Ceritasilat Novel Online

Jaka Lola 2

Eps 2 Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi sunyi di situ, tidak ada bayangan orang.

la menduga bahwa orang yang menyambitnya tadi tentu sudah melarikan diri.

Kembaii dia memasuki kandang kosong, akan tetapi kali ini dia tidak dapat tidur pulas.

Agaknya yang datang itu adalah dua orang Sin-Tung Kai-Pang tadi, atau boleh jadi teman temannya.

Mereka itu datang menyerangnya dengan benda yang dapat membakar tiang dan rumput, ataukah memang sengaja hendak membakar kandang?

Tapi mendengar ucapan lirih tadi, agaknya mereka ingin pula melihat apakah bena-benar seorang tukang kuda.

Benar-benar aneh.

Apa artinya ini semua?

Pada keesokannya, pagi-pagi sekali serombongan orang yang semua berpakaian tambalan mendaki puncak Hoa-San.

Yang berjalan di depan sendiri adalah seorang Kakek berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit saja tanpa daging sedikit pun, namun tubuh itu masih tegak berdiri kaku seperti prajurit bersikap di depan komandannya.

la memegang sebatang tongkat yang aneh.

Tongkat ini entah terbuat dari bahan apa, tidak dapat dikenal begitu saja, tapi warnanya aneka macam, belang-bonteng ada warna hijau, merah, kuning, hitam dan putih.

Lebih hebat lagi sepatunya, karena sepatu ini pun terbuat dari kulit mengkilap yang warnanya juga macam-macam.

Dilihat begitu saja dia lebih pantas menjadi seorang pemain lawak di atas panggung wayang.

Akan tetapi, jangan dikira bahwa dia itu orang gila atau seorang biasa saja, karena Kakek ini adalah Sin-Tung-Kai Pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti) yang amat terkenal sebagai Raja Pengemis.

Permainan tongkatnya hebat dan ditakuti orang.

Memang Ketua Pengemis ini pandai sekali main tongkat dan dia menerima kepandaian ini dari dua orang Hwesio pelarian dari Siauw-Lim-Si yang terkenal dengan nama julukan Hek-tung Hwesio dan Pek-tung Hwesio, Si Hwesio Tongkat Hitam dan Hwesio Tongkat Putih.

Di kanan kirinya berjalan dua orang Pengemis tua, lima puluh lebih usianya, yang seorang membawa sebatang Pedang tergantung di pinggang, yang kedua memegang sebatang Toya panjang.

Kedua orang Pengemis ini memakai sepatu yang berwarna, akan tetapi warnanya tidak sebanyak pada sepatu Pangcu itu.

Ini menjadi tanda bahwa mereka itu setingkat lebih rendah daripada Pangcu mereka.

Mereka adalah kedua orang pembantu Ketua itu, dan merupakan orang kedua dan ketiga dalam Sin-Tung Kai-Pang.

Di belakang tiga orang tokoh Sin-Tung Kai-Pang ini, berbarislah murid-murid mereka bertiga yang jumlahnya lima belas orang, di antara mereka ini tampak dua orang yang kemarin ribut-ribut dengan Yo Wan.

Melihat cara mereka mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi.

Memang sesungguhnya, delapan belas orang Pengemis yang dengan muka marah mendaki puncak Hoa-San ini merupakan orang-orang terpenting dalam Sin-Tung Kai-Pang!

Para Tosu yang bekerja di luar dan menjaga pintu, segera mengenal mereka dan tergesa-gesa para Tosu yang melihat datangnya rombongan ini menyampaikan laporan ke dalam.

Kaget dan heran juga Kui-San-Jin, Ketua Hoa-San-Pai ketika mendengar laporan ini.

Cepat dia keluar menyambut dan berturut-turut keluar pula isterinya, Suhengnya yaitu Thian Beng Tosu, malah Kwa Kun Hong bersama isterinya, Kwi Hui Kauw, dan puteranya, Kwa Swan Bu, juga keluar untuk melihat apa kehendak rombongan Pengemis itu.

Ketua Hoa-San-Pai, Kui-San-Jin, diam-diam merasa tidak enak hatinya.

Memang ada sesuatu antara Hoa-San-Pai dan Sin-Tung Kai-Pang yang menjadi ganjalan hati.

Dimulai dengan bentrokan kecil antara seorang anak murid Hoa-San-Pai yang pergi ke kota dengan seorang anggota Sin-Tung Kai-Pang.

Seorang Pengemis yang sombong dan memandang rendah Hoa-San-Pai telah bentrok dengan seorang anggota Hoa-San-Pai yang berwatak keras.

Si Pengemis dipukul roboh, datang banyak Pengemis yang mengeroyok sehingga anak murid Hoa-San-Pai itu terluka dan lari.

"Akan tetapi urusan ini sudah diselesaikan oleh Suhengnya, Thian Beng Tosu sehingga tidak menjalar lagi menjadi permusuhan antara kedua pihak. Betapapun juga, diam-diam kedua pihak menaruh ganjalan hati. Kini Ketua Sin-Tung Kai-Pang beserta rombongan, pagi-pagi mendaki puncak Hoa-San, ada keperluan apakah?"

Karena mendengar bahwa yang memimpin rombongan adalah Ketuanya sendiri, maka Kui-San-Jin sendiri menyambut ke luar, khawatir kalau anak murid yang menyambut, akan terjadi bentrokan yang lebih besar.

Sengaja dia menyambut di luar tembok, sesuai dengan keadaan tamu yang bukan merupakan sahabat.

Ketika melihat rombongan Tuan rumah ke luar dari pintu gerbang.

Sin-Tung-Kai Pangcu memberi tanda kepada rombongannya untuk berhenti.

la melihat dua orang Kakek yang berpakaian Pendeta, seorang wanita tua yang masih cantik, seorang laki-laki muda yang buta di samping seorang wanita jelita, dan seorang anak laki-laki yang tampan dan membawa gendewa.

Di belakang rombongan ini tampak beberapa orang Tosu yang mengikuti dari jauh, agaknya bukan anggota-anggota rombongan penyambut.

Ketua Pengemis yang sebutannya Sin-Tung Lo-Kai (Pengemis Tua Tongkat Sakti) berdiri memandang dengan sikap galak dan angkuh.

la sama sekali tidak gentar biarpun dengan sudut matanya dia lihat betapa puluhan orang Tosu kelihatan keluar pula seperti rayap.

Malah dia berdiri tegak saja, sama sekali tidak menghormat Tuan rumah sebagai layaknya tamu.

Melihat sikap seperti ini, Kui-San-Jin hanya tersenyum-senyum sabar dan begitu sampai di depan rombongan tamu, dia mengangkat tangan ke depan dada sebagai penghormatan.

Juga Suhengnya, Thian Beng Tosu, mengangkat kedua tangan memberi hormat.

Namun Sin-Tung Lo-Kai sama sekali tidak membalas penghormatan ini, malah langsung bertanya, suaranya kaku.

"Yang manakah Ketua Hoa-San-Pai?"

Para Tosu anak buah Hoa-San-Pai marah sekali mendengar pertanyaan yang memandang rendah ini, namun rombongan pemimpin Hoa-San-Pai itu tersenyum sabar.

Hoa-San-Pai adalah sebuah partai besar, patut mempunyai pimpinan yang bijaksana dan memiliki kesabaran tinggi, sikap orang-orang besar.

Kui-San-Jin melangkah maju dan menjawab.

"Sayalah yang mendapat kehormatan menjadi Ketua Hoa-San-Pai. Kalau saya tidak keliru sangka, sahabat ini tentu Ketua dari Sin-Tung Kai-Pang, bukan?"

Sin-Tung Lo-Kai tidak segera menjawab, melainkan menatap Tuan rumah penuh selidik...

Seorang Kakek kurang lebih enam puluh tahun, pakaiannya sederhana seperti pertapa, sikapnya lemah-lembut dan tidak kelihatan sesuatu yang aneh pada dirinya.

Biarpun demikian Sin-Tung Lo-Kai tidak berani memandang rendah karena dia sudah mendengar akan kebesaran Hoa-San-Pai.

"Bagus! Ketua Hoa-San-Pai, kami sengaja datang mengunjungimu dengan maksud hendak minta penjelasan mengapa Hoa-San-Pai amat menghina Sin-Tung Kai-Pang? Apakah Hoa-San-Pai merasa sebagai perkumpulan yang paling besar sehingga boleh malang-melintang dan melakukan penghinaan sesuka hatinya kepada perkumpulan lain?"

Kui-San-Jin mengerutkan alisnya, bertukar pandang dengan Thian Beng Tosu, lalu menjawab.

"Sin-Tung-Kai Pangcu, saya harap kau suka bicara yang jelas, karena sesungguhnya kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan dengan penghinaan itu. Memang harus kami akui bahwa telah terjadi bentrokan karena salah paham antara beberapa anak muridmu dengan anak murid kami, akan tetapi hal itu sudah diselesaikan dan didamaikan, malah oleh Suhengku ini, Thian Beng Tosu sendiri. Kami anggap urusan kecil antara anak murid yang masih berdarah panas itu sudah selesai. Mengapa kau sekarang datang menyatakan bahwa kami melakukan penghinaan? Penghinaan yang mana harap kau jelaskan."

"Hemmm, bagus sekali! Hoa-San-Pai kabarnya adalah perkumpulan yang besar dan berpengaruh, kiranya Ketuanya tidak tahu apa yang terjadi di depan matanya sendiri! Pangcu (Ketua), karena ingin memperbaiki hubungan antara perkumpulan kita yang pernah retak oleh perbuatan anak-anak murid kita, aku sengaja mengutus dua orang anak muridku kemarin pagi untuk naik ke Hoa-San-Pai dan menyampaikan undangan penghormatan dari Sin-Tung Kai-Pang kepadamu."

"Akan tetapi, kami tidak pernah menerimanya, Pangcu,"

Jawab Kui-San-Jin.

"Hemmm, tentu saja tidak pernah menerimanya!"

Sin-Tung-Kai Pangcu berkata sambil membanting ujung tongkatnya sampai menancap ke atas tanah berbatu di depan kakinya.

"Di tengah jalan, dua orang utusanku itu diserang oleh tukang kuda Hoa-San-Pai, malah dua ekor kuda tunggangan mereka pun dirampas!"

Semua orang menjadi kaget sekali mendengar ini.

"Ah, mana bisa terjadi hal itu?"

Kui-San-Jin berseru, tidak percaya. Tak mungkin anak muridnya ada yang berani melakukan perbuatan seperti itu. Merampas kuda? Tidak bisa jadi! "Hemmm, tentu saja tidak percaya!"

Sin-Tung Lo-Kai mendengus, lalu melambaikan tangan kepada dua orang anak buahnya.

"Ceritakan kepada mereka!,"

Perintahnya. Dua orang Pengemis melangkah maju dan berdiri membungkuk. Seorang di antara mereka yang berkumis panjang lalu bercerita, sedangkan temannya yang berambut putih hanya menundukkan muka.

"Kami berdua sedang menunggang kuda mendaki kaki gunung ketika tiba-tiba seorang pemuda melepaskan kuda yang hampir menubruk kami. Karena kaget dan untuk menyelamatkan diri dari tubrukan, terpaksa saya menggerakkan kaki menendang kuda yang menubruk kami itu. Kuda itu mati. Tukang kuda Hoa-San-Pai itu marah-marah, biarpun kami sudah berjanji hendak membicarakan hal itu dengan Ketua Hoa-San-Pai, karena kami adalah utusan dari Sin-Tung Kai-Pang untuk menyampaikan undangan. Akan tetapi orang muda itu tetap tidak mau melepaskan kami, malah segera menyerang kami dan merampas dua ekor kuda tunggangan kami. Terpaksa kami kembali turun gunung dan melapor kepada Ketua kami."

Setelah berkata demikian, dua orang Pengemis ini cepat-cepat mengundurkan diri lagi ke belakang Ketua mereka, karena mereka merasa malu sekali harus bercerita bahwa mereka kalah oleh seorang kacung kuda Hoa-San-Pai.

Kui-San-Jin tertegun.

Cerita ini benar-benar tidak masuk akal.

Dua orang Pengemis tadi dia lihat memiliki gerakan-gerakan yang tangkas dan kuat, dan sudah dapat menendang seekor kuda sekali saja mati cukup membuktikan kepandaiannya.

Masa mereka berdua kalah oleh tukang kuda Hoa-San-Pai?

Padahal tukang kuda Hoa-San-Pai yang sudah tua telah meninggal dunia dan selama belum mendapatkan tukang kuda baru, pekerjaan merawat kuda dilakukan oleh seorang Tosu, kalau tidak salah Can Tosu yang gendut dan yang dia tahu kepandaiannya rendah sekali.

Kui-San-Jin menoleh ke belakang, mencari-cari dengan pandang matanya, mencari Can-tojin, sedangkan mulutnya berkata.

"Kami tidak mempunyai kacung kuda yang masih muda..."

Ketua Sin-Tung Kai-Pang mengeluarkan suara ketawa mengejek.

Pada saat itu dua orang Tosu maju dan berlutut di depan Kui-San-Jin.

Itulah dua orang Tosu yang kemarin bersama Kwa Swan Bu menyerahkan kuda mereka kepada Yo Wan.

"Mohon ampun sebesarnya kepada Suhu,"

Kata seorang di antara mereka.

"Sesungguhnya Teecu berdua yang telah menerima kacung itu. Kemarin pagi ketika Teecu berdua mengantar Swan Bu berlatih panah dan sampai di kaki gunung, Teecu melihat seorang pemuda yang keadaannya miskin dan seperti kelaparan. Tadinya Teecu kira dia itu tukang kuda baru yang dijanjikan oleh Lurah dusun, akan tetapi ternyata bukan dan dia menyatakan suka bekerja membantu kita. Karena Teecu kasihan kepadanya, maka Teecu lalu menerimanya sebagai tukang kuda, dan Teecu baru akan melaporkan hari ini kepada Suhu. Siapa duga bocah itu menimbulkan onar. Mohon ampun sebesarnya, Suhu."

Kui-San-Jin kaget mendengar ini. Akan tetapi sebelum dia bicara, Swan Bu sudah melangkah maju dan dengan suara lantang berkata kepadanya.

"Supek, benar kata kedua muridmu ini. Memang tadinya sudah kucurigai dia."

La lalu menoleh ke arah Kakek Pengemis dan berkata, suaranya tetap lantang.

"Hai, Pangcu dari Sin-Tung Kai-Pang! Kau dengar sendiri, tukang kuda itu bukanlah anak murid Hoa-San-Pai dan Ketua kami tidak tahumenahu tentang keributan itu. Namun, kami dapat memberi hajaran kepada pengacau itu, jangan kau merembet-rembet nama Hoa-San-Pai." (Lanjut ke

Jilid 04) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Swan Bu, diam kau..."

Kwa Kun Hong membentak dan seketika Swan Bu diam.

Akan tetapi tiba-tiba bocah ini meloncat ke depan, tangan kiri meraih anak panah, dipasangnya pada gendewanya dan menjepretlah tali gendewa dan anak panahnyameluncur ke kiri.

Yo Wan sejak tadi sudah mendengarkan semua pembicaraan itu.

Pagi-pagi tadi dia sudah pergi mencari rumput dan ketika dia melihat rombongan Pengemis yang tampak marah mendaki naik puncak, hatinya berdebar tidak enak.

Tentu ada hubungannya dengan urusan kemarin, pikirnya.

Karena dia merasa bahwa dia yang menjadi biang keladinya, maka dia lalu pergi mengikuti mereka sampai ke puncak.

la bersembunyi di balik pohon dan mengintai semua perdebatan tadi.

Setelah namanya disebut-sebut oleh dua orang Tosu dan Swan Bu, dia segera muncul dengan maksud mengakui kesemuanya dan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dari balik batang pohon tadi Yo Wan merasa terharu dan sedih melihat Suhu dan Subonya.

Sekarang, maklum bahwa perbuatannya itu akan mengakibatkan keributan, dia mengambil keputusan untuk mempertanggungjawabkan sendiri agar Hoa-San-Pai, terutama Suhu dan Subonya jangan sampai terbawa-bawa.

Dengan pikiran ini, dia lalu muncul keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju ke tempat pertemuan.

Sama sekali tidak diduganya bahwa Swan Bu yang pertama melihat dan mengenalnya, malah bocah itu sudah melepaskan sebatang anak panah kepadanya.

Para tokoh Hoa-San-Pai yang tidak mengenal siapa dia, hanya bisa tertegun dan heran, juga kaget melihat Swan Bu memanah orang muda itu, tanpa sempat mencegah lagi.

Yo Wan tentu saja akan dapat mengelak dengan mudah.

Namun dia sedang berduka bahwa dalam pertemuan dengan Suhunya ini dia sudah mendatangkan keributan hebat, apalagi mengingat bahwa bocah itu adalah putera Suhunya yang dibangga-banggakan, dia tidak tega untuk mengelak dan mendatangkan malu.

Sambil mengerahkan tenaga Sinkang yang dia latih dari Sin-Eng-Cu dan Bhewakala, dia sengaja menerima anak panah itu dengan pundak kirinya, akan tetapi cepat-cepat dia menutup jalan darah pada bagian ini sehingga anak panah yang menancap satu dim dalamnya itu hanya melukai kulit dagingnya saja.

Dengan anak panah menancap di pundak, dia berjalan terus menghampiri mereka.

"Swan Bu, kau lancang...!"

Yo Wan mendengar Subonya berteriak mencela puteranya.

Di dalam hatinya dia bersyukur bahwa Subonya masih tetap seorang wanita budiman seperti dulu, dan lebih-lebih dia menjadi tidak tega untuk membiarkan Suhu, Subo dan putera mereka itu menanggung akibat dari perbuatannya.

la pura-pura tidak melihat pandang mata Subonya yang diarahkan kepadanya dan seakan-akan Subonya itu hampir mengenalnya!

la juga tak peduli akan pandang mata semua orang di situ yang memandangnya dengan heran dan tercengang.

Yo Wan langsung menghampiri Kui-San-Jin dan membungkuk sampai dalam sambil berkata.

"Lopek (Paman Tua), memang betul seperti dikatakan oleh kedua Lopek tadi, saya menerima pekerjaan sebagai kacung kuda. Di tengah jalan saya bertengkar dengan dua orang Pengemis. Akan tetapi hal itu adalah urusan saya sendiri, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Hoa-San-Pai. Ini adalah urusan seorang kacung kuda dengan para Pengemis, harap para Lopek di sini legakan hati karena sekarang juga saya akan bereskan urusan ini dengan para Pengemis.

"Dia... dia... Yo Wan..."

Terdengar Kun Hong berseru.

"Yo Wan...!"

Hui Kauw juga menahan teriakannya. Akan tetapi Yo Wan yang kaget sekali mendengar Suhu dan Subonya telah mengenalnya, cepat menghampiri rombongan Pengemis dan dengan berdiri tegak dia berkata lantang.

"Kakek Pengemis, kalau benar kau Ketua dari Sin-Tung Kai-Pang, sebaiknya kau memeriksa keadaan anak-anak muridmu sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Urusan anak muridmu dengan aku si kacung kuda sama sekali berada di luar tanggung jawab Hoa-San-Pai karena aku belum diterima secara resmi menjadi tukang kuda Hoa-San-Pai. Kenapa kalian ini tak tahu malu membikin ribut di Hoa-San-Pai? Akulah yang bertanggung jawab!"

Sin-Tung Lo-Kai marah bukan main.

Ingin dia sekali gebuk membikin remuk kepala bocah itu, akan tetapi sebagai seorang Ketua kaipang yang tersohor, tentu saja dia tidak mau melakukan hal yang akan merendahkan namanya.

la hanya melotot memandang Yo Wan lalu membentak.

"Bocah setan! Apa kau mengaku telah merampas dua ekor kuda anak muridku?"

Yo Wan menggeleng kepala, tersenyum mengejek.

"Siapa yang merampas? Aku sedang menuntun tiga ekor kuda naik puncak, tiba-tiba dua orang Pengemis itu membentak dari belakang. Kuda yang kupegang kaget, seekor meloncat dan hampir menubruk Pengemis kumis panjang. Eh, si kumis itu memamerkan kepandaiannya, kuda itu ditendang mati. Tentu saja aku minta ganti dan siapapun mereka itu, harus mengganti kuda yang mati karena aku bertanggung jawab atas keselamatan kuda-kuda itu."

"Apa kau tidak dengar bahwa mereka itu utusan Sin-Tung Kai-Pang?"

Ketua ini membentak.

"Baik mereka itu utusan dari Raja Pengemis atau Raja neraka sekalipun, karena sudah membunuh kuda yang menjadi tanggung jawabku, mereka harus menggantinya. Eh, mereka marah-marah sehingga terpaksa aku membela diri karena mereka menyerangku. Kemudian mereka berdua lari meninggalkan kuda mereka. Apakah yang begini dapat disebut aku merampas kuda?"

"Keparat, kau tukang kuda mulutmu besar dan sombong! Kau telah menghina murid-muridku, menghina Sin-Tung Kai-Pang, apakah nyawamu rangkap?"

"Kakek Pengemis, kau mau menang sendiri. Kau bilang aku yang menghina, tapi dua orang muridmu itu hendak membunuhku, malahan malam tadi, siapa yang melepas api hendak membakar kandang kalau bukan orang-orangmu? Hemmm, sebetulnya, kau pun harus mempertanggungjawabkan perbuatan anak-anak muridmu."

"Suheng, menghadapi anak anjing menggonggong seperti ini, mengapa pakai banyak aturan? Banting saja mampus, habis perkara!"

Tiba-tiba seorang Pengemis yang hidungnya bengkok ke kiri, yang memegang Toya, berkata marah.

"Pangcu, harap kau bersabar,"

Tiba-tiba Kui-San-Jin berkata lembut.

"Setelah Pinto (Aku) mendengar omongan bocah ini, kiranya harus diselidiki dulu apakah betul dia yang bersalah. Dalam segala hal, tidak baik untuk bertindak sembrono, menghukum orang yang tidak bersalah."

Ternyata Ketua Hoa-San-Pai ini telah dibikin kagum oleh sikap Yo Wan.

la maklum bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang bodoh dan sederhana, agaknya tidak pandai ilmu silat karena kalau memang pandai ilmu silat, bagaimana tidak mampu mengelak dari anak panah yang dilepaskan Swan Bu tadi?

Akan tetapi, jelas bahwa pemuda itu memiliki daya tahan yang amat luar biasa dan memiliki rasa tanggung jawab yang kiranya jarang dimiliki orang-orang yang mengaku dirinya gagah perkasa.

Buktinya, dengan anak panah menancap di pundak, pemuda itu sama sekali tidak mengeluh, bahkan tidak tampak nyeri, malah menghadapi para Pengemis dengan penuh ketabahan dan penuh rasa tanggung jawab, agaknya jelas hendak mencuci nama Hoa-San-Pai dari urusan itu"

"Hoa-San Ciang-Bunjin (Ketua Hoa-San)! Apamukah bocah ini? Apakah anak murid Hoa-San-Pai? Ataukah dia ini menjadi tanggung jawab Hoa-San-Pai maka kau hendak membelanya?"

Bentak Sin-Tung Kai-Pangcu.

"Dia... Yo Wan..."

Kembali terdengar suara perlahan Kwa Kun Hong.

"Ssttt..."

Dengan sudut matanya Yo Wan melihat betapa Subonya menyentuh lengan tangan suaminya.

la melemparkan kerling penuh terima kasih kepada Hui Kauw yang memandangnya penuh pengertian.

Memang Hui Kauw amat cerdik dan halus perasaannya.

Agaknya nyonya muda ini sudah dapat menduga apa yang menjadi maksud hati murid itu, maka dia hendak membantu, memberi kebebasan kepada Yo Wan untuk melanjutkan maksud hatinya, akan tetapi tentu saja nyonya muda ini bersiap sedia untuk membantu muridnya.

la dapat melihat lebih jelas daripada apa yang dapat didengar oleh telinga suaminya yang buta.

"Heh, Pangcu dari para Pengemis! Kenapa kau selalu mendesak Hoa-San-Pai? Agaknya kau jerih untuk menjatuhkan hukuman kepada diriku, maka kau selalu berpaling dan mencari-cari kesalahan kepada Hoa-San-Pai! Huh, tak tahu malu. Kalau kalian para Pengemis hendak membalas dendam kepadaku, lekas turun tangan. Apa kau kira aku takut menghadapi kematian?"

"Sin-Tung-Kai Pangcu, jangan ladeni omongan seorang bocah nekat!"

Tiba-tiba Thian Beng Tosu berseru keras.

"He, bocah tak melihat keadaan, apakah kau sudah menjadi gila? Jangan main-main terhadap Sin-Tung Kai-Pang!"

Akan tetapi dengan tenang Yo Wan memberi hormat sambil membungkuk kepadanya, lalu berkata.

"Urusan ini adalah urusan saya sendiri, harap para Lopek yang terhormat dari Hoa-San-Pai jangan ikut campur. He, Pengemis kelaparan, masih tidak berani turun tangan terhadap kanak-kanak seperti aku? Memalukan benar!"

Terdengar teriakan marah dan si Pengemis hidung bengkok yang memegang Toya sudah melompat maju.

Dia ini adalah Sute (adik seperguruan) dari Ketua Pengemis itu, lihai sekali permainan Toya besinya dan dia diberi julukan Tiat-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Bertoya Besi).

Wataknya lebih keras berangasan daripada para tokoh Sin-Tung Kai-Pang yang lain.

Mendengar ucapan yang menantang-nantang dari Yo Wan, dia tidak mau bersabar lagi.

"Ada hubungan dengan Hoa-San-Pai atau tidak, kau bocah setan harus mampus sekarang juga!"

Bentaknya dan Toyanya yang berat itu menyambar cepat, mendatangkan desir angin gemuruh.

Yo Wan sudah bertekad tidak akan membawa-bawa Suhu dan Subonya, sungguhpun tadi dia bersikap seakan-akan hendak membersihkan Hoa-San-Pai, padahal sesungguhnya dia tidak hendak menyeret Suami isteri itu.

Maka sekarang menghadapi sambaran Toya, dia tidak mau mempergunakan langkah-langkah ajaib yang dia pelajari dari Kun Hong.

la siap menerima kematian karena memang hanya kematian yang dapat dia harapkan dalam menghadapi orang-orang berilmu tinggi seperti pimpinan Sin-Tung Kai-Pang ini.

Namun dia juga tidak mau mati konyol begitu saja tanpa perlawanan.

Melihat datangnya Toya, otomatis kaki tangannya bergerak dan dengan amat mudah dia membiarkan Toya itu menyambar lewat tanpa dapat menyentuh tubuhnya sedikit pun juga.

Karena tanpa disadarinya dia sudah memiliki kesaktian ilmu silat yang mendarah daging, maka sesuai dengan daya tahan dan daya serang yang berganti-ganti diturunkan Sin-Eng-Cu dan Bhewakala kepadanya, tentu saja setiap kali menghadapi serangan, begitu mengelak terus saja Yo Wan membalas serangan itu.

Dan bukan hal kebetulan kalau pada saat itu dia menggunakan sebuah jurus dari Ilmu Silat Ngo-Sin Hoan-Kun (Lima Lingkaran Sakti) yang dia pelajari atau lebih tepat dia "Mainkan"

Menurut petunjuk Bhewakala.

Hal ini adalah karena jurus penyerangan Toya yang dilakukan oleh Tiat-pang Sin-kai tadi sifatnya hampir sama dengan jurus-jurus penyerangan Sin-Eng-Cu, maka otomatis tubuhnya lalu bergerak mainkan jurus ilmu yang diturunkan oleh Bhewakala kepadanya sebagai lawannya.

Ilmu Silat Ngo-Sin Hoan-Kun adalah ilmu silat ciptaan Pendeta Nepal pertapa Gunung Himalaya yang sakti itu, gerakannya dahsyat dan aneh, Tiat-pang Sin-kai melihat betapa kedua lengan pemuda itu membuat lingkaran-lingkaran yang mengaburkan pandangan matanya dan dia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Ingin dia memukul dengan Toya, namun ujung Toyanya seakan-akan terlibat oieh sebuah di antara lingkaran itu dan tak dapat digerakkan.

Tiba-tiba dia merasa tubuhnya berpusing seperti tenggelam dalam pusingan angin dan sebelum dia tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tubuhnya itu terlempar sambil berputaran dan robohlah dia dengan kepala di bawah kaki di atas.

la menjadi pening, kepalanya benjol, Toyanya terlempar entah ke mana dan sampai lama dia hanya rebah sambil menggerak-gerakkan kepala mengusir kepeningan dengan mata menjadi juling!

"Ah...!"

"Hebat...!"

"Aneh...!"

Seruan-seruan ini keluar dari mulut para tokoh Hoa-San-Pai.

Benar-benar mengejutkan peristiwa itu.

Kui-San-Jin dan yang lain-lain memang sudah siap untuk menolong orang muda yang tabah itu kalau pihak Sin-Tung Kai-Pang hendak membunuhnya.

Siapa tahu, dalam dua gebrakan saja seorang tokoh Sin-Tung Kai-Pang yang cukup lihai dibikin melayang seperti itu dengan gerakan tangan dan kaki yang luar biasa, ilmu silat yang membentuk lingkaran-lingkaran ajaib.

Ilmu apakah yang dipergunakan pemuda ini?

Hanya Hui Kauw dan Kun Hong yang tidak mengeluarkan suara apa-apa.

Hui Kauw memandang kagum dan juga heran karena sepanjang pengetahuannya, murid ini hanya baru menerima dasar-dasar ilmu silat dan yang terakhir hanya ditinggali Ilmu Langkah Si-Cap-It Sin-Po oleh Kun Hong.

Tadi Hui Kauw sengaja memperhatikan gerak kaki anak itu untuk melihat apakah Yo Wan sudah mahir melakukan langkah-langkah itu, karena kalau sudah mahir, tentu anak itu mampu menyelamatkan diri dengan langkah-langkah ajaib.

Anehnya, langkah yang dipergunakan Yo Wan sama sekali bukan langkah ajaib ajaran Kun Hong, sungguhpun gerak dan langkah yang dilakukan anak itu pun amat aneh dan asing!

Ketika Hui Kauw melirik ke arah suaminya, ia melihat Suami ini miringkan kepala mengerutkan kening dan Bibirnya menggumam.

"Hemmm... hemmm..."

Sebetulnya, robohnya Tiat-pan Sin-kai hanya dalam di 1 jurus ini bukan semata-mata karena kelihaian Yo Wan, melainkan sebagian besar dikarenakan kesalahan Pengemis itu sendiri.

la terlalu memandang rendah bocah itu, dianggapnya sekali pukul dengan Toya akan remuk kepalanya.

Oleh karena memandang rendah inilah maka sekali balas saja Yo Wan berhasil merobohkannya.

Andaikata Pengemis itu lebih hati-hati, biarpun tak mungkin dia dapat mengalahkan Yo Wan yang sudah mewarisi ilmu-ilmu sakti, namun kiranya tidak akan roboh hanya dalam satu dua jurus saja!

"Bocah setan!

Berani kau menghina saudaraku?"

Kakek Pengemis di sebelah kiri Ketua Pengemis meloncat ke depan, menghadapi Yo Wan dengan mencabut Pedang di pinggangnya.

"Hayo keluarkan senjatamu dan kau lawan aku!"

Sikap Pengemis ini jauh lebih gagah daripada Tiat-pang Sin-kai dan memang dia tidak memandang rendah kepada Yo Wan, karena dia menduga bahwa Yo Wan tentu memiliki kepandaian yang tinggi.

Memang dia seorang yang cukup berpengalaman dan tidak sembrono seperti temannya tadi.

Pengemis ini menjadi pembantu Sin-Tung Lo-Kai karena ilmu pedangnya membuat dia jarang menemukan tandingan.

Dia bernama Souw Kiu, seorang ahli Pedang dan ahli tenaga Lweekang.

Hati Yo Wan tergetar.

la tidak pernah mengalami pertandingan-pertandingan, yaitu pertandingan yang sungguh-sungguh, karena pertandingan yang dia saksikan selama tiga tahun di puncak Liong-Thouw-San adalah pertandingan "Teori."

Ketika dia merobohkan dua orang Pengemis kemarin dan Pengemis bertoya tadi, dia sama sekali tidak mengira bahwa demikian mudah dia mencapai kemenangan.

Disangkanya bahwa memang tiga orang Pengemis itu hanya orang-orang sombong yang tidak ada gunanya.

Sekarang, menghadapi Souw Kiu yang tenang, bermata tajam dan memegang Pedang dengan sikap yang Kokoh kuat, mau tak mau dia menjadi gentar pula untuk menghadapinya dengan tangan kosong.

"Tukang kuda, kau pakailah pedangku ini!"

Tiba-tiba Swan Bu berseru sambil mencabut pedangnya yang amat indah.

Yo Wan tersenyum.

Lenyap sudah rasa sakit di pundaknya oleh anak panah yang masih menancap itu.

Sikap Swan Bu ini sekaligus telah menjatuhkan hatinya dan meluapkan maafnya terhadap putera dari Suhunya itu.

la tersenyum lebar sambil menoleh ke arah Swan Bu.

"Tuan Muda, terima kasih. Tidak berani aku merusakkan pedangmu,"

Jawabnya dengan sungguh-sungguh dan jujur, Sama sekali dia tidak tahu bahwa jawabannya ini membuat wajah Hui Kauw dan Kun Hong menjadi merah karena Ayah dah Ibu ini merasa terpukul oleh jawaban muridnya kepada puteranya yang tadi memperlakukan Yo Wan dengan sewenang-wenang.

Yo Wan maklum bahwa untuk menghadapi Pedang lawan, dia harus menggunakan senjata pula dan dia anggap bahwa senjata terbaik adalah melawan dengan Pedang pula.

Lupa bahwa pedangnya hanya sebatang Pedang kayu saja, dia segera membuka jubah mengeluarkan Pedang kayunya yang panjangnya hanya tiga puluh sentimeter, terbuat dari kayu cendana yang harum itu.

Meledak suara ketawa dari anak buah Hoa-San-Pai dan anak buah Pengemis, akan tetapi tokoh-tokohnya sama sekali tidak tertawa, bahkan memandang dengan tercengang.

Gilakah anak ini?

Ataukah memang dia begitu sakti sehingga cukup menghadapi lawan dengan Pedang kayu saja?

"Itukah senjatamu?"

Bentak Souw Kiu dengan suara kecewa.

"Apakah kau hendak main-main?"

Dia seorang tokoh ilmu silat, mana enak hatinya kalau dihadapi seorang lawan begini muda yang mempergunakan Pedang kayu? "Memang inilah senjataku dan aku tidak main-main, Pengemis tua."

"Jangan menyesal nanti dan bilang aku berlaku sewenang-wenang!"

Kata pula Souw Kiu, masih meragu. Pertandingan ini disaksikan banyak tokoh Hoa-San-Pai, dia harus memperlihatkan kegagahannya.

"Aku tidak akan menyesal. Kalian memang sudah bertekad untuk membunuhku, tentu saja aku pun bertekad untuk mempertahankan nyawaku sedapat mungkin. Aku tidak biasa memegang Pedang tulen, biasa main-main dengan pedangku ini. Kalau kau memang berkukuh hendak membunuhku, silakan."

"Awas pedang!"

Dengan cepat setelah mengeluarkan bentakan ini, Souw Kiu menerjang dengan pedangnya.

Gerakan pedangnya amat cepat dan mengeluarkan suara berdesing mengerikan.

Namun bagi Yo Wan, gerakan Pengemis itu tidaklah terlalu hebat, apalagi cepat.

Kalau dibandingkan dengan jurus-jurus yang dikeluarkan Sin-Eng-Cu dan Bhewakala, gerakan itu seperti anak kecil main-main belaka!

Dengan tenang, dia lalu mainkan jurus-jurus yang sesuai dengan Pedang yang dipegangnya, yaitu Ilmu Silat Liong-Thouw-Kun yang diturunkan oleh Sin-Eng-Cu kepadanya.

Memang Pedang kayu itu adalah senjata buatan Sin-Eng-Cu yang dahulu dia pakai untuk menghadapi cambuk dari Bhewakala, maka ketika dia bersilat Pedang dengan jurus-jurus dari Sin-Eng-Cu, seketika Pedang kayu di tangannya itu berubah menjadi puluhan batang banyaknya dalam pandang mata lawannya!

Angin yang diterbitkan Pedang kayu ini berbunyi.

"Whir-whir-whirrr..."

Dibarengi kilatan sinar Pedang kayu yang membingungkan hati Souw Kiu.

Karena maklum bahwa bocah ini benar-benar pandai, Souw Kiu mengerahkan seluruh tenaga dalam dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk mencapai kemenangan.

la sengaja hendak mengadu senjata, karena dia merasa yakin bahwa sekali Pedang kayu itu bertemu dengan pedangnya, tentu akan patah dan dia akan mudah merobohkan lawan.

Hui Kauw memandang kagum sekali.

Ilmu Pedang yang dimainkan Yo Wan itu benar-benar merupakan ilmu Pedang yang selain indah, juga amat luar biasa.

Dia sendiri belum tentu dapat mainkan Pedang kayu seperti itu!"

Ketika dia melirik ke arah suaminya, wajah Kun Hong tegang sekali dan Bibir Pendekar Buta ini menggumam lirih.

"Ah... mana mungkin...?"

Memang, dapat dibayangkan keheranan hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan ilmu silat Yo Wan yang kali ini cara bersilatnya sama sekali berlawanan dengan dua gerakan ketika merobohkan lawan pertama tadi, tidak demikian saja, malah ilmu Pedang yang dimainkan ini mengandung jurus-jurus Ilmu Silat Kim-Tiauw-kun, yaitu ilmu silatnya sendiri!

Padahal dia sama sekali belum pernah mengajarkan ilmu itu meskipun hanya sejurus kepada muridnya.

Para tokoh Hoa-San-Pai adalah tokoh-tokoh yang berilmu tinggi.

Apalagi Ketuanya, Kui-San-Jin terkenal sebagai seorang ahli Pedang Hoa-San-Kiam-Sut, di samping isterinya yang juga hadir di situ.

Mereka semua kini berdiri bengong, kagum bukan main.

Siapa orangnya yang tidak kagum kalau melihat betapa kacung kuda itu dengan hanya sebatang Pedang kayu dapat menghadapi seorang ahli Pedang seperti Souw Kiu?

Dan kadang-kadang Pedang di tangan Pengemis itu dengan hebatnya menggempur Pedang kayu, akan tetapi jangan kata Pedang kayu menjadi patah karenanya, malah tampak jelas betapa lengan dan tangan Souw Kiu yang memegang Pedang tergetar hebat.

Ini hanya menjadi bukti bahwa bocah itu memiliki tenaga Sinkang yang ampuh sekali, tenaga yang bukan sewajarnya dimiliki seorang pemuda tanggung berusia enam belas tahun.

Diam-diam mereka menduga-duga murid siapakah gerangan pemuda ini dan apa maksud orang muda yang memiliki kesaktian itu naik ke Hoa-San-Pai dengan berpura-pura menjadi tukang kuda, mengandung maksud tersembunyi yang bagaimanakah?

Mereka juga merasa gelisah, menduga bahwa tentu pemuda itu mengandung suatu maksud tertentu.

Yang paling bingung dan kaget setengah mati adalah Souw Kiu sendiri.

Pedang kayu di tangan bocah itu bukan main hebatnya, gerakannya aneh, daya tahannya amat Kokoh kuat dan setiap kali beradu dengan pedangnya sendiri, tangannya tergetar hebat.

la menjadi penasaran sekali.

Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang kacung kuda?

Kalau dia dikalahkan oleh seorang tokoh Hoa-San-Pai, masih tidak apa, akan tetapi oleh seorang kacung kuda masih bocah lagi?

Dua puluh jurus telah lewat dan dalam penasarannya, Souw Kiu tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan pedangnya melakukan terjangan kilat.

Hui Kauw menutup mulutnya dan seluruh urat tubuhnya menegang.

Sebagai seorang ahli pedang, ia maklum bahwa Pengemis itu melakukan serangan nekat, mengajak adu nyawa.

la sudah siap untuk menyambar dan menolong muridnya, tetapi dia tidak mau tergesa-gesa karena kalau keadaan Yo Wan tidak berbahaya lalu ia menolongnya, hal itu akan merendahkan diri sendiri.

Yo Wan sudah mempelajari banyak sekali jurus-jurus ampuh dan ada kalanya Sin-Eng-Cu maupun Bhewakala dalam keadaan terdesak pun mengeluarkan jurus-jurus yang nekat.

Karena itu, menghadapi serangan ini, dia tidak menjadi gugup.

Daripada dia terluka atau terpaksa membunuh orang, lebih baik mengorbankan Pedang kayunya, pikirnya cepat.

Melihat Pedang lawan menyambar dengan babatan kilat, dia cepat menangkis dengan Pedang kayunya, tapi dia sengaja tidak menyalurkan tenaga kepada Pedang kayu ini.

"Krakkk!"

Pedang kayu patah menjadi dua, tubuh Souw Kiu terdorong ke depan dan di lain saat dia sudah roboh terguling oleh pukulan tangan kiri Yo Wan yang tepat mengenai pundak kanannya sedangkan pedangnya entah bagaimana sudah berpindah ke tangan pemuda itu!

Souw Kiu bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba dia muntahkan darah merah.

Ternyata satu kali pukulan Yo Wan itu sudah mendatangkan luka parah di dalam dadanya.

Hal ini tidak mengherankan karena Yo Wan menggunakan pukulan Lweekang dari Sin-Eng-Cu sebagai timpalan permainan pedangnya tadi.

Tak dapat ditahan lagi, para Tosu Hoa-San-Pai bertepuk tangan memuji.

Setelah Ketua mereka berpaling dan memandang tajam, baru mereka berhenti.

Biarpun tokoh-tokoh Hoa-San-Pai tidak ada yang terang-terangan memuji dan berpihak, namun wajah mereka yang berseri menjadi tanda bahwa mereka merasa puas melihat rombongan Sin-Tung Kai-Pang yang sombong itu diberi hajaran oleh seorang luar yang mengaku sebagai kacung kuda Hoa-San-Pai!

Baru seorang pelamar kacung kuda saja sudah begini hebat, apalagi orang-orang Hoa-San-Pai sendiri!

Biarpun tidak secara langsung, pemuda yang luar biasa itu telah mengangkat tinggi deRajat dan nama Hoa-San-Pai dengan sepak terjangnya menghadapi Sin-Tung Kai-Pang ini.

Yo Wan sendiri sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk memusuhi Sin-Tung Kai-Pang.

la tahu telah membuat onar kemarin dan hanya untuk menjaga agar nama Suhu dan Subonya jangan sampai terbawa-bawa, maka dia mempertanggung-jawabkannya sendiri.

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dibunuh tanpa melawan.

Giranglah hatinya ketika dia berhasil mengalahkan dua orang lawan.

Semangatnya timbul dan dia mulai mengerti, mulai terbuka mata hatinya bahwa kalau dia mau melawan, belum tentu orang-orang kasar ini mampu membunuhnya!

Sementara itu, Sin-Tung Lo-Kai sampai menjadi pucat mukanya saking marah.

la merasa terhina sekali.

Dua orang pembantunya yang paling dia andalkan, roboh berturut-turut secara mudah oleh seorang kacung kuda.

"Orang-orang Hoa-San-Pai!"

Bentaknya sambil mengangkat tongkatnya ke depan dada.

"Apakah kalian diamkan saja bocah setan ini menghina kami?"

"Urusanmu dengan anak ini tiada sangkut-pautnya dengan kami, Pangcu,"

Kata Kui-San-Jin dengan suara tenang.

Kakek Ketua Hoa-San-Pai ini sekarang timbul kepercayaannya terhadap Yo Wan.

Pantas saja bocah ini hendak membereskan sendiri, kiranya memiliki ilmu kepandaian yang begitu hebat.

la tidak mengerti mengapa bocah ini suka menutupi dan melindungi Hoa-San-Pai, akan tetapi jalan satu-satunya bagi Ketua Hoa-San-Pai ini untuk membalas budi hanya membiarkan bocah itu melanjutkan maksud hatinya.

Inilah sebabnya maka dia sengaja menjawab seperti itu.

"Hemmm, biarlah kubikin mampus dulu bocah ini, baru kami akan bicara lagi dengan Hoa-San-pai!"

Sin-Tung Lo-Kai berseru marah.

"Bocah setan, lekas kau memilih senjata. Aku tidak sudi menyerang lawan tanpa senjata. Kalau kau butuh pedang, orang-orangku bisa memberi pinjam untukmu."

Yo Wan maklum bahwa lawannya ini tentulah seorang yang pandai.

Kemantaban gerakan tongkat itu saja sudah membayangkan tenaga Lweekang yang hebat.

la tidak berani memandang ringan, maka dilolosnya cambuk peninggalan pertapa Bhewakala.

Cambuk ini hitam warnanya, panjang dan berat, tapi di tangan Yo Wan terasa ringan dan enak.

Maklum, selama tiga tahun dia main-main dengan cambuk ini.

"Ketua Sin-Tung Kai-Pang, sesungguhnya aku tidak suka berkelahi dengan siapapun juga, aku tidak ingin mencari perkara dengan siapa juga. Akan tetapi kalau kau nekat hendak membunuhku, tentu saja aku akan berusaha menyelamatkan diri,"

Jawabnya sambil memegang gagang cambuk dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya membelai-belai ujung cambuk.

"Tak usah cerewet, lihat tongkatku!"

Ketua Pengemis itu menggerakkan tongkatnya dan berkelebatlah sinar beraneka warna seperti pelangi menyilaukan mata.

Yo Wan kaget dan bingung seketika karena gerakan tongkat itu hebat serta menyilaukan warnanya.

Juga para tokoh Hoa-San-Pai menahan nafas.

Kali ini mereka benar-benar khawatir karena tingkat kepandaian Sin-Tung Lo-Kai benar-benar tak boleh dipandang ringan.

Anak muda remaja ini mana mampu mempertahankan diri?

"Tar-tar-tarrr...!"

Lecutan cambuk bertubi-tubi terdengar nyaring disusul berkelebatnya sinar cambuk yang hitam, bergerak-gerak macam ular naga hitam bermain di angkasa.

Yo Wan telah mainkan ilmu cambuknya Ngo-Sin Hoan-Kun dan ujung cambuk itu melecut-lecut, menyambar-nyambar setelah membentuk lingkaran-lingkaran aneh di udara.

Kagetlah semua orang dan Hui Kauw melihat betapa suaminya sambil mengerutkan kening telah mengepal tinjunya.

"Bhewakala... siapa lagi... tentu Bhewakala..."

Terdengar suaminya bersungut-sungut.

Yang paling kaget adalah Sin-Tung Lo-Kai sendiri.

Permainan cambuk lawannya amat hebat, bagaikan gelombang samudera sedang mengamuk.

Lingkaran-lingkaran yang bergelombang lima kali itu benar-benar amat dahsyat, menyembunyikan ujung cambuk yang kadang-kadang mematuk dan melecut bagaikan petir menyambar.

Inilah ilmu cambuk yang amat aneh, yang belum pernah disaksikan Sin-Tung Lo-Kai selama hidupnya.

la mengertak gigi, mengerahkan seluruh kepandaian dan mainkan ilmu tongkatnya untuk menahan gelombang dan petir itu.

Namun Yo Wan tidak mau memberi hati kepadanya.

Pemuda ini memilih jurus-jurus serangan dari Ngo-Sin Hoan-Kun sehingga belum tiga puluh jurus, Ketua Pengemis itu sudah mundur-mundur dan hanya dapat menangkis dan mengelak ke sana ke mari, tak mampu membalas dan keadaannya repot sekali.

Tiba-tiba Pengemis tua itu mengeluarkan bentakan keras dan sinar-sinar hijau menyambar ke arah Yo Wan.

Inilah sinar senjata rahasia berupa paku-paku hijau beracun yang disambitkan secara diam-diam, merupakan senjata gelap yang amat berbahaya.

"Curang...!"

Seru Hui Kauw, namun dia tahu bahwa dia sendiri tidak mampu menolong karena senjata-senjata gelap itu dilempar dari jarak yang amat dekat, yaitu selagi kedua orang itu bertanding berhadapan.

Yo Wan adalah seorang pemuda yang belum berpengalaman dalam hal bertempur, sungguhpun dia mewarisi ilmu-ilmu yang hebat, tetapi dia tidak tahu akan adanya akal-akal busuk dari lawan macam Sin-Tung Lo-Kai.

Namun dia seorang yang amat cerdik.

Melihat berkelebatnya sinar-sinar hijau dan mendengar seruan Subonya, dia cepat menggunakan langkah ajaib.

Terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan mainkan langkah-langkah yang dia pelajari dari Suhunya karena maklum bahwa benda-benda yang menyambarnya itu amat berbahaya.

Benar saja, dengan langkah-langkah ajaib yang dia mainkan, tujuh buah benda kecil kehijauan itu meluncur lewat di samping tubuhnya, tak sebuah pun mengenai dirinya.

Teringat akan bahaya ini, timbul kemarahan Yo Wan.

la mencabut anak panah dengan tangah kiri, pecutnya kembali menerjang maju dan dia barengi dengan sambitan anak panah.

Sin-Tung Lo-Kai tadi terkejut bukan main melihat pemuda aneh itu dapat menghindarkan diri dengan gerakan kaki seperti orang mabuk.

Selagi dia kecewa dan kaget, cambuk lawannya menerjang bagaikan hujan badai.

Cepat dia mengangkat tongkat menangkis dan melompat mundur.

Tapi tiba-tiba dia berteriak keras dan roboh, anak panah itu menancap pada dadanya sebelah kanan!

Baiknya anak panah itu tidak terlalu dalam menembus kulit dada, namun cukup membuat Ketua Sin-Tung Kai-Pang ttu mengerang kesakitan dan tidak mampu bangun kembali.

Anak buahnya cepat memberi pertolongan dan tanpa pamit lagi Sin-Tung Lo-Kai menyuruh anak buahnya memanggulnya turun gunung!

Mereka itu bagaikan serombongan anjing yang disiram air panas, lari tersaruk-saruk sambil tunduk, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi.

Andaikata mereka memiliki buntut, tentu buntut itu mereka kempit di antara kaki.

Kekalahan yang diderita kali ini benar-benar membuat mereka kuncup dan selamanya mereka takkan berani memusuhi Hoa-San-Pai.

Baru melawan seorang kacung kuda saja, Ketua mereka dirobohkan dengan mudah!

Setelah musuh pergi, Yo Wan tak dapat menyembunyikan diri lagi.

la menghampiri Kwa Kun Hong dan Kwee Hui Kauw, serta merta dia menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara gemetar penuh keharuan.

"Suhu...! Subo...!"

La tinggal berlutut, meletakkan mukanya di atas tanah dan meramkan kedua matanya, mulutnya berkata lirih.

"Teecu datang menyusul..."

"Wan-ji (anak Wan)! Kenapa baru sekarang kau datang...?"

Hui Kauw berkata, siap merangkul murid itu. Akan tetapi nyonya muda ini menahan kedua tangannya ketika melihat wajah suaminya. Jelas bahwa suaminya kelihatan marah.

"Yo Wan, apa maksudmu datang seperti ini?"

Yo Wan tak dapat menjawab dan pada saat itu, para tokoh Hoa-San-pa! sudah datang menghampiri. Dengan senyum lebar Kui-San-Jin berkata.

"Ah, kiranya murid Kun Hong anak ini? Pantas begini lihai! Ha... ha... ha, benar-benar Sin-Tung Kai-Pang tidak tahu diri, dan senang sekali hati Pinto mengetahui bahwa anak yang memberi hajaran kepada mereka kiranya adalah orang sendiri! Ha... ha... ha!"

Para tokoh Hoa-San-Pai benar-benar merasa gembira dan bangga.

Kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta tentu saja sudah mereka ketahui dengan baik, dan biarpun Pendekar Buta terhitung golongan muda di Hoa-San, namun dialah sebetulnya yang merupakan andalan untuk membikin besar nama Hoa-San-Pai.

Kelihaian anak muda yang mengusir para tokoh Sin-Tung Kai-Pang ini merupakan bukti akan kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta.

Tentu saja mereka tidak mengerti bahwa Pendekar Buta sendiri berpikir lain pada saat itu.

Tidak tahu bahwa Kun Hong amat marah kepada Yo Wan, hanya menahan hatinya karena dia tidak ingin memarahi muridnya di depan banyak orang.

"Yo Wan kau ikut aku...!"

Kata Kun Hong kepada anak muda itu.

Yo Wan mengerti bahwa Suhunya marah, maka dengan kepala tunduk dia mengikuti Gurunya masuk ke dalam, diikuti pula oleh Kwee Hui Kauw yang menggandeng tangan Swan Bu.

Para tokoh Hoa-San-Pai yang masih bergembira itu juga mengundurkan diri, membiarkan Guru dan murid itu menikmati pertemuan tanpa diganggu.

"Nah, sekarang ceritakan tentang sikapmu yang aneh itu, Yo Wan. Aku ingin mendengar selengkapnya dan sejujurnya. Apa sebabnya kau datang menyusul kami secara sembunyi dan pura-pura menjadi kacung kuda?"

Tanya Kun Hong suaranya perlahan, akan tetapi Yo Wan maklum bahwa Suhunya tak senang hati.

Menggigil dia dan cepat-cepat dia berlutut di depan Suhunya yang duduk di atas sebuah kursi lain, sedangkan Swan Bu berdiri memandang dengan matanya yang lebar tajam.

Dengan suara lirih Yo Wan lalu menceritakan pengalamannya semenjak Suhu dan Subonya turun gunung meninggalkannya seorang diri.

Tentang niatnya menyusul ke Hoa-San-Pai tiga tahun yang lalu dan betapa dia bertemu dengan Sin-Eng-Cu dan Bhewakala yang sedang bertanding dan keduanya terluka, betapa kemudian dia menolong mereka dan selama tiga tahun menjadi perantara dalam adu ilmu sampai Sin-Eng-Cu meninggal dunia karena tua dan Bhewakala kembali ke dunia Barat.

"Kemudian Teecu menyusul ke Hoa-San, Suhu, dan sungguh tidak Teecu kehendaki telah terjadi keributan di sini, dan Teecu yang menjadi biang keladinya. Teecu mengaku salah dan siap menerima hukuman apa pun juga dari Suhu dan Subo."

"Mengapa kemarin kau tidak langsung naik menemui kami, tapi bersembunyi dan menyamar sebagai tukang kuda?"

Suara Kun Hong masih bengis karena hatinya belum puas.

"Teecu merasa ragu-ragu... dan takut kalau-kalau Suhu tidak menghendaki kedatangan Teecu... kebetulan Teecu bertemu dengan dua orang Tosu dan putera Suhu ini... Teecu ditawari pekerjaan tukang kuda, Teecu lalu menerimanya, ingin melihat gelagat dulu sebelum Teecu berani menghadap Suhu. Celakanya, di tengah jalan seekor di antara tiga kuda yang harus Teecu bawa ke puncak, dibunuh Pengemis itu. Teecu tidak ingin berkelahi, hanya minta ganti seekor kuda yang hidup, kiranya mereka marah dan menyerang Teecu. Akhirnya mereka lari dan meninggalkan dua ekor kuda mereka, terpaksa Teecu bawa sekalian ke puncak, dan kuda yang mati Teecu kubur di pinggir jalan."

"Yang mati itu kudaku! Ayah, suruh murid Ayah ini mencarikan pengganti kudaku, dia yang bertanggung jawab karena dia yang membawanya"

Swan Bu berseru nyaring.

"Hushhh, diam kau"

Kun Hong membentak puteranya lalu bertanya.

"Yo Wan, setelah kau tahu rombongan Sin-Tung Kai-Pang datang kenapa kau pura-pura tidak mengenal kami dan melayani mereka seorang diri mengandalkan ilmu silatmu? Apakah kau hendak pamerkan kepandaian di Hoa-San-Pai?"

Yo Wan mengangguk-angguk mencium lantai.

"Ah tidak... Suhu sama sekali tidak..."

Katanya gagap dan takut.

"Mana Teecu berani begitu kurang ajar pamerkan kepandaian sedangkan Teecu tidak bisa apa-apa? Hanya kebetulan saja Teecu dapat menang padahal Teecu tidak bermaksud demikian. Setelah melihat bahwa peristiwa kemarin itu menimbulkan keributan hebat, Teecu menjadi takut kalau-kalau Hoa-San-Pai terbawa-bawa, terutama sekali kalau Suhu dan Sute terbawa-bawa oleh gara-gara yang Teecu lakukan kemarin. Maka dari itu, Teecu sengaja pura-pura tidak ada hubungan dengan Suhu dan Subo, juga dengan Hoa-San-Pai. Teecu ingin mempertanggung-jawabkan sendiri, kalau perlu Teecu rela mati untuk menebus kesalahan, asal jangan sampai menyeret Hoa-San-Pai dan terutama Suhu berdua. Akan tetapi, tentu saja Teecu seberapa dapat hendak mempertahankan diri terhadap Pengemis-Pengemis yang jahat itu."

Kun Hong mengangguk-angguk dan pada sepasang mata Hui Kauw tampak dua butir air mata.

Nyonya muda itu menjadi terharu sekali melihat murid yang amat setia itu.

Diam-diam dia memperhatikan dan menjadi kagum.

Muridnya ini sekarang bukanlah seorang anak kecil lagi, melainkan seorang jejaka tanggung yang tampan dan sederhana, pandai merendahkan diri walaupun memiliki kepandaian yang amat tinggi.

"Yo Wan, apakah kehendakmu sekarang?"

Kun Hong bertanya, suaranya halus kini.

"Suhu, tidak ada keinginan lain dalam hati Teecu semenjak dahulu selain ikut Suhu dan Subo, bekerja untuk Suhu dan mengharapkan belas kasihan berupa pelajaran ilmu silat agar dapat Teecu pakai kelak untuk membalas dendam terhadap The Sun."

Kun Hong menggeleng kepala.

"Tidak mungkin, Yo Wan, tidak bisa kau ikut dengan kami di sini..."

"Suhu, biarlah Teecu menjadi tukang kuda, menjadi kacung pelayan, Teecu akan bekerja apa saja, biarkan Teecu melayani Suhu berdua, dan adik... adik Swan Bu, asal Teecu boleh berdekatan dengan Suhu berdua..."

Suara Yo Wan menggetar karena terharu dan khawatir kalau-kalau dia tidak akan diterima oleh Suhunya.

"Yo Wan, kau bukan kanak-kanak lagi! Kau sudah dewasa, masa selama hidupmu hanya ingin menjadi kacung saja? Tidak, aku tidak mau menerimamu di sini, sudah tiba waktunya kau hidup sendiri, mengejar ilmu dan pengalaman, mengisi hidupmu dengan perbuatan-perbuatan yang berguna bagi orang lain dan bagi dirimu sendiri, kau tidak boleh tinggal di sini."

"Suhu, Teecu ingin menerima pelajaran ilmu silat dari Suhu..."

"Tidak bisa, Yo Wan. Ilmu silat dariku tidak boleh dicampur aduk. Kau sudah menerima warisan ilmu silat yang tinggi dan hebat dari Susiok-Couwmu dan dari Bhewakala. Hanya belum kauselami inti sarinya dan belum matang saja. Kepandaianmu sudah cukup dan kalau kau menerima pelajaran dariku, salah-salah bisa rusak malah."

"Suhu, Teecu bukan murid Kakek Sin-Eng-Cu, juga bukan murid Bhewakala Lo-Cianpwe, Teecu tidak belajar dari mereka. Apa yang Teecu ketahui dari mereka boleh Teecu buang dan mulai saat ini juga dan Teecu akan mulai belajar dari Suhu."

Tiba-tiba angin pukulan mendesir dari arah belakang menyerang tengkuk Yo Wan, disusul sinar Pedang yang menusuk lambungnya.

Otomatis Yo Wan membuang diri, bergulingan dan cambuknya berbunyi nyaring melingkar-lingkar melindungi tubuhnya bagian belakang.

Alangkah kagetnya ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya tadi adalah Subonya sendiri, Kwee Hui Kauw yang kini sudah duduk kembali sambil menyarungkan pedangnya.

"Suhumu bicara benar, Yo Wan. Ilmu silat kedua orang Kakek sakti itu sudah mendarah daging padamu, tak mungkin dibuang begitu saja lalu mulai belajar ilmu silat baru. Akan merusak segala-galanya. kau lihat sendiri tadi, begitu ada bahaya mengancam, otomatis tubuhmu melakukan gerakan sesuai dengan jurus-jurus kedua orang Kakek itu. Ilmu silatmu sudah cukup tinggi, tak perlu belajar lagi dari kami."

Yo Wan tertegun, lalu menjatuhkan diri berlutut, air matanya bertitik perlahan.

"Suhu dan Subo... biarkan Teecu membalas budi Suhu berdua dengan pelayanan, tidak diberi pelajaran silat juga tidak apa, asal Teecu dapat melayani Suhu berdua..."

Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan terharu, Hui Kauw menghapus dua butir air matanya dengan saputangan.

"Yo Wan, kami mengusirmu bukan karena kami tidak cinta kepadamu. Sama sekali tidak. Semua peristiwa, baik yang terjadi di Liong-Thouw-San maupun di sini, bukanlah salahmu. Aku mengusirmu turun gunung sekarang juga bukan dengan maksud tak baik, muridku, melainkan dengan maksud untuk kebaikanmu sendiri. Kau bukan anak murid Hoa-San-Pai, juga tak bisa dibilang muridku dan kau sudah dewasa. Kau harus mencari kedudukan dan membuat nama baik di dunia."

"Apakah Suhu mengira bahwa Teecu sudah boleh pergi mencari The Sun dan membalas sakit hati Ibu?"

Kun Hong menghela nafas panjang.

"Dendam... balas membalas... tiada habisnya, takkan aman dunia ini selamanya. Yo Wan, mengapa kau tidak membalas dendam dengan kasih?"

Yo Wan bingung, tidak mengerti apa. yang dimaksudkan Suhunya.

"Bagaimana, Suhu? The Sun menyebabkan kematian Ibu, sudah seharusnya Teecu mencarinya dan balas membunuhnya."

"Ha... ha... ha, anak bodoh. Siapakah The Sun itu yang bisa mendatangkan kematian pada seseorang? la hanya menjadi lantaran, karena memang nyawa Ibumu sudah semestinya kembali pada saat itu, sudah dikehendaki oleh Thian Yang Maha Kuasa!"

Yo Wan makin bingung, menoleh kepada Subonya. Nyonya muda itu maklum bahwa suaminya sedang kambuh, yaitu tenggelam dalam lautan filsafat kebatinan, maka ia lalu berkata halus.

"Yo Wan ingin mendengar apa yang selanjutnya harus dia lakukan. Bicara tentang filsafat yang tidak dimengerti olehnya, membuang waktu sia-sia saja."

Kun Hong sadar dari lamunannya, keningnya berkerut.

"Yo Wan, jangan kau kira bahwa akan mudah saja menghadapi seorang seperti The Sun. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan kepandaian yang kau warisi dari kedua orang Kakek itu masih mentah. Coba kau berdiri dan siap menghadapi seranganku, aku akan mengujimu!"

Yo Wan girang karena ini berarti dia akan mendapat petunjuk.

Cepat dia bangkit berdiri, dan secepat kilat Kun Hong sudah menerjang.

Yo Wan melihat Gurunya memukul dengan gerakan cepat namun pukulan itu amat lambat tampaknya.

la tidak berani berlaku sembrono, melihat betapa ilmu pukulan Suhunya itu serupa benar dengan Liong-Thouw-Kun yang dia pelajari dari Sin-Eng-Cu, cepat dia mengeluarkan jurus-jurus Ngo-Sin Hoan-Kun dari Bhewakala.

Sampai lima jurus dia dapat mengimbangi Gurunya, tapi pada jurus ke enam, Suhunya melakukan gerakan serangan yang aneh sekali dan...

pundak kirinya terdorong.

Dorongan perlahan yang cukup hebat, membuat Yo Wan terpelanting.

"Aduhhh..."

Yo Wan menahan keluhannya.

Dorongan itu semestinya tidak menimbulkan rasa nyeri, akan tetapi karena kebetulan yang didorong adalah pundak kiri yang tadi terluka oleh anak panah Swan Bu, terasa perih dan sakit sekali.

"Ehhhhh, kenapa pundakmu...?"

Kun Hong bertanya kaget, diam-diam dia kagum karena muridnya yang masih mentah ilmunya ini ternyata mampu mempertahankan diri sampai lima jurus!

"Ti...

tidak apa-apa, Suhu..., dorongan Suhu hebat bukan main, Teecu rasa biar sampai seratus tahun Teecu belajar, tanpa bimbingan Suhu, Teecu takkan mampu menjadi seorang ahli..."

"Hushhh, goblok kau kalau berpikir begitu. Kau hanya kurang matang, itulah. Pundakmu kiri itu... coba kau mendekat."

Yo Wan mendekat dan Kun Hong meraba.

"Eh, terluka senjata? Kapan terjadinya? Dalam pertempuran tadi kau sama sekali tidak terluka, kan?"

"Ayah, luka di pundaknya itu adalah terkena anak panahku!"

Swan Bu berkata lantang.

"Ketika tadi dia muncul, kuanggap dia itu mengacau di Hoa-San, maka kupanah dia, kena pundaknya. Tapi dia memiliki ilmu sihir, Ayah, panahku terus menancap di pundaknya ketika dia bertempur tadi, malah ketika melawan Sin-Tung Lo-Kai, anak panahku itu dia pergunakan untuk melukai lawannya. Apakah itu bukan ilmu hitam?"

"Swan Bu...! Ah, bagaimana kau menjadi rusak oleh kemanjaan seperti ini? Setan, kau lancang sekali. Hayo lekas minta maaf kepada Yo Wan Koko!"

Swan Bu bersungut-sungut.

"Aku tidak merasa salah, mengapa minta maaf?"

"Suhu, sudahlah. Adik Swan Bu masih kecil, dan dia memiliki watak gagah perkasa. Kalau tidak mengira bahwa Teecu seorang jahat dan musuh Hoa-San-Pai, kiranya dia tidak akan melepaskan anak panah. Dia tidak bersalah, Suhu."

Kun Hong menarik nafas panjang.

"Yo Wan, setelah kau menerima semua ilmu itu, tak mungkin lagi kau menjadi muridku. Hanya Thian yang tahu betapa kecewa hatiku, karena mencari murid seperti kau, agaknya selama hidupku takkan kutemukan. Sekarang kau ingat baik-baik pesanku. Turunlah dari sini dan Kau carilah Bhewakala. Hanya dia yang dapat menyempurnakan dan mematangkan ilmu yang ada padamu, karena selain sebagian ilmu itu dari dia datangnya, juga dalam pertandingan selama tiga tahun itu tentu dia dapat menyelami ilmu dari Susiok-Couwmu pula. Kau harus matangkan ilmu yang kau miliki itu di bawah petunjuk Bhewakala. Nah, setelah kepandaianmu matang, baru kau boleh datang kepadaku lagi untuk bicara tentang The Sun."

Yo Wan merasa berduka sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Hui Kauw melangkah maju dan memegang kedua pundaknya. Sepasang mata bening Subonya itu berair.

"Yo Wan, kau tahu betapa besar kasih sayang kami kepadamu. Percayalah, semua pesan Suhumu adalah demi kebaikanmu sendiri. Taati pesannya itu, Yo Wan. Perjalanan mencari Pendeta Barat itu tentu sukar dan jauh, akan tetapi untuk mencapai sesuatu, makin jauh dan makin sukar makin baik. Terimalah ini untuk bekal di perjalanan."

Hui Kauw meloloskan Pedang dari pinggangnya, memberikan pedangnya itu kepada Yo Wan, kemudian dia menyerahkan pula sekantung uang emas.

Bukan main terharunya hati Yo Wan.

Ingin dia menangis menggerung-gerung oleh kasih sayang yang besar, yang dilimpahkan mereka kepadanya.

Akan tetapi dia maklum bahwa Suhunya tidak suka akan sikap cengeng macam ini, maka dia menekan perasaannya, lalu berpamit.

Takut kalau-kalau air matanya bercucuran, setelah mendapat ijin dia lalu melangkah ke luar dengan langkah lebar, lalu berlari-larian secepatnya meninggalkan tempat itu agar tidak ada orang melihat betapa air matanya bercucuran di sepanjang jalan.

Akan tetapi sepasang Suami isteri yang sakti itu tahu akan hal ini.

Hui Kauw terisak menangis.

"Dia anak baik..."

Katanya.

"Sebaliknya anak kita yang akan rusak kalau terus-terusan mendapat kemanjaan yang luar blasa di sini. Hui Kauw, kita harus pergi dari sini, kembali ke Liong-Thouw-San, sekarang juga."

Bukan main girangnya hati Hui Kauw mendengar ini.

Memang inilah yang menjadi idam-idaman hatinya, namun tadinya Kun Hong menaruh keberatan karena dia ingin membiarkan puteranya hidup bahagia, dekat saudara-saudara di Hoa-San-Pai yang amat mencinta anak itu.

Siapa tahu, terlalu banyak cinta kasih yang dilimpahkan membuat anak itu tidak pernah dan tidak mau tahu akan kesukaran, membuatnya manja dan selalu ingin dituruti kehendaknya karena semenjak kecil tak pernah ada yang menolak keinginannya.

Perjalanan yang dilakukan Yo Wan amatlah sukar dan jauh.

la mentaati pesan Kun Hong, juga dia teringat akan pesan Bhewakala bahwa Pendeta itu selalu menanti kedatangannya di Anapurna, yaitu sebuah puncak di Pegunungar Himalaya.

Perjalanan yang amat jauh dan membutuhkan ketekadan yang bulat serta keuletan yang tahan uji.

Baiknya dia membawa bekal sekantung uang emas pemberian Hui Kauw, kalau tidak, tentu akan lambat perjalanannya kalau dia harus berhenti-henti untuk bekerja sekedar mencari pengisi perut.

Kini dia dapat melakukan perjalanan dengan lancar, terus ke Barat, hanya mau berhenti kalau kemalaman di jalan atau kalau sudah amat lelah.

Melakukan perjalanan ke Timur atau ke Selatan jauh lebih cepat daripada perjalanan ke Barat atau ke Utara.

Hal ini adalah karena semua sungai mengalir ke Selatan atau ke Timur, dan pada masa itu, di waktu perjalanan darat amatlah sukarnya, jalan satu-satunya yang paling cepat adalah perjalanan melalui air.

Namun Yo Wan adalah seorang pemuda yang sudah memiliki kepandaian tinggi.

Larinya cepat seperti kijang dan setiap kali melalui hutan atau gunung yang sukar, dia masih dapat berlari cepat.

Juga sebagal seorang pemuda yang berpakaian sederhana, tidak membawa apa-apa, dia terbebas dari gangguan para perampok yang hanya memperhatikan orang-orang yang membawa barang-barang berharga.

Setelah tiba di Pegunungan Himalaya, barulah pemuda itu mengalami kesukaran hebat.

Beberapa kali hampir saja dia celaka ketika perjalanannya sampai di bagian yang tertutup salju.

Dinginnya hampir tak tertahankan lagi.

Pernah ada gunung es longsor, gugur dan kalau dia tidak cepat melompat ke dalam jurang dan berlindung, tentu dia akan terkubur hidup-hidup dalam salju.

Kurang lebih sebulan dia melalui perjalanan yang amat sukar dan sunyi ini.

Hanya kadang-kadang dia berjumpa kelompok pengembara atau singgah di gubuk pertama.

Di tempat seperti ini, uang tidak ada artinya lagi, tidak dapat menolong seseorang dari kesengsaraan.

Hanya sikap yang baik dapat menolongnya, karena pertolongan datang dari orang-orangyang tidak terbeli oleh harta, melainkan oleh keramahan.

Dari para pertapa inilah Yo Wan akhirnya sampai juga di Anapurna, tempat pertapaan Bhewakala.

Pendeta Itu amat girang melihat kedatangan Yo Wan yang berlutut di depannya dan menceritakan semua pengalamannya di Hoa-San.

"Ha... ha... ha, Pendekar Buta memang hebat dan dia cukup menghargai orang lain maka dia menyuruh kau datang ke sini, muridku. Memang dia betul, biarpun ilmu-ilmu yang pernah kau latih dari aku dan Sin-Eng-Cu telah mendarah daging pada tubuhmu, namun masih mentah karena kau belum dapat menyelami inti sarinya. Nah, mulai hari ini kau belajarlah baik-baik muridku."

Ternyata Bhewakala tidak hanya menggembleng Yo Wan dalam ilmu silat untuk menyempurnakan ilmunya, akan tetapi juga memberi gemblengan-gemblengan ilmu batin kepada Yo Wan.

Makin lama makin betah pemuda ini tinggal di Himalaya, makin meresap ke dalam hatinya pelajaran kebatinan dan biarpun dia masih buta huruf karena tidak pernah mempelajarinya, namun kini mata hatinya sudah terbuka dan dapatlah dia meneropong ke dalam penghidupan manusia.

Mengertilah dia kini akan ucapan Kun Hong tentang dendam dan balas-membalas, dan makin lama makin tipislah keinginan hatinya untuk mencari The Sun dan membunuhnya.

Lenyap pula hasratnya untuk merantau di dunia ramai karena di samping Gurunya, di tempat yang sunyi dan dingin ini, dia telah menemukan ketenteraman hidup, kebahagiaan sejati manusia yang tidak digoda kehendak nafsu, sedikit demi sedikit melepaskan diri dari lingkaran karma.

Waktu berjalan pesat seperti anak panah terlepas dari busurnya, Sembilan tahun lamanya Yo Wan berada di Himalaya dan pada suatu hari Bhewakala yang sudah tua itu jatuh sakit.

Pendeta ini maklum bahwa waktu hidupnya sudah tiba pada saat terakhir.

la tidak ingin muridnya yang terkasih itu menyia-nyiakan hidup sebagai pertapa selagi masih begitu muda.

Dipanggilnya Yo Wan dan dengan suara lirih dan nafas tinggal satu-satu Pendeta ini meninggalkan pesan.

"Yo Wan, saat bagiku untuk meninggalkan dunia sudah hampir tiba. Aku girang dengan peristiwa ini, karena selain berarti kebebasanku, juga kau akan terlepas dari ikatanmu dengan aku. Ilmu yang kau miliki sudah cukup untuk bekal hidup. Bertahun-tahun kau tetap menolak perintahku untuk turun gunung dan merantau, dengan alasan ingin melayani aku yang sudah tua sebagai pembalas budi. Kau masih terikat oleh budi, tentu tak mudah melepaskan diri dari ikatan dendam. Akan tetapi kau sudah masak sekarang, matang lahir batin. Pesanku terakhir ini harus Kau taati, Yo Wan. Apabila aku meninggal dunia, kau harus bakar jenazahku di pondok ini, bakar semua yang berada di sini. Kemudian kau harus tinggalkan tempat ini, kembali ke Timur."

"Tapi... Guru"

"Tidak ada tapi, kau sebagai seorang anak tidak boleh menjadi anak yang Puthouw (tidak berbakti). Ada kuburan Ayahmu, ada kuburan Ibumu di sana, siapa yang akan merawatnya? Pula, kau bukan ditakdirkan hidup menjadi pertapa. Kau harus turun gunung, kembali ke dunia ramai, mencari jodoh, mempunyai turunan seperti manusia-manusia lain. Soal The Sun, terserah kebijaksanaanmu sendiri."

"Ah, Guru..."

Bhewakala tersenyum lebar.

"Biarkan dirimu menjadi permainan hidup, menjadi permainan kekuasan Tuhan, karena untuk itulah kau diberi hak hidup disertai kewajiban-kewajibannya. Kalau kau mengingkari pesanku ini, selamanya kau tak akan dapat tenteram, karena kau tentu tidak akan suka mengecewakan aku."

Yo Wan tak dapat membantah lagi karena dia maklum bahwa apa yang dikatakan Gurunya itu betul belaka.

la tidak mungkin mau mengecewakan orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya, sungguhpun masa depan di dunia ramai tidak menarik hatinya, bahkan menggelisahkan.

Pada malam harinya, Bhewakala menghembuskan nafas terakhir di depan Yo Wan.

Pemuda yang sekarang sudah berusia dua puluh lima tahun lebih hu menyambut kematian ini dengan wajar, tidak menangis, biarpun ada juga penyesalan akibat dari perpisahan dengan orang yang disegani dan dihormati.

la melaksanakan pesan Gurunya itu dengan baik-baik, membakar jenazah berikut pondok dan segala benda yang berada di situ.

Tiga hari tiga malam dia berkabung di tempat yang sudah menjadi gundul dan kosong itu, kemudian mulailah dia turun gunung, pagi-pagi berangkat ke arah munculnya matahari yang kemerah-merahan.

Bergidik dia melihat keindahan ini, karena dia merasa seakan-akan dia sedang berjalan menuju ke api neraka yang merah, dahsyat dan akan menelannya!

Kita tinggalkan dulu Yo Wan yang sedang turun dari Pegunungan Himalaya, memulai perjalanannya yang amat sunyi dan jauh serta sukar untuk mulai dengan perantauannya, dan marilah kita kembali mengikuti perjalanan Siu Bi, gadis lincah dan berhati tabah itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Siu Bi, puteri tunggal The Sun, meninggalkan Go-Bi-San dengan hati sakit.

Setelah ia mengetahui bahwa la bukan puteri The Sun, bukan keturunan keluarga The, simpatinya tertumpah kepada mendiang Hek Lojin yang telah terbunuh oleh The Sun.

Ia merasa menyesal dan kecewa.

Kiranya ia bukan puteri The Sun.

Siapakah orang Tuanya?

Apakah ia bukan anak Ibunya pula?

Mengingat ini, menangislah Siu Bi di sepanjang jalan.

Ia amat mencinta Ibunya, dan sekarang ia pergi tanpa pamit.

Biarpun orang yang selama ini mengaku Ayahnya telah mengecewakan hatinya dengan memukul mati Hek Lojin dan dengan kenyataan bahwa orang itu bukan Ayahnya yang sejati, namun Ibunya tak pernah melukai hatinya.

Ibunya selalu sayang kepadanya sehingga andaikata ia bukan Ibunya yang sejati, Siu Bi tetap akan mencintanya.

Betapapun juga, Siu Bi dapat menguasai perasaannya dan melakukan perjalanan dengan tabah.

Tujuannya hanya satu, yaitu mencari dan membalas dendam kepada Kwa Kun Hong!

la akan menantang Pendekar Buta itu sebagai wakil Hek Lojin dan berusaha sedapatnya untuk membuntungi sebelah lengan Pendekar Buta, juga lengan isterinya dan anak-anaknya.

la sudah bersumpah di dalam hati kepada kong-kongnya, Hek Lojin.

la merasa yakin akan dapat melakukan tugas ini.

Setelah mewarisi Ilmu Pedang Cui-Beng Kiam-Sut dan Ilmu Pukulan Hek-In-Kang, ia merasa dirinya cukup kuat dan tidak gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.

Ingat akan hal ini, Siu Bi menjadi bersemangat dan di bawah sebatang pohon besar ia berhenti lalu berlatih dengan kedua ilmu silat itu.

Memang hebat sekali ilmunya ini.

Pedangnya, hanya sebatang Pedang biasa saja, berubah menjadi gulungan sinar putih yang naik turun menyambar-nyambar, di antara awan menghitam yang merupakan uap dari pukulan-pukulan Hek-In-Kang.

Ketika ia berhenti berlatih sejam kemudian, di bawah pohon sudah penuh daun-daun pohon yang terbabat putus tangkainya oleh sinar pedangnya dan yang rontok oleh hawa pukulan Hek-In-Kang!

Siu Bi berdiri tegak, kepalanya tunduk memandangi daun-daun itu dengan hati puas.

Pendekar Buta, pikirnya, lenganmu dan lengan-lengan anak isterimu akan putus seperti daun-daun ini!

Sebagai seorang gadis remaja yang baru berusia tujuh belas tahun lebih, Siu Bi melakukan perjalanan yang amat jauh dan sulit.

Go-Bi-San merupakan pegunungan yang luas dan jalan menuruni pegunungan ini sama sukarnya dengan jalan pendakiannya.

Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi Siu Bi tidak menemui kesukaran.

Tubuhnya bergerak lincah dan ringan, kadang-kadang dia harus melompat jurang.

Dengan Ginkangnya yang tinggi ia dapat melompat bagaikan terbang saja, tubuhnya ringan meluncur di atas jurang, dilihat dari jauh tiada ubahnya seorang dewi dari kahyangan yang terbang melayang turun ke dunia.

Pakaiahnya yang terbuat dari sutera halus berwarna merah muda, biru dan kuning itu berkibar-kibar tertiup angin ketika ia melompat.

Ronce-ronce Pedang yang tergantung di punggungnya menambah kecantikan dan kegagahannya.

Berpekan-pekan Siu Bi keluar masuk hutan, naik turun gunung, melalui banyak dusun-dusun di kaki gunung dan melalui beberapa kota pegunungan.

Setiap kali dia bertemu orang, tentu dia menjadi pusat perhatian.

Apalagi kaum pria, melihat seorang gadis remaja demikian cantik jelitanya, memandang penuh kekaguman.

Namun tiada orang berani mengganggu, karena tidak hanya Pedang di punggung Siu Bi yang membuktikan bahwa gadis remaja jelita itu seorang ahli silat, akan tetapi juga Siu Bi tidak menyembunyikan gerak-geriknya yang lincah dan ringan, sehingga setiap orang tahu bahwa dia adalah seorang Pendekar wanita muda yang tidak boleh dibuat main-main!

Pada suatu hari sampailah ia di kota Pau-Ling di tepi Sungai Huang-Ho, setelah melakukan perjalanan sebulan lebih ke Selatan.

Sebetulnya Pau-Ling tidak patut disebut kota, melainkan sebuah dusun yang menghasilkan banyak padi dan gandum.

Tanah di lembah Sungai Huang-Ho ini amat subur sehingga pertanian banyak maju, hasilnya berlimpah-limpah.

Karena letaknya dekat dengan sungai besar, maka dusun ini makin lama makin ramai dengan perdagangan melalui sungai.

Hasil-hasil sawah ladang diangkut melalui, sungai dengan perahu-perahu besar.

Ketika Siu Bi lewat di pelabuhan sungai, ia melihat banyak orang mengangkat padi dan gandum berkarung-karung ke atas perahu-perahu besar.

Orang-orang ini bekerja dengan wajah muram, tubuh mereka kurus-kurus dan pakaian mereka penuh tambalan.

Beberapa orang yang memegang cambuk dan berpakaian sebagai mandor, membentak-bentak dan ada kalanya mengayun cambuk ke punggung seorang pengangkut yang kurang cepat kerjanya.

Ada lima enam orang mandor yang galak-galak, dan (Lanjut ke

Jilid 05) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 melihat Siu Bi lewat, mereka tertawa-tawa dan memandang dengan mata kurang ajar.

Ada yang bersiul-siul dan menuding-nuding ke arah Siu Bi.

Panas hati Siu Bi.

Namun ia menahan sabar, karena ia tidak mau kalau perjalanannya tertunda hanya karena ada beberapa orang laki-laki yang memperlihatkan kekaguman terhadap kecantikannya secara kurang ajar.

la mempercepat langkahnya dan sebentar saja ia sudah tiba di luar dusun Pau-Ling.

Akan tetapi kembali di luar dusun, di kanan kiri jalan di mana sawah ladang membentang luas, ia disuguhi pemandangan yang amat mencolok mata.

Belasan orang laki-laki yang keadaannya miskin dan kurus seperti para kuli angkut karung gandum dan padi tadi, bekerja di sawah, menuai gandum.

Belasan orang wanita juga bekerja.

Mereka bekerja dengan penuh semangat, akan tetapi jelas bukan semangat yang mengandung kegembiraan, melainkan semangat karena ketakutan.

Beberapa orang mandor menjaga mereka dengan cambuk di tangan pula.

Di sana-sini terdengar cambuk berbunyi ketika melecut punggung, diiringi jerit kesakitan.

Siu Bi berdiri terpaku.

Hatinya mulai panas.

Akan tetapi ia kiranya tidak akan sembarangan mau mencampuri urusan orang kalau saja tidak melihat kejadian yang membuat wajahnya yang jelita menjadi kemerahan saking marahnya.

la melihat betapa seorang wanita setengah tua yang tampaknya sakit, roboh terpelanting setelah menerima cambukan pada punggungnya.

Seorang gadis yang usianya sebaya dengan dia menjerit dan menubruk wanita itu, menangisi Ibunya yang sudah pingsan.

Dua orang mandor cepat menghampiri mereka, yang seorang sekali sambar telah mengangkat tubuh gadis itu dan...

menciuminya sambil terkekeh-kekeh dan berkata.

"Ha... ha... ha, jangan kau besar kepala setelah terpakai oleh majikan! Lain hari kau tentu akan diberikan kepadaku...Ha... ha... ha!"

Adapun mandor kedua dengan marahnya menghajar wanita setengah tua itu dengan cambuk, memaki-maki.

"Anjing betina! Siapa suruh kau pura-pura mampus di sini? Hayo berdiri dan bekerja, kalau tidak kucambuki sampai hancur badanmu!"

Siu Bi tak dapat menahan kesabarannya lagi.

"Keparat jahanam, lepaskan mereka!"

Bagaikan seekor burung walet cepat dan ringannya, tubuh Siu Bi sudah melayang dekat orang yang menciumi gadis tadi, sekali kakinya bergerak menendang terdengar suara.

"Bukkk!"

Dan mandor yang galak dan ceriwis itu terlempar sampai empat meter lebih dan jatuh terbanting ke dalam lumpur. Hanya beberapa detik selisihnya, tahu-tahu terdengar suara.

"Ngekkk!"

Ketika orang kedua yang mencambuki wanita setengah tua itu terlempar pula oleh tendangan Siu Bi, hampir menimpa kawannya yang baru merangkak-rangkak bangun.

Semua pekerja serentak menghentikan pekerjaan mereka, berdiri terpaku.

Muka mereka pucat dan hampir saja mereka tidak percaya apa yang mereka lihat tadi.

Seperti dalam mimpi saja.

Siapakah orangnya berani melawan para mandor?

Kiranya hanya seorang gadis yang cantik jelita, seorang gadis remaja.

"Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwa Im) menolong kita..."

Bisik seorang laki-laki tua dan serentak mereka menjatuhkan diri berlutut menghadapi Siu Bi.

Pada masa itu, kepercayaan orang-orang terutama orang-orang dusun, tentang kesaktian Dewi Kwan Im yang sering kali muncul atau menjelma untuk membersihkan kekeruhan dunia dan menolong orang-orang sengsara, masih amat tebal.

Dewi Kwan Im, terkenal sebagai Dewi Welas Asih, dewi lambang kasih sayang dan penolong yang juga terkenal amat cantik jelita.

Kini melihat seorang dara jelita berani melawan dua orang mandor, dan sekali tendang dapat membuat dua orang mandor galak itu terpelanting dan roboh, otomatis mereka menganggap bahwa Dewi Kwan Im yang menolong mereka.

Akan tetapi dua orang mandor itu tidak berpendapat dermkian.

Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang kasar, yang tahu akan wanita-wanita pandai ilmu silat seperti Siu Bi.

Mereka malu dan marah sekali, akan tetapi untuk beberapa menit mereka tak berdaya karena ketika terbanting tadi, Muka mereka mencium lumpur sehingga sibuk mereka membersihkan lumpur dari mata, hidung, dan mulut, meludah-ludah dan menyumpah-nyumpah.

Empat orang kawan mereka sudah datang berlari, diikuti para pekerja yang ingin melihat apa yang terjadi di situ.

Para pekerja ketika melihat teman-temannya berlutut menghadapi Siu Bi dan melihat dua orang mandor merangkak dengan muka penuh lumpur seperti monyet, segera mengerti atau dapat menduga duduknya perkara.

Tanpa banyak komentar lagi mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada Dewi Kwan Im yang menjelma sebagai gadis cantik dan sedang menolong mereka itu!

Empat orang mandor tadinya masih belum menduga apa yang terjadi, akan tetapi dua orang mandor yang merangkak di lumpur itu segera berkaok-kaok,"

"Tangkap gadis setan itu, berikan padaku nanti"

Mendengar ini, empat orang mandor lari menghampiri Siu Bi. Seorang di antara mereka yang berkumis tikus membentak.

"Bocah, siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa yang kalian lakukan, bukan apa yang aku lakukan, yang menjadi persoalan,"

Suara Siu Bi merdu dan nyaring sehingga para pekerja miskin itu makin percaya bahwa dara ini, tentulah penjelmaan Kwan Im Pouwsat!

"Kalian berenam ini manusia ataukah binatang-binatang buas, menekan orang-orang miskin ini, mencambuki mereka, menghina Wanitanya.

Yang kulakukan tadi hanya menendang dua orang kawanmu itu sebagai pelajaran.

Kalau kalian serupa dengan mereka, kalian berempat pun akan kuberi tendangan seorang sekali."

Dapat dibayangkan, betapa marahnya empat orang itu.

Mereka adalah mandor-mandor jagoan alias tukang-tukang pukul dari Bhong-Loya (Tuan tua she Bhong) yang menjadi Lurah dan manusia paling kaya di Pau-Ling.

Semua sawah ladang adalah milik Bhong-Loya, semua perahu besar adalah milik Bhong-Loya.

Siapa berani menentang Bhong-Loya yang mempunyai pengaruh besar pula di Kota Raja?

Para pembesar dari Kota Raja adalah teman-temannya, para buaya darat adalah kaki tangannya, dan para mandor adalah bekas-bekas jagoan dan perampok yang memiliki kepandaian.

Kini anak perempuan yang masih hijau iru berani memandang rendah mereka?

"Bocah setan, kau harus diseret ke depan Bhong-Loya dan ditelanjangi, terus dipecut seratus kali sampai kau menjerit-jerit minta ampun, baru tahu rasa"

Bentak seorang di antara mereka.

Akan tetapi baru saja tertutup mulutnya, tubuhnya sudah terlempar ke dalam lumpur oleh sebuah tendangan kaki kiri Siu Bi!

Gerakan Siu Bi tadi cepat bukan main, tendangannya hanya tampak perlahan saja akan tetapi akibatnya terlihat oleh semua orang.

Tubuh si tukang pukul yang tinggi besar itu melayang bagaikan sehelai daun kering tertiup angin.

Tiga mandor yang lain dengan marah menerkam maju.

Mereka tidak menggunakan aturan perkelahian lagi, karena di samping kemarahan mereka, juga mereka kagum dan tergila-gila akan kecantik-jelitaan yang jarang bandingannya di kota Pau-Ling.

Maka mereka berusaha meringkus dan memeluk gadis galak itu untuk memuaskan kemarahan dan kegairahan mereka.

"Brukkk!"

Tiga orang itu mengaduh karena mereka saling tabrak dan saling adu kepala.

Dalam kegemasan tadi, mereka menubruk berbareng, seperti tiga ekor kucing menubruk tikus.

Tapi yang ditubruk hilang, yang menubruk sailing beradu kepala.

Siu Bi tidak mau bertindak kepalang tanggung.

Dengan gerakan yang cepat sekali kedua kakinya menendang dan di lain saat tiga orang tukang pukul itu juga sudah terpelanting masuk ke dalam lumpur di sawah.

"Lopek, mengapa mereka itu amat kejam terhadap kalian?"

Siu Bi bertanya kepada seorang petani tua yang berlutut paling dekat di depannya, sama sekali ia tidak peduli lagi pada enam orang mandor yang kini sibuk berusaha membuka mata yang kemasukan lumpur.

"Pouwsat (Dewi) yang mulia... kami adalah petani-petani dusun yang sengsara dan miskin... tolonglah kami, karena sekarang sekedar untuk dapat makan kami telah diperas dan ditekan oleh Bhong-Loya... mereka itu adalah tukang-tukang pukul Bhong-Loya..."

"Tan-Lopek, kenapa kau begitu lancang mulut...?"

Tegur seorang petani di belakangnya yang nampak ketakutan sekali.

"Apa kau tidak takut akan akibatnya kalau Pouwsat sudah kembali ke kahyangan?"

Siu Bi menahan senyum geli hatinya mendengar bahwa ia disebut Pouwsat.

Dianggap Kwan Im!

Mengapa tidak?

Kwan Im Pouwsat adalah seorang dewi yang penuh kasih terhadap manusia.

Kata kong-kongnya, dunia kang-ouw banyak orang-orang pandai yang mempunyai nama julukan.

Dia telah mewarisi kepandaian tinggi, sudah sepatutnya mempunyai nama julukan pula.

Kwan Im?

Nama julukan yang baik sekali.

"Jangan takut. Aku akan membela kalian dan memberi hajaran kepada mereka yang jahat. Apakah mandor-mandor ini jahat terhadap kalian?"

"Jahat?"

Petani tua yang disebut Tan-Lopek oleh temannya tadi mengulang kata-kata ini, mukanya memperlihatkan bayangan kemarahan yang memuncak.

"Mereka itu lebih jahat daripada Bhong-Loya sendiri! Mereka itu seperti serigala-serigala kelaparan, entah berapa banyak di antara kami yang mereka bunuh, mereka aniaya menjadi manusia-manusia cacad dan selanjutnya hidup sebagai jembel."

Makin panas hati Siu Bi.

Orang-orang jahat yang suka menganiaya dan membunuh orang patut dihukum, pikirnya.

Ketika ia membalikkan tubuh ke arah enam orang mandor itu, ternyata mereka sudah bangkit dari lumpur, berhasil mencuci muka dengan air sawah, lalu kini mereka melangkah lebar sambil mencabut pedang.

Dengan sikap mengancam mereka menghampiri Siu Bi, Pedang di tangan, nafsu membunuh tampak pada mata mereka yang merah.

"Setan betina. Berani kau main gila dengan para Ngohouw (tukang pukul) dari Bhong-Loya? Bersiaplah untuk mampus dengan tubuh tercincang hancur!"

Teriak si kumis tikus sambil menerjang lebih dulu dengan ayunan pedangnya.

Melihat gerakan mereka, Siu Bi memandang rendah.

Mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan kekuasaan saja, sama sekali tidak memiliki ilmu kepandaian yang berarti.

Oleh karena ini ia merasa tak perlu harus menggunakan pedangnya.

Tanpa mencabut pedang, ia menghadapi serangan si kumis tikus.

Dengan ringan ia miringkan tubuh, tangan kirinya menyambar.

Pada waktu itu, tangan kiri Siu Bi telah terlatih dan penuh terisi hawa Hek-In-Kang.

Ada bayangan sinar hitam berkelebat ketika tangan kirinya bergerak.

Tahu-tahu si kumis tikus berteriak keras dan terpelanting roboh, Pedang di tangan kanannya sudah berpindah ke tangan Siu Bi.

Cepat bagaikan kilat menyambar, Pedang itu membabat ke bawah dan buntunglah tangan kanan si kumis tikus itu sebatas siku.

Orangnya menjerit dan pingsan!

Lima orang kawannya segera menerjang dengan marah.

Namun kali ini Siu Bi tidak mau memberi ampun lagi.

Pedang rampasan di tangannya berkelebatan dan lenyap bentuknya sebagai pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung.

Jerit susul-menyusul dan dalam beberapa jurus saja, lima orang itu sudah kehilangan lengan kanan mereka sebatas siku.

Agaknya, teringat akan janjinya kepada Kakeknya, Hek Lojin, gadis ini kalau marah terdorong oleh nafsu membuntungi lengan orang, terutama orang-orang jahat, seperti enam orang mandor ini, seperti Pendekar Buta Kwa Kun Hong dan anak isterinya!

Dengan tenang Siu Bi membalikkan tubuh menghadapi para petani yang masih berlutut dan yang kini semua pucat wajahnya karena ngeri menyaksikan peristiwa pembuntungan enam orang mandor itu.

Di dalam hati mereka puas karena ada "Sang Dewi"

Yang membalaskan dendam mereka terhadap mandor-mandor yang kejam itu, akan tetapi mereka juga amat takut akan akibatnya. Alangkah akan marahnya Bhong-Loya, pikir mereka.

"Para Paman dan Bibi, jangan kalian takut. Sekarang mari antarkan aku ke rumah orang she Bhong yang sewenang-wenang itu, jangan takut, aku akan menanggung semua perkara ini, kalian hanya mengantar dan menonton saja."

Mula-mula para petani itu ketakutan. Mendatangi rumah Bhong-Loya? Sama dengan mencari penyakit, mencari celaka. Akan tetapi petani tua itu bangkit berdiri.

"Mari, Pouwsat, saya antarkan. Biar aku akan dipukul sampai mati, aku sudah puas melihat ada yang berani membela kami dan memberi hajaran kepada manusia-manusia berwatak binatang itu."

Melihat semangat empek tua ini banyak pula yang ikut bangkit.

Akan tetapi hanya beberapa belas orang saja dan semua laki-laki.

Yang lain-lain tetap berlutut tak berani mengangkat muka.

Akan tetapi bukan maksud Siu Bi untuk mengajak banyak orang, karena yang ia kehendaki hanya petunjuk jalan agar ia tidak usah mencari-cari di mana rumah manusia she Bhong itu.

Dengan wajah membayangkan perasaan geram dan nekat, belasan orang laki-laki yang sebagian besar bertelanjang kaki dan berpakaian penuh tambalan itu mengantar Siu Bi menuju ke dusun.

Rombongan ini tentu saja menarik perhatian banyak orang, apalagi ketika mereka mendengar dari para pengiring Siu Bi tentang perbuatan gadis jelita itu membuntungi lengan enam orang mandor di sawah.

Gempar seketika keadaan dusun Pau-Ling, lebih-lebih ketika para petani miskin itu menyatakan tanpa keraguan bahwa dara jelita yang mereka iringkan ini adalah penjelmaan Kwan Im Pouwsat!

Segera banyak orang ikut mengiringkan walaupun dari jarak agak jauh sebagai penonton karena mereka tidak ingin menimbulkan kemarahan Bhong-Loya, maka tidak menggabungkan diri dengan rombongan petani itu, melainkan sebagai rombongan penonton.

Gedung besar yang menjadi tempat tinggal Bhong-Loya memang amat besar dan amat menyolok kalau dibandingkan dengan kemelaratan di sekelilingnya.

Bhong-Loya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, menjadi Lurah di dusun itu sudah bertahun-tahun.

Karena korupsi besar-besaran dan penghisapan atas tenaga murah para tani yang sebagian besar dahulunya merupakan pengungsi dari banjir besar Sungai Huang-Ho, maka dia menjadi kaya-raya.

Betapapun juga, harus diakui bahwa Bhong-Loya (Tuan tua Bhong) yang sebenarnya bernama Bhong Ciat itu tidaklah seganas dan sekeji orang-orangnya.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwasannya anjing-anjing peliharaan penjaga rumah jauh lebih galak dan ganas daripada majikannya.

Para petugas rendahan merupakan serigala-serigala buas yang selalu mengganggu rakyat miskin, tentu saja dengan bersandar kepada kekuasaan dan pengaruh Bhong Ciat.

Ransum untuk para pekerja kasar yang sudah ditentukan oleh Bhong Ciat, hanya sebagian kecil saja sampai di tangan para pekerja itu.

Upah pun demikian pula, dicatut, dipotong, dikurangi banyak tangan-tangan kotor sebelum sisanya yang tidak berapa itu masuk ke kantong para pekerja.

Celakanya, Bhong Ciat sudah terlalu mabuk akan kesenangan dan kemuliaan, sama sekali tidak memperhatikan keadaan rakyatnya, sama sekali tidak tahu bahwa orang-orangnya melakukan tekanan yang amat keji, dikiranya bahwa semua berjalan lancar dan licin, dan dia merasa bahagia di dalam rumah gedungnya, setiap hari menikmati makanan lezat dilayani oleh selir-selir muda dan cantik.

Lebih celaka lagi bagi para penduduk miskin di Pau-Ling, Lurah Bhong itu mempunyai seorang anak laki-laki, bukan anak sendiri melainkan anak pungut karena Bhong Ciat tidak mempunyai keturunan sendiri, seorang anak laki-laki yang sudah dewasa bernama Bhong Lam.

Pemuda inilah yang membuat keadaan menjadi makin berat bagi para penduduk karena Bhong Lam merupakan pemuda yang selalu mengumbar nafsu-nafsu buruknya.

Tidak ada seorang pun wanita yang muda dan cantik di dusun itu yang dapat hidup aman.

Tidak peduli anak orang, isteri orang, siapa saja asal gadis itu termasuk keluarga miskin, pasti akan dicengkeramnya.

Untuk maksud-maksud keji ini, Bhong Lam tidak segan-segan menghambur-hamburkan uang Ayah angkatnya.

Setiap hari dia berpesta-pora kadang-kadang kalau sudah bosan di dusun lalu pergi pesiar ke kota-kota lain diikuti rombongan tukang pukulnya dan di kota.

Inilah dia menghamburkan uang dan main gila.

Bhong Lam tidak hanya ditakuti karena dia putera angkat Bhong-Loya, akan tetapi juga karena dia merupakan seorang pemuda yang lihai ilmu silatnya.

la pernah belajar ilmu silat pada seorang Hwesio Siauw-lim perantauan, dan terutama sekali permainan Toyanya amat kuat dan semua tukang pukul keluarga Bhong tidak seorang pun dapat mengalahkannya.

Agaknya kepandaian inilah yang membuat Bhong Lam makin bertingkah, merasa seakan-akan dia sudah menjadi seorang pangeran!

Sebagai keluarga yang paling berkuasa di Pau-Ling, tentu saja banyak kaki tangannya.

Banyak pula petani-petani miskin yang berbatin rendah sehingga suka menjadi penjilat.

Oleh karena itu, peristiwa di sawah tadi sudah pula sampai kabarnya di rumah gedung Bhong Ciat sebelum rombongan yang mengiringkan Siu Bi tiba di situ.

Ada saja petani miskin yang lari lebih dulu dan dengan maksud menjilat mencari muka, melaporkan kepada Bhong-Loya.

Pada saat itu, kebetulan sekali Bhong Lam juga berada di rumah.

Mendengar tentang peristiwa itu marahlah pemuda ini.

Cepat dia menyambar Toyanya dan menyatakan kepada Ayah angkatnya bahwa orang tua itu tidak perlu khawatir karena dia sendiri yang akan memberi hajaran kepada "Dewi palsu"

Itu.

Dengan geram Bhong Lam melompat dan lari keluar dari dalam gedung ketika mendengar suara ribut-ribut di luar gedung karena rombongan petani itu memang sudah tiba di sana.

Kemarahan Bhong Lam memuncak.

Akan dia bunuh wanita jahat itu dan semua petani yang mengiringkannya.

Tak seorang pun akan diberi ampun karena hal ini perlu untuk menakuti hati para petani agar tidak memberontak lagi.

"Setan betina, berani kau main gila...?"

Bhong Lam melompat keluar sambil menudingkan telunjuknya.

Akan tetapi tiba-tiba dia berdiri terpaku dan biarpun telunjuk kirinya masih menuding dan Toyanya dipegang di tangan erat-erat, namun matanya terbelalak mulutnya ternganga.

la melongo tak dapat mengeluarkan suara memandang wajah Siu Bi bagaikan terpesona dan kehilangan semangat.

Sungguh mati dia tidak mengira sama sekali bahwa Wanita yang telah membuntungi lengan enam orang mandornya itu adalah dara secantik bidadari.

Pantas saja disebut-sebut sebagai Dewi Kwan Im!

Belum pernah selama hidupnya dia melihat dara secantik ini, kecuali dalam alam mimpi dan dalam gambar.

Lebih suka dia rasanya untuk maju berlutut dan menyatakan cinta kasihnya daripada harus menghadapi dara ini sebagai lawan yang harus dibunuhnya.

Dibunuh?

Wah, sayang Lebih baik ditangkap dan...

ah, belum pernah dia mendapatkan seorang dara Pendekar.

Alangkah baiknya kalau dia berjodoh dengan gadis yang pandai ilmu silat pula seperti dia!

Senyum lebar menghias wajahnya yang tampan juga dan kini mulutnya dapat bergerak.

"Nona... eh, kau siapakah dan... eh, kudengar kau bertengkar dengan orang-orang kami? Kalau mereka. berbuat salah terhadap Nona, jangan khawatir, aku yang akan menegur dan menghukum mereka!"

Kalau saja Siu Bi dalam perjalanan ke rumah keluarga Bhong itu tidak mendengar penuturan petani tua tentang keadaan Bhong Ciat dan putera angkatnya, Bhong Lam, tentu ia akan tercengang dan heran menyaksikan sikap dan mendengar omongan pemuda ini.

Karena ia sudah mendengar bahwa pemuda yang menjadi putera angkat keluarga Bhong, seorang ahli main Toya, adalah pemuda yang paling jahat dan yang mata keranjang, maka sikap Bhong Lam sekarang ini baginya merupakan sikap ceriwis, bukan sikap ramah tamah.

Berkerut aiisnya yang kecil panjang ketika Siu Bi menodongkan Pedang rampasannya sambit bertanya.

"Kau kah yang bernama Bhong Lam?"

"Aduh mati aku..."

Bhong Lam bersambat dalam batinnya mendengar suara yang merdu itu. Bertanya dengan nada marah saja sudah begitu merdu, apalagi kalau suara itu dipergunakan untuk merayunya.

"Hayo jawab!"

Siu Bi tak sabar lagl melihat pemuda itu memandangnya tak berkedip. Bhong Lam sadar dan tersenyum dibuat-buat.

"Betul, Nona. Silakan Nona masuk."

Pada para petani itu Bhong Lam berseru.

"Kalian pergilah, kembali ke sawah. Tidak ada urusan apa-apa di sini. Nona ini adalah tamu agung kami, kesalahpahaman di sawah tadi habis sampai di sini saja."

"Siapa sudi mendengar omongan manismu yang beracun?"

Siu Bi membentak.

"Kau seorang yang amat jahat, mengandalkan kedudukan orang tua, mengandalkan harta benda dan kekuasaan untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Orang macam engkau ini tidak ada harganya diberi hidup lebih lama lagi."

Memang Siu Bi amat marah dan benci kepada pemuda ini setelah tadi ia mendengar penuturan para petani betapa pemuda ini telah menghabiskan semua gadis muda dan cantik di dusun itu, merampasi isteri orang sehingga banyak timbul hal-hal yang mengerikan, banyak di antara Wanita-wanita itu membunuh diri.

Sekarang melihat sikap pemuda ini yang ceriwis, matanya yang berminyak itu menatap wajahnya dengan lahap, kemarahannya memuncak.

"Nona, antara kita tidak ada permusuhan. Aku mengundang Nona menjadi tamu..."

"Jahanam perusak wanita! Tak usah berkedok bulu domba karena aku sudah tahu bahwa kau adalah seekor serigala yang busuk dan jahat!"

Bhong Lam adalah seorang pemuda yang selalu dihormat dan ditakuti orang.

Selama hidupnya, baru sekali ini dia dimaki-maki dan dihina.

Biarpun dia tergila-gila akan kecantikan Siu Bi, namun darah mudahnya bergolak ketika dia dimaki-maki seperti itu.

Mukanya menjadi merah sekali, apalagi melihat betapa para petani itu masih belum mau pergi, memandang kepadanya dengan mata penuh kebencian.

"Keparat, kau benar-benar lancang mulut, tidak bisa menerima penghormatan orang. kau kira aku takut kepadamu? Kalau belum dihajar, belum tahu rasa kau, dan biarlah aku memaksamu tunduk kepadaku dengan jalan kekerasaan!"

Setelah berkata demikian, Bhong Lam menerjang maju sambil memutar Toyanya.

Dengan senyum mengejek Siu Bi berkelebat, menghindarkan terjangan Toya dan balas menyerang.

la mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini memang jauh lebih tinggi daripada para mandor dan tukang pukul yang tiada gunanya tadi, namun baginya, pemuda inipun merupakan lawan yang empuk saja.

Pada saat itu, terdengar suara berisik dan para tukang pukul berdatangan ke tempat itu sambil membawa senjata.

Tukang pukul keluarga Bhong ada dua puluh orang jumlahnya, kini mendengar berita bahwa gedung majikan mereka didatangi seorang wanita yang mengamuk, tergesa-gesa mereka lari mendatangi.

Ketika mendengar bahwa ada enam orang teman mereka yang dibuntungi lengannya, mereka itu marah sekali.

Apalagi ketika melihat betapa Bhong-Siauwya (Tuan muda Bhong) mereka sekarang sedang bertempur melawan wanita itu dan berada dalam keadaan terdesak, kemarahan mereka memuncak dan tanpa diberi komando lagi, empat belas orang tukang pukul itu serentak maju mengeroyok.

Siu Bi tadi sudah mendengar keterangan para petani bahwa Lurah itu mempunyai dua puluh orang tukang pukul, maka melihat serbuan ini, maklumlah ia bahwa mereka semua sudah lengkap berkumpul di situ.

Memang inilah yang ia kehendaki, maka tadi ia tidak lekas-lekas merobohkan Bhong Lam, yaitu hendak memancing datangnya semua tukang pukul, baru ia hendak turun tangan.

"Para Paman, lihatlah aku membalaskan dendam kalian!"

Terdengar bentakan merdu dan nyaring di antara hujan senjata itu.

Para petani sudah gelisah sekali dan menggigil, maka mereka menjadi girang mendengar suara ini.

Seiring dengan bentakan merdu dan nyaring itu, lenyaplah tubuh Siu Bi, berubah menjadi bayangan berkelebat dibungkus sinar kehitaman.

Pedang Cui-Beng Kiam (Pedang Pengejar Roh) dan Ilmu Pukulan Hek-In-Kang digunakan oleh gadis itu, dan akibatnya mengerikan sekali.

Jerit dan tangis terdengar susul-menyusul.

Tubuh para tukang pukul roboh bergelimpangan satu demi satu dengan cara yang cepat sekali.

Paling akhir Bhong Lam yang tadinya mainkan Toya dengan ganas itu pun roboh tersungkur tak dapat berkutik lagi.

Tidak sampai seperempat jam lamanya, empat belas orang tukang pukul itu roboh semua dengan lengan kanan terbabat putus sedangkan Bhong Lam sendiri roboh tak berkutik, darah mengucur dari dadanya yang sudah tertembus pedang.

Mandi darah dan hujan rintihan memenuhi halaman itu.

Para petani yang tadinya menonton dengan jantung berdebar, kini tidak berani memandang lagi.

Mereka adalah korban-korban kekejaman dan sering kali mereka itu disiksa, akan tetapi menyaksikan ini membuat mereka menggigil dan tidak berani memandang lagi.

Mereka memang menaruh dendam dan ingin sekali menyaksikan penyiksa-penyiksa"

Mereka itu terbalas dan terhukum, namun apa yang dilakukan oleh "Dewi Kwan Im"

Ini benar-benar amat menyeramkan.

Empat belas orang dan enam orang mandor di sawah, dibuntungi lengannya sedangkan Bhong-Kongcu tewas.

Semua tukang pukul merintih-rintih memegangi lengan kanan yang buntung dengan tangan kiri, bingung melihat darahnya sendiri mengucur seperti pancuran.

Siu Bi seperti seekor harimau betina mencium darah.

Dengan sikap beringas karena mengira bahwa akan datang antek-antek keluarga Bhong, ia menantang.

"Hayo, kalau masih ada binatang-binatang keji penindas orang-orang miskin, majulah dan inilah lawanmu, aku Cui-Beng Kwan-Im!"

Seorang laki-laki setengah tua, Bhong-Loya sendiri, yaitu Lurah Bhong Ciat, diiringi isterinya, berlari tersaruk-saruk keluar gedung dan menangislah kedua Suami isteri ini setelah melihat putera tunggal mereka menggeletak mandi darah tak bernyawa lagi.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan datanglah serombongan orang berkuda.

Melihat pakaian mereka, terang bahwa mereka adalah prajurit-prajurit istana, berjumlah dua puluh empat orang, dikepalai oleh seorang muda yang amat gagah dan tampan.

"Minggir! Bun-Enghiong (Pendekar Bun) datang...!"

Teriak orang-orang yang tadinya berkumpul memenuhi tempat itu, menonton kejadian yang hebat di depan gedung Lurah Bhong.

Pemuda tampan itu memberi tanda dengan tangan menyuruh barisannya berhenti.

Dia sendiri melompat turun dan atas kudanya dan lari memasuki pekarangan.

Alisnya yang tebal itu bergerak-gerak, matanya terbelalak heran menyaksikan empat belas orang tukang pukul merintih-rintih dengan lengan buntung serta Bhong-Kongcu tewas ditangisi Ayah Bundanya."

Adapun Bhong Ciat, ketika mendengar seruan orang-orang dan melihat pemuda gagah itu, segera menangis sambil menyambut dan berlutut di depan pemuda itu.

"Aduh, Bun-Enghiong... tolonglah kami... malapetaka telah menimpa keluarga kami, anak kami tewas... orang-orang kami buntung semua lengan mereka... penasaran... penasaran..."

"Paman Bhong, siapa yang melakukan perbuatan keji itu?"

Si pemuda tampan bertanya, pandang matanya mencari-cari.

"Aku yang melakukan!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus.

Pemuda itu cepat memandang dan dia melongo.

Sinar matanya yang tajam itu jelas tidak percaya, dan sampai lama dia memandang Siu Bi.

Kemudian dia tersenyum, sama sekali tidak mau percaya ketika dia berkata.

"Nona, harap kau jangan main-main dalam urusan yang begini hebat. Lebih baik Nona tolong memberi tahu siapa mereka yang telah melakukan pengamukan seperti ini."

"Siapa main-main? Huh, memberi hajaran kepada anjing-anjing ini saja apa sih sukarnya? Biar ada sepuluh kali mereka banyaknya, semua akan kurobohkan!"

Siu Bi menyombong, pedangnya digerakkan melintang di depan dada, gerakan yang amat indah dan gagah. Berubah wajah pemuda tampan itu, sinar matanya menyinarkan kekerasan dan kekagetan.

"Nona siapakah?"

"Huh, baru bertemu tanya-tanya nama segala, mau apa sih? Kau sendiri siapa, lagaknya kayak pembesar, datang-datang main urus persoalan orang lain!"

Pemuda itu memberi hormat sambil menjura, Bibirnya tersenyum dan matanya untuk sedetik menyinarkan kegembiraan.

"Nona, ketahuilah, aku yang rendah bernama Bun Hui. Bolehkah sekarang aku tahu, siapa Nona?"

"Aku Cui-Beng Kwan-Im!"

Jawab Siu Bi berlagak, mengedikkan kepala membusungkan dada dan pandang matanya menantang, memandang rendah, sungguhpun diam-diam dia kagum melihat pemuda yang tampan dan gagah ini, Bun Hui tercengang.

la tahu bahwa nona itu menggunakan nama samaran atau nama julukan.

Julukan yang hebat.

Memang cantik jelita seperti Kwan Im, dan ganas seperti setan pengejar nyawa!

la mengingat-ingat.

Sudah banyak dia mengenal tokoh-tokoh dunia kang-ouw, lebih banyak lagi yang sudah dia dengar namanya, namun belum pernah dia mendengar nama julukan Cui-Beng Kwan-Im!

Apalagi kalau yang punya nama itu seorang dara jelita seperti ini!

Sementara itu, petani tua yang tadi mempelopori kawan-kawannya kini mendekati Siu Bi dan berbisik.

"Pouwsat (Dewi), dia itu adalah Bun-Enghiong, putera Bun-Goanswe (Jenderal Bun) yang amat berkuasa di Kota Raja dan terkenal sebagai keluarga yang amat adil dan ditakuti pembesar macam Bhong-Loya."

Siu Bi mengangguk-angguk, akan tetapi hatinya mendongkol.

Jadi pemuda ini putera pembesar tinggi yang ditakuti semua orang?

Hemmm, dia tidak takut!

"Eh, orang she Bun, kiranya kau putera pembesar yang katanya adil?

Huh, siapa sudi percaya?

Kalau kau atau Ayahmu benar adil, tentu tidak akan membiarkan para penduduk miskin dusun ini ditekan dan dicekik oleh Lurah Bhong dan kaki tangannya.

Karena kau dan Ayahmu, biarpun merupakan pembesar-pembesar tinggi, tidak becus memberi hajaran kepada bawahanmu macam anjing-anjing ini, maka aku yang turun tangan memberi hajaran.

Sekarang kau mau apa?"

Mau membela mereka? Boleh! Aku tidak takut!"

Bun Hui terheran-heran dan diam-diam dia amat kagum di samping kemarahannya akan kesombongan dara ini. Ia menoleh ke arah Bhong Ciat yang masih berlutut, lalu bertanya.

"Betulkah apa yang dikatakan Nona ini, Paman Bhong?"

Bhong Ciat adalah seorang yang pandai mengambil hati, karena kekayaannya dia pandai bermuka-muka sehingga banyak pembesar di Kota Raja dapat dikelabuhi, mengira dia seorang baik dan pandai mengurus kewajibannya.

Tadinya Bun Hui juga mendapat kesan baik akan diri Lurah ini, maka hari itu dia hendak membelokkan tugas kelilingnya ke dusun Pau-Ling.

"Bohong, Bun-Enghiong, Nona itu mengatakan fitnah!"

Bhong Ciat cepat membantah.

"Siapa yang menindas orang? Harap tanyakan saja kepada para saudara petani."

Akan tetapi belum juga Bun Hui melakukan pertanyaan, para petani itu serempak berteriak-teriak.

"Memang betul ucapan Pouwsat! Bertahun-tahun kami ditindas dan hidup sengsara di bawah telapak kaki Bhong-Kongcu dan kaki tangannya yang kejam! Bhong-Loya tidak tahu apa-apa, enak-enak saja di dalam gedung tidak peduli, akan keganasan puteranya, selalu berpihak kepada puteranya!"

Biarpun orang-orang itu bicara tidak karuan dan saling susul, namun isi teriakan-teriakan itu adalah cukup bagi Bun Hui. la kini menghadapi Siu Bi kembali, yang masih berdiri tegak menantang.

"Nah, apakah kau masih hendak memihak Lurah yang bejat moralnya ini? Boleh, aku tetap berpihak kepada mereka yang tertindas!"

"Sabar, Nona. Aku tidak berpihak kepada siapa-siapa, melainkan berpihak kepada hukum. Ketahuilah, oleh yang mulia Kaisar, Ayahku diberi tugas untuk meneliti dan mengawasi sepak-terjang para petugas negara. Sekarang, sebagai wakil Ayah, aku menghadapi peristiwa ini. Bukanlah kewajibanku untuk mengambil keputusan di sini, khawatir kalau-kalau aku terpengaruh oleh salah satu pihak dan dianggap tidak adil. Oleh karena itu, aku persilakan Nona suka ikut bersamaku, juga Paman Bhong, dan beberapa orang saudara tani sebagai saksi. Beranikah Nona menghadapi pemeriksaan pengadilan yang berwenang?"

Biarpun masih muda, baru dua puluh lewat usianya, Bun Hui memiliki kecerdikan yang berhubungan dengan tugasnya mewakili Ayahnya.

Oleh kecerdikannya ini dia dapat menghadapi Siu Bi.

la dapat menyelami watak dara lincah yang tidak mungkin mau mengalah itu, maka sengaja dia menantang apakah Siu Bi berani menghadapi pemeriksaan pengadilan.

Benar saja dugaannya, dengan mata berapa gadis itu membentaknya.

"Mengapa tidak berani? Hayo, biar malaikat sendiri datang mengadili, aku tidak takut karena aku membela keadilan!"

Serunya.

"Bagus sekali!"

Bun Hui berseru girang.

"Nona betul gagah perkasa. Banyak orang kang-ouw yang tidak mau tahu akan pemeriksaan pengadilan negara, seakan-akan mereka itu tidak bernegara, dan tidak mengenal hukum. Mereka suka menjadi hakim sendiri menurut kehendak hati, sehingga terjadilah balas-membalas dan permusuhan di mana-mana."

Siu Bi mengerutkan keningnya. Ini tidak menyenangkan hatinya, karena ia sendiri menganggap dirinya seorang tokoh kang-ouw pula, biarpun belum ternama.

"Karena mereka itu tidak berani!"

Serunya, ingin menang.

"Memang, karena mereka itu tidak berani, dan Nona tentu saja berani menghadapi apa saja."

"Tentu aku berani, takut apa? Kalau aku tidak bersalah, siapapun juga akan kulawan dan kuhadapi dengan pedangku!"

Bun Hui tersenyum dan segera memberi perintah kepada anak buahnya untuk menyiapkan kuda. la sendiri lalu memberikan kudanya kepada Siu Bi.

"Mari, Nona, kita berangkat."

Kepada para petani yang tidak ikut menjadi saksi, dia berkata.

"Paman sekalian harap rawat mereka yang terluka. Mulai saat ini di dusun Pau-Ling tidak boleh terjadi keributan, tidak boleh ada yang menggunakan kekerasan. Kalau terjadi sesuatu penasaran, harap lapor kepadaku."

Berangkatlah rombongan itu.

Siu Bi naik kuda di samping Bun Hui, di depan barisan.

Lurah Bhong dan enam orang petani saksi berada di tengah rombongan.

Para penduduk Pau-Ling mengantar rombongan itu dengan pandangan mata mereka.

Banyak yang berlinang air mata karena girang, terharu dan juga khawatir akan keselamatan Siu Bi.

Nama Cui-Beng Kwan-Im akan tetap terukir di sanubari para petani miskin di Pau-Ling karena sesungguhnya, semenjak Siu Bi turun tangan, penderitaan mereka lenyap, setelah di dusun itu diperintah oleh seorang Lurah baru yang adil sehingga tidak ada lagi terjadi pemerasan dan penindasan di situ.

Tak seorang pun tahu bahwa semua peristiwa semenjak Siu Bi dikeroyok tadi, dilihat oleh sepasang mata yang amat tajam, yang tadi memandang kagum, kemudian memandang khawatir ketika melihat gadis itu ikut pergi bersama rombongan Bun Hui.

Tanpa diketahui siapa-siapa, pemilik sepasang mata ini diam-diam mengikuti rombongan.

Hebatnya, biarpun rombongan itu berkuda, dia dapat berlari cepat dan tetap mengikuti di belakang rombongan.

Dia seorang laki-laki muda, kurang dari tiga puluh tahun, pakaiannya sederhana, sikapnya halus dan pendiam.

Siapa lagi kalau bukan Si Jaka Lola, Yo Wan!

Seperti kita ketahui, Yo Wan meninggalkan Pegunungan Himalaya, menuju ke Timur dalam perantauannya.

Timbul pikirannya untuk mengunjungi Hoa-San.

Ketika dia mengenangkan peristiwa di Hoa-San beberapa tahun yang lalu, dia menyesalkan akan sikapnya sendiri yang telah mendatangkan gara-gara di sana.

la tidak perlu merasa takut, karena maksud kedatangannya sekarang hanya ingin mengunjungi Suhu dan Subonya, untuk memberi hormat dan melihat keadaan kedua orang tua itu.

Gembira juga hatinya kalau memikirkan bahwa tentu sekarang Swan Bu, anak yang dahulu amat manja itu, sekarang sudah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah.

Tampan dan gagah, tak salah lagi.

Dahulu di waktu kecil saja sudah memperlihatkan ketampanan dan kegagahan.

la akan merasa bangga melihat adik seperguruan ini.

Pada hari itu, secara kebetulan sekali dia tiba di dusun Pau-Ling dan mendengar ribut-ribut.

Ketika dia memasuki dusun, tepat dilihatnya seorang gadis remaja dikeroyok banyak orang.

la tidak tahu akan persoalannya, maka ditanyakannya kepada seorang petani di antara banyak penonton itu.

Dan apa yang didengarnya benar-benar membuatnya kagum luar biasa.

Gadis itu, yang berjuluk Cui-Beng Kwan-Im, ternyata membela para petani miskin yang ditindas lurah, dan sekarang dikeroyok oleh tukang pukul-tukang pukul yang biasanya menyiksa penghidupan para petani miskin.

la kagum, akan tetapi juga khawatir kalau-kalau gadis Pendekar itu akan celaka di tangan para tukang pukul yang galak.

Akan tetapi, alangkah kagumnya menyaksikan sepak-terjang gadis itu, sepak-terjang yang amat ganas dengan ilmu Pedang serta ilmu pukulan yang dahsyat dan ganas pula.

Uap hitam yang keluar dari tangan kiri gadis itu!

Terang merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun, dan ilmu Pedang yang juga bersinar hitam, semua ini membuktikan bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian dari golongan hitam, Akan tetapi harus diakui bahwa kepandaian gadis itu benar-benar luar biasa!

Munculnya pemuda bernama Bun Hui mengagumkan hatinya, juga gerak-gerik pemuda itu mendatangkan rasa suka di hatinya.

Sekali pandang saja Yo Wan dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan, langkah kakinya yang mantap, gerak-geriknya yang ringan, terang menjadi tanda seorang ahli silat tinggi.

Maka diam-diam dia mentertawai gadis itu yang amat tinggi hati.

Kau terlalu memandang rendah pemuda ini, pikirnya.

Betapapun juga, dia mengkhawatirkan gadis perkasa yang agaknya masih hijau ini dan diam-diam dia mengikuti dari jauh.

Gembira juga hati Siu Bi, kegembiraan yang timbul karena kebanggaan, ketika rombongan memasuki kota Tai-Goan, sebuah kota besar di sebelah Barat Kota Raja, rombongan itu menjadi tontonan banyak orang.

Dan terutama sekali, dirinya yang menjadi pusat perhatian para penonton.

Dengan lagak angkuh ia duduk di atas kudanya yang berendeng dengan kuda Bun Hui.

Di sepanjang jalan tadi, ia tidak mempedulikan pemuda ini, juga Bun Hui tidak satu kalipun bicara dengan Siu Bi.

Biarpun di dalam hatinya Bun Hui amat kagum dan tertarik oleh gadis ini, tetapi dia adalah seorang pemuda gagah yang menjunjung tinggi kesopanan, maka dia menahan perasaannya dan tidak mau mengajak bicara Siu Bi di depan orang banyak.

Namun tidak sedetik pun perhatiannya beralih dari diri gadis di sampingnya.

la heran sekali bagaimana seorang gadis semuda dan sejelita ini bisa bersikap demikian ganas, dan diam-diam dia menduga-duga murid siapakah gerangan gadis ini, siapa pula namanya.

Ingin dia segera tiba di Kota Raja agar dalam pemeriksaan dia akan dapat mendengar riwayat dara yang telah menjatuhbangunkan hatinya itu.

Siapakah sebetulnya pemuda ini?

Para pembaca cerita Pendekar Buta tentu telah mengenal Ayah pemuda ini yang bukan lain adalah Bun Wan, putera tunggal dari Ketua Kun-Lun-Pai!

Di dalam cerita Pendekar Buta telah dituturkan bahwa Bun Wan menikah dengan seorang gadis lihai puteri majikan Pulau Ching-Coa-To (Pulau Ular Hijau) yang bernama Giam Hui Siang.

Kemudian, karena jasanya dalam perjuangan membantu Raja Muda Yung Lo yang mengalahkan keponakannya sendiri, Setelah Yung Lo mengganti kedudukan sebagai Kaisar dan memindahkan Ibu kota dari Selatan ke Utara, Bun Wan diberi kedudukan tinggi sesuai dengan jasanya, malah pernah menjabat sebagai seorang jenderal.

Dari perkawinannya dengan Giam Hui Siang, dia memperoleh seorang putera yang diberi nama Hui.

Kemudian, melihat watak Jenderal Bun yang amat jujur keras dan adil, oleh Kaisar Jenderal Bun diangkat menjadi pengawas dan pemeriksa semua alat negara.

Kekuasaannya amat tinggi sehingga dengan Pedang kekuasaannya yang diberikan oleh Kaisar, Jenderal Bun berkuasa memeriksa semua petugas, dari yang terendah sampai yang paling tinggi.

Inilah yang menyebabkan dia ditakuti dan disegani oleh para menteri sekalipun, karena jenderal ini terkenal sebagai seorang yang berdisiplin, keras dan adil, tak mungkin disuap dan tidak mengenal ampun pada para pembesar yang korup.

Di samping keseganan, tentu saja Jenderal Bun ini mendapatkan banyak sekali musuh yang membencinya secara diam-diam.

Tapi siapakah orangnya berani menentangnya secara berterang?

Jenderal Bun selain lihai ilmu silatnya, memiliki prajurit-prajurit pilihan, disayang dan dipercaya Kaisar, di samping ini, masih ada Kun-Lun-Pai sebagai partai persilatan besar yang seratus persen berdiri di belakangnya!

Jenderal Bun adalah seorang ahli silat Kun-Lun-Pai yang memiliki kepandaian tinggi, juga Giam Hui Siang isterinya adalah seorang ahli silat tinggi yang mewarisi kepandaian Ching-Toanio majikan Pulau Ching-Coa-To.

Tentu saja sebagai putera Bun Hui semenjak kecil digembleng Ayah Bundanya sendiri sehingga memiliki kepandaian yang hebat.

Pemuda ini mewarisi watak Ayahnya, keras, jujur dan adil.

Oleh karena inilah maka dia dipercaya oleh Ayahnya dan sering kali dia mewakili Ayahnya yang sibuk dengan pekerjaan di Tai-Goan, untuk mengadakan pemeriksaan di wilayah yang dikuasakan oleh Kaisar.

Pada hari itu, Bun-Goanswe (Jenderal Bun) yang sedang sibuk di kamar kerjanya, menjadi terheran-heran melihat puteranya pulang bersama seorang gadis cantik jelita yang sikapnya angkuh dan gagah, diiringkan pula oleh Lurah Bhong dari dusun Pau-Ling dan beberapa orang petani miskin.

Lurah Bhong dan para petani segera menjatuhkan diri berlutut di depan meja jenderal itu, akan tetapi Siu Bi tentu saja tidak sudi berlutut, malah berdiri tegak dan memandang laki-laki tinggi besar yang duduk di belakang meja.

la melihat seorang laki-laki yang gagah, berusia sepantar Ayahnya, pakaiannya seperti seorang panglima perang matanya sebelah kanan buta, akan tetapi hal ini malah menambah keangkerannya.

Mau tidak mau Siu Bi menaruh segan dan hormat kepada orang tua ini, maka ia diam saja, hanya memandang.

Sejenak Bun-Goanswe menatap wajah Siu Bi, maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang tinggi hati dan merasa dirinya paling pandai, maka dia tersenyum di dalam hati dan tidak menjadi kurang senang melihat gadis remaja itu tidak memberi hormat kepadanya.

Dengan tenang dia mendengarkan penuturan Bun Hui tentang keributan di dusun Pau-Ling.

Mata yang tinggal sebelah itu bersinar marah dan alisnya yang tebal hitam berkerut.

Segera dia menoleh ke arah Lurah Bhong yang masih berlutut tanpa berani mengangkat mukanya.

"Lurah Bhong, betulkah pendengaranku bahwa kau tidak memperlakukan penduduk desamu dengan adil, melakukan tindakan sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu?"

"Mohon ampun, Taijin... hamba... hamba tidak merasa melakukan perbuatan sewenang-wenang. Ham... hamba sudah tua... jarang bekerja di luar... semua urusan hamba serahkan kepada petugas petugas hamba..."

"Hemmm, sudah keenakan lalu bermalas-malasan dan bersenang di dalam gedung saja, ya? Melalaikan kewajiban, tidak peduli akan keadaan penduduk, bersikap masa bodoh asal kau sendiri senang? Begitukah sikap seorang kepala kampung? Tentang keributan antara anakmu dan orang-orangmu dengan Nona ini, bagaimana?"

"Hamba tidak jelas... hanya gadis liar ini datang menyerang, membunuh anak hamba... melukai semua petugas, membuntungi lengan mereka, tak seorang pun selamat. Hamba... hamba mohon Taijin sudi menghukum gadis liar ini, dia jahat!"

Bun-Goanswe menoleh ke arah Siu Bi, sinar matanya penuh selidik.

la tak senang juga mendengar gadis ini telah membunuh orang dan membuntungi lengan dua puluh orang lebih.

Sungguh ganas!

Akan tetapi Siu Bi menentang pandang matanya dengan berani, berkedip pun tidak.

Sepasang mata yang amat tajam dan penuh ketabahan dan kekerasan hati.

Seorang gadis berbahaya, apalagi kalau berkepandaian tinggi.

"Nona, kau siapakah?"

"Orang-orang dusun menyebutku Kwan Im Pouwsat, akan tetapi aku lebih senang memakai nama Cui-Beng Kwan-Im,"

Jawab Siu Bi, suaranya merdu dan lantang.

Bun-Goanswe tak dapat menahan senyumnya, senyum maklum dan setengah mengejek.

la pernah muda, pernah dia melihat gadis-gadis kang-ouw seperti ini di waktu mudanya.

Malah isterinya sendiri, dahulu lebih ganas daripada gadis ini!

"Namamu siapa?

Siapa orang tuamu dan siapa pula Gurumu?"

Siu Bi mengerutkan kening. Untuk apa tanya-tanya orang tua ini, pikirnya. Akan tetapi ia tidak berani menjawab secara kurang ajar, hanya menjawab sewajarnya.

"Tentang orang tuaku, kiranya tidak perlu disebut-sebut di sini. Namaku Siu Bi, dan tentang Guruku... hemmm, mendiang Guruku berjuluk Hek Lojin."

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bun-Goanswe mendengar nama ini.

Di dalam cerita Pendekar Buta telah diceritakan betapa dia dan isterinya pernah bertemu dengan Hek Lojin dan terluka hebat, mungkin binasa kalau tidak ditolong oleh Kwan Kun Hong Si Pendekar Buta!

Hek Lojin adalah seorang Kakek iblis, yang dulu pernah hampir membunuh dia dan isterinya, dan sekarang muridnya, gadis ini yang tentu juga seorang gadis iblis pula, berdiri di depannya"

Kalau saja Bun-Goanswe bukan seorang tua yang sudah matang pengalamannya, berwatak adil dan pandai menyembunyikan perasaan, tentu dia sudah melompat untuk menerjang murid bekas musuhnya ini.

la menekan perasaannya dan mengangguk-angguk.

"Kenapa kau membunuh putera Lurah Bhong dan membuntungi lengan banyak orang?"

Tanyanya, sikapnya tetap tenang akan tetapi suaranya sekarang tidak sehalus tadi, terdengar agak ketus sehingga Bun Hui yang mengenal watak Ayahnya, mengangkat muka memandang.

Siu Bi mengedikkan kepalanya, mengangkat kedua pundak, gerakan yang membayangkan bahwa ia tidak peduli.

"Harap,kau orang tua suka tanya saja kepada para petani ini bagaimana duduknya perkara sebenarnya. Kalau benar seperti yang kudengar dari Paman tani bahwa kau seorang pembesar yang adil, tentu kau akan menghukum Lurah brengsek ini, kalau tidak, akulah yang akan turun tangan memberi hajaran kepadanya!"

Siu Bi mengerling kepada Lurah Bhong dengan pandang mata jijik.

Merah muka Bun-Goanswe.

Seorang bocah bicara seperti itu di depan banyak orang, benar-benar hal ini amat merendahkannya.

Akan tetapi dia bertanya.

"Dengan cara apa kau hendak menghajarnya?"

Siu Bu menepuk gagang pedangnya.

"Dengan ini!, Mungkin akan kulepaskan kedua daun telinganya yang terlalu lebar itu."

Menggigil tubuh Lurah Bhong mendengar ini, bahkan kedua telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci saking ngeri hatiriya.

Bun Hui yang otomatis, melirik ke arah telinga Lurah itu, menahan geli hatinya.

Bun-Goanswe lalu bertanya kepada para petani.

Mereka ini serta-merta, sambil berlutut dan menempelkan jidat pada lantai, menceritakan penderitaan mereka sedusun, tentang perbuatan sewenang-wenang dari Bhong-Kongcu dan para kaki tangannya, tentang perampasan wanita, perampasan sawah ladang, pemerasan dan tentang upah yang tidak cukup mereka makan sendiri.

Kemarahan Bun-Goanswe membuat mukanya makin merah lagi.

Ada seorang Lurah macam ini di dalam wilayah yang dikuasakan kepadanya, benar-benar amat memalukan!

"Hemmm, urusan ini harus kuselidiki sendiri di Pau-Ling.

Kalau betul Lurah ini sewenang-wenang, akan kuhukum dan kuganti.

Sebaliknya, pembunuhan dan penganiayaan berat sampai membuntungi lengan dua puluh orang, bukanlah hal kecil seakan-akan di sini tidak ada hukum yang berlaku lagi.

Perkara ini diputuskan besok setetah aku meninjau ke sana.

Nona, kau harus ditahan semalam ini, serahkan pedangmu kepadaku.

Tidak ada tahanan yang boleh membawa Pedang atau senjata lain."

Siu Bi merah mukanya, hendak marah. Akan tetapi Bun Hui melangkah maju dan berkata halus.

"Harap Nona suka mengindahkan peraturan dan hukum di sini, percayalah bahwa Ayah akan memberi keadilan yang seadil-adilnya. Melawan akan menjerumuskan Nona ke dalam urusan yang lebih besar lagi. Pedang itu hanya ditunda di sini, tidak akan hilang. Besok kalau urusan selesai, Nona tentu akan menerimanya kembali."

Karena sikap Bun Hui ramah dan halus sopan, Siu Bi mengalah.

la pikir, tidak ada gunanya mengamuk di sini.

la melihat jenderal mata satu itu amat berwibawa, juga tampaknya gagah perkasa, demikian pula pemuda ini.

Dan di situ tampak barisan pengawal yang bersenjata lengkap, sungguh tak boleh dipandang ringan.

Melawan seorang pembesar tinggi sama dengan memberontak, pengetahuan ini sedikit banyak ia dapatkan dari Ayah dan mendiang Kakek Gurunya.

"Boleh, andaikata tidak dikembalikan, apakah aku tidak akan dapat mengambilnya kembali?"

Katanya sambil meloloskan Pedang berikut sarung pedangnya.

Pedang Cui-Beng Kiam ia letakkan di atas meja depan Bun-Goanswe yang memandangnya penuh selidik.

Bun-Goanswe memerintah orang-orangnya untuk menggiring Bhong Ciat dan enam orang petani ke dalam kamar tahanan, kemudian setelah semua orang itu dibawa pergi, dia berkata kepada puteranya.

"Bawa Nona ini ke kamar tahanan di belakang, suruh jaga, jangan boleh dia bermain gila sebelum urusan ini selesai."

Mendongkol juga hati Siu Bi mendengar ini.

"Orang tua, kuharap saja besok urusan ini sudah harus selesai. Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggal sini, apalagi menjadi orang tahanan. Aku mempunyai urusan penting di Liong-Thouw-San!"

Mendengar ini makin terkejutlah Bun-Goanswe.

Liong-Thouw-San adalah tempat tinggal Pendekar Buta, sahabat dan penolongnya.

Mau apa murid Hek Lojin ini pergi ke Liong-Thouw-San?

"Hemmnm, ke Liong-Thouw-San, ada urusan apakah?

Atau, kau tidak berani mengatakan kepadaku karena di sana hendak melakukan sesuatu yang jahat?"

Ternyata jenderal ini mempergunakan akal seperti yang digunakan puteranya, memancing dengan menggunakan ketinggian hati gadis itu!

"Mengapa tidak berani?

Apa yang hendak kulakukan di sana, siapapun di dunia ini tidak bisa melarangku!

Aku akan...

membuntungi lengan beberapa orang di sana!"

Gadis itu memandang Bun-Goanswe dengan pandang mata berkata.

"Kau mau apa!"

Bun-Goanswe tercengang.

"Lengan siapa yang hendak kau buntungi lagi? Agaknya kau mempunyai penyakit ingin membuntungi lengan orang!"

Serunya, akan tetapi tanpa dijawab dia sudah dapat menduga.

Lengan siapa lagi kalau bukan lengan Pendekar Buta yang akan dibuntungi gadis itu?

la sudah mendengar tentang pertempuran hebat antara Pendekar Buta dan musuh-musuhnya, dan betapa lengan Hek Lojin buntung dalam pertandingan itu oleh Pendekar Buta.

Mengingat betapa gadis yang masih hijau ini mengancam hendak membuntungi lengan Pendekar Buta, tak dapat ditahan lagi Bun-Goanswe tertawa bergelak.

"Ha... ha... ha, kau hendak membuntungi lengannya dengan Pedang ini?"

La mencabut Pedang itu dan tiba-tiba dia terbelalak.

Pedang itu adalah Pedang yang mempunyai sinar hitam dan mengandung hawa dingin yang jahat.

Diam-diam dia bergidik dan memasukkan kembali Pedang itu ke dalam sarungnya.

"Hui-ji (anak Hui), antarkan ia ke dalam tahanan besar."

"Mari, Nona,"

Ajak Bun Hui yang mukanya berubah pucat.

Pemuda ini tadi juga kaget sekali mendengar maksud gadis ini pergi ke Liong-Thouw-San untuk membuntungi lengan orang.

la telah mendengar dari Ayahnya tentang Pendekar Buta, Pendekar besar yang menjadi sahabat dah penolong Ayahnya, orang yang paling dihormati Ayahnya di dunia ini.

Dan gadis ini hendak pergi ke sana membuntungi lengan Pendekar itu!

la mengerti kehendak Ayahnya, gadis ini berbahaya dan merupakan musuh besar Pendekar Buta, harus ditahan di dalam kamar tahanan besar, yaitu kamar tahanan di belakang yang paling kuat, berpintu besi dengan jeruji baja yang amat kuat, cukup kuat untuk mengeram seekor harimau yang liar sekalipun!

Bun Hui berduka.

la amat tertarik kepada gadis ini, ingin dia melihat gadis ini menjadi sahabat baik, melihat gadis ini berbahagia.

Siapa duga, keadaan menghendaki lain.

Gadis ini harus dikeram dalam kamar tahanan, dan justru dia yang harus melakukannya.

la sedih, akan tetapi tanpa bicara sesuatu dia mengantarkan Siu Bi ke belakang.

Gadis itu pun tanpa banyak cakap mengikuti, mengagumi gedung besar yang menjadi kantor dan rumah tinggal Jenderal Bun.

"Silakan masuk, Nona. Jangan khawatir, Ayah adalah seorang yang adil. Nona akan diperlakukan dengan baik,""

Katanya, akan tetapi suaranya agak gemetar karena dia tidak percaya kepada omongannya sendiri. Begitu Siu Bi masuk, pintu ditutup dan dikunci dari luar oleh Bun Hui Siut Bi kaget dan marah.

"Kenapa harus dikurung seperti binatang liar? Tempat apa ini?"

Teriaknya. Bun Hui menjawab sambil menunduk.

"Nona, aku menyesal sekali. Akan tetapi, kau... kau..."

Bun Hui tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan segera lari pergi dari situ, wajahnya pucat, nafasnya terengah dan dia langsung lari ke kamarnya untuk menenteramkan hatinya yang tidak karuan rasanya.

Siu Bi membanting-banting kedua kakinya.

Didorongnya daun pintu, akan tetapi daun pintu yang dicat seperti daun pintu kayu itu ternyata terbuat dari besi yang amat kuat.

la memeriksa ruangan tahanan itu, cukup luas, akan tetapi di kanan kiri tembok tebal di sebelah belakang terbuka dan dihalangi jeruji baja yang besar dan Kokoh kuat.

Tak mungkin dia dapat merusak pintu atau jeruji untuk membebaskan diri hanya mengandalkan tenaganya saja.

Namun Siu Bi masih penasaran.

la mengerahkan tenaga Hek-In-Kang, lalu menghantamkan kedua tangan ke arah jeruji.

Terdengar suara berdengung keras dan bergema, seluruh kamar tahanan itu tergetar, namun jeruji tidak menjadi patah.

la mencoba pula untuk menarik jeruji agar lebar lubangnya supaya ia dapat lolos keluar, namun sia-sia.

jeruji baja itu amat kuat dan tenaga Gwakang (tenaga luar) yang ia miliki tidak cukup besar.

Tenaga Lweekang (tenaga dalam) memang tiada artinya lagi kalau menghadapi benda mati yang tak dapat bergerak seperti pintu dan jeruji yang terpasang mati di tempat itu.

Siu Bi membanting-banting kedua kakinya, berjalan hilir-mudik seperti seekor harimau liar yang baru saja dimasukkan kerangkeng.

Biarpun besok ia akan dibebaskan, ia merasa terhina dengan dimasukkan dalam kamar tahanan seperti kerangkeng binatang ini.

Sore hari itu, hanya beberapa jam kemudian, seorang pengawal datang dan mengulurkan sebuah baki terisi mangkok nasi dan masakan, juga minuman yang cukup mahal.

Namun hampir saja pengawal itu remuk lengannya kalau saja dia tak cepat-cepat menariknya keluar karena Siu Bi sambil memaki telah menerkam tangan itu untuk dipatahkan!

Siu Bi marah sekali, memaki-maki sambil menyambar baki dan isinya.

Mangkok dan sumpit beterbangan menyambar keluar dari sela-sela jeruji, menyerang pengawal itu yang lari tunggang-langgang!

Siu Bi makin jengkel kalau mengingat betapa dia menyerahkan pedangnya kepada Jenderal Bun.

Andaikata Pedang Cui-Beng Kiam berada di tangannya, tentu dia dapat membabat putus jeruji-jeruji ini.

Malam tiba dan Siu Bi menjadi agak tenang.

la akhirnya berpendapat bahwa semua kemarahannya itu tiada gunanya sama sekali.

Tubuhnya menjadi letih, pikirannya bingung dan...

perutnya lapar!

Mengapa ia tidak menerima sabar saja sampai besok.

Kalau ia sudah bebas dan mendapatkan pedangnya kembali, mudah saja baginya untuk mengumbar nafsu amarah.

Sedikitnya ia akan memaki-maki jenderal dan puteranya itu sebelum ia melanjutkan perjalanannya.

Pikiran ini membuat ia tenang.

Dibaringkannya tubuhnya yang amat lelah itu di atas sebuah dipan kayu yang berada di ujung kamar tahanan.

Lebih baik mengaso dan memulihkan tenaga, siapa tahu besok ia harus menggunakan banyak tenaga, pikirnya.

la lalu bangkit dan duduk bersila, berSamadhi mengumpulkan tenaga dan mengatur pernafasan.

"Nona... maafkan aku..."

Sejak tadi memang agak sukar bagi Siu Bi untuk dapat berSamadhi dengan tenang.

Perutnya amat terganggu, berkeruyuk terus!

la membuka mata dan menoleh.

Biarpun tahanan itu buruk, sedikitnya di waktu malam tidak gelap, mendapat sinar lampu besar yang dipasang di luar.

Bun Hui berdiri di luar jeruji, membawa sebuah baki terisi makanan dan minuman.

"Mau apa kau?"

Bentak Siu Bi timbul kembali kemarahannya.

"Nona, maafkan kalau tadi pelayan yang mengantar makanan kurang sopan. Sekarang aku sendiri yang mengantar makanan dan minuman, harap Nona sudi menerima. Tak baik membiarkan perut kosong. Silakan, Nona."

Dengan kedua tangannya Bun Hui mengulurkan dan memasukkan baki itu ke dalam kamar tahanan melalui sela-sela jeruji yang cukup lebar untuk dimasuki baki yang kecil panjang itu.

Sejenak timbul niat di hati Siu Bi untuk membikin celaka pemuda putera Jenderal Bun ini dengan menangkap dan mematahkan kedua lengannya.

Akan tetapi segera niat ini diurungkan ketika dia memandang wajah yang ramah, tampan dan kelihatan agak bersedih ini.

"Ayahmu menahanku dalam kerangkeng, mengapa kau pura-pura berbaik hati kepadaku? Jangan kira kau akan dapat menyuapku hanya dengan makanan dan minuman. Apa artinya kau mengantar sendiri ini? Hayo katakan, kalau hendak menyuap, lebih baik aku mati kelaparan!"

"Ah, kau terlalu berprasangka yang bukan-bukan dan yang buruk terhadap diriku, Nona. Di antara kita tidak ada permusuhan, mengapa kami akan mencelakakanmu? Hanya karena persoalan itu baru beres besok, terpaksa Ayah menahanmu, juga Lurah Bhong dan para saksi. Harap Nona suka memaafkan aku dan suka bersabar untuk semalam ini."

"Hemmmm, begitukah? Muak aku akan segala aturan dan hukum ini!"

Kata Siu Bi, akan tetapi suaranya tidak seketus tadi. Bun Hui girang hatinya, lalu berkata.

"Silakan makan, Nona, aku tidak akan mengganggumu lagi."

Dan pemuda itu segera pergi dari situ.

Andaikata pemuda itu tetap berada di tempat itu, agaknya Su Bi takkan sudi menyentuh makanan dan minuman itu.

Akan tetapi sekarang, ditinggalkan seorang diri, matanya mulai melirik baki dan melihat masakan mengepulkan uap yang sedap dan gurih, perutnya makin menggeliat-geliat.

Setelah celingukan ke kanan kiri dan yakin bahwa di situ tidak ada orang yang melihatnya, mulailah Siu Bi makan.

Setelah kenyang, ia sengaja melemparkan baki dan semua isinya keluar jeruji sehingga pecahlah mangkok-mangkok itu, isinya, yaitu sisa yang ia makan, tumpah tidak karuan.

Dengan begitu, takkan ada yang tahu apakah tadi ia makan dan minum isi baki ataukah tidak!

Suara berisik ini diikuti datangnya Bun Hui.

"Kenapa...! kenapa kau buang makanan dan minuman itu, Nona?"

"Ih, siapa sudi?"

Siu Bi tidak melanjutkan kata-katanya dan diam-diam ia mengusap pinggir mulutnya dengan lengan baju.

"Nona, maafkan aku. Aku sengaja datang untuk bicara sedikit denganmu."

"Mau bicara, bicaralah, mengapa banyak cerewet?"

Siu Bi sengaja bersikap galak. Pemuda itu makin (Lanjut ke

Jilid 06) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 bingung dibuatnya, tampak maju mundur untuk mengeluarkan isi hatinya.

"Nona Siu Bi, aku tidak tahu mengapa kau berniat mengacau ke Liong-Thouw-San. Akan tetapi, ketahuilah bahwa yang tinggal di sana adalah Pendekar besar Kwa Kun Hong yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta. Beliau seorang Pendekar besar yang menjagoi dunia persilatan, tidak hanya terkenal karena kesaktiannya, juga karena kegagahan dan pribudinya. Oleh karena itu Nona, kuharap dengan sangat, apa pun juga alasan, kau batalkan niatmu itu. Siu Bi melotot.

"Apa? Apa pedulimu? Apamukah Pendekar Buta?"

"Bukan apa-apa, hanya dia satu-satunya manusia yang paling dihormati Ayah! "Wah, celaka! Aku masuk perangkap musuh! He, orang she Bun, kalau memang kau dan Ayahmu orang-orang gagah, kalau memang mau membela Pendekar Buta, hayo lepaskan aku, kembalikan pedangku dan kita bertempur secara orang-orang gagah. Mengapa menggunakan akal curang untuk menahanku di sini?"

"Wah, harap Nona bersabar dan jangan salah sangka. Maksudku hanya untuk menolongmu keluar dari kesulitan, Nona. Aku tidak akan mencampuri urusanmu dengan siapapun juga, sungguhpun sedih hatiku melihat kau memusuhi Pendekar Buta di Liong-Thouw-San. Maksudku, kalau saja besok kau suka berkata kepada Ayah bahwa kau membatalkan niatmu memusuhi Pendekar Buta di Liong-Thouw-San, tentu kau akan mudah dibebaskan. Setelah bebas, terserah kepadamu. Ini hanya untuk menolongmu, Nona..."

"Ihhh, apa maksudmu dengan pertolonganmu ini? Hayo bilang, orang she Bun, jangan bersembunyi di balik kata-kata manis. Kenapa kau begini ngotot hendak menolongku?"

Wajah pemuda itu merah seluruhnya. Sukar sekali menjawab pertanyaan yang merupakan penyerangan tiba-tiba ini.

"Kenapa? Ah... kenapa, ya? Aku sendiri tidak tahu pasti, Nona... hanya agaknya... aku tidak suka melihat kau mendapatkan kesukaran. Aku kagum kepadamu, Nona... aku... aku ingin menjadi sahabatmu. Nah, itulah! Aku ingin menjadi sahabat baikmu karena aku kagum dan suka padamu."

Kini Siu Bi yang tiba-tiba menjadi merah sekali wajahnya.

Celaka, pikirnya.

Pemuda ini benar-benar tak tahu malu, terang-terangan bilang suka dan kagum dan ingin menjadi sahabat baik!

Sekarang dia yang kebingungan dan tidak segera dapat membuka mulut.

"Sejak aku melihat kau menolong petani-petani miskin, dengan gagah kau melawan tukang-tukang pukul jahat di Pau-Ling itu, aku amat kagum dan tertarik kepadamu, Nona. Aku tahu, juga Ayah tentu yakin bahwa dalam urusan ini kau tidak bersalah malah kau berjasa bagi perikemanusiaan, bagi kebenaran dan keadilan, kau menolong yang tergencet, menghajar yang menindas. Akan tetapi, hukum tetap hukum yang harus dilaksanakan dengan tertib. Kalau Ayah mengambil keputusan begitu saja tanpa mengadili terus membenarkan kau, apakah akan kata orang? Terhadap urusan di Pau-Ling itu, aku tidak khawatir sama sekali. Akan tetapi urusan kedua ini... ah, kau tidak tahu, Nona. Ayah pasti akan mencegah maksud hatimu itu, bukan hanya karena menjadi sahabat baik, melainkan masih ada ikatan keluarga. Ketahuilah bahwa isteri Pendekar Buta adalah enci angkat dari Ibuku. Nah, kau tahu betapa tidak bijaksananya kau mengaku akan hal itu di depan Ayah!"

"Ah, begitukah? Jadi kau masih keponakan isteri musuh besarku? Wah, celaka, aku terjebak. Tentu kau mengajakku ke sini untuk menipuku... ah, mengapa aku begitu bodoh?"

"Nona, harap jangan bicara begitu. Urusan itu baru kami ketahui setelah kau berada di sini dan mengaku di depan Ayah. Aku... aku tidak memandang kau sebagai musuh, sebaliknya dari itu. Aku bersedia menolongmu, Nona. Aku akan membujuk Ayah untuk membebaskanmu, asal saja kau suka berjanji kepada Ayah bahwa kau takkan memusuhi Pendekar Buta..."

"Aku mau memusuhi siapapun juga, apa pedulinya dengan kau?"

"Nona..."

Suara Bun Hui penuh penyesalan, akan tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu berkelebat bayangan orang dan seorang wanita setengah tua yang cantik telah berdiri di sebelah Bun Hui.

"Ibu... kau di sini...?"

Bun Hui bertanya gagap.

"Hui-ji (anak Hui), aku mendengar dari Ayahmu bahwa seorang gadis yang liar mengancam hendak menyerbu Liong-Thouw-San dan membuntungi lengan Kun Hong dan enci Hui Kauw? Mana dia? Apakah ini?"

Telunjuk yang runcing menuding ke arah Siu Bi yang memandang dengan bengong.

Wanita itu luar biasa cantiknya, suaranya nyaring, matanya bersinar-sinar, pakaiannya amat indah namun tidak mengurangi gerakannya yang gesit tanda bahwa nyonya ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Siu Bi kagum.

Alangkah jauh bedanya dengan Ibunya sendiri.

Ibunya wanita lemah.

"Betul, Ibu. Aku... aku sedang membujuknya supaya maksud hatinya itu tidak dilanjutkan,"

Kata Bun Hui sambil menundukkan muka, khawatir kalau-kalau Ibunya akan dapat membaca isi hatinya.

Wanita itu adalah Giam Hui Siang.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, wanita ini adalah puteri dari Ching-Toanio, ilmu kepandaiannya tinggi dan di waktu mudanya ia sendiri merupakan seorang gadis yang selain cantik dan lihai, juga amat ganas, malah pernah bentrok dengan Cici angkatnya dan Kwa Kun Hong (baca Pendekar Buta).

Kini ia melangkah maju dan, memandang Siu Bi penuh perhatian.

"Kau anak siapa? Kenapa hendak memusuhi Pendekar Buta dan isterinya?"

La bertanya memandang tajam.

Ditanya tentang orang Tuanya, hati Siu Bi menjadi panas dan jengkel.

la bukan anak The Sun yang semenjak kecil ia anggap seperti Ayah sendiri.

Semenjak rahasia bahwa ia bukan anak The Sun ia ketahui dari ucapan Hek Lojin dan ia tidak mau mengaku The Sun sebagai Ayahnya lagi.

la sendiri tidak tahu siapakah orang Tuanya, atau lebih tepat lagi, siapa Ayahnya.

la tidak pernah meragu bahwa ia bukan anak Ibunya.

Mudah saja diketahui akan hal ini.

Wajahnya serupa benar dengan wajah Ibunya.

Akan tetapi Ayahnya?

la tidak tahu!

Karena pertanyaan itu membuatnya mendongkol, ia menjawab seenaknya.

"Sudah kukatakan bahwa orang tuaku tak perlu disebut-sebut di sini. Aku memusuhi Pendekar Buta karena aku benci kepadanya, karena ia memang musuhku. Habis perkara."

Giam Hui Siang tercengang mendengar jawaban dan melihat sifat berandalan ini.

Teringat ia akan masa mudanya.

Dia dahulu juga seperti nona ini, penuh keberanian, penuh kepercayaan akan kepandaian sendiri.

Apakah nona ini selihai dia?

Mungkinkah dapat mengalahkan Pendekar Buta dan Cicinya yang amat lihai itu?

Diam-diam ia mengharapkan akan ada orang yang dapat mengalahkan Pendekar Buta, kalau perlu dapat membuntungi lengannya dan lengan Hui Kauw!

Diam-diam nyonya ini masih merasa mendendam dan benci kepada Pendekar Buta dan isterinya.

Hal ini ada sebabnya.

Pertama karena ketika ia masih muda, dua orang itu pernah menjadi musuhnya.

Kedua kalinya, karena suaminya, Bun Wan, menjadi buta sebelah matanya karena Pendekar Buta pula.

Sungguhpun suaminya itu membutakan sebelah mata sendiri karena malu dan menyesal atas perbuatannya sendiri yang menyangka buruk kepada Pendekar Buta, namun secara tidak langsung, suaminya buta karena Pendekar Buta (baca cerita Pendekar Buta)!

Inilah sebabnya terselip rasa dendam di sudut hati kecil nyonya ini.

Akan tetapi, dara remaja yang masih setengah kanak-kanak ini, mana mungkin dapat melawan Kun Hong?

"Lihat senjata!"

Tiba-tiba Giam Hui Siang berseru nyaring, tangannya bergerak dan sinar hijau menyambar ke arah Siu Bi, melalui sela-sela jeruji baja.

Itulah belasan batang jarum Ching-Tok-Ciam (Jarum Racun Hijau), senjata rahasia maut dari Ching-Coa-To yang amat ditakuti lawan karena selain halus dan amat cepat menyambarnya, juga racunnya amat ampuh.

Lebih hebat lagi, serangan ini masih ia susul dengan pukulan jarak jauh oleh sepasang lengannya yang didorongkan ke depan!

"Ibu...!"

Bun Hui terkejut bukan main, namun tidak sempat mencegah karena gerakan Ibunya itu sama sekali tidak pernah diduga sebelumnya.

la maklum akan kehebatan serangan Ibunya ini, maka dengan muka pucat ia memandang kepada Siu Bi.

Siu Bi juga terkejut menghadapi Serangan mendadak itu.

Akan tetapi karena sejak tadi ia sudah mengambil sikap bermusuhan, tentu saja ia waspada dan tidak kehilangan akal.

la mengerahkan Hek-In-Kang dan menggerakkan kedua lengannya menyampok sambil mendoyongkan tubuh ke kiri, kemudian ia susul dengan dorongan ke muka yang mengandung tenaga Hek-In-Kang yang amat kuat.

Giam Hui Siang dan Bun Hui hanya melihat uap menghitam bergulung dari kedua lengan Siu Bi dan di lain saat tubuh Hui Siang sudah terhuyung-huyung ke belakang.

Hampir saja nyonya ini roboh terjengkang kalau saja ia tidak lekas-lekas melompat dan berjungkir balik.

Wajahnya menjadi pucat, akan tetapi mulutnya tersenyum.

"Hebat...! Kau cukup lihai untuk menghadapi dia! Hui-ji, hayo kita pulang."

Bun Hui menghadapi Siu Bi, suaranya terdengar sedih.

"Nona, harap Kau suka maafkan Ibuku yang sebetulnya hanya hendak mencoba kepandaianmu."

"Hemmm...!"

Siu Bi mendengus, masih belum hilang kagetnya.

Nyonya itu benar-benar ganas dan galak, juga lihai sekali.

Jarum-jarum yang lewat di dekat tubuhnya tadi mengandung hawa panas yang luar biasa, juga pukulan jarak jauh tadi amat kuat.

Baiknya ia memiliki Hek-In-Kang, kalau tidak, tentu ia akan menjadi korban jarum atau pukulan Sinkang.

Setelah Ibu dan anak itu pergi, Siu Bi kembali duduk di atas pembaringan di sudut, berusaha untuk istirahat mengumpulkan tenaga.

la dapat duduk tenang, kemudian menjelang tengah malam yang sunyi, tiba-tiba ia berjungkir balik, kepala di bawah, kaki yang tetap bersila itu di atas, untuk melatih Lweekang menurut ajaran Hek Lojin.

Belum ada setengah jam ia berlatih, terdengar suara orang perlahan.

"Selagi kesempatan lari terbuka, mengapa membiarkan diri terkurung?"

Cepat sekali gerakan Siu Bi, tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur ke dekat jeruji.

Di luar jeruji berdiri seorang laki-laki yang mengeluarkan seruan kagum akan gerakannya yang memang luar biasa tadi.

Laki-laki ini berdiri tegak, bersedekap dan memandang kepadanya dengan alis berkerut.

Sukar menduga apa yang berada dalam pikiran laki-laki ini.

Siu Bi memandang tajam, memperhatikan dan siap untuk memaki atau menyerang melalui sela-sela jeruji.

Akan tetapi ia mendapat kenyataan bahwa laki-laki itu bukanlah seorang penjaga atau pengawal, pakaiannya serba putih sederhana, rambutnya digelung ke atas dan dibungkus kain putih.

Muka yang membayangkan ketenangan luar biasa dengan sepasang mata yang sayu, membayangkan kematangan jiwa dan penderitaan lahir batin.

Orang ini bukan lain adalah Si Jaka Lola, Yo Wan.

Seperti kita ketahui, Yo Wan melihat bagaimana gadis yang luar biasa dan mengagumkan hatinya itu merobohkan para tukang pukul, kemudian ikut dengan pemuda yang memimpin barisan.

la tidak turun tangan menolong karena ingin ia melihat apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, dan apa pula yang akan dilakukan oleh gadis itu untuk menolong diri sendiri.

Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu membiarkan dirinya ditahan.

Malam tadi dia diam-diam memasuki bagian belakang gedung ini dan ia sempat melihat betapa Ibu pemuda itu menyerang dengan jarum hijau dan pukulan Sinkang.

la kaget sekali, akan tetapi kembali ia dibuat kagum oleh kepandaian Siu Bi.

la tidak sempat mendengar percakapan mereka tentang niat Siu Bi membuntungi lengan Pendekar Buta, karena kedatangannya tepat pada saat Giam Hui Siang melakukan penyerangan tadi.

la benar-benar merasa heran akan sikap tiga orang itu.

Lebih-lebih lagi rasa herannya mengapa gadis ini membiarkan dirinya dijebloskan kamar tahanan, maka ketika menyaksikan sampai jauh malam betapa gadis itu tidak berusaha melarikan diri, melainkan berlatih Lweekang secara aneh, dia tidak dapat menahan keheranannya dan muncul sambil mengucapkan kata-kata tadi.

Mengapa ia terlambat muncul?

Yo Wan tadi ketika berhasil memasuki gedung, diam-diam menculik seorang penjaga tanpa ada yang mengetahuinya.

la melompati tembok dan membawa lari penjaga itu ke luar kota, lalu memaksanya bercerita tentang gadis itu.

Si penjaga ketakutan setengah mati karena ia tidak dapat melihat siapa penculiknya dan baru dilepaskan ketika berada di tempat yang gelap dan sunyi di luar kota, di bawah pohon yang besar.

la hanya merasa tubuhnya tak mampu berkutik dan seakan-akan dibawa terbang.

Saking takutnya, mengira bahwa ia diculik iblis tubuhnya menggigil dan tak berani ia membantah.

Dengan suara gemetar ia menceritakan betapa Bun-Goanswe menahan gadis itu karena urusan ini akan diselidiki ke Pau-Ling pada esok hari oleh Goanswe sendiri, dan besok baru akan diberi keputusannya.

Juga ia menceritakan betapa gadis itu tidak membantah, malah menyerahkan pedangnya.

Demikianlah, dengan penuh keheranan Yo Wan lalu kembali ke dalam gedung setelah menotok penjaga itu dan meninggalkan di tempat sunyi.

la tahu bahwa penjaga itu tak mungkin akan dapat melepaskan diri sebelum besok pagi.

la tidak langsung mencari tempat gadis itu ditahan melainkan mencuri masuk secara diam-diam ke dalam kamar Bun-Goanswe dan dengan kepandaiannya yang luar biasa ia berhasil mencuri Pedang Siu Bi yang disimpan di dalam kamar itu!

Setelah menyimpan Pedang di balik jubahnya, baru ia mencari tempat tahanan di belakang dan tepat kedatangannya pada saat Hui Siang menyerang Siu Bi.

Siu Bi kini berdiri dekat jeruji.

Mereka saling pandang dan gadis itu berdebar jantungnya karena merasa serem melihat laki-laki itu berdiri seperti patung di luar kamar tahanan.

"Kau siapa? Apa maksud ucapanmu tadi?"

Akhirnya ia menegur, sambil menatap wajah yang tampan dan agak pucat, tubuhnya yang kurus sehingga tulang pundaknya tampak menjendul di balik bajunya yang sederhana.

"Maksud ucapanku tadi sudah jelas, Nona. Selagi ada kesempatan untuk lari, mengapa membiarkan dirimu terkurung di sini."

Siu Bi merasa heran.

Apa kehendak orang ini dan siapa dia?

Apa yang diucapkan orang ini memang menjadi suara hatinya.

Memang ingin ia melarikan diri, tidak sudi ditahan seperti binatang buas.

Akan tetapi bagaimana ia dapat melarikan diri kalau ia tidak kuat membongkar daun pintu dan jeruji baja?

Bahkan pedangnya pun ditahan, bagaimana ia suka pergi tanpa mendapatkan pedangnya kembali?

Akan tetapi untuk menjawab seperti ini, tentu saja ia tidak sudi.

Hal itu hanya akan merendahkan dirinya sendiri, mengakui kebodohan dan kelemahannya.

Maka ia menjawab dengan suara ketus.

"Kau peduli apa? Aku harus tunduk kepada hukum, aku bukan manusia liar yang tidak mengenal hukum."

Laki-laki muda itu tertawa, hanya sebentar saja.

Akan tetapi dalam waktu beberapa detik itu, selagi tertawa, laki-laki itu dalam pandang mata Siu Bi kelihatan tampan dan lenyap semua kekeruhan pada mukanya.

Akan tetapi hanya sebentar saja, senyum dan tawa itu melenyap, kembali wajah itu tampak suram muram.

"Hukum, kau bilang? Nona, aku lebih banyak mengalami hal-hal mengenai hukum. Semua pembesar bicara tentang hukum, bersembunyi di belakang hukum, dan tahukah kau apa arti hukum sebenarnya? Hukum hanya menjadi alat penyelamat mereka belaka, bahkan alat penindas mereka yang lebih lemah! Hukum dapat mereka putar balik, dapat ditekuk-tekuk ke arah yang menguntungkan dan memenangkan mereka. Kau akan kecewa kalau kau mempercayakan keselamatanmu kepada hukum, Nona. Karena itu, pokok terpenting, kau tidak bersalah dalam suatu persoalan. Perbuatanmu membela para petani miskin yang tertindas itu adalah perbuatan orang gagah, sama sekali tidak seharusnya dihukum atau ditahan."

Di dalam hatinya, Siu Bi setuju seribu persen.

Akan tetapi bagaimana ia dapat menyatakan setuju kemudian menyatakan bahwa ia tidak mampu keluar?

"Eh, kau ini siapakah, berlagak pandai dan membelaku?

Hemmm, lagaknya saja hendak menolong.

Apa sih yang dapat kau lakukan untuk menolongku?

Pula, aku pun tidak membutuhkan pertolonganmu, dan andaikata kau mau menolong, mengapa pula kau yang sama sekali tidak kukenal ini hendak menolongku?

Apakah bukan maksudmu untuk mencari muka belaka?"

Yo Wan tersenyum kecut.

la kagum menyaksikan sepak terjang gadis ini, juga senang menyaksikan ketabahan dan kelincahannya, akan tetapi watak gadis ini amat sombong.

Yo Wan sudah mencapai tingkat tinggi, baik dalam ilmu silat maupun ilmu batin, berkat gemblengan selama sepuluh tahun di puncak Pegunungan Himalaya.

Maka ia tidak menjadi marah oleh sikap kasar dan ketus dari gadis itu.

Dengan tenang ia lalu mengeluarkan Pedang Cui-Beng Kiam dari balik jubahnya, menaruh Pedang itu di atas lantai, kemudian ia menggunakan kedua tangannya memegang jeruji baja, mengerahkan sedikit Sinkang dan...

jeruji-jeruji itu melengkung, membuka lubang yang cukup lebar untuk dilalui tubuh orang!

"Aku datang sekedar memenuhi kewajiban membantu yang benar, tak perlu bicara tentang pertolongan.

Tentang kau mau ke luar atau tidak, adalah menjadi hakmu untuk menentukan, Nona.

Pedangmu ini tadi kuambil dari kamar Bun-Goanswe.

Tidak baik seorang gagah berjauhan dari senjatanya.

Selamat tinggal."

Siu Bi bengong terlongong.

la berdiri seperti patung memandang bayangan laki-laki itu yang berjalan perlahan, meninggalkannya dan menghilang di dalam gelap.

Setelah bayangan orang itu tidak tampak, baru ia sadar.

Kerangkeng terbuka, pedangnya di situ, mau tunggu apa lagi?

Cepat ia menyelinap ke luar di antara dua jeruji yang sudah melengkung, disambarnya Pedang Cui-Beng Kiam dan di lain saat ia sudah melompat ke atas genteng, memandang ke sana ke mari.

Namun sunyi di atas gedung itu, tidak tampak bayangan laki-laki tadi.

Hatinya bimbang.

Apakah ia akan pergi melarikan diri sekarang juga ke luar kota.

Memang sesungguhnya lebih baik dan lebih aman begitu.

Akan tetapi, setelah Jenderal Bun itu melakukan hal yang tak patut terhadapnya, mengurungnya dalam kerangkeng seperti binatang, kemudian nyonya jenderal itu tanpa sebab menyerangnya dengan jarum dan pukulan, masa ia harus pergi begitu saja seperti orang lari ketakutan?

Tidak, tidak ada penghinaan yang tidak dibalas.

Sebelum ia pergi meninggalkan kelihaiannya dan memberi sedikit hajaran kepada Jenderal Bun dan isterinya yang galak.

Tentu saja Bun Hui tidak termasuk dalam daftarnya untuk diberi hukuman karena pemuda itu bersikap baik sekali kepadanya.

Pikiran ini mendorong Siu Bi membatalkan niatnya untuk melarikan diri.

la lalu bergerak-gerak seperti seekor kucing ringannya, meloncati genteng di atas gedung itu menuju ke bangunan besar, kemudian ia mengintai untuk mencari di mana adanya kamar Jenderal Bun dan isterinya, mendekam dan mendengarkan.

la mendengar suara Jenderal Bun dan isterinya.

"Masa tengah malam begini hendak pergi? Urusan bagaimana pentingnya pun, kan dapat diurus besok pagi?"

Terdengar suara nyonya Jenderal Bun, suara yang merdu dan halus.

"Harus sekarang kuselesaikan. Selain menyelidiki ke Pau-Ling, aku juga harus cepat menyuruh seorang pengawal yang tangkas untuk mengabarkan kepada Kwa Kun Hong di Liong-Thouw-San tentang ancaman gadis liar itu."

Suara yang berat dari Jenderal Bun ini mendebarkan hati Siu Bi yang mendengarkan terus.

"Ah, tentang urusan itu, apa sangkut-pautnya dengan kita? Kalau dia mempunyai dendam pribadi dengan Kun Hong, biarlah ia menyelesaikannya sendiri. Urusan pribadi orang lain, bagaimana kita dapat ikut campur?"

Isterinya mencela.

"Orang lain? Kurasa Kwa Kun Hong dengan keluarganya tidaklah dapat dikata orang lain!"

Bun-Goanswe berseru keras, suaranya mengandung penasaran.

"Bukankah isterinya adalah Cicimu (Kakakmu)?"

"Enci Hui Kauw hanyalah saudara pungut."

Hening sejenak, lalu terdengar suara jenderal itu penuh penyesalan.

"Hui Siang, isteriku, harap kau jangan merusak perasaan hatiku dengan sikapmu seperti ini terhadap mereka. Aku tahu bahwa kau masih menaruh dendam akan urusan lama, bukankah itu merupakan sifat kanak-kanak? Kita bukan kanak-kanak lagi. Perbuatanmu tadi mendatangi kamar tahanan dan menyerang gadis itu, juga merupakan sisa dari sifat waktu mudamu. Ah, Hui Siang, aku dapat menduga isi hatimu, setelah kau menguji, gadis itu dan mendapat kenyataan bahwa dia cukup lihai, kau ingin sekali melihat dia itu mengacau Liong-Thouw-San. Begitukah?"

Nyonya itu berseru kaget.

"Kau... kau mengintai...?"

Kemudian disusul suaranya menantang.

"Betul, aku... aku memang masih benci kepada Kun Hong dan enci Hui Kauw!"

Disusul isak tangis tertahan dan tarikan nafas panjang Jenderal itu.

"Hui Siang, mengapa kau masih juga belum dapat memadamkan api dendam terhadap mereka? Lupakah kau bahwa Kun Hong adalah penolong kita? Dia seorang Pendekar besar yang telah terkenal kegagahan dan budi pekertinya. Dia merupakan penolong kita!"

Isak tangis itu makin keras.

"Aku... aku pun tidak bisa lupa... bahwa kau... kau membutakan mata kananmu karena dia...?"

Bun-Goanswe tertawa.

"Ha... ha... ha, itukah yang membuat dendammu tak dapat hilang? Tak usah dipusingkan, isteriku. Kebutaan sebelah mataku dapat membuka kebutaan mata hatiku, bukankah itu baik sekali?"

"Lalu, apa yang hendak kau lakukan terhadap gadis itu?"

"Aku akan membujuknya agar supaya ia membatalkan niatnya mengacau tempat tinggal Kun Hong. Kalau ia bersikeras, apa boleh buat, aku akan memasukkannya ke dalam tahanan sampai ia bertobat."

"Jenderal busuk, kau benar-benar hendak mempergunakan hukum untuk mencari kebenaran dan kemenangan sendiri. Aku, Cui-Beng Kwan-Im, mana sudi kau perlakukan demikian?"

Sesosok bayangan melayang turun dari jendela dan sinar Pedang hitam menerjang Bun-Goanswe, Jenderal ini kaget sekali, cepat dia menghunus pedangnya dan menangkis.

Adapun Hui Siang, isteri jenderal itu, kaget dan khawatir, untuk sejenak hanya dapat memandang dengan kaget.

Akan tetapi, beberapa menit kemudian nyonya ini sudah mendapatkan pedangnya lalu menyerbu dan mengeroyok Siu Bi.

Dara ini tidak menjadi gentar, malah berseru keras dan segera pedangnya berubah menjadi gulungan sinar kehitaman, diseling pukulan-pukulannya yang mengandung tenaga Hek-In-Kang!

Memang hebat gadis ini, ilmunya tinggi nyalinya sebesar nyali harimau, akan tetapi dia terlalu memandang rendah orang lain.

Terjangannya yang dahsyat dan ganas memang membuat Suami isteri itu kaget dan terdesak mundur.

Akan tetapi, jenderal itu adalah Bun Wan putera tunggal Ketua Kun-Lun-Pai, tentu saja ilmu kepandaiannya juga hebat.

Dan isterinya adalah puteri dari Ching-Toanio yang memiliki ilmu silat segolongan dengan Siu Bi, yaitu goiongan hitam.

Biarpun tingkat ilmu silat kedua orang Suami isteri ini tidak sedahsyat ilmu silat Siu Bi warisan dari Kakek sakti Hek Lojin, namun gadis itu kalah ulet dan kalah pengalaman sehingga terjangan-terjangannya biarpun mendesak dan mengejutkan, namun belum mampu merobohkan mereka.

Pada saat itu, Bun Hui datang berlari-lari dengan muka pucat.

Cepat pemuda yang juga lihai ini memutar pedangnya menahan Pedang Cui-Beng Kiam, lalu berkata, suaranya menggetarkan penuh perasaan.

"Nona...! Kenapa kau tidak memegang janji, malah melarikan diri dan menyerbu ke sini? Ah... Nona, mengapa kau menyerang Ayah Bundaku? Mengapa kau lakukan hal ini... Kau, yang kupandang gagah perkasa..."

Getaran suara yang terkandung dalam ucapan Bun Hui ini tidak menyembunyikan perasaannya.

Jelas terdengar dan terasa, baik oleh Siu Bi maupun oleh Ayah Bunda pemuda itu, bahwa Bun Hui menaruh hati cinta kepada gadis ini!

"Hui-ji, mundur kau!"

Bentak Jenderal Bun.

"Hui-ji, kenapa kau merengek-rengek kepada bocah ini?"

Seru pula Ibunya penuh teguran dan Suami isteri itu sudah menerjang Siu Bi dengan hebat.

Terpaksa Siu Bi mundur tiga langkah karena terjangan kedua orang itu dalam serangan balasan bukanlah main-main.

Namun dengan Hek-In-Kang, ia dapat mengusir mundur lagi kedua orang pengeroyoknya.

Ternyata Hek-In-Kang amat ampuh, hawanya saja cukup membuat kedua orang Suami isteri tokoh persilatan yang berkepandaian tinggi itu tergetar mundur dan tidak berani terlalu mendekat.

Mendengar suara ribut-ribut ini, beberapa orang pengawal menerjang masuk dan melihat betapa Jenderal Bun dan isterinya bertempur melawan gadis tahanan yang entah bagaimana kini telah berada di situ, mereka cepat mencabut senjata masing-masing dan siap.

Sementara itu, dengan hati hancur saking menyesal dan kecewanya, Bun Hui menggunakan pedangnya membantu Ayah Bundanya sambil berkata lirih.

"Betapapun berat bagiku, aku harus memihak Ayah Bundaku, Nona."

"Cih, cerewet amat. Mau keroyok, keroyoklah. Hayo semua orang di sini boleh masuk mengeroyokku. Aku Cui-Beng Kwan-Im tidak gentar seujung rambutpun!"

Bukan main marahnya Bun-Goanswe.

"Hayo tangkap dia! Jangan bunuh, tangkap kataku. Mana akal kalian? Masa tidak mampu menangkap hidup-hidup seorang bocah nakal?"

Belasan orang pengawal yang cukup tinggi kepandaiannya datang, mereka membawa tali-tali yang besar dan kuat.

Dengan senjata ini mereka mengurung Siu Bi dari segala penjuru, kemudian mereka mengayunkan tambang itu ke arah kaki untuk merobohkan Siu Bi.

Gadis ini kaget sekali karena Suami isteri yang kosen itu, dibantu puteranya yang tak boleh dipandang ringan, membuat ia cukup repot menjaga diri.

Sekarang ada tambang-tambang yang menyambar dari segala jurusan melibat dan menjegal kedua kaki.

la terpaksa berlonoatan untuk menyelamatkan diri, menendang sana-sini sambil tetap melayani tiga orang lawannya.

Akan tetapi, mana mungkin gadis yang kurang pengalaman bertempur ini memecah perhatiannya menghadapi serangan yang sekian banyaknya.

Tiga batang Pedang dengan dahsyat mengurungnya dan mengancamnya dari atas, ini saja sudah membutuhkan pemusatan perhatian karena tiga batang Pedang itu digerakkan oleh tangan-tangan ahli.

Belasan jurus ia masih dapat bertahan, akan tetapi karena kebingungannya, akhirnya kakinya terlibat tambang dan tak dapat ia pertahankan lagi, kakinya kena dijegal dan ia terguling dengan Pedang masih di tangan.

Pada saat itu, selagi Bun-Goanswe dan para pengawalnya siap menubruk dan menangkap Siu Bi, mendadak mereka kelabakan karena lampu penerangan tiba-tiba menjadi padam.

Perubahan serentak antara keadaan terang benderang menjadi gelap hitam ini benar-benar membingungkan mereka.

"Pasang lampu...! Lekas pasang lampu...!"

Bentak Bun-Goanswe.

Tak seorang pun berani menubruk ke depan untuk meringkus Siu Bi.

Mereka cukup maklum akan kelihaian nona itu yang masih memegang pedang.

Di dalam keadaan gelap itu, mana ada yang berani mempertaruhkan nyawa?

Setelah suasana gelap yang hiruk-pikuk ini diakhiri dengan penerangan lampu, keributan lain timbul ketika mereka melihat bahwa gadis yang tadinya terguling miring itu sudah tiada di tempatnya lagi.

Gadis itu lenyap seperti ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas, Bun-Goanswe cepat memerintah para pengawalnya melakukan pengejaran.

Dia sendiri menjatuhkan diri di atas kursi, penasaran, malu dan marah.

Hui Siang dan Bun Hui saling pandang.

"Wah, dia dapat melarikan diri!"

Kata Hui Siang, diam-diam girang karena sesungguhnya la ingin sekali mendengar gadis itu menyerbu rumah tangga Kun Hong apalagi setelah sekarang ia yakin benar akan kelihaian gadis itu.

"Siapa bilang lari?"

Jawab jenderal itu marah.

"Terang ada orang sakti yang menolong dan membawanya lari. Siapa yang memadamkan lampu serentak seperti itu tadi? Tentu bukan gadis itu. Dan cara ia meloloskan diri, sama sekali"

Tidak terdengar olehku."

"Mudah-mudahan ia tidak membikin ribut lagi..."

Bun Hui menggumam seorang diri.

"He, kau Hui-ji. Sikapmu tadi sungguh memalukan! Apa maksudmu? Apakah kau sudah tergila-gila kepada gadis liar itu?"

Bentakan Ayahnya ini membuat Bun Hui merah mukanya dan ia tergagap mencari jawaban.

"Aku... aku... tidak begitu, Ayah. Aku hanya... kagum akan sepak terjangnya dan aku... aku kasihan...

"Hemmm, menilai seseorang, apalagi wanita, jangan sekali-kali dari kecantikan wajah atau kepandaiannya. Akan tetapi wataknya! Gadis itu wataknya keranjingan, seperti iblis betina. Hui-ji, besok kau berangkat pagi-pagi ke Liong-Thouw-San, menemui Pamanmu Kwa Kun Hong dan berikan sepucuk suratku. Urusan ini terlampau penting untuk kuserahkan kepada seorang pengawal, maka harus kau sendiri yang membawanya ke Liong-Thouw-San."

"Baik, Ayah."

Diam-diam pemuda ini menjadi girang juga, karena memang sudah amat lama ia ingin bertemu dengan orang yang selalu disebut-sebut Ayahnya dengan penuh penghormatan, yaitu Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta.

Siu Bi mencoba tenaganya untuk meronta dan melepaskan diri, akan tetapi sia-sia.

Orang itu memanggulnya dengan menekan tengkuk dan punggung, di mana pusat tenaganya ditekan dan menjadi hilang kekuatannya.

la merasa dibawa lari cepat sekali dan angin dingin membuat ia mengantuk sekali.

Akhirnya, saking lelahnya bertempur tadi dan semalam tidak tidur sedikit pun juga, ia tertidur di atas pundak orang yang memanggulnya itu.

Ketika Siu Bi sadar dari tidurnya, sedetik ia tertegun, hendak mengulet (menggeliat) tidak dapat, tubuhnya serasa kesemutan dan pipi kanannya yang berada di atas panas.

Kiranya matahari sudah menyorot agak tinggi juga.

Segera ia teringat.

la masih berada di atas pundak orang, masih dipanggul!

Sejak lewat tengah malam sampai sekarang, lewat pagi!

Dan ia tertidur di dalam pondongan orang!

Dan selama itu ia masih belum tahu siapa orang yang menculiknya ini, yang membawanya lari dari dalam gedung Jenderal Bun selagi ia roboh dalam keroyokan para pengawal.

"Hemmm, perawan apa ini? Dipondong orang sejak malam, enak-enak tidur mendengkur. Malas dan manja, ihhh, benar-benar celaka..."

Orang yang memanggulnya itu terdengar bersungut-sungut. Kemarahan memenuhi kepala Siu Bi.

"Siapa mendengkur? Aku tidak pernah mendengkur kalau tidur. Hayo lepasKan kau laki-laki kurang ajar!"

"He? Kau sudah bangun? Nah, turunlah!"

Dengan gerakan tiba-tiba orang itu melepaskan pondongan sambil mendorong sedikit sehingga Siu Bi terlempar dan jatuh berdiri di depannya dalam jarak dua meter.

Dapat dibayangkan betapa kaget, heran, dan marahnya ketika melihat bahwa orang yang memanggulnya tadi adalah laki-laki muda sederhana berpakaian putih yang semalam mengunjunginya di dalam kerangkengnya!

"Heeeiiiii!

Kenapa kau memondongku?

Aku bukan anak kecil!"

Siu Bi membanting kaki dengan gemas. Yo Wan, orang itu, tersenyum kecil. Matahari pagi serasa lebih gemilang cahayanya menghadapi seorang dara lincah nakal ini.

"Kau masih kanak-kanak,"

Katanya tenang.

"Siapa bilang? Aku bukan anak Kecil, aku bukan kanak-kanak lagi!"

Siu Bi bersitegang. Disebut kanak-kanak baginya sama dengan penghinaan. Masa dia yang sudah mempunyai julukan Cui-Beng Kwan-Im sekarang di "Cap"

Kanak-kanak? "Aku Cui-Beng Kwan-Im, aku seorang dewasa. Jangan kau main-main!"

"Bagiku kau masih kanak-kanak,"

Kata pula Yo Wan, memalingkan muka seperti seorang yang tidak acuh. Padahal pemuda ini memalingkan muka karena merasa "Silau"

Akan kecantikan wajah Siu Bi.

Kebetulan sekali cahaya matahari yang menerobos melalui celah-celah daun pohon, menyoroti muka dan rambut itu, sehingga wajah gadis itu gemilang dan rambutnya membayangkan warna indah, benar-benar seperti Dewi Kwan Im turun melalui sinar matahari pagi.

Yo Wan memalingkan muka agar jangan melihat keindahan di depannya ini, yang membuat isi dadanya tergetar.

"Wah, kau ini Kakek-kakek, ya? aksinya!"

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 3

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert