Ceritasilat Novel Online

Pedang Pusaka Naga Putih 4

Eps 4 Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Pusaka Naga Putih - Kho Ping Hoo.

"Ke kota raja? Hendak mengapa ke sana?"

Si kedok hitam memandang sehingga sinar matanya terbentur sinar mata Hong Ing. Kemudian ia tampak bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawab. Ia lalu menghela nafas dan berkata perlahan.

"Kau..., kau kini sudah bebas, terserah kepadamu hendak pergi ke mana, Aku... aku tidak memaksamu ikut, yakni... kalau kau tidak suka..."

Hong Ing merasa dadanya berdebar-debar.

Jadi orang ini benar-benar hendak menolong belaka dan tidak bermaksud jahat?

Ah, alangkah baik hatinya.

Dan lenyaplah kecurigaannya, karena sebenarnya tadi ia masih merasa curiga memikirkan bahwa mungkin orang ini sengaja datang ke kamarnya hendak menculiknya.

Tctapi setelah di kamarnya terdapat jalan rahasia itu, tahulah ia mengapa orang itu berada di kamarnya.

Dan kini, orang ini melepaskannya!.

"Kalau begitu, terima kasih atas kebaikanmu."

"Ah, itu semua tak berarti apa-apa. Hanya ingat, kau harus berhati-hati, karena orang-orang Istana putih banyak dan jahat, mungkin kau akan bertemu dengan seorang di antara mereka di jalan."

Hong Ing tidak merasa takut karena ia tak begitu memperhatikan kata-kata si kedok hitam.

Ia sedang terheran-heran dan mengingat-ingat karena ia seperti sudah pernah mendengar dan mengenal suara orang itu entah kapan dan dimana??

"Eh, apa katamu tadi?

O ya, kau takut aku berjumpa dengan mereka?

Aku hendak mencari kakakku, kalau sudah bertemu, aku tidak perlu takut kepada segala orang itu."

"Kalau begitu agaknya gagah benar koko-mu itu."

Kembali Hong Ing memikir-mikir dan mengingat-ingat suara siapakah ini! "Kau telah menolongku dan kini kita hendak berpisah. Maukah kau melakukan sebuah permintaanku?"

Tiba-tiba Hong Ing bertanya.

"Apakah itu?"

"Yaitu... aku ingin tahu dan melihat wajahmu, agar aku tak lupa lagi... maukah kau membuka kedokmu itu sebentar saja?"

Si kedok hitam mundur dua tindak dan dengan cepat tangan kirinya memegang kedok sutera di mukanya, seakan-akan ia takut kedok itu akan terlepas.

"Tak mungkin!"

Katanya.

"Mengapa tak mungkin? Apa... apa mukamu bercacat dan jelek sekali?"

Si kedok hitam itu cepat menggeleng-geleng kepala, tapi lalu mengangguk-angguk berkali-kali, hingga mau tak mau Hong Ing tersenyum geli.

"Tidak apalah!"

Akhirnya Hong Ing berkata sambil menghela nafas.

"Jika kau tidak mau dikenal, akupun takkan memaksa! Tapi betapapun juga, aku akan selalu menganggap kau seorang yang gagah dan baik hati."

Ketika mereka hendak berpisah, tiba-tiba dari belakang ada dua bayangan orang berlari cepat ke arah mereka.

Kepandaian dua orang itu ternyata tinggi juga karena sebentar saja mereka sudah tiba dihadapan si kedok hitam dan Hong Ing.

Hong Ing terkejut sekali karena yang datang itu adalah seorang laki-laki dan seorang gadis muda yang cantik jelita dan berpakaian serba hitam hingga tampak kulit tangan dan pergelangan lengannya yang putih.

Dan laki-laki itu bukan lain dari Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek sendiri, orang lihai berambut putih yang mengacau di istana putih.

"Ha, ha, ha! Kalau memang berjodoh, biar tak disengaja dan tak disangka-sangka, akhirnya bertemu juga!"

Heng-san Koai-hiap tertawa terkekeh-kekeh. Lalu ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada si kedok hitam yang dibalasnya dengan hormat pula.

"Sobat berkedok yang gagah berani. Aku kagum melihat tepak terjangmu tadi. Agaknya kau pun mengikuti jalan lurus dari para patriot. Ketahuilah, aku adalah Heng-san Koai-jin Lie Bun Tek dan ini adalah sumoiku bernama Pauw Lian. Kau tentu sudah pernah mendengar nama kami dan tahu bahwa kami bukanlah orang-orang jahat. Terus terang kukatakan bahwa kamipun pengikut jejak para patriot! Dokumen yang kau rampas dari istana putih itu sangat kami butuhkan. Maka kuminta dengan hormat, berikanlah itu padaku, sobat."

"Maaf, saudara, aku sendiripun perlu juga akan surat-surat penting itu. Soalmu dengan penghuni Istana putih tiada sangkut-pautnya dengan aku. Aku bertugas dan sebagai seorang laki-laki aku harus menunaikan tugaaku itu dengan sempurna. Kalau tugasku telah selesai mungkin sekali aku dapat membantu menghancurkan kaki tangan durna yang rendah itu!"

"Hm, jawabanmu sangat licin bagai belut yang tak tentu ujung pangkalnya! Pendeknya, aku ingin tahu, kau ini pembela rakyat atau pembela kaisar?"

Gadis cantik berpakaian hitam yang disebut Pauw Lian itu berkata, suaranya merdu tetapi tajam.

Mendengar kata-kata setengah sesalan dan penuh kecurigaan ini, si kedok hitam memandang dengan tajam dan menjawab.

"Pembela kedua-duanya!"

Lie Bun Tek tertawa dan Pauw Lian memperdengarkan suara ejekan.

"Hm, jawaban apa ini? Kalau kau pembela rakyat dan kaisar, habis, siapa yang kauanggap musuhmu?"

"Musuhku adalah segala perampok yang mengacau rakyat dan segala macam durna yang mengacau negara!"

Lie Bun Tek dan Pauw Lian saling pandang dengan heran.

"Eh, sobat, kau sungguh aneh. Coba buka kedokmu dan perlihatkan mukamu kepada kami agar kami dapat melihat apakah kau ini lawan atau kawan."

Berkata Lie Bun Tek.

"Kubuka juga kau takkan kenal,"

Jawab si kedok hitam.

"Kalau begitu engkau ini tentu bukan orang baik-baik. Orang yang bermaksud baik takkan menyembunyikan muka di belakang kedok,"

Kata Lie Bun Tek.

"Suheng, bangsat ini tentu mempuyai maksud rahasia,"

Berkata Pauw Lian kepada Lie Bun Tek.

"Memang aku mempunyai tugas dan maksud rahasia,"

Jawab si kedok hitam sehingga Lie Bun Tek menjadi heran dan marah mendengar orang berterus terang secara menantang itu. Dengan berseru keras ia loloskan joan-piannya dari pinggang dan berkata.

"Agaknya kau mau mencoba kami, orang muda yang aneh!"

Si kedok hitam memperdengarkan suara mengejek sambil mencabut pedangnya.

"Tahan senjatamu, ia bukanlah orang jahat!"

Hong Ing berteriak karena ia khawatir si kedok hitam takkan dapat melawan si rambut putih yang tinggi ilmunya itu.

"Kaupun bukan orang baik-baik,!"

Kata Pauw Lian yang maju menghalangi.

"Kau kira aku takut padamu?"

Hong Ing membentak marah dan mencabut siang-kiamnya!

Tapi Pauw Lian hanya momandangnya dengan terseyum manis bagaikan seorang dewasa tengah mempermainkan seorang kanak-kanak.

Sementara itu, si kedok hitam sudah mulai bertempur melawan Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek.

Sekali senjata mereka beradu dan kedua-duanya mundur karena merasakan getaran hebat di telapak tangan masing-masing.

Sambil melompat mundur mereka memeriksa senjata masing-masing, tapi ternyata kedua senjata itu tidak rusak.

Dengan perasaan kesal Lie Bun Tek meloncat maju lagi melakukan serangan hebat.

Si kedok hitam berkelit lincah dan balas menyerang.

Ternyata tenaga dan kepandaian mereka seimbang.

Lie Bin Tek memainkan pukulan-pukulan Ilmu permainan joan-pian dari cabang Heng-san-pai yang tinggi itu, tapi pedang si kedok hitam pun dapat bergerak dengan lincah dan cepat karena ia memainkan tipu silat Pedang Delapan Dewa Bermain-main.

Hong Ing yang merasa gemas melihat lagak Pauw Lian yang seakan.akan memandang rendah kepadanya, dengan teriakan keras maju menyerang dengan siang-kiamnya!

Ia memainkan jurus-jurus dari Ngo-lian-pai yang belum lama ini ia pelajari dari Biauw Niang-niang.

Tapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat lawannya berputar berbelit-belit cepat dan serta merta telah berada di belakangnya!

Ia terus menyerang dan jurus-jurus yang ganas dan tipu-tipu mematikan dari Ngo-lian-pai ia keluarkan.

"Hemm, sayang kau yang muda dan cantik telah mempelajari ilmu silat jahat,"

Kata Pauw Lian menyindir sambil meloncat menghindar.

Mendengar sindiran itu dan melihat serangan-serangannya tak mendatangkan hasil sedikitpun juga, wajah Hong Ing berubah merah karena malu dan marah.

Ia segera merubah gerakannya dan kini mempergunakan ilmu pedang Ngo-houw-toan-bun-to yang ia pelajari dari Han Liong.

Kedua pedangnya bergerak teratur sekali dan serangan-serangannya kuat mendatangkan angin.

"Bagus! Ini baru ilmu pedang tulen!"

Nona baju hitam itu memuji.

Sesungguhnya permainan siang-kiam Hong Ing hebat sekali dan gerakan kedua pedangnya sukar dilawan.

Tapi ternyata ia menghadapi lawan kelas berat yang sangat tinggi ilmu ginkangnya hingga ia dapat dipermainkan, biarpun Pauw Lian tak memegang senjata!

Hong Ing hampir menangis karena jengkel dan ia gertakkan giginya sambil nenyerang terus membabi buta.

Pauw Lian melihat kenekadan lawannya menjadi marah juga, sambil berseru.

"Awas balasan serangan-ku!"

Ia mendesak dengan sepasang kepalan dan sepasang kakinya yang dapat bergerak cepat sekali. Hong Ing terdesak mundur dan keadaannya berbahaya! Pada saat itu terdengar seruan orang.

"Ing-mo!, jangan khawatir, aku datang,"

Belum habis gema suara itu, orangnya telah datang dan tiba-tiba Pauw Lian melihat seorang pemuda baju putih berdiri di depannya menggantikan Hong Ing yang kini berdiri di belakang pemuda itu!

Alangkah girang hati Hong Ing mendengar suara dan melihat orang yang baru datang ini.

Segera ia menubruk maju dan memeluk.

"Han-ko! Syukur kau datang. Tolonglah aku dan hajarlah wanita yang sangat menghinaku ini!"

Melihat Hong Ing memeluk pemuda itu, Pauw Lian mengeluarkan suara cemoohan.

"Hm, tak tahu malu!"

Hong Ing menghadapinya dengan bertolak pinggang.

"Mau apa? Ini kakakku dan kalau kau memang perempuan gagah, lawanlah dia. Kalau kau menang, aku bersedia berlutut seratus kali di depanmu dan menyebut nenek guru padamu!"

Biarpun ia tahu bahwa pemuda yang berdiri bingung di depannya ini bukanlah lawan ringan, namun Pauw Lian merasa gemas dan marah juga mendengar tantangan Hong Ing.

"Apa yang harus ditakuti?"

Katanya dan tanpa banyak cakap lagi ia menerjang Han Liong dengan serangan Harimau Mencuri Hati!

Tadinya Han Liong hendak mendamaikan mereka karena ia tahu bahwa adiknya suka sekali mencari onar, tapi ia tak diberi kesempatan dan gadis itu langsung memukul Han Liong.

Angin pukulan gadis baju hitam ini berat dan kuat sekali.

Karenanya terpaksa ia melayaninya dengan hati-hati dan sebentar saja ia diam-diam mengeluh karena lawan yang dipilih Hong Ing kali ini benar -benar merupakan lawan terberat yang pernah ditemuinya!

Ia kagum sekali akan kepandaian gadis yang jelita ini dan tak lama kemudian ia merasa makin kagum bercampur heran karena ternyata kepandaian gadis itu, baik ginkang maupun lweekangnya, tidak berselisih jauh dengan kepandaiannya sendiri!

Timbul hati sayangnya dan ia ingin sekali tahu siapakah gadis ini dan murid siapakah ia?

Sebaliknya, Pauw Lian merasa terkejut dan heran sekail mengapa pemuda ini demikian lihai dan sungguh di luar dugaannya semula.

Gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu yang baru saja turun gunung merasa diri tiada tandingnya lagi, karena memang ia sudah memiliki ilmu silat yang mendekati batas kesempurnaan, bahkan suhengnya sendiri, Heng-san Koail-hiap Lie Bun Tek yang terkenal akan kelihaian dan kepandaiannya, tak dapat mengalahkannya, terutama dalam ilmu pedang!

Maka, kini menghadapi Han Liong jang dapat melayani, bahkan dapat mendesaknya, ia menjadi gusar sekali.

Dengan teriakan marah ia mencabut pedangnya.

Sinar hitam berkelebat di depan muka Han Liong dan pemuda ini tertejut melihat gadis itu kini memegang sebilah pedang hitam yang sinarnya menyeramkan.

Tiba-tiba ia teringat akan kata-kata suhunya, Kam Hong Siansu yang mengatakan bahwa di dunia ini masih terdapat Ilmu silat pedang yang dapat menandingi Pek-liong-kiamsut, yakni Ouw-Liong-Kiamsut atau Ilmu Pedang Naga Hitam.

Dan gadis ini mempunyai sebuah pokiam berwarna hitam berukir naga pula.

Bukankah pedang ini yang disebut Ouw-liong-pokiam?

Hampir saja ia melompat keluar kalangan tapi tiba-tiba timbul kegembiraannya untuk mencoba sampai dimana kehebatannya Ouw-liong Kiamsut!

Iapun mencabut Pek-Hong-pokiamnya dan menangkis setiap serangan gadis itu.

Pauw Lian melihat sinar pedang Han Liong putih melepak seperti perak juga merasa terkejut.

Iapun pernah mendengar gurunya bercerita tentang Pek liong-pokiam, maka sama juga halnya dengan hati Han Liong, ia ingin sekali mencoba ketinggian ilmu pedang pemuda itu.

Kalau tadi ketika bertempur mengadu kepalan mereka berkelebat ke sana ke mari hingga dua bayangan hitam dan putih seakan-akan tergabung menjadi satu, kini dua pokiam itu dimainkan sedemikian cepatnya sehingga yang tampak hanya dua gulung sinar hitam dan putih berputar-putar cepat seperti kilat, sedangkan dua orangnya sama sekail tak tampak pula!

Tentu saja melihat pertunjukan ini, Hong Ing hanya memandang dengan mulut ternganga saking kagumnya.

Sementara itu, si kedok hitam juga sedang bertempur dengan hebatnya melawan Lie Bun Tek.

Pedang dan joan-pian saling serang dan saling tangkis sampai mengeluarkan bunga api.

Pada saat pertempuran sedang hebat-hebatnya, tiba-tiba terdenger orang menyebut.

"Siancai, siancai, Lie Bun Tek Enghiong, tahan senjatamu dan maafkan muridku. Un Kiong, buang pedangmu!"

Mendengar seruan ini, dengan berbareng si kedok hitam dan Heng-san Koai-hiap melompat mundur dan menahan senjata masing-masing, karena si kedok hitam mengenal suara gurunya sedangkan Lie Bun Tek kenal pula suara Khouw Sin Ek atau Sin-chiu talhiap yang telah menolongnya ketika bertempur di atas geeteng Istana Putih!

Sebaliknya, Hong Ing yang mendengar nama Un Kiong disebut segera menghadapi mereka dengan heran.

Lio Bun Tek menjura kepada Sin-chiu Taihiap sambil berkata.

"Maafkan siauwte, Lo-Taihiap."

Dan si kedok hitam berlutut sambil menyebut.

"Suhu."

"Un Kiong, buka kedokmu! Terhadap kawan-kawan segolongan, tak perlu kau menyembunyikan mukamu."

Si kedok hitam segera merenggutkan sutera hitam itu dan Hong Ing hampir saja tak dapat menahan jerit herannya, karena si kedok hitam itu bukan lain ialah si pemuda tolol, Tan Un Kiong, putera dari Tan cian-bu yang tinggal di dekat Istana Putih!

Hal ini sama sekali tak disangkanya, maka tanpa terasa kakinya bertindak maju mendekati pemuda itu lalu, sambil menatap wajahnya, ia berkata.

"Kau...??"

Un Kiong hanya teneayum dan menjura.

"Hong Ing cici!"

Lie Bun Tek berseru kepada Pauw Lian yang masih bertempur.

"Sumoi, tahan pedangmu..."

Tapi Khouw Sin Ek mencegahnya dan berkata perlahan "Jangan ganggu mereka...

Tak usah khawatir, mereka takkan melukai satu sama lain.

Lihat, alangkah hebatnya kiamsut mereka.

Sungguh yang tertinggi di dunia ini.

Lihat...

bukankah mirip sepasang naga hitam dan putih bermain-main di awan?"

Setelah puas menonton. Pendekar Besar kepalan Malaikat ini mengambil dua buah batu kecil dan mengayunkannya dua buah batu itu ke arah dua gundukan sinar hitam putih yang sedang bertempur.

"Jiwi, silakan berhenti!"

Suaranya terdengar nyaring dan keras sekali.

Dua buah batu kecil itu dengan tepat menghantam dua pedang, tapi tak membikin pedang itu terenggut, bahkan dua buah batu itu terbelah dengan mudah dan jatuh ke atas tanah.

Tetapi ini cukup membuat Han Liong dan Panw Lian insyaf bahwa ada orang yang pandai memisahkan mereka.

Mereka tidak berani memandang rendah dan keduanya segera melompat sambil menjura.

Sepasang mata Pauw Lian yang jeli menatap wajah Han Liong dengan kagum, sebaliknya Han Liong juga tertarik sekali akan kepandaian gadis itu.

Pada saat mereka saling pandang itu, seakan-akan ada sesuatu yang mengikat hati mereka dan membuat mereka malu hingga serentak pula keduanya menundukkan muka.

Lie Bun Tek memperkenalkan pendekar tua itu kepada sumoinya sedangkan Hong Ing yang masih saja bermain mata dengan Un Kiong segera lari dan memegang lengan kakaknya.

Gadis ini dengan lincah dan gembira memperkenalkan Un Kiong kepada Han Liong dan serta merta mempercakapkan bagaimana "pemuda tolol"

Itu telah menolongnya lari dari Istana Putih.

Berkat kebijaksanaan Khouw Sin Ek yang mempunyai nama harum dan disegani, mereka dapat menahan rasa sakit hatinya dan melenyapkan rasa permusuhan, kemudian masing-masing memperbincangkan riwayat masing-masing untuk menghindarkan salah faham.

"Cuwi sekalian tentu heran melihat kenyataan bahwa aku orang tua mempunyai seorang murid putera seorang pembesar yang berpengaruh di kalangan pahlawan raja. Biarpun aku orang she Khouw bukan termasuk seorang anti kaisar, namun memang terdengar ganjil bahwa aku mengambil murid seorang putera cian-bu! Hal ini ada sebabnya, maka kalian dengarlah riwayatku dan muridku Tan Un Kiong ini."

Demikian Khouw Sin Ek mulai membuka riwayatnya.

Khouw Sin Ek adalah seorang hiapkek besar, yang mewarisi kepandaian silat tunggal dari Bong Tak Totiang, seorang pertapa dan ahli persilatan Thai-san yang mengasingkan diri dan diam-diam menciptakan ilmu silat dari Thai-san, Bu-tong dan Siaw-lim yang ia gabungkan menjadi satu.

Totiang ini kemudian menurunkan semua kepandaiannya kepada Khouw Sin Ek karena ia melihat bahwa Khouw Sin Ek mempunyai tulang baik dan pribudi tinggi.

Setelah belasan tahun belajar dan dapat mewarisi semua kepandaian suhunya, Khouw Sin Ek mulai berkelana dan menggunakan kepandaiannya untuk melakukan pekerjaan menolong sesama manusia.

Sepak terjangnya yang gagah perkasa membuat namanya harum.

Disegani, dikagumi kawan dan ditakuti lawan.

Pernah seorang diri ia membunuh Pangeran Liok Bin Ong yang terkenal jahat dan memeras rakyat dengan sewenang-wenang.

Kemudian ia mengobrak-abrik sarang perampok di Gunung Kim-wat-san yang dikepalai oleh Kang Leng Giap, seorang jagoan berilmu tinggi yang karena sombong serta mengagung-agungkan diri sebagai orang gagah nomor satu lalu berbuat sewenang-wenang saja, merampok rakyat dan petani yang sudah miskin dan hidup melarat.

Tentu saja hal ini membuat hiapkek Khouw Sin Ek marah sekali.

Kepala perampok kejam ini akhirnya tewas dalam tangan Khouw Sin Ek dan semenjak itu ia mendapat nama julukan sin-chiu-taihiap atau Pendekat Gagah Kepalan Malaikat!

Tetapi, betapapun gagahnya seseorang, tetap harus tunduk kepada kekuasaan yang lebih tinggi sehingga pada suatu hari Sin-chiu Taihiap Kouw Sin Ek diserang sakit panas yang berat.

Pada masa itu ia memang menjadi buronan dan dicari oleh para pengawal raja karena ia telah membunuh Pangeran Liok Bin Ong.

Justeru yang mendapat tugas untuk mencarinya adalah Tan cian-bu, ayah Un Kiong!

Ketika Khouw Sin Ek tengah rebah tak berdaya karena sakitnya di sebuah kelenteng kotor dan rusak, Tan cian-bu dapat membekuknya.

Namun Tan cian-bu yang jujur dan berwatak satria itu, merasa kagum dan sayang kepada Sin-chiu taihiap, karena menurut pendapatnya, orang semacam Liok Bin Ong itu memang sudah sepatutnya dilenyapkan dari muka bumi ini!

Ia pikir pula kalau ia sendiri tidak menjabat pangkat cian-bu, tentu telah siang-siang ia pergi mencari pangeran jahat dan cabul itu untuk menghajarnya.

Demikian ia menyelamatkan jiwa Sin-chiu-taihiap dari hukuman.

Khouw Sin Ek merasa berterima kasih dan kagum melihat kepribadian Tan cian-bu, maka untuk membalas jasanya, ia secara diam-diam tidak setahu kapten she Tan itu, telah mengangkat Un Kiong sebagal muridnya.

Pada suatu hari ketika Un Kiong yang berusia tujuh tahun itu bermain-main di dalam taman bunga, Khouw Sin Ek datang.

Di depan anak itu ia meloncat ke sebuah pohon dan menggunakan tangannya menangkap burung, Sedangkan ketika ia turun kembali, burung di telapak tangannya yang menggerak-gerakkan sayap itu ternyata tak dapat terbang, seakan-akan menempel di telapak tangan Khouw Sin Ek.

Tentu saja Un Kiong sangat tertarik dan ia terima dengan gembira ketika orang tua itu mengangkatnya sebagai murid.

Tapi Khouw Sin Ek tak ingin orang mengetahui bahwa ia menerima murid seorang putera kapten pengawal raja, maka ia pesan dengan keras kepada muridnya supaya tidak membocorkan rahasia ini.

Un Kiong ternyata selain berkemauan besar dan berbakat baik, juga berhati teguh sehingga terdadap orang tua sendiripnn ia tidak memberitahukan bahwa ia telah menjadi murid Sin chiu Tai hiap Khouw Sin Ek yang berkepandaian sangat tinggi!

Bahkan untuk menyembunyikan kepandaiannya, ia berpura-pura menjadi pemuda tolol!

"Demikianlah maka Un Kiong menjadi muridku.

Pertama karena ayahnya pernah monolongku dan kedua karena aku melihat ia mempunyai bakat baik."

Khouw Sin Ek menutup penuturannya. Kini giliran Tan Un Kiong menuturkan pengalamannya.

"Sebagai seorang keturunan perajurit sejati, ayah sangat mengutamakan kesetiaan kepada pemerintah. Ia berpendirian bahwa betapapun bcntuk pemerintah yang diabdinya, seorang perajurit harus membelanya dengan setia, siap mengorbankan jiwa raganya. Aku tak dapat menyalahkan sikap ini yang menurut pendapatku betul juga. Karena itulah maka biarpun aku merasa bersimpati akan perjuangan para patriot bangsa, namun sebagai putera seorang kapten barisan penjaga istana raja, aku tak berani berhubungan dengan mereka. Lagi pula, menurut pendapatku, raja yang memerintah tidaklah demikian jahat sebagaimana banyak disangka orang. Ia hanya terpengaruh oleh hasutan para durna yang jahat. Ayah sangat benci kepada para durna ini, teristimewa kepada Co Thaikam yang makin lama makin besar pengaruhnya. Ayah sangat sedih memikirkan keadaan kaisar."

Demikian Un Kiong memulai penuturannya.

Kemudian ia mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata kepadanya tentang adanya bisikan bahwa Co Thaikam bermaksud hendak memberotak!

Memang thaikam ini telah pengaruhi para pembesar tinggi sehingga kaisar seakan-akan terkurung.

Mendengar hal ini dan karena kasihan melihat kesedihan ayahnya juga karena berkali-kali ayahnya menyatakan penyesalannya bahwa Un Kiong demikian tolol, pemuda itu diam-diam mulai melakukan penyelidikan terhadap penghuni Istana Putih yang ia tahu adalah kaki tangan Co Thaikam.

Pernah ia menggeledah semua kamar tapi hasilnya nihil.

Kebetulan sekali ia dapat mendengar kejumawaan Kek Kong Tojin sehingga ia memberanikan diri mencuri dokumen-dokumen itu, tepat pada waktu Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek bertempur dengan tiga iblis wanita.

Setelah berhasil memasuki kamar Hong Ing di mana memang ia tahu terdapat sebuah jalan rahasia, ia yang merasa tertarik dan suka kepada nona ini, membujuknya lari.

Maksud Un Kiong hendak membawa dokumen yang di antaranya terdapat rencana pemberontakan Co Thaikam itu terhadap Istana raja dan membongkar rahasia busuk ini kepada raja!

Ia sengaja memakai kedok agar tak dikenal oleh para penghuni Istana Putih dan kaki tangannya, karena kalau sampai ketahuan tentu ayahnya berada dalam bahaya dan akan mereka musuhi.

Ketika tiba giliran Hong Ing bercerita, sebelumnya nona ini sambil memegang lengan Pauw Lian, berkata dengan suara manja.

"Cici harap maafkan aku sebanyak-banyaknya karena telah berlaku kurang ajar padamu. Sebenarnya aku... aku iri melihat kecantikan dan kepandaianmu,"

Sampai disini ia mengerling kepada Han Liong "Dan nanti sewaktu-waktu kuharap cici suka mengajar Ilmu pedang padaku."

"Ah, bukankah kau sudah mempunyai seorang kawan yang dapat mengajarmu dan yang kepandaiannya tidak terkalahkan olehku?"

Pauw Lian balas menggoda dengan kerlingan mata ke arah Un Kiong. Godaan ini mengenai tepat, tapi dasar cerdik. Hong Ing bahkan dapat membelokkan godaan ini untuk.menggoda Un Kiong dengan berkata.

"Kau maksudkan saudara Tan Un Kiong? Aah, bukankah ia pemuda tolol yang tak mengerti apa-apa? Ketahuilah, pernah ia meniru-niru aku belajar ilmu pedang dengan gerakan-gerakan sepertiseorang badut!"

Mendengar ini semua orang tertawa, tak terkecuali Khouw Sin Ek, hanya Un Kiong saja yang membesarkan matanya kepada Hong Ing, tetapi mukanya merah karena malu!

Diam-diam Hong Ing merasa suka kepada Pauw Lian yang ternyata juga bersifat jenaka dan suka main-main seperti dia pula.

Heng-san Koai hiap Lie Bun Tek meneeritakan riwayatnya sendiri dan sumoinya secara singkat.

Di puncak Gunung Heng-san terdapat sebuah bio (kelenteng) tua yang sederhana, di mana tetdapat seorang pertapa wanita yang sudah tua.

Pertapa.

wanita ini bukan lain ialah sumoi dari Kam Hong Siansu, yang bernama Kui Giok Ciu Suthai.

Ilmu kepandaian Kui Giok Ciu Suthai ini tinggi sekali, terutama ilmu pedangnya.

Sebenarnya ketika mudanya diantara Kui Giok Ciu dan Kam Hong Siansu kedua kakak beradik seperguruan ini, terjalin tali asmara yang erat.

Tapi sungguh mengharukan sekali, hubungan mereka terputtus karena kecurangan seorang pemuda yang merasa iri hati dan menggunakan siasat jahat sehingga suheng dan sumoi yang saling menyinta itu pada suatu hari sampai dapat ditipu dan merasa cemburu kepada yang lain.

Pemuda curang itu tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan ia dapat bertindak demikian jauh dan membuat mereka berdua pada suatu hari mengadu Ilmu pedang di atas bukit Kam-hong-san!

Ternyata kepandaian mereka berimbang dan biarpun sudah bertempur hampir semalam penuh sampai melebihi ribuan jurus belum juga kelihatan siapa yang lebih unggul.

Kam Hong Siansu yang ketika itu masih bernanama Bun Sin Wan menggunakan Pek-Liong-pokiam dan memainkan Pek-liong-kiamsut, sedangkan Kui Giok Ciu menggunakan Ouw-liong-Pokiam dan memainkan Ouw-Liong-kiamsut.

Ilmu pedang mereka memang secabang, hanya terdapat perbedaan sifat saja karena suhu mereka memang sengaja mencipta kedua ilmu pedang itu khusus untuk murid wanita dan murid laki-laki yang dua orang itu.

Suhu mereka adalah seorang pertapa aneh yang mengasingkan diri dan hanya mereka kenal dengan sebutan Bu Beng Lojin atau Orang Tua Tak Bernama.

Orang aneh ini, mempunyai sepasang Pedang Pusaka Naga Putih dan Naga Hitam!

Dan kedua pedang itu ia berikan kepada kedua muridnya dengan pesan agar pedang itu kelak diberikan kepada murid-murid yang benar-benar bertulang bersih dan berjiwa luhur.

Agaknya memang sudah merupakan sumpah keturunan bahwa siapa saja yang memegang kedua pedang itu tentu terlibat dalam urutan asmara.

Demikianpun Kui Giok Ciu dan suheagnya.

Diam-diam hati mereka tertusuk panah asmara sehingga mereka tak berdaya lagi.

Tapi ikatan yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan ini, hancurlah oleh kecurangan pemuda she Gak yang juga seorang ahli silat tinggi dari cabang Bu-tong.

Akhirnya kedua suheng dan sumoi itu sadar juga akan kecurangan Gak Bin Tong dan mereka berdua mencarinya lalu membunuhnya.

Tapi hubungan mereka telah renggang, di sudut hati kecil mereka telah dikotori sakit hati dan kekecewaan.

Namun, agaknya mereka masih merasa berat dan saling setia sehingga mereka berdua bersumpah takkan kawin dengan orang lain dan tinggal membujang selama hidup dan hidup sebagai pertapa di atas gunung!

Bun Sin Wan bertapa di atas bukit Kam-hong-san dan memakai nama Kam Hong Siansu dan Kui Giok Ciu bertapa di atas bukit Heng-san dan disebut Kui Suthai.

Mereka berdua bertapa sambil memperdalam Ilmu pedang mereka dan mereka telah berjanji akan menurunkan kepandaian kepada seorang murid dan kemudian murid mereka akan menetapkan siapa yang lebih unggul!

Ternyata kemudian bahwa murid Kam Hong Siansu yang mewarisi Pek-Liong Kiamsut dan Pedang Pusaka Naga Putih adalah Si Han Liong, sedangkan yang mewarisi Ouw-Liong Kiamsut dan Pedang Pusaka Naga Hitam adalah Pauw Lian.

Selain Pauw Lian, pertapa wanita itu masih menerima seorang murid lagi, yakni Lie Bun Tek, seorang yatim-piatu yang hidup terlunta-lunta dan tersesat naik ke Gunung Heng-san.

Melihat anak itu bertulang baik dan patut dijadikan seorang pendekar, Kui Giok Ciu Suthai memungutnya dan mendidiknya.

Tapi karena Ilmu Pedang Naga Hitam hanya diperuntukkan seorang saja, maka ia tidak memberi pelajaran ilmu pedang kepada muridnya ini, sebaliknya menurunkan ilmu silat joan-pian yang lihai dan yang tingkatnya hanya sedikit lebih rendah daripada Ouw-Liong Kiamsut.

Demikianlah, Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek menuturkan riwayatnya, tentu saja ia tak menuturkan riwayat gurunya di atas karena ia tidak tahu akan hal itu.

Sebaliknya Pauw Lian juga diam saja dan tidak banyak menuturkan keadaan diri dan asal-usulnya, karena ia merasa malu kepada Han Liong.

Hanya kadang-kadang ia mencuri dengan kerlingan mata ke arah pemuda itu, dan dengan tajam matanya menatap Pedang Pusaka Naga Putih yang tergantung di punggung Han Liong.

Sebetulnya, siapakah nona Pauw Lian ini?

Marilah kita ikuti riwayatnya secara singkat.

Ketika Kui Giok Ciu sambil memegang Pedang Pusaka Naga Hitam berpisah dari Bun Sin Wan dengan hati patah akibat asmara gagal, ia terjun ke dalam kaiangan kang-ouw dan melakukan hal-hal yang menggemparkan.

Dengan pedang hitam di tangan, ia binasakan Lima Iblis dari Keng-liat yang terkenal jahat, Mengobrak-abrik sarang kawanan penjahat dan perampok di Bukit Heng-san yang dikepalai oleh si Raja Naga Teng Lok, pergi ke atas Kun-lun-san dan dengan ilmu pedangnya mengalahkan semua cabang atas dari cabang Kun-lun, lalu seorang diri mengambil kepala durna Tui Keng Hok yang berpengaruh besar dan terkenal jahat pemeras rakyat.

Masih banyak hal-hal luar biasa ia lakukan untuk melampiaskan sakit hati dan kekecewaannya akibat asmara gagal!

Kemudian ia memilih bukit Heng-san sebagai tempat pertapaan dan semenjak itu ia menyembunyikan diri di gunung itu.

bertapa dan memperdalam ilmu pedangnya Ouw-liong Kiamsut karena khawatir kalau-kalau kelak muridnya tak dapat melawan murid suhengnya!

Ia bertapa semenjak masih gadis remaja berusia tak lebih dari dua puluh tahun sampai menjadi seorang nenek berusia lima puluh tahun lebih.

Pada suatu hari, dengan tak disengaja Kui Giok Cin melihat bayangan sendiri di dalam telaga dan ia menjadi terkejut melihat bayangan tubuhnya merupakan seorang nenek tua yang telah putih rambutnya!

Tak terasa ia menangis tersedu-sedu dan ia terkejut pula ketika teringat bahwa ia belum mempunyai murid.

Maka pergilah ia turun gunung dengan maksud mencari murid.

Baru saja ia menuruni bukit Heng-san di dalam sebuah hutan ia melibat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun roboh di bawah pohon Siong besar dalam keadaan sakit.

Anak muda itu ternyata adalah Lie Bun Tek, seorang anak yatim piatu yang hidup sebatang kara dan terlunta-lunta.

Pada saat itu ia menderita sakit dan rebah tak berdaya dalam hutan itu.

Kui Giok Ciu Suthai merasa kasihan sekali melibat kesengsaraan anak muda itu dan ia teringat akan keadaan dan nasib sendiri.

Maka ia segera menolongnya dan memberi obat dan setelah Lie Bun Tek sembuh, ia pesankan kepada anak itu untuk menjaga tempat pertapaannya selama ia pergi.

Maka ia kembali pergi mencari murid.

Ia maklum bahwa Lie Bun Tek adalah seorang anak yang bertubuh bersih dan mempunyai dasar yang baik untuk menjadi orang gagah.

Sebenarnya takkan kecewa kalau ia mempunyai murid seperti anak itu, tapi sayang bahwa Lie Bun Tek bukanlah seorang wanita, sedangkan Ouw-liong Kiamsut harus diturunkan kepada seorang murid wanita sebagaimana yang selalu ia cita-citakan.

Selama lima tahun Kui Suthai merantau dalam usahanya mcncari seorang anak yang pantas menjadi muridnya.

Ia tidak ingat untuk pulang ke atas Gunung Heng-san sebelum berhasil mendapat seorang murid yang cocok.

Pada suatu hari ketika ia melalui sebuah hutan, ia mendengar suara orang berteriak minta tolong.

Ia mempercepat langkahnya dan menuju ke arah suara itu.

Di atas lapangan rumput ia melihat seorang laki-laki sedang berkelahi melawan empat orang yang mengeroyoknya.

Seorang yang berpakaian pelayan roboh bermandikan darah dan rupanya ialah yang berteriak-teriak minta tolong tadi.

Kepandaian orang yang dikeroyok itu cukup baik tapi menghadapi empat orang yang bersenjata golok sedangkan ia sendiri bertangan kosong, ia kelihatan sibuk juga.

Tubuhnya telah penuh dengan luka-luka, tapi ia masih bisa melawan dengan gigihnya.

Di dekat itu kelihatan sebuah kereta kecil dan seorang anak perampuan yang baru berusia kurang lebih lima tahun berseru-seru kepada ayahnya yang sedang dikeroyok.

"Ayah, pukul, ayah. Pukul mereka!"

Kedua tangannya yang kecil terkepal erat-erat dan sepasang matanya yang bening menyala-nyala.

Melihat keadaan mereka, Kui Suthai segera bertindak.

Sekali ia berkelebat dan menggunakan kedua tangan dan kakinya, tubuh keempat penjahat itu terlempar jauh dan roboh tak dapat bangun lagi!

Laki-laki yang dikeroyok itu tak tahu apa yang telah terjadi.

Ia hanya melihat bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu keempat musuhnya menjerit dan terlempar jatuh dan tidak bangun lagi.

Tadi ia tak sempat memikirkan itu semua karena kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemah.

Ia telah mengeluarkan terlampau banyak darah.

Dengan langkah lemah lunglai ia menghampiri anaknya, tapi sebelum sampai di kereta anaknya itu, ia telah roboh terguling.

"Ayah!"

Anak perempuan itu menjerit dan meloncat dari atas kereta lalu memeluk tubuh ayahnya yang penuh dengan darah.

Ternyata laki-laki itu idalah Pauw Bin Siong, seorang pedagang kecil yang baru saja ditinggal mati isterinya dan sedang menuju ke kampung halamannya dengan seorang anak dan seorang pelayan.

Ia bermaksud pindah ke kampung sendiri agar dapat bersatu dengan orang tuanya agar anaknya ada yang merawat.

Pauw Bin Siong menderita luka terlampau berat dan sejak tadi mengeluarkan banyak darah, maka Kui Suthai melihat keadaannya hanya bisa goyang-goyang kepala saja.

Tak berapa lama lagi Pauw Bin Siong yang bernasib malang itu meninggal dunia dalam pelukan anak perempuannya yang baru berusia lima tahun itu!

Anak perempuan itu bernama Lian dan semenjak saat itu ia menjadi yatim piatu dan dibawa oleh Kui Suthai keatas gunungnya.

Memang pandangan mata Kui Suthai tajam dan tepat.

Ternyata bahwa Pauw Lian adalah seorang anak perempuan yang cerdik dan pandai.

Ketika tiba di atas Gunung Heng-san, Kui Suthai girang sekali melihat bahwa Lie Bun Tek, pemuda yang dulu disuruhnya menjaga pertapaan, ternyata masih berada di situ seorang diri!

Tapi sungguh kasihan, pemuda itu menderita kesedihan ditinggal seorang diri, dan penderitaannya demikian hebat hingga tubuhnya menjadi kurus dan rambut di kepalanya telah berubah putih semua!

Melihat kesabaran dan kesetiaannya, Kui Suthai merasa sangat terharu dan ia turunkan Ilmu silet joan-pian kepada pemuda itu dan ia belajar dengan rajin.

Tapi, sebentar saja ia ketinggalan oleh sumoinya, Pauw Lian yang benar-benar cerdik dan berbakat itu.

Telah beberapa kali Kui Suihai menyuruh Lie Ban Tek turun gunung melakukan tugas menolong sesama manusia yang tertindas dan yang sengsara, hingga Lie Bun Tek menjadi terkenal dan digelari orang Heng-san koai-hiap atau Pendekar Aneh dari Heng-san.

Karena Pauw Lian masih sangat muda juga adatnya agak keras tak mau kalah.

Kui Suthai tak memperkenankan gadis itu turun gunung biarpun berkali kali Pauw Lian memohon kepada gurunya untuk sekali-kali ikut suhengnya.

Waktu berlalu cepat dan dengan tak terasa Pauw Lian telah menjadi seorang gadis berusia sembilan belas lanun.

Ia sangat cantik jelita hingga gurunya makin sayang padanya.

Melihat bahwa semua dasar ilmu silat tinggi telah dimiliki muridnya, maka ia turunkan ilmunya yang terakhir, ialah Ouw liong Kiamsut.

Ketika ia memberikan pedang Ouw-liong pokiam kepada Pauw Lian, ia menyuruh gadis itu bersumpah, Kemudian ia membetitahu kepada muridnya itu bahwa biarpun Ouw-liong Kiamsut boleh menjagoi di kalangan kang-ouw, namun masih ada tandingannya, yakni Pek-liong Kiamsut.

Dan ia ceritakan kepada muridnya akan hal suhengnya yang kini bertapa di Kam-hong-san dan bergelar Kam Hong Siansu dan bahwa suhengnya itu mempunyai sebuah Padang Pusaka Naga Putih.

Secara menyindir iapun menceritakan betapa ia sudah berjanji dengan suhengnya itu untuk menetapkan mana yang lebih unggul antara Ouw-liong Kiamsut dan Pek-liong Kiamsut.

Ia hanya pesan kepada muridnya agar berlaku sangat hati-hati jika menghadapi Pek liong Kiamsut.

Biarpun telah menjadi seorang pertapa yang menjauhkan diri dari dunia ramai, Kui Suthai mempunyai jiwa patriot dan ia tidak senang melihat kedua muridnya menjadi orang tak berguna.

Maka diperintahkannya kedua muridnya itu turun gunung dan membantu gerakan kaum pembela rakyat yang gagah perwira.

Tentu saja Pauw Lian merasa girang sekali, karena ini adalah yang pertama kalinya ia turun gunung.

Di bawah bimbingan suhengnya yang sudah berpengalaman, Pauw Lian mulai melakukan tugas mulia bersama-sama suhengnya dan banyak rakyat yang telah menerima budi mereka.

Kemudian mereka tiba di kota raja dan Lie Bun Tek mendengar akan hal istana putih.

Ia menyuruh sumoinya tinggal di rumah penginapan dan menanti di sana sedangkan ia sendiri pergi menyelidik di istana putih yang terkenal itu.

Dan dengan sangat kebetulan ia mendengar kesombongan Kek Kong Tojln yang bercerita tentang turut surat rahasia itu.

Maka ia menjadi sangat girang dan mencoba merampas surat-surat itu yang berarti membantu perjuangan kaum patriot.

Tapi tak tersangka bahwa pada saat itu muncul seorang berkedok yang mendahuluinya dan yaug ternyata adalah Tan Un Kiong, pemuda yang mengagumkan itu.

Lie Bun Tek mengakhiri ceritanya dengan berkata.

"Tak kami sangka sama sekali bahwa pemuda berkedok yang lihai itu bukan lain juga orang segolongan sendiri yang hendak membela rakyat. Biarpun di sini terdapat sedikit perbedaan di antara Si Taihiap dengan Tan Taihiap, yakni seorang memusuhi kaisar dan yang seorang tidak, namun pada dasarnya serupa yakni membela rakyat yang tertindas!"

"Menurut pendapatku, surat-surat penting itu harus diserahkan kepada Si-taihiap."

Pauw Lian tiba-tiba berkata dengan suara tetap. Semua orang memandangnya dan Han Liong memandangnya dengan heran.

"Pauw Lian cici mengapa berlaku segan-segan? Bukankah kau sudah tahu bahwa Han-ko ini murid dari supeh-mu? Jadi kau bukanlah orang luar, tetapi masih terhitung sumoi-nya. Mengapa kau sebut dia taihiap-taihiapan!"

Tegur gadis jenaka itu sambil melonjongkan mulutnya yang manis.

Bukan main sibuknya Pauw Lian ketika itu.

Seluruh mukanya yang jelita dan berkulit putih bersih itu tiba-tiba saja menjadi merah sampai ke telinganya.

Han Liong ketihen melihatnya dan diam-diam ia membelalakkan matanya kepada Hong Ing yang ketika melihat sikapnya ini lalu mencibir kepadanya!

Untuk menolong Pauw Lian yang bingung karena pukulan Hong Ing tadi, Han Liong berkata tenang.

"Pauw sumoi, adikku berkata betul. Tetapi, kau tadi berkata bahwa surat-surat itu harus diserahkan kepadaku, mengapa dan apakah alasanmu?"

Pauw Lian menghela nafai panjang dan memandang kepada pemuda itu dengan berterima kasih.

"Begini,"

Katanya kemudian.

"Si suheng telah bergabung dengan orang-orang gagah di kalangan kang-ouw untuk melakukan maksud besar dan menghancurkan pemerintah asing yang menjajah. Justeru surat-surat ini perlu sekali untuk usahanya yang suci itu. Memang Tan taihiap juga mempunyai alasan kuat untuk memiliki surat-surat itu, namun bila dipertimbangkan lagi, alasannya hanya berdasarkan kepentingan pribadi, sedangkan Si suheng mendasarkan alasannya memiliki surat itu untuk kepentingan rakyat jelata dan perjuangan suci."

Semua orang mendengar kata-kata yang lancar dan bijaksana ini dengan kagum, tetapi Un Kiong diam-diam mengerutkan keningnya, Hong Ing yang bermata tajam dapat melihat sikap pemuda "Tolol"

Itu.

"Aku tidak sependapat dengan Pauw cici!"

Tiba-tiba Hong Ing berkata dengan gagah dan tegas. Kini semua oranglah yang menatap wajahnya.

"Kita orang-orang gagah harus menempatkan keadilan di atas semua hal. Apa artinya gagah kalau tidak adil? Jangan kira hanya mementingkan keperluan diri sendiri lalu lupakan kepentingan orang lain. Saudara Tan Un Kiong telah bersusah payah merampas surat-surat ini dan tak dapat disangkal lagi dialah yang berhasil merampasnya hingga dia yang berhak memilikinya sebelum dirampas oleh orang lain."

Sampai di sini, semua orang memandangnya heran, tak terkecuali Han Liong yang berpikir apakah yang hendak ditelurkan oleh adiknya yang nakal ini?

Sementara itu, Pauw Lian yang suka berkata jujur dan berterus terang, segera bertanya.

"Eh, eh, adik Hong Ing rupa-rupanya hendak mengadu orang? Kau maksudkan bahwa kami atau seorang diantara kami harus merampas surat-surat itu dengan kekerasan dari tangan Tan-taihiap?"

Kedua mata Hong Ing yang jernih seperti mata burung Hong Itu melebar.

"Hai, jangan terburu nafsu, cici! Masakan sesama kita harus saling cakar? Maksudku dengan kata-kata sebelum dirampas oleh orang lain ialah sebelum dirampas kembali oleh pihak lawan. Aku katakan orang lain, apakah kalian semua ini termasuk orang lain? Maka jika surat-surat itu semuanya diserahkan kepada Han-ko, kurasa kurang adil terhadap saudara Tan Un Kiong. Alasannya cukup kuat. Ayahnya seorang pembesar setia dan jujur, sedangkan dia sebagai seorang putera hendak berbakti kepada ayahnya. Bukankah alasan ini cukup mulia dan kuat?"

Tiba tiba Han Liong tersenyum.

Diam-diam ia merasa sangat girang karena rupanya adiknya yang bengal ini suka kepada pemuda she Tan itu!

"Hm, baru kali ini aku mendengar kau membela orang demikian mati-matian!"

Kata-kata ini diucapkan dengan suara sungguh-sungguh, tapi pada wajah Han Liong yang cakap terbayang senyum penuh arti hingga semua orang dapat mengerti maksudnya dan tertawa sambil memandang wajah Hong Ing.

Gadis ini cukup cerdik dan ia tahu kemana maksud kata-kata kakaknya.

Wajahnya menjadi merah dan dengan muka asam ia lalu cubit lengan kakaknya dengan keras hingga Han Liong berteriak kesakitan.

Orang-orang yang melihat sikap mereka demikian mesra dan gembira sebagai kanak-kanak, diam-diam ikut merasa senang.

"Kalau tidak ada orang lain, pasti aku sudah putar telingamu. Enak saja kau menggoda orang. Awas, lain kali kalau ada kesempatan jangan katakan aku keterlaluan kalau aku membalas mempermainkan kau. Bukan maksudku untuk begitu saja menyerahkan surat-surat kepada saudara Tan Un Kiong dan melupakan tugat dan kepentinganmu, tapi usulku ialah begini. Kita periksa surat-surat itu, mana yang penting bagi keperluan saudara Tan boleh dia ambil, sedangkan yang penting bagi kau boleh kau ambil. Bukankah ini namanya adil?"

Han Liong dan yang lain mengangguk-angguk.

"Kau memang cerdik,"

Han Liong memuji. Tapi Un Kiong tak setuju.

"Memang usul ini baik dan adil sekali,"

Katanya.

"Tapi bila aku membawa surat tentang pemberontakan yang direncanakan Co Thaikam itu saja tanpa surat-surat lain yang berupa amanat kaisar, aku khawatir kaisar takkan mudah percaya begitu saja. Beliau sangat teliti dan kalau sampai aku tidak dipercaya, maka mudah bagi Co Thaikam mempengaruhi Kaisar dan sebaliknya ayahku akan mendapat celaka."

Hati Liong berkata kepada Khouw Sin Ek yang semenjak tadi hanya diam saja, mengusap-usap jenggotnya yang putih sambil sekali-kali tersenyum gembira melihat tingkah anak-anak muda itu.

"Khouw Lo-Enghiong, tolonglah memberi petunjuk kepada teecu semua. Bagaimanakah baiknya hal surat-surat itu harus diatur?"

Sio-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek berkata tenang.

"Aku orang tua sebenarnya tidak mengerti tentang urusan ini. Tapi mendengar alasan-alasan yang diajukan, memang kedua-duanya mempunyai alasan kuat. Sayang surat-surat itu tidak bisa dibagi-bagi menurut kepentingan masing-masing sebagaimana yang diusulkan oleh nona Hong Ing ini. Tapi, kurasa para kaki tangan Co Thaikam itu tentu takkan berani cepat-cepat menjalankan rencana mereka karena surat-surat telah berada di tangan orang lain. Mereka tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan merampas kembali surat-surat ini yang bagi mereka bukan hanya sangat penting, juga sangat berbabaya."

Tiba-tiba Han Liong teringat sesuatu. Ia bangun berdiri dan berkata girang.

"Bukankah besok malam Go-gwee Cap-go. Ah, sungguh aku lupa. Aku justeru bertugas mengundang orarng-orang gagah berkumpul di bukit Beng-san pada Go-gwee Cap-go. Maka, harap cuwi sudi menunda dulu soal surat-surat ini dan marilah kita menuju ke Beng-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang kami undang. Kurasa, soal surat-surat inipun dapat dibicarakan dan diputuskan di sana. Tan lauwte kuharap sukalah menunda kepentingannya barang dua hari dan ikut menghadiri pertemuan penting ini."

Tan Ui Kiong tadinya merasa ragu-ragu, tetapi tiba-tiba Hong Ing berkata girang.

"Tentu saja saudara Tan suka ikat pergi. Ketempatan untuk bertemu dengan para hohan yang berkumpul, belum tentu akan didapatkan untuk kedua kalinya selama hidup. Koko Han Liong, kau jangan tanya aku lagi mau atau tidak pergi ke sana. Pendeknya, aku ikut pergi!"

Han Liong tertawa dan dengan hormat mengundang Khouw Sin Ek, Pauw Lian serta Lie Bun Tek.

Semua setuju dan beramai-ramai mereka berangkat menuju ke gunung Beng-san, tempat kediaman Beng-san Tojin Pauw Kim Kong, seorang di antara guru-garu Han Liong, karena tempat inilah yang sudah ditentukan untuk pertemuan itu.

Memang Pauw Kim Kong Malaikat Rambut Putih pandai sekali memilih tempat kediaman.

Beng-san adalah sebuah bukit yang subur dan penuh dengan pohon-pohon hijau menyegarkan.

Juga tempat ini sangat sejuk hawanya, tidak terlalu dingin, karena tidak terlalu tinggi Sehingga matahari dapat menembuskan cahayanya diantara mega-mega tipis.

Penduduk di sekitar gunung itu semuanya hidup dari hasil pertanian, karena tanah disitu memang baik dan subur.

Ketika rombongan Han Liong tiba di situ, ternyata sebagian besar orang-orangg gagah telah berkumpul.

Han Liong merasa girang sekali karena dapat bertemu dengan semua gurunya.

Melihat bahwa Khouw Sin Ek ikut datang bersama Han Liong, semua orang merasa gembiea sekali dan mereka menyambut cianpwe ini dengan penuh penghormatan karena diantara semua yang hadir boleh dibilang Khouw Sin Ek adalah dari golongan tertua.

Yang hadir pada saat itu antara lain adalah.

Siok Houw Sianseng, Beng-san Tojin Pauw Kim Kong, Kim-to Bie Kong Hosiang.

Liok-tee Sin-mo Hong In, Siauw-lo-ong Hce Bin Kiat, dan Yu Leng In.

Dari golongan muda, selain Han Liong, Hong Ing, Ui Kiong, Pauw Lian, dan Lie Bun Tek, tampak pula Bhok Kian Eng dan Lie Kiam murid-murid Liok-tee Sin-mo, juga hadir Bie Cauw Giok murid Beng-san Tojin.

Orang-orang gagah yang diundang oleh Han Liong dan tampak hadir adalah, Lok Twie Hwesio wakil Siauw-lim, Pak Ciok Tojin seorang ahli pedang Kun-tun-pai, Khu Bu Souw ahli waris ilmu silat keturunan keluarga Khu yang terkenal lihai, Bing Hwa Suthai dari bukit Leng-san dengan muridnya Coa Li Lian yang bergelar Burung Kepinis Merah, Kok Tiang Lojin seorang gagah bergelar Pengemis Malaikat karena ia selalu berpakaian seperti seorang pengemis, dan masih banyak lagi orang-orang gagah yang ternama pada masa itu.

Diantara undangan-undangan lain tampak pola Lima Pendekar tua dari Keng-ciu yang bernama Lok Ho, Lok Thian, Lok Kim, Lok Eng, dan Lok Kiat.

Ngo-Lohiap ini terkenal dengan Ngo-heng-tin atau Barisan Lima Elemen, yakni ilmu silat yang dilakukan oleh mereka berlima dan yang jika dimainkan dapat mengimbangi kekuatan lawan yang berapapun banyaknya!

Kang-ciu Ngo-Lohiap ini mengiringkan seorang tua yang sikapnya agung dan terkenal sebagai seorang patriot sejati juga memiliki kepandaian tunggal, yakni permainan toya yang disebut Sin-coa-kun-hwat atau Ilmu Toya Ular Dewa.

Orang tua ini bernama Souw Kwan Pek dan ia adalah seorang panglima dalam barisan Gouw Sam Kwie dahulu.

Tak heran semua orang menghormatnya sebagai seorang pahlawan pembela rakyat yang gagah perkasa.

Kelima saudara Lok itu sengaja mengiringkannya karena mereka seakan-akan mewakili daerah Selatan dan Barat untuk mengangkat Souw Kwan Pek ini sebagai Bengcu atau kepala dari perserikatan pemberontak yang baru.

Ketika Han Liong mcmperkenalkan kawan-kawannya yang muda kepada semua suhunya, Pouw Kim Korg memandang Pouw Lian dengan mata terbeliak dan wajah pucat.

Han Liong tahu perobahan air muka suhunya ini, maka dengan cepat ia raba lengannya.

Pouw Kim Kong dapat mengendalikan perasaannya dan menjadi tenang kembali, tapi ketika ada saat terluang, ia memberi tanda kepada Han Liong agar mengikutinya ke ruang belakang di mana tidak terdapat tamu.

"Han Liong, tolong panggil nona Pouw Lian ke sini,"

Kata orang tua itu sambil merebahkan dirinya di atas sebnah kursi dengan tubuh lemas karena terlalu lama ia menahan tekanan perasaannya.

Han Liong memandang heran, tapi ia segera melaksanakan perintah gurunya itu.

Pauw Lian pun merasa heran juga tapi ia datang juga, diikuti oleh Hong Ing yang tak mau terpisah darinya.

Ketika tiba di kamar itu, lagi-lagi Pauw Kim Kong menatap wajah gadis jelita itu hingga Pauw Lian yang tadinya merata heran, kini memperlihatkan wajah tak senang dan ia beranggapan orang tua itu kurang sopan.

"Nona Pauw Lian, maafkan jika aku mengganggumu. Tapi, kau mengingatkan aku akan seseorang yang yang kukasihi. Kau... coba sebutkan nama ayahmu padaku,"

Kata Pauw Kim Kong. Biarpun merasa heran, namun Pauw Lian menjawab juga.

"Almarhum ayahku bernama Pauw Bin Siong."

Pauw Kim Kong menghela nafas dalam-dalam.

"Benar... benar... dunia ternyata tak sangat besar. Nona... tahukah kau siapa aku? Pauw Bin Siong yang kau sebut ayahmu itu bukan lain ialah kakakku sendiri!"

Pauw Lian terkejut dan mengangkat kepalanya memandang.

"Aku, Pauw Kim Kong, hanya mempunyai seorang saudara, tapi semenjak kau lahir, aku memisahkan diri mengejar ilmu. Dulu aku tinggal serumah dengan orang tuamu, maka aku kenal baik wajah ibumu yang serupa benar denganmu. Maka tadi ketika aku melihat kau. aku merasa seakan-akan berhadapan dengan ensoku sendiri. Aku... aku sudah mendengar tentang kematian orang tuamu dan sudah lama aku pergi mencari-carimu tak kusangka sama sekali bahwa kita akan bertemu, di tempat ini. Karena merasa terharu, Si Malaikat Rambut Putih menundukkan kepala untuk menyembunyikan mukanya yang berobah karena keharuannya itu. Sekarang Pauw Lian melibat tegas persamaan wajah almarhum ayahnya. Tanpa merasa ragu-ragu lagi ia maju berlutut di depan Pauw Kim Kong sambil memeluk kakinya, dan menangis tersedu-sedu.

"Siokhu..."

Hanya sebutan ini saja yang dapat keluar dari mulut Pauw Lian yang tersendat itu, karena parasaan terharu hatinya bertemu dengan seorang yang masih ada hubungan keluarga dengannya.

Melibat Pauw Lian menangis, Hong Ing tak dapat pula menahan hatinya lagi dan ia pun ikut terharu tanpa dapat pula dicegah.

Nanun ia masih dapat menenangkan perasaan Pauw Lian sambil memeluknya dan berkata.

"Eh, ah mengapa? Bertemu dengan seorang paman bukannya bergembira, bahkan menangis!"

Tetapi air matanya sen diri mengalir meleleh di kedua pipinya.

Maka paman dan keponakan itu segera saling menuturkan riwayat masing-masing dan Pauw Kim Kong merasa bangga sekali mendengar bahwa keponakannya ternyata menjadi murid dari Kui Giok Ciu Suthai yang namanya pernah menggegerkan kalangan kang-ouw si Malaikat Rambut Putih maklum bahwa setelah mewarisi senjata Pedang Pusaka Naga Hitam yang hebat itu, keponakannya yang jelita ini tentu mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari dia sendiri!

Diam-diam ia mengadakan perbandingan antara Pauw Lian dengan Han Liong dan hatinya merasa senang sekali.

Pada malam Go-gwee Cap-go, saat pertemuan yang telah ditetapkan, di puncak Gunung Beng-san itu berkumpul kaum persilatan hingga lebih dari lima puluh orang, Siok Houw Sianseng mendapat kehormatan untuk memimpin rapat pertemuan itu.

Di tengah-tengah pekarangan yang luas itu didirikan sebuah panggung dan Siok Houw Sianseng mengadakan sembahyang untuk menghormati arwah para pahlawan bangsa yang telah gugur.

Di tengah-tengah panggung, sebagai pahlawan terbesar, dituliskan nama Si Cin Hal, yakni Eighiong yang telah banyak dikenal.

Semua orang ikut bersembahyang.

Kemudian Siok Houw Sienseng berdiri di atas panggung dan menjura kepada semua orang.

"Cuwi sekalian yang mulia. Kiranya cuwi telah cukup mengerti maksud diadakannya pertemuan ini, pertama untuk bersembahyang dan menghormati para pahlawan yang telah gugur. Kedua untuk dapat saling kenal-mengenal satu sama lain dan mempererat hubungan. Ketiga tak lain ialah untuk memilih seorang Bengcu, karena setiap pergerakan harus ada seorang pemimpinnya agar segala sesuatu dapat dilakukan secara teratur, tidak kacau-balau. Karena kita semua telah bersembahyang, maka baiklah kita bersama kini mulai dengan pemilihan seorang bengco. Pemilihan diatur begini. Tiap rombongan yang terdiri sedikitnya sepuluh orang yang berkumpul di sini boleh mengajukan seorang wakil. Nanti diantara wakil-wakil atau calon-calon ini dipilih seorang yang menurut pendapat suara terbanyak lebih cocok. Nah, silakan cuwi mulai mengajukan calon."

Maka ramailah orang-orang bicara hingga suara mereka seakan-akan bunyi lebah yang baru saja diusir dari sarangnya.

Dengan sendirinya mereka terpecah menjadi beberapa rombongan.

Setelah masing-masing rombongan menyampaikan nama calon, maki para calon adalah.

Pertama calon yang diajukan oleh rombongan dari dua puluh lima orang, yakni Sin-coa-kun-hwat Souw Kwan Pek.

Ketika namanya diumumkan, maka terdengar tempik-sorak gemuruh, menyatakan betapa orang tua ini telah terkenal dan banyak, disukai orang.

Calon kedua yang diajukan oleh rombongan Han Liong dan kawan-kawannya adalah Sin-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek, yang juga mendapat sambutan meriah karena di kalangan kang-ouw, siapakah yang belum mendengar nama jago tua ini?

Calon ketiga adalah hasil daripada kenakalan Hong Ing.

Gadis yang tak mau diam ini dengan cepat dan diam-diam telah membujuk semua wanita gagah yang berada di situ untuk memilih Pauw Lian.

Bahkan, Yo Leng In sendiri sampai kena terbujuk oleh Hong Ing yang secara berlebih-lebihan menceritakan kepandaian dan kebaikan Pauw Lian.

Ketika Paum Lian yang merasa heran disambut oleh tampik-sorak para hadirin yang gegap gempita.

Hong Ing tersenyum puas dan Pauw Lian agaknya tahu setidaknya dapat menduga siapakah yang menjadi biang keladi pencalonan atas namanya ini, karena terlihat betapa Pauw Lian memandang ke arah Hong Ing dengan mata melotot.

Calon keempat adalah Si Han Liong sendiri yang dicalonkan oleh keempat gurunya dan orang-orang yang telah mengenal dan mongetahui akan sepak terjang dan kelihaiannya.

Bahkan Khouw Sin Ek sendiripun memilih dia sebagai calon utama!.

Siok Houw Sianseng berdiri dan dengan kedua tangannya memberi isyarat kepada semua orang supaya tenang.

"Cuwi, ternyata bahwa calon yang diajukan hanya empat orang. Maka sebelum dilakukan pemilihan di antara keempat calon ini kami persilakan para calon naik di panggung ini untuk memberi sambutan. Dipersilakan calon pertama!"

Sin-coa-kun Souw Kwan Pek dengan kebutan lengan bajunya membuat tubuhnya melayang tiba diatas panggung hingga mendapat sambutan meriah dari mereka-mereka yang merasa kagum melihat gerakan indah ini.

Si Toya Ular Dewa ini telah berusia enam puluh lebih tapi tubuhnya masih nampak kuat dan wajahnya membayangkan semangat yang besar.

Dari kedua matanya bersinar cahaya kegembiraan, tanda ia berkeyakinan teguh dan berkemauan keras.

Ia menjura dengan hormat sekali kepada Siok Houw Sianseng dan kepada para hadirin!

"Cuwi yarg terhormat.

Terus terang memang saya selalu bersedia membantu perjuangan ini dan meruntuhkan kerajaan penjajah serta membangun lagi pemerintahan Han.

Untuk perjuangan ini, jiwaku yang sudah terlalu lama tinggal di tubuh tua ini saya sediakan, tapi sesungguhnya, karena di sini terdapat beberapa orang calon, lebih-lebih ketika mendengar nama Sin-chiu Tai-hiap, maka saya harus menyatakan bahwa Khouw Tai-hiap yang memang pantas dan tepat sekali untuk menjadi Bengcu kita.

Baik dipandang dari usia, maupun dari pengalaman, jangan kata tantang kepandaiannya yang tiada bandingnya di masa ini, dan kepandaian saya belum seberapa jika dibandingkan dengan Khouw Tai-hiap.

(Lanjut ke

Jilid 08) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 Tentu saja hasil pemilihan tergantung daripada cuwi sekalian, namun saya akan merasa bangga dan gembira jika kiranya Khouw Tai-hiap yang membimbing kita sekalian."

Baru saja habis bicara, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Khouw Sin Ek telah berdiri di situ dengan tersenyum dan menjura di dipan Souw Kwa Pek.

"Saudara Souw terlalu segan-segan!"

Katanya sambil tersenyum.

"Mungkin dalam hal usia dan pengalaman aku menang darimu, tentang kepandaian, siapakah yang dapat dikatakan unggul dan siapa yang rendah? Masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri dan masing-masing mempunyai kerendahan sendiri. Tapi, andaikata kedua lengan tanganku lebih keras, maka aku bukanlah calon Bengcu yang baik. Ketahuilah, saudara sekalian, aku sebagai orang tua paling suka berterus terang. Di dalam hati,, aku tidak merasa benci atau dendam kepada kaisar, biarpun aku benci sekali melihat perbuatan kaki tangannya. Kuanggap kaisar hanya seorang yang lemah dan terpengaruh oleh anasir-anasir jahat. Apakah kaisar yang berbuat jahat dan memeras rakayt? Belum tentu. Aku lebih percaya jika dianggap bahwa para pembesar lalailah yang memeras rakyat. Biarpun kaisar diganti seribu kali, namun bila semua pembesar tidak jujur, tetap saja rakyat akan tertindas! Maka, aku tidak tepat menjadi Bengcu. Aku sudah bosan berkelahi, sudah bosan dengan urusan dunia yang serba penuh dosa ini. Aku ingin beristirahat, menanti hari saat terakhir hidupku dengan aman dan tenteram. Aku hanya bisa membantu bilamana perlu saja, tapi untuk menjadi pemimpin, ini aku tak sanggup. Tapi, cuwi yang terhormat. Ada seorang calon yang memang tepat sekali menjadi pemimpin para orang gagah. Tentang usia muda itu bukan menjadi soal, yang perlu sepak terjangnya. Soal kepandaian, barangkali ia masih lebih tinggi dari aku sendiri atau dari calon-calon yang lain. Aku tetap usulkan, calon keempat untuk menjadi Bengcu."

Orang-orang tidak melihat betapa gadis jelita berpakaian hitam itu sampai ke atas panggung, karena tahu-tahu Pauw Lian telah berada di situ dan memberi hormat.

"Aku yang muda dan bodoh sebenarnya merasa malu sekali sampai dicalonkan. Mungkin cuwi bermain-main dengan aku, karena ibarat burung, sayapku belum lagi tumbuh. Maka, setelah mendengar saran-saran Khow lo-Enghiong tadi, aku setuju untuk memilih calon keempat menjadi Bengcu!"

Sementara itu, Han Liong merasa serba susah.

Betapapun juga, ia masih merasa keberatan untuk menerima tugas yang bukan ringan itu, namun disamping keraguannya, ada juga rasa pertanggungan jawab untuk melanjutkan cita-cita almarhum ayahnya.

Maka setelah Pauw Lian selesai bicara, dengan tenang Han Liong melompat keatas panggung.

Semua orang yang belum mengenalnya merasa heran mengapa Khouw Locianpwe memilih calon yang masih sangat muda dan kelihatan lemah itu!

Juga Souw Kwan Pek merasa tak puas karena dengan memuji-muji anak muda ini berarti Khow Sin Ek sangat merendahkan kalangan tua.

Berapakah tingginya ilmu seorang pemuda seperti ini?

Sementara itu Han Liong memberi hormat kepada Khouw Sin Ek dan berkata.

"Khouw Locianpwe terlalu memuji aku yang muda dan bodoh ini. Sungguh aku sengat malu menerimanya."

Kemudian ia menghadapi semua tamu dan berkata dengan sungguh-sungguh "Cuwi Enghiong.

Biarpun pemilihan Bengcu ini sangat perlu dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar jangan salah pilih, namun menurut pendaratku yang sempit, jika dipikir-pikir dengan masak hasil atau tidaknya sebuah perjuangan bukanlah bergantung semata-mata kepada seorang pemimpin.

Apakah artinya pemimpin pandai bila para anggutanya tidak berjuang dengan penuh semangat?

Maka, menurut pendapatku, seorang pemimpin haruslah seorang yang disegani dan yang cukup pengalaman.

Bagiku yang muda dan bodoh, dipilih atau tidak, tetap aku sediakan jiwa raga untuk mengabdi kepada rakyat."

Ucapannya ini mendapat sambutan hangat. Siok Houw Sianseng berdiri dan berkata kepada orang banyak.

"Nah, kini keempat calon telah berdiri disini dan telah pula memberikan sambutannya. Maka, kini terserah kepada cuwi untuk memilih seorang di antara mereka."

Khouw Sin Ek berdiri dan suaranya tiba-tiba terdengar lantang dan nyaring hingga orang banyak terkejut.

"Cuwi dengarlah. Lohu tak mau ribut-ribut tentang pemilihan ini, tapi hendaknya diketahui bahwa calon keempat bukan lain adalah putera tunggal dari almarhum Si Enghiong."

Mendengar pengumuman ini, maka ramailah suara orang menyambut dengan tempik sorak. Di sana-sini terdengar.

"Pilih nomor empat!". Bahkan yang telah kenal dan tahu keadaan Han Liong berteriak.

"Pilih Pek-liong-Pokiam sebagai Bengcu!"

Karena terkenalnya pedang dan kiamsut Han Liong, maka banyak orang memberi dia gelaran Pek-liong-Pokiam si Pedang Pusaka Naga Putih!

Tak lama kemudian, hampir semua tamu menyatakan setujunya memilih Han Liong sebagai Bengcu.

Tapi diantara mereka ada juga yang merasa merasa kurang puas di antaranya ialah Keng-cu Ngo-Lohiap dan Souw Kwan Pek.

Mereka ini menganggap bahwa orang-orang telah berlaku ceroboh memilih seorang yang masih begitu muda untuk menjadi seorang Bengcu dan menjabat kedudukan demikian penting dan sukar.

Siok Houw Sianseng berdiri dan memberi tanda lagi supaya orang menjadi tenang.

"Cuwi, setelah mendengar suara terbanyak, maka saya pada saat ini tebagai pemimpin pertemuan ini mengumumkan bahwa Bengcu kita yang terpilih ialah Si Han Liong taihiap"

Terdengar tempuk sorak menggema dan Siok Houw Sianseng menjura kepada Han Liong sambil berkata.

"Si Bengcu, terimalah ucapan selamat dan hormatku."

Dengan gugup Han Liong balas pemberian selamat itu.

Tiba-tiba terasa angin bertiup ke arah panggung dan kelima kakek gagah dari Keng-cu telah berdiri di atats panggung.

Lok Ho yang tertua, dengan senyum di mulut menjura kepada Han Liong sambil berkata.

"Kami datang dari tempat jauh dan mewakili ribuan orang di kalangan kang-ouw untuk memilih seorang Bengcu. Kini Si Enghiong terpilih, maka sudah sepatutnya kami bergembira ria karenanya dan memberi selamat. Tapi sebelum memberi selamat kepada sicu, terpaksa kami lebih dulu harus menyampaikan janji kami kepada kawan-kawan semua."

Dari ucapan ini Han Liong dapat menangkap maksudnya yang hendak mencari-cari perkara, maka dengan sabar sekali ia bertanya.

"Memang sudah sepantasnya begitu, lo-Enghiong tapi apakah janji itu?"

"Kami telah berjanji untuk mengangkat seorang Bengcu yang dapat melayani Ngo-heng-tin kami selama seratus jurus tanpa terkalahkan!"

Han Liong terkejut mendengar ini.

Ia pernah mendengar tentang kelihatan Ngo-heng-tin ini yang demikian kuat hingga berani menghadapi lawan sebanyak seratus orang apalagi menghadapi dia yang hanya seorang diri!

Biarpun ia tak merasa takut, tapi ia dapat membayangkan bahwa bila tidak menggunakan tangan besi dan membuka jalan darah, agaknya sukar baginya untuk mendapat kemenangan.

Tiba-tiba terdengar Khouw Sm Ek tertawa.

"Hm, Ngo-Lohiap agaknya belum percaya kepada Si Bengcu. Apakah aturan yang ditetapkan itu mengenai juga semua orang? Karena tadi lo-hiap memilih saudara Souw Kwan Pek, tentu saudara Souw sudah pernah pula diuji dalam Ngo-heng-tin kalian."

Biarpun kurang senang mendengar kata-kata yang mengandung sindiran tepat ini, namun Lok Ho tak berani menyatakan kurang senangnya terhadap Sin-chiu Tai-hiap. Ia hanya menjura dan menjawab.

"Janji kami ini hanya berlaku untuk calon yang bukan berasal dari daerah kami dan yang belum kami ketahui benar ilmu kepandaiannya. Mohon Khouw cianpwe jangan salah mengerti. Sesungguhnya syarat yang kami janjikan ini hanya untuk menjamin bahwa Bengcu yang hendak kita ikuti jejak dan petunjuknya benar-benar seorang yang patut dipercayai penuh hingga setelah mengujinya, kami lima orang tua dapat bertanggung jawab terhadap kawan-kawan semua yang tidak ikut datang menyaksikan pemilihan ini. Kalau Souw cianpwe, kami dari daerah Barat telah kenal semua dan tahu sampai di mana kemampuannya, maka perlu apa dicoba lagi?"

Mendengar alasan-alasan yang kuat ini, Khouw Sin Ek terpaksa mengangguk-angguk membenarkan.

Memang ia seorang yang jujur, maka ia menghargai sikap Ngo-Lohiap yang terus terang itu.

Ia berpaling kepada Han Liong dan berkata.

"Agaknya kau terpaksa harus melayani lima orang tua gagah ini, Si Bengcu!"

Han Liong buru-buru memberi hormat kepada Ngo-Lohiap.

"Siauwte yang muda dan bodoh ini mana berani berlaku kurang sopan dan mencoba-coba Ngo-heng-tin yang lihai! Harap Ngo-Lohiap jangan membikin sieuwte menjadi buah tertawaan, semua orang gagah."

Mendengar kata-kata yang sangat merendah dan seakan-akan menunjukkan rasa jerih dan takut terhadap Ngo-heng-tin mereka yang terkenal itu, Lok Thian, kakek kedua, merasa bangga dan timbul jaga rasa kasihan terhadap Han Liong yang dianggap pemuda cakap dan sopan.

Maka ia segera berkata.

"Si Enghiong, mondengar bahwa kau adalah putera almaihum Si lo-Enghiong saja, aku sudah merasa suka kepadamu. Tapi karena kami tak dapat melanggar janji terhadap semua kawan dan syarat inin hanya sebagai coba-coba saja, maka kami persilakan kau memilih seorang kawan hingga kau berdua boleh maju melayani Ngo-heng-tin kami secara main.main."

Lok Ho mendengar kata-kata adiknya ini hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan dalam. hatinya berkata, apa bedanya satu atau dua orang?. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, maka cepat ia berkata.

"Memang boleh mencari seorang kawan pembantu, tapi jangan Khoaw cianpwe!"

Melihat kecerdikan dan kebulusan akalnya, Khouw Sin Ek tertawa terbahak-bahak sambil mengurut-urut misainya.

"Aku sudah tua,. tidak seperti kalian anak anak kecil, masih suka main-main. Ayoh mulailah, aku sudah ingin sekali menonton pertunjukan bagus ini!"

Han Liong yang masih dalam keadaan bingung memandang ke kanan dan ke kiri mencari kawan.

Maunya memandang ke arah Hong Ing yang berdiri dengan kening berkerut seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

Tadinya Han Liong hendak minta Ui Kiong untuk membantunya karena ia maklum akan kelihaian anak muda itu, tapi tibi-tiba Hong Ing meloncat ke atas panggung.

Han.

Liong terkejut dan khawatir kalau-kalau Hong Ing menawarkan diri, karena hal itu malah akan memberatkannya saja, mengingat akan kepandaian gadis yang belum seberapa tinggi itu.

Tapi Hong Ing tidak memperdulikan sikap Han Liong, langsung ia pegang lengan Pauw Lian yang masih duduk disitu dan menariknya lalu berkata kepada Ngo-Lohiap.

"Teecu usulkan supaya Pauw Lian cici saja yang mengawani Han-ko menghadapi Ngo-heng-tin. Karena, selain Pauw Lian cici ilmu pedangnya lihai, jaga untuk memberi muka terang kepada Ngo-losuhu. Kalau menyuruh sembarang orang saja memasuki barisan hebat itu, bukanlah berarti memandang rendah Ngo-heng-tin dan menghina Ngo-losuhu?"

Kembali terdengar Khouw Sin Ek tertawa gembira.

"Bagus, bagus! Pilihanmu tepat sekali, nona. Kau memang cerdik. Nah. Pauw Lihiap harap jangan menolak."

Terpaksa Han Liong menjura kepada Pauw Lian dan berkata denjan wajah merah.

"Pauw sumoi, sudikah kau membantu aku?"

Pauw Lian hanya tersenyum dan mengangguk.

Kedua anak muda itu, yang peompuan berpakaian hitam yang laki-laki berpakaian putih, berdiri menghadapi Lok Ho berlima dengan tenang.

Karena panggung itu cukup kuat dan lebar, semua orang yang tidak hendak memperlihatkan kepandaiannya lalu turun, yang tertinggal hanya Ngo-Lohiap dan kedua orang muda itu.

Keng-ciu Ngo-Lohiap masing-masing mencabut keluar sebilah pedang dan berdiri memasang kuda-kuda merupakan segi empat dan seorang berdiri di tengah-tengah.

Empat orang menghadap ke empat penjuru dengan pedang melintag di dada.

Pedang masing-masing juga terukir dengan huruf-huruf yang menjadi lambang lima anasir, yakni Kim, Bok, Swie, Ho dan Tho atao Logam, Kayu, Air, Api, dan Tanah.

Pemegang pedang Kim-kiam adalah ahli silat yang menggunakan tenaga gwa-kang atau tenaga keras yang mempunyai kekuatan luar biasa.

Pemegang pedang Bok-kiam sebaliknya ahli tenaga lemas atau tenaga dalam yang tangguh.

Pemegang pedang Swie-kiam mempunyai daya tahan atau daya bela yang kuat sekali, tetapi sewaktu-waktu dapat bersatu dengan pemegang pedang Ho-kiam dan merupakan penyerang-penyerang yang tangguh dan kuat.

Pemegang pedang Tho-kiam melakukan penjagaan dan melindungi keempat kawannya.

Demikianlah, kelima kakek gagah dari Keng-ciu itu mempunyai kepandaian-kepandaian khusus yang semuanya bertingkat tinggi dan yang telah menjalani latihan-latihan yang tekun dan teratur.

Maka tak heran bila Ngo-heng-tin mereka merupakan barisan yang amat tangguh dan berbahaya!

Melihat kedudukan Ngo-Lohiap demikian kuatnya, Han Liong memberi tanda kepada Pauw Lian dan dengan gerakan indah keduanya mencabut pedang masing-masing.

Tampak dua cahaya hitam dan putih bersinar menyilaukan mata ketika Ouw-Liong Pokiam dan Pek-liong Pokiam bergerak dalam tangan sepasang teruna remaja itu!

Bergetar juga hati kelima kakek gagah melihat pedang pusaka yang hebat itu.

Khouw Sin Ek duduk mencari tempat yang enak dan ia sap menonton pertunjukan hebat itu.

Sedangkan entah disengaja atau tidak, Hong Ing tampak berdiri dekat dengan Ui Kiong di belakang Khouw Sin Ek!

Sementara itu, Pauw Kim Kong juga bersama semua kawannya melihat dengan gembira, walaupun dengan hati agak tegang.

"Sumoi. aku memainkan Im dan kau memainkan Yang."

Han Liong berbisik kepada Pauw Lian yang mengangguk mengerti.

Memang permainan kedua anak muda itu, baik Ouw-liong Kiamsut maupun Pek-liong Kiamsut, sebenarnya berdasarkan jalan Pat-kwa dan dapat bergerak ke delapan penjuru, dan gerakan-gerakan mereka berdasarkan dua sifat yakni Im dan Yang (positive dan negative).

Gerakan-gerakan Im lebih bersifat menyerang dan agressive sedangkan gerakan-gerakan Yang bersifat membela diri.

"Ngo-lotaihiap silakan bergerak lebih dulu,"

Kata Han Liong mempersilakan.

"Tidak, sicu. Kami merupakan barisan, kalianlah yang harus memulai. Kami akan mencoba menahan seranganmu dalam seratus jurus!"

Kata-kata ini untuk mengalah dan merendah tapi mengandung tantangan dan diucapkan oleh Lok Ho dengan senyum seorang guru memandang muridnya.

"Kalau begitu, maaf siauwte mulai menyerang!"

Han Liong menutup kata-katanya dengan serangan pedangnya kearah Lok Thian yang menjaga di selatan dan memegang pedang Tho-kiam karena Han Liong ingin tahu sampai di mana ketangguhan bagian penjaga barisan itu.

Serangannya ini sekali gerak telah ditangkis oleh Lok Ho dan Lok Thian, yakni pemegang Tho-kiam dan Swi-kiam, sedangkan pada saat itu juga tiga pedang yang lain meluncur ketiga bagian tubuhnya!

Tapi Pauw Lian tahu akan tugasnya sebagai pemain bagian pembela.

Ouw-liong kiam bergerak cepat dan dapat menangkis ketiga serangan itu.

Han Liong yang percaya penuh akan ketangguhan penjagaan Pauw Lian, Seakan-akan tak perduli sama sekali akan serangan itu dan ia terus gerakkan pedangnya menyerang Lok Ho dan Lok Thian.

Tiap gerakan pedang ia sertai dengan tenaga dalam yang hebat sekali sehingga kakek pertama dan kedua yang menahannya merasa betapa pedang pusaka mereka hampir terpental tiap kali beradu dengan Pek-liong Pokiam!

Maka mengertilah mereka bahwa anak muda ini banar-benar tak boleh dibuat gegabah.

Sebaliknya, Lok Kim, Lok Eng, dan Lok Kiat yang bertugas menyerang, ternyata menghadapi Pauw Lian mereka seakan-akan menghadapi dinding baja yang tak mungkin ditembus!

Melihat siasat Han Liong yang mempergunakan gerakan Im dan Yang hingga kedua anak muda itu terbagi dua bagian pula, yakni menyerang dan membela, Lok Tho maklum bahwa jika demikian terus, fihaknya akan mendapat rugi.

Maka ia berseru keras.

"Putar!"

Barisannya segera merobah gerakan.

Mereka lari berputar disekeliling Han Liong dan Pauw Lian yang terkepung ditengah!

Mereka bergerak bergantian, sekali tusuk terus lari, digantikan orang kedua yang menyerang atau menangkis.

Dengan gerakan ini, maka kelima orang itu tidak mempunyai tugas tertentu, mereka merupakan lima buah kitiran yang bergerak bersamaan dan saling bantu membantu.

Tenta saja perobahan yang tiba.tiba ini membuat Han Liong dan Pauw Lian terpaksa ikut berputar di dalam kepungan itu!

Dalam hal ini kedua teruna remaja itu rugi, karena lapangan berputar mereka sangat sempit hingga kcscmpatan menyerang lebih kecil.

Mereka berdua harus berlaku waspada, karena serangan-serangan kelima pedang itu sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Semua serangan dilakukan oleh tangan seorang ahli pedang dan tak sebuahpun yaag tidak berbahava.

Bahkan lama-kelamaan kelima kakek gagah itu menggunakan tipu-tipu cabang Thai-san dan semua tusukan diarahkan kepada urat-urat kematian!

Hal ini membuat Han Liong gemas sekali.

Tadi ia berlaku malu dan kebanyakan hanya menangkis saja, kalaupub menyerang maka serangan itu ia jaga jangan sampai terlanjur dia melukai seorang dari pada Ngo-Lohiap itu.

Demikianpun Pauw Lian yang mengerti keadaan dan maksud Han Liong.

Sementara itu, selain Khouw Sin Ek, Tan Ui Kong, Lie Bun Tek, dan keempat guru Han Liong, semua orang yang menonton pertandingan itu merasa kepalanya pening dan matanya kabur.

Begitu cepat gerakan kelima kakek itu hingga mereka seakan-akan bukan berlima, tapi lebih dari sepuluh orang!

Tiba-tiba terdengar Sin-coa-kun-hwat Souw Kwan Pek memuji.

"Bagus!"

Suaranya terdengar gembira karena ketika itu Han Liong dan Pauw Lian tampak terkurung dan terdesak.

Kepungan Ngo-heng-tin makin menyempit dan serangan makin bertubi-tubi datangnya!

Orang tua she Souw ini yang sudah kenal akan kelihaian Ngo-heng-tin maklum bahwa sebentar lagi kedua anak muda itu pasti dapat dikalahkannya.

Sebaliknya Khouw Sin Ek mengerutkan keningnya, tapi sebagai seorang dari golongan tua ia tidak mau ikut bicara atau memberi petunjuk.

Para cianpwe lain yang berada disitu, ahli-ahli silat ternama tingkatan atas seperti Lok Twie Hwesio dari Siauw-lim-pai, Pek Ciok Tojin dari Kun.lun-pai, Khu Bu Houw, dan yang lain-lain merasa kagum dan diam-diam mereka mengeluh bahwa mereka telah terlalu tua dan telah ketinggalan oleh anak-anak muda, karena dalam hal kepandaian ilmu pedang, diam-diam mereka akui bahwa Han Liong dan Pauw Lian berada di tingkat lebih tinggi dari mereka, bahkan permainan pedang seperti yang mereka itu selama hidup baru kali ini mereka lihat!

Tan Un Kiong yang dapat melihat pula betapa Han Liong berlaku segan-segan sedangkan kelima lawannya menggunakan seluruh kepandaiannya, juga merasa kurang senang, maka tanpa terasa ia berseru keras.

"Saudara Han Liong dan Pauw Lian cici, buat apa berlaku segan-segan lagi, sedangkan orang berlaku sungguh sungguh, mengapa kalian masih main-main?"

Teriakan ini membakar semangat Pauw Lian yang wataknya tidak sesabar Han Liong, maka sambil berseru kepada Han Liong.

"Balas!"

Ia memutar pedangnya dan memainkan jurus-jurus Ouw-liong-kiamsut yang hebat. Han Liong berkata keras.

"Maaf, Ngo-lotaihiap!"

Dan pedangaya pun bergerak cepat sekali mengimbangi gerakan Pauw Lian.

Ia memainkan tipu-tipu permainan Pek-liong Kiamsut yang luar biasa.

Dengan adanya perobahan ini, tubuh Han Liong dan Pauw Lian lenyap dari pandangan mata karena cepatnya mereka bergerak dan karena hebatnya sinar pedang mereka.

Yang tampak, kini hanya dua sinar hitam dan putih berkelebat ke sana ke mari dan makin lama makin cepat hingga merupakan cahaya memanjang seperti dua ekor naga sakti hitam dan putih bermain-main diantara gundukan awan-awan putih, yakni cahaya pedang kelima kakek gagah itu!

Tanpa terasa, dari mulut Un Kiong dan lain-lain orang tergolong kaum cianpwe keluar seruan kagum.

"Bagus"

Berkali-kali karena memang permainan itu indah ditonton.

Bahkan Khouw Sin Ek karena kagumnya sampai berdiri dari tempat duduknya tanpa terasa lagi.

Sepasang matanya bersinar-sinar gembira, tangan kiri menolak pinggang, tangan kanan tiada hentinya mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang.

Dua cahaya hitam dan putih itu makin besar dan makin panjang, sedangkan kelima kakek gagah itu makin lambat gerakan perputarannya.

Akhirnya mereka tidak lari lagi, tetapi hanya berdiri dengan pedang di tangan dan hanya kuasa menjaga diri dari lembaran cahaya hitam dan putih itu!

Ternyata setelah Han Liong dan Pauw Lian bermain sungguh-sungguh dan balas menyerang, dengan mudah saja mereka membikin Ngo-heng-tin yaag terkenal kuat itu menjadi kucar-kacir!

Kalau mereka mau, mudah saja mereka merobohkan lawan-lawan itu, tetapi keduanya cukup bijaksana dan tahu mana kawan mana lawan!

Dan dalam pertempuran inilah terasa oleh keduanya, baik Han Liong maupun Pauw Lian, bahwa kedua Ilmu pedang mereka sesungguhnya merupakan Ilmu pedang pasangan yang jika dimainkan bersama-sama dan saling bantu-membantu, merupakan Ilmu pedang yang kuat dan cocok sekali.

Mereka dapat saling membantu dengan demikian tepat hingga seakan-akan mereka hanya mempunyai satu pikiran dan satu perasaan!

Diam-diam mereka merasa girang sekali.

Sementara itu, jurus-jurus telah dilewati lebih dari seratus lima puluh jurus, sedangkan kelima kakek she Lok itu telah mandi keringat karena setiap serangan kedua anak muda itu disertai tenaga dalam yang hebat sehingga untuk menangkisnya meskipun harus mengerahkan tenaga dalam yang membuat mereka lelah sekali.

Tapi untuk menghentikan kedua anak muda itu, mereka merasa malu.

"Sudah cukup seratus jurus!"

Tiba-tiba Khouw Sin Ek memperdengarkan suaranya yang nyaring.

Han Liong dan Pauw Lian menahan gerakannya dan kedua bahaya itupun lenyap.

Mereka berdua berdiri saling pandang penuh arti, kemudian bersama-sama menjura dihadapan kelima Ngo-Lohiap sambil berkata.

"Terima kasih atas kemurahan dan pengunjukan Ngo-Lohiap."

Lok Ho kakek yang tertua menggunakan lengan bajunya menghapus peluh di dahinya. Ia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.

"Sungguh kami tak tahu diri. Jangankan kalian berdua, seorang diripun kami lima orang kakek loyo bukanlah tandinganmu. Selamat, Si Bengcu, tidak hanya kami suka sekali mengaku kau sebagai Bengcu, bahkan aku sendiri mau mengaku bahwa untuk zaman ini, Ilmu pedangmu boleh dikatakan yang paling tertinggi tingkatnya. Sungguh arwah Si lo-Enghiong boleh merasa bangga karena beliau mempunyai seorang putera seperti kau!"

Inilah pujian yang tinggi sekali hingga Khouw Sin Ek diam-diam merasa girang akan kejujuran Lok Ho.

Namun, Souw Kwan Pek si Toya Ular Dewa tetap merasa penasaran.

Kalau diadakan perbandingan, ia mempunyai ilmu sitat jauh lebih tinggi daripada para kakek she Lok itu, biarpun harus ia akui bahwa belum tentu ia sanggup pukul pecah Ngo-heng-tin yang lihai.

Selain ilmu toyanya yang sangat hebat.

kakek ini mempunyai tenaga lweekang yang terlatih puluhan tahun lamanya hingga ia dapat menggunakan kepalan tangannya untuk memukul ke arah air dalam sumur dan membikin angin pukulannya itu menggerakkan air sampai melonjak ke atas.

Maka, kini melihat Han Liong yang masih begitu muda tapi sudah begitu tinggi ilmu silatnya, ia merasa belum puas dan ingin mencobanya dengan tangan sendiri!

Dengan cepat Souw Kwan Pek melompat ke atas panggung dan ia menjura kepada Pauw Lian dan berkata.

"Sungguh lihai ilmu pedangmu Lihiap, aku yang tua merasa tunduk sekali!". Berbareng dengan ucapan ini, ia mengerahkan tenaga dalamnya dan dengan tak kentara kedua tangannya terangkat dan dari situ menyambar angin pukulan ke arah rambut kepala Pauw Lian yang terbungkus sutera hijau. Maksud Souw Kwan Pek hanya akan membuat ikat rambut itu terpukul dan terlepas. Tapi Pauw Lian telah waspada, karena tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan ia lenyap dari depan Souw Kwan Pek! Selagi kakek itu terkejut dan heran, terdengar suara halus nona Pauw Lian di belakangnya.

"Souw Lo Enghiong, aku yang muda tak berani menerima penghormatan demikian besar."

Souw Kwan Pek cepat memutar tubuhnya.

Ia terheran-heran menyaksikan ginkang atau ilmu ringankan tubuh yang demikian luar biasa.

Ternyata gadis cerdik itu telah melawan kekuatan tenaga dalamnya dengan kecepatan gerakannya.

"Hh, maaf, maaf...!"

Katanya dan ia merasa mukanya merah ketika terdengar suara Khouw Sin Ek tertawa bergumam. Karena masih penasaran juga, ia menghampiri Han Liong. Sambil berkata.

"Si Bengcu, kau begini muda, tetapi begini gagah, sungguh membikin aku orang tua iri sekali."

Ia menggunakan tangan kirinya menekan pundak Han Liong dengan maksud menggunakan tenaganya untuk memaksa anak muda itu membungkuk sedikit. Tetapi Han Liong yang sudah tahu bahwa ia sedang di "ukur"

Segera menggunakan kepandaiannya "sia-kut-hwat"

Yang ia dapat dari Pauw Kim Kong dan sekalian menggunakan tenaga dalamnya yang terlatih ketika ia berada di Kam-hong-san.

Tetapi ia diam-diam terkejut karena biarpun tenaga pertahanannya cukup kuat, masih saja ia merasa seakan-akan pundaknya tertekan oleh tenaga ribuan kati dan kulitnya terasa panas dan perih!

Sebenarnya, dalam hal tenaga dalam, Han Liong masih kalah setingkat oleh Souw Kwan Pek, tetapi tubuh Han Liong semenjak kecil telah dilatih hebat, lagi pula di dalam tubuhnya telah mengalir obat mukjizat yakni racun ular hitam dan putih, maka ia masih dapat menahannya dan kulitnya tak menderita luka serta tulangnya tidak menderita pukulan.

Sebaliknya, Souw Kwan Pek merasa kagum ketika jari-jari tangannya menyentuh kulit yang licin bagaikan belut itu, tetapi keras melebihi baja, sedangkan di balik kulit pundak itu lunak dan halus sehingga sebagian besar tenaga tekanannya punah!

Biarpun kejadian ini hanya berjalan beberapa detik saja, namun buku-buku jarinya terdengar berkeratakan sehingga ia terkejut sekali dan buru-buru mengangkat tangannya lalu menjura.

"Si Bengcu, kau biarpun muda tetapi patut menjadi pemimpin kami, aku yang tua takluk padamu."

Han Liong cepat membalas menjura dengan hormat sekali.

Peristiwa mencoba ilmu Han Liong dengan secara diam-diam ini tidak kentara oleh orang lain dan yang mengerti hanya mereka yang telah tinggi ilmu kepandaiannya seperti Un Kiong dan gurunya, para Locianpwe yang mewakili masing-masing cabang persilatan, dan guru-guru Han Liong.

Mereka ini diam-diam merasa kagum sekali akan kelihaian Pauw Lian dan Han Liong yang dapat menundukkan orang tua she Sonw yang gagah perkasa itu.

Setelah semua orang setuju akan pengangkatan Han Liong sebagai Bengcu, maka diadakanlah perjamuan yamg penuh kegembiraan.

Kemudian para Locianpwe mengadakan rapat untuk membicarakan soal surat penting yang dapat dirampas oleh Tan Un Kiong di istana putih itu.

Setelah dirundingkan masak-masak, maka diambil keputusan bersama-sama membasmi dulu kaki tangan Co Thaikam dan sedapat mungkin melenyapkan Thaikam jahat itu, barulah kemudian menghadap kaisar untuk menyadarkan kaisaar akan pengaruh-pengaruh jahat sehingga pemerintah kaisar itu sampai menindas rakyat jelata.

Kalau kaisar kaisar tidak menurut, barulah diusahakan penghancurannya!

Un Kiong mendapat tugas untuk kembali ke kota raja dan berunding dengan ayahnya.

Menurut paham Han Liong, sudah sepatutnya seorang gagah seperti ayah Un Kiong itu diberitahu sejelas-jelasnya tentang maksud dan usaha mereka.

Surat-surat rencana pemberontakan Co Thaikam juga diserahkan Kepada Un Kiong untuk diberikan dan disimpan selanjutnya di tangan Tan Cianbu sebagai bukti dan nanti pada saatnya diperlihatkan kepada kaisar.

Mereka mengatur rencana untuk menyerbu istana putih pada malam hari, dan tugas-tugas telah dibagi-bagi.

Pada malam hari kedua, belum juga Un Kiong meninggalkan tempat itu.

Ia agaknya tiada sampai hati untuk meninggalkan tempat itu dan ia tampak banyak mengobrol dengan Hong Ing.

Kedua teruna remaja ini nampak demikian rukun dan mesra sehingga diam-diam Kouw Sin Ek, Han Liong dan Pauw Lian dapat menduga apa yang terkandung dalam hati Hong Ing dan Un Kiong.

Ketika Khouw Sin Ek hendak meninggalkan Gunung Beng-san dan kembali ke tempatnya sendiri, ia memanggil muridnya itu dan dengan wajah berseri-seri ia berkata.

"Un Kiong, agaknya sudah tiba masanya kau mengikat janji dengan seorang wanita untuk sehidup semati!."

"Eh. ah, apa maksud suhu?"

Pemuda itu terbelalak heran.

"Kau selalu pandai bersandiwara, muridku. Kau kira aku yang sudah mengenalmu luar dalam ini tak mengerti akan sikapmu terhadap nona Hong Ing?"

Disebutnya nama ini membuat wajah Un Kiong tiba-tiba saja menjadi merah dan ia terpaksa menundukkan mukanya karena rahasianya telah diterka oleh gurunya sendiri.

"Bagaimana kalau aku memberitahu pada ayahmu dan juga menanyakan pendapat Si Bengcu? Karena dia inilah yang berhak memutuskan nasib adiknya."

Terpaksa Un Kiong hanya mengangguk perlahan.

"Terserah kepada suhu sajalah."

Dan gurunya tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, Hong Ing yang hendak membuktikan ancamannya untuk membalas godaan Han Liong ketika ia membela Un Kiong dulu itu, sedang menjalankan rencananya.

Ia tampak bicara berdua dengan Han Liong di pekarangan belakang.

"Han-ko, aku kagum sekali melihat kepandaian cici Pauw Lian. Kurasa mencari seorang gadis sepandai dia itu di atas dunia ini sukar didapat keduanya"

Hong Ing mulai dengan muslihatnya. Karena gadis itu bicara dengan suara sungguh-sungguh, Han Liong mengangguk membenarkan.

"Memang, kepandaian ilmu pedang Pauw sumoi sudah mencapai tingkat tinggi. Lebih-lebih gin-kangnya, ia sudah boleh dibilang mendekati kesempurnaan."

"Selain kepandaiannya yang sangat lihai, iapun berbudi halus dan baik hati sekali."

"Hm, hal ini aku tak tahu benar,"

Jawab Han Liong sederhana, tapi diam-diam dalam hatinya mempertimbangkan ucapan Hong Ing ini.

"Ya, ia memang seorang gadis yang baik dan sukar dicari bandingnya. Pula, ia cantik jelita."

Han Liong mengerling ke arah adiknya karena dalam suara gadis itu ia menangkap sesuatu yang tak wajar yang menjadi tanda tanya.

Hendak kemanakah tujuannya Hong Ing dengan ucapannya itu, pikirnya.

Tapi ia tidak menjawab.

"Ci-ci Pauw Lian cantik jelita, berhati baik, berkepandaian tinggi, benar-benar seorang siocia yang patut dikagumi, bukankah demikian, koko?"

"Hm, barangkali... ya mungkin benar kata-katamu itu. Ia patut dikagumi,"

Jawabnya perlahan.

"Dan... dan pantas pula dicinta, bukan, koko?"

Tiba-tiba Han Liong menatap wajahnya.

Ah, kesanakah arah tujuannya?

"Adik Ing, apa hubungannya keadaan Pauw sumoi dengan aku?

Apa maksudmu menceritakan kesemuanya itu padaku?

Ia boleh jadi cantik, pandai, tapi hal itu tiada sangkut-pautnya dengan aku."

Han Liong lalu memalingkan mukanya karena ia tidak mau menjadi korban godaan Hong Ing lebih lanjut.

Hong Ing masih memuji-muji kecantikan Pauw Lian, dan memancing-mancing agar Han Liong mau membuka "rahasia hatinya", supaya ia mendapat giliran untuk menggodanya, tapi Han Liong yang sudah maklum akan maksud adiknya yang nakal ini pura-pura tak mendengarnya dan sikapnya dingin saja seakan-akan ia betul-betul tidak memperdulikan sedikit jua akan hal Pauw Lian yang dipuji-pujinya itu.

Sikapnya ini membuat Hong Ing kewalahan dan ia mulai putar-putar otak mencari siasat baru.

"Tapi Han-ko."

Demikian gadis yang cerdik ini merobah siasatnya.

"Ada sebuah hal pada diri cici Pauw Lian yang membuat hatiku tidak puas, bahkan selalu terasa di hatiku. Dan hampir-hampir aku benci kalau mengenangkan hal ini."

Hong Ing telah dapat mengatur suaranya demikian rupa hingga mau tak mau Han Liong merasa tertarik. Tak terasa lagi pemuda ini cepat-cepat bertanya.

"Apa? Apakah Cacatnya maka kau merasa penasaran?"

Suaranya mengandung keinginan tahu besar sekali hingga diam-diam Honi Ing hatinya merasa geli.

Baru dicela sedikit saja Han Liong sudah bingung tak karuan!

"Cacatnya ialah kesombongannya.

Agaknya kecantikan dan kepandaiannya membuat ia sombong dan tak tahu diri!"

"Hm, benarkah begitu?"

Han Liong masih ragu-ragu akan kebenaran kata-kata adiknya ini.

"Ah, tentu kau tak mau percaya, koko, karena kau sudah... anggap dia seorang dewi yang tiada Cacat!"

Selanya lagi.

"Eh, eh, jangan main-main, adik Ing. Sebenarnya, mengapa kau katakan dia sombong dan tak tahu diri?"

"Tidak, ah. Kau nanti marah."

Han Liong makin bernafsu, ingin tahu.

"Aku berjanji takkan marah."

"Kau berjanji? Bagus kalau begitu. Nah, tahukah kau apa katanya padaku setelah kau dan menyerbu menyerbu barisan Ngo-heng-tin fa bilang bahwa jika ia maju seorang diri menggunakan Ouw-liong Pokiamnya, tentu dengan mudah ia dapat memukul pecah barisan itu, tapi karena ada kau, maka ia menjadi canggung, karena gerakannya kacau oleh permainmu!"

Han Liong tiba-tiba mengerutkan keningnya.

"Betul dia berkata begitu""

Suaranya mengandung ketidakpercayaan.

"Kau tidak percaya bukan? Biarlah, masa bodoh kau mau percaya atau tidak, tapi tahukah kau apa jawabnya ketika kutanya apakah dia telah bertunangan? Ia jawab bahwa agaknya ia takkan kawin selama hidupnya karena ia telah bersumpah bahwa ia hanya mau kawin dengan seorang pemuda yang dapat mengalahkan Ilmu pedangnya! Yang membuat hatiku lebih panas lagi ialah ketika kukatakan padanya bahwa ilmu pedangmu juga lihai dan tinggi, tapi la menjawab dengan suara dingin bahwa biarpun Pek-liong Pokiam juga sebuah pedang pusaka yang baik dan setara dengan pedangnya, namun ilmu pedangmu hanya indah dilihat saja, tapi isinya kurang dan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Ouw-liong Kiamsut!"

Hio Liong merasa mukanya panas dan ia tidak tahu bahwa kulit mukanya menjadi merah, tanda bahwa hatinya telah berubah menjadi kayu kering yang dimakan oleh api yang dilepas Hong Ing.

Tapi ia masih dapat menekan perasaan dan penasarannya, dan mencoba membantah keterangan adiknya ini dengan jawaban.

"Benar-benarkah ia berkata begitu?"

Hong Ing menghela nafas panjang.

"Ah, sudahlah. Kau mana mau percaya! Rupanya kau telah jatuh hati betul-betul padanya! Agaknya kau takkan percaya juga jika kukatakan bahwa cici Pauw Lian telah mengundang kau untuk mencoba ilmu pedang di sini pada malam ini jam dua belas tengah malam nanti?"

Han Liong lompat berdiri.

"Apa katamu?"

Hong Ing juga lompat berdiri dan bertolak pinggang.

"Kataku, nanti jam dua belas tengah malam, cici Pauw Lian akan datang di sini antuk mencoba ilmu pedangmu, yakni kalau kau berani!"

"Kalau aku berani?"

Jawab Han Liong marah.

"Mengapa aku takkan berani? Tapi, benar-benarkah demikian besar hasrat Pauw sumoi itu?"

"Buktikan saja malam ini. Tapi jangan lupa, kau harus pakai kedok sapu tangan."

"Eh, ada apa lagi ini? Harus pakai kedok? Mengapa?"

"Begitulah kehendak Pauw ciei! Dia sendiri juga pakai kedok, agaknya ia malu bertemu muka denganmu tanpa kedok!"

Habis berkata begini, Hong Ing pergi, tak perduli akan panggilan Han Liong yang masih hendak bertanya.

Pemuda ini merasa heran sekali.

Benar-benarkah semua keterangan Hong Ing tadi?

Mustahil Pauw Lian demikian sombong!

Tapi, biar demikian Hong Ing tak pernah membohong, sekalipun ia amat nakal.

Ah, biarlah, ia akan menanti sampai tiba saatnya tengah malam!

Hong Ing langsung menuju ke kamar Pauw Lian yang memang mendapat kamar bersama-sama dia.

Pauw Lian sedang duduk seorang diri membereskan rambutnya yang hitam dan panjang itu.

Hong Ing tak berkata sesuatu, hanya dengan muka asam terus saja membanting diri di atas pembaringan dan rebah telentang.

"Ea, kau kenapa, Ing moi! Kenapa mukamu merah padam seperti orang marah? Apakah kau ribut mulut dengan Tan Kongcu?"

Hong Ing gigit bibirnya karena datang-datang ia diganggu oleh Pauw Lian yang jenaka.

Awas, pikirnya.

Awas pembalasanku!

"Memang aku baru saja ribut mulut.

Tapi bukan dengan pemuda she Tan itu, dan aku bertengkar karena membelamu, cici.

Sebaliknya yang dibela tidak mengerti, bahkan datang-datang menggoda, Ah, memang dunia ini tidak adil!"

Pauw Lian mendekati dan memegang lengannya.

"Kau membelaku sampai bertengkar dengan orang lain? Ah, maaf, adikku yang manis. Kenapa kau bertengkar dan dengan siapa?"

"Ah, aku tak berani memberi tahu, takut kau akan menjadi marah."

Tentu saja kata-kata ini membuat Pauw Lian makin ingin tahu dan ia mendesak.

"Aku takkan marah, adik Ing, katakanlah."

"Aku bertengkar dengan Han-ko karena dia mencelamu!"

"Sie suheng? Dia mencelaku? Biarlah, itu hal yang lumrah, mengapa kau harus membelaku?"

"Hm, hm, rupa-rupanya ada apa-apa dalam dadamu, cici, hingga kau menerima saja dicela dan dipandang ringan olehnya, sedangkan aku yang mendengarnya saja menjadi panas hati."

"Tapi... benar benarkah Sie suheng mencela dan memandang ringan padaku? Agaknya... ha! Itu tak boleh jadi. Tak mungkin dia berwatak demikian."

"Nah, nah, itulah kalau orang sudah tertawan! Kau baru saja bertemu padanya, sedangkan aku sudah bertahun-tahun kumpul dengannya, siapakah yang tidak tahu akan wataknya?"

"Ya sudahlah, kau yang benar. Tapi ia mencela dalam hal apakah?"

"Ia mencela ilmu pedangmu! Ia katakan bahwa ilmu pedangmu masih mentah dan lemah dan bahwa hanya di luarnya saja tampak bagus dipandang, tapi kalau dipakai bertempur tidak berarti banyak! Tentu oaja hal ini kubantah karena aku tak senang melihat kesombongannya, tapi kalau kau tidak percaya dan masih penasaran, malam ini jam dua belas tengah malam nanti, ia menanti di dalam kebun belakang untuk mencoba dan mengukur Ilmu Pedang Ouw-liong Kiam-sut!"

Siapa orangnya yang takkan merasa panas hati mendengar kata-kata yang membakar yang keluar dari mulut kecil mungil dengan bibirnya yang manis dan wajah yang bersungguh-sungguh itu?

Pauw Lian biarpun orangnya jenaka dan cukup mendapat didikan ilmu batin dari gurunya, namun pada hakekatnya ia memang mudah juga menjadi marah seperti Hong Ing, mana ia dapat menahan hatinya?

Warna merah mulai menjalar di kulit muka sampai ke telinganya.

Kepalanya yang cantik bergerak-gerak hingga sepasang anting-anting di kedua telinganya berbunyi kelentang-kelenting.

Melihat sinar mata yang berapi itu terkejutlah hati Hong In dan ia merasa telah membakar terlampau panas.

Segera ia berkata.

"Tapi, cici jangan marah kepada Han-ko. Sebenarnya dia bilang demikian itu karena sedang bertengkar denganku, hingga karena marah ia lalu bicara demikian. Tentu saja dia tidak sengaja bermaksud memandang rendah padamu. Tapi aku ada jalan yang baik, Cici. Bagaimana kalau kau layani dia dengan pakai kedok saputangan? Kau tak usah banyak cakap, begitu datang berhadapan terus saja menggunakan pedangmu, agar dia bisa membuktikan, sampai di mana kelihaianmu. Kita kaum wanita janganlah mudah dipandang ringan oleh pria, cici! Tak perlu kita harus kalah terhadap pria, biar pria itu setampan dan segagah Han-ko sekalipun!"

Karena pandainya Hong Ing membujuk dan membakar hati, maka tak heran bila pada waktu Han Liong dengan hati penasaran menunggu di dalam kebun, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan hitam dan sinar hitam dari Ouw-liong Pokiam menyambarnya diikuti bentakan.

"Rasakan tajamnya Ouw-liong Pokiam!"

Baiknya Han Liong sudah siap dan waspada, maka cepat ia berkelit dan mencabut Pek-Liong Pokiam.

Ia melihat bahwa penyerangnya adalah seorang gadis berkedok saputangan merah dan ia maklum siapakah gadis ini.

Sebaiknya Pauw Lian melihat bahwa Han Liong juga memakai kedok saputangan kuning hingga ia kini percaya apa yang diucapkan Hong Ing tadi.

"Sumoi, tahan! Kenapa kau begini keterlaluan?"

Kalau tadi hati Pauw Lian sudah terbakar, kini makin berkobar mendengar dirinya disebut keterlaluan! "Kau yang sombong. Kau kira Pek-liong Pokiam-mu yang tertajam di dunia ini?"

Kembali ia menyerang, kini dengan hebat karena ia memakai gerakan Ouw-liong-pok-sai atau Naga Hitam Sambar Air.

Pedang hitamnya berkelebat laksana seekor naga hitam terjun, mengerikan.

Dalam keheranan dan penasarannya, Han Liong menangkis serangan itu dengan gerakan Pek-liong-hian-bwee atau Naga Putih Perlihatkan Ekor.

Demikianlah, sebentar saja mereka saling menyerang dengan hebat sehingga Hong Ing yang bersembunyi di balik pohon dan mengintai, kini menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

Hebat sekali pertarungan itu, merupakan dua sinar hitam dan putih saling belit membelit dengan gerakan cepat.

Diam-diam Hong Ing merata gemetar dan hatinya berdebar.

Ia mengkhawatirkan keselamatan kedua orang itu, terutama keselamatan Han Liong.

Walaupun ia tak dapat mengikuti benar-benar gerakan kedua pedang naga itu, namun ia maklum bahwa pertempuran kali ini jauh lebih hebat dari pada yang sudah-sudah!

Han Liong dan Pauw Lian diam-diam mengeluh.

Memang kepandaian ilmu pedang mereka seimbang dan memang Ouw-liong Kiamsut sama lihainya dengan Pek-liong Kiam-sut.

Hanya bedanya, Han Liong lebih tinggi ilmu lweekangnya atau tubuhnya lebih kuat sehingga tiap kali kedua pokiam beradu, Ouw-liong Pokiam-lah yang lebih banyak mengeluarkan bunga api dan lengan Pauw Lian tergetar.

Tetapi kekalahan ini dapat ditutup pula oleh kemenangan Pauw Lian dalam hal ilmu ginkang atau meringankan tubuh, sehingga ia dapat menghindarkan benturan senjata dengan mengharapkan kegesitannya.

Ratusan jurus terlewat sudah dan macam-macam tipu simpanan telah dikeluarkan, namun belum juga ada yang tampak terdesak.

Hong Ing sudah merasa lemas.

Sejam lebih kedua orang ita beradu pedang dan Hong Ing tak berdaya apa-apa.

Maksud hatinya hendak memilah tapi ia tak berani sembarangan maju.

Maka diam-diam ia mulai merasa menyesal akan perbuatannya dan dengan tak disengaja dari kedua matanya mengalir air mata yang membanjiri kedua pipinya.

Tiba-tiba ia merasa sebuah tangan yang kuat meraba lengannya dengan sentuhan halus dan terdengar suara beibisik.

"Cici Hong Ing kenapa menangis? Mereka tak bertempur sungguh-sungguh, jangan kau khawatir."

Mendengar kata-kata ini. Hong Ing menjadi demikian girang hingga ia lupa untuk mengherankan Un Kiong yang tiba-tiba itu. Ia pegang lengan pemuda itu dengan keras.

"Benar-benarkah mereka berkelahi tidak sungguh-sungguh!"

Senyum manis terbayang di wajah Un Kiong yang tampan itu.

"Mereka hanya bermain-main!"

Setelah hatinya tenang kembali, barulah Hong Ing ingat betapa mesranya ia saling berpegangan lengan dengan Un Kiong.

Cepat-cepat ia melepaskan tangannya dan mundur dua langkah lalu tunduk kemalu-maluan.

Memang Un Kiong berkata benar.

Biarpun keduanya merasa penasaran dan ingin sekali menang, namun mereka menjaga benar agar pedang mereka jangan sampai saling melukai.

Pernah ujung pedang Pek-Liong Pokiam menyambar leher Pauw Lian yang halus, tapi sebelum menyentuh kulitnya, pedang itu telah dirobah gerakannya ke atas hingga sebaliknya hanya merobek kain pengikat rambut saja.

Sedangkan ketika ujung Ouw-liong Pokiam menyambar dan hampir menembus jantung dalam dada kiri Han Liong, pedang itu ditahan demikian rupa oleh Pauw Lian hingga akibatnya hanya merobek baju Han Liong di bagian bahu kiri saja.

Un Kiong yang sejak tadi dengan diam-diam menonton pula, dapat melihat hal ini.

Kemudian ia melihat betapa Hong Ing tiba-tiba menangis.

Biarpun tadinya ia merasa malu bertemu dengan gadis itu karena kata-kata gurunya tadi, namun melihat gadis yang telah mencuri hantinya itu menangis, ia tak dapat menahan hatinya dan datang menghampiri lalu menghiburnya!

Pada saat itu, tiba-tiba dari bawah Gunung Beng-san terdengar suara hiruk-pikuk dari kaki kuda dan teriakan-teriakan orang banyak.

Mendadak Un Kiong melihat suhunya, Khouw Sin Ek melayang turun dari scbuah pohon dan berkata.

"Un Kiong, hati-hatilah, rombongan pahlawan kaisar dan penghuni Istana putih datang menyerbu!"

Kemudian Khouw Sin Ek melompat pergi ke arah tempat bermalam para tamu. Un Kiong terkejut.

"Cepat! Suruh mereka berhenti bertempur,"

Katanya kepada Hong Ing. Hong Ing melompat ke dekat dua gulungan sinar yang masih saling belit-membelit itu dan berteriak.

"Pauw cici! Han-ko! Berhentilah! Musuh datang menyerbu!"

Tapi Han Liong dan Pauw Lian tak memperdulikannya hingga Hong Ing menjadi bingung sampai membanting-bantingkan kakinya karena suara gemuruh dari bawah makin keras.

Terpaksa ia lari dan menarik-narik lengan Un Kiong.

"Wan Kongcu, tolonglah, kau pisahkan mereka!"

"Mudah saja, tapi kau harus penuhi permintaanku."

"Baik-baik, lekas katakan,"

Kata Hong Ing tak sabar.

"Yaitu, jangan kau sebut aku kongcu."

"Habis bagaimana?"

"Sebut aku koko."

"Aduh! Ya, apa boleh buat,"

Jawab Hong Ing yang pikirnya bahwa pada saat seperti itu ia tak perlu banyak berbantah.

"Koko, lekas kau pisahkan mereka. Musuh sudah dekat!"

"Baik."

Tapi sebelum Un Kiong bergerak, dari balik sebuah pohoh lain keluarlah bayangan seorang orang tua dengan gesitnya.

"Han Liong! Pauw Lian! Cukuplah main-main ini! Berhentilah kailan!"

Seruan ini nyaring dan berpengaruh, hingga Han Liong dan Pauw Lian tak berani membantahnya. Mereka melompat mundur dan menyimpan pedang serta membuka kedok masing-masing.

"Maaf suhu!"

Kata Han Liong dan menjura kepada orang tua yang ternyata bukan lain adalah Pauw Kim Kong sendiri! "Siokhu!"

Kata Pauw Lian kemalu-maluan.

"Musuh datang menyerbu, kalian enak-enak dan main-main saja!"

Guru dan paman itu menegur, tapi mulutnya tersenyum maklum hingga Pauw Lian makin memerah mukanya.

"Siaplah kalian semua. Tempat kita diserbu lawan. Aku hendak membuat persiapan di dalam."

Dan pergilah orang tua itu. Han Liong lebih banyak memikirkan keadaan Pauw Lian dari pada keadaan musuh yang datang menyerbu. Melihat Hong Ing dan Un Kiong berdiri di situ, ia membentak adiknya.

"Ing-mol! Sakarang akuilah terus terang, semua ini adalah gara-garamu, bukan?"

Hong Ing tertawa.

"Kau tidak kuat menahan godaan? Jangan marah, siapa suruh kau dulu menggodaku?"

Kemudian ia menghampiri Pauw L"an dan memeluknya.

"Cici, memang aku telah membohong, Han-ko tidak pernah bilang apa-apa. Ia tidak sombong, cuma-cuma..."

"Cuma apa!"

Bentak Han Liong gemas.

"Cuma sekarang agak... agak galak! Jangan galak-galak, Han-ko, kau bikin takut Soso (kakak ipar) saja!"

"Ada-ada saja! Soso yang mana?"

Teriak Han Liong marah.

"Yang mana lagi? Tentu yang akan datang. Eh, ya sekarang aku mengaku terus terang, cici Pauw Lian tak pernah bilang apa-apa padaku!"

"Sudah kuduga, Kau pikir semua orang senakal engkau?"

"Adik Ing, kenapa kau suka menggoda orang saja?"

Pauw Lian ikut menegur.

"Aduh, sekarang aku dikeroyok dua! Cici, sebenarnya aku ingin sekali lagi melihat Ilmu pedang kalian, maka aku gunakan akal ini. Juga sekalian aku hendak membalas godaan kalian padaku dulu."

"Godaan? Siapa yang menggoda?"

Tanya Pauw Lian yang kini hendak membalas pula.

"memang kau dan Tan Kongcu cocok benar, selalu bersama dan tampak rukun sekali. Aku bukannya menggoda sembarangan, tapi ini kenyataan."

Han Liong tertawa.

"Nah, itu baru betul!"

Kini Un Kiong tampil ke depan.

"Saudara Han Liong dan Pauw Siocia. Kalian menggoda Hong Ing cici boleh saja, tapi aku jangan dibawa-bawa!"

Han Liong dan Pauw Lian saling pandang dan tertawa mendengar lagak dan seruan Un Kiong yang seperti kanak-kanak, karena Un Kiong yang sengaja berlagak seperti ketika ia menjadi pemuda tolol, hingga Hong Ing mendengar dan melihat lagaknya jadi teringat lagi akan Un Kiong si tolo1 dulu, maka ia tak dapat menahan gelinya.

"Karena kalian sebut-sebut namaku, terpaksa akupun hendak membalas. Hong Ing cici, aku buka rahasia mereka sekarang. Tadi mereka bertempur biar kelihatan sengit, sebenarnya mereka saling sayang menyayangi dan menjaga jangan sampai saling luka melukai!"

Kini Hong Ing dan Ui Kiong yang menertawakan mereka, sedangkan Pauw Lian dan Han Liong yang terbuka rahasianya hanya menundukkan muka kemaluan.

Pada saat itu musuh telah menyerbu naik, dan di pintu gerbang yang dipasang di depan telah penuh dengan musuh yang bertemu dengan pihak tuan rumah.

Han Liong mengajak kawan-kawannya menyusul ke sana.

Ketika melihat rombongan yang datang itu, Un Kiong merasa terkejut sekali karena romborgan itu dipimpin oleh orang-orang kepercayaan Co Thaikam dan para pahlawan kaisar, termasuk ayahnya sendiri!

Yang membuat ia heran adalah kedua golongan ini yang sekarang dapat bekerja sama.

Ini sungguh hebat dan berbahaya.

Melihat Un Kiong berada di situ, untuk sesaat mata Tan Cianbu memandang penuh kagum dan sayang, tapi ia segera membuang muka dan tak mau memandangnya.

Tapi Kui Lan, murid Loh-san sam-moli, yang genit dan memang "Ada hati"

Terhadap pemuda tolol itu, segera maju menghampiri dan berkata.

"Eh, Tan Siangkong, kau berada di sini? Apa kau diculik oleh gerombolan pengacau ini? Biar, nanti aku balaskan sakit hatiumu. Mari, ikut dengan kami!"

Berkata begini, Kui Lan si muka hitam itu ulurkan tangannya dengan lemah lembut untuk menarik tangan Un Kiong.

Tapi ternyata ia rasakan tangan Un Kiong keras dan tak dapat disentakkan!

Ia mengerahkan tenaga, namun tetap tak dapat ia menarik pemuda itu.

Sementara itu, dengan hati sebal Un Kiong mengerahkan tenaganya dan berseru.

"Pergi kau!"

Tangannya disentakkannya dan Kui Lan terlempar ke atas setinggi setombak lebih dan kalau tidak Biauw Niang-niang segera mengulurkan tangan menangkapnya, tentu ia akan terbanting kebawah.

Semua orang yang kenai Un Kiong, kecuali ayahnya sendiri kini sudah tahu akan rahasia anaknya, merasa sangat heran melihat ketangkasan dan kepandaian pemuda tolol itu.

Pauw Kim Kong, sebagai tuan rumah, melangkah maju dan menjura kepada para pemimpin rombongan sambil berkata.

"Selamat datang, cuwi Enghiong. Sungguh merupakan satu kehormatan besar sekali bahwa cuwi sudi menginjak tempat tinggalku yang buruk dan kotor ini."

Rombongan itu terdiri dari dua golongan.

Golongan pertama terdiri dari tiga puluh lebih pahlawan kaisar yang dipimpin oleh Tan Cianbu serta empat orang kawannya, yakni pahlawan-pahlawan pilihan yang kepandaian silatnya sama lihainya dengan Tan Cianbu.

Sedangkan tiga puluh orang kawannyapun terdiri dari pahlawan-pahlawan jagoan dari Istana kaisar!

Golongan kedua tak kalah hebatnya, bahkan lebih lihai!

Golongan ini yang terdiri dari orang-orang kepercayaan dan kaki tangan Co Thaikam, si pembesar kebiri yang jahat, sebagian besar terdiri dari penghuni istana putih.

Golongan ini dipimpin oleh orang-orang yang begitu dilibat membuat Pan Kim Kong dan orang-orang lain yang telah mengenalnya menjadi terkejut sekali.

Selain Loh-san Sam-moli si Tiga Iblis Wanita dari Loh-san di situ ada pula Kek Kong Tojin si Toya Aneh Kepala Ular, saikong yang kosen itu!

Tapi ini masih belum berapa hebat karena dua orang tua yang kelihatan alim dan yang berdiri di dekat Kek Kong Tojin agaknya bukan orang-orang lemah dan Kek Kong Tojin sendiri tampak sangat hormat pada mereka.

Pihak tuan rumah merasa agak cemas ketika Khouw Sin Ek maju menjura kepada Kek Kong Tojin dan dua orang tua itu sambil tertawa gelak-gelak.

"Pantas bulan menjadi suram, rupanya kalian orang-orang tua yang sakti ikut datang menengok kami!"

Kemudian Sin-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek berpaling kepada semua kawannya.

"Saudara-saudara, jangan berlaku kurang hormat kepada ketiga tamu agung ini. Ini adalah Ngo-lian-posat Ang Gwat Niang-Niang, yang tengah ini bukan lain adalah Lo Thong Sianjin, sedangkan yang ketiga adalah Kek Kong Tojin! Mereka bertiga adalah tokoh-tokoh dan pendiri dari Ngo-lian-pai yang tersohor!"

"Ha, ha! Kiranya disini ada Khouw Lojin! Pantas Gunung Beng-san menjadi makin tinggi saja."

Kek Kong Tajin balas mengejek.

Sebenarnya diantara semau orang yang berada di situ, baik dari pihak penyerang dan pihak yang hendak diserang, hanya ketiga pendiri Ngo-lian-pan dan Khouw Sin Ek saja yang boleh dibilang setingkat dan menduduki tempat tertinggi.

Maka kini melihat ketiga orang tua itu datang semua, diam-diam Khouw Sin Ek merasa khawatir juga.

Tapi ia seorang cerdik dan banyak pengalaman, maka tidak kentara kecemasannya.

Lagi pula, dengan adanya Han Liong dan Panw Lian di situ, ia mempunyai dua orang pembantu yang kiranya takkan mengecewakan.

"Khouw Toyu! Kalau telingaku yang tua tak salah dengar, kau bukanlah termasuk golongan pengacau dan pemberontak, juga kau tak pernah ikut campur urusan pemerinrahan. Maka kau bukanlah musuh kami. Karena itu. pandanglah mukaku dan tinggalkanlah gunung ini dengan damai,"

Kota Lo Thong Sianjin.

"Ha, ha! Kau orang tua enak saja bicara. Memang aku biasanya tak suka campur urusan segala macam yang tidak penting. Tapi kalau tidak salah, kalian orang orang tua juga biasanya jarang turun gunung kalau tidak ada hal yang penting sekali. Kini aku berada di sini sebagai tamu si Malaikat Rambut Putih, maka apa yang akan terjadi kepada tuan rumah sekalian akan terjadi padaku sendiri."

"Hm, bagus! Biarlah, ikut atau tidaknya Khouw Lo-Enghiong tak menjadi soal,"

Tiba-tiba Ang Gwat Niang-niang berkata, suaranya merdu dan nyaring.

"Pauw Kim Kong! Kau telah bersekongkol dengan pemberontak, mencuri surat-surat penting, dan bersiap hendak memberontak. Maka, untuk menebus dosamu itu, serahkan kepada kami beberapa orang pemberontak dengan damai."

"Hm, mudah sekali kau bicara. Siapa yang harus diserahkan?"

Tanya Pauw Kim Kong dengan suara mengejek. Ang Gwat Niang-niang memberi tanda kepada Biauw Niang-niang yang segera maju dan menunjuk dengan jarinya.

"Mereka ini!"

Dan yang ditunjuknya ialah Han Liong, Hong Ing, Lie Bun Tek, Pauw Lian, Siok Houw Sianseng, dan keempat guru Han Liong! (Lanjut ke

Jilid 09 -Tamat) Pedang Pusaka Naga Putih (Seri 04 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 (Tamat) "Eh, eh, kenapa tidak kau tunjuk semua saja berikut aku juga?"

Terdengar Khouw Sin Ek mengejek.

"Itu lebih baik lagi, memang seharusnya semua karena tak seorangpun diantara kalian yang bukan pemberontak!"

Kek Kong Tojin berseru dan tiba-tiba ia berkata.

"Ayoh tangkap, serbu!"

Ia mendahului dengan toyanya memukul kepala Khouw Sin Ek. Tapi Sin-chiu Taihiap tertawa keras.

"Lie Bun Tek Enghiong dan Un Kiong, kalian lawan yang ini!"

Kedua orang itu segera maju dengan senjata masing-masing, Un Kiong dengan pokiamnya dan Lie Bun Tek dengan joan-piannya.

Kedua senjata segera bergerak melawan toya kepala ular yang lihai dari saikong itu.

Ang Gwat Niang-niang mencabut pedang dan hudtimnya.

"Khouw Lojin pin-ni terpaksa melanggar larangan membunuh!"

Kedua senjatanya mengeluarkan angin dingin ketika menyambar ke arah Khouw Sin Ek, tapi si Kapalan Dewa ini kembali berkelit dan melompat sambil berteriak.

Ouw-liong dan Pek-liong, kalian tidak lekas turun tangan mau tunggu apa lagi?"

Mendengar perintah lucu ini, Han Liong dan Pauw Lian mencabut pokiam mereka dan lompat ke depan menyambut serangan Ang Gwat Niang-niang yang gerakan-gerakannya luar biasa dan lihai sekali.

Khouw Sin Ek segera melompat menghadapi Lo Thong Sianjin.

"Kau juga hendak turun tangan? Silakan, biar tua sama tua!"

Lo Thong Sianjin yang sudah lama sekali tidak pernah berkelahi, kini melihat orang-orang bertempur segera timbul kegembiraanya.

Lagi pula, ia memang sudah lama mendengar nama Sin-chiu Taihiap, maka ia yang berwatak tak mau kalah itu, ingin sekali mencoba kepandaian Khouw Sin Ek.

"Marilah pinto melayanimu barang seratus jurus,"

Katanya dan mereka berdua lalu saling serang dengan hebat.

Sebenarnya, Lo Thong Sianjin biasa menggunakan senjata rantai, tetapi melihat Khouw Sin Ek hanya bertangan kosong, maka ia yang tak mau kalah itu tak sudi merendahkan diri melawannya dengan menggunakan senjata.

Kedua jago cabang atas yang tinggi ilmunya itu dan yang pada jaman itu sudah termasuk tingkat tertinggi, berkelahi dengan luar biasa serunya sehingga debu dan pasir di dekat kaki mereka berhamburan mengepul ke atas!

Memang Khouw Sia Ek sangat cerdik, ia tahu bahwa diantara ketiga tokoh Ngo-lian-pai itu, yang paling rendah kepandaiannya adalah Kek Kong Tojin, sedangkan yang terlihai ilmu pedangnya adalah Ang Owat Niang-niang.

Maka ia memerintahkan Lie Bun Tek dan muridnya, Un Kiong, untuk melayani Kek Kong Tojin, sedangkan untuk melayani ilmu pedang dan hudtim yang lihai dari Ang Gwat Niang-niang, ia tugaskan kepada Han Liong dan Pauw Lian!

Ia maklum pula betapa tinggi ilmu silat dan lweekang dari Lo Thong Sianjin, tokoh tertua dari Ngo-lian-pai itu, maka ia sendirilah yang melawannya!

Sementara itu, semua pahlawan dan Loh-san Sam-moli serta kawan-kawannya telah bertempur melawan Pauw Kim Kong dan semua kawannya yang juga terdiri dari jagoan-jagoan lihai.

Maka Sam-moli dan Tan Cianbu serta kawan-kawannya yang menjadi pemimpin rombongan dan berkepandaian tinggi segera berhadapan dengan Pauw Kim Kong, Liok-tee Sin-mo Hong In, Hee Ban Kiat, Bie Kong Hosiang, Ngo-Lohiap dari Kengciu, Souw Kwan Pek si Toya Ular Dewa, Lok Twie Hwesio wakil Siauw-lim, Pek Ciok Tojin ahli Kun-lun, Khu Bu Houw, Beng Hwa Suthai, Kok Tiang Lojin dan lain-lain yang menjadi tamu di Beng-san.

Maka ramailah pertempuran terjadi di puncak Gunung Beng-san.

Suara senjata beradu disertai bentakan-bentakan marah dan teriakan-teriakan kesakitan memenuhi udara.

Kek Kong Tojin menggunakan tongkat kepala ularnya yang sakti untuk mengalahkan lawannya, tapi Un Kiogn dan Lie Bun Tek bukanlah lawan-lawan lemah.

Ketangguhan kedua orang ini pernah diuji oleh Kek Kong Tojun di atas genteng istana putih.

Kini setelah, mereka bertempur dengan menggunakan senjata, sekali lagi Kek Kong Tojin terpaksa harus mengakui kehebatan lawan yang masih muda ini.

Dari gerakan-gerakannya, Kek Kong Tojin tahu bahwa si kedok hitam dahulu bukan lain adalah Un Kiong yang kini menggerakkan pokiamnya dengan begitu gesit dan berbahaya.

Maka ia makin marah dan memutar toyanya sehingga merupakan dinding baja yang sukar ditembus!

Namun pedang Un Kiong bukanlah pedang biasa, juga joan-pian Lie Bun Tek adalah sebuah senjata pusaka yang kuat dan terbuat dari pada logam mujijat.

Lagi pula, ilmu silat kedua orang ini yang memang sudah tinggi, kini tergabung menjadi satu, maka mereka merupakan lawan yang sangat tangguh dan berat.

Setelah lewat tiga ratus jurus, Kek Kong yang sudah tua dan yang terlampau banyak menghamburkan tenaga menuruti hawa nafsunya, mulai tampak lelah dan terdesak.

Yang paling indah dilihat adalah pertempuran antara Ngo-lain Posat Ang Gwat Niang-niang melawan Han Liong dan Pauw Lian.

Kalau gerakan-gerakan pedang dan hudtim wanita tua merupakan awan hitam bergulung-gulung naik turun dan menyelubungi kedua anak muda itu, maka Pek-liong Pokiam dan Ouw-liong Pokiam merupakan dua naga sakti hitam-putih yang terbang berkejar-kejaran di antara awan hitam itu.

Baca Juga: Petualang Asmara 6

Baca Juga: Pendekar Sadis 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert