Ceritasilat Novel Online

Jaka Lola 4

Eps 4 Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo

Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan Yo Wan yang kini telah berubah menjadi seorang laki-laki yang berpakaian sederhana, wajah yang membayangkan kematangan jiwa, dengan kepandaian yang sudah terbukti amat tinggi, ia benar-benar kehilangan akal!

"Non...

eh, adik Cui Sian.

Bagaimanakah kau bisa tersesat ke Pulau yang menjadi sarang orang-orang jahat berbahaya itu?

Bukankah kau masih tetap tinggal di Thai-San bersama orang tuamu?"

Di dalam hatinya Yo Wan menghitung-hitung dan dapat menduga bahwa usia Cui Sian tentu sekitar dua puluh tiga tahun dan dalam usia sedemikian, sudah semestinya kalau puteri Ketua Thai-San-Pai ini telah menjadi isteri orang.

Mungkin suaminya tinggal tak jauh dari tempat ini, pikirnya.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani bertanya secara langsung dan karenanya dia bertanya dengan cara memutar.

Cui Sian amat cerdik.

la setengah dapat menduga isi hati Yo Wan, maka cepat-cepat ia menjawab.

"Aku masih tinggal dengan Ayah Bundaku di Thai-San dan saat ini... aku memang sedang merantau, turun gunung. Kebetulan aku bertemu di telaga ini dengan dua orang Tosu Kun-Lun-Pai dihina orang-orang Ang-Hwa-Pai. Karena Kun-Lun-Pai adalah sebuah partai besar dan kenalan baik Ayahku, maka aku tidak tinggal diam dan membantu mereka. Siapa kira, dengan amat curang Ang-Hwa-Pai menawanku..."

Selanjutnya dengan singkat ia menceritakan pengalamannya di telaga itu.

"Baiknya seperti dari langit turunnya, muncul engkau sehingga aku terbebas dari maut. Kau sendiri, bagaimana bisa kebetulan berada di sini? Apakah tempat tinggalmu sekarang dekat-dekat sini... eh, Twako? Kau lebih tua dari padaku, sepatutnya kusebut twako, Yo-Twako!"

Yo Wan tersenyum.

"Memang sebaiknya begitulah, Sian-moi (adik Sian). Kau tanya tentang tempat tinggalku? Ah, aku tiada tempat tinggal, tiada sanak kadang, hidup sebatangkara dan merantau tanpa tujuan."

"Oohhh...""

Cui Sian menghela nafas dan hatinya berbisik.

"La masih... sendiri, seperti aku, dia kesepian, seperti aku pula."

Dengan kepala tunduk mendengarkan cerita Yo Wan.

"Datangku ke Ching-Coa-To hanya kebetulan saja, gara-gara... seorang gadis yang aneh. Dia lihai, wataknya aneh, akan tetapi sebetulnya berjiwa gagah."

Secara singkat Yo Wan bercerita tentang pertemuannya dengan Siu Bi, betapa gadis lincah galak itu karena menolong para petani yang tertindas, dimasukkan dalam tahanan, kemudian dia bantu membebaskannya.

"Dia aneh sekali,"

Yo Wan menutup ceritanya.

"Tanpa sebab dia menguji kepandaian denganku, tapi kemudian setelah terdesak, ia melarikan diri, meninggalkan pedangnya. Aku mengejarnya untuk mengembalikan pedang, ternyata jejaknya membawaku ke Ching-Coa-To dan agaknya bukan dia yang membutuhkan pertolongan, melainkan kau yang sama sekali tak pernah kuduga!"

Cui Sian mengangguk.

"Dia memang seorang gadis gagah, sayang dia bergaul dengan orang-orang jahat dari Ang-Hwa-Pai. Betapapun juga, dia telah menolongku dengan mengembalikan pedangku ketika aku dikeroyok ular."

"Aku pun heran sekali, sepak terjangnya gagah. Akan tetapi bagaimana dia bisa berada di sana? Ah, agaknya dia memang mempunyai hubungan dengan Ang-Hwa-Pai... sungguh tak kuduga sama sekali!"

Wajah Yo Wan membayangkan kekecewaan besar dan diam-diam Cui Sian yang menaruh perhatian, perasaannya tertusuk.

Menurut cerita Yo Wan tadi, pemuda ini baru saja bertemu dengan Siu Bi, akan tetapi agaknya telah begitu tertarik dan amat memperhatikan keadaannya.

Cui Sian mencoba untuk membayangkan wajah Siu Bi.

Gadis yang masih muda sekali, cantik jelita, akan tetapi memiliki sifat-sifat keras dan ganas.

"Agaknya dia hanya seorang tamu di sana, dan sepanjang dugaanku ketika aku dikeroyok di sana, dia tidak sudi melakukan pengeroyokan biarpun mereka belum juga berhasil merobohkan aku. Ini saja menjadi tanda bahwa dia berbeda dengan orang-orang Pulau itu. Akan tetapi, jika selalu ia berdekatan dengan mereka, akhirnya ia pun mungkin akan rusak..."

Tiba-tiba Cui Sian dan Yo Wan bergerak berbareng, melompat ke arah gerombolan pohon di sebelah kiri.

Siu Bi muncul dari balik pohon, Pedang Cui-Beng Kiam di tangan, wajahnya keruh dan matanya berapi-api memandang Cui Sian yang menjadi tercengang setelah mengenal siapa orangnya yang bersembunyi di balik pohon-pohon itu.

Juga Yo Wan tercengang, sama sekali tidak disangkanya bahwa Siu Bi sudah menyusul.

Sebetulnya bukan menyusul, malah Siu Bi lebih dulu meninggalkan Ching-Coa-To.

Ketika melihat Yo Wan menolong Cui Sian dan memondongnya pergi, hatinya menjadi panas dan tak senang.

la marah-marah, dia sendiri tidak tahu marah kepada siapa, pendeknya ia marah, kepada siapa saja.

Kepada Ouwyang Lam, kepada Ang-Hwa Nio-Nio dan kepada semua penghuni Ching-Coa-To.

Diam-diam ia lalu pergi dari situ, menggunakan sebuah perahu dan mendayungnya cepat ke darat.

Tidak ada seorang pun anggota Ang-Hwa-Pai melihatnya karena mereka sedang bingung dan bersiap-siap melakukan pengepungan terhadap musuh apabila diperintah.

Andaikata ada yang melihatnya pun, mereka tentu takkan berani mengganggu.

Bukankah gadis ini sudah menjadi "Orang sendiri"

Dan sahabat baik Kongcu?

Setibanya di darat, Siu Bi duduk termenung dan ketika ia melihat munculnya perahu yang didayung cepat oleh Cui Sian dan Yo Wan, ia cepat bersembunyi di balik pepohonan dan sempat mendengarkan percakapan mereka.

Ucapan-ucapan terakhir yang menyinggung dirinya membuat ia tak dapat tenang, sehingga gerakannya segera dapat ditangkap oleh pendengaran Cui Sian dan Yo Wan yang amat tajam dan terlatih.

"Kalian berdua adalah orang-orang tak tahu malu! Kalau memang berani, hayo kita bermain pedang, kalau perlu boleh aku kalian keroyok dua. Apa perlunya bermain mulut, menggoyang lidah tak bertulang?"

"Eh-eh-eh, Nona. Datang-datang kau marah besar tidak karuan, ada apakah?"

Yo Wan mengangkat kedua alisnya, bertanya.

Cui Sian juga memandang heran dan diam-diam ia harus akui akan kebenaran kata-kata Yo Wan tadi betapa aneh watak dara remaja itu, dan diam-diam ia harus mengakui juga betapa cantik moleknya Siu Bi.

"Marah-marah tidak karuan? Pandai memutarbalikkan fakta!"

Siu Bi membentak marah sekali, pedangnya yang terhunus itu ia acung-acungkan.

"Kalian yang mengumbar mulut jahat menggoyang lidah membicarakan orang semaunya dan tidak karuan! Hayo mau bilang apa sekarang, apakah kalian kira aku tidak mendengarkan kasak-kusuk kalian yang busuk? Apakah ini sikap orang-orang gagah, lelaki dan wanita kasak-kusuk di tempat sunyi, membicarakan orang lain?"

Seketika wajah Cui Sian menjadi merah.

Tadinya ia kagum dan suka kepada Siu Bi, apalagi dara remaja itu telah menolongnya di Ching-Coa-To.

Akan tetapi ucapan yang galak ini benar-benar menyinggung hatinya, karena mengandung sindiran tentang dia berdua Yo Wan.

"Nanti dulu, adik yang baik. Kami memang telah bicara tentang dirimu, akan tetapi bukan membicarakan hal yang buruk..."

"Cih! Bicarakan hal buruk atau pun baik, aku melarang kalian bicara tentang diriku! Apa peduli kalian kalau aku rusak atau tidak apa sangkutannya dengan kalian apa yang kulakukan, dengan siapa aku bergaul? Huh, sekarang aku sudah rusak, nah, kalian mau apa? Puteri Raja Pedang, hayo cabut pedangmu, kita bertanding sampai selaksa jurus, yang kalah boleh mampus!"

"Siu Bi...!"

Dalam kagetnya Yo Wan lupa menyebut nona. la takut gadis aneh ini akan kumat (kambuh) lagi penyakitnya, tiada hujan tiada angin menantang orang bertanding.

"Sungguh mati, Sian-moi (adik Sian) sama sekali tidak bicara buruk tentang..."

"Diam kau Atau... kau hendak membela moi-moimu yang manis ini? Boleh, boleh, kau boleh maju sekalian mengeroyokku. Aku tidak takut!"

Celaka, pikir Yo Wan kewalahan dan tanpa sengaja dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Melihat ini, Cui Sian menahan senyumnya.

la sudah cukup berpengalaman, cukup bijaksana sehingga ia tidak terseret ke dalam gelombang kemarahan oleh sikap gadis muda yang liar ini.

Akan tetapi hatinya terasa perih.

Harus ia aku bahwa dalam pertemuan yang tidak terduga-duga dengan Yo Wan ini, hatinya yang selama ini tegak, kini menunduk, runtuh oleh kesederhanaan, kegagahan dan wajah Yo Wan.

Akan tetapi berbareng ia pun dapat menduga bahwa pemuda yang menjatuhkan hatinya ini agaknya mencinta Siu Bi, dan kini, melihat sikap Siu Bi ia dapat menduga bahwa gadis remaja ini menjadi marah-marah seperti itu karena cemburu dan cemburu adalah sahabat cinta!

Dengan suara lembut ia berkata.

"Bertanding sih mudah, memang bermain Pedang merupakan kesenanganku. Akan tetapi, aku selamanya tidak sudi bertanding tanpa alasan tepat. Di Pulau tadi, kau tidak mau mengeroyokku, malah kau membantuku dengan mengembalikan Pedang ini. Sekarang kau menantangku, apa alasannya?"

"Peduli apa dengan alasan. Kalau memang kau berani, hayo lawan aku!"

"Berani sih berani, adik yang manis. Akan tetapi tanpa alasan, aku tidak mau bertempur dengan kau atau pun dengan siapa juga."

Panas hati Siu Bi.

Gadis ini demikian tenang, demikian sabar.

Tentu akan kelihatan amat baik hati dalam pandang mata Yo Wan!

Atau agaknya karena di depan pemuda itulah maka gadis ini bersikap begitu sabar dan tenang, biar dipuji!

"Kau mau tahu alasannya?

Karena kau puteri Raja Pedang, maka kutantang kau."

"Itu bukan alasan, Biar Ayahku berjuluk Raja Pedang, tapi kau tidak kenal dengan Ayah, tak mungkin bermusuhan dengan Ayah, mana bisa dijadikan alasan?"

"Aku memusuhi Ayahmu!"

"Ihhh, kenapa?"

"Karena Ayahmu sahabat baik, bahkan Guru Pendekar Buta!"

"Ahhh...!"

Yo Wan yang mengeluarkan suara ini dan makin panas hati Siu Bi.

Apakah nama Pendekar Buta demikian besar dan hebat sehingga Yo Wan juga kaget mendengar ia memusuhi Pendekar Buta?

Karena panasnya hati, ia melanjutkan, suaranya lantang dan ketus.

"Aku sudah bersumpah, akan kubuntungi lengan Pendekar Buta, isterinya, dan keturunannya, dan tentu saja semua sahabat baiknya adalah musuhku. Ayahmu Raja Pedang sahabat Pendekar Buta, kau pun tentu sahabatnya, maka kau musuhku. Hayo, berani tidak? Tak sudi aku bicara lagi!"

Wajah Yo Wan seketika menjadi pucat mendengar ini.

Cui Sian maklum akan hal ini dan dapat merasakan juga pukulan hebat yang diterima pemuda itu.

la maklum bahwa Pendekar Buta adalah penolong dan Guru Yo Wan yang amat dikasihi, dan agaknya baru sekarang pemuda itu mendengar kenyataan yang amat menusuk perasaan, yaitu kenyataan bahwa gadis lincah dan liar ini adalah musuh besar Pendekar Buta.

Oleh karena itu, Cui Sian hanya tersenyum masam dan memberi kesempatan kepada Yo Wan untuk menguasai perasaannya yang tertikam.

la tidak ingin menambah penderitaan Yo Wan dengan melayani kenekatan Siu Bi.

Yo Wan segera melangkah maju setelah berhasil menekan perasaannya yang kacau balau, matanya memandang tajam kepada Siu Bi ketika dia berkata.

"Nona, kau... kau benar-benar tersesat jauh sekali! Harap kausingkirkan jauh-jauh pikiranmu yang bukan-bukan itu, tak mungkin. Beliau adalah seorang Pendekar yang berbudi, seorang gagah perkasa dan bijaksana yang tiada duanya di dunia ini. Aku tidak percaya bahwa kau pernah dibikin sakit hati oleh Pendekar Buta. Mana mungkin kau bersumpah hendak membuntungi lengannya dan lengan keluarganya? Tak mungkin ini!"

"Hemmm, begitukah pendapatmu? Kiranya kau berpura-pura berlaku baik terhadapku karena hendak mengubah keinginanku? Tak mungkin ini, aku sudah mempertaruhkan nyawaku. Biar Pendekar Buta seorang yang memiliki tiga buah kepala dan enam buah lengan, aku tak akan mundur setapak pun. Boleh jadi dia Pendekar besar, boleh jadi dia berbudi dan bijaksana terhadap orang lain, akan tetapi terhadap mendiang Kakek Hek Lojin, sama sekali tidak! Kakek Hek Lojin menjadi buntung lengannya oleh Pendekar Buta, karena itu, aku bersumpah hendak membalaskan sakit hati ini, aku sudah bersumpah akan membuntungi lengan..."

"Jangan... jangan berkata begitu..."

Yo Wan melompat dan seperti seorang gila dia menggunakan tangannya mendekap mulut Siu Bi! "Ahhh... aku... uppp, lepaskan. lepaskan...!"

Siu Bi tentu saja meronta ronta, berusaha memukulkan gagang pedangnya, bahkan ia lalu membalikkan pedangnya hendak menusuk, akan tetapi Yo Wan sudah memegangi lengannya dan ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri.

Diam-diam Cui Sian menjadi terharu sekali, berseru nyaring.

"Yo-Twako, aku pergi dulu ke Liong-Thouw-San."

La melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

la memang seorang gadis yang luas dan tajam pikirannya, dapat menggunakan pikiran mengatasi perasaan hati.

Cui Sian maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, lebih baik kalau ia pergi meninggalkan dua orang itu.

Siu Bi dikuasai rasa cemburu dan tentu akan makin menggila dan menantangnya sehingga ia khawatir kalau-kalau ia akhirnya tidak kuat menahan kesabarannya.

Juga, tak mungkin ia dapat memukul Siu Bi, pertama karena gadis liar itu pernah menolongnya, kedua kalinya karena ia tidak mempunyai permusuhan dengannya.

la pernah mendengar nama Hek Lojin dari Ayah Ibunya, dan maklum bahwa Hek Lojin adalah seorang tokoh hitam yang amat jahat seperti iblis, juga berilmu tinggi.

Siapa duga, gadis yang tadinya ia sangka seorang gadis gagah perkasa itu, kiranya Cucu murid Hek Lojin.

Pantas demikian aneh dan liar seperti setan!

Yo Wan sedang gugup, bingung, dan duka kecewa.

Karena itulah maka dia hanya menyesal sebentar bahwa Cui Sian pergi dalam keadaan seperti itu.

Baru setelah Siu Bi mengeluarkan suara seperti orang menangis terisak, dia sadar akan perbuatannya yang luar biasa ini.

la merangkul Siu Bi, mendekap mulutnya dan memegang lengannya.

Setelah sadar, dengan tersipu-sipu ia melepaskan pegangannya.

Mukanya sebentar merah sebentar pucat.

"Kau... kau... mau kurang ajaran, ya? Kau mengandalkan kepandaianmu? Karena kau sudah bisa menangkan aku, kau lalu mengira boleh berbuat sesukamu kepadaku? Kau laki-laki kurang ajar, kau laki-laki sombong, kau... kau... jangan kira aku takut, kau harus mampus...!"

Serta merta Siu Bi menerjang dengan pedangnya. Tentu saja Yo Wan cepat mengelak dan berkata.

"Siu Bi... eh, Nona... tunggu dulu..."

"Tunggu apa lagi? Tunggu kau kurang ajar lagi? Kau merangkul-rangkul aku, mendekap mulutku, siapa beri ijin? Kurang ajar! kau kira aku sama seperti Cui Sian, kau kira aku akan tergila-gila kepadamu, karena kau tampan, karena kau gagah, karena kau lihai? Cih, tak bermalu!"

Pedangnya menusuk leher dan kembali Yo Wan mengelak.

"Sabar...!"

La sempat berkata tapi cepat mengelak lagi karena sinar Pedang hitam itu sudah menyambar.

"Siu Bi, jauh-jauh aku mengejarmu, di sepanjang jalan penuh gelisah setelah menemukan saputanganmu ini..."

La mencabut sapu tangan kuning dari sakunya.

"Kukira kau terancam bahaya maut... kiranya kau menyambutku dengan serangan nekat begini. Aku takut kau terancam bahaya, kau malah ingin aku mati..."

"Makan ini!"

Kembali Pedang Siu Bi menyambar, kini menyabet ke arah hidung.

Cepat Yo Wan meloncat dan menggerakkan kedua kakinya dengan langkah ajaib karena penyerangan gadis itu benar-benar tak boleh dipandang rendah.

"Kau mau menggunakan lidah tak bertulang? Jangan coba bujuk aku, he... Jaka Lola tak tahu diri. Kau bilang gelisah memikirkan aku, tapi kenyataannya, dengan menyolok kau hanya datang untuk membantu Cui Sian. Wah, kau gendong-gendong dia mesra, ya? Cih, tak bermalu! Sekarang kau hendak membela Pendekar Buta lagi?"

Nah, matilah!"

Mau tidak mau Yo Wan tersenyum geli.

Gadis ini memang aneh sekali.

Tapi...

tapi...

karena agaknya marah-marah karena dia menolong Cui Sian?

Hatinya berdebar.

Benarkah dugaannya ini?

Benarkah Siu Bi tak senang dia menolong gadis lain?

Cemburu?

Susah berurusan dengan gadis yang begini galak, pikirnya.

"Nanti dulu, Siu Bi, berhenti dulu..."

"Berhenti kalau kau sudah mati!"

Teriak Siu Bi dan mengirim tusukan cepat dan kuat sekali. Kalau terkena lambung Yo Wan, tentu pemuda itu akan di "Sate"

Hidup-hidup.

Akan tetapi langkah ajaib menolong Yo Wan dan Pedang itu meluncur lewat belakang punggungnya, cepat dia memutar tubuh ke kiri dan tangan berikut gagang Pedang itu sudah dikempit di bawah lengannya.

Siu Bi tak dapat bergerak!

"Nanti dulu, dengarkan dulu omonganku.

Kalau sudah dengar dan tetap menganggap aku salah, boleh kausembelih aku dan aku Yo Wan takkan mengelak lagi!"

Tangan kiri Siu Bi tadinya sudah bergerak hendak mengirim pukulan. Mendengar ucapan ini ia tampak ragu-ragu dan bertanya.

"Betulkah itu? Kau takkan mengelak lagi kalau nanti kuserang?"

"Tidak, tapi kau harus dengarkan dulu omonganku, bersabar dulu jangan terlalu galak."

"Sumpah?"

"Sumpah...?? Sumpah apa?"

"Sumpah bahwa kau takkan melanggar janji?"

"Pakai sumpah segala?"

Yo Wan melepaskan kempitannya dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Aku..."

"Tak usah bersumpah pun percuma, mana bisa dipegang sumpah laki-laki? Sebagai gantinya sumpah, hayo bersihkan tanganku ini!"

La mengasurkan tangannya ke depan. Yo Wan melongo.

"Bersihkan tanganmu? Kenapa?"

La mengerutkan alisnya.

Tak sudi dia demikian direndahkan, apakah dia akan diperlakukan sebagai seorang bujang?

Siu Bi merengut, marah lagi, terbayang pada matanya yang bersinar-sinar seperti akan mengeluarkan api.

"Memang kau tak bertanggung jawab, berani berbuat tak berani menanggung akibatnya. Kau tadi mengempit tanganku di ketiakmu, apa tidak kotor?"

Hampir saja Yo Wan meledak ketawanya, begitu geli hatinya sehingga terasa perutnya mengkal dan mengeras.

Gadis ini benar-benar...

ah, gemas dia, kalau berani tentu sudah dicubitnya pipi dara itu.

Tapi maklum bahwa gadis ini tidak berpura-pura, memang betul-betul bersikap wajar, sikap kanak-kanak yang nakal dan manja.

Ia lalu menggunakan ujung baju untuk menyusuti tangah yang berjari dan berkulit halus itu.

Makin berdebar jantungnya dan jari-jari tangannya agak gemetar ketika bersentuhan dengan jari tangan Siu Bi yang "Dibersihkan."

Tiba-tiba Siu Bi merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan Yo Wan.

"Sudahlah...! Lama-lama amat membersihkan saja, agaknya memang kau senang pegang-pegang tanganku, ya?"

Tentu saja kedua pipi Yo Wan seketika menjadi merah sekali saking malu dan jengah mendengar teguran yang benar-benar tidak mengenal sungkan lagi ini akan tetapi yang langsung menusuk hati dengan tepatnya.

"Nah, sekarang kau omonglah! Awas, kalau dari omonganmu ternyata kau masih bersalah terhadapku, pedangku akan menyembelih lehermu!"

Mata Siu Bi memandang ke arah leher Yo Wan, penuh ancaman, akan tetapi Yo Wan sama sekali tidak merasa ngeri.

Biarpun gadis ini merupakan kenalan baru, akan tetapi dia seperti telah mengenal luar dalam, sudah hafal akan wataknya yang memang aneh itu.

la yakin bahwa Siu Bi sampai mati takkan sudi melakukan hal itu, menyembelih orang yang tidak melawan seperti orang menyembelih ayam saja!

la tersenyum dan duduk di atas rumput.

Ketika Siu Bi juga menjatuhkan diri duduk di depannya, dia merasa gembira dan lega hatinya, timbul kembali rasa aneh yang amat bahagia di hatinya seperti ketika dia bersama gadis itu makan berdua menghadapi api unggun.

"Aku tidak berbohong, tak pernah membohong dan juga takkan suka membohong kalau dengan perbuatan itu aku merugikan orang lain."

Yo Wan mulai dengan kata-kata memutar karena dia maklum bahwa menghadapi seorang seperti Siu Bi, ada perlunya sekali-kali membohong, maka dia tadi menambahi kata-kata "Kalau dalam membohong itu akan merugikan lain orang!"

"Ketika kau lari itu, pedangmu tertinggal. Aku menyesal sekali telah membikin kau marah dan kecewa, maka aku mengambil pedangmu dan mengejar. Celaka, kiranya ilmu lari cepatmu luar biasa sekali. Mana aku mampu mengejar? Aku tidak dapat mengejarmu dan ketika kulihat saputangan ini... ada darah di situ... aku menjadi gelisah bukan main. Aku khawatir kalau-kalau kau terjatuh ke tangan orang jahat..."

"Memang aku jatuh ke tangan orang jahat, anak buah Ang-Hwa-Pai yang menculikku setelah membuat aku pingsan dengan bubuk racun merah yang harum."

"Ahhh...! Sudah kukhawatirkan terjadi hal seperti itu...! Kemudian bagaimana?"

Siu Bi meruncingkan Bibirnya. Yo Wan terpaksa meramkan kedua matanya melihat mulut yang kecil itu meruncing seperti hendak menusuk ulu hatinya.

"Huh, yang mau omong ini engkau atau aku? kau lah yang harus meneruskan omonganmu. Hayo, lalu bagaimana?"

Yo Wan tersenyum.

Timbul lagi kegembiraannya.

Ah, alangkah akan nikmat dan bahagia hidup kalau bisa seperti ini terus.

Heran dia mengapa selalu terasa seperti ini, bunga-bunga makin indah, daun hijau makin segar, bahkan batang-batang pohon menjadi penuh keindahan bentuknya, semua hal aneh ini terjadi kalau Siu Bi berada di dekatnya, dengan sikapnya yang nakal, aneh, menggemaskan dan kadang-kadang membingungkan.

"Aku lalu menyimpan saputangan pembungkus rambutmu ini yang... eh, yang harum baunya tapi ternoda darah... tadinya kusangka darahmu..."

"Bukan darahku. Kupukul seorang penjahat sampai berdarah. Ketika aku pingsan, agaknya dia mengambil saputangan itu dan menggunakannya untuk mengusap darahnya..."

"Celaka..."

Pikir Yo Wan dari hidungnya dikernyitkan, alisnya berkerut.

"Eh, kenapa kau? Mukamu seperti... Seperti monyet kalau begitu!"

Yo Wan tidak menjawab, hanya cemberut.

Celaka, pikirnya.

Teringat dia betapa kadang-kadang dia menciumi saputangan berdarah itu, mengira itu darah Siu Bi.

Kiranya darah penjahat.

Pantas baunya tak sedap.

"Sudahlah, saputanganku itu boleh kau miliki, teruskan omonganmu. Sampai di sini aku belum melihat kesalahan-kesalahan."

Belum ada kesalahan? Kesalahan besar yang patut diberi hukuman tamparan tiga kali, pikir Yo Wan.

"Aku mengejar terus sampai berhenti di pinggir Sungai Fen-ho. Di sana aku dihadang oleh bajak sungai. Kukalahkan tiga orang itu, kutangkap seorang dan kupaksa mengaku. Dari bajak itulah aku tahu bahwa kau menjadi tawanan Ang-Hwa-Pai dan dibawa ke Ching-Coa-To. Aku lalu melakukan pengejaran, akan tetapi karena aku belum mengenal jalan dan di sepanjang jalan harus berhenti untuk bertanya-tanya, maka tentu saja bajak itu sampai ke Ching-Coa-To lebih dulu."

"Stop dulu! Awas, apakah kau di bagian ini tidak membohong? Agaknya kau di jalan bertemu dengan Cui Sian dan itulah yang menyebabkan kau terlambat datang."

"Tidak sama sekali!"

"Kalau tidak, bagaimana bisa begitu kebetulan? Nah, lanjutkanlah,"

"Ketika mendarat di Ching-Coa-To, aku sama sekali tidak tahu bahwa di situ ada Cui Sian, malah aku tak pernah kenal siapa dia. Yang kukhawatirkan tentu saja kau, karena aku menyusul tergesa-gesa ke Ching-Coa-To adalah karena hendak menolongmu."

"Hemmm..."

Siu Bi menggerakkan mulut mengejek tanda tak percaya.

"Teruskanlah..."

Kata-kata ini membayangkan bahwa ia amat tertarik. Diam-diam Yo Wan geli hatinya.

"Tapi, ketika aku tiba di tempat pertempuran, aku melihat hal yang amat aneh dan sama sekali di luar dugaanku."

"Apa itu?"

"Eh, kulihat kau yang kukhawatirkan setengah mati itu sedang berdampingan dengan seorang pemuda tampan dan ganteng, sama sekali kau tidak ditawan, apalagi terancam! Sekali pandang saja aku maklum bahwa kau memang tidak membutuhkan pertolongan, maka perhatianku lalu tertarik oleh keadaan Cui Sian yang terancam bahaya maut. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan orang-orang jahat menyiksa orang seperti itu, maka aku lalu turun tangan menolongnya. Karena maklum bahwa berlama-lama di sana akan berbahaya, aku lalu membawa pergi Cui Sian yang masih pingsan, melarikan diri dengan perahu meninggalkan Ching-Coa-To."

"Tanpa pedulikan aku lagi, ya?"

"Lho, kau kan tidak apa-apa! Aku tidak merasa khawatlr meninggalkan kau di sana karena agaknya kau tidak bermusuhan dengan orang-orang Ang-Hwa-Pai."

"Hemmm, tapi kau bilang tidak kenal Cui Sian, padahal setelah kau dan dia berada di sini, kalian bicara kasak-kusuk begitu mesra. Kau menyebutnya moi-moi segala!"

Yo Wan tersenyum dan mukanya menjadi merah.

Benar-benar gadis ini belum mengenal sungkan, bicara dengan blak-blakan tanpa malu dan sungkan lagi, malah dia yang menjadi jengah dan untuk sejenak tak mampu menjawab.

"Pringas-pringis! Hayo beri keterangan, bagaimana? Atau, barangkali kau bohong ketika bilang tidak mengenal dia?"

"Begini, Nona..."

"Huh, aku lebih dulu kau kenal, masih kau sebut nona-nona segala. Dia baru saja kau jumpai, sudah kau sebut moi-moi. Coba pikir, bukankah hal ini amat memanaskan perut?"

Senyum Yo Wan melebar. Benar-benar seperti anak kecil.

"Kalau begitu, biar kusebut kau moi-moi. Aku tadinya takut menyebut kau moi-moi, kau begitu galak sih."

"Siapa kegilaan dengan sebutanmu? Teruskan."

"Begini sebenarnya. Ketika aku menolong Cui Sian, aku benar-benar tidak mengenal dia, dan aku menolong hanya karena tidak dapat berdiam diri saja melihat seorang wanita muda terancam maut. Akan tetapi setelah kami berdua bercakap-cakap, baru aku tahu bahwa dia itu adalah seorang temanku bermain ketika kami masih kecil. Ketika itu dia baru berusia tiga empat tahun, dan aku berusia enam tujuh tahun. Tentu saja pertemuan yang tak terduga-duga itu menggembirakan dan kami bicara tentang masa lalu."

Siu Bi mengangguk-angguk, wajahnya agak berseri, tidak marah lagi seperti tadi.

"Dan kalian kasak-kusuk? Bicara tentang diriku, ya?"

"Tapi kami tidak bicara buruk. Cui Sian bukan macam gadis yang suka memburukkan orang lain."

"Aku tahu. Dia gagah perkasa memang. Tapi... tapi dia sahabat Pendekar Buta. Dan kau...!"

Tiba-tiba Siu Bi berdiri.

"Kau juga hendak membela Pendekar Buta? Kenapa? Kau siapa? Apamukah Pendekar Buta itu?"

"Eeittt, sabar dan tenanglah. Aku sama sekali tidak membelanya. Dengar baik-baik, Siu Bi Moi-moi. Aku mencegah kau memusuhi Pendekar Buta, sama sekali bukan dengan maksud lain kecuali untuk mencegah kau menghadapi bahaya maut. Kau tahu, Pendekar Buta adalah seorang yang teramat sakti, tak terkalahkan, dan mempunyai banyak sekali sahabat-sahabat di dunia ini, sahabat-sahabat yang sakti-sakti pula. Maka, harap kau jangan sembarangan bicara dan ingat baik-baik lebih dulu sebelum memusuhinya, karena hal itu teramat berbahaya bagi keselamatanmu."

Sejenak Siu Bi termenung, kemudian matanya bersinar dan ia menyimpan pedangnya. Yo Wan menarik nafas panjang, dadanya lapang.

"Yo-Twako... nah, aku pun menyebutmu Yo-Twako, seperti Cui Sian tadi. Yo-Twako..."

"Hemmm."

"Waduh, kau senang ya kusebut Yo-Twako?"

"Tentu saja senang, Bi-moi. Kau hendak berkata apa tadi?"

"Yo-Twako, apakah kau suka kepadaku?"

Yo Wan tersentak kaget.

Benar-benar gila!

Mana ada seorang gadis bertanya tentang hal ini seperti orang bertanya tentang perut lapar atau tubuh lelah saja.

Begitu biasa dan sederhana!

Begitu langsung dan terus terang.

Apakah tidak luar biasa?

"Tentu saja, Bi-moi.

Aku...

aku...

suka kepadamu."

"Betul? Tidak bohong? Jangan-jangan di mulut bilang begitu, di hati berbunyi lain!"

"Sungguh mati, Bi-moi. Aku suka padamu, suka betul, tidak main-main dan tidak bohong!"

"Betul suka? Dan kau. mau menolongku, mau membantuku?"

"Tentu saja!"

Siu Bi memegang kedua tangan Yo Wan dan meloncat-loncat kecil seperti orang menari, wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar, kedua pipinya merah, Bibirnya yang manis dan merah membasah itu agak terbuka, terhias senyum.

Bukan main cantik manisnya, membuat Yo Wan terpesona dan tubuhnya serasa dingin.

"Yo-Koko yang baik, Koko yang perkasa. Terima kasih! Aku pun suka sekali padamu! Yo-Twako, mari kau bantu aku mencari Pendekar Buta untuk membuat perhitungan, membalas sakit hati Kakek Hek Lojin!"

Serasa disambar geledek kepala Yo Wan.

Mampus kau sekarang!

Mau rasanya dia menggejil (memukul dengan buku jari) kepalanya sendiri.

Mampus kau si sembrono!

Cih.

terbujuk dan tertipu oleh kanak-kanak!

Ingin dia marah marah kepada diri sendiri, marah kepada Siu Bi.

Akan tetapi dia tidak tega memarahi dara yang begini gembira-ria dan bahagia.

Ia harus berlaku cerdik.

Boleh juga membohong demi keselamatan hubungan mereka, demi kesenangan Siu Bi.

"Tentu saja aku akan membantumu dalam segala hal, Bi-moi. Akan tetapi, mari kita duduk dulu dan Kau ceritakan kepadaku riwayat hidupmu. Siapakah Kakekmu yang bernama Hek Lojin itu? Dan mengapa kau memusuhi Pendekar Buta? Kemudian, kau juga belum ceritakan bagaimana kau yang tadinya terculik oleh anggota Ang-Hwa-Pai itu bisa bebas dan kelihatannya tidak dimusuhi lagi di Ching-Coa-To."

Siu Bi duduk diatas rumput wajahnya masih berseri.

"Kau baik sekali, Yo-Twako. Aku sekarang takkan marah lagi padamu. Maafkan kelakuanku yang sudah-sudah, ya?"

Yo Wan terharu. Seorang gadis yang baik, baik sekali pada dasarnya. Kasihan, agaknya tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya di waktu kecil.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, adikku. Kau seorang gadis yang baik sekali.

"Sebetulnya aku tidak suka menceritakan riwayatku kepada siapapun juga, Twako. Akan tetapi kepadamu... lain lagi."

Aduhhhhh, jantung Yo Wan serasa cesssss... direndam air es. la memandang wajah itu dan sepasang matanya seakan-akan bergantung kepada Bibir yang bergerak-gerak lincah.

"Aku mau ceritakan semua, akan tetapi kau harus berjanji akan memberi pelajaran ilmu silat kepadaku, Twako."

"Ilmu silat? Tapi... ilmu silatmu sudah hebat sekali!"

"Hebat apanya? Cara kau menghindarkan pedangku tadi. Bukan main! Aku ingin kau mengajarkan aku cara mengelak seperti itu, Twako."

Yo Wan kaget, Si-Cap-It Sin-Po atau ilmu langkah ajaib itu dia pelajari dari Pendekar Buta!

Mana boleh diajarkan kepada orang lain, apalagi kepada orang yang berniat memusuhi Pendekar Buta?

Tapi dia segera mendapat sebuah pikiran yang cerdik dan bagus, maka dia mengangguk.

"Baiklah, nanti kuajarkan itu kepadamu!"

Siu Bi mulai dengan ceritanya secara singkat.

"Aku anak tunggal seorang janda, sampai sekarang aku tidak tahu siapa Ayahku karena Ibu (Lanjut ke

Jilid 10) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 merahasiakannya.

Aku diambil anak Ayah angkatku, juga aku menerima pelajaran dari Kakek Guruku, yaitu Hek Lojin.

Semenjak kecil aku belajar silat di Go-Bi-San dan Kakek Hek Lojin amat sayang kepadaku.

Dia kehilangan lengannya, buntung sebatas siku kiri, dibuntungi Pendekar Buta ketika bertempur melawannya.

Karena Kakek amat baik kepadaku, dia menurunkan semua ilmunya kepadaku dan aku telah bersumpah sebelum dia meninggal dunia bahwa aku pasti akan mencari Pendekar Buta dan membalaskan dendam hatinya dengan jalan membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya."

"Mengapa Kakekmu bertempur dengan Pendekar Buta? Apakah dia tidak menceritakan kepadamu sebab-sebabnya sehingga kau dapat mengerti apakah sebetulnya kesalahan Pendekar Buta terhadap Kakekmu?"

Dengan hati-hati dan secara berputar, Yo Wan bertanya dengan maksud mengingatkan gadis ini bahwa tidak baik mengancam hendak membuntungi lengan orang-orang tanpa mengetahui kesalahan mereka yang sesungguhnya.

Akan tetapi dia keliru.

Siu Bi menggerakkan alisnya yang hitam panjang dan kecil seperti dilukis.

"Apa peduliku tentang itu? Bukan urusanku! Urusan antara mendiang Kakek dan Pendekar Buta, tiada sangkut-pautnya dengan aku. Urusanku dengan Pendekar Buta hanya untuk membalaskan sakit hati Kakek yang telah dibuntungi lengannya, tentu saja berikut bunganya karena Kakek sudah menderita puluhan tahun lamanya. Adapun bunganya edalah lengan isteri dan anak Pendekar Buta."

Jawaban ini membuat Yo Wan menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang.

"Eh, kau tidak setuju? Bukankah kau bilang hendak membantuku menghadapi mereka?"

Cepat Yo Wan menjawab.

"Memang, aku akan membantumu dalam segala hal, Bi-moi. Akan tetapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa tugasmu itu sama sekali bukanlah hal yang mudah dilaksanakan. Pendekar Buta Kwa Kun Hong adalah seorang Pendekar besar yang amat sakti. Isterinya pun memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga puteranya. Mereka bertiga merupakan keluarga yang sukar sekali dilawan, apalagi dikalahkan secara yang kau katakan tadi, membuntungi lengan mereka. Wahhh, hal ini kurasa takkan mungkin dapat kau lakukan."

"Hemmm, Yo-Twako, kenapa kau begini kecil hati dan penakut? Aku sih sama sekali tidak takut! Apalagi ada kau di sampingku yang akan membantuku, Menghadapi iblis-iblis dari neraka pun aku tidak takut! Kau tidak usah khawatir, Twako. Kalau kita sudah berhadapan dengan mereka, biarkan aku menghadapi mereka sendiri. Kau tidak usah turut campur atau turun tangan. Terserah kepadamu apakah kau mau membantuku kalau melihat aku kalah oleh mereka. Aku hanya minta Kau temani aku ke Liong-Thouw-San. Bagaimana?"

Yo Wan merasa kasihan sekali dan tidak tega hatinya untuk menolak.

Benar-benar seorang gadis yang patut dikasihani.

Tidak tahu siapa Ayahnya!

Adakah kenyataan yang lebih pahit dari ini?

"Bi-moi, aku sendiri merasa heran mengapa Ibumu merahasiakan siapa adanya Ayahmu.

Akan tetapi, siapakah itu Ayah angkatmu?"

"Dia Suami Ibu!"

"Ah...!"

Tak dapat Yo Wan menahan seruannya ini, karena memang sama sekali tak disangka-sangkanya. Melihat gadis itu memandang tajam karena seruan kagetnya, dia cepat-cepat menyambung.

"Kalau begitu, dia itu bukan Ayah angkatmu, melainkan Ayah tirimu. Begitukah?"

Siu Bi mengangguk, lalu terus menundukkan mukanya.

Betapapun juga, hatinya tertusuk dia merasa sakit.

Semenjak Kakeknya terbunuh oleh The Sun dan ia mendengar bahwa orang yang selama itu ia anggap Ayahnya ternyata bukan Ayahnya sejati, timbul rasa tak senang, bahkan benci kepada diri Ayah tirinya itu.

"Benar, dia itu Ayah tiriku, namanya The Sun. Selama ini aku memakai she The, padahal bukan... eh, kau kenapa?"

Ketika mengangkat muka memandang, Siu Bi melihat betapa Yo Wan melompat berdiri tegak, mukanya pucat sekali dan sepasang matanya memandang kepadanya, dengan terbelalak.

Cepat ia menghampiri dan hendak memegang pundak pemuda itu sambil berkata gemas.

"Yo-Twako, kau kenapa? Sakitkah kau?"

"Tidak... tidak... jangan sentuh aku!"

Teriak Yo Wan sambil melompat mundur.

"Yo-Twako, kenapakah...?"

Siu Bi benar-benar gelisah melihat keadaan Yo Wan yang seperti tiba-tiba menjadi gila itu.

"Kenapa?"

Suara Yo Wan parau dan tiba-tiba dia tertawa tapi seperti mayat tertawa.

"Huh-huh-huh kenapa katamu? Ayah tirimu, The Sun itu adalah pembunuh Ibuku!"

Setelah berkata demikian, Yo Wan berkelebat dan sebentar saja dia sudah lenyap dari depan Siu Bi.

Gadis ini tercengang, berusaha mengejar, akan tetapi hatinya sendiri terlampau tegang sehingga kedua kakinya menjadi lemas.

la berusaha memanggil, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya.

Kemudian ia bersungut-sungut dan berbisik lirih, penuh kemarahan dan kegemasan.

"The Sun, kau benar-benar telah merusak hidupku... aku benci padamu... aku benci..."

Dan gadis ini lalu menangis terisak-isak di bawah pohon.

Sementara itu, dengan hati perih dan perasaan tidak karuan Yo Wan berlari-lari cepat sekali, menjauhkan diri sejauh mungkin dari gadis yang ternyata adalah anak tiri The Sun.

Dan anak tiri musuh besarnya yang telah menghina Ibunya dan menyebabkan kematian Ibunya ini (baca Pendekar Buta), sekarang bermaksud akan membuntungi lengan Suhu dan Subonya serta putera mereka!

Tan Kong Bu dan isterinya, Kui Li Eng dengan penuh kebahagiaan menikmati hidup mereka di puncak Min-San.

Para pembaca cerita Rajawali Emas tentu sudah mengenal siapa adanya Suami isteri Pendekar ini, yang keduanya memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi.

Tan Kong Bu adalah putera Raja Pedang Tan Beng San, sedangkan isterinya, Kui Li Eng adalah puteri Kui-San-Jin Ketua Hoa-San-Pai.

Yang laki-laki putera Ketua Thai-San-Pai, yang wanita puteri Ketua Hoa-San-Pai.

Tentu saja mereka merupakan pasangan yang hebat.

Akan tetapi, Suami isteri ini lebih suka bersunyi diri, menjauhkan keramaian dunia, memperdalam ilmu dan menerima belasan orang murid di Min-San sehingga kelak terkenal munculnya sebuah partai persilatan baru, yaitu Min-San-Pai.

Biarpun belasan orang anak murid Min-San-Pai merupakan anak-anak pilihan yang berbakat sehingga rata-rata mereka itu dapat mewarisi kepandaian yang diturunkan oleh kedua Suami isteri Pendekar ini, namun mereka itu tidak dapat menyamai kemajuan yang diperoleh puteri tunggal Guru mereka.

Tan Kong Bu dan isterinya memang hanya mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Tan Lee Si.

Seorang gadis berusia sembilan belas tahun, cantik dan berwajah agung, berwatak keras seperti Ibunya dan jujur seperti Ayahnya.

Biarpun merupakan anak tunggal, Lee Si tidak biasa dimanja dan ia dapat berdiri dengan teguh di atas kaki sendiri, dalam arti kata segala sesuatu ingin ia putuskan dan laksanakan sendiri sehingga biarpun masih amat muda, namun ia telah mempunyai pandangan luas dan ketabahan yang luar biasa.

Ilmu silat yang dimiliki Lee Si memang aneh, merupakan percampuran dari ilmu kedua orang Tuanya.

Ayahnya, Tan Kong Bu, memiliki ilmu warisan dari mendiang Song-Bun-Kwi Kwee Lun terutama sekali Ilmu Silat Yang-sin-kun!

Adapun Ibunya, Kui Li Eng, mewarisi ilmu silat asli dari Hoa-San-kun.

Karena ia menerima gemblengan dari Ayah Bundanya, maka Lee Si tentu saja paham akan kedua ilmu itu, Malah kedua ilmu yang sudah mendarah daging di tubuh dan urat syarafnya itu telah bercampur dan terciptalah ilmu silat campuran yang aneh dan lihai.

Ayahnya memberi hadiah sebatang Pedang yang bersinar kuning, sebuah Pedang pusaka ampuh yang bernama Pedang Oie-kong-kiam.

Adapun Ibunya, seorang ahli senjata rahasia Hoa-San-Pai, setelah melatih puterinya dengan ilmu senjata rahasia, menghadiahi sekantung gin-ciam (jarum perak).

Tidak sembarang ahli silat mampu mempergunakan gin-ciam ini, karena jarum-jarum itu amatlah lembutnya, jika dipergunakan hampir tidak mengeluarkan suara dan sukar diikuti pandangan mata.

Cara menggunakan harus mengandalkan Sinkang dan latihan yang masak.

Pada suatu pagi yang cerah, Lee Si berlatih ilmu silat Pedang di dalam kebun di belakang rumahnya.

Sejak kemarin ia melatih jurus campuran dari Yan-sin-kiam jurus ke delapan dengan Hoa-San-Kiam-Sut jurus ke lima.

Kedua jurus ini mempunyai persamaan, akan tetapi mengandung daya serangan yang amat berlainan sehingga kalau kedua Jurus ini dapat dikawinkan, akan merupakan jurus yang ampuh.

Akan tetapi Lee Si menemui kesulitan.

Tiap kali ia mainkan kedua jurus ini dalam gerakan campuran, ia merasakan dadanya sesak.

Beberapa kali sudah ia mencoba dan akhirnya ia menyarungkan pedangnya di punggung, lalu berdiri tegak dan mengumpulkan nafas, suatu ilmu berlatih nafas secara aneh yang diajarkan oleh Ayahnya untuk mengerahkan tenaga Yangkang.

Beberapa menit kemudian ketika sesak pada dadanya sudah lenyap, ia membuka matanya dan menarik nafas panjang.

Pada saat itu terdengarlah suara orang perlahan.

"Anak baik, mengapa kau tidak mencoba dengan barengi cara Pi-Ki Hu-Hiat (Tutup Hawa Lindungi Jalan Darah)? Jurusmu terlalu kacau dan berbahaya, kalau diulang-ulang bisa membahayakan diri sendiri."

Lee Si menengok dan tampaklah olehnya seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun duduk berjongkok di atas tembok kebun.

Orang itu dapat berada di sana tanpa ia ketahui sudah membuktikan bahwa dia adalah seorang yang berkepandaian tinggi.

Lee Si berpandangan luas, biarpun hatinya tak senang ada orang tak terkenal berani menegur dan malah memberi nasehat kepadanya yang berarti bahwa orang itu memandang rendah, namun ia dapat menekan perasaannya dan berkata.

"Orang tua, siapakah kau dan apa perlunya kau berada di sini mengintai orang?"

Laki-laki itu tersenyum dan wajahnya yang tenang itu berseri.

"Aku adalah sahabat baik Ayahmu, sengaja datang ke Min-San. Kebetulan tadi aku mendengar sambaran angin pedangmu, membuat aku tertarik sekali dan secara lancang menonton. Gerakan-gerakanmu menyatakan bahwa kau tentulah puteri Kong Bu."

Keterangan ini dapat diterima, akan tetapi karena Lee Si belum pernah bertemu dengan orang ini dan sering kali ia mendengar dari Ayah Bundanya bahwa mereka dahulu banyak dimusuhi orang-orang jahat di dunia kang-ouw, maka ia tetap menaruh curiga."

"Maaf, Lopek (Paman Tua), kalau memang kau adalah seorang tamu dari Ayah, mengapa tidak langsung masuk dari pintu depan? Sebelum bertemu dengan Ayah, maaf kalau saya tidak berani melayanimu lebih jauh."

Orang itu tertawa.

"Ha... ha... ha, bagus sekali! Puteri Kong Bu benar-benar seorang yang hati-hati dan tidak sembrono. Ketahuilah, anak baik, aku datang dari Thai-San. Beritahukan Ayahmu bahwa... ah, itu dia sendiri datang!"

Lee Si menengok dan kagumlah ia akan kelihaian orang tua itu.

Benar saja bayangan Ayahnya berkelebat keluar dari pintu belakang.

Begitu Ayahnya melihat laki-laki yang berjongkok di atas pagar tembok, ia tercengang sejenak, kemudian terdengar dia berseru girang.

"Haiii... bukankah Suheng (Kakak seperguruan) Su Ki Han yang datang berkunjung?"

Suara Kong Bu keras dan nyaring.

Pendekar ini biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih, masih tampak muda dan gagah.

la tertawa dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah berada di dalam kebun.

Tak lama kemudian berkelebat bayangan yang gesit dari seorang wanita cantik.

"Lihat siapa yang datang berkunjung ini!"

Kong Bu berseru. Wanita itu berdiri memandang, lalu tersenyum manis dan sepasang matanya yang masih bening itu bersinar-sinar.

"Ah, kiranya seorang tamu agung dari Thai-San!"

Kui Li Eng wanita ini, juga berlompatan dalam kebun.

Lee Si menjadi girang sekali la cepat memberi hormat kepada laki-laki yang sudah melompat turun dari atas pagar tembok dan kini berpelukan dengan Kong Bu itu.

"Sudah lama saya mendengar nama Supek, harap maafkan kekurangajaran saya tadi."

"Wah, kau anak nakal. Apakah kau sudah berlaku kurang ajar kepada Su-Suheng?"

Bentak Kong Bu.

"Eh, jangan galak-galak, Sute. Dia anak baik, baik sekali, sama sekali tidak nakal atau kurang ajar. Malah aku yang tidak tahu diri, menerobos memasuki rumah orang melalui kebun belakang seperti maling dan mulutku yang gatal ini berani memberi komentar atas latihannya bermain pedang."

"Bagus sekali! Hayo cepat kau haturkan terima kasih kepada Supekmu atas petunjuknya yang berharga!"

Kata Li Eng kepada puterinya. Lee Si kembali menjura dengan hormat.

"Supek, saya menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk Supek tadi yang tentu akan saya coba dan saya perhatikan."

Su Ki Han menggoyang-goyang kedua tangannya ke atas.

"Wah-wah, kalian ini memang orang-orang yang berjiwa satria, pandai merendah diri. Pantas saja anak ini demikian maju dan hebat kepandaiannya, kiranya bermodal sikap merendahkan diri yang amat baik untuk mencapai kemajuan! Petunjukku tadi belum tampak buktinya, belum juga dicoba, bagaimana patut ditebus dengan ucapan terima kasih?"

"Supek, sesungguhnya sudah berhari-hari saya bingung menghadapi dua jurus yang hendak saya satukan itu, belum menemui jalan pemecahannya. Malah dada saya terasa sesak bernafas."

"Kau memang bandel!"

Kong Bu mencela puterinya.

"Ilmu silatku dan ilmu silat Ibumu semenjak dahulu memang berlawanan, sudah berkali-kali Ibumu dan aku bertanding, selalu tiada yang menang tiada yang kalah. Bagaimana bisa kau satukan?"

"Ayah dan Ibu buktinya bisa bersatu, mengapa ilmunya tidak bisa?"

"Eh, anak gila...!"

Li Eng berseru dengan muka menjadi merah sekali.

"Ha... ha... ha, anak kalian ini memang benar. Biarpun ilmu silat itu berlawanan sifatnya, namun bukan tak mungkin dapat disatukan, asal pandai mengaturnya. Sifat Im dan Yang memang berlawanan inilah yang menjadikan segala apa di dunia ini. Bukankah dalam kitab Ya-Keng disebut bahwa IT IM IT YANG WI CI TO (sebuah Im dan sebuah Yang, itulah yang disebut TO)? Kekuasaaan alam bekerja dengan dasar Im Yang dua unsur berlawanan yang saling menarik, juga saling menolak, saling menghancurkan, juga saling menghidupkan. Dengah adanya perpaduan Im dan Yang, barulah tercipta Ngo-Heng, sari pati SUI HO BOK KIM THO (Air-Api-Kayu-Logam-Tanah). Cara kerja Ngo-heng pun berdasarkan Im dan Yang, saling menghidupkan dan saling mematikan. AIR menghidupkan KAYU, KAYU menghidupkan API, API menghidupkan TANAH, TANAH menghidupkan LOGAM, dan LOGAM menghidupkan AIR. Sebaliknya, AIR mematikan API, API mematikan LOGAM, LOGAM mematikan KAYU, KAYU mematikan TANAH, dan TANAH mematikan AIR. Tentu saja arti kata menghidupkan boleh diganti menghasilkan, sedangkan mematikan boleh memusnahkan atau memakan habis. Wah, aku jadi ngacau terus... Ha... ha... ha!"

"Bagus, bagus, Supek. Saya mulai dapat menangkap rahasia Im dan Yang!"

Teriak Lee Si sambil bertepuk tangan kegirangan.

"Supekmu adalah murid tertua dari Kakekmu, tentu saja dia telah mewarisi Ilmu Im-Yang Sin-Hoat,"

Kata Kong Bu tersenyum. Kembali sambil tertawa Su Ki Han mengangkat kedua lengannya ke atas menolak pujian itu.

"Tentang ilmu kepandaian silat, mana bisa aku dibandingkan dengan Ayah dan Ibumu? Anak baik kalau belajar ilmu silat, Ayah Bundamu inilah Gurunya. Kalau mempelajari teori tentang Im Yang, mungkin aku akan dapat memberi penjelasan. Karena tadi kulihat bahwa gerakanmu dalam mempersatukan dua jurus itu mengandung hawa Im dan Yang, dua hawa yang berlawanan, maka kau gagal dan dadamu merasa sesak. Satu-satunya cara untuk mengatasinya hanya dengan Pi-ki-hu-hiat, karena dengan demikian, kau akan dapat mengatur kedua hawa yang bertentangan itu dengan teratur dan bergiliran sehingga dapat menghasilkan jurus yang lihai dan sukar diduga iawan."

"Lee Si, setelah mendapat petunjuk dari Supekmu, kenapa tidak segera dicoba agar kalau ada kekurangannya dapat minta penjelasan lagi?"

Kata Li Eng kepada puterinya. Ibu yang amat mencinta puterinya ini tentu saja menggunakan setiap kesempatan untuk kepentingan dan keuntungan puterinya.

"Sing...!"

Sinar kuning berkelebat ketika Lee Si mencabut Pedang Oei-kong-kiam.

"Supek, mohon petunjuk Supek kalau ada kekeliruan,"

Katanya dan sekali lagi, seperti yang telah ia lakukan di luar tahu Ayah Bundanya selama beberapa hari ini tanpa hasil, ia bersilat mainkan jurus yang digabung itu.

la mentaati petunjuk Su Ki Han dan sambil bersilat ia mengerahkan Ilmu Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah.

Gerakan kedua jurus itu ia satukan dan...

ia berhasil melakukannya dengan baik.

"Eh, seperti Yang-Sin-Kiam jurus ke delapan!"

Seru Kong Bu.

"Tidak, seperti jurus ke lima dari Hoa-San Kiam-Sut"

Seru Li Eng. Dengan girang sekali Lee Si menghentikan gerakannya dan bersorak.

"Aku berhasil! Ayah, Ibu, memang itu tadi jurus ke delapan dari Yang-Sin-Kiam digabung dengan jurus ke lima dari Hoa-San Kiam-Sut. Supek, terima kasih."

Mereka tertawa-tawa dengan girang.

"Wah, kita ini Tuan dan nyonya rumah macam apa?"

Kong Bu tiba-tiba berseru mencela diri sendiri dan isterinya "Ada tamu agung datang, bukan lekas-lekas disambut dan dijamu, malah direpotkan dengan anak kita.

Inilah kalau kita terlalu memanjakan anak!"

"Ah, di antara saudara sendiri, mana ada aturan sungkan-sungkan segala macam?"

Su Ki Han membantah.

Akan tetapi dia segera mengikuti mereka memasuki rumah di mana pemilik rumah cepat menyuguhkan minuman dan menanyakan keselamatan Ayah Bunda mereka di Thai-San.

Tan Kong Bu adalah putera Raja Pedang Tan Beng San dan mendiang Kwee Bi Goat.

Nyonya Tan Beng San yang sekarang, yaitu Cia Li Cu, Ibu Tan Cui Sian adalah Ibu tiri Kong Bu.

"Keadaan Suhu dan Subo (ibu Guru) sehat-sehat dan selamat. Juga Thai-San-Pai makin berkembang, tidak pernah terjadi hal-hal yang buruk."

"Supek, kenapa Bibi Cui Sian tidak ke sini? Saya sudah kangen betul. Sepuluh tahun sudah tak pernah bertemu dengannya. Tentu dia lihai sekali dan cantik jelita, ya?"

"Karena Bibimu itulah maka hari ini aku berada di sini. Sumoi sudah sebulan lebih turun gunung ketika datang putera Bun-Goanswe yang mengabarkan bahwa ada anak murid Hek Lojin yang mencari-cari Pendekar Buta untuk membalas dendam. Malah putera Jenderal Bun itu pun menceritakan adanya sekawanan penjahat yang bernama Ang-Hwa-Pai, bermarkas di Pulau Ching-Coa-To dipimpin oleh Ang-Hwa Nio-Nio dan banyak orang sakti lainnya, juga mengumpulkan tenaga untuk menyerbu Liong-Thouw-San. Putera Jenderal Bun itu dalam perjalanannya ke Liong-Thouw-San untuk memberi kabar, dan dia sengaja mampir ke Thai-San, seperti yang dipesankan oleh Ayahnya. Mendengar berita ini, Suhu menjadi tidak enak hatinya. Permusuhan berlarut-larut yang kini mengancam keselamatan keluarga Pendekar Buta sebetulnya terjadi karena Suhu, sedangkan Pendekar Buta, Kwa-Taihiap, hanya membantu Suhu. Maka aku lalu disuruh turun gunung, mencari sumoi untuk bersama-sama pergi ke Liong-Thouw-San, bila perlu membantu Kwa-Taihiap menghadapi musuh-musuh yang menyerbu."

Mendengar ini, Kong Bu malah tertawa.

"Ah, Ayah terlalu mengkhawatirkan keselamatan Kwa Kun Hong, sungguh lucu! Suheng, di jaman ini, siapakah orangnya yang akan mampu mengalahkan Pendekar Buta dan isterinya? Kalau ada yang sakit hati dan ingin membalas dendam, biarkan mereka itu pergi menandingi Pendekar Buta, biar mereka tahu rasa. Ingin aku melihat mereka itu seorang demi seorang dirobohkan."

"Paman Hong, biarpun sudah buta, penjahat-penjahat itu akan dapat berbuat apakah terhadapnya? Akan tetapi, Ayah mertua benar juga. Adik Cui Sian akan mendapat pengalaman yang amat berharga kalau dia sempat menyaksikan Paman Kun Hong menghajar para penjahat yang hendak menyerbu ke Liong-Thouw-San."

Ucapan Li Eng ini disertai suara mengandung kebanggaan.

Kwa Kun Hong terhitung Pamannya seperguruan, maka ia patut berbangga akan kelihaian dan ketenaran nama Pamannya.

Su Ki Han tersenyum mendengar kata-kata Suami isteri ini.

Ternyata mereka ini masih sama dengan dahulu, tabah, berani dan gagah perkasa, juga jujur kalau bicara.

Suami isteri yang cocok sekali, pantas mempunyai puteri sehebat Lee Si.

"Memang tak dapat disangkal bahwa Kwa-Taihiap memiliki kepandaian yang sakti. Suhu sendiri sering kali memuji-mujinya, apalagi karena sumber ilmu kepandaian Kwa-Taihiap dan Suhu adalah sama, yaitu dari kitab pusaka Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng. Akan tetapi menurut Suhu, sekarang banyak bermunculan orang-orang sakti di dunia hitam, apalagi yang datang dari Barat dan Utara. Kaisar sendiri sampai bersusah payah dalam usahanya memperkuat dan memperbaiki Tembok Besar untuk mencegah perusuh dari Barat dan Utara. Namun, banyak tokoh-tokoh sakti mereka itu berhasil menerobos masuk dan selain melakukan penyelidikan untuk mengukur keadaan, juga mereka banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh hitam di"

Sini.

Karena itulah, menurut Suhu, sudah tiba saatnya kita semua harus bangkit, siap sedia membela negara dan bangsa menghadapi mereka itu.

Pada saat ini, agaknya pribadi Pendekar Buta menjadi pusat perhatian para tokoh hitam yang banyak menaruh dendam.

Maka, Kwa-Taihiap boleh diumpamakan sebagai umpan untuk memancing datang tokoh-tokoh itu dan kita harus membantunya membasmi mereka agar negara bersih dari gangguan mereka.

Bagaimana pendapat, Sute?"

Kong Bu mengangguk-angguk.

"Ayah, selalu berpandangan luas. Tentu saja kami di sini, biarpun hanya terdiri dari kami bertiga dan beberapa belas anak murid yang kaku dan bodoh, selalu siap membantu apabila diperlukan."

"Bagus!"

Li Eng menyambung.

"Belasan tahun pedangku tinggal bersembunyi di dalam sarungnya, membuat aku menjadi malas. Berilah aku lawan yang jahat dan kuat, dan kegembiraan lama akan timbul kembali!"

"Wah-wah, kau kambuh lagi? Apa tidak takut ditertawai anakmu? Kita sudah tua, tidak perlu menonjolkan semangat seperti di waktu muda."

Kong Bu menggoda isterinya.

"Ayah, aku setuju dengan Ibu. Ibu gagah dan bersemangat, mengapa dicela? Dan aku percaya, kalau Ibu ikut terjun, segala macam penjahat itu mana berani menjual lagak?"

Lee Si membela Ibunya. Su Ki Han tertawa bergelak.

"Anak baik, kalau Ibumu tidak begitu bersemangat dan gagah perkasa, mana bisa menjadi isteri Ayahmu? Sute berdua, kedatanganku ke sini, seperti telah kukatakan tadi, adalah mencari sumoi. Tadinya kusangka bahwa sumoi mengunjungi kalian. Apakah sumoi tak pernah datang ke sini?"

"Tidak, Su-Suheng."

"Heran sekali, ke mana dia pergi? Apakah ke Lu-Liang-San, ke rumah Sute Tan Sin Lee? Ataukah ke Hoa-San-Pai? Dalam penyelidikanku, pernah dia terlihat di dekat daerah Taingpan, malah kabarnya dia telah pergi mengunjungi Pulau Ching-Coa-To! Akan tetapi sekarang dia tidak berada di sana, malah ketika kutanyakan Bun-Goanswe, juga tidak singgah di sana."

"Mana bisa mencari seorang yang sedang merantau? Suheng, lebih baik kau mendahului ke Liong-Thouw-San dan menanti di sana. Akhirnya Cui Sian tentu juga akan singgah ke sana."

"Senang sekali memang melakukan perantauan seorang diri seperti Cui Sian. Dengan sebatang Pedang menjelajah seribu gunung, memberi kesempatan kepada Pedang untuk menghadapi seribu kesulitan. Wah, kau takkan berhasil mencarinya, Su-Suheng. Memang sebaiknya kau menanti di Liong-Thouw-San. Kelak kalau dia muncul di sini, tentu akan kuberi tahu,"

Kata Li Eng dengan wajah berseri. Nyonya ini yang dahulunya merupakan seorang gadis yang lincah dan suka sekali merantau, teringat akan masa mudanya dan timbul kegembiraannya.

"Cui Sian tidak seperti kau!"

Sela Kong Bu.

"Kau dahulu selalu mencari perkara. Kalau semua gadis muda seperti kau akan kacaulah dunia. Ada gadis seperti kau lima saja, pasti dunia kang-ouw akan geger."

Mereka tertawa-tawa lagi.

Pertemuan dengan murid kepala Thai-San-Pai ini ternyata mendatangkan kegembiraan luar biasa dan mereka bertiga itu bercakap-cakap sambil tertawa-tawa sampai hampir semalam suntuk.

Banyak arak dan daging melewati tenggorokan mereka, dan ketiganya tidak memperhatikan lagi betapa sore-sore Lee Si sudah masuk ke kamarnya.

Baru pada keesokan harinya suami-isteri ini mendapat kenyataan bahwa puteri mereka tidak berada di dalam kamarnya dan bahwa pembaringannya tak pernah ditiduri malam itu.

Di atas meja dalam kamar Lee Si terdapat kertas bertulisan huruf-huruf halus yang berbunyi.

"TURUN GUNUNG MENCARI Bibi CUI SIAN."

"Bocah lancang!"

Seru Kong Bu yang cepat memanggil murid-muridnya yang tinggal di puncak dalam bangunan lain.

Para murid yang berjumlah tiga belas orang ini juga tidak ada yang melihat bila Lee Si pergi turun gunung, karena malam hari itu, tahu bahwa Suhu dan Subo mereka menjamu seorang tamu dari Thai-San, para murid ini tidak berani berada di dalam bangunan tempat tinggal mereka.

"Mengapa ribut-ribut? Biarkan dia turun gunung mencari pengalaman. Dia bukan anak kecil lagi,"

Kata Li Eng, tidak puas melihat suaminya seperti seekor ayam kehilangan anaknya.

"Biarpun dia sudah dewasa dan kepandaiannya cukup, tapi dia masih hijau. Dunia banyak sekali orang jahat, bagaimana kalau dia tertimpa bencana?"

"Ah, kau sebagai Ayah terlalu memanjakannya! Kalau dia tidak digembleng dengan kesulitan dan bahaya, mana patut menjadi puteri kita?"

Su Ki Han menjadi tidak enak.

"Ahhh, akulah gara-garanya. Kalau tidak muncul di sini, agaknya Lee Si tidak akan pergi turun gunung. Biarlah aku minta diri sekarang dan akan kususul dia!"

"Jangan menyalahkan diri, Suheng. Memang sudah lama anak itu ingin sekali turun gunung, tapi selalu ditahan Ayahnya. Sekarang ada kesempatan dan ada alasan, yaitu untuk mencari Bibinya, Cui Sian, biar sajalah,"

Kata Li Eng menghibur.

Juga Kong Bu menghibur, menyatakan bahwa bukan kesalahan Su Ki Han yang menyebabkan Lee Si pergi.

Akan tetapi Su Ki Han tetap berpamit dan segera turun gunung dengan maksud mengejar Lee Si dan membujuk anak perempuan itu pulang ke puncak Min-San.

Atau setidaknya ia dapat mengamat-amati dan menjaganya.

Akan tetapi, betapapun cepat dia menggunakan ilmunya lari turun gunung, tetap dia tak dapat menyusul Lee Si.

Gadis ini bukanlah orang bodoh dan ia pun tahu bahwa Ayahnya tidak suka membiarkan ia pergi.

Oleh karena itu, malam tadi ia berangkat dengan cepat dan menyusup-nyusup hutan, tidak mau melalui jalan besar.

Karena baru kali ini ia turun gunung dan ia tidak ingin Ayahnya dapat mengejar dan memaksanya kembali, ia sengaja turun dari lereng sebelah Barat dan sesukanya ia lari tanpa tujuan sehingga tanpa ia sadari, gadis ini melakukan perjalanan menuju ke Barat!

Dari Pegunungan Min-San ke Barat, melalui daerah pegunungan yang tiada habisnya dan beberapa pekan kemudian gadis ini masih belum terbebas dari daerah pegunungan karena ternyata ia telah masuk daerah Pegunungan Bayangkara!

Penduduk dusun di pegunungan adalah orang-orang gunung yang tak pernah meninggalkan daerah pegunungan, maka tak seorang pun yang dijumpainya dapat menerangkannya ke mana jalan menuju Ke Liong-Thouw-San atau ke Kota Raja.

Hanya ada dua tempat di dunia ini yang menarik hati Lee Si dan yang mendorong ia turun gunung yaitu pertama di Liong-Thouw-San karena ia ingin sekali berjumpa dengan Paman dari Ibunya yang terkenal dengan nama Pendekar Buta, dan kedua, ia ingin sekali menyaksikan bagaimana keadaan Kota Raja yang hanya pernah didengarnya dari cerita Ibunya.

Pada suatu hari, ketika ia menuruni sebuah puncak di Pegunungan Bayangkara dan baru saja keluar dari sebuah hutan, ia mendengar suara aneh.

Suara melengking tinggi dan suara seperti seekor katak buduk "Bernyanyi"

Di musim hujan.

Sebagai puteri suami-isteri Pendekar yang berilmu tinggi, ia segera dapat menduga bahwa suara-suara itu tentulah suara yang keluar dari mulut orang-orang sakti yang mengerahkan khikang tinggi.

Cepat ia menyusup di antara pepohonan dan mengintai.

Betul seperti telah diduganya, dari balik batang pohon ia mengintai dan melihat dua orang laki-laki aneh sedang berhadapan.

Yang melengking tinggi dan nyaring, lebih nyaring daripada lengking suara Ayahnya kalau mengerahkan khikang, adalah seorang Kakek berjenggot pendek yang tubuhnya amat tinggi, lebih dua meter tingginya.

Laki-laki ini berpakaian seperti orang asing, jubahnya berwarna kuning dan kepalanya dibungkus kain sorban warna kuning pula.

Telinganya memakai anting-anting dan melihat bentuk hidungnya yang panjang melengkung serta kulitnya yang agak coklat gelap, terang bahwa si jangkung ini adalah seorang asing.

Adapun orang kedua yang memasang kuda-kuda dengan kedua lutut ditekuk setengah berjongkok sambil mengeluarkan suara "Kok-kok-kok!"

Seperti suara katak buduk, adalah seorang Kakek yang tubuhnya pendek gemuk berkepala gundul, kumis seperti tikus dan jenggotnya pendek.

Dengan hati tertarik Lee Si memandang.

Pasangan kuda-kuda Kakek pendek gendut itu baginya tidaklah asing.

Itu adalah pasangan kuda-kuda yang umum dan banyak dilakukan oleh ahli silat dari Utara.

Akan tetapi pasangan kuda-kuda si jangkung itulah yang amat mengherankan hatinya.

Si jangkung itu berdiri dengan kedua kaki terpentang lurus, berdirinya bukan menghadapi lawan melainkan miring sehingga lawannya berada di sebelah kanannya, kedua lengan dikembangkan dengan jari-jari terbuka, mukanya seperti orang kemasukan setan dan dari mulutnya keluarlah bunyi lengkingan yang kadang-kadang mendesis-desis.

Lee Si dapat menduga bahwa dua orang itu tentu sedang berada dalam awal pertandingan.

la tidak mengenal mereka, juga tidak tahu mengapa dua orang aneh ini seperti hendak bertempur, maka ia hanya mengintai dan menjadi penonton.

Tiba-tiba si pendek gendut makin merendahkan tubuhnya dan suara "Kok-kok"

Dari mulutnya makin dalam, kemudian kedua tangannya mendorong ke depan.

Kedua lengan itu tampak menggetar, penuh dengan tenaga mujijat yang menerjang ke depan.

Si tinggi itu menggerakkan kedua lengan seperti orang menangkis, namun tetap saja ia terhuyung ke kiri, mukanya berubah merah sekali.

Lee Si terkejut bukan kepalang.

Hebat si pendek itu.

Entah ilmu pukulan jarak jauh apa yang diperlihatkan tadi, tapi terang bahwa si jangkung telah terdesak hebat dan keadaannya berbahaya.

Mendadak si jangkung mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya berjungkir balik tiga kali dan tahu-tahu dia telah melayang ke tempat yang tadi, kemudian kedua lengannya bergerak dari atas kepala ke bawah seperti orang menekan.

Dari kedua lengan yang panjang ini menyambar hawa pukulan sakti yang membuat debu mengebul di depan kakinya!

Kali ini si pendek gendut yang menerima serangan ini dengan kedua tangannya, terdorong mundur sampai satu meter lebih dan hanya dengan melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan seperti bola karet ia dapat mematahkan daya serangan lawan yang menggunakan pukulan jarak jauh mengandalkan tenaga mujijat.

Keduanya lalu melompat dan berdiri berhadapan dalam keadaan biasa.

Keduanya agak pucat dan si pendek gendut tertawa dengan suaranya yang parau dan dalam.

"Ha... ha... ha, sobat Maharsi, hebat bukan main pukulanmu tadi. Aha, agaknya inilah Pai-San-Jiu (Pukulan Mendorong Gunung) yang terkenal hebat itu!"

"Hemmm, Bo Wi Sianjin, kami orang-orang Barat hanya mempunyai sedikit hasil latihan, mana dapat disamakan dengan kau, seorang tokoh Utara yang hidupnya menentang keadaan alam yang buas dan kuat? Sudah lama aku mendengar bahwa Ilmu Pukulan Katak Sakti darimu tiada bandingnya dan ternyata hari ini aku telah membuktikan sendiri kehebatannya. Kalau kau tidak memandang persahabatan, agaknya aku tadi takkan kuat menahan!"

"Ha... ha... ha...ha...ha, kau orang Barat memang pandai sekali mengelus hati merayu perasaan dengan pujian muluk! Bagiku, tidak ada kesenangan yang melebihi bertanding ilmu untuk membuktikan sampai di mana hasil jerih payah yang kita derita selama puluhan tahun. Akan tetapi, karena kita perlu sekali menyatukan tenaga menghadapi lawan yang lihai, biarlah aku bersabar dan kelak masih banyak waktu bagi kita untuk memuaskan hati menengok siapakah di antara kita yang lebih berhasil."

"Hemmm, aku selalu akan mengiringi keinginan hatimu, Sobat. Akan tetapi betul sekali kata-katamu tadi, saat ini kita perlu menghimpun tenaga. Lawan-lawan kita bukanlah orang-orang yang mudah dikalahkan,"

Jawab si jangkung dengan bahasa yang terdengar kaku namun cukup jelas bagi Lee Si yang masih mengintai sambil mendengarkan.

"Kau benar, Maharsi. kau katakan tadi bahwa kau menerima permintaan bantuan dari adik seperguruanmu Ang-Hwa Nio-Nio? Jadi sekarang kau hendak pergi mengunjunginya ke Ching-Coa-To (Telaga Ular Hijau)?"

"Betul, Sianjin. Adikku Kui Ciauw itu sekarang menjadi Ketua Ang-Hwa-Pai di Pulau Ching-Coa-To. Memang dulu sudah kujanjikan akan membantunya karena kedua orang adikku Kui Biauw dan Kui Siauw telah tewas di tangan Pendekar Buta dan teman-temannya. Kau sendiri, kukira turun dari pegunungan Utara untuk urusan kematian Suhengmu Ka Chong Hoatsu. Bukankah begitu?"

"Betul, Maharsi. Kakak seperguruanku itu tewas di tangan Raja Pedang yang sekarang menjadi Ketua Thai-San-Pai.

"Hemmm, lawan kita memang berat. Pendekar Buta biarpun masih muda, kepandaiannya luar biasa sekali. Untuk menghadapinya maka selama hampir dua puluh tahun aku melatih dengan Pai-San-Jiu."

Si pendek gendut mengangguk-angguk.

"Sama halnya dengan aku, Sobat. Bu-Tek Kiam-Ong Tan Beng San memiliki ilmu kepandaian yang lihai, terutama ilmu pedangnya Im-Yang Sin-Kiam. Karena itulah maka aku menyembunyikan diri selama dua puluh tahun lebih, khusus untuk melatih Ilmu Pukulan Katak Sakti guna menghadapinya. Mudah-mudahan jerih payah kita takkan sia-sia dan roh-roh saudara kita akan dapat tenteram."

Lee Si yang mendengarkan percakapan ini menjadi kaget sekali.

Baiknya dia seorang gadis yang cukup cerdik dan tidak sembrono.

la dapat menduga bahwa dua orang ini merupakan lawan-lawan yang amat tangguh, maka ia tidak mau sembarangan keluar dari tempat persembunyiannya.

Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa bergelak, tepat di belakang Lee Si dan sebelum gadis ini sempat berbuat sesuatu, pundaknya telah dicengkeram orang dan ternyata yang menangkapnya adalah seorang Hwesio yang sudah amat tua, mukanya pucat seperti mayat, tubuhnya tinggi besar dan kedua matanya selalu meram seperti orang buta, bajunya yang terbuat dari kain kasar terbuka lebar di bagian dada memperlihatkan sebagian perut yang gendut.

"Tokoh-tokoh Utara dan Barat diintai bocah di luar tahu mereka, benar-benar aneh!"

Kata Hwesio itu dengan suara tak acuh, kemudian tangannya bergerak dan...

tubuh Lee Si melayang ke arah dua orang aneh itu seperti sehelai daun kering tertiup angin!

Tentu saja Lee Si yang tadinya sudah kaget, kini menjadi takut setengah mati.

la maklum bahwa tubuhnya melayang ke arah dua orang aneh itu dan tidak tahu bagaimana akan jadinya dengan dirinya.

Tentu saja dengan mempergunakan Ginkang, setelah kini terbebas dari pegangan Hwesio sakti itu, ia dapat melayang ke samping untuk melarikan diri.

Akan tetapi ia pun cukup maklum bahwa hal ini akan sia-sia belaka.

Tak mungkin ia melarikan diri dari tiga orang aneh ini kalau mereka tidak menghendaki demikian.

la teringat akan cerita Ayah Bundanya tentang keanehan tokoh-tokoh kang-ouw di dunia persilatan.

Jalan satu-satunya hanya menyerah tanpa mengeluarkan kepandaian sehingga tiga orang itu akan merasa malu untuk mengganggu seorang lawan yang tidak memiliki kepandaian seimbang.

la harus mempergunakan kecerdikan di mana kepandaiannya takkan dapat menolongnya.

Oleh karena inilah, ia hanya memutar agar dalam melayang ini ia dapat memandang kepada kedua orang tokoh dari Barat itu.

Siapakah tiga orang sakti ini?

Seperti dapat diketahui dari percakapan antara si jangkung dan si pendek yang didengarkan oleh Lee Si tadi, si jangkung adalah seorang tokoh Barat berbangsa India sebelah Timur, seorang pertapa dan Pendeta yang disebut Maharsi (Pendeta Agung).

Maharsi ini adalah kakak seperguruan dari Ang Hwa Sam Ci-moi, yaitu Kui Ciauw, Kui Biauw dan Kui Siauw.

Sebagaimana kita ketahui, Kui Biauw dan Kui Siauw ini tewas ketika Ang-Hwa-Sam Ci-moi bentrok dengan Pendekar Buta dan teman-temannya, adapun Kui Ciauw sekarang menjadi Ketua Ang-Hwa-Pai yang berjuluk Ang-Hwa Nio-Nio.

Sudah bertahun-tahun lamanya Ang-Hwa Nio-Nio menaruh dendam kepada Pendekar Buta atas kematian kedua orang saudaranya, dan untuk membalas dendam ia telah minta bantuan Maharsi.

Akan tetapi, karena maklum betapa lihainya Pendekar Buta, mereka berdua menunda niat membalas dendam ini dan masing-masing menggembleng diri untuk membuat persiapan menghadapi musuh lama yang amat sakti itu.

Adapun si pendek itu adalah seorang tokoh dari daerah Mongol.

Bo Wi Sianjin dahulu mempunyai seorang Suheng (kakak seperguruan) bernama Ka Chong Hoatsu yang tewas di tangan Raja Pedang Tan Beng San.

Juga karena maklum betapa lihainya musuh besar ini, Bo Wi Sianjin tidak tergesa-gesa dan berlaku sembrono, melainkan dia malah menyembunyikan diri untuk menyakinkan sebuah ilmu yang ampuh untuk menghadapi musuhnya.

Selama dua puluh tahun lebih dia menggembleng diri dan sekarang dia mulai turun dari tempat persembunyiannya untuk mencari musuh lama, yaitu Raja Pedang Ketua Thai-San-Pai.

Di tengah jalan kebetulan bertemu dengan Maharsi dan kebetulan sekali terlihat oleh Lee Si.

Hwesio tua renta yang tinggi besar dan amat lihai itu bukanlah seorang yang tidak dikenal para pembaca cerita Pendekar Buta.

Dia itu bukan lain adalah Bhok Hwesio, seorang tokoh yang amat terkenal dari perkumpulan besar Siauw-Lim-Pai.

Akan tetapi, berbeda dengan para Hwesio Siauw-Lim-Pai yang terkenal sebagai Pendeta-Pendeta berbudi yang hidup suci dan biasanya menggunakan ilmu silat dari Siauw-Lim-Pai yang hebat untuk membela kebenaran dan keadilan.

Bhok Hwesio ini semenjak dahulu merupakan seorang anak murid atau tokoh yang murtad.

Ilmu kepandaiannya memang tinggi dan lihai sekali.

Boleh dibilang jarang tokoh Siauw-Lim-Pai yang dapat menandinginya, kecuali para pimpinan dan Ketuanya saja.

Di dalam cerita Pendekar Buta diceritakan betapa Bhok Hwesio ini, dua puluh tahun yang lalu, dapat terbujuk oleh mereka yang memusuhi Pendekar Buta dan kawan-kawannya.

Akhirnya dia ditawan oleh Suhengnya sendiri, Thian Ki Losu tokoh Siauw-Lim-Pai yang sakti, dibawa kembali ke Siauw-Lim-Pai dan seperti sudah menjadi peraturan keras Siauw-Lim-Pai kalau ada anak murid menyeleweng, Bhok Hwesio di "Hukum"

Di dalam "Kamar penunduk nafsu"

Selama sepuluh tahun! la tidak boleh keluar dari kamar yang pintunya di "Segel"

Dengan tulisan "Hu" (Surat Jimat) diberi makan melalui lubang sehari sekali, dan diharuskan bersamadhi dan menindas hawa nafsu duniawi.

Karena yang menjaga agar hukuman ini terlaksana baik adalah Thian Ki Losu sendiri, Bhok Hwesio tidak berdaya dan terpaksa dia menyerah.

Suhengnya itu terlampau sakti baginya.

Akan tetapi sesungguhnya hanya pada lahirnya saja dia menyerah.

Di dalam hatinya dia menjadi marah dan sakit hati terhadap Pendekar Buta, Raja Pedang, dan lain-lainnya yang dianggapnya menjadi biang keladi penderitaannya ini.

Diam-diam dia berSamadhi untuk menggembleng diri, memupuk tenaga dan memperdalam ilmu silat dan ilmu kesaktian di dalam kamar kecil dua meter persegi itu!

Saking tekunnya melatih diri, sudah sepuluh tahun lewat dan sudah lama Thian Ki Losu yang amat tua itu meninggal dunia, namun dia malah tidak mau keluar dari kamar hukuman ketika pintu dibuka sendiri oleh Ketua Siauw-Lim-Pai, yaitu Thian Seng Losu.

Akhirnya dia dibiarkan saja karena hal ini dianggap malah amat baik dan bahwa Bhok Hwesio agaknya sudah mendekati ambang pintu "Kesempurnaan."

Demikianlah, setelah bertapa menyiksa diri selama dua puluh tahun, pada suatu malam para Hwesio di Siauw-Lim-Pai kehilangan Hwesio tua yang dianggap hampir berhasil dalam tapanya itu.

Tak seorang pun di antara para tokoh Siauw-Lim-Si itu menduga bahwa kepergian Bhok Hwesio kali ini adalah untuk mencari musuh-musuhnya yang dianggapnya membuat dia menderita selama dua puluh tahun untuk membalas dendam!

Dan secara kebetulan sekali dia melihat Maharsi dan Bo Wi Sianjin yang sudah dia kenal namanya.

Girang hatinya mendengar bahwa mereka berdua itu pun mempunyai tujuan yang sama, maka dia lalu muncul sambil menangkap dan melemparkan tubuh gadis yang dia ketahui sejak tadi mengintai.

Sengaja dia menggunakan tenaga sakti dalam lemparan itu untuk "Menguji"

Kelihaian dua orang tokoh Utara dan Barat yang akan menjadi teman seperjuangan menghadapi musuh-musuh besarnya yang sakti, yaitu Pendekar Buta, Raja Pedang dan teman-teman mereka.

Maharsi dan Bo Wi Sianjin yang selama dua puluh tahun bersembunyi di tempat pertapaan masing-masing dan sudah lama tidak turun gunung, tidak mengenal Hwesio tua renta yang tinggi besar dan bermuka pucat seperti mayat itu.

Sekilas pandang saja ketika mereka tadi memandang wajah pucat tak berdarah itu, mereka sebagai orang-orang sakti maklum bahwa Hwesio tua itu benar-benar telah menguasai ilmu mujijat yang disebut I-kiong-hoan-hiat (Memindahkan Jalan Darah)!

Hanya orang yang Sinkang atau hawa sakti dalam tubuhnya sudah dapat diatur secara sempurnalah yang akan dapat menguasai ilmu "Hoan-hiat"

Ini yang berarti bahwa Hwesio itu sudah mencapai titik yang sukar diukur tingginya.

Sekarang melihat tubuh seorang gadis muda melayang ke arah mereka, tahulah kedua orang itu bahwa Hwesio tua ini hendak menguji kesaktian.

Mereka tidak mengenal Lee Si dan biarpun jelas bahwa gadis itu mengintai, namun mereka tidak tahu apakah gadis ini musuh atau bukan.

Namun karena gadis itu sudah dilontarkan ke arah mereka, Maharsi mengeluarkan suara melengking tinggi, sambil mendorongkan kedua lengannya ke depan, ke arah tubuh Lee Si sambil mengerahkan Sinkang dengan tenaga lembut.

Demikianpun Bo Wi Sianjin mengeluarkan suara "Kok-kok"

Sambil mendorongkan lengannya, juga dengan tenaga lembut karena dia pun seperti Maharsi, tidak mau melukai atau mencelakakan gadis yang tak dikenalnya.

Untung bagi Lee Si bahwa ia berlaku hati-hati dan cerdik, tadi tidak menggunakan Ginkang untuk melarikan diri, karena ternyata Bhok Hwesio hanya sementara saja melepaskannya.

Begitu kedua orang Kakek itu menyambut, Bhok Hwesio sudah menggerakkan lengan lagi ke arah tubuh yang melayang itu.

Lee Si merasa betapa tenaga yang hebat sekali dan panas datang menyambar dan menyangga punggungnya dari belakang.

Pada saat itu, dari depan datang menyambar dua tenaga gabungan dari Kakek jangkung dan Kakek pendek.

Gabungan tenaga ini bertemu dengan tenaga Bhok Hwesio sehingga tubuh Lee Si yang tergencet di tengah-tengah di antara dua tenaga sakti yang saling bertentangan berhenti di tengah udara seakan-akan tertahan oleh tenaga mujijat dan tidak dapat jatuh ke bawah.

Memang hal ini sebetulnya amat tidak masuk di akal tampaknya, karena menyalahi hukum alam.

Namun, harus diakui bahwa di dalam tubuh manusia terdapat banyak sekali rahasia-rahasia yang belum dapat dimengerti oleh manusia sendiri, dan sudah banyak yang mengakui bahwa terdapat tenaga-tenaga mujijat yang masih merupakan rahasia dalam diri manusia.

Di antaranya adalah Sinkang (hawa sakti) yang selalu terdapat dalam diri setiap orang manusia.

Hanya sebagian besar orang belum sadar akan hal ini dan karena tidak mengenalnya maka tidak kuasa pula mempergunakannya.

Sebagai puteri suami-isteri Pendekar yang berilmu tinggi, sungguhpun tingkatnya belum setinggi itu, namun Lee Si sudah maklum apa yang terjadi dengan dirinya.

Ia dijadikan alat untuk mengukur tenaga Sinkang, andaikata diambil perumpamaan, ia merupakan sebatang tongkat yang dijadikan alat untuk main dorong-dorongan mengadu tenaga otot.

Hanya dalam hal ini, bukan tenaga otot yang dipertandingkan, melainkan tenaga Sinkang yang merupakan dorongan-dorongan dari jarak jauh!

Lee Si tidak begitu bodoh untuk mencoba-coba mengerahkan Sinkangnya sendiri dalam arena pertandingan ini, karena hal ini akan membahayakan nyawanya.

Kecuali kalau ia memiliki tenaga yang mengatasi tenaga tiga orang itu, atau setidaknya mengimbangi.

la sengaja mengendurkan seluruh tenaga dan sedikit pun tidak melawan, namun dengan penuh perhatian ia merasakan getaran-getaran hawa sakti yang saling mendorong melalui tubuhnya itu.

Segera ia dapat menduga bahwa di antara tiga orang Kakek itu, si Hwesio tinggi besar inilah yang paling hebat tenaganya, juga tenaga Sinkang Hwesio ini yang mencengkeramnya.

Akan tetapi dibandingkan dengan tenaga si jangkung dan si pendek digabung menjadi satu, ternyata Hwesio tua itu masih kalah kuat sedikit.

Inilah yang perlu diselidiki oleh Lee Si dalam waktu singkat.

Tentu saja ia tidak sudi menjadi "Alat"

Mengukur Sinkang seperti itu, karena kalau dibiarkan saja, akibatnya amatlah buruk.

Kalau hanya berakibat tenaga Sinkangnya sendiri melemah saja masih belum apa-apa, akan tetapi kalau ada kurang hati-hati sedikit saja dari ketiga orang itu, ia bisa menderita luka parah di sebelah dalam tubuhnya.

Lee Si sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

Setelah mengukur tenaga yang bertanding, tiba-tiba ia mengeluarkan jeritan keras sekali sambil mengerahkan Sinkang di tubuhnya, membantu atau lebih tepat "Menunggangi"

Tenaga gabungan Si Jangkung dan Si Pendek "terus ia mendorong hawa Hwesio tinggi besar yang mencengkeramnya.

Benar saja perhitungannya, Bhok Hwesio yang sudah merasa lelah dan tahu bahwa kalau dilanjutkan adu Sinkang ini dengan dikeroyok dua, dia akan kalah, tiba-tiba menjadi terkejut karena pihak lawan menjadi makin kuat.

Terpaksa dia mendengus dan menurunkan kedua lengannya.

Begitu terlepas dari gencetan dari kedua pihak, tubuh Lee Si terlempar ke bawah.

Namun gadis cerdik ini sudah menggunakan Ginkangnya dan melompat dengan selamat ke atas tanah.

Sedikit pun ia tidak terpengaruh atau menjadi gugup biarpun baru saja ia terbebas dari ancaman bahaya maut.

la malah segera menggunakan kesempatan untuk mengadu mereka demi keselamatannya sendiri, karena kalau tiga orang itu bersatu memusuhinya, terang ia akan celaka.

"Hemmm, Hwesio sudah tua renta, mestinya berlaku alim dan budiman terhadap orang muda, kiranya sebaliknya, datang-datang kau menghina. Terang bahwa kau sengaja hendak menyombongkan kepandaianmu kepada aku orang muda dan selain itu kau pun memandang rendah kepada dua orang Lo-Cianpwe (Orang Tua Gagah) ini. Hemmm, Hwesio tua renta, betapapun kau menyombongkan kepandaian, kenyataannya dalam adu tenaga tadi kau telah kalah!"

Bhok Hwesio tercengang, demikian pula Maharsi dan Bo Wi Sianjin.

Ucapan terakhir dari gadis itu membuktikan bahwa Lee Si bukan orang sembarangan dan malah mengerti akan adu Sinkang tadi serta dapat mengetahui pula siapa kalah siapa menang!

Perhitungan Lee Si memang tepat.

Ucapannya membuat kedua telinga Bhok Hwesio menjadi merah sehingga kelihatannya aneh sekali, muka demikian pucat tapi kedua telinga merah seperti dicat!

"Siapa kalah?

Biar Maharsi dari Barat dan Bo Wi Sianjin dari Utara terkenal lihai, dikeroyok dua sekalipun Pinceng tidak akan kalah!

Bocah liar, kau lancang mulut!"

Bhok Hwesio menggoyang-goyang lengan bajunya. Akan tetapi Lee Si yang cerdik tidak bergerak dari tempatnya.

"Kalau menyerang dan merobohkan aku orang yang patut jadi Cucu buyutmu, apa sih gagahnya? Tapi mengalahkan kedua orang Lo-Cianpwe yang sakti ini? Huh, omong sih gampang! Kalau kau menangkan mereka tak usah kau bunuh aku akan menggorok leherku sendiri di depanmu!"

Di "Bakar"

Seperti itu, Bhok Hwesio tersinggung keangkuhannya. la tersenyum lebar menghampiri Maharsi dan Bo Wi Sianjin, mementang kedua lengannya dan berkata.

"Hayo kalian layani aku beberapa jurus, baru tahu bahwa Pinceng (Aku) lebih unggul daripada kalian!"

Setelah berkata demikian, Hwesio tua tinggi besar ini sudah menggerakkan kedua lengan bajunya yang menup angin pukulan seperti taufan.

Maharsi dan Bo Wi Sianjin terkejut, akan tetapi sebagai orang-orang sakti yang berkedudukan tinggi, tentu saja mereka tidak sudi dihina oleh Hwesio yang tak mereka kenal ini.

Cepat mereka bersiap, Maharsi menangkis, dengan gerakan lengan dari atas ke bawah sedangkan Bo Wi Sianjin sudah berjongkok dan dari mulutnya keluar suara kok-kok-kok seperti katak buduk.

Di lain saat, tiga orang sakti ini suah bertempur dengan gerakan lambat namun setiap gerakan mengandung Sinkang dan Lweekang yang dapat membunuh lawan dari jarak jauh!

Inilah yang diharapkan oleh Lee Si.

Jalan satu-satunya bagi keselamatan dirinya adalah mengadu tiga orang sakti itu agar ia dapat menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.

Maka begitu tiga brang itu saling gempur dengan gerakan lambat namun mengandung tenaga dahsyat, Lee Si segera menyelinap ke belakang batang pohon dan siap hendak melarikan diri.

"Hendak lari ke rnana kau, bocah liar?"

Suara ini adalah suara Bhok Hwesio dan tiba-tiba hawa pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lee Si Gadis ini terkejut bukan main, cepat mengelak sambil melompat dan...

"Brakkk!"

Pohon di sebelahnya tadi patah dan tumbang!

Lee Si menjadi pucat.

Bukan main hebatnya Hwesio tua itu yang dalam keadaan dikeroyok dua oleh Maharsi dan Bo Wi Sianjin, masih tetap dapat melihatnya dan mengetahui niatnya melarikan diri, bahkan dari jarak jauh dapat mengirim serangan yang demikian dahsyatnya.

"Huh, kau kira dapat lari dari Bhok Hwesio?"

Hwesio tinggi besar itu dengan sebelah tangannya menahan serangan Maharsi dan Bo Wi Sianjin, sedangkan tangan kirinya kembali melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh yang membuat Lee Si melompat ke sana kemari dengan cepat.

"Ah, kiranya Bhok-Taisuhu (Guru Besar) dari Siauw-Lim-Pai? Maaf... maaf..."

Bo Wi Sianjin melompat mundur.

Juga Maharsi yang sudah mendengar nama ini menghentikan serangannya.

Lee Si kaget dan gelisah.

Celaka, pikirnya.

Tiga orang itu sudah saling mengenal dan agaknya tidak akan bermusuhan lagi, dan hal ini berarti ia akan celaka!

Menggunakan kesempatan terakhir selagi Bhok Hwesio terpaksa membalas penghormatan dua orang itu, ia cepat melompat dan mengerahkan Ginkangnya.

Akan tetapi tiba-tiba ada sambaran angin dari belakang.

Lee Si secepat kilat membanting diri ke kiri sambil mencabut Pedang dengan tangan kanan dan merogoh Gin-Ciam (Jarum Perak) dengan tangan kiri.

Sambil membalik dengan gerakan Lee-Hi Ta-Teng (Ikan Lele Meloncat) ia menggerakkan tangan kirinya, menyerang dengan jarum perak ke arah bayangan Bhok Hwesio yang sudah melangkah lebar mengejarnya.

Dalam keadaan terpojok, Lee Si lenyap rasa takutnya dan siap untuk melawan dengan gagah berani sebagaimana sikap seorang Pendekar sejati.

Penyerangan Lee Si dengan jarum-jarum perak itu bukanlah hal yang boleh dipandang ringan.

Ilmunya melepas jarum perak adalah ilmu senjata rahasia yang ia pelajari dari Ibunya dan boleh dibilang ia telah mahir dengan Ilmu Pek-Po Coan-Yang (Timpuk Tepat Sejauh Seratus Kaki).

Serangannya tadi sebetulnya lebih bersifat menjaga diri, sambil membalik melepaskan segenggam jarum sebanyak belasan batang untuk mencegah desakan lawan.

Biarpun jarum-jarum itu hanya disambitkan dengan sekali gerakan, namun benda-benda halus itu meluncur dalam keadaan terpisah dan langsung menerjang ke arah bagian-bagian berbahaya di perut, dada, leher, dan mata.

Serangan ini masih disusul oleh terjangan Lee Si sendiri yang telah memutar pedangnya melakukan serangan.

Ternyata gadis muda yang cerdik ini, yang tahu bahwa tak mungkin ia akan dapat membebaskan diri kalau hanya lari dari Hwesio kosen itu, telah menggunakan taktik menyerang lebih dulu untuk mencari kedudukan baik sehingga dapat mengurangi besarnya bahaya menghadapi lawan yang lebih tangguh.

"Eh, kau anak Hoa-San-Pai?"

Bhok Hwesio berseru ketika lengan bajunya dikibaskan menyampok runtuh semua jarum perak dan cepat ia menggerakkan tubuh ke belakang karena melihat bahwa sinar Pedang gadis muda itu tak boleh dipandang ringan.

"Kalau sudah tahu, masih berani menghinaku?"

Lee Si menjawab dan kembali tangannya yang sudah menggenggam jarum perak bergerak menyambitkan jarum.

Kini karena berhadapan dan dapat mencurahkan perhatian, Lee Si memperlihatkan kepandaiannya, yaitu ia telah melepas jarum-jarum peraknya dengan gerakan Boan-Thian Ho-I (Hujan Bunga di Langit), gerakan yang tidak saja amat indah, akan tetapi juga hasilnya luar biasa sekali karena jarum-jarum itu tersebar mekar seperti payung, atau seperti hujan mengurung tubuh Bhok Hwesio.

Hebatnya, jarum-jarum itu kini mengarah jalan-jalan darah yang amat penting.

"Ho... hoh... hoh, siapa takut Hoa-San-Pai?"

Bhok Hwesio berseru, tubuhnya tiba-tiba rebah bergulingan dan di lain saat dia telah melompat berdiri sambil menggerakkan kedua tangannya.

Benda-benda hijau meluncur ke depan, menangkis jarum-jarum itu sehingga di lain saat rumput dan daun hijau yang tertancap jarum perak runtuh ke atas tanah.

Kini Lee Si yang kaget setengah mati.

Kiranya Hwesio itu luar biasa sekali kepandaiannya, sudah amat tinggi, malah lebih tinggi daripada Ibunya dalam hal menggunakan senjata rahasia.

Baru saja Hwesio tua itu mendemonstrasikan kelihaiannya menggunakan senjata rahasia dengan Ilmu Cek-yap-hui-hwa, yaitu ilmu melepas senjata rahasia menggunakan bunga dan daun.

Tadi dengan hanya rumput-rumput dan daun yang direnggutnya sambil bergulingan, Bhok Hwesio berhasil memukul runtuh semua jarum yang dilepas oleh Lee Si.

Namun ia tidak menjadi gentar atau putus asa, cepat pedangnya sudah bergerak dengan jurus-jurus yang ia gabungkan dari kedua ilmu Pedang warisan Ayah Bundanya.

Bhok Hwesio tercengang ketika dia mengelak dan mengebutkan ujung lengan bajunya.

la mengenal baik Ilmu Pedang Hoa-San-Pai, akan tetapi yang diperlihatkan gadis ini hanya mirip-mirip Ilmu Pedang Hoa-San-Pai, bukan Ilmu Pedang Hoa-San-Pai asli, namun malah lebih hebat!

Yang amat mengherankan hatinya adalah hawa pukulan yang terkandung oleh ilmu Pedang ini, karena kadang-kadang mengandung hawa Im yang menyalurkan tenaga lemas, akan tetapi di lain detik berubah menjadi hawa Yang dengan tenaga kasar.

Mirip dengan ilmu kepandaian yang dimiliki musuh besarnya, yaitu Pendekar Buta dan terutama Raja Pedang yang menjadi pewaris dari Ilmu Im-Yang Sin-Hoat.

Selama dua puluh tahun ini, di dalam kamar kecil yang menjadi tempat dia menderita hukuman "Penebus dosa"

Dan sekaligus menjadi tempat dia bertapa dan menggembleng diri, memang dia khusus mencari ilmu untuk menghadapi Im-Yang Sin-Hoat.

Maka sekarang menghadapi ilmu Pedang Lee Si yang memang mengandung penggabungan kedua hawa yang bertentangan ini, dia tidak menjadi bingung.

Sepasang lengan bajunya bergerak seperti sepasang ular hidup yang mengandung dua macam tenaga pula sehingga Lee Si sebentar saja terdesak hebat!

Memang kalau bicara tentang tingkat ilmu, tingkat Lee Si masih jauh di bawah tingkat Kakek ini.

Bhok Hwesio usianya sudah delapan puluh tahun lebih dan selain memiliki ilmu yang amat iinggi dari Siauw-Lim-Pai, juga dia mempunyai pengalaman bertempur puluhan tahun lamanya.

Hanya dua hal yang membuat Lee Si dapat bertahan sampai tiga puluh jurus lebih.

Pertama, karena gadis ini memang mempunyai ilmu kepandaian asli yang bersih dan sakti, kedua karena Bhok Hwesio sendiri merasa rendah untuk merobohkan gadis yang patut menjadi Cucu buyutnya seperti dikatakan Lee Si tadi.

Kalau dia mau mengeluarkan jurus-jurus simpanan yang mematikan, agaknya sudah sejak tadi Lee Si roboh.

Namun, kini Lee Si benar-benar terdesak hebat, pedangnya tidak leluasa lagi gerakannya karena sudah terbungkus oleh gulungan sinar kedua ujung lengan baju Bhok Hwesio.

Gulungan sinar itu seperti lingkaran besar yang amat kuat, yang meringkus sinar pedangnya, makin lama lingkaran itu menjadi makin kecil dan sempit.

Ruang gerak Pedang Lee Si juga makin sempit.

Gadis itu mulailah mengeluarkan peluh dingin.

Maklum dia bahwa Hwesio ini benar-benar amat kosen dan sekarang sengaja hendak mengalahkannya dengan tekanan yang makin lama makin berat untuk memamerkan kepandaiannya ia tahu bahwa akhirnya ia takkan dapat menggerakkan pedangnya lagi kecuali untuk membacok tubuhnya sendiri!

"Hayo kau berlutut dan minta ampun, mengaku murid siapa dan apa hubunganmu dengan Ketua Thai-San-Pai!"

Berkali-kali Bhok Hwesio membentak karena melihat betapa ilmu Pedang gadis ini mengandung gabungan hawa Im dan Yang, dia menduga tentu ada hubungan antara gadis ini dengan musuh besarnya, Si Raja Pedang.

Lee Si maklum bahwa Hwesio ini tentu bukan sahabat baik Kakeknya Si Raja Pedang, akan tetapi ia pun mengerti bahwa akhirnya ia akan mati, maka lebih baik baginya mati sebagai Cucu Raja Pedang yang berani dan tak takut mati daripada harus mengingkari Kakeknya yang merupakan seorang Pendekar sakti yang bernama besar.

"Hwesio jahat! Tak sudi aku menyerah. Kalau mau tahu, Bu-Tek Kiam-Ong Tan Beng San Ketua Thai-San-Pai adalah Kakekku!"

Bhok Hwesio tidak menjadi kaget karena sudah menduga akan hal ini. Akan tetapi dia girang sekali karena sedikitnya dia dapat membalas penasaran terhadap Raja Pedang kepada Cucunya.

"Bhok-Taisuhu, kita tawan saja Cucunya!"

Tiba-tiba Bo Wi Sianjin berteriak.

"Betul kita jadikan Cucunya sebagai jaminan!"

Maharsi menyambung. Akan tetapi pada saat itu berkelebat tiga bayangan orang dan terdengar seorang di antara mereka berseru.

"Bhok-Suheng, tahan...!"

Bhok Hwesio mengeluarkan seruan rendah seperti kerbau mendengus, akan tetapi dia mundur dan Lee Si merasa terhindar dari tekanan hebat.

Wajahnya pucat, mukanya yang cantik penuh keringat, akan tetapi sepasang matanya berapi-api penuh ketabahan.

Menggunakan kesempatan ini, Lee Si melompat mundur dan memandang kepada tiga orang pendatang baru yang menyelamatkannya itu dengan teliti.

(Lanjut ke

Jilid 11) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Orang pertama yang tadi berseru kepada Bhok Hwesio adalah seorang Pendeta pula, seorang Hwesio tua, sedikitnya tujuh puluh tahun usianya, bermuka hitam dan cacad bekas korban penyakit cacar.

Biarpun mukanya bopeng dan buruk, namun sepasang mata Hwesio ini membayangkan kehalusan budi dan kesabaran seorang Pendeta yang sudah masak jiwanya.

Hwesio ini membawa sebatang tongkat kuningan dan kini dia berdiri tegak menghadapi Bhok Hwesio.

Keduanya saling pandang seakan-akan mengukur kekuatan masing-masing dengan pandang mata.

Hwesio ini memang bukan orang sembarangan, karena dia adalah Thian Ti Losu, seorang tokoh tingkat tiga dari Siauw-Lim-Pai, masih terhitung adik seperguruan Bhok Hwesio.

Adapun dua orang yang lain adalah Tosu-Tosu dari Kun-Lun-Pai dan Kong-Thong-Pai, yaitu Sung Bi Tosu tokoh tingkat tiga dari Kun-Lun-Pai dan Leng Ek Cu Tosu tingkat dua dari Kong-Thong-Pai.

Thian Ti Losu ini adalah seorang utusan Siauw-Lim-Pai yang sengaja keluar dari pintu kuil untuk mencari Bhok Hwesio yang menghilang dari dalam kamar hukumannya.

Di tengah jalan dia berjumpa dengan Leng Ek Cu, sahabat baiknya Kemudian setelah mendengar bahwa Suhengnya itu berada dalam perjalanan melalui Pegunungan Bayangkara, dia mengejar dan ditemani oleh Leng Ek Cu yang maklum betapa lihai dan berbahayanya Suheng temannya itu.

Belum lama mereka memasuki daerah pegunungan ini, mereka bertemu dengan Sung Bi Tosu yang juga mereka kenal sebagai tokoh Kun-lun.

Tosu ini sedang menuju ke Kun-lun-san di sebelah Barat, maka mereka lalu mengadakan perjalanan bersama?

Kebetulan sekali mereka datang pada saat Lee Si berada di ambang kematian di tangan Bhok Hwesio, maka cepat-cepat Thian Ti Losu mencegahnya.

"Thian Ti Sute, mau apa kau datang ke sini?"

Bhok Hwesio menegur sutenya dengan pandang mata penuh selidik dan curiga.

"Bhok-Suheng, Siauwte diutus oleh Ketua kita untuk mencari Suheng dan mengajak Suheng kembali ke Siauw-Lim-Si,"

Jawab Thian Ti Losu dengan suara tenang.

Sepasang mata Bhok Hwesio yang biasanya meram itu kini terbuka sebentar, memandang dengan sinar kemarahan, tapi lalu terpejam lagi, hanya mengintai dari balik bulu mata.

"Sute, pulanglah dan jangan membikin kacau pikiranku. Aku tidak ada urusan apa-apa lagi dengan kau atau dengan Siauw-Lim-Si."

"Tapi, Suheng. Siauwte hanya utusan dan Ketua kita memanggilmu pulang."

"Cukup! Thian Seng Suheng boleh jadi Ketua Siauw-Lim-Si, akan tetapi aku bukan orang Siauw-Lim-Pai lagi. Hukuman yang dijatuhkan kepadaku sudah cukup kujalani sampai penuh. Mau apa lagi? Pergilah!"

"Kau tahu sendiri, Bhok-Suheng, apa artinya menjadi utusan ketua. Tugas harus dilaksanakan dengan taruhan nyawa. Dan kau pun cukup maklum, lebih maklum daripada Siauwte yang lebih muda dari padamu, apa artinya tidak mentaati perintah Ketua kita, berarti penghinaan. Marilah, Suheng, kau ikut denganku kembali menghadap Ketua kita dan percayalah, kalau kau minta dirl dengan baik-baik, Suheng kita yang menjadi Ketua itu tentu akan meluluskanmu."

"Thian Ti! Kau tonjol-tonjolkan nama Thian Seng Suheng untuk menakut-nakuti aku? Huh, jangankan baru kau atau dia sendiri, biar Thian Ki Lo-Suheng sendiri bangkit dari lubang kuburnya, aku tidak akan takut dan tidak sudi kembali ke Siauw-Lim-Si. Nah, kau mau apa lagi?"

"Ini pengkhianatan paling hebat! Suheng, kalau ada seorang anak murid Siauw-Lim-Pai murtad dan berkhianat, setiap orang anak murid yang setia harus menentangnya. Suheng, sekali lagi, kalau mau taat dan ikut dengan aku pulang atau tidak?"

Bhok Hwesio hanya tertawa mengejek.

la maklum bahwa sutenya ini memiliki kepandaian hebat, terkenal dengan ilmu tongkat dari Siauw-Lim-Pai tingkat tinggi, juga terkenal sebagai seorang ahli Lweekang yang tenaganya hampir sama dengan tingkat yang dimiliki mendiang Thian Ki Losu sendiri.

Akan tetapi dia tidak takut dan merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan sutenya ini.

"Bhok-Taisuhu, menghadapi adik seperguruan yang cerewet, mengapa masih terlalu banyak sabar?"

Tiba-tiba Bo Wi Sianjin berseru dari samping kiri Bhok Hwesio.

"Kalau mau bicara tentang ketaatan, seorang adik seperguruanlah yang seharusnya taat kepada Suhengnya!"

"Ha... ha... ha, benar-benar lucu ini. Bo Wi Sianjin dari Mongol bukanlah anak kecil, bagaimana bisa bersikap begini tak tahu malu, mencampuri urusan dalam dua orang murid Siauw-Lim-Pai?"

Sung Bi Tosu sudah melangkah maju menghadapi Bo Wi Sianjin dan memandang tajam.

Bo Wi Sianjin si Kakek pendek gendut tertawa mengejek.

Kenyataan bahwa Tosu itu mengenal namanya sedangkan dia sendiri tidak mengenal Tosu itu membuktikan bahwa dia cukup dikenal oleh para tokoh kang-ouw.

"Eh, kau ini Tosu bau dari mana berani lancang mulut? Aku bicara dengan Bhok-Taisuhu, ada sangkut-paut apa denganmu?"

"Pinto adalah Sung Bi Tosu dari Kun-Lun-Pai. Memang Pinto tidak ada urusan denganmu, akan tetapi kau juga tidak ada urusan sama sekali untuk mencampuri persoalan saudara seperguruan Siauw-Lim-Pai."

"Eh, keparat. Apa yang kau lakukan, bagaimana bisa ikut campur? Tosu Kun-lun selamanya sombong, apa kau kira aku takut mendengar nama Kun-lun? Heh-heh-heh, Tosu cilik, berani kau menentangku?"

"Menentang kelaliman adalah tugas"

Setiap orang yang menjunjung kebenaran! Kalau kau mencari perkara, Pinto tidak akan mundur setapak pun!"

Jawab tokoh Kun-Lun-Pai dengan suara gagah. Si Kakek pendek gendut dari Mongol mengeluarkan suara ketawa yang serak.

"Bagus, kau sudah bosan hidup!"

Setelah berkata demikian, dia melompat maju ke depan Sung Bi Tosu, lalu memasang kuda-kuda dengan tubuh jongkok sehingga tubuh yang sudah pendek itu tampak menjadi makin pendek lagi.

Dari mulutnya terdengar suara "Kok-kok-kok!"

Dan kedua kakinya berloncatan dengan gerakan berbareng seperti katak meloncat.

"Hemmm. Pendeta liar dari Mongol, apakah kau mau membadut di sini...?"

Belum habis Sung Bi Tosu bicara, tiba-tiba Kakek gendut pendek itu menggerakkan kedua tangan depan dan tubuh Sung Bi Tosu terjengkang ke belakang, roboh telentang dan bergulingan.

Ternyata dia telah terkena pukulan ilmu Katak Sakti yang dahsyat.

Namun, sebagai seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang lihai, begitu tadi merasai datangnya pukulan jarak jauh yang luar biasa, dia telah mengerahkan Sinkangnya, sehingga biarpun dia telah terpukul dan "Roboh terjengkang, dia tidak tewas.

Orang lain yang terkena hawa pukulan sehebat itu tentu akan tewas di saat itu juga, akan tetapi tokoh Kun-Lun-Pai ini hanya terluka dan masih kuat melompat bangun dengan muka pucat dan mata merah.

"Iblis jahat!"

Serunya dan tubuhnya sudah melayang maju, sinar pedangnya berkelebat cepat menyambar. Akan tetapi sekali lagi terdengar suara "Kok-kok-kok!"

Dan sambil mengelak dari sambaran pedang, Kakek gendut pendek itu sudah mengirim dua kali pukulannya.

Pukulan pertama membuat Pedang Sung Bi Tosu terpental, pukulan kedua membuat tubuhnya terlempar sampai lima meter lebih dan Tosu Kun-Lun-Pai itu roboh tak bangun lagi karena nyawanya sudah melayang meninggalkan tubuhnya!

Pucat muka Leng Ek Cu, tokoh Kong-Thong-Pai saking marahnya menyaksikan pembunuhan atas diri teman baiknya ini.

Diam-diam dia juga kagum dan ngeri menyaksikan kehebatan ilmu pukulan Bo Wi Sianjin yang demikian hebat sehingga seorang tokoh Kun-Lun-Pai yang sudah tinggi tingkatnya dapat terpukul binasa hanya oleh tiga pukulan jarak jauh.

"Keji... keji sekali..."

Katanya sambil melangkah maju.

"Mati hidup manusia bukanlah hal aneh, seperti angin lalu. Akan tetapi mengandalkan kepandaian untuk merenggut nyawa orang lain hanya untuk urusan tak berarti, benar-benar keji sekali. Apalagi kalau yang melakukan itu seorang yang sudah menamakan dirinya tua dan pertapa pula. Bo Wi Sianjin, untuk kekejianmu itulah Pinto terpaksa bertindak!"

Sambil berkata demikian, Leng Ek Cu sudah mencabuf pedangnya dan bersiap menghadapi lawannya yang tangguh.

Akan tetapi tiba-tiba dia cepat miringkan tubuh dan menggeser kaki kiri ke belakang sambil mengibaskan pedangnya karena tahu-tahu dari sebelah kanan menyambar hawa pukulan.

Kiranya Pendeta tinggi bersorban itulah yang menggerakkan lengannya yang panjang untuk mencengkeram pundaknya tanpa berkata sesuatu.

"Heh, siapa kau? Pendeta asing, jangan mencampuri urusan orang lain!"

Bentak tokoh Kong-Thong-Pai itu sambil melintangkan Pedang di depan dada.

Penyerangnya adalah Maharsi.

Pendeta India yang jangkung ini mengeluarkan suara tertawa seperti suara burung hantu, lalu berkata dengan kata-kata yang kaku dan suara asing.

"Sudah berani mencabut Pedang tentu berani menghadapi siapa juga, termasuk aku. Maharsi orang bodoh dari Barat."

Setelah berkata demikian, dari kerongkongannya terdengar suara melengking tinggi yang memekakkan telinga, kedua lengannya mendorong-dorong setelah tubuhnya miring-miring dalam kedudukah kuda-kuda yang ganjil.

Akan tetapi dari kedua lengannya itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat.

Inilah ilmu Pukulan Pai-San-Jiu!

Leng Eng Cu adalah tokoh tingkat dua dari Kong-Thong-Pai, ilmu pedangnya merupakan ilmu Pedang kebanggaan partainya, cepat dan bergulung-gulung panjang, juga dia memiliki Ginkang yang membuat dia dapat bergerak cepat sekali.

Tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada tingkat Sung Bi Tosu.

Melihat gerakan aneh dari Pendeta asing ini, Leng Ek Cu tidak berani memandang rendah dan trdak mau menyambut langsung.

la mengandalkan Ginkangnya, dengan lincah dia mengelak dan tubuhnya meliuk ke samping, terus mengirim tusukan diiringi tenaga Lweekang yang membuat Pedang itu berdesing menuju ke arah sasarannya, yaitu perut si Pendeta India!

Maharsi kembali mengeluarkan lengking tinggi dan tubuhnya tanpa berubah sedikit pun juga agaknya tidak mengelak dan bersedia menerima tusukan pedang.

Namun tidaklah demikian kiranya Karena sebelum Pedang itu mencium kulit perutnya lewat baju, tiba-tiba perutnya melesak ke dalam dan tangannya yang berlengan panjang itu sudah menyambar ke depan mengarah leher dan kepala iawan.

Hebat memang Pendeta ini, karena begitu dia menjulurkan lengannya dan mengempiskan perutnya, Selain Pedang lawan tidak dapat mengenai perutnya, juga lengannya itu lebih panjang jangkauannya sehingga kalau Leng Ek Cu melanjutkan tusukannya, tentu lehernya akan patah dicengkeram dan kepalanya akan bolong-bolong!

Tentu saja Leng Ek Cu tidak sudi diperlakukan demikian.

Andaikata tadi Sung Bi Tosu tidak berlaku sembrono dan tidak memandang rendah lawannya seperti halnya Leng Ek Cu sekarang, belum tentu dia dapat dirobohkan sedemikian mudahnya oleh Bo Wi Sianjin yang memiliki Ilmu Katak Sakti.

Leng Ek Cu amat hati-hati, dapat menduga bahwa lawannya, Pendeta asing ini, memiliki kepandaian yang luar biasa dan aneh.

Karena itu dia cepat menarik pedangnya yang dikelebatkan merupakan lingkaran membabat kedua lengan lawan.

Gerakan ini dia lakukan dengan pengerahan tenaga Lweekang.

"Bagus!"

Maharsi berseru gembira.

Memang demikianlah wataknya.

Makin tinggi tingkat kepandaian lawan, makin gembiralah hatinya untuk melayaninya.

Ilmu silatnya yang aneh, sebagian besar mengandalkan tenaga Sinkang mujijat yang bercampur dengan ilmu sihir, namun harus diakui bahwa tubuhnya yang jangkung itu dapat bergerak lamas dan lincah, sungguhpun kedua kakinya jarang sekali dipindahkan dengan cara diangkat, hanya digeser-geserkan dengan menggerakkan kedua tumit.

Sepasang lengannya yang panjang itu bagaikan sepasang ular hidup, tapi setiap gerakan mengandung tenaga dahsyat dari ilmu pukulan sakti Pai-San-Jiu.

Makin lama makin cepat kedua lengan bergerak, kini kedua tangan dikembangkan jari-jarinya, sepulun buah jari itu bergerak-gerak seperti ular-ular kecil dan terbentanglah jari-jemari yang menggeliat-geliat mengaburkan pandangan mata, sepuluh batang jari itu bergerak-gerak cepat menjadi ratusan dan dari jari-jari itu menyambar hawa pukulan Pai-San-Jiu!

Inilah ilmu yang hebat!

Leng Ek Cu, tokoh tingkat dua dari Kong-Thong-Pai yang memiliki kiam-hoat pilihan, berusaha mengurung dirinya dengan selimut sinar pedangnya, namun dia hanya dapat bertahan sampai dua puluh lima jurus saja.

Pandang matanya kabur, sinar pedangnya makin membuyar dihantam hawa pukulan yang merayap masuk antara sinar pedangnya bagaikan titik-titik air hujan.

Pertahanannya makin lemah, kepalanya pusing dan tubuhnya bermandi peluh.

Maharsi makin kuat saja, kini hawa pukulan yang dapat menyelinap di antara sambaran sinar Pedang makin membesar tenaganya, mengenai tubuh Leng Ek Cu bagaikan jarum-jarum beracun menusuk-nusuk.

Pakaian Tosu Kong-Thong-Pai itu sudah bolong-bolong, kulit tubuhnya yang terkena hawa pukulan mengakibatkan titik-titik hitam dan makin lama pukulan-pukulan yang sebetulnya hanya merupakan sentilan-sentilan jari tangan yang sepuluh buah banyaknya itu makin gencar datangnya.

Leng Ek Cu seorang gagah sejati, sedikit pun tidak mengeluh walau rasa nyeri pada tubuhnya hampir tak tertahankan lagi.

Akhirnya dia melakukan serangan balasan yang nekat, pedangnya membacok dengan disertai tenaga sepenuhnya, tubuhnya seakan-akan dia tubrukan dengan tubuh lawan agar bacokannya tidak dapat dihindarkan Maharsi.

Maharsi melengking tinggi, kedua tangannya bergerak dan dari atas dia mendahului lawan dengan pukulan Pai-san jiu sekerasnya.

"Hukkk!"

Demikian bunyi yang keluar dari mulut Leng Ek Cu.

Tubuhnya sejenak berdiri tegak, seakan-akan tubuh itu kemasukan aliran listrik dari sambaran halilintar kemudian tubuh yang tegak itu menggigil, makin lama makin keras dan robohlah Leng Ek Cu dengan Pedang di tangan.

Tubuhnya tetap kaku tapi sudah tak bernafas lagi!

Dapat dibayangkan betapa marah dan sedihnya hati Thian Ti Losu melihat kejadian ini.

Dua orang Tosu itu, tokoh Kun-Lun-Pai dan tokoh Kong-Thong-Pai, keduanya adalah orang-orang gagah yang melakukan perjalanan bersamanya.

Sekarang mereka berdua tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan, semua gara-gara urusan dia dengan Suhengnya, Bhong Hwesio yang murtad.

Kalau tidak ada urusan Bhok Hwesio, kiranya tidak akan terjadi peristiwa ini dan kedua orang temannya itu tidak akan mengorbankan nyawa.

"Bhong-Suheng, benar-benar kau telah tersesat jauh sekali,"

Serunya dengan suara keras penuh kemarahan.

"Kau membiarkan teman-temanmu membunuh dua orang Tosu tidak berdosa dari Kun-lun dan Kong-thong. Bhok-Suheng, kau insyaflah, jauhkan diri dari pergaulan sesat dan mari pulang bersama Siauwte, menghadap twa-Suheng Thian Seng Losu dan menebus dosa menghadap perjalanan ke alam asal!"

Namun Bhok Hwesio yang sudah menyimpan rasa sakit hati dan juga penasaran terhadap Siauw-Lim-Pai, mana mau mendengar nasihat ini? la membuka kedua matanya dan menegur.

"Thian Ti Losu, kau dan aku bukan saudara bukan teman bukan segolongan lagi, mengapa banyak cerewet? Mengingat akan perkenalan kita yang sudah puluhan tahun, mau aku mengampunimu dan lekas kau pergi dari sini jangan menggangguku lagi."

"Bhok Hwesio, kau benar-benar tidak mau insyaf? Terpaksa Pinceng mentaati perintah twa-Suheng dan menjalankan peraturan Siauw-Lim-Pai yang kami junjung tinggi. Berlututlah!"

Thian Ti losu mengangkat tangan kanan tinggi di atas kepala sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka ditaruh miring berdiri di depan dada.

Inilah pasangan kuda-kuda yang sudah biasa dilakukan oleh seorang tokoh Siauw-Lim-Pai untuk memberi hukuman kepada murid murtad.

Mesti menurut aturan, murid-murid yang sudah tidak diakui lagi oleh Siauw-Lim-Pai menerima hukuman paling berat, yaitu dimusnahkan kepandaiannya sehingga ia akan menjadi seorang Pendeta cacad di dalam tubuh yang tak dapat disembuhkan lagi, membuatnya menjadi seorang yang lemah dan tidak memiliki Sinkang lagi.

"Hu-huh-huh, siapa sudi mendengar ocehanmu?"

Bentak Bhok Hwesio marah.

"Bhok-Taisuhu, kenapa begini sabar? Biarlah aku mewakilimu memberi hajaran kepada si sombong ini!"

Bo Wi Sianjin si pendek gendut membentak marah, lalu melompat maju menghadapi Thian Ti Losu, tubuhnya berjongkok dan kedua lengannya didorongkan ke depan sambil mengeluarkan bunyi "Kok-kok"

Dari kerongkongannya.

"Omitohud, Pendeta sesat!"

Thian Ti Losu mengeluarkan teguran dan dia pun mendorongkan kedua lengannya ke depan.

Karena si pendek itu mendorong dan bawah ke atas, untuk mengimbangi tenaganya dari arah yang berlawanan, Hwesio Siauw-lim ini mendorong dari atas ke bawah.

Tampaknya perlahan saja dua pasang telapak tangan itu bertemu, akan tetapi akibatnya hebat.

Tubuh Thian Ti Losu mencelat ke atas sampai kedua kakinya meninggalkan tanah setinggi setengah meter, sedangkan tubuh Bo Wi Sianjin melesak ke dalam tanah sampai sepinggang dalamnya!

Ini saja sudah membuktikan bahwa Ilmu Katak Sakti yang mengandung tenaga Sinkang luar biasa itu ternyata tidak dapat melawan kekuatan si Hwesio tokoh Siauw-Lim-Pai.

"Bi Wi Sianjin, biar Pinceng bereskan sendiri bocah ini!"

Kata Bhok Hwesio yang menggerakkan kedua kakinya melangkah maju menghampiri sutenya.

Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang seperti dua ekor jago tua sedang mengukur kekuatan dan keberanian hati sebelum mulai bertanding.

Adapun Maharsi cepat menghampiri Bo Wi Sianjin dan sekali Kakek jangkung ini menyendal tangan temannya, tokoh Mongol itu sudah "Tercabut"

Keluar dari tanah.

Wajahnya menjadi merah karena dalam segebrakan tadi saja sudah dapat dibuktikan bahwa ilmu kepandaian tokoh Siauw-Lim-Pai itu masih terlampau kuat baginya.

Diam-diam dia harus mengakui kehebatan Siauw-Lim-Pai yang bukan kosong, terbukti dengan dua orang Hwesio ini sudah cukup menyatakan bahwa tokoh-tokoh Siauw-Lim-Pai memang hebat.

Sementara itu, Bhok Hwesio dan Thian Ti Losu sudah mulai bertanding.

Karena maklum betapa lihainya Hwesio murtad itu, Thian Ti Losu menyerang dengan senjata tongkatnya.

Begitu bergebrak, dia telah mempergunakan ilmu tongkatnya yang amat kuat.

Tongkat itu mengeluarkan bunyi mengaung-aung dan ujungnya tergetar lalu pecah menjadi banyak sekali, langsung menyerang bagian-bagian tubuh yang berbahaya.

Bo Wi Sianjin dan Maharsi memandang kagum dan penuh perhatian.

Sering sudah mereka menyaksikan ilmu tongkat dari Siauw-Lim-Pai yang tersohor dimainkan orang, akan tetapi baru kali ini melihat permainan tongkat demikian dahsyatnya.

Bhok Hwesio sendiri pun maklum akan kelihaian sutenya ini, dan tentu saja sebagai tokoh Siauw-Lim-Pai, dia mengenal baik ilmu tongkat dari Siauw-lim, maka dengan tenang namun tangkas dia melayani tongkat itu dengan kedua ujung lengan bajunya.

Thian Ti Losu baru merasa terkejut ketika gerakan tongkatnya menyeleweng setiap kali bertemu dengan ujung lengan baju Bhok Hwesio.

Hal ini menandakan bahwa bekas Suhengnya itu luar biasa kuatnya dan dia kalah banyak dalam hal tenaga sakti.

Selain ini, dia melihat gerakan Suhengnya amat aneh, biarpun dasar-dasarnya masih memakai dasar Ilmu Silat Siauw-Lim-Pai yang Kokoh kuat, namun perkembangannya berubah banyak seakan-akan jurus-jurus Siauw-Lim-Pai yang tidak asli lagi.

Memang demikianlah halnya.

Selama dua puluh tahun menjalani hukumannya sambil bertapa di dalam kamar, Bhok Hwesio telah menciptakan ilmu pukulan dengan kedua lengan bajunya, yang sedianya dia ciptakan untuk menghadapi musuh-musuhnya yang lihai.

Ilmu pukulan ini dasarnya memang ilmu Silat Siauw-Lim-Pai yang dia pelajari semenjak kecil, tetapi perkembangannya dia ciptakan sendiri, khusus untuk melayani ilmu silat yang mengandung penggabungan hawa Im dan Yang, karena kedua orang musuh besarnya, Pendekar Buta dan Raja Pedang, adalah ahli-ahli dalam hal ilmu silat gabungan tenaga itu.

Kini, menghadapi bekas sutenya dia malah mendapat kesempatan untuk sekali lagi, setelah tadi mencobanya atas diri Bo Wi Sianjin dan Maharsi, menggunakan dan mencoba ilmu ciptaannya itu.

Kepandaian Bhok Hwesio memang hebat.

Hawa Sinkang di dalam tubuhnya menjadi berlipat kuatnya setelah dia bertapa selama dua puluh tahun, berlatih setiap hari dengan tekun.

Memang dasar latihan Samadhi dan peraturan bernafas dari Siauw-Lim-Pai amatlah kuatnya, berasal dari sumber yang bersih dan diperuntukkan bagi para Pendeta Buddha untuk menguatkan batin dan mencapai kesempurnaan.

Dan agaknya dalam hal ini, Bhok Hwesio sudah mencapai tingkat yang amat tinggi, sungguhpun setelah sampai pada batas yang tinggi, ilmunya menjadi menyeleweng dari garis kesempurnaan karena dikotori oleh rasa dendam dan sakit hati sehingga tak dapat menembus rintangan yang dibentuk oleh nafsunya sendiri.

Andaikata Bhok Hwesio tidak dikotori oleh dendam dan nafsu, kiranya dia akan dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi daripada yang pernah dicapai oleh tokoh-tokoh Siauw-Lim-Pai karena memang pada dirinya terdapat bakat yang amat besar.

Thian Ti Losu baru sadar akan kehebatan bekas Suhengnya ini setelah bertanding selama lima puluh jurus.

la terdesak hebat dan sinar tongkatnya selalu terbentur membalik oleh hawa pukulan lawan yang kuat sekali.

Mamun, bagi tokoh Siauw-Lim-Pai ini, membela kebenaran merupakan tugas hidup dan merupakan pegangan sehingga die tidak gentar menghadapi apa pun.

Mati dalam membela kebenaran adalah mati bahagia.

la mengerahkan tenaga dan memutar tongkatnya lebih cepat, berusaha sekuatnya untuk menghancurkan benteng hawa pukulan yang menghimpitnya itu.

Dengan gerakan melingkar, tongkatnya melepaskan diri dari tekanan ujung lengan baju, lalu dari samping dia mengirim tusukan ke arah lambung.

Gerakan ini boleh dikatakan nekat karena dalam menyerang, dia membiarkan dirinya tak terlindung.

Jika lawannya membarengi dengan serangan balasan, biarpun tongkatnya akan mencapai sasaran dia sendiri tentu akan celaka.

Bhok Hwesio mengeluarkan dengus mengejek.

la tidak mempergunakan kesempatan itu untuk balas menyerang, melainkan cepat sekali kedua ujung lengan baju dia sentakkan ke samping dan di lain saat tongkat itu telah terlibat oleh ujung lengan baju kedua menotok ke arah lehernya.

Thian Ti Losu kaget sekali, mengerahkan tenaga untuk merenggut lepas tongkatnya.

Namun hasilnya sia-sia, tongkatnya seperti telah berakar dan tak dapat dicabut kembali.

Sementara itu, ujung lengan baju kiri Bhok Hwesio seperti seekor ular hidup sudah meluncur dekat.

Terpaksa sekali, untuk menyelamatkan dirinya, Thian Ti Losu melepaskan tongkatnya dan melempar tubuh ke belakang sambil bergulingan.

la selamat dari totokan maut, tetapi tongkatnya telah dirampas lawan.

Bhok Hwesio tertawa pendek, tangannya bergerak dan...

tongkat itu amblas ke dalam tanah sampai tidak kelihatan lagi!

"Thian Ti Losu, terang kau bukan lawanku.

Sekali lagi, kau pergilah dan jangan menggangguku lagi, aku maafkan kekurangajaranmu untuk terakhir kali mengingat bahwa kau hanya menjalankan perintah.

Nah, pergilah!"

Akan tetapi, mana Thian Ti Losu sudi mendengarkan kata-kata ini?

Melarikan diri dari tugas hanya karena takut kalah atau mati adalah perbuatan pengecut dari akan mencemarkan nama baiknya dan terutama sekali, nama besar Siauw-Lim-Pai.

Mati dalam menunaikan tugas jauh lebih mulia daripada hidup sebagai pengecut yang mencemarkan nama baik Siauw-Lim-Pai.

Dan Bhok Hwesio bekas Suhengnya, menganjurkan dia menjadi pengkhianat dan pengecut.

Thian Ti Losu menengadahkan mukanya ke atas, tertawa bergelak lalu mengerahkan seluruh Lweekangnya dan di lain saat dia telah menerjang maju dengan kepala yang mengepulkan uap di depan, menubruk Bhok Hwesio.

Inilah jurus mematikan yang berbahaya bagi lawan dan diri sendiri!

Karena jurus seperti ini, yang menggunakan kepala untuk menghantam tubuh lawan, merupakan tantangan untuk mengadu tenaga terakhir untuk menentukan siapa harus mati dan siapa akan menang.

Kalau dielakkan, hal ini akan menunjukkan kelemahan yang diserang, tanda bahwa dia tidak berani menerima tantangan adu nyawa, dan bagi seorang jagoan, apalagi seorang tokoh besar seperti Bhok Hwesio, tentu saja merupakan hal yang akan memalukan sekali.

"Huh, kau keras kepala!"

Ejek Bhok"

Hwesio sambil berdiri tegak, perutnya yang gendut besar ditonjolkan ke depan. Bagaikan seekor lembu mengamuk, Thian Ti Losu menyeruduk ke depan, kepalanya diarahkan perut bekas Suhengnya.

"Cappp!"

Kepala Hwesio itu bertemu dengan perut Suhengnya dan menancap atau lebih tepat amblas ke dalam ketika perut itu mempergunakan tenaga menyedot.

Hebatnya, tubuh Thian Ti Losu lurus seperti sebatang kayu balok.

Kedua tangannya bergerak hendak memukul atau mencengkeram, namun Bhok Hwesio yang sudah siap mendahuluinya, mengetuk kedua pundaknya.

Terdengar suara tulang patah dan kedua lengan Thian Ti Losu menjadi lemas seketika, tergantung di kedua pundak yang telah patah sambungan tulangnya.

Bhok Hwesio meneruskan gerakan tangannya.

Tiga kali dia mengetuk punggung Thian Ti Losu dan tubuh yang tegak lurus itu menjadi lemas, tanda bahwa tenaganya lenyap.

Adapun kepala tokoh Siauw-Lim-Pai itu masih menancap di "Dalam"

Perut Bhok Hwesio.

"Nah, pergilah!"

Seru Bhok Hwesio.

Perutnya yang tadinya menyedot itu dikembungkan dan...

tubuh Thian Ti Losu yang sudah lemas itu terlempar ke belakang sampai lima meter lebih jauhnya, roboh di atas tanah dalam keadaan setengah duduk.

la maklum apa yang telah menimpa dirinya.

Bhok Hwesio sudah melakukan tindakan yang amat kejam, bukan membunuhnya melainkan mematahkan tulang kedua pundak, tulang punggung dan menghancurkan saluran hawa sakti di punggung sehingga mulai saat itu dia tidak akan mungkin lagi mempergunakan Lweekang atau Sinkang dan menjadi seorang tapa daksa selama hidupnya!

"Manusia keji..."

Katanya terengah-engah menahan nyeri akan tetapi matanya masih memandang tajam.

"Bunuh saja aku sekalian..."

"Huh-hu-huh, Thian Ti Losu. Kau benar-benar seorang yang tak kenal budi. Aku sengaja tidak membunuhmu agar kau dapat kembali ke Siauw-Lim-Pai dan membuktikan bahwa kau seorang yang setia dan dapat menunaikan tugas sampai batas kemampuan terakhir. Dan kau masih mengomel?"

"Lempar saja dia ke jurang!"

Kata Bo Wi Sianjin yang masih merasa penasaran dan marah karena tadi dia terbanting masuk ke dalam tanah oleh tokoh Siauw-Lim-Pai itu.

"Heeeiii...! Mana dia...??"

Seruan Maharsi itu membuat Bhok Hwesio dan Bo Wi Sianjin menengok. Baru sekarang mereka teringat akan diri gadis Cucu Raja Pedang Ketua Thai-San-Pai itu.

"Wah, dia melarikan diri. Hayo kejar, dia penting sekali harus kita tawan!"

Seru Bhok Hwesio dan ketiga orang Kakek ini segera meloncat dan lenyap dari tempat itu mengejar Lee Si, meninggalkan Thian Ti Losu yang hanya dapat memandang dengan hati mendongkol.

la ditinggal dalam keadaan cacad, bersama mayat dua orang temannya.

Sung Bi Tosu tokoh Kun-Lun-Pai dan Leng Ek Cu tokoh Kong-Thong-Pai.

Ke manakah perginya Lee Si?

Mengapa betul dugaan Bhok Hwesio tadi.

Ketika gadis ini melihat bahwa di antara para Kakek sakti itu timbul pertengkaran, ia maklum bahwa kehadirannya di situ amat berbahaya dan bahwa saat itu merupakan kesempatan baik sekali baginya.

Diam-diam ia menyelinap pergi pada saat pertandingan pertama terjadi.

Setelah menyelinap di antara pepohonan dia lalu berlari cepat sekali, sengaja mengambil jalan melalui hutan-hutan lebat.

Sepuluh hari kemudian, Lee Si yang kali ini berlari menuju ke Timur tanpa disengaja, tiba di sebuah kota.

Di tempat ini barulah ia mendapat kenyataan dari keterangan yang ia dapat bahwa selama ini ia telah salah jalan dan tersesat amat jauh.

Kota ini adalah Kong-Goan, sebuah kota di Propinsi Secuan sebelah Utara, cukup besar dan ramai, di lembah Sungai Cia-Ling.

Karena ketika tiba di kota ini hari sudah menjelang senja, setelah mendapatkan keterangan itu Lee Si lalu menyewa sebuah kamar di rumah penginapan yang kecil tapi cukup bersih.

Sehabis makan, ia berjalan keluar dari kamarnya, terus ke depan rumah penginapan dengan maksud hendak keliling kota.

Tiba-tiba ia mengangkat muka dan hatinya berdebar.

Entah apa sebabnya, bertemu pandang dengan seorang pemuda yang kebetulan lewat di depannya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas.

Lee Si bingung dan heran sendiri.

Pemuda itu tampan sekali, mukanya putih dan halus seperti mukYo Wanita, alisnya hitam tebal, pakaiannya sederhana saja akan tetapi tidak menyembunyikan tubuhnya yang kuat dan tegap, gerak-geriknya jelas membayangkan "isi,"

Yaitu bahwa orang muda ini tentu memiliki kepandaian. Agaknya yang kemasukan aliran "Stroom"

Aneh bukan hanya Lee Si karena pemuda itu yang tadinya berjalan dengan kepala menunduk, tiba-tiba mengangkat muka memandang Lee Si, malah setelah lewat, beberapa kali dia menengok sehingga dua pasang mata bertemu dan sinarnya seakan-akan menembus jantung!

Sejenak Lee Si berdiri termenung, memeras otak untuk mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan pemuda tadi dan mengapa ia menjadi tertarik seperti ini.

Akan tetapi tetap saja ia tidak dapat ingat di mana dan bila ia pernah melihat wajah itu, wajah yang seakan-akan tidak asing baginya dan yang membuat darah di tubuhnya berdenyut lebih cepat dari biasanya.

Akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu beberapa kali menengok memandangnya timbul kemarahan di hati Lee Si.

Betapapun juga, pemuda itu kurang ajar, berani memandanginya seperti itu.

Selain kurang ajar juga mencurigakan.

Lee Si cepat memasuki kembali kamarnya, mengambil pedangnya dan tak lama kemudian tubuhnya sudah berkelebat di atas genteng yang mulai gelap dan langsung mengejar ke arah perginya pemuda tadi.

Gerakannya cepat dan gesit sekali dan sebentar saja ia melihat pemuda itu berjalan perlahan melalui jalan kecil yang gelap, kemudian terus keluar kota sebelah Timur.

Siapakah pemuda tampan itu?

Bukan pemuda biasa.

Pemuda itu adalah Kwa Swan Bu, putera tunggal Pendekar Buta Kwa Kun Hong.

Telah lama sekali kita meninggalkan Pendekar Buta dan anak isterinya.

Setelah Suami isteri dan putera mereka ini pindah kembali ke tempat lama, yaitu di Liong-Thouw-San, Swan Bu tidak begitu dimanja lagi seperti ketika dia berada di Hoa-San.

la amat tekun berlatih ilmu kepandaian di bawah bimbingan Ayah Bundanya, terutama Ayahnya.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali seperti biasa, Swan Bu turun dari puncak Liong-Thouw-San dan pergi ke lereng sebelah kanan di mana terdapat jembatan tambang yang menghubungkan Liong-Thouw-San dengan dunia luar.

la duduk di atas batu besar dan memandang ke Timur.

Sudah menjadi kesukaan Swan Bu untuk menanti munculnya matahari yang merah dan besar.

Kadang-kadang dia memandang dengan hati penuh rindu, bukan rindu kepada matahari melainkan kepada dunia ramai.

Bagi seorang pemuda seperti dia, tentu saja tinggal di puncak Liong-Thouw-San hanya dengan Ayah Bundanya, merupakan keadaan yang kadang-kadang menyiksanya, tersiksa oleh kesunyian dan rindu akan keramaian dunia.

Tentu saja Kwa Kun Hong dan isterinya, Kwee Hui Kauw, maklum dan dapat merasakan kesunyian hidup putera mereka, dan maklum betapa besar hasrat hati Swan Bu untuk meninggalkan puncak dan merantau di dunia ramai.

Akan tetapi, mereka selalu melarangnya dengan dalih bahwa tingkat kepandaiannya masih jauh dari cukup untuk dijadikan bekal merantau di dunia ramai karena di sana terdapat banyak sekali penjahat-penjahat yang berilmu tinggi.

Selagi Swan Bu duduk termenung sambil menikmati bola merah besar yang mulai tampak muncul dari balik puncak sebelah Timur, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sesosok bayangan manusia yang bergerak cepat meloncat ke sana ke mari.

Jelas bahwa orang itu datang mendaki puncak itu yang memang tidak mudah dilalui.

Swan Bu tetap duduk tak bergerak, memandang penuh perhatian.

Dari jarak sejauh itu, dan dengan cuaca pagi yang masih remang-remang, dia tidak dapat mengenal siapa adanya orang yang datang ini.

Terang bukanlah penduduk di sekitar Pegunungan Liong-Thouw-San, karena tidak ada penduduk gunung yang dapat bergerak secepat itu.

Timbul kegembiraan di hati Swan Bu.

Tentu seorang di antara anak murid Hoa-San-Pai!

Siapa lagi kalau bukan orang Hoa-San-Pai yang datang berkunjung?

Hatinya gembira karena semua anak murid Hoa-San-Pai telah dia kenal baik.

Swan Bu melihat betapa orang itu meloncat ke atas jembatan tambang.

Sebetulnya bukanlah jembatan, melainkan sehelai tambang yang direntang dari seberang jurang dan untuk melalui "jembatan"

Ini, orang harus memiliki kepandaian dan Ginkang.

Sekali saja terpeleset, mulut jurang yang menganga lebar mengerikan telah menanti di bawah untuk menelan lenyap tubuh si penyeberang yang jatuh!

Swan Bu dapat melihat betapa tambang itu bergoyang sedikit ketika orang tadi meloncat di atasnya dan kini berlari melalui tambang.

Bergoyangnya tambang ini saja sudah cukup dijadikan ukuran oleh Swan Bu bahwa si pendatang ini belumlah begitu sempurna Ginkangnya.

Teringat dia betapa Ibunya melatih Ginkang dan tambang inilah yang dijadikan ukuran.

Selama dia belum dapat berlari-lari di atas tambang tanpa menggoyangkan tambang itu sedikit pun juga, dia diharuskan terus berlatih!

Tentu saja sekarang dia dapat berlari-lari di atas tambang itu tanpa menggoyangkan tambang itu sama sekali.

Setelah orang itu datang dekat, Swan Bu terheran-heran.

Orang itu adalah seorang pemuda, sebaya dengannya.

Seorang pemuda yang tampan, pakaiannya indah, Pedang yang bersarung Pedang indah tergantung di pinggang, kepalanya ditutup sebuah topi lebar yang dihias sehelai bulu merak, membuat wajahnya tampak makin tampan.

Yang membuat Swan Bu terheran-heran adalah bahwa dia sama sekali tidak mengenal orang ini.

Orang ini bukanlah anak murid Hoa-San-Pai!

la cepat berdiri dan menghadang di situ.

Pemuda itu setelah melompat ke seberang setelah melalui jembatan tambang, melihat Swan Bu dan cepat dia menghampiri.

Wajahnya yang tampan itu berseri dan mulutnya tersenyum.

Cepat dia mengangkat kedua tangan memberi salam sambil berkata.

"Kalau tidak salah dugaanku, saudara ini adalah Kwa Swan Bu, putera dari Paman Kwa Kun Hong, bukan?"

Kening Swan Bu berkerut dan dia menjadi makin curiga, akan tetapi dengan hati tabah dia menjawab.

"Dugaanmu betul. Siapakah kau dan apa maksudmu mendaki puncak Liong-Thouw-San?"

Pemuda itu tersenyum, tidak marah oleh sikap Swan Bu yang tidak manis.

"Aku Bun Hui dari Tai-Goan, Ayahku adalah sahabat baik Ayahmu."

"Ayahmu siapakah? She Bun...? Apakah ada hubungannya dengan Bun Lo Sianjin Ketua Kun-Lun-Pai?"

"Beliau adalah Kakekku!"

Seru Bun Hui gembira.

"Ayahku adalah Jenderal Bun Wan yang bertugas di Tai-Goan, dengan Ayahmu terhitung sahabat baik."

Swan Bu mengangguk-angguk.

Tahulah dia sekarang siapa adanya pemuda tampan berpakaian indah dan mewah tetapi sikapnya ramah dan sederhana ini.

Tentu saja dia sudah banyak mendengar tentang tokoh-tokoh di dunia kang-ouw dari Ayah Bundanya, baik tokoh-tokoh yang tergolong kawan maupun yang tergolong lawan.

Sudah sering kali Ayah Bundanya menyebut-nyebut nama keluarga Bun dari Kun-Lun-Pai, malah dia pun tahu bahwa Ibu dari pemuda ini masih terhitung Bibinya karena Ibu pemuda ini adalah adik angkat Ibunya sendiri.

Jadi mereka berdua masih dapat disebut saudara misan.

la segera menjura dan berkata.

"Maafkan penyambutanku yang kaku karena aku tidak tahu sebelumnya. Kiranya saudara adalah putera Paman Bun Wan. Benar dugaanmu, aku adalah Kwa Swan Bu. Bolehkah aku mendengar urusan penting apa gerangan yang mendorong saudara datang ke sini jauh-jauh dari Tai-Goan? Kuharap saja tidak terjadi sesuatu yang buruk atas diri Paman berdua di Tai-Goan."

Bun Hui tersenyum, girang hatinya mendapat kenyataan bahwa Swan Bu tidaklah sesombong tampaknya tadi.

"Girang sekali, hatiku dapat bertemu muka denganmu, adik Swan Bu. Sudah lama aku mendengar akan dirimu dari Ayah Bundaku, dan aku tahu bahwa usia kita sebaya, hanya aku lebih tua beberapa bulan saja darimu. Jangan kau khawatir, Ayah Bundaku dalam keadaan selamat. Kedatanganku ini diutus oleh Ayah, selain untuk menyampaikan hormat kepada Ayah Bundamu, juga untuk memberi peringatan bahwa kini mulai bermunculan musuh-musuh besar yang berusaha membalas dendam."

Berubah wajah Swan Bu yang tampan. Alisnya yang tebal hitam itu berkerut, matanya memancarkan sinar kemarahan.

"Hemmm, kakak Bun Hui, berilah tahu kepadaku, siapa gerangan musuh-musuh yang berusaha untuk membalas dendam kepada Ayah?"

"Ayahku lebih mengetahui akan hal itu dan agaknya Ayah telah mencatat secara lengkap dalam suratnya yang kubawa untuk Ayahmu. Sepanjang pengetahuanku, agaknya penghuni Ching-Coa-To yang mengumpulkan kekuatan untuk memusuhi Ayahmu. Juga... ada... orang dari Go-Bi-San..."

Melihat keraguan Bun Hui, Swan Bu makin tertarik.

"Siapakah dia, Twako? Juga musuh besar Ayah?"

Bun Hui menelan ludah dan mengangguk.

Beratlah hatinya untuk menyebut nama Siu Bi.

Tidak ingin dia melihat Siu Bi bermusuhan dengan Liong-Thouw-San, dan lebih lagi tidak ingin dia melihat Siu Bi menjadi korban karena sudah pasti gadis itu akan menemui bencana kalau berani memusuhi Pendekar Buta.

"Dia datang dari Go-Bi-San di mana terdapat dua orang bekas musuh besar Ayahmu, yaitu Hek Lojin dan muridnya, The Sun. Mereka ini memiliki kepandaian hebat dan agaknya takkan mau berhenti sebelum dapat membalas kekalahan mereka belasan tahun yang lalu."

"Hemmm, dan penghuni Ching-coa-to itu, siapakah?"

"Sepanjang pengetahuanku, kini di situ menjadi sarang Ang-Hwa-Pai yang dipimpin oleh Ketua mereka yang berjuluk Ang-Hwa Nio-Nio. Juga ada bekas jagoan di istana Selatan berjuluk Ang-Mo-Ko, juga amat lihai biarpun tidak sehebat Ang-Hwa Nio-Nio kepandaiannya. Masih banyak lagi teman-teman mereka yang tidak kuketahui."

"Twako, di manakah letaknya Ching-Coa-To? Di mana tempat tinggal Ang-Mo-Ko dan apakah orang-orang Go-Bi-San itu sudah turun gunung? Mereka berkumpul di mana sekarang?"

Bun Hui memandang curiga.

"Adikku yang gagah, agaknya bernafsu sekali kau ingin mengetahui tempat mereka, mau apakah kau?"

"Tidak apa-apa,"

Twako. Bukankah lebih baik mengetahui kedudukan dan keadaan lawan?"

Bun Hui lalu memberi tahu di mana letak Ching-Coa-To.

"Mungkin Ang-Mo-Ko yang tak tentu tempat tinggalnya itu pun sudah berada di Ching-Coa-To. Tentang orang-orang Go-Bi-San, aku sendiri tidak tahu pasti di mana mereka berada. Hanya... kabarnya sudah turun gunung."

Benar-benar berat hati Bun Hui untuk bicara tentang Siu Bi, dan ini pula yang menggelisahkan hatinya di dalam perjalanan itu karena dia merasa khawatir kalau-kalau Ayahnya memberi tahu perihal Siu Bi di dalam suratnya kepada Pendekar Buta.

"Twako, silakan kau naik ke puncak menghadap Ayah dan Ibu. Kalau mereka bertanya tentang aku, katakan bahwa aku hendak turun gunung mencegah kutu-kutu busuk itu mengganggu ketenteraman Liong-Thouw-San!"

"Eh, adik Swan Bu... jangan begitu... tak boleh tergesa-gesa dan berlaku sembrono...!"

Bun Hui berseru gugup. Namun Swan Bu tersenyum dan dagunya mengeras membayangkan kekerasan.

"Mengapa jangan? Bukankah lebih baik mendahului lawan agar jangan memberi kesempatan kepada mereka untuk bergerak? Apakah artinya aku menjadi putera tunggal Ayah Ibu kalau aku tidak becus membasmi musuh-musuh Ayah Ibu sehingga bangsat-bangsat itu tidak akan berani mengganggu orang tuaku? Selamat berpisah, Twako dan terima kasih atas pemberitahuanmu. Kalau selesai tugasku, aku pasti akan mampir di Tai-Goan untuk menghaturkan terima kasih kepada Ayah Bundamu."

Bun Hui menyesal bukan main mengapa dia tadi banyak bicara kepada pemuda yang berwatak keras itu.

Cepat-cepat dia mendaki ke atas puncak agar dapat memberi tahu kepada Paman dan Bibinya sehingga mereka akan dapat mencegah Swan Bu turun gunung.

la maklum bahwa Swan Bu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi mana bisa pemuda ini menghadapi musuh-musuh tangguh itu seorang diri?

Baru Siu Bi, gadis remaja itu saja sudah demikian hebat kepandaiannya, apalagi musuh-musuh lain yang lebih tua usianya.

Ia juga sudah mendengar betapa Ang-Hwa Nio-Nio memiliki ilmu yang amat tinggi.

Tergesa-gesa dia mendaki puncak melalui tangga tambang.

Ketika dia tiba di depan pondok, dia melihat seorang laki-laki berusia sebaya Ayahnya, duduk di atas bangku menjemur diri di bawah sinar matahari pagi.

Di sebelahnya duduk seorang wanita sebaya Ibunya, lebih tua sedikit, cantik sekali, keduanya bercakap-cakap dengan sikap tenang.

Biarpun seringkali dia mendengar Ayahnya menyanjung-nyanjung dan memuji-muji Pendekar Buta, namun Bun Hui belum pernah bertemu muka dengan Pendekar itu atau pun isterinya.

Akan tetapi, melihat kesederhanaan mereka yang sekarang duduk di depan pondok, dia dapat menduga bahwa mereka tentulah Paman dan Bibinya itu.

Apalagi sekarang jelas kelihatan betapa sepasang mata laki-laki setengah tua itu tidak pernah berkedip dan ketika dia berjalan mendekat, tampak olehnya betapa sepasang mata itu kosong tidak berbiji!

Sebatang tongkat kayu yang bersandar pada bangku laki-laki buta itu menarik perhatiannya dan diam-diam tengkuknya meremang karena dia sering mendengar dari Ayahnya tentang keampuhan tongkat itu yang telah merobohkan banyak tokoh besar dunia kang-ouw.

Kini mereka berhenti bercakap-cakap dan menengok ke arahnya.

Terkejut hati Bun Hui ketika bertemu pandang dengan sepasang mata nyonya itu.

Alangkah tajam, penuh wibawa dan seakan-akan menembus langsung ke dalam dadanya!

Seakan-akan mata nyonya itu mewakili pula mata suaminya yang buta sehingga kekuatan pandangannya seperti pandangan mata dua orang digabung menjadi satu.

Cepat dia maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan mereka tanpa mempedulikan tanah yang agak basah oleh embun pagi dan mengotori celana pakaiannya yang indah.

"Bangunlah, Hui-ji (anak Hui), tak perlu kau terlalu sungkan. Lihat, pakaianmu kotor oleh tanah basah!"

Wanita itu, Kwee Hui Kauw, menegur Bun Hui.

Bun Hui tercengang.

Bagaimana nyonya itu mengetahui bahwa dia adalah Bun Hui?

Selamanya baru kali ini dia bertemu muka dengan Suami isteri Pendekar ini!

"Betul kata isteriku, orang muda.

Kau bangkit dan duduklah, mari kita bicara yang enak."

"Paman... Bibi... mohon ampun sebesarnya... saya telah bicara dengan adik Swan Bu dan..."

Pendekar Buta Kwa Kun Hong tersenyum, menggerakkan tangannya mencegah pemuda itu melanjutkan kata-katanya.

"Dan dia pergi turun gunung? Tidak apa, anakku. Memang sudah waktunya dia turun gunung menambah pengalaman. Lebih baik kauserahkan surat Ayahmu kepadaku."

Untuk kedua kalinya Bun Hui tercengang.

Bagaimana Suami isteri itu dapat mengetahui semuanya?

Dapat tahu bahwa dia datang membawa surat Ayahnya, tahu pula tentang perginya Swan Bu turun gunung dan tahu bahwa dia itu Bun Hui padahal baru kali ini bertemu muka.

Satu-satunya jawaban yang menerangkan keanehan ini hanya bahwa Suami isteri ini tentu telah melihat kedatangannya dan mendengar percakapannya dengan Swan Bu tadi, tanpa dia sendiri mengetahui kehadiran mereka!

Ini saja sudah membuktikan kelihaian mereka!

la segera mengambil surat Ayahnya dan menyerahkannya kepada Kwa Kun Hong.

Tak enak hatinya, karena bagaimana dia dapat menyerahkan surat kepada seorang yang buta kedua matanya?

Untuk memberi tahu bahwa surat sudah dia keluarkan, Bibirnya bergerak hendak bicara agar Paman yang buta itu dapat mengetahui.

Akan tetapi sebelum dia membuka mulut, Kun Hong sudah menggerakkan tangannya menerima surat itu dengan gerakan sewajarnya seperti seorang yang tidak buta.

Seakan-akan dia melihat surat itu dan menerimanya tanpa ragu-ragu lagi.

Tentu saja Bun Hui kaget setengah mati dan mulailah dia meragukan kebutaan Kwa Kun Hong.

Akan tetapi keraguannya lenyap ketika Kun Hong menyerahkan surat kepada isterinya untuk dibaca.

Dengan suaranya yang halus dan merdu Kwee Hui Kauw membaca surat itu yang isinya hampir sama dengan apa yang telah diceritakan Bun Hui kepada Swan Bu tadi, hanya bedanya bahwa di dalam surat itu disebut nama Siu Bi sebagai seorang musuh besar yang mengancam hendak membuntungi tangan Pendekar Buta dan anak isterinya!

Kwa Kun Hong tersenyum pahit dan berkata lirih setelah isterinya selesai membaca.

"Hemmm, benci-membenci, dendam-mendendam, permusuhan, bunuh-membunuh, apa senangnya hidup kalau dunia penuh dengan amukan nafsu ini? Isteriku, aku sudah bosan dengan segala urusan itu. Mudah-mudahan saja Swan Bu akan dapat mengingat semua nasihatku dan tidak suka menanam Bibit permusuhan dengan siapapun juga di dunia ini..."

"Tak perlu digelisahkan semua itu,"

Jawab isterinya dengan suara tetap tenang, halus dan merdu.

"Orang lain boleh meracuni hati sendiri dengan menanam kebencian, orang lain boleh mengikat diri dengan dendam dan permusuhan, akan tetapi kita yang sadar akan penyelewengan hidup itu tidak akan menuruti bujukan nafsu dan setan. Orang membenci kita, orang memusuhi kita, asalkan kita tidak membenci dan tidak memusuhi mereka, kita lah yang menang. Bukanlah begitu kata-katamu sendiri? Nah, kalau ada yang hendak memusuhi kita, biarkan mereka datang. Kalau boleh, kita peringatkan mereka, kita sadarkan mereka, kalau tidak, apa boleh buat, kita hidup dan kita wajib membela diri. Kalau kita yang diberi anugerah hidup tidak mau melakukan kewajiban membela dan menjaga diri, berarti kita kurang terima dan tidak menghargai anugerah itu. Bukankah begitu apa yang sering kau katakan, suamiku?"

Kwa Kun Hong menarik nafas panjang dan mengangguk-angguk.

Bun Hui berdiri bengong, hatinya terharu sekali dan tak kuat dia menentang wajah dua orang itu, membuatnya tunduk lahir batin.

Baru kali ini selama hidupnya dia menyaksikan keadaan penuh damai, penuh cinta kasih, penuh pengertian dan penuh kata-kata yang mempunyai arti begitu dalam pada sepasang Suami isteri.

la menunduk dan sikap serta kata-kata Suami isteri itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat hati anak muda ini menjadi kagum dan tunduk.

"Hui-ji, kami sangat berterima kasih kepada Ayahmu yang penuh perhatian dan juga kepadamu yang sudah melakukan perjalanan sejauh ini. Kuharap saja kau suka beristirahat di sini barang sepekan, agar kita dapat bercakap-cakap dan kami dapat mendengar ceritamu tentang keadaan orang tuamu dan juga keadaan dunia ramai,"

Kata Kwa Kun Hong.

"Saya akan mentaati perintah Paman dan sementara itu, saya yang muda dan bodoh banyak mengharapkan petunjuk-petunjuk dari Paman dan Bibi."

Senang hati Suami isteri itu melihat sikap dan mendengar kata-kata yang amat baik dari Bun Hui.

Demikianlah, pemuda ini tinggal sampai sepuluh hari di puncak Liong-Thouw-San dan selama itu, Selain menceritakan segala hal tentang keadaan di Kota Raja dan lain-lain yang ditanyakan kedua orang tua itu, juga dia menerima banyak petunjuk-petunjuk yang amat penting untuk menyempurnakan kepandaian ilmu silatnya, terutama ilmu pedangnya Kun-Lun Kiam-Sut banyak mendapat kemajuan oleh petunjuk Kwa Kun Hong.

Sementara itu, Kwa Swan Bu sudah berlari cepat sekali turun dari puncak.

la merasa agak bersalah karena tidak berpamit kepada Ayah Bundanya, akan tetapi dia sengaja meninggalkan pesan saja kepada Bun Hui karena dia dapat menduga bahwa biarpun Ayahnya tidak akan melarangnya, namun Ibunya tentu akan menyatakan keberatan.

Sudah sering kali dia menyatakan ingin turun gunung dan selalu dicegah Ibunya yang berkata bahwa kepandaiannya kurang cukup untuk dipakai menjaga diri dari gangguan orang-orang jahat yang banyak terdapat di dunia kang-ouw.

Sekarang Swan Bu tidak ragu-ragu lagi.

Tadinya, memang dia meragu dan membenarkan Ibunya, maka dia menunda keinginan hatinya untuk turun gunung.

Akan tetapi begitu melihat Bun Hui, keraguannya lenyap.

Dari gerakan Bun Hui ketika menyeberangi jembatan tambang, jelas tampak olehnya bahwa tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh tingkat yang dimiliki Bun Hui.

Kalau Bun Hui sudah diperbolehkan Ayahnya melakukan perjalanan jauh seorang diri, mengapa dia tidak boleh?

Pendapat ini diperkuat lagi oleh dorongan hatinya yang menjadi panas mendengar betapa orang Tuanya diancam oleh banyak bekas musuh lama.

Pada suatu hari sampailah dia di kota Kong-Goan di tepi Sungai Cia-Ling.

la bermaksud untuk melanjutkan perjalanan melalui Sungai Cia-Ling ke Selatan sampai di Sungai Yang-Ce-Kiang kemudian melanjutkan perjalanan ke Timur melalui sungai besar itu.

Akan tetapi ketika dia tiba di tepi sungai dan hendak menyewa perahu yang suka mengantarnya sampai ke Sungai Yang-Ce-Kiang, dia melihat dua orang Pengemis menggotong seorang Pengemis lain yang agaknya sakit keras, wajahnya pucat, tubuhnya lemah dan dari mulutnya keluar darah.

Tadinya Swan Bu tidak mau mencampuri urusan orang lain sungguhpun sekilas pandang tahulah dia bahwa Kakek Pengemis yang digotong itu terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya.

Akan tetapi perhatiannya tertarik ketika dia melihat pakaian para Pengemis penuh tambalan itu.

Pakaian penuh tambalan itu berwarna-warni dan berkembang-kembang.

Teringat dia akan penuturan Ayahnya bahwa perkumpulan Pengemis Hwa-I Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) adalah perkumpulan Pengemis yang patriotik dan Ayahnya sendiri menjadi Ketua kehormatan!

"Lopek, berhenti dulu!

Biarkan aku mencoba untuk menolong orang tua yang menderita luka pukulan Ang-See-Ciang ini!"

Dua orang Pengemis yang menggotong si sakit memandang curiga, akan tetapi Kakek Pengemis yang terluka itu membuka mata, memandang heran, lalu berkata dengan nafas terengah-engah.

"Turunkan aku... biarkan Kongcu ini memeriksaku..."

Dua orang Pengemis itu terheran, akan tetapi mereka tidak berani membantah.

Tubuh Kakek itu tidak jadi dimasukkan ke dalam perahu, melainkan diletakkan di atas tanah pasir.

Swan Bu tidak membuang banyak waktu lagi.

Jalur-jalur merah pada leher itu jelas menampakkan tanda korban pukulan Ang-See-Ciang (Tangan Pasir Merah).

la menghampiri, berlutut dan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah kanannya untuk menotok dua kali pada pundak kanan kiri, kemudian sekali dia menekan punggung dan mengurutnya ke bawah sambil mengerahkan tenaga, Kakek itu terbatuk dan muntahkan segumpal darah merah yang sudah mengental, sebesar kepala ayam.

Dua orang Pengemis yang menggotong tadi kaget sekali dan mereka melompat maju, malah sudah mengepal tinju siap untuk menerjang Swan Bu.

"Kau... kau membunuh Susiok (Paman Guru)...!"

Bentak seorang di antara mereka sambil menubruk maju dan memukul.

Swan Bu yang maklum bahwa orang ini salah duga, tidak mempedulikannya, tubuhnya yang masih berjongkok itu bergerak sedikit dan...

penyerangnya terlempar ke depan, melalui atas pundaknya dan langsung terbanting ke air sungai sehingga air muncrat tinggi dan orang itu gelagapan sambil berenang ke pinggir.

Kawannya hendak menyerang, tetapi tiba-tiba Kakek yang sakit tadi membentak.

"Goblok! Apa mata kalian sudah buta."

Si Pengemis kedua tidak jadi menyerang, dan Pengemis pertama yang sudah berhasil berenang ke pinggir, kini memandang dengan heran, juga girang.

Kiranya Kakek Pengemis yang tadinya sudah empas-empis nafasnya, sekarang sudah bangkit duduk, malah dengan perlahan lalu bangun berdiri dan menjura ke depan Swan Bu!

"Orang muda yang gagah perkasa, kau telah menolong nyawa seorang Pengemis tua bangka yang tiada gunanya.

Sicu, bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Lopek, tak usah banyak sungkan. Bukankah Lopek bertiga ini orang-orang Hwa-I Kai-Pang?"

Pertanyaan Swan Bu ini disambut biasa saja oleh tiga orang Kakek itu karena memang Hwa-I Kai-Pang bukan perkumpulan yang tidak terkenal, apalagi mudah saja diketahui dari pakaian mereka.

Kakek itu mengangguk dan menjawab.

"Tidak keliru dugaanmu, Sicu. Aku adalah Kakek Toan-Kiam Lokai (Pengemis Tua Pedang Pendek), sebuah julukan yang kosong melompong, dan dua orang ini adalah murid-murid keponakanku. Sicu masih begini muda sudah luas pandangannya, sekali pandang tahu akan bekas pukulan Ang-See-Ciang, siapakah nama Sicu yang mulia dan dari perguruan mana? "Lopek, mari kita bicara di tempat yang enak,"

Kata Swan Bu sambil mengerling ke arah orang-orang yang banyak berkumpul karena tertarik oleh kejadian ini.

Toan-Kiam Lokai dapat menangkap isyarat ini, dia lalu menggerakkan kedua lengannya ke arah orang-orang di situ sambil berkata.

"Saudara-saudara harap sudi meninggalkan kami agar kami dapat bicara leluasa."

Heran, orang-orang itu segera pergi tanpa banyak membantah lagi.

Hal ini membuktikan kepada Swan Bu bahwa daerah ini agaknya Hwa-I Kai-Pang bukan tidak mempunyai pengaruh.

Setelah semua orang pergi, Swan Bu berkata.

"Lopek, ketahuilah bahwa aku she Kwa bernama Swan Bu, dari Liong-Thouw-San..."

Serta merta Kakek itu bersama dua orang murid keponakannya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Swan Bu!

"Ah, kiranya Siauwhiap (Pendekar Muda) yang telah menolong saya!

Ah, sungguh suatu kebetulan yang membesarkan hati.

Bagaimana kabarnya dengan Taihiap berdua di Liong-Thouw-San?"

"Ayah dan Ibuku baik-baik saja, terima kasih."

"Kiranya putera Ketua kehormatan kita!"

Kakek itu hampir bersorak kegirangan.

"Kalau begitu tidak heran kalau sekali pandang saja sudah tahu akan luka pukulan Ang-See-Ciang! Wah, Siauwhiap tentu telah mewarisi ilmu kepandaian yang sakti dari Taihiap, ilmu silat dan ilmu pengobatan!"

"Ah, aku yang muda dan hijau mana mampu mewarisi semua kepandaian Ayah. Sudahlah, tidak ada gunanya segala puji-memuji ini. Lopek, lebih baik sekarang Kau ceritakan kepadaku, mengapa kau sampai terluka hebat oleh pukulan Ang-See-Ciang dan siapakah pemukulmu, apa pula sebab-sebabnya?"

Toan-Kiam Lokai menarik nafas panjang.

"Siauwhiap, perubahan besar telah terjadi pada Hwa-I Kai-Pang semenjak Suhu Hwa-i Lo-kai meninggal dunia. Apalagi setelah Kwa-Taihiap diketahui tak pernah turun dari puncak Liong-Thouw-San. Hwa-I Kai-Pang tidak dipandang mata lagi orang-orang kang-ouw. Tentu kau telah mendengar dari Ayahmu bahwa sudah sejak dahulu, perkumpulan Hwa-I Kai-Pang bukan perkumpulan Pengemis biasa saja. Di samping itu para anggotanya memiliki tugas untuk menolong kaum lemah yang tertindas, bahkan ikut pula menjaga keamanan kota dari gangguan para penjahat. Akan tetapi, dengan datangnya pembesar dari Kota Raja yang bertugas mengumpulkan tenaga suka rela untuk membangun terusan dan tembok besar atas perintah Kaisar, banyak anak buah Hwa-I Kai-Pang ditangkapi dan dipaksa menjadi sukarelawan. Orang-orang biasa, terutama yang kaya, dibebaskan asal bisa membayar uang tebusan. Bukankah ini menggemaskan?"

"Hemmm, pembesar macam itu sepatutnya diberi hajaran!"

Kata Swan Bu.

"Itulah! Kami sudah berusaha memberi peringatan kepada Lo-Ciangkun (Komandan Lo) yang memimpin pengerahan bantuan itu, akan tetapi kami malah dianggap memberontak terhadap perintah Kaisar! Karena percekcokan ini, terjadilah keributan dan pertengkaran yang berekor pertempuran."

"Ah, kalau begitu keliru juga, Lopek. Tak baik melawan dengan kekerasan, hal itu bisa menimbulkan kesan Hwa-I Kai-Pang memberontak."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Memang betul, tetapi kami pun harus membela anak buah kami yang sudah ditahan dan dipaksa, membebaskan pula orang-orang muda miskin yang tidak mampu membayar uang tebusan yang ditahan juga. Mereka itu, untuk memberi makan keluarga sudah setengah mati setelah mereka ditangkap dan dibawa pergi untuk kerja paksa yang disebut sukarela itu, keluarganya tentu akan mati kelaparan! "Akan tetapi kita bisa mengambil cara lain, misalnya menemui komandan itu secara langsung."

"Sudah kulakukan dan hasilnya aku terluka parah inilah, Siauwhiap. Komandan itu dibantu oleh seorang iblis wanita yang lihai sekali, seorang pendatang baru dari Barat. Kabarnya karena munculnya Wanita itu maka para pembesar di daerah ini amat berubah, berani berlaku sewenang-wenang. Orang-orang gagah yang mencoba menantangnya, semua tewas atau roboh oleh Ang-Jiu Toanio, iblis wanita itu. Karena ingin menyingkirkan biang keladi penyalahgunaan kekuasaan mengandalkan orang kuat itu, aku sengaja mendatangi Ang-Jiu Toanio dan kesudahannya aku terluka..."

Sudah bergolak darah Swan Bu mendengar ini, akan tetapi dia pun terheran mengapa seorang wanita tua, seorang tokoh kang-ouw, membantu pembesar she Lo itu.

"Lopek, mari antarkan aku pergi menemui Lo-Ciangkun itu. Biarkan aku bicara dengannya, kalau dia masih bertindak sewenang-wenang dan hendak mengandalkan Ang-Jiu Toanio, biar aku akan coba-coba menghadapinya."

Girang hati Kakek itu.

"Akan tetapi, harap kau suka berhati-hati, Siauwhiap. Ketahuilah, Ang-Jiu Toanio benar benar luar biasa sekali. Tinggalnya di kuil rusak di sebelah Selatan kota, keadaannya penuh rahasia, seperti iblis saja. Tidak ada orang pernah dapat memasuki kuil, semua orang gagah, termasuk aku sendiri, roboh di halaman kuil oleh pukulan-pukulan Ang-See-Ciang yang luar biasa."

"Biar aku akan mencobanya, Lopek, Mari!"

Toan-Kiam Lokai dengan hati besar lalu mengiringkan Swan Bu menuju ke rumah gedung tempat tinggal Lo-Ciangkun.

Gedung besar itu dijaga beberapa orang pengawal yang bersenjata tombak dan golok.

Begitu para penjaga itu melihat Toan-Kiam Lokai, mereka terkejut dan panik.

Baru kemarin Pengemis tua itu telah membikin onar dan mereka yang tidak melihat sendiri mendengar bahwa Pengemis itu sudah dirobohkan oleh Ang-Jiu Toanio, bagaimana sekarang berani muncul di gedung ini lagi?

"He, berhenti!

Kalian siapa dan mau apa?"

Bentak mereka dan berbarislah belasan orang pengawal menjaga di depan pintu, sebagian lagi lari ke dalam untuk melapor kepada Lo-Ciangkun.

"Aku hendak bicara dengan Lo-Ciangkun. Kalian ini para penjaga harap jangan bikin ribut, aku tidak ada urusan dengan kalian. Lebih baik lekas melaporkan kepada Lo-Ciangkun bahwa aku Swan Bu minta bicara dengannya "

Kata Swan Bu dengan tenang, kemudian dia melangkah terus maju melalui pintu gerbang menuju ke ruangan depan.

Para pengawal itu hanya mengurung tapi tidak berani menghalangi, terutama sekali mereka takut kepada Toan-Kiam Lokai yang diam saja, hanya melirik ke kanan kiri (Lanjut ke

Jilid 12) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 dengan matanya yang sipit.

"Orang muda, berhenti, tidak boleh masuk! Apakah kami harus menggunakan kekerasan?"

Komandan jaga membentak dan mengacung-acungkan tombaknya.

"Kalau Lo-Ciangkun tidak mau keluar menemuiku, aku akan terus maju mencarinya ke dalam rumah sampai ketemu, soal kekerasan, terserah kalau hendak menggunakannya!"

Jawab Swan Bu, masih tetap tenang dan kakinya masih bergerak maju.

Pengemis tua itu diam-diam merasa khawatir dan mengikuti dari belakang.

la anggap perbuatan Swan Bu itu biarpun gagah berani, akan tetapi sembrono sekali.

Bagaimana boleh memasuki mulut harimau secara begini sembrono?

Tentu saja terhadap para penjaga itu, dia tidak takut sama sekali, tetapi dia maklum bahwa selain Lo-Ciangkun sendiri seorang pandai, juga di situ terdapat banyak jago yang tangguh.

Siapa tahu kalau-kalau wanita iblis itu berada disitu pula.

Para penjaga itu sudah mengurung dan siap menerjang dengan senjata mereka yang berkilauan tajam.

Tiba-tiba mata mereka silau oleh gulungan sinar putih yang panjang berkelebatan, disusul suara nyaring.

Sinar itu segera lenyap dan hanya tampak tangan pemuda itu bergerak mengembalikan Pedang ke belakang punggung dan...

belasan batang tombak di tangan para pengawal itu tinggal gagangnya saja!

Dalam waktu yang sukar diikuti mata saking cepatnya, dan dengan cara yang amat luar biasa.

Pemuda itu sudah mencabut Pedang dan membuntungi belasan batang tombak tanpa mereka ketahui."Malah cara pemuda itu mencabut pedang, menggerakkan, kemudian menyimpannya kembali, tak seorang pun di antara mereka dapat melihat jelas.

Seperti sulap saja.

Toan-Kiam Lokai sendiri mengangguk-angguk dan bukan main kagum hatinya.

Itulah gerakan ilmu Pedang yang luar biasa, kesaktian yang hanya mungkin dimiliki putera Pendekar Buta.

"Kalian lihai, aku tidak berniat buruk, buktinya leher kalian tidak putus. Aku hanya ingin bicara dengan Lo-Ciangkun!"

Kata pula Swan Bu, suaranya tetap tenang.

Paniklah para penjaga itu.

untuk mundur mereka takut meninggalkan tugas, maju pun jerih menghadapi pemuda yang luar biasa itu.

Mereka hanya berdiri mengurung di ruangan depan itu, muka pucat dan badan gemetar, Swan Bu dan Pengemis tua itu duduk di atas bangku yang banyak terdapat di ruangan itu.

"Lekas laporkan kepada Lo-Ciangkun!"

Tiba-tiba Pengemis itu membentak, suara galak.

"Sudah lapor... sudah lapor..."

Seorang penjaga menjawab ketakutan.

Tiba-tiba pintu sebelah dalam terbuka lebar dan muncullah seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian perwira ini di dampingi oleh empat orang yang tinggi tegap, berpakaian ringkas dengan sikap seperti jagoan-jagoan.

"Ada apakah ribut-ribut di sini...Eh, kau berani datang lagi? Benar-benar kau hendak memberontak,"

Bentak perwira tinggi kurus itu sambil melotot ke arah Toan-Kiam Lokai. Swan Bu cepat bangun berdiri, tegak dan gagah.

"Kau kah yang disebut Lo-Ciangkun?"

Tanyanya, suaranya nyaring. Komandan itu memandang marah.

"Betul, aku Lo-Ciangkun. Orang muda, kau tampan dan gagah, jangan kau ikut-ikut jembel pemberontak ini..."

"Lo-Ciangkun, Lopek ini hanya mengantar aku ke sini. Aku sengaja ingin bicara denganmu tentang perbuatan sewenang-wenang yang kau lakukan di kota ini dan daerahnya. Kau memaksa orang-orang yang tidak mampu memberi uang tebusan untuk kerja paksa mengerjakan tembok besar dan terusan, dengan dalih bahwa itu adalah perintah Kaisar. Orang-orang miskin, Pengemis-Pengemis, kau paksa dan kau tahan, tetapi mereka yang mampu membayar uang tebusan, yang mampu menyogok kau bebaskan. Benarkah ada perbuatan sewenang-wenang macam ini?"

Swan Bu biarpun semenjak kecil tinggal di gunung-gunung, pertama di Hoa-San kemudian pindah ke Liong-Thouw-San, namun dia banyak mendengar dari Ayah Bundanya tentang keadaan Kota Raja dan sejarahnya.

Wajah perwira itu menjadi merah saking marahnya.

"Keparat, kau ini mempunyai kedudukan apa berani bicara macam itu kepadaku? Anak kecil masih ingusan belum tahu apa-apa, sikapmu yang kurang ajar ini akan mencelakakan kau sendiri. Mengingat akan usiamu yang muda, biarlah kuampuni. Hayo pergi dan jangan banyak rewel lagi!"

Diam-diam Swan Bu berpikir.

Melihat sikap ini, Lo-Ciangkun bukanlah seorang yang amat kejam dan menggunakan kedudukannya bertindak sewenang-wenang.

Buktinya masih memperlihatkan kesabaran terhadap seorang pemuda seperti dia, padahal menurut pendapat umum, sikapnya itu sudah tentu merupakan pelanggaran yang tak boleh diampuni lagi terhadap seorang pembesar pemerintah.

"Lo-Ciangkun, para Lopek dari Hwa-I Kai-Pang sudah herusaha memberi peringatan kepadamu bahwa sepak terjangmu ini melanggar keadilan, akan tetapi kau malah mempergunakan kedudukanmu untuk menindas mereka dengan dalih memberontak. Insyaflah dan ubahlah peraturan yang tidak adil itu sebelum terlambat!."

"Orang muda sombong!"

Teriak seorang di antara empat jagoan tinggi besar itu dan tanpa komando lagi, empat orang itu sudah menerjang maju dengan golok besar di tangan.

Jelas bahwa mereka ini hendak membunuh Swan Bu dan si Pengemis tua.

"Lopek, jangan ikut-ikut!"

Kata Swan Bu.

Mendengar ini, Toan-Kiam Lokai enak-enak duduk saja menonton dan tubuh Swan Bu berkelebat cepat ke depan didahului gulungan sinar perak dan...empat orang itu roboh malang-melintang, golok mereka terbabat buntung dan lengan mereka tergurat Pedang sampai berdarah sedangkan dada mereka masing-masing telah tercium ujung sepatu Swan Bu.

"Anjing-anjing tukang siksa orang"

Kata Toan-Kiam Lokai sambil tertawa.

"Tidak lekas mengempit ekor dan lari mau tunggu digebuk lagi?"

Empat orang itu belum kehilangan kagetnya, mereka terbelalak memandang ke arah Swan Bu, kemudian lari ke luar tunggang-langgang!

"Lo-Ciangkun, kau saksikan sendiri betapa aku bertekad untuk membela pendirianku, kalau perlu dengan pertumpahan darah, karena yang kulakukan ini adalah demi nasib ribuan orang yang tak berdosa,"

Kata Swan Bu, berdiri tegak dan gagah.

Para pengawal yang berdiri di dekat dinding mengurung tempat itu, hanya terbelalak dan tidak berani berkutik, menanti komando komandan mereka.

Akan tetapi Lo-Ciangkun tidak memberi komando itu, malah menarik nafas panjang, lalu menggerakkan tangan berkata.

"Mereka sudah pergi, sekarang boleh kita bicara. Orang muda, kau ini siapakah dan hak apakah yang kau miliki untuk mencampuri tugasku?"

"Aku Kwa Swan Bu, hanya rakyat biasa. Kau seorang pembesar yang digaji dengan uang hasil keringat rakyat, karena itu setiap orang berhak untuk menilai dan mencela tugasmu jika kau menyeleweng, ketahuilah bahwa puluhan tahun yang lalu, Nenek moyang dan Ayahku berjuang mati-matian membela negara dan rakyat, bahkan Ayahku ikut pula membantu perjuangan Kaisar sekarang, namun tidak murka akan kedudukan. Pamanku seorang pejuang yang besar jasanya, sekarang menjadi Jenderal Bun yang terkenal jujur dan berwibawa sebagai jaksa agung di Tai-Goan. Kau ini, mungkin tak pernah ikut berjuang, setelah sekarang menemukan pangkat sedikit saja lalu kau pergunakan untuk memeras rakyat jelata, berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu. Hemmm, mana bisa aku mendiamkan saja kau membunuhi rakyat tidak berdosa?"

Pucat wajah Lo-Ciangkun.

Tentu saja dia mengenal siapa adanya Bun-Goanswe di Tai-Goan.

Kiranya pemuda perkasa ini adalah keponakan jenderal itu!

Dengan tubuh lemas dia menjatuhkan diri duduk di atas bangkunya.

"Siapa membunuh? Mereka itu disuruh bekerja, dijamin..."

"Omong kosong!"

Kini Toan-Kiam Lokai yang bicara.

"Mereka meninggalkan anak isteri yang harus makan setiap hari. Kalau mereka dibawa pergi, anak isterinya harus makan apa? Pula, ditempat kerja mereka hampir tidak diberi makan."

"Sudahlah... sudahlah... semua itu terjadi karena terpaksa..."

Akhirnya Lo-Ciangkun berkata dengan muka pucat.

"Bukan salahku... bukan salahku..."

La menutupi mukanya seperti orang ketakutan.

"Lo-Ciangkun, tidak perlu main sandiwara lagi, apa artinya semua ini?"

Swan Bu berkata, keningnya berkerut.

"Kau lihat empat orang tadi... mereka bukanlah orangku, mereka adalah orang-orang... dia..."

"Dia siapa?"

Swan Bu mendesak, terheran-heran melihat pembesar itu begitu ketakutan.

"Peraturan dari Kota Raja sudah cukup adil. Memang yang dapat menyumbangkan harta, boleh bebas dari kerja suka rela, dan uang itu diperlukan untuk menjamin para sukarelawan dan menjamin keluarga mereka yang ditinggalkan selama tiga bulan sebelum diganti dengan rombongan lain. Semua sudah diatur yang sakit tidak akan dipaksa, hanya yang sehat dan tidak mempunyai pekerjaan penting... tapi... tapi... di daerah ini... dikuasai dia... kami terpaksa menyerahkan uang tebusan, kalau tidak... ahhhhh!"

Pembesar itu tiba-tiba roboh terguling.

Swan Bu cepat melompat ke luar melalui sebuah jendela sambil menendang daun jendela, pedangnya merupakan gulungan sinar putih menerjang keluar dan terdengar jeritan di luar jendela.

Seorang bermuka kuning yang kecil pendek roboh mandi darah.

"Siapakah kau? Mengapa menyerang Lo-Ciangkun dengan jarum beracun?"

Swan Bu membentak.

"Aku... aku... atas perintah... Toa-nio...!"

Orang itu berhenti bicara dan nafasnya putus.

Kiranya terjangan Swan Bu tadi tidak saja melukai lehernya, akan tetapi juga beberapa batang jarum beracun yang sudah meluncur masuk, kena ditangkis Pedang membalik dan melukai si penyambit sendiri.

Geger di ruangan itu.

Lo-Ciangkun rebah dengan muka biru dan nafas putus!

Toan-Kiam Lokai berkata lirih.

"Nah, agaknya Ang-Jiu Toanio dan orang-orangnya yang tadi turun tangan. Siauwhiap, terang bahwa para pembesar itu diperas dan dipaksa oleh Ang-Jiu Toanio. Sekarang, apa yang hendak kau lakukan?"

"Lopek, agaknya Wanita yang bernama Ang-Jiu Toanio itu mempunyai banyak kaki tangan. Yang menyambit jarum itu tentu kaki tangannya yang tidak menghendaki Lo-Ciangkun membuka rahasia. Lopek, harap kau suka kumpulkan teman-temanmu Hwa-I Kai-Pang dan kita menyerbu ke kuil itu. Biarkan aku menghadapi Ang-Jiu Toanio dan kalau anak buahnya bergerak, kau dan teman-teman membasmi mereka."

Gembira wajah Kakek itu.

"Baik, Siauwhiap. Sedikitnya ada tujuh orang temanku di sini, cukup untuk membasmi setan-setan itu."

Demikianlah, pada petang hari itu Swan Bu melakukan perjalanan ke kuil di sebelah Selatan kota setelah siang tadi dia menyelidiki tempat itu.

Dan secara kebetulan dia bertemu dengan Lee Si yang bermalam di kamar hotel.

Swan Bu terkejut sekali dan merasa heran mengapa hatinya menjadi tidak karuan ketika sepasang matanya bentrok dengan sepasang mata yang seperti mata burung hong itu.

Beberapa kali dia menengok, kemudian dia merasa malu kepada diri sendiri dan mempercepat langkahnya meninggalkan nona cantik jelita yang berdiri di depan pintu rumah penginapan itu.

Ia dapat menduga dari gerak-gerik si nona bahwa gadis itu tentulah bukan orang sembarangan.

Mungkin seorang tamu rumah penginapan, dan melihat kebebasannya, tentu seorang wanita kang-ouw.

Akan tetapi karena dia menghadapi urusan besar, Swan Bu mengusir bayangan nona itu dari ingatannya dan dia langsung menuju ke kuil tua yang berdiri sunyi di pinggir kota.

Setelah tiba di depan kuil yang sunyi itu, dia berhenti.

la maklum bahwa di kanan kiri kuil, bersembunyi di balik pohon-pohon, terdapat Toan-Kiam Lokai yang berjaga dan menyembunyikan diri.

Hati Swan Bu meragu.

Kuil itu sudah tua, kotor dan agaknya kosong.

Jangan-jangan Ang-Jiu Toanio yang menjadi biang keladi dari penindasan di kota Kong-Goan, sudah melarikan diri.

Tak mungkin, pikirnya.

Wanita itu tentu memiliki kepandaian tinggi, sebelum bertanding melawannya mana mungkin mau lari?

Tempat itu menyeramkan, sunyi seperti kuburan akan tetapi tidak gelap karena berada di tempat terbuka sehingga matahari yang sudah hampir menyelam itu masih menerangi halaman depan.

Halaman kuil tadinya tertutup pagar tembok yang tinggi, tetapi karena pagar tembok itu banyak yang runtuh, sekarang menjadi terbuka dan di sana-sini tampak pintu yang terbentuk dari tembok runtuh berlubang.

Rumah tua yang menyeramkan, kotor dan sunyi, patutnya menjadi tempat tinggal siluman-siluman.

Tiba-tiba dari pintu yang butut itu keluarlah seorang wanita tua, wanita yang tersenyum-senyum dan sanggul rambutnya dihias setangkai bunga merah.

Wanita itu setibanya di halaman kuil berkata, suaranya penuh ejekan.

"Bocah she Kwa, kau berani datang ke sini? Lihatlah di sebelah kiri kuil di mana teman-temanmu sudah mendapat hukuman!"

Mendengar ini, Swan Bu terkejut, teringat akan Toan-Kiam Lokai dan teman-temannya anggota Hwa-I Kai-Pang.

Dengan gerakan cepat dia melompat dan lari ke arah kiri kuil dan...

wajahnya berubah merah sekali.

Nenek itu ternyata tidak membohong.

Di pelataran pinggir itu tampak tujuh mayat bergelimpangan, di antaranya adalah Toan-Kiam Lokai dan yang enam lagi jelas anggota Hwa-I Kai-Pang karena pakaian mereka semua penuh tambalan berkembang!

Dengan kemarahan memuncak Swan Bu berlari kembali ke depan kuil, berdiri di luar tembok dan menghadap Nenek yang masih berada di situ dari balik pecahan pagar tembok.

"Apakah kau yang bernama Ang-Jiu Toanio?"

Tanya Swan Bu, suaranya ditekan agar tidak menggigil saking marahnya.

"Dan kau kah yang membunuh tujuh orang Hwa-I Kai-Pang itu?"

Nenek itu tersenyum, kembang merah di atas kepalanya bergoyang-goyang.

"Dan kau Kwa Swan Bu putera Pendekar Buta Kwa Kun Hong, bukan? Hi... hik-hik, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Di sini aku disebut Ang-Jiu Toanio, akan tetapi di tempatku aku adalah Ang-Hwa Nio-Nio, Ketua Ang-Hwa-Pai, musuh besar Ayahmu. Kau berani masuk ke sini dan mengadu kepandaian melawanku?"

Kalau tadi Swan Bu sudah marah sekali, sekarang serasa meledak dadanya.

Kiranya inilah orangnya yang mengumpulkan teman-teman untuk menyerbu Liong-Thouw-San?

Kebetulan sekali!

"Siapa takut padamu?

Orang macammu inikah yang hendak menantang Ayah?

Ha...

ha...

ha, Nenek tua hampir mampus, tak usah dengan Ayah Ibu, cukup dengan aku puteranya!"

Sekali menggerakkan kaki, tubuh Swan Bu sudah melayang masuk dan menghadapi Ang-Hwa Nio-Nio yang sudah siap memasang kuda-kuda dengan sikap mengejek itu.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 13

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert