Eps 4 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Baca online Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Cersil Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo.
"Orang muda, aku bukan seorang yang suka mempergunakan kelicikan untuk mencari kemenangan.
Keluarkan senjatamu agar engkau tidak mati konyol dan orang akan mentertawakan aku!"
"Aih, engkau menantang berkelahi dengan senjata dan ini adalah senjataku! Engkau tidak percaya? Hemm, dengan senjataku yang istimewa ini aku sanggup mengalahkan sepuluh ekor harimau, apa lagi baru seekor! Majulah, Hek-houw Ji Sun dan hati-hatilah agar jangan sampai engkau kalah dalam waktu kurang dari sepuluh jurus!"
Sepasang mata Ji Sun terbelalak, mendelik saking marahnya.
"Bagus. Bocah sombong! Kalau aku kalah olehmu kurang dari sepuluh jurus, aku akan berlutut dan menyembahmu!"
"Begitukah? Baik!"
Belum juga Hay Hay menutup mulut, sudah ada sinar golok menyambar dengan kecepatan kilat.
Hay Hay cepat mengelak sambil mundur dan diam-diam harus mengakui bahwa gerakan Hek-houw Ji Sun ini lebih hebat dibandingkan gerakan Kang-thouw-cu Phang Su dengan rantai bajanya tadi.
Memang hebat permainan golok dan perisai itu.
Golok itu berkelebatan menyambar-nyambar, sedangkan tubuh Hek-houw Ji Sun praktis bersembunyi di balik perisai!
Sukar sekali bagi lawan untuk menyerang tubuhnya, sedangkan dia dengan enaknya dapat mengincar lawan dan melakukan serangannya dari bawah atau samping perisai yang terbuat dari baja tebal dan kuat!
Akan tetapi, kini dia menghadapi seorang lawan yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya, bahkan gurunya sendiri sekalipun belum tentu akan dapat menandingi pemuda ini!
Dengan mudah sekali Hay Hay dapat menghindarkan diri dari setiap sambaran golok, padahal dia seolah-olah tidak pernah mengelak lagi.
Tahu-tahu sambaran golok itu luput.
Hal ini karena dia telah mempergunakan ilmu langkah-langkah sakti Jiauw-pou-poan-san.
Akan tetapi, biarpun sambaran goloknya selalu tidak pernah menyentuh lawan, Hek-houw Ji Sun menyerang terus bertubi-tubi dan dia tetap bersembunyi di balik perisainya.
Diam-diam Hay Hay maklum betapa lihai dan cerdiknya lawan ini.
Agaknya, Hek-houw Ji Sun kini mengetahui benar akan kelihaian lawan, maka dia teringat akan janimya dan andaikata dia harus kalah sekalipun, dia harus dapat mempertahankan diri sampai sepuluh jurus!
Dan ini hanya dapat dia lakukan dengan serangan bertubi-tubi sambil bersembunyi di balik perisainya!
Dan kini dia sudah menyerang selama tujuh jurus!
Tinggal tiga jurus lagi dan dia dapat bertahan sampai sepuluh jurus!
"Wirrr...!"
Golok itu kembali menyambar.
Sekali ini tubuh Hek-houw Ji Sun hampir mendekam di atas tanah, ditutupi perisai dan golok itu menyambar di atas kakmya yang nampak terjulur di bawah perisai, golok menyambar ke arah kaki Hay Hay.
Kembali hal ini menunjukkan kecerdikan Ji Sun.
Dia agaknya tahu bahwa kelihaian pemuda itu yang selalu dapat menghindarkan diri dari sambaran goloknya terletak pada geseran-geseran dan langkah-langkah kaki.
Oleh karena itu, kini dia menyerang kaki pemuda itu, sambil bersembunyi di balik perisainya sehingga dia sudah berani memastikan dalam hatinya bahwa tentu dia akan mampu mempertahankan sampai lebih dari sepuluh jurus!
Katakanlah dia tidak akan menang melawan pemuda ini, akan tetapi kalau dia sudah mampu mempertahankan diri selama lebih dari sepuluh jurus, berarti dia sudah dapat membersihkan mukanya karena pemuda itu seperti kalah bertaruh!
Sama sekali Hek-houw Ju-sin tidak tahu bahwa Hay Hay memang sengaja mengalah.
Kalau pemuda itu menghendaki, dengan dasar tingkat ilmu kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, dalam dua tiga jurus saja agaknya dia sudah akan mampu melumpuhkan semua perlawanan Hek-houw Ju-sin!
Hay Hay memang sengaja membiarkan lawannya menyerangnya secara bertubi-tubi sambil memperhatikan permainan golok dan perisai itu, mencari titik kelemahan.
Kalau dia mau mengerahkan sin-kangnya, dengan tangan kosong saja agaknya dia akan mampu memukul pecah perisai itu, atau kalau dia mau mempergunakan kekuatan sihirnya, juga mudah baginya untuk menundukkan lawan.
Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, menanti sampai Ji Sun menyerangnya selama delapan jurus.
Kemudian, meliha tbetapa kaki kiri lawan itu terjulur keluar dari lindungan perisai, Secepat kilat buntungan lengan baju itu menyambar ke arah pergelangan kaki itu, seperti seekor ular kain itu membelit kaki.
Hek-houw Sun terkejut bukan main, menggerakkan goloknya untuk membacok putus kain itu, akan tetapi pada saat itu, Hay Hay telah menarik kain itu dengan tiba-tiba sambil mengerahkan tenaganya dan...
tubuh Hek-houw Ji Sun yang tinggi besar itu terlempar ke atas.
Biarpun tubuhnya sudah melambung ke atas, kaki kirinya masih saja terlibat kain, dan sekali sentakan kebawah, tubuhnya meluncur lagi ke bawah, dan sebelum menghantam tanah, kembali Hay Hay menggerakkan tangan dan demikianlah, tubuh itu diputar-putar oleh Hay Hay, makih lama semakin cepat sepertl kitiran dan akhirnya, Hay Hay melepaskan kain dan tubuh itupun meluncur sampai jauh dan terbanting ke atas tanah.
Hek-houw Ji Sun sudah kehilangan golok dan perisainya yang terlepas ketika diputar-putar tadi, dan begitu tubuhnya terbanting ke atas tanah, diapun cepat meloncat bangun.
Semua orang sudah merasa kagum melihat betapa si tinggi besar hitam yang sudah dipurat-putar seperti itu dan terbanting jatuh, begitu jatuh sudah dapat bangkit kembali.
Juga Hay Hay memandang terbelalak.
Betapa kebal tubuh orang itu, pikirnya.
Akan tetapi dia lalu tersenyum melihat betapa tubuh itu terhuyung-huyung, lalu jatuh terkulai dan tidak bergerak lagi karena pingsan.
Kiranya, Hek-houw Ji Sun hanya bangkit sebentar saja.
Kepalanya terasa pening, pandang matanya berputar-putar dan dia roboh pingsan.
Karena penglihatan ini memang menggelikan, di antara para anak buah yang berada disitu, banyak yang menahan senyum geli melihat tingkah jagoan kedua ini.
"Keparat...!"
Tiat-ci Thio Kang membentak keras dan dia sudah menghadapi Hay Hay, mengamati wajah dan seluruh tubuh pemuda itu.
Seorang pemuda yang biasa saja, pikirnya, namun mampu merobohkan Hek-houw Ji Sun dalam sembilan jurus!
"Orang muda, sebenarnya siapakah engkau, darimana dan apa maksudmu datang membikin kacau di sini?"
Lagaknya tinggi, dan memang Tiat-ci Thio Kang terkenal seorang yang tinggi hati.
Dia adalah jagoan yang datang dari kota raja, suka memandang rendah orang lain.
Hay Hay tersenyum.
"Sudah kukatakan bahwa namaku Hay Hay, aku seorang perantau dan aku datang bukan untuk membikin kacau, melainkan untuk bertemu dan bicara dengan Hartawan Coa. Kenapa engkau dan kawan-kawanmu menghalangiku? Kalian yang membikin kacau, bukan aku!"
"Hemm, lagakmu sombong, Hay Hay. Kalau engkau mampu mengalahkan sepasang pedangku dan jari tanganku, barulah engkau boleh menghadap majikan kami.Nah, rasakan kelihaian Tiat-ci Thio Kang!"
Berkata demikian, dia menggerakkan tangan dan nampak kilatan sinar sepasang pedang yang sudah dicabutnya dari punggung dan kini dia sudah memasang kuda-kuda sambil melintangkan kedua pedang di atas kepala, membentuk sebuah gunting.
Hay Hay mengangguk-angguk.
"Memang kalian ini orang-orang yang tinggi hati dan biasa mengandalkan kepandaian silat untuk menggunakan kekerasan memaksakan kehendak."
"Tidak usah cerewet! Kalau engkau tidak berani, berlututlah dan menyerahkan kembali emas yang lima puluh tail itu kepadaku!"
Hay Hay sudah kehabisan kesabaran.
Dia tidak mau melayani orang-orang sombong ini, maka diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya dan berkata lantang.
"Tiat-ci Thio Kang, engkau membawa-bawa dua ekor ular berbisa di tanganmu itu untuk apakah?"
Tiat-ci Thio Kang terkejut.
"Hah? Ular berbisa...?"
Dia menurunkan kedua tangannya dan melihat sepasang pedangnya.
Matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan bentakan aneh, lalu dia membuang jauh-jauh dua ekor ular cobra yang dipegangnya!
Dua ekor ular itu sudah mengembangkan lehernya dan agaknya siap hendak mematuknya!
Untung dia cepat membuangnya, kalau tidak, sekali patuk saja dia akan tewas!
Semua orang yang melihat betapa Tiat-ci Thio Kang tiba-tiba membuang sepasang pedangnya, menjadi heran sekali.
Hay Hay mengambil sepasang pedang itu dan dengan kedua tangannya, dia menekuk dua batang pedang itu.
Terdengar suara "krekk!
krekk!"
Dan dua patang pedang itu patah-patah.
Pemuda itu seolah mematahkan dua batang ranting kecil yang lemah saja!
Dibuangnya patahan dua batang pedang itu ke atas tanah..
Tiat-ci Thio Kang terbelalak.
Ketika dia membuang dua ekor ular itu, dia meJihat betapa dua ekor ular itu terjatuh ke atas tanah lalu berubah menjadi dua batang pedangnya sendiri!
Dan dia melihat pula betapa dua batang pedangnya itu dipatah-patahkan oleh pemuda yang luar biasa itu!
"Bagaimana, Tiat-ci Thio Kang, apakah engkau belum juga mau mengundang majikanmu untuk keluar menemui aku?"
Tanya Hay Hay yang mengharapkan agar perkelahian terhenti sampai sekian saja.
Akan tetapi, watak Tiat-ci Thio Kang amat tinggi hati.
Biarpun dia melihat kenyataan yang aneh ketika sepasang pedangnya berubah menjadi ular berbisa, kemudian sepasang pedang itu dipatah-patahkan lawan, hal yang membuktikan betapa lihainya lawan, dia masih belum mau menyerah kalah dan masih penasaran.
Dia tidak percaya bahwa seorang pemuda sederhana seperti itu akan dapat mengalahkannya, dan mampu menandingi jari-jari tangannya!
"Pemuda iblis!
Kalau engkau tidak mempergunakan sihir dan ilmu setan, mari kita mengadu kekuatan sebagai laki-laki!"
"Maksudmu, mengadu kekuatan bagaimana?"
Hay Hay bertanya.
"Lihat jari-jari tanganku ini!"
Thiat-ci Thio Kang mengangkat kedua tangannya ke depan, memperlihatkan jari-jari tangannya yang warna kulitnya berbeda dengan warna kulit bagian tubuh lain.
Kulit jari tangan itu agak membiru dan mengkilat.
"Sudah kulihat. Jari-jari tanganmu itu seperti tahu!"
Kata Hay Hay sambil tersenyum mengejek.
Thio Kang marah sekali.
Akan tetapi dia menahan diri dan berkata.
"Bagus! Mari kita mengadu kekuatan. Jari tanganku yang seperti tahu ini boleh di adu dengan dadamu yang seperti agar-agar itu! Kalau sekali tusuk dengan kedua jari telunjukku ini aku tidak mampu menembus dadamu, aku mengaku kalah!"
"Bagus, bagus! Pertandingan yang menarik. Jari tahu melawan dada agar-agar! Baik, Thiat-ci Thio Kang, aku menerima tantanganmu.tapi harus kubuka bajuku agar tidak sampai kotor oleh jari tanganmu."
Berkata demikian, Hay Hay melepaskan kancing bajunya dan ketika dia membuka bajunya, nampak kulit dadanya yang putih.
Diam-diam Tiat-ci Thio Kang sudah mengerahkan sin-kangnya, menggunakan Ilmu Jari Besi sehingga jari-jari tangannya menjadi keras, terutama sekali kedua jari telunjuknya di mana dia memusatkan tenaga dalamnya.
Mereka sudah saling berhadapan.
Hay Hay berdiri tegak dan santai, sedangkan Tiat-ci Thio Kang berdiri dengan kaku, memasang kuda-kuda.
"Aku sudah siap!"
Kata Hay Hay dan begitu dia bicara, Tiat-ci Thio Kang sudah mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tiba-tiba saja kedua lengannya meluncur ke depan, kedua jari telunjuknya menusuk ke arah dada kanan kiri!
Cepat dan kuat sekali tusukannya itu dan semua orang yang sudah pernah melihat jagoan ini menggunakan dua jari tangannya menusuk batu sampai berlubang dan papan sampai tembus, membayangkan betapa dada pemuda itu akan berlubang dan mengucurkan darah.
"Krekkkk!"
Dua jari telunjuk itu dalam saat yang sama bertemu dengan dada yang terbuka itu dan akibatnya, tiba-tiba Tiat-ci Thio Kang menekuk pinggangnya, membungkuk dan menggenggam jari telunjuk di kedua tangan, mukanya pucat dan mulutnya merintih-rintih, mukanya penuh dengan keringat dingin.
Rasa nyeri yang menusuk-nusuk jantung datang dari kedua jari telunjuknya yang tulangnya patah-patah!
Dia mencoba untuk mempertahankan, namun akhirnya dia terkulai dan roboh pingsan!
Hek-houw Ji Sun dan Kang-thouw-cu Phang Su sudah dapat memulihkan diri.
Melihat jagoan pertama itu roboh pingsan, mereka lalu memberi aba-aba kepada puluhan orang pengawal untuk mengeroyok Hay Hay.
"Tangkap dia!"
"Bunuh dia!"
Para pengawal itu bergerak lambat.
Mereka ragu-ragu dan merasa agak jerih melihat betapa tiga orang jagoan itu semua sudah roboh oleh pemuda sederhana ini, roboh dengan mudahnya!
Pada saat itu, terdengar bentakan seorang wanita.
"Tahan semua senjata! Semua orang mundur!"
Mendengar suara yang mereka kenal ini dan melihat munculnya Siok Bi.
Gadis cantik manis yang selain menjadi pengawal pribadi Hartawan Coa, juga menjadi seorang kekasihnya itu, para pengawal menahan gerakan mereka.
Tentu saja mereka mentaati gadis itu yang biarpun ilmu kepandaiannya tidak setinggi tiga orang jagoan yang telah kalah, namun memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari mereka.
"Kalian mundur dan tidak boleh mengeroyok tamu ini! Selain kalian tidak akan menang, juga majikan kita berkenan hendak menerimanya. Dia memang datang untuk bertemu dengan majikan kita dan diterima sebagai tamu!"
Siok Bi memberi isarat kepada Hay Hay, akan tetapi ia menjura dan berkata.
"Taihiap dipersilakan masuk."
Hay Hay juga memberi hormat dan menjawab.
"Terima kasih, nona."
Mereka berdua berjalan memasuki gedung itu, diikuti pandang mata semua pengawal yang kini memandang jerih dan kagum.
Tak mereka sangka bahwa pemuda bercaping lebar yang sederhana itu memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya.
Bukan hanya ilmu silat yang aneh dan tinggi, akan tetapi juga kekebalan tubuh dan ilmu sihir!
Diam-diam, tiga orang jagoan itu, kini Thio Kang telah siuman, bergidik membayangkan apa akan jadinya dengan mereka andaikata pemuda itu bersungguh-sungguh hendak mencelakakan mereka.
Tentu sekarang mereka bertiga telah menjadi mayat.
Sementara itu, Siok Bi mendampingi Hay Hay memasuki gedung yang besar sekali itu.
Para pengawal menjaga di setiap tikungan dengan tombak di tangan.
Akan tetapi mereka berdiri tegak tak bergerak karena melihat bahwa pemuda asing itu ditemani oleh Siok Bi yang mereka kenal dan percaya.
"Aku girang sekali engkau memenuhi janji, Taihiap""
Siok Bi berbisik ketika mereka lewat di bagian yang jauh dari penjaga. Hay Hay tersenyum.
"Aku tidak pernah melanggar janji, apa lagi terhadap seorang gadis cantik jelita seperti engkau, nona Siok Bi!"
Gadis itu menahan senyum dan merasa terharu sekali.
Pemuda ini memang hebat.
Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu menyenangkan hati!
Aih, kalau saja ia dapat hidup di samping pria ini untuk selamanya!
Biar dikurangi sepuluh tahun usianya, ia rela!
Mereka berhenti di depan pintu yang tertutup, pintu sebuah kamar yang besar.
Siok Bi mengetuk pintu dengan ketukan lirih tiga kali.
"Ah, engkau kah itu, Siok Bi? Bagaimana, apakah dia sudah datang?"
Terdengar suara dari dalam kamar, suara besar Hartawan Coa.
"Sudah, tai-ya, bahkan dia kini sudah berada di sini bersama saya. Bolehkah dia masuk menghadap?"
Hening sejenak, kemudian terdengar suara Hartawan Coa.
"Suruh dia masuk!"
Daun pintu didorong terbuka oleh Siok Bi.
Hay Hay melihat sebuah kamar yang mewah sekali.
Kamar yang luas dan penuh dengan prabot yang serba mahal, indah dan mewah.
Hartawan Coa sedang menghadapi meja penuh hidangan yang masih mengepulkan uap panas!
Itukah sarapan pagi?
Bukan main!
Hidangan untuk sarapan pagi saja mengalahkan sebuah pesta orang biasa!
Hartawan itu agaknya sedang sarapan, dilayani oleh tujuh orang gadis yang rata-rata berwajah cantik, bertubuh langsing dan bersikap genit.
Di sebelah dalam agak ke sudut, terdapat sebuah pembaringan yang besar, yang cukup untuk tidur sepuluh orang.
Agaknya hartawan itu sudah selesai sarapan, karena pada saat itu, para gadis sedang menyingkirkan hidangan-hidangan yang masih panas itu.
Ketika Hartawan Coa melihat Siok Bi masuk bersama seorang pemuda yang capingnya lebar dan tergantung di punggung, menutupi buntalan yang cukup besar, dia memandang penuh perhatian.
Inilah pemudayang semalam melindungi Gui Lok, mengalahkan dua orang pengawalnya dan membikin malu padanya di depan umum!
Dan kini pemuda ini berani muncul, bahkan menurut laporan Siok Bi tadi, Pemuda ini mengalahkan semua jagoannya dan tentu akan merobohkan puluhan orang pengawal kalau tidak segera diundang masuk.
Siok Bi mengatakan bahwa pemuda tu datang bukan untuk membikin kacau, melainkan untuk menyerahkan uang sebanyak lima puluh tail emas!
Dan diapun sudah mendengar bahwa pemuda ini pula yang telah mengeduk lima puluh tail emas dari rumah judi, mengalahkan semua bandar judi yang tangguh.
Biarpun hatinya diliputi keraguan dan juga perasaan takut, terpaksa dia menyetujui ketika Siok Bi menyatakan hendak mengundang saja pemuda itu masuk agar dapat bicara baik-baik.
Menghadapi seorang pemuda yang selihai itu memang lebih baik degan cara damai.
Bahkan, akan amat menguntungkan kalau pemuda selihai itu mau menjadi kaki tangannya!
"Duduklah, orang muda yang gagah perkasa"
Kata Hartawan Coa.
Para pelayan wanita segera mengundurkan diri kamar itu hanya tinggal Hartawan Coa, Hay Hay dan Siok Bi bertiga saja.
Para pengawal kini menggerombol di luar kamar itu, siap melindungi majikan mereka kalau diperlukan.
"Terima kasih, Coa Wan-gwe,"
Kata Hay Hay sederhana dan diapun menurunkan buntalannya dari atas punggung, meletakkannya di atas meja dan dia sendiri lalu duduk di atas bangku dekat meja.
Siok Bi juga duduk di antara mereka, dengan wajah berseri dan kedua pipi merah, matanya yang indah itu bersinar-sinar karena ia tahu bahwa pemuda itu menepati janji, membawa lima puluh tail emas itu untuk membeli kebebasannya!
Semalam ia sudah memberi kabar kepada pemuda yang mencintainya itu, agar pagi ini siap menantinya di depan gedung, siap pergi bersamanya untuk menjadi suami isteri, memulai hidup baru yang cerah!
"Orang muda, semalam engkau berkata kepadaku untuk datang berkunjung.
Dan sekarang, pagi-pagi engkau benar datang berkunjung dan mengatakan kepada para pengawal bahwa engkau datang membawa lima puluh tail emas untuk diberikan kepadaku.
Benarkah itu dan apakah maksudmu?
Apakah engkau hendak mengembalikan lima puluh tail emas yang kau bawa dari rumah judi itu?"
Melihat sikap hartawan itu, Hay Hay tersenyum.
Tentu saja hartawan ini bersikap angkuh karena pada saat itu, dia menjadi tuan rumah dan selain itu, juga di luar kamar ini terdapat puluhan orang pengawal.
Selain itu, juga di dekatnya terdapat Siok Bi yang tentu dianggapnya sebagai seorang pengawal yang setia.
Dan memang sesungguhnya Siok Bi seorang pengawal yang setia, kalau saja ia tidak merasa begitu sengsara menjadi kekasih hartawan yang tidak dicintanya itu.
"Coa Wan-gwe, rumah judi itu milikmu, bukan? Dan pernahkah engkau mengembalikan uang kekalahan dari para penjudi selama ini? Beberapa ratus ribu tail saja yang dimenangkan rumah judi itu dari para penjudi?"
Hartawan itu tersenyum.
"Dalam perjudian, menang dan kalah merupakan hal yang biasa, bukan?"
"Benar begitu. Karena itu, kemenanganku di rumah judimu juga bukan hal aneh, kenapa sekarang kau mengharapkan aku mengembalikan uang kemenanganku dari rumah judi itu?"
Hartawan yang tinggi besar dengan muka hitam bopeng itu tertawa.
"Ha-ha-ha, akupun tidak mengharapkan, hanya aku mendengar engkau hendak memberikan lima puluh tail emas kepadaku. Benarkah itu, dan apa maksudmu dengan itu?"
"Aku hendak menebus kebebasan nona Siok Bi!"
Wajah yang tadinya tertawa itu tiba-tiba menjadi kaku, dan matanya terbelalak ketika dia menoleh dan memandang kepada Siok Bi.
Gadis ini menundukkan mukanya yang berubah merah, akan tetapi lalu diangkatnya mukanya itu dan dia menentang pandang mata Coa Wan-gwe dengan berani.
"Dulu tai-ya membeliku dari mendiang ayah, kalau sekarang ada yang hendak menebusku kembali, anehkah itu?"
Siok Bi berkata dengan suara yang tegas.
"Tapi... tapi... uang tebusan itu banyak sekali sekarang!"
Kata Coa Wan-gwe yang merasa sayang kepada Siok Bi untuk dua hal.
Pertama, sebagai seorang di antara kekasihnya Siok Bi tetap merupakan seorang kekasih istimewa, tidak genit seperti para wanita lain sehingga kadang menjemukan, dan ke dua gadis ini memiliki ilmu silat yang cukup lihai sehingga dapat menjadi pengawal pribadi yang boleh diandalkan.
Rumah judi itu maju pesat setelah Siok Bi menjadi pengurusnya.
"Aku tahu, tai-ya. Pernah tai-ya mengatakan bahwa harga diriku sudah mencapai lima puluh tail emas, bukan? kata Siok Bi!"
Kata Hay Hay sambil mendorong "Nah, untuk itulah aku datang, Coa Wan-gwe.
Ini adalah lima puluh tail emas itu, untuk menebus kebebasan diri nona Siok Bi!"
Kata Hay Hay sambil mendorongkan buntalan emas itu ke arah tuan rumah.
Sepasang alis yang tebal itu berkerut dan Hartawan Coa menoleh kepada Siok Bi.
Teringatlah dia betapa selama sudah hampir sebulan ini Siok Bi selalu menjauhkan diri darinya, dengan dalih tidak enak badan dan sebagainya!
"Ah, kiranya engkau jatuh cinta kepada pemuda ini dan hendak menikah dengan dia?"
Tanyanya.
"Jangan salah mengerti, Wan-gwe."
Kata Hay Hay cepat, sedangkan Siok Bi menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin menolongnya agar dia bebas dari sini dan dapat memilih jodohnya sendiri. Engkau tidak perlu tahu siapa yang dipilihnya, yang jelas bukan aku. Nah, bagaimana jawabanmu, Coa Wan-gwe?"
Hartawan itu merasa serba salah.
Uang lima puluh tail emas memang banyak, bagi kebanyakan orang.
Bagi dia, tidak ada artinya.
Dia tidak ingin uang sebanyak itu, karena uangnya sudah jauh lebih banyak lagi.
Dia juga sayang kepada Sjok Bi.
Terutama sekali, dia tidak rela harus mengalah kepada pemuda yang pernah membuat dia malu ini.
Akan tetapi menentang kehendak pemuda lihai ini?
Diapun ragu-ragu!
Tiba-tiba dia tersenyum, memperoleh pendapat yang dianggapnya baik dan menguntungkan.
Banyak wanita di dunia ini, yang lebih cantik menarik dari pada Siok Bi dan yang mudah dia dapatkan kalau dia menghendaki.
"Aku tidak berkeberatan kalau Siok Bi hendak menikah dengan seorang pria pilihan hatinya. Akan tetapi aku tidak rela kehilangan seorang pembantu yang cakap. Begini saja, orang muda. Bagaimana kalau engkau menggantikan kedudukannya? Bukan hanya kedudukannya sebagai pemimpin rumah judi, bahkan kuserahkan kepadamu semua pimpinan para pasukan keamanan dan pengawal! Kuangkat engkau menjadi pembantu utama dan berapa saja gajih yang kau kehendaki, akan kupenuhi! Bagaimana?"
Wajah pemuda itu berubah merah.
Kurang ajar, pikirnya.
Dia hendak dijadikan antek hartawan ini!
"Coa Wan-gwe, urusan itu adalah urusan antara kita berdua dan boleh kita bicarakan nanti.
Sekarang, beri dulu keputusan mengenai kebebasan nona Siok Bi!"
Tidak ada pilihan lain bagi Hartawan Coa untuk mempertimbangkannya lagi kecuali menyetujui.
Dia tahu betapa bahayanya menentang pemuda ini, apa lagi setelah kini Siok Bi berpihak kepadanya!
Kalau terjadi keributan, dapat dipastikan bahwa Siok Bi yang akan dibebaskan oleh pemuda itu tentu akan membantunya.
Dia menarik napas panjang dan menyentuh buntalan uang emas.
"Baiklah, aku menerima lima puluh tail emas ini untuk penebus kebebasan Siok Bi. Mulai saat ini engkau bebas, Siok Bi."
Mendengar ini, Siok Bi mengeluarkan seruan lirih dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Hay Hay dan merangkul kaki pemuda itu.
"Ah, Taihiap, terima kasih"
Terima kasih atas budimu yang takkan kulupakan selama hidupku""
Suaranya mengandung isak.
Hay Hay tersenyum dan sekali tarik, dia sudah memaksa gadis itu bangkit berdiri lalu merangkulnya.
Dengan lembut sekali, diciumnya dahi gadis itu, lalu kedua pipinya sehingga ada air mata yang memasuki mulut melalui hisapan bibirnya.
"Siok Bi, engkau memang pantas menemukan kebahagiaan. Nah, semoga engkau hidup berbahagia bersama suamimu dan ini aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali bekal ini, agar engkau dan suamimu dapat memulai hidup baru dan memiliki modal."
Hay Hay mengambil sebuah guci arak, menaruhnya di atas meja di depan Coa Wan-gwe di dekat buntalan emas, lalu dia meraih buntalan emas lima puluh tail itu dan menyerahkannya kepada Siok Bi.
Gadis itu terbelalak.
"Tapi... tapi..."
Ia memandang ke arah Hartawan Coa yang agaknya telah berubah menjadi arca atau tidak melihat atau tidak peduli bahwa buntalan emas itu diambil oleh Hay Hay dan sebagai gantinya, di depanya kini berdiri sebuah guci arak itu, telah kosong pula.
"Bawalah, Siok Bi, disertai doaku. Ini milikmu! Ingat, bukankah engkau yang telah berhasil menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu? Nah, bawalah dan cepat kau pergi dari sini!"
Gadis itu menahan isak, lalu merangkul Hay Hay dan tanpa memperdulikan Coa Wan-gwe yang berada di situ dan duduk seperti arca, Siok Bi mencium bibir pemuda itu dengan sepenuh perasaan hatinya, penuh kemesraan, kehangatan, keharuan dan rasa sukur yang tak terukur dalamnya.
Kemudian, sambil menahan isak iapun menerima buntalan emas itu dari tangan Hay Hay, berbisik.
"Selamat tinggal, sampai jumpa pula, Taihiap."
Ia lalu keluar dari kamar dengan langkah yang cepat.
"Selamat jalan, sampai jumpa pula, Siok Bi,"
Hay Hay berkata lirih sambil tersenyum.
Masih terasa kehangatan dan kelembutan bibir gadis itu akan tetapi dia segera mengusir lenyap kenangan indah itu.
"Coa Wan-gwe, sebaiknya kita bungkus dulu emas ini dan suruh orangmu menyimpannya, baru kita bicara."
Katanya kepada hartawan yang tadi duduk seperti arca itu. Dia kini seperti baru sadar dari tidur.
"Ah, benar sekali, sebaiknya kusuruh simpan dulu."
Katanya sementara itu Hay Hay mengambil kain tilam meja yang lebar dan membungkus guci itu.
Coa Wan-gwe bertepuk tangan dan muncullah dua orang gadis pelayan yang cantik genit.
Tepukan tangan tadi adalah tepukan khas untuk memanggil dua orang selir terkasih ini.
"Simpan buntalan emas ini di dalam almari dulu, dan jangan bilang kepada siapapun bahwa di situ disimpan emas lima puluh tail."
Katanya.
Dua orang gadis itu lalu mengambil buntalan guci dari atas meja, membawanya ke almari di sudut dan menyimpannya.
Mereka lalu meninggalkan kamar lagi ketika mendapat isarat dari majikan mereka.
Biarpun mereka itu selir, akah tetapi kedudukan mereka tidak lebih sebagai pelayan yang melayani majikan mereka, bukan sebagai isteri.
"Nah, sekarang kita berada berdua saja dalam kamar ini, Coa Wan-gwe. Terus terang saja, kalau aku menjadi pembantumu, dalam waktu beberapa bulan saja tentu engkau akan jatuh bangkrut dan seluruh harta bendamu akan habis!"
"Mengapa begitu?"
Tanya hartawan itu terkejut.
"Pertama, karena aku tidak suka melihat orang menjadi korban perjudian. Kedua, karena aku selalu menentang perbuatan jahat dan kejam yang dilakukan orang-orangmu atas perintahmu. Ke tiga, karena aku tidak suka melihat orang bersikap sewenang-wenang, memaksa wanita muda untuk menjadi miliknya. Dan ke empat, aku tidak dapat tinggal diam saja melihat orang-orang hidup melarat dan tidak dapat makan, dan hartamu tentu akan kubagi-bagikan kepada mereka!"
Sepasang mata hartawan itu terbelalak.
"Wah, wah, kalau begitu, tidak jadi saja! Aku tidak mau mempunyai pembantu seperti itu!"
Hartawan Coa menjadi marah, lalu bangkit berdiri.
"Orang muda, segera kau pergi tinggalkan rumahku ini dan jangan lagi mengganggu aku!"
"Kalau aku tetap mengganggumu, kau mau apa?"
Hartawan itu masih belum mau menyerah dan tiba-tiba dia menyambar sebuah tali yang tersembunyi di antara kain-kain sutera yang menghias kamar itu.
Terdengar suara kelenengan di luar dan daun pintu kamar itu terbuka.
Tiga orang gadis pelayan cantik yang bertubuh kuat muncul, bersama tiga orang jagoan yang tadi sudah dirobohkannya!
Tiga orang jagoan itu nampak gentar sekali walaupun mereka cepat datang mendengar kelenengan yang berarti tanda bahaya bagi majikan mereka itu.
Di luar pintu masih berdiri puluhan orang pengawal, siap dengan senjata di tangan.
"Nah, engkau masih berani menggangguku?"
Bentak hartawan itu.
Hay Hay tersenyum.
Hartawan Coa ini harus diberi hajaran yang cukup keras untuk melunakkan hatinya yang keras.
"Hemm, kau mengandalkan para pengawalmu? Engkau tidak tahu bahwa setiap waktu, para tukang pukul dan pengawalmu itu dapat saja berbalik memusuhimu, dan mungkin engkau akan dibunuh oleh mereka."
"Tidak mungkin! Mereka adalah para pembantuku yang setia!"
"Setia? Karena terpaksa dan karena uang, seperti halnya nona Siok Bi tadi. Kau"!"
Hay Hay menggapai seorang di antara tiga gadis itu.
"Kau ke sinilah dan beri satu kali tamparan pada pipi Hartawan Coa!"
Semua orang terkejut, juga Hartawan Coa.
Akan tetapi sungguh aneh.
Gadis itu yang tadinya terbelalak kaget mendengar perintah itu, kini melangkah maju menghampiri Hartawan Coa.
"Plakk!"
Tangannya menampar dan pipi hartawan itu telah ditamparnya!
Tidak begitu nyeri, akan tetapi Hartawan Coa menjadi terkejut dan marah bukan main.
Sebentar pucat dan sebentar merah mukanya.
"Tangkap perempuan kurang ajar ini!"
Hay Hay melangkah maju.
"Siapa berani menangkapnya? Kalau aku tidak memberi perintah, tak seorangpun boleh mengganggunya!"
Dan aneh, mendengar teriakan Hay Hay ini, tak seorangpun berani maju, biarpun Hartawan Coa berkali-kali memberi perintah.
"Kau! Majulah dan tampar pipi hartawan ini agar dia tidak berteriak-teriak Jagi!"
Kata Hay Hay pada gadis ke dua.
Gadis itupun tadinya terbelalak, akan tetapi ia melangkah maju dan tangannya menampar.
Hartawan itu hendak menangkis, namun kalah cepat.
"Plakk!"
Untuk kedua kalinya pipinya kena ditampar oleh gadis kesayangannya yang biasanya amat patuh kepadanya.
"Tiat-ci Thjo Kang, jarimu sudah patah, maka pergunakan kakimu menendang pantat Hartawan Coa! Hayo cepat, jangan keras-keras, biar dia tahu rasa saja!"
Tentu saja mendengar ini, Tiat-ci Thio Kang mempertahankan diri sekuatnya untuk menentang perintah yang berlawanan dengan kemauan hatinya itu.
Akan tetapi, entah apa yang mendorongnya untuk melangkah maju dan kakinya terayun.
"Bukk!"
Hartawan Coa jatuh tersungkur dan bangkit sambil meringis dan menggosok pinggulnya yang tertendang.
Kini mukanya pucat dan matanya terbelalak ketakutan memandang kepada Hay Hay.
"Bagaimana? Haruskah aku lanjutkan? Kalau aku memerintahkan mereka itu menyembelihmu, sekarang juga akan mereka laksanakan, Wan-gwe!"
"Tidak"
Tidak...! Hentikan permainan setan ini!"
Katanya meratap ketakutan "Kalau begitu, perintahkan mereka itu mundur."
"Mundur! Kalian semua mundur, terkutuk kalian!"
Hartawan Coa membentak dan mereka semua segera keluar dari dalam kamar, menutupkan daun pintu kamar dengan khawatir melihat betapa majikan mereka marah-marah.
"Nah, Wan-gwe. Begjtulah kalau engkau memelihara harimau-harimau liar. Sekali waktu mereka akan membalik dan mencelakai dirimu sendiri. Sekarang, aku minta agar engkau tidak lagi menggunakan kekayaan dan kekuasaanmu untuk berbuat sewenang-wenang. Kalau aku mendengar engkau masih melanjutkan perbuatanmu yang jahat, aku akan segera kembali ke kota ini dan akan kuperintahkan anak buahmu membunuhmu, atau mungkin juga keluargamu sendiri akan kuperintahkan mereka membunuh dan menyiksamu lebih dulu!"
"Aku"
Aku tidak berani lagi..."
"Engkau tidak akan mengganggu lagi Gui Lok dan puterjnya, Gui Ai Ling yang kau inginkan itu?"
"Tidak, tidak... tidak lagi."
"Dan engkau tidak akan menyuruh orang-orangmu mencari Siok Bi untuk kau ganggu?" .
"Tidak, aku tidak berani."
"Bagus, akan tetapi jangan mencoba-coba untuk membohongi dan menipuku. Kalau perlu, aku dapat menyuruh siapa saja atau apa saja untuk menghukum dan membunuhmu. Lihat tombak dan pedang di sudut kamar itu. Aku dapat memerintahkan mereka itu untuk membunuhmu!"
Sekali ini, dalam pandang mata yang tadinya ketakutan dari hartawan itu, berkilat sinar tidak percaya, walaupun mulutnya tidak berani mengatakan hal itu.
"Engkau tidak percaya, Coa Wan-gwe? Nah, lihat baik-baik! Pedang dan tombakmu itu sendiri akan menyerangmu!"
Tiba-tiba mata hartawan itu terbelalak dan mukanya yang hitam itu menjadi berkurang hitamnya karena pucat sekali.
Dia melihat betapa pedang yang berada dalam sarungnya dan tergantung di tembok, kini meninggalkan sarung dan melayang-layang, bersama dengan tombak yang juga meninggalkan rak senjata.
Kedua senjata itu melayang-layang ke atas lalu keduanya meluncur ke arah dirinya!
Dia terkejut ketakutan dan melompat, menjauhi, akan tetapi ke manapun dia mundur, dua batang senjata itu terus mengejarnya, tombak itu seperti hendak menusuk-nusuk perutnya dan pedang yang tajam itu mengancam untuk membacok lehernya!
Tentu saja dia mandi keringat dingin.
"Tidak...! Tidak...! Jangan"
Ah, ampunkan aku"
Ampunkan""
Dia jatuh berlutut dan tidak berani mengangkat lagi mukanya, tidak berani melihat dua senjata yang seperti hidup dan mengancamnya itu.
"Mereka sudah kuperintahkan kembali ke tempat masing-masing, Wan-gwe."
Hartawan Coa mengangkat mukanya dan benar saja.
Dua buah senjata itu sudah berada di tempat masing-masing, tidak bergerak dan mati seperti biasanya.
Dia mengeluh dan menghapus keringat dengan ujung lengan bajunya.
"Nah, kau lihat sendiri, Wan-gwe. Sedangkan benda mati saja dapat berkhianat padamu, apa lagi manusia hidup. Sekali waktu, bisa saja pelayanmu sendiri meracunimu atau membunuhmu selagi engkau tidur. Karena itu, bertobatlah dan tinggalkan semua perbuatan jahat, baru Tuhan akan mengampunimu."
Hartawan itu masih berlutut dan dia mengangguk-angguk.
"Baik, baik"
Aku minta ampun, aku bertobat... tidak berani lagi""
Ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ!
Ketika para pelayan dan pengawal memasuki kamar, mereka menemukan hartawan itu masih berlutut dalam keadaan seperti tidak bersemangat lagi!
Hay Hay sama sekali tidak tahu bahwa sepeninggalnya, dia tidak hanya membuat hartawan itu menjadi bertobat, bahkan lebih dari itu dan sangat menyedihkan.
Hartawan Coa menjadi seperti orang gila yang selalu ketakutan, takut terhadap isterinya, anak-anaknya, pelayan, bahkan takut kepada benda-benda dalam kamarnya.
Dia selalu berteriak-teriak bahwa mereka semua hendak membunuhnya.
Akhirnya, karena dia selalu marah-marah dan minta agar semua benda disingkirkan dari kamarnya, maka kamar itu menjadi gundul dan kosong.
Bahkan dia tidur begitu saja di atas lantai karena takut kalau segala macam ranjang, kelambu, meja kursi, bantal guling, di tengah malam akan membunuhnya!
Hartawan Coa menjadi seperti orang gila.
Akan tetapi, kota itu menjadi tenang dan para penduduknya bernapas lega karena setidaknya, seorang yang tadinya amat ditakuti dan mengganggu ketenangan hidup mereka telah mati kutu.
Malam yang gelap karena malam itu gelap bulan.
Langit hanya dihiasi laksaan bintang, atau jutaan atau bahkan lebih.
Tak terhitung!
Biarpun tidak ada bulan, namun sinar lemah dari bintang-bintang itu bergabung dan mampu pula mengurangi kepekatan malam, bukan menjadi gelap gulita lagi melainkan remang-remang.
Akan tetapi, kompleks bangunan dalam lingkungan istana sama sekali tidak pernah gelap!
Banyak sekali lampu-lampu gantung besar kecil, beraneka warna dan bentuk, menerangi bagian dalam dan luar istana.
Bahkan di taman-taman bunga yang teratur indah terdapat lampu penerangan.
Malam itu sunyi karena hawa malam itu amat dinginnya.
Musim semi telah mulai, akan tetapi sisa musim salju masih meninggalkan hawa dingin yang menyengat tulang.
Karena dinginnya, maka biar di lingkungan istana sendiri, malam itu sunyi.
Para penghuninya, yaitu kaisar dan semua keluarganya, juga para dayang, para selir, para pelayan dan bahkan para pengawal, lebih suka berada di dalam bangunan dari pada di luar!
Di udara terbuka, sungguh hawa dingin tak tertahankan.
Para pengawal luar yang melakukan penjagaan di luar kompleks bangunan, lebih suka berkelompok di dalam gardu-gardu penjagaan di mana mereka dapat menghangatkan tubuh di dekat arang membara, atau perapian yang mereka buat untuk sekedar menghangatkan badan melawan hawa dingin.
Para penjaga menjadi malas untuk meronda, karena meronda berarti meninggalkan gardu, memasuki tempat terbuka di mana mereka akan disambut oleh dekapan hawa yang amat dingin.
Pula, siapakah yang akan berani mengganggu ketentraman istana?
Berarti mencari mati konyol!
Maling?
Sebelum mendapatkan sesuatu, dia sudah akan mati kedinginan!
Malam itu, malam yang dingin sunyi para penjaga menjadi lengah.
Namun, bagi seseorang yang sedang dimabok cinta dan dendam birahi, yang sedang menderita rindu, pekerjaan berkencan dengan seorang kekasih yang dirindukan merupakan kewajiban yang dilakukan dengan sepenuh hati, dengan nekat dan kalau perlu mengorbankan diri!
Apa lagi hanya hawa dingin di malam sunyi itu, biar harus menghadapi rintangan yang lebih berat sekalipun, seorang yang sedang merindukan pertemuan dengan kekasihnya takkan mundur selangkahpun!
Demikian pula bagi pria yang kini sedang menanti di dalam taman bunga sebelah barat istana itu.
Dia bersembunyi di balik rumpun bunga yang tumbuh lebat di sebelah kiri depan pondok indah itu.
Pondok yang bercat merah dan diberi nama "Sarang Madu"
Di depannya, nama itu tertulis indah di papan yang tergantung di depan pondok.
Nama ini diberikan kaisar karena dia merasa seolah-olah berada di sarang madu kala sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang yang muda-muda dan cantik jelita di pondok merah itu.
Nama Sarang Madu itu ada riwayatnya.
Ketika itu, pondok merah ini baru saja selesai dibangun dan belum ada namanya.
Ketika kaisar dan para selir tercinta sedang bersenang-senang di situ, kaisar melihat sebuah sarang lebah tergantung di dahan pohon dekat pondok.
Sarang lebah itu sudah penuh madu, nampak ada madu menetes-netes turun.
Kaisar segera menyuruh pengawal untuk mengusir lebah-lebahnya dan menurunkan sarang lebah itu.
Ternyata penuh dengan madu!
Tentu saja kaisar menjadi gembira sekali, bersama para selir dan dayang minum madu yang manis.
Karena peristiwa itulah maka pondok itu diberi nama Sarang Madu.
Bukan hanya karena madu itu memang manis.
Akan tetapi berpesta pora dengan para dayang dan seli yang cantik-cantik itu memang amatlah manisnya!
Dan bagi pria yang kini bersembunyi di dekat pohon Sarang Madu itu, memang pondok itu merupakan sarang madu yang amat manis baginya.
Semua kenangan manis, indah dan menggembirakan berada di dalam pondok itu sejak dia bertemu dan berhubungan dengan Hwee Lan!
Pria itu kini menyelinap dekat tembok pondok yang lebih melindungi dirinya dari hembusan angin lembut dan kini sinar lampu gantung yang halus menyentuhnya.
Dia seorang laki-laki muda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang perwira dan dia nampak gagah sekali dalam pakaian yang cemerlang ini.
Sebuah pedang tergantung di pinggangnya, dan topi bulunya nampak bersih.
Bulu itu kelihatan putih sekali di atas rambutnya yang hitam panjang.
Wajahnya tampan menarik, dan jantan.
Wajah yang disuka oleh kaum wanita.
Tubuhnya jangkung dengan pinggang ramping, tubuh yang juga menjadi idaman wanita.
Pendeknya, pemuda berusia dua puluh lima tahun ini amat menarik bagi wanita.
Seorang yahg tampan, gagah dan memiliki kedudukan baik.
Seorang perwira pengawal!
Dan dari pangkatnya ini saja, perwira pengawal dalam istana, mudah diduga bahwa dia bukan seorang pemuda lemah, melainkan seorang pemuda gemblengan yang memiliki kegagahan dan ilmu silat tinggi.
Perwira muda ini bernama Tang Gun.
Baru dua tahun dia menjadi perwira di dalam istana, dipilih oleh kaisar sendiri karena dia telah berjasa, membantu pasukan pengawal membasmi perampok yang berani memberontak dan mengganggu ketenangan kaisar ketika kaisar berburu binatang di hutan.
Pemuda yang gagah perkasa dan yang pekerjaannya sebagai seorang pemburu itu berhasil membantu para pengawal, bahkan dialah yang berhasil membunuh kepala perampok.
Mendengar tentang kegagahan pemuda ini, kaisar memanggilnya dan karena gembiranya kaisar lalu menganugerahkan pangkat perwira pengawal kepadanya.
Bukan pengawal luar, melainkan pengawal dalam istana, pangkat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya oleh kaisar!
Tang Gun tadinya hidup berdua saja dengan ibunya yang sudah berusia empat puluh tiga tahun.
Hidup berdua dalam keadaan miskin karena ibunya adalah seorang janda dan kehidupan mereka hanya mengandalkan hasil buruannya.
Kalau dia berhasil membunuh seekor dua ekor kijang atau beberapa ekor kelinci, dagingnya lalu dibuat daging kering oleh ibunya, kulit dan daging kering itu dijual dan di tukar dengan beras, terigu dan bumbu-bumbu masak, juga untuk membeli pakaian.
Mereka hidup di tempat terpencil, di dekat hutan.
Sejak kecil, Tang Gun memang suka mempelajari ilmu silat.
Dari kawan-kawannya, para pemburu, dia belajar silat dan mencari guru-guru silat yang pandai.
Karena tekunnya dan tidak mengenal lelah, juga rajin mencari guru yang pandai.
Akhirnya dia menjadi seorang pemuda gemblengan yang pandai silat dan menjadi jago di antara para pemburu.
Ibunya selalu mengatakan bahwa sejak dia masih kecil sekali, ayah kandungnya telah meninggalkan mereka.
Menurut ibunya, ayah kandungnya itu she Tang dan ibunya menyerahkan sebuah benda yang berbentuk ukiran seekor kumbang dari emas dan batu mirah.
Si Kumbang Merah atau Ang-hong-cu, demikianlah julukan ayah kandungnya.
Demikian menurut ibunya.
Dia tidak pernah mengenal ayahnya, hanya tahu bahwa ayahnya she Tang dan berjuluk Ang-hong-cu, menurut ibunya seorang yang amat sakti dan kalau dia kelak melihat seorang pria yang mempunyai tanda mainan seperti yang dimilikinya, maka itulah ayahnya!
Tang Gun sudah mencari keterangan di dunia kang-ouw tentang Ang-hong-cu.
Akan tetapi, dengan kecewa dia mendengar bahwa sudah bertahun-tahun dunia kang-ouw tidak lagi mendengar nama Ang-hong-cu.
Seolah-olah Si Kumbang Merah itu telah lenyap atau mungkin juga sudah mati!
Maka, Tang Gun menjadi putus asa dan tidak mencari lagi.
Ketika dia masih menjadi seorang pemburu biasa, kenyataan bahwa dia tidak berayah lagi, bahkan dia tidak tahu dimana ayahnya, sudah mati atau belum, tidak merupakan hal yang perlu dirisaukan benar.
Dia hanya seorang pemburu miskin.
Siapa yang akan memperhatikan dirinya dan siapa yang ingin mengetahui siapa ayahnya?
Akan tetapi, setelah dia menjadi seorang perwira pengawal di istana, hal itu menjadi amat penting!
Dia kini seorang yang berkedudukan dihormati dan disegani, bahkan dekat dengan keluarga kaisar!
Maka, untuk mengangkat dirinya, terutama di kalangan pasukan dan juga di dunia persilatan mulailah dia mengaku bahwa dia adalah putera dari Ang-hong-cu yang dikabarkan memiliki kesaktian hebat itu!
Berita yang dibangga-banggakan inilah yang akhirnya sampai ke telinga Hay Hay lewat Siok Bi.
Sejak remaja, karena dia memiliki wajah tampan menarik, tubuh yang kokoh kuat sehingga dia nampak gagah dan jantan, Tang Gun disukai banyak wanita.
Dan diapun sadar akan ketampanannya, sadar bahwa banyak wanita menyukainya.
Oleh karena itu, biarpun ibunya yang menjanda itu mendesaknya untuk segera menikah, Tang Gun selalu menolak.
Dia merasa rugi kalau harus menikah.
Pertama, untuk menikah dia harus memiliki uang dan dia seorang yang miskin.
Setelah menikah, berarti tanggungannya bertambah, tadinya hanya dua orang menjadi tiga orang, belum lagi kalau isterinya melahirkan anak.
Ke dua, setelah dia beristeri, tentu akan berkurang rasa suka para wanita terhadap dirinya.
Jauh lebih senang kalau dia masih bebas, dia dapat berpacaran dengan wanita manapun yang suka padanya dan disukainya.
Maka, mulailah Tang Gun dikenal sebagai seorang pemuda yang mata keranjang, selalu diburu wanita dan dia berganti-ganti pacar!
Betapapun juga, dia tidak pernah melakukan pelanggaran.
Tidak pernah dia memperkosa wanita, tidak pernah pula dia mempermainkan isteri orang.
Dia hanya menyambut uluran cinta seorang gadis atau seorang janda muda.
Setelah berusia dua puluh tiga tahun dan diangkat menjadi perwira pengawal dalam istana, nafsu berahi yang selama ini memperhamba batin dan badannya terkekang dan tidak mudah dapat disalurkan.
Dia kini telah menjadi seorang perwira pengawal dalam istana.
Tentu saja dia tidak boleh sembarangan mengumbar nafsu seperti ketika dia masih tinggal di dusun.
Dia harus menjaga namanya dan kini dia tinggal di kompleks perumahan para perwira yang berada di lingkungan istana, walaupun di bagian luar, namun masih berada di belakang tembok yang mengelilingi istana.
Dia tinggal bersama ibunya, dalam sebuah rumah yang cukup indah walaupun sedang saja.
Ada pula dua orang pelayan, laki-laki dan wanita, yang menjadi pelayan rumah mereka.
Dia hanya dapat mencari hiburan dan bersenang-senang kalau dia sedang memperoleh giliran cuti dan dia pergi ke rumah pelesir yang jauh berada di sudut kota, menyamar sebagai seorang pemuda biasa.
Akan tetapi kalau dia sedang bertugas, dan berada di rumah, dia tidak dapat berkutik.
Sebagai seorang perwira pengawal, apa lagi pengawal di dalam istana, dia harus selalu sopan dan menjaga kesusilaan.
Sebagian besar para perwira pengawal, juga para prajurit pengawal, yang mengawal sebelah dalam istana, apa lagi yang mengawal bagian keluarga puteri kaisar, adalah para thai-kam (laki-laki kebiri).
Dia sendiri tidak diharuskan menjadi thai-kam karena kaisar percaya kepadanya.
Karena tugasnya menjadi komandan pengawal dalam istana, maka seringkali Tang Gun memimpin rombongan pengawal melakukan perondaan di waktu malam.
Bahkan sering pula dia mendapat giliran berjaga di dalam taman yang berhubungan dengan tempat para puteri.
Maka, sering pula dia melihat kaisar kalau Sri Baginda ini sedang berjalan-jalan di dalam taman atau sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang di pondok-pondok indah.
Tentu saja dia selalu bersikap hormat, berlutut dan menundukkan mukanya, tidak berani mengangkat muka memandang Sri Baginda dan para wanita cantik itu.
Akan tetapi, karena dia mata keranjang, ketika matanya tidak dapat melihat namun hidungnya dapat mencium keharuman yang keluar dari pakaian para wanita, telinganya dapat menangkap suara tawa merdu sekali, sepatah dua patah kata yang keluar dengan halus lembut seperti nyanyian merdu, jantungnya terguncang hebat.
Dan lambat laun, setelah hampir dua tahun dia terbiasa dengan kesempatan seperti itu, mulailah dia berani bermain mata.
Biarpun kepalanya ditundukkan, namun matanya mengerling ke atas.
Makin kagumlah dia ketika meiihat wanita-wanita cantik jelita dalam pakaian yang serba indah itu.
Tadinya, dia hanya mampu melihat bagian tubuh di bawah saja.
Dari kaki-kaki mungil sampai ke lutut yang tertutup suteta beraneka warna.
Kini dia dapat melihat wajah para pemilik kaki mungil itu.
Dan ternyata dia tidak menemukan wanita yang angkuh dan tinggi seperti dalam dongeng tentang puteri-puteri dan keluarga kaisar.
Melainkan wajah-wajah cantik jelita dan manis yang memandang kepadanya dengan penuh gairah!
Mata yang jeli itu, mulut yang segar kemerahan itu, menunjukkan dengan jelas sekali betapa mereka itu kehausan!
Tang Gun yang sudah banyak bergaul dengan wanita, dapat melihattanda-tanda yang menunjukkan bahwa kebanyakan dari para wanita muda itu, para selir dan dayang dari Kaisar, memandang kepadanya dengan penuh birahi!
Memang demikianlah keadaan para wanita muda dan cantik itu.
Mereka melihat seorang perwira pengawal yang muda, tampan, ganteng, gagah dan jantan.
Apa lagi mereka mendengar dari para thai-kam yang selalu bermuka-muka terhadap mereka bahwa Tang-ciangkun (Perwira Tang) ini, yang pernah menyelamatkan kaisar, adalah seorang perwira yang benar-benar jantan dan laki-laki tulen, bukan thai-kam!
Tentu saja hal ini membuat mereka tertarik dan mereka selalu timbul birahi dan gairah setiap kali melihat perwira itu.
Memang seperti itulah keadaan para wanita muda yang menjadi penghuni istana raja di manapun juga.
Seorang kaisar sudah lajim mempunyai banyak sekali selir dan dayang, sampai puluhan orang banyaknya.
Hal ini tentu saja merupakan keadaan yang tidak seimbang, puluhan orang selir dan dayang itu adalah wanita-wanita yang masih muda, bagaikan bunga-bunga di taman yang sedang segar-segarnya, sedang mekar indah dan membutuhkan banyak sekali siraman dan curahan kasih sayang dan kemanjaan pria.
Sebaliknya, kaisar yang sudah setengah tua itu tentu saja tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan badan dan batin mereka.
Kaisar hanya mampu memberikan kedudukan dan kemewahan saja.
Para wanita itu mendambakan perhatian, pencurahan kasih sayang yang lebih sering dan lebih banyak.
Mereka itu rata-rata merasa kesepian, seperti burung-burung dalam kurungan.
Maka, tidaklah mengherankan dan bukan semata karena watak mereka yang genit kalau mereka itu segera tertarik kepada Tang Gun yang muda, tampan, gagah dan memiliki kerling mata tajam dan senyuman menggairahkan hati mereka itu.
Akan tetapi bagi Tang Gun, yang paling membuatnya tergila-gila adalah seorang selir kaisar yang bernama Hwee Lan.
Mula-mula, pertemuannya dengan Hwee Lan merupakan hal yang kebetulan saja dan tidak disengaja.
Pada suatu malam, bebarapa bulan yang lalu, malam terang bulan yang amat indah.
Tang Gun yang kebetulan dinas jaga, memimpin para pengawal dalam istana dan membagi-bagi tugas jaga, merasa iseng dan diapun memasuki tarman istana bagian barat yang indah.
Sambil meronda, diapun sekalian menikmati malam yang amat indah itu.
Malam yang hawanya tidak begitu dingin, terang bulan pula dan karena ketika itu bunga-bunga di taman sedang mekar, maka keadaan taman itu sungguh amat indah, romantis dan penuh dengan keharuman bunga.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh gerakan dan suara orang di belakang pondok Sarang Madu yang merah itu.
Menduga terjadi sesuatu yang mencurigakan, diapun menyelinap di antara semak-semak dalam taman dan mengintai dari balik batang pohon.
Kiranya yang berada di antara bunga mawar yang ditaman di bagian belakang pondok itu adalah seorang diantara para selir yang paling jellta!
Selir itu memang amat menarik dan mempesona hati Tang Gun setiap kali melihatnya, dengan kulit muka yang bukan hanya putih mulus seperti para selir lain, melainkan putih bercampur warna merah segar, seperti kulit bayi yang montok.
Dan selir yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu ditemani seorang dayang pelayan yang juga usianya masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun, cantik pula.
Namun, dibandingkan dengan selir itu, kecantikan dayang ini tidak ada artinya lagi.
(Lanjut ke
Jilid 10) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10
"A Sui, malam begini indah, taman penuh bunga, udara begini sejuk dan harum. Aih, betapa indahnya malam ini""
Tang Gun yang mengintai, merasa jantungnya berdebar penuh kagum.
Suara itu, demikian merdu, dan kata-kata itu demikian halus dan indah.
Dayang itu tersenyum.
"Aduh, kata-kata nona Hwee Lan selalu amat indah, seperti nyanyian, seperti sajak""
Dayang itu memuji.
"Memang aku suka bersajak, A Sui, apa lagi dalam suasana yang begini indah""
Selir cantik itu mengangkat muka memandang ke arah bulan purnama.
Wajah itu sepenuhnya tertimpa sinar bulan, nampak putih kemerahan, seperti disepuh emas sehingga Tang Gun yang mengintai terpesona.
Belum pernah selama hidupnya dia melihat wanita secantik selir itu.
Dan namanya Hwee Lan!
Dayang itu bertepuk tangan memuji.
"Kalau begitu, mengapa nona tidak membuat sajak tentang malam yang indah ini? Saya akan berbahagia sekali mendengarkannya, nona."
Sikap dayang itu amat bersahabat, karena walaupun kedudukannya sebagai dayang yang melayani selir itu, sebagai pelayan pribadi, namun dayang inipun termasuk seorang di antara para dayang cantik yang menerima "kehormatan"
Dari kaisar, yaitu pernah dan sewaktu-waktu menemani dan melayani kaisar di kamar tidurnya.
Oleh karena itu, walaupun kedudukan mereka berbeda, namun keduanya merasa senasib dan seperti madu saja.
Hwee Lan kembali merenung memandang bulan, lalu beberapa kali dia menarik napas panjang.
"A Sui, di malam terang bulan seperti ini selalu mengingatkan aku akan masa remaja ketika aku belum dibawa ke dalam istana, bergembira ria bersama teman-teman di kampung. Dan malam sepertl ini selalu mengingatkan aku akan keadaanku sekarang. Aku akan mencoba bersajak, akan tetapi hanya untuk telinga kita berdua saja, A Sui."
Suasana menjadi hening.
A Sui, juga Tang Gun yang bersembunyi, menanti dengan penuh pesona.
Bahkan kembang-kembang di taman itu seperti menanti pula, dari semilir angin lembut mendadak berhenti, seperti memberi kesempatan kepada si jelita untuk mengalunkan suaranya yang merdu.
Hwee Lan masih berdiri, demikian lembut seperti sebatang pohon yang-liu muda, memandang bulan, kemudian terdengarlah suaranya, lirih dan lembut seperti desahan bayu di antara daun pohon cemara.
"Malam syahdu penuh pesona Mencipta sajak memuja asmara Bulan gemilang bayu berdendang Taman mengharum mengapa hati bimbang? Mawar merah cantik jelita, Tiada belaian, sepi menderita Siapa perduJi mawar sengsara Apa guna segala ratap hampa Mawar jndah menangis sendirj Akhirnya layu... kering... mati...!"
Sajak itu diakhiri dengan isak tangis tertahan.
A Sui segera bangkit berdiri, merangkul Hwee Lan dan ikut pula menangis, akan tetapi disertai kata-kata menghibur.
"Sudahlah, nona, Tidak perlu membiarkan duka berlarut-larut menggerogoti hati. Memang beginilah nasib wanita-wanita seperti kita..."
"Wahai Mawar Merah nan suci ada taman sepotong hati dengan pupuk kesetiaan sejati dan siraman air cinta murni bersedia menampung jika sudi!"
Dua orang wanita itu terkejut dan menengok ke arah pohon besar di belakang pondok.
Ketika melihat munculnya Tang Gun, Hwee Lan tidak menjadi ketakutan.
Wajahnya berubah kemerahan dan kedua kakinya gemetar ketika perwira yang tampan itu menghampiri.
Mereka berdiri dan saling pandang, sedangkan A Sui sambil menahan senyumnya mundur ke belakang nonanya.
Dua orang wanita ini sudah sering kali membicarakan ketampanan dan kegagahan Tang Gun.
"Kiranya Tang-ciangkun...!"
Kata Hwee Lan, suaranya merdu dan lirih, agak gemetar karena jantungnya berdebar penuh ketegangan.
"Selamat malam, Tuan Puteri dan maafkan kalau hamba mengganggu. Hamba tadi meronda lalu mendengar..."
"Sudahlah, ciangkun. Engkau kah yang menjawab sajakku tadi?"
Betapa beraninya wanita ini, pikir Tang Gun, betapa hausnya!
"Benar, Tuan Puteri, dan ampunkan hamba..."
"Benarkah apa yang kau katakan dalam sajak tadi? Engkau bersedia menampung mawar layu, bersedia menyirami dan menyegarkannya kembali?"
"Hamba bersedia, dengan sungguh hati dan dengan segala kebahagiaan dan kehormatan, Tuan Puteri..."
Kini seluruh tubuh Hwee Lan gemetar dan ia menoleh ke sekelilihg.
Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain di situ, ia melangkah maju, memegang tangan perwira itu dan berkata lirih.
"Mari kita bicara di dalam pondok, ciangkun. Tidak baik kalau diketahui orang. A Sui, engkau menjaga di luar."
A Sui tersenyum gembira dan mengangguk, membayangkan bahwa iapun sudah pasti akan mendapat bagian karena bukankah rahasia mereka berdua berada di telapak tangannya?
Tang Gun menjadi berani dan diapun menggenggam tangan yang kecil hangat dan lunak itu dan mereka bergandeng tangan memasuki pondok Sarang Madu.
Mudah dibayangkan apa yang terjadi malam itu di pondok Sarang Madu.
Dua orang muda yang dilanda dan dicengkeram nafsu birahi itu sepenuhnya menyerah dan menjadi permainan nafsu mereka sendiri yang tak pernah mengenal puas.
Dan keduanya terkulai dan menyerah.
Bagi Hwee Lan yang sejak perawan dibawa ke dalam istana, selama ini hanya mengenat kaisar yang setengah tua sebagai satu-satunya pria yang menggaulinya, kini bertemu dengan Tang Gun yang muda, gagah, tampan dan jantan, tidaktah mengherankan kalau ia tergila-gila.
Sebaliknya, biarpun Tang Gun sudah banyak bergaul dengan wanita, namun selama ini diapun belum pernah bertemu dengan wanita secantik dan sepanas Hwee Lan, maka diapun tergila-gila dan keduanya saling melekat dan merasa bahwa mereka tak mungkin dapat saling kehilangan atau saling berpisah!
Tang Gun yang cerdik maklum bahwa keselamatan dia dan kekasihnya berada di tangan A Sui.
Kalau dibiarkan hal itu lewat begitu saja, tentu dia dan kekasihnya akan menjadi permainan dayang itu dan dapat diperas habis-habisan.
Oleh karena itu, atas persetujuan Hwee Lan yang juga melihat ancaman bahaya ini, Tang Gun mempergunakan ketampanannya untuk merayu A Sui.
Dan dayang inipun hanya seorang gadis yang tidak jauh bedanya dengan Hwee Lan, haus akan belaian dan kasih sayang pria, apa lagi kalau prianya setampan dan segagah Tang Gun.
Iapun menyerah dalam dekapan Tang Gun.
Maka amanlah hubungan mereka karena kesemuahya terlibat.
Nafsu tak pernah merasa puas.
Bahkan makin dituruti, nafsu menjadi semakin ganas, semakin kelaparan dan selalu menghendaki lebih!
Maka, pertemuan antara Tang Gun dan Hwee Lan yang ditemani A Sui yang berakhir dengan permainan cinta gelap sepanjang malam itu tidak berhenti sampai di situ saja.
Pertemuan demi pertemuan diatur dan diadakan antara mereka, makin lama semakin sering seperti orang kecanduan!
Dua bulan telah lewat dan pada malam yang amat dingin itu, Tang Gun tidak undur oleh dinginnya hawa udara dan dia sudah menanti kekasihnya di dekat pondok Sarang Madu.
Malam itu adalah malam yang penting sekali bagi mereka bertiga, karena malam itu mereka sudah mengambil keputusan untuk melarikan diri dari dalam istana!
Atau lebih tepat, Hwee Lan akan dibantu kekasihnya melarikan diri keluar istana.
Sejak sore tadi Tang Gun yang menjadi komandan pengawal telah mengatur sedemikian rupa sehingga ada jalan terbuka yang tidak dijaga.
Dan agaknya hawa udara yang dingin membantu mereka para pengawal lebih suka bersembunyi di dalam gardu penjagaan menghangatkan diri.
Karena ia sendiri juga terlibat, maka tentu saja A Sui juga ikut pula melarikan diri.
Tang Gun bukan seorang bodoh.
Dia tidak berani melarikan dua orang wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu ke rumahnya yang maslh berada di dalam lingkungan istana.
Tidak, dia tidak setolol itu.
Dengan bantuan keuangan dari Hwee Lan, menjual barang-barang perhiasan yang mahal, Tang Gun telah membeli sebuah rumah di kota Yu-sian, jauh di sebelah barat kota raja.
Rencana mereka, kalau dua orang wanita itu sudah dilarikan ke Yu-sian, kemudian setelah keributan karena pelarian mereka itu mereda, Tang Gun akan melepaskan jabatannya dan mnyusul ke Yu-sian di mana mereka akan hidup baru, dengan berdagang menggunakan modal yang sudah mereka kumpulkan.
Tak lama kemudian, muncullah dua orang wanita muda itu, membawa buntalan.
Tang Gun menyambut mereka dengan rangkulan, mereka berciuman mesra, lalu ketiganya menyelinap diantara pohon-pohon dan rumpun bunga di taman, melarikan diri melalui jalan yang sudah di atur oleh Tang Gun.
Sesuai rencana, mereka dapat keluar dari lingkungan istana tanpa diketahui orang.
Seorang paman, sanak ibunya, telah menanti di luar tembok istana dengan sebuah kereta.
Dua orang wanita itupun naik ke dalam kereta.
Setelah mereka berangkulan sejenak dengan Tang Gun di dalam kereta untuk mengambil selamat berpisah, kereta lalu dilarikan dan Tang Gun menyelinap kembali ke dalam tembok istana, kembali ke gardu penjagaan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Pada keesokan harinya, barulah para selir dan dayang menjadi ribut karena mereka tidak melihat adanya Hwee Lan dan A Sui.
Setelah melapor kepada Tang-ciangkun dan komandan ini mengerahkan semua anak buahnya mencari-cari di dalam konlpleks istana tanpa hasil, barulah laporan disampaikan kepada kaisar tentang menghilangnya selir dan dayang itu.
Bagi kaisar, kehilangan seorang selir dan seorang dayang tidak ada artinya karena dalam sehari saja dia mampu mendapatkan sepuluh orang penggantinya yang lebih muda dan cantik.
Akan tetapi yang membuat kaisar marah adalah karena peristiwa itu merupakan tamparan dan merupakan hal yang memalukan.
Seolah-olah larinya mereka itu memberi kesan bahwa para selir dan dayang merasa tidak beruntung hidup di dalam istana.
Karena itu, kaisar memanggil Tang Gun dan mernarahinya.
"Tang Gun! EngKau lah yang menjadi komandan jaga, komandan pengawal di bagian dalam istana. Bagaimana sampai engkau dan pasukanmu kebobolan dan tidak tahu adanya dua orang wanita yang meloloskan diri dari istana?"
Tang Gun berlutut dan memberi hormat sampai dahinya menyentuh lantai.
"Mohon seribu ampun, Sri Baginda. Hamba telah mengerahkan seluruh pasukan pada malam tadi untuk berjaga-jaga, bahkan hamba sendiri melakukan ronda. Akan tetapi, malam tadi hawa udara demikian dinginnya sehingga para pengawal banyak yang berlindung di dalam gardu, Bahkan para pengawal di bagian luar istanapun banyak yang berada di dalam gardu sehingga tidak ada seorangpun yang melihat dua orang wanita itu keluar dari dalam istana. Hamba menerima salah, dan hamba siap menerima hukuman dari paduka, bahkan hamba akan menerima andaikata hamba dihukum mati, buang atau dihentikan dari jabatan hamba sekalipun."
Ucapan terakhir itu bukan hanya untuk pemanis bibir atau untuk pengakuan salah belaka.
Tang Gun akan bersukur sekali kalau memang dia dihentikan dari jabatannya karena dia akan dapat segera menyusul kekasihnya, ke kota Yu-sian.
Akan tetapi, kaisar mengampuninya karena kaisar masih teringat akan jasa perwira muda itu.
Kaisar lalu memerintahkan Tang Gun untuk menghubungi para komandan pasukan pengawal di dalam dan di luar istana untuk melakukan penyelidikan dan mencari dua orang wanita yang lolos dari istana itu.
Untuk merangsang mereka, kaisar menjanjikan kenaikan pangkat dan hadiah besar kepada siapa yang dapat berhasil membawa kembali dua orang wanita itu ke istana.
Semua ini dilakukan kaisar bukan karena dia sayang kepada dua orang wanita itu, melainkan karena dia ingin menghapus kesan buruk dan akan menghukum mereka.
Tentu saja usaha ini sia-sia.
Tidak mudah mencari dua orang wanita yang sudah pergi jauh itu, apa lagi ada Tang Gun yang selalu mengelabuhi dan menyesatkan arah penyelidikan dan pengejaran.
Malam itu kembali Tang Gun berdinas jaga.
Dia duduk termenung di dalam gardu jaga.
sebulan telah lewat semenjak kekasihnya pergi melarikan diri.
Selama itu, baru satu kali dia sempat menengok ke kota Yu-sian, dengan dalih mencari jejak mereka yang melarikan diri, sekalian cuti.
Hatinya lega bahwa Hwee Lan dan A Sui telah tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Kedatangan mereka sebagai penduduk baru, dengan pamannya sebagai tuan rumah, tidak menimbulkan kecurigaan.
Akan tetapi, hanya sehari semalam saja dia dapat melepaskan rindunya kepada Hwee Lan dan A Sui.
Dia harus cepat mengundurkan diri dari jabatannya, pikirnya.
Akan tetapi tidak sekarang, karena sekarang akibat pelarian itu masih menjadi buah bibir, juga kaisar masih belum melupakan peristiwa itu dan seringkali menanyakan berita pencarian dua orang wanita itu.
Tang Gun merasa gelisah.
Dua orang kekasihnya di Yu-sian itu terlalu cantik.
Mereka masih muda dan mereka sampai nekat melarikan diri dari istana adalah karena mereka merasa kesepian dan ingin menikmati hidup bersama dia.
Sekarang, kembali mereka kesepian di Yu-sian dan hal itu amat berbahaya kalau dibiarkan berlarut-larut.
Siapa tahu akan muncul.
penggoda di sana, seorang pemuda yang ganteng!
Hatinya dipenuhi rasa cemburu dan dia semakin gelisah.
Dia bangkit dan memesan kepada anak buah yang berada di pintu agar waspada.
Dia sendiri lalu meninggalkan gardu, memasuki taman.
Dia ingin mencari angin dan hawa sejuk untuk menenangkan hatinya.
yang gelisah.
Tanpa disengaja, langkah-langkah kakinya membawanya menuju taman barat dan tibalah di depan pondok Sarang Madu.
Dia berhenti sejenak dan membayangkan semua pengalaman yang amat menyenangkan di pondok itu bersama Hwee Lan dan A Sui.
Terkenanglah dia kepada mereka dan timbul perasaan rindu.
"Tang-ciangkun..."
Suara merdu seorang wanita yang memanggilnya itu membuat Tang Gun tersentak kaget.
Hampir dia berseru memanggil nama A Sui ketika melihat munculnya seorang gadis berpakaian dayang dari balik semak-semak.
Teringat bahwa A Sui telah pergi bersama Hwee Lan, dia menahan suaranya dan memandang penuh perhatian.
Kiranya wanita itu adalah A Cui, seorang dayang lain, pelayan dari selir ke lima kaisar.
Karena banyaknya dayang di istana, tentu saja Tang Gun tidak mengenal mereka semua dan biarpun dia tahu bahwa wanita yang manis inipun seorang dayang, dia tidak tahu siapa namanya.
"Ada apakah? Siapakah engkau dan mengapa memanggilku di sini?"
Tanyanya, pura-pura alim.
Kalau saja tidak pernah terjadi peristiwa larinya Hwee Lan dan A Sui, tentu sikapnya berbeda dan dia akan lebih ramah dan manis terhadap dayang ini.
"Sttt, Ciangkun, aku A Cui dan aku akan membicarakan urusan penting denganmu. Mari kita masuk ke dalam pondok dan bicara di dalam "
Kata wanita itu sambil melepas kerling tajam disertai senyum manis menentang.
Pada saat itu, Tang Gun sedang berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan setiap kecurigaan tentang menghilangnya selir kaisar dan dayangnya itu dari dirinya, maka biarpun dengan hati menyesal, terpaksa dia tidak berani melayani tantangan yang menggairahkan itu.
"Aih, nona A Cui. Jangan main-main. Mana aku berani?"
Katanya menolak.
"Tang-ciangkun, tak usah berpura-pura. Aku mau bicara tentang rahasia pondok Sarang Madu. Hayolah!"
Ia melangkah menuju ke pintu depan pondok. Tang Gun mengerutkan alisnya.
"Rahasia pondok Sarang Madu?"
Jantungnya berdebar tegang.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku... hemm, apa lagi kalau tidak mengenai Hwee Lan dan A Sui? Nah, maukah engkau ikut masuk? Atau engkau lebih suka kalau aku membicarakan urusan itu dengan orang lain?"
Seketika pucat wajah Tang Gun mendengar ucapan itu.Tak perlu di jelaskan lagi, sudah cukup jelas, sudah terlalu jelas bahwa dayang ini mengetahui semua rahasia pelarian Hwee Lan A Sui!
Maka, tanpa banyak cakap lagi, dia lalu melangkah masuk mengiringkan wanita itu kedalam pondok Sarang Madu.
Setelah mereka tiba di dalam pondok Tang Gun segera bertanya lirih.
"A Cui, apakah sebetulnya yang kau inginkan?"
A Cui membalik dan mendekati Tang Gun,matanya mengerling tajam dan mulutnya tersenyum.
"Perlukah engkau bertanya lagi, orang muda yang tampan? Aku tidak membutuhkan apa-apa kecuali apa yang di butuhkan Hwee Lan dan A Sui dan aku tidak menginginkan apa-apa darimu kecuali apa yang telah kau berikan kepada mereka."
Wanita itu lalu melingkarkan kedua lenganya ke leher Tang Gun.
Dua buah lengan itu melingkari leher sekuat dua ekor ular dan yang terdengar kemudian hanya dengus dan rintih, disusul napas tersendat-sendat dalam kegelapan di pondok Sarang Madu itu.
Baik A Cui maupun Tang Gun tidak tahu betapa sejak tadi ada sepasang mata tajam mencorong yang mengintai perbuatan mereka, sejak mereka saling jumpa di luar pondok.
Pemilik mata ini adalah seorang laki-laki setengah tua, berusia sekitar lima puluh lima tahun, bertubuh sedang masih tegap, pakaiannya istana, tentu saia Tang Gun tidak mengenal mereka semua dan biarpun dia tahu bahwa wanita yang manis inipun karena ia adalah Tang Bun An, atau yang berjuluk Ang-hong-cu Si Kurnbang Merah!
Seperti telah kita ketahui, Tang Bun An pergi ke kota raja untuk memulai hidup baru karena dia merasa sudah tua dan bosan dengan kehidupan petualangan seperti yang selama ini dialaminya.
Dia terlalu banyak musuh, bahkan akhir-akhir ini dia dikejar-kejar orang-orang pandai sekali, termasuk puteranya sendiri yang bernama Tang Hay.
Dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja dan mencari kedudukan, untuk dapat mengembalikan kedudukan dan kemuliaan yang pernah dimiliki ayah kandungnya dahulu, yaitu mendiang Tang Siok yang menjadi pejabat tinggi di kota raja.
Dia harus mampu meraih suatu kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang pernah dimiliki ayahnya dan satu-satunya jalan untuk dapat memperoleh kedudukan tinggi itu hanyalah membuat jasa, kalau mungkin langsung terhadap Kaisar!
Biarpun dia pandai ilmu silat dan mengerti juga ilmu sastra, namun tanpa memlliki hubungan yang baik dengan para pejabat tinggi, akan sukarlah memperoleh kedudukan.
Apa lagi bagi seorang setua dia.
Ketika berada di kota raja, Tang Bun An segera mendengar berita yang amat menarik hatinya, yaitu tentang adanya seorang perwira pengawal muda yang menyebar berita bahwa perwira itu adalah putera dari Ang-hong-cu!
Hal ini dirasakannya amat aneh.
Bukankah selama ini namanya dianggap jahat dan buruk, dibenci oleh para pendekar dan ditakuti di dunia kang-ouw?
Bahkan andaikata dia mempunyai anak kandung, seperti halnya Tang Hay, maka anak itu tentu akan malu mengaku sebagai putera Ang-hong-cu.
Akan tetapi kenapa orang ini, seorang perwira pengawal pula, menyebarkan berita bahwa dia putera Ang-hong-cu.
Seolah-olah hal itu membanggakan hatinya?
Tadinya dia hanya tersenyum saja mendengar berita itu, dan dianggapnya perwira itu seorang pemuda yang tolol dan suka membanggakan diri meminjam ketenaran orang lain.
Akan tetapi setelah dia mendengar bahwa perwira muda itu bernama Tang Gun, dia terkejut!
She Tang?
Dunia kang-ouw sudah mengenal nama julukan Ang-hong-cu, akan tetapi tidak ada atau amat jarang sekali orang mengetahui bahwa Ang-hong-cu memiliki she (nama keturunan) Tang!
Berita itu amat menarik hati Tang Bun An.
Apa lagi ketika dia mendengar bahwa perwira bernama Tang Gun itu bekerja sebagai seorang komandan pengawal dalam istana, sebuah kedudukan yang diterimanya sebagai hadiah dari kaisar karena Tang Gun pernah menolong rombongan kaisar dari gangguan pemberontak dua tiga tahun yang lalu!
Ah, siapa tahu, dari orang yang mengaku puteranya inilah datang kesempatan baginya untuk meraih kedudukan!
Dan memang dia harus dapat mendekati istana, tempat tinggal kaisar kalau dia ingin memperoleh pangkat yang tinggi.
Demikialah, setelah melakukan penyelidikan tentang keadaan istana, Tang Bun An lalu mempergunakan ilmu kepandaiannya dan dengan tidak betapa sukar dia berhasil melewati pagar tembok dan masuk ke dalam taman bunga di bagian barat, dan kebetulan sekali dia dapat melihat dan mendengar pertemuan antara perwira Tang Gun dan seorang dayang.
Dia belum sempat menyelidiki perwira yang mengaku puteranya itu, maka tadinya dia tiak tahu siapa perwira yang mengadakan pertemuan dengan seorang dayang istana itu.
Akan tetapi setelah mendengar dayang itu menyebut "Tang-ciangkun"
Dia terkejut dan juga merasa gembira sekali.
Tak salah lagi, pikirnya.
Inilah perwira yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu itu!
Dan dari penerangan yang tidak begitu cerah, cukup baginya untuk bernapas lega.
Setidaknya orang muda itu tidak mengecewakan untuk menjadi puteranya.
Jangkung, tegap, tampan dan gagah.
Apa lagi setelah dia mendengar percakapan antara mereka, hatinya bangga.
Pemuda yang mengaku puteranya ini ternyata seorang pria yang disukai wanita!
Buktinya, dayang itu juga memikat cintanya, dan mempergunakan semacam rahasia pondok Sarang Madu sebagai alat untuk memeras agar perwira muda itu suka memuaskan nafsu birahinya!
Diam-diam Tang Bun An tersenyum bangga, dan melihat pemuda itu mengikuti si dayang memasuki pondok, Diapun cepat meloncat ke atas genteng untuk melakukan pengintaian.
Di dalam kamar pondok itu hanya diterangi dua buah lilin, namun cukup bagi mata Tang Bun An yang tajam dan terlatih baik.
Mula-mula dia hendak melihat apakah orang yang mengaku puteranya itupun cukup jantan melayani wanita dalam bercinta.
Akan tetapi, ketika dia mengintai dari atas dan mula-mula hanya terdengar bunyi dengus napas dan rintihan disusul pernapasan yang tersendat-sendat, dia terbelalak!
Perwira muda yang mengaku puteranya itu, sama sekali tidak mencumbu rayu, tidak membelai mesra, melainkan mencekik leher gadis itu menggunakan ikat pinggang dayang itu sendiri!
Betapa gilanya!
Sayang kalau gadis muda semanis itu dibunuh begitu saja!
Kalau perwira muda itu telah menikmatinya, mau di bunuh atau tidak dia tidak akan perduli.
Akan tetapi jelas bahwa mereka itu baru saja saling bertemu, mengapa perwira itu membunuhnya tanpa membelai atau mencumbu sedikitpun?
Akan tetapi dia menahan diri, tidak mau mencampuri karena ia ingin sekali tahu perkembangan selanjutnya.
Keadaan perwira muda yang mengaku puteranya itu tentu saja baginya jauh lebih menarik dan lebih penting daripada nyawa seorang gadis dayang istana!
Melihat cara perwira itu membunuh dayang, yang memakan waktu cepat sekali, Tang Bun An dapat menduga bahwa perwira muda itu sedikit banyak memiliki tenaga yang lumayan juga.
Kini Tang Gun melepaskan ikat pinggang dayang itu, mengikat ujung ikat pinggang ke atas tihang dan menggantung mayat dayang itu pada lehernya, mengatur sedemikian rupa sehingga sekali lihat saja orang akan menduga bahwa dayang itu mati membunuh diri dengan cara menggantung.
Dia membalikkan sebuah bangku di bawah mayat.
Dengan cermat dia mengukur dan memperhitungkan.
Kalau gadis itu membunuh diri, tentu mempergunakan bangku itu untuk berdiri dan mengikat ujung ikat pinggang ke tihang, mengikatkan ujung yang lain di lehernya kemudian menendang bangku itu sehingga tubuhnya tergantung dan mati tercekik.
Tepat sekali.
Setelah merasa puas, dia lalu menup padam api lilin dan keluar dari dalam pondok, menutupkan daun pintu pondok itu.
Kemudian, dengan tenang diapun kembali ke pos penjagaan seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
Pada keesokan harinya, kembali istana kaisar menjadi gempar ketika mayat A Cui ditemukan dalam keadaan menyedihkan.
Ia mati tergantung dalam Pondok Sarang Madu, lidahnya terjulur panjang, matanya melotot dan tubuhnya kaku!
Akan tetapi karena keadaannya jelas menunjukkan bahwa ia telah menggantung diri sampai mati, maka tidak ada persoalan lain kecuali mengurus mayatnya dan selanjutnya tidak ada apa-apa lagi.
Biarpun dia telah berhasil membunuh A Cui yang mengetahui rahasianya tanpa meninggalkan jejak, tetap saja hati Tang Gun merasa tidak tenteram.
Dia dapat menduga bahwa kalau sampai A Cui mengetahui rahasia itu, berarti A Sui, dayang yang menjadi pelayan Hwee Lan itulah yang bermulut panjang dan membocorkan rahasia.
Mungkin hanya untuk pamer dan membanggakan diri bahwa ia telah berhasil menjadi kekasih perwira Tang yang banyak dikagumi para puteri itu!
Yang membuat dia gelisah, siapa saja yang sudah mengetahui akan rahasia itu?
Apakah hanya kepada A Cui saja A Sui bercerita?
Ataukah celotehnya didengar lebih banyak dayang lagi?
Celakalah kalau begitu!
Dia harus cepat pergi ke kota Yu-sian untuk minta keterangan A Sui, dan dayang yang panjang mulut itu perlu ditegur, atau bahkan dihajar agar lain kali tidak berani lagi berlancang mulut menyebarkan rahasia yang seharusnya dipegang teguh karena amat berbahaya kalau sampai terdengar oleh istana.
Pada keesokan harinya, Tang Gun mohon diri dari kaisar untuk keluar dari istana dalam usahanya menyelidiki sendiri kehilangan selir Hwee Lan dan pelayannya, A Sui.
Untuk itu, dia minta cuti selama sebulan.
Tentu saja permohonannya dikabulkan karena kaisar juga masih merasa amat penasaran dengan menghilangnya selir dan dayangnya itu, dan memang merupakan tanggung jawab Tang Gun sepenuhnya sebagai perwira pengawal dalam istana untuk dapat menangkap selir yang melarikan diri itu.
Kedatangan Tang Gun di kota Yu-sian dilakukan secara diam-diam.
Bagaimanapun juga, dia tidak berani secara terang-terangan memperlihatkan diri kepada umum ketika dia mengunjungi ke kasihnya, yaitu Hwee Lan dan A Sui yang kini sudah membuka sebuah toko kain di kota itu.
Dia datang pada malam hari, melalui genteng rumah seperti seorang pencuri!
Akan tetapi kedatangannya itu disambut dengan mesra dan manis oleh Hwee Lan dan A Sui yang sudah merasa rindu sekali kepada pria ini.
Akan tetapi, kemesraan itu diliputi mendung.
Tang Gun juga merasa rindu kepada mereka, nampak diam dan murung.
Tentu saja hal ini membikin dua orang wanita itu menjadi khawatir.
"Koko, apakah yang menyebabkan engkau nampak murung dan tidak senang?"
Hwee Lan merangkul dan duduk di atas pangkuan kekasihnya. Tang Gun menghela napas.
"Aku telah membunuh dayang A Cui..."
"A Cui...?"
A Sui terkejut sekali mendengar bahwa kekasih majikannya, juga kekasihnya sendiri itu, telah membunuh A Cui, seorang dayang istana yang menjadi sahabat baiknya.
"Membunuh A Cui? Kenapa...?"
Hwee Lan juga berseru kaget dan ia turun dari atas pangkuan kekasihnya, akan tetapi masih merangkulnya dan mengamati wajah yang tampan itu dengan khawatir .
"Ia telah mengetahui rahasia kita, dan ia memerasku untuk melayaninya. Karena itu, aku lalu membunuhnya."
Diceritakannya peristiwa dalam taman itu kepada dua orang wanita yang mendengarkan dengan wajah berubah pucat.
"Dan kalau sampai A Cui mengetahui rahasia kita itu, sudah pasti bahwa seorang di antara kalian yang telah membocorkannya dan menceritakannya kepada A Cui. Hayo, siapa yang telah bicara dengan A Cui? Mengaku saja!"
Hwee Lan memandang kekasihnya yang sudah bangkit berdiri itu dengan mata terbelalak, lalu ia menggeleng kepalanya.
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah bicara tentang hubungan kita kepada siapapun juga. Aku cukup mengetahui betapa berbahayanya kalau hal itu kulakukan. Akan tetapi A Sui...! Engkau..., tentu engkau yang telah bicara dengan A Cui, bukan? Aku tahu bahwa engkau adalah sahabat karib A Cui!"
Bekas selir kaisar yang cantik jelita itu kini memandang kepada pelayannya.
A Sui menjadi semakin pucat.
Ia menundukkan mukanya, kemudian ia berlutut di atas lantai dan menangis.
"Ampun... saya kira... hal itu tidak ada bahayanya, karena ia... ia adalah seorang sahabat baik yang biasanya setia... dan..."
"Goblok! Engkau lancang mulut!"
Tang Gun dengan marah lalu menggerakkan kakinya menendang.
"Bukk!"
Tubuh selir yang mungil itu terlempar dan menabrak dinding lalu terbanting jatuh.
Ia menangis dan pipinya yang tertabrak dinding membiru, mulutnya berdarah.
"Kau... kau akan membikin celaka kita semua!"
Tang Gun membentak lagi dan kemarahannya masih berkobar.
"Ampun... ampunkan saya..."
Bekas dayang itu merintih ketakutan.
Sebelum Tang Gun turun tangan lagi menghajar atau mungkin membunuh bekas dayang yang menjadi kekasihnya itu, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dibarengi suara seorang laki-laki.
"Tang Gun, apakah engkau hendak membunuh pula wanita ini seperti engkau membunuh dayang A Cui?"
Tentu saja tiga orang itu terkejut, terutama sekali Tang Gun.
Dia membalikkan tubuhnya dan ternyata di ruangan itu telah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali.
Seorang pria yang usianya sudah lima puluh lima tahun, pakaiannya rapi, tubuhnya sedang dan setua itu masih nampak tampan menarik.
Melihat bahwa pria itu hanya orang biasa saja, tidak membawa senjata, Tang Gun bersikap garang.
Sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka pria itu, ia membentak lantang.
"Heh, siapakah engkau yang datang memasuki rumah kami tanpa diundang?"
Biarpun suara dan sikapnya garang, namun hatinya berdebar tegang mendengar betapa pria ini telah tahu akan rahasianya yang ke dua, yaitu membunuh A Cui!
Pria setengah tua itu tersenyum mengejek dan sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam.
"Aku adalah utusan kaisar yang datang untuk menangkap kalian bertiga dan membawa kalian kembali ke istana!"
Wajah Tang Gun seketika pucat mendengar ucapan ini.
Akan tetapi melihat betapa orang itu hanya seorang diri saja dan tidak bersenjata, diapun menjadi nekat.
Dia harus membunuh orang ini kalau ingin selamat.
Secepat kilat dia sudah mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang dengan tusukan pedangnya ke arah dada orang itu.
"Singgg...!"
Pedang berdesing saking cepat gerakannya, namun hanya meluncur lewat karena orang itu sudah dapat mengelak dengan amat mudahnya.
Akan tetapi begitu dia dengan lompatan ke kanan, Tang Gun sudah cepat membalikkan tubuh dan pedangnya menyambar ganas, Kini membacok ke arah leher, dan gerakan pedang ini di susul tendangan kaki kirinya ke arah bawah pusar lawan.
Hebat serangan ini karena Tang Gun telah memainkan jurus Li-kong-sia-ciok (Li Kong Memanah Batu), gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga yang dahsyat.
Namun, ternyata lawannya adalah seorang yang lihai sekali.
Dia tidak pernah mimpi bahwa lawannya itu adalah orang yang sejak dia kecil dia cari-cari, yaitu ayah kandungnya sendiri yang berjuluk Ang-hong-cu!
Ang-hong-cu Tang Bun An menghadapi serangan dahsyat itu dengan amat tenang.
Dia melangkah mundur sehingga bacokan tidak mengenai lehernya, dan ketika tendangan itu menyambar lewat, tangannya cepat bergerak menyentuh bawah kaki dan sekali dia menggerakkan tenaga ke arah tumit itu, tubuh Tang Gun terlempar dan terjengkang ke belakang!
"Brukkk!"
Tubuh Tang Gun terbanting, akan tetapi orang muda inl sudah cepat meloncat bangun lagi dan menyerang lebih ganas.
Dia kini dapat mengerti bahwa lawannya amat pandai, maka dia menjadi nekat.
Dia harus dapat mengalahkan orang itu, atau dia akan celaka!
Pedangnya menyambar-nyambar, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung, yang menyambar-nyambar bagaikan maut kelaparan mencari nyawa.
Namun, tingkat ilmu kepandaian silat yang dikuasai Tang Gun jauh berada di bawah tingkat Ang-hong-cu yang selain ilmunya tinggi, juga sudah memiliki pengalaman luas, maka semua sambaran pedangnya tidak pernah mengenai sasaran.
Bahkan kalau Si Kumbang Merah itu menghendaki, dalam beberapa jurus saja.
Tang Gun tentu sudah roboh dan dikalahkan.
Agaknya, mengingat bahwa perwira muda ini adalah puteranya sendiri, seperti yang diakui oleh Tang Gun dan yang dipercayanya pula, agaknya Si Kumbang Merah ingin menguji sampai di mana ketangguhan orang yang mengaku anaknya itu.
Setelah puas mempermainkan Tang Gun dengan elakan-elakan yang membuat tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara sinar pedang, tiba-tiba Si Kumbang Merah mengeluarkan seruan nyaring.
"Heiiiittt!"
Kedua tangannya bergerak, yang kiri menotok ke arah siku kanan lawan, yang kanan mencengkeram pundak dan di lain saat, tubuh Tang Gun telah menjadi lemas dan pedangnya dengan mudah berpindah tangan!
Si Kumbang Merah menyusul dengan totokan ke arah jalan darah thian-hu-hiat dan tubuh perwira itupun terkulai lemas, tidak mampu bergerak lagi!
Dua orang wanita itu menjadi ketakutan sampai hampir terkencing-kencing.
Namun, Si Kumbang Merah tersenyum ramah dan berkata kepada mereka.
"Hayo kalian berdua ikut bersamaku. Kereta sudah menanti di luar. Jangan sampai aku harus mempergunakan kekerasan terhadap kalian dua orang nona manis!"
Hwee Lan dan A Sui tidak berani membantah puJa waJaupun mereka ketakutan dan maklum bahwa malapetaka menanti mereka.
Ang-hong-cu menarik tubuh Tang Gun bangun.
Lalu memapahnya keluar, menggiring dua orang wanita itu yang berjalan dengan tubuh menggigil ketakutan.
Ternyata di luar sudah tersedia sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda!
Ang-hong-cu yang membayangi Tang Gun dan mengetahui tempat persembunyian perwira dengan dua orang kekasihnya itu, sudah mempersiapkan kereta untuk memboyong para tawanan itu kembali ke kota raja!
Setelah tiga orang itu berada di dalam kereta, Tang Gun tertotok lemas dan dua orang wanita itu menangis lirih, Ang-hong-cu lalu melarikan keretanya menuju ke kota raja.
Penangkapan terhadap tiga orang itu merupakan peristiwa yang aneh karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya!
Dua orang wanita itupun merasa tidak berdaya, hanya mampu menangis ketakutan karena mereka dapat membayangkan bahwa mereka tentu akan menerima hukuman.
Orang yang mereka percaya kini telah duduk setengah rebah didalam kereta, tidak mampu bergerak lagi dan hanya mampu memandang kepada mereka dengan sinar mata putus asa dan ketakutan.
"Cepat laksanakan penangkapan itu kalau benar engkau mampu melakukannya! Selama ini, seluruh pasukan pengawal tidak mampu menangkap dua orang perempuan itu. Maka, Tang Bun An, kalau engkau melanggar janji kesanggupanmu dan mengecewakan kami, kalau engkau gagal melakukan penangkapan, kami akan memberikan hukuman berat! Sebaliknya, kalau engkau memenuhi janji, yaitu dalam waktu sehari akan mampu menghadapkan dua orang wanita itu dan biang keladinya yang membuat mereka minggat dari istana, kami akan mengangkat kamu menjadi kepala seluruh pasukan pengawal, baik yang di dalam maupun yang di luar istana!"
Demikianlah kata kaisar ketika Tang Bun An diperkenankan menghadapnya.
Tang Bun An menyatakan kesediaannya untuk menangkap dan menyeret dua orang wanita, yaitu selir Hwe Lan dan dayang A Sui, kembali ke istana dalam waktu satu hari saja.
Bahkan juga dia bersedia menangkap orang yang telah melarikan dua orang wanita itu dari dalam istana.
Mendengar ini, tentu saja semua pengawal menjadi terkejut dan heran.
Bagaimana mungkin orang setengah tua ini akan mampu menangkap buronan itu dalam waktu sehari saja, pada hal para pengawal yang pandai telah gagal sama sekali?
Tentu saja hal itu tidaklah terlalu mengherankan kalau saja mereka ketahui bahwa ketika Tang Bun An menghadap kaisar, tiga orang jtu telah menjadi tawanannya dan dia sembunyikan dalam sebuah kuil tua di dalam hutan sebelah utara kota raja!
Dengan sikap hormat dan gagah Tang Bun An menolak ketika kaisar menawarkan bantuan pasukan pengawal.
Diapun berangkat dan tepat pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah kembali ke istana membawa tiga orang tawanan itu yang telah dibelenggu kedua tangan mereka, dan dirantai kaki mereka..
Semua orang tentu saja menjadi bengong dan terkejut bukan main melihat bahwa komandan pengawal muda itu menjadi tawanan, apa lagi ketika mereka mendengar bahwa yang melarikan Hwee Lan dan A Sui adalah Tang Gun, perwira pengawal yang amat dipercaya kaisar itu.
Gegerlah seluruh penghuni istana mendengar bahwa Tang Gun tidak hanya melarikan selir dan dayangnya itu, akan tetapi juga dia yang telah membunuh A Cui yang disangka mati membunuh diri di Pondok Sarang Madu.
Kaisar sendiri tentu saja menjadi marah bukan main.
Dengan muka merah dan mata melotot dia mendengarkan pengakuan tiga orang tawanan itu, kemudian dengan suara lantang kaisar menjatuhkan hukumannya.
Hwee Lan dan A Sui dijatuhi hukuman menjadi nikouw (pendeta wanita), mencukur gundul rambut mereka dan selanjutnya mereka diharuskan menjadi nikouw, hidup di kuil untuk menebus dosa selama hidup mereka.
Adapun Tang Gun, mengingat akan jasanya yang pernah dilakukannya terhadap kaisar, perwira pengawal ini dihukum buang setelah menerima cambukan sebanyak lima puluh kali!
Tentu saja Tang Bun An menerima hadiah seperti yang dijanjikan kaisar.
Dia diangkat menjadi komandan seluruh pasukan pengawal!
Suatu kedudukan yang tinggi!
Akan tetapi tentu saja kedudukan itu tidak diterimanya dengan begitu mulus dan mudah.
Seorang di antara para menteri, yaitu menteri bagian keamanan, memperingatkan kaisar bahwa menerima seseorang untuk menjadi komandan pasukan pengawal istana, tidak semestinya dilakukan semudah itu.
"Ampun, Sri Baginda,"
Demikian antara lain menteri itu mengemukakan pendapatnya.
"Memang sudah terdapat bukti akan kesetiaan dan jasa dari Tang Bun An dan sudah sepantasnya kalau dia menerima anugerah dari paduka. Akan tetapi, akan lebih bijaksana kiranya kalau dia diuji lebih dulu. Bagaimanapun juga, tingkat kepandaian seorang komandan haruslah lebih tinggi dari pada tingkat semua perwira pasukan itu sehingga tidak akan menimbulkan perasaan iri di antara para prajurit maupun perwira! Juga hal ini akan mempertebal ketaatan para anak buah terhadap komandannya."
Kaisar dapat menerima pendapat ini dan demikianlah, sebelum menerima pengangkatannya sebagai seorang panglima, kepala seluruh pasukan pengawal istana, Tang Bun An diharuskan melewati ujian.
Pengujinya adalah seorang yang amat disegani di seluruh pasukan pengawal, yaitu Coa-ciangkun (Perwira Coa) yang tadinya menjabat kepala pasukan pengawal dan kini harus menjadi orang ke dua setelah Tang Bun An!
Coa Ciangkun ini terkenal memiJiki tenaga gajah dan juga ilmu silatnya tinggi, maka boleh dibilang dia merupakan jagoan istana nomor satu yang selama ini sukar dicari tandingannya!
Dia baru berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar menyeramkan.
Kaisar sendiri tertarik ketika melihat sikap Tang Bun An yang sedikitpun tidak menyatakan ketakutan ketika dikabarkan bahwa dia akan diuji oleh Coa Ciangkun yang terkenal itu.
Maka, kaisar berkenan hendak menyaksikan sendiri ujian atau adu kepandaian itu.
Mendengar bahwa kaisar sendiri hendak menyaksikan, legalah hati Tang Bun An.
Kalau junjungan itu sendiri menyaksikan, sudah pasti perwira Coa itu tidak akan berani melakukan kecurangan dan tentu adu kepandaian itu akan berlangsung dengan jujur dan adil.
Hal ini melegakan hatinya yang tadinya merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau dia akan dicurangi oleh para pembesar istana yang tentu akan merasa iri hati kepadanya.
Dan diapun maklum betapa lihainya para jago istana sehingga kalau sampai dia dikeroyok, hal itu akan berbahaya juga baginya.
Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, sebuah lian-bu-thia (ruang berlatih silat) telah dipersiapkan dan kaisar sudah hadir bersama beberapa orang selir dan dayang yang suka akan ilmu silat.
Juga para pembesar militer hadir untuk menilai hasil ujian itu.
Setelah memberi hormat dengan berlutut di depan kaisar, Tang Bun An dan lawannya menuju ke tengah ruangan.
Tang Bun An memandang kepada calon lawan itu dengan penuh perhatian.
Seorang raksasa berusia empat puluh tahun dan biarpun tubuhnya tinggi besar, namun gerak-geriknya nampak gesit.
Seorang lawan yang tangguh, pikirnya, akan tetapi sedikitpun dia tidak merasa gentar.
Dia percaya kepada kemampuan dirinya.
Sekelebatan saja dia tahu bahwa menghadapi lawan seperti itu, amat bodoh kalau dia harus mengadu tenaga.
Jelas bahwa orang itu memiliki tenaga yang amat kuat, baik tenaga otot maupun tenaga dalam.
Maka, satu-satunya cara untuk menghadapinya hanyalah mengandalkan kecepatan dan dia merasa yakin akan dapat mengatasi lawannya dalam hal kecepatan.
Memang dia terkenal sekali sebagai seorang ahli gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat dan karena mengandalkan gin-kang inilah maka selama puluhan tahun ini, tidak ada yang mampu menangkap Ang-hong-cu!
Pertandingan ujian itu segera dimulai dan mentaati perintah kaisar yang mengkhawatirkan kalau dua orang yang amat berguna baginya itu mengalami cidera, pertandingan dilakukan dengan tangan kosong.
Begitu mereka bergebrak saling serang, tahulah Si Kumbang Merah bahwa lawannya memang amat tangguh, dan memiliki ilmu silat yang pada dasarnya adalah aliran silat Siauw-lim-pai.
Akan tetapi, gerakannya bercampur dengan silat dari utara dan barat, dan yang amat merepotkannya adalah kekuatan yang dahsyat dari lawan itu.
Biarpun dia sendiri memiliki sin-kang yang kuat, namun setelah beberapa kali mencoba tenaga lawan dan mengadu tenaga, lengannya terasa agak nyeri karena dia kalah muda, dan tulang-nya kalah kuat!
Maka, mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An mempergunakan kecerdikannya.
Tubuhnya berkelebatan amat cepatnya dan benar seperti dugaannya.
biar si raksasa itupun memiliki gerakan yang cepat, namun jauh kalah cepat dibandingkan dia.
Coa Ciangkun mulai merasa pening karena lawannya lenyap, berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di sekeliling dirinya!
Lawannya itu bagaikan seekor kumbang yang beterbangan mengitarinya, membuat Coa Ciangkun kini terdesak dan repot sekali.
Setelah lewat lima puluh jurus dan membuat lawan benar-benar pening, dengan kecepatan kilat ketika tubuhnya berkelebat di belakang lawan, tang Bun An mempergunakan ujung kakinya meendang cepat mengarah tekukan lutut kedua kaki Coa-ciangkun.
Tidak keras tendangan itu, namun karena yang ditendang adalah bagian yang lemah, maka tanpa dapat dipertahankan lagi, kedua kaki perwira raksasa itupun tertekuk dan dia berlutut!
Tang Bun An yang cerdik tidak ingin mendapatkan musuh, maka cepat dia menjura kepada perwira itu sambil berkata.
"Ciangkun, engkau sungguh hebat, maafkan aku."
Perwira Coa bangkit berdiri dan balas menjura.
Hatinya kagum.
Orang ini amat lihai, pikirnya, akan tetapi pandai pula merendahkan diri.
Biarpun dia tadi kalah, namun lawannya sengaja tidak membikin malu padanya.
Dia tahu bahwa kalau lawan yang amat lihai itu menghendaki, dia dapat dikalahkan dalam cara yang lebih keras lagi.
Kaisar merasa puas dan para pembesar militer juga menyatakan kekaguman mereka.
Semua orang tahu belaka bahwa pria setengah tua yang ganteng dan simpatik itu.
memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan boleh diharapkan menjadi komandan pengawal yang boleh dipercaya.
Mulai hari ini, resmilah Tang Bun An menjadi Tang-ciangkun, dan kedudukannya bahkan jauh lebih tinggi dari pada Tang Gun.
Lalu bagaimana dengan nasib Tang Gun?
Bagi dua orang kekasihnya sudah jelas.
Hari itu juga mereka digunduli dan diserahkan kepada para nikouw pengurus kuil, dan dua orang wanita muda itu dipaksa menjadi nikouw, setiap hari kerjanya hanya berdoa dan mempelajari kitab-kitab agama untuk menebus dosa mereka!
Sedangkan Tang Gun sendiri, dengan punggung yang masih penuh babak belur dan terasa perih, Lehernya dikalungi papan berlubang, dan dia dikawal oleh dua orang petugas penjara, dibawa keluar dari kota raja dalam perjalanannya ke tempat pembuangan, jauh ke utara,di mana terdapat tempat pembuangan dan di sana para terhukum itu dijadikan pekerja rodi, memperbaiki tembok dari Tembok Besar yang rusak, melayani pasukan penjaga dan lain-lain pekerjaan kasar, sampai mereka itu mati atau habis masa hukumannya.
Pada malam harinya setelah Tang Gun dikawal dua orang petugas penjara keluar dari kota raja, Tang Bun An gelisah di dalam kamarnya.
Dia terkenang kepada Tang Gun, terkenang akan percakapan antara Tang Gun dan Hwee Lan di dalam kuil, sebelum mereka dia serahkan kepada kaisar.
Dua orang itu bertangisan dan dalam keluh kesahnya itulah dia mendengar Tang Gun berkata dengan suara penuh duka.
"Aih, aku telah melupakan pesan ibuku, dan seperti juga ibuku, aku menjadi korban nafsu. Ibuku pernah bercerita bahwa karena terbuai oleh nafsu, ibuku telah menyerahkan diri kepada seorang pria. Ibuku mengandung dan pria itu pergi begitu saja. Ibu melahirkan aku dan hidup merana dan itu semua. adalah korban nafsu yang hanya beberapa waktu saja! Aku lupa akan pengalaman ibu, dan akupun tergoda oleh nafsu sehingga kita melakukan hubungan dan kini akibatnya sungguh pahit, sama sekali tidak sepadan dengan kesenangan sejenak yang kita nikmati..."
"Akan tetapi, koko. Kita saling mencinta...,"
Bantah Hwee Lan.
"Hemm, benarkah itu? Kalau kita saling mencinta, tentu kita tidak akan melakukan hubungan yang akibatnya hanya mencelakakan kita sendiri. Kita saling mencelakakan. Yang mendorong hubungan kita bukanlah cinta, melainkan nafsu birahi! Sungguh tepat peringatan ibu. Kita harus senantiasa waspada terhadap nafsu kita sendiri karena nafsu kita yang akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan. Kalau kita lengah, nafsu menerkam kita. Untuk kenikmatan yang hanya beberapa saat kita rasakan, mungkin akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan selama hidup!"
Pemuda itu menangis dan merintih-rintih memanggil ibunya!
Itulah yang selalu mengiang di dalam telinga Si Kumbang Merah pada malam hari itu.
Dia sendiri tidak tahu siapa ibu pemuda itu, namun dia percaya bahwa Tang Gun adalah puteranya.
Sudah terlalu banyak wanita dia permainkan sehingga dia tidak ingat lagi, wanita yang mana yang menjadi ibu pemuda itu!
Dan diapun tidak mempunyai hasrat untuk mengetahuinya.
Bagaimanapun juga, Tang Gun adalah anak kandungnya!
Dia tidak memiliki rasa cinta kepada pemuda itu, akan tetapi, mengingat bahwa Tang Gun tidak bersalah kepadanya, dan juga tidak mengecewakan menjadi puteranya, pandai menjatuhkan hati wanita, maka hatinya merasa tidak tega.
Demikianlah, pada keesokan harinya ketika Tang Gun dan dua orang pengawalnya tiba di jalan sunyi di lereng sebuah bukit, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian serba hitam dan memakai kedok hitam pula.
Tanpa banyak cakap, si kedok hitam ini menyerang dua orang pengawal itu.
Mereka mencabut golok melakukan perlawanan.
Namun percuma saja, hanya dalam beberapa jurus keduanya sudah terjungkal tewas dan si kedok hitam menendangi mayat mereka sampai terlempar ke dalam jurang yang amat dalam.
Setelah itu, masih tanpa bicara, si kedok hitam membikin pecah "kang" (alat papan berlubang mengalungi leher), mematahkan semua rantai, kemudian menyerahkan sebuah buntalan kain kuning kepada Tang Gun.
Buntalan kain itu ternyata berisi uang emas!
Tang Gun terheran-heran dan si kedok hitam meloncat pergi.
Pemuda itu hanya dapat berteriak.
"Kedok hitam, aku Tang Gun tidak akan melupakan pertolonganmu ini selama hidupku!"
Si Kedok Hitam itu tentu saja bukan lain adalah Si Kumbang Merah Tang Bun An.
setelah menolong dan membebaskan putera kandungnya dan memberi emas yang cukup untuk bekal hidup pemuda itu, dia lalu kembali ke kota raja dan hatinya merasa lega dan puas.
Tang Gun seorang anak keturunannya yang patut dibanggakan!
Hanya sayang ilmu silatnya tidak begitu tinggi, tidak seperti Hay Hay atau Tang Hay itu.
Teringat akan Tang Hay, diam-diam Si Kumbang Merah bergidik.
Anak itu luar biasa sekali.
Amat lihai dan memiliki ilmu sihir yang mengerikan pula.
Dan timbul kekhawatiran di dalam hatinya bahwa anak kandungnya yang satu itu sekali waktu akan dapat menemukannya!
Akan mampukah dia menandingi anaknya itu?
Akan mampukah dia menyelamatkan dirinya?
"Aku tidak perlu takut!"
Akhirnya dia mengeluh.
Bukankah tidak seorangpun di antara mereka, juga Tang Hay sendiri tidak, mengetahui bahwa dia kini telah menjadi seorang panglima di istana?
Panglima, komandan seluruh pasukan pengawal yang amat kuat!
Apa artinya musuh-musuh dari golongan para pendekar itu?
Dalam kedudukannya sekarang, mereka takkan mampu berbuat sesuatu!
Dan mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An menikmati kehidupannya yang baru.
Seorang panglima yang ditakuti dan disegani, yang memiliki kekuasaan di istana, luar dan dalam.
Dialah pengatur semua penjagaan, dialah yang bertanggung jawab akan keamanan dan keselamatan istana, akan keamanan dan keselamatan kaisar sekeluarganya!
Dia berkedudukan.tinggi dan terhormat, juga hidup dalam kemewahan.
Sebentar saja dalam gedungnya yang megah dimeriahkan dengan adanya belasan orang pelayan wanita yang muda-muda, yang cantik-cantik.
Bahkan karena pengalamannya dalam urusan wanita, Si Kumbang Merah memilih gadis-gadis yang cantik dan dengan segala macam sifat dan pembawaan, ada sesuatu yang khas dan menjadi daya tarik bagi setiap para pelayan itu.
Dipilihnya dengan teliti sehingga sebentar saja para pejabat tinggi di kota raja mendengar atau melihat sendiri bahwa panglima baru ini mempunyai gadis-gadis pelayan yang hebat, yang tidak kalah dibandingkan dengan para dayang di istana kaisar!
Sudahkah Si Kumbang Merah Tang Bun An merasakan bahagia dalam hidupnya?
Apakah dia kini sudah puas dengan keadaan hidupnya yang baru, di mana dia bergelimang dengan kehormatan, kekayaan dan kemuliaan?
Orang-orang menghormatinya, rumahnya besar dan dilayani pelayan-pelayan wanita yang muda-muda lagi cantik, dijaga pasukan pengawal dan hidup sebagai seorang pembesar yang otomatis menjadi bangsawan yang kaya raya.
Bahagiakah hidupnya?
Senang memang.
Namun, kesenangan bukanlah kebahagiaan.
Kesenangan hanya merupakan keadaan sepintas saja, selewat saja, bahkan ada kesenangan yang umurnya amat pendek.
Setelah saat senang itu lewat, maka muncullah kebosanan dan kekecewaan.
Kesenangan hanya sekedar pemuasan nafsu keinginan.
Setelah tercapai, maka kepuasan itupun hanya sekelumit dan!
baru terasa bahwa apa yang dicapainya itu, kesenangan yang diidamkannya itu, tidaklah sebesar ketika dikejarnya.
Kesenangan hanyalah muka yang lain dari kesusahan, ada suka tentu ada duka, ada puas tentu ada kecewa.
Kesenangan hanya merupakan permainan perasaan yang dikuasai nafsu.
Adapun kebahagiaan bukanlah keadaan badan, melainkan keadaan jiwa!
Keadaan jiwa yang bebas dari pada cengkraman nafsu.
Jiwa yang tidak lagi terbungkus dan tertutup nafsu, jiwa yang sudah terbuka, sudah bersatu dengan Tuhan!
Dan hanya kekuasaan Tuhan saja lah yang akan mampu membersihkan jiwa dari kurungan nafsu!
lkhtiar manusia melalui pikiran dan akal budi tidak mungkin menundukkan nafsu, karena pikiran dan akal budipun sudah bergelimang nafsu.
Tidak mungkin nafsu menundukkan nafsu.
Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jjwa yang bergelimang nafsu, atau jiwa yang tertutup oleh kekuasaan gelap, kekuasaan nafsu yang memikat manusia dengan segala macam bentuk kesenangan badani atau kesenangan pikiran dan hati.
Panca indera, pikiran, hati dan akal budi hanyalah alat pelengkap hidupnya jiwa dalam badan.
Namun sungguh sayang, karena badan diperalat nafsu dan daya rendah, maka jiwa seperti tertutup dan terbungkus.
Bagaimana mungkin kita membersihkan jiwa kita, betapa mungkin kita menundukkan nafsu kalau "kita"
Ini sudah bergelimang dengan nafsu?
Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jiwa kita, dan satu-satunya ikhtiar yang dapat kita lakukan hanyalah menyerah kepada Tuhan Yang Maha Kasih!
Penyerahan yang berarti keimanan yang mutlak, penyerahan total, dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan.
Orang seperti Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah manusia yang tidak mau mengenal Tuhan, tidak mau mengakui bahwa ada Yang Maha Kuasa di alam semesta ini.
Dia mengira bahwa dirinya adalah sang penentu bagi dirinya sendiri, baik buruk berada di telapak tangannya.
Orang seperti inilah yang akhirnya akar terpeleset, tersesat ke dalam lembah ke-jahatan, tanpa merasa bahwa dia tersesat.
Baru kalau sudah tertimpa malapetaka sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, orang seperti ini mengeluh, mencari-cari sasaran untuk dijadikan biang keladi malapetaka itu, untuk dijadikan kambing hitam melempar kesalahannya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Tuhan, selalu menyombongkan diri sendiri kalau berhasil, dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain kalau gagal.
Sebaliknya, orang yang percaya kepada kekuasaan Tuhan, dalam keadaan berhasil dengan rendah hati dia berterima kasih atas berkah Tuhan, dalam keadaan gagal dia mohon pengampunan atas segala kesalahannya kepada Tuhan.
Si Kumbang Merah Tang Bun An hanya sebentar saja merayakan kemenangan dan keberhasilannya, seolah-olah mabok dalam keberhasilannya.
Namun, segala kesenangan yang diraihnya melalui nafsu yang dilampiaskan tanpa batas lagi, hanya sebentar saja terasa nikmat olehnya.
Dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah mulai merasa bosan!
Belasan orang pembantu wanita, gadis-gadis cantik jelita dan manis itu sudah kehilangan daya tarik baginya, bagaikan sekumpulan bunga yang sudah tidak menarik lagi bagi seekor kumbang yang sudah menghisap madu bunga-bunga itu sampai sepuasnya.
Mulailah matanya menjadi jalang mencari-cari bunga lain!
Si kumbang Merah yang tadinya merasa bosan dengan cara hidupnya yang liar, dan merindukan kekuasaan dan kedudukan yang akan mendatangkan kemuliaan dan kemewahan, kini setelah memperoleh semua itu, bahkan rindu akan cara hidupnya yang lalu!
Dan sekali ini, dia tidak perlu lagi mencari-cari ke kota-kota atau dusun-dusun seperti dahulu lagi.
Kini wanita-wanita cantik seolah-olah berserakan di depan hidungnya!
Betapa tidak?
Dia adalah panglima yang mengepalai pasukan pengawal istana, baik di dalam maupun di luar istana.
Oleh karena itu, para thai-kam pengawal yang selalu berjaga di sebelah dalam istana, di bagian para puteri, juga menjadi anak buahnya.
Dan di dalam istana bagian para puteri itu terdapat banyak wanita pilihan, wanita-wanita tercantik di seluruh negeri!
dan mulailah si kumbang merah beraksi.
Tang Bun An, biarpun usianya sudah lima puluh lima tahun, namun dia menjadi seperti muda kembali, menjadi seekor kumbang merah yang beterbangan di antara bunga-bungan yang sedang mekar dengan indahnya di taman istana, hinggap dari satu ke lain kembang untuk menghisap madu manis sepuas hatinya!
Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tentu saja dengan mudah Si Kumbang Merah menyelinap ke dalam kamar seorang selir atau dayang tanpa di ketahui orang lain.
baginya, tidak peduli wanita itu selir kaisar, atau bahkan puteri kaisar, atau dayang, asal muda dan cantik, tentu akan di rayunya.
dia memang pandai merayu wanita, rayuan maut yang membuat setiap orang wanita menjadi lemas dan bertekuk lutut, menyerahkan diri tanpa melawan lagi, bahkan dengan suka rela, dengan kehausan seorang wanita yang menjadi isteri atau selir kaisar dengan puluhan orang saingan!
Dalam waktu beberapa bulan saja, hampir seluruh selir dan dayang telah membiarkan diri dihisap oleh Si kumbang Merah.
Bahkan banyak pula gadis puteri kaisar yang menyerah!
Namun, Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah seorang pria yang berpengalaman dan cerdik sekali.
Dia tidak lagi berani melakukan paksaan atau pemerkosaan terhadap wanita di dalam istana seperti dahulu seringkali dia lakukan ketika dia masih liar sebagai Ang-hong-cu yang ditakuti orang.
Tidak, dia tidak ingin mengorbankan kedudukannya.
Dia berlaku hati-hati dan hanya merangkul wanita yang menanggapi rayuannya sehingga selalu terjadi hubungan yang suka sama suka.
Dia kini dapat menjaga pula agar jangan sampai ada puteri kaisar yang masih gadis menjadi hamil karena perjinaan mereka.
Dan diapun tidak mau jatuh cinta seperti Tang Gun yang dianggapnya bodoh.
Hubungannya dengan para wanita itu hanyalah hubungan nafsu semata, saling meminta dan memberi, setelah itu, habis sudah, tidak ada kaitan dalam hati.
Tidak lama kemudian, para selir dan dayang yang menjadi kekasihnya telah menjadi sekutunya.
Mereka itu beramai-ramai selalu melindungi dan menyembunyikan rahasia Si Kumbang Merah.
Bagi mereka, Tang-ciangkun yang satu ini sungguh merupakan seorang pria yang amat menyenangkan!
Dan, mereka semua tahu bahwa sekali rahasia itu terbuka, bukan hanya panglima jantan itu yang, celaka, akan tetapi mereka semuapun akan menjadi korban.
Mereka masih teringat akan nasib selir Hwee Lan dan dayang A Sui, dan mereka tidak ingin menjadi nikouw!
Karena hampir semua selir dan dayang terlibat, maka Si Kumbang Merah merasa aman.
Bunga-bunga harum itu bukan hanya menyerahkan madu manis kepadanya, bahkan melindunginya pula.
Betapapun juga, masih ada juga satu hal yang kadang mengkhawatirkan hati Si Kumbang Merah, yaitu permaisuri!
Berusia empat puluh tahun lebih yang masih nampak cantik dan amat berwibawa ini merupakan ganjalan dan juga merupakan ancaman bahaya bagi dia dan semua kekasihnya di dalam harem kaisar itu.
Permaisuri ini anggun dan juga angkuh.
Sebagai seorang pria yang berpengalaman dia maklum bahwa tidak mungkin merayu dan menundukkan hati seorang wanita seperti permaisuri itu.
Kalau saja tarikan mulutnya tidak sekeras itu, atau pandang matanya tidak setajam dan sedingin itu, mau rasanya dia mencoba merayu sang permaisuri.
Walaupun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun ia juga merupakan seorang wanita yang amat menarik, setangkai bunga yang sama sekali belum layu.
Namun, Ang-hong-cu Tang Bun An tidak berani mencoba hal ini karena sekali gagal, dia akan celaka.
Walaupun dia mampu melarikan diri andaikata terjadi sesuatu, yang jelas dia akan kehilangan kedudukannya dan akan menjadi seorang buruan pemerintah.
Berat!
Kekhawatiran Ang-hong-cu memang tidak meleset.
Diam-diam, permaisuri yang juga memiliki kecerdikan itu telah dapat "mencium"
Bau rahasia ketidakberesan yang terjadi di dalam istana bagian puteri itu.
Biarpun para selir dan dayang, juga para thai-kam (pria kebiri) pengawal yang bertugas di sana semua membantu Ang-hong-cu, namun ada beberapa orang thai-kam yang menjadi orang-orang kepercayaan sang permaisuri!
Mereka inilah yang membocorkan rahasia itu kepada permaisuri!
Ketika permaisuri mendengar bahwa banyak selir dan dayang yang telah "mengotori"
Istana dengan perbuatan jina mereka dengan Panglima Tang, diam-diam permaisuri marah bukan main.
"Hemm, pelacur-pelacur itu...!"
Ia mengepal tangannya.
"Awas, akan kubongkar semuanya!"
Sang permaisuri tidak berani melapor begitu saja kepada suaminya, yaitu kaisar, tanpa adanya bukti yang nyata.
Kaisar harus dapat menangkap basah mereka itu, dan hal itu tentu saja dapat diatur, dengan bantuan para thai-kam pengawal yang menjadi para pembantunya yang setia!
Demikianlah, diam-diam permaisuri yang cerdik ini telah mengatur siasat bersama para pembantunya yang setia.
Dan bagaikan seekor laba-laba betina, ia telah menenun sarang yang penuh jebakan dan perangkap.
Hal ini dilakukan penuh rahasia sehingga sama sekali tidak mencurigakan Si Kumbang Merah dan para wanita yang menjadi kekasih Ang-hong-cu itu.
Pada suatu malam, seperti biasa Si Kumbang Merah berada di kamar seorang selir kaisar.
Selir itu masih muda, tidak lebih dari tiga puluh tahun usianya, cantik jelita dan amat menarik, juga merupakan seorang di antara para selir yang tersayang oleh kaisar.
Seperti biasa pula, dayang selir itu yang juga sudah menjadi kekasih Si Kumbang Merah, melayani mereka berdua yang berpesta pora di dalam kamar.
Ang-hong-cu Tang Bun An demikian mabok kesenangan sehingga setelah lewat tengah malam, diapun sudah tertidur nyenyak dalam kamar itu, dalam pelukan kekasih-kekasihnya.
Sama sekali dia tidak tahu bahwa gerak-geriknya sejak memasuki bagian puteri itu telah diamati oleh para thai-kam pengawal yang menjadi mata-mata permaisuri.
Untunglah bahwa selama ini Ang-hong-cu bersikap baik dan royal sekali kepada para pengawal.
Para thai-kam pengawal yang tidak menjadi mata-mata permaisuri, masih setia kepada Ang-hong-cu.
Panglima Tang ini merupakan seorang atasan yang royal dengan hadiah, bahkan suka pula mengajarkan satu dua jurus ilmu silat tinggi kepada mereka.
Maka, sebelum jerat yang dipasang sang permaisuri mengena, pintu kamar selir itu telah digedor dari luar oleh beberapa orang pengawal yang setia kepada Ang-hong-cu.
"Ciangkun..., caingkun...cepat buka pintu!"
Kata mereka.
Tentu saja Si Kumbang Merah terkejut, apa lagi ketika dia membuka pintu dan mendengar laporan seorang anak buahnya yang setia.
"Ciangkun, celaka sekali. Entah apa yang terjadi, tahu-tahu Sri Baginda datang berkunjung, dan anehnya, semua jalan keluar telah dijaga oleh para pengawal kepercayaan Sang Permaisuri! Agaknya rahasia ciangkun telah ada yang membocorkan. Cepat, mereka akan menuju ke sini!"
Setelah berkata demikian, para pengawal itu cepat mengundurkan diri karena tentu saja mereka tidak ingin terlibat.
Mendengar laporan itu, selir dan dayangnya sudah menangis dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan.
Akan tetapi Si Kumbang Merah tenang saja, lalu menutupkan pintu kamar itu, dan merangkul selir itu, berbisik.
"Kau pura-pura sakit, berselimut!"
Dan kepada dayang itu, diapun berkata.
"Engkau merawat majikanmu, memijat-mijat kakinya dan laporkan bahwa sejak sore tadi, majikanmu merasa pening dan badannya lesu. Kalian berdua bersikap tenang saja, dan pura-pura kaget kalau ada yang menggedor pintu. Mengerti?"
Setelah berkata demikian, Si Kumbang Merah mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya dan mulailah dia berhias muka.
Sebentar saja, mukanya telah berubah menjadi muka seorang wanita setengah tua!
Dayang itu membantunya dengan pakaian yang lusuh dan tua, dan kini diapun telah menjadi seorang wanita tua yang berwajah lembut!
Dan (Lanjut ke
Jilid 11) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 sekali berkelebat, dia sudah keluar dari jendela kamar itu.
Daun jendela ditutup kembali oleh sang dayang.
Tak lama kemudian, benar saja pintu kamar itu digedor dari luar, keras sekali.
"Cepat buka pintu! Perintah Sri Baginda!"
Terdengar teriakan itu.
Karena perasaan takut, selir itu menggigil ketakutan, mukanya pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
la bersembunyi ke dalam selimut, dan dayangnya segera membuka daun pintu itu, dengan perasaan takut yang ditahan-tahan pula.
Setelah daun pintu dibuka dan ia melihat Sri Baginda Kaisar di ambang pintu, dayang itu lalu menjatuhkan diri berlutut.
Kaisar tidak memperhatikan dayang itu, melainkan memandang ke seluruh kamar dengan sinar mata penuh selidik, lalu bertanya.
"Apa yang dilakukan majikanmu?"
"Ampun..., nyonya... nyonya sedang sakit, sejak sore tadi terus tiduran..., hamba merawatnya..."
Mendengar ini, kaisar cepat melangkah mendekati pembaringan, lalu menyingkap kelambu.
Dia melihat selir terkasih itu rebah terlentang, mukanya pucat, tubuhnya menggigil.
"Engkau sakit...?"
Kaisar meraba dahi dan lehernya dan mendapat kenyataan betapa tubuh itu panas dingin dan basah oleh keringat.
"Ah, engkau benar sedang sakit. Tidurlah, besok biar diberi obat oleh tabib istana,"
Kaisar menutup kembali kelambu dan keluar dari kamar itu dengan wajah bersungut-sungut.
Permaisuri tadi menyindirkan bahwa mungkin kini terulang kembali peristiwa Hwee Lan, dan kaisar dipersilakan untuk berkunjung ke kamar selir itu lewat tengah malam.
"Kalau tidak ada pria di sana, tentu pria itu telah melarikan diri dan harus dicari sampai dapat, Jangan sampai nama baik paduka menjadi ternoda aib oleh peristiwa tak tahu malu seperti itu."
Demikian sang permaisuri berkata.
Dengan hati dipenuhi perasaan cemburu, kaisar lalu melakukan pemeriksaan lewat tengah malam, membawa pasukan pengawal yang dipilih oleh permaisuri.
Akan tetapi, ternyata kamar itu kosong dan selir terkasih yang dituduh menyimpan .kekasih itu malah rebah dalam keadaan sakit!
"Geledah seluruh kamar di sini, cari dan tangkap kalau sampai terdapat seorang asing!"
Demikian perintah kaisar yang merasa penasaran, Lalu dia sendiri hendak mencari permaisuri di dalam kamarnya, untuk menegur permaisurinya itu kalau memang ternyata tidak ditemukan sesuatu.
Untuk itu, dia telah membuang waktu dan tidak tidur, semua untuk percuma saja!
Akan tetapi, di kamar permaisuri terjadi hal yang amat aneh.
Ketika permaisuri sedang rebah sambiltersenyum-senyum penuh kemenangan, membayangkan betapa selir itu tentu ditangkap dan dijatuhi hukuman, dan dayangnya terkasih sedang memijati kakinya sambil mengantuk, tiba-tiba saja nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di kamar itu telah berdiri seorang wanita setengah tua.
Dayang itu hendak berteriak, akan tetapi wanita itu telah meraba tengkuknya dan iapun menjadi lemas tak mampu berteriak atau bergerak lagi.
"Wanita itu lalu merenggut gelang yang dipakai oleh dayang itu, memasukkannya ke dalam saku bajunya. Kemudian dia menghampiri permaisuri yang juga sudah bangkit duduk dan memandang dengan mata terbelalak. Melihat permaisuri itu hendak menjerit pula, nenek yang bukan lain adalah Si Kumbang Merah cepat berbisik.
"Harap jangan berteriak kalau paduka sayang akan nyawa paduka! Dengar baik-baik, hamba adalah seorang laki-Iaki... sstt, paduka tidak perlu takut. Hamba tidak akan mengganggu paduka, dan malam ini paduka harus melindungi hamba. Hamba akan berada di sini, dan paduka katakan kepada Sri Baginda bahwa hamba adalah seorang ahli pijat yang sengaja paduka panggil ke sini. Ingat, kalau paduka membuka rahasia, hamba ketahuan kalau hamba laki-Iaki, hamba akan membuat pengakuan bahwa hamba adalah kekasih paduka."
Sepasang mata itu terbelalak, apa lagi pada saat itu tangan Si Kumbang Merah bergerak cepat dan tahu-tahu kalung yang berada di lehernya telah dirampas oleh "nenek"
Itu.
"Kalung ini, seperti juga gelang dayang ini, akan menjadi bukti bahwa hamba telah menjadi kekasih paduka yang paduka selundupkan ke dalam kamar ini."
"Kau... kau tak tahu malu, hendak melempar fitnah kepadaku! Siapakah engkau sesungguhnya?"
"Tidak perlu paduka tahu, hamba hanya minta agar malam ini dilindungi dan besok diperbolehkan keluar dengan aman atau... nama baik paduka akan ternoda. Semua orang akan percaya kepada hamba, dan semua selir akan suka bersumpah bahwa hamba adalah kekasih paduka!"
"Ihhh...! Kau... kau... jahanam yang menodai istana, berjina dengan para selir dan dayang itu! Engkau Tang-ciangkun!"
Wanita bangsawan itu tiba-tiba menjadi pucat.
"Kau jangan kau berani menggangguku! Aku akan menjerit, aku akan bunuh diri, aku..."
"Jangan khawatir. Hamba tidak akan mengganggu paduka. Hambapun tidak pernah mengganggu para selir dan dayang. Bahkan hamba menolong mereka yang kehausan..."
"Tutup mulutmu yang kotor!"
"Sekali lagi, kalau paduka membuka rahasia hamba, maka hamba pasti akan bersumpah menjadi kekasih paduka. Mungkin hamba akan dihukum mati, akan tetapi nama paduka akan menjadi cemar sampai tujuh turunan!"
Pada saat itu terdengar suara di luar dan Si Kumbang Merah cepat membebaskan totokan pada dayang itu dan berbisik.
"Engkau sudah mendengar semuanya. Hayo kau tidur di sudut sana, dan kau akui bahwa aku adalah seorang ahli pijat yang dipanggil oleh majikanmu!"
Dayang itu hanya mampu mengangguk-angguk dan cepat dia merebahkan diri di sudut kamar itu dan pura-pura tidur.
Ia takut bukan main, akan tetapi iapun tahu bahwa seperti juga majikannya, ia telah berada dalam cengkeraman pria yang menyamar sebagai wanita itu, pria yang ia tahu adalah Tang Ciangkun!
Gelangnya telah dirampas dan kalau pria itu tertangkap lalu membuat pengakuan bahwa dia telah menerima gelang itu sebagai hadiah dari kekasih, tentu ia akan celaka, akan di gunduli dan di paksa menjadi ni-kouw!
Ketika kaisar memasuki kamar permaisurinya dengan wajah muram dan bersungut-sungut karena hatinya tidak senang, dia merasa heran melihat seorang wanita setengah tua memijati pinggul permaisurinya.
Dapat di bayangkan betapa marah rasa hati permaisuri itu ketika "nenek"
Itu memijati pinggulnya dengan tekanan-tekanan kedua tangannya, hangat dan mesra.
akan tetapi terpaksa ia menekan kemarahannya, dan harus diakuinya bahwa tekanan-tekanan itu memang pijitan seornag ahli dan otot-otot pinggul dan punggungnya terasa nyaman!
Wanita setengah tua itu cepat berlutut ketika kaisar memasuki kamar dan mendekati pembaringan.
"Hemm, siapakah wanita ini?"
Kaisar bertanya kepada permaisurinya yang sudah bangkit dan memberi hormat pula kepadanya.
Si Kumbang Merah yang masih berlutut itu sudah bersiap-siap untuk meloncat dan melarikan diri kalau permaisuri itu membuka rahasianya.
Akan tetapi, hatinya lega ketika permaisuri itu menjawab dengan suara sambil lalu.
"Ah, ia adalah seorang ahli pijat dari luar istana yang kabarnya amat pandai. Karena hamba merasa lelah dan tidak enak badan, maka hamba memanggilnya ke sini dan memang ia pandai sekali.
"Permaisuri lalu menggandeng tangan kaisar, dibawanya duduk di atas kursi kesukaan Sri Baginda, di dekat meja. Dengan lembut ia lalu bertanya.
"Bagaimanakah dengan penyelidikan paduka?"
"Hemm, tidak kutemukan siapa-siapa di kamarnya. Malah ia rebah dalam keadaan sakit! Engkau agaknya hanya menduga yang bukan-bukan saja!"
Permaisuri itu lalu memberi hormat dan berkata dengan suara lembut.
"Kalau begitu, ampunkan hamba. Sesungguhnya hamba selalu merasa khawatir kalau sampai terulang kembali peristiwa seperti yang dilakukan oleh Hwee Lan. Hamba khawatir, kalau sampai nama besar paduka ternoda."
"Hemm, jangan bicara dulu kalau belum ada bukti yang nyata. Engkau hanya mengganggu pikiranku saja, dan aku menjadi lelah karena kurang tidur. Ah, benarkah ia pandai memijit? Biar kau suruh ia memijati tubuhku yang lelah sekali,"
Kata Kaisar sambil menuding ke arah wanita setengah tua yang masih berlutut di atas lantai.
Tentu saja permaisuri merasa khawatir sekali, akan tetapi iapun tidak berani membantah karena khawatir kalau rahasia nenek itu ketahuan.
Maka, terpaksa ia lalu membereskan pembaringan dan setelah membantu kaisar rebah di atas pembaringan, ia lalu menyuruh nenek itu memijati tubuh kaisar .
Akan tetapi, Si Kumbang Merah sama sekali tidak merasa khawatir.
Dia adalah seorang ahli silat tinggi, pandai ilmu menotok jalan darah dan sudah hafal akan kedudukan otot-otot dan urat-urat, tahu benar cara pengobatan dengan urut dan pijit.
Maka, tanpa ragu-ragu iapun lalu memijati tubuh kaisar, dimulai dari kedua kaki, terus naik ke pinggul, punggung, kedua lengan dan leher.
Lega rasa hati permaisuri ketika mendengar Sri Baginda mengeluarkan kata-kata memuji dan merasa keenakan, bahkan tak lama kemudian Sang Kaisar telah tertidur amat nyenyaknya!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, permaisuri menyuruh Si Kumbang Merah menghentikan pijitannya.
"Engkau boleh pergi sekarang, biar diantar keluar oleh pengawal kepercayaanku,"
Katanya.
Si Kumbang Merah tersenyum, memberi isarat berkedip kepada permaisuri dan dayangnya, lalu memberi hormat dan mengikuti dua orang thai-kam pengawal yang telah diberi perintah oleh permaisuri itu.
Dengan aman, karena dikawal oleh dua orang thai-kam pengawal kepercayaan permaisuri, dia telah keluar dari daerah terlarang itu.
Sejak terjadinya peristiwa itu, Si Kumbang Merah semakin leluasa mengaduk-aduk daerah terlarang itu, bagaikan seekor kumbang yang dengan bebasnya beterbangan di antara bunga-bunga pilihan di taman istana, menghisap madu dari satu ke lain kembang sesuka hatinya!
Permaisuri sama sekali tidak berdaya, bahkan permaisuri itu sudah merasa berterima kasih bahwa Si Kumbang Merah tidak memaksa ia untuk menjadi kekasihnya pula!
Akan tetapi dayangnya tidak terlepas dari sengatan kumbang merah yang nakal itu.
Kini bahkan para thai-kam pengawal yang tadinya setia kepada permaisuri, semua telah tunduk di bawah kekuasaan Si Kumbang Merah dan tentu saja hal inipun terjadi melalui sang permaisuri yang tidak berdaya di bawah ancaman Si Kumbang Merah yang telah menguasainya dengan menyimpan kalung dan beberapa barang perhiasan lainnya.
Benda-benda ini merupakan senjata ampuh, mernbuat sang permaisuri bertekuk lutut tidak berdaya karena sekali saja Si Kumbang Merah memperlihatkannya kepada orang lain dan mengatakan bahwa dia menerima dari sang permaisuri sebagai hadiah tentu istana, bahkan seluruh negeri akan geger!
Tentu nama permaisuri itu akan terseret ke dalam lumpur sebagai seorang permaisuri yang menyimpan seorang kekasih gelap!
Kita tinggalkan dulu Si Kumbang Merah Tang Bun An yang sedang mabok kesenangan dan menjadi seperti ayam jantan tunggal di antara ayam ayam betina di harem kaisar!
Dia telah kembali kepada kehidupannya yang dulu lagi, walaupun terdapat banyak perbedaan.
Dahulu, dia suka merusak wanita, memperkosa, membunuh, meninggalkannya setelah wanita itu mengandung, di dalam hati dia mentertawakan wanita yang pada dasarnya menimbulkan rasa dendam kebencian kepadanya.
Kini, dia agaknya hanya menuruti nafsu, mencari senang tanpa rasa benci kepada wanita-wanita itu.
Kita tinggalkan dulu tokoh itu dan mengikuti perjalanan seorang di antara puteranya, yaitu Tang Cun Sek.
Pemuda yang usianya sudah tiga puluh tahun itu setelah melarikan diri dari Cin-ling-san, lalu mengembara.
Dia seorang pemuda yang tinggi besar dan gagah, wajahnya yang berkulit putih itu nampak tampan.
Sepasang matanya tajam mencorong, sikapnya halus dan dia seorang yang pendiam.
Seperti kita ketahui, Tang Cun Sek juga mengalami nasib yang sama dengan para keturunan Si Kumbang Merah.
Ibunya menyerahkan diri karena rayuan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) itu.
Setelah ibunya mengandung, maka Si Kumbang Merah meninggalkan ibunya, dan tidak pernah muncul lagi.
Ibunya menikah lagi dengan seorang hartawan Thio, menjadi selirnya.
Sebagai anak tiri hartawan Thio, Cun Sek hidup cukup baik, menerima pendidikan dan tidak sampai terlantar.
Namun, dasar dia memiliki watak yang kotor, ketika dia berusia enam belas tahun dia bergaul dengan para pemuda yang tidak karuan dan dia berani berjina dengan dua orang selir ayah tirinya sendiri.
Dia tertangkap basah dan diusir.
Tang Cun Sek pergi setelah berhasil mencuri banyak emas dari gudang harta ayah tirinya.
Akan tetapi, dia amat cerdik sehingga akhirnya, dia berhasil menyelundup ke Cin-ling-pai dan menjadi murid dan anggota perkumpulan para pendekar itu.
Bahkan bukan itu saja, dia mampu merayu dan menundukkan hati kakek Cia Kong Liang sehingga dia disayang dan dari kakek itu dia menerima banyak ilmu silat tinggi dari Cin-ling-pai.
Demikian pandainya dia mengambil hati orang tertua dari Cin-ling-pai itu sehingga dia bukan saja disayang, akan tetapi juga oleh kakek itu dicalonkan sebagai ketua Cin-ling-pai yang baru.
Namun, usahanya menguasai kedudukan ini digagalkan oleh Cia Kui Hong, gadis lihai dan cerdik itu.
sehingga dia bukan saja tidak dapat terpilih menjadi ketua baru Cin-ling-pai, bahkan menderita malu.
Maka, diapun minggat meninggalkan Cin-ling-pai sambil membawa pergi pedang pusaka Hong-cu-kiam, yaitu pedang pusaka dari Cin-ling-pai.
Demikianlah, Cun Sek tidak berani berhenti berlari cepat.
Selama berbulan-bulan dia terus menjauhi Cin-ling-san karena dia maklum bahwa mungkin sekali pihak Cin-ling-pai akan melakukan pengejaran karena dia melarikan pedang pusaka.
Hampir empat bulan telah lewat sejak dia melarikan diri dari Cin-ling-pai dan pada suatu pagi dia tiba di sebuah kota.
Kota Tian-cu-an merupakan sebuah kota yang cukup besar.
Musim panas telah tiba dan hawa udara lumayan panasnya biarpun matahari belum naik terlalu tinggi.
Tang Cun Sek yang semalam tinggal di sebuah kuil To-kauw (Agama To) yang berada di luar kota, memasuki kota dengan sikap tenang.
Dia memiliki banyak uang, sisa dari emas yang dahulu dicurinya dari rumah ayah tirinya, maka dia bersikap tenang, dapat membeli pakaian dalam perjalanan itu dan kini dia memasuki kota Tian-cu-an sebagai seorang pria muda yang berpakaian rapi dan bersih, membawa buntalan kain kuning dan sikapnya seperti seorang terpelajar.
Pedang Hong-cu-kiam yang tadinya merupakan pedang pusaka Cin-ling-pai dan menjadi milik Cia Hui Song, ketua Cin-ling-pai, kini tersimpan di dalam buntalan pakaian itu.
Pedang pusaka Hong-cu-kiam adalah sebatang pedang yang dapat digulung saking tipis dan lenturnya.
Ketika hidungnya mencium bau masakkan sedap yang keluar dari sebuah rumah makan, Cun Sek merasa perutnya lapar sekali.
Dia lalu memasuki rumah makan yang masih belum banyak pengunjungnya itu, dan memesan bubur ayam kepada seorang pelayan.
Ketika dia sedang makan bubur ayam yang sedap dan panas, pendengarannya yang tajam mendengar percakapan yang dilakukan oleh tiga orang laki-laki yang duduk di meja sebelah belakang.
Mereka bercakap-cakap dengan suara lirih, namun cukup jelas bagi pendengaran Cun Sek yang tajam.
"Kita harus berhati-hati sekali. Iblis betina itu lihai bukan main."
"Tentu saja lihai, kalau tidak mana mungkin sute (adik seperguruan) sampai tewas di tangannya."
"Hemm, biarpun begitu, kalau kita bertiga maju, mustahil kita tidak akan dapat membinasakan iblis betina itu,"
Kata orang ke tiga dengan suara penasaran.
"Sstttt!"
Kawannya agaknya memberi isarat sambil memandang ke arah Cun Sek dan tiga orang itu tidak melanjutkan percakapan mereka, Dan pada saat itu pelayan datang membawa pesanan mereka.
Cun Sek melanjutkan makan bubur seolah-olah tidak pernah mendengar percakapan bisik-bisik tadi.
Akan tetapi diam-diam dia memperhatikan.
Tiga orang itu berpakaian seperti orang-orang dari dunia persilatan.
Usia mereka antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan dari gerak gerik mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu silat.
Tubuh mereka nampak kokoh dan gerak gerik merekapun sigap, pandang mata mereka tajam.
Bahkan di balik jubah mereka nampak gagang pedang.
Kalau saja mereka tadi tidak menyebut iblis betina, tentu Cun Sek tidak tertarik dan tidak mau perduli, karena diapun tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
Akan tetapi disebutnya iblis betina membuat dia tertarik.
Siapakah yang mereka maksudkan dengan iblis betina itu dan mengapa seorang wanita disebut iblis?
Karena dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu dan banyak waktu terluang, maka karena hatinya tertarik, dia mengambil keputusan untuk membayangi tiga orang itu dan melihat sendiri siapa sebenarnya iblis betina itu dan wanita macam apa sampai dijuluki iblis betina.
Demikianlah, ketika tiga orang itu meninggalkan rumah makan, tanpa mereka ketahui, mereka dibayangi oleh Cun Sek.
Tiga orang itu keluar dari kota melalui pintu gerbang selatan.
Begitu keluar dari pintu gerbang, mereka lalu mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke sebuah bukit yang tidak jauh dari kota Tian-cu-an, sebuah bukit yang nampak subur penuh hutan lebat.
Ketika tiga orang itu tiba di luar sebuah hutan di lereng bukit itu, mereka berhenti dan seorang di antara mereka bersuit nyaring.
Segera terdengar jawaban, yaitu suitan-suitan yang sama dari berbagai penjuru dan tak lama kemudian dari balik semak belukar, balik pohon-pohon, bahkan ada yang melayang turun dari atas pohon, bermunculan banyak sekali orang yang kesemuanya mengenakan seragam hitam.
Diam-diam Tang Cun Sek terkejut.
tiga orang laki-laki tadi biarpun mungkin lihai, namun belum merupakan lawan yang terlalu tangguh.
Akan tetapi dengan munculnya dua puluh orang lebih ini yang kesemuanya berpakaian hitam-hitam dan sikap mereka bengis dan kejam, sungguh mereka ini merupakan pasukan kecil yang berbahaya.
Makin tertarik hatinya.
Demikian banyaknya orang laki-laki hendak mengeroyok seorang wanita?
Kalau begitu, wanita yang di sebut iblis betina itu tentu luar biasa lihainya.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Cun Sek melayang naik ke atas pohon besar yang amat lebat daunnya, tepat di atas sekumpulan orang itu dan dia dapat mendengarkan dan melihat dengan jelas.
Ada dua puluh empat orang berpakaian seragam hitam, dipimpin oleh seorang pria berusia empat puluh tahun yang mukanya penuh dengan cambang, kumis dan jenggot.
Matanya melotot bengis dan mendengar bahwa orang-orang menyebutnya pangcu (ketua), maka mudah diduga bahwa si brewok itu adalah ketua dari gerombolan orang berseragam hitam itu.
Dan melihat sikap ketua gerombolan seragam hitam itu terhadap tiga orang yang datang dari kota Tian-cu-an tadi, dapat diduga bahwa mereka merupakan sekutu.
Antara ketua dan tiga orang itu nampak hubungan yang saling menghargai, berbeda dengan sikap para anggauta kelompok seragam hitam yang bersikap amat hormat kepada ketua mereka dan juga kepada tiga orang itu.
Karena sejak muda berada di Cin-Iing-pai dan sudah lama tidak berkecimpung di dunia kang-ouw, maka Tang Cun Sek sama sekali tidak tahu bahwa dia telah bertemu de-ngan tokoh-tokoh kangouw yang Kenamaan!
Gerombolan seragam hitam yang pada saat itu berkumpul disitu adalah para anggauta pilihan dari perkumpulan Hek-tok-pang (Perkumpulan Racun Hitam)!
Dari nama perkumpulan ini saja mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang ahli dalam penggunaan racun berbahaya di samping mereka memiliki pula ilmu silat kaum sesat yang amat berbahaya.
Nama Hek-tok-pang mendatangkan perasaan takut pada semua orang yang suka melakukan pelayaran di sepanjang Sungai Kuning, karena mereka itu yang tinggal dilembah Huang ho, Merupakan perkumpulan yang mengangkat diri sendiri sebagai penguasa di sepanjang Huang-ho.
Mereka suka menuntut pajak atau sumbangan dari para pedagang yang menggunakan perahu, dan mereka tidak segan-segan untuk membunuh siapa saja yang berani menentang mereka.
Ketua mereka, yaitu pria yang tinggi besar dan brewok itu bernama Cu Bhok dan terkenal memiliki ilmu silat golok yang amat dahsyat.
Adapun tiga orang yang oleh Cun Sel dibayangi dari kota Tian-cu-an itu pun bukanlah orang-orang sembarangan.
Mereka bertiga itu tadinya berempat dan terkenal dengan julukan mereka Kwi-san su-kiam-mo (Empat setan Pedang dari Kwi-san).
Orang pertama bernama Giam Sun, lalu yang ke dua adik kandungnya bernama Giam Kun.
Orang ke tiga bernama Thio Su It, dan yang keempat bernama Yauw Kwan.
Akan tetapi, karena yang termuda telah tewas di tangan "iblis betina", maka kini mereka hanya tinggal tiga orang saja.
Cun sek yang mengintai dari atas pohon melihat mereka itu mengadakan perundingan di bawah pohon.
Ketua Hek-tok-pang itu bersama tiga orang pria yang dibayanginya tadi bercakap-cakap di bawah pohon sedangkan dua puluh empat orang anggauta Hek-tok-pang lalu menyebarkan diri di sekitar tempat itu, siap untuk melakukan perlindungan dan penjagaan agar jangan sampai ada orang luar mendengarkan percakapan ketua mereka dengan tiga orang tokoh sekutu mereka itu.
sungguh tak seorangpun di antara mereka yang pernah menduga bahwa sejak tadi sudah ada seorang yang nongkrong di atas pohon dan melihat semua kegiatan mereka, bahkan mendengar semua percakapan yang berlangsung di bawah pohon itu.
"Pangcu,"
Kata seorang di antara tiga orang Kwi-san Su-kiam-mo, yaitu orang pertama yang bernama Giam Sun itu.
"Sebelum kita menyerbu ke Bukit Teratai Emas itu, lebih dulu kita harus mengetahui jelas akan kedudukan kita dan sifat kerja sama kita. Pangcu maklum bahwa kita bersama menentang iblis betina itu dengan berbagai alasan, yaitu kami karena terbunuhnya seorang sute kami, dan pangcu karena iblis betina itu pernah merugikan Hek-tok-pang. Akan tetapi kami kira bukan itu yang menjadi alasan terpenting."
"Benar sekali ucapanmu, kawan."
Kata ketua Hek-tok-pang itu dengan suaranya yang berat.
"Selama ini di antara kita tidak pernah ada persekutuan walaupun juga tidak pernah kita saling bertentangan. Kita mengambil jalan masing-masing dan tidak saling mengganggu. Akan tetapi iblis betina itu muncul dan jelas bahwa ia hendak menjagoi, tidak memandang mata kepada pihak lain. Betapapun lihainya, ia hanya seorang perempuan dan kami tentu saja tidak sudi tunduk kepada seorang wanita! Kalau ia tidak dibasmi, tentu hanya akan merendahkan nama besar kita sebagai laki-laki yang gagah perkasa."
Tiga orang itu mengangguk-angguk setuju.
"Akan tetapi, kita harus berhati-hati. Kalau tidak salah perhitungan kami, ia mempunyai banyak pembantu yang pandai. Kalau nanti kita berhasil memancing mereka keluar dari sarang mereka di Kim-lian-san (Bukit Teratai Emas). Harap pangcu dan para saudara Hek-tok-pang menghadapi para pembantunya. Adapun kami sendiri akan menghadapi iblis betina itu."
Setelah mengadakan perundingan, empat orang ini diikuti oleh dua puluh empat anggauta Hek-tok-pang lalu menuruni lereng dan kini mereka menuju ke sebuah bukit lain yang bersambung dengan bukit itu.
Sebuah bukit yang lebih besar dan lebih liar karena penuh dengan hutan-hutan lebat, di mana nampak bagian-bagian yang berbatu, akan tetapi ada pula bagian yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa dan semak belukar penuh duri yang amat liar dan tempat itu tidak pernah didatangi manusia.
Bahkan para pemburu binatang hutanpun agak segan untuk berburu binatang di Bukit Teratai Emas, karena hutan itu memang amat berbahaya.
Apa lagi sejak kurang lebih setahun yang lalu ada desas desus bahwa bukit itu dihuni segerombolan iblis yang amat lihai dan jahat!
Bahkan kini penduduk dusun yang tadinya mencoba memperbaiki nasib dengan membangun dusun di situ dan bertani, beramai-ramai meninggalkan dusun mereka dan pindah ke tempat lain yang lebih aman setelah berkali-kali mereka diganggu oleh iblis-iblis yang amat jahat!
Dengan hati semakin tertarik, Cun Sek membayangi serombongan orang itu dari jauh.
Dia merasa semakin penasaran.
Jelaslah bahwa serombongan orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang hendak menentang orang yang mereka sebut iblis betina.
Tentu seorang wanita yang lihai, yang agaknya juga memiliki anak buah dan mungkin wanita itu dan anak buahnya bersarang di bukit yang bernama Bukit Teratai Emas itu.
Tentu akan ramai, pikirnya, dan tanpa ada keinginan mencampuri urusan itu, dia hanya membayangi untuk menjadi penonton.
Semenjak meninggalkan Cin-ling-pai, dia memang tidak mempunyai tujuan tertentu.
Satu-satunya tujuan perjalanannya hanyalah mencari ayah kandungnya, yaitu seorang tokoh yang menurut ibunya amat lihai dan berjuluk Ang-hong-cu.
Selama ini dia sudah bertanya-tanya, namun biar ada pula orang-orang kang-ouw yang pernah mendengar nama Si Kumbang Merah, namun tak seorangpun mengetahui di mana adanya tokoh yang telah lama tidak pernah muncul di dunia kang-ouw itu.
Akhirnya, menjelang tengah hari, rombongan itu tiba di lereng Bukit Teratai Emas.
Mereka tadi mendaki dengan amat hati-hati, dan setelah tiba di lereng yang terjal, tak begitu jauh lagi dengan puncak .yang nampak tertutup pohon-pohon raksasa, mereka berhenti.
Cun Sek menyelinap dekat dan mengintai dari balik semak belukar.
Dia melihat betapa kini para anggauta Hek-tok-pang jtu menyebar bubuk hitam di antara semak-semak kanan kiri jalan setapak.
Selain bubuk hitam yang disebarkan pada daun dan durj semak-semak, juga ketua mereka menebarkan benda-benda kecil runcing seperti paku berwarna hitam di atas tanah.
Bukan sembarang paku, melainkan benda bulat kecil yang mempunyai banyak duri seperti ujung paku pada permukaannya sehingga ketika disebar di atas tanah, maka ada saja duri runcing yang mencuat ke atas sehingga siapa saja yang lewat di jalan setapak itu tentu akan menginjak benda itu dan karena benda itu runcing sekali, maka mungkin saja dapat menembus sepatu dan melukai kulit telapak kaki!
Dan tahulah Cun Sek bahwa benda runcing itu tentu mengadung racun berbahaya, juga bubuk hitam yang ditaburkan itu tentu racun yang amat jahat!
Hatinya menjadi tegang, dan diam-diam harus diakuinya bahwa orang-orang ini merupakan lawan yang amat curang dan berbahaya sekali.
Setelah menebarkan bubuk hitam pada semak-semak dan benda-benda runcing pada jalan setapak, mereka semua lalu menuruni lereng dan kini di sebelah bawah, tak jauh dari tempat yang ditebari racun itu, Mereka mengumpulkan ranting dan daun kering, lalu membakar setumpuk daun dan ranting kering!
Dan mereka semua bersembunyi di kanan kiri, dekat api yang mereka buat itu, setiap orang siap dengan senjata di tangan!
Cun Sek mengangguk-angguk.
Orang-orang ini sungguh licik.
Agaknya mereka tidak berani menyerbu naik, maka mempergunakan siasat ini.
Mereka membakar tempat itu untuk memancing pihak musuh menuruni puncak, dan sebelum tiba di tempat yang mereka bakar, tentu pihak musuh akan melalui jalan setapak yang telah penuh dengan benda dan bubuk beracun.
Celakalah kiranya pihak musuh yang berada di puncak itu, pikirnya.
Akan tetapi dia tidak ingin mencampuri.
Bukan urusannya.
Dia hanya ingin menjadi penonton dan ada kenikmatan tersendiri di dalam hatinya menonton peristiwa yang menegangkan hati ini.
Tepat seperti yang di duga oleh Cun Sek, tak lama kemudian dari tempat sembunyinya dia melihat lima orang laki-laki berlarian dari atas, turun dari puncak menuju ke tempat kebakaran.
Mreka adalah lima orang laki-laki yang mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan, terbukti dari cara mereka berlari cukup cepat walaupun melalui jalan setapak yang cukup sukar dengan adanya batu-batu yang berserakan.
Kalau tidak hati-hati maka kaki mereka terpeleset dan kalau sampai terjatuh di atas jalan setapak berbatu-batu itu, akan membuat kulit mereka babak belur.
Makin dekat lima orang itu datang ke jalan setapak yang di pasangi racun, makin kencang debar jantung Cun Sek karena tegang.
Sedikitpun dia tidak ingin memperingatkan lima orang itu.
Dia tidak ingin berpihak, karena dia tidak mengenal kedua pihak itu.
Apakah lima orang itu akan mampu menghindarkan diri dari ancaman malapetaka?
Sementara itu, lima orang yang datang dari puncak itu, setelah mereka tiba dekat api yang nampak dari atas, tentu saja mempercepat larinya dan kini mereka memasuki jalan setapak yang telah ditaburi benda berduri tadi.
Dan berturut-turut terdengar mereka itu berteriak kaget, akan tetapi agaknya benda runcing yang menembus sepatu mereka dan melukai telapak kaki, mengandung racun yang amat hebat sehingga sekali berteriak, tubuh mereka terguling dan tentu saja mereka jatuh menimpa benda-benda runcing beracun itu.
Dan begitu terjatuh, mereka tidak dapat bergerak lagi, merintih pun tidak mampu dan nampak beberapa bagian tubuh mereka menjadi hitam!
Dari tempat persembunyiannya, Cun Sek bergidik.
Luar biasa ampuhnya racun hitam itu!
Lima orang itu begitu terjatuh, seketika tewas dan mayat mereka malang melintang menutup jalan setapak.
Pada saat itu, Cun Sek melihat lima bayangan orang berlari cepat menuruni puncak.
Sebentar saja lima sosok bayangan itu telah tiba di situ dan dia melihat bahwa mereka adalah lima orang wanita yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, rata-rata memiliki wajah cantik dan, tubuh yang ramping padat.
Diapun diam saja, hanya memandang penuh perhatian karena dari gerakan mereka itu, dia dapat menduga bahwa mereka lebih lihai dari pada lima orang pertama yang menjadi korban racun.
Apakah mereka akan mampu meloncati tempat yang menjadi perangkap maut itu?
Lima orang itu menghentikan lari mereka dan mereka terbelalak memandang ke arah lima orang yang telah tewas dan malang melintang di jalan setapak itu.
Mereka mengamati ke arah tanah dan saling berbisik.
agaknya mereka maklum bahwa lima orang pria itu menjadi korban benda-benda kecil beracun yang bertebaran di atas jalan setapak.
"Ikut aku!"
Kata seorang di antara mereka dengan nada memimpin.
la lalu mencabut pedang, menggunakan pedangnya untuk membacok putus dua batang ranting pohon.
Teman-temannya meniru perbuatannya dan kini masing-masing memegang dua buah kayu ranting yang besarnya selengan tangan mereka, Kemudian, didahului oleh pemimpin mereka, lima orang wanita itu menggunakan dua batang kayu untuk menyeberangi jalan setapak yang penuh dengan benda-benda runcing beracun itu tanpa menyentuhkan kaki ke atas tanah.
Akan tetapi begitu mereka melewati jalan setapak itu, melangkahi lima sosok mayat yang malang melintang dan mereka tiba di seberang jalan berbahaya itu, mereka mengaduh-aduh dan lima orang wanita itupun terpelanting jatuh dari atas dua batang tongkat yang tadi mereka pergunakan untuk menyeberang sebagai pengganti kaki.
Cun Sek tidak merasa heran.
Lima orang wanita itu ternyata memang dapat menghindarkan kaki mereka tertusuk benda runcing dan keracunan, namun mereka tidak tahu bahwa semak-semak di kanan kiri jalan itu telah disebari bubuk hitam beracun.
Ketika mereka lewat, tangan mereka terkena daun-daun yang sudah mengandung racun, maka ketika tiba di seberang, mereka merasa betapa kedua tangan mereka gatal dan panas.
Rasa gatal dan panas itu menjalar ke seluruh tubuh dan lima orang wanita itu bergulingan, menggunakan kedua tangan untuk mencakari tubuh sendiri sehingga pakaian mereka koyak-koyak dan mereka berlima itu sampai telanjang bulat, namun tidak berhenti menggaruk dan tubuh mereka segera penuh dengan guratan merah dan hitam.
Mereka itu tewas dalam keadaan tersiksa sekali, tidak seperti lima orang pria tadi yang tewas seketika.
Lima orang wanita itu sebelum tewas menderita siksaan rasa gatal dan panas yang menjalar dari tangan mereka yang terkena bubuk racun sampai ke seluruh tubuh!
Kembali Cun Sek bergidik ngeri.
Sungguh hebat sekali!
Sungguh bukan main kejamnya orang-orang Hek-tok-pang itu!
Akan tetapi dia tetap hanya menjadi penonton dan tinggal tidak berpihak.
Akan tetapi kini dia semakin tertarik.
Agaknya yang menjadi korban racun itu, lima orang pria dan lima orang wanita, hanyalah anak buah saja.
Agaknya rombongan yang masih bersembunyi itu menunggu musuh mereka yang tadi mereka sebut-sebut, yaitu iblis betina!
Dan Cun Sek sendiripun ingin sekali, tahu bagaimana macamnya iblis betina itu dan bagaimana lihainya sehingga dua puluh delapan orang itu bersembunyi dengan senjata di tangan, agaknya siap untuk mengeroyok musuh yang ditunggu-tunggu itu.
Ketika Cun Sek memperhatikan tiga orang yang dibayanginya dari kota tadi, tiba-tiba dia melihat mereka itu menuding ke arah puncak bukit dan sikap mereka tegang.
Diapun cepat memandang ke arah puncak dan nampaklah sesosok bayangan seperti terbang cepatnya lari menuju ke tempat itu.
Dia merasa betapa hatinya tegang sekali.
Agaknya itulah orang yang mereka nanti-nanti, yang disebut iblis betina!
Tentu orangnya menakutkan, seperti iblis, mungkin sudah nenek-nenek, yang lihainya bukan main.
Akan tetapi, semakin dekat sosok tubuh itu, semakin terbelalak lebar mata Cun Sek!
Apalagi setelah wanita itu tiba di dekat jalan setapak yang beracun, dan memandangi mayat lima orang pria dan lima orang wanita di seberang jalan, Cun Sek melongo.
Ia seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh tahun.
Pakaiannya serba indah dan mewah sehingga nampak ganjil sekali seorang wanita berpakaian seindah itu berada di dalam hutan!
Dan cantiknya!
Bentuk tubuhnya!
Seorang wanita yang sudah matang dan penuh daya tarik, menggairahkan!
Kalau saja tidak nampak gagang sepasang pedang di balik pundaknya, tentu tidak akan ada orang dapat menduga bahwa wanita cantik yang lemah-gemulai ini adalah seorang ahli silat yang amat pandai!
Wajah itu bulat dan kulitnya putih kemerahan masih ditambah cantik oleh bedak dan pemerah pipi dan bibir.
Pandang matanya amat tajam, dan kerlingnya demikian memikat sehingga akan sukar ditemukan pria yang akan mampu bertahan kalau disambar kerling mata seperti itu.
Begitu melihat wanita itu, seketika timbul rasa sayang dan suka dalam hati Cun Sek dan tanpa ditanya lagi, otomatis hatinya sepenuhnya berpihak kepadanya!
Oleh karena itu, melihat wanita itu agaknya ragu-ragu dan hendak menyeberang melalui jalan setapak yang mengandung ancaman maut itu, tanpa disadarinya sendiri dia lalu berseru.
"Hati-hati, nona! Jangan lewat jalan itu, tanah dan semak-semaknya telah ditaburi racun jahat!"
Tiba-tiba wanita itu meloncat ke samping, tinggi sekali dan bagaikan seekor burung terbang, tubuhnya sudah melayang dan hinggap di atas cabang pohon, terus diayunnya tubuhnya itu sehingga melayang ke atas lagi, hinggap lagi di cabang lain dan demikian seterusnya sehingga dalam waktu beberapa detik saja ia telah hinggap di atas cabang pohon di depan Cun Sek!
Cun Sek memandang terbelalak kagum bukan main.
Wanita itu ternyata bukan saja cantik manis, akan tetapi juga memiliki ginkang yang demikian hebatnya sehingga nampaknya seperti seekor burung yang amat indah, yang kini berdiri di atas cabang sambil memandang kepadanya dengan sinar matanya yang jeli indah dan mulutnya yang tersenyum manis.
"Siapakah engkau dan mengapa engkau memperingatkan aku tentang bahaya racun itu?"
Wah, bukan hanya wajahnya cantik tubuhnya menggairahkan, sinar mata dan senyumnya memikat, juga suaranya amat merdu.
Tanpa menyembunyikan kekaguman dari pandang matanya, Cun Sek menjawab sambil tersenyum.
"Tadinya aku memang hanya menjadi penonton, tidak akan mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, melihat engkau yang begini cantik jelita terancam bahaya maut yang demikian mengerikan, aku merasa tidak tega dan tanpa kusadari aku telah berteriak memberi peringatan."
Di dalam hatinya dia masih merasa heran mengapa yang muncul seorang wanita yang demikian cantiknya.
Bukankah yang dinanti oleh orang-orang di bawah itu adalah seorang iblis betina?
Kini, dua puluh delapan orang itu sudah bermunculan dari tempat persembunyian mereka dan kini mereka sudah siap dengan senjata di tangan.
Terdengar raksasa brewok tadi berteriak sambil mengacungkan golok besarnya ke arah pohon.
"Iblis betina, turunlah! Mari kita membuat perhitungan!"
"Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), bersiaplah engkau untuk menebus nyawa sute Yauw Kwan!"
Orang pertama dari Kwi-san Su-kiam-mo juga berteriak sambil menudingkan pedangnya ke arah wanita yang masih di atas cabang pohon itu.
Kini Cun Sek semakin kaget.
Kiranya benar wanita ini yang disebut Iblis Betina.
Wah, bagi dia, wanita ini lebih pantas disebut bidadari kahyangan!
Semua penilaian melahirkan pendapat yang palsu, karena penilaian selalu didasari perhitungan untung rugi si penilai.
Kalau yang dinilai itu menguntungkan, berarti menyenangkan, tentu dinilainya baik, sebaliknya kalau merugikan atau tidak menyenangkan dinilainya buruk.
Para anggota Hek-tok-pang telah dirugikan oleh Tok-sim Mo-li, banyak anggauta yang tewas di tangan wanita itu, tentu saja menganggap wanita itu jahat sekali, bahkan kecantikan wanita itu tidak lagi menarik karena telah timbul kebencian dan dendam dalam hati mereka.
Seperti itu pula perasaan tiga orang di antara Kwi-san Su-kiam-mo yang menaruh dendam karena sute mereka tewas di tangan wanita itu.
Akan tetapi sebaliknya, Cun Sek sama sekali tidak pernah merasa dirugikan oleh wanita itu, dan melihat kecantikan wanita itu, dia menilainya sebagai seorang wanita yang menarik dan patut dibela!
Orang seperti Cun Sek ini tentu saja hanya menilai seseorang dari kulitnya.
Dia lupa bahwa kecantikan hanya setipis kulitnya, hanya merupakan pembungkus belaka, pembungkus tengkorak dan rangka yang sama pada setiap orang manusia.
Dan sungguh sayang sekali.
Kita pada umumnya lebih suka memperhatikan dan memperindah badan dari pada batin kita.
Kita mencuci badan kita setiap hari, dua tiga kali, akan tetapi ingatkah kita untuk mencuci batin kita?
Mencuci batin berarti ingat kepada Tuhan dan menyerah dengan seluruh pemasrahan, karena hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan mampu membersihkan batin kita yang dipenuhi kekotoran.
Tentu saja Cun Sek tidak tahu siapa sebenarnya wanita cantik itu.
Kalau dia sudah mengenalnya benar, tentu dia akan semakin terkejut.
Wanita ini bernama Ji Sun Bi, yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Tok-sim Mo-li.
Dari julukan ini saja sudah diketahui bahwa ia adalah seorang wanita yang hatinya beracun, berarti memiliki watak yang amat jahat.
Ia pernah menjadi murid, juga kekasih, dari mendiang Min-sa Mo-ko, seorang datuk sesat yang pernah menjadi tokoh Pek-lian-kauw.
Tok-sim Mo-li ji Sun Bi ini mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat dari gurunya, dan selain lihai dan cantik manis, juga ia memiliki suatu penyakit, yaitu gila laki-laki!
Ia seorang penjahat cabul yang selalu timbul birahinya melihat seorang pria muda yang tampan dan ganteng.
Oleh karena itu, begitu melihat Cun Sek yang tinggi tegap dan tampan, tentu saja hatinya seketika tertarik sekali.
Apalagi ketika pemuda itu begitu berjumpa sudah berpihak kepadanya, dan berusaha menyelamatkannya dari ancaman bahaya!
Kurang lebih setahun yang lalu, Ji Sun Bi bersama mendiang gurunya, Min-san Mo-ko, membantu gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh mendiang Lam hai Giam-lo dan seorang bangsawan Birma bernama Kulana.
Akan tetapi pemberontakan itu dapat dihancurkan oleh pasukan Menteri Cang Ku Ceng, yang dibantu oleh para pendekar gagah perkasa.
Hampir semua tokoh pemberontak tewas.
Hanya ada beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri, di antaranya termasuk Tok-sim Mo-li li Sun Bi.
Ketika terjadi pertempuran, Ji Sun Bi bertanding melawan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai yang sudah digembleng oleh Pendekar Sadis dan isterinya, yaitu kakek dan neneknya sendiri.
Ji Sun Bi terdesak hebat dan pada saat terakhir, ia dapat membuang dirinya ke bawah tebing.
Kui Hong mengira bahwa Ji Sun Bi yang jahat tentu tewas karena tebing itu amat curam.
Akan tetapi ternyata tidak!
Ji Sun Bi sudah memperhitungkan ketika ia melempar diri ke bawah tebing itu.
Ia maklum benar bahwa di bawah tebing, tepat di bawah ia melempar tubuh, terdapat sebuah danau kecil yang dalam.
Maka, ketika ia tiba di bawah, bukan batu atau tanah yang menerima tubuhnya, melainkan air!
Dan biarpun ia hampir pingsan ketika terbanting ke air danau, namun ia dapat menyelamatkan dirinya dan tidak tewas!
Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi segera melarikan diri dan bersembunyi sampai berbulan-bulan, takut kalau ada pengejaran dari para pendekar.
Dan di dalam perantauannya sambil sembunyi-sembunyi ini Ji Sun Bi bertemu dengan seorang pria muda yang membuatnya gembira bukan main.
Siapakah pria muda itu?
Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, seorang di antara para pembantu utama dalam pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu!
Pemuda itu adalah seorang di antara mereka yangberhasil menyelamatkan diri dan pemuda itu amat lihainya, bahkan tingkat kepandaiannya lebih lihai dari Ji Sun Bi sendiri, dan yang lebih dari segalanya, pemuda itu adalah bekas kekasih atau seorang di antara para kekasih wanita cabul itu!
Ketika dua orang bekas rekan dan kekasih itu berjumpa, tentu saja mereka merasa gembira bukan main.
Bukan saja gembira dalam melepas kerinduan masing-masing, akan tetapi terutama sekali gembira karena mereka kini merasa kuat.
Dengan kerja sama di antara mereka tentu saja mereka merasa kuat dan mampu melakukan hal-hal besar!
Sim Ki Liong adalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang tampan dan sikapnya halus lagi sopan.
Dia sesungguhnya putera dari mendiang Sim Thian Bu, seorang seorang tokoh sesat yang tewas di tangan suhengnya sendiri, yaitu Siangkoan Ci Kang.
Sim Ki Liong yang cerdik itu kemudian berhasil menyusup ke Pulau Teratai Merah dan karena dia memang pandai mengambil sikap, dia berhasil menarik perhatian Pendekar Sadis dan isterinya yang berkenan mengambil dia sebagai murid!
Sebagai murid terkasih dari Pendekar Sadis dan isterinya, tentu saja Sim Ki Liong menjadi lihai bukan main!
Akan tetapi, ketika Cia Kui Hong berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah.
Sim Ki Liong yang tergila-gila kepada Kui Hong itu seperti membuka kedok sendiri.
Dan diapun lalu melarikan diri, minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa pedang pusaka pulau itu, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam!
Kemudian, Sim Ki Liong ikut bergabung dengan gerakan pemberontakan Lam-hai Giam-lo, menjadi seorang di antara para pembantu yang dipercaya di samping Ji Sun Bi.
Ketika gerombolan pemberontak itu diserbu oleh para pendekar dan pasukan pemerintah, seperti juga Ji Sun Bi, Sim Ki Liong yang ternyata amat cerdik itu berhasil pula menyelamatkan diri.
Demikianlah, setelah Ji Sun Bi berjumpa dengan Sim Ki Liong, tentu saja keduanya merasa girang bukan main.
Keduanya lalu memilih Kim-lian-san (Bukit Terati Emas) itu sebagai tempat tinggal dan dengan kerja sama mereka, Sebentar saja mereka berdua sudah mampu membangun tempat itu sebagai sarang dari perkumpulan yang mereka bangun bersama, yang mereka beri nama Kim-lian-pai (Perkumpulan Teratai Emas)!
Tentu saja ketuanya adalah Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi menjadi wakil ketua.
Mereka berdua lalu menundukkan tokoh-tokoh sesat di sekitar daerah itu, memaksa mereka untuk mengakui kekuasaan Kim-Iian-pai.
Kalau ada tokoh atau golongan yang tidak mau mengakui, maka Ji Sun Bi lalu turun tangan mengalahkan tokoh itu atau mengobrak-abrik gerombolan yang melawan.
Dalam waktu beberapa bulan saja, hampir seluruh tokoh kang-ouw dan gerombolan penjahat sudah dapat ditundukkan!
Mereka berdua lalu memilih pemuda-pemuda atau para pria yang memiliki kepandaian, juga wanita-wanita yang tangkas, untuk menjadi anggota Kim-Iian-pai.
Mereka berdua melatih mereka sehingga tak lama kemudian, Kim-lian-pai telah menjadi sebuah perkumpulan yang anggotanya berjumlah lebih dari seratus orang dan rata-rata mereka memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh.
Nama besar Kim-Iian-pai mulai dikenal dunia kang-ouw.
Kelompok-kelompok yang mengakui kekuasaan Kim-lian-pai tentu saja mulai menyumbangkan hasil kekayaan atau kejahatan mereka kepada perkumpulan baru itu.
Baik Sim Ki Liong maupun Ji Suri Bi tidak mempunyai niat untuk mengulangi apa yang dilakukan oleh gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo.
Tidak, mereka sudah cukup berpengalaman dan cerdik.
Melawan pemerintah merupakan perbuatan yang tolol.
Kekuatan pemerintah tidak mungkin dapat dilawan.
Mereka hanya ingin mendirikan perkumpulan yang kuat dan berkuasa karena dari dunia kang-ouw, Mereka dapat mengharapkan sumbangan yang akan membuat perkumpulan mereka cukup kuat untuk hidup mewah.
Selain itu, juga kalau mereka kuat, para pendekar tidak akan berani mengganggu mereka.
Di samping itu semua, juga Sim Ki Liong yang menjadi ketua Kim-lian-pai mempunyai suatu cita-cita, yaitu membalaskan dendam sakit hatinya kepada pendekar Siangkoan Ci Kang yang telah membunuh ayahnya.
Dengan adanya perkumpulan kuat yang dipimpinnya, tentu tidak akan sukar baginya untuk mencari di mana adanya musuh besar itu.
Di samping memupuk kekuatan untuk perkumpulannya, Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi tidak menghentikan kesenangan mereka.
Dua orang ini memang cocok sekali, memiliki kesukaan yang sama, yaitu kalau Sim Ki Liong tiada bosannya mencari gadis-gadis cantik untuk menemaninya, juga Ji Sun Bi tak pernah merasa puas dengan pria-pria tampan yang hampir setiap hari berganti-ganti melayaninya!
Hampir semua anggota Kim-lian-pai yang bertubuh kekar dan berwajah tampan, pernah dikeram dalam kamar wakil ketua yang cantik itu.
Namun, watak Ji Sun Bi memang pembosan.
Biar di puncak itu sudah ada Sim Ki Liong dan banyak anggota perkumpulan yang pria, namun ia masih suka berkeliaran turun dari bukit untuk melampiaskan nafsunya dengan pria-pria baru!
Demikianlah, perbuatannya itu yang mendatangkan keributan pada hari itu.
Ia bertemu dengan Yauw Kwan, pemuda berusia dua puluh lima tahun yang merupakan anggota termuda dari Kwi-san Su-kiam-mo, empat orang tokoh kang-ouw yang kenamaan.
Bertemu dengan pemuda yang gagah dan tampan ini, Ji Sun Bi segera merayunya.
Yauw Kwan dengan mudah jatuh ke dalam pelukan wanita cabul itu.
Akan tetapi celakanya, Yauw Kwan yang belum banyak pengalaman itu benar-benar jatuh cinta kepada Ji Sun Bi dan tidak ingin berpisah lagi.
Bahkan dia membujuk Ji Sun Bi agar suka menjadi isterinya.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 4
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 9