Ceritasilat Novel Online

Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 2

Eps 2 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo

Baca online Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo

Cersil Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo.

Ketika ia mengaku cinta, pemuda itu dengan terus terang mengatakan bahwa biarpun pemuda itu suka dan kagum kepadanya, namun ia tidak mencintainya!

Betapa nyeri rasa hatinya!

Apalagi ketika ia mendengar tuduhan-tuduhan, betapa Hay Hay adalah seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat cabul yang memperkosa wanita, ia merasa benci sekali dan ingin membunuhnya.

Namun, kemudian ternyata bahwa pemerkosa itu bukan Hay Hay, melainkan Ang-hong-cu!

Dan setelah melihat kenyataan bahwa Hay Hay bukanlah pemuda jahat seperti yang dituduh orang, cintanyapun tumbuh kembali.

"Hei, Hong-ji, kenapa engkau menjadi melamun? Jawablah pertanyaan ayahmu tadi. Agaknya benar bahwa ada seorang pemuda yang telah menjatuhkan hatimu, ya?"

Tegur ibunya.

Kui Hong mengangguk, akan tetapi mukanya tidak menunjukkan kegembiraan, sehingga ayah ibunya saling pandang, kemudian memandang anaknya dengan khawatir dan pandang mata mereka penuh pertanyaan.

Kui Hong menarik napas panjang, lalu memaksa diri tersenyum, akan tetapi senyumnya pahit.

"Aku telah jatuh cinta kepada seorang pemuda, akan tetapi... dia tidak cinta kepadaku..."

Lehernya terasa seperti dicekik, akan tetapi Kui Hong mengeraskan hatinya dan iapun mampu tersenyum.

"Sudahlah, aku tidak mau bicara tentang dia lagi!"

Diam-diam suami isteri itu merasa terharu dan kasihan kepada puteri mereka.

Ceng Sui Cin mengerutkan alisnya dan diam-diam ia mengutuk pemuda yang telah menjatuhkan hati puterinya itu.

Butakah pemuda itu sehingga ia menolak cinta kasih seorang gadis seperti Kui Hong?

Apakah kekurangannya?

Cantik, jelita, manis, bentuk tubuhnya indah, budi pekertinya baik, gagah perkasa dan tinggi ilmu silatnya.

Adapun Hui Song hanya tersenyum walaupun hatinya juga dipenuhi perasaan iba, lalu dia berkata untuk menghibur hati anaknya.

"Cinta tidak datang sepihak saja, cinta tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Engkau benar, Kui Hong, tidak perlu lagi mengingat tentang orang yang tidak mencintaimu. Sebaiknya kita melakukan persiapan untuk mengadakan pesta dan pertemuan besar."

"Ehh? Pesta apa dan pertemuan besar apa?"

Sui Cin bertanya, mengamati wajah suaminya, juga Kui Hong memandang heran kepada ayahnya.

Hui Song tidak menghentikan senyumnya.

"Pertama, dan hal ini hanya kita bertiga yang mengetahui, untuk merayakan persatuan hati kita kembali. Ke dua, untuk memilih seorang ketua Cin-ling-pai yang baru..."

"Ayah...! Mengapa? Bukankah ayah yang menjadi ketua Cin-ling-pai dan hal ini sudah tepat sekali? Kenapa harus dilakukan pemilihan ketua baru?"

Ayahnya menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Sebetulnya, sejak dulu aku tidak suka menjadi seorang ketua. Aku sudah biasa bebas, dan watakku tidak mau terikat. Apalagi sekarang. Aku ingin merantau bersama ibumu, ingin berkunjung ke Pulau Teratai Merah dan mengunjungi tempat-tempat indah lainnya, berdua saja."

"Wah, akupun ingin sekali!"

Seru Sui Cin dan ia nampak bersemangat sekali, seolah-olah kembali muda membayangkan betapa ia akan pergi berdua saja dengan suaminya.

"Akan tetapi..., Kui Bu...,"

Sambungnya ragu.

"Anak itu masih terlalu kecil untuk dapat kita didik. Biarlah dia dirumah dan kita serahkan kepada inang pengasuh yang dapat dipercaya. Bukankah Kui Hong juga berada di rumah? Ia dapat mengamati adiknya."

"Jangan khawatir, ibu. Aku akan menjaga adik Kui Bu,"

Kata Kui Hong yang ikut girang melihat keadaan ibunya.

"Akan tetapi, ayah. Kalau ayah mengundurkan diri selaku ketua Cin-ling-pai, lalu siapakah yang akan menjadi penggantinya? Siapa yang tepat untuk menjadi ketua baru?"

"Karena itulah harus dilakukan pemilihan. Hal ini sebelumnya telah kubicarakan dengan kong-kongmu dan diapun setuju. Kebetulan, kita akan merayakan hari ulang tahun kong-kongmu yang ke tujuh puluh. Kita mengambil peristiwa itu untuk mengadakan pesta, mengundang tokoh-tokoh persilatan yang terkenal untuk menjadi saksi pula akan pemilihan itu agar nama Cin-ling-pai menjadi semakin cerah dan terpandang."

"Akan tetapi, ayah. Bukankah selama ini Cin-ling-pai diketuai oleh keluarga Cia turun temurun? Ayah menggantikan kakek, dan kakek menggantikan kakek buyut?"

"Memang demikian, dan inilah sesungguhnya yang membuat keadaan menjadi tidak sehat. Perkumpulan bukanlah milik seseorang, apalagi perkumpulan seperti Cin-ling-pai yang juga menjadi perguruan silat. Bukan anak keturunan saja yang mewarisi ilmu silat dari ketua. Masih banyak murid lain yang mungkin lebih pandai. Kalau anak keturunan yang diharuskan menggantikan menjadi ketua, seperti kaisar, maka mungkin terjadi perkumpulan itu dipimpin oleh seorang yang tidak berbakat menjadi pimpinan, atau yang tiada minat terhadap perkumpulan. Seperti aku ini. Dan perkumpulan tidak akan maju. Karena itu, aku hendak mengubah kebiasaan ini. Sekarang yang terpandailah sajalah yang berhak menjadi ketua, terpandai bukan saja dalam hal ilmu silat, akan tetapi juga dalam hal memimpin perkumpulan, yang berbakat dan berminat."

Diam-diam Sui Cin menyetujui pendapat suaminya ini.

Bukankah keretakan keluarganya yang pernah terjadi juga menjadi akibat dari kekukuhan ayah mertuanya yang ingin sekali memperoleh cucu laki-laki agar kelak dapat melanjutkan sebagai ketua Cin-ling-pai?

Dan tanpa kata-katapun ia dapat menyelami pikiran suaminya.

Kalau datang banyak tamu dari dunia persilatan, berarti membuka kesempatan bagi puteri mereka untuk mencari atau dicarikan jodoh!

"Ah, tentu banyak datang kenalan lama, tokoh-tokoh persilatan yang lihai, pimpinan perkumpulan-perkumpulan dan perguruan silat yang terkenal,"

Katanya.

"Dan siapa tahu, diantara mereka itu ada yang berjodoh untuk menjadi besan kami!"

"Ihh, ibu! Agaknya ayah dan ibu yang sudah merindukan besan, padahal aku sama sekali belum memikirkan soal perjodohan!"

Berkata demikian Kui Hong merangkul ibunya.

Ayah, ibu dan anak in bercakap-cakap dengan asyik dan melepaskan kerinduan mereka, kemudian Kui Hong yang tahu bahwa ayah dan ibunya baru saja "akur"

Kembali, mencari kesempatan untuk meninggalkan mereka berdua saja.

"Aku ingin menemui kong-kong dan para suheng dan sute!"

Dan keluarlah ia dari dalam rumah itu.

Setelah Kui Hong pergi, suami isteri itu bangkit berdiri, saling pandang sampai lama dan perlahan-perlahan kedua mata Sui Cin menjadi basah.

Seperti didorong oleh kekuatan gaib maju dan dilain saat, kedua suami isteri yang sudah lama berpisah batin itu, kini saling rangkul tanpa mengeluarkan kata-kata, rangkulan yang penuh kerinduan, kemesraan dan saling memaafkan.

Sementara itu, Kui Hong lari menuju ke belakang, dimana kakeknya mengurung diri dan kabarnya tidak mau mencampuri urusan dia.

Setibanya di luar kamar kakeknya, yang daun pintunya tertutup, ia tidak berani lancang membuka daun pintu.

Ia tau betapa galak kakeknya itu, dan biarpun dahulu kakeknya itu amat menyayanginya, namun karena sudah lama ia pernah meninggalkan Cin-ling-pai bersama ibunya, ia merasa agak asing lagi dengan kakeknya.

Dari luar pintu kamar itu iapun berseru memanggil.

"Kong-kong...! Kong-kong,ini aku Kui Hong yang ingin bicara dengan kong-kong"

Sampai tiga kali ia mengulang panggilannya, barulah ada jawaban dari dalam.

"Hemm, kau anak nakal sudah pulang? Bukalah pintunya dan masuklah!"

Itulah suara kakeknya jelas dan dalam.

Girang rasa hati Kui Hong.

Iapun mendorong daun pintu kamar itu, dan baru saja hendak melangkah masuk, dari dalam kamar melangkah keluar seorang laki-laki muda.

Usia laki-laki itu kurang lebih tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi besar, mukanya putih dan boleh dibilang tampan, sepasang matanya tajam dan pria itu agaknya terpesona ketika bertemu pandang dengan Kui Hong.

Akan tetapi dia segera menunduk dan bahkan agak membungkuk dengan sikap hormat, berdiri di samping membiarkan Kui Hong masuk lebih dulu!

Kui Hong tidak mengenal orang itu, akan tetapi karena orang itu keluar dari dalam kamar kakeknya, ia merasa heran bukan main dan menduga bahwa tentu ada hubungan baik antara orang ini dan kong-kongnya.

Seorang laki-laki yang gagah dan sinar matanya sungguh tajam mencorong, akan tetapi asing baginya.

Kakek Cia Kong Liang duduk bersila diatas kasur.

Sinar matahari menerangi kamar itu, masuk dari jendela kaca terbuka menembus ke dalam taman kecil dari kamar itu yang tertutup dinding.

Taman itu adalah taman pribadi kakek Cia Kong Liang,Kui Hong memandang kepada kakeknya penuh perhatian.

Seorang kakek yang usianya sudah menjelang tujuh puluh tahun, tubuhnya masih tegak dan tegap, gagah.

Rambut dan kumis jenggotnya sudah putih semua, terpelihara rapi.

Kamar itupun nampak bersih walaupun sederhana sekali.

Ada rasa haru dan iba di hati Kui Hong melihat keadaan kakenya ini yang mengasingkan diri.

Agaknya seperti juga ayah dan ibunya, kakeknya ini penuh dengan rasa penyesalan dan mengalami banyak kepahitan hidup.

"Kong-kong, aku datang...!"

Kata Ku Hong, lalu ia duduk bersimpuh di depan kakeknya.

Orang tua itu memandang kepadanya sambil tersenyum.

"Kui Hong, cucuku yang nakal! kemana saja kau selama ini?"

Tegur sang kakek dan rasa sayangnya terhadap cucu ini tergetar melalui suaranya.

Kui Hong dapat merasakan getaran kasih sayang kakeknya itu.

Hatinya terharu.

"Kong-kong, aku telah pergi membantu pemerintah dengan para pendekar lain, membasmi gerombolan perampok dan berhasil dengan baik, Gerombolan perampok yang di Bantu oleh para tokoh sesat itu dapat di hancurkan dan sebagian besar tokoh sesatnya Kui Hong bercerita tentang pembasmian gerombolan pemberontak itu, di dengarkan dengan wajah berseri oleh kakeknya. setelah ia selesai bercerita, kakek itu mengangguk-angguk.

"Aku bangga sekali mendengar ceritamu, Kui Hong. Engkau tidak memalukan menjadi keturunan Cin-ling-pai, aku sebagai kong-kongmu ikut merasa bangga bahwa engkau telah bersikap seperti seorang pendekar sejati, dapat berbakti kepada nusa dan bangsa."

"Kong-kong, ada berita yang lebih baik daripada itu!"

"Berita apa cucuku?"

"Berita yang datang dari tempat ini, kong-kong, yaitu bahwa mulai hari ini ayah dan ibu telah akur kembali, Ayah telah meninggalkan tempat pertapaanya di dekat makam dan kini berkumpul dengan ibu."

Wajah kakek ini nampak cerah dan sepasang matanya yang tadinya redup itu agak bercahaya.

"Terima kasih kepada Thian...! setiap saat itulah yang menjadi doa terutama."

Lega rasa hati Kui Hong melihat betapa kakeknya juga bergembira mendengar berita itu.

"Lalu kapankah kong-kong sendiri meninggalkan kurungan ini dan hidup di luar seperti biasa? Berjalan memberi petujuk ilmu silat kepadaku?"

Ajaknya. Kakek itu tersenyum.

"Hmm jangan kau mentertawakan kakemu, Kui Hong. Apa lagi yang dapat kulakukan untuk memberi petunjuk kalau tingkat ilmu silatmu sekarang lebih sudah lebih tinggi dari kakekmu yang loyo ini? Dan tentang keluar itu", ah, aku sudah terlalu tua untuk ikut memusingkan urusan dunia akan tetapi aku berjanji akan sering keluar dari kamar ini"

"Tentu kong-kong harus keluar. Bukankah menurut ayah, di sini akan di adakan pesta ulang tahun kakek yang ke tujuh puluh?"

Kakek itu mengangguk-angguk dan menarik napas panjang, sambil mengelus jenggotnya yang putih.

"Baiklah, baiklah... ah, Hui Song memang anak yang baik dan berbakti. Sayang dia tidak berbakat dan tidak suka menjadi ketua""

Mendengar kakeknya menyinggung soal kedudukan ketua, Kui Hong menjadi berani untuk membicarakan soal itu.

"Kong-kong, menurut ayah, katanya dalam pesta itu yang di hadiri banyak tokoh persilatan, ayah akan mengadakan pemilihan ketua Cin-ling-pai yang baru, bernarkah itu? Kata ayah, dia akan mengundurkan diri, akan merantau bersama ibu berkunjung ke pulau Teratai Merah dan tempat-tempat lain."

Kakek Cia Kong Liang mengangguk-angguk dan masih mengelus jenggotnya.

"Hal itu sudah kami bicarakan secara serius. Ayahmu hendak merombak ketentuan yang sudah turun temurun, hendak mamutuskan ikatan antara keluarga Cia dan Cin-ling-pai. Akan tetapi dia benar juga. Cin-ling-pai adalah sebuah perguruan silat, bukan milik keluarga Cia. Siapa saja yang baik dan tepat untuk menjadi ketua demi kemajuan Cin-ling-pai. Dan aku sudah mempunyai pandangan, siapa kiranya yang paling tepat untuk menjadi ketua baru Cin-ling-pai menggantikan ayahmu."

Kui Hong diam-diam terkejut, akan tetapi ia lalu teringat akan pria yang baru saja meninggalkan kamar kakeknya.

"Kong-kong, siapakah orang yang baru keluar dari sini tadi? Aku tidak pernah melihatnya."

"Nah, dia itulah yang menjadi calonku, untuk memimpin Cin-ling-pai. Biarpun dia masih muda, namun dia bijaksana, dan dalam hal ilmu silat kiranya tidak di sebelah bawah tingkat ayahmu dan ibumu sekalipun."

Tentu saja Kui Hong terkejut mendengar ini.

Seorang murid Cin-ling-pai yang memiliki tingkat kepandaian tidak kalah oleh ayahnya atau ibunya?

Luar biasa!

"Tapi, siapakah dia, kong-kong?

Apa kah murid Cin-ling-pai!"

"Namanya Tang Cun Sek, tentu saja dia murid Cin-ling-pai!"

"Tapi, kong-kong. Kalau dia murid Cin-ling-pai bagaimana sampai aku tidak mengenalinya?"

"Memang dia murid baru. Hanya beberapa bulan setelah engkau dan ibumu meninggalkan Cin-ling-pai, dia menjadi murid dan anggauta Cin-ling-pai. Karena itu, engkau tidak pernah melihatnya."

Kui Hong mengerutkan alisnya dan di dalam hatinya menghitung-hitung lalu berkata.

"Kong-kong, sampai sekarang, kepergianku itu baru lewat empat tahun. Bagaimana dia yang baru belajar empat tahun disini, sekarang sudah memiliki tingkat kepandaian yang sejajar dengan ayah dan ibu? Hal itu sungguh tidak masuk mungkin!"

Kakek itu tersenyum.

"Mengapa tidak mungkin? Ketika dia masuk menjadi murid Cin-ling-pai, dia sudah memiliki ilmu silat yang tinggi! Dia adalah seorang pemuda yang sejak kecilnya suka sekali mempelajari ilmu silat sehingga dia telah mempelajari banyak macam ilmu silat dari perguruan-perguruan silat yang besar. Dia masih juga belum puas dan dia belajar disini untuk menambah pengetahuannya. Ternyata dia berbakat sekali dan semua ilmu silat Cin-ling-pai dapat dikuasai dalam waktu singkat. Dia memang pantas menjadi ketua baru, karena dengan ilmunya yang banyak macamnya itu, tentu saja ia dapat menambah perbendaharaan ilmu di Cin-ling-pai. Bahkan menurut pendapatku, diapun pantas untuk menjadi jodohmu, Kui Hong."

"Ihhh! Kong-kong ini ada saja!"

Teriak Kui Hong, mukanya berubah merah sekali. Kakek itu tertawa.

"Aku tidak main-main, cucuku. Bahkan pernah aku membicarakan hal ini dengan ayahmu. Ketahuilah, sudah menjadi kebiasaan di dalam dunia persilatan bahwa seorang gadis akan memilih jodohnya yang gagah perkasa dan yang mampu mengalahkan ilmu silatnya. Dan aku melihat bahwa semua syarat itu ada pada diri Cun Sek! Dia seorang pemuda yang sudah matang, wajahnyapun tampan, sepak terjangnya gagah perkasa, diapun memiliki pengetahuan cukup tentang ilmu baca tulis, dan ilmu silatnya tinggi. Apalagi kalau dia menjadi ketua Cin-ling-pai, berarti dia masih keluarga sendiri sebagai jodohmu, dengan demikian, walaupun berlainan she, tetap saja Cin-ling-pai masih dipegang oleh anggauta keluarga sendiri."

Diam-diam Kui Hong mengerti mengapa kakeknya agaknya demikian bersemangat untuk menjodohkan ia dengan pria yang bernama Tang Cun Sek itu, dan mendukung pengangkatan Cun Sek sebagai ketua baru Cin-ling-pai.

Kiranya kakek itu ingin agar pimpinan Cin-ling-pai tidak terjatuh kepada orang lain!

Kalau Cun Sek menjadi suaminya, berarti bahwa Cun Sek masih anggota keluarga, mantu dari ayahnya!

Mengertilah gadis ini bahwa persetujuan kakeknya mengenai pergantian ketua di Cin-ling-pai adalah persetujuan yang terpaksa dan berlawanan dengan suara hati kakeknya.

Diam-diam ia merasa kasihan kepada kong-kongnya itu.

Pendirian kakeknya masih tetap keras, akan tetapi kini terjadi perubahan, yaitu sikap kakeknya menjadi lebih lunak, tidak seperti dahulu bahwa setiap kehendaknya tidak boleh dibantah oleh siapapun.

Karena ia tidak ingin berbantahan dengan kakeknya atau mengecewakan hatinya, maka ketika kakeknya mendesaknya dan menanyakan pendapatnya, ia hanya menjawab.

"Kita lihat bagaimana nanti sajalah, kong-kong."

Setelah meninggalkan kamar kakeknya, Kui Hong lalu keluar dan berkunjung keperkampungan Cin-ling-pai dimana terdapat sekelompok rumah yang menjadi tempat tinggal para murid Cin-ling-pai.

Semenjak ayahnya menjadi ketua, Cin-ling-pai tidak pernah menerima murid wanita, dan ia merupakan satu-satunya murid wanita!

Semua murid Cin-ling-pai adalah pria, sebagian ada yang tinggal di luar dan mereka ini adalah murid-murid yang sudah berkeluarga, sedangkan yang masih bujangan tinggal di perkampungan Cin-ling-pai.

Junlah mereka medekati seratus orang!

Kedatangan Kui Hong disambut oleh para murid Cin-ling-pai, ada yang menyambutnya dengan gembira, adapula yang bersikap biasa, dan bahkan ada yang bersikap dingin!

Mereka itu terdiri dari pria-pria yang berusia antara dua puluh sampai empat puluh tahun.

Tentu saja banyak diantara mereka yang diam-diam mengagumi Kui Hong sebagai pria terhadap wanita, namun dapat dimengerti bahwa tak seorangpun berani menyatakan perasaan kagum dan suka ini secara berterang.

Kui Hong melihat jelas bahwa ada semacam kelesuan di antara para murid Cin-ling-pai.

Hal ini adalah karena terjadinya peristiwa menyedihkan di dalam keluarga ketuanya, sehingga membuat ketua mereka mengasingkan diri di dekat makam, dan ketua lama mengasingkan diri di dalam kamar.

Tentu saja mereka semua merasa bingung dan seperti kehilangan pasangan, namun mereka masih memandang muka nyonya ketua yang amat lihai sehingga tidak membuat ulah macam-macam.

Melihat sikap mereka yang dingin dan lesu, Kui Hong segera menegur mereka sambil tersenyum ramah.

"Heii, kalian ini mengapakah? Seperti lampu ke habisan minyak! Aku ini masih Cia Kui Hong yang dahulu itu, teman kalian berlatih silat dan bermain-main! Hayo kita berkumpul di lian-bu-thia (ruangan latihan silat), ingin aku melihat sampai di mana kemajuan para suheng dan sute di sini""

Melihat kegembiraan gadis itu, ajakan itu di sambut oleh para murid yang masih muda dengan gembira.

Mereka mengikuti Kui Hong dan sebentar saja lian-bu-thia itu penuh dengan murid Cin-lin-pai.

Jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang.

hanya mereka yang agak tua dan menjadi suheng (kakak perguruan ) dari Kui Hong yang tidak ikut.

Mereka ini merasa diri sudah tua dan berkedudukan lebih tinggi, maka mereka tidak mencampuri kegembiraan para murid muda itu.

Mereka adalah murid-murid tua dari Cin-ling-pai, bahkan ada beberapa orang masih terhitung susiok (paman guru) dari Kui Hong karena mereka adalah saudara-saudara seperguruan dari Cia Hui Song, atau murid langsung dari kakek Cia Kong Liang.

Setelah tiba di lian-bhu-thia, Kui Hong langsung meloncat ke tengah ruangan yang luas itu.

Kegembiraannya muncul, akan tetapi diam-diam ia telah memperhitungkan sikapnya.

Ia ingin sekali menguji, sebelum terjadi pemilihan ketua baru, siapa diantara murid dan anggota Cin-ling-pai yang sudah memiliki ilmu silat tinggi dan pantas untuk menjadi ketua baru.

Terutama sekali, ingin ia memancing keluarnya murid bernama Tang Cun Sek itu, untuk diujinya sampai dimana kepandaian orang itu maka dipilih oleh kong-kongnya sebagai calon ketua baru.

Setelah berada di tengah ruangan berlatih silat.

Kui Hong lalu berkata.

"Hayo, silahkan siapa yang hendak latihan bersamaku! Sudah lama kita tidak berlatih bersama-sama. Siapa diantara kalian yang paling maju ilmu silatnya.? Majulah, mari kita main-main sebentar!"

Para murid Cin-ling-pai maklum benar siapa adanya Kui Hong.

Memang benar diantara mereka banyak terdapat murid yang lebih tua dan lebih dahulu belajar dibandingkan Kui Hong.

Akan tetapi merkapun tahu bahwa kalau mereka hanya mempelajari ilmu-ilmu asli dari Cin-ling-pai yaitu San-in Kun-hoat, Thai-kek Sin-kun yang amat sukar, Tiat-po-san dan Ilmu pedang Siang-bhok-kiamsut, sebaliknya gadis itu selain mewarisi ilmu-ilmu dari keluarga Pendekar Sadis!

Bahkan dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh gadis itu amat hebat karena telah menguasai Bu-eng-hui-teng dari ibunya yang menjadi mendiang Wu Yi Lojin, seorang di antara Delapan Dewa!

Karena maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi ilmu kepandaian Kui Hong, maka tantangan gadis itu tidak ada yang berani menyambutnya.

"Hayolah!"

Ajak Kui Hong.

"Kenapa sekarang kalian semua berubah menjadi pemalu dan penakut? Aku hanya ingin melihat kemajuan kalian, mari kita bersama latihan San-in Kun-hoat!"

Seorang murid yang berusia tiga puluh tahun dan yang terkenal sebagai murid yang paling ahli dalam hal ilmu silat San-in Kun-hoat (Silat Awan Gunung), dengan malu-malu melangkah maju menghadapi Kui Hong, diantar tepuk tangan memberi semangat oleh para saudaranya.

Melihat pria yang jangkung dan berwajah pemalu ini, Kui Hong tersenyum dan cepat memberi hormat, (Lanjut ke

Jilid 04) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Aih, kiranya suheng Ciok Gun! Saudara-saudara sekalian, aku girang bahwa dia ini yang maju. Ketahuilah bahwa ketika aku sedang belajar San-in Kun-hoat dahulu, justeru yang memberi banyak petunjuk kepadaku adalah suheng Ciok Gun ini!"

Ucapan ini kembali disambut tepuk tangan para murid Cin-ling-pai dan suasananya kini berubah semakin meriah.

"Sumoi terlalu memujiku, sekarang mana mungkin aku dapat melawanmu?"

Kata pria jangkung yang bernama Ciok Gun itu sambil tersenyum dan memasang kuda-kuda Ilmu Silat San-in Kun-hoat.

pasangan kuda-kudanya memang mantap, setelah dia menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan semua khikang ke dalam pusar dari mana tenaga dalam itu akan mengatur semua gerakan dari tubuhnya dalam ilmu San-in Kun-hoat yang lihai itu.

Kui Hong mengangguk-angguk kagum lalu berseru.

"Nah, mari kita mulai, suheng. Lihat seranganku!"

Berkata demikian, gadis itu mulai melakukan serangan, dengan jurus Pek-in-toan-san (Awan Putih Memutuskan Gunung).

Kedua tangan gadis itu dengan cepat menyambar ke arah leher dan dada lawan.

Gerakannnya itu nampaknya tanpa tenaga, namun Ciok Gun merasakan betapa ada angin pukulan menyambar halus dan kuat bukan main, dan terutama sekali, gerakan gadis itu amat cepatnya, terlalu cepat baginya sehingga tergesa-gesa dia mengelak ke belakang dan membalas dengan tendangan kakinya dari samping.

Dengan lincah sekali, dan amat luwes gerakannya, Kui Hong meliukkan tubuhnya dan tendangan itu menyambar lewat tempat kosong.

Gadis itupun membalikkan tangannya dan kembali sudah menyerang dengan amat cepatnya.

Ciok Gun memutar tangan hendak menangkis disusul tangkapan tangan ke arah lengan lawan, namun dia kalah cepat karena Kui Hong sudah menarik kembali tangannya, mengganti serangan itu dengan serangan dari samping.

Terjadilah pertandingan yang amat seru dengan ilmu silat yang sama.

Namun, segera nampak betapa Ciok Gun terdesak hebat dan setalah lewat sepuluh jurus, dia hanya mampu mengelak dan menangkis, sama sekali tidak sempat membalas karena memang dia jauh kalah dalam kecepatan gerakan.

Untung bahwa dia memang ahli ilmu silat San-in Kun-hoat, sehingga ia mampu membela diri dan melindungi tubuhnya dan lebih untung lagi baginya bahwa lawannya juga mempergunakan ilmu silat yang sama sehingga, biarpun amat cepat gerakan Kui Hong, dia selalu dapat melihat awal gerakan dan menduga dengan tepat ke mana arah serangan gadis itu.

Biarpun demikian, saking cepatnya lawan bergerak, dia dipaksa untuk bergerak cepat mengimbanginya dan hal ini membuat kepalanya terasa pening dan pandang matanya berkurang!

"Kalau ada suheng atau sute yang ingin meramaikan latihan ini dan membantu Ciok-suheng, silakan maju!"

Kui Hong berkata sambil mengelak dari sambaran tangan Ciok Gun yang baru dapat membalas serangan ketika gadis itu berhenti sebentar untuk bicara kepada murid lainnya.

"Jangan malu-malu, hayo maju dan kita latihan bersama!"

Mendengar ucapan ini, dan melihat betapa Ciok Gun yang mereka kenal sebagai ahli ilmu silat San-in Kun-hoat sama sekali tidak mampu menandingi puteri ketua mereka itu, empat orang murid menjadi penasaran dan juga bangkit kegembiraan mereka.

Mereka berempat adalah murid-murid yang lebih tua dari Kui Hong dan termasuk juga suheng (kakak seperguruan) gadis itu.

Mereka saling memberi isarat, lalu keempatnya meloncat ke depan memasuki kalangan adu silat.

"Sumoi, kami hendak ikut berlatih!"

Kata mereka.

"Bagus! Marilah, suheng berempat, maju dan bantulah Ciok-suheng agar lebih ramai!"

Tantang Kui Hong tanpa sombong, wajahnya berseri, cantik sekali dan sepasang matanya bersinar-sinar, membuat kagum semua murid yang berada di situ.

Empat orang murid itu lalu mulai membantu Ciok Gun, mengepung Kui Hong dan menyerang secara bertubi-tubi, akan tetapi serangan mereka itu selalu menggunakan ilmu silat Sam-in Kun-hoat karena mereka itu sedang berlatih, bukan berkelahi dan tiada seorangpun di antara mereka yang mau bertindak curang.

Dan kini Kui Hong benar-benar memperlihatkan kelihaiannya!

Gadis itu tidak berani main-main lagi seperti ketika menghadapi Ciok Gun seorang.

Kini dara ini dikeroyok oleh lima orang murid Cin-ling-pai yang sudah tinggi ilmunya, dan tentu saja empat orang yang baru masuk itupun telah menguasai San-in Kun-hoat dengan baik, walaupun mereka tidak seahli Ciok Gun.

Kini Kui Hong mengerahkan tenaga lebih besar dan memainkan San-in Kun-hoat sebaik mungkin.

Terjadilah adu ilmu yang amat seru dan menarik sekali.

Gerakan Kui Hong sedemikian cepat dan ringannya, juga amat indah.

Tubuhnya bergerak seolah-oleh seekor kupu-kupu di antara lima tangkai bunga yang tertiup angin bergerak ke sana sini dan kupu-kupu itu beterbangan di antara mereka!

Betapapun lima orang itu mendesak dan berusaha mengalahkan Sumoi mereka, namun tak pernah mereka mampu menyentuh ujung baju Kui Hong!

Dan para murid yang menonton adu ilmu ini menjadi bengong.

Barulah mereka melihat kenyataan bahwa ilmu silat San-in Kun-hoat dapat menjadi ilmu yang amat hebat, yang membuat gadis itu sama sekali tidak terdesak biarpun dikeroyok oleh lima orang murid utama yang merupakan tokoh-tokoh tingkat dua di Cin-ling-pai!

Tentu saja hal ini tidaklah aneh.

Semua ilmu silat merupakan ilmu bela diri yang amat baik dan teratur, penuh dengan daya serang dan daya tahan yang baik.

Tinggi rendahnya tingkat seseorang bukan ditentukan oleh ilmu silatnya itu sendiri, melainkan oleh orangnya!

Siapa yang tekun berlatih dan menguasai rahasia ilmu silat itu, dan yang memiliki tenaga sakti yang kuat, tentu dapat memainkan ilmu silat itu dengan amat baik dan membuatnya amat tangguh, sukar dikalahkan lawan.

Sebaliknya, betapapun tinggi dan hebatnya suatu ilmu, kalau yang mempelajarinya hanya menguasai setengah-setengah saja, ilmunya belum matang dan tentu saja tidak membuat dia terlalu tangguh.

Kui Hong bukan saja telah menguasai ilmu San-in Kun-hoat dengan amat baik, akan tetapi setelah menerima gemblengan dari kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah, gadis ini telah memiliki sin-kang yang amat kuat, dan juga kakek dan neneknya menunjukkan kekurangan kekurangan dalam gerakan semua ilmu silat yang telah dikuasainya sehingga ilmu itu menjadi semakin ampuh karena seakan-akan telah disempurnakan oleh dua orang ahli silat yang sakti!

Oleh karena itu, menghadapi lima orang suhengnya, biarpun seorang di antara mereka ahli San-in Kun-hoat, dara ini memang jauh lebih matang, lebih cepat karena menguasai gin-kang (ilmu meringankan tubuh) gemblengan neneknya, juga memiliki sin-kang (tenaga sakti) gemblengan kakeknya.

biarpun dikeroyok lima, Kui Hong menguasai keadaan karena dengan kecepatan gerakan tubuhnya, semua serangan yang telah dikenalnya baik-baik itu dapat dielakkan dan kalau tidak sempat mengelak, setiap tangkisannya membuat tubuh penyerangnya terdorong kebelakang.

Akhirnya, lima orang itu harus mengakui keunggulan Sumoi mereka dan mereka tahu bahwa dalam perkelahian sungguh-sungguh, sudah sejak tadi mereka akan roboh seorang demi seorang!

Ciok Gun yang lebih dulu melompat ke belakang diikuti empat orang murid lain.

"Hebat, ilmu kepandaianmu sekarang sangat hebat, Sumoi. Sungguh membuat kami semua kagum dan membuka mata kami bahwa keturunan ketua dan guru kami memang hebat!"

Mendengar ucapan Ciok Gun itu, semua murid menjadi gembira karena tadinya banyak di antara murid Cin-ling-pai kebingungan, merasa kehilangan pimpinan, seperti sekumpulan anak ayam ditinggalkan induknya ketika ketua mereka, Cia Hui Song, bertapa di makam isterinya kedua, sedangkan ketua lama, Cia Kong Liang hanya bersamadhi di dalam kamarnya tanpa mau mencampuri urusan luar, dan Ceng Sui Cin juga acuh terhadap perkumpulan itu karena bagaimanapun juga, ia merasa bukan haknya untuk memimpin Cin-ling-pai.

Akan tetapi, sekarang muncul Cia Kui Hong yang demikian lihai, maka para murid mempunyai harapan untuk dapat memperoleh seorang pemimpin yang pandai dan boleh diandalkan, juga yang ahli dalam ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai.

"Hidup nona Cia Kui Hong!"

Teriak para murid.

Ada yang.

menyebut Sumoi, suci, dan juga nona!

Kui Hong menjura ke arah mereka dengan sikap merendah.

"Para suheng dan sute, harap jangan terlalu memuji padaku. Ketahuilah, aku memperoleh kemajuan karena aku tekun dan giat berlatih, dan aku menerima bimbingan kakek dan nenekku di Pulau Teratai Merah. Akan tetapi, aku mengajak kalian berlatih bukan untuk pamer, melainkan karena aku melihat kelesuan di antara kalian. Marilah kita berlatih dengan baik, karena siapa lagi kalau bukan kita yang harus menegakkan nama besar Cin-ling-pai! Dan bagaimana kita akan mampu menegakkan nama besar Cin-ling-pai kalau kita lemah dan malas berlatih? Ketahuilah, aku membawa berita baik, yaitu bahwa mulai hari ini ayahku, yaitu ketua kalian, telah meninggalkan tempat pertapaan dan akan memimpin Cin-ling-pai seperti biasa."

Mendengar ini, semua murid bersorak gembira sekali karena berita ini merupakan berita baik.

Kui Hong mencari dengan matanya dan akhirnya ia melihat pemuda tinggi besar bermuka putih yang bernama Tang Cun Sek itu, murid Cin-Iing-pai yang baru dan disuka oleh kakeknya, dan yang menurut kakeknya amat lihai sekali karena sebelum masuk menjadi anggauta Cin-ling-pai telah memiliki banyak macam ilmu silat yang tinggi.

Ia melihat pemuda itu di sudut, turut pula bertepuk tangan dengan para murid lain.

Tiba-tiba seorang murid lain yang berdiri di dekat Tang Cun Sek murid bertubuh kurus yang dikenal oleh Kui Hong sebagai seorang murid lama, terhitung suhengnya, berusia tiga puluh lima tahun bangkit berdiri dan berkata dengan suara nyaring.

"Kami gembira sekali mendengar berita itu, Cia-Sumoi, akan tetapi kami pernah mendengar bahwa akan diadakan pemilihan ketua baru untuk Cin-ling-pai. Sampai di mana kebenaran berita itu?"

Kui Hong kembali bertemu pandang dengan Tang Cun Sek dan ia melihat betapa pemuda itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian, seolah-olah tertarik sekali dan ingin benar mendengar jawabannya atas pertanyaan itu.

Gadis itu tersenyum.

Tentu saja para murid itu sudah mendengar akan hal ini, karena bukankah kakeknya juga mendengar?

Ia mengangguk dan memandang kesekeliling.

"Memang benar, ayahku sudah memberitahu pula kepadaku bahwa dalam waktu dekat ini akan diadakan pesta di Cin-ling-pai, pertama untuk merayakan hari ulang tahun ke tujuh puluh dari kakekku."

"Hidup dan panjang umur lo-pangcu!"

Terdengar para murid Cin-ling-pai berseru untuk menghormati ketua lama yang akan merayakan ulang tahunnya itu.

"Dan kedua kalinya, memang ayahku berniat untuk mengangkat seorang ketua Cin-ling-pai yang baru. Hal ini adalah karena ayah dan ibuku hendak pergi merantau dan tidak baik kalau Cin-ling-pai dibiarkan tanpa ketua."

Sambung Kui Hong.

"Kenapa mesti susah-susah mencari ketua baru? Nona Cia Kui Hong cukup lihai dan pantas menjadi pengganti ketua!"

Terdengar teriakan seorang murid dan ucapan ini kembali mendapat sambutan sorak-sorai, tanda bahwa sebagian besar dari para murid itu setuju kalau Kui Hong menjadi ketua Cin-ling-pai.

Mereka sudah melihat kelihaian Kui Hong dan juga merasa senang sekali kalau ketua mereka seorang gadis yang demikian cantik dan gagah perkasa!

Kui Hong memperhatikan wajah Tang Cun Sek, akan tetapi, pemuda tinggi besar yang bermuka putih itu kelihatan tenang saja, bahkan tersenyum dan mengangguk-angguk tanpa menyatakan setuju, akan tetapi juga tidak menentang.

Wajah Kui Hong yang menjadi merah.

"Aih, para sute dan suheng ini ada-ada saja. Aku hanyalah seorang wanita, bagaimana dapat menjadi seorang ketua yang menghadapi banyak tantangan dan persoalan? Aku paling tidak suka dengan kesibukan, apa lagi kalau harus mempergunakan otak memikirkan banyak persoalan. Aku ingin bebas. Kurasa Cin-ling-pai memiliki cukup banyak murid yang pandai dan pantas untuk menjadi ketua, kalau memang ayah menghendaki adanya seorang ketua baru."

Berkata demikian, kembali Kui Hong melayangkan pandang matanya kepada Tang Cun Sek yang masih diam saja, tidak membuat tanggapan apapun.

"Sudahlah, kita menanti datangnya saat itu dan kita lihat saja nanti. Bagaimanapun juga, seorang calon ketua Cin-ling-pai haruslah benar-benar seorang yang selain pandai ilmu silat Cin-ling-pai juga bijaksana. Tentu kepandaiannya itu akan diuji lebih dulu, dan kurasa para susiok, dan pemuka Cin-ling-pai juga sudah siap untuk menghadapi peristiwa besar itu. Sekarang, siapa lagi yang ingin berlatih silat dengan aku?"

Para murid Cin-ling-pai itu dengan bergembira bergantian maju dan berlatih silat dengan gadis puteri ketua itu yang ternyata pandai dalam semua ilmu silat perkumpulan mereka.

Dan Kui Hong tidak segan-segan untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada mereka dengan hati tulus.

Demikianlah, semenjak Kui Hong pulang ke Cin-ling-pai, banyak di antara para murid memperoleh kegembiraan baru dan mereka mulai rajin lagi berlatih silat.

Sementara itu, Cia Hui Song sibuk mengirim surat undangan kepada para tokoh pendekar, pimpinan perkumpulan persilatan besar, untuk menghadiri pesta yang akan diadakan dengan dua peristiwa penting, Yaitu pertama untuk merayakan hari ulang tahun ayahnya yang ke tujuh puluh tahun, dan ke dua untuk mengadakan pemilihan ketua baru dari Cin-ling-pai dengan disaksikan oleh para tokoh yang hadir.

Dan tanpa diketahui orang lain kecuali ketua Cin-ling-pai itu dan anak isterinya, pesta itupun diam-diam diadakan untuk merayakan pertemuan dan bersatunya keluarga mereka setelah berpisah batin selama kurang lebih empat tahun lamanya.

Setelah mengirim kan surat-surat undangan, Cin-ling-pai sibuk membuat persiapan menyambut datangnya hari baik itu dan tempat-tempat darurat dipersiapkan untuk menampung para tamu.

Cin-ling-pai adalah sebuah perkumpulan besar yang sudah terkenal sekali.

Keluarga Cia yang sejak turun temurun memimpin Cin-ling-pai juga dikenal sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa, Juga para murid perkumpulan ini belum pernah ada yang melakukan penyelewengan sehingga nama Cin-ling-pai dihormati dan disegani dunia kang-ouw, ditakuti golongan hitam dan dikagumi para pendekar.

Oleh karena, itu, para tokoh persilatan yang menerima undangan dari Cin-ling-pai, memerlukan datang untuk memberi selamat kepada kakek Cia Kong Liang, juga untuk menyaksikan pemilihan ketua baru yang tentu akan menarik sekali.

Seperti sudah lajim dilakukan di kalangan persilatan, penggantian ketua selalu diramaikan dengan ujian ilmu silat, bahkan tidak jarang terjadi adu ilmu dalam kesempatan itu.

Juga berita bahwa Cin-ling-pai akan mengangkat seorang ketua di antara para murid, bukan keturunan langsung dari ketua yang sekarang, merupakan hal yang menarik bagi para tokoh kang-ouw.

Jarang di antara mereka yang menerima undangan tidak datang hadir .

Pada hari yang ditentukan, para tamu berdatangan mendaki Gunung Cin-ling-san.

Para murid kepala Cin-ling-pai menyambut mereka dengan sikap hormat dan mereka dipersilakan masuk ke dalam taman yang luas di belakang rumah induk.

Taman itu memang dipersiapkan untuk pesta ini.

Sebuah taman luas dan kini telah dihias dan kursi-kursi berpencaran di antara tanaman bunga.

Di tengah taman yang lapang dibangun sebuah panggung dan pihak tuan rurnah duduk di deretan kursi yang ditaruh di sudut, menghadap ke arah semua tamu yang duduk disetengah lingkaran menghadap ke panggung.

Ternyata Cia Hui Song, ketua Cin-ling-pai tidak ingin membuat pesta besar-besaran.

Yang diundang tidak banyak.

Para tamu yang sudah datang semua itu hanya berjumlah kurang lebih seratus lima puluh orang, terdiri dari bermacam golongan, tokoh-tokoh persilatan, pimpinan perkumpulan silat, dan orang-orang penting dalam dunia persilatan.

Biarpun tamu yang diundang tidak banyak, namun mereka mewakili tokoh-tokoh terpenting dan suasana cukup meriah karena Cin-ling-pai mendatangkan rombongan musik, nyanyian dan tari yang kenamaan, juga mendatangkan koki yang sudah berpengalaman.

Tentu saja yang diundang itu hanyalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang tinggal di daerah Propinsi Shensi saja, terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti Sian, Han-cung, Pao-ci, Yen-an dan sebagainya.

Namun, semua perkumpulan persilatan besar sudah terwakili oleh wakil masing-masing yang terdapat di Propinsi Shensi seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, dan Kun-lun-pai karena kebetulan sekali di propinsi ini terdapat murid-murid pandai dari perkumpulan besar itu yang mewakili perkumpulan masing-masing.

Para tamu itu bergiliran memberi selamat kepada kakek Cia Kong Liang yang duduk di sudut panggung.

Karena sudah bertahun-tahun dia selalu mengeram diri di dalam kamarnya, bersamadhi, maka kakek inipun merasa lemah kalau terlalu lama berdiri, maka dia menyambut penghormatan para tamu sambil duduk.

Puteranya, Cia Hui Song atau ketua Cin-ling-pai, berdiri di sebelah kanannya dan dialah yang membalas setiap ucapan selamat para tamu itu dengan penghormatan, mewakili ayahnya yang hanya duduk sambil tersenyum dan mengangguk-angguk terhadap setiap para tamu yang menghaturkan selamat kepadanya.

Setelah memberi kesempatan kepada para tamu untuk memberi selamat kepada kakek Cia Kong Liang.

Cia Hui Song lalu memberi ucapan selamat datang kepada para tamu dan pestapun dimulailah dengan meriah.

Rombongan pemain musik, penari dan penyanyi mulai memperlihatkan kemahiran mereka, dan taman itupun penuh dengan senyum dan tawa diantara mengalirnya arak dan anggur harum sebagai teman hidangan yang serba lezat karena dibuat oleh koki yang pandai.

Para tamu makan minum sambil mengobrol dengan gembira, ada pula yang makan minum sambil menikmati tontonan yang menarik, yaitu tari-tarian dan nyanyian yang dilakukan para gadis cantik.

Mereka semua bergembira, terutama sekali karena mereka tahu bahwa setelah makan minum, mereka akan disuguhi tontonan yang mereka nanti-nantikan, bahkan yang mendorong mereka untuk hadir dalam pesta itu, ialah pemilihan ketua baru dari Cin-ling-pai.

Para tamu muda tiada hentinya mengerling ke arah panggung di mana duduk seorang gadis yang amat menarik perhatian mereka, Apa lagi ketika mereka mendengar bahwa gadis yang cantik jelita dan gagah itu bukan lain adalah puteri ketua Cin-ling-pai!

Nama Cia Kui Hong sudah banyak dikenal orang kalangan persilatan karena gadis ini termasuk seorang di antara para pendekar yang telah ikut membasmi pemberontakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo.

Apa lagi merekapun mendengar bahwa gadis cantik dan gagah perkasa itu, yang usianya sudah sembilan belas tahun, bagaikan setangkai bunga mawar sedang mekar mengharum dengan indahnya, belum menikah, bahkan belum bertunangan!

Setelah pesta makan minum selesai, Cia Hui Song lalu bangkit dan melangkah maju ke tengah panggung, menghaturkan terima kasih dan memberitahu kepada para tamu bahwa kini Cin-ling-pai hendak mengadakan pemilihan ketua baru dan dia mengharap agar para tamu suka menjadi saksi.

"Harap Cia-pangcu (Ketua Cia) suka memberitahu kepada kami mengapa pangcu hendak mengadakan pemilihan ketua baru? Bukankah pangcu ketuanya dan selama dalam bimbingan pangcu, Cin-ling-pai memperoleh banyak kemajuan?"

Terdengar seorang tamu berseru dan para tamu lainnya mengangguk menyatakan persetujuan mereka dengan pertanyaan itu karena memang rata-rata mereka merasa heran akan pemilihan ketua Cin-ling-pai secara tiba-tiba ini, pada hal ketuanya masih muda dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Mendengar pertanyaan ini, Hui Song tersenyum ramah dan mengangguk.

Dia memang sudah mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan seperti itu.

"Harap cu-wi (anda sekalian) tidak salah sangka. Sesungguhnya, tidak terjadi sesuatu yang aneh dalam perkumpulan kami dan pemilihan ketua baru ini wajar saja. Tidak lain karena saya bersama isteri ingin merantau dan karena merasa tidak baik meninggalkan Cin-ling-pai tanpa seorang ketua, maka sebelum pergi kami hendak mengadakan pemilihan ketua baru. Kami sengaja memilih hari ini agar ada cu-wi yang dapat menjadi saksi."

Keterangan Cia Hui Song ini agaknya dapat diterima karena tidak ada lagi diantara para tamu yang mengajukan pertanyaan.

Kemudian, Cia Hui Song menyerahkan pimpinan untuk pemilihan ketua baru itu kepada ayahnya.

Baru sekarang Cia Kong Liang yang sudah tua itu nampak bersemangat setelah puteranya menyerahkan pimpinan kepadanya.

Dia masih tetap duduk di atas kursinya, akan tetapi suaranya terdengar lantang ketika dia berkata.

"Semua murid dan anggota Cin-ling-pai tidak terkecuali, harap berkumpul di dekat panggung!"

Berkumpullah semua murid Cin-ling-pai, bahkan mereka yang tadinya bertugas jaga, atau ikut melayani tamu, ikut pula berkumpul.

Setelah semua murid berkumpul dekat panggung, menempati bagian belakang panggung agar tidak menghalangi pandangan para tamu yang duduk di kursi menghadap panggung, ketua lama Cia Kong Liang berkata lagi, nada suaranya tegas dan berpengaruh.

"Sekarang dimulai tahap pertama, yaitu para murid diberi kesempatan untuk mengajukan calon-calon yang mereka pilih!"

Semenjak ada pernyataan ketua Cin-ling-pai bahwa akan diadakan pemilihan ketua baru, telah terjadi semacam persaingan di antara para murid Cin-ling-pai.

Di satu pihak, ada yang memilih Gouw Kian Sun untuk menjadi ketua.

Gouw Kian Sun ini berusia hampir empat puluh tahun, dan dialah yang dapat dikata murid Cin-ling-pai terpandai di waktu itu.

Dia adalah sute dari Cia Hui Song, atau murid dari Cia Kong Liang dan murid ini telah menguasai semua ilmu silat Cin-ling-pai.

Bahkan dialah yang selama ini mengurus sebagian besar tugas di Cin-ling-pai ketika Hui Song bertapa di makam isterinya yang ke dua dan Cia Kong Liang mengeram diri di dalam kamarnya.

Oleh Cia Hui Song dia diangkat pula menjadi pembantu utama, Gouw Kian Sun ini seorang yang tidak mempunyai keluarga, tidak ada orang tua dan biarpun usianya sudah hampir empat puluh tahun, dia tidak menikah.

Orangnya rajin, pendiam, setia kepada Cin-ling-pai, bertanggung jawab dan pendiam.

Semua murid tingkat atas maklum belaka bahwa Gouw Kian Sun memiliki ilmu kepandaian silat yang menonjol dan hanya berada di bawah tingkat kepandaian ketua sendiri!

Karena itu, maka sebagian murid memilih dan mengajukan dia sebagai calon ketua.

Akan tetapi sebagian pula memilih Tang Cun Sek!

Hal ini adalah karena mereka itu percaya akan kelihaian Tang Cun Sek yang menguasai banyak ilmu silat selain ilmu-ilmu Cin-ling-pai dan mereka menganggap bahwa kalau Cun Sek menjadi ketua, tentu mereka akan dapat mempelajari ilmu-ilmu silat yang baru.

Selain itu, juga Tang Cun Sek yang pendiam itu menarik perhatian, terutama setelah para murid tahu bahwa Tang Cun Sek agaknya disayang oleh ketua lama, yaitu kakek Cia Kong Liang!

Sebelum Kui Hong pulang ke Cin-ling-san, para murid terbagi menjadi dua kelompok yang memilih dua orang ini, akan tetapi setelah gadis itu pulang, banyak di antara para murid yang condong memilih gadis puteri ketua itu menjadi pangcu (ketua) yang baru!

Maka, ketika kakek Cia Kong Liang menyuruh para murid memilih dan mengajukan calon ketua terdengarlah teriakan-teriakan yang menyebut tiga nama.

"Gouw Kian Sun!"

"Tang Cun Sek!"

"Nona Cia Kui Hong...!"

Demikianlah terdengar para murid meneriakkan nama calon masing-masing.

Mendengar disebutnya nama Cia Kui Hong itu, Cia Hui Song dan isterinya, Ceng Sui Cin, saling pandang.

Mereka tidak menyangka bahwa ada sebagian murid yang memilih puteri mereka sebagai calon ketua baru!

Akan tetapi karena mereka berada pada suatu upacara pemilihan, tentu saja mereka tidak dapat menyatakan sesuatu dan suara dari para murid pada saat seperti itu mempunyai hak dan kekuasaan.

Mereka hanya memandang kepada puteri mereka yang juga kelihatan terkejut mendengar namanya disebut-sebut sebagai calon ketua!

Akan tetapi iapun hanya tersenyum saja karena merasa tidak enak kalau menolak begitu saja.

Iapun sudah tahu akan peraturan pemilihan seperti ini, harus tunduk kepada suara banyak, dan yang berhak menentukan adalah suara terbanyak.

Kalau ia menyatakan penolakannya, sama saja dengan melanggar peraturan yang sudah diadakan oleh perkumpulannya sendiri, atau sama saja dengan mengkhiat hati Cin-ling-pai.

Namun, gadis yang cerdik ini diam-diam membayangkan bagaimana kalau ia menjadi ketua, terikat oleh tugas dan kewajiban.

Diam-dim ia merasa ngeri dan alam benaknya telah diaturnya bagaimana agar ia dapat mengatasi hal itu.

Iapun sudah mengenal Gouw Kian Sun yang dipanggilnya su-siok, seorang yang setia epada Cin-ling-pai, pandai dan juga bijaksana.

Dan dara inipun tahu bahwa calon ke dua, Tang Cun Sek, adalah orang yang didukung oleh kakeknya, juga mempunyai banyak pendukung di antara para murid Cin-ling-pai, dan biarpun ia sendiri belum membuktikan, ia mendengar bahwa Tang Cun Sek adalah orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Bahkan menurut keterangan kakeknya, pemuda tinggi besar bermuka putih itu memiliki tingkat kepandaian silat yang tidak berada di bawah tingkat ayahnya atau ibunya!

Sungguh hal ini sukar untuk dapat dipercayanya.

Ayahnya adalah murid dari mendiang Siangkiang Lojin, seorang di antara Delapan Dewa, sedangkan ibunya adalah puteri tunggal Pendekar Sadis, kong-kongnya yang sakti dan neneknya yang juga tidak kalah saktinya!

Kalau benar Tang Cun Sek ini memiliki tingkat kepandaian seperti ayahnya atau ibunlya, tentu dia lihai bukan main dan mudah diduga bahwa tingkat kepandaian susioknya, Gouw Kian Sun yang menjadi calon pertama itu tidak akan mampu mengalahkannya.

Tentu saja diam-dlam Kui Hong condonlg memilih susioknya yang sudah dikenal benar wataknya.

Setelah ia bicara dengan ayah ibunya tentang Tang Cun Sek, ternyata bahwa agaknya ayah ibunya juga tidak begitu setuju kalau orang ini menjadi ketua baru, akan tetapi ayah ibunya juga merasa sungkan terhadap kakeknya.

"Kami sendiri belum pernah membuktikan sampai di mana kelihaiannya,"

Demikian antara lain Cia Hui Song menjawab pertanyaan puterinya tentang Tang Cun Sek.

"Akan tetapi ketika dia mohon menjadi murid Cin-ling-pai, sikapnya amat baik dan tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Dan dia memang berbakat sekali karena semua ilmu silat Cin-ling-pai, yang bagaimana sukarpun, dapat dikuasainya dengan baik. Dan diapun amat tekun belajar, bahkan paling menonjol dalam hal ketekunannya."

"Dan bagaimanapun juga, harus kami akui bahwa sikapnya amat baik. Dia pendiam, tidak banyak cakap, dan tidak banyak ulah, bahkan rajin pula bekerja. Tidak ada alasan bagi kami untuk merasa kecewa atau tidak suka kepadanya."

"Dan agaknya memang ayah amat suka kepada pemuda itu. Entah mengapa kakekmu itu sering memanggilnya, dan bahkan hanya Tang Cun Sek yang diperkenankan memasuki pondoknya, kemudian bahkan mengharuskan murid itu yang melayani kakekmu."

Kata Hui Song.

"Ayah dan ibu, agaknya kakek sudah condong memilih dia sebagai ketua baru, bahkan kakek pernah mengatakan kepadaku bahwa murid itu patut menjadi jodohku. Hemm, agaknya kakek sudah suka bukan main kepada Tang Cun Sek itu."

Ayah dan ibunya saling pandang dan tersenyum.

"Tentang itu, terserah kepadamu, anakku,"

Kata Ceng Sui Cin.

"Ayahmu dan aku memang sudah ingin sekali mempunyai mantu dan cucu, akan tetapi tentang jodohmu, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pilihanmu. Andaikata kakekmu, ayah dan ibumu sudah menyukai seorang calon suamimu, kalau engkau sendiri tidak suka dan tidak setuju, siapapun tidak akan dapat memaksamu."

Mendengar ucapan ibunya itu, Kui Hong lalu merangkul dan mencium pipi ibunya dengan hati yang girang dan terharu.

Ucapan ibunya itu saja sudah menunjukkan betapa besarnya cinta kasih ayah dan ibunya kepadanya.

"Terima kasih, ibu. Semoga saja aku akan menemukan seorang jodoh yang akan menyenangkan hati kita semua, termasuk hati kakek pula."

Kini hati Kui Hong merasa tidak enak.

Yang diajukan oleh para murid Cin-ling-pai hanya dua orang saja, tiga dengannya.

Dan di antara dua orang itu, agaknya Tang Cun Sek yang lebih unggul.

Apakah ia harus memperebutkan kedudukan ketua dengan Tang Cun Sek?

Pada hal, ia sama sekali tidak ingin menjadi ketua!

Membiarkan Tang Cun Sek menjadi ketua Cin-ling-pai yang baru?

Hal inilah yang diragukan, karena ia belum tahu benar bagaimana watak orang baru itu.

Bahkan ayah dan ibunyapun belum mengenal wataknya dengan baik.

Ia mendekati ibunya dan berbisik.

"Ibu, bagaimana ini? Aku tidak ingin menjadi ketua. Apakah kita harus membiarkan Cun Sek itu menjadi ketua baru? Apakah susiok Gouw Kian Sun mampu mengalahkannya dalam ujian ilmu silat?"

Ibunya juga berbisik kembali kepadanya.

"Dengar, Kui Hong. Terus terang saja, aku masih belum percaya kepadanya. Kalau memang dia seorang murid yang baik, tentu dia tidak mengandalkan kepandaian dari luar untuk merebut kemenangan dan menduduki jabatan ketua! Tentu dia akan mengalah dan membiarkan susiokmu Gouw Kian Sun untuk menjadi ketua baru. Maka, lihat saja baik-baik dan kalau perlu engkau harus menjadi penghalang agar dia tidak menjadi ketua dengan jalan kekerasan atau mempergunakan kepandaian silat yang datang dari luar Cin-ling-pai. Mengertikah engkau?"

Kui Hong mengangguk dan pada saat itu terdengar suara kakek Cia Kong Liang, lantang berwibawa.

"Apakah hanya tiga orang itu yang dijadikan calon oleh para murid?"

Terdengar para murid Cin-ling-pai menjawab berbareng seperti sarang lebah diusik, semua membenarkan pertanyaan ketua lama itu.

Akan tetapi tiba-tiba di antara para tamu, nampak seorang laki-laki bangkit berdiri dari kursinya.

Dia seorang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, dan dia adalah seorang di antara para wakil Bu-tong-pai.

"Maaf, Cia Lo-cian-pwe (orang tua gagah Cia). Bolehkah kami mengajukan pertanyaan karena walaupun bukan anggauta Cin-ling-pai namun kami hadir disini sebagai saksi."

Kakek Cia Kong Liang tersenyum mendengar pertanyaan itu.

"Tentu saja boleh. Silakan!"

"Lo-cian-pwe, apakah yang berhak menjadi calon ketua hanya murid atau anggauta Cin-ling-pai saja? Bagaimana kalau ada orang luar yang hendak masuk menjadi calon dan menghadapi ujian, ingin menjadi ketua Cin-ling-pai yang baru?"

Kakek Cia Kong Liang memperlebar senyumnya.

"Sungguh aneh pertanyaan itu, orang muda yang gagah. Kurasa tidak ada perkumpulan silat di dunia ini yang akan membolehkan orang luar menjadi ketua mereka. Dan kamipun tidak terkecuali. Tentu saja yang berhak menjadi calon ketua hanyalah seorang murid Cin-ling-pai."

"Maaf, Lo-cian-pwe,"

Kata lagi orang itu.

"Sudah bertahun-tahun kami mengenal Cin-Iing-pai, dan banyak murid-murid utama Cin-ling-pai kami kenal sebagai pendekar-pendekar budiman. Saudara Gouw Kian Sun juga kami kenal sebagai seorang Cin-ling-pai yang gagah perkasa dan sudah selayaknya kalau dia terpilih menjadi calon ketua. Juga nona Cia Kui Hong, sudah sepatutnya pula menjadi calon karena ia adalah seorang puteri Cia Pang-cu. Akan tetapi orang ke tiga yang namanya disebut tadi, Tang Cun Sek, sama sekali tidak kami kenal. Apakah dia seorang anggota Cin-ling-pai?"

Mendengar pertanyaan ini, berkerut kening Tang Cun Sek dan hanya Kui Hong, yang agaknya memperhatikan perubahan pada wajahnya.

Gadis itu melihat betapa sinar mata Cun Sek seperti mengeluarkan api ditujukan kepada si pembicara.

"Tang Cun Sek memang seorang anggota baru,"

Kata kakek Cia Kong Liang.

"Baru empat tahun dia menjadi murid Cin-ling-pai, maka diapun berhak untuk menjadi calon ketua."

"Empat tahun?"

Orang Butong-pai itu berseru heran.

"Lo-cian-pwe, bagaimana mungkin seorang murid yang baru empat tahun mempelajari ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, dapat diangkat menjadi ketua? Tentu ilmu silatnya belum ada artinya sama sekali!"

"Tidak biarpun dia baru empat tahun menjadi murid Cin-ling-pai, namun sebelumnya dia telah menguasai banyak macam ilmu silat tinggi. Kalau dia tidak memillki kepandaian tinggi, bagaimana mungkln dia dipilih?"

Agaknya kakek itu ingin menyudahi percakapan itu, maka diapun segera berseru dengan suara lantang.

"Tiga orang calon yang terpilih supaya maju dan naik ke atas panggung!"

Yang muncul lebih dahulu adalah Tang Cun Sek.

Karena seperti para murid Cin-ling-pai lainnya diapun berdiri di bawah panggung maka kini dia meloncat ke atas panggung yang tingginya sekepala orang itu.

Agaknya dia memang hendak memperlihatkan kepandaiannya karena ketika dia meloncat, seperti terbang saja tubuhnya melayang naik jauh lebih tinggi dari panggung itu, berjungkir balik tiga kali sebelum dia turun ke atas panggung.

Agaknya untuk minta maaf atas perbuatannya yang seperti memamerkan kepandaian ini, begitu kedua kakinya turun, dia langsung menjatuhkan diri berlutut di depan kakek Cia Kong Liang, memberi hormat kepada kakek yang terhitung kakek gurunya itu.

Cia Kong Liang memandang dengan wajah berseri.

"Cun Sek, bangkitlah dan berdirilah di tengah panggung agar dikenal oleh semua tamu."

Akan tetapi Cun Sek tidak segera bangkit berdiri, melainkan cepat memberi hormat kepada Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin yang disebutnya Suhu dan Subo.

Barulah dia bangkit dan mundur sampai ke tengah panggung, kemudian membalik dan menghadap ke arah para tamu sambil menjura dan bersoja (memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap depan dada).

Para murid yang menjagoinya bertepuk tangan menyambut kehadiran orang muda tinggi besar ini.

Para tamu yang melihat seorang pemuda berusia tiga puluh tahunan, bertubuh tinggi besar bermuka putih, tampan dan gagah, matanya mencorong, diam-diam memandang kagum.

Sementara itu, Gouw Kian Sun juga meloncat ke atas panggung, meloncat biasa saja lalu menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Suhu dan suhengnya.

Berbareng dengan itu, Kui Hong juga melangkah maju, berlutut di dekat susioknya.

"Suhu dan suheng. Sesungguhnya, teecu tidak berani maju dengan lancang untuk menjadi calon ketua, akan tetapi teecu didorong oleh para anggauta Cin-ling-pai yang memilih teecu."

Kui Hong yang berlutut di sampingnya cepat berkata, cukup keras untuk didengar semua orang.

"Susiok, mengapa begitu? EngKau lah satu-satunya orang yang tepat untuk menggantikan ayah kalau ayah mengundurkan diri!"

"Kian Sun! Kui Hong, bangkitlah dan berdiri di tengah panggung untuk memperkenalkan diri kepada para tamu!"

Terdengar kakek Cia Kong Liang berseru dengan suara nyaring.

Kian Sun dan Kui Hong bangkit dan berdiri di tengah panggung seperti yang dilakukan Cun Sek, dan para murid Cin-ling-pai yang mendukung mereka menyambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai.

Kembali terdengar suara kakek Cia Kong Liang yang menyuruh tiga orang calon yang terpilih itu untuk duduk dan dengan lantang dia memberitahu kepada para tamu dan para murid Cin-ling-pai bahwa kini akan dimulai pemilihan ketua baru.

Pertama-tama, ketiga orang calon itu diharuskan memperlihatkan keahlian mereka dalam Ilmu Silat Cin-ling-pai untuk dinilai.

Para penilainya, selain kakek Cia Kong.

Liang sendiri, juga Cia Hui Song sebagai pangcu, dan tujuh orang murid tertua yang menjadi suheng dan sute ketua.

"Calon ketua Tang Cun Sek, perlihatkan kemampuanmu!"

Terdengar kakek Cia Kong Liang berseru.

Pemuda tinggi besar itu bangkit berdiri, berjalan ke tengah panggung, memberi hormat ke arah kakek itu bersama para wasit, kemudian menjura ke arah para tamu dan mulailah dia bersilat.

Dia menggerakkan tubuhnya dan memainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun, sebuah di antara ilmu-ilmu silat yang ampuh dari Cin-ling-pai.

Ilmu ini memang indah sekali, dan kini dimainkan dengan gerakan sempurna, juga dengan pengerahan tenaga sakti yang membuat setiap gerakan tangan atau kaki pemuda itu mengeluarkan suara angin mencuit, dan terasa oleh para tamu betapa ada angin menyambar-nyambar dari arah panggung.

Diam-diam Kui Hong sendiri terkejut bukan main karena ia dapat pula merasakan sambaran angin itu dan tahulah gadis ini bahwa Tang Cun Sek memang seorang yang amat tangguh!

Ia mengikuti semua gerakan pemuda itu dan biarpun permainan Silat Thai-kek Sin-kun itu amat hebat, namun ia masih dapat melihat suatu kekakuan atau ketidakwajaran, Menunjukkan bahwa ilmu silat itu sudah "berbau"

Ilmu silat lain yang menjadi dasar gerakan pemuda itu.

Hanya dalam pandangan mata seorang ahli sajalah hal ini akan dapat nampak.

Ia tahu bahwa para wasit yang terdiri dari kakeknya, ayahnya dan para supek dan susioknya, yang kesemuanya adalah ahli-ahli Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun, tentu akan dapat melihatnya pula.

Hanya saja, kenyataan ini dapat menimbulkan dua macam tanggapan, pertama adalah tanggapan bahwa Thai-kek Sin-kun yang dimainkan pemuda itu menjadi bertambah indah dan ampuh.

Dan diam-diam Kui Hong harus mengakui bahwa ilmu silat Thai-kek Sin-kun yang dimainkan pemuda itu memang hebat sekali, biarpun ia sendiri tidak melihat kemajuan dalam segi keindahannya karena "berbau"

Dasar ilmu silat lain, namun gerakannya cepat dan mengandung angin pukulan yang hebat.

Pemuda ini akan menjadi lawan yang amat tangguh, pikirnya dan kini dia percaya akan keterangan kong-kongnya bahwa Cun Sek ini memiliki tingkat kepandaian yang sebanding dengan ayah dan ibunya.

Harus diakuinya sendiri bahwa andaikata ia belum digembleng secara keras oleh kakeknya dan neneknya di Pulau Teratai Merah, ia sendiri bukanlah tandingan anggota baru Cin-ling-pai ini.

Tiba-tiba Cun Sek merubah ilmu silatnya dan dia kini memainkan ilmu silat Thian-te Sin-ciang, satu di antara ilmu silat yang amat tangguh dari perguruan Cin-ling-pai.

Seperti juga Thai-kek Sin-kun tadi, ilmu inipun dalam pandangan Kui Hong berbau gerakan ilmu asing walaupun harus diakuinya bahwa gerakan-gerakan pemuda itu cepat sekali dan semua pukulannya mengandung tenaga yang kadang bertentangan, ciri khas ilmu silat Thian-te Sin-kun, tenaganya kadang keras kadang lunak.

Berturut-turut, Cun Sek memainkan sebagian dari ilmu-ilmu silat yang lain seperti San-in Kun-hwat, dan bahkan Im-yang Sin-kun yang merupakan ilmu simpanan dari ketua lama Cia Kong Liang.

Kini mengertilah Cia Hui Song dan isterinya bahwa diam-diam ayahnya telah mendidik pemuda itu dengan ilmu silat simpanan ini.

Bukan itu saja, bahkan yang terakhir, pemuda itu menghunus sebatang pedang.

Semua orang merasa silau ketika ada sinar emas berkilat dan pemuda itu sudah memainkan ilmu pedang Siang-bhok-kiam-sut, ilmu pedang yang paling rahasia dari Cin-ling-pai dan yang hanya diajarkan kepada murid-murid tingkat tertinggi saja!

Dan pedang yang dipergunakan itu bukan lain adalah Hong-cu-kiam, pedang yang dapat digulung, pedang pusaka milik kakek Cia Kong Liang.

Kembali Cia Hui Song dan isterinya, Ceng Sui Cin, saling pandang dan mereka mengerti bahwa pemuda ini benar-benar telah dipilih oleh ayah mereka.

Tentu kakek itu yang mengajarkan ilmu pedang itu dan memberikan pedang Hong-cu-kiam pula!

Kui Hong sendiri merasa betapa perutnya panas.

Ia adalah cucu tunggal dari kong-kongnya sebelum adik tirinya, Cia Kui Bu, terlahir.

Dan kong-kongnya itu tidak pernah meminjamkan pedang pusaka itu kepadanya!

Sekarang, tahu-tahu kakeknya telah memberikan atau meminjamkan pedang itu kepada pemuda ini.

Dan kembali ia mengerutkan alisnya, maklum benar betapa tangguhnya pemuda ini dengan pedang pusaka Hong-cu-kiam itu.

Semua tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia persilatan, mengangguk-angguk dan kagum ketika melihat betapa sinar emas itu bergulung-gulung mengelilingi tubuh pemuda itu yang telah lenyap ditelan gulungan sinar emas!

Tiba-tiba sinar itu lenyap dan nampaklah pemuda yang gagah itu berdiri tegak dengan pedang telah melingkari pinggangnya, memberi hormat ke empat penjuru dan disambut sorak sorai dan tepuk tangan dari para pendukungnya, juga dari sebagian para tamu yang merasa kagum.

Pemuda itu dengan anggunnya lalu berlutut memberi hormat kepada Cia Kong Liang, kemudian kepada Cia Hui Song dan isterinya, baru dia mundur di tepi panggung dan duduk bersila dengan sikap sopan.

Tang Cun Sek memang seorang pemuda yang pandai membawa diri.

Orangnya gagah, dengan wajah tampan ganteng berkulit putih, tubuhnya tinggi besar sehingga pantaslah dia menjadi seorang pendekar.

Kakek Cia Kong Liang nampak gembira melihat sambutan semua orang terhadap pemuda yang disukanya itu.

Dia menyukai Cun Sek memang, dan hal ini tidak dapat disalahkan.

Memang pemuda itu pandai sekali mengambil hati, bukan dengan menjilat-jilat, melainkan dengan sikapnya yang amat sopan dan baik.

Belum pernah selama menjadi murid Cin-ling-pai dia memperlihatkan sikap yang tercela.

Selain tampan dan gagah, juga dia pantas menjadi murid kebanggaan Cin-ling-pai, dan menurut penglihatan Cia Kong Liang pemuda itu pantas pula menjadi cucu mantunya, menjadi suami Cia Kui Hong!

Karena itulah maka selama ini dia sendiri menggembleng pemuda itu dengan ilmu-ilmu silat simpanannya, bahkan menyerahkan pedang pusakanya Hong-cu-kiam kepadanya.

Bukankah pemuda itu calon ketua Cin-ling-pai dan calon cucu mantunya?

Sudah sepatutnya mewarisi pedang pusakanya itu.

"Sekarang calon ketua Gouw Kian Sun, perlihatkan kemampuanmu!"

Terdengar kakek ini berkata.

Gouw Kian Sun adalah muridnya sendiri, murid Cin-ling-pai yang paling pandai tentu saja tanpa memperhitungkan Cun Sek.

Gouw Kian Sun maju, memberi hormat kepada Cia Kong Liang sebagai gurunya, kemudian kepada Cia Hui Song dan isterinya sebagai suheng dan juga ketua Cin-ling-pai, dan dengan sikap tenang diapun lalu melangkah ke tengah panggung.

Setelah memberi hormat kepada para penonton, diapun mulai bersilat.

Seperti juga yang dipertontonkan oleh Tang Cun Sek tadi,ia memainkan semua ilmu silat Cin-ling-pai walaupun tidak semua jurus dikeluarkan, hanya dipilih jurus-jurus yang paling baik saja.

Permainannya mantap dan menunjukkan kemahiran dan kematangan.

Walaupun kecepatannya tidak seperti yang dipertontonkan Cun Sek tadi, juga sambaran angin pukulannya tidak sedahsyat pemuda tadi, namun semua yang ahli dalam ilmu silat Cin-ling-pai maklum bahwa inilah ilmu silat Cin-ling-pai yang aseli.

Di sudut hatinya, kakek Cia Kong Liang sendiri harus mengakui bahwa permainan silat Gouw Kian Sun itu memang sudah mendekati kesempurnaan, gerakan-gerakannya mantap dan matang dan dia bukan tidak tahu bahwa gerakan silat Cun Sek tadi berbau percampuran gerakan silat asing.

Namun karena dia condong untuk memilih Cun Sek yang dipercayanya akan mampu memimpin Cin-ling-pai dengan baik dan memajukan perkumpulan itu, maka diapun memberi nilai lebih tinggi kepada pemuda itu.

Berbeda dengan Tang Cun Sek yang tadi menutup demonstrasi silatnya dengan permainan Ilmu Pedang Siang-bhok-kiam-sut (Ilmu Pedang Kayu Harum), kini Gouw Kian Sun menutup permainannya dengan permainan tongkat pasangan yang disebut Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga).

Dalam ilmu menggunakan senjata inipun gerakan Kian Sun mantap dan jelas dia merupakan seorang lawan yang amat tangguh.

Cia Hui Song sendiri diam-diam memuji kemajuan sutenya ini.

Ketika pria berumur empat puluh tahun itu berhenti bersilat, para pendukungnya bertepuk tangan memuji, termasuk Kui Hong yang bertepuk tangan paling keras dan panjang!

Secara terang-terangan gadis ini mendukung susioknya itu.

Akan tetapi, suara kong-kongnya sudah menyebut namanya dan dia diharuskan memperlihatkan kemampuannya bersilat sebagai seorang di antara tiga orang calon ketua yang dipilih oleh para anggota Cin-ling-pai.

"Kong-kong, haruskah aku maju pula? Bukankah sudah jelas bahwa ilmu silat susiok tadi jauh lebih baik dan aseli? Susiok Gouw Kian Sun yang paling cocok dan tepat untuk menjadi ketua Cin-ling-pai yang baru menggantikan ayah kalau ayah mengundurkan diri!"

Suaranya lantang didengar semua orang dan kakeknya mengerutkan kening.

"Cia Kui Hong,"

Kakeknya berkata dengan suara yang lantang pula.

"Menurut pemilihan para anggota, setiap calon harus maju dan memperlihatkan kemampuannya. Setelah itu baru diadakan pertandingan untuk menentukan siapa di antara para calon yang paling pandai sehingga tepat untuk menjadi ketua yang baru. Nah, perlihatkanlah kemampuanmu!"

Kui Hong menghela napas panjang.

Ia sudah mengenal watak kakeknya.

Keras hati.

Kakeknya ini sudah menganggap bahwa Tang Cun Sek yang paling tepat untuk menjadi ketua karena memang dianggapnya paling baik.

Dan agaknya kakeknya sudah demikian yakin akan kemenangan Tang Cun Sek!

Tidak, ia yang akan menentangnya, bukan menentang kehendak kakeknya, melainkan menggagalkan pemuda itu menjadi ketua Cin-ling-pai!

Kalau perlu, ia sendiri akan turun tangan dan menjadi pengganti ayahnya!

Tentu saja ia harus mampu mengalahkan Tang Cun Sek dan ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia maklum betapa lihainya pemuda pilihan kakeknya itu.

Kalau pemuda itu berhasil memenangkan pemilihan ketua dan menjadi ketua baru, tentu kakeknya akan melanjutkan niatnya menjodohkan pemuda itu dengannya.

Memang harus ia akui bahwa Cun Sek seorang pemuda yang tampan, gagah dan pandai ilmu silatnya, baik pula sikapnya.

Akan tetapi entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang tidak disukainya.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa dan apa sesuatu itu gerangan.

Ketika Kui Hong bangkit dan berjalan ke tengah panggung, para pendukungnya menyambutnya dengan tepuk tangan yangmeriah.

Juga para tamu banyak yang bertepuk tangan, terutama sekali para undangan.

Memang Kui Hong kelihatan cantik bukan main.

Ia mengenakan celana biru dan baju merah muda, dengan sabuk berwarna kuning keemasan.

Rambutnya digelung ke atas dan dihias tusuk sanggul dari emas berbentuk burung Hong dengan mata intan.

Mulutnya tersenyum manis sekali, matanya tajam bersinar.

Gadis berusia sembilan belas tahun ini bagaikan kembang sedang mekar semerbak mengharum.

Bukan hanya nampak cantik jelita, akan tetapi juga gagah sekali.

Ketika ia memberi hormat kepada para tamu, semua orang tersenyum dan yang tua mengangguk-angguk, yang muda bertepuk tangan.

Sepasang mata Cun Sek juga menyinarkan api penuh kagum, dan diam-diam dia membayangkan betapa akan senangnya kalau dia dapat menjadi ketua Cin-ling-pai dengan gadis jelita itu duduk di sampingnya sebagai isterinya!

Sambil mengamati gadis yang sejak kepulangannya ke Cin-ling-pai telah membuatnya tergila-gila itu, Tang Cun Sek mengenang keadaan dirinya dan riwayatnya sendiri.

Dia tidak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri.

Ketika dia sudah dapat mulai berpikir, dia mengajukan pertanyaan kepada ibunya mengapa dia memiliki she (nama keturunan) Tang, pada hal "ayahnya"

Seorang hartawan she Thio.

Ibunya dengan terus terang menceritakan bahwa ketika ibunya menikah dengan hartawan Thio, ia telah menjadi seorang janda yang masih amat muda, baru berusia dua puluh tahun, sedangkan Cun Sek berusia tiga tahun.

Ibunya melahirkan ketika berusia tujuh belas tahun, masih muda sekali.

Mengenai ayah kandungnya, dengan sepasang alis berkerut ibunya bercerita begini.

"Ayah kandungmu seorang she Tang. Namanya aku tidak tahu karena dia tidak pernah mengaku, akan tetapi dia seorang yang sakti, dan dia memperkenalkan julukannya sebagai Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah) dan akupun bukan isterinya. Dia... dia memaksaku dengan ancaman mati sehingga aku terpaksa melayaninya. Selama tiga bulan dia sering datang ke kamarku di malam hari dan setelah aku mengandung, diapun meninggalkan aku, dan hanya meninggalkan benda ini agar kelak engkau mengenalnya. Inilah benda itu,"

Demikian cerita ibunya sambil menyerahkan sebuah benda kecil yang selalu disimpan olehnya secara rahasia dan tak pernah terpisah dari tubuhnya.

Benda itu sebuah mainan berbentuk seekor kumbang merah terbuat dari emas dan permata.

Hanya itulah yang diketahuinya tentang ayah kandungnya.

"Orangnya tampan sekali, dan pandai merayu, tubuhnya sedang, akan tetapi dia seperti iblis, datang dan pergi seperti pandai menghilang saja,"

Demikian kata ibu kandungnya.

Sejak berusia tiga tahun, dia hidup di rumah gedung Thio Wan-gwe.

(Hartawan Thio) yang dipanggilnya ayah karena memang merupakan ayah tirinya.

Agaknya ayah tirinya tidak mau mengakuinya sebagai anak sendiri, sehingga ibunya terpaksa memberinya nama keturunan Tang, yaitu nama keturunan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita) yang juga she Tang.

Sebagai putera keluarga kaya raya, walaupun hanya anak angkat, dia hidup serba kecukupan, mewah dan dimanja.

Namun, sejak kecil Cun Sek memiliki kecerdikan yang lebih dari anak-anak biasa.

Dia mempelajari kesusasteraan dengan amat tekun, akan tetapi setelah berusia sepuluh tahun, dia mempergunakan banyak uang yang diperoleh dari ibunya untuk belajar ilmu silat!

Diam-diam dia menanam bibit dendam kebencian kepada orang yang oleh ibunya disebut Ang-hong-cu, ayah kandungnya sendiri karena orang itu setelah memperkosa ibunya dan ibunya mengandung dia, lalu meninggalkan ibunya begitu saja!

Karena ibunya selalu menuruti permintaannya, dan Cun Sek menghamburkan banyak sekali uang, dia dapat mempelajari banyak macam ilmu silat dan dia memang berbakat sekali sehingga dia dapat menguasai bermacam ilmu silat.

Akan tetapi, ada suatu kelemahan dalam diri pemuda yang cerdik dan berbakat, juga penuh semangat ini.

Semenjak berusia enam belas tahun, dia sudah mulai memperhatikan wanita.

Bukan sekedar memperhatikan, bahkan dia mulai terangsang kalau bertemu wanita cantik.

Ayah tirinya mempunyai lima orang selir dan di antara mereka, ada dua orang selir yang masih amat muda, berusia delapan belas tahun.

Dua orang selir ini mulai bermain mata dengan Cun Sek yang berusia enam belas tahun.

Hal yang sukar untuk dihindarkanpun terjadilah!

Cun Sek dan dua orang selir muda itu mulai bermain cinta.

Dua orang selir itu yang menjadi "guru"

Cun Sek dan membuat dia seolah-olah seekor kuda yang terlepas dari kendali, menjadi liar dan menjadi seorang pengumbar nafsu yang tidak ketulungan lagi!

Akhirnya, persaingan dan kebencian antara selir membuat hubungan itu diketahui oleh Thio Wan-gwe yang mendapat bisikan dari selir yang lain.

Dan Cun Sek tertangkap basah!

Ayah tirinya marah sekali dan Cun Sek diusirnya!

Pemuda inipun memiliki harga diri yang tinggi.

Merasa bahwa dia memang bukan anak kandung hartawan itu, maka diapun pergi sambil membawa banyak sekali emas permata yang diperoleh dari ibunya yang memanjakannya.

Mulailah Tang Cun Sek bertualang, bebas seperti seekor burung di udara!

Dengan hartanya yang banyak, dia mencari guru demi guru silat yang pandai, mempelajari pelbagai llmu silat, baik dari golongan putih maupun dari gerombolan hitam.

Disamping itu, diapun mengumbar nafsunya, berkecimpung dalam dunia kesenangan bersama wanita-wanita pelacur.

Dan diapun menjadi seorang kongcu hidung belang yang kaya raya dan yang menghambur-hamburkan uang untuk dilayani para wanita cantik dan menerima pelajaran silat dari guru-guru yang pandai.

Akhirnya diapun mulai bosan dengan pergaulannya dalam dunia pelacuran itu dan melanjutkan kehausannya akan ilmu silat sampai dia pergi mengunjungi guru-guru yang pandai di puncak-puncak gunung, mengangkat guru kepada siapa saja yang dia anggap memiliki kepandaian tinggi.

Tang Cun Sek, berkat pengetahuannya yang luas melalui bacaan, pandai membawa diri dan banyak sudah orang-orang pandai dunia persilatan menganggap dia sebagai seorang calon pendekar budiman maka merekapun tidak segan untuk mengajarkan ilmu silat mereka kepada pemuda ini.

Bahkan, ketika mendengar tentang Cin-ling-pai, Tang Cun Sek dalam usia dua puluh enam tahun datang menghadap pimpinan Cin-ling-pai untuk menjadi murid perkumpulan silat yang besar dan terkenal itu.

Demikianlah riwayat yang dikenang kembali oleh Tang Cun Sek ketika dia mengamati gadis cantik di panggung itu.

Tentu saja dia menyimpan riwayat ini sebagai rahasia pribadinya.

Dia memperkenalkan dirinya sebagai Tang Cun Sek seorang pemuda yatim piatu yang suka mempelajari ilmu silat tinggi, dan karena sikapnya memang amat baik, sopan dan halus, pandai membawa diri, pandai menyenangkan hati orang lain melalui sikap dan tutur sapanya, diapun diterima menjadi anggauta Cin-ling-pai dan ikut mempelajari ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai.

Demikian pandainya dia menyenangkan hati orang sehingga kakek Cia Kong Liang sendiri sampai terpikat dan berkenan mengajarkan ilmu-ilmu simpanan Cin-ling-pai kepada pemuda ini.

Kini Kui Hong sudah mulai bersilat.

Seperti dua orang calon sebelumnya, Kui Hong juga memainkan ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai.

Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena ia ingin melebihi Cun Sek dalam segala-galanya!

Dalam hal ilmu silat Cin-ling-pai, tentu saja sebagai keturunan ketua Cin-ling-pai, ia sudah menguasai semua ilmu dengan baik.

Akan tetapi dibandingkan dengan Gouw Kian Sun, ia tentu saja kalah matang karena susioknya itu sudah menguasai ilmu-ilmu itu selama puluhan tahun, dan terutama sekali karena setiap hari Gouw Kian Sun mempraktekkannya untuk melatih para murid Cin-ling-pai.

Akan tetapi, karena gadis ini baru saja langsung digembleng oleh kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah, maka ia memperoleh kemajuan hebat dalam hal sin-kang dan gin-kang sehingga gerakan tubuhnya bagaikan kilat menyambar-nyambar.

Kecepatan gerakannya melebihi kecepatan Cun Sek dan hal ini memang disengaja oleh Kui Hong untuk mengurangi kesan baik yang diperoleh Cun Sek dalam pameran silatnya tadi.

Tubuh gadis ini sukar diikuti pandangan mata.

Tubuhnya berkelebat-kelebat menjadi bayangan warna-warni, merah biru, kuning dan angin menyambar-nyambar ke semua penjuru karena dorongan tangan dan tendangan kakinya.

Para penonton sampai terpesona karena memang apa yang diperlihatkan Kui Hong itu amat indah dan amat hebat pula.

Cun Sek sendiri terpesona dan dia semakin tergila-gila kepada gadis itu.

Setelah memainkan beberapa macam ilmu silat Cin-ling-pai.

Kui Hong lalu mencabut sepasang pedang pemberian neneknya, yaitu Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang berwarna hitam sehingga nampak dua gulung sinar hitam.

Dan gadis ini segera memainkan kedua pedangnya itu dengan ilmu pedang Hok-mo Siang-kiamsut yang dipelajarinya dari neneknya!

Bukan main hebatnya ilmu pedang ini.

Terdengar suara mengaung-ngaung tinggi rendah dan diseling suara berdesing-desing dan yang nampak hanyalah dua gulungan sinar hitam yang menyeramkan dan dahsyat sekali.

Tidak aneh karena ilmu pedang ini adalah ilmu dari nenek gadis itu yang bernama Toan Kim Hong.

Di waktu mudanya, Toan Kim Hong ini sudah terkenal dengan menyamar sebagai seorang nenek berjuluk Lam Sin, termasuk seorang di antara tokoh-tokoh dan para datuk aneh di empat penjuru dunia!

Semua murid Cin-ling-pai memandang bingung.

Permainan sepasang pedang itu tidak mereka kenal sama sekali!

Biarpun amat hebat, namun jelas bukan ilmu silat Cin-ling-pai, maka mereka saling pandang dengan heran walaupun mereka merasa kagum sekali.

Baru dimainkan sendirian saja sudah dapat dilihat jelas betapa ampuh dan kuatnya ilmu sepasang pedang itu, membuat orang merasa jerih.

Setelah selesai bersilat pedang pasangan dan memberi hormat kepada penonton, semua tamu bertepuk tangan memuji.

Banyak di antara tamu yang tidak hafal akan ilmu-ilmu Cin-ling-pai dan mengira bahwa ilmu bermain sepasang pedang itupun merupakan ilmu dari Cin-ling-pai.

Melihat sambutan meriah yang diberikan para tamu kepada cucunya, Cia Kong Liang menggapai dan memanggil cucunya itu.

Setelah Kui Hong duduk di dekatnya, dia menegur.

"Kui Hong, kalau tidak salah, engkau memainkan ilmu pedang dari nenekmu di Pulau Teratai Merah! Itu bukan ilmu dati Cin-ling-pai!"

Teguran itu mengandung nada yang tidak senang.

Memang sejak dahulu tokoh Cin-ling-pai ini tidak begitu suka kepada Pendekar Sadis dan isterinya, terutama isteri Pendekar Sadis yang tadinya seorang datuk sesat!

Akan tetapi Kui Hong adalah seorang gadis yang keras hati pula, dan ia tidak akan mengalah terhadap siapapun juga kalau merasa bahwa ia benar.

Mendengar teguran kong-kongnya itu, iapun berkata, walaupun suaranya lirih, namun tegas.

"Kong-kong, siapapun tahu bahwa permainan Tang Cun Sek tadi tidak asli dan berbau ilmu silat dari luar, akan tetapi kong-kong tidak menegur atau mencelanya. Aku sengaja memperlihatkan Hok-mo Siang-kiam agar dia tahu bahwa akupun mempunyai ilmu lain di luar ilmu-ilmu Cin-ling-pai aseli."

Kakek itu mengenal watak cucunya ini, maka dia menghela napas panjang, lalu berkata lantang.

"Tiga orang calon ketua sudah memperlihatkan kepandaian masing-masjng! Ternyata ketiganya memiliki tingkat yang sudah tinggi dan matang dalam ilmu-iimu silat Cin-ling-pai. Oleh karena itu, untuk menentukan siapa yang paling pandai di antara mereka, akan diadakan pertandingan antara mereka. Pertama kali akan berhadapan calon pertama dan ke dua, yaitu Tang Cun Sek dan Gouw Kian Sun!"

Dua orang itu memberi hormat lalu menuju ke tengah panggung.

Sebelum pemilihan itu dimulai, mereka sudah menerima petunjuk dari ketua Cin-ling-pai bahwa pertandingan itu diadakan menurut pilihan kedua calon yang berhadapan, dengan tangan kosong ataukah dengan senjata.

Dan mengingat bahwa semua calon adalah anggota keluarga perguruan sendiri, maka tentu saja mereka harus dapat menjaga agar jangan sampai melukai lawan dengan parah, apa lagi sampai membunuhnya.

Pertandingan macam ini membutuhkan keahlian dan kemampuan yang mendalam, yaitu mengenai sasaran tanpa mendatangkan luka parah.

Dengan sikapnya yang memang selalu menyenangkan, Tang Cun Sek memberi hormat kepada lawannya yang terhitung susioknya sendiri, bahkan susiok ini pula yang lebih banyak membimbingnya dalam latihan ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai, kemudian berkata.

"Susiok, maafkan kalau hari ini teecu memberanikan diri menjadi calon lawan susiok karena terpaksa dipilih sebagai calon. Teecu menyerahkan kepada susiok cara apa yang susiok pilih."

Ucapan ini memang halus dan sopan, namun tidak urung mengandung nada menantang dan bahkan memandang rendah kepada sang paman guru sehingga pemuda itu bersikap mengalah dan mempersilakan susiok itu memilih cara pertandingan.

Dia seolah-olah hendak melayani saja.

Gouw Kian Sun memandang tajam, lalu menarik napas.

Diapun bukan seorang bodoh.

Dia tahu bahwa Suhunya, ketua lama, condong berpihak dan memilih pemuda ini, dan diapun tahu bahwa pemuda ini, sebelum menjadi murid Cin-ling-pai, telah memiliki ilmu silat yang tinggi.

Biarpun pada mulanya dia menaruh curiga dan tidak mengerti mengapa pemuda yang sudah pandai ini mau menjadi murid Cin-ling-pai, akan tetapi melihat betapa Suhunya menyayang pemuda ini, diapun menghilangkan kecurigaannya.

"Cun Sek, kita adalah orang sendiri, tidak perlu mempergunakan senjata. Engkau ataupun aku yang menjadi ketua, apa bedanya? Mari kita mulai, dengan tangan kosong saja."

"Tahan dulu!"

Tiba-tiba Cia Kong Liang berseru keras dan dia menyuruh seorang murid Cin-ling-pai mengambil dua batang mouw-pit (pena bulu) dan tinta bak.

Kemudian dia berkata kepada dua orang calon ketua itu.

"Agar lebih mudah menentukan siapa pemenangnya, kalian pergunakanlah mouw-pit yang sudah dicelup tinta untuk saling serang. Pada akhir pertandingan, siapa yang lebih banyak terkena goresan atau totokan hitam pada pakaiannya, dia yang kalah."

Baik Cun Sek maupun Gouw Kian Sun menerima baik perintah ini, apa lagi memang tidak akan enak terasa dalam hati kalau sampai mereka saling melukai.

Betapapun pandainya mereka, kalau sampai terjadi pertandingan yang seimbang baik kekuatan maupun kemahiran ilmunya, bukan tidak mungkin mereka takkan mampu mengendalikan diri dan kesalahan tangan melukai lawan.

Dengan mouw-pit mereka dapat menotok atau mencoret pada bagian tubuh yang tertutup pakaian, biarpun tidak menotok keras, cukup kalau sudah menodai bagian pakaian itu sebagai bukti bahwa mereka berhasil saling melukai.

Pertandingan itupun dimulai.

Karena mouw-pit itu hanya sejengkal panjangnya, dan dijepit di antara jari tangan yang terkepal, maka pertandingan itu lebih menyerupai pertandingan tangan kosong.

Mereka berdua kini berhadapan, kedua tangan terkepal dan menjepit mouw-pit di masing-masing tangan, memasang kuda-kuda yang sama, yaitu kuda-kuda dari ilmu silat Thian-te Sin-ciang.

"Silakan, susiok!"

Kata Cun Sek.

Ucapan ini juga nampaknya saja dia menghormati susioknya agar menyerang lebih dahulu, padahal mereka berdua sama tahu bahwa dalam hal pertandingan semacam ini, seperti halnya latihan saja karena masing-masing mempergunakan ilmu silat yang sama, siapa menyerang lebih dahulu memiliki titik kelemahan.

Gouw Kian Sun mengeluarkan seruan keras sebagai isarat penyerangannya dan Cun Sek mengelak sambil membalas dan mulailah keduanya serang menyerang mempergunakan ilmu silat Thian-te Sin-ciang.

Mereka bertanding dengan pengerahan tenaga dan kepandaian sehingga nampak seru sekali.

Mereka saling serang dan mengganti ilmu-ilmu silat mereka.

Bagi para ahti silat Cin-ling-pai, nampak betapa setiap kali lawannya mendesak dan dia berada dalam ancaman pukulan atau lebih tepat colekan mouw-pit, Cun Sek tidak segan-segan untuk mempergunakan suatu gerakan yang menyimpang atau bukan gerakan ilmu silat Cin-ling-pai.

Suatu gerakan reflek untuk menghindarkan diri dari serangan dan dalam gerakan ini, Secara otomatis ilmu yang lain dari ilmu-ilmu Cin-ling-pai yang dikuasainya keluar!

Akan tetapi demikian cepat gerakan kedua orang jagoan ini sehingga kalau bukan ahli silat Cin-ling-pai, hal ini tidak akan nampak.

Bahkan para murid Cin-ling-pai yang beJum mencapai tingkat tertinggi juga tidak dapat membedakannya.

Hanya Cia Kong Liang, Cia Hui Song, Ceng Sui Cin, Cia Kui Hong, dan beberapa orang murid kepala saja yang dapat mengetahuinya.

Seperti telah ditentukan dalam peraturan adu kepandaian itu, setelah sebatang hio (dupa biting) yang pada awal pertandingan tadi (Lanjut ke

Jilid 05) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 dinyalakan kini habis terbakar, pertandingan dihentikan dan para wasit menghitung jumlah noda yang terdapat di pakaian masing-masing.

Tentu saja dengan mudah dapat dilihat bahwa pada pakaian Gouw Kian Sun lebih banyak terdapat noda dan coretan.

Hal ini berarti bahwa dia telah kalah.

Diam-diam Gouw Kian Sun mengerutkan alisnya.

Mulailah dia merasa tidak suka kepada Cun Sek, bukan karena iri, bukan karena dia dinyatakan kalah, melainkan dia melihat betapa murid keponakan itu ternyata seorang yang amat curang dan licik.

Dia tadi melihat Cun Sek banyak mempergunakan jurus ilmu silat lain yang dibaurkan dengan jurus ilmu silat Cin-ling-pai, dan bukan itu saja kelicikan pemuda itu.

Juga dia tadi melihat betapa setiap menyerangnya, pemuda itu menggerak-gerakkan kedua mouw-pitnya sedemikian rupa sehingga tinta bak dari ujung bulu pena itu memercik dan menodai pakaiannya!

Percikan yang membuat noda pada pakaiannya itu bukan seluruhnya disebabkan tepatnya serangan kedua mouw-pit di tangan Cun Sek, melainkan sebagian besar karena percikan itulah.

Dari hal ini saja dapat diketahui betapa curangnya pemuda itu.

Tentu saja dalam pengumpulan noda pada pakaian lawan, Cun Sek memperoleh kemenangan yang banyak.

Dengan sikap gembira, kakek Cia Kong Liang mengumumkan bahwa pemenangnya adalah Tang Cun Sek, calon ketua nomor satu dan kini akan diadakan pertandingan antara calon nomor satu dan calon nomor tiga.

Untuk itu, Cun Sek diharuskan berganti pakaian yang bersih, karena pakaiannya sudah berlepotan noda hitam.

Sementara menanti calon lawannya berganti pakaian, kesempatan itu dipergunakan oleh Kui Hong untuk mendekati kong-kongnya.

Ia tahu bahwa kalau Tang Cun Sek sampai dapat menjadi calon ketua yang memperoleh banyak pendukung, bahkan kini mampu mengalahkan Gouw Kian Sun, hal itu adalah karena dukungan kakeknya ini.

"Kong-kong,"

Bisiknya dan hanya kakeknya seorang yang dapat mendengarnya.

"Kenapa kong-kong membolehkan Cun Sek itu melakukan kecurangan? Dia menggunakan banyak jurus di luar ilmu silat Cin-ling-pai ketika melawan susiok Gouw Kian Sun, bahkan dia menodai pakaian Gouw-susiok dengan percikan-percikan dari mouw-pitnya."

Kakeknya memandang kepadanya dan menjawab dalam bisikan pula.

"Kui Hong, hal itu menunjukkan kecerdikannya. Dialah yang paling tepat untuk memimpin perkumpulan kita, dapat menambah ragamnya ilmu silat kita. Kiranya engkau tidak perlu lagi maju, cucuku. Untuk apa seorang wanita menjadi ketua? Kalau engkau menjadi isterinya, itu baru tepat."

Kui Hong tidak menjawab, melainkan menjauhkan diri dari kakeknya dengan muka cemberut.

Sialan, pikirnya.

Kakeknya sudah benar-benar dipengaruhi oleh Tang Cun Sek sehingga sudah bertekad bulat untuk mendukung pemuda itu menjadi ketua Cin-ling-pai.

Bukan itu saja, malah agaknya bertekad untuk menjodohkan pemuda itu dengannya.

la segera melakukan persiapan untuk bertanding melawan pemuda yang cerdik itu.

Kecerdikan harus dihadapi dengan kecerdikan, kelicikan harus dilawan dengan kelicikan pula, pikir gadis yang cerdik ini.

Tidak lama kemudian, dua orang muda itu sudah berada di tengah panggung, saling berhadapan.

Kalau Tang Cun Sek berdiri dengan gagahnya, dengan pakaian baru yang bersih, berwarna serba hijau, warna kesukaan pemuda ini, dengan kedua tangan memegang sebatang mouw-pit yang sudah dibasahi bulu-bulunya dengan tinta bak, Kui Hong berdiri tegak dengan senyum mengejek dan hanya tangan kanannya saja yang memegang sebatang mouw-pit, sedangkan tangan kirinya kosong tidak memegang apapun, bahkan bertolak pinggang.

Para tamu dan para anggota Cin-ling-pai menyambut mereka dengan tepuk tangan dan dengan hati berdebar tegang.

Tentu saja keinginan kakek Cia Kong Liang untuk menjodohkan Cun Sek dengan Kui Hong sudah bocor dan diketahui kebanyakan murid Cin-ling-pai, maka kini mereka semua memandang penuh perhatian.

Harus mereka akui bahwa kedua orang yang kini saling berhadapan sebagai calon lawan itu, keduanya calon ketua Cin-ling-pai yang kuat, memang serasi sekali.

Dalam pakaiah barunya, Cun Sek nampak ganteng dan gagah perkasa, wajahnya yang berkulit putih itu tampan sekali.

sebaliknya, Kui Hong juga nampak cantik jelita dan gagah perkasa, apalagi ia tersenyum-senyum manis.

Melihat betapa Kui Hong hanya membawa sebuah mouw-pit di tangan kanannya, terdengar Ceng Sui Cin, ibunya, berseru.

"Kui Hong, engkau pun harus memegang dua buah mouw-pit seperti Cun Sek!"

Akan tetapi Kui Hong menengok kearah ibunyadan berkata lantang sehingga terdengar oleh semua orang.

"Tidak perlu, ibu. Sebuah mouw-pit saja sudah cukup!"

Melihat dan mendengar ini, Cun Sek merasa tidak enak sekali, merasa dipandang rendah oleh gadis itu.

Diapun cukup maklum bahwa gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan, tidak boleh disamakan dengan Gouw Kian Sun tadi.

Dia melihat ketika gadis itu berlatih silat dikeroyok oleh lima orang suhengnya, namun gadis itu masih tetap unggul.

Karena itu, biar dia merasa dipandang rendah, dia tidak berani mengurangi mouw-pitnya.

Dia harus dapat menundukkan gadis ini, harus dapat mengalahkannya, karena dengan demikian, bukan saja dia akan dapat menjadi ketua Cin-ling-pai di mana dia memperoleh kekuasaan dan nama besar, akan tetapi juga besar harapannya untuk dapat mempersunting gadis yang diidamkannya itu.

Akan tetapi, untuk menutupi perasaan tidak enak itu, diapun berkata dengan sikap sopan.

"Suci, harap suci suka mempergunakan dua buah mouw-pit, walaupun dengan sebuah mouw-pit saja, tentu saya tidak akan mampu mengalahkan suci (kakak seperguruan),"

Kui Hong tersenyum.

Memang pemuda ini pandai membawa diri.

Biarpun pemuda ini jauh lebih tua darinya, namun menyebutnya "suci"

Sebagai tanda bahwa pemuda itu mengakuinya sebagai kakak seperguruan karena memang tentu saja Kui Hong lebih dulu menjadi murid Cin-ling-pai.

Hal ini saja sudah menunjukkan kerendahan hati.

Namun Kui Hong tidak hanya mendengarkan ucapan yang sopan itu, melainkan lebih memperhatikan sinar mata pemuda itu.

Sinar mata itu mencorong dan sama sekali tidak menunjukkan kerendahan hati, melainkan mengandung penuh kecerdikan dan kelicikan.

Dia hanya berpura-pura, pikirnya, hanya beraksi seperti pemain sandiwara yang ulung.

Ia berhadapan dengan seorang yang lihai dan berbahaya sekali, maka ia haruslah berhati-hati, pikir Kui Hong.

"Sudahlah, saudara Tang Cun Sek, tidak perlu bersungkan-sungkan. Aku lebih senang menggunakan sebatang mouw-pit saja, engkau boleh menggunakan dua batang atau lebih kalau kau kehendaki!"

Wajah Cun Sek menjadi merah.

Gadis ini, bagaimana juga, terlalu sombong dan memandang rendah kepadanya.

Untuk memenangkan hati gadis seperti ini, haruslah lebih dulu menundukkan kesombongannya dengan jalan mengalahkannya.

Barulah ada harapan untuk menundukkan hatinya, pikir pemuda yang sudah banyak pengalamannya dalam mengenal watak wanita ini.

"Baiklah, suci, kalau engkau menghendaki demikian. Marilah, silakan suci mulai, saya sudah siap melayanimu, suci!"

Kui Hong tersenyum lagi.

Tentu saja ia maklum akan akal ini yang mempersilakan agar ia menyerang lebih dulu dan hal ini berarti bahwa kedudukannya lebih lemah.

"Lihat seranganku!"

Bentaknya dan ia pun mulai menyerang dengan kecepatan kilat, tangan kirinya yang tidak bersenjata itu menampar ke arah kepala pemuda itu dari samping, disusul tangan kanannya yang menotokkan mouw-pitnya ke arah dada.

Biarpun serangan dengan sebuah jurus Thai-kek Sin-kun yang sudah amat dikenal oleh Cun Sek, akan tetapi karena serangan itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa dan mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, Cun Sek cepat mengelak sambil meloncat ke belakang, lalu maju lagi dari samping untuk membalas serangan gadis itu dengan totokan kedua mouw-pitnya dari kanan kiri.

Kui Hong harus mengakui kelincahan lawannya yang dapat demikian cepatnya melakukan serangan balasan.

Namun iapun mengelak dan menyerang lagi.

Terjadilah serang menyerang yang amat seru, lebih seru dari pada pertandingan pertama tadi karena kini keduanya mengerahkan seluruh kecepatan gerakan mereka sehingga tubuh mereka lenyap bentuknya berubah menjadi bayangan hijau dan bayangan merah dan biru dari pakaian Kui Hong.

Mereka berdua saling desak, kadang-kadang mengubah ilmu silat mereka yang segera dikembari oleh lawan dan mau tidak mau Tang Cun Sek harus mengakui dalam hatinya bahwa gadis ini benar-benar amat berbahaya.

Biarpun mouw-pitnya hanya sebuah saja, namun tangan kanan gadis itu menyambar-nyambar mengancam seluruh tubuhnya dengan totokan-totokan yang akan membuatnya lumpuh!

Dia harus mengakui bahwa dalam hal kecepatan, dia masih kalah oleh Kui Hong, juga dalam ilmu silat kalah matang karena tentu saja gadis itu lebih mahir memainkan ilmu silat nenek moyangnya.

Hanya dalam hal tenaga sin-kang saja dia mampu mengimbangi kekuatan Kui Hong.

Karena memang kalah cepat, maka biarpun dia memegang dua batang mouw-pit dan gadis itu hanya memegang sebatang, dalam waktu singkat saja sudah ada lima goresan hitam pada bajunya, sedangkan dia hanya baru dapat menggores sebanyak dua kali, itupun di ujung baju Kui Hong.

Kalau diteruskan seperti ini, tentu dia akan kalah!

Pada hal, dia harus dapat mengalahkan gadis ini.

Harus!

Kalau dia tidak dapat mengalahkannya, berarti akan sia-sia belaka usahanya selama empat tahun ini.

Mulailah Cun Sek mempergunakan akalnya yang tadi telah membuat dia berhasil menang dengan mudah dari Gouw Kian Sun, yaitu dengan jalan menggetarkan kedua ujung mouw-pitnya sehingga tinta dari bulu-bulu mouw-pit di kedua tangannya jtu memercik dan mengenai pakaian Kui Hong!

Dalam satu kali serangan saja dengan kedua batang mouw-pit, biarpun kedua mouw-pit itu tidak dapat menyentuh baju Kui Hong, namun dari percikan tinta itu baju Kui Hong ternoda lebih dari lima tempat!

Memang inilah saat yang dinanti-nanti oleh Kui Hong.

Ia sama sekali tidak menjadi marah ketika melihat pemuda itu sudah mulai menjalankan siasatnya yang licik.

Iapun menggerakkan tangan kirinya ke dalam saku bajunya dan mengeluarkan sebotol tinta bak!

Dan kini, iapun menggetar-getarkan ujung mouw-pitnya yang hanya sebatang itu, setelah mencelupnya ke dalam botol tinta bak yang sudah ia buka tutupnya.

Tentu saja bulu mouw-pit yang basah itu lebih mudah memercik, bahkan sampai jauh dan tanpa dapat dihindarkan lagi, banyak sekali noda-noda hitam menghias baju Cun Sek!

Pemuda ini terkejut sekali.

Tak disangkanya bahwa gadis itu menyembunyikan sebotol tinta bak di saku bajunya.

Kiranya gadis itu memang telah siap siaga dan pantas saja hanya mempergunakan sebatang mouw-pit, kiranya tangan kiri memang dipersiapkan untuk memegangi botol penuh tinta itu!

Dia berusaha untuk menggetarkan kedua mouw-pitnya agar lebih banyak lagi pakaian Kui Hong terkena percikan tinta.

Akan tetapi bagaimanapun juga, perang percikan tinta ini dimenangkan oleh Kui Hong yang mouw-pitnya selalu basah, sedangkan sepasang mouw-pit di tangan Cun Sek mulai kering!

Pakaian Cun Sek sudah penuh noda hitam, dua atau tiga kali lipat lebih banyak dari pada noda pada pakaian Kui Hong.

Pemuda itu menjadi gugup dan mendohgkol bukan main.

Pada saat Cia Kong Liang menyerukan agar pertandingan dihentikan karena hio sudah terbakar habis, Kui Hong menyiramkan sisa tinta bak itu kepada lawannya.

Cun Sek mencoba untuk mengelak, akan tetapi tetap saja sebagian mukanya, lehernya dan dadanya berlepotan tinta hitam!

Kini kemarahan Cun Sek membuat dia lupa diri, lupa akan topeng sopan santun yang selama empat tahun ini dikenakan pada mukanya.

Dengan mata melotot dia memandang kepada Kui Hong dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka gadis itu sambil membentak marah, suaranya lantang terdengar oleh semua orang.

"Engkau"

Engkau.. gadis curang! Engkau telah bertindak licik dan curang! Engkau gadis kurang ajar!"

Kui Hong tersenyum mengejek dan begitu kedua tangannya bergerak, nampak sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu di tangan kanan dan kiri telah nampak sepasang pedang Hok-mo Siang-kiam!

"Betulkah?"

Jawabnya mengejek.

"Aku curang dan licik sedangkan engkau jujur dan bersih, ya? Apa yang kau lakukan ketika engkau melawan susiok Gouw Kian Sun tadi? Apa pula yang kau lakukan kepadaku tadi ketika engkau mulai kalah? Engkau yang curang dan licik sejak melawan susiok, aku hanya mengimbangimu saja! Sekarang, kau mau apa? Kalau tidak terima, boleh kita mencoba dengan senjata, siapa yang lebih unggul di antara kita!"

Berkata demikian, gadis itu lalu menggerakkan sepasang pedangnya, membuat kuda-kuda dan gerakan ilmu pedang Hok-mo Siang-kiam yang amat dahsyat.

Melihat ini, Cun Sek menjadi semakin marah.

"Kau berani menggunakan ilmu silat bukan dari Cin-ling-pai? Calon ketua macam apa kau ini?"

Kembali Kui Hong tersenyum mengejek, dalam hatinya girang karena pancingannya mengena.

"Ahai...! Manusia tak tahu diri! Engkau bilang aku menggunakan ilmu silat bukan dari Cin-ling-pai? Kau kira ilmu silat yang kau mainkan itu Cin-ling-pai murni? Hemm, bocah sombong! Aku adalah keturunan ketua Cin-ling-pai, aku mempelajari ilmu silat Cin-ling-pai sejak kecil! Aku jauh lebih mahir dalam ilmu silat Cin-ling-pai dari pada engkau yang baru empat tahun belajar disini. Aku memperlihatkan Hok-mo Siang-kiam untuk menunjukkan kepadamu bahwa bukan hanya engkau yang mahir ilmu-ilmu silat lain. Sekarang, engkau mengajak bertanding dengan apa, kulayani! Dengan ilmu silat Cin-ling-pai aseli tanpa kau campur-campur seperti cap-jai? Atau dengan ilmu silat lain? Aku siap! Keluarkan senjatamu!"

Melihat keributan itu, para tamu dan para murid Cin-ting-pai memandang dengan hati tegang, tidak ada yang berani mengeluarkan suara atau mencampuri.

Cia Hui Song dan isterinya saling pandang dan bersikap tenang, pura-pura tidak tahu saja.

Suami isteri ini, walaupun tidak membenci Tang Cun Sek yang pandai membawa diri dan menyenangkan hati, namun mereka juga tidak tertarik atau suka sekali kepada pemuda yang mereka anggap penuh rahasia itu.

Merekapun melihat kecurangan yang dilakukan pemuda itu tadi terhadap Gouw Kian Sun, maka pembalasan yang dilakukan puteri mereka tidak membuat mereka menjadi marah.

Akan tetapi, melihat betapa ayahnya marah, Cia Hui Song menjadi tidak enak hatinya dan diapun ikut berdiri ketika ayahnya bangkit berdiri.

"Kalian hentikan keributan itu!"

Bentak Cia Kong Liang kepada mereka.

"Kui Hong, mundurlah engkau!"

Cia Hui Song juga melanjutkan seruan ayahnya.

Mendengar seruan kedua orang tua itu, Kui Hong menggerakkan pundaknya, lalu memandang kepada Tang Cun Sek dengan sikap mengejek dan berkata.

"Ah, sayang kong-kong dan ayah melarangku. Untung bagimu tidak sampai berkenalan dengan sepasang pedangku Penakluk Iblis ini!"

Iapun menyarung kembali sepasang pedangnya.

Wajah Cun Sek akan nampak merah padam kalau saja sebagian tidak tertutup tinta hitam.

Dia maklum bahwa dirinya telah menjadi bulan-bulan penghinaan dan dipermainkan oleh Kui Hong di depan banyak orang.

Kalau dia nekat berusaha membalas dan menyerang gadis itu, selain belum tentu dia menang, juga tentu semua orang membela gadis itu.

Maka diapun membalikkan tubuhnya, menghadapi Cia Kong Liang dan memberi hormat lalu berkata pendek.

"Teecu hendak membersihkan noda hitam dan bertukar pakaian!"

Tanpa menanti jawaban, diapun melompat turun dari atas panggung dan berkelebat cepat menghilang, menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Kini, banyak di antara para murid Cin-ling-pai yang berbalik pilihan.

Tadinya, mereka yang memilih Tang Cun Sek sebagai calon ketua adalah para murid yang tertarik dan suka kepada murid baru ltu yang menjajikan akan mengajarkan ilmu-ilmu silat yang tinggi, lebih tinggi dari pada ilmu-ilmu Cin-ling-pai kalau dia menjadi ketua.

Para murid Cin-ling-pai adalah orang-orang yang berjiwa gagah.

Mereka memang senang sekali mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi mereka paling membenci perbuatan yang licik dan curang.

Kini, mereka semua mendengar betapa Cia Kui Hong membongkar rahasia kecurangan pemuda itu ketika tadi melawan Gouw Kian Sun, maka merekapun mulai tidak suka kepada pemuda itu dan pilihan mereka kini ditujukan kepada Cia Kui Hong.

"Hidup nona Cia Kui Hong!"

"Ia ketua baru yang paling tepat!"

Mereka bersorak-sorak dan kakek Cia Kong Liang tidak dapat membantah lagi bahwa memang dalam pertandingan tadi, Kui Hong memang telah mendapatkan kemenangan mutlak.

Dia tidak mengira bahwa gadis itu mau mencalonkan diri menjadi ketua, dan tidak mengira gadis itu tidak tertarik kepada Cun Sek, bahkan menentangnya.

Diam-diam dia merasa heran.

Cun Sek demikian baiknya, mengapa tidak mendapatkan dukungan?

Dia hanya menarik napas panjang dan hanya mengangguk-angguk ketika para anggota juri menghadap padanya, termasuk puteranya sendiri, untuk menyatakan bahwa yang keluar sebagai pemenang dalam pemilihan ketua baru itu adalah Cia Kui Hong.

"Sudahlah, memang sudah ditentukan oleh Thian bahwa Cin-ling-pai harus mempunyai seorang ketua wanita, cucuku sendiri, Cia Kui Hong!"

Para murid Cin-ling-pai menyambut dengan tepuk tangan dan sorak gembira ketika ketua mereka, Cia Hui Song, berdiri di atas panggung dan mengumumkan bahwa ketua baru yang akan menggantikan dia adalah puterinya sendiri, Cia Kui Hong yang keluar sebagai pemenang.

Cia Hui Song minta kepada para undangan untuk menjadi saksi bahwa kini Cin-ling-pai dipimpin oleh seorang ketua baru, yaitu nona Cia Kui Hong!

Untuk diperkenalkan kepada para tamu, Kui Hong dipanggil ayahnya untuk tampil di atas panggung.

Kui Hong menghampiri ayahnya di atas panggung dengan pakaian masih berlepotan tanda-tanda hitam, disambut tepuk tangan meriah.

oleh para anggota Cin-ling-pai.

Pada saat itu, seorang murid yang diutus oleh Cia Kong Liang untuk memanggil Tang Cun Sek agar hadir dalam pengangkatan ketua baru itu, karena kakek ini masih mengharapkan agar pemuda itu dapat menjadi wakil ketua atau pembantu ketua agar dapat mendekatkan antara pemuda itu dengan cucunya, datang melapor dengan suara keras bahwa Tang Cun Sek tidak berada di dalam kamarnya, bahkan semua pakaiannya juga tidak ada!

"Dia...

dia berani minggat...?"

Kakek itu berseru marah, lalu menjatuhkan diri terduduk di atas kursi, wajahnya agak pucat, dan dia mengeluh.

"... ahh, apakah semua yang kulakukan selalu salah belaka?"

Kui Hong cepat berlutut di dekat kakeknya.

"Kong-kong, sesungguhnya kong-kong tidak bersalah. Kong-kong bermaksud baik sekali, baik untuk kemajuan Cin-ling-pai ataupun untuk mencarikan jodoh bagiku. Akan tetapi, kong-kong tertipu oleh topeng domba yang dipergunakan seekor srigala. Naluri kewanitaanku lebih peka, kong-kong, sehingga dalam pertemuan pertama itupun aku sudah merasa tidak suka kepadanya. Dia pandai membawa diri dan mengambil hati sehingga bukan kong-kong saja yang terpikat, bahkan ayah ibu dan para saudara Cin-ling-pai tidak ada yang menyangka bahwa dia seorang yang berhati palsu. Sudahlah, tidak perlu disesalkan lagi, kong-kong, yang penting kita masih untung dapat menyelamatkan Cin-ling-pai dari tangan orang luar yang tidak mempunyai iktikad baik!"

Wajah kakek itu nampak berduka sekali.

"Ah, akan tetapi pedang pusaka Hong-cu-kiam telah kuberikan kepadanya dan kini dibawa pergi..."

"Biarlah, kelak aku yang akan mencarinya, merampas kembali Hong-cu-kiam dari tangannya dan membunuh dia karena telah berani menipumu, kong-kong. Harap kong-kong tidak berduka, karena bukan kita saja yang tertipu oleh muka manis dan sikap yang baik. Bahkan kakek dan nenek. di Pulau Teratai Merah yang demikian lihainya masih dapat kebobolan dan juga kemasukan orang jahat yang berhasil mewarisi ilmu-ilmu Pulau Teratai Merah bahkan juga telah minggat dan melarikan pusaka Gin-hwa-kiam dari sana."

Gadis itu lalu dengan singkat bercerita tentang sim Ki Liong, keturunan musuh besar yang berhasil menyelundup ke Pulau Teratai Merah dan diterima menjadi murid oleh Pendekar sadis dan isterinya!

Memang ada hasilnya cerita itu bagi kakek Cia Kong Liang.

Agaknya terhibur juga hatinya mendengar betapa suami isteri yang demikian sakti seperti Pendekar Sadis dan isterinya dapat pula dikelabuhi oleh muka manis.

Setelah pesta pemilihan ketua itu selesai dan para tamu pulang dengan membawa cerita menarik dan kesan mendalam tentang pemilihan yang ricuh itu, Cia Kui Hong menerima kedudukan sebagai ketua Cin-ling-pai dengan resmi.

Kakeknya sendiri yang memimpinnya untuk bersumpah setia kepada Cin-ling-pai dan dalam kesempatan ini, Kui Hong dengan resmi pula mengangkat susioknya, Gouw Kian Sun, menjadi wakil ketua dan mewakilinya dalam semua urusan kalau ia sedang tidak berada di Cin-ling-pai.

"Sesungguhnya, jiwaku tidak banyak bedanya dengan ayah dan ibu,"

Katanya kepada kedua orang tuanya itu, juga di depan kakeknya.

"Aku suka merantau dan tidak betah untuk tinggal di sini, dipusingkan urusan perkumpulan. Aku melihat bahwa susiok lebih tepat untuk menjadi ketua, bahkan susiok pula yang selama ini mengurus Cin-ling-pai ketika ayah tidak aktip. Akan tetapi karena dalam pemilihan itu terpaksa aku turun tangan untuk menyelamatkan Cin-ling-pai dan terpilih menjadi ketua, biarlah aku akan bertanggung jawab. Akan tetapi, untuk dapat mengurusnya dengan baik, dan demi kemajuan Cin-ling-pai, maka aku wakilkan kepada susiok Gouw Kian Sun!"

Tidak ada yang menentang pendapat dan keputusan ini.

Nama Gouw Kian Sun memang merupakan nama yang cukup berwibawa dan disuka oleh para anggota Cin-ling-pai.

Mereka yang tadinya mendukung Tang Cun sek adalah karena terpikat oleh janji muluk-muluk dari pemuda itu dan kini mereka yang tadinya mendukung, berbalik menjadi benci kepada pemuda itu yang ternyata selain curang dan licik, juga pengecut tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya malah melarikan diri tanpa pamit!

Gouw Kian Sun tentu saja girang sekali karena dia memang seorang murid Cin-ling-pai yang amat mencintai perkumpulan itu.

Seolah-olah seluruh kehidupannya tergantung kepada perkumpulan Cin-ling-pai di mana dia dibesarkan, dimana dia tinggal dan mengalami suka duka dalam hidupnya.

Sampai berusia empat puluh tahun, Gouw Kian Sun juga masih hidup membujang belum menikah.

Kini, sebagai seorang calon ketua, tentu saja dia dapat mencurahkan seluruh kemampuannya untuk memajukan Cin-ling-pai dan di bawah pimpinannya, dapat diharapkan Cin-ling-pai akan mengalami perubahan dan kemajuan pesat.

Setelah Kui Hong menjadi ketua Cin-ling-pai, ia merundingkan dengan susioknya yang menjadi wakil ketua, minta nasihat dari ayah ibunya dan juga dari kakeknya, dan dimulainyalah mengadakan perubahan-perubahan kepada perkumpulan mereka itu.

Pengalaman pahit dengan menyelundupnya Tang Cun Sek menjadi peringatan bagi mereka agar lebih berhati-hati.

Sebulan sesudah itu, Cia Hui Song, dan isterinya, Ceng Sui Cin, meninggalkan Cin-ling-san untuk melakukan perjalanan ke Pulau Teratai Merah di selatan.

Pertama untuk mengunjungi ayah ibu Ceng Sui Cin, yaitu Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan isterinya, Toan Kim Hong, dan ke dua untuk merayakan kembali kedamaian yang mereka dapatkan setelah Kui Hong pulang ke Cin-ling-san.

Tak lama kemudian, setelah melihat bahwa keadaan perkumpulan Cin-ling-pai mulai teratur dengan baik di bawah pimpinan Gouw Kian Sun sebagai wakil ketua, Kui Hong sendiri lalu berpamit dari kakeknya untuk pergi merantau.

Kakek Cia Kong Liang tak dapat menahan cucunya, apalagi karena cucunya ingin memenuhi janjinya untuk mencari Tang Cun Sek, merampas kembali Hong-cu-kiam dan menghukum murid murtad itu.

Semenjak peristiwa yang terjadi di Cin-ling-pai itu, peristiwa susul-menyusul yang mendatangkan banyak guncangan batin baginya, Kakek Cia Kong Liang tidak lagi menyembunyikan diri di dalam kamarnya.

Kini dia keluar dan menyumbangkan tenaganya untuk menjadi penasihat dari muridnya, Gouw Kian Sun yang kini menjadi ketua.

Dan banyak perubahan terjadi pada dirinya yang sudah banyak mengalami kekecewaan itu.

Dia menjadi penyabar sekali, pandangannya menjadi luas dan dalam, karena mulai menghilangkan rasa keakuannya yang dulu amat besar dan kuat itu.

Kekerasan watak kakek itu kini hampir lenyap, terganti kesabaran dan kewaspadaan yang mengagumkan.

Kekerasan watak memang dibentuk oleh besarnya rasa keakuan.

Pikiran menciptakan gambaran tentang diri sendiri, sedemikian besar dan agungnya sehingga diri sendiri selalu benar, selalu tepat, selalu baik dan semua ini membentuk kekerasan karena merasa benar sendiri.

Dua bayangan yang berkelebat di luar kuil Siauw-lim-si itu bergerak amat cepatnya.

Kuil itu sendiri memang berdiri ditempat yang sunyi, di luar kota Yu-shu, kurang lebih sepuluh kilometer di luar kota, di tepi Sungai Cin-sha antara Pegunungan Heng-tuan-san di Propinsi Cing-hai selatan.

Kuil itu merupakan kuil kuno yang cukup besar, dengan pekarangan luas sekali dan kebun belakang kuil juga merupakan kebun yang luas, di mana para hwesio kuil itu menanam sayur-sayuran.

Ketua kuil Siauw-lim-si itu bernama Ceng Hok Hwesio, seorang pendeta yang usianya sudah lanjut, sekitar tujuh puluh tiga tahun.

Hwesio tua ini memiliki tubuh yang tinggi besar, mukanya agak kehitaman, dan terkenal sebagai seorang hwesio yang berilmu tinggi dan berwatak jujur dan berdisiplin, karenanya nampak keras.

Karena kedisiplinannya, maka semua hwesio yang tinggal di kuil itupun merupakan pendeta-pendeta yang berdisiplin, dan hal ini terbukti dari adanya penjagaan yang ketat di sekeliling kuil itu dan di sudut-sudut terdapat hwesio yang berjaga, bahkan ada pula yang meronda di malam yang dingin sekali itu.

Siapakah dua bayangan yang berkelebat bagaikan dua ekor burung dengan gerakan yang luar biasa cepatnya itu?

Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis.

Pemuda itu berusia dua puluh dua tahun, bertubuh sedang akan tetapi dadanya bidang dan tegap.

Wajahnya yang bulat berkulit putih, membuat alisnya yang tebal nampak hitam sekali, matanya agak sipit dengan sinar yang terang.

Sebuah wajah yang tampan dan sikapnya lembut dan tenang membayangkan kegagahan.

Pakaiannya sederhana saja, rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan pengikat rambut dari sutera biru.

Pemuda itu bernama Pek Han Siong, keturunan dari keluarga para pimpinan perkumpulan Pek-sim-pang (Perkumpulan Hati Putih) di daerah Kong-goan Propinsi Secuan.

Perkumpulan ini adalah perkumpulan atau perguruan silat yang gagah perkasa.

Keluarga Pek ini turun temurun merupakan ketua dari Pek-sim-pang, bahkan pendiri Pek-sim-pang yang bernama Pek Khun adalah pendiri dari perkumpulan itu.

Mendiang Pek Khun merupakan seorang ahli silat aliran Siauw-lim-pai, Oleh karena itu, mudah diduga bahwa Pek-sim-pang adalah sebuah perguruan silat yang sumbernya dari ilmu silat Siauw-lim-pai.

Mendiang Pek Khun digantikan oleh puteranya yang bernama Pek Ki Bu, kemudian, putera Pek Ki Bu yang bernama Pek Kong menggantikan ayahnya menjadi ketua Pek-sim-pang.

Pek Kong inilah ayah kandung dari Pek Han Siong, pemuda yang kini nampak bergerak dengan cepatnya bersama seorang gadis diluar tembok pagar kuil Siauw-lim-si di luar kota Yu-shu.

Ketika Pek Han Siong masih berada dalam kandungan ibunya yang bernama Souw Bwee, anak dalam kandungan ini sudah menimbulkan kegemparan karena ramalan dari para pendeta Lama di Tibet bahwa anak dalam kandungan itu adalah seorang Sin-tong (Anak Ajaib) yang kelak akan menjadi seorang Dalai Lama atau pemimpin agama di Tibet yang besar.

Para pendeta Lama mula-mula minta dengan horrnat dan sopan agar kelak anak yang terlahir itu diserahkan kepada mereka untuk dididik menjadi calon seorang guru besar dunia.

Tentu saja keluarga Pek merasa keberatan sehingga mereka menentang kehendak para pendeta Lama.

Hal ini menimbulkan pertikaian dan permusuhan.

Karena para pendeta Lama di Tibet mempunyai banyak orang sakti, maka seluruh keluarga Pek bersama para murid dan anggota Pek-sim-pang melarikan diri mengungsi menjauhi daerah Tibet dan akhirnya menetap di Kong-goan, di Propinsi Secuan.

Namun para pendeta Lama masih terus melakukan pengejaran.

Untuk menghindarkan pengejaran inilah maka Pek Kong mengajak isterinya melarikan diri dan bersembunyi.

Anak itu terlahir dan tepat seperti yang diramalkan para pendeta Lama di Tibet, anak itu laki-laki dan di punggungnya terdapat sebuah tanda berwarna merah.

Untuk menyelamatkan anak yang diberi nama Pek Han Siong itu, kakek buyutnya yang ketika itu masih hidup, yaitu Pek Khun, lalu membawa pergi Han Siong dari asuhan ayah ibunya.

Sebagai gantinya, kakek Pek Khun kebetulan menyelamatkan seorang bayi laki-laki yang dibawa ibunya membunuh diri di lautan.

Kakek itu berhasil menyelamatkan bayi itu akan tetapi ibu anak itu tewas, dan menyerahkan bayi itu kepada cucunya, Pek Kong dan isterinya menjadi pengganti Han Siong!

Pek Han Siong dilarikan kakek buyutnya dan setelah merawatnya selama tujuh tahun, akhirnya dia membawa cucu buyutnya itu ke kuil Siauw-lim-si di dekat Yu-shu itu, Menitipkannya kepada Ceng Hok Hwesio ketua kuil itu yang masih terhitung murid keponakannya sendiri.

Pek Han Siong hidup di dalam kuil itu dan secara kebetulan sekali dia bertemu dengan sepasang suami isteri yang sakti, yang melakukan pertapaan atau menerima hukuman atas dosa mereka telah melakukan perjinahan atau menikah secara tidak sah.

Hukuman itu adalah hukuman kurung selama dua puluh tahun!

Akan tetapi, karena mereka itu sakti, setiap saat kalau mereka kehendaki, mereka dapat saling bertemu tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya atau mampu mencegah mereka.

Dua orang sakti yang menjadi suami isteri itu bernama Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, keduanya merupakan keturunan dari datuk-datuk sesat yang pernah menggemparkan dunia persilatan puluhan tahun yang lalu.

Di bawah bimbingan Suhu dan Subonya yang sakti.

Pek Han Siong memperoleh kepandaian yang hebat bukan main.

Ilmu-ilmu silat tinggi telah dikuasainya, dan diapun menerima pedang pusaka Kwan-im Po-kiam dari kedua orang gurunya.

Bukan hanya itu, akan tetapi kedua orang gurunya itu menjodohkan murid tunggal mereka itu dengan puteri mereka yang lenyap diculik orang ketika masih kecil!

Hubungan kedua orang sakti ini menghasilkan seorang anak perempuan yang diberi nama Siangkoan Bi Lian!

Maka,murid yang kini telah menjadi seorang pemuda yang tangguh itu diberi tugas untuk mencari puteri mereka sampai dapat, dan mengajaknya ke kuil Siauw-lim-si untuk menghadap mereka.

Puteri mereka itu, Siangkoan Bi Lian, sejak masih bayi mereka titipkan kepada sebuah keluarga Cu di dusun yang berada di kaki gunung, tak jauh dari kuil itu.

Akan tetapi dua orang suami isteri sakti itu tidak memperkenalkan diri sebagai ayah ibu kepada Bi Lian, melainkan kadang-kadang mereka datang berkunjung sebagai guru karena mereka mulai mendidik Bi Lian dengan dasar-dasar ilmu silat.

Pada suatu hari, ketika Bi Lian berusia enam tahun, di dusun itu terjadi keributan.

Pertempuran hebat antara datuk-datuk sesat membuat dusun menjadi geger, banyak orang dusun tewas, termasuk keluarga Cu yang dititipi Bi Lian.

Akan tetapi Bi Lian lenyap dan Siangkoan Ci Kang bersama Toan Hui Cu tidak berhasil menemukan anak mereka yang lenyap tanpa bekas itu.

Demikianlah, setelah Han Siong tamat belajar dari mereka, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu bersepakat untuk menarik pemuda murid mereka ini menjadi calon mantu mereka, Dan memberi tugas kepada Han Siong untuk mencari puteri mereka yang hilang itu sampai dapat dan mengajaknya menghadap mereka di kuil Siauw-lim-si.

Pada waktu itu, Han Siong berusia dua puluh tahun dan sudah belasan tahun Bi Lian lenyap dari dusun.

Oleh karena itu, tentu saja bukan merupakan tugas yang ringan bagi Han Siong untuk dapat menemukan gadis itu karena tidak ada sedikitpun petunjuk kemana perginya gadis itu dan siapa pula yang membawanya pergi.

Dua tahun lamanya Han Siong merantau, mengalami banyak sekali peristiwa yang hebat dan menarik dan dalam perantauannya inilah secara kebetulan sekali dia bertemu dengan Bi Lian yang masih mempergunakan nama keluarga Cu!

Semua pengalaman Han Siong semenjak lahir sampai pertemuannya dengan Cu Bi Lian diceritakan dalam kisah Pendekar Mata Keranjang bagian pertama.

Kini, tiba-tiba saja dia muncul kembali, bersama seorang gadis.

Gadis itu berusia kurang lebih dua puluh tahun, raut wajahnya manis sekali.

Tubuh gadis itu ramping, kulitnya putih mulus, rambutnya yang hitam panjang digelung keatas, dihias tusuk konde perak.

Sepasang matanya tajam bersinar-sinar, hidungnya mancung dan kecil, mulutnya berbentuk menggairahkan dengan bibir yang selalu merah membasah, mukanya berbentuk bulat telur dan terdapat sebuah tahi lalat di dagunya.

Siapakah gadis manis ini?

Ia bukan lain adalah Cu Bi Lian, atau yang sebetulnya she Siangkoan!

Ia berhasil ditemukan Han Siong dan diajak berkunjung ke kuil itu, berkunjung kepada suami isteri sakti yang dikenalnya sebagai gurunya di waktu ia masih kecil, sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa kedua orang gurunya itu sebetulnya adalah ayah dan ibu kandungnya sendiri!

Apa yang telah terjadi kepada diri gadis ini ketika ia berusia enam tahun di dusun itu?

Ternyata ia telah terjatuh ke dalam tangan dua orang datuk sesat yang pada waktu itu amat ditakuti di dunia kang-ouw, yaitu yang berjuluk Pak-kwi-ong (Raja Setan Utara) dan Tung-hek-kwi (Setan Hitam Timur), dua di antara Empat Setan yang namanya menggetarkan kolong langit karena kelihaian mereka dan juga tindakan mereka yang aneh-aneh, kadang-kadang tanpa mengenal perikemanusiaan sama sekali.

Dua orangdatuk sesat inilah yang mengamuk di dusun itu, membunuh banyak tokoh kang-ouw dan banyak orang dusun termasuk keluarga Cu yang oleh Bi Lian dianggap sebagai keluarganya yang sesungguhnya.

Bi Lian menarik perhatian dua orang datuk sesat itu dan iapun diambil sebagai murid.

Dua orang datuk itu mewariskan seluruh ilmu-ilmunya yang hebat kepada gadis ini dan Bi Lian menjadi seorang gadis dewasa yang selain tinggi ilmu silatnya, juga berwatak aneh, berani, galak, dan tidak mengenal ampun kepada musuh-musuhnya.

Karena itu, di dunia kang-ouw namanya segera menonjol dan ia dijuluki Thiat-sim Sian-li (Dewi Berhati Besi) saking keras wataknya.

Di dalam kisah Mata Keranjang bagian pertama diceritakan tentang pengalaman gadis yang lihai ini sampai akhirnya kehilangan kedua gurunya yang tewas saling bunuh dalam perkelahian karena berbeda pendapat mengenai diri murid mereka yang tersayang itu.

Yang seorang ingin menjodohkan Bi Lian dengan seorang tokoh pemberontak, akan tetapi Bi Lian tidak mau dan guru ke dua membelanya.

Akhirnya keduanya tewas setelah mereka saling serang dengan hebatnya.

Bi Lian merasa sakit hati terhadap para pemberontak itu dan dalam usaha menentang para pemberontak inilah ia bertemu dengan Pek Han Siong, bekerja sama menghancurkan pemberontak bersama pendekar lainnya, dan berkenalan.

Pek Han Siong segera dapat menduga bahwa inilah puteri dari kedua orang gurunya, gadis yang telah dijodohkan dengan dia!

Dia lalu memperkenalkan diri sebagai murid dari Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu yang oleh Bi Lian dianggap sebagai dua orang gurunya ketika ia masih kecil sehingga merekapun seakan-akan masih terhitung suheng dan Sumoi!

Dan setelah pemberontak itu dapat ditindas, Han Siong berhasil mengajak Bi Lian untuk berkunjung ke kuil Siauw-lim-si diluar kota Yu-shu itu untuk menghadap Suhu dan Subonya itu.

Demikianlah, pada malam hari itu, dua bayangan itu berkelebat dengan amat cepatnya dan kini mereka berdiri di luar pagar tembok kuil Siauw-lim-si.

"Suheng, hari sudah malam begini, apakah baik untuk mengunjungi Suhu dan Subo?"

Tanya Bi Lian ketika mereka berhenti di luar pagar tembok kuil Siauw-lim-si.

"Kita lihat saja nanti, kalau Suhu dan Subo bersedia menerima kita malam ini juga, kita langsung menghadap, kalau andaikata mereka tidur, kita akan menanti di dalam kuil untuk menghadap besok pagi."

"Akan tetapi, mengapa kita harus masuk lewat pagar tembok? Bukankah lebih baik masuk melalui pintu gerbang dan mengetuknya kalau sudah ditutup, suheng?"

"Ah, aku belum bercerita padamu, Sumoi. Suhu dan Subo adalah orang-orang... hukuman yang berada dalam kurungan di kuil ini."

"Ahhh...?"

Gadis itu terrcengang.

"Orang hukuman? Bagaimana...? Apa kesalahan mereka? Dan bagaimana pula mereka dahulu dapat mengunjungi aku dan melatih ilmu silat?"

"Sumoi, sebaiknya kalau hal itu engkau dengar sendiri dari Suhu dan Subo karena aku... aku tidak berhak untuk menceritakannya. Marilah, aku sudah dua tahun meninggalkan mereka dan aku sudah rindu sekali untuk bertemu dengan mereka."

Berkata demikian, Han Siong lalu menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya meloncat ke atas pagar tembok, diikuti oleh Bi Lian yang gerakannya lebih lincah lagi.

Memang ia seorang gadis yang lincah sekali, sebaliknya Han Siong pendiam dan tenang, padahal kalau diadakan perbandingan dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) tentu saja Han Siong yang menerima gemblengan dari Subonya seorang ahli ginkang yang hebat, jauh lebih pandai daripada Bi Lian.

Gerakan mereka sedemikian cepatnya sehingga walaupun pagar tembok itu terjaga oleh para hwesio, tidak ada seorangpun di antara para penjaga itu melihat berkelebatnya dua bayangan yang memasuki kuil lewat pagar tembok belakang.

Han Siong yang bertahun-tahun tinggal di kuil itu tentu saja sudah hafal sekali akan keadaan di dalam kuil.

Dia menjadi penunjuk jalan berada di depan, dan Bi Lian mengikuti di belakangnya.

Dengan mudah saja Han Siong mengambil jalan yang tersembunyi sehingga tidak pernah kepergok oleh seorangpun hwesio dan mereka kini tiba di luar sebuah kamar yang tertutup jendela dan daun pintunya.

Inilah kamar kurungan di mana biasanya Subonya berada, tempat hukuman bagi Subonya!

Dengan hati-hati Han Siong mengetuk daun pintu kamar itu, kemudian daun jendela, namun tidak ada jawaban dari dalam.

Ketika dia mengintai, kamar itu gelap dan sunyi.

Bahkan ketika dia menempelkan telinganya pada papan daun jendela, dia tidak mendengar bunyi pernapasan manusia di dalamnya.

Kamar itu kosong!

"Bagaimana, suheng?"

Tanya Bi Lian yang mengikuti gerak-gerik pemuda itu.

"Ini kamar Subo, akan tetapi kamar ini sekarang kosong. Jangan-jangan Subo sedang keluar. Mari kita ke kamar tahanan Suhu saja."

Mereka lalu pegi ke bagian lain dari kuil itu, jauh ke ujung kiri dan tak lama kemudian Han Siong sudah berada di luar sebelah kamar lain yang juga tertutup daub jendela dan pintunya.

Akan tetapi ada sedikit cahaya yang menerobos keluar dari celah-celah daun jendela, tanda bahwa di dalam kamar itu ada lilin bernyala.

Gembira rasa hati Han Siong karena hal ini menandakan bahwa Suhunya berada di dalam kamar itu.

Diketuknya daun pintu itu perlahan.

Tidak ada jawaban dari dalam.

Diketuknya lagi dan diapun berseru lirih.

"Suhu...! Suhu, ini teecu yang datang mohon menghadap Suhu!"

Kini.

terdengar suara gerakan di dalam kamar itu, kemudian terdengar suara teguran dari dalam yang amat mengejutkan hati Han Siong.

"Omitohud! Siapa berani mengganggu pinceng di tengah malam buta begini?"

Tentu saja Han Siong terkejut karena dia mengenal suara yang berat dari Ceng Hok Hwesio, ketua Siauw-lim-si yang amat galak itu.

Ketua inilah yang telah memberi hukuman kepada Suhu dan Subonya!

Biarpun Ceng Hok Hwesio selalu bersikap baik kepadanya, bahkan hwesio tua ini pula yang mendorongnya untuk mempelajari kesusasteraan melalui kitab-kitab agama yang kuno, namun Han Siong selalu merasa hormat dan segan kepada hwesio tua yang amat keras menjaga peraturan ini.

Dia merasa serba salah.

Dia sudah terlanjur mengeluarkan suara dan hwesio tua itu sudah tahu bahwa di luar ada orang, maka tidak mungkin lagi dia mundur.

Apakah hwesio tua itu sedang mengadakan kunjungan kepada Suhunya?

Di malam buta begini?

Sungguh aneh.

Akan tetapi dia harus cepat menjawab karena hwesio tua itu sedang menanti dengan tidak sabar.

"Lo-Suhu, maafkan saya. Saya adalah Pek Han Siong...,"

Jawabnya. Hening sejenak dalam kamar itu. Kemudian terdengar suara yang berat itu.

"Pek Han Siong...? Ah, engkau telah kembali? Apakah engkau mencari Suhumu, Siangkoan Ci Kang?"

Girang rasa hati Han Siong mendengar suara yang berat itu tidak mengandung kemarahan.

"Benar sekali, Lo-Suhu! Bolehkah saya menghadap Suhu?"

Kembali hening sejenak.

"Baiklah, akan tetapi pinceng mendengar gerakan dua orang. Siapa kawanmu?"

Han Siong sating pandang dengan Bi Lian.

Kakek yang berada di dalam itu ternyata memiliki pendengaran yang amat tajam.

"Saya datang bersama seorang murid Suhu dan Subo yang lain, Lo-Suhu. Ia bernama... Cu Bi Lian, juga ingin menghadap Suhu dan Subo."

"Seorang wanita?"

Suara itu seperti terkejut, kemudian disambungnya cepat-cepat.

"Siancay... biarlah, kalian masuklah, pintu kamar ini tidak terkunci."

Han Siong memberi isyarat kepada Bi Lian dan keduanya membuka daun pintu lalu masuk ke dalam kamar itu.

Bi Lian memandang penuh perhatian sedangkan Han Siong menutupkan kembali daun pintu dari dalam.

Seorang hwesio tua sekali duduk bersila di tengah ruangan kamar itu, kamar yang kosong dan di sudut kamar terdapat sebuah meja di mana berdiri sebatang lilin yang bernyala.

Beberapa batang lilin lain yang tidak bernyala menggeletak di atas meja.

Han Siong mengajak Bi Lian menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio yang duduk bersila di atas lantai itu, lantai dingin tanpa tilam!

Dan Han Siong merasa teharu.

Baru dua tahun terlewat, akan tetapi ketua kuil itu kelihatan sudah sangat tua sekarang, tua keripuatan dan mukanya yang kehitaman itu, yang biasanya nampak segar, kini nampak layu dan lesu.

Sinar matanya bahkan diliputi kedukaan.

"Lo-Suhu, saya dan Sumoi mohon maaf kalau mengganggu Lo-Suhu. Akan tetapi, dimanakah adanya Suhu? Juga Subo tadi tidak ada di dalam kamar tahanannya. Dimanakah mereka?"

Sejenak sepasang mata yang nampak sayu, kini kehilangan kegalakannya dan kekerasannya yang dahulu, yang ada hanya tinggal sinar kejujurannya, mengamati Han Siong dan Bi Lian.

"Han Siong, coba nyalakan dua batang lilin lagi, biar agak terang. Mata pinceng sudah tidak begitu awas lagi..."

Katanya lirih.

Hati pemuda itu terharu dan diapun cepat menyalakan dua batang lilin di atas meja.

Kini kakek itu mengamati mereka dan diam-diam merasa terkejut sekali melihat wajah gadis yang datang bcrsama Han Siong.

Betapa miripnya wajah itu dengan wajah Toan Hui Cu!

Teringat akan Toan Hui Cu, hatinya seperti diremas dan diapun memejamkan kedua matanya, merangkapkan kedua tangan di depan dada dan berkata lirih.

"Omituhud... semoga diampuni semua dosa pinceng."

"Lo-Suhu, sudilah kiranya Lo-Suhu menceritakan di mana adanya Suhu dan Subo sekarang."

Kata pula Han Siong, merasa tidak enak melihat kedukaan yang membayang di wajah kakek itu.

Kakek itu membuka matanya dan menarik napas panjang.

"Kalian duduklah yang enak. Kebetulan sekali kalian datang selagi pinceng bingung mencari siapa yang kiranya patut untuk menerima pencurahan penyesalan hati pincehg yang selama ini pinceng sembunyikan. Kalian berdualah yang paling tepat menerima dan mendengarkannya. Benar, terutama engkau, Han Siong. Dengarkan baik-baik pengakuan pinceng, pengakuan seorang yang berdosa besar!"

"Lo-Suhu...!"

Han Siong membantah dengan terkejut sekali, akan tetapi kakek itu mengangkat tangan kirinya ke atas.

"Diamlah, Han Siong, dan kau dengarkan saja pengakuan pinceng ini."

Han Siong yang duduk bersila menutup mulut dan menundukkan mukanya, sedangkan Bi Lian mengamati kakek itu dengan hati tertarik.

Tentu ia akan mendengarkan cerita yang amat menarik, pikirnya.

Kakek ini sungguh aneh, akan tetapi melihat mukanya yang tua itu, sepasang mata yang redup dan sayu, akan tetapi mengandung sinar kejujuuran dan juga kekerasan itu membuat ia merasa suka kepada kakek tua renta itu.

"Kurang lebih dua puluh satu tahun yang lalu, sepasang orang muda datang ke kuil ini menghadap pinceng. Usia mereka seperti kalian berdua, masih muda, yang pria tampan dan yang wanita cantik. Mereka itu adalah Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Mereka membuat pengakuan yang mengejutkan hati pinceng. Siangkoan Ci Kang mengaku sebagai putera tunggal mendiang Siangkoan Lojin yang berjuluk Si Iblis Buta, seorang datuk sesat. Adapun Toah Hui Cu bahkan mengaku sebagai puteri mendiang Raja dan Ratu Iblis, sepasang raja datuk sesat yang menggemparkan dunia kang-ouw itu. Mereka sengaja menghadap pinceng untuk minta diterima menjadi hwesio dan nikouw, karena mereka berdua merasa telah berbuat dosa dan untuk mencuci darah keturutan mereka yang amat jahat. Pinceng menerima karena melihat betapa mereka itu mempunyai niat yang tulus ikhlas."

Sampai di sini kakek itu berdiam sejenak.

Han Siong merasa kagum sekali kepada Suhu dan Subonya.

Biarpun keduanya keturunan datuk-datuk sesat yang seperti iblis, namun keduanya agaknya menyadari kekeliruan orang tua mereka bahkan hendak menebus dosa dengan masuk menjadi pendeta!

Diam-diam Bi Lian yang hanya samar-samar saja ingat kepada kedua orang gurunya itu, juga merasa kagum dan bersimpati.

Ia sendiripun sejak kecil menjadi murid dua orang datuk sesat, namun ia sama sekali tidak sudi mengikuti jejak mereka sebagai orang jahat.

Sama sekali tidak!

Ia benci kepada perbuatan jahat dan menentang mereka yang suka bertindak sewenang-wenang dan jahat.

"Ketika itu, pinceng yang sudah puluhan tahun tidak pernah membayangkan wanita, tiba-tiba saja menjadi lemah dan seperti kemasukan iblis dalam diri pinceng. Pinceng... tergila-gila kepada Toan Hui Cu!"

Terkejut sekali hati Han Siong mendengar ini.

Kalau saja kakek itu tidak membuat pengakuan sendiri, pasti dia tidak akan percaya!

Bi Lian menatap wajah kakek itu, sepasang matanya memandang tajam penuh selidik.

Ceng Hok Hwesio menghela napas panjang.

"Batin pinceng masih lemah, mudah dimasuki kotoran. Pinceng tertarik oleh kecantikan Toan Hui Cu dan pinceng menyatakan perasaan ini. Ia menolak pinceng! Kemudian... kiranya ketika masuk menjadi nikouw, di luar pengetahuannya, Toan Hui Cu telah mengandung akibat hubungan cintanya dengan Siangkoan Ci Kang. Hubungan di luar nikah! Kesempatan ini pinceng pergunakan untuk membalas dendam kepada Toan Hui Cu karena telah mengecewakan pinceng dan menolak perasaan hati pinceng yang sesungguhnya hanyalah gejolak nafsu binatang belaka. Dan membalas dendam kepada Siangkoan Ci Kang karena iri hati dan cemburu yang juga merupakan nafsu pementingan diri sendiri yang merasa dikecewakan. Maka, pinceng lalu menjatuhkan hukuman kepada mereka, hukuman kurung selama dua puluh tahun dalam kamar kurungan terpisah!"

"Aih, betapa kejinya!"

Tiba-tiba Bi Liar berseru. marah, matanya berapi-api memandang kepada hwesio tua itu.

"Lo-Suhu sebagai seorang hwesio tua sungguh tidak pantas sekali melakukan perbuatan, yang demikian kejamnya terhadap mereka! Mula-mula tergila-gila kepada seorang wanita muda, kemudian karena tidak mendapat tanggapan lalu membalas dendam dan menghukum meteka sampai dua puluh tahun! Tidak malukah Lo-Suhu kepada diri sendiri?"

"Sumoi...!!"

Han Siong berseru kaget sekali mendengar ucapan yang nadanya amat mencela dan merendahkan ketua kuil itu!

Akan tetapi kakek itu tersenyum, lalu merangkap kedua tangan di depan dada, memejamkan kedua matanya dan berkata.

"Omitohud..., terima kasih, nona. Makian dan celaan sungguh terasa sebagai obat pelunak rasa perih karena penyesalan pinceng. Pinceng memang layak dimaki, bahkan dipukul atau dibunuh kalau perlu. Pinceng akan menerimanya dengan senang hati sekali..."

Mendengar ini, Bi Lian menutup mulutnya dan memandang heran, juga bingung.

Ia menoleh kepada Han Siong yang mengedipkan mata dan memberi isyarat kepadanya agar suka menahan diri.

Karena Han Siong ingin sekali tahu ke mana perginya Suhu dan Subonya, maka diapun mendesak dengan hati-hati kepada kakek yang masih memejamkan kedua matanya itu.

"Lalu bagaimana kelanjutannya, Lo-Suhu?"

Kakek itu membuka matanya, masih tersenyum ketika memandang kepada Bi Lian, dan pandang matanya juga lembut, sama sekali tidak membayangkan kemarahan biarpun tadi dimaki dan ditegur dengan keras oleh gadis itu.

"Ketika engkau pergi meninggalkan kuil, hukuman mereka itu tinggal dua tiga tahun lagi, Han Siong. Akan tetapi pada suatu hari pinceng menyadari dan menginsafi dosa yang pinceng lakukan. Sayang kesadaran itu timbul setelah pinceng begini tua. Pinceng lalu memanggil mereka, membebaskan mereka dari sisa hukuman itu, dan di depan mereka pinceng mengakui semua dosa pinceng, dan menyatakan bahwa pinceng menjatuhi hukuman pada diri pinceng sendiri dengan hukuman kurungan di kamar ini sampai mati"

"Ahhh...!"

Han Siong berseru dan tercengang, akan tetapi Bi Lian bersungut-sungut.

"Hemm, masih terlalu ringan! Mereka yang tidak berdosa harus menjalani hukuman selama hampir dua puluh tahun! Kalau Lo-Suhu, melihat usia Lo-Suhu yang sudah tua sekali, tentu hanya tinggal beberapa tahun saja..."

"Sumoi...!"

Kembali Hong Siong menegur gadis itu. Kembali kakek itu tersenyum dan mengangkat tangannya.

"Biarkan saja, Han Siong! Pinceng malah girang karena gadis ini mewakili mereka untuk mengutuk pinceng. Sungguh pinceng selama ini merasa menyesal sekali, apalagi ketika dikeluarkan dari sini, mereka berdua itu sama sekali tidak mengutuk pinceng. Biarlah nona ini mewakili mereka untuk mengutuk pinceng...! Mereka memang tidak berdosa. Setelah pinceng mendengar akan pengalaman mereka. Mereka memang saling mencinta, sama-sama menderita dengan nasib yang hampir sama. Apakah dosa hubungan antara dua orang yang saling mencinta? Pinceng yang didorong nafsu iblis, nafsu binatang. Bahkan bukan mereka saja yang menderita, anak mereka yang tidak bersalah apapun, ikut pula menderita akibat perbuatan pinceng yang kotor..."

"Anak mereka...! Ah, Suhu dan Subo mempunyai anak dan bagaimana dengan anak mereka itu?"

Kini Bi Lian bertanya sambil menatap tajam wajah Ceng Hok Hwesio yang masih tersenyum.

Mendengar ini, berdebar rasa hati Han Siong.

Bi Lian bertanya tentang anak itu, tentang dirinya sendiri!

Dan hwesio tua itupun sama sekali tidak pernah mimpi bahwa yang bertanya itu adalah anak itu sendiri, anak dari dua orang hukuman itu!

Han Siong merasa serba salah.

Tentu saja dia tidak mungkin mencegah kakek itu bercerita atau melarang Bi Lian bertanya.

Pertanyaan sudah diajukan dan dengan jantung berdebar penuh ketegangan Han Siong hanya dapat memandang dan mendengarkan, menanti jawaban Ceng Hok Hwesio.

"Anak mereka itu? Ah, anak yang malang itu ikut pula menjadi korban dosa yang pinceng lakukan terhadap kedua orang tuanya. Anak itu perempuan dan karena mereka tidak ingin membiarkan anak mereka hidup dalam kurungan pula, mereka lalu menitipkan anak itu ke dusun di kaki gunung. Akan tetapi... Omitohud... semoga dosa pinceng dapat diampuni... anak itu kabarnya dilarikan penjahat setelah keluarga yang mereka titipi itu dibunuh penjahat..."

Bi Lian meloncat bangun berdiri dan wajahnya pucat, matanya terbelalak ketika ia membentak Ceng Hok Hwesio dengan pertanyaan yang mengejutkan hati kakek tua itu.

"Katakan! Siapa nama anak perempuan mereka itu? Hayo katakan atau... demi Tuhan, kubunuh kau!"

"Sumoi...!"

Han Siong juga bangkit berdiri, siap mencegah kalau sampai gadis itu benar-benar hendak membunuh ketua Siauw-lim-si itu.

Akan tetapi, Ceng Hok Hwesio masih saja bersikap tenang dan tersenyum, seolah-olah dia memang mengharapkan ada orang membunuhnya untuk menghukum dosanya yang membuat dia terbenam dalam penderitaan karena penyesalan.

"Sungguh pinceng tidak tahu siapa namanya. Kalau engkau hendak membunuh pinceng, silakan, nona, pinceng tidak akan menghindarkan diri..., silakan...!"

"Sumoi...!"

Han Siong kembali menegur.

Bi Lian yang masih pucat itu kini menoleh dan berhadapan dengan Han Siong.

"Suheng engkau... engkau tentu tahu...anak... anak itu... ia...?"

Sinar matanya penuh pertanyaan dan bibirnya gemetar, tidak mampu lagi mengeluarkan suara.

Tanpa suarapun, Han Siong maklum apa yang menjadi dugaan hati gadis itu.

Diapun mengangguk.

"Benar, Sumoi. EngKau lah anak itu... engkau adalah puteri Suhu, dan Subo yang dititipkan kepada keluarga Cu itu..."

Bi Lian terbelalak, mengeluarkan jeritan melengking tinggi dan tubuhnya sudah bergerak, didahului tangannya yang menyambar ke depan, menghantam kearah ubun-ubun kepala Ceng Hok Hwesio yang masih duduk bersila dan tersenyum, memandang tanpa berkedip.

Akan tetapi, pukulan itu bertemu dengan tangan Han Siong yang lunak, yang sudah menangkis pukulan itu mendorong tubuh Bi Lian mundur.

"Sumoi, tenanglah. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau mengoper dosanya...! Jangan, Sumoi, demi Tuhan, jangan lakukan itu...!"

Bi Lian mencoba untuk meronta, akan tetapi Han Siong memegangi kedua lengannya.

"Lepaskan! Suheng, dia telah mencelakakan kedua orang tuaku, menyiksa ayah dan ibuku! Aku harus membunuhnya!"

"Omitohud... jadi nona ini adalah puteri mereka? Ya Tuhan, Han Siong lepaskan dia, biar ia membunuh pinceng. Omitohud... akhirnya... akhirnya hukuman yang adil datang. Lepaskan biar ia membunuhnya. Anak baik, kau bunuhlah pinceng... kau bunuhlah pinceng..."

Hwesio itu kini menangis terisak-isak dan berbisik-bisik minta dibunuh.

Han Siong tetap mencegah Bi Lian.

"Ingat, Sumoi, Suhu dan Subo, yaitu ayah dan ibumu, tentu akan marah dan berduka sekali kalau mendengar engkau membunuh Lo-Suhu ini. Mereka saja yang menerima hukuman itu, tidak pernah mencela, tidak pernah mengutuk. Setidaknya engkau harus bertanya dulu kepada mereka. Mari, Sumoi, mari kita temui mereka ayah ibumu..."

"Ayah? Ibu? Di mana... di mana... mereka...?"

Gadis itu tergagap-gagap, matanya terbelalak, mukanya pucat sekali.

"Lo-Suhu, tolong beritahu, di mana adanya Suhu dan Subo kini?"

Dengan kepala tunduk, masih menangis, Ceng Hok Hwesio berkata.

"Mereka... mereka... di Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas), di puncak Heng-tuan-san ujung timur... tapi, tapi... biarkan dulu ia membunuhku, Han Siong... aku mohon padamu, biarkan ia membunuh pinceng..."

Akan tetapi Han Siong tidak memperdulikan kakek itu, menarik tangan Bi Lian dan membawanya keluar dari kamar itu.

Masih terdengar keluh kesah dari kakek itu yang minta dibunuh di antara tangisnya, akan tetapi Han Siong terus mengajak Sumoinya keluar.

Di luar kamar, mereka bertemu dengan banyak hwesio yang tadi terkejut mendengar jerit Bi Lian.

Ketika mereka tiba di depan kamar, mereka mendengar tangis Ceng Hok Hwesio dan tentu saja para hwesio ini menjadi terkejut dan terheran, akan tetapi tidak berani memasuki kamar yang dijadikan tempat hukuman atau pertapaan oleh ketua mereka itu.

Ketika para hwesio itu melihat seorang pemuda dan seorang gadis keluar dari kamar itu, tentu saja mereka segera menghadang, dan bersikap penuh curiga.

Akan tetapi Han Siong segera memperkenalkan diri.

"Para Suhu dan suheng apakah lupa kepadaku? Aku adalah Pek Han Siong..."

"Ah, Han Siong..."

"Sute..."

Para hwesio itu kini mengenalnya akan tetapi Han Siong tidak ingin banyak bicara dengah mereka.

Dia menggandeng tangan Sumoinya dan berbisik.

"Mari kita pergi, Sumoi...!"

Dan diapun mengajak Sumoinya untuk meloncat dan beberapa kali berkelebat saja, mereka telah menghilang di kegelapan malam.

Para hwesio hanya dapat memandang dengan mata terbelalak penuh kagum.

Mereka melanjutkan perjalanan didalam kegelapan malam, hanya diterangi sejuta bintang di langit.

Karena perjalanan mendaki Pegunungan Heng-tuan-san merupakan perjalanan yang sukar dan berbahaya, maka mereka hanya berjalan perlahan-lahan.

Tiba-tiba Bi Lian Berhenti.

"Marilah, Sumoi..."

Akan tetapi Bi Lian tidak bergerak dan mencoba untuk menatap tajam wajah pemuda itu melalui kegelapan.

"Suheng..."

Dari suaranya dapat di ketahui bahwa gadis itu menahan tangisnya.

Memang sejak keluar dari kuil tadi, hanya dengan kekerasan hatinya saja Bi Lian tidak tersedu-sedu atau terisak-isak walaupun kedua matanya sudah basah dan kadang-kadang ada air mata menetes keatas pipinya.

Pikirannya menjadi kacau tidak karuan.

Ia membayangkan mereka yang pernah dianggapnya sebagai ayah dan ibu kandungnya, yaitu suami isteri Cu Pak Sun yang terbunuh oleh mendiang kedua orang gurunya yaitu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi.

Lalu ia membayangkan dan mencoba untuk mengingat-ingat wajah kedua orang yang menjadi gurunya, yang datang di waktu malam dan memberi bimbingan ilmu silat kepadanya.

Seorang pria yang gagah perkasa, akan tetapi buntung lengan kirinya sebatas siku dan seorang wanita yang cantik jeilta akan tetapi selalu wajahnya pucat.

Mereka begitu baik kepadanya, bahkan wanita yang menjadi Subonya itu setiap kali datang dan pergi selalu mencium kedua pipinya dan pria berlengan buntung sebelah yang menjadi Suhunya itu selalu mengelus-elus kepalanya penuh kasih sayang!

Jadi mereka itu adalah ayah dan ibu kandungnya!

"Ya?

Kenapa, Sumoi?"

Tanya Han Siong, hatinya tidak enak karena tadi dia berkeras melarang Sumoinya membunuh Ceng Hok Hwesio.

"Suheng, katakan terus terang, apakah selama ini, sejak pertemuan pertama antara kita, engkau sudah tahu siapa diriku?"

Han Siong mengangguk, akan tetapi lalu teringat bahwa cuaca gelap dan belum tentu anggukannya kelihatan oleh gadis itu.

"Aku tahu, Sumoi. Suhu dan Subo sudah memberi tahu kepadaku siap namamu, yaitu Bi Lian dan mempergunakan nama keluarga Cu. Ketahuilah, Sumoi. Aku memang diutus oleh Suhu dan Subo untuk mencarimu. Selama dua tahun aku mengembara, tidak tahu harus mencari ke mana sampai pada suatu hari itu kita kebetulan saling berjumpa dan begitu melihat, aku... aku sudah merasa tegang karena wajahmu mirip sekali dengan wajah Subo. Ketika mendengar namamu, maka aku menjadi yakin."

"Tapi, kenapa kau diam saja, suheng? Kenapa kau tidak memberitahu kepadaku bahwa sebenarnya aku adalah anak kandung mereka?"

"Aku khawatir engkau tidak percaya, Sumoi. Maksudku, membawamu menghadap mereka dan biarlah engkau mendengar dari mereka sendiri. Tidak kusangka, kita bertemu dengan Lo-Suhu Ceng Hok Hwesio sehingga rahasia itu kau ketahui...

"Mereka melanjutkan perjalanan dan karena Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas) itu berada di puncak paling ujung, dan perjalanan dilakukan lambat, baru setelah terang tanah mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan cepat, maka pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, barulah mereka tiba di lembah itu.

Tidak sukar mencari suami isteri itu setelah mereka berdua tiba di lembah, karena baru saja mereka memasuki lembah yang subur itu, mereka melihat dua titik hitam dari atas depan yang makin lama menjadi makin besar dan akhirnya nampak dua sosok tubuh manusia berlari cepat menyongsong meraka.

Tanpa disadari, tangan Bi Lian mencari dan memegang lengan kanan Han Siong dan pemuda ini merasa betapa jari tangan gadis itu dingin gemetar.

Seperti yang diduganya, dua sosok tubuh itu setelah tiba di depannya bukan lain adalah Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu!

Mereka menyongsong sambil tersenyum gembira dan dari jauh Siangkoan Ci Kang sudah berseru.

"Heiiii..., bukankah itu engkau, Han Siong...?"

Ketika mereka sudah berhadapan, Toan Hui Cu tersenyum.

"Kami sudah menduga bahwa yang datang tentu engkau..."

Tiba-tiba ia berhenti dan matanya (Lanjut ke

Jilid 06) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 terbelalak mengamati wajah Bi Lian.

Juga Siangkoan Ci Kang tiba-tiba memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya berubah pucat, suaranya gemetar ketika dia berkata.

"Han Siong, ini... ia ini..."

Toan Hui Cu seperti besi terbetot besi sembrani, melangkah maju menghampiri.

"...kau... kau..."

Ia tidak mampu melanjutkan karena takut kalau-kalau ia salah kira. Akan tetapi suaminya berteriak.

"Pasti ia! Wajahnya itu... ah, serupa benar denganmu, Hui Cu. Ia Bi Lian...!!"

"Kau... kau Bi Lian...?"

Dengan suaraa bercampur isak Toan Hui Cu berkata, kedua lengannya dikembangkan.

Sejak tadi Bi Lian sudah memandang kedua orang itu dengan air mata bercucuran dan kini ia tidak dapat menahan dirinya lagi, ia lari menubruk Toan Hui Cu dan dirangkulnya wanita itu.

"Ibuuuuu..., engkau ibuku...!"

"Bi Lian anakku... ah, Bi Lian...!"

Kedua ibu dan anak itu berangkulan dan Hui Cu mendekap puterinya sambil tersedu-sedu.

"Bi Lian... ya Tuhan, syukurlah engkau selamat dan dapat bertemu kembali dengan kami, anakku..."

Bi Lian melepaskan rangkulan ibunya, lalu lari menubruk kaki ayahnya.

"Ayah...!"

"Anakku...!"

Dengan tangan kanannya Siangkoan Ci Kang membelai kepala gadis itu, pria yang sakti dan gagah perkasa ini tidak mampu menahan basahnya kedua matanya.

Hui Cu merangkul lagi puterinya dan mereka bertiga saling berangkulan dalam suasana yang penuh keharuan dan kebahagiaan.

Kemudian Siangkoan Ci Kang menghampiri Han Siong yang sejak tadi juga sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Suhu dan Subonya dan hanya memandang pertemuan itu dengan mulut tersenyum menahan keharuan hatinya yang merasa ikut berbahagia.

Siangkoan Ci Kang yang buntung lengan kirinya itu menyentuh kepala muridnya dengan penuh perasaan syukur dan berterima kasih.

"Syukur bahwa engkau berhasil menemukan anak kami, Han Siong."

Toan Hui Cu kini bangkit berdiri sambil merangkul pinggang puterinya yang ramping.

"Kami amat berterima kasih kepadamu, Han Siong. Tidak percuma kami mendidik dengan susah payah padamu selama ini, ternyata engkau berhasil membawa pulang Bi Lian."

"Pertemuan antara teecu dan Sumoi hanya kebetulan saja, Suhu dan Subo. Kami berdua sama-sama menentang gerakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo."

"Ahh..! Jadi iblis itu malah mengusahakan pemberontakan?"

Suami isteri itu bertanya.

Tentu saja mereka berdua mengenal Lam-hai Giam-lo, pemimpin pemberontak itu karena Lam-hai Giam-lo pernah melarikan diri dari para musuhnya yang amat lihai, menyamar sebagai hwesio dan bersembunyi di dalam kuil Siauw-lim-si pimpinan Ceng Hok Hwesio di mana mereka menjadi dua orang hukuman.

Lam-hai Giam-lo menyamar sebagai seorang tukang sapu yang gagu dan berkat suami isteri yang sakti ini pula iblis itu dapat diusir dari kuil.

"Ibu..., dan ayah... kenapa ibu dan ayah begitu...nakal terhadap diriku? Ayah dan ibu memberikan aku kepada keluarga Cu! Apakah ayah dan ibu malu mengakui diriku sebagai anak?"

Dengan merengut manja gadis itu bertanya sambil merangkul ibunya.

Suami isteri itu saling pandang lalu tersenyum lebar .

"Haiiii, Han Siong! Bagaimana Bi Lian begitu berjumpa dengan kami segera tahu bahwa ia adalah puteri kami? Apakah engkau sudah menceritakan kepadanya?"

Ibu gadis itu berbalik mengajukan pertanyaan ini kepada Han Siong sebelum mampu menjawab pertanyaan puterinya.

Siangkoan Ci Kang tertawa.

"Ha-ha-ha, hujan pertanyaan yang menuntut jawaban! Marilah kita pulang dan kita bicara sejelasnya di dalam pondok. Kita masing-masing akan diharuskan menceritakan segalanya secara panjang lebar agar tidak ada lagi rasa penasaran menyelinap di dalam hati. Sabarlah, anakku, engkau akan mendengar semua jawaban pertanyaanmu."

Gadis itu digandeng ayah ibunya, berjalan di tengah, dan Han Siong mengikuti mereka dari belakang, diam-diam hatinya merasa tegang karena masih ada sebuah hal yang belum terpecahkan dan yang masih menggoda perasaan hatinya.

Dia meraba gagang pedang Kwan-im-kiam yang tergantung di pinggangnya.

Pedang pusaka itu pemberian kedua orang gurunya, bukan hanya sebagai hadiah guru kepada murid, melainkan terutama sekali sebagai tanda bahwa dia telah dijodohkan kepada Bi Lian.

Dahulu, hatinya merasa ragu-ragu mengenai ikatan jodoh ini, akan tetapi dia tidak berani menolak karena dia merasa hutang budi besar sekali kepada kedua orang gurunya.

Akan tetapi sekarang, setelah dia berjumpa dengan gadis itu, tidak perlu ditanya untuk kedua kalinya, hatinya sudah seratus prosen menerima dan setuju untuk menjadi calon suami Bi Lian!

Begitu bertemu, dia sudah langsung jatuh hati.

Yang membuat hatinya merasa tidak enak, tegang dan bimbang adalah karena dia belum dapat menduga bagajmana nanti tanggapan atau pendapat gadis itu kalau mendengar bahwa ia dijodohkan dengan suhengnya!

Dan selama bergaul dengan Bi Lian, dia sungguh harus mengakui bahwa dia bingung dan tidak dapat menduga apa perasaan gadis itu terhadap dirinya.

Gadis itu berwatak demikian terbuka, polos di samping galak dan keras, akan tetapi baginya juga penuh rahasia.

Kadang-kadang gadis itu bersikap manis sekali, kadang-kadang seperti acuh.

Bagaimana kalau nanti Bi Lian menolak?

Bagaimana kalau diam-diam gadis ini telah mempunyai seorang pemuda pilihan, hatinya sendiri?

Hal mi membuat dia diam-diam gelisah ketika dia mengjkuti gadis dan ayah ibunya itu dari belakang.

Diam-diam dia merasa iri melihat betapa tangan dan lengan Suhu dan Subonya melingkar dipinggang yang ramping itu.

Kalau saja tangan dan lengannya yang berada di situ!

Gadis itu bicara dengan sikap manja sambil menoleh ke kanan kiri, kepada ayahnya dan ibunya.

Kalau saja gadis itu bicara seperti itu kepadanya!

Mereka memasuki sebuah pondok sederhana yang berdiri di tepi sebuah anak sungai yang airnya jernih dan yang mengalir riang berdendang di antara batu-batu sungai.

Pondok atau rumah tunggal di lembah itu, tidak mempunyai tetangga.

Rumah orang Jaln berada didusun yang berada di kaki gunung.

Setelah berada di dalam pondok, duduk di atas lantai bertilamkan rumput kering yang lunak dan bersih, mereka berempat bercakap-cakap.

Mula-mula, untuk menghilangkan rasa penasaran di hati Bi Lian, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu menceritakan keadaan mereka sebagai keturunan para datuk sesat yang telah yatim piatu saling mencinta dalam keadaan sengsara.

Betapa kemudian mereka ingin menebus dosa orang tua mereka, dan masuk ke dalam kuill Siauw-lim-si untuk menjadi hwesio dan nikouw.

"Namun, agaknya Tuhan juga melarang kami menjadi pendeta. Buktinya, aku mengandung, Bi Lian. Engkau pun terlahir dan kami dihukum oleh Lo-Suhu Ceng Hok Hwesio,"

Kata Toan Hui Cu.

"Kenapa ayah dan ibu dihukum? Bagaimana hukumannya? Sambil menahan kemarahannya terhadap ketua kuil itu, Lian bertanya. Siangkoan Ci Kang yang menjawab pertanyaan puterinya.

"Kami dihukum agar bertobat dan bertapa di dalam kamar tahanan selama masing-masing dua puluh tahun..."

"Dua puluh tahun?"

Bi Lian pura-pura terkejut.

"Mengapa Lo-Suhu itu menghukum seperti itu?"

"Karena menurut Lo-Suhu, kami dianggap telah melanggar dosa. Dan kami harus menebus dosa dengan bertapa dan menyesali perbuatan kami itu,"

Jawab ibunya.

"Dan ayah ibu menerima hukuman itu dengan rela? Ayah ibu menganggap hukuman itu sudah pantas?"

Bi Lian mendesak. Suami isteri itu saling lirik dan Siangkoan Ci Kiang menjawab.

"Ya, kami menerimanya dan kami menganggapnya sudah pantas."

"Tidak! Tidaaaaaakkk! Sama sekali tidak pantas! Hwesio tua itu hanya membalas dendam. Dia tergila-gila kepada ibu, kakek yang tak tahu malu itu! Ibu tidak mau melayaninya dan dia membalas dendam, menghukum ayah dan ibu untuk memuaskan dendamnya!"

"Sumoi...!"

Kembali Han Siong berseru menegur.

Suami isteri itu saling pandang, lalu memandang Han Siong, dan Siangkoan Ci Kang menarik napas panjang sebelum bertanya.

"Aha, kiranya kalian sudah tahu pula hal itu? Dari siapa kalian tahu?"

"Dia sendiri yang mengaku kepada kami!"

Jawab Bi Lian.

"Ayah dan ibu, kami tadinya masuk ke dalam kamar tahanan ayah dan ibu, akan tetapi kami hanya bertemu dengan Lo-Suhu itu dan dia membuat pengakuan. Hampir saja aku membunuhnya!"

"Bi Lian...!"

Toan Hui Cu merangkul puterinya. Kini Han Siong ikut bicara.

"Suhu dan Subo, sebelum bertemu dengan Lo-Suhu Ceng Hok Hwesio, Sumoi belum tahu bahwa ia adalah puteri Suhu dan Subo, karena teecu hanya mengajak ia untuk menghadap Suhu dan Subo yang ia ingat sebagai guru-gurunya ketika ia masih kecil. Akan tetapi, ketika teecu mencari Suhu dan Subo di kuil, kami bertemu dengan Ceng Hok Hwesio dan dialah yang mengakui segalanya kepada kami sehingga Sumoi mengetahui bahwa ia adalah puteri Suhu dan Subo dan dia mengakui segala hal yang telah dilakukannya."

"Aku heran sekali mengapa ayah dan ibu membiarkan saja orang berbuat sekejam itu kepada ayah dan ibu?"

Bi Lian menyambung dengan suara mengandung penasaran. Ayahnya tersenyum.

"Engkau tidak tahu, anakku. Engkau tidak tahu betapa ayah dan ibumu menderita tekanan batin mengingat dosa-dosa yang ditumpuk oleh para kakek nenekmu dahulu. Kami menerima hukuman itu yang kami anggap memang tepat bagi kami untuk menebus dosa-dosa turunan. Biarpun kemudian, setelah hampir duapuluh tahun Lo-Suhu itu membuat pengakuan, kami tidak merasa penasaran, karena dalam pelaksanaan hukuman itu kami mendapatkan hikmat dan anugerah yang amat berharga dari Tuhan. Melalui pelaksanaan hukuman itu, kami mendapatkan ilmu-ilmu tinggi, dan kemudian bahkan kami bertemu dengan suhengmu ini yang menjadi murid kami. Tidak, anakku, kami tidak merasa penasaran kepada Ceng Hok Hwesio."

"Bahkan kami merasa kasihan kepadanya, Bi Lian,"

Kata ibunya.

"Dia merasa menyesal dan penyesalan merupakan hukuman yang lebih berat lagi. Kini dia yang sudah begitu tua menderita kesengsaraan batin yang berat, bahkan dia akan menghukum diri sendiri di kamar itu sampai mati."

Bi Lian mengangguk-angguk.

"Mungkin benar juga pendapat ayah dan ibu. Dia menyiksa diri bahkan minta agar kubunuh, akan tetapi suheng mencegah aku. Akan tetapi, mengapa ibu menyerahkan aku kepada keluarga Cu, bahkan menyuruh mereka mengakui aku sebagai anaknya?"

"Begini, Bi Lian,"

Jawab ayahnya.

"Ibu dan aku sudah merundingkan hal itu baik-baik. Kami akan hidup selama dua puluh tahun di dalam kurungan, sebagai orang-orang hukuman. Kalau kami membiarkan engkau hidup bersama dengan kami dalam hukuman, bagaimana jadinya dengan dirimu? Kami harus memikirkan masa depanmu. Karena itulah maka setelah berpikir masak-masak, kami menitipkan engkau kepada keluarga Cu yang kami tahu merupakan keluarga baik-baik. Dan kami mengunjungimu untuk menjenguk keadaanmu sejak engkau masih bayi sampai engkau besar dan kami beri latihan dasar ilmu silat."

"Nah, itulah sesungguhnya yang mendorong kami menitipkan engkau kepada keluarga Cu di dusun itu, Bi Lian. Bukan sekali-kali karena kami tidak suka kepadamu! Engkau tahu, sampai berbulan-bulan setiap malam aku menangis kalau ingat kepadamu, dan hanya demi kebahagiaanmu di masa depan sajalah aku dapat menahan penderitaan batin yang berat itu..."

Bi Lian merangkul ibunya.

"Aku percaya, ibu. Akupun merasakan kasih sayang ibu dan ayah ketika sering datang mengajarku di dusun itu."

"Nah, sekarang giliranmu untuk menceritakan pengalamanmu!"

Kata Siangkoan Ci Kang kepada puterinya.

"Nanti dulu, ayah dan ibu,"

Kata Bi Lian dengan sikap manja dan "jual mahal."

"Aku ingin mendengar cerita suheng lebih dulu, tentang riwayatnya sampai dia bertemu dengan aku ketika menentang gerombolan Lam-hai Giam-lo itu."

Toan Hui Cu tersenyum dan mengangguk kepada muridnya.

"Kamipun ingin sekali mendengar, terutama tentang keberhasilanmu menemukan anakku. Berceritalah, Han Siong."

"Sumoi, aku pernah menceritakan keadaan keluargaku kepadamu. Ayahku adalah ketua dari Pek-sim-pang di Kong-goan. Ketika aku bayi, terpaksa aku disembunyikan karena hendak diculik oleh para pendeta Lama di Tibet. Aku disembunyikan di kuil Siauw-lim-si itu sehingga bertemu dengan Suhu dan Subo dan menjadi muridnya."

"Ya, aku sudah tahu akan hal itu, dan aku tahu pula bahwa adik Pek Eng adalah adik kandungmu. Ceritakan saja sejak engkau meninggalkan ayah dan ibu,"

Kata Bi Lian. Kini Han Siong menujukan ceritanya kepada kedua orang gurunya.

"Ketika Suhu dan Subo memberi tugas kepada teecu untuk mencari Sumoi, sesungguhnya teecu merasa bingung sekali karena selain selamanya teecu belum pernah bertemu dengan Sumoi, juga teecu tidak tahu harus mencari ke arah mana. Akan tetapi teecu mengambil keputusan tidak akan kembali menghadap Suhu dan Subo sebelum berhasil menemukan Sumoi. Teecu berangkat dibekali doa restu Suhu dan Subo, dan juga kenekatan. Dalam perjalanan itu, teecu bertemu dengan seorang locianpwe yang berjuluk Ban Hok Lojin dan teecu diambll murid selama satu tahun."

"Ban Hok Lojin?"

Siangkoan Ci Kang berseru kaget.

"Bukankah dia seorang di antara Delapan Dewa?"

"Suhu benar. Suhu Ban Hok Lojin adalah seorang di antara Pat-sian (Delapan Dewa) dan selama satu tahun teecu diberi ilmu Pek-hong Sin-ciang dan juga ilmu sihir..."

"Wah, ayah dan ibu! Suheng ini pandai main sulap, pandai main sihir!"

"Hemm, coba kau perlihatkan sedikit sihirmu agar kami melihatnya, Han Siong,"

Kata Toan Hui Cu, Subonya.

"Bagaimana teecu berani bersombong dan kurang ajar terhadap Suhu dan Subo?"

Kata Han Siong.

"Tidak, Han Siong. Jangan mengira bahwa kami tidak senang mendengar engkau menjadi murid Ban Hok Lojin. Kami hanya ingin melihat sendiri kekuatan sihir yang kau pelajari itu,"

Kata Suhunya.

"Suhu, menurut keterangan Suhu Ban Hok Lojin, ada dua macam ilmu sihir, yaitu yang disebut ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu hitam adalah sihir yang dipergunakan orang untuk melakukan kejahatan, sedangkan yang diajarkan Suhu Ban Hok Lojin hanyalah untuk melindungi diri dari serangan musuh, terutama untuk menghadapi serangan sihir hitam."

"Kalau begitu bagus sekali, Han Siong. Nah, perlihatkan sedikit kepada kami agar kami menjadi yakin."

"Aih, suheng! Kenapa pelit amat? Hayo perlihatkan kepandaianmu, akupun ingin sekali melihatnya,"

Kata Bi Lian.

Han Siong tersenyum dan diam-diam dia mulai mengerahkan kekuatan batinnya untuk melakukan demonstrasi sihirnya.

"Suhu, Subo dan Sumoi, andaikata teecu kewalahan menghadapi pengeroyokan atau menghadapi lawan tangguh, teecu dapat membuat lawan bingung untuk menyelamatkan diri dengan memperbanyak diri teecu!"

"Memperbanyak diri?"

Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu bertanya hampir berbareng.

"Apa maksudmu, suheng?"

Bi Lian juga ingin tahu sekali.

"Suhu, teecu dapat memperbanyak diri, misalnya menjadi dua seperti ini!"

Suara Han Siong berwibawa sekali, menggetar dan tiba-tiba saja ayah, ibu dan anak itu terbelalak melihat betapa tubuh Han Siong benar-benar berubah menjadi dua orang!

"Atau menjadi tiga seperti ini!"

Terdengar lagi suara Han Siong dan kini muncul pula seorang Pek Han Siong yang lain dan berdirilah tiga orang pemuda yang kembar di depan mereka.

Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, dua orang tokoh kang-ouw yang sudah banyak pengalaman dan memiliki kepandaian tinggi itu, cepat mengerahkan tenaga khikang mereka dan memusatkannya kepada pandang mata dan kini lenyaplah dua orang bayangan Han Siong yang lain, tinggal yang seorang saja, yang asli.

Akan tetapi Bi Lian tidak tahu bagaimana caranya membuyarkan penglihatan aneh itu dan iapun berseru sambil tertawa.

"Wah-wah-wah...! Kalau aku menjadi lawanmu, aku benar-benar akan kebingungan sekali, suheng! Yang mana sih engkau yang sesungguhnya?"

Han Siong tersenyum, diapun segera melenyapkan dua bayangannya.

Lalu dia menjatuhkan diri berlutut di depan Suhu dan Subonya yang dia tahu dapat menguasai penglihatan mereka tadi.

"Harap Suhu dan Subo suka memaafkan teecu."

Suami isteri itu saling pandang dan Siangkoan Ci Kang menarik napas panjang.

"Memang hebat ilmu sihir itu, Han Siong. Kami sendiri seketika terpengaruh dan memang merupakan alat pembela diri yang amat ampuh. Kami ikut merasa girang bahwa engkau dilatih oleh seorang sakti seperti locianpwe itu. Sekarang lanjutkan ceritamu, Han Siong."

"Teecu lalu pergi berkunjung ke Pek-sim-pang. Di sana teecu bertemu dengan lima orang pendeta Lama yang hendak memaksa teecu pergi ke Tibet. Teecu berhasil mengusir mereka dan teecu ber temu dengan ayah, ibu dan keluarga Pek."

"Ah, sukurlah, Han Siong. Aku ikut merasa gembira bahwa engkau dapat bertemu dengan orang tuamu dan keluargamu di sana,"

Kata Toan Hui Cu.

"Akan tetapi dari keluarga Pek, teecu mendengar bahwa adik kandung teecu yang bernama Pek Eng telah pergi meninggalkan rumah, katanya untuk mencari teecu, kakaknya yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya."

"Ah, kasihan sekali adik Pek Eng..."

Kata Bi Lian.

"Karena itu, teecu merasa khawatir dan teecu juga tidak lama tinggal di Pek-sim-pang. Teecu berangkat untuk mencari adik Pek Eng dan juga Sumoi, teecu mencari dua orang gadis!"

"Dua orang yang selamanya belum pernah suheng lihat. Hik-hik, betapa sukarnya itu...!"

Bi Lian tertawa.

"Akhirnya, teecu menemukan jejak adik Pek Eng yang ditangkap oleh gerombolan pemberontak Lam-hai Giam-lo yang bersarang di Yunan Lembah Yang-ce, maka teecu menyusul ke sana dan ternyata teecu menemukan dua-duanya di sana!"

Kembali Bi Lian tertawa.

"Orang-orang yang dicarinya itu telah berkumpul di Yunan, bahkan sebelum suheng bertemu dengan aku atau dengan adik Eng, aku dan adik Eng telah menjadi sahabat baik!"

"Pemberontakan Lam-hai Giam-lo dapat dihancurkan oleh para pendekar, kemudian teecu berhasil membujuk Sumoi untuk menghadap Suhu dan Subo di kuil Siauw-lim-si itu."

Han Siong mengakhiri ceritanya.

"Kami sungguh bersukur sekali, Han Siong. Engkau bukan saja dapat melaksanakan tugasmu dan memenuhi permintaan kami sehingga berhasil baik, akan tetapi juga dapat menemukan adik kandungmu dan dapat membantu para pendekar untuk menghancurkan persekutuan pemberontak Lam-hai Giam-lo."

Kata Siangkoan Ci Kang.

"Nah, sekarang giliranmu untuk bercerita, Bi Lian."

Bi Lian lalu menceritakan pengalamannya, sejak ia diambil murid oleh mendiang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua di antara Empat Setan yang menjadi datuk-datuk sesat di empat penjuru itu.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 9

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert