Eps 3 Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo.
Dua orang perempuan di depannya menahan kuda mereka dan berpaling.
Hong Ing terkejut sekali melihat wajah mereka yang buruk menjijikkan itu.
Agaknya mereka berdua menjadi korban penyakit kulit yang menyerang wajah mereka sehingga wajah mereka menjadi hitam serta kulitnya bercacat.
Tapi sepasang mata merela yang indah, bersinar tajam ketika mereka memandang Hong Ing dengan kagum.
"Siangkong mengapa menahan kami?"
Tanya seorang diantara mereka yang lebih tua. Hong Ing melihat bahwa bunganya kini telah berada di atas rambut perempuan kedua, maka ia menunjuk sambil membelalakkan mata.
"Perempuan ini berlaku keji sekali! Kembalikan bungaku!". Kedua perempuan itu tertawa geli melihat sikap Hong Ing yang seperti seorang kanak-kanak direbut bunganya.
"Bunga adalah lambang persahabatan dan rasa suka, mengapa kau tidak rela kembangmu kuminta?"
Perempuan itu berkata sambil tersenyum genit.
"Siapa sudi menjadi sahabatmu? Ayoh kembalikan!"
Hong Ing membentak marah.
"Sumoi, kembalikan saja, jangan membikin siangkong yang tampan ini menjadi marah,"
Kata perempuan pertama.
Karena kata-kata sucinya ini, perempuan kembang itu lalu mengambil bunga mawar itu dari kepalanya, lalu mendekatkan kembang itu ke hidung dan bibirnya untuk dicium, kemudian ia lemparkan kearah Hong Ing.
"Ini, terimalah tanda mata dariku, siangkong!"
Katanya sambil melirik dibuat-buat.
"Cis, tak tahu malu!!"
Hong Ing semakin marah dan menyampok kembang itu dengan tangannya hingga berantakan di tanah.
"Memang sudah kuduga kalian bukan orang-baik!"
Sambil berkata begitu Hong Ing mencabut siang-kiamnya dan menyerang.
"Suci, biar kutangkap sitampan ini untuk teman seperjalanan!"
Kata perempuan yang muda sambil tertawa genit, tetapi bersamaan dengan ini ia mencabut kebutannya dan menggunakan kebutan itu menangkis pedang Hong Ing.
Hong Ing makin marah mendengar kata-kata itu dan kedua tangannya bekerja keras memberi serangan-serangan berbahaya bergantian.
Melihat gerakan "pemuda"
Ini, barulah lawannya tidak berani main-main lagi dan melayaninya dengan hati-hati, bahkan kini ia mencabut pedangnya dan membalas menyerang.
Maka bertempurlah Hong Ing dengan perempuan buruk itu dengan sengitnya.
Ternyata lawan ini sangat lihai sehingga sebentar saja Hong Ing terdesak.
Ia terpaksa melompat turun dari kuda lalu menyerang lagi.
Perempuan itupun terpaksa melompat pula dari kudanya, maka kini mereka berkelahi di atas tanah dengan lebih seru.
Selama bersama dengan Han Liong, Hong Ing telah banyak mendapat petunjuk dari kakaknya ini sehingga ilmu silatnya sekarang sudah jauh lebih hebat dari dulu, bahkan ia sudah mempunyai beberapa tipu gerakan dari pelajaran yang didapat Han Liong dari gurunya Kim-to Bie Kong Hosiang.
Maka gerakan siang-kiam di tangan Hong Ing sangat hebat, terlebih lagi ketika ia bersilat dengan ilmu golok yang sudah diubah oleh Han Liong dalam tipu gerakan Ngo-houw-toan-hun-to atau Lima Harimau Mencegat di Pintu.
Kedua pedangnya berputar-putar cepat.
Pedang kiri merupakan penjaga yang tangguh sedangkan pedang kanan digunakan untuk menyerang, tetapi lawannya tidak kalah hebatnya, terutama geeakan kebutan itu membuat Hong Ing menjadi bingung.
Kebutan itu dapat digunakan untuk melilit pedangnya dan beberapa kail pedang kanannya kena terlilit.
Kalau tenaga dalamnya tidak begitu terlatih atas bimbingan Han Liong, patti tadi-tadi pedang ditangannya sudah terlepas kena kebutan lawannya!
Sementara itu, kuda yang ditunggangi Hong Ing tadi, ketika mendengar ribut-ribut pertempuran itu, menjadi terkejut dan lari sambil meringkik keras!
Tetapi Han Liong yang masih berada di atas kudanya mendatangi tempat pertempuran itu, ketika melihat kuda Hong Ing hendak kabur, sekali tubuhnya bergerak ia sudah melayang keatas punggung kuda Hong Ing dan menahan kendalinya.
"Bagus!"
Terdengar pujian dari suci lawan Hong Ing yang melihat gerakan ini dan menjadi sangat heran serta kagum.
Ia maklum bahwa pemuda kedua ini berkepandaian jauh lebih tinggi dari pemuda yang sedang bertempur melawan adiknya itu karena dari gerakannya saja ia sadar bahwa ia sendiri berdua adiknya takkan dapat melawan pemuda ini.
Maka ia segera berkata kepada adiknya yang sedang berkelahi.
"Sumoi, mundurlah, ayo kita pergi. Lupakah kau akan pesan subo agar kita jangan mencari onar di jalan? Urusan kecil diperhatikan, urusan besar bisa gagal!"
Dan ia gerakkan hudtimnya yang berbulu kuning di tengah-tengah antara pedang adiknya dan pedang Hong Ing.
Ujung bulu kebutan yang lemas itu ternyata membawa tenaga besar yang mengeluarkan angin, sehingga kedua orang yang sedang bertempur itu terhuyung mundur!
Kemudian ia memberi hormat kepada Hong Ing dan Han Liong sambil senyum.
"jiwi Enghiong harap maafkan kami berdua."
Dan dari kedua kepalannya menyambar uap hitam yang kuat sekali kearah Han Liong dan Hong Ing.
Han Liong terkejut sekali dan maklum akan keajaiban uap hitam itu, maka ia segera melompat ke depan melindungi Hong Ing.
Ia gerakkan tangan kirinya perlahan kedepan dan uap itu membentur balik membuat perempuan buruk itu terhuyung ke belakang!
"Maaf tak mengenal Gunnng Thai-san."
Perempuan itu berkata dan menujukan pandang matanya dengan tajam ke arah Han Liong yang berdiri tersenyum saja.
Kemudian ia tarik tangan adiknya dan mereka berdua melompat ke atas kuda yang segera dipacunya!
"Koko, kenapa kau tidak basmi saja dua siluman perempuan itu?"
Kata Hong Ing gemas.
"Buat apa mencari permusuhan dengan segala orang yang tak dikenal? Adik Ing, belajar sabarlah kau. Kau lihat dua orang wanita tadi, mereka begitu berani. Kau anggap baikkah sikap berani mereka itu? Kurasa kau tidak ingin seperti mereka bukan?"
Hong Ing hanya melirik dengan merengut, lalu berkata manja.
"Kau mau persamakan aku dengan siluman-siluman buruk itu??"
"Ah, tentu saja tidak, adikku. Kau cantik seperti dewi, sedangkan mereka itu buruk seperti iblis neraka, mana bisa disamakan? Hanya harus kau ingat, ilmu silat mereka, terutama yang tua lihai benar."
"Memang lihai, memang lihai"."
Hong Ing mengangguk-angguk dengan sikap menurut dan sabar, karena sebenarnya semua kemarahan dan kegemasannya telah lenyap musnah mendengar pujian Han Liong yang menyebut ia cantik seperti dewi!
Iapun patuh dan tak membantah lagi ketika Han Liong mengajaknya melanjutkan perjalanan.
Pada keesokan harinya, ketika matahari telah terbenam, Han Liong dan Hong Ing tiba di Kie-lok dan dengan mudah saja mereka dapat mencari rumah Siok Houw Sianseng yang cukup dikenal.
Tuan rumah yang berusia lebih kurang lima puluh tahun itu dan sangat peramah serta halus budi bahasanya.
Ia menyambut mereka dengan gembira.
Han Liong menyampaikan surat Lie Kiam dan segera mereka dipersilakan memasuki ruang tamu.
Biarpun pesta baru akan diadakan pada esok harinya, namun sudah banyak orang berkumpul di ruang tamu.
Mereka ini ialah tamu-tamu yang datang dari tempat jauh.
Lebih kurang lima meja dikelilingi para tamu.
Ada yang berpakaian seperti jago silat, tapi ada juga yang terdiri dari kaum sasterawan.
Tentu saja mereka itu memilih golongan masing-masing, sehingga rombongan tamu terbagi menjadi dua, golongan ahli silat dan golongan ahli sastera.
Han Liong dan Hong Ing yang berpakaian seperti kaum sasterawan, lagi pula karena sikap dan bahasa mereka lemah lembut, segera dianggap ahli-ahli sastera dan dipersilakan duduk di bagian kutu buku yang berkumpul di situ sambil mengonol.
Mereka ini ada yang mempercakapkan kitab-kitab kuno, ada pula yang membicarakan tentang syair-syair ternama dan hikayat serta riwayat di tanah air pada zaman dahulu.
Ternyata lebih banyak ahli sastera daripada ahli silat yang berkumpul di situ.
Ahli-ahli silat yang berkumpul hanya ada dua meja terdiri dari dua belas orang, sedangkan kaum sasterawan mengelilingi tiga meja.
Hong log segera tertarik oleh percakapan para ahli tulis itu, karena ia sendiripun suka akan buku-buku dan kesusasteraan.
Han Liong diam-diam mengerling ke arah meja di seberang, di mana duduk orang-orang gagah yang sedang bercakap-cakap riuh rendah sambil minum arak sepuasnya.
Tiba-tiba di meja sudut terdengar tertawa meriah, bahkan ada beberapa orang yang bertepuk tangan.
"Memang sudah sepantasnya Bhok lo-Enghiong membuka pertunjukan barang sepuluh jurus agar mata kami terbuka. Di ruangan ini selain Bhok lo-Enghiong, siapa lagi yang patut menambah pengertian kita?"
Demikian terdengar suara desakan.
Seorang yang bertubuh tinggi kurus, berusia lebih kurang empat puluh tahun, berdiri dari kursinya.
Ia menjura kepada orang yang memujinya dengan sikap merendah, tapi dadanya tampak naik, sehingga orang-orang tahu bahwa diam-diam ia merasa bangga.
"Cuwi,"
Katanya.
"Di sini berkumpul orang-orang dari kalangan bun (sastera) yang halus dan sopan, mana aku berani memperlihatkan kekasaranku. Juga tuan rumah adalah seorang siucai yang terhormat, sekailikali aku tak berani kurang ajar!"
Lalu ia duduk kembali.
"Mana bisa begitu?"
Seorang tua bertubuh gagah kuat berkata.
"Bhok Enghiong hendak mengadakan penunjukan silat, ini bukanlah mengganggu, bahkan membantu tuan rumah meramaikan dan menggembirakan pestanya. Siok Sianseng adalah seorang sasterawan patriot yang mengutamakan kegagahan, hingga biarpun beliau bertubuh lemah, tapi jiwanya termasuk orang gagah juga, apa bedanya dengan kita? Kalau bun (kesusasteraan) dan bu (kegagahan) tidak disatupadukan, mana perjuangan akan berhasil? Siok Sianseng, bukankah pendapatku ini benar?"
Tanyanya kepada Siok Houw Sianseng yang sedang menghampiri mereka karena tertarik oleh suara perdebatan itu. Siok Sianseng menjura dan berkata gembira.
"Kalau para Enghiong merasa gembira dan hendak mengadakan pertunjukan, sudah tentu hal itu amat menggirangkan dan siauwte sebelumnya menghaturkan banyak terima kasih!"
"Nah, apa kataku? Ayoh, Bhok Enghiong, silakan kau membuka pertunjukan lebih dahulu. Tidak mudah kami melihat menyambarnya Garuda Putih kalau tidak kebetulan berada di pesta Siok Sianseng!"
Mendengar orang she Bhok itu disebut Garuda Putih, Han Liong segera memperhatikan.
Jadi orang tinggi kurus yang dipuji-puji itu adalah suhengnya, Bhok Kian Eng si Garuda Putih?
Ia lihat Bhok Kian Eng dengan sikap apa boleh buat berdiri dari kursi dan setelah mengangkat kedua tangannya ke kepala memberi hormat kearah para tamu, ia melompat ke tengah ruangan yang lebar dan kosoug itu.
Di situ ia bersilat tangan kosong dan tubuhnya melompat ke sana ke mari.
Memang hebat kepandaian Garuda Putih ini.
Gin-kangnya sudah mahir sekali sehingga ketika ia percepat gerakan-gerakannya, maka kedua kakinya seakan-akan tak menginjak lantai!
Tubuhnya menjadi bertambah seakan-akan ada dua orang yang bersilat karena cepatnya gerak tubuhnya.
Diam-diam Han Liong kagum.
Tak kecawa Bhok Kian Eng ini menjadi murid dari Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan, karena ternyata ilmu meringankan tubuh yang bebat dari Iblis Daratan itu sedikitnya delapan bagian telah diwarisinya!
Tentu saja semua tamu menyambut ilmu silat yang lihai ini dengan tepuk tangan riuh, disana-sini terdengar suara pujian.
Bibran para sasterawan yang asing sama sekali akan pertunjukan seperti itu, juga mau tak mau menjadi tertarik.
Mereka ini heran betul betapa tubuh seorang manusia biasa dapat bergerak selincah burung garuda hingga mengaburkan mata!.
Maka mereka juga ikut bertepuk tangan memuji.
Dengan hati kecewa Han Liong melihat betapa suhengnya itu mempunyai watak sombong dan takabur, jauh berbeda dengan Lie Kiam, twa-suhengnya.
Bhok Kian Eng menghentikan silatnya dan menjura dengan mulut tersenyum dan dada yang kurus itu terangkat naik!
"Sungguh hebat setali ilmu silatmu, Bhok Enghiong.
Baru sekarang aku menyaksikan sendiri kelihaian Garuda Putih, sungguh membikin kami gentar.
Tapi, sudikah kau memperlihatkan pertunjukan ilmu sambit kim-chi-piauwmu yang terkenal itu?"
Bhok Kian Eng makin angkuh mendengar pujian orang, maka tanpa ragu-ragu lagi ia rogoh sakunya.
"Lihat, aku hendak memadamkan semua lilin besar di meja-meja ini!"
Dan ia mulai mengayunkan tangannya.
Tiap kali ia mengayunkan tangannya, maka padamlah sebuah lilin di meja pertama!
Demikianlah, dengan bergiliran lilin-lilin besar di semua meja padam kena sambitan kim-chi-piauw, sedangkan uang logam yang disambitkan itu sama sekail tidak melukai orang!
Ketika lilin di depan Han Liong kena dan padam, maka tinggal sebuah lilin di meja para sasterawan di ujung ruangan itu saja yang belum padam.
Bhok Kin Eng mengeluarkan kepandaiannya untuk sambitan terakhir ini.
Ia sengaja berdiri membelakangi meja itu dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak melalui bawah lengan kanan!
Sebuah uang tembaga meluncur cepat ke arah api lilin.
Tapi tiba-tiba seorang sasterawan muda tampak terkejut hingga tangan kanannya terangkat ke depan.
Uang logam itu tidak mengenai lilin karena buktinya lilin tidak padam dan senjata rahasia itu entah kemana terbangnya.
Keadaan menjadi sunyi dan Bhok Kian Eng heran sekali mengapa tidak terdengar tepuk tangan untuk sambitan kali ini, tidak seperti hasil sambitan sambitan yang tadi.
Ia segera menengok dan wajahnya merah ketika melihat lilin itu masih menyala!
Rupanya sambitannya tidak mengenal sasaran.
Maka untuk menutup rasa malunya, ia ayunkan lagi tangannya, kini tangan itu melalui selangkang kakinya!
Tapi kini semua tamu, kecuali Han Liong yang telah tahu, merasa terkejut sekali, karena pada saat uang logam itu akan menyambar api lilin, tiba tiba uang logam yang pertama datang menyambar dan membentur uang logam kedua hingga menerbitkan suara nyaring dan kedua senjata rahasia itu jatuh ke atas lantai!
Han Liong kagum melihat hal ini.
Tadi ia dapat melihat betapa dengan gerakan Menangkap Burung Terbang, sasterawan muda yang duduk di meja itu telah berhasil menangkap piauw pertama tanpa diketahui orang lain dan kemudian setelah piauw kedua menyambar, ia gunakan piauw pertama itu untuk menyambut piauw kedua!
Tapi gerakan ini tentu saja dapat terlihat oleh semua orang hingga menimbulkan suara-suara kagum dan heran terkejut.
Bhok Kian Eng merasa malu dan marah sekali, karena merasa dipermainkan orang.
Segera ia menghampiri sasterawan yang bertubuh tegap berwajah cakap dan berusia lebih kurang tiga puluh tahun itu, dan dengan senyum dibuat-buat Bhok Kian Eng menjura.
"Saudara telah memperlihatkan kelihaian dan dengan itu memberi pelajaran padaku, maka janganlah kepalang, siauwte mohon pengajaran barang dua-tiga jurus."
Sasterawan muda itu tertawa.
"Bhok Enghiong terkenal dengan julukan Garuda Putih, ternyata memang bukan nama kosong belaka. Tadi siauwte telah melihat ilmu silatmu dan soal kepandaian gin-kang, aku orang she Bie boleh berguru padamu! Tapi, dengan uang logam memadamkan api di meja semua orang, bukanlah itu tak mengindahkan orang lain?"
Bhok Kian Eng menundukkan kepalanya dan ia memang merasa bahwa dirinya bersalah.
Tapi ia beradat keras dan tinggi hati, mana ia mau mengalah begitu saja?
"Bie Enghiong, memang siauwte bermata tapi seakan-akan buta, biarlah kesempatan ini kugunakan untuk mengerti kelihatanmu."
Orang yang ditantangnya secara halus itu berdiri dan menanggalkan baju luarnya sambil tersenyum.
"Aku Bie Cauw Giok selamanya tak suka bermusuh, tapi juga selamanya takkan mundur jika hendak dicoba orang. Marilah, Bhok Enghiong, kutemani kau main-main sebentar untuk menggembirakan pesta Siok Sianseng yang budiman."
Lalu dengan gerakan lincah sekali, ia melompat ke tengah ruangan dengan ilmu loncat It-ho-ciong-thian atau Burung Hoo Terjang Langit.
Hong Ing melihat ini menjadi kagum karena gerakan ini menunjukkan gerakan seorang ahli lweekeh.
Tapi yang lebih heran adalah Han Liong.
Ketika ia mendengar orang itu menyebutkan namanya Bie Cauw Giok, tanpa disadarinya, ia bangun dari kursinya dengan wajah gembira.
Karena nama itu bukan lain ialah nama murid tunggal dari gurunya sendiri, Pauw Kim Kong Beng-san Tojiu si Malaikat Rambut Putih!
Jadi, sebagaimana Bhok Kian Eng maka Bie Cauw Giok inipun bukan lain adalah suhengnya sendiri!
Dan kedua suheng ini sekarang saling berhadapan hendak bertempur!
Tentu saja ia merasa gelisah dan bingung.
Sementara itu, Bhok Kian Eng juga sudah melompat menyusul Bie Cauw Giok dan segera mereka bertanding mengadu kepalan.
Bhok Kian Eng yang berwatak keras segera melancarkan serangan bertubi-tubi dengan mengeluarkan ilmu silatnya yang istimewa.
Tapi Bie Cauw Giok ternyata bukan orang lemah dan dapat melayaninya dengan baik sekali.
Mereka berdua bergerak cepat sehingga membuat para penonton menahan nafas dan tak dapat membedakan mana kawan dan lawan.
Han Liong yang masih berdiri bingung segera dapat mengenal perbedaan mereka dalam hal kepandaian.
Bhok Kian Eng sangat mahir tentang ilmu meringankan tubuh hingga gerakannya lebih gesit dan cepat, sedang Bie Cauw Giok mempunyai keuletan luar biasa dan tenaga dalamnya lebih tinggi daripada lawannya.
Bhok Kian Eng dapat melancarkan serangan lebih sering karena lincahnya, tapi ia selalu menjaga agar jangan sampai beradu tangan, karena tadi baru sekali saja berada lengan ia terhuyung-huyung mundar dan lengannya terasa sakit!
Maka keadaan mereka boleh dibilang tak jauh selisihnya.
Namun Han Liong yakin bahwa jika didiamkan saja, seorang di antara mereka pasti akan terluka, dan ia tak ingin hal ini terjadi.
Tanpa raga-ragu lagi ia melompat kedepan.
Orang-orang hanya melihat bayangan berkelebat di antara kedua orang yang bertanding itu, dan tahu-tahu Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok terhuyung mundur bagai ditolak oleh suatu tenaga besar!
Han Liong menjura kepada mereka berdua dengan sikap hormat sekali, lalu berkata.
"Siauwte mohon maaf dan harap sudilah suheng berdua menghentikan permainan-permainan yang berbahaya ini."
Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok yang tadinya merasa marah kini menjadi terheran-heran.
"Eh siapakah kau maka menyebut aku suhengmu?"
Bhok Kian Eng bertanya dengan marah, sedangkan Bie Cauw Giok memandang makin heran.
Kalau orang ini benar-benar sute dari Bhok Kian Eng, mengapa menyebut suheng pula kepadanya?
Tapi diam-diam kedua orang gagah itu kagum melihat gerakan dan tenaga anak muda yang telah dengan mudah membuat mereka terhuyung mundur.
Tapi mereka juga mesata amat tidak senang atas kelancangan anak muda ini.
"Siauwte adahh Si Han Liong. Bukanlah Bhok suheng murid suhu Liok-tee Sin-mo Hong In dan bukankah suhu Pauw Kim Kong guru dari Bie suheng?"
Untuk kedua kalinya Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok terheran-heran karena pemuda itu dapat mengetahui nama guru mereka.
Tentu saja mereka tidak percaya karena mana bisa jadi, sute mereka masih begitu muda tapi berkepandaian demikian tinggi?
"Bie Enghiong,"
Bhok Kian Eng berkata kepada Bie Cauw Giok.
"Agaknya orang ini hendak mempermainkan kita dan memamerkan kegagahannya untuk menghina kita berdua."
"Benar begitu kiranya,"
Kata Bie Cauw Giok.
"karena mana mungkin sutemu menjadi suteku pula? Biarlah aku mencobanya dulu, sampai di mana kepandaian orang yang mengaku suteku ini."
"Tidak, biar aku maju lebih dulu untuk memberi pelajaran kepadanya,"
Bantah Bhok Kian Eng.
Sampai di lini, maka kesabaran Hong Ing yang dari tadi dirahan-tahan menjadi hilang melihat kokonya dipandang readah.
Dan sekali melompat ia telah berada di tengah ruangan itu.
Semua tamu makin heran melihat datangnya seorang pemuda yang muda dan cakap, dan dari gerakannya ternyata memiliki kepandaian tinggi.
Suasana menjadi tegang.
"Jiwi Enghiong jangan berebut. Kalau jiwi masih tidak percaya kepada kokoku ini dan masih menganggap dia seorang sute palsu, kurasa untuk mencobanya tak perlu seorang demi seorang. Majulah saja bersama-sama, pasti kokoku akan dapat melayani jiwi dengan baik."
Kata-kata ini mengandung tantangan hebat dan memandang rendah kedua orang itu, maka wajah kedua orang itu menjadi merah padam.
Han Liong melihat kenakalan Hoag Ing, buru-buru menunduk memberi hormat dan berkata.
"Jiwi suheng, ia adalah adikku Hong Ing. Maafkan dia yang masih muda, tetapi biarlah suheng berdua melaksakan seperti yang diusulkannya. Siauwte akan melayani suheng berdua, tetapi siauwte akan membuktikan bahwa ilmu silat yang siauwte pakai dalam permainan ini tiada bedanya dengan ilmu suheng sendiri."
Kedua orang itu heran dan tercengang atas keberanian orang muda ini.
Bagaimana seorang dapat melayani mereka berdua dengan menggunakan dua macam cabang ilmu silat?
Tetapi karena tahu akan ketangguhan lawan, Bhok Kian Eng memberi tanda kepada Bie Cauw Giok dan berkata.
"Kau sombong sekali, anak mula. Baiklah, mari kita serang dia bersama-sama, Bie Enghiong, lihat, bagaimana dia akan melayani kita."
"Tetapi tidak adil kalau kita harus maju terentak, Bhok Enghiong,"
Bantah Bie Cauw Giok.
"Tidak apa, Bie suheng, majulah,"
Kata Han Liong dengan tenang dan mengambil tempat di tengah, Bhok Kian Eng di kiri dan Bie Cauw Giok di kanan.
Mendengar kata-kata yang bersifat menantang ini, Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok tak dapat menahan rasa amarahnya dan maju melakukan serangan hebat!
Han Liong yang telah, dilatih sempurna oleh Kam Hong Siansu yang menciptakan Ilmu Silat Empat Bintang, yakni yang mengambil dasar dari pelajaran keempat guru Han Liong, tentu saja kenal baik gerakan-gerakan kedua suhengnya itu.
Segera ia bergerak dengan gesit, tangan kanan dipakai menangkis serangan Bie Cauw Giok dan tangan kiri menangkis serangan Bhok Kian Eng.
Sekaligus ia dapat mempergunakan dua gerakan dari kedua cabang persilatan, dengan mengandalkan kekuatan ilmu ginkangnya yang tinggi, sehingga tubuhnya dapat bergerak dengan cepat.
Setelah menyerang beberapa belas jurus, kedua suheng itu terheran-heran dan terkejut, karena ternyata semua gerakan Han Liong adalah benar-benar ilmu silat cabang mereka!
Bahkan tangkisan-tangkisan anak muda itu membawa tenaga yang demikian besar sehingga tiap kali lengan mereka beradu, kedua orang itu mesata betapa tubuh mereka terpental dan lengan mereka tergetar hebat.
Hal ini membuat mereka heran dan kagum, lebih-lebih Bie Cauw Giok yang memiliki ilmu tenaga dalam yang tinggi namun tetap tak berdaya terhadap orang yang mengaku sutenya itu!
Juga Bhok Kian Eng yang mahir ilmu meringankan tabuh, kagum sekali melihat gerakan Han Liong yang tak kalah hebatnya jika dibandingkan dengan gurunya, Hong In si Iblis Daratan sendiri!
Tapi kedua orang itu masih belum puas dan mereka menyerang semakin hebat.
Han Liong terpaksa menggunakan ilmu silatnya Empat Bintang Untuk melayani kedua suheng ini.
Tentu saja kedua lawannya menjadi bingung karena pemuda ini kini bergerak dalam ilmu silat yang aneh sekail.
Mirip ilmu silat mereka sendiri, tapi toh bukan!
Dan sebentar saja kedua orang itu merasa seakan-akan bukan sedang bertanding melawan seorang, tapi lebih dari lima orang.
Dimana-mana tampak bayangan pemuda itu mengeroyok mereka!
Sementara itu, Hong Ing yang bermata tajam melihat seSosok bayangan tubuh melayang-layang di atas genteng.
Diam-diam nona ini melayang ke atas mengejar.
Alangkah marahnya ketika dilihatnya bahwa bayangan itu tidak lain dari wanita buruk yang merampas kembangnya dan bertempur dengannya siang tadi!
Setan perempuan itu sedang mencari-cari dari atas genteng dengan pedang dan kebutannya di kedua tangan.
"Siluman perempuan, kau berani datang mengacau?"
Teriak Hong Ing. Perempuan itu memperlihatkan senyum mengejek.
"Eh, kau juga berada di sini, siangkong? Jangan kau turut campur urusanku."
"Kau kira aku takut padamu?"
Bentak Hong Ing yang segera menyerang dengan siang-kiamnya.
Lawannya memperdengarkan suara menghina dan mereka segera bertempur seru.
Han Liong biarpun sedang dikeroyok oleh kedua subangnya, namun ia masih dapat memperhatikan keadaan yang terjadi di sekelilingnya.
Maka ketika Hong Ing melayang ke atas genteng, hal itu tak terlepas dari pandanyanya.
Ia merata khawatir akan keselamatan adiknya yang nakal dan suka mencari onar itu, maka sambil berkata.
"Maaf, jiwi suheng, siauwte tak dapat melayani kalian lebih lama lagi."
Tubuhnya lalu melambung ke atas langsung ke tempat Hong Ing tadi melompat.
Tetapi kedua suheng itu yang hendak menuntut keterangan dan penjelasan dari pemuda ini, segera melompat mengejarnya!
Mereka bertiga melihat betapa Hong Ing terdesak hebat oleh seorang perempuan berwajah buruk yang memainkan pedang dan kebutan secara dahsyat sekali.
Melihat perempuan itu.
Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok berbareng mengeluarkan seruan kaget.
"Ji-siauw-molie!"
Tapi Han Liong tak perdulikan sebutan Setan Perempuan Muda Kedua ini, hanya segera tangannya bergerak menyambar ke arah perempuan itu.
Perempuan itu berseru terkejut karena kebutannya hampir saja terlepas dari tangannya ketika terkena sambaran angin pukulan Han Liong.
Ia melirik sekilas dan tertawa menghina.
"Hm, bagus! Kalian semua sudah berkumpul menjaga penberontak tua she Siok? Baik sekali, kami takkan datang percuma kalau begini. Nah, tunggulah, besok diwaktu penagntin bertemu, kami akan kembali main-main dengan kallanl"
Sehabis berkata demikian, ia menggerakkan tubuhnya dan menghilang. Hong Ing hendak mengejar, tapi Bhok Kian Eig berkata.
"Jangan kejar!"
Suaranya menunjukkan kekhawatiran besar, maka Han Liong dan Hong Ing menjadi heran.
Tapi orang she Bhok itu memberi tanda supaya mereka semua turun.
Para tamu di ruang itu semua tampak pucat dan ketakutan, bahkan para jago silat juga tampak gelisah.
Hanya tuan rumah yang lemah dan tua itu saja kelihatan tenang dan sedang mencoba untuk menenteramkan hati para tamunya.
Melihat semangat dan ketabahan orang tua she Siok ini, mau tak mau Han Liong dan Hong Ing merasa kagum juga.
"He, anak muda. Sebelum kita bicara lebih lanjut, kami harap kau memberi penjelasan padaku tentang keadaan dirimu yang mengaku menjadi suteku ini,"
Kata Bhok Kian Eng.
"Siauwte memang benar murid Liok-tee Sin-mo, dan siauwte bahkan sudah bertemu dengan twa-suheng Lie Kiam. Kedatangan siauwte ke sini juga atas suruhan twa-suheng. Mungkin suhu belum pernah memberitahu kepadamu, suheng, maka tidak kenal pada siauwte,"
Bhok Kian Eng menganguk-angguk dan diam-diam girang mempunyai seorang adik seperguruan yang demikiaa cekatan, tapi ia masih belum puas mengapa adik seperguruannya ini lebih pandai darinya!
"Saudara, kalau kau benar sute diri Bhok Enghiong, mengapa kau juga mengaku menjadi suteku?
Bukankah ini aneh dan bohong belaka?"
Tiba-tiba Bie Cauw Giok menyela.
"Bie suheng, mana siauwte berani membohong. Dengan sebenarnya siauwte juga murid dari suhu Pauw Kim Kong yang mengajarku bersama-sama dengan suhu Hong In, suhu Bie Kong Hosiang dan juga suhu Hee Ban Kiat!"
Mendengar ini, kedua suheng itu memandangnya heran dan kagum.
Hong Ing yang ikut merasa bangga bahwa kokonya menjadi pusat kekaguman orang, segera bertindak maju dan memperkenalkan lebih lanjut, \"Tidak hanya koko Han Liong murid keempat cianpwe itu, juga dia adalah murid dari Kam Hong Siansu."
"Stt, Ing moi...!"
Han Liong mencegah, dan semua orang tercengang mendengar bahwa pemuda cakap itu disebut Ing-moi! Hong Ing mana mau menurut teguran dan cegahan Han Liong, ia terus saja menyombong.
"Dan tahukah semua Enghiong dan cianpwe yang berada disini, siapa Han-ko ini? Ia bukan lain ialah putera tunggal dari almarhum Si Enghiong..."
"Betulkah itu?"
Tiba-tiba tuan rumah bertanya heran.
Orang tua she Siok int pernah berjuang bahu-membahu dengan Si Cin Hai atau yang lebih terkenal dengan sebutan Si-Enghiong.
Terpaksa Han Liong tak dapat menyembunyikan diri dan asal-usulnya lagi, sehingga semua orang mengerumuninya dengan kagum.
Juga Bhok Kian Eng daa Bie Cauw Giok yang tadinya merata penasaran, kini bahkan merasa bangga mempunyai seorang sute yang bukan lain adalah putera Si Enghiong yang mereka semua puja itu.!
Kemudian Han Liong bertanya tentang keadaan perempuan buruk yang datang mengganggu tadi.
"Kau belum kenal dia, sute?"
Kata Bhok Kien Eng dengan suara mengandung kepuasan dan kebanggaan bahwa betapaun juga, dalam kalangan kang-ouw ternyata ia jauh lebih berpengalaman dari pada sutenya.
"Dia itu bernama Kiu Lau yang dijuluki Jie siauw-moli, sebenarnya iblis wanita itu biasanya keluar berpasangan dengan cicinya yang bernama Kiu Hwa Twa-moli. Kepandaian silat kedua enci adik itu memang luar biasa, teristimewa Kiu Hwa, kakak iblis wanita yang datang tadi, sehingga mereka berdua ditakuti orang banyak di kalangan kang-ouw. Sebenarnya mereka sendiri tak berapa kejam atau jahat, tetapi yang membuat orang menjadi takut adalah mengingat bahwa mereka berdua ini adalah murid dari Loh-san Sam-moli atau Tiga Iblis Wanita dari Gunung Loh-san."
"Hm, agaknya mereka keluarga iblis-iblit, tapi yang datang tadi iblis kecil tak berapa hebat kepandaiannya"
Berkata Hong Ing. Bie Cauw Giok memandang wajah Hong Ing dengan tajam.
"Sute, kepandaian adikmu ini lumayan juga hingga berani menahan Jie siauw-moli. Dari mana Lihiap mempelajari permainan siang-kiam sehebat itu?"
Hong Ing mengerling ke arah Han Liong dengan penyesalan mengapa katak ini kurang hati-hati hingga tadi membuka rahasianya dan membuat semua orang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang gadis!
Tapi, mendengar semua orang juga mengagumi ilmu silatnya, ia terpaksa tersenyum merendah.
"Ah, aku hanya belajar sedikit ilmu silat dari guruku Sang Bouw Nikouw di kelenteng Bok-sin tang. Mana aku dapat disamakan dengan Han-ko yang mempunyai banyak guru"
Demikianlah dengan gembira mereka bercakap-cakap dan Han Liong diperkenalkan kepada para tamu lain.
Han Liong bertanya kepada Siok Houw Sianseng mengapa iblis wanita itu datang membikin gaduh, dan apakah yang menyebabkan tuan rumah itu dimusuhi oleh Jie-siauw-moli.
"Si hiante,"
Jawab Siok Houw yang menganggap Han Liong sebagai keponakan sendiri.
"Aku selamanya belum pernah bertemu maupun bermusuhan dengan mereka, tapi hal ini juga terjadi pada almarhum ayahmu. Maka, mudah saja diduga dari mana dan siapa yang menyuruh mereka datang ke sini menggangguku. Tak lain menurut dugaanku mereka itu pasti bekerja untuk pemerintah musuh"
"Ini benar sekali,"
Sambung Bie Cauw Giok.
"suhu belum lama ini juga mengirim kabar padaku bahwa sekarang banyak sekail orang kalangan liok-lim yang diperalat oleh kaisar untuk membasmi semua orang yang bersikap memusuhi pemerintahannya. Dan menurut berita-berita yang kudengar, bahkan sekarang Tiga Iblis Wanita dari Loh-san itu telah menjadi pembantu yang dipercaya dari para pengawal istana kaisar. Siok Houw Sianseng menghela napas.
"Aku yang tua dan tak berguna ini tieda harganya untuk merepotkan para Enghiong. Biarlah mereka datang dan mengambil jiwaku. Tapi yang membuat aku menyesal ialah mengapa mereka justeru memilih waktu sekarang? Mengapa mereka tidak menunggui sampai aku selesai merayakan perkawinan anakku?"
"Siok Sianseng jangan takut. Biar iblis-iblis itu datang, aku orang she Bhok, pasti akan mengajak mereka adu jiwa."
Kata-katanya ini biarpun terdengar jumawa namun diam-diam Han Liong merasa girang karena ia mendapat kenyataan bahwa biarpun tabiatnya kasar, namun subengnya ini ternyata gagah berani dan jujur.
"Bhok twako benar. Kami takkan tinggal diam,"
Bie Cauw Giok menghibur Siok Sianseng.
"Tapi kita harus berhati-hati, musuh yang akan datang besok itu bukanlah orang-orang lemah. Harap Bhok twako berhati-hati dan waspada. Baiknya di sini ada Si sute dan Lihiap yang merupakan tenaga bantuan tangguh hingga kita tak usah merasa takut."
"Dua orang wanita itu tak berapa berbahaya,"
Kata Han Liong.
"Terus terang saja aku dan adikku bertemu dengan mereka siang tadi"
Lalu ia menceritakan pengalamannya kepada semua orang.
Melihat Han Liong agaknya tidak takut terhadap kedua iblis wanita itu, semua orangpun berbesar hati.
Setelah itu mereka beristirahat.
Han Liong sekamar dengan kedua suhengnya, sedangkan Hong Ing bermalam dengan Kim Lian,.
puteri Siok Sianseng yang akan kawin besok harinya.
Gadis ini merasa kagum dan senang sekali, berkenalan dengan nona pendekar itu.
Malam itu semua orang gagah tidur dengan bergiliran tapi semalam-malaman itu tak terjadi sesuatu.
Pada keesokan harinya, udara terang dan cuaca bagus, maka sudah sepantasnya orang-orang bergembira.
Tapi jika seseorang memperhatikan wajah orang-orang dalam ramah Siok Sianseng, tentu mereka akan melihat betapa wajah orang-orang itu mengandung kecemasan hebat.
Tamu-tamu baru datang dari segala tempat sehingga dalam sekejap saja rumah keluarga Siok penuh orang.
Banyak pula jago silat datang bertamu, maka Bhok Kian Eng menjadi tambah girang karena mereka ini dapat diharapkan bantuannya bila iblis-lblis itu datang mengganggu.
Hampir semua tamu yang datang, baik ia sasterawan maupun jago silat, terdiri dari para orang gagah pencinta bangsa dan pengikut-pengikut Si Enghiong dulu atau sisa-sisa kaum pemberontak yang dihancurkan oleh pemerintah bangsa Boan.
Ketika rombongan pengantin laki-laki datang menjemput calon isterinya, keadaan menjadi ramai dan suasana menjadi sangat meriah, orang-orang lupa sejenak akan ancaman bahaya.
Suara tambur dan gembreng, mercon dan orang-orang tertawa memenuhi suasana rumah itu.
Tiba-tiba tampak tiga bayangan orang berkelebat!
Dua orang tua laki-laki dan seorang wanita tampak berdiri di depan tuan rumah, lalu menjura memberi selamat.
Semua orang heran karena gerakan mereka demikian cepatnya sehiniga tahu-tahu sudah berada disitu, entah dari mara datangnya!
Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok diam-diam bersiap dengan senjata masing-masing.
Tetapi Siok Sienseng memandang mereka dengan wajah girang, sedangkan Han Liong tiba-tiba meloncat ke depan ketiga orang tua itu dan memberi hormat sambil berlutut.
"Suhu! Ie-ie!!"
"Han Liong, kau juga berada di sini? Syukurlah!"
Seru ketiga orang itu terdengar girang sekali seperti suara orang yang terbebas dari kekhawatiran besar ketika melihat muridnya-pun berada di situ.
Ternyata wanita setengah tua yang kelihatan gagah itu bukan lain adalah Yo Leng Ing, bibi Han Liong, sedangkan kedua orang tua ita adalah Siauw lo-ong Hee Ban Kiat si mata satu dan Kim-to Bie Kong Hosiang, dua diantara guru-garu Han Liong!
Tentu saja pertemuan ini sangat menggirangkan dan Siok Sianseng merasa bangga menerima tamu-tamunya yang terdiri dari orang-orang gagah golongan tua dan patriot-patriot bangsa yang terkenal.
Dihadapan tuan rumah, ketiga orang tua ini tidak menyatakan apa-apa, hanya sekedar datang memberi selamat.
Tapi ketika mendapat kesempatan, Hee Ban Kiat menarik tangan Han Liong ke samping dan berkata.
"Han Liong, kita harus waspada, Siok Sianseng akan didatangi orang-orang jahat"
Han Liong menyangka dua iblis wanita yang datang malam tadi itulah yang dimaksudkan oleh gurunya, tapi ia bertanya.
"Siapakah mereka itu, suhu?"
"Loh-san Sam-moli!"
"Oh, Tiga Iblis Wanita dari Loh-san?"
Bata Han Liong berseru kaget. Hee Ban Kiat mengangguk.
"Untuk itulah maka aku, Bie Kong Hosiang, dan Yo Toanio datang kemari. Ketiga iblis itu mempunyai kepandaian dan ilmu silat yang tinggi pula. Belum tentu kita sanggup melawan dan mengalahkannya, tapi bagaimanapun juga, kita harus melindungi Siok Sianseng."
Han Liong lalu menceritakan dengan singkat bahwa murid ketiga iblis wanita itu semalam telah datang dan berjanji hendak datang menyerbu hari ini.
Kemudian, ketika Bie Kong Hosiang dan Yo Lee In juga datang ke sana dan mendengar kisah perjalanannya semenjak berpisah, Han Liong segera melambaikan tangan kepada Hong Ing.
Ia memperkenalkan gadis yang masih berpakaian laki-laki itu kepada ie-ienya dan kepada kedua suhunya.
Yo Leng In memandang gadis itu dan diam-diam ia mengakui persamaan wajah anak itu dengan cicinya.
Tetapi karena mengingat bahwa gadis itu adalah puteri Lie Ban musuhnya, maka ia hanya menyambut dengan dingin saja.
Melihat ketiga orang tua itu bercakap-cakap dengan Han Liong, Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok mendekati mereka.
Hee Ban Kiat dengan matanya yang tinggal satu itu memandang ke arah mereka.
Kedua orang itu sangat terkejut melihat betapa mata itu bersinar sangat tajam seakan-akan dapat menembus dada!
Han Liong segera mengundang mereka itu duduk dan memperkenalkan Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok sebagai murid Liok-te Sin-mo dan Beng-san Tojin!
Kedua orang itu segera memberi hormat kepada mereka.
Mendengar bahwa Loh-san Sam-moli akan datang, kedua orang itu menjadi pucat, tetapi melihat bahwa kedua guru dan ie-ie Han Liong, yang tinggi ilmu silatnya itu berada di situ hati mereka agak tenteram.
Di antara mereka semua, hanya Hong Ing saja yang merasa sangat kurang senang hati!.
Menurut anggapannya mungkin ketiga orang tua itu tak suka padanya, dan ia maklum mengapa mereka demikian.
Maka ia mesata hatinya sangat tersinggung dan berduka.
Han Liong juga dapat merasakan keadaan adiknya ini, maka beberapa kali ia mengerling ke arah Hong Ing dengan pandangan iba dan mesra.
Melihat pandangan iba dari kakaknya itu, Hong Ing makin merasa sedih.
Dengan menundukkan kepalanya, gadis itu segara berdiri dan meninggalkan mereka, menghilang diantara orang banyak yang berkerumun berdesak-desak melihat pengantin.
Ketika smua orang tengah bergembira, tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring yang mengalahkan semua suara gaduh.
Suara itu sangat merdu dan nyaring, tetapi juta mendatangkan pengaruh yang menyeramkan.
Han Liong berkelebat ke atas genteng, diikuti oleh kedua gurunya, ie-ienya, dan kedua suhengnya.
Juga beberapa belas jago silat yang berkepandaian tinggi ikut menyerbu naik!
Keadaan menjadi panik.
Mereka yang tidak mengerti ilmu silat mencari perlindungan di dalam kamar, tak peduli kamar siapa saja dimasukinya dan pintu ditutup dari dalam.
Kedua pengantin cepat dibawa orang bersembunyi dalam kamar pengantin dan dijaga oleh beberapa orang gagah dengan senjata di tangan!
Di atas genteng tampak berdiri tiga orang perempuan terengah tua yang berpakaian serba hijau dan masing-masng memegang kebutan dan pedang.
Mereka ini adalah Loh-san Sam-moli yang terkenal dan ditakui semua orang!
Di pinggir mereka berdiri Kiu-hwa Twa-moli, sedangkan Kiu Lan Siauw-moli sedang bertempur melawan Hong Ing, Kiu Lan menggunakan hudtim dan pedang, sedangkan Hong Ing menggunakan siang-kiamnya.
Ketika itu Hong Ing memainkan ilmu pedang pasangan warisan gurunya dan mencoba berkelahi dengan nekad, terdorong oleh kedukaan hatinya.
Melihat permainan ini, tiba-tiba iblis termuda berkata sambil kebutkan hudtimnya.
"Berhenti!"
Dan heran, sambaran angin hudtimnya cukup untuk membuat kedua orang yang sedang bertempur itu terhuyung-huyung mundur.
"Eh, nona kecil, apakah hubunganmu dengan Seng Bouw Nikouw?"
Iblis wanita ketiga itu bertanya. Hong Ing biarpun telah merasakan kehebatan tenaga iblis itu, tapi ia tidak takut, bahkan ia hendak menggunakan nama gurunya menggertak.
"Ia adalah guruku, kau mau apa menanyakan?"
Iblis wanita iu terkejut dan heran.
"Kau muridnya? Kalau begitu, bukankah! kau she Lie dan ayahmu adalah Lie Ban?"
Mendengar nama ayahnya disebut-sebut, Hong Ing menjadi marah.
"Apa maksudmu bertanya panjang lebar? Aku bukan kerabatmu!"
"Omitohud! Kami adalah orangmu sendiri, nona! Kau adalah keturunan Lie Ban, mengapakah kau bisa berada bersama-sama dengan orang-orang ini? Mereka ini adalah musuh-musuhmu, nona! Ayah-ibumu juga merekalah yang membunuhnya."
"Jangan banyak cerewet!"
Hong Ing berteriak gemas dan bersamaan itu air matanya mengalir di pipinya karena kata-kata itu mengingatkannya akan kedua orang tuanya yang meninggal dunia.
Digerakkannya siang-kiamnya lagi dan menyerang Kiu Lan dengan sengit.
Kiu Lan menangkis dan mereka bertempur lagi mati-matian.
Pada saat itulah Han Liong dan kawan-kawannya sampai disitu.
Loh-san Sam-moli sebenarnya bukanlah tiga saudara.
Mereka adalah saudara-saudara seperguruan, yakni murid-murid dari Ngo-lian-posat Ang Gwat Niang-niang si Dewi Lima Teratai seorang wanita pertapa yang tinggi ilmu silatnya dan tinggi pula lima batinnya, dan yang sedang bertapa di Ngo-lian-san.
Tiga saudara seperguruan itu oleh gurunya diberi nama Biauw Niang-niang, Leng Niang-niang, Hai Niang-niang.
Mereka bertiga telah mewarisi kepandaian dari suhunya sehingga kepandaian mereka sudah boleh dikatakan sempurna dan jarang tandingannya.
Sebenarnya semenjak muda mereka bertiga telah dididik untuk menjadi orang suci, dan mula-mula mereka juga patuh menjalankan ibadat.
Tapi karena pada dasarnya memang tidak bersih, Biauw Niang-niang tergoda oleh nafsu dan ia menyeret kedua adik seperguruannya ke dalam jurang kehinaan, hingga mereka bertiga berobah menjadi jahat.
Bie Kong Hosiang yang pernah bertemu dengan ketiga iblis wanita ini, segera menjura dan berkata.
"Omitohud! Ketiga Niang-niang yang terhormat berkenan mengunjungi tempat sahabatku yang buruk ini. Maafkan kami tidak tahu sehingga tak menyambut dengan sepantasnya."
Biauw Niang-niang tertawa menghina.
"Bie Kong Hwesio!"
Katanya.
"Kau juga berada di sini? Kau mengaku kawan si pemberontak she Siok itu? Hati-hati, hwesio, ia adalah seorang pemberontak yang harus menerima hukuman sekeluarganya. Lebih baik kau pergi saja dari sini, barangkali aku dapat mengampunkan kau!"
"Eh, setan perempuan darimana begini jumawa dan datang-datang memaki-maki orang? Kalian boleh menakut-nakuti orang lain, tapi aku Bhok Kian Eng si Garuda Putih sekali-kali tidak takut padamu!"
Sepasang mata Hai Niang-niang, iblis termuda, yang jeli seperti mata seorang gadis cantik, berkilat memandang ke arah Bhok Kian Eng, lalu mulutnya tersenyum.
"Hm, beginikah macamnya Garuda Putih? Baiklah, aku akan membikin kau menjadi garuda tak bersayap!"
Dan bersamaan dengan kata-kata terakhir, tangannya bergerak dan sebuah benda putih berkilauan menyambar secepat kilat ke arah Bhok Kian Eng!
Huito atau pisau terbang itu menyambar ke arah kaki si Garuda Putih dengan cepat sekali sehingga jalan satu-satunya bagi Bhok Kian Eng ialah melompat tinggi untuk menyelamatkan diri dari tikaman pisau yang sempat mengenai betisnya.
Tapi serangan gelap ini memang diperhitungkan masak-masak oleh penyerangnya, karena selagi tubuh Bhok Kian Eng masih terapung di udara, tiba-tiba pisau lain telah terbang menancap di bahu kirinya!
Tanpa ampun lagi si Garuda Putih terbanting ke bawah genteng!
Baiknya ia sudah memiliki tubuh kuat dan mempunyai kegesitan cukup baik sehingga dalam bahaya maut itu ia masih sempat berjungkir balik dan jatuh di atas tanah dengan berdiri.
Ia segera roboh karena betisnya yang terkena pisau terasa sakit sekali.
"Sungguh tak tahu malu, menyerang secara pengecut!"
Teriak Hee Ban Kiat yang meloncat menyerang Hai Niang-niang.
Tetapi Kiu Hwa twa-moli menangkisnya dan mereka segera bertempur dengan seru.
Hee Ban Kiat seperti biasa tak pernah menggunakan senjata, tetapi menggunakan sepasang kepalan dan kedua kakinya yang dapat bergerak cepat dan tak kalah hebatnya dengan senjata yang bagaimanapun juga.
Tapi lawannya, murid kepala dari ketiga iblis, bukanlah lawan yang ringan.
Perempuan buruk ini menggunakan hudtimnya untuk membalas menyerang dan mencoba untuk mengalahkan si mata satu.
"Kau mencari mati!"
Hai Niang-niang tertawa dingin dan kebutannya berkelebat ke arah dada Bie Kong Hosiang.
Tapi tiba-tiba sebuah bayangan putih menyambar dan Hai Niang-niang merasa tenaga yang luar biasa kuatnya menolak kebutannya hingga terpental.
Ia menjerit terkejut dan marah.
Ternyata Han Liong telah mewakili gurunya, dan tadi ia menggunakan ujung bajunya untuk menyabet dan menangkis kebutan itu!
Bukan main herannya Hai Niang-niang ketika melihat bahwa yang menangkis hudtimnya secara hebat itu bukan lain hanyalah seorang pemuda yang belum ada dua puluh tahun usianya.
Ia sampai tak percaya dan sekali lagi ia menggerakkan hudtimnya, kini ke arah kepala Han Liong.
Gerakan hudtim ini mengandung tenaga dalam yang besar sehingga sebelum kebutan sampai, anginnya telah terasa menyambar dingin.
"Bagus!"
Kata Han Liong dan Hai Niang-niang merasa kepalanya pening dan matanya kabur karena tahu-tahu anak muda baju putih itu lenyap dari depannya!.
Secepat kilat ia memutar tubuh sambil memukulkan kebutan dan pedangnya.
Benar saja, Han Liong sudah berada di belakangnya tersenyum den menangkis sabetannya.
"Sungguh lihai!"
Leng Niang-niang berseru.
Iblis kedua ini tahu bahwa seorang diri saja sumoinya itu sukar memperoleh kemenangan, maka ia segera maju menyerang.
Han Liong melibat gerakan Leng Niang-niang lebih hebat dari Hai Niang-niang, berlaku hati-hati dan ia melayani keroyokan kedua wanita iblis itu dengan mengandalkan kegesitan dan kelincahannya.
Melihat kedua sumoinya dapat mengimbangi Han Liong, Biauw Niang-niang tertawa seram, kemudian, in memutar pedangnya menyerang Bie Kong Hosiang yang menangkisnya dengan golok.
Bie Cauw Giok melihat betapa Hong Ing sangat terdepak oleh Kiu Lan, segera maju membantu.
Beberapa orang tamu yang juga memiliki kepandaian ikut naik ke atas genteng, dan segera maju pula menyerbu.
Ada yang membantu Bie Kong Hosiang, ada pula yang membantu Hee Bin Kiat.
Tapi tak seorangpun berani membantu Han Liong karena pemuda itu sudah tak kelihatan bayangannya lagi, seakan-akan menjadi satu dengan sinar pedangnya dalam perjuangan mati-matian melawan dua iblis yang lihai itu.
Di dalam pertempuran yang hebat itu, selain Han Liong sendiri, yang boleh dibilang menang dan mendesak lawannya adalah Hee Ban Kiat.
Biarpun Liu Hwa telah mewarisi kepandaian tiga iblis wanita yaag menjadi gurunya, namun terhadap Hee Ban Kiat si mata satu ia kalah tenaga, kalah pengalaman dan kalah ulet.
Permainan pedang dan hudtimnya mulai kacau menghadapi silat tangan kosong si mata satu yang memainkan Kiaw-ta-sin-na-hwat.
Tiba-tiba Kiu Hwa menjerit ngeri dan ia terhuyung-huyung lalu memuntahkan darah sambil memegang pundaknya.
Ternyata dengan tipu Lutung Sakti Menyambar Hati, Hee Ban Kiat menyerangnya dan Kiu Kwa menangkis dengan hudtim, tapi Hee Ban Kiat merobah gerakannya, jari tangannya mencuri masuk dalam totokan Su-sat-chiu yang luar biasa itu.
Tanpa ampun lagi Kiu Hwa terkena totokan di pundaknya, dan jiwanya tak tertolong lagi karena yang tertotok adalah urat kematian.
Melihat muridnya terluka, Biauw Niang-niang marah sekali.
Sambil berseru keras ia menangkis golok Bie Kong Hoiiang dengan kebutan dan pedangnya berkelebat cepat ke arah dua orang yang membantu hwesio itu.
Terdengar bunyi "Traang!!"
Dan senjata kedua orang itu terlepas dari tangannya diikuti dengan suara pekik kesakitan karena Biauw Niang-niang terus memainkan kebutannya menyabet, yang akibatnya hebat sekali.
Seorang pengeroyok pecah kepalanya sedangkan orang kedua patah tulang iganya ketika ujung bulu kebutan singgah di dadanya!
Bie Kong Hosiang terkejut sekali melihat kehebatan lawannya.
Ia melompat maju dan memutar goloknya makin cepat dalam ilmu goloknya Ngo-houw-toan-hun-to yang lihai.
Namun Bianw Niang-niang terlalu tangguh baginya.
Dengan tangan kiri yang memegang hudtim, ia dapat menangkis dan memunahkan semua serangan Bie Kong Hosiang, sedangkan di tangan kanannya ia menggunakan pedang untuk menyebar maut!
Sambil berkelebat ke sana ke mari ia berhasil melepaskan diri dari serangan Bie Kong Hosiang dan sekali pedangnya berkelebat, maka robohlah seorang lagi pengeroyok dengan mandi darah!
Sebentar saja pedang iblis wanita yang ganas dan kejam itu telah merobohkan lima orang!
Lain orang yang tak seberapa tinggi kepandaiannya menjadi takut mengundurkan diri ke samping.
Sementara itu, setelah berhasil merobohkan Kiu Hwa, Hee Bin Kiat yang melihat keganasan Biauw Niang-niang segera maju menyerang dan bersama-sama Bie Kong Hosiang mengeroyok iblis wanita yang lincah itu.
Kini pertempuran terjadi dalam tiga rombongan, yakni, Hee Ban Kiat dan Bie Kong Hosiang melawan Biauw Niang-niang, Bie Cauw Giok dan Hong Ing bertempur mengeroyok Kiu Lan, sedangkan Han Liong seorang diri dikeroyok oleh Leng Niang-niang dan Hai Niang-niang.
Yo Leng In tadinya membantu Han Liong, tetapi Han Liong sambil melayani kedua lawannya, minta agar ie-ienya ini turut menjaga di bawah, takut kalau-kalau ada kawan penjahat yang menyerbu.
Han Liong sejak tadi hanya memainkan ilmu Pedang Empat Bintang yang cukup kuat untuk dapat melayani kedua lawan itu tanpa terdesak, tetapi ketika ia mendengar suara jeritan-jeritan ngeri dari para korban pedang Biauw Niang-niang ia menjadi marah.
Ia merubah gerakan pedangnya dan kini ia memainkan jurus-jurus teratas dari Pek-liong-kiamsut!
Pedangnya berkelebat menjadi puluhan sehingga kedua lawannya amat terkejut.
Sebelum mereka sempat mempelajari gerakan Han Liong.
Tiba-tiba Hai Niang-niang merasa pundaknya amat sakit hingga hudtimnya terlepas.
Ternyata dengan tangan kirinya Han Liong telah menepuk bahu kirinya hingga sambungan tulangnya pecah!
Tapi pada saat itu juga Biauw Niang-niang berhasil melukai Bie Kong Hosiang dengan hudtimnya.
Kebutan itu telah memukul leher Bie Kong Hosiang dengan keras sekali, maka kalau lain orang yang terkena pukulan hebat itu pasti akan mati seketika itu juga.
Untunglah Bie Kong Hosiang adalah seorang yang tinggi ilmu silatnya, sehingga ia bisa menggerakkan tenaga dalamnya menangkis pukulan itu dan ia hanya mendapat luka diluar yang biarpun berat namun tidak sampai membahayakan jiwanya.
Han Liong melihat gurunya terluka segera melompat menahan pedang Biauw Niang-niang yang hendak disabetkan ke leher Bie Kong Hosiang.
Dengan gemas Biauw Niang-niang menempur pemuda ini sedangkan Hee Ban Kiat berganti lawan, kini menghadapi Leng Niang-niang yang tak sepandai Biauw Niang-niang, biarpun siluman wanita kedua ini masih terlampau berat baginya.
Hong Ing dan Bie Cauw Giok, setelah bertempur mati-matian, akhirnya berhasil juga membuat Kiu Lan repot dan terdesak.
Melihat pihaknya terdesak hebat, ditambah pula ia sendiri harus menghadapi Han Liong yang ternyata tangguh dan gagah itu, Biauw Niang-niang mengeluarkan suara siulan nyaring dan tinggi.
Siulan ini adalah sebuah isyarat, karena Leng Niang-niang, dan juga Hai Niang-niang yang terluka dan hanya menggunakan sebelah tangan, tiba-tiba ia menyebarkan Bwee hwa-ciam atau senjata rahasia berbentuk jarum yang jahat itu.
Biauw Niang-niang sendiri juga tebarkan jarum maut mengarah urat-urat kematian Han Liong.
Semua orang terkejut dan dengan teriakan marah Bie Cauw Giok roboh terguling karena sebuah jarum menancap di pahanya.
Juga Hec Bia Kiat mengeluarkan seruan tertahan ketika hampir saja ia menjadi korban jarum rahasia yang dilepas oleh Leng Niang-niang.
Kemudian dengan cepat sekali ketiga iblis waniia itu lari.
Biauw Niang-niang dengan tak terduga telah melompat ke dekat Hong Ing dan sebelum gadis itu sadar, pundaknya telah tertotok dan tubunya yang tak berdaya itu dipondong dengan ringan sekali oleh siluman wanita itu!
Han Liong terkejut dan lompat mengejar, tapi Leng Niang-niang mencegat dengan tambasan jarum-jarumnya.
Karena merasa marah dan khawatir sekali akan keselamatan Hong Ing, Han Liong memutar pokiamnya hingga jarum-jarum tertangkis dan jatuh semuanya, lalu sekali Pek-liong pokiam bermain, telinga kiri berikut antibg-anting terbabat putus!.
"Bangsat keji!"
Leng Niang-niang berteriak keras dan menyerang hebat.
Tiba-tiba kaki Han Liong melayang dan tepat menghantam pergelangan tangannya hingga pedangnya terpental jauh, sedangkan tulang lengannya memperdengarkan suara "krak"
Dan patah.!
Leng Niang-niang menjerit kesakitan lalu lari!
Han Liong tidak mengejarnya karena ia merasa bingung benar.
Biauw Niang-niang yang memondong Hong Ing telah lenyap dan ia tidak tahu ke mana iblis itu lari.
Lama sekali Han Liong berdiri kesima dan bingung, ia tak tahu harus mengejar ke jurusan mana, sedangkan hatinya terasa perih sekali mengingat akan nasib Hong Ing.
Tiba-tiba terdengar suara kaki di belakangnya.
Cepat ia berpaling dan Yo Leng In telah berdiri di depannya.
Bibi ini heran melihat betapa Han Liong berdiri pucat bagaikan kehilangan semangat.
"Liong, lukakah kau?"
Tanyanya khawatir.
"Tidak, ie-ie, tapi... Hong Ing telah dibawa lari oleh Biauw Niang-niang"
Jawabnya sambil mengerutkan kening.
Yo Leng In diam-diam bernafas lega.
Memang ia tidak senang melihat puteri musuhnya itu, maka pikirnya biarlah setan kecil itu dibawa pergi oleh iblis wanita Biauw Niang-niang, hingga Han Liong tak perlu berdekatan lagi dengan "Adiknya"
Itu.
"Sudahlah jangan khawatir. Agaknya iblis-iblis itu menganggap nona Lie sebagai orangnya sendiri. Rasanya nona itu takkan diganggu."
Ia menghibur sedangkan Han Liong heran mendengar suara bibinya. Ternyata kerugian pihak Siok Sianseng lebih hebat. Lima orang tamu yang ikut bertempur mendapat luka (Lanjut ke
Jilid 06) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 berat, bahkan seorang di antaranya telah tewas.
Bhok Kian Eng luka berat, begitu pula Bie Cauw Giok dan Bie Kong Hosiang.
Orang-orang yang terluka oleh jarum iblis itu, lukanya bengkak dan hitam, tanda bahwa senjata rahasia itu mengandung racun hebat.
Setelah memeriksa dengan teliti, Han Liong lalu memasukkan pedang Pek-liong-pokiam ke dalam air dan menggunakan air itu untuk mengobati.
Sungguh manjur sekali, begitu luka dicuci dengan air ini maka semua darah yang mengandung racun dapat dihisap keluar!
Siok Sianseng menyatakan penyesalannya bahwa begitu banyak orang yang telah menjadi korban karena membela dia seorang.
Lebih-lebih ketika ia mendengar bahwa nona Hong Ing diculik oleh iblis wanita itu, ia membanting-banting kakinya dan tanpa disadarinya air matanya mengalir membasahi pipinya karena merasa sedih dan marah.
"Biarlah... biarlah, aku akan menggunakan sisa hidupku yang tak berharga ini untuk menyalakan lagi api pemberontakan dan bersama kawan-kawan seperjuangan menggulingkan pemerintah musuh yang jahat ini!"
Orang tua yang lemah tetapi penuh semangat baja ini berdiri dengan mata bernyala-nyala dan kedua tangan terkepal.
Pada saat itu, seakan-akan semangat ayahnya menjalar di tubuh Han Liong.
Anak muda ini melihat Siok Sianseng demikian bersemangat, merasa sangat terharu sehingga untuk sesaat ia melupakan kesedihannya karena terculiknya Hong Ing.
Ia maju dan memegang lengan tuan rumah.
"Paman Siok, jangan khawatir, aku akan membantumu untuk membasmi perampok-perampok jahanam itu!"
Siok Houw Sianseng memeluk Han Liong dengan terharu, kemudian setelah para korban dirawat, dan pengantin laki-laki telah pulang membawa isterinya, Siok Sianseng mengajak Han Liong, Yo Leng In, Hee Ban Kiat, dan Bie Kong Hosiang untuk berunding.
Semenjak usaha pemberontakan yang dipimpin ayah Han Liong, Si Enhiong, gagal dan dihancurkan oleh pemerintah Ceng tiauw, Siok Houw Sianseng melarikan diri dan dengan diam-diam sasterawan patriot ini menulis sebuah karangan yang berjudul "Rakyat tak sudi dijajah."
Berbulan-bulan Siok Houw dengan dibantu oleh puterinya menulis karangan ini sampai menjadi lima belas buah.
Ia bermaksud hendak membagi-bagikan karya tulisannya ini ke segenap penjuru agar disalin oleh para patriot dan disebarkan di antara rakyat.
Tapi ia seorang lemah dan namanya telah tercatat dalam daftar hitam pemerintah penjajah, maka ia tak berdaya dan karangannya itu telah lama sekali tersimpan dalam kopornya.
Kini melihat para orang gagah berkumpul, bahkan disitu ada putera Si Enghtong yang seakan-akan menjadi pengganti ayahnya, semangat sasterawan tua ini timbul kembali.
Apalagi ketika ia mendapat kenyataan bahwa dirinya diincar dan hampir saja menjadi korban keganasan kaki tangan kaisar lalim, ia segera mengambil keputusan untuk mulai lagi perjuangan menentang pemerintah yang dibencinya itu.
Setelah mendengar keterangan Siok Sianseng tentang karangan dan cita citanya, Han Liong memajukan dirinya sendiri untuk menjalankan tugas menghubungi orang-orang gagah di seluruh daratan Tiongkok dan membagi-bagikan tulisan Siok Sianseng itu.
Semua orang setuju dan Siok Sianseng memberi nasehat.
"Si hiante telah menerima tugas suci ini, maka aku merasa bangga dan puas, karena keturunan Si Enghiong pasti akan bekerja dengan sempurna. Hanya saja, hendaknya Si hiante berhati-hati, karena dengan adanyapenyerangan terhadap rumah tanggaku, maka besar sekali dugaanku bahwa kaki tangan kaisar kejam itu telah mendengar tentang tulisanku itu dan tentu mereka akan bersusah payah dalam usaha mereka merampasnya."
Setelah berunding dan mengambil keputusan bahwa semua orang gagah yang diundang oleh Han Liong dan yang lain-lain supaya datang menghadiri pertemuan di puncak Gunung Beng-san, tempat kediaman Beng-san Tojin, pada Go-gwee Cap-go untuk memilih seorang Bengcu atau kepala, maka pertemuan itu diakhiri.
Siok Houw membubarkan semua pelayan, dan karena puterinya telah mengikuti suaminya, sedangkan isterinya telah meninggal beberapa tahun yang lalu hingga ia hidup seorang diri, maka ia setuju untuk ikut dengan Hee Ban Kiat bersembunyi di kelenteng Bie Kong Hosiang, ialah kelenteng Kim-kee-tang di bukit Huntian-sie, agar ia dapat menyelamatkan diri dari kejaran kaki tangan pemerintah musuh.
Yo Leng In juga pergi untuk mengumpulkan dan mengundang kawan-kawan seperjuangan lama yang dulu bersama-sama suaminya dan Si Enghiong pernah mengadakan pemberontakan dan gagal.
Marilah kita tinggalkan dulu Han Liong yang pergi mencari hubungan dengan orang-orang gagah sefaham, dan baik kita ikuti keadaan Lie Hong Ing yang dibawa lari oleh Biauw Niang-niang.
Iblis wanita tertua yang lihai itu setelah pergi jauh, lalu menanti datangnya Leng Niang-niang dan Hai Niang-niang yang terluka hebat oleh Han Liong.
Kedua sumoi itu datang dengan merintik-rintih, hingga Biauw Niang-niang merasa sakit hati sekali kepada Han Liong.
Ia menggunakan kepandaiannya menotok jalan darah kedua sumoinya untuk mengurangi rasa sakit dan memberi mereka makan obat bubuk berwarna hijau.
Pada saat itu tampak Kiu Lan datang berlari-lari dengan nafas terengah-engah.
Ketiga gurunya merasa lega melihat bahwa murid ini tidak terluka, tapi mereka memaki-maki dengan gemas dan marah mendengar bahwa Kui Hwa telah tewas!
Kemudian Biauw Niang-niang membebaskan Hong Ing dari totokannya, lalu berkata kepada nona itu.
"Sie Siocia, jantan kau salah paham. Gurumu adalah kawan kami dan almarhum ayahmu juga segolongan dengan kami. Kau agaknya telah kena dibujuk oleh lawan dan orang-orang yang sekarang menjadi sahabat-sahabatmu itu. Sebenarnya mereka adalah musuh-musuhmu dan musuh-musuh kami yang harus kita basmi! Kamilah sahabat-sahabatmu yang sejati."
Hong Ing memang masih merasa marah kepada kawan-kawan Han Liong, tapi ia juga tidak suka melihat tiga iblis wanita ini lebih-lebih kepada Kui Lan, ia benci sekali.
Maka, mengingat hal ini ia menjadi makin marah dan berlaku nekat.
"Aku tidak mempunyai sahabat! Kalian dan semua orang tadi adalan orang-orang jahat belaka! Di dunia ini mana ada kawan baik? Aku tak perduli, aku mau hidup sendiri, kalian jangan mengganggu aku."
"Lie siocia, jangan kau salah duga. Kami adalah pelindungmu. Kau harus ikut dengan kami ke istana."
"Apa? Istana? Apa maksudmu?"
"Bukankah ayahmu dulu menjadi panglima? Nah, kau yang menjadi puterinyapun berhak tinggal di Istana Putih yang khusus dibangun oleh yang mulia kaisar untuk kita. Marilah ikut kami, kau akan mendapat kemuliaan."
Hong Ing tertarik, tapi ia ragu-ragu dan diam saja.
Sementara itu, Kui Lan yang ingat kepada sucinya, tiba-tiba mencucurkan air mata.
Biauw Niang-niang menghela nafas, karena iblis wanita ini maklum akan perasaan muridnya.
"Sudahlah, Kui Lan, tak perlu segala tangis itu. Kui Hwa gugur, tapi kitapun telah banyak menjatuhkan korban. Sayang tua bangka she Siok itu terlepas dari ujung pedang kita. Biarlah mari kita pulang dulu untuk mengumpulkan tenaga bantuan. Mudah saja lain kali kita membalaskan sakit hati Kui Hwa."
Hong Ing diam-diam menggunakan pikirannya.
Agaknya orang-orang inipun tergolong orang-orang gagah yang hanya berbeda pendirian dengan Han Liong dan kawan-kawannya.
Kalau Han Liong dan kawan-kawannya memusuhi kaisar, iblis ini bahkan sebaliknya, membela kaisar.
Mana yang betul?
Tentu saja Haa Liong yang betul, kakaknya itu tak pernah bertindak salah.
Terhibur hatinya kalau terkenang kepada Han Liong.
Betapapun juga, pemuda itu tidak membenciya.
Biarpun seluruh dunia membencinya, ia tak perduli, asal Han Liong jangan membencinya.
Dan orang-orang ini, yang ia telah saksikan kelihaiannya, agaknya juga suka padanya.
Tentang permusuhan bela-membela kaisar itu, ah, ia tidak mengerti dan juga tidak perduli.
Bukankah antara ayah dan ibunya sendiripun ada perbedaan faham macam ini?.
Hong Ing mempertimbangkan untung ruginya kalau ia ikut Biauw Niang-niang.
Ia akan belajar silai tinggi dan akan tahu lebih jelas keadaan mereka, hingga lain kali kalau bertemu dengan Han Liong, ia dapat memberikan keterangan.
Ruginya?
Ia berpisah dari Han Liong!
tapi tidak apa, berpisah untuk sementara.
Bahkan nanti kalau bertemu lagi ia sudah berkepandaian tinggi.
Alangkah senangnya untuk membanggakan kepandaiannya kepada kakaknya itu kelak!
"Eh, kalau aku ikut...
maukah kau memberi pelajaran silat kepadaku?"
Tiba-tiba ia bertanya kepada Biauw Niang-niang. Wanita tua itu tersenyum.
"Tentu saja! Bahkan sudah seharusnya, Dengarlah, anak bodoh, gurumu Seng Bouw Nikouw juga berada di sana."
"Betulkah ini.?"
Hong Ing berseru girang.
"Siapa yang membohong?"
Bentak Biauw Niang-niang.
Kini keragu-raguan di hati Hong Ing lenyap.
Hatinya diliputi perasaan ingin tahu sehingga ia ikut Biauw Niang-niang g tanpa membantah lagi.
Ketika mereka keluar dari kota, beberapa belas li dari situ, mereka bertemu dengan serombongan pahlawan kaisar yang menyusul mereka.
Biauw Niang-niang yang ternyata mempunyai pengaruh besar, tanpa keterangan apa-apa segera memerintahkan semua pahlawan itu kembali bersama mereka.
Kepala rombongan memberi kuda-kuda terbaik untuk mereka, sehingga perjalanan dapat dilanjutkan dengan cepat menuju ke kota raja.
Hong Ing yang selama hidupnya belum pernah melihat ibu kota yang besar dan indah itu, menjadi sangat kagum.
Setelah memasuki kota, rombongan itu memisahkan diri dan Biauw Niang-niang mengajak kawan-kawannya menuju ke sebuah gedung besar.
Memang tepat sekali gedung itu diberi nama Istana Putih, karena dicat serba putih dan tampak bersih indah.
Di dalamnya berhiaskan batu-batu marmer yang licin mengkilat.
Hati Hong Ing berdebar ketika memasuki istana itu.
Istana putih ini memang mewah dan indah.
Dulu kaisar sengaja membangun istana ini untuk seorang selirnya yang cantik dan manja bernama Yauw Liang Kwei.
Setelah merasa bosan dengan selir cantik itu, ia membuangnya sebagai barang hadiah kepada seorang hambanya, Kaisar lalu menganugerahkan istana putih itu kepada para kaki tangannya yang berjasa untuk dijadikan tempat berkumpul, bermusyawarah, dan beristhahat.
Kedatangan Biauw Niang-niang dan kawan-kawannya disambut dengan penuh penghormatan, ternyata oleh Hong Ing bahwa tiga Iblis Wanita itu mempunyai kedudukan sebagai pemimpin dan orang-orang gagah yang berkumpul di istana patuh itu dan menamakan dirinya sendiri "pembela-pembela negara pembasmi pengacau."
Gedung besar itu dibagi menjadi dua bagian.
Bagian kanan diperuntukkan tamu-tamu lelaki dan tamu-tamu wanita menempati bagian kiri.
Ketika Biauw Niang-niang mengajak mereka menuju ke gedung kiri, Hong Ing tiba-tiba merasa girang sekali ketika melihat bahwa benar-benar Seng Bouw Nikouwpun berada di situ, berkumpul dengan beberapa orang wanita gagah lainnya!
"Subo!"
Hong Ing memeluk garunya. Seng Bouw Nikouw balas memeluk dan berkata.
"Hong Ing, bagus sekail kau dapat ikut sam-wi suci ini untuk datang ke sini. Memang semenjak mendengar tentang kematian orang tuamu itu, dan aku merasa khawatir sekali, karena dengan tak sadar kau bergaul dengan segala pemberontak dan perampok."
"Tapi, subo, tecu belum pernah berkenalan dengan pemberontak dan perampok!"
Bantah Hong Ing gemas. Biauw Niang-niang tertawa gelak-gelak.
"Belum pernah? Ah, anak bodoh. Kau anggap siapakah orang-orang yang bertempur melawan kami itu? Mereka adalah pemberontak-pemberontak, penjahat-penjahat dan perampok yang hendak mengacau negara, hendak memberontak untuk menjatuhkan Raja. Mereka itu hendak membasmi semua alat pemerintah, semua pegawai negeri seperti ayahmu dulu."
Mendengar ucapan ini, Hong Ing mengerutkan keningnya.
Memang ia tak pernah memperhatikan tentang ketata-negaraan dan politik, sehingga ia buta sama sekali tentang kegiatan-kegiatan kaisar maupun para patriot.
Mata sekarang ia merasa bingung sekali.
Han Liong dan kawan-kawannya itu anggauta pemberontak?
Ah, tak mungkin Han Liong orang jahat, apa lagi perampok, hal ini sampai matipun ia takkan bisa percaya.
Entah kalau orang-orang tua yang mengaku menjadi guru-guru Han Liong itu, kelihatannya juga berwatak keras dan galak!
Melihat muridnya hanya tunduk dan agaknya bingung, Seng Bouw Nikouw menghibur.
"Sudahlah, Hong Ing, jangan kaupusingkan semua ini. Kau masih terlalu muda untuk dapat mengerti. Kau tinggal saja dengan aku disini dan. belajar ilmu silat lebih lanjut. Aku akan minta sam-wi cici untuk membimbingmu, karena kepandaian mu masih terlampau rendah, sedangkan dewasa ini banyak sekali orang-orang jahat yang lihai berkeliaran."
Demikianlah, di bawah pengawasan Seng Bouw Nikouw dan di bawah bimbingan Biauw Niang-niang yang lihai, Lie Hong Ing belajar silat dengan rajin.
Iblis wanita itu mengajarnya kiamhwat dari cabang Ngo-lian-pai yang gerakan-gerakannya cepat, ganas dan sigap itu.
Dasar Hong Ing berotak terang, maka beberapa bulan saja ia sudah dapat mewarisi banyak ilmu pedang yang istimewa.
Ia cerdik dan tahu bahwa gurunya dan semua orang di Istana Putih adalah musuh Han Liong, maka tak pernah ia menceritakan kepada mereka bahwa ia pernah mendapat ilmu silat dari pemuda itu.
Di sebelah kanan Istana Putih itu ada sebuah rumah gedung bercat merah yang mewah dan tampak agung.
Pekarangan depannya lebar dan sekeliling rumah berdiri pagar tembok yang tebal dan tinggi.
Gedung ini adalah.tempat tinggal seorang Cianbu (kapten) she Tan.
Tan Cianbu adalah kapten dari barisan pengawal kaisar yang berkepandaian tinggi dan mempunyai tenaga besar.
Ia juga seorang Han yang memang telah berketurunan dari nenek-moyangnya dulu selalu menjadi orang peperangan.
Tan Cianbu terkenal bukan hanya karena ilmu silatnya yang tinggi, tapi juga terkenal akan tabiatnya yang kasar, terus terang dan jujur.
Ia tidak suka akan hal-hal yang dirahasiakan atau dilakukan secara diam-diam, maka biarpun ia tahu juga bahwa istana putih di sebelah rumahnya adalah tempat berkumpul para orang kalangan kang-ouw yang diam-diam membantu kaisar dengan jalan menerima hadiah-hadiah berharga, namun ia tidak perduli akan mereka ini dan tidak mau tahu lama sekali.
Memang kaisar mempunyai tentara pengawal sendiri, tapi di samping itu, Co thaikam, pembesar kebiri yang rangat berpengaruh pada masa itu, dengan diam-diam berhubungan dengan orang-orang gagah itu dan ia menggunakan bujukan dan harta untuk membuat mereka ini mau bekerja di bawah perintahnya.
Kaisar yang mengetahui hal ini tak lain hanya menyatakan persetujuannya, karena Co thaikam menyatakan bahwa orang-orang gagah itu perlu didekati dan dipergunakan kepandaiannya untuk membasmi para pemberontak.
Demikianlah, maka terdapatlah dua rombongan pembela kaisar dan pemerintahnya, yakni para pengawal kaisar merupakan tentara dinas dan para orang-orang gagah dari kalangan kang-ouw yang merupakan kelompok pembantu rahasia.
Tan Cianbu mempunyai seorang putera bernama Tan Un Kiong.
Un Kiong baru berusia tujuh belas tahun, wajahnya tampan dan tubuhnya tegap.
Tetapi sayang sekali, pemuda ini kelihatan ketolol-tololan dan dari kata-katanya menunjukkan bahwa ia bodoh sekali.
Ayahnya merata sengat sedih dan kecewa kalau melihat putera tunggalnya ini.
Ia sebenarnya sangat sayang dan cinta kepada anak satu-satunya dan semenjak kecil dimanjakannya.
Ketika masih kecil, Un Kiong adalah seorang anak yang cerdik dan pintar.
Tetapi entah mengapa, setelah ia berusia tujuh tahun, mulailah tampak perobahan pada dirinya, dan gejala-gejala penyakit tolol mulai terlihat.
Tan-Cianbu sengaja mengundang seorang guru untuk mengajarnya ilmu surat menyurat, Tetapi ternyata setelah berusia tujuh tahun, Un Kiong rupanya malas sekali belajar.
Apalagi kalau disuruh belajar silat, ia menyatakan ketidaksenangannya.
Pernah ayahnya sendiri mencoba dan mengajarnya dasar-dasar ilmu silat, tetapi ia meniru gerakan ayahnya dengan ngawur tidak keruan dan membuat ayahnya gemas dan putus asa.
Tetapi karena besarnya rasa sayang pada anaknya, ia tidak bisa marah dan dibiarkannya saja anaknya menurut kemauannya sendiri.
Hal lain yang mengherankan, semenjak kecil Un Kiong tidak mau tidur dengan orang lain, biarpun dengan ibunya sendiri.
Semenjak usia tujuh tahun, ia menghendaki kamar sendiri dan tak boleh seorangpun masuk ke kamarnya.!
Berbeda dangan ayahnya yang sama sekali tidak mau perduli dan tidak mau kenal dengan penghuni Istana Putih, Un Kiong sering datang main-main kesitu.
Penjaga istana yang kenal baik padanya selalu menerimanya dengan hormat, sedangkan para tamu yang terdiri dari orang-orang gagah itu, walaupun sebal melihat pemuda tolol itu, namun di depannya mereka tersenyum dan menghormat juga, karena mereka tahu pula bahwa pemuda tolol itu adalah putera Tan-Cianbu yang terkenal dan disegani.
Pada suatu pagi, ketika Hong Ing sedang belajar silat di bawah bimbingan Biauw Niang-niang, tiba-tiba mereka berdua mendengus suara di tembok yang memisahkan halaman Istana Putih dengan gedung Tan-Cianbu.
Mereka menengok segera dan melihat kepala seorang muncul dari balik tembok.
Ketika orang itu naik ke tembok, ternyata ia adalah Tan Un Kiong yang naik dengan menggunakan tangga bambu.
Pemuda ini berdiri di atas tembok dengan sikap ketakutan, tapi ketika melihat Biauw Niang-niang dan Hong Ing, ia tertawa sambil memaksa dirinya berlaku tenang.
"Biauw suthai tolonglah aku,"
Katanya sambil mendekam di atas tembok, karena ia tidak berani berdiri lebih lama lagi di atas tembok yang tinggi itu! "Eh, Tan-kongcu, kau hendak ke mana? Kau minta ditolong dalam hal apakah?"
Jawab Biauw Niang-niang dengan sabar. Kalau lain orang berani secara diam-diam masuk ke situ, pasti sedikitnya ia akan kena damprat.
"Biauw Suthai jangan marah... aku... aku mendengar suaramu semua dari balik tembok dan mendengar suara angin pedang cici ini bersuitan. Hatiku tertarik dan ingin melihat. Tidak tahu akan tembok ini begini tinggi, aku..., aku tidak bisa turun lagi. Tolonglah carikan tangga dan pasang di sini, agar aku bisa turun dan menonton cici ini belajar ilmu silat."
Hong Ing hampir tak dapat menahan geli hatinya dan menahan tertawa.
Ah, alangkah tololnya orang itu.
Baru dua kali ia bertemu dengan Un Kiong ketika pemuda itu mengunjungi istana putih.
Biarpun bodoh dan tolol, pemuda itu tidak pemalu.
Begitu bertemu, ia berani mengajak bicara kepada Hong Ing dengan sikap yang tulus dan jujur, hingga Hong Ing juga tidak malu menjawabnya.
Agaknya pemuda itu terlampau tolol untuk dapat bersikap kurang ajar terhadap wanita!
Tapi di dalam hatinya, Hong Ing memandang rendah sekali kepada pemuda itu.
Alangkah jauh perbedaan antara Un Kiong dengan Han Liong!
Mungkin hanya kecakapan wajah dan keindahan pakaian sejalah yang ada pada Un Kiong dan tak usah mengaku kalah, tapi jika dibicarakan tentang kepandaian, baik silat maupun surat menyurat, Han Liong boleh diumpamakan emas dan Un Kiong besi tua yaug berkarat!
"Tan-kongcu bukankah sudah pernah belajar silat?
Bukankah ayahmu seorang ahli silat ternama?
Masakan tembok yang sebegini tingginya saja kau tak mampu melompatinya?"
Hong Ing mengejek, sedangkan Biauw Niang-niang hanya berdiri menertawakan.
Un Kiong memandang Hong Ing dengan mata terbelalak.
Biarpun bodoh, tapi ia masih mempunyai rasa kebanggaan.
Mendengar kata-kata gadis itu ia tidak merasa bahwa ia diejek, malahan merasa dipuji!
Maka sambil tertawa haha-hihi ia berkata.
"Memang aku pernah belajar silat. Bahkan ayah telah mendatangkan banyak sekali guru silat yang pandai. Aku pernah diajar oleh ayah untuk melompat ke atas, tetapi melompat ke bawah... ah sesungguhnya, belum pernah kupelajari. Entah mengapa, untuk melompat ke bawah, baru melihat ke bawah saja, hatiku sudah tidak karuan rasanya."
Kini Hong Ing dan Biauw Niang-niang tak dapat lagi menahan gelaknya. Un Kiong merasa bahwa ia ditertawakan, maka ia berkata sambil mengangkat kepala memandang.
"Coba cici tolong memberi contoh, melompatlah ke atas tembok ini, kemudian aku hendak memperhatikan caramu melompat turun untuk kutiru"
Biauw Niang-niang yang jarang melihat peristiwa lucu seperti ini timbul kegirangannya dan ia menyuruh Hong Ing meluluskan permintaan pemuda tolol itu.
Dengan gerakan Hui-niauw-coan-in atau Burung Terbang Menerjang Mega, ia melompat ke atas tembok dan berdiri di dekat Un Kiong dan berkata.
"Bagus, bagus!"
Pemuda itu lalu berdiri dengan hati-hati, tubuhnya gemetar karena ia takut jatuh.
"Nah, lihatlah, aku hendak melompat turun!"
Kata Hong Ing yang sengaja menggunakan tipu lompat Koai-liong-hoan-sin atau Siluman Naga Jumpalitan.
Ia jungkir balik dengan poksai yang indah sampai tiga kali sehingga kakinya kelihatan sangat ringan menginjak tanah.
"Wah, gerakan cici sukar sekaki untuk ditiru. Mana aku bisa jungkir balik macam itu. Biarlah aku melompat tanpa jungkir balik."
Ia lalu membuat gerakan meniru-niru sikap Hong Ing tadi, lain tubuhnya melompat turun bagaikan batu jatuh!
Terdengar suara bedebuk kerae dan debu mengepul ketika pinggul Un Kiong menimpa tanah dan pemuda itu mengaduh-aduh beberapa kali.
Untung baginya tidak ada tulangnya yang patah atau kulitnya yang luka.
Hong Ing dan Biauw Niang-niang tertawa makin keras dan iblis wanita tua itu segera maju menolong Un Kiong berdiri.
Kemudian Hong Ing melanjutkan latihannya bermain pedang dan ditonton oleh Un Kiong yang duduk di atas sebuah batu penghias taman istana putih itu.
Berkali-kali ia memuji-muji keindahan gerak dan kelincahan Hong Ing.
Lalu dengan menggunakan setangkai kayu iapun bersilat meniru-niru gerakan gadis itu, tapi gerakannya tak karuan sedangkan kuda-kuda kakinyapun sering terbalik hingga kelihatannya sangat lucu!
Pada saat itu Kui Lan datang dengan wajah pucat.
"Celaka, subo!"
Katanya kepada Biauw Niang-niang setelah ia berada di depan gurunya.
"Kui Lan tenanglah. Ada apakah maka engkau demikian ketakutan?"
Tegur Biauw Niang-niang.
"Subo, celaka. Semua kamar telah diperiksa orang malam tadi!"
"Apa maksudmu?"
Kui Lan hendak menjawab, tapi tiba-tiba ia tahan kata-katanya ketika melihat Un Kiong berdiri di dekat situ.
Wajahnya yang tadinya suram dan gelap diliputi kekhawatiran, tiba-tiba menjadi terang ketika melihat pemuda itu.
"Eh, Tan siangkong, kaupun berada di sini?"
Tanyanya sambil tersenyum genit hingga wajahnya yang hitam menjadi makin buruk.
Memang Kui Lan semenjak melihat pemuda tampan itu, telah lama ia merasa tertarik dan hati padanya.
Un Kiong mendapat teguran manis ini tertawa-tawa dan dengan muka bodoh ia menjawab.
"Enci Lan yang hitam manis. Aku sudah lama disini menonton latihan silat ini. Kau belum jawab pertanyaan Biauw Suthai."
Kui Lan baru ingat akan hal ini. maka buru-buru ia menghadap gurunya lagi.
"Subo, semua kawan memberi keterangan bahwa kamar mereka tadi malam kedatangan orang jahat yang memeriksa seluruh buntalan pakaian, seakan-akan mencari rahasia semua arang disini. Bahkan kamar teccu juga tak terkecuali."
"Kamarku juga ada yang menggeledah,"
Kata Hong Ing. Biauw Niang-niang mengerutkan keningnya.
"Biarpun maling itu tidak berani memasuki kamarku, tetapi dengan berhasilnya memasuki dan memeriksa semua kamar tanpa diketahui, ia boleh dibilang licin juga. Kui Lan, coba panggil semua orang berkumpul di ruangan tengah untuk mengadakan perundingan."
Kui Lan mengundurkan diri setelah melayangkan sebuah kerlingan memikat kearah Un Kiong yang dibalas oleh pemuda tolol itu dengan suara tertawa dan tarikan muka bodoh.
"Biauw Suthai, akupun pernah melihat maling masuk ke kamarku, tetapi ia hanya mencuri sebuah celana usang,"
Katanya kepada iblis wanita itu.
Biauw Niang-niang merasa kesal dan membelalakkan matanya, tetapi melihat pemuda itu berdiri tersenyum sehingga wajahnya yang muda itu tampak jadi semakin tampan, lenyaplah hawa marahnya.
Ia harus mengakui bahwa pemuda itu sangat menarik dengan wajahnya yang berkulit putih bersih, sepasang matanya yang tajam bersinar gembira, bibirnya yang merah seperti bibir wanita, tetapi dagunya yang keras tajam serta alis matanya yang berbentuk golok membuat ia tampak gagah.
Sayang pemuda seperti ini demikian dungu.
"Kalian hendak mengadakan pembicaraan tentang maling, baiklah aku pulang saja, sekarang sudah waktunya makan pagi dan ayah akan marah kalau aku tidak ada di rumah. Cici kalau mau latihan pedang lagi, beritahulah aku, agar kita bisa latihan bersama-sama, jadi lebih cepat maju!"
Setelah menjura untuk memberi hormat, pemuda bodoh itu berjalan pergi melalui pintu luar.
"Subo sabar sekali menghadapi pemuda bodoh itu,"
Kata Hong Ing.
"Biarpun bodoh, ia putera tunggal dari Tan Cianbu yang telah berjasa kepada kaisar. Dan tidakkah anak muda itu tampan menurut pendapatmu?"
Mendengar pernyataan ini, Hon Ing merasa heran dan juga jengah serta jemu terhadap gurunya.
Karena Hong Ing dianggapnya sebagai murid yang masih baru, maka ia tidak diajak berunding.
Gadis ini merasa girang, tapi betapapun juga, ia tidak senang bergaul dengan orang-orang penghuni istana putih itu.
Kalau gurunya, Seng Bouw Nikouw tidak berada di situ dan kalau ia tidak ingin untuk menambah kepandaian ilmu silatnya, pasti sudah lama ia melarikan diri untuk mencari Han Liong.
Kadang-kadang ia merasa sangat rindu kepada kakaknya itu dan ia merasa sangat kesepian.
Biauw Niang-niang dengan tercengang mendengar laporan semua kawannya yang tinggal di gedung itu, betapa kamar mereka tadi malam telah didatangi orang dan semua barang mereka diobrak-abrik.
Tapi setelah diperiksa, tak sepotongpun barang mereka lenyap.
Diantara semua orang itu, hanya seorang kauwsu atau guru silat dari Kanglam yang bernama Thio Poan menuturkan pengalamannya semalam.
"Ketika itu aku sudah tidur, tapi tiba-tiba aku dibangunkan oleh suara keras. Aku segera melompat bangun melibat bahwa cawan arak yang tadinya berada di atas meja telah jatuh menggelinding ke bawah. Kusangka ada kucing masuk kamar, sesudah itu aku bermaksud hendak tidur kembali. Tapi tiba-tiba aku melihat buntalan pakaianku terbuka,! Aku melompat lagi dan pada saat itu juga kelihatan bayangan putih berkelebat keatas tiang penglari. Bayangan itu gerakannya cepat sekali hingga aku tak dapat melihat dengan tegas apakah itu bayangan orang atau setan! Sebelum aku dapat memeriksa lebih lanjut, tiba-tiba dari atas datang angin bertiup keras dan api lilin padam seketika itu juga. Terus terang saja kuakui bahwa bulu tengkukku terasa berdiri. Ketika aku mencari api untuk menyalakan lilin, aku merasa sesuatu bergerak di belakangku dan angin meniup ke arah pintu. Setelah lilin kupasang, maka di kamar sudah tiada terlihat sesuatu lagi. Karena aku menyangka ada setan, maka aku tidak berani menceritakan pada orang lain, takut ditertawakan. Tapi ternyata kalian semuapun mendapat kunjungan setan itu!"
Biauw Niang-niang mengerutkan alisnya.
Ia tahu sampai di mana kepandaian orang she Thio itu dan agaknya bukan sembarang orang dapat mempermainkan guru silat ini.
Tapi toh tadi malam ia telah dipermainkan seorang yang mempunyai gin-kang dan lwee-kang yang tinggi!
Kalau maling itu berani masuk ke dalam kamarnya, pasti ia akan dapat melayaninya.
Tapi agaknya maling itu tahu akan kelihaian Biauw Niang-niang hingga kamar iblis wanita ini saja yang dilewati tanpa digeledah.
"Memang sukar untuk mengetahui siapakah orang yang berlaku kurang ajar ini"
Kata Leng Niang-niang yang kamarnya juga menjadi sasaran penggeledahan.
"Tapi kiranya tak perlu dipusingkan hal itu karena ternyata ia tidak berlaku jahat. Hanya, satu bal yang harus kita selidiki, yaitu apakah yang dicari penjahat itu? Sudah terang bahwa ia tadi malam mencari sesuatu."
Biauw Niang-niang mengangguk-angguk.
"Tak lain tak bukan tentulah ia seorang dari golongan lawan kita yang hendak mencari rahasia kita. Dan setahuku, dari golongan mereka, orang yang mungkin dapat melakukan hal itu hanya satu orang saja."
Dan ia memberi isyarat mata kepada sumoinya. Leng Niang-niang dan Hai Niang-niang diam-diam mengangguk.
"Coba panggil muridmu kesini,"
Kata Biauw Niang-niang kepada Seng Bouw Nikouw yang segera memanggil Hong Ing.
Gadis ini merasa heran dan diam-diam hatinya berdebar-debar ketika ia datang ke ruangan yang penuh dengan orang-orang gagah yang berwajah perkasa dan galak itu.
Tapi ia tetapkan hatinya dan duduk dekat gurunya.
"Hong Ing,"
Kata Biauw Niang-niang dengan suara halus.
"kau bukanlah orang luar, maka perlu kiranya kau ketahui juga. Semalam istana putih ini telah kemasukan orang jahat! Orang itu datang mencari-cari sesuatu. Dan tahukah kau siapa orang itu? Ia tak lain ialah orang yang membunuh ayahmu tapi yang kauanggap kakakmu sendiri itu!"
"Koko Han Liong? Dia yang datang malam tadi?"
Hong Ing bertanya heran, hatinya berdetak-detak, karena kini ia pun merasa betapa besarnya kemungkinan ini.
Banyak alasan Han Liong untuk datang menyelidik ke situ, dan siapakah orangnya yang berkepandaian begitu tinggi dan berhati begitu berani dan tabah selain Han Liong?
"Agaknya kau juga percaya akan kemungkinan ini,"
Kata Biauw Niang-niang yang pandai membaca suara hati orang.
"Sepak-terjang anak muda itu sungguh berani dan berbahaya sekali. Maka coba kauceritakan kepada kami tentang keadaannya. Pertama-tama, siapakah namanya dan ia murid golongan mana?"
Hong Ing tahan-tahan hatinya agar suaranya tak kedengaran bangga hingga jangan sampai membongkar rahasia perasaannya, lalu berkata dingin.
"Ia adalah Si Han Liong. Gurunya banyak sekali. Kalau aku tak salah ingat, guru pertama adalah Liok-tee Sin-mo Hong In, guru kedua Beng San Tojin Pauw Kim Kong, guru ketiga Kim-to Bie Kong Hosiang, guru keempat Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat. Dan ia masih mempunyai seorang guru lagi, yakni Kam Hong Siansu."
Semua orang terkejut mendengar ini, dan ketiga iblis wanita itu diam-diam mengagumi juga.
"Kam Hong Siansu? Ah, tidak dinyana manusia dewa itu masih hidup dan menerima murid seperti Han Liong itu. Pantas saja ia demikian lihai!"
Biauw Niang-niang berkata seperti kepada dirinya sendiri. Hong Ing dengan rasa bangga menambahkan.
"Dan ia adalah putera tunggal dari Si Enghiong yang terkenal!"
Biauw Niang-niang dan Seng Biauw Nikouw loncat berdiri.
"Apa?"
Kata Biauw Niang-niang.
"Sayang aku tidak mengetahui hal ini dari dulu. Hong Ing tahukah kau siapa orang yang kau sebut Si Enghiong itu? Ia adalah Si Cin Hai, seorang kepala pemberontak besar yang telah kami basmi. Semua ini kesalahan ayahmu sendiri yang kena terpikat oleh isterinya, sehingga isteri dan anak kepala pemberontak itu tak dapat dilenyapkan dari muka bumi ini. Membasmi pohon jahat harus dengan akar-akarnya, kaya pribahasa, tapi ayahmu menyalahi hukum ini dan ia bahkan mengambil isteri musuh menjadi isterinya dann dengan demikian ia menyelamatkan anak musuhnya. Tentu saja hal ini sama dengan memelihara anak serigala dalam rumah. Dan betul saja, anak itu setelah dewasa kini merepotkan kita semua."
Biauw Niang-niang menghela napas, tak perdulikan wajah Hong Ing yang tampak tidak senang itu mendengar ayah ibunya menjadi buah tutur orang dan menerima berbegai celaan.
Pada saat itu dari luar datang seorang saikong yang bertubuh tinggi besar dan memelihara cambang bauk yang tebal dan kaku ceperti kawat.
Pertapa itu berjubah kuning dan sepatunya memakai sol dari ujung besi.
Ia memegang sebuah tongkat pendek berwarna hitam yang berukiran kepala ular di bagian pegangannya.
Di punggungnya tergantung kantong hui-to yakni semacam golok kecil yang memakainya dengan pelemparan hingga disebut golok terbang!
Ketiga iblis wanita melihat saikong itu lalu berseru girang.
"Susiok datang!"
Dan ketiga-tiganya lalu memburu dan memberi hormat.
Hong Ing terkejut melihat air muka dan tubuh yang menakutkan itu, dan ia merasa heran sekali mengapa ketiga iblis wanita itu tidak berlutut kepada seorang paman gurunya bahkan menyambutnya dengan mesra bagaikan menyambut seorang kawan baik, bahkan Hei Niang-niang dan Leng Niang-niang memegang lengan saikong itu di kiri kanannya sambil tersenyum dan memainkan mata.
Sikap mereka kekanak-kenakan dan mereka rupanya sungguh sangat manja.
Tentu saja Hong Ing tak mengerti sama sekali akan sikap aneh ini.
Semua orang yang berkumpul di situ memberi hormat dan Hong Ing terpaksa juga menjura terhadap saikong tua itu.
Melihat semua orang memberi hormat padanya, saikong itu tertawa terbahak-bahak.
"Siancai, siancai, terima kasih atas penghormatan ini, cuwi silakan duduk, pinto ada berita penting untuk disampaikan padamu."
Suaranya nyaring dan kecil, tak sesuai dengan tubuhnya yang sebesar raksasa itu.
Semua orang duduk kemhali.
Biauw Niang-niang dengan suara manja dibuat-buat menceritakan kepada paman gurunya tentang gangguan lawan yang menggagalkan serangannya terhadap Siok Houw, sehingga muridnya tewas dan kedua sumoynya terluka.
Juga ia menceritakan tentang datangnya seorang penjahat yang menggeledah kamar mereka tadi malam.
"Hm, jangan sedih, sakit hatimu pasti terbalas. Suci telah memerintahkan aku turun gunung membantu kamu sekalian. Kalau mereka berhadapan dengan pinto, anjing-anjing pemberontak itu pasti kupukul dengan tongkat ini seorang sekali."
Sambil berkata begini ia mengayunkan tongkatnya perlahan menghantam lantai.
Lantai batu yang keras yang kena terpukut tongkat itu menerbitkan bunga api dan semua orang kagum melihat di tempat bekas pukulan itu tampak berlobang setengah kaki lebih!.
Kemplangan demikian perlahan dapat melobangi lantai batu, apa lagi kalau yang dikemplang itu tubuh manusia dan dilakukan dengan sepenuh tenaga pula!
Hong Ing juga merasa ngeri dan takut juga.
"Tentang, datangnya maling kecil malam tadi, pinto juga dapat menduga maksudnya. Tentu ia datang mencari ini."
Ia merogoh saku jubahnya yang besar dan mengeluarkan segulung kertas.
"Lihat, ini adalah firman atau surat perintah dari kaisar untuk menangkap Siok Houw dan surat-surat perintah rahasia dari Co Thaikam sendiri. Agaknya para pemberontak telah mendengar tentang surat-surat ini, sehingga orang yang membawanya dari kota raja mendapat gangguan di sepanjang jalan. Tapi surat-surat ini sekarang diserahkan padaku, coba lihat siapa berani mengganggu!"
Melihat kejumawaan dan keangkuhan paman gurunya ini, Biauw Niang-niang mengerutkan kening.
"Susiok, musuh sangat lihai, kenapa kau bicarakan hal rahasia ini secara terbuka?"
"Ha, ha, Biauw Niang, kau sudah menjadi penakut"
Kemudian ian melanjutkan dengan berbisik..
"Hal ini kusengaja agar pihak musuh mendengar dan mencoba datang. Aku akan siap-sedia setiap saat menyumbat kedatangannya"
Diam-diam Hong Ing melirik ke sana ke sini. Benarkah ada Han Liong atau kawan-kawannya yang datang mendengar? "Susiok,"
Kata Biauw Niang-niang selanjutnya.
"Dipihak mereka kini ada seorang muda yang cukup tangguh. Ia adalah murid Kam Hong Siansu dan kukira dialah orangnya yang datang tadi malam."
Mendengar nama Kam Hong Siansu, saikong itu terkejut, tapi ia lalu berkata.
"Bohong! Orang tua itu mana mau menerima murid? Kedua tangannya sudah putih bersih, mana ia mau mengotorinya pula dengan segala urusan tetek bengek di dunia fana ini? Mungkin pemuda itu hanya monggunakan nama Kam Hong Siantu untuk menggertak saja."
Siapakah gerangan saikong ini?
Ia bukan lain adalah Kek Kong Tojin yang dijuluki orang Coa-thouw-koai-tung si Tongkat Setan Kepala Ular, karena memang permainan tongkatnya luar biasa lihainya dan belum pernah dikalahkan lawan!
Sebenarnya ia adalah pendiri termuda dari cabang persilatan Ngo-lian-pai, Disamping sucinya Ang Gwat Niang-niang yang terkenal dengan nama Ngo-lian-posat atau Dewi dari Ngo-lian, dan twa-suhengnya Lo Thong Sianjin.
Mereka bertiga merupakan pendiri Ngo-lian-pai yang disegani kalangan kang-ouw.
Diantara mereka bertiga, Aug Gwat Niang-niang yang terpandai, maka dialah yaag berdiam di bukit Ngo-lian-san dan karenanya dinamakan orang Dewi daru Ngo-lian.
Sayangnya, hanya Lo Thong Sianjin seorang saja yang berwatak suci, hanya cacatnya, ia ini terlampau jujur dan tidak mau mengaku kalah!
Sedangkan sumoinya, Ang Gwat Niang-niang, wataknya terlampau membela ketiga muridnya hingga pertimbangan dan keadilannya menjadi berat sebelah.
Kek Kong Tojin yang termuda bukanlah orang baik-baik.
Telah lama ia mempunyai hubungan kotor dengan ketiga murid Ang Gwat Niang-niang, yakni Biauw Niang, Reng Niang, dan Hai Niang.
Dengan demikian, boleh dibilang bahwa kedatangan ketiga wanita yang menjadi anak murid Ngo-lian-pai itu, telah mengotorkan nama Ngo-lian-pai dan merusak kebersihan hati Kek Kong Tojin dan Ang Gwat Niang-niang.
Kalau bicara soal kepandaian, Lo Thong Sianjin dan Ang Gwat Niang-niang sama lihainya, karena dalam hal ilmu pedang Ngo-lian-posat lebih unggul, tapi Lo Thong Sianjin sebaliknya lebih tinggi ilmu ginkang dan lweekangnya.
Kek Kong Tojin masih kalah setingkat dari kedua kakak seperguruannya itu.
Dengan sengaja, pada malam hari itu, Kek Kong Tojin menaruh gulungan surat-surat penting itu di atas meja dalam kamarnya dan ia sendiri berada di ruang tamu minum arak dan makan daging, ditemani oleh ketiga murid keponakannya!
Sembari makan minum, mereka berempat mengobrol gembira.
"Eh, Biauw Niang, siapakah gadis yang duduk di dekatmu siang tadi?"
"Ia adalah muridku, puteri dari almarhum Lie Ban Ciangkun."
Saikong itu mengangguk-angguk gembira.
"Hm, muridmu itu sungguh cantik jelita, sayang aku tak. pernah punya murid semuda dan secantik itu."
Memang, diantara ketiga pendiri Ngo-lian-pai, hanya Ang Gwat Niang-niang sendiri yang mempunyai murid, yakni ketiga Liok-san Sam-moli, sedangkan Kek Kong Tojin dan Lo Thong Sianjin tak pernah menerima murid lain.
Pada saat Biauw Niang-niang hendak menegur paman gurunya dan mengatakannya mata keranjang, tiba-tiba saikong itu mengayunkan sumpitnya ke atas.
Sumpit itu meluncur seperti anak panah dan menembus genteng dengan suara nyaring!
Ketiga iblis wanita pun melompat sambil mencabut pedang.
"Biar kami yang menangkap mata-mata itu, susiok duduk sajalah minum arak!"
Kata Biauw Niang-niang yang segera meloncat keluar, diikuti kedua sumoinya.
"Bangsat maling jangan lari!"
Teriak Hai Niang-niang dengan suara nyaring.
Teriakan ini membuat semua orang dalam Istana Putih itu bangun terkejut dan melompat keluar mengejar dengan senjata di tangan.
Hong Ing merasa berdebar-debar karena timbul dugaan dalam hatinya kalau-kalau yang datang itu adalah Han Liong dan kawan-kawannya.
Maka tanpa berkata sesuatu iapun ikut melompat ke atas genteng.
Ketika tiba di atas, Hong In melihat seorang laki-laki tinggi kurus sedang bertempur melawan ketiga iblis wanita.
Tamu malam itu belum tua benar, lebih kurang empat puluh lima tahun, tapi rambutnya telah putih semua.
Ia bersenjatakan joan-pian atau ruyung cambuk dan bersilat dengan gerakan yang luar biasa cepat dan lincahnya.
Tadinya Biauw Niang-niang seorang diri melawan tamu malam itu, tapi ternyata iblis wanita tertua itu bukan tandingan si rambut putih!
Maka, dengan berseru marah, Leng Niang-niang dan Hai Niang-niang ikut menyerbu hingga tamu malam yang lihai itu dikeroyok tiga!
Orang-orang lain tak berani ikut mengeroyok karena keempat orang yang sedang bertempur itu berkepandaian tinggi sehingga merupakan bayangan empat tubuh yang sukar dikenal lagi mana kawan mana lawan!
Pada saat orang-orang sedang menyaksikan pertempuran hebat itn dengan kagum, tiba-tiba dari bawah terdengar teriakan nyaring dari Kek Kong Tojin.
"Bangsat rendah kau datang ingin mencari kematian?"
Semua orang di atas genteng, kecuali yang sedang bertempur, merasa terkejut.
Tiba-tiba dari bawah meloncat seorang dengan gerakan lincah dan ringan laksana seekor burung.
Hong Ing hampir berteriak karena orang itu potongan tubuhnya hampir sama dengan Han Liong, hanya lebih kecil sedikit.
Orang yang baru datang ini memakai kedok kain sutera hitam dan tangannya memegang sebuah pedang yang berkilauan.
Tangan kirinya memegang gulungan kertas yang berisi perintah dan rencana rahasia yang dibawa oleh Kek Kong Tojin siang tadi!
Ternyata ia menggunakan kesempatan ini selagi orang-orang ribut mengepung si rambut putih di atas genteng, si kedok hitam ini turun dengan diam-diam dan mencuri dokumen itu di kamar Kek Kong Tojin!
Tapi Kek Kong Tojin yang masih duduk minum arak di ruang tamu dapat melihat bayangan hitam berkelebat keluar dari kamarnya.
Kebetulan pada saat itu tangannya sedang memegang tulang paha ayam dan memakan dagingnya, maka ia melemparkan tulang ini ke arah bayangan itu.
Biarpun hanya kecil, tapi karena dilempar oleh Kek Kong Tojin yang mempunyai tenaga dalam sempurna, maka tulang itu merupakan senjata yang sangat berbahaya!
Si kedok hitam mendengar sambaran angin, cepat menempiskan tangannya dan tenaga tempisan ini mengeluarkan angin dan dapat memukul jatuh tulang itu ke lantai!
Tanpa ayal lagi, setelah berhasil menyambar gulungan kertas pening dari atas meja, si kedok hitam menghilang pergi, dan dikejar oleh Kek Kong Tojin sambil memaki-maki!.
Si rambut putih biarpun dikeroyok oleh tiga iblis wanita yang lihai, namun dapat melayani mereka dengan baik dan tidak sampai terdesak, bahkan ia masih sempat mengerling ke arah si kedok hitam.
Melihat ti kedok hitam itu memegang gulungan kertas, ia berseru keras dan joan-piannya berputar menyambar bagaikan kilat hingga ketiga iblis wanita terpaksa mengelak sambil mundur.
Kesempatan ini digunakan oleh si rambut putih yang berkelebat dan meloncat menabrak si kedok hitam sambil berseru.
"Sobat, berikan barang itu padaku!"
Tapi gerakan si kedok hitam tak kalah hebatnya.
"Jangan mau enaknya saja, kawan!"
Ia mengejek sambil betkelit.
Pada saat itu Kek Kong Tojin sudah tiba di situ dan saikong ini melayangkan kepalannya memukul si kedok hitam.
Tapi dengan mudah lawannya menghindarkan pukulan ini dan balas memukul dengan lebih bebat lagi!
Kek Kong Tojin menangkis dan dua lengan tangan beradu keras.
Saikong ini heran sekail ketika lengannya terbentur sebuah lengan yang keras dan mengandung tenaga yang tak boleh dianggap enteng!
Diam-diam ia mengeluh.
Untuk, menghadapi si rambut putih yang dapat melayani ketiga murid keponakannya itu saja ia harus mengerahkan tenaga, sekarang ditambah lagi dengan si kedok hitam yang tidak kalah tangkasnya itu!
SI rambut putih rupanya tidak begitu mendesak si kedok hitam lagi, bahkan kini ia menyerang Kek Kong sambil berseru.
"Ah, pantas saja penjilat-penjilat ini makin banyak dan makin kurang ajar, rupanya disini ada anjing tuanya yang menjagoi!"
Bukan main marahnya Kek Kong Tojin mendengar cacian ini. Ia melompat ke arah si rambut putih dan menuding.
"Bangsat rendah! Berani banar kau berlancang mulut. Beritahukan namamu sebelum kuantarkan kau kepada Giam-lo-ong!"
Si rambut putih tertawa.
"Aku selalu datang tak mengubah she, pergi tak mengganti nama. Aku adalah Lie Bun Tek dari Heng-san!"
Kek Kong Tojin terkejut.
"Kau Heng-san Koai-hiap?"
Si rambut putih mengangguk, dan Kek Kong Tojin segera meneriaki semua orangnya.
"Kepung orang berkedok itu. Jangan sampai dia lari!"
Maka ketiga ib|is wanita dan semua orang yang kini merasa gatal tangan itu hendak menonjolkan jasanya, dengan cepat mengepung si kedok hitam.
Kemudian Kek Kong Tojin mencabut tongkatnya, tapi si rambut putih tertawa mengejek.
"Ha, ha! Inikah macamnya Coa-thouw-koai-tung yang ditakuti orang? Agaknya tak seberapa menakutkan!"
Kek Kong Tojin tidak menjawab, tapi sambil berseru keras tongkatnya melayang kearah kepala lawan. Si rambut putih pun berseru.
"Bagus!"
Dan ia menggerakan joan-piannya menangkis, tapi tongkat itu segera berobah gerakan, langsung menotos iga!
Inilah sebuah tipu gerakkan ilmu sitlat Ngo-lian-pai yang berbahaya sekali, maka si rambut putih tak berani berlaku sembrono lagi.
Ia berkelit dan balas menyerang.
Sebentar saja kedua orang ini bertempur seru sekali dan tubuh mereka lenyap dalam dua gulungan sinar senjata yang mengeluarkan angin dingin!.
Sementara itu, si kedok hitam menyiapkan pedangnya menanti mereka yang mengepung dan hendak menyergapnya.
Tiba-tiba seorang tinggi besar meloncat maju dan berkata.
"Cuwi sekalian tahan dulu! Untuk memukul anjing kecil ini tak perlu menggunakan tongkat besar, biar siauwto saja menangkap dia!"
Ia ini adalah Kok Beng si Kerbau Hitam, seorang kepala rampok yang kenamaan di Secuan dan selain pandai silat, iapun bertenaga besar.
Kemudian, sambil mengungkat dada, ia memutar-mutar toyanya dan mendekati si kedok hitam.
"Sobat, jangan kau mencari mati. Tinggalkan kertas itu dan kau berlututlah meminta ampun, tentu tuan besarmu akan memberi maaf padamu!"
Tapi hanya terdengar suara ejeken sambil tertawa dari balik kedok sutera hitam itu sehingga Kok Beng menjadi marah sekali dan segera menyerang dengan toyanya.
Tapi di luar dugaannya, kaki kiri si kedok hitam itu terangkat dan dipakai mendepak ujung toyanya, lalu pedangnya berputar-putar menebas lengan yang memegang toya!
Gerakan istimewa ini sungguh tak terduga, juga sangat berbahaya, sehingga Kok Beng menjadi terkejut.
Terpaksa ia melepaskan toyanya dan meloncat mundur.
"Hebat betul..."
Teriaknya dan mukanya menjadi pucat lalu berobah merah.
Baru satu gebrakan saja ia terpaksa harus melepaskan senjatanya dan mundur!
Biauw Niang-niang terkejut gerakan, si kedok hitam.
Yang tadi itu adalah gerakan tendangan Siauw-cu-twie yang dilakukan dengan mahir sekali.
Ia teringat akan seorang pendekar gagah perkasa yang menjadi ahli tendangan itu, maka tanpa disengaja ia bertanya.
"Apa hubunganmu dengan Sin-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek?"
Sepasang mata di balik kedok itu memandangnya dengan sinar mata berkilat, tetapi yang terdengar hanya suara tertawa mengejek.
"Baiklah, biar kau ada hubungan dengan Khouw Locianpwe atau dengan dewa sekalipun, kalau kau tidak mau mengembalikan gulungan kertas itu, jangan harap kau bisa keluar dari sini!"
Sehabis berkata begini, Biauw Niang-niang segara menggerakkan pedang dan hudtimnya menyerang dan sebentar saja si kedok hitam telah dikeroyok.
Tetapi ternyata ia dapat bergerak dengan cepat sekali sehingga tak mudah bagi mereka untuk menangkapnya.
Hong Ing yang berdiri diam saja sambil melihat pertempuran itu dengan hati kagum, kini tahu bahwa dua orang tamu malam itu bukanlah kawan-kawan Han Liong yang pernah dilihatnya.
Ia lebih lebih kagum ketika melihat gerakan si kedok hitam yang ternyata ditilik dari potongan tubuh dan rambutnya, masih muda benar.
Tetapi kemidian diam-diam ia khawatir melihat si kedok hitam itu terdesak juga oleh tiga kebutan dan pedang dari si Tiga Iblis Wanita, ditambah dengan kepungan orang-orang lain.
Ketika ia menengok ke arah Kek Kong Tojin, ia melihat saikong itu masih bertempur seru melawan Pendekar Aneh dari Heng-san itu dengan kekuatan berimbang.
Tiba-tiba terdengar Biauw Niang-niang menjerit ketika pundaknya tergores sedikit oleh pedang musuh sehingga mengeluarkan darah.
Dengan marah Tiga Iblis Wanita itu mengeluarkan Bwee-hwa-ciamnya, jarum beracun yang kejam itu.
Melihat senjata berbahaya itu dihamburkan ke arahnya, si kedok hitam melompat tinggi sampai dua tombak dan dari atas ia meluncur turun dari genteng dengan gerakan Naga Air Terjun ke Laut yang indah dan cekatan sekali.
Sambil berteriak-teriak semua pengejarnya ikut melompat turun.
Hong Ing merasa heran mengapa si kedok hitam itu bukannya lari keluar tapi malah kembali masuk ke Istana Putih!
Ia juga ikut melompat turun.
Tapi biarpun semua orang mencari di mana-mana, si kedok hitam tak tampak bayangannya lagi.
Semua orang mencari berkeliling sambil memaki-maki tak keruan!
Setelah mencari beberapa lama tanpa hasil, Tiga Iblis Wanita dengan diikuti semua orang, ramai-ramai naik lagi ke atas genteng di mana Kek Kong Tojin masih bertarung seru melawan Heng-san Koai-hiap.
Biauw Niang-niang bertiga melihat susioknya tak dapat mengalahkan lawanya, segera maju sekalian mengeroyok.
Kek Kong Tojin diam saja melihat ketiga murid keponakannya maju mengeroyok, bahkan diam-diam ia merasa girang, biarpun ia tahu bahwa hal itu tak pantas dilakukan oleh seorang tokoh persilatan besar seperti dia.
Kini Heng-san Koai-hiap repot juga, karena ketiga iblis wanita itu walaupun ilmu silatnya masih kalah setingkat, namun dengan maju bersama, mereka merupakan tenagga bantuan yang hebat juga.
Perlahan-lahan ia terdesak.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suasa mencela.
"Kek Kong! Sungguh sikapmu tak pantas dengan keroyokan ini membuat orang-orang gagah merasa malu!"
Dan pada saat itu juga tiga buah benda hitam melayang cepat dan tepat sekali memukul ketiga pedang dari Tiga Iblis Wanita itu, hingga ketiga pedang itu melenting dan hampir saja terlepas dari pegangan!
Heng-san Koai-hiap melompat ke belakang dan berkata kepada Kek Kong.
"Barang yang kukehendaki sudah terampas oleh orang lain. Aku tiada waktu melayani kau lebih lama. Kalau ada untung lain kali kita berjumpa pula!"
Tubuhnya lalu berpusing-pusing di udara dan menghilang.
Sementara itu, Tiga Iblis Wanita merasa heran dan kaget sekali melihat bahwa senjata rahasia yang membentur pedang mereka dan membuat pedang itu hampir terlepas ternyata hanya tiga potong pecahan genteng!
Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pelemparnya!
Diam-diam mereka merata ngeri juga.
Setelah semua orang turun dan berkumpul di ruang tengah, Kek Kong menghela nafas dan berkata.
"Biauw Niang berkata benar, musuh banyak juga yang lebih tinggi kapandaiannya dari kita. Sekarang surat-surat itu sudah jatuh ke tangan musuh, kita harus berusaha merebutnya kembali. Dan kita harus mencari bala bantuan!"
"Tetapi susiok, menurut pendapatku, pencuri yang berkedok tadi bukan sekomplotan dengan Heng-san Koai-hiap. Mereka bergerak sendiri-sendiri dan terpisah,"
Berkata Hai Niang-niang. Tiba-tiba Biauw Niang-niang melihat kesana kemari, seakan-akan ada yang dicarinya, kemudian ia bertanya heran.
"Eh, mana Seng Bouw Nikouw? Kenapa aku tidak melihatnya semenjak tadi?"
Hong Ing terkejut mendengar ini dan iapun heran, karena memang ia tidak melibat gurunya itu ikut bertempur tadi.
Semua orang mencari, tetapi tidak dapat menemukan nikouw itu.
Hong Ing merata khawatir sekali dan meloncat naik ke atas genteng.
Setelah ia mencari beberapa lama, ia berteriak kaget sehingga semua orang meloncat naik mengejarnya.
Ternyata pendeta perempuan itu rebah di atas genteng belakang dan ketika diperiksa ternyata ia dibuat tak berdaya dengan sebuah totokan yang lihai sekali, Kek Kong Tojin segera menepuk bahu dan menotok punggung Seng Bouw Nikouw hingga pendeta itu dapat bergerak kembali.
Berulang kali ia menghela napas.
"Omitohud, sungguh lihai... sungguh lihai!"
Kek Kong Tojin dan ketiga iblis wanita heran sekali melihat pendeta wanita itu sampai dibuat tak berdaya sedemikian rupa oleh lawan, padahal Seng Bouw Nikouw bukanlah seorang lemah dan dalam hal ilmu silat ia hanya sedikit dibawah kepandaian tiga iblis wanita itu!
Seng Bouw Nikouw lalu bercerita.
"Ketika kalian bertempur tadi, aku hendak membantu, tetapi tiba-tiba aku melibat sebuah bayangan berputar-putar di atas genteng belakang. Aku mengejar dan kemudian menjadi sangat terkejut, karena ternyata yang berdiri disitu bukan lain ialah Sin-chiu Taihiap Khouw Sin Ek! Tentu saja aku tak berani melawan orang tua itu dan diam-diam aku tersembunyi di balik wuwungan genteng. Aku melhat juga betapa orang tua yang lihai itu menggunakan pecahan genteng memukul padang suci bertiga! Melihat ia menggunakan senjata rahasia istimewa itu, aku teringat bahwa biarpun aku takkan dapat melawannya, tetapi sedikitnya dari tempat gelap itu aku dapat melepaskan senjata rahasia jarum, karena itu aku justeru sembunyi di belakangnya. Tanpa pikir lagi aku mengirimkan segenggam jarum, tapi tak kusangka ia sedemikian lihainya. Tanpa menengok ia mengayunkan lengan baju dan telah meniup pergi semua jarumku.! Sebelum aku sempat lari, ia telah meloncat dan tanpa kusadari aku telah tertotok dan rebah tak berdaya!"
Kek Kong Tojin menghela napas.
"Celaka, terlampau banyak lawan lihai yang datang malam ini. Kita harus berhati-hati dan mulai malam ini kita harus mengatur penjagaan yang kuat."
Setelah berkata demikian.
Kek Kong Tojin memimpin sendiri dan mengatur penjagaan di semua sudut sehingga Istana Putih itu terkurung kuat.
Kemudian orang-orang yang tidak bertugas menjaga kembali di kamar masing-masing.
Hong Ing dengan hati lega karena si rambut putih dan si kedok hitam terlepas dari bahaya, kembali ke kamarnya pula.
Ia memasuki kamar, lalu menutup pintunya dan memasang lilin.
Hampir saja ia berteriak, karena melihat di atas kursi di kamarnya duduk seorang yang berkedok sutera hitam.
Baiknya si kedok hitam segera memberi tanda agar ia jangan berteriak.
Hong Ing menggerakkan bibirnya hendak bertanya dengan marah kepada tamu malam yang keterlaluan dan kurang ajar itu, tapi si kedok hitam lalu mengeluarkan sehelai surat yang agaknya telah ia sediakan sebelumnya.
Hong Ing menerima surat itu dan membacanya sambil duduk di atas pembaringan dan selalu mengerling kearah si kedok hitam.
Surat itu tidak panjang dan berbunyi seperti berikut.
Nona Lie Hong Ing, Kau bukanlah seorang penjahat dan mungkin kau tidak tahu bahwa orang-orang di gedung ini semua adalah kaki tangan pembesar durna yang bermaksud memberontak!
Kalau kau terus berada dengan mereka, maka kau akan menghadapi dua macam bahaya.
Bahaya pertama.
kau akan dimusuhi oleh orang-orang gagah di kalangan kang-ouw, dan bahaya kedua.
kau akan dicap anggauta pemberontak dan mendapat hukuman!
Kau ingin belajar silat?
Kalau kau percaya, aku dapat menolongmu mencari seorang guru yang jauh lebih pandai daripada Iblis-iblis itu.
Kau takut melarikan diri?
Aku dapat membantumu.
Kalau setuju, sekarang juga, ikutlah aku keluar dari neraka ini.
Membaca surat ini, Hong Ing terkejut, Benarkah gurunya dan semua erang itu pemberontak?
Mengapa mereka memaki Han Liong dan kawan-kawannya sebagai pemberintak?
Tentang kejahatan mereka, hal ini ia dapatlah percaya, memang ia sendiri tidak suka melihat sikap dan sepak terjang mereka itu, tapi apakah si kedok hitam ini dapat dipercaya?
Biarlah, ia akan ikut lari dan mencari Han Liong.
Kalau sudah bertemu dengan kakaknya itu, ia tidak takut akan setan yang manapun juga!
Maka ia lalu mengangguk dan si kedok hitam tersenyum girang.
Sepasang mata di balik sutera hitam itu memancarkan sinar berseri-seri tanda kegirangan.
Hong Ing menyiapkan buntalan pakaiannya dan si kedok hitam lalu memberi tanda agar gadis itu masuk di bawah tempat tidur!
Hong Ing terheran-heran dia memandang marah karena pada sangkanya si kedok hitam itu mempermainkannya.
Tapi tanpa banyak cakap lagi si kodok hitam merayap di kolong pembaringan dan Hong Ing karena ingin tahu sekali, mengintipnya.
Beberapa kali si kedok hitam meraba-raba dinding dan tiba-tiba terdengar bunyi berderik dan di atas lantai di bawah pembaringan itu terbuka lubang selebar hampir dua kaki!
Kini mengertilah Hong Ing bahwa itu adalah sebuah jalan rahasia!
Ia serasa malu akan kesangsiannya tadi dan tanpa ragu ia merangkak di kolong pembaringan.
Si kedok hitam lalu memasuki lobang itu, diikuti oleh Hong Ing, ternyata di bawah tanah terdapat sebuah lorong kecil yang pas untuk seseorang merayap maju.
Beberapa lama mereka merayap maju dalam gelap dan akhirnya mereka sampai keluar dan berada dalam sebuah taman bunga!
"Eh, taman bunga siapakah ini?"
Hong Ing bertanya heran.
"Stt!"
Si kedok hitam mencegahnya, tapi terlambat. Dari balik pintu belakang sebuah gedung, terdengar suara bertanya.
"Siapa di taman?"
Sebelum gema suara itu lenyap, penanyanya sudah sampai di hadapan mereka dengan sebuat golok besar di tangan!
Hong Ing terkejut melihat orang itu yang ternyata bukan lain adalah Tan-Cianbu.
Ia pernah melihat kapten itu beberapa kali maka ia dapat mengenalnya, namun Tan Cianbu tidak kenal kepadanya.
"Bangsat darimana berani memasuki taman tanpa izin?. Ayoh buka kedokmu dan berlutut, kalau tidak kalian akan kusuruh tangkap dan masukkan penjara!"
Melihat kegagahan Tan Cianbu itu, Hong Ing meloloskan siang-kiamnya, dan ia merasa pundaknya ditowel oleh si kedok hitam. Tapi ia tidak tahu maksudnya, bahkan maju menyerang dengan berkata.
"Lepaskan dan jangan ganggu kami!"
Tan Cianbu gelak tertawa.
"Hm, gadis kecil ini sombong amat! Kau juga berani main-main dengan pedang!"
Kemudian ia menggerakkan goloknya dan menangkis.
Pedang di tangan kanan Hong Ing terpukul dan gadis itu merasa telapak tangannya perih dan panas.
Ia terkejut sekali karena pedang itu hampir saja terlepas!
"Ha ha, ha!"
Tan Cianbu tertawa tapi matanya memandang kagum.
"Kau boleh juga, nona kecil! Kau dapat menahan tangkisanku, hm, majulah, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu."
Tapi Hong Ing bersanksi, karena ia merasa bukan tandingannya kapten yaag bertenaga besar itu!
"He, kamu yang berkedok hitam, pengecutkah kau?
Bukankah kau laki-laki?
Mengapa kau biarkan saja wanita ini maju seorang diri?
Ayoh majulah!"
Si kedok hitam tampak bingong dan ketakutan! Hong Ing (Lanjut ke
Jilid 07) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 merasa heran sekali.
Apakah Tan Cianbu ini lebih tinggi ilmu silatnya dari si kedok hitam ini sehingga si kedok hitam yang tadi telah ia saksikan sendiri kepandaiannya juga merasa takut menghadapinya?
Tapi Tan Cianbu melihat keragu-raguan dan kebingungan si kedok hitam, timbul marahnya.
"Pengecut! Gadis ini berani maju menyerangku, tapi kau tidak berani! Kalau begitu, lebih dulu kau akan kubunuh. Mungkin perempuan ini akan kubebaskan karena ia gagah dan berani tidak semacam kau!"
Goloknya berkelebat membacok leher pemuda itu!
Si kedok hitam berkelit mundur, tapi golok Tan Cianbu terus mengejar dan melakukan serangan bertubi-tubi.
Kini heranlah Tan Cianbu, karena berkali-kali ia menyerang, selalu tanpa hasil.
Gerakan si kedok hitam itu sangat lincah dan selalu berkelit cepat membuat ia tidak berdaya!
Si kedok hitam berkelit sambil mundur hingga mereka tiba di dekat sebuah lampu taman.
Tiba-tiba si kedok hitam merogoh saku dan melempar sesuatu kearah lawannya.
Tan Cianbu terkejut dan hendak berkelit, tapi lemparan si kedok hitam cepat sekali hingga tahu-tahu benda itu mengenai mukanya!
tapi Tao Cianbu tidak merasa sakit karena ternyata benda itu hanya sehelai saputangan sutera saja, dan disitu terdapat tulisan besar-besar.
Tan cian-bu tertarik akan sapu tangan sutera itu dan di bawah sinar lampu, ia membaca beberapa huruf besar itu.
Seketika itu juga kedua matanya terbelalak dan mulutnya berseru.
"Apa??? Mana bisa jadi?"
Tetapi ketika ia menengok, si kedok hitam telah menyambar tangan Hong Ing dan menarik gadis itu melompati tembok yang tinggi itu, dan terus lari dengan cepat sekali.
Hong Ing yang terpegang pergelangan tangannya ikut lari cepat pula, jauh lebih cepat dari pada ilmu larinya, karena ia seakan-akan ditarik oleh tenaga raksasa sehingga kedua kakinya seakan-akan tak menginjak bumi!
Gadis ini menjadi makin kagum dan diam-diam ia membandingkan kepandaian orang ini dengan Han Liong, Tetapi setelah lari beberapa belas li jauhnya dan mereka memasuki sebuah hutan, Hong Ing merasa lelah juga, karena kedua kakinya sangat dipaksa.
"Aduh, aku lelah, mari beristirahat dulu!"
Keluhnya.
"Maaf, aku tidak ingat bahwa kau belum pandai lari cepat,"
Kata si kelok hitam sambil melepaskan pegangannya. Hong Ing melepaskan lelah dan duduk di atas rumput. Ia memandang si kedok hitam yang masih berdiri dan memandang jauh ke depan.
"Kita hendak ke mana?"
Tanya Hong Ing.
"Ke kota raja,"
Jawabnya singkat.
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 9
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 12