Eps 3 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Baca online Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Cersil Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo.
Kedua orang datuk itu senang sekali melihat Bi Lian yang ketika itu berusia enam tahun, seorang anak perempuan yang mungil, manis lincah dan memiliki keberanian luar biasa sekali.
Tentu saja anak kecil yang pemberani itu tadinya mendendam kepada dua orang iblis ini yang dianggap pembunuh keluarga Cu, keluarganya!
Akan tetapi dua orang itu menyalahkan dua pasang suami isteri iblis yang memusuhi mereka.
Dua pasang suami isteri iblis itulah yang membujuk rakyat dusun mengeroyok mereka sehingga banyak penduduk dusun tewas termasuk keluarga Cu.
Bi Lian dapat menerima alasan ini dan iapun mengalihkan dendamnya kepada dua pasang suami isteri iblis, yaitu Lam-hai Siang-mo dan Sepasang Suami Isteri Guha Iblis Pantai Selatan.
"Pelajaran apa saja yang kau peroleh dari Dua Setan itu?"
Toan Hui Cu bertanya.
Bi Lian memandang kepada ayah ibunya.
Ia melihat sinar mata khawatir berpancar keluar dari pandang mata kedua orang tuanya.
Memang, tak dapat disangkal lagi bahwa Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu merasa khawatir sekali membayangkan bahwa anak kandung mereka menjadi murid dua manusia iblis seperti Tung-hek-kwi dan Pek-kwi-ong yang sudah terkenal sekali di dunia kang-ouw sebagai dua orang yang tidak segan melakukan perbuatan jahat dan kejam yang bagaimanapun iuga, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu tahu diri.
Mereka merasa bahwa mereka adalah keturunan datuk-datuk jahat sekali, maka mendengar betapa puteri mereka menjadi murid dua di antara Empat Setan, tentu saja mereka merasa khawatir kalau-kalau darah nenek moyang puterinya itu akan menurun pada batin puterinya.
Bi Lian tersenyum.
"Ayah dan ibu tak perlu khawatir. Memang aku mempelajari berbagai ilmu silat tinggi dari mendiang Suhu Pek-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, akan tetapi aku tidak sudi mempelajari dan meniru perbuatan mereka yang kuanggap jahat! Bagaimanapun juga, bimbingan keluarga Cu yang baik, juga bimbingan ayah dan ibu yang ketika itu kuanggap guru, masih meninggalkan kesan di hatiku dan aku tidak terpengaruh oleh watak jahat mereka."
"Sumoi berkata benar,"
Han Siong cepat menyambung.
"Semenjak bertemu dengan Sumoi. Yang teecu lihat, Sumoi mempunyai jiwa pendekar seratus prosen, dan bahkan ia telah mendapat julukan Thiat-sim Sian-li sebagai tanda kekerasan hatinya menghadapi orang-orang jahat."
"Aih, suheng ini memuji-mujiku di depan ayah dan ibu, mau merayu, ya?"
Bi Lian bertanya dengan pandang mata nakal menggoda.
Wajah Han Siong seketika berubah merah.
Kalau saja gadis itu tahu bahwa mereka telah dijodohkan, tentu tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti itu!
Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu memandang sambil tersenyum.
Mereka tahu bahwa puteri mereka itu berwatak keras, pemberani, dan polos sehingga ucapan yang dikeluarkan tadi hanya untuk menggoda Han Siong, tidak mempunyai makna lain.
"Ah, aku hanya bicara jujur Sumoi. Kalau engkau bukan berjiwa pendekar tentu tidak akan menentang gerombolan Lam-hai Giam-lo. Bahkan engkau berjasa besar sekali karena di tanganmulah Lam-hai Giam-lo tewas!"
"Ah, benarkah?"
Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu terkejut mendengar ini karena mereka berdua maklum akan kelihaian Lam-hai Giam-lo.
Kalau puteri mereka mampu membunuh iblis itu, tentu puteri mereka itu telah memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa hebatnya!
"Wah, memang suheng tukang memuji.
Hemm, jangan-jangan suheng sudah ketularan watak putera Si Tawon Merah itu!"
Tiba-tiba Bi Lian termenung karena ia teringat kepada seorang pemuda yang amat pandai merayu hati wanita, bahkan ia sendiri pernah terpikat oleh puji-pujian dan rayuan yang keluar dari mulut pemuda itu.
Pemuda itu bernama Tang Hay seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat bukan main, bahkan pandai pula bermain sihir, seorang pemuda pendekar yang gagah perrkasa.
Akan tetapi kemudian ketahuan bahwa pemuda perkasa itu adalah putera Ang-hong-cu atau Si Kumbang Merah y-ng terkenal sebagai penghisap kembang atau seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) perusak dan pemerkosa wanita yang amat keji!
"Sumoi, aku tidak memuji, melainkan bicara secara jujur,"
Kata Pek Han Siong yang merasa tidak enak mendengar disebutnya nama putera Ang-hong-cu itu.
"Akan tetapi, benarkah engkau telah berhasil membunuh Lam-hai Giam-lo, Bi Lian?"
Tanya Toan Hui Cu heran.
"Aah, ibu. Suheng ini bisa saja. Memang aku membunuhnya, akan tetapi bukan sendirian, melainkan mengeroyoknya bersama dua orang pendekar yang sakti. Kalau aku sendiri, kiranya tidak akan mampu mengalahkan dia."
"Lanjutkan ceritamu,"
Kata Siangkoan Ci Kang.
"Selama belajar ilmu silat dari kedua orang Suhu itu, aku diajak merantau dan aku tidak pernah mencampuri urusan Suhu. Akan tetapi aku sendiri mempergunakan kepandalanku untuk menentang kejahatan di mana-mana sehingga orang-orang kang-ouw menjuluki aku Thiat-sim Sian-li. Kemudian, kedua orang Suhu merantau ke daerah Yunan di mana aku menemukan jejak dua pasang suami isteri yang kuanggap sebagai musuh besarku karena merekalah yang menyebabkan terbasminya keluarga Cu yang kukira keluargaku sendiri. Dan dalam pengejaran terhadap dua pasang suami isteri itulah kami bertiga bertemu dengan gerombolan Lam-hai Giam-lo! Suhu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi terbujuk oleh mereka dan biarpun aku tak senang, mereka tetap saja menjadi tamu kehormatan gerombolan pemberontak itu. Bahkan, kemudlan Suhu Pak-kwi-ong hendak memaksa aku menerima pinangan Kulana, seorang di antara pimpinan pemberontak berasal dari Birma yang berilmu tinggi dan kaya raya. Aku tidak sudi, dan ketika Suhu Pak-kwi-ong memaksa, Suhu Tung-hek-kwi membelaku. Mereka kemudian saling serang dan keduanya tewas! Pada waktu itulah bermunculan para pendekar dan aku lalu bergabung dengan mereka untuk membasmi gerombolan pemberontak yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo, Kulana dan banyak lagi tokoh sesat itu."
Gadis dan ayah bundanya itu melepaskan kerinduan masing-masing dan selama beberapa hari, mereka hanya bercakap-cakap saja, saling menceritakan pengalaman mereka lebih terperinci.
Beberapa hari kemudian, sehabis makan siang, mereka bertiga, ditemani oleh Han Siong, duduk di atas rumput tebal diluar pondok, di bawah pohon yang rindang.
Mereka memang Jebih suka bercakap-cakap sambil duduk di atas rumput ini dari pada di dalam pondok.
Tiba-tiba Toan Hui Cu bertanya kepada Han Siong.
"Han Siong, sudahkah engkau menceritakan kepada Sumoimu tentang pedang pusaka Kwan-im-pokiam Itu?"
Tiba-tiba wajah Han Siong berubah merah dan dia tidak mampu menjawab, hanya meraba gagang pedang di pinggangnya.
Melihat ini, Bi Lian yang menjawab sambil tersenyum.
"Suheng pernah menceritakan bahwa dia selain menerima ilmu-ilmu yang hebat dari ayah dan ibu, juga menerima pemberian pedang pusaka Kwan-im-pokiam, ibu!"
"Bukan hanya sebagai pemberian, Bi Lian,"
Kata Hui Cu dan ia menoleh kepada suaminya.
Siangkoan Ci Kang mengangguk, agaknya setuju kalau isterinya menyinggung urusan itu.
"Bukan hanya sebagai pemberian, lalu sebagai apa, ibu? Hadiah karena suheng seorang murid yang baik?"
Bi Lian bertanya, mengerling kepada suhengnya untuk menggodanya.
"Sebagai"
Ikatan, Bi Lian. Ikatan jodoh!"
Bi Lian terbelalak memandang kepada ibunya, lalu kepada ayahnya.
"Ikatan jodoh? Apa yang ibu maksudkan?"
Sementara itu, Han Siong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
"Bi Lian, ayahmu dan aku telah mengambil keputusan, jauh sebelum engkau pulang, yaitu dua tahun lebih yang lalu, ketika suhengmu pergi berangkat untuk pergi mencarimu. Keputusan kami itu adalah bahwa kami menjodohkan engkau dengan Pek Han Siong, dan pedang pusaka Kwan-im-pokiam itu kami berikan ke padanya sebagai tanda ikatan jodoh..."
Toan Hui Cu menghentikan kata-katanya dan memandang kepada puterinya dengan wajah khawatir.
Ia melihat perubahan pada wajah puterinya yang tadinya cerah dan riang itu.
Wajah itu menjadi keras, sepasang matanya mencorong dan Bi Lian memandang ayah ibunya bergantian, kemudian menoleh dan memandang kepada Han Siong yang masih menundukkan mukanya yang merah.
Suasana menjadi amat sunyi, kesunyian yang menegangkan hati, terutama bagi Han Siong.
"Kami harap engkau akan menerimanya dengan hati terbuka, anakku,"
Kata Siangkoan Ci Kang.
"Kami melihat Han Siong sebagai seorang pemuda yang amat baik, keturunan pendekar, dan engkau sendiri tentu sudah mengenalnya selama ini dan dapat menilainya sendiri..."
"Justeru itulah, ayah! Aku selama ini menganggapnya sebagai seorang suheng, seorang kakak! Suheng, mengapa selama ini engkau diam saja tidak pernah memberitahu kepadaku tentang jodoh ini?"
Dalam pertanyaan itu terkandung penyesalan dan teguran.
Han Siong mengangkat mukanya, sikapnya tetap tenang walaupun dia merasa gugup sekali.
Setelah menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan batinnya yang terguncang, diapun menjawab.
"Maafkan aku, Sumoi. Aku tidak tega, tidak ingin membuat engkau menjadi sungkan dan malu, maka aku diam saja, biar Suhu dan Subo sendiri yang memberitahu akan hal itu."
"Tidak", tidak"! Bagaimana mungkin terjadi ikatan jodoh yang tiba-tiba ini? Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri! Ayah dan ibu, sungguh aku tidak dapat menerima keputusan yang begini tiba-tiba!"
Mendengar ini, wajah Han Siong berubah pucat dan seperti tadi, diapun hanya menundukkan mukanya.
"Bi Lian, engkau tidak boleh menolak mentah-mentah hanya dengan alasan bahwa engkau menganggapnya seperti kakak sendiri! Memang benar dia kakak seperguruanmu, akan tetapi tidak ada hubungan darah sedikitpun antara keluarga kita dan keluarga Pek,"
Kata Siangkoan Ci Kang sambil mengerutkan alisnya karena kecewa melihat sikap puterinya yang menolak ikatan jodoh itu.
"Tapi, ayah! Bagaimana mungkin orang berjodoh secara begitu saja? Selama ini aku memandang suheng sebagai seorang kakak seperguruan, bagaimana tiba-tiba saja aku memandangnya sebagai tunangan, sebagai calon suami? Orang berjodoh harus ada perasaan cinta kasih!"
Bantah Bi Lian dengan polos, sesuai dengan wataknya yang bagaimanapun juga mewarisi sikap kedua orang gurunya, polos dan berandalan.
Toan Hui Cu juga merasa penasaran, lalu ia mengambil keputusan dalam menghadapi puterinya yang bicara secara terbuka ini dengan cara yang lebih jujur, maka iapun berkata kepada Han Siong.
"Han Siong, sekarang lebih baik engkau pun bicara terus terang saja! Bagaimana perasaan hatimu ketika kami menyatakan bahwa engkau kami jodohkan dengan puteri kami yang pada waktu itu belum kau lihat? Engkau memang telah menerimanya dengan patuh, akan tetapi bagaimana perasaanmu pada saat itu?"
Mendengar pertanyaan ibunya, wajah Bi Lian menjadi berseri.
Ia memang lebih suka urusan secara terbuka begini daripada harus menyimpan di dalam hati.
"Suheng, jawablah sejujurnya. Percayalah, aku tidak akan menyesal atau marah, bahkan kalau engkau tidak bicara jujur, aku merasa penasaran dan marah!"
Katanya kepada Han Siong.
Pemuda ini merasa terhimpit sekali.
Sejak kecil ia hidup di dalam kuil dan mempelajari segala macam kebudayaan dan sopan santun, kesusilaan, peraturan untuk menghormati orang tua, guru, wanita dan orang pandai.
Kini dia diharuskan bicara secara terbuka tanpa tenggang rasa lagi, apa adanya!
Biarpun ia tidak merasa berkeberatan dengan cara seperti ini, membicarakan rahasia hati di depan orang lain secara terbuka, namun tentu saja dia harus berkorban perasaan.
Setelah menghela napas panjang beberapa kali, diapun memandang kepada Suhu dan Subonya, lalu memberi hormat sambil berlutut.
"Suhu dan Subo, teecu telah menerima budi besar dari ji-wi yang tak dapat teecu bayar dengan nyawa sekalipun dan teecu sama sekali tidak menghendaki untuk menyinggung perasaan atau menyakiti hati Suhu dan Subo. Akan tetapi karena Suhu, Subo dan juga Sumoi menghendaki jawaban yang sejujurnya dan terbuka, maka apa yang akan teecu katakan adalah suara hati teecu dan sama sekali tidak lagi ditutupi oleh perasaan sungkan."
"Bagus, suheng! Begitulah. Seharusnya sikap orang gagah!"
Kata Bi Lian dan kini wajahnya berseri gembira lagi.
"Ketika Suhu dan Subo memberikan Kwan-im-pokiam ini kepada teecu dan mengatakan bahwa ji-wi menjodohkan teecu dengan puteri ji-wi, sesungguhnya teecu juga merasa terkejut. Tentu saja teecu tidak mungkin dapat menyatakan suka atau tidak suka kalau teecu belum pernah melihat Sumoi. Akan tetapi, ketika itu teecu menerima, sepenuhnya hanya karena terdorong keinginan teecu membalas budi ji-wi dan menyenangkan hati ji-wi. Teecu merasa yakin bahwa ji.-wi tentu sudah memperhitungkannya dengan masak dan tidak akan keliru mengambil keputusan. Karena itulah teecu menerima dan mulai mencari Sumoi."
Suami isteri itu mengangguk-angguk, dapat menerima keterangan ini, juga Bi Lian mengerti bahwa alasan suhengnya itu memang tepat, akan tetapi tidak urung dia mencela.
"Suheng telah bersikap tidak wajar. Menerima secara membuta seperti itu sungguh bukan merupakan kebaktian yang benar. Siapapun yang menyuruh kita, haruslah kita pertimbangkan macam tugas yang diperintahkan. Biar guru sendiri, biar orang tua sendiri, kalau menyuruh kita melakukan hal yang berlawanan dengan suara hati, sudah sewajarnya kalau ditolak. Mentaati karena ingin membalas budi itu namanya ketaatan yang ngawur dan nekat, dan yang akibatnya dapat membuat diri sendiri menyesal!"
Kembali suami isteri itu saling pandang.
Puteri mereka itu ternyata telah dewasa benar, dan telah memiliki kematangan pandangan, walaupun terlalu polos, terlalu jujur tanpa ditutup-tutupi sehingga mudah menyinggung perasaan orang dan terdengar kasar.
"Sekarang katakan, Han Siong. Setelah engkau bertemu dengan Sumoimu, setelah engkau melihatnya, bicara bahkan bergaul dengannya,bagaimana pendapatmu? Mengaku saja terus terang, adakah cinta kasih di dalam hatimu terhadap anak kita Siangkoan Bi Lian?"
Mendengar pertanyaan ini, kembali wajah pemuda itu menjadi merah sekali.
Sambil berlutut dia memberi hormat dan berkata lirih.
"Duhai Suhu dan Subo..., bagaimana teecu berani menjawab pertanyaan itu...?"
"Han Siong, tenangkan hatimu. Sumoimu menuntut agar kita semua bicara secara terbuka. Memang kalau kupikir, sikap ini benar. Segala macam persoalan dapat dipecahkan dengan cepat kalau kita bersikap terbuka. Jawablah sejujurnya, Han Siong."
"Suheng, apakah engkau bukan laki-laki yang jantan? Kita harus jujur, kepada diri sendiri, kepada orang lain! Manusia yang tidak memiliki kejujuran, yang tidak berani mengakui apa yang berada didalam hatinya, dia itu hanya seorang pengecut! Dan aku yakin, suhengku yang gagah ini sama sekali bukan pengecut!"
Bukan main ucapan gadis itu.
Lidahnya seperti pecut yang mencambuk-cambuk dengan tajamnya!
"Baiklah, Sumoi.
Suhu dan Subo, teecu mengaku terus terang, begitu teecu bertemu dengan Sumoi, melihat wajahnya, bicara dengannya, melihat sikapnya dan segalanya, teecu langsung jatuh cinta padanya!"
Suami isteri itu saling pandang dan tersenyum, akan.
tetapi Bi Lian terbelalak keheranan memandang suhengnya.
"Waahhh! Benarkah itu, suheng? Ataukah engkau hanya terikat oleh janji dan balas budi? Bagaimana mungkin begitu mendadak kau jatuh cinta, dan"
Aku sama sekali tidak melihat sikapmu yang mencinta itu, tak pernah engkau mengatakan kepadaku bahwa engkau cinta padaku!"
"Mana aku berani, Sumoi?"
"Ah. mengapa tidak berani? Dalam cinta mencinta, pertama-tama yang dibutuhkan adalah kejujuran pula!"
"Sudahlah, Bi Lian, sekarang suhengmu sudah mengaku sejujurnya bahwa dia mencintamu. Sekarang, bagaimana dengan engkau? Setelah engkau bertemu dan bergaul dengan suhengmu, bagaimana pendapatmu? Tidaklah dia pantas menjadi calon suamimu? Katakanlah, apakah engkau dapat membalas cinta kasihnya?"
"Wah, aku masih bingung, ibu. Aku memang suka sekali kepada suheng, suka dan kagum, dan terus terang saja, aku bangga mempunyai seorang suheng seperti dia. Jarang pula ada pemuda sebaik suheng! Akan tetapi cinta? Sama sekali tidak pernah kupikirkan hal itu. Andaikata dia tidak memperkenalkan diri sebagai suhengku, mungkin saja hal itu kupikirkan karena selama ini belurn pernah aku bergaul dengan seorang kawan pria seakrab dengan suheng. Aku menganggap dia sebagai kakak, dan aku tidak tahu apakah aku dapat mencintanya seperti seorang calon suami. Dan akupun tidak yakin akan cintanya yang begitu tiba-tiba, apalagi dilatarbelakangi ketaatan dan hutang budi kepada ayah dan ibu!"
"Lalu bagaimana keputusanmu, Bi Lian? Maukah engkau menerima ikatan jodoh dengan suhengmu"?"
Tanya Siangkoan Ci Kang.
"Tidak, ayah. Aku sama sekali belum memikirkan soal perjodonan."
"Bi Lian,"
Kata ibunya.
"Tahukah engkau berapa usiamu sekarang?"
"Kalau tidak salah dua puluh tuhun, ibu. Apa hubungannya usia dengan perjodohan?"
"Aih, Bi lian, usia dua puluh sudah terlalu lambat bagi seorang gadis untuk berjodoh,"
Kata ibunya. Gadis itu tersenyum lebar.
"Tidak, ibu. Bagiku, usia tidak ada hubungannya dengan perjodohan. Yang ada hubungannya hanyalah cinta kasih. Dan terus terang saja, aku suka dan kagum kepada suheng, akan tetapi aku... tidak... atau belum mencintanya seperti seorang calon suami."
"Jadi jelasnya, engkau menolak, Bi Lian?"
Kata Siangkoan Ci Kang.
"Sebaiknya, ikatan jodoh itu dibatalkan saja dulu, ayah. Jangan ada pengikatan. Kelak, kalau aku yakin bahwa aku cinta pada suheng dan dia cinta padaku, mudah saja dilakukan ikatan kembali!"
"Bi Lian! Engkau mengecewakan hati ayah ibumu!"
Kata Siangkoan Ci Kang.
"Maafkan, ayah dan ibu. Apakah ayah dan ibu hendak memaksaku dan membikin hidupku selanjutnya kecewa dan merana? Senangkah ayah dan ibu kalau aku menurut hanya untuk berbakti? Itu hanya akan menjadi pernikahan paksaan, ayah dan ibu. Suheng menikah karena ingin membalas budi, dan aku menikah hanya untuk berbakti. Pernikahan macam apa itu? Maukah ayah dan ibu begitu?"
Suami isteri itu saling pandang dan menghela napas panjang.
Terus terang saja, mereka tidak menghendaki pernikahan anaknya seperti itu.
"Lalu apa yang menjadi kehendakmu sekarang, Bi Lian? Apakah engkau telah memiliki seorang calon jodoh pilihan hatimu sendiri? Kalau benar demikian, katakanlah terus terang. Kami sudah ingin melihat engkau berumah tangga, mengingat usiamu sudah cukup dewasa,"
Kata ibu gadis itu.
Sementara itu, sejak tadi Han Siong hanya menundukkan mukanya.
Hatinya terasa perih dan perasaannya terpukul hebat oleh penolakan Sumoinya.
Dia dipaksa untuk berterus terang di depan Suhu dan Subonya, dan setelah dia berterus terang menyatakan cinta kasihnya dengan menekan rasa malunya, kini dengan terus terang pula Bi Lian menolak cintanya!
Padahal, dia sudah di tunangkan dengan Sumoinya itu.
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang kali-laki dan tentu saja dia merasa terbanting keras harga dirinya.
"Maaf, Suhu, Subo dan Sumoi. Teecu harap agar Suhu dan Subo tidak terlalu menekan Sumoi dan agar urusan perjodohan itu dihabiskan sampai disini saja. Sumoi memang benar. Perjodohan hanya dapat dilakukan kalau ada cinta kasih kedua pihak. Teecu yang tidak tahu diri, berani lancang mencinta Sumoi. Oleh karena itu, Suhu dan Subo, maafkan teecu dan sebaiknya kalau Kwan-im Po-kiam ini teecu kembalikan kepada Suhu dan Subo, sebagai tanda bahwa tidak ada lagi ikatan perjodohan antara Sumoi dan teecu."
Dengan kedua tangannya, pemuda itu menyerahkan pedang pusaka itu kepada kedua orang gurunya.
Siangkoan Ci Kang terpaksa menerima pedang itu dengan kedua tangan pula, menarik napas panjang lalu berkata kepada muridnya.
"Han Siong, engKau lah yang harus dapat memaafkan kami berdua. Kami terlalu terburu-buru mengikatkan tali perjodohan antara anak kami dan engkau, sama sekali tidak menyangka bahwa akan timbul penolakan dari pihak puteri kami. Engkau benar, memang sebaiknya kalau ikatan jodoh itu diputuskan. Kalau memang Tuhan menghendaki kalian berjodoh, kelak tentu kalian akan dapat saling mencinta. Andaikata tidak, itu berarti bahwa memang Tuhan tidak menghendaki kalian menjadi suami isteri."
"Han Siong, keputusanmu ini bijaksana sekali dan engkau kembali telah memperlihatkan kebaktianmu terhadap kami. Dengan kebijaksanaanmu ini engkau telah membebaskan guru-gurumu dari keadaan yang tidak enak. Terima kasih, Han Siong."
Kata Subonya sambil tersenyum dengan hati terharu.
Nyonya ini melihat betapa muridnya amat budiman dan alangkah akan bahagia rasa hatinya kalau puterinya mau menjadi isteri Han Siong!
Bi Lian bertepuk tangan, wajahnya penuh senyum dan berseri gembira, kemudian, dengan sikap manja dan lincah, iapun menghadapi Han Siong dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di dadanya.
"Bagus, bagus! Akupun berterima kasih sekali kepadamu, suheng! Nah, kau lihat, keputusanmu, ini membuat engkau menjadi pahlawan dalam keluarga kami! Ayah dan ibu terbebas dari perasaan tidak enak, akupun merasa bebas dari ikatan kebaktian yang kulanggar, dan aku dapat menghadapi dan memandangmu dengan wajar sebagai seorang Sumoi terhadap suhengnya yang baik hati! Terima kasih, suheng."
Biarpun wajah pemuda itu tidak memperlihatkan sesuatu, namun sesungguhnya hatinya seperti diremas-remas.
Dia tidak menyalahkan Suhu dan Subonya, tidak menyalahkan Sumoinya, melainkan menyesali diri sendiri.
Memang nasib dirinya yang buruk dan sial, sejak ia dilahirkan.
Betapapun juga, dalam hal ini dia merasa bahwa dia yang bersalah karena lemah.
Kenapa dia begitu mudah jatuh cinta?
Andaikata dia tidak jatuh cinta kepada Bi Lian, maka pembatalan ikatan jodoh ini tentu tjdak menyakitkan hatinya benar.
Cinta kita bergelimang nafsu.
Karena itu selalu mendatangkan suka duka, puas kecewa, nikmat sengsara.
Cinta kita menumbuhkan ikatan, mencjptakan belenggu.
Cinta kita seperti jual beli di pasar.
Kita membeli dengan pengorbanan diri, kesetiaan, penyerahan, untuk mendapatkan yang lebih menguntungkan, lebih menyenangkan, yaitu kesetiaannya, pengorbanannya, penyerahan dirinya, kesenangan-kesenangan yang kita nikmati darinya.
Kalau semua itu tidak terdapat oleh kita sebagai "imbalan", maka cinta kitapun menguap ke udara dan tidak berbekas lagi, bahkan kadang kala berubah menjadi benci.
Cinta kita selalu menyembunyikan pamrih demi kesenangan diri sendiri.
Adakah cinta tanpa pamrih?
Adakah cinta yang tidak mengandung pengajaran kepentingan diri sendiri?
Adakah cinta yang tidak menimbulkan ikatan, yang memberi kebebasan?
Dapatkah kita manusia memiliki cinta kasih seperti jtu?
Han Siong menderita akibat dari pada cinta seperti itu.
Dia mencinta, tent saja dengan pamrih agar yang dicintanya itupun membalas cintanya, menjadi miliknya.
Ketika ternyata bahwa gadis yang dicintanya itu tidak membalas cintanya, tidak mau menjadi miliknya, maka hatinya pun kecewa, malu dan timbullah duka.
"Sumoi, harap jangan terlalu memujiku. Aku telah membuat Suhu, Subo, dan Sumoi rmerasa tidak enak saja. Salahku sendiri karena sesungguhnya akulah yang tidak tahu diri."
"Han Siong, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Engkau hanya mentaati permintaan kami saja, dan kami yang sesungguhnya bersalah."
Kata Siangkoan Ci Kang.
"Jangan putus asa, Han Siong. Bagaimanapun juga, Bi Lian hanya terkejut karena berita yang mendadak itu. Biarlah ia berpikir dan mempertimbangkan, mungkin kalau memang kalian berjodoh, kelak tentu ikatan ini akan dapat disambung kembali,"
Kata Toan Hui Cu yang juga merasa kasihan sekali kepada murid tersayang itu.
"Sudahlah, ayah dan ibu, jangan mengulurkan harapan baru bagi suheng agar kelak ia tidak akan menderita kekecewaan lagi. Suheng, kurasa sekarang ini belum waktunya bagi kita berdua untuk memikirkan soal perjodohan! Masih banyak tugas menanti di depan. Lupakah suheng akan nasib adik kandung suheng itu? Apakah suheng akan membiarkan saja si jahanam Ang-hong-cu itu?."
Mendengar ini, Han Siong mengerutkan alisnya, wajahnya berubah merah dan dia termenung.
Terbayang segala peristiwa yang terjadi ketika dia bersama para pendekar lainnya menentang persekutuan Lam-hai Giam-lo.
Di dalam perjuangan para pendekar menghadapi para pemberontak yang dipimpin persekutuan itu, muncul seorang tokoh yang juga membantu gerakan para pendekar, akan tetapi tokoh itu ternyata adalah seorang tokoh hitam yang namanya amat terkenal, yaituAng-hong-cu, si Kumbang Merah yang suka menghisap kembang.
Seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang terkenal suka memperkosa dan merayu banyak sekali wanita.
Celakanya, di antara para wanita yang diperkosanya itu terdapat pula Pek Eng, adik kandungnya!
Pek Eng diperkosa orang dan tadinya, semua tuduhan ditimpakan kepada Tang Hay, Seorang pendekar muda yang selain sakti, pandai ilmu silat, juga amat kuat ilmu sihirnya.
Bahkan terjadi bentrok antara dia dan Tang Hay dan kesalahpahaman ini tentu akan berlarut-larut kalau saja kemudian tidak diketahui bahwa pemerkosa Pek Eng sama sekali bukanlah Tang Hay, melainkan Ang-hong-cu, penjahat cabul yang namanya sudah amat terkenal di dunia kang-ouw itu.
Dan dia tidak segera mencari penjahat itu untuk mernbalaskan penghinaan yang menimpa diri adik kandung, melainkan menyibukkan diri untuk mengantarkan Sumoinya kepada Suhu dan Subonya, tentu saja dengan pamrih tersembunyi bahwa dia akan dijodohkan dengan gadis yang menarik hatinya itu.
Wajahnya seketika berseri ketika dia diingatkan oleh Sumoinya tentang hal itu, dan dadanya penuh dengan getaran semangat.
"Engkau benar sekali, Sumoi! Aku harus mencari manusia jahat itu agar dia tidak merajalela dan mendatangkan bencana bagi banyak orang yang tidak berdosa."
Dia lalu berlutut memberi hormat kepada Suhu dan Subonya.
"Suhu dan Subo, setelah teecu berhasil membawa pulang Sumoi dan mengantarnya kepada Suhu dan Subo, maka selesailah tugas teecu dan teecu mohon diperkenankan untuk pergi, melaksanakan tugas lain, tugas keluarga teecu sendiri."
Suami isteri itu merasa tidak enak sekali kepada murid mereka, dan kepergian murid mereka itu hanya akan menghilangkan rasa tidak enak itu, maka keduanya memberi persetujuan tanpa banyak cakap lagi.
Pemuda itu berpamit, memberi hormat dan pergi meninggalkan kedua gurunya, dan juga Sumoinya, gadis yang dicintanya.
Setelah pemuda itu pergi, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu mendengar lebih banyak dari puteri mereka tentang Ang-hong-cu Si Kumbang Merah, dan tentang adik kandung Han Siong yang menjadi satu di antara para wanita yang menjadi korban kejahatan jai-hwa-cat itu.
Kota Shu-lu tidak begitu besar namun cukup ramai dan di situ bahkan terdapat sebuah rumah penginapan Hok-lai-koan yang memiliki kamar cukup banyak, dengan sebuah rumah makan.
Karena rumah penginapan ini mempunyai rumah makan sendiri, maka banyak orang luar kota kalau terpaksa menginap di kota Shu-lu lebih senang bermalam di sini dari pada di rumah penginapan lain.
Kalau di Hok-lai-kodn sudah penuh barulah pengunjung kota itu terpaksa mencari rumah penginapan lain.
Hampir setiap hari rumah penginapan itu penuh tamu, dan dengan sendirinya rllmah makan itupun selalu ramai karena semua tamu yang bermalam di situ makan di rumah makan itu.
Pemilik rumah makan itu bernama Gui Lok, seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun yang perutnya gendut dan orangnya ramah.
Gui Lok ini ahli masak, dan pandai bergaul, pandak menjilat dan mata duitan.
Isterinya yang pertama telah meninggal dunia, meninggalkan seorang anak perempuan yang usianya kini sudah tujuh belas tahun, cantik manis dan ramah walaupun agak pendiam.
Gui Lok telah menikah lagi, dengan seorang janda muda yang usianya baru dua puluh lima tahun, cantik dan genit.
Tiga orang ini semua turun tangan mengurus rumah pernginapan dan rumah makan mereka.
Biarpun di kedua tempat itu sudah terdapat pegawai-pegawai yang bertugas, namun ayah ibu dan anak itu selalu saja membantu, kadang-kadang dirumah penginapan, akan tetapi lebih sering di rumah makan.
Gui Lok sering membantu di dapur memberi petunjuk kepada para tukang masak, sedangkan isterinya dan puterinya membantu diluar.
Hal ini menambah semaraknya rumah makan itu karena keduanya merupakan dua orang wanita yang cantik manis.
Isteri Gui Lok dengan kecantikan yang genit memikat, sedangkan Gui Ai Ling dengan kecantikan seorang gadis yang sedang mekar bagaikan setangkai bunga segar.
Pagi itu, para tamu dari rumah penginapan sudah berada di rumah makan itu untuk sarapan pagi.
Ada yang memesan bubur ayam, ada yang makan bakmi atau makan bakpao, bahkan mereka yang gembul pagi-pagi sudah memesan nasi dengan lauk pauknya!
Di antara para tamu itu, nampak seorang pemuda duduk sendirian di sudut luar rumah makan.
Dia seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, memiliki tubuh yang sedang namun tegap dengan dadanya yang bidang.
Matanya bersinar-sinar menncorong, mulutnya tersenyum-senyum dan memang pemuda ini berwajah cerah dan manis.
Hidungnya mancung dan pakaiannya sederhana, berwarna biru dengan garis-garis kuning.
Agaknya pemuda yang menjadi tamu rumah penginapan itu, sehabis sarapan hendak segera pergi ke luar kota karena di atas meja terdapat sebuah caping lebar pelindung panas dan hujan.
Nampaknya saja dia seorang pemuda sederhana biasa saja.
Terdapat ribuan orang pemuda seperti dia dan kehadirannya di situ sama sekali tidak menarik perhatian orang, kecuali isteri dan puteri Gui Lok karena pemuda itu memang dapat dibilang tampan dan sikapnya menarik.
Akan tetapi orang kalau sudah mengenal pemuda ini, dia akan terkejut melihat kehadirannya karena pemuda ini sesungguhnya sama sekali bukan orang muda biasa saja, melainkan seorang pemuda gemblengan, murid dari dua orang di antara Delapan Dewa, kemudian digembleng dalam hal ilmu sihir oleh mendiang Pek Mau San-jin dan masih beruntung pula menjadi murid kakek Song Lo-jin yang aneh dan sakti.
Pemuda ini bernama Tang Hay, atau lebih dikenal dengan sebutan Hay Hay saja.
Seperti juga halnya pendekar Pek Han Siong, kehidupan Hay Hay ini sejak kecil diliputi penuh rahasia, menjadi rebutan dan terancam bahaya maut.
Bahkan kehidupannya di masa dia masih bayi erat hubungannya dengan Pek Han Siong.
Ibunya telah tewas sejak dia masih bayi dan dia bahkan tidak tahu siapa nama ibunya.
Ibunya adalah seorang gadis yang menjadi korban jai-hwa-cat yang berjuluk Ang-hong-cu, dan Si Kumbang Merah itu meninggalkan ibunya setelah mengandung.
Ibunya membunuh diri di laut bersamanya, akan tetapi dia sendiri diselamatkan oleh mendiang kakek Pek Khun, yaitu kakek buyut dari Pek Han Siong, kemudian dia diaku anak oleh Pek Kong, ayah Pek Han Siong.
Dia dijadikan pengganti Pek Han Siong yang diam-diam dilarikan karena anak itu dianggap Sin-tong dan diperebutkan oleh para pendeta Lama di Tibet karena dianggap sebagai calon guru besar di Tibet!
Dan ketika dia masih bayi dan menjadi anak keluarga Pek, pengganti Pek Han Siong, dia diculik oleh suanli isteri Lam-hai Siang-mo!
Dia diambil anak oleh sepasang iblis itu dan namanya menjadi Siangkoan Hay, karena Lam-hai Siang-mo itu terdiri dari suami Siangkoan Leng dan isteri Ma Kim Li, dua orang datuk sesat yang amat jahat.
Dalam usia tujuh tahun, dia yang masih dianggap sebagai sin-tong, diperebutkan lagi di antara orang-orang dunia kang-ouw sampai akhirnya dia mendengar bahwa dirinya bukanlah putera kandung Lam-hai Siang-mo!
Dia lalu melarikan diri, dikejar-kejar oleh para kang-ouw dan akhirnya diselamatkan oleh See-thian Lama atau Gobi San-jin, seorang di antara Delapan Dewa, menjadi muridnya.
Kemudian dia menjadi murid Ciu-sian Sin-kai, juga seorang di antara Delapan Dewa.
Demikianlah, berturut-turut dia menjadi murid orang-orang sakti sehingga Hay Hay kini menjadi seorang pemuda gemblengan yang memiliki kesaktian.
Bukan saja ilmu silatnya tinggi, akan tetapi juga dia memiliki ilmu sihir yang cukup hebat!
Pemuda ini memiliki watak periang.
Suka bergembira dan menggoda orang, dan dia pandai sekali merayu wanita dengan omongan manis sehingga para wanita mudah sekali jatuh cinta atau setidaknya tertarik kepadanya.
Akan tetapi, biarpun hal ini agaknya diwarisinya dari ayahnya yang tak pernah dijumpainya, namun dia bukan seorang perusak wanita, bukan seorang pria cabul yang suka memperkosa atau mempermainkan wanita.
Biarpun karena ulahnya itu dia dijuluki Pendekar Mata Keranjang, namun sifat mata keranjangnya itu hanya di kulit saja, hanya di luar dan dia selalu menjaga agar jangan sampai dia mengganggu atau berjina dengan wanita.
Ketika para pendekar menentang pemberontakan yang dipimpin oleh persekutuan Lam-hai Giam-lo, Hay Hay juga ikut membantu para pendekar, bahkan ia terlibat secara langsung.
Dia berjasa banyak dalam perjuangan itu, akan tetapi karena sifatnya yang mata keranjang, ketika ada beberapa orang gadis menjadi korban perkosaan Ang-hong-cu, Dialah yang dituduh!
Dan ditempat itu pula baru Hay Hay mendapat kenyataan bahwa Ang-hong-cu, penjahat keji perusak wanita itu, bukan lain adalah ayah kandungnya sendiri!
Dia lalu mengambil keputusan untuk menebus dosa ayahnya itu, bukan hanya dengan perbuatan-perbuatan baik sebagai seorang pendekar, namun terutama sekali dia harus dapat menangkap ayah kandungnya sendiri agar orang itu mempertanggungjawabkan semua dosanya.
Dia harus menangkap Si Kumbang Merah!
Demikianlah riwayat singkat dari Tang Hay atau Hay Hay yang dikenal sebagai Pendekar Mata Keranjang!
Padahal, sampai dia berusia dua puluh dua tahun itu, dia masih seorang perjaka tulen!
Dan pada pagi hari itu dia duduk di dalam rumah makan karena malam tadi dia bermalam di rumah penginapan Hok-lai-koan.
Hay Hay enak-enak duduk seorang diri, menunggu datangnya pesanannya, yaitu bubur ayam dan air teh panas.
Dia tidak tahu betapa sejak dia datang, dia telah menarik perhatian dua orang wanita cantik, ibu dan anak tiri pemilik rumah makan itu.
Selagi dia melamun, dia mendengar suara langkah kaki halus menghampirinya.
Tentu saja suara ini amat halus dan lirih, tidak terdengar di antara kebising dan para tamu, akan tetapi cukup jelas bagi telinga Hay Hay yang terlatih.
Dia mengira pesanannya yang datang, maka dia menoleh dan seketika wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.
Seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang berwajah manis telah berdiri di dekat mejanya, memandang kepadanya dengan senyum yang mengalahkan madu manisnya!
Dengan ramah sekali gadis itu bertanya tanpa malu-malu kepadanya.
"Apakah kongcu (tuan muda) belum dilayani? Apakah sudah memesan makanan dan minuman?"
Hay Hay tertegun.
Sukar baginya untuk menduga bahwa gadis manis ini seorang di antara para pelayan rumah makan itu.
Gadis semanis ini?
Dia mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah, aku sudah pesan kepada seorang pelayan tadi. Bubur dan air teh."
"Kalau begitu, harap tunggu sebentar, kongcu. Maafkanlah kalau pelayanannya kurang cepat karena banyaknya tamu."
"Tidak mengapa, nona. Biar harus menunggu setahun di sini, kalau ada nona yang menemani bicara, sungguh merupakan suatu kebahagiaan besar bagiku. Aduh, betapa sayangnya"!"
Gadis itu memandang dengan kedua pipi berubah merah.
Biarpun pemuda ganteng ini memujinya, akan tetapi pujian itu tidak kasar dan kurang ajar, berbeda dengan para tamu pria lainnya yang biasanya suka mengeluarkan kata-kata kotor, tidak bersusila dan bahkan kurang ajar kepadanya.
"Kongcu, apanya yang sayang?"
Tanyanya, ingin tahu apa yang dimaksudkan pemuda ini.
"Ketika tadi aku melihat engkau berdiri seanggun itu, aku mengira sedang bermimpi bertemu bidadari! Ketika nona bicara, kusangka seorang puteri bangsawan yang menjadi tamu restoran ini. Sungguh sayang gadis secantik jelita nona ini, yang anggun, manis dan elok, ternyata seorang pelayan. Di sini tempat umum dan nona tentu akan selalu digoda orang, kenapa nona secantik ini tidak tinggal saja dirumah dan melakukan pekerjaan lain?"
Wajah itu berubah semakin merah, akan tetapi bukan karena marah.
Kecantikannnya dipuji setinggi langit, disamakan bidadari, disangka puteri bangsawan!
Hati gadis mana tidak akan berdebar pebuh rasa bangga kalau dipuji-puji seperti ini oleh seorang pria yang ganteng?
Apalagi pujian itu sama sekali tidak kurang ajar, bahkan mengandung nasihat.
"Aih, kongcu ini bisa saja memuji orang!"
Katanya sambil menggigit bibirnya dan matanya mengerling malu-malu akan tetapi hatinya senang.
"Sebetulnya, aku bukanlah pelayan rumah makan ini, kongcu. Ayahku pemilik rumah penginapan dan rumah makan ini, aku ikut membantu para pekerja di sini."
"Ah, kalau begitu aku bersikap kurang hormat dan telah lancang bicara!"
Hay Hay segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada gadis itu.
"Silakan duduk, nona. Sungguh aku merasa beruntung sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu. Namaku Hay Hay, dan nona...?" (Lanjut ke
Jilid 07) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07
"Ai Ling...! Mari sini, ada tamu datang sambutlah!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita lain.
"Hemm, namamu Ai Ling, nona? Nama yang amat manis, semanis orangnya."
Kata Hay Hay. Akan tetapi gadis itu sudah menjauhinya sambil berseru.
"Baik, ibu!"
Dan iapun pergi menuju ke pintu masuk untuk menyambut tamu-tanlu yang baru datang.
Sementara itu, kembali Hay Hay menjadi bengong ketika melihat siapa yang datang membawa baki terisi bubur dan minuman teh yang dipesannya, yaitu wanita yang tadi menegur Ai Ling, dan yang disebut ibu oleh gadis itu.
Ibu gadis itu?
Mana mungkin?
Wanita yang datang dengan lenggang yang aduhai ini paling banyak berusia dua puluh lima tahun!
Seorang wanita yang sudah matang, dengan tubuh denok montok, penuh lekuk lengkung menggairahkan, wajahnya putih dan cantik manis, hanya sayang agak terlalu tebal bedak dan gincu yang dipakainya, dengan pakaian yang indah dan mahal, rambut digelung rapi dengan hiasan menarik.
Wanita ini dengan lenggang yang lemah gemelai seperti penari ahli, datang menghampirinya dan tersenyum manis kepada Hay Hay.
"Maaf kalau agak lambat, kongcu. Inilah pesananmu. Bubur ayam dan minuman air teh, bukan?"
Katanya sambil meletakkan hidangan itu di atas meja.
Ia berdiri dekat sekali dengan Hay Hay sehingga pemuda ini dapat mencium keharuman semerbak keluar dari pakaian wanita ini.
Dia masih bengong mengamati wanita ini, akhirnya dia menarik napas panjang dan berkata.
"Terima kasih, akan tetapi... tidak salahkah pendengaranku? Tadi Ai Ling menyebut ibu..., tidak kelirukah aku?"
Wanita itu adalah isteri Gui Lok, bernama Kim Hwa.
Dengan sikap genit ia mengerling kepada pemuda ganteng yang sejak tadi memang amat menarik perhatiannya itu, lalu tersenyum cerah, sehingga nampak kilatan giginya yang putih.
"Engkau tidak keliru, kongcu. Aku Kim Hwa, ibu tiri dari Ai Ling. Kenapa kongcu meragukan?"
Hay Hay menarik napas panjang lagi.
"Aihh, siapa yang tidak ragu-ragu? Engkau masih begini muda, cantik jelita lagi, pantasnya menjadi kakak dari Ai Ling, kalau kalian enci adik barulah pantas. Kiranya engkau ibu tirinya? Sungguh, kalian adalah dua orang wanita yang sama cantik manisnya, pantas saja rumah makan ini selalu penuh. Kalian bagaikan dua tangkai bunga mawar indah yang menghias tempat ini sehingga banyak kumbang beterbangan dan berkeliaran di sini...!"
Senyum di wajah yang cantik genit itu makin cerah dan sepasang mata yang menantang itu makin berseri.
"Ihh, kongcu. Rayuanmu maut! Engkau sendiri seorang pemuda yang amat menarik hati. Siapakah namamu, orang muda yang tampan?,"
"Namaku Hay Hay..."
"Hay Hay, di kamar nomor berapa?"
"Kamar bagian belakang, nomor tujuh."
"Kongcu malam nanti lewat jam dua belas, kalau babi itu sudah pulas, aku ingin berkunjung ke kamarmu..."
Berkata demikian, wanita itu pergi meninggalkan mejanya sambil membawa baki kosong, melempar senyum dan kerling tajam yang membuat Hay Hay bengong di atas bangkunya!
Bukan main, pikirnya.
Nyonya muda itu begitu saja menjanjikan permainan kotor dengannya!
Tidak salah lagi, tentu yang dimaksudkan babi itu tentu suaminya, atau ayah Ai Ling!
Justeru pada saat itu, dari pintu belakang yang menembus ke dapur, muncul seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, seorang pria bertubuh gendut sekali, dan yang melihat sikapnya tentu dia adalah majikan rumah makan itu!
Benar saja, pria gendut itu menggapai kepada Kim Hwa dan wanita genit itu segera menghampirinya dan mereka bicara bisik-bisik, keduanya memandang ke arah tamu baru yang datang dan disambut oleh Ai Ling.
Melihat ini, Hay Hay juga menoleh dan memandang ke arah gadis manis yang menyambut tamu baru itu.
Tamu itu seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, tinggi besar seperti raksasa, dengan pakaian mewah, seorang hartawan besar, akan tetapi wajahnya menyeramkan dan menakutkan karena kulit muka yang hitam itu penuh dengan bopeng, yaitu cacat bekas penyakit cacar yang membuat kulit mukanya kasar dan kelihatan kotor.
Matanya agak besar sebelah, hidungnya besar sekali dan mulutnya juga lebar.
Akan tetapi lagaknya jelas menunjukkan bahwa dia kaya dan royal, lagak khas seorang hartawan yang yakin akan "harga dirinya"
Yang diukur dengan kepadatan kantungnya.
Di belakang hartawan raksasa ini ketihatan tiga orang yang juga tidak menyembunyikan lagak mereka sebagai tukang-tukang pukul atau pengawal dari si hartawan tinggi besar.
Dengan lengan baju disingsingkan, pinggang dihias golok, dada dibusungkan dan kepala ditegakkan, langkah satu-satu seperti harimau, tiga orang itu seolah-olah memasang kedudukan mereka di atas dada agar semua orang tahu.
Dengan sikap manis, seperti kalau menerima tamu rumah makan itu, Ai Ling menyambut empat orang tamu ini, akan tetapi sekali ini senyum yang menghias wajah yang manis itu agak dibuat-buat.
Di dalam hatinya, gadis ini tidak suka kepada tamu hartawan itu karena hartawan Coa ini sudah terkenal sekali sebagai seorang mata keranjang yang suka mempergunakan harta kekayaannya untuk memaksakan kehendaknya.
Selain sebagai seorang hartawan juga Coa Wan-gwe ini seorang yang dianggap sebagai majikan dari para penjahat di sekitar kota Shu-lu.
Dengan hartanya dan dengan kekuasaannya karena dia pandai mendekati para pejabat, dan dengan banyaknya tukang pukul yang menjadi pengawalnya, maka dia ditakuti oleh semua orang.
Bahkan dia menguasai pula semua tempat pelesir di kota Shu-lu dan kota-kota lain yang berdekatan dengan kota raja.
Di samping banyaknya orang yang merasa takut dan diam-diam membencinya, banyak pula orang-orang yang ingin memperoleh keuntungan dari hartawan ini, dan orang-orang seperti ini tidak segan-segan untuk menjilat dan mencari muka.
Kalau Gui Lok sendiri dan puterinya, Ai Ling, diam-diam merasa tidak suka bahkan membenci dan takut kepada Coa Wan-gwe, sebaliknya Kim Hwa selalu bersikap manis kepada hartawan itu.
Ia maklum akan kekuasaan dan kekayaan hartawan ini, bahkan tahu pula bahwa jika keluarga suaminya tidak membikin senang hati hartawan ini, maka perusahaan suaminya terancam kebangkrutan.
Kalau hartawan itu memusuhi mereka, tidak sukar baginya untuk memaksa suaminya menutup rumah penginapan dan rumah makannya, dengan menggunakan kekerasan dan siapakah yang akan berani membela suaminya?
Semua pembesar di Shu-lu, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, semua telah berada dalam genggaman tangan Coa Wan-gwe, seperti boneka-boneka yang dapat menari menurut kehendak hartawan itu.
Tiga hari yang lalu, ketika makan di rumah makan mereka, hartawan itu ketika dilayani Kim Hwa telah membisikkan hasrat hatinya untuk "memetik"
Bunga rumah makan itu, yaitu Ai Ling!
Mendengar ini, tentu saja hati Kim Hwa diliputi rasa takut.
Akan tetapi diam-diam ia juga merasa girang karena sebetulnya semenjak menjadi isteri Gui Lok, ia membenci Ai Ling.
Maka ia lalu membujuk suaminya untuk menyerahkan Ai Ling kepada Coa Wan-gwe, untuk menjadi selir yang entah ke berapa kalinya.
Gui Lok tidak setuju dan marah-marah kepada isterinya, akan tetapi diapun merasa khawatir sekali, tidak berani menentang kehendak Coa Wan-gwe karena dia tahu betapa bahayanya menentang kehendak orang itu.
Ketika pada pagi hari itu sang hartawan muncul bersama tiga orang tukang pukulnya, Gui Lok tidak berani keluar dari dapur.
Isterinya cepat menyuruh Ai Ling menyambut tamu baru itu, kemudian iapun cepat memasuki dapur dan setengah menyeret suaminya keluar.
"Lihat, betapa besar rasa cinta Coa Wan-gwe kepada anak kita,"
Bisik Kim Hwa kepada suaminya yang memandang dengan muka agak pucat.
"Lihat, sinar matanya kepada Ai Ling. Aih, kalau engkau mempunyai menantu dia, kedudukanmu tentu akan meningkat tinggi dan tidak ada seorangpun di Shu-lu ini berani kepadamu."
Sementara itu, dengan sikap manis dibuat-buat, Ai Ling menyambut tamu-tamu itu.
"Selamat pagi, lo-ya (tuan besar), dan silakan duduk di sudut sana. Masih ada meja Kosong untuk lo-ya sekalian."
Kata Ai Ling.
dengan senyum buatan.
Coa Wan-gwe bengong memandang gadis yang manis itu.
Seperti setangkai bunga yang sedang mekar semerbak, pikirnya.
Dia mengangguk-angguk, lalu berkata.
"Ai Ling, engkau sediakan bakmi dan panggang babi, juga arak yang cukup untuk kami, dan engkau sendiri harus melayani aku pagi ini. Jangan khawatir, akan kuberi hadiah yang banyak, Ai Ling, manis...!"
Tiga orang tukang pukulnya tertawa-tawa dan Ai Ling tersipu.
"Maaf, lo-ya, saya masih mempunyai banyak pekerjaan. Akan tetapi, akan saya sampaikan pesannya lo-ya. Silakan duduk!"
Gadis itu lalu setengah berlari masuk ke dalam.
Sejak tadi Hay Hay menyaksikan semua yang terjadi itu.
Telinganya yang terlatih itu dapat menangkap bisikan hartawan tinggi besar muka bopeng ketika mengajak Ai Ling untuk melayaninya dan diam-diam dia merasa tidak senang kepada orang tinggi besar itu.
Sikapnya begitu pongah dan congkak, seperti biasa memerintah, dan sinar matanya begitu penuh nafsu seolah-olah menggerayangi tubuh Ai Ling dari atas ke bawah.
Orang ini berbahaya sekali, pikirnya dan dia mengkhawatirkan keselamatan Ai Ling.
Dia melihat betapa Ai Ling kelihatan ribut-ribut mulut dengan ayah dan ibu tirinya, walaupun mereka hanya berbisik-bisik.
Nampak olehnya di balik pintu ke dapur itu betapa Ai Ling menggeleng kepala keras-keras seperti menolak, sedangkan Kim Hwa memegang pundaknya dan seperti membujuk-bujuk.
Gui Lok yang gendut seperti babi itu hanya menggeleng-geleng kepala dengan bingung dan khawatir.
Kini nampak Kim Hwa yang mengantar seorang pelayan membawakan pesanan makanan dan minuman untuk hartawan itu.
Setelah mengatur hidangan di atas meja, dan pelayan itu pergi, Kim Hwa berbisik kepada hartawan itu, suaranya manis dibuat-buat.
"Harap Coa tai-ya sudi memaafkan Ai Ling. Dasar anak pemalu, dan ia banyak pekerjaan di dalam, maka tidak dapat melayani tai-ya. Biarlah saya yang melayani di sini."
Dengan sikap manis sekali ia lalu menuangkan arak ke dalam cawan untuk hartawan itu, sedangkan tiga orang tukang pukul itu memandang nyonya muda itu dengan senyum-senyum senang.
Akan tetapi hartawan itu cemberut.
"Hemm, apakah engkau belum menyampaikan hasrat hatiku kepadanya dan kepada suamimu?"
"Sudah, tai-ya."
"Dan suamimu tidak setuju?"
Sepasang mata hartawan itu memandang penuh ancaman.
"Ah, tidak, tidak! Mana ia berani? Dia hanya menyerahkan kepada saya, dan kepada puterinya. Percayalah, tai-ya tentu akan mendapatkan apa yang dikehendakinya."
Kata Kim Hwa dengan sikap manis.
Sejak tadi, Hay Hay terus mendengarkan.
Kebetulan meja yang dihadapi rombongan hartawan itu tidak begitu jauh dari tempat duduknya sehingga pendengarannya yang tajam dapat menangkap semua percakapan itu walaupun dilakukan dengan berbisik-bisik dan lirih.
"Hemm, nyonya Gui, dengar baik-baik. Aku sudah tidak sabar lagi. Malam ini aku akan bermalam di rumah penginapan suamimu. Sediakan kamar terbaik, dan malam nanti aku sungguh mengharapkan ia berada di dalam kamarku! Kalau perintahku sekali ini tidak ditaati, jangan menyesal kelak kalau keluarga dan perusahaan suamimu menjadi berantakan!"
Wajah wanita itu nampak ketakutan.
"Baik, tai-ya, jangan khawatir...,"
Lalu suaranya menjadi semakin lirih.
"Bagaimanapun juga, saya akan mengusahakan agar dapat mendorongnya ke kamar tai-ya. Akan tetapi karena ia pemalu, harap tai-ya menunggu sampai lewat tengah malam, kalau perlu saya akan memaksanya"
Hartawan tinggi besar itu tersenyum lebar dan menjilati bibirnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku bajunya.
"Tidak perlu dengan paksaan, kau gunakan ini. Campurkan dalam makanan atau minumannya dan ia akan menjadi mabok dan tidak akan melawan lagi."
Kim Hwa menerima bungkusan itu, lalu melayani hartawan Coa dan tiga orang tukang pukulnya makan minum sampai mereka menjadi setengah mabok.
Sementara itu, Hay Hay sudah meninggalkan rumah makan.
Hatinya panas sekali.
Hartawan mata keranjang, pikirnya, perusak gadis-gadis orang.
Dan wanita genit tak tahu malu itu merupakan seorang ibu tiri yang kejam dan jahat, ingin menjebloskan puteri tirinya ke dalam lembah kehinaan dan menghidangkan puteri itu, seorang gadis manis, menjadi santapan si bandot tua Coa!
Dia harus mencegah hal ini terjadi, pikirnya.
Akan tetapi karena peristiwa yang direncanakan orang-orang jahat itu baru akan dilaksanakan malam nanti, maka Hay Hay melanjutkan acaranya hari itu, ialah melakukan penyelidikan dan mencari jejak Ang-hong-cu, Si Kumbang Merah, atau ayah kandungnya sendiri, untuk dibekuknya dan dipaksanya mempertanggungjawabkan semua dosanya, apalagi mempertanggungjawabkan perbuatan hinanya, memperkosa dua orang gadis yang amat dikaguminya, Yaitu perbuatan yang dilakukannya ketika para pendekar sedang menentang persekutuan Lam-hai Giam-lo.
Dua orang gadis pendekar itu yang pertama adalah Pek Eng, adik kandung Pek Han Siong, puteri dari ketua Pek-sim-pang di Kong-goan.
Yang kedua adalah Ling Ling atau Cia Ling, puteri dari pendekar besar Cia Sun, masih keluarga dari Cin-ling-pai, yang tinggal di dusun Ciang-si-bun dekat kota raja.
Peristiwa aib yang menimpa dua orang gadis perkasa itu telah mencemarkan namanya, karena dialah yang mula-mula dituduh sebagai pelakunya!
Oleh karena itu, dia harus dapat membekuk batang leher Ang-hong-cu, ayahnya sendiri, dan menyeretnya kepada dua orang pendekar wanita itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, untuk mencuci bersih namanya sendiri yang hampir saja tercemar dan menjadi busuk!.
Mencari seorang datuk sesat haruslah menghubungi dunia penjahat, pikir Hay Hay.
Maka diapun tidak ragu-ragu lagi memasuki sebuah rumah judi terbesar dikota Shu-lu.
Rumah judi ini bercat merah dan cukup luas.
Ada beberapa belas meja perjudian.
Ada permainan dadu, permainan kartu dan ma-ciok.
Akan tetapi yang paling ramai dipenuhi orang adalah meja dadu terbesar di tengah ruangan.
Banyak sekali tamu yang datang mengadu untung di tempat perjudian itu.
Ketika Hay Hay masuk dengan memakai topinya yang lebar, segera ada dua orang tukang pukul menghampirinya.
Karena dia tidak dikenal, dan pakaiannya sederhana, juga mengenakan topi caping yang lebar, maka tentu saja dia dicurigai.
"Hei, kawan. Di sini tidak boleh memakai caping lebar, seperti di sawah saja!"
Tegur seorang di antara mereka.
"Ke sinikan, kau titipkan dulu capingmu kepada kami. Nanti kalau kau hendak pulang, boleh kau ambil dari kami!"
Kata yang ke dua.
Hay Hay menoleh dan melihat dua orung laki-laki tinggi besar dan nampak kokoh kuat, berdiri dengan sikap bengis dan mengancam.
Hay Hay tersenyum dan menanggalkan topi capingnya, lalu menyerahkan kepada mereka.
"Harap jaga baik-baik capingku, karena di sini tidak ada orang yang menjual caping lebar model selatan ini,"
Katanya sambil tersenyum.
Seorang tukang pukul menerima caping itu, dan orang ke dua memandang Hay Hay dengan sinar mata tajam penuh selidik.
"Sobat, apakah engkau datang hendak berjudi?"
Hay Hay tersenyum.
"Sobat, kalau orang memasuki rumah judi lalu tidak hendak berjudi, lalu mau apa?"
"Hemm, siapa tahu? Ada saja manusia tolol yang mencoba-coba untuk merampok di po-koan (rumah judi) kami, ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha, dan mereka itu dihajar habis-habisan, bahkan ada yang mampus! Mereka tidak tahu siapa kami!"
Kata orang ke dua. Hay Hay ikut tertawa.
"Sungguh tidak tahu diri! Merampok sebuah po-koan? Itu namanya tidak mengenal kawan sendiri. Nah, aku tidak setolol itu, kawan. Aku datang untuk mengadu untung!"
Dia menuding ke arah meja dadu yang penuh orang.
"Nanti dulu sobat, kalau engkau hendak berjudi, engkau harus mempunyai modal. Nah, perlihatkan dulu modalmu. Maklumlah, engkau orang baru dan kami harus berhati-hati!"
Hay Hay tersenyum.
Memang ada dia membawa uang, akan tetapi tidak cukup banyak.
Dia bukanlah seorang kaya yang banyak uang.
Dia mengeluarkan beberapa uang logam tembaga yang tidak berapa banyak, hanya segenggam dan harganya tentu saja tidak seberapa, akan tetapi pandang matanya mencorong ketika memandang kepada dua orang itu dan dia berkata sambil tertawa.
"Lihat, cukuplah modalku ini?"
Dua orang itu melihat Hay Hay membuka tangannya dan...
mereka terbelalak melihat segenggam uang emas berkilauan di atas tangan pemuda itu.
Segera sikap mereka berubah dan mereka berdua membungkuk-bungkuk.
"Nah, lebih dari cukup, kongcu. Silakan..., silakan...!"
Kata mereka sambil mengundurkan diri dan menyimpan caping Hay Hay di tempat yang sudah disediakan untuk orang menaruh segala barang bawaan yang tidak diperlukan di situ seperti topi, payung, jubah dan lain-lain.
Dengan langkah seenaknya Hay Hay lalu menuju ke meja dadu.
Dia melihat betapa tempat judi itu dilayani oleh banyak wanita muda cantik yang bersikap genit.
Akan tetapi, yang menjadi Bandar tentu pria yang kelihatannya lihai sekali dalam mempermainkan dadu.
Dia mendesak diantara banyak orang dan dapat melihat apa yang terjadi di atas meja judi putar dadu itu.
Semua orang sudah memasang taruhan mereka di atas meja, di mana terdapat gambar dan nomor-nomor yang dipasangi orang.
Nomor dua sampai dengan dua belas yang bergambar di atas meja.
Adapun dadu yang diputar ada dua buah, masing-masing dadu mempunyai enam permukaan yang digambar totol-totol merah, dari satu sampai dengan enam.
Tidak ada yang memasang taruhan pada nomor-nomor dua, tiga dan dua belas.
Biarpun dia bukan seorang penjudi, namunl Hay Hay yang cerdik segera memperhitungkan mengapa tidak ada orang memasangkan taruhannya pada tiga nomor itu.
Tentu saja, karena kemungkinan keluar tiga nomor itu hanya masing-masing satu kali saja.
Untuk nomor dua hanya kalau keluar satu tambah satu, nomor tiga kalau keluar satu tambah dua, dan nomor dua belas kalau keluar enam dan enam.
Demikian pula nomor sebelas tidak ada yang memasang, karena nomor sebelas hanya keluar satu kemungkinan, yaitu enam dan lima.
Akan tetapi nomor-nomor lain, dari empat sampai se puluh, mempunyai dua kemungkinan keluar.
Maka, mereka itu semua hanya memasangkan uang mereka pada nomor empat sampai dengan se puluh.
Dan yang menang mendapatkan tiga kali lipat dari uang taruhannya!
Kelihatannya saja menguntungkan sekali, akan tetapi Hay Hay dapat memperhitungkan bahwa kemungkinan menang bagi para penjudi itu sedikit sekali, dan kernungkinan menang itu sudah diborong oleh bandarnya!
Bayangkan saja!
Kemungkinan keluar dari dua buah dadu itu sebanyak delapan belas nomor sehingga kesempatan menang dari setiap pemasang adalah dua lawan delapan belas, atau satu lawan sembiln.
Dan imbalannya kalau menang hanya satu mendapat tiga!
Setelah semua orang meletakkan taruhannya, bandar, seorang laki-laki pendek gendut yang selalu menyeringai, memutar dadu-dadu itu, dua buah banyaknya, kedalam mangkok, kemudian dengan cekatan sekali dia menelungkupkan mangkokitu di atas meja, dengan dua buah dadunya di bawah mangkok.
"Hayo tambah lagi taruhan, masih ada kesempatan!"
Tantang bandar itu, dan empat orang pembantu wanita yang cantik-cantik, dengan gaya masing-masing, membujuk penjudi yang banyak uang untuk menambah taruhan mereka.
Memang pasaran taruhan menjadi semakin ramai kalau mangkok itu sudah ditelungkupkan, tinggal dibuka saja.
Meja itu penuh dengan uang taruhan yang ditumpuk-tumpuk.
"Awaaaassss, mangkok akan dibuka! Perhatikan baik-baik! Satu... dua... tiga"!"
Dengan cekatan, tangan si pendek gendut membuka mangkok dan dua buah dadu itu jelas memperlihatkan angka di permukaan mereka, yaitu angka satu dan dua!
"Tigaaaaa...!"
Teriak Bandar dadu dengan alat pengeruknya, dan tentu saja dia mengeruk semua uang yang bertumpuk di atas meja karena tidak ada seorangpun yang memasang nomor tiga.
Para pelayan wanita sibuk pula membantunya dan beberapa orang pembantu lagi mengatur uang kemenangan itu dalam tumpukan-tumpukan yang rapi, memisah-misahkan mata uang itu dan menghitung-hitung.
"Silakan pasang lagi! Pasang lagi"! Siapa tahu kali ini pasangan anda tepat mengenai sasaran! Pasang seratus mendapatkan tiga ratus, pasang seribu mendapatkan tiga ribu!"
Teriak beberapa orang gadis cantik pelayan meja dadu itu.
Sebuah tangan yang halus menyentuh lengan Hay Hay.
Pemuda ini menengok dan dia terpesona.
Gadis ini cantik bukan main.
Bedak di mukanya tidak setebal gadis-gadis yang lain dan agaknya dara ini baru saja tiba karena tadi dia tidak melihatnya di antara para gadis pelayan.
Juga pakaiannya agak berbeda, gadis ini lebih mewah dengan hiasan rambut dari emas permata.
Matanya sungguh indah, seperti mata burung Hong!
Usianya tentu tidak lebih dari dua puluh tahun.
"Kongcu, kenapa tidak ikut bertaruh? Kulihat engkau orang baru, biasanya orang baru akan selalu menang."
Hay Hay tersenyum.
Gadis ini ramah sekali dan wajahnya amat menyenangkan, juga bau semerbak harum yang keluar dari pakaian dan rambutnya amat sedap, tidak menyolok.
"Aku sedang berpikir-pikir nomor berapa yang harus kupasangi."
Katanya. Gadis itu tersenyum.
"Kongcu, aku bekerja di sini dan tidak semestinya aku membantu para penjudi. Akan tetapi percayalah, malam tadi aku bermimpi indah sekali dan kalau aku menjadi kongcu, akan kupasangi nomor dua belas!"
Diam-diam Hay Hay tertawa.
Gadis ini bekerja di situ sebagai pelayan, tentu saja, tugasnya selain membujuk para tamu agar berjudi, juga tentu berusaha supaya tamunya kalah, maka menganjurkan dia memasang nomor dua belas, nomor sial yang hanya mempunyai kemungkinan keluar satu kali saja!
Akan tetapi, dia tersenyum dan mengeluarkan semua sisa uang yang ada di sakunya, hanya setumpuk uang tembaga dan dua potong uang perak, hanya kurang lebih dua tail perak saja harganya!
"Nah, inilah semua uangku, boleh kau pasangkan sesukamu, nona."
Gadis itu memandang dengan alis berkerut.
"Kongcu, apakah semua uangmu hanya inikah?"
Hay Hay mengerling ke kiri dan melihat betapa dua orang penjaga atau tukang pukul yang tadi menyambutnya, sedang berbisik-bisik dan memandang ke arahnya.
Diapun tersenyum dan dapat menduga bahwa tentu dua orang itu yang melapor ke dalam dan dari dalam lalu mengutus gadis ini untuk melayaninya setelah mendengar laporan bahwa dia memiliki banyak uang emas!
"Semua uang kecilku hanya itu,"
Katanya sambil tersenyum.
"uang emasku masih banyak. Kau dengarlah ini!"
Dia menepuk saku bajunya dan gadis itu mendengar suara gemerincing nyaring.
Gadis itu tersenyum manis sekali dan iapun mendesak maju ke meja.
"Kongcu mempertaruhkan semua uang kecil ini atas nomor dua belas!"
Semua orang memandang heran.
Bagaimanapun juga, tumpukan uang itu cukup banyak.
Mana ada orang mempertaruhkan uangnya pada nomor dua belas?
Bandar itu memandang sambil tersenyum menyeringai lebar, memperlihatkan deretan gigi yang kuning menghitam karena rusak.
Lalu dia memutar-mutar dua buah dadu di dalam mangkuk, dan cepat menelungkupkan mangkuk itu di atas meja.
Orang-orang diberi kesempatan untuk menambah taruhan mereka, dan tidak seorangpun kecuali Hay Hay mempertaruhkan uangnya pada nomor dua belas.
Mangkuk dibuka dan...
"Dua belaaaasss...!"
Teriak bandar.
Dua buah dadu itu jelas memperlihatkan nomor enam dan enam!
Semua orang berteriak heran dan gadis manis itu sambil tersenyum-senyum membantu Hay Hay menghitung uang taruhannya.
Hay Hay menerima tiga kali uang taruhannya sehingga di atas meja, di depannya, kini ia menghadapi uangnya yang menjadi bertumpuk-tumpuk!
Dia mendapatkan sebuah bangku dan gadis cantik itupun duduk di dekatnya, memberi isarat kepada seorang pelayan lain untuk mengambilkan minuman anggur untuk "kongcu".
"Wah, engkau memang sedang mujur sekali nona...?"
"Siok Bi, namaku Siok Bi, kongcu...?"
"Hay Hay namaku!"
"Hay Kongcu, bukan aku yang mujur melainkan engkau!"
Katanya sambil menyentuh lengan dengan mesra sekali.
Sentuhan itu membuat, Hay Hay merasa betapa bulu tengkuknya meremang.
Begitu lembut, begitu hangat dan mesra.
Jantungnya berdebar kencang dan mukanya menjadi merah.
"Siok Bi, coba kau tukarkan semua uang ini dengan uang perak agar lebih mudah kita bertaruh."
Katanya.
Gadis itu membantu dengan penuh gairah, dan dengan bantuannya, maka sebentar saja tumpukan uang di depan Hay Hay berubah meniadi uang perak setumpuk yang jumlahnya ada sepuluh tail!
"Silakan pasang lagi...!"
Bandar sudah berteriak, agaknya sama sekali tidak kecewa melihat betapa uangnya ditarik demikian banyaknya oleh tamu baru itu.
"Siok Bi, nomor berapakah sebaiknya kini?"
Tanya Hay Hay kepada gadis di sampingnya yang bersikap demikian mesra, seolah-olah mereka sudah lama berpacaran.
"Aih, mimpiku hanya satu kali, kongcu. Sebaiknya kalau engkau memilih sendiri agar tidak keliru."
"Baiklah, kubertaruh atas nomor dua!"
Hay Hay rmendorong separuh dari semua uangnya ke atas nomor dua.
Semua orang memandang dengan mata terbelalak.
Gilakah pemuda itu?
Setelah menang secara kebetulan sekali atas nomor dua belas, kini bertaruh atas nomor dua, nomor sial yang sukar keluarnya lagi.
"Kenapa nomor dua, kongcu? Nomor itu jarang sekali keluar, hanya mempunyai satu kemungkinan."
Bisik gadis di sisinya, mendekatkan mukanya dengan muka Hay Hay sehingga ketika bicara, dia dapat merasakan napas gadis itu hangat bertiup di pipinya.
Hay Hay tersenyum.
"Biarlah, bukankah tadi nomor dua belas juga keluar?"
Karena tertarik oleh keberuntungan pemuda itu, ada dua orang penjudi lain ikut-ikutan memasang pada nomor dua, akan tetapi hanya iseng-iseng saja dan jumlah uangnya tidak banyak.
Dadu dikocok dalam mangkuk, lalu ditelungkupkan.
Ketika dibuka, ternyata jatuh pada nomor lima!
Beberapa orang penjudi yang memegang nomor lima memperoleh uang hadiahnya, akan tetapi jumlahnya tidak banyak dan bandar masih menang cukup banyak.
"Aih, kongcu tidak percaya kepadaku sih!"
Siok Bi mengeluh.
"Sekarang pasang coba-coba saja dulu, kongcu, jangan banyak. Sepotong perak saja untuk memancing nasib."
"Baiklah, aku menurut usulmu,"
Kata Hay Hay Sambil tertawa dan dengan sembarangan saja dia melempar sepotong perak yang jatuh ke angka tiga!
Kembali angka sial!
Dan kini tidak ada seorangpun yang mau ikut-ikutan memasang nomor tiga.
Akan tetapi ketika mangkuk dibuka dua dadu menunjukkan angka satu dan dua!
"Tigaaaa...!"
Bandar berteriak dan menggaruk semua uang, kecuali taruhan Hay Hay yang menang lagi sehingga menerima hadiah tiga potong perak.
Siok Bi dengan genitnya mencubit paha Hay Hay di bawah meja, lalu merapatkan tubuhnya sambil tertawa girang.
Hay Hay juga tertawa-tawa untuk menenteramkan jantungnya yang berdebar.
Ketika para penjudi dipersilakan bertaruh lagi, Hay Hay mendorong semua uang di depannya ke atas nomor sebelas.
Lagi-lagi nomor sial!
Akan tetapi sekali ini, empat orang ikut-ikutan memasang nomor sebelas sehingga kalau sekali ini keluar nomor sebelas, bandarnya akan rugi cukup banyak!
Siok Bi hanya tersenyum, maklum bahwa tamunya mulai panas dan mulai dipengaruhi setan judi sehingga sebentar lagi tentu akan mengeluarkan uang emas dari dalam kantongnya!
Dadu dikocok, lalu mangkuk ditelungkupkan!
"Silakan menambah uang taruhan!"
Teriak bandar .
"Siok Bi, keluarkan semua uangmu, kupinjam dulu untuk taruhan!"
Kata Hay Hay. Gadis itu terkejut, akan tetapi mengeluarkan uangnya dan ternyata ada lima tail.
"Bagaimana kalau kalah, kongcu?"
"Jangan khawatir, akan kuganti dengan uang emas!"
Siok Bi girang sekali.
Kalau tidak terdapat banyak orang, tentu sudah diciumnya pemuda yang ganteng dan menarik ini.
Pemuda ini, tidak seperti para tamu lain, tidak pernah jail, tidak mengganggunya, menyentuhnyapun tidak, apa lagi kurang ajar.
Akan tetapi selalu ramah dan pandang matanya itu membuat birahinya bangkit sejak tadi!
Hay Hay menambahkan uang Siok Bi ke atas taruhannya.
Mangkuk di buka dan"
Sepasang mata bundar itu melotot keheranan ketika dua buah dadu itu menunjukkan angka enam dan lima!
"Se...
sebelas...!"
Serunya dan si gendut ini kelihatan bingung sekali.
Juga Siok Bi terbelalak heran, menatap tajam wajah bandar gendut, akan tetapi ia dengan cepat dapat menguasai keheranannya, lalu memegang lengan Hay Hay.
"Kita menang, Hay Kongcu...!"
Serunya gembira, bersama seruan mereka yang ikut memasang nomor sebelas.
Bandar dengan muka agak pucat menghitung semua uang dan membayar kemenangan mereka yang bertaruh pada nomor sebelas.
Setelah tiga kali putaran lagi Hay Hay tetap menang dan semua penjudi di meja itu kini semua memasang nomor yang sama dengan Hay Hay, bandar judi yang bertugas di meja itu menjadi pucat sekali.
Tubuhnya gemetar dan dia menghapus keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Setiap kali membuka mangkuk, tangannya gemetar dan matanya terbelalak kalau dia melihat betapa sepasang dadu itu selalu menunjuk angka yang tepat seperti yang dipasangi pemuda itu!
Orang-orang bersorak gembira dan uang di meja bandar itu telah dikuras habis, bahkan sang bandar terpaksa menyuruh pembantunya mengambil uang dari dalam!
Kini, bandar judi yang gendut pendek itu menyeka keringatnya dan menggoyang-goyang kepalanya.
"Aku... aku... lelah sekali... biarlah aku berhenti dulu dan... minta diganti rekan lain..."
Dengan terhuyung-huyung dia meninggalkan meja itu menuju ke dalam dan tak lama kemudian, muncullah lima orang laki-laki dari dalam, mengawal seorang kakek berusia enam puluh tahun yang bermuka hitam dan bertubuh jangkung.
Mata kakek ini tajam seperti mata elang dan melihat mereka itu, diam-diam Hay Hay tersenyum, maklum bahwa kini tentu muncul jagoan nomor satu dalam permainan judi itu, diikawal oleh lima orang pengawal jagoan yang pilihan pula.
Namun, dia pura-pura tidak tahu dan sibuk menyerahkan setumpuk uang yang banyak sekali kepada Siok Bi.
"Sobat, kocok dulu dadunya. Kalau sudah kau telungkupkan mangkuk itu, baru aku akan memasang taruhanku. Akan tetapi, aku juga sudah lelah maka aku ingin berjudi satu kali lagi saja. Akan kupertaruhkan semua uang emasku ini untuk satu nomor!"
Semua orang menahan napas.
Semua dipertaruhkan?
Lima belas tail emas, berarti tumpukan emas di depan Bandar itu akan tersedot hampir habis kalau pemuda itu menang!
Si bandar harus membayar empat puluh lima tail emas!
Mendengar tantangan yang amat berani itu, si bandar muka hitam terbelalak sedikit, akan tetapi dengan tenang diapun mengangguk.
"Baik, kuterima! Bagaimana yang lain?"
"Akupun mempertaruhkan semua uangku ini!"
"Aku juga!"
"Aku juga!"
Semua penjudi berteriak ingjn mempertaruhkan semua uang mereka.
Kini wajah bandar judi itu agak pucat.
Bayangkan saja!
Semua orang yang berjudi di situ mempertaruhkan seluruh uang mereka.
Akan bangkrutlah kalau dia kalah dan bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan kepada pemimpin?
Dia tahu bahwa semua penjudi tentu akan mempertaruhkan uang mereka seperti pemuda itu, dengan nomor yang sama!
Akan tetapi dia yakin akan kemampuannya, maka dia menekan perasaannya dan mengangguk-angguk.
"Baik! Kawan-kawan, hitung uang mereka semua agar lebih mudah nanti pembayarannya!"
Dia pura-pura tenang saja, seperti telah siap kalau sampai kalah untuk membayar semua kekalahannya!
Kini meja itu penuh dengan tumpukan uang, di antaranya tumpukan uang emas lima belas tail dari Hay Hay.
Hebatnya, semua penjudi menaruh seluruh uang mereka di atas meja, tidak menyisakan sedikitpun di saku baju mereka.
Kalau sampai kalah, mereka semua akan pulang dengan kantong kosong sama sekali!
Sebaliknya kalau bandar yang kalah, maka tumpukan uang emas, perak dan tembaga yang berada di situ semua akan amblas!
Setelah selesai menghitung uang taruhan dan mencatat, si jangkung muka hitam lalu berseru keras.
"Dadu dikocok...!"
Dan cara dia mengocok dadu memang aneh, lain dari kocokan si gendut tadi.
Dia memutar-mutar mangkuk yang lebih besar dari pada mangkuk yang dipergunakan rekannya tadi, memutar cepat sekali di atas kepala dan terdengar bunyi berkerotokan ketika dadu-dadu itu berputaran di dalam mangkuk, lalu dia menurunkan mangkuk itu, tangan kiri menarik tutupnya.
"Brukkk!"
Mangkok jatuh menelungkup di atas meja dan meja itupun tergetar.
Diam-diam Hay Hay memperhatikan dan maklumlah dia bahwa si jangkung ini memiliki tenaga sin-kang yang kuat!
Dia maklum pula bahwa si jangkung ini, seperti juga rekannya tadi, tentu mempergunakan tipu muslihat dan mungkin dibantu dengan tenaga sin-kangnya untuk mengatur keluarnya nomor dadu, maka diapun sudah bersiap siaga, mengerahkan kekuatan sihirnya karena dia belum tahu akal apa yang akan dipergunakan orang.
Tentu saja kedua telapak tangannya juga ditempelkan di meja itu untuk mengetahui melalui getaran di meja apa yang terjadi.
"Silakan memasang nomor!"
Teriak pula bandar itu, tangan kanannya masih di atas mangkuk yang telungkup di depannya.
Tanpa ragu-ragu lagi Hay Hay mendorong lima belas tail emasnya ke atas nomor tiga!
Kembali semua orang tertegun.
Sungguh nomor-nomor yang sial dan jarang keluar saja yang selalu dipilih oleh pemuda itu.
Namun, tanpa ragu-ragu mereka semua lalu mendorong uang masing-masing ke atas nomor tiga, mengelilingi tumpukan uang emas.
Hay Hay!
Semula uang yang bertumpuk-tumpuk di atas meja itu dipertaruhkan kepada nomor tiga!
Hay Hay tidak melihat ada perubahan pada muka si jangkung itu, akan tetapi biarpun hanya sedetik dia melihat betapa sepasang mata itu terbelalak atau mengeluarkan sinar kaget, kemudian, kedua tangannya yang diletakkan di atas meja itu dapat merasakan getaran yang datangnya dari dalam mangkuk besar itu.
Pendengarannya yang terlatih itupun mendengar suara bunyi kretek-kretek dua kali.
Hay Hay dapat menduga bahwa itulah alat rahasia di dalam mangkuk.
Agaknya, pasangannya pada nomor tiga itu tepat mengenai sasaran dan dua buah dadu di bawah mangkuk itu benar-benar menunjukkan angka tiga, akan tetapi kini alat rahasia di dalam mangkuk telah bekerja dan tentu dua buah dadu itu akan membalik dan menjadi angka lain.
Hal ini dapat dibacanya dari muka hitam itu, yang kini bibirnya mengandung senyum mengejek dan sepasang matanya bersinar penuh keyakinan menang.
Suasana menjadi sunyi, tegang mencekam hati para penjudi.
Ada yang mukanya pucat, ada yang merah, ada yang peluhnya bercucuran.
Semua orang dicengkeram oleh harapan kemenangan dan dicekam rasa takut akan kekalahan.
"Sobat-sobat, lihat baik-baik, mangkuk ini akan kubuka. Satu, dua... tiga...!"
Semua mata memandang dan penglihatan Hay Hay yang paling tajam itu sudah melihat bahwa sebuah dadu menunjuk angka satu, akan tetapi dadu kedua menunjuk angka enam!
Jadi yang keluar adalah tujuh!
Dia kalah!
Akan tetapi, dengan getaran kedua telapak tangannya, tiba-tiba saja, secepat kilat sehingga tidak tampak oleh mata biasa, dadu yang menunjuk angka enam itu bergulir dan kini menunjuk angka dua!
"Satu dan dua...!"
"Tiga...! Kita menang!"
"Kita menang! Hayo bayar taruhanku!"
Suasana menjadi riuh rendah, akan tetapi Hay Hay hanya menatap dengan pandang mata tajam kepada wajah si jangkung.
Muka yang hitam itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang kepada dua buah dadu itu, kemudian dia berteriak parau.
"Sobat-sobat, kalian keliru! Lihat yang betul, bukan angka tiga yang keluar!"
Tiba-tiba, dengan menekan meja, dia menggetarkan sin-kang dan biji dadu yang tadinya menunjuk angka dua, kini kembali berguling ke angka enam!
Akan tetapi, hanya sebentar karena sudah berguling ke angka dua!
Semua penjudi memandang dengan bengong dan mata terbelalak heran.
Kini semua orang melihat betapa dadu yang satu ini dapat bergulir-gulir, suatu saat bergulir ke angka enam, lalu bergulir lagi ke angka dua!
Terjadi "perang"
Antara dua kekuatan sin-kang yang digetarkan melalui telapak tangan si jangkung muka hitam itu dan Hay Hay.
Akan tetapi, ketika untuk kesekian kalinya dadu itu bergulir ke angka enam dan Hay Hay menggulirkannya lagi ke angka dua, dia mengerahkan tenaga dan menahan sehingga betapapun si jangkung berusaha dengan sin-kangnya, tetap saja dia tidak mampu menggulirkan dadu itu yang tetap menunjuk angka dua.
Satu dan dua!
"Tigaaaa...!"
Semua penjudi berseru setelah melihat betapa dadu itu kini tidak bergerak lagi dan keduanya tetap menunjuk angka satu dan dua!
Kembali orang-orang bersorak, akan tetapi tiba-tiba si jangkung muka hitam bangkit berdiri dan berseru.
"Tidak! Ada kesalahan di sini! Kalian tadi melihat betapa dadu yang satu itu bergulir-gulir. Ini tidak benar! Pengocokan dadu harus diulang dan sekarang semua orang harus menjauhi mejal"
Tentu saja ucapan ini membuat para penjudi terkejut dan marah sekali.
"Wah, itu tidak adil!"
"Curang sekali!"
"Kami sudah menang, bayar kemenangan kami!"
Tiba-tiba dengan gerakan yang cekatan sekali, si jangkung muka hitam meloncat ke atas meja dan bertolak pinggang.
Wajahnya keren dan bengis sekali, sementara itu, belasan tukang pukul sudah siap siaga di belakangnya sambil meraba gagang senjata.
"Siapa bilang kami curang? Pernahkah rumah judi kami tidak membayar para pemenang? Kami hanya ingin mengulang pengocokan dadu karena tadi tidak wajar. Hayo, mundur! dan tidak boleh menyentuh meja! Kami sudah mengambil keputusan dan siapa akan menentang?"
Para pengawal di belakang si muka hitam ini memandang beringas, siap menyerang siapa saja yang berani menentang keputusan itu.
Para penjudi masih bersungut-sungut penasaran dan tidak puas, akan tetapi tidak ada yang berani menentang dan semua orang mundur menjauhi meja.
Kini mereka semua memandang kepada Hay Hay karena pemuda inilah yang mereka harapkan, dan pemuda itu, tanpa pemungutan suara lagi, telah mereka anggap sebagai pemimpin mereka!
Hay Hay tersenyum dan diapun menurut saja ketika lengannya ditarik oleh Siok Bi menjauhi meja.
Gadis itu masih tetap merangkul pinggangnya ketika Hay Hay berkata.
"Saudara sekalian, biarlah kita terima saja keputusan itu! Biarpun diulang-kocok, kalau memang sudah nasib kita untuk menang, kita tetap akan menang!"
Mendengar ucapan ini, semua orang menjadi lega kcmbali.
Si muka hitam memandang penuh curiga.
Tadi dia tahu bahwa ada orang yang main-main dan melawan sin-kangnya dan dalam pertarungan adu kekuatan itu dia telah kalah!
Akan tetapi karena banyak sekali tangan berada di atas meja, tentu saja dia tidak tahu tangan siapa itu yang telah menyalurkan sin-kang.
Agaknya tidak mungkin tangan pemuda aneh yang digandeng Siok Bi itu karena selain pemuda itu kelihatan biasa saja, juga Siok Bi selalu menggandeng dan merangkulnya sehingga tentu gadis itu yang juga merupakan pembantu dari pimpinan rumah judi dan memiliki kepandaian lumayan pula, akan mengetahuinya.
Si jangkung muka hitan sudah meloncat turun kembali dan setelah mengamati dua buah dadu itu, diapun memutar atau mengocok sepasang dadu itu ke dalam mangkuk.
Seperti tadi, dia menelungkupkan mangkuk di atas meja dan berteriak.
"Apakah nomor pasangan tidak dirubah?"
"Tidak, tetap nomor tiga!"
Kata Hay Hay.
"Kami juga nomor tiga!"
"Nomor tiga...!"
Semua orang serempak berteriak, walaupun hati mereka khawatir sekali.
Bagaimana mungkin dua kali berturut akan keluar nomor sial itu?
"Jangan gelisah, saudara-saudara!
Yang keluar pasti nomor tiga.
Nomor tiga...!"
Seru Hay Hay dan seruan ini mengandung kekuatan sihir yang besar dan seketika semua orang di ruangan itu terpengaruh tanpa mereka sadari.
"Satu... dua... tiga...!!"
Teriak si jangkung muka hitam dan begitu membuka mangkuk, kembali dia terbelalak dan mukanya berubah pucat karena benar saja seperti dikatakan oleh pemuda itu, dadu-dadu itu menunjuk angka satu dan dua.
"Tigaaa...! Nomor tiga, kita menang!"
Teriak orang-orang itu dengan gembira.
"Nanti dulu, kalian salah lihat! Lihat baik-baik!"
Teriak si muka hitam dan kini dia menekan meja.
Hanya kedua tangannya saja yang menekan meja, tidak ada tangan lain maka dia merasa yakin akan mampu menggulirkan dadu tanpa ada yang menghalanginya.
Benar saja, begitu dia menggetarkan telapak tangannya, sebuah dadu yang nomor satu bergulir ke angka tiga.
Akan tetapi, betapa heran, terkejut dan bingungnya ketika dadu itu bergulir, bukan angka tiga yang nampak, melainkan angka satu pula!
Jadi tetap satu dan dua!
Kembali dia mengerahkan sin-kang dan dadu itu bergulir-gulir, Akan tetapi ke permukaan manapun dadu itu bergulir, tetap angka satu seolah-olah ke enam permukaannya semua berangka satu!
Si muka hitam terheran dan meneliti dadu itu dari samping.
Angka-angkanya masih tetap biasa, dari satu sampai enam!
Akan tetapi mengapa kalau berguIir, yang nampak angka satu Iagi?
Sementara itu, para penjudi bersorak-sorak gembira.
Merekapun melihat dadu itu bergulir-gulir, namun tetap angka satu sehingga tetap saja angka itu menjadi satu dan dua.
Kini si muka hitam terbelalak dan mukanya penuh dengan keringat.
Celaka, pikiranya.
Dia telah membikin bangkrut rumah judi dan tentu dia harus bertang-gung jawab terhadap pemimpinnya.
Dia merasa ngeri dan tiba-tiba saja dia, seperti tadi telah meloncat ke atas meja dan tangannya sudah memegang sebatang pedang telanjang!
"Tidak ada yang menang atau kalah!"
Bentaknya.
"Ada orang membikin kacau di sini! Rumah judi ditutup dan kalian boleh membawa pulang uang masing-masing!"
"Tapi kami menang! Harus dibayar dulu...!"
"Dibayar dengan ini?"
Si muka hitam mengacungkan pedangnya.
"Kami tidak mau membayar karena permainan judi tadi tidak wajar dan ada kecurangan! Hayo kalian semua keluar, atau kami akan menggunakan kekerasan!"
Ketika semua orang memandang, belasan orang tukang pukul itu kini sudah menghunus senjata tajam semua dan sikap mereka mengancam.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan ketika semua orang memandang, ternyata yang tertawa itu adalah Hay Hay.
"Ha-ha-ha-ha, maling teriak maling, orang curang teriak orang lain curang, betapa palsunya hidup kalian sebagai penyelenggara perjudian. Saudara sekalian, mundurlah, biar aku yang menghadapi manusia-manusia jahat ini!"
Semua tamu mundur dan mepet pada dinding, dan Hay Hay dengan lembut mendorong Siok Bi untuk melepaskan gandengannya.
Siok Bi bukanlah wanita sembarangan dan ia memiliki ilmu silat yang cukup hebat sehingga dipercaya sebagai kepala para pelayan wanita.
Akan tetapi ketika ia didorong, ia merasa betapa ada kekuatan yang amat dahsyat sehingga betapapun ia sudah mempertahankan, tetap saja ia terdorong dan terhuyung sehingga terpaksa iapun mundur sampai ke dinding.
Hay Hay menjulurkan tangannya dan menyambar mangkuk besar di atas meja dadu.
"Saudara sekalian lihatlah betapa curang mereka ini!"
Dia menelentangkan mangkuk itu dan nampaklah oleh semua orang betapa di sebelah atas mangkuk itu terpasang alat rahasia dan nampak ada sepasang dadu di sana, agaknya kalau sepasang dadu di atas meja itu hendak diganti sehingga nomornya keluar menurut kehendak bandar, maka alat di dalam mangkuk itu menukar dadu di atas meja dengan dadu yang berada di dalam mangkuk.
Kalau alat rahasia ini gagal, masih ada kekuatan sin-kang bandarnya yang dapat membuat dadu bergulir.
Namun, semua itu, alat dan kekuatan sin-kang si bandar, sekali ini tidak berhasil karena di halangi oleh Hay Hay yang menggunakan kekuatan sin-kang kemudian menggunakan sihir.
Melihat ini, tentu saja para penjudi itu menjadi terkejut dan marah sekali.
"Nah, lihat betapa bodohnya berjudi di rumah judi. Hampir semua rumah judi tentu mempergunakan tipu muslihat dan mana mungkin kalian menang? Biasanya yang sengaja diberi kemenangan untuk menarik para tamu adalah anak buah mereka sendiri. Hendaknya kenyataan ini membuka mata saudara sekalian sehingga tidak lagi mau menjadi korban perjudian, menghentikan kebiasaan berjudi yang buruk!"
Mendengar ucapan Hay Hay itu, dipimpin oleh si muka hitam, belasan orang pengawal itu sudah mengepung Hay Hay.
Bahkan dari dalam muncul pula bandar pendek gendut itu dan beberapa orang lain sehingga jumlah mereka kini ada dua puluh orang!
Semua orang memegang senjata tajam dan sikap mereka amat bengis.
Semua tamu memandang dengan hati tegang dan penuh kekhawatiran.
Tiba-tiba nampak Siok Bi, wanita cantik yang tadi menemani Hay Hay, menyelinap masuk ke dalam lingkaran dan meloncat ke dekat Hay Hay.
Wajahnya agak pucat dan matanya bersinar-sinar.
"Tidak! Kalian tidak boleh menyakiti Hay-kongcu! Dia tidak bersalah, dan dia melakukan perjudian juga hanya iseng-iseng saja! Kongcu, kuharap engkau suka menyudahi urusan ini dan membawa pergi uangmu dari tempat ini. Tidak ada gunanya bagimu, tidak ada untungnya untuk memusuhi rumah perjudian ini, apa lagi mengingat bahwa kongcu bukanlah orang Shu-lu. Sekali lagi kuanjurkan agar kong-cu pergi dari sini dengan aman. Aku yang menanggung bahwa kongcu dapat pergi dengan aman dan tidak diganggu!"
Aneh sekali.
Dua puluh orang laki-laki bengis itu agaknya tidak ada yang berani menentang ucapan Siok Bi, hanya memandang kepada Hay Hay seolah hendak melihat bagaimana tanggapan Hay Hay terhadap nasihat Siok Bi itu.
Hay Hay tersenyum dan menjulurkan tangannya, membelai daguyang halus itu.
"Siok Bi, engkau manis sekali. Terima kasih atas usahamu mengamankan aku. Akan tetapi, tidak. Mereka itu curang dan mereka harus membayar kekalahan mereka kepada semua penjudi di sini!"
"Ah, kau... kau berani... menentang mereka semua itu?"
Tanya Siok Bi, membelalakkan mata, tidak percaya.
Ia dapat menduga bahwa pemuda yang amat menarik hatinya ini tentu memliki kepandaian.
Akan tetapi betapapun lihainya, kalau harus melawan dua puluh orang bersenjata yang marah itu, apalagi ia tahu betapa lihainya si muka hitam dan si pendek gendut, tentu pemuda ini akan celaka.
Hay Hay tertawa.
"Kenapa tidak berani? Mereka itu hanya sekawanan tikus yang tidak tahu mana kawan mana lawan!"
"Eh? Maksudmu, kongcu?"
"Kau lihat sendiri nanti. Minggirlah, Siok Bi yang manis, dan terima kasih atas kebaikanmu."
Mendengar percakapan itu, dua puluh orang yang mengepung Hay Hay menjadi marah.
Mereka dianggap sebagai sekawanan tikus oleh pemuda itu!
Begitu Siok Bi yang menggeleng kepala dengan penuh kekhawatiran itu minggir dan kembali ke dinding, si muka hitam lalu berteriak.
"Hajar dan bunuh manusia sombong ini!"
Dia sendiri sudah menyerang dengan pedangnya, mengirim tusukan ke arah dada Hay Hay.
Pemuda ini dengan tenang saja miringkan tubuhnya dan pada saat itu, bandar ke dua yang bertubuh pendek gendut sudah menyerangnya pula dari belakang, membacokkan goloknya ke arah leher.
Hay Hay juga mengelak dengan lompatan ke depan, kemudian dia membalik dan kedua tangannya menyambar dengan kecepatan kilat.
Si jangkung muka hitam dan si gendut pendek yang merupakan dua orang paling lihai di antara dua puluh orang itu, tidak tahu apa yang terjadi atas diri mereka akan tetapi tiba-tiba saja kepala mereka seperti disambar petir dan merekapun terpelanting roboh.
Kiranya petir itu adalah dua buah tangan Hay Hay yang menyambar cepat tadi dan menampar mereka.
Ketika dua orang itu dapat bangkit kembali, Hay Hay sudah meloncat ke atas meja dadu yang lebar itu dan bertolak pinggang.
Dia tersenyum dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong!
"Kalian ini sekumpulan tikus!
Musuhmu berada di sekeliling, tidak saling serang mau tunggu apa lagi?
Hayo kalian cepat serang musuh kalian di sekeliling kalian!"
Dia menggerak-gerakkan kedua lengannya ke arah mereka dan terjadilah peristiwa yang amat luar biasa.
Si jangkung muka hitam dan si gendut pendek kini sudah menggerakkan senjata masing-masing dan saling serang!
Dan semua anak buah mereka juga saling serang sehingga terjadilah pertempuran yang kacau-balau, seperti segerombolan tikus yang tiba-tiba menjadi gila semua dan saling serang, tidak lagi mengenal mana kawan dan mana lawan!
Tentu saja para tamu memandang terbelalak penuh keheranan.
Pemuda yang mereka anggap sebagai pemimpin itu enak-enak saja berdiri di atas meja judi, bertolak pinggang dan tersenyum-senyum, sedangkan dua puluh orang tukang pukul sudah saling serang tidak karuan.
Karena mereka semua menggunakan senjata, maka sebentar saja sudah ada beberapa orang yang roboh mandi darah terkena bacokan.
Siok Bi juga terbelalak penuh keheranan.
Akan tetapi, melihat betapa sudah ada beberapa orang roboh mandi darah, ia lalu meloncat ke atas meja di mana Hay Hay berdiri.
Semua orang terkejut dan kagum.
Meja itu agak jauh dan ia harus melompat di antara orang-orang yang sedang berkelahi dengan senjata tajam, namun Siok Bi dapat meloncat ke atas meja dan tiba di depan Hay Hay tanpa mengguncangkan meja itu!
Hay Hay yang sudah menduga bahwa Siok Bi memiliki kepandaian, tidak merasa heran dan menyambutnya dengan senyum.
"Kau mau membantu mereka?"
Tanyanya. Siok Bi memegang lengan pemuda itu.
"Tidak, kongcu, tidak sama sekali! Aku aku bahkan gembira bahwa engkau yang mampu mempermainkan dan menghajar orang-orang kejam itu. Akan tetapi, hentikanlah. Aku tidak ingin melihat mereka tewas dan akupun mempunyai tanggung jawab di sini. Hentikanlah, kasihanilah aku karena aku tentu akan mendapat marah dari pimpinan kalau diam saja..."
Hay Hay mengangguk, lalu menghadapi mereka yang sedang berkelahi, dan dia bertepuk tangan!
Tepukan tangannya nyaring, disusul teriakannya yang berpengaruh.
"Heiii, berhenti semua! Apakah kalian sudah gila, saling serang sendiri! Hayo berhenti berkelahi kataku!"
Tiba-tiba saja perkelahian berhenti dan semua orang itu terheran-heran melihat betapa mereka tadi telah saling serang di antara kawan sendiri!
Ada delapan orang yang terluka karena bacokan senjata kawan sendiri, bahkan si muka hitarn terpincang-pincang dengan paha luka, dan si gendut pendek juga meringis karena bahunya robek oleh sabetan pedang.
Kini mereka semua memandang kepada Hay Hay yang berdiri di atas meja, sedangkan Siok Bi sudah cepat meloncat turun.
"Nah, bagaimana sekarang? Apakah kalian masih hendak berkelahi dengan aku? Ataukah kalian mau memenuhi kewajiban kalian, membayar semua kemenangan kami?"
Siok Bi menghampiri si muka hitam dan si gendut pendek, berbisik.
"Sebaiknya kita penuhi permintaannya. Kalian bukanlah lawan dia, kalau dilanjutkan, kita semua akan celaka!"
Agaknya kini semua anak buah rumah judi itu sudah merasa gentar dan dengan pimpinan si muka hitam, mereka lalu membayar semua kemenangan para penjudi yang menerima uang kemenangan mereka dengan muka gembira dan mereka segera meninggalkan tempat itu dan berjanji di dalam hati sendiri untuk tidak kembali lagi.
Para anak buah rumah judi itu memandang dengan penuh rasa gentar ketika Hay Hay membungkus semua uang emasnya yang kini berjumlah enam puluh tail emas itu dengan kain yang lebar, kemudian memanggul emas itu seperti benda yang biasa saja di atas punduknya.
Padahal, buntalan itu merupakan harta yang cukup besar.
Siok Bi memandang dengan sinar mata penuh kagum.
Belum pernah selamanya ia berjumpa dengan seorang pemuda seperti itu.
Memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bahkan sakti, tampan gagah dan pandai sekali mengeluarkan kata-kata indah yang menyenangkan hati, merayu tanpa bersikap kurang ajar!
Siok Bi merasa betapa baru pertama kali ia benar-benar tertarik kepada seorang pria, bahkan diam-diam ia mengaku telah jatuh cinta!
Sebelum meninggalkan tempat itu, Hay Hay menoleh kepada mereka, dan memandang kepada Siok Bi sambil tersenyum.
"Siok Bi, sekali lagi terima kasih kepadamu dan tolong beritahukan kepada semua orang bahwa aku sedang mencari seorang tokoh kang-ouw yang berjuluk Ang-hong-cu. Lihat, semua emas di pundakku ini akan kuberikan kepada siapa saja yang mampu menunjukkan di mana adanya Ang-hong-cu itu. Nah, kutunggu beritamu sampai besok siang di kamarku. Aku menginap di rumah penginapan Hok-lai-koan."
Setelah berkata demikian, dia segera melangkah pergi.
Setelah dia pergi, barulah para anak buah rumah judi itu menjadi gernpar.
Mereka mengobati teman-teman yang terluka dan mereka semua bingung bagaimana harus menghadapi pemimpin mereka yang tentu akan menjadi marah sekali.
"Nona Siok Bi, sebaiknya engKau lah yang menyampaikan berita ini kepada Coa Wan-gwe!"
Kata si muka hitam dengan muka membayangkan perasaan takut.
"Tenanglah, aku melihat sendiri bahwa kalian tidak mampu berbuat apa-apa, tidak berdaya menghadapi Hay Kongcu yang sakti itu. Akan kuceritakan kepadanya, akan tetapi tidak sekarang. Sekarang ini dia tidak boleh diganggu, karena dia sedang beristirahat, kabarnya malah hendak bermalam di luar rumah. Biar kuselidiki... eh, kalian mendengar sendiri tadi. Pemuda itu mencari Ang-hong-cu. Adakah di antara kalian yang mengenal tokoh kang-ouw yang berjuluk Ang-hong-cu itu?"
Semua orang mengerutkan alis, mengingat-ingat. Kemudian si jangkung muka hitam berkata.
"Nama itu sudah lama kudengar, akan tetapi belum pernah aku melihat orangnya. Bahkan sepanjang yang kudengar, tidak ada orang kang-ouw pernah melihatnya. Juga namanya sudah lama tidak lagi terdengar di dunia kang-ouw, melainkan puluhan tahun yang lalu. Tapi, nona, siapakah sebetulnya pemuda itu? Kepandaiannya demikian hebat... dan... hiihhh, bagaimana tadi kami dapat saling serang sendiri? Ilmu apakah yang dia gunakan itu?"
Si muka hitam itu bergidik, juga teman-temannya semua merasa jerih dan takut.
Siok Bi menggeleng kepala.
"Jelas bahwa ilmu silatnya tinggi, akan tetapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tadi kalian menurut saja ketika dia menyuruh kalian saling serang sendiri."
"Tentu dia mempergunakan ilmu sihir!"
Kata si pendek gendut.
"Aih, kalau disuruh melawan orang yang pandai sihir, lebih baik aku angkat tangan saja!"
Tiada hentinya para anak buah itu membicarakan pemuda yang telah mendatangkan kekacauan dan yang membuat mereka terpaksa menutup rumah judi karena bangkrut!
Akan tetapi, hati mereka agak lega setelah Siok Bi, gadis kepala pelayan yang menjadi orang kepercayaan majikan atau pemimpin mereka, menyanggupi untuk melaporkan peristiwa itu kepada majikan mereka.
Biarpun peristiwa di po-koan (rumah judi) itu segera diketahui oleh seluruh penduduk kota Shu-lu karena para penjudi itu ramai membicarakannya, namun tidak ada yang tahu bahwa pendekar muda yang memiliki kesaktian itu tinggal di rumah penginapan Hok-lai-koan.
Hay Hay hanya memberi tahu kepada Siok Bi dan para tukang pukul yang kini sudah kehilangan lagak, bahkan tidak berani keluar dari rumah itu, takut kalau dijadikan buah tertawaan orang-orang.
Dengan seenaknya, Hay Hay kembali ke rumah penginapan membawa buntalan emas yang banyak itu.
Malam hari itu, kurang lebih jam delapan malam, seorang gadis cantik memasuki rumah penginapan itu.
Para petugas yang berjaga di rumah penginapan itu, agaknya mengenal baik gadis ini dan tidak ada yang berani bersikap kurang ajar, bahkan mereka menyambutnya dengan sikap hormat dan bertanya apa keperluan gadis itu malam-malam berkunjung ke hotel Hok-lai-koan.
Semua petugas di situ mengenal gadis ini sebagai orang kepercayaan Coa Wan-gwe, bahkan tahu bahwa gadis ini pandai ilmu silat!
"Apakah nona datang ada hubungannya dengan pesanan kamar Coa Wan-gwe?
Beliau belum datang..."
"Tidak, aku hendak berkunjung kepada seorang tamu. Sudahlah, kalian tidak perlu tahu urusanku!"
Katanya dan iapun terus masuk ke dalam.
Para petugas itu tidak berani mengikutinya dan Siok Bi, gadis itu, terus menuju ke ruangan belakang.
Orang-orangnya sudah melakukan penyelidikan dan ia tahu di mana kamar yang disewa Hay Hay, yaitu kamar nomor tujuh di belakang.
Siok Bi membawa sebuah buntalan yang sejak tadi dipegangnya dengan tangan kiri dan kini ia mengetuk daun pintu kamar nomor tujuh.
"Tuk-tuk-tuk!"
Sunyi sejenak, lalu terdengar suara Hay Hay dari dalam.
"Ya, siapa di luar?"
Mendengar suara yang ramah gembira ini, Siok Bi tersenyum girang. Ia (Lanjut ke
Jilid 08) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 menyentuh rambutnya dengan tangan kanan, untuk melihat apakah letak rambutnya beres, mengebutkan ujung bajunya, lalu menjawab, suaranya merdu.
"Hay Kongcu, aku Siok Bi yang datang berkunjung."
Daun pintu terbuka dan Hay Hay berdiri di ambang pintu, memandang gadis itu dengan senyum dan pandang mata kagum.
"Aih, engkau semakin tambah manis dan jelita saja, Siok Bi!"
Wajah yang lembut itu menjadi kemerahan dan iapun melangkah masuk kamar tanpa rikuh lagi.
"Hemm, engkau murah sekali dengan pujianmu, kongcu. Wanita bisa mabok oleh rayuanmu!"
Hay Hay juga masuk kamar tanpa menutup daun pintu.
Hal ini nampak benar oleh Siok Bi dan kembali ia semakin kagum.
Pemuda ini benar-benar berbeda dengan para pria lain yang tentu akan cepat-cepat menutupkan daun pintu seperti seekor harimau yang melihat seekor kambing memasuki kandangnya!
"Siapa memuji dan merayu?
Aku bicara sebenarnya saja, Siok Bi.
Kalau engkau tidak percaya bahwa engkau jelita dan manis, coba kau bercermin!"
Siok Bi tersenyum manis.
"Tidak usah kau suruh, sebagai seorang wanita normal, setiap hari aku sudah bercermin, kongcu, sedikitnya dua tiga kali atau lebih akan tetapi tak pernah aku melihat diriku seperti yang kau puji-puji. Sungguh engkau baik sekali, kongcu, dan selama hidupku belum pernah aku bertemu seorang pemuda sehebat kongcu..."
"Wah-wah, siapa kini yang memuji-muji? Siok Bi, sebenarnya apa maksud kunjunganmu ini? Apakah ada hubungannya dengan berita tentang Ang-hong-cu?"
Siok Bi menoleh ke arah pintu.
"Kongcu, tidakkah sebaiknya kalau daun pintu kamar itu ditutup dulu?"
"Eh? Engkau tidak khawatir, Siok Bi?"
"Apa yang harus kukhawatirkan?"
"Kalau-kalau aku melakukan hal-hal yang tidak baik, atau kalau sampai ada orang lain melihat engkau berada di sini dan..."
"Aku tidak perduli dengan pendapat orang lain, kongcu. Dan tentang kemungkinan engkau melakukan hal-hal yang kau maksudkan itu, aku... aku akan merasa berbahagia sekali kalau kau sudi..."
Mendengar ini, jantung di dalam dada Hay Hay berdebar keras.
Dia tersenyum dan menutupkan daun pintu, akan tetapi berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa dia tidak boleh jatuh dalam rayuan gadis ini, seorang gadis pelayan rumah judi yang agaknya memiliki kedudukan cukup terpandang di perkumpulan itu.
Tentu bukan seorang perawan yang masih hijau, pikirnya, walaupun mungkin juga bukan seorang wanita penghibur atau wanita pelacur, melihat sikapnya yang lembut walaupun cukup berani.
Akan tetapi baru saja dia mau menutup daun pintu dan membalik, tiba-tiba saja dua buah lengan yang lembut itu telah merangkulnya dan gadis itu telah menciumnya dengan penuh rasa kagum dan mesra sampai Hay Hay gelagapan.
Akan tetapi, kemesraan itupun membakar hatinya dan diapun membalas dengan penuh perasaan.
Ketika api gairah itu terasa membakar, Hay Hay cepat melepaskan rangkulannya.
"Cukup, Siok Bi. Duduklah dan ceritakan apa maksudmu berkunjung ini!"
Kalau tadi Siok Bi hampir terlena dalam rangkulan itu, tenggelam ke dalam kemesraan karena baru sekali inilah ia berangkulan dan berciuman dengan seorang laki-laki dengan suka rela, dengan sepenuh perasaan cinta dari hatinya, kini iapun sadar dan terkejut mendengar suara yang penuh wibawa itu.
Dengan kedua kaki agak gemetar dan tubuh masih panas dingin, Siok Bi menjatuhkan dirinya di atas pembaringan, napasnya agak terengah.
"Aih, Hay Kongcu... Belum... belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang pria seperti kongcu yang sungguh seorang jantan sejati! Kedatanganku ini membawa banyak urusan, kongcu. Pertama, aku hendak mengembalikan ini."
Ia membuka buntalan dan ternyata itu adalah caping milik Hay Hay yang tadi tertinggal di rumah judi.
Hay Hay menerima caping itu sambil tertawa.
"Ha-ha, terima kasih. Ini sahabatku yang setia dalam perjalanan selama ini."
Dia menerima caping dan menyimpannya di atas meja.
"Urusan ke dua, kongcu, adalah mengenai pesanmu agar aku menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu. Sudah kutanyakan kepada semua orang. Memang ada juga yang pernah mendengar akan nama Ang-hong-cu, akan tetapi tokoh itu terkenal beberapa puluh tahun yang lalu, setidaknya belasan tahun yang lalu dan selama ini tidak lagi terdengar namanya. Bahkan belum pernah ada orang yang melihat wajahnya. Akan tetapi, dari seorang pembantu yang baru saja pulang dari kota raja, aku mendengar bahwa di kota raja ada seorang yang membual bahwa dia adalah seorang keturunan Ang-hong-cu."
"Ahhh...! Sapakah orang itu? Siapa namanya dan di mana tinggalnya?"
"Akupun sudah bertanya akan hal itu. Kebetulan sekali pembantu baru itu mengetahuinya. Namanya dia tidak tahu, hanya mengenalnya sebagai Tang-ciangkun (perwira Tang), seorang perwira yang bekerja di pasukan pengawal istana"
"She Tang?"
Hay Hay bertanya dan jantungnya berdebar kencang.
"Benar, kongcu. Akan tetapi orang itu hanya mendengar bahwa Tang-ciangkun suka membual di luaran bahwa dia adalah keturunan Ang-hong-cu itu saja. Benar atau tidak, tak ada yang mengetahuinya."
"Bagus, itu sudah cukup, Siok Bi. Besok aku akan segera pergi ke kota raja dan menyelidiki orang she Tang yang menjadi perwira pasukan pengawal di istana itu. Beritamu ini sungguh cukup penting dan amat berharga bagiku. Dan masihkah ada urusan lain lagi?"
"Ada, kongcu. Mengenai diriku..."
Dan tiba-tiba saja Siok Bi menangis.
Hay Hay memandang tajam dan dia mendapat kenyataan bahwa tangis ini bukan dibuat-buat, bukan sandiwara, melainkan tangis karena duka.
"Siok Bi, tenanglah. Apakah yang kau susahkan? Sejak pertemuan pertama, aku sudah diam-diam merasa heran mengapa seorang gadis seperti engkau sampai terperosok menjadi seorang pelayan rumah judi""
Mendengar ucapan itu, Siok Bi menangis semakin sedih, bahkan menjatuhkan diri menelungkup di atas pembaringan dan terisak-isak.
Hay Hay merasa kasihan sekali.
Dia duduk di tepi pembaringan dan menekan pundak gadis itu, mengelus rambutnya.
"Tenangkan hatimu dan bicaralah, aku akan menolongmu sedapatku kalau memang engkau membutuhkan pertolongan."
Gadis itu bangkit dan dengan muka basah air mata ia memandang kepada Hay Hay.
"Be"
Benarkah, kongcu"? Benarkah engkau sudi menolongku"? Sudi mengangkat aku dari lumpur kehinaan ini"?"
Hay Hay tersenyum dan menggunakan jari-jari tangannya mengusap air mata dari pipi yang kini ditinggalkan bedak akan tetapi ternyata kulitnya memang putih mulus dan halus itu.
Dia mengangguk.
"Tentu saja, Siok Bi."
"Ah, kongcu...!"
Siok Bi menubruk, merangkul dan menangis di dada Hay Hay.
Jantung di dalam dada itu kembali berdebar keras, tangannya balas mendekap akan tetapi Hay Hay dapat bertahan untuk tidak tergelincir ke dalam jurang birahi.
"Tenanglah, nah, duduklah yang baik dan berceritalah."
Katanya dan diapun bangkit berdiri, lalu pindah duduk di atas kursi, baju di bagian dadanya basah oleh air mata ketika gadis itu tadi menangis di dadanya.
Siok Bi menyusuti air matanya dengan sehelai saputangan yang sudah menjadi basah.
Ia menenangkan dirinya, dengan memejamkan mata dan Hay Hay kembali mendapat kenyataan bahwa gadis ini memang pernah mempelajari ilmu silat, bahkan cara untuk bersamadhi dan memperkuat batin.
Dia hanya memandang sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Siok Bi membuka matanya dan kini pandang matanya terang, tidak layu seperti tadi.
Ia menarik napas panjang.
"Maafkan kelakuanku tadi, kongcu. Bagi kongcu, tentu sikapku tadi bukan sikap seorang gadis yang sopan dan bersusila. Memang aku telah menjadi seorang gadis yang tak tahu malu, kongcu, terseret oleh keadaan diriku,"
Siok Bi lalu menceritakan riwayatnya dengan singkat.
Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya yang sudah menduda gila judi dan habis-habisan sehingga akhirnya dia dijual oleh ayahnya kepada Hartawan Coa yang merupakan orang terkaya di Shu-lu, juga menjadi kepala dari golongan hitarn di daerah itu.
Ternyata Hartawan Coa suka kepadanya, karena Siok Bi selain cantik juga amat cerdas.
Gadis remaja ini diperlakukan dengan baik, bahkan dilatih segala macam kepandaian, termasuk ilmu silat tinggi.
Ketika ia sudah dewasa, ia terpaksa melayani Hartawan Coa yang mengambilnya sebagai seorang di antara selirnya yang amat banyak.
Mulai saat itu, Siok Bi selain menjadi selir, juga menjadi orang kepercayaan, dan menjadi kepala para pelayan yang berada di rumah judi itu.
"Nah, demikianlah riwayatku, kongcu. Aku hidup bergelimang kehinaan, dan hatiku selalu merana semenjak aku dijual oleh ayah kepada Coa Wan-gwe. Dan ayahpun menderita, menyesal dan dia meninggal dunia karena penyesalannya ketika aku dipaksa menjadi selir Coa Wan-gwe."
Hay Hay mengangguk-angguk.
Betapa banyaknya nasib gadis-gadis keluarga miskin, terutama yang berwajah cantik manis seperti Siok Bi ini.
Banyak penggoda datang, berupa hartawan-hartawan yang haus akan bunga cantik yang baru mekar, menggunakan uang mereka untuk membeli gadis-gadis itu.
Masih baik nasib gadis cantik miskin yang mempunyai orang tua yang mempunyai harga diri, akan tetapi kalau orang tuanya mata duitan, sungguh celaka.
Gadis itu akan menjadi semacam barang dagangan, dijual kepada hartawan untuk menjadi alat memuaskan nafsunya.
Terlalu banyak keluarga yang tidak menghargai anak perempuan, dianggapnya anak perempuan hanya menjadi beban orang tua saja.
Pikiran yang sungguh jahat!
"Lalu apa yang dapat kulakukan untukmu, Siok Bi?
Biarpun aku merasa kasihan mendengar nasibmu, akan tetapi apa yang dapat kulakukan?".
"Tolonglah aku, kongcu. Tolonglah aku agar aku dapat bebas dari cengkeraman Coa Wan-gwe""
Gadis itu memohon.
"Hemm, kalau engkau memang tidak suka lagi menjadi selir dan pembantu hartawan Coa itu, kenapa engkau tidak melarikan diri saja? Engkau bukan seorang wanita lemah, Siok Bi dan kulihat engkau mendapat kebebasan bergerak. Dengan mudah sekali engkau akan dapat melarikan diri meninggalkan kota Shu-lu ini ke tempat jauh!"
Gadis itu menggeleng kepala.
"Tidak mungkin, kongcu. Ah, engkau tidak tahu akan kekuasaannya. Dia memiliki banyak tukang pukul dan aku tentu dapat ditangkapnya dengan cepat dan menerima hukuman yang amat kejam. Tidak, kongcu. Melarikan diri bukanlah jalan yang baik."
"Kalau begitu, katakan saja terus terus terang bahwa engkau ingin bebas dan hidup sendiri."
Gadis ini menundukkan mukanya dan menarik napas panjang.
"Pernah kukatakan hal itu kepadanya dan apa akibatnya? Aku dihukum cambuk sepuluh kali dan dia mengatakan bahwa aku telah menjadi miliknya karena sudah dibeli dari mendiang ayahku. Kalau aku ingin bebas, aku harus menebus diriku yang katanya kini harganya sudah menjadi lima puluh tail emas!"
"Wah, kenapa demikian banyak? Apakah dulu ayahmu menjualmu dengan harga seperti itu?"
Siok Bi menggeleng.
"Hanya beberapa tail emas, akan tetapi dia memperhitungkan bunganya yang tinggi selama lima tahun ini..."
Hay Hay mengerutkan alisnya dan melirik ke arah buntalan uang emasnya.
Lebih dari cukup untuk menebus diri Siok Bi!
"Siok Bi, kalau engkau sudah berhasil bebas dari Hartawan Coa, lalu ke mana engkau hendak pergi?
Bukankah ayahmu telah meninggal dunia?
Apakah engkau mempunyai keluarga lain?"
Siok Bi kembali menggeleng kepalanya.
"Hanya seorang paman di kota raja, akan tetapi dia tentu tidak sudi menerima aku yang sudah bergelimang lumpur. Akan tetapi... ada seorang pemuda..."
Gadis itu berhenti dan matanya memandang kepada Hay Hay dengan penuh duka. Hay Hay tersenyum.
"Aha! Kiranya engkau sudah mempunyai pillhan seorang kekasih? Bagus sekali kalau begitu!"
Siok Bi nampak tersipu.
"Bukan begitu, kongcu. Sesungguhnya, ada seorang pemuda yang dahulu suka berjudi. Dia sebetulnya seorang pemuda yang baik dan dia... dia amat mencintaku. Ketika aku memberi nasihat agar dia berhenti berjudi, diapun menurut, berhenti tak pernah berjudi lagi dan kini dia bekerja, dagang kecil-kecilan. Dia amat mencintaku dan dia tentu akan menerimaku sebagai calon isterinya dengan hati bahagia..."
"Dan engkau tentu juga mencintanya, bukan?" .
"Sayang... sayang dia bukan engkau, kongcu...! Ah, kenapa aku harus mengharapkan yang bukan-bukan? Aku kasihan dan suka padanya, akan tetapi terus terang saja, tidak mencintanya. Bagaimanapun juga, hidupku akan lebih terhormat dan terjamin kalau dapat menjadi isterinya."
Mendengar pengakuan yang jujur itu, Hay Hay merasa terharu.
Gadis ini jatuh cinta padanya!
Gadis ini tersesat ke jalan hitam bukan atas kehendaknya, melainkan terpaksa, dan ia berusaha untuk kembali ke jalan yang bersih.
Agaknya, hanya dialah yang mampu menolongnya, menebusnya.
"Baiklah, Siok Bi. Kemenanganku di meja judi itu cukup untuk menebus dirimu. Aku akan menemui Coa Wan-gwe dan aku akan menebus dirimu dengan lima puluh tail emas!"
"Hay Kongcu...!"
Siok Bi menjerit kecil dan menubruk pemuda itu dengan hati penuh kebahagiaan sehingga keduanya berguling ke atas pembaringan.
Siok Bi merangkul dan mencium, penuh perasaan terima kasih dan penuh kepasrahan diri.
"Kongcu..."
Bisiknya di antara ciumannya.
"sampai mati aku tidak akan mampu membalas budimu... maka... hanya tubuhku inilah yang kumiliki, kuserahkan padamu untuk membalas budi dengan segala keiklasan...! Hay Kongcu... aku kagum padamu, aku cinta padamu..."Gadis itu merintih ketika Hay Hay dengan halus mendorongnya lalu pemuda itu bangkit duduk. Tadinya diapun terseret gelombang nafsu dan membalas ciuman dan belaian gadis itu, namun kesadarannya membuat dia melihat betapa buruknya kalau dia lanjutkan. Seolah-olah dia menolong dengan pamrih imbalan yang demikian rendah! Dia bukan hendak membeli tubuh Siok Bi, melainkan kebebasannya! "Siok Bi, sadarlah! Aku kagum dan suka pula padamu, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku lalu ingin memperoleh imbalan darimu. Ingat, engkau sudah bersiap-siap menempuh jalan bersih bersama pemuda yang mencintamu. Maka, sejak saat ini, engkau harus menahan semua perasaanmu dan harus pula menjadi seorang calon isteri yang setia! Kalau begitu, baru engkau dapat mengharapkan akan membentuk rumah tangga bahagia dengan pemuda itu."
Wajah gadis itu menjadi merah dan ia segera meloncat turun dari atas pembaringan, membereskan pakaiannya, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hay Hay.
"Kongcu, aku menghaturkan banyak terima kasih dan juga mohon maaf atas kelancanganku tadi."
Gadis itu semakin kagum, akan tetapi juga jerih karena kini ia merasa bahwa pemuda ini bukanlah manusia biasa!
Tidak mungkin ada pria, apa lagi masih muda, yang mampu bertahan seperti itu, padahal keduanya sudah saling peluk dan saling berciuman di atas pembaringan dalam sebuah kamar!
Padahal ia sudah siap menyerahkan diri dengan suka rela!
Dan pemuda itu demikian pandai merayu, demikian pandai bercumbuan!
Selama hidupnya, belum pernah Siok Bi mengalami hal seperti itu.
Hay Hay menyentuh kedua pundaknya dan menariknya berdiri, Hay Hay memandang wajah yang manis itu, tersenyum, kemudian memberi ciuman mesra pada dahi yang halus itu.
"Siok Bi, tidak perlu berterima kasih dan tidak perlu minta maaf. Uang itu hanyalah uang rumah judi, bukan uangku. Dan tentang maaf, terus terang saja, akupun amat suka kepadamu, dan alangkah akan mudahnya dan senangnya kalau aku menuruti bisikan nafsu. Akan tetapi, orang harus lebih dahulu sadar, waspada dan memperhitungkan segala perbuatan, bukan membuta karena nafsu. Kalau kita menuruti nafsu sekarang, nanti kita berdua akan merasa menyesal sekali. Terutama engkau, Siok Bi. Di sudut hatimu tentu akan timbul penyesalan karena engkau telah berkhianat terhadap cinta pemuda itu. Nah, katakan ke mana aku harus menyerahkan uang itu kepada Hartawan Coa. Aku ingin urusan selesai sekarang juga.""
"Ah, jangan sekarang, kongcu. Besok pagi saja, karena malam ini Hartawan Coa tidak berada di rumah. Dia bermalam di rumah penginapan ini!"
"Ehhh? Di sini? Kenapa...?"
Hay Hay bertanya heran. Gadis itu mengerutkan alisnya.
"Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi dia sudah seringkali begitu, bermalam di mana saja dan itu tandanya bahwa dia memperoleh seorang korban baru, seorang gadis yang baru saja di dapatnya!"
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan terdengar suara seorang laki-laki, suara yang parau dan dalam.
"Di mana kamar untukku? Harus yang paling baik!"
"Tentu saja, tentu saja"
Tai-ya. Di sana, di kamar paling kiri, sudah kami persiapkan""
Siok Bi menaruh telunjuk ke depan mulutnya.
"Sttt, itu dia...!"
Bisiknya.
Hay Hay lalu membuka daun pintu dan keluar dengan tenang.
Dia sempat melihat seorang laki-lakl tinggi besar bermuka hitam bopeng!
Dia terbelalak.
Kiranya pemilik rumah judi, pemimpin dan kepala dari para bandar curang itu, bukan lain adalah hartawan yang sudah ada janji rahasia dengan isteri Gui Lok, pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai-koan.
Dia melihat pria tinggi besar itu memasuki kamar terbesar di sebelah kiri, dan dua orang tukang pukul atau jagoan yang bertubuh kokoh kekar berjaga di luar kamar itu!
Isteri Gui Lok itu, yang bernama Kim Hwa, si cantik genit, berjanji akan mengantarkan puteri tirinya setelah lewat jam dua belas malam ke kamar itu!
Mempergunakan obat bius pula!
Dia harus mencegah terjadinya peristiwa terkutuk itu.
Kasihan Ai Ling, gadis pendiam yang bagaikan bunga baru mekar itu harus dipetik secara paksa, direnggut oleh Hartawan Coa yang rakus ini!
Diapun cepat masuk lagi ke dalam kamarnya.
"Kiranya si tinggi besar muka bopeng itukah Hartawan Coa?"
Katanya kepada Siok Bi.
Pantas saja gadis jelita ini merasa menderita.
Wanita muda mana yang suka menjadi selir seorang laki-laki seperti itu yang kelihatannya kasar dan bengis?
Siok Bi mengangguk.
"Siok Bi, engkau pulanglah. Besok akan kubereskan persoalanmu. Aku akan menemui dia di rumahnya dan menebus dirimu, kemudian kuantar engkau ke rumah calon suamimu."
Siok Bi merasa gembira sekali.
"Terima kasih, Hay Kongcu, terima kasih...!"
Ia menghampiri dan merangkul lagi, akan tetapi tiba-tiba dia menahan diri dan menatap wajah pemuda itu.
Dua pasang mata saling bertaut.
"Bolehkah aku", kongcu...?"
Hay Hay tersenyum, mengangguk dan menerima ciuman hangat gadis itu, sebuah ciuman yang tidak lagi dicekam nafsu birahi, melainkan ciuman yang mengandung rasa haru, sukur dan terima kasih yang amat besar.
Kemudian gadis itu melepaskan rangkulannya disertai isak tertahan, lalu keluar dari dalam kamar itu.
Akan tetapi Hay Hay menangkap lengannya.
"Jangan, jangan lewat situ, lebih baik jangan terlihat bahwa engkau berada di sini."
Katanya dan dia membuka jendela, lalu membantu Siok Bi meninggalkan kamarnya lewat jendela yang menembus ke dalam kebun yang gelap.
Setelah Siok Bi, Hay Hay menutup daun jendela dari luar karena dlapun meninggalkan kamarnya untuk melakukan pengintaian dalam usahanya menyelamatkan Al Ling dari ancaman bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut!
Di dalam sebuah kamar di rumah yang letaknya tepat di belakang rumah penginapan, bahkan bergandeng dengan penginapan itu.
Hay Hay menemukan orang yang dicarinya, yaitu Ai Ling.
Kamar gadis itu cukup rapi dan bersih dan ketika Hay Hay tiba di luar kamar, ternyata Kim Hwa, ibu tiri gadis itu telah berada di dalam kamar!
Kalau Ai Ling berpakaian sederhana saja, pakaian tidur yang longgar, sebaliknya Kim Hwa mengenakan pakaian yang indah seolah-olah ia hendak bepergian.
Mukanya juga dirias dengan pesolek sekali.
Hay Hay teringat akan janji wanita genit itu untuk berkunjung ke kamarnya lewat tengah malam, dan mukanya menjadi merah.
Agaknya wanita genit itu memang bersolek untuk berkunjung ke kamarnya dengan maksud yang tidak sukar untuk ditebak.
Sungguh kasihan sekali ayah kandung Ai Ling mengawini seorang wanita seperti Kim Hwa.
Bukan saja selalu siap untuk melakukan penyelewengan dan berjina dengan laki-Iaki lain, akan tetapi bahkan tidak ragu-ragu untuk menjebloskan puteri tirinya ke dalam lembah kehinaan, menjadikannya korban dan mangsa srigala berwajah manusia seperti Hartawan Coa!
"Ai Ling, kenapa engkau tidak mau makan?
Makanlah, agar jangan masuk angin.
Engkau tahu, kita mempunyai banyak pekerjaan dan kalau engkau jatuh sakit, kami akan sibuk bukan main."
"Aku tidak nafsu makan dan kepalaku agak pening,"
Ai Ling mengeluh.
"biar aku akan tidur saja, tentu besok juga sudah sembuh."
"Mana bisa tidur dengan perut kosong? Kalau begitu, biar kau minum saja obat masuk angin. Manjur sekali obatku, pemberian Sinshe Tung. Biar kuambilkan sebentar"
Kim Hwa lalu keluar dari dalam kamar itu dengan menyeret sandalnya.
Ai Ling menarik napas panjang dan duduk di tepi pembaringan.
Tiba-tiba muncul seorang pemuda di dalam kamar itu.
Ai Ling yang sedang melamun, terkejut bukan main ketika melihat bahwa yang muncul seperti setan itu adalah pemuda yang tadi pagi sarapan di rumah makan dan dilayaninya, pemuda tampan yang amat ramah dan menyenangkan hatinya.
Saking kagetnya, hampir ia menjerit, akan tetapi Hay Hay cepat menaruh telunjuknya di depan mulut.
"Sssttt, tenanglah nona dan jangan berisik. Aku datang untuk membebaskanmu dari ancaman bahaya!"
"Apa"
Apa maksudmu, kongcu...? Aku tidak mengerti""
Gadis itu masih takut-takut dan bingung.
"Sstt, dengarlah baik-baik. Ibu tirimu bermaksud mengorbankan engkau kepada Hartawan Coa, dan obat yang ia berikan itu adalah obat bius. Karena itu, ingat baik-baik, kalau ia datang memberikan obat, katakan saja bahwa engkau tidak suka dan agar ia sendiri yang minum obat itu. Mengerti?"
Gadis itu mengangguk dan masih bingung.
"Akan tetapi""
"Ikuti saja petunjukku kalau engkau mau selamat."
Bisik Hay Hay dan pada saat itu terdengar bunyi sandal diseret.
Sekali berkelebat, tubuh Hay Hay sudah lenyap karena dengan cepat dia sudah, menyelinap ke balik pembaringan itu, tertutup kelambu dan lemari pakaian.
Daun pintu kamar terbuka dari luar dan masuklah Kim Hwa dengan langkahnya yang gemulai.
Ia membawa sebuah cawan terisi cairan merah yang berbau harum.
"Nah, ini obat masuk angin. Minumlah, Ai Ling sayang, agar tubuhmu terasa segar dan besok kau dapat bekerja dengan rajin. Minumlahl."
Ia menyerahkan cawan itu dan Ai Ling memandang cawan itu dengan alis berkerut.
Ia masih merasa heran akan kemunculan Hay Hay dan semua ucapan pemuda itu.
Akan tetapi, apa yang ia dengar dari pemuda itu bukan hal yang tidak boleh jadi!
Ia tahu bahwa diam-diam ibu tirinya ini tidak suka kepadanya, apalagi ketika pada suatu hari ia pernah menegur ibu tirinya yang suka bercanda secara keterlaluan dan berlebihan dengan pegawai-pegawai pria.
Ia bahkan berani menduga bahwa ibu tirinya itu tentu mempunyai hubungan gelap dengan beberapa orang pegawai.
Maka, tidak akan mengherankan kalau ibu tirinya mempunyai tipu muslihat busuk dan menjerumuskannya ke pelukan Hartawan Coa.
Ia bergidik dan melihat betapa cawan itu seperti mengandung racun!
"Tidak, aku tidak mau minum.
Aku mau tidur saja, harap kau suka minum saja sendiri obat itu!"
Katanya, teringat akan pesan Hay Hay.
Kim Hwa terbelalak.
Sungguh ia merasa aneh sekali mengapa ucapan puterinya itu mempunyai kekuatan mendorongnya sehingga timbul suatu keinginan aneh dalam dirinya, yaitu untuk minum "obat"
Dalam cawan itu!
Tentu saja cawan itu berisi obat pemberian Hartawan Coa yang ia campur dengan anggur merah.
"Apa? Kuminum sendiri...?"
Ia berkata penuh keraguan, setengah berbisik.
Melihat sikap ibu tirinya ini, Ai Ling juga merasa heran dan teringat akan pesan pemuda aneh ltu, iapun menjawab.
"Benar, lebih baik kau minum sendiri obat itu!"
Dan kini terjadi keanehan dalam sikap Kim Hwa.
"Baik, kuminum saja sendiri, kuminum sendiri..."
Dan sepertl dalam mimpi, iapun lalu minum obat dalam cawan itu sampal habis!
Setelah minum obat itu, Kim Hwa melepaskan cawan kosong yang jatuh berkerontang di atas lantai, ia berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang dan kedua matanya dipejamkan.
Ai Ling memandang khawatir.
Obat itu adalah obat yang mengandung bius, membuat orang kehilangan kemauan, juga mengandung obat perangsang sehingga orang yang minum obat ini dalam keadaan tidak sadar akan menjadi hamba nafsu birahinya sendiri.
Kim Hwa mengeluh, lalu tanpa pamit ia keluar dari kamar itu, diikuti pandang mata Ai Ling yang masih bingung dan khawatir.
Hay Hay muncul lagi, dipandang oleh Ai Ling yang masih menaruh curiga kepadanya.
Akan tetapi pemuda itu tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas, bahkan Hay Hay cepat berkata kepadanya.
"Ai Ling, cepat kau beritahukan kepada ayahmu bahwa ibu tirimu mengadakan pertemuan dengan Hartawan Coa di dalam kamar terbesar di rumah penginapan Hok-lai-koan. Suruh ayahmu pergi sendiri menangkap basah isterinya yang menyeleweng itu dan jangan takut! Aku akan melindunginya. Kim Hwa itu harus dihukum, Ai Ling, demi keselamatan ayahmu dan engkau sendiri. Cepat!"
Dan kembali Hay Hay berkelebat lenyap dari dalam kamar.
Sejenak Ai Ling bengong dan bulu tengkuknya meremang.
Apakah pemuda itu bukan manusia melainkan setan yang pandai menghilang?
Ataukah dewa yang hendak menolong ia dan ayahnya?
Ia tidak merasa heran mendengar betapa ibu tirinya menyeleweng, mengadakan pertemuan dalam kamar hotel dengan Hartawan Coa.
Akhirnya ia turun dan pergi kekamar ayahnya.
Bagaikan seorang yang kehilangan ingatannya, Kim Hwa melalui pintu tembusan menuju ke ruangan rumah penginapan Hok-lai-koan.
Yang dlingatnya hanya dua hal.
Pertama mengantarkan Ai ling ke kamar Hartawan Coa, dan kedua pergi mengunjungi pemuda ganteng yang menarik hati, yang menginap di kamar nomor tujuh belakang.
Akan tetapi, tubuhnya terasa demikian ringan dan ia tidak ingat lagi mengapa ia menjadi begitu, kepalanya juga ringan dan kosong!
Ketika tiba-tiba Hay Hay muncul, ia tidak terkejut dan tersenyum genit.
Apalagi ketika Hay Hay berbisik.
"Manis, aku sengaja menjemputmu! Mari kita pergi ke kamarku sayang!"
Kim Hwa tertawa kecil dengan sikap genit lalu membiarkan dirinya digandeng oleh pemuda yang menarik hatinya itu dan ia malah menyandar dan mereka berdua berjalan sambil bergandeng tangan.
Hay Hay tidak membawa wanita itu ke kamarnya melainkan diajaknya menghampiri kamar besar di mana terdapat dua orang jagoan yang berjaga.
Malam sudah larut, menjelang tengah malam dan suasana sunyi.
Dua orang jagoan itu duduk di atas kursi, agak melenggut.
Mereka tenang saja karena siapa yang akan berani mati mengganggu majikan mereka?
"Mari Ai Ling, marilah sayang..."
Suara ini mengejutkan dua orang jagoan itu.
Akan tetapi ketika mereka mengangkat muka, mereka melihat sekelebatan seorang pemuda bergandeng tangan dengan seorang wanita cantik.
Anehnya, begitu mereka memandang, pemuda itu lenyap dan yang nampak adalah dua orang wanita muda yang sedang menghampiri mereka sambil saling bergandeng tangan.
Ketika lampu gantung menerangi wajah mereka, dua orang jagoan ini cepat berdiri dan menyeringai senang.
Mereka sudah tahu bahwa majikan mereka menanti datangnya isteri pemilik rumah penginapan itu yang akan mengantarkan puterinya, dan ternyata kini mereka benar-benar muncul!
Melihat betapa gadis manis itu seperti orang mabok, tahulah mereka bahwa gadis itu telah minum obat bius, dan isteri pemilik rumah penginapan yang cantik genit itu senyum-senyum kepada mereka.
Kedua orang "wanita"
Ini menghampiri pintu dan mengetuk tiga kali.
Dua orang jagoan itu tidak menghalangi mereka, hanya saling pandang dan tersenyum-senyum penuh arti.
"Siapa mengetuk pintu?"
Terdengar suara yang parau dan dalam, suara Hartawan Coa yang memang sejak tadi belum tidur dan dengan tidak sabar menanti datangnya Kim Hwa yang berjanji akan mengantar Gui Ai Ling, si perawan jelita.
"Saya Kim Hwa, tai-ya, saya mengantarkan Ai Ling. Harap buka pintunya!"
Mendengar suara ini, tentu saja Hartawan Coa menjadi girang dan dia cepat membuka daun pintu.
Mula-mula ia terkejut melihat bahwa yang berdiri di depan pintu adalah seorang pemuda yang tidak dikenalnya dan Kim Hwa, isteri pemilik rumah penginapan yang genit itu, akan tetapi ketika dia berkedip dan mendengar suara Kim Hwa.
"Saya Kim Hwa dan Ai Ling datang seperti yang saya janjikan, tai-ya,"
Dan dia membuka mata, ternyata yang berdiri di depannya adalah Kim Hwa dan Ai Ling, gadis yang membuatnya selalu menelan air liur itu!
"Ahhh, engkau sudah datang, manis!"
Katanya sambil menggandeng tangan Ai Ling.
"Mari masuk, manis!"
Ai Ling menurut saja digandeng masuk, dan Kim Hwa tersenyum.
"Bersenang-senanglah tai-ya dengan Ai Ling, saya harap tai-ya tidak lupa kepada saya."
Hartawan Coa yang sudah tidak sabaran itu, hanya mengangguk dan menutup kembali daun pintu tanpa menguncinya karena bukankah di luar sudah ada dua orang pengawalnya, jagoan-jagoan yang dapat dipercaya menjaga di situ semalam suntuk?
Kim Hwa lalu melenggang pergi.
"Eih, nyonya muda. Hendak ke mana? Apakah tidak mau menemani kami di sini sebentar menghilangkan dingin dan kantuk?"
Seorang di antara dua penjaga itu menegur dan menggoda. Kim Hwa hanya tersenyum.
"Lain kali saja, aku mempunyai keperluan lain."
Dan iapun mempercepat langkahnya. Setelah tiba di tempat gelap, ternyata bahwa "Kim Hwa"
Ini bukan lain adalah Hay Hay yang tadi mempergunakan kekuatan sihirnya untuk membuat mata dua orang jagoan dan juga mata Hartawan Coa melihatnya seperti Kim Hwa, sedangkan Kim Hwa sendiri yang sudah berada di bawah pengaruh obat bius itu mereka lihat sebagai Gui Ai Ling!
Hay Hay mengintai tak jauh dari situ.
Tidak lama dia mengintai karena segera dia melihat seorang.
laki-laki gendut berlari-lari melalui pintu tembusan dari rumah Gui Lok, menuju ke rumah penginapan itu.
Dia bukan lain adalah Gui Lok, pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai-koan.
Agak jauh di belakangnya dia melihat pula Ai Ling berjalan dengan muka khawatir.
Gui Lok yang menerima pelaporan puterinya bahwa isterinya mengadakan pertemuan gelap dengan laki-laki di dalam kamar hotelnya, tentu saja menjadi marah sekali dan dia langsung menuju kekamar besar, kamar istimewa termahal di rumah penginapannya itu.
Ketika tiba di depan kamar, dua orang tukang pukul mencoba untuk menghadangnya, akan tetapi si gendut Gui Lok berteriak lantang.
"Ini rumah penginapanku sendiri! Siapa berhak melarang?"
Dua orang tukang pukul itu tentu saja tahu bahwa Gui Lok pemilik rumah penginapan i tu, maka merekapun merasa sungkan, juga mereka terbelalak heran bukan main melihat Ai Ling berada di belakang si gendut itu!
Bukankah tadi mereka melihat sendiri betapa gadis itu diantar oleh ibu tirinya memasuki kamar majikan mereka dan kini sedang dalam pelukan majikan mereka?
Bagaimana kini tahu-tahu gadis itu berada di luar kamar tanpa pengetahuan mereka?
Apakah tadi mereka bermimpi?
Padahal mereka tidak pernah tidur.
Bagaimanapun juga, melihat adanya gadis itu, hati mereka tidak khawatir.
Kalau gadis itu tidak berada di dalam kamar majikan mereka, apa yang mereka khwatirkan?
Biarkan si gendut itu membikin ribut, kalau majikan mereka yang kini tentu sendirian saja keluar, tentu si gendut itu yang akan mendapat kemarahan!
Kiranya majikan mereka sedang tidur sendirian di kamar itu!
Melihat dua orang penjaga itu tidak menghalanginya lagi, Gui Lok lalu menghampiri daun pintu kamar itu dan menggedor-gedor dengan keras.
"Buka pintu! Kim Hwa, engkau tidak perlu sembunyi! Aku sudah tahu bahwa engkau berada di dalam bersama laki-laki lain! Engkau perempuan busuk, pelacur hina, isteri yang menyeleweng tak tahu malu!"
Karena Gui Lok dilanda kemarahan hebat, maka dia berteriak-teriak seperti orang gila.
Tentu saja teriakannya yang keras itu membangunkan semua tamu dan sebentar saja, semua kamar di rumah penginapan itu terbuka dan para tamu sudah keluar dari dalam kamar untuk menonton pertunjukan menarik itu.
HayHay juga keluar dari kamarnya, bersama para tamu ikut pula menonton.
Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Ai Ling yang nampak khawatir, dia berkedip dan menganggukkan kepala, seolah memberi jaminan kepada gadis itu agar tidak usah takut karena ada dia yang akan melindunginya.
Dan anehnya, melihat pemuda itu, hati Ai Ling menjadi agak tenteram, tidak lagi ketakutan seperti tadi.
"Hayo buka, kau perempuan laknat, pelacur hina tak tahu malu! Dorr-dorr-dorr!!"
Cui Lok terus menggedor pintu dengan kemarahan meluap, apa lagi melihat munculnya banyak tamu.
Semua orang melihat dan mengetahui betapa isterinya telah menyeleweng.
Betapa malunya dia kalau tidak dapat membikin perhitungan dengan isterinya itu!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya mereka yang sedang bermesraan di dalam kamar itu.
Baru saja Hartawan Coa dan Kim Hwa mendapatkan kenyataan yang mengejutkan hati mereka berdua, Kim Hwa mulai ditinggalkan pengaruh obat bius dan ketika ia sadar lalu mendapatkan dirinya dalam pelukan Hartawan Coa, hampir saja ia menjerit.
Bukankah seharusnya ia berada dalam pelukan pemuda tampan yang pandai merayu itu?
Kenapa kini ia berada dalam rangkulan Hartawan Coa yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, penuh bulu kasar, mukanya hitam dan bopeng?
Bukankah seharusnya Ai Ling yang berada di pelukan hartawan ini?
Akan tetapi ia seorang wanita yang cerdik.
Walaupun ia tidak mengerti mengapa bisa begini, namun ia pandai bersandiwara dan dengan manja ia lalu mempererat rangkulannya dan mengeluarkan suara rintihan manja.
Sementara itu, Hartawan Coa juga sudah tidak lagi terpengaruhi kekuatan sihir yang dilepaskan Hay Hay tadi, dan kini dia melihat bahwa yang dipeluk dan digumulinya sejak tadi bukanlah gadis yang dirindukannya itu, melainkan isteri Gui Lok, nyonya muda yang cantik dan genit itu!
Diapun terkejut mengapa bisa terjadi perubahan ini!
Padahal tadi, jelas dia melihat bahwa yang dibimbingnya masuk adalah Ai Ling dan gadis itu tadi menurut saja tanpa melawan karena berada dalam pengaruh obat bius.
Akan tetapi, mengapa kini mendadak berganti orang?
Bagaimanapun juga, hartawan ini memang cocok dengan Kim Hwa dan biarpun dia terheran, dia tidak begitu perduli lagi setelah merasakan kehangatan tubuh dan kepandaian Kim Hwa merayu dan melayaninya.
Diapun mendekap semakin kuat dan keduanya tenggelam ke dalam gelombang nafsu yang tak pernah mengenal puas.
Mereka berdua sedang terlena di ambang kepulasan karena lelah ketika tiba-tiba mereka dikejutkan oleh geduran pada daun pintu kamar itu!
Mendengar teriakan suaminya, tentu saja Kim Hwa terkejut setengah mati dan iapun cepat melepaskan diri dari rangkulan Hartawan Coa dan tergesa-gesa mengenakan pakaiannya.
Ia lari ke jendela, hendak membuka jendela kamar itu, akan tetapi betapa heran dan khawatirnya ketika ternyata daun jendela itu macet, sama sekali tidak dapat dibukanya.
Tentu saja ia menjadi panik.
Melihat ini, Coa Wan-gwe lalu menghampiri jendela dan diapun mencoba untuk membukanya.
Sia-sia belaka.
Biarpun hartawan ini memilik tenaga yang besar, namun daun jendela itu sama sekali tidak dapat dibukanya, macet.
Hal ini tidaklah aneh karena macetnya daun jendela itu bukan sewajarnya, melainkan karena perbuatan Hay Hay.
"Sudahlah, tidak perlu gelisah. Biar aku yang bertanggung jawab!"
Kata hartawan itu, teringat akan kedudukan dan kekuasaannya.
Apa artinya seorang Gui Lok baginya?
"Tapi"
Tapi suamiku di depan kamar! Dia akan marah..."
"Huh, coba saja apa yang dapat dia lakukan kepadaku! Coba dia marah kepadaku kalau berani kusuruh hajar dia sampai mampus! Hartawan itu makin besar hatinya karena bukankah di depan pintu itu selalu ada dua orang pengawal yang menjaga keselamatannya? Mendengar ucapan hartawan itu, hati Kim Hwa tidak menjadi lega, bahkan semakin khawatir. Diraihnya lengan hartawan itu dan ditahannya ketika ia hendak keluar dari kamar.
"Kau akan dapat menyelamatkan diri dengan mudah, dia tidak berani mengganggumu, akan tetapi bagaimana dengan aku? Harap jangan tinggalkan aku di sini"!"
Coa Wan-gwe mengerutkan alisnya dan mengibaskan lengannya sehingga wanita itu terpelanting ke atas pembaringan.
"Huh, jangan banyak tingkah kamu! Salahmu sendiri! Bukankah engkau berjanji akan mengantarkan Ai Ling kepadaku di kamar ini? Akan tetapi, engkau sendiri yang datang menggantikan anakmu. Perempuan tak tahu malu!"
Kim Hwa terkejut dan tidak berani bicara lagi, hanya memandang dengan mata terbelalak ketika hartawan itu membuka daun pintu kamar itu dan melangkah keluar dengan mengangkat dada.
Gui Lok yang berada di depan kamar itu, sudah siap untuk marah-marah, akan tetapi begitu melihat Hartawan Coa, nyalinya menjadi kecil dan dia hanya memandang bengong seperti berubah menjadi arca.
"Hemm, Gui Lok! Mau apa engkau lancang menggedor pintu kamarku? Bukankah kamar ini sudah kusewa? Kau tahu, rumah penginapan ini dapat kubeli, juga kepalamu dapat kubeli. Mengerti?"
Mendengar bentakan hartawan ini, seketika keberanian dan kemarahan Gui Lok menguncup dan kakinya gemetar.
"Maaf, tai-ya, tapi... tapi isteriku..."
"Peduli apa dengan isterimu! Aku tidak memanggilnya ke sini! Tanyakan saja kepada isterimu sendiri! Tapi kau... yang sudah berani menggangguku, menggedor pintu kamarku secara kurang ajar, tidak dapat kumaafkan begitu saja. Kau perlu dihajar!"
Tangan yang besar dari hartawan itu menyambar dan sebuah pukulan mengenai kepala Gui Lok.
"Plakk!"
Si perut gendut itu terpelanting dan jatuh.
Hartawan Coa melangkah maju, siap menendangi kepala Gui Lok yang dianggapnya telah kurang ajar dan membikin malu kepadanya di depan begitu banyak orang.
Maka, di depan para tamu yang sudah jadi penonton, dia hendak menghajar Gui Lok agar namanya kembali terang dan disegani orang.
Kaki yang besar dan dilindungi sepatu kulit yang tebal dan keras itu menyambar ke arah kepala Gui Lok.
"Dukkk!"
Akibatnya, bukan kepala itu yang tertendang dan Gui Lok mengeluh kesakitan, sebaliknya malah Hartawan Coa memekik kesakitan, mengangkat kaki yang menendang, memeganginya dan kaki yang sebelah lagi jingkrak-jingkrak.
Serasa patah-patah tulang kakinya ketika tadi dia menendang, kakinya itu bertemu dengan sebuah kaki lain, yaitu kaki Hay Hay.
Melihat ada seorang pemuda sederhana yang tadi menyambut tendangannya dengan tangkisan kaki, yang menyebabkan kakinya terasa nyeri setengah mati, Hartawan Coa menjadi marah bukan main.
"Hajar dia! Bunuh dia!"
Teriaknya kepada dua orang pengawal yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
Ketika mereka melihat majikan mereka menghajar Gui Lok, mereka diam saja.
Sama sekali tidak mereka sangka bahwa akan ada orang yang berani melindungi Gui Lok dan bahkan membuat kaki majikan mereka kesakitan.
"Pemuda lancang, berani kau menentang majikan kami?"
Dua orang tukang pukul itu meloncat ke depan, menghadapi Hay Hay yang berdiri tegak sambil tersenyum tenang.
"Ha-ha, kalian ini dua ekor anjing yang setia kepada majikan, sungguh pandai mengonggong! Nah, lanjutkan gonggonganmu agar semua orang melihat kalian!"
Kini semua orang yang telah keluar dari kamar masing-masing dan menonton keributan itu, terbelalak heran ketika melihat betapa dua orang tukang pukul yang tadi bersikap galak, Kini tiba-tiba saja mereka menjatuhkan diri berdiri di atas kaki dan tangan seperti binatang berkaki empat, dan mereka berdua segera menggonggong seperti dua ekor anjing yang sedang marah!
Tentu saja gonggongan mereka tidak seperti anjing, dan mereka yang menonton, tadinya terbelalak keheranan dan mengira dua orang itu main-main atau mendadak menjadi gila.
Akan tetapi keadaan yang lucu itu membuat mereka tidak dapat menahan ketawa mereka.
Bahkan Hartawan Coa sendiripun lupa akan kenyerian kakinya dan diapun berdiri bengong memandang kepada anak buahnya.
Apakah kedua orang pengawalnya itu mendadak menjadi gila?
Sementara itu, Gui Lok yang tadi terhindar dari hajaran yang lebih hebat, sudah bangkit berdiri dan diapun melihat peristiwa aneh itu sehingga sejenak lupa kepada isterinya yang menjadi biang keladi keributan itu.
Hay Hay tersenyum dan menghampiri dua orang tukang pukul yang masih merangkak-rangkak itu, kemudian kaki kirinya bergerak dua kali dan dua orang tukang pukul itu sudah kena ditendang, terlempar dan terbanting jatuh.
Agaknya setelah jatuh, baru mereka sadar akan keadaan diri mereka.
Cepat mereka meloncat dan sudah mencabut golok dari pinggang.
Lalu dengan kemarahan meluap karena mereka merasa dibikin malu di depan banyak orang, mereka lalu menerjang dan menyerang Hay Hay dengan bacokan golok dari atas ke bawah, ke arah kepala pemuda itu.
Semua orang melihat dengan hati ngeri betapa dua batang golok itu dengan tepat mengenai kepala pemuda itu dan dengan mudahnya, seperti agar-agar saja, kepala itu terbelah menjadi tiga potong oleh dua bacokan itu.
Akan tetapi, tidak ada darah keluar ketika tubuh yang terbelah menjadi tiga buah itu terkulai jatuh, mengeluarkan suara bising.
Akan tetapi ketika mereka semua memandang, termasuk dua orang tukang pukul itu, terdengar seruan heran melihat bahwa yang terbabat buntung mejadi tiga potong itu sama sekali bukan tubuh orang melainkan sebuah bangku panjang yang kini menjadi tiga potong!
Pantas saja mengeluarkan suara bising!
Ke mana larinya pemuda aneh itu tadi?
Kiranya, pemuda itu telah berdiri di belakang dua orang tukang pukul itu.
Kini, tiba-tiba kedua tangannya menjambak rambut dua orang tukang pukul itu dari belakang dan sekali dia menggerakkan kedua tangan mengadu dua buah kepala itu, dua orang pengawal itu mengeluh, goloknya terlepas dan ketika Hay Hay melepaskan kedua tangannya, mereka terkulai lemas seperti karung basah dan jatuh pingsan!
Melihat ini, semua orang kagum dan juga terheran-heran.
Hartawan Coa yang tadinya memandang bengis, kini menjadi pucat sekai.
Apalagi ketika pemuda itu menghampirinya.
"Coa Wan-gwe, engkau pulanglah dan bawa dua ekor anjingmu ini. Sebentar nanti aku akan datang berkunjung ke rumahmu, ada urusan penting yang hendak kubicarakan denganmu."
Sekali ini Hartawan Coa tidak banyak cakap lagi.
Dia maklum bahwa menghadapi pemuda ini, dia tidak berdaya.
Dia harus mengerahkan semua pengawalnya kalau mau menghadapi dan menentang pemuda aneh ini.
Dia lalu menendang-nendang dua orang pengawalnya.
Mereka siuman dan terheran-heran, akan tetapi segera teringat akan keadaan mereka, maka ketika majikan mereka memberi isarat, merekapun seperti dua ekor anjing ketakutan, lalu mengikuti Hartawan Coa meninggalkan rumah penginapan, bahkan melupakan golok mereka.
Sementara itu, begitu hartawan itu pergi, Gui Lok menyerbu ke dalam kamar.
Dia melihat isterinya masih duduk ketakutan di atas pembaringan.
"Perempuan lacur! Tak tahu malu!"
Bentaknya dan diapun menjambak rambut isterinya.
Rambut itu terurai dan diseretnya tubuh wanita itu keluar kamar.
"Lihat semua! Lihat baik-baik perempuan ini. Ia bernama Kim Hwa dan dari pecomberan kuangkat ia menjadi isteriku, akan tetapi kini ia melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain! Ia tiada bedanya dengan seekor babi betina, biar dibersihkan dan ditempatkan di manapun, diberi tempat yang bersih dan baik, tetap saja babi betina ini memilih pecomberan. Nah, mulai saat ini, ia bukan isteriku lagi dan kuusir ia. Pergilah kamu, perempuan laknat! Ketika kau kupungut, engkau tidak mempunyai apa-apa, sekarang engkau pergilah dan boleh kau miliki pakaian dan perhiasan yang menempel ditubuhmu!"
Kalau saja mereka hanya berduaan, tentu Kim Hwa akan minta-minta ampun dan mempergunakan segala daya kecantikannya, segala ilmunya merayu untuk melemahkan hati suaminya dan agar dirinya diampuni.
Akan tetapi apa hendak dikata, peristiwa itu terjadi didepan puluhan pasang mata yang menjadi penonton dan disana sini ia mendengar cemoohan dan celaan kepada dirinya, maka sambil menutupi mukanya dan menangis, iapun lari keluar dari rumah penginapan yang tadinya menjadi miliknya itu.
Beberapa bulan kemudian orang sudah mendapatkan dirinya menjadi kembang dari sebuah rumah pelacuran dari sebuah kota besar dekat kota raja!
Sebelum Gui Lok dan puterinya, Gui Ai Ling, sempat menghaturkan terima kasih kepadanya, Hay Hay sudah cepat menghilang dari kamar itu pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sambil membawa buntalan uang emasnya.
Dan pagi-pagi sekali itu, dia sudah berada di depan pintu gerbang pekarangan gedung Hartawan Coa!
Ternyata pekarangan itu telah penuh dengan pasukan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari dua lusin orang bersenjata lengkap!
Mereka itu telah diperingatkan oleh Hartawan Coa agar berjaga dengan ketat dan terutama sekali menjaga kalau ada muncul seorang pemuda berpakaian sederhana yang memakai caping lebar.
Hartawan Coa yang semalam mengalami kekagetan itu, Setibanya di rumah mengumpulkan para pembantunya dan dia menjadi semakin terkejut dan khawatir ketika menerima laporan bahwa pemuda yang bercaping lebar, pemuda yang itu-itu juga, telah pula mengacau rumah judi, bahkan telah menggondol puluhan tail emas yang dimenangkan dalam permainan dadu di mana pemuda itu menggunakan ilmu yang aneh seperti sihir.
Dan diapun teringat betapa dua orang pengawalnya juga disihir sehingga menggonggong seperti anjing, kemudian betapa tubuh pemuda itu kelihatan terpotong-potong,akan tetapi ternyata yang terpotong itu hanya bangku panjang!
Jelas, pemuda yang itu-itu juga, pikirnya.
Maka diapun mengerahkan seluruh pasukan pengawal untuk melakukan penjagaan di pekarangan, di sekeliling rumah gedungnya, bahkan ada yang berjaga di dalam gedung dan di atas atap!
Barulah dia merasa aman dan dapat tidur pulas.
Ketika Hay Hay muncul pagi-pagi sekali, hartawan itu masih belum bangun.
Ketika para penjaga itu melihat munculnya seorang pemuda yang memakai caping lebar, berdiri di depan pintu gerbang, segera mereka menjadi panik.
Tentu saja mereka itu gentar sekali karena mereka sudah mendengar cerita kawan-kawan mereka tentang sepak terjang pemuda itu di rumah judi, juga cerita dua orang tukang pukul yang menderita pengalaman pahit di rumah penginapan.
Betapapun juga, karena kini di pekarangan itu dan di dalam rumah terdapat kepala-kepala pengawal yang merupakan orang-orang berkepandaian silat tinggi, mereka tidak menuruti hati yang gentar.
Dengan memberanikan hati, mereka lalu mengikuti pimpinan mereka menyambut kedatangan pemuda itu.
Kepala pengawal yang kini berjaga dirumah gedung Hartawan Coa ada tiga orang.
Yang pertama adalah seorang jagoan dari kota raja bernama Thio Kang berjuluk Tiat-ci (Si Jari Besi), terkenal sebagai seorang yang memiliki tangan seperti besi, dapat menusuk papan tebal dan batu sampai tembus dan selain itu, pandai pula bermain sepasang pedang.
Tiat-ci Thio Kang ini adalah seorang jagoan yang berasal dari kota raja, bahkan pernah menjadi jagoan di istana kaisar!
Kini menjadi jagoan nomor satu dari Coa Wan-gwe, bergajih besar.
Jagoan ini berusia kurang lebih lima puluh lima tahun, bertubuh jangkung kurus kering, sikapnya tinggi hati, sikap seorang yang percaya akan kemampuan diri sendiri dan memandang rendah orang lain.
Jagoan ke dua berjuluk Hek-houw (Harimau Hitam) bernama Ji Sun.
Hek-houw Ji Sun ini, sesuai dengan julukannya, berperawakan kokoh, tinggi besar berkulit hitam dan dia memiliki ilmu silat harimau yang menubruk dan mencengkeram, tangkas sekali, di samping ahli bermain golok dan perisai.
Usia jagoan nomor dua ini sekitar empat puluh lima tahun.
Adapun jagoan nomor tiga bernama Phang Su, ju!ukannya Kang-thouw-cu (Si Kepala Baja) dan tubuhnya pendek gemuk bundar.
Kepalanya yang besar dan bundar itu terkenal sekali amat kuat, kebal dan dapat membobolkan tembok, sesuai dengan julukannya.
Selain keahlian mempergunakan kepala sebagai senjata, juga Kang-thouw-cu Phang Su pandai memainkan sebatang rantai besi yang berat.
Tiga orang kepala pengawal ini tentu saja sudah mendengar akan sepak terjang seorang pemuda bercaping lebar yang mengacau di rumah judi dan di rumah penginapan bahkan telah mengganggu majikan mereka.
Akan tetapi, mereka adalah jagoan-jagoan besar, terutama sekali Tiat-ci Thio Kang, tentu saja memandang rendah kepada pengacau yang katanya mau datang berkunjung ke gedung majikannya itu.
Apa yang perlu ditakutkan?
Dia mengandalkan kepandaian sendiri yang sukar dicari tandingnya, hampir belum pernah kalah.
Selain itu, masih ada dua orang pembantunya yang juga amat lihai, dan ada pula hampir lima puluh orang pengawal di rumah itu!
Setanpun takkan mampu masuk ke dalam rumah itu tanpa ketahuan penjaga yang sudah ditempatkan di seluruh lingkungan rumah itu.
Dan kalau pemuda itu benar-benar berani datang, dia tentu akan menghadapi kehancuran di sini!!
Akan tetapi, tidak urung jantungnya berdetak tegang ketika mendengar laporan anak buahnya bahwa pagi-pagi itu, pemuda bercaping lebar telah datang dan berada di luar pintu gerbang!
"Tahan dia di luar pintu gerbang, aku akan menemuinya sendiri!"
Kata Tiat-ci Thio Kang dan dia lalu mempersiapkan diri, memasang siang-kiam pedang pasangan di punggung, kemudian mengajak dua orang pembantunya untuk keluar menemui pemuda itu.
Hek-houw Ji Sun dan Kang-thouw-cu Phang Su juga sudah siap siaga dengan senjata masing-masing.
Mereka bertiga, diikuti puluhan orang pengawal, bersenjata lengkap seolah-olah mereka itu bukan hendak menyambut seorang pemuda, melainkan seperti hendak maju perang melawan banyak musuh!
Hay Hay yang mengintai dari balik caping lebarnya, diam-diam tersenyum melihat munculnya tiga orang yang nampaknya gagah, diiringkan oleh puluhan orang pengawal yang kesemuanya bersenjata lengkap!
Dia tidak merasa heran karena tentu Hartawan Coa sudah siap siaga menanti kedatangannya dan dia dapat menduga bahwa dia akan menghadapi kekerasan dari pihak Hartawan Coa yang tentu saja merasa penasaran dan marah atas terjadinya dua peristiwa yang merugikan uangnya dan namanya, yaitu dirumah judi dan di rumah penginapan.
Dengan sikap angkuh Tiat-ci Thio Kang memberi isarat kepada Hek-houw Ji Sun sebagai wakil pembicara, untuk menegur pemuda itu.
Si Harimau Hitam ini selain pandai bicara, juga orangnya tinggi besar dan suaranya lantang berwibawa.
Hek-houw Ji Sun mengerti dan diapun maju dua langkah mendekati Hay Hay.
"Orang muda, siapakah engkau dan apa maksumu pagi -pagi begini datang kesini?"
Hay Hay mendorong caping bagian depan ke belakang.
Caping itu merosot turun dari kepalanya dan tergantung di punggungnya, menutupi buntalan yang berada di punggung.
Kini wajahnya nampak jelas, wajah yang periang, mulut yang selalu tersenyum nakal, hidung yang mancung, mata bersinar-sinar dan kadang-kadang mencorong aneh.
Hay Hay tersenyum, lalu memandang ke arah orang-orang itu mencari-cari, lalu dia menggeleng kepala.
"Hemm, tidak kulihat dia berada di sini! Aku mencari Hartawan Coa. Harap kalian sampaikan kepada majikan kalian itu bahwa aku bernama Hay Hay ingin bertemu dengan Hartawan Coa karena ada urusan penting sekali hendak kubicarakan dengan dia."
"Hemm, orang muda, Tidak mudah bertemu dengan majikan kami. Tidak sembarang orang boleh bertemu dengan beliau, dan karena majikan kami masih tidur, maka sampaikan saja urusanmu itu kepada kami. Kami akan melaporkan dan kalau memang majikan kami berkenan menerimamu, tentu engkau dapat menghadap."
Hay Hay tertawa.
"Wah, seperti hendak menghadap seorang kaisar saja! Majikan kalian itu bukan raja, bukan pula orang berpangkat tinggi. Dia hanyalah hartawan yang memiliki rumah-rumah judi, dan kulihat dia semalam tidak begitu tinggi hati, bahkan mau bermalam di rumah penginapan umum dan tidur bersama isteri pemilik rumah penginapan! Mengapa sekarang tiba-tiba saja dia tidak mau menerimaku? Ingat, kedatanganku ini akan memberi untung kepadanya, akan menyerahkan uang lima puluh tail emas!"
Mendengar ucapan itu, tiga orang jagoan itu saling pandang.
Betapa beraninya pemuda ini!
Setelah memenangkan perjudian sebanyak lima puluh tail emas lebih, agaknya kini dia membawa harta itu ke sini!
Mata mereka segera ditujukan ke arah punggung pemuda itu di mana terdapat buntalan yang nampaknya berat.
"Serahkan saja lima puluh tail emas itu kepada kami! Memang sudah sepatutnya engkau mengembalikan uang yang kau rampas dari rumah judi itu, dan mohon maaf kepada majikan kami!"
Kata pula Hek-houw Ji Sun. Hay Hay tersenyum.
"Serahkan kepada kalian? Wah, mana bisa? Kalian adalah orang-orang yang paling tidak dapat dipercaya di dunia ini! Sudahlah, tidak ada gunanya membuang banyak waktu bicara dengan orang-orang seperti kalian ini. Bangunkan saja Hartawan Coa kalau dia masih tidur, dan katakan bahwa aku datang untuk bicara dengan dia dan aku akan menyerahkan uang lima puluh tail emas."
Tiat-ci Thio Kang memberi isarat kepada pembantunya yang ke dua, yaitu Kang-thouw-cu Phang Su.
Si gundul yang pendek berperut gendut ini lalu melangkah maju.
"Bocah sombong, serahkan saja lima puluh tail emas itu kepada kami, dan engkau berlututlah, menyerah!"
Bentaknya dan tangannya menyambar.
Kedua lengan yang pendek itu menyambar dari kanan kiri, mengirim pukulan dan totokan susul menyusul.
Gerakannya yang cepat dan mengandung angin pukulan yang kuat itu menunjukkan betapa si pendek gendut ini memang bertenaga besar dan memiliki ilmu kepandaian yang sudah tinggi.
Namun sekali ini dia bertemu dengan Hay Hay!
Kelihatan pemuda ini tidak bergerak sama sekali, akan tetapi serangan kedua tangan Si Kepala Baja itu tidak mengenai sasaran, demikian halus dan cepatnya gerakan Hay Hay ketika kakinya membuat geseran dan tubuhnya hanya miring sedikit dan mundur selangkah.
Aneh bagi mereka yang nonton, karena nampaknya si gundul pendek yang menyerang dan luput, akan tetapi mengapa si gundul itu berteriak kesakitan dan kedua lengannya seperti mendadak menjadi lumpuh?
Kang-thouw-cu Phang Su memang terkejut dan merasa kesakitan karena kedua sikunya seperti disengat kalajengking dan kedua lengan itu tergantung lumpuh selama beberapa detik.
Dia tidak tahu mengapa begitu, akan tetapi Tiat-ci Thio Kang, seorang ahli totok yang pandai, dapat mengerti bahwa pemuda itu telah menotok kedua siku pembantunya itu.
"Ih, engkau kenapa sih? Datang-datang menyerang orang, lalu menjerit-jerit sendiri seperti babi disembelih?"
Hay Hay sengaja mengejeknya sehingga Kang-thouw-cu Phang Su menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak.
Dia kini merendahkan tubuhnya, kepalanya dipasang di depan dan sikapnya seperti seekor kerbau yang siap mempergunakan tanduknya dan bahkan kedua kakinya menggaruk-garuk tanah di depannya.
Sungguh sikap ini.
lucu sekali dan agaknya si gundul pendek ini memang mendapatkan ilmunya dari gerakan seekor kerbau marah!
Hidungnya mengeluarkan suara mendengus, akan tetapi yang menarik perhatian Hay Hay adalah kepala yang gundul licin itu.
Dia melihat betapa kepala itu kini mengkilap, seperti diminyaki dan digosok, dan agak kemerahan!
Tahulah dia bahwa orang ini tidak boleh dipandang ringan dan agaknya memiliki ilmu serangan dengan kepalanya yang sudan terlatih baik dan kepala itu tentu mengandung tenaga yang amat dahsyat!
Benar saja dugaannya.
Tiba-tiba si gundul pendek gendut itu mengeluarkan gerengan aneh dan tubuhnya lalu menerjang ke depan, dengan kepala lebih dulu, seperti terjangan seekor kerbau!
Hay Hay tidak mau menyambut kepala itu dengan tangan atau badannya, karena dia tidak ingin membunuh orang.
Pertemuan tubuhnya dengan kepala itu membahayakan nyawa lawan karena kalau sampai kepala itu terluka sedikit saja di bagian dalamnya, maka si pendek itu akan tewas!
Maka, diapun lalu cepat mengelak sambil melompat ke kanan belakang.
Akan tetapi, kembali Kang-thouw-cu Phang Su sudah membalikkan tubuh dan menerjangnya lagi.
Sungguh seperti sikap seekor kerbau.
Hay Hay melompat lagi, kini dia tiba di dekat sebatang pohon sebesar pinggangnya.
Sengaja dia membelakangi pohon itu dan kini kembali lawannya sudah menerjang dari depan, lebih hebat dari pada tadi.
Dia menanti sampai kepala itu dekat sekali, lalu tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas melewati kepala lawan.
"Brakkkkk!"
Kepala itu menghantam batang pohon dan seketika pohon itu tumbang, batangnya patah dan remuk terkena terjangan kepala yang gundul itu!
Hay Hay memandang kagum.
Memang seperti yang telah dia duga.
Lawannya memiliki kepala di mana terkumpul tenaga yang dahsyat.
Tentu saja dia akan mampu menerima terjangan kepala itu dengan perut atau dada atau tangannya, akan tetapi akibatnya akan terlalu hebat kemungkinan besar kematian bagi orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak pernah bermusuhan dengan dia itu.
Kembali Kang-thouw-cu Phang Su sudah menerjang ke depan, sepasang matanya melirik juling, persis kerbau marah atau kerbau gila.
Kembali Hay Hay sengaja bergerak lambat.
Begitu kepala itu menyeruduk, Hay Hay miringkan tubuhnya dan kepala itu lewat dekat sekali dengan perutnya, hanya dua sentimeter saja jaraknya dan secepat kilat menyambar, tangan Hay Hay bergerak.
"Plakkk!"
Tangan itu menghantam tengkuk, tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat Kang-thouw-cu Phang Su terjungkal dan bergulingan sambil mengaduh-aduh, kedua tangan sibuk menjangkau tengkuk yang terkena tamparan tadi.
Kalau Hay Hay menambah sedikit lagi saja tenaganya, tentu si gundul pendek itu tidak akan mampu mengeluh lagi.
Kang-thouw-cu Phang Su biasanya amat mengandalkan diri sendiri.
Maka, biarpun lehernya terasa seperti akan patah-patah dan kepalanya berkunang, dia masih cepat melompat bangkit lagi dan memandang kepada Hay Hay yang tersenyum lebar itu dengan pandang mata merah.
Seperti hendak ditelannya bulat-bulat pemuda di depannya yang sudah membuat dia malu itu.
(Lanjut ke
Jilid 09) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09
"Wuuuttt!"
Tangan kanannya sudah memegang rantai baja yang tadi dilibatkan di pinggangnya.
Rantai ini terbuat dari baja, panjangnya satu setengah meter dan cukup berat sehingga ketika diputar-putar, terdengar suara angin bersiutan.
Tanpa banyak cakap lagi, dia sudah menerjang ke depan dengan serangan rantainya ke arah kepala Hay Hay.
Dengan mudah saja Hay Hay merendahkan tubuh dan rantai itu lewat di atas kepala.
Akan tetapi, sekali putaran rantai itu sudah menyambar lagi ke arah kakinya, dan Hay Hay kembali mengelak dengan loncatan sehingga rantai itu menyambar ke bawah kaki.
Kini rantai berputar dan menyerang ke arah pinggangnya!
Melihat datangnya rantai yang menyambar ke arah pinggangnya, Hay Hay tidak mengelak lagi, melainkan melindungi pinggang dengan sin-kang.
Rantai itu datang melibat pinggangnya, cepat dan kuat sekali sehingga pinggangnya sudah dilibat dua kali.
Kini, dengan wajah girang membayangkan kemenangan di depan mata, untuk menebus beberapa kali kekalahannya tadi, Kang-thouw-cu Phang Su mengerahkan seluruh tenaga yang ada dan menarik!
Dia ingin membuat pemuda itu tersungkur di depan kakinya.
Akan tetapi, dia merasa seolah-olah tangannya menarik sebuah karang yang amat besar dan berat.
Sedikitpun tubuh Hay Hay tidak terbetot, apa lagj sampai roboh tersungkur!
Kang-thouw-cu merasa penasaran sekali.
Kembali dia menarik dan menarik, makin lama semakin kuat, menahan napas yang membocor sana-sini sampaj terdengar suaranya ah-ah-uh-uhh!
"Brooottt!"
Saking penasaran dan kuatnya dia menarik dan menahan napas, ada angin membocor dari bawah!
Beberapa orang sempat tertawa karena geli dan wajah Kang-thouw-cu menjadi semakin merah.
"Wah, tak tahu malu...!"
Hay Hay menggunakan jari tangan kanan untuk menjepit hidungnya.
"Bau... bau...! Pergilah!"
Kakinya menendang.
"Desss...!"
Perut gendut itu kena ditendang dan tubuh itupun terlempar, terbanting dan bergulingan.
Si gendut merasa mulas sekali dan diapun tidak mampu bangkit kembali, hanya menekan-nekan perut yang terasa mulas dalam keadaan setengah pingsan!
Melihat rekannya tak mampu melawan lagi, Hek-houw Ji Sun marah bukan main.
Kekalahan rekannya ini berarti merupakan sesuatu yang memalukan dirinya juga.
Dia masih belum percaya bahwa rekannya itu kalah melawan pemuda ini.
Akan tetapi kenyataan itu tidak membuat dia jerih.
"Bagus! Pemuda sombong, kiranya engkau memiliki juga sedikit kepandaian! Pantas engkau berani membuat kekacauan di kota Shu-lu mi!"
Dia meloncat ke depan, berhadapan dengan Hay Hay.
"Kalau engkau mampu menandingi Hek-houw Ji Sun, barulah aku mengakui kehebatanmu!"
"Sungguh di sini banyak harimaunya! Ada harimau gundul, ada harimau hitam, dan entah harimau apa lagi. Akan tetapi sayang, harimau-harimau di sini agaknya udah ompong dan kehilangan kukunya, sehingga hanya pantas untuk menakut-nakuti kanak-kanak saja. Hek-houw Ji Sun, aku tidak mencari permusuhan deIgan kalian atau dengan siapapun juga. Aku hanya ingin bertemu dengan Hartawan Coa, mengapa kalian menghalangi dan mencari keributan dengan aku?"
Hek-houw Ji Sun mendelik dan dia lal mengeluarkan suara gerengan yang mengejutkan hati Hay Hay juga.
Banyak anak buah para jagoan itu sendiri sampai terkulai seperti mendadak kaki mereka lumpuh ketika gerengan yang merupakan auman itu menggetarkan jantung mereka.
Tahulah Hay Hay bahwa orang ini mahir sekali mempergunakan suara untuk menyerang lawan.
Semacam ilmu khi-kang yang disalurkan lewat suara untuk menyerang!
Pantas dia menjadi juru bicara teman-temannya.
Hay Hay tidak pernah memandang rendah lawannya.
Akan tetapi, serangan melalui auman harimau itu lewat tanpa mempengaruhinya.
Kalau hanya serangan seperti itu saja tidak ada artinya bagi Hay Hay.
Kalau dia mau, dia dapat membalas dengan serangan melalui suara yang seketika akan melumpuhkan lawan!
Seperti kebanyakan para jagoan tukang pukul yang biasa mengandalkan kekerasan dalam hidup mereka, juga Hek-houw Ji Sun ini terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, memandang remeh orang lain.
Biarpun dia tadi melihat betapa rekannya kalah oleh Hay Hay dengan mudah, namun dia masih belum mau mengakui kehebatan lawan dan kini dia menyerang dengan tangan kosong, mengandalkan keampuhan ilmu silatnya yang dia beri nama Hek-houw sin-kun (silat sakti Harimau Hitam).
Begitu gerengannya lenyap dan tinggal gemanya saja, dia sudah menyerang.
Tubuhnya melompat seperti seekor harimau menubruk, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangan itu membentuk cakar, mencengkeram ke arah leher dan ubun-ubun kepala lawan!
Hay Hay sudah waspada.
Dia cepat mengelak dan membiarkan tubuh lawan lewat.
Kalau dia mau, alangkah mudahnya untuk menyambut serangan itu dengan serangan balasan, akan tetapi dia tidak ingin menghilangkan muka lawan ini.
Memang ilmu silat dari Hek-houw Ji Sun itu hebat sekali.
Cepat dan juga mengeluarkan angin pukulan yang kuat, dan jari-jari tangan itu sanggup merobek benda yang kuat dan keras, apalagi hanya kulit dan daging tubuh manusia!
Namun, semua serangannya selalu dapat dielakkan oleh Hay Hay.
Beberapa kali dia menubruk dan selalu gagal.
Karena itu, dia lalu menyerang dari jarak dekat.
Kedua tangannya, seperti cakar harimau, menyambar-nyambar dengan kuat sekali.
Hay Hay terpaksa menangkis ketika tangan kiri lawan dengan cepat bukan main mencengkeram ke arah lambung kanannya.
Tangan kanannya menangkis lengan lawan, akan tetapi tangan yang tertangkis itu cepat membalik dan kini mencengkeram lengan kanan Hay Hay dekat siku.
Lengan itu kena dicengkeram dan Hek-houw Ji Sun sudah merasa girang sekali karena tentu lengan itu akan dapat dia cengkeram sampai patah dan buntung!
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika jari-jari tangannya merasa betapa lengan yang dicengkeramnya itu licin sekali, seperti batangan baja yang diminyaki sehingga cengkeramannya meleset dan hanya merobek lengan baju!
"Breettt!"
Tangan Hay Hay cepat sekali meraih baju orang dan sekali renggut, baju di bagian perut dan dada dari Hek-houw Ji Sun terobek lebar sehingga nampak perut dan dadanya yang berkulit hitam!
"Salahmu sendiri, engkau merobek lengan bajuku, maka akupun harus merobek bajumu baru lunas!"
Kata Hay Hay.
Diam-diam Hek-houw Ji Sun terkejut.
Kalau dia tadi merobek lengan baju, hal ini tidak disengajanya karena dia gagal mencengkeram patah lengan pemuda itu.
Sebaliknya, pemuda itu sengaja merobek bajunya.
Kalau pemuda itu menghendaki, tentu bukan bajunya yang dirobek, melainkan perut dan dadanya!
Baru dia tahu benar bahwa ilmu silat dan gerakan pemuda ini memang hebat bukan main, maka dia tidak mau mengalami seperti rekannya tadi dan cepat dia sudah melompat ke samping, menyambar golok dan tameng (perisai) yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Orang muda, keluarkan senjatamu! Mari kita bertanding senjata!"
Tantangnya dengan garang.
Hay Hay tersenyum.
Dia melihat betapa lengan bajunya yang kanan sudah robek, maka dia menggunakan tangan kiri untuk merenggut putus robekan itu.
Kini ada robekan kain dari lengan bajunya, hanya sehelai kain yang panjangnya setengah meter.
"Baik, Hek-houw Ji Sun, inilah senjataku!"
Semua orang terbelalak, dan wajah Ji Sun yang hitam menjadi semakin hitam karena darah naik banyak ke kepalanya.
Dia telah dipandang rendah, dihina bah kan oleh musuhnya yang masih muda itu Bagaimana mungkin ada orang berani menghadapi golok dan perisainya yang sudah terkenal kehebatannya itu hanya dengan sepotong kain yang pendek?
Pemuda ini mencari mampus!
Juga semua orang memandang dengan heran, tidak percaya bahwa pemuda itu akan berani menghadapi sepasang senjata itu dengan sepotong kain!
Baca Juga: Bu Kek Siansu 6
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 8