Eps 2 Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo.
Setelah berkata demikian, kakek itu melirik ke arah Bu Sin dan adik-adiknya.
Sekarang tampak oleh mereka bahwa kakek itu matanya buta sebelah.
Kakek itu bangkit berdiri, meludah sekali, lalu berjalan pergi, terbongkok-bongkok dibantu tongkatnya.
Orang-orang tertawa.
"Kakek itu gila, rupanya.."
Akan tetapi Bu Sin dan adik-adiknya lebih mengerti.
Sama sekali bukan kakek gila, melainkan seorang sakti yang luar biasa.
Apalagi ketika mereka memandang lebih jelas, kiranya uang perak yang tadi masih ditinggalkan di situ dan uang itulah yang tadi diludahi si kakek.
Ketika Bu Sin membungkuk untuk melihat lebih jelas, uang itu ternyata telah melesak dan melengkung oleh ludah.
Pucat wajah Bu Sin.
"Celaka.."
Tentu yang dimaksudkan dengan tiga ekor nyamuk tadi adalah kita bertiga"
Tanpa banyak cakap lagi ia lalu mengajak dua orang adiknya masuk ke dalam kamar, membereskan bekal pakaian dan malam itu juga ia mengajak adik-adiknya meninggalkan kota Wu-han.
"Eh, kenapa kau seperti orang ketakutan?"
Tanya Lin Lin.
"Lin-moi, karena perbuatanmu memberi sedekah tadi, nyawa kita sampai detik ini masih selamat,"
Jawab Bu Sin sambil mengajak dua orang adiknya berjalan cepat.
"Eh, apa maksudmu, Koko?"
Sian Eng kaget sekali, juga Lin Lin memandang kakaknya dengan mata terbelalak.
"Kalian ini bocah-bocah sembrono sekali. Tidak lihatkah tadi betapa kakek pengemis itu memperlihatkan ilmu gin-kang yang amat luar biasa? Dan uang perak itu, diludahi saja menjadi bengkok dan rusak. Tidak salah lagi, dia tentu seorang sakti dan melihat pakaiannya, agaknya dia seorang di antara pimpinan perkumpulan pengemis. Lupakah kalian akan kata-katanya tadi bahwa uang perak membatalkan niatnya membunuh tiga ekor nyamuk? Tentu yang ia maksudkan tiga ekor nyamuk adalah kita bertiga. Agaknya dia tadinya bermaksud membunuh kita bertiga, akan tetapi karena Lin Lin memberinya sepotong uang perak, ia membatalkan niatnya. Sungguh berbahaya"
Lin Lin membanting kaki.
"Kakek keparat"
Kita menaruh kasihan dan memberi sedekah, dia malah menghina, menyebut kita nyamuk dan memandang rendah sekali.
Sin-ko, kenapa kau tadi tidak bilang kepadaku?
Sedikitnya aku dapat mencoba kepandaiannya, sampai di mana sih tingginya maka dia begitu sombong"
"Lin-moi, jangan bicara sembarangan. Dia orang sakti"
Bentak Bu Sin.
"Aku tidak takut"
Lin Lin mengedikkan kepala membusungkan dada.
Bu Sin hendak marah, akan tetapi segera ditekannya perasaanya.
Ia tidak bisa marah kepada Lin Lin, pertama karena memang ia amat sayang kepada adik angkatnya ini, ke dua, karena ia merasa tidak enak kalau harus marah kepada adik angkat, khawatir kalau-kalau Lin Lin merasa dibedakan.
Memang, biarpun masih muda, Bu Sin mempunyai watak yang baik sekali.
"Lin-moi, lain kali kau harus mentaati kata-kata Koko jangan banyak membantah. Kau membikin Sin-ko menjadi bingung dan marah saja"
Sian Eng menegur Lin Lin. Setelah ditegur, barulah Lin Lin insyaf. Sambil tertawa ia menyambar tangan Bu Sin.
"Sin-ko, apakah kau marah kepadaku? Apakah aku banyak rewel? Ampunkan saja aku, ya kakak yang baik?"
Mau tak mau Bu Sin tertawa juga.
"Kau memang nakal."
"Memang aku nakal, tapi tidak galak seperti Enci Sian Eng"
Lin Lin mengerling ke arah cicinya.
Kini Sian Eng yang cemberut dan tangannya menyambar hendak mencubit lengan adiknya.
Lin Lin meloncat, lari memutari tubuh Bu Sin dan menjerit-jerit.
"Sin-ko, tolong.. Enci galak mau bunuh aku.."
"Hushhh, gila kau, Lin-moi"
Masa bunuh, siapa yang bunuh? Memangnya kau ini seekor semut, gampang saja dibunuh."
Terpaksa Sian Eng menghentikan kejarannya.
Tak berdaya ia terhadap adik yang nakal ini.
Tanpa terasa karena di sepanjang jalan mereka bersendau-gurau, tiga orang muda ini sudah keluar dari kota Wu-han, melalui pintu kota sebelah timur.
Malam telah larut dan keadaan amat gelap karena langit hanya diterangi bintang-bintang.
Amat sukar melakukan perjalanan di malam gelap, apalagi kalau orang tidak mengenal jalan.
Tiga orang muda itu selamanya belum pernah melewati jalan itu.
"Sin-ko, kita tidak tahu mana jurusan ke kota raja, dan aku amat lelah,"
Sian Eng mengomel.
"Sebaiknya kita menunda perjalanan malam ini dan melanjutkannya esok pagi-pagi."
"Kita sudah keluar dari Wu-han sekarang, boleh saja berhenti. Akan tetapi di mana harus beristirahat? Tidak ada sebuah rumah pun, sejak tadi tidak terlihat api rumah penduduk. Agaknya daerah ini jauh daripada dusun."
Kata Bu Sin.
"He, kalian lihat. Bukankah di sana itu rumah? Tapi gelap amat.."
Lin Lin tiba-tiba berkata.
Mereka melihat dan benar saja.
Di antara kegelapan malam yang disinari bintang-bintang di langit itu tampak bayangan sebuah bangunan rumah di sebelah kiri.
Seperti diberi komando ketiganya menghampiri rumah itu dan setelah mereka berada di pekarangan depan, kiranya itu adalah sebuah kelenteng yang sudah tua dan tidak terpakai lagi.
"Kita istirahat di sini melewatkan malam,"
Kata Bu Sin dengan hati lega.
Biarpun hanya sebuah kelenteng tua dan rusak, namun cukup lumayan dan jauh lebih baik daripada bermalam di tengah jalan, di udara terbuka.
Baru saja mereka membersihkan lantai yang berdebu dan duduk, tiba-tiba tampak sinar api dan di depan kelenteng tua itu telah berdiri belasan orang yang memegang obor.
Tiga orang muda itu memandang dan terkejutlah mereka ketika melihat bahwa empat belas orang itu berpakaian seperti pengemis.
"Kalian mau apa?"
Bentak Lin Lin yang sudah meloncat berdiri bersama dua orang saudaranya.
Seorang kakek pengemis bertubuh pendek gemuk, agaknya pemimpin rombongan itu karena dia seorang yang tidak memegang obor, tersenyum lebar dan berkata.
"Sam-wi sudah merobohkan empat orang anak buah kami, sekarang pangcu kami memanggil Sam-wi menghadap."
Bu Sin tidak heran menghadapi rombongan ini karena memang ia sudah mengkhawatirkan akibat daripada sepak terjang mereka di tepi sungai sore tadi.
Ia seorang pemuda yang waspada dan hati-hati, akan tetapi mendengar ucapan yang amat memandang rendah itu, ia menjadi mendongkol juga.
Biarpun pemimpin mereka seorang pangcu, akan tetapi hanya ketua pengemis saja, bagaimana berani memanggil mereka menghadap seperti sikap pembesar saja?
"Lopek, peristiwa sore tadi adalah karena kesalahan teman-temanmu sendiri yang hendak melakukan perampokan sehingga terpaksa kami orang-orang muda turun tangan.
Kami tidak mempunyai urusan dengan perkumpulan kalian, juga tidak mengenal ketua kalian.
Kalau dia mempunyai urusan dengan kami, persilakan dia datang ke sini bicara,"
Jawabnya dengan suara angkuh dan sikap tenang. Kakek pengemis gemuk pendek itu tiba-tiba tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, baru bisa merobohkan empat orang anak buah kami yang tiada guna saja kalian sudah besar kepala. Ah, kalian seperti anak burung yang baru belajar terbang, tidak mengenal tingginya langit luasnya lautan. Orang muda, pangcu kami memanggil kalian menghadap dengan baik-baik, harap kalian mengerti dan dapat menghargai kesabaran ini. Jangan sampai aku orang tua turun tangan terhadap bocah-bocah nakal, aku malu untuk berbuat demikian."
Seakan meledak rasa dada Lin Lin mendengar ucapan yang amat memandang rendah ini. Ia meloncat maju dan membentak.
"Pengemis tua bangka sombong, kau kira kami takut kepadamu? Biar pangcumu datang sendiri, kami tidak akan takut. Kami tidak mau datang, kalian mau apa?"
"Ho-ho, benar-benar seperti katak dalam tempurung. Orang-orang muda, apakah kalian datang dari wilayah Kerajaan Hou-han di Shan-si?"
"Memang kami datang dari wilayah Hou-han, dan kami adalah sebangsa ho-han (orang-orang gagah), apakah kalian baru tahu sekarang?"
Lin Lin yang pandai bicara itu menjawab, mendahului kakaknya yang masih diam saja.
Pemuda ini maklum bahwa kalau ia membiarkan terus adiknya ini tampil ke depan dan beraksi keadaan tidak akan menjadi lebih baik, malah akan menjadi lebih kacau lagi.
Maka ia cepat maju menghadapi kakek pendek itu.
"Lopek, ketahuilah bahwa kami orang-orang muda melakukan perjalanan hanya lewat saja di sini, sama sekali tidak mencari perkara dengan siapa pun juga. Kebetulan saja sore tadi kami bentrok dengan orang-orangmu karena mereka itulah yang mencari perkara. Kami hanya berhenti di sini untuk melewatkan malam, besok kami sudah pergi meninggalkan daerah ini. Harap kau orang tua menghabiskan perkara itu."
"Kalian hendak kemana?"
"Ke Ibukota Kerajaan Sung."
"Bagus"
Kalian datang dari wilayah Hou-han hendak ke Ibukota Kerajaan Sung? Orang muda, mari ikut dengan kami menghadapi pangcu kami."
Marah juga Bu Sin.
Kakek pengemis ini terlalu memandang rendah.
Biarpun di situ ada belasan orang pengemis, apakah dikira mereka bertiga takut?
"Kami tidak akan ikut denganmu"
Jawabnya sambil mencabut pedang, diturut oleh Sian Eng dan Lin Lin.
Tiga orang muda ini seperti tiga ekor harimau memperlihatkan taring, dengan pedang di tangan mereka siap menghadapi pengeroyokan.
Sedikit pun mereka tidak merasa takut.
"Wah-wah, benar gagah"
Kakek itu berkata lalu memberi isyarat kepada teman-temannya.
"Tangkap mereka"
Bu Sin memutar pedangnya, mengancam.
"Mundur kalian! Lihat pedang"
Namun kakek itu sudah menerjangnya dengan tongkat, juga beberapa orang pengemis dengan tongkat mereka menyerbu Sian Eng dan Lin Lin yang sudah menyambut mereka dengan pedang.
Pertempuran hebat terjadi di bawah sinar obor.
Tiga batang pedang orang-orang muda she Kam itu berkelebatan cepat bagaikan sinar halilintar menyambar-nyambar dan dalam beberapa jurus saja tiga orang pengeroyok sudah roboh sambil memekik kesakitan.
Pengemis pendek gemuk memberi aba-aba.
Bu Sin yang bermata awas melihat betapa para pengemis itu mengeluarkan gendewa dan anak panah.
Berbahaya, pikirnya.
"Eng-moi, Lin-moi, padamkan obor dengan am-gi (senjata gelap)"
Teriaknya dan tangan kirinya sudah merogoh saku, mengeluarkan senjata rahasianya, yaitu piauw (pisau terbang).
Tangan kirinya bergerak cepat, dua batang piauw menyambar dan terdengar pekik dua orang pemegang obor, tangan mereka terhujam piauw dan obor yang mereka pegang jatuh, padam.
Lin Lin dan Sian Eng juga sudah mempergunakan kelihaian mereka dengan senjata rahasia mereka, yaitu jarum-jarum halus.
Dalam waktu singkat obor-obor itu runtuh dan padam.
Bu Sin mempergunakan kesempatan selagi keadaan gelap ini, memberi isyarat kepada kedua orang adiknya.
Mereka maklum bahwa kalau pertempuran dilanjutkan dan mereka dikeroyok dengan anak panah, tentu mereka akan celaka.
Maka dengan cepat mereka mempergunakan gin-kang mereka, memutar pedang untuk menghalau setiap penghalang dan beberapa menit kemudian mereka sudah pergi dari tempat itu, lari di dalam gelap tanpa mengenal arah.
Dua jam lebih mereka melarikan diri ke dalam sebuah hutan dan keadaan makin gelap karena daun-daun pohon yang amat rimbun menutupi langit di atas mereka.
"Wah, memalukan benar"
Lin Lin terengah-engah.
"Kita lari-lari seperti tiga ekor kelinci dikejar-kejar harimau"
Suaranya jelas menyatakan bahwa ia tak senang melarikan diri ini, merasa sebal dan penasaran.
Bu Sin dan Sian Eng juga berhenti, menyusut keringat dengan ujung lengan baju.
"Wah, berbahaya benar,"
Kata Bu Sin.
"Lin-moi, kau benar-benar seperti yang dikatakan oleh kakek pengemis tadi, seperti katak dalam tempurung, tak tahu tingginya langit"
Kalau kita tadi tidak cepat-cepat memadamkan obor dan mereka menghujankan anak panah, apa kau kira masih akan dapat bernapas saat ini?"
"Belum tentu, Sin-ko"
Bantah Lin Lin.
"Kita masih belum kalah, dan andaikata akhirnya kita mati dikeroyok, sedikitnya pedangku akan dapat membunuh beberapa orang lawan. Sedikitnya ada beberapa nyawa musuh yang akan menjadi pengantar nyawaku, mati pun tidak penasaran. Kalau lari-lari seperti ini, benar-benar baru disebut penasaran besar"
Bu Sin hanya tersenyum.
Ia mengenal watak Lin Lin yang nakal dan amat berani itu dan diam-diam ia merasa khawatir kalau-kalau adik angkat ini akan menimbulkan gara-gara kelak.
Karena keadaan amat gelap dan mereka tidak dapat mengenal jalan, tiga orang muda itu lalu naik ke atas pohon yang terpaksa bermalam di situ seperti tiga ekor kera kedinginan.
Lin Lin tiada hentinya mengomel.
Akan tetapi karena mereka amat lelah, mereka dapat tertidur juga di atas pohon dan baru mereka bangun setelah di situ ramai oleh suara burung berkicau menyambut datangnya pagi.
Ketika Lin Lin dan Sian Eng membuka mata, mereka melihat Bu Sin sudah duduk dan memberi tanda dengan telunjuk di depan mulut, menyuruh mereka tidak membuat suara lalu menuding ke bawah.
Mereka memandang dan wajah mereka berubah.
Jauh di bawah, kira-kira seratus meter dari pohon tempat mereka bersembunyi, tampak seorang kakek gembel berdiri bersandar tongkatnya.
Kakek yang bongkok, rambutnya riap-riapan dan matanya buta sebelah.
Kakek pengemis yang pernah mereka lihat di depan rumah penginapan, yang diberi uang perak oleh Lin Lin dan kemudian meludahi uang itu sampai penyok.
Dan di depan kakek itu berlutut puluhan orang pengemis, termasuk para pengemis yang mengeroyok mereka semalam, mereka berlutut tanpa berani berkutik sedikit pun juga.
Kakek pengemis bongkok itu terdengar marah-marah.
"Kalian anjing-anjing tiada guna"
Terdengar ia memaki sambil membanting-banting tongkat ke atas tanah.
"Huh, lebih baik kubunuh kalian semua dan lebih baik aku bekerja seorang diri. Apa artinya punya banyak anak buah melebihi anjing gobloknya?"
Semua pengemis itu menggigil ketakutan dan terdengar mereka minta-minta ampun dan menyebut kakek itu dengan sebutan ong-ya (raja).
Bu Sin dan kedua orang adiknya saling pandang.
Muka mereka pucat.
Kiranya kakek pengemis bongkok itu adalah semacam raja pengemis yang amat berpengaruh.
"Mana anggauta Pek-ho-kai-pang yang membikin ribut itu?"
Bagaikan empat ekor anjing, tampak empat orang pengemis merangkak maju dan berlutut di depan kakek itu.
Bu Sin dan dua orang adiknya melihat bahwa orang-orang itu adalah empat orang pengemis yang mereka hajar di tepi sungai kota Wu-han.
"Cih, yang begini mengaku anggauta pengemis? Membiarkan diri dihina orang-orang muda. Cuh-cuh-cuh-cuh"
Empat kali kakek itu meludah dan empat orang pengemis itu terjengkang roboh, tak bergerak lagi setelah tubuh mereka berkelojotan sejenak.
Mereka telah mati oleh ludah kakek itu"
"Biar ini sebagai pelajaran. Sekali lagi terjadi hal yang memalukan aku akan membunuh semua anggauta Pek-ho-kai-pang. Mana ketua-ketua Hui-houw-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Harimau Terbang), Hek-liong-kai-pang (Naga Hitam), dan Ang-hwa-kai-pang (Kembang Merah)? Hayo maju sini"
Tiga orang kakek pengemis tampak merangkak maju dan berlutut di depan kakek bongkok itu.
"Perhatikan sekarang. Kalian harus dapat memperlihatkan jasa dan bakti bahwa kalian membantuku. Aku membutuhkan tempat sembunyi Hek-giam-lo. Cari sampai dapat dan kabarkan padaku. Kalau mungkin, selidiki di mana ia menyimpan robekan setengah bagian kitab kecil."
"Baik, Ong-ya. Hamba akan mengerahkan seluruh kawan di kai-pang,"
Jawab mereka berbareng dengan suara amat merendah.
"Sudah, pergi sekarang. Muak perutku melihat kalian"
Kakek bongkok itu mengomel dan bagaikan anjing-anjing diusir, puluhan orang pengemis itu pergi sambil menyeret mayat empat orang pengemis anggauta Pek-ho-kai-pang itu.
Bu Sin dan dua orang adiknya bergidik.
Bahkan Lin Lin yang biasanya amat tabah, kini tampak pucat.
Namun, di samping kengerian ini, Lin Lin merasa marah sekali kepada kakek itu yang dianggapnya sombong dan kejam sekali.
"Orang macam dia harus dibasmi Sin-ko,"
Ia berbisik.
"Ssttt.."
Bu Sin mencegah, namun terlambat.
Kakek itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan berjalan menghampiri pohon besar di mana mereka bertiga berada.
Kakek itu sama sekali tidak mendongak, akan tetapi sambil terkekeh ia berkata.
"Nyawa tiga orang muda pernah kuhargai seperak akan tetapi sekarang tiada harganya sama sekali."
Tiba-tiba kedua tangannya mendorong dan..
"kraaakkk"
Batang pohon itu remuk dan tumbanglah pohon yang besar tadi.
Bu Sin dan dua orang adiknya bukanlah orang sembarangan, namun menyaksikan hal ini mereka terkejut bukan main.
Cepat mereka mengerahkan gin-kang dan melompat turun sebelum mereka ikut roboh bersama pohon dan tertimpa cabang dan ranting.
Begitu kaki mereka menyentuh tanah, ketiganya sudah mencabut pedang dan siap menghadapi kakek sakti itu.
Mereka maklum bahwa mereka takkan diberi ampun, namun mereka bertekad untuk melawan mati-matian.
"Ho-ho-ha-hah, tak tahu diri.. tak tahu diri.."
Tiba-tiba tongkat di tangan kakek itu melayang, bagaikan seekor ular bergerak-gerak di udara dan menyambar mereka.
Bu Sin, Sian Eng dan Lin Lin cepat mengangkat pedang membacok.
"Tranggggg"
Tiga batang pedang di tangan mereka terlepas dari tangan, runtuh di atas tanah depan mereka, sedangkan tongkat itu terpental kembali, melayang ke tangan si kakek bongkok yang tertawa berkakakan.
"Ha-ha-ha-ha-hah"
Bu Sin dan dua orang gadis itu terlalu kaget dan heran akan kesaktian lawan, sehingga mereka diam tak bergerak, berdiri seperti patung dan agaknya hanya menanti datangnya pukulan maut.
Pada saat itu, terdengar suara suling, nyaring melengking bergema di seluruh hutan, makin lama makin dekat.
Bu Sin dan dua orang gadis itu tak kuasa mendengar lebih lama lagi, jantung mereka terguncang dan tubuh mereka menggigil, terpaksa mereka menggunakan kedua tangan untuk menutupi telinga.
Biarpun demikian, masih saja suara lengking tinggi itu menembus dan membuat telinga terasa sakit sekali.
Kakek itu kelihatan terkejut pula, lalu tersaruk-saruk pergi meninggalkan tempat itu, sama sekali tidak menengok ke arah Bu Sin bertiga seakan-akan ia telah lupa akan adanya tiga orang muda itu.
Suara suling berhenti dan tiga orang muda itu melepaskan tangan.
Terdengar suara orang yang penuh wibawa.
"It-gan Kai-ong, Kau bersama Hek-giam-lo dan Siang-mou Sin-ni secara pengecut menyerang Bu Kek Siansu dah merampas kitab dan alat khim. Biarpun Bu Kek Siansu tidak peduli dan mengampuni kalian, namun aku tidak bisa membiarkan begitu saja. Berikan kitab dan nyawamu"
Tak lama kemudian, tampaklah oleh Bu Sin bertiga orang yang bicara ini, akan tetapi hanya punggungnya saja.
Dia itu seorang laki-laki yang tinggi besar, membawa suling, berjalan perlahan.
"Dia bersuling.."
Bu Sin teringat akan musuh besar, pembunuh ayahnya.
Di lain saat Bu Sin dan Sian Eng sudah menyerang laki-laki itu dengan piauw dan jaarum.
Orang itu berjalan seenaknya, seakan-akan tidak tahu bahwa dari belakangnya menyambar senjata-senjata rahasia.
Dan tiga orang muda itu melihat dengan jelas betapa tiga batang piauw dan tujuh batang jarum itu mengenai tepat tubuh bagian belakang, namun orang itu tetap saja enak-enak berjalan tanpa menghiraukan sesuatu, seakan-akan semua senjata rahasia itu hanya daun-daun yang gugur.
Sebentar kemudian ia lenyap di balik pepohonan.
"Mari kejar.."
Bu Sin berkata.
"Tiada gunanya, Sin-ko. Tak mungkin dapat dikejar,"
Bantah Lin Lin yang sejak tadi berdiri seperti patung, Bu Sin maklum akan hal ini, akan tetapi melihat sikap Lin Lin ia mengerutkan kening.
"Lin-moi, kenapa kau tadi tidak ikut menyerangnya? Dia pembunuh Ayah"
"Belum tentu, Sin-ko. Apa buktinya? Lagi pula, aku tidak mau menyerang orang secara menggelap tanpa memberi peringatan. Mendiang Ayah takkan senang melihatnya."
Merah wajah Bu Sin dan Sian Eng membentak.
"Lin-moi, omongan apa ini? Kau tidak membantu, malah mencela. Kalau dia benar musuh besar Ayah, kenapa kita mesti banyak memakai aturan? Jelas bahwa dia berilmu tinggi, lebih tinggi daripada tingkat kita, perlu apa kita memakai sungkan-sungkan segala? Yang perlu, kita harus dapat membalas dendam"
Lin Lin menarik napas panjang.
"Kalian tahu bahwa aku tidak akan ragu-ragu mempertaruhkan nyawaku untuk membalas sakit hati Ayah. Akan tetapi, aku tidak percaya bahwa dia itu pembunuh Ayah. Dengar saja kata-katanya terhadap kakek iblis tadi. Terang dia itu orang baik, maka memusuhi kakek pengemis iblis yang bernama It-gan Kai-ong tadi. Kalau kita bertindak sembrono dan salah sangka, menjatuhkan fitnah terhadap orang baik-baik, bukanlah lebih celaka lagi?"
"Dia bersuling, dia lihai, tidak salah lagi."
Kata Sian Eng.
"Kalau memang dia musuh kita kelak pasti dapat bertemu lagi. Sekarang lebih baik kita lekas pergi dari tempat ini"
Kata Bu Sin yang masih ngeri kalau teringat akan pengalamannya dengan kakek iblis tadi.
Dengan cepat tiga orang muda ini melanjutkan perjalanan, ke arah jurusan munculnya matahari pagi.
Enam orang laki-laki sederhana itu mengelilingi api unggun di dalam hutan.
Mereka adalah pemburu-pemburu binatang yang tampaknya belum memperoleh hasil dan melewatkan malam gelap di dalam hutan besar membuat api unggun, duduk mengelilinginya sambil bercakap-cakap.
Tiba-tiba mereka berhenti bicara dan tangan mereka meraba senjata masing-masing, yaitu tombak panjang, dan mata mereka menatap ke satu jurusan dari mana mereka tadi mendengar suara mencurigakan.
Dua orang segera memadamkan api unggun.
Kemudian mereka merunduk dan menyelinap di balik pohon, menghampiri tempat itu dengan hati-hati.
Siapa tahu malam ini mereka beruntung mendapatkan binatang buruan yang kemalaman di situ.
Akan tetapi mereka keliru.
Suara yang mereka kira ditimbulkan oleh binatang buruan, kiranya dibuat oleh tiga orang muda yang agaknya baru saja datang dan sedang berusaha membuat api unggun.
Seorang tampan dan dua orang gadis cantik.
Seorang di antara para pemburu, yang berjenggot pendek, pemimpin rombongan pemburu enam orang ini, tertawa dan disusul oleh teman-temannya.
Bu Sin, Sian Eng, dan Lin Lin terkejut, cepat menengok menghadapi enam orang yang muncul dari kegelapan itu, tangan meraba gagang pedang.
"Ha-ha-ha, harap Sam-wi orang-orang muda jangan khawatir. Kami hanya pemburu-pemburu binatang biasa, bukan perampok,"
Katanya.
"Cu-wi mengagetkan saja, muncul begini tiba-tiba dari tempat gelap,"
Kata Bu Sin setengah menengur.
"Ha-ha, maafkan kami. Kami tadi sedang bercakap-cakap di sana, mendengar suara Sam-wi yang kami kira binatang hutan. Heran sekali, bagaimana orang-orang muda seperti Sam-wi ini berada di hutan liar?"
"Kami adalah pengembara-pengembara yang kemalaman di jalan,"
Jawab Bu Sin singkat.
"Maafkan kami kalau kami mengganggu Cu-wi sekalian."
"Ha-ha, tidak mengapa.. tidak mengapa.. hutan ini bukanlah milik kami. Tadinya saya heran melihat Sam-wi yang begini muda berani memasuki hutan liar ini di waktu malam gelap, akan tetapi melihat pedang Sam-wi, keheranan saya hilang. Mari kawan-kawan, kita membuat api unggun di sini saja."
Mereka membuat api unggun besar dan duduk mengelilinginya.
"Tan-twako, kau lanjutkan dongengnnu tentang Suling Emas,"
Kata seorang dan suara ini dibenarkan oleh yang lain, Laki-laki berjenggot pendek itu berkata sungguh-sungguh.
"Bukan dongeng, melainkan kenyataan. Aku sendiri pernah ditolongnya. Sungguhpun aku masih belum dapat memastikan apakah dia itu manusia atau dewa, namun aku sudah amat beruntung mendapat pertolongannya."
"Ceritakan.. ceritakan.."
Teman-temannya mendesak.
Bu Sin bertukar pandang dengan dua orang adiknya.
Mereka tadinya menaruh curiga terhadap enam orang yang mengaku pemburu-pemburu ini, akan tetapi mendengar disebutnya nama Suling Emas, mereka tertarik sekali.
Agaknya kata-kata suling itulah yang menarik perhatian.
Bukankah musuh besar mereka adalah seorang yang membawa suling?
Karena itu mereka bertiga lalu ikut mendengarkan, sungguhpun mereka memilih tempat duduk yang agak jauh, di atas batu-batu besar dan selalu siap waspada menjaga segala kemungkinan.
"Terjadinya di hutan Hek-yang-liu (Cemara Hitam), pemburu she Tan itu mulai bercerita, kurang lebih tiga bulan yang lalu. Kalian tahu hutan itu penuh dengan ular besar. Aku memang hendak berburu ular, mendapat pesanan kulit ular dari saudagar kulit, dan jantung ular kembang dari seorang pemilik toko obat di kota Wu-han."
"Kau memang tabah sekali, Tan-twako, berburu ular besar sendirian saja,"
Komentar seorang temannya.
"Aku sudah biasa berburu ular, cukup dengan tombak dan anak panah serta gendewa. Dalam waktu dua hari saja aku sudah dapat memanah mati dua ekor ular sebesar paha. Akan tetapi pada hari ke tiga, ketika aku sedang menjemur kulit dan jantung ular, tiba-tiba muncul empat ekor harimau yang langsung menyerangku. Mereka adalah dua ekor harimau tua dan dua ekor masih muda. Aku cepat meraih tombak dan melawan, akan tetapi bagaimana dapat melawan empat ekor harimau yang menyerang sekaligus? Agaknya mereka berlumba untuk menerkam aku lebih dulu. Aku dapat menusuk paha seekor harimau, akan tetapi pada saat tombakku masih menancap di paha, harimau jantan yang tua telah menubruk dan menerkam pundak kiriku. Aku melepaskan tombak, mencabut pisau, akan tetapi sebelum aku dapat menusuk dada berbulu putih di atas mukaku itu, harimau ke dua sudah menggigit pangkal lengan kananku sehingga pisau itu terlepas, seluruh tubuh terasa nyeri dan aku tak berdaya lagi.."
"Twako, kukira apa yang dapat kau lakukan hanya berteriak minta tolong,"
Kata seorang. Kata-kata ini kalau diucapkan pada suasana yang tidak sedang tegang tentu terdengar lucu.
"Hutan itu sunyi, minta tolong apa artinya? Pula, aku sudah nekat dan siap menghadapi kematian sebagai seorang pemburu"
Bantah pemburu she Tan dengan suara gagah.
"Akan tetapi agaknya belum tiba saatnya aku mati. Pada waktu itu aku sudah hampir pingsan, pandangan mataku sudah kabur. Tiba-tiba terdengar suara suling yang melingking tinggi. Empat ekor harimau itu agaknya terkejut, aku sendiri merasa seakan-akan kedua telingaku ditusuk jarum dan agaknya aku sudah pingsan. Namun dalam keadaan hampir tak sadar itu aku melihat bayangan orang memegang suling yang berkilauan ditimpa sinar matahari. Jelas bahwa suling itu terbuat daripada benda kuning berkilauan, tentu suling emas. Terdengar suara gaduh ketika empat ekor harimau itu meraung-raung dan mengaum, lalu tampak harimau-harimau itu bergerak cepat, menerkam ke depan, terjadi perkelahian cepat yang tak dapat diikuti pandangan mata, kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.."
"Lalu bagaimana, Twako?"
Lima orang pendengarnya makin tegang. Juga tiga orang muda itu mendengarkan penuh perhatian.
"Entah berapa lama aku pingsan, aku tidak tahu. Ketika aku membuka mata, kulihat bangkai empat ekor harimau menggeletak di sana-sini. Anehnya, pundak dan lenganku sudah terbalut oleh robekan bajuku sendiri, rasanya dingin nyaman dan aku tidak merasakan nyeri lagi. Ketika kuperiksa bangkai-bangkai itu, kiranya empat ekor harimau itu pecah kepalanya. Wah, aku pesta besar, tidak saja karena mendapat daging harimau yang menguatkan tubuh, juga mendapatkan empat lembar kulit harimau yang utuh dan indah. Mau aku mengalami hal itu sekali lagi kalau hadiahnya demikian besar."
"Jadi yang menolong itu adalah Suling Emas, pendekar ajaib yang sering kali kita dengar namanya namun belum pernah menampakkan diri kepada orang lain itu?"
"Agaknya begitulah. Siapa lagi kalau bukan dia yang dapat membunuh empat ekor harimau tanpa merusak kulitnya? Siapa lagi pendekar yang membawa suling emas kalau bukan Si Suling Emas?"
Tanpa mereka sadari, Bu Sin dan dua orang adiknya kini sudah duduk mendekat api unggun.
"Twako, siapakah sebenarnya Suling Emas itu? Apakah dia itu seorang pendekar yang suka menolong orang? Ataukah dia seorang penjahat yang suka membunuh orang?"
Tiba-tiba Bu Sin bertanya.
"Siapa yang tahu, anak muda? Sepak terjang seorang ajaib seperti dia itu tak dapat diketahui orang. Tentang pembunuh, agaknya dia memang suka membunuh. Pernah aku mendengar betapa gerombolan perampok di muara Sungai Yang-ce sebanyak tiga puluh orang lebih semua terbunuh olehnya."
"Kabarnya dia pernah menggegerkan dunia kang-ouw dengan membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai. Heran betul, membunuh perampok-perampok itu adalah pekerjaan pendekar akan tetapi dua orang hwesio alim dari Siauw-lim-pai, kenapa dibunuhnya?"
Kata seorang pemburu yang berhidung besar.
"Juga ketika terjadi geger di kota raja karena hilangnya burung hong mutiara milik permaisuri, orang-orang mengabarkan bahwa Suling Emas yang mencurinya. Ada yang bilang dia itu sudah tua sekali, seorang kakek yang pakaiannya seperti seorang pelajar kuno. Betulkah ini, Tan-twako? Ketika kau ditolongnya, orang macam apa yang kau lihat?"
"Aku hampir pingsan dan gerakannya secepat kilat, hanya bayangannya saja yang kulihat. Tapi ada yang mengabarkan bahwa dia itu masih amat muda, seorang pemuda yang pakaiannya seperti pelajar. Yang sama dalam berita angin itu hanya tentang pakaiannya. Tentu dia seorang pelajar."
"Dan pandai bersuling."
"Suka menolong orang, suka pula membunuh, suka mencuri.."
Macam-macam suara para pemburu ini yang mengemukakan masing-masing, akan tetapi jelas bagi Bu Sin bahwa tak seorang pun di antara mereka tahu akan hal yang sesungguhnya.
Diam-diam ia berpikir.
Betulkah pembunuh orang tuanya adalah Suling Emas ini?
Dan orang yang muncul dengan sulingnya, yang agaknya ditakuti It-gan Kai-ong, apakah dia itu Suling Emas?
Pakaiannya memang seperti pakaian pelajar, tapi berwarna hitam.
Tentang wajahnya, ia pun tak dapat melihatnya karena orang itu membelakanginya.
Tapi jelas pakaian pelajar berwarna hitam dan tubuhnya tinggi besar.
"Sudahlah, apa pun dia, terang bahwa dia adalah seorang sakti yang berkepandaian tinggi. Tidak baik kita membicarakannya. Siapa tahu ia mendengarkan percakapan kita. Hiiihhh, meremang bulu tengkukku. Orang sakti seperti dia tidak boleh dibicarakan. Kalau sedang baik, memang menyenangkan sekali, akan tetapi kalau marah.."
Pemburu she Tan itu menggigil seperti orang kedinginan, menyorongkan kedua lengannya dekat api.
"Betapapun juga, kalau dia marah dan membunuhku, aku tidak akan penasaran karena memang aku berhutang budi dan nyawa kepadanya."
Sebentar kemudian, keenam pemburu itu sudah tidur mendengkur di dekat api.
Mereka ini benar-benar sembrono dan tidak pedulian.
Masa enam orang di dalam hutan besar kesemuanya tidur?
Tidak menjaga secara bergiliran?
Bagaimana kalau api unggun menjilat baju?
Mungkin mereka merasa aman karena di situ ada tiga orang muda yang agaknya tidak nampak lelah.
Mendongkol hati Bu Sin.
Kalau mereka menganggap dia dan adik-adiknya sebagai penjaga keselamatan mereka, ia tidak sudi.
Ia mengajak kedua orang adiknya menjauhi tempat itu dan membuat api unggun sendiri, kira-kira empat ratus meter jauhnya dari tempat para pemburu.
Menjelang tengah malam, keadaan amat sunyi di dalam hutan itu.
Bu Sin tak dapat meramkan mata sedikit pun.
Pengalaman yang mereka alami semenjak keluar dari dusun, amatlah hebat.
Mulailah mereka berkenalan dengan kehidupan perantauan, bertemu dengan orang-orang kang-ouw dan malah mereka secara tidak sengaja telah terjun ke dalam permusuhan dengan golongan pengemis kang-ouw yang dikepalai atau dirajai oleh seorang tokoh sakti yang mengerikan bernama It-gan Kai-(Lanjut ke
Jilid 04) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 ong.
Nama ini takkan mudah terlupa dari ingatannya dan ia tahu bahwa ia harus berhati-hati dan menjauhkan diri dari kakek iblis itu.
Lin Lin dan Sian Eng tidur pulas meringkuk di dekat api unggun, berbantal akar pohon yang menonjol kduar dari tanah.
Tak baik melakukan perjalanan dengan gadis-gadis ini, pikirnya.
Biarpun mereka berdua memiliki kepandaian tidak kalah olehnya, namun mereka tetap perempuan, banyak mendatangkan dan memancing keributan.
Ia harapkan dapat bertemu dengan kakaknya, Kam Bu Song di kota raja dan besar harapannya pula bahwa keadaan kakaknya yang sepuluh tahun lebih tua daripadanya itu telah mendapatkan kedudukan yang cukup baik.
Ia harus menitipkan kedua orang adiknya kepada kakaknya itu, kemudian ia akan melanjutkan usahanya mencari musuh besarnya itu, seorang diri.
Lewat sedikit tengah malam, Lin Lin bangun.
"Sin-ko, sekarang kau tidurlah, biar aku yang berjaga."
Mendengar suara adiknya, Sian Eng juga bangun mengulet dan menguap.
"Biarlah aku yang berjaga,"
Katanya.
"Kalian tidurlah, aku tidak mengantuk,"
Kata Bu Sin, kasihan melihat dua orang adiknya.
Ia mengalah dan ingin berjaga semalam suntuk, membiarkan kedua adik perempuannya itu tidur melepaskan lelah.
"Ah, mana bisa, Sin-ko? Kau pun manusia dari darah daging saja, mana tidak lelah dan ngantuk? Biarlah aku dan Cici Sian Eng berjaga,"
Kata Lin Lin sambil menambah ranting kering pada api unggun sehingga keadaan menjadi hangat.
"Biarlah kita bercakap-cakap dulu, aku tadi merenungkan hasil kepergian kita ke kota raja. Bagaimana kalau kita tidak dapat menemukan saudara tua kita di sana?"
"Sin-ko, jangan khawatirkan hal yang belum kita hadapi. Tentu dia berada di sana. Andaikata tidak ada di sana pun, kurasa mencari seorang bernama Kam Bu Song, putera dari mendiang ayah Kam-goanswe, seorang pelajar yang datang dari Ting-chun di kaki Gunung Cin-ling-san, tidak akan sukar. Tentu ada yang mengenalnya di kota raja. Nah, tenang dan tidurlah Sin-ko."
Bu Sin tersenyum.
Adiknya yang sulung ini memang besar hati dan kalau mendengarkan bicaranya memang ia tidak perlu gelisah.
Seorang gagah tidak menakuti hal yang belum dihadapi, bahkan hal yang sudah dihadapi sckalipun tidak boleh mendatangkan rasa takut, harus dihadapi dengan tenang dan waspada, demikian pesan ayahnya dahulu.
"Lin Lin, kau benar. Biar kucoba tidur agar besok kuat kupakai jalan jauh."
Bu Sin lalu merebahkan tubuhnya, miring menghadapi api unggun.
Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas, juga dua orang gadis itu meloncat berdiri.
Mereka berdiri dan saling pandang, penuh rasa kejut dan seram.
Suara melengking tinggi itu masih terdengar mengiang-ngiang ke telinga mereka.
Lengking tinggi menusuk telinga, suara suling.
Lalu disusul suara pekik ketakutan, atau mungkin pekik kesakitan, betapapun juga, pekik ini susul-menyusul dan amat mengerikan.
Akhirnya, tiga orang itu tidak dapat menahan lagi, telinga serasa pecah oleh lengking itu.
Dengan kedua tangan menutupi telinga, Bu Sin memberi isyarat kepada adik-adiknya.
Mereka lalu duduk bersila, menutupkan kedua telapak tangan ke telinga, meramkan mata dan bersamadhi, mengerahkan lwee-kang untuk menjaga isi dada yang terguncang hebat oleh suara itu.
Dapat dibayangkan hebatnya suara itu karena biarpun mereka sudah menutupi telinga dan mengerahkan lwee-kang masih saja suara itu menyerbu masuk ke dalam telinga dan tubuh mereka gemetaran.
Akan tetapi berkat lwee-kang mereka, tiga orang muda itu dapat mempertahankan diri dan tidak terluka dalam.
Hanya sepuluh menit kurang lebih suara itu melengking-lengking, lalu sunyi, sunyi seperti kuburan.
Mereka menurunkan kedua tangan.
Bergidik ketika saling pandang.
Sinar mata mereka saling mufakat bahwa yang bersuara tadi tentulah Suling Emas, karena mereka masih ingat akan suara suling yang pernah menusuk telinga mereka ketika mereka terancam oleh It-gan Kai-ong.
Akan tetapi suara suling kali ini amatlah mengerikan.
Sampai pagi tiga orang muda itu tak dapat tidur lagi.
Malah mereka duduk bersila mengumpulkan tenaga, siap sedia menanti datangnya bahaya dan mengambil keputusan untuk mempertahankan diri mati-matian biarpun akan datang serangan orang sakti sekali pun.
Akan tetapi tidak terjadi sesuatu dan kesunyian yang mencekam itu segera dipecahkan oleh kicau burung dan kokok ayam hutan.
"Mari kita segera pergi dari sini,"
Kata Bu Sin. Kedua orang adiknya dapat menangkap pandang mata dan suara hati yang tersembunyi dalam ucapan ini, seakan-akan berkata.
"Untung tidak terjadi apa-apa pada kita, lebih cepat pergi dari sini lebih baik."
Biasanya dalam perjalanan yang lalu, sebelum pergi tentu mereka bertiga akan mencari mata air atau sungai untuk mencuci muka atau mandi, terutama Lin Lin yang suka sekali bermain di air.
Akan tetapi kali ini ketiganya agaknya lupa untuk cuci muka dan tergesa-gesa pergi dari situ.
"Ha, Sin-ko, lihat mereka itu"
Ketiganya memandang.
Dari jauh tampak enam orang pemburu itu masih rebah, ada yang meringkuk, ada yang telentang atau telungkup, sedangkan api unggun sudah lama padam.
"Malas amat pemburu-pemburu itu, mengapa belum juga bangun?"
Kata Sian Eng.
"Mari kita lihat, agak aneh sikap mereka."
Kata Bu Sin.
Ketiganya berlari mendekat dan tak lama kemudian mereka bertiga berdiri dengan muka pucat dan bengong.
Kiranya enam orang itu sudah tak bernyawa lagi dan kepala mereka, tepat di ubun-ubun, semua telah bolong sehingga tampak otaknya.
Tahulah mereka bertiga sekarang bahwa yang menjerit-jerit malam tadi adalah mereka inilah, jerit ketakutan dan kengerian.
"Ahhhhh.."
Sian Eng menutupi mukanya, perutnya tiba-tiba terasa mual dan ingin muntah. Lin Lin cepat merangkulnya.
"Tenang, Cici."
Akan tetapi dia sendiri gemetar dan kaki tangannya menjadi dingin.
"Mari kita pergi,"
Ajak Bu Sin, juga pemuda ini suaranya gemetar.
"Nanti dulu Sin-ko. Tak mungkin kita meninggalkan begitu saja enam mayat ini. Mereka tentu akan dirobek-robek binatang buas."
"Habis kau mau apa?"
"Kita kubur dulu mereka. Lupakah kepada pesan Ayah bahwa melihat orang kesusahan harus menolong, terhadap orang tua harus menghormat, terhadap anak-anak harus melindungi, dan melihat mayat tak terurus harus menguburnya?"
Seketika wajah Bu Sin menjadi merah.
"Terima kasih, Lin-moi. Hampir saja aku lupa akan pesan Ayah karena ngeri dan seram. Mari"
Sekarang Sian Eng telah dapat menguatkan hatinya dan tiga orang muda ini lalu menggunakan pedang mereka untuk menggali lubang yang cukup besar untuk mengubur enam orang itu.
Karena Lin Lin dan Sian Eng merasa enggan mengangkat mayat-mayat lelaki itu, Bu Sin yang turun tangan dan mengangkat mayat-mayat itu seorang demi seorang, dimasukkan ke dalam kuburan bertumpuk, lalu mereka bertiga menguruk lubang itu dengan tanah.
Hari telah siang ketika mereka selesai melakukan tugas ini dan cepat-cepat mereka meninggalkan tempat hutan besar itu, menuju ke arah munculnya matahari.
Lega hati mereka bahwa mereka tidak menemui gangguan di jalan sampai mereka keluar dari hutan dan melalui dusun-dusun.
Rumah makan itu masih sunyi.
Agaknya hari masih terlampau pagi untuk makan.
Bu Sin dan dua orang adiknya sudah amat lapar.
Maklum semalam berjalan terus di bawah sinar bulan.
Asap berbau sedap yang melayang keluar dari dalam dapur rumah makan menyerang hidung, membuat mereka tak dapat menahan lapar lagi.
Hanya ada dua meja yang dihadapi tamu.
Kebetulan agaknya, dua meja itu adalah meja di ujung kiri dan meja di ujung kanan.
Yang sebuah dihadapi seorang laki-laki berjenggot panjang, empat puluhan tahun usianya, duduk bersunyi sendiri.
Meja ke dua dihadapi dua orang, agaknya suami isteri, kurang lebih tiga puluhan tahun.
Sikap kedua orang ini gagah, baik si suami maupun si isteri.
Mereka duduk berhadapan, makan bubur panas-panas dengan sumpit, cepat sekali seakan-akan mereka tergesa-gesa.
Di punggung mereka tergantung gagang dua buah senjata.
Tadinya Bu Sin dan adik-adiknya mengira bahwa mereka itu masing-masing membawa siang-kiam (pedang pasangan), akan tetapi mereka terheran melihat bahwa dua buah senjata itu tidaklah sama.
Sebuah pedang dan sebilah golok.
Bu Sin dan dua orang adiknya belum sempat memilih tempat, karena pada saat mereka memasuki ruangan depan rumah makan itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Pencuri-pencuri bangsa Hou-han hendak sembunyi ke mana kalian?"
Muncullah empat orang laki-laki yang nampak gesit-gesit dan kuat, berlompatan ke dalam dan mereka segera mengurung suami isteri itu.
Seorang mencabut pedang, seorang lain mengeluarkan sepasang siang-kek (tombak pendek sepasang), orang ke tiga mengeluarkan sebuah cambuk baja yang ujungnya seperti jangkar kecil, sedangkan orang ke empat yang agaknya pemimpin rombongan ini, juga yang tadi membentak, memasang kuda-kuda dengan tangan kosong.
"Lebih baik kalian menyerahkan kembali benda itu kepada kami, mungkin kami akan dapat mengampuni nyawa kalian,"
Kata pula yang bertangan kosong. Suami isteri itu saling lirik. Ketika si suami menurunkan mangkoknya, isterinya mencela.
"Makan dulu sampai habis, baru layani anjing-anjing ini. Mengapa tergesa-gesa?"
Keduanya lalu makan terus dengan tenangnya, menghabiskan bubur di dalam mangkok.
Bu Sin dan adik-adiknya amat kagum menyaksikan sikap dua orang ini.
Amat tenang dan amat gagah.
Namun mereka bertiga tak dapat bersimpati kepada sepasang suami isteri ini karena bukankah tadi rombongan itu mengatakan bahwa mereka berdua adalah orang-orang Hou-han?
Berarti orang yang sekampung dengan Bu Sin bertiga, akan tetapi siapa tahu mereka itu adalah pembantu-pembantu dari Kerajaan Hou-han, yang memusuhi mendiang ayah mereka?
Keluarga Kam terkenal sebagai keluarga yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Hou-han, bahkan dianggap setengah pelarian.
Suami isteri itu sudah selesai makan.
Tiba-tiba mereka bergerak dan dua pasang sumpit di tangan meluncur bagaikan anak panah.
Empat batang sumpit itu menyerang empat orang yang mengurung mereka.
Namun para pengurungnya juga bukan orang sembarangan.
Dengan mudah mereka mengelak dan sumpit-sumpit itu menancap sampai separohnya lebih pada dinding.
"Bagus"
Pujian ini keluar dari mulut laki-laki jenggot panjang yang sejak tadi masih duduk di sudut, menghadapi meja dan tenang-tenang saja sambil makan daging goreng dan nonton adegan di depannya itu.
Matanya bersinar-sinar wajahnya berseri-seri, agaknya ia gembira sekali dapat makan sambil menikmati tontonan gratis ini.
Melihat betapa sambitan mereka dengan sumpit-sumpit itu tidak mengenai sasaran, suami isteri itu melempar mangkok kosong ke lantai sambil meloncat dan begitu kedua tangan mereka bergerak, kedua tangan mereka sudah mencabut senjata dan kini tangan kiri memegang pedang sedangkan tangan kanan memegang golok.
Mereka membuat gerakan memutar dan sudah berdiri saling membelakangi siap dengan senjata di tangan.
Cerdik mereka, pikir Bu Sin yang menonton di dekat pintu.
Suami isteri itu berdiri berhadapan punggung, dengan kedudukan demikian mereka dapat mencegah serangan gelap dari belakang.
Pertandingan dimulai tanpa kata-kata.
Empat orang itu segera menyerbu, yang bersenjata pedang dan si pemegang siang-kek mengeroyok si suami, sedangkan wanita itu dikeroyok oleh si pemegang cambuk dan yang bertangan kosong.
Para pelayan rumah makan itu lari berserabutan keluar sambil berteriak-teriak ketakutan.
Bu Sin dan adik-adiknya menjadi kagum setelah pertempuran itu berlangsung seru.
Kepandaian empat orang itu cukup tinggi, apalagi yang bertangan kosong, akan tetapi gerakan mereka biasa.
Sebaliknya, suami isteri itulah yang mendatangkan kagum.
Si suami bergerak dengan tenang, namun kedudukannya kokoh kuat seperti batu karang.
Sebaliknya, isterinya lincah bukan main, berloncatan ke sana ke mari seakan-akan seekor burung walet yang gesit, mendesak kedua orang lawannya.
Pertempuran itu makin lama makin hebat dan tahulah Bu Sin bertiga bahwa kepandaian mereka itu rata-rata lebih tinggi daripada tingkat kepandaian sendiri.
Diam-diam ia merasa khawatir sekali dengan warisan ayahnya yang ia miliki, juga kedua orang adiknya, bagaimana mereka bertiga akan dapat merantau di dunia kang-ouw dan lebih-lebih lagi, bagaimana mereka akan mampu mencari dan membalas sakit hati orang tua mereka?
Makin dekat dengan kota raja, agaknya makin banyak terdapat orang-orang yang kepandaian silatnya amat tinggi.
Tiba-tiba nyonya muda itu mengeluarkan jeritan nyaring, tubuhnya melayang ke atas dan goloknya menyambar lawannya yang paling tangguh, yaitu laki-laki yang bertangan kosong.
Pada saat itu cambuk dari lawannya ke dua telah melayang dan melecut, dengan gerakan cepat sekali meluncurlah jangkar kecil runcing itu ke arah lehernya"
"Roboh dia.."
Lin Lin berseru perlahan.
Sejak tadi perhatian Lin Lin terpusat pada wanita ini.
Ia amat kagum karena maklum bahwa dalam ilmu silat, wanita itu jauh melampauinya, baik dalam permainan senjata maupun ilmu meringankan tubuh.
Akan tetapi karena ia tidak tahu apa persoalannya maka terjadi pertempuran itu, hatinya tidak berpihak mana-mana.
Betapapun juga, melihat ujung cambuk yang seperti jangkar kecil itu menyambar leher, ia berseru dengan hati tegang.
Namun wanita yang masih meloncat di udara itu tiba-tiba menggerakkan pinggulnya dan..
seperti seekor ular hidup, sabuknya yang panjang itu melayang ke belakang dan ujungnya tepat sekali melibat ujung cambuk.
Terjadi saling libat dari tarik-menarik sehingga jalannya pertempuran di pihak wanita itu agak kaku.
Mendadak laki-laki berjenggot pendek yang duduk di sudut itu tertawa dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke dalam gelanggang pertempuran.
Bu Sin dan dua orang adiknya kaget sekali, tidak mengira bahwa laki-laki penonton yang aneh itu dapat bergerak secepat itu.
Tahu-tahu laki-laki ini sudah mengulur tangannya membetot ujung sabuk dan cambuk yang saling libat sambil berkata.
"Tidak ramai kalau begini"
Hebat orang ini.
Sekali renggut saja, libatan dua macam senjata itu terlepas dan kelihatan tangan kirinya tadi bergerak cepat ke arah tubuh laki-laki yang dikeroyok dari belakang.
Kemudian setelah cambuk dan sabuk terlepas, sambil tertawa terkekeh-kekeh laki-laki berjenggot ini sudah meloncat keluar dari tempat itu.
Suami isteri yang menghadapi pengeroyokan berat itu agaknya tidak begitu memperhatikan ikut campurnya laki-laki berjenggot, akan tetapi Bu Sin yang sejak tadi memandang tajam, dapat melihat betapa tangan laki-laki berjenggot itu memegang sesuatu ketika tadi bergerak di belakang laki-laki yang dikeroyok.
"Mari, ikuti dia.."
Katanya perlahan memberi isyarat kepada Sian Eng dan Lin Lin.
Ketiganya cepat meloncat keluar pula dan menyusup di antara banyak orang yang berkumpul dan menonton di luar rumah makan.
"Sin-ko, buat apa kita campuri urusan mereka?"
Lin Lin mencela, akan tetapi melihat Bu Sin dan Sian Eng sudah melompat keluar, terpaksa ia pun mengikuti mereka.
Mereka membayangi si jenggot panjang itu dari jauh dan karena yang dibayangi hanya berjalan seenaknya, maka mudahlah bagi mereka untuk mengikuti terus.
Akan tetapi setelah keluar dari desa itu, si jenggot panjang lalu lari dengan gerakan cepat.
Bu Sin yang ingin sekali tahu siapa orang itu dan apa yang dicurinya tadi dari sepasang suami isteri dari Hou-han, mengajak adik-adiknya mengikuti terus.
Menjelang sore mereka memasuki kota An-sui dan laki-laki itu setelah masuk kota kembali berjalan biasa.
Kota An-sui cukup besar dan karena kota ini sudah termasuk wilayah Kerajaan Sung, apalagi letaknya tidak jauh dari kota raja, maka keadaannya ramai dan di situ banyak terdapat rumah-rumah kuno dan besar milik orang-orang bangsawan.
Orang berjenggot panjang itu akhirnya memasuki sebuah rumah besar yang di bagian depannya ditulis dengan huruf besar.
GEDUNG PANGERAN SUMA.Tentu saja kakak beradik itu tidak berani masuk terus.
"Kita bermalam di kota ini,"
Kata Bu Sin dan pergilah mereka mencari rumah penginapan.
"Malam nanti kita menyelidik."
Setelah berada di kamar penginapan, Lin Lin kembali mencela.
"Sin-ko, kepergian kita bukankah untuk mencari Kakak Bu Song dan mencari musuh besar kita? Apa perlunya kita mencampuri urusan si jenggot tadi?"
"Kau lihat sendiri, tadi dia mencuri sesuatu dari suami isteri dari Hou-han itu,"
Jawab kakaknya.
"Peduli apa kalau dia mau mencuri apa pun juga? Apa sangkut pautnya dengan kita, Koko? Biarpun aku kagum kepada suami isteri yang gagah itu, akan tetapi kita tidak mengenalnya dan tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tadi bertempur, tidak mengenal pula siapa lawan-lawannya."
"Kau benar, Lin-moi. Akan tetapi ada satu hal yang membuat aku tertarik dan terpaksa berpihak kepada mereka. Mereka itu adalah orang-orang dari wilayah Hou-han, seperti juga kita. Siapa tahu kalau-kalau benda yang dicuri si jenggot tadi amat penting bagi Kerajaan Hou-han?"
"Sin-ko, kau berpihak kepada Kerajaan Hou-han? Tak ingat bahwa Ayah telah melarikan diri dari kerajaan itu karena kelaliman rajanya?"
"Waktu itu belum menjadi kerajaan, adikku. Ayah seorang setia dan tidak suka akan pemberontakan. Akan tetapi sekarang telah menjadi wilayah Hou-han, aku tidak membela apa-apa, akan tetapi sedikitnya tentu berpihak kepada wilayah sendiri, bukan? "Adik Lin, kalau takut, malam ini tidak usah ikut, tinggal saja di kamar, biar aku dan Sin-ko sendiri yang pergi menyelidik,"
Kata Sian Eng yang tidak senang melihat kerewelan Lin Lin. Lin Lin tidak marah, malah tertawa.
"Cici, kalau ada apa-apa terjadi kapadamu, siapa yang akan menolong kalau aku tidak ikut? Tentu saja aku ikut."
"Kalau begitu tak perlu banyak rewel."
"Kita mengaso dulu sore ini, siapa tahu malam nanti kita harus menggunakan banyak tenaga,"
Kata Bu Sin.
"Aku akan pesan makanan di luar rumah penginapan."
Tak lama Bu Sin keluar, ketika masuk lagi wajahnya berubah.
"Mereka juga sudah berada di kota ini."
"Siapa?"
Tanya Lin Lin.
"Siapa lagi, suami isteri itu."
Mendengar ini, Lin Lin tertarik dan mereka menjadi tegang.
Apakah sepasang suami isteri itu sudah tahu ke mana perginya orang berjenggot tadi?
Apakah mereka sudah tahu bahwa orang itu mengambil sesuatu dari mereka?
"Hebat, cepat benar mereka dapat mengejar ke sini.
Agaknya mereka menang dalam pertempuran tadi,"
Kata Lin Lin.
"Apakah mereka sudah tahu tempat si jenggot itu?"
"Kurasa mereka tentu tahu. Mereka itu bukan orang biasa, melainkan orang-orang kang-ouw yang ulung. Akan ramai malam nanti, kita menjadi penonton saja sambil menambah pengalaman,"
Kata Bu Sin, dan mereka bertiga pergi ke dalam kamar mengaso.
Penghuni rumah gedung itu adalah keluarga Pangeran Suma Kong, sedangakan Pangeran Suma Kong ini adalah pangeran Kerajaan Sung yang masih merupakan keluarga dekat dengan kaisar.
Akan tetapi karena ia pernah melakukan korup besar-besaran dan ketahuan kaisar, ia lalu diberhentikan daripada jabatan, akan tetapi mengingat bahwa ia masih keluarga, kaisar tidak menjatuhkan hukuman, hanya membebaskan daripada tugas.
Pangeran Suma Kong lalu mengundurkan diri dari kota raja, tinggal di kota An-sui, hidup sebagai bangsawan "pensiunan"
Yang kaya, memiliki gedung besar dan sawahnya di luar kota An-sui amat luas.
Tentu saja diam-diam Pangeran Suma Kong menaruh dendam kepada Kerajaan Sung, akan tetapi karena ia sudah tua dan merasa tidak berdaya, ia menghibur diri dengan pelbagai kesenangan, tidak mau mempedulikan lagi tentang urusan kerajaan.
Namun tidak demikian dengan puteranya yang bernama Suma Boan.
Puteranya ini bukanlah seorang lemah.
Diam-diam dia mempelajari ilmu silat dari orang sakti yaitu bukan lain adalah Si Raja Pengemis It-gan Kai-ong.
Malah diam-diam Suma Boan menghimpun kekuatan, bersekutu dengan Kerajaan Wu-yue di selatan.
Karena It-gan Kai-ong sendiri adalah seorang tokoh selatan yang membantu Kerajaan Wu-yue, maka dengan mudah Suma Boan mendapatkan pengaruh di kerajaan itu dan diam-diam mengadakan persekutuan untuk bersama-sama cari kesempatan baik dan kalau tiba waktunya menggulingkan pemerintahan Kerajaan Sung.
Suma Boan sudah berusia tiga puluhan tahun lebih, belum menikah, namun terhadap wanita ia terkenal jahat dan mata keranjang.
Selirnya banyak, di dalam gedung itu saja ada tujuh orang, belum terhitung selir yang di luar gedung.
Banyaknya selir itu masih tidak mengurangi kenakalannya untuk mengganggu setiap orang wanita cantik yang menarik hatinya, tidak peduli wanita itu masih gadis, janda maupun masih menjadi isteri orang lain.
Dia beruang, ilmu silatnya tinggi, maka tiada orang berani menentangnya.
Di An-sui ia terkenal sebagai jagoan, bahkan namanya terkenal sampai di kota raja.
Di dunia kang-ouw, ia bukan seorang yang tidak dikenal pula, dengan julukannya yang amat tekebur, Lui-kong-sian (Dewa Geledek).
Suma Boan hanya mempunyai seorang saudara kandung, yaitu adik perempuannya yang bernama Suma Ceng, berusia dua puluh tujuh tahun.
Suma Ceng sudah lama menikah dengan seorang pangeran dan kini tinggal di kota raja.
Para pelayan di dalam gedung itu maklum betapa jauh bedanya watak Suma Ceng yang sudah pindah ikut suaminya di kota raja itu dengan Suma Boan.
Suma Ceng seorang wanita yang halus tutur sapanya, lemah lembut dan baik budi pekertinya, ramah dan suka menolong terhadap para pelayan.
Sebaliknya, semua pelayan kuncup hatinya dan tunduk ketakutan bila berhadapan dengan Suma Boan.
Malam hari itu, di ruangan sebelah dalam dari gedung keluarga Suma, terdengar suara ketawa gembira.
Beberapa orang pelayan wanita yang muda dan cantik sibuk melayani tiga orang yang sedang makan minum menghadapi meja besar.
Mereka ini bukan lain adalah Suma Boan sendiri, It-gan Kai-ong yang menjadi gurunya, dan seorang laki-laki berjenggot panjang yang pagi tadi dibayangi oleh Bu Sin bertiga.
"Ciok-twako, kali ini benar-benar kau telah berjasa besar. Biarlah kuberi selamat dengan secawan arak"
Terdengar Suma Boan berkata sambil tertawa dan mengangkat cawan araknya.
Si jenggot panjang yang bernama Ciok Kam itu tertawa merendah, mengangkat cawan araknya sambil berkata.
"Kongcu terlalu memuji. Hanya secara kebetulan saja saya mendapatkan surat itu, bukan sekali-kali karena jasa saya, melainkan mengandalkan rejeki semata-mata dan kemurahan hati Ong-ya yang telah menurunkan beberapa ilmu pukulan kepada saya. Karena itu, penghormatan saya kembalikan kepada Kongcu dan terutama kepada Ong-ya"
Si jenggot panjang menggerakkan cawan ke arah It-gan Kai-ong sambil membungkuk.
"Ha-ha-ho-hoh, Ciok Kam patut menjadi pembantu kita. Surat yang dirampasnya amat penting dan agaknya kau akan dapat mempergunakannya dengan baik muridku. Untuk keuntungan ini mari kita minum sepuasnya"
Mereka menenggak habis isi cawan dan cepat-cepat seorang pelayan wanita yang cantik, yaitu seorang di antara para selir Suma Boan yang amat dipercayanya sehingga diperkenankan menghadiri pertemuan ini, mengangkat guci dan mengisi cawan-cawan kosong itu.
"Jangan khawatir, Suhu. Surat yang menyatakan hubungan persekutuan antara Kerajaan Hou-han dan Nan-cao ini tentu akan teecu bawa ke kota raja. Tentu Kaisar akan girang dan berterima kasih sekali kepada teecu dan saat yang baik itu akan teecu pergunakan untuk mencari kedudukan. Biarkan Hou-han dan Nan-cao ribut dengan Sung, biarkan anjing-anjing berebut tulang, kelak kita tinggal memukul mereka. Bukankah begitu, Suhu?"
"Ha-ha, kau lebih tahu akan hal itu. Aku orang tua mana becus memikirkan tentang negara? Kalau ada lawan yang tak sanggup kau hadapi, nah, serahkan kepadaku. Itulah bagianku. Ha-ha-ha"
"Siapakah orangnya di dunia ini yang dapat melawan Suhu? Agaknya orang itu harus dilahirkan lebih dulu. Bukankah begitu, Ciok-twako?"
"Betul-betul, kepandaian Ong-ya seperti malaikat langit, mengandalkan bantuan Ong-ya, tidak ada cita-cita yang takkan dapat tercapai,"
Jawab si jenggot panjang bernama Ciok Kam.
Sementara itu, tiga bayangan berkelebat cepat sekali di atas genteng rumah besar itu.
Mereka ini bukan lain adalah Bu Sin, Sian Eng dan Lin Lin.
Sambil mengerahkan gin-kang, mereka dengan hati-hati sekali berloncatan di atas genteng.
Di ruangan tengah mereka mendengar suara orang bercakap-cakap sambil tertawa.
"Lin-moi, kau menjaga di sini, aku dan Cicimu mengintai,"
Kata Bu Sin.
Kakak beradik itu lalu menggunakan gerak tipu In-liong-hoan-sin (Naga Awan Membalikkan Tubuh), tanpa mengeluarkan suara keduanya sudah berjungkir balik dengan kedua kaki tergantung pada ujung tembok genteng, tubuh bergantung kepala di bawah seperti dua ekor kelelawar.
Lin Lin berjongkok di atas genteng, memandang kagum kepada dua orang kakaknya itu.
Adapun Bu Sin dan Sian Eng dalam keadaan bergantung membalik itu melihat bayangan orang dari jendela, bayangan tiga orang laki-laki yang duduk sambil minum arak dan tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, tikus-tikus kecil macam itu perlu apa diributkan? Kalau tidak ingat akan sepotong uang perak, sudah lama mereka menjadi bangkai."
Suara ini membuat Bu Sin dan Sian Eng kaget setengah mati.
Kiranya itu adalah suara It-gan Kai-ong.
Dan mereka malah datang ke tempat itu, benar-benar seperti ular mendekati penggebuk.
"Suhu dan Ciok-twako duduklah dan lanjutkan minum arak. Hidungku mencium bau harum wanita, tak boleh dilewatkan begitu saja. Suhu, bolehkah?"
"Ho-ho-hah, kalau kau melihat dua orang gadis itu tentu kau akan membanjir air liurmu. Aku sudah tua, tidak butuh hal itu lagi. Pergilah"
Tiba-tiba sesosok bayangan hitam yang jangkung melompat keluar dari ruangan itu, melesat ke arah pintu.
Akan tetapi sia-sia Bu Sin dan Sian Eng sudah melompat sambil memutar tubuh ke atas genteng lagi.
Bukan main heran dan khawatimya ketika mereka tidak melihat adanya Lin Lin yang tadi berjongkok di atas genteng.
Ke mana adik mereka itu?
Namun mereka tidak sempat membingungkan ke mana perginya Lin Lin karena pada saat itu, bayangan laki-laki jangkung yang keluar dari ruangan tadi sudah melesat naik ke atas genteng dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang laki-laki muda yang berpakaian pesolek, bertubuh jangkung dan berhidung panjang.
Muka yang tampan, namun membayangkan kekejaman.
Laki-laki ini tersenyum mengejek melihat Bu Sin dan Sian Eng mencabut pedang.
Akan tetapi sepasang matanya bersinar-sinar ketika ia memandang wajah Sian Eng dan senyumannya melebar.
"Melihat wajah temanmu, nyawamu kuampuni. Lekas pergi dari sini dan tinggalkan temanmu ini untuk menemaniku semalam ini,"
Kata laki-laki jangkung yang bukan lain adalah Suma Boan itu kepada Bu Sin.
Dapat dibayangkan betapa marahnya Bu Sin dan Sia Eng mendengar kata-kata yang amat menghina ini.
Akan tetapi karena berada di atas rumah orang dan mereka merasa telah melanggar aturan, maka ia mempertahankan kesabarannya dan berkata.
"Harap kau suka menahan mulutmu yang lancang. Lebih baik lepaskan adik perempuanku dan kami akan pergi dari tempat ini. Kami bukan maling, hanya tadi kami mengikuti seorang laki-laki berjenggot panjang yang telah merampas barang orang. Nah, kalau kau tuan rumah maafkan kami dan kembalikan adikku."
Mendengar disebutnya laki-laki berjenggot merampas barang, seketika lenyaplah sikap main-main Suma Boan.
Ia tidak peduli lagi akan ucapan tentang adik kedua orang ini.
"Bagus, kalian mata-mata"
Sekaligus ia menerjang maju dengan serangan yang dahsyat sekali.
Bu Sin dan Sian Eng cepat mengelak sambil melompat mundur dan memutar pedang, akan tetapi pada saat itu dari jendela yang terbuka menyambar angin pukulan yang hebat, yang sekaligus mendorong mereka roboh di atas genteng.
Terdengar suara It-gan Kai-ong tertawa bergelak.
Kiranya kakek inilah yang mendorongkan tangannya mengirim pukulan jarak jauh dari jendela ke atas genteng.
Melihat betapa dua orang muda gemblengan seperti Bu Sin dan Sian Eng dapat roboh dengan sekali terkena dorongan angin pukulan, dapat dibayangkan betapa saktinya raja pengemis itu.
Bu Sin dan Sian Eng kaget bukan main.
Tubuh mereka tak dapat dicegah lagi terlempar ke bawah genteng dan biarpun mereka dapat mempergunakan gin-kang untuk mengatur keseimbangan badan dan mencegah terbanting, namun sedikitnya mereka tentu akan luka-luka kalau saja tidak ada dua orang yang menyambar tubuh mereka.
Ketika mereka memandang, kiranya yang menolong mereka itu adalah suami isteri yang dikeroyok di rumah makan pagi tadi.
"Adikku masih di atas.."
Sian Eng berkata.
"Sssttt.."
Wanita yang tadi menyambar tubuhnya menarik tangan Bu Sin dan Sian Eng berlindung dalam gelap.
Mereka memandang ke atas dan apa yang tampak di atas membuat Bu Sin dan Sian Eng seketika pucat, hati mereka berdebar penuh kengerian.
Apa yang tampak oleh mereka?
Bukan hanya Suma Boan yang kini berdiri di atas genteng, melainkan ada bayangan ke dua, bayangan mahluk yang mengerikan sekali, bukan manusia bukan binatang melainkan tengkorak memakai pakaian hitam.
Muka tengkorak putih dengan sepasang lubang mata hitam besar dan gigi berjajar kacau itu benar-benar amat menyeramkan tertimpa sinar lampu yang menyinar dari pinggir gedung, dari atas diterangi bintang-bintang di langit.
Agaknya suma Boan juga kaget melihat mahluk ini, terdengar ia berseru keras.
"Suhu.. Hek-giam-lo di sini"
Akan tetapi tiba-tiba ia terjengkang di atas genteng dan bayangan muka tengkorak itu berkelebat lenyap dari situ.
Sebuah bayangan lain yang gerakannya seperti setan menyambar dari bawah, disusul bentakan It-gan Kai-ong.
"Hek-giam-lo mayat busuk, jangan lari kau"
Suma Boan tidak terluka hebat. Dia merangkak bangun dan berdiri lagi di atas genteng, meraba bajunya dan dengan suara marah ia berseru.
"Celaka.."
Hek-giam-lo keparat, surat itu diambilnya.."
"Bagaimana, Kongcu? Apa yang terjadi..?"
Bayangan si jenggot panjang yang naik ke atas genteng.
"Celaka, kita tertipu"
Kata Suma Boan.
"Tadinya dua orang bocah itu menuduh kita menangkap adiknya, ketika mereka dijatuhkan Suhu, eh, tahu-tahu muncul Hek-giam-lo. Ia tidak berkata apa-apa aku didorong roboh dan ketika Suhu muncul ia melarikan diri, kini dikejar Suhu. Akan tetapi surat itu tidak ada lagi di dalam saku bajuku. Lihat, bajuku robek, siapa lagi yang mampu merampasnya secara begini kalau bukan Hek-giam-lo?"
"Wah, sial betul. Tapi, tak usah khawatir, Kongcu. Kalau Ong-ya sudah mengejarnya, masa tidak akan dapat merampasnya kembali?"
"Belum tentu.. belum tentu.."
Suma Boan menggeleng kepalanya.
"dia lihai sekali. Heran aku, siapakah dua orang bocah tadi? Apakah kaki tangan orang Khitan?"
Sambil bersunggut-sunggut dan menyumpah-nyumpah Suma Boan melompat turun diikuti oleh si jenggot panjang, Ciok Kam, masuk ke dalam gedung.
Sebentar saja para pelayan menyambutnya, keadaan menjadi ribut karena orang-orang mendengar tentang penyerbuan musuh di atas genteng.
Akan tetapi, Suma Boan membentak.
"Tidak ada apa-apa, mundur semua"
Pelayan-pelayan itu, kecuali selirnya yang melayani minum, mundur ketakutan, kembali ke tempat masing-masing.
Suami isteri bersama Bu Sin dan Sian Eng yang bersembunyi melihat semua itu.
Bu Sin dan adiknya amat bingung memikirkan Lin Lin, akan tetapi laki-laki itu berkata.
"Adikmu tidak berada di dalam gedung. Tadi kami melihat dia dibawa lari Seng-jin. Lebih baik kalian lekas pergi dari sini, amat berbahaya di sini. Kami berterima kasih bahwa kalian sudah menaruh perhatian akan urusan kami. Biarpun kalian anak-anak keluarga Kam, tidak percuma kalian menjadi orang-orang dari wilayah Hou-han. Nah, kita berpisah di sini."
"Nanti dulu.."
Bu Sin mencegah.
"Siapakah Seng-jin yang membawa adik kami? Dan siapa kalian ini? Urusan apakah yang menimbulkan semua keributan ini?"
Wanita itu yang menjawab kini, tersenyum duka.
"Dituturkan tidak ada gunanya, juga tidak ada waktu. Kau takkan mengerti, orang muda. Tentang adikmu, dia tadi dibawa Kim-lun Seng-jin, seorang sakti yang aneh. Percuma kau mencarinya, tak mungkin mengikuti jejak seorang seperti Kim-lun Seng-jin. Tentang kami.. hemmm, cukup kau ketahui bahwa kami adalah orang-orang Hou-han dan bekerja untuk Kerajaan Hou-han. Selamat tinggal, jangan lama-lama berada di sini, pergi cepat. Berbahaya"
Setelah berkata demikian, suami isteri itu berkelebat dan menghilang di dalam gelap.
Bu Sin dan Sian Eng saling pandang, mereka bingung sekali memikirkan tentang diri Lin Lin.
Akan tetapi mereka pun tahu bahwa kepandaian mereka masih jauh daripada cukup untuk dapat mencari Lin Lin yang katanya dibawa lari Kim-lun Seng-jin.
Sedangkan menghadapi si jenggot panjang dan orang muda jangkung di dalam gedung ini saja sudah terlalu berat bagi mereka, apalagi It-gan Kai-ong ada di situ.
Tidak ada jalan lain bagi Bu Sin dan adiknya kecuali segera menyelinap pergi dari tempat itu, lari keluar menyelinap-nyelinap di dalam kegelapan malam.
Dengan hati pepat dan gelisah mereka kembali ke kamar rumah penginapan dan alangkah heran akan tetapi juga lega hati mereka ketika mereka melihat tulisan Lin Lin di atas meja, tulisan dalam sebuah kertas berlipat yang singkat saja.
Sin-ko dan Eng-cici, Terpaksa aku pergi dulu berpisah dengan kalian.
Kakek gundul yang menolongku memaksa aku ikut dia sendiri saja.
Akan tetapi dia baik dan bilang bahwa dia dapat membawaku ke tempat pembunuh orang tua kita.
Sampai jumpa pula, Lin Lin Bu Sin menarik napas panjang, lega hatinya.
Tentu yang dimaksudkan di dalam surat, yang disebut oleh Lin Lin "kakek gundul"
Itu adalah Kim-lun Seng-jin yang tadi diceritakan oleh suami isteri dari Hou-han.
Ia tersenyum geli.
Kakek gundul yang bernama Kim-lun Seng-jin boleh saja disebut aneh, akan tetapi kakek itu akan "ketemu batunya"
Kalau melakukan perjalanan bersama Lin Lin.
Adik angkatnya ini kadang-kadang mempunyai perangai yang luar biasa sekali, sukar dikendalikan, aneh dan tentu kakek gundul itu akan menjadi banyak pusing olehnya.
"Dia diberi petunjuk orang sakti akan jejak musuh besar kita, baik sekali. Mudah-mudahan dia berhasil dan selamat,"
Katanya sambil merobek-robek surat itu.
"Kita sendiri bagaimana, Sin-ko? Ke mana kita harus mencari atau mengikuti Lin Lin?"
"Dia sendiri saja kalau sudah minggat mana kita mampu mengejarnya, apalagi sekarang bersama seorang sakti. Kita tidak perlu mencarinya, kita melanjutkan perjalanan ke kota raja. Agaknya akan lebih baik kalau kita mencari Kakak Bu Song lebih dulu, karena sebagai seorang yang lama tinggal di kota raja, tentu dia mempunyai banyak pengalaman dan akan dapat memberi petunjuk kepada kita."
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bu Sin dan Sian Eng sudah meninggalkan kota An-sui, menuju ke kota raja.
Apakah yang terjadi dengan Lin Lin?
Gadis remaja ini mengalami hal yang amat luar biasa.
Seperti kita ketahui, ketika Bu Sin dan Sian Eng mengintai ke dalam ruangan gedung itu dengan cara menggantungkan kaki dengan kepala di bawah, Lin Lin berjongkok di atas genteng sambil melihat kedua saudaranya itu.
Kaget ia ketika melihat Bu Sin dan Sian Eng berloncatan ke atas kemudian kedua orang itu roboh ke bawah genteng.
Akan tetapi, selagi ia kebingungan dan khawatir, tiba-tiba serangkum angin pukulan yang dilontarkan oleh It-gan Kai-ong menyerangnya, membuat dia terlempar dan tentu ia pun akan terguling roboh ke bawah kalau saja tidak terjadi hal yang amat aneh.
Ia tidak tahu mengapa dan bagaimana, akan tetapi tubuhnya yang sudah terjengkang itu tiba-tiba dapat terapung ke atas, lalu tubuhnya itu seperti dibawa angin terbang melalui genteng, cepat bukan main.
Tentu saja ia takut sekali dan berusaha memulihkan keseimbangan tubuhnya agar kalau jatuh ke bawah tidak terbanting, namun ia sama sekali tak dapat menggerakkan kaki tangannya dan ia "terbang"
Dengan tubuh telentang.
Kalau ia tidak mengalami sendiri, tentu ia tidak akan mau percaya bahkan pada saat itu ia mengira bahwa ia sedang mimpi.
Entah berapa lama ia berada dalam keadaan melayang ini, namun ia merasa bahwa ia diterbangkan tubuhnya dan ketika kedua kakinya menginjak tanah, ia telah berada di luar kota An-sui.
"Heh-heh-heh, untung kau tidak menjadi korban It-gan Kai-ong,"
Terdengar suara terkekeh bicara.
Lin Lin membalikkan tubuh, ke kanan kiri, memutar tubuh melihat ke sekelilingnya.
Akan tetapi tidak tampak seorang pun manusia.
Bulu tengkuknya mulai berdiri dan kedua lututnya gemetar.
Ia seorang gadis yang tabah dan menghadapi siapa pun juga ia takkan mundur, takkan mengenal takut.
Namun kejadian kali ini membuat ia yakin bahwa ia sedang diganggu iblis dan dongeng-dongeng tentang iblis yang pernah ia dengar membuat ia ketakutan.
"Siapa kau?"
"Siapa aku? Aku siapa? Heh-heh, aku sendiri tidak kenal siapa aku ini dan dari mana asalku, apalagi kau bocah ingusan. Heh-heh-heh, Aku dan kau sama saja"
Suara itu tepat di belakangnya, maka secepat kilat Lin Lin memutar tubuh dengan gerakan Hek-yan-tiauw-wi (Burung Walet Sabet Buntut), gerakannya cepat bukan main dan ia sengaja mengerahkan gin-kangnya.
Akan tetapi, kembali ia hanya melihat tempat kosong, tidak ada bayangan, apalagi orangnya.
"Heh-heh-heh, siapa aku? Siapa aku? Hayo cari dan tebak, di mana dan siapa aku, heh-heh-heh"
Suara itu tertawa-tawa geli seperti seorang kanak-kanak bermain kucing-kucingan.
Panas juga dada Lin Lin.
Ia yakin sekarang bahwa yang bicara itu tentu seorang manusia biasa, biarpun seorang manusia yang memiliki kepandaian yang luar biasa.
Masa aku tidak dapat mencarimu?
Demikian pikirnya dengan gemas.
Cepat ia melompat lagi, berputaran dan mengeluarkan kepandaiannya untuk membalik sana berputar sini, lari berputaran seperti kitiran cepatnya.
Namun tak pernah ia dapat melihat bayangan di sekeliling dirinya, padahal suara itu terus-menerus berbunyi, tertawa-tawa di belakang, kanan dan kirinya.
"Heh-heh-heh, Kau seperti seekor anjing hendak menggigit buntut sendiri berputaran. Heh-heh.. lucu.. lucu.. lagi, Nona. Sekali lagi, lucu benar.."
Tentu saja Lin Lin tidak sudi berputar lagi, malah ia cepat berhenti dan membanting kakinya. Hampir ia menangis.
"Kau ini setan apa manusia? Kalau manusia perlihatkan dirimu. Kalau setan minggat dari sini, aku tidak butuh setan"
Bentaknya sambil bertolak pinggang.
"Heh-heh, lebih baik jadi setan, biarpun selalu melakukan kejahatan akan tetapi memang itu kewajibannya, kalau tidak melakukan yang jahat-jahat mana disebut setan? Setidaknya setan mengakui kejahatannya, sebaliknya manusia banyak yang pura-pura suci dan bersih, padahal lebih jahat dan kotor daripada setan sendiri. Heh-heh, Nona, aku di belakangmu, masa kau tidak dapat melihat?"
Lin Lin membalikkan tubuhnya dan.. tidak melihat apa-apa.
"Kau main kucing-kucingan? Aku tidak sudi main-main denganmu."
"Lho, aku di sini, lihat baik-baik."
Lin Lin menurunkan pandang matanya dan benar saja.
Di depannya berdiri seorang kakek yang..
tubuhnya pendek, hanya setinggi dadanya dan karena kakek itu tadi jongkok tentu saja tidak kelihatan.
Sekarang kakek ini berdiri, kedua kakinya yang pendek itu tidak bersepatu, lucu sekali tampaknya.
Badannya agak gemuk, kepalanya bundar seperti bola karet, licin tidak berambut sehelai pun juga.
Tapi alisnya tebal sekali, dan rambut alisnya itu berdiri menjulang ke atas.
Kumis dan jenggotnya panjang melambai sampai ke dada.
Kedua daun telinganya lebar seperti telinga area Ji-lai-hud dihiasi sepasang anting-anting perak.
Melihat orang seperti itu anehnya, Lin Lin tak dapat menahan ketawanya.
"Hi-hi-hik, kau ini golongan apa? Apakah pemain wayang?"
Lin Lin tertawa dan menutupi mulutnya.
"Memang dunia ini panggung wayang dan kita anak wayangnya. Bagaimana lakonnya dan apa peran apa yang harus kita pegang terserah Sang Sutradara. Heh-heh-heh, dan agaknya Sang Sutradara menghendaki supaya aku menjalankan peran menolong kau dari ancaman It-gan Kai-ong si pengemis busuk."
"Kakek pendek, bagaimana kau tadi bisa membawa aku terbang? Dan bagaimana kau tadi bisa menghilang? Aku sudah belajar ilmu gin-kang bertahun-tahun akan tetapi belum ada sekuku hitam dibandingkan dengan gerakanmu. Apakah kau tadi menggunakan ilmu sihir?"
"Heh-heh, bocah nakal seperti kau ini, baru belajar jalan sudah berani mendaki gunung menyeberangi lautan. Aku tanggung, dengan kepandaianmu yang baru kelas nol itu, kau akan selalu bertemu bahaya dan akhirnya kau akan roboh. Gerakanmu masih begitu kaku dan lambat, kau namakan itu ilmu gin-kang? Ho-heh-hoh, lucu amat"
Panas perut Lin Lin, bibirnya cemberut, matanya bersinar marah.
Akan tetapi kakek itu malah tertawa-tawa, memegangi perut dan berjingkrakan seperti tak dapat menahan lagi kegelian hatinya.
"Dan pedang itu.. heh-heh-heh, bawa-bawa pedang macam itu untuk apa? Apakah untuk mengiris bawang ataukah untuk menyembelih ayam? Heh-heh, untuk itupun kurang tajam, baiknya untuk menakut-nakuti tikus. Heh-heh, kau takut tikus, kan?"
Lin Lin membanting kakinya.
"Kakek pendek, cebol, gundul pacul. Sudah tua ompong masih sombong.."
Kakek itu tiba-tiba meringis, memperlihatkan isi mulutnya. Hebat giginya berderet rapi seperti gigi Lin Lin sendiri.
"Kau lihat, siapa ompong? Gigiku tidak kalah dengan gigimu? Hayo kau meringis, kita lihat gigi siapa lebih putih, lebih mengkilap"
Geli juga hati Lin Lin.
Memang gadis inipun wataknya aneh, mudah marah, mudah gembira.
Mudah menangis mudah tertawa.
Melihat betapa kakek itu meringis memamerkan giginya, mau tidak mau ia tertawa juga.
"Ihhh, jijik ah. Gigimu kuning-kuning begitu"
"Masa? Ah, mana bisa? Sedikitnya dua kali sehari kugosok dengan bata. Kau bohong.."
Tampak oleh Lin Lin kakek itu mengulur tangan kepadanya.
Ia cepat melangkah mundur, akan tetapi tahu-tahu gelung rambutnya sebelah kiri yang terbungkus sutera itu terlepas karena tusuk kondenya dari perak telah berada di tangan kakek itu.
Untuk apa kakek itu merampas tusuk kondenya?
Untuk bercermin.
Bunga perak pada tusuk konde itu sebesar kuku jari dan kakek itu berusaha untuk bercermin memeriksa giginya dari pantulan sinar bintang yang menimpa bunga perak.
Tentu saja hasilnya sia-sia.
Diam-diam Lin Lin terkejut bukan main.
Bagaimana kakek itu dapat merampas tusuk kondenya sedemikian cepatnya sehingga sama sekali tidak terasa olehnya?
Terang bahwa kakek ini memiliki kesaktian yang hebat.
Kalau saja mau menurunkan kepandaian itu kepadanya.
"Kek, mengapa kau menolong aku dari tangan It-gan Kai-ong? Mau apa kau membawa aku ke sini?"
Akhirnya dia bertanya. Kakek itu mengomel.
"Gigiku putih.. tidak kuning.."
"Mengapa kau menolong aku?"
"Siapa bilang gigiku kuning, memalukan"
Kakek itu bersungut-sungut. Lin Lin hendak marah, akan tetapi melihat sikap kakek itu seperti seorang anak kecil merajuk, ia tertawa lagi.
"Memang gigimu putih, siapa bilang kuning?"
"Kau tadi yang bilang"
"Dan kau percaya? Ih, bodohmu sendiri mengapa percaya. Gigimu putih seperti.. seperti kapur."
Kakek itu nampak girang.
Kapur memang putih sekali, maka ia girang mendengar ucapan ini.
Tangannya bergerak dan sinar putih berkelebat menyambar ke arah kepala Lin Lin.
Gadis ini tak sempat mengelak, ketika ia meraba gelungnya, tusuk konde itu sudah berada di tempatnya lagi dan ia sama sekali tidak merasakannya"
Makin kagum hatinya.
"Kek, kenapa kau menolongku dan mau apa kau membawa aku ke sini?"
"Karena kau cantik, seperti anakku dahulu."
Rasa haru sejenak menyelinap di hati Lin Lin.
"Di mana anakmu, Kek?"
"Di mana? Di.. mana, ya? Sang Sutradara sudah lama membebaskannya daripada tugas di panggung wayang. Dia tidak MAIN lagi."
Makin terharu hati Lin Lin.
"Anakmu sudah mati?"
Kakek itu tidak menjawab, melainkan tertawa lagi.
"Kau gadis bangsaku heh-heh, tak salah lagi, karena itu aku suka kepadamu, aku menolongmu dan kalau kau mau, biar kuberi bekal padamu agar kelak tidak ada orang berani menghinamu."
"Aku bangsamu? Bangsa apa Kek?"
"Lihat hidungmu, coba kan sama dengan hidungku? Juga gigimu, sama dengan gigiku. Kau bangsa Khitan, tidak salah lagi."
Otomatis, terpengaruh oleh ucapan itu, Lin Lin memandang ujung hidungnya.
Tentu saja, biarpun kedua matanya sampai juling ke tengah semua, tetap saja ia tidak berhasil memandang hidungnya sendiri.
Apalagi memandang giginya.
Betapapun juga, ucapan ini menusuk perasaannya, membuat jantungnya berdebar tegang.
Dia terang bukan anak keluarga Kam karena ia hanya anak pungut.
Ayahnya atau siapa pun juga tidak pernah memberi tahu kepadanya, siapa gerangan ayah ibunya yang sejati.
Karena ini pula ia amat ingin bertemu dengan Bu Song, anak sulung ayah angkatnya itu karena ia menduga bahwa Bu Song tentu tahu akan hal dirinya.
Sekarang mendengar kakek ini menyatakan bahwa dia bangsa Khitan, biarpun ia tidak bisa percaya dan tidak percaya, hatinya berdebar juga.
Akan tetapi, yang paling menggirangkan hatinya adalah pernyataan kakek itu hendak memberinya bekal kepandaian.
"Kau betul-betul hendak mengajarku ilmu kepandaian, Kek? Wah, terima kasih sebelumnya. Aku amat membutuhkan itu, untuk mengalahkan musuh besarku."
"Heh-heh, tiada musuh besar di dunia ini yang lebih besar daripada nafsu sendiri. Siapa musuh besarmu?"
"Sayang, aku sendiri tidak tahu Kek,"
Lin Lin menggeleng kepalanya.
"Ayah angkat dan sekeluarganya dibunuh orang yang tidak dikenal. Ibu angkatku hanya meninggalkan ucapan terakhir bahwa musuh besar itu bersuling."
Tiba-tiba kakek itu melompat tinggi sekali, lenyap dari depan Lin Lin.
Ketika Lin Lin mendongak dan hendak memanggil, tubuh pendek itu melayang turun dari atas dan sudah berdiri di depannya lagi.
"Suling Emas? Suling Emas membunuh orang tuamu? Siapa orang tuamu?"
"Orang tua angkat, Kek. Ayah angkatku namanya Kam Si Ek.."
"Ha-ha-ha-ha, Kam Si Ek Jenderal Hou-han?"
"Kau kenal Ayah angkatku, Kek?"
Kakek itu menggeleng kepalanya. Alisnya yang amat tebal itu berkerut dan bergerak-gerak. Bibirnya juga bergerak-gerak, lalu terdengar kata-katanya.
"Aneh tapi nyata. Mungkin sekali Suling Emas.."
Jantung Lin Lin berdegupan.
"Apa? Musuh besarku betul Suling Emas itu, Kek? Kau tahu di mana dia? Kalau betul dia, akan kuajak bertanding mengadu nyawa."
Seketika kakek itu memandang kepadanya seperti terkejut, kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh sambil memegangi perutnya, terbungkuk-bungkuk saking kerasnya ia tertawa.
Lin Lin marah.
"Apa yang lucu? Jangan mentertawai aku, Kek. Tak enak melihat kau tertawa, gigimu kuning.."
Seketika kakek itu berhenti tertawa.
"Apa kau bilang? Gigiku putih seperti.. seperti.."
".. seperti kapur"
Kata Lin Lin tersenyum.
"Nah, jangan tertawa saja, apa sih yang lucu?"
"Kau hendak bertanding dengan Suling Emas? Aha, biar kau peras dan kuras habis kepandaianmu, belum tentu kau bisa menang."
"Tidak peduli. Aku akan menemuinya. Bawa aku kepadanya, Kek, dan kau tentu suka membantuku kalau aku kalah. Kan hidung dan gigi kita sama, bukan?"
"Betul, betul. Kita sebangsa, sesuku, aku akan bantu aku. Awas dia kalau berani ganggu kau"
Senang hati Lin Lin. Ia berhutang budi kepada keluarga Kam, den jalan satu-satunya untuk membalas budi, hanyalah membalaskan dendam keluarga itu.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan kedua kakakku begitu saja, Kek. Mereka tentu akan gelisah dan mencariku ke mana-mana."
"Kalau Jenderal Kam ayah angkatmu, mereka tentu saudara-saudara angkat pula, bukan? Kenapa repot-repot?"
"Ih, jangan gitu, Kek. Biarpun saudara angkat mereka itu baik sekali kepadaku, seperti kepada adik kandung sendiri."
"Baiklah, mari kau bonceng di punggungku, kita meninggalkan pesan di kamar mereka."
Lin Lin maklum bahwa kakek itu adalah seorang yang sakti, aneh, dan sikapnya masih kekanak-kanakan.
Tanpa ragu-ragu dan sungkan-sungkan lagi ia lalu melompat ke punggung kakek itu dan di saat berikutnya ia harus memegang pundak kakek itu kuat-kuat karena tubuhnya segera melayang seperti terbang cepatnya.
Setelah menulis sepucuk surat untuk Bu Sin dan Sian Eng, Lin Lin lalu pergi keluar kota An-sui bersama kakek itu.
Mereka kini berjalan dan bercakap-cakap.
Lin Lin disuruh mengerahkan kepandaiannya, akan tetapi ia melihat betapa kakek pendek itu berjalan seenaknya saja di sebelahnya akan tetapi tak pernah tertinggal.
"Kalau merayap seperti keong begini, kapan bisa sampai di sana?"
Kakek itu bersungut-sungut.
"Kau maksudkan sampai di tempat Suling Emas, Kek?"
"Di mana lagi? Bukankah kita mencari dia? Tapi kau harus belajar ilmu pukulan lebih dulu untuk menghadapinya. Mari"
Kakek itu menyambar tangan Lin Lin dan tiba-tiba Lin Lin merasa betapa larinya menjadi cepat bukan main, dua kali lebih cepat daripada biasanya.
Menjelang pagi mereka berhenti di sebelah hutan yang kecil tapi amat indah.
Bermacam bunga memenuhi hutan.
Musim semi kali ini benar-benar telah merata sampai di hutan-hutan dan membiarkan seribu satu macam bunga berkembang amat indahnya.
"Heh-heh, bagus di sini. Kita main-main di sini"
Kakek itu cepat sekali memilin akar-akar pohon menjadi tambang dan beberapa menit kemudian ia sudah berayun-ayun, duduk di atas sepotong kayu yang diikat dan digantung oleh dua helai tambang pada cabang pohon.
Persis seperti anak kecil main ayun-ayunan.
Melihat kakek itu main ayunan sambil tertawa-tawa gembira, Lin Lin menegur.
"Kek, katanya hendak mengajar ilmu kepadaku?"
"Aku sedang mengajarmu sekarang. Kau lihat baik-baik"
Lin Lin mengerutkan alisnya.
Celaka sekali, kakek ini main-main selalu.
Masa ia akan diajari main ayunan?
Kalau saja ia tidak menyaksikan dan membuktikan sendiri betapa kakek itu dapat lari seperti terbang, memiliki gerakan tangan yang luar biasa cepatnya ketika meminjam tusuk kondenya, tentu ia tidak percaya bahwa kakek ini seorang sakti.
Jangan-jangan kakek ini hanya mempunyai kepandaian lari cepat saja, dan hendak mempermainkannya?
Betulkah dia orang sakti?
Kenapa begini?
Tidak bersepatu, pakai anting-anting seperti perempuan, dan wataknya seperti anak kecil.
"Kek, kau ini sebenarnya siapakah? Namamu saja aku belum tahu."
"Heh-heh, aku pun belum tahu namamu. Apa sih artinya nama? Waktu lahir kita tidak membawa nama, kan?"
Lin Lin tidak mau pedulikan lagi filsafat yang aneh-aneh dari kakek itu.
"Kek, namaku Lin, sheku tentu saja.."
Lin Lin hendak mengatakan "Kam", akan tetapi kakek itu sudah mendahuluinya.
".. tidak ada karena kau bukan she Kam. Aku siapa, ya? Orang-orang menyebutku Kim-lun Seng-jin. Gagah namaku, ya? Heh-heh, Kim-lun adalah roda emas. Nah, ini dia."
Ketika tangannya bergerak dan tahu-tahu ia telah mengeluarkan sepasang gelang emas.
Disebut gelang bukan gelang, karena tengahnya dipasangi ruji-ruji seperti roda.
Garis tengahnya satu kaki.
Agaknya sepasang roda emas ini tadi disembunyikan di balik baju.
Seperti ketika mengeluarkan tadi, sekali bergerak roda itu sudah lenyap lagi.
Begitu cepatnya seperti sulapan saja.
"Namaku Roda Emas, memang hidup ini berputaran seperti roda. Cocok sekali, kan? Heh, A-lin, apakah kau sudah memperhatikan pelajaran ini?"
Lin Lin terkejut, juga geli mendengar ia dipanggil "A-lin".
Ketika mengeluarkan sepasang roda atau gelang tadi, amat cepat.
Akan tetapi apakah benda-benda itu mcrupakan senjata?
Andaikata dijadikan senjata, tadi pun tidak dimainkan.
Kakek itu tiada hentinya berayun, bagaimana bisa bilang memberi pelajaran?
"Pelajaran yang mana, Kek?"
"Hehhh. Hidung dan gigimu bagus, seratus prosen Khitan, tapi otakmu sudah ditulari kebodohan orang kota. Lihat baik-baik"
Lin Lin melihat baik-baik.
Baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa kakek itu bukanlah berayun sembarang berayun.
Tubuhnya sama sekali tidak tampak bergerak, kakinya tidak dipakai mengayun, akan tetapi tambang itu terus berayun seperti ada yang mendorong.
Anehnya, kadang-kadang ayunan itu terhenti di tengah jalan, baik sedang terayun ke belakang maupun sedang terayun ke depan.
Dengan duduk di ayunan mampu menghentikan gerakan ayunan, inilah hebat, seperti main sulap saja.
"Nah, kau sudah lihat sekarang? Untuk dapat berayun begini, kau harus memiliki Ilmu Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Selaksa Kati). Biarpun kosong, namun mengandung tenaga laksaan kati biarpun berat dan kuat, namun kosong. Inti pelajaran ini kelak dapat membuat tubuhmu menjadi ringan atau berat menurut sesukamu, dan lari terbang bukan menjadi lamunan kosong lagi."
Mulailah Lin Lin menerima gemblengan dari kakek aneh itu.
Kim-lun Seng-jin adalah seorang sakti yang jarang muncul di dunia kang-ouw, selalu bersembunyi dan tidak suka mencari perkara.
Orangnya aneh, selalu bergerak sendiri tidak mau terikat oleh perkumpulan atau oleh negara.
Munculnya tiba-tiba, akan tetapi selalu meninggalkan kesan mendalam pada para tokoh kang-ouw dan biarpun tidak ada orang yang dapat menduga sampai berapa dalamnya ilmu kakek ini karena ia tidak pernah mau melibatkan diri dalam pertandingan dan permusuhan, namun mereka itu yakin bahwa kakek ini tak boleh dibuat main-main.
Bahkan Thian-te-liok-koai, Si Enam Jahat atau Enam Setan Dunia sendiri tidak berani main-main terhadap Kim-lun Seng-jin.
Pada masa itu, dunia kang-ouw hanya mengenal Thian-te-liok-koai dan para ketua partai persilatan besar sebagai tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian.
Akhir-akhir ini muncul Suling Emas sebagai tokoh sakti yang termuda.
Namun diri Suling Emas ini diliputi penuh rahasia dan jarang sekali Suling Emas keluar memperlihatkan diri.
Keadaannya penuh rahasia, dan ia boleh dijajarkan dengan orang-orang aneh lain, yaitu Kim-lun Seng-jin, Bu Kek Siansu, dan seorang aneh lain yang hanya dikenal dengan sebutan Gan Lopek.
Tentu saja Bu Kek Siansu berada di tingkat paling tinggi, bukan hanya karena usianya, namun juga kerena belum pernah terdengar ada tokoh yang melebihi kesaktiannya daripada kakek ini.
Lin Lin boleh dianggap beruntung dapat menarik hati Kim-lun Seng-jin karena kakek sakti yang aneh ini selamanya tak pernah mau menerima murid.
(Lanjut ke
Jilid 05) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 Dengan amat tekun gadis ini menerima latihan ilmu meringankan tubuh yang hebat, yaitu Khong-in-ban-kin yang sekaligus merupakan lwee-kang yang luar biasa.
Di samping ini, juga kakek aneh itu menurunkan ilmu silat yang disebut Khong-in-liu-san (Awan Kosong Mengurung Gunung).
Kim-lun Seng-jin agaknya takut bertemu orang, ia membawa Lin Lin merantau ke gunung-gunung dan hutan-hutan, kadang-kadang mereka berlatih di pinggir sungai yang amat sunyi.
Aneh dua orang ini, seorang gadis remaja seorang lagi kakek tua, tiap hari mereka cekcok, tapi Lin Lin selalu membuat kakek itu mengalah karena gadis inilah yang dapat menyenangkan hatinya dengan wataknya yang lincah serta terutama sekali dapat menyenangkan perutnya dengan masak-masakan yang lezat.
Lin Lin pandai sekali mengambil hati kakek itu dengan panggang daging binatang hutan yang lezat.
Dari kakek ini ia mengenal pula banyak tokoh sakti dalam dunia persilatan.
Ternyata Kim-lun Seng-jin amat luas pengetahuannya dalam dunia kang-ouw.
Ia mengenal semua tokoh, malah ia mengenal pula ayah Li Lin.
Beberapa kali Lin Lin bertanya tentang ayahnya, dan baru pada saat Lin Lin memanggang daging kelinci yang amat gurih baunya, kakek itu memenuhi jawaban pertanyaan ini.
"Kam-goanswe? Heh, Ayah angkatmu itu seorang yang keras hati, seorang perajurit sejati yang jujur dan setia. Kejujuran dan kesetiaannya ditambah kekerasan hatinya itulah yang membuat ia dipandang orang, kepandaiannya sih tidak ada artinya. Akan tetapi ia pernah menggemparkan dunia kang-ouw ketika ia dahulu berhasil mencuri hati Liu Lu Sian, seorang gadis sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi (Setan Cantik Beracun)."
"Lalu bagaimana, Kek?"
Tanya Lin Lin, dapat menduga bahwa Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian ini tentulah ibu Bu Song yang oleh Kui Lan Nikouw disebut wanita dari golongan hitam yang telah bercerai dari ayah angkatnya.
"Entah bagaimana selanjutnya aku tidak dengar lagi. Akan tetapi perkawinan mereka menggemparkan. Setan cantik itu adalah anak seorang Kepala Agama Beng-kauw yang amat sakti, seorang berpengaruh besar sekali dan masih ada hubungan keluarga dengan raja-raja di Nan-cao (Yu-nan Barat). Liu Gan, seorang sakti ini, tidak setuju puterinya menikah dengan Ayah angkatmu, akan tetapi kerena Liu Lu Sian amat keras hati dan nekat, orang tua itupun tak dapat berbuat apa-apa. Akan tetapi kedengar hubungan antara ayah dan puterinya ini menjadi putus. Selanjutnya entah."
Lin Lin tahu selanjutnya.
Liu Lu Sian melahirkan seorang putera, yaitu yang bernama Kam Bu Song dan yang sekarang sedang ia cari, dan Liu Lu Sian telah bercerai dari ayah angkatnya.
"Di mana sekarang adanya Liu Lu Sian dan ayahnya yang bernama Liu Gan itu, Kek?"
"Heh, mana aku tahu? Bukankah Liu Lu Sian itu Ibu angkatmu?"
"Bukan. Dia sudah bercerai lama sekali, meninggalkan seorang putera yang sekarang pergi pula, entah ke mana. Kalau ada orang yang amat benci Ayah, agaknya Liu Gan itu, Kek. Di mana dia sekarang?"
"Mana aku tahu? Dia orang yang amat tinggi kedudukannya. Kemudian ia menghilang, tidak ada kabarnya lagi. Pula, aku tidak ada hubungan dengannya, aku pun tidak sudi menyelidiki. Dia orang.. hemmm, orang golongan hitam, aku takut kedua tanganku menjadi hitam juga kalau berhubungan dengannya."
Daging itu sudah matang.
Kim-lun Seng-jin menelan air liurnya dan dengan lahap ia menyambar daging paha kelinci yang diangsurkan Lin Lin terus diganyang panas-panas.
"Wah, kau hebat"
Heran aku, kenapa kalau aku yang memanggang tidak bisa begini sedap dan gurih? Tanganmu memang luar biasa"
Katanya sambil menikmati daging panas.
Lin Lin tersenyum.
Bukan tangannya yang membikin daging itu menjadi sedap dan gurih, melainkan garam dan bumbu, terutama daun harum dan kayu manis yang ia dapatkan di hutan itu, yang ia pergunakan sebagai bumbu.
Agaknya kakek yang pandai makan ini tidak pandai masak, buta akan rahasia bumbu masak.
"Aku sudah masak seenak-enaknya untukmu, tapi apa balasanmu?"
"Ihhh, bukankah aku setiap hari melatihmu dengan ilmu-ilmu itu?"
"Segala Ilmu Khong-in (Awan Kosong), agaknya juga kosong gunanya. Apa artinya kalau dipakai menghadapi musuh besarku, Si Suling Emas?"
Kakek itu mencak-mencak, tapi masih menggerogoti daging.
"Kau pandang rendah sekali, ya? Hendak kulihat, kalau Suling Emas mampu menangkapmu, aku berani mempertaruhkan kedua mataku. Jangan kau main-main, bocah nakal. Dengan Khong-in-ban-kin sudah terlatih sempurna, biar It-gan Kai-ong takkan mampu mengejarmu, tahu?"
"Jadi, aku hanya akan mampu melarikan diri saja? Kau melatihku untuk berlari-lari menyelamatkan diri kalau bertemu orang sakti?"
"Heh, apa kau kira hal itu tidak perlu? Itulah yang paling penting, menyelamatkan diri lebih dulu. Apa artinya pandai memukul orang kalau akhirnya kita pun kena pukul mampus? Ilmu pukulan Khong-in-liu-san itu, jangan kau pandang ringan. Dengan mempelajari ini, sekarang kepandaianmu sudah lipat menjadi sepuluh kali daripada yang sudah-sudah, kau tahu?"
Tentu saja Lin Lin tidak percaya akan hal ini, akan tetapi diam-diam ia girang juga.
"Apa kau kira sekarang aku sudah dapat melawan Suling Emas?"
Kim-lun Seng-jin membelalakkan kedua matanya dengan alis diangkat.
"Enak saja bicara"
Melawan segala macam penjahat masih boleh, tapi menghadapi dia? Kau kira orang macam apa Suling Emas itu?"
"Orang apa sih dia? Bagaimana kepandaiannya?"
"Dia sih orang biasa saja, tapi ilmu kepandaiannya hebat. Sukar dipegang ekornya. Dia orang yang seperti juga aku, tidak mau berdekatan dengan keramaian. Selalu bekerja dengan diam-diam secara rahasia. Aku sendiri pun hanya mengetahuinya sebagai Suling Emas, orang muda yang amat lihai, tapi siapa dia sebetulnya tidak ada orang tahu. Entah dari mana datangnya, hanya dunia kang-ouw mengenalnya selama tujuh delapan tahun ini."
"Kenapa kau mengira bahwa mungkin dia yang membunuh orang tua angkatku, Kek?"
"Orang macam dia itu bisa berbuat apa saja. Pendeknya, tidak ada yang mengherankan andaikata mendengar pada suatu hari bahwa Suling Emas membunuh Kaisar, atau membunuh ketua Kun-lun-pai. Sepak terjangnya tidak dapat diikuti orang. Mungkin orang tuamu dibunuhnya karena ada kesalahan terhadapnya, mungkin juga karena sikap Ayahmu terhadap kerajaan, atau pun karena urusan lain, siapa bisa tahu?"
"Kek apakah dia benar-benar lihai?"
"Dia hebat."
"Kau takut terhadap Suling Emas?"
Kakek itu mencak-mencak lagi, tulang kelinci yang sudah tak berdaging lagi digigit pecah dan disedot sumsumnya.
"Takut apa? Kim-lun Seng-jin tidak pernah mengenal takut."
"Kalau begitu kau berani melawannya? Kau dan dia siapa lebih lihai, Kek? Apa kau bisa menangkan dia?"
"Jangan kau kira bisa mengadu aku dengan Suling Emas. Tentu saja kalau dia mengganggumu, aku akan turun tangan. Akan tetapi aku tidak bisa memastikan apakah aku akan menang. Betapapun juga saat ini ingin aku mencoba kepandaiannya."
"Kalau begitu, mari cepat kita mencarinya di kota raja, Kek. Kau bilang dia berada di sana, bukan?"
"Kira-kira begitulah. Akan tetapi orang macam dia memang sukar diikuti bayangannya. Kita lihat saja nanti, di kota raja kita dapat mencari keterangan tentang dia. Sebaiknya kau melatih lagi ilmu pukulan itu."
Demikianlah, sambil melakukan perjalanan mencari Suling Emas, Lin Lin terus dilatih ilmu silat oleh Kim-lun Seng-jin dan tanpa disadarinya sendiri kepandaian Lin Lin meningkat dengan cepat.
Gadis ini sama sekali tidak sadar bahwa Kim-lun Seng-jin sengaja mengambil jalan memutar, melalui gunung-gunung dan hutan-hutan sehingga waktu yang mereka pergunakan untuk sampai di kota raja menjadi lima kali lebih panjang, perjalanan menjadi amat jauh dan sukar.
Kakek ini sengaja berbuat demikian karena ia ingin melihat Lin Lin dapat melatih diri sampai matang dalam ilmu silat itu sehingga keselamatan Lin Lin dapat terjaga.
Sering kali, di waktu mereka tidur dalam hutan, kakek itu duduk dan memandang wajah Lin Lin sampai berjam-jam.
Kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.
"Serupa benar.. serupa benar.."
Kita tinggalkan dulu Lin Lin yang melakukan perjalanan bersama Kim-lun Seng-jin dan mari kita menengok keadaan Bu Sin dan Sian Eng.
Kakak beradik ini juga cepat meninggalkan An-sui, menuju ke kota raja untuk mencari kakak mereka yang selamanya belum pernah mereka lihat, seorang yang bernama Kam Bu Song.
Dua orang ini melakukan perjalanan dengan cepat, akan tetapi sekarang jauh berkuranglah kegembiraan mereka di perjalanan setelah Lin Lin tidak berada di dekat mereka.
Malah keduanya agak muram wajahnya, karena biarpun Lin Lin hanya seorang adik angkat, namun mereka amat mengasihinya.
Terutama sekali Bu Sin selalu berkerut keningnya.
Dia adalah saudara tertua dan dialah yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan Lin Lin.
Sekarang gadis itu pergi tanpa diketahuinya ke mana.
Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak baik, bukankah dia yang bertanggung jawab dan pula dia yang kelak disalahkan, baik oleh kakak tirinya, Kam Bu Song, maupun oleh bibi gurunya yaitu Kui Lan Nikouw.
Akan tetapi teringat akan bunyi surat yang ditinggalkan Lin Lin di kamar penginapan, dan mengingat akan pesan suami isteri Hou-han itu yang menyatakan bahwa Kim-lun Seng-jin adalah seorang sakti, hatinya menjadi agak lega.
Kota raja Kerajaan Sung tidak jauh lagi dan dengan melakukan perjalanan cepat, dalam waktu sepekan saja Bu Sin dan Sian Eng sudah memasuki kota raja.
Ketika masih tinggal bersama ayahnya di Pegunungan Cin-ling-san di dusun Ting-chun sebelum ayahnya tewas, bekas Jenderal Kam sering kali mendongeng kepada tiga orang anaknya tentang keadaan kota raja yang amat ramai dan indah.
Memang dahulu, Jenderal Kam Si Ek biarpun bertugas di Shan-si, namun ia adalah seorang pejabat pemerintah Kerajaan Sung karena pada masa itu, Kerajaan Hou-han belum bangkit dan wilayah Shan-si masih termasuk wilayah Sung.
Oleh karena pernah mendengar tentang kota raja ini, ketika memasuki kota raja, Bu Sin dan adiknya merasa gembira dan kagum, akan tetapi tidak terheran-heran seperti orang-orang desa yang baru pertama kali selama hidupnya memasuki kota raja yang besar.
Mereka berdua mencari rumah penginapan, kemudian mulailah mereka dengan penyelidikan mereka, bertanya ke sana ke mari, tentang diri seorang pemuda bernama Bu Song, she Liu.
Bu Sin dan adiknya masih teringat akan penuturan bibi guru mereka betapa Bu Song pernah menempuh ujian di kota raja ini dengan menggunakan she Liu, yaitu she ibunya.
Orang pertama yang mereka tanyai adalah seorang guru sastra yang membuka sekolah bagi calon-calon pengikut ujian seorang laki-laki yang sudah berusia enam puluh tahun lebih.
Memang Bu Sin selalu berhati-hati dan ia amat cerdik dan pandai mencari keterangan.
Tidak ada orang yang lebih tepat dimintai keterangan tentang seorang penempuh ujian belasan tahun yang lalu di kota raja selain seorang guru sastra yang sudah tua.
Akan tetapi guru sastra itu menggeleng kepalanya dan mengerutkan kening.
"Sungguh menyesal aku tidak ingat lagi akan semua nama-nama itu. Ada ratusan orang banyaknya she Liu, dan semenjak empat belas tahun sampai sekarang, entah sudah ada berapa ribu orang pelajar yang menempuh ujian."
Bu Sin dan Sian Eng kelihatan kecewa dan menyesal sekali.
Malah Sian Eng hampir menangis kalau ia ingat betapa perjalanan mereka selain sia-sia belaka, juga mereka malah kehilangan Lin Lin.
Mencari seorang kakak belum dapat ditemukan, sekarang malah kehilangan seorang adik dan mendengar jawaban guru tua ini, agaknya memang tak mungkin mencari seorang yang berada di kota raja ini dan menjadi penempuh ujian pada empat belas tahun yang lalu.
Pada saat mereka hampir putus asa itu, kakek guru tua tadi berkata menghiburnya.
"Masih ada satu jalan untuk mencari orang itu. Pada empat belas tahun yang lalu, yang menjabat sebagai kepala ujian adalah Pangeran Suma Kong yang sekarang tinggal di kota An-sui. Kalian coba saja menghadap beliau dan mohon pertolongannya, karena kurasa pangeran itu mempunyai catatan tentang para pengikut ujian dan siapa tahu beliau akan dapat memberi keterangan di mana adanya Liu Bu Song itu."
Wajah kakak beradik itu berubah dan mereka saling lirik ketika mendengar kata-kata ini.
Pangeran Suma di An-sui?
Itulah keluarga yang gedungnya mereka datangi, dan di sana pula Lin Lin lenyap.
Di sana malah terdapat It-gan Kai-ong dan pemuda lihai yang mereka dengar disebut Suma-kongcu.
Karena pikiran ini membuat merasa bingung dan tegang, Bu Sin segera menghaturkan terima kasih dan minta diri.
Setelah keluar dari rumah kakek guru itu, Bu Sin menarik napas panjang.
"Apakah kita harus pergi ke rumah itu? Tempat yang amat berbahaya itu, bagaimana kalau mereka yang berada di sana, terutama It-gan Kai-ong, mengenal kita? Bukankah itu sama halnya dengan memasuki gua naga dan harimau?"
"Sin-ko, dengan mereka kita tidak mempunyai permusuhan. Kalau Pangeran Suma orang satu-satunya yang dapat menolong kita, mengapa kita meragu? Lebih baik kita mencoba, siapa tahu pangeran tua itu mengerti di mana adanya Kakak Bu Song. Kalau bukan bertanya dia, siapa lagi? Kakek guru itu saja tidak dapat menolong kita, apalagi orang lain?"
"Dengan keluarga Pangeran Suma memang kita tidak ada permusuhan, akan tetapi kau harus ingat It-gan Kai-ong yang berada di sana. Kita pernah ribut dengan para pengemis."
"Bukankah dia sudah memaafkan kita setelah diberi uang perak oleh Lin Lin? Kalau memang dia berniat jahat, kiranya dia sudah turun tangan sejak dulu."
Akhirnya Bu Sin mengambil keputusan dan berkata.
"Baiklah, kita ke An-sui, bertanya dan minta tolong kepada Pangeran Suma Kong. Apapun yang akan terjadi, harus kita hadapi karena ini menjadi kewajiban kita memenuhi pesan terakhir dari Ayah untuk mencari Kakak Bu Song. Mari, Eng-moi, kita kembali ke An-sui."
Hanya semalam mereka di kota raja dan pada keesokan harinya, kembali mereka melakukan perjalanan ke An-sui dengan cepat.
Begitu tiba di An-sui beberapa hari kemudian di waktu siang, mereka berdua langsung menuju ke rumah gedung yang pernah mereka kenal di suatu malam itu, memasuki halaman rumah yang luas.
Hati mereka berdebar tegang ketika pelayan yang mereka mintai tolong untuk melaporkan kepada Pangeran Suma bahwa mereka berdua mohon menghadap, memasuki pintu depan yang besar.
Akhirnya pintu terbuka dan alangkah kaget dan tegang hati mereka.
Yang muncul keluar bukanlah seorang pangeran tua, melainkan seorang pemuda tinggi tegap dan tampan berhidung bengkok bermata tajam seperti burung hantu.
Ini adalah pemuda yang mereka lihat malam itu, Suma-kongcu atau Suma Boan"
Lebih-lebih Sian Eng tergetar hatinya ketika melihat sepasang mata pemuda itu memandangmya seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat dan mulut yang membayangkan kelicikan itu tersenyum-senyum.
Di belakang pemuda ini keluar pula belasan orang laki-laki tinggi besar dan sekali lihat saja dapat menduga bahwa mereka adalah perajurit-perajurit pengawal karena pakaian mereka seragam.
Suma-kongcu memberi isyarat dan belasan orang pengawal itu masuk kembali ke dalam, kemudian pemuda itu membalas penghormatan kedua orang tamunya dengan menjura dan berkata.
"Menurut laporan pelayan, Nona dan saudara hendak menghadap Pangeran Suma. Kebetulan sekali Ayah sedang tidur siang, akan tetapi kalau ada urusan, boleh Ji-wi bicarakan dengan saya, karena semua urusan Ayah telah diwakilkan kepada saya. Apakah keperluan Ji-wi datang menghadap Ayah?"
Karena bagi Bu Sin sama saja, baik Pangeran Suma maupun puteranya asal dapat memberi keterangan tentang kakaknya, maka ia segera berkata dengan hormat.
"Maafkan kalau kami mengganggu waktu yang berharga, Suma-kongcu. Kedatangan kami mohon menghadap Pangeran Suma adalah dengan maksud mohon pertolongan, karena untuk urusan kami ini, kiranya hanya Pangeran Suma yang dapat menolong."
Wajah Suma Boan berubah ramah, tapi pandang matanya penuh selidik dan seperti tadi, sekilas ia memandang ke arah pedang yang tergantung di pinggang dan punggung kedua orang muda itu.
"Heran sekali, kami tidak pernah mengenal Ji-wi, pertolongan apakah yang kami lakukan?"
"Begini, Kongcu. Kami mencari seorang pengikut ujian yang berada di kota raja dan mengikuti ujian empat belas tahun yang lalu. Karena pada waktu itu kami mendapat keterangan bahwa Pangeran Suma yang menjabat kepala penguji, maka kiranya sudi memberi keterangan kepada kami apakah beliau mengetahui di mana adanya pelajar itu sekarang."
"Siapakah namanya pelajar itu? Empat belas tahun yang lalu? Hemmm, agaknya dapat dilihat dalam buku catatan tentang pelajar."
"Pada waktu itu, ia memasukkan namanya sebagai Liu Bu Song.."
"Bu Song..?"
Suma-kongcu kelihatan kaget bukan main dan wajahnya seketika berubah merah, matanya terbelalak lebar.
"Apamukah dia itu?"
Pertanyaannya kini tidak halus lagi.
Bu Sin dan Sian Eng kaget melihat perubahan ini, akan tetapi karena tidak dapat menduga apa yang menyebabkan Suma-kongcu berubah demikian, Bu Sin menjawab sejujurnya.
"Dia adalah kakak kami.."
"Bagus.."
Suma-kongcu melompat bangun lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, Bu Song"
Kau telah mengirim dua orang adikmu, bagus"
Adik laki-laki boleh menggantikan hukumanmu, adik perempuan hemmm.. cukup cantik membayar penghinaanmu. Ha-ha-ha"
Suma-kongcu bertepuk tangan dan belasan orang pengawal muncul dengan cepat sekali.
"Tangkap mereka"
Bukan main kagetnya Bu Sin dan Sian Eng melihat sikap Suma-kongcu dan mendengar perintah ini.
Tanpa menanti lebih lama lagi mereka segera meloncat mundur sambil mencabut pedang.
Namun gerakan Suma Boan bukan main cepatnya.
Bagaikan seekor burung elang menyambar ia telah menerjang Bu Sin dan Sian Eng, kedua tangannya bergerak melakukan serangan.
Bu Sin dan Sian Eng belum sempat menarik pedang, terpaksa mereka menangkis karena serangan ini cepat dan berbahaya sekali.
Kedua tangan Suma Boan bertemu dengan tangkisan tangan Bu Sin dan Sian Eng.
Akibatnya, Bu Sin terhuyung mundur dan Sian Eng terguling"
Kaget sekali kakak beradik ini.
Sian Eng cepat hendak meloncat bangun, namun sebuah totokan dengan dua jari tangan Suma Boan telah mengenai jalan darahnya dengan cepat, membuat ia tidak mampu berkutik lagi.
Sambil tertawa-tawa Suma Boan menyambar tubuh Sian Eng dan memondongnya.
"Lepaskan adikku"
Bu Sin membentak, pedangnya yang sekarang sudah ia cabut menyambar ke arah Suma Boan.
Permainan pedang Bu Sin bukanlah lemah.
Pedang itu meluncur cepat dan Suma Boan terpaksa menghindarkan diri sambil melompat ke samping.
Akan tetapi pedang Bu Sin mengejar terus.
Pada saat itu, para pengawal sudah mengepung Bu Sin sehingga pemuda ini tidak mampu lagi menolong adiknya.
Terpaksa dengan kemarahan meluap-luap ia memutar pedangnya melayani belasan orang pengawal itu.
Menghadapi para pengawal ini, biarpun dikeroyok, baru tampak kelihaian ilmu pedang Bu Sin.
Sebentar saja tiga orang pengawal roboh terluka.
Pengawal-pengawal lainnya menjadi gentar juga.
Tak mereka sangka ilmu pedang pemuda ini demikian hebat.
Kini mereka tidak berani mendekat rapat.
Melihat ini, Suma Boan menjadi habis sabar.
Ia merebahkan tubuh Sian Eng ke atas dipan di sudut ruangan, kemudian ia melompat ke medan pertandingan sambil membentak.
"Mundur kalian, orang-orang tiada guna dan lihat bagaimana aku menangkap cacing ini"
Para pengawal menjadi lega hati mereka.
Cepat mereka mundur sambil menolong tiga orang kawan mereka yang terluka.
Adapun Bu Sin ketika melihat Suma Boan, segera membentak nyaring dan menerjang maju.
Ia bermaksud merobohkan kongcu itu untuk dapat menolong adiknya yang ia lihat masih rebah di atas dipan, tak dapat bergerak.
"Orang jahat she Suma"
Apa kesalahan kami maka kau melakukan penangkapan?"
"Ha-ha-ha, Bu Song, kakakmu itu musuh besarku. Menyerahlah"
"Sebelum mati takkan menyerah. Lihat pedang."
Suma Boan tetap tertawa sambil mengelak dari sambaran pedang.
Di lain saat kedua tangannya sudah bergerak menyodok dan menotok sebagai penyerangan balasan.
Putera pangeran ini menghadapi Bu Sin dengan tangan kosong saja.
Memang dia seorang ciang-hoat (silat tangan kosong) yang amat lihat, mewarisi ilmu silat tinggi dari It-gan Kai-ong, Bu Sin bukanlah lawannya, karena dibandingkan dengan putera pangeran ini, ilmu kepandaian Bu Sin masih amat rendah, kalah beberapa tingkat.
Tidaklah mengherankan apabila dalam beberapa belas jurus saja, pergelangan tangan kanan Bu Sin kena disabet dengan tangan miring sehingga pedangnya terpental jauh, kemudian sebelum Bu Sin sempat menyelamatkan diri, ia telah tertotok roboh dan segera ditubruk dan diringkus oleh para pengawal.
Beberapa orang pengawal yang marah karena pemuda ini sudah melukai tiga orang kawan mereka, menghujankan pukulan-pukulan.
Bu Sin tentu akan tewas kalau saja Suma Boan tidak menghardik orang-orangnya.
"Jangan sentuh dia"
Aku sendiri yang akan menghukumnya. Hemm, orang-orang tiada guna, kalau kalian memukuli sampai mati, nyawa kalian gantinya"
Akan tetapi Bu Sin tidak mati, hanya pingsan saja.
Suma Boan menengok ke arah dipan dan alangkah kagetnya ketika melihat dipan itu kosong.
Sian Eng si cantik manis yang tadi telah tertotok dan tak mampu bergerak, rebah di atas dipan, kini tidak tampak lagi, lenyap dari tempat itu tanpa bekas"
"Keparat, di mana dia..?"
Suma Boan dengan sekali lompat sudah tiba di dekat dipan dan sepasang matanya melotot, mukanya pucat ketika ia melihat sebuah benda tertancap di atas dipan sebagai ganti gadis cantik itu.
Benda ini adalah sebuah bendera kecil, gagangnya dari kayu hitam menancap pada dipan, benderanya berbentuk segi tiga berdasar hitam dengan gambar Hek-giam-lo si malaikat maut yang memegang sabit, tersulam dengan benang warna kuning emas"
"Hek-giam-lo.."
Bibir Suma Boan berbisik, lalu ia menggertak gigi.
"lagi-lagi Hek-giam-lo mengganggu, keparat.."
Akan tetapi ia maklum bahwa tak mungkin ia dapat mengejar setan itu yang telah menculik tawanannya. Kemarahannya ia tumpahkan kepada Bu Sin.
"Seret ia ke dalam kebun belakang"
Para pengawal menyeret tubuh Bu Sin yang sudah siuman dari pingsannya tapi tidak berdaya lagi itu ke belakang.
Atas perintah Suma Boan, mereka mendirikan dua batang balok yang dipasang menyilang, kemudian mengikat tubuh Bu Sin di atas balok bersilang itu.
Bu Sin sudah siuman, maklum akan bahaya maut yang mengancam nyawanya.
Namun ia seorang pemuda gagah perkasa, sedikit pun tidak takut.
Dengan pandang mata tajam ia menatap Suma Boan yang berdiri di depannya dan di kanan kiri berdiri para pengawal.
"Orang she Suma"
Kata Bu Sin dengan juara ketus dan nyaring.
"Antara kau dan aku tidak ada permusuhan, akan tetapi kau katakan bahwa kakakku Bu Song adalah musuh besarmu. Baik, aku sebagai adiknya siap menerima hukuman apa saja. Sayang kepandaianku terlalu rendah, kalau tidak tentu aku akan mewakili kakakku itu memberi hajaran kepadamu, manusia rendah."
"Ha-ha, kematian sudah di depan mata dan masih berlagak"
Dengus Suma Boan dan sekali ia meroboh saku, ia telah mengeluarkan enam batang anak panah.
"Sebentar lagi kau mampus."
"Siapa takut mati? Seorang gagah sekali-kali tidak berkedip menghadapi kematian, asal saja ia mati dalam kebenaran. Akan tetapi, ceritakan mengapa kakakku memusuhi orang macam kau, agar aku tahu untuk apa aku mati."
"Bu Song seorang jahanam besar. Ia telah ditolong oleh Ayah, ujiannya diberi angka baik agar ia lulus, kemudian karena tertarik oleh kepintarannya Ayah telah memberinya kedudukan baik sebagai pembantu pribadi. Siapa kira, kakakmu manusia rendah itu tidak tahu akan kedudukannya sebagai hamba, berani main gila dengan adik perempuanku. Dia sudah kuikat seperti kau sekarang ini, mengalami cambukan seratus kali, tapi agaknya tubuhnya yang sudah hampir menjadi bangkai itu dibawa setan, atau mungkin juga dimakan setan sampai habis. Ha-ha-ha, dan sekarang kau adiknya datang untuk melanjutkan hukumannya. Tidak puas hatiku ketika itu, sekarang barulah aku puas. Penghinaan atas diri adikku akan kubalas himpas hemmm.. kalau saja perempuan itu tidak lenyap.."
"Di mana adikku, Sian Eng? Suma-kongcu, kita sama-sama lelaki, kau mau membalas, silakan, aku akan menerima dengan mata melek. Akan tetapi, kau bebaskan adikku. Dia wanita, tidak bertanggung jawab akan perbuatan kakakku."
"Ha-ha-ha, adikmu akan kurusak, kemudian kuserahkan kepada para pengawal, penghinaan ini harus dibayar sampai habis, berikut bunganya."
Pucat wajah Bu Sin, akan tetapi ia tidak mau membuka mulut.
Ia tahu bahwa percuma saja membujuk orang macam ini, malah akan mendapat penghinaan yang menyakitkan hati.
Apapun yang akan dialami oleh Sian Eng, paling hebat tentu kematian dan ia percaya bahwa Sian Eng tentu akan mempergunakan setiap kesempatan untuk meloloskan diri atau untuk membunuh diri dari pada dijamah tangan-tangan kotor itu.
"Pengecut, siapa takut ancamanmu? Mau bunuh lekas bunuh"
Bentaknya.
Tangan kiri Suma Boan bergerak dan meluncurlah sebatang anak panah, menancap ke paha kiri Bu Sin.
Terasa nyeri dan perih, namun Bu Sin tetap memandang dengan mata marah, berkedip pun tidak pemuda perkasa ini.
"Kalian lihat, semua anak panah ini akan mengenai sasaran tanpa membunuh korbannya. Dan hati-hati, dia harus dibiarkan tersiksa sampai mati kehabisan darah, semua harus bergiliran menjaga malam ini. Aku tidak mau kehilangan dia seperti belasan tahun yang lalu. Besok pagi akan kulihat bangkainya tetap tergantung di sini."
"Baik, Kongcu, hamba sekalian akan menjaganya, harap Kongcu jangan khawatir."
Serempak para pengawal menjawab sambil memberi hormat.
Dengan senyum keji dan mata berapi, Suma Boan lalu berturut-turut melepaskan anak panah dengan kedua tangannya.
Cepat anak-anak panah itu meluncur dan dengan tepat menancap di paha kanan, kedua lengan dan di kedua pundak.
Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Bu Sin.
Rasa nyeri pada kaki tangan den pundaknya masih dapat ia pertahankan dengan menggigit bibir, sedikit pun keluhan tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Namun penghinaan ini benar-benar amat menyakitkan hatinya, hampir ia tidak kuat menahan hati untuk memaki-maki dan berteriak-teriak.
Kalau ia terus dibunuh, itu masih tidak mengapa.
Akan tetapi dijadikan sasaran anak panah lalu dibiarkan terpanggang di situ menjadi tontonan, benar-benar menyakitkan hati sekali.
Suma Boan tertawa-tawa mengejek, lalu meludahi muka Bu Sin sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Bu Sin hanya membuang muka ke samping, akan tetapi tak dapat mencegah pipi kirinya terkena sambaran ludah.
Ia merasa pipi itu panas dan sakit sehingga diam-diam ia harus mengakui kehebatan putera pangeran ini yang memiliki lwee-kang amat kuatnya.
Namun sakit di hatinya lebih hebat.
"Jaga baik-baik, awas, jangan sampai ada yang mencuri calon mayat ini,"
Pesan Suma Boan kepada anak buahnya.
Mereka memberi hormat lagi dengan sikap menjilat-jilat, menyatakan kesanggupan mereka.
Setelah kongcu itu pergi, para pengawal yang dua belas orang banyaknya itu duduk mengelilingi balok bersilang di mana tubuh Bu Sin tergantung.
Mereka bercakap-cakap dan merasa yakin bahwa penjagaan mereka amat kuat.
Pedang dan golok mereka terletak di atas tanah, dekat tangan, siap untuk dipergunakan sewaktu-waktu.
Bu Sin merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit.
Bagian yang tertusuk anak panah terasa panas dan kejang.
Akan tetapi ia segera melupakan rasa nyeri ini, malah ia tidak mendengarkan percakapan para penjaga.
Pikirannya sibuk memikirkan kakaknya.
Tahulah ia sekarang mengapa kakaknya lenyap dari kota raja tak dapat ditemukan ayahnya.
Kiranya kakaknya itu tadinya diangkat oleh Pangeran Suma menjadi pembantunya, kemudian kakaknya agaknya bermain cinta dengan puteri pangeran, ketahuan dan ditangkap lalu disiksa seperti yang ia alami sekarang.
Akan tetapi kakaknya lenyap pada malam hari.
Ke mana?
Benarkah sudah mati?
Ah, masa dimakan setan?
Ditolong setan juga tak mungkin.
Siapakah yang mau menolong kakaknya?
Seperti juga dia sendiri sekarang ini, siapa yang mau menolongnya?
Tiba-tiba matanya terbelalak kaget.
Ia berusaha mengikuti sinar berkelebatan dengan matanya, namun tetap saja matanya silau dan tak dapat melihat apa yang berkelebatan itu.
Tahu-tahu para penjaga yang tadinya duduk bercakap-cakap sudah rebah malang-melintang, tak bergerak lagi, entah mati entah masih hidup.
Dan tahu-tahu, seperti main sulap saja, bayangan berkelebat di dekatnya dan dalam sedetik ikatan kaki tangannya terlepas, kemudian anak-anak panah yang enam buah banyaknya itu tercabut.
Darah bercucuran keluar dan Bu Sin tidak ingat lagi.
Ia pingsan dan tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya.
Ketika Bu Sin sadar kembali, ia mendapatkan dirinya sudah berada di sebuah hutan, dibaringkan di bawah sebatang pohon besar.
Di dekatnya ada sebuah api unggun yang masih bernyala, akan tetapi tidak seorang pun manusia di situ.
Bu Sin cepat bangkit duduk, memeriksa luka-lukanya.
Kiranya enam buah luka di tubuhnya sudah diobati orang dan dibalut dengan kain putih dan bersih, rasanya nyaman tidak nyeri lagi.
Cepat ia melompat berdiri, dilihatnya pedangnya terletak di dekat api, segera dipungutnya.
Ketika memungut pedang inilah pandang matanya bertemu dengan tanah yang dicoret-coret merupakan huruf-huruf.
ADIKMU DIBAWA HEK-GIAM-LO, AKU BERUSAHA MENGEJARNYA.
Bu Sin terduduk kembali.
Agaknya orang yang menolongnya ini sejak tadi menjaganya di situ dan melihat ia siuman, baru orang itu pergi sambil meninggalkan tulisan di dekat api dan pedang.
Siapa gerangan orang itu?
Kepandaiannya hebat, tidak seperti manusia.
Setankah dia?
Tiba-tiba ia teringat akan penuturan Suma-kongcu.
Apakah setan ini pula yang belasan tahun yang lalu telah menolong kakaknya, Bu Song?
Ia merasa menyesal sekali, mengapa penolongnya itu melakukan ini secara bersembunyi sehingga ia sama sekali tidak dapat menduga-duga siapa gerangan penolongnya.
Lebih khawatir lagi hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa Sian Eng dibawa lari Hek-giam-lo.
Ia tidak tahu siapa itu Hek-giam-lo.
Tiba-tiba ia teringat.
Pernah ia mendengar nama ini disebut orang.
Ia mengingat-ingat, lalu terbayang dalam benaknya pengalamannya bersama Lin Lin dan Sian Eng ketika mereka bertiga bersembunyi di dalam hutan, di atas pohon besar kemudian mereka terancam oleh It-gan Kai-ong.
Betapa kemudian terdengar suara melengking tinggi yang membuat It-gan Kai-ong agaknya lari ketakutan, kemudian orang yang mengeluarkan lengking tinggi tampak punggungnya dan menyebut-nyebut nama Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni, dan Bu Kek Siansu.
Dan sekarang Hek-giam-lo yang disebut-sebut itu telah membawa lari Sian Eng.
Siapa dan apa itu Hek-giam-lo ia tidak tahu, akan tetapi melihat namanya, Hek-giam-lo berarti Iblis Maut Hitam.
Bu Sin termenung, bingung karena tidak tahu harus berbuat apa.
Lin Lin dibawa lari seorang sakti yang bernama Kim-lun Seng-jin, sekarang Sian Eng dibawa lari Hek-giam-lo.
Kedua orang adiknya tidak ia ketahui bagaimana nasibnya dan berada di mana sekarang.
Mencari kakaknya belum juga bertemu, hanya mendengar nasibnya yang buruk, disiksa hampir mati dan lenyap.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Dengan pikiran bingung dan gelisah sekali Bu Sin terpaksa meninggalkan tempat itu, menyusup-nyusup hutan karena ia maklum bahwa ia tentu dikejar oleh Suma-kongcu dan sekali lagi terjatuh di tangannya berarti akan hilang nyawanya.
Ke mana lenyapnya Sian Eng yang tadinya berada dalam keadaan tertotok jalan darahnya, tak dapat bergerak terbaring di atas dipan?
Gadis ini biarpun sudah tak dapat bergerak karena jalan darah thian-hu-hiat tertotok membuatnya lemas kehilangan tenaga, namun ingatannya masih berjalan baik dan panca inderanya tidak terpengaruh.
Ia berusaha sedapat mungkin untuk mengumpulkan tenaga lwee-kang untuk membebaskan diri daripada totokan, namun usahanya belum juga berhasil.
Hatinya gelisah bukan main melihat kakaknya dikeroyok itu.
Tiba-tiba sesosok bayangan nitam berkelebat dan tahu-tahu ia merasa dirinya diterbangkan dari tempat itu.
Demikian cepatnya gerakan yang menolongnya sehingga ia tidak dapat melihat orang ataukah setan penolongnya itu.
Ia dipondong dan karena masih dalam keadaan tertotok, ia tidak dapat menggerakkan kepala untuk memandang pemondongnya.
Pakaian orang ini dari sutera hitam dan ia mengingat-ingat.
Tiba-tiba jantungnya berdebar keras.
Orang yang dahulu melengking tinggi mengejar It-gan Kai-ong, yang hanya terlihat punggungnya, juga berpakaian hitam.
Orang yang membawa suling dan yang mereka duga adalah Suling Emas, dan juga pembunuh orang tua mereka.
Celaka, pikirnya, kalau pembunuh orang tuanya, musuh besar ini yang sekarang menculiknya pergi, tentu tidak bermaksud baik.
Ia tidak tahu dibawa ke jurusan mana, cepat sekali larinya seperti terbang saja.
Menjelang senja mereka tiba di lereng gunung.
Sian Eng sekarang sudah mampu menggerakkan kepala karena urat lehernya sudah mulai terbebas daripada totokan, jalan darahnya sudah mulai mengalir kembali.
Akan tetapi biarpun ia menengok dan memutar leher, tetap saja ia tidak dapat memandang muka pemondongnya yang berjubah hitam, karena kepalanya berada di punggung orang itu.
Ketika ia memandang ke sekitarnya melalui kedua pundak pemondongnya, ia terkejut dan merasa ngeri.
Kiranya mereka telah berada di sebuah tempat kuburan kuno yang amat luas.
Agaknya kuburan orang besar, karena selain luas, juga amat indah.
Bongpai (batu nisan) besar-besar dan megah berdiri di sana, di dalam lingkungan pagar tembok dan di sana sini berdiri patung-patung yang terukir indah.
Jalan menuju ke batu nisan itu menanjak.
Agaknya penolongnya hendak membawanya ke batu nisan itu.
Akan tetapi ternyata tidak.
Ia dibawa memasuki sebuah terowongan melalui sebuah pintu rahasia di balik batu nisan.
Terowongan yang gelap sekali.
Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas dan tidak gelap, agaknya sinar matahari dapat masuk ke ruangan ini.
Sian Eng dilempar ke atas sebuah bangku panjang, akan tetapi ia tidak terbanting, melainkan jatuh terduduk.
Ini kembali membuktikan bahwa penolong atau penculiknya itu adalah seorang yang amat tinggi kepandaiannya.
Sian Eng yang sudah dapat bergerak lagi cepat menoleh dan..
gadis itu hampir saja menjerit kalau tidak lekas-lekas menutupi mulut dengan kedua tangannya.
Ia hanya duduk dengan mata terbelalak lebar memandang ke depan, kepada orang yang memondongnya tadi.
Sehelai demi sehelai bulu di tubuhnya berdiri, dan gadis ini hampir pingsan karena kaget, takut, dan ngeri.
Ternyata yang memondongnya tadi bukanlah manusia "Tengkorak hidup"
Jubah hitam itu menutup sampai kepalanya, yang tampak hanya muka tengkorak dengan kedua lubang mata yang lebar, lubang hidung yang kecil dan bekas mulut yang amat lebar, masih bergigi.
Mengerikan, Di tempat seperti itu, yakni di bawah tanah, bawah kuburan bertemu dengan mahluk seperti ini, benar-berar membutuhkan syaraf membaja untuk tidak menjerit-jerit ketakutan.
Kemudian mahluk itu yang berdiri tak bergerak seperti patung, mengeluarkan suaranya yang terdengar bergema namun seperti dari jauh datangnya, suara yang tidak pantas menjadi suara manusia hidup.
"Nona datang dari Ting-chun, di kaki Gunung Cin-ling-san puteri Jenderal Kam Si Ek?"
Karena masih dicekam kengerian, Sian Eng belum mampu mengeluarkan suara, hanya mengangguk dan sepasang matanya yang bening itu terbelalak lebar, beberapa kali menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak menjadi kering sekali.
Mendadak terjadi hal yang aneh dalam pandangan Sian Eng.
Mahluk itu, yang kini ia dapat menduga tentulah seorang manusia yang memakai topeng tengkorak, tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut di depan bangku itu, di mana Sian Eng sudah bangkit berdiri.
"Aduhai Sang Puteri.. bertahun-tahun hambamu seluruh rakyat menanti kehadiran Paduka Puteri, bertahun-tahun hamba yang hina mencari dengan susah payah. Akhirnya hamba mendapatkan jejak Jenderal Kam di Ting-chun, akan tetapi Paduka sudah pergi.. ah, siapa duga hamba dapat bertemu dengan Paduka di sini. Rakyat telah menanti untuk menjemput Paduka sebagai ratu.."
Sampai di sini, si kedok tengkorak itu lalu menangis sesenggukan.
Dapat dibayangkan betapa Sian Eng melongo keheranan, bulu tengkuknya berdiri kaku karena ia menganggap bahwa kedok iblis ini tentulah seorang yang miring otaknya.
Akan tetapi suara tangisan kedok iblis itu demikian mengharukan hati sehingga dalam takutnya Sian Eng ikut terharu dan tak dapat menahan lagi membanjirnya air matanya.
Ia ikut pula menangis.
Kedok iblis itu segera membentur-benturkan jidat tengkoraknya ke atas lantai sambil berkata.
"Wahai, Paduka Puteri junjungan hamba.., betapa bahagianya hati hamba, betapa bahagianya rakyat kita, setelah bertahun-tahun dikuasai raja yang tak berhak. Kini Paduka telah muncul, bagaikan Sang Matahari muncul untuk mengusir awan hitam yang gelap. Jangan Paduka khawatir, ada hamba Hek-giam-lo yang akan membantu Paduka merampas kembali mahkota dan singgasana yang memang menjadi hak Paduka.."
Tentu saja Sian Eng makin tidak mengerti dan menganggap orang yang miring otaknya ini sedang kambuh gilanya maka bicaranya makin tidak karuan.
Pada saat itu terdengar suara mirip tangisan yang melengking tinggi menembus sampai ke ruangan di bawah tanah itu.
Lapat-lapat terdengar suara memanggil nama Hek-giam-lo disusul maki-makian.
Hek-giam-lo mengangguk-anggukkan kepala tengkoraknya di depan kaki Sian Eng, lalu berkata halus.
"Mohon perkenan Paduka untuk menghalau pengacau yang berada di luar istana."
Mau tak mau Sian Eng menggigil.
Tempat kuburan mengerikan seperti ini dianggap istana dan ia hendak dijadikan ratunya.
Celaka, Akan tetapi untuk membantah, ia tidak berani karena maklum bahwa orang gila yang menyeramkan ini memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.
Ia hanya mengangguk dan agar orang gila itu tidak kecewa dan marah ia berkata lirih.
"Pergilah.."
Tampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu Hek-giam-lo telah lenyap dari depannya.
Sian Eng menggosok-gosok kedua mata dengan punggung tangan.
Mimpikah ia?
Ataukah semua itu tadi peristiwa yang benar terjadi?
Kalau begitu, agaknya bukan manusia si kedok tadi, jangan-jangan memang benar tengkorak hidup.
Kalau manusia, masa pandai menghilang seperti itu?
Di sebelah atas, depan bongpai (batu nisan) yag besar dan megah itu, berdiri seorang wanita yang rambutnya panjang riap-riapan sampai ke kaki.
Seorang wanita cantik sekali, rambutnya hitam halus dan mengeluarkan keharuman yang mewakili taman bunga, baju luarnya putih bersih dari sutera halus.
Seorang wanita cantik namun menyeramkan.
Sukar mengira-ngira usianya.
Melihat wajah halus mata jeli bibir merah itu orang akan mengira ia masih amat muda, akan tetapi sikap, gerak-gerik dan pandang matanya membayangkan kematangan lahir batin di samping watak yang mendirikan bulu roma.
Siang-mou Sin-ni (Wanita Sakti Rambut Harum).
Telah kita kenal wataknya yang aneh dan kekejamannya yang melewati batas pada permulaan cerita ini.
Ia sekarang berdiri di depan batu nisan besar sambil memaki-maki dengan suara nyaring, diseling lengking tinggi seperti orang menangis.
"Hek-giam-lo, tengkorak busuk bau bangkai. Keluarlah jangan sembunyi seperti cacing tanah. Kalau kau tidak lekas keluar, lihat saja kau, Batu nisan yang bagus-bagus ini kubikin remuk. Hendak kulihat apakah kau masih tidak akan muncul"
Tentu saja ucapan ini membikin marah Hek-giam-lo yang tepat muncul dari sebuah lubang di depan batu nisan setelah membuka penutup lubang itu dari bawah.
Orang biasa tentu akan kaget setengah mati dan lari terkencing-kencing ketakutan kalau melihat mahluk seperti Hek-giam-lo tiba-tiba muncul dari lubang di depan batu nisan itu.
Akan tetapi Siang-mou Sin-ni bukanlah orang biasa.
Ia segera menyambut munculnya Hek-giam-lo dengan makian sambil menudingkan telunjuk kirinya yang runcing dan tangan kanan bertolak pinggang.
"Hek-giam-lo tengkorak busuk"
Hayo lekas kau serahkan padaku surat yang kau curi dari gerombolan It-gan Kai-ong si gembel tua bangka"
Hek-giam-lo tidak menjawab akan tetapi segera melompat keluar dan menghadapi Siang-mou Sin-ni dengan marah.
"Sin-ni, antara kita sudah terdapat saling pengertian, karena jalan hidup kita tidak bersimpangan. Kau tahu bahwa aku harus membela negaraku, surat itu amat penting bagi negaraku. Kerajaan Sung selalu memusuhi Khitan, dan sekarang, setelah aku menemukan kembali Puteri Mahkota calon ratu, surat itu terlebih penting. Dengan memperlihatkannya kepada Kerajaan Sung, tentu mempererat hubungan antara Khitan dan Sung. Mau apa kau pinta surat itu?"
"Tengkorak busuk, Kau kira hanya kau seorang yang mau mengambil peran sebagai patriot pembela bangsa dan negara? Cih, bangsa Khitan, perantau tak tentu tanah airnya, berlagak patriot segala"
Surat itu adalah surat persekutuan antara Nan-cao dan Hou-han.
Apa sangkut-pautnya dengan Khitan?
Dan kau harus tahu bahwa aku adalah pembela Hou-han.
Surat itu harus kudapatkan kembali dan kuserahkan kembali kepada yang berhak yaitu Kerajaan Hou-han atau Nan-cao yang wajib menerimanya.
Biarpun untuk itu aku harus mengadu ilmu dengan patriot-patriot Khitan, aku tidak akan undur setapak pun"
"Hemmm, kau perempuan mau main politik segala? Siang-mou Sin-ni, namamu cukup terkenal sebagai seorang di antara Thian-te Liok-koai. Lebih baik kau pertahankan nama itu dan jangan mencampuri urusan negara. Urusan ini adalah bagian laki-laki."
"Cerewet, Kau ini selamanya pakai kedok tengkorak, siapa tahu kau perempuan atau laki-laki? Hayo kembalikan"
Siang-mou Sin-ni menggertak dan rambut-rambut hitam panjang di kepalanya itu sudah bergoyang-goyang.
Rambutnya merupakan senjatanya yang paling ampuh dan memang rambutnya itulah yang amat ditakuti di dunia kang-ouw.
Bagi wanita biasa, agaknya rambut yang hitam panjang halus dan harum itu akan menjadi kebanggaan dan akan disukai banyak orang, terutama kaum pria.
Akan tetapi rambut Siang-mou Sin-ni yang harum ini merupakan cengkeraman-cengkeraman maut yang entah sudah menewaskan nyawa beberapa banyak orang.
"Sin-ni, kau tahu aturan antara kita. Surat ini aku dapatkan dengan jalan menggunakan kepandaian, tentu saja tidak mungkin kuberikan kepadamu begini saja."
Sambil berkata demikian, Hek-giam-lo sudah mengeluarkan sabitnya, juga tangan kirinya mengeluarkan sehelai surat yang ia rampas dari tangan Suma Boan tanpa diketahui orangnya.
Melihat surat itu di tangan Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni mengeluarkan lengking tangis yang menggetarkan kalbu, rambutnya seakan-akan hidup menyambar untuk merampas surat sedangkan sebagian rambutnya yang lain lagi menyambar ke arah jalan darah di dada, leher, pangkal lengan dan pergelangan yang maksudnya selain merobohkan lawan juga merampas sabit.
"Uhhh"
Hek-giam-lo membentak, surat itu sudah lenyap di saku bajunya lagi dan sabitnya hilang, berubah menjadi sinar putih yang menyilaukan mata, tubuhnya menjadi bayangan hitam yang bergulung-gulung dengan sinar sabitnya.
Pada detik-detik berikutnya, Hek-giam-lo dan Siang-mou Sin-ni sudah saling terjang dengan ganas sehingga terjadilah perkelahian yang luar biasa.
Kalau kebetulan ada orang melihat pertempuran ini, tentu mengira bahwa iblis-iblis kuburanlah yang sedang bertanding ini.
Kadang-kadang mereka bertanding di atas lantai depan batu bisa, kadang-kadang dengan gerakan ringan dan cepat keduanya berlompatan dan berkejaran di atas bongpai (batu nisan), melayang di antara pohon-pohon untuk kembali ke lantai lagi, melanjutkan pertandingan yang amat hebatnya.
Namun keduanya sama kuat.
Pertahanan masing-masing terlampau kokoh dan rapat sehingga sukar bagi mereka untuk mencari lubang dan memasuki serangan mematikan.
"Hi-hik, tengkorak busuk. Mana pelajaranmu dari Bu Kek Siansu? Untuk apa kau rampas setengah kitabnya? Hayo keluarkan, kulihat jurus-jurusmu adalah yang dulu juga, sudah lapuk dan kuno"
Ejek Siang-mou Sin-ni. Hek-giam-lo mendengus dan memutar sabitnya.
"Kau merampas alat tetabuhan khim untuk apa pula? Tidak perlu cerewet, rampaslah suratmu kalau kau memang becus"
"Keparat, hari ini Hek-giam-lo mampus di tanganku"
Siang-mou Sin-ni memperhebat gerakannya dan kini mereka bertanding lebih seru lagi, berusaha mencari kemenangan dengan mengeluarkan jurus-jurus mematikan.
Sementara itu, Sian Eng ketika melihat dirinya ditinggalkan sendiri oleh Hek-giam-lo, segera timbul keberaniannya.
Kesempatan baik sekali untuk melarikan diri.
Cepat ia melompat turun dari atas bangku panjang, menyambar pedangnya yang tadi dibawa pula agaknya oleh Hek-giam-lo, dan berjalanlah ia melalui lorong di bawah tanah yang gelap.
Seberapa kali ia salah jalan.
Kiranya lorong itu mempunyai banyak jalan simpangan yang menyesatkan.
Setelah meraba sana, merayap ke sini, akhirnya Sian Eng berhasil melihat sinar matahari melalui sebuah lubang.
Pengharapannya menebal dan cepat ia merayap ke arah sinar itu yang ternyata masuk dari sebuah lubang yang cukup besar.
Ia mengerahkan gin-kang dan melompat keluar dari lubang.
Sejenak kedua matanya silau dan terpaksa ia berdiri sambil memejamkan mata.
Baru saja keluar dari tempat gelap ke tempat terang memang amat menyilaukan mata, hampir ia tak dapat percaya apa yang dilihatnya.
Ternyata ia telah berada di depan batu-batu nisan besar dan di situ berkelebatan dua orang yang sedang bertanding dengan hebat dan aneh.
Yang seorang adalah Hek-giam-lo, yang mempergunakan sebuah sabit yang mengerikan.
Orang ke dua adalah seorang wanita cantik sekali, akan tetapi cara bertempur wanita itu aneh karena wanita itu selalu menggunakan rambutnya yang panjang dan gemuk hitam sebagai senjata.
Sian Eng tidak tahu apa yang harus dilakukannya menghadapi pertandingan itu.
Hek-giam-lo dianggapnya seorang miring otak yang menganggap dia sebagai seorang Puteri calon ratu, akan tetapi ia masih tidak tahu apakah iblis hitam itu mengandung niat baik ataukah buruk terhadap dirinya.
Adapun wanita cantik yang bertempur melawan Hek-giam-lo itupun ia tidak kenal, tidak tahu pula mengapa bertempur melawan Hek-giam-lo.
Oleh karena ini, Sian Eng tidak mempedulikan pertempuran itu dan mendapatkan kesempatan baik ini ia segera melarikan diri.
Akan tetapi Sian Eng benar-benar keliru kalau dia mengira bahwa dua orang itu tidak melihatnya dan tidak tahu bahwa ia melarikan diri.
Dua orang itu adalah orang-orang sakti yang tentu saja melihat dia keluar dari lubang tadi.
Belum jauh Sian Eng melarikan diri, Hek-giam-lo mendengus.
"Sin-ni, lain waktu kita lanjutkan. Aku harus mengejar dia."
"Hik-hik, tinggalkan dulu surat itu, baru aku memberi ampun padamu"
Sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar sepenuh tenaga, namun dengan mudah Siang-mou Sin-ni mengelak dan membalas dengan sambaran rambutnya.
"Keparat kau, Aku perlu sekali dengan gadis itu"
Kembali Hek-giam-lo berkata, minta pertandingan dihentikan.
"Aku pun perlu sekali dengan surat itu. Sebelum kau serahkan kepadaku, jangan harap kau bisa mendapatkan gadis itu. Hi-hik."
Kewalahan Hek-giam-lo menghadapi lawannya yang selain pandai bertempur, juga amat pandai berdebat ini.
"Nah, kau makanlah suratmu"
Hek-giam-lo sudah mengeluarkan surat itu dan melemparkannya ke arah Siang-mou Sin-ni, kemudian melompat jauh untuk mengejar Sian Eng.
Adapun Siang-mou Sin-ni melihat menyambarnya benda putih, segera ditangkapnya dan ia terkekeh girang melihat bahwa benda itu memang benar merupakan surat persekutuan antara Pemerintah Nan-cao dan Pemerintah Hou-han.
Sambil tersenyum manis ia memasukkan surat itu ke dalam saku jubahnya, kemudian bersenandung lirih dan membalikkan tubuh hendak pergi dari tempat itu.
Akan tetapi ketika ia membalikkan tubuh, matanya memandang ke arah sebuah di antara jajaran patung yang kebetulan berada di depannya.
Sebuah patung sebesar patung seorang sastrawan kuno.
Wajah patung itu amat halus buatannya, seperti manusia hidup saja.
"Ih, tampan juga kau"
Siang-mou Sin-ni tersenyum.
"Sayang kau hanya batu, tidak punya darah dan daging. Ih, matamu terlalu tajam, lebih baik lehermu kupatahkan sebelum aku pergi."
Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya, segumpal rambut panjang menyambar ke arah leher patung.
"Plakkk"
Rambut itu terpental kembali dan leher patung tidak apa-apa.
Jangankan patah, gempil pun tidak.
Sepasang mata jeli bening itu terbelalak.
Biasanya, hantaman rambutnya akan mampu memecahkan batu hitam, masa sekarang mematahkan leher patung saja tidak kuat?
Sekali lagi ia menggerakkan kepala, kini setengah rambutnya semua menyambar, merupakan gumpalan yang cukup besar.
"Plakkk"
Kali ini tubuh Siang-mou Sin-ni tergetar karena kekuatan yang ia pergunakan tadi lebih besar sehingga ketika terpental, lebih hebat pula terasa olehnya.
Wanita ini berubah wajahnya.
Matanya melirik ke arah patung itu, lalu kepada patung-patung lain yang berjajar di situ.
Kalau semua patung itu sekuat ini, agaknya memiliki kesaktian, hiiiiih, Siang-mou Sin-ni merasa bulu tengkuknya bangun dan ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu.