Ceritasilat Novel Online

Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 1

Eps 1 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo

Baca online Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo

Cersil Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo.

***** Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Pria itu usianya sudah limapuluh lima tahun, akan tetapi masih nampak tampan, gagah dengan pakaiannya yang rapi, dengan rambutnya yang sudah terhias uban itu tersisir rapi dan halus mengkilap oleh minyak harum.

Sepasang matanya memancarkan gairah dan kegembiraan hidup, mulutnya selalu tersenyum dan wajahnya tidak dikotori kumis atau jenggot karena dicukur licin halus seperti wajah seorang pemuda.

Dengan langkah-langkah santai dia menuruni bukit pada pagi hari itu, menyongsong matahari pagi yang baru muncul dari balik bukit di depan.

Pagi yang cerah itu menambah kegembiraan pria yang tampan gagah itu, dan agaknya kegembiraan pula yang mendorongnya untuk bernyanyi di tempat yang sunyi itu.

Suaranya lepas dan merdu, dan lagunya juga gembira.

"Bebas lepas beterbangan dari taman ke taman mencari kembang harum jelita untuk kuhisap sari madunya setelah puas kumenikmatinya kutinggalkan kembang layu merana untuk mencari kembang segar yang baru Si Kumbang Merah, inilah aku!"

Pria itu bernyanyi dengan suara lantang.

Padahal, kalau nyanyiannya itu terdengar orang, apalagi tertangkap oleh pendengaran seorang pendekar, tentu dia akan menghadapi kesulitan.

Di dunia persilatan, nama Si Kumbang Merah sudah amat terkenal.

Ang-hong-cu (si Kumbang Merah) adalah nama seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), yaitu penjahat cabul yang suka mempermainkan dan memperkosa wanita, yang dimusuhi oleh semua pendekar.

Di dijuluki si Kumbang Merah karena setelah meninggalkan korbannya, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, dia selalu meninggalkan pula tanda mata berupa perhiasan berbentuk kumbang merah terbuat daripada tembaga berlapis emas.

Jarang ada yang sempat melihat mukanya, karena penjahat ini bekerja cepat, memperkosa wanita dalam kegelapan atau kalau hal itu dilakukan di siang hari, dia selalu menyembunyikan mukanya di balik bermacam topeng.

Selain tinggi ilmu silatnya, Ang-hong-cu inipun ahli dalam hal menyamar sehingga mukanya dapat berubah-ubah dan tidak ada yang pernah melihat wajahnya yang asli.

Karena inilah, maka semenjak dia malang-melintang di dunia kang-ouw dan menjadi seorang jai-hwa-cat yang telah mengorbankan banyak sekali gadis atau isteri orang, ratusan mungkin sudah ribuan, dia selalu dapat lolos dari pengejaran para pendekar yang berusaha untuk menangkap atau membunuhnya.

Siapakah pria berusia limapuluh lima tahun yang berjuluk Ang-hong-cu dan yang di benci oleh semua pendekar ini?

Dan kenapa pula seorang yang memilki ilmu kepandaian tinggi, wajah yang tampan gagah, seperti dia itu, yang juga agaknya pandai membuat sajak, tanda bahwa dia berpendidikan, dapat menjadi seorang penjahat cabul yang demikian kejam dan ganas?

Mari kita menengok kebelakang untuk melihat riwayat hidup Ang-hong-cu ini, semenjak dia masih kanak-kanak.

Tang Siok adalah seorang pejabat tinggi yang mempunyai kedudukan penting di kota raja.

Pada waktu itu, Kaisar Ceng Tek baru saja dinobatkan menjadi kaisar dalam usia lima belas tahun, dan karena kaisar yang amat muda ini sama sekali tidak berwibawa, dan hanya mengejar kesenangan, maka tentu saja pengawasan terhadap para pembesar amatlah kurang.

Hal ini membuat para pejabat berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat, berlomba untuk menggendutkan kantung uang dan perut sendiri.

Tidak ketinggalan Tang Siok atau Tang-taijin.

Dia hidup mewah dan biarpun usianya sudah lebih dari setengah abad, dia masih saja menambah penghuni harem-nya yang sudah penuh dengan selir-selir yang cantik jelita dan muda belia, diantara para selirnya, yang paling disayang adalah Kui Hui, seorang wanita cantik menarik dan pandai memikat hati.

Kui Hui menjadi selir Tang-taijin ketika ia berusia tujuh belas tahun.

Kini ia telah berusia duapuluh enam tahun dan mempunyai seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang di beri nama Tang Bun An.

Karena dapat mempunyai anak laki-laki inilah agaknya yang membuat Tang Siok semakin sayang kepadanya.

Selir cantik ini dimanja, lebih daripada selir lainnya, bahkan lebih daripada isteri pertamanya.

Karena itu, tentu saja para selir merasa iri hati, namun tak seorangpun berani menantang atau menyatakan kebencian mereka terhadap Kui Hui dengan berterang.

Tang-taijin yang sudah berusia enam puluh tahun ketika Kui Hui berusia dua puluh enam tahun itu, juga amat sayang kepada Tang Bu An.

Sejak kecil Tang Bun An dimanja oleh ayah dan ibunya dan dia memperoleh pendidikan yang baik, mempelajari ilmu baca tulisn dari seorang guru sastra yang dipanggil oleh ayahnya untuk mengajar Tang Bun An dan saudara-saudara tirinya.

Dia merupakan anak yang paling tampan di antara para saudaranya, dan hal inilah yang membuat ayahnya paling sayang kepadanya.

Apalagi selain tampan, ternyata Tang Bun An juga memiliki otak yang cerdas sekali dan dia selalu menonjol dalam mata pelajaran baca dan tulis.

Bahkan dalam usianya yang tujuh tahun itu, dia mulai pandai membuat sajak dan syair berpasangan, suatu bentuk kesenian yang membutuhkan penguasaan bahasa, keahlian menulis dan bakat seni yang besar.

Akan tetapi, tiada satupun yang sempurna di dunia ini, dan tiada satupun yang kekal.

Keadaan yang penuh kemuliaan dan kebahagiaan itu tiba-tiba saja mengalami perubahan yang tidak disangka-sangka oleh Tang Bun An.

Anak ini tidak tahu betapa ibu kandungnya mulai merasakan penderitaan hidup dengan semakin menuanya suaminya.

Sebagai seorang wanita cantik jelita berusia duapuluh enam tahun, yang menerima pandang mata penuh kagum dari banyak mata pria muda.

Kui Hui tentu saja masih memiliki gairah yang besar.

Oleh karena itu, mulailah ia merasa kesepian ketika Tang Siok semakin lama semakin lemah dan tidak hangat lagi seperti dulu-dulu, bahkan semakin jarang tidur di dalam kamar selir tersayang ini.

Bukan karena Tang Siok sudah bosan kepadanya, melainkan karena akhir-akhir ini, kesehatan Tang Siok memang menurun banyak.

Hal ini mungkin saja di sebabkan karena sewaktu mudanya, dia terlalu mengumbar nafsu sehingga dalam usia enampuluh tahun, dia mulai loyo.

Agaknya, perasaan kesepian ditambah dorongan gairahnya yang masih menyala-nyala, maka mudah bagi setan untuk menggoda wanita muda ini.

Di dalam gedung Tang-taijin yang besar dan luas seperti istana, terdapat belasan orang pengawal di sebelah dalam gedung, dan lebih banyak lagi pengawal jaga di luar gedung.

Mereka bertugas menjaga keselamatan Tang-taijin sekeluarga.

Diantara para pengawal dalam itu terdapat komandan pengawal bernama Ma Cun, seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun lebih, tinggi besar dan tampan gagah seperti tokoh Si Jin Kui dalam dongeng.

Mula-mula dua pasang mata bertemu pandang sekilas saja yang akhirnya dengan muka ditundukkan oleh Kui Hui sebagai seorang wanita, dan pandang mata dialihkan oleh Ma Cun yang merasa rikuh sebagai seorang pegawai, terhadap nyonya majikannya.

Akan tetapi, api gairah cinta mulai membara di dalam lubuk hati masing-masing.

Pada kesempatan lain, adu pandang mata itu berlangsung lebih lama, kemudian disusul dengan iringan senyum simpul.

Saling tertarik antara pria dan wanita adalah suatu hal yang wajar.

Sudah menjadi pembawaan setiap orang manusia untuk tertarik kepada lawan jenisnya.

Hal ini memang penting untuk mendorong dua orang berlawanan jenis saling berdekatan sehingga terjadi hubungan antara keduanya yang menjadi sarana perkembang-biakan manusia di permukaan bumi.

Akan tetapi, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berakal budi sehingga membentuk hukum dan tata susila, meletakkan batas-batas dan mengenal apa yang mereka namakan baik dan buruk sesuai dengan kebiasaan atau hukum yang dibentuk lingkungannya.

Saling tertarik antara pria dan wanita ini biasanya hanya diperbolehkan terjadi kelanjutannya bagi pria dan wanita yang masih bebas, yang belum terikat dalam keluarga sebagai suami isteri.

Rasa saling tertarik itu akan segera diusir keluar lagi dari lubuk hati oleh seorang yang telah terikat menjadi suami atau isteri orang lain, Terutama sekali bagi wanita yang telah menjadi isteri orang lain seperti Kui Hui.

Mula-mula memang demikian.

Namun, kesepian mendorongnya dan menggodanya.

Akhirnya pertemuan yang dimulai dengan dua pasang mata saling beradu pandang itu berkelanjutan menjadi hubungan yang mesra antara Ma Cun dan Kui Hui yang tentu saja dilakukan dengan rahasia dan sembunyi-sembunyi.

Hal ini tidak begitu sukar mereka lakukan karena Ma Cun memang seorang komandan atau pengawal dalam, sedangkan Kui Hui adalah selir tersayang yang bebas bergerak pula.

Ditambah lagi jarangnya Tang-taijin datang berkunjung membuat kedua orang yang dimabok nafsu birahi itu leluasa menyalurkan gairah memuaskan birahi mereka.

Pada suatu pagi, Bun An yang semestinya pergi ke ruangan belajar, pulang ke kamar ibunya tidak seperti biasa.

Kiranya, guru sastra hari itu jatuh sakit dan tidak mengajar, maka anak-anak itu diliburkan.

Bun An berlari pulang ketempat tinggal ibunya yang merupakan bagian sebelah belakang kiri dari perumahan besar Tang-taijin dan langsung saja dia berlari memasuki kamar ibunya.

Begitu membuka daun pintu, anak laki-laki yang baru berusia tujuh tahun itu terbelalak, mukanya berubah penuh keheranan.

Biarpun dia belum begitu mengerti, namun melihat ibunya dalam keadaan bugil berada di atas pembaringan bersama perwira Ma Cun yang juga bugil, dia dapat menduga apa yang terjadi antara ibunya dan perwira itu.

Pengertian yang timbul ketika dia melihat perkawinan binatang seperti ayam, cecak, anjing, kucing dan sebagainya ditambah percakapan sembunyi-sembunyi dengan kakak-kakak tirinya yang lebih tahu akan hal itu.

Ibunya telah bermain cinta dengan Ma-ciangkun!

Perasaannya tidak karuan, berbagai pikiran menyelinap dalam benaknya.

Kui Hui dan Ma Cun terkejut bukan main.

Dalam desakan gairah yang menggelora, keduanya sampai lengah dan tidak dikuncinya pintu kamar dari dalam.

Hal inipun wajar karena siapakah berani memasuki kamar Kui Hui tanpa ijin?

Tang-taijin tak mungkin muncul di pagi hari itu, dan Bun An, satu-satunya orang yang berani masuk tanpa ijin selain Tang-taijin, sedang sibuk di ruang belajar.

Sungguh tidak mereka sangka bahwa anak itu akan pulang lagi karena tidak jadi belajar.

Setelah hilang rasa kaget yang membuat kedua orang yang sedang berjina itu seperti lumpuh, keduanya cepat meloncat turun dari pembaringan sambil membungkus tubuh dengan selimut.

Kui Hui cepat menghampiri Bun An yang masih bengong, lalu menutup pintu dan mengunci dari dalam.

Saking malu, kaget dan takutnya kalau sampai perbuatannya terlihat oleh orang lain dan terdengar oleh Tang-taijin, tangan ibu ini menampar kerah pipi puteranya.

"Plakk!!"

Tamparan itu keras sekali, membuat muka Bun An tersentak ke samping dan pipi kirinya menjadi biru kemerahan, matanya terbelalak, bukan hanya karena nyeri yang dideritanya, melainkan lebih lagi karena kagetnya.

Belum pernah ia ditampar ibunya seperti sekarang ini.

"Bocah bengal! Mengapa kau berani membuka pintu ini? Kau... kau tidak belajar?"

Betak Kui Hui.

Saking kagetnya, Bun An sejenak tidak mampu bicara, hanya memandang kepada ibunya dengan bengong, kedua matanya basah air mata.

"Hayo jawab!"

Bentak ibunya sambil mengguncang tubuhnya dengan mencengkeram pundak dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegangi selimut yang hanya menutupi setengah tubuhnya.

"Aku... aku... siang-seng sakit, tidak mengajar..."

Tiba-tiba Ma Cun yang mempergunakan kesempatan itu untuk mengenakan pakaian kembali secara tergesa-gesa sehingga terbalik-balik dan salah memasukkan kancing, sudah menghampiri Bun An.

Tiba-tiba dia mencabut pedangnya dan tangan kirinya mencengkeram tengkuk anak itu, tangan kanan yang memegang pedang menempelkan mata pedang ke leher Bun An.

"Anak bodoh! Apa kau ingin aku menyembelih lehermu?"

Bentak Ma Cun.

Perwira ini tiba-tiba saja bersikap keras karena takutnya.

Kalau sampai anak ini membuka rahasia dan hubungannya dengan Kui Hui diketahui Tang-taijin, dia akan celaka.

Tentu akan disiksa dan dibunuh.

Karena takutnya, maka kini dia dapat bersikap kejam dan galak.

Sedangkan Kui Hui sendiri juga karena takut rahasianya ketahuan, pada saat itu lupa akan kasih sayangnya kepada anaknya sendiri.

Ia tahu bahwa tanpa diancam, Bun An tentu akan membuka rahasia itu dan kalau suaminya tahu bahwa ia berjina dengan Ma Cun, tentu ia akan celaka, disiksa dan dibunuh pula, setidaknya diusir dari situ, dari kemuliaan dan kemewahan!

Wajah Bun An seketika pucat ketika pedang itu ditempelkan dilehernya.

Baru sekali ini selama hidupnya dia merasa ketakutan.

Dia tidak mampu menjawab hanya menggeleng-geleng kepalanya.

"Plakk!"

Kini tangan kiri Ma Cun menamparnya dan Bun An merasa kepalanya pening, semua yang dilihatnya berputar dan tubuhnya terpelating roboh terbanting keras.

"Hayo kau berjanji untuk tidak menceritakan apa yang kau lihat disini kepada siapapun juga!"

Bentak Ma Cun.

Bun An hanya menggeleng-geleng kepala.

Rambutnya dijambak oleh ibunya dan diapun ditarik bangkit berdiri, dia melihat wajah ibunya tidak seperti wajah cantik biasanya, melainkan nampak seperti wajah setan yang mengerikan.

Hampir dia menjerit, akan tetapi segera ditahannya karena dia tahu bahwa sekali menjerit, Ma Cun dan ibunya akan membunuhnya.

"Bun An, hayo berjanji!"

Bentak ibunya sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

Dengan air mata bercucuran Bun An mengeluarkan kata-kata dengan gagap.

"Aku... aku berjanji..."

"Kau harus bersumpah!"

Kata pula Ma Cun dan pedangnya sudah mengancam dada anak itu untuk ditusukkan.

"Aku... aku bersumpah...,"

Kata Bun An ketakutan.

"Bersumpah apa? Hayo yang jelas!"

Bentak pula Ma Cun dan jari tangan Kui Hui menjiwir telinga kiri Bun An dengan keras sehingga anak itu menyeringai kesakitan.

"Ibu..., sakit!"

Bun An mengeluh.

"Lekas bersumpah katakan bahwa engkau tidak akan memberitahukan kepada siapapun juga apa yang kau lihat disini!"

Kui Hui juga membentak dan tidak melepaskan jiwirannya kepada telinga anaknya.

Sungguh mengherankan sekali betapa seorang ibu yang tadinya amat sayang kepada puteranya, dalam keadaan ketakutan hebat berubah menjadi sedemikian kejamnya.

Rasa takut memang dapat membuat orang menjadi kejam dan jahat.

Bun An kini memandang kepada ibunya dan kepada Ma Cun bergantian, dan di dalam sinar matanya yang basah air mata itu, disamping rasa takut, juga terdapat perasaan benci yang luar biasa.

"Aku bersumpah tidak akan menceritakan kepada siapapun juga apa yang kulihat disini,"

Katanya.

Jiwiran telinganya dilepaskan dan tiba-tiba saja Kui Hui merangkul anaknya dan menciumi sambil menangis.

"Kau anakku yang baik! Kau Bun An anak ibu tersayang. Ketahuilah, Bun An. Paman Ma Cun ini amat sayang kepada ibu, dan kepadamu juga. Akan tetapi kalau kau bicara tentang apa yang terjadi disini, kita semua termasuk kau akan celaka. Mengertikah kau anakku?"

Tentu saja Bun An tidak mengerti.

Ibunya tadi menyiksanya, bersikap demikian kejam, dan sekarang tiba-tiba merangkulnya dan menciuminya.

Entah bagaimana, dia merasa jijik dan menarik mukanya kebelakang agar tidak diciumi lagi oleh ibunya.

Ma Cun menyimpan pedangnya.

Kui Hui mengenakan pakaiannya.

Perwira itu kini duduk di kursi dan menarik kedua tangan Bun An anak itu mendekat.

"Dengar, Bun An. Aku sayang kepada ibumu dan sayang kepadamu juga. Mulai sekarang, engkau harus ikut pula merahasiakan pertemuan antara ibumu dan aku, bahkan engkau harus membantu kami melakukan penjagaan agar kalau ada orang datang, engkau dapat memberitahu lebih dulu kepada kami. Mengertikah engkau?"

Karena takut, Bun An mengangguk dan demikianlah, mulai hari itu, kedua orang hamba nafsu birahi itu lebih leluasa lagi mengadakan pertemuan dan hubungan rahasia karena ada Bun An yang "membantu"

Mereka dan melakukan pengawasan di luar kamar apabila ibunya sedang bermain cinta dengan kekasihnya.

Bun An taat karena takut, akan tetapi jauh dilubuk hatinya, dia merasa muak melihat perbuatan ibunya dan dia amat membenci Ma Cun.

Peristiwa yang terjadi sewaktu dia berusia tujuh tahun ini sungguh merupakan guncangan batin hebat sekali, menggores di hatinya dalam-dalam dan merupakan kesan yang takkan terlupakan selama hidupnya, bahkan menjadi dasar pembentukan wataknya di kemudian hari.

Asap tak dapat ditutup, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai busuk, baunya akan tersebar kemana-mana dan akhirnya akan ketahuan juga.

Biarpun di jaga dengan hati-hati, Tetap saja hubungan antara Ma Cun dan selir terkasih dari Tang-taijin itu diketahui oleh beberapa orang anggota pengawal dalam.

Sudah wajar kalau diantara mereka itu ada yang merasa iri hati terhadap Ma Cun.

Bayangkan saja!

Ma Cun hampir setiap hari bermain cinta dengan selir yang cantik jelita itu, tanpa ingat kepada kawan-kawannya!

Siapa tidak akan menjadi iri?

Mulailah peristiwa itu menjadi bahan pergunjingan dan akhirnya, desas-desus bahwa selirnya tersayang itu nyeleweng, sampai pula ke telinga Tang-taijin.

Tang-taijin marah sekali.

Kakek ini karena marahnya, bersikap kurang cerdik.

Dia tidak mau menanti sampai dia dapat membuktikan sendiri dan menangkap basah selirnya yang melakukan penyelewengan, melainkan langsung saja mendatangi Kui Hui di kamarnya dan pembesar ini memaki-maki Kui Hui.

Kui Hui menangis, berlutut di depan kaki suaminya dan dengan gaya yang memikat, yang menimbulkan keharuan, ia bersumpah bahwa ia tidak pernah menyelewengan "Saya adalah isteri yang paling setia, biarpun sekarang paduka jarang sekali datang berkunjung, saya selalu tetap menanti dengan setia.

Saya mendapatkan kasih sayang paduka dan sayapun amat cinta kepada paduka, bukti buah kasih sayang antara kita adalah Bun An.

Bagaimana saya berani melakukan penyelewengan?

Desas-desus yang paduka dengar itu hanyalah disebarkan oleh mereka yang iri hati kepada saya, yang tidak suka karena paduka terlalu sayang kepada saya!"

Kui Hui menangis sesenggukan.

"Mana buktinya bahwa saya melakukan penyelewengan? Kalau ada buktinya, saya tidak akan ribut-ribut dan saya rela di hukum mati sekarang juga!"

Karena Tang-taijin memang sayang kepada selirnya yang cantik molek dan pandai merayu ini, diapun menjadi bimbang.

Dia memang tidak melihat buktinya.

"Sudahlah,"

Katanya sambil merangkul tubuh yang molek itu ketika selirnya menangis sambil memeluk kakinya.

"Biarpun aku tidak melihat buktinya, namun desas-desus itu menunjukkan bahwa ada orang-orang yang memusuhimu. Karena itu, mulai sekarang engkau harus berhati-hati, menjaga diri dan jangan meninggalkan kamar kalau tidak perlu agar tidak ada orang yang dapat menyangka engkau melakukan hal yang bukan-bukan."

Dan mulai hari itu, Tang-taijin menugaskan Ma Cun di bagian luar, juga mengutus pengawal pribadinya yang dipercayainya untuk mengamati "keamanan"

Di dalam gedungnya agar tidak terjadi hal-hal yang akan mengganggu ketentraman rumah tangganya dan mencemarkan nama kehormatan keluarganya.

Tentu saja diam-diam Kui Hui menjadi marah sekali atas tindakan Tang-taijin ini.

Ia dikurung dan dijaga, diawasi.

Kekasihnya, Ma Cun, dipindahkan keluar sehingga ia tidak berdaya sama sekali.

Jangankan untuk mengadakan hubungan dan pertemuan rahasia, bahkan untuk melihat wajah kekasihnya saja tidak ada kemungkinan lagi.

Padahal, gairah berahinya sudah menyesak sampai ke ubun-ubun!

Kui Hui berpaling kepada puteranya lagi.

Dengan bujukan dan ancaman, akhirnya ia berhasil mengirim surat kepada Ma Cun melalui Bun An yang sebagai seorang anak laki-laki tentu saja dapat keluar dan bertemu dengan Ma Cun tanpa menimbulkan kecurigaan.

Surat menyuratpun terjadilah dan isi surat itu menjalin rencana yang amat keji.

Ma Cun mencarikan racun yang amat keras dan tidak berbau, dikirimnya racun itu melalui tangan Bun An yang tidak menyangka sesuatu.

Kemudian, racun itu oleh Kui Hui disuguhkan kepada Tang-taijin pada saat pembesar itu datang menggilirnya dan bermalam di dalam kamarnya.

Tang-taijin jatuh sakit!

Sakit yang berat sekali.

Tidak ada tabib mampu menyembuhkannya dan seminggu setelah ia bermalam di kamar Kui Hui, Tang-taijin meninggal dunia.

Diam-diam Kui Hui sudah mengumpulkan banyak barang berharga, perhiasan emas berlian yang diselundupkan keluar, diserahkan kepada Ma Cun melalui tangan Bun An.

Biarpun desas-desus tentang Kui Hui yang menyeleweng itu tidak ada buktinya, namun hal itu membuat Kui Hui dipandang rendah oleh isteri dan para selir mendiang Tang-taijin.

Bahkan kematian Tang-taijin lalu dikaitkan dengan desas-desus itu, dianggap bahwa matinya pembesar itu karena malu dan sakit hati oleh ulah selir tersayang itu.

Maka, sikap yang tidak ramah diperoleh Kui Hui dan Bun An.

Hal ini bahkan merupakan hal yang diharapkan Kui Hui karena ia mendapatkan alasan untuk keluar dari rumah itu dengan baik-baik, dengan alasan pulang ke kampungnya.

Setelah Kui Hui dan Bun An keluar dari rumah keluarga Tang, wanita itu sama sekali bukan pulang ke kampung asalnya, melainkan diterima dengan tangan terbuka oleh Ma Cun, kekasihnya!

Apalagi karena wanita itu selain telah menitipkan banyak perhiasan, juga membawa pula barang-barang berharga.

Kehidupan Bun An mengalami perubahan besar.

Ma Cun yang juga minta keluar sebagai kepala pengawal di rumah keluarga Tang-taijin, menghambur-hamburkan harta yang dibawa oleh Kui Hui.

Sikapnya terhadap Bun An, sebagai anak tirinya, amat keras dan Bun An diperlakukan sebagai seorang kacung pelayan saja.

Bahkan kadang-kadang dengan alasan pemuda cilik itu malas, Bun An dipukul oleh Ma Cun.

Kui Hui yang mabok oleh rayuan dan kejantanan Ma Cun yang tentu saja jauh lebih muda dan gagah daripada mendiang Tang-taijin, tidak pernah menentang suami barunya, bahkan kadang-kadang ikut mengomeli Bun An.

Baru beberapa bulan saja ikut ayah tirinya, Bun An tidak kuat bertahan, dan pada suatu malam, larilah dia, minggat dari rumah ibu dan ayah tirinya.

Dalam usia kurang lebih delapan tahun Bun An melarikan diri, tidak membawa apa-apa.

Ayah tirinya merasa kebetulan sekali dan tidak mau mencarinya, sedangkan Kui Hui yang tadinya merasa kehilangan, hanya beberapa hari saja sudah terhibur oleh Ma Cun.

Bun An hidup sengsara dan terlunta-lunta.

Kadang-kadang kalau ada orang menaruh kasihan kepadanya, anak ini bisa mendapatkan pekerjaan ringan, membantu rumah tangga sebagai kacung dan sebagainya.

Namum, dia tidak pernah mau lama-lama di suatu tempat sebagai kacung orang, maka untuk mengisi perutnya setiap hari, dia lebih banyak minta-minta.

Pakaiannya sudah compang-camping dan tubuhnya kurus karena seringkali dia menderita kelaparan.

Dua tahun lebih Bun An hidup sebagai pengemis kecil.

Hidup penuh duka dan sengsara bagi anak kecil ini.

Pada suatu hari, dalam perantauannya, dia tiba di kota Wuhan di Propinsi Hopei.

Di kota besar ini, dia mencoba pula untuk mencari pekerjaan.

Akan tetapi siapakah mau memberi pekerjaan seorang anak jembel yang kurus?

Dia malah dicurigai, dituduh hendak mencuri, maka Bun An menjadi putus asa dan untuk mengisi perutnya, kembali dia harus minta-minta untuk mempertahankan hidupnya.

Dan kalau malam tiba, diapun tidur dimana saja, kadang-kadang di bawah jembatan, di emper rumah orang, dan kalau sedang mujur, dia mendapatkan tempat di sebuah kuil dimana para pendetanya cukup ramah untuk menerimanya, atau juga di kuil kuno yang kosong.

Akan tetapi di kota Wuhan ini dia mengalami nasib sial.

Baru dua hari dia berada di situ dan setiap hari dapat memperoleh makanan yang cukup mengenyangkan perutnya dari rumah-rumah makan yang memberikan sisa-sisa makanan kepadanya, pada hari ketiga, hampir semua restoran tutup!

Bahkan yang buka nampak betapa para pelayan dan pengurusnya takut-takut sehingga tidak ada seorangpun yang mau memperdulikan anak jembel itu.

Bahkan di mana-mana dia dibentak dan diusir.

Ketika Bun An menyelidiki dan bertanya-tanya, dia mendengar bahwa malam tadi terjadi kerusuhan.

Segerombolan perampok mengganas di kota itu sehingga keesokan harinya, banyak rumah makan dan toko tidak berani buka!

Kabarnya, banyak toko yang dirampok.

Bun An kembali ke kuil tua dengan hati mengkal.

Hari itu terpaksa dia berpuasa.

"Huh, gara-gara perampok jahanam itu aku kelaparan!"

Berulang kali dia menyumpah sambil mengepal kedua tinju tangannya yang kurus.

Apa boleh buat, karena malam hampir tiba, dia lalu memasuki kuil tua di luar kota Wuhan untuk melewatkan malam yang tentu sengsara karena perutnya kosong!

Dan hawa mulai dingin bukan main.

Karena tubuhnya letih dan lemas karena kelaparan, dapat juga ia tertidur nyenyak, melingkar, menarik kedua kakinya merapat ke dadanya untuk mengurangi rasa lapar dan dingin.

Malam telah gelap benar ketika dia terbangun karena di tendang-tendang orang, Bun An membuka matanya dan bangkit duduk, matanya agak silau oleh sinar api unggun yang dinyalakan orang beberapa meter jauhnya dari tempat dia tidur.

"Hayo bangun dan pindah kesana! Jangan disini!"

Terdengar bentakan dan kembali ada kaki yang mendorong-dorongnya untuk pergi.

Bun An membuka mata, sadar benar sekarang dan dia melihat tujuh orang yang kasar sikapnya, tubuhnya tinggi besar dan nampak kuat, wajahnya menyeramkan, berada di dalam kuil tua itu.

Memang ruangan yang dia pakai adalah ruangan yang terbersih dan terlindung oleh dinding yang belum runtuh benar seperti bagian lain kuil itu, dan agaknya tempat itu dipilih oleh tujuh orang itu untuk beristirahat.

Melihat sikap mereka yang kasar dan menyeramkan, tanpa banyak cakap lagi Bun An lalu meninggalkan ruangan itu ke ruangan sebelah dan diapun duduk diatas lantai sambil memandang kepada mereka yang kini duduk mengelilingi api unggun.

Mereka bercakap-cakap sambil tertawa-tawa, mengeluarkan bingkisan berisi makanan dan minuman yang serba lezat.

Arak wangi, daging dan roti!

Mereka lalu makan minum sambil bersenda gurau.

"Ha-ha-ha-ha, hari ini Wuhan geger! Banyak toko dan rumah makan tidak berani buka!"

"Heh,heh, bahkan kulihat tadi banyak orang kaya yang mengungsi ke kota lain, takut kalau-kalau kita datang lagi!"

"Baru mereka tahu siapa adanya Yang-ce Jit-houw (Tujuh Harimau Sungai Yang-ce)!"

Bun An mendengarkan dengan penuh perhatian.

Dia mendengar suara gerakan di belakangnya.

Dengan adanya sinar api unggun, dia dapat melihat bahwa diruangan itu ternyata ada seorang laki-laki berpakaian pengemis yang sedang tidur nyenyak dan agaknya pengemis tua inilah yang membuat gerakan tadi.

Akan tetapi, dia sudah menoleh lagi kepada tujuh orang laki-laki kasar itu dengan alis berkerut.

Dari percakapan mereka selanjutnya, yakinlah Bun An bahwa mereka itu yang menyebut diri mereka Tujuh Harimau Sungai Yang-ce adalah gerombolan perampok yang mengganggu kota Wuhan dan yang membuat kota itu hari tadi menjadi kota mati dan rumah-rumah banyak yang tutup!

Hatinya mulai terasa panas.

Jadi mereka inilah yang telah membuat dia kelaparan, yang merampas rejekinya!

Lebih lagi melihat betapa mereka minum dengan lahapnya membuat dia makin merasa gigitan kelaparan di dalam perutnya!

"Ha,ha,ha, biar tahu rasa para hartawan yang kita ambil sebagian hartanya itu!

Kita mewakili golongan miskin menuntut keadilan!"

"Benar! Kalau tidak begitu, mereka tidak tahu betapa kaum miskin membutuhkan uluran tangan, membutuhkan bantuan!"

"Kita mewakili pengadilan. Hidup haruslah adil, tidak baik ada yang terlalu kaya, akan tetapi banyak yang terlalu miskin!"

Mendengar ucapan-ucapan itu, Bun An merasa betapa perutnya semakin panas.

"Bohong semua itu!"

Tiba-tiba mulutnya membentak dan diapun bangkit berdiri lalu melangkah ke pintu tembusan yang menghubungkan kedua ruangan itu.

Tujuh orang itu terkejut dan mereka semua memandang kepada anak kecil yang muncul di ambang pintu tanpa daun itu, dan mengenalnya sebagai jembel kecil yang tadi mereka usir dari dalam ruangan yang kini mereka tempati.

Tujuh orang itu adalah jagoan-jagoan besar, orang-orang yang sudah biasa mengandalkan kekuatan dan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka, bahkan pernah mereka menjadi bajak-bajak Sungai Yang-ce sehingga mereka mendapat julukan Tujuh Harimau Sungai Yang-ce.

Seorang diantara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan kepala besar yang tidak lumrah, dua kali besar kepala manusia biasa, bangkit berdiri menatap Bun An dengan sinar mengancam.

"Jembel cilik! Apa maksudmu mengatakan bahwa semua itu bohong? Apa yang bohong?"

"Percakapan kalian itu tadi yang semua bohong!"

Kata Bun An tanpa takut sedikitpun, karena dia sudah marah sekali.

Orang-orang inilah yang membuat dia kelaparan, dan masih merampas tempat tidurnya pula di kuil itu, di samping membuat dia semakin lapar dengan makan minum di tempat itu dan percakapan mereka tadi sama sekali bohong.

Si kepala besar melangkah maju dan menghardik.

"Bocah setan! Jangan lancang mulut kau! Apa kau ingin aku menampar hancur mulutmu? Bagaimana engkau berani mengatakan bahwa percakapan Tujuh Harimau Sungai Yang-ce semua bohong?"

Dengan berani Bun An memandang mata orang itu, lalu berkata lantang agar keruyuk perutnya tidak sampai terdengar orang.

"Kalian tadi bicara seolah-olah kalian mewakili golongan miskin, seolah-olah kalian ini pembela-pembela keadilan dan penolong rakyat miskin! Akan tetapi buktinya mana? Kalian makan minum tanpa memperdulikan orang lain, bahkan kalian mengusir aku si jembel cilik! Kalian adalah perampok-perampok jahat yang mengacau kota Wuhan sehingga orang-orang seperti aku ini tidak dapat makanan karena warung-warung dan toko-toko tutup semua takut kepada kalian! Nah, bukankah ucapan kalian tadi bohong semua? Mulut mengatakan pembela rakyat miskin akan tetapi kaki tangan malah menindas kaum miskin?"

"Wah, wah, anak setan ini memang bosan hidup!"

Bentak si kepala besar dan diapun cepat melayangkan tangannya yang lebar dan besar, menampar ke arah Bun An.

Kalau muka anak itu terkena tamparan tangan yang mengandung tenaga raksasa itu, tentu akan terkelupas kulitnya, hancur dagingnya dan remuk-remuk tulang dan giginya.

Atau mungkin kepala anak itu akan retak-retak dan tewas seketika.

Akan tetapi sungguh aneh, sebelum tangan itu mengenai muka Bun An, tiba-tiba saja si kepala besar itu mengeluarkan seruan kesakitan dan tangannya terhenti di udara, tidak jadi melakukan tamparan kuat itu.

Sejenak dia terbelalak, akan tetapi lalu kakinya bergerak melakukan tendangan ke arah perut Bun An.

Kalau mengenai sasaran, tendangan ini akan lebih hebat akibatnya.

Isi perut anak itu akan remuk dan pasti dia akan tewas seketika, tubuhnya akan terlempar jauh menghantam dinding ruangan kuil.

Akan tetapi, kembali terjadi keanehan.

Sekali ini, bukan saja kaki yang menendang itu terhenti di udara, bahkan tubuh si kepala besar itu lalu terpelanting roboh!

Hanya dia yang tahu betapa terjadi keanehan pada dirinya.

Ketika dia memukul tadi, tiba-tiba lengan tangan yang melakukan pukulan itu terasa nyeri dan lumpuh, ada sesuatu seperti seekor lebah yang menyengat sikunya!

Dan ketika dia menendang, bukan hanya lutut yang menendang yang di sengat lebah, juga lutut kirinya sehingga dia terjungkal tidak mampu berdiri lagi.

Peristiwa ini tentu saja mengejutkan enam orang perampok yang lain.

Mereka berloncatan berdiri, dua orang lalu membantu pimpinan mereka, si kepala besar, untuk bangkit berdiri lagi.

Semua mata ditujukan kepada Bun An dengan heran dan marah.

Akan tetapi anak itu sendiri berdiri bengong saking herannya karena dia sendiri tidak mengerti mengapa perampok yang memukul dan menendangnya itu mengurungkan niatnya bahkan jatuh sendiri!

"Bocah siluman!

Berani engkau melawan kami?"

Bentak mereka dan kini tujuh orang itu serentak maju mengepung Bun An yang sudah melangkah maju untuk melihat lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Kini, tujuh orang itu mengepungnya dan sikap mereka buas, tangan mereka sudah siap untuk mengeroyok dan menghajar Bun An.

Pada saat itu, terdengar suara halus.

"Anjing-anjing srigala pengecut tak tahu malu, mengeroyok seekor domba kecil! Kalian ini namanya saja Tujuh Harimau, akan tetapi bernyali srigala yang pengecut!"

Tujuh orang itu terkejut dan cepat memandang orang yang mengeluarkan kata-kata itu.

Kiranya hanya seorang kakek tua renta yang melihat pakaiannya tentu hanya seorang pengemis jembel.

Kakek itu usianya tentu sudah tua sekali, pakaiannya compang-camping dan tambal-tambalan di sana-sini, rambutnya yang sudah putih semua, juga jenggot dan kumisnya, awut-awutan tidak terpelihara, tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut, dan kedua matanya terpejam, seperti orang buta!

Tentu saja tujuh orang jagoan itu terkejut dan kini merekapun mengerti bahwa agaknya jembel tua inilah yang tadi telah membantu jembel cilik.

Maka, merasa malu untuk mengepung dan mengeroyok seorang anak kecil yang usianya baru sepuluh tahunan, mereka lalu membalik dan kini bergerak mengepung pengemis tua itu.

"Jembel tua, berani engkau mengatakan kami srigala pengecut?"

"Tua bangka ini harus dibunuh, mulutnya terlalu lancang!"

"Hai, pengemis tua, siapakah namamu?"

Menghadapi pertanyaan terakhir ini, jembel tua itu tersenyum memperlihatkan mulutnya yang ompong tanpa gigi lagi, akan tetapi matanya tetap terpejam.

"Namaku ya yang seperti kau tanyakan tadi, ialah Lo-kai (Pengemis Tua)!"

Orang yang bertanya merasa dipermainkan.

"Aku tahu engkau pengemis tua yang busuk, akan tetapi siapa namamu?"

"Namaku tidak ada, orang menyebut aku Lo-kai (Pengemis Tua)."

"Aliok, untuk apa ribut-ribut dengan pengemis tua tanpa nama ini? Orang macam dia ini ada namapun percuma. Bereskan saja!"

Kata pimpinan Yang-ce Jit-houw yang berkepala besar.

Temannya yang mukanya hitam itu lalu maju menghantam ke arah dada kakek yang minta di sebut Lo-kai saja itu.

Pukulan yang keras sekali.

Si muka hitam agaknya sudah menduga bahwa kakek ini tentu memiliki kepandaian, maka diapun menonjok dengan pengerahan tenaga pada kepalan tangan kirinya, sekuatnya, diarahkan ke ulu hati Lo-kai.

Anehnya, kakek tua renta yang selalu memejamkan mata itu agaknya tidak tahu bahwa dia dipukul orang.

Dia diam saja!

Agaknya karena memejamkan mata, dia tidak melihat serangan itu, ataukah memang dia buta?

Namun, simuka hitam adalah jagoan tukang pukul yang sudah biasa melakukan kejahatan dan tindakan sewenang-wenang.

Memukuli orang lemah tak melawan baginya adalah hal yang biasa, maka kini, melihat betapa Lo-kai tidak mengelak atau menangkis, dia tidak mengendurkan tenaga pukulannya, apalagi menghentikannya.

Pukulan yang keras itu dengan tepatnya menghantam ulu hati kakek tua renta.

"Krekkk...!"

Pukulan keras itu memperdengarkan suara tulang patah, akan tetapi agaknya bukan tulang iga kakek itu yang patah karena dia sama sekali tidak terguncang, masih berdiri tegak sebaliknya, pemukulnya, si muka hitam itu mengaduh-aduh sambil melompat ke belakang lalu memegang-megang tangan kirinya dengan tangan kanan.

Kiranya yang bunyi patah tadi adalah tulang tangan kiri si muka hitam.

Dari kesakitan, muka hitam itu menjadi marah sekali.

Tanpa memperdulikan lagi tangan kirinya yang nyeri, tangan kanannya mencabut golok.

Enam orang kawannya juga sudah mencabut golok semua dan kini serentak mereka menerjang maju menyerang kakek jembel itu dengan golok mereka.

Seolah-olah tujuh orang itu hendak berlumba siapa yang lebih dulu merobohkan kakek jembel itu!

Bun An terbelalak menonton.

Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika dia melihat tujuh batang golok berkelebatan mengeluarkan sinar yang mengerikan, menyambar ke arah tubuh kakek itu yang agaknya buta karena sejak tadi tidak membuka matanya.

Akan tetapi, dalam pandangan Bun An, Kakek tiba-tiba kakek itu lenyap dan yang nampak hanyalah bayangan berkelebatan disusul robohnya tujuh orang perampok itu seorang demi seorang.

Golok mereka terlepas dan jatuh berkerontangan di atas lantai dan tubuh mereka kini terkulai lemas tak mampu bergerak lagi!

Ternyata kakek jembel itu tadi mempergunakan tongkat bututnya dengan kecepatan luar biasa, menotok tujuh orang penyerangnya dan merobohkan mereka dengan hanya satu kali totokan saja!

Melihat ini, tanpa disadarinya, Bun An bertepuk tangan memuji.

"Bagus! Bagus, kalau saja aku mampu, akupun akan menghajar mereka yang jahat ini!"

Kakek jembel itu tersenyum, lalu menggunakan tongkatnya mencongkel tubuh tujuh orang itu, satu demi satu dicokel dan dilontarkan keluar kuil dengan mempergunakan ujung tongkat bututnya, seperti mencokel dan membuang tujuh ekor cacing saja!

Sambil melontarkan, kakek itupun membebaskan totokan sehingga ketika tubuh tujuh orang itu, satu demi satu terlempar dan terbanting jatuh berdebuk di luar kuil, mereka mengaduh-aduh dan tanpa menoleh lagi merekapun lari tunggang langgang meninggalkan kuil!

"Lo-kai, engkau hebat sekali!"

Bun An memuji sambil menghampiri kakek jembel itu dan memegang tangan kirinya.

"Siauw-kai (jembel kecil), engkau pun berani sekali!"

Kakek itu tertawa dan menggunakan tangan kirinya untuk mengusap kepala Bun An.

Bun An mengira kakek itu buta, maka diapun menuntun kakek itu menghampiri api unggun.

"Kita duduk disini, Lo-kai, dekat api unggun. Biar kutambah lagi kayunya."

Kakek itu menghela napas panjang, lega dan nyaman rasanya ketika dia duduk diatas lantai dekat api unggun.

Bun An menambahkan kayu pada api unggun itu sehingga ruangan itu menjadi lebih hangat dan terang.

Ketika Bun An menengok, kakek itu ternyata masih saja memejamkan kedua matanya.

Melihat roti dan daging masih banyak, sisa makanan perampok tadi, Bun An berkata.

"Lo-kai..., apakah engkau lapar?"

"Hemm...?"

Kakek itu menengok kekanan, ke arah anak itu duduk, akan tetapi kedua matanya tetap terpejam.

"Kalau aku lapar, mengapa?"

Bun An memandang ke arah roti dan daging, masih amat banyak, cukup untuk dimakan empat lima orang dan mulutnya menjadi basah.

Dia menelan ludah sebelum menjawab.

"Kalau kau lapar, disini ada roti dan daging, boleh kau makan, Lo-kai."

Pada saat itu, perut Bun An berkeruyuk.

Sejak kemarin malam, dia tidak makan apa-apa.

Sehari tadi sama sekali perutnya tidak diisi apa-apa, kecuali air jernih.

Dia cepat menengok kepada kakek itu, merasa malu kalau-kalau kakek itu mendengar bunyi perutnya.

Sudah terlalu sering selama dua tahun lebih ini dalam perantauannya dia menderita kelaparan.

Dia sampai hafal bagaimana rasanya kelaparan itu.

Mula-mula, kalau perut mulai lapar, berkeruyuk dan melilit-lilit, seolah ada jari-jari tangan di dalam lambungnya yang bergerak-gerak, menggapai-gapai dan mencakar-cakar.

Air mampu mengurangi rasa melilit-lilit ini, dan makin lama, tubuh terasa lemas, ringan dan kepala mulai agak pening, mata terasa mengantuk.

Kemudia terasa kembali perut yang melilit-lilit, sebentar saja, dan kembali lemas dan ringan.

Kini, perutnya juga melilit-lilit dan berkeruyuk.

Maka, dia dengan cepat menelan ludahnya dan menghentikan suara berkeruyuk itu.

Biasanya ini dapat menghilangkan atau sedikitnya mengurangi kebisingan perutnya yang menuntut isi.

"Siauw-kai, apakah engkau juga lapar?"

Bun An mengangguk karena merasa agak malu untuk menjawab, akan tetapi dia ingat akan kebutaan kakek jembel itu, maka diapun menjawab lirih.

"Ya, sejak kemarin malam aku tidak makan apa-apa, akibat ulah tujuh orang perampok itu yang mengacau kota sehingga rumah-rumah makan tutup, tak seorangpun mau memberi sedekah makanan kepadaku."

"Kalau begitu, mari kita makan,"

Kata Lo-kai dengan wajah gembira.

Bun An mengambilkan roti dan daging terbaik untuk kakek itu dan merekapun mulai makan dengan hati lega.

Bun An sudah berpengalaman.

Pernah dia hampir mati karena setelah dia hampir kelaparan dan mendapatkan makanan, dia makan dengan lahap.

Perut yang tadinya kosong itu secara tiba-tiba diisi dengan dijejal, dan hampir saja dia mati karena ini.

Dia jatuh sakit sampai beberapa hari lamanya.

Setelah peristiwa itu, dia berhati-hati dan kini, biarpun menurut nafsunya, ingin dia melahap roti dan daging itu, namun pengertiannya membuat dia makan dengan hati-hati.

Dia makan sedikit demi sedikit, dan itupun dikunyah sampai lembut benar baru ditelannya.

Dia melihat bahwa kakek itupun makan dengan perlahan-lahan dan hati-hati.

Akan tetapi ternyata kakek yang sudah tidak bergigi lagi itu mampu mengunyah daging yang agak keras.

Setelah selesai makan, dan sisa makanan dibungkus kembali oleh Bun An, kakek itu minum arak.

Bun An juga minum arak sedikit.

Dia lebih suka minum teh atau air jernih.

"Siauw-kai, dimanakah rumahmu?"

Tiba-tiba kakek itu bertanya.

Bun An menundukkan mukanya, teringat akan ibunya yang menikah dengan Ma Cun yang menjadi ayah tirinya itu.

Lalu dia menggeleng kepala.

"Aku tidak mempunyai rumah, Lo-kai."

"Yatim piatu?"

Bun An ingin mengiyakan, akan tetapi tidak tega membohongi kakek tua renta yang buta ini, apalagi kakek ini tadi telah menyelamatkannya dari tangan para perampok.

"Ayahku telah meninggal, ibuku menikah lagi dan ayah tiriku terlalu galak kepadaku, maka aku minggat sudah dua tahun lebih yang lalu."

Kakek itu terdiam, merenung lama.

"Dan kau sendiri, Lo-kai? Dimana rumahmu?"

Kakek itu sadar dari lamunannya.

"Aku tidak punya rumah, akan tetapi aku mempunyai tempat tinggal di dalam goa, di Pegunungan Himalaya sana. Sudah lima tahun aku meninggalkan tempat tinggal itu, dan sekarang aku sudah bosan merantau, ingin tinggal disana, rindu akan keheningan. Kau mau ikut?"

"Ikut padamu, Lo-kai?"

Lalu dia teringat akan peristiwa aneh tadi.

"Lo-kai, kalau aku ikut, apakah kau mau mengajarkan aku cara mengalahkan para perampok seperti tadi?"

Kakek itu mengangguk.

"Tentu saja, kau kira mau apa aku mengajakmu ikut aku? untuk menjadi muridku, tentu saja. Dan kalau engkau sudah tamat belajar, jangankan tujuh orang itu, biar ada seratus orang seperti mereka, engkau takkan dapat terganggu oleh mereka!"

Bun An adalah seorang anak yang cerdik.

Biarpun baru sepuluh tahun, namun kepahitan hidup membuat dia matang dan sudah banyak dia mendengar cerita dari para jembel lainnya tentang adanya orang-orang sakti dan para pendekar yang gagah perkasa.

Diapun dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang diantara para tokoh sakti, maka diapun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

"Suhu, teecu (murid) suka sekali ikut denganmu dan menjadi muridmu!"

Kakek itu tertawa.

Suara ketawanya demikian nyaring, membuat Bun An terheran dan dia mengangkat muka.

Pada saat itu, dia melihat kakek itu sedang memandang kepadanya, dengan sepasang mata terbuka dan mata itu mencorong seperti mata naga dalam dongeng!

Kakek itu sama sekali tidak buta!

"Suhu...!"

Katanya ia terkejut dan agak ngeri ketakutan. Kakek itu menyentuh kepalanya.

"Siauw-kai, tidak perlu engkau merubah sebutan. Aku tetap Lo-kai bagimu atau bagi siapapun. Aku tidak pernah mencampuri urusan dunia, dan hanya kebetulan saja kita saling bertemu. Karena itu, namaku tidak ada yang mengenalnya di dunia persilatan. Dan aku tidak mau engkau kelak memperkenalkan namaku. Maka, bagiku engkau tetap Siauw-kai dan bagimu aku adalah Lo-kai! Mengerti!"

"Baik, su... eh, Lo-kai!"

Demikianlah, pada keesokan harinya, Lo-kai mengajak Bun An meninggalkan kuil.

"Akan tetapi, disini banyak sekali barang berharga, hasil perampokan Tujuh Harimau malam tadi, Lo-kai, lihat, ada satu buntalan besar berisi perhiasan, emas dan perak!"

"Hemm, untuk apa?"

"Lo-kai, kita mengemis untuk sepiring makanan, dan disini ada harta yang akan dapat membeli laksaan piring makanan, cukup untuk kita makan selama hidup puluhan tahun!"

"Huh, aku tidak butuh! Di tempat tinggalku sana, emas tidak laku, dan kita tidak bisa makan emas."

"Tapi kalau barang ini ditinggalkan disini, tentu para perampok itu akan kembali datang mengambilnya!"

"Kalau begitu, bawalah, kita bagikan kepada mereka yang membutuhkan di dalam perjalanan nanti."

Biarpun masih merasa penasaran dan heran Bun An tidak membantah lagi dan berangkatlah mereka menuju ke barat.

Lebih besar lagi rasa heran dalam hati Bun An ketika melihat betapa kakek itu benar saja membagi-bagikan barang itu kepada rakyat dipedusunan yang miskin.

Tentu saja barang itu dalam waktu sebentar saja habis dan mereka berdua tidak punya apa-apa lagi.

Di sepanjang perjalanan untuk mengisi perut, guru dan murid itu mengemis!

Lo-kai mengajak Bun An ke Pegunungan Himalaya dan ternyata kakek itu benar saja tinggal di sebuah goa yang terpencil, di puncak sebuah bukit.

Hawa di situ dingin bukan main, juga amat sunyi.

Namun Bun An sudah mengambil keputusan bulat untuk mempelajari ilmu dari kakek itu, dan biarpun mereka hidup menghadapi keadaan yang serba kurang dan hawa udara yang kadang-kadang demikian dinginnya hampir tak tertahankan, namun anak itu mempunyai kenekatan luar biasa dan dia dapat mengatasi semua kesulitan hidup di tempat terasing ini.

Dan ternyata kakek itu, biarpun sama sekali tidak terkenal di dunia ramai, memiliki ilmu kepandaian yang hebat!

Banyak tokoh-tokoh sakti seperti kakek ini yang tidak pernah mau memperkenalkan diri dan lebih suka bersembunyi di tempat-tempat asing, seolah-olah membawa kepandaian dan kesaktian mereka mati bersama mereka!

Dari Lo-kai, Bun An mempelajari banyak macam ilmu.

Bukan hanya ilmu-ilmu silat tinggi, akan tetapi juga ilmu lain seperti menyamar dan merobah wajah, ilmu pengobatan dan lain-lain.

Tidak kurang dari sepuluh tahun lamanya Bun An menerima gemblengan dari kakek sakti yang hanya dikenalnya sebagai Lo-kai dan dia sendiri disebut Siauw-kai oleh kakek sakti itu.

Dengan tekun sekali Bun An mempelajari ilmu-ilmu dari kakek itu yang akhirnya, Betapapun saktinya, tidak dapat melawan usia tua.

Kalau ditanya oleh Bun An, Lo-kai sendiri tidak tahu berapa usianya, mungkin sudah ada seratus tahun!

Dan pada waktu pagi, ketika Bun An terjaga dari tidurnya dan melihat gurunya, ternyata kakek itu sudah tidak bernapas lagi dalam keadaan duduk bersila!

Bun An tidak menangis, bahkan berdukapun tidak.

Kakek itu selalu mengingatkan kepadanya bahwa antara mereka tidak ada ikatan apapun!

Karena hal ini selalu disinggung, dan karena dia sendiri tidak pernah memperlihatkan keakraban yang menunjukkan kasih sayang, maka biarpun Bun An berterima kasih sekali kepada kakek yang menjadi gurunya itu, namun tidak ada ikatan apapun dalam perasaannya terhadap Lo-kai.

Dan jenazah gurunya, kemudian diapun meninggalkan goa itu.

Pakaiannya tambal-tambalan seperti seorang pengemis muda, namun kini Bun An merupakan seorang pemuda yang tampan sekali, penuh semangat dan gairah hidup karena dia percaya penuh kepada diri sendiri yang sudah diisi ilmu-ilmu oleh gurunya, yang membuatnya menjadi seorang pemuda yang amat lihai!

Tentu saja Bun An meningggalkan Himalaya, segera menuju ke kota raja, untuk mencari ibunya.

Dia tidak takut kepada Ma Cun, bahkan diam-diam dia mengambil keputusan untuk menghajar ayah tirinya itu kalau berani menghinanya lagi!

Akan tetapi, setelah dia mendapatkan kenyataan yang sama sekali berubah!

Ibu dan ayah tirinya sudah tidak berada di rumah lama itu, dan menurut para tetangga, ayah dan ibunya telah bercerai!

Dia melakukan penyelidikan dan akhirnya dia memperoleh keterangan yang menyayat perasaan hatinya.

Menurut keterangan itu, harta benda yang dibawa oleh ibunya dihamburkan dan dihabiskan oleh Ma Cun, kemudian terjadi percekcokan setiap hari dan akhirnya ibunya disia-siakan oleh Ma Cun!

Dan dalam keadaan yang amat terjepit itu, ibunya terjepit ke sarang pelacuran dan kini menjadi seorang pelacur!

Hebat sekali pukulan batin ini bagi Bun An.

Dia ingin mendengar lebih jelas, maka dia cepat pergi kerumah pelacuran untuk mencari ibunya.

Para penjaga rumah pelacuran itu, yang juga bertindak sebagai tukang pukul dan pelindung mucikari dan para pelacur, tentu saja menerima kedatangannya dengan marah.

Seorang pemuda, biarpun tampan wajahnya, berpakaian seperti pengemis, mau apa datang ke rumah pelacuran?

Yang datang kesitu hanyalah pria-pria tua muda yang berpakaian mewah, yang sakunya padat uang, bukan segala macam kaum jembel!

"Hei!

Mau apa kau datang kesini?"

Bentak seorang tukang pukul yang bertubuh kurus kering karena suka menghisap madat.

"Kalau mau mengemis jangan ditempat ini! Pergi ke sana ke pasar!"

Bentak orang kedua yang perutnya gendut seperti perut babi dan mukanya bulat itu membayangkan ketinggian hati.

Tentu saja sikap kedua orang ini memanaskan hati Bun An, akan tetapi dia masih dapat menahan diri dan masih dapat tersenyum.

"Aku datang bukan untuk mengemis, melainkan untuk mengambil seorang wanita yang bernama Kui Hui. Suruh ia keluar menemuiku, ada urusan penting yang akan kubicarakan dengannya."

Mendengar disebutnya nama ini, dua orang tukang pukul itu saling pandang lalu tertawa.

Yang kurus terkekeh menghina dan berkata.

"Kui Hui? Ha, ha! Memang ia paling laku disini, akan tetapi bukan paling murah. Di sini dikenal istilah tua-tua keladi, makin tua semakin jadi! Apakah engkau mempunyai uang maka berani hendak memesan Kui Hui?"

"Keluarkan dulu uangmu, perlihatkan kepada kami!"

Kata si gendut.

Bun An mengerutkan alisnya.

Memang dia sudah marah sekali mendapat kenyataan bahwa ibunya menjadi pelacur.

Hal ini saja sudah mendatangkan kemarahan dan kebencian terhadap wanita yang menjadi ibunya.

Maka, dia tidak dapat menahan lagi kesabarannya.

"Mulut kalian sungguh busuk dan pantas dihajar!"

Secepat kilat tangannya bergerak ke depan.

"Plak! Plakkk!"

Dua orang itu terpelanting, tubuh mereka terbanting keras dan mereka memegangi pipi yang di tampar sambil mengaduh-aduh.

Sedikitnya ada tiga buah gigi yang copot dan darah mengalir keluar dari ujung bibir mereka yang menjadi bengkak sampai ke telinga.

Akan tetapi mereka menjadi marah sekali.

Dengan suara tidak jelas karena mulutnya bengkak sebelah, keduanya memaki-maki dan sudah mencabut golok, lalu menyerang kalang kabut.

Akan tetapi, menghadapi dua orang tukang pukul di rumah pelacuran ini, tentu saja tidak ada artinya bagi Bun An.

Kembali tangannya bergerak dan dua batang golok terlempar, lengan yang memegang golok menjadi lumpuh karena tulang lengan itu patah ditekuk tangan Bun An.

Kini, dua orang itu mengaduh-aduh dan berteriak minta tolong.

Muncul empat orang kawan mereka, jagoan-jagoan yang menjadi tukang pukul di tempat pelesir itu.

Melihat betapa dua orang teman mereka mengaduh-aduh dan agaknya dihajar oleh seorang pemuda berpakaian jembel, empat orang itu langsung saja menyerang dengan golok mereka.

Kembali Bun An berkelebatan dan empat batang golok beterbangan, diikuti robohnya empat orang itu yang merintih kesakitan, tangan kiri memegangi lengan kanan yang patah tulangnya!

Melihat kenyataan ini, betapa enam orang tukang pukul itu dalam segebrakan saja roboh dengan patah tulang lengan, barulah mereka sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Mereka menjadi ketakutan ketika Bun An melangkah maju.

"Kalian masih belum mau memanggil keluar Kui Hui? Ataukah harus kupatahkan dulu batang leher kalian?"

Kata pemuda itu.

Si tinggi kurus cepat memberi hormat dengan kaku karena lengannya tak dapat digerakkan.

"Harap ampunkan kami, Taihiap (pendekar besar), saya akan memanggil keluar wanita itu...!"

Dengan terpincang-pincang si kurus itu berlari masuk.

Tak lama kemudian keluarlah dia bersama seorang wanita cantik.

Usia wanita itu sudah mendekati empat puluh tahun, akan tetapi masih nampak cantik, apalagi karena pakaiannya indah dan mukanya dirias dengan bedak tebal dan gincu, juga penghitam alis.

Bun An segera mengenal ibunya dan ia merasa muak.

Ibu kandungnya, seorang pelacur!

Hampir saja dia meloncat pergi lagi, akan tetapi terbayang olehnya betapa ketika ia masih kecil, ibunya ini amat sayang kepadanya.

Wanita itu memang Kui Hui, ibu Bun An.

Tadi ia diberitahu oleh si kurus yang ketakutan bahwa ada seorang tamu, seorang pemuda berpakaian jembel akan tetapi yang memiliki kepandaian tinggi minta agar ia keluar.

Kini, melihat seorang pemuda berpakaian tambal-tambalan, berwajah tampan, berdiri disitu sedangkan para tukang pukul masih mengaduh-aduh, Kui Hui menjadi heran.

Wajah pemuda tampan yang tidak asing baginya, akan tetapi ia lupa lagi dimana ia pernah bertemu dengan pemuda itu.

Biarpun ia merasa ragu untuk menerima tamu yang berpakaian tambal-tambalan, akan tetapi karena takut, iapun tersenyum manis dan melangkah mau lalu memberi hormat.

"Selamat datang, tuan muda. Siapakah tuan muda dan ada keperluan..."

"Aku Tang Bun An!"

Bun An memotong dengan suara lirih, akan tetapi pandang matanya mencorong, penuh kemarahan.

Kui Hui menahan jeritnya, menutupi mulut dengan punggung tangan, matanya terbelalak, wajahnya pucat sekali ketika ia memandang kepada wajah pemuda itu.

Kini iapun teringat.

puteranya!

Tanpa dapat dicegah lagi, kedua mata yang terbelalak itu dipenuhi air mata dan berderailah air matanya berjatuhan di atas kedua pipinya.

"Bun An... Bun An..., kau..."

Bun An tidak ingin ibunya bicara di tempat itu, didengarkan banyak orang, maka dia lalu memegang tangan ibunya.

"Sudahlah, mari kita pergi dan bicara di tempat lain!"

Dia menarik tangan ibunya.

Wanita itu menahan karena bagaimana mungkin ia pergi begitu saja tanpa pamit?

Dan pakaiannya, barang-barangnya masih berada di dalam kamarnya.

"Nanti... dulu, aku... pamit dan mengambil barang-barangku..."

"Tak usah. Mari kita pergi!"

Bun An menarik dan wanita itu merasa betapa kuatnya tarikan tangan puteranya.

Ia sama sekali tidak mampu menahan dan tubuhnya ikut tertarik.

Melihat sikap puteranya, iapun tidak membantah dan keduanya melangkah untuk keluar dari pekarangan rumah pelacuran itu.

Tiba-tiba dari dalam keluar seorang wanita tua, usianya kurang lebih enam puluh tahun dengan tubuhnya gendut sekali.

"Heiiii! Mau kemana kau, Kui Hui? Engkau tidak boleh pergi begitu saja! Engkau harus membayar dulu hutang-hutangmu!"

Kui Hui tidak berani menjawab, hanya memandang dengan gelisah.

Bun An juga membalikkan tubuh, menghadapi nyonya gendut itu.

"Aku mengajaknya pergi dari tempat terkutuk ini, engkau mau apa?"

Nyonya itupun sudah mendengar betapa pemuda ini merobohkan enam orang tukang pukulnya, maka ia tidak berani bersikap galak.

"Orang muda, kalau hendak membawa pergi, harus ada tebusannya, harus ada uang penggantinya!"

"Babi betina, kuganti ia dengan nyawamu!"

Kata Bun An dan sekali menendang, tubuh nyonya itu terjengkang.

Wanita itu menguik-nguik seperti babi disembelih, akan tetapi Bun An tidak memperdulikannya lagi, menarik tangan ibunya dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Sebentar saja mereka tiba di tempat sunyi, diluar pintu gerbang kota.

Di tempat sunyi ini, Bun An menyuruh ibunya bercerita tentang keadaan sebenarnya.

Sambil menangis, Kui Hui menceritakan bahwa memang benar Ma Cun telah berubah sejak Bun An minggat.

Orang itu menghamburkan harta yang dibawanya dari keluarga Tang, berfoya-foya, main perempuan, berjudi dan akhirnya, setelah harta itu ludes, Ma Cun memaksa ia untuk mencari uang dengan menjual diri!

kalau ia menolak, Ma Cun memukuli dan menyiksanya!

Keadaan seperti itu tidak dapat dipertahankan lagi dan mereka lalu bercerai.

Akan tetapi, Ma Cun masih menyeret Kui Hui ke rumah pelacuran itu dan menjual isterinya kepada mucikari.

Demikianlah, Kui Hui lalu menjadi anak buah mucikari itu, dan harus bekerja siang malam melayani tamu untuk mencari uang karena ia dianggap mempunyai hutang yang makin lama makin besar sesuai dengan perhitungan bunganya yang amat berat!

"Itulah nasib ibumu, anakku...,"

Kata Kui Hui yang menceritakan semua itu sambil menangis.

"Aku... aku menjadi pelacur... aku... aku menderita sakit, kadang-kadang batuk darah... tapi sekarang, engkau mengajak aku pergi, dan semua pakaianku berada disana, juga sedikit tabunganku, padahal engkau... ah, engkau sendiri berpakaian tambal-tambalan seperti seorang pengemis...! bagaimana kita selanjutnya akan hidup, Bun An?"

Bun An mengerutkan alisnya.

Ibunya telah terperosok sedemikian dalamnya, pikirnya sehingga yang dipikirkan hanya harta benda dan uang saja!

"Kalau harta yang ibu inginkan, malam nanti aku akan mencarikannya untuk ibu.

Sekarang, ibu ikut saja dengan aku!"

Dia lalu mengajak ibunya ke dalam sebuah kuil tua yang kosong yang berada di dalam hutan kecil di atas bukit di luar kota.

Di sinilah selama beberapa malam dia menginap.

Tentu saja Kui Hui yang tidak biasa hidup seperti itu, hanya bisa menangis.

Di dalam hatinya sudah merasa menyesal sekali mengapa puteranya muncul dan memaksanya keluar dari rumah pelacuran itu.

Di sana, ia sudah mulai dapat menyesuaikan diri, dapat bersenang-senang dengan para pria yang membelinya, makan dan pakaian tidak pernah kurang, kamarnya indah.

Dan sekarang, tanpa bekal sepotongpun pakaian sebagai pengganti, ia harus rebah di atas lantai kotor sebuah kuil yang menyeramkan, yang pantasnya hanya menjadi tempat tinggal iblis dan siluman!

Dan malam itu, Bun An meninggalkan ibunya.

Pemuda ini tidak banyak bicara, bahkan ketika ibunya bertanya tentang pengalamannya, dia hanya menjawab singkat bahwa sepuluh tahun lebih ini dia hidup sebagai pengemis dan mempelajari ilmu silat.

"Ibu tunggu saja disini, aku akan mencarikan harta benda yang ibu inginkan itu. Jangan ibu pergi dari sini kalau ibu ingin selamat, karena diluar tentu banyak bahaya mengintai!"

Setelah berkata demikian sekali berkelebat Bun An lenyap dari depan ibunya.

Wanita itu terbelalak, lalu menangis di atas lantai kuil itu, ketakutan dan mengira bahwa puteranya itu agaknya telah menjadi iblis yang pandai menghilang!

Bun An mengintai dari luar kuil, membiarkan ibunya menangis, sedikitpun dia tidak merasa kasihan, bahkan dia merasa betapa hatinya membenci wanita ini.

Ibunya telah membunuh ayahnya.

Hal ini dia ketahui benar.

Masih teringat dia akan semua percakapan antara ibunya dengan kekasihnya, Ma Cun, dan dialah yang menerima bungkusan racun itu dari Ma Cun, untuk diserahkan kepada ibunya.

Kemudian, ibunya yang berzina dengan Ma Cun, menjadi isteri Ma Cun setelah mencuri banyak barang perhiasan keluarga Tang.

Lebih menggemaskan lagi, kini ibunya menjadi seorang pelacur!

(Lanjut ke

Jilid 02) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 Akan tetapi, bagaimanapun juga dia adalah putera kandung ibunya, dia harus memelihara ibunya.

Dan yang lebih dari itu, dia harus membuat perhitungan dengan Ma Cun!

Siang tadi dia sudah menyelidiki di mana adanya orang itu.

Tidak sukar untuk mencari Ma Cun yang biasa berjudi di Hok Pokan (Rumah Judi Mujur).

Tempat judi besar di kota raja ini menjadi pusat perjudian dan di situ terdapat banyak golongan sesat yang mengadu nasib dengan berjudi.

Sebuah tempat berbahaya dan tidak ada orang baik-baik berani mengunjungi tempat ini.

Orang yang bukan penjudi ulung, yang baru saja datang dan berani mencoba-coba untuk berjudi, tentu akan habis di curangi oleh ular-ular judi.

Segala macam maling, perampok dan penjahat lain mempergunakan Hok Pokan sebagai tempat pelesir dan disitu banyak terdapat pelacur-pelacur yang dipergunakan oleh bandar judi untuk memikat para langganan.

Ramailah keadaan di rumah perjudian itu.

Meriah penuh gelak tawa dari sore sampai pagi.

Seperti tadi ketika dia datang berkunjung ke rumah pelacuran, kini Bun An disambut oleh para penjaga keamanan, tukang-tukang pukul di rumah perjudian itu, dengan alis berkerut.

Tukang-tukang pukul di tempat itu tidak boleh disamakan dengan tukang-tukang pukul di rumah pelacuran, disini merupakan tempat para penjahat berkumpul, dimana terdapat banyak uang di perjudikan, maka penjagaannya amat ketat.

Jagoan-jagoan pilihan menjaga tempat itu dengan bayaran tinggi dari bandar judi.

"Heii, kau jembel gila! Mau apa kau kesini?"

Bentak seorang jagoan ketika melihat Bun An memasuki pintu pekarangan.

"A-boan, lemparkan saja sekeping uang kecil padanya agar tidak membikin kotor tempat ini!"

Kata orang kedua.

Bun An merasa betapa perutnya panas mendengar ucapan yang nadanya menghina itu, akan tetapi dia menahan sabar.

"Aku datang bukan untuk mengemis, akan tetapi untuk mencari seorang bernama Ma Cun. Harap kalian suka memanggil dia keluar."

Ma Cun amat terkenal di rumah perjudian itu, karena selain dia merupakan langganan lama, juga Ma Cun terkenal sebagai seorang jagoan pula, bekas perwira pengawal pembesar dan memiliki ilmu silat tinggi.

Mendengar betapa pengemis muda ini menyebut nama jagoan dan penjudi itu begitu saja dan minta dipanggilkan, beberapa orang penjaga itu menjadi marah.

"Cuhh!"

Orang pertama meludah.

"Orang jembel macam kau berani menyuruh kami memanggil orang?"

"Tidak seorangpun langganan kami boleh diganggu, apalagi di ganggu jembel..."

"Kalau kalian tidak mau memanggilnya, biarlah aku mencarinya sendiri ke dalam!"

Bun An memotong, kehilangan kesabarannya, dan dia lalu melangkah hendak masuk ke dalam ruangan depan rumah judi itu.

"Heii! Berhenti!"

Bentak seorang tukang pukul dan diapun memegang lengan kiri Bun An lalu menariknya dengan pengerahan tenaga, dengan maksud agar pemuda jembel itu tertarik dan terpelanting.

Akan tetapi, tubuh pemuda jembel itu sama sekali tak bergeming dan si tukang pukul merasa seolah-olah yang dipegangnya itu bukan lengan tangan, melainkan sepotong besi yang keras!

Beberapa kali dia mengerahkan tenaga untuk membetot, akan tetapi percuma saja.

Hal ini membuat dia merasa penasaran lalu marah, dan langsung saja dia memukul dengan tinjunya ke arah muka Bun An.

"Wuut!"

Dengan miringkan mukanya, pukulan itu meluncur dekat pipi Bun An.

Pemuda ini menjadi marah dan sekali dia mengangkat lutut, maka lututnya telah masuk ke dalam perut orang itu.

"Ngokk!"

Orang itu menekuk perutnya dan memegangi perut yang terasa nyeri bukan main.

Bun An menendang tubuh orang itu terlempar lalu terbanting jatuh.

Melihat ini, tujuh orang tukang pukul menjadi marah.

Seorang diantaranya, sudah menubruk dari belakang dengan kedua lengan terpentang dan kedua tangan terbuka, siap untuk mencengkeram dan mencekik leher pengemis muda itu.

Bun An membiarkan saja tangan itu mencengkeram lehernya dan sipencengkeram terkejut ketika merasakan betapa leher yang dicekiknya itu keras seperti besi!

Pada saat itu, Bun An sedikit miringkan tubuhnya dan siku kanannya menghantam kebelakang.

"Dukk! Aughh...!"

Orang yang kena disiku dadanya itu terpental dan terbanting jatuh, seketika muntah darah karena dadanya seperti dihantam toya besi saja!

Barulah para tukang pukul itu sadar bahwa pengemis muda ini sama sekali tidak boleh di buat main-main.

Mereka mencabut senjata dan menyerang Bun An dari berbagai jurusan.

Melihat gerakan mereka, tahulah Bun An bahwa mereka itu tidak boleh disamakan dengan para jagoan di rumah pelacuran, maka diapun cepat mendahului mereka.

Tubuhnya bergerak cepat sekali dan bagi para pengepungnya, tubuh itu seperti lenyap berubah menjadi bayangan yang terbang menyambar-nyambar, dan tujuh orang jagoan roboh malang melintang di pekarangan itu!

Dengan tenang Bun An melangkah memasuki ambang pintu, mendorong pintu ke dua dan masuk ke ruangan perjudian yang amat luas itu.

Ada belasan meja judi dikelilingi banyak orang.

Suasana disitu amat pengap bagi dia yang baru masuk dari tempat terbuka.

Ruangan itu penuh asap berbau tembakau bercampur bau minyak wangi dari pakaian para pelacur yang menghibur para penjudi, dan bau keringat semua orang!

Dua orang jagoan yang berjaga di sebelah dalam, sudah tahu akan apa yang terjadi di luar.

Mereka ini memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada mereka yang berada di luar tadi.

Maka, dengan cepat begitu melihat Bun An melangkah masuk, kedua orang ini sudah menyambutnya dengan serangan pedang dari kanan kiri.

Pedang kiri menusuk ke arah lambung, pedang kanan membacok kepala dari atas.

Menghadapi kedua serangan pedang yang dilakukan serentak dan mendadak ini, Bun An yang sejak tadi tidak pernah kehilangan kewaspadaan sedetikpun, mengangkat kedua tangan menyambut.

Tangan kanan bergerak ke samping dan tangan kiri bergerak ke atas.

Dua orang penyerang itu terbelalak ketika merasa betapa pedang mereka berhenti meluncur, dan ketika mereka melihat betapa pedang mereka terjepit di antara jari-jari tangan pemuda jembel itu.

Mereka mengerahkan tenaga membetot untuk melepaskan pedang dari jepitan jari tangan, namun sia-sia karena pedang itu seperti terjepit oleh jepitan baja saja, dan sebelum mereka sempat tahu apa yang akan terjadi, kedua kaki Bun An dengan bergantian namun cepat sekali seolah-olah kedua kaki itu bergerak berbarengan saja, telah menendang dan kedua orang itu terpelanting roboh dan tidak mampu bangkit kembali karena sambungan lutut kaki mereka terlepas!

Pedang mereka telah berpindah ke kedua tangan Bun An.

Lima orang jagoan ini cepat maju mengepung dan langsung mengeroyok, menggerakkan senjata mereka, akan tetapi nampak sinar bergulung-gulung dari dua batang pedang yang berada di tangan Bun An.

Terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya lima orang itu karena lengan mereka telah terluka dan mengucurkan darah!

Kini semua orang merasa gentar, bahkan jagoan-jagoan lain mengundurkan diri, menjauh.

Tidak ada yang berani menyerangnya, Bun An melempar kedua pedang ke atas lantai, lalu melangkah perlahan-lahan ke tengah ruangan.

Semua mata memandang kepadanya, mata yang terbelalak dan muka yang pucat karena ketakutan.

Bun An memandang ke sana sini, mencari-cari dan akhirnya dia melihat orang yang dicarinya.

Tentu saja ia masih mengenal Ma Cun, orang yang dibencinya itu.

Bekas pengawal itu kini sudah berusia empat puluh tahun lebih, rambut kepalanya sudah bercampur uban, namun wajahnya yang gagah tidak berubah.

Hanya perutnya yang kini menggendut, akan tetapi tubuhnya masih nampak kokoh kuat.

Melihat orang yang dicarinya ini, Bun An menghampiri dan dia kini berdiri di depan Ma Cun dalam jarak lima meter.

"Ma Cun, tinggalkan mejamu dan majulah kesini!"

Kata Bun An, suaranya halus, akan tetapi mengandung getaran dendam kebencian.

Ma Cun mengerutkan alisnya.

Dia sendiri adalah jagoan yang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, maka tentu saja dia tidak gentar melihat pengemis muda yang tadi mengamuk.

Akan tetapi, ketika pengemis muda itu memanggilnya, dia merasa penasaran dan juga marah.

"Bocah pengemis! Aku Ma Cun tidak ada urusan dengan engkau. Pergilah dan jangan menggangguku!"

Dia membesarkan suaranya agar lebih berwibawa karena pada saat itu, semua orang memandang kepadanya dan kepada pengemis muda yang tidak dikenalnya itu.

"Ma Cun, buka matamu baik-baik dan lihat siapa aku!"

Bun An berkata lagi, suaranya tetap halus, namun mengandung sesuatu yang membuat semua orang bergidik.

Ma Cun memandang dengan penuh selidik, lalu mengerutkan alisnya lebih dalam dan menghardik.

"Jembel busuk! Aku tidak mengenal orang macam engkau, pergilah sebelum hilang kesabaranku!"

Ma Cun yang percaya akan kemampuannya sendiri itu menggertak dan tangannya sudah meraba gagang pedangnya yang selalu berada di dekatnya dan pada saat itu pedangnya berikut sarung pedang terletak di atas meja judi.

Bun An tersenyum mengejek, matanya menyorotkan sinar dingin yang mau tidak mau terasa juga oleh Ma Cun, membuatnya merasa agak dingin pada tengkuknya.

"Ma Cun, namaku Tang Bun An!"

Ma Cun terbelalak.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau setan cilik kini menjadi orang yang tidak berharga!"

Katanya sambil meninggalkan meja menghampiri Bun An.

Setelah kini dia mengenal Bun An, rasa jerih yang sedikit banyak ada padanya tadi lenyap seketika, terganti oleh pandangan rendah dan menghina.

Sejak melihat Ma Cun tadi, Bun An sudah merasa seolah-olah ada api nyala panas di dalam dadanya.

Kini mendengar penghinaan itu, kemarahannya meluap-luap dan diapun melangkah maju sehingga mereka berhadapan dalam jarak dua meter saja, saling pandang dengan sinar mata penuh kebencian.

"Bun An jembel busuk, apakah engkau datang untuk mengemis kepadaku? Nih, uang kecil untukmu!"

Sambil berkata demikian, dengan sikap dan pandang mata menghina sekali Ma Cun mengambil tiga keping uang kecil dari sakunya dan dilemparkan ke depan.

Tiga keping uang itu mengenai tubuh Bun An lalu jatuh ke bawah, mengeluarkan suara berkeritikan.

Tidak nyaring, akan tetapi karena semua orang diam menahan napas dengan hati tegang, jatuhnya tiga buah mata uang itu menimbulkan suara yang nyaring."

"Ma Cun, dengarlah, buka telingamu lebar-lebar. Aku datang bukan untuk minta uang, melainkan untuk mengambil nyawamu!"

Suasana menjadi semakin tegang ketika kata-kata ini keluar dari mulut pengemis muda itu.

Tidak lantang, namun karena suasana amat sepi dan hening seolah-olah disitu tidak ada manusia lain, maka terdengar jelas dan menimbulkan ketegangan mendalam.

Wajah Ma Cun berubah merah sekali saking marahnya.

"Singgg!"

Pedang itu telah dicabutnya.

Dengan tangan kiri memegang pedang, Ma Cun sudah menubruk maju ke depan, menyerang Bun An dengan sabetan pedangnya, tidak malu-malu lagi menyerang seorang pemuda yang tidak memegang senjata apapun.

Namun, Bun An menghadapi serangan pedang itu dengan tenang saja.

Tingkat kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi daripada Ma Cun, maka ketika pedang berkelebat menyambar ke arahnya, dia menangkis dari samping, menampar ke arah pedang itu.

"Plakkk!"

Pedang itu dapat di tangkapnya!

Semua mata terbelalak memandang, hampir tidak percaya.

Bagaimana mungkin pemuda jembel itu berani menangkap pedang yang tajam dan digerakkan oleh seorang yang bertenaga besar seperti Ma Cun?

Akan tetapi kenyataannya, pedang itu dapat ditangkap dan kini nampak Ma Cun bersitegang hendak menarik pedangnya agar tangan pemuda itu terbabat buntung.

Akan tetapi sama sekali tidak berhasil.

Sekali lagi dia membetot dan tiba-tiba Bun An melepaskan pegangannya.

Tubuh Ma Cun terjengkang!

Sambil tersenyum mengejek Bun An memberi isyarat kepadanya agar bangkit.

"Berdirilah dan keluarkan semua kepandaianmu sebelum kau kubunuh!"

Ma Cun menjadi pucat sekali dan mulailah dia meragukan kemampuannya sendiri, hal yang belum pernah ia lakukan.

Apa yang dialaminya tadi terlalu hebat dan nyalinya sudah menciut, bahkan kedua kakinya mulai gemetar.

"Kawan-kawan, bantulah aku!"

Teriaknya tiba-tiba dan diapun lalu menyerang dengan membabi buta.

Kini, para jagoan yang berada disitu, seperti baru sadar bahwa ada seorang pemuda berpakaian seperti pengemis yang lihai sekali sedang mengacau dirumah judi itu, bahkan mengancam nyawa seorang kawan mereka.

Belasan orang jagoan, baik yang bertugas sebagai penjaga keamanan disitu maupun yang datang sebagai tamu dan penjudi, segera mencabut senjata masing-masing dan menyerbu ke arah Bun An!

Pemuda itu sudah marah sekali.

Serangan Ma Cun yang membabi buta itu disambut dengan tamparan keras ke arah lengan Ma Cun.

Ma Cun berteriak kesakitan dan pedangnya terlepas dari pegangan, lengan kanannya terasa nyeri bukan main, seperti dipukul dengan toya baja.

Pada saat itu teman-temannya sudah menyerbu, maka dengan cerdik Ma Cun menyelinap diantara orang banyak dan melarikan diri ke loteng.

Bun An mengamuk.

Tubuhnya berkelebatan diantara pengepung dan pengeroyoknya, akan tetapi matanya tidak melepaskan pintu keluar, takut kalau-kalau Ma Cun lolos keluar.

Dia marah karena kehilangan Ma Cun yang menyelinap diantara orang banyak.

Bun An menggerakkan kaki dan tangannya dan mulailah pengeroyok berpelantingan ke kanan kiri.

Bukan hanya tubuh para pengeroyok, akan tetapi juga meja judi dan bangku-bangku beterbangan karena ditendangi oleh Bun An yang mengamuk sambil mencari-cari Ma Cun.

Dalam waktu beberapa menit saja, belasan orang jagoan sudah roboh malang melintang tidak nampak bangun lagi dan hanya merintih kesakitan.

Para tamu yang tidak ikut mengeroyok, sudah merapatkan diri di dinding dengan wajah pucat.

Karena tidak ada lagi yang menyerangnya, Bun An mencari-cari dengan matanya.

Dia melihat seorang laki-laki gendut yang tadi sekelebatan dilihatnya sebagai majikan tempat itu dengan sikap yang angkuh.

Orang itu bersembunyi di balik meja yang roboh, tubuhnya yang gendut itu menggigil seperti diserang demam.

Dengan sekali loncatan saja Bun An sudah tiba dibelakang orang itu dan sekali cengkeraman pada pundak si gendut itu, dia menariknya berdiri dan si gendut menahan jerit seperti seekor tikus terjepit.

"Hayo katakan, dimana adanya Ma Cun?"

Bun An merasa yakin bahwa orang yang dicarinya tentu masih berada di situ karena sejak tadi dia memperhatikan pintu keluar dan tidak melihat Ma Cun keluar dalam keributan tadi.

"Ti-tidak... tahu..."

Si gendut menggeleng kepalanya.

"Hemm, apa kau minta mati?"

Bun An menekan pundak si gendut itu yang tiba-tiba merasa betapa tubuhnya seperti ditusuk-tusuk seribu jarum.

Dia kini tidak lagi menahan jeritnya, menguik-nguik seperti seekor babi dimasukkan keranjang.

"Kau tidak mau mengatakan di mana dia?"

"Di... di loteng...,"

Kata si gendut yang tiba-tiba saja terkencing-kencing di celana.

Bun An mendorongnya sehinga dia roboh terguling-guling dan cepat lari menaiki tangga menuju ke loteng.

Semua orang yang berada di ruangan bawah itu kini memandang ke atas.

Ada ruangan diloteng itu berikut beberapa buah kamar dimana para pemenang permainan judi boleh menghamburkan uangnya pada para pelacur yang siap melayani mereka, Bun An segera memeriksa setiap kamar dan pada kamar ke tiga, tiba-tiba dia diserang orang dari dalam kamar dengan sebatang pedang.

Penyerang itu bukan lain adalah Ma Cun yang sudah memperoleh sebatang pedang lagi.

Namun, Bun An sudah waspada.

Begitu pedang meluncur, dia mengelak, lalu tangannya menangkap pedang, kakinya menendang lengan kanan.

Terpaksa Ma Cun melepaskan pedangnya dan dia hendak lari turun.

Akan tetapi, tangan kiri Bun An menampar, mengenai tengkuknya dan diapun terjungkal roboh.

Semua orang melihat peristiwa diloteng itu dengan mata terbelalak.

Dilihat dari bawah, apa yang terjadi diatas itu seperti permainan wayang saja!

Karena melihat tidak ada jalan keluar lagi, timbullah rasa takut di hati Ma Cun.

Tanpa malu-malu lagi, dia lalu berlutut dan meyembah-nyembah kepada Bun An.

"Bun An, ampunkanlah aku"

Ah, ingatlah betapa aku ayah tirimu...

aku pernah menyayangimu...

ingatkah engkau ketika aku dulu memberi hadiah kepadamu?

Ampunkan aku, Bun An!"

Kemarahan Bun An semakin menjadi ketika diingatkan akan peristiwa yang lalu.

Memang dulu, ketika masih menjadi kekasih ibunya dirumah keluarga Tang, orang ini sering mengambil hatinya dengan memberi barang-barang mainan, juga mengancamnya karena dialah yang menjadi jembatan antara ibunya dan orang ini!

"Keparat jahanam!

Masih ada muka engkau untuk minta ampun dan mengaku ayah tiriku?

Ingatkah engkau ketika memukuli dan menyiksaku, bahkan menendangku?

Dan sudah lupakah engkau apa yang kau lakukan terhadap ibuku?

Engkau hamburkan semua harta benda ibuku dan setelah habis, engkau sia-siakan ibuku, engkau siksa ia, kau pukul dan tendang, kau jual!"

"Ampun... ampun..."

Ma Cun menyembah-nyembah ketakutan, keringat dingin sebesar kedele keluar dai tubuhnya.

"Dan ingatkah engkau betapa engkau telah merencanakan pembunuhan kepada ayah kandungku? Kau racuni dia sampai mati!"

"Bukan aku... ampun, tapi ibumu... ampunkan aku..."

"Pengecut hina! Biar kutebus dengan kedua tanganmu, engkau masih belum dapat membayar hutangmu kepadaku. Berikan kedua tanganmu!"

Sambil berkata demikian, nampak sinar pedang berkelebat, yaitu pedang yang tadi dirampas Bun An dari tangan Ma Cun.

Ma Cun menjerit dan kedua tangannya, sebatas bawah siku, terbabat buntung!

Demikian cepatnya pedang itu sehingga kedua lengan itu buntung tanpa dirasakan Ma Cun yang baru menjerit setelah melihat betapa kedua lengannya tak bertangan lagi!

Dengan kakinya Bun An menendang kedua potongan lengan itu kebawah loteng!

Semua orang memandang terbelalak, muka mereka pucat karena ngeri melihat dua buah tangan itu melayang jatuh di atas meja judi!

Ma Cun menjerit-jerit ketika Bun An menghardik.

"Dan serahkan kedua kakimu untuk membayar hutangmu kepada ibuku!"

Kembali pedang berkelebat dan Ma Cun mengeluarkan jeritan yang lebih mengerikan lagi ketika tiba-tiba saja kedua kakinya, sebatas lutut, terbabat buntung oleh pedang.

Tubuhnya terpelanting, berkelojotan dan mulutnya masih merintih-rintih, Bun An juga menendang kedua potongan kaki itu kebawah loteng.

Kini semua orang menggigil.

"Sekarang, berikan kepalamu untuk membayar hutangmu kepada ayah!"

Pedang berkelebat dan tubuh Ma Cun tidak bergerak lagi, tidak menjerit lagi, melainkan darah saja muncrat-muncrat ketika lehernya terbabat buntung oleh pedang.

Kepalanya ditendang dan menggelinding ke bawah loteng!

Bun An melempar pedangnya dan sekali lompat, dia sudah melayang turun ke bawah loteng.

Melihat tumpukan uang di atas meja-meja berserakan pula di bawah, dia teringat akan kebutuhan ibunya.

Dia lalu mengambil semua uang itu, dimasukkan kedalam taplak meja, dibungkusnya lalu dipanggulnya.

Sebelum pergi, dia memandang kepada semua orang dan berkata lantang.

"Aku mengambil uang ini bukan merampok melainkan mengambil kembali sebagian dari harta ibuku yang dihamburkan ditempat ini. Kalau ada yang penasaran, carilah aku, Siauw-kai!"

Lalu dia keluar dari tempat judi itu dengan tenang.

Tak seorangpun berani bergerak melarangnya, bahkan tidak ada yang berani bergerak sebelum Bun An pergi jauh dari tempat itu.

Dengan uang yang diambilnya dari tempat judi, Bun An mengajak ibunya untuk pulang ke dusun tempat asal ibunya.

Di dusun ini, Bun An membeli rumah sederhana dan sebidang tanah.

Karena desakan ibunya, dia membuang pakaian jembelnya dan mengenakan pakaian biasa.

Jadilah dia seorang pemuda yang tampan dan karena uang yang diambilnya dari rumah judi tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk membeli sebidang tanah dan pakaian untuk dia dan ibunya, perabot rumah sederhana, maka uang itupun habis dan Bun An bersama ibunya harus bekerja di ladang untuk keperluan sehari-hari.

Beberapa bulan kemudian, setelah ibu dan anak itu hidup tenang di dusun itu, Kui Hui mulai membujuk puteranya untuk menikah.

"Usiamu sudah cukup, anakku, dan akupun sudah ingin sekali menggendong cucu. Gadis keluarga Lui di dusun sebelah amatlah cantiknya, merupakan kembang dusun-dusun di daerah ini. Aku ingin melamarnya untukmu, ankku."

Bun An tersenyum.

Memang, usianya sudah dua puluh tahun lebih, dan diapun sudah pernah melihat gadis yang dimaksudkan ibunya itu.

Gadis keluarga Lui itu bernama Kim Bwe berusia delapan belas tahun, dan memang cantik sekali bagaikan setangkai bunga Bwe!

Maka diapun mengangguk dengan senang, menyatakan setuju.

Pinangan diajukan dan diterima dengan senang oleh keluarga Lui, apalagi karena keluarga itu melihat Bun An adalah seorang pemuda yang tampan sekali.

Juga rajin bekerja, dan masih berdarah bangsawan, karena kepada perantara Kui Hui membisikkan bahwa puteranya adalah turunan keluarga Tang di kota raja yang pernah menjabat kedudukan tinggi.

Pernikahan dilangsungkan dengan sederhana namun cukup meriah bagi penghuni dusun, dan Bun An memboyong isterinya kerumahnya.

Karena memang isterinya memang cantik manis dan lembut, mudah bagi Bun An untuk jatuh cinta kepada Lui Kim Bwe dan selama berbulan-bulan sejak pernikahan mereka, Kedua orang suami isteri muda ini hidup berenang dalam lautan kemesraan dan nampaknya saling mencinta.

Akan tetapi, diam-diam wanita muda yang pernah menjadi kembang dusun itu kadang-kadang merasa menyesal dan kecewa bukan main.

Setelah gairah api berahi mulai mengecil dan tidak sepanas pada masa pengantin baru, isteri yang masih muda belia ini mulai melihat kenyataan betapa ia masuk kedalam kehidupan keluarga yang amat sederhana, kalau tidak dapat dinamakan miskin.

Suaminya memang tampan, akan tetapi apa artinya ketampanan kalau kehidupan mereka demikian sederhana, bahkan sama tidak mewah?

Memang, harus diakui bahwa sebagai isteri petani muda, ia tidak kekurangan makan.

Akan tetapi makanan sederhana, dengan sayur-sayur, jarang bertemu daging.

Dan pakaiannya!

Sudah hampir setahun ia menikah, belum satu juga bertambah pakaiannya dan ia harus memakai pakaian-pakaian yang dibawanya dari rumah, walaupun memang pakaian itu belum rusak.

Sejak masih muda sekali, Kim Bwe menjadi kembang didusunnya, bahkan kecantikannya terkenal di dusun-dusun tetangga, dan banyak sudah pemuda-pemuda anak orang kaya, bahkan orang-orang yang memiliki kedudukan seperti kepala dusun dan lain-lain tergila-gila kepadanya.

Akan tetapi orang tuanya memilih dan menerima pinangan Tang Bun An!

Tadinya ia mengira bahwa Tang Bun An selain seorang pemuda tampan, juga tentu anak kaya raya karena bukankah dikabarkan bahwa Tang Bun An puter bangsawan tinggi di kota raja yang sudah meninggal?

Tentu menerima banyak warisan, sebagai putera bangsawan!

Akan tetapi, setelah menjadi isteri Bun An, ia melihat kenyataan bahwa pemuda itu sama sekali tidak memiliki apapun kecuali sawah ladangnya yang tidak berapa luas, dan rumah yang sederhana pula!

Setelah pernikahan itu berjalan setahun lamanya, barulah wanita muda bernama Lui Kim Bwe itu melihat kenyataan bahwa ketampanan wajah suaminya saja tidak dapat membuat ia merasa bahagia.

Ketampanan wajah itu memang mengasyikkan selama beberapa bulan, akan tetapi kemudian ia menjadi bosan, apalagi kalau ia melihat wanita-wanita lain yang kaya didusun itu atau pendatang dari kota, yang mengenakan perhiasan gemerlap, pakaian sutera halus indah yang mahal, sepatu yang indah pula, naik kereta yang mewah!

Mulailah nyonya muda ini bersikap tidak manis kepada suaminya, bahkan ia mulai suka berkunjung ke rumah tetangganya, Seorang janda setengah tua yang disebut Bibi Ciok dan disini, ia melampiaskan kekecewaan dan penyesalan hatinya kepada tetangga ini.

Ia sama sekali tidak pernah mau membantu suaminya yang sibuk di sawah ladang, bahkan tidak mau membantu ibu mertuanya yang sibuk di dapur dan dirumah.

Dan Bibi Ciok, seorang wanita pelacur di kota dan setelah tua dan berhasil mengumpulkan uang lalu pulang kedusun dan hidup sebagai seorang janda yang tidak kekurangan makan karena memiliki sawah yang cukup, mendengar keluhan dan celaan Kim Bwe, tidak tinggal diam.

Iapun menanggapi, bahkan menyatakan ikut menyesal mengapa Kim Bwe yang pernah menjadi kembang beberapa buah dusun di sekitar situ, yang diperebutkan banyak orang kaya, kini menjadi seorang isteri seorang pria yang miskin!

"Kasihan sekali engkau ini, Kim Bwe,"

Demikian antara lain Bi Ciok berkata dan ia sudah akrab sekali dengan nyonya muda ini sehingga mengambil namanya begitu saja.

"Seorang wanita muda yang cantik jelita dan manis seperti engkau ini, kalau dikota raja sudah menjadi isteri seorang pemuda kaya raya, bahkan tidak aneh kalau engkau menjadi isteri bangsawan! Sedikitnya isteri muda yang hidup berenang dalam kemuliaan dan kekayaan. Akan tetapi disini, engkau hanya menjadi isteri seorang petani. Memang Tang Bun An itu seorang putera bangsawan, akan tetapi bangsawan itu telah meninggal dunia dan kau tahu? Ibunya diusir dari sana karena disangsikan bahwa Tang Bun An itu putera bangsawan Tang, mungkin anak dari hasil hubungan gelapnya dengan seorang perwira pengawal! Dan setelah keluar dari keluarga Tang, ibu Bun An itu menjadi seorang pelacur!"

"Ahhh...!"

Kim Bwe terbelalak dan mukanya berubah merah.

"Aku berani bersumpah, Kim Bwe! Aku melihat dengan kedua mataku sendiri!"

Kata Bibi Ciok dan hal ini memang bukan bohong, karena ia sendiri pernah menajdi pelacur, maka pernah pula melihat ibu Bun An yang sangat terkenal ketika mula-mula jadi pelacur.

Demikianlah, Kim Bwe mulai keracunan hatinya dan ia merasa lebih dekak dengan Bibi Ciok daripada dengan ibu mertuanya.

Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bibi Ciok yang bermata tajam!

Seorang wanita muda seperti Kim Bwe ini, yang sedang mengalami kekecewaan dan penyesalan terhadap suaminya, yang haus akan kemuliaan, kekayaan dan kemewahan, merupakan seekor domba yang jinak dan daging yang lunak bagi para serigala dan buaya.

Ia melihat kesempatan terbuka lebar baginya untuk mengeduk keuntungan sebanyaknya.

Demikianlah, sebagai seorang wanita berpengalaman, Bibi Ciok dapat menghubungi Lai-jung-cu (Lurah Lai), yaitu lurah dari dusun tempat Kim Bwe yang pernah tergila-gila kepada Kim Bwe.

Lurah ini kaya raya dan terkenal mata keranjang, dan pernah Bibi Ciok mencarikan seorang gadis dusun untuk menjadi mangsa lurah yang haus perempuan ini, karena itulah maka ia berani menghubungi Lai-jung-cu dan menceritakan bahwa ia mampu membantu lurah itu kalau masih ada gairah besar terhadap Lui Kim Bwe yang kini telah menjadi nyonya Tang Bun An.

Mendengar ini, tentu saja sang lurah yang mata keranjang menjadi girang sekali.

Bibi Ciok menceritakan betapa Kim Bwe kini setelah menikah, bagaikan setangkai bunga yang menjadi mekar semerbak harum dan amat menggairahkan.

Tentu saja mula-mula sang lurah khawatir dan tidak percaya, namun Bibi Ciok menenangkan hatinya.

"Kalau memang Jung-cu berhasrat, jangan khawatir. Saya akan mengaturnya dan takkan ada seorangpun yang mengetahuinya. Setiap hari, suaminya sibuk di sawah dan ibu mertuanya sibuk di dapur. Hampir setiap hari si denok cantik itu bermain-main kerumah saya dan ia seperti anak saya sendiri!"

Lalu keduanya mengatur siasat.

Sang lurah akan berkunjung ke rumah janda tua ini, dan sang janda yang akan mengatur agar kedua orang itu akan dapat bertemu dirumahnya!

Di rumahnya, Bibi Ciok juga mulai mengatur siasatnya, seperti seekor laba-laba yang membuat jaring halus untuk membuat perangkap dan menangkap lalat yang bukan lain adalah Kim Bwe!

Mulailah ia bercerita, seperti sambil lalu, kepada Kim Bwe ketika nyonya itu datang berkunjung, betapa ia baru saja pulang dari dusun tempat asal Kim Bwe.

Tentu saja wanita muda itu segera tertarik dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Kebetulan sekali aku bertemu dengan Lai-jung-cu, engkau tahu lurah dari dusunmu itu, yang masih gagah dan ramah sekali? Juga dia terkenal kaya dan dermawan."

Kim Bwe mengangguk. Tentu saja ia mengenal lurah itu, bahkan dikenalnya sejak ia masih kecil.

"Kau tahu, Kim Bwe, Lai-jung-cu itu masih terhitung saudara misanku. Ketika kuceritakan bahwa engkau kini tinggal bertetangga dengan aku, dan seringkali datang berkunjung, dia kegirangan bukan main dan bertanya banyak sekali tentang dirimu. Nampaknya dia rindu sekali kepadamu, Kim Bwe."

Kim Bwe mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah.

"Ah, kenapa begitu? Dia tidak mempunyai hubungan dengan aku."

"Aihhh! Benarkah engkau tidak tahu, Kim Bwe? Sejak dahulu, lurahmu itu tergila-gila kepadamu dan dia amat mencintaimu, Kim Bwe. Mencintai setengah mati dan dia mau mengorbankan apapun asal dapat bertemu denganmu!"

"Ah, Bibi Ciok...!"

Kim Bwe menjerit kecil dan pura-pura marah.

"Aku tidak mau mendengarkan orbrolanmu ini, dan biarlah aku pulang saja!"

Iapun memperlihatkan sikap marah dan bilang hendak pulang, akan tetapi tidak beranjak dari kursinya!

Bibi Ciok yang berpengalaman itu lalu menubruk dan merangkulnya.

"Maafkan aku, anak baik. Bukan maksud untuk membikin kau kikuk dan tidak enak hati. Aku hanya berkata yang sesungguhnya saja. Dan dia, lurah itu, juga tidak bermaksud menghinamu. Dia amat menghormatimu, menghargaimu seperti seorang bidadari dari langit!"

Demikianlah, sedikit demi sedikit, sang laba-laba mulai memancing dan memasang umpan pada perangkapnya untuk menjebak lalat itu!

Dengan rayuannya, Bibi Ciok akhirnya berhasil membujuk Kim Bwe untuk berwajah cerah lagi, bahkan mendengarkan wanita tua itu mengobrol dan memuji-muji lurah Lai itu tidak begitu tua dan masih amat kuat, Bahkan terkenal dikalangan para wanita sebagai seorang pencinta dan perayu besar yang amat menyenangkan hati wanita.

Selain itu, royal pula dengan hadiahnya sehingga banyaklah wanita-wanita muda, baik masih perawan, janda maupun yang masih bersuami, bermimpi untuk dapat dipilih lurah itu menjadi kekasihnya!

Dijejali pujian-pujian atas diri lurah itu, ketika pulang, malam itu Kim Bwe tak dapat tidur.

Ia membayangkan wajah Lurah Lai yang selamanya belum pernah diingatnya!

Dan beberapa hari kemudian, sesuai dengan siasat yang sudah diatur oleh Bibi Ciok, selagi Kim Bwe pagi-pagi sudah datang berkunjung muncullah Lurah Lai!

Dari luar, lurah itu sudah berteriak-teriak memanggil Bibi Ciok yang berpura-pura kaget.

Tentu saja seketika Kim Bwe menjadi merah mukanya dan iapun bangkit untuk pergi dari situ.

Akan tetapi Bibi Ciok cepat mencegahnya.

"Aih, Kim Bwe, hal ini hanya terjadi kebetulan saja. Engkau tamuku, dan dia datang bertamu, apa salahnya? Kalau engkau pergi, berarti menghinanya dan juga membuat aku merasa tidak enak sekali. Duduklah, dan tinggallah sebentar saja!"

Kim Bwe terpaksa duduk kembali.

Muncullah lurah itu dengan pakaian mewah dan rambutnya tersisir rapi!

Dan kedua tangannya membawa beberapa gulung kain sutera beraneka warna, indah sekali.

"Bibi Ciok, aku datang membawa hadiah untukmu!"

Katanya pura-pura tidak melihat Kim Bwe yang duduk di sudut.

Bibi Ciok menyambut dengan girang bukan main.

Ia menerima gulungan-gulungan sutera itu dan memuji-mujinya.

Pada saat itu, agaknya baru lurah itu melihat Kim Bwe dan ia berseru kaget.

"Aih, Bibi Ciok...! Siapa... siapa... ah, apakah ada seorang dewi dari langit yang turun...?"

Bibi Ciok tertawa genit.

"Ihh, masa Jung-cu lupa? Ia adalah Kim Bwe!"

"Ya Tuhan...!"

Lurah itu berseru dan matanya terbelalak, memandang kagum sekali.

"Tiada ubahnya seorang bidadari... ah, maaf, sungguh aku tidak mengenalmu lagi nona Kim Bwe... eh, sekarang nyonya ya, maafkan aku."

Kim Bwe sejak tadi menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali seperti udang direbus, akan tetapi membuat mukanya menjadi semakin cantik, mulutnya menyungging senyum dan matanya melirik dari bawah.

"Ah, Jung-cu terlalu memuji... Bibi, aku pamit pulang saja..."

"Nanti... dulu... duduklah sebentar...!"

Kata Bibi Ciok yang segera pergi kebelakang pura-pura hendak mengambil minuman.

"Benar, nyonya, bukankah kita sudah saling mengenal sejak dahulu. Ah, kebetulan sekali hari ini hari baik, aku menerima banyak keuntungan dari kota raja, dari penjualan rempah-rempah dan aku sedang suka sekali memberi hadiah. Bibi Ciok kuhadiahi kain-kain sutera, dan akupun ingin memberikan hadiah kepadamu. Nah, apa ya? Tidak ada yang cukup berharga untukmu. Biar kuambilkan dari rumah, kupilih yang paling berharga. Akan tetapi, sementara ini, terimalah sedikit barang ini..."

Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku bajunya, membuka kotak kecil itu dan menyerahkannya kepada Kim Bwe.

Dari sudut matanya, Kim Bwe melihat kotak kecil terbuka itu dan mukanya berubah pucat lalu merah kembali.

Kotak itu berisi perhiasan dari emas permata yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan!

Belum pernah ia melihat perhiasan seindah itu, apalagi memakainya!

Ia tidak berani menerima dan hanya menundukkan mukanya.

Pada saat itu, Bibi Ciok keluar membawa seguci arak dan melihat lurah itu meletakkan sebuah kotak terbuka berisi perhiasan diatas meja di depan Kim Bwe, ia mengeluarkan seruan kagum.

"Aihh...! Perhiasan yang begini indahnya! Kim Bwe, engkau boleh menerima pemberian itu. Ah, cobalah betapa pentasnya engkau memakai perhiasan ini!"

Dan setengah memaksa nenek itu mengenakan gelang dan cincin di tangan Kim Bwe yang membiarkannya saja sambil menundukkan mukanya.

Ketika Bibi Ciok hendak memasangkan hiasan rambut dan kalung, lurah itu menghampiri dan berkata.

"Biarlah aku yang membantu memakaikannya!"

Antara lurah itu dan Bibi Ciok lalu terjadi permainan mata.

Seperti telah mereka rencanakan, melihat betapa Kim Bwe mandah saja, hal itu berarti bahwa umpan dan pancingan mereka mengena.

Bibi Ciok tersenyum, mengangguk dan iapun keluar dari rumahnya sendiri, untuk berjaga diluar!

Lurah Lai lalu mengambil hiasan rambut dan mengenakan hiasan itu dirambut kepala Kim Bwe.

Wanita ini menggerakkan kepala seperti hendak mencegah, dan ia kelihatan gugup melihat betapa pintu depan ditutup dari luar oleh Bibi Ciok.

Akan tetapi Lurah Lai berseru.

"Aih, betapa indahnya rambut! Betapa hitam, halus, panjang, dan harum pula. Dan cocok sekali memakai hiasan rambut. Dan ini kalungnya, biarlah kupakaikan..."

Dan diapun mengenakan kalung itu dileher Kim Bwe, menyetuh kulit leher, membelainya dan di lain saat, lurah itu telah merangkul leher Kim Bwe, menciumi leher itu lalu kemuka dan memondong Kim Bwe memasuki kamar Bibi Ciok!

Kim Bwe hampir pingsan karena malu dan jantungnya berdebar tegang, namun ia tidak berani berteriak karena malu, dan juga pemberian itu telah melunakkan hatinya dan iapun mandah saja ketika Lurah Lai menyatakan cinta dan kagum dengan perbuatan.

Demikianlah, betapa berbahayanya menjadi seorang wanita kalau menghadapi rayuan pria.

Pria yang sudah tergila-gila kepada seorang wanita akan mempergunakan segala daya upaya untuk menjatuhkannya!

Dia thau saja apa yang menjadi kelemahan hati seorang wanita!

Dan kelemahan itu yang disinggungnya sehingga si wanita akan jatuh dan taluk!

Ketika perbuatan hina itu dilakukan oleh kedua orang dalam kamarnya, Bibi Ciok duduk diluar, tersenyum-senyum menghitung-hitung keuntungan yang akan dapat diperolehnya dari perjinaan antara dua orang yang sudah lupa diri itu!

Tidak ada kesenangan yang tidak diulang oleh manusia yang lemah ini.

Setiap pengalaman yang menyenangkan, akan dicatat dalam ingatan dan kita selalu mendambakan pengulangannya.

Demikian pula dengan Lurah Lai dan Lui Kim Bwe.

Keduanya memperoleh kesenangan dari perjinaan itu, Bukan hanya kesenangan karena terlampiasnya nafsu jalang, meliankian juga karena Kim Bwe menerima hadiah yang banyak.

Hadiah-hadiah itu tentu saja tidak dibawa pulang oleh Kim Bwe, melainkan dititipkan kepada Bibi Ciok dan hanya dipakai kalau ia berkunjung ke rumah wanita itu.

Namun, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, bau busuknya akan tercium juga, sepandai-pandainya orang menyembunyikan api, asapnya akan mengepul juga.

Demikian pula dengan hubungan gelap antara Lui Kim Bwe dan Lurah Lai.

Mulailah menjadi pergunjingan para tetangga ketika tanpa disengaja, seorang anak kecil yang kebetulan bermain-main di dekat rumah Bibi Ciok melihat kedua orang tamu itu, dan pada hari-hari berikutnya, anak itu sering melihat mereka.

Hal ini diceritakan diluar dan ramailah penduduk mulai membicarakan hal-hal yang mencurigakan ini.

Akhirnya, berita itu sampai pula ketelinga Tang Bun An!

Mula-mula, Bun An tidak percaya.

Isterinya demikian lembut, nampak demikian sayang kepadanya, menyambutnya dengan mesra dan manis kalau dia pulang dari sawah ladang.

Isterinya mempunyai hubungan gelap dengan seorang laki-laki lain.

Tidak mungkin!

Ketika dia bertanya kepada ibunya, ibunya juga tidak tahu.

Biapun mendengar pula akan hal itu, Kui Hui pura-pura tidak tahu saja!

Wanita ini agaknya juga tidak menganggap perbuatan mantunya itu terlalu buruk!

Pada suatu hari, Bun An meninggalkan sawah ladangnya ketika hari masih pagi dengan menggunakan kepandaiannya, dia kembali ke dusun tanpa diketahui orang.

Dengan cepat dia menyelinap masuk kerumahnya dan bertanya isterinya tidak berada dirumah.

Dia bertanya kepada ibunya.

"Ah, ia kesepian kalau engkau kesawah. Mungkin ia bermain ke rumah Bibi Ciok. Kenapa ribut-ribut? Ia masih muda dan membutuhkan hiburan. Biarkan ia main-main dan kau kembalilah le sawah,"

Kata Kui Hui dengan sikap acuh saja.

"Aku akan mencarinya disana!"

Kata Bun An, hatinya merasa tidak enak.

"Jangan nak. Perlu apa? Biar nanti aku yang menyusulnya, kau kembalilah ke sawah!"

Ibunya membujuk, merasa tidak enak juga karena iapun sudah menduga bahwa berita yang didesas-desuskan itu boleh jadi ada benarnya.

Akan tetapi tanpa pamit lagi Bun An sudah melompat dan keluar dari rumahnya, menuju ke rumah sebelah dengan mengambil jalan dari belakang, melompati pagar!

Dia melihat Bibi Ciok duduk seorang diri diluar rumahnya, maka diapun cepat menyelinap ke belakang dan memasuki rumah itu dari pintu belakang yang dibongkarnya.

Tak lama kemudian, dia mengintai dari jendela kamar dan dapat dibayangkan betapa perasaan hatinya mengalami keguncangan hebat ketika dia melihat isterinya berada di atas pangkuan seorang laki-laki dan mereka saling berciuman dan bercanda!

Agaknya mereka baru saja selesai makan minum karena meja mereka masih penuh makanan dan arak!

"Brakkk!"

Daun jendela itu hancur berantakan dan tubuh Bun An melayang masuk dari jendela.

Dua orang yang sedang bermesraan di dalam kamar itu terkejut bukan main.

Apalagi ketika mereka mengenal siapa yang memasuki kamar melalui jendela itu!

Selama menjadi isteri Bun An, Kim Bwe tidak pernah tahu bahwa suaminya itu bukan hanya seorang petani biasa saja, tidak pernah menduga bahwa suaminya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Dan Lurah Lai juga tidak tahu, maka kini lurah itu hendak mempergunakan kekuasaan dan kedudukannya.

"Kami telah bersalah, biarlah aku akan menebus kesalahan ini dengan uang! Berapa saja yang kau minta!"

Katanya sambil melepaskan tubuh kekasihnya.

Kim Bwe sendiri merasa betapa kedua kakinya gemetar dan iapun berlutut sambil menundukkan mukanya.

Bun An memandang laki-laki yang tidak dikenalnya itu, seorang pria berusia hampir lima puluh tahun, lalu memandang kepada isterinya.

Isterinya mengenakan pakaian sutera yang amat indah, dan tubuhnya penuh dengan perhiasan emas permata yang tidak pernah dilihatnya.

Mendengar ucapan pria itu, Bun An melangkah maju, tangannya menampar, tangan kiri Bun An seperti petir menyambar sudah mengenai pinggir kepalanya.

"Prakkk!"

Tubuh lurah itu terjungkal dan dia roboh tak dapat bangkit kembali karena tamparan yang mengenai kepala itu membuat batok kepalanya retak dan lurah itu tewas seketika.

Tiba-tiba pintu daun kamar itu terbuka dari luar, dibuka oleh Bibi Ciok yang masuk bersama Kui Hui.

Mereka mendengar suara hiruk pikuk di dalam kamar dan merasa khawatir.

Bibi Ciok lalu membuka pintu dan pada saat itu, Kui Hui datang dan ikut masuk karena mengkhawatirkan anak dan mantunya.

Begitu daun pintu terbuka, mereka masuk dan terbelalak melihat lurah itu sudah rebah di atas tanah dan darah mengalir dari kepalanya yang retak!

"Ahh...!

Apa yang terjadi ini?

Kau...

bagaimana berani memasuki rumahku...?"

Bibi Ciok yang lurah itu tewas, kini menuding kepada Bun An dengan marah.

Sejak tadi Bun An sudah memandang nenek ini dengan wajah bengis.

Dia tahu bahwa isterinya telah terbujuk oleh nenek ini, yang agaknya menjadi comblang dan menyediakan rumahnya untuk menjadi tempat perjinaan yang hina!

Kini, melihat Bibi Ciok marah kepadanya dan melangkah maju, diapun mengayun kakinya menendang.

"Dess...!"

Bibi Ciok mengeluarkan suara menjerit ketika tubuhnya terpental dan terbanting kepada dinding kamar itu, lalu jatuh ke atas lanti.

Ia merangkak dan mencoba untuk bangkit, akan tetapi, kembali Bun An mengayun kakinya, kini mengenai leher nenek itu "Klokkk!"Leher itupun patah dan Bibi Ciok menggelepar, lalu diam tak bergerak karena nyawanya melayang.

"Ibu... Ibu...!"

Kim Bwe kini merangkul ibu mertuanya dengan ketakutan.

Tak disangkanya sama sekali akan begini akibatnya, betapa suaminya demikian marahnya dan melakukan pembunuhan-pembunuhan secara mengerikan.

Kui Hui merangkul mantunya dan berkata kepada Bun An.

"Bun An, apakah engkau telah gila? Engkau membunuhi orang begitu saja! Engkau tentu akan ditangkap dan dihukum mati dan engkau mencelakakan kami, ibu dan isterimu!"

Perlahan-lahan wajah Bun An berubah merah sekali dan sepasang matanya mencorong seperti mengeluarkan api ketika dia menatap wajah ibunya dan isterinya.

"Kalian... kalian perempuan... makhluk jahat, kalian sama saja! Kalian sungguh jahat, berkedok wajah yang cantik, tubuh yang mulus, sikap manis lemah lembut, namun batinmu kotor, kalian adalah makhluk-makhluk berhati jahat penuih racun! Terkutuklah kalian...!"

"Bun An! Aku ibumu sendiri, yang melahirkanmu!"

Kui Hui membentak, marah mendengar anaknya mengutuk dan memaki-makinya.

Bun An tertawa, suara ketawanya bergelak dan menyeramkan sekali, seperti suara ketawa iblis, bukan suara manusia lagi, dan mukanya kini pucat, seperti mayat tertawa diam saja!

"Ha, ha, ha, ha, ha!

Ibuku seorang perempuan jahanam!

Seorang perempuan jahat, lebih hina dari pelacur!

Ibuku telah mengkhianati suaminya sendiri, ayah kandungku!

Ibuku berjina dengan laki-laki lain, kemudian meracuni suami sendiri, ayahku.

Ibu lalu mencuri harta, hidup bersama laki-laki yang kubunuh itu, kemudian menjadi pelacur!

Ya, ibuku seorang pelacur!

Ibuku iblis betina!"

"Bun An...!"

Kui Hui menjerit wajahnya pucat, matanya terbelalak.

"Dan kau... kau Lui Kim Bwe, kau isteriku, kau cantik jelita, manis, mesra, bukan hanya wajahmu yang amat jelita, tubuhmu juga mulus, tapi kau tidak ada bedanya dengan ibuku. Engkau hanya seorang isteri yang menyeleweng, seorang perempuan yang berhati penuh racun busuk! Kalau dilanjutkan penyelewenganmu, bukan tidak mungkin suatu hari engkau akan meracuni aku pula. Engkau pun iblis betina dan kau layak mampus!"

Tiba-tiba tubuh Bun An menerjang kedepan, tangannya bergerak.

"Prakkk!"

Kui Hui menjerit, matanya terbelalak dan ia melepaskan rangkulannya kepada pundak mantunya ketika melihat betapa tubuh mentunya berkelojotan dalam dekapannya dan betapa kepala Kim Bwe sudah pecah berantakan dengan otak dan darah muncrat dan sebagian banyak membasahi bajunya sendiri!

"Ibu, kalau saja engkau bukan ibuku, tentu sekarang kubunuh pula!

Akan tetapi, engkau pun jahat, sama dengan mereka.

Aku malu untuk tinggal dan hidup bersamamu.

Semua perempuan memang jahat, palsu, penuh racun!!"

Dan Bun An lalu meloncat keluar dari rumah itu, tidak memperdulikan ibunya yang menjerit-jerit seperti orang gila karena merasa takut, ngeri dan juga batinnya terguncang oleh sikap dan kata-kata anak kandungnya sendiri tadi.

Akhirnya, para tetangga berdatangan dan mereka menemukan Kui Hui pingsan diantara tiga sosok mayat dalam kamar itu!

Kui Hui jatuh sakit, mengigau dan berteriak-teriak, terserang demam hebat dan beberapa hari kemudian iapun menghembuskan napas terkahir!

Dan orang-orang tidak berhasil menemukan Tang Bun An, kemanapun mereka mencari.

Bahkan kematian seorang lurah telah membuat pasukan keamanan sibuk mencari-cari Bun An, namun tanpa hasil.

Bun An memang sudah melarikan diri jauh meninggalkan dusun itu!

Dia tidak akan kembali lagi kepada ibunya, wanita pertama yang membuat dia membenci wanita!

Setelah terjadi peristiwa dengan isterinya, hatinya semakin dipenuhi perasaan sakit hati dan benci kepada perempuan.

Padahal, setiap kali melihat seorang perempuan, perhatiannya tertarik dan berahinya berkobar, namun dilubuk hatinya terdapat kebencian yang makin membesar terhadap kaum lemah ini.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya itu, terutama sekali penyelewengan ibunya, kemudian isterinya yang amat melukai hatinya, masih belum membuat Tang Bun An menjadi seorang jai-hwa-cat.

Biarpun dia mengalami guncangan batin, kepahitan yang dapat membuat hatinya mendendam, namun dia masih menganggap bahwa mungkin hanya kebetulan saja terjadi kepadanya, karena nasibnya yang sial sehingga dia dilahirkan oleh seorang wanita jahanam, dan berjodoh dengan wanita jahanam lain pula.

Dia meninggalkan dusunnya dan mulailah Bun An merantau.

Dia telah menyelidiki siapa adanya pria setengah tua yang menjinai isterinya itu, dan ketika dia mendengar bahwa pria itu adalah lurah kaya dari dusun isterinya, dia cepat pergi ke dusun itu dan dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi, Dia mamasuki rumah Lurah Lai, dan mencuri harta lurah itu yang cukup banyak.

Dengan harta curian inilah Bun An hidup merantau ke kota-kota dan dusun-dusun tanpa tujuan tertentu.

Pada suatu hari, tibalah Bun An di sebuah kota.

Karena perutnya terasa lapar, diapun mamasuki sebuah rumah makan memesan makanan itu, dia melihat seorang wanita muda yang amat manis berada di dalam kantor rumah makan itu dan melihat sikap wanita muda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun itu, diapun dapat menduga bahwa wanita cantik itu tentulah majikan rumah makan itu.

Tanpa disengaja wanita yang tadinya sedang menghitung unag itu mengangkat muka.

Pandang mata mereka bertemu dan hati Bun An tertarik.

Wanita itu memiliki mata yang indah sekali, dan mulut itupun tersenyum simpul.

Mulut yang merah basah dan segar menantang!

Diapun makan sambil mencurahkan perhantian ke kantor itu, biarpun matanya tidak memandang secara langsung.

Dugaannya benar.

Dia mendengar wanita itu bicara dengan seorang laki-laki berperut gendut yang menjadi majikan rumah makan, sebagai suaminya.

Ketika dia melirik dan memperhatikan, laki-laki yang menjadi suaminya itu sedang menyerahkan uang sekantung kepada isterinya yang manis, dan laki-laki ini menurut pandangan Bun An, sama sekali tidak serasi sebagai suami wanita yang demikian manis dan memiliki daya tarik yang amat kuatnya.

Laki-laki itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, wajahnya dan tubuhnya seperti bola, serba bulat!

Perutnya gendut sekali dan muka yang bulat itu seperti muka kanak-kanak, dan melihat bicara dengan isterinya, pria itu amat mencintainya.

Sambil makan, Bun An merasa iri hati mendengar suara perempuan ini, agaknya ia mencintai suaminya, juga dicintai sehingga dalam suaranya terdengar kemanjaan dan kemesraan.

Betapa bahagia suami yang mempunyai seorang isteri seperti ini!

Agaknya selain pandai membantu pekerjaan suami, juga amat mencinta suami dan wanita ini tentu setia kepada suaminya!

Tidak seperti isterinya, tidak pula seperti ibunya.

Setelah dia membayar harga makanan dan keluar dari rumah makan itu, hatinya tak pernah dapat melupakan wanita pemilik rumah makan tadi.

Seorang wanita hebat!

Seorang isteri pilihan!

Kalau hidup didampingi seorang isteri seperti itu, alangkah bahagianya!

Malam itu, di dalam kamar rumah penginapan, Bun An tidak dapat tidur.

Dia berbaring dengan gelisah karena wajah wanita pemilik rumah makan itu selalu terbayang di depan matanya!

Akhirnya, diapun keluar dari kamarnya, bahkan lalu keluar dari rumah penginapan itu dan seperti orang mimpi saja, kakinya melangkah menuju ke arah rumah makan tadi!

Rumah makan itu, seperti took-toko lain di jalan raya itu, telah ditutup dan keadaan di jalan itu sudah sunyi.

Malam itu memang dingin sekali, membuat orang malas sekali untuk keluar rumah.

Bun An lalu mempergunakan ilmu meringankan tubuh untuk meloncat ke atas genteng dan bagaikan seekor kucing saja, dia berloncatan di atas genteng tanpa mengeluarkan suara berisik.

Akhirnya, dia mendekam di atas sebuah kamar dan mengintai ke dalam kamar melalui genteng yang dibukanya.

Kamar inilah yang dicarinya setelah dia tadi mencari-cari dan mengintai ke dalam rumah.

Kamar dari suami gendut bersama isterinya yang manis.

Sedikitpun tidak ada niat dalam hati Bun An untuk datang mengganggu wanita manis itu, dia memang tertarik, dan kagum sekali karena menganggap wanita itu seorang isteri yang dapat membahagiakan suami, dan dia hanya ingin tahu benarkah dugaannya itu.

Ketika dia mengintai ke dalam, dia melihat wanita yang dipikirkannya sejak siang tadi telah berada di atas pembaringan.

Memang seorang wanita yang amat menarik sekali, pikirannya sambil memandang dengan jantung berdebar.

Wanita itu mengenakan pakaian dalam yang tipis dan merangsang, dan tidur telentang dengan sikap yang menantang dan memikat pula.

Ia belum tidur, rebah telentang sambil bermain-main dengan mata kalungnya.

Baju didadanya terbuka memperlihatkan bukit dada yang membusung.

Suami itu tidak nampak.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki berat dan suami yang gendut itupun menggelinding masuk!

Nampak dari atas, kaki pria itu tertutup oleh kepala dan perut yang bulat maka kelihatan memang seperti menggelinding saja dan Bun An tersenyum.

Pria itu memang lucu dan menggelikan, akan tetapi isterinya sungguh memikat.

Seperti juga isterinya, pria itu mengenakan pakaian tidur yang longgar dan membuatnya nampak semakin lucu.

Ketika sang suami memasuki kamar, isterinya menghentikan permainannya dengan mata kalung, lalu bangkit duduk dan tersenyum manis sekali.

"Lama benar sih, aku sudah menantimu sejak tadi...,"

Kata sang isteri dengan suara manja dan sikap mesra sekali, bahkan wanita itu mengembangkan kedua lengannya seolah-olah memberi isyarat bahwa dia sudah siap untuk menerima pria gendut itu dalam pelukannya.

Akan tetapi, pria itu menghela napas panjang dan mengelus perutnya yang gendut.

"Aku menghabiskan sisa bakmi tadi, dan perutku kenyang sekali. Aaahh, tubuhku lelah, dan aku ngantuk sekali. Aku mau tidur saja, besok harus bangun pagi-pagi persediaan daging babi habis, besok harus mengatur penyembelihan babi... auuuuuhhhhhh..."

Pria itu menguap lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan.

Pembaringan itu bergoyang dan mengeluarkan suara menjerit seperti menerima tubuhnya yang gembrot.

Akan tetapi, dia segera miringkan tubuh, membelakangi isterinya dan belum ada lima menit dia sudah tidur mendengkur seperti babi yang disembelih!

Isteri itu mengerutkan alisnya, masih duduk memandang suaminya, menggeleng-geleng kepala dan beberapa kali menghela napas panjang, nampaknya jengkel sekali.

Setelah suami itu mendengkur dengan nyenyaknya, wanita yang manis itu perlahan-lahan turun dari atas pembaringan, memadamkan lilin di atas meja.

Bun An sudah siap untuk pergi, akan tetapi dia tertarik ketika melihat bayangan wanita itu berjingkat-jingkat menuju ke pintu kamar!

Wanita itu setelah memadamkan api lilin, tidak kembali tidur di atas pembaringan, melainkan keluar dari kamar itu!

Dengan hati tertarik sekali, Bun An lalu melayang turun dari atas genteng, lalu menyelinap ke dalam rumah itu, lalu mengintai dari bawah, mengikuti bayangan wanita itu yang dengan hati-hati kini melangkah menuju kebelakang.

Didekat dapur terdapat sebuah kamar lain yang bentuknya kecil, dan nampak wanita itu dengan perlahan mengetuk pintu kamar ini.

Tiga kali, berhenti, lalu tiga kali lagi, berhenti, lalu tiga kali lagi, berhenti, demikian berkali-kali sehingga Bun An dapat menduga bahwa ketukan itu adalah ketukan rahasia yang merupakan isyarat.

Daun pintu kamar itu terbuka dan sesosok tubuh pria yang tinggi besar nampak muncul.

Biarpun cuaca tidak begitu terang, namun Bun An segera mengenal wajah orang itu sebagai wajah pelayan rumah makan yang siang tadi melayaninya!

Agaknya, pelayan rumah makan itu selain bekerja di rumah makan, juga memperoleh pondokan disitu.

"Aih, masih sore begini engkau berani ke sini...?"

Pria itu berbisik.

"Sssstt, dia sudah tidur mendengkur seperti babi!"

Kata si wanita yang segera menubruk pria itu.

Pria itu menyambut dengan pelukan dan mereka berciuman, daun pintu itu ditutup kembali!

Hampir saja Bun An tertawa bergelak melihat adegan ini!

Tertawa karena dianggapnya lucu, dan betapa tololnya dia!

Dikiranya wanita itu seorang isteri yang setia dan baik, yang membahagiakan suaminya!

Ternyata, tiada bedanya seujung rambutpun dengan isterinya sendiri.

Wanita iblis berhati kotor penuh racun!

Dengan beberapa loncatan saja, Bun An sudah berada di dalam kamar pria gendut, suami yang tidur mendengkur itu.

Dia menyalakan lilin, lalu menotok leher dan pundak pria gendut pemilik rumah makan itu sehingga pria itu seketika menjadi gagu dan terkulai lemas.

Bagaikan orang menyeret seekor babi, Bun An menyeret keluar dari dalam kamar, menuju ke kamar belakang dimana isteri pemilik restoran tadi bercumbu dengan pelayannya.

Sekali tendang, daun pintu itu roboh dan Bun An menepuk pundak dan leher si gendut, memulihkan dia masih sempat melihat dua insan yang tak tahu malu itu bergumul di atas pembaringan, lalu Bun An berkelebat lenyap meninggalkan tempat itu.

Sambil tertawa bergelak loncat ke atas genteng, masih sempat mendengar suara ribut-ribut di bawah.

Suara makian dan jerit tangis wanita.

Namun dia tidak perduli lagi dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

Aneh, dia merasa lega dalam dadanya!

Kenyataannya bahwa wanita yang manis dan menarik perhatiannya itu ternyata tiada bedanya dengan mendiang isterinya, membuat dia merasa lega karena kini tidak ada lagi iri hati menggoda hatinya!

Dia melihat kenyataan akan kelemahan wanita cantik.

Isterinya lemah karena menginginkan kekayaan dan terjatuh ke dalam lembah kehinaan karena mengejar kekayaan.

Isteri pemilik rumah makan itu lemah dan terjatuh ke dalam lembah kehinaan karena mengejar kenikmatan sex yang tidak bisa didapatkannya dari suaminya.

Mendiang isterinya juga tidak akan mungkin mendapatkan kekayaan darinya, suaminya.

Apakah kalau begitu, untuk membuat seorang isteri setia, maka dua hal itu harus dipenuhinya, yaitu kekayaan dan sex yang cukup?

Tang Bun An masih juga merasa bimbang dan didalam perantauannya, dia mulai mengadakan penyelidikan sendiri.

Setiap kali dia bertemu dengan isteri orang yang cantik, maka dia lalu menggodanya!

Dia menggunakan rayuan, atau uang, untuk menjatuhkan hati mereka dan dia mendapatkan kenyataan yang pahit, yang membuat dia semakin tidak percaya kepada wanita, bahwa sedikit sekali isteri orang yang menolak semua rayuannya dan setia kepada suaminya.

Dari sepuluh wanita yang menjadi isteri orang, hanya dua atau tiga orang saja yang setia dan mereka yang setia ini bukan termasuk yang tercantik!

Semua pengalaman dengan wanita yang dicobanya inilah yang membuat suatu watak yang aneh dalam diri Tang Bun An!

Dia mulai menanam benih-benih kebencian dan memupuknya benih yang mulai timbul karena ulah ibunya dan isterinya itu.

Dia tidak mau menikah lagi karena tidak percaya kepada wanita, dan mulailah dia bertualang diantara wanita-wanita cantik.

Dia juga berkeliaran diantara rumah-rumah pelacuran yang paling terkenal di setiap kota, bahkan mendatangi kota raja dan mengenal semua wwanita pelacur di kota raja.

Mudah saja baginya untuk mendapatkan uang.

Dengan menggunakan kepandaiannya, dia dapat memasuki gudang harta setiap orang bangsawan atau hartawan dan mengambil yang dibutuhkannya.

Semua hasil pencuriannya itu dihamburkan habis dalam rumah-rumah pelesir.

Jadilah Tang Bun An seorang laki-laki yang penuh pengalaman dan dia mempelajari segala macam kepandaian merayu dari wanita-wanita pelacur itu.

Setelah benih kebencian itu tumbuh subur, bersama dengan benih mata keranjang yang membuat dia mudah tertarik dan timbul gairahnya setiap kali melihat seorang wanita cantik, mulailah Bun An menggoda wanita-wanita yang dianggapnya cantik dan menarik hatinya, yang membangkitkan gairahnya.

Dia tidak perduli, apakah wanita itu masih perawan, ataukah isteri orang!

Dia mengguanakan rayuan dengan modal wajah tampan dan mulut manis, menggunakan uang, atau dengan bantuan obat perangsang, dan kalau semua itu tidak berhasil membuat wanita yang ditaksirnya bertekuk lutut menyerahkan diri dengan suka rela, dia tidak segan-segan mempergunakan kekerasan!

Hal ini mudah baginya karena memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Tang Bun An menjadi seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat pemetik bunga, seorang tukang pemerkosa wanita, atau seekor kumbang yang suka menghisap madu kembang!

Dia lupa yang menyebabkan banyak wanita menjadi isteri orang jatuh olehnya, bukanlah semata karena kelemahan wanita itu sendiri, melainkan juga disebabkan terutama sekali oleh ketampanan dan kegagahannya, kepandaiannya merayu.

Tang Bun An suka keindahan, dan tidak segan-segan pula merusak keindahan yang dikaguminya itu, demi kesenangannya, demi kepuasan hatinya, dan demi pelaksanaan dendam sakit hati dan kebenciannya.

Dia menganggap dirinya seperti seekor kumbang yang beterbangan diantara kembang-kembang.

Pada suatu hari, dia melihat betapa ganasnya seekor kumbang yang merahh menghisap kembang sampai layu dan rontok, dan betapa kumbang merah ini ganas pula menerjang setiap saingannya, yaitu kumbang lain untuk memperebutkan setangkai bunga yang harum dan segar.

Karena tertarik dan kagum sekali kepada kumbang ini, maka Tang Bun An lalu membuat perhiasan berbentuk kumbang merah dan selanjutnya dia meninggalkan sebuah perhiasan ini kepada setiap orang wanita yang menjadi korbannya!

Ada kalanya wanita itu dibunuh, yaitu mereka yang tidak mau menyerahkan diri secara suka rela, mereka yang melawannya, ataupun mereka yang mengecewakan hatinya karena tidak sehebat yang dibayangkannya semula!

Entah sudah berapa ribu wanita yang menjadi korbannya selama puluhan tahun ini, dan berapa ratus yang telah dibunuhnya!

Dan semenjak dia meninggalkan sebuah kumbang merah pada setiap orang wanita yang menjadi korbannya, hidup atau mati, di dunia kang-ouw mengenalnya sebagai Si Kumbang Merah (Ang Hong Cu)!

Namun, si Kumbang Merah ini tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya!

Dia memang pandai menyamar dan selalu muncul dalam penyamaran.

Karena itu, tidak ada seorangpun yang pernah melihat wajah aslinya dan hal ini menyukarkan para pendekar maupun para petugas keamanan untuk dapat menangkapnya!

Para korban, wanita cantik yang bagaikan kembang sudah dihisap habis-habisan oleh kumbang merah ini, hanya mengatakan bahwa si Kumbang Merah itu adalah seorang pria yang perkasa dan tampan, namun wajah yang digambarkan oleh semua wanita itu berbeda-beda!

Karena itulah, maka biarpun namanya amat terkenal, namun sampai puluhan tahun Ang Hong Cu tidak pernah dapat ditangkap biarpun para pendekar mengerahkan tenaga mereka untuk mencarinya.

Demikianlah riwayat singkat dari Ang-hong-cu yang bernama Tang Bun An!

Nama Tang Bun An jarang dikenal orang, bahkan Ang-hong-cu sendiri sudah hampir tidak lagi mengingat namanya.

Hanya pada wanita-wanita tertentu saja, yaitu korbannya yang benar-benar memikat hatinya, kadang-kadang dia memperkenalkan she (nama keturunan) Tang.

Namun, hal ini jarang sekali terjadi.

Kalau dia bertemu seorang wanita yang amat memikatnya, yang membuat dia hampir jatuh (Lanjut ke

Jilid 03) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 hati dan benar-benar mencintanya, dia hanya membuat wanita itu menjadi kekasihnya, seringkali dikunjunginya dan dilimpahkan kasih sayangnya, akan tetapi sesudah itupun sudah.

Diapun berusaha secepat mungkin melupakannya dan mematahkan ikatan batinnya terhadap wanita itu, dengan jalan mencari dan mendapatkan seorang korban baru!

Ang-hong-cu juga tidak perduli apakah korbannya itu seorang murid dari sebuah perguruan besar.

Sudah beberapa kali dia tidak segan-segan untuk mencemarkan nama perkumpulan besar dengan memperkosa pendekar-pendekar wanita yang menarik hatinya!

Dan karena dia melakukan hal itu dalam penyamaran, maka para pimpinan perguruan silat yang besar itupun tidak berdaya, hanya tahu bahwa murid perempuan mereka diperkosa oleh Ang-hong-cu.

Akan tetapi mereka tidak tahu siapa itu Ang-hong-cu atau di mana bisa menemukannya!

Itulah kakek yang berusia lima puluh lima tahun itu, yang pada permulaan kisah ini kita temui sedang menuruni bukit dipagi hari itu dengan santai, dan wajah pria itu masih nampak gagah dan tampan.

Itulah wajah Ang-hong-cu yang sebenarnya, wajah yang aseli.

Wajah itu halus dan sama sekali tidak dikotori kumis atau jenggot, masih segar seperti wajah seorang pemuda saja.

Langkahnya tegap dan tenang, seperti langkah seekor harimau, dan dari mulutnya terdengar nyanyian yang dinyanyikan dengan suara yang lepas dan merdu, suara yang mengandung kegembiraan dan juga kebanggaan kepada diri sendiri, yang mengarah kesombongan!

"Bebas lepas beterbangan dari taman ke taman mencari kembang harum jelita untuk kuhisap sari madunya setelah puas kunikmati kutinggalkan kembang layu merana untuk mencari kembang segar yang baru Si Kumbang Merah, inilah aku!"

Dialah Ang-hong-cu si Kumbang Merah, jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang tiada keduanya di dunia ini!

Laki-laki yang nampak jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya itu, tiba-tiba berhenti melangkahkan kakinya dan dia lalu duduk di atas rumput di lereng bukit itu.

Daru tempat dia duduk, didepannya terbentang keindahan alam yang menakjubkan.

Dia duduk membelakangi matahari, memandand ke bawah sana.

Semua bermandikan cahaya matahari pagi yang seolah-olah memberi kehidupan baru kepada segala yang nampak.

Pohon-pohonan menjadi cerah, warna hijau bercampur dengan sinar matahari yang masih lembut kuning keemasan, padi-padian menghampar luas di depan, seolah-olah dengan satu langkah saja dia akan dapat melampaui hamparan di bawah itu.

Dan duduk menghhadapi tamasya alam yang amat indah itu, di bawah sinar matahari pagi yang cerah, di hembus angin bersilir nyaman, seolah-olah menhanyutkan semangat Si Kumbang Merah kepada msa lampaui.

Segala peristiwa yang mengesankan hatinya terbayang di dalam kepalanya, seolah-olah dia membalik-balik lembaran buku catatan penuh gambar yang mengasikan.

Terlalu banyak wanita digaulinya, baik secara suka rela maupun paksa, demikian banyaknya sehingga jarang yang teringat olehnya, baik nama maupun rupa.

Akan tetapi ada beberapa orang wanita yang meninggalkan kesan cukup mendalam di hatinya.

Sebagai seorang manusia biasa, bukan tidak pernah dia jatuh cinta keada korbanya!

Namun, selalu perasan cintanya di campakan jauh-jauh, dipandang sebagai racun ang berbahaya bagi dirinya sendiri.

Tidak ada perempuan yang baik di dunia ini, demikian pikiran dan pendapatnya.

Pendapat seperti itu memberi kekuatan kepadanya untuk membuang jauh-jauh cinta kasih yang timbul dan untuk memutuskan ikatan yang muncul kalau dia tertarik lahir batin kepada seseorang korbanya.

Biasnya, setelah memperkosa seorang korban atau menggauli seorang korban yang sukarela menyerahkan diri setalah jatuh oleh rayuannya, dia akan meninggalkan begitu saja, mati atau hidup, meninggalkan pula sebuah hiasan kumbang merah kepada korban itu.

Akan tetapi, kalau hatinya tertarik oleh seorang korban dan timbul rasa sayangnya, dia akan mengunjungi korban ini beberapa kali sampai dia merasa bosan, atau samapai dia mengambil keputusan untuk segera meninggalkan wanita itu sebelum hatinya terikat!.

Tidak banyak wanita yang demikian itu.

Dan yang paling mengesankan, bahkan sampai dia berusia setengah abad belum pernah dapat dilupakannya, adalah seorang gadis yang bernama Teng Bi Hwa.

Sesuai dengan namanya, gadis berusia tujuh belas tahun itu benar-benar seperti bi-hwa (kembang cantik), bagaikan setnagkai bunga mawar sedang mekar semerbak!

Begitu melihat Bi Hwa, Tang Bun An yang ketika itu masih muda, kurang lebih dua puluh tiga tahun usianya, menjadi tergila-gila!

Dia merasa sayang kalau harus memperkosa gadis yang membuatnya tergila-gila itu.

Didekatinya gadis itu, dirayunya.

Karena dia memang tampan, pandai pula merayu seperti yang dipelajarinya dari para pelacur tingkat tinggi, dan dengan bantuan obat perangsang yang berhasil di campurkannya ke dalam minuman Bi Hwa, akhirnya dia berhasil membuat gadis itu bertekuk lutut dan jatuh cinta kepadanya!

Berhasillah Bun An mnguasai gadis itu lahir batin, membuat gadis cantik itu dengan suka rela menyerahkan diri.

Bi Hwa baru sadar setelah semuanya terjadi.

Gadis itu maklum bahwa ia diperkosa secara halus, akan tetapi karena iapun mencintai pemuda itu, ia berpegang kepada harapan agar Bun An yang hanya dikenalnya sebagai Tang-Kongcu (tuan muda tang) akan suka mengawini!

Akan tetapi, pemuda itu hanya minta waktu saja, sementara setiap malam membawanya pergi dari kamarnya untuk bermain cinta, berasyik-masyuk, bermesraan berenang dalam lautan madu asmara sampai Bi Hwa menjadi mabok kepayang!

Dan hal yang paling dikhwatirkanpun terjadilah!

Bi Hwa mengandung!

Dan Tang-Kongcu minggat tampa pamit lagi, hanya meninggalkan sebuah hisan berbentuk kumbang emas!

Bi Hwa menangis sampai pingsan, namun tidak berdaya, hanya menyesali kelemahan hatinya sendiri.

Teringat akan Bi Hwa Si Kumbang Merah tersenyum, akan tetapi senyum pahit.

Harus diakuinya bahwa dia sungguh mencintai Bi Hwa!

Hanya kebencian terhadap wanitalah yang membuat dia memaksa dirinya meninggalkan wanita itu, walaupun hatinya dipenuhi kerinduan selama berbulan-bulan sesudah dia pergi.

"Aahhh, semua itu telah berlalu!"

Dia mencela diri sendiri dan mengusir bayangan Bi Hwa yang cantik.

Tidak perlu memikirkan satu dua orang wanita, banyak sekali yang telah menjadi korbanya dan dia tidak merasa menyesal.

Diapun tahu bahwa di diantara banyak wanita yang di tinggalkannya dalam keadaan hidup, apa lagi yang prnah menarik hatinya sehingga beberapa kali dia menggauli korban itu, yang kemungkinan besar mengandung anak keturunannya.

Akan tetapi dia tidak peduli!

Takan ada orang yang mengenal wajahku, pikirnya sambil mengusap wajah aslinya yang halus dan tampan.

Dia selalu menyamar setiap kali menundukkan seorang wanita, setiap kali terjun ke tempat ramai.

Andaikata dia mempunyai keturunan, para wanita itupun tidak akan dapat memberitahu kepada anak mereka, bagaimana macam wajahnya, karena yang diberitahukan tentulah wajahnya yang palsu, hasil penyamaran.

Dan namanyapun tidak ada yang pernah tahu, kecuali hanya she-nya, nama keturunannya yang kadang-kadang dia perkenalkan kepada beberapa orang wanita yang jatuh cinta kepadanya.

Tang-Kongcu, hanya itulah yang mereka ketahui she-nya saja, kalau tidak tahu bagaimana wajah aselinya?

Dan hiasan kumbang emas itupun tidak dapat memberi keterangan sesuatu, kecuali bahwa wanita itu menjadi korban Ang-hong-cu Si Kumbang Merah.

Dia lalu membayangkan bagaimana andaikata dia tidak behasil memutuskan ikatan dengan seorang di antara para korban itu yang menarik hatinya dan dicintainya.

Tentu dia akan mengawini wanita itu dan hidup selama puluhan tahun di samping wanita itu, mempunyai beberapa orang anak.

Dan kini, tentu dia sudah menjadi kakek, hidupnya terikat erat-erat seperti belenggu pada kaki tangannya, membuatnya tidaj leluasa bergerak!

Dia tersenyum cerah.

Ah, enakan begini!

Bebas merdeka, boleh melakukan apa saja yang dikehendaki dan disenanginya, tampa ada halangan atau ikatan yang mengganggu!.

Tiba-tiba dia termenung.

Kebebasan inipun terasa membosankan!

Orang yang terikat tentu mendambakan kebebasan seperti dia, aneh sekali, kadang-kadang mendambakan ikatan!

Memang aneh hidup ini!

Yang nampak indah menyenangkan itu hanya segala yang belum didapatkan, belum di miliki, yang sedang dalam pengejaran.

Kalau segala yang tadinya di dambakan itu sudah berada dalam tangan, lambat laun takkan terasa lagi keindahannya, bahkan dapat membosankan!

Rahasianya terletak kepada keinginan!

Keinginan memiliki sesuatu yang tidak atau belum dimiliki menciptakan pengejaran!

Dan pengejaran untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan inilah sumber segala konflik, sumber segala kesengsaraan dalam kehidupan ini.

Pengejaran akan sesuatu yang belum kita miliki, karena itu lalu kita inginkan, membuat mata kita menjadi seperti buta, tidak lagi melihat apa yang ada pada kita!

Mungkinkah kita hidup tampa membiarkan angan-angan menggambarkan keindahan dan kesenangan yang belum kita miliki sehingga kita selalu akan di hinggapi penyakit INGIN mendapatkan segala gambaran angan-angan itu?

Tentu saja dapat kalu kita hidup seutuhnya, sepenuhnya menghayati apa adanya!

Kalau pikiran kita di curahkan sepenuhnya kepada apa adanya, maka pikiran itu tidak mempunyai waktu luang lagi untuk termenung mengkhayalkan gambaran-gambaran keindahan yang belum ada.

Sekali kita di hinggapi penyakit ingin mendapatkan sesuatu yang dianggap indahdan lebih menyenangkan, Maka penyakit itu tidak akan pernah meninggalkan kita, kecuali kalau kita menghentikan seketika satu yang diingikan terdapat, timbul lain keinginanyang dianggap lebih baik dan lebih menyenagkan lagi, dan kita terus terseret ke dala lingkaran setan.

Bukan berarti kita lalu mandeg, statis, berhenti atau mati, tidak kreatif lagi!

Melainkan tidak menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki!

Dengan cara menghayati segala yang ada pada kita sehingga kita akan mampu melihat bahwa dalam segala sesuatu terdapat keindahan itu!

Karena kini bayangan kesenangan dari kebebasnnya itu melenyap, tidak terasa lagi kesenangannya, Si Kumbang Merah lalu merenungkan hal-hal yang baru saja terjadi.

Dia terpaksa melarikan diri!

Dia, Ang-hong-cu yang perkasa, yang selama puluhan tahun malang-melintang, memetik setiap kembang, Menghisap madunya dan menikmati keharumannya lalu mencampakkan begitu saja kembang yang sudah layu dalam remasan tangannya itu, dia kini melarikan diri!

Sungguh lucu dan juga menyedihkan!

Dia melarikan diri,karena kalau dia tidak lari, sekarang tentu dia telah mati, mungkin tubuhnya akan dihancur-lumatkan oleh para pendekar perkasa itu, yang tentu amat membecinya!

Dan yang lebih menyakitkan hatinyalagi, seorang seorang diantara para pendekar itu, bahkan yang paling lihai, adalah seorang pemuda she tang, puteranya sendiri!

Dia tidak tahu bagaimana bisa muncul seorang puteranya!

Akan tetapi dia merasa yakin bahwa tentu pemuda itu puteranya.

Hal itu terbukti dari tiga hal.

Petama, pemuda itu memilki sebuah hiasan kumbang emas, kedua, pemuda itu she tang, dan ke tiga dan hal ini amat meyakinkan hatinya, pemuda itu memiliki wajah yang mirip sekali dengan wajahnya di waktu muda!

Hanya dia tidak tahu, siapa ibu pemuda itu, yang mana di antara gadis-gadis yang diperkosanya dan di hamilinya!.

Pertemuan dengan pemuda yang bernama Tang Hay itu terjadi secara kebetulan saja.

Dia mendengar akan adanya pemberontakan oleh para tokoh sesat yang di pimpin oleh Lam-hai-Giam-Lo.

Biarpun dia sendiri oleh para pendekar dianggap sebagai seorang penjahat kejam, seorangjai-hwa-cat dan di golongkan sebagai orang sesat, namun sesungguhnya belum pernah dia berkawan dengan golongan sesat.

Bahkan dia condong untuk menentang perbuatan jahat dan bertindak sebagai seorang pendekar.

Dia hanya mengambil uang dari gudang harta pembesar atau hartawan yang kaya raya, sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, bukan untuk bermewah-mewahan.

Maka, mendengar akan gerakan Lam-hai Giam-lo dan kawan-kawannya yang dia tahu amat berbahaya bagi keselamatan rakyat, karena perang pemberontakan hanya akan menjatuhkan banyak korban di antara rakyat dan yang sengsara oleh perang hanya rakyat kecil, maka diapun tidak tinggal diam.

Dia lalu secara diam-diam membantu pemerintah untuk menentang gerombolan pemberontak ini.

Untuk itu, dia menyamar dan memakai nama Han Lojin dan dia telah membuat jasa dalam bantuannya ini.

Namun, dalam perjuangan ini, penyakit lamanya kambuh dan diapun tidak mampu menahan diri ketika melihat gadis-gadis pendekar yang cantik jelita dan menawan hati.

(Baca Kisah Pendekar Mata Keranjang Bagian Pertama).

Secara kebetulan, dia bertemu dengan Tang Hay dan terkesan sekali melihat pemuda ini.

Gagah perkasa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan dia harus mengakui bahwa tingkat kepandaiannya sendiri masih belum mampu menandingi kelihaian pemuda itu!

Dan dia merasa yakin bahwa Tang Hay adalah putera kandungnya, entah dari ibu yang mana!

Dan dia melihat betapa Tang Hay juga memiliki watak yang sama dengan dia, yaitu mata keranjang!

Hanya bedanya, kalau dia setiap kali tertarik seorang wanita, langsung dia lalu melaksanakan hasrat hatinya dan menggoda wanita itu sampai dapat olehnya, baik dengan cara halus maupun kasar, sebaliknya pemuda itu hanya merayu dengan kata-kata saja dan tidak pernah melanjutkan.

Bahkan kalau si wanita nampaknya sudah tertarik dan jatuh cinta, pemuda itu selalu mengelak dan tidak pernah mau menggaulinya!

Hal ini membuathati Si Kumbang Merah menjadi kecewa dan penasaran sekali.

Masa puteranya penakut seperti itu?

Sungguh tidak jantan menurut anggapannya!

Apakah puteranya yang diam-diam dibanggakannya karena memiliki ilmu silat yang amat tinggi itu ternyata seorang pengecut dan penakut?

Ataukah mmempunyai kelainan sehingga tidak mampu menggauli wanita?.

Dia melihat betapa dua orang gadis pendekar yang amat cantik dan juga perkasa, diam-diam jatuh cinta kepada Tang Hay.

Akan tetapi biarpun selalu bersikap manis bahkan mengeluarkan kata-kata yang merayudan pandai menjatuhkan hati setiap orang wanita, agaknya menganggap pergaulan mereka itu sebagai sahabat biasa saja dan tidak mau melangkah yang jauh.

Ketika dia menduga bahwa Tang Hay di kekang oleh perasaan tata susila, hati si kumbang merah seperti tertusuk dan nyeri rasanya!

Mereka yang menasihatkan agar pria selalu menghormati wanita, memperlakukanya dengan sopan, agaknya belom tahu betapa jahatnya hati perempuan, demikian pikirnya.

Rasa kecewa dan penasaran ini membuat Ang-hong-Cu bertindak lebih jauh lagi.

Dia sengaja memperkosa dua orang pendekar wanita itu, dan sengaja melakukanya di tempat gelap dan dia menanggalkan penyamaranya sehingga wajahnya halus dan kedua orang gadis pendekar itu menduga bahwa pelaku pemerkosaan itu adalah Tang Hay!

Biar tau rasa, pikirnya.

Harus kuajar dan kuberi contoh puteraku yang tolol itu!

Tentu saja terjadi geger.

Dua orang pendekar wanita itu bukanlah orang-orang sembarangan.

Yang seorang bernama Pek Eng, berusia tujuh belas tahun dan ia adalah puteri dari ketua Pek-sim-pang perkumpulan yang amat terkenal.

Bahkan kakak dari gadis bernama Pek Eng itu adalah seorang pendekar yang amat sakti pula, bernama Pek Han Siong dan di waktu kecilnya amat terkenal dengan sebutan Sin Tong (anak ajaib) yang di jadikan rebutan oleh para tokoh Kang-ouw!

Adapun gadis ke dua yang di perkosa Ang-hong-cu adalah seorang pendekar wanita berusia tujuh belas tahun lebih bernama Cia Ling.

Dan pendekar wanita yang kedua ini adalah cucu buyut pendekar Lembah Naga, juga masih keluarga dari Cin-ling-pai!

Ketika menyadari bahwa perbuatanya itu akan merupakan ancaman maut bagi Tang Hay, diam-diam Ang-hong-cu merasa menyesal.

Semua pendekar sakti memusuhi Tang Hay yang disangka pelaku pemerkosaan itu, dan betapapun lihainya pemuda itu, mana mungkin kuat menghadapi para pendekar yang sakti itu?

maka dia pun lalu sengaja meninggalkan tanda hiasan kumbang merah dari emas, Sebagai tanda bahwa pemerkosa kedua orang pendekar itu adalah Ang-hong-cu, bukan Tang Hay.

Akan tetapi, setelah melakukan pengakuan ini, dia sendiri harus cepat-cepat melarikan diri!

kalau dia tidak lari, dan dia tertangkap sebagai penyamaran Ang-hong-cu, dia bisa mati konyol!

Demikianlah renungan yang bermain di dalam otak Ang-hong-cu Si kumbang merah itu!

berkali-kali dia menarik napas panjang, tersenyum-senyum, menghela napas lagi.

Puteranya itu memang hebat.

Hanya sayang, tidak cukup jantan sehingga tidak berani melanjutkan perbuatanya yang sudah dimulai dengan baik sekali itu.

Agaknya, kalau puteranya itu mau mewarisi kebiasaanya, Tang Hay tidak perlu banyak melakukan pemerkosaan, karena sebagian besar wanita, mungkin semua, akan bertekuk lutut dan takluk hanya oleh rayuan mautnya!

"Huh, engkau lihai akan tetapi tolol!

Memalukan aku yang menjadi ayah!"

Akhirnya dia menympah-nyumpah dan bangkit berdiri.

Wajahnya sudah cerah kembali karena semua kenangan tadi telah di usirnya.

Dia harus mengakui bahwa semua petualangan itu akhirnya membosankanya.

Semua wanita itu, yang merengek minta di sayang, atau merengek karena di perkosanya, akhirnya sama saja baginya mendatangkan kemuakan saja!

Kalau dulu dia merasakan kenikmatan dan kesenangan yang besar, bukan hanya kesenangan menikmati tubuh para wanita itu, akan tetapi juga menikmati perasaan balas dendam terhadap permpuan pada umumnya, kini dia tidak lagi merasakan kenikmatan dan kesenangan itu.

Dia bahkan muak!

Kadang-kadang dia merasa mirip seperti binatang jantan yang memaksakan kehendaknya terhadap binatang betina, terjadi pemaksaan untuk pelampiasan nafsu.

"Aku sudah tua sekarang,"

Pikirnya menghitung-hitung usianya.

"Kalau ku lanjutkan petualanganku seperti yang sudah, apa akan jadinya dengan hari akhirku?"

Dia melihat masa depannya suram.

Sudah cukup dia membalas sakit hatinya kepada permpuan, dan kini sisa hidupnya harus diisi dengan perbuatan yang berguna, misalnya, mencari kedudukan agar kelak meninggalkan nama besar!

Bukankah mendiang ayahnya juga bukan orang sembarangan, melainkan seorang bangsawan tinggi?

Tentang ibunya"

Ah, dia tidak perlu mengenang ibunya lagi.

Semua permpuan memang tidak baik!

Ang-hong-cu mengepal tinju.

Aku kini akan menjadi seorang yang berjasa terhadap kerajaan, agar aku mendapatkan kedudukan yang mulia.

Dengan demikian, hari tuaku akan terjamin, sebagai seorang terhormat dan mulia, bukan sebagai seorang Jai-hwa-cat yang dikutuk semua orang!

Dengan pikiran ini wajahnya menjadi cerah sekali dan kini dia melangkahkan kakinya dengan tegap menuruni bukit.

Tujuanya adalah kota raja, darimana dia berasal!

Dan kini dia tidak perlu lagi menyamar.

Dialah Tang Bun An, seorang yang terhormat!

Tidak ada hubungannya dengan Ang-hong-cu lagi.

"Kumbang merah, maapkan saja, untuk sementara ini atau mungkin selamanya, namamu akan ku pendam. Kumbang Merah telah lenyap dan muncullah riwayat baru, ha-ha-ha!"

Kalau ada kebetulan melihatnya, tentu menganggap bahwa yang sedang melangkah dengan tegap itu adalah seorang pria setengah tua yang tampan berwibawa, Berwajah simpatik, ramah dengan mulut selalu tersenyum, sepasang matanya bersinar-sinar, pakaianya seperti seorang sasterawan, rapi dan bersih, seorang yang penampilannya mengesankan dan mendatangkan rasa suka kedalam hati orang lain.

Petualangan para tokoh sesat di dunia kang-ouw yang dipimpin oleh mendiang Lam-hai Giam-lo, melakukan pemberontakan, melibatkan banyak sekali tokoh sesat.

Karena itu, para pendekarpun turun tangan membantu pemerintah sehingga pemberontakan itu dapat dihancurkan sebelum menjadi-jadi.

Banyak sekali tokoh sesat yang tewas dalam pertempuran bebas antara para pemberontak dan pasukan pemerintah, dan antara tokoh-tokoh sesat dan para pendekar.

Lam-hai Giam-lo sendiri, yang menjadi pemimpin bersama Kulana, seorang bangsawan dan pelarian Birma yangs akti, tewas dalam pertempuran itu.

Hampir semua tokoh sesat yang membantu gerombolan pemberontak itu tewas, kecuali beberapa orang saja.

Diantara para tokoh pimpinan, semua tewas kecuali dua orang yang termasuk pimpinan penting.

Yang seorang adalah Sim Ki Liong, seorang pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun yang amat lihai karena dia ini adalah murid dari Pendekar Sadis dan isterinya di Pulau Teratai Merah.

Murid ini sebenarnya adalah putera bekas musuh yang menyelundup dan berhasil menjadi murid Pendekar Sadis, dan setelah dia pandai, dia minggat, kemudian bergabung dengan para pemberontak.

Nyaris dia tewas pula kalau tidak cepat mearikan diri!

Adapun tokoh kedua yang bernama Ji Sun Bu, seorang wanita cantik jelita berusia tiga puluh tahun, seorang wanita cabul berkepandaian tinggi dan berjuluk Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), Ketika bertempur sebagai tokoh sesat yang membantu pemberontakan, terjatuh ke dalam jurang dan tidak ada yang tahu bagaimana nasibnya, namun melihat betapa jurang itu amat curam, semua orang mengira bahwa tentu iblis betina inipun telah tewas pula.

Di dalam pertempuran yang mati-matian itu, di pihak para pendekar banyak pula yang roboh dan tewas.

Akan tetapi para pendekar yang terpenting, keluar dengan selamat.

Diantara para pendekar yang kemudian kembali ke tempat tinggal masing-masing adalah Cia Kui Hong.

Ia seorang gadis yang kini usianya sudah sembilan belas tahun.

Wajahnya manis sekali, dengan mulut yang penuh gairah, hidungnya kecil mancung dan ujungnya, yaitu cupingnya dapat bergerak-gerak lucu, matanya tajam berkilat, kadang-kadang lembut dan jenaka.

Sikapnya selalu manis dan jenaka, namun berandalan dan gagah perkasa.

Muka yang bulat telur dengan dagu runcing itu memang manis.

Sepasang pedang yang tergantung dipunggungnya mendatangkan kesan gagah berwibawa.

Ia bukan seorang gadis biasa, walaupun manis sekali menggetarkan jantung setiap pria yang memandangnya.

Ia adalah puteri ketua Cin-ling-pai.

Ini saja sudah dapat menjadi bahan perkiraan bahwa tentu ia telah memiliki ilmu silat yang amat hebat, warisan dari ayah ibunya.

Lebih hebat lagi, ibunya adalah puteri Pendekar Sadis dari Pulau Teratai Merah!

Dan gadis inipun selain mewarisi ilmu dari ibunya, juga pernah digembleng oleh kakek dan neneknya, sepasang suami isteri sakti di Pulau Teratai Merah.

Maka, dapat dibayangkan betapa lihainya Cia Kui Hong, gadis manis itu!

Ketika terjadi pertempuran antara para tokoh sesat yang membantu pemberontakan dan para pendekar yang membantu pemerintah, Cia Kui Hong juga ikut berperan, bahkan ia merupakan seorang diantara tokoh-tokoh penting.

Setelah pertemuan selesai, gadis inipun berpisah dari para pendekar lainnya, dan ia langsung pulang ke Cin-ling-pai, yaitu perkumpulan yang diketuai ayahnya di Pegunungan Cing-lin-san.

Cin-ling-pai merupakan sebuah diantara perkumpulan-perkumpulan atau perguruan silat yang besar pada waktu itu.

Banyak pendekar besar gagah perkasa dan budiman datang dari Cin-ling-pai, sebagai murid perguruan ini.

Perguruan ini amat terkenal karena memang murid-muridnya pilihan, dan perkumpulan itu memegang teguh peraturan, berdisiplin dan keras terhadap murid-muridnya sehingga sudah terkenal di dunia persilatan bahwa Cin-ling-pai adalah tempat orang-orang gagah.

Ketika Kui Hong meninggalkan Cin-ling-pai untuk membantu pemerintah membasmi pemberontak, terjadilah hal-hal yang hebat dalam keluarga ayahnya.

Ayahnya, Cia Hui Song yang menjadi ketua Cin-ling-pai, hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu ia seorang.

Hal ini membuat kakeknya, yaitu Cia Kui Liang merasa tidak puas.

Kakek ini menginginkan seorang cucu laki-laki, seorang keturunan yang akan melanjutkan silsilah keluarga Cia.

Karena itu, dia memaksa puteranya untuk menikah lagi agar dapat memperoleh keturunan laki-laki.

Hal ini menimbulkan masalah besar dalam keluarga Cia.

Istri ketua itu, Ceng Sui Cin, ibu Kui Hong,adalah seorang wanita yang keras hati, puteri pendekar sadis ini sama sekali tidak setuju dan menantang kehendak ayah mertuanya itu, Hui Song yang menjadi bingung, berada di tengah antara ayahnya dan istrinya.

Dia tidak mampu menolak kemauan ayahnya, maka terpaksa dia menikah lagi dengan seorang wanita muda bernama Siok Bi Nio, yang usianya hanya tiga tahun lebih tua dari Kui Hong puterinya!

Hal ini membuat isterinya marah.

Ceng Sui Cin mengajak puterinya meninggalkan Cin-ling-pai dan pulang ke pulau Teratai Merah.

Dimana Kui Hong di gembleng oleh kakek dan neneknya.

Pernikahan antara Cia Hui Song dan isterinya yang muda itu benar saja telah menghasilkan seorang anak laki-laki yang di beri nama Cia Kui Bu.

Setelah Kui Bu berusia dua tahun, Hui Song yang merasa rindu kepada isterinya yang pertama dan merasa berdosa,memberanikan diri pergi menghadap mertuanya dan isterinya di Pulau teratai Merah.

Dia mengaku bersalah dan membujuk isterinya agar suka kembali ke Cin-ling-pai.

Akan tetapi isterinya mengajukan syarat, bahwa kalau ia kembali ke Cin-ling-pai, maka Siok Bi Nio harus di bunuh, dan ia mau memelihara Cia Kui Bu sebagai anak sendiri.

Memang keras sekali hati puteri tunggal pendekar sadis itu.

Hui Song menyerahkan keputusanya kepada isterinya yang pertama dan merekapun pergi ke Cin-ling-pai.

Setelah tiba di situ, Siok Bi Nio maklum akan isi hati suaminya dan juga madunya.

Wanita ini telah terlanjur mencinta suaminya dan mau melakukan apa saja demi kebahagiaan suaminya.

Hui Song menceritakan secara terus terang kepada Bi Nio tentang kehendak Sui Cin, dan Sui Cin pun bukan seorang yang jahat dan kejam.

Ia menghendaki agar Bi Nio pergi, dan ia akan merawat Kui Bu seperti anaknya sendiri.

Hancur rasa hati Bi Nio disuruh berpisah dari puteranya.

Tentu saja ia tidak mau, dan ia lalu memondong puteranya untuk dibawa pergi dari situ.

Pada saat itu, Cia Kong Liang, ayah Sui Hong, merampas cucunya dari tangan ibunya, melarang Bi Nio membawa pergi Kui Bu.

Bi Nio yang merasa terdesak dan terhimpit, hanya melihat satu jalan untuk mengatasi semua masalah itu.

Ia ingin melihat suaminya berbahagia, akan tetapi iapun tidak mungkin dapat hidup berpisah dari puteranya.

Maka, diluar dugaan semua orang, Bi Nio membunuh diri!

Peristiwa ini menghancurkan hati keluarga itu.

Semua merasa berdosa terhadap Bi Nio, Cia Kong Liang lalu mengurung diri di dalam kamar samadhi dan tidak mau lagi mencampuri urusan dunia, seolah-olah hendak menghukum dirinya dan hendak menghabiskan waktunya untuk minta ampun kepada Tuhan.

Cia Hui Song yang merasa berdosa terhadap isteri mudanya,dan menayadari betapa besar cinta kasih Bi Nio kepadanya, juga lalu membuat pondok kecil di dekat makam Bi Nio dan menjaga makam itu sambil bertapa!

Tinggal Sui Cin yang juga merasa menyesal dan untuk menebus perasaan bersalah, Ia merawat Kui Bu dengan penuh kasih sayang, seperti merawat puteranya sendiri.

Cin-ling-pai menjadi pincang para murid menjadi bingung karena mereka seolah-olah kehilangan pimpinan, kehilangan guru dan ketua.

Ketua lama, Cia Kui Liang, mengurung diri dalam kamar dan tidak mau mencampuri segala urusan.

Ketua baru, Cia Hui Song, juga acuh dan tak pernah mau meninggalkan makam isteri mudanya!

Masih untung bahwa Ceng Sui Cin cukup berwibawa dan lihai sehingga para murid dan anggauta Cin-ling-pai masih segan kepadanya dan mereka itu masih dapat dikendalikan oleh nyonya ketua itu.

Dalam keadaan seperti itu Cin-ling-pai menyambut pulangnya Cia Kui Hong yang baru saja datang dari petualangannya membantu pemerintah membasmi gerombolan pemberontak!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Kui Hong, apalagi ketika ibunya menyambutnya dengan rangkulan dan ibunya menangis tersedu-sedu tanpa mengeluarkan sepatah pun kata!

Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa ia akan bertemu ibunya di Cin-ling-pai.

Ketika ia pergi, ibunya masih ada di Pulau Teratai Merah, tempat tinggal kakek dan nenenknya.

Ia tidak tahu bahwa ayahnya telah berkunjung ke pulau itu dan berhasil membujuk Ceng Sui Cin, ibunya, pulang ke Cin-ling-pai.

Hal ini tentu saja akan menggirangkan hatinya, kalau tidak melihat ibunya menyambutnya dengan rangkulan dan tangisan.

Padahal, ia mengenal betul siapa ibunya, seorang wanita yang keras hati, tabah dan biasanya pantang memperlihatkan kedukaan hatinya, bahkan hampir tidak pernah ia melihat ibunya menangis.

Seorang pendekar wanita sejati!

Dan kini, ibunya menyambutnya dengan rangkulan dan menangis tersedu-sedu di atas pundaknya.

"Ibu... ibu..., ada apakah? Kenapa ibu menangis? Di mana ayah dan... kong-kong...?"

Ia tentu saja menduga hal-hal yang buruk mungkin menimpa diri ayahnya atau kakeknya.

Ceng Sui Cin tidak lama menangis.

Ia segera dapat menguasai dirinya dan kini ibu dan anak itu saling pandang.

Kui Hong melihat bahwa terjadi perubahan pada ibunya.

Kini ibunya agak kurus dan matanya sayu.

Sebaliknya, Sui Cin gembira melihat keadaan puterinya, yang bukan saja pulang dalam keadaan selamat, akan tetapi juga nampak sehat dan gagah perkasa, semakin cantik pula.

"Mari kita bicara di dalam,"

Kata ibu ini sambil menggandeng tangan puterinya.

Mereka masuk ke dalam dan kembali Kui Hong merasa heran karena rumah itu kelihatan sunyi sekali.

Hanya beberapa orang pelayan yang menyambutnya dengan pemberian hormat.

Tidak nampak isteri muda ayahnya.

Tidak nampak pula murid Cin-ling-pai.

Ketika tadi ia memasuki pintu gerbang Cin-ling-pai, ia sudah melihat perubahan yang mencurigakan.

Para murid nampaknya bermalas-malasan menyambutnya, padahal mereka sudah tahu akan kedatangannya dan dahulu, Kui Hong amat disayang oleh para murid Cin-ling-pai.

Kini mereka hanya menyambutnya dengan sikap dingin saja, dan hanya beberapa orang yang nampak gembira.

Ketika Sui Cin mengajak Kui Hong masuk ke dalam kamar, gadis ini melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga tahun sedang diajak bermain-main oleh seorang pengasuh.

Ketika melihat Sui Cin, anak itu lalu merentangkan kedua lengannya dan memanggil dengan suara nyaring.

"Ibuuu...! Ibu...!"

Sui Cin mengangkat anak itu, menciuminya beberapa kali lalu menyerahkannya kepada pelayan pengasuh, menyuruh pelayan membawa anak itu bermain-main di luar.

Diam-diam Kui Hong merasa heran bukan main.

Tidak mungkin ibunya mempunyai lagi anak sebesar itu karena kepergiannyapun paling lama setahun, sedangkan anak itu sudah berusia tiga tahun!

"Ibu, siapakah anak itu?

Apakah yang telah terjadi?

Mana ayah dan kong-kong?"

Tanya Kui Hong tak sabar lagi setelah pengasuh itu pergi bersama anak asuhannya.

Kini nyonya itu sudah tenang kembali.

Ia menghela napas beberapa kali, lalu berkata.

"Duduklah dengan tenang, anakku, dan dengarkan ceritaku."

Mereka duduk berdampingan di atas pembaringan dan berceritalah Ceng Sui Cin kepada puterinya tentang segala hal yang telah terjadi.

Betapa ayah gadis itu, Cia Hui Song, berkunjung ke Pulau Teratai Merah dan membujuk ia untuk kembali ke Cin-ling-pai.

Betapa kemudian di Cin-ling-pai, Siok Bi Nio membunuh diri karena tidak ingin berpisah dalam keadaan hidup dari puteranya.

"Aku merasa berdosa, Hong-ji. Kasihan Bi Nio. Setelah ia tewas, baru aku menyadari betapa besar cintanya terhadap ayahmu. Ia tidak bersalah, ia tidak sengaja merampas ayahmu dariku, melainkan ia juga menjadi korban keadaan, dan ia amat mencinta ayahmu, mungkin lebih besar daripada cintaku. Aku masih mementingkan diri dalam cintaku, akan tetapi ia... ah, rela mengorbankan nyawanya demi kebahagiaan ayahmu. Aku sungguh menyesal sekali, dan untuk menebus kesalahanku itu, aku berjanji akan merawat dan mendidik puteranya, Cia Kui Bu, anak yang kau lihat tadi."

"Ahhh...!"

Kui Hong yang sejak tadi mendengarkan, termangu-mangu.

Sungguh hebat apa yang terjadi menimpa keluarga orang tuanya!

"Ayahmu juga tidak bersalah.

Dia ingin berbakti kepada orang tuanya, dan buktinya, setelah dia menikah lagi dengan Bi Nio, keluarga Cia memperoleh seorang keturunan laki-laki.

Juga kong-kongmu tidak bersalah.

Wajarlah kalau dia menjadi cemas melihat betapa kami, ayah ibumu tidak mempunyai keturunan laki-laki dan dia berusaha agar puteranya suka menikah lagi hanya agar memperoleh keturunan yang akan melanjutkan silsilah keluarga Cia.

Tidak ada yang bersalah, semua menjadi korban keadaan.

Kesalahan kami adalah ketika mendesak dan menyudutkan Bi Nio sehingga ia membunuh diri..."

Ceng Sui Cin termenung, wajahnya muram.

"Sudahlah, ibu. Segalanya telah terjadi, tidak ada gunanya disesalkan lagi. Lalu, dimana ayah sekarang?"

Ceng Sui Cin mengerutkan alisnya.

"Diapun dihantui penyesalan seperti aku, dan semenjak kematian Bi Nio, dia jarang sekali disini, lebih banyak dia berdiam di pondok yang dibangunnya di dekat makam Bi Nio, di bukit belakang itu."

Mendengar ini, Kui Hong menjadi semakin berduka.

"Dan kong-kong?"

"Dia selalu mengurung diri di dalam kamar samadhinya, tidak pernah mau keluar lagi."

"Ah, ahhh..., mengapa keluarga kita menjadi begini? Biar kucoba jumpai mereka!"

Kui Hong lari meninggalkan kamar ibunya, lalu dicarinya makam Siok Bi Nio di bukit belakang kebun Cin-ling-pai.

Dan benar saja, di makam yang sunyi itu ditemukannya ayahnya, sedang duduk bersamadhi di dalam sebuah pondok sederhana yang di bangun dekat sebuah makam sederhana.

"Ayah...!"

Kui Hong menjatuhkan diri berlutut di depan pria itu sambil memegang lututnya, mengguncang-guncangnya.

Cia Hui Song adalah seorang pendekar yang usianya sudah empat puluh dua tahun.

Dulu, diwaktu mudanya, dia terkenal lincah, gembira, ugal-ugalan dan nyentrik.

Ilmu kepandaiannya tinggi, sebagai ahli waris ilmu-ilmu keluarga Cin-ling-pai dan juga pernah menjadi murid Siangkiang Lojin, satu diantara Delapan Dewa yang kini telah tiada.

Akan tetapi, semenjak dia diharuskan menikah lagi dan terpaksa anak isterinya pergi meninggalkannya, wataknya sudah berubah menajdi pendiam.

Kini, dia lebih berubah lagi.

Sinar matanya redup ketika dia membuka dia membuka mata memandang kepada Kui Hong, dan senyum lemah menghias bibirnya.

Wajahnya juga kurus dan rambutnya kusut, agaknya tidak pernag dia mempersolek diri.

"Kui Hong, engkau datang...?"

Katanya sambil membuka lipatan kedua kakinya, lalu duduk diatas bangku yang terdapat di pondok itu.

"Duduklah."

Kui Hong bangkit dan iapun mengambil tempat duduk diatas bangku, berhadapan dengan ayahnya.

Pria itu pura-pura tidak melihat sinar mata anaknya yang penuh keprihatinan dan tuntutan, lalu bertanya.

"Bagaimana dengan perjalananmu, Kui Hong? Bagaimana pula dengan pemberontakan yang beritanya santer sampai disini pula itu?"

Akan tetapi Kui Hong tidak menjawab pertanyaan ayahnya, dan tak pernah ia melepaskan pandang matanya yang dengan tajam mengamati wajah ayahnya.

Kemudian ia berkata, suaranya penuh tuntutan.

"Ihhh! Ayah dan ibu lupa bahwa aku berada disini, hik-hik!"

Kui Hong dengan nakal berseru.

Hui Song dan Sui Cin menghentikan ciuman dan dengan muka merah mereka memandang puteri mereka.

Seketika, merekapun sadar akan kekeliruan masing-masing.

Membiarkan diri muram dan bersedih, menyesali hal-hal yang telah lalu, sungguh tidak ada gunanya sama sekali!

Itu merupakan suatu kebodohan besar!

Menyadari kekeliruan atau kesalahan yang telah dilakukan dalam hidup adalah suatu kebijaksanaan!

Waspada akan diri sendiri sehingga setiap saat dapat melihat kesalahan diri sendiri, kelemahan dan keburukan diri sendiri, adalah kebijaksanaan yang mutlak perlu kita miliki.

Akan tetapi, kesadaran ini membuat gerakan spontan, sekaligus dalam kesadaran ini lalu dibarengi tindakan menghentikan kesalahan atau kekeliruan itu.

Bukan lalu menyesali dan membenamkan diri dalam duka!

Sikap seperti tiu sungguh tidak ada gunanya, tidak ada artinya sama sekali, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, bagi seluruh isi alam mayapada maupun penciptanya, yaitu Sang Maha Pencipta!

"Ih, anak bengal!

Kau seperti anak kecil saja mau menggoda orang tua!"

Kata Sui Cin dengan kedua pipi kemerahan.

Wanita ini nampak cantik sekali dan kini tanpa disadarinya, kedua tangannya merapikan rambut kepalanya!

"Wah, ibu cantik sekali kalau begini.

Lihat, ayah.

Bukankah ibu cantik sekali?

Dan ayah harap berganti pakaian yang baik, mencukur kumis itu dan mencuci rambut ayah!"

Hui Song tersenyum, maklum akan godaan puterinya.

"Sudahlah, anakku. Engkau berjasa besar bagi kehidupan ayah ibumu. Sekarang, ceritakan semua pengalamanmu."

Sambil duduk di antara kedua orang tuanya dan merangkul ibunya, Kui Hong lalu menceritakan dengan singkat apa yang telah dialaminya ketika ia membantu pemerintah membasmi pemberontak.

Juga diceritakannya betapa ia bertemu dengan banyak pendekar-pendekar lihai di sana.

"Hampir semua tokoh sesat yang membantu pemberontakan dapat ditewaskan, dan pasukan pemberontak dapat dibasmi,"

Demikian Kui Hong mengakhiri ceritanya.

"Mungkin hanya sedikit saja yang lolos."

Ayah ibunya mengangguk-angguk, dan mereka saling pandang, teringat betapa anak mereka bukanlah anak kecil lagi, melainkan seorang gadis yang sudah dewasa, lebih dari dewasa untuk mendirikan kehidupan baru sebagai seorang isteri di samping suaminya tercinta!

"Ah, pengalamanmu itu amat berharga, Hong-ji, dan tentu dapat menambah pengetahuanmu, juga membuatmu semakin matang.

Tahukah engkau, berapa usiamu sekarang?"

Tanya Sui Cin.

"Eh, ibu ini! Kenapa sih tanya-tanya usia? Bukankah ibu juga ingat bahwa usiaku sekarang sembilan belas tahun?"

"Sembilan belas tahun!"

Hui Song yang sudah tahu akan isi hati isterinya berseru.

"Betapa cepatnya waktu! Sekarang engkau sudah seorang gadis yang dewasa, terlalu dewasa untuk hidup sendirian lebh lama lagi."

Kui Hong mengerutkan alisnya dan menoleh kepada ayahnya.

"Apa maksud ayah dengan ucapan itu?"

Hui Song tertawa.

"Ha, apalagi kalau bukan sudah tiba waktunya bagi kami untuk mempunyai seorang menantu? Sembilan belas tahun sudah bukan kanak-kanak lagi, Hong-ji, dan kami akan merasa gembira kalau engkau sudah mempunyai seorang pilihan hati sendiri. Mungkin, engkau bertemu dengan seorang pemuda yang berhasil menjatuhkan hatimu?"

Wajah Kui Hong berubah merah.

Ayahnya ini benar sudah pulih kembali wataknya, bicara tentang hal itu demikian terang-terangan!

Dan ibuya juga tersenyum-senyum.

Iapun teringat kepada Hay Hay!

Terbayang pengalaman ketika itu untuk pertama kalinya bertemu dengan pemuda itu.

Sikap dan wajah Hay Hay sangat menarik perhatiannya dan kata-kata Hay Hay yang demikian penuh rayuan juga kehebatan ilmu silat pemuda itu, telah menjatuhkan hatinya.

Bahkan di dalam hutan, ia pernah berciuman dengan pemuda yang di kaguminya itu.

Akan tetapi, Hay Hay menolak hubungan yang lebih akrab.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 2

Baca Juga: Petualang Asmara 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert