Ceritasilat Novel Online

Pedang Pusaka Naga Putih 1

Eps 1 Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo.

Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Pada suatu pagi, ketika fajar tengah menyingsing dan dari sana sini terdengar ayam hutan berkokok nyaring, di halaman depan sebuah pondok bambu di puncak bukit Kam-hong-san, tampak sesosok bayangan putih berkelebat kesana kemari di antara bayang-bayang pohon yang gelap.

Ia adalah seorang pemuda baju putih yang sedang berlatih silat.

Gerakan tubuhnya demikian cepat hingga seolah-olah ia bertangan enam berkepala tiga ketika ia bersilat ilmu pukulan Ouw-Wan-Cianghoat (Silat Monyet Hitam).

Sambaran kepalan tangannya sampai menggetarkan daun-daun pohon jauh di depan sehingga mutiara-mutiara air di ujung daun-daun itu jatuh berhamburan bagaikan hujan gerimis.

Kakinya demikian ringan meloncat kesana kemari seakan-akan ia tak menginjak tanah!

Tiba-tiba di atas pohon terdengar suara sayap bergerak.

Anak muda itu menengok sedikit ke atas, kemudian sekali mengayun kakinya, tubuhnya melayang ke atas menuju ke sebuah dahan di mana seekor ayam hutan sedang bertengger.

Ayam itu terkejut sekali dan ketika tangan anak muda itu hendak menangkapnya, dengan gesit ayam itu terbang ke bawah.

Anak muda itu tak kehabisan akal, ia tadinya telah berdiri di atas sebuah dahan, ketika melihat ayam itu terbang ke bawah, ia segera menjatuhkan dirinya pula ke bawah, tapi kedua kakinya mengait dahan hingga kepalanya menukik ke bawah.

Secepat kilat tanggannya terulur dan ia berhasil menangkap ayam hutan.

Ayam itu bergerak-gerak hendak melepaskan diri, tapi tak berhasil, kemudian dengan tertawa riang pemuda itu lompat turun.

"Ah, engkau kurus benar,"

Katanya kepada ayam yang menggelepar-gelepar di tangannya itu.

"Bibi tentu akan mengatakan aku bodoh, karena ayam ini hanya berisi tulang belaka, buat apa. Nah, pergilah kau. Kelak kalau sudah gemuk boleh kutangkap lagi!"

Ia melepaskan ayam itu, yang segera terbang dengan terkeok-keok.

Pemuda itu berusia lebih kurang lima belas tahun, berwajah putih, cakap, dengan sepasang mata bersinar tajam, tapi lembut dan dihiasi sepasang alis tebal hitam yang panjang.

Tubuhnya yang sedang besar dan tingginya itu mengenakan pakaian serba putih dengan angkin kuning kepalanya bertopi kuning pula.

Di pinggangnya agak di belakang tergantung sekantong kim-chie-piao (senjata rahasia mata uang).

Tadi ia telah melatih ilmu silatnya dengan tangan kosong.

Kini ia berdiri di bawah pohon itu tertawa-tawa seorang diri karena geli melihat laku ayam hutan tadi.

Kemudian ia memungut sebatang dahan kering berwarna hijau di tanah dan segera memulai melatih dirinya lagi.

Dahan kering itu dipermainkannya seperti sebilah golok.

Sungguhpun yang diayunkan dan digerakkannya itu hanya sebatang dahan, namun sambaran anginnya bersiutan dan dahan itu sendiri tak tampak lagi, hanya kelihatan bayangan putih kehijau-hijauan berputar-putar kesana kemari.

Setelah ia bersilat beberapa puluh jurus tiba-tiba terdengar suara pujian.

"Bagus!!"

Dan tahu-tahu bayangan hitam seorang tinggi besar menerjangnya! "Lihat pedangku!"

Bentak bayangan itu sambil menyerang dengan tipu Hui-eng-bok-thou (Biang Terbang Menyambar Kelinci).

Ia agak terkejut akan serangan orang yang tiba-tiba tanpa sebab itu, namun pemuda baju putih itu tak kurang waspada.

Ia berkelit ke samping, tapi lawannya melanjutkan serangannya dengan tipu Liong-ting-ti-cu (Mengambil Mutiara di Atas Kepala Naga) Pedangnya berpusing-pusing seperti alap-alap menyambar dari atas.

Serangan ini sangat cepat hingga pemuda itu tak sempat mengelak lagi, maka terpaksa ia gunakan dahan kering yang masih dipegangnya untuk menangkis.

"Prak!"

Terdengar suara dahan itu beradu dengan pedang.

Pemuda itu merasa telapak tangannya perih.

Ia kagum akan tenaga penyerangnya.

Tapi biarpun demikian pedang yang tertahan oleh dahannya itu terpental juga.

"Hai, mengapa kau menyerangku? Aku Si Han Liong belum pernah punya musuh!"

Ia menegur keren, tapi yang ditegurnya tak berkata apa-apa hanya kini berserak kembali menyerangnya dengan hebat!

Pedangnya bergerak seperti baling-baling dan dengan tidak disadarinya ujungnya meluncur ke arah pinggang kanan Han Liong.

Anak muda itu masih saja berkelit ke sana sini dengan gesit sampai tujuh jurus.

Akhirnya ia merasa bahwa penyerangnya yang berkedok hitam itu bukanlah lawan yang ringan.

Segera aa balas menyerang.

Saling serang antara pedang dan dahan kering terjadi dengan serunya sampai tiga puluh jurus lebih.

Makin lama Han Liong makin merasa heran, karena lawannya itu menggunakan ilmu golok Oei-liong-coan-sin (Naga Kuning Memutar Tubuh) kemudian terdapat pula jurus-jurus ilmu gabungan golok dan pedang ciptaan Bie Kong Hosiang, gurunya sendiri!

Ia terkejut, karena ilmu ini menurut gurunya itu tak pernah diturunkan kepada lain orang, tapi mengapa orang ini dapat menggunakan demikian mahirnya!

Tak terasa ia berseru.

"Tahan!"

Tapi lawannya tak memberi kesempatan padanya dan terus menyerang makin sengit, Han Liong terpaksa menghadapinya pula beberapa puluh jurus dan selama itu ia dapat melayaninya dengan baik.

Semua serangan yang dikenalnya tipu-tipunya itu dapat dipecahkan, malah kalau ia mau, ia bisa menggunakan kegesitan tubuhnya yang melebihi lawannya itu untuk balas menyerang dengan ilmu-ilmu berbahaya.

Tapi Han Liong tidak mau melakukan serangan yang mematikan karena ia tak suka mencelakakan lawan yang belum diketahui sebab-sebab memusuhinya ini.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu setelah mengamat-amati tubuh dan gerakan orang itu, lagi pula keadaan cuaca kini telah agak terang.

Ketika lawannya menusuk dengan tipu Raja Naga Menyerbu Goa, sebuah tipu silat gabungan golok pedang yang sangat berbahaya dan banyak perpecahannya, Han Liong menyontak tanah dan melayang jauh ke belakang sampai tiga tombak.

Lalu ia melemparkan dahan keringnya dan segera berlutut.

"Suhu (guru)!"

Teriaknya. Lawannya berdiri, melempar pedangnya, dan sambil tertawa ia membuka kedoknya.

"Ha, ha, ha! Anak baik, muridku yang baik!"

Bie Kong Hosiang tertawa lagi dengan gembira lalu menghampiri dan mengangkat bangun Han Liong yang segera dipeluknya. Kemudian ia memegang kedua pundak anak muda itu dan dipandangnya baik-baik.

"Lima tahun kita tak berjumpa dan engkau sudah banyak maju! Bagus sekali, muridku."

"Sungguh berbahaya, suhu. Kalau suhu tidak menyerang dengan tipu terakhir itu, teecu (murid) takkan mengira bahwa suhu sedang mencoba kebisaanku!"

Jawab Han Liong.

"Aku hanya ingin tahu kemajuanmu."

Berkata Kim-too Bie Cong Hosiang si Golok Emas.

"He, hwesio (pendeta) tua! Enak saja engkau memuji murid kami sesukamu. Berilah waktu padaku untuk mengujinya juga!"

Tiba-tiba terdengar seruan dari atas pohon, dan segera pembicaranya tampak melayang ke bawah. Han Liong segera berlutut dan berseru dengan girang.

"Hee-suhu, selamat datang, teecu menghaturkan hormat!"

Bie Kong Hosiang juga merangkapkan kedua tangannya memberi hormat dan berkata.

"Omitohud, kebetulan sekali engkau telah datang. Selamat bertemu, selamat datang!"

Hee Ban Kiat membalas hormatnya dengan tertawa, kemudian ia menyuruh muridnya bangun berdiri.

"Han Liong, sudah tiba masanya kini aku harus mengujimu. Ayoh, bersiaplah."

"Teecu tak berani melawan suhu."

"Apa katamu? Siapa bilang melawan? Ini hanya latihan, anak bodoh!"

Kemudian secepat kilat ia menyerang.

Han Liong sangat kagetnya dan merasa bahwa ia bersalah dalam jawabannya.

Bukanlah lima atau enam tahun yang lalu ia selalu berlatih dan harus melawan bersilat dengan gurunya ini?

Segera ia melompat mundur menghindarkan serangan itu dan memasang kuda-kuda menjaga serangan seterusnya.

"Jangan terlalu seeji (segan-segan)!"

Tegur gurunya yang segera menggeser kakinya maju sambil menyerang dengan tipu Kim-liong tam-jiauw (Naga Mas Mengulur Kuku).

Dengan berturut-turut kedua lengannya meluncur ke arah dada muridnya.

Menghadapi serangan hebat ini, Han Liong jungkir balik menghindarinya dengan tipu Koai-bong houn-sin.

Demikianlah selanjutnya, Siauw-Io ong Hee Ban Kiat si Giam lo-ong kecil bermata satu itu menyerang muridnya dengan tipu-tipu silat Thai Kek Touw, Kiauw-ta-sin-na dan Ouw-wan-ciang-hoat diselang-seling.

Han Liong melayaninya dengan sangat baik hingga tak pernah tampah terdesak.

Hanya ia masih ragu-ragu untuk balas menyerang, sehingga kebanyakan ia hanya bertahan saja.

Kelincahan dan keringanan tubuh dan kaki tangannya banyak menolong dirinya, karena ternyata gerakannya lebih gesit dari pada gurunya itu!

Akhirnya ia menarik nafas lega dan tertawa gembira, karena gurunya menghentikan serangannya.

"Bagus, bagus. Tak percuma aku si tua bangka mengajarimu. Eh, bagaimana pendapatmu, Hong Losuhu dan Pouw Losuhu!"

Tanyanya menoleh ke belakang, matanya yang hanya tinggal sebuah itu bercahaya girang dan bangga.

"Memang bagus, Hee Koanjin (orang aneh)."

Menjawab Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan dan Pauw Kim Kong si Malaikat Rambut Putih dengan mengangguk-angguk girang.

Han Liong tercengang melihat bahwa kedua gurunya itupun telah berada di situ dan juga ie-ienya (bibi) yang tadi turun gunung membeli barang-barang keperluan mereka telah pula berada di situ.

Dalam kebingungannya menghadapi serangan-serangan gurunya tadi, ia tak sempat memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Segera ia berlutut dan menunjukkan hormatnya kepada kedua gurunya yang datang belakangan itu.

"Kami juga datang hendak melihat kemajuanmu, Liong,"

Kata Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan.

"Nah, cobalah kejar aku seperti permainan kita dahulu."

Tubuh Han Liong segera bergerak ke depan dan dengan gembira mengejar gurunya itu.

Sekejab kemudian mereka hanya merupakan dua Sosok bayangan, yang kuning di depan dan yang putih di belakang kejar-mengejar sehingga tak lama kemudian hanya tampak dua titik kecil yang makin jauh.

Tak lama antaranya, segera tampak dua orang guru dan murid itu melayang-layang mendekat.

Sebuah bayangan kuning gurunya, Si Iblis Daratan berputar cepat dan tiba-tiba berdiri dan beberapa puluh detik kemudian sebuah bayangan putih Han Liong berkelebat dan telah tiba pula menyusul gurunya.

Liok-tee Sin-mo Hong In segera melompat ke arah dahan sebuah pohon, ketika Han Liong menyusul, ia telah meloncat pula ke atas dahan yang lebih tinggi dan segera disusul pula oleh Han Liong.

Demikianlah gurunya meloncat-loncat ke atas puncak pohon sebagai seekor kupu-kupu kuning disusul oleh Han Liong dengan cepatnya.

Akhirnya sang guru melayang turun dan kakinya menyentuh tanah dengan ringan seperti sehelai daun kering jatuh.

Perbuatannya ini ditiru oleh Han Liong dengan gerakan serupa pula.

"Cukup muridku, engkau sudah hampir dapat melebihiku."

Tapi diam-diam Han Liong maklum bahwa ia masih kalah setingkat.

Kemudian oleh gurunya itu Han Liong disuruh mendemonstrasikan kepandaiannya menggunakan kim-cie-piaow.

Liok-tee Sin-mo melempar dengan uang logamnya ke arah sebatang pohon yang jauhnya kira-kira lima tombak lebih.

Berturut-turut ia melempar sampai lima kali, kemudian ia menyuruh muridnya menyusul lemparannya itu.

Han Liong mengerti maksudnya.

Segera dilakukannya dengan sebuah piao.

Ketika tangannya terayun, terdengar bunyi nyaring lima kali di batang pohon itu.

Ketika diperiksa, ternyata piao sang guru yang tertanam di dalam pohon kena dihantam oleh piao muridnya, sehingga keluar menembus pohon itu.

Sang guru tersenyum memuji.

"Eh, aku jangan ditinggalkan!"

Seru Pauw Kim Kong si Malaikat Rambut Putih.

"Kemarilah, Liong, dan pegang bambu ini."

Han Liong menghampiri gurunya yang berdiri lurus sambil memegang tongkat bambu itu dan diacungkannya ke depan.

Han Liong segera memegang ujung tongkat itu, sehingga mereka masing-masing memegang kedua ujungnya.

"Nah, kerahkan tenagamu menahan, karena aku hendak mengangkatmu!"

Han Liong segera mengumpulkan tenaga dalam, memasang bhesinya (kuda-kudanya) dengan kuat sehingga kedua kakinya seakan-akan berakar ke dalam tanah.

Tiba-tiba ia merasa ujung bambu itu seakan-akan tergetar dan aliran tenaga gurunya telah menyentuhnya.

Bambu itu kini makin bergetar ketika dua tenaga dalam itu bertanding mengadu kekuatan.

"Naik!"

Si Malaikat Rambut Putih berseru dan Han Liong merasa betapa tenaga gurunya dengan hebat menggempur pertahanannya hingga bhesinya terasa lemah dan untuk sesaat kedua kakinya terangkat dari tanah kira-kira satu setengah dim!

Namun ia masin tetap dalam keadaan memasang kuda-kuda dan memegang ujung bambu itu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka mengembang di atas kepalanya, sehingga ia merupakan sebuah patung kayu!

Ia mengerahkan tenaganya dan perlahan-lahan ia dapat turun kembali.

Kini tangan kiri gurunya turun ke bawah, suatu tanda bahwa ia kini yang harus menyerang.

Dengan penuh semangat ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengangkat gurunya.

Ternyata ia berhasil membuat gurunya menggeserkan kaki depannya yang berarti bahwa ia telah berhasil menggempur bhesi gurunya!

Kendatipun ia belum dapat mengangkat si Malaikat Rambut Putih itu ke atas, tapi ia telah memperoleh banyak kemajuan.

Ia mengerahkan pula tenaganya dan ditahan oleh gurunya.

Dua tenaga dalam bertemu dengan kerasnya dan "brak!!"

Bambu itu pecah berkeping-keping! Kedua-duanya mundur dan sama-sama memeramkan mata mengatur nafas sebentar.

"Engkau sudah banyak maju, Liong. Ketika latihan yang terakhir beberapa tahun yang lalu, kau masih dapat kuangkat setinggi dua kaki! Kini engkau sudah bisa menggempur kedudukan kakiku. Berlatihlah terus, muridku."

Kemudian ia minta muridnya memperlihatkan pelajaran Sin-kut-hoat yakni ilmu melepas tulang yang segera diturut pula oleh Han Liong.

Merela memilih sebuah pohon yang banyak dahannya dan di situ Han Liong memperlihatkan kemahirannya.

Ia melayang ke atas dan menerobos diantara dahan-dahan dan cabang-cabang yang demikian rapatnya sehingga tubuhnya seakan-akan melilit-lilit dahan seperti seekor ular besar!

Keempat gurunya bukan main girang melihat kemajuan murid mereka itu.

Mereka puas dan gembira sekali, lebih-lebih Pauw Kim Kong yang tiada hentinya menepuk-nepuk pundak muridnya dengan kasih sayang.

"O ya, dan bagaimana pelajaranmu dalam ilmu surat? Kami ingin sekali tahu,"

Kata Pauw Kim Kong sambil melirik ke arah Yo Leng In.

"Ah, teecu sangat bodoh dan hanya dapat menulis beberapa patah kata dan beberapa buah huruf saja, suhu,"

Jawab Han Liong malu.

"Eh, jangan membuat malu aku yang mendidikmu, Liong,"

Sela bibinya, Yo Leng In.

"Yo Toanio benar, Liong. Di depan orang lain kau boleh merendah, tapi karena hari ini adalah hari ujianmu, kau tak boleh malu-malu. Ayoh perlihatkan kepandaianmu menulis, agar kami puas."

Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat si mata satu mendesak.

Dengan terpaksa Han Liong lari mengambil alat tulis dan kertas dari dalam pondok, lalu menulis di atas sebuah batu yang rata, dilihat oleh keempat guru dan bibinya.

Setelah selesai, ia perlihatkan tulisannya itu.

Semua orang-orang tua itu memuji, kecuali Liok-tee Sin-mo yang berkata sambil tertawa.

"Aku orang tua tak berguna yang harus malu! Setua ini tapi satu huruf pun aku tidak kenal. Coba tolong bacakan tulisan Han Liong itu Yo Toanio!"

Yo Leng In mengambil kertas itu lalu membacanya.

Ternyata tulisan Han Liong itu berbentuk sajak berbunyi demikian .

Kecil lemah tak berdaya Yatim piatu menderita sengsara Hidup terancam bahaya gelap gulita Untung datang lima bintang bercahaya Aku orang sengsara tiada guna ini Sampai mati tak mungkin membalas budi Hanya berjanji mengorbankan nyawa Menjunjung tinggi nama lima bintang dengan Setia!

Yo Leng In membaca dengan suara merayu, dan semua pendengarnya maklum bahwa yang dimaksud dengan lima bintang itu ialah keempat gurunya dan seorang bibinya yang telah menolong dan mendidiknya.

Kemudian, dengan huruf-huruf kecil yang ditulis dengan tangan gemetar, terdapat dua baris syair demikian, Sebatang kara, yatim piatu Siapa ayah, siapa ibu??

Dua baris tulisan ini seakan-akan teriakan jiwa anak muda itu yang ingin sekali mengetahui di mana dan siapakah orang tuanya, tapi ia tak berani bertanya, karena dahulu tiap kali ia bertanya, selalu ia dilarang karena belum waktunya.

Tulisannya ini membuat keempat guru dan bibinya sangat terbaru, sehingga dikedua pipi bibinya yang membaca sajaknya itu mengalir air mata!

Pauw Kim Kong menghela nafas, dan ketika ia memandang Han Liong, ternyata kedua mata pemuda itupun mengeluarkan dua butir air mata.

"Hm, sudahlah jangan bersedih. Mari kita masuk ke dalam pondok, dan di situ nanti akan kami ceritakan padamu sebenarnya tentang engkau dan orang tuamu. Karena hari ini engkau telah tamat belajar, maka sudah sepatutnya pula kalau kau ketahui akan hal Itu."

Semua orang memasuki pondok kecil itu dan di situ Han Liong untuk pertama kalinya mendengar cerita mengenal orang tuanya dan tentang dirinya seperti berikut.

Si Han Liong adalah putera tunggal dari Si Enghiong (orang gagah she Si) atau Si Cin Hai yang tak lain adalah seorang siucai (sasterawan) muda patriot sejati yang diangkat menjadi kepala daripada banyak kaum kang-ouw dan liok-lim (kalangan persilatan dan jagoan-jagoan).

Si Cin Hai ini adalah putera seorang bekas menteri pemerintah Beng Tiauw bernama Si Kim Pau dan tadinya menjadi kawan baik Gouw Sam Kwie yang ternama itu.

Pada masa Si Kim Pau masih menjadi menteri, kerajaan Beng Tiauw kacau-balau karena ancaman pemberontak Lie Cu Seng.

Gouw Sam Kwie yang melihat bahaya ini lalu minta pertolongan serdadu-serdadu Boan dari Mancuria untuk memasuki tembok besar dan membantu usaha menindas kaum pemberontak.

Hal ini tidak disetujui oleh Menteri Si Kim Pau dan ia berkata bahwa usaha itu seakan-akan "mengusir serigala dan mendatangkan harimau".

Gouw Sam Kwie yang biasanya menghargai pendapat Si kim Pau, ketika itu karena sedang bingung melihat ancaman dan desakan Lie Cu Seng, tidak memperdulikan nasihat Si Kim Pau sehingga mereka berdua berselisih paham.

Akhirnya serdadu-serdadu Boan betul berhasil juga menindas pemberontakan Lie Cu Seng.

Namun, setelah melihat keindahan dan kekayaan bumi Tiongkok, Orang Boan itu menjadi keenakan dan tak mau meninggalkan Tiongkok, bahkan lalu berbalik memukul hancur dan menjatuhkan pemerintah Beng Tiauw, dan semenjak itu bangsa Boan Ciu berkuasa di Tiongkok dan mendirikan pemerintah Ceng Tiauw.

Si Kim Pau melihat keadaan menjadi begitu hebat, hatinya bersedih dan menyesal sekali, ia seorang menteri yang setia dan berjiwa patriot, maka karena diri sendiri tidak berdaya, ia mengambil keputusan untuk mengorbankan nyawanya sebagai pernyataan bakti kepada negara dengan membunuh diri.

Tapi, ketika ia menghunus pedangnya dan hendak menusuk lehernya sendiri, tiba-tiba sepucuk sinar putih berkelebat, serta merta pedangnya terpotong menjadi dua dan di depannya berdiri seorang tua berjubah putih dan rambut serta jambangnya yang panjang sampai kepinggang semuanya putih melepak!

Ia merasa seakan-akan bermimpi, tapi sebagai seorang yang waspada ia segera maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang suci.

Tanpa perdulikan, pangkat dan kedudukan, ia segera berlutut.

Orang tua itu mengaku bernama Kam Hong Siansu, seorang suci setengah dewa yang mengasingkan diri di bukit Kam-hong-san.

Kam Hong Siansu menyatakan bahwa Si Kim Pau berbakat untuk menjadi seorang pertapa, lalu dengan samar-samar ia meramalkan bahwa untuk sementara ini pemerintah Ceng Tiauw tak dapat dirobohkan, karena sudah takdirnya demikian.

Dengan pertolongan Kam Hong Siansu yang menggunakan ilmunya, sekaligus Si Kim Pau, isterinya, dan Si Cin Hai, puteranya yang berusia sembilan belas tahun, dibawa ke puncak Gunung Kam hong-san.

Atas petunjuk Kam Hong Siansu, Si Kim Pau bertapa di situ sambil mendidik puteranya dalam ilmu-ilmu ketatanegaraan dan kesusasteraan.

Namun darah patriot yang mengalir dalam tubuh Si Cin Hai membuat ia tak betah tinggal di atas gunung dan tanpa dapat dicegah ia pergi turun gunung.

Ibunya sangat sedih karena hal ini lalu jatuh sakit dan meninggal dunia.

Si Kim Pau yang ditinggal seorang diri di puncak gunung melanjutkan pertapaannya tanpa memperdulikan urusan dunia.

Kadang-kadang, Kam Hong Siansu, entah dari mana datangnya, datang mengunjunginya dan memberi wejangan-wejangan ilmu batin.

Si Cin Hai turun dari Kam hong san dan membuat hubungan dengan Enghiong (orang gagah) berjiwa patriot dari seluruh tempat untuk berusaha merobohkan pemerintoh Ceng Tiauw dan mengusir orang-orang Boan, penjajah angkara itu dari permukaan bumi Tiongkok.

Iapun berhubungan pula dengan Gouw Sam Kwie yang bergerak dari Propinsi Hun Lam.

Karena ternyata Si Cin Hai seorang terpelajar yang cerdik pandai dan seorang patriot sejati, walaupun ia masih muda dan tak pandai ilmu silat, ia diangkat menjadi Bengcu oleh semua Enghiong dan disebut Si-Enghiong.

Sementara itu, ia kawin dengan Yo Lu Hwa, puteri dari Yo Beng Kiat seorang piauwsu (tukang pengantar barang ekspedisi) ternama di kota Liok-cu.

Yo Lu Hwa lalu ikut aktip dalam perjuangan suaminya.

Pada permulaan tahun Kong Hie ke empat belas, ketika Raja kedua dari pemerintah Ceng Tiauw mulai bertahta, Si Cin Hai bersamaan dengan Gouw Sam Kwie dari daerah lain, mulai bergerak untuk menggulingkan pemerintah musuh.

Tapi sayang, karena Gouw Sam Kwie kurang berhati-hati, maka rahasia pergerakan itu bocor, dan mereka dipukul oleh Pemerintah Ceng Tiauw sebelum mereka sempat bergerak, sehingga banyak kawan-kawan seperjuangannya yang tewas.

Ternyata pemerintah penjajah mempunyai banyak panglima jagoan, diantaranya ialah Coan Eng, Ta Hai dan Lie Ban si Naga Tanduk Besi.

Di antara para patriot yang gugur, termasuk juga Si Cin Hai dan Ong Kee Lin suami Yo Leng In.

Yo Leng In ini adalah adik kandung Yo Lu Hwa.

Yo Lu Hwa sendiri tertawan oleh Tiat-kak-liong Lie Ban si Naga Tanduk Besi!

Sebetulnya Yo Lu Hwa ingin mengamuk sampai titik darah penghabisan setelah melihat suaminya gugur, tapi apa daya, ia terpaksa menyerah untuk melindungi puteranya dari bahaya maut!

Demikianlah, ia dan Han Liong, puteranya yang baru berusia lima bulan itu ditawan musuh.

Masih bergema di telinganya pesan suaminya yang terakhir.

"Peliharalah Han Liong baik-baik dan teruskanlah perjuangan kita!"

Pesan pertama untuk memelihara Han Liong telah dilaksanakan dengan pengorbanan menyerah kepada musuh, tetapi pesan kedua takkan mungkin dapat ia lakukan.

Tiat-kak-liong Lie Ban yang baru setahun kematian isterinya, sangat tertarik melihat kecantikan dan kegagahan Yo Lu Hwa, maka ia sengaja menawannya dengan anaknya.

Kemudian, ia membujuk-bujuk agar nyonya muda itu suka menjadi isterinya.

Tentu saja Yo Lu Hwa tidak sudi dan memaki-makinya sebagai seorang tak tahu malu dan rendah budi.

Tapi setelah Lie Ban mengancam akan membunuh Han Liong jika ia tidak mau menjadi isterinya, dengan hati hancur luluh nyonya muda itu terpaksa menurut.

Ia mau berkorban apa saja asal anaknya terluput dari bahaya maut.

Hal ini sangat menyakitkan hati kawan-kawan di kalangan kang ouw dan liok-lim.

Mereka anggap bahwa penyerahan Yo Lu Hwa itu sangat memalukan dan merendahkan nama para patriot, terutama nama Si-Enghiong yang mereka hormati.

Teristimewa Yo Leng In yang telah menjadi janda pula, ia merasa sangat malu dan telah berkali-kali dicobanya memasuki gedang Lie Ban untuk menculik Han Liong dan kalau mungkin membunuh Lie Ban serta encinya!

Tapi Tiat kak-liong Lie Ban bukan anak kemarin sore.

Ia tahu betul bahwa Yo Lu Hwa mau menjadi isterinya karena menjaga keselamatan Han Liong.

Kalau Han Liong sampai terculik hilang, tentu isterinya yang baru itu takkan sudi lagi mendekatinya, bahkan mungkin akan menimbulkan keributan!

Maka, ia menjaga Han Liong dengan sangat hati-hati, bahkan sengaja ia mendatangkan beberapa orang kawan-kawannya yang juga ahli-ahli silat kelas satu untuk menjaga gedungnya.

Karena itu, segala daya upaya Yo Leng In menjadi gagal sama sekali, bahkan beberapa orang kawannya mendapat luka berat di dalam percobaan menculik Han Liong itu.

Demikianlah tujuh bulan telah lampau.

Peristiwa tewasnya Si-Enghiong dan dirampasnya Yo Lu Hwa oleh Lie Ban telah terdengar oleh semua kawan-kawan di kalangan kang-ouw dan menggerakkan hati para hohan (kesatria) di seluruh pelosok.

Di antara mereka yang tergerak hatinya adalah Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan.

Ia meninggalkan guanya di Gunung Kwan lim-san dan memberi kabar kepada beberapa orang sahabatnya untuk mengadakan penemuan di Kam hong-san pada permulaan musim Chun (musim semi)!

la sendiri langsung menggunakan ilmunya berlari cepat menuju ke gedung Tiat-kak-liong Lie Ban yang dijaga kuat itu.

Malam itu, tidak seperti biasanya, di rumah Lie Ban agak sunyi.

Biasanya Tiat-kak-liong Lie Ban dengan ditemani oleh tiga orang kawannya, ialah Oei-kak-liong Lie Kong si Naga Tanduk Kuning adiknya sendiri, dan berdua saudara Beng Liok Hui dan Beng Liok Houw yang dijuluki orang Sankang Jie-pa-cu (Dua Macan Tutul dari Sankang), minum arak atau main maciok sampai tengah malam.

Tapi malam itu Lie Kong dan kedua saudara Beng telah masuk ke kamar masing-masing, sedangkan Tiat-kak-Liong Lie Ban berada di kamar isterinya.

Di antara bayang.bayang daun pohon yang ditimpa sinar bulan, berkelebat seSosok bayangan tubuh manusia di atas genteng gedung itu.

Gerakannya demikian enteng dan gesit sehingga gerakan seekor kucingpun kalah olehnya!

Dengan ilmu meringankan tubuh Keng-kong-tee-sut-hoat ia berlari-lari ke sana ke mari di atas genteng mencari-cari.

Tiba-tiba ia berhenti di atas kamar Lie Ban dan kakinya bergerak dalam tipu Ouw liong coan-tah (Naga Hitam Menembus Menara) ia melompat turun ke bawah tanpa bersuara sedikitpun.

Kemudian dengan langkah ringan sekali ia menghampiri jendela dan memasang telinga.

"Isteriku, janganlah engkau terlampau makan hati. Kurang apakah engkau jadi isteriku? Aku cinta padamu, hormat padamu, dan menjaga Han Liong seperti anakku sendiri. Bergembiralah isteriku, dan ingat akan kandunganmu,"

Terdengar suara seorang laki-laki halus membujuk. Lalu terdengar helaan nafas seorang perempuan.

"Memang nasibku yang buruk... nasibku yang sial... ahh..."

Terdengar isak perlahan.

"Sudahlah, bukankah engkau cinta kepada Han Liong? Dan bukankah aku berlaku baik padamu? Jangan bersedih, supaya lekas sembuh."

"Memang engkau baik padaku dan Han Liong... dan sekarang aku mengandung pula... mengandung anakmu..."

"Bukankah itu baik sekali?"

Tiba-tiba suaranya terdiam dan dengan gerakan Ouw-liong-chut-tong (Naga Hitam Keluar Gua) ia meloncat keluar pintu dan masih sempat melihat sekelebat bayangan hitam melayang ke atas genteng.

"Bangsat, jangan lari!"

La berseru dan mengayun tubuhnya ke atas genteng, mengejar.

Tapi ketika kakinya menginjak wuwungan rumahnya dan matanya mencari-cari ke sana ke mari, ia tak melihat sesuatu kecuali bayangan daun-daun pohon yang bermain di atas genteng.

Heran, pikirnya, apakah aku tadi melihat kucing?

Ia langsung menuju ke kamar adiknya dan kedua saudara Beng.

Ternyata mereka sudah tidur, maka segera ia kembali ke kamar isterinya.

Alangkah kagetnya ketika ia mendengar Yo Lu Hwa menjerit-jerit.

"Jangan... jangan ambil anakku...!!"

Cepat ia meloncat masuk melalui pintu dan melihat seorang laki-laki tua yang mukanya bagian bawah tertutup jambang dan jenggot putih, berpakaian kuning tua.

Orang tua itu telah memondong Han Liong, Sedangkan isterinya berusaha merebutnya.

Tapi gerakan orang tua itu cepat benar dan isterinya yang sedang sakit tak dapat berbuat apa-apa.

Lie Ban amat marah.

"Bangsat tua! Kau berani bermain-main di depan tuanmu! Lepaskan anak itu!"

"Ha, ha! Lie Ban orang rendah! Anak ini bukan anakmu, ada hak apakah kau melarang aku membawanya pergi?"

"Kurang ajar!"

Dengan kemarahan yang meluap-luap, Tiat-kak liong Lie Ban menyerbu dengan gerakan Go-yang-pok-sit (Kambing Kelaparan Tubruk Makanan) dan mencengkeram ke arah dada orang tua itu.

Ketika cengkeramannya ditangkis lawan, Lie Ban merubah serangannya dengan Kim-liong-tam-jiauw (Naga Emas Mengulur Cakar), kedua tangannya maju serentak, yang kanan memukul ke arah muka lawan dan yang kiri mencengkeram hendak merampas Han Liong.

Tapi ternyata lawannya lebih tinggi kepandaiannya.

Ia meloncat ke sana ke mari sambil ketawa mengejek.

Orang tua itu adalah Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan, menggunakan ilmu silat Jiauw-pouw-poan-toan (Tindakan Mengitar Berputar-putaran), berkelit kian ke mari dan sekali lompat saja ke arah pintu, ia terus menghilang ke atas genteng!

Anak yang didukungnya berteriak-teriak menangis hingga membangunkan Lie Kong dan kedua Macan Tutul dari Sankang.

Dengan susul-menyusul mereka bertiga memburu ke atas genteng.

Si Iblis Daratan yang sedang meloncat dengan tipu Tiang-hong-koan-jit (Bianglala Melintang Langit), tiba-tiba merasa sambaran angin keras ke arah kakinya.

Ia tak heran lagi, dan terus menahan kakinya yang hendak turun, lalu berpoksai (jungkir balik) di udara dengan gerak tipu Koai-bong-hoan-sin (Siluman Ular Berputar Balik) ia meloncat secepat kilat ke belakang.

Ternyata serangan itu adalah sebuah toya yang menyambar kakinya.

"Penculik hina jangan lari!"

Teriak penyerangnya yang bukan lain adalah Oei-kak-liong Lie Kong.

Kemudian dengan tipu Hok houw-kun hoat atau Ilmu Toya Penakluk Harimau, Lie Kong menyerang dengan buasnya, tak peduli lagi bahwa pukulan-pukulannya bisa mencelakakan Han Liong yang berada dalam dukungan orang tua itu.

Namun dengan masih tertawa-tawa kecil orang tua yang bertubuh ringan lincah itu yang sangat mahir dalam berkelit, berpusing-pusing ke sana ke mari di antara sambaran toya.

Lie Ban yang tadinya menolong isterinya yang sedang jatuh pingsan, kini tiba-tiba mengejar dan menyerang dengan goloknya.

Serangannya ini sangat hebatnya, karena dilakukannya dalam keadaan marah yang sangat memuncak.

Lie Ban menyerang dengan ilmunya yang paling diandalkan, ialah Ilmu golok Ngo-houw-bun to atau Lima Harimau Mencegat Pintu.

Goloknya yang berat berkeredepan di bawah sinar bulan dan menyerang ke arah tenggorokan lawannya dengan mengeluarkan angin dingin yang berciutan.

Karena di dalam hatinya terasa takkan baik jadinya jika menghadapi Kedua bersaudara yang tak boleh diabaikan itu, ia segera meng gunakan ilmunya berlari cepat sambil berkata.

"Lie Ban, aku tak sempat melayanimu lebih lama. Selamat tinggal!"

Tetapi dua bersaudara itu lompat mengejar lagi.

Ketika Liok-tee Sin-mo Hong In sudah melalui dua wuwungan, tiba-tiba dari depan terlihat dua bayangan orang menghadang.

Mereka ternyata adalah dua saudara Beng yang berdiri menanti dengan pedang di tangan!

"Berhenti, bangsat tua bangka!"

Mereka menyerang serentak dengan menggunakan tipu silat pedang mereka yang terkenal yakni Jie-pa-cu Siang-Kiam Hoat (Ilmu Silat Pedang Sepasang Macan Tutul) yang mereka ciptakan berdua.

Ilmu ini hebat sekali, teristimewa kalau dilakukan di dalam penyerangan bersama, seakan-akan mereka berdua itu hanya seorang dengan empat tangan dan empat pedang!

Belum pernah selama hidupnya Liok-tee Sin-mo Hong In menyaksikan ilmu pedang sebaik ini.

Ia merasa kagum serta gembira, kalau saja ia tidak sedang mendukung Han Liong, tentu ia ingin sekali mencoba ilmu pedang istimewa ini.

Ia tak usah takut, karena dengan, mengandalkan kelincahan dan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, belum tentu dua pasang pedang itu akan dapat melukainya.

Tapi kini ia tiada waktu untuk melayani kedua macan tutul itu, maka ia meloncat pergi melayang ke atas pohon dan berkata.

"Bagus benar permainan pedang kalian!"

Kedua saudara Lie Ban dan Lie Kong yang mengejar sudah sampai pula di situ, dan mereka berempat ternyata tak mampu mengejar si Iblis Daratan.

Tiba-tiba Beng Liok Hui mengayunkan kedua tangannya dan dua buah benda hitam melayang menyambar ke arah punggung dan pinggang Liok-tee Sin-mo Hong In yang baru saja menurunkan sebelah kakinya di atas cabang pohon yang tertinggi.

Baru saja angin senjata rahasia itu terasa olehnya, dengan cepat ia jungkir balik ke bawah pohon, dan benda itu menyambar dengan cepat sekali sehingga terasa dingin sambaran anginnya, Mau tak mau si Iblis Daratan terkejut!

Ia maklum kelihaian penyambit piauw tadi, karena sambaran anginnya menunjukkan tenaga dalam yang hebat!

Maka segera ia menggunakan ilmu Keng-sin-sut hingga tubuhnya bagaikan melayang-layang di atas rumput, sekejap saja sudah berada jauh dan lenyap dari pandangan mata musuh-musuhnya!

Gunung Kam-hong-san yang dikelilingi bukit-bukit kecil berjejer-jejer merupakan seorang jenderal perang yang mengepalai barisan pejuang.

Gunung itu berdiri di tengah-tengah, puncaknya menjulang tinggi menembus awan, bukit-bukit yang mengelilinginya hijau gelap penuh hutan liar.

Pada waktu pagi, keadaan di sekitar lereng gunung ini sungguh indah.

Bumi yang naik turun tak rata itu dihiasi rumput hijau muda yang membentang luas bagaikan kain beludru menutupi seluruh gunung.

Di sana sini tumbuh bunga-bunga hutan beraneka warna dan ragam, bagaikan sulaman-sulaman indah di permukaan beludru hijau itu, menebarkan bau semerbak harum.

Hutan-hutan yang penuh dengan pohon Liu, Siong, dipayungi cabang-cabang beberapa pohon raksasa yang telah ribuan tahun usianya.

Matahari bersinar merah di timur, menerjang halimun menimbulkan cahaya pelangi beraneka warna yang indah sekali.

Suara burung-burung beraneka macam berkicau dan berdendang melakukan puja-puji kepada tamasya alam, suara mereka nyaring merdu diiringi suara anak sungai gemercik tiada berkeputusan menambah sedap pemandangan dan pendengaran.

Jika di Sorga terdapat taman, agaknya seperti inilah macamnya!

Dari dalam hutan, sayup-sampai terdengar suara geraman binatang buas, yang dibalas oleh auman di lain hutan, sehingga suara gerengan susul menyusul bersahut-sahutan, menggelegar bagaikan bunyi tambur besar yang dipukul riuh rendah menggetarkan ujung-ujung daun yang dihias butiran-butiran air embun.

Sungguh benar kata orang bahwa di tempat yang indah merupakan sorga dunia itu ternyata tersembunyi bayangan-bayangan maut yang mengintai mangsanya!

Maka tak heran bila belum pernah ada yang berani menjelajahi tempat yang indah itu, karena semua orang kampung yang tinggal puluhan li dari kaki gunung tahu akan bahayanya memasuki hutan-hutan yang penuh binatang liar itu.

Namun, pada pagi hari di permulaan musim Chun, di kala hawa udara sangat sejuknya dan segala taman-tamanan sedang semi berkembang, ketika angin gunung sedang berdesir perlahan menghalau halimun ke arah timur, dari bukit yang terdekat dengan Gunung Kam-hong-san, tampak seSosok bayangan terbang melayang-layang di atas rumput-rumput hijau.

Dilihat dari jauh, bayangan itu mungkin akan disangka setan penjaga gunung.

Tapi, ketika bayangan itu sampai ke tempat yang agak terang, maka ternyatalah bahwa ia adalah seorang tua yang sedang berlari sangat cepatnya sehingga seakan-akan melayang.

Memang ia sedang berlari menggunakan ilmu lari cepat Keng-sin-sut yang telah sempurna diyakininya.

Yang mengherankan, adalah kepandaiannya meringankan tubuh.

Rumput-rumput yang terinjak oleh kakinya hanya bergerak-gerak sedikit seakan-akan hanya dihinggapi sepasang kupu-kupu.

Ujung-ujung rumput rebah sedikit dan segera bangkit kembali setelah kakinya berlalu.

Ini menandakan bahwa ilmu meringankan tubuh "Co-siang-hui"

Dari orang tua itu sudah hampir mencapai puncak kesempurnaannya.

Kakak itu berwajah kurus, berusia kira-kira enam puluh tahun.

Mukanya hanya kelihatan dari batas hidung ke atas, karena dari hidung ke bawah tertutup oleh jambang dan jenggot putih melepak yang berkilauan laksana benang perak.

Rambutnya yang putih lebat digelung ke atas.

Pakaiannya berwarna kuning tua, telah robek dan compang-camping.

Leher dan lengan bajunya lebar, berkibar-kibar ditiup angin ketika ia lari.

Sepasang kakinya berkasut jerami.

Ia menggendong seorang anak kecil dalam lengan kirinya, anak yang berusia kira-kira setahun.

Karena kecepatan larinya, sebelum matahari selesai mengusir semua embun di lereng gunung, orang tua itu telah sampai di dekat puncak Kam hong-san dan memasuki sebuah hutan yang besar di puncak.

Hutan itu penuh dengan pohon yang aneh-aneh dan jarang terdapat di hutan lain.

Ia langsung menuju ke sebuah pondok bambu di tengah-tengah hutan, dan kedatangannya disambut oleh tiga orang kakek lain.

"Ha, ha, Hong Losuhu, bagus benar! Kulihat engkau telah berhasil,"

Kata seorang dari mereka yang matanya buta sebelah.

Anak kecil itu lalu didukung bergantian oleh mereka dengan wajah girang dan kagum.

Siapakah mereka itu?

Anak itu adalah Han Liong dan pendukungnya bukan lain Ialah Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan yang telah berhasil menculik Han Liong.

Tiga orang kakek itu ialah kawan-kawan si Iblis Daratan yang ia beri kabar dan diminta datang berkumpul di Kam-hong-san pada permulaan musim Chun.

Yang bermata sebelah adalah Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat, yang di kalangan kangouw dikenal sebagai Giam lo-ong kecil bermata satu.

Tubuhnya kecil kurus kering seperti cecak mati, tetapi matanya yang hanya sebelah kanan itu bersinar-sinar seperti bintang pagi.

Rambut dan jambangnya telah berwarna dua, kasar dan kaku, kacau balau tak teratur.

Orang ketiga adalah seorang hwesio (pendeta) gundul bertubuh tinggi besar.

Sepasang matanya besar bundar dilindungi alis tebal hitam, tapi mukanya licin seperti kepalanya.

Ia adalah Kim-to Bie Kong Hosiang si Golok Emas, ketua kelenteng Kim kee-tang di bukit, Hun-tian-si, seorang ahli silat golok yang kenamaan.

Orang keempat adalah seorang tosu (pertapa atau imam).

Usianya juga sebaya dengan yang lain, kurang lebih enam puluh tahun, tapi berbeda dengan kawan-kawannya yang sudah tampak tua itu, ia sendiri mempunyai muka seperti kanak-kanak, walaupun rambutnya sudah putih seperti salju, panjangnya sampai ke punggung, diikat menjadi satu.

Wajahnya kemerah-merahan dan nampak sehat sekali.

Ini adalah Beng-san Tojin Pauw Kim Kong yang dijuluki orang si Malaikat Rambut Putih.

Keempat orang tua itu berganti-ganti memegang dan memandang anak kecil itu sambil berkali-kali menyebut.

"Anak baik. Tampang luar biasa. Tulang suci,"

Dan lain pujian lagi.

"Hong Losuhu,"

Kata Hee Ban Kiat si mata satu.

"sebagai orang tua kali ini kau harus mengalah padaku. Anak ini serahkan saja padaku untuk kudidik. Dengan mempunyai murid seperti ini aku akan dapat mati tenteram!"

"Eh, Hee-koaijin!"

Bantah Hong In si Iblis Daratan, ia sudah biasa menyebut si mata satu "koaijin" (orang aneh).

"Engkau mau enaknya saja. Aku yang memeras keringat engkau yang menjadi tukang tadah. Ini tak mungkin!"

"Jiwi losuhu. Kelentengku kosong. Pinceng si tua bangka belum pernah punya murid. Keadaan pinceng ini cocok dengan anak ini. Memang kedatangan pinceng ke sini hendak menyambut keturunan Si-Enghiong ini untuk diwarisi sedikit kemampuan yang ada pada pincang,"

Menyambung Bie Kong Hosiang dengan senyum memohon.

"Hm, saudara-saudara, jangan berebut,"

Sela Pauw Kim Kong yang mempunyai suara halus seperti wanita.

"Baiknya diatur begini. Karena semua ingin mewariskan kepandaiannya kepada anak ini yang memang sudah sepatutnya, maka baiklah sekarang diadakan sayembara. Siapa diantara kita yang berkepandaian paling tinggi, dialah yang berhak menjadi guru anak ini!"

"Eh, eh! Pauw Toheng (saudara Pauw) hendak menguji kita semua?"

Tanya si mata satu, matanya yang tunggal memancarkan cahaya kilat. Beng-san Tojin Pauw Kim Kong mengangkat lengan kanannya yang terbungkus baju putih panjang.

"Jangan keliru sangka kawan. Maksudku hanya untuk memperlihatkan kepunsuan (kepandaian) masing-masing. Yang dianggap paling tinggi kepandaiannya dialah yang menang."

Semua setuju mendengar usul ini.

"Nah, Pauw Toheng, karena kau yang mengusulkan, sudah sepantasnya kalau engkau pula yang membuka pertunjukan sayembara ini dengan mengeluarkan kepandaianmu untuk menambah pengertian kita."

Pauw Kim Kong tidak ragu-ragu lagi.

Ia menuju ke lapangan rumput di depan pondok itu dan semua orang mengikutinya.

Kemudian, dengan sekali lompat, ia melayang dengan menggunakan gerakan Hui-niauw-coan-in (Burung Terbang Menerjang Mega), dengan gesit dan ringan kakinya turun dan berdiri di tengah-tengah lapangan.

Kemudian sambil menghadapi kawan-kawannya, ia mengangkat kedua kepalan tangan di atas dada memberi hormat, dan berkata.

"Aku si tua bangka yang tak tahu diri mohon maaf. Karena tulang-tulangku yang tua sudah lemah, dagingku sudah loyo, maka aku tak mempunyai apa-apa yang patut disajikan. Sekarang aku sudah tak berani menghadapi musuh dan menjadi orang penakut. Paling-paling-aku hanya berani melawan pohon yang tak bisa membalas memukul. Maka, cu-wi (saudara-saudara sekalian) maafkanlah, aku mau main-main dengan pohon sion g tua ini."

Pauw Kim Kong si Malaikat Rambut Putih lalu menghampiri sebatang pohon siong sebesar pelukan lengan.

Ia berdiri sejauh dua langkah dari pohon itu, memasang bhesi dengan kaki terpentang merupakan segi tiga, kedua tangan terjulur ke depan, kepala tunduk.

Ternyata ia sedang mengumpulkan tenaga dalam dan memusatkan nuitungnya ke dalam lengan.

Kini kedua lengan bajunya tampak tergetar-getar dan ia menegakkan kepalanya, lurus memandang sebatang pohon.

Kedua lengannya bergerak-gerak bagaikan mendorong, dan...

segera datang hujan daun pohon itu yang rontok berhamburan melayang-layang ke bawah, pada hal pohonnya tak bergerak sedikitpun.

"Bagus!"

Memuji tiga orang kawannya dengan kagum melihat tenaga dalam yang istimewa itu"

Pauw Kim Kong segera memberi hormat dan merendah.

"Sepertl tadi telah kukatakan, aku sekarang takut berkelahi, maka aku mengandalkan ilmuku melarikan diri! Janganlah cuwi menertawakanku, tapi kalau untuk meloloskan diri dari musuh saja, aku setua ini masih sanggup. Persilakan cuwi menyaksikan aku yang penakut kalau lari dari muiuh."

Ia berdongak memandang ke atas, dan di antara cabang pohon siong yang sekarang telah menjadi setengah gundul itu, terdapat banyak cabang-cabang besar.

Renggang di antara cabang-cabang itu kira-kira hanya setengah kaki lebih, dan terhalang oleh cabang-cabang yang bersimpang siur itu.

Si Malaikat Rambut Putih lalu membuka baju luarnya yang lebar dan panjang itu, dan kini hanya memakai baju dalam yang pendek ringkas.

Lalu ia menjejakkan kaki ke tanah, dan tubuhnya segera melayang ke atas, tak dinyana telah berdiri di kedua cabang terendah.

Kemudian, setelah sekali lagi bersoja ke arah kawan-kawannya, ia segera meluncur menerobos renggangan-renggangan di antara cabang-cabang itu.

Gerakannya demikian bagus, tubuhnya demikian licin den lemas pula, sehingga seakan-akan merupakan seekor ular yang berbelit-belit, meluncur di antara cabang-cabang pohon.

Dengan menggunakan ilmu Sin-kut-hoat (Melepas Tulang), ia berhasil membuat tubuhnya seakan-akan tak bertulang dan berhasil lolos dari renggangan-renggangan yang kecil dan sempit itu!

Sekali lagi kawan-kawannya memuji.

Setelah menyatakan kebodohannya sendiri dengan ucapan-ucapan merendah, Pauw Kim Kong lalu mempersilakan yang lain memperlihatkan kepandaiannya.

Bie Kong Hosiang segera maju ke depan.

Ia merangkapkan kedua tangan di dada dan berkata kepada Pauw Kim Kong.

"Omitohud! Kepandaian seperti Toheng ini sungguh jarang tolok bandingannya. Pinceng benar-benar menyerah dan memang pantas kalau anak ini kau bawa ke Gunung Beng-san untuk kau didik. Tapi pinceng akan memperlihatkan juga sedikit pertunjukan golok yang tak berarti, kiranya boleh juga diwariskan kepada anak ini. Maafkan pincang."

Hwesio itu dengan sigap lalu loncat ke lapangan sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah punggung.

Ia melompat dengan gerakan Ang-liong-coan-lah (Naga Merah Menembus Menara).

Gerakannya tak kalah lincah dari pada si Malaikat, dan tahu-tahu tangan kanannya telah memegang sebatang golok bergagang emas yang berkilauan hijau karena tajamnya.

Ternyata golok itu sangat tipis dan diselipkan di bawah baju belakang, sehingga tersembunyi.

Dengan sekali putar, jari-jarinya menyembunyikan golok itu dibelakang lengan dan setelah memberi hormat kepada kawan-kawannya ia segera mulai bersilat.

Ia membuka pertunjukannya dengan Ilmu golok Ngo-houw-toan-bun-to (Lima Harimau Memegat Pintu).

Gerakannya mula-mula perlahan, kakinya berkisar ke sana ke mari, kuda-kudanya sangat teguh dan tubuhnya yang tinggi besar itu sangat lemas gerakannya.

Goloknya menari-nari dan berputar makin cepat dan akhirnya ketika ia bersilat dengan gerak tipu Ui-liong-coan sin (Naga Kuning Memutar Tubuh), maka bayangan goloknya merupakan bundaran putih yang melindungi tubuhnya!

Bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata, hanya bundaran putih terdiri dari ribuan ujung golok berputar-putar dan orang hanya dapat tahu bahwa di dalam lingkaran mata golok itu terdapat orang yang memainkannya karena kadang-kadang kelihatan sepatu hitam hwesio itu menginjak tanah!

Setelah Bie Kong Hosiang berhenti bersilat.

Dengan tenang tanpa kelihatan lelah sedikitpun menghampiri kawan-kawannya dan memberi hormat, semua orang memuji.

"Waah, Losuhu terlalu merendahkan diri,"

Memuji Pauw Kim Kong.

"Silat golok seperti yang baru saja kulihat, aku orang she Pauw tak dapat menandinginya!"

Ketika Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat si mata satu diberi giliran.

Ia segera ayunkan tubuhnya dengan gerakan Yan-cu sip pat-sian-hoan (Burung Walet Terbang Jungkir Balik), dengan indah, tubuhnya berpoksai atau berputar-putar beberapa kali di udara dan turun di tengah-tengah lapangan.

"Cuwi, selama berpuluh tahun berkeliaran di dunia, aku hanya mengharapkan kekuatan kedua tanganku yang tua ini. Karena kepandaianku yang lain tidak ada, terpaksa juga aku mempertunjukkan sedikit kebisaan lenganku yang kurus kering ini untuk diwariskan kepada putera Si Enghiong."

Setelah memberi hormat, ia segera bersilat dengan tangan kosong yang menjadi jaminan hidupnya selama ini di kalangan kang-ouw.

Pertama-tama ia bersilat Ouw-wan-ciang-hoat (Ilmu Silat Tangan Lutung Hitam) yang mempunyai tiga puluh enam jalan, tiap gerakan mempunyai tiga jurus hingga seluruhnya berjumlah seratus delapan jurus, tetapi ia hanya mengeluarkan sepertiganya saja, kemudian mengganti gerakannya dengan tipu-tipu Pat-kwa-mui yang tak kalah hebatnya!

Bagi orang biasa, gerakan-gerakannya biasa saja, bahkan agak lambat tak bertenaga, tapi bagi ketiga orang yang melihatnya ketika itu, mau tidak mau mereka harus memuji karena maklum akan luar biasanya kedua lengan tangan itu.

Di dalam tiap-tiap tipu dan gerakan berganti-ganti menggunakan tenaga nui-kang dan nge-kang hingga dapat mengimbangi musuh yang bagaimanapun.

Bahkan belakangan, si mata satu itu mengeluarkan kepandaiannya menotok dengan jari menurut gerakan Su-sat-chiu yang terkenal kesaktiannya.

Jika mempunyai ilmu ini sampai mahir, maka biarpun bertangan kosong, tidak khawatir rasanya menghadapi lawan yang bersenjata!

Tentu saja setelah ia akhiri pertunjukannya, semua kawannya memujinya.

Kini tiba giliran Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan.

Seperti ketiga orang kawannya, iapun merendah dan kemudian mengeluarkan kepandaiannya yang mengagumkan.

Si Iblis Daratan memang terkenal dengan ilmunya meringankan tubuh dan kepandaian melempar dengan kim-chie-piao (senjata rahasia uang logam).

Pertama-tama ia keluarkan ilmunya meringankan tubuh Too-tiam-leng-po-pou sehingga tubuhnya bagaikan melayang-layang ketika ia melompat-lompat di antara puncak-puncak pohon.

Dari bawah ia kelihatan seperti seekor burung garuda yang bermain-main dengan puncak pohon, membuat setiap ujung daun pohon bagian atas bergerak-gerak, sebentar di pohon ini, sebentar di pohon itu dengan gerakan secepat kilat.

Ia menggunakan gerakan Kim-hong-hi-lui (Tawon Gula Bermain di Tangkai Bunga).

Kemudian ia mendemonstrasikan ketangkasannya melempar dengan kim-chie-piao.

Kedua tangannya masing-masing memegang sepuluh buah uang logam.

Ia melemparkan kim-chie-piao itu ke arah batang pohon dengan gerakan bermacam-macam.

Langsung, miring, dari bawah lengan, dengan membelakangi, bahkan dengan mendekam di tanah.

Gerakan tangannya terus menerus tiada hentinya sampai semua kim-chie itu menyambar ke arah batang pohon.

Ketika mereka semua menghampiri batang pohon siong itu, maka terlihat dua puluh buah uang logam itu semua telah memasuki tubuh pohon itu dengan berjajar-jajar rapi bagaikan diatur!

Semua uang itu masuk miring dan dalam sekali.

"Dalam hal mengentengkan tubuh dan melempar piao, engkau pasti paling unggul, Hong Losu!"

Memuji si mata satu.

"Nah, sekarang bagaimana?"

Kata Hong In.

"Ternyata melihat jalannya sayembara, kita masing-masing mempunyai kemampuan tersendiri hingga sukar untuk menentukan siapa di antara kita yang tertinggi ilmunya. Bagaimanakah baiknya ini?"

Sedang empat orang tua itu bingung dan saling pandang, tiba-tiba di atas udara terdengar suara tertawa yang merdu dan halus, suara tertawa itu dari perlahan lalu makin nyaring dan susul-menyusul hingga bergema di seluruh hutan seakan-akan di semua penjuru ada orang yang sedang tertawa!

Keempat orang kakek itu maklum bahwa ada seorang wanita yang sedang menunjukkan iweekangnya.

Suara ketawa itu digerakkan oleh sebuah tenaga yang keluar dari Tan-tian sehingga dapat dikirim ke tempat jauh dan bergema dengan nyaringnya.

Dari suara ini saja seorang ahli dapat mengukur ketinggian ilmu orang.

Diantara keempat kakek itu, Pauw Kim Kong yang tertinggi ilmu tenaga dalamnya, maka segera ia dapat menduga di mana adanya orang yang tertawa tadi.

Ia menghampiri sebuah pohon besar di samping pondok, dan memberi hormat ke arah daun-daun pohon sambil berkata.

"Li Enghiong, silakan turun. Kami merasa terhormat sekali mendapat kunjunganmu yang mulia."

Dari dalam pohon itu segera melayang turun seSosok bayangan hitam dan seorang wanita muda yang cantik tapi berwajah duka dan berpakaian serba hitam berdiri di hadapan mereka sambil mengangkat tangan memberi hormat berulang-ulang.

"Maaf sebanyak-banyaknya. Saya yang tidak tahu diri dan rendah telah mengganggu losuhu sekalian. Sebenarnya telah sejak tadi saya datang, tapi tak berani turun karena khawatir mengganggu permainan losuhu sekalian. Kemudian karena mendengar tentang hasil sayembara itu, dengan lancang saya telah melepaskan tertawa, mohon Losuhu sekalian sudi memaafkan. Sebetulnya kedatangan saya Ini tak lain juga berhubungan pula dengan puter"

Almarhum Si-Enghiong dan ingin sekali mendidiknya sekadar membaktikan sedikit tenagaku untuk negara."

Mendengar kata-kata yang bersifat patriotik ini, Hong In bertanya dengan hormat.

"Maaf, Toanio, bolehkah kiranya kami mengetahui namamu yang terhormat?"

"Saya yang rendah adalah Yo Leng In, dan Si-Enghiong almarhum adalah cihuku (kakak Ipar), dan anak ini adalah keponakanku sendiri,"

Jawab nyonya muda itu.

"Saya datang terlambat dan mendengar bahwa keponakanku telah dibawa kemari, maka saya segera menyusulnya."

Keempat kakek itu kini tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan janda almarhum Ong Kee In, kawan seperjuangan Si-Enghiong yang gugur pula dalam usaha mereka meruntuhkan kekuasaan Boan.

Maka segera mereka menunjukkan hormat kepada wanita patriot itu.

"Losuhu sekalian,"

Berkata Yo Leng ln pula.

"saya tadi telah mendengar akan kecintaan hati Losuhu untuk mendidik Han Liong. Saya merata terharu dan berterima kasih. Tak perlu kiranya Losuhu sekalian berebut. Karena pondok di Kam-hong-san ini memang kosong dan tadinya hanya dipakai sebagai tempat pertemuan rahasia dari Si-Enghiong dan kawan-kawan lain, apakah salahnya kalau Losuhu dengan bergiliran datang ke sini untuk mendidik Han Liong? Saya sendiri akan merawatnya di sini, karena anak ini harus dididik ilmu surat pula, agar kelak setelah dewasa dapat melanjutkan cita-cita kita semua, menjadi orang Bun-bu-Enghiong (ksatria gagah dan pandai), mewakili kita orang-orang tua menggerakkan sekalian orang gagah membela negara dan bangsa. Bagaimana, Losuhu, dapatkah usulku ini diterima!"

Empat orang kakek itu saling pandang dengan tertawa ditahan, kemudian mereka serentak menyatakan setuju sambil menyatakan kebodohan mereka sendiri-sendiri yang sudah berebut dengan kacau balau tak keruan!

Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat si mata satu tertawa terbahak-bahak.

"Yo toanio, maafkanlah kami berempat orang, orang kasar yang tolol ini! Baiknya toanio segera datang dengan cepat, kalau tidak, mungkin kami akan tersesat makin jauh. Usulmu baik sekali. Aku yang bodoh setuju sepenuhnya! He, bagaimana pendapat kalian?"

Tegurnya kepada kawan-kawannya.

"Hee Koanjin bicara betul. Kami setuju. Memang usul Toanio itu wajar sekali,"

Kata Hong In si Iblis Daratan.

"Nah, marilah kita rayakan hari gemilang ini. Tadi sambil menantikan kembalinya Hong Losuhu, kami bertiga sudah menyediakan arak tua dan makanan. Pinceng sudah merasa lapar sekali!"

Kata Bie Kong Hosiang si Golok Emas dengan senyum lebar.

Bersama-sama mereka melangkah memasuki pondok, didahului oleh Yo Leng In yang mendukung Han Liong.

Di tengah-tengah pondok terdapat sebuah meja kayu bundar besar dan dua losin bangku yang mengelilingi meja itu.

Memang tempat ini biasanya digunakan untuk rapat para Hohan (orang gagah) dari kalangan kang-ouw dan liok-lim yang berjiwa patriot dari segala pelosok, yang dipimpin oleh Si-Enghiong.

Tentang halnya bekas menteri Si Kim Pau, ayah mendiang Si-Enghiong, tak seorangpun tahu di mana tempat tinggalnya kini, bahkan sebelum Si Enghiong gugur, iapun tak pernah berjumpa dengan ayahnya.

Agaknya Si Kim Pau telah pergi mengikuti Kam-hong Siansu, Entahlah!

Gua bekas tempat ia bertapapun telah lama sekali kosong.

Karena di dalam pondok itu telah tersedia lilin, maka Yo Leng In segera mengatur meja sembahyang, dan kemudian dengan disaksikan oleh keempat Losuhu, ia mengajak Han Liong bersembahyang minta izin roh ayah anak itu, Si-Enghiong, untuk berguru kepada keempat Losuhu yang pandai-pandai itu!

Setelah itu, Yo Toanio dengan memangku Han Liong, mengajak anak itu bersama-sama berlutut kepada mereka bergiliran.

Keempat orang kakek itu sangat gembira.

Lebih-lebih setelah Han Liong diberi makan oleh bibinya, tampak kemungilannya.

Ia tertawa-tawa dengan girang sekali, pipinya kemerah-merahan, sepasang matanya yang jeli memandang kepada guru-gurunya dengan bersinar-sinar.

Tak sedikitpun tampak takut.

"Anak baik!"

Memuji guru-gurunya dengan rasa kasih sayang.

Semenjak terculik oleh Liok-tee Sin-mo Hong In dibawa ke puncak Gunung Kam-hong-san dan dapat pula kata sepakat antara keempat orang kakek yang kini menjadi gurunya, Han Liong lalu diserahkan dalam asuhan Yo Leng In.

Bibinya ini selain tangkas dalam ilmu silat, iapun ahli pula dalam kesusasteraan, pandai menulis sajak-sajak dan pernah membaca habis kitab-kitab kuno.

Yo Toanio yang baik ini tiap hari memelihara Han Liong dengan penuh kasih sayang, mengajar anak itu bercakap-cakap.

Tiap pagi dan sore ia melatih tubuh anak itu, memukulinya dari perlahan sampai keras dengan kulit bambu dan rotan sambil memandikannya dalam air tercampur arak hangat dengan ramuan obat buatan Beng-san Tojin Pauw Kim Kong yang pandai pula dalam ilmu pengobatan.

Dengan rawatan luar biasa ini, kulit dan daging anak itu tumbuh dengan baik dan mempunyai kekuatan dan keuletan yang sempurna, namun kulitnya tetap lemas halus karena tiap habis mandi, Yo Toanio menggosok seluruh tubuhnya dengan bedak batu kuning yang terdapat di atas Gunung Kam-hong-san.

Ketika Han Liong telah berusia empat tahun, ia mulai menerima pelajaran-pelajaran pokok dalam ilmu silat dari bibinya, Yo Toanio mengajar dengan cara halus dan sewajarnya, tidak dengan paksaan.

Ajaib sekail, anak kecil itu seakan-akan senang sekali mempelajari kuda-kuda atau bhesi dan mencontoh gerakan-gerakan kaki bibinya dengan gembira.

Alangkah heran dan senang hati nyonya muda itu karena dalam beberapa bulan saja Han Liong telah dapat menirunya dalam gerakan-gerakan bhesi Thiao Ma, Peng Ma dan lain-lain pasangan kuda-kuda yang sulit dengan sempurna!

Setahun kemudian, dalam usia kurang lebih lima tahun, Han Liong telah pandai bergerak ke sana ke mari dengan lincah dan sigap dalam segala macam bentuk "pou"

Gerakan perubahan kaki) yang baik.

Selain itu, ia telah hafal dan faham benar akan segala cara menggunakan tangan dan jari dalam ilmu pukulan seperti Houw Jiauw Ciu (gerakan jari telunjuk dan tengah untuk menyodok atau tiam) Yang Ciu, Sam Ciat Ciu dan lain-lain.

Pandai pula menggunakan tendangan kaki Heng Tui dan lain-lain, menggunakan siku seperti Teng Tun, In Tun dan sebagainya, dan ia mengerti pula cara yang bermacam-macam dari kepalan tangan (koan).

Sampai sebegitu jauh maka selesailah tugas Yo Toanio membimbingnya dalam pokok dasar ilmu silat dan kini mulai mengajarnya dalam ilmu surat (bun) saja.

Juga dalam mata pelajaran ini, Han Liong ternyata sangat cerdas.

Tiap harinya ia dapat menghafal lebih dari dua puluh huruf.

Anehnya, sekali menghapal, seperti huruf-huruf itu sudah tercetak dalam ingatannya hingga tak bisa lupa lagi!

Setelah Han Liong paham benar akan dasar-dasar ilmu silat dan selanjutnya untuk mendapatkan pendidikan (Lanjut ke

Jilid 02) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 yang lebih tinggi agar menjadi seorang ahli silat yang sempurna, maka Yo Leng ln menyerahkannya kepada Liok-tee Sin-mo Hong In, karena ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari pada ilmu silat Yo Leng In sendiri, seperti yang sudah diajarkannya kepada Han Liong.

Si Iblis Daratan Hong In mulai mengajar Han Liong dari latihan napas (khikang) sampai kepada ilmu meringankan tubuh dan lari cepat.

Dasar ia memang berbakat pendekar, dalam setahun saja berlatih siang malam, ia telah mewarisi seluruh dasar-dasar kepandaian Liok tee Sin-mo Hong In, dan setengah tahun kemudian, kepandaian dasar menggunakan dan menyambit Kim-chie-piao telah ia pahami pula.

Tentu saja baru dasar-dasarnya dan tinggal meyakinkannya dengan latihan-latihan praktek.

Karena masih ada tiga orang guru lainnya, si Iblis Daratan setelah merasa bahwa Han Liong sudah mewarisi seluruh pokok dasar kepandaiannya, lalu menyerahkan anak itu ke dalam asuhan Pauw Kim Kong si Malaikat Rambut Putih.

Beng-san Tojin Pouw Kim Kong menerima tugas ini dengan gembira dan segera melatih Han Liong dalam ilmu silat berdasarkan tenaga dalam dan melemaskan tulang.

Ia mendidik anak itu memperkuat tenaga dalamnya dan mengajarnya ilmu le Kin Keng dan cara bagaimana untuk Siulian (semadhi) memperkuat ketabahan batin.

Kemudian, selang setahun lebih, Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat mengajarnya ilmu silat tangan kosong yang cekatan.

Selama satu tahun, ilmu silat Ouw-wan cianghoat (Ilmu Silat Tangan Lutung Hitam) yang berjumlah seratus delapan jurus, Thai Kek Touw dan seratus dua puluh jurus Kiauw-ta-sin-na ialah gabungan Kim-na-hoat dari Siauw-lim dan Bu-tong pai telah dipelajarinya dengan baik.

Gurunya yang terakhir ialah Bie Kong Hosiang) yang mewariskan ilmu goloknya yang tiada taranya itu.

Selain ilmu golok, hwesio tinggi besar itu mengajarnya pula ilmu ciptaannya sendiri, ialah gabungan permainan golok dan pedang.

Ilmu ini dapat digunakan baik dengan golok maupun dengan pedang dan gerakan-gerakannya sulit sekali.

Sementara itu, Han Liong masih tetap melanjutkan pelajarannya dalam ilmu surat menyurat dengan rajin di bawah bimbingan Yo Leng In seperti sediakala.

Keempat orang gurunya masih terus memberi petunjuk-petunjuk berganti-ganti sehingga ketika ia berusia lima belas tahun, Han Liong yang digembleng oleh empat orang ahli itu mewaiisl kepandaian silat campuran yang sangat hebat.

Demikianlah penuturan dari guru-gurunya yang didengarkan oleh Han Liong dengan bercucuran air mata.

Lebih-lebih ketika ia mendengar tentang kematian ayahnya dan nasib ibunya.

Ia menjatuhkan diri dan hampir pingsan karena duka.

Baiknya guru-gurunya pandai menghibur, dan di depan guru-gurunya ia bersumpah untuk melanjutkan cita-cita ayahnya dan membalaskan sakit hati orang tuanya.

"Han Liong,"

Berkata Pauw Kim Kong.

"biarpun kini engkau sudah memiliki kepandaian yang lumayan, tapi janganlah sekali-kali engkau takabur dan menganggap dirimu sendiri yang terpandai di dunia Ini. Di dalam dunia masih banyak terdapat orang-orang pandai. Jika kau menyombongkan kepandaianmu, maka engkau akan terjeblos!"

"Lagi, jangan sekali-kali menggunakan kepandaian untuk menindas kaum yang lemah, Liong. Ingatlah selalu bahwa kami memberi pelajaran padamu ialah untuk digunakan menolong sesama hidup yang tertindas, untuk membela negara dan membasmi penjahat. Kalau kau tersesat dan menggunakan kepandaianmu untuk keuntungan sendiri, maka kau tak akan selamat,"

Sambung Siauw lo-ong Hee Ban Kiat.

"Pesanku padamu ialah, jangan terlampau mudah membunub orang, muridku. Jauhkanlah golok dan pedangmu sedapat mungkin dari pertumpahan darah. Kalau tidak sangat terpaksa, janganlah membunuh orang secara serampangan,"

Ujar Bie Kong Hosiang.

"Dan berlakulah sebagai orang gagah yang kenal pribudi. Harus selalu merendahkan diri dan rajin menambah pengetahuan. Ingat, Liong, sepanjang pengalamanku, yang tidak boleh dipandang ringan adalah orang-orang yang kelihatan paling lemah, misalnya kaum wanita, orang-orang tua, pengemis-pengemis, dan orang-orang lain yang kelihatan sangat lemah. Biasanya lawan yang sangat berbahaya itu aalah mereka yang kelihatan lemah itu, tapi di dalamnya tersembunyi kekuatan dan kepandaian tinggi. Karena tampaknya dari luar lemah, maka orang mudah sekali memandang sepi. Tapi kau jangan sekali-kali memandang rendah orang-orang lemah itu, Liong. Kepandaian orang tak tampak di luar tubuhnya,"

Kata Hong In si Iblis Daratan. Han Liong menghaturkan terima kasih atas nasehat-nasehat keempat gurunya itu dan berjanji akan memperhatikannya sungguh-sungguh. Kemudian bibinya bicara.

"Han Liong anakku, kami berlima sudah bersepakat untuk menyuruh engkau turun gunung hari ini juga. Kau perlu mencari pengalaman di luar, nak. Dan kau boleh mencari ibumu. Tentang sakit hati terhadap Tiat-Kak-liong Lie Ban terserah padamu. Itu adalah soal pribadimu, kami hanya memesan agar segala sepak terjangmu dilakukan atas dasar prikebenaran yang layak. Engkau sudah tahu ke mana harus mencari ibumu. Tapi, sekali lagi kuulangi nasehat-nasehat guru-gurumu, yaitu engkau jangan mengambil jalan salah karena kalau engkau kelak dikemudian hari ternyata berobah menjadi anak durhaka dan murid yang mencemarkan nama baik guru-gurumu, maka kami berlima tentu akan mencarimu!"

Pada saat itu tiba-tiba terdengar bunyi guntur keras menggelegar dan satu tenaga besar menggetarkan bumi yang mereka injak sehingga mereka berenam walaupun memiliki kepandaian tinggi, jadi sempoyongan dan terhuyung-huyung.

Semua orang heran karena hari itu langit bersih dan tiada tanda-tanda kemungkinan ada guntur.

Kemudian terdengar ledakan keras dan tahulah mereka bahwa suara gemuruh itu bukan sekali-kali suara guntur, tapi adalah suara tanah yang gugur dari pinggir gunung.

Suara "krek-krek"

Terdengar dan keenam orang itu segera berlompatan keluar pondok.

Ternyata pondok itu menjadi miring dan belum lama mereka berada di luar, pondok itu roboh dengan mengeluarkan suara hiruk-pikuk.

Di luar mereka lihat debu mengepul di sebelah kiri bukit dan Pauw Kim Kong segera maklum apa yang telah terjadi.

Ketika tanah yang mereka injak tadi tergetar membuat mereka terhuyung-huyung berkali-kali, kenyataan sebenarnya ialah gempa bumi besar di gunung sehingga pondok mereka juga roboh karenanya.

Dan suara hebat tadi tentu tanah dan batu-batu gunung yang gugur karena gempa bumi itu dan jatuh ke dalam jurang.

Debunya masih tampak hebat!

Tanpa mufakat lebih dulu mereka berenam serentak berlari-lari menuju ke kiri di mana nampak debu mengepul tinggi.

"Hati-hati!"

Hee Ban Kiat memesan dan betul saja, ketika sampai di sebuah tikungan, dari atas turun menimpa beberapa buah batu besar yang rupanya terlepas dari sandarannya di atas puncak dan berguling-guling ke bawah.

Untungnya mereka telah waspada dan segera meloncat ke belakang menjauhi tempat bencana itu.

Betapapun tinggi kepandaian mereka, kalau sampai, tertimpa batu-batu yang berpuluh ribu kati beratnya itu, pasti akan tamatlah riwayat mereka!

Han Liong yang belum banyak pengalaman dan ingin sekali melihat sesuatu yang masih asing baginya, tak terasa maju mendekati tempat di mana batu-batu tadi jatuh.

Tiba-tiba ia melihat sebuah benda pulih berkilau-kilauan yang bergerak gerak diantara tumpukan batu.

Ia heran dan maju mendekat.

Tiba-tiba benda panjang itu melayang menyambarnya.

Han Liong terkejut dan serangan benda itu demikian cepatnya hingga tak mungkin pula dikelit olehnya.

Maka terpaksa ia mengibaskan tangan kirinya untuk menangkis.

Alangkah terkejutnya ketika benda itu tidak terlempar, tapi menempel di jari tangan kirinya dan terus menggigit.

"Aduh!"

Hanya itulah yang dapat diteriakkannya dan ia roboh pingsan.

Guru-gurunya dan bibinya dengan terkejut lari memburu.

Bukan main khawatir mereka melihat keadaan anak muda itu.

Seekor ular berkulit putih berkilau seumpama perak digosok menempel di jari telunjuk tangan kirinya, giginya masih tertanam di jari Han Liong.

Yang sangat mencemaskan adalah keadaan tubuh anak muda itu.

Seluruh tubuhnya tampak hitam semu hijau.

Mulutnya terkancing, matanya tertutup dan nafasnya sengal-sengal, tinggal satu-satu!

Yo Toanio tak dapat menahan getaran hatinya.

Ia tubruk keponakannya sambil menjerit-jerit!

Guru-guru Han Liong pun menjadi bingung, hanya Pauw Kim Kong yang agak tenang.

Tapi setelah memeriksa keadaan muridnya dan melihat ular yang masih menggerak-gerakkan ekornya itu, ia menjadi lebih sedih daripada yang lain-lain.

"Bagaimana, Pauw-suhu?"

Tanya Bie Kong Hosian ketika melihat Pauw Kim Kong berdiri putus asa dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas.

"Ular berbisa. Bisanya sangat berbahaya. Belum pernah kulihat racun ular demikian luar biasa!"

Sambil menangis keras Yo Toanio mencabut pedangnya dan dengan gemas membacok ular yang masih menempel di tangan Han Liong.

Sekali bacok uiar itu putus kepalanya dan Yo Leng In agaknya masih belum puas.

Dibacoknya tubuh ular itu berkali-kali hingga hancur menjadi berpotong-potong!

Kemudian, setelah menubruk dan menangisi keponakannya sekali lagi, ia mengangkat pedangnya dan ditusukkan ke lehernya sendiri!

Untunglah Hee Ban Kiat berada di dekatnya dan dengan cepat memegang pergelangan Yo Toanio yang memegang pedang hingga sesaat kemudian pedang itu sudah berpindah tangan!

"Sabar, Toanio.

Jangan putus harapan.

Han Liong belum mati,"

Kata Hee Ban Kiat menghibur.

"Belum mati? Lihatlah... lihatlah! Mukanya sudah hitam semua. Siapa bisa memberi obat? Kan, bertahun-tahun kita didik ia, darl anak-anak sampai dewasa. Pengharapan kita semua digantungkan kepadanya... tapi... tapi justeru hari ini,saat ia harus mulai menunaikan kewajibannya... saat seperti ini... ia... ia berangkat mati...". Dimanakah keadilan Thian (Tuhan)??"

Tiba-tiba, bagaikan menjawab keluhan nyonya yang bersedih hati itu, terdengar desis keras di dekat mereka.

Mereka terkejut dan menengok ke arah suara itu.

Alangkah terperanjat dan marahnya mereka ketika melihat seekor ular lain menggeleser-geleser mendekati tubuh Han Liong!

Ular itu sangat hitamnya, dengan belang-belang kuning emas pada kepala dan ekornya.

Kelihatannya ganas benar dan beracun pula!

"Kau...

binatang!!

Siluman!!

Engkau mau ganggu anakku juga???"

Yo Leng In dalam kemurkaannya menyambar pedang yang sudah diletakkan di tanah oleh Hee Ban Kiat, lalu melompat ke arah ular hitam itu.

Heran sekali, ular itu berhenti dan menanti serangan Yo Toanio dengan berdiri di atas ekornya, seperti ular sen duk, tapi lebih tinggi lagi!

Kedua matanya mencorong dan lidahnya yang merah menjilat-jilat.

Yo Leng ln mengayunkan pedangnya memancung ke arah kepala ular itu, tapi kenyataannya ular itu bukan main gesitnya dan dapat mengelak, Yo Leng In makin marah dan dengan nafas sesak ia memancung berulang ulang, tapi sekalipun serangannya tak mengenai sasaran.

Bie Kong Hosiang berseru keras dan setelah mencabut goloknya ia membantu Yo Toanio untuk membinasakan ular itu, sungguh aneh, bacokan-bacokan Bie Kong Hosiang yang tak mudah dielakkan oleh seorang ahli silat ternyata dapat dihindarkan oleh ular itu, hingga tiada lama kemudian Hong In, Pauw Kim Kong, dan Hee Ban Kiat terpaksa turun tangan mengeroyok ular kecil itu!

Karena dikeroyok lima orang ahli silat yang hebat itu ular itu sudah dapat dipastikan nasibnya.

Dapat dibayangkan bahwa sebentar lagi ia tentu akan hancur menjadi berpotong-potong, kalau tidak, hancur sama sekali!

Tapi, tiba-tiba terdengar deruan angin dan disusul suara yang angker.

"Siancai, siancai Cuwi yang terhormat, hentikan segera serangan itu!"

Suara itu sangat berpengaruh dan kelima orang itu segera melompat mundur, sedangkan ular itu berlenggak-lenggok, rupanya sangat kelelahan membela diri, mengelak ke sana ke mari di antara hujan senjata tadi!

Suara yang berpengaruh itu disusul dengan munculnya seorang tua berjubah putih dan bertubuh kurus tinggi.

Wajahnya kelihatan alim sekali, tapi sepasang matanya yang lembut mengeluarkan cahaya tajam berkilauan.

Tampaknya ia berjalan perlahan saja dengan tenangnya, tapi tiba-tiba ia telah berada di depan mereka sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Cuwi yang terhormat maafkan pinto datang mengganggu."

Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi ia menghampiri tubuh Han Liong yang masih rebah tak bergerak itu, diikuti oleh kelima orang itu dengan was-was dan khawatir.

Setelah dekat dengan tubuh Han Liong, ia berjongkok lalu tiba-tiba memberi tanda supaya semua orang mundur.

Sepasang matanya dengan tajam memandang ke arah ular hitam tadi.

Yo Toanio dan kawan-kawannya menengok dan dengan hati berdebar-debar mereka lihat ular itu bergerak cepat menghampiri tubuh Han Liong.

Tiba-tiba ular hitam itu melihat atau mencium bau darah ular putih yang telah hancur tubuhnya.

Ia berdiri di atas ekornya, mendesis-desis mengeluarkan lidah dan ajaib sekali, dari kedua matanya yang merah itu menitik keluar dua butir air mata.

Sikapnya jadi makin galak, kepalanya digerakkan ke kanan dan ke kiri seakan-akan mencari orangnya yang membunuh ular putih itu.

Ketika sinar matanya beradu dengan sinar mata orang tua yang masih jongkok di dekat tubuh Han Liong, tiba-tiba ia bergerak mundur lalu membalikkan tubuh hendak pergi.

Tiba-tiba orang tua itu cepat mengulurkan kedua tangannya dan mengangkat tubuh Han Liong dan dengan sekali lompat ia telah berada di depan ular hitam, mencegat dan jongkok pula sambil memondong tubuh Han Liong.

Ular itu segera membalikkan tubuh lagi, tapi orang tua itu segera mengejar dan melompatinya lalu menghadang di depannya.

Setelah hal ini terjadi berkali-kali, ular hitam itu rupa-rupanya menjadi marah dan ia berdiri di atas ekornya sambil menjulurkan lidahnya yang merah.

Desisnya keras dan tajam menyakitkan telinga.

Kemudian setelah menurunkan kepalanya ke bawah untuk mengumpulkan tenaga, ular itu melompat, meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya menuju ke arah leher orang tua itu.

Yang diserang tenang saja dan memegang tangan kanan Han Liong dan menggunakan tangan anak muda itu untuk menangkis, dengan gerakan yang sama benar dengan gerakan anak muda itu ketika menangkis serangan ular putih tadi.

Yo Toanlo yang dari tadi terheran-heran dan tidak mengerti, kini sangat terkejut melihat betapa ular hitam itu menggigit jari tangan kanan Han Liong dan menempel di situ tidak mau melepaskannya!

Yo Toanio tak dapat menahan gelora kemarahan hatinya.

"Siluman tua, apa yang kau lakukan?"

Dengan penuh kebencian ia memungut pedang yang diletakkan di atas tanah lalu melemparkan pedang itu dengan sekuat tenaganya.

Ketika itu orang tua yang aneh itu tengah menggunakan tangan kirinya memijit-mijit ubun-ubun Han Liong dan tangan kanannnya memegang leher ular hitam.

Agaknya ia sama sekali tidak ambil perduli akan datangnya pedang yang melayang ke arah dadanya!

Yo Toanio dengan jelas sekali melihat betapa pedang itu tepat menancap di dada orang tua itu, tapi ajaib, orang tua itu seolah-olah tidak merasa apa-apa, dan melanjutkan pekerjaannya memijit-mijit ubun-ubun Han Liong dan mencekik-leher ular!

Sejenak kemudian ia berdiri dan ular hitam itu malah dipegangnya, karena itu dengan mudah saja ia mencabut gigitan ular ular itu dari jari Han Liong.

Baru sekarang ia memandang mereka berlima itu dengan sebuah senyum manis tersungging di bibirnya.

"Siancai, siancai! Berkat kemurahan Thian Yang Agung, cucuku Han Liong tertolong jiwanya."

Kemudian ia memandang ular hitam yang di tangannya.

"Maafkan pinto, Kim-Ouw-Coa (ular emas hitam), terpaksa pinto melakukan dosa besar. Engkau telah menolong jiwa orang, tapi kau sendiri harus dibalas dengan kematian."

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Alangkah kejamnya, tapi apa boleh buat, jiwa cucuku lebih penting dari pada jiwamu. Nah, mengalahlah kali ini, Ouw-Coa biarlah di lain penjelmaan pinto balas budimu dan menebus dosa!"

Kemudian dengan perlahan ia mencabut pedang yang masih menancap di dadanya dan sekali pancung saja maka putuslah leher ular hitam itu!

Yo Toanio dengan kawan-kawannya terheran-heran melihat kelakuan orang tua itu, lebih-lebih ketika mereka melihat bahwa bekas tusukan pedang di dadanya ternyata tidak mengeluarkan darah, seolah-olah dadanya itu belum tertusuk pedang.

Mereka memandang ke arah tubuh Han Liong, dan alangkah girang hati mereka melihat Han Liong bergerak-gerak perlahan-lahan, lalu bangun dan menggosok-gosok matanya seakan-akan baru bangun tidur!

Segera mereka berebut menghampiri Han Liong dan serentak bagaikan mendapat komando, mereka berlima menjatuhkan diri berlutut di depan orang tua itu.

"Ah, cuwi, jangan lakukan peradatan tak berarti ini. Silahkan bangun, pinto tak layak menerima kehormatan ini."

Kata-kata ini diucapkan dengan suara demikian halus dan sopan oleh orang tua itu, hingga mereka segera berdiri dan mengangkat tangan memberi hormat! "Maafkan kami yang buta tak mengenal orang pandai,"

Kata Pauw Kim Kong mewakili kawan-kawannya bicara.

"Dan maafkanlah perbuatan Yo Toanio tadi yang dilakukan terdorong karena kebingungan hatinya melihat keadaan keponakannya. Mohon tanya siapakah toheng yang mulia?"

"Ah, pinto sendiri sudah hampir lupa akan nama pinto. Dan lagi, apakah artinya nama? Diberi tahu juga, cuwi takkan mengenalnya. Rasanya sudah cukup bila pinto katakan bahwa pinto adalah orang yang mengasingkan diri dan menerima berkah dari Kam Hong Siansu. Kedatangan pinto inipun bukannya bermaksud untuk mencampuri urusan cuwi. Tapi tak lain karena menerima perintah dari Siansu untuk membawa cucuku ini. Ketahuilah cuwi, bahwa Han Liong berjodoh untuk berjumpa dengian Kam Hong Siansu. Adapun kedua ular ini, bukannya kebetulan saja mereka datang menggigit Han Liong. Agaknya sudah kehendak Thian bahwa anak ini menerima karunia yang luar biasa. Ketahuilah, racun ular putih yang penuh dengan hawa Yang dapat mematikan seratus orang dengan bisanya. Tidak ada obat di dunia ini yang dapat menyembuhkan pengaruh bisanya yang hebat itu. Sebaliknya, ular hitam inipun penuh dengan racun yang mengandung sari hawa Im, maka apabila ia menggigit orang yang menjadi korban gigitan ular putih, racunnya menjadi saling tolak dan saling memunahkan, bahkan kedua racun yang mengandung hawa Yang dan Im itu kalau bercampur di dalam tubuh menjadi obat yang mempunyai daya luar biasa, memperkuat tubuh dan memperbesar daya tan tian. Dapat cuwi bayangkan betapa beruntungnya Han Liong karena tergigit oleh kedua ular ini."

Tak perlu dikatakan betapa senangnya hati keempat guru itu dan Yo Toanio mendengar keterangan ini, dan pula saat itu Han Liong sudah sadar benar.

Segera Yo Toanio memerintahkan keponakannya untuk mengucapkan terima kasih.

Han Liong segera berlutut.

"Nah, cuwi, kini perkenankanlah pinto membawa Han Liong kepada Siansu. Bangkai kedua ular ini pinto bawa karena merupakan obat untuk anak ini. Musim Chun tahun depan cuwi boleh menanti di sini untuk menyambut Han Liong kembali."

Dengan tenang ia pungut dua bangkai ular itu dan memegang lengan Han Liong. Yo Toanio penasaran.

"Maaf, suhu. Bukannya saya tidak percaya padamu, tapi Han Liong adalah keponakanku yang kudidik semenjak kecil. Maka perkenankanlah saya mengetahui nama suhu dan ke mana suhu akan membawa Han Liong agar hatiku menjadi tenteram."

"Ha, ha! Memang wanita selalu ingin tahu segala hal! Nah. ketahuilah, aku adalah ayah iparmu Si Cin Hai, jadi Han Liong ini adalah cucuku sendiri. Kemana aku hendak bawa anak ini, tak seorangpun boleh tahu, pendeknya, ke tempat Kam Hong Siansu. Nah, selamat tinggal!"

Sebelum mereka dapat berkata sesuatu, orang tua itu segera menarik lengan Han Liong dan membawa pemuda itu lompat ke jurang di mana batu-batu besar tadi berjatuhan!

Yo Toanio hendak mengejar, tapi dicegah oleh Pauw Kim Kong.

"Jangan, toanio. Kulihat ia bukan orang sembarangan. Dan lagi, bukankah ayah Si Enghiong itu Menteri Si Kim Pauw yang dulu dikabarkan lenyap setelah bertapa di gunung ini?"

Yo Toanio mulai sadar.

"Si Kim Pauw! Betul, betul dia. Biarpun aku belum pernah bertemu denganya, tapi wajahnya serupa benar dengan Si Enghiong. Ya Tuhan, syukur kalau begitu. Han Liong berada di tangan kakeknya sendiri dan pasti sekali Kam Hong Siansu adalah seorang luar biasa dan pandai!"

Semua menyatakan kegirangan mereka karena kenyataan itu dan Hee Ban Kiat berkata.

"Kalau bukan Yo Toanio sudah yakin bahwa orang itu adalah kakek Han Liong sendiri, aku masih saja merasa khawatir, karena orang tua itu seperti bukan manusia. Kusangka tadi ia siluman gunung ini."

"Jangan gegabah, Hee Koanjin,"

Tegur Hong In.

"Orang tua itu sudah tinggi sekali ilmu batinnya. Tidakkah kau lihat betapa tadi ia menerima tusukan pedang yang dilemparkan Yo Toanio? Ia dapat mematikan rasa, dan ilmunya yang sempurna telah dapat menahan jalan darahnya hingga tusukan pedang itu sama sekali tidak dirasanya dan tidak dapat melukainya. Bagi kita yang masih suka berada di tengah-tengah kekotoran dunia ini, jangan harap akan mencapai tingkat setinggi itu."

Kemudian mereka bermufakat untuk berkumpul kembali pada musim Chun tahun depan seperti yang telah dijanjikan oleh Si Kim Pauw itu.

Setelah itu, mereka berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.

Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Si Han Liong yang dibawa oleh kakeknya.

Ketika ia dibawa oleh kakeknya melompat ke dalam jurang, diam-diam hatinya cemas karena kakinya menginjak tempat kosong dan mereka berdua meluncur ke bawah dengan amat cepatnya!

Ketika memandang ke bawah, terpaksa Han Liong menutup matanya, karena jurang itu seakan-akan tak berdasar karena dalamnya!

Tiba-tiba kakeknya memperkuat pegangannya pada pergelangan lengannya dan berbisik.

"Pegang dahan pohon di bawah itu!"

Han Liong waspada, ia menggunakan ilmunya meringankan tubuh dengan kegesitannya.

Pohon di bawah itu seperti melayang naik menuju dirinya, pada hal tubuhnya sendirilah yang sedang melayang turun dengan cepatnya.

Bagaikan bersayap, kaketnya dapat menggerakkan tubuh hingga mereka meluncur ke samping pohon.

Orang tua itu mengulurkan lengan dan tangannya berhasil memegang cabang pohon.

Han Liong memperlihatkan pula kegesitannya, ia sambar ujung ranting pohon itu, tapi malang baginya ranting itu patah.

Tapi sedikitnya kelajuan luncuran tubuhnya telah tertahan dan dengan gerakan mementangkan kedua kakinya, ia dapat bergerak ke arah cabang rendah dan berhasil memegangnya!

Keringat dingin keluar dari keningnya ketika ia duduk di dahan pohon dan memandang ke bawah.

Ternyata jurang itu sangat dalam dan tak mungkin orang akan dapat hidup jika jatuh ke bawah.

Pohon yang didudukinya itu tumbuh miring.

Akar-akarnya berada di tanah gunung yang curam.

"Lompat ke situ!"

Kakeknya berkata sambil menunjuk ke kiri.

Ketika Han Liong memandang, ternyata kira-kira empat tombak dari pohon itu terdapat sebuah gua besar yang hitam dan gelap, bentuknya bagaikan mulut naga sedang menganga dengan batu-batu tajam di atasnya bergantungan ke bawah merupakan taring dan gigi naga.

Kakeknya mendahului lompat dan lapun segara mengerahkan tenaganya terjun menyusul dan tiba di mulut gua dengan selamat.

Han Liong mengikuti kakeknya memasuki gua itu yang ternyata panjang berliku-liku.

Di dalam gua itu tampak sinar terang, dan ketika mereka sampai di situ, ternyata bahwa di atas gua itu ada sebuah lobang yang memasukkan sinar matahari dan menerangi gua itu.

Di sebelah kanan ada pula lobang besar merupakan jendela.

Ketika Han Liong menghampiri jendela itu dan memandang.

Ia menjadi sangat kagum.

Bukan main indahnya pemandangan yang nampak di luar jendela!

Tamasya alam yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya.

Daun-daun liu di hutan-hutan berkelompok-kelompok, beberapa anak sungai yang berkelak kelok bagaikan ular ular kecil, bukit-bukit yang berjajar-jajar rapi seakan-akan diatur oleh tangan seorang ahli, dihiasi dengan batu batu bundar besar berwarna hijau dan biru karena tertutup lumut, dan warna warni merah, kuning, biru dari bunga-bunga gunung merupakan hiasan terakhir dan terindah.

Ia terpesona sejenak oleh lukisan alam yang luar biasa itu.

Pikirannya menjadi tenang, tubuhnya terasa segar dan sedap.

"Han Liong, jangan melamun. Menghormatlah kepada Siansu,"

Kata kakeknya tiba-tiba.

Han Liong terkejut dan segera menengok.

Terlihat olehnya seorang tinggi besar berjubah putih, berkumis dan berjenggot putih yang panjangnya sampai ke perut.

Wajahnya yang tua nampak amat agung, dan entah kapan ia masuk ke situ, karena serta merta ia telah duduk bersila di atas sebuah batu hitam berbentuk pat-kwa (segi delapan).

Wajah yang agung itu menjadikan Han Liong merasa dirinya sangat kecil tak beiarti.

Dengan penuh khidmat ia maju berlutut.

Mulutnya berkata perlahan-lahan dengan penuh hormat.

"Teccu menghaturkan hormat."

Kam Hong Siansu membuka kedua matanya yang ternyata sangat bening seperti mata kanak-kanak.

"Anak baik, beristirahatlah dulu untuk mengembalikan tenagamu. Mulai besok sampai setahun penuh, kau akan sibuk belajar menambah pengetahuanmu."

Han Liong memberi hormat sekali lagi, kemudian ikut kakeknya ke ruangan dalam di mana tersedia sebuah kamar tanah kira-kira dua meter persegi, Di mana tersedia sebuah batu yang rata untuk duduk.

Kakeknya memberitahu bahwa ia hanya boleh mengaso atau tidur sambil bersila di atas batu itu!

Demikianlah, tiap hari Han Liong menghadap Kam Hong Siansu di mana ia diperintahkan bersilat memperlihatkan segala macam kepandaian yang telah dipelajarinya dari keempat gurunya yang lalu.

Untuk tiap ilmu pukulan maupun permainan senjata, selalu Kam Hong Siansu memberi petunjuk-petunjuk yang membuat gerakannya menjadi luar biasa, hingga ilmu silat pemuda itu mengalami perobahan penuh rahasia dan tak terduga.

Petunjuk-petunjuk yang diberikan secara sabar dengan suara lemah lembut itu meresap betul ke dalam hati dan pikiran Han Liong hingga ia mendapat kemajuan sangat pesat.

Kam Hong Siansu sangat sayang kepadanya hingga orang tua pertapa yang berilmu tinggi itu turun tangan, menciptakan ilmu silat tangan kosong yang dipetiknya dari semua pelajaran yang diperoleh anak muda itu.

Ilmu pukulan ini dinamakannya Ilmu Silat Empat Bintang dan di dalam gerakan-gerakannya terkandung sari-sari pelajaran yang dipelajari Han Liong dari keempat suhunya.

Selain dari itu, anak muda ini menerima pelajaran-pelajaran dasar ilmu batin yang tinggi, hingga batinnya menjadi kuat dan tenaga dalamnya mencapai tingkat tinggi.

Pada suatu hari Kam Hong Siansu mengeluarkan sebilah pedang mustika yang terbuat dari logam putih laksana perak dan pedang itu ternyata lemas sekali hingga dapat dililitkan di pinggang merupakan ikat pinggang.

Ia serahkan pedang itu kepada Han Liong sambil berkata.

"Anakku, kau berjodoh untuk memiliki pedang ini. Pokiam ini disebut Pek Liong Pokiam (Pedang Pusaka Naga Putih). Karena pokiam ini adalah barang pusaka yang suci, maka untuk memilikinya, orang harus terlebih dahulu dikuatkan tubuhnya oleh racun ouw-pek-coa (ular hitam dan putih) serta ia harus bersumpah dulu."

Dengan sangat hormat Han Liong menerima pedang itu lalu bersumpah.

"Teecu akan menjunjung tinggi prikebenaran, dan pokiam ini hanya akan teecu gunakan untuk membela yang lemah dan menindas yang jahat. Jika teecu gunakan pokiam ini untuk maktud-maksud tidak baik atau hanya untuk keuntungan diri teecu sendiri, biarlah teecu mati mendadak di bawah mata pedang ini sendiri!"

Kam Hong Siansu tersenyum puas mendengar sumpah pemuda itu.

"Han Liong, ketahuilah olehmu, pokiam ini kudapat dari suhuku, dan suhu juga menerima dari gurunya. Maka setelah kau menerima pokiam ini, boleh dikata bahwa kaupun menjadi muridku."

Han Liong segera berlutut dan menyebut.

"Suhu!"

"Muridku, di dunia ini hanya ada dua bilah pokiam yang paling tua dan sempurna, ialah Pek-Liong-pokiam yang kau pegang itu dan yang kedua ialah Ouw-liong pokiam (Pedang Pusaka Naga Hitam). Pek-liong pokiam ini mengandung sari hawa Yang, sebaliknya Ouw-liong pokiam mengandung sari hawa Im. Selain merupakan senjata yang tajam dan ampuh, kedua pokiam itu juga dapat mengobati korban-korban racun jahat. Jika seorang terkena racun hingga mukanya berobah hitam, maka air yang dicelupi Pek-liong pokiam akan dapat menyembuhkannya dengan segera. Sebaliknya, jika racun itu membuat korbannya menjadi pucat seperti mayat, air yang dicelupi Ouw-liong-pokiam akan menjadi obatnya."

"Bolehkah teecu bertanya, suhu. Di manakah adanya Ouw-liong pokiam itu dan siapa pula yang memilikinya?"

Tanya Han Liong.

"Ouw liong-pokiam berada dalam tangan sumoiku yang bertapa di Gunung Heng san. Nah, sekarang bersiaplah, muridku. Aku akan memberi pelajaran Pek-liong-kiamsut padamu. Belajarlah dengan rajin, karena ilmu pedang ini walaupun nampaknya mudah, namun jika tidak dipelajari dengan tekun dan sepenuh hati, takkan ada manfaatnya. Tapi bila kau sudah mencapai kesempurnaan dalam ilmu ini, kukira, takkan mudah lain ilmu dapat mengalahkannya. Hanya Ouw liong-kiam-sut saja yang barangkali dapat menandingi!"

Han Liong yang masih berlutut mengangguk-anggukkan kepala sambil menghaturkan terima kasih.

Demikianlah, untuk beberapa bulan ia mempelajari Ilmu Pedang Naga Putih dengan giatnya hingga tak terasa musim Chun telah tiba pula.

Pagi hari di musim Chun itu, ketika Han Liong masuk ke kamar Kam Hong Siansu, ternyata pertapa itu tidak ada dalam kamarnya.

Yang ada di situ hanya kakeknya, Si Kim Pauw.

Han Liong segera memberi hormat dan bertanya ke mana kakek selama setahun ini pergi hingga tak pernah ia melihatnya.

"Aku bertapa di lain bukit, cucuku. Sungguh kau beruntung, Liong, karena Pek-liong-pokiam menjadi milikmu. Dulu aku pernah mendengar sebuah dongeng tentang pokiam itu. Ribuan tahun yang lalu, di Gunung Kam-hong-san ini bertapa dua ekor naga sakti, seekor jantan berkulit putih dan seekor betina berkulit hitam. Kedua ekor naga sakti itu bertapa dan membersihkan diri untuk menjadi dewa. Hal ini menimbulkan rasa iri hati seorang pertapa yang juga bertapa di gunung itu. Ia merasa iri hati karena ia sendiri gagal dalam pertapaannya dan hatinya mengiri sekali melihat dua ekor naga itu nampak makin hari makin bercahaya karena sudah mendekati kesempurnaannya. Maka rasa iri hatinya menimbulkan pikiran jahat. Dilemparnya dua naga itu, tapi ia tak berhasil karena ternyata dua ekor naga itu amat sakti. Si pertapa menjadi sakit hati dan akhirnya ia berhasil mendapat semacam obat yang jahat dan manjur sekali. Ia masuk dengan diam-diam ke ruang pertapaan kedua naga itu dan menyemburkan obat beracun itu ke arah hidung kedua naga itu. Ketika kedua naga itu mencium bau harum dan tersadar dari samadhi mereka, racun jahat itu telah bekerja. Hebat sekali jalannya racun itu hingga batin kedua naga yang sudah kuat itu tidak tahan menindas pengaruhnya. Mereka berdua dipengaruhi rasa nafsu berahi besar dan keduanya lalu bercampur. Setelah sadar mereka merasa sangat menyesal dan segera mengejar pertapa itu, lalu membunuhnya. Kemudian mereka bertapa kembali dengan hati sedih, tapi karena dosa yang telah mereka perbuat, pertapaan mereka gagal. Maka putuslah harapan mereka, lalu beribu tahun kemudian mereka menjelma menjadi sepasang pedang pusaka dan berniat menebus dosa dengan menjadi pedang guna membantu orang-orang gagah membela keadilan dan kebenaran. Nah, pedang Pek liong-pokiam inilah penjelmaan dari naga putih itu dan naga hitam menjelma menjadi Ouw liong-Pokiam."

"Kongkong (kakek), benar-benar adakah dongeng itu, maksudku, benarkah terjadi peristiwa aneh itu?"

Kakeknya tertawa.

"Aku tadi kan mengatakan bahwa semua itu hanya dongeng. Benar atau tidaknya, siapakah yang dapat menentukan? Kalau benar-benar ada, peristiwa itu telah terjadi ribuan tahun yang lalu. Dan siapakah orangnya di jaman ini dapat mengetahui apa yang terjadi pada waktu itu? Ini hanya dongeng, Liong, namun, sungguhpun hanya dongeng, di dalamnya terkandung arti dan nasehat yang sangat berguna. Maka, kau yang memiliki Pek-liong-pokiam, hati-hatilah dan waspadalah terhadap godaan dari musuh yang tak nampak di mata, musuh yang jauh lebih jahat dan pada musuh yang berupa manusia, yang bagaimanapun buasnya ialah nafsu sendiri! Kuatkanlah batinmu untuk mengalahkan musuh yang seperti ini. Nah, mari kuantarkan kau keluar, karena Kam Hong Siansu kini sedang pergi keluar gunung dengan meninggalkan pesan bahwa hari ini adalah hari terakhir bagimu tinggal di tempat ini. Kau diharuskan keluar gua, turun gunung mulai dengan kewajibanmu."

Han Liong berlutut memberi hormat ke arah tempat duduk Kam Hong Siansu dengan dilihat oleh kakeknya yang mengangguk-anggukkan kepala memuji kesopanan cucunya.

Kemudian mereka keluar gua, melompat ke pohon di depan gua, lalu menggunakan kekuatan mereka melayang ke atas, tiba di tebing jurang dengan selamat.

Ternyata keempat suhunya dan ie ienya sudah menanti di situ.

Yo Toanio memeluk keponakannya dengan mengeluarkan air mata karena suka cita.

Si Kim Pauw tidak lama di situ, setelah minta diri ia lalu terjun ke jurang kembali.

Tapi ia tidak lupa untuk memberi nasehat-nasehat terakhir kepada cucunya yang tersayang itu.

Han Liong dihujani pertanyaan-pertanyaan oleh kelima orang tua itu.

Ia menceritakan pengalamannya dengan ringkas hingga mereka menjadi girang sekali.

Pauw Kim Kong menghela napas.

"Tidak percuma Si Kim Pauw lo Enghiong menjadi menteri setia dan Si-Enghiong menjadi seorang patriot yang mengorbankan nyawanya demi tanah air dan bangsa. Ternyata keturunan mereka telah menjadi orang pandai dan beruntung. Han Liong, kami hanya mempunyai satu keinginan, yakni melihat kau melanjutkan usaha ayahmu dan berbakti kepada bangsa. Negara sekarang sedang kacau, para durna memegang tampuk kekuasaan. Pembesar-pembesar rakus merajalela di kota, menindas rakyat sesuka hatinya. Di mana-mana berlaku hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menghisap yang miskin. Kasihan rakyat kecil yang tertindas, tiada pembela. Maka sudah menjadi kewajibanmu untuk membantu mereka yang tertindas yang butuh pertolongan. Kami sudah tua, tenaga kami tak seberapa, usia kami tak lama lagi. Maka, berilah kami kebahagiaan terakhir, yaitu, melihat kau yang menjadi murid kami melakukan tugas mulia mewakili kami."

"Betul kata Pauw suhu, Liong,"

Menyambung Hong In sambil mengelus jenggotnya yang panjang.

"Hanya saja, sebagai tanda peringatan bagi kami, cobalah kau perlihatkan Ilmu Silat Empat Bintang ciptaan Kam Hong Siansu itu, kami ingin sekali melihatnya."

Dengan segera Han Liong menyanggupi, lalu mulai bersilat.

Mula-mula gerakannya lambat, indah dan menarik, makin lama makin cepat hingga tubuhnya tak tampak lagi, hanya kelihatan gundukan putih bergerak-gerak ke sana ke mari dengan cepatnya.

Tidak sedikitpun debu mengepul dari bawah kakinya, namun kelima orang tua itu merasa betapa angin pukulan yang dingin membuat jubah mereka bergerak-gerak, bagaikan tertiup angin gunung!

Empat orang guru itu dengan tegas sekali melihat betapa ilmu-ilmu pukulan mereka digerakkan dalam cio-hwat Han Liong, tapi pecahan-pecahannya demikian ganjil dan cepat hingga mereka merasa betapa sukarnya menandingi seorang yang bersilat dengan cara demikian sulit.

Sertamerta mereka bertepuk tangan setelah Han Liong menghentikan gerakannya.

Dengan merendah Han Liong berlutut sambil berkata.

"Semua ini berkat didikan suhu sekalian dan ie ie. Teccu tak tahu bagaimana harus membalasnya!"

"Anak baik,"

Kata Yo Toanio.

"Asal engkau menjadi seorang yang kenal pribudi kebaikan dan pembela kebenaran, maka itu sudah merupakan pembalasan budi yang besar terhadap kami."

Kemudian Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan memberitahu kepada Han Liong bahwa ia mempunyai dua orang murid bernama Bhok Kian Eng dan Lie Kiam yang kedua-duanya kini berada di kota Tong hai.

Lain orang murid Pauw Kim Kong adalah Bie Cauw Giok yang berada di kota Lam chiu.

Kedua guru ini berpesan agar Han Liong dalam perjalanannya menemui mereka itu.

Lain-laln guru tidak mempunyai murid lain kecuali Han Liong.

Setelah menerima nasehat-nasehat penting, Han Liong berangkat merantau, menggendong bungkusan kuning pemberian bibinya yang berisi dua pasang pakaian dan beberapa potong perak dan emas.

Keempat suhunya serta bibinya melihat ia pergi dengan hati terharu.

Si Han Liong yang sudah mendapat petunjuk dari bibinya, langsung menuju ke kota Lam-ciu di mana ibunya dan musuh besarnya tinggal!

Tapi alangkah kecewa hatinya ketika tiba di kota itu ia mendapat keterangan bahwa Tiat-kak-liong Lie Ban telah beberapa bulan yang lalu pindah ke kota Hong-lung-cian beserta keluarganya.

Kota ini jauhnya ratusan li dari Lam-ciu dan jika ditempuh jalan darat berkuda kira-kira sepuluh hari baru sampai.

Ada jalan yang lebih dekat, yaitu jalan air sepanjang Sungai Lien-ho dengan naik perahu.

Karena memang maksudnya pergi merantau meluaskan pengalaman, maka ketika mendengar bahwa jalan melalui sungai lebih indah pemandangannya, Han Liong mengambil keputusan menyewa perahu.

Maka pergilah ia ke perkampungan nelayan yang tinggal di dekat Sungai Lien ho, Perkampungan itu besar juga, dan penduduknya hidup dari hasil ikan sungai dan ada pula yang khusus berpenghasilan dari menyewakan perahu, baik untuk berpesiar maupun untuk menyeberang sungai yang lebar itu.

"Kalau tuan mau pelesir, sekarang ini musimnya baik sekali, air sungai tenang dan jernih. Jika sedang banjir, ah, jangan harap berpelesir naik perahu,"

Kata seorang nelayan tua sambil menawarkan perahunya.

"Tuan hendak pesiar ke mana?"

Han Liong tersenyum.

"Aku tidak hendak pesiar, tapi hendak menyewa perahu untuk membawaku ke kota Hong-lung cian. Berapakah sewanya?"

"Ke kota Hong-lung cian?"

Nelayan tua itu geleng-geleng kepala.

"Ah, lebih baik jangan tuan."

"He, apa maksudmu? Kenapa?"

Tanya Han Liong.

"Dengar tuan muda. Aku adalah nelayan tertua di kampung ini, dan aku memiliki perahu yang terkuat. Naik perahu Lo Sam sama dengan rasa tidur di ranjang, demikian orang-orang kota di sini berkata. Bukan aku hendak menyombong, tapi selama pekerjaanku mengantar orang-orang dengan perahuku dalam tiga puluhan tahun ini, belum pernah aku mengalami kecelakaan, kecuali ketika bajak sungai Hek Sam Ong mencegatku. Ke mana saja tuan akan kuantarkan dengan jaminan keselamatan penuh, tapi ke Hong-lung-cian? Tidak, tuan muda, aku tak berani."

"Mengapa? Ada apakah di Hong-lung cian?"

Tanya Han Liong.

"Di Hong-lung-cian sendiri tidak ada apa-apa!"

Jawab kakek itu.

"Tapi perjalanan dari sini ke Hong-lung-cian harus melalui Gunung Hek-houw-san yang penuh dengan rimba raya. Sungai Lien-ho ini di daerah itu memasuki hutan lebat sejauh sepuluh li lebih, dan tempat itulah yang ditakuti oleh para nelayan dan pelancong, karena penuh dengan bajak-bajak sungai. Di mulut hutan depan terjaga oleh bajak laut gerombolan Hek Sam Ong dan di mulut belakang dijaga oleh Oei-Coa Tai-Ong dengan gerombolannya. Kedua bajak ini sudah terkenal kekejaman dan kejahatannya. Andaikata kita bisa melewati Hek Sam Ong dengan selamat, tapi tak mungkin kita bisa keluar dari hutan itu dan melewati Oei-Coa Tai-Ong si Ular Kuning. Sudahlah, tuan muda batalkan sajalah niat tuan muda itu kalau masih ingin hidup."

Mendengar keterangan ini, Han Liong menjadi gembira. Tugasku pertama untuk menghalau bahaya rakyat ini, pikirnya.

"Lopek yang baik,"

Katanya tertawa.

"kiranya daerah itu aman, bisakah kau antar aku aku ke Hong-lung-cian?"

"Tentu saja bisa."

"Dan berapa biayanya?"

"Hm, paling sedikit tujuh tail perak."

Han Liong merogoh buntalannya dan ia mengeluarkan sepuluh tail perak.

"Nah, ambilah uang ini kalau kau mau membawa aku ke sana. Dan sesampainya di sana nanti aku tambah satu tail lagi."

Sambung Han Liong.

"Eh, eh, lupakah kau, tuan muda? Tadi sudah kuceritakan bahwa di daerah Hek-houw-san..."

"Aku sudah tahu, lopek. Tapi aku tidak takut, dan aku berjanji bahwa bajak-bajak itupun takkan mungkin berani mengganggumu seujung rambutpun!"

Kakek nelayan itu memandangnya dengan tak percaya, maka Han Liong segera menghampiri sebuah batu kali yang besar dan hitam di dekat itu, ia menggunakan sepuluh jari tangannya menyodok batu itu.

"Nah lihatlah, lopek. Bukan aku hendak memamerkan tenaga, tapi apakah kiranya batok kepala kedua raja bajak itu lebih keras dari batu ini?"

Lo Sam tak mengerti maksud pemuda itu lalu datang mendekati Han Liong.

Ia sangat kagum dan heran sekali melihat batu hitam yang keras itu berlobang-lobang karena tusukan jari anak muda itu!

Ia mengangguk-angguk tapi masih agak sangsi.

"Kau rupanya seorang gagah, tuan muda, tapi jangan lupa, kawan-kawan mereka sangat banyak."

"Jangan khawatir, Lopek yang baik."

Akhirnya Lo Sam terima juga tawaran Han Liong dan mereka berangkat.

Perahu Lo Sam walaupun sudah tua, tapi masih cukup kuat dan atapnyapun baru saja diganti hingga jika turun hujan tidak bocor.

Betul sebagaimana kata orang, pemandangan di sepanjang jalan sangat indah, hawapun sejuk sekali hingga Han Liong merasa sangat gembira.

Apalagi Lo Sam ternyata pandai bicara dan banyak dongengnya, maka pemuda Itu tidak merasa kesepian.

Setelah perahu melaju sepanjang tepi sungai sehari semalam lamanya, pada hari kedua pagi-pagi mereka melihat bahwa, sungai itu berbelok memasuki hutan.

Di depan mereka nampak gunung kecil tinggi, penuh pohon-pohon belukar.

"Hati-hatilah, kongcu, bukit itu ialah Hek-houw san..."

Belum habis Lo Sam bicara, tiba-tiba terdengar suara bersiutnya sebatang anak panah ke atas kepala mereka! "Celaka, kongcu!!"

Lo Sam mengeluh, tapi Han Liong yang sedang membaca buku yang dibelinya di kota Lam-ciu, hanya tersenyum saja sambil melanjutkan bacaannya dengan suara keras.

Perahu terus didayung maju menambah kecepatannya hanyut terbawa air sungai.

Kedua kali panah melayang di atas kepala mereka, kini lebih rendah.

"Bagaimana baiknya, kongcu?"

Lo Sam mulai gemetar dan ketakutan.

"Kayuhlah perahu ke tengah,"

Berkata Han Liong yang masih tenang.

Perahu didayung ke tengah, tapi dari arah gerombolan pohon di tepi sungai melayang tiga batang anak panah menuju ke arah mereka!

Han Liong menggunakan bukunya mengebut dan angin kebutannya membuat anak-anak panah itu mencong ke samping dan masuk ke air.

Gerakannya ini, demikian sewajarnya, seakan-akan tak disengaja hingga Lo Sam sama sekali tidak tahu bahwa pemuda itulah yang membuat anak-anak panah itu tidak mengenai sasarannya.

Maka ia menjadi gemetar ketakutan hingga kedua tangannya tak kuat mendayung lagi.

"Masuklah saja, lopek, biar aku yang ganti mengemudikan perahu,"

Kata Han Liong. Tawaran ini ditolak keras oleh Lo Sam.

"Apa kongcu kira aku ini orang yang serendah-rendahnya? Biar usiaku sudah tua, biar tenagaku sudah lenyap, biarpun telah kukatakan terus terang bahwa aku tangat ketakutan, tani aku tidak sudi meninggalkan kewajibanku!"

Dan ia terus mendayung, kini ia mulai berani, agaknya diperkuat oleh pernyataannya yang bersemangat itu.

Kemudian dari arah pantai tampak tiga buah perahu dangan sangat laju mengejar mereka.

Ketiga perahu itu bercat hitam dan bergambar ular dan kepala perahunyapun merupakan kepala ular yang sedang membuka lebar mulutnya.

Dengan cepatnya perahu itu dapat mengejar perahu Lo Sam, dan sekarang terlihat bahwa di tiap perahu duduk tiga orang tinggi besar memegang golok.

Perahu pertama berada paling dekat dan di situ berdiri seorang berpakaian hijau membolak-balikkan goloknya.

"He, perahu di depan, ayoh berhenti dan ke pinggir! Tinggalkan dulu barang-barangmu,"

Teriak bajak itu.

"Yang ada hanya barangku sendiri, kenapa harus ditinggalkan? Kami kan tidak punya hutang padamu."

Jawab Han Liong.

"Jangan banyak mulut kau, anjing kecil,"

Bajak itu mengancam.

"Mulutku hanya satu, anjing besar."

Han Liong mempermainkan bajak itu, hingga ia menjadi marah.

Karena perahu mereka kini hanya terpisah paling jauh satu tombak, bajak itu mengayun kakinya meloncat ke arah perahu Han Liong sambil mengangkat goloknya!

Han Liong tekankan tangan kirinya pada kepala perahunya yang segera meluncur ke samping seakan-akan terdorong dari sisi oleh tenaga yang kuat sekali.

Tidak heran bahwa ketika kaki bajak yang melompat itu turun, ia mencebur ke dalam air karena perahu itu seakan-akan berkelit!

Kawan-kawan bajak itu merasa heran, bahkan ada beberapa orang diantara mereka melihat pemimpin mereka begitu bodoh hingga melompat ke perahu begitu dekatpun tidak becus!

Sama sekali mereka tidak sangka bahwa bukan pemimpin mereka yang tak dapat melompat, tapi adalah tenaga Han Liong yang kuat telah membuat perahu seakan-akan menyingkir.

"Ayoh serbu!"

Teriak seorang bajak lain yang segera meloncat pula ke arah perahu Han Liong.

Tapi kembali ia menginjak tempat kosong dan mencebur juga ke dalam air.

Sementara itu Lo Sam terheran heran dan berkaki-kali berteriak.

"Eh, eh, eh!!"

Dikala perahunya kelihatan seperti berjiwa dan dapat bergerak ke sana ke mari berkelit menghindarkan kaki para bajak yang melompat.

Akhirnya semua bajak yang berjumlah sembilan orang itu masuk ke dalam air.

"Teruskan dayung, Lo Sam."

Kata Han Liong, tapi di saat itu pemimpin bajak sambil menggigit goloknya telah berenang mendekat dan hendak menggunakan tangannya memegang pinggiran perahu.

Lo Sam melihat ini segera mengangkat dayungnya dan memukul tangan yang memegang pinggiran perahunya itu, hingga si bajak menjerit kesakitan karena jari-jari tangannya dipukul keras!

"Bagus, Lo Sam, kau sungguh gagah,"

Han Liong memuji dan Lo Sam dengan wajah bangga segera mendayung perahunya laju ke depan, meninggalkan para bajak itu berenang kembali ke arah perahu mereka dan segera mengejar kembali dengan secepat mungkin.

"Cepat, Lo Sam, gunakan seluruh tenagamu. Mereka datang mengejar!"

Kata Han Liong yang lalu mengambil dayung cadangan yang kecil dari dalam perahu dan mulai membantu dengan perlahan.

"Ayoh bantu, jangan perlahan begitu, kuat-kuat!"

Teriak Lo Sam yang sibuk juga melihat bajak-bajak dengan pakaian basah kuyup itu membalapkan perahu mereka mengejar.

"Aku tidak biasa, kaulah yang harus mendayung kuat-kuat,"

Jawab Han Liong, tapi sementara itu ia mengerahkan tenaganya.

Lo Sam juga menggunakan seluruh kepandaian dan tenaganya yang sudah tua untuk membuat perahu mereka meluncur cepat.

Sebentar saja perahu mereka dengan laju dan cepat maju ke muka, dan meninggalkan para bajak itu berteriak-teriak.

"Kau kuat sekali, Lo Sam,"

Han Liong memuji dan kendurkan tenaganya. Perahu menjadi perlahan majunya dan Lo Sam mengaso dengan napas terengah-engah.

"Kalau cuma bajak-bajak kecil itu saja mana bisa mengejarku,"

Katanya sombong.

"He, Lo Sam, mengapa bajak-bajak itu berhenti mengejar?"

Tiba-tiba Han Liong bertanya. Lo Sam menengok ke belakang, tapi matanya yang tua hanya melihat titik-titik hitam jauh di belakang.

"Kau tidak tahu, kongcu, sekarang kita sudah memasuki daerah yang dikuasai Oei-Coa Tai-Ong, maka kita harus hati-hati. Bajak-bajak yang tadi adalah anak buah Hek Sam Ong."

Betul saja, ketika perahu mereka sampai di sebuah tikungan, ternyata di depan telah menghadang sepuluh buah perahu besar yang memenuhi sungai.

Tiap perahu memuat lebih kurang dua kelas orang berpakaian kuning yang semuanya memegang senjata tajam.

Yang terdepan adalah sebuah perahu besar warna kuning pula, di mana berdiri seorang pendek gemuk yang berwajah seperti kanak-kanak.

Di pinggang orang ini tergantung pedang.

"Awas, itu dia Oei-Tai-Ong sendiri mencegat kita,"

Lo Sam berbisik dengan suara gemetar. Han Liong melihat bahwa perahunya tak mungkin lewat, bangun berdiri lalu menjura kepada kepala bajak itu.

"Maafkan kami Tai-Ong, apakah sebabnya maka Tai-Ong, mencegat kami?"

Kepala bajak itu tersenyum dan balas menjura.

"Hohan, kami sudah mendengar akan sepak terjangmu ketika diganggu oleh anak buah Hek sute tadi. Maka kini siauwte sendiri mengundangmu untuk singgah sebentar belajar kenal."

Han Liong heran akan keluar biasaan orang ini.

Demikian cepat ia telah tahu akan peristiwa tadi dan dapat menduga bahwa ia adalah seorang yang berkepandaian.

Maka tak ragu-ragu lagi ia menjura sambil menjawab.

"Baiklah, Tai-Ong, dan terima kasih atas budimu ini."

Dengan ketakutan, tapi bercampur terheran-heranan.

Lo Sam menurut saja ketika perahunya ditarik ke pinggir.

Dengan tenang Han Liong melangkah turun lalu bersama-sama Oei-Coa Tai-Ong Si Ular Kuning, berjalan menuju ke tengah rimba.

Di sepanjang jalan menuju ke kemah raja sungai itu nampak barisan bajak berdiri rapi berjajar sambil memegang golok atau tombak, merupakan barisan kehormatan.

Ternyata Hek Sam Ong sendiri juga berada di situ.

Ia adalah seorang tinggi besar, berkulit hitam dan cambang bauknya lebat menakutkan.

Dialah yang mendahului datang ke situ dengan anak buahnya untuk ikut mencegat anak muda yang istimewa itu.

Di dalam ruangan kemah telah tersedia meja penuh hidangan.

Oei-Coa Tai-Ong duduk di kursi tuan rumah, di kanannya duduk Hek Sam Ong dan di kirinya disediakan kursi untuk Han Liong.

Masih ada dua orang lagi duduk di meja itu, ialah Kong Tat dan Kong Ta yang dijuluki orang Sepasang Garuda Sungai Lien-ho dan menjadi pembantu kedua bajak sungai itu.

Hek Sam Ong mengambil sepasang sumpit lalu menghampiri Han Liong.

Ia tancapkan sumpit itu di depan Han Liong sambil berkata.

"Terimalah sumpit untukmu, tuan yang gagah."

Sepasang sumpit itu menancap di meja sampai satu dim lebih. Han Liong tersenyum melihat demonstrasi tenaga dalam ini dan ia menepuk-nepuk meja sambil berseru.

"Bagus! Bagus!"

Sungguh ajaib, biarpun ia hanya menepuk perlahan saja, namun sepasang sumpit gading yang tertancap di atas meja itu berlompatan ke atas dan jatuh kembali tepat di atas lobang yang tadi hingga tetap berdiri di atas meja.

Hek Sam Ong menjura dan mundur, lalu duduk kembali ke atas kursinya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa Oei-Coa Tai-Ong yang bangun berdiri, sambil menjura ke arah Han Liong.

"Saudara masih muda tapi berilmu tinggi, bolehkah kiranya saya mengetahui namamu?"

"Siauwte yang rendah bernama Han Liong she Si, harap Tai-Ong tidak tertawakan kebodohan siauwte,"

Jawab Han Liong.

"Ah, ah, sudah pandai, sopan santun pula. Jarang menjumpai seorang muda seperti kau, Si Enghiong. Aku yang kasar sudah sepatutnya memberi hormat dengan secawan arak."

Ia menutup kata-katanya ini dengan menuangkan arak dari guci secawan penuh.

Arak di cawan itu penuh sekali hingga hampir melimpah, tapi aneh benar, seakan-akan ada tenaga yang menahan arak itu hingga tak sampai tumpah, si pendek gemuk itu lalu maju selangkah ke arah Han Liong.

"Terimalah hormatku melalui secawan arak ini, Si Enghiong."

Ia berikan cawan arak itu kepada Han Liong, tapi diam-diam ia mengerahkan tenaga Iweekangnya menekan ke bawah.

Ketika Han Liong menerima cawan itu, ia merasa suatu tenaga besar menekan ke bawah.

Ia tersenyum dan ingin unjuk kepandaiannya, karena kalau sampai tangannya tertekan dan arak yang hampir melimpah itu tumpah, ia akan mendapat malu.

Dengan tenang ia terima cawan itu dan pada saat itu juga Oei-Coa Tai-Ong diam-diam merasa terkejut sekali, karena ia merasa cawannya itu seakan-akan menyentuh kapas, namun demikian seakan-akan dasar cawan lekat pada tangan pemuda itu!

Oei-Coa Tai-Ong kerahkan tenaganya makin keras, tapi kali ini ia merasa tangannya sakit sekali karena tenaganya sendiri membalik hingga terasa sampai ke tulang-tulangnya!

Terpaksa ia lepaskan cawan itu.

Han Liong dengan senyum di bibir mengangkat cawan arak itu ke arah mulutnya lalu memiringkan cawan itu untuk menuangkan arak itu ke mulutnya.

"Ah, arakmu terlalu kental, tai ong,"

Kata Han Liong.

Semua orang heran melihat arak itu melimpah ke sisi cawan, tapi tidak juga jatuh atau tumpah.

Han Liong tanpa minum araknya meletakkan kembali cawan itu ke atas meja.

Ketika ia melepaskan tangannya, maka arak itu tumpah dan membasahi meja.

Oei-Coa Tai-Ong tersenyum menyindir.

"Rupanya kau pandai ilmu iweekang, anak muda. Entah bagaimana pula ilmu silatmu!"

"Siauwte hanya bisa satu dua jurus ilmu pukulan yang tidak berarti saja,"

Jawab Han Liong tetap merendah.

"Jangan banyak tingkah. Marilah kau coba ilmu silatmu dengan kami dua saudara Garuda Sungai Lien-ho,"

Tiba-tiba Kong Tat menantang.

"Satu sama satu juga aku tidak mungkin menang, apa lagi dikeroyok dua."

Kata Han Liong, tapi ia bangun juga berdiri dengan sabar. Tiba-tiba di sudut dilihatnya Lo Sam duduk dengan beberapa orang pemimpin laskar bajak yang sedang menggodanya dan melolohnya dengan arak.

"He, Lo Sam, kesinilah kau!"

Teriak Han Liong.

Tapi ketika Lo Sam hendak berdiri, beberapa orang bajak memegang lengannya dan memaksanya duduk kembali.

Han Liong segera bertindak menghampiri dan memegang lengan Lo Sam untuk diajaknya pindah duduk.

Tapi lengan Lo Sam yang sebelah lagi masih dipegang oleh dua orang berandal.

Han Liong menyambar sumpit Lo Sam dan menggunakan sumpit itu untuk mengetok dengan perlahan tangan orang-orang yang memegangi Lo Sam.

Terdengar jeritan-jeritan ngeri dan dua orang itu berjingkrak-jingkrak kesakitan sambil memegang lengannya yang terketok sumpit itu.

Mulut mereka tiada hentinya mengeluh.

"Aduh, aduh!"

Tiga orang bajak lain merasa penasaran dan dengan golok mereka menyerang Han Liong. Han Liong menggunakan sumpit kayu itu menangkis dengan sekali kebut.

"Traang!!"

Tiga buah golok itu terpental jauh, bahkan sebuah diantaranya meluncur cepat melukai kaki seorang bajak lain!

Melihat kelihaian pemuda ini para bajak sungai itu menjadi takut dan tak berani bergerak.

Dengan tenang Han Liong menggandeng tangan Lo Sam dan kembali ke tempatnya.

Kemudian ia menghadapi Sepasang Garuda Sungai Lien-ho yang menantangnya tadi sambil tersenyum.

"Bagaimanakah, jiwi, apakah jiwi ingin maju satu-satu atau terpaksa mengeroyok!"

"Kalau kau takut melawan kami sepasang, kami akan maju satu-satu!"

Kata Kong Tat dengan kesal.

"Bagaimana, Lo Sam? Beranikah kiranya aku sekali tempur melayani kedua Enghiong ini?"

Lo Sam kini percaya penuh akan kegagahan Han Liong. Hatinya telah menjadi tetap dan timbul sifat sombongnya.

"Jangankan baru mereka berdua, biar semua maju sekali serentak, kurasa kongcu masih sanggup melayaninya."

Demikian ia membual agar jangan "kalah muka"

Dengan para bajak yang dibencinya itu.

"Mari maju kemari!"

Kong Tat menjadi marah mendengar ini, ia menantang Han Liong sambil menuju ke tempat yang lapang dengan Kong Ta, lalu berdiri memasang kuda-kuda dengan berjejer, di tangan masing-masing memegang sepasang golok besar.

Han Liong bertindak tenang menghampiri kedua orang itu dengan tangan kosong.

Lo Sam melihat jagonya maju tak bersenjata, segera ingat betapa tangkasnya Han Liong tadi memainkan sumpit melayani tiga orang bajak bersenjata golok.

Ia meloncat ke arah meja dan memilih sepasang sumpit gading.

Diambilnya sumpit itu lalu ia lari ke arah Han Liong.

"Kongcu, kau tak bersenjata, ini senjatamu!"

Ia sangka bahwa Han Liong memang biasa bersenjata sumpit! Han Liong tersenyum dan menerima sumpit itu sambil berkata.

"Terima kasih, Lo Sam."

Sepasang Garuda Sungai Lien-ho sangat kesal dan marah melihat betapa lawan mereka itu sangat memandang rendah kepada mereka.

"Kau hanya bersenjata sepasang sumpit? Jangan menyesal kalau nyawamu melayang karena keangkuhanmu ini, anak muda!"

Kata Kong Ta dengan mata merah.

"Silakan maju menyerang, jiwi Enghiong."

Tantang Han Liong.

Dengan mengeluarkan bentakan keras, Kong Tat mengayun golok di tangan kanan menyerang dengan sabetan Garuda Menerkam Ular.

Kong Tat menimpali serangan kakaknya dengan menusukkan goloknya ke arah pinggang lawan dalam tipu Garuda Menyambar Kelinci.

Han Liong dengan tenang mengangkat kedua sumpitnya, sumpit kiri menyampok golok yang akan mengenai leher dan sumpit kanan menolak tusukan golok ke pinggangnya.

Baca Juga: Suling Naga 13

Baca Juga: Mutiara Hitam 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert