Eps 5 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Baca online Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Cersil Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo.
Seperti biasa, setelah bermesraan dengan Yauw Kwan selama beberapa hari lamanya, Ji Sun Bi mulai bosan dan sikap Yauw Kwan yang rewel, yang hendak memaksanya agar suka menjadi isteri pemuda itu, membuat Ji Sun Bi menjadi marah.
Ia menganggap pemuda itu banyak rewel dan akan merepotkan saja, maka ia memaki-maki dan mengusir Yauw Kwan.
Pemuda itu terkejut, marah dan tahu bahwa wanita itu hanya mempermainkannya.
Terjadi perkelahian dan Yauw Kwan melarikan diri membawa luka parah.
Akhirnya dia tewas dalam rangkulan tiga orang suhengnya setelah menceritakan tentang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang menjadi wakil ketua Kim-lian-pai di puncak Kim-lian-san.
Bukan hanya dengan Kwi-san Su-kiam-mo saja Ji Sun Bi membuat permusuhan.
Juga dengan Hek-tok-pang.
Perkumpulan Hek-tok-pang ini adalah perkumpulan para nelayan.
Mereka itu ahli racun dan dengan kepandaian mereka itu, mereka menangkap ikan, menggunakan bubuk racun yang tidak begitu keras.
Akan tetapi selain mencari ikan, juga mereka dikenal sebagai penguasa di sepanjang sungai Huang-ho dan dengan kekerasan menuntut sumbangan dari para saudagar yang perahunya lewat.
Juga bajak-bajak sungai tunduk kepada mereka dan suka memberi bagian hasil kejahatan mereka.
Mendengar akan perkumpulan ini, Ji Sun Bi mewakili Kim-lian-pai untuk menundukkan perkumpulan itu.
Akan tetapi, ketuanya, Hek-tok pangcu Cui Bhok, tidak sudi tunduk kepada seorang wanita yang mewakili sebuah perkumpulan baru.
Dia membuat perlawanan dan mengerahkan anak buahnya.
Dihadapi puluhan orang anggota Hek-tok-pang, tentu saja Ji Sun Bi kewalahan, akan tetapi ketika terjadi perkelahian, ia sempat menyebar maut di antara para anggota Hek-tok-pang.
Tidak kurang dari tujuh orang tewas, dan banyak yang terluka.
Inilah yang membuat Hek-tok Pangcu Cui Bhok merasa sakit hati.
Maka dengan dibantu oleh dua puluh empat anggotanya yang pilihan, dia bergabung dengan tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan pada hari itu melakukan penyerbuan ke Kim-lian-san.
Ketika dua puluh delapan orang itu mengepung pohon bcsar di mana ia danCun Sek berada, Ji Sun Bi tersenyum dan matanya mengerling ke arah pemuda gagah perkasa yang kini juga sudah berdiri di atas cabang pohon itu.
Diam-diam ia mengagumi tubuh yang kokoh kekar itu dan Ji Sun Bi menelan ludah seperti seekor harimau kelaparan melihat segumpal daging yang segar."
"Sobat yang gagah perkasa, siapakah namamu?"
Tanya Ji Sun Bi dengan suara merdu.
Cun Sek semakin kagum.
Wanita ini memang hebat.
Di bawah itu ada dua puluh delapan orang yang lihai menanti.
dan menantangnya, akan tetapi ia masih bersikap demikian tenang dan enak-enakan saja seolah-olah tidak ada ancaman apapun.
Diapun mengimbangi dan bersikap santai dan tenang.
Sambil mengamati wajah cantik manis itu, diapun menjawab sambil tersenyum ramah.
"Namaku Tang Cun Sek, dan siapakah engkau, nona? Mengapa pula mereka itu memusuhimu?"
"Namaku Ji Sun Bi,"
Jawab wanita itu sambil memperlebar senyumnya sehingga kini nampak deretan giginya yang putih bersih.
"Mereka di bawah itu adalah orang-orang tolol. Aku menjadi wakil ketua Kim-lian-pai yang berada di puncak Kim-lian-san ini, dan kami ingin agar mereka itu tunduk dan membantu kami. Eh, mereka malah melawanku! Saudara Tang Cun Sek, kalau menurut pendapatmu, bagaimana? Apakah aku harus membunuh mereka semua?"
Cun Sek semakin kagum.
Wanita ini bukan khawatir bahkan mengatakan dapat membunuh mereka semua, seolah-olah dua puluh delapan orang di bawah itu tidak ada artinya baginya.
Akan tetapi, dia memikirkan pertanyaan itu dengan serius.
"Kalau engkau ingin menundukkan mereka, apa gunanya kalau mereka dibunuh semua? Kalahkan saja pemimpin mereka, dan yang lain-lain akan menakluk dengan sendirinya."
Dia mengerutkan alis dan memandang ke bawah.
"Alangkah baiknya kalau engkau mampu menarik mereka menjadi pembantu. Mereka itu pandai sekali mempergunakan racun. Lihat, sepuluh orang yang menjadi korban itu, sungguh mengerikan. Siapakah mereka?"
"Mereka adalah para anggota perkumpulan kami."
"Wah, kalau begitu lebih penting lagi untuk menundukkan mereka agar mereka mau membantumu sehingga kerugianmu kehilangan sepuluh orang anggota itu dapat ditebus."
Ji Sun Bi mengangguk-angguk.
Memang tepat pendapat pemuda ini.
Kim-lian-pai merupakan perkumpulan baru yang sedang menyusun kekuatan.
Kalau Hek-tok-pang dapat ditundukkan dan membantu, berarti Kim-lian-pai akan menjadi semakin kuat.
Kalau mereka semua dibunuh, tidak ada untungnya bagi Kim-lian-pai.
"Saudara Tang Cun Sek, tadi engkau sudah menolongku, memperingatkan aku tentang racun. Maukah sekarang engkau membantuku menghadapi mereka? Atau kelirukah penilaianku bahwa engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"
Cun Sek tersenyum.
"Terus terang saja pernah aku mempelajari ilmu silat, akan tetapi dibandingkan denganmu, tentu saja aku masih kalah jauh!"
"Hi-hik, aku tahu bahwa orang yang merendahkan diri itu justeru merupakan lawan yang berbahaya. Tong kosong nyaring bunyinya sebaliknya tong yang penuh tidak berbunyi!"
"Aih, jadi engkau hanya menganggap aku ini sebagai sebuah tong saja?"
"Apa salahnya menjadi tong?"
"Kalau tong beras atau tong anggur memang cukup berguna, akan tetapi tong sampah?"
Kelakar Cun Sek yang timbul kegembiraannya melihat sikap wanita yang lincah jenaka dan genit.
"Tong sampah juga berguna sekali. Akan tetapi siapa menyamakan engkau dengan tong? Engkau seorang pemuda yang begini gagah perkasa dan ganteng. Hanya aku ingin melihat apakah engkau mampu menghadapi seorang di antara mereka."
Cun Sek merasa ditantang kejantanannya.
Kalau tadi dia tidak perduli dan tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, kini dengan mudah saja dia berpihak.
Tentu saja dia memilih pihak wanita yang cantik menarik ini!
"Iblis betina!
Kalau engkau tidak mau turun, terpaksa kami memaksamu turun bersama antekmu itu!"
Terdengar lagi suara dari bawah dan tiba-tiba dari bawah nampak sinar berkelebat ketika dua batang hui-to (pisau terbang) meluncur ke arah Cun Sek dan Ji Sun Bi.
Pisau-pisau terbang itu dilempar oleh Thio Su It, orang ke tiga dari Kwi-san Su-kiam-mo yang memiliki keahlian menggunakan pisau ini sebagai senjata rahasia.
Sebelum Ji Sun Bi menggerakkan tubuhnya, Cun Sek lebih dulu menggerakkan kedua lengannya, kedua tangannya menyambar ke bawah dan ternyata dia telah menyambut dua batang pisau itu!
Kalau saja yang melemparkan pisau itu orang Hek-tok-pang, tentu dia tidak akan berani menyambut dengan tangan begitu saja karena ada bahaya keracunan.
Akan tetapi yang menyambitkan pisau adalah seorang di antara tiga orang yang dibayangi dari kota tadi, maka dia berani menyambutnya.
Tanpa berkata apapun, Cuk Sek memandang ke bawah dan melihat seorang anggota Hek-tok-pang mengacung-acungkan goloknya, diikuti oleh seorang anggota lain dan mereka berdua mendekati batang pohon di mana dia dan Ji Sun Bi berada.
Dia lalu melemparkan dua batang pisau terbang tadi ke bawah, akan tetapi membidik ke arah pundak kedua orang itu.
Dua sinar menyambar turun, dibarengi suara mencuit nyaring dan dua orang anggota Hek-tok-pang itupun roboh sambil berteriak kesakitan.
Pundak mereka telah tertusuk pisau terbang tanpa mereka mampu mengelak saking cepatnya pisau-pisau itu menyambar.
Melihat ini, Ji Sun Bi merasa girang bukan main.
Dengan mesra dan lembut dia memegang tangan Cun Sek dan berbisik dengan suara merdu.
"Bagus sekali! Kiranya engkau seorang yang amat lihai. Saudara Tan Cun Sek yang gagah, mari kau bantu aku menundukkan mereka dan selanjutnya aku akan menjadi sahabatmu yang manis sekali. Engkau akan kuhadapkan pangcu kami dan engkau akan dapat menjadi pembantu kami yang utama. Coba kau perlihatkan kepandaianmu dan kau kalahkan ketua Hek-tok-pang itu!"
Cun Sek tersenyum.
Memang lebih enak memihak wanita cantik ini daripada mereka yang berada di bawah.
Pula, dia sendiri perlu memperoleh kedudukan yang kuat untuk memulai hidup baru.
Dan agaknya, kalau dia bersekutu dengan wanita yang lihai ini, bukan saja kedudukannya kuat, akan tetapi Juga dia memperoleh kehangatan dan kemesraan yang tentu akan amat menyenangkan.
Dia memandang ke bawah.
Ketua Hek-tok-pang itu memang kelihatan menyeramkan.
Seorang raksasa brewok yang kasar dan dia tahu juga amat lihai, apa lagi dengan racun-racun berbahaya.
Namun, tentu saja dia tidak merasa takut, dan diapun mengangguk.
"Baiklah, aku memang ingin sekali mencobanya. Mari kita turun dan kita hadapi mereka!"
Berkata demikian, Cun Sek lalu melayang turun dari atas pohon itu seperti seekor burung garuda besar menyambar.
Dengan senyum girang Ji Sun Bi memandang dan dari cara pemuda itu melayang turun saja dengan mudah ia dapat menduga bahwa memang pemuda itu bukan orang biasa, melainkan memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Tak disangkanya, dalam menghadapi musuh yang telah menewaskan sepuluh orang anak buahnya ini ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan suka membantunya!
Iapun segera melayang turun untuk mendampingi pemuda itu menghadapi musuh-musuhnya.
Tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan Hek-tok Pangcu juga terkejut melihat cara dua orang itu melayang turun.
Mereka tidak tahu bahwa Cun sek, adalah orang luar yang kebetulan saja bertemu dengan iblis betina itu dan mengira bahwa Cun sek tentu rekan dari Tok-sim Mo-li yang pandai.
sebelum mereka mengerahkan anak buah untuk mengeroyok, lebih dahulu Tok-sim Mo-Ji Ji Sun Bi berkata dengan nada suara mengejek.
Tentu saja ia tahu mengapa orang-orang itu datang menyerbu Kim-lian-san, akan tetapi, ia sengaja ingin agar Cun sek mendengarkan percakapan mereka agar pemuda itu tahu akan duduknya perkara dan bagaimana selanjutnya sikap Cun sek, apakah tetap ingin membantu padanya atau tidak, ingin sekali ia mengetahuinya.
"Haii, kalian ini apakah orang-orang gila yang tiada hujan tiada angin berani menyerbu Kim-lian-san dan telah membunuh sepuluh orang anggota Kim-lian-pai kami?"
Mendengar pertanyaan itu gerombolan orang yang tadinya sudah siap mengeroyok, menunda gerakan mereka.
Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang kasar itu menggereng seperti seekor singa terluka, matanya melotot merah dan dia lalu berteriak lantang.
"Tok-sim Mo-li, tidak perlu engkau berpura-pura dan bertanya lagi. Engkau pernah menyerbu tempat tinggal kami di lembah Huang-ho dan menewaskan banyak anak buah kami, dan sekarang engkau masih bertanya lagi mengapa kami datang menyerbu. Tentu saja untuk membalas dendam dan membunuhmu!"
Wanita itu tersenyum lebar, manis sekali.
"Hek-tok Pangcu, aku datang ke tempatmu untuk memperkenalkan Kim-lian-pai kami dan minta kepadamu agar mengakui kekuasaan kami, akan tetapi engkau malah mengerahkan orang-orangmu sehingga terpaksa aku turun tangan memberi hajaran. Kalau aku menghendaki, pada waktu itu juga aku dapat membunuh kalian semua. Akan tetapi kami Kim-lian-pai bukan bermaksud memusuhi golongan lain, akan tetapi hendak mengajak kerja sama. Engkau dan orang-orangmu secara curang telah membunuh sepuluh orang anggota kami, biarlah hal itu sebagai imbangan kematian anak buahmu di tanganku tempo hari. sekarang, kalau engkau suka menyerah dan suka membantu kami"
"Tidak sudi! Aku tidak akan menyerah sebelum orang mengalahkan aku!"
Bentak ketua Hek-tok-pang itu.
"Baiklah. Ada sahabatku ini. Tang Cun sek, yang akan mengalahkanmu. Dan kalian ini, bukankah tiga orang dari Kwi-san su-kiam-mo? Ada apakah kalian juga ikut-ikutan datang menyerbu ke tempat tinggal kami?"
Giam Sun, orang tertua dari mereka, melangkah maju, mukanya merah padam dan matanya melotot.
"Iblis betina, kami datang untuk minta tebusan nyawa sute kami, Yauw Kwan! Masihkah engkau pura-pura bertanya lagi?"
"Aih, Yauw Kwan? Pemuda bodoh yang tak tahu diuntung itu? Dia hendak memaksaku untuk menikah! Tentu saja aku tidak mau terikat dengan pernikahan tolol itu. Kami bertengkar, lalu berkelahi. Dalam perkelahian itu dia kalah dan roboh, tewas. Apa pula yang harus diributkan? Dia tewas dalam perkelahian yang adil dan tidak penasaran. Dan sekarang kalian bertjga datang hendak mengeroyokku? Lebih baik kalian insaf dan menyadari kesalahan sute kalian, dan bekerja sama dengan kami dari Kim-lian-pai..."
"Tak perlu banyak cakap! Engkau atau kami yang harus mampus!"
Bentak Giam Sun marah.
"Aha, begitukah? Kalian hendak main keroyok? Ataukah sebaliknya kalau kita bertanding seperti orang-orang gagah? Kalau begitu biar sahabatku Tang Cun sek ini yang lebih dulu menghadapi ketua Hek-tok-pang."
Hek-tok Pangcu Cui Bhok memang sudah tidak sabar mendengar percakapan antara Ji Sun Bi dan Giam Sun tadi.
sejak tadi dia sudah memandang kepada Cun Sek dengan mata merah.
Pemuda itu memang bertubuh tinggi tegap, akan tetapi selanjutnya tidak mendatangkan kesan apa-apa maka diapun memandang rendah.
Biarpun calon lawan itu tinggi tegap, namun nampak kecil ringkih dibandingkan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa.
Agaknya, sekali tangkap saja dia akan mampu mematahkan tulang punggung pemuda itu.
Kini, mendengar ucapan si iblis betina, tanpa banyak cakap lagi diapun menerjang dan menyerang Cun Sek dengan goloknya yang lebar dan panjang!
"Singgg...!"Golok itu menyambar lewat dekat kepala Cun Sek ketika pemuda ini mengelak dengan lincah sekali.
Gerakan ketua Hek-tok-pang itu memang cepat sekali dan hal ini saja membuktikan betapa besar tenaganya sehingga dia mampu memainkan golok yang amat berat itu bagaikan sebatang senjata yang amat ringan saja.
Namun, kecepatan itu bagi Cun Sek masih nampak lambat.
Pemuda yang pernah memperajari banyak macam ilmu silat, bahkan dengan beruntung telah dapat menguasai pula ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai ini memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari tingkat lawan.
Oleh karena itu, bacokan golok yang pertama tadi dapat dielakkannya dengan amat mudahnya.
Bahkan ketika dia mengelak ke samping, dia masih sempat mengirim pukulan ke arah lambung lawan.
"Wutttt!"
Ketua Hek-tok-pang itu terkejut bukan main.
Dia yang menyerang dengan goloknya, malah kini dia yang terancam bahaya.
Pukulan itu mendatangkan angin yang amat kuatnya sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan hampir terpelanting jatuh!
Terdengar orang bertepuk tangan.
Kiranya Ji Sun Bi yang bertepuk tangan memuji.
"Hebat, engkau hebat, saudara Tang Cun Sek!"
Wanita itu memuji dengan kagum dan juga girang bukan main.
Tak disangkanya bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian sehebat itu sehingga dalam segebrakan saja hampir dapat membuat ketua Hek-tok-pang itu roboh!
Akan tetapi, hal itu terjadi karena Hek-tok Pangcu memandang rendah lawannya sehingga dia sama sekali tidak memperhatikan pertahanan diri.
Kini dia marah bukan main.
Akan tetapi di samping marah, juga dia penasaran dan lebih waspada karena dia mulai dapat menduga bahwa lawannya ini ternyata jauh lebih lihai daripada nampaknya.
Tiba-tiba Hek-tok Pangcu Cui Bhok mengeluarkan gerengan yang amat dahsyat.
Itulah ilmu khi-kang yang disalurkan melalui suara dan lawan yang tidak memiliki tenaga sakti yang kuat, akan dapat dilumpuhkan oleh serangan suara ini yang disebut Sai-cu Ho-kang (Auman Singa).
Seperti yang suka dilakukan binatang buas seperti beruang, singa, harimau dan lain-lain.
Seekor singa dapat melumpuhkan calon korban hanya dengan auman yang menggetarkan jantung (Lanjut ke
Jilid 12) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12 calon korbannya atau lawannya, bahkan banyak sudah manusia yang menjadi korban binatang buas, belum apa-apa sudah lumpuh dan tidak mampu melarikan diri begitu mendengar auman binatang buas itu.
Kini, Hek-tok Pangcu itu agaknyapun mempergunakan ilmu semacam itu.
Suara aumannya menggetarkan jantung.
Akan tetapi yang dihadapinya adalah seorang pemuda gemblengan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Cun Sek juga merasa betapa auman itu menggetarkan jantungnya, namun dengan pengerahan sin-kangnya, dia mampu menolak pengaruh itu dan hanya tersenyum mengejek.
Pada saat auman berhenti, golok besar itu telah menyambar-nyambar dan berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata.
Agaknya raksasa brewok itu telah menggunakan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan serangan.
Tiba-tiba, tangan kirinya bergerak dan nampak uap hitam menyambar ke arah Cun Sek!
Inilah yang dinanti-nanti oleh Cun Sek.
Dia tahu bahwa Hek-tok-pang merupakan perkumpulan ahli racun dan tentu saja ketuanya pandai sekali memainkan senjata beracun.
Maka, begitu tangan itu bergerak dan nampak uap hitam, tahulah dia bahwa lawannya sudah menyebar bubuk racun yang amat berbahaya dan yang sudah menewaskan lima orang wanita anggota Kim-lian-pai tadi.
Diapun cepat mengumpulkan pernapasannya, lalu dia meniup ke arah asap atau uap hitam Itu.
Uap hitam itu membuyar dan bahkan tiga orang Kwi-san Sun-kiam-mo berloncatan menyingkir agar jangan terkena uap hitam yang menyebar.
Demikian pula Ji Sun Bi meloncat mundur ke belakang.
"Hek-tok Pangcu bukan seorang laki-laki jantan, belum apa-apa sudah mengandalkan uap beracun!"
Cun Sek mengejek.
Kini uap itu sudah menjauhi dirinya, terpukul dan terdorong oleh tiupan mulutnya tadi.
Raksasa brewok itu marah sekali.
Goloknya mengeluarkan suara berciutan dan berubah menjadi segulung sinar yang menerjang dengan dahsyatnya ke arah Cun Sek.
Pemuda ini maklum betapa berbahayanya serangan itu, maka diapun cepat meraba bawah jubahnya.
Tiba-tiba saja nampak sinar emas yang mencorong dan tahu-tahu di tangannya sudah nampak sebatang pedang yang mengeluarkan sinar emas.
Itulah Hong-cu-kiam, pedang pusaka Cin-ling-pai yang bersinar emas dan yang amat tipis sehingga dapat digulung dan disembunyikan di bawah jubah, bahkan dapat dipakai sebagai sabuk!
Ketika dia mengintai di atas pohon, dia mengambil pedang itu dari buntalannya dan memakainya sebagai sabuk, sedangkan kini buntalan pakaiannya itu dia gantungkan di pohon.
Melihat ini, Ji Sun Bi terkejut dan kagum akan tetapi alisnya berkerut karena ia teringat bahwa pedang itu mirip benar dengan pedang Hong-cu-kiam, pedang pusaka dari Cin-ling-pai!
Apalagi ketika Cun Sek memainkan pedangnya untuk menyambut serangan golok besar dari lawannya maka Ji Sun Bi yang tadinya kagum, kini terkejut dan matanya terbelalak!
la adalah seorang tokoh sesat yang sudah banyak pengalaman, dan ia mengenal ilmu gaya Cin-ling-pai itu!
Pemuda itu adalah murid Cin-ling-pai!
Padahal, orang-orang Cin-ling-pai adalah para pendekar yang memusuhi golongannya.
Akan tetapi, Ji Sun Bi kini hanya bersikap waspada saja dan diam-diam ia memutar otak untuk mencari siasat apa yang akan ia lakukan nanti untuk menghadapi Tang Cun Sek yang mungkin sekali adalah seorang tokoh Cin-ling-pai yang termasuk musuh besarnya itu!
Masih teringat benar ia ketika terjadi perang antara gerombolan pemberontak pimpinan Lam-hai Giam-lo di mana ia menjadi seorang pembantu utamanya, iaberhadapan dengan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai dan hampir saja ia tewas di tangan gadis itu!
Cin-ling-pai adalah musuh besarnya!
Akan tetapi sebelum ia menghadapi Cun sek sebagai musuh, ia akan mempergunakannya lebih dahulu sebagai pembantu menghadapi pihak musuh yang menyerbu Kim-lian-san ini.
Memang, tidak sukar baginya untuk mengirim tanda ke puncak, minta bala bantuan.
Akan tetapi ia merasa malu kepada sim Ki Liong, ketua Kim-lian-pai kalau untuk menghadapi pengacau-pengacau itu ia harus minta bantuan sang ketua!
Tepat seperti yang diduga dan diharapkan oleh Ji Sun Bi, pedang Hong-cu-kiam di tangan Cun sek membuat raksasa brewok itu menjadi kalang kabut dan terdesak hebat!
setelah lewat tiga puluh jurus saja, Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanya mampu menangkis saja, tidak mampu lagi menggunakan goloknya untuk balas menyerang.
Bahkan diapun tidak sempat mempergunakan tangan kiri untuk melakukan serangan dengan senjata rahasianya.
Demikian hebatnya gulungan sinar emas itu mendesaknya!
Akan tetapi, Cun Sek memang tidak ingin membunuh ketua Hek-tok-pang ini.
Dia sudah mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan Tok-sim Mo-li, dan dia tahu bahwa orang seperti ketua Hek-tok-pang ini bersama anak buahnya akan merupakan pembantu yang amat berguna.
"Haiiittt...!"
Tiba-tiba Cun Sek merobah ilmu pedangnya dan dia mengeluarkan sebuah jurus dari Siang-bhok-kiamsut, ilmu pedang yang amat hebat dan langka dari Cin-ling-pai!
Ilmu ini sebenarnya merupakan ilmu simpanan, dan untung bagi Cun Sek dia sempat mempelajari beberapa jurus pilihan ilmu pedang itu dari kakek Cia Kong Liang yang menjanjikan bahwa kalau dia sampai dapat menjadi ketua Cin-ling-pai, barulah dia berhak mempelajari seluruh ilmu pedang ini.
Namun, jurus yang dikeluarkan itu sudah lebih dari cukup.
Terdengar suara nyaring ketika golok besar itu terlepas dari tangan ketua Hek-tok-pang.
Cui Bhok, ketua itu mengeluarkan seruan kaget dan tangan kirinya memegang tangan kanan yang luka berdarah tergores ujung pedang lawan merupakan guratan memanjang sampai ke siku, dan lengan bajunya juga robek.
Pada saat itu, Cun Sek sudah menodongkan pedangnya ke dadanya, membuatnya tidak berdaya sama sekali!
"Nah, pangcu, kuharap engkau mengerti bahwa di antara kita tidak ada permusuhan.
Kim-lian-pai bermaksud baik.
Beberapa orang anggotamu telah tewas di tangan toa-nio (nyonya) ini, akan tetapi engkau sudah membalas dengan membunuh sepuluh anggota Kim-lian-pai.
Berarti engkau tidak kehilangan muka dan sudah tidak ada perhitungan lagi, bukan?
Sekarang, kalau engkau mau menyatakan tunduk kepada Kim-lian-pai, aku akan menganggap engkau sebagai sahabat dan tidak akan membunuhmu."
Cui Bhok biarpun kasar, namun dia bukan seorang yang tolol.
"Baik, aku maklum bahwa aku berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih pandai. Kalau Kim-lian-pai mempunyai banyak pembantu selihai engkau, sudah sepatutnya kalau Hek-tok-pang berlindung di bawah pengaruh dan kekuasaannya. Aku menyerah! Hayo, kalian lepaskan senjata kalian dan berlutut!"
Dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang itu melepaskan golok mereka dan semua berlutut tanda menyerah.
Melihat ini, tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo menjadi marah sekali.
"Bagus kiranya Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanyalah seorang pangecut besar!"
Teriak Giam Sun dan bersama dua orang sutenya, dia sudah mencabut senjatanya dan mereka bertiga berloncatan ke depan."
Akan tetapi kami bertiga menuntut balas atas kematian sute kami!
Tok-sim Mo-li, majulah engkau untuk menerima kematian di tangan kami!"
Tok-sim Mo-li-Ji Sun Bi mengerling ke arah Cun Sek, dan dengan sikap manja dan suara merdu ia berkata.
"Saudara Tang Cun Sek, relakah engkau melihat aku mati di tangan tiga orang yang hendak mengeroyokku ini?"
Cun Sek tersenyum dan melintangkan pedang Hong-cu-kiam di depan dadanya.
"Jangan khawatir, nona. Aku tidak membiarkan mereka main keroyokan dan aku yakin bahwa Hek-tok Pangcu juga akan membuktikan kebenaran tekadnya untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pai!"
Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok melihat kesempatan untuk membuat jasa pertama.
Dia seorang yang cerdik dan tahu bahwa yang paling menguntungkan adalah kalau berpihak kepada golongan yang lebih kuat.
Maka, tanpa memperdulikan luka guratan bekas pedang Cun Sek pada tangan kanannya, dia sudah menggerakkan golok besarnya yang tadi sudah dipungutnya.
"Kwi-san Su-kiam-mo terlalu sombong! Biar aku Cui Bhok mencoba sampai di mana kelihaian pedang mereka yang begitu disombongkan!"
Kwi-san Su-kiam-mo yang kini tinggal tiga orang itu maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh dan mereka harus mengadu nyawa.
Mereka adalah orang-orang yang sudah terlanjur memandang diri mereka sebagai orang-orang gagah dan menganggap bahwa ilmu pedang mereka selama ini tidak ada tandingannya.
Maka, kematian sute mereka membuat mereka marah dan sakit hati sekali, karena terutama sekali hal ini menghancurkan bayangan mereka tentang ketangguhan diri mereka berempat.
Giam Sun mengeluarkan teriakan melengking dan bersama adiknya diapun sudah menggerakkan pedang menerjang ke depan.
Giam Sun menyerang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, dan adiknya, Giam Kun menyerang Cun Sek, sedangkan orang ketiga, yaitu Thio Su It, menyerang ketua Hek-tok-pang.
Serangan mereka disambut dan terjadilah perkelahian yang hebat, seru dan mati-matian.
Sementara itu, dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang menjadi penonton.
Tanpa perintah ketua, mereka tidak berani ikut-ikutan turun tangan, walaupun mereka memusatkan perhatian kepada perkelahian antara ketua mereka dan Thio Su It, dan merekapun siap dengan golok di tangan untuk membantu ketua mereka apabila mereka diperintah atau apabila mereka melihat ketua mereka terdesak dan terancam bahaya.
Sambil melayani Giam Kun yang menyerangnya dengan sengit, diam-diam Cun Sek memperhatikan Ji Sun Bi yang diserang oleh orang pertama dari tiga orang jagoan itu.
Diapun memandang kagum.
Wanita itu selain cantik manis, juga amat lihai dan kini wanita itu telah memainkan sepasang pedang secara amat indah.
Bagaikan menari saja ia melayani lawan yang menggunakan pedang.
Sepasang pedang di tangan wanita itu menyambar-nyambar, cepat sekali sehingga membentuk dua gulungan sinar yang melingkar-Iingkar dan menutup semua jalan penyerangan lawan!
Indah akan tetapi juga cepat dan mengandung tenaga yang amat kuat.
Legalah hati Cun Sek karena melihat sepintas lalu saja diapun merasa yakin bahwa wanita itu tidak akan kalah menghadapai lawannya.
Maka diapun lalu mencurahkan seluruh perhatiannya kepada lawan yang mendesaknya dengan serangan-serangan ampuh.
Harus diakuinya bahwa lawannya memang memiliki ilmu pedang yang lihai dan berbahaya.
Tidak mengherankan kalau orang-orang ini memakai julukan kiam-mo (setan pedang) karena memang ilmu pedang mereka amat berbahaya.
Namun, tingkat kepandaian Giam Kun masih jauh sekali dibandingkan tingkatkepandaian Tang Cun Sek.
Setelah menghadapi belasan jurus serangan lawan, Tang Cun Sek sudah dapat mengukur sampai di mana ketangguhan Giam Kun dan mulailah dia memutar pedang Hong-cu-kiam untuk membalas.
Dan begitu dia memainkan pedangnya dengan cepat, Giam Kun terkejut dan dia merasa repot sekali menghadapi serangan yang bertubi-tubi datangnya itu.
Dia tidak lagi mampu membalas, hanya memutar pedang sekuat tenaga untuk melindungi tubuhnya.
Ketika Cun Sek melirik untuk melihat keadaan Ji Sun Bi, ternyata wanita itupun sudah mendesak lawannya yang terhuyung-huyung!
Cun Sek tersenyum dan diapun tidak mau kalah.
Dia harus dapat memperlihatkan kepandaiannya dan jangan sampai dikalahkan oleh wanita yang menarik hatinya itu.
Diapun mempercepat gerakan pedangnya.
Terdengar teriakan beruntun dan Cun Sek secepat kilat mencabut pedangnya yang tadi menancap di dada lawan, hampir berbareng dengan gerakan pedang Ji Sun Bi yang juga mencabut pedangnya dari leher lawannya.
Mereka itu secara berbareng saling memutar badan dan saling pandang, keduanya tersenyum melihat bahwa perlumbaan itu ternyata berakhir dengan,tiada yang lebih cepat atau lebih lambat.
Mereka merobohkan lawan dalam detik yang sama.
Kini tinggallah Thio Su It yang masih bertanding melawan ketua Hek-tok-pang.
Ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang walaupun Hek-tok Pangcu Cui Bhok mulai mendesaknya.
Melihat betapa kedua orang suhengnya telah roboh, tentu saja Thio Su It menjadi terkejut, berduka akan tetapi juga gentar sekali.
Dia maklum bahwa dia tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya, maka dengan nekat dia lalu melawan terus.
Kenekatannya inilah yang membuat dia menjadi lawan yang tangguh.
Melihat betapa Hek-tok Pangcu bersungguh-sungguh melawan Thio Su It, hati Ji Sun Bi sudah merasa girang bukan main.
Orang ini boleh dipercaya dan boleh diharapkan untuk menghadapi tokoh Cin-ling-pai itu, pikirnya.
Tiba-tiba ia menggerakan tangan kirinya dan sinarhalus yang hitam menyambar ke arah dua orang yang sedang berkelahi itu.
Thio Su It mengeluarkan seruan lirih dan dia terhuyung.
Pada saat itu, ujung golok di tangan Cui Bhok mengenai pundaknya dan diapun roboh dan dalam waktu beberapa detik saja tubuhnya berubah hitam dan diapun tewas seketika.
Golok besar itu mengandung racun yang amat hebat!
Kini tiba-tiba Ji Sun Bi merobah sikapnya yang tadi tersenyum-senyum kepada Cun Sek.
"Pangcu, bantu aku menangkap mata-mata ini. Dia seorang pendekar tokoh Cin-ling-pai, musuh golongan kita!"
Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok terkejut sekali, akan tetapi dia segera meloncat ke dekat Cun Sek sambil menodongkan golok besarnya sambil memberi isyarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya.
Mereka itu segera mengepung Cun Sek, sedangkan Ji Sun Bi sendiri berdiri di samping Cui Bhok, sepasang pedangnya di tangan dan ia memandang kepada Cun Sek yang terheran-heran itu dengan senyum mengejek.
"Wah, saudara Tang Cun Sek, tidak perlu lagi engkau berpura-pura. Engkau seorang tokoh Cin-ling-pai, katakan apa maksudmu datang ke tempat kami ini. Apakah engkau datang sebagai mata-mata, sebagai musuh? Katakan terus terang sebelum kami turun tangan karena aku tidak akan segan membunuhmu sebagai seorang murid Cin-ling-pai yang selama ini menjadi musuh besar kami."
Tentu saja Tang Cun Sek terkejut bukan main melihat perubahan ini.
Namun, dia amat cerdik dan sebentar saja otaknya yang bekerja cepat, itu sudah dapat memaklumi keadaan, dan dia dapat menduga apa yang menyebabkan wanita cantik itu kini berbalik memusuhinya.
Tentu Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini pernah bermusuhan dengan pihak Cin-ling-pai dan tadi, ketika dia mengeluarkan pedang Hong-cu-kiam dan memainkan ilmu silat.
Cin-ling-pai, wanita cantik itu mengenalnya dan tidak mengherankan kalau wanita itu menaruh curiga kepadanya.
Tang Cun Sek tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, kiranya Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang cantik jelita dan lihai, tidak mampu mengenal sahabat dan juga masih belum terlalu cerdik sehingga tidak mampu membedakan mana kawan mana lawan, ha-ha-ha!"
Ji Sun Bi mengerutkan alisnya dan sepasang matanya yang jeli itu berkilat, akan tetapi ia masih belum tersenyum.
"Tang Cun Sek, apa alasannya engkau menganggap aku tidak mengenal sahabat dan tidak cerdik?"
"Pertama, sesudah aku membantu menarik Hek-tok-pang menjadi sekutu dan membunuh tiga orang musuh yang hendak membunuhmu ini, engkau masih mencurigaiku. Ini namanya tidak mampu mengenal sahabat! Dan ke dua, kalau benar aku ini mata-mata Cin-ling-pai dan hendak memusuhimu, bukankah kesempatanku amat baik tadi dengan membantu mereka mengeroyokmu? Apa kau kira akan mampu menandingi kami kalau aku tadi membantu mereka? Nah, bukankah itu menunjukkan bahwa engkau kurang cerdik dan salah menilai orang?"
Kini Ji Sun Bi tersenyum dan mengangguk-angguk.
la lalu menoleh kepada Hek-tok Pangcu Cui Bhok dan berkata lembut.
"Pangcu, mundurlah dan kita harus dapat percaya keterangannya itu."
KetuaHek-tok-pang itupun mengangguk-angguk dan memberi isarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya untuk mundur.
Ji Sun Bi lalu menghampiri Cun Sek.
Sejenak mereka saling pandang dan keduanya saling kagum.
"Tang Cun Sek, keteranganmu tadi memang dapat kami terima, akan tetapi untuk lebih meyakinkan hati kami sebelum engkau kami hadapkan kepada Pangcu kami, ceritakanlah mengapa engkau yang memiliki ilmu silat Cin-ling-pai dan memegang pedang pusaka Cin-ling-pai, tiba-tiba saja kini berpihak kepada kami!"
Sebetulnya Cun Sek segan menceritakan riwayatnya, akan tetapi dia maklum bahwa kerja sama dengan orang-orang seperti mereka itu merupakan suatu keuntungan baginya, terutama sekali akan memudahkan dia untuk mencari dan menemukan ayah kandungnya, yaitu Ang-hong-cu!
Apalagi yang berada di situ hanyalah Ji Sun Bidan Cui Bhok,sedangkan para anak buah Hek-tok-pang sudah disuruh menjauhkan diri.
Dengan singkat namun jeJas dia lalu menceritakan betapa sejak kecil dia sudah mempelajari ilmu silat dan setelah dewasa, dia ingin menambah pengetahuannya itu dengan masuk menjadi anggota Cin-ling-pai.
"Hanya beberapa tahun aku menjadi anggota Cin-ling-pai, namun aku beruntung dapat mempelajari ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai dari ketua lama. Akan tetapi, aku gagal menjadi ketua baru dan aku melarikan diri dari Cin-ling-pai sambil membawa Hong-cu-kiam yang dihadiahkan ketua lama Cia Kong Liang kepadaku."
Tentu saja bagian terakhir ceritanya itu dia berbohong karena pedang pusaka itu bukan hadiah pemberian melainkan hasil pencurian!
Ji Sun Bi minta kepada ketua Hek-tok-pang untuk memerintahkan anak buahnya mengubur jenasah sepuluh orang anggota Kim-lian-pang yang tewas keracunan, dan membersihkan kembali tempat yang mereka taburi racun.
Setelah itu, maka Ji Sun Bi menjadi petunjuk jalan dan merekapun naik ke puncak Kim-lian-san.
Dalam perjalanan ini, barulah orang-orang Hek-tok-pang melihat betapa besar bahayanya kalau mereka menyerbu ke atas.
Perjalanan itu mengandung banyak sekali tempat rahasia, jebakan-jebakan yang mengerikan.
Tanpa petunjuk jalan, sebelum tiba di puncak, mereka semua tentu akan menjadi korban perangkap yang banyak dipasang di sepanjang jalan menuju ke puncak.
Bahkan Hek-tok Pang-cu Cui Bhok sendiri bergidik dan diam-diam dia girang bahwa dia telah dikalahkan oleh Tang Cun Sek sehingga dia menaluk.
Apa lagi ketika banyak anggota kim-lian-pang mulai menyambut, berjajar di sepanjang jalan, laki-laki dan wanita-wanita yang kesemuanya berwajah tampan dan cantik, bersikap gagah dan jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang.
Baru kemudian dia tahu bahwa jumlah anggota Kim-lian-pang berjumlah seratus orang lebih, sebagian ada yang bertugas di bawah gunung dan tersebar ke kota-kota dan dusun-dusun sekitar daerah itu bertugas sebagai mata-mata.
Baik Cui Bhok maupun Tang Cun Sek merasa heran dan kagum sekali ketika mereka diajak Ji Sun Bi menghadap orang yang disebut pangcu atau ketua dari perkumpulan Kim-lian-pang.
Sama sekali mereka tidak pernah membayangkan bahwa pangcu itu hanyalah seorang pemuda yang masih amat muda, Tidak akan lebih dari dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun saja usianya!
Cun Sek memperhatikan orang yang menerima kedatangan mereka dengan berdiri dari tempat duduknya dan yang mengamati mereka dengan pandang mata tajam menyelidik itu.
Dia seorang pria muda yang bertubuh sedang, gerak-geriknya halus dan sopan, pakaiannya seperti seorang terpelajar, wajahnya tampan dan sepasang matanya mencorong penuh wibawa!
Ji Sun Bi segera memperkenalkan dua orang tamu itu setelah dia, memberi bisikan kepada Cui Bhok agar memerintahkan anak buahnya yang ikut memasuki ruangan luas itu berlutut semua.
Sambil tersenyum Ji Sun Bi mendekati ketua Kim-lian-pang yang menjadi rekan, kekasih, juga ketuanya itu dan ia sendiri menjabat wakil ketua.
"Pangcu, dia itulah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang sudah menaluk kepada kita dan membawa dua puluh empat orang anak buahnya menaluk dan siap untuk bekerja sama dengan kita."
Orang muda tampan itu memandang kepada Cui Bhok dengan sinar mata penuh selidik, alisnya berkerut dan dia berkata dengan halus.
"Hemm..., aku mendengar bahwa sepuluh orang anak buah kita tewas karena racun yang disebarkan mereka?"
Diam-diam Tang Cun Sek merasa kagum.
Kiranya peristiwa di lereng tadi telah diketahui oleh ketua ini, tentu ada mata-mata yang melapor lebih dahulu keatas sebelum mereka tiba di situ.
"Benar, mereka tewas karena kurang waspada,"
Jawab Ji Sun Bi.
Biarpun bagi Cui Bhok, keadaan ketua Kim-lian-pang itu kurang menyakinkan, hanya seorang muda yang nampaknya tidak begitu hebat, namun mengingat bahwa pemuda itu adalah ketua Kim-lian-pang dan Tok-sim Mo-li yang demikian lihainya hanya menjadi pembantunya, diapun tidak berani memandang rendah.
"Saya Hek-tok Pangcu Cui Bhok menghadap pangcu dari Kim-lian-pang dan saya bersedia untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pang!"
Katanya sambil memberi hormat.
"Hemm..."
Kim-lian Pangcu Sim Ki Liong tersenyum dingin, namun suaranya terdengar halus ketika dia berkata kepada Cui Bhok yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya brewok menyeramkan itu.
"Hek-tok Pangcu, penyerahan diri dan kerja sama membutuhkan kesetiaan dan kesetiaan haruslah di buktikan. Anak buahmu telah membunuh sepuluh orang anak buah Kim-lian-pang, pada hal enci Ji Sun Bi hanya membunuh tujuh orang anak buah Hek-to-pang. Dengan demikian, Hek-to-pang masih berhutang tiga nyawa kepada Kim-lian-pang. Nah, apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan kesetiaanmu?"
Mendengar pertanyaan ini, wajah yang kasar penuh brewok itu berubah menjadi pucat, lalu merah padam dan matanya terbelalak.
Cui Bhok tahu apa yang di maksudkan ketua Kim-lian-pang yang masih sangat muda itu dan dia merasa penasaran.
Bagaimanapun juga, kalau ketuanya hanya seorang pemuda ingusan seperti ini, dia harus melihat bukti dulu bahwa ketua yang amat muda ini pantas untuk menjadi atasannya sebelum dia melaksanakan segala perintahnya.
Diapun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, sungguh tuntutan yang wajar dari seorang ketua besar sebuah perkumpulan yang besar pula! Akan tetapi, Pangcu, bagaimanapun juga, saya juga harus melihat bukti bahwa Pangcu adalah seorang yang pantas untuk saya taati. Mohon petunjuk!"
Katanya dan pria tinggi besar ini segera memasang kuda-kuda, tidak mencabut senjata karena dia maklum bahwa dia berada di sarang harimau dan kedudukannya amat berbahaya.
Dia hanya ingin menguji kelihaian ketua yang amat muda itu, lain tidak.
Dia sama sekali tidak ingin menentang, karena dia sudah takluk kepada orang muda yang membantu Tok-sim Mo-li tadi.
Mendengar ucapan ketua Hek-tok-pang itu, Sim Ki Liong tersenyum dan wajahnya yang tampan itu nampak cerdik dan licik sekali.
Tang Cun Sek memandang dengan hati tegang akan tetapi juga gembira.
Ketua yang masih muda itu tadi hanya memandang acuh saja kepadanya, dan kini ketua itu ditantang atau diuji oleh Cui Bhok.
Suatu kesempatan baik baginya untuk melihat sendiri sampai di mana kelihaian ketua ini.
Dia sudah mengukur kepandaian Cui Bhok, dan dari perlawanan ketua itu terhadap Cui Bhok, dia akan dapat mengukur sampai di mana kelihaiannya.
Kalau melihat betapa Tok-sim Mo-li, yang tadi dia lihat pula kehebatannya, hanya menjadi pembantu ketua Kim-lian-pang, maka dapat diduga bahwa kepandaian ketua yang masih amat muda ini tentu hebat bukan main.
Sim Ki Liong tersenyum bangkit dari kursinya melihat Cui Bhok sudah siap siaga di tengah ruangan yang luas itu.
Para anak buah Hek-tok-pang yang masih berlutut juga semua memandang dengan hati tegang.
Mereka setuju dengan sikap ketua mereka.
Kalau hendak menaluk kepada seseorang, maka mereka harus melihat sendiri bagaimana lihainya orang itu!
"Cui-pangcu, permintaanmu wajar pula.
Aku akan membuktikan bahwa aku memang patut kau taati.
Nah, mulailah!"
Katanya dan dia berdiri seenaknya saja di depan Cui Bhok yang bertubuh kokoh kekar itu, berbeda dengan tubuh Sim Ki Liong yang sedang saja sehingga nampak kecil lemah di depan raksasa itu.
Cui Bhok tidak membuang waktu lagi, lalu tiba-tiba dia mengeluarkan suara mengaum seperti singa, disusul bentakannya.
"Kim-lian Pangcu, lihat seranganku!"
Tubuhnya menerjang dengan dahsyatnya, kedua tangannya membentuk cakar singa, kuku jari-jari tangannya nampak menghitam tanda bahwa kuku itu mengandung racun yang amat berbahaya.
Sekali terkena goretan kuku hitam itu akan mengakibatkan luka melepuh yang sukar disembuhkan kalau tidak memakai obat pemunah racun buatan ketua Hek-tok-pang itu!
Namun, serangan bertubi yang berupa cakaran-cakaran dan cengkeraman itu dengan mudah dapat dihindarkan oleh Sim Ki Liong, Hanya dengan gerakan kedua kakinya saja, kemudian dia membalas dengan tamparan lembut namun mengandung tenaga yang dahsyat sehingga hampir saja pundak ketua Hek-tok-pang terkena tamparan.
Biarpun luput, hanya menyerempet sedikit saja, namun cukup membuat Cui Bhok terhuyung.
Tentu saja raksasa ini terkejut dan mulai merasa kagum karena hanya dalam beberapa jurus saja, bahkan baru satu kali pemuda itu menyerang, dia sudah hampir dirobohkan.
Namun dia masih kurang puas, kurang yakin dan kembali dia menyerang, lebih ganas dari yang tadi.
Sementara itu, Cun Sek terbelalak!
Dia melihat dengan jelas betapa serangan balasan itu, tamparan yang lembut itu, dan gerakan kaki itu, adalah ilmu silat San-in Kun-hoat (Silat Awan Gunung), sebuah ilmu pilihan dari Cin-ling-pai!
Menghadapi serangan yang ganas dari ketua Hek-tok-pang, Sim Ki Liong lalu mengeluarkan bentakan nyaring, kedua tangannya bergerak dari kanan kiri, menangkis sekaligus menyerang.
Begitu kedua tangan Hek-tok Pangcu Cui Bhok bertemu dengan kedua tangannya itu, dia berteriak kaget, kedua tangannya itu terdorong keras ke belakang dan sebelum dia sempat menghindarkan diri, ada angin pukulan dari kanan kiri menyambar kearah kedua pundaknya dan diapun roboh terguling, kedua pundaknya terasa nyeri seolah-olah tulangnya retak-retak!
Dia terkejut, akan tetapi juga kagum dan taluk.
Dia bangkit berdiri lalu menjura dengan sikap hormat karena dia mendapat bukti betapa lihainya ketua Kim-lian-pang yang masih amat muda itu.
"Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit Bumi)...!"
Tak terasa lagi mulut Cun Sek berseru ketika dia melihat gerakan kedua tangan Sim Ki Liong tadi.
Mendengar ini, Ki Liong cepat membalik dan sepasang matanya mencorong, memandang ke arah Cun Sek.
Akan tetapi pada saat itu Cui Bhok sudah berkata dengan suara kagum.!.
"Biarpun masih amat muda, ternyata Kim-lian Pangcu sungguh memiliki kepandaian yang amat hebat. Saya mengaku kalah dan taluk, dan saya akan memperlihatkan kesetiaan saya kepada pangcu!"
Berkata demikian, tiba-tiba raksasa ini bergerak cepat sekali ke arah para anggotanya yang masih berlutut.
Terdengar teriakan berturut-turut dan empat orang anak buahnya roboh dan tewas dengan muka menghitam.
Mereka telah diserang dengan cakaran maut oleh ketua mereka sendiri.
Yang menjadi korban adalah dua orang yang tadi terluka oleh Cun Sek, dan dua orang lain yang tingkatannya paling rendah dalam Hek-tok-pang.
Semua anak buah Hek-tok-pang terkejut dan ketakutan, akan tetapi hati mereka lega ketika ketua mereka tidak menyerang lagi.
Cui Bhok lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil menghadap Sim Ki Liong.
"Nah, pangcu. Itulah bukti kesetiaan kami. Dengan tewasnya empat orang anak buah saya, maka kini kami yang rugi seorang dibandingkan dengan Kim-lian-pang."
Sim Ki Liong tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Bagus, engkau memang pantas untuk kami terima sebagai sekutu dan pembantu, Cui Pangcu!"
Dia lalu bertepuk tangan menyuruh pengawal atau anak buahnya untuk menyingkirkan empat mayat itu, dan menyuruh anak buahnya untuk menjamu para anggota Hek-tok-pang yang kini tinggal dua puluh orang itu.
Kemudian ia menyuruh para pelayan untuk menambah arak dan mengeluarkan hidangan untuk menyambut Cui Bhok pada saat itulah dia memandang kepada Cun Sek dan bertanya kepada Ji Sun Bi.
"Siapakah dia ini yang mengenal Thian-te Sin-ciang?"
Ji Sun Bi tersenyum.
"Tadi belum sempat aku memperkenalkan dia. Tentu saja dia mengenal ilmu silatmu yang berasal dari Cin-ling-pai, pangcu, karena dia adalah seorang tokoh Cin-ling-pai!"
"Ehhh...?"
Sim Ki Long terkejut sekali, akan tetapi dengan sikap gagah dia tidak memperlihatkan kekagetannya, melainkan matanya saja yang memandang tajam kepada Cun Sek, kini mengandung kecurigaan.
"Mau apa seorang tokoh Cin-ling-pai datang ke sini?"
Pertanyaan ini mengandung terguran kepada Ji Sun Bi.
Sebelum Ji Sun Bi menjawab, Cun Sek mendahuluinya.
"Maaf, pangcu. Aku tidak sengaja datang ke sini melainkan diajak oleh Tok-sim Mo-li untuk diperkenalkan kepada pangcu."
Mendengar ini Ji Sun Bi tersenyum, dan cepat dia menjelaskan.
"Pangcu, ketahuilah bahwa ketika aku turun dari puncak untuk menghadapi Hek-tok-pang, aku diperingatkan akan lorong beracun yang dibuat Hek-tok-pang oleh saudara Tang Cun Sek ini. Bukan itu saja, bahkan dialah yang menundukkan dan menaklukkan Hek-tok Pangcu, dan dia membantu pula ketika aku dikeroyok oleh tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo. Melihat kelihaiannya dan mengenal gerakan silatnya dan pedangnya yang jelas dari Cin-ling-pai, tadinya akupun curiga dan terkejut. Akan tetapi setelah dia menceritakan keadaannya, kupikir sebaiknya kalau dia kuajak ke sini agar berkenalan dengan pangcu. Bagaimanapun juga, kepandaian pangcu dan dia datang dari satu sumber, bukan?"
Sim Ki Liong mulai tertarik dan dia kini memandang kepada Cun Sek penuh perhatian, namun kecurigaannya sudah menipis.
"Saudara Tang Cun Sek, terus terang saja, Cin-ling-pai kami anggap sebagai musuh kami. Maka, harap kau jelaskan mengapa engkau tidak memusuhi kami, bahkan ingin berkenalan denganku."
Cun Sek menarik napas panjang.
"Tidak kusangkal bahwa aku adalah seorang murid Cin-ling-pai, bahkan aku mewarisi ilmu-ilmu Cin-ling-pai dari ketua lama Cia Kong Liang sendiri. Akan tetapi, ketika aku gagal untuk menjadi ketua Cin-ling-pai yang baru, maka kuanggap Cin-ling-pai sebagai musuh. Aku melarikan diri dari sana dan biarpun banyak ilmu dari sana kukuasai, namun aku tidak menganggap diriku sebagai seorang Cin-ling-pai,"
Cun Sek mengepalkan tinju, masih mendongkol kalau mengingat kekalahannya di Cin-ling-pai.
"Demikianlah keadaanku, pangcu. Oleh karena itu, pangcu tidak perlu khawatir, aku bukan seorang anggota Cin-ling-pai lagi, bahkan akupun membenci Cin-ling-pai! Aku melarikan diri dari Cin-ling-pai, dan dalam perjalanan untuk mencari jejak ayahku yang sejak dalam kandungan belum pernah kumelihatnya. Kebetulan aku lewat di bawah bukit dan melihat rombongan orang Hek-tok-pang, lalu aku membayangi mereka dan kubantu Tok-sim Mo-li."
Sim Ki Liong mengangguk-angguk.
"Kalau engkau gagal menjadi ketua Cin-ling-pai, lalu siapa yang menjadi ketuanya yang baru?"
Dengan suara gemas Cun Sek menjawab.
"Gadis liar itu, Cia Kui Hong!"
Mendengar ini, Sim Ki Liong terbelalak memandang, kemudian dia tertawa bergelak.
Lenyaplah sikap lembut dan sopan ketika dia tertawa dengan mulut terbuka, lalu mulut itu ditutup sehingga suara ketawanya hanya sampai di tenggorokan.
"Ha-ha-ha, he-he-hek, Cia Kui Hong? Ia menjadi ketua Cin-ling-pai?"
Dia tertawa lagi.
"Dara itu yang telah menggagalkanmu?"
"Hemm, Cia Kui Hong! Lagi-lagi gadis setan itu yang menjadi penghalang. Ia musuh kita bersama!"
Kata pula Ji Sun Bi dengan gemas.
Kini Tang Cun Sek yang memandang dengan sinar mata heran kepada dua orang itu.
Tentu saja dia tidak tahu betapa Sim Ki Liong juga sampai terlempar keluar dari Pulau Teratai Merah tempat tinggal gurunya, yaitu Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, gara-gara kedatangan Cia Kui Hong, cucu luar pendekar sakti itu.
Sedangkan Ji Sun Bi tentu saja tidak pernah dapat melupakan pengalaman pahitnya ketika ia membantu gerakan mendiang Lam-hai Giam-lo dan ketika gerombolan pemberontak itu diserbu para pendekar, ia sendiri bertanding melawan Cia Kui Hong dan hampir saja ia tewas ketika ia terjatuh ke dalam tebing!
"Pangcu, apakah engkau sudah mengenal Cia Kui Hong?"
Tanya Cun Sek. Ki Liong masih tertawa dan Ji Sun Bi yang menjawab.
"Tentu saja kenal baik! Cia Kui Hong itu masih terhitung murid keponakannya!"
Cun Sek terbelalak bingung.
Pemuda ini?
Usianya masih begitu muda dan menjadi paman guru Kui Hong?
Paman guru dari mana?
Tak mungkin pemuda ini murid kakek Cia Kong Liang pula.
Melihat kebingungan tamu itu, kini Ki Liong yang melanjutkan keterangan Sun Bi.
"Ketahuilah, Tang-toa-ko, aku adalah murid Pendekar Sadis Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah!"
"Ahhh...! Sungguh hal ini sama sekali tidak pernah disangka oleh Cun Sek. Tentu saja dia tahu siapa itu Pendekar Sadis! Dan diapun mengerti sekarang. Memang, Kui Hong adalah cucu pendekar Sadis, cucu luar, maka kalau pemuda ini murid Pendekar Sadis, memang Kui Hong dapat dianggap sebagai murid keponakannya.
"Akan tetapi..., kalau begitu... bagaimana pula pangcu menganggap Kui Hong sebagai musuh?"
"Ia yang menjadi gara-gara sehingga aku terpaksa pergi meninggalkan Pulau Teratai Merah untuk selamanya, tidak perlu kujelaskan persoalannya,"
Kata ketua itu yang tentu saja merasa tidak enak mengingat akan pengalamannya di Pulau Teratai Merah itu.
Ketika Kui Hong berkunjung ke Pulau Teratai Merah, tempat tinggal kakek luarnya, seketika Ki Liong jatuh jatuh cinta dan tergila-gila kepada gadis itu.
Dia berusaha merayu, namun bukan saja ditolak oleh Kui Hong, bahkan gadis itu marah-marah dan menyerangnya.
Peristiwa itu diketahui Suhu dan Subonya, maka dia merasa malu dan malam itu juga dia melarikan diri meninggalkan Pulau Teratai Merah, sambil membawa benda-benda berharga, bahkan juga pedang pusaka Gin-hwa-kiam dia bawa lari!
Dia bermaksud untuk mencari musuh besar pembunuh ayahnya, yaitu Siangkoan Ci Kang, akan tetapi sampai sekarang usahanya itu belum juga berhasil.
"Dan bagaimana dengan engkau, Tok-sim Mo-li? Bagaimana engkau juga mengenal Cia Kui Hong dan memusuhinya?"
Tanya Tang Cun Sek, merasa girang mendengar keterangan ketua itu yang ternyata murid Pendekar Sadis sehingga dia tidak merasa heran kalau ketua itu memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebat.
Ketua itu dan dia memiliki dasar ilmu silat yang sama, yaitu dari Cin-ling-pai walaupun mereka berdua masing-masing memiliki pula ilmu-ilmu lain.
Ji Sun Bi menghela napas panjang dan Ki Liong yang menjawab.
"la pernah bertanding dan dikalahkan oleh Cia Kui Hong, bahkan hampir saja ia tewas ketika terjatuh ke dalam jurang tebing yang curam."
Ji Sun Bi cemberut dan mukanya berubah merah, sepasang matanya berkilat.
"Lain kali akan kubunuh gadis setan itu!"
Pertemuan itu dilanjutkan dengan pesta makan minum untuk menghormati persekutuan baru itu Cun Sek diterima dengan tangan terbuka oleh Ki Liong dan semenjak hari itu, Cun Sek merupakan pembantu utama dari pasangan Ki Liong dan Sun Bi, bahkan diapun mulai hari itu menjadi seorang kekasih baru dari Ji Sun Bi yang tak pernah merasa puas dengan laki-laki itu.
Tentu saja Kim-lian Pangcu maklum akan hal ini, akan tetapi dia memang tidak pernah merasa cemburu dan memberi kebebasan sepenuhnya kepada Ji Sun Bi untuk berhubungan dengan pria manapun juga, seperti juga Ji Sun Bi tidak perduli dengan wanita mana ketua itu berhubungan!
Maka terdapatlah hubungan segi tiga yang amat akrab dan aneh antara Ji Sun Bi, Sim Ki Liong, dan Tang Cun Sek.
Namun, tiga sekawan ini merupakan kesatuan yang amat berbahaya karena ketiganya memiliki ilmu kepandaian tinggi!
Apalagi setelah kini Hek-tok-pang menjadi sekutu mereka pula.
Perkumpulan Teratai Emas itu menjadi semakin kuat dan semakin terkenal.
Mereka melebarkan sayap kekuasaan mereka ke kota-kota lain, tidak bergerak sebagai pemberontak, bahkan sebaliknya.
Mereka menyusup ke dalam gedung-gedung para pejabat dan mendekati para pejabat dengan sogokan-sogokan.
Mereka menalukkan tokoh-tokoh dunia persilatan dengan mengalahkan para pemimpinnya, bukan menanam permusuhan dan kebencian karena setelah berhasil mengalahkan, mereka lalu mendekati dan menarik bekas lawan itu menjadi sekutu mereka.
Maka, makin kuatlah Kim lian-pang di bawah pimpinan Sim Ki Liong yang dibantu dengan setia oleh Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek itu.
Mulailah mereka menyebar anak buah Kim-lian-pang yang semakin banyak jumlahnya itu, selain untuk menyebar pengaruh, juga untuk mulai melakukan penyelidikan tentang dua orang tokoh persilatan, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Si Kumbang Merah Ang-hong-cu.
Yang pertama untuk sang ketua, dan yang ke dua untuk Tang Cun Sek.
Pek Han Siong melangkah lesu.
Pemandangan alam di sekitar pegunungan itu sebetulnya amat indahnya pada pagi hari yang cerah itu.
Namun, tiada keindahan di luar diri bagi seseorang yang menanggung derita di dalam dirinya.
Keindahan bukan terletak di luar, melainkan di dalam diri.
Kalau batin sedang terlanda duka, apapun yang dilihat oleh mata akan nampak tidak indah lagi.
Dan pada saat itu, Pek Han Siong sedang dilanda duka.
Cintanya terhadap Siangkoan Bi Lian ditolak!
Gadis itu fHenolak cintanya.
Dia dapat menghargai kejujuran dan keterusterangan Bi Lian, namun kenyataan itu sungguh membuat hatinya seperti ditusuk.
Pedih perih karena kecewa.
Apalagi, penolakan cinta gadis itu dinyatakan di depan Suhu dan Subonya.
Dia tahu betapa mereka amat menyayangnya, maka diapun ditarik sebagai calon mantu.
Akan tetapi, apa hendak dikata, Bi Lian yang terlibat langsung dalam urusan perjodohan itu menolak!
Diapun tidak dapat menyalahkan Bi Lian..
Bagaimana dapat menyalahkan seorang gadis karena tidak mencintanya?
Han Siong menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon.
Tubuhnya terasa penat.
Semalam suntuk dia tidak pernah berhenti, berjalan saja walaupun lambat, tak tentu arah tujuan sampai pada pagj hari itu dia tiba di pegunungan itu yang tidak dia ketahuinya namanya.
Tubuhnya lemas karena sudah dua hari dia tidak makan, hanya minum air, itupun kalau kebetulan dia melewati sebuah sumber air bersih.
Membiarkan tubuhnya duduk mengaso tetap saja tidak dapat menghilangkan kedukaanya, bahkan kini pikirannya melayang-layang, mengenangkan keadaan dirinya, semua peristiwa yang terjadi dan hatinya terasa semakin tertekan.
Sejak kecil dia tidak pernah merasakan bahagia, kecuali mungkin ketika dia tinggal di kuil Siauw-lim-si dan menjadi murid suami isteri sakti yang menjadi guru-gurunya, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.
Duka timbul dari pikiran yang penuh dengan perasaan iba diri.
Pikiran mengenang masa lalu yang penuh dengan kegagalan, membayangkan masa depan yang penuh kesuraman, maka pikiran atau si aku merasa iba kepada diri sendiri, merasa nelangsa dan sengsara.
Maka datanglah rasa duka, duka menghilangkan kewaspadaan, melenyapkan arti hidup.
Hidup bukanlah sekedar membiarkan diri diseret ke dalam lamunan, membiarkan diri dipermainkan pikiran!
Hidup adalah kenyataan apa yang ada, tidak perduli kenyataan itu menyenangkan atau menyusahkan.
Yang senang, atau yang susah itu adalah pikiran, Si-aku yang selalu menghendaki keenakan dan menghindarkan ketidak enakan.
Kenyataan hidup adalah seperti apa adanya, dan menerima kenyataan apa adanya inilah seni paling indah, paling agung dan paling murni dari kehidupan.
Menerima kenyataan seperti apa adanya, tanpa menilai!
Tanpa mengeluh Melainkan menyerahkan kepada Tuhan!
Tuhan Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Kasih!
Hanya Tuhan yang akan mampu membimbing kita, lahir maupun batin.
Kewajiban kita dalam hidup hanyalah untuk mempergunakan segala alat yang ada pada tubuh ini sebagaimana mestinya.
Panca-indera untuk bekerja seperti yang telah ditentukan dalam tugas masing-masing, termasuk pikiran yang sesungguhnya merupakan alat untuk berpikir, untuk bekerja, untuk dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Pikiran bukan alat untuk menyeret kita ke dalam lamunan kosong tentang suka duka.
Kita tidak mungkin dapat membersihkan pikiran yang bergelimang dengan daya-daya rendah, pikiran yang penuh nafsu, pikiran yang penuh dengan keinginan untuk mengejar enak sendiri.
Tak mungkin, karena "kita"
Yang ingin membersihkan ini juga pikiran itu sendiri!
Dan selalu keinginan pikiran hanya bersumber pada satu pamrih, yaitu mengejar keenakan untuk diri sendiri.
Dapat saja pikiran menciptakan akal bermacam-macam seperti sebutan muluk-muluk, bertapa, mengasingkan diri, mengheningkan cipta dan segala macam cara lagi untuk membersihkan batin.
Namun, semua itu adalah pekerjaan pikiran, pekerjaan si-aku, usaha dari nafsu pula karena pikiran itu sendiri bergelimang nafsu, dikemudikan nafsu.
Di balik semua usaha itu terdapat satu pamrih, yaitu sifat dari nafsu, ialah untuk mengejar keenakan bagi diri sendiri!
Karena itu, tidak mungkin kita membersihkan pikiran, tidak mungkin nafsu mengendalikan atau mengalahkan nafsu.
Semua ini hanya akal-akalan saja, akalnya si akal-pikir!
Satu-satunya kenyataan adalah bahwa yang dapat merubah segalanya itu, yang dapat membersihkan jiwa dari cengkeraman nafsu, yang dapat menempatkan semua alat tubuh luar dalam kepada kedudukan dan tugas mereka masing-masing secara utuh dan benar, hanyalah KEKUASAAN TUHAN!
Dan kekuasaan Tuhan akan bekerja kalau si -aku, yaitu hati dan akal pikiran kita tidak bekerja!
Dan kekuasaan Tuhan akan bekerja kalau kita menyerah kepadaNya, menyerah dengan penuh ketawakalan, kepasrahan dan keiklasan, menyerah dengan kesabaran.
Kehendak Tuhanpun jadilah!
Itu satu-satunya kenyataan yang mutlak.
Dalam kepasrahan lahir batin ini, kita akan menerima semua kenyataan hidup sebagai kehendak Tuhan, dan karenanya kita menghadapinya tanpa keluhan, tanpa celaan.
Bukan berarti kita lalu acuh dan mandeg.
Sama sekali tidak!
Kita pergunakan semua alat tubuh luar dalam untuk berusaha!
Tuhan yang akan memberi bimbingan dan tuntunan.
Kalau sudah begini, apapun yang terjadi, tidak menimbulkan penasaran atau keluhan, apa lagi duka.
Selain ingat dan waspada.
Ingat kepada Tuhan dan kekuasaanNya yang mutlak, menyerah, dan waspada terhadap setiap gerak langkah kita dalam hidup, waspada terhadap pikiran kita, terhadap ucapan kita, terhadap perbuatan kita, seperti kewaspadaan seorang yang memegang kemudi kendaraan.
Dan Tuhan Maha Kasih!
"Muridku, Han Siong.
Engkau akan terjun ke dunia ramai.
dan akan menghadapi segala macam pengalaman hidup.
Ingatlah selalu bahwa hidup tidaklah seperti yang kita kehendaki.
Hidup adalah hidup, merupakan kesatuan dari segala macam peristiwa.
Diumpamakan rasa, maka hidup itu terdiri dari semua rasa, manis, ya pahit, masam, gurih, asin, pedas dan sebagainya lagi.
Jangan engkau lalu menghendaki agar hidup ini manis lalu.
Bagaimana mungkin engkau dapat menikmati rasa manis kalau belum merasakan pahit, getir, asin, pedas dan lain-lainnya itu?
Karena itu bersiaplah engkau.
Jangan terkulai hanya oleh suatu peristiwa atau keadaan, karena apa yang terjadi, itu hanya sebagian kecil saja dari hidupmu!
Bangkitlah dan senyumlah, terimalah segala peristiwa dengan tabah, jadikanlah segala pengalaman sebagai guru.
Tuhan besertamu kalau engkau tabah dan selalu pasrah kepada kekuasaanNya!"
Entah mengapa.
Ketika dia sedang merasa tertekan itu, merasa betapa dirinya, seolah-olah semakin tenggelam ke dalam lautan duka, tiba-tiba saja bayangan gurunya yang terakhir, yaitu Ban Hok Lojin, seorang diantara Delapan Dewa, seperti tampak di depannya.
Kakek yang bertelanjang dada itu, gendut seperti arca Jilaihud, dengan wajah yang selalu terseyum lebar, dan ucapan gurunya itu bergema di telinganya.
Seketika bangkitlah semangat dan batin Han Siong.
Dia merasa seperti disiram air dingin.
Betapa bodohnya, membiarkan diri tenggelam ke dalam kedukaan yang hanya dibikinnya sendiri.
Pikirannya berubah menjadi tangan kejam yang mencengkeram dan meremas-remas hati dan perasaannya sendiri.
Dia bangkit.
Wajahnya tersenyum, matanya yang tadinya sayu itu kini berkilat dan mencorong, dan pada saat itu, dia mendengar betapa perutnya berkeruyuk dengan nyaring!
"Ha-ha-ha!"
Dia tertawa, tertawa bebas lepas seperti orang gila.
"Ha-ha-ha, engkau tolol! Ha-ha, engkau tolol! Terima kasih, Suhu, terima kasih!"
Dia lalu menepuk-nepuk perutnya yang kempis.
"Maafkan aku, perut. Aku sampai lupa kepadamu. Baiklah, mari kita mencari makanan untukmu!"
Han Siong melompat dan menuruni bukit itu.
Akan tetapi tiba-tiba dia harus berhenti karena di depannya muncul lima orang dengan senjata pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!
"Keparat, bersiaplah untuk menerima pembalasan kami!"
Bentak seorang di antara mereka.
Tentu saja Han siong menjadi terbelalak kaget dan heran.
Dia memandang penuh perhatian kepada mereka.
Seorang pria setengah tua, yang bicara itu, berusia kurang lebih lima puluh tahun, Bertubuh tinggi tegap, gagah dan wajahnya membayangkan kegagahan namun diliputi duka dan kemarahan.
Pakaiannya sederhana, akan tetapi serba putih, demikian pula pakaian empat orang lainnya, pakaian berkabung!
Orang kedua amat menarik perhatian.
Ia seorang gadis yang usianya kurang lebih delapan belas tahun, wajahnya yang putih halus itu berbentuk bundar, cantik dan bersih, matanya jeli dan bibirnya tipis, rambutnya panjang dibiarkan berjuntai ke belakang dalam bentuk dua buah kuncir hitam tebal dan panjang sampai ke pinggul Gadis inipun memegang sebatang pedang.
Tiga orang lainnya adalah pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun, ketiganya bersikap garang dan gagah, juga seperti orang pertama dan gadis itu, mereka berpakaian serba putih dan wajah mereka diliputi kedukaan dan kemarahan.
"Heii, nanti dulu!"
Teriaknya ketika mereka itu serentak sudah menyerangnya tanpa peringatan lebih dulu.
Hal ini hanya menunjukkan bahwa mereka itu benar-benar sudah marah sekali kepadanya dan amat membencinya.
Dan gerakan pedang merekapun ganas dan cepat, mengandung tenaga yang cukup kuat.
Ilmu pedang yang sumbernya dari selatan, dikombinasikan dengan tendangan-tendangan menyusul tusukan atau sabetan pedang.
Teriakannya tidak mendapat tanggapan dari mereka, bahkan lima orang itu menyerang dengan hebatnya.
Terpaksa Han Siong menggerakkan tubuhnya, berloncatan ke sana sini dan melihat mereka terus mendesak, dia lalu memainkan Kwan Im Sin-kun (Silat Sakti Kwan Im) yang lemah lembut namun tubuhnya bagaikan sehelai kapas saja yang sukar untuk dibabat pedang karena selalu babatan atau tusukan itu luput.
Tubuhnya menjadi demikian ringan, akan tetapi juga cepat sehingga sampai belasan jurus, serangan lima orang itu tak pernah mengenai sasaran.
"Heii, nanti dulu! Mari kita bicara dulu!"
Teriak Han Siong penasaran.
Karena dia tidak mengenal mereka, tentu saja dia tidak mau membalas, khawatir dia akan melukai mereka dan hal ini tentu akan menambah kebencian mereka yang belum diketahui sebabnya.
Ingin dia menggunakan ilmu sihir untuk menundukkan mereka, akan tetapi diapun khawatir kalau-kalau mereka akan merasa terhina dan tersinggung sehingga kembali hal itu akan menambah kebencian mereka kepadanya.
Dia akan menggunakan lain usaha, yaitu memperkenalkan diri karena dia menduga bahwa tentu mereka itu keliru mengenal orang.
Mereka bukan perampok, dan tidak nampak seperti orang-orang jahat.
Begitu mendapat kesempatan, tubuhnya tiba-tiba melayang naik ke atas pohon, mengejutkan lima orang pengeroyok itu yang tiba-tiba kehilangan lawan dan mereka semua kini memandang ke atas, ke arah pemuda itu yang telah berdiri di atas cabang pohon.
Pandang mata mereka kagum akan tetapi juga penuh kebencian.
"Heii, apakah ngo-wi (kalian berlima) terlalu banyak minum arak dan mabok? Aku Pek Han Siong selama hidupku baru sekali ini melihat ngo-wi, apalagi bermusuhan. Mengapa tiada hujan tiada angin ngo-wi menyerang aku demikian ganas dan kejam?"
Mendengar ini, lima orang itu saling pandang, dan pria setengah tua tadi berseru lantang.
"Sobat, coba sekali lagi katakan. Siapa namamu?"
Han Siong tersenyum.
Tahulah dia kini bahwa memang mereka itu keliru menyangka orang, atau keliru mengenal orang.
"Namaku Pek Han Siong, dan selama hidupku, belum pernah aku bertemu dengan ngo-wi."
"Engkau, bukankah engkau Kim-lian Pangcu? Wajah dan bentuk tubuhmu mirip sekali!"
Kata orang tua itu lagi.
"Ayah, kita baru melihatnya satu kali, itupun tidak jelas benar. Agaknya kita telah salah mengenal orang!"
Kata gadis itu. Han Siong kini tertawa.
"Ha, ha, ha, paman yang baik. Orang macam aku ini mana bisa menjadi pangcu (ketua)? Apa lagi ketua perkumpulan Teratai Emas, bahkan Teratai Tembagapun tidak! Aku seorang perantau, tidak memiliki kedudukan apapun."
"Wahh... kalau begitu maafkan kami, orang muda. Ih, kalian berempat ini mengapa tidak memberitahu? Aku sudah tua, mungkin pandanganku sudah kurang awas, akan tetapi kalian..."
Omelnya kepada puterinya dan tiga orang itu.
Han Siong sudah melompat turun dan gayanya melompat membuat lima orang itu berseru kagum.
Mereka seperti melihat seekor naga atau seekor garuda melayang turun dari atas pohon itu dan ketika kedua kakinya tiba di atas tanah, sama sekali tidak terdengar suara!
Kini lima orang itu, diawali oleh pria setengah tua, menyambut Han Siong dengan kedua tangan diangkat ke depan dada sebagai tanda penghormatan.
Han Siong cepat membalas penghormatan mereka.
Karena mereka kini tidak lagi memusuhinya, diapun tidak berani bicara main-main.
"Paman, seperti kukatakan tadi, aku Pek Han Siong sebelum saat ini belum pernah bertemu dengan ngo-wi. Apa sebabnya ngo-wi tiba-tiba menyerangku? Mohon penjelasan, paman, agar hatiku tidak tegang dan penasaran lagi."
Pria itu menengok ke kanan kiri, lalu berkata.
"Disini daerah kekuasaan musuh, Taihiap. Terlalu lama di sini kita bisa dikepung musuh. Marilah ikut dengan kami ke tempat tinggal kami, Taihiap, dan di sana kami akan menceritakan semua dengan jelas."
Biarpun dia tersenyum dan merasa tidak enak disebut Taihiap (pendekar besar), akan tetapi Han Siong yang merasa penasaran dan ingin tahu itu mengangguk dan mengikuti mereka menyusup ke dalam hutan.
Dia tertarik melihat ada tanda gambar seekor burung rajawali putih di atas baju mereka berlima, di dada kiri.
Tentu mereka ini dari sebuah perkumpulan, pikirnya.
Akan tetapi kalau tadinya dia mengira akan diajak pergi ke sebuah rumah perkumpulan besar di sebuah kota terdekat, dia kecelik.
Dia bukan di ajak ke kota, melainkan ke sebuah bukit dan mereka mengajaknya masuk ke dalam sebuah guha besar yang tersembunyi!
Biarpun demi kesopanan dia diam saja, namun dalam hatinya timbul pertanyaan.
Siapakah mereka ini dan perkumpulan apa yang memiliki tempat di sebuah guha tersembunyi?
Mereka ini seperti orang-orang buruan saja, seperti pelarian!
Ternyata di dalam guha itu terdapat tikar bersih yang terhampar di atas lantai guha.
Guha itupun cukup besar, cukup untuk menampung puluhan orang!
Akan tetapi, sunyi saja di situ, tidak ada orang lain kecuali mereka berenam.
"Silakan duduk, Taihiap. Maafkan tidak ada bangku atau kursi, terpaksa duduk di atas lantai."
"Tidak mengapa, paman..."
Kata Han Siong dengan tenang, walaupun hati nya semakin tertarik karena keadaan mereka itu jelas tidak sewajarnya.
Setelah mereka duduk bersiJa di atas tikar, mulailah pria setengah tua itu bercerita.
Dia bernama Ouw Lok Khi, ketua dari perkumpulan Pek-tiauw-pang (Perkumpulan Rajawali Putih).
Dia sudah menduda, dan mempunyai seorang anak perempuan yaitu Ouw Ci Goat, gadis berusia delapan belas tahun yang wajahnya bulat putih dan manis itu.
Perkumpulan Rajawali Putih mempunyal anak buah yang cukup banyak, ada empat puluh orang lebih dan perkumpulan ini selain mempelajari ilmu silat, juga membuka usaha pengawalan.
Nama mereka cukup dikenal sebagai orang-orang yang menentang kejahatan dan mencari nafkah secara halal.
Akan tetapi pada suatu hari, Ouw Lok Khi didatangi oleh seorang utusan dari Kim-lian-pang yang menuntut agar perkumpulan Pek-tiauw-pang mengakui kekuasaan Kim-lian-pang dan suka bekerja sama, membagi "rejeki", yaitu membagi sebagian dari usaha perkumpulan itu kepada Kim-lian-pang sebagai semacam upeti atau pengakuan kekuasaan.
Tentu saja Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi menolak dan menganggap permintaan itu keterlaluan.
Perkumpulannya sudah berdiri selama belasan tahun, Bagaimana mungkin sekarang harus mengakui kekuasaan sebuah perkumpulan yang baru saja muncul dan yang didirikan di Bukit Kim-lian-san, agak jauh dari kotanya, yaitu di Hok-lam?
Akibat penolakan itu, muncullah seorang pemuda yang mewakili ketua Kim-lian-pang menantang untuk mengadu kepandaian.
Karena marah, Ouw Ci Goat menandingi pemuda dari Kim-lian-pang itu.
Namun Ci Goat kalah jauh, bahkan ketika Ouw Lok Khi sendiri maju, diapun hanya mampu bertahan belasan jurus saja lalu roboh dan kalah.
Setelah mengalahkan mereka ayah dan anak, utusan Kim-lian-pang itu kembali membujuk agar Ouw Pangcu suka taluk dan menyerah.
Akan tetapi, ketua Pek-tiauw-pang ini tidak sudi menyerah.
Juga puterinya dan semua anak buah Pek-tiauw-pang tidak sudi menyerah dan tidak sudi membagikan hasil kerja mereka kepada perkumpulan itu.
"Karena kami tetap menolak, beberapa kali Kim-lian-pang mengirim jago-jagonya untuk menyerang kami. Dan memang mereka memiliki banyak orang pandai, terutama sekali dua orang pembantu ketua, pemuda dan wanita iblis itu! Kami tetap melakukan perlawanan dan kami tidak mau menyerah biarpun mereka mengancam akan membunuh kami semua. Akhirnya, tujuh hari yang lalu, benar saja serombongan orang dari Hek-tok-pang, yaitu perkumpulan jahat yang sudah menjadi anak buah mereka, menyerbu asrama kami di tepi kota Hok-lam. Kami mengadakan perlawanan mati-matian, akan tetapi mereka mempergunakan racun dan habis binasalah anak buah Pek-tiauw-pang! Tinggal kami berlima yang hidup..."
Ketua Pek-tiauw-pang itu tidak menangis, akan tetapi jelas nampak betapa wajahnya penuh kedukaan dan penasaran.
Juga Ci Goat tidak menangis, akan tetapi ia mengepal tinju.
"Kami akan melawan terus sampai mati!"
Kata gadis itu penuh semangat.
"Akan tetapi, mengapa tadi paman sekalian mengeroyok aku?"
Han Siong bertanya.
"Ketika orang-orang Hek-tok-pang itu menyerbu, kami sempat melihat tiga orang pimpinan Kim-lian-pang. Mereka tidak ikut turun tangan, akan tetapi sempat ketuanya menawarkan perdamaian dengan kami. Akan tetapi kami untuk terakhir kalinya menolak dan diapun lalu mengerahkan orang-orang Hek-tok-pang itu. Ketuanya itulah yang mirip dengan Taihiap. Kami memang sedang mengintai dan menanti saat baik kalau ada pemimpin mereka keluar, kami akan menyergap dan membunuhnya. Ketika Taihiap muncul, kami mengira Taihiap adalah ketua Kim-lian-pang yang bernama Sim Ki Liong itu."
"Siapa...??", Han Siong bertanya, kaget mendengar nama itu.
"Namanya Sim Ki Liong!"
"Orangnya masih muda, sekitar dua puluh dua tahun?"
"Benar sekali, apakah... Taihiap sahabatnya...?"
Tanya Ci Goat dengan suara mengandung kekhawatiran.
Han Siong menoleh dan dua pasang mata bertemu, bertaut dan gadis itu menundukkan mukanya.
Jelas nampak kedua pipi yang putih halus itu kemerahan.
"Sama sekali tidak bersahabat, nona, bahkan pernah kami saling bermusuhan! Dia pernah membantu pemberontakan seorang datuk sesat terhadap pemerintah. Dia memang lihai sekali dan sayang bahwa ketika gerombolan itu diserbu, dia sempat melarikan diri. Dan siapakah dua orang pembantunya yang lihai itu?"
"Seorang pemuda yang amat lihai pula bernama Tang Cun Sek,"
Kata Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi.
Han Siong mengerutkan alis dan menggeleng kepala, tidak mengenal nama itu.
"Dan seorang wanita iblis, yaitu Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi..."
Kata Ci Goat.
"Aih, kiranya siluman betina itu?"
Kembali Han Siong terkejut.
"Ia dulu juga membantu gerombolan pemberontak, kiranya berhasil menyelamatkan diri. Ah, kalau mereka yang memimpin, tentu Kim-lian-pang merupakan perkumpulan yang kuat dan juga jahat!"
Mendengar bahwa pemuda perkasa ini pernah bermusuhan melawan dua orang di antara para pimpinan Kim-lian-pang, hati lima orang sisa anggota Pek-tiauw-pang yang sudah terbasmi hampir habis itu menjadi girang dan timbul kembali harapan mereka untuk dapat membalas dendam.
Ouw Lok Khi langsung saja berlutut dan menghadap pemuda itu sambil berkata.
"Pek Taihiap, mohon Taihiap sudi menolong kami..."
Terkejut juga Han Siong melihat orang tua itu berlutut.
Cepat dia memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya duduk kembali.
"Pangcu, harap jangan begitu. Tanpa kau minta sekalipun, kalau aku melihat dua orang jahat itu merajalela, pasti aku akan menentang mereka."
"Aih, kalau Taihiap sudi turun tangan, sudah pasti mereka akan dapat kita hancurkan. Mari kita menyerbu sarang mereka di puncak Kim-lian-san, Pek-Taihiap!"
Kata pula ketua Pek-tiauw-pang itu penuh semangat, sedangkan puterinya dan tiga orang pembantunya juga mengangguk dan penuh semangat.
Mereka berlima sudah siap untuk membalas dendam dengan taruhan nyawa mereka.
Akan tetapi Han Siong tetap tenang dan menggerakkan tangan menyatakan tidak setuju.
"Pangcu, sungguh tidak bijaksana kalau kita menuruti hati yang mendendam saja. Dendam, kebencian menghilangkan kewaspadaan dan akhirnya bahkan menyeret kita ke dalam kehancuran. Seperti yang kau ceritakan tadi, Kim-lian-pang kuat sekali, selain dipimpin tiga orang yang lihai, juga dibantu Hek-tok-pang dan memiliki pula anak buah yang banyak. Kita hanya enam orang ini mana mungkin mampu menandingi begitu banyak lawan? Belum lagi diingat bahwa sarang perkumpulan sejahat itu tentu penuh dengan jebakan dan perangkap rahasia."
"Aku tidak takut!"
Tiba-tiba Ci Goat berseru sambil mengepal tinju.
Han Siong tersenyum dan memandang kagum kepada gadis itu.
"Kegagahanmu mengagumkan dan kuhargai, nona. Akan tetapi, dalam menghadapi lawan yang kuat dan besar jumlahnya, kita tidak mungkin hanya mengandalkan keberanian saja. Keberanian karena dendam membuat kita nekat dan tanpa perhitungan dan aku tidak ingin membiarkan kita semua mati konyol."
Ouw Lok Khi mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.
"Sekarang baru aku melihat kebenaran ucapanmu, Taihiap. Memang kami sudah menjadi gila oleh dendam sehingga kami tidak memperhitungkan bahaya dan kemungkinan kalah. Karena engkau berada di pihak kami, maka kami menyerahkan semua cara menghadapi musuh kepadamu."
Han Siong mengangguk dan menerima penyerahan pimpinan ini tanpa sungkan lagi karena dia tahu bahwa orang-orang yang sedang diamuk dendam kebencian itu bukan merupakan pimpinan yang baik.
"Kalau kita hendak menentang gerombolan jahat yang lihai itu, setidaknya kita harus mempunyai jumlah pembantu yang cukup berani dan gagah, dan yang jumlahnya seimbang dengan jumlah mereka."
"Hal itu mudah, Taihiap. Banyak perkumpulan yang merasa sakit hati terhadap Kim-lian-pang, namun mereka itu tidak berani bergerak karena merasa tidak kuat menghadapi kekuatan Kim-lian-pang. Aku akan menghubungi mereka, di antaranya banyak terdapat sahabat baikku, dan akan kubujuk mereka agar suka bekerja sama. Beberapa buah perkumpulan persilatan tentu mau membantu. Menurut perkiraanku, jumlah anak buah Kim-lian-pang tidak melebihi seratus lima puluh orang dan kita akan dapat mengumpulkan lebih banyak lagi."
Han Siong mengerutkan alisnya. Banyak juga anak buah yang sudah dikumpulkan Sim Ki Liong, pikirnya.
"Apakah tidak mungkin kita minta bantuan pasukan keamanan pemerintah?"
"Ah, itu sama saja dengan bunuh diri!"
Kata Ouw Lok Khi dengan muka muram.
"Kalau kita melapor, kita malah akan ditangkap lebih dulu!
Ketahuilah, Taihiap, gerombolan Kim-lian-pang itu cerdik dan licik sekali.
Mereka mendekati para pimpinan pemerintahan daerah dengan jalan menyuap dan menyogok, mengambil hati mereka, bahkan Kim-lian-pang menunjukkan jasanya dengan membasmi gerombolan penjahat.
Kim-lian-pang sendiri tidak pernah melakukan kejahatan.
Mereka hanya menundukkan semua perkumpulan dan memaksa para pimpinan perkumpulan untuk taluk dan membagi hasil rejeki.
Mereka memungut pajak dari manapun yang menghasilkan banyak uang, dengan dalih menjaga keamanan mereka.
Toko besar, perusahaan dan bahkan rumah-rumah penginapan.
Tidak, kita tidak mungkin dapat mengharapkan bantuan pasukan keamanan yang tentu (Lanjut ke
Jilid 13) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 akan berpihak kepada mereka."
Han Siong mengerutkan alisnya.
Kiranya Sim Ki Liong kini cerdik sekali, tidak mau mengulang kesalahan mendiang Lam-hai Giam-lo yang memberontak terhadap pemerintah.
Kini Sim Ki Liong malah mendekati pemerintah atau mendekati pejabat korup yang suka disogoknya agar mereka berpihak kepadanya!
Memang jalan satu-satunya untuk mengumpulkan tenagaatau pasukan adalah seperti yang diusulkan Ouw Pangcu tadi, yaitu mengumpulkan orang-orang yang mendendam kepada Kim-lian-pang.
"Baiklah, Ouw Pangcu. Engkau kumpulkan orang-orang yang mau kita ajak menyerbu Kim-lian-pang. Sesudah mereka siap, kita kepung puncak itu dan kau ajukan tantangan kepada Sim Ki Liong untuk mengadu kepandaian di lereng. Aku akan menghadapinya dan pada saat aku bertanding dengan para pimpinan itu maka kau kerahkan pasukan kita untuk menyerbu ke atas. Akan tetapi harus berhati-hati terhadap jebakan dan perangkap."
"Sebaiknya kita pergunakan api untuk memaksa mereka semua keluar sehingga kita tidak perlu harus menerjang jebakan dan perangkap berbahaya."
Kata Ouw Lok Khi yang kini sudah tenang, tidak lagi didesak dendam yang membuatnya nekat.
Han Siong mengangguk girang.
"Tepat sekali siasatmu itu, pangcu. Nah, mari kita mulai bekerja. Aku akan mempersiapkan diri, karena engkau membutuhkan waktu untuk mengumpulkan tenaga bantuan, sebaliknya kalau aku menanti dalam rumah penginapan di kota terdekat."
Han Siong bangkit berdiri. Ketua Pek-tiauw-pang itupun cepat bangkit.
"Taihiap, sebaiknya kalau Taihiap tinggal bersama kami. Biarpun asrama kami di Hok-lam telah dihancurkan oleh Kim-lian-pang, namun kami dapat tinggal di rumah seorang murid kami ini."
Dia menunjuk kepada seorang di antara tiga orang anggota Pek-tiauw-pang itu.
"Dia memiliki rumah besar dan kita semua dapat tinggal untuk sementara di sana."
"Benar sekali, Pek-Taihiap,"
Kata pria berusia tiga puluh tahun itu.
"Rumah kami cukup besar dan kami dapat menyediakan sebuah kamar untuk Taihiap."
Orang itu bernama Thio Ki dan sikapnya ramah.
Karena merasa bahwa memang lebih baik kalau dia tidak berpisah dari lima orang itu, Han Siong menyetujui dan berangkatlah mereka meninggalkan gua dalam hutan itu, pergi ke kota Hok-lam.
Akan tetapi mereka bersepakat bahwa gua yang tersembunyi itu akan dijadikan markas baru untuk kegiatan mereka melakukan penyerbuan terhadap Kim-lian-pang karena tempat itu baik sekali, merupakan gua dalam hutan di bukit yang tidak berjauhan dari Kim-lian-san.
Beberapa hari saja setelah dia tinggal di rumah Thio Ki, Han Siong merasa benar bahwa dia amat dihormati dan diperhatikan.
Terutama sekali Ouw Ci Goat.
Gadis itu sendiri yang melayaninya, mencucikan pakaiannya, membersihkan kamarnya.
Perhatian gadis itu terhadap dirinya sungguh membuat dia merasa sungkandan malu.
Berkali-kali dia melarang gadis itu mencucikan pakaiannya, namun Ci Goat memaksanya.
"Taihiap adalah tamu agung kami, bagaimana harus mencuci pakaian sendiri? Pula, aku seorang wanita, sudah selayaknya kalau mencucikan pakaian Taihiap. Harap jangan sungkan, Taihiap, bukankah kita telah bersahabat dan Taihiap merupakan penolong kami?"
Bukan hanya perhatian dengan cara melayaninya saja, akan tetapi beberapa kali dia memergoki gadis itu memandangnya dengan pandang mata yang aneh, Pandang mata yang sayu dan seperti orang terpesona, dan kalau tanpa djsengaja dia menengok sehingga mereka bertemu pandang, gadis itu tersipu dan menundukkan mukanya dengan cepat, akan tetapi dia masih sempat melihat sepasang pipi yang tadinya putih halus itu berubah kemerahan.
Sungguh aneh sekali!
Dua hari kemudian, mereka hanya berdua saja di rumah itu.
Ouw Lok Khi dan tiga orang muridnya juga anak buahnya, pergi untuk melanjutkan usahanya mengumpulkan baja bantuan.
Thio Ki memang tinggal seorang diri di rumah itu.
Ayah ibunya dan juga isterinya telah dia ungsikan ke dusunsemenjak dia terlibat permusuhan dengan Kim-lian-pang, dan semua pelayan disuruh pulang.
Hanya Ci Goat yang ditinggal di rumah untuk melayani keperluan Han Siong yang mereka hormati.
"Taihiap, silakan makan pagi."
Kata Ci Goat setelah ia mempersiapkan makan pagi di meja ruangan makan.
"Ayah dan tiga orang suheng sejak pagi sekali tadi telah pergi berkunjung ke Ki-lam untuk mengumpulkan teman. Silakan Taihiap makan sendiri."
"Ah, mari kita makan bersama, nona. Engkau pun belum makan pagi bukan?"
"Harap jangan sebut aku nona, tidak enak rasanya...seolah kita ini saling merasa asing..."
"Tapi engkau pun menyebut Taihiap padaku, nona."
"Engkau memang seorang pendekar sakti, pantas disebut Taihiap. Akan tetapi aku... ah, sebut saja namaku. Namaku Ci Goat."
"Aku mau menyebutmu adik Ci Goat kalau engkau juga mau merubah sebutan kepadaku. Panggil saja aku toa-ko (kakak)."
Gadis itu tersenyum dan kembali kedua pipinya berubah merah.
"Baiklah..., toa-ko."
Katanya sambil menunduk.
"Silakan makan pagi, toa-ko."
"Kita hanya berdua saja di rumah ini, apa salahnya kalau kita makan bersama, Goat-moi (adik Goat)? Hayolah, bukankah engkau sendiri bilang bahwa kita ini bukan orang asing?"
Biarpun masih tersipu, akhirnya Ci Goat mau juga diajak makan bersama.
Setelah duduk berhadapan dekat, hanya terhalang meja makan, barulah Han Siong mendapat kenyataan bahwa gadis ini biarpun sederhana sekali, wajahnya tanpa bedak dan gincu, namun wajah itu sungguh bersih dan manis.
Juga sikapnya amat sederhana, tidak banyak cakap, jarang tertawa, bahkan wajahnya diliputi awan duka.
Akan tetapi mulut itu selalu membayangkan senyum ramah, senyum di kulum yang membuat wajahnya nampak manis selalu.
Juga ketika ia bicara dan Han Siong memperhatikannya, gadis itu memiliki gigi yang berderet rapi dan putih bersih.
"Goat-moi, setelah kita sekarang menjadi sahabat yang akrab, kiranya sudah sepantasnya kalau aku mendengar lebih banyak tentang dirimu dan ayahmu. Maukah engkau menceritakan riwayat dan keadaanmu sampai engkau kehilangan tempat tinggal seperti sekarang ini?"
Tanya Han Siong ketika mereka sudah selesai makan dan dia membantu gadis itu membersihkan meja, menyingkirkan sisa makanan dan mencuci mangkok.
Gadis itu menarik napas panjang.
"Tidak banyak yang dapat kuceritakan, twako, dan yang dapat diceritakan hanya Soal-soal yang menyedihkan saja. Aku kehilangan ibuku ketika berusia kurang dari sepuluh tahun. Sejak itu aku hidup berdua dengan ayah dan para suheng, dan aku dididik oleh ayah, mempelajari ilmu silat dan ilmu baca tulis sekedarnya. Setelah remaja, aku membantu pekerjaan ayah, kadang-kadang aku membantu pengawalan kiriman barang bersama para suheng. Semua terjadinya malapetaka yang disebabkan oleh Kim-Iian-pang itu. Hampir semua anggota perkumpulan kami binasa, hanya tinggal kami berlima. Juga dalam perkelahian itu aku telah kehilangan... calon suamiku..."
"Ahhh...! Sungguh menyedihkan! Kasihan sekali engkau, Goat-moi!"
Kata Han Siong, terkejut dan juga ikut bersedih. Gadis itu menarik napas panjang.
"Jangan engkau salah duga, twako. Kematiannya bagiku tiada bedanya dengan kesedihan melihat para suheng lain yang juga tewas. Tunanganku itu juga seorang suhengku, murid dari ayah. Terus terang saja, perjodohan itu atas kehendak ayah dan bagiku, dia itu seperti para suheng yang lain. Aku bahkan selalu termenung dan sukar membayangkan dia menjadi suamiku kelak. Sudahlah, dia sudah tidak ada dan semoga dia mendapatkan tempat yang penuh damai."
Han Siong tidak berani banyak bicara lagi, takut kalau mengusik kenangan yang menyedihkan.
Akan tetapi dia maklum bahwa gadis ini tidak mencinta tunangannya yang tewas itu, dan kalau ia mau dijodohkan dengannya, hal itu hanya karena ia mentaati perintah ayahnya saja.
Diam-diam dia menaruh hati iba kepada gadis yang manis ini, yang telah begitu percaya kepadanya sehingga menceritakan semua tentang dirinya.
"Toa-ko, sekarang tiba giliranmu. Akupun ingin sekali mendengar riwayatmu, tentu hebat. Maukah engkau menceritakan kepadaku, toa-ko?"
Tanya gadis itu dan mereka kini duduk di belakang rumah, di atas bangku dalam taman yang bermandikan cahaya matahari pagi.
"Tidak ada yang menarik, Goat-moi. Ayahku juga seorang pangcu, ketua dari Pek-sim-pang di daerah Kong-goan, amat jauh dari sini, jauh di barat sana. Sejak kecil aku mempelajari ilmu silat, dan sekarang ini aku sedang melakukan perjalanan untuk meluaskan pengalaman dan memperbanyak pengetahllan. Kebetulan saja aku lewat di sini dan bertemu dengan kalian berlima."
Han Siong memang tidak suka banyak bercerita tentang dirinya, dan agaknya hal ini terasa pula oleh Ci Goat, maka gadis itupun tidak mendesak.
Hanya ada satu hal yang agaknya sejak tadi mengganjal di hati Ci Goat, dan kini dengan memberanikan diri, dengan kedua pipi berubah kemerahan ketika ia menatap wajah pemuda itu, ia berkata.
"Toa-ko, kurasa usiamu jauh lebih tua daripada aku yang berusia delapan belas tahun."
Jelas bahwa ucapan ini memancing keinginan tahunya tentang usia pemuda itu. Han Siong tersenyum.
"Tentu saja aku jauh lebih tua, adik Goat. Aku sudah berusia dua puluh dua, hampir dua puluh tiga tahun."
"Ah, kalau begitu tentu engkau sudah berkeluarga, taoko."
Kata gadis itu, cepat dan sambil lalu, seolah acuh.
Mendengar pertanyaan ini, Han Siang merasa betapa hatinya tertusuk karena dia teringat kepada Siangkaan Bi Lian, gadis yang dicintanya dan yang telah menolaknya!
Ci Goat, telah, berterus terang kepadanya, diapun sudah sepantasnya berterus terang, sekalian memperoleh kesempatan untuk menyalurkan rasa penasaran dan kekecewaannya.
"Seperti juga engkau, tadinya aku sudah ditunangkan oleh guru-guruku, akan tetapi pertunangan itu gagal..."
Gadis itu terbelalak, memandang dengan matanya yang jeli, dan bayangan senyum menghilang dari ujung bibirnya.
"Ia...ia Juga... Mati...?"
Han Siang menggeleng kepala dan menghela napas.
"Ia menolak untuk berjodoh denganku."
"Ahhh...!"
Gadis itu mengeluarkan suara keluhan lirih.
"tak mungkin... tak mungkin..."
Han Siong mengangkat muka, memandang dengan sinar mata heran.
"Apanya yang tidak mungkin, Goat-moi?"
"Bagaimana mungkin seorang gadis menolak engkau untuk menjadi jodohnya...!"
Tiba-tiba gadis itu berhenti bicara dan menundukkan mukanya yang kemerahan, karena ia merasa betapa ia telah kelepasan bicara, begitu saja mengeluarkan suara hati melalui mulutnya.
Han Siong tersenyum pahit, lalu diapun meninggalkan gadis itu, menuju ke kamarnya.
Malam itu Han Siong tak dapat tidur, gelisah.
Percakapan dengan Ci Goat tadi membongkar kenangan lama, membuat wajah Bi Lian selalu terbayang di depan mata, mendatangkan rasa rindu yang hebat.
Ketika Ci Goat menawarkan makan malam, dia mengatakan bahwa dia tidak lapar dan minta kepada gadis itu untuk makan malam sendiri.
"Taruh saja di atas meja, nanti kalau aku lapar, aku akan mengambilnya sendiri, Goat-moi."
Katanya dengan lesu.
Agaknya Ci Goat juga melihat sikap pemuda yang lesu itu, maka iapun tidak berani lagi mengganggunya.
Tadi ketika makan siangpun pemuda itu hanya makan sedikit dan tidak banyak bicara.
Malam telah larut.
Han Siong masih rebah termenung, tidak dapat pulas.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara di belakang rumah.
Dia menjadi curiga dan cepat dia turun dari pembaringan, mengenakan sepatunya dan berindap keluar dari kamarnya, cepat menuju ke belakang rumah.
Kiranya yang menimbulkan suara itu adalah Ci Goat!
Gadis itu keluar dari rumah menuju kekebun di belakang, membawa buntalan.
Han Siong menahan diri tidak menegur, hanya membayangi dengan perasaan heran Apa yang akan dilakukan gadis itu pada malam hari begini?
Ci Goat berhenti di dekat bangku panjang di mana pagi tadi mereka duduk bercakap-cakap, lalu ia meletakkan buntalan di atas bangku dan membukanya.
Kiranya buntalan itu terisi alat-alat untuk bersembahyang, seperti hio-swa (dupa biting) dan lain-lain.
Dan gadis itu lalu meletakkan semua persiapan sembahyang ke atas bangku, menyalakan hio dan bersembahyang!
Dan gadis itu mengucapkan kata-kata permohonan dengan suara bisik-bisik, merasa yakin bahwa tidak mungkin ada orang yang akan mendengar suaranya yang lirih.
Kebun itu sunyi dan kosong, dan andaikata ada orang didekatnyapun tidak akan dapat menangkap kata-kata doa yang diucapkan sambil berbisik.
Ia salah perhitungan!
Orang biasa mungkin tidak dapat menangkap kata-kata bisikan itu, namun pendengaran Han Siong lain daripada orang biasa.
Biarpun jarak antara dia yang berada di balik batang pohon tidak terlalu dekat dengan gadis itu, namun di tempat yang sunyi itu, dia mampu menangkap kata-kata doa gadis itu dengan jelas!
Dan gadis itu berdoa untuk dia!
Gadis Itu bersembahyang untuk dia.
Antara lain yang didengarnya adalah kata-kata yang membuatnya terharu sekali.
"...ya Tuhan, Tuhan dari Bumi dan Langit, dengarlah permohonan saya ini. Kalau sampai terjadi perkelahian dengan Kim-lian-pang, lindungilah toa-ko Pek Han Siong, berilah kemenangan padanya atau andaikata dia kalahpun, lindungilah dia. Jangan sampai aku kehilangan dia pula, ya Tuhan, karena dialah satu-satunya orang yang menjadi tumpuan harapanku, dialah satu-satunya orang yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku..."
Han Siong tidak dapat mendengarkan terus.
Dia sudah berkelebat pergi, jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas.
Gadis itu jatuh cinta padanya!
Sampai di dalam kamarnya, kembali dia termenung.
Sekali ini bukan membayangkan wajah Bi Lian.
Yang terbayang adalah wajah Ci Goat, gadis yang bersembahyang untuk keselamatannya, gadis yang takut kehilangan dia, yang mencintanya dengan jiwa raganya!
Pada keesokan harinya, dia bersikap biasa, akan tetapi sekarang baru dia mengerti akan pandang mata gadis itu yang tadinya dianggap aneh.
Pandang mata gadis itu ternyata penuh dengan sinar kagum dan cinta!
Hal ini membuat dia merasa rikuh sekali, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan merasa semakin kasihan kepada gadis itu.
Kalau saja Ci Goat tahu bahwa hatinya telah melekat kepada bayangan Bi Lian dan bahwa tidak mungkin ada gadis lain di dunia ini dapat menjatuhkan cinta hatinya!
Dia hanya mencinta Bi Lian seorang, dan andaikata dia dapat mencinta gadis lain, tentu tidak seperti cintanya kepada Bi Lian.
Dalam waktu sepekan, siaplah sudah pasukan yang dikumpulkan oleh Ouw Pangcu.
Mereka itu adalah orang-orang gagah dari beberapa perkumpulan silat yang pernah menerima penghinaan dari Kim-lian-pang.
Jumlah mereka tidak kurang dari dua ratus orang!
Dan tentu saja mereka yang bersedia membantu adalah para anggota perkumpulan silat yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, dipimpin oleh ketua atau guru masing-masing.
Tentu saja para pimpinan inipun lihai, setingkat dengan ilmu kepandaian Ouw Pangcu dan jumlah mereka ada enam orang.
Enam orang ini dipertemukan dengan Han Siong dan mereka semua merasa kagum kepada pemuda itu ketika mereka mendengar betapa Han Siong adalah seorang diantara para pendekar yang pernah membasmi gerombolan pemberontak yang dipimpin mendiang Lam-hai Giam-lo.
Mereka mengadakan perundingan dan menyusun siasat.
Pada hari yang ditentukan, Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi berdiri di lereng Bukit Kim-Jian-san dekat puncak, dan beberapa orang anak buahnya melepas anak panah berapi ke arah puncak, setelah beberapa kali melepas panah berapi yang diantaranya ada yang membakar daun-daun kering dekat puncak, Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi lalu mengeluarkan teriakan nyaring sambil mengerahkan tenaga khikang.
"Haiii, para pimpinan Klm-Jian-pang! Kalau kalian memang gagah perkasa, turunlah dari puncak dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!"
Sampai tiga kali dia mengulang teriakannya itu, kemudian dia bersama semua pasukan yang telah siap di tempat itu, bersembunyi.
Hanya Han Siong seorang yang menanti di lapangan rumput di lereng bukit itu, dengan sikap waspada dan hati-hati.
Tak lama kemudian, nampak bayangan orang berkelebat dari atas dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pria muda yang tampan dan gagah.
Tadinya Han Siong mengira bahwa ketua Kim-lian-pang, yaitu Sim Ki Liong yang muncul sendiri.
Akan tetapi setelah dia memperhatikan, yang muncul itu adalah seorang pria muda berusia kira-kira tiga puluh tahun yang tidak dikenalnya.
Pria ini tinggi besar, wajahnya berkulit putih dan tampan gagah, matanya mencorong aneh.
Pria ini bertangan kosong, namun sikapnya yang tenang itu, tanpa senjata, dan pemunculannya yang tiba-tiba bagaikan setan, sudah menunjukkan bahwa dia seorang lawan yang tangguh.
Pria itu bukan lain adalah Tang Cun Sek.
Para pimpinan Kim-lian-pang marah bukan main melihat serangan anak panah berapi itu.
Walaupun anak panah yang diluncurkan itu tidak sampai mencapai puncak dan tidak mengenai perumahan Kim-lian-pang, namun cukup mengejutkan, apalagi ada beberapa batang anak panah berapi yang sempat mengakibatkan kebakaran ketika mengenai daun-daun kering di atas tanah.
Anak buah Kim-lian-pang terpaksa harus cepat-cepat memadamkan kebakaran itu sebelum menjalar dan membakar hutan di dekat puncak.
Ketika mereka mendengar tantangan yang diteriakkan Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi, Tang Cun Sek segera berkata kepada Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi bahwa dia akan menghadapi ketua Pek-tiauw-pang itu.
"Hemm, aku yakin dia tidak datang sendirian. Tentu banyak kawannya, dan tentu dia membentuk pasukan yang kuat. Kalau tidak, mana dia berani bersikap seperti itu?"
Kata Ji Sun Bi yang berhati-hati.
"Akupun menduga demikian,"
Kata Sim Ki Liong.
"Tang-toa-ko, engkau keluarlah dan sambut tantangan itu, kami mengikuti dari belakang dan aku akan mempersiapkan anak buah lebih dulu untuk bertahan kalau-kalau mereka berani menyerang ke atas dan kita harus dapat membasmi mereka."
Tan Cun Sek menyanggupi lalu diapun berlari turun dari puncak.
Ketika dia melihat seorang pemuda berdiri seorang diri di lapangan rumput itu, diapun cepat menghampiri dan mereka kini sudah berdiri saling berhadapan dan saling pandang dalam jarak kurang lebih empat meter saja.
Bagaikan dua ekor ayam aduan, mereka itu saling pandang dengan sinar mata penuh selidik, seperti hendak menyelidiki keadaan lawan masing-masing.
Watak Cun Sek yang tinggi hati membuat dia belum apa-apa sudah memandang rendah kepada calon lawan itu.
"Mana dia ketua Pek-tiauw-pang yang berteriak menantang tadi?"
Tanyanya.
"Kenapa dia bersembunyi dan siapakah engkau?"
Han Siong tersenyum.
"Memang akulah yang mewakilinya untuk menghadapi para pimpinan Kim-lian-pang. Di mana adanya ketua Kim-lian-pang? Biarkan dia turun sendiri untuk menandingiku."
"Keparat, engkau hanya datang mengantar nyawa. Tidak perlu Kim-lian Pangcu yang maju sendiri, sudah cukup aku untuk menghajarmu, kalau perlu membunuhmu!"
Kata Tang Cun Sek sambil melangkah maju.
"Sayang, sungguh sayang, seorang muda yang gagah seperti engkau, ternyata hanya menjadi kaki tangan iblis-iblis seperti Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi. Engkau tentu yang bernama Tang Cun Sek, bukan? Hemm, apa saja yang kau dapat dari mereka? Janji muluk, harta dan juga kecabulan Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi itu, bukan?"
Mendengar ucapan ini, seketika wajah Cun Sek menjadi merah sekali.
Ucapan itu memang tepat menelanjanginya, maka dapat dibayangkan betapa rasa malu membuat dia marah bukan main.
"Tutup mulutmu, keparat busuk!"
Bentaknya dan dia sudah menerjang dengan dahsyat.
Kedua tangannya bergerak cepat dan kuat sekali, mendatangkan tenaga yang amat hebat karena dia sudah mengerahkan tenaga dan mainkan ilmu silat Thian-te Sin-ciang yang merupakan satu di antara ilmu-ilmu yang ampuh dari Cjn-ling-pai.
Menghadapi serangan yang dahsyat ini, tentu saja Han Siong tidak berani memandang ringan.
Dari angin pukulan itu saja diapun maklum bahwa benar seperti telah diduganya, lawan ini bukan lawan yang ringan.
Diapun cepat mengelak.
Akan tetapi, gerakan Cun Sek memang cepat sekali, karena begitu pukulannya luput, tubuhnya sudah membalik dan kembali dia sudah melakukan serangan yang sambung menyambung.
Han Siong berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan serangan-serangan itu sambil memperhatikan gerakan lawan.
Diam-djam diapun terkejut dan heran.
Jelas bahwa pemuda ini menjadi pembantu dua orang muda yang amat jahat, dan sepantasnyalah kalau pemuda ini juga seorang tokoh sesat.
Akan tetapi mengapa gerakan silatnya demikian bersih?
Bahkan ilmu silatnya sendiri jauh kalah bersih dibandingkan ilmu silat yang dimainkan penyerangnya itu.
Dia menerima ilmu-ilmunya dari Suhu dan Subonya, dan memang kedua orang gurunya itu pernah membuat pengakuan bahwa mereka adalah keturunan datuk-datuk sesat sehingga ilmu merekapun tidak bersih.
"Betapapun juga, yang menentukan bersih kotornya suatu ilmu adalah pemakainya,"
Demikian Suhunya pernah berkata.
"Sudah menjadi kewajibanmu untuk membuat ilmu-ilmu silat kita menjadi ilmu yang bersih, dengan menghilangkan sifat-sifat yang curang dan licik, menghilangkan penggunaan hawa beracun, dan terutama sekali, mempergunakannya untuk menentang kejahatan dan membela keadilan dan kebenaran!"
Dan selama ini, dia mentaati pesan gurunya itu, bahkan setelah dia menerima gemblengan dari Ban Hok Lojin, maka ilmu-ilmu dari guru nya dapat disempurnakan dan dibersihkan.
Setelah mempelajari gerakan lawan sampai belasan jurus, barulah Han Siong membalas dan mengingat akan kelihaian lawan, diapun langsung saja memainkan ilmu silat Pek-hong Sin-ciang yang didapatkannya dari Ban Hok Lojin.
Begitu dia memainkan ilmu silat ini, maka terkejutlah Cun Sek.
Angin menyambar-nyambar bagaikan badai, dan ketika lengannya bertemu dengan lengan lawan, dia terdorong sampai terhuyung ke belakang!
Karena terkejut, setelah berdiri tegak.
kembali, dia tidak segera menyerang lagi, melainkan memandang dengan mata mendelik, penuh rasa penasaran dan marah karena malu.
"Singgg...!"
Ketika tangan kanannya meraba pinggang, tiba-tiba berkelebat sinar emas dan pedang pusaka Hong-cu-ciam telah berada di tangan kanannya.
"Keparat!"
Dia membentak sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah Han siong.
"Sebelum kubunuh engkau, katakanlah siapa namamu agar jangan engkau mati tanpa nama!"
Han siong tersenyum.
Pemuda bernama Tang Cun sek ini bukanlah orang yang dicarinya.
Yang ingin dilawannya adalah sim Ki Liong, akan tetapi bagaimanapun juga, pemuda di depannya ini merupakan seorang pembantu yang amat lihai dari sim Ki Liong.
Bahkan mungkin tidak kalah dibandingkan dengan Ji Sun Bi.
Maka harus ditundukkan, apalagi pedang yang berada di tangannya itu jelas bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang pusaka yang ampuh.
Dari sinarnya saja dia sudah tahu bahwa pedang tipis yang tadi menjadi sabuk itu amat berbahaya.
Padahal, dia sendiri sudah tidak memiliki pedang, karena pedang pusaka Kwan-im Po-kiam pemberian gurunya yang juga menjadi tanda ikatan jodoh telah dia kembalikan kepada Suhu dan Subonya.
Biarlah, dia ingin menguji dulu sampai di mana kelihaian lawannya itu.
"Hemm, namaku Pek Han Siong, kawan. Lebih ku sayangkan lagi bahwa pedang pusaka sebaik itu akan kau pergunakan untuk kejahatan!"
Cun Sek belum pernah nama Pek Han Siong, maka nama itu tidak ada artinya apapun baginya.
Juga dia melihat lawannya itu masih belum mengeluarkan senjata.
Sebagai seorang yang amat menghargai diri sendiri, Cun Sek merasa penasaran sekali.
Dia tentu saja tidak mau di anggap pengecut menyerang orang tanpa senjata dengan pedang pusakanya, maka dia menantang.
"Pek Han Siong, tidak perlu banyak cakap. Keluarkan senjatamu!"
Han Siong menggeleng kepalanya.
"Aku tidak memegang senjata, dan kalau engkau mengira aku takut menghadapi pedangmu, engkau keliru. Aku akan melawan pedangmu dengan tangan kosong."
"Manusia sombong, jangan salahkan aku kalau tubuhmu akan terbabat menjadi beberapa potong. Lihat pedang!"
Terdengar suara berdesing dan nampak sinar emas menyambar ke arah lehernya.
Han Siong kagum sekali.
Pedang itu merupakan pusaka ampuh, akan tetapi juga digerakkan oleh tangan ahli.
Dia cepat mempergunakan ginkangnya untuk meloncat dan mengelak.
Namun, pedang itu bergerak terus dengan amat cepatnya sehingga Han Siong terpaksa harus berloncatan ke sana-sini.
Dia semakin kagum.
Tentu saja ilmu pedang lawan itu hebat karena Cun Sek memainkan ilmu pedang dari Cin-ling-pai yang mengandung unsur iimu pedang Siang-bhok-kiamsut yang amat tinggi tingkatnya..
Walaupun dia tidak menguasai sepenuhnya Siang-bhok-kiamsut, namun cukuplah untuk membuat dia menjadi seorang ahli pedang yang amat lihai.
Namun, sekali ini Cun Sek berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki tingkat lebih tinggi dalam ilmu silat.
Han Siong masih lebih pandai, baik dalam ilmu silat maupun lebih kuat dalam ilmu sin-kang dan gin-kang.
Maka, biarpun Cun Sek menyerangnya bertubi-tubi, tubuh Han Siong berkelebatan dan selalu terhindar dari sambaran pedang, bahkan kini Han Siong mulai membalas dengan serangan, yang tidak kalah ampuhnya, walau hanya mempergunakan tangan dan kaki.
Dengan Pek-hong Sin-ciang, Han Siong bahkan beberapa kali membuat Cun Sek terdesak dan terhuyung.
Bahkan pernah pedang pusaka Hong-cu-kiam di tangannya hampir terlepas ketika lengan kanannya terkena tendangan kaki Han Siong.
Kini Cun Sek mulai terdesak.
"Haiiitttt...!"
Cun Sek yang menjadi penasaran sekali, dengan nekat memutar tubuh setelah tadi menghindarkan diri dari tendangan kaki kiri Han Siong, lalu sambil berputar, pedangnya menusuk ke arah perut lawan.
"Hemmm... huhhh!!"
Han Siong membentak dan tangan kirinya mendorong dari samping.
Dengan tangan kosong, dengan telapak tangannya, Han Siong mendorong pedang yang luar biasa tajamnya itu.
"Plak!"
Pedang itu terpukul menyerong dan pada saat itu, tangan kanan Han Siong sudah menampar ke arah kepala lawan.
Cun Sek terkejut bukan main.
Telapak tangan lawan itu mampu menangkis pedangnya, dan kini tiba-tiba ada angin menyambar ke arah kepalanya.
Dia miringkan tubuh dan menarik kepalanya ke belakang.!
"Plakk!"
Pundaknya terkena srempetan telapak tangan Han Siong dan Cun Sek terpelanting.
Dia terkejut, lalu bergulingan menjauh sambil memutar pedang melindungi tubuhnya.
Ketika dia meloncat bangun, ternyata lawannya tidak mengejar, melainkan berdiri tegak sambil memandang kepadanya dengan senyum.
Mulailah Cun Sek merasa jerih karena dia maklum bahwa dia menghadapi lawan yang memiliki ilmu kesaktian.
Pada saat itu nampak bayangan berkelebat dan ternyata Sim Ki Liong sudah berdiri di situ.
Sim Ki Liong dan Pek Han Siong berdiri saling pandang dengan sinar mata mencorong.
Mereka memang sebaya dan bentuk tubuh mereka juga sama.
Keduanya sama tampan, hanya sikap Ki Liong lebih halus, kehalusan yang menyembunyikan keliaran yang terkendali, dan mata Ki Liong kadang-kadang mencorong aneh dan kejam, sedangkan Han Siong sebaliknya selalu bersikap tenang sekali.
Ki Liong segera mengenal Han Siong dan diapun mengangguk-angguk.
"Hemm, kiranya engkau yang datang membikin ribut. Pek Han Siong, ternyata sekarang engkau telah menjadi jagoan yang mewakili Pek-tiauw-pang. Berapakah dia membayarmu? Apakah dibayar dengan puterinya yang cantik itu?"
Kalau orang lain yang menerima ejekan dan penghinaan ini, tentu akan menjadi marah.
Namun, Han Siong adalah Seorang pemuda gemblengan.
Dia hanya tersenyum dan menjawab dengan halus pula.
"Sim Ki Liong, engkau tahu siapa engkau dan siapa aku. Setelah gagal membantu pemberontakan mendiang Lam-hai Giam-lo dan engkau beruntung dapat meloloskan diri, kini engkau melakukan kejahatan baru dengan menguasai semua perkumpulan yang kau peras, mempengaruhi para pejabat daerah dan bersekutu dengan orang-orang jahat. Engkau melakukan pembunuhan semena-mena. Dan engkau tahu bahwa aku selalu, sejak menentang Lam-hai Giam-lo sampai sekarang, selalu akan menentang segala macam bentuk kejahatan! Aku bukan sekedar wakil Pek-tiauw-pang, melainkan wakil seluruh masyarakat yang menderita karena kejahatanmu. Aku sudah mendengar bahwa engkau bersekutu dengan Tok-sim Mo-li. Di mana ia sekarang? Mengapa tidak keluar sekalian?"
Berkata demikian, Han Siong menendang sebuah batu sebesar kepalan tangan yang berada di depan kakinya.
Batu itu meluncur ke arah semak-semak dan tiba-tiba saja batu itu tertangkis dan runtuh.
Dari balik semak-semak muncullah Tok-sim Mo-li Ji Sun bi, diikuti oleh tiga orang pria berusia lima puluh tahun lebih yang kesemuanya berjubah pendeta, dengan rambut panjang digelung ke atas seperti tosu (pendeta Agama To).
Melihat munculnya wanita cantik ini, senyum di bibir Han Siong melebar.
"Nah, sekarang baru lengkap, semua biang keladi kekacauan telah berkumpul di sini!"
Ucapan ini dikeluarkan agak keras karena memang merupakan isarat bagi Ouw Pangcu dan kawan-kawannya untuk mulai dengan penyerbuan mereka ke puncak Kim-lian-san.
"Pek Han Siong, selamat berjumpa dan selamat jalan ke neraka!"
Kata Ji Sun Bi sambil mencabut sepasang pedangnya.
"Sekaranglah saatnya kami membalas dendam atas kekalahan kami dahulu!"
Sim Ki Liong yang sudah maklum akan kelihaian Pek Han Siong, tidak malu-malu lagi untuk mencabut pula senjatanya, yaitu Gin-hwa-kiam yang berkilauan seperti perak.
Melihat betapa tiga orang muda yang jahat dan lihai itu sudah mencabut senjata masing-masing, dan dia tahu bahwa seperti juga Cun Sek, Ki Liong memegang sebatang pedang pusaka ampuh, Han Siong lalu mengerahkan tenaga saktinya sepasang matanya memancarkan cahaya aneh dan suaranya terdengar melengking tinggi penuh wibawa ketika dia berkata "Kalian bertiga hendak mengeroyokku?
Baik, akupun siap untuk melayani kalian satu lawan satu.
Lihat, aku telah menjadi tiga orang seperti kalian!"
Tiga orang muda itu terbelalak, terkejut bukan main melihat betapa tubuh Han Siong itu terpecah menjadi tiga dan kini di depan mereka berdiri tiga orang Pek Han Siong!
Ji Slin Bi maklum akan kekuatan sihir yang dipergunakan Han Siong dan memang ia sudah siap untuk menghadapi kemungkinan itu, maka ia cepat berseru sambil menoleh ke belakang.
"Sam-wi Su-siok (Paman Guru Bertiga), tolong bantulah kami!"
Ji Sun Bi adalah murid mendiang Min-san Mo-ko, seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang selain pandai ilmu silat, juga pandai ilmu sihir.
Ji Sun Bi sendiri tidak mempelajari ilmu sihir selengkapnya, hanya ilmu guna-guna untuk menjatuhkan hati pria saja.
Akan tetapi, karena gurunya, ia mempunyai hubungan dengan Pek-lian-kauw.
Ketika Ki Liong menjadi ketua Kim-lian-pang dan ia menjadi pembantu utama dan wakil ketua, maka dalam usaha mereka untuk memperkuat Kim-lian-pang, Ji Sun Bi menemui beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw dan berhasil membujuk tiga orang pendeta Pek-lian-kauw yang terhitung sute (adik seperguruan) mendiang Min-san Mo-ko, untuk membantu Kim-lian-pang.
Tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu menyanggupi dan mereka berada di sana untuk membantu gerakan gerakan Kim-lian-pang yang mendatangkan untung besar itu.
ketika Han Siong muncul, kebetulan mereka berada di puncak sehingga mereka dapat ikut pula turun menghadapi lawan.
"Jangan khawatir!"
Terdengar seorang diantara mereka berseru ketika Ji Sun Bi minta bantuan.
Mereka pun tadi melihat betapa pemuda itu mempergunakan sihir yang amat kuat sehingga mereka sendiripun terpengaruh dan mereka melihat betapa tubuh pemuda Itu berobah menjadi tiga.
Mereka bertiga itu maklum bahwa kekuatan sihir pemuda itu memang hebat.
Tanpa menggabungkan kekuatan, mereka tidak akan mampu menandinginya, maka mereka lalu duduk bersila, bergandeng tangan dan mengerahkan kekuatan mereka.
Seorang di antara mereka, yang berada di sudut kiri, segera mengeluarkan kata-kata yang juga melengking tinggi berwibawa.
"Pemuda itu hanya seorang! Yang dua hanya bayangan dan kami perintahkan agar dua bayangan itu lenyap!"
Mereka lalu mengeluarkan suara mengaung-ngaung seperti suara anjing meratapi bulan ditengah malam, suara yang menyeramkan dan mengeluarkan getaran kuat.
Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi memandang kepada Han Siong dan benar saja, dua di antara tubuh Han Siong itu perlahan-lahan lenyap, tinggal seorang lagi saja.
Akan tetapi, mendadak menjadi tiga lagi, lalu yang dua lenyap lagi.
Tahulah mereka bahwa telah terjadi pertempuran kekuatan sihir antara Han Siong dan tiga orang tosu Pek-lian-kauw.
Han Siong sendiri sebetulnya mampu menandingi kekuatan sihir tiga orang Pek-lian-kauw itu.
Akan tetapi, suara mereka sungguh amat mengganggunya dan kalau dilanjutkan, dalam keadaan adu tenaga sihir itu lalu dia dikeroyok tiga, keadaannya berbahaya juga.
Oleh karena itu, ketika tiga orang itu mulai menggerakkan pedang, diapun menyimpan kekuatan sihirnya dan dirinya berubah menjadi satu lagi.
Ki Liong sudah menggerakkan pedang Gin-hwa-kiam dan sinar perak menyambar ke arah Han Siong.
Pemuda ini cepat mengelak dengan loncatan ke kiri.
Dia disambut oleh Ji Sun Bi dengan sepasang pedangnya, sedangkan di belakangnya Cun Sek juga sudah menggerakkan pedang Hong-Cu-kiam untuk mengeroyok.
Han Siong melihat gerakan mereka dan tahu bahwa sekali ini, dia menghadapi bahaya.
Tiga orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan ketiganya memegang senjata.
Kalau dia Ingin menyelamatkan diri, mudah saja baginya untuk melarikan diri dari tempat itu.
Akan tetapi, dia harus dapat menahan mereka ini agar Ouw Pangcu dan kawan-kawannya dapat menyerbu sarang Kim-lian-pang di puncak.
Kalau dia melarikan diri, tentu tiga orang ini akan mengamuk dan mungkin Ouw Pangcu dan semua kawannya akan terbasmi dan dibantai!
Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke arah ji Sun Bi.
Wanita ini terkejut melihat tubuh Han Siong bagaikan seekor burung garuda menyambar dari atas.
Ia menyambutnya dengan bacokan sepasang pedangnya yang membuat gerakan menggunting dari kanan kiri!
Berbahaya sekali gerakan Ji Sun Bi ini terhadap tubuh Han Siong yang sedang melayang dan menyambar turun.
Namun, hal ini sudah di perhitungkan oleh Han Siong.
Melihat wanita itu menggerakkan sepasang pedangnya, diapun lalu membuat gerakan dengan tubuhnya sehingga tubuh yang meluncur turun itu tiba-tiba terlempar ke atas membuat poksai (salto) dengan amat cepatnya.
Tentu saja serangan Ji Sun Bi luput dan kini tubuh Han Siong telah turun di belakang wanita itu.
Ji Sun Bi adalah seorang ahli silat yang lihai.
Dengan cepat ia memutar tubuhnya, pedangnya juga ikut berputar, yang kanan membabat leher lawan sedangkan yang kiri menyusul dengan tusukan ke arah perut!
Han Siong sudah siap menghadapi ini.
Dia merendahkan tubuh sehingga pedang yang menyambar leher itu lewat dl atas kepala, lalu dia menggeser kaki kedepan, tangan kanannya membuat gerakan mendorong dengan pengerahan tenaga sinkang ke arah tangan Sun Bi yang menusukkan pedang sambil miringkan tubuh menghindarkan tusukan.
"Lepaskan!"
Bentaknya dan bentakan inipun mengandung wibawa memerintah yang amat kuat.
Tanpa dapat dicegah lagi, pedang itu terlepas dari tangan Sun Bi dan sudah pindah ke tangan, kanan Han Siong.
Sun Bi terkejut dan cepat ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh.
Akan tetapi ternyata Han Siong tidak menyusulkan serangan melainkan bermaksud merampas sebatang pedang saja.
Kini Cun Sek dan Ki Liang sudah menyerang lagi dari kanan kiri.
Han Siong mengelak dan membalas dengan pedang rampasan, juga dengan tamparan tangan kiri.
Dia tidak berani menggunakan pedang itu untuk menangkis.
Biarpun pedang rampasan dari Sun Bi tadi bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang yang baik sekali walaupun terlalu ringan baginya, namun kalau di pergunakan untuk menangkis pedang sinar emas dan pedang sinar perak dari dua orang muda itu, besar sekali kemungkinan akan patah.
Ji Sun Bi yang marah sekali karena sebatang pedangnya terampas, kini sudah maju pula menyerang.
Segera Han Siong merasa terdesak bukan main.
Dia terpaksa mengeluarkan seluruh ilmu gin-kangnya untuk mengelak ke sana-sini dan hampir tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk membalas serangan.
Bahkan ketika terpaksa dia menangkis Hong-cu-kiam yang menyambar dahsyat dari belakang, ujung pedang rampasan itu patah, seperti telah di khawatirkannya.
Sementara itu, tiga orang tosu itu masih duduk bersila dan kini mereka pun membantu pengeroyokan dengan serangan suara mereka!
Mereka itu membuat suara yang seperti tadi, seperti anjing-anjing melolong, mengerikan dan menyanyat hati.
Tentu saja hanya Han Siong yang merasakan gangguan ini, karena memang di tujukan kepadanya.
Kalau saja dia tidak sedang dikeroyok tiga lawan tangguh ini sehingga seluruh perhatiannya harus dicurahkah untuk menyelamatkan diri menghadapi serangan mautt itu, tentu dia akan mampu melawan suara yang amat mengganggu itu.
Karena serangan suara ini, makin repotlah Han Siong.
Akan tetapi, sorak sorai dibarengi api dan asap mengepul dari puncak membuat hatinya lega.
Kiranya Ouw Pangcu sudah berhasil menyerang dengan anak panah berapi yang membakar sarang itu, siasat yang dipergunakan untuk memancing keluar seluruh anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang.
Tiga orang pengeroyok itu terkejut melihat kepulan asap dari puncak.
Akan tetapi, meninggalkan Han Siong yang sudah terdesak itu mereka enggan karena kalau pemuda lihai ini tidak dirobohkan lebih dulu, tetap saja keadaan mereka terancam.
"Mari kita habiskan dia dulu sebelum menyerang yang lain!"
Kata Sim Ki Liong dan diapun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Murid Pendekar Sadis ini memang lihai bukan main dan di bandingkan Han Siong, selisihnya hanya sedikit saja.
Maka, desakannya yang diikuti dua orang lawannya membuat Han Siong kembali terhuyung.
Terpaksa Han Siong menggerakkan pedang buntungnya menangkis sinar perak yang menyambar ke arah kepalanya.
"Trakkk!"
Pedangnya kembali patah dan kini hanya tinggal sedikit sisanya.
Dia membuang gagang pedang itu dan pada saat itu, ujung sepatu kaki kanan Ki Liong sempat menyambar ke arah pahanya dan diapun terpelanting!
Namun, dengan amat cekatan, ketika sinar perak dan sinar emas menyambar, dia sudah melesat lagi ke samping sehingga terhindar dari bahaya maut.
Tangannya kini sudah memegang sebatang ranting pohon yang dipatahkannya ketika dia meloncat menghindarkan diri tadi Sebatang ranting lebih berguna daripada pedang rampasan tadi yang kaku.
Ranting yang lentur itu, mudah sekali menerima penyaluran tenaga sinkang dan tidak mudah dipatahkan pedang pusaka.
Mulailah Han Siong melawan lagi mati-matian.
Dia belum mau melarikan diri, hendak memberi kesempatan kepada Ouw Pangcu sampai berhasil menumpas perkumpulan jahat itu.
Tendangan yang mengenai pahanya tadi tidak menimbulkan luka karena dia tadi sudah melindungi pahanya dengan kekebalan sin-kang, dan kini akibatnya hanya mendatangkan rasa nyeri sedikit.
Biarpun demikian, tetap saja gerakannya menjadi agak canggung dan dia semakin terdesak!
tetutama sekali suara melolong-lolong dari tiga orang tosu itu sungguh membuat dia semakin bingung.
Tiba-tiba nampak bayangan biru berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah muncul lagi seorang pemuda yang berpakaian biru-biru dengan garis pinggir kuning.
Kepala dan mukanya tertutup sebuah caping lebar dan di punggungnya terdapat sebuah buntalan kain kuning.
Begitu tiba, pemuda ini tertawa bergelak dan menghampiri tiga orang tosu itu, tangannya membawa sebatang pendek ranting pohon.
"Ha-ha-ha, pantas saja suaranya gaduh sekali. Kiranya ada tiga ekor anjing menggonggong berebut tulang di sini! Nah, ini kuberi tulangnya, boleh kalian tiga ekor anjing memperebutkannya!"
Diapun melemparkan sepotong kayu tadi ke arah tiga orang tosu dan sungguh luar biasa sekali.
Tiga orang tosu yang tadi bersila dan bergandeng tangan sambil mengeluarkan suara melolong untuk menyerang Han Siong, kini tiba-tiba saja merangkak-rangkak dan saling memperebutkan kayu itu dengan mulut mereka, presis tiga ekor anjing memperebutkan tulang.
Ketika kepala mereka saling bertumbukan, barulah mereka sadar dan mereka saling pandang dengan mata terbelalak.
"Apa... apa yang terjadi...?"
Mereka bertiga berseru dan mendengar suara ketawa, mereka menengok dan melihat seorang pemuda berpakaian biru, memakai caping lebar, berdiri sambil tertawa geli, mentertawakan mereka.
Tahulah mereka bahwa pemuda ini yang menjadi gara-gara, yang entah dengan ilmu apa telah memaksa mereka bertiga berlagak seperti tiga ekor anjing!
"Keparat, engKau lah seekor anjing!"
Bentak seorang di antara meteka, setengah balas memaki untuk membalas penghinaan tadi dan setengah juga mempergunakan tenaga sihirnya.
Diam-diam pemuda itu mengerahkan kekuatan sihirnya yang hebat dan diapun berkata.
"Benar sekalir Aku seekor anjing raksasa yang akan makan kalian tiga orang pendeta Pek-lian-kauw! Huk-huk-hukk!"
Tiga orang pendeta Pek-lian-kauw itu terbelalak memandang kepada pemuda itu yang tiba-tiba berubah dalam pandangan mata mereka seperti seekor anjing raksasa yang besarnya seperti sebuah rumah gedung, mulutnya terbuka selebar pintu gerbang dengan giginya yang besar-besar.
Mereka menjadi pucat seketika, tubuh mereka gemetaran dan seperti dikomando saja, mereka lalu membalikkan tubuh dan lari tunggang langgang jatuh bangun, bahkan ada yang terkencing-kencing saking ngerinya karena merasa seolah-olah napas anjing raksasa telah mendengus-dengus di tengkuk mereka.
Pemuda itu tertawa bergelak, penuh kegembiraan.
Tiba-tiba Han Siong yang sejak tadi melihat -kehadiran dan perbuatan pemuda berpakaian biru bercaping lebar itu, segera berseru dengan gembira.
"Hentikan main-mainmu itu, Hay Hay dan cepat bantulah aku!"
Pemuda yang disebut Hay Hay itu menoleh dan melihat betapa Han Siong terdesak oleh tiga orang pengeroyoknya, diapun tertawa lagi.
"Ha-ha-ha, Sin-tong (anak ajaib), di mana pedang pusakamu yang ampuh itu? Engkau dikeroyok tiga orang lawan yang menggunakan senjata, bahkan ada pedang pusaka di situ, dan engkau bertangan kosong saja. Salahmu sendiri.
"Sudahlah, bantu aku dan nanti baru kita ngobrol!"
Kata Han Siong lagi dengan mendongkol.
Dia begitu terdesak dan dalam bahaya, orang ini malah mengobrol dan bersendau-gurau.
Pemuda itu memang Tang Hay atau lebih terkenal di antara tenlan-temannya dengan sebutan Hay Hay saja.
Seorang pemuda yang sebaya dengan Han Siong, usia mereka sama, dua puluh dua tahun lebih, wajahnya juga tampan, dadanya bidang tubuhnya sedang dan tegap.
Matanya bersinar-sinar selalu, namun kadang mencorong penuh wibawa, dan mututnya tak pernah ditinggalkan senyum manis.
Pemuda ini seorang yang amat romantis, juga pengagum keindahan termasuk kecantikan wanita sehingga di manapun dia selalu memuji-muji wanita sehingga dikenal sebagai Pendekar Mata Keranjang, Walaupun kegenitannya itu mempunyai batas yang kuat sehingga belum pernah dia melanggar, belum pcrnah dia menggauli wanita, baik dengan perkosaan maupun dengan suka rela.
Kedekatannya dengan wanita tidak melebihi saling rangkul dan saling cium saja.
Tanpa disengaja Hay Hay yang dalam perjalanan mencari ayahnya yaitu Ang-hong-cu, tiba di tempat itu dan melihat pertempuran itu.
Dia sedang menuju ke kota raja karena dia sudah mendengar bahwa biarpun tidak ada seorang juga yang mengetahui di mana adanya si Kumbang Merah, jai-hwa-cat yang sudah lama sekali namanya dikenal orang akan tetapi akhir-akhir ini tidak ada kabar ceritanya lagi, namun di kota raja muncul seorang perwira muda disebut Tang-ciangkun yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu.
Biarpun tipis, namun berita ini setidaknya merupakan suatu hal yang perlu diselidiki.
Siapa tahu perwira muda Tang itu benar dapat membawa dia kepada jejak Ang-hong-cu!
Maka, ketika melihat ada perkelahian di situ, diapun tidak perduli dan akan melewatinya begitu saja, apalagi dia belum melihat jelas dan tidak tahu siapa yang sedang berkelahi.
Akan tetapi, dia tertarik oleh suara melolong-lolong yang mengandung getaran aneh dan berwibawa itu.
Sebagai seorang yang sudah mempelajari ilmu sihir secara cukup mendalam, dia dapat merasakan ketidakwajaran dalam suara itu dan menduga bahwa suara itu mengandung kekuatan sihir!
Maka, diapun tertarik dan mendekat.
Setelah mendekat, barulah dia melihat bahwa yang dikeroyok tiga dan terdesak, masih diserang oleh suara mengandung kekuatan sihir pula, bukan lain adalah Pek Han Siong!
Pek Han Siong pernah menuduhnya memperkosa adik kandungnya, yaitu Pek Eng sehingga Han Siong memusuhinya dan mereka telah bertanding dengan hebatnya.
Namun akhirnya Han Siong mengetahui bahwa yang memperkosa adik kandungnya sama sekali bukan Hay Hay, melainkan Si Kumbang Merah yang ternyata menurut pengakuan Hay Hay adalah ayah kandung Hay Hay sendiri!
Karcna kenyataan itu, maka permusuhan antara merekapun lenyap dan tidak ada saling dendam di antara mereka.
Bahkan sesungguhnya, ada hubungan yang amat dekat antara kedua pemuda ini.
Sejak kecil, Han Siong di anggap sebagai Sin-tong (anak ajaib) oleh para lama di tibet merasa yakin bahwa Han Siong adalah seorang calon Dalai Lama!
Maka, anak ini di perebutkan dan akan di bawa ke tibet oleh para pendeta Lama.
Untuk menyelamatkannya, maka Han Siong di sembunyikan dan sebagai gantinya, orang tuanya mengambil Hay Hay yang ketika itu seorang anak tanpa ayah ibu.
Maka, terjadilah hal-hal yang amat menarik seperti di ceritakan dalam kisah Pendekar Mata Keranjang.
Setelah keduanya menjadi pemuda dewasa, dalam cara masing-masing, dalam cara hidupnya masing-masing keduanya menjadi pemuda gemblengan yang pandai ilmu silat, bahkan keduanya juga pandai ilmu sihir walaupun dalam hal sihir menyihir ini, tingkat Hay Hay jauh lebih tinggi.
Kini Hay Hay tidak mau main-main lagi, apalagi setelah dia melihat dengan penuh perhatian dan mengenal dua orang diantara para pengeroyok itu.
"Wah-wah-wah, bukankah itu Sim Ki Liong murid murtad dari locianpwe Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah? Dan itu yang seorang lagi Ji Sun Bi, si cantik manis yang berhati penuh racun? Hayaa, pantas sekali engkau terdesak, Han Siong. Kiranya para pengeroyokmu adalah dua orang yang teramat jahat. Dan siapa pula yang seorang lagi itu? Heiii! Bukankah itu Hong-cu-kiam yang dibawanya? Dan ilmu silatnya itu! Han Siong, apa kau lupa lagi dan tidak mengenal ilmu silat Cin-ling-pai? Dia seorang tokoh Cin-ling-pai!"
Hay Hay sudah meloncat ke dalam medan perkelahian itu.
Dia sendiri tidak pernah menggunakan senjata.
Cun Sek yang terkejut dan juga marah melihat betapa pemuda bercaping lebar yang baru muncul ini mengenal pedang dan ilmu silatnya, sudah menyambutnya dengan tusukan pedang yang cepat dan kuat sekali, mengarah dada Hay Hay.
Tanpa disadarinya, ucapan Hay Hay tadi memang sengaja menarik perhatian Cun Sek, dia sudah terjatuh ke dalam pengaruh sihir Hay Hay!
Melihat tusukan pedang Hong-cu-kiam itu Hay Hay miringkan tubuhnya dan berkata dengan suara nyaring.
"Pedangmu itu buntung, mana bisa untuk menyerangku?"
Cun Sek terbelalak.
Dia memandang pedangnya tiba-tiba saja sudah menjadi sebatang pedang buntung yang pendek!
Hanya beberapa detik dia termangu, namun ini sudah cukup bagi Hay Hay.
Sekali totok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, Hong-cu-kiam telah berpindah tangan!
Barulah Cun Sek sadar dan dia menjadi marah sekali.
"Kembalikan pedangku!"
Bentaknya sambil menerjang dengan tangan kosong.
Akan tetapi Hay Hay menggerak-gerakkan pedang Hong-cu-kiam, nampak sinar emas bergulung-gulung mengelilingi tubuh Cun Sek yang menjadi bingung dan khawatir sekali.
"Bret-bret-bret...!
Potongan kain berhamburan dan Cun Sek merasa tubuhnya dingin-dingin dan ketika dia memandang, ternyata sinar pedang emas itu telah menelanjanginya!
Pakaian luarnya robek-robek dan dia berdiri di situ hanya dengan sebuah celana kotor pendek yang menutup tubuh bawahnya!
Hay Hay tertawa-tawa dan kini.
dia menunjukan pedangnya untuk menyerang Ki Liong!
Ki Liong dan Sun Bi sejak tadi sudah kaget setengah mati ketika melihat munculnya Hay Hay, pemuda yang pernah membuat mereka gentar ketika pemuda ini muncul pula dalam rombongan para pendekar yang membasmi gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo.
Keduanya maklum pula bahwa kemunculan Hay Hay yang diluar dugaan ini akan menghancurkan semua rencana mereka, bahkan kini mereka berada dalam bahaya besar.
Hal ini segera terbukti ketika dengan amat mudahnya Hay Hay telah merampas pedang pusaka Hong-cu-kiam dari tangan Cun Sek yang sudah dibuat tidak berdaya!
Cun Sek merasa terkejut dan malu bukan main.
Dia lalu menjadi nekat dan sambil mengeluarkan suara menggeram seperti seekor harimau terluka, diapun menubruk dengan nekat ke arah Hay Hay.
Akan tetapi, Hay Hay menyambutnya dengan sebuah tendangan dan tubuh Cun Sek terjengkang lalu terbanting keras ke atas tanah.
Karena pemuda itu tadi memegang Hong-cu-kiam dan memiliki ilmu silat Cin-ling-pai, tentu saja Hay Hay tidak mau membunuhnya dan hanya merobohkannya tanpa melukai berat.
Setelah merobohkan Cun Sek, Hay Hay kembali membalik dan menyerang Ki Liong.
Murid Pendekar Sadis ini yang maklum akan kelihaian Hay Hay, menangkis dengan Gin-hwa-kiam.
"Trakkkk!"
Kedua pedang bertemu dan melekat!
Ki Liong terkejut dan menarik pedangnya, akan tetapi Hong-cu-kiam yang lemas itu ternyata telah melibat.
Ujung Hong-cu-kiam membelit pedang Gin-hwa-kiam seperti seekor ular saja!
"Han siong, cepat kau ambil pedangnya.
Pedang itu tidak pantas berada di tangannya.
Kita kembalikan kelak ke Pulau Teratai Merah!"
Kata Hay Hay kepada Han siong sambil mempertahankan pedang lawan itu dengan libatan pedangnya.
Ji Sun Bi maju menghalang dan menusukkan pedangnya kepada Han siong untuk mencegah pemuda ini mengeroyok Ki Liong.
Akan tetapi kini, setelah berhadapan dengan Ji Sun Bi sendiri, Han siong tentu saja memandang ringan wanita itu dan dengan mudah dia membiarkan pedang yang menusuknya itu lewat dan dari samping tangannya menyambar.
"Plakk!"
Pundak Sun Bi terkena tamparan tangan Pek-hong sin-ciang dan ia pun mengeluh lalu roboh terkulai.
Han Siong kini menerjang Ki Liong yang masih sibuk menarik Gin-hwa-kiam dari libatan Hong-cu-kiam.
Tangan kiri Han Siong mencengkeram ke arah tangan murid Pendekar Sadis itu dan tangan kanannya mencengkeram ke arah pelipis!
Menghadapi serangan dahsyat ini, terpaksa Ki Liong melepaskan pedangnya dan berjungkir balik ke belakang.
Pedangnya kini sudah berpindah ke tangan Han Siong.
"Ha-ha -ha, bagaimana, Han Siong? Kita bunuh saja tiga ekor ular berbisa ini?"
"Jangan, Hay Hay. Kita bukan pembunuh keji! Kita tangkap saja mereka dan..."
Tiba-tiba nampak seorang pria raksasa meloncat ke depan mereka dan dia mengebutkan sebuah kain.
Asap atau debu hitam berhamburan dan terdengar pula suara ledakan yang menimbulkan asap hitam tebal.
"Han Siong, mundur! Debu itu beracun!"
Teriak Hay Hay yang menyambar lengan Han Siong dan mengajaknya melompat jauh ke belakang.
Asap hitam menjadi tabir dan membuat mereka tidak dapat melihat ke depan.
Akan tetapi Hay Hay melihat kain yang dikebut-kebutkan itu dan dia berbisik.
"Kita serang kain itu dengan pukulan jarak jauh. Mari!"
Keduanya mengerahkan tenaga sin-kang dan mendorong dari tempat mereka berdiri ke arah kain itu.
Angin dahsyat menyambar ke arah kain itu dan terdengarlah jerit parau mengerikan di dalam asap hitam yang gelap itu, lalu keadaan menjadi sunyi.
Setelah asap hitam lenyap ditiup angin, mereka hanya melihat pria raksasa tadi menggeletak tanpa nyawa di situ dengan muka berubah hitam dan kain itu masih.
Menutupi mukanya.
Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Kiranya pria raksasa itu adalah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang menolong tiga orang pemimpinnya sedangkan bahan peledak yang mengeluarkan asap hitam tadi dilepas oleh tiga orang tokoh Pek-lian-kauw untuk menolong teman-temannya.
"Hemm, mereka telah lolos! Biar kucari dan kukejar mereka!"
Kata Hay Hay.
"Tidak perlu lagi"
Kata Han Siong.
"Lebih baik kita membantu mereka yang sedang membasmi anak buah Kim-lian-pang yang jahat. Anak buah Hek-tok-pang itu masih berbahaya dikhawatirkan terjatuh banyak korban di antara para penyerbu."
"Kim-lian-pang? Hek-tok-pang? Aku tidak tahu apa yang terjadi."
Hay Hay yang baru datang memang tidak tahu dan bertanya heran.
"Kim-lian-pang anak buah Sim Ki Liong dan Hek-tok-pang anak buah dia yang tewas ini. Sudahlah, nanti saja keterangan lebih lanjut. Aku harus membantu mereka!"
Kata Han Siong yang segera meloncat pergi dari situ.
"Aku membantumu!"
Kata Hay Hay sambil mengejar.
Tentu saja dia percaya penuh bahwa yang dibela oleh Han Siong pasti berada di pihak yang benar.
Dia sudah mengenal watak Sin-tong ini, seorang pendekar muda gemblengan yang selalu menentang kejahatan.
Apa lagi tadi dia sudah membuktikan sendiri bahwa pihak lawan pemuda itu adalah orang-orang yang dia tahu amat jahat, terutama Ji Sun Bi.
Dan tentu saja dia mengenal baik siapa Ji Sun Bi!
Bagaimana tidak mengenalnya?
Bahkan wanita cantik yang cabul itu dapat dibilang merupakan gurunya dalam bercumbu dan berolah cinta!
Wanita pertama kali yang saling peluk dan saling cium dengannya adalah Ji Sun Bi!
Kalau saja batinnya tidak kokoh kuat, tentu dia sudah kehilangan perjakanya oleh wanita itu.
Dan hampir saja dia diperkosa ketika Ji Sun Bi dibantu mendiang gurunya, Min-san Mo-ko yang membuat dia tidak berdaya dengan sihir.
Untung muncul Pek Mau Sanjin, mendiang kakek sakti yang kemudian menjadi gurunya dalam hal ilmu sihir.
Dia sudah mengenal.
Ji Sun Bi dengan baik dan mengenangkan peristiwa itu saja, sudah tentu dia tidak tega untuk.
membunuhnya!
Wanita pertama yang mengajarnya tentang permainan asmara!
Perhitungan dan siasat yang dipergunakan Ouw Pangcu memang tepat.
Dia dan kawan-kawannya menghujankan anak panah berapi ke puncak dan hal ini memancing semua anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang untuk turun dari puncak, meninggalkan sarang mereka lalu mengamuk dengan penuh kemarahan.
Apa lagi setelah mereka lihat betapa pimpinan mereka mengepung seorang pemuda lihai.
Hek-tok Pangcu memimpin anak buahnya mengamuk dan tepat seperti di khawatirkan Han Siong, dua, puluh orang Hek-tok-pang dan pemimpin mereka ini merupakan lawan berat yang membuat para penyerbu kewalahan.
Akan tetapi karena pihak para penyerbu jauh lebih banyak jumlahnya, dan para penyerbu itu juga terdiri dari para anggota perkumpulan silat yang rata-rata pandai ilmu silat, maka pertempuran berlangsung dengan hebatnya dan di kedua pihak telah jatuh korban belasan orang banyaknya.
Munculnya Han Siong dan Hay Hay dalam pertempuran itu pada saat yang amat tepat.
Begitu dua orang pemuda sakti ini terjun ke dalam pertempuran, hanya mempergunakan kaki tangan karena mereka telah menyimpan pedang pusaka yang mereka rampas tadi, tidak ingin mempergunakan pedang pusaka yang bukan milik mereka itu untuk membunuh orang, maka kocar-kacirlah pihak lawan.
Semua anak buah Hek-tok-pang roboh dan tewas, dan sebagian besar anak buah Kim-lian-pang juga roboh, sebagian kecil melarikan diri dan ada yang terjun ke dalam jurang untuk menyelamatkan diri.
Dipimpin oleh Ouw Pangcu, para penyerbu lalu naik ke puncak Kim-Iian-san, dan dua orang pemuda perkasa itulah yang menjadi pelopor di depan.
Merekalah yang meruntuhkan semua penghalang dan jebakan, dan memunahkan segala macam racun yang disebar dengan membakar rumpun semak belukar di sepanjang lorong dan jalan setapak yang menuju ke puncak.
Akhirnya mereka tiba di puncak, di sarang Kim-lian-pang dan ternyata yang tinggal disarang itu hanyalah isteri para anggota dan anak-anak mereka.
Ouw Pangcu cepat memberi aba-aba agar tak seorangpun boleh mengganggu mereka!
Sikap ini saja sudah membuat Han Siong dan Hay Hay merasa senang sekali, dan mereka tidak merasa menyesal telah membantu gerakan yang dipimpin oleh Ouw Pangcu yang bijaksana itu.
Semua harta benda yang berada di sarang Kim-lian-pang, oleh Ouw Pangcu lalu dibagikan kepada keluarga para anggota Kim-lian-pang, dan dia menyuruh mereka semua turun bukit, kemudian dibakarnya sarang.
itu, disaksikan oleh semua penyerbu yang bersorak sorai penuh kemenangan dan kepuasan karena mereka semua merasa sakit hati kepada Kim-lian-pang dan kini mereka telah berhasil membalas dendam dan membasmi perkumpulan jahat itu.
Setelah api berkobar membakar sarang gerombolan Kim-lian-pang dan para penyerbu itu bersorak-sorak, tiba-tiba terdengar suara Ouw Pangcu lantang.
"Saudara sekalian, tanpa bantuan dari pendekar besar Pek Han Siong, tidak mungkin kita dapat membasmi gerombolan jahat itu. Mari kita berterima kasih kepada Pek Taihiap!"
Berkata demikian, Ouw PangCu segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Pek Han Siong, diikuti oleh puterinya yang gagah tadi juga ikut bertempur dengan gagah dan mati-matian.
Mendengar ini, semua anggota penyerbu yang terdiri dari para anggota bermacam perkumpulan segera menjatuhkan diri berlutut dan menghadap pemuda itu.
Hanya Han Siong dan Hay Hay saja yang berdiri, sedangkan semua orang berlutut.
Melihat ini, Hay Hay tersenyum dan berseru dengan nyaring.
"Hidup pendekar gagah Pek Taihiap!"
Mendengar ini semua orang yang berlutut juga berseru.
"Hidup Pek Taihiap! Hidup Pek Taihiap!"
"Ih, engkau gila!"
Han Siong memaki Hay Hay yang masih cengar-cengir menggodanya, kemudian Han Siong menghampiri Ouw Pangcu dan mengangkat bangun ketua itu dan juga puterinya.
Dia ingin membalas kepada Hay Hay, maka katanya dengan lantang.
"Ouw Pangcu dan saudara sekalian harap bangun dan jangan berterima kasih kepadaku saja. Tanpa bantuan pendekar sakti Tang Hay ini, mana aku mampu mengalahkan para pimpinan Kim-lian-pang? Dia inilah yang telah membantuku dan dia yang berjasa besar dalam pertempuran ini. Hidup Pendekar Mata Keranjang Tang Hay!"
Tentu saja semua orang merasa heran dan juga geli mendengar julukan itu.
Pendekar Mata Keranjang!
Maka, merekapun tidak berani menirukan sorakan Han Siong tadi, khawatir kalau menyinggung hati pemuda berpakaian biru dan bercaping lebar itu.
Ouw Pangcu cepat maju memberi hormat kepada Tang Hay.
"Terima kasih atas bantuan Taihiap!"
Katanya, diturut pula oleh Ci Goat, puterinya. Hay Hay memandang kepada Ci Goat dan tersenyum.
"Aih, tidak kusangka bahwa diantara banyak orang gagah ini terdapat pula seorang nona yang gagah perkasa. Han Siong, perkenalkan aku kepada mereka!"
Han Siong tersenyum mengejek.
Pemuda yang satu ini memang payah, pikirnya.
Tak dapat dia menyangkal bahwa Hay Hay memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, bahkan dia sendiri merasa sukar untuk dapat menandinginya, juga memiliki watak gagah dan bertanggung jawab, seperti yang pernah dibuktikannya dengan mengakui Ang-hong-cu sebagai ayahnya.
Akan tetapi satu hal yang membuat dia merasa kecewa, pemuda ini memiliki sifat Mata keranjang yang sudah tidak ketulungan lagi.
Bagaikan seekor kumbang yang tak pernah mau melewatkan setangkai kembang yang indah bermadu.
Begitu melihat wanita, terus saja tertarik!
Memang, harus diakuinya bahwa pada kenyataannya, pemuda ini tidak pernah mengganggu wanita dalam arti kata yang sedalamnya, melainkan hanya iseng saja dan hanya tertarik untuk berdekatan.
Namun tentu saja mudah orang menjatuhkan kesalahan kepadanya kalau terjadi sesuatu dengan gadis yang didekatinya.
"Ouw Pangcu dan adik Ci Goat, dia ini adalah seorang pendekar sakti bernama Tang Hay dan berjuluk.." (Lanjut ke
Jilid 14) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14
"Aih, tidak ada julukan bagiku, Han Siong, tidak seperti engkau yang dijuluki Sin-tong sejak kecil!"
Hay Hay mencela.
Ucapannya ini tentu saja hanya untuk bergurau, dan dia maupun Han Siong tidak menyadari bahwa sendau gurau ini ternyata berakibat panjang.
Seorang di antara mereka yang tadi ikut menyerbu, terbelalak mendengar sebutar Sin-tong untuk ke dua kalinya ini, akan tetapi diapun diam saja.
"Hay Hay, ini adalah Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi dan ini adalah nona Ouw Ci Goat, puterinya."
Han Siong memperkenalkan.
"Ouw Pangcu, sungguh beruntung aku dapat berkenalan dengan ketua Pek-tiauw-pang,"
Kata Hay Hay dengan sikap sopan.
"Aihh, Tang-Taihiap. Pek-tiauw-pang kini hanya tinggal namanya saja. Tadinya, yang bersisa dari pembunuhan yang dilakukan Kim-lian-pang hanya tinggal aku, anakku ini dan tiga orang murid. Akan tetapi, kini tiga orang murid itupun gugur dalam pertempuran tadi. Tinggal aku dan puteriku ini, maka mulai saat ini, aku adalah Ouw Lok Khi biasa, bukan lagi seorang pangcu (ketua). Aku sudah terlalu tua untuk membangun lagi Pek-tiauw-pang yang sudah terbasmi habis."
"Ah, kurasa tidak perlu paman Ouw berputus asa. Bukankah di sini masih ada nona Ouw yang gagah perkasa dan cantik jelita, lagi masih muda belia? Dengan bantuannya, apa sukarnya bagi paman untuk membangun lagi perkumpulan?"
Hay Hay berkata dengan ramah.
Dia melihat sepasang mata yang jeli itu terbelalak mendengar pujian bagi dirinya, akan tetapi terbelalak heran atas keberanian orang, bukan karena marah!
"Sudahlah, aku sudah menerima kalah.
Mari, ji-wi Taihiap, marilah ji-wi (kalian) singgah dulu di rumah muridku Thio Ki yang telah diserahkan kepada kami.
Karena diapun gugur, maka rumahnya kini menjadi tempat tinggal kami untuk sementara."
Han Siong hendak menolak, dan hal ini nampak oleh Hay Hay yang bermata tajam, maka Hay Hay cepat mendahuluinya.
"Baiklah, paman, dan nona. Terima kasih atas undangan itu. Mari, Han Siong, kita singgah dulu di rumah paman Ouw untuk mempererat persahabatan."
Tentu saja dengan ucapan seperti itu, Han Siong merasa dilumpuhkan dan tidak berani menolak.
Bagaimana dia berani menolak kalau persinggahan itu dimaksudkan untuk mempererat persahabatan?
Dia hanya mengerling tajam kepada Hay Hay yang menyeringai lebar karena maklum bahwa kawannya itu mendongkol.
Dia merasa heran mengapa dalam pertemuan sekali ini dengan Han Siong, setelah semua rasa curiga dan kemarahan lenyap di antara mereka, dia merasa amat akrab dengan Han Siong, seolah-olah mereka adalah dua orang sahabat lama.
Setelah menyerahkan pengurusan para jenazah muridnya dan teman-teman lain kepada para sahabatnya yang ikut dalam penyerbuan, Ouw Lok Khi dan Ouw Ci Goat lalu mengajak dua orang pemuda perkasa itu ke rumah Thio Ki yang juga gugur.
Tiga jenazah murid Pek-tiauw-pang, termasuk jenazah Thio Ki, setelah dirawat, lalu dimasukkan peti dan dibawa ke rumah itu, dijajarkan di serambi depan.
Malam itu, banyak kenalan datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada ketiga jenazah dalam peti kemas dan pada keesokan harinya, tiga peti jenazah itupun di kuburkan dengan upacara sederhana.
Selama itu Hay Hay tanpa rikuh lagi selalu mendekati Ci Goat dan mengajak gadis itu bercakap-cakap dengan sikap ramah dan akrab sekali!
Berbeda dengan Han Siong yang selalu menjauhkan diri dari gadis itu karena dia merasa selalu merasa tidak enak berdekatan dengan gadis yang dia ketahui telah jatuh cinta kepadanya itu.
Bahkan melihat gadis itu nampak murung ketika orang-orang mulai menimbuni lubang kuburan tiga orang murid Pek-tiauw-pang itu dengan tanah, ketika gadis itu duduk di bawah pohon untuk berlindungi dari sengatan matahari, Hay Hay mendekatinya dan masih sempat berkelakar, untuk memancing percakapan.
Hay Hay juga duduk di atas sebuah batu, dalam jarak tiga meter dari gadis itu dan tanpa rikuh-rikuh dia mengamati wajah gadis yang bulat dan berkulit putih mulus itu.
Wajah itu nampak muram dan sinar matanya mengandung kedukaan.
Pandang mata orang biasa saja sudah mengandung getaran yang akan terasa oleh orang yang dipandang, apa lagi pandang mata Hay Hay yang matanya memiliki kekuatan sihir yang hebat walaupun dia tidak mempergunakan kekuatannya pada saat itu.
Gadis itu mengangkat muka dan pandang matanya bertemu dengan mata Hay Hay yang tidak menyembunyikan sinar kekagumannya.
Melihat betapa mata pemuda itu memandang kepadanya dengan kagum, Ci Goat mengerutkan alisnya.
Akan tetapi ia teringat akan ucapan Han Siong yang menjuluki pemuda ini dengan julukan aneh, yaitu Pendekar Mata Keranjang!
Dan.
Melihat pandang mata itu, tidak aneh kalau dia dijuluki mata keranjang!
Ia tidak berani marah, mengingat bahwa pemuda ini juga seorang penolong besar yang membuat ia dan ayahnya berhasil membalas dendam dan menghancurkan perkumpulan kim-lian-pang dan antek-anteknya.
Maka ia hanya menundukkan kembali mukanya dengan cepat dan muka yang putih itu berubah kemerahan.
"Heiii, nona Ouw, mengapa bermuram durja? Betapa sayangnya kalau bulan purnama tertutup awan dan matahari terhalang mendung, dunia akan menjadi gelap dan kehilangan serinya! Nona, kenapa berduka pada hal pagi seindah dan secerah ini?"
Kedua pipi yang putih halus itu menjadi semakin merah.
Ia diumpamakan bulan dan matahari!
Sungguh kata-kata rayuan maut yang akan dapat membuat wanita tergetar dan berlonjak kegirangan penuh bangga.
Akan tetapi Ouw Ci Goat tersipu malu dan melirik ke arah Han Siong yang berdiri dekat mereka yang sedang melakukan pemakaman.
Hatinya khawatir.
Ia jatuh cinta kepada Han Sion dan kini Pendekar Mata Keranjang mengeluarkan kata-kata yang merayunya.
Andaikata bukan pendekar ini yang mengeluarkan kata-kata rayuan itu, tentu akan dijauhinya, tidak diperdulikannya.
Akan tetapi Hay Hay adalah seorang pendekar yang berjasa juga seperti Han Siong, dan harus diakuinya bahwa mendengar ucapan manis seperti madu dari seorang pemuda yang demikian gagah perkasa dan gantengnya, sungguh merupakan belaian lembut pada hatinya.
Untuk mencegah pemuda itu melanjutkan rayuannya, iapun menjawab dengan sikap, pandang mata, dan nada suara yang serius, bahkan hatinya yang sedang diliputi kedukaan itu membuat kedua matanya basah air mata.
"Taihiap, bagaimana mungkin aku tidak berduka? Aku kehilangan semua saudara anggota Pek-tiauw-pang yang juga menjadi murid-murid ayah, menjadi saudara-saudara seperguruanku. Mereka semua tewas, bahkan tiga orang yang terakhirpun hari ini tewas. Malapetaka besar telah menimpa keluarga kami. Tentu saja aku berduka sekali, Taihiap."
Hay Hay tersenyum.
"Aih, nona Ouw, sungguh sayang menghamburkan air mata dan meremas hati sendiri. Berduka akan membuat wajahmu yang seperti bulan purnama itu menjadi kerut merut, dan akan membuat engkau yang muda belia ini menjadi cepat tua. Nona yang baik, aku ingin bertanya, siapa yang kau tangisi, siapa yang kau sedihkan itu?"
Gadis itu memandang heran.
Matanya yang agak kemerahan karena tangis itu agak terbelalak dan Hay Hay memandang kagum.
Indahnya mata itu!
"Taihiap, aneh sekali pertanyaanmu itu.
Tentu saja yang kutangisi, adalah tiga orang suheng yang tewas itu, semua saudara seperguruanku yang telah tewas oleh para penjahat Kim-lian-pang!"
"Kenapa menangisi mereka yang sudah mati? Apakah kalau ditangisi, mereka akan merasa senang di sana ataukah kalau disedihkan, mereka akan hidup kembali?"
Gadis itu semakin terkejut dan heran.
"Tentu saja tidak! Pertanyaanmu sungguh aneh sekali, Taihiap. Orang di seluruh dunia ini tentu akan bersedih dan menangis kalau kematian orang-orang yang dekat dengan mereka!"
"Ah, jadi kalau begitu engkau bersedih dan menangis karena umum melakukannya? Jadi tangismu itu hanya ikut-ikutan saja? Mari kita bicara tentang kesedihanmu, perasaanmu sendiri, bukan kesedihan orang-orang lain, nona yang baik. Nah, mari kita selidiki. Apakah engkau bersedih untuk mereka? Rasanya tidak mungkin. Mereka telah mati dan engkau tidak tahu keadaan mereka. Yang jelas, mereka tidak menderita lagi dan tidak ada alasan untuk mengasihani mereka. Bahkan, mereka itu mati sebagai orang-orang gagah, sebagai pendekar yang menentang kejahatan. Sepantasnya engkau malah bangga dengan kematian mereka, bukan berduka. Tidakkah benar demikian, nona!"
"Aku... aku tidak tahu... aku menjadi bingung. Rasanya... pendapatmu itu benar, akan tetapi tak mungkin aku berbangga dan tidak berduka. Orang-orang akan menganggap aku tidak wajar..."
"Justeru sebaliknya! Tangismu ini, kalau kau katakan untuk menangisi mereka yang mati, sama sekali tidak wajar bahkan pura-pura! Mari kita membuka mata melihat kenyataan, nona. Coba jenguk perasaan hatimu sendiri. Lihat baik-baik apa yang kau rasakan. Benarkah engkau menangis dan bersedih karena kasihan kepada mereka yang mati? Ataukah engkau bersedih dan menangis untuk dirimu sendiri, karena engkau merasa kehilangan dan merasa kasihan kepada dirimu sendiri? Beranikanlah hatimu dan amatilah baik-baik!"
Gadis itu tertegun.
Selama hidupnya, baru sekali ini ia mendengar pendapat yang seperti itu.
Bukan, bukan pendapat, melainkan pembukaan kenyataan yang tidak dapat ia bantah lagi.
Memang benar, ia menangis dan berduka karena merasa kasihan kepada dirinya sendiri, kepada nasib dirinya, sama sekali bukan menangisi mereka yang mati.
Ia berduka karena ia kehilangan saudara dan sahabat baik, karena ia merasa ditinggalkan.
Hal ini sekarang nampak jelas.
"Aku... aku menjadi bingung... kata-katamu memang benar, Taihiap. Akan tetapi, apakah aku tidak boleh menangis dan harus bergembira menghadapi kematian para suhengku?"
Hay Hay tersenyum.
"Tidak ada yang menyuruhmu menangis atau tertawa, nona, juga tidak ada yang melarangmu untuk menangis atau tertawa. Tangis dan tawa adalah pencurahan dari keadaan hati dan tidak ada orang lain yang mampu mengatur keadaan hatimu. Yang penting, engkau harus yakin benar apa yang kau tangiskan atau tawakan, agar tangis dan tawamu tidak menjadi palsu."
Gadis itu termenung, wajahnya kosong dan polos dan tiba-tiba Hay Hay tertawa bergelak sehingga gadis itu menjadi semakin heran dan menatap wajah yang tampan itu.
"Ha-ha-ha, coba rasakan, baik-baik, nona. Semenjak kita bercakap-cakap, engkau sama sekali tidak berduka lagi, tidak menangis lagi! Itu menjadi bukti jelas bahwa duka hanyalah permainan pikiran sendiri belaka! Pikiran mengenang hal-hal yang amat tidak menguntungkan diri sendiri. Tadi pikiranmu mengenang tentang kehilangan saudara-saudaramu sehingga timbul iba diri dan pikiranmu seperti meremas-remas hati sendiri, muka timbullah duka. Begitu pikiranmu terisi perhatian untuk percakapan kita tadi, kenangan itu pun hilang dan dukapun lenyap tanpa bekas! Biang keladi susah senang hanyalah kenangan pikiran, didasari rugi untung bagi diri pribadi, keduanya saling berlomba menguasai diri. Akan tetapi, kalau harus memilih, kenapa tidak memilih tersenyum dari pada menangis. Kalau engkau menangis, wajahmu yang cantik itu penuh kerut merut, matamu kemerahan, hidungmu merah dan engkau menyeret orang lain untuk menangis pula. Sebaliknya, kalau engkau tersenyum... hemm, cobalah senyum, nona dunia akan ikut tersenyum bersamamu. Dan wajahmu yang cantik itu akan menjadi semakin manis kalau engkau tersenyum!"
Ci Goat tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak tersenyum dan Hay Hay terpesona.
Manisnya kalau tersenyum gadis itu!
Akan tetapi, segera senyum itu lenyap dan Ci Goat berkata lirih, agak cemberut.
"Taihiap harap jangan mempermainkan aku. Kalau ayahku melihat betapa aku senyum-senyum pada saat mereka mengubur jenazah tiga orang suhengku, tentu ayah akan marah, menganggap aku tidak sopan, tidak mengenal aturan, tidak sayang kepada suheng-suhengku bahkan mungkin aku akan dianggap gila! Apa yang harus kujawab kalau ayah atau orang lain bertanya mengapa aku tersenyum-senyum dalam keadaan berkabung seperti ini?"
"Katakan saja bahwa engkau bergembira bahwa tiga orang suhengmu tewas sebagai orang-orang gagah yang menentang kejahatan. Katakan bahwa engkau gembira karena telah menemukan dirimu sendiri seperti apa adanya, tidak berpura-pura, berani melihat kenyataan hidup!"
Hay Hay tersenyum dan kini Ci Goat juga tersenyum.
Gadis ini merasa betapa dadanya lapang dan lega, tidak lagi tertindih duka yang ternyata hanya dibuat oleh angan-angan pikirannya sendiri!
Ia merasa bebas lepas dan nyaman!
Pada saat itu, Han Siong mendekati mereka.
"Wah, ada apa ini kalian amat gembira dan senyum-senyum. Goat-moi, hati-hati jangan sampai terbuai oleh rayuan maut Si Pendekat Mata Keranjang!"
"Ha-ha-ha. Sin-tong! Mana mungkin ia dapat terbuai rayuan? Hatinya sudah melekat pada seseorang, cintanya hanya ditujukan kepada seseorang!"
Tentu saja Ci Goat tersipu malu, ingin membantah akan tetapi karena di situ hadir Han Siong, iapun tidak dapat mengeluarkan kata-kata melainkan.
"Ihh, Taihiap""
"Hay Hay, siapakah seseorang yang kau maksudkan itu?"
Tanyanya ingin tahu karena dia menduga bahwa tentu Hay Hay ngawur saja, hanya untuk mengoda Ci Goat.
"Hemm, jangan kau pura-pura tidak tahu! Siapa lagi kalau bukan Sin-tong Pek Han Siong?"
Han Siong terbelalak, terkejut dan heran.
Juga Ci Goat terkejut, akan tetapi ia lalu lari dari situ menuju ke tempat di mana ayahnya dan orang-orang lain sedang menimbuni tiga makam dengan tanah, dengan muka berubah merah sekali.
"Hay Hay, bagaimana engkau bisa tahu? Ataukah engkau ngawur saja?"
Tanya Han Siong sambil mendekati Hay Hay, matanya memandang penuh selidik.
"Tahu apa?"
Hay Hay pura-pura tidak tahu untuk mengoda.
"Tahu bahwa ia mencintaku!"
"Ha-ha, yang matanya tidak buta tentu tahu! Cara ia memandang kepadamu saja sudah jelas, belum lagi kalau ia bicara kepadamu tentu lebih jelas lagi. Pandang mata seorang wanita yang jatuh cinta mudah sekali diketahui rahasia hatinya. Ada kalanya sinar matanya bersinar penuh kagum, penuh harap, penuh penantian. Ada kalanya sinar matanya itu redup seperti orang mengantuk, penuh tantangan, penuh penyerahan, nampak malu-malu, mengandung kegenitan... ah, pendeknya, jelas sekali. Kalau bicara, tentu suaranya akan menggetarkan lagu cinta, disertai senyum dikulum penuh arti, dan andaikata ia hendak menyembunyikan perasaan cintanyapun akan nampak jelas pada pandang matanya dan pada suaranya. Ah, dia jatuh cinta tidak ketulungan lagi kepadamu Sin-tong, dan engkau bahagia sekali. Ia seorang gadis yang cantik manis, gagah perkasa, mudah menerima kebijaksanaan dan... hemm, wanita seperti itu pasti penuh gairah dan panas!"
Hay Hay tertawa dan Han Siong mengerutkan alisnya, wajahnya menjadi muram.
Akan tetapi, diam-diam dia heran mendengar ucapan Hay Hay itu yang jelas membuktikan bahwa Hay Hay memang seorang ahli wanita!
Untuk menutupi kemuramannya dia tersenyum.
"Hay Hay, engkau sungguh seorang mata keranjang yang ahli wanita. Bagaimana pula engkau bisa tahu tentang penuh gairah dan panas itu?"
Hay Hay tertawa.
"Mudah saja, sudah ada tanda-tandanya. Lihat saja sinar matanya, seperti ada apinya. Lihat saja tarikan mulutnya. Bibir itu penuh gairah dan menantang. Dan bentuk tubuhnya! Hemm, ia seorang wanita pilihan, Han Siong. Sebaiknya engkau cepat memetik bunga yang sedang mekar cerah dan harum semerbak itu!"
Han Siong, menarik napas panjang.
"Engkau benar, Hay Hay. Memang ia jatuh cinta kepadaku, dan inilah yang membuat aku pusing. Aku tidak ingin menyakitkan hatinya, akan tetapi aku...aku tidak mungkin dapat membalas cintanya!"
Kini Hay Hay tertegun, akan tetapi, dia lalu tersenyum.
"Wahai sobat, kiranya engkau sudah jatuh cinta kepada wanita lain?"
Kembali Han Siong terkejut dan mengamati wajah Hay Hay dengan tajam, seolah hendak menjenguk isi hatinya.
Kenapa pemuda ini tahu segala?
"Hemm, bagaimana lagi engkau bisa tahu akan hal itu?"
"Ha-ha-ha, engkau memang masih hijau dalam soal asmara, sobat! Kalau ada seorang pemuda menolak cinta seorang gadis sehebat nona Ouw Ci Goat, tentu pemuda itu tidak waras atau miring otaknya! Karena kulihat engkau ini bukan pemuda yang kurang waras atau miring otaknya, maka satu-satunya sebab penolakanmu sudah pasti bahwa engkau telah jatuh cinta kepada wanita lain!"
Han Siong memandang kagum.
Hebat anak ini, pikirnya.
Otaknya demikian cerdas dan walaupun sikapnya ugal-ugalan dan ceriwis.
namun harus diakui bahwa apa yang diucapkannya memang benar.
Dia menarik napas panjang dan kembali dia teringat kepada Bi Lian, gadis yang dicintanya.
"Engkau memang benar, Hay Hay. Dan setelah secara hebat dan tepat engkau mengetahui keadaan hati kami, aku ingin minta pertolonganmu. Kau ceritakanlah kepada Ci Goat bahwa aku tidak mungkin dapat menerima cintanya karena aku telah mempunyai pilihan hati gadis lain."
Hay Hay tersenyum.
"Wah, tugas berat itu! Kenapa enckau tidak mau berterus terang saja kedanya?"
"Ih, kau ini bagaimana? Ia belum pernah mengaku cinta, bagaimana aku akan menceritakan bahwa aku tidak dapat menerima cintanya? Pula, aku tidak ingin menyakiti hatinya, dan engkau yang ahli asmara ini tentu akan bisa mencari akal agar ia dapat menerima kenyataan ini dengan tabah dan dapat mengerti penolakanku."
Hay Hay menepuk mulut sendiri.
"Dasar mulut usil! Sekarang tertimpa tugas yang berat."
"Hemm, katakan saja bahwa engkau tidak mampu melakukan itu, tidak perlu sungkan dan mencari alasan!"
Kata Han Siong cemberut.
"He-he-he, siapa bilang tidak mampu? Pekerjaan begitu saja, menghadapi wanita, uhh, sepele bagiku!"
"Nah, jadi engkau mau, bukan?"
Kata Han Siong, kini tersenyum. Hay Hay terbelalak.
"Setan! Engkau memancing kesanggupanku dengan mengatakan aku tidak mampu, ya? Engkau penuh akal bulus dan tipu muslihat, Han Siong!"
Kata Hay Hay tertawa.
"Aku hanya mencontoh engkau!"
"Baiklah, aku menyerah. Aku yang akan menyampaikan kepadanya walaupun hatiku akan hancur lebur jadi debu melihat seorang gadis menangis karena patah hati. Akan tetapi, untuk itu, engkau harus bersabar dan selama beberapa hari kita tinggal di rumah keluarga Ouw. Berilah waktu sepekan untukku."
"Sepekan? Biar sebulanpun boleh. Engkau tinggal di rumah mereka, dan aku melanjutkan perjalananku."
"Enaknya! Kalau begitu, akupun tidak akan sudi! Engkau harus menemani aku di rumah itu sampai aku selesai dengan tugasku. Bagaimana?"
Kembali Han Siong menarik napas panjang.
"Baiklah, Mari kita ke sana, agaknya sudah selesai penguburan itu dan kini tinggal sembahyang sebagai penghormatan terakhir."
Mereka bergandeng tangan sebagai dua orang sahabat yang akrab sekali menuju ke makam baru yang rupanya sudah selesai ditimbuni tanah itu Memang Hay Hay dan Han Siong saling merasa suka dan akrab, merasa seolah ada pertalian hubungan di antara mereka.
Betapa tidak?
Sejak terlahir di dunia ini, keduanya memang mempunyai hubungan akrab sekali, jalan hidup mereka saling kait-mengait secara aneh.
Memang bukan sanak bukan kadang, akan tetapi sejak lahir sampai menjadi besar.
Hay Hay menempati hidup Han Siong dan seolah dia menjadi Han Siong ke dua!
Sejak bayi dia dipakai menjadi pengganti Han Siong yang disembunyikan orang tuanya dan dia mengalami banyak sekali hal hebat karena dia disangka Han Siong.
Dan setelah dewasa, mereka berdua sama lihainya, memiliki tingkat kepandaian yang berimbang, bahkan keduanya selain menjadi murid orang-orang sakti dan menerima gemblengan ilmu silat, juga keduanya mahir ilmu sihir!
Ketika semua orang selesai bersembahyang di depan tiga buah makam itu untuk memberi penghormatan terakhir, tiba-tiba terdengar suara kelenengan kecil yang nyaring.
Semua orang menengok ke arah suara itu dan melihat tiga orang pendeta Lama yang berjubah merah dengan langkah lebar menuju ketempat itu.
Melihat mereka itu Han Siong dan Hay Hay saling pandang, dan Hay Hay tersenyum.
Keduanya sudah mengenal baik para pendeta Lama yang sejak mereka masih kecil berusaha untuk menemukan dan menculik Sin-tong, yaitu Pek Han Siong.
Tak salah lagi, pikir mereka, munculnya tiga orang pendeta Lama itu tentu ada hubungannya dengan urusan lama itu, maka keduanya siap siaga dan waspada.
Mereka memperhatikan tiga orang pendeta Lama itu.
Seperti pada umumnya, tiga orang pendeta Lama itupun bertubuh jangkung.
Orang pertama tinggi besar seperti raksasa, dengan kaki tangan yang kokoh kuat, sepasang matanya bundar dan amat tajam, mukanya membayangkan kekuatan dan keberingasan, dan memikul sebatang tongkat panjang yang dipasangi kelenengan perak kecil yang mengeluarkan bunyi nyaring kalau dia bergerak, dan di ujung lain dari tongkatnya, tergantung sebuah buntalan yang cukup besar.
Raksasa berkulit hitam ini agaknya menjadi pimpinan walaupun usianya sebaya dengan dua orang temannya, yaitu kurang lebih enam puluh tahun.
Lama yang kedua berkulit putih, tubuhnya tinggi kurus dan matanya seperti terpejam selalu saking sipitnya dan dia tidak kelihatan membawa senjata apapun.
Akan tetapi kalau orang melihat ke arah pinggangnya, orang itu akan merasa ngeri melihat betapa sabuk di pinggang orang tinggi kurus ini adalah seekor ular hidup!
Adapun pendeta yang ke tiga juga bertubuh jangkung, namun agak bongkok sehingga dia seperti seekor onta.
Kulitnya kuning dan wajahnya kekanak-kanakan, kecil mengkerut.
Di punggungnya tergantung sepasang cakar harimau yang sudah diberi gagang, sepanjang pedang.
Ouw Pangcu atau sekarang lebih tepat disebut namanya saja, yaitu Ouw lok Khi karena dia tidak menjadi ketua lagi mengingat betapa semua anak buahnya telah tewas, tinggal dia dan puterinya seorang, segera maju menyambut tiga orang pendeta itu.
Dia sendiri merasa heran melihat munculnya tiga orang pendeta, akan tetapi karena yang menyelenggarakan pemakaman untuk tiga orang muridnya adalah dia, maka dia merasa sebagai tuan rumah dan menyambut tiga orang hwesio itu dengan sikap ramah ramah dan sopan.
"Selamat datang, sam-wi Lo-Suhu (tiga bapak guru)! Kami sedang melakukan pemakaman dan sembahyangan untuk tiga orang murid kami yang tewas di tangan gerombolan penjahat. Tidak tahu, apakah keperluan sam-wi (kalian bertiga) datang berkunjung ke tempat pemakaman ini?"
"Omitohud..., semoga yang benar selalu mendapat perlindungan dan berkah! Pinceng (saya) bertiga sengaja datang untuk memberi hadiah penghibur bagi kalian yang berduka, juga untuk menyembahyangkan agar arwah ketiga orang ini mendapatkan tempat yang damai abadi. Nah, sekarang terimalah hadiah penghibur yang kami bawa ini!"
Berbareng dengan habisnya ucapan itu, pendeta Lama yang bertubuh raksasa bermata lebar itu menggerakkan tongkatnya dan buntalan itupun melayang turun ke depan kaki Ouw Lok Khi.
Buntalan itu begitu jatuh ke tanah lalu terlepas dan terbuka dan semua orang memandang ngeri melihat bahwa isi buntalan adalah tiga buah kepala orang yang masih segar, leher yang buntung itu masih berdarah, agaknya baru saja tiga buah kepala itu dipenggal dari tubuhnya!
"Ohh...!"
OuW Lok Khi terhuyung mundur dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Hay Hay dan Han Siong yang sudah siap siaga telah berloncatan kedepan.
Sekali lihat saja mereka berdua mengenal tiga buah kepala itu.
"Ini kepala para tosu Pek-lian-kauw ahli sihir itu!"
Seru Hay Hay.
Pendeta Lama yang tinggi besar itu tertawa, dan dua orang temannya berdiri seperti patung, hanya menonton.
"Ha-ha, benar sekali, orang muda. Bukankah mereka ini yang menyusahkan kalian? Eh, orang muda yang baik, apakah engkau yang bernama Pek Han Siong?"
Sebelum Hay Hay menjawab, Han Siong yang sudah mempunyai dugaan buruk terhadap semua pendeta Lama, segera menjawab.
"Akulah yang bernama Pek Han Siong! Tidak tahu, sam-wi Lo-Suhu mempunyai keperluan apakah dengan aku?"
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 3
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 14