Ceritasilat Novel Online

Pendekar Super Sakti 14

Eps 14 Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Super Sakti - Kho Ping Hoo.

Han Han tersenyum, senyum yang menyayat jantung Lulu.

"Ke mana? Tentu saja pergi dari sini, adikku. Aku sudah bebas sekarang, bebas lepas seperti burung di udara, bebas daripada tugas, bebas dari segala-galanya. Aku akan pergi, sekarang juga...."

"Koko, jangan pergi sekarang...."

Lulu berteriak, mukanya makin pucat dan air matanya mengucur deras.

Melihat keadaan isterinya ini, Sin Kiat cepat merangkul pundak isterinya dan ikut berkata.

"Han Han, mengapa tergesa-gesa? Tinggallah di sini barang sepekan...."

Han Han menengok keluar jendela. Bulan sedang purnama dan di luar rumah terang seperti siang.

"Tidak, aku harus pergi sekarang. Malam ini merupakan malam bahagia bagi kalian, dan merupakan malam keramat bagiku. Aku harus pergi, selagi bulan sedang purnama, selagi hatiku sedang terang...."

"Han-koko...."

Lulu menjerit menahan isak.

"Engkau hendak pergi ke mana? Malam-malam begini....? Ke mana....?"

Kembali Han Han memaksa tersenyum kepada adiknya.

"Ke mana? Ke manakah semua manusia akan pergi? Hemmm, aku tidak tahu, adikku. Dunia ini terlalu luas, dan di manapun sama saja. Terserah kepada hati dan kakiku ke mana aku pergi. Jangan engkau memikirkan aku lagi, adikku. Nah, selamat tinggal...."

"Koko...."

"Han Han, jangan pergi seperti ini. Besok saja...."

Sin Kiat mencegah.

"Tidak, sekarang inilah saatnya,"

Han Han berpincangan keluar.

"Koko, aku antar engkau...."

Lulu mengejar. Sin Kiat juga mengejar.

"Kami antar sampai keluar kota"

Kata Sin Kiat yang terharu menyaksikan penderitaan isterinya.

Han Han tak dapat membantah lagi.

Di luar ruangan gedung, mereka bertemu dengan Tan-piauwsu, atau Tan Bu Kong pemilik Pek-eng-piauwkiok.

Ketika mendengar bahwa malam hari itu juga Han Han akan pergi, Tan Bu Kong menyatakan keheranannya, akan tetapi dia tidak berani mencegah bahkan ikut pula mengantar.

Setibanya di luar kota, Han Han berkata.

"Sudah cukup, adikku Lulu. Cukuplah Sin Kiat dan Tan-piauwsu. Kembalilah kalian ke kota, aku akan melanjutkan perjalananku."

"Koko.... Ahhh, Koko.... jangan.... jangan tinggalkan aku...."

Lulu tidak mempedulikan apa-apa lagi, menubruk Han Han, merangkul dan menyembunyikan mukanya di dada kakaknya sambil menangis sesunggukan.

"Lulu, engkau bukan anak kecil lagi, mengapa bersikap begini? Tidak baik begini, Lulu...."

"Bawalah aku, Koko.... bawalah aku...., aku tidak bisa berpisah lagi darimu...."

"Lulu"

Han Han membentak sehingga Lulu tersentak kaget. Dengan gerakan halus Han Han mendorong Lulu mundur, kemudian berkata.

"Ingat, engkau adalah isteri Wan Sin Kiat yang mencintamu dan kau cinta. Adikku sayang, selamat tlinggal, semoga Thian melindungimu selamanya"

Setelah berkata demikian, Han Han membalikkan tubuh dan berjalan terpincang-pincang meninggalkan mereka.

Lulu seperti terkena pesona berdiri seperti patung, mukanya pucat, air matanya bercucuran, matanya tak pernah berkedip menatap tubuh yang pergi itu.

Tubuh seorang laki-laki yang berkaki satu, terpincang-pincang dibantu tongkat bututnya, rambutnya terurai lepas berwarna putih.

Sesosok tubuh yang menimbulkan haru dan iba kepada yang melihatnya, terutama sekali Lulu.

"Koko....! Han-koko.... kakakku....!"

Sin Kiat sudah memegang lengannya.

"Kuatkan hatimu, isteriku. Biarkan kakakmu pergi, di sini ada aku suamimu yang mencintamu lahir batin...."

Sin Kiat menahan isak yang bercampur dalam suaranya. Lulu membalikkan tubuh memandang suaminya, lalu menubruk suaminya dan menangis tersedu-sedu.

"Han-koko.... ah, Han-koko.... betapa malang dan sengsara nasib kakakku.... dia.... selalu berusaha menolong orang sengsara.... akan tetapi dia sendiri selalu dirundung malang.... ohhh, kakakku...."

Sin Kiat memeluk isterinya, kemudian mereka berdua memandang tubuh yang makin menjauh itu.

Tubuh yang berjalan terpincang-pincang di bawah sinar bulan purnama, dan tidak pernah sekali juga Han Han menoleh.

Bukan karena tidak ingin, oh, dia ingin sekali menoleh, akan tetapi dia tidak mau tampak oleh mereka betapa kedua pipinya basah oleh tetesan air matanya....

Berbareng dengan kepergian Suma Han atau Han Han, yang dikenal sebagai Pendekar Super Sakti, juga Pendekar Siluman, maka berakhirlah cerita yang berjudul Pendekar Super Sakti ini.

Khusus untuk para pembaca yang masih ingin mengikuti perjalanan hidup Han Han yang selama ini banyak menderita, pengarang menyusun sebuah cerita baru yang merupakan lanjutan cerita ini, yang berjudul "Sepasang Pedang Iblis."

Dalam cerita ini, pembaca akan berjumpa kembali dengan Han Han, dengan Nirahai, Lulu dan tokoh-tokoh dalam cerita Pendekar Super Sakti.

Semoga cerita Pendekar Super Sakti ini mengandung manfaat bagi pembaca, dan pengarang menyertakan salamnya bersama salam dari Han Han kepada para penggemar dan sampai jumpa dalam cerita "Sepasang Pedang Iblis"

TAMAT dino,

http.//indozone.net

/literatures/literature/67 11 Oktober 2005 jam 12.44pm

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert