Ceritasilat Novel Online

Pedang Pusaka Naga Putih 2

Eps 2 Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo.

Kedua saudara Kong merasa telapak tangan mereka sakit ketika golok mereka terpental oleh tangkisan anak muda itu.

Mereka menjadi hati-hati dan mengurung Han Liong dari kiri kanan.

Serangan-serangan mereka diatur bertubi-tubi dan berpasangan.

(Lanjut ke

Jilid 03) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Kalau dari kiri menyerang bagian atas, dari kanan menyerang bagian bawah, kalau yang kiri menyerang bagian kanan, yang kanan menyerang bagian kiri, hingga Han Liong seakan-akan terkurung oleh empat buah golok di semua bagian!

Tak percuma kedua saudara Kong itu mendapat julukan Sepasang Garuda Sungai Lien-ho, karena gerakan-gerakan mereka yang cepat dan bertenaga serta ganas itu memang seakan-akan merupakan dua ekor garuda yang menyambar-nyambar dan mencakar-cakar dengan empat caka mereka!

Tapi sekali ini mereka malang sekali berjumpa dengan Han Liong, seorang muda yang tubuhnya terlatih semenjak kanak-kanak dan dikuatkan oleh darah Ouw-pek coa, kemudian menerima pelajaran dari empat orang guru-guru yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus, lalu dimatangkan pula oleh bimbingan Kam Hong Siansu, seorang pertapa berilmu paling tinggi yang jarang ada taranya di masa itu.

Empat buah golok mereka tak berdaya sama sekali terhadap Han Liong.

Gerakan anak muda itu terlampau cepat bagi mereka, ditambah dengan gerakan-gerakan ilmu silat yang aneh dan tak terduga pecahannya.

Suara trang-treng-trong beradunya golok dengan sumpit makin sering terdengar dan mata kedua saudara Kong itu menjadi silau melihat bayangan Han Liong berkelebat ke sana ke mari diantara sambaran golok mereka.

Han Liong melayani mereka dengan gunakan Ouw-wan-ciang-hoat warisan gurunya Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat si mata satu.

Sebenarnya ilmu ini adalah ilmu pukulan tangan kosong, tapi karena Han Liong sudah mendapat pimpinan Kam Hong Siansu, maka ia dapat mainkan itu dengan menggunakan sumpit.

Bahkan sumpitnya balas menyerang dengan selalu tertuju ke arah jalan darah musuh dengan gerakan Su-sat-chiu.

Baru saja pertempuran berjalan kurang lebih tiga puluh jurus, kedua saudara Kong itu sudah menjadi sangat sibuk menangkis serangan balasan Han Liong, karena mereka merasa, yang menyerang mereka seakan-akan bukan dua batang sumpit, tapi lebih dari enam sumpit!

Tiba-tiba, ketika Kong Tat dari kanan menyambar kaki Han Liong dengan golok kanan, pemuda itu tidak mengelak atau menangkis, tapi bahkan memapaki golok itu dengan kakinya!

Gerakannya demikian cepat dan sebelum Kong Tat tahu bagaimana cara Han Liong melakukan itu, tiba-tiba saja jari tangan kanannya yang memegang golok telah tertendang hingga terpaksa ia melepaskan goloknya dan terlempar jauh!

Kemudian menyusul sebuah sumpit menotok tulang pundak kirinya dan ia berteriak keras, golok di tangan kirinya terlepas dan sebelah lengan kirinya menjadi lumpuh!

Kong Ta menolong saudaranya dengan memutar goloknya seperti baling-baling menyerang lawannya, Tapi tiba-tiba Han Liong membalikkan tubuhnya dengan ilmu Oei-liong-coan-sin atau Naga Kuning Memutar Tubuh, satu gerakan dari warisan gurunya Bie Kong Hosiang.

Gerakan inipun seharusnya dilakukan dengan menggunakan golok atau pedang, tapi pada saat itu, kekuatan sepasang sumpit Han Liong sudah cukup untuk menggantikan dua macam senjata panjang itu.

Terdengar suara benda beradu keras sekali dan tanpa terduga sepasang golok Kong Ta terlempar ke atas, lalu terdengar teriakan Kong Ta karena Han Liong secepat kilat menotok iganya hingga ia terjungkal untuk tak dapat bangun kembali!

Kawanan bajak yang dipimpin oleh Oei-Coa Tai-Ong berteriak-teriak marah dan mengurung anak muda itu, lalu atas isyarat kepalanya, mereka menyerbu dengan senjata golok, tombak dan toya!

Lo Sam menjadi ketakutan dan bersembunyi di tempat aman.

"He, Oei-Tai-Ong, mengapa tindakanmu rusuh begini?"

Tegur Han Liong sambil menangkis puluhan tombak dan golok itu.

Tapi musuhnya tak menjawab, bahkan segera ikut menyerang dengan pedangnya.

Juga Hek Sam Ong memutar toya besinya yang menerbitkan angin menderu-deru karena tenaganya yang besar.

Han Liong melayani mereka dengan tenang sebentar saja lima orang bajak tertendang olehnya sampai jatuh bangun.

Tiba-tiba di luar kepungan itu terjadi keributan dan beberapa orang bajak menjerit-jerit kesakitan.

Ketika Han Liong melirik, ternyata di sana terdapat seorang gadis muda yang berpakaian cara laki-laki tengah mengamuk dengan siang-kiam (sepasang pedang) yang gerakannya sangat gesit dan lincah.

Kemudian gadis itu memburu ke arah Han Liong yang sedang dikeroyok dan berteriak nyaring.

"Hei, bangsat Oei-coa dan Hek Sam!! Kembali kamu memperlihatkan sifat pengecut!"

Kedua kepala bajak itu heran dan segera membentak semua orangnya agar berhenti.

Han Liong yang dilepaskan dari kepungan juga memandang gadis itu dengan berdiri tenang.

Lo Sam keluar dari tempat sembunyinya dan mendekati Han Liong.

"Eh, eh. Gadis kecil dari manakah berani datang mengacau?"

Oei-Coa Tai-Ong menegur.

"Ketahuilah olehmu kepala bajak jahat. Beberapa hari yang lalu ketika pegawai ayahku lewat di sini, kamu telah membajaknya dan barang-barangku juga terbawa dalam rampasanmu. Kamu tidak tahu siapa ayahku dan tidak tahu pula kelihaianku, ya? Nah, hari ini aku datang untuk menghukummu!"

"Hm, anjing betina tak tahu malu!"

Hek Sam Ong memaki karena perasaan tak puas melihat lagak gadis itu.

"Kau kira kami takut padamu?"

Han Liong memandang gadis itu dengan kagum akan keberaniannya, tapi ia berbareng tak senang melihat kelancangan gadis semuda itu berani datang mengantarkan diri memancing bahaya di gua harimau.

Mendengar makian keji itu mata gadis yang bening dan bagus seperti mata burung Hong itu bersinar-sinar marah dan seperti hendak mengeluarkan api.

"Kurang"ajar!"

Hanya demikian ia berseru lalu kedua kakinya bergerak.

Kegesitannya hebat juga karena tahu-tahu ia telah melompat ke depan Hek Sam Ong dan menyerangnya dengan tusukan maut!

Hek Sam Ong adalah seorang yang telah banyak pengalaman dalam bertempur, dan toyanya adalah toya besi besar dan berat, ditambah pula dengan tenaganya yang sekuat kerbau, maka ia merupakan lawan yang bukan ringan.

Segera ia menangkis dengan toyanya dengan sepenuh tenaga.

Tapi gadis itu ternyata lihai benar, karena dari sambaran toya ia telah maklum akan kekuatan tenaga lawan, maka ia menarik kembali pedangnya agar jangan sampai beradu dengan toya, lalu pedang kiri menyabet leher dan pedang kanan yang ditarik mundur sudah bergerak maju pula menusuk lambung!

"Bagus!"

Diam-diam Han Liong memuji karena gerakan pedang Taufan Mengamuk di Lautan ini dimainkan dengan gaya indah sekali, Hek Sam Ong tundukkan kepala dan loncat mundur untuk menghindarkan diri dari serangan berbahaya itu dan si nona mendesak maju.

Dua orang bajak yang tak senang melihat gadis itu dan berbareng kagum melihat kecantikannya, menggunakan gagang tombak mereka untuk memukul dari belakang ke arah dua lengan tangan gadia itu.

Tapi tiba-tiba si gadis melompat ke atas dan turun kembali sambil kedua pedangnya berkelebat ke kanan dan ke kiri, tahu-tahu kedua bajak itu menjerit sambil roboh karena leher mereka tertusuk pedang sampai tembus!

"Serbu!

Tangkap!!"

Demikian terdengar teriakan-teriakan dan semua bajak yang tadinya mengeroyok Han Liong, kini berbalik mengepung nona itu dengan teriakan-teriakan riuh rendah.

Oei-Coa Tai-Ong menghampiri Han Liong sambil menjura.

"Sobat muda, sekarang lebih baik kau pergi saja, karena urusanmu sudah beres dan kami sedang sibuk dengan kuda betina liar ini!"

Katanya.

Diam-diam Han Liong merasa geli karena ia tahu akan kelicinan kepala bajak ini.

Setelah tahu bahwa Han Liong bukan makanan lunak dan tidak membawa harta, maka kepala yang pintar itu mengambil kesempatan ketika semua orang tidak melihat, sehingga ia tidak akan hilang muka, minta Han Liong pergi saja dari tempat itu!

Tapi Han Liong bukannya pergi malahan mengambil sebuah kursi dan duduk dengan enak.

"Aku mau nonton dulu,"

Katanya.

"Gampang saja pergi kalau tontonan bagus ini sudah selesai."

Oei-Coa Tai-Ong tidak perdulikan ia lebih jauh karena ia harus membantu Hek Sam Ong yang nampak payah, sedangkan beberapa orangnya telah rebah mandi darah menjadi korban sepasang pedang yang ganas dari nona itu.

Karena banyaknya korban, maka akhirnya para bajak hina itu tidak berani lagi mendekati rona yang sedang mengamuk seperti singa betina itu, takut kepada sepasang pedangnya yang berbahaya dan tajam.

Mereka hanya melihat dari tempat aman bagaimana kedua Tai-Ong mereka dengan dibantu tiga orang pemimpin yang agak tinggi ilmu silatnya, mengeroyok gadis itu.

Hek Sam Ong memainkan toyanya dengan ilmu toya dari cabang Siauw-lim yang sudah berobah, tapi masih cukup berbahaya, sedangkan Oei-Coa Tai-Ong memainkan pedangnya dengan ilmu silat pedang campuran antara ilmu pedang dari Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) dan kiam-hoat dari Gobi.

Permainan silat kedua tai ong ini memang bagus sekali, ditambah dengan tiga pemimpin lain yang lumayan juga permainan goloknya, maka perlahan-lahan si;nona terdesak juga dan lebih banyak menangkis daripada menyerang.

Tapi gadis itu meskipun usianya masih sangat muda tapi semangat dan keberaniannya besar sekali.

Ia kertakkan gigi dan memutar siang-kiamnya bagaikan kitiran.

Pada saat itu dengan gerakan Burung Kepinis Bermain di Angkasa ia melompat ke atas menghindari sapuan toya dan tikaman pedang kedua Tai-Ong itu, lalu dengan mengandalkan ginkangnya yang tinggi, ia melayang secepat kilat sambil menikamkan pedangnya ke arah leher seorang daripada tiga pemimpin yang mengeroyoknya.

Hek Sam Ong menggerakkan toyanya untuk menangkis dan menolong kawannya, tapi tiba-tiba ia merasakan toyanya seakan-akan terbentur sesuatu dan terpental balik, hingga serangan nona itu tidak ada yang menghalangi.

Terdengar teriakan ngeri dibarengi dengan tersungkurnya kepala bajak tadi karena lehernya hampir putus oleh pedang si nona!

Sisa pengeroyoknya yang tinggal empat orang itu menjadi hilang akal juga melihat kehebatan gadis itu, terutama Hek Sam Ong merasa heran karena tidak mengerti apakah yang telah membentur toyanya tadi.

Karena merasa kebingungan ini, permainan toyanya menjadi kacau dan kesempatan baik itu digunakan oleh si gadis untuk menyerang dengan hebat dalam gerakan tipu Siauw-liong-tiam-jiauw atau Naga Kecil Ulur Cakarnya.

Sepasang pedangnya bersamaan menyerang ke arah dada dan leher lawan.

Namun ternyata gadis itu sangat terburu nafsu, mungkin karena kelelahan dan ingin segera menghabiskan musuh-musuhnya secepat mungkin hingga ia kurang berlaku hati-hati.

Tipu silat yang ia jalankan itu sungguhpun sangat berbahaya bagi seorang lawan, namun demikian berbahaya pula bagi dirinya sendiri karena ia sedang menghadapi keroyokan.

Ia tidak ingat bahwa tipu itu hanya boleh dimainkan jika menghadapi lawan seorang saja.

Dengan menyerang dengan kedua pedangnya, ia memberi kesempatan terbuka bagi lain pengeroyoknya.

Dan Oei-Coa Tai-Ong melihat pula hal ini.

Dengan sangat girang, ia menubruk maju sambil menusukkan pedangnya dari belakang nona itu.

Pada saat yang sangat berbahaya bagi nona itu kembali Han Liong mempergunakan batu-batu koral kecil yang sejak tadi ia main-mainkan di tangan.

Tadi ia telah gunakan sebutir koral untuk menahan toya Hek Sam Ong, kini terlihat ia menggerakkan tangan kiri dan kanannya dua kali.

Batu pertama tepat mengenai jidat Hek Sam Ong hingga si tinggi besar ini tidak berdaya sama sekali ketika pedang nona itu mengarah dadanya.

Ia berteriak ngeri dan roboh, dari dadanya mengalir darah segar.

Batu kedua tepat menyerang betis kaki Oei-Coa Tai-Ong, hingga biarpun ia memakai kaos kaki duri kulit, namun masih saja betisnya merasa sangat perih dan sakit hingga ia terpaksa berhenti mengejar nona itu dan memegang-megang kakinya dengan rasa takjub.

Ketika itu, si nona sudah membalikkan tubuh dan ia makin bersemangat karena musuhnya kini tinggal tiga lagi.

Betapapun juga, ia sudah amat lelah dan mandi keringat, sedangkan di antara semua lawannya.

Oei-Coa Tai-Ong adalah yang paling tangguh.

Han Liong melihat gerakannya mulai lemah merasa kasihan juga dan kembali ia mengayun tangannya arah lengan Tai-Ong yang pendek itu.

Oei-Coa Tai-Ong berseru kesakitan dan pedangnya terlepas dari pegangan!

Saat itu pedang kiri si nona membabat pundaknya hingga tanpa ampun lagi ia terguling dengan pundak hampir terbelah dua!

Nona muda itu makin ganas dan mendesak dua kepala bajak dengan keras.

Tentu saja kedua orang itu bukan tandingannya, maka sebentar saja mereka terdesak sekali.

Tiba-tiba seorang di antara mereka melempar goloknya dan berlutut tanda takluk.

Kawan-kawannyapun buru-buru turut perbuatan kawannya.

Gadis itu agaknya tak hendak ambil perduli, bahkan mengangkat kedua pedangnya untuk membacok.

"Nona, tahan!"

Han Liong berteriak. Gadis itu menangguhkan bacokannya dan menengok dengan wajah membenci.

"Bagus! Aku datang menolongmu, sebaliknya kini kau mau membela dua jahanam ini. Ini namanya air susu dibalas dengan air tuba!"

"Bukan begitu, nona,"

Han Liong membantah.

"Aku merasa berterima kasih sekali mendapat pertolonganmu, karena kalau kau tidak segera datang, tentu aku telah menjadi bangkai! Tapi lihatlah, mereka semua telah menyerah, apakah kau sampai hati dan begitu kejam untuk membunuh orang demikian banyak itu?"

Han Liong menunjuk ke sekitar tempat itu.

Garis itu menengok dan melihat betapa berpuluh-puluh anak buah bajak itu mencontoh pula perbuatan dua pemimpin mereka dan berlutut sambil melepaskan senjata masing-masing.

"Kau hendak mengampuni mereka, tapi kalau di belakang hari mereka membuat onar lagi dan mengganggu rakyat, jangan kau menyesal,"

Nona itu menggerutu, lalu duduk di atas sebuah kursi dengan muka merengut. Agaknya ia baru merasa lelahnya di saat itu, dan ia duduk meluruskan kakinya untuk menghilangkan lelah.

"Saudara-saudara sekalian,"

Kata Han Liong sambil menghadap kepada semua sisa anggota bajak itu.

"Lihiap ini telah begitu baik hati untuk mengampuni kalian. Kalau ia berlaku kejam, mungkin kalian pada saat ini telah dibasmi habis dan kalian telah melihat sendiri betapa tangkasnya Lihiap. Maka biarlah ini menjadi satu pelajaran bagi kalian bahwa betapapun juga, perbuatan jahat itu selalu akan hancur. Kalian adalah lelaki-lelaki sehat dan kuat, mengapa memilih jalan sesat? Kalian menjadi bajak untuk merampok rakyat jelata tanpa pilih bulu. Lebih baik kalian mencari jalan benar dan bekerja mencari makan dengan cara halal."

Seorang daripada pemimpin bajak yang menakluk tadi segera menjura dan membantah.

"Tapi, bagaimana kami harus bekerja? Kemiskinan merajalela dan demikian pula para pembesar dan kaum hartawan. Mereka toh kerjanya hanya menindas dan menghisap rakyat miskin. Lapangan pekerjaan amat sempit dan orang yang mencari makan dengan cara halal banyak yang kelaparan."

Han Liong bingung karena sebenarnya ia belum tahu jelas tentang keadaan penghidupan rakyat jelata pada masa itu. Tiba-tiba gadis itu berdiri dan membantunya.

"He, kamu sekalian! Memang benar bahwa sekarang banyak penghisap rakyat, tapi aku tidak larang jika kamu mengganggu para pembesar jahat dan hartawan penghisap darah rakyat. Tapi janganlah merampok tak pilih bulu. Pula, tidak semua hartawan dan pembesar jahat, ada juga yang masih tahu akan perikemanusiaan. Juga, tanah kita lebar dan luas, tenaga kamu sekalian masih dibutuhkan."

Semua bajak bungkam tak ada yang berani membantah.

"Sekarang, bagaimana harus mengatur semua orang ini, Lihiap?"

Tanya Han Liong dengan hormat. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Han Liong, tapi berkata pula kepada semua orang itu.

"Nah, sekarang kamu semua harus bubarkan sarang bajak ini agar jalan sungai di daerah ini menjadi aman. Semua harta yang terdapat di sini boleh kamu bagi rata dipakai modal, dan sarang bajakmu harus dibakar habis. Awas, lain kali kalau aku lewat sini masih terdapat pengganggu keamanan, jangan katakan aku keterlaluan jika kucabut pedangku dan tidak ada ampunan lagi bagimu!"

Bajak-bajak itu menyatakan terima kasih dan bubar untuk segera melakukan perintah itu.

Sekejap kemudian keadaan di situ menjadi sunyi.

Han Liong merasa kagum sekali melihat sepak terjang gadis itu yang cepat dan tepat.

Dalam pandangannya gadis itu ternyata baru berusia paling banyak enam belas tahun, bertubuh ramping dan tampak makin ramping pinggangnya dalam pakaian pria yang serba ringkas itu.

Bajunya berwarna merah dan celananya biru.

Sepatunya dilapisi besi di bawahnya.

Rambutnya yang hitam panjang diikat dengan sutera merah pula.

Wajahnya cantik dan menarik.

Han Liong masih asing dengan pergaulan, lebih-lebih dengan kaum wanita, maka ia tak dapat banyak bicara.

Tiba-tiba ia teringat kepada Lo Sam dan matanya mencari-cari.

Ternyata kakek nelayan itu telah bersembunyi di bawah sebuah meja ketika terjadi pertempuran hebat antara gadis itu dan para kepala bajak tadi!

"He, Lo Sam!

Keadaan telah aman, keluarlah!"

Kata Han Liong dan gadis itu tertawa geli melihat tingkah Lo Sam. Kakek itu merayap keluar dan mengusap-usap dadanya.

"Aah, baru kali ini aku yang tua ini melihat peristiwa sehebat ini. Seorang gadis muda dengan kedua tangan membasmi dua gerombolan bajak! Hebat, hebat!"

Ia lalu menjura kepada gadis itu dan bertanya hormat.

"Lihiap yang gagah perkasa. Perkenankanlah aku yang tua mengetahui nama Lihiap agar dapat kudongengkan kepada anak cucuku tentang kejadian ini."

Gadis itu tertawa.

"Aku dipanggil orang Hong Ing dan she Lie."

Lo Sam memperkenalkan diri tanpa ditanya.

"Aku adalah nelayan tua Lo Sam dan tuan muda ini...eh...namanya..."

Ia memandang Han Liong dengan bingung karena sesungguhnya ia belum tahu nama pemuda itu. Han Liong tersenyum dan menyambung.

"Namanya Si Han Liong..."

"Bolehkah aku bertanya, kemanakah Lihiap kini hendak pergi?"

Tanya Lo Sam pula.

"Aku hendak pergi ke Hong-lung cian."

"Ke Hong-lung cian? Kebetulan sekali, Lihiap, kami berdua juga sedang menuju ke sana ketika dicegat oleh para bajak tadi,"

Kata Lo Sam.

"Kalau Lihiap sudi, silakan ikut dengan perahu kami, bersama-sama pergi ke Hong-lung cian."

Han Liong menawarkan.

Lie Hong Ing tersenyum dan menyatakan terima kasihnya.

Han Liong yang belum ada pengalaman itu merasa malu-malu selama di dalam perjalanan membisu saja.

Tapi baiknya Lie Hong Ing adalah seorang gadis kota yang terpelajar, hingga tanpa ragu-ragu gadis ini mengajaknya bercakap-cakap dan lama kelamaan pemuda itu hilang rasa malunya.

Ternyata Hong lng selain pandai ilmu silat, juga luas pandangannya tentang ilmu sastera.

Gadis ini menganggap bahwasanya Han Liong hanyalah seorang sasterawan yang hanya kenal sedikit ilmu silat saja, maka pembicaraannya kebanyakan mengenai ilmu kesusasteraan, dan mungkin Hong Ing hendak membanggakan kesusasteraannya!

Karena perahu itu tidak berapa besar, maka Han Liong mempersilakan Hong lng menempati tempat tidur satu-satunya di dalam perahu itu yang hanya terbuat daripada jerami dibungkus kain, dan ia sendiri duduk di luar kamar perahu mengobrol dengan Lo Sam sambil membantu mendayung.

Malam hari itu dilewatkan tanpa kejadian sesuatu.

Hong Ing agaknya sangat lelah barangkali setelah pertempuran itu, karena ia pulas dan nyenyak sekali sampai esok harinya.

Setelah matahari tinggi, mereka memasuki kolong jembatan pintu kota Hong-lung-cian.

Lie Hong Ing ketika mereka sampai di jembatan kedua, lalu menyatakan terima kasihnya dan turun dari perahu.

"Si toako, selamat berpisah sampai berjumpa pula,"

Kata gadis itu sambil menunduk hormat, tiba-tiba saja ia menggunakan sebutan yang lebih akrab, ialah toako atau kakak.

"Lihiap telah banyak memberi petunjuk padaku yang bodoh ini, aku ucapkan banyak terima kasih pula,"

Jawab, Han Liong. Setelah gadis itu pergi, Lo Sam mengomel pada Han Liong.

"Ah, kongcu, Lihiap sebut kau toako, kenapa kau masih sebut ia Lihiap?"

"Habis bagaimana, Lo Sam?"

"Seharusnya kau sebut ia moi-moi atau siauw-moi..."

Han Liong diam saja, tapi mukanya terasa panas karena ia merasa malu kalau harus menyebut demikian.

Atas petunjuk Lo Sam yang telah beberapa kali datang ke kota itu dan mengenal semua jalanannya.

Han Liong mendapat kamar di rumah penginapan Cit-seng.

Kemudian, setelah menambah uang setail perak, tapi ditolak oleh Lo Sam, kakek nelayan itu kembali ke kampungnya, dan kebetulan ada seorang yang hendak ke Lam-ciu hingga ia mendapat penumpang lagi.

Sepeninggal Lo Sam, Han Liong terkenang kepada Hong Ing yang amat menarik hatinya itu.

Ia kagum mengenangkan kecerdikan, pengertian dan kepandaian silat gadis itu.

Begitu muda tapi sudah demikian luas pengalamannya, pikirnya.

Ia baru saja turun gunung lalu mendapat kawan seperjalanan yang menarik seperti Lo Sam yang peramah dan Hong Ing yang pandai itu, betapa genbira hatinya selama dalam perjalanan, tapi sekarang mereka harus berpisah.

Dan tinggallah Han Liong seorang diri di kota yang masih asing baginya.

Kini ia merasa sangat kesepian.

Kemudian, setelah makan siang, ia keluar dari penginapan, berjalan-jalan melihat-lihat kota sembari memasang telinga ingin tahu di mana gerangan tempat tinggal musuh besarnya, yaitu Tiat-kak-liong Lie Ban si Naga Tanduk Besi.

Tapi alangkah herannya ketika ternyata tak seorangpun di kota itu yang ditanyainya, kenal kepada Tiat-kak-liong Lie Ban.

Atas petunjuk beberapa orang yang ditanyainya, ia mendatangi beberapa cabang atas dan guru silat di kota itu untuk mencari keterangan.

Tapi para jagoan di kota inipun tidak kenal nama Lie Ban si Naga Tanduk Besi.

Salah seorang guru silat yang berperawakan tinggi besar tapi sombong dengan angkuh menjawab pertanyaannya dengan ketawa.

"Naga Tanduk Besi? Ah, anak muda, barangkali kau salah dengar. Apakah kau mencarinya hendak belajar silat?"

Han Liong mengangguk, menyatakan ya.

"Kalau begitu, barangkali yang kau cari itu bukan Tiat-kak-liong, tapi Tiat-thou-liong si Naga Kepala Besi."

"Tiat-thou-liong? Siapakah dia dan di mana tempat tinggalnya?"

Han Liong bertanya penuh harap.

"Ha, ha, ha! Kalau kau berguru kepadanya, maka kau takkan kecewa, kongcu."

Tiba-tiba guru silat itu bicara sopan dan ramah.

"Pun, ongkos belajarnyapun tidak begitu mahal, pendeknya cukup murah kalau dibandingkan dengan pelajaran ilmu silat tinggi yang akan kau terima."

Biarpun tidak tertarik akan percakapan ini, namun Han Liong terpaksa menunjukkan muka tertarik.

"Di mana tempat tinggalnya?"

Ulasnya lagi.

"Lihat ini!"

Tiba-tiba guru silat itu berkata sambil memungut dua potong bata merah lalu memukulkan dua bata itu ke atas kepalanya! Terdengar suara "prok! Prak!"

Batu bata itu pecah, hancur menjadi beberapa potong kecil!

"Nah, lihatlah kekuatan kepalaku.

Akulah yang dipanggil orang Naga Kepala Besi.

Jadi yang kau cari untuk kau jadikan gurumu tiada lain orangnya ialah aku sendiri!"

Han Liong merasa kecewa dan mendongkol sekali.

"O, jadi kau sendirikah kauwsu itu? Baik, aku mau menjadi muridmu dan berapa saja bayaran pelajarannya akan kubayar, tapi aku harus mencoba sendiri kekuatan kepalamu itu."

"Baik, baik. Silakan!"

Han Liong memungut sepotong bata kecil, pecahan dari bata tadi.

"Aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa kuatnya kepalamu. Aku akan menggunakan bata kecil ini untuk menyambit kepalamu,"

Katanya.

Si Naga Kepala Besi tertawa berkakakan karena melihat lengan Han Liong yang halus kulitnya itu bagaikan lengan wanita, membikin ia menjadi geli, mengapa pemuda itu demikian bodoh untuk mencoba kepalanya dengan sepotong bata kecil.

Bukankah tadi dua buah bata besar menjadi hancur ketika beradu dengan kepalanya?

Berapa kekuatan bata sekecil itu?

Ia segera memasang kepalanya ke arah Han Liong dan menantang.

"Nah, lemparlah bata itu sekuat tenagamu!"

Karena jemu dan mendongkol, Han Liong menjepit bata itu diantara jari-jari tangannya, lalu menggunakan telunjuknya untuk menyentil bata itu ke arah kepala Naga Kepala Basi itu.

Sengaja pemuda itu tidak menggunakan semua tenaga lweekangnya, karena maksudnya hanya memberi sekedar pelajaran untuk kesombongannya.

Bata kecil itu melesat dan "pletak!"

Menghantam si "kepala besi."

Sungguh aneh, bata itu tidak pecah, tapi sebaliknya si Naga Kepala Besi bagaikan menerima pukulan palu baja yang keras! Ia berteriak.

"Aduh!"

Dan kedua tangannya memegang kepalanya dan terhuyung-huyung, akhirnya jatuh di atas sebuah kursi sambil meringis-ringis.

Ia merasa kepalanya sakit sekali sehingga tidak tertahan, kedua matanya mengeluarkan air!

Ia meramkan mata menahan sakit.

Untungnya rasa sakit itu hanya sebentar saja, dan ketika ia menggunakan jarinya meraba-raba, ternyata di batok kepalanya tumbuh tanduk alias bengkak!

Ia sangat heran dan membuka matanya, tapi keheranannya bertambah ketika dilihatnya bahwa pemuda itu sudah tidak berada di hadapannya lagi!

Diam-diam dia maklum ia baru berhadapan dengan seorang ahli Iweekeh yang tinggi ilmu silatnya.

Maka berjanjilah ia dalam hati untuk tidak bersikap sombong dilain kali.

Dengan hati kecewa Han Liong berjalan ke sana ke mari di dalam kota Hong-lung-cian.

Ia merasa putus asa.

Ke mana lagi ia harus mencari musuh besarnya itu?

Kakinya membawanya ke sebuah tempat yang ramai, merupakan pasar kecil di mana banyak terdapat orang-orang berdagang barang-barang yang datang dari luar kota.

Secara iseng-iseng ia masuk ke situ dan berdesak-desakan dengan banyak orang.

Tiba-tiba ia merasa ada orang meraba-raba kantongnya yang tergantung di pinggangnya.

Cepat sekali gerakan tangan itu hingga tahu-tahu kantongnya telah terlepas dari ikatan!

Tapi tangan Han Liong lebih cepat lagi.

Pencopet yang licik ttu tanpa disadarinya, ia merasa pergelangan tangannya yang memegang kantong tadi telah dipegang oleh tangan korbannya.

Ia berusaha melepaskan pegangannya, tapi sia-sia.

Bahkan ketika ia kerahkan tenaganya, ia merasa pergelangan tangannya begitu sakit seakan-akan hendak patah.

Mata dengan muka merah dan kebingungan ia menurut saja ketika Han Liong menariknya ke tempat yang agak sunyi.

Mereka berdua berjalan seakan-akan dua sahabat karib saling bergandengan tangan.

Setelah tiba di sebuah gang sepi Han Liong melepaskan cekalannya.

Orang itu mengembalikan kantong yang dicopetnya itu sambil menunduk memberi hormat.

"Kongcu maafkan siauwte yang telah berlaku tak sepatutnya padamu,"

Katanya. Han Liong melihat orang itu masih muda, kira-kira berusia dua puluh lima tahun, tubuhnya kecil tapi tampak kuat dan dari gerak-geriknya dapat kita ketahui bahwa ia mengerti ilmu silat.

"Tidak apa,"

Jawabnya.

"Tapi barangkali kau bisa menolongku,"

Kata Han Liong. Orang itu memandang heran.

"Kongcu, aku Tan Sam dijuluki orang Si Copet Tangan Seribu. Belum pernah tanganku gagal, tapi kali ini kongcu telah membuat aku takluk benar-benar, karena tidak sembarang orang dapat memegang lenganku tanpa aku dapat berdaya sama sekali. Aku orang miskin dan tentang kepandaian, kongcu jauh lebih tinggi dariku, maka pertolongan apakah yang dapat kuberikan kepada kongcu?"

"Aku tidak inginkan pertolongan tenaga maupun uang,"

Kata Han Liong.

"Hanya aku membutuhkan keterangan tentang seorang di kota ini."

"Oo, kalau soal itu saja, jangan kongcu khawatir, karena tidak ada seorang juapun di kota ini yang tidak kukenal, kecuali kalau ia orang luar kota."

"Nah, kalau begitu, kenalkan kau seorang bernama Lie Ban yang disebut orang si Naga Tanduk Besi?"

Tan Sam mengerutkan dahinya memikir-mikir.

"Lie Ban Naga Tanduk Besi? Sungguh heran, tidak ada rasanya orang yang bernama itu di sini, kongcu."

Han Liong kecewa, tapi masih mencoba menerangkan.

"Ia belum lama ini pindah dengan keluarganya dari Lam-ciu."

"Dari Lam-ciu katamu, kongcu? Ada seorang she Lie yang baru pindah dari Lam-ciu, tapi namanya adalah Lie Wan-gwa. Tapi aku tidak tahu apakah hartawan itu bernama Lie Ban. Lagi pula, masakan seorang hartawan mempunyai nama julukan seperti seorang ahli silat demikian? Tapi, nanti dulu! terus terang kukatakan bahwa aku pernah mencoba memasuki gedungnya, tapi gagal, aku mendapat genteng yang dilemparkannya padaku yang menyebabkan hampir saja aku dapat ditawannya dan...!"

"Dan... bagaimana maksudmu?"

Han Liong tertarik.

"Aku tidak berhasil apa-apa, bahkan hampir aku mati terbunuh!"

"Bagaimana bisa terjadi?"

"Tidak kuketahui bahwa di gedung wan-gwe itu ada setannya! Baru saja aku mendarat di atas genteng, tiba-tiba sebuah genteng terbang menyambar kepalaku. Berkali-kali genteng terbang menyambarku hingga tubuh dan kepalaku luka dan mencucurkan darah! Anehnya, sama sekali aku tidak melihat orangnya yang menyambit itu. Maka, kalau bukan setan, siapakah lagi?"

Han Liong tak dapat menahan senyumnya.

"Hm, kalau begitu maukah kau menolong aku untuk menyelidiki, apakah hartawan Lie itu yang bernama Lie Ban atau bukan?"

"Baik, kongcu, baik. Sore nanti akan kukirim berita hasil penyelidikanku padamu."

Mereka lalu berpisah dan Han Liong kembali ke kamarnya.

Ia masih ragu-ragu apakah hartawan itu benar-benar musuh besarnya yang dicari-carinya itu?

Ia harus bertindak dengan hati-hati jangan sampai gegabah yang bisa mencelakakan orang lain yang tak bersalah, karena salah alamat.

Sore harinya, betul saja Tan Sam datang, dengan muka berseri-seri, ia menceritakan hasil penyelidikannya.

"Tidak percuma kau minta tolong dan mempercayaiku, kongcu! Hartawan she Lie itu betul-betul Lie Ban Naga Tanduk Besi!"

"Bagaimana kau tahu begitu pasti?"

Tanya Han Liong teliti.

"Karena aku yakin, untuk dapat masuk ke gedung itu tipis benar harapan, karena sangat berbahaya, maka aku gunakan akal. Aku pancing-pancing keterangan di antara pelayan-pelayan gedung itu, dan dari mereka aku tahu bahwa semua pelayannya berasal dari kota ini, di antaranya terdapat seorang pelayan tua yang dibawa oleh Lie wan-gwe dari Lam-ciu. Kebetulan sekali pelayan tua itu keluar dari gedung lalu kuculik. Setelah kupaksa, akhirnya pelayan tua itu mengaku juga, bahwa Lie-wan-gwe itu ialah Lie Ban si Naga Tanduk Besi itu sendiri! Ia bekas panglima perang yang kini telah berhenti. Tapi kalau kau hendak memusuhi orang she Lie ini, hati-hatilah, kongcu, karena aku mendengar bahwa baru beberapa hari ini di rumahnya kedatangan kawan-kawannya yang terdiri dari ahli-ahli silat terkemuka. Bahkan sejak mereka pindah ke sini, selalu gedung itu dijaga oleh adiknya sendiri Oei-kak-liong Lie Kong dan dua saudara Jie-pa-cu yang bernama Beng Liok Hui dan Beng Liok Houw. Mereka ini merupakan penjaga-penjaga yang kuat dan tinggi ilmu silatnya, kini ditambah lagi dengan tamu-tamunya yang datang itu, maka gedung orang she Lie itu merupakan sarang harimau-harimau galak yang tidak mudah dikalahkan. Hm, kalau kuingat aku masih merasa sakit hati, kongcu. Tidak heran ketika aku coba-coba datang ke sana dulu, genteng-genteng beterbangan melukaiku. Aku tidak tahu bahwa di situ bersarang jagoan-jagoan besar. Ah, untung mereka masih mengampuni aku dan tidak membunuhku!"

Alangkah lega dan girang hati Han Liong mendengar keterangan-keterangan ini.

Ia sekarang tidak ragu-ragu lagi, karena ternyata Oei-kak-liong Lie Kong adik Lie Ban dan dua saudara macan tutul itupun berada di situ, tepat seperti yang diceritakan oleh gurunya Liok-tee-sin-mo Hong In, yang menolong dirinya juga ketika itu bertempur dengan mereka berempat ini di masa lalu!

Mendengar penjagaan yang kuat itu, sedikitpun ia tidak gentar, bahkan semangatnya bertambah.

Ia yakin, dengan berkumpulnya orang-orang itu, maka pembalasannya akan menjadi lengkap!

Ia mengucapkan terima kasih kepada Tan Sam dan memberinya potongan uang emas, tapi hadiah ini ditolak oleh Tan Sam dengan manis.

"Kongcu, kau adalah orang baik. Aku tahu benar bahwa kau seorang berbudi luhur yang pernah kucopet. Aku senang membantumu, kongcu. Jika kau ada apa-apa, carilah aku di jembatan kelima jalan barat sana!"

Kemudian ia pergi.

Malam itu kebetulan tanggal empat belas dan sore-sore sang ratu malam telah menampakkan diri, bulan purnama memancarkan sinarnya terang benderang seolah-olah tersenyum manis pada setiap mahluk dan segala benda yang ada di permukaan bumi.

Tidak tampak sedikitpun awan gelap yang mengganggu.

Suasana tampak menggembirakan, penuh damai dan tenteram, sehingga tak seorang juapun menyangka bahwa di malam itu akan terjadi suatu peristiwa besar yang mengerikan.

Di atas genteng-genteng rumah-rumah yang berjajar-jajar di bagian kota itu tampak berkelebat bayangan yang gesit sekali.

Jika ada orang yang kebetulan berada di atas genteng rumahnya ia akan melihat bayangan saja yang berpusing tanpa terlihat orangnya, tentu ia akan menyangka bahwa bayangan itu adalah bayangan burung terbang.

Sebetulnya adalah Han Liong sendiri yang berpakaian putih dengan ikat pinggang warna kuning panjang berkibar-kibar di belakangnya.

Langsung Han Liong menuju ke rumah Lie Ban yang besar dan mewah itu.

Setibanya di luar gedung, Han Liong mengencangkan ikat pinggangnya dan kemudian mengayunkan tubuhnya ke atas genteng.

Tindakan kakinya demikian ringan hingga sedikitpn tak mengeluarkan suara.

Ia berhenti di atas sebuah kamar besar di mana menyala api lilin yang dipasang lebih dari empat tempat hingga menerangi seluruh kamar.

Diam-diam ia membuka genteng dan mengintip ke dalam.

Di tengah-tengah kamar itu terdapat beberapa orang sedang duduk mengelilingi meja bundar.

Kelihatan seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tegap duduk di kepala meja.

Di kanan kiri dan depannya duduk lima orang laki-laki yang semuanya bertubuh kuat menandakan bahwa mereka adalah orang-orang ahli silat yang pandai.

Ternyata mereka tengah asyik bercakap-cakap dan dari kata-kata mereka, Han Liong mendapat kesan bahwa orang-orang itua adalah orang baik-baik yang berbicara tentang silat dan tempat-tempat indah di berbagai tempat.

Pemuda itu ragu-ragu, lalu loncat ke tempat lain melanjutkan penyelidikannya, tiba-tiba ia mendengar suara wanita sedang bercakap-cakap.

Hatinya berdebar-debar, karena bukankah nyonya Lie Ban adalah ibunya sendiri?

Teringat ini hatinya menjadi perih, karena selalu ia mengenangkan ibunya dengan dua perasaan menjadi satu, perasaan cinta dan kecewa.

Ia segera melakukan pengintaian lagi.

Kamar itu lebih kecil daripada kamar yang lain.

Di situ hanya terdapat sebuah lilin yang kecil sehingga keadaan dalam kamar suram.

Tampak olehnya seorang wanita setengah tua tengah berbaring dan di sampingnya duduk seorang perempuan muda yang memijat-mijat kakinya.

"Anakku,"

Terdengar suara wanita setengah tua itu dengan suara halus penuh kasih sayang hingga Han Liong yang mendengarkannya merasa terharu.

"Kurangilah kebiasaanmu pergi merantau. Kau adalah anak perempuan seorang bekas pembesar, seorang cian kim siocia yang sepatutnya berdiam di rumah belajar pekerjaan halus-halus. Kalau kau bertemu dan berkenalan dengan segala bangsa kasar, derajatmu dengan sendirinya akan turun."

"Ah, ibu. Aku bosan kalau terus-terusan berada di dalam rumah. Aku ingin meluaskan pandangan dan menambah pengalaman,"

Jawab anak perempuan tadi sambil mengelus-elus kaki ibunya.

"Dasar anak sekarang. Tapi, hati-hatilah, nak, karena menurut pengalamanku, lebih banyak orang jahat daripada orang baik. Nah, sekarang mengasolah, ibumu hendak tidur."

Han Liong tidak dapat melihat tegas wajah mereka karena cahaya lilin sangat suram.

Ia mellat betapa wanita muda itu turun dari pembaringan dan meninggalkan ibunya, memasuki kamar lain dan wanita itu bangun dari pembaringan lalu duduk di kursi.

Ia nampak kurus dan tua.

Karena ingin kepastian, Han Liong tidak ragu-ragu lagi lalu melompat turun di depan pintu kamar itu, dan menolak daun pintu perlahan-lahan.

Perempuan itu menengok, agaknya terkejut melihat pemuda yang tidak dikenal itu.

Tapi ia segera dapat menetapkan hatinya.

"Siapa kau?"

Tanyanya dengan suara tenang.

Han Liong melihat ada sebuah lilin yang agak besar belum dipasang di atas meja, maka tanpa menjawab pertanyaan itu, dengan cepat ia mengambil lilin itu dibakarnya dengan lilin kecil yang masih menyala itu.

Kamar menjadi terang dan dengan sekilas pandang Han Liong dapat melihat wajah yang membayangkan kesedihan itu, dan dapat pula dilihatnya dengan nyata bahwa muka itu persis seperti bekas wajah wanita cantik Kemudian sambil memandang dengan tajam, ia menjawab lemah.

"Namaku Han Liong... Si Han Liong!!"

Wanita itu terkejut bagai disentakkan oleh tenaga gaib.

Kedua tangannya diulurkannya, sepasang matanya terbelalak memandang seakan-akan melihat setan, penuh pancaran tidak percaya, kedua kakinya tiba-tiba gemetar dan bergerak maju tanpa disengaja.

Kemudian secepat kilat ia menangkap tangan kiri Han Liong dan membalikkan telapak tangan anak muda itu.

Ia membiarkan saja.

Terlihat di nadi Han Liong sebuah titik hitam.

Wanita itu memandang Han Liong pula dari kepala sampai ke kaki, kedua mataaya yang terbelalak lebar perlahan-lahan menjadi basah dan air mata menetes turun di sepanjang pipinya.

Kemudian ia mundur terhuyung-huyung, tapi kedua lengannya terbuka seakan-akan hendak memeluk.

"Han Liong... Han Liong... anakku...!!"

Ia mengharapkan puteranya itu maju menubruk dan memeluknya, tapi Han Liong diam saja, berdiri tegak laksana patung.

"Han Liong...!"

Nyonya tua itu merasa seluruh anggota tubuhnya lemah dan tangannya meraba-raba ke sandaran kursi mencari pegangan untuk menahan tubuhnya yang hendak roboh karena kepalanya tiba-tiba menjadi pusing.

Beberapa saat berlalu sunyi, hanya terdengar suara pernapasan wanita itu yang terengah-engah berat.

"Han Liong... kau datang mencari ibumu...?"

Tanyanya lemah.

"Bukan,"

Jawab pemuda itu tegas tanpa pikir lagi, sehingga ia sendiri menjadi heran akan kata-katanya karena mengapa sedang hatinya bagaikan hancur luluh melihat ibu kandungnya sendiri yang sudah lama dirindukannya, dengan seluruh hasratnya yang menggelora ingin memeluk kaki ibunya dan ingin pula menjatuhkan kepalanya di pangkuan ibunya, maka tiba-tiba mengeluarkan kata-kata ketus.

"Aku datang hendak mencari pembunuh ayahku. Ibu tentu sudah lupa ayahku orang she Si yang terbunuh oleh suami ibu yang sekarang ini. Tapi aku tidak lupa, dan aku ingin menuntut balas!"

Suaranya makin keras dan lantang, semua diucapkannya diluar kesadarannya.

Mendengar kata-kata yang bagaikan pisau tajam menusuk hatinya dan yang penuh pernyataan penyesalan dari anak kepada ibunya ini.

Yo Lu Hwa, wanita itu, mendekap dadanya dan menjerit ngeri, lalu roboh tak sadar diri!

Buyar seketika semua kekerasan hati Han Liong melihat ibunya pingsan.

Ia maju dengan lemah lembut diangkatnya tubuh ibunya ke atas pembaringan.

Yo Lu Hwa mulai sadar tapi masih merasa pening dan matanya memandang gelap, lalu dipeluknya leber anaknya dengan hati hancur.

Tapi Han Liong melepaskan pelukan ibunya karena pada saat itu ia mendengar suara langkah kaki memasuki kamar.

Ia hendak meloncat keluar, tapi ibunya memegang tangannya seakan-akan hendak menahannya, sehingga hal ini membuatnya terlambat untuk keluar dan pada saat itu pintu kamar terpentang lebar.

Orang yang memasuki kamar itu adalah seorang gadis muda yang tadi berbicara dengan ibunya, dan ketika ia melihat tegas, hampir saja ia berteriak karena heran.

Karena yang berdiri di depannya memegang sepasang pedang itu tiada lain ialah Lie Hong Ing sendiri, gadis gagah yang baru pagi tadi meninggalkan perahunya!

"Ibu...

ada apa, ibu?"

Kata gadis itu melihat ibunya dengan cemas. Ibunya yang terserang tekanan batin hebat itu hanya dapat menuding ke arah Han Liong sambil berkata lemah.

"Ia... ia..."

Lalu menangis tersedu-sedu, Hong Ing cepat menengok dan ketika ia melihat Han Liong, kedua alis matanya bergerak-gerak tercengang.

"Kau...?? Kau... datang ke sini mengganggu ibuku? Berani benar kaul"

Segera ia menusuk dengan pedang kanan ke arah leher Han Liong.

Pemuda itu kini maklum bahwa Hong Ing adalah anak ibunya dan Lie Ban!

Hebat rasanya kenyataan ini.

Hong Ing adalah anak musuh besarnya, tapi adalah adiknya sendiri, adik seibu.

Dan kini adiknya itu menyerangnya dengan tusukan maut!

"Hong Ing...

ia...

kakakmu...!"

Yo Lu Hwa masih sempat berbisik, tapi tak terdengar oleh Hong Ing yang sedang marah sekali. Tusukannya dapat dikelit Han Liong yang segera turut mundur keluar dengan cepat.

"Bangsat, jangan lari!!"

Teriak Hong Ing lalu menyusul.

Han Liong melompat ke atas genteng, disusul oleh nona itu.

Untuk sesaat Han Liong ingin berlari pergi karena ia segan melawan nona itu, tapi sifat jantannya melarang ia pergi sebelum ia membatas sakit hati ayahnya.

Maka ia berdiri menanti dengan tenang.

Ketika Hong Ing yang tertinggal karena kalah gesit itu tiba di hadapan Han Liong, gadis itu menahan serangannya dan bertanya dengan suara ketus.

"Tak kusangka kau adalah golongan orang jahat! Sekarang terangkan maksud kedatanganmu sebelum kupisahkan kepalamu dari tubuhmu!"

Man tak mau Han Liong memainkan senyum di bibirnya mendengar kecongkakan gadis itu.

"Kau hendak tahu maksud kedatanganku? Baiklah aku berterus terang. Kepadamu aku tak bermaksud apa-apa, maka baiknya panggil saja ayahmu keluar. Bukankah ayahmu adalah Lie Ban si Naga Tanduk Besi?"

"Ada urusan apa kau mau berjumpa dengan ayahku?"

Tanya Hong Ing.

"Ia adalah pembunuh ayahku dan aku datang hendak membalas dendam dan membunuhnya!"

"Bangsat kecil! Kau hendak membunuh ayahku? Bagus, besar sekali nyalimu. Tak perlu ayahku keluar untuk membereskan kau, cukup aku sendiri dengan sepasang pedangku ini!"

Terus ia menyerang kembali dengan hebat.

"Apa boleh buat! Kau sendiri yang mencari celaka!"

Kata Han Liong dan tiba-tiba Hong Ing merasa matanya kabur ketika pemuda itu berkelit menghindari serangannya sambil mencabut Pek liong pokiam yang bersinar putih melepak dan menyilaukan mata ketika ditimpa sinar bulan!

Tapi Hong Ing tidak takut, ia segera menyerang kembali dengan gerak tipu Dua Dewa Kecil Bermain-main.

Pedang kanannya diputar-putar seperti baling-baling lalu diarahkan ke leher lawan, sedangkan yang kiri langsung menusuk perut lawannya itu.

Han Liong kelit tusukan dan menangkis sabetan pada lehernya.

Trang!

dan tahu-tahu pedang kanan Hong Ing telah putus!

Hong Ing terkejut tapi tidak mau mengalah.

Pedang kiri segera pindah tangan, lalu ia menyerang pula dengan hebat.

Tapi kali ini ia berlaku hati-hati karena pedang lawan luar biasa tajamnya sehingga sebilah pedangnya sendiri yang terbuat dari baja tulen pun dengan mudah dipatahkan lawan.

Han Liong banyak mengalah dan berkelit ke sana sini mengandalkan kegesitan tubuhnya yang diwarisinya dari si Iblis Bumi.

Tiba-tiba dari bawah melayang keluar enam bayangan dengan sangat gesitnya dan terdengar suaranya berseru.

"Tangkap bangsat itu!"

Ternyata mereka ini adalah Lie Ban Naga Tanduk Besi sendiri, diikuti oleh adiknya Lie Kong.

Sepasang Macan Tutul she Beng, dan dua orang tua tamu Lie Ban yang dilihat oleh Han Liong tadi ketika keenam orang itu tengah duduk bercakap-cakap.

Melihat enam orang itu telah berada di depannya, Han Liong gunakan pokiamnya memapas pedang Hong Ing sehingga terdengar suara "Trang"

Untuk kedua kalinya dan gadis itu kehilangan pedangnya! Hong Ing menjadi marah sekali, tapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, Han Liong berteriak.

"Tunggu!!"

Sambil lompat mundur setindak lebih.

"Bangsat dari mana berani membikin kacau di sini?"

Teriak Lie Ban dengan marah.

"Yang mana di antara kalian yang bernama Lie Ban Naga Tanduk Besi?"

Tanya Han Liong.

"Aku sendirilah Lie Ban! Kau mau apa?"

Jawab si Naga Tanduk Besi.

Sepasang mata Han Liong menyinarkan penuh kebencian.

Ia gunakan ketika itu untuk memandang musuh besarnya dengan teliti.

Hm, jadi inikah pengrusak rumah tangga orang tuaku?

Inikah orangnya yang membunuh ayahku dan kemudian menawan ibuku serta memaksanya menjadi isterinya?

"Hm, tua bangka she Lie yang rendah budl!

Dengarlah baik-baik, aku adalah Si Han Liong!!

Ingatkah kau nama ini??"

Lie Ban terkejut.

"Han Liong?? Kau anakku! Ibumu selalu mengharapkan kedatanganmu."

"Siluman tua! Jangan sebut-sebut nama ibuku untuk meredakan sakit hatiku! Ayahku telah kau bunuh dan sekarang aku anaknya harus mengambil kepalamu untuk dipakai sembahyang di depan arwah ayahku!"

"Tapi... tapi..."

Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu Pek liong pokiam telah menyambar ke arah lehernya!

Namun Lie Ban bukanlah orang lemah.

Ia bekas panglima yang berkepandaian tinggi, maka dengan melompat ke samping ia dapat mcnghindarkan dirinya dari tusukan walaupun keringat dingin mengucur dari jidatnya karena sinar Pek-liong pokiam yang begitu lebat dan mendatangkan angin dingin!

"Jangan banyak tingkah!"

Berteriak Lie Kong lalu menyerang dengan toyanya dengan ilmu toyanya yang hebat sekali, yaitu Hok-houw-kun-hoat atau Ilmu toya Penakluk Harimau.

Toyanya yang berat itu dimainkan dengan cepat hingga anginnya bersuara.

Dengan sengit Han Liong mengayun pokiamnya.

Kembang api memancar ketika ujung toya itu terpotong karena tertebas Pek-liong-pokiam.

"Haya!"

Teriak Lie Kong dengan terkejut sekali.

Kawan-kawannya melihat kehebatan pokiam lawan, segera memegang senjata masing-masing dan maju mengeroyok!

Kedua saudara Beng dengan pedang di tangan memainkan ilmu Ji-pa-cu Siang-kiam-hoat atau ilmu Pedang Sepasang Dua Macan tutul yang bengis dan dulu dikagumi oleh Liok tee-sin-mo Hong In!

Sedangkan Lie Ban sendiri segera mencabut goloknya dan kedua tamunya, yang seorang bernama Ma Kui si jagoan dari Sinkiang dan Ban Cat-lin si orang Tua Dewa Arak, masing-masing bersenjata tombak dan pian baja, maju pula menyerang Han Liong.

"Bagus!"

Teriak Han Liong dengan gagahnya, lalu Pek-liong-pokiam diputar begitu hebat sehingga tiba-tiba tubuhnya lenyap dari pandangan mata semua lawannya.

Hanya cahaya pedang yang putih gemerlapan itu saja bergerak-gerak ke sana ke mari, sinarnya jauh dan panjang sampai tujuh kaki dan gerakan-gerakannya luar biasa sekali!

Baru berjalan belasan jurus saja, Lie Kong yang hanya bersenjatakan toya buntung itu berteriak lalu roboh mandi darah.

Ternyata pundaknya luka karena sabetan ujung pokiam lawan!

Permainan pedang dari Sepasang Macan Tutul memang hebat, karena pedang mereka juga pedang mustika yang tak mudah terputus oleh Pek-liong-pokiam, mereka memutar-mutar pedang dengan ilmu pedang pasangan hingga mereka merupakan hanya seorang yang memainkan empat pedang.

Gerakan mereka demikian teratur, hampir menyerupai gerakan kedua saudara Sepasang Garuda Sungai Lien ho yang dulu dikalahkan oleh Han Liong, tapi Sepasang Macan Tutul ini ilmu pedangnya jauh lebih tinggi dari dua saudara Kong yang dulu itu!

Sedangkan ilmu golok Lie Ban sendiri juga tak boleh dipandang ringan, apa lagi ilmu tombak dari Ma Kui dan pian baja dari Bun Cat-lin.

Sungguh kali ini Han Liong menghadapi lima orang lawan yang betul-betul berat dan tangguh.

Namun, tak percuma Han Liong diasuh bertahun-tahun oleh empat orang gurunya dan ditambah dengan pengetahuan yang luar biasa dari Kam Hong Siansu.

Gerakannya sangat lincah dan gesit berkat dari pimpinan si Iblis Daratan dan ilmu pedang yang ia mainkan tadi adalah Ilmu Pedang Empat Bintang!

Tiba-tiba dari bawah tampak dua bayangan melompat naik.

Mata Han Liong yang tajam segera dapat mengenali bahwa yang naik itu adalah Lie Hong Ing dan ibunya sendiri!

Hong Ing kini bersenjatakan sepasang pedang baru dan ibunya sendiripun membawa-bawa pedang!

Perih sekali rasa hati Han Liong melihat ibunya membawa pedang itu.

Apakah ibunya sendiri, ibu kandung yang dirindukan bertahun-tahun itu kini hendak ikut mengeroyok dan membunuhnya?

Hatinya sakit sekali dan perasaan ini membuat gerakan pedangnya agak lambat.

Tentu saja hal ini dapat dilihat nyata oleh semua pengeroyoknya yang terdiri dari jagoan-jagoan cabang atas yang segara menyerang lebih hebat lagi.

Han Liong melihat Hong Ing yang segera ikut menyerbu membuat ia sibuk menangkis.

Kini ia dikeroyok oleh enam orang dari segala jurusan.

Tapi ibunya hanya berdiri memegang pedang sambil tangannya bergerak-gerak seakan-akan berbicara dan memberi isyarat supaya ia pergi!

Hatinya menjadi sangat kecewa dan gerakannya tak keruan.

Pada suatu saat ujung pian baja dari Bun Cat-lin si Dewa Arak, tepat mengenai pundak kiri Han Liong.

Ia terhuyung-huyung ke belakang, tapi baiknya ilmu dalam dan tenaga tubuhnya sudah demikian kuat hingga pian itu yang bagi orang lain dapat memecah daging, meremukkan tulang, terhadapnya hanya mengakibatkan lecet saja.

Namun darahnya keluar juga membuat bajunya yang putih menjadi merah mengerikan.

Han Liong mendengar ibunya mengeluarkan seruan tertahan.

Ia menenangkan hatinya dan dengan memusatkan pikirannya, ia berkomat-kamit membaca doa kepada suhunya Kam Hong Siansu, minta ijin untuk menggunakan ilmu pedang Pek-liong Kiam-hoat.

Tiba-tiba saja enam orang pengeroyoknya itu hampir semua berseru kaget, karena tiba-tiba saja Pek liong-pokiam mengeluarkan suara bercuitan dan gerakan-gerakannya begitu hebat sehingga dalam beberapa kali serangan saja empat pedang dari Sepasang Macan Tutul terpelanting ke udara, masing-masing terlepas dari pegangan kedua saudara Beng itu!

Terpelantingnya pedang diikuti teriakan kedua orang itu yang roboh mandi darah, masing-masing tangan kirinya putus!

"Han Liong, tahan, nak!!"

Tiba-tiba terdengar jerit Yo Lu Hwa dengan sedih. Nyonya itu dengan nekad masuk ke lapangan pertempuran itu. Han Liong menahan pedangnya sambil memandang tajam.

"Ibu mau apa?"

Tanyanya ketus.

"Sudahilah pertumpahan darah ini, Liong."

"Tidak, ibu. Sebelum aku membunuh orang she Lie yang menjadi pembunuh ayahku ini, aku tidak mau berhenti. Biar aku mati di sini, tidak mengapa!"

Katanya gagah.

Sementara itu Lie Hong Ing berdiri bingung keheran-heranan ketika mendengar pemuda itu menyebut ibunya sendiri "ibu".

Belum pernah ibunya menceritakan bahwa ibunya mempunyai seorang anak lain!

"Han Liong, dengarlah.

Lie Ban tidak salah, akulah yang berdosa.

Dan kalau ada sebutan membalas sakit hati, maka sebenarnya aku sendirilah yang mempunyai kewajiban itu, bukan kau!

Tiba-tiba saja nyonya itu menggerakkan pedangnya secepat kilat.

Karena ia juga serang ahli silat yang tidak lemah dan Lie Ban ketika itu sedang berdiri bingung, maka serangan tiba-tiba ini sama sekali tidak disangkanya dan tahu-tabu pedang isterinya sendiri sudah bersarang dalam dadanya!

"Ayah!!"

Hong Ing berteriak ngeri dan menubruk ayahnya. Pada saat itu Yo Lu Hwa berseru.

"Ampuni aku, suamiku!"

Dan tiba-tiba pedangnya sendiri menancap ke dadanya dan iapun roboh mandi darah di samping suaminya! "Ibu!!"

Han Liong berteriak keras dan pilu lalu menubruk ibunya.

Ma Kui dan Bun Cat-lin yang hanya menjadi tamu dan sebenarnya tidak ada sangkut-paut dengan urusan itu, hanya berdiri saling pandang.

Mereka adalah orang-orang ternama, dan baru saja mereka telah menyaksikan sendiri kehebatan kepandaian silat Han Liong yang ternyata dan jelas sekali berkepandaian jauh lebih tinggi dari merela, maka sebagai seorang panjang pikiran, mereka tidak melanjutkan ikut campur dalam hal ini, hanya menghela nafas dan menggeleng-geleng kepala.

Hong Ing ketika mendengar teriakan Han Liong dan melihat ibunya rebah mandi darah dengan kepala di pangkuan pemuda itu, menjerit ngeri sambil menubruk ibunya.

Mulutnya hanya dapat menangis dan berbisik sambil menyebut-nyebut dengan penuh kepiluan.

"Ayah... ibu... ayah... ibu...!"

Tangsnya makin sedih dan akhirnya iapun jatuh pingsan.

Kedua orang tua she Ma dan Bun segera menolong gadis itu, dan segera Ma Kui memijit pundak gadis itu, dan dalam beberapa detik saja ia siuman kembali dan...

menangis tersedu-sedu.

Yo Lu Hwa membuka matanya dan tersenyum ketika melihat Han Liong memangku kepalanya.

"Han Liong... alangkah...alangkah rinduku padamu, nak... sudah besar dan gagah... seperti ayahmu..."

Lalu matanya mengerling ke arah Hong Ing yang menangis sambil memegang tangannya.

"Hong Ing... kasihan kau, nak... kau terbawa-bawa... menanggung derita karena dosa ibu..."

"Liong... kau... kau keliru nak... tidak ada yang beraslah dalam hal ini... hanya akulah yang yang berdosa... tetapi aku terpaksa, Liong... Lie Ban benar membunuh ayahmu... tapi... ingat, hal itu terjadi dalam perang..."

Sampai di sini napasnya sangat memburu, maka Han Liong segera mengambil sebuah pil obat pemberian gurunya, Pauw Kim Kong.

Ia memasukkan pil itu ke dalam mulut ibunya, yang segera ditelan oleh ibunya yang maklum akan maksud anaknya, setelah menelan pil penahan sakit itu Yo Lu Hwa tampak lebih tenang.

Ia melanjutkan kata-katanya lagi dengan lebih nyata.

"Pembunuhan dalam perang bukan pembunuhan biasa lagi namanya, Liong. Salahnya ialah bahwa ia mengambil aku sebagai isteri, tapi ini juga karena ia sungguh-sungguh... cinta padaku, Liong. Dan aku... aku terpaksa menjalani karena untuk menjaga... menjaga kau, Liong. Ayahmu serang patriot sejati dan orang baik, Lie Ban hanya bersalah karena ia cinta padaku, dan... dan aku... aku seorang wanita yang berdosa, Liong. Ampuni ibumu, nak,..."

Han Liong tak dapat menahan keharuan hatinya. Ia memeluk ibunya.

"Ibu... ibu... bertahun-tahun anakmu ini merindukan pangkuanmu... Hatiku selalu hancur dan iri hati bila melihat semua binatang di hutan mempunyai ayah ibu, tetapi aku sendiri tidak... Aku rindu kepada ibu, tapi sekarang,... sekarang, karena akulah maka ibu membunuh diri..."

"Tidak, Liong. Memang sejak dulu aku ingin menyusul ayahmu. Sekarang Lie Ban juga telah mati dalam tanganku. Aku puas nak, biarlah kami bertiga di alam baka membuat perhitungan masing-masing. Hanya..."

Ia memandang Hong Ing yang masih menangis.

"...pesanku, Liong... adikmu ini... Hong Ing... ia yatim piatu... terserah padamu, Liong... Ing... selamat tinggal..."

Nyonya yang banyak mengalami kesengsaraan batin ini menghembuskan napas yang terakhir dalam pelukan kedua anaknya!

Dalam beberapa hari Han Liong membantu mengurus pemakaman kedua jenazah ibu dan ayah tirinya.

Hatinya sangat sedih setelah melihat kenyataan yang sudah terlambat.

Ia benci akan sifat balas membalas ini yang sebenarnya tidak perlu, karena hanya menurutkan dengan nafsu saja.

Dan Kam Hong Siansu dulu pernah berkata, bahwa segala nafsu itu selalu membuat orang menjadi buta akan segala kebenaran dan membuat orang kehilangan pertimbangan serta keadilan.

Kedua orang tua Ma Kui din Bun Cat-lin itu kembali ke kampung mssing-masing setelah membantu mengurus jenazah Lie Ban dan isterinya.

Selama itu Hong Ing tak berani memandang muka Han Liong, dan tidak berbicara sepatahpun kepada pemuda itu, Han Liong mendapat perasaan bahwa adiknya itu benci padanya, tapi ia tidak menyalahkannya karena bukankah karenanya, maka gadis itu kehilangan ayah bundanya?

Bukankah ia yang merusak penghidupan gadis itu, tadinya bahagia di bawah lindungan orang tua, kini tiba-tiba menjadi yatim piatu?

Ia sendiri juga yatim piatu, tapi ia adalah serang laki-laki, tapi Hong Ing hanyalah seorang wanita.

Apakah seorang gadis dapat berbuat sesuatu setelah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya?

Setelah kedua jenazah orang tuanya dimakamkan, Hong Ing setelah menyapu air matanya, tiba-tiba Han Liong mendatanginya lalu berkata perlahan.

"...Adikku... aku... aku merasa sangat berdosa dan kasihan padamu..."

Baru ia berkata sampai di sini. Hong Ing menangis lagi, entah dari mana datangnya air mata yang seolah-olah tidak mau kering itu. Han Liong menghela nafas.

"Ing... Ing-moi, aku tak dapat terus tinggal di sini, aku tak berumah tak berfamili yang lain, aku seorang kelana, maka sekarang aku harus pergi dari sini."

Baru sekarang Hong Ing mengangkat mukanya dan memandang kakaknya. Pandangan matanya berbeda dari dulu, kini hilanglah pandangan yang menyatakan penyesalan dan kebencian, (Lanjut ke

Jilid 04) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Koko... kau... kau tidak berdosa padaku. Kau hanya menjalankan kewajiban. Dan lagi... bukan pula kau yang membunuh ayahku. Kalau kau yang membunuh mereka, pasti aku akan benci padamu dan akan mengadu jiwa dengan kau. Tapi...kau kini adalah kakakku, keluarga satu-satunya di dunia ini..."

Kembali Hong Ing terisak-isak. Kemudian ia bertanya kembali.

"Kau... hendak pergi kemana, koko?"

"Kemana saja kakiku membawaku, adikku."

Hong Ing mengangkat muka memandangnya dari balik air mata.

"Kalau kau pergi, habis aku bagaimana, koko??"

Pertanyaan yang diucapkan seperti seorang anak kecil yang tak berdaya ini menusuk perasaan Han Liong.

Ia memandang Hong Ing dengan terharu dan dari kedua matanya perlahan-lahan bertitik dua butir air mata.

Kedua-duanya merasa betapa mereka hanya hidup berdua, kakak beradik, yatim piatu.

"Koko..."

"Moi-moi..."

Dan keduanya saling menubruk dan saling berpelukan seperti lakunya dua anak kecil saja sambil mengalirkan air mata. Setelah agak reda perasaan mereka, Han Liong berkata.

"Sudahlah, dik. Tak perlu kita bersedih terus menerus, tiada gunanya. Kau jangan khawatir, pesan ibu masih berkumandang di telingaku. Kalau kau tidak keberatan, marilah ikut aku, adikku. Mari kita merantau berkelana, kita nikmati dunia yang lebar ini bersama-sama."

Adiknya bernapas lega. Sekali lagi Hong Ing mendekap dan memeluk kakaknya dan berkata.

"Koko."

"Tapi karena kau seorang wanita, baiknya kau berpakaian laki-laki dan menyamar sebagai laki-laki saja, moi-moi, agar tidak mendatangkan prasangka orang."

Timbul kegembirari hati Hong Ing.

"Pantaskah aku menjadi laki-laki?"

Wajahnya agak berseri sehingga mau tidak mau Han Liong tersenyum.

"Kau akan menjadi seorang pemuda cakap sekali,"

Katanya.

"Lebih cakap dari kau berpakaian wanita."

"Tentu saja. Lihat saja nanti."

Dan mereka berdua tersenyum gembira seolah-olah tidak terjadi peristiwa sedih atas diri mereka.

Setelah beres semua harta yang akan ditinggalkan dalam pengawasan Lie Kong, yang kini sudah agak mulai sembuh dari lukanya atas rawatan Han Liong dan seorang tabib yang diundang, maka Han Liong dan Hong Ing mulai berkemas.

Tidak lupa mereka memberitahukan kepada kedua saudara Beng yang juga sedang dalam rawatan karena luka di tangan mereka di rumah itu.

Han Liong minta maaf yang diterima dengan hati terbuka oleh kedua Macan Tutul itu.

Kedua saudara Beng inipun mendapat bagian harta yang diberikan oleh Hong Ing sebagai pembalas budi.

Kemudian Hong Ing menyamar sebagai seorang kongcu, menurut anjuran dan nasehat Han Liong.

Mereka berkemas sambil bersendau gurau, kemudian dengan menggunakan dua ekor kuda yang dibeli Hong Ing dengan harga mahal, dan berbekalkan pakaian serta uang dalam bungkusan, kedua kakak beradik ini berangkat dan memulai pengembaraan mereka untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.

Pada masa itu keadaan di Tingkok sungguh buruk sekali.

Kaisar yang bertahta dan para menterinya yang memegang tampak kerajaan ternyata lalim dan hanya ingat kepentingan serta kemewahan diri sendiri saja.

Kalau sebatang pohon sakit, maka cabang-cabang dan rantingnya juga tidak sehat dan daun-daunnya juga pada mati, demikian kata pepatah kuno.

Pepatah ini menjadi sindiran, bahwa kalau rajanya lalim dan pembesqr-pembesar tinggi berlaku curang dan korup, maka pembesar-pembesar kecilpun juga tidak jujur dan rakyat kecilpun tentu hidup tertekan dan menderita sengsara.

Di kota-kota siapa berpangkat dapat hidup senang karena dengan mengandalkan hartanya dapat menyogok para pembesar itu dan hidup aman.

Sebaliknya rakyat kecil yang miskin dan tidak mampu menggunakan uang untuk menyuap pembesar, hanya dapat menghela napas saja melihat ketidak-adilan yang ditekankan kepada mereka.

Pajak diadakan semaunya dan undang-undang negeri seakan-akan dibuat sendiri oleh tiap pembesar setempat yang berwewenang.

Lebih-lebih di kampung dan desa, keaadaannya lebih buruk lagi.

Orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah merupakan lintah-lintah darat yang sangat berpengaruh.

Mereka ini dapat berbuat sesuka hatinya terhadap petani miskin.

Mau menjadikan anak gadis orang untuk isteri muda, tinggal rampas saja.

Mau memfitnah orang kecil, tinggal berkejap mata saja kepada pembesar yang berkuasa di situ.

Bahkan orang-orang kaya itu hampir semua mempunyai barisan penjaga atau tukang pukul sendiri, mempunyai peraturan-peraturan sendiri untuk melindungi tanah mereka!

Pendeknya, bagi telinga seorang yang berjiwa patriot, ia tentu memperhatikan jerit-tangis dan keluh-kesah dari rakyat yang memuncak tinggi, tapi mereka atau orang-orang yangs berjiwa patriot itu tak berdaya sama sekali, karena penindasan dan hukum rimba itu yang berantai, dari pembesar terkecil terus sampai ke menteri bahkan sampai ke kaisar sendiri!

Siapa berani menentang pembesar kecil maka ia akan berhadapan dengan pembesar tinggi dan pasti akan menemui kehancuran.

Karenanya, jerit-tangis rakyat pada waktu itu seakan-akan keluh kesah seorang kehausan di tengah padang pasir, tiada yang mendengar, tiada yang perduli!

Karena itu, banyak rakyat kecil yang karena menderita menjadi putus asa, sering mengeluh dan berkata, bahwa tuhan pada waktu itu melupakan manusia ciptaannya yang tengah menderita kesengsaraan!

Han Liong yang baru saja turun gunung, melihat keadaan itu Han Liong menjadi marah sekali.

Di setiap tempat, bila menjumpai keadaan yang tidak adil, Han Liong pasti tidak tinggal diam berpeluk tangan.

Hong Ing ternyata mewarisi sifat ibunya dan berjiwa patriot pula.

Ia secara diam-diam sering menyesalkan perbuatan ayahnya yang telah menjual tenaga kepada pemerintah Ceng-tiauw, satu pemerintahan yang bagi para pahlawan bangsa dianggap pemerintah yang menjajah.

Sebaliknya ia memuji sekali ayah Han Liong dan ia iri hati kepada kakaknya itu.

Maka, untuk membalas dan menebus dosa ayahnya, ia mencurahkan semua tenaganya untuk menolong rakyat yang tertindas oleh pembesar-pembesar penjilat pemerintah asing itu.

Banyak sudah pembesar-pembesar yang mereka beri hajaran, bahkan ada beberapa pembesar yang mereka anggap terlampau jahat telah tewas dalam tangan mereka.

Entah berapa banyak harta benda orang-orang hartawan mereka angkut dan bagi-bagikan kepada rakyat miskin.

Baru saja beberapa bulan mereka berkelana, nama mereka menjadi harum dan terkenal sekali, bahkan orang-orang di kalangan kang-ouw menyebut mereka sebagai Thian-jiauw-siang-hiap atau Sepasang Pendekar Garuda Angkasa!

Julukan ini diberikan kepada mereka berdua karena gerakan mereka yang datang menolong tak tersangka-sangka.

Dan mereka sangat gesit tak ubahnya seperti sepasang garuda menyambar dari angkasa.

Mereka disebut siang-hiap karena dalam setiap operasi, mereka selalu berpasangan.

Han Liong yang selalu berpakaian warna putih, disebut orang Pek i-hiap dan Hong Ing yang suka baju warna merah, disebut orang Ang-i-hiap yang artinya bagi Han Liong si Pendekar Btju Putih dan bagi Hong Ing si Pendekar Baju Merah!

Tiada seorangpun tahu bahwa Hong Ing adalah seorang wanita.

Pernah Han Liong bertanya kepada adiknya tentang pelajaran silatnya dan siapa gurunya.

Sebelum menjawab, Hong Ing terlebih dulu minta diceritakan riwayat pelajaran silat Han Liong kepadanya.

Ia mengalah dan bercerita lebih dulu.

Hong Ing mendengarnya dengan penuh minat dan minta supaya kakaknya itu berjanji akan mengajarnya untuk menambah ilmu silatnya yang sudah ada.

Kemudian gadis itu minta diperlihatkan macamnya Pek liong pokiam yang dulu telah ia rasakan sendiri ketajamannya yang luar biasa itu.

Setelah itu, barulah Hong Ing bercerita tentang dirinya sendiri.

Ternyata Hong Ing mendapat latihan silat pertama-tama dari ayahnya sendiri, kemudian oleh ayahnya ia dikirim ke Bok sin-tang untuk berguru kepada seorang Nikouw atau pendeta Wanita bernama Seng Bouw Nikouw yang sebenarnya bibi gura dari Lie Ban.

Dari pendeta perempuan inilah Hong Ing menerima pelajaran silat yang tinggi sehingga kepandaiannya kini boleh dikatakan setingkat dengan ayahnya sendiri, atau boleh dikata lebih tinggi, terutama dalam permainan siang kiamnya yang luar biasa.

Selama lima tahun ia belajar silat dengan nikouw itu.

Demikianlah, kedua kakak beradik itu melanjutkan perjalanan dengan penuh kegembiraan.

Hong Ing telah lupa sama sekali akan kesedihannya, dan Han Liong juga merasa bahagia.

Sikap adiknya yang manja, nakal, suka menggoda, tapi penuh kejujuran dan keberanian itu membuat ia merasa senang sekali dan lama kelamaan pertalian darah mereka makin erat dan saling kasih mengasihi.

Hong Ing pada waktu itu telah barusia enam kelas tahun dan Han Liong delapan belas.

Pada satu hari Han Liong dan Hong Ing berkuda sepanjang jalan yang menuju ke kota Tong Hai.

Pagi-pagi keduanya berkuda memasuki hutan pohon Liu yang menahan sinar matahari pagi sehingga sinar sang surya merupakan garis-garis kuning bersinar menyorot dari celah-celah daun pohon Liu merupakan pemandangan yang indah sekali.

Mereka menjalankan kuda berendeng dan sambil naik kuda yang berjalan perlahan-lahan, mereka menikmati hawa hutan yang sejuk itu, mereka bicara dengan riang gembira.

"Koko, alangkah indahnya sinar matahari itu,"

Kata Hong Ing sambil mendongak ke atas.

"Sungguh senang berada di luar, bebas lepas menyaingi burung-burung di udara. Aah, inilah hidup dan bahagia!"

"Adik Ing,"

Jawab Han Liong yang sudah biasa menyebut adik saja atau "siauwte"

Artinya adik laki-laki, karena ia harus membiasakan sebutan ini di muka umum agar melengkapi penyamaran Hong Ing sebagai pria.

"Betapapun juga, segala sesuatu itu selalu harus mengalami perubahan. Kita tidak mungkin selamanya begini sampai..."

Di sini Han Liong menghela napas.

"Mengapa tidak, kakakku yang baik? Apa kau ada pikiran hendak meninggalkan aku?"

Tanya Hong Ing.

"Sekali-kali tidak. Tapi pada suatu waktu, kaulah sendiri rasanya yang akan meninggalkan aku, bahkan akan melupakan kakakmu ini."

"Eh, eh! Tiada hujan tiada angin kau bicara tidak keruan juntrungannya, koko. Siapa mau tinggal meninggalkan? Aneh benar bicaramu pagi ini. Dan kau kelihatan sangat muram seperti anak kecil tidak kebagian kue! Sungguh tidak sesuai dengan indahnya cuaca. Mengapakah, koko?"

Han Liong memaksa tersenyum.

"Ah, tidak apa-apa, adik Ing."

Hong Ing tiba-tiba menahan kudanya dan tidak mau maju. Han Liong menoleh kepadanya dan berkata.

"Ayoh jalankan kudamu."

Tapi Hong Ing diam saja bahkan menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut cemberut.

"Eh, eh. Ada apa, adik Ing?"

"Katakan dulu kenapa kau bermuram durja, baru aku mau maju lagi,"

Kata Hong Ing dengan manja. Han Liong tertawa dan memajukan kudanya menghampiri.

"Jangan marah, adikku yang manis!"

Tapi Hong Ing masih saja menggeleng-gelengkan kepala dan pundaknya.

"Ah, adik Ing, kalau kau sudah begini maka tidak pantas menjadi pemuda, lagakmu seperti seorang gadis benar-benar!"

Hong Ing mengangkat cambuk kudanya hendak memukul kakaknya yang segera melarikan kudanya dan lalu dikejar oleh Hong Ing. Mereka segera saling kejar berputar-putaran di bawah pohon-pohon Liu.

"Sudah, sudah, adikku. Aku menyerah. Lihat kudaku sampai mengepulkan uap diri mulutnya karena lelah."

"Biar! Kau jawab pertanyaanku atau kupukul dengan cambuk ini."

Hong Ing mengancam.

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar bunyi kaki kuda berlari cepat.

Dari sebuah tikungan tampak datang dua orang menunggang kuda yang dilarikan sangat kencang.

Karena jalan itu kecil dan tidak cukup lebar untuk tiga atau empat kuda jalan berendeng, maka dari jauh mereka sudah berteriak-teriak.

"Minggir! Minggir!!"

Han Liong segera meminggirkan kudanya di bawah pohon Liu.

Tapi Hong Ing yang beradat keras dan pula sedang kesal kepada kakaknya, membiarkan kdanya melintang jalan dan memaksa kedua penunggang kuda itu harus berhenti!

Kedua penunggang kuda itu segera menahan kuda mereka dengan cepat, kalau tidak mereka pasti akan berlanggar dengan kuda Hong Ing.

Ternyata kedua-duanya adalah perempuan-perempuan muda yang cantik dan di pinggang mereka tergantung pedang.

"Eh, kurang ajar! Apa maksudmu sengaja menghalang-halangi jalan kami?"

Seorang dari mereka yang lebih muda memaki. Hong Ing membalas makian ita dengan mata mendelik.

"Tuan, harap beri jalan kepada kami, karena kami ada urusan penting dan tergesa-gesa,"

Kata yang seorang lagi.

"Hm, ini baru kata-kata sopan,"

Jawab Hong Ing.

"Dari manakah datangnya orang yang seakan-akan merasa diri menjadi raja dan menganggap jalan ini seperti jalannya sendiri?"

Ia tujukan kata-katanya ini kepada gadis muda itu.

"Apa kau kira semua orang takut akan gertakanmu?"

"Sudah, jangan banyak cakap, awas jangan membuat aku menjadi hilang sabar!"

Gadis muda itu berkata pula dengan marah.

"Pendeknya, lekas kau minggir!"

"Kalau aku tidak mau minggir, kau mau apa, nona galak?"

Kata Hong Ing dengan aksinya yang menimbulkan kemarahan orang.

Bangsat kecil tak tahu diri!

Tahukan kamu bahwa kamu berhadapan dengan siapa?

Kami Shoatang Ji-Lihiap (Dua Pendekar Wanita dari Shoatang) enci dan aku tidak biasa menerima penghinaan dari siapapun saja, mengerti?"

Teriak gadis yang muda itu marah. Encinya yang agaknya lebih sabar menarik lengan adiknya, tapi tak diperdulikan oleh adiknya. Hong Ing mengeluarkan suara sumbang.

"Hm! Siapa perduli apakah kalian pendekar-pendekar dari Shoatang ataukah dari Neraka? Aku tidak kenal nama itu!"

Mendengar ini, perempuan yang lebih tua merasa tak senang juga.

Bukankah mereka berdua telah terkenal di kalangan kang-ouw?

Mengapa pemuda kecil ini berani menghina?

"Tuan, jangn mencari perkara.

Minggirlah dan kami akan lewat dengan baik-baik.

Kami tidak ada waktu melayani segala orang seperti tuan!"

"Kami berdua juga mau pergi mau ke depan. Kalian boleh menjalankan kuda di belakang kami."

Sementara itu Han Liong sudah menghampiri mereka.

"Bangsat kecil ingin celaka!"

Gadis yang termuda itu memaki sambil mencabut pedang dari pinggangnya. Hong Ing hanya tertawa menyindir dan mencabut pedangnya pula.

"Adik Ing sabar dulu,"

Kata Han Liong untuk mencegah adiknya. Tetapi Hong Ing yang sedang jengkel kepadanya mana mau menurut perintahnya. Ia bahkan mengerling kepada Han Liong dengan marah dan berkata.

"Kalau kau mau membela perempuan-perempuan cantik ini, silakan. Boleh aku dikeroyok tiga!!"

Tantangnya dengan mata merah karena marah.

"Siapa mau mengeroyok, laki-laki tak tahu malu!"

Gadis muda itu berteriak marah.

"Aku sendiri sudah cukup untuk mengirim jiwamu ke akhirat."

Sehabis berkata begini gadis itu majukan kudanya dan memberi sebuah tusukan berbahaya.

Hong Ing menangkis dengan pedangnya yang kiri, lalu dengan pedang kanan balas menusuk.

Mereka berdua bertempur di atas kuda, dan karena kuda mereka tidak biasa dipakai bertempur, maka kuda mereka melompat-lompat ketakutan sehingga mereka tidak dapat bersilat dengan leluasa.

Hong Ing mendahului lawannya melompat turun dan menantang.

"Turunlah kalau kau benar-benar perempuan gagah!"

Lawannya segera melompat turun juga dan mereka meneruskan pertempuran di atas tanah!

Ternyata tenaga dan kegesitan mereka berimbang, tapi karena Hong Ing menggunakan dua pedang dan ilmu pedangnya warisan dari Seng Bouw Nikouw memang lihai sekali, maka setelah mereka bertempur dua puluh jurus, gadis muda itu mulai terdesak.

Encinya tidak tega melihat adiknya kewalahan, maka ia segera terjun ke tengah pertempuran itu.

Ternyata gerakannya sangat kuat dan gesit sehingga benturan-benturan pedangnya dirasakan oleh Hong Ing sangat kuat dan membuat telapak tangannya panas.

Ia mengharapkan bantuan Han Liong, tapi ternyata pemuda itu hanya turun dari kuda dan berdiri melihat jalannya pertempuran!

Hong Ing lama-lama terdesak juga dan repot melayani dua lawannya yang ternyata berkepandaian tinggi, lebih-lebih yang lebih tua, pedangnya berputar-putar kuat dan ia pandai sekali.

Karena gemas, maka sambil bertempur Hong Ing berteriak ke arah Han Liong.

"He, kenapa kau diam saja? Ayohlah bantu mereka ini, agar sekalian dapat kulayani!!"

Han Liong tersenyum geli.

Ia memang sengaja membiarkan adiknya agar ia merasa bahwa ada juga orang yang lebih pandai darinya, juga ia melihat bahwa biarpun terdesak, namun siang kiam-hoat dari adiknya itu cukup ulet untuk dikalahkan begitu saja dalam waktu pendek.

Selain itu, ia sesungguhnya sangat tertarik oleh gerakan-gerakan kedua nona itu.

Kini setelah nendengar teriakan Hong Ing, ia segera meloncat ke tengah-tengah pertempuran dan menggunakan kedua tangannya bergerak-gerak di antara sinar pedang, lalu secepat kilat menahan dua tangan yang memegang pedang dari kedua lawan itu.

Kedua nona dari Shoatang itu merasa tangan mereka tergetar dan alangkah terkejut mereka ketika diketahuinya pedang mereka telah pindah ke tangan pemuda itu di kanan kiri!

Haa Liong memandang kedua nona itu dengan tajam dan bertanya dengan suara sungguh-sungguh.

"Adakah pertalian kalian dengan Lie Kiam si Angin Ribut?"

Gadis yang lebih muda itu menjawab sengit.

"Apa perlunya kau tanya-tanya tentang supek kami?"

"Aha! Kalau begitu kalian adalah murid Bhok Kiam Eng si Garuda Putih? Hm, bagus, kalau aku ceritakan kepadanya akan kelakuanmu hari ini, kalian pasti akan kena marah!"

"He, siapakah kau? Dan apa maksudmu berkata begitu?"

Tanya gadis yang lebih tua.

"Lupakah kau akan ajaran suhumu? Bukankah suhumu sudah pesankan, bahwa kalian tidak boleh mencari-cari musuh jika tidak diserang orang? Mengapa kalian begitu berani dan sembarangan turun tangan karena urusan kecil saja, bahkan mau membunuh orang?"

"Terangkan dulu siapa kau, sebelum memberi nasehat kepada kami,"

Kembali gadis yang lebih muda berkata dengan suara pedas.

"Ketahuilah, nona-nona, gurumu itu adalah suhengku, jadi kalian harus menyebutku paman guru!"

Kedua gadis itu saling pandang dengan heran, kemudian gadis yang muda dan berani itu maju setindak dan memaki.

"Orang tak tahu adat! Sembarangan saja kau mengaku-aku guru kami sebagai suhengmu! Kami belum pernah mendengar bahwa suhu mempunyai adik seperguruan semuda kau! Pula, selain suhu dan Lie Kiam supek, sukong Liok-tee-sin-mo Hong In tidak mempunyai murid lagi. Jangan kau berani membohong!"

Han Liong tersenyum. Ia tidak heran bahwa kedua murid suhengnya ini belum mengenalnya. Maka dengan masih tersenyum ia berkata.

"Hm, kalian tidak percaya? Ternyata selain berkepala batu, kalian juga kurang rajin mempelajari ilmu silatmu. Gerakanmu ketika menyerang dengan tipu Garuda Menyambar dari Pohon tadi kurang baik, seharusnya kau bertindak maju dengan berdiri di atas ujung kaki, karena bukankah gerakan itu mengutamakan keringanan tubuh dan kegesitan? Juga encimu tadi ketika menangkis dengan tipu Angin Barat Meniup Daun masih kurang sempurna, seharusnya kaki kiri ditekuk sedikit ke dalam agar mudah untuk diganti gerakan selanjutnya ialah tipu Angin Ribut Mengamuk untuk membalas menyerang!"

Mendengar pemuda itu menerangkan semua tipu-tipu silat warisan mereka itu, kedua nona tadi agak heran.

Han Liong melihat bahwa mereka masih saja kurang percaya, maka ia segera melemparkan dua pedang ke atas lalu menyambut meluncurnya pedang itu dengan memegang ujungnya.

Kemudian ia menyerahkan pedang itu kembali kepada pemiliknya sambil berkata.

"Nah, kalau kalian masih tidak percaya, cobalah serang aku serentak. Aku akan menggunakan kegesitan tubuh menurut tipu-tipu ajaran gurumu untuk berkelit."

Karena masih belum percaya dan penasaran karena pedang mereka tadi dirampas, Shoatang Ji-Lihiap maju bersama melakukan serangan!

"Bagus tipu Ular Melintas Sungai dan Harimau Menyabet Dengan Ekornya ini!"

Han Liong berseru menyebut tipu-tipu mereka, lalu ia menggerakkan tubuhnya.

Kedua nona itu melihat tubuh pemuda itu berkelebat di antara sambaran pedang mereka dan tahu-tahu pemuda itu lenyap dari penglihatan mereka.

Mereka membalikkan tubuh dan ternyata Han Liong sudah berdiri di situ sambil tersenyum!

"Kenalkah kalian gerakanku tadi?

Itu adalah lompatan Naga Sakti Mengejar Mustika, tentu kalian kenal, bukan?

Nah, ayoh, jangan tertegun seranglah lagi!"

Kedua kakak beradik itu menyerang dengan lebih hebat, tapi Han Liong dapat berkelit menggunakan kegesitan tubuhnya, sambil berkelit ia sebut tiap tipu kedua nona itu dan sekalian memperkenalkan gerakannya sendiri.

Setelah kedua nona itu menyerang sepuluh jurus, maka heranlah mereka.

Pemuda itu ternyata dapat menyebut tipu-tipu mereka dengan tepat dan gerakannya ketika berkelitpun adalah gerakan tipu silat guru mereka, namun ternyata pemuda itu jauh lebih gesit dan ringan badannya daripada guru mereka sendiri!

Si enci dengan segera menjatuhkan diri berlutut.

"Susiok, ampunkanlah teecu yang berlaku kurang hormat karena tidak tahu."

Si adik yang ternyata sifatnya memang angker dan keras, setelah berdiri ragu-ragu dan setelah encinya membelalakkan matanya, akhirnya ia berlutut juga dan menyebut.

"Susiok!"

Han Liong tertawa dan menyuruh mereka bangun.

"Tidak apa, nona berdua bukannya sengaja melawan paman guru. Memang kalau tidak bertempur kita tidak akan berkenalan. Hanya pesanku, janganlah terlalu mudah mencari perselisihan dengan orang, karena hal itu hanya akan menimbulkan keributan yang tak perlu saja."

Kemudian Han Liong memperkenalkan Hong Ing dengan kedua nona itu, yang ternyata bernama Bwee Lan dan Bwee Hwa.

"Kailan begitu tersesa-gesa, sebenarnya ada urusan apakah?"

Kemudian Han Liong bertanya. Bwee Lan berkata dengan sedih.

"Susiok, sebenarnya karena kami sedang menghadapi urusan hebat, maka berlaku sembrono dan adikku karena bingung dan sedih menjadi mudah naik darah. Teecu berdua sedang menuju ke kota Tong Hai mencari suhu untuk memohon pertolongannya."

"Ada apakah?"

Tanya Han Liong penuh perhatian.

"Celaka, susiok. Supek Lie Kiam telah dilukai orang dan puteranya yang baru berusia lima tahun diculik penjahat. Sampai di sini ia menangis, kemudian setelah reda lagi tangisnya, Bwee Lan menyambung ceritanya.

"Penjahat yang menculik itu memberi waktu sampai malam hari ini, jika tidak ada orang datang membawa uang tebusan lima ribu tali perak, maka anak supek itu akan dibunuh!"

"Berapa jauhkah tempat kediaman penculik itu?"

Tanya Han Liong.

"Ia berdiam di bukit Lui-san, kira-kira perjalanan setengah hari dari sini bila naik kuda cepat. Teecu khawatir terlambat."

"Hm, kalau begitu, biarlah aku mewakili suhumu dan mari kita segera berangkat saja menuju ke Lui san."

"Tapi... susiok,"

Kata Bwee Hwa yang sejak tadi diam saja.

"Penculik itu adalah Ban Hok si Harimau Hitam. Ilmunya sangat tinggi, sedangkan supek sendiri terluka olehnya dalam pertempuran!"

Dengan kata lain, Bwee Hwa sebenarnya merasa sangsi apakah susioknya yang muda itu akan dapat melawan Ban Hok.

"Dan lagi, uang tebusannya sangat banyak..."

"Jadi kalian ini pergi mencari Bhok suheng untuk minta diusahakan uang tebusan?"

Kedua nona itu mengangguk.

"Apakah Bhok suheng itu orang kaya dan banyak uang?"

Dua murid keponakannya iu menggeleng-geleng kepala.

"Habis, darimana suhu kalian bisa memperoleh uang itu?"

Tanya Han Liong pula.

"Maksud teecu hanya minta nasehat dan pikiran suhu, karena siapa lagi yang harus kami tangisi dan siapa lagi dapat menolong supek dan puteranya,"

Jawab Bwee Lan.

"Nah. kalau begitu sama saja halnya. Suhumu tidak punya uang, sedangkan aku sendiri, terus terang saja juga tidak punya uang sedemikian banyak. Tapi mungkin dapat kuusahakan untuk menolong putera suheng Lie Kiam itu. Dan, kalau kita harus mencari Bhok suheng dulu, dikhawatirkan kita akan terlambat untuk menolong jiwa anak itu."

Bwee Lan dan adiknya tak dapat membantah legi, maka mereka segera berangkat membalapkan kudanya.

Di sepanjang jalan, ternyata Bwee Hwa yang nakal dan suka bicara itu cepat sekali dapat menjadi akrab dengan Hong Ing yang tidak kalah cerewetnya!

Kedua enci adik itu sedikitpun tidak menyangka bahwa Hong Ing adalah seorang wanita, karena Han Liong memperkenalkannya sebagai adiknya laki-laki!

Tapi diam-diam Bwee Lan agak jemu melihat Hong Ing yang dianggapnya seperti lelaki ceriwis!

Ia juga menyesalkan mengapa Bwee Hwa demikian rapat merendengkan kudanya sambil bicara dengan gembira dan diselingi senda gurau!

Sebaliknya, melihat susioknya, ia merasa segan karena pemuda itu terlampau pendiam.

Kalau saja Han Liong itu bukan susioknya, demikian pikir Bwee Lan!

Terhadap seorang paman guru tentu saja ia tidak berani memperlakukan sebagai seorang kawan, karena dalam tingkatan mereka, Han Liong adalah termasuk "golongan tua!"

Ketika mereka tiba di kaki bukit Lui-san hari telah mulai gelap.

Bwee Lan mengajak susioknya berhenti di depan sebuah rumah sederhana di kampung Lim-cun di dekat situ, di mana tinggal supeknya yang menderita luka.

Kedatangan mereka disambut oleh seorang wanita yang masih merah matanya karena kebanyakan menangis.

Ketika diperkenalkan, Han Liong tahu bahwa itu adalah isteri suhengnya, maka ia segara memberi hormat.

Segera mereka diantarkan memasuki kamar Lie Kiam yang tampak berbaring di atas tempat tidur dengan wajah pucat.

"Suheng, sutemu datang terlambat sehingga suheng dilukai orang."

Han Liong memberi hormat sambil memandang laki-laki yang sudah setengah tua yang masih tampak gagah itu. Dengan agak payah Lie Kiam bangkit duduk, lalu memandang wajah anak muda itu dengan agak heran.

"Aku telah mendengar dari Bhok suheng bahwa suhu telah mempunyai seoang murid baru, tapi tak kusangka bahwa ia masih semuda ini,"

Katanya perlahan.

"Siokhu dipukul orang dan putera siokhu diculik, sebenarnya ada perkara apakah?"

Tiba-tiba Hong Ing yang kasihan melihat keadaan Lie Kiam itu bertanya. Han Liong mengerling adiknya, tapi Lie Kiam memandangnya lalu bertanya.

"Siapakah anak ini, sute?"

"Ia adalah adikku, suheng."

Lie Kiam mengangguk-angguk, kemudian hendak mulai bercerita. Tapi Han Liong cepat berkata kepada Hong Ing.

"Adik Ing, kau lihat suheng perlu mengaso, pula, cerita ita dapat ditunda kelak, Kini yang perlu ialah menolong puteranya."

Mendengar orang menyebut puteranya, Lie Kiam timbul rasa khawatir dan sedihnya, maka tiba-tiba ia batuk-batuk dan dari mulutnya keluar darah! Han Liong segera menghampiri.

"Ah, suheng, kau terluka di dalam,"

Katanya, lalu tanpa minta permisi lagi, ia membuka baju suhengnya dan memeriksa dadanya.

"Suheng, kau terpukul dan mendapat luka dalam yang berbahaya juga, selain itu jalan darah di bawah tulang iga kanan telah terotok. Maaf, suheng, biarlah sute mencoba memulihkan jalan darah itu."

Ia segera menggunakan kedua jari tangan dan telunjuknya mengurut-urut dada di bawah iga lalu menepuk punggung suhengnya. Lie Kiam yang terheran-heran kini merasa sakit di dadanya agak berkurang.

"Nah, ini dua butir obat, harap suheng makan dua kali, malam ini dan besok pagi."

Ia menyerahkan dua butir pil pemberian suhunya yang paham akan ilmu obat-obatan, ialah Pauw Kim Kong.

"Eh, sute, darimana kau peroleh kepandaian mengobati ini?"

Tanya Lie Kiam.

"Dari suhunya yang bernama Pauw Kim Kong!"

Hong Ing menyahut. Lie Kiam terheran mendengar ini. Bukankah sutenya itu murid suhunya sendiri? Tapi Han Liong segera berkata.

"Biarlah besok saja kita bicara, suheng. Riwayat sutemu ini panjang untuk diceritakan seketika juga. Yang perlu sekarang adalah urusan anakmu. Biarlah kedua nona Bwee ini mengantarkan siauwte merampasnya kembali dari tangan Ban Hok."

"Jangan, sute, ia sangat berbahaya. Kau akan mendapat celaka."

Han Liong tersenyum.

"Jangan khawatir, suheng, kurasa ada jalan untuk mengalahkannya. Pula, biar siauwte mendapat celaka sekalipun, siauwte tidak akan menyesal, karena siauwte telah memenuhi kewajiban sebagai saudara seperguruan."

"Tapi adikmu ini lebih baik tinggal di sini saja dan biar Bwee Lan saja mengantarkan kau. Bwee Hwa juga jangan ikut,"

Kata Lie Kiam pula. Han Liong mengerling ke arah Hong Ing yang tampak merengut, maka dengan ketawa ia menjawab.

"Biarlah adikku ikut, suheng, karena iapun dapat menjaga dirinya sendiri."

Dengan terpaksa Lie Kiam melepaskan mereka pergi.

Hanya Bwee Hwa saja yang dilarangnya pergi, karena ia tahu akan tabiat anak itu dan khawatir akan keselamatannya.

Untung saja Han Liong dan dua kawannya bahwa malam itu angkasa diterangi oleh ribuan bintang sehingga mereka dapat maju dengan cepat ke tempat kediaman Ban Hok si Harimau Hitam.

Terbukti menurut penuturan Bwee Lan, penculik itu tinggal dalam sebuah kelenteng tua yang telah tak terpakai lagi.

Ketika mereka sampai di depan kelenteng itu, Ban Hok telah kelihatan berdiri di depan bertolak pinggang.

Tubuhnya tinggi besar dan kulitnya hitam, sehingga di tempat agak gelap itu hanya tampak putih mata dan giginya ketika ia menyeringai.

Han Liong maju dan tunduk menghormat dan Ban Hok segera membalasnya.

"Apakah siauwte berhadapan dengan Ban-Enghiong?"

Tanya Han Liong dengan sopan.

"Betul. Dan saudara ini suruhan Lie Kiam si Angin Ribut?"

"Memang siauwte mewakili Lie Kiam suheng untuk menjumpaimu dan menjemput anaknya."

Jawab Han Liong.

"Ha, ha! Lie Kiam ternyata berpikiran luas juga. Baik, kau boleh mengambil anak itu, ia sehat dan selamat, tapi lebih dulu serahkan uangnya padaku!"

Matanya berganti-ganti memandang tiga tamunya ingin tahu segera apakah mereka ini sudah membawa uang tebusan yang dimintanya.

"Perkara uang mudah, Ban-Enghiong. Tapi cobalah kau sebutkan alasan-alasanmu menggunakan cara penculikan dan minta tebusan ini. Karena caramu ini sungguh membikin aku kecewa. Tak kusangka bahwa namamu yang besar itu tak sesuai dengan perbuatanmu. Maka kuduga pasti ada apa-apanya di belakang perbuatanmu ini."

"Hm, kau masih muda tapi pandai bicara. Kau tadi bilang bahwa Lie Kiam itu suhengmu? Baik, dengarlah alasanku mengapa aku melakukan semua ini. Lima tahun yang lalu ketika aku mencegat seorang hartawan yang lewat di daerahku dan merampok uangnya sebanyak sepuluh ribu tail perak, Lie Kiam telah turut campur dan membela hartawan itu! Kami bertempur dan Lie Kiam telah memukulku sehingga aku hampir mati. Nah, aku lalu belajar silat lagi dan sekarang aku menagih hutang. Apakah ini perbuatan salah? Hutang uang membayar uang, hutang pukulan membalas pukulan, bukankah ini sudah adil namanya?"

"Hm, begitukah? Tapi kenapa kau masih menculik anaknya? Bukankah itu perbuatan rendah?"

Ujar Han Liong.

"Penculikan ini hanya untuk menagih uangku yang dulu. Lie Kiam telah merugikan aku sepuluh ribu tail, kini aku hanya minta lima ribu, ini masih murah sekali. Sudahlah, jangan banyak cakap, segera bayar uang itu dan anak Lie Kiam akan kuserahkan padamu."

"Tuan Ban! Kau telah menggunakan kepandaianmu untuk menjatuhkan suhengku dan menculik anaknya, maka bagaimana kalau sekarang suheng menggunakan kepandaian pula untuk mengalahkan kau dan minta kembali anaknya?"

"Boleh, boleh! Kalau ia masih tidak mau mengaku kalah dan ingin mengadu kepandaian, silahkan! Kalau aku salah, biarlah aku bersumpah takkan mengganggunya lagi dan anaknya akan kukembalikan dengan selamat."

"Bagaimana kalau adik seperguruannya mewakilinya berhadapan dengan kau dan mengadu tenaga?"

"Ha, ha! Sedangkan suhengmu saja tak mampu melawanku, apa lagi sutenya? Silahkan, siapakah yang akan mewakilinya melawan aku?"

Tanyanya sombong.

"Aku sendiri."

"Kau??"

Sepasang mata Ban Hok memandang Han Liong dengan tajam seakan-akan menaksir anak muda itu, tapi Han Liong hanya merupakan seorang pemuda yang halus kulitnya dan halus pula gerak-gerik serta tutur sapanya, maka ia sangat mengganggap enteng.

"Baik, datanglah besok pagi, kita mengukur kepandaian di waktu terang hari di depan kelenteng ini."

"Baik, tuan Ban, aku percaya bicaramu. Nah, sampai besok!"

Walaupun Hong Ing dan Bwee Lan tidak setuju dengan perjanjian ini, namun Han Liong segera mengajak mereka pergi.

Di tengah jalan Han Liong menerangkan kepada mereka bahwa sebagai seorang yang mengerti aturan, ia harus menerima permintaan Ban Hok untuk bertempur besok karena malam itu terlampau gelap untuk orang mengadu kepandaian secara jujur.

Sesampainya di rumah Lie Kiam, ternyata suhengnya sedang tidur nyenyak.

"Setelah menelan sebutir pil, ia nampak agak lumayan dan dapat tidar enak"

Kata isterinya kepada Han Liong dengan pandangan berterima kasih.

Maka Han Liong lalu beristirahat pula dalam sebuah kamar yang telah disediakan.

Hong Ing pun pergi tidur dalam kamar lain.

Ia mendapat kamar sendiri karena ia lebih dulu memajukan alasan bahwa ia tidak bisa tidur sekamar dengan lain orang, walaupun dengan kakaknya sendiri!

Keesokan harinya, Han Liong mengajak Hong Ing berangkat.

Kedua nona Bwee yang akan ikut, dilarang oleh Han Liong dengan alasan bahwa Ban Hok mungkin akan menganggap ia mengandalkan banyak orang untuk mengeroyok.

Dengan cepat mereka tiba di kelenteng tua itu I Betul saja Ban Hok telah menanti kedatangan mereka.

Kini mereka dapat melihat orang she Ban itu lebih nyata.

Ternyata ia adalah seorang berusia kira-kira empat puluh tahun, berkulit hitam dengan sepasang mata tajam.

Kedua lengan tangannya yang hitam itu berkilap seakan-akan digosok minyak.

Diam-diam Han Liong terkejut karena ia dapat menduga bahwa Harimau Hitam itu tentu seorang ahli tangan pasir, ialah ahli silat yang melatih tangannya dengan pasir dan bubuk besi hingga kedua lengan itu menjadi sangat berbahaya dan kuat.

Pula tindakan kakinya ketika ia maju melangkah membayangkan sebuah tenaga Iweekang yang tinggi karena tindakan kakinya tetap dan berdirinya seakan-akan kedua kakinya berakar!

Han Liong segera memberi hormat yang dibalas oleh Ban Hok.

Sebaliknya Harimau Hitam ini diam-diam tidak berani memandang ringan kepada Han Liong ketika ia lihat betapa sepasang sinar mata pemuda itu menyambar-nyambar bagaikan sapasang mata seekor naga sakti!

"Anak muda, betulkah kau hendak mewakili suhengmu melawan aku!"

Tanyanya.

"Akan kucoba."

Jawab Han Liong.

"Dengan cara apa kau hendak melawanku? Tangan kosong atau bersenjata?"

"Kaulah yang berhak memilih, tuan Ban, karena kaulah tuan rumahnya. Aku sebagai tamu hanya menurut saja,"

Kata Han Liong.

"Hm, kau masih muda, tapi tahu aturan. Siapakah namamu dan apa gelarmu?"

Tanya Ban Hok.

"Aku yang bodoh she Si bernama Han Liong, orang-orang kampung menyebut aku dan adikku ini Thian-jiauw-siang hiap."

"Eh, jadi adikmu ini juga ahli silat?"

Tanya Ban Hok dengan pandangan kagum.

"Kalau begitu, begini saja, anak muda. Jangan sampai kalangan kang-ouw menyebut aku sebagai orang tua hendak menghina yang muda. Karena suhengmn sendiri tak dapat melawan aku, maka keterlaluanlah kalau aku melawan kau yang menjadi sutenya. Baiknya kau majulah bersama-sama dengan adikmu ini, agar keadaan kita agak berimbang. Nah, marilah kita coba-coba, kepandaian kita, majulah kalian bersama-sama, kita bertempur dengan tangan kosong."

Han Liong ragu-ragu, tapi Hong Ing yang merasa gemas melihat kesombongan orang yang memandang rendah mereka, berkata.

"Koko, biarlah aku maju dulu minta pengajaran dari Ban lo-Enghiong ini."

Sebelum Han Liong sempat menjawabnya, Hong Ing sudah maju selangkah, memasang kuda-kuda dan berkata kepada Ban Hok.

"Nah, marilah aku yang muda minta pelajaran barang lima jurus darimu, lo Enghiong!"

Sikap yang lucu dan berani dari Hong Ing ini nembuat Ban Hok tertawa lebar, kemudian melompat mendekati dan berkata.

"Baik, baik, seranglah, anak muda!"

Hong Ing tanpa membuang tempo lagi, segera menggeser kakinya maju dan secepat kilat melayangkan kepalan kanannya memukul dada lawan dengan tipu Dewa Suguhkan Arak, Ban Hok yang memandang rendah lawannya, melihat datangnya pukulan yang cepat ini segera miringkan tubuh dan menggunakan telapak tangan kiri untuk memukul lengan lawan.

Tapi Hong Ing awas matanya dan cepat gerakannya.

Sebelum tangannya terpukul ia robah gerakannya, menarik kembali kepalan tangan dan meloncat ke sebelah kanan musuh lalu melayangkan kepalan kiri dengan tipu Burung Kepinis Mematuk buah.

Gerakannya yang sebat dan cepat sekali ini tidak terduga sedikit juga oleh Ban Hok sehingga hanya dengan melompat jungkir balik ke belakang saja, ia dapat menyelamatkan diri dari pukulan.

Ia mulai hati-hati dan tidak berani memandang ringan lawannya yang kecil dan muda itu!

Hong Ing terus mendesak maju dengan mengeluarkan tipu-tipu yang istimewa dari cabang Siauw-lim.

Dikeluarkannya tipu-tipu silat yang berbahaya dan sepasang kepalan tangannya yang kecil meninju tempat-tempat berbahaya dari lawan.

Ban Hok tadinya hanya ingin mempermainkan lawannya saja, tapi melihat bahwa lawan kecil ini sedikitpun tak boleh dipandang ringan, maka ia merasa panas lalu mulai balas menyerang.

Ternyata setelah bertempur lebih dari lima belas jurus, pukulan-pukulan silat biasa saja tak dapat mendesak Hong Ing.

Ban Hok merasa malu sekali, lalu mulai mengeluarkan kepandaiannya yang ditakuti lawan, yaitu pukulan-pukulan tangan pasir.

Ketika ia gerakkan kedua lengannya, terdengar suara berderak-derak dan kulit lengan yang sudah hitam itu kini bertambah-tambah hitam bersemu merah.

Pukulannya berat dan mendatangkan angin dingin.

Hong Ing sangat terkejut ketika ia berbalik ke samping mengelak, ternyata angin pukulan lawannya itu menyambar dan merasa pundaknya tertimpa tenaga kuat!

Ia berhati-hati dan tidak mau menangkis lengan lawannya, tapi karena desakan-desakan Ban Hok yang gerakannya juga gesit sekali, Hampir tiada ketika baginya untuk selalu mengelak saja.

Han Liong melihat dengan khawatir.

Ia maklum bahwa Jika Hong Ing menggunakan lengan untuk menangkis, maka sekali saja lengannya beradu dengan lengan lawan, dapat dipastikan ia akan mendapat luka berat, kalau tidak, patah lengannya!

Maka pada saat Ban Hok melayangkan pukulan mautnya segera ia gerakkan tubuhnya untuk menangkis dengan tangannya karena Hong Ing sudah terdesak betul-betul sehingga itulah jalan satu-satunya, Han Liong menyambar tangan Hong Ing dan merenggutkannya.

Gadis itu merasakan tubuhnya melayang ke atas bagaikan tertiup angin puyuh, tapi ia dapat turun ke tanah dengan selamat.

Hampir saja gadis itu menegur kakaknya dengan marah, tapi ia sempat melihat Han Liong berkedip padanya dan Ban Hok berdiri sambil tertawa.

"Bagus sekali gerakanmu. Angin Puyuh Menyambar Pohon itu! Syukur adikmu tertolong oleh gerakanmu yang cepat dan tangkas!"

Ia memuji. Han Liong menjura.

"Adikku mengaku kalah, lo-Enghiong. Kini siauwte mohon pengajaranmu. Tapi sebelum kita bertanding ilmu silat, bagaimanakan perjanjian kita?"

"Haruskah dijelaskan lagi? Kalau kau kalah, maka kau harus penuhi permintaanku yaitu sediakan uang lima ribu tail perak untuk menebus anak Lie Kiam, sebaliknya kalau aku sampai kalah, kau boleh ambil kembali anak itu dan habis perkara!"

"Terima kasih, lo-Enghiong. Nah, silahkan!"

"Kaulah yang menyerang dulu, anak muda!"

Han Liong segera menggunakan tangan kanannya menyerang dengan gerakan sembarangan saja, tapi hal ini tidak membuat Ban Hok berlaku kurang waspada, karena orang gagah ini maklum bahwa kalau adiknya saja sudah demikian pandai, kakaknya tentu lebih pandai lagi.

Maka, tanpa pikir panjang lagi ia menggunakan ilmu tangan pasir untuk melayani Han Liong.

Pemuda ini sengaja tidak menangkis atau balas menyerang, tapi pergunakan seluruh kegesitan tubuhnya, warisan dari Liok-tee-sin-mo Hong In, untuk berkelit kesana kemari.

Ban Hok diam-diam memuji ilmu meringankan tubuh anak muda itu yang bagaikan seekor burung kecil berkelebat ke sana ke mari menghindarkan segala serangannya.

Tiga puluh jurus telah lewat tanpa ia mampu menowel ujung baju pemuda itu, hingga ia merasa sangat kesal dan berteriak.

"He, jangan licik! Tak beranikah kau menyambut tanganku?"

"Maaf, sekarang akan kusambut. Bersiaplah!"

Seru Han Liong dan ketika si Harimau Hitam kerahkan seluruh tenaga dalamnya di sepanjang lengan dan tangan kanannya sambil melayangkan pukulan ke arah dada Han Liong, anak muda itu mengerahkan seluruh kekuatannya dan gunakan tangan kiri dengan kepalan terbuka menumbuk kepalan lawan!

Terdengar suara "buk"

Seakan-akan dua benda lunak tapi berat beradu!

Han Liong yang sedang memasang kuda-kudanya merasa tergetar dan terpaksa menggerakkan kaki kirinya mundur setindak, tapi kesudahannya sungguh hebat di fihak Ban Hok.

Ia terpental ke belakang seolah-olah terdorong oleh tenaga yang luar biasa besarnya sehingga terhuyung-huyung dan hampir saja jatuh terjengkang setelah mundur lebih dari enam langkah!

Baiknya Han Liong tidak hendak mencelakakannya dan hanya gunakan tenaga keras lawan keras untuk memunahkan tenaga lawan.

Sesungguhnya dalam hal lweekang, anak muda itu jauh lebih tinggi tingkatnya daripada Ban Hok.

Kalau saja Han Liong dalam pertumbukan tenaga itu mempergunakan lweekang lemas untuk membuat tenaga Ban Hok mental balik, akan celakalah Harimau Hitam itu.

Pasti ia akan terpukul oleh tenaganya sendiri dan ia akan mendapat luka dalam yang dapat membuat jantungnya putus!

Setelah Ban Hok dapat tetapkan kakinya, ia menghampiri anak muda itu dengan pandangan heran dan kagum.

"Sungguh tak kusangka Lie Kiam mempunyai sute seperti kau, Si Enghiong,"

Katanya.

"Biar bagaimana jugapun, ilmu silat dan tenagamu itu membuat aku tidak percaya bahwa kau adalah sute dari Lie Kiam. Betul kegesitanmu dan gerakan-gerakanmu sama dengan Lie Kiam, tapi ada juga perbedaannya. Dan tenaga dalammu ketika kau menyambut pukulanku tadi, ah, tak pantas kau menjadi adik seperguruan Lie Kiam."

"Bagaimanapun, memang benar siauwte adalah sute dari Lie Kiam suheng,"

Jawab Han Liong.

"Aku tidak malu mengaku bahwa dalam hal ilmu pukulan, kau lebih pandai dari aku, tapi aku belum mau mengaku kalah, anak muda. Marilah kita mencoba kemahiran senjata!"

Ia lalu melompat ke dekat pintu kelenteng dan mengambil sebatang toya besi yang berat.

Dalam hal ilmu tangan kosong, Ban Hok ini sudah lebih tinggi dari Lie Kiam, karena lima tahun yang lalu ketika ia jatuh di tangan Lie Kiam, ilmu silatnya sudah cukup tinggi dan hanya kalah sedikit saja dari Lie Kiam yang terkenal gesit, tapi setelah menggembleng dirinya selama lima tahun dengan sungguh-sungguh, kini dapat dibayangkan betapa majunya ia.

Lebih-lebih dalam ilmu toyanya, jarang ia menemukan tandingan.

Ia sangat membanggakan ilmu toya gabungan dari Siauw-lim dan Bhok-san-pai yang dinamakannya Ilmu Toya Lima Iblis Mengamuk.

"Nah, anak muda. Kulihat kau tak bersenjata, maka kau boleh meminjam pedang yang tergantung di pinggang adikmu itu untuk melawanku!"

Tapi Han Liong tahu bahwa toya lawannya itu sedikitnya beratnya ada lebih kurang lima puluh kati dan pedang Hong Ing bukanlah pedang mustika, sedangkan kalau menggunakan Pek-liong pokiam yang terlilit di pinggangnya itu, ia merasa belum waktunya.

Bila keadaan tidak sangat mendesak dan perlu, ia tidak mau mengeluarkan pedang pusakanya itu.

Selagi ia memikir-mikir, Hong Ing yang duduk di bawah sebatang pohon menikmati hawa sejuk sambil nonton pertempuran itu, berkata.

"Koko, ini toyamu tertinggal di tini!"

Han Liong menengok heran, dan ia tersenyum ketika melihat adiknya itu mengangsurkan sebatang ranting pohon liu yang panjangnya tidak lebih dari tiga kaki dan besarnya tidak melebihi ibu jari kakinya!

Namun ia terima juga "senjata"

Itu dan berkata.

"Terima kasihi adikku."

Lalu dengan tenang ia menghadapi Ban Hok. Si Harimau Hitam melihat anak muda itu dengan mata merah. Ia merasa dihina sekali.

"Jangan takabur, anak muda. Kau hendak melawan toyaku dengan ranting itu?"

"Memang itulah senjatanya, lo-Enghiong!"

Dari bawah pohon, Hong Ing menjawab sambil tertawa.

Gadis ini yakin sekali akan ilmu silat kakaknya, maka ia sengaja menggunakan kesempatan ini untuk menyaksikan kelihaian kakaknya, sambil hendak memperolok-olokkan Ban Hok yang telah mengalahkannya tadi.

Jadi dalam hal ini, sebenarnya Hong Inglah yang berlaku sombong.

Maka tak heran kalau Ban Hok menjadi marah sekali dan tanpa berkata apa-apa lagi ia segera memutar toyanya sehingga mengeluarkan suara angin mendesir, lalu ujung toyanya melayang ke arah dada Han Liong disertai bentakannya.

"Lihat toya!"

Kalau ranting yang diberikan oleh Hong Ing itu sudah kering, tentu Han Liong tidak berani menggunakannya, Tapi ranting itu masih hijau dan basah, ia yakin bahwa kayu kecil itu merupakan senjata yang ulet dan tidak khawatir terpukul patah.

Melihat datangnya luncuran ujung toya lawan, ia segera mengelak ke samping dan menggunakan rantingnya menangkis dengan meminjam tenaga lawan sehingga toya itu meleset arahnya.

Namun Ban Hok memutar balik toyanya dan menggunakan ujung sebelah lagi untuk mengemplang kepala!

Han Liong memperlihatkan kegesitannya dengan miringkan kepala dan tubuh sambil menggunakan rantingnya dari bawah menotok ke arah iga lawan!

Gerakan ini dinamakan tipu Naga Sakti Mengulur Lidah, tubuhnya merendah dengan pinggang tertekuk bagaikan naga menggeliat dan ranting itu seakan-akan lidah naga yang menjulur cepat ke depan!

Melihat gerakan yang cepat dan indah ini, tanpa terasa Ban Hok berseru.

"Bagus!"

Dan ia terpaksa membuang diri ke samping untuk menghindarkan totokan berbahaya itu, karena untuk menangkis ia tiada waktu lagi.

Ban Hok segera mengeluarkan ilmu toyanya Lima Iblis Mengamuk dengan mengerahkan semua tenaga dalamnya, hingga sekejap kemudian toyanya terputar-putar merupakan lingkaran hitam yang mengurung tubuh Han Liong!

Ujung toya menjadi berpuluh-puluh banyaknya.

Tapi dengan menggunakan keringanan tubuh dan kegesitan warisan keempat gurunya.

Han Liong dapat melayaninya dengan seimbang, Ilmu Pukulan Empat Bintang dapat ia mainkan di ujung ranting itu dan di sini ternyata betapa hebatnya ilmu gabungan ciptaan Kam Hong Siansu itu, karena menggunakan ilmu silat gabungan ini, Walaupun hanya menggunakan sebatang ranting kecil saja, namun cukup untuk melayani ilmu Toya Lima Iblis Mengamuk yang demikian hebatnya!

Lebih-lebih lagi karena dalam gerakan-gerakan Han Liong digunakan ilmu totok warisan suhunya Hee Ban Kiat si mata satu, maka tak heran bahwa Ban Hok harus berlaku sangat waspada agar jangan sampai dijatuhkan oleh lawan yang muda dan hanya menggunakan ranting itu!

Demikianlah, mereka bertempur sampai enam puluh jurus lebih.

Mata Hong In yang menonton dari bawah pohon sampai menjadi kabur rasanya, dan diam-diam ia memuji dan kagum melihat kehebatan ilmu silat kakaknya.

Matanya berkunang-kunang melihat toya Ban Hok merupakan gulungan hitam bergerak-gerak cepat dan di tengah-tengah gulungan hitam itu tampak berkelebat sinar kecil putih kehihau-hijauan dari ranting Han Liong.

Pada saat itu Han Liong merasa sudah cukup mencoba kepandaian Ban Hok yang telah menjatuhkan suhengnya itu.

Iapun diam-diam mengaku bahwa baru sekali ini ia menemukan lawan yang agak tangguh.

Maka ia segera mengubah ilmu silatnya.

Tiba-tiba Ban Hok terkejut sekali karena ketika ranting berkelebat dan menyambar ujung tovanya, ternyata ranting itu seakan-akan digerakkan oleh tenaga raksasa dan bukan merupakan ranting kecil lemah lagi, tetapi seakan-akan merupakan sebuah senjata yang lebih berat daripada toyanya sendiri.

Kemudian ranting itu berkelebat amat cepat dan gerakan-gerakannya tidak terduga sama sekali dan tahu-tahu ranting itu membesit tangan kanannya hingga ia merasa seakan-akan tulang lengan itu akan remuk dan kulitnya bagaikan terbakar!

Ia tidak tahan lagi dan tanpa disengaja toyanya terlepas dari pegangan!

"Aku mengaku kalah!"

Katanya dengan suara penuh kekecewaan dan kemenyesalan, sambil memandang pemuda itu dengan penuh keheranan.

Sebenarnya tak usah dibuat heran, karena Han Liong tadi telah menggunakan dua jurus Ilmu dari Pek-liong-kiam-hoat!

Gerakan pertama ketika ia menangkis ujung toya lawan adalah tipu Naga Putih Mencakar Gunung dan ketika ia membesit lengan lawan tadi ialah tipu Naga Putih Memukulkan Ekornya.

Baru saja ia menggunakan dua jurus tipu dari Pek-liong-kiam-hoat, ia telah berhasil mengalahkan Ban Hok, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu pedang Pek-liong-kiam-hoat itu!

Memikirkan hal ini, Han Liong diam-diam merasa sangat girang dan berterima kasih kepada Kam Hong Siansu yang telah membimbingnya itu.

"Si Enghiong, kau benar pandai dan gagah. Aku terima kalah. Hanya yang membuat aku penasaran, mengapa kau yang menjadi sute dari Lie Kiam setinggi ini ilmu silatmu? Katakanlah, anak muda, siapa yang mengajar kau ilmu silai tadi? Siapakah gurumu, selainnya guru Lie Kiam?"

"Ban lo-Enghiong, jangan terlalu memuji. Karena kau jujur, maka terus terang kukatakan bahwa selain suhuku Lie Kiam, aku masih mempunyai tiga orang guru lain. Tapi yang mengajar aku dalam ilmu silat yang kupakai tadi sehingga akau berhasil membuat kau mengalah, adalah seorang guru lain yang tak dapat kusebut namanya, karena suhuku itu tidak suka namanya diperkenal kepada umum."

Ban Hok si Harimau Hitam mengangguk-anggukkan kepala.

"Pantas..., pantas... Kau jauh lebih hebat dari pada Lie Kiam, rupanya pelajaranmu begitu luas. Aku tidak usah merasa malu jatuh dalam tanganmu. Nah, sakarang kau boleh ambil anak itu dan antar kepada Lie Kiam dan katakan padanya bahwa melihat kau yang semuda ini tapi sudah berkepandaian begitu tinggi, pula sikapmu yang sopan santun ini, aku habiskan saja urusan sampai disini! Biarlah ini menjadi pelajaran bagiku bahwa di dunia ini tidak ada orang yang paling pandai. Pasti ada yang melebihi kepandaian seseorang."

Hong Ing mendengar ini lalu melompat berlari-lari masuk ke kelentang.

Tak lam kemudian ia keluar lagi menuntun seorang anak kecil.

Ternyata, walaupun bekas seorang perampok tunggal, Ban Hok adalah seorang laki-laki jujur, ia tidak membikin susah anak itu, tetapi dirawatnya baik-baik selama berada dalam tangannya sehingga anak itu tidak mengalami sesuatu kesengsaraan.

Kemudian, setelah menghaturkan terima kasihnya, Han Lion menggendong anak itu, dan bersama Hong Ing meninggalkan tempat itu dengan lari cepat.

Ketika mereka sampai di rumah Lie Kiam ternyata suhengnya telah hampir sembuh dan dapat turun dari pembaringan.

Alangkah girang hati Lie Kiam dan isterinya melihat putera mereka satu-satunya itu pulang dengan selamat.

Dengan ringkas Han Liong menceritakan pengalamannya tanpa menyebut jalannya pertempuran, tapi Lie Kiam yang merasa tidak puas lalu bertanya kepada Hong Ing.

Sebetulnya sejak tadi juga Hong Ing merasa tidak puas mendengar cerita Han Liong, tetapi ia tidak berani bicara karena kakaknya itu berkali-kali memberi tanda agar ia tidak berkata apa-apa, tapi sekali ini karena Lie Kiam sendiri yang mengajukan pertanyaan tanpa Han Liong berani mencegah dan melarangnya, Hong Ing segera buka suara dan menceritakan jelas betapa ia dikalahkan oleh Ban Hok dan betapa dengan sebatang ranting pohon liu, Han Liong dapat mengalahkan Ban Hok dengan mudahnya!

Ceritanya ini diucapkan dengan kata-kata menarik diikuti gerekan-gerakan meniru-nirua gerak silat kedua pihak, penuh dengan pujian-pujian bagi Han Liong yang membuat pemuda itu menundukkan kepala dengan kemerah-merahan.

Karena kemarin tiada waktu untuk bicara panjang lebar, maka setelah mendengar cerita itu, Lie Kiam terheran-heran karena ia merasa mustahil bahwa suhunya telah berlaku berat sebelah dan memberikan kepandaian istimewa kepada sutenya itu.

Maka ia menuntut kepada sutenya agar menceritakan riwayatnya.

Terpaksa Han Liong menuturkan riwayat pelajaran silatnya yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Lie Kiam.

Semenjak saat itu, Bwee Lan makin kagum melihat susioknya dan bahkan Bwee Hwa yang tedinya masih raga-ratu menjadi tunduk betul.

Kedaan nona dari Shoatang itu bahkan dengan tidak malu-malu minta kepada susioknya untuk memberi mereka pelajaran satu dua jurus ilmu silat untuk memperdalam kepandaian mereka.

Tetapi Han Liong dengan halus menolaknya.

Ternyata selain nakal dan galak, Bwee Hwa juga cerdik.

Ia menggunakan Hong Ing sebagai perantara untuk mendesat Han Liong agar suka memberi pelajaran kepada mereka.

Setelah Hon Ing turun tangan, terpaksa, sebagaimana biasa, Han Liong tak dapat melawan kehendak adiknya yang manja itu, dan ia turunkan juga silat yang diwarisinya dari suhunya Hee Ban Kiat kepada mereka sebanyak sepuluh jurus.

Tetapi biarpun hanya sepuluh jurus, Kedua nona itu merasa girang sekali dan belajar dengan rajin dan bersemangat, karena yang mereka pelajari itu adalah sepuluh jurus pilihan dari Kiauw-ta-sin-na yaitu gabungan dari Kim-na-hoat dari (Lanjut ke

Jilid 05) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 Siauw-lim-si dan Bu-tong-pai.

Kalau sepuluh jurus pukulan ini dipelajarinya dengan sempurna, maka kelihaiannya melebihi ratusan jurus ilmu silat cabang lain.

Lagi pula, di dalam pukulan yang paling lihai dari Siauw-lo-ong Hee Bin Kiat si mata ini, Han Ltoug telah mengadakan pecahan-pecahan dan variasi hingga sepuluh jurus ini dapat terpecah menjadi puluhan gerakan.

Sebelah tingggal di rumah suhengnya selama setengah bulan, Han Liong dan Hong Ing berpamit untuk meneruskan perantauan mereka.

Lie Kiam yang merasa sayang sekali kepada sutenya itu tak dapat menahan, hanya memberi pesan agar sutenya berlaku hati-hati dan jangan mudah mencari permusuhan.

"Sute,"

Katanya kemudian.

"kebetulan sekali aku mendapat undangan dari Siok Houw Sianseng di Kie-lok, Sianseng ini bukanlah sembarangan orang, bahkan ia ini kawan seperjuangan almarhum ayahmu. Ia seorang sasterawan yang tubuhnya lemah tapi pikirannya kuat dan pandai sekali. Tulisannya yang tajam menyerang hebat pemerintah musuh dan membangkitkan semangat perjuangan rakyat sehingga ia menjadi musuh pemerintah. Besok lusa ia merayakan hari perkawinan puterinya. Maka, kau wakililah aku, sute, sekalian kau belajar kenal dengan orang tua bijaksana itu. Selain itu, di sana tentu datang semua hohan dari kalangan kang-ouw hingga kau dapat, memperluas pengalamanmu."

Karena memang tidak mempunyai tujuan tertentu dalam perjalanannya merantau, Han Liong menerima perintah ini dengan gembira.

Ia membawa surat dari Lie Kiam dan berangkatlah ia dengan Hong Ing yang masih tetap menyamar sebagai seorang pemuda yang tampan.

Karena sayangnya kepada mereka, Lie Kiam mengusahakan dua ekor kuda yang baik untuk sute dan adiknya ini, sehingga mereka berterima kasih sekali.

Jarak antara kota tempat tinggal Lie Kiam dan Kie-lok tidak jauh, hanya lebih kurang delapan puluh li, maka sepasang pemuda pemudi tidak sangat tergesa-gesa.

Mereka membiarkan kuda mereka berjalan seenaknya saja.

Ketika melalui sebuah jalan gunung yang sempit, tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara kaki kuda yang berlari kencang.

Han Liong dan Hong Ing menahan kuda mereka dan menanti di pinggir jalan.

Kebetulan di dekat Hong Ing ada bunga mawar gunung yang sedang mekar harum, maka gadis itu tak dapat menahan hatinya untuk tidak memetik bunga itu dan menancapkan di lipatan pengikat rambutnya.

Suara kaki kuda dari belakang makin keras kedengarannya dan sebentar kemudian dua orang penunggang kuda itu dengan secepat kilat lalu dekat merela karena jalan itu memang sempit.

Ternyata kedua penunggang kuda itu adalah dua orang perempuan muda yang berwajah hitam dan buruk.

Yang menarik perhatian adalah sarung pedang dan hudtim atau kebutan yang terselip di punggung mereka.

Han Liong dan Hong Ing mencium bau wangi yang ganjil ketika kedua wanita itu lewat.

Tiba-tiba Hong Ing menjerit perlahan.

Ternyata ketika mereka itu lewat cepat di dekatnya, seorang diantara mereka mengulurkan tangannya dan sambil tertawa kecil wanita itu menyambar bunga mawar yang tertancap di rambut Hong Ing!.

Hong Ing marah sekali dan ia segera menyentakkan kendali kudanya untuk mengejar.

"Sudahlah, adik Ing, biarkan saja. Di sini masih banyak bunga, mari kupetikkan,"

Cegah Han Liong yang tak ingin mencari onar karena ia maklum bahwa kedua buruk itu memiliki kepandaian tinggi sehingga lebih baik tidak mencari ribut dengan mereka hanya karena setangkai bungai!

Tapi mana Hong Ing mau menurut.

"Orang itu telah menghinaku, kau suruh aku diam saja? Koko, kalau kau takut, bersembunyilah disini, aku harus memberi tamparan kepada wanita setan itu!". Dan Hong Ing mencambuk kudanya mengejar. Karena kudanya bagus dan ia memang pandai berkuda, sebentar saja ia dapat menyusul.

"He, perempuan busuk, berhenti dulu!"

Teriaknya marah.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 11

Baca Juga: Jodoh Rajawali 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert