula Jago Nomor Satu yang pantas menjadi bengcu.
Dia mengundang semua tokoh kang-ouw dan partai-partai persilatan besar untuk mengunjungi pemilihan bengcu seluruh Tiongkok itu dan tempat untuk itu ditentukan di daerah bebas.
Agar jangan dilarang pemerintah, demikian penjelasannya.
Dan tempat itu adalah Lembah Naga di utara, di luar Tembok Besar.
Ketika dia mendengar bahwa sucinya, Kim Hong Liu-nio, dan subonya, Hek-hiat Mo-li, juga sudah kembali dari selatan karena tidak perlu lagi mereka mengejar-ngejar keluarga Cin-ling-pai yang sudah memperoleh kebebasan dari kaisar itu, dan mendengar betapa sucinya menawan Bi Cu dan mempergunakan dara itu sebagai umpan untuk memancing Sin Liong ke utara, hatinya menjadi besar dan girang sekali.
"Bawa dia ke utara, ke Lembah Naga, suci,"
Katanya kepada wanita itu.
"Perlakukan dia baik-baik sebagai tamu. Aku mengharapkan untuk dapat mempergunakan tenaga Sin Liong yang amat kita butuhkan itu. Kita harus dapat menyenangkan hatinya."
Kim Hong Liu-nio bersama Hek-hiat Mo-li lalu kembali ke utara membawa Bi Cu sebagai tawanan yang diperlakukan dengan hormat dan baik.
Bi Cu tidak menderita badan, bahkan dia dibawa ke utara dalam sebuah kereta.
Para pasukan penjaga tentu saja tidak mengganggu Kim Hung Liu-nio yang pernah dikenal sebagai wanita gagah penyelamat kaisar itu.
Akan tetapi sudah tentu saja Bi Cu menderita batin yang hebat, sering kali menangis dan mengamuk ingin kembali kepada Sin Liong.
Kim Hong Liu-nio terpaksa menghiburnya dan mengatakan bahwa sudah pasti Sin Liong akan menyusul ke Lembah Naga, karena Sin Liong adalah adik angkat Pangeran Ceng Han Houw yang kini membutuhkan bantuan adik angkatnya itu.
Dan selagi Ceng Han Houw sendiri bersiap-siap untuk meninggalkan kota raja, muncullah Ciauw Si!
Tentu saja sang pangeran merasa girang bukan main.
Suami isteri yang disahkan oleh kuil ini saling berpelukan dengan penuh rindu.
Akan tetapi Ciaw Si segera mendengar akan keadaan pangeran yang dianggap sebagai suaminya itu, dan diapun prihatin sekali.
"Kaisar telah dihasut oleh Pangeran Hung Chih!"
Demikian Pangeran Ceng Han Houw berkata.
"Aku semakin dibenci saja oleh kaisar. Dan bagaimana dengan perjalananmu ke selatan, Si-moi?"
Mereka bercakap-cakap sambil berpelukan di atas pembaringan, melepaskan kerinduan hati mereka sebagai pengantin baru.
"Aku tidak berhasil menemukan ibuku dan keluarga ibuku, pangeran. Akan tetapi ada berita baik yang kudengar di sepanjang jalan bahwa mereka telah dibebaskan oleh kaisar!"
"Ah, masa engkau tidak mengerti. Si-moi? Bukan kaisar yang membebaskan, melainkan akulah yang mengirim berita itu ke seluruh pembesar, dengan memakai nama kaisar! Kalau hal ini diketahui oleh kaisar, tentu aku akan di"tangkap sebagai pembantu pemberontak..."
"Ahhhh...!"
Ciauw Si terkejut sekali dan memeluk suaminya.
"Jangan kau khawatir, Si-moi, isteriku, kekasihku. Aku tidak akan mudah ditangkap begitu saja. Sungguh senang sekali aku melihat engkau datang, Si-moi, karena memang aku sudah bersiap-siap untuk meninggalkan kota raja."
"Engkau... engkau pergi ke manakah, pangeran?"
"Kembali ke utara, ke kerajaan orang tuaku, Dan aku akan melanjutkan rencanaku semula, aku akan mengadakan pertemuan kang-ouw yang terbesar yang pernah ada dalam sejarah. Semua tokoh kang-ouw dan partai-partai persilatan terbesur kuundang untuk mengadakan pertemuan, untuk memilih bengcu dan memilih jagoan nomor satu di dunia. Dan aku akan menghimpun mereka itu agar membantuku untuk menghadapi kaisar."
"Tapi... tapi itu pemberontakan, pangeran!"
Ciauw Si berkata kaget.
Ceng Han Houw merangkul dan menutup mulut yang hendak memprotes itu dengan ciuman-ciuman mesra sehingga sejenak Ciauw Si tenggelam ke dalam kemesraan yang memabukkan.
Beberapa lama mereka tidak bicara, hanya tenggelam dalam dekapan mereka.
Akhirnya, setelah dengan terengah mereka melepaskan ciuman, pangeran itu berbisik dekat telinga Ciauw Si.
"Engkau adalah isteriku, bukan?"
Ciauw Si mengangguk sambil memejamkan matanya.
"Dan engkau tentu akan membelaku sampai bagaimanapun juga, bukan?"
"Dengan taruhan nyawaku..."
"Isteriku sayang, melawan kekerasan kaisar lalim bukanlah pemberontakan namanya! Melainkan perjuangan! Ingatlah betapa keluargamu sendiri menjadi korban kaisar lalim, keluarga gagah perkasa yang berjiwa pahlawan dituduh pemberontak dan menjadi orang-orang buruan yang direndahkan sekali! Apakah melawan kaisar lalim macam itu merupakan pemberontakan? Apakah usaha membebaskan rakyat dari cengkeraman kelaliman itu bukan pula merupakan tugas orang-orang yang menjunjung kegagahan seperti kita?"
Pandai sekali Ceng Han Houw membujuk sambil merayu dan sambil bermain cinta, menumpahkan segala kemesraan dalam bermain cinta kepada Ciauw Si sehingga akhirnya wanita ini kehilangan kesadaran sama sekali, dan tunduk kepada suaminya yang dicintanya.
Pada keesokan harinya, Pangeran Ceng Han Houw yang hendak meneliti keadaan itu dengan berani pergi menghadap kaisar dan mohon ijin untuk pergi mengunjungi ibu kandungnya di utara.
Kaisar menerimanya dengan singkat dan dengan dingin pula memberi persetujuannya kepada pangeran itu untuk pergi ke utara.
Memang sebaiknya kalau pangeran berdarah Mongol yang berbahaya ini pergi saja dan tidak akan kembali selamaya, demikian pikir kaisar.
Dan, sesuai dengan siasat kaisar agar pemberontakan atau rencana pemberontakan Pangeran Ceng Han Houw itu dapat dipadamkan tanpa terjadi perang saudara, maka pangeran inipun dengan mudah saja dapat melalui penjagaan di utara, dengan berkendaraan kereta bersama Ciauw Si dan sepasukan pengawalnya yang setia.
Ciauw Si maklum bahwa dia bertindak ceroboh.
Tanpa berunding dengan keluarganya, dengan ibu kandungnya, dia telah bergabung dengan Pangeran Ceng Han Houw ke utara.
Dia maklum pula bahwa banyak terdapat bahaya di balik tindakannya ini, akan tetapi dia sudah mabuk akan limpahan kasih sayang pangeran yang membuatnya tergila-gila itu dan dia seolah-olah melakukan tindakan itu dengan mata sengaja dipejamkan!
Demi cintanya dia rela menghadapi apapun juga asal dia tidak akan terpisah dari samping pangeran yang telah menjadi suaminya itu.
Kesenangan, terutama sekali kesenangan yang diperoleh dari pemuasan gejolak berahi, memang dapat membutakan mata, melumpuhkan kewaspadaan batin dan menyuramkan kesadaran.
Betapa banyaknya tercatat dalam sejarah betapa orang-orang besar, orang-orang gagah perkasa yang kokoh kuat batinnya, tidak goyah oleh godaan penawaran harta dan kedudukan mulia, akhirnya runtuh dan jatuh, hancur seluruh pertahanannya yang kokoh kuat, karena dilanda oleh godaan berupa kesenangan dan pemuasan berahi ini!
Raja-raja besar terguling dari singgasana mereka, pendeta-pendeta suci runtuh dari kesuciannya, wanita-wanita setia gugur dari kesetiaannya, semua dikarenakan godaan kesenangan ini!
Akan tetapi, mereka yang terseret oleh segala macam kesenangan, Juga kesenangan yang timbul dari kenikmatan pemuasan berahi, adalah orang-orang yang berada dalam keadaan tidak sadar!
Orang-orang yang sadar dan waspada setiap saat akan dirinya sendiri, akan selalu melihat kenyataan sedalam-dalamnya sehingga tidak mudah tergelincir.
Orang yang berada dalam keadaan tidak sadar itu dimabuk oleh bayangan-bayangan kesenangan sehingga baginya yang nampak hanyalah bayangan atau gambaran kesenangan itu saja, maka dia mau terjun dengan nekat ke dalam kesenangan itu tanpa melihat bahwa di balik segala macam kesenangan itu telah menanti rangkaian yang tak terpisahkan dari kesenangan itu sendiri, yaitu ketakutan dan kedukaan.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 2
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 6