Ceritasilat Novel Online

Pendekar Lembah Naga 16

Eps 16 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.

Biasanya, totokan seperti itu tidak mungkin dapat dilindungi oleh kekebalan, maka dia sudah girang sekali karena mengira bahwa totokannya tentu akan merobohkan pemuda itu.

Dia tidak tahu bahwa dengan latihannya menurut kitab-kitab Bu Beng Hud-couw yang aneh, Pemuda itu telah dapat membalikkan jalan darahnya sehingga ketika ujung tongkat itu mengenai jalan darah, yang ditotoknya hanyalah urat yang pada saat itu berhenti tidak mengalirkan darah karena darahnya berpindah mengalir melalui tempat lain!

Dan pada saat itu juga, dengan tangannya, Sin Liong menampar ke arah tongkat dengan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tongkat itu patah-patah.

Kini Sin Liong menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, mainkan San-in-kun-hoat dengan kedua tangannya, gerakannya lembut seperti awan gunung, namun ilmu silat yang dipelajarinya dari ketua Cin-ling-pai ini hebat sekali sehingga biarpun lembut, jari-jari tangannya mengancam ke arah mata nenek itu, bagian yang tentu saja tidak mungkin dilindungi oleh kekebalannya yang amat kuat itu.

"Ihhh...!"

Nenek itu mengelak dan menggunakan kedua tangan untuk melindungi mukanya.

Inilah yang dikehendaki oleh Sin Liong.

Begitu kedua lengan nenek itu bergerak melindungi matanya, gerakan sekilat ini sedikit banyak mengurangi kewaspadaan nenek itu karena matanya terhalang lengan dan nenek itu terlalu mengandalkan kekebalannya sehingga tidak melindungi tubuh lain.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin Liong untuk melakukan gerakan cepat mencengkeram dengan kedua tangannya, menangkap leher dan baju di bagian dada nenek itu dan sebelum Hek-hiat Mo-li tahu apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, tiba-tiba Sin Liong mengeluarkan bentakan nyaring dan dengan sekuat tenaga dia melemparkan tubuh nenek itu ke arah api yang sedang berkobar!

"Hiaaattt...!"

Bentakan ini disusul lemparan kedua tangan dan tubuh nenek itu melayang cepat ke arah api! "Brakkk!"

Pilar kayu di mana tadi Bi Cu dibelenggu dan yang kini sudah berkobar-kobar itu patah-patah tertimpa tubuh Hek-hiat Mo-li, disusul oleh pekik dahsyat nenek itu karena pakaiannya terjilat api dan mulailah dia terbakar oleh api yang mulai bernyala di pakaian dan rambutnya!

Nenek itu meloncat ke sana-sini, akhirnya bergulingan dan menjerit-jerit.

Namun api makin membesar dan akhirnya dia berkelojotan dan Sin Liong membuang muka.

Setelah nenek itu tidak bersuara lagi, Sin Liong lalu menghampiri Bi Cu.

"Sin Liong...!"

Kebetulan Bi Cu siuman dan mereka saling tubruk dan saling berangkulan, dipandang oleh Yap In Hong yang menahan senyumnya.

Sin Liong lalu menggandeng tangan kekasihnya, diajaknya berlutut di depan pendekar wanita itu.

"Yap-lihiap telah menyelamatkan nyawa Bi Cu, kami berdua berterima kasih sekali dan kami takkan melupakan budi kebaikan lihiap,"

Kata Sin Liong dengan suara terharu.

Yap In Hong tersenyum dan memandang kagum kepada pemuda yang berlutut di depannya itu.

Baru sekarang dia tahu bahwa pemuda ini benar-benar memiliki kepandaian yang hebat sekali, dan mulailah dia mengerti mengapa pemuda ini dahulu mencegah dia dan suaminya ketika hendak membunuh Kim Hong Liu-nio.

Kiranya pemuda ini hendak membunuh sendiri wanita jahat itu, dan tentu ada alasannya yang amat kuat.

"Sudahlah, Sin Liong, dalam keadaan seperti ini, tidak perlu sungkan-sungkan. Engkau terus teranglah sekarang, apakah engkau benar-benar hendak membantu pemberontakan Pangeran Ceng Han Houw?"

Sin Liong mengangkat muka memandang dan wanita perkasa itu terkejut menyaksikan sinar mata yang mencorong seperti mata naga itu!

"Tidak, lihiap.

Bahkan aku akan membantu untuk menghancurkan usahanya yang busuk itu!"

"Bagus, kalau begitu lekas kita keluar. Tempat ini mulai terbakar dan aku tidak tahu bagaimana jadinya dengan pertandingan di luar."

Yap In Hong lalu cepat meloncat keluar.

Sin Liong yang menggandeng tangan Bi Cu bangkit bersama dara itu, mereka saling pandang.

Ketika Bi Cu melihat tubuh Kim Hong Liu-nio sudah menjadi mayat dan hio-hio itu masih mengepulkan asap harum, sedangkan tubuh nenek itu menjadi makin hitam karena terbakar, dia mengeluh dan merangkul Sin Liong, menyembunyikan mukanya di dada kekasihnya.

Teringatlah dia betapa kalau dia tidak tertolong, tentu dia akan mati secara mengerikan seperti nenek itu pula.

"Semua sudah berlalu... tenanglah,"

Sin Liong berkata sambil mendekap dan mengelus rambut kekasihnya, kemudian mengajaknya keluar dari tempat itu, menuju keluar, ke tempat pertemuan dengan jalan memutar, Tidak lewat dalam istana, melainkan lewat taman bunga di samping istana.

Mereka melihat betapa Yap In Hong sudah berjalan cepat menuju ke ruangan depan.

Mereka lalu melangkah perlahan-lahan menuju keluar di mana agaknya masih terjadi keributan-keributan.

Ternyata bahwa pertandingan antara Cia Bun Houw yang dikeroyok dua oleh Hai-liong-ong Phang Tek dan Kim-liong-ong Phang Sun berjalan amat seru dan mati-matian.

Ketika Yap In Hong meninggalkan suaminya untuk melakukan penyelidikan ke belakang istana, dia melihat bahwa suaminya telah mendesak dua orang lawan itu, maka setelah berunding dengan Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng, dia meninggalkan tempat itu, menyelinap ke belakang tanpa diketahui orang dan di gudang itu dia sempai menyaksikan Sin Liong menewaskan Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio.

Bahkan dia sempat pula menyelamatkan Bi Cu yang terancam maut.

Karena ternyata di belakang istana itu tidak terdapat gerakan apa-apa, dan karena girang bahwa Sin Liong ternyata berpihak kepada Cin-ling-pai dan menentang pangeran, maka wanita perkasa itu lalu cepat kembali ke situ.

Akan tetapi ternyata, sungguhpun dia tidak mempergunakan waktu yang terlalu lama meninggalkan tempat itu, setelah kini dia kembali, pertandingan itu telah berubah lebih menegangkan dan mati-matian karena dua orang yang mengeroyok suaminya itu setelah terdesak hebat lalu mengeluarkan senjata masing-masing.

Phang Tek sudah mempergunakan senjata tongkatnya yang hanya sepanjang sebatang pedang dan mainkan tongkat itu seperti sebatang pedang dengan Ilmu Pedang Liong-jiauw-kiam yang ganas.

Juga adiknya, Phang Sun, telah mempergunakan sebatang pisau belati berwarna hitam yang mengetuarkan bau amis.

Memang belati di tangan Kim-liong-ong Phang Sun ini mengandung racun yang amat jahat, sekali gores pada kulit saja sudah cukup untuk mengirim lawan ke lubang kubur!

Akan tetapi melihat dua orang lawannya yang telah terdesak itu kini menggunakan senjata, Bun Houw tidak berkata apa-apa.

Dia maklum bahwa memang dua orang lawan itu bukan sekadar menguji kepandaiannya, melainkan kalau mungkin akan membunuhnya, maka diapun lalu mencabut sebatang pedang.

Semua orang menjadi silau melihat sekilat sinar emas yang kemudian bergulung-gulung.

Kiranya itu adalah Hong-cu-kiam, sebatang pedang tipis yang bisa digulung atau dipakai sebagai sabuk, pedang yang pernah menggemparkan kolong langit di tangan pendekar ini.

Dengan pedang di tangan, pendekar ini tentu saja seperti seekor harimau tumbuh sayap.

Dua orang kakek dari selatan itu kecele, karena begitu mereka bermain senjata, melawan pedang pemuda itu sungguh merupakan hal yang amat berbahaya.

Belum sampai lima puluh jurus mereka bertanding, Hai-liong-ong Phang Tek telah kehilangan tongkatnya yang patah menjadi dua dan Kim-liong-ong Phang Sun terobek kulit lengan kirinya sehingga mengeluarkan darah.

Keduanya terkurung hebat oleh gulungan sinar pedang dan kalau Bun Houw hendak menurunkan tangan kejam, tentu mereka dalam saat-saat berikutnya akan roboh!

Pada saat itu, Pangeran Ceng Han Houw bangkit dan melangkah maju sambil berseru.

"Tahan senjata...!"

Mendengar ini, sebagai seorang tamu yang tahu aturan, Bun Houw menahan pedangnya dan lenyaplah sinar gemilang dari pedang itu.

Kini pendekar itu berdiri tegak menghadapi pangeran, pedangnya sudah masuk kembali ke sekeliling pinggangnya, dililitkan seperti sebatang sabuk!

Hanya sedikit peluh di leher pendekar itu yang menunjukkan bahwa dia telah mengeluarkan banyak tenaga menghadapi dua orang lawan tangguh tadi, sedangkan dua orang kakek dari Lam-hai Sam-lo itu berdiri di pinggiran sambil terengah-engah dan seluruh muka, leher dan baju mereka basah oleh keringat!

Pangeran Ceng Han Houw sudah melangkah maju dan menjura dengan sikap hormat dan ramah kepada Cia Bun Houw.

"Paman Cia Bun Houw sungguh gagah perkasa dan amat mengagumkan..."

"Maaf, pangeran, saya tidak pernah merasa mempunyai seorang keponakan seperti Pangeran. Bicaralah yang benar!"

Cia Bun Houw memotong dengan suara ketus penuh teguran.

Tentu saja ucapan ini merupakan tamparan hebat, namun Ceng Han Houw masih tersenyum dengan ramahnya.

"Mungkin saja seorang enghiong gagah perkasa seperti Cia-tahiap tidak menganggap saya sebagai keponakan, akan tetapi adalah merupakan kenyataan bahwa isteri saya, Lie Ciauw Si, adalah keponakanmu. Taihiap telah menundukkan dua orang kakek dari Lam-hai Sam-lo, dengan demikian berarti sudah memenuhi syarat secukupnya untuk menjadi jago nomer satu di dunia, kecuali kalau ada yang akan menandingi taihiap. Dengan kepandaian taihiap yang tinggi, maka kami mengharapkan agar taihiap akan sudi membantu agar kita semua dapat bangkit dan menentang kelaliman Kaisar..."

"Cukup, pangeran! Aku bukan seorang pemberontak!"

"Justeru itulah, Cia-taihiap. Taihiap dan semua anggauta keluarga Cin-ling-pai bukan pemberontak dan tidak pernah memberontak, akan tetapi apa yang telah terjadi? Seluruh dunia kang-ouw tahu belaka bahwa keluarga Cin-ling-pai yang gagah perkasa telah dituduh pemberontak oleh Kaisar yang tak mengenal budi, bahkan telah menjadi orang-orang buruan pemerintah. Bukankah hal itu amat membikin orang menjadi penasaran?"

"Kami sekarang sudah dibebaskan, dan aku tidak mau bicara tentang itu!"

Cia Bun Houw berkata dengan ketus. Pada saat itu Lie Ciauw Si juga sudah bangkit dan berkata.

"Paman Cia Bun Houw, hendaknya paman mengetahui bahwa yang membebaskan keluarga Cin-ling-pai dari tuduhan pemberontak adalah Pangeran Ceng Han Houw yang telah menjadi suamiku inilah! Dia bermaksud baik, dia hendak menghimpun kekuatan orang-orang gagah, kaum patriot untuk menentang penindasan..."

"Lie Ciauw Si!"

Tiba-tiba terdengar suara Cia Giok Keng yang nyaring, membuat semua orang menengok ke belakang.

"Aku malu melihat engkau menjadi kaki tangan gerakan pemberontak! Aku malu mendengar kata-katamu yang membelanya! Aku malu melihat engkau merendahkan diri menjadi isterinya!"

Seketika wajah Ciauw Si menjadi pucat dan dia memandang ke arah ibunya yang sudah bangkit berdiri dari kursinya itu dengan sinar mata sedih.

"Ibu... dia... dia seorang suami yang baik..."

Cia Giok Keng yang marah sekali itu hendak meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri ke tengah ruangan, akan tetapi lengan tangannya dipegang oleh Yap Kun Liong dan suaminya ini membujuknya sehingga akirnya dia duduk kembali, menutupi mukanya dan menangis!

Sementara itu, Cia Bun Houw berkata kepada Pangeran Ceng Han Houw.

"Pangeran kita bicara seperti laki-laki, ataukah engkau hendak menggunakan wanita untuk membelamu?"

Han Houw tersenyum, memengang tangan Ciauw Si dan membujuknya lalu menuntunnya sehingga akhirnya Ciauw Si kembali duduk di atas kursinya dan menundukkan mukanya, menyembunyikan air matanya yang menetes keluar.

Kemudian pangeran itu kembali menghampiri Bun Houw dan mereka berdiri berhadapan dan saling memandang.

Pangeran itu tahu bahwa bujukannya yang dibantu isterinya tidak akan berhasil, maka kini dia hendak mengambil jalan lain yang menguntungkan dia, yaitu hendak merobohkan orang-orang Cin-ling-pai di depan semua orang kang-ouw agar mereka semua tahu bahwa dialah jagoan nomor satu di dunia ini!

Kemenangannya atas diri pendekar-pendekar Cin-ling-pai tentu akan membuat para tokoh kang-ouw lain menjadi tunduk dan pengaruhnya tentu akan menjadi lebih besar sehingga mudah baginya untuk menguasai mereka.

Setelah dua orang ini saling pandang dengan sinar mata tajam, akhirnya Han Houw berkata, suaranya lantang karena dimaksudkan agar semua orang mendengarnya.

"Cia-taihiap, kami bermaksud baik dan mengingat akan pertalian kekeluargaan, akan tetapi taihiap menolaknya. Sekarang, pendekar sakti Cia Bun Houw dari Cin-ling-pai telah maju ke sini dan mengalahkan dua orang yang menjadi penguji. Taihiap adalah seorang calon jagoan nomor satu di dunia."

"Aku tidak ingin menjadi jagoan, hanya ingin mengukur sampai di mana kepandaian orang yang berani mengaku sebagai jago nomor satu di dunia, tidak peduli siapa adanya dia itu!"

Ceng Han Houw tersenyum dan dia memandang ke sekeliling.

"Cu-wi tentu telah mendengarnya. Pendekar Cia Bun Houw adalah seorang pendekar yang amat lihai pada waktu ini, dan aku mendengar kabar bahwa ilmu kepandaiannya bahkan telah melampaui tingkat mendiang ayahnya, yaitu ketua dan pendiri dari Cin-ling-pai! Oleh karena itu, kemunculannya ini dapat diartikan mewakili seluruh Cin-ling-pai dan dia telah lulus ujian dan mengalahkan kedua orang kakek dari Lam-hai Sam-lo. Oleh karena itu, kalau ada di antara para locianpwe dan enghiong yang merasa pantas untuk menjadi calon jago nomor satu di dunia, harap suka maju untuk menghadapi Cia-taihiap!"

Memang pangeran ini cerdik sekali.

Dia ingin mengadukan semua orang gagah di situ, dan nanti pemenang terakhir barulah akan dihadapinya.

Hal ini selain tidak terlalu melelahkan baginya, juga dia dapat sekali pukul merobohkan orang terpandai dan otomatis menjadi jagoan nomor satu di dunia!

Diam-diam Bun Houw juga mendongkol sekali mendengar ini, akan tetapi karena pangeran itu adalah tuan rumah, maka tentu saja dia berhak untuk bicara kepada semua tamunya bahkan berhak untuk mengeluarkan peraturan.

Maka diapun diam saja.

Dia yakin bahwa di antara para orang gagah dari golongan bersih tidak akan ada seorangpun yang sudi untuk memperebutkan julukan yang sombong itu dan tidak akan ada yang mau menentangnya karena mereka semua melihat bahwa dia maju untuk menentang pangeran pemberontak itu.

Maka, dia hanya ingin tahu tokoh golongan hitam yang mana yang akan maju.

Dia akan menghadapi mereka semua, karena memang tugasnya bersama keluarga Cin-ling-pai ini membantu Pangeran Hung Chih untuk menumpas persekutuan hitam yang akan memberontak terhadap pemerintah di bawah pimpinan pangeran muda ini.

Akan tetapi, ternyata dari golongan hitampun tidak ada yang berani maju!

Setelah mereka semua tadi menyaksikan betapa Cia Bun Houw mampu merobohkan dua orang dari Lam-hai Sam-lo, para tokoh hitam menjadi gentar sekali dan tidak ada seorangpun yang berani lancang, maju menghadapi pendekar Cin-ling-pai yang selain sudah terkenal sekali, kelihai-annya itupun bahkan sudah mereka saksikan sendiri betapa hebat sepak terjangnya ketika mengalahkan Hai-liong-ong dan Kim-liong-ong tadi.

Maka mereka ingin sekali melihat sang pangeran itu sendiri yang menghadapi pendekar Cia Bun Houw.

Mereka tahu bahwa pangeran muda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan telah mengalahkan banyak tokoh-tokoh besar dunia persilatan, telah berani menantang tokoh-tokoh Siaw-lim-pai malah!

Maka, menurut pendapat mereka, hanya pangeran itulah yang patut untuk menghadapi pendekar Cin-ling-pai itu.

"Pangeran saja yang maju!"

Tiba-tiba terdengar seruan seorang di antara mereka.

Seruan ini seperti menyinggung semua perasaan para tamu golongan hitam maka bisinglah tempat itu dan semua orang menyatakan agar pangeran yang mau menandingi pendekar Cin-ling-pai itu!

Selain mereka menganggap bahwa pangeran muda ini lawannya, juga mereka semua ingin menyaksikan pertandingan yang tentu akan berlangsung amat hebatnya itu.

Diam-diam Pangeran Ceng Han Houw merasa kecewa.

Kenapa tidak ada jagoan lagi yang berani maju?

Apakah orang-orang yang akan dihimpunnya dan dijadikan pembantu-pembantunya itu hanya terdiri dari orang-orang yang begitu penakut?

Melihat ini, Hai-liong-ong Phang Tek lalu berkata.

"Harap paduka pangeran sendiri yang maju menghadapi Cia-taihiap karena agaknya tidak ada lagi yang sanggup."

Memang kakek inipun ingin melihat sang pangeran merobohkan pendekar yang telah membikin dia dan adiknya kewalahan dan mendapatkan malu itu dan dia yang telah tahu akan kelihaian pangeran, merasa yakin bahwa pangeran muda itu akan sanggup merobohkan lawan tangguh ini.

Ceng Han Houw tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangan ke atas sehingga suara bising itupun berhenti.

Kemudian terdengar suaranya lantang dan halus.

"Pendekar Cia Bun Houw adalah paman dari isteriku, maka bagaimanapun juga kami masih terhitung keluarga dekat dan tentu saja tidak sepatutnya kalau aku sebagai mantu keponakan maju melawannya. Akan tetapi, seperti kita semua ketahui, dalam ilmu silat tidak harus memandang hubungan apapun, dan untuk menentukan siapa yang lebih lihai tidak ada jalan lain kecuali mengadu kepandaian silat. Dan sudah jelas bahwa Cia-taihiap merupakan calon tunggal, maka biarlah saya akan melayaninya untuk melihat siapa di antara kita yang lebih unggul. Tentu saja saya mengharapkan kelonggaran hati Cia-taihiap dengan memandang muka isteriku!"

Kalimat terakhir ini ditujukan kepada Cia Bun Houw. Bun Houw memandang tajam, lalu berkata.

"Kalau engkau berhasrat untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, nah, majulah pangeran. Aku ingin mengukur sampai di mana kelihaian jagoan nomor satu di dunia!"

Dua orang itu telah saling berhadapan dan siap untuk saling serang.

Semua mata tertuju ke arah mereka dan semua hati merasa tegang karena mereka semua maklum bahwa sekali ini tentu akan terjadi pertandingan yang amat seru dan hebat.

Bahkan Yap In Hong yang baru saja datang dan duduk di kursinya kini memandang dengan jantung berdebar tegang, lalu berbisik-bisik dengan kakaknya, Yap Kun Liong untuk mengatur siasat yang memang sudah diperslapkan sebelumnya.

Bagaimanapun juga, Yap In Hong tidak menganggap pertandingan itu sebagai pibu, maka diapun siap membantu suaminya andaikata suaminya terancam bahaya.

Juga Sin Liong yang sudah tiba di luar ruangan itu bersama Bi Cu, menyelinap di antara penonton, di bagian paling belakang sehingga tidak nampak jelas dari dalam, sambil memegang tangan Bi Cu mereka berdua nonton dengan hati tegang pula.

Tidak ada seorang pun memperhatikan pemuda dan dara yang baru datang ini, karena semua orang mencurahkan perhatian mereka ke arah dua orang pria yang saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago dalam medan laga.

Pangeran yang mengenakan pakaian indah, dengan mantel dan topi bulu itu nampak gagah dan tampan sekali, bulu burung yang menghias topinya berwarna merah biru dan kuning emas.

Senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya dan dia sedikitpun tidak memperlihatkan wajah gentar, berseri-seri dan sikapnya menunjukkan bahwa dia percaya penuh akan keunggulannya.

Pendekar Cia Bun Houw yang berdiri di depannya merupakan seorang laki-laki gagah yang berpakaian dan bersikap sederhana dan keren, sepasang matanya tajam penuh wibawa dan dia menanti serangan lawan dengan tenang.

"Pangeran...!"

Ketegangan itu melunak dan Pangeran Ceng Han Houw menoleh, memandang kepada isterinya yang tadi memanggilnya dengan suara halus dan menggetar.

Dilihatnya wanita cantik itu memandang kepadanya dan sepasang mata yang indah itu agak kemerahan dan basah.

"Pangeran, ingatlah bahwa dia adalah pamanku..."

Kata Ciauw Si, hatinya merasa bingung dan tegang sekali.

Wanita ini tahu benar betapa lihainya suaminya.

Dia telah menguji sendiri kehebatan suaminya itu dan dia bahkan mempunyai keyakinan bahwa pamannya itu sekalipun tidak akan dapat mengalahkan Pangeran Ceng Han Houw, maka kekhawatirannya tertuju kepada pamannya sehingga dia merasa perlu untuk mengingatkan suaminya yang berarti minta suaminya agar jangan menurunkan tangan keras kepada adik ibunya itu.

Ceng Han Houw tersenyum bangga.

Perkataan isterinya itu, walaupun diucapkan perlahan, namun karena suasana sedang tegang dan amat sunyi, ucapan itu terdengar oleh semua orang dan ucapan isterinya itu saja sudah mengangkatnya tinggi-tinggi di atas pendekar sakti yang akan menjadi lawannya.

Isterinya minta agar dia berlaku murah kepada pendekar itu, berarti bahwa isterinya menyatakan kepada semua orang bahwa dia lebih unggul daripada pendekar Cin-ling-pai itu!

"Jangan khawatir isteriku, ini hanya sebuah pibu, bukan perkelahian, tentu saja aku tidak akan berani kurang ajar dan menyakiti paman sendiri!"

Jawab Ceng Han Houw sambil tersenyum lebar.

Bukan main panas rasa hati Bun Houw mendengar ucapan pangeran itu.

Dia merasa direndahkan, dipandang ringan sekali di depan para tokoh kang-ouw.

"Pangeran, luka atau mati sudah jamak terjadi dalam pibu. Nah, kausambutlah ini!"

Karena tidak ingin membiarkan pangeran itu berlagak lebih lanjut, Bun Houw sudah mengirim serangan dengan pukulan tangan kiri yang ditamparkan ke arah leher lawan, tamparan yang kelihatannya sembarangan dan ringan saja akan tetapi sesungguhnya tamparan itu merupakan serangan Ilmu Thian-te Sin-ciang yang amat ampuh.

"Harap Cia-taihiap jangan bersikap sungkan lagi,"

Kata sang pangeran yang menghadapi serangan itu masih sempat bicara, sambil mengelak dengan amat mudahnya, seolah-olah dengan ucapannya itu dia menegur pendekar Cin-ling-pai itu bahwa serangannya terlalu lemah dan terlalu sungkan!

Tentu saja Cia Bun Houw dapat merasakan sindiran ini dan diapun lalu mulai menggerakkan tubuhnya dengan cepat, mengerahkan sin-kang di kedua tangannya dan pendekar inipun menyerang dengan dahsyatnya.

Karena dia dapat menduga bahwa pangeran ini bukan sekadar omong kosong atau sombong belaka, melainkan sungguh-sungguh memiliki kepandaian yang tinggi, maka begitu bergerak, Bun Houw sudah menggunakan jurus-jurus Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang ampuh itu, dan kedua lengannya mengandung tenaga dari Ilmu Thian-te Sin-ciang yang amat dahsyat dan kuat.

Setiap gerakannya mendatangkan angin pukulan yang amat mantep sehingga setiap kali dielakkan lawan, jari-jari tangannya seolah-olah tergetar ketika pukulan ditahan, seperti ujung pedang saja!

Gembira sekali rasa hati Han Houw.

Inilah yang selalu dinanti-nantikannya.

Yaitu menandingi seorang pendekar yang sudah mencapai puncak ketenarannya, dan kemudian mengalahkannya!

Kemenangan seperti ini akan jauh lebih menyenangkan dan nikmat daripada melawan tokoh-tokoh biasa saja.

Dan kalau saja dia dapat mengalahkan pendekar dari Cin-ling-pai ini di depan penyaksian demikian banyaknya orang kang-ouw, sekali ini namanya tentu akan meningkat tinggi dan dia selain berhak memakai gelar Thian-he Te-it Tai-hiap (Pendekar Sakti Nomor Satu di Kolong Langit), juga dengan sendirinya dia akan menduduki kursi Bengcu (Pemimpin Rakyat) dan akan mudah menghimpun dan mengerahkan tenaga orang-orang dunia kang-ouw untuk niatnya menentang Kaisar!

Dialah yang patut menjadi Kaisar, bukan Kaisar Ceng Hwa yang sekarang, bukan pula Pangeran Hung Chih.

Dialah yang paling tepat menjedi Kaisar!

Dan dia merasa yakin akan dapat mengalahkan pendekar Cin-ling-pai ini, sungguhpun dia maklum bahwa untuk itu dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Dua orang pria yang berilmu tinggi itu kini bertanding dengan seru.

Mata semua tamu ditujukan untuk mengikuti pertandingan itu, dengan pandang mata penuh ketegangan dan kekaguman dan hampir tak pernah ada yang berkedip, seolah-olah merasa sayang untuk melewatkan sedikit gerakan tanpa mereka ikuti dengan seksama.

Memang hebat sekali mereka itu.

Setiap pukulan mendatangkan angin keras dan merupakan pukulan yang ampuh, dapat menghancurkan batu karang.

Namun, setiap serangan dapat dihindarkan masing-masing dengan indah pula, kalau tidak mengelak dengan gerakan cepat dan tepat, Tentu ditangkisnya dan setiap kali dua lengan mereka saling bertemu, semua orang dapat merasakan pertemuan dua tenaga dahsyat.

Suara "dukk!"

Yang keras dari bertemunya dua lengan itu seolah-olah menggetarkan sekeliling tempat itu, dan seolah-olah terasa oleh mereka yang menonton sehingga makin lama suasana menjadi semakin menegangkan, apalagi karena nampaknya kedua fihak sama kuatnya dan setiap kali mereka beradu tenaga, keduanya tergetar namun dapat saling mempertahankan sehingga tidak sampai terhuyung.

Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang dimainkan oleh kaki tangan Bun Houw adalah ilmu yang amat tinggi dan memiliki dasar yang amat kuat, apalagi dimainkan oleh Bun Houw tanpa kesalahan sedikitpun dan didorong pula oleh tenaga sin-kang dari Thian-te Sin-ciang, maka amatlah sukarnya menandingi gerakan Bun Houw seperti itu.

Ceng Han Houw, biarpun masih muda, maklum akan lihainya lawan, maka biarpun sikapnya seperti memandang ringan, dan senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya, akan tetapi sebetulnya dia berhati-hati sekali dan dia menggerakkan tubuhnya dan bersilat dengan Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang (Ilmu Silat Sakti Menaklukkan Naga), yaitu satu di antara ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw.

Akan tetapi, untuk menghadapi langkah-langkah dari Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang amat indah dan ampuh itu, diapun harus mempergunakan langkah-langkah Pat-kwa-po yang juga amat rapi sehingga dia mampu menghindarkan diri dari setiap kurungan yang diciptakan oleh desakan serangan bertubi-tubi dari lawannya.

Bahkan pangeran ini mampu pula untuk membalas sehingga mereka berdua bertanding dengan amat rapi dan serunya, Masing-masing tidak mau mengalah.

Biarpun mereka berdua tidak memperlihatkan kemarahan atau mengeluarkan seruan-seruan yang mengejutkan, namun, dari gerakan mereka berdua, para tokoh kang-ouw yang menjadi penonton itu maklum bahwa kedua orang itu tidak lagi melakukan pibu biasa sekedar untuk mengukur kepandaian masing-masing, melainkan berkelahi dengan amat hebatnya, setiap serangan merupakan tangan maut yang haus darah, dan setiap jurus yang dipergunakan telah diperhitungkan masak-masak sehingga merupakan jurus yang ampuh.

Diam-diam Yap In Hong dan Yap Kun Liong, dua orang pendekar yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi sekali, tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaian Cia Bun Houw, menjadi terkejut bukan main menyaksikan kelihaian pangeran itu.

Beberapa kali pendekar sakti Yap Kun Liong memuji dalam hatinya melihat betapa pangeran itu dapat menghadapi desakan-desakan yang amat berbahaya dari adik iparnya itu.

Apalagi ilmu langkah sakti Pat-kwa-po yang dimainkan oleh pangeran itu, sehingga langkah-langkah kakinya teratur rapi dan dapat dipergunakan untuk menyelamatkan diri terhadap setiap desakan, mengingatkan dia akan ilmunya sendiri, yaitu Pat-hong Sin-kun yang langkah-lang-kahnya juga berdasarkan rahasia Pat-kwa (Delapan Segi).

Diam-diam dia harus mengakui bahwa menghadapi pangeran itu bukanlah hal yang ringan, dan dia sendiri pun tidak berani memastikan bahwa dia akan menang kalau menghadapi pangeran muda yang telah menjadi suami dari anak tirinya itu.

Yap In Hong juga merasa khawatir, karena diapun dapat merasakan bahwa menghadapi pangeran itu, dia sendiri tidak akan mampu menang, Dan suaminya agaknya tentu harus menggunakan seluruh kepandaian dan waktu yang tidak singkat untuk dapat mengatasi pangeran yang biarpun masih muda namun sudah amat hebat itu.

Teringatlah dia akan Sin Liong dan dia membandingkan pangeran ini dengan Sin Liong.

Diam-diam dia merasa heran dan kagum bagaimana orang-orang yang masih muda itu telah memiliki kepandaian sehebat itu.

Mereka sudah saling serang selama seratus jurus dan belum ada seorangpun di antara mereka yang menang atau kalah, bahkan belum ada yang nampak terdesak.

Diam-diam Yap In Hong mengerutkan alisnya.

Ilmu silat tangan kosong dari pangeran itu memang kuat bukan main.

Kenapa suaminya tidak mengajakanya bertanding menggunakan senjata saja?

Mungkin kalau bersenjata, suaminya akan dapat lebih unggul, karena ilmu pedang suaminya amat hebat.

Dan memang demikian pula pendapat Bun Houw.

Akan tetapi, lawannya hanyalah seorang pemuda, dan tuan rumah pula dan dia seorang tokoh Cin-ling-pai, bagaimana mungkin dia sudi menggunakan senjata kalau lawannya itu hanya bertangan kosong saja?

Dan sebelum bertanding tangan kosong selesai lalu menantang mengadu senjata, hal itu sama artinya dengan merasa kewalahan dalam pertandingan tangan kosong itu!

Dia merasa serba salah dan diam-diam diapun kagum bukan main karena mengertilah pendekar ini bahwa tingkat kepandaian pangeran muda itu sungguh-sungguh luar biasa, bahkan masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li sendiri.

Selama hidupnya, baru sekarang inilah Cia Bun Houw merasa bertemu tanding yang amat kuatnya.

"Hehhh!"

Cia Bun Houw membentak dan dia mengirim tamparan dengan Ilmu Thian-te Sin-ciang sambil mengerahkan seluruh tenaga.

Kedua tangannya menyambar dari kanan dan kiri, mengirim tamparan-tamparan yang sampai mengeluarkan suara bercuitan saking cepat dan kuatnya.

Melihat ini, Ceng Han Houw melangkah mundur dua tindak, ketika lawannya mengejar dengan langkah ke depan sambil melanjutkan tamparan-tamparan itu, dia sudah menangkis dengan membuang lengan dari dalam keluar, ke kanan kiri.

"Dukk! Dukk!"

Untuk ke sekian kalinya, keduanya tergetar hebat karena sekali ini masing-masing mengerahkan seluruh tenaga mereka sehingga getaran itu terasa sekali sampai ke jantung mereka.

Keduanya terkejut karena keadaan mereka sungguh amat berbahaya.

Kurang kuat sedikit saja tentu jantung mereka akan terguncang dan setidaknya mereka akan mengalami luka dalam yang hebat.

Baiknya bagi mereka bahwa tingkat kekuatan sin-kang mereka berimbang sehingga keduanya mengalami getaran seperti itu.

Pangeran Ceng Han Houw juga terkejut bukan main.

Sekarang dia baru percaya bahwa tokoh Cin-ling-pai ini memang hebat sekali.

Pantas saja dahulu Pek-hiat Mo-ko, suami Hek-hiat Mo-li, sampai tewas di tangan pendekar ini.

Mulailah dia merasa khawatir.

Baru pendekar ini saja, sudah begini lihainya, apalagi kalau sampai semua keluarga Cin-ling-pai maju!

Padahal, menurut pendengarannya, isteri pendekar ini, Yap In Hong, memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan suaminya, dan bahwa Yap Kun Liong, ayah tiri dari Ciauw Si, juga memiliki ilmu yang malah lebih matang dan lebih banyak macam ragamnya dibandingkan dengan pendekar Cia Bun Houw ini.

Semua itu telah didengarnya dari penuturan isterinya.

Dia harus dapat mengalahkan pendekar ini lebih dulu sebelum menghadapi yang lain-lain, kalau memang mereka itu nanti akan maju pula.

Tiba-tiba pangeran muda itu mengeluarkan teriakan lantang dan terkejutlah Bun Houw ketika melihat betapa lawannya itu mendadak berjungkir balik, dengan kepala di bawah menjadi kaki dan kedua kakinya di atas, kemudian kaki dan tangan itu melakukan serangan-serangan dari atas dan bawah secara tangkas sekali dan yang lebih hebat daripada itu, serangan-serangan dari kaki dan tangan itu mengandung tenaga yang lebih dahsyat daripada tadi ketika pemuda bangsawan itu masih berdiri di atas kedua kakinya!

Memang itulah hebatnya ilmu simpanan dari Pangeran Ceng Han Houw.

Ilmu inilah yang didapatnya dari kitab Bu Beng Hud-couw, yang bernama Hok-mo Sin-kun dan memang dia telah melatih diri dengan samadhi atau siulian yang juga dilakukan dengan berjungkir balik sehingga dia memperoleh sin-kang yang lebih kuat daripada kalau dia berdiri di atas kedua kakinya!

Bun Houw cepat menangkis dan mengelak dan kembali dia terkejut bukan main karena selain tangkisan itu membuat lengannya terpental ketika bertemu dengan kaki lawan, juga dari bawah kedua tangan lawannya mengirim pukulan-pukulan dahsyat yang amat berbahaya sehingga dia terpaksa melompat dan berjungkir balik ke belakang!

Kesempatan itu dipergunakan oleh Ceng Han Houw untuk membentak nyaring sekali dan tubuhnya sudah melesat ke depan, tahu-tahu dia sudah membalikkan tubuhnya lagi dan dia mendesak Bun Houw yang masih belum hilang kagetnya.

Kini dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, pangeran itu menusuk ke arah kedua mata lawan, sedangkan kaki kanannya diangkat, menggunakan lutut untuk menghantam perut.

Ketika Bun Houw yang terdesak itu mengelak ke belakang, tangan kiri pangeran itu menghantam ke arah muka.

"Hiaaattt...!"

Pangeran itu mendesak dan bermaksud merobohkan Cia Bun Houw.

"Ehhh...!"

Bun Houw cepat melempar tubuh ke belakang dan kembali dia berjungkir balik sampai berturut-turut tiga kali.

Gerakannya ini hebat sekali dan dia berhasil menghindarkan diri dari bahaya maut.

Para tokoh kang-ouw yang menonton pertandingan itu juga ikut merasa terkejut.

Biarpun gerakan pendekar Cin-ling-pai itu amat indah dan cepat, Dan sudah membuat pendekar itu berhasil menghindarkan diri, namun harus diakui bahwa pendekar itu tadi terdesak hebat dan nyaris celaka!

Sebelum Ceng Han Houw yang merasa penasaran karena serangannya yang hampir berhasil tadi pada saat terakhir gagal dapat menggunakan ilmunya yang aneh lagi, tiba-tiba terdengar bentakan keras.

"Ceng Han Houw, akulah lawanmu!"

Nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan pangeran itu telah berdiri seorang pemuda remaja yang bukan lain adalah Sin Liong!

Semua orang terkejut, baik dari golongan hitam maupun golongan bersih memandang heran.

Bukankah Sin Liong ini adalah pemuda yang tadi diperkenalkan oleh pangeran itu sebagai adik angkatnya, bahkan diakui sebagai pembantu utamanya?

Kenapa sekarang pemuda itu malah muncul dan menantang pangeran itu?

Peristiwa ini memang amat mengejutkan dan mengherankan.

Bun Houw sendiri sampai terkejut dan terheran, sehingga diapun hanya berdiri di pinggir dan tidak dapat berkata apapun.

Dia masih terkejut oleh serangan-serangan aneh dan hebat dari pangeran itu tadi, dan kini melihat munculnya Sin Liong secara tiba-tiba yang menantang pangeran itu, sungguh membuat dia termangu dan tidak mengerti harus berbuat atau berkata apa.

Semua tamu yang menjadi bengong memandang dengan hati semakin tegang.

Lie Ciaw Si sampai bangkit dari tempat duduknya dan memandang khawatir, akan tetapi dia bertemu dengan sinar mata ibunya dan kembali dia duduk serba salah.

Yap In Hong tersenyum dan Yap Kun Liong juga tersenyum.

Pendekar ini sudah mendengar penuturan singkat dari adiknya tentang sepak-terjang Sin Liong di belakang istana, Dan diam-diam dia merasa kagum sekali.

Tadi ketika dia menyaksikan serangan pangeran itu yang aneh, dengan cara membalik tubuh, dia tidak merasa heran.

Memang dia tahu bahwa di antara kaum sesat banyak terdapat ilmu-ilmu yang aneh dan sifatnya sesat pula, akan tetapi sebagian besar dari ilmu-ilmu hitam itu hanya kelihatannya saja menggiriskan, akan tetapi sebetulnya tidak mengandung dasar yang kuat.

Maka terkejutlah dia ketika ilmu yang dipergunakan oleh pangeran itu tadi telah membuat Bun Houw terdesak hebat dan nyaris kena dipukul.

Maka legalah hatinya melihat adik iparnya itu mampu membebaskan diri.

Dia tadi melihat betapa adik kandungnya sudah bangkit dari tempat duduknya, siap untuk menolong suaminya yang terdesak, bahkan dia sendiripun sudah siap untuk turun tangan.

Kini, melihat munculnya Sin Liong, dia menjadi ingin sekali melihat apakah pemuda yang telah dipilih oleh ketua Cin-ling-pai sebagai pewaris Thi-khi-i-beng ini benar-benar sehebat seperti yang tadi dia dengar dari adiknya.

Diam-diam dia menyangsikan cerita adiknya.

Dia membandingkan keadaan Sin Liong dengan keadaannya sendiri.

Mungkinkah bocah itu dapat mengumpulkan ilmu-ilmu sehebat itu, melebihi In Hong, dia sendiri, atau Bun Houw?

Rasanya tidak mungkin!

Bukankah bocah itu hanya mewarisi ilmu-ilmu yang sesungguhnya merupakan ilmu-ilmu dari keluarga Cin-ling-pai dan dari Kok Beng Lama?

Jadi, tiada bedanya dengan kepandaian Bun Houw?

Dan tidak mungkin pemuda ini dapat memainkan ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai atau pemberian mendiang Kok Beng Lama lebih baik daripada permainan Bun Houw.

Andaikata ada perbedaannya karena bocah itu kabarnya diwarisi Ilmu Thi-khi-i-beng oleh mendiang Cia Keng Hong kelebihan itupun sebetulnya tidak banyak artinya.

Dia sendiripun ahli Thi-khi-i-beng, akan tetapi dia tidak berani menyatakan bahwa dia lebih lihai daripada Bun Houw dan dia sendiri masih sangsi apakah dapat mengalahkan pangeran itu.

Dan latihan dari Sin Liong tentu sekali belum matang.

Biarpun demikian, ada harapan dalam hati pendekar Yap Kun Liong ini bahwa siapa tahu, mungkin saja Sin Liong menemukan sesuatu yang hebat, yang melebihi dia atau Bun Houw.

Buktinya, bukankah pemuda itu dapat merobohkan dan mengalahkan pengeroyokan Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio?

Dan bukankah pangeran itupun seorang yang masih amat muda namun telah menemukan ilmu yang aneh dan amat hebat?

Orang yang paling terkejut dan merasa penasaran adalah pangeran itu sendiri.

Melihat munculnya Sin Liong yang datang-datang menantangnya, dia terkejut bukan main.

Cepat matanya mencari-cari keluar dan dia dapat melihat Bi Cu berdiri di luar dalam keadaan sehat dan selamat.

Seketika jantungnya berdebar tegang dan hatinya merasa tidak enak.

Apa yang telah terjadi dengan suci dan subonya?

Mereka itu bertugas menjaga Bi Cu, akan tetapi mengapa kini Bi Cu telah keluar dan muncul pula Sin Liong?

Jantungnya makin berdebar khawatir ketika dia menduga bahwa jangan-jangan sucinya dan subonya telah dirobohkan oleh Sin Liong!

Melihat pangeran itu memandang ke arah Bi Cu, kemudian seperti orang mencari-cari dengan matanya, Sin Liong berkata.

"Tidak perlu kau cari lagi dua iblis betina itu, mereka sudah melayang ke neraka!"

Wajah Han Houw berubah agak pucat, akan tetapi dia lalu menatap wajah Sin Liong dengan kebencian yang besar.

Memang sejak dahulu dia membenci pemuda ini, membencinya karena timbul dari perasaan iri hati!

Sejak Sin Liong masih kecil, ketika menjadi tawanan kim Hong Liu-nio, dia melihat pemuda yang masih anak-anak itu demikian berani dan amat gagahnya, hal ini membuat dia kagum sekaki, akan tetapi juga mendatangkan rasa iri yang pertama kalinya.

Kemudian, ketika dia mendengar bahwa bocah yang berwatak gagah itu adalah putera seorang pendekar besar, cucu ketua Cin-ling-pai, irinya menjadi makin besar.

Di samping rasa iri ini memang ada rasa suka sehingga dia mengambil Sin Liong sebagai saudara angkat.

Akan tetapi semua sifat-sifat baik dari Sin Liong merupakan siksaan baginya dan membuat perasaan iri hati itu makin menjadi-jadi.

Melihat Sin Liong begitu kuat terhadap wanita, Tidak mudah tunduk kepada nafsu, membuat dia melihat betapa dia sendiri amat lemah terhadap wanita dan hal inipun menimbulkan iri pula.

Kemudian, melihat kepandaian Sin Liong yang melebihi dia, iri hatinya makin memuncak sehingga beberapa kali dia sudah hendak membunuh pemuda itu.

Kebenciannya amat mendalam, dan sekarang, melihat Sin Liong membangkang terhadap dia, tidak mau menjadi pembantunya, bahkan menentang dan membunuh sucinya dan subonya, kebencian yang meracuni hati Ceng Han Houw membuat dia memandang dengan muka beringas.

Akan tetapi, dasar dia amat cerdik, maka dia dapat menekan perasaannya itu dan tiba-tiba saja pangeran itu tertawa.

Semua orang terkejut melihat wajah beringas itu, dan terheran-heran mendengar betapa pangeran yang nampak marah itu tiba-tiba malah tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, Cia Sin Liong! Akhirnya, engkau sendiri yang membuka rahasiamu! Jadi engkau hendak membela ayahmu yang sudah hampir kalah?"

Ucapan ini tentu saja mengejutkan hati semua keluarga Cin-ling-pai, terutama sekali Cia Bun Houw.

Sedangkan Ciauw Si mengerutkan alisnya dan dia merasa heran menyaksikan perubahan sikap suaminya seperti itu.

"Pangeran Ceng Han Houw! Tak perlu banyak cakap lagi, marilah kau mulai. Akulah lawanmu, bukan untuk memperebutkan sebutan jagoan atau apa, melainkan untuk memperebutkan kebenaran, untuk membereskan semua perhitungan antara kita yang sudah bertumpuk-tumpuk selama ini! Hayo, kalau memang engkau seorang jantan dan jangan selalu menggunakan kecurangan yang licik!"

"Hei, Liong-te, lupakah engkau bahwa engkau telah mengangkat sumpah menjadi adik angkatku?"

"Cukup! Sumpah itu berkali-kali kau langgar sendiri dan beberapa kali engkau hendak mencelakakan aku, dan berkali-kali mengganggu Bi Cu. Kita bukan saudara angkat lagi, melainkan musuh-musuh besar!"

"Hemm, bukankah engkau masih saudara misan langsung dari isteriku? Isteriku adalah puteri pendekar wanita Cia Giok Keng keturunan langsung dari locianpwe Cia Keng Hong, sedangkan engkau juga keturunan langsung dari beliau karena engkau putera kandung dari pendekar Cia Bun Houw...?"

"Tutup mulutmu yang kotor!"

Tiba-tiba terdengar pendekar sakti Cia Bun Houw membentak dari pinggiran karena pendekar ini marah sekali mendengar ucapan terakhir yang mengatakan bahwa Sin Liong adalah anak kandungnya itu.

Pangeran itu tertawa.

"Ha-ha, memang dirahasiakan. Hemm, seluruh dunia kang-ouw mengira bahwa para pendekar Cin-ling-pai adalah orang-orang gagah sejati yang suci murni. Akan tetapi..."

"Pangeran...!"

Tiba-tiba Lie Ciauw Si berseru dan pangeran itu menoleh kepada isterinya.

"Si-moi, aku tidak berdaya. Lihat, mereka semua memusuhi aku, aku maka terpaksa aku harus membela diri dan membalas. Aku dikeroyok oleh mereka semua, keluarga Cin-ling-pai yang gagah dan suci ini, apakah engkau tidak hendak membelaku dan juga hendak berfihak dengan mereka mengeroyokku sekalian?"

Melihat sinar mata penuh duka dan marah dari suaminya, Ciauw Si menunduk, baru sekarang dia melihat betapa suaminya memang memiliki watak yang curang dan licik, Apalagi ketika dia melihat betapa Bi Cu ditawan untuk memaksa Sin Liong dan kini betapa suaminya itu hendak membongkar rahasia pamannya.

Akan tetapi, betapapun juga, dia mencinta suaminya itu!

Baik atau buruk pria itu adalah suaminya, satu-satunya pria di dunia ini yang telah memilikinya lahir batin, memiliki tubuhnya, cintanya.

Mana mungkin dia akan menentang orang yang dicintainya?

Tentu saja kalau suaminya itu hendak memberontak, hendak melakukan hal-hal yang jahat, dia tidak akan mau membantunya.

Namun, apapun yang dilakukan oleh suaminya itu, dia menilainya bukan sebagai kejahatan, melainkan hanya sebagai kelemahan batin suaminya yang ingin mencapai kedudukan tertinggi.

Maka kini, melihat betapa suaminya menentang keluarganya sendiri, diapun diam saja, hanya merasa betapa hatinya tertekan dan terasa sengsara sekali.

"Ceng Han How, manusia pengecut, hayo majulah untuk menentukan siapa di antara kita yang akan mati dan siapa yang boleh hidup terus!"

Sin Liong sudah menantang lagi. Han Houw tersenyum.

"Sin Liong, aku sudah cukup mengenalmu lahir batin. Aku tahu bahwa engkau tidak akan menyerang seorang yang tidak mau melawan, dan sebelum aku habis bicara, aku tidak akan melawanmu dan boleh engkau memukul mampus padaku!"

Kemudian pangeran ini memandang ke sekeliling dan suaranya meninggi sehingga terdengar oleh semua orang.

"Cu-wi, cu-wi telah menyaksikan sendiri bagaimana sifat dan watak orang-orang Cin-ling-pai. Sudah jelas bahwa cucu wanita ketua Cin-ling-pai telah dengan suka rela menjadi isteriku yang tercinta, namun keluarga yang agung itu tidak mau menerima kenyataan ini, seolah-olah mereka merasa sebagai keluarga yang terlalu bersih, terlalu tinggi dan terlalu agung untuk menerima aku sebagai anggauta keluarga mereka! Padahal, siapakah yang tidak tahu akan segala rahasia busuk mereka? Tentang petualangan-petualangan cinta keturunan mereka? Dan yang terakhir, mereka malah merahasiakan adanya seorang keturunan gelap, seorang anak haram yang terlahir di antara mereka. Inilah anak itu, Cia Sin Liong, yang terlahir dari seorang ibu yang sengsara karena setelah mengandung dia, wanita itu tidak dinikah dan ditinggalkan begitu saja oleh seorang pria yang mengaku sebagai pendekar gagah perkasa dan suci, Cia Bun Houw!"

"Keparat jahanam!"

Cia Bun Houw tak dapat menahan kemarahannya.

"Buktikan tuduhanmu itu, kalau tidak... aku bersumpah untuk menghancurkan mulut busukmu!"

Kini Pangeran Ceng Han Houw tidak tersenyum lagi, melainkan memandang ke arah Cia Bun Houw dengan sinar mata menantang.

"Cia Bun Houw, engkau masih hendak berlagak sebagai seorang yang bersih dan gagah? Tidak perlu aku banyak bicara, kalau engkau hendak melihat bukti dari perbuatanmu yang rendah dan hina itu, tanyalah Cia Sin Liong ini sendiri! Tanyakan apakah dia bukan anak kandungmu!"

Karena dia masih merasa bersih dan melihat tidak mungkinnya dia mempunyai seorang anak seperti pemuda ini, Cia Bun Houw memandang kepada Sin Liong dan pemuda itu juga sedang memandang kepadanya, hendak melihat apa yang menjadi reaksi dari ayah kandungnya itu mendengar kata-kata serangan Han Houw.

Mereka saling berpandangan dengan tajam dan penuh selidik, dan akhirnya, dengan suara penuh penasaran Bun Houw bertanya, suaranya seperti membentak nyaring.

"Sin Liong, benarkah bahwa engkau adalah anak kandungku?"

Sin Liong menelan ludahnya.

Sebetulnya, tidak ada keinginan di dalam hatinya untuk mengakui pendekar ini sebagai ayahnya, dia tidak sudi untuk ikut membonceng ketenaran nama keluarga Cin-ling-pai.

Akan tetapi, kekerasan hatinya itu sebagian besar terdorong oleh kenyataan betapa ayah kandungnya itu telah meninggalkan ibunya dan telah menikah dengan seorang wanita lain.

Ketika dia melihat Yap In Hong, mula-mula dia merasa benci dan iri.

Akan tetapi, begitu Yap In Hong berhasil menyelamatkan nyawa Bi Cu, seketika pandangannya berubah dan baru dia tahu bahwa Yap In Hong adalah seorang pendekar wanita gagah perkasa dan bahwa dia dan Bi Cu berhutang budi kepadanya.

Kemudian, dia melihat pembongkaran rahasia itu oleh Pangeran Ceng Han Houw.

Tidak mungkin lagi baginya untuk menyangkal.

Menyangkal berarti membohong dan dia tidak mau membohong.

Pula, memang sudah sepatutnya kalau pendekar itu, yang selamanya terkenal sebagai seorang pria yang gagah perkasa, ditegur secara hebat seperti ini untuk perbuatan yang amat kejam terhadap seorang wanita bemama Liong Si Kwi, Seorang wanita yang dilupakan dan ditinggalkan begitu saja di Lembah Naga!

Dan di sinilah tempat itu!

Di sinilah dia terlahir, dan di sinilah pula ibunya meninggal dunia.

Ibunya yang telah menumpahkan darah ketika dia terlahir, yang telah disia-siakan oleh pendekar ini.

Sudah selayaknya dan sepatutnyalah kalau kini pendekar itu menebus dosa, mengakui perbuatannya itu di tempat ini pula, di mana roh ibunya mungkin masih akan dapat mendengarnya.

Pikiran ini mendatangkan ketegasan dan dia lalu memandang ayah kandungnya itu dengan sinar mata tajam penuh ketegasan dan dia lalu mengangguk.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya hati Bun Houw melihat Sin (Lanjut ke

Jilid 55) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 55 Liong mengangguk, yang berarti membenarkan tuduhan pangeran itu!

Kemarahannya kini berpindah kepada Sin Liong dan dia membentak.

"Engkau sudah bersekongkol dengan pangeran jahat itu untuk menjatuhkan fitnah ini kepadaku!"

Katanya sambil menerjang dan memukul Sin Liong dengan kemarahan meluap.

Akan tetapi dengan tenang dan cepat Sin Liong sudah mengelak dari serangan dahsyat itu.

Pada saat itu ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Yap In Hong telah berada di situ dan pendekar wanita ini sudah menyentuh pundak suaminya.

"Bersikaplah tenang..."

Bisik isteri ini kepada suaminya, lalu menambahkan lebih lirih lagi.

"...ingat Si Kwi..."

Bisikan isterinya itu membuat wajah Bun Houw seketika berubah pucat sekali.

Dia terhuyung ke belakang dan menatap wajah Sin Liong.

Teringatlah dia sekarang.

Mata dan mulut itu!

Tak salah lagi!

"Kau...

kau...

siapakah engkau...siapa nama ibumu...?"

Melihat munculnya Yap In Hong dan mendengar bisikan tadi, biarpun amat lemah namun dia dapat pula menangkapnya, Sin Liong lalu menjawab, dan hatinya timbul ingin tahu sekali rahasia apa yang terjadi di balik hubungan ibu kandungnya dan pendekar ini.

"Mendiang ibuku bernama Liong Si Kwi."

Mendengar ini, Cia Bun Houw memejamkan kedua matanya sejenak.

Isterinya yang juga berdiri di sisinya hanya memandang dengan muka agak pucat, akan tetapi Yap In Hong adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan tidak cengeng.

Dia sudah tahu akan peristiwa yang terjadi antara suaminya dan Liong Si Kwi (baca cerita Dewi Maut), maka diapun tidak merasa heran mendengar bahwa Si Kwi telah mempunyai seorang anak dari suaminya, sungguhpun tentu saja hal itu sama sekali tidak pernah disangkanya, juga tak pernah disangka oleh suaminya sendiri.

"Ha-ha-ha!"

Suara ketawa Pangeran Ceng Han Houw memecah kesunyian dan terdengar suaranya lantang, memang disengaja agar terdengar oleh semua orang.

"Bagaimana, pendekar sakti Cia Bun Houw, apakah engkau masih hendak mengatakan aku menuduh yang bukan-bukan?"

Cia Bun Houw adalah seorang yang gagah perkasa.

Dia kini merasa yakin bahwa anak ini memang anaknya yang lahir dari Liong Si Kwi.

Kini mengertilah dia, mengapa mendiang ayahnya begitu sayang kepada anak ini sehingga dididik, bahkan diwarisi Thi-khi-i-beng, dan mengapa pula mendiang Kok Beng Lama juga begitu sayang kepada anak ini!

Mungkin dua orang kakek itu telah tahu!

Padahal, dua orang kakek itu sebetulnya tidak pernah diberi tahu, hanya mereka memang suka kepada Sin Liong.

Kini Cia Bun Houw yang sudah merasa kepalang, karena semua orang kang-ouw telah mendengar tentang hal itu, segera memandang ke arah para tamu dan berkata dengan suara lantang sehingga terdengar oleh semua orang.

"Cu-wi, aku Cia Bun Houw bukan seorang pengecut! Setelah mendengar bahwa anak ini adalah anak kandung seorang wanita yang bernama Liong Si Kwi, maka aku dapat menerima kenyataan bahwa besar sekali kemungkinan anak ini adalah anakku sendiri! Akan tetapi, bukan sekali-kali aku pernah menodai Liong Si Kwi lalu kutinggalkan! Hendaknya cu-wi sekalian ketahui bahwa dua puluh tahun yang lalu, ketika aku tertawan oleh mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, guru dari pangeran curang ini, dua kakek dan nenek iblis itu telah meracuni aku dengan obat perangsang sehingga aku lupa diri. Dan gadis bernama Liong Si Kwi itu menolongku dari penjara, maka terjadilah hubungan di luar kesadaranku yang sedang terbius obat perangsang. Sungguh tidak pernah kuduga bahwa hubungan di luar kesadaran itu akan menghasilkan anak ini. Baru sekarang aku mendengar dan mengetahuinya. Namun, dengan berani bertanggung jawab kuakui bahwa Cia Sin Liong ini adalah puteraku!"

Semua orang kang-ouw merasa kagum akan kegagahan Cia Bun Houw dan biarpun ada beberapa orang dari golongan hitam yang tidak suka kepada para pendekar mentertawakan, namun pandangan para tamu terhadap Cia Bun Houw sama sekali tidak merendahkan lagi.

Setelah mengeluarkan kata-kata yang merupakan pengakuan gagah itu, Bun Houw memandang kepada Sin Liong dan berkata lirih.

"Biarlah pada lain kesempatan kita bicara tentang ini. Sekarang hadapilah manusia curang ini, dan kalau benar engkau puteraku, engkau harus dapat mengalahkan dia."

Di dalam sinar mata dan suara itu terkandung rasa suka dan kagum yang membuat dua titik air mata membasahi mata Sin Liong.

Dia mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata, hanya memandang ayah kandungnya dan ibu tirinya itu meninggalkan gelanggang dan kembali ke tempat duduk mereka.

Tiba-tiba Sin Liong merasa hatinya lapang bukan main dan dihadapinya pangeran itu dengan senyum tenang.

"Nah, pangeran. Apakah engkau sudah siap sekarang, ataukah engkau takut melawan aku? Kalau takut, lebih baik katakan saja dan kau bubarkan semua ini, jangan lanjutkan usahamu untuk memberontak atau menjadi bengcu, apalagi menjadi jagoan nomor satu di dunia. Lebih baik ganti julukan itu menjadi penjahat licik dan curang nomor satu di dunia."

Sin Liong sengaja mengeluarkan kata-kata ejekan ini untuk membikin panas hati Han Houw dan memang dia berhasil.

Sebelumnya memang Han Houw sudah merasa kecewa, menyesal dan marah sekali bahwa serangannya terhadap nama Cia Bun Houw dan keluarga Cin-ling-pai ternyata sama sekali tidak berhasil karena sikap Cia Bun Houw yang gagah perkasa mengakui semua itu, Bahkan pengakuan pendekar itu malah melontarkan kejahatan ke alamat mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li.

Dan baru saja, dari seorang pengawal yang berhasil merangkak dalam keadaan terluka parah ke tempat itu dia mendengar bahwa memang benar seperti yang diduganya, Sin Liong berhasil menyelamatkan Bi Cu dan selain membunuhi semua pengawal yang tiga puluh orang banyaknya itu, juga telah membunuh Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio.

Hal ini tentu saja menambah kemarahannya dan semua kemarahan itu ditumpahkan kepada Sin Liong yang dianggapnya menggagalkan semua rencananya, orang yang dianggapnya sepatutnya membantunya itu kini malah menentangnya dan hal ini dianggap suatu pengkhianatan!

"Cia Sin Liong!

Di seluruh dunia ini, agaknya hanya kita berdua yang mewarisi ilmu rahasia dari Bu Beng Hud-couw, akan tetapi jangan kau kira bahwa karena engkau yang lebih dulu mempelajari ilmu-ilmu dari guru kita itu lalu kau anggap dirimu lebih pandai.

Ingat, sekali ini aku tidak akan mau mengampuni lagi nyawamu, kecuali kalau engkau sekarang berlutut dan minta ampun, dan selanjutnya mau membantuku seperti yang sudah-sudah."

"Sin Liong, kalau engkau menyerah kepadanya, aku selamanya tidak mau mengenalmu lagi!"

Sin Liong menoleh dan memandang ke arah Bi Cu yang berseru itu, dia tersenyum lalu berkata.

"Jangan khawatir, Bi Cu, aku tidak akan..."

Akan tetapi terpaksa Sin Liong menghentikan kata-katanya karena pada saat itu Han Houw dengan kemarahan meluap telah menubruk dan menyerangnya dengan dahsyat.

Bi Cu sampai berteriak kaget.

"Curang!"

Ketika melihat serangam yang dilakukan dengan mendadak selagi Sin Liong masih menoleh kepadanya itu.

Akan tetapi biarpun kelihatannya Sin Liong menoleh dan lengah, sesungguhnya pemuda ini selalu waspada karena dia sudah cukup mengenal watak pangeran itu yang curang sekali.

Oleh karena itulah ketika Han Houw menyerang dengan tiba-tiba, dia dapat dengan cepat menghadapinya, Menangkis dengan keras dan balas menyerang.

Dalam waktu singkat, dua orang pemuda yang sama lihainya ini sudah saling serang dengan hebatnya!

Perkelahian yang terjadi sekali ini sungguh amat hebat.

Baru belasan jurus saja semua orang tahu bahwa dua orang pemuda itu memang memiliki ilmu yang sama tingginya dan sama anehnya, akan tetapi pandang mata Bun Houw, Yap Kun Liong dan In Hong yang tajam dapat melihat betapa dalam beberapa kali pertemuan lengan, ternyata bahwa dalam hal sin-kang, agaknya Sin Liong masih menang kuat, terbukti dari tubuh pangeran itu yang selalu tergetar dan terguncang sedangkan tubuh Sin Liong sama sekali tidak terpengaruh oleh adu tenaga itu.

Sin Liong bertanding dengan penuh semangat dan dia mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kegesitannya.

Dia berkelahi bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan terutama sekali untuk Bi Cu.

Sudah beberapa kali kekasihnya itu hampir tewas oleh pangeran ini, maka kini dia bertindak mewakili kekasihnya itu untuk mengenyahkan pangeran jahat ini dari permukaan bumi!

Selain itu, juga dia hendak membela ayah kandungnya yang tadi terdesak oleh pangeran ini dan dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, tentu pendekar sakti Cia Bun Houw itu akan kalah pada akhirnya.

Betapapun juga, dia tidak rela melihat orang yang menjadi ayah kandungnya itu dibikin malu dan dikalahkan di depan umum.

Tadi dia telah mendengar betapa Han Houw membongkar rahasia ayah kandungnya, dan ketika dia mendengar jawaban Cia Bun Houw, tahulah dia sekarang!

Ayah kandungnya itu sama sekali tidak bersalah!

Bahkan ayah kandung itu tidak tahu bahwa dia dilahirkan!

Juga hubungan antara ayah kandungnya dan ibunya adalah hubungan yang dipaksakan oleh muslihat yang amat curang dari guru Pangeran Ceng Han Houw!

Rasa girang oleh kenyataan bahwa Cia Bun Houw sama sekali tidak menyia-nyiakan ibunya bercampur dengan perasaan duka dan pahit bahwa dia sesungguhnya adalah seorang anak haram, seorang anak yang dilahirkan tanpa ayah, dilahirkan dari ibu yang tidak dinikah dan dilahirkan sebagai akibat hubungan yang tidak disadari oleh orang yang menjadi ayahnya!

Betapa hal ini menusuk hatinya dan kini dia hendak memperlihatkan dirinya di depan orang banyak bahwa biarpun dia orang rendah, anak haram, anak yang tidak mengenal ayahnya, adalah orang yang akan mampu menundukkan pangeran yang amat lihai itu!

Oleh karena inilah Cia Sin Liong menyerang dengan sepenuh tenaga dan kemampuannya.

Pertama-tama dia mempergunakan San-in Kun-hoat yang dipelajarinya dari kakeknya, dicampur dengan Thian-te Sin-ciang.

Melihat betapa pemuda itu dapat mengombinasikan dua ilmu ini dengan amat baiknya, para anggauta keluarga Cin-ling-pai memandang dengan girang dan bangga.

Pemuda itu sungguh tahu diri dan agaknya memang ingin menjunjung tinggi nama Cin-ling-pai maka dia menghadapi lawan yang tangguh ini dengan ilmu-ilmu Cin-ling-pai.

Hanya Lie Ciauw Si yang menonton dengan alis berkerut, muka pucat dan bibirnya gemetar.

Dia merasa serba salah.

Dia mengkhawatirkan keadaan suaminya, akan tetapi perkelahian itu terjadi dengan adil, satu lawan satu, maka diapun tidak dapat berbuat apapun.

Pula, dia tahu bahwa suaminya berada di fihak salah dan bahwa suaminya sudah memperlakukan Sin Liong secara keterlaluan.

Masih teringat dia betapa Sin Liong yang mengajak pangeran itu ke selatan untuk mencari Ouwyang Bu Sek, karena suaminya ingin mempelajari ilmu-ilmu yang diajarkan oleh kakek itu kepada Sin Liong demikian yang didengarnya.

Dan kini, setelah suaminya itu memperoleh ilmu yang tinggi, suaminya malah memperlakukan Sin Liong tidak semestinya, hendak memaksa pemuda itu membantunya dengan jalan menawan Bi Cu.

Tak disangkanya bahwa pangeran yang dicintanya itu memiliki watak yang demikian curang dan palsu.

Baru sekarang semua watak buruk itu terungkapkan dan dia merasa berduka dan gelisah sekali.

"Hyaaaattt...!"

Sin Liong menyerang seperti seekor naga menyambar dari angkasa.

Tangan kanannya menampar dengan tenaga Thian-te Sin-ciang, dan dia terus mendesak lawan, kini dia mempergunakan Ilmu Thai-kek Sin-kun yang ampuh!

Melihat serangan bertubi-tubi yang dahsyat ini, Ceng Han Houw bersikap tenang dan dia cepat merendahkan diri dengan menekuk lutut kirinya sampai rendah sekali, Kemudian setelah dia mengelak beberapa kali dan menangkis, diapun balas menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat dari bawah yang mengarah lambung dan pusar lawan.

Sin Liong maklum akan bahayanya serangan balasan lawan, maka dia cepat meloncat dan membalikkan tubuhnya, tubuhnya itu dari atas meluncur turun dan kedua tangannya membentuk cakar naga menyerang dengan cengkeraman maut ke arah kepala lawan.

Namun, dengan gerakan inilah pangeran itu dapat menggulingkan tubuhnya ke atas lantai dan menghindarkan cengkeraman itu, karena untuk ditangkis terlalu besar bahayanya baginya.

Setelah dia meloncat bangun, dia memapaki tubuh Sin Liong yang baru turun itu dengan pukulan bertubi-tubi sambil memutar tubuh.

Itulah jurus yang ampuh dari ilmu Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Penakluk Naga).

Sin Liong kini terdesak dan pemuda ini berlompatan dan memutar-mutar tubuhnya pula, gerakannya seperti seekor naga.

Memang pantas sekali Sin Liong diumpamakan sebagai seekor naga sakti dari Lembah Naga, dan pangeran itu berusaha menaklukkannya.

Akan tetapi naga ini hebat bukan main dan ilmu penakluk naga itu sama sekali tidak mampu mendesak terus, apalagi menaklukkan.

Sin Liong membalas dengan tamparan-tamparan sakti Thian-te Sin-ciang sehingga desakan pangeran itu membuyar karena pangeran itu harus melindungi dirinya baik-baik kalau dia tidak mau kepalanya pecah terkena sambaran tamparan Thian-te Sin-ciang yang ampuh.

Demikianlah, dua orang pemuda itu saling serang, saling desak dan keadaan mereka benar-benar seimbang dan sama cepatnya, sama gesitnya, sama kuat dan sama-sama menguasai semua gerakan mereka dengan baik.

Juga mereka bertanding dengan kemantapan yang membuat setiap serangan dan tangkisan atau elakan nampak indah sekali.

Semua yang menonton pertandingan itu tiada hentinya memuji, bahkan kaum tua yang sudah berpengalaman dan menyaksikan pertandingan itu sampai menahan napas saking kagumnya.

Tak pernah mereka sangka bahwa di dunia persilatan muncul dua orang muda yang memiliki kepandaian sedemikian hebatnya!

Mereka berdua itu benar-benar merupakan tandingan yang seimbang, baik usianya, gagah dan tampannya, dan pandainya.

Tadi ketika pangeran itu melawan Cia Bun Houw, masih terdapat kepincangan karena Cia Bun Houw adalah pendekar yang dianggap sudah memiliki banyak sekali pengalaman.

Jangankan sampai dapat mendesak atau bahkan hampir mengalahkan pendekar Cin-ling-pai itu, baru dapat mengimbangi saja sudah amat mengagumkan.

Dengan terdesaknya Cia Bun Houw, semua tamu dari tingkat atas mulai meragukan keampuhan Cin-ling-pai sebagai partai persilatan yang terkenal sekali, karena Cia Bun Houw dianggap mewakili Cin-ling-pai dan merupakan jagoan yang paling ahli dengan ilmu-ilmu Cin-ling-pai.

Akan tetapi, setelah kini Cia Sin Liong maju, pemuda yang kini dikenal sebagai putera Cia Bun Houw dan yang kini juga bersilat dengan ilmu-ilmu Cin-ling-pai, bahkan kini memainkan Thai-kek Sin-kun dengan mahirnya, pandangan mereka terhadap Cin-ling-pai sudah naik lagi.

Ternyata Cin-ling-pai masih mempunyai keturunan terakhir yang amat lihai!

Sin Liong memang sengaja hanya memainkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kakeknya dan Kok Beng Lama saja, karena selain dia hendak memperlihatkan bahwa apa yang dipelajarinya dari dua orang kakek yang disayangnya itu tidak sia-sia dan dia dapat menjujung nama mereka dengan ilmu-ilmu yang telah diberikannya kepadanya itu, Juga dia tahu benar bahwa selama pangeran itu tidak mainkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw, maka dia akan dapat menanggulanginya dengan ilmu-ilmu pemberian kakeknya dan Kok Beng Lama, bahkan akan mampu untuk mengalahkannya.

Setiap kali pangeran itu menghujankan pukulan, kadang-kadang dia bahkan menggunakan Thi-khi-i-beng untuk memunahkan semua serangan, karena dengan Thi-khi-i-beng, pangeran itu tidak berani melanjutkan serangannya dan setiap kali tangannya melekat dan tersedot, dia menggunakan ilmu yang pernah diterimanya dari subonya, yaitu ilmu melemaskan diri mengosongkan tangan yang tertempel sehingga tidak mengandung sin-kang lagi dan mudah terlepas.

"Anak itu hebat sekali, berbakat baik!"

Yap Kun Liong memuji.

Cia Giok Keng dan Yap In Hong, yang juga menonton dengan hati tegang, mengangguk membenarkan.

Pangeran Ceng Han Houw sejak tadi memang tidak mengeluarkan ilmu simpanannya, karena dia menghendaki agar lawannya itu lebih dulu mengeluarkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Bu Beng Hud-couw di bawah bimbingan Ouwyang Bu Sek itu, Akan tetapi alangkah kecewa dan marahnya ketika dia melihat bahwa Sin Liong hanya mengeluarkan ilmu-ilmu seperti yang dimainkan oleh Cia Bun Houw tadi.

Biarpun permainan Sin Liong dalam hal ilmu-ilmu itu tidaklah sehebat Bun Houw, akan tetapi karena Sin Liong memiliki tenaga yang luar biasa kuatnya dan karena Han Houw tidak atau belum mengeluarkan ilmu-ilmunya yang dirahasiakan, pangeran itu kewalahan dan kalau dilanjutkan, akhirnya dia tentu akan kalah.

Oleh karena itu, gagal memancing Sin Liong mengeluarkan ilmu simpanan lebih dulu untuk dipelajarinya, Ceng Han Houw tiba-tiba mengeluarkan bentakan aneh dan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya sudah menubruk ke depan dan dia sudah mulai mainkan Ilmu Hok-liong Sin-ciang yang amat ampuh dan yang tadi telah membuat Bun Houw sendiri terkejut dan kewalahan itu!

Sin Liong sudah berjaga-jaga karena dia sudah selalu waspada.

Menyaksikan perubahan gerak tubuh lawan, dan melihat betapa dahsyatnya angin pukulan yang menyambar ke arahnya, maklumlah dia bahwa inilah ilmu simpanan yang dipelajari pangeran itu di dalam gua-gua dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw!

Maka diapun lalu mencondongkan tubuh atas ke belakang, dan dari mulutnya keluar pula gerengan seperti seekor naga marah dan kedua tangannya membuat gerakan menyilang dan dari gerakan ini menyambarlah dua angin pukulan bersilang yang selain amat kuat dan mampu menangkis serangan Han Houw, juga telah menggulung pukulan itu dan membalas dengan tamparan yang amat kuatnya pula!

"Uhhh!"

Ceng Han Houw terkejut dan cepat dia membuang diri ke belakang dan sejenak dia berdiri memandang dengan mata terbelalak.

Para tokoh kang-ouw yang menonton dengan asyik tidak tahu bahwa ada dua jurus aneh yang berbeda dengan tadi telah dikeluarkan oleh masing-masing, Namun para tokoh Cin-ling-pai yang tentu saja tadi mengenal gerakan Sin Liong ketika pemuda itu mainkan ilmu-ilmu Cin-ling-pai, kini tahu bahwa pemuda itu telah menggunakan jurus yang amat aneh, yaitu ketika dia mencondongkan tubuh ke belakang dan kedua tangannya membuat gerakan menyilang tadi.

Dan kini berturut-turut dua orang pemuda itu mengeluarkan jurus-jurus yang aneh, yang mendatangkan angin dahsyat dan yang mengeluarkan bunyi bersiutan dan bahkan kadang-kadang nampak asap atau uap tebal mengepul dari kedua tangan mereka!

Dan memang pangeran Ceng Han Houw sudah mainkan Hok-liong Sin-ciang dengan penuh rasa penasaran sedangkan Sin Liong sudah menghadapinya dengan Hok-mo Cap-sha-ciang!

Dan ternyata bahwa semua serangan pangeran itu dapat dibuyarkan, bahkan ketika Sin Liong membalas, pangeran itu terhuyung-huyung ke belakang!

"Keparat!"

Pikir Ceng Han Houw dan kembali dia memekik, sekali ini tubuhnya seperti berubah kaku dan meluncurlah tubuhnya itu ke depan.

Dia menyerang bukan hanya dengan gerakan tangan atau kaki, melainkan dengan tubuh meloncat atau meluncur ke depan dalam keadaan kaku dan lurus, dan kedua tangan yang di depan itu terbuka jari-jarinya dan tidak diketahui apakah dia hendak memukul, menampar, menusuk atau mencengkeram!

Ini merupakan satu di antara jurus-jurus Hok-liong Sin-ciang yang paling lihai.

Sin Liong agak terkejut menghadapi serangan aneh ini.

Tubuh pangeran itu seolah-olah berubah menjadi sebatang tombak raksasa yang dilontarkan ke arah dadanya!

Akan tetapi, kalau tombak, betapapun besarnya, hanya merupakan benda mati saja dan tentu dapat dihindarkannya dengan mengelak atau menolak dari samping.

Sedangkan yang meluncur ini adalah seorang manusia, dan bukan manusia sembarangan, melainkan Ceng Han Houw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tenaga sin-kang yang amat kuat, dan kecurangan yang membahayakan.

Maka Sin Liong tidak mau mengelak, melainkan dia memasang kuda-kuda dengan kuatnya, lalu dia bergerak melakukan jurus yang ampuh dari Hok-mo Cap-sha-ciang, menggerakkan kedua lengan dari bawah ke atas, seolah-olah dia menyedot tenaga bumi dan langit, kemudian dengan bentakan nyaring dia menyambut luncuran tubuh lawan itu dengan kedua tangan didorongkan ke depan, dengan jari-jari terbuka.

Inilah yang dinamakan menyambut keras lawan keras dan untuk ini tentu saja diandalkan kepada tenaga sepenuhnya.

Melihat ini, pangeran itu terkejut.

Tak disangkanya lawan akan menggunakan kekerasan.

Dia tadinya mengharapkan Sin Liong untuk mengelak atau menangkis, dan kalau hal itu terjadi, tentu dia akan lebih mudah untuk merubah gerakan tangan dan dengan demikian dia mengharapkan untuk dapat mengelabuhi dan memukul lawan.

Siapa kira, pemuda itu agaknya nekat menyambutnya dengan kekerasan juga, dengan dorongan kedua tangannya yang disertai pengerahan tenaga sin-kang!

Apa boleh buat, terpaksa pangeran itupun mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan membuka lengan untuk menyambut atau menahan dorongan lawan.

Dua pasang telapak tangan yang sama kuatnya bertemu di udara dengan tenaga sepenuhnya.

"Desss...!"

Bukan main hebatnya pertemuan dua pasang tangan itu.

Semua tamu sampai merasa betapa ada hawa pukulan kuat mengguncang mereka dan bumi seperti tergetar.

Akibat dari pertemuan dua telapak tangan itu ternyata merugikan sang pangeran.

Sin Liong terdorong kuda-kuda kakinya sampai satu meter ke belakang, kakinya terseret dan membuat guratan dalam sampai hampir dua senti di lantai, sedangkan mukanya berubah pucat.

Akan tetapi lawannya, Pangeran Ceng Han Houw, yang melakukan adu tenaga dengan tubuh masih meluncur, terpelanting dan terbanting ke atas tanah.

"Pangeran...!"

Ciauw Si mengeluarkan seruan kaget.

Akan tetapi Ceng Han Houw yang terbanting itu sudah bergulingan lalu tahu-tahu dia sudah meloncat bangun, mengeluarkan teriakan nyaring yang aneh, melengking tinggi dan setelah itu, dia lalu berjungkir balik.

Kepalanya yang kini menggantikan kedudukan kedua kakinya itu berloncatan mengeluarkan suara duk-duk-duk, kaki tangannya bergerak-gerak dan dia sudah mulai menyerang Sin Liong dengan ilmu silatnya yang aneh itu, yaitu Hok-te Sin-kun (Silat Sakti Membalikkan Bumi).

Sin Liong yang mengenal ilmu aneh yang amat berbahaya, yang tadi hampir mengalahkan ayah kandungnya, cepat bersikap hati-hati dan dia tetap mempergunakan Hok-mo Cap-sha-ciang untuk menandingi ilmu aneh ini.

Sementara itu, kiranya teriakan melengking yang dikeluarkan oleh pangeran itu bukan semata-mata teriakan marah, melainkan merupakan suatu tanda bagi para pembantunya untuk bergerak.

Buktinya, begitu dia mengeluarkan teriakan melengking itu, beberapa orang dari golongan hitam yang tadinya duduk di antara para tamu, telah bangkit berdiri, para pengawal yang tadinya berjaga-jaga di luar kini datang dan mengurung tempat itu, dan kedua orang kakek dari Lam-hai Sam-lo juga sudah meloncat untuk mengeroyok Sin Liong!

Akan tetapi, Yap Kun Liong dan Yap In Hong sudah siap siaga, maka begitu melihat dua orang kakek itu berloncatan ke medan pertandingan, merekapun dengan loncatan jauh telah berada di situ.

Yap Kun Liong sudah menghadapi Hai-liong-ong Phang Tek sedangkan adik kandungnya telah menghadapi Kim-liong-ong Phang Sun!

"Hemm, kiranya Lam-hai Sam-lo yang tinggal dua orang ini tak lain hanya orang-orang licik dan curang tukang keroyok seperti tukang-tukang pukul di pasar saja!"

Yap Kun Liong berkata sambil menghadapi Phang Tek dengan senyum mengejek.

"Kau agaknya sudah bosan hidup, bocah tua bangka!"

Yap In Hong juga membentak Phang Sun yang disebutnya bocah tua karena memang tubuh kakek ini seperti anak kecil.

"Saudara-saudara, para pendekar sombong ini sudah mulai mengacau, hayo bangkit serentak dan menghancurkan mereka sebelum kelak mereka yang akan membasmi kita!"

Tiba-tiba terdengar bentakan seorang kakek yang baru muncul dan ternyata dia itu adalah Kim Hwa Cinjin, Ketua Pek-lian-kauw dari selatan yang perkumpulannya telah diobrak-abrik oleh Pangeran Hung Chih akan tetapi yang sempat pula melarikan diri bersama banyak pimpinan Pek-lian-kauw yang pada saat itu berkumpul pula di situ.

Kalau tadi dia tidak nampak adalah karena dia disuruh bersembunyi dulu oleh Pangeran Ceng Han Houw yang sudah membuat bekas musuh-musuh ini menjadi sekutunya.

Mendengar seruan ini, banyak tokoh kang-ouw dari golongan hitam yang serentak bangkit dari tempat duduk mereka.

Golongan ini adalah orang-orang yang selalu mengejar keuntungan, dan tentu saja mereka melihat kesempatan baik untuk memperoleh keuntungan jika mereka membantu pangeran yang selain lihai juga besar pengaruhnya dan kaya raya itu.

Akan tetapi pada saat itu Cia Bun Houw sudah meloncat maju dan menghadapi ketua Pek-lian-kauw itu sambil membentak marah.

"Pemberontak-pemberontak hina! Cu-wi yang gagah perkasa dari dunia kang-ouw tentu tidak akan membiarkan kaum sesat ini untuk menjebak kita dan untuk memberontak kepada pemerintah. Siapa yang merasa dirinya gagah, silakan maju membantu pemerintah untuk menghadapi mereka!"

"Bagus! Mari kita basmi penjahat-penjahat pemberontak ini! Siauw-lim-pai takkan pernah sudi bersahabat dengan kaum pemberontak dan penjahat!"

Teriakan dengan suara amat lantang ini dikeluarkan oleh Cui Khai Sun, pemuda Siauw-lim-pai yang gagah perkasa tadi.

Seruannya ini membangkitkan semangat para orang gagah di situ dan banyak di antara mereka yang bangkit dan siap menghadapi kaum sesat.

Akan tetapi masih banyak yang ragu-ragu dan tetap duduk saja dan tidak ingin mencampuri urusan itu.

Sementara itu, Pangeran Ceng Han Houw yang mengamuk dalam keadaan jungkir balik itu, selalu dapat disambut oleh sin Liong dengan baik.

Melihat betapa banyak orang gagah yang bangkit dan hendak menentangnya, dia meloncat dalam keadaan jungkir balik dan menjauhi Sin Liong sambil berkata.

"Tahan semua orang yang hendak melawan kami! Pasukanku berjumlah ribuan orang telah mengurung tempat ini! Kalian telah terkurung, siapa menyerah dan membantuku akan diampuni, yang menentang akan dibunuh!"

"Pangeran pemberontak! Engkau dan pasukanmulah yang terkurung! Dengar dan lihat baik-baik, sepuluh ribu pasukan telah mengurung Lembah Naga!"

Teriak Bun Houw pula dan pada saat itu Cia Giok Keng sudah melepaskan sebatang anak panah yang membumbung tinggi di angkasa dan anak panah api itu mengeluarkan asap tebal di angkasa.

Tiba-tiba terdengar suara tambur dan hiruk-pikuk di empat penjuru, tanda bahwa tempat itu telah dikurung oleh pasukan besar yang kini mulai datang mengurung dan mendesak!

Bukan main kaget dan marahnya Pangeran Ceng Han Houw.

Dia meloncat dan menyerang lagi Sin Liong yang sudah menyambutnya dengan tangkas.

Maka perkelahianpun dimulailah!

Lam-hai Sam-lo yang tinggal dua orang kakek itu ditandingi Yap Kun Liong dan Yap In Hong, sedangkan ketua Pek-lian-kauw Kim Hwa Cinjin dihadapi Bun Houw.

Orang-orang golongan hitam yang membantu pangeran pemberontak itu berhadapan dengan orang-orang gagah yang menjadi tamu di situ.

Setelah melepaskan anak panah api yang menjadi tugasnya dan mendengar sambutan balatentara kerajaan, Cia Giok Keng juga menyerbu dan ikut mengamuk dalam pertempuran itu, karena jumlah para tokoh sesat yang dibantu oleh pe-ngawal-pengawal itu jauh lebih banyak daripada jumlah orang gagah yang menentang pangeran.

Pertempuran hebat terjadi di tempat pesta atau tempat pertemuan itu.

Sin Liong dan Pangeran Ceng Han Houw berkelahi di tengah-tengah dan perkelahian mereka itu amat serunya, dan tidak ada yang mendekat untuk membantu karena keduanya telah mengeluarkan ilmu silat mereka yang mujijat, yang mereka dapatkan dari Bu Beng Hud-couw dan merupakan ilmu silat yang luar biasa sekali sehingga membantu mereka selain bahkan akan mengganggu, juga mungkin pembantunya akan terancam bahaya oleh yang dibantunya itu sendiri.

Sementara itu, di luar Lembah Naga sudah terjadi perang antara pasukan Lembah Naga melawan pasukan pemerintah.

Akan tetapi karena jumlah pasukan yang datang nienyerbu itu jauh lebih besar, maka sebentar saja pasukan Lembah Naga itu terdesak dan terus mundur, dihimpit dari luar dari pasukan kerajaan.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi di ruangan yang luas itupun terjadi dengan hebatnya.

Akan tetapi karena tokoh tokoh besarnya seperti Pangeran Ceng Han Houw dan dua orang kakek Lam-hai Sam-lo, juga para tokoh Pek-lian-kauw, menemui tanding yang amat kuat dari pihak keluarga Cin-ling-pai, Siauw-lim-pai dan tokoh-tokoh kang-ouw lain yang tangguh, maka kaum sesat itupun kehilangan semangat dan mereka itu banyak yang sudah roboh oleh para orang gagah.

Ketua Pek-lian-kauw Kim Hwa Cinjin yang sudah amat tua itu bukanlah lawan dari Cia Bun Houw.

Dalam pertandingan yang kurang dari lima puluh jurus saja, dengan tamparan Thian-te Sin-ciang yang dahsyat, pendekar ini telah merobohkan kakek ini yang tewas seketika karena tidak dapat menahan tamparan dahsyat yang mengenai dadanya.

Cia Ciok Keng yang mengamuk dengan pedang Gin-hwa-kiam yang bersinar perak telah merobohkan beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw.

Juga perkelahian antara Yap In Hong yang melawan Kim-liong-ong Phang Sun berlangsung dengan luar biasa serunya.

Pendekar wanita itu menemui tanding karena kakek kecil pendek itu memang hebat dan merupakan tokoh yang terkenal dengan ilmu silat yang tinggi.

Namun, karena dasar ilmu silat yang dimiliki pendekar wanita itu lebih murni dan juga karena hati kakek pendek kecil ini sudah gentar menyaksikan betapa keadaan kini tanpa diduga-duga telah terbailk, dan keadaan pangeran yang dibelanya itu terancam bahaya, maka perlahan-lahan Kim-liong-ong Phang Sun mulai terdesak hebat.

Perlahan namun tentu, Yap In Hong mulai melancarkan lebih banyak serangan, terutama tamparan-tamparan Thain-te Sin-ciang dan Phang Sun hanya main mundur, mengelak dan menangkis tanpa sempat melakukan penyerangan balasan.

Dia yang biasanya lihai ini sudah mulai mencari-cari jalan keluar untuk melarikan diri, namun lawannya terus mengurungnya dengan serangan-serangan dahsyat dan bertubi-tubi sehingga kakek kecil ini repot sekali.

Tidak demikiain dengan kakaknya, yaitu Hai-liong-ong Phang Tek.

Kalau Phang Sun masih dapat melakukan perlawanan, sebaliknya Hai-liong-ong Phang Tek begitu bergerak melawan Yap Kun Liong segera mendapat kenyataan bahwa lawannya ini hebat bukan main, tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan Cia Bun Houw!

Bahkan pendekar yang sudah setengah tua ini selain memiliki kematangan dalam gerakan juga ternyata memiliki banyak sekali ilmu silat yang aneh-aneh!

Hanya gerakan gin-kang yang amat tinggi dari Hai-liong-ong Phang Tek, maka dia masih dapat bertahan akan tetapi dia tahu bahwa tidak mungkin dia akan menang menghadapi pendekar yang amat lihai ini dan seperti juga Kim-liong-ong Phang Sun, mulailah orang pertama dari Lam-hai Sam-lo ini untuk mencari kesempatan lari!

Ketika dia melihat kesempatan itu terbuka, yaitu ketika lawannya bergerak agak lambat, dia menggereng dan dari samping lengan kanannya yang panjang itu menyambar, tangannya mencengkeram ke arah muka Yap Kun Liong.

Ini merupakan gerakan yang cepat dan dahsyat, akan tetapi hanya untuk menggertak saja dan dia sudah siap melompat jauh dan melarikan diri kalau lawannya mengelak dan mundur.

Akan tetapi ternyata lawannya tidak mengelak, melainkan mundur sedikit dan membiarkan pundaknya terbuka tidak terlindung.

Melihat ini, tentu saia Hai-liong-ong Phang Tek tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menang ini.

Tangannya yang masih terbuka seperti cakar harimau itu tiba-tiba mencengkeram ke arah pundak lawan yang tak terlindung itu.

"Capp...!"

Seperti cakar baja kelima jari tangan kanan kakek itu mencengkeram ke arah pundak dan Yap Kun Liong sama sekali tidak mengelak maupun menangkis, melainkan membiarkan pundaknya dicengkeram.

"Auhhhh...!"

Terdengar Hai-liong-ong Phang Tek berseru kaget sekali ketika dia merasa betapa cengkeramannya mengenai benda lunak yang melekat dan terus menyedot sehingga tenaga sin-kang dari tubuhnya menerobos keluar melalui tangannya itu!

Dia berusaha menggunakan tenaga untuk menarik kembali tangannya, akan tetapi makin dia mengerahkan tenaga, makin hebat pula sin-kangnya mengalir dan membanjir keluar!

Pucatlah wajah Hai-liong-ong Phang Tek dan tubuhnya menggigil.

Dengan nekat tangan kirinya lalu menghantam, akan tetapi sekali ini tangan itu ditangkap oleh lawan.

Begitu tertangkap, kembali sin-kangnya mengalir kuat dari pergelangan tangan yang tertangkap itu sehingga makin banyaklah kini sin-kang yang membanjir keluar itu.

"Aduh... celaka...!"

Kakek itu berseru.

Teringatlah dia akan Ilmu Thi-khi-i-beng yang mujijat dan dia menjadi takut bukan main.

"Hemm, kejahatanmu sudah melewati takaran agaknya. Pergilah!"

Yap Kun Liong tiba-tiba menampar dengan tangan kirinya, tepat mengenai belakang telinga lawan dan Hai-liong-ong Phang Tek mengeluh, tubuhnya terpelanting dan dia tewas di saat itu juga.

Melihat kakaknya roboh, Kim-liong-ong Phang Sun menjadi semakin jerih.

Dia mengeluarkan teriakan panjang dan tiba-tiba dia meloncat pergi.

Akan tetapi wanita perkasa itu membentak.

"Hendak lari ke mana kau?"

Dan Yap In Hong mengejar dengan cepat, tangan kirinya bergerak dan sinar hijau menyambar.

Itulah Siang-tok-swa, senjata rahasia istimewa merupakan pasir hijau yang berbau harum.

Akan tetapi pasir halus ini mengandung racun yang amat berbahaya.

Kim-liong-ong Phang Sun cepat melempar tubuh ke samping lalu bergulingan sehingga sambaran pasir beracun itu lewat di atas kepalanya, akan tetapi baru saja dia hendak meloncat bangun, lawannya telah menerjangnya.

Kakek kecil pendek ini hendak mengelak, namun dia kalah cepat dan begitu tangan Yap In Hong mengenai tengkuknya dengan tamparan Thian-te Sin-ciang yang ampuh, robohlah kakek itu dan nyawanyapun melayang sebelum tubuhnya terbanting ke atas lantai.

Cia Bun Houw, Yap Kun Liong, Yap In Hongs dan Cia Giok Keng kini terus mengamuk, membantu para tokoh kang-ouw golongan bersih untuk menghadapi kaum sesat yang membantu Pangeran Ceng Han Houw.

Biarpun jumlah kaum sesat lebih banyak, Namun dengan bantuan mereka berempat ini mereka menjadi kocar-kacir dan banyak di antara mereka yang roboh dan tewas.

Sementara itu, Lie Ciauw Si masih tetap duduk seperti patung di kursinya yang tadi, sedikitpun tidak bergerak, tidak membantu suaminya, juga tidak menentang suaminya.

Dia seperti orang kehilangan semangat menyaksikan keruntuhan cita-cita pria yang dicintanya itu dan diam-diam dia merasa ikut bersedih untuk suaminya itu.

Semenjak tadi dia tidak melihat yang lain kecuali menonton suaminya yang masih bertanding dengan hebat dan serunya melawan Sin Liong!

Para tokoh Cin-ling-pai itu setelah merobohkan banyak orang dari golongan hitam dan kini ikut menonton pertandingan antara Sin Liong dan pangeran itu, mulai mendekat dan melihat mereka mendekat, Sin Liong berkata, sambil tetap mendesak lawannya.

"Harap cu-wi dari Cin-ling-pai membiarkan saya menghadapi musuh besar ini sendiri."

Mendengar ini, tiga orang itu berhenti dan hanya menonton dengan penuh kagum.

Pertandingan itu sudah mencapai puncaknya, dan keduanya sudah mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga mereka untuk saling mendesak dan kalau mungkin merobohkan lawan.

Ceng Han Houw masih mempergunakan ilmunya yang aneh, dengan berjungkir balik dia berusaha untuk mendesak lawan dengan kedua tangan dari bawah dan kedua kaki dari atas.

Namun, dengan ilmu Hok-mo Cap-sha-ciang, Sin Liong selalu dapat membuyarkan semua serangannya, bahkan serangan balasan Sin Liong selalu membuat tubuh yang berjungkir balik itu tergetar dan bergoyang, bahkan kadang-kadang memaksa pangeran itu untuk berloncatan ke belakang sehingga kepala yang menyentuh lantai itu mengeluarkan suara dak-duk-dak-duk.

Dengan sekilas pandang saja tahulah Pangeran Ceng Han Houw bahwa dia telah gagal total.

Para tokoh kang-ouw golongan hitam yang membantunya telah roboh satu demi satu, para pembantunya yang dipercaya, seperti subo dan sucinya, telah tewas dan bahkan dua orang Lam-hai Sam-lo telah roboh pula.

Dan dari gemuruh suara pertempuran antara pasukannya dan pasukan pemerintah, dia maklum pula bahwa pasukannya terus terdesak mundur, karena suara gemuruh itu makin lama makin dekat juga.

Hatinya menjadi sedih dan kecewa, akan tetapi kemarahannya terhadap Sin Liong mengatasi semua itu.

Bocah inilah yang menjadi gara-gara kegagalanku, demikian pikirnya.

Kini dia telah dikurung oleh tokoh-tokoh Cin-ling-pai.

Dia harus dapat merobohkan Sin Liong lebih dulu, harus dapat menewaskan bocah ini.

Maka, nekatlah Ceng Han Houw.

Dengan mengeluarkan pekik dahsyat yang melengking tinggi, tubuhnya yang berjungkir balik itu meluncur ke depan dan tiba-tiba tubuh itu meloncat tinggi kemudian dari atas tubuhnya meluncur turun dan dia menubruk ke arah Sin Liong seperti seekor harimau kelaparan menubruk seekor kijang!

Tubrukannya ini hebat, cepat dan dilakukan dengan tenaga sepenuhnya, tenaga yang dipusatkan kepada dua tangan dan kepalanya karena dia hendak menyerang lawan dengan kedua tangan dan kepala!

Menghadapi serangan seperti ini, Sin Liong juga terkejut.

Inilah serangan yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah nekat, yang tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri, yang ingin mengadu nyawa kalau perlu dengan musuhnya!

Sin Liong maklum bahwa kalau dia menyambut serangan itu dengan kekerasaan pula, Biarpun dia akan dapat merobohkan lawan, akan tetapi dia sendiri terancam bahaya maut.

Tenaga yang dipergunakan Han Houw dalam serangan itu adalah tenaga yang dipusatkan, ditambah tenaga luncurannya yang kuat, sehingga amat berbahaya kalau disambut dengan kekerasan.

Oleh karena itu, diapun lalu mainkan jurus terakhir dari Hok-mo Cap-sha-ciang yang memang khusus diciptakan untuk mempergunakan tenaga lemas melawan serangan dahsyat yang keras.

Sin Liong berdiri tegak, mengerahkan tenaga "Im"

Dan mula-mula dia hendak mempergunakan Thi-khi-i-beng, akan tetapi segera dibatalkan niat ini karena dia maklum bahwa ilmu ini akan membahayakan dirinya kalau ada tenaga sin-kang yang demikian kuat dan kerasnya membanjir masuk dengan kekuatan sepenuhnya, bisa merusak seluruh isi perutnya.

Maka dia lalu melakukan jurus terakhir itu, dan pula saat kedua tangan lawan sudah hampir mengenai dadanya, dia menangkis dari bawah dan pada saat itu, karena dia menyimpan tenaga, tidak terjadi benturan tenaga dan dia terjengkang atau sengaja melempar diri ke belakang sehingga dia terlentang dan karena lawannya meluncur dengan tenaga penuh, maka tubuh pangeran itu meluncur terus di atasnya tanpa dapat ditahan oleh pangeran itu sendiri.

Saat itulah Sin Liong menggerakkan tangan kanan dari bawah, menghantam ke atas dan ujung-ujung jari tangannya dengan tenaga Thian-te Sin-ciang telah dengan cepat menampar perut lawan agak ke atas dekat ulu hati.

"Plaakkk!"

Tubuh pangeran itu masih meluncur terus akan tetapi kehilangan keseimbangan dan akhirnya terbanting ke atas tanah, bergulingan dan tidak bergerak lagi.

Dari mulutnya mengalir darah segar dan sepasang matanya mendelik, napasnya empas-empis.

Ternyata dia telah menerima pukulan yang amat hebat dan tepat sehingga sebelum tubuhnya terbanting, pangeran ini telah pingsan dan dia telah menderita luka dalam yang amat hebat.

"Pangeran...!"

Terdengar suara jeritan dan Lie Ciauw Si telah meloncat dan menubruk tubuh suaminya sambil menangis.

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, memandang kepada pangeran itu.

Hatinya penuh dengan penyesalan dan kedukaan.

Betapapun juga, dia teringat akan semua kebaikan pangeran itu dan sekarang, begitu melihat pangeran itu roboh pingsan dan dia tahu berada dalam keadaan gawat karena pukulannya tadi amat kuat dan tepat mengenai ulu hati, timbul rasa terharu dan kasihan dalam hatinya.

Dia tahu bahwa sebetulnya banyak terdapat sifat-sifat baik pada diri pangeran ini, hanya sayang, karena kemanjaan dan karena ambisi yang luar biasa besarnya maka pangeran itu tidak segan-segan melakukan segala kecurangan dan kejahatan.

Dia menunduk dan memandang kepada Lie Ciauw Si dengan penuh iba, lalu berkata lirih.

"Piauw-ci... dia... semua ini adalah salahnya sendiri..."

Lie Ciauw Si menoleh dan memandang kepada Sin Liong.

Pemuda ini sudah menduga bahwa tentu wanita yang amat mencinta pangeran itu akan membenci dan marah kepadanya.

Akan tetapi dia terheran melihat betapa wanita yang pucat dan basah air mata itu memandangnya tanpa membayangkan kemarahan atau kebencian sama sekali.

"Aku tahu... dan terima kasih atas sikapmu. Engkaulah satu-satunya orang yang agaknya tidak membencinya, Sin Liong. Biarlah aku membawanya..."

"Silakan, piauw-ci..."

Ciauw Si dengan terisak lalu memondong tubuh itu, kemudian tanpa menoleh lagi kepada para tokoh Cin-ling-pai dia lalu meloncat dan membawa lari tubuh yang pingsan itu dari tempat itu.

"Ciauw Si...!"

Cia Giok Keng berseru dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya dipegang dengan halus oleh suaminya.

"Jangan ganggu dia... pangeran itu tentu akan tewas, sebaiknya biarkan dia seorang diri dalam kedukaannya..."

Cia Giok Keng lalu menjerit dan menangis di atas dada suaminya yang merangkulnya.

Sementara itu, pertempuran di ruangan itu telah berhenti dan semua tokoh kang-ouw golongan hitam telah dapat dirobohkan.

Di antara para tokoh kang-ouw yang gagah perkasa dan yang menentang pangeran tadi, terdapat beberapa orang yang terluka dan kini mereka sedang dirawat oleh teman-teman sendiri.

Dan benar seperti dugaan Pangeran Ceng Han Houw, perang kecil-kecilan itupun tidak lama berlangsung karena fihak pasukan Lembah Naga jauh kalah kuat dan sisanya melarikan diri meninggalkan mayat teman-teman mereka.

Orang-orang kang-ouw golongan sesat yang tadi sudah membuang senjata dan menaluk, setelah menerima peringatan dari komandan-komandan pasukan yang mewakili Pangeran Hung Chih, lalu dibebaskan.

Pangeran Hung Chih sendiri menghampiri tokoh-tokoh Cin-ling-pai dan dengan senyum lebar menghaturkan terima kasih, terutama sekali kepada Cia Sin Liong.

Ketika dia mendengar bahwa pemuda itu adalah putera Cia Bun Houw, dia cepat menjura dan berkata kagum.

"Ah, seekor naga sakti tentu mempunyai turunan seekor naga pula!"

Setelah melakukan pembersihan di lembah itu, Pangeran Hung Chih menyuruh seorang komandan mengepalai pasukan kecil untuk melakukan penjagaan di Istana Lembali Naga, kemudian dia memimpin pasukannya kembali ke kota raja.

Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Yap In Hong, dan Cia Bun Houw menitipkan puteranya yang masih kecil di dalam istana Pangeran Hung Chih.

Tentu saja rombongan keluarga Cin-ling-pai ini juga mengajak Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu yang telah diterima sebagai keluarga Cin-ling-pai, dan bersama-sama mereka pergi ke kota raja.

Di dalam perjalanan inilah, dalam keadaan gembira karena berhasil melaksanakan tugas membela negara, Sin Liong menceritakan semua pengalamannya semenjak dia kecil dan dipelihara oleh monyet-monyet besar di hutan-hutan sekitar Lembah Naga, didengarkan oleh semua orang dengan rasa penuh keharuan dan kekaguman.

Terutama sekali hati Cia Bun Houw menjadi terharu dan juga bangga.

Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa peristiwa yang terjadi antara dia dan Liong Si Kwi yang mencintanya pada saat dua puluh tahun yang lalu itu (baca cerita Dewi Maut), akan menghasilkan seorang anak seperti Sin Liong ini!

Tak pernah diduga-duganya bahwa dia mempunyai seorang anak laki-laki seperti ini, ketemu sesudah dewasa.

Hanya Cia Giok Keng seorang yang mendengarkan dengan wajah lesu dan hati diliputi kedukaan.

Betapapun juga, hati nyonya ini terasa prihatin dan berduka sekali kalau dia mengingat puterinya.

Baru saja hatinya tertusuk dan berduka dengan peristiwa yang terjadi atas diri puteranya, Lie Seng.

Kini, sebelum perasaan dukanya itu sembuh, dia tertimpa lagi oleh peristiwa ke dua yang menimpa diri puterinya.

Diam-diam dia merasa berduka sekali mengapa dua orang anaknya, putera dan puterinya, mengalami kesengsaraan dan kemalangan dalam kehidupan mereka, dalam perjodohan mereka?

Ketika pada malam hari itu terpaksa rombongan harus bermalam di tengah jalan, di luar daerah kota raja di sebelah dalam Tembok besar, Yap Kun Liong yang mendapat kesempatan untuk berdua saja dengan isterinya, membiarkan isterinya menangis ketika mereka membicarakan tentang dua orang anak isterinya itu.

Yap Kun Liong, sebagai seorang pendekar yang sudah mengalami gemblengan hidup yang amat mendalamg maklum sepenuhnya akan kesengsaraan hati isterinya, oleh karena itu dia tidak mencela dan tidak menegur isterinya yang membiarkan dirinya terseret oleh duka.

Baru menjelang tengah malam, ketika dia berhasil menghibur isterinya dan perasaan duka tidak terlalu menghimpit hati isterinya sehingga mengaburkan kewaspadaan, dia mengajak isterinya bicara dengan hati terbuka.

"Isteriku, sungguhpun aku telah menganggap Seng-ji dan Ciauw Si sebagai anak-anakku sendiri, akan tetapi selama ini aku tidak berani mencampuri urusan antara mereka dengan engkau. Sekarang, semuanya itu telah terjadi, marilah kita bicara dari hati ke hati dengan hati terbuka, dengan kewaspadaan sepenuhnya untuk melihat peristiwa-peristiwa itu tanpa dicampuri oleh pendapat dari pikiran kita yang selalu ingin memenangkan diri sendiri dan membenarkan diri sendiri saja. Marilah kita memandang dengan mata terbuka dan mempelajarinya, menyelidikinya, di mana letak kesalahannya sehingga perjodohan kedua orang anak kita itu mengalami kegagalan seperti itu."

Giok Keng mengangguk, kemudian berkata sambil menarik napas panjang.

"Apalagi yang perlu kita selidiki? Sudah jelas bahwa semua kegagalan dan kesengsaran itu diakibatkan oleh karena mereka itu terburu nafsu, terdorong oleh darah muda dan mereka salah pilih."

"Isteriku yang baik, bagaimana kau dapat mengatakan bahwa mereka salah pilih. Pikirlah dengan tenang dan dengan teliti, penuh kebijaksanaan, apa sebabnya engkau mengatakan bahwa mereka salah pilih?"

"Tentu saja, mereka memilih jodoh tanpa melihat bagaimana keadaan orang yang mereka pilih. Lie Seng memilih seorang wanita yang sama sekali tidak berharga menjadi isterinya sehingga mengakibatkan bencana yang demikian hebat dan mematahkan hatinya, sedangkan Ciauw Si... ahhh... perlukan kukatakan lagi betapa kelirunya pilihannya itu?"

Tiba-tiba Kun Liong merangkul isterinya.

Biarpun usianya sudah lima puluh lebih dan demikian pula isterinya, namun kedua orang suami isteri ini masih saling mencinta dan tidak jarang menunjukkan cinta kasih mereka melalui pandang mata, suara, maupun rangkulan mesra.

"Isteriku, katakanlah, apakah engkau cinta padaku?"

Sepasang mata Giok Keng terbelalak, lalu dia merangkul.

"Ah, jangan kau main-main. Perlukah hal itu ditanyakan lagi? Tentu saja aku mencintamu."

"Akupun percaya akan hal itu. Engkau cinta sepenuh hati kepadaku seperti juga aku cinta padamu, Giok Keng. Nah, seandainya ada orang-orang lain yang mengatakan bahwa pilihanmu terhadap diriku itu keliru, bagaimana pendapatmu?"

"Aku tidak akan perduli! Aku cinta padamu dan aku tidak perduli siapapun yang akan mengatakan bagaimanapun tentang dirimu, tentang hubungan kita."

"Nah, itulah! Dan dua orang anakmu itupun memiliki watak seperti engkau, setia dan penuh cinta kasih murni, dan aku kagum dan menghormat mereka seperti aku kagum dan menghormatimu, isteriku!"

Kun Liong lalu mencium isterinya.

"Eh, eh, apa maksudmu?"

Giok Keng bertanya heran, menatap wajah suaminya melalui sinar api unggun yang merah.

"Perjodohan adalah urusan dua orang saja, urusan pria dan wanita yang bersangkutan, urusan hati dan perasaan mereka, dan orang lain, siapapun mereka itu, baik orang tua sendiri sekalipun, tidak semestinya mencampuri! Orang tua atau keluarga hanya membantu pelaksanaannya belaka, akan tetapi sedikitpun tidak boleh mencampurinya, karena sekali mencampuri, hanya akan merusak suasana! Cobalah kita pikir secara mendalam dan jujur. Andaikata... andaikata keluarga Cin-ling-pai tidak mencampuri urusan cinta kasih antara Lie Seng dan Sun Eng, kurasa cinta kasih mereka tidak akan berakhir sedemikian menyedihkan."

Cia Giok Keng diam saja, tak bergerak seperti pulas dalam pelukan suaminya.

Akan tetapi sesungguhnya dia merasa terpukul, tertusuk dan ucapan suaminya itu mengena benar di hatinya dan terbayanglah semua peristiwa yang terjadi dengan diri Lie Seng dan Sun Eng.

"Aku tidak mencela siapa-siapa, tidak mencela keluarga kita yang mencampuri, karena aku tahu bahwa maksud kalian semua itu baik saja. Akan tetapi baik untuk siapa? Untuk kalian sendiri tentu saja, bukan untuk Lie Seng dan Sun Eng. Itulah akibatnya kalau kita sebagai orang-orang tua mencampuri urusan cinta kasih antara dua orang anak muda."

Hening sejenak. Akhirnya terdengar suara pembelaan Cia Giok Keng, lirih dan lemah.

"Akan tetapi mana mungkin seorang ibu seperti aku mendiamkannya saja melihat puteranya keliru memilih calon jodoh? Aku ingin melihat puteraku bahagia..."

"Nah, di situlah letak kesalahannya, bukan? Kita ingin melihat putera kita bahagia, oleh karena itu kita hendak memilihkan jodoh yang tepat untuk putera kita! Ah, seolah-olah jodoh itu seperti sehelai baju yang dapat kita patut-patut. Bahkan bajupun tergantung daripada selera, isteriku, dan selera kita tentu belum tentu sama dengan selera putera kita! Apa yang kita anggap baik belum tentu baik bagi putera kita, oleh karena itu wajarlah kalau apa yang dianggap baik oleh putera kitapun belum tentu baik bagi pandangan kita. Kalau kita berkata bahwa kita ingin melihat putera kita bahagia, maka dia harus menurut pilihan kita, bukankah itu berarti bahwa sesungguhnya, di balik semua kata-kata kita itu, kita sebetulnya ingin melihat hati kita sendiri senang karena putera kita memilih jodoh yang kita sukai? Kita harus jujur, isteriku. Dalam perjodohan, yang terutama adalah cinta-mencinta. Itu saja, yang lain tidak masuk hitungan! Dan cinta kasih, apakah cinta itu mengenal usia, maupun kedudukan, maupun baik buruk? Cinta adalah cinta dan bagaimana mungkin kita dapat menyalahkan seseorang, apalagi putera kita sendiri kalau dia jatuh cinta kepada seseorang? Kalau engkau jatuh cinta kepadaku dan aku jatuh cinta kepadamu, siapakah yang berhak menyalahkan kita, isteriku?"

Giok Keng termenung.

"Jadi... kau pikir... dahulu Lie Seng dan Sun Eng sudah saling jatuh cinta, maka mereka berdua sudah berhak untuk saling berjodoh, dan kita, fihak keluarga dan orang-orang tua, sama sekali tidak boleh mencampurinya?"

"Tidakkah begitu menurut kesadaranmu?"

"Ah, engkau mengatakan begitu karena sekarang akibatnya buruk bagi mereka."

"Bukan, isteriku. Aku tidak mengatakan bahwa andaikata dahulu keluarganya tidak mencampuri, Lie Seng dan Sun Eng akan hidup berbahagia atau tidak sampai mendapatkan halangan. Soal halangan dan apakah hidup dapat beruntung atau tidak sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Akan tetapi, setelah kita mencampuri urusan jodoh mereka sehingga akhirnya persoalan menjadi berlarut-larut dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan, bukankah hal itu menyadarkan kita bahwa urusan jodoh adalah urusan dua orang dan di mana ada cinta-mencinta maka perjodohan itu sudah benar, asalkan tidak melanggar suatu hal lain yang merugikan orang lain? Lie Seng masih bebas, dan Sun Eng pun wanita bebas, mereka saling mencinta, maka sudah benarlah itu, dan sudah benar pula kalau mereka itu saling berjodoh. Kita harus dapat melihat kesalahan kita yang telah mencampuri urusan mereka, lepas dari soal apakah hal itu mendatangkan kerusakan atau kebaikan."

Hening lagi sejenak dan perlahan-lahan, semua ucapan suaminya itu dapat menembus kekerasan hati Cia Giok Keng dan dapat membuka mata hatinya.

"Akan tetapi... bagaimana kalau apa yang terjadi dengan pilihan Ciauw Si itu?"

"Apa salahnya pilihan Ciauw Si? Diapun memilih pangeran itu karena saling mencinta, dan kita harus menghormatinya bahwa dia memang benar-benar mencinta pilihan hatinya itu, sampai mati sekalipun! Demikianlah seharusnya orang memilih jodohnya, berdasarkan cinta, bukan berdasarkan sifat-sifat baik dari yang dipilih, karena memilih jodoh berdasarkan apakah yang dipilih itu tampan, cantik, pandai, kaya, berpangkat, berbudi dan sebagainya sama sekali bukan berdasarkan cinta, melainkan berdasarkan ingin menyenangkan hati sendiri. Bukankah demikian?"

Akhirnya ibu yang merana ini kembali terisak dan merangkul suaminya.

"Engkau benar... mengapa aku hendak mencampuri urusan cinta kasih anak-anakku? Aku tidak ingat akan pengalamanku sendiri, pengalaman kita..."

"Sudahlah, isteriku. Segala sesuatu telah terjadi, dan betapapun juga, kita harus bangga mempunyai anak-anak yang demikian tulus cinta kasihnya seperti Lie Seng dan Ciauw Si."

Memang demikianlah adanya.

Betapa banyaknya orang tua yang tanpa mereka sadari sendiri telah melakukan tindakan-tindakan yang sama sekali menyimpang daripada cinta kasih dan kebenaran.

Kita selalu ingin menyatakan cinta kasih kita kepada anak-anak kita dengan jalan mengatur sedemikian rupa untuk anak-anak kita, bukan hanya mengatur pen-didikannya, pemeliharaannya, akan tetapi juga kita ingin mengatur masa depannya, mengatur kesukaannya, bahkan mengatur jodoh mereka!

Kita beranggapan bahwa kalau anak-anak kita itu menurut kepada kita, mereka pasti akan hidup berbahagia, seolah-olah kehidupan merupakan garis tertentu yang sudah mati, yang dapat diatur sedemikian rupa menuju kepada kebahagiaan!

Seolah-olah apa yang kita anggap baik den menyenangkan tentu akan baik dan menyenangkan pula bagi anak-anak kita!

Kita lupa bahwa kehidupan itu selalu berubah, bahwa alam-pikiran dan selera manusia itupun berkembang dan mengalami perubahan-perubahan.

Apa yang kita sendiri senangi di waktu kita masih kanak-kanak akan menjadi membosankan di kala kita sudah dewasa, dan apa yang menyenangkan kita di waktu kita dewasa mungkin akan menjadi memuakkan di waktu kita telah tua.

Oleh karena itu, benarkah itu kalau kita memakai ukuran mata kita untuk mengatur kehidupan anak-anak kita yang lebih muda dan mempunyai selera lain sama sekali dari kita?

Benarkah kita mencinta anak-anak kita kalau kita hanya ingin mereka itu menurut kepada kita, yang pada hakekatnya menunjukkan bahwa sesungguhnya kita ingin senang sendiri.

Ingin melihat anak-anak kita menuruti kemauan hati kita?

Cinta adalah demi si anak, demi perasaan hati si anak, sekarang, bukan kelak!

Bukan masa depan, melainkan saat demi saat!

Maukah kita sebagai orang tua yang bijaksana memberi kebebasan seluasnya kepada anak-anak kita, dengan memberi petunjuk-petunjuk, bukan mendikte, melainkan memberi petunjuk dan menjaga, membuka mata batin mereka kalau mereka itu tanpa mereka sadari menyeleweng, dengan penuh kasih sayang dan demi kebahagiaan mereka saat demi saat?

Hal ini hanya mungkin dilakukan kalau sudah tidak ada keinginan dalam hati kita untuk menikmati kesenangan diri sendiri melalui anak kita!

Setelah tiba di kota raja, keluarga Cin-ling-pai mengajak Sin Liong dan Bi Cu untuk ikut ke Cin-ling-pai.

"Engkau adalah puteraku, dan Bi Cu adalah calon mantuku,"

Demikian Cia Bun Houw berkata dengan terus terang kepada mereka.

"maka sebaiknya kalau kalian berdua ikut bersama kami ke Cin-ling-pai. Engkau adalah keluarga Cin-ling-pai dan berhak tinggal di sana, dan karena semenjak kecil kita saling berpisah, maka sebaiknya kalau kita sekarang berkumpul."

"Benar, Sin Liong. Ayahmu dan aku ingin membangun kembali Cin-ling-pai. Marilah ikut bersama kami di sana, ke Cin-ling-san!"

Cia Giok Keng juga membujuk.

"Akan tetapi... Sri Baginda Kaisar telah menganugerahkan Lembah Naga kepada kami..."

Sin Liong menjawab agak ragu-ragu.

"Maksudku untuk sementara kalian tinggal di Cin-ling-san sampai kalian menikah. Kalau kalian sudah menikah, terserah kalau kalian ingin tinggal di Istana Lembah Naga,"

Kata Bun Houw.

"Apakah tidak terlalu sunyi tinggal di tempat itu?"

Cia Giok Keng bertanya.

"Ah, kalau tinggal berdua, mana bisa merasa sunyi?"

Yap Kun Liong menyambung sambil tertawa dan semua orang tertawa, juga Bi Cu tersenyum malu-malu.

"Banyak terima kasih atas kebaikan ayah, ibu dan paman serta bibi berempat. Kami berdua pasti akan pergi ke Cin-ling-san, akan tetapi sekarang ini kami ingin pergi ke selatan untuk menengok adik-adik saya Kui Lan dan Kui Lin. Setelah menengok mereka, kami tentu akan menyusul ke Cin-ling-pai dan selanjutnya tentang pernikahan, terserah kepada semua orang tua di Cin-ling-pai."

Akhirnya mereka semua setuju dan berangkatlah Sin Liong dan Bi Cu ke kota Su-couw di Ho-nan.

Sesungguhnya, bukanlah semata untuk menengok Lan Lan dan Lin Lin saja mereka pergi ke Su-couw, melainkan untuk melihat keadaan Kui Hok Boan.

Di tengah perjalanan menuju ke kota raja, Sin Liong telah menceritakan secara terus terang kepada Bi Cu bahwa dia menduga keras bahwa pembunuh ayah kandung Bi Cu yang bernama Bhe Coan itu adalah Kui Hok Boan, ayah tirinya sendiri.

"Aku mendengar ketika dia mengigau,"

Demikian antara lain Sin Liong menuturkan.

"Dan agaknya dialah yang membunuh ayahmu."

"Keparat, sungguh jahat jahanam itu! Aku harus membalas kematian ayah!"

Bi Cu berkata dengan marah.

"Nanti dulu, Bi Cu, dengarlah dulu baik-baik. Ketahuilah, bahwa ketika dia mengigau itu, dia berada dalam keadaan tidak sadar dan dia telah berubah ingatannya."

"Ah? Maksudmu, dia..."

Bi Cu membuat tanda dengan melintangkan telunjuk di atas dahinya.

"Benar, dia telah mengalami tekanan batin sehingga menjadi gila."

Sin Liong lalu menceritakan tentang semua riwayat Kui Hok Boan, kemudian tentang dua orang pemuda yang sebenarnya adalah anak-anaknya sendiri akan tetapi yang diakuinya sebagai keponakan dan betapa dua orang anaknya itu saling bermusuhan dan saling bunuh sendiri.

Semua itu membuat Kui Hok Boan merasa menyesal dan membikin dia menjadi gila.

"Nah, dalam keadaannya seperti sekarang ini, dalam keadaan hidup menderita dan merana, sampai menjadi gila, apakah engkau masih mempunyai gairah untuk membalas dendam? Membalas kepada orang yang sudah terhukum sehebat itu karena perbuatan-perbuatannya sendiri?"

Bi Cu termangu-mangu, kemudian berkata.

"Memang tidak enak memusuhi orang sakit, apalagi sakit gila. Akan tetapi aku masih penasaran sebelum melihat keadaannya dengan mata sendiri, Sin Liong. Mari kita mengunjunginya dan setelah melihat keadaannya, baru aku akan memutuskan apakah aku akan membalas kematian ayah ataukah tidak."

Demikianlah, setelah mendapatkan persetujuan para tokoh Cin-ling-pai, Sin Liong dan Bi Cu lalu berangkat ke selatan.

Mereka menunggang dua ekor kuda yang amat baik karena mereka mendapatkan hadiah dari Pangeran Hung Chih.

Pakaian merekapun serba bersih dan indah.

Bukankah mereka adalah pahlawan-pahlawan yang berjasa menentang dan menggagalkan pemberontakan?

Mereka menerima banyak hadiah berupa pakaian dan uang emas dari pangeran itu, bahkan Kaisar sendiri berkenan menyerahkan Istana Lembah Naga kepada Sin Liong setelah mendengar bahwa pendekar itu terlahir di dalam istana itu.

Raja Sabutai telah dihubungi melalui utusan dan raja itupun tidak membantah ketika Kaisar menentukan bahwa istana itu diserahkan dan menjadi hak milik yang dilindungi dari Cia Sin Liong!

Tentu saja perjalanan kali ini yang dilakukan oleh Sin Liong dan Bi Cu berbeda dengan perjalanan-perjalanan yang lalu sebagai orang yang dikejar-kejar oleh kaki tangan Pangeran Ceng Han Houw.

Kini mereka berdua melakukan perjalanan dengan santai dengan hati penuh keriangan, karena hati mereka penuh dengan cinta kasih yang terpancar dari sinar mata mereka yang saling memandang penuh kelembutan, Kata-kata yang penuh kemesraan dan sentuhan-sentuhan yang menggetar.

Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencinta, melakukan perjalanan bersama.

Kadang-kadang mereka berlumba dengan kuda mereka dan ada kalanya mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan, menuntun dua ekor kuda itu di belakang mereka, dan kalau mereka beristirahat, Bi Cu menyandarkan dadanya di pundak atau dada Sin Liong.

Akan tetapi, betapapun mesra hubungan antara mereka, dan (Lanjut ke

Jilid 56 -Tamat) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 56 (Tamat) betapapun besar cinta kasih mereka, keduanya selalu menjaga diri dan mereka tidak sampai melakukan pelanggaran dalam hubungan mereka itu.

Sebaliknya, seorang wanita yang sejak kecil hidup sendiri dan tidak malu-malu seperti kebanyakan wanita muda, pernah dalam keadaan istirahat itu Bi Cu menyatakan terus terang kepada Sin Liong.

"Sin Liong, kita sudah bertunangan secara resmi, direstui oleh ayahmu dan keluarga Cin-ling-pai."

"Ya, kita beruntung sekali, Bi Cu,"

Jawab Sin Liong sambil mengelus rambut yang hitam halus dan panjang itu.

"Dan kulihat engkau tidak pernah mencoba untuk membujukku, untuk mengajakku... eh, menyerahkan diri kepadamu... sungguhpun... hemm, mungkin sekali... ah, tiada bedanya bagiku, aku merasa bahwa aku telah menjadi milikmu lahir batin. Mengapa, Sin Liong?"

"Ah, kita belum menikah dengan resmi, Bi Cu."

"Hemm, aku tahu, akan tetapi... andaikata engkau minta kepadaku dan aku menuruti permintaanmu, kita melakukan hubungan sebelum menikah, lalu mengapa?"

"Tidak, hal itu tidak mungkin Bi Cu."

"Mengapa, Sin Liong? Apakah karena engkau tidak menginginkannya?"

Sin Liong mendekap kepala itu penuh kasih sayang.

"Tentu saja aku ingin sekali!"

"Kalau begitu, sama dengan aku. Lalu apa halangannya?"

Bukan main, kekasihnya ini sungguh seorang gadis yang jujur dan terbuka, tidak pura-pura!

"Tidak, Bi Cu, karena aku cinta padamu!"

"Mengapa kalau engkau cinta padaku malah engkau tidak menuntut penyerahan diri dariku?"

"Ah, kekasihku, dewiku, betapa polos dan jujurnya engkau. Engkau percaya sepenuhnya kepadaku, dan justeru karena kepercayaanmu itulah, justeru karena cinta kita itulah, maka aku tidak akan melakukan hal itu, betapapun besar dorongan gairah nafsuku! Aku cinta padamu, Bi Cu, dan karena aku cinta padamu, maka aku tentu menghormatimu, aku tentu menjaga namamu, aku tentu, akan menjaga dengan nyawaku untuk tidak merendahkanmu, meremehkanmu. Betapapun juga, kita hidup di dalam belenggu-belenggu peraturan, kesusilaan, dan kebudayaan. Belenggu-belengga itu telah menentukan bahwa tidak semestinya hubungan itu dilakukan sebelum menikah, dan siapa melanggarnya, apalagi wanita, tentu akan dikutuk dan dipandang rendah! Nah, karena cintaku kepadamu, betapa-pun besar keinginan hatiku, harus kujaga agar engkau jangan sampai dikutuk dan dipandang rendah. Aku sayang kepadamu, aku ingin engkau senang dan hidup bahagia. Kalau aku membujukmu untuk melakukan hubungan suami isteri, hal itu berarti bahwa aku hanya ingin mencari senang dan enak sendiri dan membiarkan engkau yang terancam aib. Mengertikah engkau, Bi Cu?"

Bi Cu bergerak perlahan dan membalik, mengangkat muka ke atas dan merangkul leher kekasihnya.

Sin Liong menunduk dan mereka berciuman sampai napas mereka terengah-engah dan terpaksa mereka melepaskan ciuman karena sukar untuk bernapas!

"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan.

Kalau begini terus, bisa-bisa aku tidak kuat dan mata gelap!"

Sin Liong mendorong dara itu dengan halus dan mereka bangkit berdiri.

Bi Cu tersenyum dan memandang kekasihnya dengan sinar mata menggoda.

"Kalau begitu kenapa? Kalau aku rela, siapa perduli?"

"Ihh, engkau nekat!"

Sin Liong tertawa.

"Ingat, kebahagiaan itu adalah kita punya, maka perlu apa kita rusak sendiri? Mengapa kita tidak menahan bersama, agar kelak setelah tiba saatnya kita berdua akan lebih dapat menikmatinya?"

Demikianlah, dengan dasar cinta kasih yang mendalam, dua orang muda itu mampu mempertahankan kemurnian mereka dan tidak sampai menjadi buta oleh nafsu berahi.

Sesungguhnya kasih sayang itu membuat kita menjadi kuat menghadapi apapun juga, bahkan kuat pula menghadapi godaan setan berupa nafsu berahi yang biasanya tak terkalahkan oleh manusia itu!

Pada suatu hari, setelah mereka tiba di perbatasan Propinsi Ho-nan.

Mereka melewati sebuah hutan yang amat luas.

Dari pagi sampai matahari hampir naik menjelang tengah hari, mereka masih berada di dalam hutan.

Tiba-tiba mereka mendengar suara orang-orang bertempur di depan dan mereka lalu membedalkan kuda mereka menuju ke arah suara hiruk-pikuk itu.

"Bi Cu, jangan kau sembarang bergerak, ya?"

Sin Liong memesan dan Bi Cu hanya mengangguk.

Dan tibalah mereka di tempat pertempuran itu.

Kiranya ada banyak orang bertempur.

Sedikitnya ada sebelas orang yang berpakaian sebagai piauwsu, yaitu para pengawal kiriman barang, Melawan hampir dua puluh orang-orang yang berpakaian kasar dan mudah diduga bahwa mereka itu tentu perampok-perampok yang buas.

Yang menarik perhatian Bi Cu adalah seorang pemuda yang memainkan sebatang pedang dengan gagahnya, melawan kepala perampok yang berambut panjang dan bermuka brewok.

Biarpun pemuda yang kelihatannya seperti melakukan perlawanan mati-matian itu berusaha mati-matian dan gagah perkasa, namun jelas bahwa dia mulai terdesak hebat oleh sepasang golok kepala perampok yang amat lihai itu.

Melihat wajah pemuda itu, Bi Cu tertarik dan cepat dia mengerling ke arah gerobak piauwkiok dan begitu dia melihat bendera piauwkiok yang berdasar merah dengan lukisan garuda berwarna kuning, terkejutlah dia dan dia yang sudah meloncat turun dari atas kudanya itu memegang lengan Sin Liong.

"Dia itu twako Na Tiong Pek...!"

Sekarang Sin Liong juga mengenal ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda tampan gagah itu.

"Benar, dialah itu!"

"Lihat, itu bendera Ui-eng-piauwkiok! Aku harus membantunya, dia sudah terdesak!"

Kata Bi Cu dan dia lalu mengambil sebatang ranting kayu pohon, kemudian dengan cepat dia sudah meloncat ke depan dan menyerbu ke medan laga sambil berseru keras.

"Na-twako, jangan khawatir, minggirlah, biarkan aku menghajar babi hutan ini!"

Tongkat di tangannya berkelebat dan membentuk segulung sinar hijau yang mengejutkan kepala perampok itu sehingga dia meloncat ke belakang karena gulungan sinar hijau itu dapat menembus sinar goloknya dan hampir saja ujung ranting itu menusuk hidungnya!

Sementara itu, Na Tiong Pek yang sudah terdesak itu meloncat mundur dengan napas terengah-engah dan dia terkejut dan heran melihat munculnya seorang dara cantik yang bergerak cepat bukan main seperti burung terbang saja dan tahu-tahu sudah mendesak kepala perampok itu dengan sebatang ranting di tangan!

Ketika dia melihat wajah dara itu, hampir dia tidak percaya.

"Bi... Bi Cu...!"

Dia tergagap, karena biarpun dara itu wajahnya persis Bi Cu, akan tetapi mana mungkin Bi Cu memiliki ilmu kepandaian sehebat itu sehingga hanya dengan sebatang ranting saja mampu menahan sepasang golok di tangan kepala perampok yang lihai dan yang tadi membuat dia kewalahan?

"Benar, twako, lekas kau hajar anak-anak babi itu dan biarkan aku merobohkan babi butan yang satu ini!"

Teriak Bi Cu dengan nada suara gembira sekali dapat bertemu dengan pemuda ini.

Na Tiong Pek kembali memandang dengan penuh kagum dan dia menoleh, memandang kepada Sin Liong yang masih berdiri memegangi dua ekor kuda.

Agaknya, pemuda itu datang bersama Bi Cu, akan tetapi dia tidak tahu siapa pemuda itu.

Maka, melihat betapa anak buahnya masih dengan gigihnya melawan para perampok, dia lalu berteriak nyaring dan mengamuk, menyerang para anak buah perampok itu, mengeluarkan kegesitan dan kepandaiannya karena dia ingin memamerkan kepandaiannya kepada Bi Cu, lupa bahwa dia tadi hampir kalah oleh kepala perampok yang kini ditandingi oleh Bi Cu itu.

Dan ternyata bahwa dibandingkan dengan teman-temannya, yaitu para piauwsu, kepandaian pemuda she Na ini memang lebih menonjol.

Begitu dia terjun ke dalam pertempuran itu, maka beberapa orang perampok roboh dan mereka menjadi kacau-balau dan terdesak oleh pemuda yang mengamuk seperti seekor harimau marah itu.

Sin Liong hanya menonton, akan tetapi tentu saja setiap saat dia siap untuk melindungi kekasihnya.

Dia melihat bahwa gerakan kepala perampok itu hanya dahsyat dipandang saja, namun hanya merupakan orang kasar yang mengandalkan tenaga otot, tidak memiliki dasar kepandaian berarti sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Begitu bergebrak, dia tahu bahwa kekasihnya itu tidak akan kalah.

Dan memang benar, baru belasan jurus saja Bi Cu yang mempergunakan ilmu Ngo-lian Pang-hoat yang dipelajarinya dari mendiang Hwa-i Sin-kai, telah dapat melecut muka kepala perampok itu berkali-kali dan paling akhir malah dia berhasil menusuk sebelah mata kiri kepala perampok itu sehingga terobek dan berdarah.

Kepala perampok itu merasa bahwa dia tidak akan menang, maka dia lalu mengeluarkan seruan keras dan meloncat jauh ke belakang terus melarikan diri, diikuti oleh anak buahnya yang telah mendengar aba-aba lari tadi, sambil menyeret dan membawa teman-teman mereka yang terluka, memasuki hutan lebat, diikuti suara tertawa dan sorakan para piauwsu yang merasa gembira memperoleh kemenangan.

Na Tiong Pek cepat menghampiri Bi Cu dan sejenak mereka berdiri saling berhadapan dan saling pandang.

Melihat betapa sinar mata pemuda tampan itu ditujukan kepadanya dengan penuh kagum, kekaguman seperti yang dulu sering dia lihat dari tatapan pandang mata Tiong Pek, tiba-tiba Bi Cu merasa jantungnya berdebar dan kedua pipinya merah.

Apalagi ketika Tiong Pek berkata.

"Bi Cu... alangkah cantiknya engkau sekarang! Dan betapa hebat kepandaianmu, sungguh aku merasa kagum bukan main!"

Untuk mengalihkan rasa jengah dan malu, Bi Cu tersenyum.

"Ah, engkau masih sama saja seperti dulu, Na-twako. Mari kau temui dia..."

"Siapa?"

Tiong Pek menoleh dan memandang kepada pemuda yang menuntun dua ekor kuda itu.

"Hei, lupakah engkau kepadanya? Lihat baik-baik, siapa dia?"

Bi Cu berkata lagi sambil menghampiri Sin Liong, diikuti oleh Tiong Pek.

Kini mereka berhadapan Sin Liong tersenyum.

"Saudara Na Tiong Pek, lupakah engkau kepada Sin Liong?"

"Sin Liong...? Ah, engkaukah ini?"

Tiong Pek berseru kaget dan girang.

Tak disangkanya bahwa pemuda itu adalah Sin Liong, anak yang dahulu ditolong oleh mendiang ayahnya!

"Ah, bagaimana kalian dapat datang bersama?

Di manakah saja engkau tinggal selama ini, Bi Cu?

Dan bagaimana bisa bersama Sin Liong bertemu denganku di sini?"

Bertubi-tubi pertanyaan itu diajukan kepada Bi Cu.

"Kami... hanya kebetulan saja bertemu dan kami berdua mengadakan perjalanan bersama menuju ke Ho-nan, ke kota Su-couw."

"Aih, tidak pernah aku bermimpi akan dapat bertemu denganmu di sini, Bi Cu. Dan kepandaianmu demikian hebat! Dari mana engkau mempelajari ilmu tongkat yang demikian lihai? Sungguh lucu, begitu bertemu, engkau yang menyelamatkan aku malah! Haii, teman-teman, lihatlah baik-baik, nona penolong kita ini bukan lain adalah sumoiku sendiri! Kalau tidak ada dia yang lihai, mungkin barang-barang kita terampas dan kita belum tentu selamat!"

Semua piauwsu memandang dengan kagum.

"Ah, sudahlah jangan banyak sungkan, twako."

"Kita bukan suheng dan sumoi lagi!"

"Terserah, akan tetapi karena aku sudah menjadi murid orang lain, maka biarlah kusebut engkau Na-twako saja. Bagaimana keadaanmu selama ini, twako? Apakah engkau sudah berumah tangga?"

Tiong Pek menggeleng kepalanya, dan dia tertawa, ketawanya polos dan Sin Liong melihat bahwa biarpun pemuda ini masih mempunyai sifat sombong, akan tetapi kini sudah berubah dan lebih jujur.

"Setelah ditolak olehmu, aku jera untuk mencari jodoh, takut ditolak lagi. Pula, di mana mencari orang yang melebihimu?"

"Aih, jangan bergurau, twako!"

Bi Cu berkata dan mukanya berubah merah lagi.

"Siapa bergurau? Coba tanya Sin Liong ini! Betul tidak ucapanku tadi, Sin Liong? Mana ada gadis melebihi dia ini? Eh, dan kau sendiri bagaimana, Sin Liong? Apakah engkau sudah memperoleh jodoh?"

Sin Liong memandang wajah Bi Cu dan melihat dara itu kelihatan malu sekali, Sin Liong menjawab lirih.

"Belum."

"Ha-ha, kita masih sama seperti dulu! Kalau kuingat betapa kita bertiga melawan para penyerbu itu. Ah... sungguh malang ayah dan ibuku... eh, kau dibawa pergi wanita sakti itu, lalu apa yang terjadi, Sin Liong?"

"Aku hanya merantau ke segala tempat sampai... kebetulan bertemu dengan Bi Cu dan kami lewat di sini, kebetulan bertemu denganmu."

"Kita harus rayakan pertemuan kita! Akan tetapi di hutan begini bagaimana kita bisa merayakannya? Hayo kalian mampir dulu di rumahku, aku masih tinggal di Kun-ting, di rumah yang dulu. Sumoi... eh, Bi Cu, tidak maukah engkau singgah di rumahku lagi?"

"Tentu saja twako, akan tetapi, aku ada urusan penting sekali, harus pergi ke Su-couw, nanti kalau aku kembali dari selatan, tentu aku mau mampir..."

"Ke Su-couw? Kau sendiri, atau bersama Sin Liong?"

"Kami berdua ke Su-couw..."

"Kalau begitu, aku akan mengantarmu. Ada urusan apa, Bi Cu? Biar kubantu engkau!"

Tiong Pek menawarkan jasanya.

Akan tetapi sebelum mereka melanjutkan percakapan itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang tosu, yang menunggang kuda.

Pakaiannya seperti tosu, rambutnya seperti tosu, akan tetapi sikapnya seperti perampok ganas!

Pria itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, biarpun jenggot dan kumisnya terpelihara rapi, namun sepasang matanya melotot liar dan sikapnya kasar.

Di belakang tosu ini nampak kepala perampok yang sebelah matanya masih terluka dan kini dibalut, sehingga nampak lucu sekali.

Sekali lihat saja, mengertilah Bi Cu bahwa agaknya tosu ini merupakan teman si kepala perampok, maka dia sudah bangkit dan memandang kepada kepala perampok tadi sambil mengejek.

"Eh, babi hutan mata satu berani datang lagi? Apakah masih kurang merasakan gebukan dan minta lagi?"

Kini tosu itu sudah meloncat turun dari atas kudanya dan melihat caranya meloncat, Sin Liong maklum bahwa tosu ini memiliki kepandaian yang lumayan.

Tosu itu memegang sebatang tongkat panjang dan dengan berdiri tegak dia membentak.

"Siapa berani melukai muridku?"

Na Tiong Pek mengkhawatirkan keselamatan Bi Cu, maka dengan pedang di tangan dia sudah meloncat ke depan sambil memaki.

"Tosu busuk, kau membela perampok?"

Dan pedangnya sudah menyerang dengan gencar ke arah tubuh tosu itu.

Terdengar suara nyaring berkali-kali ketika tongkat itu menangkis pedang, kemudian tiba-tiba tosu itu membentak nyaring dan tongkatnya kini balas menyerang dan Na Tiong Pek menjadi sibuk sekali, harus berloncatan ke sana-sini sambil menangkis, dan akhirnya kaki kanannya kena diserampang.

"Tukk!"

Dia terguling roboh karena tulang keringnya kena dipukul dan pada saat itu tongkat panjang sudah menyambar lagi ke arah kepala Tiong Pek.

"Takkk!"

Tongkat panjang itu tertangkis oleh ranting di tangan Bi Cu.

Kakek itu memandang dengan penuh perhatian.

"Minggirlah, twako,"

Kata Bi Cu dan Tiong Pek menyeret pedang sambil terpincang-pincang mendekati Sin Liong.

"Tosu kerbau itu lihai juga..."

Dia mengomel, akan tetapi Sin Liong tidak memperdulikannya karena dia mengkhawatirkan kekasihnya yang harus menghadapi tosu yang dia tahu memiliki kepandaian lumayan itu.

Akan tetapi dia maklum akan kekerasan hati Bi Cu maka dia tidak mau membantu atau menggantikannya karena hal itu akan menyinggung hati Bi Cu.

Dia hanya siap untuk melindungi kekasihnya itu kalau perlu dan diam-diam mempergunakan jari-jari tangannya meraba dan memainkan beberapa buah batu kerikil.

Setelah memandang wanita muda yang memegang ranting pohon itu, si tosu menjadi terkejut dan terheran-heran.

"Inikah dia dara yang mengalahkan kamu?"

Tanyanya kepada kepala perampok brewok itu.

"Betul, suhu, akan tetapi dia curang, dia menusuk mata!"

"Heh-heh-heh, memang cantiknya bisa menusuk mata. Eh, nona, engkau telah kesalahan tangan melukai mata muridku, maka kalau engkau mau ikut dengan pinto, menjadi murid pinto selama satu bulan, pinto mau mengampunimu. Mari pergi bersama pinto, sayang kalau sampai kulitmu yang halus itu luka oleh tongkatku."

"Heh, tosu busuk, tosu cabul, mulutmu kotor! Belum tentu engkau dapat mengalahkan dia!"

Na Tiong Pek sudah memaki-maki dengan marah mendengar ucapan tosu itu.

Dan Bi Cu tidak mau melayani tosu itu, terus saja dia sudah menerjang dan menggunakan ranting di tangannya untuk menyerang dengan totokan-totokan ke arah jalan darah yang berbahaya.

"Eh, kau hebat juga!"

Tosu itu berseru kaget dan cepat mengelak sambil menggerakkan tongkatnya menangkis.

Akan tetapi Bi Cu tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus saja dara ini mainkan ilmu tongkatnya yang amat lincah.

Semenjak dia menerima petunjuk-petunjuk dari Sin Liong memang dia memperoleh kemajuan pesat, terutama sekali kekuatan sin-kang dan kecepatan gerakan tubuhnya.

Akan tetapi, tepat seperti dugaan Sin Liong, tosu itu memang tangguh sekali.

Setelah bertanding selama tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba tosu itu menangkis dengan keras dan membuat Bi Cu terdorong ke belakang lalu tosu itu membentak.

"Hei, bukankah kau mainkan Ngo-lian Pang-hoat? Masih apamukah mendiang Hwa-i Sin-kai?"

"Beliau adalah guruku! Kau mau apa?"

"Ha-ha-ha!"

Tosu itu tertawa bergelak.

"Kalau begitu, semestinya kalau aku bersikap lunak kepadamu. Bahkan andaikata dia masih hidup, tentu pinto akan mengalah. Akan tetapi dia sudah mati, dan engkau begini cantik, kau jadilah muridku selama sebulan..."

"Tosu busuk!"

Bi Cu sudah menerjang lagi, akan tetapi sekali ini tosu itu memutar tongkatnya yang panjang, Membentuk gulungan sinar yang lebar dan begitu Bi Cu bertemu dengan gulungan sinar ini, dia terhuyung ke belakang dan nyaris dia roboh kalau saja tidak cepat meloncat dan berjungkir balik.

Akan tetapi pada saat itu, tangan yang berlengan panjang dari tosu itu menyambar lengannya dalam cengkeraman yang amat kuat.

Selagi Bi Cu terkejut, tiba-tiba tosu itu berteriak kesakitan dan melepaskan lengan Bi Cu.

Tiba-tiba saja, ketika dia tadi memegang lengan dara itu, sikunya dihantam oleh benda kecil, entah apa dan tiba-tiba saja, lengannya menjadi kesemutan dan lumpuh!

Melihat bahwa tidak ada apa-apa, dia mengira bahwa hal itu kebetulan saja, maka dia sudah memutar lagi tongkat panjangnya dan hendak menyerang Bi Cu.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan yang amat nyaring.

"Tahan senjata! Di mana ada seorang pendeta suci menyerang seorang gadis remaja?"

Dan muncullah seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan demikian gagahnya sehingga mengagumkan Na Tiong Pek yang memandangnya.

Bi Cu mengenal pemuda itu, sungguhpun hanya sekelebatan saja ketika pemuda ini ikut pula mengamuk di Istana Lembah Naga.

Juga Sin Liong mengenalnya, karena pemuda itu bukan lain adalah Ciu Khai Sun, pemuda tinggi tegap, gagah dan tampan dari Siauw-lim-pai itu!

Akan tetapi Ciu Khai Sun tidak memperhatikan dara itu, juga tidak melihat Sin Liong karena semua perhatiannya ditujukan ke arah tosu itu.

Tosu itu mengira bahwa tentu pemuda ini yang tadi berlaku usil dan membuat pegangannya terlepas, maka dia lalu membentak marah.

"Manusia lancang! Berani kau mencampuri urusan pinto?"

Dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menggerakkan tongkat panjangnya menyerang pemuda itu!

Akan tetapi sekali ini tosu itu kecelik dan dia bertemu dengan batu karang!

Melihat gerakan tongkat panjang itu jagoan Siauw-lim-pai ini menghadapinya dengan dua tangan kosong saja!

Perlu diketahui bahwa ahli-ahli silat Siauw-lim-pai sebagian besar pandai memainkan toya, maka melihat gerakan tongkat itu Ciu Khai Sun maklum bahwa biarpun tosu ini memiliki kepandaian lumayan, namun ilmu tongkat itu belum cukup hebat untuk membuat dia terpaksa mencabut senjata!

Dan memang pemuda tinggi tegap ini memiliki tenaga sin-kang yang kuat, maka dengan mengerahkan tenaga sin-kang, dia berani menggunakan kedua lengannya untuk menangkis tongkat lawan dan setiap tangkisannya bahkan membuat lawan itu merasa telapak tangannya panas dan nyeri!

Terkejutlah tosu itu.

Tak disangkanya bahwa di tempat ini dia bertemu dengan seorang tokoh Siauw-lim-pai yang begini tangguh!

Bertempur belasan jurus saja sudah membuka matanya bahwa yang dilawannya adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai, maka gentarlah tosu itu.

Dia menyerang secara membabi-buta, akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, tiba-tiba Ciu Khai Sun mengeluarkan bentakan nyaring, tangan kirinya menangkis tongkat itu dengan keras dan tangan kanannya menghantam ke depan.

"Krakkk! Bukk...!"

Tubuh tosu itu terlempar sampai dua meter dan roboh terbanting ke atas tanah dengan napas megap-megap karena dadanya terasa sesak.

Melihat itu, kepala perampok brewok itu cepat menyambar tubuh gurunya dan melarikan diri dengan membalapkan kudanya.

Cui Khai Sun tidak mengejar dan Na Tiong Pek sudah berlari menghampiri dan menjura dengan penuh hormat.

"Bukan main hebat kepandaian enghiong yang perkasa!"

Dia memuji.

"Saya akan merasa terhormat sekali berkenalan dengan enghiong. Saya Na Tiong Pek, kepala piauwsu dari Ui-eng-piauwkiok di Kun-ting."

Ciu Khai Sun membalas penghormatan itu dengan sederhana.

"Aku Cui Khai Sun. Eh, Na-piauwsu, apa yang terjadi di sini? Siapakah tosu tadi dan siapa pula orang brewok tadi?"

"Mereka itu perampok-perampok jahat! Mula-mula si brewok itu memimpin anak buahnya merampok kami, dan kemudian setelah para perampok itu dipukul mundur, muncullah guru si brewok, yaitu tosu tadi. Untung engkau muncul, Ciu-enghlong dan ternyata engkau adalah seorang pendekar yang jempol!"

Pada saat itu, Sin Liong dan Bi Cu datang mendekat.

Ciu Khai Sun menoleh dan begitu melihat dua orang muda itu, dia terkejut sekali dan cepat-cepat dia menghadapi Sin Liong dan Bi Cu sambil menjura penuh hormat.

"Aih, kiranya Cia-taihiap berada di sini? Dan yang bertanding dengan tosu tadi adalah Bhe-lihiap? Ah, kalau begitu aku telah lancang sekali..."

"Engkau telah menyelamatkan aku, Ciu-enghiong..."

"Eh, jangan membuat aku merasa malu, nona. Jangan menyebut enghiong, sungguh membikin aku merasa malu di depan Cia-taihiap."

"Baikiah, diantara orang sendiri, biarlah kusebut engkau Ciu-twako saja!"

Kata Bi Cu yang merasa suka melihat sikap yang begitu jujur dan sederhana dari jagoan Siauw-lim-pai yang lihai ini.

Mereka semua tertawa dan Na Tiong Pek merasa heran sampai bengong.

Apalagi mendengar betapa pendekar yang gagah itu menyebut Sin Liong dengan "Cia-taihiap"!

Tentu saja dia menjadi bingung dan tidak mengerti sama sekali.

"Ciu-twako hendak pergi ke manakah?"

Sin Liong bertanya ramah.

"Aku sedang menuju ke rumah pamanku di Su-couw."

"Su-couw? Ah, sungguh kebetulan, kami berduapun hendak pergi ke Su-couw,"

Kata Sin Liong girang.

"Begitulah? Aku sudah merasa heran bertemu dengan ji-wi di sini, tidakkah semestinya ji-wi pergi ke utara, ke Lembah Naga? Bukankah aku mendengar bahwa Kaisar..."

"Tidak, kami masih banyak urusan dan hendak pergi ke Su-couw."

Kata Sin Liong memotong ucapan itu.

Melihat sikap pendekar ini agaknya tidak suka membicarakan urusan Lembah Naga, maka jagoan Siauw-lim-pai itupun tidak mau menyebutnya lagi.

"Kalau begitu, kebetulan sekali, kita dapat melakukan perjalanan bersama!"

Katanya dengan girang.

"Kita dapat pergi bertiga..."

"Berempat, Ciu-enghiong. Akupun akan pergi ke sana! Sekarang juga aku akan mengatur semua piauwsu untuk mengantarkan barang-barang ini sampai ke tempat tujuan yang sudah tidak jauh lagi dan aku akan ikut bersama kalian ke Su-couw. Ketahuilah, Ciu-enghiceng, aku baru saja berjumpa kembali dengan dua orang... eh, sute dan sumoiku ini setelah kami berpisah selama bertahun-tahun."

"Ahh...!"

Ciu Khi Sun tentu saja terkejut sekali mendengar bahwa pemuda tampan ini adalah suheng dari Cia Sin Liong yang sakti dan nona Bhe Bi Cu.

"Tentu saja..."

Katanya dengan pandang mata terheran-heran.

Sin Liong dan Bi Cu tidak berkata apa-apa dan setelah Tiong Pek membagi-bagi tugas kepada para piauwsu yang menjadi anak buahnya untuk melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan, dia lalu memberikan seekor kuda kepada Ciu Khai Sun dan mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan menuju ke selatan.

Mereka berjalan seenaknya saja sambil menikmati keindahan pemandangan di pegunungan itu setelah keluar dari hutan, karena memang pemandangan alam di daerah perbatasan utara Propinsi Honan amatlah indahnya.

Pada tengah hari itu mereka berhenti di tepi sebuah danau kecil di lereng gunung untuk makan siang dari perbekalan masing-masing sambil mengobrol ke barat dan ke timur.

Setelah memberi waktu kepada kuda mereka untuk beristirahat sejenak, mereka lalu melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, menjelang senja, tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda dan nampak ada tiga penunggang kuda mengejar mereka.

Tadinya mereka tidak menaruh perhatian, akan tetapi setelah mereka mendengar teriakan-teriakan dari belakang, Na Tiong Pek mengenal bahwa seorang di antara mereka adalah si perampok brewok bersama dua orang yang membalapkan kuda mereka.

Jelaslah bahwa tiga orang itu mengejar mereka berempat!

"Wah, si babi hutan mata satu itu lagi!"

Kata Na Tiong Pek gembira, menirukan julukan yang diberikan oleh Bi Cu kepada kepala perampok yang terluka sebelah matanya.

Hatinya sedikitpun tidak merasa khawatir karena di situ terdapat Ciu Khai Sun, yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi, juga tokoh Siauw-lim-pai pula seperti yang didengarnya dari percakapan mereka.

Selain ada Ciu Khai Sun, juga di situ ada Bi Cu yang sekarang ternyata lebih lihai daripada dia sendiri.

Mengenai diri Sin Liong, dia meragukan apakah pemuda inipun memperoleh kemajuan seperti Bi Cu!

Empat orang muda itu menahan kuda lalu membalikkan kuda mereka menghadapi tiga orang yang datang dengan cepat itu.

Ternyata mereka itu adalah si kepala perampok yang mata kirinya tertutup balutan kain bersama dua orang kakek, akan tetapi bukan tosu yang menjadi gurunya dan yang telah dikalahkan oleh Khai Sun tadi.

Mereka ini juga dua kakek tua, dan seorang di antara mereka berpakaian seperti tosu, mukanya putih dan matanya memandang bengis, di punggungnya terdapat sebatang pedang panjang.

Orang ke dua berpakaian seperti seorang pengemis, membawa sebatang tongkat dan tubuhnya tinggi kurus, mukanya penuh senyum.

"Hemm, mereka itu adalah Kim Lok Cinjin dan Lam-thian Kai-ong."

Sin Liong berkata lirih akan tetapi cukup dapat didengar oleh tiga orang temannya.

"Ahh! Mereka yang terkenal sebagai datuk-datuk kaum sesat di selatan itu?"

Ciu Khai Sun berkata dengan nada suara kaget.

Biarpun dia sendiri belum pernah jumpa dengan dua orang itu, namun nama besar mereka sudah pernah didengarnya.

Kim Lok Cinjin, tosu muka putih itu adalah sute dari mendiang Kim Hwa Cinjin ketua Pek-lian-kauw yang tewas di tangan Cia Bun Houw ketika terjadi pertempuran di Lembah Naga.

Sedangkan Lam-thian Kai-ong (Raja Pengemis Dunia Selatan) adalah seorang pengemis yang berilmu tinggi dan yang menguasai seluruh kai-pang (perkumpulan pengemis) di seluruh daerah selatan.

"Bi Cu, harap engkau diam saja dan jangan ikut maju,"

Tiba-tiba Sin Liong berkata kepada kekasihnya.

"Tapi, Sin Liong..."

Bi Cu hendak membantah.

"Mereka itu lihai bukan main, dan kejam,"

Kata pula Sin Liong memotong kata-kata kekasihnya.

"Cia-taihiap, biarlah jembel tua itu kuhadapi dan Kim Lok Cinjin yang kabarnya luar blasa lihainya itu taihiap yang menandinginya."

"Ciu-twako, kuharap twako sekali ini menonton saja, biar aku yang menghadapi mereka berdua,"

Jawab Sin Liong yang maklum akan bahayanya dua orang lawan itu dan biarpun dia tahu akan kelihaian pemuda Siauw-lim-pai ini namun dia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan celaka.

Na Tiong Pek mendengarkan percakapan itu dengan heran sampai dia melongo.

Sin Liong hendak menghadapi lawan yang dikabarkan amat lihai itu seorang diri saja, menghadapi mereka berdua?

Apa artinya ini?

Dia merasa tidak enak melihat semua orang mengajukan diri untuk menghadapi musuh, maka diapun berkata.

"Sute, aku akan membantumu!"

Sin Liong tersenyum.

"Na-twako jangan main-main. Mereka itu datuk-datuk golongan sesat yang lihai, biarlah kau nonton saja dan siap membantuku kalau aku sampai terancam bahaya."

Kalimat terakhir itu dimaksudkan untuk "mengangkat"

Orang ini, akan tetapi Tiong Pek yang belum tahu benar bahwa Sin Liong kini telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya, bahkan yang kini terkenal dengan sebutan Pendekar Lembah Naga, segera menjawab dengan sungguh-sungguh.

"Baik!"

Kini tiga orang itu sudah tiba di situ dan mereka sudah berloncatan turun dengan sikap mengancam.

Melihat ini, Sin Liong menyerahkan kendali kudanya kepada Tiong Pek yang berada di sebelah kirinya sambil berkata.

"Twako, tolong kau pegangkan kendali kudaku sebentar."

Setelah berkata demikian, diapun lalu turun dari kudanya dan melangkah ke depan menyambut dua orang kakek itu dengan sikap tenang.

"Kim Lok Cinjin dan Lam-thian Kai-ong, apakah ji-wi baik-baik saja? Dan ada keperluan apakah ji-wi mengejar kami?"

Tanya Sin Liong dengan suara tenang.

Dua orang kakek itu yang tadinya memandang ke arah Ciu Khai Sun yang ditunjuk oleh si kepala rampok sebagai orang yang mengalahkan gurunya dan kepada Bi Cu sebagai gadis yang telah melukainya, kini terkejut dan memandang kepada Sin Liong dengan heran.

Tak disangkanya begitu jumpa, pemuda sederhana ini telah mengenal nama mereka.

Mereka kini mengamati pemuda itu dengan penuh perhatian.

Kemudian merekapun mengenal pemuda ini dan Kim Lok Cinjin berseru kaget.

"Kau... kau adalah... adalah bocah bernama Sin Liong itu...?"

Tentu saja Kim Lok Cinjin terkejut karena dia pernah bertemu, bahkan pernah bergebrak dengan pemuda ini ketika diadakan pemilihan bengcu di selatan, bahkan Lam-thian Kai-ong juga hadir dan menyaksikan kelihaian anak itu ketika menghadapi Lam-hai Sam-lo!

"Ah, kalau begitu dia inilah yang menggagalkan gerakan di Istana Lembah Naga!"

Teriak pula Lam-thian Kai-ong.

Kiranya dua orang inipun telah dihubungi oleh Kim Hwa Cinjin untuk membantu gerakan Pangeran Ceng Han Houw, akan tetapi mereka terlambat dan mereka mendengar bahwa gerakan itu gagal sama sekali, banyak orang kang-ouw golongan hitam tewas dan pasukan Pangeran Ceng Han Houw ditumpas oleh pasukan pemerintah.

Dan kaum kang-ouw golongan hitam atau sesat yang telah dibebaskan itu mengabarkan bahwa gara-gara kegagalan itu adalah Cia Sin Liong!

"Kim Lok Cinjin, suhengmu telah tewas, demikian pula Lam-hai Sam-lo dan banyak lagi kaum sesat yang membantu pemberontakan.

Pemberontakan telah ditumpas, oleh karena itu, sebaiknya kalau engkau pergi dan membujuk para anggauta Pek-lian-kauw agar jangan mencoba-coba untuk memberontak terhadap pemerintah.

Dan engkau, Lam-thian Kai-ong, apakah engkaupun hendak membawa kaum pengemis untuk memberontak pula?"

"Mengapa tidak? Kaum pengemis di kota raja dikejar-kejar, dan Hwa-i Sin-kai juga dibunuh. Bukankah pemerintah menindas kaum pengemis yang sudah sukar hidupnya?"

Kata Lam-thian Kai-ong.

"Bohong!"

Tiba-tiba Bi Cu berteriak.

"Hwa-i Sin-kai adalah guruku dan aku tahu bahwa dia tewas karena difitnah, karena semua itu diatur oleh Kim Hong Liu-nio yang sekarang sudah tewas pula! Pemerintah tidak pernah memusuhi rakyatnya, apalagi rakyat miskin."

"Sudahlah, sebaiknya kalian mundur saja sebelum terlambat. Masih banyak kesempatan bagi kalian untuk kembali ke jalan benar!"

"Cia Sin Liong! Pinto mendengar bahwa engkau adalah keturunan Cin-ling-pai dan bahwa ilmu kepandaianmu hebat sekali. Dahulu di dalam pemilihan bengcu kita tidak sempat mengadu ilmu secara memuaskan, sekarang pinto ingin mencoba-coba ilmumu sebelum mendengarkan bujukanmu itu!"

Kata Kim Lok Cinjin.

"Akupun ingin mencoba kepandaian orang yang dijuluki Pendekar Lembah Naga!"

Kata pula si Raja Pengemis. Sin Liong tersenyum.

"Kalian ini orang-orang tua masih saja memiliki nafsu besar untuk berkelahi. Biarlah aku mengaku kalah tanpa berkelahi, asal kalian suka mundur dan kembali ke jalan benar,"

Kata Sin Liong sambil menjura.

Melihat ini, Na Tiong Pek mengerutkan alisnya.

Tadi dia merasa semakin heran sampai memandang dengan mata terbelalak mendengar percakapan itu.

Tak disangkanya bahwa Sin Liong telah memperoleh kemajuan sedemikian hebatnya sehingga dikenal sebagai seorang pendekar yang sakti.

Pantas saja Ciu Khai Sun menyebutnya Cia-taihiap!

Akan tetapi mendengar dan melihat sikap Sin Liong yang mengalah itu, sungguh dia merasa penasaran.

Kalau memang benar Sin Liong memiliki kepandaian tinggi, kenapa dia tidak menyambut tantangan dua orang kakek sesat itu?

Kim Lok Cinjin masih merasa sakit hatinya mendengar akan kematian suhengnya, yaitu Kim Hwa Cinjin, yang menurut berita tewas di tangan Cia Bun Houw, tokoh Cin-ling-pai atau ayah dari pemuda yang kini berdiri di depannya itu.

Sebagai seorang tua yang banyak pengalaman, dia tentu tidak akan mau menimpakan dendamnya kepada pemuda ini, akan tetapi karena kegagalan gerakan pangeran itu dikabarkan karena pemuda ini, maka dia ingin melampiaskan rasa kecewanya dengan menghinanya.

"Cia Sin Liong, kalau engkau mau berlutut dan minta ampun sebanyak delapan kali kepadaku, barulah pinto akan menghabiskan segala urusan dan akan pergi meninggalkanmu."

Sin Liong masih tetap tenang, akan tetapi kedua matanya mencorong tanda bahwa dia mulai marah.

"Kim Lok Cinjin, bagi seorang gagah, kalau memang bersalah, aku akan suka tanpa diminta lagi untuk berlutut minta ampun kepada seorang anak kecil sekalipun, akan tetapi kalau tidak bersalah, biar menghadapi siapapun, biar setan atau iblis, aku tidak akan sudi berlutut dan mengalah!"

"Bagus! Itu artinya menantang kami!"

Kata Si Raja Pengemis yang sudah menggerakkan tongkatnya melakukan penyerangan yang amat cepat dan ganas.

Kim Lok Cinjin yang pernah menyaksikan kelihaian Sin Liong, tidak malu-malu lagi untuk membantu temannya itu dan dia juga mencabut pedang dan menubruk, melakukan serangan kilat ke arah Sin Liong.

Sin Liong cepat mengelak sambil berloncatan ke sana-sini.

"Hem, kalian memang sudah tidak dapat diperbaiki lagi,"

Katanya dan diapun balas menyerang dengan tamparan-tamparan tangannya.

Tongkat butut di tangan Raja Pengemis itu menyambar ganas, namun hanya dengan miringkan kepalanya, tongkat itu lewat dan luput.

"Darrr!"

Batu besar di belakang Sin Liong yang terkena pukulan tongkat itu pecah! "Singgg...!"

Sinar kilat pedang di tangan Kim Lok Cinjin menyambar, namun kembali serangan dahsyat ini dapat dielakkan oleh Sin Liong dengan mudah.

Dua orang kakek itu menjadi semakin marah dan penasaran, mereka lalu memutar senjata mereka dengan cepat sehingga lenyap bentuk pedang dan tongkat itu, Berubah menjadi dua gulungan sinar hitam dan sinar keemasan yang amat cepat menyambar-nyambar.

Tubuh kedua orang kakek itu sampai lenyap tertutup gulungan sinar senjata mereka, hanya nampak kaki mereka saja kadang-kadang menginjak tanah dan berloncatan ke sana-sini.

Namun dengan tenangnya Sin Liong menghadapi pengeroyokan itu dengan langkah-langkah Thai-kek Sin-kun dia dapat menghindarkan setiap serangan, dan kedua lengan yang dipenuhi tenaga sin--kang dari Thian-te Sin-ciang itu, seperti juga kedua lengan Kok Beng Lama dahulu, dapat dipergunakannya untuk menangkis tongkat dan bahkan menangkis pedang tanpa terluka!

Melihat betapa pemuda itu yang bergerak tenang dikeroyok oleh dua orang kakek yang demikian lihainya, Na Tiong Pek menjadi gelisah sekali.

"Ciu-enghiong, kenapa engkau tidak membantunya? Sumoi... lebih baik engkau membantu Sin Liong... dua orang lawannya demikian ganas...!"

"Na-twako, jangan khawatir, Sin Liong tidak akan kalah."

"Saudara Na, apakah engkau tidak dapat melihat betapa Cia-taihiap sudah mulai mendesak mereka?"

Mendengar ucapan kedua orang itu, Tiong Pek membelalakkan mata dan memandang dengan penuh perhatian ke arah pertempuran, akan tetapi gerakan dua orang kakek itu terlalu cepat sehingga dia tidak dapat mengikuti dan sama sekali tidak dapat melihat bagaimana keadaan Sin Liong yang kini juga mulai bergerak dengan cepat bukan main.

Maka, tentu saja ucapan dua orang tadi tidak dapat melenyapkan kekhawatirannya.

Dia lalu mencabut pedangnya.

Melihat ini, Bi Cu terkejut.

"Eh, twako, kau mau apa?"

"Mau... ini... mau meminjamkan pedangku kepada Sin Liong. Dua orang lawannya menggunakan senjata, dia harus menggunakan pedang ini... agar tidak kalah..."

Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan keras dan nampak olehnya betapa tubuh Lam-thian Kai-ong terlempar dan terbanting ke atas tanah, tongkatnya patah menjadi dua, dan selagi Na Tiong Pek memandang dengan mata terbelalak, terdengar teriakan lain dan tubuh Kim Lok Cinjin juga terlempar dan terbanting roboh!

Dua orang kakek itu mengeluh, lalu merangkak bangun dan dengan saling bantu mereka berdua lalu bangkit berdiri memandang kepada Sin Liong.

"Cia-taihiap, pinto mengaku kalah..."

Kata tosu itu.

"Taihiap sungguh hebat, pantas menjadi Pendekar Lembah Naga... uhh... saya mengaku kalah..."

Si Raja Pengemis juga mengeluh dan keduanya lalu dibantu oleh kepala perampok brewok menaiki kuda masing-masing dan mereka bertiga lalu pergi dari situ tanpa menoleh lagi.

Tiong Pek menyimpan kembali pedangnya dan dia berlari menghampiri Sin Liong, memegang tangan pendekar itu dan berkata.

"Ah, sungguh tak pernah kusangka! Engkau telah menjadi seorang pendekar yang demikian lihai... ah, sute... hemm, tak pantas lagi aku menyebutmu sute... kau... Cia-taihiap..."

Sin Liong tertawa dan memegang pundak Tiong Pek.

"Twako, kenapa engkau begini sungkan? Aku masih tetap Sin Liong yang biasa. Kepandaian apapun tidak merubah seorang manusia."

Na Tiong Pek makin gembira dan diam-diam dia merasa malu kepada diri sendiri yang biasanya suka mengagulkan diri sendiri.

"Ah, Sin Liong... sungguh tak pernah kubayangkan engkau menjadi sehebat ini!"

Ciu Khai Sun juga menghampiri dan menyerahkan kendali kuda Sin Liong dan Tiong Pek yang tadi dipegangnya ketika Tiong Pek menghampiri Sin Liong dengan girang sehingga melepaskan tali kendali dua ekor kuda itu.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, sebentar lagi malam akan tiba dan kita sebaiknya kalau sudah tiba di dusun depan untuk bermalam,"

Kata Ciu Khai Sun.

Mereka melanjutkan perjalanan dan membalapkan kuda masing-masing.

Malam itu mereka bermalam di sebuah dusun di mana mereka mengobrol dan makan malam di rumah seorang penghuni dusun yang mereka tumpangi dan mereka sewa kamarnya.

Dalam percakapan ini, tanpa disengaja Ciu Khai Sun bertanya kepada Sin Liong.

"Maaf, taihiap dan nona Bhe, kalau boleh aku mengetahui, setelah kita menjadi sahabat baik, ehh... kapan kiranya aku menerima surat undangan untuk pernikahan ji-wi?"

Wajah Bi Cu menjadi merah dan dia menundukkan mukanya. Sin Liong tersenyum dan menjawab singkat.

"Kalau sudah tiba saatnya kami takkan melupakanmu, Ciu-twako."

Mendengar ini, Na Tiong Pek meloncat bangun dan wajahnya berseri gembira.

"Wah, kalian akan menikah? Ahaiii.... betapa bodohnya aku! Seperti buta saja! Kiranya kalian sudah saling berjodoh dan bertunangan?"

Melihat sikap ini, sejenak Sin Liong dan Bi Cu saling pandang.

Mula-mula mereka merasa khawatir, akan tetapi melihat betapa Tiong Pek benar-benar bergembira, keduanya lalu tersenyum lega.

"Na-twako, kami... berdua saling mencinta..."

Pengakuan Bi Cu ini untuk menyatakan bahwa pertunangannya dengan Sin Liong adalah berdasarkan cinta dan minta agar bekas suhengnya itu suka memakluminya.

"Tentu saja! Aku memang setuju sekali bahwa setiap perjodohan harus berdasarkan cinta kedua fihak, baru dapat diharapkan pernikahan itu akan berbahagia. Kionghi (selemat), Sin Liong dan Bi Cu. Kionghi dan jangan lupa kelak untuk mengirim undangan untuk aku ikut minum arak pengantin!"

Melihat betapa kegembiraan pemuda itu tulus, Sin Liong lalu memegang tangan bekas suheng itu.

"Aku senang sekali melihat sikapmu, twako. Tidak percuma engkau menjadi putera tunggal mendiang paman Na Ceng Han yang budiman."

Tiong Pek teringat sikapnya ketika mereka bertiga masih bersama-sama dahulu dan dia menarik napas panjang.

"Aku bukan kanak-kanak lagi dan sudah menjadi dewasa sekarang, Liong-te dan sumoi! Aku sungguh girang bahwa kalian dapat berjodoh, dan memang kalian sudah cocok sekali untuk menjadi suami isteri."

Demikianlah, perjalanan pada keesokan harinya dilakukan dengan lebih menyenangkan dan lebih leluasa bagi Sin Liong dan Bi Cu yang kini sudah tahu akan isi hati Tiong Pek.

Sebelum percakapan malam tadi, baik Sin Liong maupun Bi Cu merasa agak tidak enak terhadap Tiong Pek dengan adanya kenyataan bahwa pemuda itu pernah jatuh cinta kepada Bi Cu dan mengingat pula akan segala peristiwa yang pernah terjadi di waktu dahulu.

Oleh karena itulah pula maka di depan Tiong Pek, keduanya tidak pernah memperlihatkan kemesraan, bahkah mereka tidak pernah menyinggung soal pertunangan mereka.

Akan tetapi sekarang mereka merasa lega dan karena itu mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih gembira.

Setelah mereka tiba di Su-couw, sebelum pergi mengunjungi pamannya, Ciu Khai Sun pergi dan ikut bersama Sin Liong dan Bi Cu mengunjungi rumah Kui Hok Boan yang oleh Sin Liong diakui sebagai rumah pamannya.

Dia tidak perlu memberitahukan orang lain bahwa Kui Hok Boan yang hendak dikunjungi itu adalah ayah tirinya, karena hal ini akan menimbulkan kenang-kenangan yang amat tidak enak.

Kedatangan mereka disambut oleh Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin dengan gembira bukan main.

"Liong-koko...!"

Dua orang dara kembar yang cantik jelita itu berteriak dan berlari-larian menyambut, kemudian mereka berdua memegangi kedua tangan Sin Liong dengan wajah gembira.

Sin Liong juga merangkul pundak kedua orang adik tirinya yang disayangnya ini.

"Kalian baik-baik saja, bukan?"

Tegurnya.

Setelah pertemuan tiga orang yang gembira dan mengharukan ini, barulah Sin Liong menyalam Tee Beng Sin atau yang lebih tepat lagi bernama Kui Beng Sin, dan memperkenalkan adik-adik tirinya itu kepada Bi Cu yang sudah mereka ketahui, kemudian kepada Ciu Khai Sun dan Na Tiong Pek.

Dalam perkenalan ini, terjadi hal yang amat menarik, yaitu pertukaran pandang mata antara dua orang dara kembar itu dengan Ciu Khai Sun dan Na Tiong Pek!

Seketika, dua orang pemuda itu tertarik sekali kepada dua dara kembar itu dan jantung mereka berdebar tidak karuan karena di dalam hati.

Mereka berdua harus mengakui bahwa selamanya belum pernah mereka bertemu dan berkenalan dengan dua orang dara yang demikian cantik manis dan lincah!

Mereka lalu dipersilakan masuk oleh Beng Sin dan dua orang adik kembarnya.

Sambil menggandeng tangan Lan Lan dan Lin Lin, Sin Liong, Bi Cu dan dua orang pemuda itu memasuki ruangan dan diajak duduk di kamar tamu.

Tujuh orang muda-mudi ini riang gembira sekali dan macam-macam yang mereka bicarakan.

Tiba-tiba Sin Liong berkata kepada Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin.

"Di manakah ayah kalian? Aku... aku dan Bi Cu ingin sekali jumpa. Bolehkah kami masuk untuk menemuinya?"

Lin Lin dan Lan Lan saling pandang dengan alis berkerut, sedang Beng Sin segera bangkit berdiri sambil berkata.

"Dia beristirahat di dalam. Marilah kalau kalian hendak bertemu, kuantarkan. Lan-moi dan Lin-moi, kau temani dulu dua orang tamu kita ini."

Sin Liong dan Bi Cu bangkit berdiri dan mengikuti Beng Sin masuk.

Setelah tiba di dalam Beng Sin lalu berkata, sambil memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Sin Liong, dan nona... aku tahu bahwa... ayahku telah melakukan banyak sekali kesalahan di masa lalu terhadap kalian, terutama terhadapmu, Sin Liong. Akan tetapi, melihat keadaannya sekarang, yang menderita dan tidak sadar, dan melihat muka kami, yaitu aku, Lan-moi dan Lin-moi, tidak maukah kalian memaafkannya?"

Ketika tadi bertemu dengan tiga orang muda yang menjadi putera dan puteri musuh besar pembunuh ayah kandungnya, sudah banyak kebencian di dalam hati Bi Cu menurun, Bahkan ada rasa tidak enak kalau sampai dia harus turun tangan membunuh Kui Hok Boan, tidak enak terhadap tiga orang muda yang baik-baik dan yang kelihatannya amat menyayang Sin Liong itu.

Betapapun juga, dua orang dara kembar yang cantik manis itu adalah saudara seibu dari Sin Liong, maka kalau sampai dia menyusahkan hati mereka dengan membunuh ayahnya, sungguh merupakan hal yang amat tidak enak baginya.

Mulailah timbul keraguan apakah dia akan sampai hati membunuh ayah dua orang dara kembar itu yang tidak tahu apa-apa dan sama sekali tidak berdosa, bahkan yang dahulu berani menentang ayah sendiri demi menolong dia dan Sin Liong!

Sekarang, mendengar ucapan Beng Sin, dia makin merasa canggung dan tidak enak, dan dia tidak berkata apa-apa dan memblarkan Sin Liong yang menjawab.

"Beng Sin, antar sajalah kami melihatnya. Kami ingin melihat bagaimana keadaannya sekarang."

Beng Sin mengangguk lalu menarik napas panjang.

"Menyedihkan sekali... dan kalau keadaannya seperti itu terus, mana mungkin aku dapat melangsungkan pernikahanku?"

Mereka tiba di depan sebuah kamar. Sunyi sekali di situ dan Beng Sin menuding ke kamar itu.

"Dia selalu berdiam di kamarnya."

Kemudian dia membuka daun pintu lebar-lebar agar ada cahaya memasuki kamar yang gelap itu.

Kui Hok Boan duduk di atas kursi, diam seperti patung.

"Ayah, Sin Liong dan nona Bhe datang untuk menengokmu, ayah,"

Kata Beng Sin kepada pria tinggi kurus pucat yang duduk di atas kursi itu.

Sin Liong dan Bi Cu terkejut melihat pria itu yang dulunya merupakan seorang pria setengah tua yang tampan dan gagah, kini telah menjadi tengkorak terbungkus kulit dan mukanya pucat, matanya cekung itu.

Dan tiba-tiba pria itu bangkit berdiri, memandang kepada Sin Liong dan Bi Cu dengan sinar mata yang membuat Bi Cu merasa ngeri karena sinar mata itu liar dan penuh kedukaan.

Dan tiba-tiba kakek itu menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara penuh penyesalan.

"Ampunkan aku... ampunkan aku..."

Sin Liong dan Bi Cu terkejut sekali dan melangkah mundur.

Akan tetapi pada saat itu, Kui Hok Boan sudah meloncat berdiri dan ternyata gerakannya masih gesit, dan dia berkata, suaranya masih penuh kedukaan.

"Atau, kalau tidak mau mengampuniku, mari kita bertanding sampai aku menggeletak mati!"

Dan dia sudah memasang kuda-kuda.

"Ayah, Sin Liong dan nona Bhe datang hanya untuk menjenguk,"

Beng Sin berkata dan kakek itu sudah duduk kembali di atas kursinya seperti tadi, seperti patung hidup!

"Mari...

mari kita pergi..."

Kata Bi Cu sambil menggandeng tangan Sin Liong dan pemuda ini merasa lega bukan main.

Kata-kata itu saja sudah menunjukkan bahwa Bi Cu sama sekali tidak berniat untuk membunuh musuhnya ini.

Akan tetapi dia masih belum puas.

Dia menarik tangan Bi Cu mendekati Kui Hok Boan dan dia lalu berkata dengan suara halus.

"Paman Kui Hok Boan, lihat baik-baik. Inilah Bhe Bi Cu, puteri mendiang Bhe Coan yang telah kau bunuh itu!"

Bibir Kui Hok Boan bergerak-gerak dan berbisik-bisik.

"Bhe Coan... Bhe Coan..."

Lalu kembali dia menjatuhkan diri dan berlutut.

"Ampunkan aku... ampunkan aku...!"

Sejenak kemudian dia sudah meloncat bangun dan seperti tadi dia memasang kuda-kuda dan berkata.

"Atau, kalau tidak mau mengampuniku, mari kita bertanding sampai aku menggeletak mati!"

"Mari kita pergi!"

Bi Cu berkata lagi dan kini dia menarik tangan kekasihnya diajak ke luar dari kamar itu.

Beng Sin menutupkan lagi daun pintu dan dia sudah menyusul mereka berdua.

Dia menjura ke arah Bi Cu.

"Kiranya ayahku telah berdosa pula kepada nona, maka biarlah aku yang mintakan ampun dan menghaturkan terima kasih kepada nona yang telah berbesar hati untuk memaafkannya,"

Berkata demikian, Beng Sin sudah menjatuhkan diri berlutut!

Cepat-cepat Sin Liong dan Bi Cu memegang pundaknya dan membangunkannya.

Sin Liong merangkulnya.

"Beng Sin, engkau sungguh seorang putera yang amat berbakti dan baik. Bi Cu tidak mendendam, bahkan kami kasihan sekali melihat penderitaan ayahmu. Dia jauh lebih menderita daripada kalau sampai terbunuh oleh orang yang membalas dendam."

Beng Sin menghela napas.

"Yaah, memang dia sengsara sekali. Setiap kali dia hanya minta ampun dan menantang seperti itu. Agaknya ada dua hal yang menggores hatinya, yaitu penyesalan dan juga sifat angkuhnya yang tidak mau tunduk."

"Apakah setiap saat dia hanya duduk di dalam kamarnya itu?"

"Kadang-kadang dia keluar, akan tetapi hanya untuk berjalan-jalan di dalam taman di belakang rumah, tak pernah pergi ke lain tempat kecuali dua tempat itu, kamarnya dan taman bunga."

"Sudahlah,"

Kata Bi Cu.

"Mari kita kembali ke ruangan tamu dan kita bicara dengan gembira. Yang sudah biarlah berlalu, itu adalah urusan orang-orang tua."

Mereka lalu kembali ke ruangan tamu di mana dua orang dara kembar itu nampak bicara dengan asyik bersama Tiong Pek dan Khai Sun.

Biarpun baru saja berkenalan, agaknya nampak ada semacam keakraban antara Khai Sun dan Kui Lan, dan antara Tiong Pek dan Kui Lin!

Lan Lan dan Lin Lin menjadi girang sekali ketika mereka melihat Sin Liong dan Bi Cu kembali tanpa terjadi apa-apa, bahkan Beng Sin kelihatan gembira.

Mereka lalu memanggil pelayan dan dua orang dara kembar itu sibuk untuk menjamu para tamu mereka dan tujuh orang muda-mudi itu makan minum sambil bercakap-cakap dan bersendau-gurau seperti lajimnya orang-orang muda yang merasa cocok satu sama lain bertemu dan ber-cengkerama.

Akan tetapi, selagi mereka bergembira, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari belakang rumah.

Sin Liong yang tercepat di antara mereka sudah meloncat dan lari masuk, terus menuju ke belakang, diikuti oleh yang lain-lain.

Dan di tengah-tengah taman bunga di belakang rumah itu kelihatanlah pemandangan yang mengerikan.

Kui Hok Boan menggeletak mandi darah, dan di dekatnya menggeletak pula seorang kakek yang tinggi besar dan brewok yang agaknya juga menderita luka hebat akibat pukulan yang mengenai tenggorokannya dan membuatnya muntah darah.

Ketika Sin Liong dan orang-orang muda itu tiba di situ, keadaan dua orang itu tidak tertolong lagi.

Pedang kakek brewok itu menembus dada Kui Hok Boan dan agaknya pukulan maut Kui Hok Boan membuat kakek itu tidak mampu bangkit kembali.

Lan Lan dan Lin Lin berseru kaget ketika mereka mengenal kakek brewok itu.

"Dia ini yang dulu menculik kami!"

Teriak Kui Lin.

Sin Liong juga ingat akan pengalamannya sepuluh tahun yang lalu.

Ketika itu terdapat seorang kakek brewok yang melarikan Lan Lan dan Lin Lin dan kebetulan dia melihat hal itu, maka diapun menyerang kakek itu, menolong Kui Lan dan Kui Lin, dibantu oleh monyet-monyet besar yang menjadi kawan-kawannya.

Bahkan monyet betina yang menjadi induknya, yang merawatnya ketika dia masih bayi, tewas oleh kakek brewok ini.

Maka dia cepat mendekati, menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi penderitaannya, lalu bertanya.

"Mengapa kau membunuh paman Kui Hok Boan?"

Tanyanya. Orang itu terengah-engah, napasnya tinggal satu-satu.

"Aku... Ciam Lok... puas sudah dapat membalaskan kematian puteriku Ciam Sui Noi... yang dinodai dan ditinggalkannya..."

Dan kepalanya terkulai.

Matilah orang she Ciam ini, nyawanya menyusul nyawa Kui Hok Boan yang telah mati lebih dulu.

Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin hanya dapat menangisi kematian ayah mereka dan mereka lalu mengurus jenazah Kui Hok Boan, dibantu oleh Sin Liong, Tiong Pek dan Khai Sun.

Sin Liong dan Bi Cu tinggal di Su-couw, ikut membantu keluarga Kui yang mengurus pemakaman jenazah Kui Hok Boan.

Bahkan Na Tiong Pek dan Ciu Khai Sun yang kini telah menjadi sahabat-sahabat baik keluarga itu, juga membantu sampai selesainya pemakaman.

Kemudian, Sin Liong dan Bi Cu berpamit, meninggalkan Su-couw untuk pergi ke Cin-ling-san.

Di tempat ini, mereka disambut keluarga Cin-ling-pai dengan gembira sekali.

Sampai beberapa hari lamanya mereka bercakap-cakap dan saling menceritakan pengalaman masing-masing, terutama sekali Sin Liong dihujani pertanyaan-pertanyaan dan anak ini harus menceritakan lagi semua riwayatnya dari kecil sampai dewasa.

Beberapa bulan kemudian, atas persetujuan seluruh keluarga Cin-ling-pai, dilangsungkan pernikahan antara Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu.

Pernikahan itu dirayakan dengan amat meriah karena dihadiri oleh hampir seluruh tokoh kang-ouw di empat penjuru, dan juga dihadiri pula oleh banyak tokoh-tokoh besar dari pemerintah di kota raja!

Bahkan Pangeran Hung Chih sendiri berkenan hadir!

Semua tamu memandang dengan gembira dan harus mengakui bahwa pasangan pengantin itu memang tepat dan cocok sekali, apalagi melihat betapa dari dua pasang mata pengantin itu memancarkan cahaya penuh cinta kasih kalau mereka saling pandang.

Tidak semua cerita berakhir dengan kebahagiaan.

Namun, Sin Liong dan Bi Cu, akhirnya menemui kebahagiaan dalam rumah tangga yang mereka bina bersama dan setiap pasangan sudah pasti akan mengecap kebahagiaan hidup apabila rumah tangga mereka didasari dengan cinta kasih.

Apapun di dunia ini, baik yang oleh umum dipandang sebagai hal yang paling buruk, akan dapat dihadapi dengan tabah dan mudah diatasi apabila suami isteri hidup dalam sinar cinta kasih.

Yang umum menganggap kesenangan akan terasa lebih nikmat, dan yang umum menganggap sebagai kesengsaraan akan terasa ringan apabila dihadapi oleh sepasang suami isteri yang saling mencinta.

Beberapa bulan kemudian, pengantin muda dan masih baru ini menghadiri pernikahan yang diadakan di Su-couw, yaitu sekaligus tiga pasang pengantin dirayakan pernikahannya, antara Kui Beng Sin dengan Ciook Siu Lan, Cui Khai Sun dengan Kui Lan, dan Na Tiong Pek dengan Kui Lin!

Demikianiah, cerita ini berakhir dengan catatan bahwa suami isteri Cia Sin Liong dan isterinya, Bhe Bi Cu, kemudian menjadi penghuni dari Istana Lembah Naga, hidup berbahagia di tempat sunyi itu.

Harapan pengarang, semoga cerita Pendekar Lembah Naga ini dapat menghibur hati para pembacanya di waktu senggang dan mengandung manfaat bagi pembukaan kesadaran dan kewaspadaan kita bersama.

Sampai jumpa di dalam cerita "Pendekar Sadis"

Yang merupakan cerita sambungan dari cerita ini. T A M A T

Baca Juga: Istana Pulau Es 7

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert