Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Merah 4

Eps 4 Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo.

"Trang! Eng Eng terkejut sekali dan cepat melompat ke arah pohon besar dari mana batu tadi melayang. Ia melihat berkelebatnya bayangan orang melompat pergi dari situ, maka cepat ia berlari menyusul. Ternyata bahwa Tiong Kiat yang menyambit dan menangkis bacokan pedang Eng Eng tadi. Betapapun juga Tiong Kiat merasa terharu sekali melihat dan mendengar betapa Tiong Han membela dan melindungi namanya! Alangkah mulianya hati kakaknya itu. Kakaknya telah dikhianati, telah ditotok dan dilukai, bahkan telah dicurinya pula kitab yang dibawa oleh kakaknya. Dan sekarang, kakaknya masih berusaha melindunginya dari nama busuk. Bagaimana ia dapat membiarkan kakaknya terbunuh oleh gadis liar ini? Melihat Eng Eng mengangkat pedangnya, cepat Tiong Kiat lalu menggunakan kepandaiannya, menyambit dengan batu untuk menangkis pedang itu. Ia telah mempergunakan sepenuh tenaganya, dan percaya bahwa pedang di tangan nona itu tentu akan terpukul jatuh dan terlepas. Siapa kira pedang itu tidak terlepas bahkan batu yang dipergunakan untuk menyambit itu ketika beradu dengan pedang telah terpentaI jauh! Ketika Eng Eng melompat mengejar, lebih kaget lagi hati Tiong Kiat karena sebentar saja gadis itu sudah hampir dapat mengejarnya! Tak jauh dari tempat tadi, terpaksa ia berhenti dan dengan pedang Hui-Iiong kiam di tangan, ia menanti kedatangan Eng Eng. Setelah gadis itu tiba di hadapannya, ia terpesona oleh kecantikan yang murni dari gadis ini. Hatinya berdebar. Alangkah jelitanya gadis ini, dan alangkah gagahnya. Untuk kedua kalinya, Tiong Kiat merasa betapa hatinya berdenyut aneh. Pandangan matanya melembut dan senyumnya menjadi mesra sekali. Di lain fihak, ketika Eng Eng menghadapi pemuda ini wajahnya berubah pucat sekali. la merasa seakan-akan berada di dalam mimpi, atau seakan-akan melihat seorang iblis di siang hari. Tak terasa pula ia menengok ke belakang ke arah tempat tadi. Dari jauh ia masih melihat Tiong Han rebah miring di atas rumput. Apakah pandangan matanya sudah menjadi rusak? Mengapa ada dua orang yang demikian sama dan serupa segala-galanya? "Siapa kau? Mengakulah, siapa kau?"

Tanyanya dengan bibir gemetar.

"Nona sudah Iupa lagikah kau kepadaku? Kita pernah saling bertemu."

"Di kuil.."...?"

Tiong Kiat mengangguk.

"Ya, di kuil"""

Eng Eng merasa kepalanya pening. Bumi yang dipijaknya serasa berputaran dan ia terhuyung-huyung ...... Tiong Kiat melompat mendekat dan hendak memeluknya, akan tetapi Eng Eng mengelak dan berkata.

"Jangan sentuh aku!"

"Nona, aku........ aku cinta kepadamu. Maafkanlah aku, aku ... aku menyesal sekali telah melukai hatimu. Ikutlah aku, jadilah istriku dan kuperlihatkan padamu bahwa aku akan menjadi suami yang baik untuk menebus dosaku ..."

"Terkutuk! Jadi kaulah orangnya?"

Sambil menjerit nyaring Eng Eng lalu menyerang dengan pedang merahnya. Tiong Kiat cepat mengelak dan melompat mundur.

"Nona, pikirlah baik-baik. Hal itu telah terjadi. Kau adalah istriku, dan aku takkan menyia-nyiakanmu, aku akan mengawinimu, kita menjadi suami istri yang bahagia. Pikirlah."

Dengan muka merah dan mata bercahaya bagaikan berapi-api, Eng Eng memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian.

Sungguhpun bentuk tubuh wajahnya serupa benar dengan Tiong Han, namun kini ia melihat perbedaannya.

Tahi lalat kecil di atas dagu pemuda ini !

Ya, benar, inilah orangnya.

la masih teringat akan wajah pemuda ini, dan tahi lalat itu!

Inilah titik yang tadi meragukan hatinya ketika Tiong Han mengaku sebagai seorang yang berdosa.

Inilah orangnya!

Dan sinar mata penuh gairah serta bibir yang tersenyum memikat ini, ah, alangkah besar perbedaannya dengan Tiong Han.

"Keparat jahanam! Aku sudah bersumpah akan menghancurkan kepalamu!"

La menyerang lagi dengan hebatnya.

Terkejut juga hati Tiong Kiat ketika melihat datangnya serangan ini.

Ia cepat memutar Hui liong kiamnya dengan sekuat tenaga, berusaha memukul pedang gadis itu agar terlepas dari pegangan.

Akan tetapi alangkah herannya ketika pedang itu tidak rusak atau terlepas.

Bahkan ketika Eng Eng menyerang lagi dengan penuh kebencian, pedang di tangan gadis itu berobah menjadi segulung sinar merah yang dahsyat sekali!

Hampir sama dengan pedang Ang coa kiam.

Bukan!

Apalagi setelah ia menghadapi gadis ini beberapa jurus, makin gelisah hatinya.

Ilmu pedang gadis ini benar-benar kukoai (ganjil), gerakannya demikian kacau balau dan setiap Jurus yang agaknya ia merasa seperti mengenalnya, ternyata perkembangannya jauh berbeda dengan gerak atau jurus yang lajim.

Gerakan gadis ini seakan-akan menjadi kebalikan dari pada ilmu pedang biasa.

Namun kelihaiannya bahkan lebih dari ilmu pedang biasa.

Nampak kacau balau, namun di dalam kekacauan itu tersembunyi daya serang dan kekuatan yang membingungkannya.

Terpaksa Tiong Kiat lalu mengeluarkan kepandaiannya dan ia melawan dengan penuh perhatian dan hati-hati sekali.

la makin kagum dan rasa sayangnya makin tebal.

Gadis ini jauh lebih cantik dari pada Kui Hwa, dan jauh lebih tinggi kepandaiannya.

Bahkan, ilmu pedang gadis ini belum tentu berada di bawah tingkat kepandaiannya sendiri.

Aduh, alangkah bahagianya kalau ia bisa menjadi suami gadis yang cantik dan gagah perkasa ini.

"Nona...... tahan dulu, nona! Biarkan aku bicara sebentar.."

"Anjing hina dina, kau masih mau bicara apa lagi?"

Berkata Eng Eng dengan marah, akan tetapi ia menahan pedangnya juga karena ia ingin sekali mendengar bicara pemuda yang menghancurkan kehidupannya ini.

"Nona, tidak bisakah kau memaafkan aku? Aku cinta kepadamu dan biarpun aku telah dikuasai oleh nafsu sehingga berlaku salah kepadamu, akan tetapi aku bersumpah bahwa aku menyesal sekali, dan berilah kesempatan kepadaku untuk menebus dosaku. Aku akan memberi kebahagiaan kepadamu, biarlah aku berlaku seperti pelayanmu, biarlah aku melindungimu sampai di hari tua. Nona ""

"Tutup mulut dan mampuslah!"

Eng Eng menjerit makin marah dan kini dua titik air mata berloncat keluar dari pelupuk matanya.

Ia menyerang dengan sepenuh semangatnya, mengerahkan kepandaian dan tenaganya sehingga Tiong Kiat menjadi sibuk sekali.

Pemuda ini maklum bahwa tanpa membalas, ia akan celaka.

Maka kini, ia merubah gerakan pedangnya dan membalas serangan gadis itu.

Terjadilah pertandingan yang luar biasa sekali serunya.

Akan tetapi, ilmu pedang gadis itu terlalu ganas dan kuat bagi Tiong Kiat.

Kalau saja ia tidak sedang bingung dan tidak telah terluka lengannya oleh pedang Tiong Han kemarin, mungkin ia akan dapat bertahan sampai puluhan atau sampai seratus jurus.

Akan tetapi kini ia hanya dapat bersilat sambil mundur, terus terdesak hebat oleh gadis yang ganas sekali gerakan pedangnya itu.

"Akan kubeset kulitmu, kukeluarkan isi dadamu!"

Berkali-kali Eng Eng berseru sambil memperhebat serangannya.

Akhirnya Tiong Kiat tidak tahan lagi menghadapi Eng Eng.

Dengan seluruh tenaga yang masih ada, ketika pedang merah di tangan Eng Eng meluncur dan menusuk ke arah ulu hatinya, ia lalu menyampok pedang ini dengan pedangnya.

Tenaga sampokannya keras sekali dan biarpun pedang di tangan Eng Eng tidak terlepas namun terpental sehingga gadis ini mengeluarkan seruan kaget dan melompat mundur untuk menghindarkan diri dari serangan balasan yang mendadak.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Tiong Kiat.

Ia cepat melompat jauh dan berlari pergi dari situ!

"Jahanam busuk, kau hendak lari kemana?"

Eng Eng cepat mengejar, Tiong Kiat tidak berani melawan lagi.

Biarpun ia sanggup menjaga diri dan menahan serangan gadis ini, akan tetapi ia merasa gelisah kalau teringat kepada Tiong Han.

Tak lama lagi Tiong Han akan bebas dari totokan dan kalau kakaknya itu turun tangan, celakalah dia!

Dengan secepatnya ia melarikan diri, Rasa takut membuat larinya Iebih cepat dari pada biasanya.

Namun Eng Eng juga memiliki ginkang serta ilmu lari cepat yang tinggi tingkatnya sehingga gadis ini merupakan bayangan yang tak pernah tertinggal jauh oleh Tiong Kiat!

Ketika tiba di sebuah hutan kecil, Eng Eng kehilangan bayangan pemuda itu dan ia terus mengejar turun.

Padahal pemuda itu bersembunyi di dalam serumpun alang-alang lebat.

Melihat gadis itu sudah melewatinya, Tiong Kiat cepat keluar dan berlari mengambil jalan ke arah lain.

Bukan main panas dan penasaran rasa hati Eng Eng ketika ia tidak dapat mencari Tiong Kiat.

Pemuda itu telah lenyap bagaikan ditelan bumi.

Kecewa sekali hatinya.

Ia hendak melanjutkan pengejarannya, akan tetapi ia lalu teringat kepada Tiong Han, maka ia lalu kembali naik ke atas bukit itu.

Ketika ia tiba di tempat itu, ia mendapatkan Tiong Han sudah bangun dan duduk di bawah pohon.

Pemuda ini sedang membersihkan pipi dan bibirnya yang berdarah karena tamparan-tamparan Eng Eng tadi.

Biarpun nampaknya masih lemas dan agak pucat namun kesehatannya sudah pulih kembali.

Totokan itu telah dapat dilepaskannya sebelum waktunya dengan pengerahan tenaga dalamnya.

Bukan main malu dan terharu hati Eng Eng ketika ia melihat pemuda ini.

Melihat betapa pipi pemuda itu menjadi bengkak dan kemerahan bekas tamparannya, hampir saja ia tidak dapat menahan air matanya.

Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan menghampiri Tiong Han yang telah berdiri dan memandangnya dengan tenang.

"Aku ........ aku telah berlaku salah"

Harap kau suka maafkan padaku,"

Kata Eng Eng dengan suara gagap juga.

"Tidak apa nona Suma. Sudah sewajarnya kau sebenci itu kepadaku. Bahkan sekarang juga aku masih bersedia untuk menerima, biar akan kau bunuh juga."

"Akan tetapi mengapa?? Mengapa kau melindungi orang itu? Siapakah dia?"

Tiong Han menarik napas panjang. Setelah gadis ini bertemu sendiri dengan Tiong Kiat, ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi.

"Dia adalah adik kembarku, Sim Tiong Kiat."

"Akan tetapi, dia yang berbuat dosa, mengapa kau yang mengakuinya dan membiarkan aku melakukan kesalahan kepadamu?"

Eng Eng berkata penuh penasaran. Tiong Han mencoba tersenyum.

"Lupakah kau nona, bahwa tadinya aku telah menyangkal akan tetapi kau tidak percaya kepadaku? Setelah aku menduga bahwa perbuatan keji itu tentu dilakukan oleh Tiong Kiat, sudah sepatutnya kalau aku yang menerima hukumannya. Aku rela mati untuknya, aku adalah kakaknya dan juga pengganti orang tuanya. Kami berdua telah menjadi yatim piatu semenjak kecil, hidupnya hanya bersandar kepadaku dan kalau ia menjadi tersesat, tanggung jawabku pulalah itu."

Entah mengapa, pemuda ini menceritakan segala hal kepada Eng Eng dan akhirnya ia menjadi demikian berduka memikirkan Tiong Kiat sehingga ia hanya menundukkan mukanya.

"Kau lemah, kau terlalu baik hati."

Eng Eng mencela.

"Manusia macam adikmu itu harus dibasmi dari muka bumi! Aku akan mencarinya sampai dapat, biar berlari ke neraka akan kukejar!"

Sambil berkata demikian, Eng Eng lalu membalikkan tubuh dan hendak lari dari situ.

"Nanti dulu nona""

Tiong Han menahan dan terkejutlah Eng Eng ketika melihat betapa dengan sekali lompatan saja pemuda ini telah berada di hadapannya! Ah, kepandaiannya hebat juga pikirnya.

"Kuharap kau jangan pergi mencari Tiong Kiat, katanya. Marahlah Eng Eng dan dicabutnya pedangnya, mengeluarkan sinar kemerahan.

"Apa? Kau masih juga hendak membela adikmu yang durhaka dan jahat itu? Sim Tiong Han, kalau kau masih mabok dalam kelemahan hati dan kasih sayang terhadap adik secara membuta boleh kau merasai pedangku! Tak perduli siapa yang hendak membela si pendurhaka Tiong Kiat dia adalah musuhku!"

"Nona kau kira aku seorang yang demikian jahat? Adik kandungku telah berbuat dosa besar terhadapmu, apakah aku bahkan hendak menambag dosa itu dengan memusuhimu? Tidak, nona Suma Eng, tidak. Biarpun kau hendak membunuhku, aku takkan melawan. Dosa adikku adalah dosaku juga karena akulah yang mendidiknya semenjak kecil. Aku mencegahmu mengejar Tiong Klat, hanya karena". aku kuatir kalau kalau kau malah akan menjadi korban di ujung pedangnya. Ketahuilah bahwa dia telah merampas kitab ilmu pedang Ang coa-kiamsut dan apabila ia telah dapat menamatkan pelajarannya dalam ilmu pedang itu, sukar bagimu untuk dapat mengalahkannya!"

"Sombong! Siapa takut menghadapi Ang-Coa kiamsut palsu? Mau tahu Ang coa-kiam? Inilah pedang ular merah yang asli!"

Ia memperlihatkan pedangnya.

"Mau tahu ilmu pedang Ang coa kiamsut yang sesungguhnya? Lawanlah ilmu pedangku, karena hanya ilmu pedangku saja yang disebut Ang-coa-kiamsut!"

Tiong Han tertegun mendengar ini dan ia memandang ke arah pedang ini dengan penuh perhatian.

"Pokiam (pedang pusaka) yang baik sekali, akan tetapi bukan Ang-coa kiam, nona. Inilah Ang coa-kiam yang menjadi pedang pusaka dari Kim liong pai, peninggalan dari sucouw Bu Beng Sianjin!"

Ia mencabut pedangnya dan memperlihatkannya kepada Eng Eng juga. Kini gadis itu yang memandang dengan penasaran. Lalu ia tersenyum menghina.

"Hm, pedang buruk seperti ular itu kau sebut Ang coa kiam? Dan kau mau bilang bahwa kau juga ahliwaris dari ilmu pedang Ang coa kiamsut?"

"Memang betul, nona. Aku adalah murid dari Kim liong pai dan tentu saja ilmu pedangku adalah ilmu pedang Ang-Coa-kiam-sut!"

"Hm, marilah kita sama membuktikan mana pedang Ang coa-kiam tulen dan mana Ang coa kiamsut asli!"

Bentak nona itu yang sudah menjadi marah dan ia menyerang dengan hebatnya.

Juga Tiong Han merasa penasaran sekali.

Dalam hal urusan pribadi yang menyangkut persoalan Tiong Kiat, ia memang mau mengalah dan juga ia merasa amat kasihan kepada gadis yang menjadi korban adiknya ini, akan tetapi kalau orang menganggap pedang dan ilmu pedangnya palsu, itu sudah keterlaluan sekali.

Ia hendak membuktikan bahwa pedang dan ilmu pedangnya bukan palsu, maka iapun lalu menangkis dan terjadilah pibu (mengadu kepandaian) yang hebat dan seru sekali di tempat sunyi itu.

Seperti juga halnya Tiong Kiat, kini Tiong Han merasa bingung dan terkejut menghadapi ilmu pedang gadis ini yang amat aneh dan ganas luar biasa.

Baiknya ia sudah mendapat kemajuan pesat dalam ilmu pedangnya dan sudah mempelajari bagian pertahanan yang kuat sekali, kalau tidak tentu ia akan termakan senjata gadis yang hebat ini.

Juga Eng Eng menjadi makin kagum.

Ia dapat merasakan bahwa ilmu kepandaian pemuda ini masih lebih tinggi dari pada kepandaian Tiong Kiat dan tiba-tiba ia merasa sesuatu yang aneh terasa dalam hatinya.

Pemuda ini luar biasa sekali dan amat menarik hatinya.

Sopan santun, lemah lembut dan manis budi.

Jujur dan berbudi mulia, setia kepada saudara dan kini ternyata ilmu kepandaiannya tinggi pula!

Alangkah jauh bedanya pemuda ini dengan Tiong Kiat.

Bagaikan bumi dan langit, ia melihat wajah pemuda itu demikian pucat dan darah masih nampak di bibirnya.

Juga pemuda itu mendapat Iuka parah di pundaknya, maka hatinya menjadi tidak tega untuk mendesak lebih hebat.

"Sudahlah, ilmu pedangmu baik juga. Aku tidak keberatan kau namakan ilmu pedangmu itu Ang coa-kiamsut!"

Kata Eng Eng sambil menarik kembali pedangnya.

"Akan tetapi ilmu pedangmu juga hebat, ganas dan lihai sekali, nona!"

Seru Tiong Han dengan kagum dan gembira.

"Aku harus menanyakan ini kepada suhu! Bolehkah aku mengetahui dari perguruan manakah nona dan siapakah suhumu yang mulia?"

"Suhuku sudah mati, namanya Hek sin-mo. Sudahlah Sim Tiong Han, kita berpisah di sini. Aku hendak mengejar adikmu yang jahat!"

Setelah berkata demikian, gadis itu lalu lompat pergi dari tempat itu.

Tiong Han terlampau heran dan terkejut mendengar nama Hek sin mo sehingga ia hanya berdiri bengong dan tidak mencegah gadis itu pergi.

sungguhpun hatinya terasa berat sekali.

Ia pernah mendengar dari suhunya tentang seorang tokoh tinggi di dunia kang-ouw yang bernama Hek sin mo dan kakek ini terkenal sebagai seorang pendekar aneh yang sakti dan juga gila!

Bahkan suhunya pernah bercerita kepadanya bahwa sucouwnya, yakni Bu Beng Siansu, kenal baik bahkan bersahabat dengan si gila Hek sin mo itu!

Tiba-tiba ia mendengar senjata beradu dibarengi bentakan-bentakan nyaring yang dikenalnya sebagai suara Eng Eng!

Cepat Tiong Han melompat menuruni lereng dan dilihatnya Eng Eng tengah dikeroyok oleh tiga orang yang menyerangnya dengan seru sekali.

Siapakah mereka ini?

Bukan lain adalah Thian-te Sam-kui.

Tiga Iblis Bumi Langit yang terkenal lihai.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ban Yang Tojin orang kedua dari tiga iblis itu, telah terbabat putus lengan kirinya oleh Eng Eng.

Dan juga orang ketiga dari mereka, Ban Hwa Yong si penjahat pemetik bunga, telah bertemu dengan Tiong Han dan telah diusir dan dikalahkan ketika Ban Hwa Yong sedang mengamuk dan dikeroyok oleh rombongan piauwsu dari Gin houw piauwkiok.

Ketika Ban Hwa Yong dan Ban Im Hosiang melihat saudara mereka yang putus lengannya, keduanya menjadi marah sekali.

Mereka bersumpah untuk membalas dendam kepada Suma Eng gadis yang telah melukai Ban Yang Tojin dan mulailah mereka mencari gadis itu.

Akhirnya mereka mendapatkan jejak Eng Eng dan menyusulnya ke puncak gunung Ta-pie san.

Kebetulan sekali ketika mereka telah tiba di lereng itu, mereka melihat Eng Eng sedang berlari turun.

"Bangsat perempuan, bagus sekali iblis sendiri telah menyerahkan kau ke dalam tangan kami!"

Seru Ban Yang Tojin dengan marah sekali ketika ia melihat musuh besar yang telah membuat lengannya menjadi buntung.

"Jangan bunuh dulu, jiwi suheng!"

Berkata Ban Hwa Yong sambil tersenyum menyengir dan memandang kagum kepada tubuh yang indah bentuknya serta wajah yang cantik manis itu.

"Tangkap saja dan berikan padaku bunga ini."

Eng Eng marah sekali melihat tiga orang ini.

Ketika melihat Ban Yang Tojin ia menduga bahwa yang dua orang lagi tentulah Ban lm Hosiang dan Ban Hwa Yong.

Ia memang mencari-cari tiga orang Thian-te Sam-kui ini untuk membalas sakit hati keluarga Ting Kwan Ek dan orang-orang yang telah terbunuh oleh tiga iblis ini di kota Hun leng, yakni para piauwsu dari Pek-eng piauwkiok.

"Bagus Thian-te Sam kui. Tanpa dicari kalian telah datang sendiri mengantarkan kepala, Ting-twako dan istrinya telah lama menanti kalian di alam baka!"

Sambil berkata demikian Eng Eng lalu menggerakkan pedangnya yang berobah menjadi scgulung sinar merah yang dahsyat sekali.

Di antara tiga orang iblis ini, hanya Ban Yang Tojin yang sudah merasakan kelihaian pedang gadis itu, maka ketika Ban Im Hosiang dan Ban Hwa Yong menyaksikan ilmu pedang ini, mereka diam-diam merasa terkejut sekali, bahkan Ban Hwa Yong tidak berani main-main lagi.

juga tidak berani memandang rendah.

Segera ia mengeluarkan sepasang senjatanya yang lihai, yakni kaitan besi yang berbahaya itu.

Ban Yang Tojin mengeluarkan tombaknya yang berujung bintang, sedangkan Ban Im Hosiang juga menghunus pedangnya.

Karena maklum bahwa gadis ini mempunyai ilmu kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan, maka tanpa malu-malu Iagi Thian-te Sam-kui lalu mengeroyoknya!

Untung saja bahwa pertempuran ini terjadi di atas lereng gunung yang sunyi sekali, jauh dari masyarakat ramai.

Kalau pertempuran itu berlangsung di tempat ramai, Thian-te Sam-kui tentu akan merasa malu sekali.

Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang amat terkenal dan seorang di antara mereka saja jarang ada orang berani melawan, apalagi bertiga.

Dan kini, menghadapi seorang gadis muda yang cantik jelita ini Thian te Sam-kui sampai maju bertiga mengeroyoknya!

Suma Eng atau Eng Eng sudah mewarisi ilmu kepandaian Hek sin-mo yang luar biasa maka ilmu pedangnya tinggi dan lihai sekali.

Jangankan baru seorang dua orang ahli silat biasa saja, biarpun menghadapi sepuluh orang pengeroyok lebih yang memiliki kepandaian biasa,agaknya tak mungkin para pengeroyoknya dapat menangkan dia.

Akan tetapi, kali ini Eng Eng menghadapi Thian te Sam kui, Tiga Iblis Bumi Langit yang termasuk tokoh tokoh tinggi dalam pengalaman.

Orang pertama dari Thian te Sam-kui yakni Ban Im Hosiang, adalah seorang hwesio tua yang memiliki ilmu pedang cukup tinggi dan kuat, lagi pula semenjak puluhan tahun kegemaran hwesio ini adalah berpibu.

Tiap kali terdengar olehnya ada seorang jagoan, biarpun tempat tinggalnya jauh, selalu ia akan mendatangi jagoan itu untuk diajak mengadu kepandaian!

Dan boleh dibilang selalu ia mendapat kemenangan di dalam pibu ini.

Bahkan ia pernah berani menaiki gunung Kun lun san dan Gobi-san untuk mencoba kepandaian para tokoh Kun-lun pai dan Gobi.pai!

Sungguhpun ia dikalahkan dalam pibu namun kepandaiannya cukup dikagumi oleh tokoh persilatan yang lain.

Orang kedua adalah Ban Yang Tojin yang pandai sekali mainkan senjata tombak berujung bintang.

Tosu ini sudah dua kali kalah oleh Eng Eng, bahkan dua kalinya nona gagah itu telah membabat putus sebelah lengannya, maka tentu saja hatinya menjadi amat sakit dan ia menerjang nona itu dengan kebencian luar biasa dan sangat bernyala-nyala.

Orang ketiga Ban Hwa Yong, juga lihai sekali ilmu silatnya.

Senjatanya yang merupakan sepasang kaitan itu amat sukar dilawan dan sukar pula dijaga.

Dengan dikeroyok oleh tiga orang lihai ini, tentu saja Eng Eng merasa terkurung rapat dan terdesak hebat, Hanya keberanian dan semangatnya yang Iuar biasa saja yang membuat gadis ini dapat mempertahankan diri dengan baik, bahkan dapat pula membalas dengan serangan serangan yang tak kalah hebatnya.

llmu pedangnya dan gerakan tubuhnya sungguh membuat Ban lm Hosiang dan Ban Hwa Yong terkejut dan gentar sekali.

Belum pernah selama hidupnya Ban im Hosiang menyaksikan ilmu pedang seperti ini.

Padahal ia seringkali menyombongkan pengalamannya dan mengaku telah mengenal segala macam ilmu silat yang ada di dunia ini!

Ban Yang Tojin mulai merasa girang karena ia percaya penuh bahwa kepandaian mereka bertiga pasti akan berhasil membalaskan sakit hatinya terhadap gadis yang telah membuatnya menjadi cacad selamanya itu.

Ia mendesak hebat sekali dengan tombaknya dan boleh dibilang, di antara mereka bertiga, serangan tosu ini yang paling sengit.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan keras.

"Ban Hwa Yong penjahat cabul, kau berada di sini? Hm, tentu kalian bertiga ini yang disebut orang Thian-te Sam-kui!"

Berbareng dengan seruan itu, kembali berkelebat gulungan sinar merah dari pedang seorang pemuda.

Kini dua gulungan sinar pedang merah itu menahan serangan Thian te Sam kui!

Begitu melihat berkelebatnya sinar merah dari pedang Tiong Han dan setelah melihat tipu gerakan ilmu pedang Tiong Han, Ban Im Hosiang lalu berseru keras.

"Tahan dulu! Yang baru datang bukankah murid dari Kim Iiong pai dan yang kau pegang itu bukankah Ang.coa-kiam?"

Eng Eng dan Tiong Han menahan pedang mereka, Tiong Han menghadapi Ban im Hosiang dan berkata sambil tersenyum sinis.

"Betul, aku yang muda adalah murid dari Kim-liong-pai dan pedang ini adalah Ang-coa-kiam. Saudaramu Ban Hwa Yong telah bertemu dengan aku dan melihat watak dari adikmu yang buruk, tak perlu kita bicara lagi."

"Anak muda yang sombong! Terhadap lain orang kau boleh menyombongkan ilmu pedangmu dari Kim-Iiong pai, akan tetapi aku tidak takut, biarpun kau memegang pedang Ang coa-kiam!"

Seru Ban Im Hosiang marah dan mendongkol sekali.

"Kami memusuhi iblis wanita ini yang liar dan ganas, yang telah membacok putus lengan suteku. Ada sangkut paut apakah dengan kau murid Kim Iiong pai?"

"Thian te Sam-kui, dengarlah baik-baik, biarpun aku tidak mempunyai urusan dengan kalian dan urusanmu dengan nona ini tidak ada hubungannya denganku, namun sebagai murid Kim liong pai, aku selalu berada di pihak yang benar. Kalian adalah orang-orang berkepandaian tinggi yang menyalahgunakan kepandaian, berlaku jahat dan kejam sebagaimana yang dilakukan oleh Ban Hwa Yong, maka terpaksa aku akan membela nona ini!"

Tiba-tiba Ban Hwa Yong tertawa bergelak,"

Ha,ha,ha, Ang-coa-kiam!

Dulu ketika kita bertemu, aku masih belum kenal sebenarnya Ang-Coa kiam.

Kau bilang aku jahat, penjahat cabul?

Ha, ha, ha!

Siapa tidak tahu bahwa Ang coa kiam adalah seorang pengganggu perempuan yang lebih ganas dari padaku?

Kau lebih cabul dari padaku, sungguh lucu sekali kau masih dapat memaki-makiku!

Seperti seorang perampok besar memaki seorang maling kecil!

Ang-coa-kiam, kita adalah orang-orang segolongan yang memiliki kesukaan yang sama, Kalau kau tergila-gila kepada bunga indah ini, biarlah aku mengalah atau tidak bisakah kita bagi rasa?"

Bukan main marahnya Tiong Han mendengar ucapan manusia cabul itu.

Akan tetapi berbareng hatinya menjadi perih juga karena ia dapat menduga bahwa yang dimaksudkan oleh penjahat cabul ini tentulah adiknya, Tiong Kiat!

Maka ia tidak dapat menjawab, hanya berkata kepada Eng Eng.

"Nona, mari kita basmi penjahat-penjahat ini!"

Eng Eng semenjak tadi memang telah habis sabar melihat Tiong Han bercakap-cakap dengan penjahat itu.

Mendengar omongan Ban Hwa Yong, ia juga dapat menduga bahwa yang dimaksudkan oleh penjahat itu tentulah Tiong Kiat, sehingga kembali Tiong Han menjadi korban perbuatan adiknya dan dia yang mendapat nama busuk!

Ia merasa kasihan kepada pemuda ini, maka ketika mendengar ucapan Tiong Han, Eng Eng tidak menjawab lagi, hanya melompat maju dan menyerang dengan hebatnya, ia disambut oleh Ban Yang Tojin yang dibantu oleh Ban Hwa Yong.

Adapun Sim Tiong Han, yang bergerak maju mendapat lawan Ban Im Hosiang, orang terpandai dari Thian.te Sam-kui.

Pertempuran berjalan lebih ramai dari pada tadi.

Akan tetapi tidak berlangsung lama.

Ban Im Hosiang yang menghadapi Tiong Han, sebentar saja terdesak hebat.

Ilmu pedang Ang-coa kiamsut telah dipelajari oleh pemuda ini sampai tingkat tinggi.

Telah delapan puluh bagian lebih ilmu pedang itu ia kuasai dan kini karena ia mainkan ilmu petang itu dengan pedang Ang.coa.kiam, tentu saja kelihaiannya bertambah-tambah.

Biarpun Ban Im Hosiang mempunyai kelebihan dalam tenaga Iweekang, namun kelebihan ini ditutup oleh kekalahannya dalam hal pedang.

Pedangnya-pun bukan pedang buruk, namun kalau dibandingkan dengan Ang-coa-kiam, pedangnya itn tidak berarti sama sekali.

Hwesio ini tahu akan kelemahan pedangnya, maka iapun bersilat dengan amat hati hati, tidak berani mengadu mata pedangnya dengan mata pedang Ang coa-kiam.

Pertempuran yang terjadi di antara Eng Eng yang dikeroyok dua oleh Ban Yang Tojin dan Ban Hwa Yong, lebih seru lagi.

Gadis ini sekarang dapat mengamuk lebih hebat daripada tadi karena sesungguhnya yang paling berat dilawan adalah Ban Im Hosiang.

Dua orang pengeroyoknya, yang seorang sudah kehilangan lengan kiri dan yang kedua, yakni Ban Hwa Yong yang mata keranjang dan sayang akan kecantikan gadis ini, tidak menyerang dengan sekuat tenaga.

Ban Yang Tojin telah mengganti senjatanya, karena ia telah maklum akan keampuhan pedang gadis itu, namun tetap saja tombak bintangnya yang sekarang tiba-tiba putus ujungnya ketika beradu dengan keras sekali dengan pedang merah di tangan Eng Eng.

Dan sebelum Ban yang Tojin dapat mengelak, ujung pedang di tangan Eng Eng telah menusuk paha kanannya sehingga tosu ini roboh sambil mengeluarkan teriakan keras.

Kalau saja luka di pahanya itu disebabkan oleh tusukan pedang biasa, mungkin ia masih akan dapat melarikan diri.

akan tetapi bekas tusukan pedang merah di tangan Eng Eng mendatangkan rasa panas dan sakit luar biasa sehingga ia hanya rebah sambil merintih-rintih!

Bukan main kagetnya Ban Hwa Yong melihat betapa suhengnya telah roboh.

la memutar sepasang besi kaitannya dengan cepat untuk melindungi diri, akan tetapi sebuah sabetan dari Eng Eng telah membuat sebuah dari kaitannya putus pula!

Ban Hwa Yong melompat ke belakang dan pada saat itu terdengar lain teriakan dan tubuh Ban Im Hosiang terlempar karena tendangan Tiong Han!

MeIihat haI ini, Ban Hwa Yong lalu melemparkan kaitannya yang telah putus itu ke arah Eng Eng kemudian cepat melarikan diri dari situ.

Eng Eng mengangkat pedangnya menangkis, kemudian sebelum Tiong Han dapat mencegahnya, gadis ini dengan gerakan kilat melompat ke dekat Ban Im Hosiang.

Sekali pedang merahnya berkelebat, putuslah leher hwesio itu!

Setelah itu, kembali pedangnya berkelebat dibarengi bentakannya yang keras ke arah leher Ban Yang Tojin maka tewaslah orang pertama dan kedua dari Thian te Sam kui yang pernah menggoncangkan dunia kang ouw.

Eng Eng hendak mengejar Ban Hwa Yong, ternyata bahwa penjahat itu telah lenyap tidak dapat ia ketahui ke mana perginya.

"Mengapa kau tidak mengejarnya?"

Gadis berkata menyesal dan kecewa kepada Tiong Han.

Adapun pemuda ini yang memang masih agak lemah, kini menjadi makin pucat melihat keganasn Eng Eng ini, ia tidak menjawab pertanyaan yang mengandung teguran itu, bahkan dialah yang kini menegur sambil mengerutkan keningnya.

"Nona, mengapa kau begitu kejam? Mengapa kau membunuh lawan-lawan yang sudah terluka tak berdaya? Apakah kesalahan mereka terhadapmu sehingga kau demikian ganas terhadap Thian-te Sam-kui?"

"Lagi-lagi kau memperlihatkan kejernihan hatimu,"

Gadis ini mencela.

"Kau mudah terharu dan tergerak hatimu menyaksikan sebuah peristiwa yang hanya merupakan akibat dari pada sebab yang lebih mengerikan lagi. Tentu sedikitpun tidak terduga atau terpikir olehmu mengapa aku berlaku sedemikian ini yang kau anggap ganas dan kejam."

Merahlah wajah Tiong Han.

Memang ia tidak tahu permusuhan apakah yang ada antara gadis aneh ini dengan Thian-te Sam-kui.

Menurut pendengarannya tadi, gadis ini pula yang telah membuntungkan lengan Ban Yang Tojin dan disangkanya itulah sebenarnya maka Thian-te Sam kui datang memusuhi Eng Eng.

"Maaf nona, memang aku belum mengerti. Tolong kau ceritakanlah kepadaku agar hatiku tidak penasaran lagi."

"Mungkin kau sudah tahu akan sifat-sifat buruk ketiga orang penjahat ini. Sebab pertama timbulnya permusuhan antara mereka dan aku disebabkan oleh Ban Yang Tojin."

Gadis ini dengan jelas lalu menceritakan betapa Ban Yang Tojin mengganggu dan merampok Pek-eng piauwkiok dan betapa ia telah menolong Ting kwan Ek dan mengusir Ban Yang Tojin.

Kemudian Ban Yang Tojin dengan bantuan kedua orang saudaranya itu datang membalas dendam karena kekalahannya dan di luar tahu Eng Eng lalu ketiga orang Iblis itu membasmi Pek-eng-piauwkiok dan membunuh seluruh keluarga Ting Kwan Ek dan Ouw Tang Sin, bahkan lalu membawa lari Nyonya Ouw yang muda lagi cantik.

Setelah mendengar penuturan Eng Eng marahlah Tiong Han.

"Hm, kalau begitu, sayang sekali kita melepaskan Ban Hwa Yong lari. Dia juga patut dilenyapkan dari muka bumi ini!"

Ia lalu menceritakan kepada Eng Eng betapa iapun pernah bertempur dengan Ban Hwa Yong telah membunuh Lo Kim Bwe atau Nyonya Ouw yang diculiknya itu, yakni ketika Ban Hwa Yong bertempur menghadapi keroyokan piauwsu dan Gin houw-piauwkiok.

"Lo Kim Bwe memang sudah sepantasnya mengalami kematian di tangan penjahat itu,"

Kata Eng Eng yang memang merasa gemas dan benci sekali kepada nyonya muda yang genit itu.

Maka diceritakanlah kepada Tiong Han akan segala pengalamannya ketika ia berada di rumah Ting Kwan Ek yang dianggapnya sebagai kakak sendiri itu.

Tak terasa lagi keduanya berjalan perlahan menuruni bukit Ta-pie san sambil bercakap-cakap dengan asyik sekali, sama sekali tidak merasa kikuk atau asing seakan-akan mereka telah bertahun-tahun menjadi kenalan karib, Tiong Han makin tertarik hatinya terhadap gadis ini dan diam-diam ia memaki adiknya yang sudah begitu keji terhadap gadis seperti ini.

"Nona Suma Eng ketahuilah bahwa antara suhumu dan sucouwku masih terdapat ikatan persahabatan yang amat erat. Sucouwku adalah Bu Beng Sianjin, apakah suhumu tidak pernah menceritakan padamu tentang sucouw?"

Gadis itu menggeleng kepala.

Bercakap-cakap dengan Tiong Han mengenai masa Iampau membuat ia seakan-akan berjalan dengan seorang yang telah lama di nanti-nanti, dikenang dan diharapkan kedatangannya.

la merasa bahagia tenteram dan semua pemandangan di atas bukit itu nampak indah dan berseri.

Ia merasa seakan-akan berada di dalam perlindungan yang kuat yang dapat dipercaya penuh, yang membuat ia merasa seperti seorang anak kecil dipangkuan ibunya.

Alangkah bahagianya kalau ia selalu dapat berada di dekat pemuda yang sopan, halus dan juga lihai ini!

Akan tetapi tiba tiba wajahnya yang cantik jelita itu menjadi merah sampai ke telinganya.

Ia teringat lagi kepada Tiong Kiat dan teringat lagi akan keadaan dirinya yang sudah terhina oleh Tiong Kiat.

Tiong Han kebetulan mengerling dan menatap wajahnya, maka pemuda ini dapat melihat perobahan pada muka Eng Eng.

"Ada apakah nona? Apakah kau Ielah dan ingin istirahat?"

"Tidak, aku....... aku harus berpisah darimu. Kan baik sekali, Sim twako dan aku akan selalu menyebutmu twako karena kau baik, baik seperti twako Ting Kwan Ek yang sudah mati. Akan tetapi, aku harus pergi, aku harus mencari adikmu yang jahanam itu untuk kuhancurkan kepalanya!"

Muramlah wajah Tiong Han yang tadinya sudah nampak gembira, ia menarik napas berulang ulang dan dengan menyesal sekali berkata.

"Apa yang dapat kukatakan? Tiong Kiat memang telah berlaku jahat sekali. Kau berhak penuh untuk membalas dendam...... dan aku....... ah, apa yang dapat kukatakan?"

Pemuda ini lalu menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon besar untuk mengaso karena ucapan Eng Eng tadi seketika itu juga menimbulkan semua kelelahan yang tadi tidak terasa olehnya, ia memandang dengan sedih ketika gadis itu meninggalkannya setelah menengok tiga kali seakan gadis itupun merasa menyesal harus berpisah darinya.

Perasaan kecewa, menyesal, duka, ditambah oleh kelelahan karena pertempuran-pertempuran tadi sedangkan luka pada pundaknya oleh tusukan pedang adiknya masih belum sembuh membuat Tiong Han tertidur di bawah pohon itu.

Angin berhembus perlahan mengipasi tubuhnya sehingga tidurnya makin nyenyak.

Tiba tiba ia merasa betapa pedang di pinggangnya bergerak.

Cepat ia membuka mata dan melompat bangun.

Ternyata ia telah dikurung oleh lima orang berpakaian sebagai tosu dan sudah tua-tua dan ketika ia meraba pinggangnya ternyata bahwa pedangnya itu berikut sarungnya telah dibawa oleh seorang tosu yang nampak tertua dan yang mempunyai sinar mata berpengaruh.

Kelima orang tosu itu bagaikan patung berdiri mengurung dan memandangnya dengan sinar mata tajam!

"Apa"

Apa artinya ini? Siapakah ngowi Suhu?"

Tanya Tiong Han dengan gagap.

"Ang coa.kiam, bukalah matamu lebar-lebar! Kami adalah tosu-tosu dari Kun lun pai!"

Akan tetapi, lima orang tosu tokoh Kun-lun.pai itu menjadi heran ketika melihat betapa pemuda ini memandang mereka dengan tak mengerti.

"Harap maafkan apabila teecu tidak mengetahui akan kedatangan ngowi suhu. Akan tetapi, mengapakah pedang teecu dirampas dan apakah maksud kedatangan ngowi ini?"

"Ang coa-kiam!"

Tosu yang merampas pedangnya membentak.

"Pinto adalah Gan Tian Cu dan sudah lama pinto mengenal suhumu Lui Thian Sianjin di Kim liong-pai! Kalau tidak memandang muka suhumu, sekarang juga kau tentu telah kami bunuh tanpa banyak bertanya lagi. Akan tetapi, karena kau adalah anak murid Kim-liong-pai dan pedang Ang. coa-kiam berada di tanganmu, pinto masih hendak memberi kesempatan kepadamu. Mengapa kau membunuh seorang anak murid kami berdasarkan kejahatan dan kesesatanmu? Murid kami itu adalah seorang yang menjunjung tinggi keutamaan dan mendengar tentang kesesatan Ang coa-kiam, dia sengaja datang menegurmu, akan tetapi kau bahkan telah menjatuhkan tangan maut kepadanya."

"Totiang, apakah artinya semua ini?"

Tiong Han memandang dengan heran dan penasaran.

"teecu tak pernah bertemu dan tak pernah bertempur dengan seorang anak murid Kun-lun-pai, bagaimana teecu dapat membunuh seorang murid Kun-lun-pai?"

"Ang-coa-kiam! Kau telah berani memakai nama julukan Ang-coa kiam, meninggalkan tanda gambar pedang ini pada tiap tempat kau melakukan kejahatan. Suatu perbuatan yang amat berani dan sombong! Akan tetapi sekarang ternyata dihadapan pinto kau berlaku amat pengecut. Kau telah membunuh Lo Ban Tek murid kami di kota l-kiang, apakah kau masih mau menyangkal lagi?"

Lenyaplah keheranan Tiong Han dan hatinya tertusuk sekali, karena ia telah merasa yakin bahwa yang melakukan hal itu tentulah adiknya, Tiong Kiat!

Maka lemaslah tubuhnya lenyaplah semangat perlawanannya.

Apakah yang hendak dikata?

Menyangkal?

Sama dengan mendakwa adiknya sendiri.

Mengaku?

Dia tidak melakukan perbuatan itu.

"Totiang, apakah yang hendak totiang lakukan terhadap diriku?"

Tanyanya perlahan.

"Kau harus ikut dengan kami ke Kun-lun-pai dan di sana para ketua akan menjatuhkan hukumannya! Tinggal kau pilih saja, ikut dengan patuh atau melawan dengan kekerasan kami dapat membunuhmu di tempat ini juga!"

Kata Gan Tian Cu dengan suara tegas.

"Untuk apa aku melawan? Marilah kalau ngowi totiang hendak membawaku ke Kun lun pai, aku akan ikut dengan patuh."

Demikianlah, Tiong Han lalu diikat kedua tangannya dengan tali sutera yang amat kuat.

Pemuda ini menurut saja, kemudian kelima orang tosu itu lalu mengajaknya berjalan cepat turun dari Ta pie.san, menuju ke Kun-lun-san.

Akan tetapi baru saja rombongan itu tiba di kaki gunung Ta pie san yang mereka tinggalkan, tiba tiba berkelebat bayangan putih yang didahului oleh sinar merah menyambar ke arah lima orang tosu itu!

Gan Tian Cu dan sute-sutenya (adik-adik seperguruannya) adalah tosu-tosu tua yang memiliki kepandaian tinggi, maka melihat sinar pedang itu, mereka cepat melompat mundur untuk mengelak.

"Jangan, nona Suma Eng, jangan serang mereka!"

Tiong Han cepat menggerakkan tubuhnya dan sekali bergerak saja tali-tali yang kuat itu terlepas dari kedua tangannya.

Ia terpaksa melakukan ini untuk mencegah Suma Eng yang hendak menyerang Gan Tian Cu.

Dengan mata menyala dan dada berombak, wajahnya merah penuh kemarahan, Eng Eng menunda serangannya dan memandang kepada lima orang tosu itu dengan marah sekali.

Tiong Han tak terasa lagi mengulur tangannya dan memegang lengan Eng Eng yang memegang pedang.

"Jangan nona, jangan . .., mereka adalah tosu-tosu dari Kun lun pai!"

Tiong Han mencegah sambil memegang erat lengan tangan Eng Eng.

"Tidak perduli! Biarpun mereka tosu-tosu dari neraka sekalipun aku tidak takuti! Mereka mengandalkan keroyokan untuk menangkapmu sungguh pengecut!"

Sementara itu, Gan Tian Cu dan kawan-kawannya tadi merasa terkejut sekali melihat kehebatan seorang gadis cantik jelita yang memegang pedang merah menyilaukan mata.

Lebih-lebih kaget mereka ketika melihat betapa dengan sekali gerakan saja ikatan pada kedua tangan Tiong Han telah putus dan tangannya sudah terlepas!

Alangkah hebatnya kepandaian dan tenaga pemuda itu yang tadi menyerah demikian patuhnya.

"Nona, siapakah kau dan mengapa kau mencampuri urusan kami, pendeta-pendeta dari Kun-lun.pai?"

Sebelum Eng Eng menjawab Tiong Han mendahuluinya.

"Ngowi totiang, ini adalah nona Suma Eng murid dari Hek sin mo yang terkenal!"

Terbelalak mata kelima orang tosu itu, karena sesungguhnya nama Hek sin-mo merupakan nama yang amat terkenal dan dikagumi oleh semua tokoh persilatan.

Gan Tian Cu mengangkat kedua tangan ke dada untuk memberi hormat kepada murid orang sakti itu dan berkata.

"Nona, harap kau tidak salah sangka. Pinto berlima datang sengaja hendak membawa pemuda ini yang telah berdosa besar telah membunuh Lo Ban Tek, anak murid dari Kun-lun pai. Kami datang untuk membawanya ke Kun.lun-san agar mendapat pengadilan dari para ketua Kun-lun-pai."

"Apa buktinya bahwa Sim twako telah membunuh anak murid Kun lun-pai?"

Tanya Eng Eng yang belum hilang kemarahannya.

"Nona, nama Ang coa kiam telah amat terkenal. Pemuda ini tidak hanya membunuh Lo Ban Tek murid kami, bahkan ia telah terkenal sebagai seorang jai hwa cat dan pencuri yang amat jahay dan keji! ia telah membunuh keluarga Lui wangwe yang dermawan, hanya untuk memenuhi permintaan seorang pelacur rendah. Murid Kami Lo Ban Tek datang untuk menegurnya akan tetapi bahkan dibunuhnya! Nona, kau adalah murid seorang pendekar, seorang locianpwe yang ternama, maka sudah menjadi kewajibanmu pula untuk membasmi orang-orang macam Sim Tiong Kiat yang berjuluk Ang.coa-kiam murid Kim-liong-pai yang durhaka ini. Bagaimana seorang murid dari Hek sin-mo locianpwe dapat bersahabat dengan seorang jahat seperti dia ini?"

"Pendeta-pendeta tersesat, bukalah matamu baik-baik! Eng Eng berseru marah sekali dan menggerakkan pedangnya.

"Dia ini bukanlah Sim Tiong Kiat dan........"

"Nona Suma .......!"

Tiong Han mencegahnya membuka rahasia adiknya. Akan tetapi Eng Eng tidak memperdulikannya dan melanjutkan kata-katanya.

"dan orang yang melakukan semua kejahatan yang kau sebutkan tadi, orang jahat yang menggunakan nama julukan Ang-coa kiam bukanlah dia ini, akan tetapi adiknya!"

"Apa.."."apa maksudmu, nona?"

Gan Tian Cu bertanya dengan heran, demikian pula adiknya membelalak matanya dengan kaget.

"Eng-moi........ jangan""Tiong Han mencoba lagi untuk mencegah Eng Eng membuka rahasia adiknya dan dalam kegugupannya sampai lupa dan menyebut nona itu Eng-moi (adik Eng). Eng Eng menengok dan menatap wajah pemuda itu. Sepasang matanya yang indah itu tampak terbaru, akan tetapi bibirnya dirapatkan dengan gemas.

"Orang lemah...."

Katanya perlahan, kemudian ia berpaling kepada Gan Tian Cu lalu berkata.

"Totiang, bukan kau saja yang salah pandang, bahkan aku sendiri pun tadinya telah salah sangka. Orang muda ini bernama Sim Tiong Han, dan Sim Tiong Kiat si jahanam adalah adik kembarnya. Adiknya itulah orang yang harus kau cari dan kau tangkap bukan Sim twako ini."

"Akan tetapi....pedang Ang-coa-kiam berada di tangannya dan....... dan mengapa kau tidak mau memberitahukan keadaan yang sebenarnya?"

Tanyanya kemudian kepada Tiong Han. Pemuda ini menghela napas. Tak perlu lagi ia menyembunyikan hal yang sebenarnya.

"Totiang keterangan nona ini memang benar. Tiong Kiat adalah adikku dan kalau ia telah melakukan dosa terhadap Kun-lun.pai biarlah aku sebagai kakak kandungnya yang bertanggung jawab dan menerima hukumannya Pedang ini belum lama kuterima dari padanya."

Bukan main herannya hati Gan Tian Cu mendengar ini.

"Aah, mengapa begitu? Orang muda, hampir saja kau membuat kami melakukan kedosaan besar, menghukum orang yang tidak bersalah. Baiknya datang Suma Iihiap ini yang berani berkata terus terang! Sim enghiong pinto dapat memaklumi pembelaan dan pengorbananmu terhadap seorang adik. Akan tetapi, perbuatanmu ini benar benar keliru sekali. Benar seperti dikatakan oleh Suma lihiap tadi, kau terlalu lemah! Kelemahan dan kasih sayang hatimu terhadap adikmu telah menggelapkan pertimbangan dan keadilanmu! Apa kaukira dengan mengorbankan nyawa untuk membela adikmu itu, kau telah melakukan suatu tindakan yang bijaksana? Sebaliknya, anak muda, sebaliknya kau bahkan menambah kejahatan kepada dunia! Dengan tindakanmu ini, seakan-akan kau membela penjahat yang mengacaukan dunia! pikiranmu cupat sekali, Sim enghiong. Karena kasih sayangmu terhadap adik, kau membiarkan adikmu merajalela dan mencelakakan orang-orang yang seharusnya patut kau bela. Di manakah keadilanmu? Di manakah kegagahanmu?"

Terpukul hati Tiong Han mendengar ucapan pendeta ini dan ia menundukkan mukanya yang pucat.

"Sim enghiong,"

Kata lagi Gan Tian Cu yang merasa penasaran melihat kelemahan hati pemuda yang demikian gagah.

"kau benar-benar telah memalukan nama Kim liong-pai yang besar. Ketahuilah bahwa pendirian seorang pendekar, di dalam membela kebenaran dan keadilan tidak ada hubungan saudara maupun keluarga. Yang benar harus dibela, sungguhpun orang lain yang belum dikenalnya, yang salah harus dilawan biarpun saudara atau keluarga sendiri! Bahkan kaIau di dalam Kim-liong-pai terdapat seorang yang nyeleweng adalah kewajibanmu untuk mencegah dan melenyapkan pendurhaka itu. Kewajibanmu untuk menangkap adikmu itu demi membersihkan nama Kim-liong-pai, demi menjaga baik nama ayahmu dan demi sifatmu sebagai pendekar pembela rakyat! Nah, cukup pinto bicara, kau turut atau tidak terserah, akan tetapi pinto takkan berhenti berusaha untuk menangkap adikmu."

Maka pergilah Gan Tian Cu dengan empat orang adik seperguruannya.

Ucapan itu mendorong dua titik air mata mengalir keluar dari mata Tiong Han yang masih menundukkan mukanya.

Terbangun semangatnya dan ia berkata kepada Eng Eng yang masih memandangnya dengan terharu.

"Nona benar juga ucapan Gan Tian Cu totiang. Aku akan mencari Tiong Kiat, hendak kutangkap dan kubawa kembali ke Kim liong pai, menyerahkannya kepada suhu."

"Bagus, akan tetapi aku tidak mau kalah dulu baik olehmu maupun oleh pendeta Kun lun pai tadi. Gan Tian Cu hendak menangkap Tiong Kiat untuk dibawa ke Kun-Iun-pai, kau hendak menangkapnya untuk kau bawa ke Liong san. Akan tetapi, akulah yang berhak menghancurkan kepalanya untuk membalaskan dendam hatiku!"

Setelah berkata demikian, gadis itu lalu melompat pergi, meninggalkan Tiong Han yang memandang sayu.

"Tiong Kiat.... Tiong Kiat, ...... tidak kusangka bahwa nasibmu akan demikian buruknya"

Adikku, mengapa kau tersesat sejauh ini"?"

Dengan kaki lemas, Tiong Han lalu menuruni bukit Ta pie-san dalam perjalanannya mencari adiknya untuk membawanya dengan paksa ke Liong san, di mana suhunya telah menanti.

la merasa penasaran mengapa Tiong Kiat telah berpisah dari Kui Hwa, padahal tadinya ia mengharap supaya adiknya itu hidup berbahagia dengan sumoinya atau bekas tunangannya itu.

Apakah Kui Hwa yang menyebabkan Tiong Kiat menjadi tersesat?

Panas dadanya ketika ia mendapatkan pikiran ini.

Siapa tahu?

Mungkin Kui Hwa yang menjadi biang keladinya!

la teringat akan kata-kata Tiong Kiat bahwa kini Kui Hwa dapat dicari di kota Heng yang.

Maka iapun lalu tujukan perjalanannya ke kota Heng-yang untuk mencari Kui Hwa dan untuk bertanya kepada sumoinya itu mengapa Tiong Kiat dan Kui Hwa dapat berpisah.

Sebelum Tiong Han yang hendak mencari sumoinya, yakni Can Kui Hwa, tiba di tempat itu, marilah kita mendahuluinya menengok keadaan nona yang malang nasibnya ini.

Dalam buku

Jilid kedua telah diketahui bahwa setelah melihat Tiong Kiat melakukan perbuatan hina terhadap Gu Loan Li, gadis yang mereka tolong dari tangan kepala gerombolan Sorban Merah sehingga Loan Li membunuh diri, Kui Hwa menjadi marah sekali dan menyerang Tiong Kiat.

Akan tetapi tentu saja ia bukan lawan pemuda yang berkepandaian Iebih tinggi tingkatnya itu dan telah dikalahkan.

Setelah Tiong Kiat meninggalkannya Kui Hwa yang putus asa lalu teringat akan permintaan para anggauta gerombolan Sorban Merah yang hendak mengangkatnya menjadi kepala.

Ia lalu kembali ke kota Heng yang dan diterima baik dan dengan gembira oleh para pengurus Perkumpulan Sorban Merah itu.

Setelah melihat gadis ini mengalahkan dan menewaskan kepala mereka, yakni Hek pa cu Teng Sun, para thauwbak dan anak buah gerombolan Sorban Merah amat mengaguminya.

Perkumpulan Sorban Merah mempunyai anggota yang banyak jumlahnya dan semenjak dipimpin oleh Hek pa cu Teng Sun, perkumpulan ini telah menghasilkan banyak uang, yang didapat dengan jalan terang maupun gelap, Kui Hwa sendiri menjadi terkesiap ketika ia melihat peti penuh dengan barang perhiasan yang amat besar nilainya disodorkan kepadanya oleh para thauwbak.

"Mulai sekarang, tidak boleh lagi ada pelanggaran-pelanggaran,"

Katanya dengan suara keras.

"Tidak boleh melakukan sesuatu yang jahat dan siapapun juga diantara anggauta ada yang melanggar akan berkenalan dengan pedangku!"

Gadis ini karena tidak mempunyai harapan untuk kembali ke rumah ayahnya dan tidak mempunyai perlindungan lalu membeli sebuah rumah besar dan memasang merk papan nama Perkumpulan Sorban Merah.

Ia lalu mengatur anak buahnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, misalnya menjaga keamanan kota, mengawal kiriman-kiriman barang dan Iain-lain.

Pengaruh Perkumpulan Sorban Merah sudah besar sekali, akan tetapi kalau tadinya perkumpulan ini ditakuti dan disegani orang, sekarang orang orang menghormatinya sebagai perkumpulan orang-orang yang gagah yang boleh mereka andalkan bantuannya.

Diantara para thauwbak (pembantu pemimpin) dan anggauta Sorban Merah, banyak juga yang merasa tidak puas dengan peraturan-peraturan keras ini, karena mereka ini memang mempunyai watak yang busuk seperti Hek-pacu Teng Sun.

Maka diam-diam orang-orang ini lalu melarikan diri dan mencari seorang yang mereka harapkan menjadi pemimpin mereka.

Orang ini adalah suheng (kakak seperguruan) dari Teng Sun yang bernama Kim-pacu Gak Kun si Macan Tutul Emas dan yang menjadi kepala rampok di pegunungan Pek-ma san, tak jauh dari kota Heng yang.

Untuk menyesuaikan dirinya sebagai kepala dari Perkumpulan Sorban Merah yang terdiri dari anggauta-anggauta ahli bermain golok, Kui Hwa kini mengganti senjata pedangnya dengan golok pula.

la bahkan memberi pelajaran ilmu silat golok yang baru kepada anak buahnya, yang dimainkan berdasarkan ilmu pedang Ang coa kiamsut yang lihai.

Maka tentu saja para anggauta Sorban Merah mendapat kemajuan yang hebat sekali dan kedudukan perkumpulan ini makin kuat saja.

Kui Hwa merasa senang dengan kedudukannya yang baru ini.

Selain dapat penghormatan dari semua anak buahnya, iapun terkenal sekali di kota Heng yang sebagai seorang wanita perkasa yang selain cantik jelita juga gagah berani dan berbudi.

Banyak hati pemuda-pemuda Heng yang, baik yang pandai ilmu silat maupun yang tidak, jatuh hati kepadanya dan banyak pula gadis yang kini disebut Can pangcu (ketua Can) ini menerima pinangan.

Akan tetapi semua pinangan ini ditolaknya dengan manis.

Di dalam hatinya sebenarnya Kui Hwa menderita hebat.

Hatinya telah terluka perih oleh perbuatan Tiong Kiat, pemuda yang amat dikasihinya itu.

Dan ia merasa amat menyesal mengapa ia jatuh hati oleh bujukan Tiong Kiat yang ternyata tidak berbudi itu.

Sering kali ia terkenang kepada Tiong Han dan membayangkan betapa akan bahagianya kalau ia menikah dengan suhengnya ini.

Ia menyesal bukan main, akan tetapi nasi telah menjadi bubur, apa hendak dikata?

Bukan Kui Hwa tidak ada niatan membangun rumah tangga, menikah dengan seorang pemuda yang baik, akan tetapi ia merasa ragu-ragu setelah kegagalannya dengan Tiong Kiat.

Pula, sebagai seorang gadis berkepandaian tinggi, tentu saja takkan merasa puas kalau menikah dengan seorang pemuda yang lemah, yang tidak mengimbangi ilmu kepandaiannya.

Dan pula, ia merasa malu karena ia telah berIaku sesat bersama Tiong Kiat.

Pada suatu hari, ketua Kui Hwa tengah duduk di dalam rumah perkumpulannya dan bercakap-cakap dengan beberapa orang pembantunya, membicarakan tentang pekerjaan-pekerjaan yang diserahkan kepada perkumpulannya, tiba tiba seorang anggauta Sorban Merah berlari masuk.

Terkejutlah Kui Hwa dan kawan-kawannya ketika melihat anggauta ini pakaiannya berlumuran darah dan ternyata bahwa darah itu menetes turun dengan derasnya dari telinga kirinya yang telah dipotong orang!

"Apakah yang telah terjadi dengan dirimu?"

Tanya Kui Hwa dengan suara tenang. Ia menduga bahwa tentu ada orang jahat yang mengganggu anak buahnya ini.

"Celaka, pangcu (ketua) kawan-kawan kita pengikut-pengikut mendiang Hek-pa cu yang melarikan diri kini telah datang dan merupakan rombongan perampok bersorban biru, dipimpin oleh Kim-pa cu Gak Kun sendiri! Hamba dan beberapa orang yang bertugas menjaga keamanan kota, mereka serbu dan banyak kawan kita yang binasa! Kim-pa cu Gak Kun menantang kepada pangcu untuk menyambutnya di sebelah barat kota Heng-yang!"

Setelah menuturkan hal ini, anak buah Sorban Merah ini lalu jatuh tersungkur dalam keadaan pingsan.

Naiklah kedua alis Kui Hwa mendengar dari para thauwbak tentang Kim pa cu Gak Kun ini sebagai suheng dari Hek pa cu Teng Sun yang telah dibunuhnya.

Memang ia telah siap sedia menghadapi pembalasan dari perampok ini.

Akan tetapi sama sekali tidak pernah diduganya bahwa anak buah Sorban Merah yang diam diam melarikan diri, kini ternyata telah bergabung dengan penjahat ini dan membentuk gerombolan Sorban Biru, kemudian datang menyerbu dan membikin kacau kota Heng yang!

Marah sekali gadis ini dan cepat ia lalu masuk ke dalam kamarnya, berganti pakaian yang ringkas berwarna biru gelap, lalu membawa goloknya.

Pada saat itu, datanglah tergopoh-gopoh kepala kota dan tikoan.

Kedua orang pembesar ini telah mendengar tentang kerusuhan yang ditimbulkan oleh Gerombolan Sorban biru yang mulai merampoki rumah rumah penduduk di pinggir kota dan mengganggu wanita-wanita.

"Can pangcu, harap kau suka lekas tolong usir mereka!"

Kata kepala kota dengan wajah pucat.

"Kalau perlu bantuan, aku dapat mengerahkan penjaga kota!"

Menyambung tikoan sambil memandang kepada Kui Hwa dengan kagum. Belum pernah ia melihat Kui Hwa segagah dan secantik ini, dalam pakaian yang ringkas dan mencetak tubuhnya itu.

"Harap jiwi taijin suka tenang"

Jawab Kui Hwa.

"Tak usah diserahkan penjaga kota, biarlah aku dan pembantu-pembantuku menyelesaikan urusan ini. Percayalah, tak lama lagi akan kubawa kepala perampok she Gak itu kehadapan jiwi taijin!"

Setelah berkata demikian Kui Hwa lalu menghampiri anak buahnya yang buntung telinganya itu. Setelah mendapat perawatan kawan-kawannya, orang ini siuman kembali.

"Berapa banyak kiranya jumlah gerombolan itu?"

Tanyanya.

"Maaf, pangcu hamba kurang jelas akan tetapi sedikitnya tentu ada tiga puluh orang."

Jawab anggauta Sorban Merah itu.

"Pangcu, apakah aku harus mengumpulkan kawan-kawan yang bertugas di berbagai tempat?"

Tanya seorang thauwbak.

"Tidak usah, berapa orang yang berada disini?"

"Hanya ada sembilan orang dengan pangcu sendiri."

"Sudah cukup, mari kita berangkat!"

Jawab Kui Hwa dengan gagah.

Gadis itu bukan menyombong akan tetapi karena ia melihat bahwa di antara delapan orang anak buahnya.

Yang empat adalah thauwbak-thauwbak yang telah menerima latihan-latihan ilmu golok darinya.

Baginya lebih baik membawa empat orang thauwbak ini dari pada membawa empat puluh orang anggauta biasa yang ilmu goloknya masih rendah.

Beramai-ramai sembilan orang ini berlari cepat menuju ke sebelah barat kota.

Ketika mereka tiba di gerbang kota, sudah terdengar oleh mereka jerit tangis penduduk yang diganggu oleh para penjahat Sorban Biru itu.

Bukan main marahnya Kui Hwa mendengar ini.

Ia mengerahkan kepandaiannya berlari cepat sehingga kawan-kawannya tertinggal jauh.

Begitu ia tiba di tempat kerusuhan itu, gegerlah keadaan di situ di antara penjahat.

Setiap kali melihat seorang penjahat bersorban biru, golok di tangan Kui Hwa menyambar dan menjeritlah penjahat itu dan terguling roboh dengan tubuh hampir terbelah dua!

Empat orang penjahat telah menjadi korban golok Kui Hwa dan tiba tiba dari sebuah rumah melompat keluar seorang laki-laki pendek besar yang berseru keras.

"Bangsat wanita! Kaukah yang bernama Can Kui Hwa dan yang telah membunuh suteku Teng Sun?"

Kui Hwa memandang orang itu dengan penuh perhatian.

Ia adalah seorang laki-laki yang bertubuh agak pendek, akan tetapi tegap dan nampaknya bertenaga besar.

Sorban serta ikat kepalanya berwarna biru, demikianpun celananya, sedangkan bajunya berwarna putih dengan garis-garis merah.

Senjata yang dipegangnya adalah sebatang tongkat bercabang.

Inilah dia Kim-pa-cu Gak Kun yang namanya amat terkenal dan yang oleh anak-anak buah Sorban Merah disohorkan memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Kui Hwa sebenarnya tentu saja lebih pandai memainkan pedang dari pada permainan golok.

Memang ia adalah anak murid Kim Liong pai yang khusus mendapat pelajaran ilmu pedang Ang coa kiamsut yang lihai.

Akan tetapi gadis ini setelah ditinggalkan oleb Tiong Kiat, menjadi sadar dan insaf akan kesesatannya.

la maklum bahwa sebagai seorang murid Kim liong-pai, ia telah melakukan pelanggaran besar sekali.

Sering kali setiap malam ia menguras air mata dari kedua matanya karena menyesal dan merasa berdosa serta malu, terutama sekali terhadap ayahnya dan suhunya, Lui Thian Sianjin.

Oleh karena itu, ia merasa malu untuk mengaku sebagai murid Kim liong pai lagi.

Ia anggap dirinya terlampau hina dan rendah menjadi murid Kim-liong.pai dan kalau ia masih memegang pedang serta mainkan ilmu silat Ang-coa-kiamsut, maka itu berarti bahwa ia hanya akan mengotori dan mencemarkan nama Kim-Liong pai dan ilmu pedang Ang-coa kiamsut belaka!

Oleh karena inilah yang terutama sekali maka ia lalu berganti senjata dan melatih ilmu golok ciptaan sendiri berdasarkan ilmu pedang Ang-coa-kiamsut!

Kini menghadapi laki laki bersorban biru yang menjadi suheng dari Teng Sun, ia lalu membentak.

"Kaukah yang bernama Kim-pa cu Gak Kun? Kalau kau berdiam di hutan melakukan pekerjaan merampok, itu masih tidak apa, akan tetapi sekarang kau memimpin orang-orangmu untuk mengganggu Heng yang, apakah kau sudah bosan hidup? Mari kuantar kau menjumpai adikmu Hek pa cu!"

Marahlah Gak Kun mendengar ucapan ini.

"Perempuan sombong! Kalau kau minta maaf kepadaku dan suka turut ucapanku, aku Kim pa cu masih sayang akan kecantikanmu. Serahkan kedudukan pangcu dari Perkumpulan Sorban Merah kepadaku dan kau akan kuangkat menjadi permaisuriku!"

"Anjing tak tahu malu!"

Bentak Kui Hwa yang menjadi merah mukanya.

Ia lalu mengayun goloknya dan menyerang dengan sengit.

Gak Kun menangkis dengan tongkatnya yang istimewa itu dan bertempurlah mereka dengan serunya.

Pertempuran itu demikian hebatnya dan senjata mereka berkelebatan mengerikan sehingga para anak buah Gak Kun dan para anggauta Sorban Merah hanya berani menonton dari jauh.

Dengan berdebar kedua fihak ini menonton pertempuran yang dilakukan oleh ketua masing-masing dengan senjata siap di tangan!

Segera Kui Hwa mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian orang she Gak ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian Teng Sun.

Tongkat bercabang pada gagangnya itu betul-betul lihai sekali karena gagangnya dapat dipergunakan untuk menangkis golok dan ujung tongkat itu bergerak cepat dengan serangan-serangan totokan keatas jalan darah.

Ternyata bahwa orang she Gak ini telah mempelajari thiam hoat (ilmu menotok jalan darah) yang lihai.

Kui Hwa berlaku hati-hati sekali dan memutar goloknya untuk melindungi tubuh dan melakukan serangan balasan yang cukup menggetarkan hati Gak Kun.

Kepala Sorban biru ini benar-benar tak pernah mengira bahwa gadis ini benar-benar luar biasa pandainya.

Ia harus mengakui bahwa dalam hal ilmu meringankan tubuh, ia masih kalah.

la kalah gesit dan gerakan senjatanya kalah cepat, tetapi Gak Kun masih dapat melawan mengandalkan dua macam kepandaiannya yang istimewa, yakni menotok dan menendang.

Tendangannya ini adalah ilmu tendang yang mirip dengan Soan-hong-twi (tendangan kitiran angin) yang dilakukan bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian sedangkan tongkatnya tetap digerakkan mengancam dari atas!

Dengan seruan keras sekali Gak Kun yang menjadi penasaran karena semua serangannya dapat digagalkan oleh lawannya, tiba-tiba mengayun kaki kirinya menendang dengan hebat.

Tendangan yang dilakukan ahli ini berbahaya sekali karena dikerahkan dengan penuh tenaga.

Tendangan ke arah dada ini dielakkan oleh Kui Hwa dengan miringkan tubuh ke kiri sambil menggeser kaki kiri ke depan, goloknya diputar di atas kepala dengan sikap mengancam tubuh atas lawannya, akan tetapi sebetuInya gadis ini sedang melakukan gerakan yang disebut Naga Sakti Menyabetkan Ekornya dengan berlaku lambat sambil menanti tendangan susulan lawan.

Benar saja, ketika tendangan kirinya tidak berhasil mengenai lawan Gak Kun berseru lagi dan tiba-tiba ketika kaki kirinya turun ke atas tanah, tendangan kanannya menyusuI cepat dibarengi dengan totokan tongkatnya pada pundak gadis itu.

Inilah yang dinanti-nanti oleh Kui Hwa dalam gerakannya Naga Sakti Menyabetkan ekornya tadi.

Begitu melihat kaki kanan bergerak, goloknya yang diputar-putar di atas kepala itu lalu menyambar cepat ke bawah, membabat dan menyambut tendangan kaki kanan lawan.

Tubuhnya ditarik ke bawah dan kaki kanannya secepat kilat menendang pergelangan tangan kanan lawan yang sedang menusukkan tongkat itu!

Bukan main hebatnya serangan balasan dari Kui Hwa ini.

Gerakan gadis ini demikian tiba-tiba dan tak tersangka-sangka sehingga Gak Kun tak dapat menolong dirinya lagi.

Biarpun ia berusaha menarik kembali kakinya dengan cepat, namun tetap saja golok itu mengejar kakinya.

Hampir berbareng dengan ujung kakinya yang berhasil menendang pergelangan tangan lawannya, ujung goloknya juga berhasil mencium betis Gak Kun!

Kim pa cu Gak Kun menjerit keras dan sambil melepaskan tongkatnya, tubuhnya jatuh terguling dalam keadaan pingsan!

Kaki kanannya hampir-hampir putus karena sabetan golok itu sedangkan pergelangan tangannya juga pecah tulangnya karena tendangan Kui Hwa!

Kemudian Kui Hwa mengamuk hebat.

Para penjahat Sorban Biru tadinya masih hendak melawan dan mengeroyok, mengandalkan jumlah yang lebih banyak.

Akan tetapi begitu Kui Hwa dan delapan orang pembantunya menyerbu, pihak sorban biru dibabat dengan mudah bagaikan orang membabat rumput saja!

Larilah penjahat-penjahat itu pontang-panting, sebagian besar cepat membuang senjata dan berlutut minta ampun.

Dengan kemenangan besar ini, Kui Hwa menyuruh anak buahnya membawa para tawanan ke kota.

Namanya makin terkenal dan dipuji-puji orang, dan semenjak hari itu, tidak pernah ada penjahat yang berani mencoba-coba mengganggu kota Heng Yang lagi.

Juga barang barang yang dikawal oleh anggauta sorban merah, selalu tidak terganggu perampok di jalan.

Nama Can Kui Hwa sebagai seorang pangcu (ketua) yang cantik dan gagah, terdengar sampai jauh, karena tiap pelancong atau pedagang yang telah datang mengunjungi kota Heng yang setelah pergi meninggalkan kota itu, tentu menceritakan hal nona itu kepada para kenalannya.

Diantara para pelamar di kota Heng-yang terdapat seorang sasterawan muda she Siok yang tampan dan sopan santun.

Siok kongcu ini telah menempuh ujian di kota raja dan lulus dengan baik sehingga ia mendapat gelar siucai, akan tetapi oleh karena di dalam hatinya pemuda terpelajar ini amat benci melihat pembesar-pembesar yang melakukan korupsi dan tidak melakukan tugasnya dengan baik, ia tidak mau menerima pengangkatan dan tidak mengejar kedudukan, sebaliknya bahkan kembali ke Heng-yang di mana ia hidup dengan ibunya yang telah janda.

Siok siucai, lengkapnya siok Un Leng, mencari nafkah hidupnya dengan mengajar anak-anak di kota itu.

Ia bekerja membuka sebuah sekolah di rumahnya mengajar membaca dan menulis pada anak-anak dengan mendapat upah yang sederhana.

Sesungguhnya diantara sekian banyak pemuda yang mengaguminya, hanya Siok-siucai saja yang menarik hati Kui Hwa.

Pemuda tampan, berpemandangan luas, sikapnya halus dan sopan santun, pendeknya seorang calon suami yang baik sekali.

Akan tetapi yang mengecewakan hati Kui Hwa dan yang membuat ragu-ragu adalah bahwa pemuda ini tidak mengerti ilmu silat!

Memang harus ia akui bahwa begitu melihat pemuda she Siok yang baru beberapa bulan datang dari kota raja ini, hatinya sudah amat tertarik.

Memang Siok Un Leng baru sebulan lebih datang dari kota raja dan secara kebetulan saja ia melihat Kui Hwa menunggang kuda lewat di depan rumahnya.

Dan keesokan harinya, pemuda ini lalu minta kepada ibunya untuk melamar gadis itu!

Tentu saja ibunya terkejut bukan main.

"Leng-ji (anak Leng), apakah kau sudah gila? Kau tidak tahu siapa gadis itu? Dia adalah Can-pangcu, ketua dari Sorban Merah!"

Un Leng tersenyum.

"Habis mengapa ibu? Apakah dia bukan manusia? "Tentu saja dia manusia, bahkan manusia yang Iebih mulia dari pada orang kebanyakan! Dia seorang gagah perkasa, berpengaruh dan menjadi pangcu dari sebuah perkumpulan orang gagah. Bagaimana aku berani meminang untukmu? Leng-ji, lebih baik kucarikan nona yang lebih sesuai untukmu, yang pandai menyulam dan membaca, bukan seperti Can-pangcu yang pandai mainkan golok!"

"Tidak, ibu. Melihat nona itu, aku tahu bahwa dialah orang yang akan dapat membahagiakan anakmu."

Ibunya menghela napas panjang.

"Aneh sekali kau ini, Leng-ji. apakah kau tidak takut melihat goloknya yang tajam?"

Mendengar ini Un Leng tertawa bergelak sehingga ibunya menjadi terheran.

Puteranya ini agaknya telah berobah semenjak lima tahun pergi ke kota raja!

"Ibu ini aneh-aneh saja.

Kalau Can-siocia memang algojo yang biasa menyembelih orang barangkali akupun tidak takut.

Apa lagi dia seorang berhati mulia dan gagah perkasa seperti ibu katakan tadi.

Sudahlah ibu, tolonglah anakmu dan pinanglah dia."

"Aku tidak berani, anakku. Kita orang miskin, bagaimana aku harus melamar seorang yang kaya raya dan berpengaruh seperti Can Siocia?"

Akan tetapi Un Leng membujuk terus sehingga akhirnya berangkatlah ibu yang mencinta anaknya ini, mengajukan pinangan kepada Kui Hwa.

Di luar dugaannya semula, nona ini menerimanya dengan penuh penghormatan dan dengan muka merah kemalu-maluan.

Nona ini tidak menolaknya mentah-mentah hanya menyatakan bahwa ia belum ingin mengikat diri dengan perjodohan dan mohon kepada nyonya itu agar supaya tidak kecewa dan menyesal.

Setelah tiba di rumah, ibu ini mengomeli puteranya.

"Kau membikin malu ibumu saja! Nona Can begitu baik dan ramah tamah. Biarpun ia tidak menolak dengan kasar, akan tetapi alasannya belum ingin menikah itu telah merupakan penolakan yang halus."

Akan tetapi Un Leng tidak putus harapan.

Pemuda yang lama tinggal di kota raja ini memang seorang pemberani dan tanpa malu-malu dia lalu mengunjungi rumah perkumpulan sorban Merah untuk berkenalan dengan Can pangcu!

Tentu saja Kui Hwa merasa terkejut dan heran sekali melihat keberanian pemuda ini.

Timbul kemarahan di dalam hatinya karena ia mengira bahwa pemuda ini tentu sebangsa pemuda mata keranjang yang kurang ajar.

Tidak tahunya, setelah mereka berjumpa, Un Leng bersikap sopan santun dan pemuda ini pandai sekali bercakap-cakap dan pengetahuannya luas sekali sehingga Kiu Hwa merasa suka bergaul dengan dia!

Mulailah mereka berkenalan dan tidak saja Un Leng seringkali datang berkunjung bahkan kini Kui Hwa seringkali datang ke rumah Un Leng untuk mengobrol dengan pemuda itu dan ibunya!

Tentu saja nyonya Siok menjadi terheran-heran akan tetapi diam-diam nyonya ini girang sekali karena kalau Can pangcu menjadi sahabat puteranya, sedikitnya mereka akan lebih disegani oleh para tetangga.

Pada suatu hari, ketika Un Leng bercakap-cakap di rumah Kui Hwa, pemuda ini berkata.

"Nona Can, kuharap kau tidak berkecil hati dan tidak mengira yang bukan-bukan ketika ibuku datang mengajukan pinangan kepadamu. Sesungguhnya terus terang saja aku mengagumimu sebagai seorang gadis gagah perkasa yang berani memimpin perkumpulan besar ini. Kau patut dipuji dan penolakan dulu tidak mengecilkan hatiku. Dapat menjadi sahabatmu saja sudah merupakan hal yang amat membahagiakan hatiku."

Kui Hwa merasa terharu mendengar ini. Pemuda ini benar-benar seorang yang baik dan sopan.

"Saudara Un Leng harap kau suka maafkan padaku. Sesungguhnya, seperti yang pernah kukatakan kepada ibumu, aku belum mempunyai niat untuk mengikat diriku dengan perjodohan. Kau seorang yang baik dan aku suka bersahabat dengan kau. Adapun tentang pernikahan........ agaknya selama hidupku aku takkan menikah!"

Un Leng memandang tajam lalu berkata perlahan.

"Nona, tentu saja kalau sampai tiba waktunya kau menikah, kau tentu akan memilih seorang suami yang memiliki kepandaian bu (ilmu silat), bukan seorang siucai yang Iemah seperti aku!"

Kui Hwa terkejut karena pemuda ini ternyata dapat meraba isi hatinya. Akan tetapi ia harus bersikap jujur terhadap pemuda yang baik hati ini.

"Ada betulnya juga kata-katamu itu, saudara Un Leng. Kau tentu mengerti sendiri bahwa suami isteri baru bisa hidup rukun apabila mempunyai kesukaan yang sama. Kurasa sukar juga kalau kesukaan si isteri memegang golok sedangkan kesukaan si suami memegang tangkai pena!"

Gadis ini tersenyum dan ucapannya itu dimaksudkan sebagai sebuah kelakar. Akan tetapi Un Leng memandang dengan tajam dan berkata dengan sikap bersungguh-sungguh.

"Kau keliru, nona. Mempelajari permainan golok bukanlah termasuk kesenangan, akan tetapi lebih tepat sebagai penjagaan diri terhadap gangguan orang-orang jahat. Sebaliknya mempelajari menggerakkan tangkai pena merupakan sebuah kesenian dan mempertinggi peradaban sebagai manusia. Tangkai pena tidak berbahaya, berbeda dengan golok yang biasanya hanya mendatangkan malapetaka, bunuh membunuh dan balas membalas karena dendam!"

Pemuda ini nampak bersemangat sekali.

"Kau berat sebelah, saudara Un Leng."

Kata Kui Hwa dan matanya berkata.

"Kau tahu apa tentang ilmu silat?"

Akan tetapi mulutnya berkata lain.

"Tangkai pena bukanlah benda yang tidak berbahaya, bahkan kurasa lebih berbahaya dari pada mata golok. Kalau orang menggunakan golok untuk menyerang maka lawan yang diserang dapat melihatnya dan mempunyai kesempatan untuk melawan. Akan tetapi, berapa banyaknya orang yang mendapat celaka serumah tangga hanya oleh coretan pena seorang pembesar yang melakukan serangan dan fitnah secara sembunyi?"

Un Leng cemberut. Ia merasa sebal sekali terhadap pembesar-pembesar yang jahat dan yang tepat seperti dikatakan oleh gadis ini.

"Oleh karena itulah aku tidak sudi menjabat pangkat!"

Serunya gemas.

"Akan tetapi, tidak semua orang sejahat yang aku katakan tadi, nona."

Kui Hwa tersenyum geli melihat kemarahan Un Leng.

"Ingat Siok siucai yang terhormat demikian pula dengan pemegang golok. Tidak semua sejahat seperti yang kau katakan tadi!"

Mereka saling pandang dengan marah, kemudian berbareng tertawa geli.

"Ha, kita ini seakan akan mewakili dua fihak yang bertentangan, fihak bu dan bun (ahli sastera)!"

Kata Un Leng.

Juga Kui Hwa tertawa dan gadis itu makin suka kepada pemuda yang baik budinya ini.

Sayang sekali dia tidak pandai ilmu silat, pikirnya.

Kalau Un Leng pandai ilmu silat agaknya tidak akan kecewa menjadi istri pemuda ini.

Akan tetapi, tiba-tiba ia teringat lagi akan kesesatannya bersama Tiong Kiat dahulu dan wajah gadis ini berubah murung sekali.

"Aku takkan menikah selama hidupku,"

Hatinya berkata dan tanpa disadarinya, bibirnya juga membisikkan kata-kata ini sehingga terdengar oleh Un Leng.

"Nona mengapakah kau berduka? Agaknya ada sesuatu yang mengganjal hatimu dan yang membuat kau putus asa. Dapatkah kau menceritakan hal itu kepada sahabatmu ini?"

Kui Hwa menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Tak mungkin, saudara Un Leng. Tak mungkin kuceritakan kepada siapapun juga."

Dalam keadaan hati tertekan berdiamlah kedua orang sahabat ini.

Sebagaimana telah dituturkan di depan, Can Kui Hwa sebagai pangcu dari Sorban Merah yang cantik jelita dan gagah, terkenal sampai jauh dari daerah Heng-yang.

Hal ini menarik hati orang-orang gagah, terutama mereka yang masih muda dan belum menikah, karena bukankah pangcu wanita yang cantik dan masih gadis itu merupakan kembang yang amat menarik hati?

Muda, cantik, kaya raya menjadi ketua dari perkumpulan yang berpengaruh!

Dan di antara mereka yang mendengar nama Can Kui Hwa yang mengagumi dari jauh terdapat juga Ban Hwa Yong, si penjahat pemetik bunga yang lihai itu!

Seperti telah diketahui orang ketiga dari Thian-te Sam kui ini telah kehilangan dua orang suhengnya yang tewas dalam tangan Eng Eng dan Tiong Han.

Biarpun ia sendiri ditinggal mati oleh kedua orang suhengnya, Ban Hwa Yong menjadi gelisah dan gentar sekali menghadapi kejaran Suma Eng, nona yang hebat dan lihai sekali itu.

Timbul pikiran dalam kepalanya untuk mencuci tangan, untuk berhenti melakukan kejahatan dan kesukaannya mengganggu anak isteri orang.

Ia ingin mencari seorang gadis yang baik, mendirikan rumah tangga yang aman dan meninggalkan dunia kang ouw karena ia merasa bahwa keselamatannya amat terancam.

Ketika Ban Hwa Yong mendengar nama Can Kui Hwa tergeraklah hatinya.

Ia sudah mendengar bahwa Perkumpulan Sorban Merah merupakan perkumpulan yang kuat, berpengaruh dan kaya.

Dan sekarang ketuanya adalah seorang gadis yang cantik jelita, yang masih belum menikah.

Ah, inilah yang dibutuhkannya.

lsteri cantik dan gagah, kedudukan yang kuat, dan harta cukup!

Dengan hati girang dan penuh harapan ia lalu berangkat ke Heng-yang dengan maksud memperisteri gadis yang menjadi pangcu itu.

Ketika Ban Hwa Yong tiba di rumah perkumpulan itu, ternyata ia mendapat keterangan bahwa Can-pangcu yang dicarinya sedang pergi keluar kota.

"Kemanakah dia pergi? tanya Ban Hwa Yong. Anggaota Sorban Merah yang menjaga pintu memandang kepada orang yang berwajah tua itu dengan curiga. Orang ini tinggi kurus dengan muka seperti seekor burung, hidungnya seperti hidung kakatua dan mukanya jelek pandangan matanya liar sedangkan di pinggangnya tergantung sepasang senjata yang aneh, yakni sepasang kaitan yang menyeramkan.

"Siapakah saudara ini dan ada keperluan apa mencari pangcu?"

Tanyanya dengan curiga. Ban Hwa Yong tertawa bergelak.

"Aku sahabat dari pangcumu dan kelak kamu tentu akan lebih mengenalku dengan baik. Sebutkan saja di mana adanya pangcumu itu."

"Pangcu sedang berjalan jalan naik kuda ke hutan sebelah barat kota,"

Akhirnya penjaga itu menjawab juga.

Ban Hwa Yong lalu berlari pergi dengan cepatnya sehingga penjaga itu menjadi kagum.

Jai hwa-cat (penjahat pemetik bunga) ini Ialu berlari menyusul ke hutan di luar kota Heng-yang di mana merupakan hutan kecil yang amat indah dan banyak terdapat bunga bunga yang berkembang.

Pada saat itu, Kui Hwa sedang duduk di bawah pohon bersama Siok Un Leng, pemuda sasterawan yang menjadi sahabat baiknya itu.

Mereka datang berkuda dan kini kedua ekor kuda itu mereka lepaskan di tempat yang banyak rumputnya agar binatang itu dapat makan rumput dengan seenaknya.

Adapun mereka berdua lalu duduk di bawah pohon.

Un Leng membaca sajak-sajak yang digubahnya sendiri dan Kui Hwa mendengarkan dengan penuh kegembiraan dan kekaguman.

Memang gadis ini suka sekali akan kesusasteraan sungguhpun ia sendiri hanya mempelajari sedikit saja dari ibunya.

Keduanya nampak rukun dan cocok, sungguh merupakan pasangan yang baik sekali.

Akan tetapi selama itu, Kui Hwa selalu menghindarkan diri dari percakapan tentang pernikahan dan pernyataan kasih sayang pemuda itu selalu ditolaknya dengan halus.

Ia maklum bahwa hatinya runtuh juga menghadapi pemuda yang selain tampan, juga sopan dan baik sekali ini, akan tetapi dia mengeraskan hati dan rasanya karena ia merasa yakin bahwa tak mungkin ia yang sudah melakukan kesesatan itu dapat menjadi isteri Un Leng!

Tiba-tiba terdengar bentakan keras di sebelah belakang mereka.

"Pemuda kurang ajar dari manakah yang telah berani bermain gila dengan Can pangcu?"

Bentakan ini keras dan parau dan ketika Un Leng dan Kui Hwa menengok sambil melompat berdiri, ternyata di hadapan mereka berdiri seorang laki-laki jangkung yang bermuka tajam seperti muka kakatua.

Laki laki ini bukan lain adalah Ban Hwa Yong yang memandang dengan mulut menyeringai menjemukan sekali.

Dengan pandang mata merah penuh cemburu, Ban Hwa Yong lalu menggerakkan kaitan di tangan kanannya untuk menyerang Un Leng, akan tetapi golok Kui Hwa menangkis kaitan ini.

"Bangsat hina dina! Siapakah kau dan apa maksud kedatanganmu mengganggu kami?"

Bentak Kui Hwa yang kagum juga melihat betapa Un Leng nampak tenang saja dan tidak takut biarpun tadi hampir menjadi kurban senjata kaitan itu.

"Can pangcu harap jangan marah."

Jawab Ban Hwa Yong yang memandang ringan.

"Aku Ban Hwa Yong dari tempat yang ratusan lie jauhnya sengaja datang hendak bercengrama dan mengajakmu bercakap-cakap. Akan tetapi oleh karena di sini ada orang lain maka kuharap bocah ini pergi segera dari sini agar kita dapat bicara lebih leluasa lagi."

Bukan main gemasnya hati Kui Hwa mendengar ucapan yang sifatnya kurang ajar dan memandang rendah ini.

"Pemuda ini adalah sahabat baikku dan dia boleh pula mendengar apa yang akan keluar dari mulutmu yang busuk. Lekas bilang apa maksud kedatanganmu sebelum golokku menghajar dan memutuskan lehermu!"

"Aduh galak benar!"

Ban Hwa Yong tertawa.

"Akan tetapi makin galak makin bertambah manis! Nona Can, terus terang saja kedatanganku ini hendak meminangmu menjadi istriku! Aku masih bujangan dan tentu tidak enak hidup sendiri seperti engkau ini, apa lagi kalau memegang kedudukan sebagai pangcu. Serahkan saja pekerjaanmu itu kepadaku, calon suamimu dan kau akan hidup berbahagia!"

"Anjing bermulut lancang!"

Kui Hwa tak dapat menahan marahnya lagi dan cepat goloknya bergerak membacok kepala Ban Hwa Yong.

Akan tetapi, sambil tersenyum-senyum Ban Hwa Yong mengelak dan bertempurlah kedua orang ini dengan ramainya.

Ban Hwa Yong terkejut juga melihat permainan golok nona itu karena benar-benar kuat dan berbahaya.

Akan tetapi, sepasang kaitannya digerakkan secara luar biasa sekali sehingga Kui Hwa segera terdesak hebat, kalau saja gadis itu memegang pedang dan tidak berada dalam keadaan semarah itu, takkan mudah bagi Ban Hwa Yong untuk mengalahkannya.

Akan tetapi dalam keadaan semarah itu Kui Hwa kehilangan kewaspadaannya dan sama sekali tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya lawannya ini lihai sekali dan tidak boleh dipandang ringan.

Golok di tangannya diputar sedemikian rupa dan hanya satu saja kehendaknya yakni membunuh manusia kurang ajar ini.

Akan tetapi dengan kaitannya yang lihai Ban Hwa Yong dapat menahan golok Kui Hwa dan pada satu saat yang baik ketika kaitannya dapat membuat golok gadis itu belum sampai menyerang lagi, tiba-tiba kaitan di tangan kanannya bergerak cepat ke arah dada Kui Hwa dan.

"bret!"

Terkaitlah baju gadis itu pada bagian dada dan terbawa kain robek itu dikaitan sehingga nampak sebagian dada gadis ini!

Bukan main terkejutnya hati Kui Hwa.

Ia menjerit perlahan dan mukanya menjadi malu sekali, sesaat kemudian mukanya berubah merah sampai ke telinganya ketika ia mendengar betapa Ban Hwa Yong tertawa terkekeh-kekeh!

Pada saat itu terjadilah hal aneh yang sedetikpun tak pernah disangka oleh Kui Hwa.

Terdengar bentakan nyaring dan bayangan yang cukup gesit melompat dari belakangnya dan menyerang Ban Hwa Yong dengan sebatang golok!

Orang ini bukan lain adalah Un Leng!

Ternyata bahwa pemuda ini marah sekali melihat Kui Hwa dipermainkan dan dihina oleh Ban Hwa Yong.

Ia cepat berlari menghampiri kudanya dan dari balik pelana kuda dikeluarkannya sebatang golok besar yang tajam sekali dan ketika ia melihat betapa baju Kui Hwa terkait robek, kemarahannya memuncak.

Ia lalu menyerang hebat yang segera ditangkis pula oleh Ban Hwa Yong.

Penjahat inipun tertegun sebentar karena tak disangkanya bahwa pemuda yang nampak Iemah ini ternyata pandai juga mainkan golok.

Biarpun terheran-heran, Kui Hwa cepat melompat ke belakang dan membalikkan tubuhnya.

Dilepasnya kain pengikat rambutnya disambung dengan saputangan lebar dan dilibatkannya kain itu pada dadanya untuk menutupi bagian tubuh yang telanjang itu.

Kemudian ia cepat menengok dan melihat betapa Un Leng mempertahankan diri mati-matian dari desakan sepasang kaitan di tangan Ban Hwa Yong yang lihai.

Berdebar aneh dada Kui Hwa ketika ia menyaksikan bahwa betapapun juga, pemuda sasterawan yang disangkanya hanya seorang kutu buku yang lemah itu ternyata memiliki ilmu silat yang tidak rendah!

Akan tetapi senjata di tangan penjahat itu benar-benar berbahaya sekali dan keadaan Un Leng juga sudah mulai terdesak, maka Kui Hwa lalu melompat maju dan kini goloknya menyambar-nyambar bagaikan setan maut mengancam nyawa Ban Hwa Yong.

Penjahat ini sekarang tak dapat tertawa lagi.

Menghadapi dua orang ini, benar-benar ia merasa kewalahan dan setelah melawan sampai empat puluh jurus dalam waktu mana keselamatannya terancam hebat ia lalu melompat dan melarikan diri.

Kui Hwa yang marah sekali hendak mengejar akan tetapi Un Leng berkata.

"Tak usah dikejar lawan yang sudah kalah dan ketakutan!"

Kui Hwa tidak jadi mengejar Ban Hwa Yong dan memandang kepada Un Leng dengan pandang mata kagum.

Un Leng menyimpan kembali goloknya di bawah sela di atas kudanya kemudian ketika ia kembali kepada Kui Hwa ia berkata.

"Maaf bahwa aku terpaksa memperlihatkan kebodohanku nona."

"Saudara Siok Un Leng, mengapa kau selama ini berpura-pura tidak mengerti ilmu silat? Kepandaianmu cukup baik dan.......mengapa kau menyembunyikan kepandaian itu padaku?"

Un Leng tersenyum.

"Tak ingatkah betapa aku tidak suka akan kekerasan? Aku mempelajari ilmu silat hanya untuk penjagaan diri seperti yang tadi telah kulakukan menghadapi penjahat itu, bukan sekali-kali untuk kusombongkan dan kujadikan alat mencari permusuhan. Tidak nona, aku lebih suka menggerakkan tangkai pena daripada menggerakkan golok yang mengerikan itu!"

Kui Hwa memandang kagum dan hatinya merasa girang sekali. Inilah pemuda yang patut dipercayainya dan yang akan dapat melindunginya selama hidupnya.

"Saudara Un Leng....... kalau aku tahu......"

"Nona, setelah sekarang kau mengetahui keadaanku, biarlah di sini kuulangi pinanganku dahulu. Bagaimana? Sudikah kau menerimaku sebagai suamimu? Kita menjauhkan diri dari segala urusan dunia, kita pindah ke tempat aman, mendirikan rumah tangga yang aman dan damai, tidak mengenal tajamnya senjata. Sudikah kau...?"

Sambil berkata demikian dengan mesra dan halus, pemuda itu melangkah maju dan memegang tangan Kui Hwa.

Untuk sesaat gadis itu memandang mesra.

Akan tetapi tiba-tiba ia teringat kepada Tiong Kiat.

Direnggutnya tangannya dan ia berkata.

"Tidak........ tidak! Jangan dekati aku Un Leng ...... aku....... aku tidak berharga......!"

Ia lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis!

"Nona apakah kau akan maksudkan kepergianmu dari Kim liong.pai, minggat bersama dengan ji-suhengmu (kakak seperguruan kedua)?

Itukah yang kauanggap bahwa kau tidak berharga lagi?"

Kui Hwa terkejut dan memandang dengan mata basah! "Apa ....? Kau sudah tahu akan hal itu?"

Un Leng mengangguk.

"Sebelum kembali ke Heng-yang di kota raja aku telah mendengar akan hal itu. Peristiwa yang terjadi di Gunung Liong-san, mengenai diri anak-anak murid Kim liong-pai yang terkenal tentu saja mudah tersiar di kalangan kang-ouw. Aku teIah mendengarnya semua, nona, tak perlu kau menuturkannya lagi."

"Kau........ kau sudah tahu selama ini . .dan kau ....... tidak memandang rendah dan hina kepadaku........?"

Un Leng tersenyum.

"Kalau aku memandang rendah, apakah aku mau mendekatimu, menyuruh ibuku meminangmu sebagai istriku?"

Makin deras air mata mengalir dari mata Kui Hwa,"Saudara Siok......

aku bukan seorang baik-baik, aku telah menjalankan kesesatan bersama manusia jahanam yang menjadi suhengku itu, aku telah meninggalkan suhu meninggalkan ayah, membatalkan pertunanganku dengan twa suheng secara paksa ....aku gadis tak tahu malu, yang sudah melanggar kesusilaan, aku tak berharga lagi.

...tahukan kau akan semua ini?"

Un Leng berkata sungguh-sungguh.

"Aku sudah tahu, nona, akan tetapi aku tidak menganggap kau tidak berharga. Seorang yang sudah sadar dari pada kesesatannya adalah seorang bijaksana. Aku mengagumimu dan aku"

Aku tertarik dan cinta padamu."

Saking terharunya Kui Hwa lalu menubruk kaki Un Leng, berlutut sambil menangis.

Ia berterima kasih sekali, juga terharu dan girang karena selama berkenalan, ia maklum bahwa hatinya telah jatuh pula terhadap pemuda ini.

Un Leng menarik napas panjang dan mengelus-elus rambut Kui Hwa, membiarkan kekasihnya melepaskan tekanan batin dengan air matanya.

Ketika mereka kembali ke kota Heng yang dengan wajah gembira dan penuh bahagia, keduanya lalu menuju ke rumah perkumpulan Sorban Merah.

Kui Hwa telah bermufakat untuk menerima pinangan Nyonya Siok untuk yang kedua kalinya dan telah setuju pula bahwa dia akan ikut suaminya dan mertuanya untuk pindah ke kota raja di mana suaminya akan mencari pekerjaan.

Ia telah mengambil keputusan pula untuk meletakkan jabatannya sebagai ketua perkumpulan Sorban Merah.

Akan tetapi, ketika ia dan Un Leng berjalan memasuki pekarangan rumah perkumpulan itu, ia melihat seorang pemuda bangkit berdiri dari bangku di ruang depan dan kini pemuda itu berdiri menanti kedatangan mereka dengan wajah tenang.

Pucatlah wajah Kui Hwa ketika ia memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan tak terasa pula ia menahan tindakan kakinya.

Ia melihat betapa pemuda itu memandang kepadanya dengan senyum tenang dan sama sekali tidak kelihatan marah atau membenci.

Terharulah hati Kui Hwa dan tak terasa lagi ia lalu berlari ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu!

Un Leng hanya memandang heran dan mengerutkan kening, karena ia tidak mengenal pemuda itu, cepat memegang kedua pundak Kui Hwa, membangunkannya sambil berkata.

"Eh, sumoi mengapa kau begini? Berdirilah dan mari kita bicara dengan baik."

Kui Hwa tak dapat menahan berlinangnya air matanya, ia tidak berani menentang pandang mata pemuda yang bukan lain adalah Tiong Han ini.

Ia merasa malu sekali kepada bekas tunangan dan suhengnya ini, yang selalu bersikap baik terhadapnya.

"Twa suheng...... kau...... kau dapat memaafkan aku? Kau tidak marah dan tidak benci kepadaku?"

Tiong Han menggeleng kepalanya dan tersenyum tenang, sungguhpun senyumnya bukanlah senyum gembira.

"Mengapa aku harus benci dan marah kepadamu, sumoi? Kau adalah adikku, adikku yang kusayang semenjak kita masih anak-anak. Aku hanya kasihan melihatmu, sumoi."

Kemudian barulah Tiong Han merasa bahwa mereka tidak patut bicara urusan pribadi mereka di depan seorang pemuda tampan yang tidak dikenalnya.

Ia lalu mengangkat muka memandang kepada Un Leng yang sudah menghampirinya dengan senyum dan pandang mata kagum.

Un Leng menjura dan cepat dibalas oleh Tiong Han.

"Ah tidak tahunya kau adalah Sim Tiong Han, orang gagah dari Kim-liong pai. Aku ini Un Leng, adalah seorang yang bodoh."

Seru pemuda sasterawan ini dengan sikap hormat.

Melihat sikap dan kesederhanaan pemuda ini, Tiong Han merasa suka dan cocok, hanya ia belum mengerti apakah hubungan antara pemuda ini dan sumoinya.

Akan tetapi Kui Hwa segera menjelaskan.

"Suheng, dia ini adalah....sahabatku, seorang yang jujur dan banyak berjasa terhadap diriku yang hancur dan perasaanku yang luka oleh kejahatan ji suheng."

Tiong Han menghela napas dan keningnya berkerut.

"Sumoi terus terang saja, aku sudah bertemu dengan Tiong Kiat dan aku datang ini hanya hendak bertanya kepadamu mengapa kau meninggalkan Tiong Kiat dan membiarkan dia tersesat sedemikian jauhnya!"

Mendengar nada suara Tiong Han, diam-diam Kui Hwa terkejut sekali.

Dari suara pemuda ini, ia dapat menduga bahwa suhengnya ini biarpun tidak menaruh hati dendam kepadanya, namun merasa tidak senang mengapa dia berpisah dari Tiong Kiat dan tentu menyangka yang bukan-bukan.

Maka ia cepat menuturkan pengalamannya dengan Tiong Kiat, betapa Tiong Kiat telah melakukan perbuatan rendah terhadap seorang gadis yang ditolongnya sehingga mereka menjadi berselisih dan bertempur.

Kemudian diceritakannya bahwa Tiong Kiatlah yang pergi meninggalkannya dan betapa ia lalu menjadi ketua dari Perkumpulan sorban Merah.

Mendengar semua penuturan ini, kembali Tiong Han menarik napas panjang berkali-kali.

"Ah, sumoi, kalau begitu adikku itulah yang jahat dan tersesat. Kasihan sekali nasibmu yang buruk."

Dan diam-diam pemuda ini makin terheran melihat betapa Kui Hwa dapat menuturkan semua pengalamannya ini di depan Un Leng, seakan-akan di antara mereka tidak terdapat rahasia lagi.

Ia menduga-duga dan ketika Kui Hwa memaksanya untuk bermalam di situ menikmati hidangan yang dikeluarkan dibantu pula oleh Un Leng, terpaksa ia menerimanya.

Ia kagum juga melihat betapa kuat dan teratur perkumpulan yang dipimpin oleh sumoinya dan betapa semua anggauta Sorban Merah amat tunduk dan taat kepadanya.

Di dalam kesempatan itu, Un Leng mendapat pikiran yang amat baik.

Diam-diam ia memberitahukan pikirannya ini kepada Kui Hwa dan gadis ini dengan muka kemerah-merahan hanya menganggukkan kepala dan kemudian ia sengaja meninggalkan ruangan dimana Tiong Han berada untuk memberi kesempatan kepada Un Leng untuk bicara berdua saja dengan suhengnya.

"Sim taihiap"

Kata Un Leng ketika mereka selesai makan dan duduk menghadapi meja dengan cawan terisi arak.

"Sebelumnya kuharap kau sudi memaafkan aku apabila kau anggap aku berlaku lancang. Telah kuceritakan kepadamu bahwa aku adalah murid dari Kim-l-sin-kai (Pengemis Sakti Baju Kembang) di kota raja yang juga kau tahu telah kenal baik dengan suhumu. Biarpun aku hanya mengerti sedikit ilmu silat, akan tetapi seperti juga suhu, aku benci akan perkelahian dan permusuhan. Aku lebih suka hidup damai dan tenteram dengan penaku. Nah, kau telah mengetahui keadaan sumoimu. Seperti juga kau, aku kasihan sekali kepadanya. Akan tetapi kalau kau berkasihan sebagai seorang suheng terhadap sumoinya, adalah aku berkasihan kepadanya sebagai seorang pemuda terhadap seorang gadis yang telah merebut hatiku! Ya terus terang saja, taihiap, diantara sumoimu dan aku telah ada persesuaian paham dan kami telah bermupakat untuk menjadi suami-istri! Oleh karena itu, mengingat bahwa Hwa moi jauh dari orang tua, maka kiranya kau menjadi wakilnya! Kepadamulah sebagai wali Hwa-moi kuajukan pinanganku harap saja kau sudi menolong kami."

Tiong Han tersenyum dan memandang tajam.

"Saudara Siok bukan main girangnya hatiku mendengar ucapan yang terus terang ini! Sebelum kau menceritakan kepadaku, aku sudah dapat menduga lebih dulu, dan pengakuanmu ini menandakan bahwa kau memang jujur dan bersifat jantan. Kau telah mendengar tentang riwayat sumoi dengan adikku, namun kau dapat memaafkan dan masih dapat menghargainya, ini menandakan bahwa cintamu terhadapnya suci dan tulus. Akan tetapi, aku hanya menjadi suhengnya bagaimana aku berani berlaku lancang bertindak sebagai walinya?"

Un Leng berbangkit dari bangkunya dan menjura kepada Tiong Han yang dibalas cepat-cepat oleh pemuda ini.

"Terima kasih banyak, taihiap. Sungguh pun benar pula ucapanmu tadi agaknya kau lupa bahwa Hwa moi sesungguhnya telah diberikan kepadamu oleh orang tuanya sebagai calon jodohmu. Kau berhak penuh atas dirinya dan berhak pula menjadi walinya. Kalau kau sudi menerima permohonanku, berarti kau telah melepas budi besar terhadap kami."

Terpaksa Tiong Han menerimanya dengan hati girang.

Kui Hwa lalu dipanggil dan dengan muka kemerah-merahan gadis ini lalu menjura kepada suhengnya yang kini menjadi walinya itu.

Para anggauta Sorban Merah lalu dikumpulkan dan setelah Tiong Han diperkenalkan sebagai suheng dan wali dari Kui Hwa, Tiong Han lalu mengumumkan dengan suara lantang tentang perjodohan antara kedua orang muda itu.

Semua anggauta Sorban Merah menerima berita ini dengan girang sekali.

Akan tetapi kegirangan ini segera terganti kekecewaan ketika Kui Hwa menyatakan bahwa setelah menikah, terpaksa meninggalkan perkumpulannya dan menyerahkan perkumpulannya ini kepada beberapa orang thauwbak yang paling tua dan cukup bijaksana.

Dengan disaksikan oleh Tiong Han, beberapa hari kemudian dilangsungkanlah pernikahan sepasang orang muda itu dengan sangat sederhana, akan tetapi cukup meriah karena diramaikan dan dihadiri oleh anggauta Sorban Merah dan para sahabat-sahabat di kota Heng-yang.

Setelah itu, pada keesokan harinya, Tiong Han minta diri dari sepasang suami-istri ini untuk melanjutkan perjalanannya mencari adiknya.

Kui Hwa mengantarkan kepergiaan suhengnya ini dengan air mata berIinang.

Ia kini mendapat kenyataan betapa bijaksana dan mulia hati twa suhengnya ini dan diam-diam ia menyumpahi dirinya yang telah terpikat oleh bujukan-bujukan iblis dari mulut ji-suhengnya.

Pada waktu itu, pemerintah kerajaan Tang mempunyai hubungan baik sekali dengan suku bangsa Ouigour, yakni nenek moyang suku bangsa mongol.

Raja bangsa Ouigour ini bernama Huayen khan, seorang yang sudah mempelajari kebudayaan Tiongkok dan selain pandai menulis huruf Tiongkok juga terkenal sekali dengan ilmu silat dan ilmu memanahnya yang tinggi.

Huayen-khan mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan Tang, menukar kulit binatang dan bulu binatang dengan gula dan kain sutera.

Pernah dua kali Huayen-khan datang mengunjungi kaisar Tang yang bernama Tai Cong, dan di kota raja kepala suku bangsa Ouigour ini disambut dengan segala kehormatan, bahkan Kaisar Tai Cong lalu mengadakan perayaan pesta untuk menghormati kunjungan Huayen khan ini.

Di dalam pesta ini, setelah Huayen-khan minum banyak arak wangi yang dihidangkan dan kepalanya telah menjadi agak ringan dan kegembiraannya membesar, ia berkata kepada Kaisar Tai Cung.

"Saya lihat pengawal-pengawal paduka membawa busur dan anak panah. Agaknya ilmu panah dari kerajaan paduka amat maju dan hebat!"

Kepala suku bangsa Ouigour ini lalu tertawa bergelak.

Kaisar Tai Cung terkenal sebagai seorang yang amat bijaksana, pandai memerintah, dicinta oleh rakyat karena adilnya dan selain itu iapun amat cerdik.

Mendengar ucapan Huayen-khan ini, Kaisar Tai Cung sudah tahu akan maksudnya, karena iapun maklum akan kepandaian Huayen-khan dalam ilmu panah.

Sambil tersenyum ia berkata.

"Betapapun pandainya para pengawalku, agaknya masih harus mendapat banyak petunjuk dari padamu, khan yang baik."

Huayen-khan tertawa bergelak sambil menenggak cawan araknya yang segera diisi pula sampai penuh oleh seorang dayang pelayan.

"Paduka pandai sekali merendahkan diri. Kita sedang bergembira, apa salahnya bermain-main sedikit dengan ilmu panah? Harap paduka tidak berlaku sungkan dan sudi memanggil seorang ahli panah terpandai dari dalam tembok besar."

Sambil tertawa juga, Kaisar Tai Cong lalu menyuruh seorang pengawal memanggil kepala pengawal yang bernama Ciok Kwan.

Tak lama kemudian, Ciok Kwan datang menghadap.

Huayen-khan memandang kepada perwira ini dengan kagum.

Ciok Kwan adalah seorang perwira yang masih muda, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian rapi dan nampak gagah sekali karena potongan tubuhnya memang tegap dan besar.

Sebagai seorang kepala pengawal bagian panah, di punggungnya tergantung busur besar dan anak-anak panah dengan bulu warna merah."Seorang perwira yang gagah!"

Huayen Khan berkata memuji sehingga Tai Cong tersenyum girang.

"Ciok ciangkun."

Kata kaisar.

"tamu agung kita Huayen-khan ini ingin sekali menyaksikan kepandaian memanah darimu, maka cobalah kau memperlihatkan kepandaianmu. Huayen-Khan sendiri adalah seorang ahli panah yang terkenal, maka permainan ini tentu takkan merugikanmu, bahkan kau tentu akan mendapat petunjuk-petunjuk yang baik dari padanya."

Tentu saja Ciok Kwan tidak berani membantah dan ia mengerling ke arah kepala suku bangsa Ouigour itu.

Ia telah mendengar nama besar Huayen-khan akan tetapi melihat orangnya, timbul keraguannya.

Raja bangsa Ouigour ini nampak kasar, bercambang bauk dan agaknya telah mabok arak mana dapat memberi petunjuk tentang ilmu panah?

Kaisar dan tamunya lalu keluar dari ruangan dalam, menuju ke taman bunga di sebelah kanan istana, diikuti oleh para pengawal dan pelayan.

Dengan sikapnya yang sopan, Ciok Kwan lalu menuju ke tempat terbuka dan berpikir-pikir cara bagaimana ia akan memperlihatkan kemahirannya mainkan panah.

la memandang ke kanan ke kiri dan berdongak pula memandang ke atas.

Tiba-tiba Huayen khan tertawa berkata.

"Ciok-ciangkun, apakah kau mencari-cari matahari untuk menjadi sasaran anak panahmu? Ha, ha, ha!"

Huayen khan adalah seorang kasar dan kata-katanya ini hanya kelakar belaka. Kaisar Tai Cung mengerti akan hal ini, maka sambil tertawa kaisar ini berkata juga.

"Huayen khan yang gagah, apa kaukira sekarang ini masih ada orang-orang sakti seperti Panglima Po Gwan?"

Panglima Po Gwan adalah seorang tokoh dalam dongeng Tiong kok yang demikian tinggi ilmu panahnya sehingga dikabarkan orang bahwa panglima ini pandai memanah bintang di langit!"

Huayen-khan juga tertawa mendengar ucapan kaisar ini, tanda bahwa kepala suku bangsa Ouigour ini tidak asing akan dongeng-dongeng dan sejarah purba dari Tiongkok.

Akan tetapi, sebaliknya, Ciok Kwan yang semenjak kecil mempelajari bu (lima silat) dan sama sekali tidak pernah mempelajari bun (ilmu surat) merah kedua telinganya mendengar percakapan orang-orang besar ini.

la mengira bahwa Huayen khan mengejeknya dan diam-diam iapun merasa gemas sekali mengapa kaisar bahkan membumbui ejekan tamu, orang yang dianggapnya kasar dan biadab ini!

"Hamba adalah seorang yang bodoh dan anak panah hamba hanya dapat dipergunakan untuk menangkap burung di atas itu!"

Kata Ciok Kwan sambil menudingkan telunjuknya ke atas. Semua orang melihat ke atas dan ternyata sekawanan burung terbang tinggi sekali di udara.

"Hamba akan menurunkan burung ketiga dari depan! seru Ciok Kwan dan seruannya itu dibarengi oleh menjepretnya tali busurnya. Sebatang anak panah dengan cepat sekali mendesing ke udara dan tak lama kemudian betul saja, burung yang terbang di barisan ketiga dari depan nampak terkulai kepalanya dan jatuh ke bawah bagaikan sepotong batu. Ketika dilihat, burung itu telah tertembus dadanya oleh anak panah tadi, Semua pengawal berseru gembira menyaksikan ketangkasan kepala mereka ini. Kaisar Tai Cung mengangguk girang, akan tetapi Huayen-khan berkata.

"Memanah burung yang besar itu benar-benar mengagumkan orang!"

Sambil berkata demikian, ia mengulur tangan ke belakang dan seorang di antara para pengawalnya lalu memberikan busur dan sebatang anak panah.

"Aku hanya dapat memanah binatang yang kecil-kecil saja."

Ucapan ini seperti diucapkan untuk dirinya sendiri dan pujian itu sama sekali tidak cocok dengan tarikan wajahnya yang memandang rendah.

"Kalau paduka membolehkan saja ingin mencabut ekor burung kecil warna hitam yang sedang terbang itu!"

"Kaisar Tai Cung menengok ke arah yang ditunjuk oleh Huayen khan dan ia terkejut sekali. Yang dituding oleh tamunya adalah seekor burung walet yang beterbangan di udara gesit sekali. Bagaimana orang dapat memanah burung yang terkenal amat gesit dan tangkas ini? Apa lagi hanya membobolkan ekornya,jauh lebih sukar dari pada kalau memanah jatuh burung itu. Tentu saja kami tidak melarangnya, hanya, dapatkah burung segesit itu dipanah jatuh ekornya saja?"

Huayen-khan tertawa bergelak, membidikkan anak panahnya, menanti sampai burung walet itu terbang mendekat, kemudian terdengar anak panahnya meluncur cepat sekali merupakan sinar hitam karena anak panahnya ini belakangnya memakai ronce-ronce warna hitam.

Semua orang menahan napas dan Ciok Kwan sendiri berdebar hati, karena iapun tidak percaya bahwa Huayen-khan akan berhasil.

Akan tetapi, terdengar sorak-sorai dari para pengawal dan pengiring kepala suku bangsa Ouigour ini ketika terdengar burung walet menjerit lalu terbang cepat sekali tanpa ekor!

Beberapa helai bulu ekornya itu telah copot dan bodol terbabat oleh anak panah yang dilepas oleh Huayen-khan!

"Bagus, hebat sekali ilmu panahan khan yang baik!"

Kaisar itu memuji dan diam-diam ia bersukur bahwa kerajaannya tidak bermusuhan dengan Huayen-khan yang pandai sekaIi mainkan anak panah ini. Huayen-khan tertawa bergelak.

"Walet hitam sekecil itu perlu apa dibunuh? Dicabut ekornya saja ia akan menjerit ketakutan dan lari secepatnya. Ha, ha, ha!"

Kaisar Tai Cung juga tersenyum karena ia maklum akan maksud kata-kata Huayen khan yang lihai ini.

Memang, pada waktu itu, terdapat suku bangsa Cou yang dipimpin oleh Piloko, seorang yang terkenal juga dalam ilmu silat sehingga ia mendapat julukan Yan-ong (Raja Burung Walet).

Juga Piloko dan suku bangsanya bersahabat dengan pemerintah Tang tetapi di dalam perdagangannya dengan pemerintah Tang, Piloko mendapat saingan keras sekali dari Huayen-khan sehingga dua orang pemimpin suku bangsa ini menjadi saling benci dan timbul permusuhan di antara mereka!

Oleh karena itu, ucapan Huayen-khan ini tentu saja menyinggung diri Piloko yang dianggapnya burung walet tadi.

Inipun agak tepat, karena di dalam peperangan pernah pasukan Piloko terpukul mundur oleh Huayen-khan dan terpaksa melarikan diri.

Hanya berkat kebijaksanaan campur tangan Kaisar Tai Cung saja maka peperangan tidak dilanjutkan dan tidak menghebat, akan tetapi di dalam hati masing-masing masih terdapat dendam dan kebencian.

Setelah menerima hadiah-hadiah dari kaisar, Huayen khan lalu mengundurkan diri, diiringkan oleh sekalian pengawalnya, keluar dari istana hendak kembali ke tempat tinggalnya sendiri, yakni di lembah Sungai Salenga di utara.

Kaisar Tai Cung memberi perintah kepada Ciok Kwan untuk membawa sepasukan pengawal, mengiringkan perjalanan Huayen-khan sampai keluar ibu kota.

Pada saat rombongan ini tiba di luar tembok ibu kota, tiba-tiba sepasukan orang-orang tinggi besar yang bertopi putih sambil berseru keras datang menyerbu!

Jumlah mereka banyak sekali dan ternyata bahwa mereka ini adalah pasukan suku bangsa Cou yang dipimpin oleh Piloko!

Mereka telah menanti saat yang baik untuk melakukan pembalasan dan karena dendam mereka sudah memuncak, maka mereka tidak segan-segan lagi untuk menyerang Huayen-khan di Iuar tembok ibu kota kerajaan Tang!

"Atas nama kaisar, harap jangan mengganggu tamu agung kami!"

Ciok Kwan berulang-ulang memberi peringatan dan berseru keras, akan tetapi Piloko tidak memperdulikan seruan itu bahkan segera berteriak.

"Ciok ciangkun! Harap kau menarik kembali pasukanmu dan masuk ke dalam kota. Kami tidak ada persoalan dengan kau dan pasukanmu dan biarkan kami membereskan urusan lama dengan Huayen khan!"

Setelah berkata demikian Piloko memberi aba-aba dan menyerbulah anak buahnya, menyerang Huayen khan yang hanya dikawal oleh dua puluh orang anak buahnya.

Pertempuran hebat terjadi ramai sekali Ciok Kwan menjadi ragu-ragu karena selain ia merasa mendongkol kepada Huayen khan, juga ia gentar menghadapi Piloko dengan anak buahnya yang sedikitnya ada lima puluh orang itu!

Maka ia berdiri diam saja di pinggir dan hal ini tentu saja diturut oleh pasukannya yang tidak berani lancang turun tangan tanpa aba-aba dari pemimpinnya.

Betapapun juga, Ciok Kwan lalu menyuruh dua orang anak buahnya untuk melaporkan peristiwa ini kepada kaisar dan minta putusan kaisar.

Celakalah keadaan Huayen-khan.

Biarpun ia sendiri gagah perkasa, namun pada saat itu ia masih setengah mabok dan anak buahnya yang hanya dua puluh orang itu tentu saja tidak dapat menandingi sepak terjang lima puluh orang anak buah Piloko yang pilihan!

Seorang demi seorang anak boah Huayen-khan roboh mandi darah dan Huayen khan sendiri sudah terkurung rapat.

Namun kepala suku bangsa Ouigour ini memang mengagumkan.

Dalam keadaanmterjepit seperti itu, ia sama sekali tidak mau berseru minta tolong kepada Ciok Kwan.

Juga ia melakukan perlawanan dengan gigih sekali, memainkan goloknya yang diputar dengan hebatnya.

Pembantu Piloko tentu saja takkan berdaya menghadapi Huayen khan yang kosen kalau di situ tidak ada Piloko yang mengeroyoknya pula.

Kepandaian silat Piloko tinggi juga dan permainan sepasang tombak pendek di tangannya cukup cepat dan kuat.

Namun ia harus mengakui bahwa ia masih kalah jauh oleh Huayen-khan dan setelah mengeroyok dengan lima orang kawan-kawannya saja baru ia dapat mengimbangi permainan golok dari orang kasar bangsa Ouigour ini!

Golok Huayen-khan telah berlumur darah, karena banyaklah sudah musuh yang roboh di tangannya.

Akan tetapi sekarang ia telah merasa lelah perlahan-lahan ia terdesak hebat dan kurungan yang kini terdiri dari sepuluh orang itu makin merapat!

Adapun Ciok Kwan masih sedia berdiri di situ menjadi penonton.

Ia mengagumi kegagahan Huayen-khan akan tetapi ketika ia melihat gerakan sepasang tombak Piloko, ia menjadi gentar juga.

Baiknya utusan-utusannya belum juga kembali, sehingga ia mendapat alasan cukup kuat untuk tinggal menjadi penonton dan belum membantu Huayen khan.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Huayen-khan, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan berkelebatlah sinar putih yang menyilaukan mata.

Segebrakan saja terguling dua orang pengeroyok Huayen khan oleh sinar putih yang ternyata adalah sinar pedang yang amat cepat gerakannya itu!

Huayen khan mengerling dan giranglah ia ketika melihat bahwa penolongnya bukanlah Ciok Kwan melainkan seorang pemuda bukan perajurit yang berpakaian biru dan berwajah tampan dan gagah sekali.

"Ha, ha. ha! Orang muda yang gagah, mari kita basmi tikus-tikus busuk ini!"

Dalam keadaan seperti itu, Huayen-khan masih dapat tertawa, sungguh mengagumkan hati pemuda ini yang bukan lain adalah Sim Tiong Kiat adanya!

Di dalam perantauannya, tibalah Tiong Kiat di luar tembok kota raja sehingga ia melihat pertempuran itu.

Ia melihat betapa seorang tua tinggi besar bercambang bauk yang hebat juga ilmu goloknya, dikeroyok oleh orang-orang suku bangsa Cou yang banyak jumlahnya.

Di sana sini nampak banyak mayat bertumpuk-tumpuk bahkan masih terjadi pertempuran hebat sekali oleh kedua fihak yang tidak berimbang jumlahnya itu.

Ketika Tiong Kiat melihat Ciok Kwan dan pasukannya yang berpakaian mewah akan tetapi tidak berbuat sesuatu menghadapi pertempuran hebat itu, ia menjadi sebal sekali.

Memang telah lama Tiong Kiat membenci para perajurit pemerintah yang lagaknya sombong itu.

Melihat ilmu golok Huayen-khan dan kegagahan kepala suku bangsa Ouigour ini, timbul simpatinya dan segera ia mengambil keputusan untuk membelanya.

Di dalam dada pemuda ini memang masih ada keadilan dan tentu saja menghadapi dua pihak yang bertempur, tanpa mengetahui sebabnya, ia akan berpihak pada yang Iemah.

Pihak Huayen-han jauh lebih sedikit jumlahnya, maka lalu ia membela pihak ini.

Ketika mendengar ucapan Huayen khan, Tiong kiat menjadi gembira dan cepat ia mainkan pedangnya.

Melihat betapa diantara para pengeroyok, sepasang tombak pendek Piloko paling lihai, Tiong Kiat lalu menyerang orang ini.

Piloko menjadi marah sekali dan cepat ia menangkis sekuat tenaga dengan tombak kirinya.

"Trang!"

Dan putuslah tombak kiri di tangan Piloko itu, yang membuatnya menjadi terkejut sekali sehingga wajahnya berubah pucat.

"Ha, ha, ha!"

Huayen-khan tertawa bergelak.

Setelah kini menghadapi pengeroyok kawan-kawan musuhnya, ia mengganda dengan tertawa saja.

Ia menjadi geli melihat betapa tombak Piloko terbabat buntung oleh pedang pemuda gagah itu.

"Walet hitam yang tadi ekornya telah buntung, sekarang sayapnya brondol lagi. Ha, ha, ha, kau tidak lekas terbang minggat?"

Piloko menjadi jerih sekali melihat kegagahan Tiong kiat, maka ia segera berseru keras dalam bahasa Cou, mengajak pergi kawan-kawannya, ia sendiri lalu mendahului melompat pergi dan berlari cepat, diikuti oleh kawan-kawannya yang hanya tinggal tiga puluh orang lebih lagi.

Baru saja rombongan Piloko melarikan diri, datanglah pasukan dari dalam kota yang mendapat perintah dari kaisar untuk memisahkan pertempuran itu dan membujuk kedua pihak supaya berdamai, biarpun harus dengan kekuatan senjata, Huayen-khan tidak memperdulikan Ciok Kwan dan pasukannya, bahkan tidak memperdulikan lagi anak buahnya yang menjadi korban, melainkan memeluk bahu Tiong Kiat sambil tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha, dibandingkan dengan kau, semua orang ini hanya kecoa-kecoa pemakan bangkai belaka. Orang seperti kau inilah yang sepantasnya duduk di sebelah kananku. Orang muda yang gagah, maukah kau pergi bersama Huayen-khan ke utara dan duduk makan minum dengan aku?"

Melihat sikap yang kasar ini, Tiong Kiat makin tertarik.

Orang ini gagah dan jujur dan juga mendengar nama Huayen-khan, tahulah ia bahwa ini adalah kepala suku bangsa Ouigour yang gagah berani.

Maka timbul hati sukanya dan iapun lalu menurut saja ketika tangannya digandeng oleh Huayen-khan dan diajak naik kuda yang sudah disediakan oleh anak buahnya.

Ketika rombongan orang Ouigour ini hendak berangkat Huayen khan menoleh dari kudanya, memandang kepada Ciok Kwan sambil tersenyum mengejek.

"Ciok-ciangkun, benar saja seperti pengakuanmu tadi. Anak panahmu hanya dapat dipergunakan untuk menjatuhkan seekor burung besar yang lambat terbangnya. Akan tetapi menghadapi seekor burung walet yang kecil dan gesit, anak panahmu menjadi tumpul. Ha, ha, ha!"

La lalu menarik kendali kudanya dan mengajak Tiong Kiat mengaburkan kuda mereka pergi dari situ.

Ciok Kwan mendongkol sekali akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan?

Untuk menyerang dan menyergap orang-orang ini tentu saja ia tidak berani karena tidak ada perintah dari kaisar.

Untuk bertindak seorang diri terhadap kepala suku bangsa Ouigour ini lebih jerih karena maklum bahwa kepandaiannya takkan dapat menangkan orang kasar itu.

Dengan marah dan mendongkol ia Ialu memimpin pasukannya untuk kembali ke kota raja untuk membuat laporan kepada kaisar.

Huayen-khan ternyata merasa suka sekali kepada Tiong Kiat.

Ia mengajak pemuda ini ke utara dengan segala kehormatan dan di sepanjang jalan pemuda ini diperlakukan sebagai orang setingkat dengannya!

Ketika mereka tiba di tempat perkemahan suku bangsa Ouigour, Tiong Kiat menjadi kagum sekali melihat betapa suku bangsa ini menempati perkemahan yang baik dan mempunyai anggauta yang banyak sekali jumlahnya.

Lagi pula, setiap orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan tegap, selalu membawa senjata tajam dan nampaknya mengerti ilmu silat.

Sungguh merupakan pasukan yang kuat dan baik.

Akan tetapi yang lebih menyenangkan hatinya adalah ketika ia melihat wanita-wanita yang berada di situ.

Berbeda dengan yang laki-laki para wanita Ouigour rata-rata berkulit bersih, bermata bening dan berhidung mancung, pendek kata cantik-cantik!

Rombongan Huayen khan berjalan perlahan dan pemimpin besar itu menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil mengangkat tangan ke kanan ke kiri membalas penghormatan semua anak buahnya yang menyambutnya sepanjang jalan.

Tiong Kiat yang menjalankan kudanya di sebelah Huayen-khan, menjadi berdebar bangga karena seakan-akan juga menerima penghormatan besar itu.

Tiba-tiba dari jurusan depan nampak seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya sehingga debu mengebul tinggi, kuda itu berlari cepat sekali dan Tiong Kiat memandang bagaikan terpesona.

Memang hebat sekali pemandangan yang nampak di depan matanya itu.

Kuda itu berbulu kemerah-merahan, sedangkan penunggangnya adalah seorang gadis yang berpakaian merah lagi sehingga kuda dan penunggangnya itu nampaknya seperti api yang bernyala-nyala.

Yang membuat Tiong Kiat merasa kaget adalah kecepatan larinya kuda itu sehingga ia merasa kuatir kalau kuda ini menubruk kudanya dan kuda yang ditunggangi oleh Huayen khan.

Akan tetapi, Huayen-khan memandang dengan tertawa lebar saja dan ketika kuda merah itu sudab tiba di depan Huayen khan tanpa mengurangi kecepatan larinya tiba-tiba saja gadis baju merah itu menahan kendali kuda dan menjepit perut kudanya dengan kedua kakinya dan...

mendadak kuda itu berhenti berlari!

Kuda itu meringkik seakan-akan kegirangan dan Tiong Kiat sukar untuk dapat mempercayai apa yang dipandangnya dihadapan itu.

Ia merasa terheran-heran dan kagum.

Tidak saja kagum melihat kecantikan gadis baju merah ini, akan tetapi juga heran melihat cara gadis itu menghentikan kudanya.

Tidak sembarang orang dapat menghentikan larinya kuda yang secepat itu dalam cara demikian mendadak.

Kalau gadis itu tidak memiliki tenaga besar dan kepandaian naik kuda yang luar biasa, tak mungkin ia akan dapat menghentikan kudanya secara itu!

Gadis itu sama sekali tidak menghormat Huayen-khan, bahkan datang-datang ia lalu menegur Huayen khan.

"Kau membawa benda apakah untukku?"

Huayen khan tertawa bergelak.

"Ang Hwa (bunga Merah) kaukira aku akan lupa kepadamu?"

Huayen khan mengeluarkan sebuah kotak berukir dari dalam bungkusan di atas sela kudanya dan melemparkannya kepada wanita itu.

Lemparan ini keras dan cepat akan tetapi gadis itu menangkap peti kecil ini dengan gerakan yang Iihai sekali sehingga kembaIi Tiong Kiat memujinya.

"Bagus!"

Katanya tak terasa lagi.

Ang Hwa sedang membuka peti itu dan ketika ia mendengar pujian ini, ia menutup petinya dan memandang ke arah Tiong Kiat.

Ia nampak tercengang seakan-akan baru sekarang ia melihat pemuda ini.

"Ha, ha, ha!"

Huayen-khan tertawa pula.

"Ang Hwa, kau lihat Sim enghiong ini. Bukankah ia gagah dan tampan sekali."

Akan tetapi sambil merengut, Ang Hwa menegurnya.

"mengapa kau membawa seorang Han ke sini?"

"Ang Hwa, jangan terburu-buru memandang rendah! Pemuda Han ini bukanlah sembarang pemuda dan kalau tidak ada dia, belum tentu hari ini aku dapat pulang!"

Kemudian Huayen-khan lalu menceritakan tentang penyerbuan Piloko di luar tembok kota.

"Ha, ha, ha! Ang Hwa, kalau kau melihat betapa seorang panglima kerajaan Tang she Ciok itu berdiri seperti patung, sungguh menyebalkan. Sayang kau tidak ikut dalam rombonganku. Kalau kau ikut, tentu akan kau lihat betapa Piloko si walet itu diusir tunggang langgang oleh Sim-enghiong yang gagah perkasa ini! Ha, ha, ha!"

Ang Hwa mengerutkan kening.

"Kau diserbu oleh Piloko di luar tembok kota raja dan kau tidak mendapat bantuan dari kaisar Tang? Hm, siapa tahu kalau hal itu adalah siasat kaisar sendiri membiarkan serigala dan harimau berkelahi sambil bersembunyi dan kalau keduanya sudah lelah dan terluka lalu muncul untuk menangkap mereka?"

Tiong Kiat merasa tak senang mendengar betapa kaisarnya dituduh berlaku curang, akan tetapi ia makin kagum saja karena ternyata bahwa selain cantik jelita dan berkepandaian cukup tinggi, gadis inipun ahli dalam siasat peperangan dan berotak cerdik pula.

Siapakah gadis ini, pikirnya.

Tentu setidaknya puteri dari Huayen-khan!

"Aku mendengar bahwa Piloko memang bermusuhan dengan suku bangsamu, maka tanpa dibujuk oleh orang lain, ia akan menyerang rombongan Huayen-khan di manapun juga."

Kata Tiong Kiat tanpa membela langsung kepada kaisar bangsanya. Ang Hwa memandang tajam kepadanya, kemudian melirik ke arah pedang yang tergantung di pinggang Tiong Kiat.

"Hm, kau membawa-bawa pedang dan kau telah membantu rombongan kami. Akan tetapi aku belum menyaksikan ilmu pedangmu. Malam nanti terang bulan, aku ingin sekali menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu pedangmu!"

Sambil berkata demikian, ia lalu memutar kudanya dan membalapkan kudanya dan mendahului rombongan Huayen khan!

Huayen khan tertawa bergelak dengan gembira sekali "Ha, ha sim-enghiong, dia memang keras kepala.

Kau harus melayaninya malam nanti!"

"Akan tetapi. Huayen khan, aku tidak suka mainkan pedang untuk ditonton,"

Jawab Tiong Kiat.

"siapa yang mau menonton ilmu pedang? Dia mengajakmu mengadu ilmu kepandaian karena dia sendiripun seorang ahli pedang."

Tiong Kiat tertegun, akan tetapi Huayen-khan tidak memberi kesempatan padanya untuk bicara lagi, karena dia telah majukan kudanya sehingga rombongan itu maju terus menuju perkemahan besar di depan.

Setelah memasuki perkemahan, kembali Tiong Kiat tertegun ketika melihat banyaknya gadis-gadis pelayan yang cantik menyambut Huayen-khan, bahkan di antara mereka ini banyak sekali yang datang dari pedalaman, yakni gadis gadis bangsa Han!

"Bersenanglah dan anggap saja ini sebagai rumahmu sendiri!"

Kata Huayen-khan.Tiong Kiat mendapat tempat di sebuah kemah yang cukup besar, dilayani oleh belasan orang gadis pelayan yang cantik-cantik.

Tentu saja pemuda mata keranjang ini merasa gembira sekali dan merasa seakan-akan telah memasuki kahyangan yang penuh dengan bidadari-bidadari.

Malam harinya setelah bulan muncul, Huayen khan datang memasuki kemahnya dan mengajaknya keluar menikmati pemandangan di kebun kembang yang terdapat di tepi sungai.

Ketika mereka tiba di tempat itu, benar saja pemandangan amat indahnya.

Bunga bunga telah mekar dan di bawah sinar bulan purnama, keadaan di situ nampak indah menyenangkan sekali.

Ketika Tiong Kiat melihat bayangan merah berdiri di tempat itu, dikelilingi oleh para pelayan, teringatlah ia akan janji Ang Hwa yang hendak mencoba ilmu pedangnya, diam-diam Tiong Kiat menggigit bibirnya.

Ia akan memperlihatkan kepandaiannya agar dapat dikagumi oleh Ang Hwa yang cantik jeIita dan oleh para pelayan itu.

Memang benar seperti yang dikatakan oleh Huayen-khan tadi, karena begitu ia mengajak Tiong Kiat duduk di atas bangku-bangku batu yang telah disediakan di tempat itu, Ang Hwa lalu menghampiri mereka dan berkata kepada Tiong Kiat.

"Sim enghiong, harap kau suka memperlihatkan kepandaianmu agar hati kami tidak ragu-ragu lagi bahwa tamu kami bukanlah seorang pemuda Han yang lemah dan tiada guna belaka!"

Gemaslah hati Tiong Kiat, bukan saja gemas melihat sikap gadis cantik yang memandang rendah ini, akan tetapi gemas pula melihat gadis yang benar-benar jelita dan menarik hati ini.

Kalau saja ia tidak mengira bahwa gadis ini putri dari Huayen khan, tentu telah dipeluknya dan dibawa Iari ke dalam kemahnya!

"la bangkit berdiri dan berkata dengan senyum.

"Nona sudah menjadi kebiasaanku sekali aku mencabut pedang, aku tentu harus memperoleh hasil. Menghadapi seorang musuh, darah musuh pada pedangku adalah hasil pencabutan pedangku. Oleh karena terhadapmu aku tak dapat berIaku demikian maka apakah hadiahnya apabila aku mendapat kemenangan?"

Ang Hwa memandangnya dengan matanya yang indah, sungguhpun matanya nampak berseri, namun bibirnya tetap memperlihatkan kekerasan hati dan kesombongannya.

"Katakan dulu, bagaimana kalau kau kalah? Pembayaran apakah yang akan kau pertaruhkan?"

Tiong Kiat tertegun. Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis ini sedemikian sombongnya, seakan-akan sudah yakin akan kemenangannya sehingga berani mengajaknya bertaruh! "Darahku yang kupertaruhkan."

Kata Tiong Kiat.

"Biarlah aku terluka oleh pedangmu kalau ilmu pedangku terlalu rendah untuk menghadapi ilmu pedangmu."

Tiba-tiba Huayen khan tertawa bergelak.

"Ang Hwa, kau terlalu sombong! Mana bisa kau menangkan Sim enghiong? Sim-enghiong, biarlah aku mewakilinya menjawab. Kalau kau menang, aku akan menyerahkannya kepadamu semalam penuh dan ia harus menurut!"

Kali ini benar-benar Tiong Kiat terkejut dan mukanya menjadi marah sekali.

Bagaimana Huayen khan dapat menawarkan anaknya seperti itu?

Benar ia tidak mengerti akan sikap dan watak orang orang Ouigour ini!

Akan tetapi ia masih penasaran dan bertanyalah ia kepada Ang Hwa.

"Nona ucapan tadi dikeluarkan oleh Huayen-khan, bukan olehku."

"Sekali kata-kata sudah diucapkan, takkan ditarik kembali. Aku bersedia menurut perintah kalau aku kalah olehmu!"

Jawab Ang Hwa dengan singkat, dan gadis ini lalu mencabut sebatang pedang yang mengkilap dan melompat ke tengah pelataran.

Bukan main girangnya hati Tiong Kiat mendengar ini.

Gilakah orang-orang ini?

Dengan terang-terangan Huayen khan mempertaruhkan kehormatan puterinya sedangkan Ang Hwa sendiri dengan terang-terangan bersedia mentaati perintah itu!

Ia lalu mencabut pedangnya dan dengan lompatan ringan sekali ia telah berada di depan Ang Hwa.

"Nona, silakan kau mulai lebih dulu menyerangku!"

Tantangnya.

la mengira bahwa biarpun kepandaian menunggang kuda nona ini hebat, namun ilmu pedangnya tentu tidak berapa berbahaya.

Akan tetapi ia kecele kalau berpikir demikian, karena begitu gadis itu menggerakkan pedangnya, Tiong Kiat merasa terkejut sekali.

Gerakan pedang gadis itu sama sekali tak boleh disebut lemah!

Bukan main bahkan pedangnyapun bukan pedang biasa, melainkan pokiam (pedang pusaka) yang kuat sehingga ketika beradu dengan Hui Iiong kiam, hanya bunga-bunga api yang berpijar sedangkan pedang gadis itu sama sekali tidak menjadi rusak!

Timbul kegembiraan di hati Tiong Kiat dan berbareng ia merasa tertarik dan suka kepada gadis ini.

Sukarlah menjumpai gadis yang keras hati, cantik, tinggi kepandaiannya seperti Ang Hwa.

Apalagi di tempat ini, dalam lingkungan orang-orang Ouigour yang kasar.

Pada waktu itu, Tiong Kiat telah menamatkan pelajaran Ang-coa kiam dari kitab Ang coa kiam coansi yang dirampasnya dari tangan Tiong Han.

maka tingkat ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali.

Bahkan Tiong Han sendiri belum tentu sekarang dapat melawan pemuda ini yang telah berhasil mewarisi seluruh ilmu pedang Ang coa-kiam-sut, kepandaian ilmu pedang pusaka dari Kim-liong pai!

Tadinya Tiong Kiat hanya mempermainkan Ang Hwa dan mainkan ilmu pedangnya untuk bertahan saja.

Ia bertambah heran ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang gadis itu adalah ilmu pedang yang mirip sekali dengan Kun lun kiamhwat!

Bagaimana seorang gadis Ouigour dapat mempelajari ilmu pedang dari Kun lun-pai?

la ingin cepat-cepat menyelesaikan pibu ini agar dapat bicara berdua dengan gadis yang menarik hatinya ini.

Cepat ia merubah gerakan pedangnya dan sebentar saja terdengar Ang Hwa berseru terkejut.

Pedang di tangan pemuda ini tiba-tiba lenyap menjadi segulung sinar putih yang gerakannya aneh dan gesit sekali seperti seekor naga bermain di angkasa.

Betapapun Ang Hwa memutar pedangnya dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja gulungan sinar pedang itu mengurung dirinya, membuat pandangan matanya kabur dan kepalanya pening!

Baru sekarang ia percaya akan kehebatan ilmu pedang Tiong Kiat.

Tiba-tiba ia merasa sampokan hebat sekali yang membuat pedangnya terlepas dari tangan dan ketika sinar pedang lawannya itu lenyap, ternyata Tiong Kiat telah berdiri di hadapannya dengan pedangnya yang terlepas dan berada di tangan kiri pemuda itu!

Tiong Kiat tersenyum dan mengembalikan pedang itu kepada Ang Hwa yang menerimanya dengan muka merah.

Huayen khan menghampiri mereka sambil tersenyum-senyum.

"Bagus, bagus Sim-enghiong. Malam ini kau telah dapat menundukkan bunga merah sungai Selonga! Aku rela memberikannya semalam kepadamu, kau gagah dan cukup berharga untuk itu. Ha, ha, ha! bawalah, bawalah dia ke kemahmu, Sim-enghiong!"

Setelah berkata demikian, kepala suku bangsa Ouigour ini lalu meninggalkan mereka, Tiong Kiat berdiri bengong dengan muka merah dan juga merasa terheran-heran.

Akan tetapi ketika ia melihat betapa gadis itu memandangnya dengan mesra dan bibirnya tersenyum.

Ketika melihat betapa Tiong Kiat menatap wajahnya gadis ini menjadi merah mukanya dan menundukkan muka dengan kemalu-maluan, akan tetapi matanya mengerling dan menyambar dari pinggir, membuat pemuda itu menjadi runtuh betul imannya.

Dengan girang Tiong Kiat lalu memegang tangan Ang Hwa dan diajaknya masuk ke dalam kemahnya.

Setelah tiba di dalam kemahnya, mereka duduk berhadapan dan Tiong Kiat yang merasa Iebih terheran-heran dari pada gembira itu Ialu bertanya.

Nona, sungguh aku heran sekali melihat kau.

Ilmu silatmu tadi sudah terang berasal dari Kun-lun-pai dan melihat wajah dan juga bicaramu kau Iebih pantas menjadi gadis bangsa Han dari pada menjadi seorang gadis Ouigour.

Sesungguhnya, bagaimana kau sampai bisa berada di tempat ini?

Ang Hwa tersenyum dan memandang kepada Tiong Kiat dengan kagum.

"Sim enghiong, kau gagah sekali dan ilmu pedangmu saja sudah cukup menundukkan hatiku. Oleh karena itu, tiada salahnya aku menceritakan riwayatku dan percayalah hanya kepadamu saja aku mau bercerita."

Ang Hwa adalah puteri tunggal seorang guru silat bangsa Han, anak murid Kun-lun-pai.

Ayahnya telah membunuh seorang Pembesar tinggi karena istrinya bermain gila dengan pembesar itu.

Tentu saja ia menjadi orang buruan pemerintah dan guru silat she Ang ini melarikan diri bersama anaknya ke utara.

Akhirnya ayahnya bertemu dengan Huayen khan dan menjadi pembantunya.

Akan tetapi, ketika Ang Hwa berusia lima belas tahun, ayahnya telah meninggal dan ia terserang penyakit berat, sehingga akhirnya gadis ini menjadi yatim piatu dan ikut dengan Huayen khan yang amat mengasihinya.

"Demikianlah, Sim-enghiong, maka sampai sekarang aku berada di sini. Cita-citaku hanya untuk membalas dendam, tidak kepada pembesar tinggi yang sudah terbunuh oleh ayahku akan tetapi kepada pemerintahan Tang terutama kaisarnya yang telah membuat ayah menderita sengsara di tempat asing ini."

"Akan tetapi, bukankah suku bangsa Ouigour bersahabat dengan pemerintah Tang?"

Tanya Tiong Kiat.

"Benar, akan tetapi itu hanya siasat belaka, keadaan kami belum kuat benar untuk melakukan penyerangan dan jalan terbaik adalah bersahabat dengan kaisar kerajaan Tang."

Tiong Kiat berpikir bahwa tentu Ang Hwa kini diaku anak oleh Huayen-khan.

Kalau ia dapat menikah dengan gadis ini dan menjadi menantu Huayen khan, tentu pengaruhnya akan besar dan kelak ia akan mendapat kesempatan menggantikan kedudukan Huayen khan!

Alangkah senangnya menjadi raja dari suku bangsa ini.

Akan tetapi, ia tidak senang mendengar betapa Huayen-khan diam-diam hendak menyerang dan menggulingkan kerajaan Tang.

Betapapun juga, Tiong Kiat masih mempunyai darah pahlawan.

Ia maklum akan kebijaksanaan Kaisar Tai Cung, dan biarpun ia tidak mundur untuk melakukan pekerjaan rendah seperti jai-hwa cat dan pencuri, namun untuk menghianati Kaisar Tai Cung, ia tidak sudi!

Kalau aku dapat menikah dengan gadis ini dan menjadi mantu dari Huayen-khan, aku akan dapat membujuknya dan mempengaruhinya sehingga selamanya suku bangsa ini akan menjadi sahabat baik dari pemerintahan Tang, pikirnya.

la memandang gadis itu yang makin lama nampak makin cantik menarik.

Tak terasa lagi ia mengulurkan tangan memegang lengan gadis itu dan Ang Hwa mendiamkan saja, bahkan tersenyum menantang!

"Alangkah bahagiaku dapat menerima kehormatan ini,"

Kata Tiong Kiat sambil mengagumi mata yang bening itu.

"Akan tetapi aku benar-benar masih merasa heran mengapa Huayen khan suka menyerahkan puterinya kepada seorang asing seperti aku. Bukankah ini agak terlalu".terlalu mudah? Aku ingin menikah dengan kau secara resmi, Ang Hwa, kau cukup pantas menjadi istriku yang tercinta."

Kini Ang Hwa memandang dengan mata terbelalak.

"Puterinya? Puterinya yang mana maksudmu, Sim-enghiong?"

"Eh, bukankah kau menjadi puteri Huayen-khan?"

Ang Hwa menggeleng kepalanya.

"Aku bukan puterinya, juga tidak diaku anak olehnya. Aku"

Aku telah menjadi isterinya."

Bagaikan disengat ular berbisa, Tiong Kiat menarik kembali tangannya yang memegang lengan Ang Hwa.

Pemuda ini kalau sudah tertarik hatinya oleh seorang wanita, ia tidak akan memperdulikan apakah wanita itu anak orang ataupun puteri orang.

Akan tetapi menghadapi Huayen khan yang menyerahkan istri sendiri kepadanya ini baginya merupakan haI yang aneh dan hebat sekali, yang membuatnya menjadi ngeri juga.

"Apa.....?? Kau istrinya? Mengapa... mengapa ia memberikan kau kepadaku untuk melayaniku malam ini? Bagaimana mungkin ada perbuatan yang gila ini?"

Ang Hwa tersenyum menarik dan kini dialah yang menghampiri Tiong Kiat dengan sikap menarik sekali.

"Pemuda bodoh. Apa salahnya hal itu kami lakukan? Biarpun aku menjadi isterinya, akan tetapi dia telah berjanji takkan mengikatku. Aku boleh bebas sesuka hatiku. Aku ....... aku dengan suka sendiri melayanimu dan dia....ah, bukankah dia mengharapkan bantuanmu untuk mengguIingkan kaisar Tang? Kau suka kepadaku, aku sendiripun kagum melihatmu dan suamiku itu ingin menarik tenagamu. bukankah kita bertiga sudah merupakan tiga serangkai yang cocok sekali?"

Pucatlah muka Tiong Kiat mendengar ini.

Ia menjadi marah sekali Jadi orang telah sengaja menggunakan istri sendiri sebagai umpan agar ia mau berlaku khianat terhadap kaisarnya?

"Tidak, tidak!

Kalian sudah gila!

Jangan harap akan dapat menarikku melakukan penghianatan!

Kalau Huayen-khan hendak menyerang negaraku, lebih dulu dia akan berhadapan dengan aku sebagai musuhnya!"

Ang Hwa menjadi pucat. Senyumnya masih mengembang di bibir, akan tetapi sepasang matanya yang bening kini bernyala-nyala.

"Bagus sekali! Kau tidak dapat menerima kebaikan orang!"

Setelah berkata demikian, Ang Hwa melompat keluar dari tenda.

Tiong Kiat merasa curiga, cepat ia mengambil bungkusan pakaiannya dan hendak keluar dari tenda akan tetapi di luar tenda itu ternyata telah terkurung oleh pasukan Ouigour yang dipimpin oleh Huayen khan sendiri bersama istrinya.

Ang Hwa!

"Orang she Sim!"

Kata Huayen-khan dengan suara besar.

"Kau telah menghina isteriku dan menolak kebaikanku. Kau tidak mau membantu kami? Baik, jangan harap akan dapat keluar dari sini dalam keadaan bernyawa!"

Sambil berkata demikian, Huayen khan telah menodongnya dengan anak panahnya yang lihai.

Akan tetapi Tiong Kiat tidak menjadi gentar.

Ia tersenyum pahit dan berkata,"Kukira aku telah membantu seekor domba yang patut dibela, tidak tahunya di balik kedok domba itu tersembunyi muka serigala yang jahat!

Huayen-khan, betapapun juga, aku Sim Tiong Kiat masih tetap seorang Han yang tidak nanti mau melakukan pengkhianatan terhadap negara dan bangsa sendiri!"

SambiI berkata demikian Tiong Kiat cepat mencabut pedangnya.

Baiknya ia berlaku cepat, karena belum habis ucapannya keluar dari mulut, tiga batang anak panah yang dilepas sekaligus oleh Huayen-khan telah menyambar ke arahnya!

la cepat memutar pedangnya dan dengan menerbitkan suara nyaring, tiga batang anak panah itu dapat dipukul jatuh semua.

Huayen khan terkejut sekali.

Belum pernah ia melihat ada orang yang dapat menangkis tiga anak panahnya secara demikian mudahnya, maka ia lalu cepat memberi aba-aba kepada para anak buahnya.

Tiong Kiat mendahuluinya dan cepat menerjang dari samping kiri.

Ia maklum bahwa untuk melakukan perlawanan dan menghadapi Huayen khan, Ang Hwa dan sekian banyaknya pasukan Ouigour, adalah hal yang tidak mungkin dan betapapun tingginya ilmu silatnya, kalau ia melawan ribuan orang ini, akan sama halnya dengan membunuh diri.

Maka ia lalu menerjang ke kiri untuk menjauhi Huayen khan dan Ang Hwa.

Begitu ia menerjang, pedangnya telah menjatuhkan tiga orang perwira Ouigour sehingga para pengepung di bagian ini menjadi jerih dan mundur.

Tiong Kiat melompat ke dalam gelap dan mengamuk serta merobohkan para penghadangnya!

Keadaan menjadi geger dan di mana saja pemuda itu lari dan dihadang, pasti robohlah beberapa orang!

Akhirnya setelah merobohkan dua puluh orang penghadang lebih, pemuda ini dapat membobolkan pengepungan dan melarikan diri di dalam gelap!

Terdengar teriakan-teriakan di belakangnya dari mereka yang mengejarnya, akan tetapi siapakah yang dapat menyusul pemuda yang memiliki ilmu berlari cepat ini?

Sebentar saja, suara yang mengejarnya makin lemah dan tak terdengar lagi.

Tiong Kiat melarikan diri terus ke selatan.

Tujuan perjalanannya adalah kota raja, karena sebelum bertemu dengan Huayen-khan, ia pun ingin sekali melihat kota raja.

Hatinya merasa kecewa dan timbullah kedukaan di dalam dadanya.

Teringat ia kepada Suma Eng, nona yang sampai pada saat itu juga masih selalu ia kenangkan dengan penuh kerinduan hati.

Betapapun banyaknya wanita yang dijumpainya, tak seorangpun di antara mereka yang dapat dibandingkan dengan Suma Eng.

Ia merasa menyesal sekali mengapa ia dahulu telah mengganggu Suma Eng, karena kalau tidak, tentu nona itu tidak akan memusuhinya dan mungkin sekali ia akan dapat menjadi sahabat baik nona itu.

Gemas ia kalau teringat kepada Ang Hwa, gadis yang ternyata menjadi isteri Huayen khan yang amat tidak tahu malu itu.

Ia ingin masuk ke kota raja dan kalau mungkin, akan memberitahukan kepada pemerintah akan maksud Huayen khan yang hendak memberontak itu.

Teringat kepada Eng Eng dan Ang Hwa, hatinya menjadi kesal dan ia tidak tertarik oleh gadis-gadis yang dijumpainya di dalam perjalanannya.

Pada suatu hari ia tiba di kota Hong-bun, sebuah kota kecil di sebelah kota raja.

Ketika ia sedang berjalan memasuki kota itu ia melihat Iima orang tosu jubah kuning berjalan cepat bersama seorang panglima bertubuh tinggi besar dan nampak gagah sekali.

Melihat lima orang tosu ini, terkejutlah hati Tiong Kiat.

Sungguhpun ia belum pernah melihat lima tosu ini namun melihat pakaian mereka yang berwarna kuning dan melihat pula tongkat bambu yang berada di tangan mereka, dengan mudah ia menduga bahwa mereka ini tentulah Go bi Ngo koat-tung (Lima Tongkat Aneh dari Go-bi) yang telah amat terkenal namanya karena ilmu silat mereka yang amat tinggi.

Juga hatinya tertarik sekali ketika melihat panglima yang gagah itu.

Timbullah dalam hati Tiong Kiat ingin mengetahui apakah yang hendak dilakukan oleh lima orang tosu itu.

Maka diam-diam ia lalu mengikuti mereka dari jauh.

Ternyata bahwa enam orang itu menuju keluar dari kota dan akhirnya mereka menuju ke barat melewati sebuah hutan kecil dan masuk ke dalam dusun di kaki gunung keciI.

Di luar dusun ini terdapat sebuah benteng besar, dan temboknya sudah nampak menjulang tinggi dari jauh.

Panglima itu dan lima tosu baju kuning tadi lalu memasuki pintu benteng yang dijaga oleh belasan orang perajurit.

Terpaksa Tiong Kiat bersembunyi di balik pohon karena tentu saja ia tidak dapat masuk.

Hatinya makin terheran-heran.

Terang sudah panglima tadi adalah Panglima kerajaan, mengapa lima orang tosu ini ikut masuk ke dalam benteng?

Ada keperluan apakah para pendeta itu memasuki benteng yang penuh dengan perajurit?

Tiong Kiat adalah seorang perantau yang tidak tentu tujuannya, maka setiap kali melihat kejadian yang ganjil, ia takkan puas sebelum dapat mengetahui sebab-sebabnya.

Ia lalu mencari jalan masuk dan berjalan sambil bersembunyi di balik pepohonan mengitari tembok benteng itu.

Seperti biasa pada waktu negara tidak sedang mengalami perang, penjagaan tembok benteng tidak dilakukan dengan keras dan akhirnya, di sebelah belakang benteng itu Tiong Kiat melihat tembok yang tidak terjaga dan nampaknya sunyi saja.

Ia lalu mengeluarkan kepandaiannya, melompat dengan gesit ke atas tembok yang tinggi itu.

Setelah mendekam di atas tembok beberapa lama sambil mengintai ke dalam ia melihat bahwa di bagian belakang itu hanya lapangan rumput yang agaknya dipergunakan sebagai tempat latihan perang-perangan, maka ia lalu melompat ke dalam dengan gerakan amat ringan.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang dan cepat ia bersembunyi di belakang kandang kuda yang penuh dengan kuda-kuda tinggi besar.

Dua orang nampak mendatangi sambil membawa rumput makanan kuda.

"Sungguh aneh sekali Oei ciangkun itu,"

Terdengar seorang diantara kedua orang penjaga itu berkata.

"biasanya kalau ada orang tertangkap lalu dihukum mati atau dikirim ke kota raja untuk diadili. Akan tetapi siluman wanita itu bahkan diharuskan mendapat perlakuan yang baik."

"Lo Siang, kau tahu apa?"

Kata orang kedua.

"Siluman wanita itu demikian cantik jelita, masih muda pula. Takkan lebih dari dua puluh tahun, bagaikan kembang sedang mekarnya. Siapa yang tega untuk membunuhnya? Lagi pula ilmu silatnya demikian lihai sehingga kalau tidak ada lima orang tosu Gobi Ngo-koai tung itu, siapa yang mampu menangkapnya? Dan Oei ciangkun sendlri masih muda, belum beristeri.... hem! Siapa tahu?"

"Apa maksudmu, Lo Siang?"

"Oei ciangkun gagah perkasa, tawanan ini seorang gadis cantik jelita, apalagi? sudahlah, Lo Kui, kita menanti saja dibagikannya arak wangi! Ha, ha. ha!"

Tiba-tiba ada angin menyambar dan tahu-tahu seorang pemuda entah dari mana datangnya, telah berdiri di depan mereka!

Sebelum mereka sempat membuka suara kedua tangan Tiong Kiat menyambar jalan darah mereka di bagian ya-hu hiat dan lemaslah tubuh mereka, sedangkan ketika mereka menggerakkan mulut untuk berteriak minta pertolongan kepada kawan-kawan ternyata tak ada sedikitpun suara dapat keluar dari tenggorokan mereka.

Tiong Kiat tidak mau mengganggu atau melukai kedua penjaga ini, karena sesungguhnya ia masuk ke benteng ini hanya untuk memuaskan ingin tahunya saja, dan tidak ada permusuhan sesuatu antara dia dan tentara kerajaan.

Akan tetapi, ketika ia mendengar percakapan antara kedua orang penjaga ini, hatinya tertarik sekali.

Jadi lima orang tosu itu betuI adalah Gobi Ngo-koai tung?

Tiong Kiat makin tertarik ketika mendengar tentang ditangkapnya seorang gadis cantik yang berkepandaian tinggi.

Ia ingin sekali melihat gadis ini!

Dengan hati-hati sekali ia lalu menyeret kedua orang penjaga itu dan menyembunyikan mereka di dalam kandang kuda, kemudian ia lalu melanjutkan pemeriksaannya dan berindap-indap menghampiri bangunan besar yang berada di tengah benteng.

Ketika terdengar suara riuh dan tindakan kaki banyak orang, ia cepat bersembunyi lagi.

Sebentar kemudian muncullah tiga barisan yang dengan gagahnya menuju ke lapangan rumput di belakang itu.

Mereka ini hendak mulai dengan latihan mereka, dipimpin beberapa perwira.

Setelah barisan-barisan itu lewat, Tiong Kiat menyelinap ke belakang bangunan besar, sekali ia enjotkan tubuhnya ia telah berada di atas genteng, bersembunyi di wuwungan yang tinggi.

Kemudian setelah maju lagi beberapa jauhnya, ia mendengar suara seorang wanita berseru nyaring.

"Aku sudah kalah tertangkap, mau apa lagi? Kalau kau mau membunuhku, bunuhlah siapa takut mati? Hanya sayang sekali bahwa kalian ini orang-orang gagah ternyata hanyalah pengecut-pengecut besar yang melakukan pengeroyokan atas diri seorang wanita untuk memperoleh kemenangan!"

"Nona yang baik,"

Terdengar suara yang tenang dan besar,"

Mengapa kau berkeras hendak memusuhi kami?

Kami tidak mempunyai maksud buruk terhadap kau dan apakah kesalahan beberapa anggauta kami itu tak dapat kau maafkan?

Kalau saja kau suka membantu pekerjaan kami, bukankah hal ini bagus sekali dan kau berarti akan dapat berbakti kepada negara?"

Tiong Kiat makin tertarik dan hatinya berdebar-debar.

Ia seperti pernah mendengar suara wanita yang nyaring dan keras ini.

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 1

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert