Eps 5 Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Baca online Jaka Lola - Kho Ping Hoo
Cersil Jaka Lola - Kho Ping Hoo.
Pembaca tentu heran mengapa Ang-Hwa Nio-Nio, Ketua Ang-Hwa-Pai di Ching-Coa-To itu bisa berada di Kong-Goan?
Bukanlah hal kebetulan karena memang sengaja Ang-Hwa Nio-Nio dan rombongannya datang ke Kong-Goan ini untuk menyambut Suhengnya, Maharsi.
Kedatangan Ang-Mo-Ko bekas tokoh pengawal istana dan Kaisar sebelumnya, juga ikut serta Ouwyang Lam dan Siu Bi.
Seperti kita ketahui, gadis ini menangis ketika ditinggalkan Si Jaka Lola Yo Wan setelah ia mengaku bahwa ia adalah puteri angkat The Sun.
Dalam keadaan berduka ini ia ditemukan oleh Ang-Hwa Nio-Nio dan rombongannya yang tentu saja segera menggunakan kesempatan baik ini untuk membujuknya, kembali menggabungkan diri dengan mereka untuk menghadapi musuh besarnya, Pendekar Buta.
Tadinya Siu Bi menyandarkan harapannya pada bantuan Yo Wan, Akan tetapi setelah Yo Wan ternyata adalah musuh besar Ayah tirinya dan tak mungkin mau membantunya, memang paling baik baginya adalah menggabungkan diri dengan rombongan Ang-Hwa Nio-Nio yang kuat.
Kong-Goan, Ang-Hwa Nio-Nio dan rombongannya mengambil tempat di kuil tua itu karena memang di situlah ia berjanji dalam pesannya kepada Maharsi untuk menyambut kedatangan Suhengnya dari Barat ini.
Tentu saja, untuk melayani segala keperluan mereka, Ang-Hwa Nio-Nio diikuti pula oleh serombongan anak buahnya yang cukup kuat.
Karena pada dasarnya memang penjahat, di Kong-Goan Ang-Hwa Nio-Nio melihat kesempatan baik untuk mendapatkan uang banyak ketika datang pembesar dari Kota Raja untuk mengumpulkan sukarelawan yang pada masa itu dibutuhkan sekali untuk memperbaiki bangunan tembok besar dan saluran air.
Kong-Goan amat jauh dari Kota Raja, merupakan kota yang terpencil dan dengan kepandaiannya yang tinggi Ang-Hwa Nio-Nio dapat menguasai pembesar-pembesar itu, mengancam mereka untuk melakukan pemerasan dalam kesempatan mengumpulkan tenaga-tenaga kerja paksa.
Mudah saja ia lakukan hal ini tanpa khawatir akan terganggu dan ia menaruh beberapa orang anak buahnya untuk "Menjaga"
Para pembesar yang bersangkutan, di antaranya Lo-Ciangkun.
Tentu saja mula-mula ia mendapatkan tentangan hebat, namun setelah banyak orang roboh oleh pukulan tangannya yang berubah merah, ia mendapat julukan Ang-Jiu Toanio (Nyonya Besar Tangan Merah) dan tak seorang pun berani membantahnya lagi.
Akhirnya para Pengemis Hwa-I Kai-Pang mendengar tentang hal ini dan turun tangan, namun mereka roboh pula di tangan Ang-Jiu Toanio atau Ang-Hwa Nio-Nio bersama teman-temannya yang amat lihai.
Demikianlah ringkasan tentang kehadiran Ang-Hwa Nio-Nio di Kong-Goan dan kita kembali ke depan kuil di mana Swan Bu berhadapan dengan Nenek itu Swan Bu maklum bahwa lawannya ini lihai, namun melihat Nenek itu tidak mempergunakan senjata, dia pun tidak mengeluarkan Gin-Seng-Kiam yang tersimpan di balik jubahnya.
Matanya yang tajam menatap ke arah kedua tangan Nenek itu yang perlahan-lahan berubah merah ketika Nenek itu mengerahkan Ang-See-Ciang.
Swan Bu tidak menjadi gentar, dia sudah mendengar banyak tentang Tangan Pasir Merah ini dari Ayah Bundanya dan karenanya dia maklum bagaimana harus menghadapinya.
Segera dia menyalurkan Sinkang di tubuhnya dan "Mengisi"
Kedua lengannya dengan tenaga lemas yang mengandung Im-kang sehingga kedua tangannya menjadi lunak halus dan gerakannya mengeluarkan hawa dingin seperti es.
Akan tetapi sebelum Nenek itu menyerangnya, Swan Bu mendengar gerakan orang di sebelah belakangnya.
Cepat dia menggeser kaki mengubah kuda-kuda miring dan matanya mengerling ke arah luar.
Kiranya di situ telah berdiri belasan orang anggota Ang-Hwa-Pai yang memegang senjata, berjajar menutup jalan keluar, di antara mereka terdapat empat orang yang dia robohkan di gedung Lo-Ciangkun!
Mengertilah dia bahwa dia kini berada di gua harimau dan harus berjuang mati-matian karena agaknya lawan berusaha benar-benar untuk menjebaknya dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk lolos dari tempat itu.
Pada saat itu, muncul pula tiga orang dari pintu kuil.
Mereka ini bukan lain adalah Ouwyang Lam, Siu Bi, dan seorang Kakek yang pakaiannya serba merah dan mukanya tersenyum-senyum, usianya sudah sangat tua, sedikitnya tujuh puluh lima atau delapan puluh tahun, memegang sebatang tongkat bambu yang dipakai menunjang tubuhnya yang agak bongkok.
Kakek ini bukan lain adalah Ang-Mo-Ko, seorang tokoh yang cukup terkenal selama puluhan tahun di Kota Raja.
Sejenak Swan Bu tertegun ketika bertemu pandang dengan gadis yang cantik jelita itu.
Teringat dia akan pertemuannya di depan rumah penginapan tadi.
Hampir serupa gadis ini dengan gadis tadi, tetapi malah lebih jelita, terutama sepasang matanya yang begitu lincah dan tajam.
Siu Bi juga memandang Swan Bu penuh perhatian, pandang matanya menjadi bimbang ragu.
Inikah putera Pendekar Buta?
Betulkah seperti yang ia dengar dari Ang-Hwa Nio-Nio bahwa putera tunggal Pendekar Buta akan datang menyerbu?
Dan pemuda yang luar biasa tampan dan gagahnya inikah musuh besarnya?
Diam-diam Siu Bi tertegun dan terpesona.
Belum pernah ia melhat seorang pemuda sehebat ini.
Wajahnya berkulit halus putih kemerahan seperti wajah perempuan, akan tetapi alisnya yang tebal hitam, dagunya yang berlekuk sedikit tengahnya, pandang mata yang berwibawa, dada bidang yang membayangkan kekuatan, semua itu membayangkan sifat jantan yang mengagumkan.
Akan tetapi teringat lagi bahwa pemuda ini adalah putera musuh besar yang akan dibalasnya, matanya bernyala penuh kebencian.
Swan Bu dengan tenang menghadapi pengurungan ini, bahkan dia tersenyum karena memang hatinya gembira mendapat kenyataan bahwa musuh-musuh orang Tuanya ternyata adalah orang-orang jahat.
"Ang-Hwa Nio-Nio, memang betul kata-katamu tadi. Amat kebetulan kita dapat bertemu di sini karena sebenarnya aku hendak pergi ke Ching-Coa-To untuk mewakili orang tuaku"
Yang kabarnya hendak Kau cari dan kau tantang.
Sekarang, melihat sepak terjangmu dan kawan-kawanmu, hatiku lega bukan main.
Kiranya macam beginilah musuh-musuh orang tuaku, atau lebih tepat lagi, orang-orang yang memusuhi orang tuaku karena aku yakin bahwa orang tuaku tidak akan mau mencari permusuhan.
Kalau orang orang yang memusuhi orang tuaku jahat-jahat belaka, jelas bahwa di waktu dahulu orang tuaku tidak berada di pihak salah."
Baru saja Swan Bu menutup mulutnya, Ang-Hwa Nio-Nio sudah menerjang maju sambil membentak.
"Bocah sombong rasakan tanganku!"
Kedua tangannya yang sudah berubah menjadi merah itu menerjang maju mengirim pukulan beruntun.
Jangan dipandang rendah pukulan ini karena inilah pukulan-pukulan Ang-See-Ciang yang amat hebat.
Jangankan sampai tangan-tangan merah itu mengenai tubuh lawan, baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang tidak begitu tinggi ilmu kepandaiannya.
Kedua tangan yang merah itu terbuka jari-jarinya, agak melengkung dan hawa pukulan yang menyambar dari telapak tangan itu amat panas seperti api membara.
Namun Swan Bu yang sudah mengerahkan Im-kang pada kedua lengannya, sengaja malah melangkah maju untuk menyambut pukulan-pukulan itu dengan tangkisan lengannya, hendak menguji kekuatan lawan sambil sekaligus memperlihatkan kepandaiannya.
Nenek itu girang, juga heran melihat pemuda ini berani menerima Ang-See-Ciang, ia pastikan bahwa pemuda itu tentu akan roboh dalam segebrakan saja.
la menambah tekanan pada kedua lengannya.
"Duk! Dukkk!!"
Dua kali lengan mereka bertemu susul-menyusul dalam waktu cepat sekali dan hasilnya...
Ang-Hwa Nio-Nio melompat ke belakang dua meter jauhnya sambil meringis kesakitan karena kedua lengannya serasa akan patah, sedangkan pemuda itu masih berdiri tetap dan tenang, biarpun diam-diam dia kaget karena kedua pundaknya serasa tergetar, tanda bahwa Nenek itu benar-benar hebat kepandaiannya.
"Bibi Kui Ciauw, biarkan aku menghadapi musuh besarku ini!"
Tiba-tiba Siu Bi sudah melompat ke depan Swan Bu dengan Pedang Cui-Beng Kiam di tangannya. Sikapnya angkuh ketika ia menggerak-gerakkan Pedang di depan dada sambil membentak.
"Orang she Kwa, bersiaplah kau untuk menerima hukuman dariku atas dosa Ayahmu!"
Swan Bu mengerutkan kening.
Sombongnya anak ini, pikirnya.
Menyebut Ang-Hwa Nio-Nio Bibi, tentu keponakannya dan karena itu, tentu bukan orang baik-baik.
Akan tetapi ucapan Siu Bi tadi membuat dia penasaran.
"Memberi hukuman adalah urusan mudah, tapi jelaskan apa dosa Ayahku dan hukuman apa yang hendak kau jatuhkan kepadaku,"
Jawabnya tenang.
Tidak enak juga hati Siu Bi menyaksikan sikap begini tenang.
Segala gerak-gerik pemuda ini membayangkan seorang gagah yang baik, tiada cacad celanya sehingga hatinya tidak senang.
Andaikata putera Pendekar Buta ini seorang pemuda berandalan dan kurang ajar, hatinya akan lebih senang untuk memusuhinya.
Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan membentak.
"Ayahmu si buta itu telah membuntungi lengan Kakekku Hek Lojin, dan karenanya aku sudah bersumpah untuk membalas dendam, membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya. Karena kau puteranya, sekarang aku akan membuntungi sebelah lenganmu agar roh Kakekku dapat tenteram!"
Swan Bu tersenyum mengejek.
"Roh orang jahat mana bisa tenteram keadaannya? Tentu dilempar ke neraka dan selamanya akan terbakar api derita! Kalau Ayah membuntungi lengan Kakekmu, itu berarti bahwa Kakekmu adalah orang jahat..."
"Setan, lancang mulutmu!"
Siu Bi menjerit sambil menggerakkan pedangnya disusul pukulan tangan kirinya.
Hebat serangan ini, pedangnya menjadi segulung sinar hitam menuju leher dan tangan kirinya membayangkan uap hitam menerjang dada.
"Aihhh, ganas...!"
Diam-diam Swan Bu mengeluh dan cepat dia melempar diri ke belakang berjumpalitan sambil mencabut Pedang Gin-Seng-Kiam.
"Trang! Tranggg!!"
Sepasang Pedang hitam dan putih bertemu, bunga api berpijar menyilaukan mata dan Siu Bi, seperti halnya Ang-Hwa Nio-Nio tadi, melompat ke belakang dengan lengan kanan serasa lumpuh.
Ternyata bahwa ia kalah kuat dalam tenaga Sinkang sehingga dalam pertemuan senjata tadi hampir ia melepaskan pedangnya.
"Jangan takut, Bi Moi-moi, aku membantumu!"
Seru Ouwyang Lam yang sudah melompat maju, siap mengeroyok.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!"
Bentak Siu Bi masih mendongkol dan penasaran karena sekali tangkis saja ia hampir keok tadi.
Kalau baru segebrakan saja ia sudah dibantu Ouwyang Lan dan mengeroyok Swan Bu, bukankah hal ini amat memalukan dirinya?
"Kau akan kalah, dia lihai...!"
Kata Ang-Hwa Nio-Nio yang juga melangkah maju. Swan Bu menggerak-gerakkan Pedang di depan dada, tersenyum mengejek.
"Hayo kalian keroyoklah! Aku tidak takut dan memang aku tahu, pengecut-pengecut macam kalian kalau tidak main keroyokan mana berani maju?"
"Pemuda sombong, lihat tongkat!"
Ang-Mo-Ko sudah menyapu dengan tongkat bambunya.
Biarpun tongkat ini terbuat dari bambu yang ringan, ketika menyambar mengeluarkan suara bersiutan sehingga Swan Bu tidak berani memandang ringan lalu melompat ke atas menyelamatkan diri sambil memutar Pedang menangkis Pedang Ouwyang Lam yang sudah menusuknya.
Ouwyang Lam adalah seorang pemuda yang amat cerdik.
Maklum bahwa tadi Gurunya dan juga Siu Bi tidak kuat melawan tenaga Swan Bu, dia tidak mau mengadu pedang, cepat menarik pedangnya dan dari samping dia mengirim bacokan kilat yang juga dapat dielakkan oleh Swan Bu.
Pemuda Liong-Thouw-San ini sudah memutar Pedang mendahului Ang-Hwa Nio-Nio yang sudah mengeluarkan Pedang pula, namun serangannya dapat ditangkis oleh Ketua Ang-Hwa-Pai itu.
Dari luar mendatangi anak buah Ang-Hwa-Pai dan sebentar saja Swan Bu sudah dikurung dan dikeroyok banyak orang lawan.
"Tak sudi aku! Tak sudi! Masa satu orang dikeroyok begini banyak. Aku tidak sudi dibantu!"
Berkali-kali Siu Bi berteriak-teriak penuh kemarahan, berdiri di pinggir sambil memegangi pedangnya.
Hatinya kecewa bukan main.
Biarpun la takkan ragu-ragu untuk membalas dendam, membuntungi lengan kiri pemuda tampan putera Pendekar Buta itu namun ia merasa jijik dan rendah sekali kalau harus mengeroyok seorang musuh dengan begitu banyak teman.
Sungguh perbuatan yang amat memalukan dan rendah sekali.
Diam-diam ia memperhatikan Swan Bu, mengagumi gerakan ilmu pedangnya yang amat aneh dan kuat, lalu membandingkan pemuda musuh itu dengan Ouwyang Lam.
Seperti burung hong dibandingkan dengan burung gagak.
Seperti seekor naga dibandingkan dengan ular beracun.
Sebetulnya, biarpun dikeroyok begitu banyak lawan, Swan Bu tidak gentar sedikit pun juga, karena andaikata dia terdesak menghadapi tiga orang terlihai di antara mereka, yaitu Ang-Hwa Nio-Nio, Ang-Mo-Ko, dan Ouwyang Lam dengan mudah dia akan menerjang keluar menyelamatkan diri.
Akan tetapi, mendengar teriakan Siu Bi tadi, dia tertegun dan merasa bingung.
Terang bahwa gadis itu memiliki watak yang gagah perkasa dan sama sekali tidak patut menjadi anggota gerombolan ini.
Dan mempunyai seorang musuh yang wataknya begitu gagah perkasa, benar-benar malah mendatangkan rasa gelisah di hatinya.
Ketika Swan Bu mainkan Im-Yang Sin-Kiam, pedangnya bergulung seperti seekor naga perak menyambar-nyambar dan dalam waktu singkat, lima orang anak buah Ang-Hwa-Pai roboh terluka tak mampu melawan lagi.
Ang-Hwa Nio-Nio kaget dan kagum, akan tetapi, juga penasaran.
Kalau sekarang mereka tidak mampu mengalahkan putera Pendekar Buta, bagaimana mereka akan mampu menyerbu Liong-Thouw-San, berhadapan dengan Pendekar Buta sendiri?
Di lain pihak, Swan Bu harus mengakui bahwa tiga orang lawannya itu benar-benar tangguh sekali.
Ilmu Pedang Ang-Hwa Nio-Nio hebat dan ganas, ditambah lagi tangan kirinya yang mainkan selingan pukulan Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah) yang sebetulnya adalah Ilmu Pukulan Ang-See-Ciang (Tangan Pasir Merah).
Pemuda tampan pendek itu serupa ilmu silatnya dengan Nenek ini, hanya kalah setingkat.
Adapun Ang-Mo-Ko Si Iblis Merah itu juga tak boleh dipandang ringan.
Tongkat bambunya menyambar-nyambar laksana kitiran tertiup angin taufan, mengeluarkan bunyi nyaring dan mengandung tenaga besar.
Andaikata tidak dikeroyok, dengan ilmu pedangnya yang hebat, kiranya Swan Bu akan dapat mengalahkan seorang di antara mereka dengan mudah.
Kini, dikeroyok tiga, dia hanya dapat mengimbangi saja karena melihat kelihaian daya serangan mereka, dia harus lebih menekankan gerakannya pada penjagaan diri sehingga daya serangannya sendiri menjadi kurang kuat.
Namun pertahanannya kuat sekali sehingga betapapun juga kerasnya tiga orang itu menekannya, dia tidak terdesak.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Sungguh tidak tahu malu melakukan pengeroyokan!"
Tampak berkelebat sesosok bayangan yang ringan sekali, didahului menyambarnya sinar Pedang kuning dan robohnya tiga orang anak buah Ang-Hwa-Pai lainnya.
Kiranya yang datang ini adalah seorang gadis yang cantik jelita yang rambutnya dikuncir dua tergantung di belakang punggungnya.
Gadis ini bukan lain adalah Lee Si.
Seperti telah diceritakan di bagian depan Lee Si yang merasa curiga melihat gerak-gerik Swan Bu, juga sekaligus tertarik hatinya, diam-diam mengikuti Swan Bu menuju ke sebelah Selatan kota.
la mengintai dari jauh dan ketika Swan Bu melompat masuk ke dalam halaman kuil, ia berindap-indap mendekati dan dapat mendengar semua percakapan.
Bukan main kaget dan girang hatinya ketika mendengar bahwa pemuda yang menarik hatinya itu bukan lain adalah putera Liong-Thouw-San, putera Pendekar Buta.
Benar-benar pertemuan yang sama sekali tidak tersangka-sangka.
Hal ini membuat jantungnya berdebar tidak karuan, membuat la bimbang dan bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
la dapat menduga bahwa putera Liong-Thouw-San tentu saja memiliki kepandaiannya yang luar biasa, yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia merasa serba salah untuk turun tangan membantu.
Ia khawatir kalau itu akan merendahkan, tetapi kalau tidak membantu bagaimana?
Maka la hanya mengintai saja dan kagumlah la menyaksikan sepak terjang Swan Bu.
Memang semenjak kecil, Lee Si tidak banyak kesempatan untuk berjumpa dengan keluarga Ayah Bundanya.
Hal ini adalah karena keluarga itu terpencar dan amat jauh tempat tinggalnya, Hanya dengan putera Pamannya di Lu-Liang-San sajalah pernah ia bertemu sampai tiga kali, ketika ia masih kecil dan yang terakhir ketika ia berusia empat belas tahun.
Putera Pamannya di Lu-iiang-san, itu empat tahun lebih tua darinya, bernama Tan Hwat Ki.
Pamannya, Tan Sin Lee Ketua Lu-liang-pai itu hanya mempunyai seorang putera.
Adapun keluarga lainnya, biarpun ia sudah banyak mendengar penuturan Ayah Bundanya dan tahu pula akan nama-nama mereka, tetapi ia jarang sekali, bahkan ada yang tak pernah bertemu.
Di antara mereka yang belum pernah ia temui adalah Kwa Swan Bu inilah.
Tentu saja ia sudah sering kali mendengar Ayah Bundanya memuji-muji Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta yang sakti.
Oleh karena itu, ia dapat menduga bahwa putera Pendekar Buta tentu lihai pula dan ternyata sekarang secara kebetulan sekali ia dapat menyaksikan sendiri kepandaian putera Pendekar Buta itu!
Akan tetapi ketika menyaksikan betapa lihainya tiga orang yang mengeroyok Swan Bu, ditambah lagi banyak anak buah Ang-Hwa-Pai maju dari belakang mencari kesempatan untuk mengirim serangan menggelap, ia tidak dapat tinggal diam lebih lama lagi.
Dengan Pedang Oie-kong-kiam di tangan ia menerjang sambil membentak nyaring dan akibatnya tiga orang anak buah Ang-Hwa-Pai roboh oleh sinar pedangnya!
Sekilas pandang ia melihat betapa Swan Bu menoleh kepadanya dan memandang dengan sinar mata penuh keheranan dan juga kaget karena agaknya pemuda itu mengenalnya dari pertemuan di depan losmen tadi.
Sedetik wajah yang cantik itu menjadi merah, jantungnya berdebar dan untuk menguasai rasa jengah ini Lee Si segera memperkenalkan diri.
"Kita masih orang sendiri, aku Tan Lee Si, Ayahku Ketua di Min-San!"
Kaget dan girang bukan main hati Swan Bu.
Tentu saja dia sudah mendengar nama ini dari Ayah Bundanya.
Kiranya masih saudara sendiri.
Saudara?
Sebetulnya bukan apa-apa.
Hanya Ayahnya masih terhitung Paman Guru Ibu Lee Si, sungguhpun usia mereka sebaya.
Sebaliknya, Ayahnya sebagai orang yang pernah menerima pelajaran dari Raja Pedang Kakek gadis ini, masih terhitung Paman Guru gadis ini sendiri!
"Bagus!"
Swan Bu berseru gembira, bukan karena mendapat bantuan melainkan karena mendapat kenyataan bahwa gadis yang tadi membuat hatinya berdenyut aneh ketika dia melihatnya di depan losmen itu kiranya bukanlah orang lain!
"Mari kita basmi kawanan penjahat ini"
Akan tetapi pada saat itu Siu Bi sudah melompat dengan gerakan gesit sekali, pedangnya mendahuluinya merupakan sinar kehitaman.
Dengan Pedang melintang di depan dada Siu Bi menghadapi Lee Si, sejenak pandang matanya menjelajahi gadis Min-San itu dari atas sampai ke bawah, lalu terdengar dia membentak.
"Kau tidak suka akan keroyokan, aku pun membenci keroyokan. Hayo sekarang kita sama-sama muda, sama-samYo Wanita, tanpa keroyokan, kita mengadu kepandaian!"
Lee Si tadi sudah melihat sikap Siu Bi dan biarpun ia dapat menduga bahwa gadis ini berbeda dengan orang-orang yang lain, namun tetap saja merupakan musuh dan tentu bukan seorang gadis baik-baik.
Akan tetapi karena ia tidak mempunyai permusuhan dengan Siu Bi, juga bahwa ia hanya mau bertending untuk membantu Swan Bu yang dikeroyok, maka, ia merasa ragu-ragu untuk melayani gadis cantik yang pedangnya bersinar hitam itu.
"Perempuan liar, di antara kita tidak ada permusuhan, perlu apa aku melayani kau?"
Dimaki perempuan liar, tentu saja Siu Bi seketika menjadi naik darah! "Kau yang liar, kau yang buas, kau ganas! Siapa saja yang menjadi sahabat atau keluarga dia itu adalah musuhku. Sambut pedangku!"
Dengan gerakan yang amat lincah dan kuat Siu Bi sudah menerjang maju, didahului gulungan sinar hitam pedangnya.
Tentu saja Lee Si juga cepat mengangkat pedangnya menangkis dan beberapa menit kemudian kedua orang gadis yang sama lincahnya ini sudah lenyap bayangannya, terbungkus oleh gulungan sinar Pedang hitam dan kuning yang saling libat, saling dorong dah saling tekan.
Selain menegangkan, juga amat indah dipandang pertandingan antara kedua orang dara remaja yang sama gesitnya ini.
Akan tetapi Lee Si segera menjadi kaget sekali ketika beberapa kali tangan kiri Siu Bi melancarkan pukulan Hek-In-Kang yang amat kuat sehingga Lee Si menjadi sibuk mengelak karena maklum bahwa pukulan itu adalah semacam pukulan jarak jauh yang amat berbahaya.
Tahulah ia bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang tinggi lagi jahat maka ia berlaku sangat hati-hati mainkan bagian-bagian Hoa-San Kiam-Sut untuk mempertahankan diri serta bagian Yang-sin Kiam-Sut untuk balas menyerang.
Sayangnya bahwa penggabungan-penggabungan kedua ilmu Pedang itu belum sempurna benar sehingga untuk melayani Cui-Beng Kiam-Sut dan Hek-In-Kang yang memang luar biasa itu ia merasa terdesak hebat.
Memang boleh diakui bahwa ilmu silat yang dipelajari Lee Si merupakan ilmu silat golongan bersih, karena itu dasarnya lebih kuat dan sifatnya tidaklah liar seperti ilmu silat yang dimiliki Siu Bi.
Akan tetapi oleh karena memang tingkat kepandaian Hek Lojin jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Tan Kong Bu dan isterinya, maka tentu saja tingkat Siu Bi juga lebih tinggi daripada tingkat Lee Si.
Kalau saja Siu Bi tidak memiliki Ilmu Hek-In-Kang dan hanya mengandalkan Cui-Beng Kiam-Sut, agaknya Lee Si masih sanggup mempertahankan diri.
Akan tetapi sekarang Siu Bi mendesaknya dengan Hek-In-Kang yang membuat ia sibuk sekali, harus melompat ke sana ke mari mengelak dari sambaran uap hitam itu, ditambah lagi harus menghadapi sinar Pedang hitam yang mengurung dirinya dan menutup semua jalan keluar!
Sementara itu, pertempuran antara Swan Bu dan para pengeroyoknya juga berjalan amat seru.
Kini tidak ada anak buah Ang-Hwa-Pai yang berani maju, mereka hanya berjaga-jaga saja karena setiap kali ada yang maju, baru segebrakan saja tentu roboh mandi darah disambar sinar Pedang putih di tangan Swan Bu.
Akan tetapi, biarpun pengeroyoknya hanya tiga orang, namun ketiganya adalah ahli-ahli silat kelas tinggi yang memiliki ilmu kepandaian hebat.
Swan Bu memang mewarisi kesaktian Ayah Bundanya, akan tetapi dia kurang pengalaman bertempur.
Andaikata Ayahnya berada di situ, tanpa turun tangan membantunya, hanya dengan nasihat-nasihat saja sudah pasti dia akan dapat menangkan pertandingan ini.
Karena kekurangan pengalaman inilah dia kekurangan taktik sehingga kurang dapat menangkap dengan cepat kelemahan-kelemahan lawan, dan terlampau hati-hati menjaga diri sehingga biarpun pertahanannya rapat sekali, namun daya serangannya kurang kuat dan kurang berhasil.
Apalagi ketika dengan sudut matanya dia dapat melihat betapa Lee Si telah terdesak hebat oleh sinar hitam Pedang Siu Bi, hatinya menjadi gelisah sekali.
Pada saat itu terdengar suara ketawa aneh dan muncullah dua orang Kakek, yang seorang tinggi jangkung yang seorang lagi pendek.
"Heh-heh-heh, sudah ada pesta keramaian di sini!"
Kata si jangkung dengan suaranya yarig aneh dan asing.
"Suheng!!"
Ang-Hwa Nio-Nio berseru girang sekali ketika mengenal Kakek tinggi jangkung itu, yang bukan lain orang adalah Maharsi Pendeta dari Barat.
Adapun si pendek itu.
adalah Bo Wi Sianjin!
"Bantulah kami menangkap dua bocah setan ini!."
"Heh-heh-heh, Sianjin. Ini Sumoi (Adik Seperguruan). Kau tangkaplah yang betina, biar aku tangkap yang jantan!"
Setelah berkata demikian, Maharsi melangkah panjang ke dalam pertempuran, tangannya mencengkeram dan kagetlah Swan Bu ketika tiba-tiba ada angin keras menyambar dari atas dan tahu-tahu lengan yang panjang itu mengancamnya.
Cepat pedangnya dikibaskan ke atas untuk membuat buntung lengan itu.
"Wah, boleh juga!"
Maharsi memuji.
Perlu diketahui bahwa Ilmu Silat Pai-San-Jiu dari Pendeta Barat yang tinggi ini, seperti juga Ilmu Katak Sakti dari Bo Wi Sianjin, merupakan ilmu pukulan sakti yang mengandung Sinkang tingkat tinggi sehingga pukulan-pukulan dari kedua ilmu silat ini tidak perlu menyentuh tubuh lawan, dari jauh saja sudah cukup kuat untuk merobohkan lawan yang biasa.
Akan tetapi pemuda itu bukan saja tidak terpengaruh banyak oleh sambaran hawa pukulannya, malah masih dapat membabat dengan pedangnya yang cukup berbahaya.
Karena inilah Maharsi memuji.
Akan tetapi sambil menarik kembali lengannya, Pendeta jangkung ini sudah mengirim serangan bertubi-tubi, susul-menyusul dan angin pukulannya menderu-deru seperti angin taufan mengamuk.
Swan Bu benar-benar kaget sekali.
Maklumlah dia bahwa si jangkung ini benar-benar amat berbahaya.
Apalagi pada saat itu, Ang-Hwa Nio-Nio, Ouwyang Lam dan Ang-Mo-Ko masih terus menerjangnya dengan sengit, maka pemuda Liong-Thouw-San ini benar-benar berada dalam keadaan yang amat berbahaya.
Adapun Lee Si yang menghadapi Siu Bi dan terdesak hebat, tiba-tiba melihat munculnya seorang Kakek pendek yang serta merta menggerakkan tangan menyelonong maju dan menerjang...
Siu Bi dengan pukulan-pukulan dan dorongan-dorongan kuat, dibarengi suara ketawanya terbahak-bahak.
Kakek ini adalah Bo Wi Sianjin yang memandang rendah lawan karenanya dia tidak menggunakan Pukulan Katak Sakti, melainkan mendesak dengan pukulan-pukulan Jarak jauh biasa.
Akan tetapi dia salah kira dan bukan menyerang Lee Si, malah menerjang Siu Bi.
"Eh-eh-eh, Lo-Cianpwe, bukan dia musuh kita. Yang seorang lagi...!"
Seru Ouwyang Lam kaget sambil melompat mendekati meninggalkan Swan Bu yang kini sudah terdesak hebat itu.
"Hah? Yang mana?"
Bo Wi Sianjin menghentikan serangannya, tertegun dan bingung.
Sementara itu, Siu Bi marah sekali.
la tadi sedang mendesak Lee Si, sama sekali tidak membutuhkan bantuan karena ia berada di pihak unggul, maka majunya Kakek itu baginya merupakan gangguan yang menjengkelkan.
"Aku tidak butuh bantuan! Mundur!!""
Serunya dan pedangnya dikerjakan lebih hebat.
Lee Si yang maklum bahwa dirinya tak dapat tertolong lagi kalau ada orang lain maju mengeroyok, menjadi gugup dan sebuah pukulan Hek-In-Kang dari Siu Bi tak dapat ia hindarkan, mengenai pundaknya dan ia terhuyung-huyung.
Kesempatan baik ini dipergunakan oleh Siu Bi untuk menyapu kaki Lee Si sehingga gadis ini roboh dan sebuah totokan membuatnya lemas tak dapat bergerak lagi.
Swan Bu yang sudah terdesak hebat, melihat robohnya Lee Si, menjadi marah sekali.
"Keparat, lepaskan dia!"
La membentak, tubuhnya bagaikan kilat menyambar ke arah Lee Si untuk menolong gadis itu.
Akan tetapi tiba-tiba dari kanan menyambar tongkat bambu Ang-Mo-Ko menotok lambung.
la cepat menangkis dan melanjutkan gerakannya menolong Lee Si, namun angin menyambar dari kiri dan Swan Bu merasa seakan-akan tubuhnya terdorong oleh tenaga yang amat dahsyat.
la terlempar dan sebelum dia sempat bergerak, dua buah lengan panjang Maharsi yang tadi memukulnya telah mencengkeram pundaknya dan menotok jalan darah di punggungnya, membuat dia tak berdaya lagi.
Sepasang orang muda itu telah tertawan oleh musuh-musuh besarnya.
"Siapakah dia ini?"
Maharsi bertanya kepada sumoinya sambil menuding ke arah Swan Bu yang sudah rebah miring di atas tanah.
Mau tak mau Pendeta dari Barat itu kagum bukan main karena semuda itu Swan Bu telah memiliki kepandaian yang hebat.
"Suheng,"
Kata Ang-Hwa Nio-Nio dengan muka berseri.
"Kebetulan sekali kau datang dan kebetulan memang, karena bocah ini bukan lain adalah putera Pendekar Buta. Ular menghampiri penggebuk, bukan?"
"Sudah jelas anak musuh besar, tidak dibunuh tunggu apa lagi?"
Ouwyang Lam yang merasa iri melihat ketampanan dan kegagahan pemuda itu, jauh melebihi dirinya, cepat mengangkat pedangnya menusuk ke arah dada Swan Bu.
Pemuda ini maklum bahwa nyawanya berada di ujung Pedang lawan, namun karena dia tak dapat menggerakkan kaki tangannya, Swan Bu hanya dapat memandang dengan mata tidak berkedip sedikit pun juga.
Orang-orang lain yang berada di situ hanya memandangnya sambil tertawa, karena pemuda Liong-Thouw-San ini memang anak musuh besar, berarti musuh pula, apalagi sudah mengacaukan usaha mereka di Kong-Goan, tidak dibunuh mau diapakan lagi?
"Cringgg...!?"
Ouwyang Lam kaget dan melompat mundur.
Pedangnya yang hampir menancap di dada Swan Bu telah terbentur Pedang lain yang telah menangkisnya sehingga muncrat bunga api saking kerasnya benturan itu.
Ketika semua orang memandang, kiranya yang menangkis itu adalah Siu Bi!
"Eh, kau lagi?
Bi-moi, terus terang saja, kau sebetulnya berpihak siapa?
Ketika di Ching-Coa-To kami hendak membunuh puteri Raja Pedang, kau pun menghalangi maksud kami!"
Kata Ouwyang Lam, penasaran. Sepasang mata yang tajam bening itu, berkilat.
"Aku berpihak kepada diriku sendiri. Bocah ini adalah anak Pendekar Buta, berarti musuh besarku. Aku sudah bersumpah hendak membuntungi lengan Pendekar Buta, isterinya dan anaknya, membuntungi lengannya hidup-hidup! Kalau dia dibunuh, apa artinya membuntungi lengannya lagi?"
"Tapi... tapi bukan kau yang merobohkan dia, kau tidak berhak. Kami yang merobohkan dan menawannya, maka kami yang berhak melakukan apa saja terhadap dirinya!"
"Siapa saja yang membunuhnya berarti hendak menghalang-halangi aku untuk balas dendam dan melaksanakan sumpahku. Tentang siapa merobohkan, memang betul kalian yang merobohkan, akan tetapi perempuan ini aku yang merobohkan. Sekarang aku ingin menukarkan dia dengan anak Pendekar Buta ini. Ouwyang-Twako, kau boleh ambil dia, biarkan aku membuntungi lengan anak Pendekar Buta tanpa membunuhnya?"
Ouwyang Lam menengok ke arah Lee Si yang menggeletak telentang.
Dalam keadaan tertotok dan telentang di atas tanah itu dengan pakaian kusut, gadis cantik ini kelihatan menarik sekali, menggairahkan hati Ouwyang Lam yang memang berwatak mata keranjang.
Segera mengilar dia ketika pandang matanya menjelajahi tubuh Lee Si dan sambil menyeringai dia berkata.
"Aku... aku boleh... memiliki dia...?"
Pada saat itu, Bo Wi Sianjin berkata.
"Eh, Maharsi, bukankah gadis ini Cucu Raja Pedang yang pernah kita kejar?"
Maharsi memandang.
"Aha, betul! Betul dia! Wah, Bhok-Lo-Suhu tentu akan girang sekali. Sumoi, benar-benar kita telah mendapatkan tawanan penting. Seorang putera Pendekar Buta, yang seorang lagi Cucu Raja Pedang. Baiknya kita jangan bunuh mereka, jadikan tangkapan untuk memaksa musuh-musuh besar itu menyerah!"
"Bagus, itu betul sekali!"
Seru Bo Wi Sianjin karena baik dia maupun Maharsi sebetulnya masih merasa jerih untuk bertanding melawan Pendekar Buta dan Raja Pedang yang terkenal sakti.
"Suheng, kau tadi menyebut nama Bhok-Lo-Suhu? Siapakah yang kau maksudkan?"
Maharsi tertawa Ha... ha... hah-he...heh.
"Siapa lagi kalau bukan Bhok Hwesio itu tokoh besar yang sakti dari Siauw-Lim-Pai? Dia pun sudah siap untuk membasmi Pendekar Buta dan Raja Pedang dan dia datang bersama kami ke Kong-Goan, akan tetapi tentu saja tidak mau ke sini. Kuharap kau suka mengunjunginya di kelenteng sebelah Timur kota, Sumoi."
Girang sekali hati Ang-Hwa Nio-Nio, apalagi setelah ia diperkenalkan dengan Bo Wi Sianjin sebagai Sute dari Ka Chong Hoatsu yang menaruh dendam kepada Raja Pedang.
Dengan begini banyaknya orang pandai di pihaknya, tentu akan terlaksana idam-idaman hatinya, yaitu menebus kematian dua orang adiknya.
Pada saat itu, dengan tergesa-gesa seorang anggota Ang-Hwa-Pai berlari menghampiri Ang-Hwa Nio-Nio dan melapor.
"Pangcu, seorang yang bernama Tan Kong Bu, kabarnya Ketua Min-San-Pai, mencari Tan Lee Si yang katanya adalah puterinya, sedang menuju ke sini!"
Ang-Hwa Nio-Nio membelalakkan kedua matanya, lalu tertawa mengikik.
"Wah-wah, benar-benar malam baik sekali sekarang. Seorang demi seorang anggota keluarga mereka berdatangan sehingga memudahkan kita untuk membasminya. Suheng, aku mempunyai rencana yang bagus sekali. Lam-ji (anak Lam), kau bawa dua orang tawanan kita itu ke dalam kuil, tapi jangan ganggu mereka!"
Perintahnya kepada Ouwyang Lam. Pemuda ini mengangguk tersenyum, lalu membungkuk, memondong tubuh Lee Si dan menyeret tubuh Swan Bu dengan menjambak rambutnya.
"Twako, serahkan anak Pendekar Buta itu kepadaku!"
Siu Bi melompat maju.
"Aku harus melaksanakan sumpah pembalasanku!"
"Ihhh, Siu Bi. Apakah kau sudah tergila-gila melihat pemuda yang tampan dan gagah itu? Hi...hi...hik!"
Bukan main marahnya hati Siu Bi mendengar ejekan Ang-Hwa Nio-Nio ini. Mukanya seketika menjadi merah sekali matanya berapi-api, tangannya yang memegang Pedang gemetaran.
"Bibi Kui Ciauw! Aku bukan seperti engkau"
Ang-Hwa Nio-Nio juga marah.
"Siu Bi kuperingatkan kau! Kami tidak butuh bantuanmu. Kalau kau mau bekerja sama dengan kami untuk menghadapi Pendekar Buta silahkan tinggal bersama kami akan tetapi harus menurut apa yang kami rencanakan. Kalau tidak mau, kami tidak akan menahanmu."
"Nio-Nio... Bi-moi... sudahlah, di antara kita sendiri mengapa mesti ribut-ribut?"
Ouwyang Lam cepat melerai dengan suara halus, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya, memondong Lee Si dan menyeret tubuh Swan Bu dibawa masuk ke dalam kuil.
Siu Bi merengut hatinya mendongkol sekali.
Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?
Ia maklum bahwa untuk melawan pun ia akan kalah.
Maka tanpa berkata sesuatu ia lalu berjalan pergi dari depan Ang-Hwa Nio-Nio, menahan isak tangis saking gemasnya.
"Siapakah dia?"
Maharsi bertanya.
"Ah, dia...? Cucu Hek Lojin, juga musuh Pendekar Buta."
"Hek Lojin? Pantas dia begitu liar, kiranya Cucu iblis itu!"
Kata Bo Wi Sianjin, mengangguk-angguk.
Mereka lalu memasuki kuil dan Ang-Hwa Nio-Nio memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengatur rencananya yang dianggap amat baik.
Apakah yang direncanakan oleh Ketua Ang-Hwa-Pai ini?
Kebenciannya terhadap Pendekar Buta dan Raja Pedang membuat nyonya tua ini pandai mencari cara yang paling keji untuk melampiaskan dendamnya.
Marilah kita ikuti bersama apa yang direncanakan.
Seperti telah dilaporkan oleh seorang anak buah Ang-Hwa-Pai tadi, di kota Kong-Goan malam hari itu kedatangan seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan tegap, sikapnya gagah bicaranya kasar keras dan nyaring sekali.
Orang ini bukan lain adalah Tan Kong Bu yang sudah meninggalkan puncak Min-San untuk mencari puterinya yang diam-diam meninggalkan puncak, seperti telah kita ketahui, semenjak datangnya murid kepala Raja Pedang, yaitu Su Ki Han telah terjadi Perubahan hebat di Min san.
Lee Si, puteri tunggal itu telah meninggalkan puncak tanpa memberi tahu dan Su Ki Han sendiri yang merasa tidak enak, segera berpamit turun gunung untuk berusaha mengejar Lee Si.
Seperginya Su Ki Han, Kong Bu merasa tidak enak dan menyatakan kepada isterinya untuk pergi mengejar puteri mereka itu.
"Tentu saja ia tidak boleh dibandingkan dengan adikku Cui Sian,"
Demikian kata Pendekar itu.
"Kepandaian Lee Si memang sudah cukup untuk menjaga diri, akan tetapi ia masih hijau dan tidak tahu akan bahayanya dunia kang-ouw. Sedikitnya la harus mendengarkan dulu dan kita tentang kejahatan di dunia kang-oyw sehingga ia dapat menjaga diri. Tinggal kau pilih, kau atau aku yang pergi mengejar?"
Demikianlah, Tan Kong Bu lalu turun dari puncak, mencari puterinya.
Sebagai seorang tokoh kang-ouw yang ulung, akhirnya Kong Bu berhasil mengikuti jejak puterinya dan menuju ke Kong-Goan, hanya selisih setengah hari saja dengan puterinya.
la mendengar tentang keributan yang terjadi di rumah Lo-Ciangkun, maka dia mempunyai dugaan bahwa agaknya Lee Si terlibat dalam hal ini.
la mencari sampai ke losmen di mana Lee Si bermalam, dengan cara kasar dan keras dia mengancam pengurus losmen yang biar mati pun tidak akan mampu memberi keterangan ke mana perginya gadis itu yang pergi melalui genteng dan tidak terlihat oleh siapapun juga.
Kong Bu berputar-putar di kota Kong-Goan sampai jauh malam, namun dia tidak dapat menemukan jejak Lee Si dan tidak ada yang dapat memberi keterangan ke mana perginya gadis itu.
Dalam keadaan gelisah Kong Bu berlari-lari keluar masuk lorong gelap dan keadaan kota Kong-Goan sudah sepi.
Tiba-tiba dia cepat menghindar ke kiri.
Hampir saja dia bertubrukan dengan seorang laki-laki kecil kurus yang juga berlari-lari seperti dia dan mereka bertemu di sebuah tikungan jalan kecil.
Laki-laki itu kelihatan gugup sekali, tanpa bicara sesuatu terus melarikan diri dengan cepat.
Kong Bu merasa curiga.
Jelas bahwa orang itu memiliki kepandaian silat yang lumayan melebihi orang biasa, larinya cepat dan gerakannya gesit.
Dengan beberapa lompatan jauh akhirnya Kong Bu dapat menyusul dan mengejar orang itu.
Si kecil kurus yang berkumis panjang itu kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang laki-laki tinggi besar, apalagi ketika dia mengenalnya sebagai laki-laki yang hampir bertubrukan dengannya tadi.
Tanpa banyak cakap lagi dia membalikkan tubuh dan lari lagi, akan tetapi dia mengeluh ketika pundaknya tiba-tiba dipegang tangan yang memiliki jari-jari tangan sekuat cepitan baja.
"Kau siapa dan ada apa malam-malam begini kau berlari-lari seperti pencuri? Hayo mengaku terus terang, kalau tidak, tulang-tulang pundakmu akan kuhancurkan!"
Bentak Kong Bu yang sedang gelisah sehingga menjadi pemarah itu.
"Ampun, Ho-Han (Orang Gagah)... ampunkan saya. Saya... Ciu Ti bukan pencuri... saya... saya sedang bingung dan hendak mencari pertolongan. Ada... ada penjahat menyeret seorang gadis cantik ke dalam kuil di mana saya biasanya bermalam... maaf, saya tiada keluarga tiada tempat tinggal... saya... saya berusaha menolong nona cantik itu, tapi... saya kalah. Penjahat muda itu terlampau kuat, agaknya dia... dia seorang Jai-Hwa-Cat (penjahat pemetik bunga)..."
Kong Bu tertarik hatinya.
"Di mana dia? Betulkah dia penjahat pemetik bunga?"
"Mungkin, saya... saya tidak jelas. Hanya ketika dia merobohkan saya tadi, dia... dia mengaku bahwa dia she Kwa... dan mengusir saya pergi, gadis itu pingsan, di pinggangnya tergantung pedang... eh, Pedang kuning seperti emas..."
Cengkeraman pada pundak itu mengeras dan si kecil kurus menyeringai kesakitan.
"Bagaimana kau bisa tahu Pedang yang tergantung itu Pedang kuning?"
"Aduh... lepaskan pundak saya... aduh, mana saya bisa tahu kalau Jai-Hwa-Cat itu tidak mempergunakannya untuk melawan saya? Pedang ampuh sekali, golok saya patah begitu beradu..."
Kong Bu tidak sabar lagi, segera menyeret tangan orang itu.
"Hayo cepat, antarkan aku ke sana Cepat... kubanting mampus kau, hayo cepat"
Orang itu mengeluh dan setengah diseret karena betapapun dia mengerahkan tenaga dan ilmu lari cepatnya, agaknya masih kurang cepat saja sehingga dia seperti diseret dan kedua kakinya tidak menginjak bumi lagi karena tubuhnya seperti menggantung kepada lengan Kong Bu yang kuat.
"Di sinikah tempatnya?"
Tanya Kong Bu.
"Betul... di dalam... di ruangan belakang, aku... aku takut, harap kau suka masuk sendiri, Ho-Han..."
Kong Bu mendorong orang itu sampai terjengkang, kemudian dia melompat naik ke atas genteng kuil tua itu.
Hati jago tua ini berdebar tidak karuan.
Di manapun dia berada dan siapapun gadis yang menjadi korban Jai-Hwa-Cat, kalau dia mendengar pasti dia akan turun tangan membasmi si penjahat.
Akan tetapi sekarang lain lagi halnya.
la sedang mencari puterinya yang dia tahu berada di kota itu, akan tetapi yang lenyap tak meninggalkan bekas, sedangkan buntalan pakaiannya masih di kamar losmen.
Dan gadis yang pingsan menjadi korban Jai-Hwa-Cat itu berpedang kuning.
Oei-kong-kiam!
Mana lagi ada Pedang kuning selain Oei-kong-kiam, Pedang yang dibawa Lee Si?
Inilah yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan, bahkan kedua kakinya agak menggigil dan hampir dia terpeleset ketika dia melompat ke atas genteng yang gelap itu.
Dari atas genteng dia melihat api penerangan di sebelah belakang kuil.
Cepat dia melompat dengan hati-hati ke bagian belakang, di atas tempat yang diterangi lampu di sebelah bawah.
Dengan hati-hati dia membongkar genteng lalu mengintai ke bawah.
la memandang dengan mata melotot, lalu menggosok-gosok kedua matanya, memandang lagi, otot-otot pada lehernya menegang, wajahnya tiba-tiba pucat sekali, lalu terdengar giginya berkerot-kerot.
"Bedebah! Keparat biadab...! Kubunuh kau... kubunuh...!"
Teriakan ini mula-mula hanya terdengar seperti gerengan harimau marah, kemudian melengking tinggi dan nyaring sekali.
Apakah yang dilihat jago Min-San ini?
Pemandangan di dalam ruangan di bawah itu benar-benar membuat darahnya mendidih, matanya tiba-tiba gelap dan dadanya serasa meledak.
Mereka berbaring di atas lantai, dua orang itu, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik jelita.
Siapa lagi kalau bukan Lee Si, puterinya?
Betapa tidak akan hancur hatinya melihat puterinya itu rebah terlentang, entah bagaimana keadaannya karena tubuhnya tertutup selimut sebatas leher, akan tetapi yang jelas puterinya itu menangis terisak-isak dan kelihatan lemah sekali.
Tentu dalam keadaan tertotok jalan darahnya, pikirnya dengan hati hancur.
Dan laki-laki tampan itu mukanya seperti perempuan, terlalu tampan.
Patut menjadi muka seorang Kongcu hidung belang atau seorang penjahat Jai-Hwa-Cat yang lihai!
Dan yang lebih memanaskan hatinya, laki-laki tampan itu rebah miring menghadapi Lee Si, tubuh bagian atas telanjang.
"Ayaaahhh...!"
Terdengar Lee Si menjerit, suaranya lemah sekali, bercampur isak.
"Keparat... jahanam...! Kubunuh engkau, kukeluarkan isi perutmu, kuminum darahmu...!"
Kong Bu berteriak lagi, kini diseling suara melengking tinggi yang menggetarkan kuil itu, seperti bukan suara manusia lagi.
Akan tetapi selagi dia hendak membongkar genteng dan menerobos ke bawah tiba-tiba beberapa batang lilin yang menyala di ruangan itu padam, membuat keadaan menjadi gelap pekat.
Betapapun marahnya hati Kong Bu, dia seorang jagoan kang-ouw yang sudah ulung, tentu saja dia tidak mau secara membuta melompat ke dalam ruangan yang gelap gulita dan tidak dikenalnya itu.
"Paman Kong Bu... dengarlah... saya Kwa Swan Bu... putera Ayah Kwa Kun Hong di Liong-Thouw-San..., Paman..."
Teringat Kong Bu akan penuturan si kurus tadi bahwa Jai-Hwa-Cat itu she Kwa. Darahnya makin bergolak. (Lanjut ke
Jilid 13) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13
"Tak peduli kau anak setan dari mana, hayo keluar! Hayo kau lawan aku mengadu nyawa. Penghinaan ini baru lunas bila ditebus dengan darah dan nyawa! Keluar!! kurobek dadamu, kukeluarkan jantungmu!"
Tiba-tiba dari dalam gelap di sebelah bawah terdengar desir angin yang amat halus.
Kong Bu cepat miringkan tubuh dan Pedang yang sudah dicabutnya itu menangkis beberapa batang jarum halus yang menyambar ke arahnya dari bawah sebelah kiri.
Itulah jarum rahasia dan mendengar bunyinya yang halus berdesir dapat diketahui bahwa penyambitnya tentu memiliki Lweekang yang amat kuat.
Kong Bu cepat melompat ke bawah, sambil memutar pedangnya, melayang ke arah dari mana datangnya jarum-jarum tadi.
Akan tetapi baru saja kedua kakinya menginjak tanah, dari arah kanannya menyambar angin pukulan yang amat kuat dan dahsyat.
Kong Bu cepat menggeser kaki memasang kuda-kuda yang amat rendah sambil menyampok dengan lengan kirinya dan mengerahkan Sinkang di tubuhnya.
Akan tetapi hampir saja dia terguling karena ternyata bahwa sambaran angin pukulan itu kuat bukan main.
Ia kaget sekali, akan tetapi tidak heran.
Kalau bangsat itu betul putera Pendekar Buta Kwa Kun Hong tentu saja memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Makin panas hatinya!
Bagaimanakah putera Kun Hong bisa melakukan perbuatan yang begini biadab?
Kong Bu adalah putera Raja Pedang yang menerima gemblengan ilmu silat dari Kakeknya yaitu mendiang Song-Bun-Kwi Kwee Lun.
Tentu saja dia mewarisi kepandaian tinggi dan dia tidak gentar meski menghadapi lawan yang bagain ana sakti pun.
Apalagi sekarang dia sedang niarah dan nekat karena ingin membela kehormatan puterinya.
Akan tetapi ketika ia memutar pedangnya sambil mengeluarkan suara melengking-lengking tinggi untuk menerjang lawannya yang mengirim pukulan dari tempat gelap, di situ tidak tampak lagi ada orang.
Makin kagetlah dia.
Terang bahwa lawannya tadi selain memiliki tenaga kuat, juga memiliki kegesitan yang luar biasa.
"Jai-Hwa-Cat biadab! Kalau memang jantan, hayo Kau tandingi aku secara laki-laki. Aku Tan Kong Bu Ketua Min-San pai, sebelum dapat mengeluarkan isi perutmu, takkan berhenti berusaha. Kau atau aku yang mati untuk mencuci noda ini!"
Pekiknya sambil membacokkan pedangnya pada sebuah tiang kuil. Tiang! itu terbabat putus dan genteng di atasnya banyak yang rontok karena penahan genteng menjadi miring.
"Hayo keluar! Jangan sembunyi kau, pengecut, jahanam keparat, manusia biadab! Biarpun kau anak Kwa Kun Hong atau putera malaikat sekalipun, jangan harap bisa terlepas dari tanganku!"
Akan tetapi ketika dia hendak menyerbu ke dalam ruangan belakang itu, tiba-tiba ada sambaran angin pukulan jarak jauh lagi, kini dari arah belakangnya.
Cepat dia menggeser kaki, memutar-mutar tubuh sehingga pukulan itu meleset.
la melihat bayangan orang berkelebat di belakangnya, cepat dia mengejar.
Bayangan itu gesit sekali dan melompat-lompat ke arah pagar ternbok yang mengelilingi kuil, lalu menerobos keluar.
"Keparat, hendak lari ke mana kau?"
Kong Bu mengejar, pedangnya diputar dan siap untuk melancarkan serangan maut.
Di depan kuil yang agak gelap bayangan itu berhenti dan Kong Bu cepat menghujani serangan-serangan dengan pedangnya.
Akan tetapi ternyata bayangan itu luar biasa cepat gerakannya, biarpun bertangan kosong, namun selalu dapat mengelak dari sambaran pedangnya.
Keadaan yang gelap membuat Kong Bu tidak dapat mengenal wajah orang ini, namun dia dapat melihat bayangan seorang pemuda yang tampan.
Belum sepuluh jurus dia menyerang, pemuda itu melompat dan menghilang di dalam gelap.
"Jai-Hwa-Cat, jangan lari kau!"
Seru Kong Bu sambil mengejar.
Akan tetapi bayangan itu lenyap.
Setelah mengejar agak jauh, Kong Bu teringat akan puterinya.
Cepat dia membalik dan lari ke arah kuil kembali, kini dengan nekat dia menerobos masuk ke dalam kuil sambil menjaga diri dengan pedang, langsung dia menuju ke ruangan belakang.
Sekali tendang, pintu ruangan belakang yang memang sudah reyot itu runtuh berantakan.
la menerjang ke dalam.
Gelap!
Dengan kakinya dia meraba-raba, akan tetapi ternyata ruangan itu kosong melompong.
Baik pemuda Jai-Hwa-Cat tadi maupun puterinya, telah lenyap.
Kong Bu mencari ke seluruh ruangan kuil kuno, akan tetapi tidak menemukan seorang pun.
Ia memaki-maki, memanggil-manggil nama anaknya, berteriak-teriak menantang.
Sia-sia belaka.
Bukan main kecewa dan menyesalnya.
la telah ditipu oleh pemuda Jai-Hwa-Cat tadi.
Terang bahwa tadi dia sengaja dipancing ke luar, kemudian Jai-Hwa-Cat itu tentu telah kembali ke gedung membawa lari Lee Si yang tidak berdaya melawan.
"Keparat jahanam! Kau anak Kwa Kun Hong! Awas kau! Kwa Kun Kong, si buta, keparat, kau harus mempertanggung-jawabkan kebiadaban puteramu. Awas kau! Sambil memaki-maki dan menyumpah-nyumpah, Kong Bu lalu lari seperti orang gila, keluar dari kuil itu. Tujuan hatinya hanya satu, ke Liong-Thouw-San, menuntut kepada Kun Hong agar supaya puteranya diserahkan kepadanya, untuk disodet perutnya agar terbebas penghinaan yang hebat ini!.
"Wah, baik sekali hasilnya. Sumoi, kau benar-benar amat cerdik dan licin sekali. Ha... ha... ha, antara keturunan Raja Pedang dan keturunan Pendekar Buta sudah terdapat bentrokan yang agaknya hanya dapat diredakan dengan darah dan nyawa. Bagus sekali, Sumoi!"
Maharsi tertawa memuji-muji sumoinya setelah pada keesokan harinya pagi-pagi mereka berkumpul di sebuah hutan tak jauh dari kuil di kota Kong-Goan itu.
Mereka berkumpul di situ, lengkap seperti kemarin, kecuali Siu Bi.
Gadis ini tidak tampak mata hidungnya.
"Ah, Suheng. Kalau tidak sedemikian besar dendamku terhadap mereka, agaknya takkan terpikirkan akal seperti itu olehku. Ketika kau dan Ouwyang Lam memancing Tan Kong Bu menjauhi kuil, sengaja kubebaskan puterinya. Tentu saja gadis itu malu sekali dan tidak ada muka berjumpa dengan Ayahnya. Hi...hi...hik, betapapun dia akan membela diri, siapa percaya bahwa dia tidak tercemar oleh putera Pendekar Buta?"
"Tapi di mana adanya Kwa Swan Bu, dan mana pula adik Siu Bi?"
Tanya Ouwyang Lam.
"Huh, gadis tiada guna itu! Tadinya Swan Bu kusingkirkan dalam keadaan tertotok, tapi kemudian lenyap, tentu dibawa pergi Siu Bi. Gadis tak tahu malu itu kalau tidak tergila-gila kepada pemuda tampan itu, entah mau apa dia...!"
Diam-diam Ang-Hwa Nio-Nio merasa iri hati dan cemburu kepada Siu Bi karena agaknya kekasihnya, Ouwyang Lam, tergila-gila kepada gadis Go-Bi-San itu, maka kesempatan ini ia pergunakan untuk memaki-maki dan memburukkan nama Siu Bi.
Adapun Ouwyang Lam diam-diam kecewa sekali karena si jelita Lee Si yang diincar-incar dan hendak dijadikan korbannya telah dibebaskan.
Ini belum apa-apa yang menjengkelkan hatinya adalah perginya Siu Bi!
la mengomel.
"Ah, Nio-Nio terlalu curiga. Terang bahwa adik Siu Bi membawa pergi Kwa Swan Bu untuk melampiaskan dendamnya. Kita lihat saja, tak lama lagi kita akan mendengar bahwa putera Pendekar Buta kehilangan sebelah lengannya."
"Kalau tidak sudah menjadi bangkai!"
"Kata pula Ang-Hwa Nio-Nio.
"Orang gila dari Min-San itu mengejar-ngejarnya. Aha, alangkah ramainya nanti di Liong-Thouw-San. Tentu Raja Pedang akan terseret-seret pula. Dan selagi mereka saling cekcok memperebutkan kebenaran, kita serbu mereka. Suheng, dan Sianjin, mari kita mengunjungi Bhok Lo-Suhu!"
Biarpun hatinya mendongkol, Ouwyang Lam tidak dapat bicara apa-apa lagi, hanya di dalam hatinya ia mengharapkan kembalinya Siu Bi menggabung kepada rombongan mereka yang makin kuat ini.
la percaya bahwa lambat-laun dia pasti akan dapat berhasil memikat hati gadis yang mengguncangkan jantungnya itu.
Dugaan Ang-Hwa Nio-Nio memang tepat.
Ketika terjadi tipu muslihat yang dilakukan oleh Ang-Hwa Nio-Nio, Siu Bi melihat dengan jelas.
Akan tetapi ia tidak ambil pusing, hanya mulutnya tersenyum menghina.
la muak dengan cara-cara yang dikerjakan oleh Ang-Hwa Nio-Nio.
Akan tetapi ia selalu mencari kesempatan untuk memuaskan nafsu hatinya sendiri, yaitu membalas kepada Kwa Swan Bu putera Pendekar Buta.
Urusan orang lain ia tidak peduli, yang penting ia harus melaksanakan tugas dan sumpahnya.
Ketika orang yang dinanti-nanti, yaitu yang katanya adalah putera Raja Pedang, Ketua Min-San-Pai bernama Tan Kong Bu Ayah Lee Si yang tertawan itu datang, ia kagum juga.
Bukan main sepak terjang laki-laki tinggi besar itu.
Mengingatkan ia akan Kakeknya, Hek Lojin.
Akan tetapi ketika ia melihat laki-laki itu dipancing menjauhi kuil dan melihat Ang-Hwa Nio-Nio menyeret Swan Bu keluar dan meninggalkannya di belakang kuil untuk membebaskan Lee Si, diam-diam ia menyelinap dan mengempit tubuh Swan Bu, terus dibawa lari cepat sekuatnya meninggalkan tempat itu.
Yang lain-lain ia tidak peduli, yang penting baginya hanyalah Kwa Swan Bu, putera Pendekar Buta, musuh besarnya!
Siu Bi maklum bahwa Ang-Hwa Nio-Nio dan teman-temannya adalah orang-orang yang amat sakti, bukan lawannya dan ia akan terpaksa menyerahkan Swan Bu kembali malah ia sendiri mungkin tak bebas dari hukuman apabila mereka dapat menyusulnya.
Oleh karena inilah maka gadis itu terus lari secepatnya, menyusup-nyusup ke dalam hutan dan tidak pernah berhenti sampai malam berganti pagi.
Akhirnya ia tldak kuat lari lagi dan di dalam sebuah hutan keci ia berhenti, terengah-engah lalu melempar tubuh Swan Bu ke atas tanah.
la berdiri mengatur nafas, menyusut keringat di leher dan jidatnya dengan saputangan, memandang sekilas ke arah pemuda yang terbanting ke atas tanah itu.
la melihat pemuda itu bergerak perlahan, menggerak-gerakkan lengan dan kaki, agaknya sudah terbebas dari totokan, lalu mencoba untuk bangun dan duduk.
Siu Bi kaget sekali, teringat betapa lihainya pemuda ini dan kalau sudah pulih tenaganya, tentu sukar baginya untuk mengalahkannya.
Cepat ia menerjang maju, tangannya bergerak dan Swan Bu yang tahu bahwa dia diserang, tak dapat menangkis atau mengelak, karena jalan darahnya belum pulih seluruhnya.
Kembali dia roboh dan tak berkutik karena jalan darahnya yang membuat dia lemas telah ditotok oleh gadis galak itu.
Setelah merasa yakin bahwa lawannya takkan mampu bergerak, Siu Bi yang merasa kedua kakinya berdenyut-denyut linu dan lelah sekali, menjatuhkan diri duduk di atas tanah berumput, melanjutkan usahanya menghapus keringatnya.
Kemudian ia mengebut-ngebut saputangan dipakai mengipasi lehernya sambil menatap wajah di depan kakinya itu.
Wajah seorang pemuda yang amat tampan dan gagah, alis yang hitam tebal berbentuk golok, sepasang mata yang penuh ketabahan.
Kebetulan sekali Swan Bu juga memandang kepadanya.
Dua pasang mata bertemu pandang, penuh amarah, saling serang dan akhirnya Siu Bi yang menunduk lebih dulu.
"Perlu apa kau melarikan diriku ke sini"
Tanya Swan Bu, suaranya tenang akan tetapi agak ketus.
"Perlu apa lagi? Membuntungi lengan kirimu untuk membalas sakit hati mendiang Kakekku!"
Swan Bu terdiam, memutar otak.
Namun dia tidak melihat jalan keluar untuk menolong dirinya.
Gadis ini wataknya keras dan aneh, liar dan ganas.
Betapapun juga, kalau gadis ini tidak menculiknya ke sini mungkin jiwanya terancam bahaya.
Bahaya yang mengerikan.
la bukan takut mati, akan tetapi mati di tangan Paman Tan Kong Bu dengan tuduhan melakukan tindakan maksiat, berzina dengan Lee Si, sungguh merupakan kematian yang amat pahit dan penasaran.
Betapapun juga, jika direnungkan benar-benar, gadis liar ini sudah menolongnya, menolong kehormatannya, karena biarpun dia akan dibuntungi lengan kirinya, namun dia tidak mati dan selama dia masih hidup dia akan dapat membersihkan namanya, akan dapat membuktikan kepada Pamannya, Tan Kong Bu, bahwa dia sama sekali tidaklah berbuat zina dengan puteri Pamannya itu.
Juga, biarpun lengannya tinggal sebuah, dia masih akan mendapat kesempatan membalas kepada Ang-Hwa Nio-Nio dan kawan-kawannya yang telah membuat fitnah keji terhadap dirinya dan Lee Si itu.
"Huh, wajahmu pucat! Kau takut, ya? Ngeri mengingat lengan kirimu akan buntung? Ya, akan kubuntungi lengan kirimu, biar tahu rasa, biar kau merasakan bagaimana sengsaranya Kakekku setelah lengan kirinya dibuntungi Ayahmu. Dan setelah kau, Ayah dan Ibumu akan menerima gilirannya!"
"Hemmm, kau ini bocah bermulut besar, sombong dan tak tahu malu. Membuntungi lenganku saja kalau tidak secara pengecut, tidak akan becus kau lakukan. Macam kau hendak membuntungi lengan Ayah Ibuku? Hah, cacing tanah pun akan terbahak geli mendengar kata-katamu tadi!"
Tadinya Siu Bi mengira bahwa Swan Bu merasa ngeri dan ketakutan.
Hatinya sudah merasa girang karena ia mendapat kesempatan untuk mengejek.
Kiranya sekarang malah ucapan pemuda itu bagaikan api membakar dadanya, membuat ia melompat bangun, berdiri dengan mata mendelik, muka berwarna merah padam, hidungnya kembang-kempis.
"Nah, marahlah! Hayo, keluarkan kegagahanmu, marah sekuatmu kemudian coba kau bebaskan aku kalau berani. Kalau aku bebas, boleh Kau coba untuk membuntungi lenganku, hendak kulihat kau becus atau tidak. Hemmm, biar kau memegang Pedang setan hitam itu, aku bertangan kosong saja menghadapimu bukan lenganku yang buntung, melainkan... hemmm hidungmu yang kembang-kempis itu yang akan kucabut copot dari mukamu!"
Dapat dibayangkan betapa memuncak kemarahan Siu Bi mendengar ejekan yang dianggapnya penghinaan hebat ini.
la membanting-banting kakinya dan hampir menangis ketika pedangnya berkelebatan di depan muka Swan Bu dan tangannya menuding-nuding, Bibirnya komat-kamit meneriakkan maki-makian yang tidak keluar dari mulut.
"Kau... kau setan, kau... kau... manusia sombong. Hihhh, lehermu yang akan kubuntungi, bukan lenganmu. Dengar? Lehermu akan kupenggal dengan Pedang ini!"
Namun Swan Bu adalah putera tung-gal Kwa Kun Hong, seorang yang biarpun masih muda namun memiliki dasar satria yang tidak takut mati.
Selain ini dia pun keras hati dan tidak sudi tunduk jika merasa dirinya benar.
Mendengar ancaman dan melihat Pedang berkelebatan di dekat lehernya itu, dia malah tertawa, tertawa nyaring.
"He?!"
Siu Bi menahan gerakan pedangnya dan memandang heran.
Memang sama sekali ia tidak mengira, orang yang sudah hampir dipenggal lehernya dapat tertawa segembira itu!
"Wah, kau sudah miring otak, ya?
Kau sudah menjadi gila saking takut, ya?"
"Perempuan liar, kau lah yang gila. Kau boleh mengeluarkan seribu ancaman, seperti kebiasaan setan-setan dan iblis, akan tetapi seorang gagah tidak takut mati. Aku paling ngeri kalau menjadi pengecut, lebih baik mati daripada menjadi pengecut macam kau ini. Berani menjual lagak hanya kepada orang yang sudah tidak mampu melawan. Huh, beri aku kesempatan untuk melawanmu, baru kau tahu rasa, baru akan terbuka matamu bahwa kau harus belajar lima puluh tahun lagi sampai menjadi nenek-nenek kempot keriput baru boleh menandingi aku! Mau bunuh, hayo bunuhlah. Sabetkan pedangmu dengan tanganmu yang curang itu ke leherku, siapa takut?"
Siu Bi tertegun.
Kali ini bukan karena marahnya melainkan karena heran dan kagumnya.
Belum pernah selama hidupnya ia melihat orang begini tabah, begini tenang dan penuh keberanian menghadapi kematian.
Hampir ia tidak dapat percaya.
Mungkin hanya aksi belaka, pikirnya.
Kalau sudah diberi rasa sakit, tentu akan menguik-nguik minta ampun seperti anjing dipecuti.
"Kau betul tidak takut mampus? Nah, rasakan ini!"
Pedangnya digerakkan, perlahan-lahan ke arah leher Swan Bu sambil menatap tajam wajah tampan itu.
la melihat betapa wajah itu tetap tenang, sepasang mata tajam itu memandang penuh tantangan, berkedip pun tidak, sampai ujung pedangnya menggores kulit pundak yang telanjang itu dan kulit pecah darah merah mengucur.
Namun wajah itu tetap tenang, Bibir itu tetap dalam senyum mengejek dan mata menantang, berkedip pun tidak!
Bukan main!
"Hayo, kenapa berhenti?
Bukan aku yang takut mampus, kau lah yang takut melanjutkan perbuatanmu yang curang dan pengecut!"
Pucat wajah Siu Bi mendengar ini.
"Setan kau!"
Pedangnya kembali diangkat dan kini agak cepat menyambar.
"Crattt!"
Pedang itu menancap pada pundak beberapa senti meter saja dalamnya karena segera ditahannya, ketika dicabut, darah mengucur banyak.
Tapi tetap saja wajah Swan Bu tidak berubah, matanya tidak berkedip, senyumnya makin mengejek.
"Nah, kembali kau tidak berani. Melawanku dengan Pedang sedang aku bertangan kosong pun tidak berani. Huh, kau pengecut kepalang tanggung!"
Siu Bi menggigit Bibirnya.
"Sombong! kau kira aku tidak tahu akan akal bulusmu? Kau sengaja memanas-manasi hatiku, sengaja membakarku agar aku menjadi panas hati dan membebaskanmu. Huh, siapa yang tidak tahu bahwa kau lihai dan kalau dibanding aku takkan menang? Tapi jangan kira aku sebodoh itu, aku tidak dapat kau pancing! Padahal kalau betul-betul kau bertangan kosong melawan aku bersenjata pedang, dalam belasan jurus saja kau pasti akan roboh. Kau sengaja membuka mulut besar, kalau sudah kubebaskan dari totokan, kau tentu melarikan diri dan aku tidak dapat mengejarmu, sampai kau mendapatkan senjata dan melawanku. Bukankah begitu akalmu, Bulus?"
Diam-diam Swan Bu mengeluh.
Cerdik betul bocah ini.
Tidak ada gunanya menipu gadis seperti ini.
Akan tetapi memang ucapannya tadi bukan semata-mata hendak mengejek dan memancing agar dibebaskan, melainkan betul-betul keluar dari perasaannya yang penasaran dan marah.
"Bocah tak perlu menjual lagak. Kau pintar atau goblok bukan urusanku, yang terang kau pengecut. Aku seorang laki-laki sejati, Ayahku Pendekar Buta terkenal di kolong jagat sebagai seorang Pendekar besar. Menyelamatkan diri dengan jalan menipu, apalagi menipu seorang bocah masih ingusan macam engkau, bukanlah perbuatan orang gagah. Kau mau melihat bukti bahwa aku dapat mengalahkan engkau yang berpedang dengan tangan kosong? Bebaskan aku, akan kubuktikan. Aku tidak akan lari, kalau sudah membuktikan omonganku, boleh Kau tawan aku lagi, aku takkan melawan."
"Huh, siapa percaya omonganmu?"
Siu Bi mencibirkan Bibirnya yang merah dan Swan Bu mengerutkan alisnya. Terlalu cantik manis dara liar ini kalau sudah mencibir seperti itu.
"Percaya atau tidak terserah, aku pun tidak akan memaksa kau percaya. Akan tetapi yang jelas, kau berani melawan aku bertangan kosong?"
Siu Bi duduk termenung, tanpa ia sadari jari-jari tangan kirinya bergerak-gerak dan ujungnya memukul-mukul pahanya sendiri.
la penasaran sekali.
la tahu bahwa ilmu Pedang pemuda ini hebat sekali, tadi malam ia sudah menyaksikannya.
Akan tetapi kalau bertangan kosong melawan ia berpedang?
Ah, tidak mungkin ia akan kalah!
Pula, kalau membuntungi lengannya dalam keadaan tertotok seperti ini, benar-benar sukar baginya untuk melakukannya.
Lebih baik bebaskan dia dan tantang berkelahi, dalam kesempatan itu ia akan membuntungi lengannya.
Dengan begitu barulah perbuatan gagah.
"Kau tidak akan lari?"
"Kata-kata lari tidak terdapat dalam kamus hatiku."
"Berani sumpah?"
Hampir Swan Bu tertawa. Gadis ini aneh, liar, akan tetapi juga lucu.
"Ucapan yang keluar dari mulut orang gagah dengan sendirinya sudah merupakan sumpah yang lebih berharga daripada nyawa."
"Baik, kau kubebaskan dan kau lawanlah pedangku dengan tangan kosong. Kalau kau melarikan diri, tidak apa, aku akan menganggap kau seorang yang paling curang dan pengecut di seluruh permukaan bumi ini."
Sebelum pemuda itu sempat menjawab yang menyakitkan hati, Siu Bi sudah menerjang maju, tangan kirinya menotok dan terbebaslah Swan Bu.
Pemuda ini bergerak dan bangkit berdiri, kaki tangannya kesemutan dan masih kaku-kaku.
la menggerak-gerakkan lengan dan kakinya sampai jalan darahnya pulih kembali sambil mengatur nafas mengerahkan Sinkang.
Terasa hawa panas mengelilingi seluruh bagian tubuhnya dan beberapa detik kemudian dia sudah segar kembali.
Inilah cara memulihkan jalan darah dan tenaga warisan ajaran Ayahnya.
la melirik ke arah pundaknya di mana terdapat guratan dan tikaman pedang.
Lukanya tidak berbahaya, akan tetapi terasa perih dan darahnya cukup banyak.
Swan Bu menggerakkan jari tangan menekan pinggir luka, darahnya berhenti dan dia menghadapi Siu Bi dengan senyum mengejek tak pernah meninggalkan Bibirnya.
"Kalau kau betul jantan, lawanlah pedangku. Awas pedang!"
Siu Bi segera menerjang dengan kecepatan kilat.
la sudah maklum bahwa putera Pendekar Buta ini benar-benar lihai, maka begitu menerjang ia sudah menggunakan jurus yang berbahaya sambil membarengi dengan pukulan Hek-In-Kang dari tangan kirinya.
Biarpun baru segebrakan saja Swan Bu pernah melawan Siu Bi, namun dia tahu bahwa gadis itu selain memiliki ilmu Pedang yang aneh dan amat ganas, juga tangan kirinya mengandung hawa pukulan yang keji, hawa pukulan beracun yang mengeluarkan uap hitam.
Oleh karena inilah maka serta merta dia menggunakan ilmu langkah ajaib Kim-Tiauw-kun dan mainkan jurus-jurus Im-Yang Sin-Hoat yang sukar dicari tandingnya itu.
Tubuhnya bergerak aneh, kadang-kadang terhuyung, kadang-kadang jongkok, berdiri miring, membungkuk dan berloncatan, seperti bukan orang main silat.
Melihat gerakan ini, hampir saja Siu Bi tak dapat menahan seruan heran dari mulutnya.
la mengenal gerakan ini.
Pernah ia dibikin tidak berdaya oleh gerakan-gerakan seperti ini, yang dimainkan oleh Yo Wan!
Malah ia pernah, sebelum berpisah dari Yo Wan secara menyedihkan, minta supaya Yo Wan mengajarkan ilmu langkah ajaib itu karena dengan ilmu langkah itu saja ia pernah dibikin tidak berdaya.
Dan sekarang, pemuda ini menggunakan ilmu langkah itu!
Saking kaget dan herannya, penyerangannya berhenti.
"He, kenapa berhenti? Kau takut?"
Swan Bu mengejek.
"Takut hidungmu! Aku hanya heran... apa engkau kenal orang yang bernama Yo Wan Si Jaka Lola?"
Swan Bu tertegun. Gadis aneh, ada-ada saja pertanyaannya dan aneh-aneh tak terduga-duga pula.
"Yo Wan? Tentu saja kenal, dia itu Suhengku, murid Ayahku. Mau apa kau sebut-sebut dia?"
Mampus kau! Hampir saja di depan Swan Bu ia mengeluarkan ucapan ini, dan betapa herannya Swan Bu ketika melihat tiba-tiba gadis itu menampar kepalanya sendiri "Eh,apa kau gila?"
Siu Bi tidak mendengar pertanyaan ini, pikirannya berputaran tujuh keliling.
Siapa kira siapa duga, Yo Wan itu malah murid Pendekar Buta!
Dan ia sudah mengajak Yo Wan bersekongkol membantunya melawan Pendekar Buta.
Anehnya, mengapa Yo Wan mau saja?
Dan pemuda yatim piatu itu baru marah dan meninggalkannya setelah mengetahui bahwa ia adalah puteri tiri The Sun yang katanya membunuh Ibunya.
Wah, wah, kalau Yo Wan itu murid Pendekar Buta, celaka dua belas.
Sampai mati pun mana mungkin ia menang melawan Pendekar Buta?
Tapi, ia sudah menantang pemuda ini, harus dapat memenangkannya, kalau tidak, lagi-lagi ia akan menderita malu.
"Bagaimana kau mengenal Suhengku itu? Di mana dia?"
"Aku tidak kenal dia! Kau makanlah pedangku ini!"
Siu Bi menerjang lagi, kini gerakannya lebih dahsyat lagi karena ia telah mengeluarkan jurus yang paling lihai setelah maklum bahwa pemuda ini adalah adik seperguruan Yo Wan dan karenanya tentu memiliki ilmu yang sakti seperti Yo Wan pula sehingga ia khawatir kalau-kalau ia akan kalah, biarpun hanya dilawan dengan tangan kosong.
Swan Bu cepat mengelak dan di lain saat mereka telah bertempur lagi dengan seru.
Sebentar saja puluhan jurus telah lewat dan sama sekali Siu Bi belum dapat mendesak lawannya, sungguhpun bagi Swan Bu juga tidak mudah untuk mengalahkan gadis yang gesit dan memiliki ilmu kepandaian tinggi dan luar biasa itu.
Kalau saja dia berpedang, agaknya tidak akan begitu sukar baginya untuk menundukkan Siu Bi.
Dengan ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam, kiranya dia akan dapat mengalahkannya.
Betapapun juga, kekerasan hatinya tidak mengijinkan Swan Bu untuk mengalah terhadap gadis liar yang hendak membuntungi lengannya ini.
Pada saat pertempuran sedang berjalan seru, tiba-tiba terdengar teriakan orang.
"Ini dia! Mari bantu nona The! Serang dan bunuh dia!!"
Jarum-jarum halus menyambar ke arah Swan Bu ketika tiga orang yang baru muncul ini menggerakkan tangan mereka, kemudian menyusul serangan senjata halus itu mereka menerjang maju dengan golok, menyerang Swan Bu dengan hebat.
Mereka ini bukan lain adalah tiga orang anggota Ang-Hwa-Pai yang tentu saja tidak tahu akan tipu muslihat Ang-Hwa Nio-Nio karena hal itu memang dirahasiakan sehingga setahu mereka hanya bahwa pemuda putera Pendekar Buta yang tertawan itu telah berhasil lolos.
Kini melihat pemuda itu bertanding melawan Siu Bi, tentu saja mereka segera membantu karena mereka maklum bahwa nona The Siu Bi adalah "Keponakan"
Ketua mereka.
Pada saat mereka menyerang dengan jarum-jarum halus itu, Siu Bi sedang mengurung Swan Bu dengan sinar Pedang dan pukulan Hek-In-Kang.
Swan Bu sibuk menghadapi serangan dahsyat ini, maka alangkah kagetnya ketika dia merasa adanya sambaran angin halus dari sebelah belakang.
Cepat dia menggunakan tangan kirinya menyampok sambil mengerahkan Sinkang sehingga angin pukulannya menyambar ke belakang.
Namun, di antara jarum-jarum halus yang dapat dia sampok runtuh itu terdapat sebatang yang menyelinap dan menancap pada pundak kanannya.
Swan Bu merasa pundaknya kaku dan gatal-gatal, maka tahulah dia bahwa dia telah menjadi korban senjata rahasia halus yang beracun!
Namun dengan nekat dia lalu melawan, cepat menghindar dari sambaran tiga batang golok dan pada saat tubuhnya miring itu kakinya melayang dan seorang pengeroyok roboh dengan tulang iga patah!
Sementara itu, Siu Bi juga marah sekali melihat munculnya tiga orang Ang-Hwa-Pai yang tanpa diminta telah lancang turun tangan membantunya.
Ia berseru keras.
"Cacing busuk, siapa butuh bantuan kalian? Mundur!"
Akan tetapi dua orang Ang-Hwa-Pai ketika melihat seorang teman mereka roboh, mana mau mundur.
Yang memerintah mereka kali ini bukanlah seorang pemimpin Ang-Hwa-Pai, tentu saja mereka tidak peduli dan terus menerjang Swan Bu dengan hebat.
"Trang-trang...!!"
Golok di tangan mereka terpental dan sebelum mereka dapat mengelak, mereka telah roboh dengan pangkal lengan dan paha pecah kulit dan dagingnya dimakan Pedang Siu Bi!
Mereka begitu kaget sehingga mudah roboh karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa mereka akan diserang oleh gadis itu.
"Lancang!"
Dia memaki lagi dan kini pedangnya bergulung-gulung menyambar ke arah Swan Bu yang cepat menjatuhkan diri ke samping, lalu bergulingan menyelamatkan diri.
Ketika Siu Bi mendesak, pemuda ini sudah berhasil melompat berdiri dan kembali mereka bertanding hebat.
Adapun tiga orang Ang-Hwa-Pai itu, setelah dapat merangkak bangun, segera pergi dari situ terpincang-pincang.
Dua orang yang terluka Pedang Siu Bi, dengan susah payah dan sedapat mungkin menggotong temannya yang masih pingsan karena tendangan Swan Bu mematahkan sedikitnya dua buah tulang iganya.
Mereka bergegas pergi untuk mencari bala bantuan.
Kini perlawanan Swan Bu tidak segesit tadi.
Pemuda ini tentu saja tidak sudi memperlihatkan kelemahan, tidak sudi mengaku bahwa dia telah terluka oleh jarum beracun.
la melakukan perlawanan sedapat mungkin biarpun kini lengan kanannya setengah lumpuh.
Diam-diam Siu Bi amat kagum.
Benar-benar hebat pemuda ini dan seperti yang ia khawatirkan, sama sekali ia tidak mampu merobohkannya.
Padahal pemuda ini bertangan kosong dan ia memegang Cui-Beng Kiam dan malah menggunakan Hek-In-Kang.
Bukan main!
Di dalam hatinya, Siu Bi merasa sayang sekali mengapa pemuda sehebat ini ditakdirkan menjadi putera musuh besar Kakeknya yang harus ia buntungi lengannya.
Kalau saja tidak demikian halnya, alangkah akan senangnya mempunyai seorang sahabat seperti dia ini, sebagai pengganti Yo Wan yang sekarang sudah memusuhinya karena perbuatan Ayah tirinya.
Siu Bi diam-diam merasa menyesal bukan main.
Mau rasanya ia menangis, apalagi ditambah kejengkelan hatinya bahwa begitu lama ia masih juga belum berhasil mengalahkan dan membuntungi lengan Swan Bu.
Akan tetapi tiba-tiba Swan Bu mengeluh, terhuyung-huyung ke belakang lalu jatuh terduduk.
Siu Bi menahan pedangnya, kaget dan terheran-heran.
Terang bahwa bukan dia yang merobohkan pemuda itu.
Baru saja pemuda itu menangkis pukulannya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga Hek-In-Kang di tangan kiri.
Swan Bu tak dapat mengelak dan terpaksa menangkis dengan tangan kanan.
Dalam pertemuan tenaga ini, Siu Bi merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat.
Makin kagum ia karena jarang ada orang dapat menangkis tenaga Hek-In-Kang sedemikian rupa sampai dia tergetar ke belakang.
Dan sehabis menangkis itulah, ketika ia menerjang lagi dengan pedangnya, Swan Bu mengelak lalu terhuyung-huyung ke belakang dan jatuh terduduk, meringis menahan sakit sambil menekan pundak kanannya.
Siu Bi melangkah maju, memandang penuh perhatian.
Dilihatnya kulit pundak kanan yang putih itu ternoda bintik merah membengkak.
"Kau terluka Ang-Tok-Ciam (Jarum Racun Merah)!"
Serunya di luar kesadarannya. Swan Bu mengangguk lesu.
"Tiga orang tadi..."
"Kalau tidak segera dikeluarkan, kau akan mati..."
"Lebih baik begitu, jadi kau tidak usah bersusah-payah lagi..."
Siu Bi maju lagi dan berlutut.
"Tidak boleh mati! Kalau mati aku takkan dapat melaksanakan sumpahku. Jangan bergerak, biar kukeluarkan jarum itu!"
Siu Bi memegang pedangnya dekat ujung, lalu dengan hati-hati ia merobek kulit di pundak itu, Swan Bu menggigit Bibir menahan sakit, jantungnya berdebar ketika dia melihat wajah Siu Bi hanya beberapa senti saja jauhnya dari pipi kanannya.
Jelas dia melihat kulit muka yang putih halus, dengan rambut hitam dari sinom rambut kacau terurai di jidat dan melingkar indah di depan telinga.
Melihat Bibir yang basah itu bergerak dan saling himpit dalam ketekunan usaha membedah dan mengeluarkan jarum dari pundaknya, hidung yang kecil mancung itu menyedot dan mengeluarkan nafas panas halus yang membelai leher dan pipinya, mata seperti bintang itu tanpa berkedip menuntun jari-jari tangan halus bekerja.
Ahhh, wajah seperti ini pantasnya dimiliki dewi kahyangan, bukan iblis betina yang kejam.
Akhirnya Siu Bi berhasil menjepit keluar jarum halus itu dari dalam pundak Swan Bu.
Dibuangnya jarum itu sambil berkata.
"Nah, sudah keluar sekarang. Akan tetapi racunnya tentu telah mengotori darah, sebaiknya kau mendorongnya keluar dengan Sinkang."
Tentu saja sebagai putera Pendekar Buta, Swan Bu maklum akan hal ini, malah andaikata tadi Siu Bi tidak mengeluarkan jarum itu dengan jalan membedah kulit dan daging pundak, dia sendiri pun sanggup melakukannya.
Kini dia duduk bersila dan meramkan mata, mengerahkan Sinkang, tidak saja untuk membersihkan darah dan mendorong racun merah keluar melalui luka, akan tetapi sebagian besar lagi untuk menenteramkan jantungnya yang bergolak tidak karuan tadi.
Gangguan ini membuat usahanya kacau karena sukar baginya untuk mengerahkan panca indera.
Yang terbayang adalah wajah Siu Bi, sinom rambut, Bibir, hidung mancung, mata bintang, dan nafas hangat halus yang membelai leher dan pipinya!
Siu Bi mengerutkan kening.
Celaka, pikirnya.
Kenapa belum juga keluar darah yang teracuni dari luka?
Apakah pemuda yang memiliki ilmu silat sehebat ini sudah begini lemah Sinkangnya oleh racun jarum merah itu?
la menjadi tidak sabar lagi dan tanpa berkata sesuatu Siu Bi mengulurkan tangan kirinya, menempelkan telapak tangannya yang halus itu kepada dada kanan Swan Bu dan menyalurkan Sinkang untuk membantu pemuda itu mendorong keluar racun jarum merah!
Merasa betapa telapak tangan itu mengeluarkan hawa panas di dadanya, Swan Bu membuka mata memandang heran, akan tetapi segera ditutupnya kembali kedua matanya.
Jantungnya makin berdebar, usahanya mengumpulkan panca indera makin kacau-balau.
Gadis itu duduk begitu dekat di depannya!
Tangan yang halus itu serasa membakar kulit dadanya!
Kemudian dia merasa betapa hawa panas yang keluar dari telapak tangan halus itu menyusup ke dalam tubuhnya, makin lama makin panas dan seakan-akan hendak membakar jantung.
Swan Bu kaget dan bergidik.
Kiranya gadis yang berwajah dewi kahyangan ini benar-benar seorang iblis betina dan agaknya malah hendak membunuhnya dengan penyaluran Sinkang.
Cepat dia mengumpulkan tenaganya dan mengerahkan Sinkang ke arah dada dan pundak kanan untuk menjaga diri.
Tiba-tiba Siu Bi membuka kedua matanya yang tadi dipejamkan, memandang heran dan kaget.
Mereka berdua merasa betapa tenaga Sinkang mereka berhantaman hebat.
Dua pasang mata beradu, mengeluarkan sinar berapi.
Tiba-tiba Siu Bi menjerit perlahan, badannya terasa terbakar.
Swan Bu bergoyang-goyang badannya lalu keduanya roboh terguling.
Pingsan!
Apa yang terjadi?
Kiranya tanpa mereka sadari, kedua orang muda ini telah mencelakakan diri sendiri.
Dalam usahanya membantu Swan Bu mengusir racun merah, Siu Bi telah mengerahkan Sinkangnya, disalurkan ke dalam dada dan pundak Swan Bu karena mengira bahwa pemuda itu kurang kuat untuk mengusir racun.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa dasar pelajaran yang ia dapat dari Kakeknya dahulu sama sekali berlawanan dengan dasar pelajaran yang dimiliki Swan Bu.
Oleh karena ini, hasil kekuatan di dalam tubuhnya, yaitu hawa sakti yang dimilikinya, juga berlawanan dengan Sinkang dari Swan Bu.
"Aku cinta padamu, Siu Bi."
Kata-kata ini singkat namun padat, diucapkan penuh perasaan.
"Tapi sekarang bukan waktunya kita bicara. Kau cepat pulihkan tenagamu, sembuhkan luka di dalam tubuhmu agar kita dapat menghadapi si gila itu."
Setelah berkata demikian, Swan Bu yang duduk bersila meramkan mata, nafasnya panjang-panjang dan pada wajahnya yang tampan itu terbayang ketenangan dan kebahagiaan.
Melihat ini, Siu Bi mengusir semua bayangan yang mengacaukan pikirannya, duduk bersila dan meramkan matanya pula.
Beberapa kali dadanya terisak, dan beberapa kali matanya terbuka memandang ke arah Swan Bu.
Sukar baginya untuk melakukan Siulian...
Wajah Swan Bu bergantian dengan wajah Kakek Hek Lojin terbayang di depan matanya, cumbu rayu pemuda itu bergantian dengan lengan buntung Kakeknya, mengaduk-aduk hati dan perasaannya.
Akan tetapi akhirnya ia dapat juga menindas ini semua.
Mulailah ia mengumpulkan hawa sakti dalam tubuh, perlahan-lahan menyalurkan Sinkang ke arah bagian dada yang terluka di sebelah dalam.
Tiga hari lamanya Kakek gila itu mencarikan makan minum untuk Swan Bu dan Siu Bi.
Dan selama tiga hari itu, kedua orang muda ini bertekun dalam Siulian, menyembuhkan luka masing-masing.
Hampir setiap hari secara terpaksa Swan Bu merangkul dan memperlihatkan sikap mesra terhadap Siu Bi, yaitu di kala Kakek itu kumat gilanya dan menuduh mereka tidak saling mencinta.
Dan Siu Bi menerima kemesraan Swan Bu ini dengan mata meram, diam tidak memperlihatkan sikap apa-apa.
Semenjak "Mimpi"
Itu Siu Bi menjadi pendiam, bahkan jarang mengadu pandang mata secara langsung dengan Swan Bu.
Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali Kakek gila itu sedang tertawa-tawa seorang diri menghadapi api unggun di depan gua, membakar daging kijang yang ditangkapnya malam tadi.
Tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya.
Ketika menengok, dia melihat Siu Bi berdiri tegak.
Sinar api unggun yang jatuh pada bayangan gadis itu membuatnya bercahaya merah di antara keredupan embun pagi, luar biasa cantiknya seakan-akan sang dewi pagi turun dari kahyangan menemuinya.
Sejenak Kakek itu terpesona, kemudian dia terkekeh.
"Ha... ha... ha, kau sudah dapat keluar? Hendak menemani aku? Bagus, kau tentu bosan dengan suamimu si lemah itu. Ha... ha... ha, mari mendekat, Manis..."
Akan tetapi kata-katanya terhenti di situ karena tiba-tiba Siu Bi sudah menerjangnya dengan hebat.
Tiga kali pukulan Hek-In-Kang biarpun hendak ditangkis juga percuma, tepat mengenai dada sedangkan tangan kiri Siu Bi sudah berhasil mencabut Pedang Cui-Beng Kiam yang terselip di ikat pinggang Kakek itu.
"Aduh... auhhh..."
Tubuh Kakek itu bergulingan dan sebelum sempat meloncat bangun, Cui-Beng Kiam menyambar dan tubuh Kakek itu rebah tak bergerak lagi, darah menyemprot ke luar dari lehernya yang sudah putus, kebetulan menyemprot ke arah api unggun secara perlahan-lahan menjadi padam.
Dengan Pedang Cui-Beng Kiam yang berlumuran darah di tangan, Siu Bi berlari memasuki gua.
Di bawah cahaya remang-remang ia melihat Swan Bu masih duduk bersila.
Wajah yang cantik itu menjadi beringas, sepasang matanya yang bening mengeluarkan cahaya, Bibirnya yang merah digigit.
"Swan Bu, terimalah pembalasan Kakekku!"
Siu Bi berseru.
Swan Bu kaget dan sadar, otomatis mengangkat kedua lengannya sambil membuka mata.
Sinar hitam berkelebat, lengan kiri pemuda itu terbabat buntung sebatas siku, darah menyembur keluar dan Swan Bu roboh terguling pingsan.
Sejenak Siu Bi tertegun, bagaikan kena pesona darah merah yang mengalir keluar dari lengan buntung.
Wajahnya pucat dan kedua kakinya menggigil.
Tiba-tiba ia melempar pedang, menjerit lalu berlutut dekat tubuh Swan Bu yang bergerak dan mukanya pucat seperti mayat.
Dengan gugup dan bingung Siu Bi menotok jalan darah dekat pangkal lengan yang buntung.
Kemudian menangis tersedu-sedu, memangku kepala Swan Bu, menciumi muka pemuda itu yang mengeluh panjang pendek menyebut namanya.
Kurang lebih satu jam Swan Bu pingsan.
Tiba-tiba kepala di pangkuan Siu Bi itu bergerak dan sepasang mata memandang sayu, mulutnya tersenyum mengejek menusuk perasaan.
"Siu Bi... kau puas kini...? Ah, alangkah cantiknya engkau... alangkah manisnya, alangkah kejam, kau iblis wanita berwajah bidadari..."
Seperti orang gila, Swan Bu tersenyum-senyum.
Siu Bi menahan pekiknya dengan menutup mulut, kemudian sekali renggut ia melepaskan kepala dari pangkuan, melompat berdiri, menyambar pedangnya lalu lari keluar dari gua.
Isak tangisnya terdengar bergema di dalam gua ketika Swan Bu dengan gerakan lemah bangkit dan duduk; Sejenak kepalanya terasa nanar, lalu matanya terbelalak memandang lengan kirinya yang kini menggeletak di atas tanah seperti lengan tangan boneka, dan kemudian dia memegang lengannya yang tinggal separuh sebatas siku, yang ujungnya terbungkus kain putih halus dan harum, kain pengikat rambut Siu Bi.
Dengan lemah dia bangkit berdiri dan terhuyung-huyung berjalan keluar.
Di luar tidak tampak Siu Bi atau bayangannya, yang tampak hanya mayat Kakek gila terlentang di atas tanah, kepalanya terpisah dari badan, puing api unggun masih mengebulkan asap dan daging yang dipanggang masih menyebarkan bau sedap gurih.
Lee Si melarikan diri di dalam gelap sambil menangis tersedu-sedu.
Hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum beracun kalau ia teringat akan pengalamannya.
la harus lari, lari cepat meninggalkan semuanya, bahkan kalau mungkin meninggalkan dunia.
Tak berani ia bertemu dengan Ayahnya, malu bukan main.
Betapa mungkin la dapat berhadapan dengan Ayahnya lagi setelah Ayahnya itu melihat ia...
tidur di bawah satu selimut dengan Swan Bu?
Masih jelas teringat olehnya betapa ia sudah hampir pingsan saking malu ketika dalam keadaan tertotok ia direbahkan di samping Swan Bu yang juga tertotok, sedangkan Swan Bu tidak memakai baju!
Tadinya ia sama sekali tidak dapat menduga apa maksud dan kehendak orang-orang Ang-Hwa-Pai itu dengan perlakuan ini.
Mengapa ia dan Swan Bu tidak dibunuh melainkan diperlakukan seperti ini?
Akan tetapi ketika tiba-tiba ia mendengar suara makian Ayahnya, dan melihat Ayahnya muncul di atas genteng, Kagetnya bukan main dan sekaligus tahulah ia bahwa penjahat-penjahat itu agaknya sengaja memancing datang Ayahnya agar orang tua ini dapat menyaksikan keadaan yang amat memalukan dan menghina ini.
la mengerti sekarang.
la mengerti pula mengapa ia sengaja dibebaskan setelah Ayahnya muncul dan menyaksikan adegan itu.
Penghinaan yang luar biasa melebihi maut!
la sudah mengenal watak Ayahnya yang keras.
Tak mungkin Ayahnya dapat diberi penjelasan setelah dengan kedua mata sendiri menyaksikan adegan itu.
Dan ia malu bertemu Swan Bu, malu bertemu siapa saja!
Lebih baik mati!
Mati?
Tidak, belum waktunya.
la harus dapat membasmi penjahat-penjahat Ang-Hwa-Pai berikut teman-temannya itu sebelum ia sendiri mati.
Dengan pekaian kusut dan hati penuh kegemasan dan sakit hati terhadap Ang-Hwa Nio-Nio dan kawan-kawannya, Lee Si berlari terus secepatnya.
Tujuan perjalanannya sekarang adalah...
Liong-Thouw-San!
la harus bertemu dengan Pendekar Buta, ia harus bicara dengan Ayah Bunda Swan Bu, harus ia ceritakan tentang semua pengalamannya dengan Swan Bu.
Memang amat memalukan dan ia sudah dapat membayangkan betapa akan sukarnya mulutnya bercerita tentang semua itu, akan tetapi hal ini penting sekali.
Penting untuk membersihkan namanya, juga nama Swan Bu, dan agar orang tua Swan Bu dapat menghadapi kemarahan Ayahnya dengan tenang.
Siapa lagi yang akan dapat mendinginkan hati Ayahnya yang panas bergelora itu kalau bukan Pendekar Buta yang amat dihormati dan dipuji Ayahnya?
la dapat membayangkan bahwa kalau Ayahnya tidak berhasil mencari dan membunuh Swan Bu, tentu Ayahnya akan mendatangi orang tua pemuda itu dan mengamuk di sana.
Alangkah akan hebatnya bencana yang timbul dari urusan ini!
Dan mengingat itu semua makin besarlah dendam dan sakit hati Lee Si terhadap Ang-Hwa-Pai.
Pada suatu hari, karena hari amat panas terik dan ia sudah amat lelah, Lee Si melangkahkan kakinya ke sebuah kelenteng kosong yang sudah tua dan rusak.
Akan tetapi ketika ia sampai di ruangan depan, ia kaget dan menjadi ragu-ragu melihat bahwa di situ sudah terdapat belasan orang laki-laki yang agaknya juga sedang mengaso dan berlindung dari sengatan sinar matahari yang luar biasa panasnya.
Mereka ini sedang bercakap-cakap dan ada yang bersendau-gurau, hanya seorang laki-laki muda dan tampan duduk menyendiri di pojok, melenggut seperti orang mengantuk.
Melihat banyak laki-laki di dalam kuil itu, Lee Si menahan kakinya dan membalikkan tubuh...
hendak berteduh di luar saja.
"Eh, A-liuk, apakah kita tidak mimpi? Bidadari kahyangan turun di siang hari? Wah-wah... kok pergi lagi...?"
"Lya... nona manis, kenapa tidak jadi masuk? Di sini teduh nyaman... kita bisa mengobrol, mari ke sinilah!"
Kata seorang lain, disusul gelak tawa teman-temannya.
Lee Si yang baru saja mengalami malapetaka, tidak sudi mencari perkara baru sungguhpun hatinya sudah panas dan ingin sekali kaki tangannya memberi hajaran kepada orang-orang kurang ajar itu.
Maklum bahwa kalau ia berada di situ tentu setidaknya telinganya akan mendengar suara-suara busuk, gadis ini lalu melangkah keluar lagi dari pekarangan kelenteng tua, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat peristirahatan lain.
Akan tetapi daerah ini kering, pohon-pohon kehilangan daunnya sehingga tidak ada lagi tempat yang teduh.
Terpaksa Lee Si berjalan terus menuju ke daerah yang dari jauh tampak banyak gundukan batu-batu besar dengan harapan mendapatkan tempat teduh di situ.
"Hee, nona manis, berhenti dulu...!!"
Tiba-tiba terdengar seruan keras dan ketika Lee Si menengok, dilihatnya banyak laki-laki yang tadi duduk di dalam kelenteng kini berlari-lari mengejarnya.
Di depan sendiri tampak seorang laki-laki brewok yang berpakaian seperti tentara, golok besarnya tergantung di pinggang.
la ingat bahwa memang tadi di dalam kelenteng ada si brewok ini yang hanya memandangnya dengan mata melotot dan mulut menyeringai.
"Hemmm, manusia-manusia keparat ini takkan kapok kalau tidak diberi hajaran!"
Pikir Lee Si sambil berhenti dan membalikkan tubuhnya, siap menanti mereka.
Hanya ada enam orang yang mengejarnya, dan biarpun mereka itu semua adalah laki-laki yang kasar dan membawa senjata, ia tidak takut.
la berdiri tenang-tenang saja, berdiri dengan sikap biasa seperti seorang gadis muda yang hendak nonton lewatnya rombongan arak-arakan.
Tiba-tiba berkelebat bayangan yang gerakannya cepat sekali dan tahu-tahu seorang pemuda sudah berdiri menghadang larinya rombongan itu.
"Sahabat-sahabat harap berhenti dulu untuk bicara!"
Kata laki-laki ini dengan suara tenang.
Dia adalah pemuda berpakaian putih yang tadi duduk melenggut di pojok.
Pemuda ini sikapnya tenang namun sepasang matanya memancarkan ketajaman dan ketabahan.
Si brewok yang berpakaian komandan tentara itu membelalakkan matanya dan membentak.
"Heh, bukankah kau Pengemis muda yang tadi mengantuk di dalam kuil? Mau apa kau?"
Pemuda itu mengangkat sedikit mukanya dan sepasang matanya dipicingkan, pandang matanya tajam menerobos antara bulu matanya yang bergetar.
Mulutnya agak tersenyum sebelum ia bicara dengan suara lantang.
"Bukankah kau ini komandan she Gak yang membawa anak buahmu tukang-tukang pukul ini menjelajahi ke dusun-dusun untuk memeras rakyat dengan dalih kerja paksa membuat saluran? Orang she Gak, ketahuilah bahwa rahasiamu sudah terbuka, aku sudah tahu bahwa kau bukanlah seorang komandan melainkan seorang kepala perampok yang menyamar sebagai komandan tentara untuk melakukan pemerasan. Sudah beberapa hari aku mengikuti jejak kalian, sekarang kalian akan menambah kejahatan pemerasan dengan mengganggu wanita baik-baik. Hemmm, dosa kalian sudah cukup besar..."
"Setan muda, mampuslah kau. Tiba-tiba tampak sinar berkilauan menyambar ketika "Komandan"
Itu menggerakkan golok besarnya yang sudah dicabut cepat dan dipergunakan untuk membacok leher pemuda itu.
Diam-diam pemuda itu terkejut juga.
Kiranya si komandan gadungan ini pandai juga ilmu goloknya.
Namun dengan gerakan mudah saja, yaitu dengan miringkan tubuh dan menekuk sebelah lutut, golok itu menyambar lewat kepalanya, hanya beberapa sentimeter selisihnya.
Akan tetapi golok itu tanpa ditarik kembali sudah langsung memutar ke bawah dan kini membabat ke arah pinggang, disusul jotosan tangan kiri keras sekali menuju kepala pemuda itu.
Sebuah serangan yang hebat juga!
"Bagus!"
Pemuda itu berseru, tubuhnya melompat ke atas sehingga golok yang membabat pinggang itu meluncur lewat di bawah kakinya, sedangkan selagi tubuhnya berada di udara, kakinya bergerak menendang ke arah kepalan tangan kiri lawan!
"Bagus...!"
Kini seruan memuji kagum ini keluar dari mulut Lee Si.
Gadis muda ini berdiri menonton dan kagumlah ia menyaksikan gerakan pemuda itu.
Menendang untuk menangkis pukulan selagi tubuh berada di udara hanya dapat dilakukan oleh seorang yang ahli.
Akan tetapi orang she Gak itu pun lihai sekali.
Cepat dia menarik kepalannya dan sebelum tubuh pemuda itu turun, golpknya sudah menusuk lagi, kini memapaki turunnya tubuh itu dari bawah seakan-akan goloknya hendak menyate tubuh itu dari bawah ke atas.
Serangan maut ini masih dia tambahi dengan sebuah tendangan kilat yang amat keras.
Agaknya di samping kemahirannya dalam gerakan golok dan pukulan, si brewok ini ahli tendangan pula.
Malah bagi pemuda itu, tusukan golok hendak menyate tubuh itu malah tidak sehebat tendangan yang amat berbahaya ini karena tendangan itu dilakukan dengan gerakan kaki memutar sehingga sukar diduga bagian mana yang hendak di "Makan"
Oleh tendangan kaki kiri ini! "Hebat...!"
Kembali Lee Si berseru sambil menyaksikan gerakan pemuda pakaian putih itu.
Orang tentu akan merasa heran karena pemuda itu baru saja bergerak, belum kelihatan hasilnya, gadis ini sudah memuji setengah mati.
Akan tetapi kiranya pujian itu memang tidak salah karena akibatnya memang hebat.
Dengan gerakan tangan kiri yang luar biasa, pemuda itu turun dengan tubuh miring-miring seperti mau jatuh, akan tetapi berhasil mengelak dari golok lawan yang menusuknya, malah tangan kiri itu sekali berkelebat telah mencengkeram tangan kanan yang memegang golok, sekali renggut gagang golok pindah tangan, sedangkan tendangan maut itu diterima dengan tangan kanan yang disabetkan ke bawah dengan jari-jari tangan terbuka.
"Dukkk!!"
Aneh memang, akan tetapi nyata.
Tangan kanan yang disabetkan miring itu bertemu dengan kaki yang besar dan terbungkus sepatu tebal yang berlapis besi.
Menurut perhitungan dan logika, tentu si tangan yang akan remuk, setidaknya tentu akan patah-patah tulangnya dan pecah-pecah kulitnya.
Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian.
Tangan itu tidak apa-apa, juga tubuh si pemuda sama sekali tidak bergeming, sebaliknya tubuh si penendang yang tinggi besar itu terpelanting jatuh, menggelinding dan akhirnya baru berhenti setelah sebuah batu besar menahan di tengah jalan dan kepala yang menumbuk batu itu pecah retak-retak, yang punya kepala terhenti menjadi manusia hidup!
Pemuda itu melirik ke arah Lee Si, tersenyum dan mengangguk-angguk.
Di dalam hati pemuda ini kagum juga akan ketenangan gadis itu yang masih berdiri menjadi penonton.
Lima orang tukang pukul itu tentu saja menjadi marah sekali melihat "Komandan"
Mereka tewas.
Dengan teriakan-teriakan marah dan makian-makian kotor mereka menerjang pemuda itu dengan macam-macam senjata.
Dua orang bersenjata Pedang panjang, seorang bersenjata Toya, seorang bersenjata golok dan seorang lagi yang kepalanya botak dan tidak bertopi bersenjata sebatang pecut baja.
Ketika mereka ini bergerak, kembali Lee Si terkejut karena lima orang ini kiranya bukanlah orang-orang yang berkepandaian rendah, boleh dibilang setingkat dengan si komandan gadungan tadi.
Melihat ini, teganglah seluruh urat syaraf di dalam tubuh Lee Si.
Tak mungkin ia berdiam diri saja, menonton pemuda itu dikeroyok oleh lima orang yang tak boleh dipandang ringan ini.
Pemuda itu tak salah lagi, berusaha menolongnya, kalau sampai pemuda itu celaka atau terluka, hal ini sungguh amat tidak baik.
la sudah siap untuk segera melayang dan membantu kalau-kalau pemuda itu terancam.
Akan tetapi tiba-tiba hatinya berdebar tegang dan ia seperti terpaku di tempatnya.
Pemuda berpakaian putih itu kini bergerak-gerak seperti orang mabuk, menggunakan langkah-langkah aneh sekali yang ia kenal seperti langkah-langkah yang dipergunakan oleh Swan Bu.
Sama sekali pemuda itu tidak terdesak oleh pengeroyokan lima orang, malah sambil menyelinap di antara senjata-senjata itu dia berkata.
"Tentara gadungan itu sudah sepatutnya mampus, kalian boleh hidup, tapi harus mengakhiri kejahatan. Lain kali aku tidak dapat memberi ampun lagi!"
Tiba-tiba pemuda itu berkelebat dan tubuhnya seperti lenyap dari pandangan mata kelima orang pengeroyoknya, yang tampak hanya bayangan yang didahului sinar golok rampasan tadi.
Terdengar pekik kesakitan berturut-turut dan senjata-senjata itu berturut-turut melayang runtuh dibarengi mengucurnya darah dari kedua pundak dan kedua paha.
Dalam sekejap mata saja lima orang itu sudah roboh merintih-rintih.
Kiranya selain senjata merekar terlepas, juga ujung kedua pundak dan atas kedua lutut mereka terluka oleh golok, luka yang tidak berbahaya tetapi cukup mengeluarkan banyak darah dan membuat mereka merasa ngeri.
Kalau pemuda itu menghendaki, agaknya menewaskan mereka tidak lebih sukar daripada membalikkan telapak tangan.
"Nah, kuharap kalian kapok dan suka menghentikan praktek-praktek jahat!"
Seru pemuda itu sambil melempar golok rampasannya ke tanah, kemudian ia membungkuk ke depan Lee Si sambil berkata.
"Silakan Nona melanjutkan perjalanan. Selamat berpisah!"
Sehabis berkata demikian, pemuda itu membalikkan tubuhnya dan berkelebat cepat sekali.
Sebentar saja dia sudah lenyap di balik batu-batu besar.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya pemuda itu ketika dia mendengar suara orang di belakangnya yang berseru halus.
"Saudara, harap suka tunggu sebentar!"
Pemuda itu membalikkan tubuhnya, menghadapi Lee Si dan segera mengangkat tangan memberi hormat.
Lee Si cepat-cepat membalasnya dan diam-diam ia memuji kesopanan pemuda ini yang usianya jauh lebih tua dari padanya.
"Nona ada keperluan apakah Nona mengejar saya?"
"Saudara, kiranya tidak baik kubiarkan saja kau pergi tanpa menyatakan terima kasih atas pertolonganmu dan..."
Pemuda itu tertawa dan wajahnya yang masak dan agak muram itu tampak jauh lebih muda kalau tertawa.
"Wah, harap Nona jangan memperolokku! Sama sekali aku tidak menolongmu, karena kalau tidak kebetulan aku turun tangan terhadap mereka, kiranya mereka itu akan menerima nasib yang lebih berat di tangan Nona. Dengan kepandaian yang Nona miliki, sungguh aku merasa malu kalau aku dikatakan menolongmu."
"Ah, bagaimana kau bisa bilang demikian? Dengan kepandaianmu yang begitu tinggi dan sikapmu amat merendah, kau sungguh membikin aku yang bodoh menjadi kagum, Saudara."
"Nona, sebelum aku bergerak kau sudah tahu tadi, sekarang dengan mudah kau dapat menyusulku, ini saja sudah membuktikan bahwa kau seorang yang lihai. Sudahlah, tak perlu puji-memuji ini. Bolehkah aku mengetahui siapa gerangan Nona? Aku sendiri bernama Yo Wan."
"Yo Wan...? Serasa pernah aku mendengar nama ini..."
Lee Si mengerutkan kening, mengingat-ingat, akan tetapi tidak berhasil.
Memang tentu saja ia lupa karena andaikata pernah mendengar, tentulah dari percakapan atau penuturan Ayah Bundanya yang pernah menyebut nama ini sebagai murid Pendekar Buta.
"Nona siapakah dan murid siapa?"
"Aku murid orang tuaku sendiri, Ayahku adalah Tan Kong Bu, Ketua Min-San-Pai, dan namaku Tan Lee Si."
"Ah...! Tentu saja Nona pernah mendengar namaku, tentu dari Tan-loEnghiong, Ayahmu. Aku sendiri sudah lupa lagi kepada beliau, akan tetapi antara Ayahmu, terutama Ibumu dan Suhu ada hubungan yang erat sekali. Ketahuilah, Suhu adalah Pendekar Buta..."
"Ah...!"
Kini Lee Si yang ber ah-ah-ah saking herannya.
Lalu ia teringat akan langkah-langkah seperti orang mabuk yang tadi dilakukan Yo Wan ini dan yang ia ingat ada persamaannya dengan Swan Bu.
Dan sekarang tidak aneh lagi baginya akan kelihaian pemuda ini.
Kiranya murid Pendekar Buta, tentu saja hebat kepandaiannya.
"Kalau begitu... dia... dia itu sutemu..."
Otomatis ingatannya melayang kepada Swan Bu sehingga kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Yo Wan adalah seorang pemuda yang sudah matang pikirannya dan dia amat cerdik, oleh karena itu sikap dan kata-kata gadis cantik manis itu sudah cukup baginya untuk menduga bahwa tentu ada sesuatu antara gadis Cucu Raja Pedang ini dengan putera Suhunya.
Siapa lagi kalau bukan Swan Bu yang tadi disebut "Si dia"
Sebagai sutenya? Sutenya memang hanya seorang, yaitu putera Suhunya itu.
"Nona maksudkan Kwa Swan Bu sute? Apakah dia sahabat baikmu? Di mana adanya Sute sekarang?"
Hal yang aneh terjadi, yang membuat Yo Wan sendiri terheran-heran dan terkejut bukan main.
Gadis manis itu tiba-tiba menangis!
Air matanya bercucuran dan kedua tangannya sibuk mengusapi air mata yang mengalir di kedua pipinya, pundaknya bergerak-gerak dalam isak tangis yang menyedihkan.
Yo Wan berdebar hatinya, kekhawatiran hebat mencekam jantungnya, timbul dugaan yang bukan-bukan.
"Nona, ada apa dengan sute? Apakah yang terjadi?"
Tanyanya, wajahnya berkerut dalam kegelisahan.
"Malapetaka hebat... dia dan aku... kami celaka..."
Lee Si terisak-isak.
Semenjak ia mengalami bencana itu, baru kali ini ia berkesempatan bicara dengan seorang yang ia percaya, karena itu ia tak dapat menahan kesedihannya.
Di lain pihak, Yo Wan terkejut seperti disambar petir.
Sampai lupa dia dan kedua tangannya memegang lengan Lee Si, diguncang-guncangnya nona yang menangis itu sambil berkata.
"Ada apakah? Siapa mengganggu sute? Di mana dia dan apa yang terjadi?"
Melihat betapa nona itu menurunkan tangan dan dengan kaget memandangnya, Yo Wan melepaskan kedua tangannya dan berkata.
"Maaf, aku sampai lupa diri. Ah, Kau tenangkanlah hatimu, Nona dan berceritalah yang baik. Ketahuilah, semenjak kecil aku tidak bertemu dengan sute, hatlku penuh rindu maka mendengar dia ditimpa malapetaka, hatiku gelisah bukan main. Apakah dia terluka?"
Lee Si menggeleng kepala.
"Tidak terluka, dan sekarang entah di mana, akan tetapi apa yang menimpa kami berdua lebih hebat daripada luka atau maut sekalipun."
Dengan muka menunduk dan suara perlahan, kadang-kadang terputus oleh isak tangis, Lee Si akhirnya menceritakan semua pengalamannya dengan Swan Bu, dan tipu muslihat penuh fitnah yang dilakukan oleh Ang-Hwa-Pai.
"Begitulah saudara yo Wan, dapat kau bayangkan betapa marahnya Ayah melihat keadaan kami, mendengar suara Ayah agaknya dia takkan puas kalau belum membunuh Swan Bu untuk mencuci penghinaan. Padahal... padahal Swan Bu sama sekali tidak bersalah dalam hal, itu."
"Dan kau hendak ke manakah sekarang, Nona?"
"Ke mana lagi? Ke Liong-Thouw-San hendak menemui Ayah Swan Bu dan menceritakan semua hal itu kepada Ayah Bundanya. Harap kau suka membantuku... berat juga mulut ini bercerita kepada Paman Kwa Kun Hong dan istrinya."
"Jangan khawatir, aku pasti akan membantumu, Nona, demi kebersihan nama Sute pula. Akan tetapi, kau dan Sute yang begitu lihai bagaimana sampai dapat tertawan? Siapakah yang menjagoi Ang-Hwa-Pai ketika itu? Setahuku, yang paling lihai hanyalah Ang-Hwa Nio-Nio dan pemuda yang bernama Ouwyang Lam. Akan tetapi aku sangsi apakah mereka ini dapat mengalahkan kau dan sute."
"Kalau hanya mereka berdua, agaknya kami tidak akan dapat tertawan musuh."
Lee Si menarik nafas panjang penuh sesal.
"Selain mereka, ada juga dua orang Kakek yang pada waktu aku ditawan, kudengar namanya sebagai Pendeta Maharsi dari Barat dan yang seorang lagi Bo Wi Sianjin, masih ada lagi (Lanjut ke
Jilid 14) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 seorang iblis wanita bernama Siu Bi!"
Yo Wan menahan perihnya hati yang serasa tertusuk ketika dia mendengar disebutnya nama ini, nama seorang gadis yang mendatangkan rasa sayang dan simpati di hatinya akan tetapi berbareng juga mendatangkan rasa benci karena gadis itu adalah puteri The Sun pembunuh Ibunya.
Diam-diam dia merasa menyesal sekali mengapa gadis itu kembali menggabungkan diri dengan pihak Ang-Hwa-Pai yang dia tahu adalah golongan penjahat.
Akan tetapi Yo Wan segera merenggut ingatannya keluar dari lamunan tentang diri Siu Bi ini.
"Wah, urusanmu ini memang amat hebat, adik Lee Si."
Akhirnya dia berkata sambil menarik nafas panjang.
"Mereka itu memang jahat sekali dan tipu muslihat mereka itu agaknya akan dapat menimbulkan bencana perpecahan yang amat besar. Marilah kita jangan membuang waktu lagi, berangkat ke Liong-Thouw-San menemui Suhu. Dapat kumengerti betapa beratnya bagimu menceritakan peristiwa itu, maka biarlah aku yang akan mewakilimu bercerita kepada Suhu dan Subo."
"Terima kasih, kau baik sekali..."
Jawab Lee Si sambil menghapus air mata terakhir dari pelupuk matanya.
Hatinya menjadi besar dengan adanya penolong ini, harapannya timbul kembali sehingga kemuraman wajahnya mulai menghilang.
Akan tetapi, setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan dan akhirnya mereka berhasil mendaki puncak Liong-Thouw-San, mereka menjadi terkejut dan kecewa sekali melihat bahwa puncak gunung itu sunyi sepi, tidak ada kelihatan seorang pun manusia di situ.
Tidak terdapat tanda sesuatu, juga tidak ada seorang pun manusia di situ yang dapat menceritakan apakah yang telah terjadi di puncak Liong-Thouw-San.
Menilik keadaan pondok yang masih bersih, seakan-akan masih "Hangat,"
Jelas bahwa tempat yang sunyi ini belum lama ditinggalkan penghuninya.
Yo Wan berdiri di depan pondok, termenung dan termangu-mangu.
Melihat tempat ini, tak terasa pula dua titik air mata keluar dari pelupuk matanya, karena dia teringat akan keadaannya di waktu masih kecil dahulu.
Terbayanglah semua di depan matanya, keadaan dua puluhan tahun yang lalu, ketika dia masih kecil dan tinggal seorang diri di tempat ini.
la berjalan hilir-mudik seperti orang kehilangan pikiran, meraba-raba dengan mesra batu-batu di depan pondok, membelai daun-daun di pinggir pondok, mulutnya menyeringai setengah senyum setengah tangis.
la baru sadar setelah mendengar tangis Lee Si dan cepat dia menengok.
Melihat gadis itu sudah duduk menangis di atas bangku bambu di depan pondok, dia segera menghampiri lalu berkata dengan suara menghibur.
"Tenanglah, adik Lee Si. Tiada perkara di dunia ini yang tak dapat diatasi asal kita tenang dan sabar. Memang agaknya tidak kebetulan kedatangan kita, agaknya Suhu dan Subo sedang turun gunung, entah ke mana. Akan tetapi, sebagai wakil Suhu, juga demi menjaga nama baik Sute Swan Bu, aku siap untuk membasmi penjahat-penjahat busuk itu. Marilah, adik Lee Si, kita turun lagi dan kau antarkan aku ke tempat terjadinya peristiwa itu. Aku akan mencoba untuk menangkap Ang-Hwa Nio-Nio dan kita seret dia ke depan Ayahmu agar dia mengakui akan tipu muslihat dan fitnah yang diaturnya. Bagaimana?"
Lee Si hanya mengangguk-angguk, kemudian setelah menekan perasaan kecewanya dapat juga ia berkata.
"Kau baik sekali, Yo-Twako. Terserah padamu saja, aku... aku bingung tak dapat memikir sesuatu... Mereka bermalam satu malam di puncak Liong-Thouw-San. Keesokan harinya, barulah mereka turun dari puncak itu, menuju ke kota Kong-Goan di tepi Sungai Cia-Ling. Sebetulnya apakah yang telah terjadi di puncak Liong-Thouw-San? Sayang tidak ada yang dapat bercerita kepada dua orang muda itu. Akan tetapi andaikata ada yang dapat bercerita, agaknya malah akan membuat mereka menjadi makin gelisah saja karena baru tiga hari yang lalu, di puncak itu terjadi hal hebat seperti yang dikhawatirkan oleh Lee Si. Pada suatu senja, tiga hari yang lalu, selagi Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta bersama isterinya, Kwee Hui Kauw, duduk di dalam pondok bercakap-cakap setelah Hui Kauw menyalakan api penerangan dan Kun Hong sedang makan masakan sayur yang dihidangkan isterinya sambil bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras di luar pondok.
"Kwa Kun Hong, keluarlah dan pertanggungjawabkan kebiadaban anakmu!!"
Sepasang sumpit yang menyumpit sayur dan sudah berada di depan mulut itu terhenti.
Kun Hong miringkan kepala, keningnya berkerut dan perlahan-lahan dia menurunkan kembali sumpit dan mangkoknya.
Telinganya mendengar gerakan isterinya menyambar Pedang di dinding, dan pada saat isterinya hendak melayang keluar pintu, dia berkata lirih.
"Tahan dulu, jangan terburu nafsu. Serasa mengenal suaranya..."
"Tak peduli dia siapa, dia telah menghina kita dan anak kita!"
"Manusia bisa keliru, mungkin salah paham..."
Dari luar kembali terdengar bentakan.
"Kwa Kun Hong, lekas keluar sebelum kuhancurkan pondokmu!"
Dengan tongkat di tangan, Pendekar Buta bergerak keluar dari pintu pondoknya, diikuti oleh Hui Kauw yang masih memegang sebatang Pedang dengan muka keren.
Alangkah kaget dan herannya nyonya ini ketika melihat bahwa yang berdiri di depan pondok, dengan tegak dan kedua kaki dipentang, sikap mengancam, wajah bengis, adalah seorang laki-laki tinggi besar dan gagah yang bukan lain adalah Tan Kong Bu.Keadaan jago tua Min-San ini menyeramkan sekali.
Sepasang matanya yang tajam itu bersinar-sinar penuh kemarahan, rambutnya agak awut-awutan, mukanya merah padam, tangan kiri dikepal-kepal dan tangan kanan meraba gagang pedang.
Suaranya menggeledek ketika dia melihat Kun Hong dan isterinya keluar dari pondok.
"Kwa Kun Hong, kalau kau tidak lekas mempertanggung-jawabkan kebiadaban anakmu, sekarang juga seorang di antara kita harus mampus di sini!"
Wajah Pendekar Buta penuh kerut-merut, akan tetapi dia tetap tenang dan sabar.
Sebaliknya, biarpun Hui Kauw adalah seorang wanita yang berperangai halus dan amat sabar, akan tetapi sekarang, sebagai seorang Ibu yang mendengar anak tunggalnya dimaki biadab, darahnya seketika menjadi naik.
la menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah Kong Bu dengan tangan kanan melintangkan Pedang di depan dada.
"Tan Kong Bu! Isterimu terhitung murid keponakan suamiku, jadi kau ini boleh juga dikatakan keponakan kami. Akan tetapi sikapmu ini sungguh-sungguh tidak patut. Ada urusan boleh diurus, ada soal boleh dibicarakan, segala sesuatu boleh dirunding baik-baik tidak seperti kau ini yang bersikap kasar dan menghina!"
"Siapa menghina? Ha... ha... ha, bicara tentang penghinaan, anakmu yang biadab itulah yang menghina kami! Penghinaan melampaui batas takaran, penghinaan yang hanya dapat dicuci dengan darah dan nyawa, nyawa Kun Hong atau nyawaku! Kalau kau hendak maju sekalian, boleh, aku tidak takut demi untuk membela nama baik anakku, mati bukan apa-apa!"
Setelah berkata demikian, agaknya kepanasan hatinya menjadi makin berkobar oleh kata-katanya. Kong Bu menggerakkan tangan dan.
"Srattt!"
La telah mencabut sebatang pedang. Tentu saja Hui Kauw menjadi makin marah, merasa ditantang.
"Hemmm, manusia sombong. kau kira aku takut kepadamu? kau kira hanya engkau seorang di dunia ini yang gagah dan tidak takut mati, yang ingin membela anak? Tiada hujan tiada angin kau memaki-maki anak kami, memaki-maki kami, kalau kau menantang bertempur, majulah. Aku lawanmu."
Hui Kauw melompat ke depan siap dengan pedangnya.
Pada dasarnya Tan Kong Bu memang seorang yang berwatak keras dan berangasan, maka mendengar omongan ini dan melihat sikap Hui Kauw, kemarahannya terhadap Swan Bu memuncak.
Wanita ini adalah Ibu Swan Bu patut mempertanggung-jawabkan pula.
la memekik keras, mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya bergerak maju.
"Bagus, kau atau aku yang mampus!"
Pedangnya menyambar ganas, penuh dengan tenaga Yangkang sehingga sambaran Pedang itu mengandung hawa panas yang amat berbahaya.
Namun Hui Kauw adalah isteri Pendekar Buta.
Sebelum menjadi isteri Pendekar Buta, ia telah memiliki kepandaian tinggi, dan mungkin pada waktu itu tidak akan dapat menahan serangan Tan Kong Bu putera Si Raja Pedang.
Akan tetapi sekarang, ia bukanlah Hui Kauw dua puluh tahun yang lalu.
Ilmu kesaktiannya mengalami kemajuan pesat di bawah bimbingan suaminya.
Melihat datangnya serangan hebat ini, dia mengelak sambil membabat dari samping, menghantam Pedang lawan.
"Tranggg!"
Bunga api berpijar merupakan kilat-kilat kecil menerangi cuaca yang sudah mulai remang-remang itu. Keduanya terpental muncur.
"Bagus, terimalah ini!"
Tan Kong Bu menerjang lagi, lebih ganas dan lebih kuat.
Kembali Hui Kauw menangkis dari samping dan kini saking hebatnya tenaga dalam mereka, kedua Pedang itu saling tempel tanpa mengeluarkan bunyi!
Pada saat itu, berkelebat bayangan merah, disusul suara keras dan dua batang Pedang yang saling tempel itu terpental ke belakang, malah Hui Kauw dan Kong Bu terhuyung-huyung tiga langkah.
Kiranya Kun Hong sudah turun tangan, menggunakan tongkatnya untuk memisahkan dua Pedang itu.
"Ah, apa perlunya semua ini? Hui Kauw, kau mundur. Kong Bu, marilah kita bicara baik-baik. Apa sebetulnya yang telah terjadi? Kau agaknya marah-marah kepada anak kami. Kesalahan apakah yang diperbuat oleh Swan Bu? Kau ceritakan kepada kami agar kami dapat mengetahui dan mempertimbangkan. Di antara kita, masa harus menggunakan kekerasan?"
Akan tetapi Kong Bu yang sudah mendidih darahnya itu, tak dapat dibikin sabar. Dengan suara tetap lantang dan penuh kemarahan dia berkata.
"Kun Hong, mana bisa kita bicara baik-baik setelah penghinaan yang dilakukan oleh anakmu? Akan tetapi agar kalian tidak penasaran, dengarlah apa yang telah dilakukan oleh anakmu yang biadab itu, agar terbuka mata kalian betapa kalian tidak becus mendidik anak. Anakmu Kwa Swan Bu itu telah menawan Lee Si anakku dan melakukan perbuatan terkutuk, dia... dia berani mencemarkan... dia berani menodai Lee Si, terkutuk dia! Karena dia lari, sekarang aku datang ke sini untuk minta pertanggungan-jawabmu. Kun Hong, penghinaan ini terlalu besar, kau sebagai Ayahnya menebus dengan nyawamu atau aku sebaga Ayah Lee Si mencuci noda dengan darahku!"
"Bohong...!"
Tiba-tiba Hui Kauw menjerit marah.
"Di mana terjadinya? Siapa yang menjadi saksi? Apa buktinya?"
"Huh, siapa bohong? Aku sendiri yang menjadi saksi! Lee Si ditawannya, tertotok tak berdaya dan ditawan ke dalam kuil tua di kota Kong-Goan..."
"Bohong! Aku tidak percaya, tidak mungkin anakku melakukan perbuatan itu. Kau yang bohong!"
Kembali Hui Kauw berteriak.
"Mulut bisa bohong, akan tetapi mata tidak! Dan mataku melihat sendiri kejadian itu, dan mataku tidak buta seperti mata Kun Hong! Hanya mata buta yang tidak mau melihat kebiadaban putera sendiri dan melindunginya!"
"Keparat, tak sudi aku menerima penghinaanmu ini!"
Hui Kauw yang sekarang menerjang maju dengan pedangnya.
Kong Bu mendengus dan menangkis, kemudian kedua orang ini kembali sudah bertanding dengan seru.
Adapun Kwa Kun Hong setelah mendengar penjelasan Kong Bu, berdiri termangu-mangu.
Mana mungkin ada kejadian seperti itu?
Swan Bu melakukan perbuatan terkutuk terhadap Lee Si?
Apakah mungkin puteranya itu dikuasai nafsu sedemikian hebatnya yang membuatnya seperti gila?
Agaknya tidak mungkin.
la tahu bahwa puteranya itu memiliki dasar watak yang amat keras dan tidak mau kalah, akan tetapi cukup dia dasari gemblengan batin yang membentuk watak satria, pantang akan perbuatan-perbuatan maksiat, apalagi perbuatan terkutuk seperti itu.
Tentu fitnah!
la cukup mengenal pula watak Kong Bu yang keras dan jujur, tegak seperti baja yang sukar ditekuk, sehingga tak mungkin pula seorang seperti Kong Bu ini membohong dan mengada-ada.
Pemecahan satu-satunya menghadapi dua ketidak-mungkinan hanyalah hasut atau fitnah.
Agaknya ada fitnah terselip dalam urusan ini.
Suara beradunya Pedang dan lengking tinggi dari mulut Kong Bu menyadarkannya.
Kun Hong merasa khawatir sekali.
Dari gerakan yang terdengar oleh telinganya, tahulah dia bahwa pertandingan itu akan dapat menjadi hebat sekali dan mati-matian karena tingkat mereka berimbang dan pertandingan dilakukan dengan penuh kemarahan oleh kedua pihak.
Kalau dia tidak segera turun tangan, tentu seorang di antara mereka akan tewas atau setidaknya akan terluka parah.
"Kalian berhentilah!"
Kembali dia menengahi dan karena maklum betapa keduanya tak boleh dipandang ringan, begitu "Masuk"
Kun Hong menggunakan gerakan yang ampuh.
Tongkatnya berputar membentuk lingkaran-lingkaran membikin mati gerakan Kong Bu sedangkan tangan kirinya berhasil mendorong pundak isterinya sehingga nyonya itu terhuyung ke belakang.
Biarpun hatinya penasaran, namun Hui Kauw yang sudah hafal akan watak suaminya, tahu apa yang dikehendaki suaminya ini, maka ia hanya berdiri mengepal tinju kiri dan melintangkan Pedang di depan dada, tidak mau maju lagi.
Akan tetapi Kong Bu tidak mau mundur sama sekali, malah dalam kemarahannya, pertimbangannya menjadi miring dan dia mengira bahwa Pendekar Buta ini takut kalau isterinya kalah maka sekarang maju sendiri.
Memang sebetulnyalah, seorang yang sedang ditunggangi dan dipermainkan nafsu amarah, pandang matanya menjadi gelap, pertimbangannya bubrah (rusak) dan yang disangkanya hanya yang buruk-buruk saja.
Oleh karena itu, amat tidak baiklah kalau orang dikuasai oleh hawa nafsu amarah, lebih baik lekas-lekas singkirkan musuh besar pribadi ini dari dalam hati.
"Kun Hong, kau atau aku yang menggeletak tak bernyawa di sini!"
Seruan ini disusul serangan dahsyat sekali karena dalam kemarahannya dan kemaklumannya bahwa yang dihadapi adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat, Kong Bu sudah menerjangnya sambil mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-Sut yang dahulu dia warisi dari mendiang Kakeknya, Song-Bun-Kwi Kwee Lun.
Hebat bukan main terjangan Kong Bu ini karena tenaga Yangkang sepenuhnya amat kuat memancar keluar dari gerakannya, maka sebatang pedangnya seakan-akan menjadi sebatang besi merah, panas menyala-nyala!
"Ahhh, saudaraku Kong Bu yang baik..."
Hanya sampai di sini ucapan Kun Hong karena Pendekar Buta ini harus cepat-cepat mengelak sambil mainkan langkah-langkah ajaib dari Kim-Tiauw-kun.
Sehingga dengan mudah dia dapat menyelamatkan diri dari Pedang Kong Bu yang berubah menjadi tangan-tangan maut itu.
Kong Bu penasaran bukan main.
Setiap kali pedangnya menyambar, seakan-akan tubuh Kun Hong mendahului gerakannya, berubah kedudukannya, tidak berada di tempat semula, ataukah pedangnya yang selalu menyeleweng apabila mendekati tubuh Kun Hong?
Tak mungkin dapat melakukan hal itu.
Rasa penasaran merupakan bensin yang menyiram api yang membakar dadanya, maka sambil mengeluarkan suara melengking keras jago Min-San ini mendesak makin hebat.
Namun, dengan ketenangannya yang luar biasa, Kun Hong dapat mengatasi keadaan, langkah-langkah ajaib yang dia lakukan amat tepat dan teratur sehmgga tak pernah sinar Pedang Kong Bu dapat menyentuhnya.
"Dengarlah, Kong Bu sadarlah..., anak-anak kita tentu kena fitnah... percayalah, Swan Bu tidak mungkin melakukan kebiadaban itu, mari kita selidiki baik-baik..."
Akan tetapi tiba-tiba Kong Bu berseru keras.
Selagi dia bicara tadi, Kong Bu telah menerjangnya dengan nekat, Pedang di tangan Ketua Min-San-Pai itu melakukan tusukan maut dengan ujungnya digetarkan menjadi tujuh sinar!
Biarpun Kun Hong menguasai Kim-thiauw-kun dan dapat menggerakkan tubuh secara ajaib untuk mengelak setiap serangan, Namun dia maklum bahwa jurus sakti seperti ini yang menimbulkan getaran hawa Pedang sedemikian dahsyatnya, tak mungkin dielakkan lagi.
la tidak suka bermusuhan dengan Kong Bu dan dapat menduga bahwa orang keras hati ini telah makan fitnah dan dia suka mengalah, akan tetapi tentu saja dia tidak mau menerima tusukan Pedang yang tak boleh dipandang ringan.
Oleh karena itu, ketika berseru kaget tadi, tongkatnya berkelebat menjadi sinar merah dan sekaligus tongkat itu telah diputar berbentuk payung, menangkis Pedang lawan sedangkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga setengahnya didorongkan ke depan.
Kalau saja Kong Bu tidak sedang dikuasai kemarahan yang membuat dia buta dan lengah, kiranya tidak akan mudah bagi Kun Hong untuk mengalahkannya dalam waktu singkat, Sungguhpun harus diakui bahwa tingkat kepandaian Kong Bu tidak setinggi Kun Hong.
Akan tetapi pada saat itu, Kong Bu sedang marah sekali, begitu marahnya sehingga dia seperti orang nekat, hasrat hatinya hanya ingin menyerang dan merobohkan lawan tanpa mempedulikan penjagaan tubuhnya sendiri.
Oleh karena inilah, maka pedangnya terkena "Libatan"
Tongkat Kun Hong yang lihai, terlibat dan terputar sehingga pedangnya ikut pula terputar.
Sebagai seorang gagah, Kong Bu merasa pantang melepaskan pedang, malah dipegang makin erat sehingga tubuhnya yang terpelanting oleh hawa putaran yang amat kuat itu.
Pada saat itulah dorongan tangan kiri Kun Hong yang kelihatan lambat itu tiba.
Seketika tubuh Kong Bu terjengkang ke belakang dan tubuh itu bergulingan sampai belasan meter jauhnya!
"Ahhh...
maaf, saudara Kong Bu..."
Kun Hong memburu, akan tetapi tangan kirinya segera dipegang oleh Hui Kauw yang menahannya.
Kong Bu melompat bangun dengan nafas terengah-engah, dadanya serasa sesak dan kepalanya pening.
la tidak terluka, namun nanar dan maklumlah dia bahwa melanjutkan dengan nekat hanya akan menghadapi kekalahan yang memalukan.
"Kun Hong, kau lebih pandai daripada aku. Akan tetapi kalau aku tidak dapat membunuh anakmu yang biadab, aku tak akan mau berhenti berusaha. Tidak ada tempat bagi aku dan dia di kolong langit!"
"Kong Bu, tunggu...!"
Teriak Kun Hong, akan tetapi jago Min-San-Pai itu sudah melompat pergi dan lari cepat meninggalkan puncak itu.
"Biarkanlah dia pergi. Orang berhati kaku dan mau menang sendiri itu,"
Kata Hui Kauw sambil memegang lengan suaminya. Kun Hong menarik nafas panjang.
"Hui Kauw, kau lekas berbenah, bawa bekal yang kita perlukan di perjalanan. Kita berangkat sekarang juga mencari Swan Bu dan menyelidiki ke Kong-Goan. Ingin sekali aku tahu apa sih yang terjadi di kuil tua di kota Kong-Goan itu?"
Demikianlah, Suami isteri Pendekar sakti ini berangkat pada malam itu juga meninggalkan puncak Liong-Thouw-San.
Dan ini pulalah sebabnya mengapa ketika Yo Wan dan Lee Si tiba di puncak Liong-Thouw-San tempat ini sunyi tidak tampak seorang pun manusia.
Swan Bu terhuyung-huyung, baru beberapa puluh langkah pandang matanya gelap, dia berusaha menahan diri akan tetapi kepalanya terlalu pening dan akhirnya dia jatuh terguling dan merasa tubuhnya panas sekali, kepalanya berputaran, maka dia meramkan kedua matanya.
"Siu Bi... ah, Siu Bi... hemmm, apakah aku sudah gila? Kenapa Siu Bi saja yang teringat dan terbayang?"
Swan Bu bangkit dan duduk, beberapa kali dia menampar kepalanya sendiri dan Bibirnya berbisik-bisik.
"Siu Bi... gadis iblis itu, aku harus benci padanya... harus!"
Akan tetapi rasa panas membakar kepalanya dan dia roboh lagi, kini pingsan.
Tak jauh dari tempat itu, Siu Bi berdiri terisak-isak.
Dari jauh ia melihat Swan Bu jatuh bangun ini, melihat pemuda itu terhuyung-huyung dan roboh, melihat pemuda itu menggerak-gerakkan Bibir akan tetapi tidak dapat mendengar kata-katanya, melihat pemuda itu memukul kepalanya sendiri lalu terguling, tak bergerak-gerak.
"Swan Bu...!"
Siu Bi menjerit kecil, hatinya serasa ditusuk-tusuk dan ia lalu lari menghampiri, menubruk dan berlutut di dekat tubuh yang tak bergerak, air matanya bercucuran membasahi muka Swan Bu yang kini menjadi merah sekali dan panas.
Ketika tangan Siu Bi menyentuh leher pemuda itu, gadis ini terkejut dan menarik tangannya.
"Panas sekali! Ah, kau terserang demam..."
Sebagai puteri angkat The Sun dan Cucu murid Hek Lojin, dan biasa hidup di puncak gunung yang sunyi sehingga sudah biasa menghadapi penyakit, Siu Bi maklum bahwa demam panas ini adalah akibat dari luka di lengannya.
Tanpa ragu-ragu lagi Siu Bi lalu memondong tubuh Swan Bu yang pingsan itu, lalu dibawa lari dengan niat mencari tempat peristirahatan yang baik agar ia dapat merawatnya.
Entah bagaimana, setelah ia berhasil membuntungi lengan kiri putera Pendekar Buta ini, semua rasa benci lenyap dan timbullah rasa cinta kasih yang memang telah bersemi di dalam hatinya.
Siu Bi malah merasa bersalah dan untuk menebus kesalahannya terhadap Swan Bu, ia hendak merawatnya, kalau mungkin, untuk selamanya!
Malah ia bersedia menghabiskan permusuhannya dengan orang tua pemuda ini, asal Swan Bu mau memaafkannya dan mau ia "Rawat"
Selamanya.
Mendadak telinganya mendengar suara gerakan dan alangkah kagetnya ketika ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya berdiri seorang gadis cantik jelita yang ia kenal sebagai Cui Sian!
Hanya satu kali Siu Bi bertemu dengan puteri Raja Pedang ini, yaitu di Ching-Coa-To, akan tetapi pertemuan yang sekali itu cukup baginya untuk mengetahui bahwa puteri Raja Pedang itu amat tinggi kepandaiannya.
Di lain pihak, Cui Sian juga tercengang melihat Siu Bi.
Tadinya dari belakang ia melihat seorang wanita mempergunakan ilmu lari cepat yang tinggi berlari mendukung seorang pria.
la menjadi curiga dan mengejar, menyusul lalu menghadang untuk melihat siapa mereka dan apa yang terjadi.
Maka dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika ia mengenal Siu Bi, gadis liar yang bersumpah hendak membuntungi lengan Pendekar Buta dan anak isterinya, gadis liar yang menimbulkan cemburunya karena sikapnya terhadap Yo Wan, akan tetapi gadis ini pula yang telah menyelamatkan nyawanya ketika ia dikeroyok di Ching-Coa-To!
"Kau...?"
Saking heran dan kagetnya Cui Sian menegur.
"Hemmm, puteri Raja Pedang. Mau apa kau menghadangku?"
Balas Siu Bi ketus.
Pandang mata Cui Sian menyelidiki laki-laki yang dipondong Siu Bi, terkejut melihat lengan kiri yang buntung sebatas siku, ujungnya dibungkus dan masih terdapat tanda darah dari luka yang baru.
"Eh, siapa dia??"
Tanyanya, penuh kecurigaan.
"Dia siapa peduli apakah engkau? Tidak ada sangkut-pautnya denganmu..."
"Aahhh...!"
Cui Sian melangkah maju selangkah, wajahnya pucat dan matanya terbelalak lebar.
"Dia... dia... Swan Bu...! Bukankah dia Swan Bu...?"
Sudah kerap kali ia bertemu dengan Swan Bu, akan tetapi yang terakhir kali adalah pada waktu Swan Bu berusia empat lima belas tahun.
Kalau sekarang tidak melihat pemuda itu buntung lengan kirinya dan dipondong Siu Bi, agaknya ia akan pangling juga.
Karena lengannya buntung, sedangkan Siu Bi pernah menyatakan hendak membuntungi lengan Pendekar Buta sekeluarga dan pemuda yang buntung lengannya ini wajahnya seperti Swan Bu, maka mudah baginya untuk menduga dan hal ini membuat ia kaget dan ngeri.
Kebetulan sekali pada saat itu Swan Bu sadar, mengerang dan mengeluh, membuka matanya dan tepat dia memandang Cui Sian.
Agaknya dia mengenal pula, karena Bibirnya berbisik perlahan.
"Bibi Guru..."
Kini tidak ragu lagilah hati Cui Sian.
Memang dahulu Swan Bu disuruh menyebut "Sukouw" (bibi Guru) kepadanya karena Pendekar Buta tetap menganggap Ayahnya sebagai Guru.
Dengan suara lantang ia membentak.
"Dia benar Swan Bu! Siapa membuntungi lengannya?"
La tidak dapat bertanya kepada Swan Bu karena pemuda itu sudah pingsan lagi.
Siu Bi mendongkol sekali.
Ia seorang gadis yang berwatak aneh luar biasa.
Hatinya yang keras seperti baja mentah itu agaknya hanya dapat cair oleh kehalusan.
Menghadapi kekerasan, ia akan menjadi makin keras.
Suara Swan Bu menyebut "Bibi Guru"
Dan perhatian Cui Sian terhadap pemuda itu, mendatangkan kedongkolan hatinya.
"Kau mau membelanya? Nah, terimalah keponakanmu ini!"
Teriaknya sambil melempar tubuh Swan Bu ke arah Cui Sian.
Gadis Thai-San-Pai ini cepat menerima tubuh itu dan alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan betapa tubuh itu panas sekali.
Cepat ia menurunkan tubuh Swan Bu dengan hati-hati ke bawah pohon yang teduh, kemudian memeriksanya.
Keadaan Swan Bu tidak berbahaya, kecuali kalau darahnya keracunan oleh luka lengan buntung itu.
Maka ia lalu menotok beberapa jalan darah sambil mengerahkan Sinkang dengan tangan kiri yang ia tempelkan di punggungnya.
Kemudian ia berdiri, meloncat ke depan Siu Bi yang masih berdiri tegak dengan muka marah.
"Siu Bi, siapa yang membuntungi lengannya?"
Siu Bi mengedikkan kepala, membusungkan dada.
"Aku! Dia anak Pendekar Buta musuh besarku!"
Biarpun mulutnya hanya berkata demikian, akan tetapi pandang matanya menantang.
"Kau mau apa?"
Cui San menenangkan hatinya yang menggelora, lalu bertanya.
"Kau sudah membuntungi lengannya, mengapa dia kau dukung? Hendak kau bawa kemanakah dia?"
Tiba-tiba Siu Bi menjadi merah sekali.
"Dia... dia demam, aku harus merawatnya... eh, kau cerewet amat, mau apa sih?"
Kemarahan Cui Sian tak dapat ditahannya lagi.
Sekali tangannya bergerak ia telah mencabut Liong-Cu-Kiam.
Pedang itu berkeredepan saking tajamnya dan diam-diam Siu Bi bergidik.
la cukup maklum akan kelihaian puteri Raja Pedang ini dan tahu pula bahwa ia takkan mampu menang melawannya, akan tetapi untuk menjadi takut, nanti dulu!
Dengan hati penuh kemarahan ia juga siap bertempur mati-matian.
"Siu Bi, kau bocah iblis! Aku tahu bahwa pada dasarnya kau bukanlah orang jahat, akan tetapi karena kau hidup di lingkungan iblis-iblis kejam, hatimu menjadi kejam dan ganas. Manusia macam engkau ini perlu diberi hajaran!"
"Cerewet kau!"
Bentak Siu Bi dan pedangnya menyambar-nyambar, merupakan sinar hitam, disusul pukulan tangan kirinya yang ampuh, yaitu pukulan Hek-In-Kang.
Cui Sian cepat mengelak dari pukulan dan menangkis Pedang lawan, kemudian dengan sama hebatnya ia balas menyerang yang juga dapat ditangkis oleh Siu Bi.
Sebentar saja kedua orang dara perkasa ini sudah bertanding dengan seru.
Siu Bi bertempur dengan nekat, mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya sehingga mau tak mau membuat Cui Sian menjadi kewalahan.
Kalau puteri Raja Pedang ini menghendaki, dengan jurus-jurus mematikan dari ilmu pedangnya yang hebat, agaknya ia akan dapat merobohkan lawannya dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Akan tetapi Cui Sian adalah seorang gadis yang ingat budi.
la pernah ditolong oleh Siu Bi ketika terjadi pengeroyokan di Ching-Coa-To, maka tiada niat di hatinya untuk membunuh gadis liar itu.
la hanya marah melihat Swan Bu dibuntungi lengannya dan berusaha hendak menangkap gadis ini kemudian menyerahkan keputusan hukumannya kepada Swan Bu sendiri.
Inilah yang membuat agak sukar ia menangkan Siu Bi, sama sukarnya dengan menangkap seekor harimau hidup-hidup, tentu lebih mudah membunuhnya.
Betapapun juga, Ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam masih tetap merupakan Raja di antara sekalian ilmu pedang, sedangkan Pedang di tangan Cui Sian juga merupakan Pedang pusaka yang amat ampuh karena Liong-Cu-Kiam adalah Pedang kuno yang hebat.
Liong-Cu-Kiam ada sepasang maka disebut Liong-Cu-Kiam (Sepasang Pedang Mustika Naga) dan menjadi senjata Suami isteri Ketua Thai-San-Pai yang panjang dipegang Raja Pedang, yang pendek dipegang isterinya.
Akan tetapi sekarang yang pendek berada di tangan puteri mereka, Cui Sian.
Dengan Pedang ampuh ini di tangan sambil memainkan Ilmu Pedang Im-Yang Sin-Kiam, lewat lima puluh jurus, Siu Bi menjadi pening dan kabur pandang matanya.
Apalagi, sebetulnya ia masih belum sembuh benar dari luka di dalam dadanya.
Yang membuat ia amat penasaran adalah cara Cui Sian bertempur.
Puteri Raja Pedang itu seakan-akan mempermainkannya, buktinya setiap kali Pedang berkeredepan itu sudah hampir mengenai tubuhnya, ditarik atau diselewengkan sehingga tidak mengenai dirinya.
la sama sekali tidak menduga bahwa Cui Sian melakukan itu dengan sengaja karena tidak hendak membunuhnya.
Siu Bi malah mengira bahwa gadis Thai-San-Pai itu memandang rendah dan mempermainkannya.
Hal ini membuatnya mendongkol dan marah sekali.
la sampai lupa akan luka di dalam dadanya dan mengerahkan Hek-In-Kang sekuatnya untuk menyerang.
Sambil berteriak nyaring, tangan kirinya memukul dan uap hitam menyambar.
Cui Sian kaget.
Hebat sekali pukulan ini.
Akan tetapi ia tidak mau kalah.
Cepat ia menggeser kaki ke kanan dan pukulan Hek-In-Kang dengan tangan kiri Siu Bi itu ia gempur dengan tangan kiri terbuka sambil mengerahkan Sinkangnya.
"Dukkk!!"
Siu Bi mengeluarkan pekik dan tubuhnya terlempar ke belakang, roboh, pedangnya juga terlepas dari tangan kanan.
la merintih-rintih.
Adapun Cui Sian berseru kaget karena ia merasa seakan-akan tangannya dimasuki hawa yang mengandung api dan ia sendiri terhuyung-huyung ke belakang.
la terlampau memandang rendah Hek-In-Kang dan kalau saja Sinkang di tubuhnya belum kuat benar, tentu ia pun akan terluka hebat.
Cepat gadis kosen ini menahan nafas dan menyalurkan Sinkang untuk memulihkan tenaga dan melindungi isi dadanya.
Kemudian ia menghampiri Siu Bi dan menotok jalan darah yang membuat Siu Bi lemas.
"Wanita sial!"
Siu Bi yang sudah tak dapat menggerakkan kaki tangan itu memaki, matanya memandang dengan melotot.
"Kau bunuh aku, aku tidak takut mampus. Hayo, kalau kau gagah, bunuh aku!"
"Cih, perempuan iblis. Sudah sepatutnya kau dibunuh atas perbuatan kejimu terhadap Swan Bu. Akan tetapi, aku berhutang nyawa kepadamu, terpaksa sekarang kuampuni kau..."
"Keparat, siapa memberi hutang padamu? Siapa sudi menerima ampunanmu? Hayo, gunakan pedangmu itu membunuhku, jangan banyak cerewet"
"Kau yang cerewet!"
"Kau cerewet, kau bawel, kau nenek-nenek bawel!"
Siu Bi memaki-maki.
Akan tetapi Cui Sian tidak mau pedulikan gadis galak itu lagi karena ia sudah sibuk menghampiri dan memeriksa keadaan Swan Bu.
Lega hatinya bahwa pemuda itu tidak menderita luka-luka lain yang berbahaya kecuali lengannya yang buntung.
Hatinya ngeri juga ketika ia membuka lengan buntung yang dibalut itu dan melihat lengan buntung sebatas siku.
Darahnya sudah mulai kering, akan tetapi ujung yang buntung itu agak membengkak.
Ini berbahaya, pikirnya dan cepat ia mengeluarkan sebungkus obat dari saku baju sebelah dalam.
la menggunakan obat itu pada luka dan membalut luka dengan sehelai saputangan bersih.
"jangan bunuh dia... Sukouw..."
Hati Cui Sian tertegun.
Apa maksud Swan Bu?
Tidak boleh bunuh Siu Bi?
Gadis itu sudah membuntungi lengannya dan pemuda ini masih minta supaya dia jangan dibunuh?
Atau mungkin bukan Siu Bi yang dimaksudkan?
Swan Bu sedang terserang demam panas dan biasanya dalam keadaan begini, orang suka mengingau.
"Swan Bu, siapa yang kau maksudkan? Jangan bunuh siapa?"
"Siu Bi... di mana kau..., ah, Siu Bi, sudah puaskah hatimu sekarang? Alangkah cantik engkau... cantik, liar dan ganas..."
Cui Sian merasa jantungnya tertusuk.
Ah, tidak salah lagi, ada terselip sesuatu antara dua orang muda ini, pikirnya.
Celaka, Siu Bi gadis liar dari Go-Bi-San itu tidak hanya menimbulkan bencana karena kekejiannya, akan tetapi juga karena kecantikannya.
Teringat ia akan Yo Wan, dan hatinya menjadi panas.
la tahu bahwa Swan Bu dalam keadaan setengah sadar, akan tetapi saking panasnya hati, ia menjawab.
"Jangan pedulikan dia lagi, Swan Bu."
Akan tetapi Swan Bu tentu saja tidak mendengar karena ia kembali mengigau perlahan, tubuhnya panas sekali.
"Sian-moi...!"
Panggilan ini mengagetkan Cui Sian dan cepat ia melompat sambil membalikkan tubuhnya.
Seketika wajahnya menjadi merah dan jantung di dadanya berdebar tidak karuan ketika matanya mendapat kenyataan bahwa ia tadi tidak keliru mengenal suara itu, suara Yo Wan!
Akan tetapi kegembiraan hatinya itu ternoda kekecewaan ketika dilihatnya kedatangan pemuda itu bersama seorang dara remaja yang cantik jelita.
"Yo-Twako, kebetulan kau datang..."
Katanya halus. Akan tetapi Yo Wan sudah melompat ke dekat Swan Bu, memandang dengan mata terbelalak.
"Dia ini... bukankah dia Sute Kwa Swan Bu?"
Cui Sian mengangguk dan Yo Wan sudah berlutut di dekat tubuh Swan Bu, memandang lengannya yang buntung.
Adapun Lee Si begitu melihat lengan Swan Bu yang kiri buntung, hampir saja ia terguling pingsan.
Matanya serasa kabur, kepalanya nanar, bumi yang dipijaknya serasa berputaran.
Cepat ia menahan pekik yang hendak meluncur dari mulutnya sehingga hanya terdengar seperti orang mengeluh dan ia pun berlutut di dekat Yo Wan.
"Oh... ahhh..."
Hanya inilah yang keluar dari mulutnya, sedangkan Yo Wan cepat memeriksa tubuh Swan Bu. Seperti juga Cui Sian tadi, dia merasa lega bahwa Swan Bu tidak menderita luka lain yang berbahaya.
"Sian-moi, siapa yang membuntungi?"
Ia menahan kata-katanya dan jantungnya serasa berhenti berdetak ketika Yo Wan teringat akan Siu Bi. Siapa lagi kalau bukan Siu Bi? "Itulah orangnya!"
Kata Cui Sian menuding ke arah Siu Bi yang rebah miring tak jauh dari situ.
Dua orang muda yang baru datang ini tadi tidak melihat Siu Bi dan sekarang mereka menoleh.
Lee Si sudah meloncat sambil mengeluarkan seruan marah.
Sedangkan Yo Wan hanya memandang dengan muka berubah agak pucat.
Dengan kemarahan meluap-luap Lee Si menyambar tubuh Siu Bi, dijambak rambutnya dan ditariknya berdiri.
"Plak-plak!"
Dua kali tangan kirinya menampar, dan tanda jari-jari merah menghias kedua pipi Siu Bi yang tersenyum-senyum mengejek.
"Hi...hi...hik, perempuan tak tahu malu. Berani kalau aku sudah tak berdaya. Hayo bebaskan totokan dan lawan aku secara orang gagah!"
Akan tetapi Lee Si tidak mempedulikan omongannya, malah ia menarik lepas rambut kepala Siu Bi dan menggantungkan Siu Bi pada cabang pohon, mengikatkan rambutnya yang panjang pada cabang pohon itu.
Cabang itu rendah saja sehingga kedua kaki Siu Bi tergantung hanya belasan senti meter dari tanah.
"Siapakah gadis itu?"
Cui Sian bertanya kepada Yo Wan yang masih memandang dengan mata terbelalak dan muka agak pucat.
"Dia Lee Si, puteri kakakmu Tan Kong Bu..."
Jawab Yo Wan, suaranya menggetar dan lemah.
Karena keadaan tegang, Cui Sian tidak memperhatikan hal ini dan ia pun memandang.
Kiranya gadis remaja itu adalah keponakannya sendiri!
"Iblis betina jahat!
Hayo Kau ceritakan tentang fitnah keji yang kalian rencanakan, tipu muslihat rendah yang kalian jalankan untuk merusak nama baik Swan Bu dan aku!"
"Tipu muslihat apa? Berlaku galak terhadap aku setelah aku berada dalam keadaan tertotok, barulah disebut tipu muslihat! Aku tidak biasa melakukan fitnah dan tipu muslihat!"
Jawab Siu Bi seenaknya, sepasang matanya yang bening itu memandang penuh ejekan kepada Lee Si.
"Plak! Plak!"
Kembali tangan Lee Si menampar kedua pipi Siu Bi.
"Kalau kau tidak mengaku, akan kusiksa sampai mampus!"
Lee Si melompat dan mematahkan sebatang ranting pohon.
"Hayo mengakulah bahwa Ang-Hwa-Pai telah mengatur siasat untuk mengelabui mata Ayahku agar Ayahku mengira Swan Bu dan aku melakukan perbuatan hina!"
"Hi...hi...hik, kau lah yang ingin melakukan perbuatan hina. Swan Bu mana mau? Hi...hi...hik, tak tahu malu!"
Kembali Siu Bi mengejek, diam-diam hatinya panas dan penuh cemburu.
la mencinta Swan Bu, mencinta dengan seluruh jiwa raganya, hal ini amat terasa olehnya setelah ia membuntungi lengan pemuda itu, maka teringat bahwa gadis ini pernah berdekatan dengan Swan Bu, hatinya penuh cemburu dan benar Lee Si makin marah.
Ranting pohon di tangannya menyambar dan mencambuki muka, leher dan tubuh Siu Bi yang tetap tersenyum-senyum dan memaki-maki.
Biarpun dalam keadaan marah, Lee Si masih teringat untuk menahan diri sehingga pukulan-pukulannya dengan ranting pohon itu tidak akan menewaskan Siu Bi.
"Apakah yang dia maksudkan?"
Kembali terdengar Cui Sian bertanya kepada Yo Wan.
Yo Wan menarik nafas panjang.
Hatinya tidak karuan rasanya melihat keadaan Siu Bi demikian itu.
Akan tetapi kalau teringat betapa lengan Swan Bu dibuntungi, dia sendiri pun menjadi sakit hati dan marah maka biarpun di lubuk hatinya dia merasa tidak tega melihat Siu Bi dicambuki seperti itu, namun dia tidak mau mencegah Lee Si.
la pun maklum akan keadaan perasaan hati Lee Si yang penuh dendam karena merasa pernah dihina dan dipermainkan oleh Ang-Hwa-Pai di mana Siu Bi juga menjadi anak buah atau kawan.
"Lee Si dan Swan Bu pernah tertawan oleh Ang-Hwa-Pai yang menotok mereka dan menggunakan mereka untuk mengadu domba."
Dengan singkat dia menuturkan apa yang dia dengar dari Lee Si dan muka Cui Sian menjadi merah sekali.
"Hemmm, keji sekali. Gadis liar ini memang patut dihajar. Kalau saja aku tidak ingat dia dahulu pernah menolongku, tadi pun aku sudah membunuhnya. Sekarang Lee Si yang memuaskan dendamnya, biarlah."
Mereka berhenti bicara dan kembali memperhatikan Lee Si yang masih memaksa Siu Bi mengakui tipu muslihat keji dari Ang-Hwa-Pai.
Muka dan leher Siu Bi sudah penuh jalur-jalur.
merah bekas sabetan, bajunya sudah robek sana-sini dan kulit tubuhnya matang biru.
"Kau masih tidak mau mengaku? Keparat, apakah kau ingin mampus?"
Lee Si membanting ranting pohon yang sudah setengah hancur, lalu menginjak-injak ranting ini.
Sebagai puteri Ayah Bunda yang keras hati, tentu saja Lee Si memiki dasar watak berangasan dan keras pula, sungguhpun gemblengan Ayah Bundanya membuat ia jarang sekali melepaskan kekerasannya dan menutupinya dengan sikap tenang, sabar dan halus budi.
Tiba-tiba Siu Bi tertawa, suara ketawanya nyaring dan bening, mengejutkan dan mengherankan hati Cui Sian dan Yo Wan.
Dua orang ini diam-diam harus mengagumi ketabahan gadis liar itu, yang dalam keadaan tertawan dan tersiksa masih tertawa seperti itu, tanda dari hati yang benar-benar tabah dan tidak kenal takut.
"Hi...hi...hik, Lee Si, kau sungguh lucu! Kau tahu bukan aku orangnya yang melakukan segala tipu muslihat curang, akan tetapi kau memaksa-maksa aku mengaku. Apa kau kira aku tidak mengerti isi hatimu yang tak tahu malu? Hi...hi...hik, kau marah-marah dan benci kepadaku karena aku membuntungi lengan Swan Bu, betul tidak? Ihhh, tak usah kau pura-pura membelanya, kau bisa dekat dengannya hanya karena diusahakan orang. Tetapi dia cinta padaku, dengarkah kau? Dia cinta padaku, ahhh... dan aku cinta padanya..."
Suara ketawa tadi kini terganti isak tertahan. Wajah Lee Si sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba ia mencabut pedangnya dan membentak.
"Perempuan rendah, perempuan hina, kau memang harus mampus"
Pedangnya diangkat dan dibacokkan ke arah leher Siu Bi.
"Tranggg...!"
Lee Si menjerit dan cepat meloncat ke kiri karena pedangnya telah tertangkis dan hampir saja terlepas dari tangannya.
la memandang heran kepada Yo Wan dan sempat melihat pemuda itu menyimpan Pedang dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, hampir tidak tampak.
"Yo-Twako... kenapa kau..."
"Adik Lee Si, sabarlah. Tidak baik membunuh lawan dengan darah dingin secara begitu, apalagi dia sudah tertawan dan sudah kau lepaskan amarahmu kepadanya tadi. Siu Bi, kau tutuplah lulutmu, jangan menghina orang."
"Hi...hi...hik, kau Jaka Lola, Yo Wan yang berhati lemah. Alangkah lucunya! Setiap bertemu gadis cantik kau menjadi pelindung, laki-laki macam apa kau? Hayo kau bunuh aku kalau memang jantan!"
Yo Wan menggeleng-geleng kepalanya.
"Sayang kau terjerumus begini dalam, Siu Bi, sungguh sayang...! Aku tidak akan membunuhmu, kau boleh pergi dan jangan mengganggu kami lagi..."
La melangkah maju, tangannya meraih hendak membebaskan Siu Bi dari cabang pohon.
"Yo-Twako, tahan dulu...!"
Tiba-tiba Cui Sian melangkah mendekat.
"Apakah kau hendak membebaskannya begitu saja? Itu tidak adil namanya!"
Yo Wan menoleh dan alangkah herannya melihat sinar mata gadis cantik ini luar biasa tajam menentangnya, seakan-akan sinar mata itu mengandung hawa amarah kepadanya.
la benar-benar tidak mengerti, dengan pandang matanya dia berusaha menyelidik isi hati Cui Sian dan tiba-tiba wajah Yo Wan berseri.
Mungkinkah ini?
Mungkinkah Cui Sian merasa cemburu kepada Siu Bi?
Ah, sukar dipercaya.
Tak mungkin matahari terbit dari Barat, tak mungkin puteri Raja Pedang...
cemburu dan marah melihat dia membebaskan Siu Bi yang dapat dijadikan tanda cinta kasih.
Sepasang pipi halus itu tiba menjadi merah dan Cui Sian nampak gugup ketika melanjutkan kata-katanya setelah beradu pandang tadi.
"Dia... dia telah membuntungi lengan tangan Swan Bu! Sebaiknya kita serahkan kepada Swan Bu sendiri bagaimana keputusannya terhadap gadis liar itu. Bukankah kau pikir begitu seadilnya, Twako?"
Yo Wan mengangguk-angguk, mengerutkan alisnya yang hitam.
"Betapapun juga, kalau Sute kehilangan lengannya dalam sebuah pertempuran, aku akan menasehatinya agar jangan dia membalas secara begini. Bukan perbuatan gagah."
Terdengar Swan Bu mengerang dan mereka bertiga cepat menghampiri pemuda itu.
Girang hati mereka karena kini tubuh Swan Bu tidak begitu panas lagi dan pemuda itu sudah siuman, menyeringai kesakitan ketika menggunakan lengan kiri untuk menunjang tubuh.
"Auhhh... hemmm; Bibi Cui Sian, dan..."
Wajahnya menjadi merah sekali.
"Dan kau, Lee Si Moi-moi..."
La tertegun menatap wajah Yo Wan yang berdiri dan tersenyum kepadanya. Sampai lama mereka berpandangan, kemudian Swan Bu melompat berdiri.
"Kau... kau...?"
Yo Wan mengangguk-angguk dan tersenyum, hatinya terharu.
"Sute..."
"Kau Yo Wan... eh, Yo Suheng"
Dan keduanya berangkulan. Pada saat mereka berangkulan itu, Swan Bu langsung melihat ke arah Siu Bi yang tergantung di cabang pohon yang kebetulan berada di sebelah belakang Yo Wan.
"Eh... dia... dia kenapa...?"
Berkata gagap sambil merenggut diri dari rangkulan Yo Wan.
"Aku telah menangkapnya, Swan Bu, dan kami menanti keputusanmu. Setelah ia membuntungi lenganmu dan dia sekarang sudah tertawan, apa yang akan kita lakukan kepadanya?"
Kata Cui Sian.
Swan Bu melangkah maju tiga tindak seperti gerakan orang linglung, matanya menatap tajam kepada Siu Bi.
Tanpa bertanya dia maklum apa yang telah terjadi, melihat muka dan leher gadis itu penuh jalur-jalur merah, rambutnya terlepas dan diikatkan pada cabang pohon, pakaiannya robek-robek bekas cambukan.
Hatinya trenyuh, ingin dia lari memeluknya, cinta kasihnya tercurah penuh kepada gadis itu.
Akan tetapi dia teringat akan kehadiran Lee Si, Cui Sian, dan juga Yo Wan.
Suatu ketidak mungkinan besar kalau dia memperlihatkan cinta kasih kepada gadis musuh besar yang baru saja membuntungi lengannya!
Tak mungkin!
"Swan Bu,"
Kata Cui Sian melihat sikap pemuda itu seperti orang linglung yang ia kira tentu karena demam.
"Katakan, apa yang harus kita lakukan terhadapnya? Lenganmu ia bikin buntung secara bagaimana? Kalau dia berlaku curang, sepatutnya ia dihukum dan..."
"Tidak, Bibi, bebaskan dia! Aku terbuntung dalam pertempuran. Bebaskan dia, aku tidak ingin melihatnya lebih lama lagi!"
Yo Wan yang memang mengharapkan Siu Bi dibebaskan, segera bergerak dan dalam waktu beberapa detik saja, rambut itu sudah terlepas dari cabang, dan jalan darah Siu Bi sudah normal kembali.
Siu Bi membiarkan rambutnya terurai, dan berdiri seperti patung, menatap wajah Swan Bu.
Air matanya menitik turun berbutir-butir, tapi Bibirnya tersenyum.
"Swan Bu, selamanya aku akan menantimu..."
Setelah berkata demikian, gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan tempat itu, tidak lupa menyambar Pedang Cui-Beng Kiam yang menggeletak di situ.
"Ahhh...!"
Swan Bu mengeluh dan dia tentu akan terguling kalau saja Cui Sian tidak cepat menangkapnya.
Ternyata Swan Bu sudah pingsan kembali!
Cui Sian dan Lee Si mengira bahwa keadaan pemuda ini karena demam dan lukanya.
Akan tetapi diam-diam Yo Wan mengeluh dalam hatinya.
la dapat menduga sedalam-dalamnya.
Tak mungkin seorang gadis seperti Siu Bi dapat mengalahkan Swan Bu dalam pertempuran, apalagi membuntungi lengannya.
Akan tetapi, Swan Bu sengaja mengaku bahwa lengannya buntung dalam pertempuran!
Ini saja sudah membuka rahasia bahwa Swan Bu jatuh cinta kepada Siu Bi.
"Hemmm, seyogyanya gadis liar seperti itu tidak boleh dibebaskan..."
Kata Cui Sian sambil menidurkan Swan Bu ke atas tanah.
"Sian-moi, kau dengar sendiri Swan Bu menghendaki demikian dan kurasa sekarang yang terpenting bukan hal itu. Aku dan adik Lee Si sudah naik ke Liong-Thouw-San, akan tetapi Suhu dan Subo ternyata tidak berada di sana, agaknya baru beberapa hari pergi meninggalkan puncak, tidak tahu ke mana mereka itu pergi. Urusan yang menyangkut nama baik adik Lee Si dan Sute bukan main-main, kurasa kemarahan Tan Kong Bu Lo-Enghiong takkan mudah dipadamkan kalau tidak ada bukti yang membuka rahasia fitnah dan tipu muslihat kaum Ang-Hwa-Pai. Oleh karena itu, harap Sian-moi suka merawat Swan Bu dan sekarang juga aku akan mengantar adik Lee Si ke Kong-Goan, hendak kucoba mencari Ang-Hwa Nio-Nio dan menundukkannya, memaksanya membuka rahasia itu kalau mungkin di depan Tan Lo-Enghiong sendiri, atau setidaknya di depan orang-orang tua kita."
Cui Sian mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang melengkung indah.
"Aku tahu watak Kong Bu Koko amatlah keras. Seperti baja kata Ayah. Akan tetapi dia tidak dapat disalahkan kalau sekarang marah-marah karena apa yang dilihatnya memang merupakan penghinaan yang tiada taranya bagi seorang gagah."
"Itulah, Bibi, yang amat menggelisahkan hatiku."
Kata Lee Si.
"Pada waktu itu aku berada dalam keadaan tertotok, tak dapat bergerak, sudah kucoba memanggil Ayah, akan tetapi dia terlalu marah dan musuh yang menjalankan tipu muslihat terlalu pandai. Memang nasibku yang buruk..."
Lee Si menangis dan tak seorang pun tahu bahwa tangisnya ini sebagian besar karena menyaksikan sikap Siu Bi tadi dan terutama karena Swan Bu membebaskan dan seakan-akan mengampuni gadis yang telah membuntungi lengannya!
"Sudah, tenanglah, Lee Si.
Dengan twako di sampingmu, yang akan mengurus penjernihan persoalan ini, kurasa segalanya akan berhasil baik."
"Sian-moi, kau lebih mengerti tentang pengobatan daripada aku, kalau tidak demikian agaknya akulah yang seharusnya merawat Sute dan kau menemani adik Lee Si. Akan tetapi sungguh aku tidak mengerti bagaimana harus merawatnya sampai sembuh, kalau salah perawatan bisa berbahaya..."
"Tidak apa, Yo-Twako. Sudah sepatutnya aku merawat Swan Bu. Kau berangkatlah."
Yo Wan sebetulnya merasa berat untuk segera berpisah setelah pertemuan yang tak terduga-duga ini, akan tetapi tugas lebih penting daripada perasaan pribadi, maka dia pun lalu berangkatlah bersama Lee Si.
Dengan gadis ini di sampingnya, tentu saja perjalanan tidak dapat dilakukan secepat kalau dia pergi seorang diri.
Baiknya Lee Si bukan gadis lemah, dan ilmu lari cepatnya boleh juga sehingga tidaklah akan terlalu lambat.
Tidak demikian dengan Cui Sian.
Setelah Swan Bu siuman kembali, ia mengajak pemuda ini melakukan perjalanan perlahan dan lambat, mencari sebuah dusun atau kota di mana mereka akan dapat beristirahat dan ia dapat mencarikan ramuan obat untuk pemuda itu.
Swan Bu jarang bicara, kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan Cui Sian.
Pemuda ini kelihatan termenung, akan tetapi sama sekali tidak memikirkan lengannya yang buntung.
Untuk kedua kalinya, Cui Sian mendengar cerita seperti yang ia dengar dari penuturan Yo Wan, yaitu tentang tipu muslihat dan fitnah yang dilakukan oleh Ang-Hwa-Pai di Kong-Goan.
"Kong Bu Koko tentu marah sekali. Dia terlalu jujur untuk dapat menduga bahwa semua itu hanya fitnah yang diatur dan direncanakan oleh musuh."
Cui Sian menarik nafas panjang.
Mereka bercakap-cakap sambil berjalan perlahan keluar dari dalam hutan setelah melakukan perjalanan sepekan lamanya.
Selama itu, hanya hutan dan gunung yang mereka lalui, tidak pernah melihat dusun.
Atas kehendak Swan Bu, biarpun lambat, mereka melakukan perjalanan menuju ke Kong-Goan menyusul Yo Wan dan Lee Si.
"Itulah yang menggelisahkan hatlku, Sukouw. Paman Kong Bu pasti akan marah sekali, dan mendengar suaranya ketika itu, aku yakin bahwa dia tidak ragu-ragu untuk melaksanakan ancamannya, yaitu membunuhku. Kalau sampai aku bertemu dengan dia dan Paman Kong Bu bersikeras hendak membunuhku, bagaimana aku berani melawannya? Aku cukup maklum betapa pedihnya urusan ini baginya... dan aku tidak tahu bagaimana harus mengatasinya."
"Jangan khawatir. Kurasa betul Yo-Twako, bahwa jalan satu-satunya hanya memaksa mereka yang melakukan fitnah untuk mengaku di depan Kong Bu Koko, dan aku percaya betul Yo-Twako akan dapat membereskan hal ini."
Biarpun keadaannya seperti itu, diam-diam Swan Bu tersenyum dan mengerling ke arah wajah gadis itu di sampingnya.
"Sukouw, hebat betulkah kepandaian Yo-Suheng? Dulu ketika aku masih kecil, dia sudah amat hebat akan tetapi kalau aku ingat betapa dulu aku pernah memanahnya, ahhh... dan sekarang dia mati-matian hendak membela namaku, sungguh aku merasa malu!"
"Kau... memanahnya?"
Swan Bu tersenyum masam.
"Aku masih kanak-kanak dan manja, kurasa tidak ada orang yang dapat melawanku ketika itu."
La lalu menceritakan kejadian di waktu dia masih anak-anak dan dengan orang Tuanya berada di puncak Hoa-San.
Kemudian datang Ketua Sin-Tung Kai-Pang yang hendak mencari perkara, dan muncullah Yo Wan yang biarpun sudah terpanah pundaknya oleh Swan Bu, namun masih berhasil mengusir semua musuh.
Cui Sian kagum bukan main dan makin besarlah perasaan mesra terhadap Yo Wan bersemi di hatinya.
"Hebat dia,"
Katanya tanpa menyembunyikan perasaannya.
"Dan dia sama sekali tidak marah ketika itu! Dan sekarang pun dia sama sekali tidak menaruh dendam, malah berusaha untuk membersihkan namamu. Swan Bu, aku percaya, seorang gagah seperti dia pasti akan mampu membereskan urusanmu ini."
"Mudah-mudahan, Sukouw. Akan tetapi, apakah Paman Kong Bu mau menerimanya begitu saja, entahlah. Keadaan adik Lee Si ketika itu memang... memang... ah, kasihan dia, tentu saja sebagai seorang gadis terhormat ia merasa amat terhina."
Cui Sian termenung, lalu tiba-tiba la berkata.
"Memang sukar menghapus luka itu, baik dari hati Lee Si maupun dan hati Kong Bu Koko, kehormatan mereka tersinggung hebat dan kiranya hanya ada satu jalan untuk menebusnya Swan Bu."
"Jalan apakah itu, Sukouw?"
"Tiada lain, kau menikah dengan Lee Si!"
Wajah pemuda itu seketika menjadi merah sekali, dan dia kaget bukan main.
"Tidak... tidak mungkin..."
Cui Sian sudah berhenti melangkah dan kini mereka berdiri berhadapan, Swan Bu menundukkan mukanya.
"Swan Bu, aku tahu bahwa kau mencinta Siu Bi, bukan?"
Suaranya tajam seperti pandang matanya.
Swan Bu mengangkat muka, tak tahan melihat pandang mata tajam penuh selidik itu dan dia menunduk kembali, hatinya risau dan ingin mulutnya membantah, akan tetapi tak dapat dia mengeluarkan kata-kata karena tahu bahwa kalau dia memaksa bicara, suaranya akan sumbang dan gemetar, juga akan bohong, tidak sesuai dengan suara hatinya.
"Swan Bu, aku tidak akan menyalahkan orang mencinta, sungguhpun harus diakui bahwa cintamu tidak mendapatkfan sasaran yang benar kalau kau memilih Siu Bi. Dia seorang gadis liar yang rusak oleh pendidikan keliru, dan dia sudah membuntungi lenganmu!"
Dengan suara rata dan lirih Swan Bu berkata.
"Dia memenuhi sumpahnya untuk membalas dendam Kakeknya."
Cui San menarik nafas panjang.
"Betapapun juga, dunia kang-ouw akan mentertawakanmu kalau kau memilih Siu Bi, dan hal ini akan berarti merendahkan deRajat orang tuamu. Dengan mengawini Lee Si, tidak saja kekeluargaan akan menjadi makin erat, juga kau membersihkan nama Kong Bu Koko, orang tuamu tentu bangga, orang tua Lee Si bangga, dan segalanya berjalan baik serta semua orang menjadi puas. Swan Bu, seorang satria sanggup mengorbankan apa saja demi untuk kehormatan keluarga dan demi membahagiakan semua orang. Lee Si adalah seorang dara yang cantik jelita, kiraku tidak kalah oleh Siu Bi, juga dalam ilmu kepandaian, kurasa tidak kalah jauh. Aku bersedia menjadi perantara karena aku adalah Bibi dari Lee Si."
Swan Bu terdesak hebat oleh kata-kata Cui Sian yang memang tepat.
"Baiklah hal itu kita bicarakan lagi kelak, Sukouw. Kalau memang tiada jalan lain, aku tidak merasa terlalu tinggi untuk menjadi suaminya, apalagi... apalagi melihat lenganku yang buntung. Apakah adik Lee Si tidak jijik melihat seorang yang cacad seperti aku?"
Sebelum Cui Sian sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi. Suara itu derdengar lapat-lapat dari tempat jauh.
"Ada pertempuran di sana!"
Kata Cui Sian.
"Biar kulihat!"
La segera melesat dengan cepat sekali, berlari ke arah suara tadi.
Swan Bu yang sudah agak mendingan, berlari mengejar.
Akan tetapi karena dia belum berani mengerahkan Ginkang, dia berlari biasa dan tertinggal jauh.
Suara melengking tadi sudah tidak terdengar lagi, maka Swan Bu hanya berlari ke arah menghilangnya bayangan Cui Sian yang memasuki sebuah hutan kecil.
Beberapa menit kemudian, dia tiba di sebuah lapangan rumput dan alangkah kagetnya ketika dia melihat Cui Sian berlutut sambil menangisi tubuh seorang laki-laki yang rebah tak bergerak, sebatang Pedang terhujam di dadanya sampai tiga perempat bagian.
Terang bahwa laki-laki itu sudah tewas, terlentang dan mukanya tertutup tubuh Cui Sian yang berguncang-guncang menangis.
Hati Swan Bu berdebar tidak karuan, dia mempercepat larinya mendekati.
"Paman Kong Bu...!!"
Swan Bu berseru keras dan cepat menjatuhkan diri berlutut di dekat Cui Sian.
"Sukouw, apa yang terjadi...??"
Dengan suara mengandung isak, Cui Sian menjawab.
"Aku tidak tahu... aku datang terlambat, dia sudah menggeletak seperti ini... tidak tampak orang lain... ah, Koko... tidak dinyana begini nasibmu..."
Tiba-tiba Swan Bu menjerit dan melompat bangun.
Cui Sian kaget dan cepat memandang.
la melihat pemuda itu berdiri dengan muka pucat, mata terbelalak lebar dan tangan kanan menutupi depan mulut, akan tetapi tetap saja mulutnya mengeluarkan kata-kata terputus-putus.
"Tak mungkin ini... tak mungkin... pedang... Kim-Seng-Kiam..."
Cui Sian mengerutkan kening dan memandang ke arah Pedang yang menancap di dada kakaknya.
Pada gagang Pedang itu tampak ukiran sebuah bintang emas, agaknya itulah maka namanya Kim-Seng-Kiam (Pedang Bintang Emas).
"Swan Bu, kau mengenal Pedang itu, Pedang siapakah?"
Tanyanya, suaranya keren dan sekarang tangisnya sudah terusir pergi, yang ada hanya kepahitan dan penasaran terbungkus kemarahan.
"Kim-Seng-Kiam... Pedang Ibuku..., tapi tak mungkin Ibu..."
Dagu yang manis runcing itu mengeras, (Lanjut ke
Jilid 15) Jaka Lola (Seri ke 04 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 sepasang mata bintang itu mengeluarkan sinar berapi.
"Hem, hemm, apanya tidak mungkin? Kakakku menemui Ayah Bundamu, minta pertanggungan-jawab, salah paham dan bercekcok terus bertanding, kakakku mana bisa menangkan Ayah Bundamu? Hemmm, hemmm betapapun juga, aku adiknya hendak mencoba-coba, mereka tentu belum jauh!"
Setelah berkata demikian, Cui Sian lalu berkelebat pergi sambil menghunus pedangnya.
"Sukouw..."
Akan tetapi Cui Sian tidak menjawab.
"Sukouw, tunggu dulu? Tak mungkin Ibu..."
Akan tetapi kini Cui Sian sudah lenyap dari pandang matanya dan Swan Bu sendiri dengan hati berdebar-debar terpaksa harus mengaku bahwa dia sendiri merasa ragu-ragu apakah benar Ibunya tidak mungkin melakukan pembunuhan ini?
Ibunya penyabar, akan tetapi kalau Paman Kong Bu memaki-maki sesuai dengan wataknya yang keras dan kasar, tentu Ibunya marah pula, mereka bertempur memperebutkan kebenaran anak masing-masing dan...
ah, mungkin berakibat begini.
"Ah, Paman Kong Bu, mengapa begini...?"
La memeluk tubuh yang sudah menjadi mayat itu dan menangis saking bingungnya.
Kemudian, sambil menekan kedukaan hatinya, Swan Bu mengerahkan seluruh tenaganya, Sedapatnya dia menggali lubang mempergunakan Pedang Kim-Seng-Kiam yang ia cabut dari dada, kemudian setelah bekerja setengah hari dengan susah payah, dia berhasil mengubur jenazah itu yang dia beri tanda tiga buah batu besar di depannya.
Kemudian, dengan tubuh lelah dan hati hancur, pemuda ini menyeret kedua kakinya berjalan terhuyung-huyung, Pedang Kim-Seng-Kiam masih di tangannya.
Kwa Kun Hong dan isterinya, Kwee Hui Kauw, menuruni Liong-Thouw-San dengan hati gelisah.
Mereka melakukan perjalanan cepat, akan tetapi karena perjalanan itu amat jauh dan mereka di sepanjang jalan mencari keterangan tentang putera mereka, maka lama juga baru mereka sampai di luar kota Kong-Goan.
Kota itu kira-kira berada dalam jarak lima puluh li lagi saja, dan karena hari amat panas, keduanya beristirahat di dalam hutan pohon liu yang indah dan sejuk hawanya.
Kun Hong bersandar pada sebatang pohon dan hatinya yang risau oleh urusan puteranya itu dia tekan dengan duduk berSiulian menghilangkan segala macam pikiran keruh.
Hui Kauw tak pernah pat (melupakan puteranya semenjak mereka turun gunung, dan pada saat itu ia pun duduk termenung dalam bayangan pohon.
Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan memandang ke depan.
Dari depan ada orang datang, seorang wanita muda yang jalannya terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Hui Kauw tertarik sekali dan ia menahan seruannya ketika melihat gadis itu terguling!
Cepat Hui Kauw melompat-lompat ke arah gadis itu dan kembali ia menahan seruannya.
Gadis ini masih muda, lagi cantik jelita.
Akan tetapi muka dan lehernya penuh jalur-jalur bekas cambukan, pakaiannya banyak yang robek, juga bekas terkena cambuk.
Agaknya gadis ini baru saja mengalami siksaan.
"Kasihan..."
Hui Kauw berkata, tanpa ragu-ragu ia lalu memondong tubuh itu dan membawanya kembali ke tempat semula.
la dapat menduga bahwa gadis ini bukan orang lemah, terbukti dari sebatang Pedang yang tergantung di belakang punggungnya.
"Siapakah dia?"
Kun Hong bertanya.
"Entah, seorang wanita muda, tubuhnya penuh luka bekas cambukan, dia pingsan,"
Jawab Hui Kauw. Tanpa diminta Kun Hong menjulurkan tangan meraba dahi, pundak, dan pergelangan tangan.
"Luka-lukanya tidak ada artinya, hanya luka kulit, tapi ia terserang hawa nafsu kemarahan dan kedukaan sehingga mempengaruhi limpa dan hati, membuat hawa Im dan Yang di dalam tubuh tidak berimbang, hawa Im membanjir. Karena itu, kau bantulah dengan Yangkang pada punggung."
Hui Kauw sebagai isteri Pendekar Buta tentu saja sedikit banyak sudah tahu akan ilmu pengobatan dan sudah biasa ia membantu suaminya.
Mendengar ini, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu nenempelkan telapak tangan kanan di punggung gadis itu dan mengerahkan Yangkang disalurkan ke dalam tubuh si sakit melalui punggungnya.
Tepat cara pengobatan ini.
Baca Juga: Suling Emas 10
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 5