Eps 1 Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.
Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 The Sun memasuki dusun Ling-chung dengan langkah seenaknya.
Pemandangan di sepanjang perjalanan tadi amat indah, mendatangkan rasa tenang dan tenteram di hati, menggembirakan perasaannya.
Setelah bertahun-tahun berkecimpung di kota dan sibuk dengan urusan Kerajaan, pertempuran dan peperangan, sekarang keadaan di dusun-dusun terasa amat aman dan tenteram baginya.
Musim panen sudah hampir tiba, padi dan gandum di sawah sudah hamil tua, siap untuk dipotong.
Penduduk dusun, tua muda laki perempuan agaknya enggan meninggalkan sawah ladang yang mereka pelihara setiap hari seperti memelihara anak-anak sendiri, enggan meninggalkan harta pusaka yang juga merupakan penyambung nyawa mereka, yaitu padi-padi yang sudah menguning.
Mereka siang malam menjaga keras terhadap gangguan burung di waktu siang dan tikus-tikus di waktu malam.
The Sun adalah anak murid Go-Bi-San, putera mendiang The Siu Kai seorang pembesar militer Mongol yang sekeluarganya terbasmi habis oleh Ahala Beng, kecuali The Sun yang dapat menyelamatkan diri.
Di dalam cerita PENDEKAR BUTA, diceritakan betapa The Sun yang cerdik, lihai dan bercita-cita tinggi berhasil menjadi orang kepercayaan Kaisar Hui Ti atau Kian Bun Ti, akan tetapi dalam perang saudara antara Hui Ti dan Pamannya, Raja Muda Yung Lo, Hui Ti kalah dan Kerajaan dirampas oleh Raja Muda Yung Lo.
Dalam pertempuran hebat, The Sun dan teman-temannya kalah oleh Pendekar Buta dan teman-temannya, nyaris dia tewas kalau saja dia tidak ditolong oleh Kakek Gurunya, Hek Lojin, yang berhasil membawanya lari.
Namun Hek Lojin, tokoh Go-Bi itu, juga terluka oleh Pendekar Buta, lengan kirinya menjadi buntung!
Peristiwa itu baru beberapa bulan saja terjadi.
Setelah mengantar Kakek Gurunya yang terluka itu ke puncak Go-Bi-San, The Sun yang tidak betah tinggal di puncak gunung yang sunyi dan dingin, lalu turun gunung.
Akan tetapi amat jauh bedanya The Sun dahulu dan sekarang.
la masih tetap tampan dan gagah, gerak-geriknya lemah-lembut, namun pakaiannya kini adalah pakaian sederhana, bukan pakaian pembesar maupun pelajar yang pesolek lagi.
Malah dia tidak membawa-bawa pedang.
la harus menyamar sebagai seorang penduduk biasa, karena tentu saja dia merupakan seorang yang dicari oleh pemerintah baru, yaitu pemerintah Kaisar Yung Lo atau yang sekarang disebut Kaisar Cheng Tsu.
Biarpun Kota Raja sudah dipindahkan ke Utara (Peking), namun masih banyak orang-orangnya Kaisar baru ini yang akan mengenalnya dan akan senang menangkapnya untuk mencari pahala.
Oleh karena inilah, The Sun tidak berani ke Selatan, dan kini dia hendak melakukan perantauan ke Utara.
Seenaknya dia melakukan perjalanan, menikmati ketentraman dusun-dusun dan diam-diam dia merasa betapa bodohnya dia dahulu, mencari keributan dan kesenangan hampa belaka di Kota Raja.
Alangkah indahnya pemandangan di gunung-gunung, sawah-sawah hijau segar, gadis-gadis dusun yang memiliki kecantikan segar dan wajar, sehat dan pipinya merah jambu tanpa yanci (pemerah pipi).
Penyamarannya membuat dia berlaku hati-hati sekali.
Biarpun hatinya masih jungkir balik kalau melihat gadis-gadis dusun yang manis segar itu, namun tidak seperti dulu kalau melihat wanita cantik dia terus saja berusaha mendapatkannya secara kasar maupun halus, Dia sekarang hanya menelan ludah, menekan perasaan dan kalau gadis itu terlalu cantik dan membalas senyumannya, dia sengaja membuang muka dan mempercepat langkah meninggalkannya.
The Sun sesungguhnya adalah keturunan orang besar.
la menjadi rusak dan dahulu berwatak sombong, mau menang sendiri, mata keranjang, adalah karena pengaruh lingkungan dan hubungannya.
Buktinya sekarang setelah dia berkelana seorang diri, tidak mempunyai kedudukan dan tidak mempunyai sandaran, tidak ada sesuatu yang boleh dia andalkan, dia dapat menguasai perasaan dan nafsunya.
Memang betul kata-kata orang bijak bahwa kesempatan lah yang membuat orang menjadi lemah, yaitu lemah terhadap dorongan nafsu-nafsu buruk.
Setiap perbuatan maksiat, pertama kali dilakukan orang tentu karena mendapat kesempatan inilah.
Kemudian menjadi kebiasaan dan membentuk watak.
Dusun King-Chung tampak sunyi karena sebagian besar penghuninya pada sibuk menjaga sawah dengan wajah gembira penuh harapan.
The Sun melihat ke kanan kiri, mencari-cari sebuah warung nasi dengan pandang matanya, karena pagi hari itu dia amat lapar setelah melakukan perjalanan semalam suntuk tanpa berhenti.
Mendadak dia mendengar samar-samar suarYo Wanita menjerit.
Telinganya yang terlatih dapat menangkap ini dan seketika dia meloncat dan lari menuju ke Utara, ke arah suara itu.
Di sebelah Utara dusun ini sunyi sekali, tak tampak seorang pun manusia, bahkan bagian ini merupakan bagian yang tidak subur dari dusun itu, banyak terdapat rawa yang tak terurus.
Di sudut sana tampak sebuah rumah tua yang agaknya tidak ditinggali orang.
"Tolong...!"
Sekali lagi terdengar jeritan lemah dan The Sun segera mempercepat larinya menuju ke rumah tua karena dari sanalah pekik itu datangnya.
Dengan gerakan seperti seekor burung garuda melayang, dia melompat dan setibanya di dalam rumah tua melalui pintu yang tidak berdaun lagi, dia tertegun dan matanya membelalak memandang ke dalam.
Mukanya seketika menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi-api.
Apa yang tampak olehnya di sebelah dalam rumah rusak itu benar-benar membuat The Sun marah sekali.
Di atas lantai yang kotor duduk menangis seorang wanita muda yang pakaiannya robek-robek di bagian atas sehingga tampak pundak dan sebagian dadanya yang berkulit putih seperti salju.
Wanita ini cantik jelita dan mukanya pucat, rambutnya awut-awutan.
Di sana-sini kelihatan robekan kain pakaiannya, dan sebagian dari robekan kain masih berada di tangan seorang laki-laki yang berdiri membungkuk di depan wanita itu.
Laki-laki yang menyeramkan.
Tinggi besar seperti raksasa, rambut panjang terurai, mukanya buruk dan sikapnya kasar dan canggung sekaii, sepasang matanya membuat orang bergidik, karena mata seperti itu biasanya hanya terdapat pada muka orang gila.
Mata yang liar, bodoh dan aneh.
"Bangsat kurang ajar! Berani kau mengganggu wanita?"
Bentak The Sun sambil meloncat ke dalam.
Laki-laki tinggi besar itu, tiba-tiba membalikkan tubuh dan mengeluarkan suara menggereng seperti harimau, tiba-tiba dia tertawa bergelak dan suaranya seperti gembreng pecah.
"Pergi kau! jangan ikut campur, dia milikku, heh... heh... heh"
The Sun termangu dan meragu, lalu menoleh kepadYo Wanita itu.
Mungkinkah si jelita ini milik orang gila itu?
Isterinya?
Sambil tertawa-tawa si gila itu kembali mendekat, tangannya yang besar dan kasar hendak meraih si cantik.
Wanita itu bergidik dan berseru lemah.
"Jangan sentuh aku...! Kang Moh, jangan... kau... kau bunuh saja aku..."
The Sun makin bingung.
"Nona... eh, Nyonya... dia siapakah? Apakah suamimu?"
"Bukan...! Sama sekali bukan! Dia orang gila di dusun ini... ah, Tuan, tolonglah, suruh dia pergi dan jangan biarkan dia ganggu aku... lebih baik aku mati, ya Tuhan..."
Ia menangis sedih sekali.
"Keparat! Mundur dan minggat kau!"
The Sun kini maju dengan hati tetap.
Lega hatinya bahwYo Wanita ini bukan isteri si gila ini dan kemarahannya timbul kembali, malah lebih hebat daripada tadi.
Kang Moh buaya gila itu tiba-tiba memekik keras dan menerjang maju, menghantam The Sun.
Gerakannya kuat sekali, membayangkan tenaga yang luar biasa, sedangkan gerakan tangan kakinya menunjukkan bahwa sedikit banyak orang ini pernah belajar silat.
Namun yang diserang kini adalah The Sun.
Orang sekampung itu boleh takut kepadanya, akan tetapi menghadapi The Sun, dia seperti menghadapi Kakek Gurunya.
Sekali dia miringkan tubuh dan menggeser kaki ke kiri, The Sun sudah menghindarkan diri dari terjangan lawan, kemudian dua kali tangannya bergerak, sekali menotok leher, kedua kalinya menusuk ulu hati dengan jari-jari terbuka.
Terdengar suara "Ngekkk!"
Dan tubuh Kang Moh yang tinggi besar itu roboh terjengkang seperti pohon ditebang dan...
dia tidak bergerak-gerak lagi karena dua kali pukulan tadi ternyata sudah mengirim nyawanya meninggalkan badan.
Matanya mendelik dan dari mulut, hidung, dan telinganya keluar darah!
The Sun bekerja cepat.
Sekali renggut dia telah membuka jubah si gila itu.
"Nona, kau pakailah ini, untuk sementara lumayan guna menutupi pundakmu."
Wanita itu berdiri dengan lemah, mukanya yang tadinya pucat menjadi agak merah, tampak gugup dan malu-malu.
Kemudian, setelah menutupkan jubah yang berbau apek itu ke atas pundaknya, ia menjatuhkan diri berlutut di depan The Sun.
"Terima kasih... terima kasih, Tuan... tapi tiada gunanya... ah, tiada gunanya aku hidup..."
La menangis terisak-isak dan tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Sementara itu, The Sun sudah mendapat kesempatan memandang.
Wanita ini bukan main cantik jelitanya dan aneh sekali, jantungnya berdegup tidak karuan.
Banyak dia mengenal wanita cantik, akan tetapi agaknya baru kali ini ada seorang wanita yang dapat membuat dia marah bukan main tadi, dan kini membuat jantungnya berdebar keras.
Wajah manis itu seperti pisau belati menikam ulu hatinya, mendatangkan rasa kasihan yang tiada dasarnya.
Mata itu, hidung dan mulut itu, seakan-akan menggurat-gurat kalbunya, menggores-gores jantungnya, minta dikasihani.
Dengan kedua kaki lemas, The Sun lalu berlutut pula di depannya.
"Jangan berduka, Nona. Kesukaran apakah yang kau hadapi? Dia itu kurang ajar kepadamu? Lihat, sudah kubikin mampus dia! Manusia macam dia berani mengganggumu? Biar ada seratus orang macam dia, semua akan kubasmi kalau mereka berani mengganggumu!"
Mendengar ucapan yang penuh kemarahan ini, wanita itu mengangkat muka memandang. Muka yang kini pucat kembali, yang amat sayu dan patut dikasihani, yang basah air mata.
"Saya berterima kasih sekali bahwa Tuan telah menolong saya dari tangan Kang Moh yang gila itu, akan tetapi... Inkong (Tuan Penolong) semua itu percuma... tak dapat membebaskan diri saya dari kesengsaraan... dan jalan satu-satunya bagi saya hanya mati..."
"Tidak ada kesulitan di dunia ini yang tak dapat diatasi. Memilih jalan kematian adalah pikiran sesat. Nona, percayalah kepadaku, aku The Sun siap untuk menolongmu sampai titik darah terakhir. Kau ceritakan saja kepadaku kesukaran apa yang kau derita."
Mendengar ucapan yang tegas dan sikap yang sungguh-sungguh ini, wanita itu menjadi terharu sekali, lalu terisak-isak ia menceritakan penderitaamya.
la bernama Ciu Kim Hoa, semenjak kecil ia sudah diberikan oleh Ayah Bundanya kepada seorang Pamannya, karena Ayah Bundanya bercerai dan kawin lagi.
Pamannya bukanlah orang baik-baik, selama hidup di rumah Pamannya, ia diperas tenaganya, bekerja kasar dan berat.
Beberapa kali ia mencoba untuk minggat, akan tetapi selalu gagal dan hasilnya hanya gebukan dan tendangan.
"Kekejaman itu masih dapat saya tahan, Inkong, karena kadang-kadang Paman itu pun bersikap baik dan kedukaan saya terhibur. Akan tetapi, setahun yang lalu dia telah menjual saya kepada keluarga Lee di dusun ini dan mulailah penderitaan batin yang tak tertahankan lagi..."
La menangis terisak-isak. Diam-diam The Sun menaruh kasihan. Wanita begini lemah dan cantik jelita, mengapa nasibnya demikian buruk? la membiarkan nona itu menangis sejenak, lalu menghibur.
"Sudahlah, Nona. Semua penderitaan itu takkan terulang kembali, ceritakan selanjutnya, mengapa kau menderita di rumah keluarga Lee?"
Setelah menghapus air matanya, wanita itu melanjutkan.
"Kalau di rumah Paman saya hanya menderita lahir, di rumah keluarga Lee saya menderita lahir batin. Mula-mula kedua orang tua dari keluarga itu baik terhadap saya, akan tetapi tiga bulan kemudian saya dijadikan permainan oleh tiga orang anak laki-laki keluarga Lee. Usia mereka antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, mereka laki-laki yang kejam. Saya tak dapat menolak, tak dapat melarikan diri, beberapa kali mencoba membunuh diri juga mereka halang-halangi, ah... In-kong... apa artinya lagi hidup ini...?"
The Sun menggigit gigi sampai mengeluarkan bunyi berkerot. Selain kasihan kepadYo Wanita ini, dia pun merasa hatinya panas dan marah sekali.
"Teruskan... teruskan...!"
Desaknya dengan suara keras dan nafas memburu.
"In-kong... betapa hancur hati saya ketika saya mendapatkan diri saya... mengandung! Saya ceritakan kepada mereka dan menuntut supaya dinikahi dengan sah. Tapi apa yang saya dapatkan? Mereka marah-marah. Saya diusir dengan tuduhan main gila dengan laki-laki luar, padahal mereka bertigalah yang memaksa dan mempermainkan saya."
"Keparat jahanam!!"
The Sun memaki, akan tetapi tiba-tiba mukanya merah sekali dan dia termenung.
Teringatlah dia ketika dia masih dalam keadaan jaya dahulu, entah berapa banyak wanita yang dia permainkan tanpa mempedulikan akibatnya.
Heran sekali.
Biasanya mendengar cerita macam ini baginya malah terasa lucu, dan biasanya mungkin dia akan mentertawakan wanita yang mengalami nasib demikian.
Akan tetapi mengapa sekarang, di depan wanita ini, timbul rasa kasihan dan marah?
Apakah ini kemarahan karena dia tak senang mendengar orang melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, ataukah kemarahan ini timbul justru karenYo Wanita inilah yang dipermainkan dia tidak tahu, pendeknya waktu itu dia marah sekali terhadap mereka yang telah mempermainkan wanita itu.
"Kemudian bagaimana, Nona? Teruskan "
"Saya diusir dari rumah mereka tanpa diberi apa-apa dan diancam akan dipukuli sampai mati kalau tidak lekas pergi. Dengan hati remuk saya terpaksa pergi dan sampai di rumah tua ini karena tidak ada lain tempat yang dapat saya datangi. Tak lama kemudian datanglah Kang Moh ini..."
La memandang ke arah mayat itu dan bergidik ngeri.
"Dia ini juga orangnya keluarga Lee, dan tadinya saya kira dia menyusul dengan pesan dan maksud baik dari mereka. Tidak tahunya Kang Moh hendak melakukan perbuatan keji dan melanggar susila. Baiknya kau datang menolong, In-kong... akan tetapi setelah In-kong menolong saya, apa artinya bagi saya? Keadaan saya masih belum lagi terlepas dari penderitaan, saya tiada sanak keluarga, tiada handai taulan, tiada sahabat. Ke mana saya harus pergi? Bagaimana saya dapat hidup?"
Ia menangis lagi sesenggukan. The Sun bangkit berdiri. Dalam sinar matanya tampak api yang penuh ancaman.
"Nona, di mana tempat tinggal keluarga Lee itu? Katakan di mana mereka itu, akan saya paksa mereka menerimamu kembali dan mengawinimu sebagaimana mestinya."
"Percuma, In-kong. Mereka tidak akan mau dan harap In-kong jangan memandang rendah mereka. Mereka itu orang-orang kejam dan ganas, pandai main silat dan di dalam dusun ini selain terkenal sebagai keluarga terkaya, memiliki tanah yang luas, juga terkenal sebagai jagoan-jagoannya. Tiga orang itu ditakuti semua orang di dusun. Jangan-jangan kau akan dipukuli, In-kong, dan kalau hal ini terjadi, ah, aku menyesal, karena kau tertimpa malapetaka oleh karena aku."
The Sun tertawa.
"Anjing-anjing itu mampu memukul saya? Ha... ha... ha, Nona, boleh mereka coba! Kau tunggu saja di sini sebentar, Nona. Aku tanggung bahwa mereka akan menerimamu secara baik-baik atau mampus, karena hanya itulah pilihan mereka. Nah, di sebelah mana rumah mereka?"
Nona itu menuding ke arah Timur.
"Rumah mereka mudah dikenal, paling besar, merupakan gedung tembok dan di depannya banyak gentong-gentong tempat gandum. Mereka siap menerima hasil panen dan gentong-gentong itu sudah dijajarkan di pekarangan depan."
"Nona tunggu saja sebentar di sini, aku akan segera datang lagi."
The Sun berkata sambil melangkah lebar menghampiri mayat Kang Moh, kemudian dia mencengkeram rambut mayat itu dan menyeretnya ke luar dari dalam rumah tua.
Tentu saja orang-orang menjadi heran dan terbelalak memandang seorang laki-laki muda dan tampan berjalan cepat di jalan dusun sambil menyeret tubuh Kang Moh yang sudah menjadi mayat!
Semua orang dusun mengenal siapa Kang Moh dan amat takut kepadanya, karena Kang Moh merupakan tukang pukul keluarga Lee.
Siapa kira sekarang Kang Moh sudah mati dan mayatnya diseret-seret seperti bangkai anjing saja oleh seorang pemuda yang tidak mereka kenal.
Apalagi melihat pemuda itu menuju ke rumah gedung keluarga Lee, keheranan mereka bertambah dan berbondong-bondong orang dusun mengikut The Sun dari belakang.
Akan tetapi, karena rasa ngeri, takut dan juga jerih akan kemarahan keluarga Lee, mereka mengikuti dari jauh dan secara setengah sembunyi.
Memang mudah mengenal gedung keluarga Lee.
Di dalam pekarangan depan rumah itu terdapat banyak gentong yang masih kosong dan sebuah alat timbangan digantung di sudut.
The Sun menyeret mayat Kang Moh ke dalam pekarangan yang masih sunyi itu, kemudian dia mengangkat mayat itu, dilemparkan ke ruangan dalam.
Mayat itu melayang ke depan menubruk pintu yang segera terbuka dan menimbulkan suara hiruk-pikuk.
Terdengar pekik kaget di sebelah dalam rumah.
"Kau kenapa, Kang Moh? Hei... dia... dia mati..."
Di dalam rumah menjadi ribut dan terdengar bentakan keras.
"Siapa yang main gila di sini?"
Lalu melompatlah sesosok bayangan orang tinggi kurus dari dalam.
Ketika tiba di luar dan melihat The Sun berdiri bertolak pinggang di dalam pekarangan, orang itu melangkah lebar, menghampiri.
The Sun memandang dengan senyum mengejek.
Orang ini usianya kira-kira tiga puluh tahun, kelihatan kuat dan gerak-geriknya gesit, tanda bahwa dia mengerti ilmu silat.
Teringat akan cerita nona itu, dia segera mendahului.
"Apakah kau putera keluarga Lee yang tertua?"
"Jembel busuk, kau siapa? Benar, aku Tuanmu adalah putera sulung. Mau apa kau mencari Lee-toya? Eh, mayat Kang Moh itu..."
Orang itu ragu-ragu dan melirik ke dalam rumah.
"Tak usah bingung. Mayat itu aku yang melemparkannya ke dalam, malah akulah yang telah membunuhnya."
Orang she Lee Itu kaget setengah mati, juga marah sampai mukanya merah.
"Siapa kau dan mengapa kau main gila di sini?"
"Aku The Sun, kulihat anjing gila peliharaanmu itu hendak mengganggu nona yang seharusnya menjadi nyonya rumah di sini. Orang she Lee, kau dan dua orang adikmu, telah berlaku sewenang-wenang kepada nona Ciu Kim Hoa. Setelah kalian berbuat mengapa tidak berani bertanggung jawab? Mengapa kalian malah mengutus anjing gila peliharaan kalian itu untuk menggigitnya?"
Muka yang pucat itu kini berubah merah. Kemarahan putera sulung Lee ini tidak dapat dikendalikannya lagi.
"Bangsat rendah, jembel busuk, berani kau bicara begini di depanku? Berani kau mencampuri urusan kami? Setan, kau mau apa?"
Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingih sekali pukul The Sun membinasakah orang ini. Namun dia ingat akan Ciu Kim Hoa dan dia menahan kesabarannya.
"Orang she Lee, sekarang kau pilihlah salah satu. Pertama, kau harus menerima kembali nona Ciu, mohon ampun kepadanya, kemudian mengawininya secara sah, menyerahkan hak kepadanya sebagai nyonya rumah dan diperlakukan sebagaimana mestinya. Atau yang kedua, kau dan adik-adikmu itu boleh memilih kematian di tanganku, karena demi roh Nenek moyangmu, kalau kau tidak memenuhi tuntutanku itu, aku akan membunuh kalian bertiga!"
"Keparat, kau kira aku takut akan ancamanmu yang kosong? Kau malah yang harus membayar hutangmu atas nyawa Kang Moh!"
Orang she Lee itu lalu membentak keras dan menerjang maju, mengirim pukulan tangan kanan yang keras ke arah dada The Sun.
Melihat gerakan ini, The Sun tersenyum.
Seorang ahli silat biasa saja.
Kalau dia mau, sekali sodok dia akan dapat membuat nyawa orang ini melayang ke neraka.
Akan tetapi dia tidak mau menuruti nafsu hatinya dan ingin memperlihatkan kepandaiannya agar orang ini kapok dan taat.
Dengan mudah dia mengelak dengan miringkan tubuh, kemudian tangan kirinya menyambar dan.
"Plak-plak!"
Kedua pipi di muka orang she Lee itu dia tampar dengan keras.
Seketika kedua pipi itu menjadi bengkak dan orang itu mengusap-usap kedua pipinya sambil meringis saking nyerinya.
Namun dia membentak lagi dan menerjang makin marah, malah dibarengi teriakan keras memanggil adik-adiknya.
Sebetulnya tak perlu dia berteriak karena dua orang adiknya itu setelah tadi ribut-ribut memeriksa tubuh Kang Moh, sekarang sudah berlari ke luar dan mereka marah sekali melihat betapa kakak mereka bertempur dengan seorang pemuda yang tak mereka kenal.
Siapa orangnya yang berani berkelahi, dengan Lee Kong, kakak mereka?
Kurang ajar!
Tanpa berkata apa-apa lagi dua orang pemuda yang usianya kira-kira dua puluh empat dan dua puluh delapan tahun ini serta merta menyerbu dan mengeroyok The Sun.
"Ha... ha... ha, jadi kalian bertiga inikah putera-putera keluarga Lee? Bagus, sekarang dapat kuberi hajaran sekaligus."
Begitu ucapannya terhenti, terdengar pekik kesakitan tiga kali dan tiga orang muda itu terlempar ke belakang dan roboh bergulingan.
Baiknya The Sun hanya ingin memberi hajaran saja, maka mereka tidak terluka hebat, hanya dilemparkan dan roboh saja.
"Nah, sekarang bersumpahlah untuk menerima kembali nona Ciu dan mengawininya secara sah. Kalau kalian tidak mau, sekali lagi roboh kalian takkan mampu bangun lagi!"
Dasar pemuda-pemuda hartawan yang sudah terlalu biasa semenjak kecil diberi kemenangan terus, tiga orang she Lee ini tentu saja enggah mengalah.
Pengalaman pahit ini baru mereka alami kali ini selama mereka hidup.
Biasanya, jangankan merobohkan mereka, melawan pun tidak ada yang berani.
"Jembel busuk, kau lah yang akan mampus!"
Teriak mereka dan seperti tiga ekor anjing galak, mereka menyerbu lagi, kini"
Malah dengan senjata di tangan.
Kiranya mereka itu masing-masing menyimpan sebatang pisau panjang yang tadi mereka selipkan di ikat pinggang.
Habislah kesabaran The Sun.
la maklum bahwa andaikata mereka itu terpaksa menerima kembali Kim Hoa karena dia tekan, kiranya nona itu kelak takkan terjamin keselamatan dan kebahagiaannya hidup di tengah orang-orang macam ini.
Kasihan nona itu kalau harus menjadi keluarga mereka, tentu hanya siksa dan derita saja yang akan dia alami selama hidupnya.
Kemarahannya memuncak, apalagi melihat berkelebatnya tiga batang pisau panjang itu, baginya seperti seekor harimau mencium darah.
The Sun berseru panjang, melengking tinggi suaranya dan gerakannya amat cepat sehingga tiba-tiba lenyaplah dia dari pandangan mata ketiga orang pengeroyoknya.
Jerit yang terdengar beruntun tiga kali sekarang amat mengerikan karena itulah jerit kematian dari tiga orang pengeroyok itu.
Tahu-tahu mereka telah roboh berkelojotan dan tepat di ulu hati mereka tertancap pisau masing-masing, amat dalam sampai ke gagangnya dan ujung pisau tembus sedikit di punggung!
Adapun The Sun sudah tak tampak lagi di tempat itu!
Gegerlah dusun itu.
Orang-orang yang tadi menonton sambil sembunyi, sekarang keluar dari tempat persembunyian.
Namun tiga orang muda itu tak tertolong lagi, begitu pisau dicabut nyawa mereka ikut tercabut.
Tinggal Kakek dan Nenek keluarga Lee yang menangis meraung-raung.
Tampak juga orang-orang dusun, terutama yang wanita, menangis karena terharu, akan tetapi banyak orang laki-laki dusun itu diam-diam tertawa, bahkan wanita-wanita itu setelah pulang ke gubuk masing-masing juga tertawa lega.
Sudah terlalu banyak penderitaan lahir batin mereka alami dari tiga orang pemuda Lee itu.
The Sun sudah kembali ke dalam rumah tua.
Hatinya berdebar cemas, dan dia kembali merasa heran kepada dirinya sendiri.
Kenapa dia cemas dan takut kalau-kalau wanita itu tidak berada lagi di situ?
Kenapa dia khawatir kalau-kalau Kim Hoa membunuh diri?
Bagaikan terbang dia tadi kembali ke tempat ini dan kedua kakinya gemetar ketika dia memasuki rumah tua.
Wajahnya seketika berseri ketika dia lihat Kim Hoa masih berada di situ, berdiri di sudut dengan mata selalu memandang ke luar, agaknya mengharapkan kembalinya.
Memang betul dugaannya karena begitu melihat dia muncul, Kim Hoa segera berlari menghampiri.
"Bagaimana, In-kong?"
The Sun tersenyum dan hendak menggodanya.
"Mereka dengan senang hati suka menerimamu kembali, Nona, malah bersedia mengawinimu. Kau akan menjadi nyonya muda di sana, dihormati dan disegani di samping nyonya tua Ibu mereka."
Tiba-tiba nona itu menangis sesenggukan dan menutupi mukanya.
The Sun mengerutkan keningnya, namun sepasang matanya bersinar-sinar dan Bibirnya tersenyum karena dia senang melihat bahwa dugaannya benar.
la sudah menduga bahwa gadis itu pasti tidak suka kembali ke sana, biarpun dikawini secara sah, dijadikan nyonya rumah, karena memang watak tiga orang laki-laki itu amat buruk.
"Nona, kenapa kau menangis? Bukanlah hal itu baik sekali?"
Kim Hoa menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis, sukar baginya mengeluarkan suara karena menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya ia dapat menguasai tangisnya dan berkata.
"Tidak,"
In-kong...
saya tidak sudi kembali ke sana.
Mereka mau menerima saya dan mengawini saya hanya karena kau paksa.
Kalau In-kong sudah pergi, tentu mereka akan melampiaskan kedongkolan hati kepada saya...aah...
ngeri saya memikirkan hal itu."
"Nona, apakah kau tidak... tidak cinta kepada mereka? Kepada seorang di antara mereka?"
"Tidak! Tidak! Aku benci kepada mereka semua!"
Aku benci kepada yang muda-muda, juga benci kepada yang tua! Mereka orang-orang jahat dan keji!"
The Sun mengerutkan kening dan ragu-ragu untuk mengeluarkan pertanyaan ini, namun dipaksanya.
"Maaf, Nona. Tapi... tapi... bukankah mereka... seorang diantara mereka adalah... Ayah dari anak dalam kandunganmu?"
Tiba-tiba Kim Hoa menjatuhkar diri di atas tanah dan menangis dengan sedih.
"Biarkan aku mati... biarlah aku mati saja... ya Tuhan, apa dosa hamba sehingga harus menanggung derita dan hinaan seperti ini?"
Nona itu mengeluh panjang dan pingsan, The Sun berlutut, menggeleng-geleng kepala.
"Kasihan..."
Dengan hati-hati dia lalu mengurut jalan darah di leher dan punggung.
Kembali dia merasa heran dan tak mengerti mengapa dadanya berdebar begitu keras ketika ujung jari tangannya menyentuh kulit leher dan punggung.
Apa, yang aneh dalam diri nona ini sehingga seakan-akan mempunyai besi sembrani yang menariknya amat kuat?
Kim Hoa siuman kembali, mula-mula, termenung memandang kosong, kemudian dia mengeluh panjang.
"In-kong, pertanyaanmu tadi... bagaimana saya harus menjawab? Saya dipaksa, saya tak berdaya... saya benci mereka, saya benci diri sendiri dan saya benci anak dalam kandungan ini..."
"Hushhh, jangan bicara demikian. Anak itu tidak berdosa."
"Lebih baik aku bunuh diri, biarlah anak ini tidak sempat terlahir."
"Hushhh, tidak boleh. Kau harus hidup, hidup bahagia, juga anak itu harus lahir dalam rumah tangga bahagia."
"Bagaimana...? Apa maksudmu, In-kong...? The Sun tidak tersenyum lagi sekarang, wajahnya yang tampan nampak sungguh-sungguh, matanya menatap tajam ketika dia membantu Kim Hoa duduk.
"Nona, aku The Sun seorang laki-laki sejati, sekali bicara tidak akan kutarik kembali. Aku juga hidup sebatangkara. Terus terang saja, melihat kau, hatiku timbul kasihan dan cinta. Aku cinta kepadamu dan kalau kau sudi menerima, aku bersedia menjadi suamimu dan menjadi Ayah dari anak di kandunganmu. Sekarang juga, jawablah, kalau kau mau akan kubawa ke Go-Bi-San di mana kita hidup bahagia di tempat yang jauh dari dunia ramai. Kalau kau tidak mau, terpaksa aku harus meninggalkanmu dan kau boleh pilih apa yang baik untukmu, aku tidak berhak mencampuri lagi."
Dapat dibayangkan betapa sukar keadaan Kim Hoa di saat itu.
la belum mengenal The Sun, dan ia sama sekali tidak tahu bahwa di dunia ini ada seorang seperti ini, yang tampan, gagah perkasa dan aneh.
la tahu bahwa ia harus dapat menjawab sekarang juga, tanpa ragu-ragu.
Terang bahwa pemuda ini berbeda dengan keluarga Lee, berbeda dengan Pamannya, berbeda dengan Ayahnya dahulu.
Pemuda ini tampan dan memiliki kepandaian luar biasa.
Hidup di sampingnya berarti hidup tenteram dan aman, bebas dari gangguan orang-orang jahat.
Sebaliknya kalau ia menolak, jalan satu-satunya hanya membunuh diri.
la ngeri kalau memikirkan ini.
"Bagaimana, Nona?"
The Sun mendesak.
"Aduh, In-kong, bagaimana saya harus menjawab? Saya seorang wanita... bagaimana... ah..."
The Sun mengangguk senang.
Keadaan lahir nona ini sudah dia lihat, dan dia amat tertarik dan suka akan kecantikannya.
Keadaan batinnya belum dia ketahui, akan tetapi melihat sikap gadis ini, dia dapat menduga bahwa Kim Hoa berperasaan halus dan bersusila tinggi.
Hanya karena nasibnya yang buruk, tidak mempunyai andalan di dunia ini, maka dia terjerumus ke dalam jurang kesengsaraan seperti itu.
"Aku tahu betapa sukarnya bagimu untuk menjawab, Nona. Sekarang jawablah dengan anggukan saja. Kalau kau mengangguk, berarti kau sudi menerima tawaranku untuk hidup berdua. Kalau kau menggeleng kepala, aku akan pergi sekarang juga dan tidak akan mengganggumu lebih lama lagi."
Dengan air mata bercucuran saking terharu dan juga bahagia karena baru sekarang selama hidupnya ia mendapatkan orang yang begini memperhatikan nasibnya, Kim Hoa menganggukkan kepalanya sampai berulang-ulang!
The Sun tertawa bergelak, menubruk maju dan di lain saat Kim Hoa sudah dipondongnya dan dibawa lari ke luar rumah tua.
Kim Hoa kaget sekali, apalagi merasa betapa ia seperti dibawa terbang.
Ngeri hatinya.
Sedetik ia curiga.
Manusiakah atau bukan pemuda ini?
Bagaimana bisa terbang kalau manusia?
Akan tetapi ia menyerahkan diri kepada orang ini, yang dekapannya begitu Kokoh kuat, begitu sentosa.
la meramkan mata dan merasa aman, desir angin yang mengaung di kedua telinganya makin lama makin merdu seperti dendang yang meninabobokkannya.
Setelah bertemu dengan Ciu Kim Hoa, The Sun benar-benar telah berubah seperti seorang manusia lain.
la merasa hidupnya tenteram dan penuh damai tidak bernafsu untuk merantau lagi.
Kakek Gurunya, Hek Lojin yang sudah buntung lengan kirinya, menerimanya dengan girang dan The Sun bersama Kim Hoa yang ia aku sebagai isterinya, selanjutnya tinggal di puncak Go-Bi-San ini bersama Hek Lojin.
Beberapa bulan kemudian Kim Hoa melahirkan seorang anak perempuan yang sehat dan mungil.
The Sun menerima kehadiran anak ini dengan gembira dan bahagia, menganggapnya anak sendiri.
Anak itu diberi nama Siu Bi dan diberi nama keturunan The.
Juga Hek Lojin amat sayang kepada bayi ini, sehingga dalam masa Tuanya Kakek itu pun merasai kebahagiaan.
Memang, kebahagiaan dapat dinikmati dalam hal apa pun juga, dalam soal-soal sederhana, asalkan orang dapat mengenalnya.
Yang paling bahagia adalah Kim Hoa.
la bahagia, juga amat terharu akan sikap suaminya yang benar-benar menganggap Siu Bi seperti anak keturunannya sendiri.
la amat kagum akan kebijaksanaan suaminya dan bagi Kim Hoa, manusia yang paling mulia di dunia adalah suaminya, The Sun!
Memang ganjil dunia ini.
Banyak sekali orang menganggap The Sun sebagai seorang manusia jahat, keji, pendeknya bukan manusia baik-baik.
Akan tetapi coba tanya Kim Hoa, apakah ada manusia yang lebih mulia daripada The Sun bagi dirinya?
Kelihatannya saja ganjil dan aneh.
Keganjilan yang tidak aneh, atau keanehan yang tidak ganjil bagi yang mau memperhatikan.
Hidup manusia dikuasai seluruhnya oleh egoisme (ke-akuan).
Tidaklah mengherankan apabila pandangan orang terhadap orang lain juga terbungkus sifat ke-akuan ini.
Orang lain yang menguntungkan dirinya, tentu dipandang sebagai orang baik, sebaliknya orang lain yang merugikan dirinya, tentu dipandang sebagai orang tidak baik.
Dalam hal ini, keuntungan atau kerugian diartikan luas dan mengenai lahir batin, Sifat ke-akuan yang sudah menyelubungi seluruh kehidupan manusia ini sudah menjadi satu dengan kehidupan itu sendiri sehingga sifat ini dianggap umum.
Siapa menyeleweng dari sifat ini, dianggap tidak umum, malah dianggap tidak normal!
Inilah dunia dan manusianya, panggung sandiwara dengan manusia sebagai badut-badutnya.
Dengan The Sun sebagai Ayah dan Hek Lojin sebagai Kakek Guru, tentu saja semenjak kecil Siu Bi digembleng dengan ilmu silat.
Hek Lojin malah mengajarnya dengan sungguh-sungguh, sedangkan Ayahnya, The Sun, adalah seorang ahli dalam ilmu surat.
Oleh karena itu, semenjak kecil Siu Bi menerima gemblengan ilmu surat dan ilmu silat, malah oleh Ibunya dilatih dalam ilmu kewanitaan, memasak dan menyulam.
Biarpun anak ini hidup di puncak gunung, tidak pernah melihat kota besar kecuali dusun-dusun di sekitar pegunungan, Namun ia menerima pendidikan anak kota, tidak hanya pandai bermain pedang, berlatih Ginkang, Lweekang dan memelihara Sinkang di dalam tubuh, tetapi juga tidak asing akan tata cara dan sopan santun, pandai menulis sanjak, tahu akan sejarah, pandai meniup suling dan dapat pula mengganti Pedang dengan jarum halus untuk menyulam!
Siu Bi menjadi seorang gadis cantik, secantik Ibunya.
Kecintaan yang dicurahkan kepadanya oleh Ayah, Ibu, dan Kakeknya, membuat ia menjadi seorang gadis manja dan nakal, segala keinginannya selalu dituruti dan karenanya tidak biasa menghadapi penolakan terhadap keinginannya.
Apa yang ia kehendaki harus dituruti dan dipenuhi!
Dalam hal ilmu silat, ia telah mewarisi kepandaian Ayahnya, bahkan Hek Lojin tidak tanggung-tanggung menurunkan ilmunya yang paling hebat, yaitu ilmu tongkat yang diubah menjadi ilmu Pedang untuk disesuaikan dengan gadis itu.
"Ilmu ini kuberi nama Ilmu Pedang Cui-Beng Kiam-Hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh), Cucuku. Jangankan orang lain, Ayahmu sendiri tak pernah kuwarisi ilmu Pedang yang tadinya adalah ilmu tongkatku ini."
"Kong-kong, apakah ilmu Pedang ini tidak ada tandingannya lagi di dunia ini? Ibu bilang bahwa Ayah adalah seorang yang sakti, malah katanya di dunia ini jarang ada yang bisa melawan. Kong-kong sebagai Gurunya tentu merupakan jago utama di dunia ini, maka aku ingin kau beri ilmu yang nomor satu di dunia, agar jangan ada orang lain dapat mengalahkan aku."
"Ha... ha... ha...ha...ha, kau cerdik, kau pintar."
Dengan tangan kanannya, Kakek hitam itu mengelus-elus hidungnya.
"Mari kau datang ke kamarku, jangan ketahuan Ayah Ibumu dan aku akan menurunkan ilmu yang paling hebat ini kepadamu."
Siu Bi yang sudah berusia enam belas tahun itu berjingkrak kegirangan, lalu menggandeng tangan kanan Kakeknya dan menyeret orang tua itu ke dalam kamar Hek Lojin yang lebar dan gelap.
"Nah, sekarang kau harus berlutut dan bersumpah, baru aku akan menurunkan Cui-Beng Kiam-Hoat."
"Bersumpah segala apa perlunya, Kong-kong? Apa kau tidak rela menurunkan ilmu itu kepadaku?"
Siu Bi mulai merengek manja.
"Hisss, anak bodoh. Mempelajari ilmu ini ada syaratnya, dan kalau kau mau bersumpah untuk memenuhi syarat itu kelak, baru aku mau menurunkannya dan mati pun aku akan meram."
Kakek itu menghela nafas panjang.
"Lho, kau susah, Kek? Ada apakah? "Bilang saja, Cucumu akan dapat menolongmu."
Siu Bi menyombong.
"Kau lihat lengan kiriku ini?"
Kakek itu menggerakkan sisa lengan kirinya yang buntung sebatas siku. Tentu saja Siu Bi yang sudah melihatnya sejak kecil tidak merasa ngeri dan sudah biasa.
"Bukankah kau dulu bilang karena kecelakaan maka lenganmu buntung, Kek? Ataukah ada cerita lain?"
Siu Bi memang cerdik sekali orangnya, jalan pikirannya cepat dan mungkin karena hidup di tempat sunyi dan dekat dengan seorang sakti aneh seperti Hek Lojin, sedikit banyak wataknya juga terbawa aneh dan gadis ini tidak pernah memperlihatkan perasaan terharu.
Perasaannya kuat dan tidak mudah terpengaruh.
"Memang karena kecelakaan, akan tetapi kecelakaan yang dibuat oleh orang lain. Lengan kiriku buntung oleh seorang musuhku yang bernama Kwa Kun Hong dan berjuluk Pendekar Buta."
"Buta? Dia buta...? Wah, mana bisa hal ini terjadi? Aku tidak percaya, Kek. Kau bohong!"
Hek Lojin menghela nafas panjang.
Ucapan Cucunya yang manja dan sudah biasa bersikap kasar terhadapnya itu pada saat lain tentu akan membuat dia terkekeh geli, akan tetapi saat itu dia menerimanya seperti sebuah tusukan pada jantungnya.
Memang memalukan sekali.
Dia, tokoh besar Go-Bi-San yang namanya sudah sejajar dengan tokoh-tokoh kelas satu di dunia persilatan, menjadi buntung lengan kirinya menghadapi seorang lawan yang buta, dan masih muda lagi!
"Aku tidak bodoh, dan memang dia itu buta kedua matanya, tapi amat lihai."
"Bagaimana kau bisa kalah, Kek? Bukankah kau orang terpandai di kolong langit?"
"Pada waktu itu, delapan belas tahun yang lalu, aku belum menciptakan Cui-Beng Kiam-Hoat, ilmuku ini masih merupakan ilmu tongkat yang liar. Juga aku belum menciptakan Ilmu Pukulan Hek-In-Kang yang juga hendak kuajarkan kepadamu sebagai imbangan dari Cui-Beng Kiam-Hoat."
"Sekarang kau sudah memiliki dua ilmu itu, kenapa tidak mencari dia dan balas membuntungi lengannya?"
Karena semenjak kecil berada di puncak Go-Bi dan tidak pernah menyaksikan sepak terjang Hek Lojin terhadap orang lain, hanya sehari-hari menyaksikan sikap Kakek itu terhadapnya amat baik dan mencinta, tentu saja Siu Bi juga menganggap Kakek ini orang yang amat mulia dan baik hatinya.
Kembali Hek Lojin menarik nafas panjang, tampak berduka.
"Aku sudah makin tua, usiaku sudah delapan puluh lebih, sudah lemah, tenaga sudah hampir habis, mana mampu membalas dendam? Musuhku itu sekarang paling banyak setua Ayahmu, malah lebih muda lagi, sedang kuat-kuatnya. Selain itu, dengan hanya sebuah lengan, mana aku dapat menang? Untuk melawan ilmu pedangnya, dengan Pedang yang bersembunyi dalam tongkat, dan menghadapi ilmu pukulannya yang mengeluarkan uap putih, harus mainkan Cui-Beng Kiam-Hoat dan sekaligus tangan kiri mainkan Hek-In-Kang. Bagiku tiada harapan lagi, harus kutelan kekalahan dan penghinaan ini dan aku akan mati dengan mata terbelalak kalau tidak ada orang yang dapat membalaskan dendamku."
"Hemmm, kalau begitu, kau mau menurunkan kedua ilmu itu kepadaku dengan syarat bahwa aku harus membalaskan dendammu terhadap Pendekar Buta itu, Kek?"
Dengan lengan kanannya, Hek Lojin memeluk pundak Cucunya.
"Siu Bi, kau benar-benar menggembirakan hatiku. Kau cerdik, kau pintar, kau tahu akan isi hatiku. Benar, Cucuku, kau bersumpahlah bahwa kelak kau akan membalaskan hinaan atas diriku ini kepada Pendekar Buta, dan sekarang juga aku akan wariskan kedua ilmu itu kepadamu."
"Kong-kong, tanpa hadiah apa pun juga, sudah menjadi kewajibanku untuk membalaskan sakit hatimu. Terlalu sekali Pendekar Buta. Sudah buta matanya, buta pula hatinya, menghina orang sesukanya. Lengan orang dibuntungi, hemmm, padahal kau seorang tua yang baik dan tidak berdosa, apa dikiranya dia seorang saja yang paling pandai di dunia ini? Jangan khawatir, Kek, aku bersumpah, kelak kalau ada kesempatan tentu aku akan membuntungi lengan kirinya, persis seperti yang telah dia lakukan kepadamu."
"Orang hutang harus ada bunganya, Siu Bi. Keenakan dia kalau hanya dibuntungi lengan kirinya seperti aku, harus ada tebusan bagi penderitaanku belasan tahun ini. Tidak hanya dia, juga kalau dia mempunyai anak, anak-anaknya harus kau buntungi pula lengan kirinya."
"Bapaknya jahat anaknya pun tentu jahat. Baik, Kek, akan kutaati permintaanmu itu."
Bukan main girangnya hati Hek Lojin dan semenjak hari itu dia menurunkan Ilmu Pukulan Hek-In-Kang yang kalau dimainkan dengan sempurna, dari tangan si pemain akan keluar uap kehitaman yang mengandung racun.
Tanpa ia sadari, gadis yang bersih itu dikotori oleh ilmu silat yang mengandung ilmu hitam, tidak ini saja, malah di hatinya telah ditanamkan Bibit permusuhan yang hanya dapat dipuaskan dengan aliran darah dan buntungnya lengan entah berapa orang banyaknya!
Tidak mudah mewarisi dua macam ilmu itu.
Biarpun Siu Bi sudah mempunyai dasar yang kuat, namun untuk memahami dua buah ilmu itu ia harus berlatih sampai setahun lebih lamanya!
Bukan main cepatnya kemajuan gadis Itu setelah ia mewarisi dua macam ilmu silat ini dari Kakeknya.
The Sun sama sekali tidak tahu akan hal ini, karena Kakek dan gadis itu tidak memberi tahu kepadanya.
Memang keduanya merahasiakan hal ini dan The Sun sama sekali tidak mengira bahwa Kakek itu telah menciptakan ilmu silat yang demikian hebat dan dahsyat.
Pada suatu senja, secara iseng-iseng Ayah ini mengintai kamar anaknya, karena dia merasa heran mengapa sekarang sore-sore gadis itu sudah masuk ke kamar sehabis makan sore.
Alangkah herannya ketika dia melihat gadis itu berjungkir balik di atas tempat tidurnya, kepala di atas kasur dan kedua kaki lurus ke atas, kemudian kedua tangannya bergerak-gerak aneh.
Yang amat mengagetkan hatinya adalah cara gadis itu berlatih pernafasan, mengapa secara berjungkir seperti itu?
Diam-diam dia merasa heran, akan tetapi dia tidak mau mengganggu, hanya mengintai terus sampai jauh malam.
Ketika menjelang tengah malam anaknya itu melompat keluar jendela secara diam-diam dan pergi ke pekarangan belakang.
The Sun mengikutinya dengan hati tidak enak.
la melihat anaknya itu mencabut Pedang dan bersilat di bawah sinar bulan purnama.
Bukan main hebatnya.
The Sun melongo ketika menyaksikan betapa Pedang itu bergulung-gulung mengeluarkan hawa dingin dengan sinar menghitam, kemudian dia makin kaget ketika tangan kiri anaknya itu diputar-putar dan digerakkan sedemikian rupa sehingga mengeluarkan uap berwarna hitam pula!
Tiba-tiba muncul bayangan hitam yang dikenal oleh The Sun biarpun keadaan remang-remang, karena orang ini bukan lain adalah Hek Lojin.
Kakek itu keluar sambil tertawa bergelak.
"Bagus, bagus! Kau malah lebih hebat daripada aku sepuluh tahun yang lalu. Cucuku yang pintar, Cucuku yang manis, kau lah yang akan membikin aku dapat mati meram. Sekarang tinggal aku menagih janji, kau harus memenuhi janji dan sumpahmu."
"Di mana adanya Pendekar Buta itu, Kek?"
"Ha... ha... ha, dia manusia sombong itu berdiam di puncak Liong-Thouw-San. Dia sebetulnya putera Ketua Hoa-San-Pai. Kau cari dia di Liong-Thouw-San, kalau tidak ada, susul ke Hoa-San-Pai, buntungi lengannya dan lengan isterinya, juga lengan anak-anaknya. Ha... ha... ha, aku akan mati meram."
Tiba-tiba The Sun melompat ke luar, bulu tengkuknya berdiri.
"Suhu (Guru)! Siu Bi! Apa artinya ini semua? Dari mana kau mendapatkan ilmu setan itu?"
"Ayah, ilmu warisan Kong-kong bagaimana kau berani menyebutnya ilmu setan?"
The Sun makin tercengang, lalu memandang Kakek itu yang diam saja.
"Suhu, benarkah Suhu yang mewariskan kedua ilmu itu?"
"Hemmm, betul, Ilmu Pedang Cui-Beng Kiam-Hoat adalah perubahan dari ilmu tongkat hitamku dan Ilmu Pukulan Hek-In-Kang itu adalah inti sari Lweekang yang kupelajari. Kedua ilmu ini perlu untuk menghadapi kepandaian Kun Hong si manusia buta."
"Suhu!!"
The Sun berseru keras, kemudian dia berpaling kepada Siu Bi sambil membentak keras.
"Hayo kau kembali ke kamarmu!"
Bentakan ini ketus dan marah.
Siu Bi selama hidupnya belum pernah dibentak seperti ini oleh Ayahnya, maka dia terisak menangis sambil berlari masuk ke kamarnya!
Akan tetapi, gadis yang amat cerdik ini tentu saja tidak merasa puas kalau harus menangis begitu saja.
la amat penasaran dan diam-diam ia mempergunakan Ginkangnya yang tinggi untuk keluar lagi dari dalam kamarnya, berindap-indap mengintai dan mendengarkan percakapan antara Kakeknya dan Ayahnya.
Dan apa yang ia dengar malam itu baginya merupakan tusukan-tusukan Pedang beracun yang berkesan hebat dan menggores dalam-dalam di kalbunya.
"Suhu,"
La mendengar Ayahnya mencela.
"Bagaimanakah Suhu mempunyai niat yang begitu berbahaya? Mengapa Siu Bi Suhu bawa-bawa, Suhu seret ke dalam gelombang permusuhan pribadi? Saya menyesal sekali, karena menurut pendapat Teecu (murid), permusuhan dengan Pendekar Buta bukan merupakan permusuhan pribadi, melainkan permusuhan karena negara. Teecu tidak suka dia diseret ke dalam permusuhan Suhu itu, malah Teecu mempunyai keinginan untuk menjodohkan dia dengan seorang di antara para ksatria dari Hoa-San-Pai atau Thai-San-Pai, agar keturunan Teecu kelak menjadi orang-orang gagah perkasa yang terhormat dan membuat nama besar di dunia."
"Huh, The Sun. Kau sekarang mau pura-pura menjadi orang alim? Apa kau tidak melihat lenganku yang buntung ini? Apakah sakit hati ini harus didiamkan saja? Bukankah ini berarti merendahkan nama besar Go-Bi-San? The Sun, mana kegagahanmu? Mana baktimu terhadap Guru? Ah, dia lebih gagah daripada kamu, lebih setia dan berbakti!"
"Suhu, terang bahwa Pendekar Buta bukan musuh Teecu. Andaikata Teecu tidak akan yakin betul bahwa Teecu takkan mampu menandinginya, tentu Teecu sudah lama mencarinya untuk diajak bertanding. Kalau memang Suhu begitu menaruh dendam kepadanya, mengapa tidak Suhu sendiri turun gunung, mencarinya dan menantangnya? Masa gadis remaja seperti dia disuruh turun gunung? Teecu tidak setuju dan tidak boleh!"
Suara The Sun mengeras.
"Hemmm, kau murid durhaka Aku sudah begini tua, bagaimana dapat membalas dendam sendiri? Apa artinya punya murid? Apa artinya menurunkan kepandaian? Kau sendiri dulu kalau tidak lekas-lekas kubawa lari, apakah juga tidak akan mampus di tangan Pendekar Buta? Sekarang, Siu Bi suka membalaskan dendam, mengapa kau ribut-ribut? Kalau kau tidak becus membalas budi Guru, biarlah dia yang pergi. Kau tidak mau ya sudah, tapi dia mau, perlu apa kau ribut lagi?"
"Tapi dia puteriku, Suhu. Dia anak tunggal... seorang gadis lagi..."
"Siapa bilang dia puterimu? Ha... ha... ha, dia bukan anakmu!"
"Suhu...!!!"
"Ha...ha...Ho... ho... ho, kau kira Hek Lojin sudah pikun dan bermata buta? Ha... ha... ha, The Sun, tentu saja aku tahu. Tapi aku tidak akan membuka mulut kepada siapapun juga, asal kau membiarkan dia membalaskan dendam terhadap Pendekar Buta."
"Tidak! Tidak boleh...! Suhu, jangan suruh dia!"
"Ha... ha... ha, dia sudah bersumpah, tak mungkin menjilat ludah sendiri, tak mungkin keturunan jago Go-Bi mengingkari janji."
"Teecu akan melarangnya!"
Teriak The Sun, kemarahannya"
Memuncak.
"Aku akan memaksanya, mengingatkan dia akan sumpahnya!"
Hek Lojin bersikeras.
"Kau... kau jahat...!"
The Sun lupa diri dan menerjang Kakek itu.
Hek Lojin cepat menangkis, akan tetapi karena dia sudah amat tua, sudah hampir sembilan puluh tahun usianya, tangkisannya kurang kuat dan gerakannya kurang cepat.
"Bukkk... bukkk!"
Dua kali dadanya terpukul oleh The Sun dan dia terguling roboh.
"Ayahhh...!!"
Siu Bi meloncat dan berlari menghampiri.
Sebutan Ayah tadi tercekik di tenggorokannya karena la teringat akan kata-kata Hek Lojin bahwa dia bukan anak The Sun!
Akan tetapi pada saat itu ia tidak peduli dan menubruk Hek Lojin yang rebah terlentang.
Kakek itu terengah-engah, memandang kepada Siu Bi dengan mata mendelik, lalu...
nyawanya melayang nafasnya putus.
la tewas dalam pelukan Siu Bi, akan tetapi matanya tetap mendelik memandang gadis itu.
"Kong-kong...!"
Siu Bi menangis dan memeluki Kakek itu yang mencintanya semenjak ia masih kecil. Di dekat telinga Kakek yang sudah mati itu la berbisik perlahan.
"Aku akan balaskan dendammu, Kek..."
Bisikan campur isak ini tidak terdengar oleh The Sun yang berdiri seperti patung dengan muka pucat.
Akan tetapi anehnya, kedua mata yang mendelik dari Kakek itu tiba-tiba kini tertutup rapat setelah Siu Bi berbisik.
Hal ini terlihat oleh Siu Bi, di bawah sinar bulan.
la terharu dan menangis lagi, menggerung-gerung.
The Sun menyesal bukan main, namun penyesalan yang sudah terlambat.
Betapapun juga, hatinya lega karena rahasia tentang Siu Bi yang entah bagaimana telah diketahul oleh Hek Lojin itu, sekarang tertutup rapat-rapat.
Sama sekali ia tidak menduga bahwa Siu Bi telah mendengarkan percakapan tadi!
Baru The Sun tahu akan hal ini ketika pada malam hari setelah jenazah Hek Lojin dikubur, secara diam-diam Siu Bi telah minggat tanpa pamit, meninggalkan puncak Go-Bi-San!
Tentu saja hal ini membuat The Sun hancur hatinya dan lebih-lebih Ibu Siu Bi amat berduka sehingga berkali-kali ia jatuh pingsan.
The Sun menghibur isterinya dengan janji bahwa mereka juga akan turun gunung setelah masa berkabung habis, untuk mencari anak mereka yang tercinta itu.
Suasana bahagia di puncak ini seketika berubah menjadi penuh kedukaan.
Siapa kira, kehidupan yang serba bahagia itu sekaligus hancur berantakan.
Memang begitulah keadaan hidup di dunia ini!
Kita tinggalkan dulu keluarga di puncak Go-Bi-San yang sedang dicekam kedukaan itu dan marilah klta menengok Pendekar Buta, orang yang menjadi sebab timbulnya peristiwa menyedihkan di puncak Go-Bi-San.
Para pembaca cerita "Pendekar Buta"
Tentu tahu siapakah Pendekar yang cacat ini, seorang tuna netra (buta) yang memiliki ilmu kepandaian dahsyat sehingga orang sakti seperti Hek Lojin dapat dibuntungi lengan kirinya.
Pendekar Buta adalah putera dari Ketua Hoa-San-Pai yang sekarang sudah sangat tua dan disebut Kwa Lojin.
Adapun Pendekar Buta sendiri bernama Kwa Kun Hong.
Seperti telah diceritakan dalam cerita "Pendekar Buta"
Yang ramai, setelah selesai pertempuran dan perang saudara antara Pangeran Kian Bun Ti dan Pamannya, Raja Muda Yung Lo di mana Pendekar Buta membela Raja Muda Yung Lo sehingga mencapai kemenangan, Pendekar Buta lalu menikah dengan Kwee Hui Kauw, seorang gadis perkasa puteri Kwee-taijin yang semenjak kecil diculik oleh Ching-Toanio dan dididik ilmu silat di Ching-Coa-To (Pulau Ular Hijau).
Setelah menikah, Kun Hong bersama isterinya mendiami puncak Liong-Thouw-San, puncak gunung di mana dahulu dia menerima warisan ilmu dari seorang sakti bernama Bu Beng Cu, ditemani oleh seekor burung Rajawali berbulu emas.
Yang ikut ke Liong-Thouw-San bersama Suami isteri ini adalah seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang menjadi muridnya.
Siapakah anak laki-laki ini?
Dalam cerita "Pendekar Buta"
Sudah dituturkan dengan jelas bahwa anak laki-laki yang menjadi murid Kun Hong ini adalah Yo Wan atau biasa dipanggil Yo Wan.
Dia anak keluarga petani sederhana, Ayahnya tewas disiksa kaki tangan Tuan tanah di dusunnya, sedangkan Ibunya mati membunuh diri setelah membiarkan dirinya diperkosa oleh The Sun dalam usahanya menolong keselamatan Kun Hong yang ketika itu terluka di dalam rumahnya.
Karena pertolongan yang mengorbankan kehormatan dan nyawa inilah maka Kun Hong merasa berhutang budi kepada Ibu Yo Wan dan dia lalu membawa anak yatim piatu ini sebagai muridnya.
Yo Wan seorang anak yang amat cerdik.
Dengan tekun dia mempelajari semua ilmu yang diturunkan oleh Kun Hong kepadanya dan setiap hari anak ini tidak mau bersikap malas, Ia rajin sekali melayani segala keperluan Gurunya dan Ibu Gurunya.
Mencari kayu bakar, mengambil air dari sungai, membersihkan pondok, malah kelebihan waktu dia pergunakan untuk menanam sayur-mayur dan memeliharanya, juga segala keperluan Kun Hong dan isterinya jika membutuhkan sesuatu ke bawah gunung, dialah yang turun dari puncak dan pergi ke dusun-dusun.
Pendeknya, Yo Wan amat rajin dan patuh sehingga tidaklah mengherankan apabila Kun Hong dan isterinya Hui Kauw, amat mencinta anak itu.
Dua tahun setelah menikah, Hui Kauw mengandung.
Kun Hong yang amat mencinta isterinya, merasa khawatir.
Dia sendiri seorang buta, sungguhpun dia ahli dalam hal pengobatan, namun belum pernah dia menolong wanita melahirkan dan tidak pernah pula dia mempelajari dalam kitab pengobatan.
Tempat tinggal mereka di puncak Liong-Thouw-San yang tersembunyi dan jauh dari tetangga.
Bagaimana kalau sudah tiba saatnya isterinya melahirkan?
"Sebaiknya kita pindah saja ke Hoa-San, isteriku,"
Kata Kun Hong setelah isterinya mengandung tiga bulan lamanya.
Hui Kauw mengerutkan alisnya yang kecil melengkung panjang dan hitam.
Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju.
Ia cukup maklum bahayanya hidup berdekatan dan tinggal bersama sanak keluarga.
Mudah sekali terjadi bentrokan.
Gedung besar orang lain kadang-kadang merupakan neraka, sebaliknya gubuk kecil nilik sendiri adalah sorga, apalagi di dekatnya ada Suami yang tercinta.
Namun, ia maklum pula bahwa suaminya mengusulkan hal ini karena mengingat akan kepentingan dan keselamatannya.
"Suamiku, perlukah kita pindah sejauh itu? Kurasa, kalau sudah sampai saatnya kita bisa minta bantuan seorang Nenek dari dusun di bawah."
La mencoba untuk membantah. Kun Hong memegang tangannya, mesra.
"Hui Kauw, alangkah akan gelisah hati kita kalau saat itu tiba dan di sini tidak ada orang lain kecuali kau, aku, Yo Wan, dan seorang Nenek pembantu. Sebaliknya, hati kita akan besar dan tenang, apalagi kau melahirkan di tengah-tengah keluargaku, keluarga besar Hoa-San-Pai, di mana terdapat banyak Paman dan Bibi yang berpengalaman, juga dekat dengan orang tua. Selain itu, kita harus memikirkan juga pertumbuhan anak kita kelak. Tentu kau tidak ingin anak kita tumbuh besar di tempat sunyi seperti ini. Aku ingin anak kita hidup bahagia, gembira setiap hari dan disayang banyak orang."
Hui Kauw amat mencinta suaminya, juga amat taat. Oleh karena itu, ia tidak mau membantah. Akan tetapi ketika teringat akan Yo Wan ia bertanya.
"Bagaimana dengan Yo Wan?"
"Tentu saja dia ikut! Mana bisa tinggalkan dia di sini seorang diri?"
Di dalam hatinya, Hui Kauw mengkhawatirkan keadaan murid itu.
la cukup mengenal watak Yo Wan setelah anak itu tinggai di situ selama dua tahun.
Anak itu pendiam dan taat, akan tetapi mempunyai watak yang amat halus.
Belum tentu anak itu akan merasai kebahagiaan di Hoa-San-Pai, karena merasa bahwa dia menumpang pada Gurunya, sekarang Gurunya sendiri akan menumpang di tempat orang lain.
"Apakah dia suka?"
Tanyanya ragu-ragu.
"Ha... ha... ha, isteriku, kenapa tidak akan suka? Coba panggil dia ke sini."
Yo Wan segera datang berlari ketika mendengar suara Guru dan Ibu Gurunya memanggil.
Anak ini biarpun usianya baru delapan tahun lebih, namun tubuhnya tegap dan kuat, berkat kerja setiap hari di sawah ladang.
la cekatan sekali, wajahnya lebar dan terang, matanya memiliki sinar mata yang sayu tapi kadang-kadang mengeluarkan sinar yang tajam.
Dengan amat hormat anak ini menghadap Suhunya.
"Yo Wan, kau bersiaplah. Kita akan pindah ke Hoa-San-Pai, ke rumah Kakek Gurumu, Ayahku yang menjadi Ketua Hoa-San-Pai,"
Kata Kun Hong singkat. Berubah wajah Yo Wan dan hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Hui Kauw.
"Bagaimana, Yo Wan? Kenapa kau diam saja?"
Sedih hati Yo Wan.
la merasa bahagia hidup di Liong-Thouw-San.
la merasa bahwa tempat itu adalah tempat tinggalnya dan dia amat sayang kepada tempat yang sunyi itu.
la merasa bahagia dapat melayani kedua orang itu yang dia anggap sebagai pengganti orang Tuanya, bahagia dapat belajar ilmu silat dari orang yang sejak dahulu dia anggap sebagai bintang penolongnya.
Tapi sekarang, Gurunya mengajak dia pindah dan Gurunya akan mondok di rumah orang lain!
"Suhu...
tempat ini...
siapa yang akan mengurusnya?
Kalau kita semua pergi...
tempat ini tentu akan rusak..."
Suaranya agak gemetar.
Kun Hong menarik nafas panjang.
la pun tahu bahwa biarpun usianya masih kecil, namun Yo Wan sudah mempunyai pandangan yang jauh dan penuh pengertian, maka tak boleh dia diperlakukan sebagai anak kecil.
"Yo Wan, kau harus tahu bahwa Ibu Gurumu membutuhkan bantuan sanak keluarga kalau adikmu lahir. Untuk sementara tempat ini kita tinggalkan, kelak kita tentu dapat datang menengok."
Wajah Yo Wan berubah gembira.
"Suhu, kalau begitu, biarlah Teecu (murid) tinggal di sini merawat tempat ini. Kelak kalau Suhu dan Subo (Ibu Guru) kembali ke sini, tempat ini masih dalam keadaan baik. Pula, tanpa adanya Teecu yang mengganggu perjalanan, Suhu dan Subo akan dapat melakukan perjalanan yang lebih cepat."
Anak yang berpemandangan jauh, pikir Kun Hong kagum. Memang dengan adanya Yo Wan, mereka berdua takkan dapat mempergunakan ilmu lari cepat tanpa menggendong anak itu.
"Tapi, mungkin kami akan lama di sana, entah kapan dapat kembali kesini."
Katanya meragu. (Lanjut ke
Jilid 02) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02
"Setahun dua tahun bukan apa-apa, Suhu. Teecu dapat menjaga diri sendiri dan merawat tempat ini. Sayur-mayur cukup, sebagian dapat Teecu tukar gandum dan beras dengan penduduk di bawah. Kelak kalau Suhu dan Subo kembali membawa... adik yang sudah berusia setahun lebih, wah, alangkah akan senangnya...!"
Kun Hong adalah seorang yang suka mendengar kegagahan dan keberanian.
Sikap muridnya ini benar-benar mengagumkan hatinya bukan sikap seorang anak kecil yang cengeng merengek-rengek.
Biarlah dia digembleng oleh alam, merasakan hidup sendiri tanpa sandaran.
Biarlah dia belajar hidup sendiri, karena hal ini akan memupuk rasa percaya kepada diri sendiri.
Malah sebaliknya dia ingin melihat ketekunan muridnya itu, bagaimana nanti hasil latihan-latihannya selama dua tahun tanpa pengawasan.
"Bagaimana, isteriku, apakah kau setuju dengan permintaan Yo Wan untuk tinggal di sini?"
La mengerti betapa isterinya amat sayang pula kepada Yo Wan maka tak mau dia melewati isterinya.
"Kalau dia menghendaki demikian, kurasa baik kita setuju. Pula, memang sayang kalau tempat kita ini menjadi rusak. Kelak kita kembali ke sini dan tempat ini dalam keadaan baik. Aku setuju."
Di dalam hatinya, Hui Kauw amat kasihan kepada Yo Wan, akan tetapi nyonya muda ini beranggapan bahwa kalau Yo Wan masih ditinggal di situ, sudah pasti suaminya kelak akan kembali ke Liong-Thouw-San.
Dan inilah yang ia inginkan!
Kun Hong tertawa.
"Baiklah, Yo Wan. Kau tinggal di sini dan kau harus melatih diri dengan jurus-jurus yang sudah kuajarkan kepadamu. Latihan Samadhi juga harus kau latih dengan tekun. Aku ingin mendengar tentang kemajuanmu beberapa tahun kemudian. Andaikata sudah lewat dua tahun aku tidak datang ke sini, dan kau merasa kangen, kau boleh sewaktu-waktu melakukan perjalanan ke Hoa-San-Pai seorang diri menyusul kami."
"Anak sekecil ini...?"
Hui Kauw mencela, kaget. Kun Hong tertawa.
"Beberapa tahun lagi dia sudah berusia belasan tahun, dan biarpun masih kecil, apa artinya melakukan perjalanan dari sini ke Hoa-San bagi seorang murid kita? Ha... ha... ha, kau tentu akan berani bukan?"
"Tentu saja, Suhu! Subo, harap jangan khawatir. Teecu dapat menjaga diri dan kalau Teecu kangen dan Suhu berdua belum pulang, Teecu akan menyusul ke Hoa-San!"
Demikianlah, setelah memilih hari baik, Kun Hong dan Hui Kauw meninggalkan Liong-Thouw-San menuju ke Hoa-San, meninggalkan Yo Wan yang mengantar Guru dan Ibu Gurunya sampai ke kaki gunung.
Beberapa kali Hui Kauw menoleh dan sepasang mata nyonya muda yang cantik ini berlinang air mata ketika dia melihat dari jauh tubuh Yo Wan masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dengan kedua tangan di belakang, sesosok bayangan bocah yang biarpun masih kecil sudah membayangkan keteguhan hati yang luar biasa dan nyali yang besar.
Setelah Suhu dan Subonya lenyap dari pandang matanya, barulah Yo Wan merasa sunyi dan kosong rongga dadanya.
Namun dia menekan perasaannya dan mendaki puncak Liong-Thouw-San.
Dahulu, puncak ini tak mungkin dapat dinaiki orang, apalagi orang biasa atau seorang anak kecil seperti Yo Wan.
Akan tetapi, semenjak Kun Hong dan isterinya bertempat tinggal di situ, Suami isteri Pendekar yang memiliki kesaktian ini telah membuat jalan menuju ke puncak.
Bukan jalan biasa melainkan jalan yang juga amat sukar karena harus melalui dua buah jurang lebar dan amat dalam yang mereka pasangi jembatan berupa dua buah tali besar dan kuat.
Untuk menyeberangi jembatan-jembatan istimewa di atas dua buah jurang lebar ini orang harus berjalan di atas dua utas tali ini tanpa pegangan!
Hanya orang-orang yang memiliki Ginkang dan nyali besar saja berani menyeberangi jembatan istimewa ini.
Kemudian, setelah mendekati puncak, untuk mencapai dataran puncak itu jalan satu-satunya hanya memanjat sebuah tangga terbuat dari tali pula, tingginya seratus kaki dan amat terjal.
Tentu saja memanjat tangga ini lebih mudah karena kedua tangan dapat berpegangan, akan tetapi juga membutuhkan nyali yang cukup besar di samping syaraf membaja.
Namun, bagi Yo Wan semua ini bukan apa-apa lagi, sudah terbiasa dia oleh jembatan-jembatan dan tangga ini.
Semenjak berusia enam tahun dia sudah dapat mempergunakan alat-alat penyeberangan itu.
Biarpun baru berlatih silat dua tahun lamanya, namun berkat bimbingan dua orang yang memiliki kepandaian tinggi, Yo Wan sudah memperoleh kemajuan lumayan.
Gerak-geriknya gesit, nafasnya panjang, daya tahan tubuhnya luar biasa dan dia sudah kuat berSamadhi sampai setengah malam lamanya.
Hebat dan luar biasa bagi seorang anak laki-laki yang belum sembilan tahun usianya!
Yo Wan memang seorang anak yang berhati teguh dan memiliki ketekadan hati yang besar.
Memang tadinya dia merasa kesunyian, begitu dia tiba di pondok Suhunya dan melihat betapa tempat itu kosong, sekosong hatinya, dia terduduk di atas bangku depan pondok dan termenung.
Ketika matanya terasa panas oleh desakan air mata, dia menggigit Bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepala, melawan perasaannya sendiri.
Oleh gerakan kepala ini, dua titik air mata yang tadinya menempel di bulu matanya, meluncur turun melalui pipi, terus ke ujung kanan kiri Bibir.
la mengecapnya.
Rasa asin air matanya membuat dia sadar.
"Heh, kenapa menangis? Cengeng! Sejak dahulu kau sudah yatim piatu, kau si Jaka Lola (anak laki-laki yatim piatu), hidup di dunia seorang diri, mengapa bersedih hati ditinggal Suhu dan Subo? Ihhh, kalau Subo melihatmu, kau tentu akan ditampar!."
Yo Wan tertawa kepada diri sendiri, tertawa bahagia karena teringat dia betapa selama dia berada di sini, belum pernah dia dibentak Kun Hong atau ditampar Hui Kauw.
Kedua orang itu amat baik kepadanya.
Mereka orang-orang mulia, aku tidak boleh mengganggu mereka.
Harus kupelihara baik-baik tempat ini, kelak kalau mereka kembali, tempat ini tetap bersih dan terjaga!
Setelah berpikir demikian, anak ini bangkit dan lari berloncatan ke ladangnya, mukanya sudah jernih kembali dan dia tertawa-tawa melihat burung-burung kaget beterbangan oleh loncatannya itu.
Yo Wan selalu teringat akan nasihat Suhunya.
la tekun berlatih ilmu silat.
Karena Gurunya lebih mementingkan dasar ilmu silat, maka selama ini dia tidak banyak diajar ilmu pukulan, lebih diutamakan pelajaran pernafasan, Samadhi dan mengatur jalan darah untuk menghimpun kemurnian hawa dalam tubuhnya.
Juga ilmu meringankan tubuh diajarkan lebih dulu oleh Subonya, karena hal ini amat perlu baginya untuk naik turun puncak.
Sebelum turun gunung Suhunya mengajarkan ilmu langkah yang terdiri dari empat puluh satu langkah.
Langkah-langkah ini merupakan perubahan-perubahan dalam kuda-kuda dan jika dilatih terus-menerus, selain dapat mempertinggi kegesitan dan memperkokoh kedudukan, juga dapat memperkuat tubuh, terutama kedua kaki.
Suhunya hanya memberi tahu bahwa langkah-langkah ini dapat dilatih terus-menerus sampai belasan tahun, makin terlatih makin baik dan kelak akan hebat kegunaannya.
Kun Hong hanya memberi tahu bahwa langkah-langkah ini diberi nama Si-Cap-It Sin-Po (Empat Puluh Satu Langkah Sakti).
Tentu saja Yo Wan sama sekali tidak pernah mimpi bahwa langkah-langkah ini adalah langkah-langkah ajaib yang gerakan-gerakannya mencakup seluruh inti sari dari gerakan ilmu silat karena biarpun jurusnya hanya empat puluh satu, tetapi kalau dijalankan dan susunan jurusnya diubah-ubah, merupakan gerak jurus yang tak terhitung banyaknya!
Dua tahun sudah Yo Wan hidup seorang diri di puncak Liong-Thouw-San.
Tekun bekerja dan berlatih.
Setiap hari dia mengharap-harapkan kedatangan Suhu dan Subonya, namun pengharapannya sia-sia belaka.
Setelah lewat tiga tahun, belum juga kedua orang yang dikasihinya itu pulang.
Ingin dia menyusul ke Hoa-San karena sudah amat kangen, akan tetapi dia takut kalau-kalau kedua orang itu akan menganggapnya kurang setia menanti.
la menanti terus, empat tahun, lima tahun!
Waktu berjalan amat pesatnya, tanpa dia rasakan, lima tahun sudah dia hidup menyendiri di tempat sunyi itu.
Dan kedua orang yang dinanti-nantinya belum juga pulang!
"Sudah amat lama aku menunggu, kenapa mereka belum juga pulang?"
Yo Wan termenung duduk di atas bangku depan pondok.
Bukan bangku lima tahun yang lalu.
Sudah ada lima kali dia mengganti bangku itu dengan bangku baru buatannya sendiri.
Sudah penuh tiang pondok itu dengan guratan-guratannya.
Setiap bulan purnama dia tentu menggurat di tiang.
Tadi dihitungnya guratan-guratannya itu, sudah lebih dari enam puluh gurat!
"Besok aku menyusul ke Hoa-San,"
Demikian dia mengambil keputusan karena sudah tidak kuat menanggung rindunya lagi.
Malam itu sibuk dia menambal pakaianya yang robek-robek.
Selama lima tahun ini, dia dapat mencari ganti pakaian ke dusun di bawah gunung dengan jalan menukarkan hasil ladangnya berupa sayur-sayuran segar yang tak mungkin tumbuh di bawah puncak.
Dasar watak Yo Wan polos, jujur dan tidak murka, dia hanya memilih pakaian sekedarnya saja, bersahaja asal kuat.
Yang membuat dia kesal menanti lebih lama lagi, sesungguhnya adalah kalau dia teringat akan pelajaran ilmu silatnya.
Enam puluh bulan lebih dia ditinggal Gurunya, hanya ditinggali ilmu langkah yang sudah dia latih setiap hari sampai dia menjadi bosan.
Padahal dia bercita-cita untuk mempelajari ilmu silat tinggi dari Suhunya karena dia masih ingat betul akan musuh besarnya, musuh besar yang menyebabkan kematian Ibunya yang tercinta, The Sun!
Muka orang ini masih selalu terbayang di depan matanya, dan dia mendengar dari Gurunya bahwa The Sun memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Sekarang dia hanya diberi pelajaran langkah-langkah yang aneh, bagaimana mungkin dia dapat membalas kematian Ibunya pada musuh besar yang lihai itu kalau dia hanya pandai melangkah?
la ingin menyusul untuk mohon diberi pelajaran ilmu silat selanjutnya, untuk bekal mencari musuh besar yang telah menyebabkan kematian Ibunya yang mengerikan itu.
Masih terbayang di depan matanya betapa ketika dia masih kecil, dia melihat Ibunya menggantung diri, dengan susah payah dia tolong, akan tetapi Ibunya tak tertolong lagi.
Masih bergema di telinganya akan pesan Ibunya, agar supaya dia memenuhi dua buah permintaan Ibunya, dua buah tugas yang selama hidupnya harus dia usahakan pelaksanaannya, yaitu pertama membalas budi kebaikan Kwa Kun Hong Pendekar Buta, kedua membalas dendam kepada The Sun (baca cerita Pendekar Buta)!
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yo Wan sudah menutup pintu depan pondok dan berjalan ke luar halaman.
Di punggungnya terdapat sebuah buntalan pakaian dan dia melangkah lebar menuju ke jurang di mana terdapat tangga tali itu.
Sebelum melangkahkan kaki ke tangga, dia memandang sekeliling seakan-akan merasa kasihan kepada puncak yang akan ditinggalkan.
Tiga batang pohon cemara di depan pondok itu kini sudah besar, dia yang menanam semenjak Suhu dan Subonya pergi.
Tadinya dia ingin sekali melihat Suhu dan Subonya memuji dan girang melihat tiga batang pohon yang indah itu, bahkan dia sudah memberi "Nama"
Pada tiga batang pohon itu, nama Suhunya, nama Subonya dan namanya sendiri!
Setelah menarik nafas panjang, Yo Wan lalu melangkah dan menuruni tangga tali dengan kecepatan yang amat luar biasa, seakan-akan dia melorot saja tanpa melangkah turun.
Setibanya di bawah, dia berlari-lari menuju ke jembatan pertama yang melintas jurang lebar.
Tiba-tiba dia mendengar suara aneh sekali, suara mendesis-desis keras bercampur aduk dengan suara melengking tinggi.
Suara itu datangnya dari seberang jurang pertama.
Cepat dia lalu meloncat ke atas tambang dan berlari-lari menyeberang.
Melihat bocah tiga belas tahun ini menyeberang dan jalan di atas tambang, benar-benar membuat orang terheran-heran dan ngeri.
Jurang itu dalamnya tak dapat diukur lagi.
Tambang itu sama sekali tak bergerak ketika dia berlari di atasnya, dan hebatnya, anak ini berlari seenaknya saja, sama sekali tidak melihat bawah lagi seakan-akan kedua kakinya sudah terlalu hafal dan dapat menginjak dengan tepat.
Setelah meloncat di atas tanah di seberang.
Yo Wan dapat melihat apa yang menimbulkan suara aneh itu.
Kiranya dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebat dan aneh.
Seorang di antaranya, yang berdesis-desis, adalah seorang laki-laki yang tinggi kurus dan kulitnya hitam, rambutnya yang keriting itu terbungkus sorban kuning, telinganya pakai anting-anting hitam, juga kedua pergelangan tangan ketika bergerak dan keluar dari lengan baju yang lebar, tampak memakai sepasang gelang hitam.
Orang asing yang aneh sekali.
Usianya kurang lebih lima puluh tahun.
Tangannya memegang cambuk kecil panjang dan agaknya cambuk inilah yang menimbulkan suara mendesis-desis aneh itu ketika digerakkan berputar-putar di udara.
Di depan orang bersorban ini tampak seorang Kakek tua sekali, Kakek yang agak bongkok, yang kadang-kadang terkekeh dan kadang-kadang mengeluarkan suara melengking tinggi rendah menggetarkan lembah dan jurang.
Kakek ini pun bergerak-gerak, tapi tidak bersenjata, melainkan tubuhnya yang bergerak-gerak dengan tangan menuding dan menampar ke depan.
Yo Wan berdiri bengong.
Biarpun dia murid seorang sakti seperti Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta, namun selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan orang bertanding.
Apalagi kalau yang bertempur itu dua orang tingkat tinggi yang mempergunakan cara bertempur yang begini aneh, seperti dua orang badut sedang berlagak di panggung saja.
la masih menduga-duga, apakah yang dilakukan oleh dua orang itu, karena biarpun dia menduga mereka sedang bertempur, namun dia masih ragu-ragu.
Tiba-tiba pandang matanya kabur dan cepat dia menutup telinganya yang terasa perih ketika lengking itu makin meninggi dan desis makin nyaring.
Matanya dibuka lebar, namun tetap saja dia tidak dapat mengikuti gerakan mereka yang kini menjadi makin cepat.
Beberapa menit kemudian, gerakan kedua orang aneh itu begitu cepatnya sehingga tubuh mereka lenyap dari pandangan mata Yo Wan yang hanya dapat melihat gulungan sinar yang berkelebatan.
Tiba-tiba sinar itu seperti pecah, gulungan sinar lenyap dan dia melihat dua orang itu rebah telentang, terpisah antara sepuluh meter.
Keduanya terengah-engah dan terdengar mereka merintih perlahan.
"Bhewakala, kau hebat..."
Kakek tua itu berseru sambil terkekeh ketawa di antara rintihannya.
"Sin-Eng-Cu (Garuda Sakti), kau tua-tua merica, makin tua makin kuat..."
Terdengar orang asing bersorban itu pun memuji dengan suara terengah-engah dan nada suaranya kaku dan lucu.
Melihat kedua orang itu tak dapat bangun kembali, Yo Wan mengerti bahwa keduanya terluka.
la cepat berlari menghampiri, keluar dari tempat persembunyiannya karena tadi dia mengintai dari balik batu gunung yang besar.
Tentu saja dia mengenal Kakek itu.
Sin-Eng-Cu Lui Bok, Paman Guru dari Suhunya, yang dulu membawanya ke puncak Liong-Thouw-San (baca Pendekar Buta) dan yang kemudian pergi merantau membawa Kim-Tiauw (Rajawali Emas) bersamanya.
"Susiok-Couw... (Kakek Paman Guru)!"
Serunya sambil meloncat mendekati.
Akan tetapi Sin-Eng-Cu Lui Bok sudah tak bergerak-gerak lagi, malah nafasnya sudah empas empis, tinggal satu-satu.
Yo Wan kaget dan bingung, diguncang-guncangnya tubuh Kakek itu, namun tetap tak dapat menyadarkannya.
Alangkah kagetnya ketika dia mengguncang-guncang ini, dia melihat muka Kakek itu agak biru dan tubuh bagian depan, dari leher sampai ke perut, terluka dengan guratan memanjang yang menghancurkan pakaiannya.
Selagi dia dalam keadaan bingung sekali, dia mendengar di belakangnya suara orang mengaduh-aduh.
Cepat dia bangkit dan membalik.
Dilihatnya orang itu pun mengerang kesakitan.
Suaranya begitu mendatangkan iba, maka tanpa ragu-ragu lagi Yo Wan lalu menghampirinya, dan berlutut di dekatnya.
Orang itu muka hitam, matanya lebar, dilihat dari jauh tadi amat menakutkan, tetapi setelah dekat, sepasang mata yang agak biru itu ternyata mengandung sinar yang menyenangkan.
Tanpa diminta, Yo Wan lalu membantu orang itu bangkit dan duduk.
Terpaksa dia merangkul pundak orang asing ini karena begitu dilepaskan segera akan terguling kembali, begitu lemas dia.
Orang asing itu mengedip-ngedipkan matanya, melirik ke arah tubuh Sin-Eng-Cu, lalu memandang kepada Yo Wan.
"Dia Susiok-Couwmu? Jadi, kau ini murid Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta?"
Suaranya amat lemah, nafasnya terengah-engah, agak sukar bagi Yo Wan untuk dapat menangkap arti kata-kata yang kaku dan asing itu.
Namun dia seorang bocah yang cerdik, maka dapat dia merangkai kata-kata itu menjadi kalimat yang berarti.
Yo Wan mengangguk, dan menjawab lantang.
"Betul Lo-Cianpwe (Orang Tua Gagah). Mengapa Lo-Cianpwe bertempur dengan Susiok-Couw? Dia terluka hebat, apakah Lo-Cianpwe terluka?"
Sejenak orang asing itu memandang tajam. Yo Wan merasa betapa sinar mata dari mata yang kebiruan itu seakan-akan menembus jantungnya dan menjenguk isi hatinya. Kemudian suara orang"
Itu terdengar makin kaku dan agak keras.
"Kau murid Kwa Kun Hong? Kau melihat kami bertempur? Mengapa kau sekarang menolongku? Mengapa kau tidak segera menolong Susiok-Couwmu yang pingsan itu?"
Diberondongi pertanyaan-pertahyaan ini, Yo Wan tidak menjadi gugup, karena memang dia tidak mempunyai maksud hati yang bukan-bukan.
Semua yang dia lakukan adalah suatu kewajaran, tidak dibuat-buat dan tidak mengandung maksud sesuatu kecuali menolong.
Maka tenang saja dia menjawab.
"Sudah saya lihat keadaan Susiok-Couw, dia terluka dari leher ke perut, dia tidak bergerak lagi, saya tidak tahu bagaimana saya harus menolongnya. Karena Lo-Cianpwe saya lihat dapat bergerak dan bicara, maka saya membantu Lo-Cianpwe sehingga nanti Lo-Cianpwe dapat membantu saya, untuk menolong Susiok-Couw."
Sepasang mata itu masih menyorotkan sinar bengis.
"Kau tadi melihat kami bertempur?"
Yo Wan mengangguk, tangannya masih merangkul pundak orang asing itu dari belakang, menjaganya agar jangan roboh terlentang.
"Jadi kau tahu bahwa aku adalah musuh Susiok-Couwmu, musuh Gurumu?"
Yo Wan menggeleng kepala, pandang matanya penuh kejujuran.
"Kalau kami saling serang, tentu berarti kami saling bermusuhan. Kenapa kau tidak membantu Susiok-Couwmu, malah menolong aku? Hayo jawab, apa maksudmu? Aku musuh Susiok-Couwmu, aku datang untuk memusuhi Gurumu. Nah, kau mau apa?"
Yo Wan mengerutkan kening. Orang asing ini kasar sekali, akan tetapi mungkin kekasarannya itu karena bahasanya yang kaku.
"Lo-Cianpwe, saya tidak tahu urusannya, bagaimana saya berani turut campur? Suhu selalu berpesan agar supaya saya menjauhkan diri dari permusuhan-permusuhan, agar supaya saya jangan lancang mencampuri urusan orang lain, dan agar saya selalu siap menolong siapa saja yang patut ditolong, tanpa memandang bulu, tanpa pamrih untuk mendapat jasa. Saya lihat Susiok-Couw tak bergerak lagi, dan saya tidak tahu bagaimana harus menolongnya, maka saya segera membantu Lo-Cianpwe."
Sinar mata yang mengeras sekarang menjadi lunak kembali. Kumis di atas Bibir itu bergerak-gerak.
"Wah, Suhumu hebat! Kau patut menjadi muridnya. Mana dia Suhumu? Mengapa sampai sekarang dia belum muncul?"
"Suhu tidak berada di sini, Lo-Cianpwe. Sudah lima tahun Suhu pergi dari sini, ke Hoa-San. Yang berada di sini hanya saya seorang diri."
Mata yang kebiruan itu melotot, wajah itu berubah agak pucat.
"Celaka benar...! Heee, Sin-Eng-Cu, celaka Kwa Kun Hong tidak berada di sini!!"
Yo Wan menoleh dan melihat Susiok-Couwnya bergerak-gerak hendak bangkit, namun sukar sekali dan mengeluh panjang.
"Maaf, Lo-Cianpwe, saya harus menolongnya."
Orang asing itu mengangguk dan sekarang dia sudah bersila, kuat duduk sendiri.
Yo Wan melepaskan rangkulannya dan tergesa-gesa menghampiri Sin-Eng-Cu Lui Bok, cepat merangkul dan membangunkannya.
Nafas Kakek ini terengah-engah dan dia terkekeh senang melihat Yo Wan.
"Wah, kau kan bocah yang dulu itu?"
Kau masih di sini? Siapa namamu, aku lupa lagi."
"Teecu (murid) Yo Wan, Susiok-Couw..."
"Ha... ha... ha, kau terus menjadi murid Kun Hong? Selama tujuh tahun ini?. Sin-Eng-Cu, kita akan mampus di sini. Pendekar Buta ternyata tidak berada di sini lagi."
Sin-Eng-Cu Lui Bok menggerakkan alisnya yang sudah putih.
"Apa?"
La memandang Yo Wan.
"Mana Gurumu?"
"Susiok-Couw, Suhu dan Subo telah pergi semenjak lima tahun yang lalu, pergi ke Hoa-San meninggalkan Teecu seorang diri di sini. Tadi Teecu sedang turun dari puncak untuk menyusul karena sudah terlalu lama Suhu dan Subo pergi."
"Lima tahun? Wah-wah, Guru macam apa dia itu? Eh, Yo Wan, jadi kau menjadi muridnya hanya untuk dua tahun saja? Ha... ha... ha, kutanggung kau belum becus apa-apa. Murid Pendekar Buta yang sudah belajar tujuh tahun belum becus apa-apa. Ha... ha... ha, bukan main"
Orang asing itu mencela dan mengejek. Namun Sin-Eng-Cu tidak mempedulikannya.
"Yo Wan, apakah Suhumu pernah mengajar ilmu pengobatan kepadamu selama dua tahun itu?"
Yo Wan menggeleng kepalanya dan lagi-lagi orang asing itu yang mengeluarkan suara mengejek.
"Sin-Eng-Cu, kau sudah terlalu tua, maka menjadi pikun. Lima tahun yang lalu anak ini paling-paling baru berusia delapan tahun. Dari usia enam sampai delapan tahun, mana bisa belajar ilmu pengobatan? He, tua bangka, umurmu hampir dua kali umurku. Apakah kau takut mampus? Tak usah takut, ada aku yang akan menemanimu ke alam halus"
Akan tetapi Sin-Eng-Cu sudah bersila dan diam saja, Kakek ini sudah berSamadhi untuk menyalurkan hawa sakti di dalam tubuh, mengobati lukanya.
Dalam hal ini Yo Wan mengerti maka ia pun lalu mundur dan membiarkan Kakek itu tanpa berani mengganggunya.
Ketika dia menoleh, orang asing yang tadinya bicara sambil bergurau itu pun sudah meramkan mata berSamadhi.
Yo Wan pernah mendengar keterangan Suhunya bahwa dengan hawa murni dalam tubuh yang sudah terlatih dengan Samadhi, orang tidak hanya dapat memperkuat tubuh, namun juga dapat mencegah atau mengobati luka-luka sebelah dalam, maka dia maklum bahwa dua orang aneh ini sedang mengobati luka masing-masing, maka dia pun lalu duduk bersila, menanti dengan sabar.
Para pembaca cerita "Pendekar Buta"
Tentu mengenal dua orang ini.
Dua orang tokoh besar yang sakti.
Sin-Eng-Cu Lui Bok adalah seorang aneh yang suka merantau, dia adalah Sute (adik seperguruan) dari Bu Beng Cu, mendiang Guru Kwa Kun Hong.
Tujuh tahun yang lalu dia meninggalkan puncak Liong-Thouw-San ini, pergi merantau dengan burung Rajawali Emas menuju ke Utara.
Kakek aneh ini merantau ke bagian paling Utara dari dunia, menjelajah daerah-daerah salju dan di tempat itulah burung Rajawali Emas yang sudah amat tua itu menemui kematiannya, tidak kuat menahan serangan salju yang dingin sekali.
Ketika Kakek ini kembali ke Liong-Thouw-San, di tempat ini dia berjumpa dengan Bhewakala.
Orang asing ini adalah seorang Pendeta yang sakti pula, tokoh dari Barat, seorang pertapa di puncak Anapurna di Pegunungan Himalaya.
Dia adalah seorang Pendeta bangsa Nepal yang banyak melakukan perantauan di Tiongkok.
Tujuh tahun yang lalu pernah dia bertanding dengan Kwa Kun Hong dan dikalahkan.
Akan tetapi karena melihat sifat-sifat baik dari Pendeta ini, Kun Hong tidak membunuhnya dan Bhewakala yang amat kagum terhadap Kun Hong ini berniat akan belajar lagi dan kelak mencari Kun Hong untuk diajak mengadu ilmu.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang berwatak aneh.
Begitu bertemu, mereka tidak mau saling mengalah dan keduanya setuju untuk mengadu ilmu disitu.
Mereka adalah orang-orang yang selain sakti, juga mempunyai pribadi yang baik.
Tentu saja mereka tidak bermaksud mengadu ilmu dengan taruhan nyawa.
Akan tetapi setelah bertempur dengan hebat dari tengah malam sampai pagi, belum juga ada yang kalah atau menang.
Akhirnya mereka setuju untuk mengeluarkan senjata dan menggunakan pukulan-pukulan yang dapat mendatangkan luka hebat.
"Takut apa dengan luka hebat?"
Kata Bhewakala ketika Sin-Eng-Cu menolak.
"Bukankah Pendekar Buta berada di sini? Kalau seorang di antara kita terluka, dia pasti akan dapat menyembuhkan."
Memang, di samping kepandaiannya yang amat tinggi, Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta juga amat terkenal akan kepandaiannya mengobati.
Dengan jaminan inilah Sin-Eng-Cu menerima tantangan Bhewakala dan bertempurlah mereka dengan lebih hebat lagi karena kini Bhewakala menggunakan cambuknya yang beracun sedangkan Sin-Eng-Cu mempergunakan pukulan-pukulan maut.
Dan seperti telah diketahui akibatnya, Sin-Eng-Cu terluka oleh cambuk, sebaliknya Bhewakala juga terkena pukulan yang mendatangkan luka dalam hebat sekali.
Keduanya rebah, namun tidak putus asa karena mereka yakin bahwa Kun Hong akan dapat mengobati mereka.
Dan mereka merasa lega di samping penasaran, bahwa keadaan mereka tetap seimbang, tiada yang kalah tiada yang menang!
Siapa sangka, Kun Hong tidak berada di situ!
Hal ini berarti bahwa mereka akan mati, karena masing-masing cukup maklum bahwa luka yang diakibatkan oleh pukulan masing-masing itu tak mungkin dapat diobati kalau tidak oleh Kun Hong yang memiliki kepandaian luar biasa dalam hal pengobatan.
Maka, seperti telah diberi komando, keduanya lalu cepat-cepat mengerahkan Sinkang di tubuhnya untuk menjaga agar luka itu tidak menjalar lebih hebat, setidaknya mereka dapat memperpanjang nyawa untuk tinggal lebih lama di dalam tubuh yang sudah terluka berat di sebelah dalam.
Kesabaran Yo Wan mendapat ujian pada saat itu.
Sudah tiga jam lebih dia bersila di situ menanti.
Tiba-tiba awan tebal menyelimuti tempat itu, menjadi halimun yang amat dingin.
Pakaian Yo Wan basah semua, juga pakaian dan tubuh dua orang aneh itu.
Namun, Bhewakala dan Sin-Eng-Cu tetap duduk bersila seperti patung, tidak bergerak-gerak.
Berkali-kali Yo Wan merasa khawatir, jangan-jangan dua orang itu sudah menjadi mayat, pikirnya.
Akan tetapi tiap kali dia menjamah tubuh mereka masih hangat, malah sekarang wajah mereka tidak segelap tadi.
Setelah lewat enam jam, matahari sudah naik tinggi dan halimun sudah terusir habis, dua orang itu membuka mata dan menarik nafas panjang.
Malah keduanya saling pandang.
"Bagaimana, Sin-Eng-Cu?"
Bhewakala bertanya sambil tertawa lebar.
"Hebat pukulan cambukmu, Bhewakala. Racun dapat kuhalau atau setidaknya kucegah untuk menjalar, akan tetapi-pukulanmu merusak pusat. Karena Kun Hong tidak berada di sini, tamatlah sudah riwayatku sebagai seorang ahli silat. Tiap kali aku mengerahkan Lweekang untuk mengeluarkan tenaga, pusarku terpukul dan kalau kupaksa, tentu aku akan mampus. Kau hebat! Dan bagaimana denganmu?"
Bhewakala menggeleng kepala.
"Kau pun luar biasa. Pukulanmu meremukkan tulang iga. Hal ini masih tidak mengapa, akan tetapi menggetarkan pusat pengendalian tenaga Kundalini. Karena itu, tenagaku musnah dan mungkin akan dapat kembali sesudah minum obat dan berlatih sedikitnya sepuluh tahun! Hemmm, apa artinya bagi seorang seperti aku?"
Kini keduanya merasa menyesal, namun sudah terlambat. Ketika mereka menoleh dan melihat bahwa Yo Wan masih bersila tak jauh dari situ, mereka tercengang.
"Kau masih berada di sini?"
Sin-Eng-Cu bertanya kaget. Yo Wan mengangguk dan menghampiri Kakek itu.
"Ha... ha... ha, Sin-Eng-Cu, bocah ini hebat! Sayang bakat dan sifat begini baik tidak dipupuk oleh Pendekar Buta. Ha... ha... ha, Pendekar Buta, kali ini benar-benar kau telah buta, menyia-nyiakan anak orang begini rupa. Sin-Eng-Cu, kau menjadi saksi, selama hidup aku tidak suka menerima murid, akan tetapi kali ini aku ingin sekali meninggalkan kepandaianku kepada anak ini sebelum aku mampus."
Sin-Eng-Cu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yo Wan, lekas kau berlutut menghaturkan terima kasih kepada Bhewakala Lo-Cianpwe, untungmu baik sekali."
Yo Wan cepat berlutut di depan Bhewakala sambil berkata, suaranya nyaring dan tetap.
"Saya menghaturkan banyak terima kasih atas maksud hati yang mulia dan kasih sayang Lo-Cianpwe kepada saya, akan tetapi saya tidak berani menerima menjadi murid Lo-Cianpwe, karena saya adalah murid Suhu. Bagaimana saya berani mengangkat Guru lain tanpa perkenan Suhu?"
"Yo Wan, hal itu tidak apa-apa, ada aku di sini yang menjadi saksi!"
Kata Sin-Eng-Cu Lui Bok.
"Ha... ha... ha, anak baik, anak baik. Ini namanya ingat budi dan setia, teguh seperti gunung karang, tidak murka dan tamak! Eh, Yo Wan, siapakah orang tuamu?"
Yo Wan menggigit Bibir, matanya dimeramkan untuk menahan keluarnya dua butir air mata.
Pertanyaan yang tiba-tiba dan merupakan ujung Pedang yang tnenusuk ulu hatinya.
Sampai lama dia tidak tnenjawab, kemudian dia membuka mata dan berkata periahan.
"Saya yatim piatu, Lo-Cianpwe..."
Kedua orang tua itu saling pandang, diam tak bersuara.
Mereka itu sudah kenyang akan pengalaman pahit getir, perasaan mereka sudah kebal.
Namun, membayangkan seorang bocah yang tinggal seorang diri di tempat sunyi itu bergulung dengan mega, tak berayah Ibu pula, benar-benar mereka merasa kasihan.
"Yo Wan, aku pun tldak bermaksud mengambil murid kepadamu, hanya ingin meninggalkan atau mewariskan kepandaianku saja. Gurumu tentu takkan marah."
"Mohon maaf sebesarnya, Lo-Cianpwe, Saya cukup maklum bahwa Lo-Cianpwe memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan hanya Tuhan yang tahu betapa ingin hati saya memilikinya. Akan tetapi, tanpa perkenan Suhu, bagaimana saya berani menerimanya? Suhu adalah Tuan penolong saya dan mendiang Ibu saya, Suhu adalah pengganti orang tua saya, harap Lo-Cianpwe maklum..."
Suara Yo Wan tergetar saking terharu, dan kini tak dapat tertahan lagi olehnya, dua butir air matanya tergantung pada bulu matanya.
Namun cepat dia menggunakan punggung kepalan tangannya mengusap air mata itu.
Tiba-tiba Sin-Eng-Cu tertawa bergelak dan suaranya terdengar gembira sekali ketika dia berkata.
"He! Bhewakala Pendeta koplok (goblok)! Dia seorang bocah yang tahu akan setia dan bakti, mana bisa dibandingkan dengan kau yang biarpun bertapa puluhan tahun dan belajar segala macam filsafat, kekenyangan pengetahuan lahirnya saja tanpa berhasil menyelami dan melaksanakan isinya sedikit pun juga? Lebih baik kita lanjutkan adu ilmu. Ingat, aku tua bangka belum kalah!"
"Huh, tua bangka tak tahu diri. Kau kira aku pun sudah kalah? Hayo kita pergunakan tenaga terakhir untuk mencari penentuan!"
Bhewakala bangkit berdiri dengan susah payah, tapi berdirinya tidak tegak, punggungnya tiba-tiba menjadi bongkok dan dia meringis, menahan sakit.
juga Sin-Eng-Cu tertatih-tatih bangkit berdiri, namun dia juga tidak bisa berdiri tegak, kedua kakinya menggigil seakan-akan tubuh atasnya terlalu berat bagi tubuh bawahnya.
Yo Wan bingung dan gugup sekali.
"Susiok-Couw... Lo-Cianpwe... Ji-wi (Kalian) sudah terluka hebat, bagaimana mau bertempur lagi? Harap suka saling mengalah, harap sudahi pertempuran ini...!"
Yo Wan berdiri di antara mereka berdua dengan sikap melerai.
"Ha... ha... ha, Cucuku. Orang-orang macam kami berdua ini hanya nafsunya saja besar tapi tenaganya kurang, malah sudah habis tenaganya! Jangan khawatir, kami tak mungkin dapat bertempur lagi, akan tetapi kami belum dapat menentukan siapa lebih unggul. He, Bhewakala, apa kau siap melanjutkan adu ilmu?"
"Boleh!"
Jawab Bhewakala dengan suara digagah-gagahkan.
"Kalau belum ada yang kalah menang, tentu penasaran dan kelak kalau sama-sama ke alam baka, tak mungkin dapat melanjutkan pertandingan."
"Bagus, kau laki-laki sejati, seperti juga aku! Sekarang kita lanjutkan!"
"Majulah kalau kau masih kuat melangkah!"
Tantang Bhewakala.
"Ho... ho... ho, sombongnya si Pendeta koplok! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau pun tidak sanggup maju selangkah pun? Ha... ha... ha, tertiup angin pun kau akan roboh. Kita melanjutkan ilmu, bukan kepalan. Ada Yo Wan di sini, apa gunanya?"
Bhewakala tersenyum lebar, matanya yang besar itu berkedip-kedip.
"Ha... ha... ha, kau benar, tua bangkotan. Ada Yo Wan, biarlah anak ini yang menjadi alat pengukur tingginya ilmu."
"Yo Wan, Cucuku! Kau benar sekali, jangan sudi menjadi murid Pendeta koplok ini! Kalau kau tadi mau menerimanya, aku yang tidak sudi, tidak memperbolehkan. Tapi kau tentu mau menjadi alat kami untuk mengukur kepandaian, bukan? Kau harus menolong kami, kalau tidak, kami berdua takkan dapat mati meram."
Yo Wan cepat berlutut di depan Kakek itu.
"Susiok-Couw, tak usah diperintah, Teecu tentu bersedia menolong Ji-wi. Katakanlah, apa yang harus Teecu lakukan?"
Selagi Yo Wan berlutut itu, Sin-Eng-Cu bertukar pandang dengan Bhewakala dan saling memberi isyarat dengan kedipan mata.
"Yo Wan, lebih dulu bawa kami ke puncak. Sanggupkah kau?"
"Akan Teecu coba."
Ia menghampiri Sin-Eng-Cu dan berkata.
"Maaf, Teecu akan menggendong Susiok-Couw."
Anak ini membungkuk di depan Sin-Eng-Cu, membelakanginya.
Sin-Eng-Cu tidak sungkan-sungkan pula lalu menggemblok di punggung Yo Wan yang menggendongnya dan anak ini sendiri merasa heran, padahal tadinya dia meragu apakah dia akan kuat menggendong Kakek itu.
la terkejut dan diam-diam merasa girang sekali serta memuji kehebatan Susiok-Couw ini, karena dia merasa yakin bahwa Kakeknya ini tentu mempergunakan Ginkang tingkat tinggi sehingga dapat membuat tubuhnya menjadi demikian ringannya!
Dengan langkah lebar dan gerakan cepat dia lalu menyeberangi jurang melalui dua tambang, kemudian dia memanjat tangga tali itu ke atas puncak.
"Harap Susiok-Couw beristirahat di sini lebih dulu, Teecu akan menggendong Bhewakala Lo-Cianpwe ke sini."
"Yo Wan, apakah Suhumu pernah mengajar Kim-Tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas) kepadamu?"
Tiba-tiba Kakek itu bertanya kepada anak yang sudah akan lari keluar kembali dari dalam pondok itu.
Yo Wan berhenti, membalikkan tubuh dan menjawab dengan sinar mata tidak mengerti dan kepala digelengkan.
Pertanyaan itu tak ada artinya bagi dirinya, akan tetapi mengingatkan dia akan burung Rajawali Emas yang dahulu pergi bersama Kakek ini, maka dia cepat bertanya.
"Susiok-Couw, mengapakah Kim-Tiauw (Rajawali Emas) tidak ikut pulang bersama Susiok-Couw?"
"La sudah terlalu tua dan tidak kuat menghadapi hujan salju di Utara, dia telah mati dan kukubur dalam tumpukan salju."
Yo Wan merasa menyesal sekaii sehingga untuk semenit dia diam saja termenung. Kemudian dia teringat akan tugasnya.
"Teecu pergi dulu, hendak menjemput Bhewakala Lo-Cianpwe."
"Pergilah, tetapi kau harus waspada, siapa tahu Pendeta Nepal itu di tengah jalan mencekik dan membunuhmu, Ha... ha... ha!"
Yo Wah terkejut, akan tetapi hanya sejenak saja dia terpaku dan ragu-ragu, kemudian kakinya melangkah lebar dan dia sudah berlari ke luar, terus menuruni puncak itu dan menyeberangi jurang pertama.
Bhewakala masih berada di situ, duduk bersila.
Pendeta hitam ini tersenyum lebar ketika dia melihat Yo Wan.
"Kau sudah kembali?"
Yo Wan mengangguk, lalu membelakangi Pendeta itu sambil berjongkok.
"Harap Lo-Cianpwe suka membonceng di punggung, tapi saya harap Lo-Cianpwe sudi mempergunakan kepandaian Ginkang seperti Susiok-Couw tadi, kalau tidak, saya khawatir tidak akan kuat menggendong Lo-Cianpwe."
Pendeta asing itu hanya mendengus, lalu merangkul pundak bocah ini dan menggemblok di punggungnya.
Yo Wan bangkit berdiri dan diam-diam dia menjadi girang dan kagum.
Kiranya Pendeta ini pun amat sakti, Ginkangnya hebat sehingga tubuhnya yang jauh lebih besar dan tinggi daripada Susiok-Couwnya juga terasa ringan, hanya sedikit lebih berat daripada tubuh Kakek tadi.
Ia mulai melangkah maju setengah berlari ke depan.
"Yo Wan, kenapa kau mau menolong aku, seorang asing yang tidak kau kenal?"
Tiba-tiba Pendeta Nepal itu bertanya.
"Suhu berpesan kepada saya bahwa menolong orang tak boleh melihat Siapa dia, hanya harus dilihat apakah dia benar-benar membutuhkan pertolongan dan apakah kita dapat menolongnya. Locian-pwe terluka, perlu beristirahat, dan saya dapat membawa Lo-Cianpwe ke puncak untuk beristirahat di pondok kediaman Suhu, kenapa saya tidak mau menolong Lo-Cianpwe?"
Diam-diam Bhewakala kagum, bukan saja oleh jawaban ini, juga melihat betapa bocah ini dapat menggendongnya sambil berjalan cepat dan ketika menjawab pertanyaannya, nafasnya tidak memburu, kelihatan enak saja.
Ketika ia memandang ke arah kedua kaki bocah itu, dia terkejut.
Bocah itu menggunakan langkah-langkah yang luar biasa, kadang-kadang berlari di atas tumit, kadang-kadang dengan kaki miring!
"He, kau menggunakan langkah apa ini?"
Tak tertahan lag Bhewakala bertanya nyaring.
Yo Wan menjadi merah mukanya.
Karena selama lima tahun itu siang malam dia berlatih langkah-langkah Si-Cap-It Sin-Po, maka kalau dia berlari, tanpa dia sengaja kedua kakinya melakukan gerak langkah-langkah itu secara otomatis!
"Bukan apa-apa, Lo-Cianpwe, saya lari biasa,"
Jawabnya dan kedua kakinya kini berlari biasa. Seperti juga dengan Susiok-Couwnya tadi, dia hendak membawa Bhewakala ke dalam pondok, akan tetapi Pendeta Nepal ini tidak mau.
"Turunkan saja aku di luar sini, aku lebih senang duduk di luar menikmati pemandangan alam yang amat hebat dan indah ini."
Yo Wan menurunkan Pendeta itu di atas bangku di depan rumah dan Bhewakala duduk bersila di situ dengan wajah berseri gembira.
"Yo Wan! Pendeta koplok itu sudah datang? Hayo, bawa aku ke luar!"
Terdengar teriakan Sin-Eng-Cu dari dalam pondok.
Yo Wan berlari masuk dan tak lama kemudian Kakek tua itu sudah digendongnya keluar.
Sin-Eng-Cu minta diturunkan di atas sebuah batu halus yang memang dahulu menjadi tempat duduknya.
la pun bersila diatas batu ini, kurang lebih lima meter jauhnya dari bangku yang diduduki Bhewakala.
"Sin-Eng-Cu, Cucu muridmu ini benar-benar hebat, membuat aku gembira sekali!"
Kata Bhewakala.
"Betapa tidak? Kalau tidak hebat berarti ia bukan Cucu muridku!"
Jawab Sin-Eng-Cu dengan nada suara bangga.
Yo Wan menjadi heran dan merasa malu.
Yang hebat adalah mereka, pikirnya, biarpun sudah terluka hebat masih mampu mengerahkan Ginkang sehingga tubuh mereka demikian ringannya ketika dia membawa mereka mendaki tangga tali tadi.
Kalau tidak demikian, mana mungkin dia akan kuat?
Anak ini sama sekali tidak tahu bahwa dua orang itu sama sekali tidak menggunakan ilmu untuk membuat tubuh mereka ringan.
Hal ini tidak mungkin, apalagi mereka terluka hebat sehingga tak mampu mempergunakan ilmu-ilmu mereka yang berhubungan dengan kekuatan di dalam tubuh.
Yang membuat dia merasa ringan ketika menggendong mereka bukan lain adalah karena kekuatan yang terkandung dalam tubuhnya sendiri.
la telah melatih diri tujuh tahun dengan pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan kegesitan, di samping itu dia pun dengan amat tekun berlatih Samadhi dan pernafasan.
Hawa murni di dalam tubuhnya sudah terkumpul, maka dia dapat mengerahkan tenaga besar luar biasa yang membuat dia dapat menggendong Kakek-kakek itu secara mudah!
"Yo Wan, kau tadi berjanji hendak menolong kami dua orang-orang tua.
Apakah kau betul-betul suka menolong?"
Tanya Bhewakala dengan pandang mata penuh gairah.
"Betul, Yo Wan, kau harus menolong kami melanjutkan adu ilmu sampai terdapat keputusan siapa yang lebih unggul."
Yo Wan membungkuk.
"Susiok-Couw, Teecu siap menolong dan membantu, akan tetapi Teecu seorang anak yang bodoh, mana bisa menjadi perantara dalam adu ilmu? Bagaimana caranya?"
"Mudah saja asal kau mau menolong. He, Bhewakala Pendeta hitam! Di dalam pondok ini terdapat empat buah kamar cukup untuk kita seorang sekamar. Kita lanjutkan adu ilmu. Kau tinggallah di kamar kiri, aku di kamar kanan, biar Yo Wan di kamar lain. Kau kuberi kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Beritahukan jurus penyeranganmu kepada Yo Wan, dan kalau dia sudah memperlihatkan jurus itu, aku akan menghadapi dengan jurus pertahananku, lalu balas menyerang dengan jurus istimewa. Dua jurus itu kuberitahukan kepada Yo Wan yang akan menyampaikannya kepadamu. Kau harus dapat memecahkannya dan boleh balas menyerang. Siapa yang tidak dapat memecahkan sebuah jurus serangan, dia itu harus mengakui keunggulan lawan. Bagaimana?"
"Setuju! Itulah yang kukehendaki. Hayo mulai sekarang juga!"
"Yo Wan, kau mendengar perjanjlan kami untuk mengadu ilmu? Maukah kau menolong, hanya menjadi perantara begitu?"
Yo Wan adalah seorang anak yang baru berusia tiga belas tahun.
Apalagi dia kurang pengalaman, semenjak kecil berada di tempat sunyi mengejar ilmu dan bekerja, mana dia mampu menandingi kelihaian otak dua orang sakti ini?
Secara tidak langsung, selain dua orang itu dapat memuaskan hati mencari keunggulan dalam ilmu silat, juga mereka ingin sekali menurunkan kepandaian masing-masing kepada bocah yang sudah menaklukkan hati dan cinta kasih mereka itu.
Yo Wan menganggap mereka berdua ini Kakek-kakek yang lucu dan aneh.
Masak ada orang melanjutkan adu ilmu seperti itu?
Seperti main-main saja.
Keduanya sudah terluka masih tidak mau terima, masih ingin melanjutkan terus, benar-benar gila, pikirnya.
"Kalau kau keberatan pun tidak apa,"
Sambung Sin-Eng-Cu.
"Kami bisa merangkak turun saling menghampiri, kemudian saling cekik sampai mampus di sini!"
Sambil berkata demikian, Sin-Eng-Cu mengedipkan mata kepada Bhewakala.
"Jangan kira kau akan dapat mencekik leherku, Sin-Eng-Cu tua bangka bangkotan. Lebih dulu jari-jariku akan menusuk dadamu sampai bolong-bolong? Bhewakala mengancam, juga tersenyum dan mengedipkan mata pula.
"Jangan...! Harap Ji-wi jangan berkelahi terus. Baiklah, saya akan mentaati permintaan Ji-wi, menjadi perantara. Akan tetapi saya harap jiwi betul-betul menghentikan adu ilmu ini kalau seorang di antara Ji-wi ada yang tidak sanggup memecahkan sebuah jurus. Sekarang harap Ji-wi sudi menanti sebentar, saya hendak menyediakan makanan."
Tanpa menanti jawaban, Yo Wan lalu menuju ke ladang, memetik sayur-mayur, membawanya ke dapur dan memasak sayur-mayur dan ubi kentang.
Pandai dia memasak setelah berlatih lima tahun selama ini dan di situ tersedia lengkap pula bumbu-bumbu yang dia tukar dari penduduk dusun dengan hasil ladangnya.
Di luar, tanpa sepengetahuan Yo Wan, dua orang Kakek itu berunding.
Karena mereka amat suka kepada Yo Wan dan maklum pula bahwa keadaan tubuh mereka sudah cacad akibat pertandingan semalam, agaknya tak mungkin dapat tertolong lagi karena Kwa Kun Hong tidak berada di situ.
Maka mereka mengambil keputusan Untuk menurunkan ilmu-ilmu mereka yang paling iihai kepada Yo Wan.
"Jangan kau terlalu bernafsu merobohkan aku,"
Kata Sin-Eng-Cu.
"Kita turunkan dahulu jurus-jurus yang pernah kita mainkan malam tadi sehingga masing-masing tentu sudah mengenalnya dan dapat memecahkannya. Setelah itu, barulah kita bertanding betul-betul, mengeluarkan jurus-jurus baru yang harus dapat dipecahkan."
Bhewakala menyetujui usul Kakek bekas lawannya ini.
Setelah masakan sayur-mayur matang dan dihidangkan oleh Yo Wan, mereka bertiga makan dengan tenang dan lahap.
Kemudian dua orang sakti itu minta diantar ke kamar masing-masing dan mulai hari itu juga, Yo Wan menjadi perantara pertandingan yang aneh ini.
Mula-mula dia harus menghafal dan menggerakkan sebuah jurus yang diturunkan oleh Bhewakala dan oleh karena jurus ini harus dipergunakan untuk menyerang, tentu saja Yo Wan diharuskan dapat memainkannya dengan baik.
Pada hari-hari pertama, amatlah sukar bagi anak ini untuk menghafal dan mainkan jurus-jurus itu, karena jurus yang diturunkan itu adalah jurus ilmu silat tingkat tinggi yang sukarnya bukan main.
Andaikata dia belum diberi dasar Ilmu Si-Cap-It Sin-Po, yaitu langkah-langkah ajaib yang sudah mengandung inti sari dari semua jenis langkah dalam persilatan, agaknya dia tidak mungkin mampu melakukan gerakan jurus yang diturunkan oleh dua orang sakti ini.
Jurus pertama yang diturunkan Bhewakala, baru dapat dia lakukan setelah dia latih selama dua minggu!
Memang mengherankan bagi yang tidak tahu, akan tetapi kalau diingat syarat-syaratnya, memang berat.
Dalam setiap gerak dalam jurus ini, imbangan tubuh harus tepat bahkan keluar masuknya nafas juga harus disesuaikan dengan setiap gerak!
Biarpun Yo Wan belum dapat menikmati dan membuktikan sendiri kegunaan ilmu silat karena selama belajar di situ belum pernah dia menggunakan ilmu silat untuk bertempur, Tetapi mengingat sukarnya jurus ini, dia mengira bahwa Sin-Eng-Cu tentu akan menjadi bingung dan tidak mudah memecahkannya.
Jari tengah dan telunjuk kanan menusuk mata diteruskan dengan siku kanan menghantam jalan darah di bawah telinga, dibarengi pukulan tangan kiri pada pusar yang disusul lutut kaki kanan menyodok arah kemaluan kemudian dilanjutkan tendangan kaki kanan sebagai gerak terakhir.
Sebuah jurus yang "Berisi"
Lima gerak serangan berbahaya!
Bhewakala menamakan jurus ini Ngo-Houw Lauw-Yo (Lima Harimau Mencari Kambing), sebuah jurus dari ilmu silat ciptaannya yang paling lihai ketika dia bertapa di Gunung Himalaya, yaitu ilmu silat yang dinamainya Ngo-Sin Hoan-Kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti).
Akan tetapi alangkah herannya ketika Sin-Eng-Cu menyambut jurus yang dia mainkan di depan Kakek ini dengan tertawa bergelak.
"Ha... ha... ha...ha...ha! Pendeta koplok! Jurus cakar bebek beginian dipamerkan di depanku? Wah, terlalu gampang untuk memecahkannya!"
Yo Wan hanya memandang dengan kagum dan diam-diam dia pun girang karena ternyata Susiok-Couwnya ini tidak kalah lihainya oleh Bhewakala.
Sudah tentu saja dalam adu ilmu yang luar biasa ini sedikit banyak dia berpihak kepada Sin-Eng-Cu dan mengharapkan kemenangan bagi Kakek ini, karena betapapun juga Kakek ini adalah Paman Guru dari Suhunya.
"Awas, dengarkan dan lihat baik-baik gerak tanganku. Sekaligus aku akan patahkan daya serang jurus cakar bebek ini."
Dengan gerak tangan dan keterangan yang lambat dan jelas Sin-Eng-Cu mengajarkan jurusnya.
"Menghadapi serangan seorang berilmu seperti Bhewakala, kita harus bersikap waspada dan jangan mudah terpancing oleh gerak pertama, karena semua jurus ilmu silat tinggi selalu menggunakan pancingan dan makin tersembunyi gerak pancingan ini akan lebih baik. Gerak pertama menyerang anggota tubuh bagian atas jangan dihadapi dengan perhatian sepenuhnya, melainkan harus dielakkan sambil menanti munculnya gerak susulan yang merupakan gerak inti. Serangan tangan kanan ke arah mata dan leher, kita hadapi dengan merendahkan tubuh sehingga tusukan mata dan serangan siku kanan lewat di atas kepala. Serangan pukulan tangan kiri pada pusar kita tangkis dengan tangan kanan dan apabila dia berani menggunakan lututnya, kita mendahului dengan pukulan sebagai tangkisan ke arah sambungan lutut. Inilah jurusku yang menghancurkan jurus Bhewakala itu, kunamai jurus Lo-Han Pai-Hud (Kakek Menyembah Buddha)."
Jurus ini dilatih oleh Yo Wan dengan susah payah, apalagi karena segera disusul jurus kedua yang merupakan serangan balasan dari Sin-Eng-Cu, yaitu jurus yang disebut Liong-Thouw Coan-Po (Kepala Naga Terjang Ombak).
Dua buah jurus ini adalah jurus-jurus dari ilmu silat ciptaan Kakek ini yang dia beri nama Liong-Thouw-Kun (ilmu Silat Kepala Naga) atau ilmu silat dari Liong-Thouw-San tempat dia bertapa di bekas kediaman mendiang kakak seperguruannya, Bu Beng Cu.
Untuk dua buah jurus ini Yo Wan menggunakan waktu dua puluh hari.
Ia bangga sekali terhadap Kakek itu dan mengira bahwa Bhewakala tentu akan repot menghadapi Liong-Thouw Coan-Po.
Eh, kembali dia tercengang dan kecewa karena Pendeta Nepal ini terkekeh-kekeh.
memandang rendah sekali jurus serangan balasan Sin-Eng-Cu ini.
"Uwa"
Ha...
ha...
ha...
ha...
tua bangka bangkotan itu sudah gila kalau mengira bahwa jurusnya monyet menari ini bisa menggertak aku.
Lihat baik-baik jurusku yang akan memecahkan rahasianya dan sekali ini dengan jurus seranganku yang kedua, dia pasti akan mati kutu!"
Kakek Pendeta Nepal ini lalu mengajarkan dua buah jurus lain yang lebih sulit dan aneh lagi.
Demikianlah, setiap hari, siang malam hanya berhenti kalau mengurus keperluan mereka bertiga, makan dan tidur, Yo Wan melayani mereka berdua silih-berganti.
Mula-mula memang setiap jurus harus dia pelajari sampai hafal baru dapat dia mainkan setelah tekun mempelajarinya sampai beberapa hari, apalagi makin lama jurus-jurus yang dikeluarkan dua orang sakti itu makin sukar.
Akan tetapi setelah lewat tiga bulan, dia mulai dapat melatihnya dengan lancar, dan dapat menyelesaikan setiap jurus dalam waktu sehari saja!
Yo Wan tidak hanya harus menghafal dan dapat mainkan jurus-jurus ini untuk dimainkan di depan kedua orang sakti itu, tetapi karena tingkat itu makin tinggi, terpaksa dia harus menerima latihan Siulian (Samadhi), pernafasan dan cara menghimpun tenaga dalam tubuh.
"Tanpa mempelajari Lweekang dahulu, tak mungkin kau mainkan jurus ini,"
Demikian kata Bhewakala dan karena dia sudah berjanji untuk membantu kedua orang itu menjadi perantara dalam adu ilmu, terpaksa Yo Wan tidak membantah dan mempelajari Lweekang yang aneh dari Kakek Nepal ini.
Demikian pula, dengan alasan yang sama, Sin-Eng-Cu menurunkan latihan Lweekang yang lain dan untuk latihan ini Yo Wan, mengalami kelancaran karena Lweekang dari Kakek ini sejalan dengan apa yang dia pelajari dari Suhunya.
Tanpa terasa lagi, tiga tahun telah lewat!
Ngo-Sin Hoan-Kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti) dari Bhewakala yang berjumlah lima puluh jurus itu telah dia mainkan semua.
Demikian pula Liong-Thouw-Kun dari Sin-Eng-Cu Lui Bok yang berjumlah empat puluh delapan jurus.
Bukan ini saja, dengan alasan bahwa ilmu pukulan tangan kosong tak dapat menentukan kemenangan.
Bhewakala menurunkan ilmu cambuk yang dapat dimainkan dengan pedang.
Karena ilmu Pedang ini pun berdasar pada Ngo-Sin Hoan-Kun, maka tidak sukar bagi Yo Wan untuk menghafal dan memainkannya.
Sebagai imbangannya, Sin-Eng-Cu juga menurunkan ilmu pedangnya.
Pada bulan kedua dari tahun ketiga, Sin-Eng-Cu yang keadaannya sudah amat payah saking Tuanya dan juga karena kelemahan tubuhnya akibat pertempuran tiga tahun yang lalu, menurunkan jurus yang tadinya amat dirahasiakan.
"Yo Wan... Bhewakala hebat memang. Tapi coba kau perlihatkan jurus ini dan dia pasti akan kalah. Jurus itu disebut Pek-Hong Ci-Tiam (Bianglala Putih Keluarkan Kilat), jurus simpananku yang tak pernah kupergunakan dalam pertandingan karena amat ganas. Coba... bantu aku berdiri, jurus ini harus kumainkan sendiri, baru kau dapat menirunya. Ke sinikan pedangmu..."
Yo Wan yang tadinya berlutut menyerahkan pedangnya, Pedang dari kayu cendana yang sengaja dibuat untuk perang adu ilmu itu, sambil membantu Kakek yang sudah tua renta itu bangkit berdiri.
Diam-diam Yo Wan menyesal sekali mengapa Kakek yang tua ini begini gemar mengadu ilmu.
Sudah sering kali selama tiga tahun itu dia membujuk-bujuk mereka untuk menghentikan adu ilmu, namun sia-sia belaka.
Namun sebenarnya, di balik semua itu, ia pun mulai merasa senang sekali dengan pelajaran jurus-jurus itu.
"Nah, kau lihat baik-baik..."
Kakek itu menggerakkan Pedang kayu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram dari atas.
Memang gerakan yang amat hebat dan dahsyat.
Bahkan Kakek yang sudah kehabisan tenaga itu, ketika mainkan jurus tersebut kelihatan menyeramkan.
Terdengar suara bercuitan dari Pedang kayu dari tangan kirinya"
Kemudian... Kakek itu roboh terguling.
"Susiok-Couw...!"
Yo Wan cepat menyambar tubuh Kakek itu dan membantunya duduk sambil menempelkan telapak tangannya pada punggung Kakek itu dan menyalurkan hawa murni sesuai dengan ajaran Sin-Eng-Cu.
""Sudah... eh, baik sudah... uh-uh-uh... tua bangka tak becus aku ini... Yo Wan, sudahkah kau dapat mengerti jurus tadi?"
Yo Wan mengangguk, dan maklum akan watak Kakek ini, seperti biasa setelah Kakek itu duduk bersila, dia mengambil Pedang kayu dan mainkan jurus tadi.
Suara bercuitan lebih nyaring terdengar, dan Kakek itu berseru gembira, tapi nafasnya terengah-engah.
"Bagus, bagus! Nah, kalau sekali ini Pendeta koplok itu dapat memecahkan jurusku Pek-hong-ci-kiam, dia benar-benar patut kau puja sebagai Gurumu!"
Dengan nafas terengah-engah Kakek itu lalu melambaikan tangan, mengusir Yo Wan keluar dari kamarnya untuk segera mendemonstrasikan jurus itu kepada lawannya.
Dengan hati sedih karena ketika meraba punggung tadi dia tahu bahwa Kakek itu keadaannya amat payah, Yo Wan meninggalkan kamar, langsung memasuki kamar Bhewakala.
Keadaan Pendeta Nepal ini tidak lebih baik daripada Sin-Eng-Cu Lui Bok.
la pun amat payah karena selain kekuatan tubuhnya makin mundur akibat luka dalam, juga dia harus mengerahkan tenaga dan pikiran setiap hari untuk mengajar Yo Wan.
Ketika Yo Wan memasuki kamarnya dan mainkan jurus Pek-Hong Ci-Tiam, dia terkejut sekali dan sampai lama dia bengong saja, menggeleng-geleng kepalanya.
Kemudian mengeluh.
"Hebat... Sin-Eng-Cu Lui Bok hendak mengadu nyawa..."
Akan tetapi selanjutnya dia termenung, kedua tangannya bergerak-gerak menirukan gerak jurus itu, bicara perlahan seorang diri, mengerutkan kening dan akhirnya menggeleng kepala seakan-akan pemecahannya tidak tepat.
la memberi isyarat dengan tangan supaya Yo Wan keluar dari kamarnya, pemuda ini lalu mengundurkan dir dan masuk ke kamar sendiri karena waktu itu malam sudah agak larut.
Menjelang fajar, Yo Wan kaget mendengar suara Bhewakala memanggil namanya.
la bangun dan cepat menuju ke kamar Pendeta itu.
Pintu kamarnya terbuka dan Pendeta itu duduk di atas pembaringan.
Cepat dia maju menghampiri.
"Yo Wan, jurus Sin-Eng-Cu ini hebat! Tak dapat aku menangkis atau mengelaknya..."
Katanya dengan suara lesu. Diam-diam Yo Wan menjadi girang. Akhirnya Sin-Eng-Cu yang menang, seperti yang dia harapkan.
"Kalau begitu, Lo-Cianpwe menyerah..."
Katanya perlahan. Mata yang lebar itu melotot.
"Siapa menyerah? Karena Sin-Eng-Cu hendak mengadu nyawa, apa kau kira aku tidak berani? Jurus itu memang tidak dapat kutangkis atau kuhindarkan, akan tetapi dapat kuhadapi dengan jurusku yang istimewa pula. Mungkin aku mati oleh jurusnya, tetapi dia pun pasti mampus kalau melanjutkan serangannya. Kau lihat baik-baik!"
Bhewakala lalu mengajarnya sebuah jurus sebagai imbangan dari Pek-Hong Ci-Tiam.
Kemudian Pendeta itu menyuruh Yo Wan mainkan cambuk dengan jurus itu.
Hebat bukan main jurus ini.
Cambuk melingkar-lingkar di udara kemudian melejit ke empat penjuru dengan suara nyaring sekali.
"Tar-tar-tar-tar-tar!"
Terjangan cambuk ini diiringi gempuran tangan kiri yang penuh dengan tenaga dalam ke arah pusar lawan.
"Cukup! Lekas kau perlihatkan kepada Sin-Eng-Cu,"
Kata Bhewakala setelah dia merasa puas dengan gerakan Yo Wan.
Pemuda ini keluar dari kamar Bhewakala memasuki kamar Sin-Eng-Cu.
Waktu itu matahari telah naik agak tinggi, akan tetapi lampu di dalam kamar Kakek ini masih menyala.
"Susiok-Couw, Lo-Cianpwe Bhewakala tidak dapat memecahkan Pek-Hong Ci-Tiam, akan tetapi menghadapi jurus itu dengan jurus penyerangan pula, seperti ini,"
Kata Yo Wan sambil mainkan cambuk yang memang sengaja dibawanya ke dalam kamar itu.
Cambuknya melejit-lejit dan tangan kirinya mengeluarkan angin yang mematikan lampu di atas meja ketika dia mainkan jurus itu.
Akan tetapi setelah dia berhenti mainkan jurus ini, Sin-Eng-Cu tidak memberi komentar apa-apa.
Kakek itu tetap duduk bersila dengan tangan kanan terkepal di atas pangkuan, telentang, dan tangan kiri diangkat ke depan dada jari-jari tengah terbuka dan telapak tangan menghadap keluar.
"Susiok-Couw, bagaimana sekarang...?"
Yo Wan menegur lagi sambil maju mendekat dan berlutut.
"Susiok-Couw...!"
La berseru agak keras sambil berdongak memandang.
Kakek itu masih duduk bersila dengan mata meram.
Ketika Yo Wan melihat sikap yang tidak wajar ini, berubah air mukanya.
Dirabanya kepalan tangan kanan di atas pangkuan itu dan dia menarik kembali tangannya.
Kepalan itu dingin sekali.
Dirabanya lagi nadi, tidak ada denyutan.
Kakeknya itu seperti orang tidur tanpa bernafas.
"Susiok-Couw...!"
Tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya.
"Dia sudah mati. Ah, Sin-Eng-Cu, kau benar-benar hebat. Dengan jurus terakhir itu kau telah mengalahkan aku. Aku mengaku kalah!"
Yo Wan menoleh dengan heran.
Bhewakala sudah berdiri di situ dan biarpun kelihatannya masih amat lemah, kiranya Pendeta ini sudah dapat berjalan dengan ringan sehingga dia tidak mendengar kedatangannya.
Akan tetapi dia segera menghadapi Sin-Eng-Cu lagi, berlutut dan memberi hormat sebagaimana layaknya sambil berkata.
"Harap Susiok-Couw sudi mengampuni Teecu yang tidak mampu menolong Susiok-Couw yang terluka (Lanjut ke
Jilid 03) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 sehingga hari ini Susiok-Couw meninggal dunia."
La tidak dapat menangis karena memang dia tidak ingin menangis.
"Yo Wan, orang selihai dia mana bisa mati karena luka pukulanku? Seperti juga pukulannya, mana bisa membikin mati aku? Kami berdua hanya terluka yang akibatnya melenyapkan tenaga dalam karena pusat pengerahan Sinkang di tubuh kami rusak akibat pukulan. Tanpa pukulanku, hari ini dia akan mati juga, kematian wajar dari usia tua."
Bhewakala maju menghampiri Kakek yang masih duduk bersila itu, lalu tiba-tiba Pendeta Nepal ini memeluknya.
"Sin-Eng-Cu, tua bangka... terima kasih. Belum pernah selama hidupku merasa begitu senang dan gembira seperti selama tiga tahun kita mengadu ilmu ini. Kau hebat, sahabatku, kau hebat. Jurusmu terakhir tak dapat kupecahkan, biarlah sisa hidupku akan dapat kupergunakan untuk memecahkan jurus itu agar kelak kalau kita bertemu kembali, dapat kumainkan di depanmu..."
Pendeta ini lalu membaringkan tubuh Sin-Eng-Cu.
Tangan dan kaki Kakek itu sudah kaku, tetapi begitu disentuh Bhewakala pada jalan darah dan sambungan-sambungan tulang yang membeku itu, bagian-bagian tubuh Kakek itu lemas kembali dan dapat ditelentangkan.
Kemudian Pendeta hitam ini berpaling kepada Yo Wan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak heran.
Memang seorang yang aneh dan luar biasa Pendeta hitam ini, pikirnya.
"Yo Wan, kau adalah murid Pendekar Buta akan tetapi tak pernah menerima warisan ilmu silatnya kecuali pelajaran langkah-langkah yang tiada artinya dalam menghadapi lawan. Kau bukan murid kami namun kau telah mewarisi inti sari dari ilmu silat kami berdua. Memang lucu. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dalam hatiku, aku menganggap kau murid tunggalku dan aku selalu menanti kunjunganmu ke Anapurna di Himalaya. Selamat tinggal, muridku."
Setelah berkata demikian, Bhewakala berjalan ke luar dari pondok itu, wajahnya muram seakan-akan kegembiraannya lenyap bersama nyawa Sin-Eng-Cu.
Yo Wan tiba-tiba merasa dirinya amat kesunyian.
Yang seorang menjadi mayat, yang seorang lagi telah pergi.
Kembali dia hidup seorang diri di tempat sunyi itu.
Namun dia segera dapat menguasai perasaannya.
la bukan kanak-kanak lagi.
Ketika Suhu dan Subonya pergi, delapan tahun yang lalu, dia baru berusia delapan tahun lebih.
Sekarang dia sudah menjadi seorang pemuda, enam belas tahun usianya seperti dikatakan Sin-Eng-Cu beberapa hari yang lalu.
Tadinya dia sendiri tidak tahu berapa usianya kalau saja bukan Sin-Eng-Cu yang menghitungnya.
Seorang jejaka.
Jaka Lola, tidak hanya yatim piatu, akan tetapi juga tiada sanak-kadang.
Di dunia ini hanya ada Suhu dan Subonya, akan tetapi kedua orang itu sudah pergi meninggalkannya sampai delapan tahun tanpa berita.
Dengan hati berat Yo Wan mengubur jenazah Sin-Eng-Cu di belakang pondok.
la tidak tahu bagaimana harus menghias kuburan ini, maka dia lalu mengangkuti batu-batu besar yang dia taruh berjajar di sekeliling kuburan.
la masih belum sadar bahwa kini dia dapat mengangkat batu-batu yang demikian besarnya, tidak tahu bahwa setiap batu yang diangkatnya dengan ringan itu sedikitnya ada seribu kati beratnya!
"Aku harus menyusul Suhu dan Subo ke Hoa-San."
Pikiran inilah yang pertama-tama memasuki kepalanya.
Teringat akan niatnya pergi menyusul ke Hoa-San tiga tahun yang lalu, dia merasa menyesal sekali.
Mengapa dia dahulu tidak jadi menyusul?
Kalau tiga tahun yang lalu dia sudah pergi ke Hoa-San, tentu saat ini dia sudah berada bersama Suhu dan Subonya.
Akan tetapi, dia teringat lagi betapa dua orang Kakek yang mengadu ilmu itu membuat dia betah, malah selama tiga tahun ini dia tidak merasa rindu kepada Suhu dan Subonya, juga membuat dia tak pernah meninggalkan puncak karena kedua orang itu melarangnya.
Biarpun bumbu-bumbu habis, mereka tidak membolehkan dia turun puncak, dan sebagai pengganti bumbu-bumbu itu, Bhewakala menyuruh dia mengambil bermacam-macam daun di puncak yang ternyata dapat mengganti bumbu dapur.
Dengan pakaian penuh tambalan Yo Wan turun dari puncak.
Cambuk Bhewakala yang ditinggalkan oleh Pendeta itu dia gulung melingkari pinggangnya, tersembunyi di balik bajunya yang penuh tambalan dan tidak karuan potongannya.
Juga Pedang kayu buatan Sin-Eng-Cu yang dipakai untuk bermain jurus di depan Bhewakala, dia bawa pula, dia selipkan di balik ikat pinggang.
Berangkatlah Yo Wan si Jaka Lola meninggalkan puncak Liong-Thouw-San, berangkat dengan hati lapang dan penuh harapan untuk segera bertemu kembali dengan dua orang yang amat dikasihi, yaitu Suhu dan Subonya.
la tidak sadar sama sekali, betapa dirinya kini telah mengalami perubahan hebat berkat latihan Lweekang menurut ajaran Sin-Eng-Cu dan Bhewakala, betapa dirinya selain memiliki tenaga Sinkang yang hebat juga telah memiliki berbagai ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mudah didapat orang!
Ketika penduduk sekitar kaki gunung yang sudah mengenalnya melihat Yo Wan, mereka segera menegur dan mempersilakan dia singgah.
Mereka menyatakan penyesalan mengapa pemuda itu selama tiga tahun ini bersembunyi saja.
Malah yang mempunyai kelebihan pakaian segera memberi beberapa buah celana dan baju kepada Yo Wan ketika dilihatnya betapa pakaian pemuda ini penuh tambalan.
Yo Wan, menerima dengan penuh syukur dan terima kasih.
la sendiri tidak ingin Suhu dan Subonya marah dan malu melihat dia berpakaian seperti jembel itu.
Segera dia menukar pakaiannya dan kini biarpun pakaiannya sederhana dan terbuat dari kain kasar, tetapi cukup rapi dan tidak robek, juga tidak ada tambalan menghiasnya.
Yo Wan melakukan perjalanan seperti seorang yang linglung.
Dia seperti seekor anak burung yang baru saja belajar terbang meninggalkan sarangnya.
Semenjak usia delapan tahun, dunianya hanya puncak Bukit Liong-Thouw-San dan perkampungan sekitar kaki gunung.
Biarpun di waktu kecilnya dia pernah melihat kota dan tempat-tempat ramai, namun selama delapan tahun dia seakan mengasingkan diri di puncak gunung.
Dan sekarang, melakukan perjalanan melalui kota-kota dan dusun-dusun yang ramai, dia seperti seorang dusun yang amat bodoh.
Bangunan-bangunan besar mengagumkan hatinya.
Melihat banyak orang membuat dia bingung.
Apalagi ilmu membaca dan menulis.
la seorang buta huruf yang melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang asing baginya, tanpa kawan tiada sanak kadang, tanpa bekal uang di saku!
Akan tetapi kekurangan-kekurangan ini sama sekali tidak membuat Yo Wan menjadi khawatir atau susah.
Semenjak kecil dia sudah tergembleng oleh segala macam kesulitan hidup.
Biarpun masih muda, jiwanya sudah matang oleh asam garam dan pahit getir kehidupan, membuatnya tenang dan dapat menghadapi segala macam keadaan dengan tabah.
Tidak sukar baginya untuk mengatasi kekurangannya dalam perjalanan.
Kadang-kadang dia hanya makan buah-buahan dan daun-daun muda di dalam hutan untuk berhari-hari.
Ada kalanya dia makan dalam sebuah kelenteng bersama Hwesio-Hwesio yang baik hati dan yang tetap membagi hidangan sayur-mayur sekedarnya tanpa daging itu kepada Yo Wan.
Tentu saja Yo Wan belum mau pergi meninggalkan kelenteng sebelum dia melakukan sesuatu, mencari air, menyapu lantai, membersihkan meja sembahyang dan lain pekerjaan untuk membalas budi.
Kadang-kadang orang dusun atau kota ada yang mau menerima bantuan tenaganya untuk ditukar dengan makan sehari itu.
Dengan cara demikian, Yo Wan melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya jalan menuju ke Hoa-San.
la berlaku hati-hati sekali, selalu menjauhkan diri dari keributan, dan tak pernah dia memperlihatkan kepada siapapun juga bahwa dia memiliki tenaga luar biasa dan kepandaian yang tinggi.
Yo Wan sendiri sebetulnya belum mengerti betul bahwa dia telah mewarisi inti sari kepandaian dua orang Kakek berilmu sungguhpun dia mengetahui bahwa dia memiliki tenaga dan keringanan tubuh yang melebihi orang lain.
Oleh karena inilah maka dia sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari dan membalas musuhnya, The Sun, sebelum dia bertemu dengan Suhunya dan menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari Gurunya itu.
Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan, akhirnya pada suatu pagi sampai juga dia di kaki Gunung Hoa-San.
Dengan hati berdebar tegang dia berdiri memandang ke arah puncak gunung itu, sebuah gunung yang tinggi dan hijau, tidak liar seperti Gunung Liong-Thouw-San.
Membayangkan pertemuan dengan Suhu dan Subonya setelah berpisah selama delapan tahun, mendatangkan rasa haru dan membuatnya termenung di situ dengan jantung berdebar-debar.
Betapapun juga, dalam kegembiraan ini, ada rasa tidak enak di hatinya, rasa bahwa dia adalah seorang tamu di Hoa-San.
Suhu dan Subonya sendiri terhitung tamu di situ, bagaimana dia akan dapat merasa di rumah sendiri?
Berpikir begitu, timbul kegetiran.
Mengapa Suhunya membiarkan saja dia bersunyi sampai delapan tahun di Liong-Thouw-San?
Mengapa Gurunya itu tidak kembali?
Ya, mengapakah?
Mengapa Kun Hong dan Hui Kauw tidak kembali ke Liong-Thouw-San sampai delapan tahun lamanya, membiarkan murid mereka itu seorang diri saja di puncak gunung yang sunyi.
Apakah terjadi sesuatu yang hebat atas diri mereka?
Sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Tak lama setelah Kun Hong dan Hui Kauw tiba di Hoa-San, Hui KauW melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat.
Tentu saja peristiwa ini mendatangkan kegembiraan luar biasa di Hoa-San.
Oleh Kakeknya, anak itu diberi nama Kwa Swan Bu.
Ketua Hoa-San-Pai sekarang adalah Kui Lok yang berjuluk Kui-San-Jin, seorang tokoh Hoa-San-Pai yang paling lihai karena dia dan isterinya (Thio Bwee) adalah sepasang Suami isteri yang mewarisi ilmu Silat Hoa-San-Pai yang paling tinggi.
Suami isteri ini memimpin Hoa-San-Pai, dibantu oleh Suhengnya bernama Thian Beng Tosu (Thio Ki) dan Lee Giok, dan diawasi oleh Kakek Kwa Tin Siong dan isterinya.
Kwa Tin Siong sudah amat tua dan sudah bosan mengurus Hoa-San-Pai, maka dia dan isterinya menyerahkan tugas ini kepada Kui-San-Jin dan mereka sendiri tekun bertapa.
Kedatangan putera tunggal mereka, Kwa Kun Hong dan isterinya, tentu saja menggirangkan hati kedua orang tua ini, apalagi setelah isteri Kun Hong melahirkan seorang putera, kebahagiaan Suami isteri tua ini menjadi sempurna.
Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Hoa-San-Pai tidak ada yang mempunyai keturunan laki-laki kecuali Kwa Kun Hong seorang.
Thian Beng Tosu hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Thio Hui Cu yang sudah menikah dengan Tan Sin Lee putera Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi Ketua Thai-San-Pai.
Juga Kui-San-Jin hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Kui Li Eng yang sudah menikah pula dengan Tan Kong Bu, putera lain lagi dan Raja Pedang Tan Beng San.
Semua ini dapat dibaca dalam cerita Rajawali Emas dan dan Pendekar Buta.
Karena tidak ada keturunan laki-laki di Hoa-San, tentu saja lahirnya Kwa Swan Bu amat menggirangkan hati Kakek Kwa.
Juga Thian Beng Tosu dan Kui san jin Ketua Hoa-San-Pai amat girang.
Orang-orang tua inilah yang minta dengan sangat kepada Kun Hong dan istrinya agar Suami isteri itu tidak kembali ke Liong-Thouw-San, setidaknya menanti kalau Swan Bu sudah besar.
Amat tidak baik membiarkan seorang anak laki-laki bersunyi di puncak bukit dengan kedua orang Tuanya saja, kata Kwa Tin Siong kepada putera dan mantunya.
"Ia akan tumbuh besar dalam kesunyian, kurang bergaul dengan sesama manusia. Di Hoa-San pai ini adalah tempat tinggalmu sendiri sejak kau kecil, Kun Hong. Oleh karena itu sebaiknya kau membiarkan puteramu tinggal di sini pula. Di sini merupakan keluarga Hoa-San pai yang besar, dan puteramu tentu akan menerima kasih sayang dari semua orang. Juga aku dan Ibumu sudah tua, biarkanlah kami menikmati hari-hari akhir kami dengan Cucu kami Swan Bu."
Inilah yang membuat Kun Hong dan isterinya tak dapat meninggalkan Hoa-San.
Kun Hong berunding dengan isterinya tentang Yo Wan.
Hui Kauw yang tentu saja menimpakan kasih sayang seluruhnya kepada puteranya, menyatakan bahwa Yo Wan tentu akan menyusul ke Hoa-San.
"Bukankah dahulu kau sudah meninggalkan pesan bahwa dia harus menyusul ke Hoa-San kalau dalam waktu dua tahun kita tidak pulang? Dia sudah besar, tentu dapat mencari jalan ke sini. Pula, hal ini amat perlu bagi dia. Murid kita harus menjadi seorang yang tabah dan tidak gentar menghadapi kesukaran."
Kun Hong setuju dengan pendapat isterinya ini. Akan tetapi hatinya gelisah juga setelah lewat dua tahun, bahkan sampai lima tahun, murid itu tidak datang menyusul ke Hoa-San.
"Jangan-jangan ada sesuatu terjadi di sana?"
Kun Hong menyatakan kekhawatirannya.
"Atau dia memang tidak ingin ikut dengan kita di sini,"
Hui Kauw berkata, keningnya berkerut.
Diam-diam la merasa tidak senang mengapa Yo Wan tidak mentaati perintah suaminya.
Seorang murid harus mentaati perintah Guru, kalau tidak, dia bukanlah murid yang baik.
"Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan Yo Wan. Kalau dia datang menyusul, berarti dia suka menjadi murid kita, kalau tidak, terserah kepadanya. Lebih baik kita melatih anak kita sendiri."
Demikianlah, setelah lewat delapan tahun, Suami isteri ini sudah melupakan murid mereka yang mereka kira tentu sudah pergi dari Liong-Thouw-San dan tidak mau ikut mereka di Hoa-San.
Sama sekali mereka tidak mengira bahwa murid mereka itu selama ini tak pernah meninggalkan puncak Liong-Thouw-San.
Dan sama sekali mereka tidak pernah menduga bahwa pada pagi hari, orang muda tampan sederhana yang berdiri termenung di kaki Gunung Hoa-San adalah Yo Wan.
Yo Wan amat kagum melihat keadaan Gunung Hoa-San.
Alangkah jauh bedanya dengan Liong-Thouw-San.
Gunung ini benar-benar terawat.
Tidak ada bagian yang liar.
Hutan-hutan bersih dan penuh pohon buah dan kembang.
Sawah ladang terpelihara, ditanami sayur-mayur dan pohon obat.
Malah jalan yang cukup lebar dibangun, memudahkan orang naik mendaki gunung.
Derap kaki kuda dari sebelah kanan terdengar, diiringi suara ketawa yang nyaring, ketawa kanak-kanak.
Yo Wan mengangkat kepala memandang ke sebelah kanan dan dia menjadi kagum sekali.
Ada tiga orang penunggang kuda.
Kuda mereka adalah kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan nampak kuat.
Akan tetapi bukan binatang-binatang itu yang mengagumkan hati Yo Wan, melainkan penunggangnya yang berada di tengah-tengah, di antara dua orang penunggang kuda.
Penunggang kuda ini adalah seorang anak laki-laki yang kelihatannya belum ada sepuluh tahun usianya.
Seorang anak laki-laki yang amat tampan, yang pakaiannya serba indah, kepalanya ditutupi topi sutera yang bersulam kembang dan terhias burung hong dari mutiara.
Anak laki-laki itu pandai sekali menunggang kuda dan pada saat itu dia menunggang kuda tanpa memegang kendali, karena kedua tangannya memegangi sebuah gendewa dan beberapa batang anak panah.
Dua orang yang mengiringi anak ini adalah dua orang laki-laki berusia empat puluhan, dandanannya seperti Tosu dan kelihatannya amat mencinta anak itu.
"Ji-wi Susiok (Dua Paman Guru), lihat, burung yang paling gesit akan kupanah jatuh!"
"Swan Bu... jangan...! Itu bukan burung walet..."
Seorang di antara kedua Tosu itu mencegah.
Akan tetapi anak itu sudah mengeprak kudanya dengan kedua kakinya yang kecil.
Kudanya lari congklang dengan cepat ke depan Dengan gerakan yang tenang namun cepat anak itu sudah memasang dua batang anak panah pada gendewanya, dan menarik tali gendewa, terdengar suara menjepret dan Yo Wan melihat seekor burung kecil melayang jatuh di dekat kakinya.
Ia merasa kasihan sekali melihat burung itu, sebatang anak panah menembus dada.
Burung kecil berbulu kuning amat cantik.
Yo Wan menekuk lutut, membungkuk untuk mengambil bangkai burung itu.
Tiba-tiba berkelebat bayangan dan Tahu-tahu sebuah tangan yang kecil telah mendahuluinya, menyambar bangkai burung itu.
Yo Wan berdiri dan melihat anak kecil yang pandai main anak panah tadi telah berdiri di depannya, bangkai burung di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
"Eh, kau mau curi burungku? Burung ini aku yang panah jatuh, enak saja kau mau mengambilnya. Hemmm, kau orang dari mana? Mau apa berkeliaran di sini?"
Yo Wan tertegun.
Anak ini masih kecil, akan tetapi sikapnya amat gagah dan berwibawa, sepasang matanya tajam penuh curiga, akan tetapi juga membayangkan watak tinggi hati.
la tahu bahwa dia berada di tempat orang, karena Gunung Hoa-San tentu saja menjadi wilayah orang-orang Hoa-San-Pai.
Dengan senyum sabar dia menjura dan berkata.
"Aku tidak bermaksud mencuri, hanya kasihan melihat burung ini..."
Sementara itu, dua orang Tosu juga sudah melompat turun dan kuda dan menghampiri.
"Swan Bu, kau terlalu. Ilmu,memanah yang kau pelajari bukan untuk membunuh burung yang tidak berdosa. Kalau Ayah Bundamu tahu, kau tentu akan mendapat marah,"
Tegur seorang Tosu.
"Susiok, apakah urusan begini saja Susiok hendak mengadu kepada Ayah dan Ibu Kalau tidak melatih memanah burung kecil terbang, mana bisa mahir? Anggap saja burung ini seorang penjahat. Susiok, orang ini mencurigakan, aku belum pernah melihatnya. Jangan-jangan dia pencuri."
Dua orang Tosu itu memandang Yo Wan. Tosu kedua segera menegur.
"Orang muda, kau siapakah? Agaknya kau bukan orang sini... eh, apalagi kau pemuda yang hendak bekerja sebagai tukang mengurus kuda di Hoa-San? Kemarin kepala kampung Lung-ti-bun menawarkan tenaga seorang pemuda tukang kuda..."
Yo Wan menggeleng kepala. Dia sejak kecil tinggal di gunung, tentu saja tidak tahu akan tata susila umum, dan gerak-geriknya agak kaku dan kasar.
"Aku bukan tukang kuda, akan tetapi kalau Lo-pek (Paman Tua) suka memberi pekerjaan, aku mau mengurus kuda, asal mendapat makan setiap hari."
Entah bagaimana, melihat anak laki-laki yang sombong dan yang dia tahu tentu anak Hoa-San-Pai ini, tiba-tiba hati Yo Wan menjadi tawar untuk bertemu dengan Suhunya.
Bukankah Suhunya itu putera Hoa-San-Pai dan sekarang mondok di situ?
Bagaimana kalau orang-orang Hoa-San-Pai memandang rendah kepadanya dan tidak suka mengangkatnya sebagai murid Pendekar Buta?
Lebih baik dia menjadi tukang kuda dan tidak usah "Mengaku"
Sebagai murid Gurunya agar tidak merendahkan nama Gurunya. Dengan pekerjaan ini, dia hendak melihat gelagat, melihat dulu suasana di Hoa-San-pai sebelum mengambil keputusan untuk menghadap Suhunya.
"Baik, kau boleh bekerja menjadi pengurus kuda. Setiap hari kau harus mencari rumput yang segar dan gemuk untuk dua belas ekor kuda, memberi makan dan menyikat bulu kuda. Tidak hanya makan, kau juga akan diberi pakaian dan upah. Eh, siapa namamu? Di mana rumahmu?"
"Namaku Yo Wan, Lopek, dan aku tidak mempunyai rumah. Terima kasih atas kebaikanmu, aku akan merawat kuda dengan baik-baik."
"Bekerjalah dengan baik, Ketua kami tentu akan menaruh kasihan kepadamu. Jangan sekali-kali suka mencuri, apalagi melarikan kuda,"
Kata Tosu kedua.
"Susiok, kenapa takut dia mencuri dan lari? Kalau dia jahat, anak panahku akan merobohkannya!"
"Hush, Swan Bu, jangan bicara begitu..."
"Aku paling benci penjahat, Susiok, tiap kali melihat penjahat, pasti akan panah mampus. Kelak kalau aku sudah besar, aku akan basmi semua penjahat di permukaan bumi ini."
Hemmm, bocah manja dan amat besar mulut, pikir Yo Wan.
Heran sekali dia mendengar omongan seorang anak kecil seperti itu.
Anak siapa gerangan bocah ini?
Apakah anak Ketua Hoa-San-Pai?
Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, karena nanti pun dia akan tahu sendiri...
"Swan Bu kita pulang berlari sambil melatih ilmu lari cepat,"
Kata Tosu pertama kepada anak itu.
"Biar tiga ekor kuda ini dituntun naik oleh Yo Wan. Yo Wan, kau tuntun kuda tiga ekor kuda ini ke puncak, sampai di sana bawa ke kandang, gosok badannya sampai kering dari keringat dan beri makan."
Setelah berkata demikian, Tosu itu memberikan kendali tiga ekor kuda itu kepada Yo Wan, kemudian dia mengajak Tosu kedua dan Swan Bu untuk berlari cepat.
Mereka berkelebat dan seperti terbang mereka lari mendaki gunung.
Memang Tosu itu sengaja tidak memberi penjelasan karena hendak menguji kecerdikan kacung kuda itu, apakah mampu dan dengan baik mengantar binatang-binatang itu ke kandang ataukah tidak.
la masih ragu-ragu melihat pemuda yang bodoh itu.
Adapun Yo Wan sambil memegangi kendali tiga ekor kuda, melihat mereka berlari-lari cepat.
Biasa saja kepandaian mereka itu, pikirnya, lalu dituntunnya tiga ekor kuda mendaki gunung.
Sambil berjalan perlahan, dia bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan bocah yang bernama Swan Bu itu.
Bocah tampan dan bersemangat, memiliki dasar watak yang gagah dan pembenci penjahat, tetapi rusak oleh kemanjaan dan kesombongan.
Pertemuannya dengan anak laki-laki tadi membuat Yo Wan makin tidak enak lagi hatinya.
la merasa bahwa orang-orang Hoa-San-Pai kurang bijaksana, terbukti dari watak bocah tadi yang agaknya terlalu manja.
Heran dia mengapa Suhunya yang jujur dan budiman, Subonya yang berwatak halus dan penuh pribudi itu bisa tinggal di situ sampai bertahun-tahun.
Akan tetapi dia teringat lagi bahwa Suhunya adalah putera Ketua Hoa-San-Pai, Tentu saja harus berbakti kepada orang tua, dan orang dengan watak sehalus Subonya, tentu dapat menghadapi segala macam watak dengan penuh kesabaran.
la menarik nafas.
Dasar kau sendiri yang iri agaknya melihat bocah tadi demikian manja, pakaiannya demikian indah, dia mencela diri sendiri.
Betapapun juga, Yo Wan adalah seorang pemuda yang masih remaja dan kurang sekali pengalaman, kurang pula pendidikan, maka rasa iri itu adalah wajar.
Iri karena dia tidak pernah merasa bagaimana dicinta orang tua, dimanja orang tua.
la teringat akan keadaan sendiri, seorang Jaka Lola yang tidak punya apa-apa di dunia ini.
Alangkah jauh bedanya dengan Swan Bu tadi, bagai bumi dan langit.
Selagi dia melamun sambil menuntun kudanya di jalan yang cukup lebar tapi menanjak itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang dan disusul bentakan nyaring.
"Minggir...! Minggir...!!"
Lalu terdengar bunyi cambuk di udara.
Kalau saja Yo Wan tidak sedang melamun, agaknya dia tidak begitu kaget dan dapat menuntun tiga ekor kuda itu ke pinggir.
Akan tetapi bentakan nyaring ini seakan-akan menyeretnya tiba-tiba dari dunia lamunan, membuat dia kaget dan tak sempat menguasai seekor di antara kudanya yang kaget dan melonjak ke tengah jalan.
Karena dua ekor kuda yang lain juga melonjak-lonjak ketakutan, terpaksa Yo Wan hanya menenangkan dua ekor yang masih dia pegang kendalinya, sedangkan yang seekor telah terlepas kendalinya dan kini berloncatan di tengah jalan.
Pada saat itu, dua orang penunggang kuda sudah datang membalap dekat sekali.
Yo Wan berteriak kaget, karena kudanya yang mengamuk itu tidak menghindar, malah meloncat dan menubruk ke arah seorang di antara penunggang-penunggang kuda itu.
"Setan...!"
Penunggang kuda yang ditubruk itu memaki, dia seorang laki-laki yang berkumis panjang, berusia kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi sepatunya baru dan mengkilap.
Sambil memaki, dia menggerakkah kakinya, menendang ke arah perut kuda yang menubruknya.
"Krakkk!"
Tendangan itu keras sekali dan mendengar bunyinya, agaknya tulang-tulang rusuk kuda yang menubruknya itu telah ditendang patah.
Kuda itu meringkik, terjengkang ke belakang lalu roboh dan berkelojotan, tak mampu bangun lagi.
"Wah-wah-wah, Sute (Adik seperguruan), kau telah membunuh seekor kuda Hoa-San-Pai!"
Tegur orang kedua, usianya hampir lima puluh, rambutnya putih semua digelung ke atas, mukanya licin tanpa kumis, pakaiannya juga penuh tambalan seperti orang pertama.
"Habis, apakah aku harus membiarkan kuda itu menubrukku, Suheng? Salahnya bocah ini, menuntun kuda kurang hati-hati!"
Mereka berdua melompat turun dari kuda dan memandang kepada Yo Wan.
Bukan main kagetnya hati Yo Wan melihat betapa seekor di antara tiga kuda yang dia tuntun itu kini telah berkelojotan hampir mati di tengah jalan.
Baru saja dia diterima menjadi kacung kuda, sudah terjadi hal ini.
Karena kaget dan bingung, dia segera berkata.
"Kau membunuh kudaku. Hayo ganti kudaku! Si kumis tersenyum.
"Bocah, ketahuilah. Aku dan Suhengku ini adalah dua orang utusan dari Sin-Tung Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti). Urusan kuda adalah urusan kecil, tak perlu kau ribut-ribut."
"Urusan kecil bagaimana?"
Yo Wan berteriak.
"Mungkin kecil untuk kau, akan tetapi amat besar bagiku. Kau harus mengganti kuda ini!"
Muka si kumis menjadi merah.
la heran sekali.
Biasanya, orang-orang Hoa-San-Pai tentu akan bersikap hormat kalau mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Sin-Tung Kai-Pang.
Akan tetapi bocah ini, tentu hanya seorang anak murid yang masih rendah, sama sekali tidak menghormat, malah agak kasar sikap dan bicaranya.
"Kau siapa? Apakah kuda ini bukan milik Hoa-San-Pai?"
Tanya si kumis.
"Memang kuda Hoa-San-Pai, dan aku adalah kacung kuda yang baru. Bagaimana aku harus pulang kalau kuda yang kutuntun berkurang seekor? Lopek, kau harus menggantinya!"
Sambil berkata demikian, Yo Wan menuntun dua ekor kudanya di tengah jalan, menghadang perjalanan karena dia khawatir kalau dua orang itu akan melarikan diri.
Si kumis menjadi makin merah mukanya karena marah ketika mendengar bahwa bocah ini hanya seorang kacung kuda saja.
Seorang kacung kuda bagaimana berani bersikap sekasar itu terhadap dia, anak murid Sin-Tung Kai-Pang yang sudah bersepatu baru?
Di perkumpulan Pengemis ini terdapat peraturan yang aneh.
Tingkat seseorang ditandai dengan sepatu.
Yang terendah tidak memakai sepatu, yang lebih tinggi memakai alas kaki, makin tinggi makin baik, dan sandal kayu sampai sepatu kulit yang mengkilap seperti yang dipakai oleh kedua orang penunggang kuda ini.
Maklumlah, mereka berdua adalah murid-murid dari Ketua Sin-Tung Kai-Pang, maka kepandaiannya sudah amat tinggi, demikian juga"
"Pangkatnya"
Karena memakai sepatu baru.
"Hemmm, bujang rendah! Kau hanya tukang kuda, banyak cerewet. Urusan seekor kuda saja kau ribut-ribut! Minggir! Biar nanti kubicarakan dengan orang-orang Hoa-San-Pai tentang kuda ini, kau boleh pulang ke kandangmu!"
"Betul kata-kata, Suteku, bocah tukang kuda, jangan kau takut. Biar nanti kami bicarakan urusan kuda ini dengan majikanmu,"
Sambung orang kedua yang rambut putih.
"Tidak!"
Yo Wan membantah karena dia takut kedua orang ini akan mengadu kepada Ketua Hoa-San-Pai dan membalikkan duduk perkaranya sehingga dia yang akan dipersalahkan.
"Kau harus ganti sekarang juga!"
"Bujang rendah, kau buka matamu baik-baik dan lihat dengan siapa kau bicara!"
Bentak si kumis, marah sekali.
""Aku sudah melihat, kalian adalah dua orang Pengemis aneh."
Dua orang itu tertawa.
Memang aneh orang-orang dari Sin-Tung Kai-Pang.
Kalau orang lain menyebut mereka Pengemis, hal itu berarti suatu penghormatan bagi mereka!
Inilah sebabnya mereka menjadi senang mendengar Yo Wan menyebut mereka Pengemis aneh dan hal ini mereka anggap bahwa Yo Wan menyadari siapa mereka dan takut.
"Bocah! kau lihat sepatu kami!"
Yo Wan mendongkol juga. Orang ini terlalu menghinanya, akan tetapi dia memandang juga ke arah sepatu mereka.
"Ada apa dengan sepatu kalian? Sepatu baru, akan tetapi penuh debu!"
Jawabnya.
"Ha... ha... ha, anak baik, kau mengenal sepatu baru kami!"
Si kumis tertawa senang.
"Hayo kau bersihkan debu sepatu kami, dan nanti kami akan minta kepada majikanmu agar kau jangan dihukum karena kelalaianmu menuntun kuda."
"Yo Wan menegakkan kepalanya, memandang tajam.
"Harap kalian tidak main-main. Aku pun tidak ingin main-main dengan kalian. Lebih baik sekarang Kau tinggalkan seekor di antara kudamu untuk mengganti kudaku yang mati, baru kalian melanjutkan perjalanan."
"Apa...??"
Dua orang itu berteriak kaget, heran dan juga marah.
"Kau ini kacung kuda berani bicara begitu kepada kami? Kami adalah dua orang utusan terhormat dari Sin-Tung Kai-Pang, tahu? Minggir dan jangan banyak cerewet kalau kau tidak ingin mampus seperti kuda itu!"
Yo Wan adalah seorang yang memiliki watak suka merendah, hal ini terbentuk oleh keadaan hidupnya semenjak kecil.
la suka mengalah dan mempunyai rasa diri rendah dan bodoh, akan tetapi betapapun juga, dia adalah seorang muda yang berdarah panas.
Melihat sikap dan mendengar ucapan menghina itu, kesabarannya patah.
"Biarpun kalian utusan dari Giam-Lo-Ong (Malaikat Maut) sekalipun, karena kau membunuh kudaku, kau harus menggantinya!"
Dua orang itu mencak-mencak saking marahnya.
Kalau saja mereka tidak ingat bahwa kacung itu adalah seorang bujang Hoa-San-Pai dan bahwa mereka berada di wilayah Hoa-San-Pai, tentu sekali pukul mereka membikin mampus bocah ini.
"Sute, jangan layani dia, Dorong minggir!"
Si kumis tertawa dan melangkah maju mendekati Yo Wan, tangan kirinya mendorong pundak pemuda itu sambil membentak.
"Tidurlah dekat bangkai kudamu!"
La menggunakan tenaga setengahnya karena tidak ingin membunuh Yo War, hanya ingin membuat kacung itu terjengkang dekat bangkai kuda tadi.
Akan tetapi dia salah besar kalau mengira bahwa dengan hanya sebuah dorongan seperti itu saja dia akan mampu merobohkan Yo Wan.
Tangannya mendorong pundak Yo Wan yang sengaja tidak mau mengelak, akan tetapi tenaga dorongannya bertemu dengan pundak yang Kokoh kuat seperti batu karang.
Jangankan membuat kacung itu roboh, membuat pundak itu bergoyang saja tidak mampu!
"Kau ganti kudaku yang mati"
Kata Yo Wan tanpa bergerak. Si kumis terheran, penasaran lalu timbul kemarahannya.
"Kau kepala batu,"
Bentaknya dan kini dia menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Yo Wan.
Yo Wan tidak mau mengalah sampai dua kali, apalagi sekarang yang didorong adalah dadanya.
Tak mungkin dia mau membiarkan dadanya didorong orang karena hal ini berbahaya.
Selama tiga tahun, terus-menerus siang malam dia bermain silat menurut petunjuk Sin-Eng-Cu dan Bhewakala, ilmu silat tingkat tinggi yang membuat ilmu itu mendarah daging di tubuhnya dan di pikirannya, seluruh panca inderanya sudah matang sehingga segalanya bergerak secara otomatis, karena memang demikianlah kehendak dua orang sakti itu.
Sekarang, menghadapi dorongan kedua tangan si kumis ke arah dadanya, secara otomatis kaki Yo Wan melangkah dengan gerak tipu Ilmu Langkah Si-Cap-It Sin-Po, yang dia warisi dari Pendekar Buta.
Ketika tubuh si kumis yang mendorongnya itu lewat dekat tubuhnya, otomatis pula tangannya bergerak ke punggung dan pantat.
Seperti sehelai layang-layang putus talinya, tubuh si kumis itu "Melayang"
Ke depan dan memeluk bangkai kuda yang tadi ditendangnya! "Bukkk! Uh...uhhh..."
Si kumis terbanting pada bangkai kuda, karena dia tadi mencium hidung kuda yang mancung dan keras, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya menjadi pening.
Temannya yang berambut putih, sejenak berdiri melongo.
Hampir saja dia tak dapat percaya bahwa sutenya begitu mudah dirobohkan oleh seorang kacung kuda!
Padahal dia maklum bahwa ilmu kepandaian sutenya itu sudah tinggi, patutnya kalau dikeroyok oleh dua puluh orang kacung seperti ini saja tak mungkin kalah.
Tapi mengapa sampai hidungnya mengeluarkan kecap?
"Kau berani melawan kami?"
Bentaknya marah setelah dia sadar kembali dari keheranannya.
Sambil membentak begitu Pengemis rambut putih ini pun menerjang maju.
la memukul ke arah muka Yo Wan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya diam-diam melakukan gerakan susulan, yaitu serangan yang sesungguhnya dan tersembunyi di belakang serangan pertama yang merupakan pancingan.
Maksudnya hanya ingin membanting roboh Yo Wan sebagai pembalasan atas kekalahan temannya karena dia masih belum berani membunuh seorang bujang Hoa-San-Pai.
Yo Wan tersenyum.
Setelah melatih diri dengan tipu-tipu yang luar biasa hebatnya secara berganti-ganti dari Sin-Eng-Cu dan Bhewakala, di mana dua orang sakti itu menggunakan gerakan-gerakan yang penuh tipu muslihat, penuh pancingan dan amat tinggi tingkatnya, jurus yang dipergunakan oleh si rambut putih ini baginya merupakan gerakan main-main yang tidak ada artinya sama sekali.
Agaknya boleh dikatakan bahwa Yo Wan telah mengetahui lebih dulu sebelum Pengemis itu bergerak!
Dengan tenang dia miringkan kepala dan tangannya mendahului digerakkan ke depan menyambut tangan kanan Kakek Pengemis yang hendak membantingnya, dipegangnya pergelangan tangan itu dan sekali tekan tangan itu seakan-akan menjadi lumpuh.
Di lain saat, tubuh Pengemis rambut putih ini pun sudah melayang ke depan dan...
menimpa tubuh Pengemis berkumis yang baru krengkang-krengkang hendak merangkak bangun.
Tentu saja dia roboh lagi dan keduanya bergulingan dekat bangkai kuda!
"Lebih baik kalian pergi dan tinggalkan seekor kuda untuk mengganti yang mati,"
Kata Yo Wan menyesal dia sama sekali tidak ingin berkelahi, takut kalau-kalau hal ini akan membikin marah Suhunya.
"Kalau kau merasa rugi boleh kau bawa bangkai kuda itu. Aku tidak mau mencari perkara."
Akan tetapi dua orang Pengemis itu sudah memuncak kemarahannya.
Mereka adalah murid-murid yang terkenal dari Ketua Sin-Tung Kai-Pang, maka apa yang terjadi tadi merupakan penghinaan yang hanya dapat dicuci dengan darah dan nyawa!
Seorang kacung kuda membuat mereka jatuh bangun macam itu.
Mana mereka ada muka untuk memakai sepatu baru lagi?
"Keparat, lihat golok kami merenggut nyawamu!"
Bentak si kumis.
Sinar golok berkelebat ke arah leher Yo Wan, disusul bacokan golok si rambut putih ke arah pinggangnya.
Memang keistimewaan para anak murid Sin-Tung Kai-Pang adalah permainan golok.
Ketuanya terkenal dengan tongkatnya, maka perkumpulan Pengemis itu dinamakan Sin-Tung (Tongkat Sakti), namun agaknya si Ketua ini tidak mau menurunkan ilmu tongkatnya kepada para murid dan anggotanya.
Sebaliknya dia lalu menciptakan ilmu golok dari ilmu tongkat itu dan ilmu golok inilah yang dipelajari oleh semua murid dan anggota Sin-Tung Kai-Pang.
Yo Wan menggerakkan kedua kakinya, mainkan langkah ajaib dan...
dua orang Pengemis itu seketika menjadi bingung karena pemuda itu lenyap di belakang.
Kalau mereka membalik dan menerjang lagi, pemuda itu menggerakkan kedua kaki secara aneh, lenyap lagi dan tiba-tiba belakang siku kanan mereka terkena sentilan jari tangan Yo Wan.
Seketika kaku rasanya lengan itu dan golok mereka terlepas tanpa dapat dipertahankan lagi.
Sebelum mereka tahu apa yang terjadi, untuk kedua kalinya tubuh mereka melayang karena kaki Yo Wan otomatis telah mengirim dua buah tendangan.
"Aku tidak mau berkelahi, lebih baik kalian pergi. Ganti kudaku dan perkara ini habis sampai di sini saja,"
Kembali Yo Wan berkata.
Akan tetapi kedua orang Pengemis itu menjadi begitu kaget, heran dan ketakutan sehingga tanpa berkata apa-apa lagi mereka berdua lalu merangkak bangun dan...
lari turun gunung!
Yo Wan berdiri tertegun, mengikuti mereka dengan pandang mata heran.
Kemudian dia mengangkat pundak, lalu memegang kendali dua ekor kuda mereka itu.
Kini ada empat ekor kuda di tangannya.
Kuda-kuda itu dia cancang pada sebatang pohon dan dia segera menggali lubang di pinggir jalan untuk mengubur bangkai kuda tadi.
Setelah selesai, Yo Wan menuntun empat ekor kuda, melanjutkan perjalanannya mendaki puncak.
Kiranya jalan yang sengaja dibangun menuju ke puncak itu berliku-liku mengelilingi puncak.
Memang, satu-satunya cara untuk membuat jalan yang dapat dilalui kuda dan manusia biasa, hanya membuatnya berliku-liku seperti itu sehingga jalan tanjakannya tidak terlalu sukar dilalui.
Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, tentu saja dapat mendaki dengan melalui jalan yang lurus dan dapat cepat sampai di puncak.
Akan tetapi melalui jalan buatan ini, apalagi menuntun empat ekor kuda yang kadang-kadang rewel dan mogok di jalan, benar-benar memakan waktu setengah hari lebih.
Menjelang senja barulah Yo Wan tiba di pintu gerbang tembok yang mengelilingi Hoa-San-Pai yang merupakan kelompok bangunan besar di puncak.
Seorang Tosu yang menjaga pintu gerbang menyambut Yo Wan dengan pertanyaan.
"Apakah kau tukang kuda baru?"
Yo Wan mengangguk.
"Aku harus membawa kuda-kuda ini ke kandang. Dapatkah kau menunjukkan di mana adanya kandang kuda?"
Tosu itu kelihatan tidak senang mendengar kata-kata Yo Wan yang sederhana tanpa penghormatan sama sekali itu. Benar-benar seorang anak muda dusun yang bodoh, pikirnya.
"Kandang kuda berada di luar tembok sebelah Barat. Kau kelilingi saja tembok ini ke Barat, nanti akan sampai di sana,"
Jawabnya lalu duduk kembali, sama sekali tidak mengacuhkan Yo Wan yang berpeluh dan amat lapar itu.
Yo Wan memandang ke Barat.
Benar saja, di dekat tembok sebelah sana kelihatan kandang kuda, terbuat dari papan sederhana.
Tanpa mengucap terima kasih karena dianggapnya tanya jawab itu sudah semestinya, dia pergi dari situ, menuntun empat ekor kudanya.
Tosu yang menyambutnya di kandang kuda lebih peramah.
Tosu ini bertubuh gemuk pendek, mukanya Bundar dan matanya seperti dua buah kelereng.
"Ha... ha... ha, ada tukang kuda baru! serunya.
"Orang muda, mana kuda tunggangan Swan Bu yang berbulu hitam? Dan ini ada empat ekor, eh, bagaimana ini, Bong-Suheng tadi bilang bahwa kau membawa kuda mereka bertiga, kenapa sekarang ada empat ekor?"
Kuda siapa yang dua ekor ini dan mana kuda Swan Bu?"
"Lopek, kuda yang hitam itu sudah kukubur di pinggir jalan sana,"
Kata Yo Wan sambil menyusut peluh dengan ujung lengan baju.
la merasa lelah dan lapar sekali, juga amat haus.
Sejak kemarin dia tidak makan, dan tadi dia tidak berani berhenti untuk mencari buah atau air.
Sekarang dia masih menghadapi urusan kuda dan tentu akan mendapat marah lagi.
Tosu gendut itu melongo, sepasang matanya makin Bundar, memandangnya dengan bingung dan heran.
"Kau kubur? Bagaimana ini? Maksudmu, kau pendam kuda itu?"
Yo Wan mengangguk.
"Benar, karena dia mati."
La berhenti sebentar lalu berkata.
"Lopek, aku lapar dan haus, apa kau bisa menolong aku?"
Tosu itu mengangguk-angguk, masih bingung.
"Ah, tentu... tentu... tunggu sebentar. Aneh, bagaimana kuda bisa mati dan dikubur? Aneh..."
Tapi dia berjalan memasuki kandang kuda sambil mengomel panjang pendek, keluar lagi membawa bungkusan makanan dan sekaleng air minum.
Tanpa banyak sungkan lagi Yo Wan menerima kaleng air dan minum dengan lahapnya.
Tosu itu memandangnya penuh kasihan dan tidak mengganggunya ketika Yo Wan mulai makan.
Berbeda dengan ketika minum tadi, kini Yo Wan makan dengan lambat dan tenang.
Melihat Tosu itu memandangnya, Yo Wan bercerita sambil makan.
"Kuda hitam dibunuh orang, Lopek. Untungnya mereka berdua itu lari meninggalkan dua ekor kuda mereka ini, lalu kubawa ke sini dan bangkai kuda hitam itu kukubur di pinggir jalan."
Tosu itu mendengarkan dengan melongo.
"Kuda dibunuh orang? Siapa mereka yang begitu berani main gila di Hoa-San? "Mereka mengaku utusan-utusan dari Sin-Tung Kai-Pang. Tadinya mereka tidak mau ganti, aku tetap tidak mau terima. Akhirnya mereka mengalah dan lari pergi, meninggalkan dua ekor kuda ini."
Tosu itu melebarkan matanya.
"Sin-Tung Kai-Pang? Mereka mengalah? Hem, kau masih untung, orang muda. Mereka itu jahat. Kalau mereka tidak memandang kebesaran Hoa-San-Pai, kiranya bukan hanya kuda itu yang mereka bunuh dan saat ini kau takkan dapat makan minum lagi."
Yo Wan diam saja, pikirannya melayang ke arah Swan Bu. Jangan-jangan anak itu akan menjadi marah sekali karena kuda kesayangannya dibunuh orang dan akan membuat gara-gara dengan pembunuh kuda.
"Lopek, tadi aku sudah melihat anak yang bernama Swan Bu itu. Dia tampan dan pandai main panah. Siapakah dia? Apakah putera Hoa-San-Pai?"
Tosu itu menggeleng kepala.
"Kau orang baru, agaknya bukan orang sekitar Hoa-San. Memang Swan Bu tampan dan gagah. Ah, kasihan dia, tentu akan sedih dan marah kalau mendengar kudanya dibunuh orang... hemmm, aku tidak akan tega menyampaikan berita ini kepadanya... anak malang..."
Hemmm, benar-benar orang Hoa-San-Pai amat memanjakan anak itu.
"Lopek, kalau dia bukan putera Hoa-San-Pai, apakah dia itu anak Raja yang sedang bermain-main di sini?"
Tosu itu memandangnya dengan mata terbelalak.
"Putera Raja? Ha... ha... ha, sama sekali bukan, tapi memang dia patut menjadi putera Raja! Dia itu Cucu tunggal dari Kwa-Lo Sukong, jadi masih terhitung keponakan dari Ketua kami yang sekarang."
Berdebar jantung Yo Wan. Cucu Guru besar she Kwa? Suhunya juga she Kwa! "Lopek, dia itu anak siapakah? Aku belum mengenal orang-orang di sini, keteranganmu tadi sama sekali tidak jelas."
Tosu itu kini tertawa dan mengangkat jempol tangan kanannya ke atas.
"Dia keturunan orang-orang gagah, karena itu, dia harus menjadi seorang calon tokoh Hoa-San-Pai yang nomor satu. Ayahnya adalah tokoh sakti yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta, Ibunya juga memiliki kepandaian setinggi langlt. Kakeknya adalah Hoa-San It-Kiam. Kwa Tin Siong bekas Ketua Hoa-San-Pai, Pamannya adalah Kui-San-Jin (Orang Gunung she Kui) yang sekarang menjadi Ketua kami. Paman-paman Gurunya adalah orang-orang sakti di samping tokoh-tokoh sakti yang bersama-sama menggemblengnya, bukankah dia kelak akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan?"
Tosu gendut itu nampak bangga sekali sehingga tidak tahu betapa wajah kacung kuda ini menjadi pucat.
Kiranya Swan Bu yang pagi tadi memakinya dan hendak memanahnya kalau dia lari, adalah putera Suhunya!
Pantas saja demikian gagah dan tampan.
Ah, aku kurang hati-hati, pikirnya.
Dia anak Suhu, dan diam-diam dia merasa bangga juga.
Akan tetapi dia kecewa sekali teringat bahwa kuda anak itu telah terbunuh.
"Malam sudah tiba... eh, siapa namamu tadi?"
"Yo Wan, Lopek."
"Yo Wan, kau jaga baik-baik kuda di kandang ini. Rumput masih cukup di sudut kandang sana, kau beri makan mereka, lalu kau boleh tidur. Kau bikin sendiri tempat tidurmu, banyak rumput kering di kandang kosong sebelah kiri. Beberapa malam ini Pinto (aku) juga tidur di sana, lebih enak daripada tidur di ranjang. Kalau perlu mandi, tuh di bawah pohon besar itu ada sumber air. Besok saja Pinto ajak kau ke dalam, bertemu dengan para pemimpin. Malam ini kau mengaso saja."
"Baik, terima kasih, Lopek."
Yo Wan berterima kasih sekali sekarang karena memang dia membutuhkan istirahat untuk memutar otak.
Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya.
Jadi Suhunya sudah mempunyai putera yang demikian tampan dan gagah.
Putera itu dididik di Hoa-San-Pai.
Mungkin saking senangnya mendapatkan putera ini, Suhu dan Subonya sampai lupa kepadanya.
Besok dia harus menghadap Suhu dan Subonya.
Tentu saja dia dapat bekerja di situ, menjadi tukang kuda atau apa saja.
Tapi...
dia ragu-ragu apakah dia akan suka tinggal di sini selamanya.
Apakah Suhunya mau menurunkan ilmu silat setelah mempunyai putera yang amat disayang?
Bukankah Tosu gendut tadi menyatakan bahwa cita-cita mereka semua adalah membuat Swan Bu menjadi jago nomor satu di dunia?
Mungkin Suhu dan Subonya mau mengajarnya, dia cukup mengenal watak mereka yang budiman.
Akan tetapi apakah para orang tua di Hoa-San-Pai akan suka menerimanya?
Pusing pikiran Yo Wan.
Betapapun juga, besok aku akan menghadap Suhu dan lihat saja bagaimana perkembangannya.
Kalau tak mungkin tinggal di situ, pikirnya, dia akan tanya kepada Suhunya tentang musuh besarnya, The Sun.
Akan dicari dan dilawan dengan apa yang dia miliki sekarang.
Berpikir sampai di sini dia teringat akan pertempuran tadi dan diam-diam dia menjadi girang.
Tadinya dia menganggap bahwa dua orang itu hanya dua manusia sombong yang tidak becus apa-apa, orang-orang lemah yang hanya mengandalkan aksi dan mungkin kedudukan, yang sama sekali tidak memiliki kepandaian silat yang berarti.
Apakah Tosu gendut tadi yang melebih-lebihkan?
Tidak mungkin dua orang yang begitu lemah bisa merajalela berbuat kejahatan.
Orang dengan kepandaian serendah itu mana bisa mengganggu orang lain?
Sampai dia tertidur pulas di atas rumput kering yang nyaman ditiduri, Yo Wan tidak dapat menjawab pertanyaannya sendiri itu.
Memang, pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa bukan dua orang itu yang terlalu lemah, melainkan dia sendirilah yang terlalu tinggi tingkat ilmunya bagi dua orang tadi.
la sama sekali tidak menyadari bahwa dalam dirinya telah terkandung ilmu silat tingkat tinggi yang sudah mendarah daging dengan dirinya.
la menganggap dirinya belum pandai silat, sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerakannya mengandung inti sari ilmu silat tinggi yang diwariskan oleh Sin-Eng-Cu dan Bhewakala!
Tentu saja Yo Wan yang sederhana jalan pikirannya ini tidak merasa pandai ilmu silat karena ketika selama tiga tahun dia mainkan jurus-jurus sakti, sama sekali bukanlah "Belajar,"
Melainkan hanya menjadi perantara kedua orang sakti mengadu ilmu.
Tiba-tiba Yo Wan bangkit dari rumput kering.
Dia mendengar kuda meringkik dan menyepak-nyepak.
Kalau saja dia tidak ingat bahwa dia menjadi tukang kuda dan kewajibannya menjaga kuda, tentu dia tidur lagi.
la terlalu lelah.
Dengan malas dia bangun dan keluar dari kandang kosong yang menjadi kamar tidurnya, menghampiri kandang kuda.
Tidak ada sesuatu.
Malam gelap dan kuda-kuda itu masih berada di kandang.
"Ah, kiranya benar hanya tukang kuda..."
Terdengar suara lirih, dari atas. Yo Wan terkejut. Kiranya ada orang di atas kandang kuda. Mendadak dia mendengar sambaran halus dari belakang. Cepat dia miringkan tubuhnya dan.
"Tak!"
Sebuah benda kecil menyambar lewat, menghantam tiang kandang dan mengeluarkan sinar.
Dia lain saat, tiang itu dan rumput kering di bawah yang terkena pecahan benda itu sudah terbakar.
Yo Wan kaget bukan main.
Cepat dia menggunakan rumput basah untuk memadamkan api.
Dengan marah dia menggerakkan tubuh melompat ke atas kandang.
Baca Juga: Suling Emas 1
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 8