Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Merah 6

Eps 6 Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo.

Tentu saja Gan Tian Cu dan sute-sutenya tahu betul bahwa mereka telah disindir dan dimaki habis-habisan oleh Thian It Tosu, maka marahlah Gan Tian Cu.

"Go-bi Ngo koai! Kami berlima datang untluk berurusan dengan Ang coa kiam Sim Tiong Kiat dan sama sekali kami tidak mempunyai sangkut paut dengan kalian berlima! Maafkan, kami tidak ada banyak waktu lagi untuk mengobrol dengan kalian!"

Setelah berkata demikian, Gan Tian Cu dan empat orang sutenya lalu menyerbu lagi dan menyerang Tiong Kiat yang telah siap sedia.

Pemuda ini biarpun maklum bahwa lima orang lawannya amat sukar dan berat dilawan, namun ia tidak mau minta tolong kepada Go bi Ngo koai-tung.

Kecuali kalau mereka turun tangan sendiri tanpa diminta, tentu saja dia takkan menolaknya.

Kini melihat serangan kelima orang tosu itu, iapun menggerakkan pedangnya sambil membentak.

"Tosu tosu siluman, apa kaukira aku takut menghadapi kalian berlima?"

Kembali pertempuran hebat terjadi.

Akan tetapi tentu saja melihat Tiong Kiat berada dalam bahaya, Thian It Tosu dan para sutenya tidak mau tinggal diam begitu saja.

Mereka lalu menggerakkan tongkat dan menyerbu membantu Tiong Kiat sehingga pertempuran menjadi makin seru.

Akan tetapi kali ini pertempuran tak seimbang lagi.

Kepandaian Go-bi Ngo koai Tung cukup tinggi, tidak berselisih banyak dengan tingkat kepandaian lima orang tokoh Kun lun-pai itu.

Maka serbuan mereka yang membantui Tiong Kiat tentu saja membuat Gan Tian Cu dan empat orang adik seperguruannya menjadi kewalahan dan terdesak hebat.

"Go-bi Ngo koai, tidak kelirukah pandanganku?"

Tiba tiba Gan Tian Cu sambil menangkis tongkat Thian It Tosu berseru keras.

"Ilmu tongkatmu mengingatkan aku akan ilmu tongkat dari Pek lian kauw!"

Seruan yang keras ini tidak saja membuat Go bi Ngo-koai-tung menjadi terkejut, bahkan Tiong Kiat sendiri pun menjadi kaget sekali sehingga ia melompat mundur dan menunda penyerangannya sambil memandang dengan mata mengandung penuh pertanyaan ke arah Go bi Ngo koai tung.

Nama Pek lian-kauw memang amat terkenal di kalangan kang-ouw dan tak seorangpun yang tidak mengingat nama ini dengan hati penuh kebencian.

Pek lian kauw di masa jayanya telah banyak mengorbankan orang-orang gagah, diadu domba dan juga diseretnya ke dalam jurang kehinaan, bahkan perkumpulan ini telah mengadakan pemberontakan besar.

Go bi Ngo koai tung menghadapi lima orang tosu Kun lun pai itu dengan mata menyala-nyala saking marahnya.

"Gan Tian Cu, mulutmu benar-benar busuk! Apa hubungannya Pek lian kauw dengan pertempuran ini? Kita orang-orang gagah harus dapat melihat kenyataan di depan mata, tidak menyinggung urusan yang telah lalu! Sekarang kami berlima adalah sahabat, pembantu, dan pelindung dari panglima Oei yang mengepalai pasukan besar dari tentara kerajaan. Kami adalah orang-orang yang membela negara dan kalian bertempur dengan kami karena kalian hendak berhianat hendak mengganggu seorang perwira!"

Gan Tian Cu tertawa bergelak.

"Ha, ha ha! Apa jadinya kalau pemimpin tentara terdiri dari pelarian-pelarian Pek lian kauw dan penjahat-penjahat wanita seperti Ang coa-kiam? Ha, ha, Go-bi Ngo-koai tung, pantas saja Ang coa-kiam lari ke tempat ini, tidak tahunya ada orang-orang macam kalian di sini!"

"Tosu bangsat, tutup mulutmu!"

Teriak Thian It Tosu, sambil maju menyerang dengan tongkat bambunya.

Gan Tian Cu menangkis dan kini lima orang tosu dari Kun lun pai itu bertempur melawan lima orang tosu dari Go bi san yang sesungguhnya adalah pelarian-pelarian dari Pek lian-kauw ini!

Bukan main ramainya pertempuran ini, dan Tiong Kiat hanya berdiri dengan pedang di tangan, ragu-ragu untuk maju bergerak.

La masih merasa heran dan terkejut mendengar bahwa Go-bi Ngo-koai-tung adalah pelarian-pelarian Pek Iian kauw, maka ia tidak tahu harus berbuat apa.

Sudah terang bahwa Gan Tian Cu dan kawan-kawannya adalah musuh-musuhnya yang hendak mencelakakannya, akan tetapi kalau betul Go bi Ngo-koai.tung itu adalah orang-orang Pek lian kauw, ia sendiri merasa sangsi dan juga ngeri untuk membantu mereka!

Gobi Ngo koai tung merasa mendongkol sekali melihat betapa Tiong Kiat berdiri saja seperti patung batu dan tidak membantu mereka.

Akan tetapi ternyata bahwa ilmu tongkat dari Go-bi Ngo koai ini benar-benar Iihai sekali.

Kalau saja bekas-bekas pengurus Pek lian-kauw itu hanya bersilat biasa saja, mempergunakan ilmu silat yang wajar, belum tentu Gan Tian Cu dan adik-adiknya akan kalah.

Akan tetapi Go-bi Ngo-koai-tung tidak percuma pernah menjadi pengurus-pengurus dari Pek-Iian kauw, agama gelap yang menipu rakyat berdasarkan ilmu hitam.

Kini menghadapi lawan tangguh, diam-diam Thian It Tosu memberi tanda rahasia kepada adik-adiknya dan berobahlah ilmu silat mereka.

Terdengar mereka mengeluarkan bisikan-bisikan perlahan seperti berdoa dan tiba-tiba Gan Tian Cu dan adik-adik seperguruannya melihat dengan hati gelisah dan kaget betapa lima orang lawan mereka itu nampak makin lama makin tinggi besar dan tongkat bambu mereka juga menjadi amat besar dan panjang!

Gan Tian Cu yang lebih matang ilmu batinnya dari pada keempat orang sutenya, masih dapat mempertahankan semangat dan ia mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melenyapkan bayangan yang aneh ini dan hendak memperingatkan kepada keempat orang sutenya bahwa yang dilihat ini hanyalah bayangan dari ilmu sihir belaka.

Akan tetapi terlambat.

Saking takut dan kagetnya, adik-adik seperguruannya itu menjadi kacau balau permainan pedangnya dan berturut-turut mereka mengeluh dan terjungkal karena terkena totokan tongkat bambu yang lihai dari lawan mereka!

Gan Tian Cu hendak mengamuk dan mengadu nyawa, akan tetapi dikeroyok lima tentu saja ia tak berdaya.

Apa lagi, karena melihat keempat orang sutenya telah dirobohkan, semangatnya menjadi turun dan hatinya terguncang, maka kini iapun melihat lima orang lawannya itu menjadi makin besar dan mengerikan!

Beberapa jurus ia masih dapat bertahan, akan tetapi akhirnya iapun roboh tak dapat berkutik lagi, terkena totokan pada jalan darahnya bagian thian-yu-hiat seperti apa yang telah dialami oleh empat orang adik seperguruannya!

Pada saat itu, dari jauh nampak debu mengebul dan Oei Sun atau Oei ciangkun datang berkuda, diiringi oleh sepasukan pengawalnya.

Melihat ribut-ribut di depan pintu gerbang ia segera membalapkan kudanya dan ketika melihat betapa Go-bi Ngo-koai-tung telah merobohkan lima orang tosu, ia lalu melompat turun dan dengan heran sekali bertanya.

"Apakah yang telah terjadi?"

Akan tetapi pada saat itu, Thian It Tosu dengan marah sedang mencela Tiong Kiat. Ia menghadapi pemuda ini dan dengan suara keras ia berkata.

"Sim ciangkun, di mana rasa setiakawanmu? Kau tahu sendiri bahwa pinto berlima dengan susah payah melawan lima orang Kun lun pai ini, semata-mata hanya untuk membantu dan melindungimu. Akan tetapi, akhirnya kau bahkan mengundurkan diri dan berdiri sebagai penonton saja, sama sekali tidak mau membantu kami. Apakah artinya ini?"

Merahlah muka Tiong Kiat mendengar teguran ini.

Memang ia harus akui bahwa sikapnya tadi benar-benar amat buruk dan patut dicela, akan tetapi ia masih ragu-ragu karena teringat akan tuduhan Gan Tian Cu terhadap Go-bi Ngo-koai-tung.

"Totiang apakah betul ucapan Gan Tian Cu tadi bahwa totiang berlima adalah bekas orang-orang Pek lian kauw?"

Tanyanya dengan kening berkerut.

"Kalau betul, mengapa? Apakah kami tidak berhak untuk hidup? Sim ciangkun, ingat bahwa kau sendiri dahulunyapun terkenal dengan julukan Ang coa kiam yang ditakuti orang. Akan tetapi sekarang kaupun menjadi seorang perwira yang memilih jalan benar apakah kami tidak berhak pula melakukan kebaikan itu?"

Oei ciangkun yang mendengar pertengkaran ini, menjadi pucat dan cepat menghampiri mereka.

"Sim-ciangkun, siapa bilang bahwa ngo-wi totiang ini bekas antek-antek Pek-lian kauw?"

Tanyanya dengan suara keren.

Sim Tiong Kiat tentu saja tak pernah menyangka bahwa Oei Sun sendiri adalah bekas seorang tokoh Pek-lian-kauw, maka kini mendengar pertanyaan ini, ia segera mencari kawan untuk menghadapi lima orang pendeta Pek lian-kauw itu.

"Yang bilang adalah Iima orang tosu Kun-lun pai itu dan anehnya, Go bi Ngo-totiang ini tidak membantah bahkan mengaku betul!"

Jawabnya lalu mendekati Oei ciangkun untuk menghadapi lima orang tosu itu bersama.

Akan tetapi Oei ciangkun tidak memperhatikan Go-bi Ngo-koai-tung, sebaliknya lalu menghampiri lima orang tosu Kun-lun-pai yang masih menggeletak dalam keadaan tidak berdaya itu, lalu bertanyalah dia kepada Tiong Kiat.

"Ada keperluan apakah lima orang tosu Kun-lun-pai ini datang ke sini?"

"Mereka datang mencariku untuk menawanku, karena ada sesuatu permusuhan antara mereka dan aku. Pernah aku membunuh seorang murid mereka dan agaknya mereka merasa dendam dan hendak menghukumku,"

Jawab Tiong Kiat sejujurnya.

"Dan Go-bi Ngo totiang membantumu?"

Tanya pula Oei ciangkun. Tiong Kiat mengangguk.

"Lima tosu Kun-lun pai ini sudah tahu bahwa kau seorang perwira kerajaan dan mereka tetap menyerangmu?"

Tanya lagi Oei Sun. Kembali Tiong Kiat mengangguk membenarkan. Oei Sun berpaling kepada beberapa orang pengawalnya dan memberi perintah singkat.

"Bunuh mereka semua!"

Tiong Kiat terkejut sekali dan hendak mencegah.

Tak disangkanya Oei Sun akan menghukum mati kepada lima orang tosu Kun-lun-pai itu, karena kalau sampai lima orang tosu Kun lun pai itu tewas, hal ini bukanlah perkara kecil.

Mereka adalah tokoh-tokoh Kun lun dan kalau sampai dibunuh, tentu akan membangkitkan kemarahan orang gagah seluruh dunia!

Akan tetapi Oei Sun memegang tangannya dan menariknya masuk ke dalam benteng.

"Marilah, Sim-ciangkun dan jangan perdulikan lagi urusan kecil itu. Mereka adalah pemberontak-pemberontak, karena orang-orang yang berani memusuhi seorang perwira di dalam benteng, mereka itu berarti memberontak terhadap Hongsiang sendiri. Jangankan seorang perwira, baru terhadap seorang perajurit biasa saja rakyat tidak boleh melawan!"

Pada saat itu, para pengawal Oei ciangkun telah menggerakkan tombak mereka ditusukkan ke arah ulu hati kelima orang tosu Kun-lun-pai itu, maka tanpa dapat mengeluarkan suara sedikitpun, lima orang tokoh Kun lun-pai yang bernasib malang itu tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan!

Tiong Kiat merasa menyesal sekali akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?

La memandang kepada Oei Sun dan terpaksa ikut masuk ke dalam benteng.

Di ruang dalam, duduklah mereka bertujuh.

Gobi Ngo koai tung, Oei Sun, dan Tiong Kiat.

Lain orang tidak boleh masuk, bahkan Huayen khan dan Ang Hwa sendiripun diminta berada di luar dulu karena ada hal yang amat penting hendak mereka bicarakan.

Setelah mereka mengambil tempat duduk berkatalah Oei Sun kepada Tiong Kiat dengan air muka sungguh-sungguh.

"Sim ciangkun, kau telah cukup maklum betapa besar kepercayaanku kepadamu dan bahwa kau telah kuanggap sebagai seorang kawan kerja, seorang murid, juga seorang guru. Oleh karena itu, harap kau suka berpikir tenang dan menggunakan pertimbangan yang sehat. Aku sendiri tidak tahu apakah benar kelima totiang ini dahulunya pernah menjadi orang-orang Pek lian kauw atau bukan. Hal itu sekarang bukan merupakan persoalan lagi. Pernah menjadi orang Pek lian kauw ataupun tidak pernah, yang sudah pasti kelima totiang ini membantu perjuangan kita, membantu pemerintah dan negara. Dalam menghadapi perkara besar dan perjuangan mulia tak perlu kita menggali-gali urusan lama. Bukankah aku sendiri tidak pernah mencari tahu tentang keadaan dirimu sebelum datang di sini?"

Oei Sun memang pandai sekali bicara dan kalau sampai Tiong Kiat dapat terjerumus ke dalam perangkap, semua itu terutama sekali adalah oleh karena Tiong Kiat tertarik dan tertipu oleh omongan-omongan manis yang diucapkan oleh Oei ciangkun secara pandai sekali.

Kinipun, pemuda itu mengerutkan kening dan tak dapat membantah kebenaran omongan Oei Sun.

Tiong Kiat teringat akan keadaannya sendiri.

Bukankah iapun seringkali melakukan hal-hal yang amat tidak baik apabila dipandang dari sudut kebenaran?

Bahkan sampai sekarangpun, ia berani bermain gila dengan Ang Hwa di depan Huayen khan, berarti mengganggu seorang isteri di depan suaminya!

Dia sendiri seorang yang banyak melakukan kesesatan, bagaimana ia dapat memburukkan orang-orang lain hanya karena mereka pernah menjadi orang Pek Iian kauw?

"Oei ciangkun ternyata mengeluarkan ucapan gagah sebagai seorang laki laki sejati, Sim-ciangkun.

Memang pinto harus mengaku bahwa pinto berlima dahulu memang pernah menjadi pendeta Pek lian-kauw, akan tetapi apakah salahnya itu?

Apakah salahnya memeluk sesuatu agama tertentu?

Ah, sudahlah, tak perlu pinto membela agama Pek Iian kauw yang sudah diburukkan orang lain, karena pinto percaya bahwa agama Pek Iian-kauw sungguhpun sudah dicemarkan orang, kelak pasti akan bangun kembali, akan terlihat kemurniannya bagaikan emas jatuh di dalam lumpur.

Sekarang yang penting kita melihat ke depan, melihat kenyataan sekarang.

Benar dan tepat sekali apa yang dikatakan oleh Oei ciangkun tadi bahwa kita adalah orang-orang sepaham dan seperjuangan, mengapa kita harus saling menuduh?"

Didesak oleh omongan-omongan yang terdengar penuh cengli (aturan) ini, mau tidak mau Tiong Kiat terpaksa harus menyatakan betul. La berdiri dan menjura kepada Thian It Tosu dan kawan-kawannya.

"Maafkan aku, totiang. Sekarang aku merasa bahwa aku telah melakukan kebodohan besar sekali. Maafkan bahwa tadi aku tidak membantu ngowi totiang menghadapi pendeta-pendeta Kun Iun pai, dan terima kasih bahwa ngowi totiang telah membantuku menghadapi mereka."

Ia berhenti sebentar lalu berpaling kepada Oei Sun dan berkata.

"Hanya sayang sekali lima orang tokoh penting dari Kun lun-pai telah dibunuh, aku kuatir sekali hal ini akan berekor panjang. Mereka itu adalah tosu tosu tingkat dua dari Kun-lun pai bukanlah hal ini berbahaya sekali?"

Oei Sun tersenyum.

"Mereka telah melakukan pemberontakan dan satu-satunya hukuman bagi pemberontak adalah hukuman mati! Dan lagi, siapakah yang tahu bahwa mereka itu lewat di sini? Seandainya ada yang tahu, mengapa kita takut? Kita adalah alal-alat negara, dan orang orang gagah akan membantu kita kalau orang orang Kun lun pai datang membikin onar!"

Demikianlah, dengan secara pandai sekali Oei Sun tidak saja dapat menghilangkan keraguan hati Tiong Kiat dan menjauhkan diri sendiri dari dugaan bahwa dia juga adalah seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw, akan tetapi juga ia dapat membersihkan nama kelima orang pendeta itu.

"Aku ada berita yang jauh lebih penting dari pada urusan lima orang tosu dari Kun-lun pai itu."

Akhirnya Oei ciangkun membuka oleh-olehnya yang didapatkan dari pada perjalanannya tadi. Tiong Kiat dan kelima Go-bi Ngo koai-tung dengan penuh perhatian mendengarkan.

"Lebih dulu tolong kau panggil masuk Huayen khan dan isterinya, Sim ciangkun. Mereka juga berhak mendengarkan,"

Kata pula Oei ciangkun. Ketika Tiong Kiat keluar dari kamar itu untuk memanggil Huayen-khan dan Ang Hwa, Oei Sun cepat berkata kepada Go bi Ngo koai-tung.

"Lain kali harap berlaku lebih sabar terhadap dia. Kita amat memerlukan bantuannya. Aku mendengar kabar bahwa seorang murid dari Kim-liong pai, mungkin kakak dari Sim Tiong Kiat ini, kini muncul dan menjadi pembantu utama dari Gak ciangkun. Siapa tahu kalau Sim ciangkun ini akan dapat kita pergunakan untuk menghadapi kakaknya yang kabarnya amat lihai itu!"

Thian It Tosu dan adik-adik seperguruannya hanya mengangguk-angguk saja karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk bicara lagi.

Tiong Kiat telah masuk diikuti oleh Huayen khan dan Ang Hwa.

Nyonya muda ini cemberut ketika ia berkata kepada Oei-ciangkun.

"Ah, sekarang kau agaknya sudah tidak percaya lagi kepadaku!"

Kalau orang lain yang mendengar sikap dan ucapan ini, tentu orang itu akan merasa heran bagaimana seorang nyonya muda yang boleh dibilang menjadi tamu di benteng itu, bicara macam itu terhadap komandan benteng!

Akan tetapi bagi mereka yang berada di situ, tidak merasa heran lagi, karena seperti juga dengan Tiong Kiat, Ang Hwa mengadakan hubungan pula dengan Oei Sun.

"Ha ha, perundingan rahasia selamanya tidak boleh terdengar oleh lain orang!"

Huayen khan berkata sambil tertawa. Sungguhpun diam-diam di dalam hatinya amat mendongkol, akan tetapi kepala suku bangsa Ouigour yang licin ini tidak memperlihatkan perasaannya.

"Dengarlah kawan-kawan semua."

Kata Oei Sun sambil menghadapi Tiong Kiat.

"di dalam perjalananku melakukan penyelidikan, aku mendengar berita yang amat mengejutkan hati. Aku mendengar keterangan para penyelidik rahasia yang kusebar dimana-mana bahwa Gak ciangkun kini telah diangkat oleh Hong siang menjadi Jenderal. Gak-goanswe (Jenderal Gak) kini memimpin barisan besar melakukan penjagaan di tapal batas sebelah barat."

"Berita seperti itu apa salahnya? Bukankah itu baik sekali."

Tanya Tiong Kiat dengan heran.

"Belum habis Sim ciangkun. Memang kalau hanya sampai di situ saja amat bagus, akan tetapi ternyata hal ini berkembang dengan hebatnya. Kini Gak goanswe secara diam-diam telah mengadakan persekutuan dengan tentara Tartar yang amat besar jumlahnya. Mereka berdua itu kini telah menyusun kekuatan di sebelah barat untuk dipergunakan menyerbu ke kota raja!"

"Sungguh tak berbudi!"

Seru Tiong Kiat.

"Sudah diberi pangkat tinggi masih hendak memberontak!"

"Sama sekali bukan tidak berbudi, Sim ciangkun."

Kata Oei Sun.

"Hal itu hanya menunjukkan betapa tinggi cita-cita Gak goanswe. Orang yang bercita-cita tinggi saja yang akan mendapat kemajuan di dunia ini. Akan tetapi, betapapun juga, kita harus menggempur pasukan Gak goanswe itu sebelum merupakan bahaya besar bagi kita."

"Maksudmu tentu bahaya besar bagi kerajaan, Oei ciangkun."

Tiong Kiat berkata.

"Ah ya, tentu saja bagi kerajaan. Kita harus mendahuluinya memukul karena menurut berita, kini barisannya menjadi amat kuat dan besar sekali jumlahnya, dipecah-pecah menjadi beberapa bagian dan menjaga di tempat-tempat mengelilingi kota raja, merupakan ancaman yang berbahaya sekali."

"Tentu, kita harus memukulnya "

Kata Tiong Kiat mengangguk-angguk.

"Akan tetapi, kau lebih tahu tentang keadaan mereka, maka terserahlah bagaimana hendak diaturnya."

"Menurut penyelidikan, Gak goanswe telah memasang sepasukan tentara di tapal batas kota raja sebelah utara, jadi tepat di sebelah selatan kita. Mungkin sekali selain untuk mengurung kota raja dalam persiapannya memberontak, pasukan ini diadakan untuk menghalangi barisan kita dari utara apabila hendak membantu kota raja. Oleh karena itu, aku memberi tugas kepadamu, Sim ciangkun untuk membawa lima ratus orang tentara dan memukul pasukan ini. Huayen khan dan pasukannya boleh membantumu dari belakang."

"Baik, Oei-ciangkun."

Jawab Tiong Kiat dengan gembira sekali.

Memang semenjak ia menjadi perwira di benteng Oei Sun, pemuda ini banyak sekali terhanyut hatinya.

Ia merasa amat berdosa bukan karena mengingat akan semua perbuatannya yang dulu, bukan karena ia telah membunuh beberapa orang dan mengganggu banyak wanita, akan tetapi ia merasa amat berdosa dan berduka apabila ia teringat Suma Eng, gadis yang boleh dibilang tak pernah ia lupakan ini.

Sekarang setelah ia menjadi seorang perwira, ia merasa telah berjasa kepada negara, merasa telah melakukan perbuatan yang amat baik dan bijaksana, perbuatan yang akan menghapus dosanya terhadap Suma Eng itu!

Apa lagi sekarang ia akan memimpin pasukan memukul barisan pemberontak dari Jenderal Gak!

Alangkah mulianya pekerjaan ini, alangkah besarnya, jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kecilnya dosa yang ia lakukan terhadap Eng Eng!

Maka bersiap-siaplah Tiong Kiat, memilih sepasukan tentara sebanyak lima ratus orang, menentukan komandan-komandan regu dan setelah mendapat nasehat dan siasat dari Oei Sun, berangkatlah Tiong Kiat dengan barisannya menuju ke selatan untuk menyerbu pertahanan barisan Gak goanswe!

Pemuda ini dalam pakaian perwira, menunggangi kuda putih pemberian Ang Hwa.

Ia menunggang kuda di depan, tampak gagah sekali dan wajahnya yang tampan itu berseri gembira.

Barisannya berbaris rapi, didahului oleh regu berkuda yang bertugas sebagai penyelidik dan pelopor.

Bendera besar dengan huruf OEI untuk menghormat dan menjadi tanda bahwa barisan ini adalah barisan dari benteng di bawah pimpinan Oei Sun, berkibar tinggi di atas punggung kuda, dipegangi oleh seorang perajurit.

Bendera-bendera lain yang agak kecil dengan sulaman huruf SIM tanda bahwa barisan ini dalam pergerakannya dipimpin oleh seorang perwira she Sim.

Kurang lebih seratus li di sebelah selatan tempat itu, di lembah Sungai Kim-seng kiang (Sungai Bintang Mas) yang menjadi anak sungai dari Sungai Sungari yang besar, memang menjadi tempat pertahanan sepasukan tentara kerajaan yang berjumlah tiga ratus orang lebih.

Pasukan ini, melakukan penjagaan di tapal batas antara Tiongkok pedalaman dan Mongolia.

Memang pasukan ini adalah sebagian dari pada pasukan Jenderal Gak yang mendapat tugas penuh untuk menjaga keamanan kota raja di bagian luar.

Jenderal Gak ini mulai timbul kecurigaan hatinya terhadap Oei Ciangkun yang memimpin barisan di utara, maka ia bersiap-siap untuk menyelidiki dan kalau perlu menggempur dan melucuti senjata pasukan di bawah pimpinan perwira she Oei itu.

Maka sebagai penjagaan, ia lalu mengirim pasukan ini ke lembah Sungai Kim seng, untuk menjaga kalau-kalau kecurigaannya itu terbukti sehingga kota raja dapat dilindungi.

Ia tak dapat mengerahkan semua pasukan di tempat ini, karena selain Oei-ciangkun yang diduganya hendak memberontak, terdapat musuh-musuh yang lebih berbahaya lagi, bangsa Tartar yang mulai nampak gejala hendak menyerang ke pedalaman.

Tentara Tartar jauh lebih besar dan lebih kuat daripada tentara pimpinan Oei ciangkun maka perlu sekali dijaga seluruh tapal batas di sebelah barat dan utara.

Tiga ratus lebih tentara yang menjaga di tapal batas dan di lembah Sungai Kim-seng ini dipimpin oleh seorang perwira tua bernama Ma Goan.

Ma Goan atau perwira Ma ini biarpun sudah berusia hampir lima puluh tahun namun ia masih nampak kuat dan angker.

Tubuhnya pendek akan tetapi tegap dan besar, dengan perut yang besar dan bulat, tertutup oleh pakaian perang yang tebal dan indah.

Ma Goan telah menjadi tentara semenjak berusia dua puluh tahun, dan pengalamannya dalam pertempuran selama tiga puluh tahunan inilah yang membuat ia dapat memanjat naik sampai menduduki pangkat perwira dan memimpin tentara sebanyak tiga ratus orang lebih.

Padahal ia berasal dari dusun dan hanya mengerti sedikit mata surat, hampir buta huruf.

Akan tetapi memiliki ilmu silat yang tinggi, bahkan oleh pengalamannya yang berpuluh tahun itu ia mengerti juga sedikit hoat sut (ilmu sihir) yang dipelajari dari orang India ketika ia bertugas di tapal batas sebelah barat.

Adapun siasat-siasat perang tak usah disangsikan lagi, karena pengalaman memang Iebih nampak manfaatnya dari pada pelajaran mati, pengalaman adalah pelajaran yang hidup, pelajaran yang otomatis mendarah daging.

Ma Goan terkenal ahli dalam permainan senjata golok gagang panjang yang besar dan berat sekali.

Di dalam pertempuran berkuda, senjata macam ini amat praktis dan juga berbahaya sekali, karena selain panjang juga berat dan tajam.

Tak terhitung banyaknya perwira dan panglima musuh yang roboh di bawah sambaran golok di tangan Ma Goan yang perkasa.

Selain bintang-bintang yang diterimanya sebagai tanda kegagahan dari kaisar dan panglima-panglimanya, juga Ma Goan sudah menerima tanda kegagahan dari musuh yakni berupa cacad-cacad dan bekas-bekas luka di leher, pundak, dan pipi kanannya.

Di bagian-bagian tubuh ini kulitnya telah sobek oleh pedang lawan dan kini menjadi cacad yang bahkan menambahkan keangkerannya.

Ma Goan tidak sempat membuat benteng pertahanan di lembah sungai Kim seng itu hanya menyuruh anak buahnya memasang tenda-tenda di bawah pohon-pohon siong yang besar.

Kemudian ia memasang penjaga-penjaga di empat penjuru dan setiap hari melatih barisannya, sebagian pula menebang pohon untuk dibuat perahu-perahu dan tiang bangunan tempat tinggal.

Perahu-perahu amat penting bagi mereka, karena hubungan yang paling cepat dan mudah dengan barisan lain adalah melalui sungai ini.

Pada pagi hari itu, Ma Goan yang berada di dalam tendanya, mendapat laporan dari penjaga terdepan bahwa kurang Iebih lima li dari situ sedang mendatangi barisan kerajaan yang berjumlah besar dan pada benderanya terdapat tanda bahwa barisan itu adalah barisan yang datang dari benteng Panglima Oei dan dipimpin oleh perwira Sim.

"Berapa banyak jumlahnya tentara mereka?"

Tanya Ma Goan dengan sikap masih tenang, sungguhpun di dalam dadanya ia berdebar mendengar laporan ini.

Inilah pasukan-pasukan dari Oei Sun yang dikabarkan hendak memberontak itu!

"Menurut perkiraan saya, sedikitnya ada lima ratus orang ciangkun."

Jawab pelapor itu.

"Hm, minta semua komandan regu untuk datang ke sini. Cepat!"

Pelapor itu cepat berlari keluar dan tak lama kemudian, tujuh orang perwira pembantu telah datang menghadap.

"Pasukan pemberontak telah mulai datang. Kita belum tahu kehendak mereka, maka jangan sembarangan turun tangan. Bagi pasukan kita menjadi tiga bagian. Sebagian akau kupimpin menyambut kedatangan mereka, yang dua bagian bersembunyi di kanan kiri hutan. Kalau pasukan yang kupimpin terjadi perang dengan mereka, baru kedua pasukan di kanan kiri membantu dan memukul dari kedua samping. Kekuatan musuh lebih besar hampir dua kali kekuatan kita. Dengan serangan menggapit dari kanan kiri, tetap belum tentu kita kalah. Kalau sampai terjadi apa-apa dan kalah atau tewas dalam pertempuran sebagian pasukan boleh mundur menggunakan perahu-perahu kita, minta bantuan kepada benteng di lembah Sungai Sungari. Mengerti?"

Semua pembantunya menyatakan mengerti.

Maka Ma Goan segera membubarkan mereka untuk melakukan tugas masing-masing.

Dia sendiri setelah barisan dibagi tiga, lalu memimpin barisan dari seratus orang ini untuk menuju ke utara memapaki barisan yang berbendera OEI dan SIM itu.

Di luar hutan siong, kedua barisan itu bertemu.

Ketika Tiong Kiat melihat pasukan berbendera GAK dan MA dan melihat pakaian tentara itu menunjukkan bahwa mereka adalah tentara kerajaan, diam-diam ia segera memberi perintah agar supaya Huayen-khan dan Ang Hwa menyuruh barisan mereka bersembunyi di belakang.

Dia sendiri lalu memberi perintah kepada anak buahnya agar supaya jangan bergerak lebih dulu.

"Tunggu sampai aku bertempur dengan panglima yang memimpin pasukan pemberontak di depan itu. Kalau ia dapat bertahan sampai sepuluh jurus melawanku, barulah barisan boleh maju menyerbu! Kalau sebelum sepuluh jurus panglima itu telah roboh aku akan mencoba agar pasukan di depan itu suka takluk dan memihak kita!"

Ini adalah siasat perang yang ia pelajari dari Oei Sun yang disebut siasat "membunuh ular tanpa merusak kulitnya".

Memang Oei Sun amat membutuhkan tenaga tentara untuk maksud dan cita-citanya, maka kalau saja pemimpin pasukan musuh dapat dibinasakan sehingga pasukannya menjadi jerih dan kacau sampai dapat menaluk dan menjadi tentara taklukan, hal itu tentu saja amat baiknya!

Tentu saja pendirian Tiong Kiat jauh berlainan dengan kehendak Oei Sun.

Bagi Tiong Kiat, kalau sampai tentara Gak goanswe yang dianggapnya memberontak itu sampai takluk tanpa perang, dan dapat "insaf"

Alangkah baiknya hal itu.

Tidak perlu terjadi bunuh-membunuh antara bangsa sendiri!

Tak lama kemudian, kedua barisan itu berhenti kurang lebih seperempat li jauhnya satu kepada yang lain.

Tiong Kiat membedal kudanya maju.

Sebaliknya Ma Goan sambil menyeret golok gagang panjangnya juga mengaburkan kudanya memapaki perwira pemberontak itu.

"Apakah yang di depan ini seorang perwira dari barisan Gak goanswe, pemberontak hina dina itu?"

Mendengar suara yang berkumandang dan keras itu, tahulah Ma Goan bahwa dia berhadapan dengan seorang ahli silat yang telah memiliki khikang yang tinggi.

Akan tetapi ia menjadi amat marah mendengar ucapan itu.

"Perwira bermulut lancang!"

Ia membalas.

"Kau tentulah seorang perwira gadungan (yang tidak diangkat oleh kaisar) dari barisan Oei manusia tak tahu diri itu, bukan? Lekas turun dari kudamu dan menyerah sebelum aku Ma Goan memenggal lehermu dan membasmi tentaramu!"

Tiong Kiat merasa heran dan juga marah sekali.

Bagaimanakah perwira yang memimpin barisan pemberontak ini begitu berani memakinya sebagai perwira gadungan dan bahkan memaki-maki nama Oei Sun pula?

la tertawa mengejek dan berkata.

"Perwira pendek! Kau mengandalkan apamukah maka bicara begitu sombong? Apakah kau mengandalkan golok pemotong babi di tanganmu itu?"

Ma Goan pikir tak perlu bicara banyak-banyak dengan pemberontak ini, maka dengan cepat ia lalu berseru.

"Makanlah golok pemotong babiku ini, babi!"

Dengan amat cepatnya golok di tangannya itu menyambar ke arah dada Tiong Kiat sehingga pemuda itu terkejut juga.

Tak diduganya bahwa lawan yang pendek tangannya itu ternyata dapat menggerakkan golok gagang panjang demikian cepatnya.

Ia belum sempat mencabut pedangnya dan untuk mengelakkan diri di atas kuda, tak mungkin sama sekali melihat datangnya serangan yang benar-benar amat lihai itu.

Maka sambil berseru keras, ia lalu berjumpalitan dari atas kudanya sehingga terhindar dari sabetan golok.

Melihat betapa perwira muda itu dapat melompat dan berjumpalitan dengan ilmu lompat Naga Hitam Menembus Awan dengan gerakan yang amat indah dan cepat, kembali Ma Goan tertegun.

Lebih-lebih kagetnya ketika tiba-tiba tubuh pemuda yang sudah turun ke atas tanah itu kini berkelebat ke arahnya dan sinar pedang yang putih berkilau menyambar-nyambar dengan hebatnya.

Ia cepat memutar golok panjangnya akan tetapi tiba-tiba kudanya meringkik keras dan cepat ia melompat turun.

Baiknya ia melakukan hal ini, karena kalau tidak, dalam segebrakan itu tadi ia tentu akan terjungkal dari kuda dan binasa di bawah ujung pedang lawannya.

Ternyata bahwa Tiong Kiat telah berhasil membabat dua buah kaki belakang kuda yang ditunggangi oleh Ma Goan itu!

Pemuda ini tadi berpikir bahwa melihat gerakan ilmu golok panjang dari perwira pendek itu, agaknya sukar baginya untuk mendapat kemenangan.

Selain lawannya amat lihai, juga lawannya lebih pandai bertempur di atas kuda dan senjata lawannya jauh lebih panjang maka ia cepat menyerang kuda itu sehingga kini lawannya terpaksa harus melayaninya di atas tanah!

Adapun Ma Goan dengan amat marah segera memutar golok panjangnya dan menyerang pemuda itu.

Tiong Kiat menyambutnya dengan senyuman mengejek, akan tetapi tak lama kemudian senyuman mengejek ini lenyap dari bibir Tiong Kiat ketika ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian Ma Goan ini ternyata benar-benar tak boleh dipandang ringan!

Ilmu silat perwira pendek ini hebat sekali dan golok panjang di tangannya merupakan dua macam senjata yang berbahaya.

Apabila golok itu dibalikkan, maka gagang golok itu dapat dipergunakan sebagai senjata toya yang ditotokkan dan kemplangannya dapat mendatangkan maut!

Juga tenaga dan kegesitan Ma Goan yang sudah tua itu mengagumkan sekali, Tiong Kiat menggigit bibirnya dan memutar pedangnya makin cepat, kini setelah lima belas jurus tak dapat mengalahkan Ma Goan ia mulai mengeluarkan tipu-tipu yang terlihai dari Ang-coa kiamsut!

Sementara itu, barisannya yang melihat betapa perwira pendek itu ternyata tangguh dan dapat menahan serangan Sim ciangkun sampai lima belas jurus lebih, segera perwira pembantu memberi aba-aba dengan teriakan keras dan panjang-panjang.

"Serbuuuuuuuu!"

Maka majulah lima ratus orang perajurit itu bagaikan gelombang menderu dan dengan pekik sorak riuh rendah dan tangan mengangkat senjata yang berkilauan terkena sinar matahari, kedua barisan bertemu di luar hutan dalam pertempuran yang hebat sekali!

Pertemuan dua barisan yang menimbulkan perang hebat itu ditambah lagi dengan sorak sorai dari kedua pasukan yang bersembunyi di kanan kiri, yakni pasukan pendam yang telah diatur semula oleh Ma Goan.

Agak terkejut dan kacau balau pasukan Tiong Kiat ketika tiba-tiba muncul barisan musuh dari kanan kiri ini dan pertempuran dilakukan dalam keadaan kacau.

Akan tetapi oleh karena memang pasukan yang dipimpin oleh Tiong Kiat lebih besar jumlahnya, hampir dua kali lebih banyak, mereka dapat melakukan perlawanan kuat sekaIi.

Ma Goan, perwira pendek yang gagah itu, ketika melihat betapa pasukannya tetap saja tidak dapat mendesak musuh yang besar jumlahnya dan kini fihak musuh sudah mulai mendekati pintu benteng dan mulai mengancam pertahanan, menjadi gelisah sekali.

Apa lagi karena Tiong Kiat mendesaknya dengan hebat.

Serangan pedang pemuda yang dilawannya itu benar-benar di luar dugaannya.

Ia telah mengetahui akan kelihaian Oei Sun dan agaknya ia masih dapat menghadapi Oei Sun.

Siapa tahu kepandaian pemuda yang menjadi pembantu Oei ciangkun ini ternyata lebih lihai dari pada perwira pemberontak itu sendiri.

Setelah merasa bahwa dengan ilmu silatnya tidak mungkin dapat mengalahkan lawannya yang lihai itu, Ma Goan lalu memberi aba-aba yang memerintahkan pasukannya mundur dan melarikan diri mempergunakan perahu-perahu yang telah siap di pinggir sungai.

Ia sendiri lalu memutar golok panjangnya untuk mencari jalan keluar dari kepungan Tiong Kiat.

Akan tetapi ilmu pedang Ang-coa-kiamsut yang dimainkan oleh Tiong Kiat sudah sempurna.

Boleh dibilang semua ilmu kepandaian yang dituliskan di dalam kitab ilmu pedang Kim Liong pai itu telah dipelajari semua sehingga dalam hal ilmu pedang, kepandaian Tiong Kiat tidak kalah oleh Lui Thian Sianjin sendiri!

Dalam usaha Ma Goan untuk menerjang keluar dari kurungan sinar pedang yang hebat itu sia-sia belaka bahkan kini pedang di tangan Tiong Kiat makin cepat gerakannya dan hebat sekali serangan-serangannya.

Ma Goan tak dapat berdaya lagi dan ketika sebuah tangkisannya meleset, pundak kirinya terbabat ujung pedang Hui-liong kiam di tangan Tiong Kiat sehingga sepotong daging pundaknya berikut baju perangnya terbawa oleh pedang!

Ma Goan berseru keras saking sakitnya akan tetapi ia telah dapat mengumpulkan tenaga batinnya dan dengan sedikit ilmu hoatsut (sihir) yang pernah dipelajarinya, ia berkata dengan suara berpengaruh.

"Orang muda, Iihat pedangmu itu. Bukankah itu telah berubah menjadi seekor ular putih? Lihat baik baik!"

Tiong Kiat yang tidak mengira sama sekali bahwa lawannya mempergunakan ilmu sihir tak dapat mencegah keinginan hatinya untuk memandang ke arah pedangnya dan alangkah kagetnya ketika ia melihat Hui-liong kiam itu benar-benar telah berubah menjadi seekor ular putih!

Pedang itu kini merupakan seekor ular yang ia pegang pada ekornya dan dengan gerakan-gerakan yang amat menggelikan, ular itu lalu membalikkan tubuh dan dengan mulut terbuka hendak menyerangnya sendiri!

Tentu saja Tiong Kiat menjadi kaget sekali dan cepat cepat ia melempar ular itu ke atas tanah.

Akan tetapi, apa yang dilihatnya?

Ketika ular putih itu dibanting jatuh di atas tanah, terdengar suara nyaring dan ternyata ular putih itu telah berobah lagi menjadi pedang Hui liong kiam yang berkilauan!

Baru tahulah Tiong Kiat bahwa la telah kena tertipu oleh lawannya.

Ia cepat menyambar pedangnya Iagi, akan tetapi ketika ia mengangkat muka memandang, ternyata bahwa Ma Goan telah pergi dari situ dan tidak kelihatan bayangannya lagi!

la mendongkol sekali dan cepat ia lalu menyerbu dalam gelanggang pertempuran, membabat para perajurit musuh yang mulai melarikan diri, dikejar oleh pasukannya!

Tiong Kiat dan pasukannya mendapat kemenangan besar.

Hampir separuh dari pada barisan pemberontak, anak buah Gak goanswe telah dapat ditewaskan dan sebagian lagi melarikan diri, ada yang melalui darat, ada yang menggunakan perahu.

Benteng dapat dirampas dan sejumlah besar perbekalan musuh dapat dirampas pula.

Dengan membawa kemenangan besar yang pertama kali ini, Tiong Kiat memimpin pasukannya kembali ke Oei-ciangkun.

Oei Ciangkun sendiri bersama Go bi Ngo Koai Tung menyambut pasukan yang menang perang ini.

Huayen khan dan Ang Hwa yang juga telah bertempur hebat dan banyak merobohkan perajurit musuh menjadi amat bangga akan tetapi Tiong Kiat hanya tersenyum-senyum saja.

Pikirannya penuh dengan pengalamannya ketika bertempur melawan Ma Goan tadi.

Baiknya ia sudah melukai Ma Goan.

Kalau lawannya itu belum terluka dan ketika ia melemparkan pedangnya yang berobah menjadi ular tadi, bukankah amat berbahaya baginya kalau lawannya itu menyerangnya?

Oei Sun yang mempunyai pandangan tajam dapat melihat kemuraman wajah kawannya, maka ia lalu berkata.

"Saudaraku Sim, mengapa kau yang menang perang dan berhasil baik dalam gerakanmu kali ini, agaknya nampak muram?"

"Oei-ciangkun, biarpun pasukan kita menang akan tetapi aku mendapat kenyataan bahwa segala jerih payahku bertahun-tahun yang lalu, ilmu silat yang kupelajari dengan rajin dan tak mengenal lelah ternyata tidak berdaya sama sekali menghadapi ilmu siluman dari seorang perwira musuh!"

Setelah berkata demikian, Tiong Kiat lalu menceritakan kepada Oei Sun dan Ngo koai tung tentang pertempurannya melawan Ma Goan. Mendengar penuturan ini, Thian lt Tosu tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha, Sim ciangkun. Kukira apa menimbulkan kemuraman pada wajahmu, tidak tahunya kau memikirkan sedikit ilmu kepandaian anak kecil itu! Ha. ha, ha. apa sih sukarnya kepandaian macam itu saja? Anak kecilpun bisa."

Ketika Tiong Kiat memandang kepada Thian It Tosu, tiba tiba tosu itu memandangnya dengan mata terpentang lebar seperti yang dilakukan oleh Ma Goan tadi, kemudian sebelum Tiong Kiat mengerti apa yang dimaksudkan atau dikehendaki oleh tosu ini, orang tertua dari Go-bi Ngo-koai tung itu berkata.

"Sim-ciangkun, sungguh kau gagah sekali pulang dan masuk ruang ini naik seekor harimau!"

Tiong Kiat menjadi makin bingung.

Gilakah tosu ini?

Akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa bangku yang didudukinya bergerak-gerak dan ketika ia memandang ke bawah, hampir saja ia berteriak karena kagetnya.

Yang diduduki sejak tadi itu bukan sebuah bangku biasa, melainkan seekor harimau yang besar!

"Nah, Sim ciangkun, bukankah pedangmu itu telah menjadi seekor ular putih lagi sekarang?"

Tiong Kiat menengok ke arah pedang yang tergantung di pinggangnya, dan alangkah kagetnya melihat bahwa yang tergantung di pinggangnya bukan Hui liong-kiam di dalam sarung pedang, melainkan seekor ular putih!

Berubah wajah Tiong Kiat dan ia telah melakukan gerakan cepat sekali melompat turun dari harimau besar itu dan hendak melemparkan pedangnya.

Akan tetapi Thian It Tosu menggerakkan tangannya dan berkata,"Sim ciangkun, sabarlah.

Semua itu hanyalah bayangan belaka!

Harimau dan ular lenyap, yang kau duduki sebuah bangku biasa dan pedangmu masih Hui-liong-kiam yang ampuh!"

Betul saja, harimau dan ular itu tak nampak lagi dan kini mata Tiong Kiat melihat benda-benda biasa. Ia menjadi heran dan merahlah mukanya.

"Hebat,"

Katanya menarik napas panjang,"Totiang, kau benar-benar lihai sekali. Bagaimanakah manusia bisa mempelajari ilmu seperti itu?"

"Sim ciangkun, apakah kau ingin mempelajari ilmu sihir seperti itu?"

"Tentu saja, totiang. Akan girang sekali hatiku kalau aku dapat memiliki kepandaian yang aneh itu hingga lain kali bertemu dengan lawan seperti Ma Goan, aku takkan mendapat malu lagi."

"Akan tetapi,"

Tiba-tiba Oei Sun berkata,"kau mempelajari ilmu ini, berarti kau mempelajari ilmu dari Pek lian-kauw."

Sambil berkata demikian, Oei Sun memandang tajam sekali, kemudian setelah ia melihat keraguan di wajah Tiong Kiat, ia menyambung.

"Akan tetapi aku sendiri pernah mempelajari ilmu itu saudara Tiong Kiat. Kau lihatlah baik-baik bukankah yang kududuki inipun seekor harimau yang gagah dan besar sekali?"

Tiong Kiat memandang dan....

betul saja!

Oei Sun bukan duduk di atas bangku yang tadi lagi, melainkan di atas seekor harimau yang besar!

Oei Sun segera menyimpan kembali ilmunya dan berkata sambil tertawa.

"Saudara Tiong Kiat, terus terang saja aku sendiri pernah mempelajari ilmu sihir dari Pek-lian kauw. Kau lihat, Pek lian-kauw adalah sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi dan dulu dibasmi hanya karena hasutan orang-orang yang merasa iri hati dan yang berkali-kali dikalahkan oleh Pek-lian kauw."

"Akan tetapi"

Aku mendengar bahwa perkumpulan itu telah melakukan kejahatan-kejahatan hebat..."

Kata Tiong Kiat. Thian It Tosu tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha. Sim-ciangkun, kau benar-benar masih hijau dan belum berpengalaman. Mana ada orang-orang yang membenci sesuatu membicarakan soal-soal baik tentang yang dibencinya? Kami akui bahwa tentu saja ada dahulu anggauta-anggauta Pek lian kauw yang jahat dan menyeleweng akan tetapi dunia manakah yang tidak ada kambing hitamnya? Menurut pandanganmu, Sim-ciangkun, apakah pinto berlima dan juga Oei ciangkun ini patut disebut orang-orang jahat?"

Tiong Kiat harus mengakui kebenaran kata-kata ini dan kini ia tidak begitu benci lagi mendengar nama Pek-lian-kauw.

Kemudian dengan amat pandainya Thian It tosu dan Oei Sun memuji-muji Pek Iian kauw dan menyatakan penyesalannya terhadap pemerintah yang dapat dihasut oleh orang jahat sehingga Pek lian-kauw dibasmi.

Tiong Kiat diam-diam terkena juga oleh bujukan dan hasutan ini dan diikutinya pula bahwa pemerintah kurang bijaksana dalam urusannya menghadapi Pek Iian kauw!

Apalagi setelah Thian It Tosu menyatakan hendak memberi pelajaran ilmu gaib kepadanya, makin sukalah hati Tiong Kiat terhadap orang orang Pek-lian-kauw yang dianggapnya benar-benar orang gagah yang setia terhadap negara dan bangsa!

Telah lama kita meninggalkan Tiong Han, pemuda bernasib malang yang banyak mengalami penderitaan batin karena perbuatan adiknya yang amat disayanginya itu.

Semenjak pertemuannya dengan sumoinya, Can Kui Hwa yang sudah mendapat jodoh dengan pemuda Un Leng dan mendengar penuturan sumoinya itu tentang perlakuan Tiong Kiat terhadapnya, Tiong Han merasa makin sedih dan juga gemas.

Bagaimana Tiong Kiat sampai menjadi demikian jahat?

Aku harus dapat mencarinya, aku harus menangkapnya dan membawanya kepada suhu!

Pikiran Tiong Han sudah tetap, karena kalau makin banyak adiknya melakukan perbuatan jahat, ia merasa bertanggung jawab juga dan merasa ikut berdosa.

Sampai berbulan-bulan ia merantau mencari jejak adiknya, dan akhirnya ia mendengar bahwa Tiong Kiat telah menjadi seorang perwira!

Tentu saja ia merasa heran sekali akan tetapi oleh karena berita ini ia terima dari orang-orang suku bangsa lain yang tinggal di utara dan keterangan mereka itu hanya samar-samar ia belum percaya benar.

Betapapun juga, ia lalu mengejar ke utara.

Dari seorang di antara para pedagang yang seringkali melakukan perjalanan jauh ke utara, ia mendengar tentang seorang perwira yang bekerja dalam benteng panglima Oei di dekat Sungai Sungari.

Tiong Han masih belum percaya kalau adiknya bisa menjadi perwira akan tetapi oleh karena tidak tahu harus mencari ke mana ia pergi juga ke daerah itu.

Di sepanjang jalan ia mendengar tentang pertempuran antara suku bangsa Cou melawan suku bangsa Ouigour, akan tetapi berita ini tidak begitu menarik perhatiannya, ia hanya bertanya-tanya di mana adanya benteng dari panglima she Oei yang menjaga tapal batas sebelah utara ini.

Pada suatu pagi, tibalah ia di kota yang hanya terpisah sepuluh li dari benteng di mana orang yang dicarinya berada!

Kota ini kecil saja akan tetapi di situ banyak terdapat orang-orang berdagang atau lebih tepat bertukar barang dengan penduduk di utara ini.

Juga terdapat rumah-rumah makan dan rumah-rumah penginapan.

Ketika Tiong Han memasuki kota ini, ia menjumpai keganjilan-keganjilan ketika beberapa orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan belum pernah dilihatnya selama hidup, ketika bertemu dengan dia lalu memberi hormat!

Akan tetapi oleh karena sudah terlalu sering mengalami hal aneh, Tiong Han bahkan menjadi girang sekali karena yakinlah bahwa Tiong Kiat pasti berada di tempat yang tidak jauh!

Ia maklum bahwa orang-orang yang memberi hormat kepadanya itu tentu mengira bahwa dia adalah Tiong Kiat.

Akan tetapi, untuk kesekian kalinya, ia mengalami hal yang tidak enak saja yang ditimbulkan oleh persamaan mukanya dengan adiknya yang manis itu.

Ketika ia berjalan dengan tindakan tenang di depan sebuah toko obat, tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua melompat keluar dari toko itu, mencabut golok dan menyerangnya dengan kalap sambil berseru,"Bangsat rendah!

Kembalikan anakku....!"

Orang yang kalap itu menyerangnya dari samping dengan golok dibacokkan ke arah dadanya.

Tentu saja serangan ini sama sekali tak membikin gugup pada Tiong Han, akan tetapi benar-benar membuatnya merasa kaget dan heran.

Ia cepat mengelak dan berkata.

"Sahabat, perlahan dulu. Ada urusan baik dibicarakan dulu, jangan terburu nafsu menyerang orang di jalan!"

"Manusia tidak tahu malu! Iblis bermuka manusia mau bicara apalagi? Hanya ada dua pilihan bagimu, hidupkan kembali anakku atau kau harus mampus menyusul anakku....!"

Dan kembali golok yang agaknya telah berhari-hari diasah sehingga menjadi berkilat tajamnya itu menyambar ke arah leher Tiong Han.

Kembali dengan amat mudahnya serangan itu dapat dielakkan oleh Tiong Han dan karena pemuda ini merasa mendongkoI juga dengan sekali menggerakkan tangan ia melakukan tipu gerakan Kim liong jiauw (Naga Emas Mengulur Kuku) dan dengan amat mudahnya terampaslah golok itu dari tangan penyerang.

"Sabar"sabar, sahabat. Jangan main-main dengan golok tajam,"

Sambil berkata demikian Tiong Han menjepit golok itu di antara tangannya dan sekali ia mengerahkan tenaga, terdengar bunyi pletak dan patahlah golok itu pada tengah-tengahnya.

Ia melempar potongan golok itu ke atas tanah.

Akan tetapi baru saja ia hendak menghadapi penyerangnya untuk ditanyai keterangan tentang kelakuannya yang aneh ini datanglah berlari-lari lima orang tentara yang cepat memberi hormat kepadanya dan tanpa banyak cakap, lima orang tentara itu lalu menyeret kedua tangan penyerang itu.

"Bangsat she Sim ....! Biarpun aku akan mati lihat saja, rohku akan menjadi setan penasaran dan akan mengejarmu selalu.....! Kau perusak rumah tangga, pengganggu wanita, kau manusia""

Baru saja memaki sampai di situ, seorang di antara lima orang penangkapnya itu mengayun tangan menampar mulutnya.

Orang itu mengeluh dan menundukkan mukanya.

Darah mengalir dari mulut dan hidungnya!

Melihat orang itu diseret-seret dan mendengar kata-katanya, Tiong Han dapat menduga bahwa kembali Tiong Kiat telah membuat gara-gara.

Ia merasa kasihan sekali kepada orang tua itu.

Dengan beberapa lompatan saja ia telah dapat mengejar.

"Lepaskan dia!"

Serunya dengan keras. Ia telah siap sedia untuk memukul tentara yang lima orang banyaknya itu kalau mereka melawan, akan tetapi kembali mereka memberi hormat, dan hanya memandang dengan terheran.

"Akan tetapi... Sim-ciangkun......."

Kata seorang diantara mereka. Tiong Han merasa sebal sekali. Ia maklum bahwa Tiong Kiat agaknya benar-benar telah menjadi seorang perwira dan lima orang tentara ini tentulah anak buahnya.

"Lepaskan dia, dan pergilah kalian!"

Ia berseru lagi dengan marah.

Lima orang itu lalu mengangkat pundak lalu meninggalkan tempat ini tanpa berani banyak cakap lagi.

Adapun orang tua itu kini memandang kepada Tiong Han dengan mata terbelalak.

"Kau melepaskan aku.......apakah kau hendak menghukum aku dengan tanganmu sendiri? Orang muda tidak berbudi, jangan kaukira bahwa aku takut mati setelah apa yang kaulakukan terhadap puteriku!"

Tanpa bertanya lagi Tiong Han sudah dapat menduga apa yang telah dilakukan oleh Tiong Kiat terhadap puteri dari orang ini. Mukanya berobah merah saking marah dan gemasnya terhadap Tiong Kiat.

"Sudahlah, lebih baik kau pulang saja. Orang yang berbuat dosa pasti akan mendapatkan hukumannya!"

Setelah berkata demikian, Tiong Han lalu meninggalkan orang itu yang menjadi begitu terheran-heran mendengar ucapan Tiong Han tadi sehingga ia hanya berdiri dengan mulut melongo di tengah jalan!

Sementara itu, Tiong Han melanjutkan perjalanannya.

Ia ingin sekali bertanya kepada orang tadi di mana ia dapat menjumpai Tiong kiat tetapi ia tidak ingin mendengar kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Tiong Kiat.

Lebih baik bertanya kepada orang lain saja pikirnya.

Ketika melihat sebuah rumah makan yang cukup besar, masuklah Tiong Han ke dalam rumah makan itu.

Ia memesan makanan dengan sikap biasa sungguhpun pelayan yang membungkuk-bungkuk di depannya dengan luar biasa hormatnya itu menimbulkan sebal dalam hatinya.

Hem, agaknya semua orang di tempat ini menghormat sekali kepada Tiong Kiat, kecuali orang yang menyerangnya tadi tentunya.

Di dalam restoran itu telah banyak tamu dan ada beberapa orang berpakaian perwira duduk di sudut sambil bersendau gurau.

Ketika Tiong Han masuk, mereka memandang dan ada yang tersenyum, akan tetapi tak lama kemudian mereka saling pandang dengan muka menyatakan keheranan besar.

Mereka hanya memandang saja dan amat memperhatikan Tiong Han, akan tetapi pemuda ini pura-pura tidak melihat mereka dan makan masakan pesanannya dengan tenang.

Setelah ia selesai makan dan hendak keluar dari rumah makan itu, tiba-tiba tiga orang perwira yang semenjak tadi melihatnya, berdiri dan menghampirinya.

"Ah, Sim ciangkun, apakah benar-benar kau tidak kenal lagi kepada kami? Kami kira kau tadi main-main, akan tetapi ternyata sampai sekarang benar-benar tidak menyapa kami. Benar-benar lucu sekali kau ini, keluar dari benteng dengan pakaian preman, dan berlaku pura-pura tidak mengenal kawan. Apakah artinya ini?"

Tiong Han mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Sam wi ciangkun, kalian telah salah lihat. Sim ciangkun kiranya masih berada di dalam benteng, dan aku sendiripun ingin sekali menjumpainya. Maukah sam-wi menolongku untuk menemui Sim-ciangkun, adikku itu!"

Untuk sesaat, ketiga orang perwira itu tertegun dan mengira bahwa pemuda ini memang benar Sim Tiong Kiat yang masih berpura-pura atau hendak menggoda mereka.

Akan tetapi setelah melihat kesungguhan tarikan wajah Tiong Han, mereka saling pandang lalu berkata,"Marilah ikut kami ke benteng."

Tiga orang perwira itu lalu mengajak Tiong Han keluar dari rumah makan dan langsung menuju ke benteng di luar kota.

Tiong Han berdebar jantungnya.

Akhirnya dapat juga ia mendapatkan tempat persembunyian adiknya itu dan bermacam-macam pikiran teraduk di dalam kepalanya, memikirkan dan membayangkan bagaimana penyambutan Tiong Kiat kepadanya.

Bagaimana kalau Tiong Kiat melawan?

Aku harus melakukan pertempuran mati-matian kali ini, pikir Tiong Han sambiI menggigit bibirnya.

Tentu kepandaiannya telah amat maju dengan bantuan kitab ilmu pedang itu akan tetapi belum tentu aku kalah olehnya.

Kali ini, ia turut ke Liong san menghadap suhu dengan baik-baik, atau .

aku akan bertempur mati-matian!

Ia tidak tahu sama sekali bahwa Tiong Kiat sudah dapat menduga kedatangannya ini!

Tadi ketika ia masih makan di rumah makan lima orang tentara yang tadi menangkap orang yang menyerangnya ketika kembali ke dalam benteng dan melihat Tiong Kiat, mereka menjadi heran sekali dan cepat menceritakan pengalaman mereka kepada Sim ciangkun.

Tiong Kiat terkejut sekali dan menjadi pucat, akan tetapi ia segera menetapkan hatinya dan berkata.

"Aku memang mempunyai seorang saudara yang sama benar mukanya dengan aku. Di mana dia sekarang?"

"Kami tidak tahu, Sim ciangkun. Mungkin masih di dalam kota. la amat lihai"dan....dan dia sengaja melepaskan orang she Phoa itu!"

"Sudahlah jangan banyak cakap, dan jangan mencampuri urusanku."

Tiong Kiat membentak sehingga lima orang tentara itu cepat-cepat meninggalkan perwira yang mereka segani ini.

Tiong Kiat menggigit-gigit bibirnya, kebiasaan yang dilakukan apabila ia sedang gelisah.

la merasa malu terhadap kakaknya, karena lagi-lagi kakaknya mendengar tentang perbuatan yang tidak patut, bahkan kakaknya pula yang hampir saja menjadi korban.

Tadinya ia hendak membanggakan kedudukannya kepada Tiong Han, hendak memperlihatkan kepada kakaknya itu bahwa betapapun juga, dia kini telah memiIih jalan baik dan terhormat, telah menjadi seorang perwira pembela nusa bangsa.

Akan tetapi, apa yang didapati oleh Tiong Han?

Baru saja muncul di dekat benteng telah diserang oleh orang she Phoa itu karena orang she Phoa itu marah dan menaruh hati dendam kepadanya!

Tiong Kiat teringat betapa ia telah mempermainkan anak gadis she Phoa itu sehingga gadis itu mengandung.

Karena malu dan mendapat kenyataan bahwa Tiong Kiat tidak mau mengawininya, gadis itu lalu membunuh diri dengan menggantung diri di dalam kamarnya.

Tiong Kiat sudah mendengar betapa ayah dari gadis itu amat marah dan mengancam hendak menyerangnya apabila bertemu.

Oleh karena itu, jarang sekali Tiong Kiat pergi ke kota itu, takut kalau kalau orang she Phoa itu menimbulkan ribut yang akan memalukannya saja.

Dan tidak disangka-sangkanya sekarang orang she Phoa itu bertemu dengan Tiong Han dan menyerangnya!

Ah, alangkah akan marahnya Tiong Han, kakaknya yang baik budi itu.

Dan Tiong Kiat menjadi amat kecewa terhadap diri sendiri.

Mengapa aku tak dapat menahan nafsu jahatku?

Mengapa aku tidak bisa menjadi sebaik dia?

Sudah terlambat, pikirnya.

Langkah pertama telah membawanya ke jalan sesat, yakni ketika ia mengadakan hubungan dengan sumoinya, Kui Hwa.

Setelah itu, terpaksa ia melakukan perjalanan di atas jalan yang sesat.

Ah, kalau saja bisa menjadi istriku....!

ia mengeluh.

Dengan nona itu disampingku, aku akan mendapat kekuatan baru, mendapat semangat baru dan aku berani menghadapi dunia dan mencari jalan baru yang baik.

Akan tetapi, kembali ia mengeluh sedih.

Ia telah merusak kebahagiaan sendiri, ia telah melenyapkan kemungkinan dan pengharapannya untuk dapat menjadi suami dari seorang gadis seperti Suma Eng.

la telah menyakiti hati gadis itu, bahkan kini gadis itu telah menjadi pembantu dari Piloko, telah menjadi musuhnya!

Ah, ia mau menukarkan apa saja, bahkan kedudukannya sebagai perwira, bahkan mengurangi usianya, asal saja ia dapat bersatu dan berbaik dengan Suma Eng yang berada di puncak gunung, tempat suku bangsa Cou bertahan itu!

Demikianlah, pikiran Tiong Kiat melamun dan melayang-layang tidak keruan.

Selagi ia duduk bertopang dagu, ia dikejutkan oleh Oei Sun dan Go-bi Ngo koai tung yang datang dengan tiba-tiba.

Oei Sun berkata.

"Saudaraku yang baik, mengapa kau melamun saja? Di luar telah menanti kakakmu. Ah, hampir saja aku dan Ngo-wi suhu ini tidak percaya akan pandangan mata sendiri. Kakakmu itu begitu sama dengan kau!"

"Benar, Sim ciangkun, memang aneh sekali. Belum pernah pinto melihat persamaan muka dan bentuk badan seperti kau dan pemuda yang menantimu di luar itu."

Kata Thian lt Tosu. Juga tosu yang lain, Thian Ji Tosu dan adik-adiknya, ikut menyatakan keheranan mereka.

"Akan tetapi, agaknya dia tidak mempunyai maksud yang baik, Sim ciangkun."

Kata Thian Ngo Tosu, orang termuda dari Go-bi Ngo koai-tung. Tiong Kiat memandang kepada enam orang itu dengan tajam, lalu berkata sungguh-sungguh.

"Betapapun juga, dia adalah kakakku, orang yang gagah perkasa dan baik, jauh lebih baik daripadaku.Oleh karena itu, apa pun yang terjadi antara dia dan aku, kuharap Iak-wi jangan ikut campur."

Oei Sun dan kawan-kawannya saling pandang, kemudian panglima pemberontak ini berkata sambil tersenyum.

"Siapa yang hendak mencampuri urusan dua orang kakak beradik? Apalagi dua orang saudara kembar seperti kau dan saudaramu itu, Sim ciangkun. Asal saja dia tidak akan mengganggumu."

Tiong Kiat lalu bertindak keluar dan betul saja, Tiong Han sudah berdiri di luar pintu gerbang benteng, berdiri dengan sikapnya yang keren, tenang, dan juga gagah.

Di luar tahu semua orang, baik Tiong Han maupun Tiong Kiat merasai keharuan besar di dalam dada masing-masing ketika keduanya saling pandang.

Hubungan darah mereka masih terlampau dekat sehingga tak mungkin dapat dilenyapkan oleh watak dan keadaan yang berlainan jauh sekali itu.

"Han-ko.! Sampai begini jauh kau masih mencariku juga?"

Pertanyaan dari Tiong Kiat ini mengandung penyesalan besar dan juga mengandung teguran mengapa kakaknya itu tidak menaruh kasihan kepadanya.

"Tiong Kiat, sampai ke ujung nerakapun aku akan mencarimu, karena aku sudah bersumpah akan membawamu kembali ke Liong San."

Jawab Tiong Han dengan suara tenang akan tetapi perlahan karena ia kuatir kalau-kalau suaranya yang mengandung keharuan itu akan terdengar oleh adiknya.

"Han-ko, kau terlalu sekali! Apakah kau tidak mau memberi kesempatan kepada adikmu sendiri untuk merobah kehidupannya? Aku memang pernah melakukan kesesatan, akan tetapi kaulihatlah, Han-ko."

Tiong Kiat menunduk dan memandang ke arah pakaiannya dan mencoba tersenyum ramah kepada kakaknya.

"Lihatlah, bukankah adikmu gagah sekali memakai pakaian perwira ini? Han-ko, berilah kesempatan kepadaku. Aku hendak merobah hidupku, bahkan sudah kurobahnya. Bukankah aku sekarang sudah menjadi seorang baik-baik? Menjadi seorang perwira yang mengabdi kepada negara?"

Akan tetapi Tiong Han menggelengkan kepalanya dengan muka sedih.

"Kau takkan berobah, adikku. Hanya pakaianmu saja yang berobah. Lupakah kau kepada gadis anak pemilik toko obat? Kau takkan berobah, Tiong Kiat, sayang sekali!"

Merahlah wajah Tiong Kiat, mendengar disebutnya gadis ini.

"Kau maksudkan orang gila she Phoa itu? Ah, Han ko, dia adalah seorang yang miring otaknya, dan""

"Tiong Kiat! Miring otaknya atau tidak, sudah terang bahwa kau masih mengumbar nafsu jahatmu. Dan akupun tidak datang untuk mengurus perkara orang itu. Lebih baik kau ikut dengan aku, bertemu dengan suhu. Mungkin sekali suhu akan memaafkan kau, atau akan memberi jalan yang baik."

"Han-ko, sekali lagi, aku memohon kau menaruh kasihan kepada adikmu. Aku mengaku bahwa aku telah melakukan banyak dosa dan bahwa seringkali aku tak dapat mengendalikan nafsu yang menguasai diriku. Akan tetapi, Han-ko. Kalau kau membawaku kepada suhu, tentu aku akan dibunuh. Aku tidak takut mati. Han-ko... akan tetapi biarkanlah aku menebus dosa-dosaku dengan mati di medan pertempuran sebagai seorang pahlawan bangsa. Han-ko, kita adalah keturunan seorang pahlawan, seperti yang pernah dikatakan suhu, ayah kitapun seorang pahlawan dan aku""

"Tutup mulut! Jangan kau menyebut-nyebut nama ayah! Kau tidak berhak menjadi puteranya setelah kau mencemarkan nama keluarga dengan semua perbuatanmu yang terkutuk!"

Tiong Han benar-benar marah, kemarahan yang timbul dari kesedihan hebat karena diingatkan kepada ayahnya.

Semenjak kecil ia menjadi kakak, ayah dan ibu terhadap adiknya ini dan sekarang adiknya ternyata menjadi seorang jahat sekali dan ia sendiri mendapat tugas untuk membawanya untuk dihukum!

Siapa yang takkan bersedih dan hancur hatinya?

Tiong Kiat memang memiliki watak yang palsu.

Sikap yang minta dikasihani tadi sebetulnya hanya setengah pura-pura saja.

Ia hanya ingin menjaga agar kakaknya itu tidak melanjutkan niatnya menangkapnya dan suka pergi lagi dengan aman.

Sebetulnya ia sama sekali tidak takut, bahkan ia merasa yakin bahwa ia akan dapat melawan kakaknya kini.

Tidak percuma kitab ilmu pedang Ang-coa-kiamsut berada di tangannya sedemikian lamanya.

Kini mendengar ucapan Tiong Han timbul juga marahnya.

Nampaklah kini senyumnya senyum mengejek yang semenjak dahulu dimilikinya senyum jahat yang sudah dikenal baik oleh Tiong Han.

"Han ko, kau memang sungguh terlalu! Kau mendesak padaku tanpa mengenal kasihan dan ampun. Sungguh percuma mempunyai seorang kakak seperti kau! Kau tidak tahu bahwa sebetulnya aku masih sayang kepadamu dan aku minta dengan baik-baik agar kau jangan mengganggu aku lagi. Han-ko, terus terang saja, sekarang kepandaian adikmu bukan seperti dulu lagi. Kau takkan menang bertanding ilmu pedang melawan aku dan selain dari pada itu aku adalah seorang perwira. Di dalam benteng ini terdapat ribuan orang perajurit yang akan mengeroyokmu atas perintahku belum lagi adanya perwira-perwira yang kepandaiannya bahkan tidak di bawah kepandaianku! Kau pergilah, Han-ko."

Akan tetapi kembali Tiong Han menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya mau pergi kalau kau suka ikut, Tiong Kiat. Dosamu telah terlalu banyak dan sudah menjadi kewajibanku untuk membawamu kembali kepada suhu, biarpun untuk tugas itu aku harus menggeletak tak bernyawa di sini aku takkan mundur setapakpun."

"Kau benar-benar keras kepala, Han-ko. Betapapun juga tentu saja aku masih berat nyawaku dari pada nyawamu. Nah, majulah, hendak kulihat bagaimana kau akan mengalahkan aku?"

Kata Tiong Kiat akhirnya sambil mencabut pedangnya yang berkilauan putih, yakni pedang Hui-liong-kiam yang dulu ia terima dari Tiong Han.

"Kali ini kau atau aku, Tiong Kiat!"

Kata Tiong Han yang cepat mencabut pedang Ang coa kiam.

Untuk sesaat keduanya saling pandang dengan harapan terakhir kalau-kalau saudaranya akan mengalah, akan tetapi setelah mereka yakin bahwa pandang mata masing-masing yang bernyala dan bersemangat itu, hampir berbareng keduanya lalu maju menerjang, menggerakkan pedang dengan hebat!

Sebentar saja, keduanya lenyap ditelan gelombang sinar pedang merah dan putih yang saling membelit.

Bukan main hebatnya pertandingan antara dua orang murid terpandai dari Kim liong-san ini.

Sebetulnya kalau dinilai dari kepandaiannya mungkin Tiong Kiat masih menang tingkat.

Memang pemuda ini lebih baik bakatnya dari pada kakaknya maka dengan kitab Ang coa-kiamsut berada di tangannya, ia telah mewarisi seluruh ilmu pedang itu dan gerakannya juga lebih lemas dan cepat dari pada Tiong Han.

Akan tetapi, Tiong Han memiliki ketenangan dan tenaga serta semangatnya agak lebih menang.

Hal ini bukan karena Tiong Kiat kurang melatih tenaga Iweekang dan semangat, melainkan karena pemuda ini banyak main gila maka tanpa disadarinya, tenaga Iweekangnya banyak melorot.

Kemenangan dalam hal inilah yang membuat Tiong Han dapat mengimbangi permainan pedang adiknya yang benar-benar lihai itu.

Pertempuran sudah berjalan seratus jurus dan biarpun dengan pedang Hui-liong kiam Tiong Kiat sudah mulai dapat mendesak pedang Ang coa kiam di tangan kakaknya, namun napasnya mulai senin kemis dan peluhnya telah membasahi jidatnya.

Telah sejak tadi Oei Sun dan Go-bi Ngo-koai-tung berada di tempat itu menyaksikan pertempuran yang bukan main hebatnya ini.

Mereka menonton bagaikan kena pesona karena sesungguhnya belum pernah mereka menyaksikan pertandingan pedang sehebat itu.

Apalagi pedang yang dimainkan oleh sepasang saudara kembar ini mengeluarkan sinar putih dan merah sehingga nampak sekali kehebatan ilmu pedang itu.

Tadinya Oei Sun dan kelima orang pendeta itu tidak mau mencampuri urusan Tiong Kiat sebagaimana yang telah dipesan oleh perwira muda itu, dan ketika melihat betapa pedang Tiong Kiat mampu mendesak hebat lawannya, merekapun berdiri menonton saja dengan kagum.

Akan tetapi ketika Go-bi Ngo koai melihat Tiong Kiat yang hampir kehabisan napas dan berpeluh, sedangkan lawannya masih tenang dan kuat, mereka mengerutkan kening.

"Lawan dari Sim ciangkun ini tidak boleh dibuat main-main. Kalau kita tidak membantu dan Sim-ciangkun roboh binasa, bukankah merupakan satu kerugian besar?"

Kata Thian It Tosu kepada adik-adiknya. Mereka menyatakan setuju dan diam-diam Iima orang tosu ini mengeluarkan tongkat masing-masing, siap sedia untuk menyerbu. Oei Sun mendapat sebuah pikiran baik.

"Jangan bunuh dia""

Katanya perlahan.

"tangkap saja, siapa tahu kita akan dapat mempergunakan tenaganya pula!"

Thian It Tosu mengangguk dan setelah memberi isarat kepada adik-adiknya mereka bersama lalu menyerbu dan tiba-tiba menyerang Tiong Han dengan hebat sekali.

"Ngowi totiang jangan membantuku!"

Tiong Kiat masih mencoba untuk berseru keras lalu disambungnya "Jangan bunuh dia!"

Akan tetapi, kelima orang pendeta itu sudah bergerak dan serangan mereka yang dilakukan berbareng, ditambah serangan dari Tiong Kiat sendiri, membuat Tiong Han kewalahan sekali.

Ia masih mencoba untuk memutar pedang merahnya guna membabat putus tongkat-tongkat itu, akan tetapi ternyata lima tongkat butut itu tidak dapat terbabat putus!

Tentu saja ia menjadi kaget sekali dan biarpun ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, menghadapi keroyokan ini ia amat terdesak dan keadaannya amat berbahaya.

"Ngowi totiang jangan celakai saudaraku!"

Tiong Kiat masih mencoba untuk mencegah lima orang pendeta Pek Iian-kauw itu, akan tetapi terlambat karena Tiong Han melepaskan Ang Coa kiam dan roboh dengan tubuh lemas.

Ia telah terkena totokan tongkat Thian It Tosu yang amat lihai.

"Pinto terpaksa merobohkannya, Sim ciangkun karena keadaanmu tadi amat berbahaya. Mana bisa kami mendiamkannya saja?"

Kata Thian It Tosu.

"Dan pula, apapun juga yang menjadi sebab pertempuran dan perselisihanmu dengan saudaramu, sebagai seorang gagah ia harus mengerti bahwa melawan seorang perwira berarti memberontak terhadap kaisar! Untuk perbuatannya ini ia harus dijatuhi hukuman militer!"

Kata Oei Sun kepada Tiong Kiat. Tiong Kiat menjadi pucat wajahnya. Ia menengok ke arah Tiong Han yang masih rebah tak dapat bergerak itu dan rasa iba memenuhi dadanya.

"Jangan, Oei ciangkun. Kuminta kepadamu, demi persahabatan kita, jangan kau menjatuhkan hukuman kepada kakakku ini. Ia memang keras hati akan tetapi"ia jauh lebih baik dari padaku. Harap kau suka ampunkan dan lepaskan dia""

Oei Sun memungut pedang Ang coa kiam yang tadi terlepas dari tangan Tiong Han.

"Pedang bagus"!"

Katanya.

"ltu adalah Ang coa-kiam pedang pusaka perguruan kami."

Kata Tiong Kiat. Oei Sun tercengang, lalu memberikan pedang itu kepada Tiong Kiat.

"Jadi pedang inikah yang telah mengangkat namamu sehingga kau dijuluki Ang coa-kiam, Sim ciangkun? Kalau begitu, harus kau yang memiliki pedang ini."

Tiong Kiat menerima pedang itu dan tidak berkata sesuatu, hanya memandang kepada Oei Sun sambil mengharapkan keputusan tentang kakaknya.

"Saudara Sim, biarpun kakakmu sudah melakukan pelanggaran dan dengan mengacau di depan benteng berarti ia telah menghina aku dan pasukanku, akan tetapi kalau saja dia suka membantu kita dan berbakti kepada negara, tentu dengan sukahati aku akan membebaskannya dari segala hukuman."

Tiong Kiat berpikir sejenak dan berserilah mukanya.

Mengapa tidak?

Kalau Tiong Han dapat mengikuti jejaknya, menjadi seorang perwira, tentu hubungan mereka menjadi baik kembali dan ia tak usah takut menghadapi pembalasan dari fihak Kun lun pai atau musuh-musuh yang lain.

Ia lalu menghampiri kakaknya dan cepat membebaskan totokan yang dilakukan oleh Thian It Tosu tadi.

Tiong Han menggeliat dan setelah jalan darahnya pulih kembali, ia lalu melompat bangun, Tiong Kiat segera memeluknya.

"Han-ko, dengarkah kau tadi? Oei ciangkun yang bijaksana dan budiman ini tidak saja suka mengampuni kesalahanmu, bahkan ia bersedia mengangkatmu menjadi seorang perwira seperti aku. Han ko, marilah kita lupakan yang sudah-sudah dan kita bersama membuka hidup baru di sini mengikuti jejak mendiang ayah kita!"

Tiong Han memandang kepada Oei Sun dan kepada lima orang pendeta yang merobohkan dia tadi. la mencoba tersenyum, akan tetapi senyumnya pahit.

"Tak kusangka bahwa di dalam benteng terdapat pendeta yarg lihai dan tak pernah kukira pula bahwa orang-orang pemerintah suka mencampuri urusan pribadi orang lain. Sebuah tugas dari suhu yang diserahkan kepadaku saja sampai hari ini aku tak dapat memenuhinya, bagaimana aku dapat menerima tugas lain dari pemerintah? Tidak, Tiong Kiat jangan kau mencoba membujukku. Kalau kau suka ikut dengan aku ke Liong-san, mungkin kelak aku akan kembali ke sini untuk menghaturkan terima kasih kepada kawan-kawanmu ini, dan mungkin pula aku akan menggantikan kau mengabdi kepada negara!"

"Benar-benar keras kepala, Ngo wi totiang, tangkap saja dia, akan kuberi hukuman yang layak!"

Kata Oei Sun. Go-bi Ngo-koai tung bergerak, akan tetapi Tiong Kiat melompat dan mencegah mereka.

"Jangan"! Oei ciangkun, jangan tahan dan hukum dia! Harap kau memandang mukaku!"

Oei Sun mengangkat pundaknya.

"Kau terlalu lemah, Sim ciangkun. Biarlah memandang mukamu, aku maafkan dia. Akan tetapi pedangnya harus dirampas, jangan kau kembalikan kepadanya. Orang keras kepala seperti ini berbahaya sekali membawa pedang pusaka. Nah suruhlah dia pergi dari sini!"

Tiong Kiat memandang kepada kakaknya dan tak sampai hatinya untuk mengusirnya. Ia merasa kasihan sekali, akan tetapi yang dikasihani memandang tajam dan keras.

"Baik Tiong Kiat, kali ini aku mengaku kalah dan gagal. Akan tetapi, sekali aku telah bersumpah, aku tetap akan melanjutkan usahaku dan tugasku ini. Pasti akan datang saatnya aku membawamu kembali ke Liong san menghadap suhu!"

Setelah berkata demikian, Tiong Han memutar tubuhnya dan berlari pergi.

Malu, sedih, dan kecewa rasa hati Tiong Han setelah ia meninggalkan benteng panglima Oei.

la telah gagal menangkap Tiong Kiat, bahkan pedang Ang coa kiam telah dirampas.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Bagaikan seorang yang kehilangan semangat ia berjalan masuk keluar hutan, lupa lelah lupa lapar dan lupa tidur.

Berhari-hari ia berjalan tak tentu tujuan.

Ia maklum bahwa dalam hal ilmu pedang, sekarang Tiong Kiat sudah lebih pandai dari padanya.

Untuk menghadapi Tiong Kiat seorang diri saja, sudah merupakan hal yang amat berat dan belum tentu ia akan dapat menangkan adiknya.

Apalagi sekarang keadaan Tiong Kiat amat kuat.

Selain telah menjadi seorang perwira yang dilindungi oleh undang-undang dan tidak boleh diserang oleh orang biasa, juga disamping itu masih ada lagi orang-orang pandai seperti lima orang pendeta itu di dalam benteng yang selalu akan membantu Tiong Kiat.

Bagaimana ia akan dapat menunaikan tugasnya?

Bagaimana ia akan bisa menangkan Tiong Kiat?

Tiong Han benar-benar merasa bingung dan serba salah.

Kalau ia nekad menyerbu lagi untuk menghadapi Tiong Kiat akan merupakan usaha yang sia-sia belaka, bahkan ia akan mendapat malu lagi.

Untuk kembali kepada suhunya, ia tidak berani.

Ketika ia sedang berjalan dengan tubuh terasa lemas dan pikiran melayang jauh, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Bangsat muda, bagus sekali kau datang mengantarkan nyawa!"

Tiong Han terkejut sekali dan cepat mengangkat muka.

Ternyata dihadapannya telah berdiri seorang nenek tua yang memandangnya dengan mata merah sekali.

Nenek ini rambutnya telah putih, digelung ke belakang dan mukanya kelihatan galak sekali, apa lagi sepasang matanya yang mengeluarkan sinar berapi itu.

Pakaiannya seperti pakaian pertapa dari kain putih yang kasar.

Nenek ini berdiri dan memegang sebatang tongkat yang bengkak-bengkok dan kepalanya berbentuk aneh seperti kepala naga.

Tiong Han tidak mengenal nenek ini, akan tetapi melihat sikap dan pandang mata nenek yang luar biasa itu, ia dapat menduga bahwa ia tentu berhadapan dengan seorang yang pandai.

Cepat pemuda ini lalu mengangkat kedua tangannya memberi hormat sambil berkata.

"Maafkan teecu kalau teecu tidak tahu dengan siapakah teecu berhadapan? Dan kesaIahan apa pulakah yang teecu lakukan sehingga membikin marah kepada suthay?"

Mendengar ucapan yang sopan dan sikap yang ramah ini, nenek itu menjadi makin marah.

"Bangsat bermulut manis! Dengan wajahmu yang tampan dan mulutmu yang manis itu agaknya kau telah menipu dan membujuk banyak wanita! Kedosaanmu telah bertumpuk-tumpuk, dan manusia macam kau ini amat berbahaya! Tidak saja kau telah melempari nama perguruanmu dengan kotoran, bahkan kau juga membawa-bawa nama pemilik pedang Hui liong kiam yang telah kaucemarkan! Hayo kaukeluarkan Hui liong kiam dan kaukembalikan kepadaku!"

"Suthai"maaf........teecu tidak membawa Hui-liong kiam"sudah teecu berikan"..."

Tiong Han berkata gagap dan ia menjadi bingung sekali.

Tak dapat ia menceritakan bahwa Hui-liong kiam telah ia berikan kepada Tiong Kiat, dan iapun dapat menduga bahwa kembali nenek ini salah lihat disangkanya ia adalah Tiong Kiat.

Akan tetapi anehnya, mengapa nenek ini tahu bahwa dia telah menerima pedang Hui liong kiam yang sudah lama diberikannya kepada Tiong Kiat?

Siapakah nenek ini?

Tiba-tiba teringatlah ia dan mukanya menjadi berseri.

"Ah, pernah Lui piauwsu bercerita tentang dia""

Pikirnya, kemudian ia menjura lagi sambil berkata.

"Apakah teecu bukannya berhadapan dengan Pat jiu Toanio Li Bie Hong yang ternama?"

Tiba-tiba nenek itu tertawa dan suara ketawanya merdu dan nyaring seperti suara ketawa seorang gadis muda. Akan tetapi tiba-tiba ia berkata dengan suara bentakan marah sekali.

"Orang jahat, jangan coba berpura-pura. Dulu aku masih memberi ampun kepadamu akan tetapi sekarang jangan harap lagi!"

Dan sebelum Tiong Han dapat berjaga diri tahu-tahu tongkat yang panjang itu melayang dan menyambar ke arah kepalanya!

Tiong Han terkejut sekali.

Sambaran tongkat itu biarpun masih jauh telah mendatangkan angin pukulan yang hebat sekali.

Maklumlah dia bahwa sekali saja kepalanya terkena pukulan tongkat ini, nyawanya takkan dapat tertolong lagi.

Ia cepat membuang diri ke belakang dan kemudian melompat menjauhkan diri.

Akan tetapi ternyata bahwa Pat jiu Toanio telah berada dihadapannya tanpa ia ketahui kapan bergeraknya.

Sekali lagi tongkat nyonya tua itu bergerak, kini menotok ke arah dadanya.

Tiong Han benar-benar merasa bingung, ia tidak mempunyai pedang lagi.

Sedangkan seandainya Ang-coa kiam berada di tangannya juga tak mungkin ia dapat menangkan nenek yang gerakan tongkatnya luar biasa sekali ini, apalagi kini ia bertangan kosong.

Menghadapi serangan tongkat kedua ini kembali ia mengelak ke kiri akan tetapi sungguh tak disangka sama sekali karena tongkat itu tiba-tiba diputar dan kini yang berbentuk kepala naga itu menyerangnya dengan kecepatan yang tak dapat diduga.

Sebelum Tiong Han dapat mengelak, tongkat itu telah mengenai bajunya.

Akan tetapi Tiong Han bukanlah seorang pemuda yang hanya memiliki ilmu silat biasa saja.

la telah digembleng hebat oleh Lui Thian Sianjin.

Cepat ia mengumpulkan tenaga Iweekangnya ke arah paha kanannya yang disambar tongkat sambil membarengi menggunakan kedua tangan menyampok tongkat itu.

Ketika tongkat itu mengenai paha, tongkat itu membal kembali karena paha Tiong Han telah menjadi keras dan kuat seperti karet dan dibantu oleh sampokannya, tongkat itu terpental.

"Bagus, kepandaianmu tidak jelek, sayang watakmu kotor sekali!"

Setelah berkata demikian Pat jiu toanio lalu memutar tongkatnya dengan cepat sekali.

Berkali-kali Tiong Han minta agar supaya nenek itu suka mendengarkan bicaranya akan tetapi semua kata-katanya tidak diperdulikan, bahkan didengarpun tidak oleh nenek yang sudah marah ini.

Pat jiu toanio memang mempunyai watak keras dan aneh dan penjahat penjahat ia tidak mengenal ampun.

Apalagi terhadap penjahat muda yang disangkanya Sim Tiong Kiat ini.

Ia sengaja mencari-cari Tiong Kiat untuk diberi hukuman.

Kemarahannya terhadap Tiong Kiat memuncak ketika ia bertemu dengan Lui Thian Sianjin dan mendengar keluh kesah orang tua ini, lalu mendengar sepak terjang Tiong Kiat yang jahat.

Apalagi akhir-akhir ini ia mendengar betapa pemuda ini telab melakukan kejahatan dengan menggunakan pedang Hui liong-kiam!

Ia merasa bertanggung jawab kalau pedang Hui-liong kiam sampai jatuh ke tangan penjahat.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah merampas pedang Hui liong-kiam dari tangan penjahat Sin-kiam Koai-jin Ang Kun, murid murtad dari Lui-kong-jiu Kong Kin Tosu, Pat jiu Toanio lalu memberikan pedang itu kepada seorang piauwsu yang gagah, yakni Lui Siong Te.

Kemudian Lui-piauwsu ini yang tertolong oleh Tiong Han, lalu memberikan pedang itu kepada Tiong Han yang kemudian memberikannya pula kepada Tiong Kiat sebagai penukar pedang Ang coa kiam.

Pat jiu Toanio ketika mendengar bahwa pedang Hui liong-kiam dipergunakan oleh penjahat, cepat mendatangi Lui piauwsu dan marah sekali.

Kemudian ia mendengar bahwa pedang itu oleh Lui piauwsu diberikan kepada seorang muda she Sim yang gagah perkasa.

Maka nenek ini lalu mengejar ke utara untuk mencari penjahat yang telah memakai pedang itu dan untuk berbuat jahat dan tak disangka-sangka ia bertemu dengan Tiong Han.

Betapapun tinggi kepandaian Tiong Han, menghadapi Pat-jiu Toanio yang kepandaiannya masih mengatasi Lui Thian Sianjin apa lagi bertangan kosong, tentu saja pemuda itu menjadi sibuk sekali.

la hanya dapat menghindarkan diri dari serangan nenek itu selama dua puluh jurus saja dan pada jurut ke dua puluh satu, Pat jiu Toanio berhasil menotok pundaknya dan robohlah Tiong Han tanpa dapat bergerak lagi.

Ia telah kena ditotok jalan darahnya dengan ilmu totok satu jari yang luar biasa dan lemaslah semua tubugnya seperti telah diloloskan semua urat-uratnya.

Pat jiu Toanio tertawa lagi.

la pukul-pukulkan tongkatnya di atas tanah dekat kepala Tiong Han sehingga debu mengebul ke atas.

"Hm, ingin sekali aku menghancurkan kepalamu dengan tongkat ini. Akan tetapi kau harus membuat pengakuan lebih dahulu di depan meja sembahyang, agar dosa-dosamu tidak terlalu berat dan rohmu tidak terlalu tersiksa."

Tanpa menanti jawaban, nenek ini lalu mengempit tubuh pemuda itu dengan tangan kirinya dan berlarilah ia secepat angin menuju ke dalam hutan.

Setelah tiba di sebuah bio (kuil) kecil dan rusak, ia segera masuk dan melemparkan tubuh Tiong Han ke depan meja sembahyang yang telah dibersihkan orang dan telah dipasangi hio dan lilin.

Dengan menepuk pundak dan punggung Tiong Han, Pat jiu Toanio membebaskan pemuda ini.

Tiong Han bangun dengan tubuh lemas.

"Hayo berlutut di depan meja sembahyang!"

Bentak Pat-jiu Toanio dengan suara keras dan bengis. Tiong Han hanya tersenyum lalu bangkit berdiri sambil berkata.

"Pai jiu Toanio, biarpun aku telah kau kalahkan dan berada di dalam kekuasaanmu jangan harap untuk membuat aku menjadi ketakutan dan menurut saja sekehendakmu. Aku Sim Tiong Han tidak takut mati!"

"Bangsat sombong, berlutut kau!"

Kaki dari nenek ini dengan cara cepat dan luar biasa sekali bergerak melakukan tendangan berantai yang tepat mengenai belakang lutut Tiong Han.

Pemuda ini merasa betapa tenaga kakinya lenyap dan terpaksa ia jatuh berlutut di depan meja sembahyang!

"Bangsat muda, jangan kau berani main-main di depan Pat jiu Toanio!

Kau tidak tahu bahwa perbuatan ini kulakukan untuk menolong rohmu yang tersesat!

Kalau aku tidak mengingat bahwa kau adalah murid Kim liong pai, apakah kau kira aku akan sudi melelahkan diri seperti ini?

Kupecahkan saja kepalamu di dalam hutan dan habis perkara!

Hayo sekarang kau mengakui semua perbuatanmu yang jahat, semenjak kau melarikan diri bersama sumoimu dari Liong san sampai sekarang.

Setelah itu kau harus minta ampun di depan meja sembahyang ini kepada Thian sehingga rohmu takkan terlalu disiksa di neraka!

Aku tidak menghendaki kau mati penasaran, lebih baik kau mati dengan penuh kesadaran bahwa kematianmu ini untuk menebus dosa!"

Akan tetapi biarpun tahu bahwa ia takkan terhindar dari kematian di tangan nenek yeng lihai dan galak ini, Tiong Han tetap tersenyum ketika berkata.

"Pat jiu Toanio, apakah kau menghendaki aku mengakui kebohongan di depan meja sembahyang? lngat, kaulah yang berdosa kalau membohong, karena kau yang memaksaku!"

"Apa maksudmu?"

Tanya nenek itu dengan sikap mengancam.

"Aku memang benar murid dari Kim liong pai, akan tetapi aku tidak pernah melakukan dosa-dosa yang kau sebutkan tadi."

"Bangsat, berani benar kau membohong! Pengecut kau, berani berbuat tak berani bertanggung jawab? Manusia seperti engkau ini sudah seharusnya dibikin mampus!"

Setelah berkata demikian, Pat jiu Toanio lalu mengangkat tongkatnya hendak dipukulkan ke arah kepala pemuda itu, adapun Tiong Han yang merasa bahwa melawan tiada gunanya lagi, hanya meramkan kedua matanya.

"Li suthai...."

Tunggu"!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan dari dalam kuil bobrok itu muncullah seorang pendeta wanita yang masih muda dan berwajah cantik.

Pat jiu Toanio menahan tongkatnya dan Tiong Han cepat menengok.

Pemuda ini membelalakkan kedua matanya memandang kepada pendeta wanita yang baru muncul itu.

Hatinya berdebar keras karena pada penglihatan pertama ia mengira bahwa pendeta wanita yang muda dan jelita ini adalah Suma Eng!

Akan tetapi setelah bertemu pandang, tahulah ia bahwa biarpun pendeta wanita ini cantik dan memiliki air muka hampir sama dengan Eng Eng, sesungguhnya bukan gadis gagah itu.

"Li Lan, mengapa kau menahanku membikin mampus penjahat ini?"

Tanya Pat-jiu Toanio dengan pandang mata tajam penuh tanya.

"Apakah bimbinganku selama ini sia-sia belaka dan hatimu masih terisi oleh manusia jahanam ini?"

"Ah, tidak, tidak! Harap jangan salah sangka, Li suthai! Teecu hanya ingin mencegah pembunuhan yang salah alamat. Ketahuilah, pemuda ini sama sekali bukan Sim Tiong Kiat!"

Pendeta wanita ini memang Li Lan, bekas kekasih Tiong Kiat yang disia-siakan dan kemudian dipungut murid oleh Pat jiu Toanio, Kalau lain orang dapat salah lihat dan mengira Tiong Han orang lain, tidak demikian dengan Li Lan.

Wanita ini pernah mencinta Tiong Kiat dengan seluruh jiwa raganya, maka sekali lihat saja ia akan mengenal apakah pemuda itu Tiong Kiat atau bukan.

Tadi ia sedang berlatih diri dan bersamadhi di dalam kamar di kuil itu, akan tetapi ketika mendengar bentakan bentakan Pat-jiu Toanio dan jawaban lemah dari Tiong Han, hatinya tertarik lalu ia melompat keluar.

Sekali pandang saja biarpun tadinya ia tertegun dan terkejut melihat persamaan rupa pemuda ini dengan bekas kekasihnya, ia tahu bahwa pemuda ini bukan Tiong Kiat dan bahwa gurunya telah salah lihat.

Pat-jiu Toanio menjadi terkejut, lalu marah ketika mendengar seruan Li Lan tadi.

"Li Lan, jangan kau mencoba untuk menolong pengecut ini dari kematian. Mataku belum buta dan sekali mau melihat orang, aku takkan melupakannya lagi."

"Sungguh Li suthai, pemuda ini bukan Tiong Kiat!"

Kata Li Lan yang segera menghampiri Tiong Han sambil berkata,"Tiong Kiat pernah bercerita kepadaku bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar, bukankah kau ini orangnya?"

Tiong Han masih saja tersenyum sedih dan biarpun ia tidak tahu siapa adanya gadis yang mukanya seperti Eng Eng ini ia dapat menduga bahwa gadis inipun tentu seorang bekas korban kebiadaban adiknya yang jahat.

"Kauwnio mengapa kau datang menghalangi Pat jiu Toanio yang hendak membunuhku? Biarlah ia membunuhku kalau memang dia percaya bahwa aku adalah orang yang dicari-carinya."

Pat jiu Toanio melompat dengan muka pucat.

"Apa?? Betulkah kau bukan Sim Tiong Kiat yang jahat itu?"

"Pat jiu Toanio, tadi aku pernah menyebut namaku, akan tetapi agaknya kau terlalu marah sehingga tidak memperhatikan. Aku adalah Sim Tiong Han, kakak dari Sim Tiong Kiat yang kau cari-cari itu. Ketahuilah bukan hanya kau yang marah kepada adikku itu, bahkan aku sendiri telah lama mencari-carinya akan tetapi akhirnya bahkan menerima kekalahan dan hinaan daripadanya."

Pemuda ini menarik napas panjang dengan muka muram. Dengan tergopoh-gopoh, Pat-jiu Toanio lalu mengetuk kedua lutut Tiong Han untuk menyembuhkan pemuda itu.

"Aduh, maafkan aku yang sudah tua, anak muda! Jadi kau ini murid Lui Thian Sianjin yang mendapat tugas mencari murid murtad itu? Ada juga Lui Thian bercerita kepadaku, akan tetapi dia tidak mengatakan bahwa kau adalah kakak dari sikhianat itu dan bahwa mukamu sama benar dengan penjahat muda itu."

"Toanio, kami adalah saudara kembar, salahkah aku kalau muka kami bersamaan?"

Pat jiu Toanio menghela napas berkali-kali.

"Jadi kau telah bertemu dengan dia dan dikalahkan? Karena itukah maka kau seperti orang nekad dan rela mati di bawah tongkatku? Apakah kau sudah putus asa?"

"Benar, Toanio. Tidak saja aku kalah, bahkan pedang pusaka Ang-coa kiam yang kubawa terampas pula dan agaknya selama hidupku aku takkan dapat menunaikan tugas yang dipercayakan oleh suhu kepadaku. Karena penjahat yang dikejar-kejar adalah adik kembarku sendiri bukankah hal ini akan menimbulkan anggapan bahwa aku sengaja tidak mau menyerang adikku? Bahwa aku sengaja melindunginya?"

"Hm, jangan gelisah dan kuatir, orang muda. Aku sudah sampai di sini, tunjukkan saja di mana adanya adikmu yang jahanam itu. Aku yang akan menamatkan riwayatnya!"

"Tidak ada gunanya, Toanio. Tetap saja orang akan mengira bahwa aku melindungi adikku sendiri. Pula, penangkapan atas diri Tiong Kiat harus kulakukan sendiri, tidak boleh orang Iain. Betapapun juga, dia adalah adik kandungku, dan aku tidak rela melihat dia binasa di tangan orang lain."

Pat-jiu Toanio menggeleng-geleng kepalanya.

"Kau orang muda yang aneh tapi jujur dan berbudi mulia. Sim Tiong Han, kalau kau ingin mengalahkan adikmu mengapa kau tidak minta belajar silat dari aku?"

Tiong Han tertegun. Tak disangkanya bahwa nenek yang galak ini akan mau memberi pelajaran ilmu kepandaian kepadanya. Tentu saja ia menjadi girang dan cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Kalau suthai sudi menolong teecu, tentu saja teecu akan merasa girang dan bersukur sekali."

Terdengar suara ketawa yang merdu dari nenek ini.

"Anak lucu! Kalau gurumu melihat, tentu kau akan ditegur mengapa tidak dari tadi tadi minta belajar ilmu silat dari padaku. Dulu ketika aku masih seringkali mengadakan pertemuan dan mengobrol dengan gurumu tentang ilmu silat pernah kami mencoba kelihaian Ang coa kiamsut yang menjadi kepandaian pusaka dari Kim-liong pai. Pada waktu itu kira-kira dua puluh tahun yang lalu memang aku tidak dapat memecahkan bagian-bagian terakhir dari Ang coa-kiamsut yang lihai. Pada waktu itu, selain Hek-sin-mo orang aneh itu dan Lui-kong jin Keng Kin tosu tokoh dari Hongsan, tak seorangpun dapat mengalahkan atau memecahkan Ang-coa-kiamsut. Akan tetapi, selama ini aku mencari-cari dan akhirnya aku dapat menciptakan ilmu silat tangan kosong yang terdiri hanya dari dua belas jurus yang kunamai Kong jiu cap ji kun [Silat Tangan Kosong Dua Belas Macam). Biarpun hanya dua belas jurus, akan tetapi kalau kau dapat mempelajarinya dengan baik kurasa dengan tangan kosong kau akan sanggup menghadapi pedang di tangan adikmu itu!"

Tiong Han merasa girang sekali dan mulai saat itu juga ia mempelajari ilmu silat itu di kuil bobrok.

Ternyata bahwa dua belas jurus pukulan itu ternyata mempunyai perkembangan yang Iuas sekali dan Tiong Han harus akui kehebatan ilmu silat ini.

Selain ilmu silat ini, iapun menerima petunjuk-petunjuk tentang ginkang dari nenek itu sehingga ilmu meringankan tubuh dari Tiong Han makin maju saja.

Selama lima hari, terus menerus ia berlatih diri dan karena ia memang berbakat, dan telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, dalam waktu Iima hari saja ia telah dapat mainkan Kong jiu cap ji-kun dengan amat baiknya.

Pada senja hari kelima, Pat jiu Toanio Li Bie Hong sengaja minta pemuda itu memperlihatkan ilmu silat yang baru dipelajarinya itu, ditonton pula oleh Li Lan yang sementara itu telah kenal baik dengan Tiong Han.

Pendeta wanita ini amat suka kepada Tiong Han yang halus dan sopan santun dan diam-diam ia mengakui betapa jauh perbedaan antara Tiong Han dan Tiong Kiat.

Tiong Han memenuhi permintaan gurunya yang baru dan ia berniat dengan bersungguh-sungguh, mengeluarkan segala gerak tipu dari dua belas jurus ilmu silat itu.

"Bagus, bagus, suci Bie Hong! Kong-jiu cap ji-kun yang kauciptakan ini benar-benar hebat dan kau mempunyai ahli waris yang benar benar cocok dan pantas mewarisi ilmu silat ini!"

Ucapan ini dikeluarkan dan terdengar jelas, akan tetapi orangnya tidak kelihatan dan baru setelah gema suaranya lenyap, berkelebatlah bayangan hitam dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang kate yang bermuka aneh dan berpakaian hitam seluruhnya!

IniIah Lui kong jiu Keng Kin Tosu, tokoh di Heng san yang berkepandaian tinggi sehingga mendapat julukan Lui kong jiu atau Si Tangan Geledek!

Usia orang ini sudah tua, akan tetapi wajahnya nampak berseri, tanda bahwa ia adalah seorang yang berwatak gembira.

Semenjak dahulu ia memang menganggap Pat jiu Toanio sebagal saudara tua, bahkan ia selalu memanggil "enci"

Kepada nenek itu.

"Aha, Keng Kin Tosu, baru sekarang kau muncul! Kukira kau akan bersembunyi di dalam gua menanti kematianmu setelah kau kecewa karena salah menerima murid."

Kata Pat-jiu Toanio yang kemudian berkata kepada Tiong Han dan Li Lan.

"Berilah hormat kepada susiok kalian. Dia ini jelek-jelek adalah Lui-kong Jiu Keng Kin Tosu, orang nomor satu dari Heng san yang mempunyai kepandaian jauh lebih tinggi dari pada aku sendiri!"

Li Lan tentu saja belum pernah mendengar nama ini, dan ia memberi hormat karena gurunya yang memperkenalkan.

Akan tetapi Tiong Han sudah seringkali mendengar suhunya di Liong-san menyebut-nyebut dan memuji setinggi langit nama Keng Kin Tosu ini, maka dengan girang ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tosu kate itu.

Keng Kin Tosu mengangguk-angguk.

Dengan tangan kiri ia menjambret baju pada pundak Li Lan dan sekali ia menarik, pendeta wanita muda ini tak terasa lagi terangkat bangun karena ada tenaga raksasa terasa olehnya menarik tubuhnya ke atas.

Dengan tangan kanannya, tosu itu melakukan haI yang sama kepada Tiong Han, akan tetapi pemuda ini yang maklum bahwa susiok yang aneh ini sedang mengujinya, lalu mengerahkan tenaganya, maka segera terdengar suara kain robek.

Ternyata bahwa bajunya bagian pundak itu yang tidak dapat bertahan dan menjadi robek terbawa oleh jepitan dua jari kakek itu.

Keng Kin Tosu tersenyum dan kini ia tidak menggunakan jari tangan menjepit baju melainkan menggunakan semua jari jari tangan kanannya untuk memegang pundak Tiong Han dan ditariknya pemuda itu bangun.

Kembali Tlong Han terkejut.

Kalau tadi ia merasa tenaga raksasa menarik bajunya, sekarang ia merasa betapa tangan susioknya itu dingin seperti salju yang menempel dan menyedot pundaknya sehingga ia merasa pundaknya membeku!

Cepat-cepat ia mengerahkan sinkangnya yang disalurkan ke arah pundak kanannya dan ketika ia merasa betapa tangan susioknya itu merupakan jepitan yang mencengkeram pundaknya dan menariknya ke atas dengan tenaga yang tak terkira besarnya, ia cepat mempergunakan tenaga Thi su-cui (Tenaga Gunung Baja) untuk memberatkan tubuh sehingga kedua kakinya seakan-akan berakar pada tanah!

Ketika tosu itu nampaknya tertegun dan menahan kembali tenaganya mengangkat, Tiong Han cepat mengalirkan Iweekangnya sehingga pundaknya yang masih tersentuh oleh jari tangan Keng Kin Tosu itu tiba-tiba menjadi lemas seperti kapas!

"Ha, ha, ha, bagus, bagus!"

Kata Keng Kin Tosu dan tiba-tiba sekali dua buah jari tangannya menekan, disusul pula oleh jari tangan kiri yang kini memegang pundak pemuda itu.

"Bangunlah, anak muda yang gagah!"

Bentaknya.

Tiong Han terkejut sekali karena betapapun ia mengerahkan lweekang, tetap saja jari-jari tangan kakek itu dapat menembus pertahanannya, dan sedlkit pencetan saja pada jalan darah di pundaknya, seketika itu juga buyarlah semua tenaganya dan dengan mudah tubuhnya terangkat ke atas!

Namun karena Tiong Han memang sudah berjaga-jaga dan terlatih baik, tubuhnya yang terangkat itu masih tetap berada dalam keadaan berlutut!

Lagi-lagi Keng Kin Tosu memuji.

"Bagus sekali, sekarang awaslah tubuhmu akan terbanting!"

Sambil berkata demikian, orang tua ini menggerakkan kedua tangannya dan tubuh Tiong Han mencelat ke atas sampai dua tombak lebih!

Tiong Han terkejut sekali dan cepat ia mengerahkan ginkangnya, menggerakkan pinggang, dibantu oleh kaki tangannya, sehingga tubuhnya yang tadinya terlempar ke atas dengan kepala di bawah dan kaki di atas, kini dapat berjungkir balik dan ketika ia turun ke bawah, kedua kakinya seakan-akan tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga!

"Ha, ha, ha, enci Bie Hong!

Ternyata kau pun telah memberikan ilmu Teng-peng touw itu kepada pemuda ini.

Muridmu benar-benar hebat, enci!"

"Keng Kin, sayangnya dia bukan muridku yang betul."

Kata Pat-jiu Toanio sambil menghela napas.

"aku hanya menyerobotnya saja dan memberi tambahan ilmu silat karena merasa kasihan kepadanya. Dia ini sebetulnya adalah murid pertama dari Lui Thian Sianjin, si tua bangka dari Liong-san itu."

Sepasang alis yang masih hitam dari Keng Kin Tosu Si Tangan Geledek itu terangkat naik.

"Aku mendengar tentang murid Lui Thian yang tersesat dan murtad, seperti halnya muridku si Ang Kun! Bukan yang inikah?"

"Bukan, bukan, Keng Kin. Bukan yang ini melainkan adiknya. Kalau dia ini murid murtad yang kau maksudkan itu tentu dia sudah binasa di tanganku seperti yang terjadi dengan muridmu itu, Keng Kin!"

Tosu itu tersenyum pahit.

"Memang tanganmu keras sekali terhadap orang-orang muda yang sesat, enci Bie Hong. Akan tetapi memang baik sekali. Siapakah pemuda ini dan bagaimana bisa kejatuhan bintang, menerima warisan ilmu darimu?"

Dengan singkat Pat jiu Toanio Li Bie Hong lalu menceritakan riwayat Tiong Han dan tentang kegagalannya menangkap Tiong Kiat adiknya yang murtad itu.

Mendengar penuturan ini Keng Kin Tosu tergerak hatinya.

"Kasihan Lui Thian Sianjin, mengalami nasib yang lebih buruk dari padaku. Muridnya tidak saja jahat, bahkan mencemarkan nama baik Kim liong-pai yang telah diangkat tinggi oleb locianpwe Bu Beng Siansu. Lebih kasihan lagi pemuda ini yang harus menjadi algojo dari adik kembarnya sendiri. Memang begitulah kehidupan di atas dunia, anak muda isinya hanya penderitaan belaka. Akan tetapi kalau kau kuat imanmu, segala macam cobaan dan penderitaan itu sesungguhnya ada manfaatnya. Aku kasihan kepadamu dan merasa sudah menjadi kewajibanku untuk membantumu mengalahkan adikmu yang jahat itu. Agaknya akupun mempunyai beberapa macam kepandaian yang masih dapat menambah pengertianmu."

Tiong Han menjadi girang sekali dan cepat cepat ia menjatuhkan dirinya berlutut lagi di depan tosu kate yang aneh ini.

"Banyak terima kasih teecu ucapkan atas kemuliaan buat suhu. Tentu saja teecu akan menerima petunjuk-petunjuk suhu dengan segala perhatian dan rasa sukur."

Demikianlah, kembali dengan tekunnya Tiong Han menerima latihan-latihan beberapa macam ilmu silat dari Keng Kin Tosu, dan seperti juga Pat jiu Toanio, Keng Kin Tosu memberi pelajaran dari ilmu silatnya yang paling tinggi.

Pemuda itu menerima dua macam ilmu, yakni ilmu pukulan tangan kosong yang di sebut Pek Iui kong cianghwat (Ilmu Silat Sinar Geledek Putih) dan ilmu pedang yang disebut Kim kong.kiamsut (Ilmu Pedang Sinar Emas).

Juga dua macam ilmu silat ini dapat dimainkan dengan baik sekali oleh Tiong Han setelah melatih diri selama tiga pekan saja!

Keng Kin Tosu menjadi amat girang dan setelah melihat pemuda itu menamatkan pelajarannya, ia segera memanggil Tiong Han dan di depan Pat jiu Toanio, ia berkata.

"Enci Bie Hong, ternyata murid kita ini tidak mengecewakan. Sebetulnya kedatanganku ini membawa berita yang amat penting, yang merupakan panggilan bagi kita untuk turun tangan. Akan tetapi setelah melihat murid kita ini, aku mendapat pikiran baik sekali. Sudah sepatutnya kalau dia yang mewakili kita untuk tugas penting ini."

"Keng Kin. jangan bicara seperti orang rahasia. Omonganmu seperti teka teki saja. Hayo jelaskan, apakah itu yang kau maksudkan dengan tugas penting?"

Pat jiu Toanio mendesak dengan tak sabar lagi.

"Aku mendengar berita dari seorang perwira bahwa kini terdapat panglima dengan barisannya yang amat besar jumlahnya sedang merencanakan pemberontakan! Hal ini berbahaya sekali karena pemberontak-pemberontak itu kabarnya bersekutu dengan orang-orang Mongol di utara. Jendral Gak yang gagah perkasa itu kini memimpin pasukannya untuk menggempur dan mencegah pemberontak-pemberontak itu melakukan rencana mereka yang busuk. Oleh karena itu, kita harus membantunya dan sekarang tidak ada jalan yang lebih tepat selain menyuruh Tiong Han mewakili kita."

Pat jiu Toanio mengerutkan keningnya.

"Sungguh menjemukan sekali penghianat itu. Siapakah gerangan panglima pemberontak itu? Bagaimana dia bisa bersekutu dengan bangsa asing untuk mencelakai negara sendiri? Sungguh tak tahu malu!"

"Aku tidak mendengar siapa namanya, hanya menurut berita, ada orang-orang Pek Iian kauw yang ikut menyokong gerakan itu."

"Apa! Jahanam Pek-lian kauw berani mengacau lagi! Ah, kalau begitu Tiong Han harus pergi. Mereka harus dibasmi!"

Kata-kata Pat jiu Toanio ini amat bersemangat sehingga diam diam Tiong Han menjadi kagum melihat betapa dua orang tua ini masih demikian gagah dan bersemangat membela negara.

"Tentu saja teecu bersedia untuk pergi melakukan tugas yang diperintahkan oleh jiwi suhu."

Kata Tiong Han.

"Memang seharusnya begitu, Tiong Han, jadi tidak percuma aku dan enci Bie Hong mewariskan kepandaian kami kepadamu. Soal adikmu itu biarlah ditunda dulu saja. Pertama karena adikmu adalah seorang perwira dan pada masa ini kita amat membutuhkan tenaga perwira-perwira pembela negara. Kedua, tugasmu pergi membantu Jenderal Gak ini jauh lebih penting daripada urusan pribadi. Setelah tugas ini selesai, barulah kau selesaikan urusan dengan adikmu yang jahat itu."

Tiong Han tidak berani membantah dan ia lalu mendengarkan perintah suhu kate yang lihai ini.

la diharuskan menyusul barisan Jenderal Gak dan menawarkan bantuannya untuk menghancurkan barisan pemberontak dan menyampaikan pesan bahwa Lui kong jiu Keng Kin Tosu dan Pat jiu Toanio Li Bie Hong selalu memperhatikan perjuangan menghancurkan pemberontak ini dan siap untuk turun tangan sendiri apabila perlu!

Setelah menerima banyak nasihat, berangkatlah Tiong Han mencari Jenderal Gak dan barisannya.

Mudah saja untuk mencari barisan jenderal Gak yang amat terkenal ini, dan beberapa hari kemudian ia disambut oleh jenderal Gak sendiri yang berkedudukan di lembkah Sungai Sungari.

"Kebetulan sekali, saudara Sim, memang kami membutuhkan tenaga bantuan orang-orang gagah seperti kau ini. Aku girang sekali bahwa yang menyuruh kau datang membantu adalah Lui-kong jiu Keng Kin Tosu dan Pat-jiu Toanio yang sudah kukenal baik. Bahkan akupun mengenal baik suhumu Lui Thian Sianjin. pihak musuh mempunyai banyak sekali pembantu yang pandai dan kedudukan mereka amat kuat. Susahnya, dalam waktu kacau ini, ada saja yang menjadi gangguan. Orang orang jahat pada muncul dan memancing ikan di air keruh. seperti halnya gerombolan Sorban Merah yang bersembunyi di dalam hutan sebelah barat itu. Benar-benar menjemukan! Mereka itu memang benar melakukan penyerbuan secara diam-diam terhadap fihak pemberontak, akan tetapi aku paling tidak suka dengan bantuan pasukan liar itu. Tanpa dipimpin, mereka itu bukan merupakan bantuan, bahkan mengacaukan rencanaku."

Tiong Han mendengarkan dengan sabar jenderal tua yang pandai bicara ini. Atau tetapi mendengar disebutnya Sorban Merah ia menjadi tertarik sekali.

"Siapakah yang menjadi kepala Sorban Merah ini, goanswe?"

"Siapa tahu? Gerombolan liar ini macam itu siapa yang perduli? Akan tetapi mereka itu benar-benar mengacaukan rencanaku. Sebetulnya aku memang sengaja memancing pasukan pemberontak agar terus bergerak ke selatan tanpa diganggu. Kalau mereka sudah menyeberangi Sungai Sungari barulah aku akan memotong jalan pulang mereka sehingga dengan leluasa kita boleh membasminya. Siapa tahu Sorban Merah gerombolan liar itu merusak rencana, melakukan serbuan-serbuan sendiri yang tidak berarti sehingga menimbulkau kecurigaan barisan pemberontak yang hendak bergerak ke selatan!"

"Mengapa tidak membubarkan mereka saja?""

Tanya Tiong Han.

"Itulah sukarnya. Biarpun jumlah mereka tidak banyak namun ternyata rata-rata mereka memiliki ilmu golok yang lihai dan kalau digunakan kekerasan, amat tidak baik. Mereka bukan musuh dan kalau sampai terjadi pertempuran berarti kita mencari musuh baru. Ini tidak bijaksana sekali."

"Goanswe, maafkan kalau aku lancang. Akan tetapi, aku bersedia untuk menemui kepala mereka dan membujuknya agar supaya tidak bertindak menurut kehendak sendiri."

Gak goanswe memandang tajam.

"Kau sanggup?"

Tiong Han tersenyum.

"Tentu saja, goanswe. Malahan, kalau tidak salah aku tahu siapa orang yang menjadi pemimpin mereka. Biarlah aku berangkat besok pagi-pagi dan dalam sehari saja aku akan sanggup membuat laporan yang memuaskan. Kedua orang guruku tidak percuma mengirim aku ke sini, Goanswe."

Jenderal itu tidak tersenyum, akan tetapi wajahnya yang nampak keren dan galak itu berseri.

"Baiklah, besok pagi kau pergi dan sekarang mengasolah!"

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tiong Han sudah masuk ke dalam hutan sebelah barat perbentengan bala tentara jenderal Gak.

Benar saja seperti keterangan yang ia dengar sebelumnya, hutan itu amat luas dan liar di sana sini nampak gunung-gunung kecil yang menjadi benteng di pinggir Sungai Sungari yang lebar.

Beberapa kali Tiong Han melihat bayangan orang berkelebat di balik pohon yang besar-besar, akan tetapi ditunggu-tunggu tak seorangpun nampak muncul.

Tiong Han tersenyum dan melanjutkan perjalanan, masuk makin dalam di hutan itu, bayangan-bayangan orang makin banyak, akan tetapi tetap saja tidak ada orang muncul.

Matanya yang tajam dapat melihat betapa bayangan-bayangan itu benar-benar mengenakan Sorban Merah yakni ikat kepala terbuat daripada kain merah, dan pada pinggang mereka tergantung golok.

Biarpun bayangan-bayangan itu berkelebat cepat dan ia hanya melihat sekejap mata saja namun ia telah dapat melihat dengan jelas.

Hatinya makin berdebar.

Tak salah lagi, melihat pakaian dan ikat kepala mereka orang-orang ini adalah anak buah dari sumoinya!

Bagaimanakah mereka yang dulu tinggal di Heng-yang ini bisa sampai di tempat ini?

Dan bukankah sumoinya yakni Can Kui Hwa, dan suaminya, Siok Un Leng telah pindah ke kota raja?

Karena orang-orang itu main bersembunyi saja, dan ditunggu-tunggu tak juga ada yang muncul akhirnya Tiong Han menjadi hilang sabar.

"Perkumpulan Sorban Merah yang pernah kukenal biasanya terdiri dari orang-orang gagah. Akan tetapi yang sekarang berada di hutan ini mengapa begini pengecut tidak berani bertemu dengan orang? Apakah yang sekarang ini Sorban Merah palsu?"

Baru saja ia menutup mulutnya, dari depan, belakang, kanan dan kiri bersiutan bunyi anak panah yang menyambarnya dari balik pohon-pohon.

Tiong Han menggeser kakinya sehingga keadaan tubuhnya berubah.

Dengan gerakan ini ia dapat mengelakkan diri dari sambaran panah dari belakang dan depan.

Adapun dua batang anak panah dari kanan kiri, dengan cara yang amat mengagumkan dapat ditangkapnya dengan kedua tangan!

Tiong Han mempergunakan tenaga jari-jari tangannya mematahkan dua batang anak panah itu yang lalu dilemparkannya ke atas tanah kemudian ia berseru Iagi.

"Aku datang untuk bertemu dengan pemimpin Sorban Merah, bukan untuk mencari permusuhan! Beginikah caranya Sorban Merah menyambut datangnya tamu? Hayo keluarlah pemimpin Sorban Merah ataukah kalian menghendaki aku turun tangan?"

Ucapan ini sekaligus merupakan sesalan, bujukan, dan juga ancaman.

Tiba-tiba terdengar seruan keras dan sesosok bayangan hitam melompat keluar dari balik sebatang pohon besar.

Setelah bayangan ini berada di depan Tiong Han, pemuda itu meIihat bahwa di depannya telah berdiri seorang laki-laki setengah tua yang berwajah galak dan gagah sekali.

Orang ini berpakaian ringkas berwarna hitam dengan sorban warna merah darah dan golok besarnya tergantung di pinggang.

"Pemuda liar dari manakah berani sekali memasuki wilayah kami dan mengeluarkan omongan besar?"

Bentak orang bersorban merah ini. Tiong Han tersenyum dan cepat memberi hormat sambil menjura.

"Sahabat, aku adalah seorang utusan dari benteng Gak goanswe. Aku datang untuk bertemu dengan pemimpin dari Sorban Merah."

Orang itu memandang dengan mata curiga dan mulutnya menyeringai dengan mengejek. Ternyata ia tidak mau percaya akan keterangan Tiong Han.

"Kau? Utusan dari Jenderal Gak? Siapa mau percaya obrolanmu ini? Pakaianmu bukan seperti seorang perwira atau perajurit. Jangan kau mencoba membohongi aku!"

Kemudian dengan sikap mengancam ia memandang tajam dan berkata.

"Lebih baik kau mengaku bahwa kau adalah seorang mata-mata dari barisan pemberontak!"

"Kau benar-benar galak, sahabat. Sebaliknya, kau ini siapakah? Apakah kau juga seorang anggaota Sorban Merah?"

Tanya Tiong Han sambil memandang ke arah sorban yang berwarna merah darah itu. Sepasang mata yang lebar dari orang itu terputar merah.

"Anggauta biasa? Dengar, pemuda bermata buta, aku adalah pemimpin pasukan Sorban Merah yang pada saat ini telah mengurungmu! Aku adalah Louw Tek si Kerbau Besi, orang yang telah menewaskan banyak sekali anggaota pemberontak. Hayo lekas berlutut kurantai dan kubawa menghadap kepada ketua kami!"

Tiba-tiba Tiong Han tertawa geli.

"Kukira pemimpin seluruh kesatuan Sorban Merah tidak tahunya hanya pemimpin pasukan kecil saja. Eh, Low twako, aku bukan seorang taklukan. Aku adalah utusan dari Jenderal Gak. Hayo jangan kau main-main dan lekas antarkan aku kepada ketuamu."

"Orang yang tidak mempunyai kepandaian tidak boleh dipercaya menjadi utusan Jenderal Gak dan sama sekali tidak patut menghadap ketua kami sebagai tamu. Kalau kau dapat menahan kedua kepalan tanganku, baru kau boleh menghadap sebagai tamu ketua kami."

Sambil berkata demikian, Louw Tek memperlihatkan sepasang tinjunya yang besar dan kuat. Tiong Han tersenyum.

"Begitukah? Baiklah kau boleh mempergunakan kepalanmu yang seperti tahu lunaknya itu untuk memukulku sampai dua kali pukulan, akan tetapi kaupun harus dapat mempertahankan diri dari pukulan balasanku."

"Boleh!"

Si Kerbau Besi menantang.

"Siapa yang roboh, dia kalah!"

Memang Louw Tek ini selain kasar dan jujur, juga mempunyai kesukaan berkelahi dengan siapa saja yang ditemuinya, dan sebelum dikalahkan, ia tidak akan dapat merobah sikapnya yang memandang ringan.

Tiong Han berdiri tegak dan mengangkat dada.

"Pukullah sesuka hatimu!"

Sebelum memukul, Louw Tek memandang ke sekeliling lalu berkata dengan suara keras,"Kawan-kawan perhatikan baik-baik, kalian menjadi saksi.

Kalau orang ini bermain curang, tentu dia mata-mata pemberontak dan lekas hujani anak panah!"

Kemudian ia menghadapi Tiong Han, memasang kuda-kuda dan berseru keras,"Awas pukulan!"

Kedua lengannya bergerak cepat dan "buk! Buk!!"

Dua kali kepalan tangannya bergantian jatuh di dada Tiong Han.

Akan tetapi pemuda ini hanya tersenyum saja, sama sekali tidak mengejapkan mata menerima pukulan-pukulan itu.

Tentu saja Si Kerbau Besi menjadi heran sekali.

"Sudah kaupukulkah? Ah, aku tidak merasa sama sekali."

"Pemuda sombong, coba kurasakan pukulan tanganmu yang seperti bubur itu!"

Kata Louw Tek dengan muka merah dan ia memperteguh kuda-kudanya, melambungkan perut dan dadanya sambil menahan napas! Tiong Han menjadi geli sekali.

"Kau benar-benar seperti kerbau, bukan kerbau besi, melainkan kerbau tanah lempung! Awas, rebahlah!"

Sambil berkata demikian, Tiong Han mendorong dada orang itu dengan kedua tangannya sambil mengerahkan sedikit tenaga dalamnya.

Louw Tek mempertahankan diri, akan tetapi sia-sia saja.

Ia merasa seakan-akan diseruduk seekor gajah dan tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terpelanting ke belakang seperti sehelai daun kering tertiup angin!

Terdengar seruan marah dan dari balik pepohonan berlompatan keluar orang-orang bersorban merah yang jumlahnya tiga puluh orang lebih.

Mereka ini mengurung Tiong Han dengan sikap mengancam, bahkan ada beberapa orang telah menghunus golok.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Mundur semua!"

Hebat sekali pengaruh bentakan ini, karena bagaikan disengat ular berbisa, orang-orang itu melompat ke belakang dengan terkejut, lalu berdiri dengan tegak dan sikap menghormat.

Bahkan Louw Tek yang masih meringis-ringis kesakitan sambil mengurut pantatnya yang menimpa batu ketika terjatuh tadi, kini sudah berdiri tegak dengan sikap hormat.

Tiong Han menengok dan alangkah girangnya ketika ia melihat Kui Hwa dan Un Leng berlari mendatangi sambil tertawa-tawa.

Di belakang mereka berlari pula sepasukan Sorban Merah yang diantaranya banyak sudah mengenal Tiong Han.

"Suheng"!"

Kui Hwa girang sekali dan berlari-lari menghampiri kakak seperguruannya. Juga Un Leng menghampiri Tiong Han sambi1 tersenyum girang.

"Sumoi! Saudara Un Leng! Sudah kuduga akan melihat kalian di sini."

Kata Tiong Han dengan girang sambil memegang tangan Kui Hwa dan Un Leng.

Louw Tek dan kawan-kawannya berdiri bengong dan menjadi pucat, akan tetapi Tiong Han yang melirik ke arah mereka berkata kepada suami istri pemimpin pasukan Sorban Merah itu.

"Sumoi, anak buahmu benar-benar teliti sekali. Tidak mudah bagiku untuk meyakinkan mereka bahwa aku tidak bermaksud buruk. Benar-benar kau mempunyai pasukan yang berdisiplin, sumoi."

Bukan main girang dan bersukurnya hati Louw Tek dan anak buahnya mendengar ucapan Tiong Han ini.

"Pangcu (ketua), enghiong (orang gagah) ini adalah utusan dari Jenderal Gak!"

Kata Louw Tek kepada Kui Hwa.

"Akan tetapi sebelum mempercayainya dengan membuta, saya telah mencobanya dulu, tidak tahu bahwa dia adalah suheng dari pangcu. Mohon maaf."

"Tidak apa, tidak apa. Lekas atur penjagaan dan biarkan kami bertiga bercakap-cakap di sini."

Setelah semua orang pergi, Kui Hwa lalu menuturkan kepada Tiong Han bahwa dia dan suaminya, Un Leng, telah pindah ke kota raja.

Akan tetapi, ketika mereka mendengar bahwa ada barisan penjaga tapal batas utara memberontak, ia lalu bersama suaminya mengumpulkan semua bekas anggauta Sorban Merah dan membentuk pasukan untuk melakukan perang gerilya dan mengganggu barisan pemberontak itu.

"Dengan jalan ini aku hendak menebus semua kesalahan-kesalahanku yang dahulu twa-suheng."

Kata Kui Hwa.

"Bukan itu saja, memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai putera ibu pertiwi untuk mengabdi dan membela tanah air, mengusir pengacau-pengacau yang hendak merusak keamanan negara dan bangsa."

Kata Un Leng. Tiong Han menjadi terharu sekali.

"Kalian memang orang-orang yang baik dan pantas sekali menjadi suami istri. Akan tetapi, sumoi, mengapa kau dan suamimu tidak mau menggabungkan pasukanmu dengan pasukan pemerintah di bawah pimpinan Jenderal Gak? Bukankah dengan persatuan, maka kekuatan akan menjadi lebih besar?"

"Siapa yang dapat mempercayai barisan pemerintah, suheng? Barisan pemberontak yang bergerak dari utarapun tadinya barisan pemerintah. Sesungguhnya, pada waktu sekarang ini sukar sekali untuk membedakan mana pemberontak dan mana pengawal negara yang setia!"

Tiong Han menghela napas, kemudian berkata,"Kata-katamu memang merupakan kenyataan yang amat pahit, sumoi.

Akan tetapi, percayalah kepadaku bahwa Jendral Gak benar-benar adalah seorang panglima yang berjiwa besar dan setia kepada negara.

Kalau tidak, masa kedua orang guruku menyuruh aku datang kepadanya?"

Setelah Tiong Han menuturkan riwayatnya secara singkat, Kui Hwa dan suaminya tidak membantah lagi dan berbondong-bondonglah anggauta Sorban Merah yang jumlahnya lima puluh orang lebih itu berbaris mengikuti Tiong Han, Kui Hwa, dan Un Leng menuju ke benteng tentara pemerintah.

Tentu saja Jenderal Gak menjadi tertegun melihat betapa pemuda itu benar telah kembali pada senja harinya sambil membawa serta semua anggauta Sorban Merah.

Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa pemimpin pasukan gerilya ini bukan lain adalah sumoi sendiri dari Tiong Han, ia tertawa bergelak.

"Memang murid-murid dari Lui Thian Sianjin di Kim liong-pai ternyata gagah perkasa dan berjiwa patriot sejati. Hanya sayangnya aku mendengar bahwa ada juga murid dari orang tua itu yang murtad dan sesat."

"Murid itu adalah adik kembarku, Goanswe!"

Kata Tiong Han. Jenderal Gak memandang tajam sekali dengan pandang mata penuh selidik, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata.

"Sesungguhnya aku sudah tahu akan hal itu, saudara Sim yang baik. Jawabmu yang singkat tadi, yang menyatakan pengakuanmu, sekarang melenyapkan keraguan hatiku. Tadinya aku curiga dan sangsi sebagaimana yang harus kulakukan sebagai seorang petugas yang berhati-hati. Aku curiga kepadamu, karena siapa tahu kalau-kalau kau tidak memihak kepada adik kandungmu sendiri? Nah sekarang kujelaskan bahwa adikmu yang jahat itu sekarang bahkan menjadi tangan kanan dari pemimpin pemberontak."

Hal ini sama sekali tidak pernah diduga-duga oleh Tiong Han, maka mendengar keterangan ini hampir saja ia melompat.

"Apa? Dan belum lama ini aku bertemu dengan dia dibenteng panglima Oei!"

"Justru Oei ciangkun atau Oei Sun itulah pemberontaknya! Dia adalah bekas pemimpin Pek-lian kauw, sekarang mengadakan pemberontakan dengan bantuan Go bi Ngo-koai tung yang sesungguhnya dahulu adalah tokoh-tokoh Pek lian-kauw yang dikejar-kejar oleh pemerintah. Dan celakanya, sekarang adikmu sendiri, Ang coa kiam yang namanya terkenal itu menjadi pembantunya pula."

Ketika Tiong Han mengerling ke arah Kui Hwa, ia melihat adik seperguruannya ini hanya duduk mendengarkan sambil menundukkan mukanya.

Jenderal Gak yang banyak pengalaman dalam hal peperangan dan memiliki siasat yang lihai, sengaja melakukan gerakan memancing yang disebut "memancing serigala memasuki perangkap".

Ia hanya melakukan perlawanan kecil-kecilan saja terhadap barisan Oei Sun, dan pasukan-pasukan kecil inipun dipimpin oleh perwira-perwira rendahan, pertempuran dilakukan sambil mundur sehingga Oei Sun makin besar hati dan mengejar terus ke selatan.

Bahkan dengan sengaja Jenderal Gak lalu membuat pertahanan yang amat lemah di sebelah utara Sungai Sungari hanya terdiri dari seribu orang tentara.

Di tempat itu, Jenderal Gak menyuruh orang-orangnya membuat perahu sebanyak-banyaknya untuk memancing Oei Sun.

Ternyata pancingannya ini berhasil dan Oei Sun yang mendengar tentang pembuatan perahu ini, diam-diam merasa girang sekali.

"Jenderal Gak ternyata seorang yang bodoh."

Katanya sambil tertawa.

"kita ingin menyeberang dan sekarang dia yang membuatkan perahu. Ha, ha, ha!"

Juga Go bi Ngo koai tung tidak mempunyai dugaan buruk.

"Biarkan mereka membuat perahu sampai banyak dan cukup, baru kita datang merampasnya."

Kata Thian It Tosu.

Tentu saja percakapan mereka ini terjadi di luar tahunya Tiong Kiat yang masih belum sadar bahwa ia telah salah memilih tempat.

Pemuda ini kurang memperhatikan keadaan kawan-kawannya, bahkan ia tidak memperdulikannya lagi.

Yang penting baginya ialah bermain dengan Ang Hwa, memburu binatang bersenda gurau atau bermain pedang!

Kurang lebih tiga pekan kemudian, ketika perahu-perahu yang dibuat oleh orang-orang jenderal Gak sudah banyak, menyerbulah barisan yang dipimpin oleh Oei Sun sendiri.

Karena barisan ini jauh lebih besar jumlahnya, juga karena barisan jenderal Gak sudah dipesan lebih dulu agar jangan banyak melakukan perlawanan dan mengundurkan diri melalui darat di sepanjang lembah Sungai Sungari sambil meninggalkan semua perahu, maka pertempuran tidak berjalan lama dan semua perahu telah dapat terampas oleh Oei Sun!

Korban yang jatuh tidak banyak, karena memang pasukan-pasukan pembuat perahu itu tidak melakukan perlawanan gigih.

Demikianlah, dengan girang sekali pasukan-pasukan Oei Sun lalu mempergunakan perahu-perahu itu untuk menyeberangi sungai dan mendaratlah mereka semua di pantai selatan dengan selamat.

Dengan semangat penuh dan harapan besar Oei Sun lalu menggerakkan barisannya maju ke selatan!

Sama sekali Oei Sun tidak menduga tidak lama setelah barisannya menyeberangi Sungai Sungari, nampak pasukan-pasukan lain yang besar jumlahnya berkumpul dan membuat pertahanan di tepi sungai sebelah selatan.

Inilah barisan-barisan yang sengaja disediakan oleh Jenderal Gak untuk menghadang jalan pulang dari barisan pemberontak itu apabila kelak dipukul mundur!

Tiga hari kemudian, barulah barisan pemberontak yang jumlahnya telah meliputi sepuluh ribu orang itu menghadapi perlawanan hebat dari Jenderal Gak!

Nampak puluhan ribu tentara kerajaan berbaris menghadang perjalanan di sebelah selatan.

Bendera kerajaan berkibar-kibar dan bendera besar yang bertuliskan huruf "Gak", amat megahnya berkibar di mana-mana, tanda bahwa barisan-barisan itu berada di bawah pimpinan Jenderal Gak.

Melihat besarnya barisan musuh Oei Sun lalu membuat aba-aba berhenti dan pasukannya lalu diatur membuat pertahanan yang kuat.

Akan tetapi tiba-tiba datang beberapa orang perajurit penyelidik yang dengan wajah pucat membuat laporan bahwa terdapat banyak sekali tentara musuh di belakang, di kanan dan di kiri.

Pendeknya, secara tidak terduga sekali barisan mereka telah terkepung oleh barisan-barisan yang besar jumlahnya dari tentara kerajaan yang mengibarkan bendera Gak!

"Jahanam besar!

Jenderal Gak telah memancing dan memperdayai!

Kita harus melawan mati-matian dan memerintahkan membuat tenda-tenda dan sekitar tempat itu dikurung oleh penjaga-penjaga yang merupakan benteng penjagaan amat kuat.

Sementara itu, Tiong Han yang menyaksikan kelihaian siasat dari Jenderal Gak ini, merasa amat kagum.

Ia mengerti bahwa memang dalam sebuah perang besar, tidak boleh terlalu menurutkan perasaan sendiri atau dipengaruhi oleh urusan pribadi.

Kalau tadinya ia berlaku nekad dan menerjang benteng musuh untuk mencari adiknya, tentu siasat dari Jenderal Gak ini akan terancam bahaya dan musuh mungkin akan merasa curiga.

Setelah keadaan musuh terkurung, ia lalu menghadap Jenderal Gak dan bertanya.

"Gak goanswe, mengapa tidak terus memukul hancur mereka saja? Mau menanti apa lagi? Aku sudah tidak sabar untuk segera membekuk adikku yang jahat!"

Gak goanswe tersenyum.

"Saudara Sim, Pasukan-pasukan yang kita kurung itu tadinya adalah anak buah dari barisan kerajaan sendiri, jadi kawan-kawanku juga. Sekarang mereka diselewengkan oleh Oei Sun, mungkin dalam keadaan tidak sadar, atau dalam keadaan terpaksa. Mengapa mesti membasmi mereka semua? Barisan-barisan itu merupakan tubuh dan ekor dari seekor ular. Ke mana saja kepalanya bergerak, tubuh dan ekor akan mengikutinya. Kalau yang menjadi biangkeladinya dapat dibasmi kurasa semua prajurit itu akan dapat diinsafkan dari kesesatan mereka. Buat apa harus bunuh-membunuh antara saudara dan kawan-kawan sendiri?"

"Habis apakah yang akan dilakukan sekarang? Apakah menanti sampai mereka mencari jalan keluar dengan kekerasan?"

Jenderal itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Kita kurung mereka dengan rapat sampai mereka kehabisan ransum. Kalau mereka mencari jalan keluar, kita pukul mereka kembali lagi di dalam kurungan. Kita akan mengurung terus sampai mereka menyerah, yakni Oei Sun dan kaki tangannya."

"Jadi kita memberi syarat, yakni penyerahan diri dari Oei Sun dan kaki tangannya?"

Jenderal tua itu mengangguk.

"Dan kaulah yang akan menjadi utusanku!"

"Aku?"

"Ya, kaulah orangnya saudara Sim. Tidak ada utusan yang lebih baik daripada engkau sendiri. Kau pandai menjaga diri dan kalau seandainya mereka mengganggumu dan menahanmu, barulah aku akan turun tangan. Akan tetapi kurasa Oei Sun takkan begitu bodoh mengorbankan keselamatannya untuk mengganggumu seorang."

"Baik, Gak-goanswe. Akan tetapi"."

"Tentang adikmu?"

"Ya, bagaimanakah kalau aku bertemu dengan dia? Bolehkah aku turun tangan?"

Gak-goanswe menggelengkan kepalanya.

"Jangan saudara Sim. Hal itu hanya akan mengakibatkan pertempuran dan kedudukanmu sebagai utusan terancam. Utusan tidak boleh diserang dan juga tidak boleh menyerang fihak tuan rumah. Ingat, kita dalam keadaan perang, tidak boleh menurutkan nafsu hati mengurus urusan pribadi."

Tiong Han menarik napas panjang.

"Baiklah, akan kuperhatikan baik-baik."

Demikianlah, setelah menerima pesanan-pesanan dari Gak-goanswe bagaimana harus bicara terhadap Oei Sun, pada pagi hari keesokan harinya Tiong Han berangkat.

Ia mengenakan pakaian ringkas warna putih dengan leher baju biru, ikat kepala hijau muda.

Ia tidak membawa senjata karena memang semenjak menerima gemblengan ilmu silat dari Pat jiu Toanio dan Lui kong-jiu tak perlu lagi ia mengandalkan bantuan senjata!

Yang dibekalnya hanyalah sehelai bendera putih yang bertuliskan huruf GAK dan dibawahnya bertuliskan huruf UTUSAN.

Dengan gerakan kaki ringan dan cepat sekali Tiong Han memasuki daerah terkepung.

Markas dari Oei Sun terletak sedikitnya lima lie dari tempat kepungan dan untuk menuju ke markas kepala pemberontak itu, Tiong Han harus melalui daerah berhutan yang cukup liar.

la berjalan sambil membayangkan bagaimana nanti penerimaan Tiong Kiat kalau bertemu dengannya.

la masih sukar untuk dapat percaya bahwa adiknya itu kini telah menjadi pembantu kepala pemberontak.

Ia dapat mengenal watak Tiong Kiat.

Memang benar semenjak kecil adiknya ini nakal, mudah marah, akan tetapi gembira dan tidak licik.

Harus diakui bahwa setelah dewasa Tiong Kiat mempunyai watak buruk dan mata keranjang akan tetapi adiknya itu diam-diam masih menjunjung tinggi ayah mereka.

Sejak kecil Tiong Kiat begitu bangga nampaknya apabila membicarakan ayah mereka yang kabarnya dahulu menjadi panglima gagah!

"Tiong Kiat, Tiong Kiat"sekali ini aku tidak dapat mengampunimu""

Keluhnya.

Ia maklum bahwa kalau sekali lagi bertanding, ia pasti akan dapat memukul mati adiknya itu, karena ilmu-ilmu silat tangan kosong yang ia pelajari dari kedua orang gurunya yang baru memang khusus untuk memecahkan Ang-coa kiam.

la tahu dengan baik bagaimana harus mengalahkan Tiong Kiat, dan pukulan-pukulan yang dipelajarinya bukanlah pukulan biasa-biasa, melainkan pukulan-pukuIan maut yang takkan dapat ditahan pula oleh Tiong Kiat!

Ketika ia telah tiba di pinggir hutan dan puncak-puncak tenda barisan pemberontak telah nampak samar-samar, tiba-tiba ia mendengar suara orang berkelahi.

Cepat Tiong Han lari ke tempat itu dan alangkah terkejut dan herannya ketika ia melihat tiga orang sedang berhadapan, yakni Eng Eng, Tiong Kiat, dan seorang nyonya cantik yang tidak dikenalnya!

Bagaimana Eng Eng bisa sampai di tempat itu?

Marilah kita mengikuti sebentar perjalanan Eng Eng sebelum tiba di tempat itu yang membuat Tiong Han berdiri di belakang pohon sambil berdiri bengong saking herannya.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan Eng Eng bersama ayah angkatnya, yakni Piloko kepala suku bangsa Cou, turun dari gunung di mana seluruh keluarga Cou bertahan dari serangan orang-orang Ouigour dan lain-lain.

Piloko mengajak anak angkatnya menuju ke kota raja untuk menghadap kaisar dan menyampaikan protes tentang bantuan tentara kerajaan yang menyerang orang-orang Cou membantu orang Ouigour bertindak sewenang-wenang.

Tanpa banyak halangan kedua orang ini tiba di kota raja dan dengan mudah Piloko yang sudah dikenal itu diterima oleh Kaisar Tai Cung sendiri.

Sebagai anak angkat Piloko, Eng Eng juga diperkenankan masuk menghadap kaisar sehingga gadis ini menjadi bingung dan sungkan-sungkan memasuki ruangan yang indah dan menghadapi keagungan kaisar itu.

Akan tetapi, apa yang mereka dengar dari kaisar benar-benar merupakan guntur di siang hari.

Dari kaisar, Piloko dan Eng Eng mendengar tentang pemberontakan Oei Sun dan bahwa tentara kerajaan yang membela Huayen-khan itu sebetulnya adalah pemberontak-pemberontak yang bersama Huayen-khan merencanakan penyerbuan ke kota raja!

Akan tetapi kaisar menghibur mereka sambil menyatakan bahwa kini barisan besar yang dipimpin oleh Gak goanswe telah mulai bergerak untuk menghancurkan pemberontak itu berikut tentera yang dipimpin oleh Huayen-khan.

Bahkan dianjurkan kepada Piloko untuk menggabungkan anak buahnya dengan Gak goanswe untuk bersama-sama memerangi para pemberontak dan orang orang Ouigour.

Piloko keluar dari istana kaisar dengan hati lega ternyata bahwa kaisar tidak memusuhi bangsanya.

Akan tetapi Eng Eng keluar dengan hati panas sekali.

Kebenciannya terhadap Tiong Kiat memuncak setelah ia mengetahui bahwa pemuda yang dibencinya itu ternyata adalah seorang pemberontak.

Ia minta kepada ayah angkatnya agar supaya pulang lebih dulu, karena ia hendak menyusul Jenderal Gak dan hendak membantunya menghancurkan pemberontak.

Pertemuan Eng Eng dengan kaisar membangunkan semangatnya, demikian katanya kepada Piloko.

Padahal yang benar merupakan dorongan kepadanya ialah keinginannya hendak membalas dendam kepada Tiong Kiat dan ia merasa kuatir kalau-kalau ia didahului oleh orang lain!

Kalau sampai barisan pemberontak itu dapat dihancurkan oleh Gak goanswe dan Tiong Kiat binasa dalam perang, bukankah ia selamanya akan merasa kecewa tidak dapat membalas orang itu dengan kedua tangannya sendiri?

Piloko tidak merasa keberatan sungguhpun ia merasa menyesal tidak dapat mengawani anak angkatnya itu karena keluarga-keluarga Cou di atas bukit itu harus dilindunginya, maka berangkatlah Eng Eng menuju ke utara terus mencari barisan-barisan dari Jenderal Gak.

Ketika ia melihat dan mendengar betapa barisan pemberontak itu telah terkurung di sebelah selatan Sungai Sungari, ia menjadi girang sekali.

Tentu Tiong Kiat berada di dalam daerah terkurung itu, pikirnya.

Lebih baik aku mendahului Jenderal Gak, sebelum pemberontak diserang dan dihancurkan, aku lebih dulu memasuki daerah terkurung untuk mencari jahanam itu!

Dengan pikiran ini, Eng Eng lalu mempergunakan kepandaiannya di waktu malam gelap ia menerobos masuk ke dalam daerah kepungan tanpa dapat terlihat oleh para penjaga yang mengepung daerah itu.

Gadis yang berani ini lalu melewati malam di dalam hutan dan begitu malam gelap telah terusir pergi oleh sinar pagi, ia lalu keluar dan hutan untuk mulai usahanya mencari Tiong Kiat.

Memang sudah menjadi kehendak Thian bahwa hari itu harus terjadi peristiwa besar-besaran.

Dengan cara kebetulan sekali, pada pagi hari itu Huayen-khan dan Ang Hwa naik kuda memasuki hutan itu berdua saja.

Eng Eng segera bersembunyi dan diam-diam menghampiri mereka ketika kedua orang ini menahan kuda dan turun lalu bercakap-cakap di bawah pohon-pohon yang rindang.

"Ang Hwa, ternyata Oei Sun yang tolol itu telah membawa kita kepada kehancuran! Seluruh barisan telah terkurung. Kita harus berdaya untuk melepaskan diri, isteriku."

"Enak saja kau bicara. Bagaimana kita bisa melepaskan diri dalam keadaan terkurung seperti ini? Paling baik kita berusaha sekuat tenaga untuk membantu Oei ciangkun mencari jalan keluar!"

"Bodoh! Mana bisa kita melawan Gak goanswe? Tidak tahukah kau bahwa Gak goanswe memiliki kepandaian tinggi dan para perwiranyapun gagah perkasa? Lebih baik begini, Ang Hwa, aku dan kau diam-diam melarikan diri dan menyerah kepada Gak goanswe?"

"Tentu saja kita akan dihukum sebagai pemberontak."

"Belum tentu. Kita bisa menggunakan alasan bahwa kita telah dibodohi oleh Oei Sun dan tokoh-tokoh Pek lian kauw itu."

Sebelum Ang Hwa menjawab, berkelebat bayangan biru dan tahu tahu Tiong Kiat telah berdiri di hadapan mereka! Wajah pemuda ini membuat Huayen khan memandang pucat.

"Pengkhianat, apa katamu tadi?"

Pemuda ini membentak.

Ternyata bahwa kepandaiannya yang tinggi membuat kedatangannya tidak diketahui oleh Huayen khan dan Ang Hwa.

Tentu saja Eng Eng yang masih bersembunyi dapat mengetahui kedatangan pemuda ini dan hatinya berdebar keras.

Ingin sekali ia melompat keluar dan menyerang pemuda yang dibencinya ini, akan tetapi ia hendak melihat dulu apakah yang akan terjadi antara tiga orang itu.

Ternyata bahwa sampai saat itupun Tiong Kiat masih belum sadar bahwa yang mengurung mereka adalah tentara kerajaan yang asli!

Menurut keterangan Oei Sun, yang mengurung adalah tentara Gak yang memberontak dan mereka menanti datangnya bala bantuan yang datangnya dari kota raja!

Dan tadi ia hanya mendengar sebagian saja ucapan Huayen khan yakni bagian di mana Huayen Khan menyatakan hendak menyerah kepada Jenderal Gak.

Tentu saja ia menjadi marah sekali.

Ketika Ang Hwa melihat munculnya kekasihnya ini, ia cepat mendekati Tiong Kiat, merangkul lengannya dan dengan manja dan genit ia berkata.

"Tua bangka ini hendak mengkhianati kita dan hendak menyerah kepada musuh!"

Huayen khan tertawa bergelak dan kumisnya berdiri saking marahnya.

"Perempuan busluk dan rendah!"

Makinya.

Ia ingin mengeluarkan banyak kata-kata, akan tetapi hanya terengah-engah saking marahnya.

Cepat ia mengeluarkan busurnya dan segera tersusul oleh suara menjepretnya lima batang anak panah ke arah Ang Hwa!

Tiong Kiat sudah maklum akan kelihaian anak-anak panah kepala suku Ouigour ini maka sejak tadi ia telah mencabut pedangnya.

Sekali cabut ia telah mengeluarkan dua buah pedang, yakni pedang Ang coa kiam di tangan kanan dan pedang Hui-liong kiam di tangan kiri.

Di tempat persembunyiannya, Eng Eng menjadi pucat, ia mengenal pedang yang dulu dibawa oleb Tiong Han.

Sekarang pedang ini berada di tangan Tiong Kiat.

Apakah yang telah terjadi dengan Tiong Han.?

Dengan sekali menggerakkan kedua pedangnya, semua anak panah dari Huayen khan dapat dipukul jatuh oleh Tiong Kiat yang tertawa menyindir.

"Huayen-khan, kau benar-benar pengecut besar! Ternyata kau hanya pandai menggunakan anak-anak panah terhadap kawan sendiri. Pengkhianat dan pengecut!"

"Orang she Sim! Kaulah yang pengecut dan manusia tidak tahu malu! Telah lama kau mempermainkan istri orang, apakah hal ini patut dilakukan oleh seorang gagah? Ha, ha, ha, manusia macam kau mau menganggap diri sebagai seorang gagah seorang patriot, seorang perwira"ha, ha, ha, seorang perwira? Sungguh lucu!"

Ia menggerakkan kedua tangannya lagi dan menjepretlah gendewanya, melayangkan Iima buah anak panah lagi, ke arah Tiong Kiat dengan hebatnya.

Tiong Kiat yang menjadi amat merah mukanya mendengar makian dan ejekan tadi memutar kedua pedangnya dengan cepat dan setelah lima batang anak panah itu dapat diruntuhkan, ia lalu menyerbu ke depan sambil berseru.

"Huayen khan, manusia hina dina! Kubunuh kau, bangsat tua bangka!"

"Benar, Sim-taihiap, bunuh saja monyet tua ini. Aku sudah bosan melihat macamnya!"

Kata Ang Hwa yang juga menjadi merah mukanya.

Huayen khan kembali tertawa bergelak, mencabut golok besarnya dan melawan mati-matian.

Akan tetapi memang ia bukan tandingan Tiong Kiat yang kini sudah memiliki Ang coa kiamsut seluruhnya.

Baru belasan jurus saja Huayen khan tak kuat melawan lagi dan ketika Tiong Kiat menyerangnya dengan gerak tipu Ang coa kan goat (Ular Merah Mengejar Bulan) terdengar teriakan ngeri dan Huayen khan roboh mandi darah dengan ulu hati tertembus pedang Ang coa kiam!

Kepala suku bangsa Ouigour ini tewas pada saat itu juga, menjadi korban daripada keserakahannya sendiri hendak menguasai Tiong kok dengan mengorbankan istrinya sendiri menjadi permainan orang!

Ang Hwa menjadi girang sekali dan nyonya muda yang cantik ini lalu memeluk dan merangkul leher Tiong Kiat, dan diciumnya muka pemuda itu dengan penuh kasih sayang.

"Koko yang baik, sekarang aku bisa menjadi isterimu!"

Katanya dengan manja dan genit. Pada saat itu, Eng Eng yang sudah tak dapat menahan sebalnya menyaksikan peristiwa yang amat rendah itu, melompat keluar dengan pedang di tangannya.

"Iblis bermuka manusia, orang she Sim, di sinilah aku harus melenyapkan kau dari muka bumi. Manusia tak tahu malu, yang membunuh orang dengan kejam setelah bermain gila dengan istrinya! Cih, di dunia tidak ada keduanya laki-laki macam kau yang bermoral bejat ini!"

Tiong Kiat tidak saja amat terkejut ketika melihat Eng Eng muncul, juga dampratan gadis ini membuat ia menjadi pucat dan tertegun.

Ia menggerakkan pundaknya sehingga pelukan dan rangkulan kedua tangan Ang Hwa terlepas.

Dengan muka merah Tiong Kiat berkata kepada Eng Eng.

"Ah kiranya Suma siocia! Aku ...... Jangan menyangka yang bukan-bukan, nona. Orang ini.... dia adalah Huayen khan yang hendak memberontak dan mengkhianati kawan-kawan sendiri. Dia hendak menyerahkan diri kepada pemberontak dan ......dan""

Tiong Kiat menjadi bingung dan gagap karena tiba-tiba teringat bagaimanakah nona Suma Eng ini bisa masuk ke daerah yang terkurung itu!

"Pandai saja memutar lidah!

Kaukira aku tidak mendengar semua yang diucapkan tadi?

Kaukira aku tidak tahu bahwa perempuan kotor ini adalah isteri dari orang yang kaubunuh itu?

Dan bahwa kau membunuhnya karena hendak merebut isterinya?

Dan bahwa kau adalah seorang pemberontak yang hina dina, seorang yang sepuluh kali lebih patut dihukum gantung?"

Untuk sesaat Tiong Kiat tak dapat menjawab dan pada saat itulah muncul Tiong Han yang cepat menyembunyikan diri di belakang pohon dengan muka terheran-heran!

Ketika Tiong Han tiba di tempat itu, Tiong Kiat masih belum dapat menjawab dan pemuda itu masih memandang kepada Eng Eng dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

Eng Eng sendiri dengan pedang di tangan, mukanya merah sekali dan matanya bersinar-sinar menyeramkan.

Adapun Ang Hwa masih berdiri dekat Tiong Kiat, karena nyonya ini terkejut sekali ketika tadi Tiong Kiat merenggut dan melepaskan tangannya yang memeluk leher pemuda itu.

Tiba-tiba Tiong Kiat berkata sambil menangkap tangan Ang Hwa.

"Nona Suma.......sungguh mati, perempuan ini tidak ada artinya bagiku! Di dunia ini....... hanya kau seorang yang boleh memenuhi ruang hatiku. Perempuan ini......? Hm, dia bukan lain adalah seorang perempuan lacur yang hina dina. Aku membunuh Huayen khan karena dia seorang pengkhianat, sama sekali bukan karena perempuan ini!"

Ketika Tiong Kiat melihat betapa Eng Eng tersenyum menghina dan mengejek, ia menyambung kata-katanya.

"Kau tidak percaya? Lihat, perempuan ini sesungguhnya bukan apa-apa bagiku!"

Dan secepat kilat Tiong Kiat menggerakkan Ang coa kiam dan sebelum Ang Hwa yang semenjak tadi mendengarkan ucapan Tiong Kiat dengan wajah pucat dan mata terbelalak itu dapat mengetahui gerakan pemuda ini, pedang Ang coa kiam di tangan Tiong Kiat telah membabat lehernya!

Ang Hwa tak sempat mengeluarkan sedikitpun suara dan tubuhnya roboh tergelimpang di dekat mayat suaminya dalam keadaan tak bernyawa lagi dan lehernya hampir putus!

"Bangsat she Sim!

Jangankan baru kau membunuh anjing betina ini yang sama kotornya dengan engkau, biar kau membunuh ayah bundamu sendiri dihadapanku tetap saja kebencianku terhadapmu takkan berkurangl Kau harus mampus!"

"Suma Eng... sungguh kau kejam dan keterlaluan! Kau tahu bahwa aku cinta kepadamu. Aku telah merobah hidupku, lihat, bukankah aku telah menjadi seorang perwira kerajaan? Bukankah aku telah memilih jalan yang benar? Mengapa kau masih saja membenciku? Eng Eng, lupakanlah urusan dahulu dan berilah kesempatan kepadaku untuk menebus dosa. Katakan bahwa kau suka menjadi istriku, dan aku akan menurut apa saja yang kau kehendaki."

"Bangsat rendah bermulut kotor! Jangan kau berani sebut-sebut hal itu lagi. Kau telah mencemarkan nama orang tuamu, nama perguruanmu, bahkan kau telah mencelakakan kehidupan kakakmu yang amat berbudi dan mencintaimu, kau........ kau manusia rendah....!"

"Ha, agaknya kau lebih suka kepada kakakku dari pada kepadaku?"

Pertanyaan Tiong Kiat ini terdengar penuh cemburu sehingga Tiong Han yang mendengarkan percakapan itu merasa mukanya panas dan warna merah menjalar dari leher ke mukanya.

"Tutup mulutmu! Dia seribu kali lebih berharga dari pada engkau! Untuk menggosok sepatunya saja kau masih terlalu kotor, jangankan menjadi adiknya, tahu?"

"Eng Eng kau terlalu""

"Siapa yang terlalu? Kau seorang rendah, seorang hina dan sekarang menjadi pemberontak pula!"

"Pemberontak? Apa maksudmu? Eng Eng kalau orang sudah membenci, selalu buruk saja pandangannya. Aku bukan pemberontak, aku bahkan melawan pemberontak she Gak itu dan""

"Bangsat lihat pedang!"

Eng Eng tidak sabar lagi dan cepat menyerang dengan pedangnya.

Ucapan Tiong Kiat tadi dianggapnya sebagai bujukan belaka.

Mana bisa jenderal Gak disebut pemberontak.?

Tiong Kiat menangkis dengan pedang Hui liong-kiam di tangan kirinya.

Dengan dua batang pedang di tangan, ia selalu menghindarkan diri dari serangan gadis itu yang mendesak dengan hebat.

Diam-diam Tiong Han memuji kepandaian adiknya itu.

Tiong Kiat dengan kedua tangan memegang pedang, sanggup memainkan Ang coa-kiamsut dengan dua pedang itu!

"Sungguh benar kata-kata suhu dulu bahwa dia memang berbakat sekali."

Kata Tiong Han dalam hatinya.

Ia harus akui bahwa dia sendiri tak mungkin dapat mainkan Ang-coa kiamsut sekaligus dengan dua batang pedang.

Akan tetapi, sekarang ia sanggup untuk menghadapi Tiong Kiat, biarpun dengan tangan kosong setelah ia digembleng oleh Pat jiu Toanio dan Lui-kong jiu.

Melihat betapa Eng Eng tak mungkin dapat merobohkan Tiong Kiat yang menangkis sambil mundur, agaknya hendak memancing gadis itu ke arah markas besar Tiong Han lalu melompat keluar.

"Tahan dulu!"

Katanya lalu tahu-tahu tubuhnya telah berada di depan Tiong Kiat.

Ia hendak mempraktekkan gerakan Lutung Sakti Memetik Buah yang ia pelajari dari Pat jiu Toanio untuk merampas pedang.

Tiong Kiat mencoba untuk menarik kembali pedang di tangan kirinya, akan tetapi ternyata kalah cepat, ia hanya mengerahkan tenaganya dan memegang pedang Hui-liong kiam itu erat-erat karena kalau sampai pedang itu direbut, belum tentu lawan akan berhasil merenggutnya.

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa Tiong Han mempergunakan ilmu silat baru.

Tiba-tiba ia merasa pergelangan tangan kirinya lemas dan otomatis pegangannya terbuka sehingga pedang itu tahu-tahu sudah pindah ke tangan Tiong Han!

Tiong Kiat terkejut dan heran, akan tetapi sifat sombongnya keluar dan sambil tersenyum-senyum ia berkata.

"Ambillah, memang itu pedangmu!"

Sementara itu ketika melihat Tiong Han, wajah Eng Eng berseri sebentar, akan tetapi segera ia menghadapi segala gerak-gerik dari Tiong Kiat lagi, dengan marah sambil berkata kepada Tiong Han.

"Aku yang mendapatkannya lebih dulu, maka aku yang hendak membunuhnya."

"Maaf, nona Suma, sekarang bukan waktunya untuk mengurus urusan pribadi. Aku datang sebagai utusan dari Jenderal Gak untuk melakukan pembicaraan dengan Oei Sun dan kaki tangannya."

Kemudian ia memandang dengan tajam kepada Tiong Kiat.

"Kau tentu kaki tangan Oei Sun pula, bukan?"

Suaranya mengandung penyesalan dan juga ejekan, lalu disambungnya.

Baca Juga: Dara Baju Merah 6

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert