Ceritasilat Novel Online

Jaka Lola 3

Eps 3 Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.

Siu Bi membentak gemas.

"Aku jauh lebih tua dari padamu."

Suara Yo Wan perlahan, seperti berkata kepada diri sendiri.

Memang ini suara hatinya yang membantah gelora di dalam dada, untuk memadamkan api aneh yang mulai menyala dengan peringatan bahwa dia jauh lebih tua daripada gadis remaja yang berdiri di depannya dengan sikap menantang itu.

"Hanya beberapa tahun lebih tua. Hemmm, lagakmu seperti Kakek-kakek berusia lima puluh tahun saja. Kurasa kau belum ada tiga puluh."

"Dua puluh enam tahun umurku, dan kau ini paling banyak lima belas..."

"Siapa bilang? Ngawur! Sudah tujuh belas lebih, hampir delapan belas aku "

"Ya itulah, masih kanak-kanak kataku."

"Setan kau. Delapan belas tahun kau anggap kanak-kanak? Kau baru umur dua puluh enam tahun sudah berlagak tua bangka. Biarlah kusebut kau Lopek (Paman Tua) kalau begitu. Heh, Lopek yang sudah pikun, kenapa kau tadi memondongku? Siapa yang beri ijin kepadamu?"

Yo Wan panas perutnya.

Masa ia disebut Lopek?

Ngenyek (ngece) benar bocah ini.

la mengebut-ngebutkan ujung lengan bajunya pada lehernya, seakan-akan kepanasan, memang ada rasa panas, tapi bukan di kulit melainkan di hati.

Lalu ia memilih akar yang bersih, akar pohon besar yang menonjol keluar dari tanah.

Didudukinya akar itu tanpa menjawab pertanyaan Siu Bi.

"He, Lopek Apakah kau sudah terlalu tua sehingga telingamu sudah setengah tuli?"

Bentak Siu Bi dengan suara nyaring.

"Kau anak kecil jangan kurang ajar terhadap orang tua. Duduklah, anakku, duduk yang baik dan Kakekmu akan mendongeng, kalau kau mendengarkan baik-baik, nanti kuberi mainan."

Siu Bi meloncat-loncat marah.

"Nak-nak-nak? Aku bukan anakmu, aku bukan Cucumu. Jangan sebut nak, aku bukan anak kecil "

La menjerit-jerit, kedua pipinya merah padam, kemarahannya melewati takaran. Yo Wan bersungut-sungut.

"Kalau kau bukan anak kecil, aku pun bukan Kakek-kakek yang sudah tua renta, kenapa kau sebut aku Lopek?"

"Kau yang mulai dulu"

"Siapa mulai? Kau yang mulai,"

Jawab Yo Wan mulai mendongkol hatinya.

"Kau yang mulai."

"Kau."

"Kau! Kau! Kau! Nah, aku bilang seribu kali, kau yang mulai, mau apa?,"

Siu Bi menantang.

Yo Wan mengeluh, lalu menarik nafas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya.

Benar-benar dara lincah nakal ini telah menyeretnya kembali ke alam kanak-kanak dan berhasil mengaduk isi dada dan isi perutnya menjadi panas.

Sepuluh tahun ia bertapa di Himalaya menguasai tujuh macam perasaan, sekarang perasaannya diawut-awut oleh gadis remaja ini.

"Dibebaskan dari bahaya, dipondong sampai setengah malam suntuk, tahu-tahu upahnya hanya diajak bertengkar. Di dunia ini mana ada aturan bo cengli tidak benar macam ini?"

Ia mengomel panjang pendek.

"Siapa suruh kau mondong aku? Siapa? Aku tidak sudi kau pondong, tahu?"

"Tidak sudi masa bodoh, pokoknya aku gudah memondongmu sampai setengah malam, tangan dan pundakku sampai njarem (pegel) rasanya. Siu Bi makin marah, kedua tangannya dikepal.

"Aku tidak sudi, tidak sudi, tidak sudi! Hayo jawab, kenapa kau memondongku? Kalau kau tidak jawab, jangan menyesal kalau aku marah dan menghajarmu. Aku Cui-Beng Kwan-Im, ingat?"

"Kenapa aku memondongmu? Habis kalau tidak dipondong, apa minta digendong? Atau harus kuseret? Kau dikepung, berada dalam bahaya maut, tapi masih membuka mulut besar. Tak tahu diri benar!"

"Biar aku dikepung, biar dicengkeram maut, apa pedulimu? Aku tidak sudi pertolonganmu, mengapa kau tolongaku?"

"Aku pun tidak bermaksud menolongmu. Aku hanya tidak senang melihat seorang gadis dikeroyok oleh para pengawal jenderal itu, maka aku berusaha menggagalkan pengeroyokan mereka dah membawamu pergi."

Siu Bi seakan-akan tidak mendengarkan omongan Yo Wan, ia termenung lalu berkata penuh penyesalan.

"Celaka betul, karena kau membawaku pergi, pedangku hilang! Ah, Cui-Beng Kiam itu tentu ketinggalan di tempat pertempuran dan..."

Siu Bi menghentikan kata-katanya karena melihat sinar kehitaman ketika Pedang itu dicabut oleh Yo Wan dari balik jubahnya.

Tanpa berkata sesuatu Yo Wan memberikan Pedang kepada Siu Bi yang cepat menyambarnya.

"Juga kebetulan aku melihat Pedang ini terlepas dari tanganmu, aku tidak ingin pengawal-pengawal itu merampasnya, maka kubawa sekalian. Nah, kiranya cukup obrolan kita yang amat menyenangkan hati ini. Aku tak pernah tolong kau dan kau tak pernah ada urusan denganku. Kita sama-sama bebas, tidak ada urusan apa-apa. Selamat tinggal."

Yo Wan berdiri, lalu berjalan perlahan meninggalkan Siu Bi.

Seperti malam tadi, Siu Bi memandang dengan mata tak berkedip, ketika bayangan Yo Wan hampir lenyap di sebuah tikungan, ia teringat sesuatu dan cepat melompat mengejar sambil berseru.

"Heee, berhenti dulu!!"

Yo Wan berhenti dan membalikkan tubuh perlahan.

Dilihatnya gadis itu berloncatan sambil membawa pedang.

Hemm, jangan-jangan gadis itu akan menyerangnya, siapa dapat menduga isi hati gadis liar dan buas seperti itu?

"Ada apa lagi?

Hendak menghajarku?"

Tanyanya. Siu Bi menggelengkan kepala, tapi mulutnya masih cemberut.

"Tergantung dari jawabanmu,"

Katanya, lalu disambungnya cepat-cepat.

"Aku tidak pernah mendengkur kalau tidur. Kau tadi bilang aku mendengkur, kau bohong! Aku tidak pernah mendengkur, memalukan sekali!"

Hampir Yo Wan terbahak ketawa. Benar-benar gadis yang liar dan aneh. Masa menyusulnya hanya akan bicara tentang itu? "Tidak mendengkur, hanya... ngo"

Rok..."

"Bohong! Kau berani sumpah? Aku tak pernah ngorok, mendengkur pun tidak."

"Ngorok pun mana kau bisa tahu? Kan kau sedang tidur? Yang tahu hanya orang lain tentu."

"Tidak, tidak! Aku tidak ngorok, hayo katakan, aku tidak pernah ngorok!"

Siu Bi hampir menangis ketika membanting-banting kaki di depan Yo Wan.

la marah dan malu sekali, kedua matanya sudah merah, air matanya sudah hampir runtuh.

la bukan seorang gadis cengeng, jauh dari itu, menangis sebetulnya merupakan pantangan baginya, hatinya keras, nyalinya besar, tak pernah ia mengenal takut.

Akan tetapi dikatakan ngorok dalam tidur, benar-benar merupakan hal yang menyakitkan hati, memalukan dan menjengkelkan.

Kasihan juga hati Yo Wan melihat keadaan gadis ini.

"Ya sudahlah, tidak ngorok ya sudah. Agaknya karena terlampau lelah bertanding dan terlalu enak kau pulas, nafasmu menjadi berat seperti orang mengorok. Tidurmu memang enak sekali sampai aku tidak tega untuk membangunkan dan terpaksa memondongmu terus sampai kau bangun."

Memang watak Siu Bi aneh.

Mana bisa tidak aneh watak gadis ini yang semenjak kecil hidup dekat Hek Lojin, manusia aneh yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw?

Kini ia memandang kepada Yo Wan dengan sinar mata berseri, melalui selapis air mata yang tidak jadi tumpah.

"Kau baik sekali..."

Yo Wan tertegun. Alangkah bedanya dengan tadi. Kini ia benar-benar melihat seorang Dewi Kwan Im di depannya, seorang dewi yang cantik jelita, bersuara lembut dan bersinar mata mesra.

"Ahhh... sama sekali tidak baik, biasa saja,"

Katanya.

"Aku melihat kau menolong para petani miskin, tentu saja aku tidak suka melihat kau celaka di tangan para pengawal."

Hening sejenak, dan agaknya Yo Wan lupa sudah bahwa baru saja dia mengucapkan selamat tinggal.

Juga Siu Bi seperti orang termenung, tidak memandang Yo Wan, melainkan memandang ke tempat jauh di sebelah kiri.

Tiba-tiba ia menengok, agak berdongak untuk mencari mata Yo Wan dengan pandangannya.

"Kau... lapar...?"

Yo Wan melongo beberapa detik.

"Lapar? Tentu saja..."

Jawabnya otomatis, karena memang perutnya terasa perih minta diisi. Wajah Siu Bi berseri gembira.

"Kau tunggu di sini sebentar, kutangkap kelinci gemuk di sana itu!"

Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan di lain saat ia telah menguber-uber seekor kelinci putih yang gemuk.

Yo Wan kembali tertegun, kemudian ia tersenyum geli dan menggaruk-garuk belakang telinganya yang tidak gatal.

Lalu ia mengumpulkan daun dan ranting kering dan duduk di atas sebuah batu, menunggu.

Siu Bi datang sambil berloncatan dan menari-nari kegirangan.

Seekor kelinci gemuk sekali meronta-ronta di bawah pegangannya.

Siu Bi memegang kedua telinga itu.

"Lihat, wah gemuk sekali! Masih muda lagi!"

Teriaknya sambil tertawa-tawa. Wajah Yo Wan berseri dan untuk sejenak lenyaplah kemuraman wajahnya.

"Hemmmm, tentu lezat sekali dagingnya. Biar kubuatkan api."

La lalu membuat api dan matanya melirik ke arah gadis itu yang dengan cekatan sekali menyembelih kelinci dengan pedangnya, lalu mengulitinya dengan cepat.

Sambil bekerja, Siu Bi bersenandung dan Yo Wan beberapa kali melirik ke arah gadis ini.

Seorang gadis yang benar-benar aneh, pikirnya.

Watak yang luar biasa dan sukar diselami.

"Lihat nih, gajihnya sampai tebal? Hemmm..."

Makin lapar perutku,"

Kata Siu Bi sambil mengangkat daging kelinci tinggi-tinggi.

"Lekas panggang, tak kuat lagi aku."

Yo Wan berkata, menelan air ludah sendiri beberapa kali."

Seperti seorang anak kecil, sambil tertawa-tawa gembira Siu Bi lalu menusuk daging kelinci dengan bambu dan memanggangnya.

Bau yang sedap gurih memenuhi udara, menambah rasa lapar di perut.

Selama mengerjakan itu, Siu Bi tidak bicara, hanya beberapa kali melirik ke arah Yo Wan, akan tetapi kalau pemuda itu membalas pandangnya, ia mengalihkan kerling sambil tersenyum.

Biarpun mulutnya tidak berkata sesuatu, namun di dalam hatinya Siu Bi tiada hentinya berkata-kata.

Pikirannya diputar terus.

Pemuda ini baik, pikirnya.

Tidak kurang ajar, biarpun kelihatan agak tolol.

Terang bahwa dia itu lihai sekali, sudah berkali-kali dibuktikan biarpun tidak berterang.

Dapat memasuki rumah gedung Jenderal Bun tanpa diketahui, seperti setan saja, dapat membebaskannya dari kerangkeng, kemudian ia harus mengakui bahwa ketika ia roboh terjegal kakinya oleh tambang-tambang itu, keadaannya memang amat berbahaya.

Pemuda itu tiba-tiba muncul dalam gelap, dapat membawanya pergi tanpa diketahui semua pengeroyok, malah tidak lupa membawa pula pedangnya.

Kalau tidak lihai sekali mana mungkin melakukan semua itu?

Kembali ia melirik Yo Wan duduk termenung, tapi lubang hidungnya kembang-kempis, jakunnya naik turun, jelas bahwa dalam termenung, pemuda itu tergoda hebat oleh asap panggang kelinci yang sedap gurih.

Melihat ini, Siu Bi tertawa mengikik sehingga terpaksa menutupi mulutnya dengan tangan kiri.

Ibunya yang selalu marah kalau melihat ia ketawa tanpa menutupi mulutnya dan terlalu sering Siu Bi melupakan hal ini, baiknya sekarang ia tidak lupa, mungkin karena sadar bahwa ada orang lain, laki-laki pula, di dekatnya.

"Hemmm, mengapa kau tertawa?""Yo Wan bertanya, kaget dan sadar dari lamunannya.

"Tidak apa-apa, tak bolehkah orang tertawa?"

Siu Bi menjawab sambil melirik nakal, tangannya memutar-mutar daging kelinci di atas api. Jawaban ini merupakan tangkisan yang membuat Yo Wan gelagapan.

"A... a... aku tidak melarang... tentu saja, siapapun boleh tertawa. Kau mentertawai aku?"

Siu Bi hanya tersenyum, tidak menjawab, melirik pun tidak.

Daging itu sudah hampir matang.

Yo Wan juga tidak mendesak, tapi cukup mendongkol hatinya.

Gadis remaja ini benar-benar pandai mengobrak-abrik hati orang dengan sikapnya yang aneh, sebentar marah, sebentar ramah, sebentar menggoda.

Pemuda ini terang pandai sekali, Siu Bi melanjutkan lamunannya.

Kalau aku berbaik kepadanya dan mendapat bantuannya, agaknya akan lebih besar hasilnya di Liong-Thouw-San.

Menurut ucapan Bun Hui pemuda putera jenderal itu, Pendekar Buta adalah seorang yang sakti yang amat tinggi kepandaiannya.

Tentu saja ia tidak takut, akan tetapi bagaimana kalau ia gagal?

Tentu akan mengecewakan sekali jika ia tidak berhasil membalaskan dendam Kakek Hek Lojin.

Akan tetapi kalau mendapat bantuan pemuda ini, hemmm, kepandaian mereka berdua dapat disatukan untuk menghadapi dan mengalahkan Pendekar Buta.

Akan tetapi apakah benar-benar pemuda ini lihai?

Kembali ia melirik.

Yo Wan tampak mengantuk sepasang matanya hampir meram dan kepalanya terangguk-angguk ke kanan kiri, seakan-akan lehernya tidak kuat pula menyangga kepalanya.

Kasihan!

Tentu dia amat mengantuk, mengantuk dan lapar karena semalam tidak tidur sama sekali, memondongnya pergi sejauh ini.

Kalau sedang mengantuk dan "Tidur ayam"

Begini sama sekali tidak patut menjadi seorang yang berkepandaian tinggi.

Juga tidak nampak membawa senjata.

Makin ia perhatikan, makin tidak memuaskan kesan di hati Siu Bi.

Pemuda yang tidak muda lagi, sungguhpun belum tua.

Rambutnya kering tidak terpelihara baik-baik.

Wajahnya biarpun tampan, namun tampak muram seperti orang yang sedih selalu.

Pakaiannya yang serba putih itu tidak bersih lagi, juga ada beberapa bagian yang robek.

Pemuda miskin!

Tiba-tiba Yo Wan yang benar-benar amat mengantuk itu terangguk ke depan, menjadi kaget dan membuka matanya, memandang bingung.

"Hi...hi...hik...!"

Kembali Siu Bi terkekeh. Lucu sekali keadaan pemuda itu.

"Kenapa kau tertawa?"

"Siapa tidak tertawa melihat kau terkantuk-kantuk seperti Ayam Keloren (menderita penyakit kelor)? Hayo bangun, daging sudah matang!"

Siu Bi mengangkat panggang daging kelinci dan menaruhnya di atas daun-daun bersih yang sudah disediakan di situ, depan Yo Wan.

"Wah, gurih baunya!"

Yo Wan memuji.

"Hayo, kau ambil dulu."

"Kau ambillah dulu."

"Kau yang tangkap dan masak kelinci, masa aku harus makan dulu?"

"Sudahlah, kau ambil dulu, mengapa sih? Aku tidak selapar engkau!"

Yo Wan tidak berlaku sungkan lagi. Dengan penuh gairah ia merobek daging itu, mengambil bagian yang ada tulangnya, lalu langsung menggerogotinya dengan lahap.

"Wah, hebat...! Lezat bukan main...!"

Katanya sambil mengunyah. Memang gemuk kelinci itu, gajihnya banyak sehingga begitu menggigit daging, gajih yang mencair oleh api itu menitik dari kanan kiri Bibir Yo Wan.

"Sayang tidak ada arak...Heee! Kau ke mana, Nona?"

"Tunggu dulu sebentar, aku ambil air minum!"

Cepat Siu Bi berlari meninggalkan Yo Wan.

Pemuda ini mengunyah lambat-lambat dan pikirannya makin penuh oleh keadaan Siu Bi.

Gadis itu benar-benar hebat, wataknya aneh sekali.

Sekarang amat ramah dan baik kepadanya.

Siapakah dia ini?

Siu Bi kembali membawa dua buah kulit labu yang penuh air jernih, dan selain air, juga ia membawa banyak buah-buah manis yang dipetiknya dari dalam hutan.

Dengan hati-hati agar jangan tumpah, ia menaruh kulit labu yang dipakai menjadi tempat air itu di atas tanah, kemudian ia pun mulai makan daging kelinci.

Keduanya makan dengan lahap, tanpa bicara, hanya kadang-kadang pandang mata mereka bertemu sebentar.

Yo Wan duduk di atas batu, Siu Bi duduk bersila di atas tanah berumput.

Api bekas pemanggang daging masih bernyala sedikit.

Tak sampai sepuluh menit habislah daging kelinci, tinggal tulang-tulangnya.

Setelah minum air dan mencuci mulut dengan air, keduanya makan buah.

Barulah Yo Wan berkata.

"Nona, kau baik sekali kepadaku. Terima kasih, daging kelinci tadi gurih dan mengenyangkan perut airnya jernih segar sekali, dan buah-buah ini pun manis. Kau memang baik."

"Terima kasih segala, untuk apa? Tidak ada kau pun aku toh harus makan dan minum. Kau berkali-kali menolongku, aku pun tidak bilang terima kasih padamu."

Yo Wan tersenyum. Dekat dan bicara dengan nona ini memaksanya untuk sering tersenyum.

"Aku tidak menolongmu, tak perlu berterima kasih, Nona."

"Siapakah kau ini? Siapa namamu?"

Yo Wan menggerakkan alisnya yang tebal. Baru terasa olehnya betapa lucu dan janggal keadaan mereka berdua.

"Ah, kita sudah cekcok bersama, makan minum bersama, mengobrol bersama, tapi masih belum saling mengenal. Namaku orang menyebutku Jaka Lola, Nona."

"Jaka Lola? Ayah Bundamu... sudah tiada?"

Yo Wan mengangguk sunyi. Kemudian balas bertanya.

"Kau sendiri? Siapakah namamu kalau aku boleh bertanya?"

"Orang-orang di dusun, para petani itu menyebutku Cui-Beng Kwan-Im. Adapun namaku... ah, kau tidak memperkenalkan namamu, masa aku harus menyebutkan namaku?"

Kembali Yo Wan tersenyum.

"Namaku Yo Wan, hidupku sebatangkara, tiada sanak tiada kadang, tiada tempat tinggal tertentu, rumahku dunia ini, atapnya langit, lantainya bumi, dindingnya pohon, lampu-lampunya matahari, bulan dan bintang."

Siu Bi tertawa, lalu bangkit berdiri dan menirukan lagak dan suara Yo Wan ia berkata.

"Namaku Siu Bi, hidupku sebatangkara, tiada sanak kadang, tiada tempat tinggal tertentu, rumahku di mana aku berada, atap, lantai dan dindingnya, apa pun jadi!"

Dan ia tertawa lagi.

Yo Wan mau tidak mau ikut pula tertawa.

Kalau gadis ini sedang berjenaka, sukar bagi orang untuk tidak ikut gembira.

Suara ketawa dan senyum gadis ini seakan-akan menambah gemilangnya sinar matahari pagi.

"Nona, namamu bagus sekali. Akan tetapi siapakah shemu (nama keturunan)"

"Cukup Siu Bi saja, tidak ada tambahan di depan maupun embel-embel di belakangnya. Nah, sekarang kita sudah tahu akan nama masing-masing. Kau siap dan keluarkan senjatamu!"

Kata Siu Bi sambil mencabut Cui-Beng Kiam yang ia selipkan di ikat pinggangnya. Pedang itu berada di tangannya, digerakkan di depan dada dengan sikap hendak menyerang. Yo Wan terkejut.

"Eh, eh, eh, apa pula ini?"

"Artinya, aku hendak menguji kepandaianmu. Gerak-gerikmu penuh rahasia, aku masih belum yakin benar apakah kau memang memiliki kelihaian seperti yang kusangka."

"Wah, aneh-aneh saja kau ini, nona Siu Bi. Aku orang biasa, tidak punya kepandaian apa-apa, jangan kau main-main dengan Pedang itu, Nona."

"Tak usah kau pura-pura, kau mau atau tidak, harus melayani aku beberapa jurus. Bersiaplah! Awas, pedang!"

Serta merta Siu Bi menerjang dan mengirim tusukan secepat kilat.

"Wah, gila...!"

Yo Wan mengeluh di dalam hatinya.

la cepat membuang diri mengelak, maklum akan keampuhan Pedang bersinar hitam itu.

Akan tetapi Siu Bi sudah menyerangnya secara bertubi-tubi, malah gadis itu mulai menggerakkan tangan kirinya sambil mengerahkan tenaga Hek-In-Kang!

Yo Wan yang menangkis sambaran tangan kiri ini terpental dan merasa betapa lengannya yang menangkis terasa panas dan sakit.

la kaget sekali dan timbul rasa gemasnya.

Gadis ini benar-benar liar pikirnya.

Akan tetapi Pedang bersinar hitam itu sudah datang lagi mengirim tusukan bertubi-tubi diseling dengan pukulan yang membawa uap berwarna kehitaman.

Hebat!

Gadis ini ternyata memiliki ilmu yang amat ganas dan dahsyat.

Kalau aku tidak memperlihatkan kepandaian, ia akan terus berkepala batu dan tinggi hati.

Cepat tangan kanan Yo Wan merogoh ke balik jubahnya dan di lain saat Pedang kayu cendana sudah berada di tangannya, Pedang buatannya sendiri di Himalaya.

Ketika sinar hitam menyambar dia menangkis.

"Dukkk!"

Siu Bi melangkah mundur tiga tindak, tangannya linu dan pegal.

Heran ia mengapa Pedang lawannya itu ketika bertemu dengan pedangnya terasa seperti benda lunak, seperti kayu, tidak menimbulkan suara nyaring.

Ketika ia memandang lebih jelas, betul saja bahwa Pedang itu memanglah sebatang Pedang kayu!

Mukanya seketika menjadi merah sekali.

Penasaran ia.

Masa pedangnya, Cui-Beng Kiam yang ampuh itu hanya dilawan oleh Yo Wan dengan sebatang Pedang kayu?

la mengeluarkan seruan keras dan menerjang lagi, mengerahkan seluruh tenaga Hek-In-Kang untuk membabat putus Pedang kayu itu.

Akan tetapi ia salah duga.

Pedang di tangan Yo Wan biarpun hanya terbuat dari kayu cendana yang mengeluarkan bau harum kalau diayun, namun yang mengerahkan adalah tangan yang terisi ilmu, tangan yang mengandung hawa Sinkang dan mempunyai tenaga dalam yang sudah amat tinggi tingkatnya.

Bukan saja Pedang kayu itu tidak rusak, malah dia sendiri beberapa kali hampir melepaskan pedangnya karena tangannya terasa panas dan sakit apabila kedua senjata itu bertemu.

Ia mulai kagum bukan main.

Tidak salah dugaannya.

Pemuda ini lihai bukan main.

Akan tetapi di samping kekagumannya, ia pun penasaran dan marah sekali.

Masa dia, Cui-Beng Kwan-Im, hanya dilawan dengan Pedang kayu?

Bukan Pedang sungguh-sungguh, melainkan pedang-pedangan yang patut dipakai mainan anak kecil.

Rasa penasaran dan marah membuat Siu Bi bergerak makin ganas dan dahsyat.

Yo Wan diam-diam mengeluh.

Kepandaian gadis ini kalau sudah matang, benar-benar berbahaya sekali, apalagi pukulan-pukulan tangan kiri yang melontarkan hawa beracun, benar-benar sukar dilawan kalau tidak menggunakan Sinkang yang kuat.

la pun mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu pedangnya dari Sin-Eng-Cu.

Namun, ilmu pedangnya itu hanya sanggup menandingi Ilmu Pedang Cui-Beng Kiam-Sut dari Siu Bi dan perlahan-lahan gadis itu mendesaknya dengan pukulan-pukulan Hek-In-Kang.

Kini Siu Bi tidak hanya menguji ilmu atau main-main, melainkan menyerang dengan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Kalau tidak dilayani dengan sepenuhnya, tentu akan lama pertandingan itu dan akan berubah menjadi pertandingan mati-matian.

"Benar-benar kau aneh sekali. Nona,"

Seru Yo Wan ketika dia terpaksa berjungkir balik untuk (Lanjut ke

Jilid 07) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 menghindarkan sebuah pukulan tangan kiri gadis itu.

Tangan kiri itu kini mengeluarkan uap hitam dan makin lama makin dahsyat pukulannya sehingga Yo Wan tidak berani menangkis, bukan takut kalau ia terluka, melainkan khawatir kalau-kalau tangkisannya yang terlalu kuat akan mencelakai nona itu.

Sambil berjungkir balik ini, la mencabut keluar cambuknya yang melingkar di pinggang.

Kini tangan kirinya memegang cambuk dan "Tar-tar-tar "

Cambuk itu menyambar-nyambar bagaikan petir di atas kepala Siu Bi.

"Ayaaa...!"

Siu Bi kaget bukan main.

Apalagi ketika melihat betapa cambuk itu berubah menjadi lingkaran-lingkaran yang membingungkan.

Seketika itu juga keadaan menjadi berubah Dia terdesak hebat, beberapa kali pedangnya hampir terlibat cambuk lawan.

Namun, bukan watak Siu Bi untuk menjadi gentar.

Dia makin bersemangat.

"Wah, benar-benar keras hati dia...? pikir Yo Wan dan cepat ia mempergunakan langkah-langkah Si-Cap-It Sin-Po. Seketika lenyap dari depan Siu Bi dan gadis itu dalam kebingungannya, cepat berbalik ketika mendengar desir cambuk dari belakang. Baru satu kali tangkis, pemuda itu lenyap lagi dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya, lalu lenyap, muncul di sebelah kiri, lenyap lagi, muncul di sebelah kanannya. Bingung ia dibuatnya dan kepalanya menjadi pening! "Sudahlah, cukup, Nona. Kau lihai sekali..."

Berkali-kali Yo Wan berseru, namun mana Siu Bi mau sudah dan mengalah? la menggigit Bibir dan menerjang seperti seekor harimau gila, nekat dan tidak takut mati.

"Awas pedangmu!"

Yo Wan berseru dan lenyap.

Ketika Siu Bi membalik, terasa sesuatu membelit pundaknya.

la merasa ngeri dan menggeliat seakan-akan ada ular yang melilit puncak.

Kiranya cambuk lawannya yang melilitnya, membuat ia sukar bergerak dan pada saat itu, ujung Pedang kayu Yo Wan menotok pergelangan tangan kanannya.

Pedangnya jatuh!

Dengan marah sekali, Siu Bi berdiri di depan Yo Wan, membanting-banting kaki dan memandang penuh kebencian.

"Maaf, Nona, aku... aku tidak sengaja. Kau telah mengalah..."

Akan tetapi Siu Bi membanting kaki lagi, terisak lalu membalikkan tubuh dan lari cepat, tidak peduli lagi akan pedangnya yang tergeletak di atas tanah.

"He, nona Siu Bi... tunggu... pedangmu...!"

Yo Wan mengambil Pedang itu dan cepat mengejar.

Akan tetapi Siu Bi sudah lari jauh dan menghilang di balik pohon-pohon di dalam hutan.

Yo Wan berhenti sebentar, menggeleng-geleng kepala dan menarik nafas panjang.

"Wah, benar-benar luar biasa anak itu. Wataknya seperti setan!"

Akan tetapi diam-diam ia mengagumi kepandaian Siu Bi yang memang jarang dicari bandingnya.

"Entah anak siapa dia itu, dan entah siapa pula yang mewariskan kepandaian dan watak segila itu."

La lalu mengejar lagi, tidak bermaksud segera menyusul karena ia maklum bahwa agaknya membutuhkan beberapa lama untuk membiarkan gadis itu agak mendingin hatinya.

Kalau sedang panas dan marah seperti itu, agaknya tidak akan mudah dibujuk dan tentu sukar bukan main diajak bicara secara baik-baik.

Seorang gadis yang luar biasa masih amat muda.

Mengapa sudah merantau seorang diri di dunia ini?

Betulkah dia pun sebatangkara?

Kasihan!

Wataknya keras, berbahaya sekali kalau tidak ada yang mengamat-amati.

Sayang kalau seorang dara masih remaja seperti itu mengalami malapetaka atau menjadi rusak.

Hati Yo Wan mulai gelisah ketika sudah mengejar seperempat jam lebih, belum juga ia melihat bayangan Siu Bi.

"Nona Siu Bi! Tunggu..."

Serunya sambil mengerahkan khikang sehingga suaranya bergema di seluruh hutan.

Namun tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri.

la mengejar lebih cepat lagi.

Tiba-tiba ia tersentak kaget dan berhenti.

Di depan kakinya tergeletak sehelai saputangan sutera kuning.

Bukankah ini saputangan yang dia lihat tadi mengikat rambut Siu Bi?

Dipungutnya saputangan itu dan jari-jari tangannya menggigil.

Saputangan itu berlepotan darah!

Sepasang matanya menjadi beringas ketika ia menoleh ke kanan kiri, lalu dia meloncat ke atas pohon, memandang ke sana ke mari.

"Nona Siu Bi! Di mana kau...!!...!"

Li berseru memanggil. Tetap sunyi tiada jawaban.

"Celaka, apa artinya ini...?"

Yo Wan meloncat turun lagi, memandangi saputangan di tangannya.

"Jangan-jangan..."

La tidak berani melanjutkan kata-kata hatinya, melainkan mengantongi kain sutera itu dan berkelebat cepat ke depan untuk melakukan pengejaran lebih cepat lagi.

Apakah yang terjadi dengan diri Siu Bi?

Gadis itu merasa amat marah, penasaran, malu dan kecewa sekali setelah mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaiannya jauh kalah oleh Yo Wan.

Memang Siu Bi berwatak aneh, mudah sekali berubah.

Tadinya ia hendak menguji kepandaian Yo Wan dan kalau ternyata Yo Wan benar lihai, akan dijadikan sahabatnya menghadapi musuh besarnya.

Akan tetapi setelah ternyata ia kalah jauh, ia kecewa dan marah, lalu pergi sambil menangis!

Malah ia tinggalkan begitu saja pedangnya yang terlepas dari tangan.

Siu Bi menggunakan ilmu lari cepat.

la maklum bahwa Yo Wan tentu akan mengejarnya, lari sekuat tenaga.

Kemudian, sampai di pinggir hutan ia melihat bahwa daerah itu banyak terdapat batu-batu besar yang merupakan dinding lereng gunung dan tampak bahwa tempat itu terdapat banyak guanya yang gelap dan terbuka seperti mulut raksasa.

Tanpa banyak pikir lagi ia lalu membelok ke daerah ini, memilih sebuah gua yang paling gelap dan besar, lalu menyelinap masuk.

Gua itu gelap sekali dan lebar.

Begitu masuk, tubuhnya diselimuti kegelapan, sama sekali tidak tampak dari luar.

la masuk terus dan ternyata terowongan dalam gua itu membelok ke kiri sehingga ia terbebas sama sekali dari sinar matahari.

Terlalu gelap di situ, melihat tangan sendiri pun hampir tidak kelihatan.

Siu Bi meraba-raba dan ketika mencapatkan sebuah batu yang licin dan bersih, ia duduk di situ terengah-engah.

Disusutnya air matanya dengan ujung lengan bajunya.

Tiba-tiba ia hampir menjerit saking kagetnya ketika terdengar suara orang tertawa, apalagi ketika disusul dengan dua buah tangan yang merangkul pundaknya!

Otomatis tangan kirinya bergerak, menghantam ke belakang.

Karena kaget, maka sekaligus ia mengerahkan Hek-In-Kang.

Tangannya yang terbuka bertemu dengan bagian perut yang lunak.

"Bukkk!"

Orang yang punya perut itu merintih dan terlempar ke belakang.

Siu Bi melompat bangun, akan tetapi mendadak ia mencium bau harum yang luar biasa, yang membuat kepalanya pening dan matanya melihat seribu bintang terhuyung-huyung dan roboh dalam pelukan dua buah lengan yang kuat!

Beberapa detik kemudian, dua orang laki-laki tinggi besar yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, melompat keluar dari dalam gua.

Seorang di antara mereka, yang berjenggot kaku, memondong tubuh Siu Bi yang pingsan.

Setibanya di luar gua, mereka memandang wajah Siu Bi dan si pemondong tertawa.

"Ha... ha... ha, luar biasa sekali, Bian-te (adik Bian). Kita menangkap seorang bidadari!"

Kawannya, yang mukanya pucat, tertawa masam.

"Bidadari tapi pukulannya seperti setan! Kalau aku tadi tidak cepat-cepat mengerahkan Sinkang, kiranya isi perutku sudah hancur dan hangus. Heran, gadis cilik secantik ini kepandaiannya hebat dan pukulannya dahsyat."

"Dia tentu murid orang pandai. Jangan-jangan berkawan yang lebih lihai lagi. Mari kita cepat bawa pergi. Gong-Twako bersama perahunya tentu berada di pantai. Hayo, cepat!"

"Dua orang itu berlari cepat sekali menuju ke Barat. Tak lama kemudian mereka tiba di tepi Sungai Fen-ho. Si muka pucat bersuit keras sekali dan tiba-tiba dari rumpun alang-alang muncul sebuah perahu kecil cat hitam yang didayung oleh seorang laki-laki berambut putih, berusia lima puluh tahunan.

"He, kalian membawa seorang gadis, untuk apa? Siapa dia?"

Dua orang tinggi besar itu melompat ke dalam perahu dengan gerakan yang ringan.

Si jenggot kasar merebahkan tubuh Siu Bi yang masih pingsan ke dalam bilik perahu, kemudian ia keluar lagi untuk bercakap-cakap dengan dua orang temannya.

"Kami tidak tahu dia siapa. Seorang bidadari!"

Katanya.

"Bidadari yang pukulannya seperti setan!"

Sambung si muka pucat dan tiba-tiba meringis, lalu muntahkan darah yang menghitam. Dua orang temannya kaget. Kakek rambut putih itu memandang dengan kening berkerut.

"Bian-te, kau terluka dalam yang hebat."

"Lekas kita pergi ke Ching-Coa-To. Gong-Twako, gadis itu seorang yang cantik dan pandai, tentu Kongcu (Tuan muda) akan senang sekali mendapatkannya, dan kita akan mendapat jasa besar. Juga Bian-te perlu segera diobati. Agaknya hanya Toanio (nyonya) yang mampu mengobatinya. Pukulannya hebat dan agaknya mengandung racun yang aneh."

Si rambut putih bersuit dan muncullah perahu kedua, didayung seorang laki-laki muda.

"Kau menjaga di sini, kami akan ke Pulau,"

Pesannya dan didayunglah perahu hitam itu dengan cepat sekali, mengikuti aliran sungai sehingga meluncur dengan lajunya.

Beberapa jam kemudian, si muka pucat muntah-muntah lagi, keadaannya makin payah.

Dua orang temannya berusaha untuk mengurut jalan darah dan menempelkan telapak tangan pada punggungnya untuk membantu pengerahan Sinkang, namun hasilnya tidak banyak, hanya membuat si muka pucat itu dapat bernafas lebih leluasa.

Mukanya makin pucat dan matanya beringas.

"Keparat, aku harus membalas ini."

La bangkit hendak memasuki bilik perahu.

"Bian-te, sabarlah,"

Cegah si brewok.

"Perjalanan ini masih lama, agaknya aku takkan kuat. Tak lama lagi aku mati, dan sebelum mati, aku harus melampiaskan penasaran."

"Jangan bunuh dia, Bian-te..."

Cegah si rambut putih.

"Agaknya dia sudah terkena bius racun merah kita, ia tidak berdaya lagi. Itu sudah merupakan pembalasan dan nanti kalau ia terjatuh ke tangan Kongcu, Ha... ha... ha, tentu tak lama lagi dihadiahkan kepadamu. Masih banyak waktu untuk membalas penasaranmu."

"Tidak bisa menunggu lagi. Sesampainya di sana, aku sudah menjadi mayat. Gong-Twako, lukaku hebat, aku merasa ini. Biarkan aku memilikinya sebelum aku mati."

"Bian-te, dia hendak kami berikan kepada Kongcu. Kalau kau mendahuluinya, tentu kau akan dihukum Kongcu."

"Kongcu tidak tahu tentang dia, laginya, kalau sebentar lagi aku mati, kong-cu mau bisa berbuat apa kepadaku?"

Si muka pucat memasuki bilik dan dua orang kawannya hanya saling pandang.

"Dia terluka hebat dan agaknya betul-betul tidak akan dapat ditolong, biarkanlah dia menebus kekalahannya dan membalas dendam,"

Kata si rambut putih sambil mengeluarkan pipa tembakaunya dan mengisap.

Si brewok juga mengangkat pundak.

Siu Bi telah terkena bubuk beracun Ang-hwa-tok (Racun Kembang Merah) yang membuatnya mabuk dan pingsan.

Akan tetapi gadis ini adalah murid dari Hek Lojin, seorang tokoh dunia hitam.

Ketika gadis ini mempelajari Lweekang, latihannya dengan berjungkir balik sehingga dalam pengerahan Hek-In-Kang, jalan darahnya membalik dan Sinkang di tubuhnya membentuk hawa Hek-In-Kang yang beracun hitam.

Oleh karena itu, ketika ia terkena pengaruh racun Ang-hwa-tok, hanya sebentar saja ia tercengkeram dan pingsan.

Pada saat itu, ia sudah mulai bergerak, biarpun masih pening dan ketika ia membuka matanya, cepat ia meramkan lagi karena segala yang tampak berputaran sedangkan darahnya di kepala berdenyut-denyut.

Cepat ia mengerahkan Sinkang untuk mengusir pengaruh memabukkan ini.

Untung baginya, ketika tadi terkena racun Ang-hwa-tok, ia baru mengerahkan Hek-In-Kang sehingga tenaga mujijat inilah yang menolak sebagian besar pengaruh racun.

Kini dengan Sinkang, ia berhasil mengusir hawa beracun, akan tetapi pikirannya masih belum sadar benar dan ia merasa seakan-akan melayang di angkasa, belum sadar benar dan belum ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya.

la merasa seperti dalam alam mimpi.

Mendadak ada orang menubruk dan memeluknya sambil mencengkeram pundak.

Siu Bi kaget bukan main, cepat membuka matanya.

Hampir ia menjerit ketika melihat bahwa yang menindihnya adalah seorang laki-laki bermuka pucat bermata beringas dan mulutnya menyeringai liar, dari ujung Bibirnya bertetesan darah menghitam!

la tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang mengerikan ini terhadap dirinya, ia menyangka bahwa ia akan dibunuh dan dicekik, Maka cepat Siu Bi mengerahkan seluruh tenaga Hek-In-Kang yang ada pada dirinya, kemudian sambil meronta ia menggunakan kedua tangannya menghantam dengan pengerahan Hek-In-Kang.

Lambung dan leher orang yang bermuka pucat itu dengan tepat kena dihantam, dia memekik keras, tubuhnya terpental dan roboh terguling ke bawah dipan.

Ketika Siu Bi melompat bangun, ternyata orang itu sudah rebah dengan mata mendelik dan dari mulutnya bercucuran darah, nafasnya sudah putus!

Siu Bi bergidik mengenangkan bahaya yang hampir menimpa dirinya.

Dengan penuh kebencian ia menendang mayat itu sehingga terlempar ke luar dari pintu bilik kecil.

Sementara itu, si brewok dan si rambut putih yang sedang enak-enak duduk di atas perahu, terkejut bukan main mendengar pekik tadi.

Cepat mereka melempar pipa tembakau ke samping dan melompat, menyerbu ke dalam bilik.

Sesosok bayangan menyambar mereka.

Si brewok menyampok dan bayangan itu adalah temannya sendiri, si muka pucat yang sekarang sudah menjadi mayat!

Tentu saja di samping rasa kaget, mereka berdua marah sekali melihat seorang teman mereka tewas dalam keadaan seperti itu.

Bagaikan due ekor beruang, mereka berteriak keras dan menyerbu ke dalam bilik.

Siu Bi menjadi nekat.

la sudah siap dan telah mengerahkan Hek-In-Kang untuk melawan.

Akan tetapi sedikit banyak racun Ang-hwa-tok masih mempengaruhinya.

la mencoba untuk menerjang kedua orang yang menyerbu itu dengan pukulan Hek-In-Kang.

Namun dua orang lawannya bukanlah orang lemah.

Mereka itu, terutama si rambut putih, adalah jagoan-jagoan dari"

Ching-Coa-To dan mereka sudah tahu akan kelihaian ilmu pukulan Siu Bi, maka cepat mereka mengelak lalu balas menyerang.

"Gong-Twako, kita tangkap hidup-hidup!"

Seru si brewok.

Si rambut putih maklum akan kehendak kawannya ini.

Memang, setelah gadis ini berhasil membunuh seorang kawan, kalau dapat menangkapnya dan menyerahkannya hidup-hidup kepada Kongcu mereka di Ching-Coa-To, bukanlah kecil jasanya.

Pertama, dapat menangkap musuh yang membunuh seorang anggota Ang-Hwa-Pai (Perkum-pulan Kembang Merah), kedua kalinya, dapat menghadiahkan seorang gadis yang cantik molek kepada Kongcu!

Siu Bi melawan dengan nekat, menangkis sepenuh tenaga dan mencoba merobohkan mereka dengan pukulan Hek-In-Kang.

Namun, kedua orang musuhnya amat kuat dan gesit, sedangkan kepalanya masih terasa pening.

Tiba-tiba tampak sinar merah dan Siu Bi cepat-cepat menahan nafasnya, namun terlambat.

Kembali ia mencium bau yang amat harum dan tiba-tiba ia menjadi lemas dan roboh pingsan lagi!

Ternyata bahwa si rambut putih telah berhasil merobohkannya dengan bubuk racun merah, senjata rahasia yang menjadi andalan para tokoh Ching-Coa-To.

Siapa mereka ini?

Mereka bukan lain adalah tokoh-tokoh yang menjadi anggota sebuah perkumpulan yang disebut Ang-Hwa-Pai.

Sesuai dengan namanya, para tokoh ini mempunyai tanda setangkai bunga berwarna merah menghias sebagai sulaman pada baju yang menutup dada kiri.

Ang-Hwa-Pai bersarang di Pulau Ching-Coa-To, yaitu Pulau Ular Hijau.

Kiranya para pembaca cerita Pendekar Buta masih ingat akan nama Ching-Coa-To.

Pulau ini adalah tempat tinggal Ching-Toanio, Ibu dari Giam Hui Siang dan Ibu angkat dari Hui Kauw isteri Pendekar Buta.

Setelah Ching-Toanio meninggal dan kedua orang puterinya itu menikah dan meninggalkan Ching-Coa-To, Pulau itu menjadi kosong, hanya ditinggali bekas anak buah Ching-Toanio yang hidup sebagai perampok dan bajak sungai.

Beberapa bulan kemudian, muncullah seorang wanita yang kulitnya agak kehitaman, pakaiannya serba merah, wanita yang galak dan genit, yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi masih kelihatan pesolek dan genit sekali.

Dia ini bukanlah wanita sembarangan dan para pembaca dari cerita Pendekar Buta tentu mengenalnya.

Dia merupakan seorang di antara tiga saudara Ang-Hwa-Sam Ci-moi yang amat lihai ilmu silatnya.

Di dalam cerita Pendekar Buta, tiga orang kakak beradik ini bertanding hebat melawan Pendekar Buta.

Dua di antara mereka, yaitu Kui Biauw dan Kui Siauw, tewas dan yang tertua, Kui Ciauw, berhasil melarikan diri sambil membawa mayat kedua orang saudaranya.

Wanita yang datang ke Ching-Coa-To adalah Kui Ciauw inilah.

Tentu saja para anak buah Ching-Coa-To telah mengenalnya.

Di dunia hitam, siapa yang tidak mengenal Ang-Hwa-Sam Ci-moi yang malah lebih lihai daripada suci mereka, si wanita iblis Hek-hwa Kui-bo yang telah tewas pula?

Karena percaya akan kelihaian Kui Ciauw, para anak buah Ching-Coa-To mengangkat Kui Ciauw menjadi kepala dan wanita ini lalu mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Ang-Hwa-Pai, sesuai dengan julukannya, yaitu Ang-Hwa Nio-Nio.

la sengaja mengumpulkan orang-orang dari golongan hitam, dipilih yang memiliki kepandaian tinggi, malah ia lalu melatih mereka dan menurunkan kepandaian melepas bubuk racun kembang merah kepada para pembantunya.

Setelah masa peralihan kekuasaan, menggunakan keadaan yang kacau, perkumpulan hitam ini merajalela, merampok membajak dan keadaan mereka makin menjadi kuat karena banyak perampok ternama dan lihai yang melihat kemajuan dan pengaruh Ang-Hwa-Pai, lalu menggabungkan diri.

Ang-Hwa Nio-Nio atau Kui Ciauw ini tak pernah melupakan dendam hatinya terhadap Pendekar Buta yang telah membunuh dua orang adiknya.

Akan tetapi maklum bahwa tidak mudah membalas dendam kepada orang sakti itu, ia tekun memperdalam ilmunya, bahkan ia menyusun kekuatan partainya dengan maksud kelak akan menyerang ke Liong-thouw san.

Ang-Hwa Nio-Nio, seperti lainnya para tokoh dunia gelap, biarpun sudah berusia hampir setengah abad, namun masih merupakan seorang wanita cabul yang gila laki-laki.

Oleh karena itu, bukan rahasia lagi bagi para anak buahnya akan kesukaan Ketua ini mengumpulkan laki-laki yang masih muda dan tampan, menjadikan mereka itu kekasih atau "Selir,"

Tentu saja banyak di antara mereka yang melakukan hal ini karena dipaksa dengan ancaman maut.

Baru setelah muncul seorang pemuda tampan bernama Ouwyang Lam, kerakusannya mengumpulkan pemuda-pemuda tampan berhenti.

Ouwyang Lam adalah seorang pemuda dari daerah Shan-tung, bertubuh tegap kuat berwajah tampan, anak seorang bajak tunggal.

Bersama Ayahnya, Ouwyang Lam menggabungkan diri pada Ang-Hwa-Pai dan tentu saja pemuda tampan ini tidak terlepas dari incaran Ang-Hwa Nio-Nio.

Akan tetapi, kali ini Ang-Hwa Nio-Nio "jatuh hati"

Betul-betul kepada Ouwyang Lam.

Agaknya cinta tidak memilih umur sehingga dalam usia hampir setengah abad, Ang-Hwa Nio-Nio benar-benar kali ini jatuh cinta!

Segala kehendak Ouwyang Lain dituruti dan pertama-tama yang diminta oleh pemuda pintar ini adalah mengusir atau membunuhi puluhan orang "Selir"

Laki-laki itu!

la ingin memonopoli Ketua Ang-Hwa-Pai, bukan karena cantiknya, melainkan karena kedudukannya yang mulia dan karena pemuda ini ingin mewarisi kepandaiannya.

Dan demikianlah kenyataannya.

Ouwyang Lam diambil sebagai "Putera angkat"

Oleh Ang-Hwa Nio-Nio, mendapat sebutan Kongcu (Tuan muda), dihormat oleh seluruh anggota Ang-Hwa-Pai dan selain kedudukan yang tinggi ini, juga pemuda yang cerdik ini setiap hari memeras ilmu-ilmu kesaktian dari "ibu angkat"

Alias kekasihnya ini untuk dimilikinya.

Terdorong cinta kasih yang membuatnya tergila-gila, Ang-Hwa Nio-Nio tidak segan-segan menurunkan ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu beberapa tahun saja ilmu kepandaian Ouwyang Lam amat hebat.

Bahkan Ilmu Pedang Hui-seng Kiam-Sut (Ilmu Pedang Bintang Terbang) yang menjadi kebanggaan Ang-Hwa-Sam Ci-moi dahulu, telah diajarkan kepada Ouwyang Lam.

Dasar Ouwyang Lam memang pandai mengambil hati, maka dia bersumpah kepada kekasihnya bahwa kelak dia sendiri yang akan membalaskan dendam kekasihnya itu kepada Pendekar Buta.

Tentu saja untuk ini dia memerlukan ilmu kepandaian yang tinggi agar dapat berhasil?

Tidak ini saja, malah pemuda tampan ini begitu dimanja sehingga segala permintaannya dituruti, termasuk kegemarannya akan wanita cantik.

Ang-Hwa Nio-Nio yang sudah setengah tua itu tidak mempunyai hati cemburu, bahkan rela membagi cinta kasih Ouwyang Lam.

Demikianlah sekelumit keadaan Ang-Hwa-Pai di Ching-Coa-To.

Kalau kepalanya bergerak ke Utara, tak mungkin ekornya menuju ke Selatan demikian kata orang-orang tua.

Dengan pimpinan macam Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam, dapat dibayangkan betapa bobroknya moral para anak buah dan anggota Ang-Hwa-Pai.

Mereka ini seperti mendapat contoh dan demikianlah, seluruh wilayah di sebelah Barat dan Selatan Kota Raja, penuh oleh orang-orang Ang-hwa pai yang bergerak dan merajalela menjadi perampok atau bajak yang malang-melintang tanpa ada yang berani melawan mereka.

Asal ada penjahat yang memakai tanda bunga merah di dada yang melakukan gerakan, tidak ada yang berani berkutik!

Ouwyang Lam amat pandai sehingga untuk memperkuat kedudukannya, dia tidak segan-segan mempergunakan uang untuk menyuap sana-sini, menghubungi para pembesar dan menghamburkan uang secara royal kepada para pembesar korup yang memenuhi negara pada masa itu.

Para pembesar korup amat berterima kasih dan menganggap orang-orang Ang-Hwa-Pai amat baik, tidak peduli mereka ini bahwa uang yang dipakai menyogok dan menyuap mereka itu adalah uang hasil rampokan!

Siu Bi sungguh malang nasibnya, terjatuh ke tangan tiga orang tokoh Ang-Hwa-Pai.

Akan tetapi baiknya ia memiliki wajah yang amat jelita sehingga hal ini menggerakkan hati dua orang penawannya untuk mencari jasa hendak mempersembahkan dia kepada Ouwyang Lam!

Tentu saja hal ini baik baginya, karena dalam keadaan pingsan di perahu itu, nasibnya sudah berada di tangan si rambut putih dan si brewok.

Namun, mengingat akan hadiah dan kedudukan yang mungkin dinaikkan, dua orang itu tidak berani mengganggu Siu Bi, ingin mempersembahkan gadis ini pada Kongcu mereka dalam keadaan utuh!

Mereka hanya mengikat kaki tangan Siu Bi dan cepat-cepat mereka mendayung perahu, langsung menuju ke Ching-Coa-To.

Dan inilah sebabnya mengapa Yo Wan sia-sia saja mengejar.

la tidak mengira bahwa Siu Bi ditangkap orang di dalam gua kemudian dilarikan dengan perahu.

Terlalu lama dia mencari-cari di dalam hutan, berputar-putar tanpa hasil.

Baru setelah menjelang senja, ia sampai di pinggir Sungai Fen-ho, berdiri termangu-mangu di tepi sungai.

Ketika sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya dalam keadaan terikat kaki tangannya dan rebah di atas pembaringan dalam perahu, Siu Bi menjadi marah dan mendongkol sekali.

Ia merasa lega bahwa tubuhnya tidak terasa sesuatu, tidak menderita luka.

Akan tetapi ketika ia mencoba untuk mengerahkan tenaga melepaskan diri dari belenggu, ia mendapat kenyataan bahwa tali-tali yang mengikat kaki tangannya amatlah kuat, tak mungkin diputus mempergunakan tenaga.

la mengeluh dan mulailah ia menyesal.

Mengapa ia melarikan diri, meninggalkan Yo Wan?

Kalau ada Yo Wan di dekatnya, tak mungkin ia sampai mengalami bencana seperti ini.

Lebih menyesal lagi ia mengapa pedangnya, Cui-Beng Kiam, ia tinggalkan di depan kaki Yo Wan.

Kalau perginya membawa senjatanya yang ampuh itu, lebih baik lagi kalau ia tidak bertanding melawan Yo Wan, kalau...

kalau...

ah, tidak akan ada habisnya hal-hal yang sudah terlanjur dan sudah lalu disesalkan.

Sesal kemudian tiada guna.

Perahu itu dengan cepatnya meluncur sepanjang Sungai Fen-ho, sampai masuk Sungai Kuning di Selatan kemudian membelok ke Timur melalui Sungai Kuning yang lebar dan diam.

Selama beberapa hari melakukan perjalanan melalui air ini, Siu Bi tetap dalam belenggu.

Akan tetapi gadis ini tidak diganggu dan karena mengharapkan sewaktu-waktu mendapat kesempatan membebaskan diri, Siu Bi tidak menolak suguhan makan minum yang setiap hari diberi oleh dua orang penawannya.

la harus menjaga kesehatannya dan memelihara tenaga agar dapat dipergunakan sewaktu ada kesempatan.

Perjalanan dilangsungkan melalui darat.

Dua orang itu dengan mudah mendapatkan tiga ekor kuda dari kawan-kawan mereka yang memang banyak terdapat di sekitar daerah itu, merajalela dan boleh dibilang menguasai keadaan di sebelah Selatan dan Barat dan Kota Raja.

Akhirnya mereka menyeberang telaga dan mendarat di Pulau Ching-Coa-To di tengah telaga.

Pulau ini sekarang berubah keadaannya jika dibandingkan belasan tahun yang lalu.

Setelah Ang-Hwa-Pai berdiri dan Pulau ini dijadikan pusat, Pulau ini dibangun dan darii jauh saja sudah tampak bangunan-bangunar yang besar dan megah.

Taman bunga yang dahulu menjadi kebanggaan Ching-Toanio dan puteri-puterinya, terpelihara baik-baik, malah dilengkapi pondok-pondok mungil karena tempat ini terkenal sebagai tempat Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam bersenang-senang.

Siu Bi merasa heran dan kagum juga setelah ia dibawa mendarat dari perahu yang menyeberangi telaga.

Pulau itu benar indah, juga megah.

Apalagi ketika mereka mendarat di Pulau, mereka disambut oleh sepasukan penjaga yang berpakaian lengkap, seragam dan bersikap gagah.

Di dada kiri mereka tampak sebuah lencana, yaitu sulaman berbentuk bunga merah.

Si rambut putih yang agaknya memiliki kedudukan lumayan di Pulau ini, segera menyuruh seorang penjaga lari melapor kepada Pangcu (ketua) dan kong-cu (Tuan muda).

Penjaga itu beriari cepat.

Siu Bi digiring berjalan memasuki Pulau dengan perlahan, diiringkan sepasukan penjaga dan diapit oleh kedua orang penawannya.

Tak lama kemudian rombongan ini berhenti dan dari depan tampak serombongan orang berjalan datang dengan cepat.

Siu Bi membelalakkan mata, memandang penuh perhatian.

la melihat barisan wanita-wanita muda cantik yang gagah sikapnya, memegang Pedang telanjang di tangan, berjalan dengan teratur di kanan kiri.

Di tengah-tengah tampak berjalan dua orang.

Yang seorang adalah wanita tua yang berkulit hitam dan pakaiannya biarpun terdiri dari sutera mahal dan amat mewah, akan tetapi sungguh tidak serasi karena warnanya merah darah dan berkembang-kembang.

Amat tidak cocok dengan kulit hitam itu, apalagi karena muka itu biarpun dibedaki dan ditutupi gincu, tetap saja memperlihatkan keriput-keriput usia tua.

Seorang Nenek yang amat pesolek dan sinar matanya tajam dan liar.

Akan tetapi langkah kakinya demikian ringan seakan-akan tidak menginjak bumi, menandakan bahwa Ginkang dari Nenek ini luar biasa hebatnya.

Orang kedua adalah seorang laki-laki muda, kurang lebih dua puluh tahun, tubuhnya tegap, agak pendek tapi wajahnya tampan sekali dengan kulit yang putih kuning, alis hitam panjang dan matanya bersinar-sinar.

Mereka ini bukan lain adalah Ang-Hwa Nio-Nio atau Pangcu, Ketua dari Ang-Hwa-Pai, bersama Ouwyang Lam atau Kongcu yang sesungguhnya memiliki kekuasaan tertinggi di situ karena si Ketua itu berada di telapak tangan si pemuda ganteng!

Tempat itu kini penuh dengan para anggota Ang-Hwa-Pai dan semua orang memandang Siu Bi penuh perhatian.

Mereka bersikap hormat ketika Ketua mereka muncul.

Si rambut putih dan si brewok juga segera berlutut memberi hormat, lalu berdiri lagi.

Pandang mata Ouwyang Lam untuk sejenak menjelajahi Siu Bi dari rambut sampai ke kaki, kemudian menoleh kepada si rambut putih.

Adapun Ang-Hwa Nio-Nio segera menegur.

"Betulkah seperti yang kudengar bahwa bocah ini telah membunuh A Bian? Mengapa kalian tidak segera membunuhnya dan perlu apa dibawa-bawa ke sini?"

"Maaf, kami sengaja menangkap dan membawanya ke sini agar mendapat putusan sendiri tentang hukumannya dari Pangcu dan Kongcu,"

Kata si rambut putih dengan nada suara menjilat.

"Pula, bagaimana kami dapat membuktikan tentang kematian A Bian kalau pembunuhnya tak kami seret ke sini?"

"Hemmm, bocah yang berani membunuh seorang pembantuku, apalagi hukumannya selain mampus? Biar aku sendiri membunuhnya!"

Tangan Nenek ini bergerak, terdengar angin bercuitan ketika angin pukulan meluncur ke arah dada Siu Bi.

Gadis ini kaget bukan main.

Hebat pukulan ini dan karena kedua tangannya masih dibelenggu, hanya kedua kakinya saja yang bebas, ia terpaksa melompat cepat ke kiri.

"Srrrttt!"

Pinggir bajunya tersambar angin pukulan, pecah dan hancur berantakan. Wajah Siu Bi berubah. la maklum bahwa Nenek ini merupakan lawan yang berat, seorang yang amat lihai ilmunya.

"Ihhh, kau berani mengelak?"

Nenek itu memekik, suaranya melengking tinggi dan kembali tangannya bergerak, sekarang angin yang berciutan itu menyambar ke arah leher Siu Bi.

Gadis ini kembali mengelak, akan tetapi kurang cepat sehingga pundaknya terhajar.

Baiknya ia telah siap dan mengerahkan Hek-In-Kang di tubuhnya, maka ia tidak mengalami luka, hanya terhuyung dan roboh miring di atas tanah.

Muka Nenek itu berubah.

Baru kali ini ia mengalami hal seaneh ini.

Biasanya, kalau pukulannya dilakukan, tentu seorang lawan akan roboh binasa.

Apalagi kalau pukulannya yang mengandung hawa racun merah ini mengenai sasaran, tentu yang terkena akan terluka dalam.

Akan tetapi gadis ini hanya terhuyung dan roboh tapi tidak terluka.

Ini membuktikan bahwa gadis ini "Ada isinya."

Saking penasaran, ia mengerahkan tenaga dan hendak memukul lagi. Akan tetapi Ouwyang Lam mencegah, menyentuh lengan Nenek itu sambil berkata.

"Nio-Nio, harap sabar dulu..."

"Apa?"

Kau masih belum puas dengan mereka itu dan hendak mengambil dia? Hati-hati, perempuan seperti ia bukan untuk hiburan, sekali ia lolos akan mendatangkan bencana!"

Kata Ang-Hwa Nio-Nio sambil menuding ke arah Siu Bi yang sudah melompat bangun lagi dan memandang mereka dengan mata terbelalak penuh kemarahan dan kebencian.

Sedikit pun gadis ini tidak memperlihatkan rasa takut.

"Bukan begitu, Nio-Nio. Ingat Nona ini memiliki kepandaian, akan tetapi menghadapi seorang nona muda, dua orang kita menawannya dan membelenggunya seperti itu, sudah merupakan hal yang meremehkan nama besar kita. Apalagi sekarang kau hendak membunuhnya dalam keadaan terbelenggu, aku khawatir nama besarmu akan ternoda. Nio-Nio, biarkan aku menghadapinya setelah belenggunya dilepas, agaknya ia lihai, patut aku berlatih dengannya. Eh, Nona, setelah kau lancang tangan membunuh seorang pembantu kami dan kau telah ditangkap ke sini, kau hendak berkata apa lagi?"

Siu Bi mengerutkan alisnya, matanya seolah-olah mengeluarkan api ketika memandang kepada wajah tampan itu.

"Mengapa banyak cerewet? Mau bunuh boleh bunuh, siapa takut mampus? Pura-pura akan membebaskan, hemmm, kalau benar-benar kedua kakiku bebas, aku akan membunuhi kalian ini semua, tak seekor pun akan kuberi ampun!"

Inilah makian dan hinaan hebat.

Semua orang sampai melongo.

Alangkah beraninya bocah ini.

Sudah tertawan, berada di tangan musuh dan tidak berdaya, nyawanya tergantung di ujung rambut, masih begitu besar nyalinya.

Benar-benar hal yang amat mengherankan bagi seorang gadis remaja seperti ini.

Akan tetapi Ouwyang Lam tertawa girang.

Hatinya amat tertarik kepada gadis ini.

Cantik jelita dan gagah perkasa.

Biarpun baginya tidaklah sukar untuk mencari gadis cantik, malah boleh jadi lebih cantik daripada Siu Bi, namun takkan mudah mendapatkan seorang gadis yang begini gagah perkasa dan bernyali harimau.

Kalau dia bisa mendapatkan seorang seperti itu di sampingnya, selain dia mendapatkan pasangan yang setimpal, juga gadis ini dapat merupakan penambahan tenaga yang amat penting dan memperkuat kedudukan mereka.

Memang Ouwyang Lam orangnya cerdik, penuh tipu muslihat dan akal yang halus sehingga biarpun dia mempunyai niat di hatinya yang tidak baik, namun pada lahirnya dia bisa kelihatan amat baik dan peramah.

"Nona, kau seorang gagah, maka kuberi kesempatan untuk membela diri. Kami dari Ang-Hwa-Pai juga orang-orang gagah dan menghargai kegagahan. Nah, kau kubebaskan dari belenggu dan boleh membela diri dengan kepandaianmu!"

Tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu belenggu pada kedua tangan Siu Bi sudah putus.

Kiranya itu tadi adalah sinar Pedang di tangan Ouwyang Lam!

Siu Bi kagum.

Maklum ia bahwa juga pemuda ini merupakan lawan yang berat.

Namun, mana ia menjadi gentar karenanya?

la tersenyum mengejek, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir rasa pegal.

Berhari-hari ia dibelenggu dan hal ini membuat kedua lengannya terasa pegal.

la mengerahkan tenaga Sinkang untuk mendorong peredaran darahnya, terutama di bagian kedua lengan sehingga ia dapat mengusir semua rasa kaku dan dapat bergerak lincah kembali.

Setelah merasa dirinya sehat kembali, ia menghadapi Ouwyang Lam dan berkata.

"Nah, aku siap. Siapa akan maju menghadapi aku? Ataukah barangkali kalian mengandalkan kegagahan dengan cara pengeroyokan?"

Ucapan ini merupakan tantangan yang mengandung ejekan.

Muka Ang-Hwa Nio-Nio yang hitam sampai berubah menjadi makin hitam saking marahnya.

Gadis ini benar-benar memandang rendah Ang-Hwa-Pai.

Akan tetapi Ouwyang Lam tersenyum dan melangkah maju.

Pedangnya masih berada di tangan, akan tetapi dia tidak segera menyerang, melainkan berkata halus.

"Nona, aku sudah siap dengan pedangku. Harap kau suka mengeluarkan senjatamu."

Diam-diam Siu Bi menghargai sikap pemuda tampan ini, setidaknya pemuda ini mempunyai watak yang gagah, tidak seperti Nenek yang tak tahu malu menyerangnya ketika masih terbelenggu kedua tangannya tadi.

Akan tetapi Pedang Cui-Beng Kiam ia tinggalkan di depan kaki Yo Wan.

"Aku mengandalkan kedua kepalan tangan dan kakiku. Kalau pedangku Cui-Beng Kiam berada di sini, mana orang-orangmu mampu menghinaku?"

Ouwyang Lam makin besar rasa kagumnya dan dia yakin bahwa gadis ini tentulah seorang Pendekar wanita yang gagah. la segera menyimpan kembali pedangnya dan berkata.

"Kalau begitu, marilah kita main-main dengan tangan kosong. Majulah, Nona."

Siu Bi tidak mau sungkan-sungkan lagi.

Setelah sekarang ia ditantang dan tidak dikeroyok, ini merupakan keuntungannya dan ia harus membela diri sekuat tenaga.

Sambil berseru panjang ia lalu menerjang maju.

Akan tetapi betapapun juga, ia ingat akan budi pemuda ini.

Biarpun merupakan seorang musuh, pemuda ini harus ia akui telah menolong nyawanya tadi ketika ia hendak dibunuh dalam keadaan terbelenggu oleh Nenek yang lihai itu.

Maka ia pun hanya ingin merobohkan pemuda ini saja, kalau mungkin tanpa melukainya, apalagi membunuhnya.

Oleh karena inilah maka ia lalu mainkan ilmu silat biasa yang ia pelajari dari Ayahnya dan dari Hek Lojin.

Gerakannya gesit, serangannya ganas dan dahsyat, juga tenaga dalamnya amat kuat.

"Bagus!"

Ouwyang Lam berseru ketika menyaksikan ketangkasan lawannya.

la juga menggerakkan kaki tangannya, bersilat dengan gaya yang indah.

Dalam sekejap mata saja, keduanya sudah saling terjang, saling serang dengan hebat, gerakan mereka begitu cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata karena bayangan itu sudah menjadi satu.

Angin pukulan dan gerakan tubuh menyambar-nyambar ke kanan kiri dan empat puluh jurus lewat dengan amat cepatnya.

Diam-diam Ang-Hwa Nio-Nio mendongkol melihat murid dan kekasihnya itu tidak segera menggunakan jurus-jurus Ilmu Silat Hui-seng-kun-hoat, yaitu Ilmu Silat Bintang Terbang yang merupakan ilmu silat tertinggi yang dimilikinya.

Sementara itu, diam-diam Siu Bi mengeluh.

Kiranya pemuda ini benar-benar lihai sekali sehingga jangan bicara tentang merobohkan tanpa melukai, mengalahkan pemuda ini saja masih merupakan hal yang belum tentu kecuali kalau ia mainkan Hek-In-Kang.

Akan tetapi kalau ia keluarkan ilmu ini, tak mungkin lagi mengalahkan tanpa membahayakan jiwa lawannya.

"Kenapa tidak keluarkan Hui-seng (Bintang Terbang)??"

Tiba-tiba Nenek itu berseru menegur murid dan kekasihnya.

Melihat Ouwyang Lam sampai puluhan jurus belum mampu mengalahkan lawan, Ang-Hwa Nio-Nio menjadi marah dan penasaran.

Hal ini akan membikin malu dirinya, merendahkan nama Ang-Hwa Nio-Nio sekaligus Ang-Hwa-Pai!

Memang hal ini amat luar biasa bagi para anggota Ang-Hwa-Pai.

Biasanya, Ouwyang-Kongcu merupakan orang yang amat lihai, hanya kalah oleh Ang-Hwa Nio-Nio dan begitu ia turun tangan semua tentu beres.

Belum pernah para anggota ini melihat ada lawan yang mampu melawan Ouwyang-Kongcu lebih dari sepuluh jurus.

Akan tetapi sekarang, dara remaja yang menjadi tawanan dua orang pembantu itu ternyata mampu menahan terjangan Ouwyang-Kongcu sampai begitu lama tidak tampak terdesak!

Tentu saja hal ini tidak mengherankan bagi Ouwyang-Kongcu dan bagi Ang-Hwa Nio-Nio karena kedua orang ini cukup maklum bahwa dua orang pembantu mereka sama sekali bukanlah lawan gadis ini.

Mereka dapat melawannya tentu karena hasil dari Ang-Tok-san yaitu bubuk racun merah yang dapat membius lawan.

Mendengar seruan Ang-Hwa Nio-Nio, Ouwyang Lam ragu-ragu.

Betapapun juga, dia belum kalah dan biarpun dia tidak dapat mendesak gadis itu, namun sebaliknya dia pun tidak terdesak.

Mereka sama kuat dan hal ini membuat hatinya gembira dan kagum bukan main.

Belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang gadis yang begini hebat.

Tadinya dia sama sekali tidak mengira bahwa Siu Bi akan begini kosen sehingga dapat mengimbangi permainan silatnya.

Tentu saja hal ini membuat rasa sayangnya terhadap Siu Bi makin menebal.

la tidak tega untuk mempergunakan ilmu silat yang lebih dahsyat, khawatir kalau-kalau melukai Siu Bi dan membikin gadis itu menjadi sakit hati.

la hendak membaiki gadis ini, hendak memikat hatinya karena dia betul-betul jatuh hati yang baru pertama kali ini dia alami.

Akan tetapi, di pihak Siu Bi, seruan itu merupakan tanda bahaya.

Kalau lawannya mempunyai "Simpanan"

Yang belum dikeluarkan, ini berbahaya.

la tidak mau didahului, maka tiba-tiba Siu Bi mengeluarkan seruan nyaring seperti pekik burung elang dan kedua lengannya bergerak aneh, diputar-putar secara luar biasa.

Akan tetapi segera tampak sinar menghitam menyambar-nyambar, dari kedua lengan itu tampak uap hitam dan Ouwyang Lam merasai sambaran hawa pukulan yang amat dahsyat.

Ketika dia menangkis, lengannya terasa panas sekali dan nyeri sampai menembus ke ulu hati.

Kagetlah dia dan terhuyung-huyung dia ke belakang dengan muka pucat.

Akan tetapi karena dia maklum bahwa lawannya ini benar-benar hebat, memiliki simpanan ilmu dahsyat yang baru sekarang dikeluarkan, cepat dia mengerahkan tenaga mengusir rasa nyeri, Berbareng dia membentak keras dan tubuhnya mumbul ke atas, lalu menukik ke bawah melakukan penyerangan balasan.

Inilah sebuah jurus dari Ilmu Silat Hui-seng-kun-hoat, ilmu silat Bintang Terbang yang Selain hebat sekali gerak-geriknya, juga mengandung hawa pukulan beracun, racun Ang-Tok (racun merah)!

Ketika Siu Bi menangkis dengan tenaga Hek-In-Kang, keduanya terhuyung mundur dengan muka berubah.

Tahulah mereka bahwa masing-masing kini telah mengeluarkan kepandaian dan tenaga simpanan.

Ilmu Pukulan Hek-In-Kang yang mengandung racun hitam kini bertemu tanding dengan hawa pukulan racun merah.

Namun keduanya menyesal bukan main karena kalau dilanjutkan, mereka berdua terpaksa akan mempergunakan dua macam ilmu dahsyat ini dan akibatnya, yang kalah tentu akan celaka, kalau tidak tewas sedikitnya tentu akan terluka parah di sebelah dalam tubuh!

"Tahan dulu...!"

Tiba-tiba Ang-Hwa Nio-Nio berseru dan melayanglah tubuhnya menengahi kedua orang muda yang sedang bertanding itu.

Karena Nenek ini menggunakan kedua tangan mendorong, kedua orang muda itu terpaksa meloncat ke belakang.

"Kau mau mengeroyok?"

Siu Bi mendahului membentak.

Bentakan yang merupakan gertak belaka karena sesungguhnya di dalam hati ia merasa khawatir kalau-kalau Nenek ini benar-benar mengeroyoknya.

Kalau benar demikian, biarpun ia tidak akan mundur, namun boleh dipastikan bahwa ia akan kalah dan roboh.

Dalam pertemuan tenaga dengan pemuda itu tadi saja sudah dapat ia bayangkan bahwa takkan mudah baginya mengalahkan Ouwyang Lam.

Apalagi kalau Nenek ini yang agaknya malah lebih lihai lagi daripada si pemuda, turun tangan mengeroyoknya.

Akan tetapi Ang-Hwa Nio-Nio tidak bergerak menyerang.

Wajahnya keren dan suaranya berwibawa.

"Bocah, jangan sombong terhadap Ang-Hwa Nio-Nio! Kau tadi mainkan Hek-In-Kang, orang tua Hek Lojin masih terhitung apamukah?"

Siu Bi kaget.

Baru kali ini semenjak ia turun gunung, ada orang yang mengenal Hek-In-Kang.

Banyak orang lihai ia temui, termasuk Jenderal Bun, isterinya, puteranya dan Si Jaka Lola.

Akan tetapi mereka itu tidak mengenal ilmunya.

Bagaimana Nenek genit ini dapat mengenal Hek-In-Kang?

Malah tahu pula bahwa Hek-In-Kang adalah ilmu mendiang Kakeknya, Hek Lojin yang dikenalnya pula?

Setelah Nenek ini mengetahui semuanya, agaknya tidak perlu lagi berbohong, malah ia hendak menyombongkan Kakeknya yang ia tahu amat lihai dan amat terkenal di dunia kang-ouw.

"Hek Lojin adalah Kakekku. Mau apa kau tanya-tanya?"

Jawabnya dengan nada suara sombong dan tidak mau kalah.

"Kakekmu?"

Keriput-keriput pada wajah Nenek itu mendalam.

"Bagaimana bisa jadi? Maksudmu Kakek Guru? Kau mengenal The Sun?"

Berdebar jantung Siu Bi.

Terang bahwa Nenek ini bukan orang asing bagi Ayah dan Kakeknya.

Biarpun di dalam hati ia tidak mau lagi mengakui The Sun sebagai Ayahnya karena ia maklum sekarang bahwa The Sun memang bukan Ayahnya, akan tetapi agaknya nama The Sun dan Hek Lojin akan dapat menolongnya pada saat itu, Siu Bi biarpun seorang yang amat tabah dan tidak takut mati, namun ia bukan gadis bodoh.

la amat cerdik dan ia maklum bahwa saat ini ia berada di sarang harimau.

la berada di Pulau orang, musuh-musuhnya lihai dan berjumlah banyak.

Nekat memusuhi mereka berarti mati.

Maka ia lalu menekan perasaannya dan menjawab.

"Dia adalah Ayahku."

Segan hatinya menyebut nama The Sun, maka ia hanya menyebut "Dia"

Saja.

Tiba-tiba terjadi perubahan hebat pada muka Nenek itu.

Sejenak ia memandang Siu Bi dengan mata terbelalak, mulut ternganga, kemudian perlahan-lahan kedua mata itu menitikkan air mata dan ia lalu lari merangkul Siu Bi sambil menangis!

Tentu saja Siu Bi jadi tercengang keheranan.

"Aihhh, siapa kira... kita adalah orang-orang sendiri, anakku...!"

Meremang bulu tengkuk Siu Bi dan tiba-tiba perutnya menjadi mulas mendengar ini karena timbul dugaan yang mengerikan di dalam hatinya.

Jangan jangan...

jangan-jangan...

la tidak saja bukan anak The Sun, akan tetapi juga bukan anak Ibunya dan...

dan...

perempuan mengerikan ini adalah Ibu kandungnya!

Dengan muka pucat diam-diam berdoa semoga dugaan ini tidak benar adanya.

Akan tetapi hatinya demikian risau, membuat tenggorokannya serasa tercekik dan ia tidak mampu bertanya apa yang dimaksudkan oleh Nenek ini dengan kata-kata "Orang-orang sendiri tadi.

Adalah Ouwyang Lam yang luga terheran-heran itu yang mengajukan pertanyaan.

"Nio-Nio, apakah artinya ini? Siapakah Nona ini?"

Ang-Hwa Nio-Nio tersenyum dibalik air matanya, melepaskan pelukan dan menggandeng tangan Siu Bi.

"Mari kita pulang, mari... kita adalah orang sendiri. Mari dengarkan keteranganku di rumah... ah, untung tadi kau keluarkan Hek-In-Kang itu, anakku..."

Mual rasa perut Siu Bi mendengar Nenek ini menyebutnya "Anakku."

Akan tetapi karena bekas lawan bersikap begini ramah, tak mungkin ia mempertahankan sikap bermusuhan lagi.

Betapapun juga, ia masih ragu-ragu.

Siapa tahu ada apa-apanya di balik sikap aneh ini.

Siapa tahu ada kepiting di balik batu!

"Aneh sekali sikapmu, Pangcu.

Kalau benar aku ini orang sendiri, masa orang-orangmu memperlakukan aku sedemikian rupa?

Penghinaan besar yang tiada taranya, menjadikan aku tawanan berhari-hari dan membelenggu kaki tangan.

"Ohhh, mereka tidak tahu...,."

"Kalau puh tidak tahu, sudah melakukan penghinaan kepada orang sendiri, apa yang akan kau lakukan kepada mereka?"

Ang-Hwa Nio-Nio sadar dan mengedikkan kepalanya, memutar tubuh memandang ke saha ke mari mencari-cari.

Akhirnya ia menemukan mereka dengan pandang matanya, si rambut putih dan si brewok.

Seakan-akan dari pandang matanya itu keluar perintah, karena tanpa kata-kata lagi kedua orang ini sudah maju dan menjatuhkan diri berlutut!

"Kami...

kami betul-betul tidak tahu..."

Kata si rambut putih, suaranya sudah gemetar tidak karuan.

"Kalian menghina puteri sahabat baikku The Sun, kalian sudah menjadikan Cucu murid orang tua Hek Lojin sebagai tawanan? Ahhh, kalau di Ang-Hwa-Pai masih ada orang-orang macam kalian, perkumpulan kita takkan dapat lama berdiri tegak."

Tiba-tiba, tanpa peringatan lagi, kedua tangan Ang-hwa Nio-mo bergerak.

Terdengar jerit dua kali dan tubuh dua orang pembantu itu terjengkang ke belakang, mata mereka mendelik, muka mereka berubah merah seperti darah dan nafas mereka sudah putus!

Mereka terkena pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga beracun Ang-Tok sepenuhnya!

Ang-Hwa Nio-Nio tersenyum ketika menoleh kepada Siu Bi.

"Nah, itulah hukuman mereka yang berani menghinamu, anakku. Mari, mari... mari ikut Bibi Kui Ciauw, sahabat baik Ayahmu..."

Siu Bi merasa begitu lega seakan-akan batu sebesar gunung yang menindih hatinya diangkat orang ketika mendengar ucapan terakhir itu.

Kiranya Nenek ini yang bernama Kui Ciauw, berjuluk Ang-Hwa Nio-Nio, adalah sahabat baik "Ayahnya,"

Jadi bukanlah Ibu kandung seperti yang ia khawatirkan. Karena hati yang lega dan puas ini, tidak membantah lagi ketika digandeng pergi, malah ia tersenyum kepada "Bibi Kui Ciauw"

Dan membalas senyum Ouwyang Lam yang berjalan di sebelahnya!

Sikap Kui Ciauw atau Ang-Hwa Nio-Nio terhadap Siu Bi itu sebetulnya bukan dibuat-buat, juga tidaklah aneh.

Belasan tahun yang lalu wanita ini bersama dua orang saudaranya disebut Ang-Hwa-Sam Ci-moi (Tiga Kakak Beradik Bunga Merah), dan mereka bertiga bekerja sama dengan The Sun dan Hek Lojin, melakukan perang terhadap Pendekar Buta dan kawan-kawannya.

Kemudian mereka ini semua dikalahkan oleh Pendekar Buta, malah dua orang adiknya tewas, The Sun terluka hebat dan Hek Lojin buntung sebelah lengannya.

Oleh karena itulah, maka begitu mendengar bahwa gadis ini adalah puteri The Sun dan Cucu murid Hek Lojin, sikap Ang-Hwa Nio-Nio seketika berubah.

la menganggap Siu Bi sebagai orang segolongan yang menaruh dendam kepada Pendekar Buta.

la tadi telah menyaksikan betapa kepandaian Hek Lojin telah diwariskan kepada gadis ini, Maka sebagai orang segolongan, tentu saja ia menganggap gadis ini amat penting untuk bersama-sama menghadapi musuh besar mereka, Pendekar Buta.

Tentu saja mendapatkan tenaga bantuan seperti gadis ini jauh lebih berharga daripada orang-orang seperti si rambut putih dan si brewok, maka sebagai pengganti mereka, ia rela menerima Siu Bi dan menewaskan dua orang pembantu itu untuk menyenangkan hati Siu Bi.

Siu Bi kagum bukan main ketika melihat bangunan-bangunan indah di atas Pulau dan memasuki gedung besar tempat tinggal Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam.

Perabot rumah serba indah dan mahal, gambar-gambar indah, tulisan-tulisan dengan sajak-sajak kuno menghias dinding membuat gedung itu kelihatan seperti sebuah istana.

Setelah mereka bertiga duduk di ruangan tengah dan para pelayan cantik menghidangkan minuman, Ang-Hwa Nio-Nio lalu bercerita.

"Anak baik, ketahuilah, aku adalah Ang-Hwa Nio-Nio atau Ketua dari Ang-Hwa-Pai, tapi kau boleh menyebutku Bibi Kui Ciauw saja, karena aku adalah sahabat baik dan teman seperjuangan dengan Ayahmu. Dia ini adalah muridku, Ouwyang-Kongcu atau Ouwyang Lam, muridku yang tersayang, dan karenanya dia ini masih terhitung saudara segolongan denganmu. Anak baik, siapakah namamu tadi?"

"Namaku Siu Bi."

"The Siu Bi, hemmm, bagus sekali. Tak kunyana bahwa The Sun bisa mempunyai seorang anak secantik engkau, dan ilmu kepandaianmu juga hebat, agaknya malah lebih hebat daripada Ayahmu sendiri. Siu Bi, apakah Ayah dan Kakekmu tidak pernah bercerita tentang aku?"

Dengan jujur Siu Bi menggeleng kepalanya, dan Ang-Hwa Nio-Nio mengerutkan alisnya.

"Ah, bagaimana mereka bisa begitu cepat melupakan aku? Tidak ingat akan perjuangan bersama dan penderitaan senasib? Siu Bi, anakku yang baik, apakah mereka juga tak pernah bicara tentang Pendekar Buta?"

Bangkit semangat Siu Bi mendengar disebutnya musuh besarnya ini.

"Aku memang sengaja turun gunung untuk mencari Pendekar Buta, membalaskan dendam mendiang Kakek dan membuntungi lengan tangan Pendekar Buta sekeluarga."

Berubah wajah Ang-Hwa Nio-Nio.

"Kau bilang... mendiang Kakek? Apakah Hek Lojin si orang tua sudah meninggal?"

Siu Bi mengangguk dan wanita lu meramkan kedua matanya.

"Ah, sungguh sayang sekali. Akan tetapi, kau penggantinya, anakku. Biarlah, mari kita sama-sama menggempur Pendekar Buta, kita hancurkan kepalanya, cabut keluar jantungnya untuk kita pakai sembahyang kepada roh-roh yang penasaran!"

Siu Bi boleh jadi seorang gadis yang tabah, akan tetapi mendengar ancaman menyeramkan ini ia bergidik juga.

"Bibi, aku sudah bersumpah hendak mencarinya dan dengan tanganku sendiri aku akan membuntungi lengannya, lengan isterinya dan anak-anaknya."

""Aku akan membantumu..."

"Aku tidak perlu bantuan, Bibi. Aku sendiri cukup untuk menghadapinya."

"Dia lihai sekali."

"Tidak peduli. Aku tidak takut!"

Ang-Hwa Nio-Nio membelalakkan kedua matanya.

la tak berdaya menghadapi gadis ini yang begini sukar diajak berunding.

la mulai tidak sabar dan hal ini dapat dilihat oleh Ouwyang Lam yang segera berkata sambil tersenyum.

"Tentu saja adik Siu Bi tidak takut. Masa terhadap seorang musuh yang buta kedua matanya saja takut? Kalau takut kan bukan orang gagah namanya! Akan tetapi kami yang lemah memerlukan bantuan dan kami mohon bantuan adik Siu Bi yang gagah perkasa untuk bersama-sama menghadapi Pendekar Buta. Kita mempunyai kepentingan bersama dan kita sama-sama bersakit hati terhadap dia."

Enak didengar ucapan Ouwyang Lam ini dan seketika hati Siu Bi dapat dikalahkan.

Gadis ini menjadi tidak enak sendiri mendengar ia diangkat-angkat dan mereka berdua yang ia tahu tidak kalah lihai itu merendahkan diri.

Untuk menghilangkan rasa tidak enak ini ia bertanya.

"Mengapakah kalian juga bermusuh dengan Pendekar Buta? Kalau Kakek sudah terang dibuntungi lengannya."

Ang-Hwa Nio-Nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang memberi penjelasan.

"Siu Bi, agaknya Kakek dan Ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepadamu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau terlahir, Ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena Ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka Kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ternyata Kakekmu juga kalah, malah dibuntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempuran itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil menyelamatkan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalahan para kawan segolonganku, termasuk Ayah dan Kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan segolongan?"

Siu Bi diam-diam terkejut sekali.

Tak disangkanya bahwa Pendekar Buta sedemikian lihainya sehingga dikeroyok begitu banyak orang sakti masih dapat menang!

Makin ragu-ragu ia apakah ia akan dapat menangkap musuh besar itu, dan mulailah ia melihat kenyataan akan pentingnya bekerja sama dengan orang-orang pandai seperti Ang-Hwa Nio-Nio dan muridnya yajng tampan ini.

Apalagi dengan adanya Ang-Hwa Nio-Nio, akan lebih mudah mengenal kelemahan-kelemahan lawan karena Ang-Hwa Nio-Nio pernah bertempur menghadapi Pendekar Buta.

"Kau betul, Bibi. Maafkan keraguanku tadi. Kalau begitu, marilah kita berangkat ke Liong-Thouw-San mencari musuh besar kita."

Ang-Hwa Nio-Nio tertawa.

"Hi...hi...Hik, kau benar-benar seorang gadis yang keras hati dan penuh semangat Siu Bi, tidak mudah menyerbu ke Liong-Thouw-San. Kita harus menghubungi teman-teman segolongan. Banyak yang akan suka ikut menyerbu ke sana untuk menyelesaikan perhitungan lama. Di antaranya ada Pamanku Ang Moko yang sudah menyanggupi. Di samping itu, kau harus membantu kami lebih dulu, karena kami pada saat ini sedang menanti kedatangan musuh-musuh kami yang datang dari Kun-lun. Sebagai orang segolongan, tentu kau tidak suka melihat kami dihina orang dan tentu kau mau membantu kami, bukan?"

"Tentu saja, Bibi. Akan tetapi tidak enaklah membantu sesuatu tanpa mengetahui persoalannya. Mengapa kau bermusuhan dengan orang-orang Kun-lun? Aku pernah mendengar dari Kakek bahwa Kun-Lun-Pai adalah sebuah partai persilatan yang besar."

Ang-Hwa Nio-Nio menarik nafas panjang dan mengangguk-angguk.

"Sebetulnya, dengan Kun-Lun-Pai langsung kami tidak mempunyai urusan. Yang menjadi biang keladinya adalah Bun-Goanswe sehingga menyeret Kun-Lun-Pai berhadapan dengan kami."

"Jenderal Bun di Tai-Goan?"

Tanya Siu Bi, kaget. Tercenganglah Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam mendengar ini.

"Kau kenal dia?"

"Tidak kenal, tapi aku tahu. Pernah aku dijadikan tahanan di sana karena aku membantu para petani yang ditindas."

"Dia memang sombong!"

Kata Ouwyang Lam.

"Puteranya juga sombong sekali. Dumeh (mentang-mentang) jenderal itu sahabat baik Pendekar Buta dan putera dari Ketua Kun-Lun-Pai, sama sekali tidak memandang mata kepada orang-orang seperti kita!"

Mendengar bahwa Jenderal Bun itu adalah sahabat baik musuh besarnya, tentu saja Siu Bi menjadi makin tak senang kepada keluarga Bun.

"Apakah yang terjadi?"

Tanyanya.

"Ketahuilah, adik Siu Bi. Kami dari Ang-Hwa-Pai selalu melakukan hubungan baik dengan para pembesar, malah kami tidak pernah berlaku pelit. Semua pembesar dari yang rendah sampai yang tinggi di wilayah ini, apabila mengalami kesukaran, tentu minta bantuan kami dan tidak pernah kami menolak mereka. Akan tetapi, Jenderal Bun dan puteranya itu malah menghina kami, dan ada empat orang anak buah Ang-Hwa-Pai mereka tangkap dan mereka jatuhi hukuman. Tiga orang anak buah kami yang melawan mereka bunuh. Coba kau pikir, bukankah mereka itu bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan dan kepandaian?"

"Hemmm, lalu apa yang terjadi?"

"Agaknya urusan ini terdengar oleh Ketua Kun-Lun-Pai yang menjadi Ayah dari Jenderal Bun. Kun-Lun-Pai mengirim utusan memberi teguran kepada partai kami, dinyatakan oleh partai Kun-lun bahwa setelah negara menjadi aman, kami tidak semestinya mengacau. Tentu saja aku tidak dapat menahan kemarahan mendengar pernyataan yang amat memandang rendah ini, kumaki utusan itu dan terjadi pertandingan yang mengakibatkan utusan Kun-Lun-Pai itu tewas. Dan dalam beberapa hari ini, kurasa akan datang pula utusan Kun-Lun-Pai ke sini. Kalau terjadi keributan dengan pihak Kun-Lun-Pai yang sombong, kuharap saja kau suka membantu kami, adik Siu Bi."

Siu Bi kembali mengangguk-angguk.

Dia sendiri memang tidak suka kepada Jenderal Bun, apalagi karena jenderal itu adalah sahabat musuh besarnya.

Dengan Kun-Lun-Pai ia tidak mempunyai hubungan apa-apa, sedangkan orang-orang Ching-Coa-To ini adalah orang segolongan dengannya, sama-sama musuh besar Pendekar Buta.

"Baiklah, tentu aku membantu. Setelah melihat Lurah Bhong yang jahat itu dan sikap Jenderal Bun, aku pun tidak suka kepada para pembesar itu. Kalau mereka keterlaluan harus kita lawan."

Hidangan yang mewah dikeluarkan oleh para pelayan cantik dan tiga orang ini berpesta-pora.

Siu Bi diam-diam merasa girang juga karena Nenek dan pemuda itu benar-benar amat ramah kepadanya, malah pesta itu diadakan untuk menghormatinya!

la merasa beruntung dapat bertemu dengan Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam, karena jelas bahwa pertemuan ini akan mendekatkan ia pada hasil gemilang tujuan perjalanannya.

Juga di samping ini, ia tertarik dan suka kepada Ouwyang Lam yang tampan, gagah perkasa dan amat manis budi terhadapnya.

Tidak mengecewakan mempunyai seorang sahabat seperti dia, pikirnya.

Baru saja mereka seleisai makan minum, seorang penjaga berlari masuk, memberi laporan bahwa ada dua orang Tosu menyeberangi telaga dan datang berkunjung ke Pulau.

"Mereka mengaku datang dari Kun-Lun-Pai dan minta bertemu dengan Pangcu,"

Penjaga itu mengakhiri laporannya. Ouwyang Lam meloncat berdiri.

"Biarkan aku yang pergi menemui mereka,"

Katanya kepada Ang-Hwa Nio-Nio, kemudian menoleh kepada Siu Bi.

"Adik Siu Bi, adakah hasrat main-main dengan orang-orang Kun-Lun-Pai?"

Dasar Siu Bi berwatak nakal dan pemberani. Mendengar bahwa dua orang Kun-Lun-Pai datang ke Pulau ini, tentu (Lanjut ke

Jilid 08) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 dengan maksud mencari perkara, ia menjadi ingin tahu dan gembira sekali kalau ia dipercaya mewakili Tuan rumah. la menoleh ke arah Ang-Hwa Nio-Nio yang tersenyum kepadanya dan berkata.

"Pergilah, Siu Bi, dan bergembiralah bersama kakakmu Ouwyang Lam."

Pemuda itu sudah meloncat ke luar, diikuti Siu Bi dan dua orang muda ini berlari-lari menuju ke pantai.

Benar saja seperti yang dilaporkan oleh penjaga tadi, di pantai berdiri dua orang Tosu setengah tua yang bersikap keren dan angker.

Perahu mereka yang kecil berada di darat dan tak jauh dari tempat itu tampak orang-orang Ang-Hwa-Pai berjaga-jaga sambil memasang mata penuh perhatian.

Semenjak terjadi peristiwa utusan Kun-Lun-Pai, mereka telah menerima perintah dari Ketua mereka supaya jangan bertindak sembrono kalau bertemu dengan orang-orang Kun-Lun-Pai, akan tetapi langsung melaporkan kepada ketua.

Inilah sebabnya mengapa para anggota Ang-Hwa-Pai tidak mengganggu dua orang Tosu itu.

Dua orang Tosu itu ketika melihat munculnya dua orang muda-mudi yang tampan dan cantik jelita, menjadi tercengang dan saling pandang.

Apalagi ketika melihat dua orang muda itu langsung menghampiri mereka dan menatap mereka sambil tersenyum-senyum mengejek.

Ouwyang Lam segera bertanya.

"Apakah Ji-wi (Kalian) Tosu dari Kun-Lun-Pai?"

Tosu yang mempunyai tahi lalat besar di bawah mulutnya menjawab.

"Betul, Orang muda. Pinto (Aku) adalah Kung Thi Tosu dan ini Sute Kung Lo Tosu. Kami berdua mentaati perintah Ketua kami mengantar seorang Suheng (kakak seperguruan) kami menyampaikan pesan Ketua kami kepada Ang-Hwa-Pai. Oleh karena itu, harap kau orang muda suka memberi tahu kepada Ang-Hwa-Pai bahwa kami datang berkunjung."

Ouwyang Lam tertawa.

"Totiang berdua tak perlu sungkan-sungkan. Kalau ada perkara, beritahukan saja kepadaku. Aku Ouwyang Lam mewakili Ketua kami dan segala urusan cukup kalian bicarakan dengan aku."

"Hemmm, begitukah?"

Kung Thi Tosu berkata sambil menatap wajah Ouwyang Lam tajam-tajam.

"Sudah lama Pinto mendengar nama Ouwyang-Kongcu. Kedatangan kami ini tidak lain akan menanyakan tentang Suheng kami yang beberapa hari yang lalu datang ke sini. Di manakah Suheng kami itu?"

Wajah yang tampan itu menjadi muram.

"Totiang, apa kau kira aku ini seorang pengembala keledai maka kau tanya-tanya kepadaku tentang keledai yang hilang? Sudahlah, lebih baik kalian pergi, cari di tempat lain. Pulau kami bukan tempat bagi para Tosu."

Jawaban ini biarpun terdengar lemas namun amat menghina dan menyakitkan hati karena menyamakan Suheng mereka dengan keledai!

Kung Lo Tosu yang bermuka kuning menjadi makin pucat mukanya ketika dia melangkah maju dan berkata dengan suara keras.

"Orang muda she Ouwyang bermulut lancang! Kami dari Kun-Lun-Pai tidak biasa menelan hinaan-hinaan tanpa sebab. Ketua kami mendengar tentang sepak terjang Ang-Hwa-Pai yang mengancau ketenteraman, lalu Ketua kami mengutus Suheng dan kami berdua untuk datang mengunjungi kalian guna memberi peringatan secara halus, mengingat sama-sama partai persilatan. Akan tetapi Suheng yang amat hati-hati dan tidak ingin kalian salah paham, menyuruh kami menanti di seberang dan Suheng seorang diri yang datang ke sini empat hari yang lalu. Suheng tidak kelihatan kembali, maka kami datang menyusul. Kiranya datang-datang kami hanya kau sambut dengan ucapan menghina. Orang muda lekas katakan di mana adanya Kun Be Suheng."

Berubah wajah 0uwyang Lam, agak merah karena dia menahan kemarahannya.

"Aku tidak tahu yang mana itu Suhengmu, akan tetapi beberapa hari yang lalu memang ada seseorang kurang ajar mengacau di sini. Karena dia tidak mau disuruh pergi, terpaksa aku turun tangan dan dia sudah tewas.

"Keparat, Jadi kau... kau membunuh Suheng...?"

Kun Thi Tosu kini pun menjadi marah sekali.

"Kalau begitu Ang-Hwa-Pai benar-benar jahat sekali, membunuh seorang utusan..."

Ouwyang Lam tertawa mengejek.

"Tosu bau, dengar baik-baik. Kalau terjadi sesuatu pertengkaran dan pertempuran, jelas bahwa yang salah adalah orang yang datang menyerbu. Aku membela tempatku sendiri yang dikacau orang, mana bisa dianggap jahat? Adalah kalian ini yang bukan orang sini, datang-datang mengeluarkan omongan besar, kalianlah yang jahat!"

"Ang-Hwa-Pai partai gurem yang baru muncul berani memandang rendah Kun-Lun-Pai! Benar-benar keterlaluan. Bocah sombong, kau harus mengganti nyawa Suheng! Ouwyang Lam menoleh ke arah Siu Bi.

"Kau lihat, betapa menjemukan. Mau membantuku melempar mereka ke dalam telaga?"

Siu Bi sudah biasa dengan watak aneh kasar dan liar.

Watak Kakeknya, Hek Lojin, jauh lebih kasar, liar dan aneh lagi.

la pun tadi jemu menyaksikan lagak orang-orang Kun-Lun-Pai ini dan dalam pertimbangannya, Ouwyang Lam berada di pihak benar.

Orang dihargai karena sikapnya, karena kebenarannya, sama sekali bukan karena kedudukannya, atau karena partainya yang besar.

Dalam hal ini, Kun-Lun-Pai terlalu memandang rendah Ang-Hwa-Pai, tidak semestinya mencampuri urusan partai orang lain, apalagi menegur.

Orang-orang Kun-Lun-Pai mencari penyakit sendiri dengan sikap tinggi hati dan takabur.

"Mari...!"

Kata Siu,Bi, juga dengan senyum mengejek.

Dua orang Tosu itu sudah marah sekali mendengar betapa Suheng mereka yang datang di Pulau ini sebagai utusan, telah ditewaskan.

Serentak mereka menerjang maju, dengan maksud untuk menangkap pemuda sombong ini untuk ditawan dan dipaksa ikut mereka ke Kun lun, dihadapkan kepada Ketua mereka agar diadili.

Akan tetapi mereka keliru kalau mengira bahwa mereka akan dapat merobohkan dan menangkap Ouwyang Lam dengan mudah.

Begitu pemuda itu menggerakkan kaki tangan, dia telah menyambut terjangan kedua orang ini dengan pukulan dan tendangan yang dahsyat, memaksa dua orang Tosu itu mengelak sambil menyusul dengan serangan dari samping.

Akan tetapi pada saat itu, Siu Bi sudah membentak nyaring dan menerjang Kung Lo Tosu sehingga lerpaksa Tosu ini bertanding melawan Siu Bi.

Hal ini tidak mengecilkan hati kedua orang Tosu Kun-Lun-Pai.

Siu Bi hanya seorang gadis remaja, juga Ouwyang Lam yang mereka pernah dengar sebagai Ouwyang-Kongcu yang terkenal kiranya hanya seorang pemuda biasa saja.

Dengan cepat mereka memainkan kaki dan tangan, mengeluarkan Ilmu Silat Kun-Lun-Pai.

Mereka adalah Tosu-Tosu tingkat ke empat di Kun-Lun-Pai, ilmu kepandaian mereka tinggi.

Biarpun mereka percaya bahwa Suheng mereka tewas, akan tetapi mereka mengira bahwa tewasnya sang Suheng itu adalah karena pengeroyokan, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa tewasnya Kung Be Tosu adalah karena bertanding satu lawan satu dengan pemuda ini!

Setelah bergebrak beberapa jurus, barulah kedua orang Tosu itu kaget dan mendapati kenyataan bahwa kedua orang lawannya ternyata lihai bukan main.

Jangankan menangkap, menyerang saja mereka tidak mampu lagi, hanya dapat mempertahankan diri, menangkis dan mengelak ke sana ke mari karena kedua orang muda itu mendesak mereka dengan pukulan-pukulan yang cepat dan luar biasa.

Kung Lo Tosu menjadi kabur matanya melihat sinar hitam bergulung-gulung dari kedua lengan lawannya, dan pukulan-pukulan gadis remaja ini mengandung hawa yang panas bukan main.

Adapun Kung Thi Tosu juga bingung menghadapi sinar merah dari pukulan Ouwyang Lam, kepalanya pening mencium bau harum yang aneh.

"Adik Siu Bi, kalau kita bunuh mereka, mereka tidak akan dapat mengingat-ingat akan kelihaian kita. Hayo berlomba lempar mereka ke telaga!"

Kata Ouwyang Lam sambil tertawa.

Siu Bi memang tidak mempunyai maksud untuk membunuh lawannya karena ia sendiri tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan Tosu Kun-Lun-Pai.

Mendengar ajakan ini, ia berseru keras dan tahu-tahu ia telah berhasil mencengkeram pundak lawannya dan dengan hentakan cepat ia melemparkan tubuh Kung Lo Tosu ke air telaga di depannya.

Tepat pada saat itu juga, Ouwyang Lam berhasil pula melemparkan lawannya sehingga tubuh kedua orang Tosu Kun-Lun-Pai ini melayang dan terbanting ke dalam air yang muncrat tinggi-tinggi.

Mereka gelagapan, tenggelam dan beberapa saat kemudian timbul kembali megap-megap, berusaha berenang akan tetapi tak berani ke pinggir karena para anggota Anghwa-pai sudah berdiri di situ sambil tertawa bergelak.

"Mereka sudah diberi hajaran, biarkan mereka pergi,"

Kata Siu Bi, kakinya bergerak dan...

perahu kecil itu sudah ditendangnya sampai terbang melayang ke air, dekat kedua orang Tosu yang gelagapan itu.

Cepat mereka berenang mendekati, meraih perahu terus mendayung perahu dengan kedua tangan mereka di kanan kiri perahu.

Perahu bergerak perlahan ke tengah telaga, diikuti sorak-sorai dan ejekan para anggota Ang-Hwa-Pai.

Dapat dibayangkan betapa malunya Kung Thi Tosu dan Kung Lo Tosu, mereka terus berusaha sedapat mungkin menggerakkan perahu tanpa dayung, menjauhi Pulau dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

Baru setelah perahu mereka bergerak sampai ke tengah telaga, jauh dari Pulau, mereka menyumpah-nyumpah dan mengancam akan melaporkan hal ini kepada Ketua mereka.

"Pemuda jahanam, gadis liar "

Kung Thi Tosu memaki gemas.

"Awas kalian orang-orang Ang-Hwa-Pai, Kun-Lun-Pai takkan mendiamkan saja penghinaan ini!"

"Sudahlah, Suheng. Mari kita gerakkan perahu mendarat dan cepat-cepat kita kembali ke Kun-lun untuk lapor kepada Sucouw (kakek Guru)."

Kung Lo Tosu menghibur.

Mereka terus mendayung perahu mempergunakan kedua lengan.

Karena mereka berkepandaian tinggi dan tenaga mereka besar, biarpun perahu hanya didayung dengan tangan, perahu dapat meluncur cepat menuju ke darat.

Tiba-tiba dari sebelah kanan meluncur sebuah perahu kecil.

Penumpangnya hanya seorang wanita muda yang berdiri di tengah perahu dan menggerakkan dayung ke kanan kiri sambil berdiri saja.

Namun perahunya dapat meluncur laksana digerakkan tenaga raksasa!

Melihat ini saja, dua orang Tosu itu dapat menduga bahwa gadis yang cantik dan gagah ini tentulah seorang berilmu.

Sebaliknya gadis itu pun dapat mengerti bahwa dua orang Tosu yang mendayung perahu hanya dengan tangan itu tentulah orang-orang berkepandaian tinggi.

Kung Thi Tosu dan Kung Lo Tosu tidak mempedulikan gadis itu, malah mereka segera membuang muka.

Mereka mengira bahwa gadis yang lihai ini tentulah orang Ang-Hwa-Pai, sebangsa dengan gadis remaja yang tadi merobohkan Kung Lo Tosu.

Mereka tidak mau mencari penyakit, tidak mau mencari gara-gara, maka lebih aman membungkam dan pura-pura tidak melihat.

Akan tetapi, tidak demikian dengan gadis itu.

la sengaja memotong jalan, menghadang perahu mereka.

Karena tidak ingin perahu mereka bertumbukan, terpaksa mereka menahan lajunya perahu dan memandang.

Yang berdiri di tengah perahu kecil itu adalah seorang gadis yang masih muda, seorang gadis yang cantik manis, senyumnya selalu menghias Bibir, sepasang matanya tajam berpengaruh, dan di balik kecantikan itu tersembunyi kegagahan Tubuhnya ramping padat, pakaiannya sederhana dan rambutnya yang hitam itu dikuncir ke belakang, melambai-lambai tertiup angin telaga.

Gadis itu menggunakan dayung menahan perahunya, memberi hormat sambil membungkuk dalam-dalam dan mengangkat kedua tangan yang memegang dayung ke depan dada, lalu berkata, suaranya halus merdu membayangkan watak yang halus pula.

"Maaf, Ji-wi Totiang. Bukan maksudku mengganggu Ji-wi, melainkan saya mohon bertanya, telaga ini telaga apakah namanya dan Pulau di depan itu Pulau apa, siapa yang tinggal di sana?"

Kung Thi Tosu dan sutenya saling pandang, kemudian Kung Thi Tosu bertanya.

"Nona bukan orang sana? Bukan anggota Ang-Hwa-Pai?"

Kini gadis itu yang memandang heran.

"Bukan, Totiang. Kalau saya orang Pulau itu, masa masih bertanya-tanya. Saya seorang pelancong yang tertarik akan keindahan telaga ini, dan ingin sekali tahu nama telaga dan Pulau itu."

"Wah, kalau begitu, lebih baik Nona lekas-lekas pergi dari tempat ini. Amat berbahaya, Nona. Pulau di depan itu adalah Ching-Coa-To, pusat perkumpulan Ang-Hwa-Pai. Kami berdua Tosu dari Kun-Lun-Pai baru saja terlepas dari bahaya maut."

"Akan tetapi tidak terlepas dari penghinaan hebat!"

Sambung Kung Lo Tosu. Gadis itu tampak mengerutkan alisnya yang hitam dan bagus bentuknya.

"Di sepanjang perjalanan sudah banyak kudengar sepak terjang yang sewenang-wenang dari Ang-Hwa-Pai. Siapa duga sampai-sampai berani melakukan penghinaan terhadap Kun-Lun-Pai. Kiranya Ji-wi Totiang ini anak murid Kun-Lun-Pai? Harap Totiang sudi menceritakan kepada saya apakah yang telah terjadi antara Ji-wi dan Ang-Hwa-Pai?"

"Nona siapakah? Pinto tidak dapat menceritakan hal ini kepada orang luar yang tidak Pinto kenal, maaf,"

Kata Kung Thi Tosu. Nona itu mengangguk.

"Memang seharusnya begitulah. Akan tetapi biarpun Ji-wi Totiang tidak mengenal saya, tentu Bun Lo-Sianjin Ketua Kun-Lun-Pai takkan asing mendengar nama saya dan takkan marah kepada Ji-wi kalau mendengar bahwa Ji-wi menceritakan urusan ini kepada seorang gadis bernama Tan Cui Sian dari Thai-San."

Dua orang Tosu itu belum pernah mendengar nama Tan Cui Sian, akan tetapi tentu saja mereka tahu apa artinya Thai-San-Pai bagi Kun-Lun-Pai.

Ketua Thai-San-Pai yang berjuluk Bu-Tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tiada Lawan) adalah sahabat baik Ketua mereka dan kalau nona ini datang dari Thai-San, berarti seorang sahabat pula.

KungThi Tosu lalu menjura dan memberi hormat.

"Kiranya Nona dari Thai-San-Pai, maaf kalau tadi Pinto ragu-ragu. Di antara sahabat sendiri, tentu saja Pinto, suka menceritakan urusan ini yang membuat hati menjadi sakit dan penasaran."

Kung Thi Tosu lalu bercerita tentang semua peristiwa yang telah terjadi.

Suheng mereka yang menjadi utusan Kun-Lun-Pai dibunuh, dan mereka sendiri menerima hinaan dari dua orang muda yang amat lihai.

Sepasang mata gadis itu bersinar tajam, kerut keningnya mendalam.

"Hemmm, terlalu sekali mereka itu. Apakah yang Ji-wi Totiang hendak lakukan sekarang?"

"Kami hendak pulang dan melaporkan hal ini kepada Ketua kami."

"Memang sebaiknya begitu. Urusan ini adalah urusan antara Kun-Lun-Pai dan Ang-Hwa-Pai, tentu saja saya tidak berhak mencampuri, tetapi ingin sekali saya bertemu dengan pemuda dan gadis yang telah menghina Ji-wi. Mereka itu kurang ajar dan terlalu mengandalkan kepandaian, hemmm..."

"Harap Nona jangan main-main di sini. Mereka itu benar-benar lihai. Baru yang muda-muda saja begitu lihai, belum Ketua mereka, Si Nenek Ang-Hwa Nio-Nio. Juga anggota mereka banyak sekali, jahat-jahat pula. Lebih baik Nona meninggalkan tempat ini agar jangan sampai mengalami penghinaan."

Gadis itu tersenyum.

"Saya justru ingin mereka itu datang menghina saya. Selamat jalan, Totiang. Mendayung perahu dengan tangan tentu tidak dapat cepat. Biarlah saya membantu sebentar! Setelah berkata demikian, nona ini menggunakan dayungnya yang panjang itu untuk mendorong perahu kedua Tosu. Tenaga dorongannya bukan main kuatnya sehingga perahu ini seakan-akan digerakkan tenaga raksasa, meluncur ke depan dengan amat cepatnya. Kung Thi Tosu dan sutenya kaget, heran dan juga girang sekali. Perahu nona itu sudah menyusul dan terus ia mendorong-dorong perahu di depan. Dengan cara begini, benar saja, kedua orang Tosu itu dapat mencapai daratan dalam waktu singkat. Mereka meloncat ke darat, memberi hormat ke arah nona berperahu yang sudah menggerakkan perahunya ke tengah telaga lagi. Kung Thi Tosu menarik nafas panjang.

"Sute, benar-benar perjalanan kita kali ini membuka mata kita bahwa kepandaian kita sama sekali belum ada artinya. Dalam waktu sehari kita telah bertemu dengan tiga orang muda yang memiliki kepandaian jauh melampaui kita. Aku berjanji akan berlatih lebih tekun kalau kita sudah kembali ke gunung,"

Mereka lalu membalikkan tubuh dan melakukan perjalanan secepatnya pulang ke Kun-Lun-Pai.

Siapakah sebenarnya gadis lihai berperahu itu?

Dia bukanlah seorang pelancong biasa.

Para pembaca cerita Pendekar Buta tentu masih ingat akan nama ini, Tan Cui Sian.

Gadis ini adalah puteri dari Ketua Thai-San-Pai, Si Raja Pedang Tan Beng San dan si Pendekar wanita Cia Li Cu yang sekarang sudah menjadi Kakek-kakek dan nenek-nenek, memimpin perkumpulan Thai-San-Pai yang makin maju dan terkenal.

Suami isteri ini telah berusia empat puluh tahun lebih ketika Cui Sian terlahir, maka mereka sekarang menjadi tua setelah puteri mereka berusia dua puluh tiga tahun.

Sebagai puteri sepasang Pendekar besar yang memiliki ilmu kesaktian, tentu saja semenjak kecilnya Cui Sian telah digembleng dan mewarisi kepandaian mereka berdua sehingga kini Cui Sian menjadi seorang gadis yang sakti.

Wataknya pendiam seperti Ayahnya, keras seperti Ibunya, cerdik dan luas pandangannya.

Hanya satu hal menjengkelkan Ayah Bunda Cui Sian dan yang membuat Ibunya sering kali menangis sedih adalah kebandelan gadis ini tentang perjodohan.

Banyak sekali Pendekar-Pendekar muda, bangsawan-bangsawan berkedudukan tinggi yang tergila-gila kepadanya.

Banyak sudah datang lamaran atas dirinya dari orang-orang muda yang memenuhi syarat, baik dipandang dari watak yang baik, kepandaian tinggi dan kedudukan yang mulia.

Namun semua pinangan itu ditolak mentah-mentah oleh Cui Sian!

"Ibu, aku tidak mau terikat oleh perjodohan!

Aku...

aku tidak mau seperti enci Cui Bi..."

Demikian keputusan Cui Sian di depan Ayah Bundanya, lalu lari memasuki kamarnya.

Ketua Thai-San-Pai bersama isterinya saling pandang.

Si Raja Pedang mengelus-elus jenggotnya yang panjang sambil menarik nafas berkali-kali, memandang isterinya yang menjadi basah pelupuk matanya.

Teringatlah mereka kepada mendiang Tan Cui Bi, puteri mereka pertama yang tewas menjadi korban asmara gagal.

Di dalam cerita Rajawali Emas dituturkan betapa mendiang Cui Bi yang sudah ditunangkan dengan Bun Wan (sekarang Jenderal Bun di Tai-Goan) terlibat dalam jalinan asmara dengan Kwa Kun Hong (Pendekar Buta) sehingga karena gagal, Cui Bi lalu membunuh diri dan Kun Hong membutakan matanya serdiri!

Cerita tentang Cui Bi inilah agaknya yang membuat hati Cui Sian sekarang menjadi ngeri, membuat ia tidak mau bicara tentang perjodohan, bahkan membuat ia seperti membenci perjodohan.

"Dia menjadi takut bayangan sendiri, takut akan terulang kesedihan dan malapetaka yang menimpa diri Cicinya. Biarlah, kita serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena betapapun juga, jodoh adalah kehendak Tuhan, tak dapat dipaksakan. Kalau ia sudah bertemu jodohnya, tak usah kita paksa iagi, ia tentu akan mau sendiri,"

Demikian kata-kata hiburan Ketua Thai-San-Pai kepada isterinya.

"Tapi... tapi... tahun ini dia sudah berusia dua puluh tiga tahun..."

Isterinya tak dapat melanjutkah kata-katanya, menahan isak dan menghapus air mata. Kembali Bu-Tek Kiam-Ong Tan Beng San menarik nafas panjang.

"Di dalam perjodohan, usia tidak menjadi soal, isteriku. Beberapa kali anak kita itu mohon untuk diberi ijin turun gunung dan kita selalu melarangnya karena khawatir kalau-kalau terjadi hal seperti yang telah menimpa diri Cui Bi. Kurasa inilah kesalahan kita. Biarkan ia turun gunung, biarkan ia mencari pengalaman, siapa tahu dalam perjalanannya, ia akan bertemu |odohnya. Dia sudah dewasa dan tentang kepandaian, kurasa kita tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Cui Sian mampu menjaga diri."

Pernyataan suaminya bahwa si anak mungkin bertemu jodohnya dalam perantauan, melunakkan hati nyonya Ketua Thai-San-Pai ini.

Dan alangkah girang hati Cui Sian ketika Ibunya malam hari itu memberi tahu bahwa ia sekarang diperkenankan turun gunung melakukan perantauan.

Dari Ibunya ia menerima Pedang Liong-Cu-Kiam yang pendek dan dari Ayahnya ia dibekali pesan.

"Kau sudah mencatat semua alamat dari sahabat-sahabat Ayah Bundamu. Jangan lupa untuk mampir dan menyampaikan hormat kami kepada mereka. Terutama sekali jangan lupa mengunjungi Liong-Thouw-San, Hoa-San, Kun-lun dan jika kau pergi ke Kota Raja, jangan lupa singgah di rumah Jenderal Bun."

"Bekas tunangan Cici Cui Bi?"

Cui Sian mengerutkan kening. Ayahnya tertawa.

"Apa salahnya? Dahulu tunangan, akan tetapi sekarang hanya merupakan sahabat baik, karena Bun Wan adalah putera Kun-lun, sedangkan Ketua Kun-Lun-Pai adalah sahabat baikku."

Setelah menerima nasihat-nasihat dan pesan supaya hati-hati dari Ibunya, berangkatlah Cui Sian turun gunung, membawa bekal pakaian dan emas secukupnya, dengan hati gembira.

Demikianlah sekelumit riwayat gadis yang kini berada di telaga itu, dekat Ching-Coa-To dan bertemu dengan kedua orang Tosu Kun-Lun-Pai.

Karena Kun-Lun-Pai adalah partai besar yang bersahabat dengan Ayahnya, tentu saja Cui Sian menganggap kedua orang Tosu itu sebagai sahabat dan ia ikut merasa mendongkol sekali ketika mendengar hinaan yang diderita orang-orang Kun-Lun-Pai dari dua orang muda Ching-Coa-To.

Setelah mengantar kedua orang Tosu Kun-lun itu ke darat, Cui Sian lalu mendayung perahunya kembali ke tengah telaga, menyeberang hendak melihat-lihat sekeliling Pulau.

Sementara itu, Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa di Pulau setelah berhasil melernparkan kedua orang Tosu ke dalam air.

"Jangan ganggu, biarkan mereka pergi!"

Teriak Ouwyang Lam kepada para anggota Ang-Hwa-Pai sehingga beberapa orang yang tadinya sudah bermaksud melepas anak panah, terpaksa membatalkan niatnya.

Siu Bi juga merasa gembira.

Ia Sudah membuktikan bahwa ia suka membantu Ang-Hwa-Pai dan sikap Ouwyang Lam benar-benar menarik hatinya.

Pemuda ini sudah pula membuktikan kelihaiannya, maka tentu dapat menjadi teman yang baik dan berguna dalam menghadapi musuh besarnya.

"Adik Siu Bi, bagarmana kalau kita berperahu mengelilingi Pulauku yang indah ini? Akan kuperlihatkan kepadamu keindahan Pulau dipandang dari telaga, dan ada taman-taman air di sebelah Selatan sana. Mari!"

Siu Bi mengangguk dan mengikuti Ouwyang Lam yang berlari-larian menghampiri sebuah perahu kecil yang berada di sebelah kiri, diikat pada sebatang pohon.

Bagaikan dua orang anak-anak sedang bermain-main, mereka dengan gembira melepaskan perahu dan naik ke dalam perahu kecil ini.

Ouwyang Lam mengambil dua buah dayung, lalu keduanya mendayung perahu itu ke tengah, diikuti pandang mata penuh maklum oleh para anak buah Ang-Hwa-Pai.

"Wah, Kongcu mendapatkan seorang kekasih baru,"

Kata seorang anggota yang kurus kering tubuhnya, jelas dalam suaranya bahwa dia iri.

"Hemmm, tapi yang satu ini sungguh tak boleh dibuat main-main. Ilmu kepandaiannya hebat. Saingan berat bagi Pangcu..."

Kata temannya yang gendut.

"Sssttttt... apa kau bosan hidup?"

Cela si kurus sambil pergi ketakutan.

Ouwyang Lam dan Siu Bi tertawa-tawa gembira ketika mendayung perahu sekuat tenaga sehingga perahu itu meluncur seperti anak panah cepatnya.

Pemuda itu menerangkan keadaan Pulau dan Siu Bi beberapa kali berseru kagum.

Memang bagus Pulau ini biarpun tidak berapa besar namun mempunyai bagian-bagian yang menarik.

Ada bagian yang penuh bukit karang, ada bagian yang merupakan taman bunga amat indahnya.

"Lihat, di sana itu adalah pusat ular-ular hijau. Tidak ada musuh yang berani menyerbu Ching-Coa-To, karena sekali kami melepaskan ular-ular itu, mereka akan menghadapi barisan ular yang lebih hebat daripada barisan manusia bersenjata."

Siu Bi bergidik. la melihat banyak sekali ular-ular besar kecil berwarna hijau, keluar masuk di lubang-lubang batu karang.

"Apakah binatang-binatang itu tidak berkeliaran di seluruh Pulau dan membahayakan kalian sendiri?"

Tanyanya. Ouwyang Lam tersenyum.

"Kami mempunyai minyak bunga yang ditakuti ular-ular hijau itu. Sekeliling daerah batu karang telah kami sirami minyak dan para penjaga selalu siap menyiram minyak baru jika yang lama sudah hilang pengaruhnya. Dengan pagar minyak itu, ular hijau tidak berani berkeliaran."

"Tapi... apa perlunya memelihara ular sebanyak itu?"

"Sebetulnya tenaga mereka tidak berapa kami butuhkan. Hanya racunnya... racun mereka kami ambil dan Nio-Nio amat pandai membuat obat dan senjata dari racun-racun itu."

"Ahhh... hebat kalau begitu "

Siu Bi berseru kagum. Perahu digerakkan lagi.

"Lihat, di sana itu adalah taman bunga kami. Bukan main senangnya beristirahat di sana, hawanya nyaman, baunya, harum dan keadaan di situ benar-benar menenteramkan perasaan orang."

"Aduh, bagusnya... mari kita mendarat ke sana... wah, indahnya seruni-seruni di ujung sana itu. Beraneka warna dan sedang mekar...!"

Ouwyang Lam melirik dengah hati gembira ke arah nona cantik di sebelahnya ini.

Alangkah akan bahagianya kalau tiba saatnya dia dapat bersenang-senang dengan gadis ini di taman, sebagai kekasihnya!

"Nanti, Moi-moi, kita keliling dulu dengan perahu.

Karena kau menjadi orang sendiri, seluruh Pulau dan isinya ini anggaplah tempatmu sendiri.

Akan tetapi untuk dapat menikmati tempat kita ini, kau harus lebih dulu mengenal bagian-bagian yang indah, yang berbahaya dan lain-lain.

Jangan khawatir, masih banyak waktu untuk kau bermain sepuasmu di dalam taman itu.

Di sana terdapat beberapa pondok kecil yang nyaman dan aku akan minta kepada Nio-Nio agar kau diperbolehkan menempati sebuah di antara pondok-pondok di taman itu.

Aku juga tinggal di sebuah di antara pondok-pondok kecil di sana."

Sambil berkata demikian, Ouwyang Lam melirik dengan tajam, ingin melihat bagaimana reaksi dari gadis itu.

Akan tetapi, Siu Bi bersikap biasa saja, hanya ia amat gembira mendengar ini, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengerti akan isyarat dalam ucapan Ouwyang Lam.

Memang, ia seorang gadis remaja yang masih hijau, mana ia mengerti akan kata-kata menyimpang itu?

Perahu didayung lagi.

"Mari kita sekarang melihat taman air..."

Ucapan Ouwyang Lam terhenti karena pada saat itu mereka berdua melihat sebuah perahu kecil yang meluncur laju dari depan.

Seorang gadis mendayung perahu itu sambil berdiri di tengah perahu, memandang kepada mereka dengan mata melotot.

Heran benar dia mengapa hari ini begitu baik untungnya sehingga matanya sempat melihat lagi seorang gadis yang begini cantik jelita setelah bertemu dengan Siu Bi.

Adapun Siu Bi sendiri juga kagum karena dalam pandang matanya gadis yang sendirian di perahu itu membayangkan sifat yang gagah sekali dalam kesederhanaan pakaiannya.

Perahu mereka kini berhadapan dan kedua pihak menahan perahu dengan gerakan dayung.

Sejenak tiga orang ini saling pandang, penuh selidik.

Ouwyang Lam yang selalu tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencari muka dan bermanis-manis terhadap gadis cantik, segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil tersenyum dan menegur.

"Nona, aku Ouwyang Lam tidak pernah bertemu muka denganmu. Agaknya Nona adalah seorang tamu yang hendak mengunjungi Ang-Hwa-Pai. Kalau memang demikian halnya, dapat Nona bicara dengan aku yang mewakili Ketua Ang-Hwa-Pai."

Cui Sian sudah menduga bahwa tentu dua orang ini yang tadi menghina Tosu-Tosu Kun-Lun-Pai, sekarang mendengar pemuda itu memperkenalkan nama, ia tidak ragu-ragu lagi.

"Aku seorang pelancong, sama sekali tidak ada urusan dengan Ang-Hwa-Pai atau perkumpulan jahat manapun juga!"

Sengaja ia menjawab ketus karena memang ia hendak mencari perkara dan memberi hajaran kepada orang-orang muda yang dianggapnya jahat itu.

Siu Bi mendengar ini, tak dapat menahan tawanya.

Memang Siu Bi wataknya aneh.

Senang ia melihat gadis itu berani menghina Ang-Hwa-Pai secara begitu terang-terangan di depan Auwyang Lam, maka ia tertawa, tentu saja mentertawakan pemuda itu.

Mendengar suara ketawa ditahan ini, Ouwyang Lam mendongkol.

Alisnya yang tebal berkerut dan matanya memandang galak kepada Cui Sian, akan tetapi karena benar-benar gadis di depannya itu cantik jelita, tidak kalah oleh Siu Bi sendiri, dia masih menahan kemarahannya dan mempermainkan senyum pada Bibirnya.

"Nona yang baik, ketahuilah bahwa telaga ini termasuk wilayah Ang-Hwa-Pai, jadi kau kini telah berada di dalarn wilayah kami. Karena itu berarti kau sudah menjadi tamu kami, maka tadi aku sengaja bertanya. Andaikata kau hanya pelancong biasa dan tidak mempunyai urusan dengan Ang-Hwa-Pai, akan tetapi karena tanpa kausadari kau telah menjadi tamuku, tiada buruknya kalau kita menjadi sahabat."

Kembali Siu Bi tersenyum dan mengejek.

"Wah, kau benar-benar amat sabar dan ramah, Ouwyang-Twako!"

Kalau Siu Bi mengejek karena mengira Ouwyang Lam takut-takut dan jerih, adalah Cui Sian yang menjadi muak perutnya.

la lebih berpengalaman atau setidaknya lebih mengenal watak pria daripada Siu Bi yang hijau maka ia dapat menangkap nada suara kurang ajar dalam ucapan Ouwyang Lam.

Dengan ketus ia menjawab.

"Kau manusia sombong. Kurasa telaga ini adalah buatan alam, bagaimana Ang-Hwa-Pai berani mengaku sebagai hak dan wilayahnya?"

Eh, bocah, apakah kau yang berani menghina bahkan membunuh Tosu dari Kun-Lun-Pai?"

Ouwyang Lam terkejut dan hilang keramahannya.

Juga Siu Bi hilang senyumnya.

Mereka berdua bangkit berdiri dan memandang Cui Sian dengan curiga.

Kalau gadis ini datang membela Kun-Lun-Pai, berarti dia itu musuh!

"Kalau betul begitu, kau mau apakah?"

Teriak Ouwyang Lam.

"Apakah kau anak nuirid Kun-Lun-Pai yang hendak menuntut balas?"

"Aku bukan anak murid Kun-lun-pal juga tidak tahu-menahu tentang permusuhan kalian dengan Kun-Lun-Pai. Akan tetapi kebetulan sekali aku bertemu dengan dua orang Tosu Kun-Lun-Pai yang telah kalian hina. Tosu-Tosu Kun-Lun-Pai bukanlah orang-orang jahat, maka kalau kalian sudah berani menghina mereka, kalian benar-benar merupakan orang-orang kurang ajar dan mengandalkan kepandaian. Kalau bicara tentang kegagahan, agaknya aku lebih condong menganggap kalianlah yang bersalah dan jahat."

"Heeei, orang liar dari mana datang-datang membuka mulut asal bunyi saja?"

Siu Bi berseru marah.

"Dua orang Tosu bau itu memang kami berdua yang melempar ke dalam air, habis kau mau apa?"

"Hemmm, aku tidak akan mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi aku pun tidak biasa membiarkan orang berlaku sewenang-wenang. Kau menghina dan melempar orang ke air, sekarang aku pun hendak melempar kalian ke dalam air!"

"Sombong! Twako, mari kita lempar bocah sombong ini dari perahunya!"

Siu Bi menggerakkan dayungnya, diikuti oleh Ouwyang Lam yang bermaksud merobohkan dan menawan gadis cantik yang sombong itu.

"Plakkk-plakkkkk!"

Siu Bi dan Ouwyang Lam berseru kaget sekali karena dayung mereka tertangkis oleh dayung di tangan Cui Sian.

Demikian kuat dan hebatnya tangkisan itu sehingga hampir saja Siu Bi dan Ouwyang Lam tak dapat menahan dan melepaskan dayung.

Telapak tangan mereka terasa panas dan sakit-sakit.

Hal ini sama sekali tak pernah mereka duga karena tadi mereka memandang rendah sekali, dan sesaat mereka kaget dan bingung.

Sebelum mereka dapat memperbaiki kedudukan, perahu mereka tertumbuk oleh perahu Cui Sian dan dayung di tangan Cui Sian secara dahsyat sekali telah menerjang mereka.

Perahu miring, dua orang muda itu hampir terjengkang ke belakang dan oleh karena kedudukan yang buruk sekali dan lemah ini, sampai dayung di tangan Cui Sian tak dapat mereka tangkis lagi dan jalan satu-satunya bagi mereka untuk menyelamatkan diri hanya melempar diri ke belakang.

Terdengar suara keras dan air memercik tinggi ketika dua orang itu terlempar ke dalam air juga perahu mereka telah terbalik!

Ouwyang Lam yang pandai berenang itu cepat menyambar lengan tangan Siu Bi yang gelagapan dan menarik gadis itu ke arah perahu mereka yang terbalik.

Karena dayung mereka terlempar dan mereka berada di bawah ancaman dayung Cui Sian, mereka tak dapat berbuat sesuatu kecuali memegangi perahu yang terbalik dengan muka dan kepala yang basah kuyup!

"Ketahuilah, aku bernama Tan Cui Sian, bukan anak murid Kun-Lun-Pai, hanya seorang pelancong yang kebetulan"

Lewat dan tidak senang melihat kekurang-ajaranmu. Harap kali ini kalian menganggap sebagai pelajaran agar lain kali jangan kurang ajar dan sombong lagi."

Setelah berkata demikian Cui Sian mendayung perahunya pergi meninggalkan dua orang yang tak berdaya dan memegangi perahu terbalik itu.

"He, manusia curang!"

Siu Bi berteriak marah, memaki-maki.

"Tunggu aku di darat kalau kau memang gagah dan kita bertanding sampai sepuluh ribu jurus! Tidak bisa kau menghina Cui-Beng Kwan-Im dan pergi enak-enak begitu saja!"

Cui Sian menoleh dan tersenyum mengejek.

"Julukannya saja Cui-Beng (Pengejar Roh), biarpun cantik seperti Kwan Im, tetap saja jahat. Bocah masih ingusan, siapa takut padamu? Kutunggu kau di darat dan aku tanggung kau akan kulempar sekali lagi ke dalam air!"

Siu Bi memaki-maki, akan tetapi apa dayanya?

Mengejar perahu itu yang tak mungkin.

Lain dengan Ouwyang Lam biarpun amat mendongkol dan malu, namun segera bersuit nyaring memberi aba-aba kepada anak buahnya.

Beberapa buah perahu hitam meluncur cepat dari balik alang-alang, menghampiri Ouwyang Lam dan Siu Bi yang kini sudah berhasil membalikkan perahu dan melompat ke dalam perahu dengan pakaian basah kuyup.

"Kejar iblis betina itu, gulingkan perahunya dan tangkap dia. Ingat, harus gulingkan perahunya lebih dulu!"

Perintah Ouwyang Lam ini segera ditaati oleh tiga buah perahu yang masing-masing berpenumpang tiga orang.

Sembilan orang ahli air Ang-Hwa-Pai melakukan pengejaran.

Ouwyang Lam dan Siu Bi mengikuti dari belakang setelah Ouwyang Lam terjun dan berenang mengambil dayung-dayung mereka yang tadi terlempar.

Cui Sian yang sama sekali tidak menduga bahwa ia akan dikejar, dengan hati puas mendayung perahunya ke tengah telaga, tidak tergesa-gesa pergi mendarat karena ia ingin melihat-lihat Pulau itu dari dekat.

Tak lama kemudian barulah ia melihat tiga buah perahu hitam meluncur cepat mendekati perahunya.

la dapat menduga bahwa mereka itu tentulah orang-orang Ang-Hwa-Pai, apalagi setelah dekat ia melihat bunga merah tersulam di baju mereka.

Akan tetapi tentu saja ia tidak takut, malah menanti kedatangan mereka dengan dayung di tangan, siap menghantam dan menghajar mereka yang berani mengganggunya.

Akan tetapi, ia mulai terkejut melihat sembilan orang di dalam tiga buah perahu itu semua melompat ke dalam air dan tidak muncul lagi.

Mereka menyelam!

Cui Sian dapat menduga apa yang akan mereka lakukan.

Cepat ia mendayung perahunya meluncur pergi, namun terlambat.

Perahunya berguncang hebat.

la berdiri mempergunakan Ginkangnya, mengatur keseimbangan tubuh agar jangan sampai terjungkal ke dalam air.

Malah dayungnya berhasil mengemplang punggung seorang penyelam yang segera menyelam dan berenang pergi sambil merintih-rintih.

Akan tetapi akhirnya perahunya terguling!

Namun dengan gerakan yang amat indah, tubuh Cui Sian mencelat ke atas dan dengan berjungkir balik beberapa kali, tubuhnya cukup lama berada di atas sehingga ketika ia meluncur turun, perahunya sudah terbalik dan terapung lagi.

la mendarat di atas perahunya yang terbalik itu, siap dengan dayungnya.

Para penyelam melihat ini menjadi kagum sekali, juga penasaran.

Mereka menyelam lagi mendekati dan berusaha menggulingkan perahu yang sudah terbalik agar nona itu ikut tenggelam.

Namun Cui Sian dengan dayungnya mempertahankan perahunya.

Dua orang penyelam kena dihajar tangan mereka sehingga tulangnya patah, seorang penyelam lagi terpaksa dibawa pergi temannya karena kemplangan pada kepalanya membuat dia pingsan.

Ouwyang Lam dan Siu Bi sudah tiba di situ.

Melihat betapa gadis kosen itu masih belum dapat ditangkap, malah mengamuk mempertahankan perahu yang sudah terbalik itu, melukai beberapa orang penyelam, dia menjadi marah dan diam-diam kaget juga.

Gadis itu benar-benar lihai.

Hatinya tidak enak sekali.

Kemudian dia bersuit memberi tanda kepada ternan-temannya yang sudah muncul di permukaan air, tidak berani mendekati perahu terbalik itu.

Kini hanya tinggal empat orang penyelam yang belum terluka, akan tetapi mereka jerih, tidak berani mendekat.

Setelah Ouwyang Lam bersuit, mereka menyelam lagi.

Ouwyang Lam mendayung perahunya yang meluncur cepat mendekati perahu Cui Sian yang terbalik.

"Adik Siu Bi, kesempatan kita untuk membalas!"

Katanya, Siu Bi sudah bersiap dengan dayungnya.

Ketika perahu mereka sudah dekat, Ouwyang Lam dan Siu Bi menggerakkan dayung.

Kali ini mereka berlaku hati-hati, dayung mereka menerjang hebat dengan pengerahan tenaga.

Sebaliknya, Cui Sian berada dalam keadaan yang amat buruk.

Berdiri di atas perahu terbalik amat licin dan terlalu sempit, sedangkan dua buah dayung yang menyerangnya itu pun tak boleh dibuat main-main.

Tadi pun ia sudah dapat kenyataan bahwa kedua orang muda ini memiliki kepandaian tinggi, hanya karena tadi memandang rendah kepadanya maka dalam segebrakan saja ia berhasil melempar mereka ke air.

la maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali.

Namun, Cui Sian memiliki sifat yang amat tenang, juga tabah.

la tidak menjadi gentar, malah mengejek.

"Beginikah cara orang gagah? Mengeroyok dengan cara yang licik?"

Merah muka Siu Bi.

Sesungguhnya ia benci akan cara demikian ini, akan tetapi semua itu yang mengatur adalah Ouwyang Lam, ia sebagai tamu tak dapat berbuat lain.

Untuk diam saja tidak ikut mengeroyok juga tidak enak, apalagi ia tadi sudah dibikin basah kuyup dan merasa amat marah kepada gadis bernama Cui Sian itu.

Dengan tenaga dalamnya yang murni dan amat kuat serta gerakan dayungnya yang hebat, Cui Sian masih dapat mempertahankan diri dari desakan kedua buah dayung lawannya.

Akan tetapi tiba-tiba perahu yang diinjaknya berguncang hebat.

Kini ia tidak mungkin dapat melawan orang-orang yang berada di dalam air karena dua batang dayung yang mengancamnya dari depan sudah cukup berbahaya.

la berusaha mempertahankan diri, akan tetapi ketika tiba-tiba perahu yang diinjaknya itu tenggelam, tak mungkin lagi ia mempertahankan diri.

la ikut tenggelam dan di lain saat ia gelagapan karena seperti juga Siu Bi, ia adalah seorang puteri gunung dan tak pandai berenang!

Sungguhpun demikian, ketika dua orang penyelam berusaha menangkap dan memeluknya, mereka itu memekik kesakitan dan pingsan terkena sampokan tangannya!

Melihat ini, Ouwyang Lam terjun ke air.

Cui Sian sudah gelagapan dan menelan air, tentu saja bukan lawan Ouwyang Lam yang selain berkepandaian tinggi, juga ahli bermain di air.

Sebelum Cui Sian sempat mempertahankan diri, sebuah saputangan merah yang diambil pemuda itu dari saku bajunya, telah menutup mukanya.

la mencium bau harum dan...

tak ingat diri lagi.

Ouwyang Lam menyeretnya sambil berenang dan memondongnya naik ke perahu, melempar tubuh yang pingsan dan basah kuyup itu ke dalam perahu.

Siu Bi mengerutkan keningnya.

"Mau diapakan ia ini, Ouwyang-Twako?"

Mendengar pertanyaan ini dan melihat pandang mata Siu Bi yang tajam penuh selidik, Ouwyang Lam menjadi agak gagap ketika menjawab.

"Diapakan? Dia... eh, tentu saja ditawan. Hal ini harus dilaporkan kepada Nio-Nio. Gadis ini mencurigakan sekali, Siauw-moi (Adik Kecil). Kepandaiannya tinggi dan andaikata dia benar-benar bukan orang Kun-Lun-Pai, mengapa ia memusuhi kita? Dan mengapa pula ia berperahu di sini?"

"Kan ia sudah bilang bahwa ia seorang pelancong..."

Bantah Siu Bi, tidak setuju melihat gadis ini ditawan secara begitu. Ouwyang Lam tersenyum, maklum bahwa gadis ini mulai menaruh curiga. la harus berhati-hati, pikirnya.

"Jangan kau khawatir, Moi-moi. Dia ini ditawan hanya untuk ditanyai kelak. Kalau ternyata benar dia itu hanya seorang pelancong yang iseng dan gatal tangan, tentu saja kami akan membebaskannya. Biarlah dia ditawan beberapa hari hitung-hitung membalas penghinaannya atas diri kita berdua."

Puas hati Siu Bi dengan jawaban ini.

Sambil mendayung perahu kembali ke Pulau, diam-diam Siu Bi mengagumi kecantikan gadis yang telentang di depannya.

Benar-benar cantik jelita dan manis sekali.

Sayang dia sombong, pikirnya, dan pernah menghinaku.

Kalau tidak, hemmm, senang juga mempunyai kawan yang juga memiliki kepandaian tinggi ini.

la melihat benda mengganjal di atas pinggang belakang.

Dirabanya, ternyata gagang pedang.

Dengan perlahan disingkapnya baju luar itu dan ditariknya Pedang itu.

Sebuah Pedang pendek akan tetapi begitu Siu Bi mencabutnya dari sarung, matanya silau oleh sinar yang putih gemerlapan.

"Wahhh, Pedang yang hebat, pusaka ampuh!"

Seru Ouwyang Lam.

"Moi-moi, kau benar. Pedang itu harus dirampas, kalau tidak dia bisa membikin kacau setelah siuman."

Ucapan ini membikin muka Siu Bi makin merah.

Sama sekali ia tidak mempunyai niat untuk merampas Pedang orang, hanya ingin melihat.

Akan tetapi tiba-tiba ia berpikir.

Pedang pusakanya sendiri ia tinggalkan kepada Jaka Lola.

la tidak bersenjata.

Tiada salahnya ia menyimpan dulu Pedang ini, dan mudah kalau segala sesuatu beres, ia kembalikan kepada yang punya.

Dari pada dirampas oleh Ouwyang Lam.

Ia belum percaya penuh kepada pemuda ini atau kepada "Bibi Kui Ciauw."

Dalam keadaan masih pingsan, Cui Sian dibawa ke daratan Pulau, dihadapkan kepada Ang-Hwa Nio-Nio.

Nenek ini mengerutkan alisnya ketika mendengar laporan Ouwyang Lam.

la memeriksa buntalan pakaian Cui Sian yang juga dibawa ke situ oleh anak buah yang menemukannya dari perahu yang terbalik.

Akan tetapi isinya hanya beberapa potong pakaian dan sekantung uang emas.

Tidak terdapat sesuatu yang membuka rahasia tentang diri gadis aneh itu.

Ang-Hwa Nio-Nio lalu mengeluarkan sehelai saputangan berwarna biru, mengebutkan saputangan itu ke arah hidung Cui Sian, kemudian dengan saputangan itu pula ia menotok belakang leher.

Ujung saputangan dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah, hal ini saja membuktikan kelihaian Nenek ini.

Kiranya saputangan biru itu mengandung obat pemunah racun merah.

Tak lama kemudian Cui Sian menggerakkan pelupuk matanya dan pada saat matanya terbuka, gadis ini sudah melompat bangun dan berada dalam keadaan siap siaga!

la memandang ke sekelilingnya, melihat muda-mudi bekas lawannya tadi berada di situ bersama seorang Nenek berpakaian serba merah dan beberapa orang laki-laki setengah tua yang memakai tanda bunga merah di dada.

Di pinggir berdiri pelayan-pelayan wanita.

Maklum bahwa dirinya dikepung musuh, Cui Sian meraba pinggangnya.

Pedangnya tidak ada!

Akan tetapi gadis ini tenang-tenang saja, sama sekali tidak menjadi gentar atau gugup.

la malah tersenyum mengejek dan berkata.

"Bagus! Kiranya Ang-Hwa-Pai penuh tipu muslihat. Kalian secara curang berhasil menawan aku, mau apa?"

Ang-Hwa Nio-Nio membentak ketus.

"Bocah sombong, berani berlagak di depanku! Sudah diampuni jiwanya masih sombong. Kalau tadi kami turun tangan membunuhmu, kau akan bisa apa?"

Cui Sian memandang Nenek itu, pandang matanya tajam sekali membuat si Nenek diam-diam tercengang dan menduga-duga, siapa gerangan gadis yang bernyali besar dan penuh wibawa ini.

"Agaknya kau adalah Ketua Ang-Hwa-Pai. Nah, katakan kehendakmu. Soal mati hidup, kau membunuhku pun aku tidak takut, kau membebaskan aku pun tidak merasa berhutang budi."

"Bocah, lebih baik larutkan keangkuhanmu ini dan lekas kau mengaku, siapa yang menyuruh kau datang memata-matai Ang-Hwa-Pai"

Dan membikin kacau? Kalau tidak ada yang menyuruh, apa maksud kedatanganmu? Jawab sebenarnya, jangan membikin aku habis sabar. Apa hubunganmu dengan Kun-Lun-Pai?"

"Tidak ada yang menyuruhku, Kun-Lun-Pai tiada sangkut-pautnya denganku. Aku seorang pelancong, kebetulan lewat dan pesiar di telaga, bertemu dengan dua orang Tosu Kun-Lun-Pai. Kuanggap dua orang bocah ini keterlaluan, maka aku sengaja hendak memberi hajaran. Dengan curang mereka berhasil menawan aku, terserah kalian mau apa sekarang. Mau bertanding sampai seribu jurus, hayo!"

Kembali Ang-Hwa Nio-Nio tercengang dan diam-diam harus ia akui bahwa gadis seperti ini tentu tak boleh dipandang ringan.

"Siapakah kau dan dari mana kau datang?"

"Sudah kukatakan kepada dua orang bocah ini, namaku Tan Cui Sian dan aku bukan orang Kun-Lun-Pai, sungguhpun Kun-Lun-Pai merupakan partai segoiongan dengan Thai-San-Pai."

Berubah wajah Ang-Hwa Nio-Nio.

"Kau anak murid Thai-San-Pai? Kau... kau she Tan, apamukah Bu-Tek Kiam-Ong Tan Beng San si Kakek Ketua Thai-San-Pai?"

"Dia Ayahku..."

"Keparat! Kiranya kau menyerahkan nyawa anakmu kepadaku, manusia she Tan?"

Sambil berseru keras Ang-Hwa Nio-Nio sudah menerjang maju, tangannya menghantam dan sinar merah membayang pada pukulannya ini.

Cui Sian sudah siap sejak tadi.

la maklum bahwa Nenek ini tentulah seorang sakti dan alangkah kecewanya bahwa ia tadi telah mengaku dan menyebut nama Ayahnya dan Thai-San-Pai.

Ternyata pengakuan itu hanya mendatangkan bahaya bagi dirinya karena ternyata bahwa Nenek ini kiranya adalah musuh Ayahnya.

Ayahnya, Si Raja Pedang Tan Beng San, memang mempunyai banyak sekali musuh, terutama dari golongan hitam (baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas).

Setelah terlanjur membuat pengakuan, ia sekarang harus menghadapi bahaya dengan tabah.

Cui Sian bukan seorang gadis nekat seperti Siu Bi.

Dia seorang yang berpemandangan luas, cerdik dan dapat melihat gelagat.

Tentu saja ia maklum bahwa seorang diri, amatlah berbahaya baginya untuk menghadapi orang-orang Ang-Hwa-Pai di tempat mereka sendiri.

Apalagi ia bertangan kosong, kalau ada Liong-Cu-Kiam di tangannya masih boleh diandalkan.

Maka, melihat datangnya pukulan maut yang mengandung sinar merah, ia cepat miringkan tubuh dan mainkan jurus Im-yang-kun-hoat yang ia warisi dari Ayahnya.

Kedua tangannya dengan pengerahan dua macam tenaga Im dan Yang, menangkis sambaran tangan Ang-Hwa Nio-Nio yang tak mungkin dapat dielakkan lagi itu.

"Dukkk!"

Tubuh Cui Sian terlempar sampai ke luar dari pintu ruangan, sedangkan Ketua Ang-Hwa-Pai itu kelihatan meringis kesakitan.

Terlemparnya tubuh Cui Sian memang disengaja oleh gadis itu sendiri karena pertemuan tenaga mujijat itu memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri, atau setidaknya keluar dari ruangan yang sempit itu agar kalau dikeroyok, ia dapat melawan lebih leluasa di tempat yang luas di luar rumah.

"Bocah setan, lari ke mana engkau?"

Ang-Hwa Nio-Nio berseru, kemudian menoleh kepada Siu Bi dan Ouwyang Lam berkata.

"Kejar, ia dan Ayahnya adalah sekutu musuh besar kita. Pendekar Buta!"

Mendengar seruan ini, Ouwyang Lam dan Siu Bi cepat berkelebat melakukan pengejaran di belakang Ang-Hwa Nio-Nio.

Juga para pembantu pengurus Ang-Hwa-Pai beramai-ramai ikut mengejar.

Tentu saja Ang-Hwa Nio-Nio, Ouwyang Lam dan Siu Bi yang paling cepat gerakannya sehingga para pembantu itu tertinggal jauh.

Ternyata Cui Sian memiliki Ginkang yang hebat, larinya cepat seperti kijang.

Akan tetapi karena ia tidak mengenal tempat itu, tanpa ia ketahui ia telah lari ke daerah karang.

Melihat ini, Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam tertawa dan sengaja tidak mempercepat larinya, hanya mengejar dari belakang.

Siu Bi merasa heran, akan tetapi segera ia melihat kenyataan dan mengetahui persoalannya.

Wajahnya seketika berubah pucat.

Gadis yang dikejar itu telah lari memasuki sarang ular hijau!

la bergidik dan diam-diam ia merasa tidak senang.

Boleh saja mendesak dan menyerang musuh, akan tetapi tidak secara pengecut dan menggunakan akal busuk.

Melihat di depannya batu-batu karang yang sukar dilalui, dan tiga orang pengejarnya masih terus mengejar dari belakang, Cui Sian terpaksa berhenti, membalikkan tubuh dan tersenyum mengejek.

"Kalian bertiga hendak mengeroyokku yang bertangan kosong? Bagus, memang benar gagah orang-orang Ang-Hwa-Pai! Setelah merampas pedang, kini mengeroyok."

Ouwyang Lam yang tadinya tertarik sekali akan kecantikan Cui Sian kini timbul kemarahannya.

la telah dibikin malu, dan sekarang tiba saat baginya untuk membalas.

la memang pernah dirobohkan, akan tetapi hal itu terjadi karena dia memandang rendah dan kejadian itu hanya dapat dialami secara tidak tersangka-sangka.

Sekarang mereka berhadapan dan dapat mengandalkan ilmu kepandaian mereka.

la tidak percaya bahwa dia takkan dapat menangkan seorang gadis!

Mendengar ejekan ini dia berkata.

"Nio-Nio, biarkan aku menghadapi gadis sombong ini!"

La melompat maju dan dengan nada suara mengejek pula dia menjawab Cui Sian.

"Perempuan sombong. kau kira di dunia ini tidak ada yang dapat mengalahkanmu? Kau bertangan kosong? Lihat, aku pun akan menghadapimu dengan tangan kosong, kau kira aku tidak berani? Akan tetapi kalau nanti kau tidak berlutut dan minta-minta ampun tujuh kali kepadaku, aku takkan melepaskanmu!"

Cui Sian menggigit Bibirnya saking gemas dan marahnya.

Baginya, ucapan ini pun mengandung arti yang kotor dan menghina.

Tak sudi ia banyak cakap lagi, tubuhnya segera menerjang maju dengan seruan nyaring.

"Lihat pukulan!"

Seruan begini adalah lazim dilakukan oleh Pendekar-Pendekar yang pantang menyerang orang tanpa peringatan lebih dulu, berbeda dengan sifat rendah tokoh-tokoh dunia hitam yang selalu menyerang secara sembunyi, malah mempergunakan kesempatan selagi lawan lengah untuk merobohkan lawan itu.

Ouwyang Lam cepat mengelak dan sambaran angin pukulan gadis ini cukup meyakinkan hatinya bahwa dia tidak boleh main-main menghadapinya.

Maka dia pun lalu cepat menggerakkan kaki tangan, mainkan Ilmu Silat Bintang Terbang sambil mengerahkan tenaga Ang-Tok-Ciang sehingga dari kedua tangannya itu menyambar-nyambar sinar merah karena hawa beracun Ang-Tok sudah memenuhi pukulan-pukulan itu.

Akan tetapi, Cui Sian bukanlah gadis sembarangan.

la puteri Raja Pedang dan Ketua Thai-San-Pai yang sakti, yang semenjak kecil telah menggemblengnya dengan ilmu-ilmu kesaktian.

Raja Pedang cukup mengenal ilmu-ilmu dari dunia hitam, maka pengertiannya tentang ini ia turunkan kepada puterinya semua sehingga kini, menghadapi pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun bersinar merah, Cui Sian sama sekali tidak menjadi gentar.

Kalau tadi ia dapat ditangkap, hal itu adalah karena ia tidak pandai berenang.

Sekarang, sama-sama menggunakan tangan kosong, jangan harap Ouwyang Lam akan dapat mengatasinya.

Dengan jurus-jurus Im-yang-sin-kun yang luar biasa, Cui Sian dapat menolak semua terjangan lawan, bahkan mulai mendesak dengan hebat.

Ouwyang Lam terkejut setengah mati.

Selama ia menjadi murid dan kekasih Ang-Hwa Nio-Nio dan telah mewarisi ilmu kesaktian wanita ini, belum pernah ia menemui tanding yang begini hebat selain Siu Bi.

la menjadi bingung oleh gerakan Cui Sian yang mengandung dua unsur tenaga yang berlawanan itu.

Di suatu saat, pukulan Cui Sian bersifat keras, di lain detik merupakan pukulan lunak tapi berbahaya.

Memang di sini letak kehebatan Im-yang-sin-kun, ilmu silat yang berbeda dengan ilmu silat lain.

Ilmu-ilmu yang lain hanya mempunyai satu sifat, lembek atau keras, kalau lembek mengandalkan tenaga Lweekang, kalau keras mengandalkan Gwakang.

Akan tetapi gadis cantik ini mencampur-aduk Lweekang dan Gwakang, mencampur aduk hawa Im dan Yang dalam terjangannya, pencampuradukan yang amat rapi karena memang menurut Ilmu Sakti Im-yang-sin-kun yang ia warisi dari Ayahnya.

Setelah lewat lima puluh jurus, Ouwyang Lam tidak kuat lagi.

Hendak mencabut pedangnya, dia merasa malu karena di situ terdapat Siu Bi yang ikut menonton.

Masa melawan seorang gadis, setelah dia menyombong tadi, sama-sama dengan tangan kosong dia harus mencabut pedang?

Memalukan sekali, lebih memalukan daripada kalau dia kalah dalam pertandingan ini.

la mengerahkan tenaga mengumpulkan semangat dan menerjang dengan buas.

Kini dia menggunakan jurus Bintang Terbang Terjang Bulan, tubuhnya melayang ke depan, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada dan leher.

Serangan hebat yang mematikan!

Seketika wajah Cui Sian menjadi merah.

Di samping kehebatannya, serangan ini pun tidak sopan.

la membiarkan kedua tangan lawan itu menyambar dekat, memperlihatkan sikap gugup dan bingung.

Ouwyang Lam girang sekali, akan berhasil agaknya dia kali ini.

"Awas...!!"

Ang-Hwa Nio-Nio berseru dan melompat ke depan.

Terlambat sudah, tubuh Ouwyang Lam terbanting dari samping dan pemuda ini roboh bergulingan di atas tanah berbatu yang keras!

Kiranya tadi sikap gugup dan bingung Cui Sian hanya merupakan pancingan belaka membiarkan lawan menjadi girang berbesar hati dan karenanya lemah kedudukannya.

Secepat kilat Cui Sian membuang diri ke kiri, hanya tubuh bagian atas saja yang meliuk ke kiri, sebatas lutut ke atas, namun kedua kakinya masih memasang kuda-kuda yang Kokoh kuat.

Gerakan yang amat indah.

Ketika kedua tangan Ouwyang Lam sudah menyambar lewat, Cui Sian menghantam dengan sampokan kedua lengannya dari samping, jari-jari tangannya terbuka dan kedua tangannya yang mengandung dua macam tenaga, yang kiri menghentak dengan tenaga Im sedangkan yang kanan mendorong dengan tenaga Yang.

Tak kuat Ouwyang Lam mempertahankan diri dari serangan balasan yang mendadak dan tak terduga-duga ini sehingga dia terbanting cukup hebat.

Untung baginya bahwa pada saat itu, Ang-Hwa Nio-Nio sudah melompat datang dan menerjang Cui Sian tanpa banyak cakap lagi.

Kalau tidak demikian halnya, dalam keadaan terbanting dan kepalanya masih pening tadi, dengan amat mudah Cui Sia?

akan dapat menyusul serangan berikutnya yang membahayakan keselamatannya.

Ouwyang Lam bangun dengan muka merah.

Hatinya panas mendongkol, apalagi ketika dia menoleh ke arah Siu Bi dilihatnya gadis itu memandang ke arah Cui Sian dengan sinar mata penuh kekaguman.

la merasa malu di depan Siu Bi.

Terang bahwa dalam pertandingan tangan kosong tadi, dia kalah oleh gadis lihai puteri Raja Pedang ini.

Dalam marahnya, ingin dia mencabut Pedang dan menyerang lagi bekas lawannya, biarpun Cui Sian pada saat itu sedang bertanding melawan Ang-Hwa Nio-Nio dengan hebatnya.

Akan tetapi kehadiran Siu Bi di situ membuat Ouwyang Lam terpaksa menahan sabar dan tidak ada muka untuk melakukan pengeroyokan.

Sementara itu, pertandingan antara Cui Sian dan Ang-Hwa Nio-Nio sudah berlangsung dengan hebatnya.

Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ouwyang Lam, tentu saja Ang-Hwa Nio-Nio jauh lebih tinggi.

Cui Sian maklum dan merasai hal ini, namun gadis perkasa ini mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan ilmu kesaktian Im-yang-sin-kun sehingga biarpun ia tidak mampu melakukan desakan macam tadi terhadap Ketua Ang-Hwa-Pai ini, namun pertahanannya Kokoh kuat laksana benteng baja.

Seperti juga Ouwyang Lam, Ketua Ang-Hwa-Pai ini merasa malu untuk mempergunakan senjatanya, bukan malu terhadap lawan, melainkan tak enak hati terhadap Siu Bi yang dianggap sebagai tamu dan orang luar.

Kalau tidak ada Siu Bi di situ, sudah tentu Cui Sian sejak tadi dikeroyok dan tak mungkin gadis perkasa itu dapat menyelamatkan dirinya.

Di samping ini, juga Ang-Hwa Nio-Nio merasa penasaran sekali.

Ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang tinggi, malah ia sudah mematangkan kepandaiannya sehingga ia berpendapat bahwa tingkatnya sekarang tidak berbeda jauh dengan tingkat musuh besarnya, Pendekar Buta.

Akan tetapi mengapa menghadapi seorang gadis muda saja ia tidak mampu mendesaknya?

Memang ia telah tahu akan kesaktian Raja Pedang, Akan tetapi puterinya ini baru dua puluh usianya betapapun juga baru berlatih belasan tahun, bagaimana dapat menahan dia yang telah melatih diri puluhan tahun?

Inilah yang membuat hatinya penasaran dan ia menguras semua ilmunya untuk memecahkan pertahanan Cui Sian.

Namun, Im-yang-sin-kun adalah ilmu yang bersumber kepada Im-yang-bu tek-cin-keng, merupakan Rajanya ilmu silat dan telah mencakup inti sari dari semua gerakan silat.

Ilmu silat yang dimiliki Pendekar Buta sendiri pun bersumber pada ilmu silat ini, demikian pula ilmu-ilmu silat dari semua partai bersih.

Andaikata masa latihan Cui Sian sedemikian lamanya seperti Ang-Hwa Nio-Nio, jangan harap Ketua Ang-Hwa-Pai itu akan dapat menang.

Sekarang pun, karena kalah matang dalam latihan, biar tak dapat mendesak lawan, namun Cui Sian masih dapat mempertahankan diri dengan baik.

Memang kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga karena terus-menerus mempertahankan diri tanpa mampu membalas, akan tetapi akan memakan waktu lama sekali.

Siu Bi menonton pertempuran Itu dengan hati tegang.

Matanya yang sudah terlatih akan ilmu-ilmu silat tinggi dapat membedakan sifat kepandaian dua orang yang sedang bertanding itu.

Terjangan-terjangan Ang-Hwa Nio-Nio bersifat ganas dan kasar, didorong oleh hawa pukulan bersinar merah yang menyelubungi seluruh tubuh berpakaian merah itu.

Sebaliknya, Cui Sian bersilat dengan gerakan yang sifatnya tenang dan Kokoh kuat, indah dalam setiap gerakan dan hawa pukulan dari kedua tangannya mengandung sinar jernih tak berwarna namun cukup kuat sehingga menolak bayangan sinar merah lawan.

Saking tegang dan memandang penuh perhatian, Siu Bi tidak melihat lagi kepada Ouwyang Lam.

Pemuda ini diam-diam mengeluarkan sebungkus bubuk berwarna putih, menyebarkannya di sekeliling tempat mereka, kemudian memberi tanda kepada para anak buah Ang-Hwa-Pai.

Tak lama kemudian terdengarlah suara melengking tinggi seperti suling, tiada putus-putusnya datang dari empat penjuru.

Beberapa menit kemudian, Siu Bi mengeluarkan seruan kaget.

Beratus ekor ular mendesis-desis dan bergerak cepat dari semua jurusan, menuju ke pertempuran itu.

Seekor ular hijau yang besar dan panjang, paling cepat sampai di situ dan serta merta binatang ini mengangkat kepala dan meloncat dengan mulut terbuka ke arah Cui Sian!

Gadis sakti ini pun sudah melihat adanya ular-ular hijau yang (Lanjut ke

Jilid 09) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 datang menyerbu, maka begitu mendengar desis keras dari arah kiri, cepat ia melangkah mundur dan tangan kirinya dengan jarit, terbuka menyabet miring, tepat mengenai"

Leher ular.

"Trakkk!!"

Ular sebesar pangkal lengan itu terpukul keras sehingga terlepas sambungan tulangnya, tak berdaya lagi, terbanting dan hanya ekornya saja yang masih menggeliat-geliat, kepalanya tak dapat digerakkan lagi!

Akan tetapi, Cui Sian harus menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan karena pada saat ia menghadapi penyerangan ular tadi, Ang-Hwa Nio-Nio sudah melakukan serangan hebat sekali yang amat berbahaya.

Segulung sinar merah menerjang ke arah dada dan lehernya, dan ternyata Ang-Hwa Nio-Nio sudah mencabut pedangnya dan menyerangnya pada saat gadis itu tidak kuat kedudukannya.

Hanya dengan cara membuang diri ke belakang dan bergulingan inilah Cui Sian dapat menyelamatkan diri.

la cepat melompat bangun dan wajahnya merah sepasang matanya berapi-api saking marahnya.

Biarpun lawan sudah memegang Pedang dan di sekelilingnya sudah berkumpul ular-ular hijau, namun dara perkasa ini sama sekali tidak menjadi gentar!

la maklum bahwa tak mungkin melarikan diri setelah ular-ular itu mendatangi dari segala jurusan, jalan lari selain terhalang ular-ular berbisa dan gunung-gunungan batu karang, juga di bagian lain berdiri Ang-Hwa Nio-Nio dap anak buahnya yang amat banyak.

Cui Sian maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, dan besar kemungkinan ia akan tewas di sini, namun ia mengambil keputusan untuk melawan dengan nekat dan sampai titik darah terakhir, tewas sebagaimana layaknya puteri Pendekar besar dan Ketua Thai-San-Pai!

"Ang-Hwa-Pai tak tahu malu!

Mengandalkan pengeroyokan dan bantuan ular-ular berbisa!

Ang-Hwa Nio-Nio, majulah, jangan kira aku takut menghadapi kecuranganmu!"

Ang-Hwa Nio-Nio merasa penasaran, malu dan marah sekali.

Memang amat memalukan kalau ia tidak mampu mengalahkan gadis ini, gadis muda tak bersenjata, dan ia masih dibantu ular-ularnya.

Benar-benar sekali ini kalau ia tidak mampu membunuh Cui Sian, akan rusak nama besarnya.

"Iblis cilik, siaplah untuk mampus!""

"Nanti dulu, Nio-Nio!"

Tiba-tiba Siu Bi berseru dan melompat ke depan. Ang-Hwa Nio-Nio kaget dan heran, lebih-lebih herannya ketika Siu Bi berkata lantang.

"Aku tidak suka melihat ini! Aku pun benci dia karena dia adalah sahabat baik Pendekar Buta musuh besarku, akan tetapi aku tidak suka melihat pertandingan yang berat sebelah ini. Ang-Hwa Nio-Nio, karena aku dan kau bersahabat, aku tidak mau sahabatku melakukan hal yang tidak pantas. Dia ini boleh saja dibunuh, tapi sedikitnya harus memberi kesempatan melawan, itulah haknya. Ayah... Ayahku selain menekankan bahwa dalam keadaan bagaimanapun juga, aku harus bersikap gagah dan sama sekali tidak boleh curang. Heee, Cui Sian, ini pedangmu, kukembalikan. Sebelum mampus, kau boleh melawan dan jangan bilang bahwa aku menyernbunyikan pedangmu. Tapi berjanjilah, kalau nanti kau sudah mati, relakan pedangmu ini menjadi milikku!"

Sambil berkata demikian Siu Bi melemparkan Liong-Cu-Kiam kepada Cui Sian.

Sejenak Cui Sian tertegun sambil memegangi Liong-Cu-Kiam di tangannya.

Tentu saja hatinya menjadi sebesar Gunung Thai-San sendiri setelah Pedang pusakanya kembali di tangannya.

Akan tetapi dia menjadi terheran-heran melihat sikap dan mendengar kata-kata gadis cilik itu.

Tahulah dia bahwa gadis cilik itu sama sekali bukan anak buah Ang-Hwa-Pai!

Seorang tamu agaknya, dan tentu gadis cilik yang juga lihai itu anak seorang tokoh hitam pula.

la tersenyum dan menatap mesra ke arah Siu Bi.

"Adik manis, kau adalah batu kumala terbenam lumpur, biar sekelilingmu kotor kau tetap cemerlang! Tentu saja, aku berjanji, rohku akan rela kalau setelah aku mati, Pedang ini menjadi milikmu. Tapi sayangnya, aku takkan mati, Adik manis. Dan kelak akan tiba saatnya aku membalas kebaikanmu ini!"

Sementara itu, Ang-Hwa Nio-Nio marah sekali.

"Siu Bi, kau... kau lancang dan tolol!"

Setelah berkata demikian Ketua Ang-Hwa-Pai ini menerjang dengan pedangnya.

Sinar merah berkelebat ketika pedangnya, Pedang pusaka ampuh yang sudah direndam racun kembang merah dan diberi nama sesuai pula, yaitu Ang-hwa-kiam, digerakkan menusuk ke depan.

Pada saat yang sama, empat ekor ular juga sudah menerjang dari belakang, menggigit ke arah kaki Cui Sian.

Akan tetapi, setelah kini Liong-Cu-Kiam berada di tangannya, Cui Sian seakan-akan menjadi seekor harimau betina yang tumbuh sayap.

Sinar putih berkilat-kilat menyilaukan mata ketika Liong-Cu-Kiam di tangannya beraksi.

Pedang pusaka ampuh ini sudah menangkis Ang-hwa-kiam dan tenaga benturan itu ia manfaatkan dengan cara mengayun Pedang ke belakang sambil mengubah kedudukan kaki dari kuda-kuda melintang menjadi kuda-kuda membujur.

Tenaga benturan membuat Liong-Cu-Kiam bergerak cepat mengeluarkan suara.

"Cring!"

Dan... empat ekor ular yang menyerang dari belakang tubuhnya itu telah terbabat buntung menjadi delapan potong! "Hebat...!"

Siu Bi terbengong-bengong kagum tiada habisnya.

Indah sekali gerakan itu dan ia maklum bahwa dengan Pedang pusaka di tangannya, Cui Sian benar-benar merupakan lawan berat dan ia sendiri masih sangsi apakah ia dengan Cui-Beng Kiam akan dapat mengimbangi kesaktian nona cantik langsing ini.

"Kenapa kau membantunya...?"

Siu Bi menengok dan alisnya berkerut melihat bahwa yang mengeluarkan pertanyaan dengan suara ketus itu bukan lain adalah Ouwyang Lam.

Pemuda itu berdiri dengan Pedang terhunus, sikapnya mengancam, Siu Bi mengedikkan kepalanya.

"Siapa membantunya? Aku tidak sudi membantu sahabat baik musuh besarku, akan tetapi aku pun tidak sudi membantu kecurangan, biarpun yang curang adalah teman sendiri. Kau mau apa?"

"Mari kita keroyok dia. Dia lihai sekali dan kalau sampai dia terlepas, tentu hanya akan menimbulkan kesulitan di belakang hari."

"Kau mau keroyok, terserah. Twako, apakah kau tidak malu? Lihat, Ketua Ang-Hwa-Pai sudah melawannya dengan bantuan ular-ular mengerikan itu. Hal itu saja sudah tidak adil, masa kau mau ajak aku mengeroyok lagi? Aku tidak sudi mengambil kemenangan secara rendah begitu!"

"Tapi, Moi-moi, dia itu musuh kita. Ayahnya adalah Ketua Thai-San-Pai, bukan saja sahabat baik Pendekar Buta, malah masih terhitung Gurunya!"

"Ahhh..."

Ouwyang Lam mengira bahwa seruan ini menyatakan perubahan di hati Siu Bi.

Akan tetapi sebetulnya bukan demikian, Siu Bi terkejut memang, akan tetapi la terkejut karena teringat bahwa gadis itu saja sudah begitu lihai, apalagi Pendekar Buta!

"Lihat, Moi-moi, dia begitu lihai.

Kalau kita tidak turun tangan, bisa berbahaya!"

Setelah berkata demikian, Ouwyang Lam dengan Pedang terhunus lalu menerjang ke medan pertempuran.

Ia telah menyebar bubuk anti ular pada sepatu dan celananya sehingga seperti halnya Ang-Hwa Nio-Nio, dia takkan diganggu lagi oleh ular-ular itu.

Memang Cui Sian hebat sekali setelah Liong-Cu-Kiam berada di tangannya.

Boleh jadi dalam hal keuletan, pengalaman, dan keahlian, ia masih belum dapat menandingi Ang-Hwa Nio-Nio.

Akan tetapi biarpun belum matang betul karena usianya masih muda, namun ilmu Pedang yang ia mainkan adalah Raja sekalian ilmu Pedang yaitu Im-Yang Sin-Kiam.

Ilmu Pedang inilah yang dahulu membuat Ayahnya, Si Raja Pedang Tan Beng San, menjagoi di dunia persilatan dan membuat Raja Pedang itu berhasil mengalahkan semua lawannya yang sakti (baca cerita Raja Pedang).

Kini, dengan ilmu Pedang sakti itu, ditambah lagi dengan Pedang pusaka Liong-Cu-Kiam yang amat ampuh di tangannya, Cui Sian benar-benar merupakan seorang lawan yang sukar dikalahkan.

Betapapun juga, keroyokan ular-ular itu membuat Cui Sian repot.

Menghadapi Ang-Hwa Nio-Nio saja ia sudah mengerahkan seluruh perhatiannya karena memang wanita itu amat ganas dan berbahaya, apalagi sekarang dibantu oleh Ouwyang Lam yang tidak rendah kepandaiannya.

Maka sambaran ular-ular dari belakang dan kanan kiri, benar-benar membuat ia sibuk sekali dan ngeri.

la maklum bahwa sekali saja tergigit ular hijau, nyawanya takkan tertolong lagi.

Sudah puluhan ekor ular terbabat mati oleh pedangnya, dan bangkai ular itu bertumpuk dan berserakan di sekelilingnya, menyiarkan bau yang amis dan memuakkan, bau yang mengandung racun pula.

Cui Sian terkejut dan berusaha sedapat mungkin untuk menahan nafas mengerahkan Sinkang melawan bau yang memuakkan itu.

Akan tetapi karena di lain pihak ia diserang hebat oleh Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam dan diancam pula semburan ular-ular beracun, berkali-kali perhatiannya terpecah dan tanpa sengaja ia menyedot dan terserang bau amis itu.

Kepalanya mulai pening, pandang matanya berputaran.

Pedangnya masih ia gerakkan dengan cepat, diputar-putar melindungi tubuhnya, akan tetapi karena matanya makin lama makin gelap, akhirnya ia terkena tusukan ujung Pedang Ouwyang Lam yang melukai pundaknya.

Dengan hati merasa muak Siu Bi memandang dan hatinya merasa ngeri juga karena sebentar lagi ia akan menyaksikan gadis perkasa itu roboh mandi darah dan dikeroyok ular-ular hijau.

Untuk menolong, ia tidak sudi karena bukankah gadis perkasa itu masih sahabat bahkan saudara seperguruan dengan musuh besarnya?

la harus membenci gadis itu, biarpun perasaan hatinya tak memungkinkannya menaruh rasa itu, bahkan ada rasa kagum di lubuk hatinya.

Namun, ia harus membenci semua yang "Berbau"

Pendekar Buta!

Betapapun juga, rasa bencinya yang dipaksakan ini tidak melebihi rasa tidak senangnya kepada Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam yang dianggapnya berjiwa pengecut dan curang, sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat gagah sedikit pun juga.

"Tranggg!! Tranggg!!"

Bunga api berpijar dan Ang-Hwa Nio-Nio, juga Ouwyang Lam, melompat ke belakang, kaget sekali karena Pedang mereka tersambar sinar hitam, telapak tangan mereka menjadi sakit dan hampir mereka terpaksa melepaskan pedang.

Sinar hitam masih berkelebatan dan matilah ular-ular yang berada di sekeliling Cui Sian dalam jarak dua meter!

Siu Bi melompat kaget ketika melihat laki-laki yang memegang Pedang bersinar hitam itu.

Itulah pedangnya dan laki-laki itu bukan lain adalah Yo Wan!

"Kau...?!?"

Serunya, kaget dan heran.

Yo Wan cepat merangkul pundak Cui Sian yang terhuyung dan tak ingat diri dengan Liong-Cu-Kiam masih tergenggam erat-erat.

Kemudian Yo Wan menoleh ke arah Siu Bi, tersenyum getir dan melemparkan Cui-Beng Kiam.

"Nona, ini pedangmu kukembalikan. Terimalah!"

Pedang itu melayang dengan gagang di depan ke arah Siu Bi yang menangkapnya dengan mudah.

Mata gadis ini terbelalak memandang.

Entah bagaimana ia sendiri tidak tahu, melihat Yo Wan memondong tubuh Cui Sian yang pingsan itu dan melangkah pergi dengan cepat, hatinya menjadi panas dan marah!

Sementara itu, Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam sejenak tercengang.

Heran mereka mengapa hari ini, setelah Siu Bi muncul pula orang-orang muda yang amat lihai, padahal orang-orang muda ini sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw.

Namun, melihat betapa pemuda sederhana berpakaian putih itu memondong tubuh Cui Sian yang pingsan, Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam menjadi marah.

Sambil berseru keras Ang-Hwa Nio-Nio melompat diikuti oleh Ouwyang Lam.

"Jahanam, jangan harap dapat keluar dari Ching-Coa-To dalam keadaan bernyawa!"

Seru Ang-Hwa Nio-Nio.

Tangannya bergerak dan sinar kemerahan meluncur ke arah punggung Yo Wan.

Itulah Ang-Tok-Ciam (Jarum Racun Merah) yang ampuh serta jahatnya tidak kalah dengan Ching-Tok-Ciam (Jarum Racun Hijau) yang dahulu dimiliki oleh majikan Pulau itu.

Kedua-duanya memang merupakan senjata rahasia yang ampuh dan sekali menyentuh kulit dan menimbulkan luka, korban itu takkan tertolong lagi nyawanya.

Akan tetapi, tentu saja Ang-Hwa Nio-Nio lebih lihai dalam penggunaan senjata halus ini karena memang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada mendiang Ching-Toanio, maka pelepasan jarum-jarum itu amat berbahaya.

Bagi si penyambit dan orang lain, agaknya jarum-jarum yang sudah berubah menjadi segulung sinar merah itu pasti akan mengenai punggung Yo Wan yang lari memondong tubuh Cui Sian.

Akan tetapi, aneh bin ajaib akan tetapi nyata terjadi, pemuda itu masih berlari-lari dan jarum-jarum itu melayang ke depan, hilang di antara pepohonan, sama sekali tidak menyentuh baju Yo Wan!

Hal ini sebetulnya tidaklah mengherankan oleh karena dalam larinya, Yo Wan yang selalu berhati-hati, apalagi maklum bahwa dia dikejar orang-orang pandai, telah menggunakan, langkah ajaib Si-Cap-It Sin-Po.

Tentu saja dengan langkah-langkah ajaib ini, apalagi ditambah pendengarannya yang amat tajam karena terlatih sehingga dia dapat mendengar angin sambaran senjata rahasia, dengan mudah dia dapat menghindarkan serangan gelap dari belakang.

Betapapun lihainya Yo Wan, dia adalah seorang asing di Pulau itu, sama sekali tidak mengenal jalan, hanya berlari dengan tujuan ke pantai telaga, maka dalam kejar-mengejar ini sebentar saja Ouwyang Lam dan Ang-Hwa Nio-Nio yang mengambil jalan memotong, dapat menyusulnya.

Malah dua orang ini tahu-tahu muncul di depan menghadang larinya Yo Wan!

Yo Wan mengeluh dalam hatinya.

Tadinya dia tidak ingin bertempur, apalagi dengan tubuh gadis itu dalam pondongannya.

Akan tetapi agaknya dia tidak dapat menghindarkan pertempuran kalau menghendaki selamat.

Cepat dia meraih Pedang di tangan gadis itu yang biarpun dalam keadaan pingsan masih memegang erat-erat.

Sekali renggut dia dapat merampas Pedang ini dan tepat di saat itu, Pedang Ang-Hwa Nio-Nio dan Pedang Ouwyang Lam sudah menyerangnya dengan ganas.

Yo Wan memondong tubuh Cui Sian dengan lengan kiri, tangan kanannya memutar Pedang dan sekali bergerak dia berhasil menangkis dua Pedang lawannya.

Pertempuran hebat segera terjadi dan karena tiga batang Pedang itu kesemuanya adalah pedang-pedang pusaka, maka berhamburanlah bunga api tiap kali ada Pedang beradu.

"Uuhhh..."

Cui Sian mengeluh meronta. Yo Wan yang memondongnya cepat melepaskan nona itu sambil menariknya ke belakang agar menjauh dari sinar Pedang dua orang pengeroyoknya.

"Nona, kau sudah kuat betul?"

Cui Sian adalah seorang gadis yang sudah digembleng oleh Ayah Bundanya sejak kecil.

Sinkang di tubuhnya sudah amat kuat, maka pengaruh racun tadi tidak lama menguasai dirinya.

Sejenak ia nanar setelah siuman, akan tetapi segera teringat akan segala pengalamannya dan seketika ia maklum bahwa pemuda yang dikeroyok oleh Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam dengan menggunakan pedangnya secara aneh itu adalah penolongnya.

"Sudah, terima kasih. Tolong kau kembalikan pedangku dan biarkan aku melawan mereka yang curang ini!"

Yo Wan menggunakan tenaganya menangkis dan sekaligus menerjang ganas sehingga kedua orang lawannya terpaksa menghindar ke belakang.

Kesempatan ini dia pergunakan untuk mengembalikan Pedang Liong-Cu-Kiam kepada pemiliknya.

Cui Sian dengan hati gemas lalu memutar Pedang itu dan menerjang kedua orang lawannya.

"Nona, tidak baik mengacau tempat orang lain lebih baik lari selagi ada kesempatan,"

Kata Yo Wan sambil mencabut Pedang kayu dari balik jubahnya.

Pemuda ini sebetulnya mempunyai sebatang Pedang pusaka pula yaitu Pedang pusaka pemberian isteri Pendekar Buta.

Akan tetapi dia tidak pernah mempergunakan Pedang ini dan hanya mempergunakan Pedang kayu cendana yang dibuatnya sendiri di Pegunungan Himalaya.

Ilmu batin yang dalam dipelajarinya dari Bhewakala dan hal ini membuat hatinya dingin terhadap pertempuran dan permusuhan, maka dia tidak akan menggunakan senjata tajam untuk menyerang orang kalau keselamatannya sudah cukup dilindungi dengan Pedang kayunya.

Serangan Cui Sian yang dahsyat diterima Ouwyang Lam.

Ang-hwa Nio-mo menghadapi Yo Wan yang ia tahu malah lebih lihai daripada puteri Raja Pedang itu.

Bukan main kaget, heran, dan kagumnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa Pedang kayu di tangan pemuda itu dapat menahan senjata pusakanya, Ang-hwa-kiam!

Maklumlah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan muda yang tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, merupakan lawan yang amat berat.

Adapun Ouwyang Lam yang kini menghadapi Cui Sian sendirian saja, dalam beberapa gebrakan sudah tampak terdesak hebat.

Untung baginya, Cui Sian dapat menangkap kata-kata Yo Wan.

Gadis ini diam-diam membenarkan bahwa tiada gunanya melanjutkan pertempuran.

Biarpun ia akan dapat menangkan pemuda ini, akan tetapi tempat itu merupakan sebuah Pulau yang terkurung air, dan anak buah Ang-Hwa-Pai amat banyak.

Selain ini, Pulau itu amat berbahaya dengan ular-ularnya, juga Ang-Hwa Nio-Nio dan anak buahnya pandai mempergunakan racun-racun jahat.

Melanjutkan pertempuran berarti mengundang bahaya bagi diri sendiri.

la pribadi tidak mempunyai urusan, apalagi permusuhan dengan orang-orang ini, apa perlunya bertempur mati-matian?

"Kau benar, Sahabat, mari kita pergi!."

Katanya.

Yo Wan kagum dan girang.

Gadis ini ternyata seorang yang berpengalaman dan berpandangan jauh, alangkah bedanya dengan Siu Bi yang tindakannya sembrono.

Mereka berdua lalu melompat jauh ke belakang, lari meninggalkan gelanggang pertempuran menuju ke pantai.

Ang-Hwa Nio-Nio dan Ouwyang Lam maklum bahwa mereka berdua takkan mampu menangkan dua orang itu, maka mereka tidak mengejar.

Ang-Hwa Nio-Nio dengan muka keruh memberi tanda rahasia dengan suitan nyaring kepada anak buahnya menghalangi kedua orang musuh itu, dan berusaha menangkap mereka dalam air.

Akan tetapi, Yo Wan dan Cul Sian sudah melompat ke sebuah perahu kecil dan begitu mereka menggerakkan dayung di kanan kiri perahu, tak mungkin ada anak buah Ang-Hwa-Pai yang akan mampu mengejar mereka.

Perahu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa karena digerakkan oleh tangan-tangan saktl, maka gagallah harapan terakhir Ang-Hwa Nio-Nio untuk menangkap mereka dengan cara menggulingkan perahu.

Ketika kedua orang ini kembali ke tengah Pulau, ternyata Siu Bi sudah lenyap, tidak berada di situ lagi.

Ouwyang Lam kelabakan dan mencari-cari, memanggil-manggil, namun gadis yang dicarinya tidak ada, karena memang dalam keributan tadi, diam-diam Siu Bi sudah lari meninggalkan Pulau itu.

Setelah kedua orang muda pelarian itu melompat ke darat dengan selamat, barulah Cui Sian sempat berhadapan dengan Yo Wan.

Gadis ini dengan perasaan kagum lalu menjura memberi hormat yang dibalas cepat-cepat oleh Yo Wan.

"Hari ini saya, Tan Cui Sian, menerima bantuan yang amat berharga dari sahabat yang gagah perkasa. Saya amat berterima kasih dan bolehkah saya mengetahui nama dan julukan sahabat yang mulia?"

Akan tetapi orang yang ditanya membelalakkan kedua matanya, lalu menatap wajah Cui Sian penuh selidik, kadang-kadang kepala pemuda itu miring ke kanan kadang-kadang ke kiri wajahnya membayangkam keheranan dan kegirangan yang besar.

Cui Sian mengerutkan alisnya, dan kecewalah hatinya.

Apakah pemuda yang tadinya ia anggap luar biasa, gagah perkasa dan sederhana ini sebenarnya seorang laki-laki yang kurang ajar?

Kedua pipinya mulai merah, pandang matanya yang penuh kagum dan hormat mulai berapi-api.

Akan tetapi semua ini buyar seketika berubah menjadi keheranan ketika pemuda itu tertawa bergelak dengan amat gembira, lalu seperti orang gila hendak memegang tangannya sambil berseru.

"Ya Tuhan...! Benar sekali, tak salah lagi... ah, kau Cui San... eh, maksudku, kau... eh, Tan-Siocia (nona Tan). Ha... ha... ha, sungguh hal yang tak tersangka-sangka sama sekali. Serasa mimpi!"

Tentu saja, Cui Sian tidak membolehkan tangannya dipegang. la mengelak dan dengan suara ketus ia bertanya.

"Apa artinya ini? Siapa kau dan apa kehendakmu?"

"Ha... ha... ha, tidak aneh kalau Anda lupa, sudah lewat dua puluh tahun! Nona Tan, saya adalah Yo Wan!"

"Yo Wan...? Yang mana... siapa...?"

Cui Sian mengingat-ingat.

"Wah, sudah lupa benar-benar? Saya Yo Wan, masa lupa kepada Yo Wan yang dulu pernah... Ha... ha... ha, pernah menggendongmu, bermain-main di Liong-Thouw-San bersama Kakek Sin-Eng-Cu Lui Bok?"

Tiba-tiba wajah yang ayu itu berseri, matanya bersinar-sinar dan kini Cui Sian yang melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu.

"Yo Wan!! Tentu saja aku ingat...! Yo Wan, kau... kau Yo Wan? Ah, siapa duga..."

Sejenak jari-jari tangannya menggenggam tangan pemuda itu, tapi segera dilepasnya kembali dan kedua pipinya menjadi merah.

"Ah... eh, sungguh tidak sangka... siapa kira kau sendiri yang akan menolongku? Tentu saja aku tak dapat mengenalmu, kau sekarang menjadi begini... begini, gagah perkasa dan lihai. Benar-benar aku kagum sekali!"

Wajah Yo Wan juga menjadi merah karena jengah dan malu, biarpun hatinya berdebar girang dengan pujian itu.

"Kaulah yang hebat, Nona... tidak mengecewakan kau menjadi puteri Raja Pedang Tan Lo-Cianpwe Ketua Thai-San-Pai"

"Yo Wan, di antara kita tak perlu pujian-pujian kosong itu, dan apa artinya kau menyebut nona kepadaku? Namaku Cui Sian, kau tahu akan ini. Aku mendengar dari Ayah bahwa Pendekar Buta hanya mempunyai seorang murid yaitu engkau, akan tetapi mengapa gerakan pedangmu tadi... serasa asing bagiku?"

Yo Wan menarik nafas panjang.

"Memang sebetulnyalah, aku murid Suhu Kwa Kun Hong, akan tetapi... aneh memang, aku menerima pelajaran ilmu dari orang lain, yaitu dari mendiang Sin-Eng-Cu Lo-Cianpwe dan mendiang Bhewakala Lo-Cianpwe."

Sejenak kedua orang muda ini berdiri saling pandang.

Yo Wan kagum, sama sekall tidak mengira bahwa bocah perempuan yang dahulu itu, yang sering digodanya akan tetapi juga sering dia ajak bermain-main di Pegunungan Liong-Thouw-San, dia carikan kembang atau dia tangkapkan kupu-kupu, pernah ketika jatuh dia gendong di belakang, bocah yang dulu itu sekarang telah menjadi seorang gadis yang begini hebat.

Berkepandaian tinggi, berpandangan luas, bersikap gagah perkasa, wajahnya cantik sekali, bentuk tubuhnya langsing dan luwes.

Pendeknya, seorang dara yang hebat.

Cui Sian segera menundukkan muka.

Kedua pipinya makin merah, jantungnya berdegupan secara aneh.

Mengapa dadanya bergelora, jalan darahnya berdenyar dan kepalanya menjadi pening?

Mengapa ia yang tadinya berani menghadapi siapapun juga dengan hati terbuka, tabah dan tidak pemalu, sekarang tiba-tiba merasa amat canggung dan malu kepada pemuda ini, yang sama sekali bukanlah seorang asing baginya?

Benar-benar ia merasa bingung dan tidak mengerti.

Belum pernah Cui Sian merasakan hal seperti ini.

Biasanya ia amat pandai membawa diri, pandai bicara dan tidak canggung biarpun berhadapan dengan siapapun juga.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 7

Baca Juga: Istana Pulau Es 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert