Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Merah 5

Eps 5 Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo.

Cepat ia lalu menghampiri ke arah suara itu dan membuka genteng mengintai ke dalam.

Hampir saja ia mengeluarkan seruan kaget ketika ia menjenguk ke bawah.

Ternyata bahwa wanita itu benar-benar adalah Suma Eng!

Nona yang siang malam menjadi buah kenangannya ini duduk di atas bangku dengan sikap marah, sedangkan di sekelilingnya, seakan-akan mengurungnya, duduk panglima yang dilihatnya tadi bersama kelima Gobi Ngo-koai tung!

Bagaimanakah Eng Eng sampai terjatuh ke dalam tangan mereka ini?

Baiklah kita mengikuti pengalamannya secara singkat melanjutkan penuturan ini.

Setelah Eng Eng berpisah dengan Tiong Han untuk mencari jalan masing-masing dalam usaha mereka berdulu-duluan mencari Tiong Kiat, gadis ini langsung menuju ke kota raja.

Ia pikir bahwa seorang pemuda jahat seperti Tiong Kiat tentu akan memilih tempat yang ramai dan indah, maka ia lalu menuju ke kota raja untuk mencari jejak pemuda yang dibencinya itu.

Karena ia belum pernah pergi ke kota raja dan Eng Eng merasa tertarik sekali oleh pemandangan di sebelah barat Propinsi Hopak yang bertapal batas dengan Propinsi Shansi di sebelah barat dan dengan Mongolia di sebelah utara, maka ia telah salah jalan bukannya langsung ke kota raja, akan tetapi lewat di sebelah barat kota raja dan terus ke utara!

tanpa disadarinya ia telah melewati kota raja dan kini berada di sebelah utaranya!

Demikianlah, maka pada suatu hari tibalah ia di kota Hong-bun, kota yang jauh letaknya dari benteng itu.

Ketika ia sedang berjalan sambil melihat-lihat, tiba-tiba dari depan mendatangi lima orang tentara kerajaan yang berjalan saling bergandengan dan melihbat jalan mereka yang terhuyung-huyung itu, mudah diduga mereka berada dalam keadaan mabok, Eng Eng tidak memperdulikan mereka, akan tetapi sebaliknya lima orang tentara itu ketika melihat Eng Eng dan ketika gadis itu hendak mengelak ke kiri, mereka sengaja bergerak ke kiri pula dan dengan sengaja menghadang perjalanan gadis ini.

Marahlah Eng Eng dan dengan muka merah ia membentak.

"Kawanan anjing, apakah kau mau mengganggu orang di tengah jalan? Minggir! Akan tetapi sambil tertawa-tawa, lima orang tentara itu lalu berebut maju untuk memeluk atau meraba tubuh gadis yang cantik jelita ini. Akan tetapi, bukan main hebatnya akibatnya kekurang-ajaran mereka ini. Terdengar suara bak bik buk, disusul oleh pekik mereka dan tubuh mereka terlempar ke kanan kiri terkena tendangan kedua kaki Eng Eng! Bagaikan babi-babi disembelih, kelima orang kurang ajar ini mengaduh-aduh dan tak dapat bangun lagi. Pada hari itu, memang banyak anak buah tentara dalam benteng diberi kesempatan keluar dari benteng dan jumlah mereka ini ada puluhan orang. Ketika mendengar suara ribut-ribut dan melihat lima orang tentara dipukul oleh seorang gadis cantik, kawan-kawan mereka yang berada di kota itu, menjadi marah sekali dan sebentar saja Eng Eng dikurung oleh puluhan orang anggauta tentara. Mereka ini mula-mula mempergunakan tangan kosong hendak menangkap gadis ini dan menawannya, akan tetapi apakah artinya keroyokan orang-orang yang hanya kuat tenaga akan tetapi tidak memiliki ilmu kepandaian berarti itu terhadap Eng Eng? Gadis ini menggerakkan kaki tangannya seperti kitiran cepatnya dan bagaikan rumput dibabat, robohlah para pengeroyoknya. Hal ini membuat para tentara menjadi marah sekali. Mulailah mereka mencabut golok mereka.

"Gadis liar! Menyerahlah sebelum kami melukaimu!"

Teriak seorang perwira.

"Bangsat pengecut! Kalian yang mencari perkara, mengapa aku harus menyerah? Siapa takut kepada golokmu yang tumpul itu?"

Eng Eng membentak.

Maka menyerbulah para pengeroyoknya, kini dengan senjata tajam di tangan.

Namun, tetap saja mereka bukanlah lawan Eng Eng.

Gadis ini mencabut pedangnya dan ketika sinar merah dari pedangnya berkelebat, terdengar suara keras dan golok-golok di tangan para pengeroyoknya terbabat putus, runtuh bagaikan daun bambu jatuh berhamburan!

Tentu saja para tentara ini menjadi terkejut sekali.

beberapa orang di antaranya cepat melarikan diri ke benteng untuk memberi laporan kepada Oei-ciangkun, panglima yang menjadi komandan di dalam benteng itu.

Pada waktu itu, Oei-ciangkun sedang menerima kedatangan kawan-kawan baiknya, yakni Gobi Ngo koai-tung yang bernama Iucu, karena mereka sesungguhnya telah membuang nama asal dan memakai nama yang sederhana saja yakni Thian It Tosu, Thian ji Tosu, Thian Sam Tosu, Thian Si Tosu dan Thian Go Tosu.

Kelima orang tosu dari Go bi-san ini memang pendeta-pendeta yang berilmu tinggi dan penggantian nama mereka ini sesungguhnya ada alasan yang amat kuat bagi mereka.

Dahulu, sebelum perkumpulan agama yang disebut Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) belum lenyap dan belum dihancurkan oleh Kaisar Tai Cung yang melihat gejala gejala tidak baik dalam perkumpulan agama ini.

Kelima orang pendeta ini sebetulnya menjadi pengurus-pengurus terkemuka dari Pek-lian-kauw.

Oleh karena Pek-lian kauw sudah hancur dan musnah, maka untuk melindungi dirinya, mereka melarikan diri ke Go bi san dan menukar nama, sehingga kini terkenal sebagai Gobi Ngo-koai-tung yang amat lihai.

Adapun Oei-ciangkun ini sebenarnya, bernama Ui Sun dan ia dulu secara bersembunyi adalah seorang pemeluk agama Pek lian-kauw.

Ketua pendeta wanita yang masih muda dan cantik sekali bagaikan bunga teratai, sesungguhnya diam-diam mengadakan perhubungan dengannya dan menjadi kekasihnya.

Akan tetapi Oei Sun pandai sekali menyembunyikan dirinya dan berlindung di balik kedudukannya sebagai panglima yang memimpin puluhan ribu tentara, Setelah kekasihnya itu tewas dalam pembasmian Pek lian-kauw dan perkumpulan ini bubar, diam-diam Oei Sun masih mengadakan perhubungan dengan Gobi Ngo koai-tung yang bersembunyi di pegunungan Go-bi-san.

Demikianlah antara Oei ciangkun dan Gobi Ngo-koai-tung terdapat hubungan yang erat sekali, maka tidak mengherankan apabila pada hari itu mereka berlima datang mengunjungi Oei ciangkun di dalam bentengnya.

Gobi Ngo-koai tung telah membuat nama besar maka selain Oei ciangkun boleh dibilang tidak ada orang lain yang mengetahui bahwa mereka adalah bekas-bekas pemimpin Pek lian kauw.

Oei ciangkun dan kelima orang tamunya sedang bercakap-cakap ketika datang laporan tentang seorang gadis yang mengamuk hebat di kota Hong-bun.

Panglima ini menjadi marah dan bersama Go bi Ngo koai-tung ia cepat naik kuda menuju ke Hong bun.

Di situ benar saja ia melihat seorang gadis muda yang cantik sekali tengah mainkan pedangnya yang mengeluarkan cahaya merah membabat putus setiap golok yang menghadangnya sehingga tempat pertempuran itu telah penuh dengan potongan golok dan tubuh para tentara yang terluka!

Biarpun tak seorang di antara para pengeroyok ini ditewaskan oleh Eng Eng, namun pemandangan ini cukup hebat dan mengerikan.

"Gadis liar dari manakah berani melawan tentara pemerintah?"

Bentak Oei ciangkun yang telah mencabut golok besarnya dan menyerbu ke arah tempat pertempuran itu.

Melihat majunya Oei ciangkun, semua tentara lalu mengundurkan diri, hanya mengurung tempat itu dari jauh, memberi tempat yang cukup luas bagi pemimpin.

Semua tentara kini telah menjadi gembira untuk menonton pertempuran yang pasti akan menarik hati ini!

Eng Eng menengok dan memandang kepada panglima yang baru datang.

la melihat seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, berpakaian indah dan gagah sekali, keningnya lebar, matanya tajam dan goloknya yang dipegangnya besar dan nampak berat sekali, ia dapat menduga bahwa orang ini tentulah komandan dari pasukan kerajaan, maka sebagai seorang gadis yang telah tahu akan artinya perbuatan yang melawan alat pemerintah, ia tidak mau menyerang panglima itu.

Ia tahu bahwa ia dapat dianggap sebagai seorang pemberontak yang berdosa besar, maka sebelum ia menyerang, ia hendak melihat dulu bagaimana sikapnya panglima ini.

"Aku bukan melawan tentara pemerintah, akan tetapi membela diri. Kalau anak buahmu maju hendak menggangguku, apakah aku harus berdiam diri saja tidak melawan? Lima orang anak buahmu dalam keadaan mabok telah menggangguku di jalan, dan aku hanya memberi hadiah tendangan perlahan saja kepada mereka. Akan tetapi semua orang-orangmu secara tak tahu malu sekali lalu maju mengeroyokku. Siapa mau dipegang oleh tangan-tangan mereka yang kotor dan bau? Aku melawan dan akhirnya terjadi pertempuran ini. Nah, kau boleh pikir sendiri, siapa yang salah?"

Oei ciangkun tertegun.

Belum pernah ia melihat seorang gadis sehebat ini!

Bahkan kekasihnya yang dulu, yakni pemimpin Pek lian-kauw yang cantik bagaikan dewi kahyangan itu, kalau dibandingkan dengan nona ini, masih belum dapat dikata melebihi!

"Nona, betapapun juga, kau telah merobohkan banyak anggautaku dan kau telah melakukan perlawanan.

Tahukah kau bahwa untuk dosa ini saja kau dapat dijatuhi hukuman mati?

Lebih baik kau menyerah dan mari ikut dengan kami ke benteng untuk diperiksa perkaranyalebih lanjut."

"Kau ini siapakah maka berani memerintah kepadaku? Kalau kau menginsafi kesalahan anak buahmu, seharusnya kau yang minta maaf kepadaku, baru aku mau menghabiskan perkara sampai di sini saja."

"Nona, kau sombong sekali. Kau berhadapan dengan seorang panglima kerajaan, dan untuk kebaikanmu sendiri, kau harus tunduk kepadaku."

Eng Eng yang berwatak keras itu makin marah.

"Panglima kerajaan? Jangankan baru itu, biar kau menjadi panglima langit sekalipun, aku takkan mau tunduk begitu saja kalau aku tidak bersalah. Mengerti?"

"Bagus, hendak kulihat sampai di mana sih kepandaianmu maka kau berani bersombong di depanku?"

Oei Sun yang segera menggerakkan golok besarnya, melakukan serangan ancaman kepada Eng Eng.

Gadis ini dengan sengaja lalu menyambut datangnya golok ini dengan pedangnya.

Terdengar suara keras sekali dan bunga api berpijar ke atas.

Akan tetapi keduanya menjadi terkejut.

Oei Sun terkejut karena biarpun ia telah menggunakan seluruh tenaganya yang besar namun tidak nampak gadis itu terpengaruh bahkan ia merasa tangannya tergetar.

Sebaliknya Eng Eng terkejut karena melihat betapa golok itu tidak menjadi rusak oleh bacokan pedang merahnya.

Karena maklum atas ketangguhan lawan masing-masing, keduanya lalu maju dan terjadilah pertempuran yang hebat sekali, Oei Sun bertenaga besar sedangkan goloknya yang besar itu berat sekali, maka gerakannya menimbulkan angin yang bersuitan.

Goloknya diputar dan menyambar antep membuat pakaian Eng Eng berkibar karena angin sambarannya.

Akan tetapi gadis itu bagaikan seekor burung walet lincahnya, bergerak demikian cepat sehingga ia nampak seperti beterbangan diantara sambaran golok.

Bahkan pembalasan yang dilakukan oleh serangan pedang Eng Eng, sebentar saja membuat Oei San menjadi sibuk sekali.

Belum juga tiga puluh jurus mereka bertempur, Oei Sun sudah menjadi kewalahan terdesak hebat dan hanya dapat menangkis dan melindungi tubuhnya dengan putaran goloknya.

Sesungguhnya, kalau Eng Eng mau gadis ini pasti akan dapat merobohkan Oei Sun.

Akan tetapi selama perantauannya di dunia kang.ouw, gadis ini telah mendapat banyak pengalaman dan telah mendengar banyak urusan, sehingga ia maklum bahwa sekali-kali ia tidak boleh melukai atau menewaskan seorang panglima kerajaan.

Kalau para anggauta tentara yang menonton pertempuran itu tidak mengerti bahwa gadis yang lihai itu telah mengalah dan tidak mau mendesak lawannya, adalah Go bi Ngo-koai-tung yang merasa terkejut sekali.

Mereka ini cukup maklum akan kelihaian Oei Sun, akan tetapi sekarang menghadapi gadis pedang merah ini ternyata sahabat mereka ini kalah jauh.

Thian it Tosu, yang tertua di antara mereka dan yang selalu menjadi pemimpin, tiba-tiba mendapat pikiran yang amat baik.

la mendekati adik-adiknya dan membisikkan sesuatu.

"Dia Iihai sekali, alangkah baiknya kalau dapat membantu kita."

Setelah berkata demikian, ia dan keempat orang adiknya lalu melompat ke medan pertempuran sambil berkata.

"Lihiap (nona gagah) harap suka melihat muka kami dan hentikanlah pertempuran ini. Kami adalah Go-bi Ngo-koai tung, dan Oei-ciangkun ini adalah sahabat baik kami."

Sambil berkata demikian Thian it Tosu lalu mengebutkan lengan bajunya sebelah kiri untuk menangkis pedang merah Eng Eng.

Ketika ujung lengan baju itu mengenai ujung pedang, Eng Eng merasa tangannya tergetar, maka tahulah ia bahwa ia menghadapi seorang lawan yang tangguh.

Akan tetapi, di dalam kepala gadis ini tidak ada kata-kata takut, maka ia lalu menjawab.

"Aku yang muda dan bodoh tidak kenal dengan Go-bi Ngo koai tung sungguhpun aku mendengar nama mereka yang besar. Soalnya bukan kenal atau tidak, akan tetapi dalam pertempuran ini soalnya adalah salah dan benar. Aku tidak merasa bersalah, dan kalau ciangkun ini mau menghabiskan urusan sampai di sini, minggirlah dan biarkan kupergi."

"Tidak bisa begtu mudah, lihiap."

Kata pula Thian It Tosu.

"Siapapun juga yang salah, kau telah melakukan perlawanan terhadap tentara negeri, ini sudah menjadi satu dosa yang besar sekali. Kalau kau suka ikut ke benteng, biarlah kami berlima yang akan membujuk kepada sahabat kami Oei ciangkun untuk memaafkanmu."

"Aku tidak mengemis maaf!"

Teriak Eng Eng marah karena kini jelaslah baginya bahwa lima orang tosu ini terang-terangan berpihak pada Oei ciangkun,"Di dalam kebenaran, aku tidak takut kepada siapapun juga!"

"Ngowi totiang, tolong dan bantulah aku menangkap gadis liar ini!"

Seru Oei Sun dengan marah dan ia lalu menggerakkan goloknya lagi.

Eng Eng menangkis dan kini gadis inipun menjadi marah sekali.

Kalau tadi Eng Eng hanya ingin mempermainkan saja kepada lawannya ini, sekarang ia membalas dengan serangan maut yang amat berbahaya.

Oei Sun terkejut sekali dan agaknya ia takkan dapat menangkis atau mengelak lagi, akan tetapi tiba-tiba meluncur dua buah tongkat bambu yang menangkis pedang Eng Eng.Gadis ini melompat mundur dan segera memutar pedangnya menghadapi keroyokan Oei Sun dan Go bi Ngo-koai tung itu.

Ternyata bahwa nama besar Go-bi Ngo koai-tung bukanlah nama kosong belaka.

Ilmu tongkat mereka luar biasa sekali gerakannya dan tongkat bambu di tangan mereka merupakan senjata penotok yang amat hebat.

Kalau hanya menghadapi mereka seorang, agaknya Eng Eng masih akan dapat menandingi mereka, akan tetapi kini ia menghadapi lima orang sekaligus, masih ditambah pula oleh Oei Sun yang kepandaiannyapun tidak rendah.

Maka Eng Eng menjadi terdesak hebat.

Sungguhpun ia menggigit bibir dan melakukan perlawanan sekuat tenaga, namun dalam jurus ke tiga puluh, tiba-tiba pedangnya terjepit oleh empat batang tongkat dan tongkat kelima menyambar tangan kanannya!

Terpaksa untuk menolong tangannya, Eng Eng melepaskan pedang itu yang segera dirampas oleh Thian It Tosu!

Gadis ini terkurung di tengah-tengah dan tidak bersenjata lagi.

"Bagaimana, lihiap, apakah kau tidak mau ikut kami ke benteng untuk bicara secara baik?"

Tanya Thian it Tosu.

Eng Eng bukanlah orang bodoh yang menurutkan nafsu hati atau kemarahan.

la tahu sepenuhnya bahwa kalau ia melawan terus dengan tangan kosong, ia akan mati konyol.

Tentu saja ia tidak mau hal ini terjadi.

Ia ingin melihat perkembangan selanjutnya dan baru berlaku nekad kalau sudah tidak ada jalan keluar lagi.

Pula, mereka ini agaknya tidak berniat buruk terhadap dirinya.

Maka ia lalu menganggukkan kepala dan demikianlah, mereka semua lalu menuju ke dalam benteng.

Oei Sun minta kepada Eng Eng untuk berangkat lebih dulu.

diiringi oleh semua perwira dan pasukannya, dengan alasan bahwa ia dan Go-bi Ngo koai tung mempunyai urusan di kota Hong-bun.

Padahal sebenarnya ia dan kelima kawannya hendak mencari keterangan di kota itu tentang diri Eng Eng, kuatir kalau-kalau nona gagah itu mempunyai kawan-kawan yang lain.

Akan tetapi ketika mereka mendapat kepastian bahwa nona itu tidak mempunyai kawan lain, mereka lalu cepat kembali ke benteng.

Dan tanpa mereka ketahui, dalam perjalanan ke benteng inilah Tiong Kiat melihat lalu mengikuti mereka dengan sembunyi.

Akan tetapi, Oei Sun dan lima orang tosu itu kecewa hatinya, mereka ternyata tak berhasil membujuk Eng Eng.

Gadis ini tetap tidak mau menurut, dan tidak mau membantu mereka.

"Aku adalah seorang perantau, untuk apa aku ikut-ikut dengan urusan ketentaraan? Aku tidak sudi membantu pekerjaan orang lain, apalagi pekerjaan dalam ketentaraan yang tidak kumengerti sama sekali."

"Nona Suma "

Kata Oei Sun.

"kuharap kau suka berlaku bijaksana dalam hal ini. Kau tahu bahwa kami telah berlaku murah kepadamu dan kami takkan melanjutkan urusan kesalahanmu yang telah melawan dan melukai anggauta ketentaraan kami dan sebagai gantinya, kami hanya ingin kau tinggal di sini dan membantu apabila kami mengadakan pertempuran melawan musuh-musuh kami. Kau tak perlu ikut memikirkan persoalannya, hanya kami kekurangan tenaga yang cukup untuk menghadapi musuh. Percayalah bahwa kami hendak berjuang untuk maksud yang suci buktinya kelima orang pendeta inipun telah membantu kami! Tinggal kau pilih saja membantu kami dan terbebas dari tuntutan kami atas kesalahanmu tadi!"

"Sesukamulah, akupun hanya mengajukan dua buah usul. Melepaskan aku pergi atau membunuhku, terserah!"

Jawab Eng Eng dengan berani. Untuk beberapa lama keenam orang itu saling pandang dengan putus asa. Kemudian Thian It Tosu berbangkit dari tempat duduknya dan tersenyum.

"Suma lihiap, pinto (aku) kagum sekali melihat keberanianmu. Biarlah, kalau kau tidak mau membantu, kami akan melepaskanmu. Terimalah pedangmu kembali. Hanya saja, pinto percaya penuh bahwa kelak apabila kau melihat kami membutuhkan bantuan, pasti kau akan membantu tanpa diminta lagi seperti watak seorang gagah."

Eng Eng terheran-heran dan juga terharu. Ia menerima pedang itu, dililitkan pada pinggangnya karena pedang merah ini amat tipis dan dapat digulung.

"Totiang, ucapanmu ini lebih jujur dan gagah. Tentang bantuan itu tentu saja tak usah dikatakan lagi. Aku bukanlah seorang yang tidak ingat akan kebaikan orang. Hanya aku tidak mau terikat di tempat ini, karena aku suka bebas seperti burung di udara,"

Setelah berkata demikian, Eng Eng lalu menjura dan bertindak keluar dengan tindakan gagah, tanpa memperdulikan wajah Oei ciangkun yang nampak kecewa dan muram.

Panglima ini memang kalah pengaruh dengan Thian it Tosu dan ia maklum bahwa tindakan Thian it Tosu itu mengandung sesuatu maksud tersembunyi.

Tiba-tiba masuk seorang penjaga yang melaporkan bahwa dua orang penjaga ditemukan dalam keadaan tertotok di kandang kuda.

Oei ciangkun dan kelima orang tosu itu terkejut sekali.

Akan tetapi sebelum mereka keluar dari ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara orang dan atas.

"Maafkan siauwte yang berlaku lancang, datang tanpa diundang!"

Dan melayanglah tubuh Tiong Kiat bagaikan seekor burung ke dalam ruangan itu. la menjura kepada Oei-ciangkun dan Go-bi Ngo-koai-tung, lalu berkata.

"Siauwte Sim Tiong Kiat dari Kim liong pai telah mendengar tentang penawaran yang ditolak oleh nona Suma tadi. Kalau ciangkun percaya kepadaku berilah kesempatan kepadaku untuk berbakti kepada negara!"

Oei Sun masih memandang penuh curiga akan tetapi kelima Gobi Ngo koai tung itu dengan girang lalu menjura kepada Tiong Kiat.

"Ah, tidak tahunya Sim-taihiap yang datang. Duduklah"!"

Memang Tiong Kiat ingin sekali menebus semua dosa-dosanya dengan menjadi seorang perajurit yang berbakti kepada negara.

Selain ini ia tadi telah melihat Eng Eng dan biarpun ia merasa rindu sekali kepada gadis ini, namun ia maklum bahwa Eng Eng amat benci kepadanya dan apabila bertemu, pasti akan berusaha untuk membunuhnya.

Tadi ia melihat betapa Eng Eng tidak sanggup melawan Gobi Ngo koai tung, buktinya gadis itu tertawan dan pedangnya terampas, maka kalau ia dapat bersahabat dengan orang-orang gagah ini, tidak saja ia akan terlindung dari pada pembalasan Eng Eng, bahkan ia juga akan terlindung dari pada kejaran orang-orang Kun Iun-pai, dari kejaran Tiong Han dan juga suhunya.

Kalau ia sudah dapat menjadi seorang panglima perang kerajaan, siapakah yang berani mengganggunya?

Pula, tadi Eng Eng sudah berjanji hendak membantu Oei ciangkun dan kelima Gobi Ngo-koai-tung, maka kalau ia berada disitu, bukanlah banyak harapan kelak Eng Eng akan bertemu dengannya dalam keadaan bersahabat?

Sementara itu, Go-bi Ngo koai tung sudah mendengar tentang pemuda ini karena sebagai orang-orang kang-ouw, mereka mendengar juga peristiwa yang terjadi pada Kim-liong-pai.

Orang-orang yang "nyeleweng"

Akan tetapi berkepandaian tinggi macam Tiong Kiat inilah yang mereka butuhkan!

Mereka membutuhkan orang macam ini karena memang sebetulnya Oei ciangkun dan Gobi Ngo koai-tung ini merencanakan sebuah pemberontakan!

Sebagaimana telah disebutkan di depan Oei ciangkun yang bernama Oei Sun adalah seorang penganut agama Pek lian-kauw yang dahulu ketika perkumpulan agama ini belum dibasmi oleh pemerintah, Oei Sun telah menjadi kekasih pemimpin Pek-lian-kauw yang cantik dan genit.

Adapun Go bi Ngo koai-tung yang kini membantunya juga dahulunya merupakan pendeta-pendeta Pek-lian-kauw yang berpengaruh.

Kelima orang pendeta ini sekarang telah mendapat nama besar sebagai pendeta-pendeta berkepandaian tinggi yang bertapa di Pegunungan Go bi-san, maka tak seorangpun dapat menduga bahwa mereka ini adaIah bekas-bekas pengurus Pek-lian-kauw yang berbahaya.

Siapa pula yang dapat menyangka bahwa Oei Sun, panglima tentara kerajaan yang amat gagah dan sudah banyak jasanya itu sebetulnya adalah penganut agama Pek-lian kauw yang jahat?

Oei Sun bersama kelima orang kawannya, yakni Go bi Ngo koai-tung, diam-diam merencanakan pemberontakan terhadap kaisar sebagai pembalasan atas pembasmian Pek lian kauw, juga dengan tujuan terutama membangun kembali agama Pek lian kauw.

Tentu saja mereka tidak berani berterang membangun kembali Pek lian kauw.

Rencana mereka amat besar.

Karena kebetulan sekali Oei-ciangkun mendapat tugas menjaga di tapal batas utara dan mengepalai sepuluh ribu orang tentara, maka diam-diam Oei Sun mengadakan hubungan dengan Huayen-khan, kepala bangsa Ouigour yang hendak memberontak itu.

Di samping hubungan rahasia ini Oei Sun juga melakukan siasat yang amat cerdik.

Ia bersekongkol dengan Huayen-khan yang menyuruh orang-orangnya mengadakan kekacauan di sana sini, yang kemudian ditindas oleh Oei Sun dengan amat mudah.

Hal ini lalu dibesar-besarkan, dijadikan berita hebat dan ia membuat laporan-laporan ke kota raja bahwa orang-orang jahat dan Mongol tengah mengadakan kekacauan akan tetapi telah dapat dibasminya.

Dan untuk memperkuat pertahanan, Oei Sun mengajukan permohonan untuk minta tambah barisan dan ransum dan juga uang untuk biaya-biaya barisan.

Tentu saja karena ia telah berjasa membasmi pengacau-pengacau yang sesungguhnya pengacau palsu dan buatan Oei Sun bersama Huayen khan, kaisar di kota raja merasa amat suka kepadanya dan percaya penuh.

Dalam waktu beberapa bulan saja, barisan di bawah pengawasan Oei Sun sudah meningkat sampai seratus ribu orang!

Diam-diam Oei Sun dan Go-bi Ngo koai-tung lalu mengumpulkan dan memanggil bekas anggaota Pek Iian-kauw yang sudah tersebar dan kocar-kacir.

Mereka ini rata-rata memiliki kepandaian yang lumayan juga.

Oei Sun lalu mengangkat orang-orang Pek-lian kauw yang jumlahnya empat puluh orang lebih ini menjadi perwira-perwira pembantunya dan bekerja di dalam barisannya sebagai pemimpin-pemimpin!

Di samping itu, juga Oei Sun dan lima orang pendeta-pendeta itu mencari-cari kawan, orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi di kalangan Iiok-lim.

tentu saja mereka memilih orang-orang yang mengambil jalan hek to (jalan hitam, yakni penjahat-penjahat).

Orang-orang inipun diangkat menjadi kepala-kepala barisan, diberi pangkat sesuai dengan kepandaian mereka.

Sim Tiong Kiat telah kena tertipu oleh keadaan di dalam benteng itu, oleh sikap Oei Sun yang ramah-tamah dan oleh kelima orang pendeta yang semuanya memperlihatkan sikap seolah-olah mereka ini adalah orang-orang gagah pembela negara!

Hati pemuda ini merasa girang sekali, karena ia ingin menunjukkan kepada orang-orang terutama kepada Eng Eng kedua kalinya kepada kakaknya, kepada semua orang, kepada dunia, bahwa dirinya adalah seorang patriot sejati.

Bahwa Sim Tiong Kiat pada hakekatnya adalah seorang gagah yang patut dihormati.

Apalagi setelah Oei Sun mencoba kepandaiannya, dicobanya sendiri, kemudian bahkan dicoba pula oleh Thian It Tosu, orang pertama dari Go bi Ngo.koai tung, dan berakhir dengan kemenangan Tiong Kiat dengan ilmu pedangnya Ang coa kiamsut yang luar biasa, Tiong Kiat lalu dipeluk dengan penuh rasa bangga oleh Oei Sun.

"Saudara Sim yang gagah, sungguh aku merasa seakan-akan kejatuhan bulan purnama dapat bertemu dengan kau! Kaulah yang akan merupakan bantuan terutama ke arah tercapainya cita-cita kita bersama."

"Cita-cita? Cita cita apakah, Oei ciang-kun?"

Tanya Sim Tiong Kiat tak mengerti. Oei Sun menjadi merah mukanya. Ia merasa telah terlanjur bicaranya, akan tetapi Thian lt Tosu yang amat cerdik segera menolongnya.

"Tentu saja cita-cita kita untuk membersihkan negara dari para pengacau dari utara dan memenangkan semua pertempuran!"

"Setuju, setuju!"

Empat orang pendeta yang lain berseru girang dan pelayan lalu dipanggil untuk menambah arak dan daging.

Oei Sun mengerti akan maksud suhengnya itu.

Memang mereka sudah mendengar tentang Ang-coa-kiam Sim Tiong Kiat, murid dari Kim-liong-pai yang tersesat dan melakukan perbuatan jahat sebagai jai hwa-cat dan pencuri.

Akan tetapi mereka belum yakin benar apakah pemuda ini mau diajak untuk memberontak terhadap pemerintah kaisar.

"Saudara Sim, apakah kau tidak ada keinginan untuk menjadi seorang perwira? Kepandaianmu cukup hebat dan kau cukup patut untuk menjadi seorang panglima yang lebih tinggi pangkatnya dari padaku sendiri."

Mendengar kata-kata Oei Sun ini merahlah wajah Tiong Kiat, bukan hanya karena jengah, akan tetapi terutama sekali karena bangga dan senang.

"Ah, Oei ciangkun, mana orang seperti aku dapat menjadi panglima? Aku hanya mengerti sedikit ilmu silat kasar mana aku dapat memimpin pasukan? Aku dapat diterima membantu di sini saja sudah cukup menyenangkan hatiku."

"Ah, kau terlampau merendahkan dirimu sendiri, saudara Sim. Apakah susahnya ilmu peperangan? Kalan kau mau memberi petunjuk kepadaku tentang ilmu pedang, apa susahnya mempelajari ilmu peperangan diriku? Bukankah baik sekali kita saling menukar ilmu kepandaian kita, saudara Sim?"

"Bagus sekali, kalau Oei ciangkun sudi memimpin aku yang bodoh, aku Sim Tiong Kiat akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk membantu."

"Baik, Sim ciangkun! Sekarang juga kau menjadi perwira pembantuku!"

Berdebar hati Tiong Kiat mendengar ini, apa lagi ketika panglima itu menyuruh seorang perajurit mengambilkan seperangkat pakaian perwira yang indah untuknya.

Ah, dia telah menjadi perwira, telah disebut Sim ciangkun oleh panglima itu sendiri!

Bukan main senangnya hati pemuda yang masih hijau ini.

Setelah mengenakan pakaian perwira, Sim Tiong Kiat benar-benar nampak gagah dan tampan sekali.

Oei Sun lalu memperkenalkan perwira baru ini kepada semua perajurit yang disuruhnya berbaris.

Kemudian ia menjamu perwira baru ini dengan segala kemewahan, di mana Tiong kiat sempat berkenalan dengan banyak perwira yang gagah perkasa.

Tadinya ia merasa amat heran bertemu dengan orang-orang kang-ouw yang telah menjadi perwira akan tetapi setelah mendengar bahwa orang orang gagah ini sengaja datang membantu Oei Sun untuk mengusir pengacau, hatinya menjadi makin girang.

Demikianlah, semenjak hari itu, Tiong Kiat berdiam di dalam benteng, menjadi seorang perwira yang paling disayang oleh Oei ciangkun, menjadi seorang di antara pemberontak-pemberontak itu, atau lebih tepat lagi, calon-calon pemberontak.

Melihat betapa sikap Tiong Kiat amat patriotis dan kata-katanya menunjukkan betapa bersemangat adanya pemuda ini Oei Sun dan kawan-kawannya belum berani berterus terang kepada Tiong Kiat.

"Oei-ciangkun,"

Kata tiong Kiat dengan suara bersungguh-sungguh kepada Oei Sun.

"aku mempunyai suatu rahasia yang amat penting. Tadinya aku berniat untuk membuka rahasia ini dihadapan kaisar, akan tetapi oleh karena sekarang aku menjadi perwira di benteng ini dan kau adalah komandanku, hal ini lebih baik kuberitahukan kepadamu saja."

"Rahasia apakah itu, Sim ciangkun?"

Tanya Oei Sun memandang tajam.

"Ketahuilah Oei ciangkun, bahwa sebetulnya Huayen-khan, kepala bangsa Ouigour yang berpura-pura baik dengan Hong-siang (kaisar) sebenarnya mempunyai rencana jahat dan bersiap-siap hendak menyerbu ke selatan!"

Oei ciangkun nampak terkejut.

Tentu saja Tiong Kiat tidak pernah menyangka bahwa kekagetan panglima ini bukan karena mendengar berita itu, melainkan karena tak dikiranya Tiong Kiat sudah mengetahui akan hal ini!

Akan tetapi Oei ciangkun juga bukan seorang yang bodoh.

Ia dapat menetapkan hatinya dan bersikap seakan-akan berita ini bukan hal yang amat berat.

"Bagaimana kau bisa tahu, Sim ciangkun? Hal seperti ini memerlukan ketelitian, tidak boleh menuduh secara sembrono saja. Apakah kau mempunyai bukti-buktinya?"

"Tentu saja, Oei ciangkun."

Dan Sim Tiong Kiat lalu menceritakan pengalamannya ketika ia menolong Huayen khan dari keroyokan Piloko, kepala suku bangsa Cou dan anak buahnya hingga ia dibawa ke perkemahan Huayen khan dan dapat mengetahui rahasia itu karena pengakuan Ang Hwa dan Huayen khan sendiri.

Oei ciangkun mengangguk-angguk.

Tentu saja ia telah mengerti akan hal ini semua, bahkan ia sendiripun terhitung seorang diantara mereka yang pernah menerima "kebaikan hati"

Huayen khan untuk dilayani oleh Ang Hwa, istri kepala suku bangsa Ouigour itu!

Akan tetapi Oei ciangkun memang cerdik, apa lagi setelah ia berkumpul dengan lima orang suhengnya, ia mendapat tambahan pengalaman dan akal.

"Sim ciangkun, sesungguhnya kami semua di sini telah mengetahui akan hal ini. Tadi aku berpura-pura tidak tahu untuk mencobamu saja. Ternyata kau seorang laki laki sejati. Akan tetapi, sayang sekali kau belum tahu tentang siasat-siasat peperangan, maka kau berlaku keras. Sungguhpun aku telah mengetahui rahasia Huayen khan itu, akan tetapi aku bahkan mendekatinya dan memperlakukannya dengan baik dan manis, sesuai dengan sikap kaisar kita pula."

Tiong Kiat mengerutkan keningnya.

"Mengapa begitu Oei-ciangkun?"

Panglima she Oei itu tertawa bergolak.

"Sim ciangkun, karena kau baru kuberi pelajaran ilmu perang bagian mengatur barisan, dan tata tertib barisan, belum sampai kepada siasat-siasat peperangan, maka tentu saja kau belum dapat mengerti tentang siasat perang yang kami jalankan. Ketahuilah bahwa dalam ilmu perang, siasat yang dilakukan oleh Huayen-khan adalah siasat Bertopeng Kulit Domba, yakni pada luarnya ia kelihatan lunak, akan tetapi disebelah dalamnya sebetulnya ia amat berbahaya. Akan tetapi untuk menghadapi siasat ini, kitapun mempergunakan siasat yang hampir sama sifatnya, yakni siasat yang kunamakan membawa pedang di dalam selimut, yang artinya, pada luarnya kita pura-pura tidak melihat rencananya dan tidak berjaga-jaga padahal sebetulnya diam-diam kita sudah siap sedia untuk menumpasnya pada saat srigala itu muncul dari balik topeng kulit domba, mengertikah kau, Sim ciangkun?"

Tentu saja Tiong Kiat mengerti baik akal sederhana yang disebut siasat oleh Oei ciangkun ini, akan tetapi ia belum merasa puas.

"Oei ciangkun, mungkin kalau menghadapi lawan yang besar dan berat, kita perlu menggunakan siasat seperti itu. Akan tetapi apakah bahayanya Huayen-khan dan anak buahnya? Kalau kau mau, sekali pukul saja dengan bala tentara kita, mereka akan kocar-kacir dan dapat dihancurkan bukan?"

"Kau tidak tahu Sim-ciangkun. Kita tidak menghadapi bangsa Ouigour saja, masih banyak sukubangsa yang memberontak. Misalnya bangsa Cou yang dipimpin oleh Pikolo, mereka itupun diam-diam bahkan lebih jahat dari pada bangsa Ouigour. Kalau ada kesempatan, bangsa Cou inilah yang hendak memberontak lebih dulu. Akan tetapi, semua ini tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan bangsa Monggol yang merupakan bahaya paling besar dari utara, karena bangsa Monggol mempunyai bala tentara yang amat kuat dan besar jumlahnya. Betapapun juga adalah suatu kesalahan dan kepicikan besar apabila kita selalu memperhatikan batu batu besar di waktu kita berjalan dan mengabaikan batu-batu kecil. Karena kalau kita berbuat begini, akhirnya kita akan jatuh tersandung oleh batu kecil yang tidak kita sangka akan menjatuhkan kita! Kalau tidak ada ancaman dari fihak Mongol yang kuat, kita tak perlu berpayah payah memperlihatkan muka manis kepada orang-orang seperti Huayen-khan atau Pikolo. Akan tetapi, pada saat kita menghadapi lawan berat seperti barisan Mongol, biarpun hanya rombongan-rombongan kecil seperti orang-orang Ouigour dan Cou, cukup merupakan kawan yang membesarkan hati."

Kini baru Tiong Kiat merasa amat kagum mendengar uraian yang amat luas den mendalam ini.

Ia yang masih hijau dalam soal siasat peperangan tentu saja menganggap panglima she Oei ini benar benar amat pandai dan luas pengetahuannya.

Semenjak hari itu ia lebih tekun mempelajari siasat-siasat peperangan dari Oei ciangkun, sebaliknya tidak ragu-ragu untuk memberi petunjuk dan pelajaran ilmu silat dan pedang kepada panglima yang sudah memiliki kepandaian tinggi itu.

Kita tinggalkan dulu Tiong Kiat yang telah masuk perangkap dan tidak sadar bahwa sesungguhnya ia bahkan membantu gerakan calon-calon pemberontak Pek-lian-kauw yang amat berbahaya itu.

Marilah kita mengikuti perjalanan Suma Eng atau Eng Eng yang meninggalkan benteng di mana tadinya ia tertawan oleh Oei Sun dan Go-bi Ngo-koai tung.

Juga gadis ini tidak mengira bahwa baru saja ia terlepas dari tangan orang orang Pek-lian-kauw, dan mengira bahwa Oei Sun benar benar seorang panglima yang jujur dan gagah, dan Gobi Ngo koai-tung adalah tokoh-tokoh dari Go-bi-san yang selain berkepandaian tinggl juga telah berlaku baik kepadanya hingga mau melepaskannya.

Setelah melakukan perjalanan beberapa hari, barulah Eng Eng mendengar dari seorang penduduk dusun bahwa ia telah salah jalan, maka ia lalu mengambil jalan memutar dan kini menuju ke selatan, untuk pergi ke kota raja dalam usahanya mencari Tiong Kiat.

Akan tetapi ketika ia melewati sebuah daerah yang kering dan tandus, di mana tanahnya tidak subur karena banyak tertutup salju, tiba-tiba ia bertemu dengan serombongan orang yang bertubuh tinggi besar dan bersikap galak.

Orang orang ini bersenjata golok besar dan jumlah rombongan yang merupakan barisan ini tidak kurang dari delapan puluh orang.

Di belakang pasukan ini masih terdapat rombongan Iain yang lebih besar, yang membawa kereta dan keledai, agaknya keluarga dari rombongan yang di depan.

"Berhenti!"

Seru dua orang yang mengepalai pasukan itu, dua orang yang bertubuh tinggi besar, bersenjata golok dan mukanya hampir sama.

"Nona yang kelihatan gagah berani melakukan perjalanan seorang diri di tempat ini, kau tentu mempunyai hubungan dengan benteng Oei-ciangkun!"

Eng Eng mengerutkan keningnya.

"Kalau ada hubungan bagaimana dan kalau tidak ada hubungan kalian perduli apa?"

Tanyanya sambil tersenyum mengejek. Ia merasa lucu sekali mengapa dua orang laki laki tinggi besar ini yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, begitu bertemu telah memperlihatkan sikap membenci.

"Kawan Oei ciangkun atau bukan, terang dia adalah seorang nona Han, tangkap saja jadikan bujang, habis perkara, twako!"

Seru seorang lain yang berdiri di belakang.

"Orang-orang Han telah memperlihatkan sikap palsu terhadap kita, untuk apa kita berlaku sungkan lagi?"

Ucapan ini dikeluarkan dengan sengaja dalam bahasa Han agar Eng Eng dapat mengerti maksudnya, akan tetapi suaranya kaku dan janggal, hingga Eng Eng yang mendengarnya menjadi makin geli.

"Kalian ini orang apa begini galak-galak?"

Tanyanya.

"Kami adalah orang-orang suku bangsa Cou yang telah dikhianati dan dicurigai oleh orang-orang Han yang tadinya kami anggap sahabat-sahabat baik."

"Eh, eh, nanti dulu kawan. Orang orang Han itu bermacam macam, jangan disamaratakan. Tidak semua orang Han berwatak khianat dan curang. Akan tetapi sudahlah, aku tidak mempunyai urusan dengan kalian. Minggirlah dan jangan mencari perkara dengan aku."

"Enak saja kaubicara. Apa kaukira kau dapat melepaskan diri dari kami begitu saja? Jangan kau main-main, nona. Kami orang-orang suku bangsa Cou tidak boleh dipermainkan oleh kamu orang-orang Han seperti suku bangsa Ouigour!"

Akan tetapi Eng Eng tetap melayani kedua orang kepala pasukan yang galak ini sambil tersenyum-senyum.

"Eh, eh. kalian benar-benar galak. Dengan cara bagaimanakah kalian hendak menghalangi aku? Coba, aku ingin sekali menyaksikannya."

Kedua orang ini saling pandang, karena betapapun juga, kalau gadis Han yang cantik dan tabah ini melawan, mereka merasa tidak enak untuk melayani seorang gadis muda.

Akan tetapi, seorang perajurit yang bertubuh tinggi kurus dan bermata seperti burung segera melompat maju dan berkata.

"Biarlah aku yang menangkap gadis liar ini!"

Katanya dan dengan cepat ia menubruk maju sambil mengeluarkan kedua tangannya hendak mencengkeram pundak Eng Eng.

Eng Eng melihat bahwa cengkeraman ini adalah semacam ilmu silat utara yang mengutamakan sergapan dan cengkeraman atau cekikan, maka sambil mengeluarkan suara ejekan, tubuhnya tiba-tiba melejit dan bagaikan angin lalu ia telah dapat membuat si mata burung itu menangkap angin!

Dan sebelum si mata burung dapat mengetahui bagaimana cara gadis itu bergerak, tiba-tiba terdengar suara keras dan dagunya telah kena digaplok oleh Eng Eng!

Orang itu merasa seakan akan dunia hendak kiamat!

Bumi yang dipijaknya serasa terputar-putar, pohon-pohon di sekelilingnya seakan-akan hendak roboh menimpanya dan matahari di angkasa menjadi dua berkejar-kejaran.

Akan tetapi dia adalah seorang perwira bangsa Cou yang telah melatih diri bertahun tahun maka ia dapat mengerahkan tenaga dan mengatur rasa pening pada kepalanya dan rasa berdenyut perih pada dagunya yang membengkak terkena tamparan Eng Eng tadi.

"Perempuan liar, rasakan pembalasanku!"

Katanya dan tangannya meraba pinggang mencari goloknya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika goloknya telah lenyap dari pinggangnya dan ketika ia memandang ke depan, bukan main herannya.

Ternyata bahwa goloknya telah berada di tangan gadis yang lihai itu yang telah merampas goloknya dan kini sambil menodongkan ujung golok pada dada si mata burung, Eng Eng tersenyum menantang.

"Hayo balaslah! Hendak kulihat bagaimana hebatnya pembalasanmu!"

Tentu saja si mata burung tak dapat berkata sesuatu dan tak dapat berbuat sesuatu, hanya memandang dengan mulut celangap!

Dua orang pemimpin pasukan yang tadi menegur Eng Eng adalah tangan kanan dari Piloko sendiri.

Mereka ini adalah kakak beradik yang ahli sekali dalam permainan golok selain tenaga mereka yang besar juga ilmu golok mereka amat disegani kawan-kawannya maupun lawannya.

Kini melihat betapa dengan segebrakan saja seorang gadis cantik dan muda ini dapai mengalahkan si mata burung, bahkan dapat merampas goloknya dengan mudah dan cepat, mereka menjadi heran dan marah.

"Hem, tentu kau adalah seorang wanita di kalangan kang ouw yang membantu Oei ciangkun. Nona, menyerahlah sebelum golokku bicara!"

Mengancam orang pertama.

"Jangan ngimpi!"

Eng Eng mengejek.

"Kita melakukan perjalanan masing-masing tak saling kenal tidak saling perduli. Mengapa tahu-tahu kalian memusuhi dan hendak menggangguku? Ketahuilah, jangankan baru kalian berdua biar puluhan orang pasukanmu ini maju, jangan harap akan dapat mengalahkan aku!"

"Sombong!"

Teriak orang termuda diantara dua pemimpin ini.

Tubuhnya bergerak cepat dan tahu-tahu ia telah mencabut golok dan menyerang Eng Eng.

Gadis ini tadi memegang golok rampasannya di tangan kiri dengan sikap acuh tak acuh dan sembarangan sekali.

Akan tetapi ketika golok lawannya menyambar, tangan kirinya bergerak dan goIok rampasannya berubah menjadi sinar putih yang membentur golok lawannya itu sehingga hampir saja golok lawannya terpental dan terlepas dari pegangan!

Tentu saja orang ini terkejut sekali dan mukanya menjadi merah ketika Eng Eng tersenyum mengejek.

"Apa kataku? Kau terlalu lemah, kawan! Sebaliknya kalian berdua maju berbareng atau kerahkan pasukanmu untuk mengeroyokku!"

Bukan main marahnya dua orang pemimpin pasukan Cou ini.

Sambil berseru garang, keduanya lalu mengayun golok dan menyerang Eng Eng dari kanan kiri.

Akan tetapi, mana bisa dua orang kasar ini menghadapi Eng Eng yang memiliki kepandaian tinggi?

Biarpun gerakan mereka cukup cepat dan kuat namun sambil tersenyum-senyum dan mengeluarkan suara ketawa mengejek, Eng Eng dengan amat mudahnya dapat menghindarkan diri dari serbuan mereka.

Kadang-kadang ia menggunakan golok di tangan kirinya untuk menangkis akan tetapi lebih sering ia mempergunakan ginkangnya yang luar biasa itu untuk mengelak dari serangan-serangan kedua lawannya.

Tubuhnya lenyap merupakan bayangan yang membingungkan kedua orang lawannya.

Pada waktu itu Eng Eng menggunakan baju putih dengan pinggiran merah, juga saputangan yang mengikat rambutnya berwarna merah, demikian pula celananya, berwarna merah hingga ia nampak manis dan cantik sekali.

Orang-orang bangsa Cou memiliki watak yang jujur dan tidak curang.

Para perajurit yang tadinya masih merupakan barisan, kini setelah melihat betapa dua orang pemimpin mereka bertempur melawan seorang gadis Han yang cantik jelita dan lihai sekali, mereka lalu mengurung dan duduk berjongkok sambil tertawa-tawa dengan senangnya seakan-akan mereka sedang menonton pertunjukan yang amat menarik tanpa bayar!

Ketika mereka melihat betapa Eng Eng berkelebatan bagaikan seekor kupu-kupu yang cepat dan ringan sekali beterbangan diantara sambaran dua batang golok dari kedua orang pemimpin mereka, terdengarlah pujian pujian dan sorakan-sorakan riuh rendah.

"Lihai sekali!"

"Bukan main hebatnya!"

Dan masih banyak lagi kata-kata pujian dalam bahasa Cou yang tidak dimengerti oleh Eng Eng, Akan tetapi sikap mereka ini benar-benar menggembirakan hati Eng Eng, sehingga timbullah kesan baik di dalam hati gadis ini terhadap orang-orang Cou yang jujur itu.

Ia menjadi tidak tega untuk melukai dua orang pengeroyoknya ini, dan hanya mempermainkan mereka saja sambil tersenyum-senyum manis.

Entah mengapa semenjak pertemuannya dengan Tiong Han dan mendapat kenyataan bahwa Tiong Han bukanlah pemuda yang dibencinya, ia menjadi amat tertarik kepada pemuda itu dan kalau tadinya ia memandang penghidupan ini nampak gelap dan menyedihkan, kini seakan-akan di dalam kegelapan itu timbul cahaya terang dan di dalam kesedihan itu nampak sesuatu yang membesarkan harapan dan menimbulkan kegembiraannya.

Dulu cita-cita hidupnya hanya satu, yakni membunuh Tiong Kiat dan mencari Thian te Sam kui untuk membalas dendam.

Kalau cita-cita ini sudah tercapai, agaknya ia takkan suka hidup lagi!

Akan tetapi sekarang, entah mengapa, bayangan Tiong Han, pemuda yang lemah-lembut sopan santun, berbudi mulia, dan berkepandaian tinggi itu selalu nampak di depan matanya dan menimbulkan harapan serta pegangan hidup.

Kini sering kali Eng Eng merasa demikian gembira sehingga bunga-bunga seakan-akan tersenyum kepadanya, daun-daun hijau seakan akan melambai-lambai dengan ramahnya.

Kini menghadapi kedua orang lawannya iapun sedang bergembira, maka tidak henti-hentinya ia tersenyum hingga menambahkan kekaguman bagi semua orang Cou yang menonton pertempuran itu.

Gadis lihai itu tidak saja dapat mempermainkan dan melayani dua orang pemimpin mereka dengan golok di tangan kiri bahkan masih mempunyai kesempatan untuk tersenyum-senyum!

Lima puluh jurus telah lewat dan selama itu, jangankan melukai gadis aneh itu, menyentuh ujung bajunya saja kedua orang pemimpin rombongan bangsa Cou itu tidak sanggup.

Sebaliknya Eng Eng juga tidak pernah membalas serangan mereka.

Kini Eng Eng telah merasa cukup dan mulai menjadi bosan.

Pada saat itu, dari kanan kirinya, kedua orang lawannya mengangkat golok dengan cepat dan kuatnya lalu diayun ke arah kepala gadis itu!

Akan tetapi Eng Eng masih dapat tertawa dan berkata.

"Perlahan dulu, sahabat!"

Gadis ini dengan gerakan yang amat lemas dan gaya yang amat manis lalu mainkan gerak tipu yang disebut Burung Hong Membuka Sayap.

Kaki kirinya diangkat ke atas kaki kanan berdiri di atas ujung sepatunya.

Tangan kiri yang memegang golok diayun ke kiri dengan gerakan cepat untuk menangkis serangan golok dari kiri, adapun tangan kanannya berbareng dengan tangan kiri, bergerak pula ke kanan dengan jari-jari terbuka, dan sebelum lawannya yang berada di kanannya tahu apa yang terjadi, ia telah mengeluh dan goloknya terlepas dari pegangan!

Juga goloknya, tidak dapat menahan tenaga tangkisan Eng Eng dan goloknya terlempar jauh!

Orang di sebelah kanan tadi kini meringis-ringis sambil memegangi siku kanannya yang telah terkena bacokan tangan Eng Eng sehingga ia merasa lengannya sakit sekali dan lumpuh!

Adapun orang di sebelah kirinya kini berdiri dengan mata terbelalak, penuh keheranan dan juga kekagetan melihat betapa goloknya tadi terdorong sedemikian hebatnya oleh golok lawannya!

"Hayo maju ........

tangkap dan keroyok!"

Orang yang sikunya lumpuh itu mengeluarkan aba-aba, akan tetapi para perajurit Cou ragu-ragu untuk maju melawan gadis yang sedemikian lihainya itu.

"Mundur semua, jangan berlaku kurang ajar!"

Tiba-tiba terdengar suara orang yang amat berpengaruh dan dari belakang para perajurit itu melompatlah seorang yang tinggi, melompati kepala para perajurit itu dan dengan ringan sekali ia turun di depan Eng Eng.

Gadit ini memandang dan diam-diam ia mengakui bahwa ginkang dari orang yang baru datang ini cukup lumayan.

Ia bersiap sedia, karena maklum bahwa kepandaian orang yang baru datang ini, apabila dibandingkan dengan kepandaian dua orang pengeroyoknya tadi, amat jauh lebih pandai!

Akan tetapi, ia menjadi terheran ketika melihat betapa orang tinggi yang sudah setengah tua ini menjura dengan penuh hormat kepadanya, lalu berkata dalam bahasa Han yang ramah tamah dan lancar sekali.

"Lihiap, mohon kau sudi memaafkan kelancangan dan kekasaran orang orangku yang tidak tahu aturan. Maklumlah bahwa orang-orang yang telah disakiti hatinya oleh orang orang lain yang tadinya dipandang sebagai sahabat-sahabat baik, tentu saja mudah marah. Terus terang saja kami, suku bangsa Cou amat kecewa dan penasaran melihat sikap bangsamu, orang-orang Han. Kami telah dikhianati, orang-orang Han tanpa melihat keadaan dan tanpa alasan yang kuat, telah memilih dan memihak kepada orang-orang Ouigour yang selalu mengganggu kami. Banyak saudara-saudara kami yang tewas oleh pasukan Oei-ciangkun yang kuat, semua ini hanya karena hasutan dari Huayen-khan, pemimpin suku Ouigour yang membenci kami itu!"

Mendengar uraian panjang lebar yang tidak dimengerti betul itu, Eng Eng menjadi bingung.

Akan tetapi melihat wajah orang tua ini yang amat berduka dan tampak bersungguh-sungguh, ia tidak berani main-main.

Ia melempar golok rampasannya tadi dan membalas penghormatan Piloko.

"Aku adalah seorang perantau yang sama sekali tidak mengerti semua itu. Sebenarnya siapakah saudara dan mengapa pula rombongan saudara tiba di tempat yang miskin ini?"

"Aku bernama Piloko, dan semua ini adalah orang-orangku, yakni suku bangsa Cou yang amat menderita. Sebelum aku melanjutkan penuturanku, sudilah kiranya lihiap memperkenalkan diri. Siapakah lihiap, datang dari mana dan benarkah lihiap tidak mempunyai hubungan dengan benteng tentara kerajaan yang dipimpin oleh Oei-ciangkun?"

"Sudah kukatakan tadi, aku adalah seorang perantau bernama Suma Eng. Pekerjaanku hanya membasmi orang jahat dan menolong orang yang tertindas, bagaimana aku dapat terikat oleh hubungan dengan sepihak? Ceritakanlah kesusahanmu, saudara Piloko, mungkin aku dapat membantumu."

Bukan main girangnya hati Piloko mendengar ucapan ini.

Lagi pula diam-diam ia telah menyaksikan kepandaian Eng Eng yang dengan demikian mudahnya mempermainkan dua orang pembantunya.

Ia maklum bahwa kepandaiannya sendiri masih jauh untuk dapat melawan kepandaian nona ini, maka kalau saja ia dapat menarik tenaga nona ini untuk membantunya hal itu tentu amat baiknya.

Pada saat itu terdengar seruan perlahan dari seorang wanita.

Para perajurit yang duduk memberi jalan dan nampaklah seorang wanita setengah tua datang membawa sebatang pedang telanjang di tangannya.

Wajahnya nampak berduka dan juga gelisah, akan tetapi ketika ia melihat Piloko berdiri berhadapan dengan Eng Eng dan bercakap-cakap dalam suasana damai, ia menjadi lega kembali dan pedangnya cepat ia sarungkan di pinggang.

"Nona Suma Eng, ini adalah Yamani isteriku yang setia. Lihat biarpun ia tidak memiliki kepandaian, namun mendengar aku datang ke sini menghadapi orang yang disangka lawan berbahaya, ia lupa kebodohannya dan datang membawa-bawa pedang!"

Kata Piloko memperkenalkan istrinya kepada Eng Eng, lalu disambungnya ketika ia memperkenalkan Eng Eng kepada istrinya.

"Yamani, jangan kau gelisah. Lihiap ini adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, yang mungkin belum pernah kau jumpai di alam mimpi sekalipun! Lihiap ini bernama Suma Eng dan kepandaiannya mungkin sepuluh kali lebih lihai dari pada kepandaianku."

Dengan singkat, Piloko lalu menceritakan kepada istrinya tentang kegagahan Eng Eng yang dikeroyok dua oleh pembantunya yang disebutnya kasar dan lancang tidak bisa mengenal orang.

Mendengar cerita suaminya ini, Yamani lalu menghampiri Eng Eng dan memegang lengannya.

"Ah, lihiap, sungguh berbahagia sekali rasanya dapat bertemu dengan seorang pendekar wanita yang sudah lama menjadi buah mimpi padaku. Aku seringkali mendengar cerita tentang pendekar-pendekar wanita, akan tetapi belum pernah bertemu dengan seorangpun, harap kau mau memaafkan semua kesalahan kawan-kawan kami dan marilah kita bercakap-cakap di dalam kendaraanku yang biarpun kecil akan tetapi lebih enak dari pada di sini."

Sambil berkata demikian, dengan amat ramah tamah, Yamani lalu menarik lengan Eng Eng.

Gadis ini tak dapat menolak karena semenjak bertemu, ia telah merasa suka kepada nyonya bangsa Cou ini yang selain ramah tamah, juga amat manis mukanya.

Setelah duduk berhadapan di dalam kendaraan sambil makan hidangan yang disuguhkan oleh Yamanl yang ramah tamah, Eng Eng lalu mendengar penuturan sepasang suami istri kepala suku bangsa Cou ini.

Ia mendengar betapa suku bangsa Cou selalu mendapat perlakuan kejam dan hinaan daripada suku bangsa Ouigour dan Mongol, dan betapa akhir-akhir ini tentara kerajaan nampaknya bahkan memusuhi mereka dan membantu orang-orang Ouigour yang menahan suku bangsa Cou yang kecil jumlahnya.

"Perkampungan kami yang terakhir kemarin telah diserang pula oleh Huayen khan dibantu oleh pasukan dari Oei ciangkun. Terpaksa kami sekarang mengungsi dan mau tidak mau harus menetap di daerah yang tandus dan tidak subur ini."

Kata Piloko sambil menghela napas.

"Bagi kami sih tidak begitu berat karena kami berdua tidak mempunyai anak."

Sambung Yamani dengan suara mengharukan.

"Akan tetapi kalau kuingat keadaan bangsaku"lihatlah mereka yang mempunyai anak-anak kecil, ah... bagaimana akan jadinya dengan kami...?"

Menangislah Yamani dengan sedihnya.

"Diam kau!"

Piloko tiba-tiba membentak dengan muka merah.

"Apa artinya tangis saja dalam keadaan seperti ini!"

Istrinya terdiam dan dengan wajah pucat dan sepasang mata terbelalak ia memandang kepada suaminya.

Semenjak mereka kawin puluhan tahun yang lalu, baru kali ini Piloko membentaknya sedemikian kasarnya.

Melihat pandang mata isterinya, luluhlah kemarahan Piloko dan ia ingat bahwa ia tadi telah bersikap terlalu kasar, apa lagi di depan seorang tamu ia cepat memegang kedua tangan isterinya dan berkata.

"Yamani maafkan suamimu....... aku terlampau tertindih oleh kedukaan sehingga lupa diri. Maafkanlah......"

Yamani hanya mengangguk-angguk karena tidak kuasa mengeluarkan kata-kata dari kerongkongan yang telah penuh oleh sedu sedan yang ditahan-tahannya.

Melihat keadaan mereka ini, bukan main terharunya hati Eng Eng.

Ia merasa penasaran dan marah sekali kepada orang-orang Ouigour yang sewenang-wenang.

Terutama sekali ia merasa penasaran dan kecewa mendengar betapa pasukan kerajaan dari Oei-ciangkun membantu pekerjaan terkutuk dari pasukan Ouigour itu.

Mendengar betapa orang-orang lelaki dan anak-anak bangsa Cou dibunuh dan orang-orang wanita yang muda-muda diculik secara kurang ajar, darah dalam tubuh Eng Eng sudah bergolak saking marahnya.

Ia berdiri dari bangkunya, dan berkata.

"Saudara Piloko, jangan khawatir. Aku akan membantumu dan biarlah aku memberi latihan ilmu golok kepada pasukanmu, kemudian mari kita menyerbu dan membalas kejahatan orang-orang Ouigour itu!"

Mendengar ucapan ini, Piloko dan Yamani segera menjatuhkan diri berlutut di depan gadis gagah itu saking girang dan bersyukurnya. Eng Eng cepat membangunkan mereka dan berkata.

"Aku adalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalku. Biarlah untuk sementara aku ikut dengan kalian sampai kalian dapat merampas kembali kampung yang diserobot oleh bangsa Ouigour!"

Demikianlah, untuk beberapa pekan lamanya, di daerah tandus itu, Eng Eng melatih ilmu golok kepada anak buah Piloko.

Bahkan Piloko sendiri, juga Yamani dan banyak lagi wanita-wanita bangsa Cou yang kebanyakan manis-manis dan cekatan, ikut pula belajar golok yang diajarkan oleh pendekar wanita itu.

Sementara itu, Piloko menyuruh penyelidik-penyelidiknya untuk menyelidiki keadaan bekas kampung mereka yang telah dirampas oleh orang-orang Ouigour.

Pada suatu hari ia mendengar kabar bahwa kampung itu telah ditinggalkan oleh tentara kerajaan dan juga oleh pasukan-pasukan yang dipimpin sendiri oleh Huayen-khan, dan hanya terjaga oleh sepasukan orang Ouigour yang tak berapa kuat.

"Lihiap, kampung kita tidak terjaga kuat. Sekarang besar sekali kesempatan kita untuk menyerbu dan merampasnya kembali."

Eng Eng setuju, maka berangkatlah pasukan Cou dipimpin oleh Eng Eng dan Piloko.

Adapun rombongan keluarganya tidak berangkat bersama pasukan ini, melainkan menanti di tempat itu sampai kampung mereka dapat terampas kembali.

Kini keluarga ini tidak begitu takut lagi ditinggal seorang diri oleh suaminya dan ayah mereka itu sedikit-sedikit telah mempelajari ilmu silat.

Karena perjalanan dilakukan cepat dan tidak membawa keluarga seperti ketika mereka pergi mengungsi, dalam waktu sehari semalam saja sampailah pasukan ini di kampung tempat tinggal mereka.

Terjadilah perang tanding yang hebat dan ramai.

Akan tetapi, jangankan baru pasukan Ouigour yang hanya terdiri dari seratus orang lebih, biarpun di situ ada pasukan induk yang dipimpin oleh Huayen-khan sendiri, belum tentu akan dapat mengalahkan dengan mudah pasukan yang dipimpin oleh Eng Eng ini!

Terutama sekali sepak terjang Eng Eng mengerikan hati orang-orang Ouigour, maka dalam pertempuran yang tak berapa lama, kocar-kacirlah orang-orang Ouigour ini, meninggalkan kawan-kawan yang tewas maupun yang terluka.

Dengan mendapat kemenangan besar, orang-orang Cou lalu masuk ke dalam kampung mereka dan menduduki kampung sendiri.

Mereka segera turun tangan memperbaiki rumah-rumah yang dulu dirusak, kemudian mereka beristirahat.

Pada keesokan harinya, Eng Eng dan Piloko naik kuda untuk menjemput keluarga Cou.

Pasukan kuda mereka ditinggalkan dan diharuskan menjaga kampung itu dengan kuat sedangkan sebagian pula melanjutkan usaha memperbaiki rumah-rumah yang rusak.

Eng Eng merasa gembira sekali.

Baru sekarang ia merasa bahwa hidupnya tidak percuma.

Ia mempunyai tugas dan usaha untuk menuntun dan menolong kehidupan ratusan orang Cou yang ternyata benar-benar jujur dan baik itu.

Melakukan perjalanan bersama Piloko sambil bercakap-cakap, mendengar ucapan yang ramah dan hormat, melihat pandangan mata yang penuh rasa terima kasih itu, ah, Eng Eng merasa seakan-akan berjalan dengan seorang paman atau ayah sendiri!

Bodoh sekali dia, pikirnya, mengapa tidak dari dulu menghubungi masyarakat ramai dan melakukan sesuatu demi kebaikan orang-orang itu?

Sesungguhnya banyak sekali yang harus dilakukan, karena di dunia ini penuh dengan hal-hal yang amat ganjil, penuh dengan penindasan dan kekejaman, penuh dengan orang-orang yang patut dikasihani dan ditolong serta juga orang-orang yang patut dibasmi karena jahatnya!

"Suma lihiap, jasamu amat besar dan budimu terhadap bangsaku takkan dapat kami lupakan selamanya."

Kata Piloko.

"Ah, saudara Piloko apa perlunya segala ucapan sungkan ini. Aku suka membantumu dan membantu bangsamu yang tertindas."

"Ah, alangkah akan bahagia hatiku kalau saja aku dapat mempunyai seorang anak perempuan seperti kau!"

"Kau tidak punya anak, saudara Piloko?"

Kepala suku bangsa Cou itu menghela napas.

"Dulu punya seorang anak perempuan akan tetapi ia meninggal dunia karena penyakit demam. Semenjak itu, aku dan isteriku menganggap semua anak buahku sebagai anak kami dan yang harus kami jaga dengan segenap nyawa dan raga."

Eng Eng tidak menjawab, akan tetapi diam-diam ia juga berpikir.

Alangkah senangnya kalau dia masih mempunyai ayah ibu pula, biarpun ayah ibu bangsa Cou seperti Piloko dan Yamani!

Semenjak kecil ia merindukan cinta kasih ayah bunda yang tak pernah dirasakannya.

Ingin sekali ia berkata kepada Piloko bahwa ia suka menjadi anak orang ini akan tetapi ia tidak dapat mengucapkannya dan hanya diam saja sambil menarik napas panjang.

Ketika mereka tiba di perkampungan baru di daerah tandus itu, senja telah mulai mendatang.

Mereka memasuki kampung, dan dengan amat heran mereka melihat tempat itu sunyi saja tidak kelihatan seorangpun!

Piloko menjadi pucat menyangka bahwa kampung ini tentulah mengalami malapetaka sewaktu ditinggal pergi.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara-suara orang seperti dikeluarkan oleh orang-orang yang sedang bertempur.

Eng Eng melompat turun dari kudanya dan berlari cepat ke arah suara itu yang datang dari luar dusun sebelah barat.

Ketika ia tiba di situ, ia menjadi marah bukan main melihat Yamani dan beberapa orang wanita lain dengan mati-matian sedang mengeroyok seorang laki-laki yang melayani mereka sambil tertawa-tawa mengejek.

Sambil mengelak dari serangan golok para wanita itu, laki laki ini menowel sana mencolek sini, memilih wanita-wanita muda dengan cara yang amat kurang ajar.

"Bangsat Ban Hwa Yong!"

Eng Eng memaki marah.

"Kau benar-benar harus dibikin mampus!"

Sambil berkata demikian, Eng Eng minta golok dari seorang wanita yang tadi ikut mengeroyok penjahat itu dan sambil melompat cepat ia menerjang penjahat cabul itu.

Gadis ini makin lama makin merasa sayang kepada pedangnya, maka ia tidak mau mengotori pedangnya dengan darah bangsat yang dibencinya ini.

Pula ia merasa yakin bahwa dengan sebatang golokpun ia akan dapat mengalahkan Ban Hwa Yong.

Sementara itu, Ban Hwa Yong menjadi kaget setengah mati ketika melihat Eng Eng, gadis yang pernah dirasai kelihaiannya dan yang telah menewaskan kedua suhengnya.

Ban Im Hosiang dan Ban Yang Tojin.

Ia menjadi jerih dan juga marah sekali terhadap gadis ini, maka sambil berseru keras ia mencabut sepasang senjata kaitannya dan memutar sepasang senjata ini bagaikan kitiran cepatnya.

Yamani dan teman-temannya ketika melihat penjahat yang lihai itu menggunakan senjata dan melihat datangnya Eng Eng cepat-cepat mengundurkan diri dan menonton sambil berdiri di tempat yang cukup jauh agar jangan mengganggu Eng Eng dan jangan sampai terkena sambaran senjata penjahat yang lihai itu.

Bahkan Piloko sendiri tidak berani turun tangan karena ia tidak berani mengganggu Eng Eng yang nampaknya sudah kenal penjahat ini dan belum pernah Piloko melihat nona pendekar itu demikian marah.

Ia lalu didekati oleh istrinya yang menceritakan dengan singkat bahwa sebelum Piloko dan Eng Eng pulang, penjahat ini datang memasuki kampung dan melihat betapa penduduk kampung itu hanya wanita-wanita saja.

Ban Hwa Yong lalu hendak berlaku kurang ajar.

Ia hendak mengangkat diri menjadi pemimpin orang-orang itu dan memilih gadis-gadis yang tercantik untuk melayaninya.

Tentu saja orang-orang wanita Cou itu menjadi marah sekali lalu beramai-ramai mengeroyoknya.

Akan tetapi tentu saja mereka ini bukan lawan Ban Hwa Yong yang kosen.

Biarpun penjahat itu dikeroyok oleh beberapa orang wanita yang dipimpin oleh Yamani namun dengan tangan kosong ia menghadapi keroyokan golok itu dengan amat mudahnya bahkan ia masih dapat mengganggu para pengeroyoknya!

Memang agaknya dosa Ban Hwa Yong sudah terlampau bertumpuk-tumpuk sehingga dusun yang nampaknya tenang dan penuh wanita sehingga ia merasa aman dan gembira itu, tidak tahunya adalah tempat tinggal dari Suma Eng, gadis yang dibencinya dan juga amat ditakutinya.

Kini Eng Eng telah maju dengan amat marah.

Gadis ini menggerakkan goloknya dengan sekuat tenaga, dibacokkan ke arah kepala Ban Hwa Yong sambil mengerahkan lweekangnya.

Ban Hwa Yong menangkis dan mencoba untuk membalas dengan serangan balasan yang hebat.

Akan tetapi, baru tangkisannya saja sudah membuat ia merasa makin jerih.

Ketika ia menangkis tadi, ia merasa betapa tangannya yang memegang kaitan yang ditangkiskan menjadi kesemutan dan pedas sekali.

la masih mempertahankan diri sampai dua puluh jurus dengan harapan bahwa karena gadis itu memegang golok, tentu tidak berapa lihai.

Tidak tahunya, rangsekan gadis itu makin hebat saja dan golok yang dimainkan seolah-olah telah berobah menjadi lima batang!

Akhirnya Ban Hwa Yong tak kuat menahan dan sambil berseru keras ia lalu melepaskan beberapa batang jarum rahasia yang dijemputnya dengan tangan kiri dari saku bajunya akan tetapi Eng Eng dengan amat mudahnya mengelakkan diri.

Ketika gadis ini hendak menyerang lagi, Ban Hwa Yong melompat jauh dan melarikan diri.

Akan tetapi mana Eng Eng mau melepaskan penjahat ini?

"Bangsat cabul, kau hendak lari ke mana?"

Serunya dan secepat burung melayang, tubuhnya berkelebat mengejar. Sebentar saja dua orang ini sudah lenyap dari pandangan mata semua orang yang menonton pertempuran itu.

"Lekas, kejar mereka dan bantu Suma lihiap!"

Kata Yamani kepada suaminya dengan gelisah. Akan tetapi Piloko yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari isterinya, tersenyum.

"Kau jangan kuatir, lihiap takkan apa-apa. Bangsat itu pasti akan mampus di tangan Suma lihiap.""

Memang ramalan Piloko ini tidak kosong belaka.

Biarpun Ban Hwa Yong memiliki ginkang yang tinggi dan pandai menggunakan ilmu lari cepat Co sang-hui (Terbang di Atas Rumput).

Namun sebentar saja Eng Eng telah dapat mengejarnya!

Terpaksa Ban Hwa Yong memutar tubuhnya dan bersiap sedia dengan kaitannya.

"Bangsat rendah, mampuslah kau!"

Seru Eng Eng dan cepat gadis ini menyerang dengan goloknya, menggunakan golok di tangan kanan untuk membacok ke arah leher sedangkan tangan kirinya siap untuk mengirim pukulan susulan.

Ban Hwa Yong makin gugup.

Tak terasa keringat dingin mengalir turun dari balik bajunya.

Ia menangkis bacokan itu dengan kaitan di tangan kanan sambil menggeser kaki kanan, kaitan kirinya menyambar ke arah perut Eng Eng!

Akan tetapi, gadis yang sudah sangat marahnya ini lalu menggerakkan kaki kiri menendang tepat mengenai pergelangan tangan kiri Ban Hwa Yong.

"Krek!"

Ban Hwa Yong menjerit ketika tulang pergelangan tangannya patah terkena tendangan Eng Eng yang mengerahkan tenaga luar biasa itu!

Kaitan kiri terlepas dan terlempar jauh.

Sebelum kaitan kanannya dapat sempat bergerak, golok Eng Eng sudah menyambar dan tanpa dapat berteriak lagi.

Ban Hwa Yong manusia durhaka dan keji itu telah roboh dengan kepala terpisah dari tubuh!

"Ting twako, harap kau sekeluarga dapat puas dan tenang.

Musuh-musuhmu telah tewas semua!"

Kata Eng Eng sambil memandang ke angkasa, seolah-olah ia bicara dengan arwah dari Ting Kwan Ek, piauwsu yang terbunuh sekeluarganya oleh Thian-te Sam kui yang kini telah ditewaskannya semua itu!

Kemudian Eng Eng lalu melempar goloknya dan melompat kembali ke arah dusun, piloko dan orang-orang perempuan di situ menyambutnya dengan amat lega dan gembira apalagi ketika mendengar bahwa penjahat itu telah dapat ditewaskan.

Eng Eng menceritakan siapa adanya penjahat itu, maka semua orang menjadi kagum mendengar ini, lebih-lebih ketika mendengar bahwa penjahat itu adalah seorang di antara Thian te Sam kui yang pernah didengar namanya oleh Piloko.

Kemudian pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali rombongan keluarga yang semua berwajah girang dan berseri ini lalu berangkat kembali ke kampung mereka yang telah dapat dirampas kembali dari tangan orang-orang Ouigour.

Kedatangan keluarga dalam keadaan selamat ini menambah kegembiraan orang-orang Cou yang sedang membangun kembali dusun mereka, dan menambah pula rasa terima kasih mereka kepada Suma Eng yang mereka beri nama julukan "Bunga Dewa "!

Dikalangan orang Cou ini dahulu memang terdapat kepercayaan tentang adanya bunga dewa yang sakti sekali yang sering kali diturunkan oleh dewata untuk menolong manusia.

Bunga dewa yang diturunkan ke dunia oleh dewa ini sering kali menjelma menjadi manusia gagah atau menjelma menjadi pertapa-pertapa.

Dengan diberi nama julukan bunga dewa berarti bahwa orang-orang Cou merasa amat berterima kasih dan amat menjunjung tinggi gadis ini!

Setelah suku bangsa Cou bisa merampas kembali kampung mereka dan memperbaiki rumah-rumah di kampung itu.

Eng Eng merasa bahwa tugasnya menolong orang ini sudah selesai.

Akan tetapi, sebelum ia berpamit untuk meninggalkan Piloko dan anak buahnya, kepala suku bangsa Cou itu bersama istrinya berkata kepadanya dengan suara mengandung permohonan.

"Lihiap, kami mengharap dengan sangat sukalah lihiap tinggal bersama kami, tidak saja untuk melanjutkan latihan ilmu golok kepada kami, akan tetapi terutama sekali untuk menakuti orang-orang Ouigour. Kalau tiada lihiap di sini kami pasti akan diserangnya lagi dan sekali ini mereka tentu akan membuat pembalasan hebat. Bagaimana kami dapat melawan mereka kalau sampai tentara Han membantu mereka?"

Eng Eng berpikir bahwa kekuatiran ini beralasan juga.

"Biarkan mereka datang, saudara Piloko, akan kubasmi mereka semua, kalau mereka berani datang mengganggu lagi. Baiklah aku akan tinggal untuk sementara di sini, akan tetapi sesungguhnya aku mempunyai tugas amat penting yakni mencari seorang musuh besarku. Kalau aku tinggal di sini, berarti hbal itu kutunda-tunda. Maka tolonglah menyuruh beberapa orangmu untuk membantuku dan mewakili aku menyelidiki di mana adanya orang yang kucari-cari itu."

Ia lalu memberi keterangan tentang Sim Tiong Kiat yang berjuluk Ang coa kiam, dan memberi gambaran pula tentang bentuk muka dan tubuh pemuda musuh besarnya itu.

Piloko dengan girang lalu menyanggupi, bahkan segera memilih kawan-kawannya yang pandai sebanyak lima orang untuk disuruh menyelidiki di mana adanya Sim Tiong Kiat itu.

Eng Eng tinggal serumah dengan Piloko dan Yamani dan hubungannya dengan nyonya rumah ini makin erat saja seperti enci adik atau bahkan seperti ibu dan anak.

Dari Yamani Eng Eng mempelajari banyak sekali kepandaian bahasa Cou, kerajinan tangan dan juga menerima nasihat-nasihat tentang kehidupan dari nyonya yang sudah banyak pengalaman hidup ini.

Tepat seperti yang dikuatirkan oleh Piloko, dua pekan kemudian datanglah serbuan yang sangat besar-besaran dari pasukan Ouigour yang dipimpin sendiri oleh Huayen khan dan Ang Hwa!

Ketika itu Eng Eng dan Piloko yang ditemani oleh Yamani sedang duduk di belakang rumah menyaksikan latihan ilmu golok yang dilakukan oleh belasan orang pemimpin pasukan.

Tiba-tiba seorang penjaga dengan napas terengah-engah datang melaporkan.

"Dari balik bukit di timur datang pasukan Ouigour yang jumlahnya kurang lebih dua ratus orang, dikepalai sendiri oleh Huayen khan dan seorang wanita muda yang cantik berpakaian merah."

"Ang Hwa si perempuan lacur!"

Kata Piloko dan Yamani hampir berbareng dengan muka kaget.

"Siapkan barisan, perkuat penjagaan di empat pintu gerbang dan sisa barisan semua bersiap di pintu timur!"

Piloko memberi perintah kepada para pembantunya yang sedang berlatih golok itu.

Pemimpin-pemimpin pasukan itu cepat pergi untuk mengatur pasukan masing-masing dan Piloko lalu berkata kepada Eng Eng!

"Nah, Suma-lihiap sekaranglah saatnya kami mohon bantuanmu karena tanpa bantuanmu kami semua pasti akan celaka ditangan Huayen khan dan Ang Hwa.

Selain jumlahnya pasukan mereka lebih besar, juga Huayen khan dan Ang Hwa amat lihai."

Akan tetapi dengan tenang Eng Eng lalu mengajak kepala suku bangsa Cou itu dan istrinya untuk segera keluar dan ikut menjaga di pintu gerbang sebelah timur.

"Siapakah orang yang kau sebut Ang Hwa itu?"

Tanyanya ketika mereka telah tiba di tempat yang dituju di mana para perajurit Cou telah siap sedia dengan golok di tangan.

"Ang Hwa adalah puteri seorang ahli silat Kun Iun pai yang telah menjadi isteri dari Huayen-khan. Mungkin kepandaiannya tidak kalah oleh Huayen khan, terutama sekali pedangnya yang amat ganas."

Jawab Piloko.

Mendengar ini, Eng Eng menjadi tertarik sekali.

Ingin ia menyaksikan sampai di mana kelihaian Huayen khan, terutama orang yang bernama Ang Hwa itu.

Sambil menanti kedatangan tentara musuh, Eng Eng mendengar keterangan Piloko tentang kejahatan dan kecabulan Ang Hwa yang biarpun sudah menjadi istri Huayen khan, namun masih suka bermain gila dengan laki laki lain setahu suaminya!

Tentu saja Eng Eng menjadi sebal mendengar ini dan timbullah rasa benci dalam hatinya terhadap Ang Hwa yang dianggapnya tidak tahu malu.

Sebelum kelihatan barisan Ouigour itu, sudah nampak debu mengebul dan suara sorakan mereka, Eng Eng berpesan kepada Piloko.

"Jangan bergerak dulu. lihat apa yang hendak mereka lakukan. Kalau memang betul Huayen khan dan Ang Hwa berniat buruk, biar aku merobohkan mereka dulu agar semangat barisannya menjadi patah."

Piloko menurut dan memberi perintah kepada para pembantunya, akan tetapi di dalam hatinya diam-diam ia merasa ragu-ragu apakah mungkin Eng Eng dapat merobohkan Huayen-khan dan Ang Hwa seorang diri saja.

Ia telah maklum bahwa ilmu kepandaian Huayen khan sendiri jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaiannya, apa lagi Ang Hwa yang disohorkan orang amat ganas dan kejam itu.

Biarpun ia telah menyaksikan kelihaian Eng Eng, namun sukarlah dapat dipercaya adanya seorang gadis yang dapat menghadapi Huayen-khan dan Ang Hwa!

Tak lama kemudian dari sebuah tikungan di luar dusun, nampaklah barisan Ouigour itu muncul dengan segala kegagahan.

Huayen-khan sendiri naik kuda abu-abu disamping kuda putih yang dinaiki Ang Hwa dan kedua orang ini nampak gagah dan keren.

Melihat dua orang musuh besar ini, Piloko merasa marah dan juga gentar.

Telah berkali-kali ia merasai kelihaian Huayen khan, biarpun ia mengeroyok orang ini, selalu ia menderita kekalahan.

Sementara itu, Huayen-khan memandang kepada Piloko dengan muka merah dan menudingkan golok besarnya sambil berkata.

"Piloko, manusia tak tahu malu! Apakah kau telah bosan hidup maka kau telah berani sekali berlaku curang dan menyerang pasukanku selagi aku tidak ada? Ketika kami merampas kampungmu, kami masih berlaku murah tidak membunuhmu. Akan tetapi kau melepaskan kesempatan dan kekuatan tentara yang lebih besar jumlahnya untuk menyerang kembali kampungmu. Sungguh hal ini aku tak dapat membiarkan saja dan hari ini aku harus dapat memenggal lehermu dengan golokku."

Ucapan ini dikeluarkan dalam bahasa Cou yang kaku. Eng Eng yang sudah mempelajari bahasa ini, dapat mengerti maksudnya, maka ia mendengarkan dengan penuh perhatian, akan tetapi tetap waspada.

"Huayen khan, bisa saja kau memutar balikkan duduknya perkara. Sudah kau katakan juga bahwa kau telah merampas kampungku mau bicara apa lagi? Kau telah mengaku dan memperdengarkan kejahatanmu sendiri. Kau selalu menindas dan memusuhi bangsaku yang lebih kecil jumlahnya, sedangkan seekor semutpun kalau diinjak-injak sarangnya akan mengamuk dan melawan seekor gajah, apalagi pula seorang manusia? Kami merampas kembali kampung kami sendiri, dipandang dari sudut keadilan siapapun juga, ini sudah menjadi hak kami dan kau boleh mengatakan apa juga, namun tetap kampung ini adalah tempat tinggal kami."

Tiba-tiba terdengar suara tertawa mengejek. Ternyata yang tertawa adalah wanita cantik yang berkuda putih di samping Huayen-khan, yakni Ang Hwa.

"He, he, sekarang Piloko berani membuka mulut besar, agaknya burung walet yang sudah habis bulunya itu kini telah tumbuh sayap."

"Ha, ha, ha!!"

Huayen-khan tertawa bergelak mendengar ejekan isterinya ini.

"Kau betul sekali, manis. Biar aku putuskan lagi sayapnya yang baru tumbuh itu. Ha ha, ha!"

Sambil berkata demikian, tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu sebatang anak panah telah terlepas dari busurnya, menyambar Piloko!

Memang Huayen khan adalah seorang ahli main panah.

Akan tetapi piloko yang mendapat julukan Yan ong (Raja WaIet) memiliki ginkang yang sudah cukup tinggi.

Begitu melihat berkelebatnya anak panah yang menyambar, lebih dulu ia telah dapat melompat ke kiri.

Anak panah itu lewat di samping tubuhnya dan menancap ke atas tanah sampai ke gagangnya.

Akan tetapi, dengan amat cepatnya, tiga batang anak panah menyambar lagi, kini ketiga bagian tubuh Piloko!

"Manusia curang!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan tubuh yang amat langsing dan tahu-tahu tiga batang anak panah itu telah kena ditendang runtuh oleh Eng Eng yang tahu-tahu telah berdiri di depan Piloko dan menghadapi Huayen khan dengan mata bersinar marah.

"Ha, ha, ha, pantas saja Piloko berani berlagak, tidak tahunya ia telah mempunyai seorang selir yang cantik dan gagah perkasa. Eh, kau nona yang cantik dan gagah, mengapa kau begitu merendahkan diri ikut pada Piloko yang miskin?"

Bukan main marahnya hati Eng Eng mendengar hinaan ini.

Akan tetapi ia teringat akan penuturan PiIoko tentang Huayen-khan dan istrinya yang ternyata masih muda, cantik yang jelas berasal dari selatan itu, maka katanya dalam bahasa Han sambil tersenyum mengejek.

"Huayen khan, aku adalah seorang gadis kang ouw pembasmi orang-orang jahat seperti kau mana bisa dibandingkan dengan isterimu? Agaknya kau selalu memandang rendah kepada setiap orang wanita, karena mengingat akan istrimu sendiri yang kau biarkan bermain dengan laki laki lain!"

Biarpun omongan yang dikeluarkan oleh Eng Eng ini disertai senyum simpul, akan tetapi tajamnya melebihi ujung pedang yang menikam dada Huayen khan dan Ang Hwa.

Dua orang ini belum pernah dihina orang seperti ini, tentu saja mereka menjadi marah sekali.

Huayen khan saking marahnya tidak dapat berkata sesuatu, hanya kedua tangannya saja yang bergerak secepat kilat dan lima batang anak panah melayang ke arah tubuh Eng Eng!

Gadis ini memperlihatkan kepandaiannya yang benar-benar mengagumkan sekali.

Bagi orang lain, anak-anak panah itu datangnya amat cepat dan sukar sekali diikuti oleh pandangan mata sehingga amat sukar dilihat.

Akan tetapi bagi Eng Eng, ia dapat melihat jelas datangnya anak panah ini.

Dua batang melayang agak rendah, mengarah perut dari kanan kiri.

Dua lagi mengarah dada dari kanan kiri dan sebatang lagi menuju ke arah kepalanya!

Karena anak-anak panah ini datangnya berbareng maka Eng Eng lalu mengeluarkan suara keras dan tubuhnya bergerak amat mengagumkan dan mengherankan.

Sekali bergerak saja, kedua kakinya dengan tendangan berantai telah memukul runtuh dua batang anak panah, dan lagi yang menuju ke arah dadanya dapat ditangkap oleh kedua tangannya dan yang menuju ke kepalanya dapat dielakkan sambil menundukkan mukanya!

Selagi semua orang terheran-heran, Eng Eng berseru lagi dengan nyaring.

"Keledai tua, kau makanlah sendiri anak panahmu!"

Sambil berkata demikian, dua tangannya terayun ke depan dan dua batang anak panah yang tadi ditangkap dengan tangannya kini melayang bagaikan kilat menyambar ke arah pemiliknya.

Huayen-khan masih bengong menyaksikan kelihaian Eng Eng menghindarkan diri dari serangan lima batang anak panahnya.

Kini melihat sinar terang menyambar ke arah perutnya, ia kaget sekali dan cepat ia lalu melompat turun dari kudanya karena tidak ada jalan untuk menangkis atau mengelak lagi.

Ia selamat dari tusukan anak panahnya, akan tetapi kudanya yang berbulu abu-abu meringkik keras lalu roboh, keempat kakinya berkelojotan lalu diam!

Ternyata bahwa Eng Eng melepaskan dua batang anak panah yang disambitkannya itu kedua jurusan, sebatang ke arah Huayen khan dan yang kedua ke arah kuda itu yang tepat mengenai dada dan menembus jantung!

Bukan main marahnya Huayen khan melihat kejadian ini.

Saking marahnya, ia sampai menjadi lupa mempergunakan pikiran sehat lagi.

Bila ia tidak begitu marah, tentu ia dapat mengetahui bahwa gadis di depannya ini sama sekali tidak boleh dibuat permainan dan tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Akan tetapi ia sedang marah sekali dan nama Huayen-khan bukanlah nama yang baru saja muncul.

Dia adalah seorang tokoh yang amat terkenal, bahkan bangsa Mongol dan Tartar sendiri merasa keder mendengar nama ini.

Orang-orang Mongol memberi julukan "Panah setan"

Kepadanya, sedangkan orang-orang Tartar memberi nama poyokan "Golok Peminum darah".

Tentu saja kini baru bertemu pertama kali sudah diperhina dan dipermainkan oleh seorang gadis muda, kemarahannya memuncak.

Ia mencabut golok besarnya dan menerjang maju sambil berseru keras.

Dalam kemarahan dan juga kesombongannya ia memandang ringan kepada lawan ini, sehingga ia lupa memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerbu.

Oleh karena semua anggauta pasukannya amat takut dan taat kepada Huayen-khan yang galak dan keras, maka mereka tidak ada yang berani turun tangan dan hanya menanti sampai kepala mereka merobohkan gadis fihak musuh yang lancang dan berani itu.

Akan tetapi ternyata kali ini Huayen khan kecele besar sekali.

Baru saja goloknya menyambar, tiba-tiba berkelebat sinar merah dan ia merasa seakan-akan pangkal lengannya akan copot dari pundaknya!

Lengannya tergetar hebat dan matanya menjadi silau oleh cahaya api yang berpijar keluar dari goloknya yang beradu dengan pedang merah di tangan nona itu.

Ketika ia cepat menarik kembali golok besarnya, ternyata golok besarnya itu rompal sedikit karena beradu dengan pedang itu.

Bukan main kagetnya hati Huayen-khan.

Golok besarnya adalah sebuah golok pusaka yang ampuh dan keras, bagaimana sekarang sampai dapat gempal sedikit ketika beradu dengan pedang nona yang nampaknya amat tipis dan tidak kuat itu?

Akan tetapi Eng Eng tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak melamun, karena segera pedang merah di tangannya itu berobah menjadi segulung sinar merah yang bergulung-gulung bagaikan seekor naga merah mengamuk!

Huayen khan bukan anak kemarin sore yang baru kali ini menghadapi lawan tangguh, maka ia cepat memutar goloknya, mengimbangi kecepatan gerakan lawan dan sambil menangkis dan mengelak, iapun membalas dengan serangan-serangan kilat yang tak kalah berbahayanya.

Akan tetapi, baru bertempur lima belas jurus saja, seperti orang-orang lain yang pernah menghadapi Eng Eng dalam pertempuran, kepala Huayen-khan telah menjadi pening dan pandangan matanya kabur.

Ia menjadi bingung sekali karena sesungguhnya gerakan pedang dari gadis ini luar biasa anehnya.

Tampaknya demikian kacaunya seperti orang mabok memutar pedang, tetapi di dalam kekacaubalauan ini tersembunyi daya tempur yang luar biasa kuatnya, gerakannya kacau, akan tetapi setiap serangan amat cepat dan berbahaya sedangkan ilmu silat pedang yang nampak kacau balau itu ternyata amat sukar untuk dipecahkan dan amat sukar untuk diserang.

Setelah ia dapat mempertahankan diri sampai dua puluh jurus, Ang Hwa yang melihat keadaan suaminya mulai terdesak hebat dan bingung oleh sinar pedang yang merah itu, menjadi tidak sabar.

Sambil mengeluarkan suara keras ia lalu melompat turun dari kudanya, menghunus pedangnya dan menyerbu.

Melihat betapa Eng Eng dikeroyok, piloko hendak turun tangan.

Akan tetapi, Eng Eng berseru.

"Saudara Piloko, biarlah dua ekor anjing ini kau serahkan kepadaku. Lebih baik kau pimpin kawan-kawan untuk mengusir musuh-musuhmu itu!"

Piloko tidak berani membantah, maka ia lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya.

Mulailah orang orang Cou itu bersorak sambil menyerbu orang-orang Ouigour yang tidak menyangka-nyangka sama sekali.

Terjadilah perang tanding yang amat ramai dan hebat, perang tanding yang kacau balau di luar pintu gerbang dusun itu.

Piloko dan isterinya mengamuk hebat, memimpin kawan-kawan mereka menyerbu musuh yang menjadi kacau karena tidak mendapat pimpinan dari kepala mereka.

Adapun Huayen-khan dan Ang Hwa yang mengeroyok Eng Eng, tiba-tiba menjadi terkejut sekali ketika Eng Eng mengeluarkan pekik yang nyaring dan gerakan pedang merahnya makin hebat saja.

Sekali sabet sambil mengerahkan tenaga, golok di tangan Huayen khan patah sampai di gagangnya dan ketika kakinya terayun ke arah Ang Hwa, nyonya muda ini menjerit ngeri dan tubuhnya terpental sampai tiga tombak jauhnya.

Baiknya Ang Hwa pernah mendapat latihan ilmu Iweekang yang cukup tinggi dari cabang persilatan Kun-lun pai, maka biarpun ia menderita luka di dalam lambung dan mulutnya mengeluarkan darah, namun ketika tertendang tadi ia masih sempat mengerahkan tenaga penolakan hingga lukanya tidak membahayakan nyawanya.

Akan tetapi, sepak terjang Eng Eng ini sudah cukup membuat hati mereka menjadi gentar sekali.

"Serang dia!"

Seru Huayen khan kepada para pembantunya yang segera menyerbu dan mengeroyok Eng Eng.

Sebentar saja Eng Eng dikeroyok oleh sepuluh orang Ouigour yang terkenal memiliki kepandaian lumayan.

Akan tetapi, begitu pedang Eng Eng menyambar-nyambar di sana-sini terdengar seruan kesakitan, disusul robohnya orang-orang yang mengeroyoknya.

Dalam beberapa gebrakan saja Eng Eng telah membabat roboh lima orang pengeroyok dengan cara sama mudahnya dengan orang membabat rumput saja!

Huayen khan yang pergi menolong istrinya menjadi makin gelisah melihat betapa orang-orangnya banyak yang menjadi korban dan tewas dalam pertempuran itu.

la segera memondong tubuh Ang Hwa yang masih pingsan dan melompat ke atas kuda putih, kuda tunggangan Ang Hwa yang terkenal baik dan cepat sekali larinya, lalu berseru.

"Mundur semua!"

Setelah memberi aba-aba mundur ini, Huayen-khan lalu membalapkan kudanya lari dari tempat itu.

Piloko dan Yamani tidak berani mengejar, adapun Eng Eng yang tadinya ingin mengejar dan menewaskan dua orang itu, tidak mempunyai kesempatan karena ia masih dikeroyok dan dikurung oleh orang orang Ouigour.

Ketika ia berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok dengan sekali serangan sehingga yang lain menjadi jerih dan mundur, ternyata kuda putih yang ditunggangi oleh Huayen-Khan telah lenyap dari situ, hanya suara derap kakinya saja terdengar sudah amat jauh.

Orang-orang Ouigour ketika mendengar aba-aba yang dikeluarkan oleh Huayen-khan tidak mau membuang banyak waktu lagi, lalu melarikan diri meninggalkan mereka yang tewas dan terluka.

Pertempuran kali ini adalah pertempuran pertama yang mendatangkan kemenangan besar sekali bagi fihak bangsa Cou, maka tentu saja mereka menjadi amat gembira.

Makin kagumlah semua orang terhadap Eng Eng, bahkan malam itu lalu diadakan perayaan untuk merayakan kemenangan itu serta untuk menghormati Eng Eng.

Dalam perayaan ini, Piloko dan Yamani mengajukan usul, yakni mengangkat Eng Eng sebagai kepala suku bangsa Cou!

Akan tetapi Eng Eng cepat menolak dengan manis sambil berkata.

"Kalian ini sungguh keterlaluan. Bagaimana seorang gadis muda yang bodoh seperti aku hendak dijadikan kepala suku bangsa? Memang tak perlu kusangkal lagi bahwa mungkin dalam ilmu silat, aku mempunyai kepandaian paling tinggi diantara kalian semua. Akan tetapi, kepandaian silat saja masih belum bisa membikin orang menjadi seorang kepala suku bangsa! Bagaimana aku berani menerimanya? Untuk mengatur diriku sendiri yang sebatang kara ini saja bagiku masih amat membingungkan, bagaimana aku harus mengatur penghidupan ratusan orang? Ah, tidak, saudara piloko, maafkan saja, pengangkatan ini aku sama sekali tidak berani terima."

Tiba-tiba Piloko menangis sambil berkata dengan perlahan, akan tetapi terdengar oleh semua orang yang berkumpul di situ.

"Ah, memang nasib bangsaku amat buruk. Agaknya sudah menjadi takdir bahwa suku bangsa Cou harus lenyap dari muka bumi ini. Tadinya kita mengira bahwa Bunga Dewa akan membebaskan kita dari penderitaan dan kehancuran, akan tetapi setelah dia menolak, sama artinya dengan keputusan dari langit bahwa bangsa Cou harus lenyap. Kalau Suma Iihiap tidak mau memimpin kita, akhirnya tentu kita akan ditinggalkan dan..... kalau sampai terjadi hal demikian, lalu bangsa Ouigour atau bangsa lain menyerang kita, apa yang dapat kita lakukan? Sudahlah"memang sudah nasib kita yang amat buruk, keselamatan kita hanya tergantung kepada Suma lihiap saja dan sekarang dia tidak mau menerima permintaan kita""

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara terisak-isak tertahan sehingga semua orang menjadi terharu dan di sana-sini terdengar suara tangis orang-orang perempuan, termasuk Yamani.

Eng Eng menarik napas panjang.

"Saudara Piloko, kau tidak adil! Dengan omonganmu ini, bukankah berarti bahwa kalian hendak mengikat diriku disini? Aku sendiri sudah cukup menderita, hidup sebatang kara, tidak tentu tujuan, tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan diriku, ditambah kalian hendak mengikat aku di sini, lalu apakah aku tidak berhak pula untuk mencari kebahagiaan hidup? Semenjak kecil aku sudah hidup penuh kepahitan, kegetiran, kesengsaraan dan sekarang"setelah aku berjasa.... ah, masihkah aku harus menambah beban hidupku dengan memikirkan kehidupan ratusan orang bangsamu"?"

Bicara sampai di sini, Eng Eng teringat akan keadaannya sendiri dan karena terharunya, menangislah gadis pendekar ini!

Ia menubruk dan merangkul Yamani, lalu menangis tersedu-sedu, belum pernah ia menangis sesedih itu.

Gadis perkasa ini memang selamanya belum pernah menjadi demikian sedihnya, dan baru kali ini, di tengah orang-orang yang bersimpati kepadanya, yang memilihnya sebagai kepala, ia demikian terharu sehingga ia menangis dengan hati terasa bagai diremas-remas!

"Diamlah, nak.

Maafkan kami yang terlalu mengingat keadaan sendiri.

Diamlah, anakku yang baik, kau memang pantas dikasihani."

Kata Yamani sambil mendekap kepala gadis itu.

Eng Eng makin merasa terharu dan mendengar hiburan ini, tangisnya makin menjadi.

Ia merasa betapa suara Yamani itu penuh dengan kasih sayang, dan ia yang selama ini merasa rindu akan kasih sayang seorang ibu, kini tiba-tiba merasa bahwa alangkah baiknya dan senangnya kalau Yamani menjadi ibunya!

"Tidak, tidak.

Kalian tidak salah apa-apa, memang sudah seharusnya aku melindungi dan membantu kalian orang-orang baik dan tertindas ini.

Biarlah aku menjadi anakmu, biarpun aku tidak menjadi kepala, akan tetapi sebagai anakmu aku akan membelamu.

Siapa saja yang berani mengganggu ayah bundaku juga bangsaku, akan kuhajar habis-habisan!"

Ucapan ini dikeluarkan dalam bahasa Cou maka semua orang dapat mendengar dan mengerti artinya.

Bukan main girangnya semua orang, terutama sekali Piloko dan Yamani sendiri.

Mereka saling pandang dan hampir tak dapat mempercayai pendengaran mereka.

Yamani lalu memeluk Eng Eng sambil berkata.

"Anakku... Eng Eng anakku sayang""

"Aku... dan juga kau, ayah. Jangan khawatir, aku akan memberi latihan ilmu silat kepada kawan-kawan kita. Sebelum keadaan kawan-kawan kuat dan boleh diandalkan, aku takkan meninggalkan kalian semua."

Bukan main girangnya Piloko mendengar betapa gadis pendekar ini menyebutnya ayah.

Wajahnya berseri-seri.

la merasa seakan-akan anaknya yang dulu telah meninggal dunia karena sakit kini telah hidup kembali.

Matanya yang biasanya bermuram ini kini menitikkan dua butir air mata.

"Anakku, kau baik sekali. Terima kasih kepada Dewa yang agung yang telah mengirim bunga dewa kepadaku. Alangkah besar kehormatan yang kunikmati dapat menjadi ayah dari bunga dewa!"

Setelah berkata demikian, Piloko lalu berlutut dengan kedua tangan terangkat ke atas sebagai penghormatan dan pernyataan terima kasih kepada penghuni langit!

Melihat hal ini, Yamani dan semua orang yang berada di situ, lalu ikut pula berlutut seperti yang dilakukan oleh Piloko.

Melihat kesungguhan wajah dan sikap mereka, Eng Eng merasa betapa tulang rusuknya menjadi dingin, maka iapun lalu ikut berlutut seperti yang dilakukan oleh ayah dan Ibu angkatnya serta sekalian orang Cou yang berada di situ.

Mulai hari itu, Eng Eng mulai melatih ilmu silat lebih lanjut kepada orang-orang Cou yang belajar makin giat dan rajin lagi sehingga mereka mendapat kemajuan pesat.

Selama itu tidak nampak gangguan lagi dari fihak Ouigour sehingga orang orang Cou hidup dengan aman dan tenteram, menyangka bahwa Huayen-khan telah mendapat hajaran dan tidak berani muncul lagi.

Akan tetapi dugaan mereka ini sebetulnya salah sekali, karena orang seperti Huayen-khan tak mungkin dapat mengalah begitu saja.

Baiknya hal ini dapat diduga oleh Eng Eng yang sengaja untuk sementara waktu tidak mau meninggalkan Piloko dan anak buahnya.

Sementara itu, para penyelidik yang disuruh oleh Piloko untuk mencari jejak Sim Tiong Kiat seperti yang dikehendaki oleh Eng Eng ternyata kembali nihil.

Mereka telah merantau ke selatan sampai ke kota raja, akan tetapi tidak dapat mencari pemuda itu di kota raja atau kota-kota lain.

Hal ini tentu saja amat mengecewakan hati Eng Eng dan membuat dia makin malas untuk mencari Tiong Kiat, karena setelah lima orang penyelidik itu merantau ke selatan dan mencari-cari tidak juga berhasil dia sendiri yang tak begitu mengenal daerah ini, harus mencari ke manakah?

Akan tetapi ia tidak putus asa karena nama Ang.coa kiam Sim Tiong Kiat adalah nama yang mulai terkenal di kalangan kang ouw sedangkan anak buah Piloko telah minta pertolongan orang orang gagah di kalangan kang-ouw untuk memberi berita ke utara apa bila sewaktu-waktu mendengar tentang penjahat muda itu.

Eng Eng merasa yakin bahwa sekali waktu ia pasti akan berhadapan muka dengan pemuda musuh besarnya itu!

Sama sekali ia tidak pernah mengimpi bahwa pada waktu itu, Tiong Kiat tidak berada di tempat jauh, bahkan sama sekali tak pernah menduga bahwa tak lama lagi ia akan berhadapan muka sama muka dengan pemuda itu dalam keadaan yang amat tak tersangka!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, dalam rencana dan usaha mereka untuk berkhianat, Oei Sun atau Oei ciangkun bersama Go bi Ngo-koai tung, diam-diam mengadakan pesekutuan rahasia dengan Huayen-khan pemimpin suku bangsa Ouigour dan juga diam-diam telah mengadakan perjanjian dengan bangsa Mongol di utara.

Huayen-khan dan Ang Hwa yang menderita kekalahan hebat dari Piloko yang dibantu Eng Eng, menjadi amat sakit hati dan mereka teringat kepada Oei-ciangkun.

Setelah mengadakan perundingan mereka itu lalu membawa sisa pasukan menuju ke benteng di lereng bukit dekat kota Hong-bun.

Kedatangan mereka diterima dengan baik oleh Oei-ciangkun dan Gobi Ngo koai-tung akan tetapi Sim Tiong Kiat merasa tidak enak juga ketika ia melihat kedatangan Huayen-khan dan Ang Hwa yang pernah bertempur dengan dia.

Sebaliknya kepala suku bangsa Ouigour itu menjadi kaget sekali melihat Sim Tiong Kiat berada di dalam benteng ikut pula menyambutnya, bahkan telah mengenakan pakaian sebagai seorang perwira!

Akan tetapi Ang Hwa memandang dengan wajah berseri lalu berkata girang.

"Ah, tidak tahunya Sim taihiap sudah berada di sini pula! Sungguh menggirangkan sekali. Kalau aku tahu sudah dulu-dulu aku datang ke sini. Mengapa kau tidak memberi kabar tentang adanya Sim-taihiap di sini, Oei ciangkun?"

Katanya kemudian sambil mengerIing tajam ke arah Oei-ciangkun. Oei Sun tertegun. Panglima ini dapat menduga bahwa tentu dahulu pernah terjadi sesuatu antara Sim Tiong Kiat dan nyonya yang cabul ini.

"Siapa tahu bahwa kalian sudah saling mengenal?"

Tanyanya menggoda.

"Kami sudah saling mengenal dengan baik sekali!"

Jawab Ang Hwa sambil menyambar Tiong Kiat dengan sinar matanya yang tajam. Ketika Oei Sun menengok ke arah Huayen khan, orang tua ini mengangguk dan berkata.

"Kenalan lama, kenalan baik!"

Kemudian ia lalu menarik tangan Oei ciangkun diajak masuk ke dalam, meninggalkan isterinya bersama Tiong Kiat. Setelah berada di dalam, ia berbisik kepada Oei Sun.

"Oei ciangkun, bagaimana pemuda itu bisa menjadi seorang perwiramu? Kenal betulkah kau kepadanya? Setahuku, ia amat setia kepada kaisar!"

Dengan singkat dan cepat Huayen khan lalu menuturkan peristiwa keributan di dalam tendanya dahulu, di mana Tiong Kiat menyatakan tetap setia kepada kaisar sehingga menolak tawaran Huayen-khan yang memberikan istrinya untuk melayaninya!

Oei Sun mengangguk-angguk.

"Aku sudah menduga demikian, akan tetapi belum tentu ia betul-betul bersetia. Orang yang sudah menjadi jai-hwa-cat dan sudah suka menjalani jalan hek.to (jalan hitam, penjahat) tak mungkin dapat mempunyai hati setia. Aku amat sayang akan kepandaiannya yang tinggi dan perlahan-lahan aku sedang menarik dan membujuknya. Kalau sampai dia bisa berobah sikap dan membantu kita, bukankah dia merupakan tenaga yang amat baiknya?"

Huayen-khan mengangguk-angguk.

"Memang demikianlah kehendakku dahulu, akan tetapi Ang Hwa tidak berhasil sehingga diantara dia dan kami bahkan timbul pertempuran hebat. Terus terang saja, akupun merasa kagum sekali melihat ilmu silatnya."

Oei Sun memandang keluar di mana Ang Hwa dengan sikap yang genit dan menarik sedang bercakap-cakap dengan Tiong Kiat.

Tak dapat disangkal lagi dan amat mudah dilihat betapa pemuda itu memandang kepada Ang Hwa dengan mata amat tertarik.

Oei ciangkun tersenyum dan berkata.

"Kurasa Ang Hwa bukannya tidak berhasil sama sekali. Kau lihat saja bukankah ikan emas itu sudah masuk dalam perangkapnya?"

Huayen khan juga memandang keluar dan iapun dapat melihat betapa sesungguhnya Tiong Kiat amat tertarik oleh Ang Hwa dan sedang memandang kepada nyonya muda itu dengan mesra.

"Huayen-khan sebetulnya apakah keperluanmu datang ke benteng? Melihat wajahmu dan semua orang orangmu agaknya kau telah mengalami kekecewaan besar."

"Kekecewaan? Bukan hanya kecewa, bahkan aku telah mengalami kekalahan besar, banyak orangku tewas bahkan Ang Hwa sendiri hampir saja tewas dalam peperangan itu."

Oei ciangkun terkejut.

"Apa katamu? Apakah rombonganmu telah bertemu dengan pasukan dari kota raja?"

"Kami telah dipukul habis-habisan oleh orang-orang Cou."

"Apa? Piloko? Tak mungkin, bagaimana dia bisa memukul pasukanmu?"

"Inilah yang amat menyebalkan! Kalau pasukan kota raja yang mengalahkan pasukanku itu sih tidak berapa menjengkelkan. Akan tetapi pasukan Cou! Ah, sungguh bisa bikin orang mati karena gemas. Pasukan Cou sekarang rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi dan diantara mereka terdapat seorang gadis Han yang luar biasa lihainya sehingga aku dan Ang Hwa hampir saja celaka di dalam tangannya."

Huayen khan lalu menceritakan tentang pertempuran itu. Oei-ciangkun makin terheran.

"Apakah gadis itu masih muda, cantik dan langsing, berpedang merah?"

Kini Huayen-khan yang terkejut.

"Bagaimana kau bisa tahu? Betul, memang gadis itu cantik jelita, tidak kalah oleh Ang Hwa dan pedang merahnya lihai sekali."

Oei-ciangkun tak perlu menceritakan kepada Huayen-khan tentang Eng Eng yang pernah tertawan olehnya, hanya berkata setelah berpikir sebentar.

"Bagus sekali, aku mempunyai pikiran yang amat baik. Mengapa kita tidak mengadukan Sim ciangkun dengan gadis pembela Piloko itu? Dengan jalan demikian, bukankah sekali tepuk mendapat dua ekor burung? Di satu fihak kita dapat menguji kesetiaan Sim-ciangkun kepadaku, dan kedua kita dapat pula membalaskan sakit hatimu terhadap orang-orang Cou. Juga mereka itu perlu dibasmi karena kalau tidak akan mendatangkan bahaya di hari kemudian bagi rencana kita!"

Akan tetapi, ketika Oei-ciangkun dan Huayen-khan mengadakan perundingan dengan Go-bi Ngo koai-tung, pada saat itu juga Ang Hwa sendiri telah berhasil menawan hati Tiong Kiat untuk kedua kalinya dan nyonya muda ini dengan sikap yang amat menarik menuturkan bahwa ia dihina oleh Piloko sehingga hampir saja nyawanya melayang.

Tiong Kiat yang mulai mabok oleh kecantikan dan gaya Ang Hwa, tanpa disadarinya telah memberi kesanggupan bahwa ia tak akan membiarkan sakit hati itu dan akan membunuh Piloko.

Tiong Kiat mengeluarkan janji ini karena ia telah mendengar dari Oei ciangkun betapa Piloko adalah kepala suku bangsa Cou yang hendak memberontak dan membikin kekacauan hingga sudah patut dibasmi.

Go-bi Ngo-koai-tung menganggap usul Oei ciangkun untuk menyuruh Tiong Kiat membantu orang-orang Ouigour membasmi Piloko dan anak buahnya amat baik.

Demikianlah, beramai-ramai mereka lalu mendatangi Tiong Kiat yang sedang bercakap-cakap dengan amat asyiknya dengan Ang Hwa.

"Sim ciangkun."

Oei Sun mulai berkata dengan muka sungguh-sungguh,"seperti pernah kukatakan kepadamu, orang orang Cou yang dikepalai oleh Piloko amat jahat dan berbahaya.

Sekarang Piloko telah melatih orang-orangnya dan baru saja ia telah menyerang Huayen khan dan menimbulkan banyak kematian dan kerusakan.

Kalau tidak lekas-lekas dibasmi, tentu kelak orang-orang Cou itu akan berani menyerang benteng kita, bahkan mungkin sekali akan berani memasuki tembok besar dan mengganggu rakyat.

Oleh karena itu, aku harap kau suka memimpin sepasukan perajurit, bersama-sama dengan pasukan Ouigour yang menjadi penunjuk jalan, menggempur orang-orang Cou itu.

Kalau mungkin bunuh atau tawan Piloko atau setidaknya biarlah merasai kelihaian kita."

Sambil mengerling ke arah Ang Hwa, Tiong Kiat menjawab.

"Baiklah, Oei ciangkun. Urusan orang-orang Cou ini mudah saja, biarlah aku yang akan membikin beres. Bilakah aku berangkat?"

Hampir berbareng Huayen-khan dan Oei ciangkun berkata.

"Sekarang juga, lebih cepat lebih baik."

Akan tetapi tiba-tiba Ang Hwa berkata,"Lebih baik besok pagi saja, karena pasukan kita perlu beristirahat. Lagi pula, akupun akan ikut sendiri untuk membalas dendam!"

Kerling mata yang penuh arti dari nyonya muda ini ke arah suaminya membuat Huayen-khan diam-diam menghela napas.

Ia maklum bahwa isterinya telah jatuh hati kepada pemuda she Sim ini dan iapun tahu sepenuhnya bahwa istrinya menghendaki agar diperbolehkan berdekatan dengan Sim Tiong Kiat!

"Memang betul juga,"

Akhirnya Huayen-khan, suami tua bangka ini berkata.

"pasukan kami yang telah terpukul itu amat lelah dan perlu beristirahat."

Demikianlah, selanjutnya dapat diduga bahwa Tiong Kiat telah terjerumus dalam perangkap yang di pasang oleh Huayen khan dan Ang Hwa.

Pemuda itu tergila-gila kepada Ang Hwa yang sengaja bersikap amat manis kepadanya.

Kini Tiong Kiat tidak menolak seperti dulu, karena kalau dulu ia anggap sikap manis Ang Hwa itu untuk menyeretnya ke jurang penghianatan terhadap kaisarnya, kini nyonya muda yang cantik ini bersikap manis karena memang suka kepadanya, dan karena mengharapkan bantuannya untuk membalas dendam kepada bangsa Cou.

Dan menurut anggapan Tiong Kiat, Piloko dan pasukannya memang pantas digempur da dibinasakan agar jangan mengganggu dan mengacau rakyat!

Pada keesokan harinya, berangkatlah Tiong Kiat memimpin sepasukan perajurit yang berjumlah dua ratus orang, didahului oleh sepasukan kecil perajurit Ouigour sebagai penunjuk jalan.

Ang Hwa tetap berada di dekatnya.

Hal ini disetujui oleh Huayen khan dan Oei ciangkun, karena diam-diam Ang Hwa merupakan seorang penilik untuk menyaksikan bagaimana sikap pemuda itu dalam menghadapi Piloko dan gadis pendekar yang membelanya.

Mereka tiba di hutan dekat dengan dusun yang menjadi tempat tinggal orang-orang Cou dan di situ mereka berhenti.

Tiong Kiat mengadakan perundingan dengan Ang Hwa dan orang-orang Ouigour yang menjadi pembantu Huayen khan.

"Lebih baik kita serbu mereka malam hari ini juga."

Usul Ang Hwa yang sudah tak sabar lagi menanti lebih lama.

"Hal itu berbahaya sekali."

Kata Tiong Kiat yang biarpun belum mempunyai pengalaman dalam perang, namun sudah mempelajari siasat-siasat peperangan dari Oei ciangkun.

"Mereka lebih faham tentang keadaan daerah ini. Pertempuran di malam hari yang gelap di tempat yang belum kita ketahui baik keadaannya, amat berbahaya bagi pasukan kita. Lebih baik kita menanti di hutan ini sampai besok pagi baru menyerang."

"Apa sukarnya?"

Ang Hwa berkata dengan bibir cemberut dan pandangan mata mengejek.

"Apa kau takut? Jumlah tentara kita lebih banyak, kita serbu kampung mereka dengan tiba-tiba dan kalau mereka lari kita lalu bakar rumah-rumah mereka. Bukankah hal itu akan menjadi beres? Serahkan saja Piloko kepadaku dan kau menghadapi gadis liar yang membantunya itu."

Dikatakan takut dan diejek oleh kekasihnya yang baru ini, panaslah hati Tiong Kiat.

Ia maklum bahwa memang sesungguhnya pasukannya tidak usah takut kalah, akan tetapi bertempur dalam gelap itu akan menjatuhkan lebih banyak korban di fihaknya, dan hal ini tadinya hendak dicegahnya.

"Baiklah, kita serbu sekarang!"

Setelah berkata demikian, Tiong Kiat lalu memberi aba-aba dan menyerbulah pasukan kerajaan yang dua ratus orang jumlahnya, dibantu oleh tiga puluh orang lebih pasukan Ouigour yang hendak menuntut balas.

Jauh sebelum pasukan ini tiba di dusun tempat tinggal orang Cou, penduduk kampung itu telah mendengat berita tentang penyerbuan ini dari para peronda.

Piloko dan Eng Eng cepat mengatur persiapan.

"Ayah,"

Kata Eng Eng di tengah-tengah kesibukan itu.

"kau bawalah teman keluarga wanita dan anak-anak menyingkir ke arah gunung di sebelah selatan itu. Biar aku memimpin kawan kawan untuk mempertahankan diri!"

Piloko maklum bahwa siasat Eng Eng ini memang tepat.

Dari penjaga dan peronda, mereka mendengar bahwa penyerbu-penyerbu itu berjumlah dua ratus orang lebih, maka kalau keluarga tidak diungsikan lebih dulu, maka akan berbahaya sekali keadaannya.

Di samping menghadapi musuh, juga mereka terpaksa harus melindungi keluarga mereka.

Kalau keluarga mereka sudah diungsikan lebih dulu ke atas gunung, tentu pertahanan akan dapat dilakukan lebih kuat lagi.

Tanpa banyak cakap lagi Piloko Ialu mengumpulkan semua keluarga yang sudah siap pula mengangkut barang-barang yang terpenting seperti pakaian dan lain lain kemudian dengan hanya membawa sepuluh orang kawan laki-laki, Piloko lalu mengajak mereka keluar dari pintu gerbarg sebelah selatan dan melarikan diri di malam gelap menuju ke gunung di sebelah selatan.

Mereka tidak berani mempergunakan obor, oleh karena hal ini tentu akan terlihat oleh musuh.

Karena mereka sudah paham akan daerah itu, biarpun di malam gelap, dapat juga mereka mencari jalan dan bergerak maju dengan cepat.

Adapun Eng Eng cepat mengatur persiapan.

Ia memasang barisan pertahanan di kanan kiri depan pintu gerbang utara dari mana penyerbu itu datang, dan diam-diam ia memasang barisan panah di dalam kampung, bersembunyi di belakang rumah-rumah sebanyak tiga puluh orang ahli anak panah.

la telah mengatur siasatnya dengan suara gagah dan nyaring.

"Kawan-kawan, musuh yang datang menurut laporan adalah orang-orang Ouigour yang dibantu oleh tentara kerajaan. Aku sendiri bingung mendengar bagaimana tentara kerajaan sampai membantu perbuatan orang Ouigour yang memusuhi kita, akan tetapi tak perlu hal itu dibicarakan lagi. Sekarang dengarlah baik-baik. Pihak musuh berjumlah dua ratus orang lebih berarti dua kali lebih banyak dari pada kita. Orang-orang yang bersembunyi di luar kampung, apa bila nanti melihat mereka menyerbu, jangan bergerak dulu dan biarkan sebagian dari tentara musuh memasuki kampung. Setelah itu barulah aku akan memberi tanda menyerang. Adapun kawan-kawan yang bersembunyi di dalam kampung, begitu melihat musuh masuk, harus segera mengerjakan busur dan anak panah menyerang dari balik-balik rumah. Akan tetapi harap hati-hati, tiap kali sepuluh batang anak panah harus segera mencari tempat persembunyian lain. kalian sudah dilatih dan sudah tahu bagaimana harus berbuat!"

Demikianlah, orang-orang Cou yang gagah berani ini menanti datangnya musuh dengan hati berdebar.

Mereka sama sekali tidak merasa gelisah dan takut karena mereka berbesar hati dengan adanya "Bunga Dewa"

Di tengah-tengah mereka, apa lagi setelah Eng Eng berkata sebagai penutup pesannya.

"Jumlah mereka lebih banyak, akan tetapi kita tak perlu takut! Akan kita perlihatkan bahwa kita bangsa Cou tidak takut mati dan tidak boleh dibuat permainan!"

Barisan penyerbu menjadi girang ketika melihat keadaan di luar kampung ini sunyi saja.

Mereka mengira bahwa orang-orang Cou tentu sudah tidur nyenyak, maka sambil menghunus senjata mereka menyerbu ke dalam dusun melalui pintu gerbang utara yang mereka robohkan.

Di dalam serbuan itu, Eng Eng dari tempat sembunyinya hanya melihat seorang perwira Han bersama Ang Hwa memimpin barisan menyerbu ke dalam, akan tetapi karena gelap ia tidak tahu bahwa perwira itu sebetulnya Sim Tiong Kiat.

Setelah tentara musuh yang memasuki kampung kira-kira ada lima puluh orang tiba-tiba Eng Eng mengeluarkan pekik yang amat nyaring dan ia sendiri lalu melompat turun dari sebuah pohon di mana ia bersembunyi!

Kawan-kawannyapun mengeluarkan pekik dahsyat dan keluarlah seratus orang Cou menyerang musuh yang baru datang.

Perang hebat terjadi dan ternyata keadaan sungguh terbalik.

Bukan orang-orang Cou yang kaget menghadapi serbuan tiba-tiba, melainkan para penyeranglah yang benar-benar menjadi kaget karena diserang secara tiba-tiba oleh orang-orang Cou dari kanan kiri!

Dan berbareng dengan keributan hebat di luar kampung itu, ketika Tiong Kiat hendak membawa keluar kembali pasukannya tiba-tiba beberapa orang perajuritnya terjungkal dengan dada tertembus anak panah.

Kacau balau keadaan dalam kampung dan Tiong Kiat menjadi pucat.

Mereka telah terjebak dan terkurung!

la lalu melompat turun dari kudanya dan memberi perintah.

"Lepas api bakar semua rumah!"

Hebat sekali pertempuran di luar kampung.

Kurang lebih seratus lima puluh tentara Han dibantu oleh tiga puluh tentara Ouigour diserang secara tiba-tiba oleh orang-orang Cou yang jumlahnya hanya tujuh puluh orang lebih.

Eng Eng mengamuk bagaikan seekor naga sakti.

Kemana saja tubuhnya bergerak, dan pedangnya berkelebat, terdengar pekik mengerikan disusul oleh robohnya seorang tentara kerajaan atau tentara Ouigour!

Juga kawan-kawannya mempergunakan ilmu golok yang mereka pelajari untuk mengadakan perlawanan sengit.

Kalau saja yang menyerang itu semua adalah bangsa Ouigour biarpun jumlahnya lebih banyak, tak dapat ragukan lagi bahwa orang-orang Cou ini pasti akan memperoleh kemenangan besar.

Akan tetapi yang mereka hadapi adalah tentara kerajaan dan kali ini Tiong Kiat membawa pasukan pilihan yang rata-rata anggautanya telah mempelajari ilmu silat dengan amat baiknya, maka pertempuran itu berjalan seru dan ramai sekali.

Hanya Eng Eng saja seorang yang merupakan pencabut nyawa yang tak dapat dihalangi lagi.

Baik perajurit biasa maupun perwira muda dari tentara kerajaan atau tentara Ouigour, apabila kebetulan berhadapan dengan gadis ini, tak dapat menahan lebih dari tiga gebrakan!

Pasti akan terjungkal dalam keadaan tewas!

Kegagahan luar biasa inilah yang membuat pertempuran itu menjadi seimbang, karena selain sepak terjang gadis pedang merah ini membikin gentar hati pasukan musuh, juga membesarkan semangat orang-orang Cou yang bertempur penuh semangat dan tak kenal takut!

Bertumpuk-tumpuk mayat dan orang terluka ditimbulkan oleh pertempuran ini, korban yang jatuh fihak penyerbu banyak sekali, dan juga fihak Cou banyak jatuh korban sehingga Eng Eng mulai merasa kuatir.

Tak disangkanya bahwa fihak penyerbu benar-benar lihai dan rata-rata memiliki ilmu silat yang terlatih.

Ia menjadi marah sekali melihat betapa fihaknya sudah banyak berkurang dan bagaikan seorang gila Eng Eng memutar pedangnya lebih cepat lagi sambil berseru berkali-kali.

"Akan kubasmi kalian anjing-anjing rendah!"

Makin banyak korban yang roboh di bawah sambaran pedangnya dan makin jerihlah para pengeroyoknya.

Akan tetapi tiba-tiba Eng Eng melihat cahaya terang dari dalam kampung yang makin lama makin besar.

Ketika ia menengok, alangkah kagetnya melihat bahwa kampung itu telah menjadi lautan api.

Api bernyala tinggi dan asap telah memenuhi udara, bergulung-gulung di atas kampung yang menjadi terang.

"Terkutuk, mereka membakar rumah-rumah!"

Seru Eng Eng dengan pucat dan bagaikan seekor burung walet terbang, ia meninggalkan pengeroyok-pengeroyoknya, melompat cepat dan berlari masuk ke dalam kampung.

Tepat di pintu gerbang, ia bertemu dengan dua orang yang juga berlari keluar dari dalam kampung.

Mereka ini bukan lain adalah Tiong Kiat dan Ang Hwa!

Juga Tiong Kiat dengan amat kaget mendengar dari seorang perajurit bahwa di luar anak buahnya telah diamuk oleh seorang gadis yang amat gagah perkasa dan bahwa banyak sekali perajuritnya yang tewas oleh gadis ini.

Tiong Kiat telah berhasiI membakar semua rumah dan membunuh semua tentara Cou yang tadi bersembunyi di belakang rumah rumah dengan anak panah mereka, sungguhpun untuk tiga puluh orang musuh itu ia kehilangan hampir semua perajuritnya yang telah memasuki dusun!

Ketika mendengar bahwa tentaranya di luar kampung menghadapi bencana maut yang disebar oleh seorang gadis Cou yang amat sakti, ia lalu cepat berlari keluar bersama Ang Hwa dan kebetulan sekali bertemu dengan seorang gadis yang bukan lain adalah Suma Eng!

Untung Eng Eng tidak mengenal perwira ini, akan tetapi ia tidak perduli siapa adanya perwira ini.

Dengan kebencian luar biasa karena perwira ini yang memimpin orangnya membakar semua rumah di dalam kampung, Eng Eng lalu maju menerjang dengan pedang merahnya.

Ketika perwira itu menangkis dengan sebatang pedang yang bercahaya putih barulah Eng Eng melihat mukanya dan mengenalnya.

"Kau...??"

Tanyanya dengan tertegun akan tetapi segera disusul dengan kata-kata yang menunjukkan kebencian besar.

"Bangsat jahanam! Sekarang tiba saatnya aku mencabut nyawamu!"

Juga Tiong Kiat kaget sekali ketika melihat bagwa gadis yang mengamuk itu bukan lain adalah Suma Eng.

Pantas saja para perajuritnya kocar kacir karena yang dihadapi adalah Eng Eng, gadis yang telah dikenal baik kelihaiannya ini!

"Sim-taihiap, dia inilah perempuan hina yang telah melukaiku!

Lekas kau robohkan dia untukku!"

Kata Ang Hwa sambil maju membantu Tiong Kiat dengan pedangnya.

"Anjing betina, kau belum mampus?"

Eng Eng membentak gemas.

"baiklah biar sekarang kau mampus bersama anjing jantan ini!"

La lalu memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga Ang Hwa terpaksa melompat mundur karena silau matanya.

Ia tidak sekuat Tiong Kiat yang dapat menangkis dan menghadapi pedang merah itu.

Adapun Tiong Kiat sendiri menjadi serba salah dan bingung.

Pertemuan dengan Eng Eng Ini benar-benar tak pernah disangkanya, ia tidak takut terhadap ilmu pedang gadis ini, karena biarpun harus diakui bahwa Eng Eng lihai sekali ilmu pedangnya, namun ia yang kini sudah menyempurnakan Ang-coa kiamsut dari Kim-liong.pai, tak usah takut akan kalah.

Yang menggelisahkannya adalah kenyataannya bahwa hatinya tidak mengijinkannya untuk melukai apa lagi membunuh gadis yang dicintainya.

Baru melihat gadis ini membantu suku bangsa Cou yang memberontak saja, hatinya telah menjadi sakit dan tenaganya Iemas.

Ah, bagaimana gadis ini sampai menjadi tersesat dan membantu pemberontak?

Sebaliknya, Eng Eng yang membenci setengah mati kepada pemuda ini, menyerang dengan nekad tidak memperdulikan keselamatannya sendiri.

Ang Hwa kini hanya memaki-maki sambil menyerang kadang kadang saja dari belakang karena ia tidak berani menghadapi gadis ini dengan langsung.

la mengharapkan agar Tiong Kiat dapat mengalahkan gadis ini.

Melihat sepak terjang Eng Eng, makin sedihlah hati Tiong Kiat.

Ia maklum bahwa gadis ini bersedia mengadu nyawa dengan dia dan kenyataan betapa hebatnya kebencian gadis itu terhadapnya.

Benar-benar membuat ia sering kali tak dapat tidur di waktu malam.

Sekarang kembali Eng Eng telah memperlihatkan kebenciannya dengan serangan-serangan maut yang benar-benar berbahaya, tidak saja berbahaya baginya, bahkan juga berbahaya bagi Eng Eng sendiri.

Gadis itu melakukan serangan dengan sepenuh tenaga dan kepandaiannya, sama sekali tidak perduli lagi bahwa serangan-serangan hebat itu membuat sebagian pertahanannya banyak terbuka.

Tiong Kiat maklum bahwa kalau diteruskan mau tidak mau iapun harus mengadu nyawa.

Kalau bukan dia, tentu gadis ini yang menggeletak tidak bernyawa menjadi korban pedang pusaka.

Dan hal ini ia tidak menghendakinya.

Ia cinta kepada Eng Eng, akan tetapi ia lebih cinta kepada diri sendiri.

Melihat beberapa orang pembantunya berada di situ, ia lalu berseru keras.

"Keluarkan perintah menarik mundur pasukan! Kejar keluarga musuh yang melarikan diri, tangkap mereka semua!"

Tiong Kiat ketika memberi perintah membakari rumah tadi mendapat kenyataan bahwa di situ tidak terdapat seorangpun keluarga bangsa Cou, maka sekarang ia mendapat akal baru.

la dapat menduga bahwa Piloko tentu mengantar keluarga itu mengungsi buktinya semenjak tadi ia tidak melihat kepala suku bangsa Cou itu.

Dalam keadaan terjepit dalam pertempuran mati-matian melawan Eng Eng, ia sengaja mengeluarkan perintah ini untuk menakut-nakuti hati Eng Eng.

Memang siasatnya ini tepat.

Mendengar perintah ini Eng Eng menjadi pucat.

Betapapun bencinya kepada Tiong Kiat dan betapapun besar nafsunya untuk membunuh pemuda ini, akan tetapi mengingat akan keselamatan keluarga suku bangsa Cou yang terancam, ia melupakan kepentingannya sendiri.

"Jahanam, kejam!"

Bentaknya marah dan secepat kilat Eng Eng melompat keluar dari dusun itu.

Dilihatnya bahwa kawan-kawannya masih bertempur seru melawan musuh yang kini mendapat bantuan dari perajurit perajurit kerajaan yang tadi membakar-bakari itu berada dalam keadaan terdesak hebat.

"Mundur!"

Teriak gadis itu dan karena ia mengerahkan khikangnya, maka suaranya amat tinggi melengking mengatasi segala kegaduhan pertempuran itu.

"Ke selatan, lindungi keluarga!"

Mendengar aba-aba ini, orang-orang suku bangsa Cou lalu cepat melarikan diri ke selatan, Eng Eng sengaja lari paling belakang.

Gelombang perajurit musuh yang mencoba untuk mengejar, disambutnya dengan sinar pedangnya yang dengan mudah membabat roboh beberapa orang perajurit, sehingga para pengejar itu menjadi gentar dan mundur.

Kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Eng Eng dan kawan-kawannya untuk melarikan diri secepatnya mendaki bukit di selatan itu.

Tiong Kiat dan pasukannya tidak berani mengejar, karena mereka merasa bingung di daerah tak dikenalnya ini, apalagi dalam keadaan segelap itu.

Mereka takut akan jebakan-jebakan musuh.

Untuk apa mengcjar?

Bukankah ia telah mendapat kemenangan, telah merampas dusun itu, membakar habis rumah-rumah orang Cou dan mengusir mereka?

Demikian pikir Tiong Kiat.

Apalagi fihak orang-orang Cou terdapat Eng Eng yang memimpin, maka semua nafsunya untuk membasmi orang-orang Cou menjadi lenyap.

Kalau tidak ada Eng Eng tak dapat disangsikan lagi, Tiong Kiat tentu akan mengejar terus sampai orang terakhir dari suku bangsa Cou terbunuh.

Demikianlah, pada keesokan harinya Tiong Kiat membawa sisa pasukannya yang telah tewas setengahnya lebih itu kembali ke benteng.

Ang Hwa berlaku lebih manis kepadanya karena dianggapnya Tiong Kiat telah berhasil membalas dendam, sungguhpun wanita ini masih merasa penasaran karena Eng Eng tak dapat tertawan atau terbunuh, Adapun Eng Eng yang memimpin sisa anak buahnya mendaki gunung, setelah mendapat kenyataan bahwa musuh tidak mengejar lagi lalu ia berhenti dan mengumpulkan perajuritnya.

Ternyata bahwa jumlah mereka tinggal lima puluh orang lagi, Eng Eng merasa berduka sekali karena dalam pertempuran ini, ternyata hampir lima puluh orang telah tewas!

Tiga puluh orang di dalam dusun dan dua puluh di luar dusun.

Dan di antara lima puluh orang yang dapat melarikan diri, terdapat pula yang luka-luka.

Hampir saja gadis yang gagah ini mengucurkan air matanya.

Sambil menggigit bibir Eng Eng bersumpah di dalam hatinya bahwa sewaktu-waktu ia pasti akan dapat membekuk batang leher Tiong Kiat dan sekarang lebih banyak lagi alasan baginya untuk membalas sakit hatinya terhadap pemuda itu.

Mereka beristirahat di lereng gunung dan menjelang fajar, dari atas bukit turunlah Piloko dan sepuluh orang kawannya.

Malam tadi ia melihat dari atas bukit betapa dusun mereka terbakar.

Hati mereka gelisah sekali akan tetapi apakah daya mereka?

Piloko tidak berani meninggalkan keluarga yang berada di puncak bukit, maka dengan hati gelisah sekaIi ia menanti sambil menghibur orang-orang perempuan yang mulai menangis dan mengeluh panjang pendek melihat dusun mereka terbakar itu.

Ketika bertemu ayah angkatnya, Eng Eng memeluk Piloko dan menjatuhkan mukanya pada dada ayah angkat ini.

Keduanya merasa terharu sekali.

"Ayah... aku tak dapat mempertahankan...kampung kita...dan lima puluh orang kawan kawan kita..."

Piloko tak dapat berkata sesuatu, hanya menepuk-nepuk pundak anak angkatnya sebagai usaha menghibur.

"Bunga dewa tak perlu berkecil hati!"

Tiba-tiba seorang diantara para perajurit berkata.

"Biarpun dusun kita terbakar dan beberapa kawan kita gugur, akan tetapi jumlah korban di fihak musuh Iebih banyak lagi! Kita harus merasa bangga karena baru kali ini tentara kerajaan yang terkenal gagah perkasa, ternyata menghadapi kita mereka menderita kerugian lebih besar, biarpun tadinya jumlah mereka dua kali lebih besar daripada jumlah kita!"

Mendengar ucapan ini, semua orang menyatakan setuju, bahkan Piloko sendiri lalu menghibur Eng Eng dengan gagah.

"Ucapan tadi benar, anakku. Mengapa kita harus berkecil hati? Mati dalam perang guna membela bangsa dan mempertahankan kehormatan bangsa adalah mati yang amat berharga. Laki-laki gagah yang manakah tidak ingin gugur di dalam peperangan membela tanah air dan bangsa? Percayalah, arwah dari kawan-kawan kita yang tewas, pada saat ini tentu tersenyum-senyum melihat betapa mereka tidak tewas dengan sia-sia, bahwa pertempuran yang menewaskan mereka itu ternyata membawa kemenangan."

Terbangun semangat Eng Eng mendengar ini.

"Ayah kau benar sekali. Maafkan kelemahan hatiku. Dusun yang sudah musnah biarlah, kita sekarang mencari tempat dan membangun lagi."

"Marilah kita naik ke puncak dan membuat pertahanan di sana. Siapa tahu kaIau-kalau musuh akan mengejar kita."

Kata Piloko.

Maka naiklah mereka ke atas bukit itu, disambut oleh tangisan keluarga-keluarga yang tidak melihat suami atau ayah mereka ikut datang!

Eng Eng dan Piloko dengan bantuan Yamani menghibur keluarga yang kehilangan ayah atau suami dengan berbagai kata-kata bersemangat.

Di dalam perjalanan mendaki bukit ini, dengan girang sekali Eng Eng mendapat kenyataan bahwa gunung ini amat suburnya dan amat baik untuk dijadikan tempat tinggal bagi keluarga besar itu.

Puncaknya yang bertanah subur dan luasnya beberapa li itu dikelilingi oleh jurang yang amat terjal dan jalan satu-satunya untuk naik hanya melalui jalan batu karang yang kanan kirinya penuh dengan hutan-hutan di dalam jurang!

Hanya puncak-puncak pohon saja yang sampai di jalan batu karang itu.

Selain jalan batu karang ini, tidak ada jalan yang dapat membawa orang sampai ke puncak!

"Ayah, tempat ini bagus sekali!

Dengan menduduki puncak, biarpun diserang oleh ribuan musuh, kita dapat menghancurkan mereka dengan amat mudahnya!"

Kata Eng Eng.

Piloko adalah seorang yang semenjak kecilnya seringkali menghadapi pertempuran-pertempuran.

Sekali pandang saja ia maklum akan maksud kata-kata anak angkatnya ini.

Ia mengangguk-angguk membenarkan.

Memang dengan penjagaan beberapa belas orang saja di puncak, di atas jalan tunggal itu bersenjata batu-batu dan panah, mereka akan dapat menghalau musuh dengan amat mudah.

Jalan itu tidak berapa lebar, hanya dapat dinaiki oleh sejajar yang terdiri dari lima orang.

Biarpun musuh berjumlah banyak, namun hanya lima orang yang dapat maju paling depan dan sebelum tiba di puncak, dari atas dengan mudah saja orang dapat melempar batu untuk membuat orang orang atau musuh yang mencoba naik itu terusir pergi!

Sekali lagi sibuklah suku bangsa Cou ini membangun gubuk gubuk di atas puncak.

Dengan amat girang mereka mendapat kenyataan bahwa di puncak yang subur itu banyak terdapat pohon-pohon buah dan juga binatang-binatang hutan, Eng Eng lalu mengatur penjagaan di atas mulut jalan tunggal itu dan tempat iti dijaga oleh dua puluh orang secara bergilir dan terus menerus siang malam!

Semenjak mereka tinggal di atas puncak bukit itu, telah dua kali pasukan Ouigour dan pasukan dari Oei-ciangkun mencoba untuk mendaki ke atas, akan tetapi dengan amat mudahnya mereka ini dihalau dan terpaksa membatalkan niatnya ketika dari atas jalan tunggal itu menggelinding batu-batu bagaikan hujan lebatnya!

Jalan naik lain telah dicari, akan tetapi sia-sia belaka sehingga akhirnya tidak ada lagi pasukan musuh yang berani naik.

"Aku harus mengajukan protes kepada Kaisar Tai Cung atas serangan-serangan tentara kerajaan yang membantu Ouigour!"

Kata Piloko dengan marah dan penasaran sekali.

"Bagaimana kalau kau nanti ditangkap di kota raja?"

Tanya Eng Eng kuatir.

"Tidak mungkin! Tak mungkin kalau dari kerajaan yang besar sudi melakukan kerendahan yang hina itu. Sudah beberapa kali aku bertemu dengan Kaisar Tai Cung dan melihat sikapnya sungguh aku tidak mengerti mengapa sekarang tentaranya mau mengganggu rakyatku. Aku harus pergi ke kota raja dan minta agar segala gangguan ini dihabiskan!"

Karena kehendak Piloko tak dapat dibantah lagi, akhirnya Eng Eng berkata.

"Baiklah ayah. Aku akan ikut dengan kau ke kota raja! Biar aku yang menjadi pembela dan pengawalmu. Kita berdua dapat pergi dengan hati aman karena keluarga kita berada di tempat yang sentosa. Bilakah kita berangkat, ayah?"

"Besok!"

Jawab ayah angkatnya dengan tegas.

Demikianlah pada keesokan harinya, dari atas puncak, melalui jalan tunggal itu, turunlah Piloko yang mengenakan pakaian kebesaran bersama Eng Eng.

Mereka mempergunakan ilmu lari cepat dan turun dari atas gunung itu, langsung menuju ke selatan, kota raja untuk menghadap Kaisar Tai Cung!

Ketika Tiong Kiat dan Ang Hwa kembali ke benteng membawa berita kemenangan yang telah berhasiI membasmi dusun orang-orang Cou dan mengusir mereka ke puncak gunung, Huayen-khan merasa gembira sekali.

Juga Oei Sun menjadi gembira karena ternyata bahwa Tiong Kiat merupakan tenaga bantuan yang boleh diandalkan, tetapi Go-bi Ngo-koai.

Tung dan Oei Sun menjadi penasaran sekali ketika mendengar bahwa gadis gagah perkasa yang membantu Piloko bukan lain adalah Suma Eng, nona yang pernah tertawan oleh mereka itu.

"Nah apa kataku dulu?"

Kata Oei ciangkun kepada Go bi Ngo-koai-tung dengan suara menyesal setelah mereka berada sendiri.

"nona itu hanya mendatangkan kesulitan belaka. Kalau dulu kita tidak melepaskannya, tidak nanti kita sampai kehilangan seratus orang dalam pertempuran itu."

Thian It Tosu menarik napas panjang.

"Mungkin dia tidak tahu bahwa tentara yang membantu Huayen-khan adalah tentara kita. Kalau kemarin kita yang maju, belum tentu ia suka melawan kita. Akan tetapi sudahlah sekarang Piloko sudah kehilangan banyak orang dan ia telah mengungsi di atas puncak bukit. Apakah artinya beberapa orang Cou itu bagi gerakan kita?"

Akan tetapi ternyata Huayen khan tidak berpikir demikian.

Kepala suku bangsa Ouigour ini masih belum merasa puas kalau belum dapat melenyapkan Piloko dari muka bumi ini.

Oleh karena itu, diam-diam ia lalu memimpin orang-orangnya untuk menyerbu ke atas gunung.

Akan tetapi, ternyata ia menerima hukuman berat dari usaha ini, karena dari atas turunlah batu bagaikan hujan yang melukai banyak orang-orangnya bahkan ada beberapa orang perajurit tewas karena terjungkal ke dalam jurang!

Kembali Huayen-khan minta pertolongan Oei Sun yang menyuruh sepasukan tentara menyerang ke atas gunung.

Sama saja, pasukan inipun menderita karena hujan batu dan semenjak itu, Oei-ciangkun maupun Huayen-khan tidak berani lagi mengganggu benteng di puncak gunung dari orang-orang Cou ini.

Sementara itu, Ang Hwa tetap saja mendekati Sim Tiong Kiat tanpa mengenal malu lagi sehingga tak seorangpun di antara orang-orang yang berada di benteng itu tidak tahu akan adanya hubungan antara perwira she Sim yang baru ini dengan Si bunga Merah, isteri dari Huayen-khan, kepala suku bangsa Ouigour yang sudah tua itu.

Pada suatu hari, selagi Tiong Kiat duduk di ruang dalam bersama Ang Hwa, Huayen khan dan Go bi ngo koai tung, seorang penjaga datang memberi laporan bahwa di luar benteng terdapat lima orang tosu yang minta bertemu dengan Sim Tiong Kiat.

Pemuda itu mengerutkan kening.

Pada waktu itu, Oei-ciangkun sedang pergi keluar benteng, katanya untuk urusan dinas yang tak diketahui olehnya, dan Oei-ciangkun telah menyerahkan komando tertinggi kepadanya sebagai wakil Oei ciangkun.

Siapakah tosu-tosu yang datang mencarinya?

Tiong Kiat menjadi bimbang, lalu ia bertanya!

"Siapakah mereka itu?

Datang dari mana dan perlu apa mencari aku?"

"Kami sudah bertanya Sim ciangkun. Akan tetapi tosu-tosu yang kelihatan galak itu hanya menjawab bahwa mereka ingin bertemu dengan orang yang bernama Sim Tiong Kiat. Mereka tidak mau memberi tahu sama sekali siapa adanya mereka."

Tiong Kiat menjadi makin curiga.

"Sim ciangkun,"

Tiba-tiba Thian It Tosu, orang pertama dari Go-bi Ngo-koai-tung berkata.

"mengapa ciangkun ragu-ragu? Keluarlah dan jumpai orang-orang itu. Biar pinto berlima mengantar ciangkun dengan diam-diam dan pinto berlima mengintai dari balik pintu gerbang. Kalau terjadi sesuatu yang mencurigakan, tentu pinto berlima takkan tinggal diam."

"Aku tidak takut sama sekali terhadap siapapun juga, ngowi totiang, hanya aku tadi merasa ragu-ragu apakah baik aku meninggalkan benteng selagi Oei cangkun tidak ada?"

"Kalau mereka dipersilakan masuk, akan lebih kurang baik lagi."

Kata Huayen-khan yang menaruh curiga.

Akhirnya keluarlah Tiong Kiat, dikawani oleh Ang Hwa yang tidak mau ditinggal, sedangkan Huayen-khan tentu saja bersembunyi di dalam tidak mau memperlihatkan diri, oleh karena ia takut kalau-kalau ada yang melihat ia bersekongkol dengan Oei-ciangkun.

Adapun Go bi Ngo-koai.tung lalu mengintai dari belakang daun pintu gerbang yang lebar dan diam-diam mereka menjadi terkejut ketika melihat siapa adanya lima orang tosu itu!

Akan tetapi, baik Tiong Kiat maupun Ang Hwa, tidak mengenal tosu-tosu ini.

Tiong Kiat yang melihat lima orang tosu setengah tua yang berdiri dengan tenang dan berjajar rapi sambil memandang tajam, cepat keluar dari pintu dan merangkapkan kedua tangannya.

Setelah memberi hormat, ia berkata.

"Tidak tahu siapakah ngo-wi totiang yang terhormat dan kehormatan manakah yang diberikan kepada orang seperti aku sehingga ngowi jauh-jauh datang mencariku?"

Gan Tian Cu dan empat orang sutenya, lima tokoh Kun-lun pai itu saling pandang dan saking herannya, Gan Tian Cu berkata perlahan kepada adik-adik seperguruannya.

"Memang serupa benar, pantas saja banyak orang salah duga!"

Tentu saja Tiong Kiat tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh tosu itu, akan tetapi Gan Tian Cu segera memandangnya dengan mata tajam dan membentak.

"Ang coa kiam ketahuilah bahwa pinto berlima datang dari Kun-lun pai! Tentu kau masih ingat kepada murid kami yang bernama Lo Ban Tek yang kau bunuh secara sewenang-wenang di kota Ikiang! Pinto berlima datang untuk minta pertanggungan jawabmu atas perbuatan-perbuatanmu yang terkutuk!"

Berbeda dengan Tiong Han ketika menghadapi tuduhan kelima orang tosu ini, Tiong Kiat tersenyum mengejek dan bertanya,"Aha, jadi tegasnya kalian berlima ini jauh-jauh datang dari Kun-lun san hanya untuk membalas dendam atas kematian Lo Ban Tek manusia kasar itu?

Apakah yang hendak kalian lakukan terhadapku?

Hendak membunuhku?"

Mendengar pertanyaan yang merupakan tantangan ini, merahlah wajah Gan Tian Cu.

"Orang she Sim, kami datang untuk membawamu ke Kun lun san agar kau menerima putusan dan hukuman dari para ketua Kun lun-pai. Kalau kau melawan, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan!"

"Tosu sombong! Aku Sim Tiong Kiat tidak pernah takut kepada siapapun juga! Benar aku telah membunuh Lo Ban Tek karena ia yang datang mencari dan menantangku. Ia mampus karena memang kepandaiannya masih rendah, kalau dia lebih pandai dari padaku, bukankah aku yang akan mati di tangannya? Kalau seandainya aku yang akan mati, apakah kalian ini juga mau ribut-ribut mengurus perkara ini? Ah, benar-benar kalian ini pendeta-pendeta yang telah kehilangan keadilan, dan hanya bertindak menuruti nafsu hati dan membela golongan sendiri."

"Bisa saja kau memutar lidah, pemuda penuh dosa! Kalau Lo Ban Tek tewas dalam sebuah pibu, biarpun yang dihadapi dalam pibu itu seorang muda jahat seperti engkau, kami takkan sudi mengotorkan tangan kepadamu. Akan tetapi, murid kami itu tewas karena hendak membela kebenaran dan hendak memberantas manusia jahat seperti engkau. Bagaimana kami takkan turun tangan? Sudahlah, manusia cabul dan jahat, lebih baik kau menyerah dan ikut dengan kami ke Kun-lun san, dari pada kami terpaksa harus menggunakan kekerasan."

Sebagai jawaban atas ucapan ini, Tiong Kiat tertawa bergelak dan sekali tangan kanannya bergerak. Hui liong-kiam (Pedang Naga Terbang) telah berada di tangannya, berkilau terkena cahaya matahari.

"Hendak kulihat sampai di mana sih kepandaian dari orang Kun-lun-pai maka kalian menjadi sesombong ini? Apakah kalian hendak maju bersama? Silakan, aku tidak takut!"

Tiong Kiat sengaja mengeluarkan ucapan ini untuk memanaskan hati para pendeta itu. Gan Tian Cu melompat maju dan mencabut pedang dengan tangan kanan dan sebuah hudtim (kebutan) dengan tangan kiri.

"Ang coa-kiam kami masih memandang muka Lui Thian Sianjin yang kami hormati maka kami masih bersikap ramah dan murah terhadapmu. Akan tetapi sikapmu yang kurang ajar ini menghapus semua penghormatan yang masih ada dalam hati kami! Lui Thian Sianjin pasti akan memaafkan kami apabila ia melihat sikap muridnya yang murtad!"

"Sudahlah, tosu tua, untuk apa banyak mengobrol lagi? Pergunakan pisau pemotong rumput dan pengusir lalat itu kalau kau memang berani!"

Sambil berkata demikian, dengan sikap amat menghina Tiong Kiat lalu menggerak-gerakkan pedangnya di depan muka pendeta itu.

Gan Tian Cu marah sekali dan cepat ia lalu menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah tenggorokan Tiong Kiat sedangkan kebutan di tangan kiri menyusul dengan sebuah serangan menotok ke arah lambung.

Inilah gerak tipu yang disebut Ji.liong jut tong (Dua Naga Keluar dari Gua) yang amat lihai.

Pedang di tangan Gan Tian Cu adalah sebatang pedang pusaka juga dan kini digerakkan dengan cepat sehingga hanya merupakan sinar kehijauan menyambar ke arah tenggorokan lawan, sedangkan kebutan itu biarpun nampaknya lemas dan lembut, namun digerakkan oleh tangan Gan Tian Cu yang memiliki tenaga lweekang cukup tinggi, kini menjadi semacam senjata penotok yang lebih keras dari pada baja dan amat berbahaya!

Tiong Kiat maklum bahwa hudtim ini bahkan lebih berbahaya dari pada pedang itu.

Serangan pedang itu sekali kelit saja dapat dihindarkan, akan tetapi belum tentu dengan kebutannya.

Karena biarpun dapat dikelit, ujung kebutan itu tiba-tiba dapat digerakkan menjadi lemas untuk menyambar ke arah leher atau pundak!

Akan tetapi, tidak percuma Tiong Kiat sudah menyempurnakan ilmu pedang Ang-coa-kiam-sut dari kitab ilmu pedang yang benar-benar amat lihai.

Kalau tokoh besar ilmu persilatan menghadapi Tiong Kiat dengan senjata lain, mungkin akan dapat ia mengimbangi ilmu pedang pemuda jago Kim liong.pai ini.

Akan tetapi, Gan Tian Cu mempergunakan pedang pula, dan biarpun telah dibantu pula oleh permainan hudtimnya yang juga amat lihai, namun menghadapi ilmu pedang dari pemuda ini, sebentar saja Gan Tian Cu maklum bahwa ilmu pedang Kun lun kiam hoat masih kalah lihai!

Ketika menghadapi serangan dengan gerak tipu Ji liong-jut tong tadi, Tiong Kiat cepat menundukkan tubuhnya dan pedangnya dari kiri diputar ke kanan, sekaligus membabat ke arah pedang dan kebutan lawan dengan gerak tipu yang disebut angcoa-sin-jauw (Ular Merah Mengulur Pinggang).

Yang nampak hanya sinar putih panjang dan kuat saja menyambar dari kiri ke kanan dan terdengar suara keras dua kali ketika Hui-liong-kiam itu membentur pedang dan kebutan di tangan Gan Tian Cu.

Kedua pihak merasa betapa benturan itu mengakibatkan tenaga mereka menjadi tergetar dan kesemutan, tanda bahwa Iweekang dari pemuda ini sudah mencapai tingkat yang tidak berada di sebelah bawah tingkat Gan Tian Cu.

Gan Tian Cu merasa betapa pedangnya ketika terbentur oleh pedang lawannya, pedangnya itu mengeluarkan bunyi aneh dan terpentalnya seperti tertendang.

Ia maklum bahwa ilmu pedang lawannya ini benar-benar lihai sekali dan pedang yang dipegang oleh pemuda itu ketika digerakkan, agak menggetar dan mempunyai gaya atau tenaga menendang.

Hebat sekali!

Akan tetapi Gan Tian Cu adalah tokoh kelas dua di Kun lun-pai, maka tentu saja ia tidak mau tunduk dan tidak merasa takut menghadapi lawan yang masih muda ini.

Sambil berseru keras, ia lalu mengeluarkan ilmu pedang Kun-lun.pai yang paling istimewa.

Juga hudtimnya digerakkan dengan gencar sekali sehingga kini hudtim dan pedang seakan-akan telah berobah menjadi enam buah senjata yang menyerang dari segala jurusan.

Tiong Kiat merasa terkejut juga.

Ia maklum bahwa seandainya ia belum memperdalam ilmu pedangnya dari kitab yang dirampasnya dari Tiong Han, agaknya ia takkan dapat menangkan pendeta yang kosen ini.

Baiknya ia telah mempelajari ilmu pedang sampai seluruhnya dan telah menemukan jurus rahasia yang belum pernah dipelajarinya dari Lui Thian Sianjin.

Kini ia mengeluarkan jurus-jurus ini yang ternyata bukan main hebatnya.

Tubuhnya lenyap dalam bungkusan sinar pedang yang menjadi amat panjang, lebar dan kuat sekali bagaikan seekor naga sakti yang bermain-main diantara awan yang ditimbulkan oleh kebutan dan pedang lawannya!

Benar saja menghadapi ilmu pedang Ang coa-kiamsut yang dimainkan dengan sempurna ini, Gan Tian Cu mengeluh dan menjadi amat kaget.

Betapapun ia mengerahkan tenaga dan kepandaian, tetap saja terdesak hebat, dan tidak sanggup membalas, hanya mempertahankan diri saja, itupun dengan susah payah!

Empat orang sutenya yang menyaksikan, betapa suheng mereka terdesak hebat dan terancam bahaya, mengingat bahwa pertempuran itu bukan semacam pibu yang tak boleh dibantu, melainkan semacam penangkapan atas diri seorang penjahat yang lihai, segera mencabut pedang dan menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran!

Betapapun lihainya Tiong Kiat menghadapi lima orang tokoh Kun lun pai ini ia menjadi kewalahan juga.

Harus diketahui bahwa lima orang ini kepandaiannya tidak kalah olehnya baik ginkang maupun Iweekangnya.

Pemuda ini hanya menang dalam hal ilmu pedang, dan keunggulan dalam memainkan pedang inilah yang membuat ia dapat mendesak Gan Tian Cu.

Akan tetapi, kini dikeroyok lima tentu saja ia menjadi sibuk juga.

"Sim ciangkun, jangan kuatir, kami membantu!"

Berbareng dengan terdengarnya seruan ini, dari balik pintu gerbang benteng melayang keluar lima bayangan orang yang cepat sekali gerakannya dan lima batang tongkat bambu dengan gerakan luar biasa telah menahan lima pedang dari Gan Tian Cu dan empat orang sutenya.

"Sungguh menggelikan! Tosu ternama dari Kun lun pai mengeroyok seorang muda! Mana ada aturan ini?"

Kata Thian It Tosu setelah lima orang tosu dari Kun lun pai itu menjadi terkejut dan melompat mundur.

Lima orang tosu Kun lun-pai kini berhadapan dengan lima orang tosu yang bukan lain adalah Go-bi Ngo.

koai.tung!

Gan Tian Cu dan empat orang sutenya memandang dan biarpun mereka belum pernah melihat Go bi Ngo-koai tung namun melihat jumlah mereka lima orang dan senjata mereka tongkat bambu, Gan Tian Cu dapat menduga-duga lalu mengangkat tangan memberi hormat.

"Kalau pinto tidak salah lihat, bukankah pinto berhadapan dengan Go-bi Ngo koai tung yang terhormat?"

Thian It Tosu tertawa bergelak.

"Bagus Gan Tian Cu, kau memang bermata tajam. Kami berlima memang datang dari Go-bi dan tongkat buruk ini memang telah berhasil mengangkat nama kami. Pinto mendengar bahwa Gan Tian Cu adalah tokoh tingkat dua dari Kun lun-pai, seorang yang amat lihai dan menjunjung tinggi aturan di dunia kang-ouw. Akan tetapi hari ini pinto benar-benar melihat keganjilan yang amat lucu. Bagaimana Gan Tian Cu yang menganggap diri sebagai seorang diantara pemimpin partai Kun lun yang besar mengeroyok seorang pemuda yang telah menjadi perwira kerajaan? Gan Tian Cu tidak tahukah kau bahwa orang tidak boleh memusuhi seorang perwira kerajaan? Apakah kau dan kawan-kawanmu ini mempunyai maksud untuk memberontak?"

Bukan main marahnya Gan Tian Cu dan sute-sutenya mendengar ucapan ini.

"Go bi Ngo.koai! Sesungguhnya terbalik sama sekali pertanyaan yang kauucapkan itu. Semestinya kami yang berhak bertanya kepada kalian berlima. Siapakah orangnya di dunia kang.ouw yang belum pernah mendengar nama Ang coa kiam Sim Tiong Kiat? Apakah benar-benar kalian berlima tidak mempunyai telinga dan mata? Perlukah kiranya kami beberkan semua kejahatan yang telah dilakukan oleh Ang coa kiam? Kita semua telah mengaku menjadi pendekar-pendekar yang memiliki kepandaian, yang semenjak keciI mempelajari ilmu silat untuk dipergunakan sebagai penegak keadilan dan kebesaran. Ang-coa-kiam adalah seorang pemuda yang jahat dan telah banyak mendatangkan keonaran dan banyak melakukan dosa, mengapa sekarang dapat bertemu dengan kalian di benteng ini? Bagaimana ia dapat menjadi seorang perwira kerajaan? Apakah benar-benar kalian tidak pernah mendengar tentang semua kejahatannya?"

Thian It Tosu tersenyum dan berkata dengan tenang.

"Gan Tian Cu, manusia manakah di dunia ini yang tidak jahat dan berdosa? Pinto tidak suka membongkar-bongkar rahasia dan kesalahan orang, apalagi Sim-ciangkun! Biar apapun juga yang hendak kaukatakan tentang dia, buktinya sekarang Sim ciangkun telah menjadi seorang perwira, yang berarti bahwa dia telah berada di jalan benar, menjadi seorang gagah yang setia dan membela negara! Bagiku, seratus kali lebih baik seorang berdosa yang kembali ke jalan benar daripada seorang yang mengaku-aku suci akan tetapi belum tahu bagaimana isi perutnya!"

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 4

Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert