Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bodoh 12

Eps 12 Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo.

Bu Pun Su adalah seorang sakti yang pada masa itu sukar dicari bandingannya, maka tentu saja tipu muslihat ini tak membuatnya menjadi bingung.

Tiba-tiba ia berseru.

"Siok Kwat Mo-li, kau benar-benar cerdik. Akan tetapi aku Si Tua Bangka ini tidak mempunyai banyak waktu dan tenaga untuk melayani kalian bermain-main!"

Setelah berkata demikian, Bu Pun Su mengambil sepotong gendewa yang telah patah dari Sian Kek Losu tadi yang kini panjangnya hanya tinggal satu kaki lebih.

Biarpun benda itu hanya merupakan sepotong baja bengkok, akan tetapi setelah berada di tangan Bu Pun Su, merupakan sebuah senjata yang luar biasa ampuhnya.

Kakek jembel ini berseru keras dan baja bengkok itu lalu menyambar hebat, merupakan gulungan sinar yang panjang dan dahsyat.

"Lepaskan senjata!"

Terdengar teriakan Bu Pun Su dari dalam gulungan sinar itu, sedangkan tubuh kakek itu sendiri lenyap ditelan gulungan sinar senjatanya yang diputar secara luar biasa itu.

Terdengar suara logam beradu keras sekali dan segera disusul pekik kesakitan dan terkejut oleh tiga buah mulut pengeroyoknya.

Sepasang golok di tangan Sahali terpental dan melayang ke atas sedangkan dua buah roda dari Lok Kun Tojin juga melayang ke kanan kiri karena talinya telah putus.

Adapun Siok Kwat Moli yang memiliki lweekang lebih tinggi daripada kedua orang kawannya itu, masih dapat mempertahankan senjatanya hingga tidak terlepas dari tangannya walaupun kulit telapak tangannya serasa akan pecah.

Namun ternyata bahwa tongkatnya tidak sekuat tangannya hingga ketika ia memandang, ternyata bahwa tongkatnya itu telah putus di tengah-tengah dan kini hanya merupakan sebatang tongkat yang amat pendek saja.

Ternyata bahwa tadi Bu Pun Su telah mengeluarkan ilmu silat simpanannya yang dahsyat, yang disebutnya Gerakan Halilintar Menyambar Bumi.

Kehebatan gerakan ini memang luar biasa hingga jangankan baru ada tiga orang lawap yang bersenjata, biarpun ada puluhan lawan agaknya takkan ada yang dapat mempertahankan sambarannya ini yang dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya!

Siok Kwat Mo-li dan dua orang kawannya berdiri bengung karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara kakek itu membuat senjata mereka terpental dan patah-patah.

Akan tetapi, nenek bongkok itu menjadi marah sekali dan melihat Bu Pun Su berdiri di depannya dengan tenang, akan tetapi nyata bahwa kakek itu sedang mengatur kembali pernapasannya yang agak tersengal karena tadi ia telah mempergunakan tenaga sepenuhnya sedangkan usianya telah amat tua, maka sambil memekik keras Siok Kwat Mo-li lalu mengayun tangannya dan berhamburanlah jarum-jarum hitam ke tubuh Bu Pun Su!

Ang I Niocu dan Ma Hoa terkejut sekali melihat hal ini.

Sebagai orang-orang yang telah mempelajari ilmu silat tinggi, mereka maklum bahwa pada saat itu Bu Pun Su sedang mengatur napas dan karenanya dilarang membuat gerakan-gerakan besar karena hal ini akan membahayakan keselamatannya.

Ma Hoa dan Ang Niocu memang amat tertarik melihat pertandingan ke dua yang lebih hebat itu, maka tak terasa pula mereka telah mendekat, dan bahkan Ma Hoa telah berdiri dekat Bu Pun Su, sedangkan Ang I Niocu yang masih merasa takut-takut kepada Bu Pun Su, berdiri agak jauh.

Ma Hoa melihat keadaan Bu Pun Su yang berbahaya itu, lalu melompat dengan sepasang bambu runcingnya di tangan.

Ia melompat di depan Bu Pun Su dan cepat sekali ia memutar-mutar dua batang bambu runcing itu menangkis jarum-jarum hitam hingga semua jarum dapat dipukul runtuh ke atas tanah.

"Eh, anak lancang, lekas kau mundur, Im Giok! Jangan perbolehkan kawanmu ini maju!"

Kata Bu Pun Su dengan suara perlahan, akan tetapi berpengaruh hingga Ma Hoa menjadi terkejut dan segera melompat kembali ke dekat Ang I Niocu. Bu Pun Su memandang kepada Siok Kwat Mo-li dan tersenyum.

"Kalau kau masih merasa penasaran, kau boleh menyerang lagi dengan jarum-jarummu!"

Akan tetapi, Siok Kwat Mo-li yang melihat betapa Ma Hoa dan Ang I Niocu yang telah ia kenal kelihaiannya itu berdiri di situ dan agaknya akan membantu pula kepada Bu Pun Su, merasa bahwa perlawanan dari pihaknya takkan ada gunanya, maka ia memandang dengan mata penuh mengandung kebencian ke arah Ma Hoa, kemudian tanpa berkata sesuatu ia lalu membalikkan tubuhnya dan berlari pergi, diikuti oleh kawan-kawannya dan semua anak buah Turki.

Makin sunyilah keadaan di situ sekarang dan hanya tinggal Kam Hong Sin seorang bersama anak buahnya yang masih berdiri di tempat semula.

Kam Hong Sin menyaksikan semua pertandingan itu dan diam-diam ia pun amat kagum terhadap Bu Pun Su.

Ia maklum bahwa kepandaiannya sendiri belum ada sepersepuluh bagian kepandaian kakek itu, akan tetapi Kam Hong Sin terkenal sebagai seorang panglima gagah yang pantang mundur dalam melakukan tugasnya.

Sebelum ia dikalahkan, betapapun juga ia tilak mau mengalah begitu saja.

Maka ia segera melangkah maju dan menjura kepada Bu Pun Su.

"Locianpwe, sungguh hebat kepandaianmu dan selama hidupku baru kali ini aku melihat kesaktian sedemikian hebatnya. Akan tetapi, sebagai seorang utusan Kaisar yang berkuasa, aku melarangmu mengambil harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan itu!"

Bu Pun Su tersenyum dan dalam hatinya ia mengagumi dan memuji sikap yang gagah berani dari perwira ini.

"Dan bagaimana kalau aku tetap hendak mengambil harta pusaka itu?"

Tanyanya dengan tenang.

"Terpaksa aku harus menangkap dan menawanmu untuk dibawa ke kota raja!"

Terdengar suara tertawa riuh rendah dan ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan perwira serta pendeta Mongol yang menjadi kawan-kawannya.

Hai Kong Hosiang berkata kepada Balaki, perwira Mongol yang kini menjadi kawannya itu.

"Balaki, kaulihat bagaimana sombongnya perwira yang masih kanak-kanak itu, ha, ha, ha!"

Tiba-tiba Bu Pun Su berpaling kepada mereka dan membentak.

"Diam! Perwira ini lebih gagah dan jantan daripada kalian semua, mengapa mentertawakannya?"

Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya tercengang mendengar bentakan ini karena mereka benar-benar tak menyangka bahwa Bu Pun Su akan menjadi demikian marah.

Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya dalam hatinya Bu Pun Su merasa segan untuk melawan perwira yang gagah perkasa dan yang setia akan tugasnya ini.

"Kam-ciangkun,"

Kata kakek itu kemudian.

"lebih baik Ciangkun kali ini mengalah saja dan kembali ke Kota Raja. Biariah lain kali kalau ada ketika, aku orang tua akan datang menyatakan maaf."

"Tak mungkin, Locianpwe. Tugas kewajiban harus dilaksanakan, biarpun aku mempertaruhkan jiwaku. Kalau Locianpwe hendak melanjutkan usaha mengambil harta pusaka itu, betapapun juga terpaksa aku harus turun tangan dan menangkapmu."

"Hm, kalau begitu, silakan kau maju dan menangkapku kalau kau sanggup, Ciangkun, dan bukalah matamu baik-baik agar kau tidak melewatkan kesempatan baik ini dengan sia-sia!"

Kam Hong Sin tak mengerti akan maksud ucapan ini, akan tetapi ia tidak merasa gentar dan ketika Bu Pun Su menantangnya untuk menangkap, ia lalu mempergunakan ilmu tangkapan tangan yang dulu ia pernah pelajari dari seorang perantau dari seberang laut timur.

Perantau itu datang dari seberang timur dan dalam perantauannya ke daratan Tiongkok, ia telah bertemu dengan Kam Hong Sin dan memberinya pelajaran silat yang sifatnya seperti Sin-na-hwat.

Oleh karena itu, ia memiliki kepandaian yang luar biasa dan sekali ia dapat menangkap kedua lengan orang, maka sukarlah bagi orang itu untuk melepaskan dirinya lagi!

Ketika Kam Hong Sin melangkah maju hendak menangkapnya, Bu Pun Su hanya berdiri tersenyum dan bahkan mengulurkan kedua lengannya untuk ditangkap!

Kam Hong Sin merasa heran dan segera ia menyambar kedua lengan itu untuk terus diputar ke belakang tubuh Bu Pun Su dalam pegangan yang kuat sekali!

Gerakan ini demikian cepat hingga tahu-tahu kedua lengan tangan kakek itu telah ditekuk ke belakang punggung dan ikatan belenggu besi pun takkan lebih kuat dan meyakinkan daripada pegangan ini.

"Ciangkun, perhatikan baik-baik!"

Kata Bu Pun Su.

Kam Hong Sin maklum bahwa tentu kakek itu akan mempergunakan ilmunya untuk melepaskan diri, maka cepat-cepat ia lalu mempererat pegangannya dan menekuk kedua lengan kakek itu makin tinggi di atas punggungnya!

Bu Pun Su mengangkat sebelah kakinya ditendangkan ke belakang dengan perlahan hingga Kam Hong Sin yang berdiri di belakangnya itu tentu saja harus mengelak dari tendangan yang mengarah ke bagian berbahaya dari tubuhnya.

Ia miringkan tubuh dan mengganti kedudukan kakinya dan saat inilah yang digunakan oleh Bu Pun Su untuk melepaskan diri.

Ketika Kam Hong Sin mengangkat kaki untuk membuat perobahan posisi kakinya, tiba-tiba Bu Pun Su membungkuk dan sekali Bu Pun Su berseru keras maka tubuh Kam Hong Sin itu terpelanting melewati kepala Bu Pun Su hingga jatuh tunggang langgang!

Sampai tiga kali Kam Hong Sin mencoba menangkap Bu Pun Su dengan mengeluarkan berbagai ilmu menangkap, akan tetapi selalu akibatnya terpelanting dan terbanting jatuh di depan kakek itu.

Dan anehnya, ketika terbanting itu, Kam Hong Sin tidak merasa sakit karena tidak terbanting keras dan tiap kali melakukan gerakan untuk melepaskan diri dari tangkapan, Bu Pun Su sengaja berlaku lambat hingga Kam Hong Sin dapat mengikuti gerakannya dan dapat memahami ilmu gerakan itu hingga seakan-akan mereka bukan sedang bertanding sungguh-sungguh, akan tetapi hanya merupakan latihan saja, yaitu Kam Hong Sin mendapat latihan tiga macam ilmu gerakan yang hebat dari Bu Pun Su!

"Terima kasih atas pengajaran Locianpwe.

Saya mengaku kalah dan biarlah kekalahan ini kulaporkan ke Kota Raja"

Setelah berkata demikian, Kam Hong Sin lalu memimpin anak buahnya untuk kembali ke timur, memberi laporan tentang gagalnya tugas yang dijalankannya!

Walaupun ia merasa penasaran dan kecewa, namun diam-diam ia merasa girang karena menerima pelajaran tipu gerakan yang lihai dari kakek sakti itu!

Hai Kong Hosiang tertawa dan sambil menuding ke arah Ang I Niocu dan Ma Hoa, ia berkata keras.

"Kalian apakah hendak merebut harta pusaka pula? Kalau demikian halnya, boleh kalian maju melawan jago kami. Ha, ha, ha,"

Biarpun merasa gemas dan marah, akan tetapi Ang I Niocu dan Ma Hoa tidak berani berlaku sembrono di depan Bu Pun Su.

Mereka hanya berdiri bingung dan memandang ke arah kakek itu.

Ketika Bu Pun Su berpaling kepada mereka, Ang I Niocu segera menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi, Bu Pun Su dengan mengerutkan keningnya, membuat gerakan dengan tangan mengusir mereka dan berkata.

"Pergilah, pergilah..."

Ang I Niocu dan Ma Hoa tak berani membantah dan terpaksa mereka pergi dari situ tanpa berani bertanya apa-apa lagi.

Mereka cepat pulang ke rumah Yousuf untuk menceritakan peristiwa mengherankan ini kepada Nelayan Cengeng dan Yousuf.

Sementara itu, setelah berhasil mengusir semua pihak yang hendak mencari harta pusaka itu, Bu Pun Su lalu membawa kawan-kawannya masuk ke dalam gua itu.

"Inilah gua penyimpanan harta-pusaka itu."

Katanya.

"Bu Pun Su, kau berjanji untuk mendapatkan harta pusaka itu, bukan hanya guanya,"

Kata Hai Kong Hosiang dengan senyum menyeringai.

"Kita harus mencari rahasianya,"

Keluh kakek jembel itu yang segera mencari-cari.

Ia adalah seorang yang sudah mempunyai pengalaman luas, maka biarpun tanpa bantuan peta, ia dapat menduga bahwa patung yang berdiri di dekat dinding itu tentu bukan sengaja dipasang di situ, karena biasanya patung Buddha itu selalu dipasang ditengah dan di tempat yang khusus untuk menjadi pujaan.

Maka ia lalu menggerak-gerakkan patung itu dan benar saja, terdengar bunyi di bagian atas dan tampaklah lubang tempat persembunyian harta itu.

Bu Pun Su lalu menggerakkan tubuhnya dan memasuki lubang kecil itu sebagaimana dilakukan oleh Cin Hai dahulu.

Tak lama kemudian, ia turun kembali dan berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio.

"Harta ada di dalam sana, kalian boleh mengambilnya dan sekarang keluarkanlah obat untuk muridku itu!"

"Obat itu tidak ada padaku,"

Jawab Hai Kong Hosiang. Bu Pun Su memandang dengan mata bersinar-sinar hingga Hai Kong Hosiang menjadi takut dan mundur dua langkah.

"Aku tidak membohongimu, Bu Pun Su. Obat itu memang ada, yaitu dalam tangan dukun tua dari Mongol yang juga sudah kami ajak ke tempat ini dan kami sembunyikan di dalam sebuah tempat rahasia di dalam hutan."

"Bawa dulu aku ke sana untuk mengambil obat, setelah itu kauserahkan kepadaku, barulah kalian boleh mengambil harta ini!"

Sambil berkata demikian, Bu Pun Su lalu menggerakkan kembali patung itu hingga lubang tadi tetutup kembali.

"Benarkah harta itu berada di tempat itu?"

Tanya Wi Wi Toanio kepada Bu Pun Su.

"Wi Wi, aku adalah seorang laki-laki sejati. Pernahkah aku membohong?"

Bu Pun Su mendongkol sekali dan ia kembali menggerakkan patung untuk membuka "Lihatlah sendiri, perempuan curang!"

Wi Wi Toanio tertawa menjemukan lalu melompat ke atas dan memasuki lubang itu.

Sampai lama ia tidak keluar hingga Hai Kong Hosiang terpaksa berseru memanggilnya.

Akhirnya kepala perempuan itu muncul kembali dan sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan seorang yang merasa girang sekali.

"Aduh, bukan main hebatnya!"

Katanya hingga ucapan yang pendek itu cukup menyakinkan hati Hai Kong Hosiang, Balaki dan kawan-kawannya. Bu Pun Su menutup kembali lubang itu dan berkata.

"Hayo cepat antar aku ke dukun itu untuk mengambil obatnya!"

Mereka lalu membawa Bu Pun Su ke dalam sebuah hutan di luar kota, di mana terdapat sebuah pondok yang terjaga oleh beberapa orang Mongol kawan-kawan Balaki, dan ketika mereka datang para penjaga lalu menyambut mereka dengan muka pucat.

"Celaka, baru saja ada seorang muda yang mengacau di sini. Kami semua tidak berdaya terhadapnya, karena ia lihai sekali!"

Hai kong Hosiang dan kawan-kawannya, juga Bu Pun Su menjadi terkejut sekali dan mereka segera memburu ke dalam pondok.

Dukun tua yang kurus itu duduk di atas bangku sambil menundukkan kepala seperti orang yang mengantuk.

"Muhambi, apakah yang terjadi?"

Teriak Hai Kong Hosiang dengan kuatir.

"Tidak ada apa-apa, hanya seorang pemuda yang memaksaku menyerahkan obat penolak racun dari kembang semut merah itu."

Hai Kong Hosiang menjadi pucat.

"Celaka! Justru obat itulah yang kami butuhkan! Siapa orangnya yang berani merampasnya?"

"Entahlah,"

Jawab Mahambi, dukun itu.

"Seorang pemuda tampan yang mengaku bernama Song Kun!"

Mendengar ini, Bu Pun Su menjadi pucat dan ia segera berkata.

"Wi Wi, dan kau Hai Kong! Aku memenuhi janjiku mengusir semua lawan dan mendapatkan tempat disimpannya harta pusaka, akan tetapi ternyata kalian tidak dapat memenuhi janjimu!"

"Sabar dulu, Bu Pun Su,"

Kata Hai Kong Hosiang yang segera ia memegang pundak dukun itu sambil mengancam.

"Buatkan lagi obat itu untuk kami!"

Mahambi menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah penuh uban.

"Harus menanti berkembangnya kembang semut merah itu kira-kira setengah tahun lagi."

"Aku pergi!"

Kata Bu Pun Su.

"Jangan harap kalian akan dapat membawa harta pusaka itu!"

Setelah berkata demikian, kakek itu melompat keluar pondok dan lenyap.

Cin Hai dan Lin Lin yang melakukan perjalanan dengan perlahan dan seenaknya, akhirnya sampai pula di luar batas kota Lan-couw dan mereka lalu berhenti dan beristirahat dalam sebuah gua di luar hutan.

"Mudah-mudahan Suhu akan berhasil mendapatkan obat itu secepatnya agar hatiku tidak menjadi gelisah sekali,"

Kata Cin Hai.

"Hai-ko, jangan kau gelisah. Suhu pasti akan bisa mendapatkan obat itu dan andaikata Suhu gagal, aku pun masih tetap percaya bahwa akhirnya kau akan berhasil menolongku,"

Kata Lin Lin dengan mata memandang mesra dan penuh kepercayaan.

Tiga ekor burung sakti, Yaitu Sin-kong-ciak, Kim-tiauw dan Ang-siang-kiam Si burung bangau, melihat kedua orang itu berhenti di dalam gua, lalu melayang turun dan mengeluarkan suara seakan-akan mereka merasa kecewa, karena tempat itu memang kurang menyenangkan bagi mereka.

Tempat itu merupakan tanah tak berumput, penuh gunung batu karang dan banyak pula gua-gua besar di situ, dengan batu-batu karang bergantungan dari atas merupakan pedang tajam dan di dalam gua pun lantainya dari batu karang yang menyakitkan kaki bila menginjaknya.

Akan tetapi oleh karena panas terik matahari membakar tempat yang gundul tak berpohon itu, maka gua di mana mereka berteduh merupakan tempat yang enak dan melindungi mereka dari serangan matahari yang panas.

"Lin-moi,"

Kata Cin Hai sambil membelai kepala Sin-kong-ciak yang mendekatinya.

"Kalau kita sudah beristirahat dan menghilangkan lelah, kita harus melanjutkan perjalanan memasuki kota Lan-couw. Betapapun juga, aku merasa amat gelisah mengingat akan nasib Suhu yang berada dalam pengaruh dan kekuasaan orang-orang jahat seperti Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya."

"Tenangkanlah hatimu, Hai-ko. Suhu bukan sembarangan orang yang akan mudah dicelakai oleh orang-orang macam Hai Kong itu. Aku yakin sepenuh hatiku bahwa Suhu pasti akan tiba dengan segera membawa obat itu."

Tiba-tiba Sin-kong-ciak dan kedua burung yang lain itu berteriak keras dan ketiga-tiganya lalu terbang keluar gua sambil memekik-mekik marah.

Cin Hai melompat keluar, diikuti oleh Lin Lin.

Mereka terkejut sekali karena melihat bahwa yang datang itu adalah Song Kun!

Ketiga burung itu telah mengenal Song Kun dan telah mengetahui kelihaiannya, maka mereka hanya terbang rendah sambil mengeluarkan suara teriakan seakan-akan memberi tanda kepada Cin Hai dan Lin Lin agar supaya bersiap menghadapi lawan.

"Obat sudah didapatkan!"

Teriak Song Kun dengan wajah berseri.

"Cin Hai, adikku yang baik. Sekarang akulah yang berhak membawa gadis ini, karena jiwanya berada dalam tangan tanganku. Aku telah mendapatkan obat itu dan akulah pula yang berhak mendapatkannya karena hanya aku yang dapat menyembuhkannya!"

Cin Hai menjadi pucat dan ia memandang penuh ketidakpercayaan.

"Kau tidak percaya?"

Kata Song Kun sambil tersenyum dan melirik ke arah Lin Lin.

"Inilah obat itu!"

Ia mengeluarkan sebotol obat warna merah dari saku bajunya dan mengangkat tinggi-tinggi.

"Song Kun! Betulkah bicaramu itu?"

Tanya Cin Hai dengan hati berdebar.

"Kauanggap aku ini orang apakah maka bicaraku harus diragukan lagi? Dengar, Sute. Obat untuk menyembuhkan Lin Lin hanyalah sebotol ini yang berada di tangan dukun Mongol. Obat inilah yang seharusnya diberikan kepada orang yang berhasil mendapatkan harta pusaka untuk rombongan yang dikepalai Hai Kong Hosiang, demikian menurut dukun Mongol itu. Akan tetapi dengan berkeras, aku berhasil merampas botol ini, dan segera aku mencari kalian untuk mengobati Lin Lin. Akan tetapi, aku baru memberi obat ini kepada Lin Lin kalau ia mau berjanji untuk menjadi isteriku yang tercinta."

Song Kun berkata demikian sambil mempermain-mainkan botol itu di tangannya dan mengerling ke arah Lin Lin yang menjadi merah mukanya.

"Suheng!"

Teriak Cin Hai yang merasa girang dan juga kaget. Girang karana ada harapan bagi Lin Lin untuk sembuh kembali akan tetapi, kaget mendengar permintaan dan syarat Song Kun itu.

"Kautolonglah Lin Lin dan berikan obat itu kepadanya. Kesembuhannya merupakan hal yang terpenting bagiku dan biarpun kau menghendaki jiwaku, akan kuberikan dengan rela asalkan kau suka menyembuhkan Lin Lin. Akan tetapi, jangan kau memaksanya menjadi isterimu kalau ia tidak suka."

Song Kun tertawa bergelak.

"Sute, kau membolak-balik omonganmu sendiri. Kau tidak ingin melihat tunanganmu itu meninggal dan juga tidak ingin melihat ia menjadi isteri orang lain! Cin Hai, apakah kau benar-benar mencinta kepadanya?"

"Tak perlu kau bertanya lagi. Aku rela mengorbankan nyawa untuknya."

"Kalau benar cintamu itu murni, kau tentu tidak keberatan untuk mengalah padaku. Pilih saja, membiarkan ia sembuh sama sekali dan menjadi isteriku, atau obat ini akan kubuang dan membiarkan ia mati."

Sambil berkata demikian, Song Kun membuat gerakan seolah-olah ia benar-benar hendak melempar botol itu ke dalam jurang batu karang!

Cin Hai menjadi bingung karena ia maklum bahwa seorang macam Song Kun itu bukan hanya pandai menggertak saja, akan tetapi dapat melakukan segala perbuatan yang keji.

"Jangan buang botol itu, Suheng! Tentu saja aku lebih suka melihat Lin Lin sembuh kembali!"

"Dan menjadi isteriku?"

Tanya Song Kun.

"Soal itu.terserah kepadanya,"

Jawab Cin Hai tanpa berani memandang muka kekasihnya.

Lin Lin semenjak tadi mendengarkan percakapan mereka itu dengan hati panas, akhirnya tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.

Ia melompat berdiri dan mencabut pedang pendeknya.

"Song Kun manusia berbatin rendah! Aku lebih baik seribu kali mati dari pada menjadi isterimu. Buanglah botol itu! Kaukira aku takut mati?"

Sambil berkata demikian, dengan kemarahan besar gadis itu lalu menerjang Song Kun dengan pedang pendeknya dalam serangan yang hebat.

Song Kun cepat menyimpan botol itu kembali ke dalam saku bajunya dan segera mencabut pedangnya Ang-ho-sian-kiam untuk menghadapi serangan Lin Lin yang tak boleh dipandang ringan itu.

Melihat betapa kekasihnya menjadi nekat, Cin Hai lalu mencabut keluar pedang Liong-cu-kiam dan menerjang sambil berseru.

"Song Kun, jangan kaulawan dia yang masih lemah. Akulah lawanmu!"

Dengan tikaman hebat ia menyerang yang segera ditangkis oleh Song Kun.

Lin Lin tetap menyerang dan membantu kekasihnya, akan tetapi Cin Hai yang berkuatir melihat kelemahan Lin Lin segera berkata kepadanya.

"Lin-moi mundurlah dan biarkan aku menghadapi iblis ini! Aku telah yakin akan perasaan hatimu dan jangan kau kuatir. Kalau perlu, kita akan mati bersama!"

Lin Lin melompat mundur dan membiarkan kekasihnya menghadapi lawan yang terlampau tangguh baginya itu, apa lagi karena ia memang merasa pening dan lemah.

Ia berdiri saja memandang dan menyaksikan pertempuran yang berjalan hebat itu.

Sekali lagi kedua orang muda yang lihai itu mengadu kepandaian di antara batu-batu karang yang menjulang tinggi, disaksikan oleh Lin Lin dan tiga ekor burung sakti yang hanya beterbangan di atas dan kadang-kadang saja menyambar turun untuk membantu.

Akan tetapi, sinar pedang Ang-ho-sian-kiam yang hebat dan mengeluarkan hawa panas itu membuat mereka tidak tahan mendekati Song Kun dan terpaksa hanya beterbangan di atas mereka yang sedang bertempur sambil mengeluarkan pekikan-pekikan nyaring.

Karena hatinya telah bulat untuk merobohkan Song Kun yang dibencinya ini, Cin Hai mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya, hingga ia dapat mendesak Song Kun setelah mereka bertempur selama puluhan jurus dengan hebat.

Diam-diam Song Kun merasa terkejut sekali karena kini ia mendapat kenyataan bahwa betul-betul pengertian tentang dasar-dasar ilmu silat membuat Cin Hai menjadi lihai sekali dan dapat mengembalikan setiap serangannya bagaimana lihai pun.

Juga pedang Liong-cu-kiam di tangan Cin Hai merupakan senjata ampuh yang dapat mengimbangi kehebatan Ang-ho-sian-kiam yang tadinya merupakan pedang tunggal yang jarang menemukan tandingannya.

Song Kun adalah seorang yang tidak saja pandai dan tinggi ilmu silatnya, akan tetapi ia juga cerdik dan memiliki sifat curang.

Melihat kehebatan sepak terjang Cin Hai, tiba-tiba ia menarik keluar botol obat itu dan membuat gerakan seakan-akan hendak melempar obat itu ke jurang.

Gerakan ini tentu saja membuat Cin Hai menjadi pucat, karena betapapun juga, ia tidak ingin melihat obat tunggal itu dibuang hingga jiwa Lin Lin takkan tertolong lagi.

Ia menggigil kalau memikirkan bahwa kekasihnya itu akan mati karena racun tanpa dapat ditolong lagi.

Botol obat di tangan Song Kun itu nampak olehnya seakan-akan nyawa Lin Lin, maka gerakan Song Kun itu tak dapat tiada membuat ia memekik tanpa terasa lagi.

"Jangan lempar botol itu!"

Tentu saja pikiran yang bingung itu membuat gerakan pedangnya menjadi kacau dan pada saat yang tepat, pedang Ang-ho-sian-kiam di tangan Song Kun menyerang seperti kilat dan menusuk ke arah matanya!

Cin Hai cepat menundukkan kepala, akan tetapi gerakan itu terlalu cepat cepat hingga ujung pedang masih menggores kulit jidatnya!

Darah mengucur dari kulit itu, terus mengalir turun di sepanjang hidung dan pipinya.

Cin Hai menggunakan lengan baju tangan kiri mengusap mukanya dan pada saat itu kembali pedang Song Kun meluncur dalam serangan yang dahsyat, yaitu dengan bacokan ke arah lehernya!

Serangan ini datangnya tak tersangka-sangka, karena rasa perih pada jidatnya membuat Cin Hai kurang dapat memperhatikan pergerakan lawan, maka cepat ia lalu menjatuhkan diri ke belakang untuk berjungkir balik dan menghindarkan diri dari serangan itu, akan tetapi kembali ujung pedang Song Kun masih berhasil melukai kulit pundak kirinya!

Darah mengucur lagi dan kini lebih banyak karena sedikit daging di bahunya ikut terpapas oleh pedang yang tajam itu!

Melihat hal ini, tak tertahan pula Lin Lin menjerit dan roboh pingsan karena kembali kekuatiran telah membuat jantungnya terserang racun di tubuhnya!

Melihat keadaan kekasihnya, timbullah kemarahan besar di hati Cin Hai.

Ia menjadi nekat dan maklum bahwa menghadapi seorang yang tangguh dan kejam semacam Song Kun, ia tidak boleh merasa kuatir karena betapapun juga, tentu Song Kun takkan mau memberikan obat itu kepadanya.

Maka ia lalu menggigit bibirnya dan mempererat pegangan tangan pada pedangnya lalu membentak.

"Song Kun, kalau bukan kau, tentu aku yang akan menggeletak tak bernyawa di tempat ini!"

Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu mengirim serangan-serangan balasan kilat yang luar biasa hebatnya, karena ia telah mengerahkan seluruh kepandaian dan kecepatannya dan menyerang dengan maksud merobohkan dan membunuh lawannya ini.

Memang gerakan serangan Cin Hai ini terjadi dengan otomatis.

Dalam keadaan sabar, gerakannya menjadi tenang dan kuat, dan dalam keadaan marah dan menggelora, maka kini gerakan pedangnya menjadi berubah ganas seakan-akan seorang iblis mengamuk!

Setiap gerakan pedang merupakan tusukan, tikaman, atau sabetan yang dapat membawa maut!

Song Kun terkejut sekali.

Ia berseru sambil menangkis serangan Cin Hai.

"Mundur, kalau tidak, benar-benar obat ini hendak kulempar ke jurang,"

Akan tetapi, Cin Hai telah menjadi gelap mata dan tidak mau memikirkan lain hal kecuali merobohkan lawan yang dibencinya ini.

Ia tidak menjawab, bahkan memperhebat desakannya.

Song Kun terpaksa melayani dengan sungguh hati, karena benar berbahaya baginya.

"Benar-benar kulemparkan botol ini!"

Teriaknya mencoba sekali lagi, akan tetapi kini Cin Hai tak dapat digertak lagi.

Song Kun menjadi gemas dan ia melompat ke belakang, agak jauh dari Cin Hai.

Dengan napas memburu karena menahan marahnya Cin Hai mengejar, akan tetapi ia melihat Song Kun benar-benar melemparkan botol itu ke dalam jurang!

Melihat hal ini, mau tidak mau Cin Hai merasa betapa hatinya menjadi perih seakan-akan melihat Lin Lin meninggal dunia pada saat itu!

Ia memekik keras dan ngeri sambil melihat arah botol itu dilemparkan.

Akan tetapi, pada saat itu, dari dalam jurang itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Bu Pun Su telah berdiri di situ dengan botol tadi diangkat tinggi-tinggi.

"Ha, akhirnya obat ini terdapat juga olehku!"

Katanya girang.

Bukan main girangnya hati Cin Hai melihat ini sehingga tak terasa pula air matanya mengalir turun, bercampuran dengan darahnya yang tadi mengucur keluar dari luka di jidatnya.

Sementara itu, Song Kun menjadi marah sekali.

"Tua bangka!"

Ia memaki supeknya.

"Kau selalu memusuhi aku dan membela muridmu! Majulah dan mari kita mengadu jiwa di sini!"

Bu Pun Su hanya tersenyum dengan tenang.

"Aku tidak sudi mengotorkan tanganku. Cin Hai, kaulawanlah dia!"

Cin Hai yang merasa beruntung sekali seakan-akan melihat Lin Lin bangkit kembali dari alam baka itu, segera memutar pedangnya dan berkata.

"Suhu, teecu mohon ijin dan restu untuk mengakhiri hidup manusia iblis ini!"

"Memang kejahatan harus dibalas dengan keadilan, dan orang macam dia ini sudah pantas kalau dibasmi. Laksanakanlah tugasmu menjadi wakil mendiang Susiokmu dan juga wakilku!"

Kata Bu Pun Su yang berdiri dengan tegak dan wajahnya nampak bersungguh-sungguh.

Cin Hai lalu maju menyerang dan terjadilah pertempuran yang lebih hebat dari tadi.

Kini keduanya berusaha keras untuk menjatuhkan lawan, semua serangan dimaksudkan untuk menewaskan lawan itu.

Pedang Ang-ho-sian-kiam berubah menjadi gulungan sinar merah, sedangkan pedang Liong-cu-kiam ketika dimainkan, berubah menjadi sinar putih yang terang sekali.

Sinar pedang kedua pihak bergulung-gulung menyelimuti tubuh mereka dan kalau yang menyaksikan pertandingan ini hanya orang-orang biasa, mereka akan merasa heran sekali melihat sinar putih dan merah bergulung-gulung tanpa melihat bayangan orang atau pedang, dan tentu mereka menyangka bahwa dongeng-dongeng tentang para kiam-hiap (pendekar pedang) yang dapat menerbangkan pedangnya yang disebut hui-kiam (pedang terbang) itu memang benar-benar ada!

Akan tetapi, mata Bu Pun Su dapat melihat dengan nyata betapa Cin Hai berhasil mendesak Song Kun yang kini hanya dapat menangkis saja.

Biarpun Song Kun menang gesit dan menang pengalaman serta keuletan, akan tetapi karena pemuda itu selalu menjalankan penghidupan sebagai seorang pemogoran yang terlalu banyak pelesir, maka kesehatannya tidak sedemikian sempurna dan setelah terdesak oleh Cin Hai dalam sebuah pertempuran yang memakan waktu lama dan mereka telah berkelahi seratus jurus lebih, akhirnya ia menjadi lelah dan daya tahannya sudah banyak berkurang.

Sebaliknya, Cin Hai yang mencurahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, walaupun banyak darah keluar dari dua lukanya, masih tetap segar dan bahkan mendesak makin hebat!

Akhirnya Song Kun terdesak sampai ke pinggir jurang dan ketika kaki kirinya menginjak tempat kosong sehingga tubuhnya terjengkang, Cin Hai secepat kilat menusuk ke arah dadanya.

Ia masih berusaha miringkan tubuh, akan tetapi kurang cepat dan pedang Liong-cu-kiam telah masuk ke dalam dada kanannya dan tubuhnya lalu terguling masuk ke dalam jurang!

Cin Hai memandang ke dalam jurang dalam itu dan melihat betapa tubuh Song Kun itu terguling-guling dan makin lama makin kecil sehingga akhirnya lenyap dari pandangan matanya!

"Bagus, Cin Hai, kepandaianmu sudah banyak maju!"

Cin Hai bagaikan baru sadar dari lamunan dan ia segera berlutut di depan gurunya tanpa dapat mengeluarkan sepatah pun kata.

Mereka lalu menghampiri Lin Lin yang masih pingsan dan Bu Pun Su segera menuangkan isi botol itu ke dalam mulut Lin Lin yang dibuka oleh Cin Hai.

Pemuda itu lalu memondong tubuh Lin Lin, dibawa masuk ke dalam gua agar jangan terserang panas matahari.

Bu Pun Su mengikuti dari belakang.

Setelah dengan hati-hati sekali dan penuh kasih sayang Cin Hai meletakkan tubuh kekasihnya di atas batu karang, ia dan suhunya lalu duduk tanpa bergerak maupun mengeluarkan suara.

Seluruh perhatian mereka menuju kepada keadaan Lin Lin, dengan hati penuh harap dan cemas!

Makin lama, wajah Lin Lin yang tadinya nampak pucat itu, makin menjadi merah, bahkan terlalu merah bagaikan orang yang sedang marah!

Kemudian Lin Lin membuka kedua matanya dan melihat Bu Pun Su, ia lalu melompat dan bangun berdiri.

Kedua matanya yang indah itu memandang marah kepada Bu Pun Su dan tiba-tiba ia mencabut Han-le-kiam, terus menyerang kakek itu!

Tentu saja kejadian ini membuat Bu Pun Su dan Cin Hai terkejut dan heran sekali.

Bu Pun Su mengelak dan Cin Hai cepat memburu dan berseru.

"Lin-moi, mengapa kau menyerang Suhu?"

"Siapa yang menjadi Suhu? Dia orang jahat! Dia harus dibunuh... lekas kaubantu aku, Hai-ko kekasihku!"

Sambil berkata demikian, kembali Lin Lin menyerang Bu Pun Su.

Cin Hai makin terkejut oleh karena selain gadis ini tidak mengenal pula kepada Bu Pun Su gurunya sendiri, juga di depan orang lain gadis ini menyebutnya "kekasihku"

Satu hal yang belum pernah terjadi!

Dengan hati berdebar kuatir, timbul persangkaan dalam hatinya bahwa kekasihnya ini telah terganggu ingatannya!

Maka ia lalu menubruk dari belakang, memeluk pinggang kekasihnya itu dan merampas pedangnya.

"Lin Lin... dia adalah Suhu kita...!"

Dalam pelukan Cin Hai yang kuat, Lin Lin tidak berdaya, akan tetapi, ia masih memandang ke arah Bu Pun Su dengan mata melotot.

"Lin Lin, aku adalah Bu Pun Su!"

Kata kakek jembel itu dengan suara mengharukan karena ia merasa bersedih melihat keadaan muridnya yang terkasih itu.

"Tidak, tidak! Kau laki-laki kurang ajar yang hendak membunuh kekasihku. Pergi... pergi... Kalau tidak, kau akan kubunuh!"

Setelah memaki-maki lagi, akhirnya tubuh Lin Lin menjadi lemas dan ia jatuh pulas dalam pelukan Cin Hai!

Bu Pun Su dan Cin Hai menjadi cemas sekali dan ketika Cin Hai membaringkan tubuh kekasihnya di atas lantai gua, ternyata bahwa jalan pernapasan gadis itu normal dan tidak nampak tanda-tanda bahwa kesehatannya terganggu, bahkan ketika ia memeluk Lin Lin yang mengamuk tadi, Cin Hai merasa betapa tenaga gadis itu telah pulih kembali!

"Bagaimana baiknya, Suhu...?"

Tanya Cin Hai dengan bingung.

"Sabar dan tunggulah saja perkembangannya terlebih jauh. Mungkin sekali mereka sengaja memberi obat yang bukan semestinya!"

Tak lama kemudian, Lin Lin terbangun dari tidurnya dan ia memandang sekeliling bagaikan seorang yang baru saja sadar dari mimpi buruk. Ketika melihat Bu Pun Su, ia lalu maju berlutut dan berseru.

"Suhu...!"

Bu Pun Su dan Cin Hai saling pandang dengan mata terbelalak.

"Lin Lin, mengapa tadi kau mengamuk dan menyerang Suhu?"

Tanya Cin Hai. Lin Lin memandangnya dengan heran dan menjawab.

"Hai-ko, apakah arti pertanyaanmu itu? Aku menyerang Suhu dan mengamuk? Ah, kau mengimpi barangkali!"

Ternyata bahwa Lin Lin tidak ingat sama sekali, bahwa tadi ia telah menyerang suhunya sendiri dan mengamuk bagaikan orang kemasukan setan!

Ketika Bu Pun Su memeriksa nadi tangannya, kakek ini mengangguk puas dan untuk melenyapkan rasa penasaran, ia minta gadis itu mainkan ilmu silat dengan pedangnya.

Lin Lin lalu mencabut keluar Han-le-kiam dan bersilat di depan guru dan kekasihnya.

Mereka berdua merasa kagum karena ternyata gadis ini telah sembuh benar, tenaga dan kegesitannya kembali sedia kala.

Akan tetapi kalau mereka mengingat hal tadi, mereka menjadi gelisah juga.

"Cin Hai, marilah kita datangi mereka itu untuk bertanya kepada dukun Mongol mengapa setelah minum obat itu, Lin Lin menjadi terganggu pikirannya. Lin Lin, kau menantilah saja di sini, dengan kembalinya tenaga dan kepandaianmu kami tidak perlu kuatir meninggalkanmu seorang diri di sini. Apa lagi kau dikawani oleh tiga burung sakti itu."

Kata Bu Pun Su yang segera bersuit nyaring memanggil Merak Sakti dan kawan-kawannya. Tiga ekor burung besar melayang turun dan masuk ke dalam gua itu.

"Kalian bertiga jagalah baik-baik pada Lin Lin!"

Kata Bu Pun Su kepada tiga burung itu, kemudian ia bersama Cin Hai lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu untuk mencari keterangan kepada dukun Mongol.

Setelah menceritakan pengalamannya yang aneh, yaitu tentang pertempuran antara fihak Mongol dan Turki serta kerajaan yang melawan Bu Pun Su hingga membuat Nelayan Cengeng dan Yousuf terheran-heran, Ang I Niocu lalu berkata.

"Di balik peristiwa itu tentu ada sesuatu yang hebat, karena kalau tidak demikian, tak mungkin Susiok-couw sampai membantu Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya yang jahat itu. Hal ini perlu sekali diselidiki."

"Memang hal itu aneh sekali,"

Kata Kwee An.

"Hai Kong terkenal jahat dan banyak tipu muslihatnya hingga maut pun seakan-akan jerih mencabut nyawanya. Ia telah menjadi buta dan terguling ke dalam jurang akan tetapi kini tiba-tiba ia muncul dan sebelah matanya masih dapat digunakan, bahkan ia telah berhasil menarik Bu Pun Su Lo-cianpwe membantunya, tentu ia menggunakan akat muslihat yang keji. Mari kita menyelidiki mereka!"

"Cin Hai tentu tahu akan hal ini karena ia sedang pergi mencari Suhu itu, maka sudah pasti ia akan segera kembali ke sini. Baiknya aku dan Ma Hoa menyusulnya sehingga dapat bertemu di jalan, sedangkan kalian orang-orang lelaki mencari tahu akan rahasia peristiwa yang aneh itu, sekalian melihat apakah harta pusaka itu telah diambil,"

Kata Ang I Niocu.

Semua orang setuju dan demikianlah, Ang I Niocu bersama Ma Hoa lalu keluar dari Lan-couw untuk menyusul atau mencegat kembalinya Cin Hai.

Ketika mereka tiba di luar kota Lan-couw, tiba-tiba mereka melihat bayangan tiga ekor burung besar sedang terbang berputaran di atas bukit-bukit batu karang.

"Lihat, bukankah itu Sin-kong-ciak?"

Teriak Ma Hoa dengan hati girang ketika ia mengenal burung merak yang indah bulunya itu terbang di atas.

"Betul, marilah kita pergi menyusul ke sana!"

Ang I Niocu berseru, akan tetapi ternyata Ma Hoa telah mendahuluinya berlari ke bukit itu.

Ma Hoa merasa gembira sekali karena dengan adanya burung-burung itu di sana, tentu Lin Lin juga berada di tempat itu.

Melihat kegembiraan Ma Hoa, Ang, I Niocu juga ikut bergembira, akan tetapi ia hanya tersenyum dan ikut berlari di belakang Ma Hoa.

Mereka berlari dan sampai di tempat yang penuh bukit batu karang itu dan ketika merak itu melayang turun ke depan gua besar dimana Lin Lin berada, Ma Hoa segera berlari ke situ, meninggalkan Ang I Niocu yang berdiri memandang dan mengagumi merak yang indah bulunya itu.

Ma Hoa berlari masuk gua dan tiba-tiba saja terdengar bentakan hebat.

"Manusia tidak tahu malu! Kau akan membunuh kekasihku? Rasakan pembalasanku ini!"

Dan tiba-tiba saja melompat seorang wanita yang menyerangnya dengan sebuah pedang pendek.

"Lin Lin!"

Ma Hoa berteriak nyaring dan penuh keheranan sambil mengelak dari serangan berbahaya itu.

"Ini aku... Ma Hoa...!"

Akan tetapi Lin Lin yang kumat lagi gilanya itu tidak mempedulikan seruan Ma Hoa, bahkan menyerang terus sambil memaki-maki!

Melihat hebatnya serangan itu, terpaksa Ma Hoa mencabut keluar sepasang bambu runcingnya untuk dipakai menangkis dan menjaga diri.

Ia merasa heran, terkejut, dan kuatir melihat keadaan Lin Lin, akan tetapi oleh karena ilmu pedang gadis itu benar-benar lihai dan gerakannya amat sulit untuk diduga semula, terpaksa Ma Hoa mengerahkan seluruh ilmu kepandaiannya untuk menjaga diri dan menangkis semua serangan Lin Lin!

Kalau saja Ma Hoa belum memiliki ilmu silat bambu runcingnya yang lihai itu, pasti dengan mudah saja ia telah dirobohkan oleh Lin Lin, karena setelah mempelajari Ilmu Silat Han-lekiam yang telah diperbaiki pula oleh asuhan Bu Pun Su, Lin Lin benar-benar luar biasa dan lihai sekali.

Terpaksa Ma Hoa mengeluarkan kepandaiannya dan kedua batang bambu runcingnya digerakkan secara hebat untuk mempertahankan dirinya sehingga di dalam gua itu terjadilah pertandingan yang amat dahsyat.

Berkali-kali Ma-Hoa berseru.

"Lin Lin...! Aku adalah Ma Hoa, sahabat baikmu...!"

Tiga ekor burung yang melihat pertempuran ini, beterbangan di sekeliling mereka sambil mengeluarkan suara keluhan bingung karena burung-burung itu, terutama Merak Sakti, tak tahu harus membela yang mana!

Kedua nona itu sama-sama mereka kenal di Pulau Kim-san-to, dan ketika burung bangau yang belum mengenal Ma Hoa hendak menyerang gadis berambut panjang itu dan membantu Lin Lin, tiba-tiba Rajawali Emas dan Merak Sakti menahan dan mencegahnya sehingga ketiga burung itu seakan-akan bertempur sendiri di udara!

Mendengar ribut-ribut itu, Ang I Niocu segera lari menghampiri dan ia merasa terkejut sekali melihat betapa Lin Lin melakukan serangan bertubi-tubi kepada Ma Hoa yang mempertahankan diri dengan sibuknya.

"Enci Im Giok, lekas... lekas tangkap dia, agaknya dia telah berubah ingatan!"

Seru Ma Hoa menahan isak. Ang I Niocu berdiri bagaikan patung dan menjerit.

"Lin Lin...!"

Tiba-tiba suara ini seakan-akan menyadarkan Lin Lin dari keadaan yang tidak sewajarnya itu dan ia menengok ke arah Ang I Niocu, lalu menjerit.

"Enci Im Giok...!"

Pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya terhuyung-huyung karena ia merasa pening sekali.

Ang I Niocu segera melompat memeluknya dan ternyata bahwa Lin Lin jatuh pulas dalam pelukannya!

Maka melongolah Ang I Niocu dan Ma Hoa, saling berpandangan dengan mata terbelalak dan mulut celangap.

Mereka benar-benar tidak mengerti dan heran melihat Lin Lin.

Baru saja mengamuk bagaikan orang gila dan kini tiba-tiba saja jatuh tidur pulas!

Alangkah anehnya keadaan ini.

Ang I Niocu duduk sambil memangku kepala Lin Lin yang masih tidur pulas, sedangkan Ma Hoa lalu memeriksa keadaan gua itu kalau-kalau ada orang lain berada di situ, akan tetapi selain tiga burung besar yang kini berjalan-jalan di depan gua, di situ tidak terdapat sesuatu lagi.

Beberapa lama kemudian, setelah Ang I Niocu dan Ma Hoa duduk menjaga Lin Lin yang sedang tidur, Lin Lin menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya.

Ia bangun dan ketika melihat bahwa ia berada di atas pangkuan Ang I Niocu, ia menggosok-gosok kedua matanya seakan-akan tidak percaya kepada kedua matanya sendiri.

Kemudian ia bangkit dan menubruk Ang I Niocu sambil menangis.

"Enci Im Giok..."

"Lin Lin, kau kenapakah...?"

Bisik Ang I Niocu sambil menahan tangisnya. Kemudian, Lin Lin merasa betapa pundaknya dipeluk orang, ketika ia menengok dan melihat Ma Hoa, ia segera merangkul dan menciumi muka Ma Hoa.

"Enci Hoa... kau juga datang...?"

"Eh, eh, anak nakal! Betul-betulkah baru sekarang kau tahu bahwa aku telah datang?"

Tegur Ma Hoa.

"Mengapa tadi datang-datang kau menyerangku dengan hebat hingga hampir saja nyawaku melayang ke alam baka?"

Lin Lin memandangnya dengan terheran-heran.

"Benarkah? Sudah datang lagikah penyakitku itu? Ah, celaka..."

Dan ia lalu menangis sedih. Ma Hoa dan Ang I Niocu kembali saling pandang dan melongo seperti tadi. Mereka benarbenar tidak mengerti dan terheran-heran.

"Lin Lin,"

Kata Ang I Niocu sambil memegang tangan gadis itu.

"Tadi ketika Ma Hoa masuk ke dalam gua ini, kau terus menyerangnya mati-matian, kemudian tiba-tiba kau jatuh pulas! Apakah sebabnya semua ini? Ceritakanlah semua pengalamanmu karena kami sedang merasa bingung melihat betapa Susiok-couw Bu Pun Su membantu Hai Kong si keparat, dan sekarang melihat kau seperti ini lagi! Ah, apakah gerangan yang telah terjadi sehingga menimbulkan peristiwa yang luar biasa ini?"

Lin Lin lalu menuturkan semua pengalamannya, betapa Bu Pun Su terjatuh ke dalam kekuasaan Wi Wi Toanio dan Hai Kong Hosiang, dan betapa kemudian ia terluka dan melakukan perjalanan bersama Cin Hai yang akhirnya berhasil membinasakan Song Kun dan mendapatkan obat penawar pengaruh racun dalam tubuhnya, akan tetapi yang mengakibatkan datangnya "penyakit gila"

Yang kadang-kadang menyerangnya itu.

Ang I Niocu dan Ma Hoa mendengarkan dengan girang, dan juga cemas.

Girang karena ternyata bahwa Bu Pun Su melakukan hal yang aneh itu karena terpaksa dan hendak menolong jiwa Lin Lin dan girang pula bahwa Song Kun yang jahat dapat ditewaskan oleh Cin Hai hingga sebuah diantara syarat yang diajukan oleh Ang I Niocu kepada tunangannya yaitu Lie Kong Sian, telah terpenuhi.

Akan tetapi mereka merasa gelisah dan cemas mendengar akan keadaan Lin Lin yang kini terserang semacam penyakit yang aneh.

"Dan sekarang kemanakah perginya Hai-ji dan Susiok-couw?"

Tanya Ang I Niocu kepada Lin Lin.

"Mereka sedang pergi ke dukun Mongol pembuat obat yang kuminum untuk mencari keterangan tentang pengaruh obat itu."

Tiada habisnya mereka bercakap-cakap terutama Lin Lin dan Ang I Niocu.

Lin Lin merasa gembira dan bahagia sekali karena dapat bertemu Dara Baju Merah yang dulu dianggapnya telah tewas itu, biarpun ia telah mendengar Cin Hai bahwa Ang I Niocu memang masih hidup.

Juga ia merasa gembira mendengar akan pengalaman Ma Hoa yang juga terluput daripada bahaya kematian bersama tunangannya, yaitu Kwee An, kakak Lin Lin.

"Aku ingin sekali bertemu dengan An-ko, mengapa ia tidak ikut bersamamu? Aku telah rindu sekali kepadanya,"

Kata Lin Lin yang teringat kepada kakaknya.

"Dia bersama Suhu dan Yo-pekhu sedang pergi menyelidiki keadaan gua rahasia yang telah ditemukan itu,"

Kata Ma Hoa yang lalu menuturkan semua pengalamannya ketika melihat pertempuran Bu Pun Su.

Tiga orang dara yang cantik jelita itu duduk bercakap-cakap dengan gembira sambil menanti kembalinya Cin Hai dan Bu Pun Su untuk diajak bersama menemui Kwee An, Nelayan Cengeng dan Yousuf.

Dan dalam kesempatan ini, tidak lupa Ma Hoa menggoda Ang I Niocu dan menceritakan kepada Lin Lin bahwa Dara Baju Merah itu kini telah mempunyai calon.

"Adik Hoa, kalau kau tidak mau diam, akan kuberitahukan kepada Kwee An bahwa kau telah berlaku nakal sekali, agar kau dihajarnya!"

Kata Ang I Niocu balas menggoda. Sementara itu, Lin Lin merasa gembira sekali dan sambil memeluk bahu Ang I Niocu, ia berbisik.

"Kionghi (Selamat), Enci Im Giok. Semenjak dulu, di dalam hati aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan ternyata doaku itu terkabul! Berita ini benar-benar membuat aku merasa bahagia sekali!"

Dan ucapan ini memang sejujurnya karena dari kedua mata Lin Lin menitik keluar dua titik air mata yang membuat Ang I Niocu merasa terharu sekali dan ia menggunakan saputangannya untuk mengeringkan pipi Lin Lin.

"Terima kasih, Adikku, terima kasih,"

Jawabnya sederhana.

Mari kita ikuti perjalanan Bu Pun Su dan Cin Hai yang berlari cepat menuju ke hutan di mana mereka bertemu dengan dukun Mongol itu.

Ketika mereka tiba di tempat itu, pondok di mana kemarin mereka bertemu dengan dukun Mongol, hanya terjaga oleh empat orang Mongol saja, sedangkan di dalam pondok nampak sunyi saja.

Kemudian ternyata bahwa yang berada di dalam pondok hanya Si Dukun Mongol sendiri, maka cepat Bu Pun Su bertanya kepadanya.

"Dukun pikun! Jawab pertanyaanku baik-baik dan sejujurnya, kalau tidak, tentu kau akan kulempar ke neraka!"

Baru kali ini Cin Hai melihat suhunya mengeluarkan ancaman dan marah-marah, dan ia maklum bahwa hal itu terjadi karena kakek itu merasa gelisah dan kuatir mengingat akan keadaan Lin Lin.

"Obatnya yang kausebut daun semut merah itu, benar-benarkah obat itu penolak racun ular hijau?"

"Benar, siapa yang meragu-ragukan obat buatan Mahambi si Dukun Dewa?"

Jawab kakek dukun itu dengan suara bangga.

"Apakah setelah minum obat itu, orang yang terkena racun ular hijau akan sembuh sama sekali?"

"Pasti sembuh, seketika itu juga akan pulih semua kekuatannya. Akan lenyaplah semua racun yang menguasai tubuhnya dan tertolonglah nyawanya dari cengkeraman maut!"

Jawabnya.

"Apakah tidak ada pengaruh lain yang merusak dari obat itu?"

"Tidak, tidak! Obat itu adalah semacam racun pula yang setelah masuk ke dalam tubuh, merupakan racun penolak dan pengusir racun ular hijau! Ketahuilah, dulu aku sendiri pun tidak dapat mencarikan obat sebagai penolak racun ular hijau itu, hingga pada suatu hari, ketika aku mencari daun-daun obat di dalam hutan, aku melihat seekor ular hijau dikeroyok oleh semut-semut merah itu dan matilah si ular hijau! Kemudian aku menyelidiki dan ternyata bahwa semut-semut merah itu bersarang di bawah pohon kembang yang kembangnya kecil berwarna merah pula. Semut-semut itu telah mendapatkan racunnya dari sari kembang inilah, maka kembang itu kusebut kembang semut merah yang mengandung racun berbahaya sekali, akan tetapi menjadi obat satu-satunya untuk mengalahkan racun ular hijau yang jahat!"

Bu Pun Su memandang dengan tajam dan penuh perhatian dan matanya yang awas itu dapat melihat bahwa dukun itu tidak membohong.

"Akan tetapi mengapa orang yang kuobati dengan obatmu itu tiba-tiba terserang penyakit lupa ingatan dan marah-marah seperti orang gila dan kemudian tertidur setelah marah-marah?"

Tanyanya. Dukun itu tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Memang, memang demikian,"

Katanya dan sepasang matanya yang hitam bersinar-sinar.

"Tadi aku lupa menceritakan padamu. Racun semut merah itu mengalir di seluruh urat syaraf dan membersihkan serta menghalau semua racun ular hijau. Pada urat yang besar, peristiwa itu tidak mengakibatkan sesuatu, akan tetapi pada saat kedua macam racun itu berperang di dalam urat syaraf di bagian otak, maka ada kemungkinan orang akan terpengaruh dan menjadi marah-marah serta lupa ingatan untuk sementara waktu, yaitu pada saat kedua racun itu saling gempur!"

Cin Hai tak sabar untuk berdiam diri.

"Sampai berapa lamakah orang itu akan terganggu seperti itu? Dapat sembuh kembali atau tidak?"

Tanyanya tak sabar.

"Tidak ada bahayanya dan hanya untuk sementara waktu saja tergantung dari lamanya orang terkena racun ular hijau. Kalau ia terkena racun selama satu bulan, maka kira-kira satu bulan pula ia akan mengalami hal demikian, kalau baru dua tiga hari, paling lama tiga hari pula ia akan terserang hal itu."

Bu Pun Su dan Cin Hai menarik napas lega. Lin Lin baru terserang racun kurang lebih sepekan, maka untuk sepekan lamanya Lin Lin akan terserang penyakit aneh itu.

"Dan di mana perginya Hai Kong dan kawan-kawannya?"

Tanya pula Bu Pun Su.

"Ke mana lagi kelau tidak mengambil harta pusaka di gua itu?"

Kata Dukun Mahambi sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Manusia-manusia macam mereka itu yang dipikirkan hanya harta benda belaka dan untuk mendapatkan harta benda, mereka tak segan-segan melakukan segala macam kejahatan dan kekejaman."

Bu Pun Su lalu berkata kepada Cin Hai.

"Cin Hai, kau kembalilah kepada Lin Lin dan ajak ia mencari Ang I Niocu dan kawan-kawan lain yang berada di kota Lan-couw. Aku akan menghalangi mereka mengambil harta pusaka itu. Kalau harta yang demikian besarnya terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat, maka harta benda itu akan menimbulkan berbagai kejahatan pula."

Cin Hai mengangguk dan mereka lalu meninggalkan pondok itu.

Cin Hai berlari kembali ke gua di mana Lin Lin berada sedangkan Bu Pun Su berkelebat pergi ke gua Tun-huang!

Bu Pun Su berlari cepat dan sebentar saja ia tiba di gua Tun-huang, di mana ia melihat banyak orang Mongol menjaga dengan senjata di tangan.

Ia tidak melihat adanya Hai Kong dan kawan-kawannya, maka ia dapat menduga bahwa pendeta jahat dan kawan-kawannya itu tentu berada di dalam gua, sedang mengambil harta pusaka.

Dengan sekali melompat, Bu Pun Su telah berada di depan gua, melewati kepala para penjaga sehingga para penjaga itu menjadi terkejut sekali.

Mereka tadinya menyangka bahwa seekor burung besar terbang melayang dan menyambar turun, tidak tahunya yang turun adalah seorang kakek tua yang mereka kenal baik, yaitu kakek jembel yang sakti dan yang telah menghalau semua lawan secara luar biasa itu.

"Hai Kong, Wi Wi, dan yang lain-lain! Jangan harap kalian akan dapat mengangkut pergi harta pusaka itu selama aku masih berada di sini!"

Tiba-tiba, Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, Balaki dan kawan-kawan mereka keluar dari gua itu dengan muka merah karena marah.

"Bu Pun Su, jangan kau berlaku seperti anak kecil! Kau telah mencuri harta pusaka itu dan membawanya pergi, sekarang kau masih berani datang dan berpura-pura melarang kami mengambil harta pusaka itu. Sungguh kurang ajar dan tak tahu malu sakali!"

"Apa katamu?"

Bentak Bu Pun Su kepada Hai Kong Hosiang.

"Harta Pusaka itu telah kaucuri dan kau bawa pergi, mau berkata apalagi?"

Hai Kong Hosiang balas membentak marah dan segera menyerang dengan tongkat ularnya kepada Bu Pun Su.

Juga Balaki segera menyerang dengan senjatanya, diikuti oleh Wi Wi Toanio yang mencabut tusuk konde pemberian Bu Pun Su dulu dan menyerang Bu Pun Su dengan tusuk konde itu!

Menghadapi serangan Hai Kong Hosiang dan Balaki, Bu Pun Su tidak menaruh hati gentar sedikit pun, akan tetapi serangan Wi Wi Toanio dengan tusuk konde itu benar-benar membuat ia gentar juga.

Ia maklum bahwa dengan mengandalkan pengaruh tusuk konde itu ia tidak akan mau menurunkan tangan kepada Wi Wi Toanio, maka ia lalu mengelak cepat dan berkata.

"Aku masih belum mengerti maksud omongan kalian! Biar kuperiksa harta pusaka itu!"

Secepat kilat ia lalu menerobos masuk ke dalam gua dan tak lama kemudian ia keluar lagi dan berdiri di depan Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya sambil tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha! Puluhan anjing kelaparan berebut tulang dan akhirnya secara diam-diam anjing tua membawa lari tulang itu dengan enaknya. Ha-ha-ha!"

Bu Pun Su nampak demikian gembira dan Hai Kong Hosiang beserta kawan-kawannya memandang dengan marah.

"Kaumaksudkan bahwa yang mengambil harta pusaka itu jago tua Hok Peng Taisu?"

Tanya Hai Kong Hosiang sambil memandang tajam.

"Dasar kau yang bodoh,"

Tegur Bu Pun Su.

"Apakah kau tidak membaca tulisan di atas itu? Dengan tongkat bambunya Hok Pek Taisu membuat syair yang diukir pada dinding tanah, dan memang perbuatannya itu cocok sekali dengan cita-citaku. Ha, kalian boleh makan angin! Memang sudah menjadi bagian dan hukuman bagi kalian orang-orang serakah dan bodoh!"

"Lu Kwan Cu, kau harus mendapatkan kembali harta pusaka itu untukku!"

Tiba-tiba Wi Wi Toanio berseru sambil mengangkat tinggi-tinggi tusuk konde yang dipegangnya. Akan tetapi kini Bu Pun Su tidak tunduk kepadanya seperti dulu.

"Wi Wi, sekarang kau tidak perlu menggertak kepadaku lagi! Rahasia kita sudah diketahui orang lain dan bukan merupakan rahasia lagi, Apa peduliku kalau kau hendak menceritakan rahasia itu kepada orang sedunia lagi? Mulai saat ini, aku Bu Pun Su tidak bernama Lu Kwan Cu lagi dan kau tak dapat mempengaruhi Bu Pun Su! Selamat tinggal!"

"Lu Kwan Cu, pada suatu hari aku akan membunuhmu!"

Wi Wi Toanio menjerit, akan tetapi Bu Pun Su telah berkelebat pergi dari situ.

Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya tak berani menghalangi kepergiannya karena mereka maklum bahhwa kakek jembel itu bukanlah lawan yang ringan, sedangkan sekarang harta pusaka telah tercuri orang lain, untuk apa mereka harus memusuhi kakek jembel itu?

Ternyata bahwa harta pusaka itu memang benar telah tercuri orang.

Beberapa orang penjaga bangsa Mongol yang ditugaskan menjaga di situ ketika Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya pergi mengantar Bu Pun Su ke rumah di mana dukun Mongol ditahan, tiba-tiba diserang oleh seorang tua yang menotok mereka secara cepat sehingga mereka tak sempat melihat jelas siapa yang menotok roboh mereka itu.

Orang ini masuk ke dalam lubang penyimpanan harta pusaka dan setelah mengambil semua benda berharga itu, lalu menggunakan tongkatnya untuk menuliskan atau mengukir syair di dinding yang berbunyi seperti berikut .

Harta pusaka di gua rahasia, telah banyak menimbulkan sengketa!

Harta kembali kepada rakyat jelata, sebagai peninggalan nenek moyang mereka!

Tadinya Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya mengira bahwa yang melakukan perbuatan itu adalah Bu Pun Su sendiri, akan tetapi mereka masih merasa ragu-ragu oleh karena mereka pun tahu bahwa tulisan itu dilakukan oleh seorang berilmu tinggi yang mempergunakan tongkat bambu untuk dipakai mengukir, sedangkan Bu Pun Su tak pernah membawa tongkat bambu.

Baru setelah Bu Pun Su menyebut nama Hok Peng Taisu, mereka teringat akan kakek sakti itu, maka mereka lalu mengambil keputusan untuk mencari kakek itu dan merampas kembali harta pusaka yang telah dicurinya.

Mereka ini tidak tahu bahwa diam-diam Bu Pun Su yang tadi berkelebat keluar, sebenarnya belum pergi dan mendengarkan perundingan mereka tentang maksud mereka mencari Hok Pen Taisu, dan setelah mendengar dengan jelas, barulah Bu Pun Su pergi dengan cepat ke gua di mana Lin Lin berada.

Ketika Cin Hai yang disuruh kembali kepada Lin Lin oleh Suhunya itu tiba di gua, dengan girang ia bertemu dengan Ang I Niocu dan Ma Hoa.

Ia lalu menceritakan segala pengalamannya dan bergiranglah semua orang mendengar bahwa penyakit aneh yang menyerang Lin Lin itu hanya akan berlangsung selama sepekan.

"Agaknya penyakit Adik Lin hanya timbul pada saat ia melihat wajah baru dan mendapat kekagetan,"

Berkata Ang I Niocu setelah mendengarkan semua penuturan mereka.

"Ketika ia terserang kemarahan pada pertama kalinya, kebetulan ia baru sadar dari pingsan dan melihat Susiok-couw ia lalu menyerangnya. Yang kedua kalinya ketika tiba-tiba Ma Hoa muncul, ia menjadi terkejut dan lalu menyerangnya pula. Bukankah kau terkejut ketika melihat Ma Hoa muncul secara tiba-tiba itu Lin Lin?"

Gadis itu sambil menarik napas panjang menggeleng kepala.

"Entahlah, aku tak ingat sama sekali Enci Im Giok, seakan-akan aku mimpi."

"Lebih baik kau dan Cin Hai tinggal saja di tempat ini sampai sepekan lamanya, karena sungguh tidak enak kalau kau pergi ke tempat ramai dan tiba-tiba mengamuk orang!"

Kata Ma Hoa. Semua orang menyetujui nasihat ini. Tiba-tiba Cin Hai berkata kepada Lin Lin sambil memegang tangan kekasihnya itu agar tidak mengagetkannya.

"Lin Lin, pusatkan pikiranmu karena Suhu telah datang. Ingat baik-baik bahwa dia yang datang itu adalah Suhu kita sendiri!"

Lin Lin mengangguk-angguk dan maklum bahwa kalau tidak memusatkan pikirannya, mungkin melihat kedatangan kakek itu akan menimbulkan penyakitnya!

Benar saja, Bu Pun Su bertindak masuk dan semua orang memberi hormat kepadanya, Bu Pun Su dengan tenang lalu menceritakan tentang perbuatan Hok Peng Taisu yang mendahului semua orang mengambil harta pusaka itu untuk dikembalikan kepada rakyat, karena memang harta itu dulu telah dirampok dari rakyat jelata.

Ma Hoa merasa girang sekali mendengar tentang suhunya ini akan tetapi ia merasa kecewa juga mengapa suhunya itu tidak datang menemuinya.

"Dan satu hal yang amat penting lagi harus kita perhatikan,"

Kata pula Bu Pun Su.

"Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya kini berusaha merampas kembali harta pusaka itu dan mengejar Hok Peng Taisu. Ma Hoa, kau sebagai muridnya harus memberi tahu hal ini kepada Suhumu agar ia dapat berjaga-jaga dan kalau perlu, kita semua harus membantunya. Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya cukup lihai dan kecurangan serta kecerdikan Hai Kong Hosiang merupakan hal yang amat berbahaya. Lin Lin, kau tinggal dengan Cin Hai di sini sampai sepekan setelah itu barulah kalian boleh pergi ke Gua Tengkorak menyusulku. Nah, aku pergi!"

Sehabis berkata demikian, kakek jembel yang sakti itu lalu bertindak keluar. Terdengar suaranya di luar menggema.

"Tiga burung kubawa serta!"

Ketika semua orang keluar untuk melihat, ternyata kakek itu telah tak nampak lagi, hanya kelihatan tiga ekor burung besar itu terbang tinggi ke timur. Ang I Niocu berkata kepada Lin Lin dan Cin Hai.

"Kami berdua hendak pergi ke rumah Paman Yo lebih dulu agar mereka tidak menanti-nanti kami. Kami akan berdiam di sana menunggu kalian berdua?"

"Enci Im Giok, janganlah kau dan kawan-kawan pergi dulu sebelum aku dan Hai-ko menyusul ke sana,"

Kata Lin Lin, yang sebetulnya ingin sekali pergi bersama dan bertemu dengan ayah angkatnya.

Ang I Niocu dan Ma Hoa berjanji akan menanti sampai sepekan, lalu mereka juga pergi meninggalkan gua itu.

Tinggallah kini Cin Hai dan Lin Lin berdua di tempat yang sunyi itu.

"Lin-moi, sepekan bukanlah waktu yang lama, akan tetapi tak baik kalau selama itu kita menganggur saja. Lebih baik kita bersemadhi dan membersihkan napas melatih lweekang, sekalian membantu bekerjanya obat di dalam tubuhmu."

Lin Lin menyetujui usul ini dan bersama Cin Hai, ia lalu duduk bersila di dalam gua itu, bersamadhi memperkuat tenaga dalamnya.

Sementara itu, Ang I Niocu dan Ma Hoa yang kembali ke Lan-couw untuk bertemu dengan Kwee An, Nelayan Cengeng dan Yousuf, ketika tiba di kampung orang Turki itu, mereka mendengar hal yang baru dan tak mereka sangka-sangka.

Kwee An, Nelayan Cengeng dan Yousuf, ketika mendengar tentang hal Lin Lin dan Cin Hai, segera menyatakan keinginan mereka untuk menengok, akan tetapi Ang I Niocu melarangnya.

"Jangan, sebelum lewat sepekan, janganlah mengganggu Lin Lin karena munculnya wajah baru hanya akan membangkitkan penyakitnya yang aneh. Aku telah berpesan bahwa apabila sepekan telah lawat dan ia telah sembuh, ia dan Cin Hai harus menyusul kita ke tempat ini."

Kemudian, Kwee An lalu menuturkan pengalamannya yang cukup menarik dan untuk mengetahui hal ini lebih baik kita mengikuti perjalanan Kwee An dan Nelayan Cengeng.

Sebagaimana diketahui, mereka berdua ini mendapat tugas untuk menyelidiki peristiwa yang aneh yaitu mengapa Bu Pun Su sampai membantu dan membela Hai Kong Hosiang kawan-kawannya yang jahat.

Mereka berdua pergi ke gua-gua Tun-huang karena menurut cerita Ang I Niocu, di sanalah terjadinya adu kepandaian yang hebat itu.

Akan tetapi di situ hanya sunyi saja dan tidak terlihat orang-orang yang mereka cari, hanya di depan gua rahasia tempat harta pusaka itu tersimpan, terlihat banyak orang Mongol menjaga dengan tangan memegang senjata.

Nelayan Cengeng dan Kwee An mengintai dari balik gunung karang dan melihat penjaga-jaga itu, Nelayan Cengeng berkata.

"Mungkin sekali harta pusaka itu belum diambil. Mengapa kita tidak mempergunakan kesempatan ini untuk merobohkan mereka dan mengambil harta pusaka itu sebelum Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya kembali?"

Kwee An menjawab.

"Aku setuju sekali, akan tetapi, bagaimana kalau Bu Pun Su Lo-cianpwe datang dan mempersalahkan kami?"

"Jangan kuatir, betapapun juga, aku tetap tidak percaya bahwa orang sakti itu benar-benar hendak membantu Hai Kong. Pasti ia terkena pengaruh jahat, Hai Kong memang terkenal curang dan mempunyai banyak tipu muslihat. Menurut dugaanku, tentu ada sesuatu yang memaksa Bu Pun Su untuk menyerah dan kesempatan itu digunakan oleh Hai Kong Hosiang untuk memperalat tenaga Bu Pun Su mengalahkan semua lawan dan mengambil harta pusaka itu. Kalau sekarang kita mendahului mereka, berarti bahwa kita menolong Bu Pun Su, karena aku yakin bahwa betapapun juga, di dalam hatinya, kakek jembel yang sakti itu tidak suka melihat harta pusaka terjatuh ke tangan orang-orang jahat."

"Kalau kita berhasil mengambil harta pusaka itu, harus kita apakan benda itu?"

Tanya Kwee An yang berhati polos dan jujur. Nelayan Cengeng tertawa sambil memandang pemuda itu, dan karena ia merasa geli maka dari kedua matanya keluarlah air mata.

"Ha-ha-ha! Bagi orang-orang seperti kita ini, untuk apakah harta benda yang kotor itu? Aku pernah mendengar Yo Se Pu bercerita bahwa harta itu adalah milik rakyat jelata yang dirampok, dan sebagian pula terdapat harta pusaka Kerajaan Turki yang juga menjadi korban perampokan. Tentu saja sudah sepatutnya kalau harta benda itu dikembalikan kepada mereka yang berhak!"

"Yang berhak?"

Tanya Kwee An dengan heran.

"Menurut cerita, harta itu telah terpendam ratusan tahun lamanya, kalau memang dulunya datang dari rakyat jelata, maka siapakah yang berhak menerimanya kembali?"

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa halus dan menjawab pertanyaan itu.

"Dari rakyat harus dikembalikan kepada rakyat!"

Nelayan Cengeng dan Kwee An merasa terkejut sekali den cepat mereka menengok.

Ternyata di atas mereka telah berdiri seorang kakek tua yang berkepala botak dan memegang sebatang tongkat bambu warna kuning.

Mereka tercengang sekali karena maklum bahwa kakek ini tentu seorang berilmu tinggi, kalau tidak, tak mungkin ia bisa datang tanpa terdengar sedikit pun oleh mereka.

"Apakah Ji-wi (Tuan Berdua) masih ada hubungan dengan seorang gadis bernama Ma Hoa?"

Tiba-tiba kakek botak itu bertanya. Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Hok Peng Taisu, silakan kau turun agar kami dapat memberi penghormatan yang layak!"

Kakek botak itu tertawa pula dan tubuhnya melayang turun bagaikan sehelai daun kering ringannya.

"Nelayan Cengeng, biarpun matamu mudah mengeluarkan air mata, namun harus dipuji ketajamannya,"

Katanya.

Nelayan Cengeng memang cerdik dan melihat seorang kakek lihai menyebut nama Ma Hoa, ia teringat akan cerita gadis itu tentang suhunya yang baru, maka ia sengaja menyebut namanya.

Sedangkan Hok Peng Taisu tadi melihat betapa Nelayan Cengeng itu tertawa sambil mengeluarkan air mata maka mudah saja baginya untuk menerka siapa adanya kakek aneh ini.

"Bagaimana dengan murid kita itu?"

Tanya Hok Peng Taisu.

"Baik, baik, dan terima kasih kuhaturkan kepadamu yang telah memberi bimbingan padanya. Kepandaian yang kauberikan padanya dalam beberapa bulan saja itu tak mungkin dapat kuberikan dalam sepuluh tahun!"

Jawab Nelayan Cengeng sejujurnya.

"Ah, memang kau benar-benar mempunyai sifat betina, mudah menangis dan suka puji memuji. Sudahlah, Kong Hwat Lojin, sekarang kita bicara tentang hal penting. Eh, siapakah anak muda ini?"

"Dia adalah calon suami murid kita."

Hok Peng Taisu mengangguk-angguk dan memandang kagum. Baru mendengar pertanyaan Kwee An tentang harta itu tadi saja sudah membuat ia dapat menghargai sikap dan kebersihan hati pemuda itu.

"Sekarang dengarlah kalian. Kedatanganku ke tempat ini bukanlah tanpa maksud. Aku mendengar tentang perebutan harta pusaka itu, dan karenanya aku hendak mempergunakan kesempatan selagi mereka itu saling gempur dan berebut, aku hendak mengambil harta pusaka itu!"

Nelayan Cengeng memandangnya tajam.

"Untuk apakah harta itu bagimu, Taisu?"

"Ha-ha-ha! Kini kau mengajukan pertanyaan yang bodoh sakali. Kau boleh menjawab sendiri pertanyaan itu dengan jawaban yang kauberikan kepada pemuda ini tadi!"

Nelayan Cengeng mongangguk-angguk.

"Kalau begitu, aku setuju membantumu."

Kakek botak itu berkata.

"Memang aku perlu sekali dengan bantuan kalian. Aku akan mengambil harta itu dan kalian beserta Ma Hoa dan yang lain-lain berkewajiban untuk menjalankan tugas membagi-bagi harta pusaka itu kepada rakyat jelata yang miskin. Bagaimana, sanggupkah kalian?"

Tentu saja Nelayan Cengeng dan Kwee An menyatakan kesanggupan mereka.

Kemudian, Hok Peng Taisu minta mereka menanti sebentar dan sekali berkelebat saja kakek botak itu telah lenyap dari pandangan mata.

Nelayan Cengeng menarik napas panjang dan berkata.

"Entah mana yang lebih tinggi kepandaian Kakek Botak ini dengan Kakek Jembel. Pada dewasa ini, kedua orang itulah yang menduduki tingkat tertinggi dalam dunia persilatan."

Kwee An juga merasa kagum melihat kelihaian Hok Peng Taisu dan mereka berdua lalu mengintai ke arah gua itu.

Mereka melihat betapa kakek itu bergerak cepat laksana seekor burung elang menyambar-nyambar dan tahu-tahu semua penjaga telah tertotok roboh olehnya.

"Bukan main!"

Seru Kwee An dengan kagum sekali karena ia melihat dengan baik betapa kakek botak itu mempergunakan tongkat bambunya untuk menotok dan tiap totokannya ternyata berhasil baik dan gerakannya demikian cepat sehingga serangannya ini tak memberi kesempatan sama sekali kepada para penjaga itu untuk melawan ataupun melihatnya!

Tak lama kemudian, kembali kakek botak itu keluar dari gua dan menuju ke tempat mereka dan kini ia telah membawa buntalan besar yang nampaknya berat sekali.

Ternyata bahwa kakek botak itu telah menggunakan mantel luarnya untuk membungkus semua harta pusaka yang banyak itu dan mengangkutnya keluar dalam waktu yang amat cepatnya.

"Nah, kalian terimalah ini. Memang benar kata-katamu tadi. Kong Hwat Lojin, diantara harta pusaka itu terdapat mata uang emas yang memakai cap huruf-huruf Turki. Tentang pembagiannya terserah kepada kalian, aku percaya penuh kepadamu. Tugasku hanyalah mengambil harta itu, dan untuk membagikannya kepada yang berhak, terserah kepadamu. Nah, aku pergi!"

Dan sebelum Kwee An maupun Nelayan Cengeng membuka mulut, kakek botak itu telah lenyap dari situ!

Nelayan Cengeng dan Kwee An lalu membawa pulang buntalan itu ke rumah Yousuf dan menceritakan semua pengalamannya.

Ketika harta pusaka itu diperiksa, ternyata memang terdapat banyak mata uang emas dari Turki jaman dahulu, maka Nelayan Cengeng lalu memberikan mata uang yang banyak sekali itu kepada Yousuf dan berkata.

"Saudara Yo, bangsamulah yang berhak menerima sebagian daripada harta ini. Bawalah kembali ke Turki, sedangkan bagian lain akan kubagi-bagikan kepada rakyat yang amat membutuhkannya."

Yousuf menerima harta pusaka itu sambil berlinang air mata.

"Pangeran Tua yang kini menjadi Raja amat lemah karena miskinnya dan Pangeran Muda mempergunakan kesempatan ini untuk membeli orang-orang pandai dengan emas. Maka pemberian ini merupakan pertolongan yang datangnya dari Tuhan Yang Agung, karena harta pusaka ini akan dapat digunakan membiayai pembangunan Kerajaan Turki."

"Terserah kepadamu, Saudaraku. Aku cukup percaya dan tahu akan kebijaksanaanmu!"

Yousuf lalu menyuruh orang membuat kantung-kantung dari kulit kambing untuk tempat menyimpan sekalian harta pusaka itu.

Demikian pengalaman Nelayan Cengeng dan Kwee An sebagaimana yang mereka tuturkan kepada Ang I Niocu dan Ma Hoa.

"Kalau demikian, memang telah ada persesuaian antara Hok Pek Taisu dan Bu Pun Su Susiok-couw,"

Kata Ang I Niocu.

"Kita harus menjalankan tugas membagi-bagi harta pusaka itu dengan baik."

"Harta ini harus cepat dibagi dan jangan ditunda-tunda lagi, oleh karena Hai Kong Hosiang tentu takkan tinggal diam saja kalau mengetahui bahwa benda itu berada pada kita,"

Kata Kwee An.

"Maka lebih baik kita segera melakukan tugas itu tanpa menundanya lagi."

"Akan tetapi, bagaimana dengan Lin Lin dan Cin Hai? Apakah kita tidak harus menanti sampai Lin Lin sembuh?"

Ma Hoa berkata ragu-ragu.

"Tak perlu,"

Jawab Ang I Niocu.

"Bukankah Susiok-couw telah memberi perintah kepada mereka untuk menyusul ke Gua Tengkorak kalau Lin Lin sudah sembuh? Kita berangkat dulu dan kelak kita dapat bertemu dengan mereka di timur."

"Biarlah aku yang menanti mereka di sini dan akan kuberitahukan kepada mereka tentang semua ini,"

Yousuf menyatakan kesanggupannya.

Semua orang telah menyetujui keputusan ini.

Harta benda itu lalu dibagi menjadi empat kantung dan mereka, yaitu Nelayan Cengeng, Ang I Niocu, Ma Hoa, dan Kwee An masing-masing mendapat sekantung.

Setelah berpamit kepada Yousuf dan kawan-kawannya, empat orang pendekar itu meninggalkan Lan-couw yang memberi kenang-kenangan hebat kepada mereka.

Mereka menuju ke timur dan di sepanjang jalan mereka membagi-bagikan harta itu kepada rakyat miskin.

Pemberian ini dilakukan secara diam-diam dan tanpa diketahui oleh mereka yang diberi sehingga tentu saja terjadi kegemparan hebat karena banyak sekali orang miskin tahu-tahu menemukan beberapa potong emas dan permata di dalam rumah mereka.

Timbullah desas-desus di sana-sini bahwa Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im) telah turun ke dunia memberi pertolongan kepada orang-orang miskin yang menderita sengsara.

Setelah tinggal di dalam gua batu karang itu sepekan lamanya, akhirnya kesehatan Lin Lin telah pulih kembali seperti sediakala.

Penyakitnya yang aneh, yaitu gangguan pada urat syaraf di otaknya yang ditimbulkan oleh obat kembang semut merah itu telah lenyap sama sekali.

Hal ini dapat ia rasakan karena kalau biasanya tiap hari ia sering merasakan kepalanya kadang-kadang berdenyutan keras sekali hingga terpaksa Cin Hai memegang tangannya dan mengalirkan hawa ke dalam tubuh kekasihnya itu untuk membantu dan memperkuat jalan darah pada otaknya, kini denyutan kepala itu lenyap sama sekali!

Bahkan ketekunan berlatih dan samadhi membuat ia dan Cin Hai mendapat kemajuan yang lumayan.

Sepasang teruna remaja itu lalu pergi menuju ke rumah Yousuf dan ketika Lin Lin berlutut di depan ayah angkatnya, Yousuf mengelus-elus rambut gadis itu dengan hati terharu dan mata merah, karena menahan runtuhnya air matanya.

"Lin Lin, anakku yang baik. Aku mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Adil bahwa kau telah terbebas dari keadaan bahaya. Kalau kau bertemu dengan suhumu Bu Pun Su, sampaikanlah hormat dan terima kasihku, karena sesungguhnya dialah yang telah menolongmu."

Lin Lin dan Cin Hai terkejut.

"Apakah Yo-pekhu tidak ikut dengan kami ke timur?"

Yousuf menggelengkan kepalanya. Lin Lin memegang tangan ayahnya itu dan berkata.

"Ayah, kau harus ikut dengan kami ke timur. Hatiku takkan merasa tenteram kalau harus berpisah lagi dengan kau."

Yousuf tersenyum dan memandang kepada Lin Lin dengan kasih sayang besar.

"Anakku yang baik, alangkah bahagianya perasaan hatiku mendengar ucapan itu. Ternyata Tuhan telah memberi berkah yang berlimpah-limpah kepada aku yang penuh dosa ini sehingga pada waktu usiaku telah tua, aku dapat memperoleh seorang anak seperti engkau! Percayalah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku selain hidup dekat dengan kau dan melihat kau berbahagia, melihat kau hidup beruntung dengan suamimu dan bermain-main dengan cucuku kelak!"

Mendengar ucapan terakhir ini, baik Lin Lin maupun Cin Hai menjadi merah mukanya.

"Kalau begitu, marilah kau ikut dengan kami ke timur, Ayah,"

Kata Lin Lin dengan girang. Kembali Yousuf menggelengkan kepalanya.

"Sekarang belum bisa, Anakku. Kau dan Cin Hai berangkatlah dulu menyusul Suhumu, karena aku masih mempunyai tugas yang amat penting."

Kemudian orang Turki yang baik hati ini menuturkan tentang harta pusaka itu dan menuturkan pula bahwa Ang I Niocu dan yang lain-lain telah berangkat untuk melakukan tugas membagi-bagi harta pusaka kepada rakyat jelata yang membutuhkannya.

"Sedangkan emas yang menjadi hak milik Kerajaan Turki, harus kuantarkan dulu ke negeriku agar dapat digunakan untuk membangunkan kembali kerajaan yang telah dikacau oleh Pangeran Muda."

Karena dapat mempertimbangkan bahwa hal itu memang amat penting dan memang telah menjadi kewajiban Yousuf untuk bekerja demi kebaikan negara dan bangsanya, maka terpaksa Lin Lin dan Cin Hai tak dapat membantah pula.

"Hanya kuminta, Ayah, agar supaya kau jangan terlalu lama tinggal di negeri barat dan segera menyusul kami ke timur. Kebahagiaanku takkan lengkap kalau kau tidak berada di dekatku."

Setelah melihat kekasihnya sembuh, Cin Hai lalu menuturkan tentang tewasnya Pek I Toanio dan Biauw Suthai di tangan Hai Kong Hosiang.

Bukan main terkejut dan marahnya Lin Lin mendengar ini, maka sambil menangis, ia lalu mengajak Cin Hai untuk mampir di kampung itu, di mana jenazah Biauw Suthai dan Pek I Toanio dimakamkan.

Lin Lin bersembahyang di depan kuburan guru dan sucinya dan sambil menangis ia bersumpah.

"Suci dan Subo, aku bersumpah bahwa sakit hati ini pasti akan kubalas dan bangsat gundul Hai Kong pasti akan mampus di dalam tanganku untuk membalas dendam hati Subo dan Suci."

Setelah berdiam di makam subo dan sucinya sampai setengah hari lamanya, Lin Lin lalu melanjutkan perjalanannya bersama Cin Hai.

Kebencian gadis itu terhadap Hai Kong Hosiang bertambah-tambah, karena memang hwesio itu telah banyak membuat sakit hati kepadanya, bahkan hwesio itu akhir-akhir ini telah melukainya dan kalau tidak tertolong oleh obat kembang semut merah, tentu jiwanya akan melayang pula!

Cin Hai maklum akan perasaan hati kekasihnya, maka dengan lemah lembut ia berkata.

"Lin-moi, jangan kau berkuatir. Aku pun bersumpah untuk menebus kesalahanku yang telah melepaskan hwesio itu dulu dan tidak membinasakannya sehingga ia masih hidup dan kini mendatangkan malapetaka pula."

Lin Lin memandang kekasihnya dan tersenyum manis menghibur.

"Koko yang baik, semua itu bukan salahmu, sama sekali bukan!"

Melihat senyum manis kembali telah menghias bibir gadis yang amat dicintanya itu, hati Cin Hai menjadi gembira sekali karena ia tahu bahwa kekasihnya telah melupakan kesedihannya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan penuh kegembiraannya dan kebahagiaan yang hanya dapat dirasakan oleh sepasang teruna remaja pada waktu mereka melakukan perjalanan bersama!

Dalam kegembiraannya, seringkali mereka berhenti di bawah pohon yang besar dan Cin Hai teringat kembali untuk meniup sulingnya, memenuhi permintaan Lin Lin.

Gadis itu kini dapat pula menarikan Tarian Bidadari dengan pedangnya dan dalam pandangan mata Cin Hai, apabila Lin Lin menari diiringi sulingnya, maka gadis ini lebih menarik tariannya daripada tarian Ang I Niocu sendiri!

Untuk membalas kebaikan Cin Hai yang telah meniup suling untuknya, maka ketika Cin Hai minta supaya ia bernyanyi, Lin Lin tidak menolaknya.

Gadis ini memang mempunyai suara yang merdu dan bagus, maka nyanyiannya terdengar merdu sekali.

Memang, bagi siapa yang pernah mengalaminya, akan mengaku bahwa tidak ada kegembiraan penuh bahagia yang lebih nikmat daripada berdua dengan seorang tunangan yang saling mencinta mesra, bercakap-cakap, bersendau gurau dan saling menjaga kesusilaan sebagaimana layaknya dilakukan oleh orang-orang sopan dan berbudi.

Sekali saja kesusilaan dilanggar karena dorongan nafsu yang ditimbulkan oleh iblis maka akan hancur leburlah kebahagiaan murni yang mereka nikmati.

Akan tetapi, Lin Lin dan Cin Hai adalah orang-orang muda yang telah mendapat gemblengan dan didikan dari orang-orang bijaksana dan sakti, maka iman mereka menjadi kuat dan batin mereka telah bersih.

Mereka telah menjadi majikan daripada nafsu sendiri dan menganggap nafsu sebagai hamba yang menjadi alat, bukan seperti halnya orang-orang lemah iman yang dikuasai dan diperhamba oleh nafsu yang menunggangi mereka.

Pada suatu hari, ketika mereka tiba di sebuah hutan yang besar, mereka melihat dua orang berlari-lari cepat dengan wajah seakan-akan sedang menderita ketakutan hebat.

Dua orang itu terdiri dari seorang laki-laki setengah tua yang bersikap gagah sekali dan yang memelihara kumis tebal menjungat ke atas di kanan kiri hidungnya, matanya tajam dan sikapnya agung.

Sedangkan orang kedua adalah seorang gadis yang amat cantik jelita, bermata jeli dan bermuka manis sekali, akan tetapi pada waktu itu wajahnya kemerah-merahan dan matanya mengandung kedukaan besar.

"Mereka seperti orang ketakutan, mari kita tolong!"

Kata Lin Lin dan Cin Hai mengangguk. Mereka lalu menghadang di tengah jalan dan Cin Hai berseru.

"Ji-wi harap berhenti dulu!"

Kedua orang yang sedang berlari itu menahan kaki mereka dan dengan napas tersengal-sengal mereka berhenti, memandang kepada Cin Hai dan Lin Lin dengan heran.

"Mengapa ji-wi berlari-lari seakan-akan ada yang mengejarnya?"

Tanya Lin Lin sambil memandang dengan kagum dan hati suka kepada gadis manis tadi.

"Memang kami sedang dikejar-kejar orang, akan tetapi persoalan ini adalah persoalan bangsa kami sendiri dan sedikit pun tidak ada sangkut pautnya dengan Ji-wi,"

Kata laki-laki tadi dengan suara gagah, menandakan bahwa ia mempunyai keangkuhan dan ketinggian hati, tidak suka minta tolong kepada orang lain. Cin Hai tersenyum.

"Sahabat, ketahuilah bahwa kami bukan bermaksud jahat dan kami hanya ingin menolong kepadamu, yaitu apabila kau berada dalam bahaya."

"Memang aku dan anakku ini berada dalam bahaya, akan tetapi bagi seorang kepala suku bangsa Haimi seperti aku, tak pernah aku minta tolong kepada lain orang untuk memusuhi bangsa sendiri!"

"Suku Haimi?"

Seru Cin Hai yang teringat akan penuturan Kwee An ketika pemuda itu dulu menceritakan pengalamannya.

"Apakah kau bukan Sanoko yang gagah dan nona ini Nona Meilani?"

Kedua orang itu tercengang.

"Bagaimana kau bisa mengetahui nama kami?"

Tanya Sonoko dengan heran. Lin Lin yang juga sudah mendengar penuturan itu dari Cin Hai, lalu berkata girang.

"Nona Meilani, kau tentu masih ingat kepada Kwee An, bukan?"

Mendengar nama ini disebut-sebut, Meilani menundukkan kepala dengan muka merah.

"Dia... dia adalah suamiku..."

"Benar,"

Kata Lin Lin yang sudah tahu pula akan "perkawinan"

Itu.

"Dan aku adalah bekas adik iparmu, karena Kwee An itu adalah kakakku!"

Mendengar ucapan ini, Meilani mengeluarkan isak tangis, lalu ia maju menubruk Lin Lin.

Dua orang gadis itu berpelukan dengan mesra, dan Lin Lin mencium bau kembang yang luar biasa harumnya keluar dari tubuh gadis bangsa Haimi yang cantik itu.

Juga Sanoko menjadi girang sekali.

Ia cepat menjura kepada Cin Hai dan berkata.

"Maaf, maaf! Tidak tahunya kami bertemu dengan sanak keluarga sendiri. Tidak tahu siapakah nama enghiong yang mulia?"

"Siauwte bernama Sie Cin Hai."

"Apakah kau juga masih keluarga Kwee An?"

Tanya Sanoko. Cin Hai merasa ragu-ragu untuk menjawab, akan tetapi Lin Lin mendahuluinya.

"Dia itu adalah tunanganku."

Meilani yang sudah pandai berbahasa Han, membelalakkan matanya yang indah dan sambil tersenyum manis hingga giginya yang hitam berkilauan itu nampak sedikit, ia bertanya kepada Lin Lin.

"Apakah artinya tunangan?"

"Tunangan adalah... calon suami."

"Ah..."

Meilani lalu berlari menghampiri Cin Hai, memeluknya dan mencium kedua pipinya.

Tentu saja Cin Hai menjadi kaget sekali sehingga matanya terbelalak lebar, dan mukanya menjadi merah bagaikan udang direbus.

Juga Lin Lin yang melihat hal ini menjadi terheran sekali, akan tetapi sebagai seorang wanita, ia menjadi cemburu dan wajahnya berubah pucat.

Sanoko agaknya tahu akan hal ini, maka cepat-cepat ia berkata.

"Nona, kebiasaan suku bangsa kami ialah bahwa setiap orang wanita berhak, bahkan diharuskan memberi selamat kepada seorang mempelai laki-laki dengan cara seperti itu."

Legalah hati Lin Lin, karena ia tadi melihat betapa wajah Cin Hai menjadi kemerah-merahan dan dengan belaian kasih sayang seperti itu dari seorang gadis secantik Meilani, bukanlah hal yang boleh dianggap ringan bagi pertahanan hati Cin Hai.

Dan kalau ia harus mendapat saingan dari seorang gadis seperti Meilani, akan berbahayalah!

Kecuali giginya yang hitam mengkilap, Meilani merupakan gadis yang jarang terdapat karena cantik jelitanya.

Meilani kembali menghampiri Lin Lin dan memeluknya.

"Siapakah namamu, Adikku yang baik?"

Tanyanya.

"Panggil saja Lin Lin kepadaku,"

Jawab Lin Lin sambil tersenyum dan diam-diam ia mengerling ke arah Cin Hai dengan pandangan tajam. Adakah Cin Hai juga mencium bau kembang yang harum dan sedap itu? Demikian pikirnya.

"Sanoko Lo-enghiong, karena telah kau ketahui bahwa kita adalah orang sendiri, maka ceritakanlah mengapa kau dan Nona Meilani berlari-lari dan siapa pula yang mengejarmu?"

"Amat memalukan kalau diceritakan,"

Kata orang tua itu sambil menarik napas panjang.

"Semua ini adalah gara-gara keponakanku sendiri. Lenyaplah sifat-sifat ksatria yang setia, gagah dan jujur, setelah ia merantau dan memiliki kepandaian dari... orang-orang Han. Maafkan ucapanku ini, Sie-taihiap, aku tidak bermaksud menghina orang-orang Han."

Cin Hai tersenyum dan mengangguk.

"Siauwte juga takkan membela bangsa sendiri kalau memang ia benar-benar jahat dan terus terang saja, diantara bangsa Han juga banyak yang jahat, sebagaimana terdapat pada bangsa lain. Teruskanlah ceritamu, Lo-enghiong."

Sanoko lalu bercerita dengan singkat. Ternyata bahwa biarpun telah menjadi "janda"

Yaitu setelah ditinggal pergi oleh Kwee An yang baru saja melangsungkan "pernikahannya"

Dengan Meilani, Meilani tetap menjadi pujaan para muda bangsa Haimi.

Akan tetapi, agaknya gadis itu telah mengalami penyakit patah hati sehingga ia menolak setiap pinangan pemuda bangsanya.

Menurut adat kebiasaan mereka, seorang janda yang telah ditinggal oleh suaminya lebih dari seratus hari, maka berhak untuk menerima pinangan laki-laki lain dan si suami itu apabila telah kembali, tidak berhak lagi terhadap bekas isterinya.

Meilani tinggal menjadi janda kembang sampai berbulan-bulan, dan akhirnya ia jatuh hati juga kepada seorang pemuda yang baru saja datang dari perantauan, yaitu seorang pemuda pemburu yang gagah berani bernama Manoko.

Ketika Manoko mengajukan pinangan, maka pinangan itu diterima.

Akan tetapi, pada saat itu datanglah seorang pemuda keponakan Sanoko sendiri yang semenjak kecil telah merantau ke daerah selatan dan telah mempelajari silat dari seorang guru bangsa Han.

Ketika pemuda yang bernama Saliban ini datang, maka semua orang mengaguminya karena ia memang benar-benar pandai dan berilmu silat tinggi.

Semua jago-jago Haimi jatuh dalam tangannya, juga orang-orang Haimi banyak yang membencinya, karena tenyata bahwa keponakan dari Sanoko itu beradat buruk, jahat, dan sombong sekali.

Ia bertingkah meniru lagak orang-orang Han, bahkan ia tidak memelihara kumis dan cambang seperti orang Han, dan bicara pun ia selalu mempergunakan bahasa Han!

Semenjak datang dan tinggal bersama bangsa sendiri, telah seringkali Saliban mengganggu anak bini orang, dan semenjak ia datang, ia menaruh hati kepada Meilani, saudara misannya itu.

Ia tidak mau atau memang ia tidak suka mengikat diri dengan sebuah pernikahan dan niatnya hanya hendak menjadikan Meilani sebagai kekasihnya saja!

Tentu hal ini tidak dapat diterima oleh Meilani yang memang menaruh hati benci kepada pemuda yang berlagak menjemukan itu.

Ketika pinangan Manako diterima, Saliban menjadi marah sekali dan ia lalu menggunakan kepandaian dan pengaruhnya untuk menghasut kawan-kawannya dan mengadakan pemberontakan.

Hai ini terjadi pada hari kawin Meilani dengan Manako.

Tiba-tiba saja, Saliban menyerang dan terjadi pertempuran hebat di antara bangsa sendiri.

Pengikut-pengikut Sanoko tak kuat melawan Saliban hingga banyak yang menjadi korban, sedangkan Manoko sendiri terluka pada pundaknya dan melarikan diri ke dalam hutan.

Sanoko dan Meilani setelah mengadakan perlawanan hebat, ternyata tak kuat menghadapi Saliban yang tangguh itu, maka mereka melarikan diri, dikejar-kejar oleh Saliban dan kawan-kawannya yang bermaksud membunuh Sanoko, mengangkat diri sendiri menjadi kepala suku dan memaksa Meilani menjadi kekasihnya!

Bukan main marahnya hati Cin Hai dan Lin Lin mendengar penuturan ini, dan pada saat Sanoko mengakhiri cerita-ceritanya, tiba-tiba terdengar sorakan ramai dari depan.

"Itulah mereka telah datang, biarlah aku dan anakku mengadakan perlawanan sampai titik darah penghabisan!"

Kata Sanoko sambil bangun berdiri dan memegang pedangnya dengan sikap gagah. Juga Meilani telah mencabut pedangnya dan bersiap sedia.

"Duduklah, Lo-enghiong, dan kau juga, Meilani. Biarlah aku yang menghadapi bangsat-bangsat itu!"

Kata Lin Lin dengan gagahnya. Meilani dan Sanoko ragu-ragu, akan tetapi Cin Hai berkata.

"Benar, Lo-enghiong, biarkan tunanganku itu menghadapi Saliban. Kau dan Nona Meilani sudah lelah, mengasolah sambil menonton!"

Mendengar kata-kata itu, mundurlah kedua orang ini dan membiarkan Lin Lin seorang diri menghadapi Saliban.

Benar saja, yang datang itu adalah serombongan orang Haimi terdiri dari belasan orang yang dipimpin oleh seorang pemuda Haimi yang berpakaian seperti orang Han dan yang lagaknya sombong sekali.

Melihat betapa orang-orang Haimi yang masih muda-muda itu semuanya memelihara kumis yang melintang di bawah hidung dan menjungat ke atas tak dapat ditahan lagi Lin Lin tertawa geli, sedangkan Cin Hai tak terasa lagi meraba-raba kulit bawah hidungnya yang masih halus dan belum ditumbuhi kumis itu.

Saliban melihat betapa seorang gadis Han yang cantik luar biasa dengan sikap gagah menghadang di jalan, sedangkan Sanoko dan Meilani duduk di bawah pohon seakan-akan dilindungi oleh gadis itu, menjadi terheran-heran dan melihat kecantikan Lin Lin, timbullah sikap kurang ajarnya.

Ia tersenyum dibuat-buat dan berkata.

"Nona cantik, apakah kau sudah mendengar nama Saliban yang gagah perkasa sehingga sengaja kau datang menyambutku untuk berkenalan?"

"Jadi inikah tikus yang bernama Saliban? Eh, tikus, apa maksudmu mengejar Sanoko dan Meilani?"

Berkata Lin Lin dengan suara mengejek.

"Lin-moi, dia itu bukan tikus! Lihat saja dia tidak berkumis, mungkin kumisnya itu ia sembunyikan di belakang menjadi ekor! Dia ini lebih cocok dibuat monyet buduk!"

Kata pula Cin Hai untuk mengejek orang itu. Bukan main marahnya Saliban mendengar ejekan-ejekan ini dan lenyaplah maksudnya hendak mengganggu Lin Lin, berubah menjadi kebencian besar.

"Darimana datangnya dua ekor anjing kurang ajar?"

Ia membalas memaki dan sekali tangan kirinya bergerak, sebatang piauw menyambar ke arah Cin Hai yang sedang duduk di bawah pohon dan sekali lagi tangannya bergerak, maka sebatang piauw lain menyambar ke leher Lin Lin!

Dengan tenang Cin Hai memungut ranting kayu yang terletak di dekatnya dan ketika piauw itu menyambar ke arahnya, ia menggerakkan ranting itu dan sekaligus piauw itu kena dipukul sedemikian rupa sehingga piauw itu membuat gerakan membalik dan kini meluncur kembali ke arah kaki Saliban!

Sementara itu, piauw yang meluncur ke arah leher Lin Lin, disambut dengan sikap dingin oleh gadis itu.

Ketika piauw menyambar, ia lalu mengulur tangan dan berhasil menjepit piaiuw itu di antara jari-jari tangannya, lalu melihat betapa piauw yang melayang ke arah Cin Hai telah di"retour"

Oleh pemuda itu, ia menanti sampai piauw itu melayang ke kaki Saliban dan melihat Saliban meloncat naik untuk mengelak dari sambaran piauwnya sendiri, Lin Lin tersenyum dan ia pun lalu menyambitkan piauw yang ditangkapnya tadi ke arah kaki Saliban lagi yang justeru hendak turun.

Terpaksa Saliban melompat lagi ke atas sehingga ia telah berlompat-lompatan dua kali untuk menghindarkan diri dari sambaran piauwnya sendiri!

"Ha-ha-ha!

Lihat, benar-benar ia monyet yang pandai menari-nari!"

Cin Hai tertawa sambil menuding ke arah Saliban, sedangkan Lin Lin juga tertawa mengejek.

Sanoko dan Meilani terpaksa ikut tersenyum melihat kejenakaan dua orang muda yang ternyata dapat mempermainkan Saliban itu.

Meilani diam-diam merasa kagum sekali melihat Lin Lin yang mempunyai cara demikian indah untuk menerima sambitan piauw dari jarak dekat dan mengembalikannya ke arah kaki lawan hanya untuk mempermainkannya.

Saliban makin marah dan ia lalu mencabut pedangnya sambil berseru.

"Bangsat-bangsat kurang ajar! Kau mencampuri urusan suku bangsa lain?"

"Saliban, orang rendah! Jangan kau membuka mulut besar! Kami memang selalu mencampuri urusan orang-orang biadab macam kau yang hendak mengandalkan kejahatan untuk mencelakakan orang, Kau sungguh tidak tahu malu. Meilani tidak suka menjadi permainanmu, mengapa kau memaksa?"

"Meilani adalah adik misanku. Dia telah menjadi janda dan memalukan sekali kalau ia menerima pinangan orang lain! Itu berarti merendahkan nama keluarga kami! Kau berhak apakah mencampuri urusan rumah tangga kami?"

"Dengarlah!"

Bentak Lin Lin dengan marah.

"Meilani adalah Kakak iparku karena ia adalah janda dari kakakku Kwee An. Kakakku dan aku pun sudah setuju kalau ia menikah lagi dengan orang yang dipilihnya sendiri atas persetujuan Ayahnya, kau ini mempunyai hak apa maka berani menghalanginya?"

"Bagus, kalau begitu biarlah kalian kubinasakan semua!"

Sambil berkata demikian Saliban lalu maju menubruk dan menyerang dengan pedangnya ke arah Lin Lin. Akan tetapi Lin Lin dengan tenang sekali menghadapinya dengan tangan kosong.

"Adik Lin Lin, kaupergunakan pedangku ini!"

Kata Meilani karena merasa kuatir melihat betapa gadis itu menghadapi Saliban yang lihai dengan tangan kosong saja, akan tetapi Lin Lin menoleh dan tersenyum kepadanya sambil menjawab.

"Untuk menghadapi seekor tikus... eh, monyet macam ini perlu apakah harus mempergunakan pedang? Tanganku cukup untuk merobohkannya!"

Juga Cin Hai yang melihat gerakan Saliban walaupun cukup lihai namun masih belum cukup berbahaya bagi Lin Lin, berkata kepada Meilani.

"Tenanglah, Nona. Lin-moi cukup kuat menghadapinya dengan tangan kosong."

Sementara itu, Saliban yang merasa terhina sekali oleh ucapan Lin Lin, dengan nekat lalu menyerang sambil mencurahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Akan tetapi, sambil menari-nari dan mempergunakan Ilmu Silat Tarian Bidadari yang telah dipelajarinya.

Lin Lin mempermainkan Saliban, sehingga Meilani memandang bengong.

Bagaimana mungkin menghadapi seorang tangguh seperti Saliban itu dengan menari-nari macam itu?

Kawan-kawan Saliban maju mengeroyok Lin Lin, akan tetapi tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu beberapa buah senjata di tangan mereka melayang dan terpental ke mana-mana.

Ternyata Cin Hai yang melihat gerakan mereka telah mendahului dan sekali bergerak saja ia telah membuat pedang dan golok mereka terlepas dari pegangan!

Orang-orang Haimi itu terkejut sekali dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba kembali tubuh Cin Hai berkelebat dan bergerak dan terdengar jerit kesakitan berkali-kali dan ketika mereka semua meraba ke arah hidung mereka yang terasa sakit dan perih, ternyata bahwa Cin Hai telah menggunakan kecepatan gerakannya untuk mencabuti kumis-kumis mereka itu seorang demi seorang!

Sambil melemparkan rambut-rambut kumis itu ke udara sehingga beterbangan tertiup angin, Cin Hai tertawa-tawa sehingga Meilani yang melihat hal ini tak kuasa lagi menahan geli hatinya dan tertawa terkekeh-kekeh.

Sanoko yang melihat kehebatan gerakan itu dengan kepala pening, juga tersenyum dan di dalam hatinya ia merasa kasihan juga kepada anak buahnya yang memberontak itu karena bagi seorang laki-laki Haimi, dicabut kumisnya sama dengan dicabut kepalanya dari leher!

"Kalian yang memberontak dan mengikuti bangsat Saliban, tak pantas berkumis lagi!"

Kata Cin Hai sambil memandang kepada belasan orang yang kita telah kehilangan kumisnya itu.

Mereka menundukkan kepala sambil menutupi hidungnya yang berdarah itu, dan merasa amat malu karena tanpa kumis bagi mereka hampir sama dengan berdiri telanjang dihadapan orang lain!

"Kalau kalian sayang jiwa, hayo berlutut minta ampun kepada kepala suku yang asli, yaitu Sanoko!"

Teriak Cin Hai lagi.

Orang-orang itu telah merasai kelihaian Cin Hai, dan kini mereka tak berani membantah lagi, lalu berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada Sanoko yang berdiri sambil memandang dengan kagum kepada Cin Hai.

Sementara itu, Saliban telah merasa pening karena dipermainkan oleh Lin Lin, dan ketika gadis itu sudah merasa cukup puas mempermainkan Saliban, tiba-tiba ia mengubah gerakannya dan kini ia mainkan Ilmu Silat Kong-ciak-sin-na yang lihai, ilmu silat yang diajarkan oleh Bu Pun Su!

Saliban terkejut sekali ketika tubuh gadis itu melompat tinggi dan menyambar-nyambar dari atas bagaikan seekor burung besar menyerang marah.

Ia menyabet dengan pedangnya, ditotok oleh Lin Lin dan sebelum ia tahu bagaimana hal itu bisa terjadi tahu-tahu pedangnya telah berpindah tangan!

Ia merasa terkejut dan hendak melompat pergi, akan tetap kaki Lin Lin telah mendahuluinya menendang pundaknya dari atas hingga tak ampun lagi ia terguling roboh sambil mengeluh kesakitan karena sambungan tulang pundaknya telah terlepas.

Sanoko melihat keponakannya yang jahat itu sudah roboh, lalu menghampiri Cin Hai dan Lin Lin dan mintakan ampun untuk jiwa Saliban, sehingga Cin Hai dan Lin Lin merasa kagum akan kemurahan hati kepala Suku ini.

"Saliban,"

Kata Cin Hai kepada pemuda Haimi itu.

"dengarlah betapa pamanmu mintakan ampun untuk kau yang telah memberontak dan berbuat jahat terhadapnya. Tidak malukah kau? Orang seperti engkau ini seharusnya dibinasakan, karena selain berbuat jahat, kau pun telah merusak nama baik Suhumu yang tentu seorang Han adanya. Kau tidak lekas minta ampun?"

Melihat kelihaian Lin Lin dan Cin Hai, Saliban insyaf bahwa ilmu kepandaiannya sebetulnya masih amat rendah dan ia merasa malu dan menyesal, maka sambil merayap ia berlutut minta ampun kepada pamannya dan bersumpah takkan mengulang perbuatannya lagi.

Pada saat itu, dari jauh mendatangi serombongan orang Haimi yang dipimpin oleh Manako.

Pemuda ini walaupun sudah terluka pundaknya, namun dengan nekat ia mengumpulkan kawan-kawan dan menyusul untuk menyerbu Saliban dan menolong calon isteri dan mertuanya.

Juga Manako memaafkan Saliban, sedangkan Cin Hai dan Lin Lin diam-diam memuji ketampanan dan kegagahan Manako, hanya mereka diam-diam menyayangkan bahwa anak muda ini belum pantas memakai cambang yang demikian tebal dan panjangnya.

Setelah bercakap-cakap dan beramah tamah dengan orang-orang Haimi serta meninggalkan banyak nasihat kepada Saliban, Cin Hai dan Lin Lin lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.

Ketika mereka berdua tiba di Pegunungan Lian-ko-san yang tak jauh lagi dari Gua Tengkorak, tinggal sehari perjalanan lagi, dan sedang berjalan melalui sebuah padang rumput, tiba-tiba muncul tiga orang yang membuat mereka terkejut dan bersiap sedia, karena tiga orang itu bukan lain ialah Thai Kek Losu, Sian Kek Losu, dan Bo Lang Hwesio.

Tiga orang ini yang telah dikalahkan oleh Bu Pun Su, maklum bahwa anak-anak muda yang menjadi musuh mereka itu masih berada di barat, maka sengaja mereka menghadang di situ untuk membalas dendam.

Ketika Bu Pun Su lewat di situ, mereka bersembunyi saja tidak berani keluar, akan tetapi setelah kini melihat kedatangan Cin Hai dan Lin Lin, mereka muncul dan menghadang di jalan dengan hati penuh dendam, terutama sekali Bo Lang Hwesio yang hendak membalas dendam kepada Lin Lin atas kematian muridnya dahulu, yaitu Boan Sip yang menjadi gara gara semua permusuhan.

Cin Hai berlaku tenang-tenang saja juga Lin Lin dengan tabah dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri berdiri di sebelah kiri kekasihnya dan memandang tajam kepada musuh-musuh besar itu.

"Eh, kiranya Sam-wi Lo-suhu yang berada di sini. Tidak tahu mempunyai maksud apakah maka menghadang perjalanan kami?"

Kata Cin Hai dengan sikap hormat.

"Pendekar Bodoh! Telah berkali-kali kau dan kawan-kawanmu memusuhi dan menghalangi kami, bahkan Suhumu sendiri telah menghina kepada kami. Sekarang kebetulan kita bertemu di sini, masih hendak bertanya tentang maksud kami? Cabutlah senjatamu dan biarlah saat ini akan menentukan siapa diantara kita yang lebih kuat!"

Kata Thai Kek Losu kepada Cin Hai, sedangkan Bo Lang Hwesio dengan mata memandang marah membentak kepada Lin Lin.

"Dan kau tentu masih ingat akan dosamu membinasakan muridku, maka sekarang aku hendak membalas dendam. Hutang jiwa ya harus membayar jiwa pula!"

Sambil berkata demikian, Bo Lang Hwesio mengeluarkan sepasang poan-koan-pit.

Lin Lin sudah mendengar tentang pertempuran tokoh-tokoh besar ini melawan Bu Pun Su, maka melihat poan-koan-pit itu, ia menyindir.

"Bo Lang Hwesio, agaknya kau telah mencuri sepasang poan-koan-pit baru, apakah yang dulu telah tak dapat digunakan pula?"

Marahlah Bo Lang Hwesio mendengar ini, maka sambil menerjang maju ia membentak lagi.

"Perempuan rendah, bersedialah untuk mampus!"

Lin Lin dengan tenang lalu mencabut keluar Han-le-kiam dari pinggangnya dan menyampok poan-koan-pit lawan yang menyerangnya, kemudian secepat kilat ia pun balas menyerang dengan hebat.

Sementara itu, Thai Kek Losu telah mengeluarkan senjatanya yang hebat, yaitu tengkorak kecil itu yang kini telah diperbaikinya dan diganti rantai yang mengikatnya, sedangkan Sian Kek Losu juga mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang gendewa.

Juga gendewanya yang telah dipatahkan oleh Bu Pun Su itu kini telah digantinya dengan sebatang gendewa yang baru, terbuat daripada besi kuning.

Cin Hai maklum akan kelihaian senjata-senjata lawannya, maka ia pun tidak mau berlaku sungkan lagi dan mencabut keluar sepasang pedangnya Liong-cu-kiam yang panjang dan pendek, dipegang pada kedua tangannya.

Kedua Pendeta Sakya Buddha itu terkejut melihat sepasang pedang yang mengeluarkan cahaya gemilang itu, maka mereka maklum bahwa sepasang pedang itu tentu pedang-pedang pusaka yang ampuh dan tajam, mereka lalu membentak dan mendahului menyerang dengan hebat.

Cin Hai memperlihatkan kegesitannya dan melawan dengan tenang dan waspada.

Ia melihat betapa gerakan Thai Kek Losu jauh lebih gesit daripada dulu, agaknya pendeta itu telah melatih diri selama ini, sedangkan gerakan Sian Kek Losu juga hebat sekali.

Untung ia mempergunakan sepasang pedang Liongcu-kiam yang tajam sehingga kedua lawannya tak berani menahan pedangnya dengan senjata mereka hingga serangan kedua orang itu dapat dibalas dengan serangan-serangan kilat yang cukup membuat kedua lawannya berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa murid Bu Pun Su ini tidak boleh dibuat gegabah!

Sementara itu, pertempuran antara Lin Lin dan Bo Lang Hwesio juga berjalan seru sekali.

Ilmu Pedang Han-le-kiam memang luar biasa dan cepat sedangkan kini Lin Lin telah memperoleh kemajuan hebat dan bahkan telah melatih diri dengan limu Silat Pek-in-hoatsut dan Kong-ciak-sin-na, akan tetapi menghadapi Bo Lang Hwesio yang sudah jauh lebih berpengalaman dan ulet itu, ia mendapatkan lawan yang amat kuat dan tangguh.

Sepasang poan-koan-pit di tangan Bo Lang Hwesio menyambar-nyambar ke arah jalan darah yang berbahaya dan juga tiap kali pedang Han-le-kiam kena disampok oleh poan-koan-pit, Lin Lin merasa betapa telapak tangannya menggetar karena tenaga hwesio itu ternyata lebih besar sedangkan ilmu lweekangnya pun lebih tinggi dari pada Lin Lin.

Maka gadis ini yang tahu akan keadaan itu lalu mempergunakan kelincahannya dan ginkangnya untuk menghindarkan diri dari desakan poan-koan-pit, sedangkan jurus-jurus berbahaya yang ia keluarkan dari ilmu pedangnya membuat Bo Lang Hwesio diam-diam merasa terkejut juga.

Alangkah beda tingkat ilmu pedang gadis ini dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu ketika ia dan Ke Ce menyerbu ke atas bukit tempat tinggal Yousuf dan berhasil menjatuhkan Kwee An dan Ma Hoa ke dalam jurang.

Ketika dulu itu, walaupun ilmu pedang gadis ini sudah aneh dan luar biasa, akan tetapi gerakannya belum sematang ini.

Maka hwesio itu lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga setelah bertempur lama, Lin-Lin merasa terdesak juga!

Adapun Cin Hai yang dikeroyok dua oleh Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, biarpun belum terdesak, namun sukar pula baginya untuk mendesak kedua lawannya yang berilmu tinggi.

Terutama sekali tengkorak di tangan Thai Kek Losu amat berbahaya karena Cin Hai tidak berani menangkisnya dengan pedang.

Ia maklum bahwa tengkorak itu amat berbahaya dan apabila ditangkis akan menyebarkan jarum-jarum beracun yang lihai sekali.

Juga gendewa di tangan Sian Kek Losu bukanlah senjata yang mudah dilawan biarpun ia dapat menduga ke mana gerakan gendewa itu akan dilancarkan.

Maka untuk menghadapi kedua lawan yang tangguh ini, Cin Hai memainkan dua macam ilmu pedang dengan kedua tangannya.

Pedang panjang di tangan kanan ia mainkan dengan jurus-jurus dari Ilmu Pedang Daun Bambu, sedangkan pedang pendek di tangan kiri ia mainkan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan-kiam-hwat, maka kedua pendeta Sakya Buddha itu benar-benar merasa terkejut dan mengadakan perlawanan dengan mati-matian.

Mereka harus mengakui bahwa selain Bu Pun Su, belum pernah mereka menemukan tandingan seorang pemuda yang demikian tinggi ilmu silatnya!

Pada saat pertempuran sedang berjalan dengan seru, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang ringan sekali gerakannya dan laki-laki ini membentak marah.

"Pendeta-pendeta pada dewasa ini hanya mempergunakan pakaian sebagai kedok belaka, akan tetapi di dalam tubuh mengandung iman yang bobrok dan batin yang rendah! Jangan kalian, berani mengganggu murid seorang sakti dan mulia seperti Bu Pun Su!"

Kemudian laki-laki itu menarik keluar pedangnya dan menerjang Bo Lang Hwesio sambil berkata kepada Lin Lin.

"Nona, kaubantulah kawanmu itu dan biarkan Si Gundul ini tewas dalam tanganku."

Lin Lin mendengar suara ini diucapkan dengan halus dan sopan akan tetapi mengandung pengaruh besar, maka ia lalu meninggalkan Bo Lang Hwesio dan melompat untuk membantu Cin Hai.

Lin Lin maklum bahwa ilmu kepandaian Thai Kek Losu terlampau tinggi baginya, maka ia lalu menyerang Sian Kek Losu!

Memang perhitungannya tepat karena di antara ketiga orang lawan yang paling lihai dan amat berbahaya untuk dilawan adalah Thai Kek Losu.

Bo Lang Hwesio memiliki ilmu kepandaian yang hanya sedikit berada di bawah kepandaian pendeta Sakya Buddha ini, bahkan di dalam hal lweekang, mungkin Bo Lang Hwesio lebih tinggi tingkatnya!

Adapun Sian Kek Losu hanya memiliki tenaga besar saja dan ilmu silatnya biarpun tinggi, namun tidak selihai kedua orang kawannya itu.

Kini pertempuran terpecah menjadi tiga dan keadaan berubah dengan cepatnya.

Orang yang baru datang tadi dengan ilmu pedangnya yang luar biasa cepat dan aneh gerakannya, segera berhasil mendesak Bo Lang Hwesio.

Ketika Lin Lin dan Cin Hai mendapat kesempatan memandang ke arah orang itu, hampir saja mereka berseru karena heran dan kagum.

Ternyata ilmu pedang yang dimainkan oleh orang itu mempunyai dasar-dasar gerakan yang sama dengan jimu silat mereka!

Lin Lin teringat akan penuturan Ma Hoa ketika bertemu dengannya di dalam gua bersama Ang I Niocu, maka sambil menangkis serangan gendewa di tangan Sian Kek Losu ia berseru.

"Enghiong yang gagah bukankah Lie-enghiong tunangan Ang I Niocu?"

Orang itu tersenyum dan sambil menangkis poan-koan-pit dari Bo Lang Hwesio ia menjawab.

"Betul, dan Ji-wi tentulah Nona Lin Lin dan Saudara Cin Hai!"

Mendengar percakapan ini, Cin Hai merasa heran sekali. Hal ini merupakan "surprise"

Baginya, yaitu merupakan hal yang sama sekali tak pernah diduga-duganya.

Tunangan Ang I Niocu?

Dan demikian gagah perkasa?

Hatinya menjadi girang dan ia ingin sekali cepat-cepat mengakhiri pertempuran ini agar supaya dapat bercakap-cakap dengan orang yang memiliki ilmu kepandaian yang sama dengan kepandaiannya sendiri.

Ia dulu mendengar bahwa Ang I Niocu ditolong oleh Lie Kong Sian, akan tetapi Dara Baju Merah itu tidak menceritakan bahwa ia telah menjadi tunangan Lie Kong Sian.

Ia maklum bahwa orang ini adalah Suheng dari Song Kun, maka boleh dibilang masih suhengnya sendiri pula!

Lin Lin dengan limu Pedang Han-lekiam-liwat dapat mendesak Sian Kek Losu dan pada saat gendewa di tangan Sian Kek Losu menangkis dengan sekuat tenaga untuk membuat pedang pendek di tangan Lin Lin terpental, gadis itu dengan amat cerdik dan cepatnya lalu menarik kembali pedangnya dan melihat lowongan yang terbuka segera menggunakan gerak tipu Ang I Memetik Kembang, langsung pedangnya ditusukkan ke arah iga lawan di bawah lengan yang memegang gendewa.

Sian Kek Losu berusaha mengelak, akan tetapi gerakan Lin Lin itu luar biasa cepatnya dan juga tidak diduganya semula, maka tiada ampun lagi pedang Han-lekiam yang tajam itu dengan jitu menusuk dadanya dari bawah lengan!

Sian Kek Losu menjerit, gendewanya terlepas, tubuhnya sempoyongan lalu roboh dan tewas pada saat itu juga!

Juga Bo Lang Hwesio yang sudah tak tahan menghadapi Lie Kong Sian, dengan nekat lalu memutar-mutar poan-koan-pit di tangannya dan menyerang bagaikan harimau terluka yang sudah nekat hendak mengadu jiwa.

Lie Kong Sian mengurungnya dengan sinar pedang hingga kini Bo Lang Hwesio terpaksa mempergunakan lweekangnya untuk mengerahkan tenaga pada kedua senjatanya, menangkis sambil terdesak mundur.

Ujung pedang Lie Kong Sian berkelebat cepat mengarah tenggorokannya dan Bo Lang Hwesio lalu membuat gerakan nekat yang hendak memberi pukulan maut tanpa peduli akan keselamatan sendiri.

Ketika pedang itu meluncur ke arah lehernya, ia hanya miringkan kepala sedikit dan berbareng mengirim tusukan dengan sepasang poan-koan-pit ke arah dada Lie Kong Sian.

Kalau Lie Kong Sian meneruskan serangannva dengan membalikkan pedang, maka ia pun akan termakan oleh sepasang poan-koan-pit itu dan keduanya pasti akan tewas!

Akan tetapi tentu saja Lie Kong Sian tidak mau diajak mati bersama, maka ia berseru keras dan menggerakkan tangan kirinya yang mengeluarkan uap putih.

Ternyata ia telah menggunakan gerakan dari Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut untuk menangkis tusukan poan-koan-pit itu!

Sedangkan pedangnya ia teruskan dengan bacokan ke arah leher lawan!

Bo Lang Hwesio merasa girang melihat ini karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya yang tinggi ke arah tangan yang memegang senjata, maka ia merasa pasti bahwa tusukannya akan menewaskan musuh.

Tak tahunya, ketika tangan kiri Lie Kong Sian menyampok, poan-koan-pitnya kena disampok terpental oleh tenaga yang luar biasa hingga ia merasa terkejut sekali.

Pada saat itu pedang Lie Kong Sian telah datang menyambar.

Bo Lang Hwesio berusaha mengelak, akan tetapi terlambat.

Ia menjerit keras dan roboh mandi darah dengan leher hampir putus oleh pedang Lie Kong Sian!

Kini Lin Lin dan Lie Kong Sian melihat pertempuran yang terjadi antara Cin Hai dan Thai Kek Losu dengan serunya.

Thai Kek Losu yang harus menghadapi Cin Hai seorang diri, merasa jerih sekali karena ia pernah merasai kelihaian pemuda ini.

Melihat betapa Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio sudah tewas, ia menjadi nekat dan menyerang Cin Hai dengan mati-matian.

Tengkorak kecil di tangan diputar-putar bagaikan maut sendiri terbang berkeliaran mencari korban.

Adapun Cin Hai yang pernah menghadapi That Kek Losu, bahkan dulu hampir saja merasa celaka karena pengaruh racun jahat yang keluar dari tengkorak itu, bersilat dengan amat hati-hati.

Sebegitu jauh ia belum berani membacok tengkorak itu, kuatir kalau-kalau racun jahat dan senjata-senjata rahasia di dalam tengkorak itu akan menyambar keluar dan biarpun ia akan dapat mengelak namun hawa beracun yang luar biasa itu masih tetap merupakan bahaya besar.

Dulu pun baru lewat dekat mukanya saja dan ia mencium bau racun, ia telah terkena celaka dan kalau tidak kebetulan bertemu dengan suhunya, tentu ia telah binasa.

Melihat keragu-raguan kekasihnya Lin Lin hendak maju membantu, akan tetapi Cin Hai melarangnya.

"Mundurlah Lin-moi, sekarang juga aku akan merobokannya. Lihat!"

Lin Lin melompat mundur kembali dan pada saat itu tengkorak kecil menyambar ke arah Cin Hai dengan mulut di depan seakan-akan hendak mencium muka pemuda itu.

Cin Hai tidak mengelak, hanya memandang dengan tajam dan kedua pedang di tangannya siap sedia.

Ketika tengkorak itu telah datang dekat, tiba-tiba pedang pendek di tangan kirinya menyambar dari samping dengan miring, yaitu ia tidak menggunakan tajamnya pedang untuk membacok, hanya menggunakan permukaan pedang untuk menampar dari samping dengan tenaga yang diatur sedemikian rupa hingga tengkorak itu kena ditampar dan terbalik, kini mukanya menghadap kepada Thai Kek Losu.

Secepat kilat pedang Cin Hai di tangan kanan membacok tengkorak itu dari belakang sambil menggunakan tenaga lweekang sekerasnya dan ketika terdengar suara ledakan yang terjadi ketika tengkorak itu kena bacok, Cin Hai segera melompat jauh dan kebetulan sekali Lin Lin pada saat itu berdiri dekat, maka Cin Hai segera menyambar lengan kekasihnya dan dibawanya melompat juga!

Memang Cin Hai telah berlaku hati-hati dan hal ini ada baiknya bagi dia dan Lin Lin, karena kalau ia tidak bertindak cepat, mungkin mereka akan terancam bahaya.

Pada waktu tengkorak itu meledak, tidak saja dari mulut, hidung dan matanya keluar jarum-jarum beracun yang amat jahat dan yang kesemuanya melayang ke arah Thai Kek Losu, akan tetapi setelah semua jarum habis tengkorak itu sendiri meledak dan pecah berhamburan menjadi potongan-potongan kecil yang menyambar ke sekelilingnya.

Potongan ini tak boleh dipandang rendah, karena setiap potongan kecil mengandung racun jahat dan apabila melukai kulit, akan membahayakan jiwa yang terluka!

Thai Kek Losu yang tadinya sudah merasa girang melihat Cin Hai berani membacok tengkorak itu, menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa semua senjata rahasia yang keluar dari tengkorak yang telah terbalik itu menyambar ke arahnya!

Ia hendak mengelak pergi, akan tetapi terlambat.

Beberapa batang jarum telah mengenai tubuhnya dan tanpa berteriak lagi ia roboh dan tewas oleh jarum-jarumnya sendiri!

Lie Kong Sian juga melompat pergi ketika ledakan tengkorak terjadi, dan ia lalu menghampiri Cin Hai dan Lin Lin.

"Sute dan Sumoi, kalian benar-benar gagah perkasa. Apakah Supek Bu Pun Su sehat-sehat saja?"

Katanya sambil tersenyum tenang.

Melihat sikap orang ini, baik Lin Lin maupun Cin Hai merasa tertarik dan suka.

Sikap Lie Kong Sian polos, jujur, dan sederhana sekali, hampir sama dengan sikap Bu Pun Su.

Setelah menjura dan memberi hormat, Cin Hai lalu memegang tangan Lie Kong Sian dengan girang dan berkata.

"Dia sehat, Suheng, telah lama aku mendengar tentang namamu yang besar. Alangkah senangnya hatiku dapat bertemu dengan kau, apalagi karena mendengar tadi bahwa kau telah bertunangan dengan Ang I Niocu!"

Kembali Lie Kong Sian tersenyum.

"Aku memang sedang mencarinya, di manakah dia?"

Cin Hai lalu menceritakan pengalamannya dan menceritakan pula bahwa Ang I Niocu dan yang lain-lain mendapat tugas dari Bu Pun Su untuk membagi-bagikan harta pusaka kepada rakyat miskin.

"Lie-suheng, ada berita girang untukmu,"

Tiba-tiba Lin Lin yang lincah dan jenaka itu berkata kepada Lie Kong Sian sambil menatap wajah pemuda yang tenang dan tampan itu.

Lie Kong Sian sudah mendengar dari Ang I Niocu tentang kejenakaan gadis ini dan ia tahu bahwa tunangannya amat mengasihinya maka sambil tertawa ia berkata.

"Sumoi, kau tentu akan menggodaku. Silakanlah, apakah berita girang yang kaumaksudkan?"

"Aku telah mendengar tentang syarat-syarat yang diajukan oleh Enci Im Giok kepadamu dan..."

"Eh, eh, dari mana kau bisa mengetahui hal itu?"

Lie Kong Sian memotong sambil memandang heran, akan tetapi ia tidak marah karena bibirnya tetap tersenyum.

"Dari Enci Ma Hoa."

Lie Kong Sian mengangguk-angguk dan Lin Lin melanjutkan bicaranya.

"Dan sekarang, dua daripada tiga syarat itu telah terpenuhi. Aku dan Engko Hai telah bertemu kembali sebagaimana yang diharapken oleh Enci Im Giok, dan syarat ke dua pun telah terlaksana."

Lie Kong Sian menatap wajah Lin Lin dengan tajam, kini senyumnya menghilang.

"Sumoi, apa maksudmu? Syarat yang mana? Lekas kauceritakan padaku!"

"Sutemu yang jahat itu telah tewas dalam tangan Hai-ko!"

"Apa???"

Wajah Lie Kong Sian menjadi pucat sekali dan dua butir air mata menitik turun.

Ia memandang kepada Cin Hai yang berdiri sambil menundukkan kepala karena pemuda ini pun telah mendengar betapa besar cinta kasih Lie Kong Sian terhadap Song Kun.

Sikap dan wajah Cin Hai ini membuat hati Lie Kong Sian lemah kembali.

Kalau saja yang membunuh Song Kun bukan pemuda ini, pasti ia akan menjadi marah dan membalas dendam.

Akan tetapi, pemuda ini adalah sutenya sendiri pula, murid Bu Pun Su yang tidak saja kepandaiannya lebih tinggi daripada dirinya sendiri, akan tetapi pemuda ini adalah seorang pemuda yang dicinta oleh Ang I Niocu.

"Sute, kau benar-benar lihai sekali. Tak sembarang orang dapat merobohkan Song Kun, bahkan terus terang saja, aku sendiri tidak sanggup mengalahkannya. Coba kaututurkan bagaimana hal itu terjadi."

"Maafkan aku banyak-banyak, Lie-suheng. Memang dia lihai sekali dan andaikata dia tidak tersesat dan menjadi seorang jahat, mungkin aku pun takkan dapat mengalahkannya. Akan tetapi, kejahatan pasti akan hancur dan kalah pada akhirnya."

Kemudian ia lalu menceritakan tentang pertempurannya dengan Song Kun yang disaksikan oleh Bu Pun Su dan menuturkan pula betapa Song Kun telah mencuri obat dan menggunakan obat itu untuk mengancam dan hendak mengganggu Lin Lin.

Mendengar ini, semua, Lie Kong Sian menarik napas panjang.

"Sayang betapapun gagah seseorang, apabila ia tidak memiliki kesempurnaan budi, ia menjadi orang yang sehina-hinanya dan serendah-rendahnya dan akhirnya orang itu pasti akan mengalami bencana besar dalam hidupnya."

"Kau benar, Suheng,"

Kata Cin Hai dan Lin Lin hampir berbareng.

"Dan sekarang kalian hendak pergi ke manakah?"

"Kami hendak pergi ke Gua Tengkorak, tempat tinggal Suhu Bu Pun Su,"

Jawab Cin Hai.

"Bagus! Aku pun ingin sekali bertemu dengan orang tua itu."

Kata Lie Kong Sian.

"Untuk memenuhi syarat ke tiga, bukan Suheng?"

Lin Lin menggoda dan Lie Kong Sian mengangguk-angguk sambil tersenyum den memandangnya.

"Kau benar-benar nakal, Sumoi."

Ketiganya lalu tertawa.

"Sebelum kita pergi, lebih dulu marilah kita mengubur jenazah tiga orang ini."

Mendengar ucapan Lie Kong Sian ini, Lin Lin dan Cin Hai merasa kagum dan diam-diam memuji keluhuran budi tunangan Ang I Niocu itu.

Cin Hai makin merasa girang bahwa Ang I Niocu mendapat calon suami yang selain gagah perkasa, juga berbudi tinggi.

Jenazah Thai Kek Losu, Sian Kek Losu den Bo Lang Hwesio lalu mereka kubur dengan baik-baik, menjadi tiga gundukan tanah berjajar dan sebagai tandanya, Lie Kong Sian memindahkan tiga batang pohon Siong yang masih kecil, ditanam di depan kuburan-kuburan itu.

Matahari telah menurun ke barat ketika mereka bertiga selesai melakukan pekerjaan itu dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Gua Tengkorak.

Kita ikuti perjalanan Ang I Niocu yang bertugas membagi-bagikan sekantung harta pusaka itu kepada rakyat jelata yang miskin.

Oleh karena Dara Baju Merah ini memang sudah biasa melakukan perjalanan seorang diri, dan pula untuk membagi-bagi harta benda itu memang seharusnya berpencar, maka ia lalu memisahkan diri dan berjanji akan saling bertemu dengan kawan-kawannya ini di rumah Lin Lin di Tiang-an sebagai tempat tujuan terakhir.

Mereka saling berpesan bahwa apabila bertemu dengan Cin Hai dan Lin Lin, harus memberi tahu bahwa kedua teruna remaja itu pun ditunggu di Tiang-an.

Dengan demikian, maka mereka tak usah saling mencari dan dapat mengarahkan tujuan perjalanan mereka ke suatu tempat tertentu.

Ang I Niocu melakukan perjalanan seorang diri seperti biasa, bebas bagaikan seekor burung di udara.

Ia membagi-bagi harta benda itu dengan adil dan memilih orang-orang yang benarbenar berada dalam keadaan yang amat sengsara.

Pekerjaan ini ia lakukan dengan hati gembira karena keharuan dan kegirangan wajah orang-orang yang menerima pembagian itu membuat hatinya ikut merasa terharu dan girang sekali.

Pada suatu hari, ketika ia tiba di luar kota Lang-i, tiba-tiba ia melihat bayangan dua orang dari jalan simpangan.

Ang I Niocu cepat bersembunyi di belakang sebatang pohon ketika melihat bahwa dua orang itu bukan lain ialah Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio.

Kedua orang itu berlari cepat memasuki kota Lang-i, maka diam-diam Ang I Niocu mengikuti mereka.

Dara Baju Merah ini merasa benci sekali kepada Hai Kong Hosiang yang telah mencelakakan Lin Lin, maka ia mengambil keputusan untuk mencari kesempatan membunuh hwesio jahat itu agar kelak tidak menimbulkan kekacauan pula.

Akan tetapi, melihat bahwa hwesio itu bersama Wi Wi Toanio yang kosen, ia merasa ragu-ragu untuk turun tangan, karena terlalu berat baginya untuk menghadapi dua orang tangguh itu.

Kedua orang itu menuju ke sebelah barat kota dan diam-diam Ang I Niocu terus mengikuti mereka.

Setelah tiba di ujung kota, mereka masuk ke dalam sebuah gedung yang besar.

Ang I Niocu mengambil jalan dari belakang dan ketika melihat bahwa di belakang gedung itu sunyi, ia lalu melompati pagar tembok dan mengintai.

Dan apa yang dilihatnya di dalam gedung itu membuat hatinya berdebar karena terkejut dan heran.

Ternyata bahwa di dalam gedung itu terdapat sebuah ruangan yang lebar dan yang dipasangi banyak meja dan kursi.

Ruangan itu telah penuh oleh banyak orang dan orang-orang inilah yang membuat Ang I Niocu terkejut, karena ia melihat wajah-wajah yang telah dikenalnya, antara lain Kam Hong Sin perwira tinggi kerajaan, Ceng Tek Hosiang den Ceng To Tojin.

Si Hwesio yang selalu tertawa dan tosu yang selalu mewek, Kong-lam Sam-lojin tiga orang tokoh Liong-san, Giok Im Cu, Giok Yang Cu, den Giok Keng Cu.

Tampak juga Siok Kwat Mo-li, Lok Kun Tojin dan dua orang yang baru masuk, yaitu Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio!

Orang-orang ini adalah sebagian dari pada orang-orang yang tadinya mewakili golongan-golongan yang bermusuhan, yaitu golongan Turki, Mongol, dan kerajaan yang kesemuanya telah dikalahkan oleh Bu Pun Su.

Mengapa mereka sekarang mengadakan pertemuan bersama?

Apakah mereka hendak mengadu kepandaian?

Ang I Niocu mengintai dengan hati-hati sekali oleh karena ia maklum bahwa orang yang berada di dalam itu bukanlah orang-orang lemah dan berbahaya sekali baginya kalau sampai terlihat oleh mereka.

Kebetulan sekali di luar gedung itu terdapat setumpuk rumput kering maka ia mendapatkan tempat persembunyian yang baik sekali di belakang rumput itu, sambil mengintai melalui celah-celah jendela yang berada dekat di situ.

Agaknya Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio merupakan orang terakhir yang dinanti-nanti, karena setelah mereka berdua datang dan disambut oleh Kam Hong Sin lalu dipersilakan duduk, perwira itu lalu berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada semua orang.

"Cu-wi sekalian. Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih dan selamat datang kepada Cu-wi sekalian yang telah sudi memenuhi undangan kami untuk berkumpul di sini. Hal ini membuktikan bahwa betapapun juga, Cu-wi sekalian masih ingat akan kebangsaan sendiri. Sebagaimana Cu-wi sekalian ketahui, harta pusaka yang menjadi hak milik kerajaan bangsa kita itu telah dicuri dan dibawa pergi orang. Kita tak perlu membongkar-bongkar urusan yang lalu dan sekarang kita merupakan sekumpulan orang yang hendak berusaha mendapatkan kembali harta pusaka itu dan membasmi para pemberontak yang telah berani berlancang tangan mencuri harta pusaka dari tangan kita."

Hai Kong Hosiang berdiri sendiri dan mengangkat tangannya, tanda bahwa ia minta Kam Hong Sin berhenti bicara karena ia sendiri hendak bicara.

Matanya yang tinggal satu itu bersinar-sinar tajam memandang kepada Kam Hong Sin ketika ia bicara.

"Kam-ciangkun, pencuri harta pusaka itu adalah Hok Peng Taisu, seorang yang berilmu tinggi dan tangguh. Selain dia, masih ada pula Bu Pun Su yang selalu mengacaukan keadaan, karena kami tahu bahwa dia pun menghendaki harta pusaka itu! Siapa tahu kalau-kalau kedua orang tua jahat itu telah bersekutu! Hal ini tak boleh dipandang ringan, karena selain mereka berdua yang lihai, masih banyak terdapat anak muridnya yang tak boleh dipandang ringan, seperti Pendekar Bodoh, Ang I Niocu, Kwee Lin, Ma Hoa, Kwe An, dan ada pula Nelayan Cengeng!"

Kam Hong Sin mengangguk-angguk.

"Aku maklum, Hai Kong Suhu, dan aku pun telah tahu akan kelihaian mereka. Akan tetapi dengan kerja sama yang baik dan mengerahkan tenaga kita dibantu oleh para Perwira Sayap Garuda yang banyak jumlahnya, apakah sukarnya untuk menangkap mereka dan merampas kembali harta pusaka itu?"

Wi Wi Toanio berdiri dan biarpun suaranya halus, akan tetapi jelas terdengar bahwa ia merasa gemas dan marah sekali ketika ia berkata.

"Apa artinya bicara tentang merampas kembali harta pusaka? Harta itu telah mereka sebar dan bagi-bagikan kepada rakyat! Ini semua adalah salahnya Bu Pun Su dan kalau perundingan ini dimaksudkan untuk menghukum dia, aku baru mau mengikutinya!"

Setelah berkata demikian, Wi Wi Toanio duduk kembali di dekat Hai Kong Hosiang.

Terdengar seruan-seruan marah dari sana sini mendengar bahwa harta pusaka telah dibagi-bagi kepada rakyat.

Adapun Kam Hong Sin yang sudah mengetahui hal itu, hanya tersenyum dan berkata.

"Cuwi sekalian, memang benar ucapan Wi Wi Toanio tadi. Aku pun telah mendengar tentang hal itu, dan rupanya para pemberontak itu hendak menghasut rakyat untuk memberontak pula dengan menyogok harta benda mereka. Akan tetapi, kita akan bertindak tegas dan membasmi sebelum mereka mendapat kesempatan mengumpulkan tenaga bantuan. Aku membawa surat resmi dari Kaisar sendiri yang ditujukan kepada Cuwi yang gagah perkasa."

Sambil berkata demikian, Kam Hong Sin mengeluarkan sesampul surat yang dibungkus sutera kuning bersulamkan burung Hong.

Ketika ia membacakan surat itu, semua orang terdiam dengan penuh hormat, karena betapapun juga, menerima surat dari kaisar sendiri adalah satu penghormatan besar yang jarang sekali dirasai orang!

Isi surat itu ternyata adalah satu pengharapan dari Kaisar agar orang-orang gagah suka membantu dalam usaha Kaisar menangkap atau menghukum para pemberontak yang dipimpin oleh Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu!

Ternyata dalam sakit hatinya untuk membalas kekalahannya, Kam Hong Sin berhasil membujuk Kaisar untuk mengeluarkan putusan menghukum kedua tokoh besar itu agar ia dapat mencari bala bantuan dengan mudah.

Selain pengharapan untuk mendapat pertolongan, di dalam surat itu Kaisar menjelaskan bahwa orang-orang gagah yang suka mengulurkan tangan menolong, akan diberi pangkat tinggi, tempat tinggal gedung besar di dalam kota raja, dan sejumlah uang yang banyak sekali.

Tentu saja semua orang yang hadir di situ merasa mengilar mendengar janji upah yang besar itu.

Bukan semata-mata upahnya yang mereka inginkan, akan tetapi nama besar dan penghormatan.

Kini terbuka kesempatan untuk membantu Kaisar dan membuat pahala yang akan mendatangkan hasil besar dan nama baik di samping menebus dosa-dosa mereka yang lalu!

Memang, hampir semua orang yang hadir di situ, kecuali hamba-hamba Kaisar, dulu seringkali melakukan pelanggaran-pelanggaran yang berarti berdosa kepada Kaisar, dan dengan adanya kesempatan ini, maka dosa-dosa itu tentu akan dilupakan dan bahkan akan mengangkat diri mereka menjadi orang-orang berkedudukan tinggi!

"Kalau demikian, aku setuju!"

Kata Wi Wi Toanio dan untuk menutupi keinginannya akan kedudukan dan kemuliaan yang dijanjikan oleh Kaisar itu, ia berkata lagi.

"Bukan, karena aku inginkan semua kemuliaan itu, akan tetapi karena aku akan mendapat kesempatan membalas dendam kepada Bu Pun Su yang telah menghina kita dan kepada Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka itu! Tentang kelihaian mereka, jangan kuatir, aku mempunyai seorang supek yang menjadi tokoh nomor satu di daerah barat, yaitu Pok Pok Sianjin. Kalau aku berhasil minta bantuannya, jangankan baru Bu Pun Su dan Hok Pek Taisu biarpun ditambah seratus orang lagi, dengan mudah mereka akan dapat dihancurkan!"

Semua orang memandang heran karena sepanjang pendengaran mereka, tokoh besar dari barat yang disebut Pok Pok Sianjin itu kabarnya telah musnah dan telah naik ke Sorga menjadi dewa!

Demikianlah dongeng yang dituturkan orang.

Hai Kong Hosiang tertawa.

"Memang di atas dunia ini terdapat empat orang tokoh besar yang dapat disebut menduduki tempat tertinggi di dunia persilatan. Untuk daerah selatan dan timur, nama Bu Pun Su dan Hok Peng Taisu disebut-sebut sebagai tokoh-tokoh besar tanpa tandingan. Akan tetapi di bagian barat terdapat Pok Pok Sianjin, dan di bagian utara terdapat Swi Kiat Siansu, Suhu dari Thai Kek Losu. Kudengar bahwa Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu telah tewas oleh Pendekar Bodoh, maka kalau kita pergi ke utara melaporkan hal ini kepada Swi Kiat Siansu, mustahil dia tidak akan turun gunung membantu kita?"

Semua orang merasa girang sekali karena kalau saja dua orang sakti itu benar-benar mau turun gunung membantu pekerjaan yang berat dan hebat ini akan jauh lebih ringan lagi.

Tiba-tiba Ceng To Tosu sambil mewek-mewek bangun berdiri dari tempat duduknya dan berkata.

"Cu-wi, setelah diadakan persetujuan untuk bekerja sama, menurut pendapat pinto yang bodoh, ada baiknya kalau diangkat seorang ketua atau pemimpin agar segala pekerjaan yang dilakukan berada di bawah pimpinan seorang yang tepat dan yang terbaik di antara kita semua!"

Mendengar ucapan ini, semua orang saling pandang dan mulailah mereka mempertimbangkan, siapa kiranya yang tepat untuk dijadikan pemimpin.

"Seorang ketua haruslah mempunyai kepandaian tertinggi, maka untuk menentukan siapa yang patut menjadi ketua, lebih baik kita mengajukan beberapa orang calon, kemudian calon-calon itu menguji kesaktian untuk membuktikan bahwa dia memang cukup pandai untuk diangkat menjadi ketua,"

Kata Hai Kong Hosiang.

Orang-orang lalu saling bercakap-cakap hingga keadaan menjadi riuh, sedangkan Ang I Niocu yang melihat dan mendengar semua ini, diam-diam merasa terkejut sekali.

Kalau mereka semua telah bersatu dan berhasil memanggil dua orang tokoh besar yang disebutkan tadi, maka pihaknya akan menghadapi lawan yang amat tangguh.

Ia pernah mendengar nama Pok Pok Sianjin yang bertapa di Puncak Go-bi-san dan juga sudah mendengar nama Swi Kiat Siansu yang bertapa di pegunungan daerah Mongolia, dan kabarnya kedua orang itu memiliki kesaktian yang luar biasa!

Sambil menahan napas agar jangan mengeluarkan suara berisik, Ang I Niocu melanjutkan pengintaiannya.

Setelah dipilih-pilih, akhirnya yang diajukan menjadi calon adalah tiga orang yang dianggap memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, yaitu Hai Kong Hosiang, Wi Wi Toanio, dan Kam Hong Sin sendiri.

Tadinya Siok Kwat Mo-li Si Nenek Bongkok juga dipilih, akan tetapi ia tidak mau menerimanya dan mengundurkan diri sambil berkata.

"Hai Kong Suheng telah dipilih, mengapa pula aku sebagai Sumoinya harus maju? Biarlah dia yang mewakili aku sekalian!"

Sambil tersenyum Kam Hong Sin berkata kepada Hai Kong Hosiang dan Wi Wi Toanio.

"Oleh karena kita berada di antara kawan sendiri, maka kuharap adu kepandaian ini dilakukan dalam cara damai sebagaimana biasa dilakukan oleh perwira-perwira kerajaan."

"Bagus, bagaimanakah cara itu, Kam-ciangkun?"

Tanya Wi Wi Toanio.

"Di waktu para perwira menguji kepandaian, mereka mempergunakan sepasang sumpit gading yang dipegang di tangan kanan seperti orang sedang makan nasi. Kemudian dengan sumpit itu, mereka saling menjepit dan berusaha membetot sumpit di tangan lawannya dan siapa yang sumpitnya terlepas, dia dianggap kalah."

"Baik sekali!"

Hai Kong Hosiang memuji.

"Memang siapa yang lebih tinggi lweekangnya akan mendapat kemenangan. Akan tetapi, tentu saja kita tidak boleh menyerang tangan orang dengan sumpit itu, bukan?"

"Tidak boleh sama sekali! Dalam hal ini kita harus mengandalkan kejujuran dan kepandaian, sama sekali tidak boleh melukai tangan lawan!"

Setelah mendapat persetujuan, Kam Hong Sin, Wi Wi Toanio dan Hai Kong Hosiang lalu duduk mengelilingi sebuah meja dan para pelayan lalu mengambil tiga pasang sumpit gading.

Untuk menguji kekuatan sumpitnya, Kam Hong Siang lalu berseru keras dan menancapkan sepasang sumpit itu di atas meja hingga sumpit itu menancap sampai setengahnya di dalam kayu meja yang keras itu.

Wi Wi Toanio tersenyum dan ia pun ingin menguji kekuatan sumpitnya yang hendak digunakan dalam pertandingan ini, maka ia mengetuk-ngetuk ujung meja dengan perlahan dan hancurlah ujung meja itu berhamburan ke bawah.

Hai Kong Hosiang tidak mau kalah.

Ia menggunakan sepasang sumpitnya seperti dua batang pensil dan menggurat-guratkan ujungnya pada permukaan meja.

Nampaklah guratan-guratan yang dalam di permukaan meja itu, bagaikan tanah lempung digurat-gurat dengan pisau tajam saja.

Orang-orang yang melihat demonstrasi lweekang dari tiga orang itu bersorak memuji, dan Ang I Niocu sendiri diam-diam merasa kagum melihat pengerahan tenaga lweekang yang tidak boleh dianggap ringan itu.

Menurut kebiasaan sebagaimana dituturkan oleh Kam Hong Sin, maka oleh karena pengikut pertandingan itu ada tiga orang, lalu dilakukan undian untuk menentukan siapa yang harus bertanding lebih dulu.

Pemenang pertandingan pertama ini lalu akan berhadapan dengan orang ke tiga untuk menentukan juara dan jabatan ketua.

Ketika undian dilakukan, ternyata bahwa yang mendapat giliran pertama adalah Kam Hong Sin dan Wi Wi Toanio.

Mereka tersenyum dan duduk berhadapan dengan tangan menjepit sumpit masing-masing.

"Ciangkun, silakan kaumulai lebih dulu, oleh karena kau yang lebih tahu tentang cara pertandingan ini."

Kam Hong Sin mengangguk dan berseru.

"Toanio, jagalah sumpitmu!"

Sambil berkata demikian, sepasang sumpit Kam Hong Sin digerakkan dengan terbuka bagaikan sepasang patuk burung, hendak menjepit di tangan Wi Wi Toanio.

Nenek tua ini tidak mengelak karena ia hendak mengukur sampai di mana kehebatan tenaga lawan.

Ia membiarkan sepasang sumpitnya terjepit dan tenyata bahwa sepasang sumpitnya itu terjepit kuat bagaikan terjepit oleh catut besi saja.

Kini adu tenaga dimulai.

Kam Hong Sin mengerahkan tenaga untuk memutar sumpit lawannya agar terlepas dari pegangan, akan tetapi ia merasa betapa sumpit itu dipegang dengan kendur dan tenaga lweekangnya tak berdaya menghadapi tenaga halus yang meruntuhkan gerakannya dengan menyerah, akan tetapi yang mengandung kekuatan yang luar biasa besarnya hingga ketika ia mencoba untuk memutarnya, sepasang sumpit lawan itu bergerak sedikit pun tidak.

"Ciangkun, kau sudah terlalu lama menjepit!"

Kata Wi Wi Toanio yang sambil tersenyum dan hal ini mengherankan Kam Hong Sin oleh karena dalam pengerahan tenaga khikang, mengucapkan kata-kata merupakan pantangan.

Ia membarengi pada saat Wi Wi Toanio membuka mulut, lalu membetot keras untuk menarik sumpit lawan supaya terlepas, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sumpit lawan itu demikian licin hingga jepitannya terlepas.

Kini Wi Wi Toanio yang menggerakkan sumpitnya dan ketika sumpitnya telah terjepit sepasang sumpit Kam Hong Sin, nenek itu tiba-tiba membuat gerakan mendorong, bukan membetot.

Ini adalah gerakan yang licin dan penuh perhitungan, karena pada saat itu Kam Hong Sin memang sedang mengerahkan tenaga untuk menahan sumpitnya, maka tentu saja ketika tiba-tiba didorong, tangannya menjadi terdorong dan sumpitnya hampir terlepas.

Pada saat ia mempertahankan diri dan merobah tenaganya dari menarik menjadi mendorong untuk melawan tenaga dorongan lawan, tiba-tiba Wi Wi Toanio secara tak terduga-duga membetot sekerasnya sambil berseru.

"Lepas!"

Hal ini benar-benar tak pernah diduganya, mana Kam Hong Sin tak dapat mempertahankan sumpitnya lagi dan sungguhpun ia masih dapat mempertahankan sebatang yang lain telah kena dibetot terlepas!

Kam Hong Sin bangun berdiri dan menjura di depan Wi Wi Toanio mengaku kalah sedangkan para hadirin bertepuk tangan memuji.

Hai Kong Hosiang tertawa terbahak-bahak.

"Permainan bagus! Selain tenaga dan keuletan, di dalam permainan ini juga diperlukan kecepatan dan kelincahan, ditambah otak yang cerdik! Aku yang bodoh mana dapat melawan Toanio?"

Akan tetapi sambil berkata demikian, ia lalu duduk menghadapi Wi Wi Toanio, menggantikan tempat Kam Hong Sin yang sudah kalah.

"Seranglah, Hai Kong!"

Kata Wi Wi Toanio menantang.

"Tidak, kau saja yang menyerang, aku hendak mempertahankan diri saja,"

Jawab Hai Kong Hosiang yang cerdik.

Hwesio ini terkenal cerdik dan banyak tipu muslihatnya, maka Wi Wi Toanio berlaku hati-hati.

Nenek ini ingin benar-benar diangkat menjadi ketua, karena hal ini akan menguntungkannya.

Kalau ia yang menjadi pemimpin, maka ia mendapat kesempatan lebih banyak untuk membalas dendamnya kepada Bu Pun Su.

Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lweekang dan ilmu silat, mungkin tingkatnya masih lebih tinggi dari Hai Kong Hosiang, akan tetapi dalam hal kecerdikan, ia sering mengagumi hwesio ini.

Wi Wi Toanio segera menyergap dengan sumpitnya untuk menjepit kedua sumpit Hai Kong Hosiang, akan tetapit tiba-tiba hwesio ini membuka mulut sumpitnya dan kini sumpit-sumpit itu menjadi saling jepit!

Sepasang sumpit Wi Wi Toanio menjepit sumpit Hai Kong Hosiang sebelah bawah sedangkan sepasang sumpit Hai Kong Hosiang menjepit sumpit Wi Wi Toanio sebelah atas, bagaikan mulut dua ekor jangkerik sedang saling gigit dalam perkelahian yang sengit!

Tak terdengar sedikit pun suara di antara penonton yang memandangnya saking tegangnya pertandingan itu.

Kini Wi Wi Toanio maklum bahwa Hai Kong Hosiang yang cerdik tidak mau mengadu kecepatan, maka ia sengaja menjepit sebuah sumpit lawan dan membiarkan sumpitnya yang sebatang terjepit pula hingga dalam keadaah demikian, terpaksa mereka harus mengandalkan tenaga belaka.

Masing-masing tidak mau mengalah, dan dua pasang sumpit itu sampai tergetar saking serunya pertemuan tenaga mereka yang disalurkan kepada sepasang sumpit masing-masing!

Sebentar sumpit terputar ke kanan, sebentar ke kiri, akan tetapi keduanya sama kuat hingga empat batang sumpit itu seakan-akan telah tumbuh menjadi satu!

Dari getaran-getaran yang menyerang ke jari-jari tangannya, Hai Kong Hosiang maklum akan kehebatan tenaga lweekang Wi Wi Toanio, akan tetapi nenek tua itu pun merasa betapa sepasang sumpit di tangan Hai Kong Hosiang demikian kokoh kuatnya bagaikan dua bukit karang yang sukar dirobohkan!

Lama sekali adu tenaga ini berlangsung dan pada jidat Hai Kong Hosiang telah nampak keringat keluar membasahi jidatnya, sedangkan Wi Wi Toanio juga mulai nampak pucat!

Kam Hong Sin berdiri dengan mata terpentang lebar karena baru kali ini ia menyaksikan pertandingan sumpit yang demikian seru dan hebatnya.

Tiba-tiba Wi Wi berseru keras sekali dan ia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

Hai Kong mencoba untuk bertahan, akan tetapi tiba-tiba "krek!"

Terdengar suara keras dan tiga batang sumpit telah patah, yaitu dua batang sumpit Hai Kong Hosiang dan sebatang sumpit Wi Wi Toanio!

Hal ini menunjukkan bahwa lweekang Wi Wi Toanio masih menang setingkat!

Hai Kong Hosiang menghapus keringatnya dan tertawa.

"Sudah kukatakan bahwa aku takkan bisa menang menghadapi Wi Wi Toanio yang tangguh! Akan tetapi, kita semua enak-enak mengadu kepandaian hingga melupakan orang yang mengintai dari luar!"

Ang I Niocu merasa terkejut sekali dan serba salah.

Terang bahwa mata Hai Kong Hosiang yang tinggal satu itu awas sekali dan telah dapat melihatnya.

Ang I Niocu tak kenal arti takut, akan tetapi dalam keadaan seperti itu ia benar-benar menjadi bingung.

Kalau ia melarikan diri dari situ, ia akan merasa malu kepada diri sendiri, sebaliknya kalau ia melompat masuk, ia yakin bahwa ia takkan kuat menghadapi sekian banyaknya orang-orang gagah.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dari sebelah atasnya dan disusul ucapan mengejek.

"Ha, ha, memang semenjak tadi aku berada di sini. Bagaimana aku bisa masuk sebelum diundang?"

Ang I Niocu terkejut sekali.

Bagaiamana ada orang bisa berada diatasnya tanpa ia ketahui sama sekali?

Ia menengok dan melihat seorang kakek botak duduk di atas tiang yang melintang di atas kepalanya.

Kakek itu duduk bagaikan seorang anak-anak sedang menonton pertunjukan indah, sedangkan pada lengan kirinya terjepit sepasang tongkat bambu warna kuning.

Ia menjadi tercengang karena dapat menduga bahwa orang ini tentulah Hok Peng Taisu yang pernah diceritakan oleh Ma Hoa kepadanya.

Dan, orang ini agaknya yang telah mencuri harta pusaka itu.

Sementara itu, kakek botak yang bukan lain adalah Hok Peng Taisu itu, memandang kepadanya dan mengedipkan mata sambil menyeringai, memberi tanda agar Dara Baju Merah itu jangan mengeluarkan suara.

Sementara itu Hai Kong Hosiang dan kawan-kawannya mendengar suara dari luar itu, lalu berjaga-jaga dan Kam Hong Sin sebagai tuan rumah lalu berkata.

"Tamu yang berada di luar dipersilakan masuk!"

Terdengar suara tertawa bergelak dan tiba-tiba tubuh seorang kakek botak melayang masuk dengan gerakan yang ringan sekali.

Dengan sepasang matanya yang tajam, kakek botak itu menyapa semua orang yang berada di ruang itu dan berkata.

"Aduh, sudah berkumpul semua. Bagus, bagus! Tadi telah kusaksikan pertandingan sumpit yang bagus. Aku tua bangka pun mempunyai semacam permainan sumpit yang sama, akan tetapi entah ada orang yang cukup bergembira untuk melayaniku bermain-main atau tidak, entahlah!"

"Biarlah pinceng melayanimu, Kakek Tua!"

Kata Hai Kong Hosiang.

"Bagus, bagus, akan tetapi sebagai tamu baru, aku belum mendapat jamuan, sedangkan perutmu yang gendut sudah diisi penuh, tentu saja aku akan kalah tenaga! Biarkan aku makan dulu beberapa mangkok sayur!"

Sambil berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu mengambil semangkok daging kambing dan sepasang sumpit bambu.

Sambil berdiri, ia makan daging itu sepotong demi sepotong dan kelihatannya ia menikmati makanan itu.

"Locianpwe ini siapakah?"

Kam Hong Sin bertanya karena merasa penasaran melihat lagak orang yang tidak tahu akan kesopanan.

"Baru saja namaku kausebut-sebut, sekarang hendak bertanya pula, bukankah ini aneh namanya? Akan tetapi, aku jangan kaubandingkan dengan Bu Pun Su yang lihai!"

Terkejutlah semua orang, dan ketika melihat ke arah dua batang tongkat bambu yang dikempit di bawah lengan kiri, Kam Hong Sin menjadi pucat dan bertanya.

"Apakah kau Hok Peng Taisu yang telah mencuri harta pusaka?"

Tiba-tiba Hok Peng Taisu tertawa bergelak-gelak.

"Sudah berpuluh tahun aku orang tua menyembunyikan diri dalam gua dan karena perbuatan orang-orang yang suka mencurilah yang menyebabkan aku keluar dari gua. Sekarang aku bahkan dituduh menjadi pencuri. Lucu, lucu!"

Kemudian, dengah tangan kiri masih menyangga mangkok dan di bawah lengan kiri itu masih terjepit tongkat-tongkat bambunya, tangan kanan memegang sumpit, ia menuding ke arah Hai Kong Hosiang dengan sumpitnya itu dan bertanya.

"Bagaimana, apakah kau masih mau melayani aku bermain sumpit?"

"Boleh, asal kau orang tua jangan bermain curang!"

Kembali Hok Peng Taisu tertawa bergelak dan ia mengulurkan tangan yang memegang sumpit sambil berkata.

"Nah, kaujepitlah sumpitku ini!"

Hai Kong Hosiang yang melihat bahwa sepasang sumpit kakek itu adalah sumpit bambu biasa saja, lalu melangkah maju dan dengan sumpit gading yang kuat ia lalu menyerang maju, akan tetapi bukan menjepit sumpit kakek itu, melainkan menotok dengan sepasang sumpitnya ke arah pergelangan tangan Hok Peng Taisu!

Akan tetapi, kakek botak ini agaknya tidak tahu akan kecurangan lawan, ia hanya menggerakkan sumpitnya ke bawah, lalu setelah dapat menangkis sumpit Hai Kong Hosiang, ia memutar sumpitnya sedemikian rupa hingga sumpit Hai Kong Hosiang ikut terputar-putar tanpa dapat ditahan pula!

Terpaksa Hai Kong Hosiang mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot, akan tetapi sumpitnya seakan-akan telah timbul akar pada sumpit kakek itu dan tak dapat dibetot.

Ia mengerahkan tenaganya lagi dan tiba-tiba kakek itu melepaskannya hingga tubuh Hai Kong Hosiang terhuyung ke belakang.

"Ha, ha, ha! Kau lucu sekali hwesio!"

Katanya, lalu dengan sumpitnya ia menjepit sepotong daging yang dimasukkan ke dalam mulutnya seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu!

Wi Wi Toanio yang dapat memaklumi akan kelihaian kakek botak ini, diam-diam menghampirinya dari belakang dengan sepasang sumpit gading di tangannya.

"Hok Peng Taisu, aku pun ikut bermain-main dengan sumpit!"

Dan belum juga habis kata-kata ini ia ucapkan, ia telah menyerang dengan sepasang sumpitnya, menotok jalan darah Hok Peng Taisu dari belakang!

Kakek botak itu tidak bergerak ataupun membalikkan tubuh, seakan-akan ia tidak mendengar ucapan itu, hanya tangan kanannya yang memegang sumpit saja digerakkan ke belakang tubuhnya.

Pada saat itu, Hai Kong Hosiang yang merasa penasaran, lalu menyerang lagi dari depan dengan sepasang sumpitnya digerakkan ke arah kakek botak itu.

Biarpun diserang dari belakang dan depan, agaknya Hok Peng Taisu masih saja enak-enak mengunyah daging beberapa potong yang tadi dimasukkan ke dalam mulut.

Ketika sumpit Wi Wi Toanio telah dekat dengan tubuhnya, tiba-tiba sumpit di tangan kanannya bergerak dan terdengar suara "krek!"

Dan seruan Wi Wi Toanio yang melompat mundur karena merasa telapak tangannya sakit sekali, dan ternyata bahwa sepasang sumpitnya telah terpotong menjadi dua, setelah tadi terjepit oleh sumpit bambu Hok Peng Taisu!

Sedangkan dua batang sumpit Hai Kong Hosiang yang menyambar ke arah ulu hatinya, juga tidak dielakkan oleh kakek botak itu, akan tetapi tiba-tiba ia membuka mulutnya dan duakali ia meniupkan daging-daging yang dimakan tadi dari mulut!

Daging-daging itu meluncur bagaikan pelor dan tepat sekali mengenai ujung sepasang sumpit itu.

Hai Kong Hosiang hanya merasa betapa tusukan sumpitnya tertahan oleh tenaga yang kuat dan tahu-tahu ia melihat betapa dua batang sumpitnya telah menancap pada dua potong daging bakso yang besar!

Bukan main marahnya Hai Kong Hosiang melihat hal ini dan ia merasa dirinya dipermainkan, maka ia berseru.

"Jangan jual lagak di sini!"

Sambil berseru demikian ia mengayun sepasang sumpitnya yang masih ada baksonya itu meluncur cepat ke arah dua mata Hok Peng Taisu! Akan tetapi kakek botak itu sambil terkekeh-kekeh lalu berkata.

"Hwesio, mengapa kau tidak makan bakso-bakso itu?"

Lalu ia mengangkat dua tongkat bambunya, memukul ke arah sepasang sumpit yang melayang itu.

Heran sekali, ketika tongkat bambu itu beradu dengan sumpit, bakso yang berada di ujung sepasang sumpit itu melayang kembali ke arah Hai Kong Hosiang, sedang sumpit-sumpitnya melayang ke samping, menuju kepada Wi Wi Toanio!

Hai Kong Hosiang mengelak dan sambil menyumpah-nyumpah lalu mencabut keluar tongkat ularnya, sedangkan Wi Wi Toanio juga menjadi marah dan menyampok dua batang sumpit yang melayang ke arah dirinya itu hingga runtuh ke atas lantai!

Kemudian, nenek ini pun maju menyerang dengan kedua tangan merupakan cakar burung garuda.

Sebenarnya, Ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Kuku Garuda) yang dimiliki oleh nenek ini bukanlah Eng-jiauw-kang biasa dan gerakannya aneh serta lihai sekali.

Melihat dirinya hendak dikeroyok, Hok Peng Taisu segera menggerakkan sepasang tongkat bambunya dan dua kali tubuhnya berkelebat, tahu-tahu tongkat ular di tangan Hai Kong Hosiang telah kena dibikin terpental dan Wi Wi Toanio hampir saja terkena sabetan itu pada pipinya!

Keduanya merasa terkejut sekali dan melompat mundur.

Hok Peng Taisu tertawa terbahak-bahak.

"Kalian ini benar-benar merupakan tuan rumah yang kurang sopan! Lebih baik aku pergi saja lagi!"

Setelah berkata demikian, kakek botak itu menggerakkan kakinya dan melayang pergi.

"Locianpwe, tunggu dulu!"

Tiba-tiba Kam Hong Sin berseru dan memburu ke pintu.

"Apa kehendakmu?"

Terdengar suara kakek botak itu dari atas genteng.

"Kami menantangmu dan juga Bu Pun Su untuk mengadakan pertandingan adu kepandaian di Puncak Hoa-san pada bulan tiga. Apakah kau berani menerima tantangan kami ini?"

Kembali kakek botak itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Tak usah kauceritakan, aku pun telah maklum akan maksud kalian yang buruk itu. Baik, baik, memang telah lama aku ingin bertemu dengan Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu. Tentang Bu Pun Su, aku tidak tanggung bahwa ia akan mau melayani ajakan kalian yang gila itu!"

Hok Peng Taisu lalu melayang ke tempat mana Ang I Niocu bersembunyi dan memberi tanda dengan tangan, agar supaya Dara Baju Merah itu mengikutinya.

Ang I Niocu lalu melompat ke atas genteng dan mengikuti kakek itu pergi dari situ.

Setelah berada di tempat jauh, kakek botak itu berkata.

"Bukankah kau yang bernama Ang I Niocu?"

Ang I Niocu menjura dengan sangat hormatnya.

"Betul Locianpwe dan sudah lama aku yang bodoh mendengar tentang nama Locianpwe dari Ma Hoa. Aku merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan seorang sakti seperti Locianpwe."

"Ah, jangan terlalu memuji, Nona. Kau tentu sudah mendengar semua kehendak mereka itu, bukan? Nah, terserah kepadamu sekarang apakah kau hendak menyampaikan undangan mereka terhadap Bu Pun Su atau tidak. Hanya saja, boleh kau katakan pada Bu Pun Su bahwa aku tua bangka tentu akan menghadapi tantangan mereka itu pada waktunya di Puncak Hoa-san!"

Setelah berkata demikian, Hok Peng Taisu lalu berkelebat pergi sedangkan Ang I Niocu lalu melanjutkan perjalanannya.

Memang ia pun ada maksud untuk pergi ke Gua Tengkorak menemui susiok-couwnya, sekalian hendak menemui Bu Pun Su untuk minta ijin orang tua itu tentang perjodohannya dengan Lie Kong Sian.

Nelayan Cengeng, Kwee An dan Ma Hoa menjalankan tugas membagi-bagi harta itu sambil melanjutkan perjalanan ke timur.

Seperti halnya Ang I Niocu, mereka pun mengalami banyak sekali kebahagiaan dari pekerjaan yang mulia ini.

Ketika mereka menyeberang sebatang sungai yang menjadi anak Sungai Huangho, Nelayan Cengeng melihat beberapa perahu nelayan hilir mudik dengan para nelayan bernyanyi-nyanyi sambil mendayung perahu mereka.

Pemandangan dan pendengaran ini membangkitkan hatinya dan menimbulkan rindunya pada kehidupan nelayan yang telah dinikmatinya semenjak masih muda, maka ia berkata kepada Ma Hoa dan Kwee An.

"Ma Hoa dan Kwee An, telah lama sekali aku merasa rindu untuk hidup kembali sebagai seorang nelayan, mendayung perahu menjala ikan dan hidup dengan aman dan tenteram di atas air! Terus terang saja kuakui bahwa hampir tiap malam aku bermimpi duduk di atas perahu seorang diri, dibuai ombak, minum arak sambil menikmati cahaya bulan di waktu malam. Kalian telah saling berjumpa kembali dan juga kawan-kawanmu telah dapat kita ketemukan, maka hatiku kini merasa aman dan senang. Oleh karena itu, aku ingin tinggal dan hidup kembali sebagai nelayan di sungai ini. Kalian teruskanlah perjalanan kalian dan ini sisa harta benda yang kubagi-bagikan boleh kalian habiskan dan bagi-bagikan kepada rakyat miskin. Kelak kalau tiba saatnya kalian hendak melangsungkan pernikahan, berilah kabar dan aku pasti akan datang."

Ma Hoa maklum bahwa suhunya ini memang suka sekali hidup di atas air sebagai seorang nelayan, bahkan dulu suhunya pernah menyatakan bahwa ia ingin mati di dalam sebuah perahu, maka berkata.

"Suhu, amat berat hatiku harus berpisah dari Suhu. Suhu tentu tahu bahwa teecu menganggap Suhu sebagai ayah sendiri, maka kelak kalau Suhu telah bosan merantau di atas sungai ini, teecu harap Suhu suka tinggal bersama teecu agar teecu mendapat kesempatan merawat Suhu dan membalas budi."

Nelayan Cengeng tertawa bergelak hingga air matanya keluar.

"Muridku, anakku yang baik!"

Katanya sambil menaruhkan tangannya di atas kepala Ma Hoa.

"Tidak ada kegembiraan yang lebih besar bagiku selain melihat kau hidup bahagia dengan Kwee An! Aku berjanji bahwa kelak apabila aku sudah bosan di sungai ini, pasti aku akan hidup dekat dengan kau dan suamimu."

Setelah banyak mendapat nasihat-nasihat dan petuah-petuah dari Nelayan Cengeng yang baik hati itu, Kwee An dan Ma Hoa lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Ma Hoa mengajak Kwee An mengunjungi suhunya ke dua, yaitu Hok Peng Taisu di Bukit Hong-lun-san, di mana dulu ia diberi pelajaran silat Bambu Runcing.

Bukit itu masih indah seperti dulu, kaya akan tamasya alam yang mengagumkan hati.

Ketika mereka tiba di puncak, mereka tiba-tiba mendengar suara angin pukulan yang hebat dibarengi bentakan-bentakan seperti orang sedang berkelahi.

Dengan cepat mereka lalu menghampiri tempat itu dan Ma Hoa menahan geli hatinya ketika melihat betapa suhunya bersilat seorang diri dengan sepasang tongkatnya.

Gerakan kakek botak itu demikian kuatnya hingga di sekitarnya semua daun-daun bergerak-gerak terkena pukulan angin yang keluar dari pukulan dan sambaran tongkat itu!

Kwee An berdiri bengong dan merasa kagum bukan main melihat kehebatan kakek luar biasa itu.

"Suhu, kau orang tua benar-benar rajin sekali!"

Ma Hoa memuji dan Hok Peng Taisu lalu menghentikan latihannya dan berpaling kepada mereka sambil tersenyum. Ma Hoa segera menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Kwee An yang juga berlutut.

"Bagus, bagus, bagus sekali kalian datang ke sini. Di mana Nelayan Cengeng?"

"Dia rindu kepada perahu dan sungai, Suhu, maka tidak melanjutkan perjalanan dan hendak hidup beberapa lama di atas Sungai Liang-ho,"

Jawab Ma Hoa. Hok Peng Taisu menarik napas panjang.

"Nelayan Cengeng memang orang yang beruntung tidak seperti aku, tua-tua masih menimbulkan perkara dan mencari permusuhan. Tahukah kau bahwa pada bulan tiga aku akan mengadakan pertandingan di Puncak Hoa-san? Oleh karena itu aku harus melatih diri dan melepaskan urat-urat yang sudah kaku!"

Di waktu mudanya kakek botak ini memang gemar sekali mengadu kepandaian dengan orang-orang pandai, maka kini agaknya kegemaran itu timbul kembali dalam menghadapi tantangan Hai Kong Hosiang.

Kemudian ia lalu menceritakan tentang tantangan itu kepada Ma Hoa dan Kwee An.

"Bu Pun Su adalah seorang tokoh besar, maka tentu saja ia pun akan menyambut tantangan ini. Aku kenal padanya sebagai seorang yang sabar, akan tetapi menghadapi sebuah tantangan yang keluar dari mulut hwesio jahat itu, tentu ia akan turun gunung. Oleh karena itu, hendaknya kalian datang kepadanya dan ceritakanlah tentang tantangan itu kepada Bu Pun Su, sekalian sampaikan salamku kepadanya. Katakan bahwa selatan dan timur tidak seharusnya kalah terhadap barat dan utara!"

Dengan ucapan ini, Hok Peng Taisu hendak menyatakan bahwa dia dan Bu Pun Su takkan kalah menghadapi Pok Pok Sianjin dan Swi Kiat Siansu, tokoh-tokoh besar dari barat dan utara itu!

Ma Hoa dan Kwee An lalu turun dari Bukit Hong-lun-san dan karena mereka telah mendengar dari Cin Hai di mana letak Gua Tengkorak itu, maka mereka langsung menuju ke sana.

Ketika mereka tiba di depan Gua Tengkorak, mereka melihat Lin Lin sedang duduk dengan bengong seperti orang melamun dengan muka nampak sedih.

Melihat kedatangan mereka, gadis ini tidak merasa girang, bahkan lalu memeluk kakaknya menangis sedih.

Kwee An yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan adiknya yang terkasih itu, mengusap-usap rambut Lin Lin dan bertanya.

"Adikku sayang, mengapa kau bersedih? Di manakah Cin Hai dan di mana pula Suhumu?"

Setelah tangisnya mereda, Lin Lin lalu berkata.

"Mereka berada di dalam. Suhu sedang menderita sakit keras. Hai-ko dan Enci Im Giok menjaganya. Aku... aku tak dapat menahan kegelisahan dan kesedihanku maka aku lalu keluar, karena di depan Suhu aku tidak berani memperlihatkan kesedihanku."

Bukan main kagetnya hati Ma Hoa dan Kwee An mendengar hal ini. Segera Ma Hoa bertanya.

"Suhumu adalah seorang yang sakti, mengapa ia bisa menderita sakit? Dan bilakah Ang I Niocu tiba di sini?"

Kemudian, dengan suara perlahan agar jangan sampai suara mereka terdengar dari dalam dan mengganggu Bu Pun Su, Lin Lin lalu menceritakan bahwa setelah ia dan Cin Hai, juga bersama Lie Kong Sian, tiba di tempat itu, mereka mendapatkan Bu Pun Su sudah berbaring di dalam gua tak sadarkan diri, di jaga oleh tiga ekor burung sakti yang diam tak bergerak seperti sedang merasa bingung dan berduka pula.

Lie Kong Sian yang paham akan ilmu pengobatan, lalu memeriksa nadi kakek jembel itu dan menyatakan bahwa Bu Pun Su menderita kelemahan usia tua dan agaknya kesedihan hati membuat jantungnya terserang hebat dan penderitaan batin membuat kakek itu tidak kuat menahan dan jatuh pingsan.

Pemuda itu lalu mengatakan kepada Cin Hai dan Lin Lin agar supaya menjaga Bu Pun Su dan membantu kesempurnaan jalan darahnya dengan tenaga lweekang, sedangkan ia sendiri hendak pergi ke pulaunya mencari semacam rumput darah yang mungkin akan menyembuhkan Bu Pun Su.

Semenjak masuk Gua Tengkorak, Cin Hai lalu memegang tangan kanan suhunya dan mengerahkan tenaganya membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhu itu.

Telah sepekan lamanya Cin Hai duduk bersila tak bergerak dari dekat suhunya dan hanya makan sedikit sekali, itu pun kalau dipaksa-paksa oleh Lin Lin.

Baru tiga hari yang lalu Ang I Niocu tiba di situ dan gadis ini pun menjaga susiok-couwnya siang malam bersama mereka.

"Apakah selama ini Suhumu tidak siuman?"

Tanya Kwee An dengan terharu.

"Pernah satu kali, dan setelah siuman ia hanya mengucapkan tiga perkataan, yaitu bahwa ia sudah tua, lalu jatuh pingsan lagi."

Kembali air mata mengalir turun dari kedua mata Lin Lin.

Tiga orang muda itu lalu masuk ke dalam Gua Tengkorak dengan tindakan kaki perlahan dan hati-hati sekali.

Benar saja, mereka melihat Bu Pun Su berbaring di atas lantai di dalam kamar hio-louw, berbaring diam tak bergerak seperti sudah mati.

Cin Hai duduk di sebelah kanannya dan memegang tangan kanan kakek itu sambil bersamadhi mengerahkan tenaga lweekangnya untuk membantu aliran hawa ke dalam tubuh suhunya, sedangkan Ang I Niocu duduk di sebelah kirinya, juga bersila tak bergerak bagaikan patung.

Biarpun ilmu lweekangnya belum setinggi Cin Hai, namun kadang-kadang ia menggantikan Cin Hai untuk memegang tangan kiri kakek itu dan membantunya dengan tenaga lweekangnya agar Cin Hai tidak merasa terlalu lelah.

Melihat hal ini Ma Hoa teringat akan kepandaian suhunya, yaitu Hok Peng Taisu, tentang ilmu pengobatan, maka ia lalu memberi tanda kepada Kwee An dan Lin Lin untuk keluar dari tempat itu.

Cin Hai dan Ang I Niocu agaknya tidak melihat atau tidak mempedulikan kedatangan mereka.

Ketika Kwee An dan Ma Hoa melihat tiga ekor burung sakti berdiri di ruang tengkorak tanpa bergerak dan dengan muka seolah-olah sedang berduka sekali, mereka merasa amat terharu.

Burung-burung itu benar-benar luar biasa hingga memiliki perasaan seperti manusia biasa.

Setelah tiba di luar gua, Kwee An bertanya mengapa Ma Hoa memanggil mereka keluar.

"An-ko, harap kau suka pergi dengan cepat kepada Suhu di Hong-lun-san untuk mengabarkan hal ini kepada Suhu. Suhu adalah seorang ahli pengobatan dan dia tentu akan sanggup menolong Bu Pun Su Locianpwe."

Lin Lin menyatakan kegirangannya mendengar ini, maka ia pun mendesak kepada kakaknya untuk segera minta petolongan orang berilmu itu.

Kwee An menyatakan persetujuannya dan ia berpesan kepada kekasihnya dan adiknya supaya mereka berdua menjaga di luar gua, agar jangan sampai ada musuh yang datang membuat kekacauan pada saat Bu Pun Su menderita sakit keras.

Kemudian ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk berlari secepat mungkin ke Hong-lun-san.

Dengan adanya Ma Hoa yang mengawaninya, Lin Lin menjaga di depan gua dan duduk di atas batu karang sambil bercakap-cakap dan tidak melamun seperti tadi.

Mereka saling menuturkan pengalaman masing-masing dan Ma Hoa merasa girang mendengar tentang ditewaskannya Thai Kek Losu, Sian Kek Losio dan Bo Lang Hwesio.

Sebaliknya, ketika mendengar tentang tantangan Hai Kong Hosiang yang ditujukan kepada Hok Peng Taisu dan Bu Pun Su, Lin Lin merasa berkuatir sekali.

Dalam keadaan seperti itu, bagaimana suhunya akan dapat memenuhi tantangan itu?

Ketika mereka sedang duduk bercakap-cakap dengan asyiknya, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu seorang wanita tua telah berdiri di hadapan mereka.

Dengan terkejut Lin Lin dan Ma Hoa bangkit berdiri dan memandang dengan tajam kepada Wi Wi Toanio yang datang itu!

Melihat nenek ini, Lin Lin menjadi marah sekali karena teringat betapa bekas kekasih Bu Pun Su ini telah menjalankan kecurangan untuk mencelakai suhunya itu.

Maka sambil mencabut Han-le-kiam dari pinggangnya, ia membentak.

"Mau apa kau datang ke sini?"

Wi Wi Toanio memandang dengan mata mengejek lalu jawabnya.

"Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian anak-anak kecil. Minggirlah, dan biarkan aku bertemu dengan Lu Kwan Cu!"

"Tidak! Tak seorang pun boleh masuk ke dalam gua ini mengganggu Suhu! Pergilah kau sebelum pedangku bicara!"

"Anak kecil kurang ajar! Kau berani menghina dan mengusirku?"

Wi Wi Toanio menjadi marah sekali. Ma Hoa juga mencabut sepasang bambu runcingnya dan berkata.

"Nenek jahat, kau pergilah dengan baik-baik dan jangan mencari mati."

Makin marahlah Wi Wi Toanio mendengar ini.

Dengan seruan keras ia melompat dan menerjang ke arah Lin Lin dan Ma Hoa dengan limu Silat Cakar Garuda yang lihai dan berbahaya itu.

Akan tetapi Lin Lin dan Ma Hoa sudah siap dan menghadapinya dengan mengirim serangan-serangan mematikan.

Ternyata Wi Wi Toanio memang lihai sekali.

Ilmu kepandaiannya lebih tinggi daripada kepandaian Hai Kong Hosiang, maka biarpun Lin Lin dan Ma Hoa mengeroyok dua dan mainkan senjata mereka dengan cara hebat, namun nenek itu tidak menjadi gentar dan membalas dengan cengkeraman-cengkeraman yang dahsyat.

Sambil bertempur Wi Wi Toanio mengeluarkan pekik-pekik menyeramkan dan tubuhnya menyambar-nyambar bagaikan seekor burung garuda.

Ginkangnya ternyata sudah mencapai tingkat tinggi sekali hingga tubuhnya itu melayang-layang seolah-olah ia dapat terbang saja.

Namun Lin Lin dan Ma Hoa yang berlaku hati-hati tidak mau kalah dan bekerja sama dengan mati-matian untuk merobohkan pengacau ini.

Pada saat pertempuran terjadi, Cin Hai sedang membantu suhunya dengan mengalirkan hawa melalui telapak tangan, sedangkan Ang I Niocu hanya bersila dan bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga yang telah banyak dikerahkan membantu susiok-couwnya itu.

Kini ia mendengar suara-suara orang berkelahi di luar, maka tahulah ia bahwa Lin Lin dan Ma Hoa sedang menghadapi lawan tangguh.

Tanpa mengeluarkan suara, ia lalu mengambil sebatang pedang Liong-cu-kiam yang diletakkan di dekat Cin Hai, lalu ia bertindak keluar.

Pada saat itu, sambil memekik keras, Wi Wi Toanio melompat ke atas dan kedua tangannya terulur ke depan dengan maksud merampas senjata kedua lawannya, akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan dua batang pedang yang bercahaya berkilauan menyambutnya dengan serangan hebat!

Wi Wi Toanio sedang melayang bagaikan seekor burung garuda yang ganas, sedangkan Ang I Niocu pun melayang menyambutnya dengan pedang Liong-cu-kiam, bagaikan seekor burung hong yang indah dan gesit!

Wi Wi Toanio terkejut melihat serangan ini, maka ia lalu berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya telah terputar dan berjungkir balik beberapa kali ke belakang!

Melihat Ang I Niocu datang membantu, Lin Lin dan Ma Hoa menjadi gembira dan mereka lalu mainkan senjata mereka dengan seru dan hebat mendesak Wi Wi Toanio yang kini merasa sibuk juga menghadapi tiga orang gadis jelita yang mengamuk bagaikan tiga ekor naga betina itu!

Ang I Niocu memang lihai dan dengan sepasang pedang Liong-cu-siang-kiam di kedua tangan, ia merupakan seekor harimau yang tumbuh sayap.

Lin Lin dengan Han-lekiam-hwatnya merupakan lawan yang amat berbahaya karena ilmu pedangnya ini boleh dianggap menduduki tingkat tinggi sekali di antara segala macam ilmu pedang, sedangkan Ma Hoa dengan Ilmu Silat Bambu Runcingnya juga merupakan lawan yang tak mudah dilawan!

Baca Juga: Bu Kek Siansu 5

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert