Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Kemala 7

Eps 7 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.

Mereka bertempur secara gerilya, menyerbu selagi lawan lemah dan melarikan diri berpencar dan lenyap ke hutan-hutan kalau musuh sudah mampu mengumpulkan kekuatan yang jumlahnya jauh lebih besar dari mereka.

Bahkan di antara mereka sudah ada yang membawa-bawa senjata api, yang dapat mereka rampas dari orang-orang kulit putih atau para perwira kerajaan.

Dan Sheila berjasa dalam urusan senjata api ini.

Ia banyak tahu tentang senjata ini dan ia melatih para pejuang cara mempergunakan senjata api.

Pada suatu hari, para pejuang sedang sibuk menggarap sawah.

Kalau tidak berjuang, mereka itu bukan bermalas-malasan, melainkan bersama para petani menggarap sawah karena dari situlah mereka memperoleh ransum.

Pagi-pagi itu, terdengar suara derap kaki kuda dan hal ini tidak aneh karena para pejuang itupun mempunyai banyak kuda dan banyak penunggang kuda keluar masuk dusun itu.

Akan tetapi, ketika para penghuni dusun itu melihat bahwa dua orang penunggang kuda yang bertubuh tegap dan bersikap gagah itu merupakan dua orang pria yang tidak mereka kenal, beberapa orang pemuda segera berlompatan dan sudah menghadang lalu mengurung dua orang penunggang kuda itu dengan pandang mata penuh curiga.

Melihat diri mereka dikepung, dua orang laki-laki itu kelihatan gentar juga dan mereka cepat mengangkat tangan dan seorang di antara mereka berkata dengan suara lantang.

"Saudarasaudara, kami datang bukan dengan niat buruk. Kami datang sebagai utusan dari komandan pasukan Inggeris di Kanton!"

Mendengar ini, sudah tentu banyak mata melotot dan muka merah.

Para patriot itu, walaupun tidak memusuhi orang-orang kulit putih secara langsung, namun di dalam hati mereka tidak suka kepada orang-orang kulit putih yang menyebar racun madat dan yang juga menduduki beberapa kota pelabuhan setelah perang madat yang berakhir dengan kekalahan pihak pemerintah Ceng yang lemah itu.

"Kalian mata-mata orang bule!"

"Tangkap saja!"

"Bunuh saja!"

Dua orang penunggang kuda itu menjadi pucat dan seorang di antara mereka cepat mengeluarkan sebuah sampul panjang dan berteriak.

"Kami datang diutus untuk menyerahkan surat ini kepada nona Sheila Hellway...!!"

"Di sini tidak ada nona Sheila Hellway, yang ada ialah nyonya Gan Seng Bu!"

"Jangan dengarkan ocehan mereka!"

"Awas, mereka tentu mata-mata yang membawa pasukan di belakang mereka!"

Untung pada saat itu, saat yang gawat bagi dua orang utusan ini, muncul Sheila yang cepat berseru.

"Kawan-kawan tahan dulu! Coba berikan surat itu kepadaku. Akulah Sheila Hellway!"

Dua orang itu nampak lega dan seorang di antara mereka turun, lalu menyerahkan surat bersampul panjang itu kepada Sheila.

Orang ke dua masih duduk di atas kudanya, agaknya siap untuk segera melarikan diri kalau ada bahaya mengancam.

Para pemuda dusun itu masih mengepung dan semua mata memandang kepada Sheila.

Kalau saja pada saat itu Sheila memberi aba-aba untuk menyerang, tentu dua orang utusan itu akan dikeroyok dan dibunuh di saat itu juga.

Sheila tidak mau bertindak sembrono.

Dilihatnya dulu sampul itu dengan teliti dan melihat sampul tercetak dengan alamat Kapten Charles Elliot sebagai pengirimnya, diam-diam ia merasa terkejut.

Namanya, Sheila Hellway, juga tercetak rapi dan surat itu jelas bukan surat palsu.

Dengan hati-hati lalu dibukanya sampul surat dan sebelum membaca isinya, iapun meneliti cap kebesaran Kapten Charles Elliot.

Kembali aseli, apa lagi isi surat dalam bahasa Inggeris yang rapi itu menghapus semua kecurigaannya.

Memang jelaslah bahwa surat ini datang dari Kapten itu merupakan surat resmi!

Dan begitu ia membaca isinya, wajahnya berseri dan semua pemuda yang sejak tadi mengamati itu, merasa lega.

"Kawan-kawan, dua orang ini memang utusan dari Kapten Charles Elliot dan surat ini benar ditujukan kepadaku."

Mendengar ucapan itu, semua orang bubaran, hanya ada beberapa orang menjaga dari jauh saja dengan sikap melindungi Sheila dan beberapa orang lagi oleh Sheila dimintai tolong untuk memanggil suaminya yang sedang bekerja di ladang.

Kemudian Sheila mempersilahkan dua orang utusan itu untuk memasuki rumahnya dan dipersilahkan duduk sambil menanti datangnya Gan Seng Bu.

Mendengar berita bahwa ada dua orang utusan dari komandan pasukan kulit putih datang mengantarkan surat untuk isterinya, Gan Seng Bu menjadi khawatir bukan main dan cepat dia berlari pulang tanpa mencuci kaki tangannya yang masih berlepotan lumpur.

Dengan ilmu berlari cepat dia langsung saja pulang ke rumahnya dan memandang dengan mata penuh selidik ketika melihat dua orang laki-laki tinggi tegap sudah duduk di dalam rumahnya.

Melihat kekhawatiran suaminya, Sheila lalu menyongsong dan menggandeng tangannya, lalu memperlihatkan surat itu.

"Aku menerima surat penting dari Kapten Charles Elliot,"

Katanya dengan halus dan tersenyum ramah untuk menghilangkan kekhawatiran suaminya.

Melihat sikap isterinya, memang hati Seng Bu menjadi agak lega dan dia membalas penghormatan dua orang utusan itu dengan dingin saja.

(Lanjut ke

Jilid 23) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 23 Pernah dia menghajar sekelompok pasukan Harimau Terbang yang menyamar sebagai orang biasa dan diapun curiga apakah dua orang ini bukan anggauta pasukan itu.

Dugaannya memang tepat.

Dua orang itu memang merupakan dua orang anggauta pasukan Harimau Terbang golongan atas yang dipercaya oleh Koan Jit untuk mengantarkan surat dari Kapten Charles Elliot itu dan memang inilah siasat yang diatur Koan Jit!

Dua orang anggauta Harimau Terbang itu, walaupun belum pernah merasakan sendiri kelihaian Gan Seng Bu, namun mereka berdua sudah mendengar dari teman-teman mereka, apa lagi mereka mendengar bahwa orang muda yang tinggi besar dan gagah perkasa ini adalah sute dari pimpinan mereka, tentu saja mereka merasa jerih bukan main.

"Apa maksudmu dia mengirim surat padamu?"

Tanya Seng Bu.

Seperti biasa suaranya ramah dan halus kepada isterinya, akan tetapi alisnya tetap berkerut karena dia merasa tidak enak hatinya.

Isterinya tersenyum, maklum akan kecurigaan suaminya terhadap bangsanya.

"Baik kuterjemahkan untukmu."

Ia lalu membaca surat itu, sudah diterjemahkannya dengan baik sekali.

Ternyata isi surat itu hanya pemberitahuan kepada nona Sheila Hellway bahwa pemerintah Inggeris menganggap Mr.

Hellway dan isterinya yang gugur dalam keributan perang madat itu sebagai pahlawan-pahlawan dan kini pemerintah mengambil keputusan untuk minta pertimbangan Sheila, apakah kuburan orang tuanya itu akan dipindahkan ke Inggeris, ataukah dimakamkan kembali secara kehormatan militer.

Dan untuk itu, diminta kehadiran Sheila ke markas pasukan Inggeris di kapal, di pantai Kanton.

Dengan alis berkerut Gan Seng Bu bertanya.

"Isteriku, setelah engkau menerima surat seperti itu, lalu bagaimana niatmu?"

Sheila tersenyum, masih maklum bahwa suaminya tetap saja berkuatir.

"Tentu saja aku harus datang dan menghadiri upacara itu. Aku akan minta agar makam orang tuaku dikubur di sini saja agar mudah bagiku untuk sewaktu-waktu berziarah."

"Perlu benarkah engkau menghadiri? Bagaimana kalau engkau membalas surat saja menyatakan keinginanmu itu?"

Sheila merangkul suaminya, tidak perduli di situ ada dua orang utusan yang memandang mereka dan mencium lembut pipi suaminya.

Seng Bu tidak merasa canggung karena memang sudah biasa memperoleh perlakuan seperti itu dari isterinya yang amat bebas memperlihatkan kasih sayangnya.

"Seng Bu, pemindahan kerangka orang tuaku amatlah penting, Bukan? Aku harus menghadirinya sendiri, kalau tidak aku akan selalu merasa menyesal kelak. Jangan khawatir, Kapten Charles Elliot tidak akan berani menggangguku. Aku adalah warga negara Inggeris dan berhak penuh untuk menentukan kemauanku sendiri. Harap jangan khawatir, tidak ada yang akan berani mengganggu diriku."

Seng Bu masih mengeritkan alisnya, menoleh kepada dua orang utusan itu dengan sinar mata mencorong sehingga dua orang itu menundukkan muka dengan sikap jerih.

Mereka merasa gentar melihat sinar mata yang mencorong dari pendekar itu.

"Kapan engkau akan pergi ke Kanton?"

Akhirnya Seng Bu bertanya, tidak mempunyai alasan lagi untuk mencegah kepergian isterinya.

"Kurasa sekarang juga, Seng Bu. Hari masih pagi dan aku akan pergi bersama mereka ini. Engkau tidak keberatan, bukan?"

Seng Bu memandang ragu, kemudian berkata dengan suara penuh kepastian.

"Sheila, aku tidak keberatan karena memang perlu sekali engkau menghadiri urusan itu, akan tetapi aku akan mengawalmu kesana."

"Seng Bu...!"

Sheila membelalakkan matanya.

Suaminya adalah seorang pejuang dan tentu saja amat berbahaya bagi Seng Bu untuk muncul di dalam kota Kanton di mana selain banyak terdapat pasukan kulit putih, juga terdapat pasukan pemerintah yang tentu akan menangkapnya karena nama Seng Bu sudah dikenal sebagai pemberontak.

Seng Bu tersenyum dan merangkul isterinya, mencubit dagunya dengan mesra sambil berkata.

"Jangan khawatir. Kalau mereka tidak mengganggumu, tentu mereka tidak akan menggangguku pula. Selain itu, apakah engkau tidak percaya kepadaku bahwa aku dapat membela dan melindungi diriku sendiri, termasuk dirimu?"

"Tapi itu berbahaya sekali, Seng Bu!"

"Tidak kalah besarnya dengan bahaya yang mengancammu, Sheila. Kita pergi berdua atau kita tidak pergi sama sekali."

Sheila mengenal kekerasan hati suaminya.

Ia berpikir bahwa di markas Inggeris, ia akan mampu melindungi suaminya.

Tak seorangpun di sana akan berani mengganggu Seng Bu yang sudah menjadi suaminya, Ayah dari calon anak mereka.

Kapten Charles Elliot adalah seorang gentleman tulen, tidak mungkin mau bertindak curang.

Maka iapun mengangguk.

"Baiklah, mari kita pergi bersama."

Mereka lalu berkemas.

Kawan-kawan seperjuangan Seng Bu banyak yang merasa cemas, mengkhawatirkan keselamatan mereka yang akan pergi ke Kanton.

Akan tetapi setelah Sheila mengemukakan pendapatnya, merekapun merasa lega dan hanya memesan kepada Seng Bu agar berhati-hati.

Suami isteri ini menunggang kuda dan diiringkan oleh dua orang utusan itu, menuju ke Kanton.

Perjalanan itu berlangsung dengan selamat dan menjelang senja, mereka memasuki Kanton.

Benar saja, tidak ada gangguan dan merekapun langsung menuju ke pantai di mana terdapat beberapa buah kapal Inggeris yang besar dan diperlengkapi meriam-meriam besar.

Banyak nampak serdadu-serdadu Inggeris di pantai hilir mudik, dan banyak pula mata yang menatap ke arah Sheila dengan sikap kurang ajar.

Akan tetapi hal seperti ini sudah biasa dihadapi Sheila maka iapun pura-pura tidak melihat saja dan bersama suaminya lalu dibawa ke atas sebuah perahu yang membawa mereka langsung ke sebuah kapal besar yang tidak dapat menepi dan melepas jangkar agak jauh di tengah lautan.

Kapten Charles Elliot sendiri setelah diberitahu, lalu keluar menyambut kedatangan Sheila dan Seng Bu.

Kapten ini menyambut Sheila dengan wajah berseri, menjabat tangan Sheila dengan erat dan berkata dengan girang.

"Sungguh bahagia sekali melihat engkau dalam keadaan sehat dan selamat, nona Sheila Hellway. Berbulan-bulan lamanya kami dibuat gelisah oleh berita tentang dirimu. Selamat datang di kapal kami!"

Sheila menyambut uluran tangan itu dan berkata dengan lembut dan ramah namun suaranya tegas.

"Kapten, saya bukan lagi nona Sheila Hellway melainkan nyonya Gan Seng Bu, dan inilah suami saya."

Sheila memperkenalkan suaminya dengan maksud agar kapten itu menyambut suaminya sebagaimana mestinya.

Akan tetapi, kapten itu hanya menoleh dan memandang kepada Gan Seng Bu sejenak.

Seorang pemuda bertubuh tegap, berpakaian seperti petani sederhana, masih lebih sederhana dari pada kuli-kuli pelabuhan, bagaimana dia sudi menyambutnya seperti seorang tamu?

Dia diam saja dan kembali memandang kepada Sheila.

"Nona Hellway, mari kita bicara di kantorku. Kita harus merundingkan urusan pemindahan makam orang tuamu itu dengan para pejabat lain. Mari, silahkan!"

Dan dengan sopan sekali kapten itu memberikan lengannya untuk digandeng Sheila. Tentu saja Sheila memandang ragu.

"Kapten, saya hanya mau bicara kalau disertai suamiku."

"Ahh, mana mungkin itu, nona? Urusan ini adalah urusan intern, urusan dalam di antara bangsa kita sendiri dan amat penting. Biarlah dia menanti di sini dulu, nanti kalau rapat yang kita adakan sudah selesai, engkau boleh datang kembali menjemputnya di sini. Aku akan merasa canggung, tidak enak dan akan menjadi buah tertawaan kalau dia diajak memasuki ruangan perundingan."

Sheila masih ragu-ragu, akan tetapi Seng Bu merasa tidak enak sendiri. Dia dapat mengerti alasan-alasan yang diajukan oleh kapten itu, maka diapun berkata.

"Sheila, pergilah, biar aku menanti di sini."

Terpaksa Sheila menggandeng lengan Kapten Charles Elliot yang mengajaknya menuju ke ruangan luas di ujung kapal di mana telah menanti beberapa orang yang pakaiannya gemerlapan, yaitu orang-orang berpangkat dari pasukan armada Inggeris yang berada di situ.

Semua orang bangkit berdiri dan memberi hormat ketika Sheila masuk dan wanita ini yang sudah hampir satu tahun hidup di antara orang-orang dusun sederhana, merasa betapa ganjil dan anehnya sikap sopan santun dan hormat seperti itu yang kini nampak seolah-olah merupakan sikap dibuat-buat saja.

Mereka lalu mengambil tempat duduk dan mulailah mereka merundingkan urusan pemakaman kembali jenazah keluarga Hellway yang dianngap gugur sebagai pahlawan!

Pahlawan!

Sungguh merupakan suatu sebutan yang muluk dan terhormat, bahkan mungkin diidamkan oleh semua orang.

Siapa yang tidak ingin menjadi orang yang disebut pahlawan, atau setidaknya menjadi keluarga pahlawan?

Seorang pahlawan adalah seorang yang sudah dianggap berjasa untuk negara dan bangsa, seorang yang perbuatannya patut dijadikan teladan dan dihormati semua orang, dari pembesar yang paling tinggi sampai rakyat yang paling rendah.

Akan tetapi, apa dan siapakah sesungguhnya pahlawan?

Pahlawan hanyalah seorang yang dianggap menonjol dan berjasa bagi suatu pihak, suatu golongan, suatu kelompok, atau suatu bangsa.

Seorang yang dianggap pahlawan besar bagi suatu bangsa, belum tentu dianggap pahlawan pula oleh bangsa lain, apa lagi kalau bangsa lain ini kebetulan menjadi lawan bangsa yang pertama.

Pahlawan dari suatu bangsa mungkin akan dianggap penjahat besar oleh bangsa yang menjadi musuhnya.

Dan bukankah pahlawan itu hanya merupakan suatu sebutan saja, yang diberikan untuk merangsang semangat semua orang yang tenaganya dibutuhkan untuk suatu perjuangan?

Setelah meninggal dunia, makamnya lalu dibikin bagus, dihormati setahun sekali hanya untuk waktu beberapa menit saja, kemudian ditinggalkan dan dilupakan lagi, bersunyi sepi terlupakan di antara kuburan-kuburan lain.

Atau keluarganya mungkin akan menerima sekedar sumbangan.

Bukankah semua ini hanya merupakan semacam piala atau medali saja bagi orang untuk merangsang orang-orang lain?

Dan orang yang berjuang demi mencari sebutan pahlawan atau keuntungan lain, baik keuntungan benda atau batin, kiranya hanya orang-orang pengejar keuntungan saja namanya.

Seorang pahlawan yang sesungguhnya pahlawan adalah orang yang melakukan sesuatu demi pengabdiannya akan sesuatu yang diagungkan, dimuliakan, tanpa mengharapkan jasa.

Berjuta pahlawan di dunia ini, yaitu mereka yang meninggalkan harta benda, keluarga, untuk berjuang membela negara dan bangsa, tanpa pamrih, kemudian gugur tanpa ada yang mengenalnya.

Mati begitu saja, tidak diberi cap pahlawan, tidak dihormati setiap tahun beberapa menit lamanya, tidak memperoleh tunjangan terhadap keluarganya yang ditinggalkan.

Mereka itulah pahlawan dalam arti yang seluas-luasnya.

Semoga damai abadilah bagi mereka itu!

Setelah mengikuti kepergian isterinya bersama Kapten Charles Elliot sampai mereka lenyap di dalam ruangan kamar di ujung kapal, barulah Seng Bu sadar bahwa dia tidak berdiri sendiri saja.

Di sekelilingnya telah berkerumun banyak orang dan ketika dia menoleh karena ada sesuatu di belakangnya yang menarik perhatiannya, dia tertegun karena dia telah berhadapan dengan Koan Jit!

Dia masih ingat benar wajah orang ini, orang tinggi kurus memakai jubah kebesaran berwarna hitam, dengan sepasang matanya yang seperti mata kucing, dengan wajahnya yang membayangkan kekejaman dan kelicikan.

Hanya kini, orang yang pernah dijumpainya satu kali ketika orang ini datang di puncak Tai-yun-san dan mencoba kepandaiannya dan kepandaian Ong Siu Coan, kemudian orang ini mencuri pusaka Giok-liong-kiam, telah berubah pakaiannya.

Mengenakan jubah seorang pembesar, dan kepalanya juga memakai kopyah atau topi batok seperti topi yang biasa dipakai oleh seorang pembesar Mancu, rambutnya dikuncir tebal dan ujungnya diikat pita kuning, sikapnya congkak sekali.

Dan beberapa orang yang berada di dekatnya adalah beberapa orang opsir dan perajurit bule dan juga beberapa orang yang mengenakan pakaian pasukan Harimau Terbang!

Seng Bu sudah dikurung!

Menghadapi ancaman ini, Seng Bu sudah siap siaga dan melihat pemuda itu memasang kuda-kuda, Koan Jit menyeringai.

"Huh, bocah sombong, apakah engkau masih ingat padaku?"

Seng Bu marah sekali.

"Siapa tidak ingat padamu? Sekali saja melihat seorang murid murtad, seorang maling dan seorang pengkhianat yang curang, selamanya aku takkan lupa!"

Tentu saja Koan Jit marah sekali mendengar dirinya dimaki di depan banyak orang. Diasegera meneriakkan aba-aba kepada para perajurit kulit putih.

"Tangkap orang ini!"

Seng Bu hendak memberontak, akan tetapi beberapa orang perajurit kulit putih sudah mendorongkan pistol ke dadanya.

Seng Bu maklum bahwa kalau dia melawan dengan nekat, selain dia harus menghadapi Koan Jit yang lihai, juga harus menghadapi senjata api yang tak boleh dipandang ringan.

Apa lagi isterinya masih berada di situ, maka dia tidak melawan.

Bahkan dia tidak melawan ketika seorang serdadu Inggeris yang bertubuh tegap dan berkumis menelikung kedua lengannya ke belakang dan memasang belenggu.

Dia hanya memandang kepada Koan Jit dengan mata berapi.

"Koan Jit, dengan alasan apa engkau menangkapku? Aku datang mengantar isteriku yang diundang sebagai tamu oleh Kapten Elliot!"

Koan Jit tertawa menyeringai dan menekan tangan kirinya di atas langkan besi di tengah kapal itu.

"Heh-heh, tentu saja. Nona Sheila Hellway memang menjadi seorang tamu terhormat, akan tetapi engkau ini siapa? Engkau seorang pemberontak, engkau seorang penjahat yang suka memusuhi golongan dan pasukan Inggeris!"

"Bohong! Fitnah! Aku datang mengantar isteriku, Sheila!"

"Engkau memata-matai kapal ini! Hayo jebloskan dia ke dalam kamar tahananku di bawah!"

Seng Bu maklum akan datangnya bahaya maka diapun cepat menggerakkan khikangnya dan berteriak.

"Sheilaaaa...!!"

Akan tetapi pada saat itu, Koan Jit sudah menotoknya sehingga pendekar itu menjadi lemas tak berdaya lagi, tak mampu melawan ketika dia diseret masuk ke tampat tahanan di bagian bawah kapal.

Biarpun demikian, teriakan yang mengandung khikang amat kuatnya itu telah menembus dinding tebal dan terdengar oleh Sheila.

Tentu saja wanita ini terkejut dan bangkit dari kursinya.

Tadi ia asyik membicarakan tentang pemindahan kerangka Ayah ibunya dan ia mengajukan permohonan agar kerangka itu dikubur di daerah Kanton saja, jangan dibawa pulang ke Inggeris.

Juga Kapten Charles Elliot dan yang lain-lain bangkit berdiri ketika mendengar pekik yang nyaring memanggil nama Sheila itu.

Tentu saja Kapten itu sudah dapat menduga apa yang terjadi, akan tetapi dia pura-pura berkata kepada Sheila.

"Akan kulihat apa yang terjadi di sana."

"Yang berteriak tadi suamiku!"

Kata Sheila, juga mengikuti kapten yang sudah berlari keluar.

Kapten Elliot dan Sheila, juga beberapa orang pejabat yang tadi ikut rapat, mendengar keterangan dari beberapa orang penjaga bahwa teriakan tadi memang teriakan Gan Seng Bu yang ditangkap dengan tuduhan sebagai penjahat dan pemberontak.

"Suamiku ditangkap? Kurang ajar! Siapa yang menangkapnya? Kapten, apa artinya semua ini!"

Bentak Sheila dengan mata terbelalak lebar dan marah sekali. Kapten itu memegang lengan wanita itu.

"Tenang dan bersabarlah, nona Sheila. Yang menangkap adalah perwira Koan, kepala dari pasukan Harimau Terbang. Memang dia bertugas menjaga keamanan dan melakukan pembersihan terhadap penjahat-penjahat dan pemberontakpemberontak dan agaknya dia mengenal suamimu sebagai seorang di antara pemberontak, maka lalu ditangkapnya."

"Akan tetapi, suamiku hanya melawan pemerintah Mancu! Dia bukan penjahat dan harus diingat pula bahwa dia datang untuk mengantar aku. Dia seorang tamu yang harus dihormati, bukan ditangkap! Kapten, aku protes! Suamiku harus dibebaskan sekarang juga!"

"Tenanglah, tenanglah. Aku yang menanggung bahwa kalau memang suamimu tidak bersalah, dia akan segera dibebaskan. Sekarang, biarlah dia mengalami pemeriksaan dari komandan Koan. Dia tidak akan diapa-apakan, hanya ditanyai tentang penjahat-penjahat yang sudah banyak membunuh orang-orang kita, dan yang sudah banyak membajak kapal-kapal kita pula. Tidak patutkah dia ditanyai kalau memang dia dicurigai?"

"Tapi dia suamiku!"

"Benar, akan tetapi dalam urusan ini tidak dipandang siapa saja, nona Hellway. Bahkan aku sendiri, kalau mencurigakan, bisa saja ditangkap dan diinterogasi. Sabarlah dan tinggallah di sini selama satu dua hari sampai selesai pemeriksaan terhadap Gan Seng Bu."

Karena dibujuk dan tidak berdaya membantah lagi, terpaksa Sheila bersabar dan menanti, walaupun hatinya tidak karuan rasanya.

Tak seorangpun di antara mereka itu berani mengganggunya atau kurang ajar kepadanya.

Akan tetapi hatinya penuh kekhawatiran terhadap suaminya.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa semua itu adalah hasil siasat yang sudah diatur sebelumnya oleh Koan Jit.

Koan Jit tidak berani menyerbu ke dusun di mana Seng Bu tinggal karena maklum betapa kuatnya dusun yang penuh dengan para patriot itu.

Dia menghendaki Seng Bu, sutenya itu yang tahu akan Giok-liong-kiam dan tahu pula akan pengkhianatannya terhadap Thian-tok, guru mereka.

Dia harus mampu menundukkan Seng Bu, kalau mungkin harus dibujuk atau dipaksa untuk membantunya agar kedudukannya menjadi semakin kuat.

Akan tetapi kalau tidak mau dan pemuda itu berkeras, dia akan membunuhnya!

Dan ternyata siasatnya itu berjalan sesuai dengan rencananya.

Sheila dan Seng Bu datang seperti dua ekor kambing yang dituntun ke dalam rumah jagal!

Tentu saja siasatnya ini tidak diketahui pula oleh Kapten Charles Elliot.

Kapten itu menganggap bahwa usul Koan Jit untuk mengundang Sheila untuk membicarakan tentang pemakaman kembali keluarga Hellway itu sebagai hal yang sudah sepatutnya.

Dia sama sekali tidak mengira bahwa di balik usul yang kelihatan baik sekali itu tersembunyi pamrih demi kepentingan pribadi Koan Jit.

Kapten Charles Elliot merasa serba salah setelah mendengar tentang ditawannya Seng Bu oleh Koan Jit.

Dia lalu memanggil Koan Jit dan diajak bicara empat mata dalam kabinnya.

Setelah Koan Jit menghadap, dia segera bertanya apa sebabnya Koan Jit menangkap Gan Seng Bu.

"Dia itu, bagaimana juga, adalah suami yang syah dari nona Sheila Hellway, dan dia datang untuk mengantarkan isterinya memenuhi panggilan kami. Kenapa engkau menangkapnya begitu saja? Kami menjadi merasa sangat tidak enak terhadap nona Hellway,"

Kata Kapten Charles Elliot.

Koan Jit tersenyum menyeringai.

Dia tidak pernah benar-benar menaruh hormat kepada atasan ini, karena di lubuk hatinya, dia tidak suka kepada orang-orang bule, hanya mempergunakan mereka untuk mencapai cita-citanya saja.

"Kapten, maafkan kalau aku menangkapnya tanpa lebih dulu melaporkan kepada kapten. Akan tetapi, Gan Seng Bu itu berbahaya bukan main. Dia lihai dan kalau tidak didahului ditangkap, aku khawatir dia akan menimbulkan bencana. Bencana besar sekali di sini."

"Bencana apa misalnya...?"

"Apa saja mungkin dia lakukan. Membunuh kapten misalnya, atau melakukan hal hebat lainnya."

"Kau gila!"

Kapten itu berseru marah dan tidak percaya.

"Tidak, kapten. Dia itu lihai bukan main, memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi, dan hanya aku seoranglah yang dapat mengatasinya. Dia seorang pemberontak besar, dengan kawan-kawannya dia membuat persekutuan untuk memberontak terhadap pemerintah dan tentu saja kadangkadang juga melakukan gerilya terhadap pasukan-pasukan kita. Beberapa pekan yang lalu, ketika anak buahku menyerbu ke dusunnya karena salah kira, mengira isterinya itu nona Diana, anak buahku dihajarnya habis-habisan. Bukankah berbahaya sekali orang seperti itu? Aku ingin meriksanya dan melihat sampai dimana keterlibatannya dengan para penjahat yang Suka mengacau di pelabuhan."

"Tapi... tapi"

Dia suami nona Sheila Hellway. Mau kau apakan dia? Jangan kau membunuhnya."

"Tidak dan belum lagi, kapten. Aku hendak menguras keterangan dari dia, dan kalau mungkin, hendak membujuknya agar dia membantu kita. Bukankah dengan demikian jauh lebih baik, bagi dia dan bagi nona Hellway. Coba kapten bayangkan. Nona Hellway sebagai isterinya, tinggal di antara pemberontak dan pembunuh-pembunuh itu. Kalau Gan Seng Bu mau bekerja sama dengan kita, bukankah tepat sekali."

Kapten Charles Elliot sudah percaya penuh kepada Koan Jit yang lihai dan cerdik, dan dia memang melihat kebenaran ucapan itu. Dia menganggukangguk.

"Akan tetapi jangan kau berbuat yang bukan-bukan. Jangan membunuhnya. Kalau nona Hellway marah dan memprotes ke atasan, aku sendiri bisa celaka."

"Aku tidak sebodoh itu, kapten. Dia akan kuperiksa dan kupaksa memberi keterangan dimana kita bisa menemukan nona Diana Mitchell."

Kembali kapten itu mengangguk-angguk.

"Hemm"

Kalau begitu baiklah. Asal engkau tahu batas dan jangan siksa dia. Dan bagaimana engkau begitu yakin bahwa Gan Seng Bu itu orang yang memiliki kepandaian hebat sekali? Kulihat dia orang biasa saja."

Koan Jit tersenyum cerdik.

"Akulah orang yang paling tahu, kapten"

Karena dia itu adalah adik seperguruanku sendiri."

"Ahhh...!!"

Koan Jit tersenyum melihat betapa kapten itu terkejut dan kini kapten itu tidak membatah lagi.

Kalau orang yang ditawan itu adik seperguruan Koan Jit, tentu lihai bukan main dan kalau begitu, urusan itu lebih bersifat intern kekeluargaan antara saudara-saudara seperguruan.

"Baiklah, aku memberi waktu sampai besok sore. Harus selesai dan dia harus dapat dibebaskan, karena aku sudah berjanji kepada nona Sheila Hellway."

"Baik, kapten."

Koan Jit begitu yakin akan hasil baik siasatnya.

Akan tetapi di dunia ini, harapan lebih banyak menelurkan kekecewaan daripada kepuasan.

Dia menghadapi watak yang keras seperti baja dan semangat yang pantang mundur dalam diri Gan Seng Bu, sutenya itu.

Dia memang belum pernah berkenalan dengan Seng Bu dan tidak tahu bahwa watak dari murid gurunya yang satu ini berbeda dengan yang lain.

Seng Bu yang baru satu kali dijumpainya memiliki watak yang sama sekali tidak pantas menjadi murid seorang datuk sesat seperti Thian-tok!

Seperti lajimnya pada tokoh-tokoh sesat atau semua anggauta golongan hitam, kehidupan mereka hanya menjadi hamba dari pada nafsu-nafsu mereka.

Hidup mereka hanya untuk bersenang-senang, mengejar kesenangan dan memenuhi semua keinginan dan kepentingan diri sendiri, tanpa memperdulikan orang lain, bahkan kalau perlu menghancurkan orang-orang lain yang dianggap sebagai penghalang dari tujuannya untuk menyenangkan diri.

Karena itulah, mereka itu suka melakukan segala macam pelanggaran, tanpa memperdulikan kesopanan, kesusilaan, kehormatan, perikemanusiaan ataupun dalam mengejar segala macam hal yang dikehendakinya.

Dan karena ini, mereka banyak melakukan kejahatan-kejahatan dan disebut golongan hitam atau kau m sesat.

Thian-tok sendiri adalah seorang di antara Empat Racun.

Tentu saja dapat dibayangkan betapa kejam dan jahatnya, betapa besar ambisi hidupnya dan entah berapa banyak perbuatan keji yang pernah dilakukannya.

Tentu saja murid-muridnya juga demikian, termasuk Koan Jit, yang merasa paling tepat menjadi murid Si Racun Langit itu.

Dan tadinya dia mengira bahwa sebagai murid Thian-tok, tentu Gan Seng Bu juga sama saja.

Tentu mudah diajak berunding dan bersekutu kalau dipameri kedudukan yang baik dan keuntungan besar bagi dirinya.

Akan tetapi, kiranya Koan Jit sama sekali salah terka!

Gan Seng Bu begitu keras dan kuat dalam pendiriannya, membela kebenaran dan keadilan, menentang penjajahan bukan untuk mencari kedudukan, melainkan bangkit dari rasa patriotnya.

Dan juga tidak sudi bersekutu dengan orang kulit putih yang dianggap meracuni bangsanya.

Bermacam akal dipergunakan Koan Jit untuk membujuk, namun sia-sia belaka!

"Gan Seng Bu,"

Katanya kehabisan akal.

"Bukankah engkau ini murid suhu Thian-tok? Dengan demikian, bukankah engkau ini seorang suteku sendiri? Kenapa seorang sute tidak mau menurut kata-kata seorang toa-suheng?"

Seng Bu yang dibelenggu pada sebuah pilar itu diikat lehernya, tubuhnya, kaki dan tanggannya, sehingga dia tidak mampu bergerak, mencibirkan bibirnya.

"Koan Jit, engkau sendiri menyerang suhu dengan curang, mencuri Giok-liong-kiam dan pernah menyerang aku dan suheng Ong Siu Coan, hampir membunuh kami. Apa anehnya kalau sekarang aku melawanmu?"

"Goblok! Kalau engkau mau membantuku, engkau akan hidup mulia. Kelak mungkin aku akan menjadi kaisar, tahukah kau ? Dan engkau kelak dapat menjadi menteri! Giok-liong-kiam berada di tanganku. Kalau kau membantuku menghadapi mereka yang hendak merampasnya, dan kelak kita memperoleh hasilnya, bukankah kita akan hidup makmur? Kenapa kau begini tolol dan pura-pura bersikap seperti seorang pendekar sejati? Engkau hanya murid Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia. Jangan Sok aksi dan berlagak menjadi pendekar!"

"Sudahlah, Koan jit. Bebaskan aku, atau kalau memang engkau gagah, mari kita bertanding secara gagah. Aku tidak takut kepadamu! Jangan kau menggunakan kedudukanmu di sini menjadi anjing penjilat orang kulit putih, untuk berbuat curang!"

"Plakkk"!"

Koan Jit menampar muka Seng Bu, akan tetapi yang ditampar sama sekali tidak berkedip walaupun tamparan itu membuat pipinya menjadi merah.

Pada Saat itu, pintu kamar itu diketuk orang dari luar, Koan Jit menyumpah dan membuka daun pintu.

Kiranya seorang serdadu kulit putih yang muncul.

Dia memberi hormat secara militer kepada Koan Jit dan melaporkan bahwa nona Sheila Hellway datang hendak bicara dengan dia.

Wajah keruh Koan Kit seketika menjadi berseri.

"Ah, ia datang ? Baik, baik, silahkan ia masuk ke sini."

Serdadu itu melirik ke arah Seng Bu yang terbelenggu, lalu memberi hormat dan membalikkan tubuhnya.

Tak lama kemudian dia datang lagi mengiringkan Sheila yang wajahnya agak pucat dan sinar matanya menunjukkan kekhawatiran dan juga kemarahan.

Sheila nampak cantik sekali pagi hari itu.

Rambatnya tersisir rapi, mukanya diberi bedak tipis dan kedua matanya seperti bintang pagi.

Gaunnya juga baru dan terbuka di kedua pundaknya, memperlihatkan lekuk buah dadanya yang menggembung karena ia berada dalam keadaan mengandung.

Cantik dan segar berseri, membuat Koan Jit diam-diam menelan ludahnya.

"Ah, nona Hellway. Silahkan masuk, silahkan""

Koan Jit menyambut dengan sikap hormat dan ramah sekali.

Akan tetapi karena memang dia tidak memiliki wajah yang ramah ketika dia tersenyum, senyum itu nampak dingin dan menyeringai aneh.

Akan tetapi Sheila tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan sikap aneh itu, karena matanya sudah mencari-cari ketika kakinya melangkah masuk.

Iapun tidak sadar betapa daun pintu sudah ditutup kembali oleh Koan Jit tanpa memperdulikan serdadu bule yang tadi mengantar Sheila.

Serdadu itu mengerutkan alisnya dan tetap berdiri di luar pintu kamar itu.

Begitu memasuki ruangan yang agak luas itu dan melihat suaminya berdiri dan terbelenggu di pilar, Sheila mengeluarkan jerit tertahan dan cepat ia lari menghampiri Suaminya, lalu membalikkan tubuhnya dan memandang kepada Koan Jit dengan mata terbelalak penuh kemarahan.

"Kenapa suamiku dibelenggu seperti ini? Hayo lepaskan belenggunya!"

Bentaknya marah sekali.

Koan Jit memperlebar senyumnya dan dengan sikap kurang ajar sekali dia mengangkat kaki kanannya di atas kursi, menunjang dagu dan memandang kepada wanita itu dengan sinar mata cabul.

"Kalau kau dapat, lepaskan sendiri, nona manis."

Baru ucapan itu saja sudah mengandung kekurangajaran, dan hal ini dirasakan oleh Seng Bu. Pemuda ini dapat membayangkan bagaimana jahatnya watak seorang seperti Koan Jit, maka diapun membentak.

"Koan Jit! Urusan antara kita jangan kau libatkan dengan isteriku! Kalau memang kau jantan, biarpun engkau masih kakak seperguruanku sendiri, lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seribu jurus. Jangan bersikap curang, menangkap aku dengan bantuan serdadu Inggeris, kemudian hendak melibatkan isteriku. Sheila, kau keluarlah dan jangan mencampuri urusan ini!"

Seng Bu sengaja bicara panjang lebar untuk memberi tahu isterinya akan duduknya perkara mengapa dia sampai terbelenggu di tempat itu.

"Tidak!"

Sheila berteriak dan marah sekali, maju menghampiri Koan Jit.

"Aku sudah mendengar tentang penjahat yang bernama Koan Jit ini! Engkau murid durhaka, mengkhianati guru sendiri dan sekarang engkau dengan curang menangkap adik seperguruanmu sendiri. Hayo bebaskan dia atau aku akan melaporkan kepada Kapten Elliot!"

"Ha-ha-ha, mau lapor? Laporlah, nona manis, karena diapun sudah tahu bahwa aku menangkap, suamimu."

"Bohong! Dia tidak akan menangkap suamiku! Koan Jit, hayo cepat bebaskan dia. Tidak ada alasan bagimu untuk menangkapnya!"

"Tidak ada alasan? Dia pemberontak, dia memimpin kawan-kawannya untuk menentang dan memusuhi orang kulit putih. Nona Sheila Hellway, engkau sungguh tidak tahu malu. Engkau telah mengkhianati bangsamu sendiri dengan menjadi isteri seorang musuh bangsamu. Seharusnya engkau bersyukur bahwa engkau telah bebas dari orang ini dan berterima kasih kepadaku!"

"Tutup mulutmu yang busuk!"

Sheila membentak, semakin marah mendengar ucapan orang yang semakin kurang ajar itu. Bagaimana ada seorang bawahan Kapten Elliot berani berkata itu kepada dirinya.

"Lekas bebaskan suamiku. Dia tidak berdosa, dia adalah seorang pendekar besar, penentang penjajah."

"Heh-heh, murid guru kami Thian-tok, seorang datuk kau m sesat, mana bisa menjadi pendekar? Dia tawananku, akan kubunuh, kusiksa atau kuapakan saja adalah hakku. Engkau tidak bisa memaksaku membebaskannya, nona."

Wajah Sheila menjadi semakin pucat.

Ia lari menghampiri suaminya dan berusaha melepaskan belenggu-belenggu itu, akan tetapi mana mungkin tangannya yang lemah itu dapat melepaskan belenggu yang demikian kuatnya?

Apalagi kedua tangan dan kaki itu dipasangi belenggu besi.

Setelah usahanya sia-sia belaka, Sheila lalu lari menghampiri Koan Jit seperti seekor Singa betina yang marah karena anaknya diganggu.

"Jahanam! Bebaskan dia! Bebaskan suamiku!"

Dicobanya untuk memukuli dada dan muka Koan Jit.

Akan tetapi laki-laki ini hanya tersenyum saja, membiarkan dadanya dipukuli.

Merasakan kehangatan dan kelembutan tangan wanita itu, melihat betapa dada yang nampak menonjol bersar itu naik turun, mencium kehangatan yang harum, tiba-tiba saja timbul nafsu berahi Koan Jit.

Kenapa tidak?

Dia benci sekali kepada Seng Bu.

Kalau Seng Bu tidak mau membantunya, dia tentu akan membunuhmsute itu, dan sebelum dibunuh, apa salahnya kalau disiksa dulu, disuruh menyaksikan isterinya yang hamil tiga bulan itu dia perkosa di depan, matanya?

Membayangkan kejahatan yang istimewa ini, sepasang mata Koan Jit bersinar-sinar penuh kegirangan.

Akan tetapi, dia masih ingat akan keuntungan yang lebih besar lagi, maka ditangkapnya kedua tangan wanita itu dengan tangan kanannya, ditelikungnya ke belakang sambil tersenyum.

"Lepaskan aku! Jahanam busuk, lepaskan aku!"

Sheila meronta-ronta, tanpa hasil dalam cengkeraman tangan kanan Koan Jit yang kuat.

"Koan Jit, lepaskan isteriku, jangan ganggu dia! Demi Tuhan, akan kubunuh kau kalau kau mengganggunya!"

Seng Bu juga berteriak dan meronta-ronta, akan tetapi betapapun lihainya, dia tidak dapat melepaskan belenggu besi pada pergelangan kedua tangan yang ditelikung ke belakang dan kedua pergelangan kakinya.

"Sute, sekarang kau pertimbangkan baik-baik. Engkau menerima usulku agar membantuku, atau aku akan memperkosa isterimu di depan matamu."

Bukan main hebatnya ancaman ini bagi Seng Bu. Isterinya akan diperkosa di depan matanya! Isterinya yang mengandung tiga bulan! "Koan Jit"

Kau keparat jahanam...!!"

Dia terengah-engah memaki dan keringatnya keluar satu-satu, matanya terbelalak melotot seolah-olah hendak ditelannya bulat-bulat orang yang dibencinya itu.

Sheila sendiri juga kaget setengah mati mendengar ancaman itu.

"Apa... usul bantuan apa itu...?"

Tanyanya gagap karena panik mendengar dirinya akan diperkosa.

Koan Jit tersenyum dan mendekatkan mukanya dengan wajah yang cantik itu.

Muak rasanya perut Sheila mencium bau mulut yang busuk dari Koan Jit, agaknya keluar dari giginya yang rusak.

"Nona, suamimu kuminta untuk membantu pemerintah Ceng dan juga menentang para pemberontak dan membantu bangsamu, juga membebaskanmu. Dia akan memperoleh kedudukan tinggi, dihormati, apalagi dia sudah menikah denganmu. Bukankah usul itu baik sekali? Bujuklah agar dia mau, dan aku akan membebaskan suamimu dan membebaskanmu."

Hebat benar penekanan batin dari Koan Jit itu.

Agaknya tidak ada pilihan lain bagi Sheila dan suaminya kecuali menurut.

Sheila memandang suaminya, akan tetapi melihat wajah suaminya yang gagah perkasa dan membayangkan semangat perjuangan yang meluap-luap, hati Sheila menjadi kuncup dan ia tidak berani membujuk suaminya untuk menerima usul itu.

Ia sendiri tidak setuju kalau suaminya harus menjadi kaki tangan bangsanya yang jelas-jelas mempunyai niat kotor terhadap Bangsa Cina itu, akan tetapi melihat betapa mereka berdua terancam bahaya yang lebih hebat dari pada maut, ia diperkosa di depan suaminya kemudian suaminya disiksa dan dibunuh, rasanya mau ia berkorban dan menerima usul Koan Jit.

"Koan Jit, manusia berwatak iblis! Kalau memang kau gagah perkasa, jangan mengganggu wanita. Lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mati tak bernyawa lagi. Dengan begitu barulah engkau seorang gagah, bukan seorang pengecut hina yang namanya akan dikutuk selama hidup."

Seng Bu kembali memaki dengan marah.

"Benar, kami takkan menyerah. Bunuhlah kami, kami adalah orang-orang gagah yang tidak takut mati, tidak seperti engkau ini, berjiwa tikus yang curang!"

Sheila juga memaki, terbawa semangatnya oleh sikap suaminya yang gagah perkasa.

Koan Jit bukan orang bodoh.

Tadi dia melihat keraguan di wajah Sheila, tanda bahwa wanita itu sudah mau tunduk dan menurut demi menyelamatkan nyawa suaminya dan menyelamatkan diri sendiri.

Mungkin gertakannya kurang meyakinkan, pikirnya.

Harus mereka ini diberi bukti bahwa ancamannya bukan main main, dan pula melihat mulut yang bibirnya merah basah dan lidahnya yang nampak ketika bicara tadi demikian merah, juga rongga mulut yang segar dengan gigi yang putih seperti mutiara, sudah timbul berahinya.

"Seng Bu, bagaimana kalau isterimu yang cantik ini kucium? Aku ingin sekali menciumnya!"

Berkata demikian, Koan Jit menundukkan mukanya.

Sheila terbelalak dan berusaha mengelak dengan membuang mukanya ke kanan kiri, akan tetapi akhirnya mulut Koan Jit dapat menangkap mulutnya dalam sebuah ciuman yang penuh nafsu berahi.

Seng Bu mengerahkan tenaga untuk melepaskan belenggu, sampai pergelangan tangan dan kakinya berdarah karena kulitnya terluka, namun hasilnya sia-sia.

Sampai lama Koan Jit mencium dan ketika dia melepaskan ciumannya sambil tersenyum, Sheila terengah-engah dengan muka pucat.

"Bngsat kau , keparat jahanam terkutuk kau ...!"

Ia memaki-maki dan meronta-ronta.

"Bagaimana, Seng Bu, engkau masih tidak mau menyerah dan ingin aku memperkosanya di depan matamu?"

Koan Jit mengancam lagi.

Sebelum Seng Bu sempat menjawab, tiba-tiba pintu depan terbuka dan serdadu kulit putih yang tadi mengantar Sheila melangkah masuk.

Dari luar dia mendengar suara ribut-ribut dan mendengar pula teriakan Sheila.

Ketika dia masuk dan melihat betapa Sheila ditelikung kedua tangannya ke belakang dan dipeluk oleh Koan jit, serdadu itu menjadi marah bukan main.

Dia tahu bahwa Koan Jit adalah orang yang sudah dipercaya oleh Kapten Elliot, bahkan memperoleh pangkat perwira.

Akan tetapi melihati seorang wanita kulit putih dihina oleh Koan Jit, kemarahannya memuncak.

Dengan geram, dia melangkah menghampiri Koan Jit dan membentak.

"Lepaskan nona Hellway!"

Dan diapun menggunakan tangannya untuk menarik lengan Koan Jit yang merangkul pinggang Sheila.

Akan tetapi, sambil terkekeh, Koan Jit menggerakkan kakinya menendang dan serdadu itupun terpelanting roboh!

Dalam keadaan marah dan penasaran karena Seng Bu belum juga mau tunduk, Koan Jit menjadi pemarah dan dia tidak perduli lagi bahwa yang menentangnya itu adalah seorang kulit putih.

Serdadu itupun semakin marah dan diapun meloncat bangun, lalu menerjang dan menerkam Koan Jit.

Koan Jit masih merangkul Sheila sambil mencengkeram kedua pergelangan tangan wanita itu dengan tangan kanan.

Akan tetapi untuk menghadapi serdadu itu, dia cukup menggunakan tangan kirinya dan kedua kakinya.

Kini tangan kirinya menyambar ke depan ketika serdadu itu menubruk dan sekali mencengkeram, dia telah merobek baju seragam si serdadu itu.

"Bretttt!"

Baju itu robek dari leher sampai ke perut.

Serdadu itu masih terus memukul, akan tetapi kembali dia terpelanting karena tangan Koan Jit sudah menamparnya.

Berkali-kali serdadu yang masih penasaran itu menyerang dengan nekat, akan tetapi hasilnya hanyalah tubuhnya jatuh bangun dan pakaiannya robek-robek, babak belur dan benjot-benjol.

Ketika dia masih menyerang lagi, sebuah tendangan membuat dia knocked-out!

Dia roboh pingsan tak mampu bangkit kembali.

Kalau Koan Jit menghendaki, tadipun dengan sekali pukul dia sudah akan mampu merobohkan serdadu itu untuk tidak dapat bangkit lagi.

Akan tetapi dia tidak bodoh dan tidak mau membunuh seorang serdadu kulit putih, karena hal itu berarti dia mengundang bencana atas dirinya sendiri.

Akan tetapi keributan itu memancing perhatian para serdadu lain dan cepat Kapten Charles Elliot diberitahu.

Kapten itu terkejut dan marah, cepat berlari memasuki kamar itu dan mencabut pistolnya ketika dia melihat seorang serdadu kulit putih roboh pingsan dan Koan Jit masih mencengkeram Sheila.

"Koan Ciangkun"

Bebaskan nona Hellway!"

Kapten Charles Elliot membentak dengan marah sambil menodongkan pistolnya ke arah dada Koan Jit.

Tentu saja dengan kepandaiannya yang tinggi, Koan Jit tidak gentar menghadapi ancaman pistol itu.

Akan tetapi dia tidak bodoh, tidak mau melawan atasannya.

Maka sambil menyeringai dengan senyum mengejek, dia mendorong tubuh Sheila sehingga wanita itu terhuyung ke belakang.

Sheila lalu berlari menghampiri suaminya dan merangkul suaminya yang masih dibelenggu sambil menangis.

"Kapten,"

Kata Koan Jit membela diri.

"Kenapa kapten menghalangi aku yang sedang memeriksa tawanan?"

"Perwira Koan! Engkau memeriksa tawanan tentu saja boleh, akan tetapi mengapa engkau memukuli seorang perajurit dan engkau menghina nona Hellway?"

Bentak komandan itu dengan alis berkerut dan pistolnya masih berada di tangannya, walaupun kini tidak lagi ditodongkan ke arah Koan Jit.

"Kapten, aku sedang memeriksa Seng Bu ketika nona ini datang, dan aku sengaja menangkapnya untuk memaksa Seng Bu agar dia suka membantu dan memperkuat kedudukan kita. Akan tetapi mereka ini malah mengeluarkan kata-kata menghina. Dan sebelum aku selesai dengan pemeriksaanku, datang pula prajurit ini yang menyerangku. Terpaksa aku merobohkannya tanpa melukai berat atau membunuhnya. Harap kapten ketahui bahwa aku melakukan semua ini demi keuntungan kita.

"Bobong!"

Tiba-tiba Sheila menjerit dalam Bahasa lnggeris kepada kapten itu.

"Dia hendak membunuh suamiku dan hendak memperkosa aku!"

Mendengar teriakan Sheila ini, kapten itu terkejut.

Kalau begini, urusannya menjadi repot dan gawat.

Koan Jit merupakan tenaga yang amat baik, dan Gan Seng Bu memang perlu diperiksa.

Dia sudah mendengar bahwa suami Sheila itu adalah seorang pemberontak dan pejuang.

Akan tetapi sama sekali dia tidak suka mendengar bahwa untuk memaksa tawanannya, Koan Jit sampai mengancam hendak memperkosa Sheila, seorang wanita kulit putih!

Kapten Charles Elliot lalu menghampiri Seng Bu dan bertanya.

"Orang muda, bukankah perwira Koan mengajukan usul yang amat baik padamu? Engkau membantu kami di sini dan hidup bahagia bersama isterimu di sini. Kenapa menolak?"

"Maaf, kapten. Aku datang hanya mengantar isteriku saja, dan aku mempunyai pendirian sendiri tentang perjuangan. Akan tetapi Koan Jit menangkapku secara curang sekali."

Kapten Elliot lalu teringat akan satu cara untuk menyelesaikan urusan itu.

"Kalau dia tidak menangkap secara curang, akan tetapi kalian bertanding satu lawan satu, bagaimana?"

Tanya kapten itu.

"Baik sekali! Aku akan menghadapinya, kapten. Bagi seorang gagah, mati di dalam suatu perkelahian adalah suatu kehormatan! Aku akan melawannya dan biarlah antara kami menentukan siapa yang akan mati dan siapa yang akan hidup."

"Seng Bu!"

Sheila merangkul suaminya dan menangis.

Wanita ini sudah banyak mendengar dari suaminya tentang kelihaian Koan Jit dan tentang kecurangannya, maka tentu saja ia sangat khawatir sekali mendengar bahwa suaminya akan diadu dengan manusia iblis itu.

"Sheila, jangan khawatir. Engkau tahu bahwa suamimu ini hidup di dekat bahaya selalu, setiap saat bisa saja tewas dalam pertempuran. Akan tetapi mati dalam perkelahian bagiku merupakan suatu hal yang menggembirakan. Biarlah aku akan berusaha membalas penghinaan atas dirimu tadi, isteriku. Dan andaikata aku kalah dan tewas, engkau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, bukan? Kita sudah seririg bicara tentang kemungkinan itu."

Sheila menahan kesedihan hatinya.

Memang, ia tahu hahwa ia telah menikah dengan seorang pejuang yang setiap saat bisa saja menjadi korban perjuangan dan gugur.

Dan mereka sudah seringkali bicara di waktu tidur mengenai kemungkinan ini.

Kalau suaminya gugur, ia akan merawat kandungannya sampai terlahir, dan mereka sudah sepakat bahwa anak yang akan terlahir itu tidak akan dibawa ke inggeris.

Bahkan andaikata ia terpaksa pulang ke inggeris, anak itu akan ditinggalkan di tanah airnya, di negeri Cina dan akan diserahkan kepada kawan-kawan seperjuangan untuk mengasuhnya.

Suatu keputusan yang amat berat baginya, namun ia sudah berjanji akan mentaati permintaan suaminya itu.

Sementara itu, Kapten Charles Elliot lalu berpaling kepada Koan Jit.

"Bagaimana, perwira Koan? Maukah engkau bertanding melawan dia? Dari pada ribut-ribut memperebutkan kebenaran, lebih baik diselesaikan melalui kepalan, bukan? Kurasa demikian pendirian para orang gagah di sini."

Kapten itu memang sudah mengambil keputusan tetap.

Koan Jit merupakan seorang tenaga yang amat penting.

Sebaliknya, Seng Bu, biarpun seorarig pejuang, adalah suami yang syah dan Sheila Hellway yang bahkan sudah mengandung.

Jadi, seorang di antara mereka harus lenyap kalau keduanya tidak dapat bekerja sama.

Koan Jit terkekeh dengan nada suara yang merendahkan sekali.

Manusia ini memang amat sombong dan terlalu percaya diri sendiri, apalagi dia memang memiliki keyakinan bahwa bagaimanapun juga, tingkat ilmu kepandaiannya masih lebih tinggi dibandingkan Ong Siu Coan atau Gan Seng Bu.

Dengan aksinya, dia lalu memberi hormat secara militer dengan mengangkat tangan kanannya ke tepi topi batoknya, hal yang tentu saja lucu karena topinya bukan topi tentara.

"Siap, kapten. Dengan segala senang hati, aku akan menghajar tikus ini sampai mampus!"

"Baik, kita adakan pertandingan ini dengan seadil-adilnya dan disaksikan oleh pasukan. Diadakan di darat. Pengawal, lepaskan belenggu dan tubuh Gan Seng Bu itu,"

Perintah Kapten Charles Elliot.

Sheila lari menghampini kapten itu dan membujuk agar suaminya dibebaskan saja dan tidak perlu disuruh berkelahi.

Akan tetapi kapten itu menggeleng kepala dan berkata dengan alis berkerut.

"Nona Hellway, engkau tahu sendiri bahwa suamimu dijatuhi tuduhan yang amat berat. Selain menjadi pemberontak pemerintah, juga dia dan kawan-kawannya dituduh menentang bangsa kita. Kalau tidak melihat engkau yang menjadi isterinya, tentu aku tidak perduli lagi dan menyerahkan dia kepada perwira Koan. Akan tetapi mengingat bahwa engkau adalah isterinya, maka aku memberi kesempatan dan kehormatan kepadanya untuk membela diri. Bukankah lebih baik begitu?"

Dengan air mata berlinang, Sheila berkata.

"Suamiku adalah seorang patriot, mati baginya bukan, apa-apa kalau hal itu terjadi di waktu dia membela bangsa dan tanah air. Akan tetapi, kalau dia mati... aku"

Aku""

Kapten itu dengan simpatik memegang tangan wanita itu.

"Tenanglah. Mati hidup di tangan Tuhan, bukan? Dan kalau memang suamimu sudah menghendaki demikian, ada pilihan apa lagi?"

Sheila merasa tiada gunanya mohon kepada kapten itu, maka iapun lalu menghampiri suaminya yang kini sudah dibebaskan dan belenggu.

Mereka saling rangkul dan saling berciuman, seolah-olah hal itu terjadi untuk terakhir kali dan mereka seperti tidak mau saling melepaskan.

Melihat adegan ini, Koan Jit menjadi ini dan mendongkol.

"Hel, Gan Seng Bu, engkau ini jantan ataukah banci? Mau bertanding ataukah mau bermain cinta saja? Kalau memang berani, hayo keluar!"

Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar, Koan Jit menuruni tangga kapal dan memasuki sebuah perahu kecil yang membawanya ke daratan.

Mendengar seruan itu, Seng Bu menggandeng tangan isterinya dan juga menuruni tangga kapal, menuju ke sekoci dimana telah menanti selosin orang perajurit bule dengan senapan di tangan.

Dia dikawal ke daratan, lalu disusul oleh Kapten Charles Elliot.

Ternyata berita tentang perkelahian itu sudah tersiar sejak tadi.

Di daratan sudah berkumpul para serdadu bule juga para pasukan Harimau Terbang yang sudah membuat lingkaran luas, dan tempat itu dikepung oleh pasukan yang juga menjadi penonton.

Bahkan kuli-kuli pelabuhan juga berhenti bekerja untuk menonton perkelahian itu.

Di antara mereka ada yaag sudah mengenal Gan Seng Bu sebagai seorang pejuang yang gagah perkasa, maka mereka megharapkan agar pendekar ini akan mampu merobohkan Koan Jit yang mereka benci.

"Nona Hellway, apakah tidak lebih baik kalau engkau tinggal saja di kamar dan tidak menyaksikan pertandingan ini?"

Kapten Charles Elliot yang merasa kasihan kepada wanita itu berkata lirih. Akan tetapi Sheila mempererat pegangan tangannya pada lengan suaminya.

"Tidak! Kalah atau menang, aku harus menjadi saksi. Aku ingin melihat suamiku berjuang sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa!"

Katanya dengan nada suara bangga.

"Tenangkan hatimu, Sheila"

Dan ingat semua perjanjian kita,"

Kata Seng Bu dan diapun mencium bibir isterinya untuk yang terakhir kali.

"Tuhan menyertaimu, suamiku."

Bisik Sheila dengan air mata berlinang.

Akan tetapi dengan tabah wanita ini lalu duduk di atas kursi yang disediakan untuknya, di pinggir dan berusaha menekan jantungnya yang berdebar karena tegang.

Apalagi ia sebagai isteri orang yang hendak berjuang mati-matian, bahkan di dalam dada semua orang yang nonton pertandingan itupun diliputi ketegangan.

Mereka semua sudah tahu betapa lihai dan kejamnya Koan Jit, dan tahu bahwa di dalam perkelahian ini, tentu salah seorang di antara keduanya akan tewas!

Kapten Charles Elliot hendak bertindak adil dalam perkelahian itu, maka melihat betapa Gan Seng Bu sama sekali tidak bersenjata, sebaliknya tadi Koan Jit mengenakan pedang pangkatnya di pinggangnya, diapun berkata.

"Komandan Koan, harap tanggalkan pedangmu itu, karena lawanmu juga tidak membawa pedang."

Koan Jit tersenyum.

"Kapten, aku memakai pedang ini bukan untuk melawannya, melainkan hanya sebagai tanda pangkat saja. Untuk memukul seekor anjing kecil perlu apa menggunakan pedang?"

Setelah berkata demikian, tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu pedang yang tadi bergantung di pinggang, bersama sarungnya telah terlempar ke udara, berputaran seperti terbang kemudian meluncur ke bawah dan menancap bersama bersama sarungnya sampai amblas dalam sekali di pinggiran tempat lingkaran yang menjadi arena perkelahian itu.

Melihat demonstrasi kelihaian yang seperti permainan sulap saja ini, beberapa orang bertepuk tangan memuji, tentu saja terutama sekali para anggauta Harimau Terbang yang semua berpihak kepada Koan Jit, komandan mereka.

Koan Jit lalu melangkah maju memasuki lingkaran orang-orang yang duduk di sekeliling tempat itu, dan kembali munculnya ini disambut tempik sorak oleh para anggauta Harimau Terbang.

"Semoga damai dan bahagia selalu menyertaimu, isteriku."

Bisik Seng Bu.

"Semoga Tuhan melindungimu, suamiku,"

Bisik Sheila ketika Gan Seng Bu minta diri, dan orang muda inipun lalu memasuki lingkaran.

Ternyata banyak pula yang menyambutnya dengan sorakan.

Bukan hanya dari para kuli pelabuhan yang semua berpihak kepadanya, akan tetapi juga ada beberapa perajurit bule yang berpihak kepadanya, Mungkin karena pendekar ini adalah suami Sheila, atau mungkin karena mereka memang merasa tidak suka kepada Koan Jit.

Kemunculan Seng Bu sama sekali tidak mengesankan, seorang pemuda bertubuh tegap yang amat sederhana, seperti seorang petani saja, berbeda dengan Koan Jit yang berpakaian indah.

Dua orang jagoan itu kini saling berhadapan.

Lingkaran itu cukup luas, garis tengahnya tidak kurang dan limabelas meter, cukup untuk suatu perkelahian yang bagaimana dasyatpun.

Karena maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli silat dan satu sumber, maka diapun tahu bahwa ilmu-ilmu silat yang dipelajaninya dari Thian-tok, tentu semua dikenal baik oleh Koan Jit, bahkan mungkin dia masih kalah matang dalam latihan, mengingat bahwa usia Koan jit dua kali usianya.

Akan tetapi dia memiliki ilmu silat andalan yang dilatihnya dengan baik dan gurunya, yaitu Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan Kunhoat.

Ilmu silat yang berdasarkan Ngo-heng (Lima Unsur) ini memang lihai sekali dan memiliki banyak sekali perubahan-perubahan sesuai dengan kedudukan lima unsur.

Bisa panas dasyat seperti api, bisa juga lunak dan dalam seperti air, bisa pula keras dan kuat seperti logam, atau bisa lentur seperti kayu, juga dapat cepat dan halus seperti angin.

Karena maklum akan kelihaian lawan, maka Seng Bu segera memasang kuda-kuda dengan kedua kaki berdiri tegak, tangan kiri ke atas dan tangan kanan ke kawah, lutut agak ditekuk.

Kuda-kuda ini mengandung dua unsur Angin dan Logam, dapat bergerak cepat sekali dan juga dapat melancarkan pukulan dahsyat dan bawah.

Tentu saja dalam pemasangan kuda-kuda ini, dia sudah mengumpulkan tenaga sinkang di seluruh tubuh, terutama di kedua lengannya.

Melihat pemasangan kuda-kuda ini, Koan Jit yang sombong tersenyum mengejek.

Dia dapat menduga bahwa tentu lawannya memainkan ilmu yang baru dan suhunya yang belum sempat dipelajarinya, akan tetapi karena sejak kecil dia murid Thian-tok, tentu saja dia mengenal sumbernya yang khas dari Thian-tok.

Dia sendiri, selain ilmu-ilmu dan Thian-tok, juga sudah mempelajari banyak sekali ilmu silat yang aneh-aneh, yang membuatnya menjadi lihai bukan main, terutama sekali dia amat hebat dalam ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat tubuhnya seperti dapat terbang saja.

Maka, diapun ingin merobohkan lawan mengandalkan ginkangnya.

"Hyaaaattt!"

Tiba-tiba Koan Jit mengeluarkan seruan melengking nyaring.

Inilah semacam Sin-houw Ho-kang (Auman Harimau Sakti).

Getaran suara ini membuat banyak orang menjadi pening dan cepat menutupi telinga dengan tangan.

Akan tatapi karena gerengan itu ditujukan kepada Seng Bu, tentu saja yang paling merasakan daya serangannya adalah orang muda ini.

Akan tetapi, diapun sudah mempelajari Sin-houw Ho-kang ini dari Thian-tok, Maka dengan pengerahan sinkang, dia mampu menahan diri dan menolak getaran yang mengguncang jantung memekakkan telinga itu.

Tubuh Koan Jit sudah berkelebat lenyap dan tahu-tahu tubuh itu sudah meloncat tinggi ke atas seperti seekor burung garuda dan menyambar turun menyerang ke arah Seng Bu dengan kedua tangan membentuk cakar yang mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Seng Bu.

Akan tetapi Seng Bu sudah siap siaga dengan kuda-kudanya tadi.

Dengan gerakan kaki melangkah, ke belakang lalu memutar tubuh, dia mampu menghindarkan diri dan serangan kilat itu.

Selagi tubuh lawan turun ke atas tanah, dia sudah membalas dengan serangan Hut-ciang-liap-bhok (Tangan Api Mengejar Kayu).

Kedua tangannya itu dengan beruntun menghantam dengan telapak tangan terbuka, bertubi-tubi, dan kedua telapak tangannya itu keluar hawa panas yang dahsyat!

"Hemmm"!"

Koan Jit meloncat ke samping untuk menghindar sambil menangkis dari samping.

Seruannya itu terdengar seperti orang mencemoohkan, akan tetapi sebenarnya seruan itu adalah seruan kaget.

Tak disangkanya ilmu baru dari sutenya itu sedemikian lihainya.

"Dukk-dukk!"

Dua lengan bertemu dua kali dan akibatnya, tubuh Seng Bu terdororig ke belakang akan tetapi kedudukan kaki Koan Jit juga tergoyah yang membuat tubuhnya bergoyang-goyang.

Hal ini saja menunjukkan bahwa tenaga Seng Bu hanya kalah sedikit dibandingkan toa-suhengnya itu.

Koan Jit menjadi marah dan dengan seruan-seruan nyaring dia menyerang terus, menggunakan berbagai ilmu yang tidak dipelajarinya dari Thian-tok agar membingungkan sutenya.

Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa sutenya itu bukanlah Seng Bu beberapa waktu yang lalu!

Selama ini, Seng Bu banyak bergaul dengan pendekar-pendekar patriot, dan dia saling bertukar pandangan tentang ilmu silat dengan teman-temannya.

Tentu saja hal ini menambah matang kepandaiannya, dan diapun banyak mengenal ilmu-ilmu silat dari para pendekar.

Maka, serangan bertubi-tubi dari Koan Jit itu bukan hanya dapat dielakkan atau ditangkis, bahkan dapat pula dia membalas serangan serangan itu dengan tak kalah hebatnya.

Perkelahian itu berlangsung sampai lima puluh jurus lebih dan amat menegangkan, mengaburkan pandang mata mereka yang kurang ahli saking cepatnya gerakan mereka.

Sheila sendiri memandang dengan muka pucat dan mata hampir tak pernah berkedip walaupun ia juga merasa pening dan kabur saking cepatnya dua orang itu bergerak.

Ia malah tidak dapat lagi membedakan mana suaminya dan mana lawan, kecuali kalau nampak bayangan hitam yang tentu saja bayangan Koan Jit yang mengenakan jubah hitam.

Ia sama sekali tidak tahu apakah suaminya itu mendesak atau terdesak.

Juga orang-orang lain memandang penuh ketegangan hati dan diam-diam banyak yang merasa kagum, baik terhadap Koan Jit maupun terhadap Seng Bu.

Yang merasa penasaran adalah Kapten Charles Elliot.

Kalau saja orang sepandai Seng Bu itu, yang agaknya memiliki kepandaian yang seimbang dengan Koan Jit, dapat pula menjadi pembantunya, tentu kedudukannya akan lebih kuat lagi.

"Haiiiitttt!"

Tiba-tiba Seng Bu menyerang dengan amat dahsyatnya, mengeluarkan jurus yang amat ampuh dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, yaitu jurus Hui-cuipok-cim (Api Air Sambar Logam).

Kedua kaki dan tangannya menyambarnyambar dengan amat ganasnya sehingga Koan Jit terkejut bukan main.

Biarpun dia sudah (Lanjut ke

Jilid 24) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 24 berusaha untuk menghindar dengan jalan mengelak dan menangkis, tetap saja sebuah tendangan menyerempet pahanya, membuat tubuhnya terjengkang.

Koan Jit menggunakan ginkangnya untuk melempar tubuh ke belakang janpok-sai (jungkir balik) sampai tiga kali, baru dia dapat berdiri tegak, akan tetapi pahanya terasa nyeri bukan main.

Dia menjadi malu, marah dan penasaran.

Mukanya yang hitam itu berubah kebiruan dan matanya yang seperti mata kucing itu mencorong.

"Jahanam busuk"

Sekarang kubunuh kau !"

Bentaknya sambil menubruk ke depan dengan pukulan-pukulan yang amat ampuh, mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya.

Seng Bu mengenal pukulan ampuh, maka diapun menggunakan jurus Hongcul-toan-bun (Angin Air Menjaga Pintu), sebuah jurus pertahanan yang amat ampuh.

Dan benar saja, semua serangan itu dapat dielakkan dan ditangkis dari samping, sehingga kembali serangan lawan gagal.

Koan Jit masih merasa nyeri pada pahanya, maka kembali dia menyerang dengan kedua kakinya yang mengirim tendangan berantai dan kanan kiri.

Seng Bu maklum bahwa tendangannya tadi berhasil melukai paha kiri lawan, maka kini melihat betapa lawan dengan nekat menggunakan kedua kaki menendangnya, Juga menggunakan kaki kiri, maka cepat dia menggerakkan tangan kanan untuk menghantam ke arah paha kiri lawan yang sudah luka itu.

Hampir saja usahanya berhasil, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring dan Seng Bu roboh tersungkur!

Sebutir peluru menembus dadanya!

Kiranya, dalam keadaan terdesak tadi, Koan Jit yang luka karena kurang hati-hati dan tadi memandang rendah lawan, menggunakan kecurangannya.

Diam-diam, di luar tahu Kapten Elliot, dia telah menyembunyikan sebuah pistol kecil di balik jubahnya, dan ketika dia mengirim serangan tendangan bertubi-tubi tadi, dia hanya memancing perhatian Seng Bu saja, dan tiba-tiba dia sudah mencabut pistol dan menembak dari jarak dekat sekali sehingga Seng Bu yang tidak menyangka sama sekali itu menjadi korban tembakan dan roboh!

"Seng Bu!!!"

Sheila lari menghampiri suaminya. Melihat suaminya terlentang dengan dada berlumuran darah, ia menubruk sambil menangis, menguncang-guncang tubuh suaminya sambil memanggil-manggil namanya.

"Seng Bu, ahhh"

Seng Bu, suamiku""

Seng Bu membuka matanya. Dadanya terasa nyeri bukan main, dan tahulah dia bahwa tidak ada obat yang akan dapat menyembuhkannya.

"Sheila isteriku!"

Dia berbisik dan mengangkat tangannya yang menggigil, mengusap wajah istetinya penuh kasih sayang.

"Seng Bu, ahh"

Jangan mati, Seng Bu. Jangan tinggalkan isterimu""

Sheila meratap.

Seng Bu tersenyum ketika Sheila menciuminya dan tidak memperdulikan darah yang menempel di bibirnya.

Tembakan itu membuat mulutnya berdarah, dan ketika Sheila menciumnya, darah menodai mulut Sheila tanpa dirasakan oleh isterinya itu.

"Sheila, tenanglah"

Beginikah sikap isteri pejuang, isteri pendekar?"

Sheila teringat dan seketika ia menahan tanyanya.

Hanya air matanya bercucuran, akan tetapi ia tidak menangis lagi, tidak mengeluh lagi.

Teringat ia betapa banyak isteri yang ditinggal mati suaminya, dan isteri-isteri itu sama sekali tidak menangis, menerima nasib itu dengan tabah, bahkan bangga bahwa suami mereka gugur sebagai patriot sejati.

"Nah, begitu"

Jangan... jangan antar kematianku dengan air mata, Sheila. Antarlah dengan senyummu"

Aku ingin melihat senyummu, ingin membawa bayangan senyummu ke sana""

"Seng Bu!"

Sheila menubruk dan menciumi untuk menyembunyikan air matanya.

"Sheila, senyumlah"

Senyumlah""

Bisikan itu makin melemah.

Sheila mengangkat mukanya dan iapun tersenyum.

Senyum yang dapat menghancurkan hati siapa saja yang menyaksikannya.

Senyum dengan air mata bercucuran, akan tetapi ia tersenyum, ia memaksa mulutnya untuk tersenyum, senyum manis dengan bibir masih ternoda darah.

"Terima kasih"

Kau manis sekali"

Titip"

Titip anak kita""

Dan kepala Seng Bu terkulai di atas pangkuan isterinya.

"Seng Bu"!"

Dan tubuh Sheila juga terguling di atas tubuh suaminya karena ia telah roboh pingsan!Peristiwa itu menggegerkan dan juga membuat hati Kapten Charles Elliot menjadi bingung.

Dia menegur Koan Jit yang mempergunakan pistolnya, akan tetapi tidak memarahinya.

Bagaimanapun juga, dia girang bahwa Seng Bu tewas.

Pertama, karena memang dia lebih sayang dan percaya kepada Koan Jit.

Kedua, dengan kematian Seng Bu, maka Sheila tentu akan kembali kepada bangsanya.

Akan tetapi ternyata kapten ini kecelik!

Sheila memperlihatkan sikap keras.

Kematian suaminya membuat ia semakin tidak suka kepada bangsanya sendiri.

"Aku minta agar jenazah suamiku boleh kubawa ke pedalaman untuk kumakamkan. Juga makam Ayah ibuku akan kumakamkan sendiri. Siapa di antara saudara di sana itu yang suka membantuku mengangkut jenazah suamiku?"

Tanyanya kepada para kuli pelabuhan.

Dan banyak kuli pelabuhan yang suka menbantu.

Dan pada hari itu juga, Sheila meninggalkan Kanton, menunggang kuda membawa jenazah suaminya, diantar oleh beberapa orang kuli pelabuhan.

Tentu saja kedatangannya disambut dengan bela sungkawa dan duka oleh para kawan seperjuangan.

Jenazah Seng Bu lalu diurus sebaiknya dan dimakamkan dengan penuh penghormatan sebagai seorang pahlawan.

Sheila lalu mengurus pemindahan makam Ayah ibunya, dimakamkan dekat dengan makam suaminya, iapun hidup di antara pejuang, menanti kelahiran bayinya.

Hidup ini memang merupakan permainan antara susah dan senang.

Agaknya memang sudah semestinya demikian, ada susah tentu ada senang, seperti alunan ombak samudera, tidak hanya ke kiri atau ke kanan saja.

Ada siang ada malam, ada terang ada gelap, ada senang ada susah.

Tidak ada apa-apa lagi yang perlu dihentikan.

Akan tetapi, kalau kita merenungkan, kita yang diberkahi dengan akal budi ini, yang dapat mengamati semua itu, apakah memang dilahirkan untuk menjadi permainan antara susah dan senang ini?

Apakah kita ini dilahirkan untuk menderita susah, menikmati senang hanya sedikit saja, banyak susahnya.

kemudian tua, susah lagi karena lemah, dan mati, begitu saja?

Siapa yang mau membuka mata melihat kenyataan hidup, sesungguhnya tidak ada yang disebut susah atau senang itu, karena susah atau senang itu hanyalah permainan pikiran kita sendiri belaka.

Kalau siang dan malam ada, terang dan gelap memang ada.

Akan tetapi semua itu tidak ada hubungannya dengan susah atau senang.

Kalau terang tiba, terlalu terang dan terlalu panas, ada akal budi kita yang mendatangkan kecerdasan, membuat kita berteduh dan akal budi telah bekerja sedemikan baiknya sehingga kita mampu membuat es, membuat kipas angin untuk mengatasi panas.

Kalau malam tiba, akal budi kita bekerja lagi sehingga muncullah penerangan listrik dan sebagainya.

Kalau dingin tiba, kita mempergunakan akal budi kita sehingga kini ada heater, ada tungku dan segala alat pemanas lain seperti pakaian tebal dan sebagainya.

Kalau hujan lebat turun dan banjir terjadi, kembali akal budi kita membentuk kecerdasan, membuat kita mencari jalan untuk mengatasi semua itu, dan di sini sama sekali tidak ada senang atau susah!

Jadi apakah senang atau susah sesungguhnya?

Senang itu jelas.

Badan kita terasa enak, pikiran dan hati kita terasa lega dan puas, dan timbullah keinginan untuk mengulangi semua pengalaman enak ini yang dinamakan kesenangan.

Jadi, pikiran atau ingatan yang mencatat dan menampung pengalaman ini untuk diusahakan pengulangannya.

Dan susah itu apa?

Kebalikannya saja.

Kalau badan kita terasa tidak enak, kalau perasaan dan hati kita merasa kecewa, iba diri dan sebagainya.

Jelaslah, senang dan susah itu hanya permainan batin yang selalu ingin mengulang kesenangan dan menyingkirkan kesusahan, mengejar-ngejar yang enak dan melarikan diri dan yang tidak enak!

Bagaimana kalau kita menghadapi segala hal yang terjadi itu tanpa mengikutkan pikiran yang menciptakan si "Aku"

Yang menimbang-nimbang, menghitung-hitung untung ruginya?

Kalau pikiran kita tidak menilai, maka yang bekerja hanyalah kecerdasan akal budi!

Tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi mabok kesenangan.

Dan kesemuanyapun terjadi dengan wajar.

Dan hanya batin yang dapat menghadapi segala sesuatu tanpa penilaian inilah, yang tidak lagi sarat oleh beban untung rugi, batin demikian akan dapat mengenal apa artinya hidup yang sesungguhnya, apa artinya bahagia, apa artinya cinta kasih.

Hanya batin yang tidak dibebani oleh keluhan pikiran yang menilai, yang mengeluh, maka batin seperti itu yang akan sungguh-sungguh aktif, Penuh perhatian, tidak putus harapan, tidak mencari-cari, tidak mengejar, akan tetapi tidak mandeg, melainkan hidup sepenuhnya dari detik ke detik, dari saat ke saat.

Awan yang berarak di angkasa itu nampaknya saja mandeg dan mati, akan tetapi sesungguhnya setiap detik bergerak, berubah, mengikuti keadaan pada saatnya, tanpa menentang, akan tetapi juga tidak mengekor saja.

Berita tentang kematian Gan Seng Bu terdengar luas di dunia kang-ouw.

Juga Ong Siu Coan mendengar tentang kematian sutenya.

Dia sendiri tidak mencinta sutenya itu, maka tentu saja kematian sutenya itu tidak mendatangkan rasa kesal dalam hatinya, bahkan ada rasa puas karena tadinya dia mengiri terhadap sutenya yang dapat memperisteri Sheila.

Demikian kejinya kebencian kalau sudah bersemi dalam hati seorang manusia.

Kebencian membuat orang akan merasa senang dan puas kalau melihat orang yang dibencinya itu celaka!

Kebencian ini menghapuskan rasa perikemanusiaan dan dari hati sanubari manusia.

Karena itu, bagi seorang bijaksana, dibenci oleh seluruh manusia bukanlah menjadi persoalannya, akan tetapi kalau dia membenci satu orang saja, maka itu merupakan suatu masalah besar yang harus ditanggulangi dan diatasinya.

Akan tetapi yang membuat hati Ong Siu Coan tidak senang adalah ketika mendengar bahwa yang membunuh Gan Seng Bu itu adalah Koan jit, toasuhengnya!

Inilah yang menyakitkan hati.

Dan diapun mendengar pula tentang Koan Jit yang kini sudah memperoleh kedudukan terhormat di dalam pasukan marinir Inggeris, bahkan menjadi komandan dari pasukan yang bernama Harimau Terbang.

"Aku tidak boleh kalah oleh Koan Jit,"

Pikirnya.

"Dan aku harus dapat merampas Giok-liong-kiam dari tangannya. Aku takkan puas sebelum berhasil merampas Giok-liong-kiam itu, dan kalau mungkin membunuh jahanam itu."

Demikian pikiran Ong Siu Coan.

Orang ini memang cerdik sekali.

Tidak hanya mengandalkan kepandaian silat seperti mendiang Gan Seng Bu, dia memang berani dan gagah, akan tetapi lebih banyak mempergunakan kecerdikannya, tidak asal berani saja.

Setelah memperhitungkannya dengan cermat, pada suatu hari Ong Siu Coan berjalan-jalan ke pelabuhan Swa-touw, dimana juga menjadi persinggahan kapal-kapal perang Bangsa Inggeris.

Sudah berhari-hari dia menyelidiki tempat ini dan melihat betapa Admiral Elliot, orang yang paling berkuasa di seluruh armada Inggeris, suka datang mendarat dan memerintahkan orang-orangnya untuk membangun sebuah benteng di tepi laut.

Agaknya tempat itu akan dijadikan benteng oleh marinir kulit putih.

Dan diapun melihat betapa di waktu mengaso, para perajurit marinir itu suka berlatih olah raga, ada yang bertinju, ada yang berlatih memainkan bayonet.

Pada siang hari itu, Admiral Elliot sendiri nonton pertandingan adu tinju, dan adu ketangkasan bayonet yang dalam latihan itu diganti dengan kayu biasa.

Dari jauh, Ong Siu Coan menonton sambil memperhitungkan apa akan yang dilakukan, hal yang sudah berhari-hari direncanakannya.

Ternyata hari itu, yang terpilih sebagai jagoan, baik jago tinju maupun jagoan mempergunakan bayonet, ada enam orang perajurit yang tubuhnya tinggi besar dan atletis.

Mereka itu berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun, dan memang mereka ini merupakan jagoan-jagoan dari kesatuan yang baru saja tiba beberapa pekan lamanya di daerah itu.

"Siapa lagi yang berani maju melawan seorang di antara jagoan ini?"

Kata seorang juru bicara.

Selama ini, Ong Siu Coan yang cerdik sudah banyak mempelajari Bahasa Inggeris sehingga dia mengerti apa yang dikatakan itu, bahkan diapun dapat bicara daam Bahasa Inggeris walaupun tidak begitu fasihnya namun cukup untuk dapat dipakai modal berkomunikasi.

"Boleh aku maju untuk mencoba-coba?"

Tiba-tiba dia melangkah maju ke dalam arena pertandingan itu dan sengaja dia muncul berhadapan dengan Admiral Elliot, sehingga tentu saja mudah nampak oleh pembesar itu.

Semua mata menatap ke arahnya, dan sinar mata admiral itu membayangkan keheranan akan tetapi juga ingin tahu sekali.

Seorang opsir marinir yang melihat bahwa pemuda itu bukan anggauta di situ, bukan pula pegawai atau kuli pelabuhan, sudah menjadi marah dan dengan muka merah dia mendekati Siu Coan, langsung saja menjotos dengan kepalan tangan kanannya ke arah muka pemuda itu sambil membentak.

"Orang gila, pergilah dari sini!"

Sebagai seorang luar Bangsa Cina yang berani memasuki gelanggang itu untuk menantang dan mengikuti pertandingan, tentu saja dianggap perbuatan orang yang sudah miring otaknya.

Pukulan opsir itu keras bukan main, karena dia seorang ahli tinju yang cukup jagoan.

Akan tetapi, betapapun cepat dan keras datangnya pukulan itu, bagi Siu Coan tentu saja nampak lamban sekali dan dengan amat mudah dia mengelak dengan menarik tubuhnya ke belakang dan ke kiri.

Melihat betapa pukulannya dapat dielakkan dengan demikian mudahnya oleh orang itu, si Opsir menjadi semakin penasaran.

"Eh, kau berani melawan, ya? Nah, makanlah ini!"

Dan kembali dia memukul, sekali ini pukulan swing, yaitu ayunan dari samping, bukan pukulan straight (langsung) dari depan seperti tadi, dan yang dituju memang mulut Siu Coan, bukan rahang seperti yang biasa dia lakukan dalam permainan tinju.

Agaknya saking marahnya, opsir itu dengan pukulan swingnya yang keras ingin membikin rontok semua gigi dalam mulut Sui Coan.

"Wuuuuuttt!"

Angin pukulan itu lewat di depan muka Siu Coan yang kembali sudah berhasil mengelak tanpa menggeser kakinya, hanya dengan ayunan tubuhnya sampai jauh ke belakang.

"Eh, kau benar-benar menantang, ya?"

Opsir itu tentu saja kini menjadi marah bukan main.

Dua kali dia menyerang, menyerang dengan sungguh-sungguh dan orang ini seenaknya saja mengelak bahkan menangkispun tidak, seolah-olah pukulan-pukulannya tadi hanya permainan anak-anak belaka.

Dan semua ini disaksikan oleh banyak perajurit, dan ceakanya, disaksikan pula oleh Admiral Elliot.

Padahal, di antara enam jagoan itu, yang kini memilih juara untuk kenaikan pangkat, belum tentu ada yang akan mampu menandinginya dalam adu tinju.

Dengan kemarahan meluap-luap, dia mendesak, kakinya melangkah ke depan dan dia sudah mengirim pukulan upper-cut, yaitu pukulan dari bawah mengarah ke dagu lawan yang kalau mengenai sasaran tentu akan membuat lawan pingsan.

Pukulan ini datangnya tiba-tiba dan juga cepat bukan main, agaknya akan sukar untuk dieakkan, kecuali kalau ditangkis.

Akan tetapi, betapapun cepat dan dekatnya serangan itu datang, kembali Siu Coan berhasil mengelak, sekali ini terpaksa melangkahkan kaki depan ke belakang dan upper-cut itu hanya melayang lewat di depan hidungnya saja.

Siu Coan terus mundur lagi dua langkah dan berkata, dengan suara satu satu.

"Tuan, dalam peraturan kami para pendekar, mengalah berarti membiarkan lawan menyerang sampai tiga kali. Tuan sudah memukulku sampai tiga kali, harap berhenti, kalau tidak, terpaksa aku akan membela diri dan akan membalas serangan yang keempat."

Admiral Elliot yang melihat ini, menjadi tertarik sekali.

Sebagai seorang admiral, pangkat yang amat tinggi karena dialah yang memimpin seluruh armada yang beroperasi di negeri Cina, tentu saja dia memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak buahnya, walaupun terbatas sebagian besar pada teorinya saja.

Dari gerakan-gerakan Sui Coan ketika mengelak tadi, dia dapat menduga bahwa pemuda itu ternyata "berisi."

Maka dia merasa tertarik sekali dan ingin menyaksikan apakah benar dalam serangan keempat, pemuda yang bagi seorang Cina cukup jangkung itu akan mampu membalas opsirnya, seorang yang dia tahu cukup tangguh.

Opsir itu adalah Sersan Bullbone, seorang yang bertubuh kokoh bagaikan banteng.

Mendengar ucapan Siu Coan itu, sersan tadi malah menjadi semakin berang.

Ucapan itu tidak dianggap sebagai orang yang mengalah, melainkan sebagai tantangan.

"Apa? Engkau mau membalas? Boleh, boleh sekali! Memang dalam perkelahian, orang boleh saja membalas."

Bagaimanapun juga, dia adalah seorang petinju yang juga mengutamakan sportivitas, bahkan dia pikir kalau pemuda itu balas menyerang, dia akan berhasil mencari lowongan untuk memasukkan serangannya.

Setelah berkata demikian, karena tadi Siu Coan mundur, Sersan Bullbone lalu mendesak maju tiga langkah dan kini kedua tangannya yang dikepal sudah melakukan serangan bertubi-tubi, dari kanan kiri, cepat sekali seperti kitiran angin.

Akan tetapi sebagai seorang petinju, sasaran pukulan-pukulannya hanyalah dari pinggang ke atas, dan hal ini nampak jelas oleh Sui Coan.

Tiba-tiba Siu Coan merendahkan tubuhnya berjongkok, kakinya menyapu kaki lawannya.

Sersan Bullbone terpelanting karena kakinya diserampang oleh kaki Siu Coan yang terlatih keras seperti batangan besi itu.

"Curang! Curang!"

Terdengar teriakan di sana-sini. Siu Coan tidak mengerti arti kata Bahasa Inggeris itu dan diapun sudah mundur lagi dan memandang musuhnya yang kini merangkak bangun.

"Itu tidak boleh kau lakukan!"

Kata Admiral Elliot yang kini merasa tertarik sekali, mendahului anak buahnya yang agaknya hendak mengeroyok.

Melihat sang admiral sendiri turun tangan mencampuri, semua orang diam tidak berani bergerak.

"Maaf, Tuan besar,"

Kata Siu Coan kepada admiral itu.

"Mengapa tidak boleh? Tadi sudah kukatakan bahwa kalau dia menyerang lagi untuk keempat kalinya, aku terpaksa akan membalas."

"Benar, akan tetapi engkau menyerang bagian kaki. Menurut ilmu tinju kami, serangan hanya boleh dilakukan dari pinggang ke atas, itupun bagian depan, tidak boleh bagian belakang, dan harus dilakukan dengan pukulan tangan, tidak boleh dengan anggauta tubuh yang lain."

Mendengar penjelasan ini, Siu Coan mengangguk mendengar tentang peraturan tinju di antara orang kulit putih.

Bahkan dia pernah menyaksikan pertandingan tinju seperti itu yang dianggap amat aneh dan lucu.

Orang bertanding dan berkeiahi kenapa mesti pakai aturan dan larangan segala macam?

Bukankah berkelahi itu mencari kemenangan dengan cara apapun juga?

Lihat saja kalau harimau berkelahi, ayam berkelahi, tanpa ada aturan-aturan yang mengikat.

Dia berpikir sejenak.

Memang tidak mudah kalau ilmu silatnya dibatasi dalam perkelahian seperti itu.

Bayangkan saja.

Semua bagian tubuh lain, tendangan kaki yang mematikan, lutut, siku, bahkan kepala kalau perlu, semua itu untuk dipergunakan menyerang.

Dan lebih lucu lagi, yang diserang hanya pinggang ke atas, sedangkan bagian-bagian lain yang mematikan tidak boleh disentuh!

Dan tangan harus dikepal pula.

Padahal, untuk mencapai bagian-bagian yang sempit seperti tenggorokan, mata dan untuk menotok jalan darah atau mematahkan tulang iga, semua itu hanya dapat dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan.

Kalau jari-jari dikepal, tentu hanya dapat dipakai untuk menjotos saja.

Bahkan pinggiran tangan yang dapat dipakai membabat seperti golok atau pedang tak dapat dipergunakan lagi.

"Bagaimana? Beranikah engkau melawan aku dengan peraturan tinju seperti itu?"

Kini Sersan Bullbone menantang, akan tetapi sikapnya tidak segalak tadi.

Pertama, karena dia dapat pula menduga bahwa tentu pemuda ini pandai silat seperti opsir Koan Jit, dan juga di situ disaksikan oleh Admiral Elliot, maka dia tidak boleh bersikap sewenang-wenang.

Siu Coan tersenyum.

"Tuan, sebetulnya tadi saya tertarik menyaksikan pertandingan itu dan ingin memasuki karena tadi ada tantangan dari enam orang itu. Aku tidak ingin berkelahi, melainkan bertanding untuk mengadu ilmu bela diri. Akan tetapi kalau Tuan mendesak dan mau coba-coba, boleh saja. Hanya, aku tidak suka kalau tanganku dibungkus, karena dengan demikian, aku merasa seperti tidak mempunyai tangan saja."

Semua orang tersenyum mendengar ini dan Sersan Bullbone tertawa.

"Aha, kalau tanganku ini dibiarkan terbuka tanpa dilindungi sarung tangan, pukulanku bisa mematahkan tulang rahangmu, mungkin kepalamu."

"Bagi kami, kalah atau menang, mati atau hidup merupakan akibat pertandingan yang tak patut disesalkan lagi."

"Baik, majulah. Akan tetapi ingat, hanya menggunakan kepalan tangan untuk menghantam dari pingging ke atas, dari depan. Tahu?"

"Baik, aku mengerti,"

Jawab Siu Coan.

Kini keduanya sudah berhadapan dan opsir itu sudah membuat gerakan mengelilingi Siu Coan dengan lagak seorang petinju jagoan.

Tubuhnya agak membongkok, kedua lengannya dipasang, yang kiri di depan dagu, yang kanan di dekat rusuk, keduanya dikepal, kedua kakinya membuat gerakan seperti menari-nari dan dia mengelilingi Siu Coan.

Siu Coan berdiri tanpa bergerak, hanya matanya yang mengikuti gerak-gerik lawan.

Kalau lawan mengitarinya di belakangnya, dia diam saja.

Bukankah tidak boleh memukul dari belakang, pikirnya.

Tiba-tiba dari samping, opsir itu melancarkan pukulan straight ke arah dagu kanan Siu Coan.

Pemuda tidak mau memperpanjang pertandingan itu, maka begitu pukulan melayang datang ke arah dagunya, diam-diam dia mengerahkan sinkangnya untuk melindungi dagu itu.

Tepat pada saat pukulan yang keras itu menghantam dagunya, dia membarengi dengan jotosan lunak saja ke arah pangkal leher lawan.

"Dukkk"

Desss""

Akibatnya, tubuh yang kokoh itu terpelanting dan roboh tak mampu bangkit kembali karena pingsan!

Knocked-out dalam satu pukulan saja!

Tentu saja semua orang terbelalak menyaksikan itu.

Mereka tadi melihat dengan jelas betapa pukulan Sersan Bullbone tepat mengenai dagu Siu Coan, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak merasakannya, Karena dagunya terlindung tenaga sakti, sedangkan pukulannya yang hanya dilakukan dengan tenaga terkendali itu cukup membuat sang sersan roboh pingsan!

Sersan itu sendiri kalau tidak keburu pingsan, tentu akan bengong terlongong.

Ketika pukulannya yang keras tadi mengenai dagu lawan, dia merasa seperti memukul benda lunak, seperti memukul sebuah balon yang terisi angin saja!

Dan pukulan lawan ke arah pangkal lehernya seperti ada geledek menyambarnya!

Terdengar tepuk tangan dan yang bertepuk tangan adalah Admiral Elliot.

Melihat ini, banyak perajurit bertepuk tangan memuji.

Dan sang Admiral lalu menggapaikan tangannya memanggil Sui Coan.

Memang ini yang dikehendaki pemuda itu, maka diapun lalu menghampiri dan berkata halus.

"Harap maafkan, Tuan besar. Aku tidak sengaja membikin celaka Tuan itu."

Dia menunjuk ke arah tubuh Bullbone yang mulai bergerak dan bangkit dibantu teman-temannya.

Admiral Elliot memandang pemuda yang tinggi itu dengan sinar mata penuh selidik.

Sebagai seorang Admiral, tentu saja Elliot bukan orang bodoh.

Dia sedang menaksir-naksir dan melakukan penyelidikan dengan pandang matanya terhadap pemuda ini?

Musuhkah?

Mata-mata musuhkah?

Atau seorang penjahat yang melarikan diri dari pemerintah Ceng, seperti juga Koan?

Ataukah seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi dan hanya ingin bertualang?

Ataukah seorang yang haus akan kedudukan dan kemuliaan seperti Koan Jit?

Dengan bahasa daerah yang dikuasainya dengan baik, Admiral Elliot lalu tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan kepada Siu Coan.

"Orang muda, sebenarnya apa kehendakmu maka engkau berani datang ke tempat kami dan memamerkan kepandaianmu?"

Kalau bukan Siu Coan yang ditanya seperti itu, tentu akan menjadi panik dan gugup.

Pertanyaan itu diajukan dalam bahasa daerah yang fasih, hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka, dan pertanyaan itu demikian tepat dan langsung mengenai sasaran.

Karena memang sesungguhnya, dia datang untuk memamerkan ilmu kepandaiannya!

Dia harus berhati-hati terhadap admiral ini, pikirnya, karena dia tahu bahwa pembesar ini benar-benar seorang yang cerdik sekali.

Dia lalu menjura dengan cara bangsanya, memberi hormat dan berkata.

"Orang muda, sebenarnya apa kehendakmu maka engkau berani datang ke tempat kami dan memamerkan kepandaianmu?"

Kalau bukan Siu Coan yang ditanya seperti itu, tentu akan menjadi panik dan gugup.

Pertanyaan itu diajukan dalam bahasa daerah yang fasih, hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka, dan pertanyaan itu demikian tepat dan langsung mengenai sasaran.

Karena memang sesungguhnya, dia datang untuk memamerkan ilmu kepandaiannya!

Dia harus berhati-hati terhadap admiral ini, pikirnya, karena dia tahu bahwa pembesar ini benar-benar seorang yang cerdik sekali.

Dia lalu menjura dengan cara bangsanya, memberi hormat dan berkata.

"Maafkan saya, Tuan. Saya sama sekali tidak bermaksud memamerkan kepandaian, melainkan karena sejak kecil saya memang suka akan olah raga bela diri. Melihat betapa saudara-saudara yang gagah di sini memperlihatkan ilmu itu dan mengadu kepandaian, lalu mendengar tantangan tadi, timbul kegembiraan hati saya untuk mencoba-coba. Hanya bermaksud untuk bersahabat melalui adu ilmu silat, bukan untuk bermusuhan, Tuan. Di kalangan bangsa kami terdapat peribahasa bahwa tidak akan menjadi sahabat baik sebelum saling mengadu ilmu masing-masing."

Admiral itu tersenyum.

Sebagai seorang pembesar tinggi yang bertugas di negeri Gina, tentu saja di banyak mempelajari tentang keadaan di negara itu, tentang para pejuang, para pendekar dan para sasterawannya.

Dia dapat menduga bahwa pemuda ini memang hanya seorang pendekar yang suka akan petualangan saja, akan tetapi masih "bersih"

Dari pada pengaruh politik yang membuat orang menjadi pro sana anti sini.

"Baiklah kalau begitu, apakah engkau yakin dapat mengalahkan seorang di antara enam orang jagoan kami itu?"

Dia menunjuk ke arah enam orang yang masih berkumpul di situ, yang tadi juga menonton pertandingan antara sersan Bullbone dan Siu Coan.

Mereka merasa jerih juga kalau harus berhadapan dengan pemuda sederhana itu sendirian saja.

"Saya yakin, Tuan."

"Bagaimana kalau kau dikeroyok dua, masih yakinkah akan menang?"

"Kalau tidak dibatasi dengan peraturan tinju, melainkan perkelahian biasa boleh menggunakan cara bagaimana saja untuk memperoleh kemenangan, saya yakin akan mampu mengalahkan dua orang di antara mereka,"

Jawab Siu Coan, bukan dengan nada sombong melainkan dengan sikap sederhana dan suara meyakinkan, sehingga menyenangkan hati admiral itu.

Pemuda ini pasti memiliki kepandaian hebat, mungkin tidak banyak selisihnya dengan kelihaian Koan Jit, maka berani menjawab seperti itu, dan sikapnya juga amat sopan dan sederhana, sama sekali berbeda dengan sikap Koan Jit yang kelihatan congkak dan mengandalkan kehebatan dirinya sendiri.

"Hemmm..."

Admiral Elliot meraba dagunya yang halus, akan tetapi jenggot yang pagi tadi dicukur bersih sudah mulai memarut jari-jari tangannya.

"Bagaimana kalau dikeroyok tiga? Beranikah kau ?"

Dia memakai pertanyaan dengan kata berani, bukan yakin menang lagi. Dia ingin menguji ketabahan hati pemuda ini, dan jawaban Sui Coan yang tetap sederhana itu mengejutkan hatinya.

"Saya berani, Tuan."

Admiral itu memandang kepada Siu Coan penuh perhatian.

Benarkah anak ini akan mampu menghadapi pengeroyokan tiga orang jagoan itu?

Dia sendiri dikeroyok dua saja akan berpikir-pikir dulu!

"Bagaimana kalau mereka berenam maju semua?

Berani jugakah engkau?"

"Saya berani, Tuan,"

Jawab Siu Coan tanpa ragu-ragu. Memang dia ingin memperlihatkan kelihaiannya agar dapat "terpakai", maka diapun tidak ragu-ragu untuk menantang.

"Bgus! Akan kubuktikan omonganmu. Akan tetapi, dalam perkelahian, kepalan tangan tidak mempunyai mata, kalau sampai engkau kena pukulan keras dan menderita sakit atau sampai mati sekalipun, jangan kau persalahkan aku, karena engkau sendiri yang menerima tantangan untuk dikeroyok enam orang sekaligus."

"Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa dan tidak akan menyesal, Tuan."

Admiral itu lalu memanggil enam orang itu dan menerangkan dalam bahasa Inggeris bahwa pemuda Cina ini berani menghadapi mereka dengan sekaligus dikeroyok enam orang.

Enam orang itu terbelalak, saling pandang dan kemudian terkekeh-kekeh.

Ketika semua prajurit yang tidak mengerti omongan antara admiral dan Siu Coan tadi mendengar bahwa pemuda itu berani dikeroyok enam orang jagoan yang dipilih itu, merekapun tertawa-tawa tidak percaya.

Akan tetapi Sui Coan sudah siap untuk memperlihatkan kepandaiannya, maka dengan sikap tenang dia telah melangkah ke dalam tengah arena itu, lalu berdiri tegak dan bertolak pinggang, lalu berkata dengan suara Inggeris yang patah-patah.

"Tuan-tuan berenam, silahkan maju mengeroyokku!"

Enam orang itu kembali saling pandang dan tertawa-tawa, mereka semua ragu-ragu dan menganggap Siu Coan dan admiral itu hanya berkelakar saja, bagaimanapun juga mereka adalah juara-juara tinju, juara-juara bermain anggar, dan bermain bayonet.

Bagaimana kini mereka berenam disuruh mengeroyok seorang pemuda Cina yang tubuhnya, dibandingkan mereka, amat kurus dan kecil itu?

Sekali tonjok saja agaknya pemuda itu akan knocked-out dan tidak akan bangun lagi.

"Admiral... apakah ini sebuah perintah?"

Tanya seorang di antara mereka. Admiral Elliot yang sedang gembira dan di dalam hati menduga bahwa enam orang itu belum tentu akan menang, tersenyum dan berkata.

"Aku perintahkan kalian maju mengeroyok pemuda itu, kalahkan dia tetapi jangan bunuh dia kalau bisa."

"Baik, Admiral. Siap melaksanakan perintah!"

Jawab mereka berenam sambil memberi hormat.

Sejak tadi mereka itu tidak berbaju yaitu ketika tadi mereka berlatih tinju dan gumul, dan mereka hanya memakai celana panjang dengan sabuk kulit putih dan sepatu boot yang tebal.

Mereka itu rata-rata memiliki tubuh yang penuh dengan otot-otot yang kekar dan kuat, dan muka yang bengis, pandang mata tajam penuh keberanian dan kecerdikan.

Setelah memberi hormat, mereka lalu maju menghampiri Siu Coan yang masih berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang.

Semua prajurit yang berada di situ merasa gembira dan tegang.

Mereka disuguhi pertunjukan yang luar biasa!

Bahkan ada yang berteriak-teriak menantang teman bertaruh.

"Siapa berani bertaruh se puluh pond lawan lima puluh pond, aku berpegang kepada enam orang jagoan kita!"

Biarpun taruhan itu satu lawan lima, tidak ada yang melayani.

"Dua puluh lima pond, dalam waktu kurang dari semenit, pemuda itu tentu roboh!"

Ramailah orang bertaruh, akan tetapi bukan bertaruh atas kemenangan Siu Coan, hanya bertaruh berapa lama pemuda itu akan dapat bertahan dikeroyok enam orang itu.

Dan admiral itupun hanya tersenyum-senyum saja melihat kegembiraan anak buahnya, karena dia sendiri juga gembira dan senang.

Enam orang itupun bukan orang-orang biasa saja.

Mereka adalah jagoan-jagoan berkelahi dan setiap orang jagoan tentu tidak mau begitu bodoh memandang rendah lawan yang belum dikenalnya.

Mereka kini berindap-indap mengurung Siu Coan yang masih tetap berdiri tegak saja, seolah-olah tidak tahu bahwa di belakangnya ada dua orang, di depannya dua orang dan di kanan kirinya masing-masing satu orang.

Melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak memperhatikan belakangnya, dua orang yang berada di belakangnya melihat kesempatan amat baik itu lalu menubruk ke depan.

Yang seorang menonjok ke arah pungung dan seorang lagi menjambak rambut.

Semua orang mengira bahwa sekali serangan itu sudah akan cukup untuk merobohkan Siu Coan.

Akan tetapi seorang ahli silat selihai Siu Coan, murid dari Thian-tok seorang di antara Empat Racun Dunia, telah memiliki pendengaran yang terlatih dan amat tajam, juga perasaannya sedemikian pekanya seolah-olah dia memiliki mata di belakang kepalanya.

Oleh karena itu, walaupun dia diserang dan belakang, dia dapat mengikuti setiap gerakan kedua orang penyerangnya.

Dan begitu dia meloncat ke kiri, kedua serangan itupun luput karena gerakan Siu Coan sedemikian cepatnya sehingga bagi kedua orang penyerangnya, dia seolah-olah pandai menghilang saja.

Melihat ini, dua orang yang berada di kanan kirinya juga cepat menyerang.

Akan tetapi Siu Coan menangkis dengan kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga.

Pada saat yang bersamaan pula, dua orang yang berada di depannya sudah menyerang dengan pukulan-pukulan yang dahsyat.

Sampai berkerontokan bunyi otot-ototnya di kedua lengannya ketika mereka mengirim jotosan-jotosan.

Akan tetapi, dua kali kaki kanan Siu Coan bergerak dan ujung sepatunya sudah menotok ke arah lutut mereka, sehingga tanpa dapat dicegah lagi, kedua orang itu jatuh berlutut, sedangkan dua orang yang ditangkis tadi kini mengaduh-aduh sambil memegangi lengan mereka yang terasa nyeri dan kiut-miut rasanya, menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum.

Memang aneh sekali melihat betapa dua lengan yang besar berotot itu, begitu bertemu dengan tangkisan lengan Siu Coan yang kalau dibandingkan dengan mereka nampak kecil itu, lalu menjadi kesakitan seperti itu.

Dua orang yang tadi luput menubruk, membalikkan tubuh dan mengirim hantaman-hantaman, akan tetapi Siu Coan tidak mengelak, melainkan cepat dari samping menangkap pergelangan tangan mereka, menarik sambil meminjam tenaga, dan kedua orang itu telah saling bertumbukan beradu muka.

Tentu saja mereka menjadi kesakitan dan menutupi hidung yang bocor keluar darah karena saling berciuman terlalu keras.

Semua orang memandang dengan bengong, bahkan Admiral Elliot sejak tadi tidak pernah mengedipkan matanya, kini memandang dengan mata terbelalak dan mulut celangap.

Kalau dia tidak melihat dengan mata sendiri, tak mungkin dia dapat percaya bahwa seorang pemuda Cina yang demikian sederhana, dalam satu gebrakan saja mampu merobohkan enam orang jagoannya yang ahli bermain tinju dan bertubuh kuat sekali.

Dia tidak ingat bahwa mereka roboh karena terpukul bagian anggauta tubuh yang lemah.

Dua orang tertangkis lengannya dengan lengan yang mengandung sin-kang sehingga tulang lengan seolah-olah retak-retak rasanya.

Dua orang lagi tertotok ujung sepatu tepat pada lututnya sehingga tentu saja membuat mereka jatuh berlutut, dan dua orang pula mukanya diadu sedemikian kerasnya sampai hidung mereka berdarah.

Admiral Elliot menjadi kagum dan mulai timbul kepercayaannya bahwa pemuda ini benar seorang pendekar seperti Koan Jit.

Dan sudah merasa iri bahwa Kapten Charles Elliot, saudara sepupunya, telah berhasil memperhamba seorang ahli silat selihai Koan Jit.

Kini ada pemuda ini, kalau dia sampai dapat menarik pemuda ini menjadi pembantunya, maka dia tidak kalah oleh saudara sepupu yang masih menjadi orang bawahannya itu.

"Orang muda, siapakah engkau?"

Pertanyaan ini mengandung banyak penyelidikan, bukan sekedar bertanya nama.

Siu Coan juga maklum akan hal itu, maka diapun berterus terang kepada admiral itu.

Setelah menghampiri dan memberi hormat, diapun berkata.

"Tuan besar, nama saya adalah Ong Siu Coan. Seorang pendekar perantau yang tidak mencampuri urusan pemberontakan. Tentu Tuan pernah mendengar nama Koan Jit, bukan?"

"Tentu! kau kenal dia?"

"Bukan hanya kenal. Dia adalah kakak seperguruan saya, Tuan."

"Ohhh...!"

Wajah admiral itu menjadi girang bukan main.

Dia mendapatkan adik seperguruan Koan Jit yang lihai itu, yang kini menjadi komandan pasukan Harimau Terbang yang amat terkenal dan banyak jasanya terhadap kumpeni.

"Jadi engkau adik seperguruannya? Dia menjadi pembantu Kapten Charles Elliot! Eh, Ong Siu Coan, bagaimana kalau engkau diadu dengan Koan Jit, siapa yang lebih unggul?"

Siu Coan tersenyum. Pertanyaan seperti itu sudah diduganya, dan dia sudah pula mempersiapkan jawabannya.

"Ah, di antara saudara seperguruan tentu saja tidak akan bertanding, Tuan. Akan tetapi, apa yang pernah dipelajari oleh Koan Jit juga pernah saya pelajari. Di antara kami berdua, boleh dibilang sama kuat. Dia lebih tua dan lebih berpengalaman, akan tetapi saya lebih muda dan lebih kuat tenaga saya."

Girang sekali hati Admiral Elliot, akan tetapi hatinya masih belum yakin benar.

Koan Jit sudah memperlihatkan kelihaiannya, pernah merobohkan keroyokan puluhan orang kuli pelabuhan yang kuat-kuat, dan bahkan pernah pula diuji kemampuannya oleh Peter Dull sendiri, dihujani peluru pistol namun dapat menghindarkan diri.

"Song Siu Coan, setelah engkau menguji kepandaaianmu, lalu apa yang kau kehendaki dari kami?"

"Tuan besar, terus terang saja, saya masih menganggur tidak tahu harus bekerja apa. Saya hanya bisa ilmu berkelahi saja dan saya tidak suka menjadi tukang pukul, apalagi menjadi penjahat. Kalau sekiranya Tuan suka, saya ingin minta pekerjaan di sini."

"Oho, bagus... bagus..."

Admiral Elliot kegirangan.

"Akan tetapi kami belum percaya benar kemampuanmu. Bagaimana kalau engkau menghadapi enam orang jagoan kami itu, akan tetapi mereka menggunakan bayonet. Sanggupkah engkau mengalahkan mereka?"

Mendengar ucapan itu, Siu Coan mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada admiral itu.

Pandang matanya demikian mencorong seperti hendak menembus jantung admiral itu sehingga Admiral Elliot terkejut dan tidak berani menentang pandang itu.

"Tuan besar, mengapa Tuan menyuruh orang-orang untuk membunuh atau berusaha membunuh aku dengan senapan? Bukankah menurut pelajaran agama Tuan dikatakan bahwa kita harus mencintai sesama hidup kita, bahkan ada pelajaran yang mengatakan agar mencintai musuh-musuh kita? Kenapa sekarang Tuan hendak membunuh saya yang tidak berdosa?"

Admiral itu membelalakkan matanya.

"Haii! kau tahu apa tentang Agama Kristen?"

Siu Coan membuat tanda salib dengan tangannya.

"Ya Tuhan...! kau ... kau ... seorang Kristen?"

Siu Coan mengangguk.

Admiral Elliot mengangguk angguk, hatinya merasa bertambah girang.

Namun dia masih berhati-hati, tidak percaya begitu saja dan dia lalu mengajukan beberapa pertanyaan tentang sejarah dalam agama Kristen, tentang nabi-nabi Musa, Daud, dan yang lain.

Semua dapat dijawab dengan lancar oleh Siu Coan.

"Bgus? Jangan khawatir, maksudku kau melayani serangan enam orang pembantuku ini yang akan menyerangmu dengan bayonet dengan senapan yang kosong. Mereka tidak akan menembakmu. Tahukah kau bahwa Koan Jit akan dapat mengalahkan mereka seperti itu?"

"Baiklah, Tuan. Aku percaya penuh kepada Tuan, karena menurut pengetahuanku, seorang Kristen tidak boleh membohong atau menipu. Nah, aku siap sudah."

Dan diapun berdiri memasang kuda-kuda.

Menghadapi pengeroyokan enam orang itu yang tadi menyerangnya dengan tangan kosong, dan menghadapi mereka dengan senjata senapan berbayonet walaupun senapan itu tidak diisi peluru, sama sekali tidak boleh disamakan.

Dia tadi sudah melihat ketika mereka berlatih menggunakan bayonet dan memang mereka itu sigap sekali, pandai menggunakan senjata itu.

Hanya diapun tahu bahwa senjata itu amat kaku, sebenarnya tidak praktis dipergunakan untuk berkelahi, tidak seperti pedang, golok atau tombak.

Maka, diapun tidak memandang rendah dan kini dia memasang kuda-kuda dengan gagahnya.

Kuat lemahnya pasangan kuda-kuda tidak tergantung dan indah tidaknya gaya kuda-kuda itu, akan tetapi untuk menimbulkan kesan, Siu Coan sengaja memasang kuda-kuda yang amat gagah gerakan dan gayanya.

Dia berdiri dengan satu kaki kiri, kaki kanannya diangkat dan ditekuk seperti kalau seekor burung berdiri, tangan kanannya diangkat tinggi di atas kepala dan tangan kanannya membentuk cengkeraman di depan pusat.

Kuda-kuda seperti ini kalau dilihat oleh seorang ahli silat tinggi tentu akan menggelikan, karena kuda-kuda ini ringkih sekali walaupun perubahannya dapat dilakukan dengan cepat.

Kini enam orang yang tadi sudah kalah, mengambil senapan tanpa peluru dan sudah dipasangi bayonet yang amat tajam runcing berkilau tertimpa sinar matahari pagi.

Semua orang yang nonton menjadi semakin tegang.

Kini pemandangan itu bukan hanya mengadu kepala dan tendangan, melainkan menggunakan bayonet yang tajam.

Sekali saja perut tergores bayonet itu, tentu akan tersayat dan ususnya akan terburai keluar.

Leherpun akan dapat terbabat putus.

Apalagi yang mempergunakan bayonet-bayonet itu adalah enam orang sekaligus, enam orang yang sudah ahli memainkan bayonet-bayonet itu.

Siu Coan juga tidak berani main-main.

Begitu enam orang itu mengurung dan seorang di antara mereka maju menusukkan bayonet ke arah perutnya, diapun sudah mengeluarkan kepandaiannya yang sesungguhnya.

Tubuhnya meloncat ke atas dan dia juga mengeluarkan suara lengkingan nyaring sekali, itulah lengkingan Sin-houw Ho-kang, yaitu auman seperti suara harimau mengaum yang dapat membuat jantung lawan tergetar hebat dan membuat mereka kesima.

Memang auman ini diambil dari auman singa atau harimau.

Kalau binatang yang disebut raja hutan itu berburu mangsa, dengan aumannya yang menggetarkan jantung itu, dia dapat membuat calon korbannya, kijang atau binatang lain, seketika menjadi lumpuh tak mampu lari lagi saking kaget dan takutnya.

Ilmu inilah yang ditiru oleh orang-orang lihai seperti juga ditiru oleh Thian-tok dan yang diturunkan kepada para muridnya.

Begitu Siu Coan mengeluarkan pekik itu, enam orang itu menjadi panik dan pada saat itu, Dengan jurus-jurus Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, Siu Coan sudah menyambar-nyambar turun dan dalam waktu singkat saja, dia telah mampu merampas semua senjata dari tangan enam orang pengeroyoknya itu.

Enam orang itu tentu saja tidak mau senjatanya dirampas dan mereka mempertahankannya dengan mati-matian, bahkan masih melanjutkan dengan serangan tangan kosong kepada bayangan yang berkelebatan di antara mereka itu.

Akan tetapi kini Siu Coan membagi-bagi tamparan tangan kiri dan tendangan-tendangan kakinya.

Setiap kali menampar atau menendang, orang-orang itu tentu mengaduh dan terpelanting roboh.

Kemudian Siu Coan melompat dan sekali tubuhnya melayang, dia sudah berada di dekat Admiral Elliot dan enam batang senapan berikut bayonetnya itu telah disandangnya di pundak kanan dengan rapinya!

Semua orang melongo.

Belum pernah mereka melihat yang seperti itu.

Dan Admiral Elliot tersenyum gembira sekali, lalu merangkul pundak Su Coan dan diajaknya pemuda itu memasuki benteng setelah senapan-senapan itu dikembalikan kepada enam orang yang masih belum tahu benar apa yang telah terjadi menimpa diri mereka.

Mulai saat itu, Siu Coan memulai suatu kehidupan yang baru.

Dia memperoleh kepercayaan, menjadi pengawal pribadi Admiral Elliot dan juga bertugas melatih ilmu bela diri kepada para opsir dan juga sersan dan kopral.

Tentu saja Siu Coan yang tidak ingin ilmu silat dikuasai orang-orang bule itu, hanya mengajarkan pukulan-pukulan biasa saja, dengan jurus-jurus yang hanya nampaknya saja hebat akan tetapi sebetulnya tidak ada artinya kalau dipergunakan untuk membela diri.

Akan tetapi dia bersungguh-sungguh menjadi pengawal pribadi Admiral Elliot, karena dia tahu bahwa dengan dekat pembesar yang paling berkuasa di antara semua pembesar Inggeris itu, akan mudah baginya untuk memperoleh kedudukan.

Dia bukan mencari kedudukan di dalam pasukan Inggeris, melainkan mencari jalan untuk menuju kepada cita-citanya yang amat tinggi, yaitu membentuk pasukan istimewa yang kelak akan menjadi balatentara besar dimana dia menjadi kaisarnya!

Berkali-kali Admiral Elliot yang cerdik itu mencoba kesetiaannya, antara lain dengan menyuruh orang-orang rahasia untuk berusaha menyerang Admiral Elliot itu.

Dan selalu Siu Coan yang turun tangan menyelamatkan admiral itu dan ancaman semua serangan buatan itu.

Setelah menghambakan diri kepada admiral itu selama beberapa bulan, Siu Coan telah mendapatkan kepercayaan besar, Bahkan memperoleh sebuah bangunan dalam benteng itu dan hidup mewah.

Admiral itu juga bukan orang bodoh dan dia pandai sekali mempergunakan tenaga yang baik.

Segala keperluan hidup Siu Coan dilengkapi, bahkan berlebihan, dan Siu Coan hidup dengan penuh kemewahan.

Dia memelihara pelayan-pelayan wanita yang cantik-cantik dalam jumlah belasan orang.

Tentu saja bukan pelayan-pelayan biasa yang hanya mencuci pakaian, membersihkan rumah atau memasakkan makanan untuknya.

Kalau perlu, juga melayaninya di dalam kamar menemaninya tidur!

Hidupnya sudah seperti seorang raja kecil, akan tetapi tentu saja hal ini masih jauh dari pada memuaskan hati Siu Coan yang bercita-cita menjadi seorang kaisar yang sungguh-sungguh.

Pekerjaannya tidaklah berat sekali.

Kalau admiral sedang berada di kantor, maka dia tidak perlu mengawal.

Kantor itu sudah dikepung oleh pasukan besar jumlahnya yang amat kuat, Maka tidak perlu lagi dikawal.

Hanya kalau admiral itu keluar benteng, selain dikawal oleh pasukan, Siu Coan juga harus selalu mendampinginya.

Dan latihan yang diberikan kepada para opsir juga tidak setiap hari, cukup dia memberi satu dua jurus yang dia perintahkan agar mereka itu melatihnya sampai sempurna, dan cukup sepekan sekali dia menguji dan memeriksa mereka!

Karena banyak menganggur ini, Sui Coan mendapatkan banyak kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya tentang Agama Kristen, yang dipelajarinya dan para pendeta yang bertugas di dalam benteng itu.

Pada suatu hari, Siu Coan dipanggil oleh Admiral Elliot.

Setelah pemuda itu menghadap, pembesar itu berkata.

"Siu Coan, ada pekerjaan penting bagimu."

"Apakah paduka akan keluar benteng dan pergi ke kota lain. Admiral?"

"Tidak, sekali ini bukan bertugas mengawalku."

"Ehh? Lalu tugas apa, Admiral?"

"Menyelidiki kenapa di dusun Boan-ciu, yang sebagian besar penghuninya tadinya sudah tunduk dan mau masuk menjadi Kristen di bawah pimpinan Pendeta Allan, kini tiba-tiba saja memberontak."

"Memberontak? Apa yang telah mereka lakukan?"

Siu Coan bertanya terkejut.

"Belum serius. Akan tetapi mereka itu membantah kalau diadakan ceramah, bahkan ada ancaman-ancaman dilontarkan terhadap Pendeta Allan. Aku khawatir sekali karena hanya dengan agama itulah maka bangsamu dapat diajak berunding dengan damai. kau pergilah ke dusun Boan-ciu dan coba selidiki, apa yang terjadi dan siapa biang keladinya. Kalau ada yang memang menjadi pengacaunya, tangkap atau bunuh saja."

Hati Siu Coan merasa tidak enak, ini merupakan tugas yang lain lagi dan asing baginya.

Dia harus berurusan dengan bangsanya sendiri yang memberontak.

Mana mungkin?

Justeru dia sendiri berjiwa pemberontak!

Akan tetapi karena pemberontakan itu ditujukan kepada seorang pendeta Kristen, diapun cepat berangkat mencari pendeta itu dan minta penjelasan darinya mengapa ada orang orang di dusun Boan-ciu yang memberontak.

"Bpak Pendeta, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Boan-ciu? Saya menerima tugas dari Admiral untuk melakukan penyelidikan tentang hal itu."

Pendeta yang usianya paling banyak lima puluh tahun itu menarik nafas panjang.

"Bru kurang lebih satu bulan ini, mulai terjadi perubahan itu. Tadinya, penduduk di sana amat patuh dan selalu dalam keadaan damai dan tenteram. Gereja pun selalu penuh dengan pengunjung dan banyak malah yang sudah menjadi Kristen secara sesungguhnya. Akan tetapi kurang lebih sebulan yang lalu, mulailah terjadi pembangkangan-pembangkangan."

"Dalam bentuk bagaimana?"

"Pertanyaan-pertanyaan aneh dan bantahan-bantahan, bahkan kecaman-kecaman pedas terhadap bangsa kulit putih. Dan agaknya memang ada penggeraknya dari belakang. Akan tetapi yang mengajukan kecaman itu bahkan orang-orang yang tadinya tekun sekali, sehingga sukar bagiku untuk menyelidiki siapa biang keladinya. Tentu ada orang-orang yang membujuk mereka dari belakang."

"Baiklah, sekarang katakan, siapa namanya orang-orang yang suka mengajukan protes dan kecaman-kecaman itu?"

"Bnyak, akan tetapi pemrotes-pemrotes yang paling keras adalah dua orang saja, yaitu Lie Kiat dan Tan Liok. Mereka itu bekerja sebagai tukang kayu di Boan-ciu."

"Baiklah, nanti pada hari Minggu, saya akan menghadiri ceramah Bapak dan akan saya buktikan sendiri bagaimana cara mereka itu."

Pada hari Minggu pagi, seperti biasa di sebuah rumah besar yang dijadikan gereja oleh Pendeta Allan, sudah berkumpul tidak kurang dari lima puluh orang, laki-laki, perempuan, tua muda.

Mereka itu rata-rata mengenakan pakaian baru atau setidaknya pakaian bersih dan rambut mereka tersisir rapi.

Siu Coan duduk di sudut paling belakang sehingga dia dapat mengamati semua pengunjung dengan cermat.

Ketika Pendeta Allan memimpin sembahyang, semua masih terjadi seperti biasa dan normal.

Semua orang ikut bersembahyang.

Juga ketika pendeta itu memimpin nyanyian dengan suaranya yang lantang namun dengan logat yang kaku, semua orang ikut pula bernyanyi memuji nama Tuhan.

Akan tetapi setelah pendeta itu mulai berceramah menerangkan ayat-ayat suci dan memberi penafsirannya dan memberi contoh-contohnya, mulailah para pengunjung itu nampak gelisah.

"Bertobat akan dosa-dosanya berarti harus mulai hidup baru, menjauhi dosa, harus penuh cinta kasih terhadap sesama manusia. Kasihilah sesamamu seperti kalian mengasihi dirimu sendiri! Demikianlah sabda dari Tuhan. Bahkan lebih dari itu, cintailah musuh-musuhmu! Apabila engkau ditampar pipi kirimu berikanlah pipi kananmu. Semua itu adalah pelajaran-pelajaran yang mengandung cinta kasih murni, dan siapa yang beriman dan melaksanakan segala perintah Tuhan, dialah yang berhak memperoleh tempat di sisi Tuhan, di kerajaan Sorga!"

"Bohong! Bohong besar!"

Tiba-tiba terdengar suara orang, dan Siu-Coan yang sejak tadi menaruh perhatian dan mengamati, melihat bahwa yang mengucapkannya adalah seorang nenek, akan tetapi dia tahu bahwa tak jauh dari nenek itu adalah seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang menggerak-gerakkan bibirnya.

Dia terkejut.

Gerakan bibir itu seperti orang yang menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara dari Jauh)!

Agaknya orang itulah yang mengirim suaranya membisikkan kata-kata itu kepada si nenek yang hanya menirukan saja!

Pendeta Allan memandang ke arah nenek itu dan wajahnya berubah.

Wajah yang tadinya nampak lembut itu berubah keras dan alisnya berkerut.

"Saudaraku yang baik, kenapa kau berkata bohong? Apanya yang bohong besar?"

Tiba-tiba terdengar jawaban, bukan dan nenek itu, melainkan dan seorang Kakek yang duduk di sudut, suaranya agak gemetar.

"Bohong kalau kita mencinta sesama seperti mencinta diri sendiri. Lebih bohong besar lagi kalau kita mencinta musuh-musuh kita!"

Tentu saja keadaan menjadi ribut, ada yang pro ada yang kontra.

Akan tetapi Siu Coan sudah melihat bahwa ada seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan yang berpakaian serba biru, mengajukan pertanyaan tadi.

Bersamaan dengan itu, terlihat juga seorang laki-laki tiga puluh tahunan tadi, menggerakkan bibirnya dengan ilmu mengirim suara dari jauh yang sama, akan tetapi sekali ini agaknya suaranya dikirimkan kepada Kakek itu, sedangkan yang pertama mengirimkan suaranya kepada si nenek.

Kini Pendeta Allan memandang Kakek dan nenek itu bergantian, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Ya Tuhan, semoga dosa kalian diampuni. Mengapa kalian berdua berani menyangkal kebenaran Alkitab? Dan siapakah kalian mendapatkan pikiran yang seperti itu?"

"Ini adalah suara bisikan hati saya sendiri,"

Ratap si nenek hampir menangis.

"Saya mendengar bisikan itu jelas sekali di dalam telinga dan hati, tak dapat dibantah..."

"Hemm, itu bisikan setan!"

Kata Pendeta Allan.

"Dan bagaimana dengan engkau, Lao Ceng?"

Tanyanya kepada Kakek itu, Kakek yang biasanya patuh dalam agama. Kakek itu mengangguk dan menelan ludah beberapa kali sebelum menjawab.

"Saya juga demikian, saya mendengar bisikan dalam hati saya, maka saya langsung mengeluarkan saja suara hati saya itu."

"Akan tetapi, nenek dan Kakek yang baik, apa alasan kalian mengatakan bahwa semua pelajaran itu bohong?"

Pada saat itu, selagi Kakek dan nenek itu nampak kebingungan, Siu Coan sudah berjalan maju ke atas mimbar, mendekati pendeta itu dan diapun berkata sambil memandang kepada dua orang yang tadi bisikkan kata-kata itu kepada Kakek dan nenek.

"Orang yang mampu mempergunakan ilmu mengirim suara dari jauh adalah orang-orang gagah. Akan tetapi perbuatan bersembunyi dan menyuruh orang-orang lain untuk bicara sedangkan diri sendiri bersembunyi, sama dengan melempar batu bersembunyi tangan, dan perbuatan itu adalah perbuatan yang rendah dan pengecut!"

Orang yang memakai baju kuning dan berusia tiga puluh tahun segera bangkit berdiri dan berkata suaranya lantang.

"Sebaliknya, orang Cina yang membantu orang bule untuk merusak bangsa sendiri adalah seorang pengkhianat yang tak patut diampuni!"

Siu Coan terkejut dan dia memandang tajam.

Biarpun dia tidak teringat pernah bertemu dengan orang ini, namun dia dapat menduga bahwa tentu orang ini seorang pejuang yang menyelundup ke dalam gereja dan membuat kacau.

Dia tidak merasa mengkhianati bangsanya, maka ucapan itu tidak membuat mukanya menjadi merah.

Dia masih tersenyum ramah dan menjura ke arah orang itu.

"Aih, kiranya di tempat ini ada seorang pendekar yang berilmu tinggi. Ketahuilah, saudara... bahwa di dalam gereja tidak ada permusuhan, tidak ada perbedaan bangsa atau kulit. Di depan Tuhan Allah, semua manusia sama saja, apapun warna kulitnya. Kalau saudara merasa tidak setuju dengan pelajaran Agama Kristen dan hendak memprotes, kenapa tidak dilakukan sendiri."

Kini si baju biru yang bertubuh tinggi besar itu bangkit pula dan berkata lantang.

"Kami bukan anggauta gereja, karena itu terpaksa kami meminjam mulut anggauta gereja untuk menyatakan rasa penasaran hati kami."

Kini Pendeta Allan yang sudah merasa girang karena Siu Coan dapat membongkar rahasia itu dan menemukan biang keladinya, lalu berseru dengan suaranya yang halus.

"Ya Tuhan, semoga diampuni dosa-dosa kalian! Saudaraku yang baik, sebetulnya mengapakah anda berdua menyangkal kebenaran ajaran dari Alkitab?"

Kini si baju kuning yang menjawab.

"Kami tidak tahu menahu tentang isi Alkitab, akan tetapi mendengar ceramahmu, kami sama sekali merasa bahwa semua ceramahmu itu bohong belaka. Engkau mengajarkan tentang cinta kasih sesama manusia. Apakah engkau dan bangsamu itu mempunyai rasa cinta kasih terhadap sesama? "Pelajaranmu menganjurkan cinta kasih, akan tetapi apa yang telah kalian lakukan di tanah air kami? Meracuni bangsa kami, memerangi bangsa kami, membunuh, menyiksa, menjajah dan menginjak-injak kebebasan bangsa kami. Kalian mengajarkan cinta kasih, akan tetapi melaksanakan permusuhan dan kebencian! "Bukankah itu berarti bahwa semua ceramahmu itu bohong belaka? Dan pelajaran tentang mencinta musuh-musuhmu itu. Huh, pernahkah engkau mencinta bangsa kami yang kalian musuhi?"

Ucapan orang ini demikian penuh semangat, terasa sampai ke dalam hati para pendengar di dalam gereja itu, sehingga kini pandang mata mereka terhadap pendeta itu seketika berubah.

Diam-diam Siu Coan memuji orang ini yang pandai sekali melakukan penyerangan dengan kata-kata.

Mendengar ucapan itu, sang pendeta merangkap kedua tangan di depan dada sambil memejamkan mata dan seperti orang berdoa, kemudian dia membuka mata dan berkata.

(Lanjut ke

Jilid 25) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 25

"Saudaraku yang baik. Memang manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Karena itulah maka diturunkan Yesus ke dunia untuk menebus dosa dan untuk mengajarkan kebaikan kepada umat manusia. Tidak hanya terbatas pada Bangsa Cina, juga Bangsa Inggeris, merupakan manusia-manusia penuh dosa yang harus bertobat."

Kini orang berbaju biru segera berseru.

"Kalau begitu, apa perlunya kau mengajarkan kami tentang cinta kasih dan mencinta musuh? Kami orang-orang tertindas kau ajarkan untuk mencinta musuh, bukankah berarti engkau menyuruh kami diam saja dan mandah diperlakukan semena-mena dan menderita tekanan dan bangsamu? "Daripada kau mengajarkan cinta kasih kepada kami, kenapa engkau tidak menyuruh bangsamu itu menghentikan kejahatan mereka, tidak mengedarkan racun madat kepada bangsa kami, dan meninggalkan tanah air kami dengan aman? Selama hidup, kami tidak pernah mengganggu bangsamu yang negaranyapun kami tidak tahu dimana. Adalah bangsa kalian yang datang dan mengganggu kami, akan tetapi engkau masih menyuruh kami mencinta mereka!"

Siu Coan hampir tak dapat menahan ketawanya ketika melihat betapa pendeta itu nampak panik, wajahnya sebentar pucat sebentar merah.

Dia merasa kasihan pula, karena bagaimanapun juga, Siu Coan sudah tertarik akan Agama Kristen.

Dia lalu maju, membela pendeta itu dan suaranya lantang sekali terdengar oleh semua orang.

"Ji-wi enghiong (dua saudara gagah), semua yang ji-wi katakan itu memang tidak keliru. Akan tetapi kukira tidak pada tempatnya. Harap ji-wi ketahui bahwa antara agama dan politik, antara agama dan perang, tidak boleh dicampur adukkan sama sekali.

"Agama Kristen tidak mencampuri politik, tidak mencampuri perang. Agama ini mengajarkan cinta kasih dan kebaikan kepada umat manusia, tak perduli berbangsa apa, pintar atau bodoh, kaya atau miskin, tua atau muda. Yang menimbulkan perang, yang menjual madat, yang melakukan penindasan bukanlah agamanya.

"Dan semua orang, baik yang menindas maupun yang ditindas, baik yang melakukan kejahatan atau yang dijahati, keduanya tidak lepas dari pada dosa. Kalau ji-wi menyerang bapak pendeta Allan ini, sungguh tidak tepat. Beliau hanya tahu akan pelajaran agama, sama sekali tidak tahu menahu tentang perang, tentang madat dan sebagainya."

"Akan tetapi, sebelum orang bule datang, sebelum mereka datang, kita tidak mengenal madat, tidak mengenal agama baru, dan kita hidup dalam tenteram dan damai!"

Teriak si baju kuning. Siu Coan tersenyum.

"Benarkah itu? Walaupun mungkin tidak ada banyak madat, namun dari See-thian sudah berdatangan madat yang diselundupkan. Dan tentang perang, sejak dahulu kita sudah mengenal perang. Bukankah perang saudara dan perebutan kekuasaan selalu terjadi sejak jaman Sam Kok? Dan siapa pula yang kini berkuasa di tanah air kita ini? Harap ji-wi suka berpikir secara mendalam."

Dua orang itu memang hendak membubarkan agama yang dibawa orang bule dan menanamkan permusuhan terhadap orang bule.

Mereka adalah pejuang-pejuang golongan yang anti orang kulit putih, maka kini mendengar rencana mereka itu dibantai dan dihalangi oleh Siu Coan yang agaknya membela pendeta itu, mereka menjadi marah.

"Kalau begitu, engkau adalah seorang pengkhianat besar!"

Bentak si baju kuning sambil melompat ke depan dan diikuti oleh temannya yang berbaju biru. Siu Coan melompat turun dari mimbar menghadapi mereka.

"Ji-wi keliru kalau melakukan kekerasan di sini. Gereja adalah tempat orang beribadat, tempat orang berbakti kepada Thian, bukan tempat bertentangan dan berkelahi."

"Pengkhianat!"

Bentak mereka, dan keduanya sudah menerjang maju dan mengirim pukulan ke arah Siu Coan.

Pukulan-pukulan itu cukup dahsyat dan Siu Coan menyambut dengan tenang saja.

Dia menggerakkan kedua tangannya, dibuka jari tangannya dan didorongkan ke depan menyambut.

"Dess!"

Dua orang itu terjengkang dan dan mulut mereka mengalir sedikit darah, tanda bahwa mereka telah menderita luka dalam yang biarpun tidak parah namun membuat mereka tidak berani maju lagi.

"Siapakah kau ?"

Bentak si baju biru, terkejut heran dan juga penasaran.

"Namaku Ong Siu Coan,"

Jawab Siu Coan sederhana.

Dua orang itu sejenak memandang kepadanya dengan penuh perhatian, kemudian mereka keluar dan gereja tanpa banyak cakap lagi.

Siu Coan lalu berpamit dan Pendeta Allan yang menyatakan terima kasihnya berkali-kali.

Jasa Siu Coan dalam gereja itu tentu saja disebarluaskan oleh Pendeta Allan dan tentu saja diketahui oleh Admiral Elliot.

Hal ini menambah kejayaan Siu Coan yang semakin dipercaya.

Pada suatu malam, selagi Siu Coan tidur nyenyak setelah tadi ditemani oleh pelayan wanita yang paling disayangnya dan kini pelayan itu sudah disuruhnya tidur di kamarnya sendiri, pemuda ini terbangun dengan kaget.

Pendengarannya yang terlatih dan amat peka mendengar sesuatu yang tidak wajar di atas genteng kamarnya.

Sebagai seorang ahli silat yang sudah matang ilmunya, biarpun dalam keadaan pulas kelelahan, Siu Coan terbangun hanya karena suara sedikit saja, dan terutama karena ada semacam indra keenam yang membisikkan bahwa ada hal yang tidak wajar.

Dengan tenang namun cepat sekali, Siu Coan sudah meloncat turun dan mengenakan sepatunya, juga bajunya karena tadi dia tidur tanpa baju saking panasnya hawa udara malam itu.

Lalu terdengar suara di atas genteng itu.

"Demi Iblis, anak ini sungguh bernasib luar biasa baiknya!"

Mendengar suara itu, Siu Coan merasa seperti pernah mengenalnya, maka diapun cepat membuka daun jendela dan sekali tubuhnya mencelat, dia telah melayang keluar dari jendela dan naik ke atas genteng kamarnya.

Dan siapakah yang dilihatnya di bawah sinar bulan yang suram itu?

Bukan lain seorang Kakek tua yang berkepala botak berperut gendut, yang berdiri tegak memandang kepadanya, dan Kakek itu adalah seorang Kakek yang luar biasa sekali, karena bajunya terbuka nampak dada dan perutnya yang amat besar.

Tangan kirinya membawa sebuah ciu-ouw (tempat arak) dan di pinggangnya tergantung sebuah mangkok dengan tali.

"Suhu!"

Siu Coan terkejut sekali ketika mengenal Thian-tok, dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di atas genteng.

Tidak seperti biasanya, Kakek ini mengerutkan alisnya dan wajahnya tidaklah segembira seperti biasanya, melainkan masih nampak kaget dan terheran-beran.

"Mari kita masuk dan bicara di dalam..."

Katanya.

"Silahkan suhu,"

Kata Siu Coan yang mendahului gurunya melayang turun, memasuki kamar melalui jendela lalu membuka pintu kamarnya.

Gurunya melangkah masuk melalui kamar itu dan mereka duduk di dalam kamar.

Siu Coan menepuk tangan dan muncullah belasan orang prajurit yang menjadi pengawalnya di depan pintunya.

Mereka ini tentu saja terbelalak heran melihat munculnya seorang Kakek gendut begitu saja tanpa mereka ketahui masuknya.

"Jangan ganggu aku malam ini. Kalau ada pertanyaan dari Admiral, katakan bahwa aku kedatangan tamu yaitu guruku. Sudah... kalian jaga di depan, jangan mendekati kamar ini."

Para prajurit itu memberi hormat dan mereka memandang kagum ke arah si Kakek gendut.

Mereka semua tahu akan kelihaian Siu Coan.

Kalau Kakek gendut itu gurunya, wah...

tentu lebih lihai bukan main.

Setelah mereka pergi, Siu Coan yang tahu akan kesukaan gurunya, berkata.

"Apakah suhu ingin makan minum dulu sebelum bicara?"

Kini Kakek itu dapat tersenyum seperti biasa.

"Boleh, boleh. Asal ada arak baik dan masakan lezat."

Siu Coan lalu menarik sebuah tali sutera di dekat pembaringannya.

Itulah tanda bagi para pelayan wanita yang tidur di kamar sebelah bahwa dia membutuhkan mereka.

Tak lama kemudian, berhamburanlah tujuh orang gadis cantik dengan pakaian yang setengah telanjang dan rambut yang kusut masai karena mereka tadi sudah pergi tidur, Dan agaknya merekapun sedang mengharap-harapkan dipanggil oleh majikan mereka yang muda dan tampan itu.

Maka merekapun datang seperti berlumba!

Karuan saja Thian-tok terbelalak memandangi mereka, dan tujuh orang gadis itupun terkejut setengah mati melihat bahwa majikan mereka ternyata duduk menghadapi meja bersama seorang Kakek yang gendut sekali!

Mereka menjadi malu-malu dan berusaha menutupi pakaian dan membereskan rambutnya.

Akan tetapi, mana mungkin membereskan pakaian yang seperti itu?

Pakaian mereka itu adalah pakaian tidur yang memang diharuskan oleh Siu Coan untuk mereka pakai setiap malam.

Terbuat dan kain tipis berwarna muda yang tembus pandang dan di bawah pakaian itu tidak ada pakaian apa-apa lagi.

Juga potongannya sederhana sekali, hanya dibelitkan pada pundak saja.

"Heh-heh-heh, sungguh engkau hidup enak sekali di sini, Siu Coan! Ini semua selirmu?"

Siu Coan tersenyum.

"Mereka adalah pelayan-pelayanku, suhu. Akan tetapi kalau suhu menyukai mereka, suhu boleh memilihnya."

"Ha-ha-ha-ha, sungguh enak sekali hidupmu. Biarlah nanti saja, sekarang mari kita makan minum lalu bicara."

Siu Coan memerintahkan tujuh orang wanita cantik itu untuk menyediakan makanan dan arak, dan sebentar saja semua hidangan itu telah dipersiapkan di dalam kamar itu.

Diam-diam Thian-tok merasa kagum.

Memang cepat sekali muridnya ini memperoleh kemajuan dan hidupnya sungguh senang, akan tetapi dibandingkan dengan apa yang baru saja dilihatnya di atas genteng tadi, ini masih belum apa-apa!

Dilayani oleh wanita-wanita yang cantik dan muda dan berbau harum itu, Thian-tok makan minum sepuasnya.

Setelah semua bekas makanan dibersihkan, Siu Coan mengajak suhunya untuk bercakap-cakap di sebuah ruangan dimana tidak akan ada orang lain yang dapat mengintai atau mendengarkan percakapan mereka.

"Kunjungan suhu yang tiba-tiba ini amat mengejutkan hati teecu. Tentu ada keperluan penting sekali, suhu."

"Tentu saja. Kalau tidak penting, untuk apa aku susah payah datang ke sini? Siu Coan, aku datang untuk membunuhmu!"

Kalau ada kilat menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Siu Coan akan sekaget seperti ketika mendengar omongan gurunya.

Mukanya menjadi pucat sekali dan dia sudah meloncat berdiri, siap untuk melarikan diri atau memanggil para pengawal untuk membela diri.

Biarpun yang akan membunuhnya itu gurunya sendiri, dia tidak akan sudi menyerah begitu saja.

"Akan tetapi kenapa, suhu?"

Kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Aku tidak jadi membunuhmu sekarang, pikiranku sudah berubah lagi."

Siu Coan bernapas lega, akan tetapi mukanya masih pucat.

Celaka, Kakek ini sungguh membikin hatinya kecut sekali, nyawanya seperti dipakai mainan saja!

Biarpun dia itu gurunya, kalau sekiranya membahayakan dirinya, dia tidak akan segan-segan untuk membunuhnya!

"Suhu, sungguh teecu merasa heran bukan main.

Apakah dosaku terhadap suhu maka suhu bersusah payah datang hendak membunuhku?"

Akan tetapi suhunya tidak menjawab, melainkan menatap wajah muridnya itu dengan tajam penuh selidik, lalu bertanya.

"Siu Coan, apakah engkau telah merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit?"

Siu Coan terkejut dan menggeleng kepala.

"Tidak, suhu... sama sekali belum. Bahkan aku belum sempat bertemu dengan dia. Kedudukannya kuat sekali di dalam pasukan Inggeris."

"Dan apakah engkau menyimpan sebuah pusaka lain yang ampuh?"

"Pusaka? Pusaka apa, suhu? Aku tidak mempunyai pusaka apapun."

Gurunya memandangnya penuh selidik.

"Sungguh tidak punya? Mau kau bersumpah bahwa engkau tidak menyimpan pusaka ampuh di dalam kamar ini?"

"Tidak, suhu. Sunguh mati. Untuk apa aku berdusta kepada suhu?"

"Wah, kalau begitu, kiong-hi (selamat)..."

Dan tiba-tiba Kakek gendut itu bangkit berdiri dan memberi hormat kepada muridnya seperti biasa orang memberi ucapan selamat. Tentu saja Siu Coan terkejut bukan main dan dia cepat berlutut.

"Suhu, tidak berani teecu menerima penghormatan suhu. Ada apakah maka suhu bersikap seaneh ini?"

Kakek itu menarik napas panjang.

"Bngkit dan duduklah."

Setelah mereka duduk berhadapan kembali, Thian-tok berkata.

"Siu Coan, ketahuilah bahwa engkau telah ditakdirkan untuk menjadi calon orang besar, bahkan aku tidak akan heran kalau kelak engkau dapat menjadi seorang raja besar!"

Ingin Siu Coan tertawa geli.

Walaupun cita-cita itu memang ada dalam batinnya, akan tetapi tanpa hujan tanpa angin, gurunya dapat mengatakan demikian, bukankah ucapan itu hanya ngawur dan terlalu muluk saja?

Akan tetapi dia tidak berani memperlihatkan kegelian hatinya.

"Terima kasih atas doa restu suhu, akan tetapi bagaimana suhu dapat menduga demikian?"

"Ketahuilah, bahwa tadi aku memang datang dengan maksud untuk membunuhmu. Siapa tidak dongkol mendengar bahwa engkau telah menghambakan diri pada orang bule? Aku mengutusmu bersama Gan Seng Bu untuk menyelidiki Koan Jit dan merampas kembali Giok-liong-kiam.

"Eh, si Gan Seng Bu itu malah kawin dengan seorang perempuan bule, dan kabarnya dia telah tewas di tangan Koan Jit. Dia masih boleh dimaafkan, mungkin dia tewas dalam usahanya merampas Giok-liong-kiam.

"Akan tetapi engkau! Engkau malah enak-enak di sini menjadi antek orang bule dan sama sekali tidak berusaha untuk merampas Giok-liong-kiam. Hati siapa tidak akan merasa panas dan marah?"

Kembali Siu Coan terkejut sekali.

Nyaris dia terbunuh oleh suhunya malam ini kalau saja tidak telah terjadi sesuatu yang aneh, yang dia sendiri tidak tahu apa, karena tiba-tiba saja suhunya membatalkan niatnya membunuh itu.

"Akan tetapi suhu, harap jangan salah paham. Aku sama sekali bukan menghambakan diri begitu saja kepada orang kulit putih. Kedudukan Koan Jit yang menjadi komandan pasukan Harimau Terbang di pasukan kulit putih, satu-satunya jalan untuk dapat menyelidiki dan mendekatinya adalah kalau aku juga menjadi seorang yang dipercaya. Dan aku berhasil dipercaya oleh Admiral Elliot. Semua ini merupakan usahaku mendekati Koan Jit. Selain itu, aku juga hendak menyusun kekuatan untuk cita-citaku, suhu."

"Cita-cita yang mana?"

"Suhu, aku ingin sekali menyusun kekuatan, membentuk sebuah barisan besar untuk kelak dapat kupergunakan untuk menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu, dan kalau Tuhan menghendaki, kalau sampai berhasil, aku ingin menjadi kaisar."

"Ha-ha-ha... cocok sekali! Aku yakin engkau akan berhasil!"

Tiba-tiba gurunya berkata dengan gembira bukan main. Kembali Siu Coan merasa heran dan kaget.

"Bagaimana suhu dapat berkata demikian?"

"Dengarkan kelanjutan ceritaku tadi. Aku datang malam ini untuk membunuhmu. Setelah aku berhasil berada di atas genteng kamarmu, tiba-tiba saja aku melihat suatu cahaya mencorong yang datang dari atas langit dan cahaya itu meluncur turun memasuki kamarmu!"

"Aihhh! Apakah itu, suhu?"

"Aku tadinya juga tidak tahu. Akan tetapi cahaya itu memasuki kamarmu lewat genteng begitu saja, menerobos genteng tanpa suara. Tadinya aku mengira bahwa itu tentulah pusaka ampuh, dan aku mengira Giok-liong-kiam sudah berada di sini. Pusaka ampuh kadang-kadang juga mempunyai cahaya mencorong seperti itu. Karena adanya cahaya itu, dan aku mengira engkau mempunyai Giok-liong-kiam atau pusaka lain, maka aku membatalkan niatku membunuhmu dan karena terkejut, aku membuat gerakan sehingga mengejutkanmu."

Kembali Siu Coan bergidik. Kalau tidak ada peristiwa itu sehingga suhunya terkejut dan membuat gerakan, tentu dia tidak akan tahu dan tentu dia sudah mati tanpa sempat bangun kembali.

"Suhu, aku tidak mempunyai Giok-liong-kiam atau pusaka lain. Lalu apakah arti adanya cahaya mencorong itu?"

"Ha-ha-ha, aku tahu sekarang. Itu adalah wahyu!"

"Wahyu?"

Selamanya, Siu Coan belum pernah mendengar kata itu.

"Apakah itu, suhu?"

"Menurut dongeng dari See-thian (India), dan juga dongeng dari para kaisar jaman dahulu, siapa yang akan menjadi kaisar, tentu memperoleh wahyu. Wahyu itu adalah semacam berkah atau tanda dari Thian yang sudah menemukan bahwa seseorang akan menjadi raja.

"Ada kalanya wahyu itu tidak nampak, ada kalanya nampak. Wahyu yang jatuh kepada dirimu malam ini juga tidak akan nampak oleh siapapun kalau saja tidak kebetulan aku datang di sini untuk membunuhmu."

"Dan menurut suhu, wahyu itu jatuh kepadaku, dan hal itu membuktikan bahwa kelak aku akan menjadi raja?"

"Aku yakin akan hal itu, muridku. Karena itu, mulai sekarang aku ingin membantumu. Aku yakin engkau akan berhasil."

Tentu saja hati Siu Coan girang bukan main mendengar keputusan yang diambil suhunya ini.

Suhunya, biarpun sudah amat tua, akan tetapi lihai bukan main.

Dan kalau dia dibantu suhunya, agaknya cita-citanya akan lebih cepat terkabul.

Dan untuk menyenangkan hati suhunya, mudah saja.

Dia tahu bahwa suhunya ini mata keranjang, suka akan wanita-wanita muda yang mulus dan cantik, suka pula akan arak yang baik dan masakan lezat, suka akan kehidupan mewah.

Dan dalam kedudukannya yang sekarang, sebagai pengawal pribadi admiral, sebagai orang terpercaya yang dicukupi semua kebutuhannya, Mudah baginya untuk menyediakan semua kegemaran suhunya itu.

Dia memberikan sebuah kamar untuk suhunya, kamar yang dihiasnya dengan indah.

Bahkan untuk tempat tidur suhunya, dia memberikan tempat tidur hadiah Admiral Elliot, yaitu tempat tidur yang memakai tilam kulit harimau besar yang masih lengkap dengan kepalanya.

Dan di antara belasan orang pelayan wanita yang cantik-cantik itu, dia memilih empat orang pelayan yang sengaja diberikan kepada suhunya, bukan hanya untuk melayaninya makan, mandi dan sebagainya, akan tetapi juga melayaninya di tempat tidur.

Mulailah Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, menikmati kehidupan yang amat mewah dan berlebihan.

Si Racun Langit ini hidup seperti anak kecil saja.

Kalau ingin mandi, tinggal tunggu saja.

Empat orang pelayan atau selirnya itu akan menanggalkan seluruh pakaiannya dan akan memandikannya di bak mandi besar, menyabun dan memberinya minyak wangi, lalu memakaikan pakaian sutera yang tetap saja tidak mampu menutupi perut dan dadanya.

Kakek ini memang pantang ditutupi dada dan perutnya.

Kalau sudah makan malam yang amat lezat dan kebanyakan minum arak, dia lalu akan rebah terlentang seperti seekor babi kekenyangan di atas pembaringannya yang bertilam bulu Harimau.

Empat orang selirnya akan merubungnya, ada yang memijati, ada yang menumbuk-numbuk dengan kepalan tangan, ada yang membelai sampai akhirnya dia tidur sambil mendekap mereka berempat di dalam jubahnya yang lebar.

Thian-tok lupa segala dan berenang di dalam lautan kesenangan dan kemewahan yang berlebihan.

Kesenangan hidup merupakan berkah bagi setiap orang manusia yang terlahir di dunia ini.

Semua setelah diberikan kepada manusia.

Pada mata sudah terdapat selera pandangan yang mengenakkan hati, demikian pula pada semua panca indra.

Dalam kita sudah diberi selera untuk menikmati apa yang terasa enak oleh mulut kita.

Segala yang nampak enak itu, termasuk pula sex yang juga merupakan berkah bagi setiap orang manusia dan sudah menjadi hak setiap orang manusia untuk menikmatinya, sudah terbawa sejak kita lahir.

Menikmati itu disebut kesenangan.

Dan memang semua itu sudah benar dan sudah menjadi hak kita utuk menikmati kesenangan yang datang kepada kita.

Akan tetapi, berkah ini segera dapat berubah menjadi suatu bahaya yang amat besar, yang akan mungkin melahirkan malapetaka dan sengsara seperti sebuah kutukan!

Yaitu pengejaran.

Pengejaran akan yang enak-enak itulah yang merupakan bahaya paling besar di dalam kehidupan kita.

Kenikmatan hidup memang sudah wajar dan menjadi hak kita untuk dapat menikmatinya.

Akan tetapi, kalau kita mengejarnya, didorong oleh si-aku yang ingin mengulang dan mengulang lagi, maka kita lalu menjadi hamba nafsu.

Kesenangan lalu menjadi cita-cita yang selalu kita kejar, menjadi tujuan pokok dalam kehidupan kita.

Dan kalau sudah demikian halnya, maka terjadilah penyelewengan-penyelewengan dalam kehidupan ini.

Demi mengejar kesenangan yang menjadi sasaran tujuan, maka kadang-kadang kita menggunakan segala cara.

Sex merupakan anugerah kenikmatan hidup, akan tetapi begitu dikejar-kejar, lalu timbullah perjinahan, perkosaan, pelacuran dan sebagainya.

Harta benda merupakan anugerah kenikmatan hidup, namun pengejaran terhadap harta menimbulkan korupsi, pencurian, penipuan dan sebagainya lagi.

Oleh karena itu, seorang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan dalam bentuk apapun juga.

Hal ini sama sekali bukan berarti bahwa seorang bijaksana HARUS MENINGGALKAN atau MENJAUHI KESENANGAN.

Sama sekali tidak demikian.

Bukan menolak karena memang sudah menjadi haknya untuk menikmati kesenangan, melainkan TIDAK MENGEJAR!

Menikmati apa yang ada, itu berarti tidak mengejar sesuatu.

Pengejaran selalu menimbulkan kekecewaan dan perasaan tidak puas terhadap apa yang ada, karena pengejaran ini dapat diselimuti dengan kata-kata halus seperti cita-cita, tujuan, harapan, ambisi dan sebagainya lagi.

Dan kalau kita mau membuka mata dengan penuh kewaspadaan, mengamati segala yang menimpa diri kita TANPA MENILAI SEBAGAI BAlK MAUPUN BURUK, akan ternyatalah oleh kita bahwa di dalam segala sesuatu itu terkandung keindahan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi!

Di dalam apa saja!

Dalam sakit, dalam kelaparan, dalam malapetaka, dalam kematian!

Terdapat keajaiban dan kekuasaan yang menggerakkan seluruh isi alam mayapada ini.

Dan kita ini hanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari itu semua.

Sekali kita memisahkan diri dan semua itu karena dorongan sang aku yang ingin senang sendiri, maka berarti kita telah memasuki neraka selagi masih hidup.

Siu Coan dan Thian-tok adalah orang orang yang selalu tidak pernah puas dengan keadaan yang ada.

Bagi umum yang biasanya memiliki pendapat yang salah kaprah, sikap demikian itu benar.

Orang tidak boleh merasa puas dengan hidupnya, orang harus selalu mencari kemajuan, demikian nasihat nenek moyang kita sejak jaman kuno dahulu.

Dalam arti kata, orang harus selalu mengejar sesuatu, bercita-cita, bertujuan, berambisi, mencari sesuatu yang dianggap sebagai kemajuan!

Orang harus mencari kemajuan!

KEMAJUAN!

Apakah ini?

Menurut umum, kemajuan adalah keadaan yang lebih baik dari pada keadaan kita sekarang.

Dengan demikian, kita harus SELALU MENCARI kemajuan.

Karena kemajuan itu tidak mungkin ada batasnya, bukan?

Dengan demikian, kita akan mencari terus sampai mati, mencari YANG LEBIH.

Dan ini dianjurkan oleh setiap pemerintah, setiap guru, setiap orang tua.

Kita lupa bahwa mencari yang lebih baik itu, berarti tidak puas dengan keadaan yang ada saat ini!

Dan kalau kita sudah membiarkan diri dijangkiti penyakit mencari ini, maka selama hidup kita tidak akan dapat bahagia, tidak mungkin dapat menikmati kehidupan ini.

Karena yang dapat dinikmati adalah "SAAT INI,"

Hanya saat inilah yang dapat kita nikmati!

Bukan esok atau lusa!

Sekali kita terseret oleh arus mencari kemajuan, sampai matipun kita akan mencari kemajuan terus, tanpa dapat menikmati kehidupan saat kita hidup.

Menikmati hidup adalah saat ini, sekarang ini, detik demi detik, bukan esok atau lusa yang hanya berupa khayalan belaka.

Apakah kalau tidak mencari kemajuan, bukan berarti bahwa kita menjadi mandeg, menjadi statis, menjadi apatis (acuh)?

Sama sekali tidak!

Tanpa mencari kemajuan, tanpa mengejar sesuatu yang menjadi tujuan atau cita-cita, maka yang ada hanyalah perbuatan yang dilakukan dengan dasar kebutuhan hidup.

Tanpa adanya si-aku yang mengejar sesuatu, maka di dalam setiap pekerjaan kita akan merasakan suara kenikmatan dan kesenangan besar, karena tanpa adanya aku yang bercita-cita mengejar kemajuan, di dalam pekerjaan itu terdapat cinta kasih terhadap pekerjaan itu.

Dan pekerjaan yang dilakukan dengan cinta kasih ini tentu saja membawa perbaikan-perbaikan.

Akan tetapi Siu Coan tidak puas dengan apa yang telah dicapainya.

Dia ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi.

Apa lagi setelah gurunya berada di situ dan gurunya mengatakan bahwa dia memperoleh "Wahyu,"

Maka keinginannya untuk mengejar cita-citanya menjadi semakin kuat.

"Engkau harus dapat merampas kembali Giok-liong-kiam, Siu Coan. Tanpa itu, bagaimana engkau akan dapat berhasil menghimpun balatentara yang besar dan kuat? Balatentara yang besar dan kuat membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan untuk itu, Giok-liong-kiam harus dapat kita rampas! "Mengapa Giok-liong-kiam, suhu? Bukankah pusaka itu hanya sebuah pedang yang melambangkan keadaan seseorang yang menjadi jagoan nomor satu di dunia? Kukira itu hanya bualan dari San-tok belaka. Untuk apa? Aku tidak ingin menjadi jagoan nomor satu. Dan kalaupun pusaka itu merupakan benda berharga, berapa bisa kita dapatkan kalau dijualnya?"

"Ha-ha-ha-ha, engkau tahu satu tidak tahu dua. Engkau tidak tahu mengapa dahulu dengan susah payah aku merampas Giok-liong-kiam, dan tidak segan-segan menggunakan nama Siauw-bin-hud. Pedang itu mengandung rahasia penyimpanan harta karun yang tak ternilai harganya, saking banyaknya!"

Ong Siu Coan hanya baru mendengar berita angin saja tentang hal itu dan diapun tidak percaya, yaitu ketika diadakan pertemuan di dalam pesta hari ulang tahun Hai-tok.

"Ah, benarkah hal itu, suhu?"

"Bukan bualan... melainkan yang sesungguhnya demikianlah, muridku. Giok-liong-kiam itu mengandung rahasia penyimpanan harta karun yang luar biasa besarnya, cukup untuk membiayai balatentara yang besar."

"Tapi... tapi bukankah pusaka itu sudah lama berada di tangan suhu? Dengan demikian, tentu harta karun itu sudah berada di tangan suhu!"

Siu Coan memandang suhunya dengan sinar mata penuh perhatian dan penuh selidik.

Hatinya tertarik sekali mendengar tentang harta karun, karena bagaimanapun juga, gurunya benar.

Untuk dapat menghimpun tenaga balatentara yang besar, dia harus memiliki biaya yang amat banyak pula.

Akan tetapi Kakek itu menggeleng kepala, membuat hati Siu Coan yang tadinya penuh harapan menjadi lemas kembali.

"Sayang sekali, sudah berbulan-bulan aku melakukan penyelidikan, akan tetapi belum juga dapat kutemukan rahasia itu. Sialan benar! Sudah kuselidiki dengan teliti, sudah kurendam dalam air sampai berbulan-bulan, namun tetap tidak dapat kutemukan rahasianya. Sialan! Dan sebelum aku berhasil, benda itu telah dicuri oleh Koan Jit."

Siu Coan mengerutkan alisnya.

"Aihh, pantas kalau begitu... mengapa si Koan Jit itu mau merendahkan diri dan menjadi pembantu orang-orang bule. Andaikata dia bisa mendapatkan harta itu, tak mungkin dia mau merendahkan diri seperti itu. Aku berani bertaruh bahwa diapun kini kebingungan, tidak tahu bagaimana harus mendapatkan rahasia pedang Giok-liong-kiam itu... dan tidak dapat menemukan petunjuknya."

"Kupikir demikianlah. Dan hal itu baik sekali, memberi kesempatan yang cukup bagi kita untuk mencoba merampasnya."

"Merampasnya?"

"Kenapa tidak? Sekaranglah kesempatan kita yang paling baik. Aku sudah kau perkenalkan kepada Admiral dan diapun percaya kepadaku. Kita sudah memperoleh kepercayaan. Kita mempunyai kesempatan untuk menyerbu ke markasnya di Kanton dan merampas pedang itu."

"Ah, mana begitu mudah suhu? Tentu dia menyembunyikan pedang itu."

"Kita masuk dan menyelidiki. Mustahil kita berdua tidak akan dapat menemukan benda yang dia sembunyikan di suatu tempat."

"Akan tetapi, dia adalah komandan dari pasukan Harimau Terbang, dan di sana terjaga dengan ketat dan kuat!"

"Kau takut?"

"Tidak, suhu. Aku tidak takut... akan tetapi, kita berdua mana mungkin dapat menghadapi pasukan yang ratusan orang jumlahnya itu? Aku mempunyai akal, suhu... dan kalau siasatku dijalankan, kurasa lebih besar harapannya untuk berhasil merampas pedang pusaka Giok-liong-kiam itu."

"Ha-ha-ha-ha... engkau memang selalu banyak akal dan pandai sekali! Akal bagaimana itu yang hendak kau jalankan?"

"Begini suhu. Biarpun Koan Jit sudah menguasai pedang pusaka itu, akan tetapi melihat betapa dia masih saja berada di antara pasukan bule, hal itu menunjukkan bahwa diapun, seperti suhu, belum mampu memecahkan rahasia penyimpanan harta karun. Dia berada di dalam markas bule dan membentuk Pasukan Harimau Terbang, tentu hanya agar kedudukannya kuat dan tidak ada orang yang akan mampu merampas pedang pusaka itu. Nah, untuk dapat merampas pedang itu, kita harus mempergunakan siasat memancing harimau keluar dari sarangnya sambil membawa anaknya."

"Eh, siasat macam apa itu? Kalau siasat memancing harimau keluar dari sarang... aku sudah tahu, akan tetapi memancing harimau keluar dari sarang sambil membawa anaknya? Bagaimana itu?"

"Begini, kalau seekor harimau merasa terancam keselamatan anaknya, tentu dia akan melarikan diri keluar sarang dan menyelamatkan anaknya, membawa anaknya keluar dari dalam sarang yang terancam..."

"Ha-ha-ha-ha...!"

Perut gendut telanjang itu bergoyang-goyang ketika Thian-tok tertawa bergelak-gelak.

"Bgus, bagus! Memang, dengan demikian maka kita tidak perlu repot-repot mencari dimana dia menyimpan pusakanya itu. Coba teruskan, bagaimana siasatmu itu?"

"Untuk menghadapi ratusan orang Harimau Terbang, kita harus menggunakan sejumlah pasukan pula."

"Kau hendak menggunakan pasukan bule di sini? Mana mungkin?"

"Tidak, suhu. Ketika aku keluar dan Thian-te-pai, masih banyak anak buah yang setia kepadaku, dan mereka itu menantiku. Setiap waktu kalau aku membutuhkan mereka, maka mereka itu semua akan membantuku. Aku sudah mempersiapkan mereka untuk kelak kalau aku sudah kuat, membentuk sebuah pasukan besar. Kalau hanya mengumpulkan dua-tigaratus orang saja, tidak sukar bagiku?"

"Hemm, bagus sekali. Lalu bagaimana?"

"Untuk tidak mencurigakan Koan Jit dan untuk memancing agar dia tidak ragu-ragu membawa keluar Giok-liong-kiam dari tempat persembunyiannya, sebaiknya kalau kita berdua memasuki markasnya secara menggelap, lalu bersembunyi dan melakukan pengintaian atas dirinya. Kemudian, biar pasukan istimewa yang sudah kupersiapkan itu melakukan penyerbuan kepada markas Harimau Terbang itu. Kalau dilakukan di waktu malam, tentu akan berhasil.

"Kepanikan di sana tentu akan memaksa Koan Jit berusaha untuk menyelamatkan dan menyingkirkan Giok-liong-kiam. Bagaimana pendapat suhu dengan siasat itu? "Ha-ha-ha-ha, tadinya kukira bahwa hanya Koan Jit muridku yang paling hebat. Tidak tahunya engkau, malah melebihi dia, Siu Coan. Ah, aku tidak menyesal melihat wahyu itu dan mengambil keputusan untuk membantumu, muridku.

"Siasat itu bagus sekali dan cepat kerjakan. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menanti lebih lama lagi. Aku ingin merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit, juga ingin merampas nyawanya sekali!"

Siu Coan segera mempersiapkan rencananya.

Dia menghubungi bekas anak buahnya, dan ternyata memang banyak sekali anak buah Thian-te-pang yang masih setia kepadanya, terutama mereka yang sudah memeluk Agama Kristen baru yang dipropagandakan oleh Siu Coan.

Tidak kurang dari duaratus lima puluh orang dapat dia kumpulkan dengan rahasia, dan mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan.

Rencana diatur masak-masak, dan setelah dipilih malam yang baik, Siu Coan dan Thian-tok lalu menyelundup ke dalam markas Harimau Terbang.

Hal ini tidak begitu sukar dilakukan karena mereka berdua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Menjelang tengah malam, dua bayangan berkelebat di dalam markas Harimau Terbang yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di dalam markas itu ada dua orang lihai yang menyelundup, Juga sama sekali tidak tahu bahwa markas mereka yang tidak berapa besar itu telah dikepung oleh hampir tigaratus orang anak buah Siu Coan.

Siu Coan dan Thian-tok sendiri sudah mengetahui letak kamar Koan Jit, akan tetapi mereka tidak berani sembrono memperlihatkan diri, hanya mengintai saja dari tempat gelap untuk nanti melihat reaksi dari gerakan Koan Jit kalau penyerbuan dimulai.

Setelah saat yang ditentukan tiba, guru dan murid itu berpencar dan tak lama kemudian nampak api bernyala besar sekali di ujung barat dan di sebelah timur depan.

Tentu saja Siu Coan dan gurunya yang membakar gudang ransum dari gardu itu setelah menyiram tempat itu dengan minyak yang mereka ambil dari lampu-lampu gantung.

Nyala api itulah yang menjadi tanda bagi pasukan anak buah Siu Coan untuk menyerang.

"Kebakaran! Kebakaran!"

Orang-orang di dalam markas itu berteriak-teriak dan suasana menjadi panik ketika mereka lari berserabutan untuk membantu memadamkan api.

Ada yang masih setengah telanjang karena terbangun dari tidur.

Koan Jit sendiri meloncat dan keluar kamar setelah mengenakan sepatu dan pakaiannya.

Akan tetapi pada saat itu, orang-orang berteriak karena datang luncuran anak-anak panah dari empat penjuru memasuki markas itu.

"Api... api harus dipadamkan dulu!"

Suasana menjadi semakin ribut, apalagi ketika kini pasukan anak buah Siu Coan datang menyerbu.

Pintu markas jebol dan banyak pula anak buah Siu Coan yang berlompatan dari atas tembok.

Terjadilah pertempuran mati-matian di malam buta itu.

Melihat ini, tentu saja Koan Jit menjadi terkejut bukan main, ia tahu bahwa yang menyerbu tentulah para pejuang.

Kalau bukan, siapa lagi yang berani menyerbu markas Harimau Terbang?

Dia segera teringat akan pusaka-pusakanya.

Musuh menyerang dengan panah-panah berapi, dan ada sebagian bangunan yang sudah menjadi lautan api di samping gudang dan gardu yang kebakaran tadi.

Tepat seperti yang sudah diduga oleh Siu Coan, Koan Jit tentu saja sayang kepada pusaka-pusakanya, terutama Giok-liong-kiam.

Dan tepat pula seperti yang telah diduga oleh Siu Coan, selama ini Koan Jit dengan sia-sia mencoba untuk mencari tahu akan rahasia Giok-liong-kiam, mencari rahasia harta karun yang kabarnya disimpan di dalam pedang pusaka itu.

Siu Coan dan Thian-tok sudah waspada.

Sejak tadi mereka memang sudah mengintai dan mengamati gerak-gerik Koan Jit.

Ketika melihat Koan Jit tidak cepat mengatur barisannya atau memimpin pemadaman api melainkan lari ke arah belakang markas, Keduanya lalu cepat menyelinap dan membayangi.

Ternyata Koan Jit memasuki sebuah gudang bahan bangunan yang agaknya sudah tidak terpakai dan pintunya yang tebal itu digembok.

Koan Jit yang memegang kuncinya, dan dia kini membuka pintu gudang itu, lalu menyelinap masuk.

Siu Coan dan Thian-tok sudah siap siaga.

Tak lama kemudian, Koan Jit meloncat ke luar dan di punggungnya sudah nampak bungkusan yang cukup besar.

Tiba-tiba saja, Siu Coan menyerangnya dengan dahsyat sekali, menghantam ke arah dadanya dengan pukulan maut yang amat kuat.

Koan Jit terkejut, maklum bahwa pukulan yang ditujukan kepadanya dengan mendadak itu amat berbahaya.

Diapun tidak mempunyai lain jalan kecuali menangkis pukulan yang sudah menyambar dekat itu.

"Desss!!"

Akibatnya, tubuh Siu Coan hampir terjengkang, akan tetapi Koan Jit juga merasa betapa tubuhnya terguncang hebat, dan pada saat itu, tiba-tiba saja bungkusan di punggungnya itu terlepas.

"Hehh...!"

Dia membalik sambil mengirim tendangan, akan tetapi orang yang merampas buntalannya itu dapat mengelak sambil tertawa bergelak.

Koan Jit memandang dengan mata terbelalak dan mukanya pucat, karena perampas buntalannya itu bukan lain adalah Thian-tok, gurunya!

Dan penyerangnya tadi adalah Siu Coan, sutenya!

"Kalian manusia-manusia curang!"

Bentaknya marah sekali.

"Ha-ha-ha-ha... kau masih bisa bicara tentang curang?"

Thian-tok berkata sambil membuka buntalan itu dan melongok isinya. Dia melihat Giok-liong-kiam bersama beberapa batang pedang dan juga hiasan dan batu giok dan emas permata lainnya.

"Ha-ha-ha, terima kasih... engkau meminjam Giok-liong-kiam dan mengembalikan berikut bunganya, ha-ha-ha...!"

"Kembalikan itu!"

Koan Jit menyerang dengan ganasnya, menubruk dan menghantam ke arah gurunya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah buntalan.

"Desss!"

Thian-tok menangkis dan guru ini terkejut bukan main.

Dia terpelanting dan hampir roboh.

Untung pada saat itu, Siu Coan sudah menyerang lagi sehingga Koan Jit tidak mampu mendesak gurunya, dan kini Koan Jit berkelahi dengan mati-matian melawan Siu Coan.

Sementara itu, para anak buah Siu Coan sudah mulai menyerbu ke dalam dan terjadilah pertempuran yang kacau balau karena benteng itu hanya diterangi oleh sinar api yang membakar bangunan-bangunan.

Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi terompet, tambur dan ledakan-ledakan senapan.

Beberapa orang anak buah Siu Coan roboh terjungkal.

Melihat betapa pasukan bule sudah datang dan tentu saja mereka itu membantu pasukan Harimau Terbang, Siu Coan maklum bahwa keadaan mereka amat berbahaya.

Juga Thian-tok maklum akan bahaya.

Tadipun ketika mengadu tenaga dengan murid pertamanya, dia hampir roboh dan hal ini saja membuktikan bahwa betapapun lihainya, usianya yang sudah amat tua mengurangi banyak tenaganya.

"Siu Coan, mari kita pergi!"

Berkata demikian, Kakek ini mengeluarkan suara auman yang amat hebat.

Koan Jit yang hendak mengejar, seketika lemas dan tenaga sin-kangnya banyak berkurang karena dia harus mengerahkan tenaga itu untuk menjaga jantungnya yang tiba-tiba saja terguncang hebat.

Gurunya ini memang hebat sekali Ilmu Sin-houw Ho-kangnya, dan kesempatan itu dipergunakan oleh Siu Coan untuk menghantamnya.

"Dukk!!"

Koan Jit menggunakan Ilmu Kim-siong-ko (Ilmu Baju Besi), semacam ilmu kekebalan, akan tetapi biarpun dia tidak terluka, tetap saja dia terlempar dan ketika dia meloncat kembali, guru dan murid itu telah lenyap menghilang ke dalam kegelapan malam.

Siu Coan segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mundur.

Dan melihat munculnya pasukan bule yang menggunakan lampu senter yang besar dan terang, juga senapan-senapan yang ampuh, anak buah Siu Coan mengundurkan diri dan meninggalkan korban yang tidak kurang dari lima puluh orang banyaknya, walaupun di pihak pasukan Harimau Terbang juga sedikitnya ada tiga puluh orang yang tewas dan beberapa puluh orang yang luka-luka!

Perang, macam apapun juga adanya perang itu, memang kejam dan juga menyedihkan sekali.

Lihat saja pertempuran antara anak buah Siu Coan dan pasukan Harimau Terbang, anak buah Koan Jit.

Mereka itu berbunuh-bunuhan, sampai puluhan orang banyaknya, bahkan hampir seratus orang yang menjadi korban.

Untuk apa?

Pasukan Harimau Terbang adalah pasukan bayaran dan hal ini dapat kita maklumi.

Mereka memang bekerja untuk perang, walau betapa keji dan kejampun sifat pekerjaan itu.

Mereka akan membunuh siapa saja karena hal itu adalah pekerjaan mereka, dan untuk itu mereka digaji setiap bulan.

Akan tetapi, biarpun mereka berperang karena itu memang menjadi pekerjaannya yang dibayar, mereka itu sebetulnya berperang dan mengorbankan nyawa hanya demi kepentingan seorang Koan Jit saja!

Andaikata tidak ada Koan Jit dan Giok-liong-kiam, belum tentu puluhan orang Harimau Terbang itu tewas pada malam hari itu!

Dan puluhan orang anak buah Siu Coan itu!

Mereka juga tewas dan mati konyol!

Untuk apa?

Tentu saja merekapun memiliki alasan yang kuat, yang mendorong mereka untuk nekat dan mati-matian berbunuh-bunuhan dengan pihak musuh.

Mungkin ada yang berdalih agama seperti yang dipropagandakan oleh Siu Coan.

Memang Siu Coan suka mempergunakan agama untuk mencapai tujuannya.

Mungkin perang di malam hari itu dianggap sebagai perang suci atau perang salib seperti yang dipropagandakan oleh Siu Coan, memerangi orang-orang yang jahat.

Atau mungkin, juga Siu Coan mempergunakan propaganda kepatriotan.

Mereka itu dianjurkan untuk memerangi Harimau Terbang karena itu adalah perbuatan yang patriotik!

Membela bangsa, negara dan tanah air, dan orang-orang yang menghambakan diri kepada bangsa bule!

Dan tentu saja ada pula di antara mereka yang berperang karena ambisi, karena mengharapkan kemenangan dan menerima imbalan jasa dari Siu Coan.

Apapun alasannya, apapun propaganda yang diajukan orang-orang yang berkepentingan untuk mendorong rakyat untuk berperang, untuk berbunuh-bunuhan, adalah keji?

Dan celakanya, ini merupakan kenyataan pahit sekali yang terpaksa harus kita telan, mereka yang mempropagandakan perang itu dengan dalih agama, politik, bangsa, negara, tanah air, bendera, atau apa saja, mereka yang menjadi pendorong-pendorong perang ini sendiri, tidak pernah ikut berperang!

Mereka hanya berkaok-kaok senyaring mungkin untuk mendorong rakyat seperti orang yang menghasut segerombolan serigala, dan apabila keadaan membahayakan bagi diri mereka, apabila sudah tidak ada lagi harapan menang bagi mereka, maka beberapa gelintir manusia ini, paling dulu melarikan diri sambil tidak lupa membawa barang berharga, menyelamatkan diri tanpa memperdulikan lagi kepada mereka yang tadinya berperang karena mereka hasut, dan tidak perduli lagi kepada mereka yang sudah mengorbankan nyawa, harta dan keluarga!

Terkutuklah mereka itu!

Dan ini bukan dongeng, bukan pula fitnah, melainkan dapat kita lihat setiap waktu, dapat kita pelajari dari sejarah, bahkan pada saat Anda membaca ini, masih terjadi di segala pelosok dunia ini!

Menyedihkan, bukan?

Kalau begitu, mengapa kita begini bodoh?

Karena sesungguhnva, kitalah yang bodoh!

Kitalah yang membiarkan diri kita menjadi kerbau kerbau yang dicocok hidungnya dan dituntun ke "Rumah jagal."

Bagaimana kalau kita semua, seluruh rakyat di dunia ini, tidak lagi mau mengangkat senjata.

Tidak mau berbunuh-bunuhan?

Kalau ada para pembesar, para kepala negara, dan kepala atau komandan balatentara, ingin perang, biarlah mereka sendiri yang maju.

Jenderal lawan jenderal, kepala negara lawan kepala negara, menteri lawan menteri.

Dan kita, rakyat sedunia, menjadi penonton saja seperti kalau kita nonton pertandingan tinju.

Lucu dan menyenangkan sekali, bukan?

Serangan di malam hari itu tidak hanya melenyapkan Giok-liong-kiam dan beberapa benda pusaka dari tangan Koan Jit, akan tetapi bahkan juga melenyapkan Koan Jit dalam benteng!

Pasukan Harimau Terbang lalu dibubarkan oleh pasukan lnggeris karena komandannya hilang atau menghilang.

Sebaliknya, Admiral Elliot juga kehilangan Ong Siu Coan yang pergi tanpa pamit sambil membawa sedikitnya dua puluh buah senapan dan pistol yang dicurinya bersama gurunya.

Dan mulai saat itu, Ong Siu Coan, dibantu Thian-tok, mulai mengumpulkan para anak buahnya, bekas anak buah Thian-te-pang yang setia kepadanya, Banyak pula menerima pemuda-pemuda dari luar, dan dia mulai membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama Pai-sang-ti-hui (Perkumpulan Pemuja Tuhan).

Perkumpulan ini bentuknya seperti perkumpulan Agama Kristen, dan karena melihat bahwa yang menjadi pemimpin adalah Ong Siu Coan dan semua anggautanya mengaku sebagai orang Kristen, juga karena Pai-sang-ti-hui ini nampaknya tidak memusuhi orang-orang kulit putih, maka hubungan antara perkumpulan ini dengan orang kulit putih nampak baik.

Pai-sang-ti-hui ini hanya bergerak memusuhi pemerintah Ceng saja.

Akan tetapi, karena Ong Siu Coan adalah orang yang sejak kecilnya digembleng ilmu silat dan Agama Buddha, Taoism, dan juga Khong-hu-cu, maka Agama Kristen yang dipimpinnya itu sudah banyak menyeleweng dan aselinya, bahkan berbau mistik!

Juga tidak mengharamkan atau melarang perbuatan yang sifatnya penggunaan kekerasan, karena memang semua anggautanya diajar ilmu silat dan ilmu perang.

Seperti telah disangka semula, pasukan Ceng yang marah karena kegagalan mereka membasmi para pemberontak di dalam guha tepi pantai lautan dimana diadakan pesta hari ulang tahun Hai-tok, mereka lalu mengerahkan perahu-perahu dipenuhi pasukan dan berlayarlah mereka menuju ke Pulau Layar, tempat tinggal Hai-tok dan keluarganya.

Diserbulah pulau itu, akan tetapi ketika mereka tiba di pulau itu, Hai-tok dan keluarganya telah lama meninggalkan pulau.

Karena itu, para tentara Mancu menjadi marah dan mereka menghancurkan segala yang berada di pulau itu setelah merampasi semua benda berharga, bahkan lalu membakar semua bangunan yang berada di pulau.

Tak seorangpun anak buah Hai-tok yang tinggal di situ dan tidak jatuh korban.

Dengan kecewa, akan tetapi mengangkut barang-barang perabot rumah tangga yang lumayan karena Hai-tok yang menjadi majikan pulau itu merupakan seorang kaya, pasukan Ceng itu pulang ke daratan membawa barang-barang rampasan mereka.

Kemana perginya Hai-tok, keluarganya dan anak buahnya?

Kakek yang cerdik ini sudah dapat menduga akan datangnya serbuan, maka sebelum serbuan datang, dia mengajak anak buahnya untuk meninggalkan Pulau Layar dan mereka bersembunyi di sebuah pulau yang lebih jauh dan terpencil lagi, pula pulau ini amat berbahaya karena di situ terdapat banyak sekali ular-ular berbisa.

Namun, Hai-tok adalah seorang sakti dan bersama anak buahnya, dia membasmi dan mengusir ular-ular ini dan tinggal di pulau yang bentuknya memanjang seperti tubuh ular, melingkar dan karena bentuknya itu, maka pulau ini disebut Pulau Naga.

Memang bukan pulau yang terlalu subur, kalah baik dengan Pulau Layar, akan tetapi untuk tempat persembunyian, lebih menguntungkan karena pulau ini dilindungi ombak-ombak yang besar dan berbahaya sehingga sukarlah bagi musuh untuk menyerangnya.

Dan pula, Hai-tok membawa pula harta bendanya, dan sebagai orang kaya raya, dia tidak begitu membutuhkan tanah subur.

Semua keperluan makan mudah dibeli dan karena kini mereka kehilangan rumah dan perabot-perabot sehingga harus mengeluarkan banyak uang, Maka Hai-tok dan anak buahnyapun kembali kepada pekerjaannya yang dahulu, yaitu menjadi bajak laut!

Pada suatu hari, di waktu lautan amat tenang dan matahari amat cerah, nampak sebuah perahu layar yang cukup besar dan penuh dengan anak buah.

Perahu itu panjang dan bentuknya seperti seekor naga, bahkan kepalanya juga diukir dengan amat indahnya.

merupakan kepala seekor naga yang selain indah juga nampak seperti hidup saja.

Juga bendera besar hitam yang berkibar di ujung tiang layar itu disulam gambar seekor naga laut yang amat mengerikan, moncongnya terbuka lebar, matanya mencorong dan cakarnya siap untuk menerjang.

Layarnya sendiripun digambar dengan garis-garis berwarna putih, hijau dan hitam, lorek-lorek seperti perut naga.

Anak buahnya memakai pakaian seragam pula, gagah-gagah dan bersenjata lengkap.

Layarnya berkembang sampai menggembung ditiup angin laut dan kapal itu meluncur cepat sekali.

Seorang yang bertubuh ramping berdiri sambil memandang jauh ke depan, tangan kirinya memegang sebatang tongkat putih yang runcing.

Itulah tulang binatang laut yang amat kuat dan keras seperti baja dan mengerikan.

Akan tetapi, orang yang jelas merupakan pimpinan dan anak buah di perahu naga itu ternyata adalah seorang wanita.

Masih amat muda lagi, dan amat cantik jelita.

Usianya tidak akan melebihi delapanbelas atau sembilanbelas tahun, namun sikapnya amat berwibawa.

Pakaiannya ringkas, dan bajunya yang berlengan panjang itu ditutup rompi yang terbuat dari kulit buaya laut yang melindungi tubuhnya dari pundak sampai ke lutut.

Pinggangnya yang kecil ramping memakai sabuk yang lebar berwarna kuning dan biarpun tubuhnya memakai rompi, namun pakaian rangkap itu tidak mampu menyembunyikan tonjolan dadanya yang menggembung keras dan padat.

Rambutnya dibiarkan terurai, hanya kepalanya di atas telinga diikat dengan sehelai kain putih.

Tidak ada hiasan menaburi dirinya, kecuali setangkai bunga dan emas yang menempel di ikat kepalanya, di atas telinga kiri.

Itulah Kiki, puteri tunggal Hai-tok yang kini menjadi pemimpin bajak laut di atas perahu besarnya yang berbentuk naga laut!

Sejak beberapa bulan, ia malang-melintang di atas lautan, tak pernah melepaskan perahu-perahu atau kapal-kapal pemerintah Ceng terutama, walaupun ada pula perahu saudagar dirampas barang-barangnya.

Kalau perahu-perahu saudagar, hanya dirampas barang-barangnya saja.

Akan tetapi jangan harap perahu pemerintah Mancu akan diampuni.

Bukan hanya dibajak, akan tetapi semua orangnya dibunuh dan juga kapalnya dibakar!

Bahkan kadang-kadang, pemimpin bajak yang luar biasa beraninya ini berani menyerang kapal asing, kapal orang-orang kulit putih sehingga beberapa kali hampir saja perahunya celaka terkena serangan meriam-meriam orang kulit putih.

Para anak buah perahu layar besar Naga Laut inipun bukan orang-orang biasa, melainkan anak buah Hai-tok yang pilihan.

Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, dan terutama sekali, setiap dari mereka itu pandai sekali berenang dan menyelam, mahir ilmu di dalam air seperti ikan-ikan saja, Walaupun tentu saja kalau dibandingkan dengan Kiki, kepandaian mereka itu belum ada artinya.

Biarpun baru beberapa bulan saja beroperasi sejak pindah ke Pulau Naga, karena banyaknya korban yang sudah jatuh ke tangan para bajak ini, maka terkenallah nama bajak laut Naga Laut ini, yang mudah dikenal dari bentuk perahunya dan bentuk benderanya.

Para anak buahnya bersenjata lengkap, ada regu bertombak, regu berpedang, dan ada pula regu golok dan perisai.

Jumlah mereka yang menjadi anak buah Kiki itu tidak kurang dari lima puluh orang, kesemuanya ahli-ahli silat dan ahli renang yang sudah biasa berkelahi seperti ikan-ikan hiu yang haus darah.

Tiba-tiba seorang anak buah perahu itu yang tadi memanjat tambang ke atas puncak layar, berseru.

"Ahoooiiii... perahu besar di depan, samping kanan!"

Mendengar ini, Kiki cepat menoleh ke sana.

Memang belum nampak karena terhalang oleh alunan gelombang, akan tetapi ia cepat memerintahkan agar perahunya memutar haluan ke kanan.

Tak lama kemudian, benar saja nampak sebuah perahu besar sekali, hampir dua kali lebih besar daripada perahunya sendiri, sedang berlayar ke arah barat, ke daratan.

Dan dari keadaan serta bendera kapal itu, mudah diduga bahwa kapal atau perahu besar itu milik pemerintah.

Bukan main girangnya hati Kiki.

Ia amat membenci pemerintah Mancu.

Bukan hanya membenci karena Bangsa Mancu sudah menjajah sampai ratusan tahun, bukan pula hanya karena pemerintah Mancu bersikap lemah dan pengecut terhadap orang-orang barat, melainkan pertama karena pemerintah Ceng membakar Pulau Layar, dan kedua karena ia sudah mendengar bahwa suhengnya, Lee Song Kim, kini menjadi kaki tangan pemerintah penjajah.

Bahkan ada kabar bahwa Lee Song Kim yang mengkhianati guru sendiri, dan dialah pelapor kepada pasukan Ceng ketika diadakan ulang tahun Ayahnya sehingga pesta itu digempur dan diserang oleh pemerintah Ceng.

Ia benci pemerintah Ceng.

Ia benci suhengnya!

"Tambah kecepatan, dan potong jalan, jangan membiarkan perahu anjing-anjing Mancu itu mencapai daratan lebih dulu dan kita!"

Teriak Kiki dengan gembira dan seluruh urat di tubuhnya sudah menegang dalam gairahnya untuk segera turun tangan menyerang perahu musuh itu.

Kiki sama sekali tidak perduli melihat besarnya kapal, walaupun ia dapat menduga bahwa pasukan yang berada di kapal itu menurut ukuran kapal, tentu kurang lebih dua kali lebih besar dari pada jumlah pasukannya sendiri.

Perahu Naga itu bentuknya memang dibuat istimewa sehingga dapat berlayar dengan luar biasa cepatnya.

Mereka memotong jalan dari kiri dengan kecepatan yang membuat perahu itu meluncur seperti terbang.

Mereka sudah mendekati perahu besar berbendera pangkat seorang pejabat tinggi.

Dan tentu saja pasukan yang berada di perahu besar itu sudah melihat munculnya perahu itu, bahkan sudah mengenalnya sebagai perahu bajak.

Terdengar teriakan-teriakan menyambut Bajak Naga Laut, dan para prajurit dengan tombak di tangan siap berjajar di tepi perahu.

Betapapun ganasnya bajak itu dikabarkan orang, para prajurit yang merasa lebih banyak itu tidak takut, apalagi mereka kini sedang mengawal seorang pembesar istana yang berpangkat Pangeran.

Sang Pangeran yang sudah tua itu, di kamarnya mendengar akan adanya bajak laut dan dengan tenang dia mengatakan bahwa kalau bisa agar dihindarkan bentrokan, kecuali kalau tidak ada jalan lain.

Pangeran itu bernama Ceng Tiu Ong, seorang pangeran tua yang di Kota Raja terkenal sebagai seorang pejabat yang menjadi penasihat kaisar.

Pangeran ini disegani orang karena adil dan berani, akan tetapi karena adil dan beraninya itu, diapun dibenci banyak pembesar yang korup, dan karena kaisar mengalami hasutan-hasutan mereka.

Pangeran Ceng Tiu Ong ini agak disingkirkan atau dijauhi sehingga kedudukannya kini tidak penting lagi, hanya pengurus perpustakaan istana saja, karena dia memang seorang ahli sastera.

Pangeran Ceng Tiu Ong ini seorang peranakan Mancu, Ayahnya seorang pangeran Mancu dan ibunya dari selir, seorang perempuan hari dari utara.

Pada hari itu, dia bertugas mengambil kitab-kitab kuno dari sebuah kuil tua di Mukden, dan karena perjalanan darat selain jauh melelahkan juga berbahaya dengan adanya pemberontakan-pemberontakan, maka dari Mukden dia dikawal sampai ke tepi laut dan kini hendak kembali ke Kota Raja melalui lautan, dikawal oleh seratus orang prajurit.

Selama dalam pelayaran siang malam, dia berada di dalam kamar kapal saja mempelajari kitab-kitab kuno yang amat banyak jumlahnya dan merupakan benda-benda kuno yang amat besar harganya dan nilainya itu.

Ketika dia menerima kabar akan munculnya perahu Bajak Naga Laut, dia tenang-tenang saja dan masih melanjutkan, memeriksa buku, hanya memesan kepada anak buahnya agar jangan menyerang mereka, bahkan kalau mungkin menghindarkan bentrokan-bentrokan.

Diam-diam di lubuk hatinya, pangeran ini tidak menaruh kebencian, sebaliknya malah mengagumi para patriot yang berjuang untuk membebaskan tanah airnya dari penjajah Bangsa Mancu.

Pangeran ini, biarpun peranakan Mancu, namun dari banyak membaca sejarah dan kitab-kitab kuno, tahu betapa busuknya penjajahan dan betapa menderitanya rakyat yang terjajah.

Juga dia banyak membaca, bahkan berkenalan dengan para pendekar dan patriot walaupun dia tidak mau mengotori tangannya dengan mencampuri urusan pemberontakan, apa lagi persekongkolan.

Pada waktu melaksanakan tugas mengambil kitab-kitab dari kuil kuno di Mukden ini, dia pergi sendirian saja, tidak mengajak keluarganya.

Kiki telah memerintahkan orang-orangnya untuk menurunkan perahu-perahu kecil dan setiap perahu ditumpangi lima orang anak buahnya, kemudian perahu-perahu kecil yang amat lincah itu didayung cepat-cepat membentuk formasi yang mengepung perahu besar yang hendak dibajak.

Sebelumnya ia telah mengatur siasat dan kini para anak buahnya, dengan menumpang delapan perahu, berjumlah empat puluh orang, sudah berluncuran mengepung perahu besar.

Para prajurit di geladak perahu besar itu sudah siap dengan tombak mereka dan berteriak-teriak memaki, karena mereka sama sekali tidak takut melihat jumlah bajak yang hanya setengah jumlah (Lanjut ke

Jilid 26) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 26 mereka itu.

Akan tetapi Kiki mengeluarkan seruan nyaring disusul oleh tiupan tanduk yang mengeluarkan suara berdengung dalam dan sampai terdengar jauh, dan itulah tanda penyerangan bagi dua buah perahu kecil yang berada di depan kapal lawan.

Se puluh, orang anak buahnya berloncatan dan memanjat tali kapal itu, menyerang ke atas.

Mula-mula ketika mendekati kapal, mereka berlindung di balik perisai untuk menghindarkan diri dari serangan anak panah, kemudian setelah memanjat mereka berlindung pada tubuh perahu lawan.

Tentu saja para prajurit yang berada di atas dek berusaha untuk mencegah mereka naik dengan penyerangan tombak-tombak mereka.

"Sayap kiri maju!"

Kiki membentak sambil menudingkan telunjuk tangan kanannya ke arah bagian kiri dan tangan kirinya memegangi tombak tulang ikan yang menggiriskan itu.

Pembantunya meniupkan aba-aba itu, dan se puluh orang anak buah dan dua perahu lainnya mulai memanjat dan berloncatan ke atas, disusul pula oleh aba-aba yang dikeluarkan Kiki, sehingga kini empat puluh orang anak bahnya secara bertubi-tubi telah mulai menyerang ke atas.

Serangan yang dilakukan dari empat penjuru itu sempat mengacaukan pertahanan para prajurit yang berlarian ke sana ke mari.

Apalagi ketika Kiki kembali memberi aba-aba, dan se puluh orang sisa anak buahnya, setelah perahu naga mendekat, lalu melayangkan anak panah berapi yang tentu saja membuat suasana di kapal menjadi semakin panik karena ada panah api yang mengenal layar dan membakar perahu itu!

Tang Ki atau Kiki memang hebat.

Ia bukan saja mempelajari ilmu silat tinggi dan ilmu dalam air dari Ayahnya, akan tetapi juga mempelajari siasat pertempuran dengan kapal, dan dalam kecerdikannya dan kelincahannya, ia malah tidak kalah oleh Ayahnya sendiri.

Kini empat puluh orang anak buahnya itu telah berhasil naik ke atas perahu lawan dan sudah terjadi pertempuran yang mati-matian.

Iapun cepat menyuruh anak buahnya mendekatkan perahu dan dalam jarak dua puluh lima meter, ia sendiri yang memegang tombak itu yang ujungnya berkait dan dipasangi tali panjang, dan dilontarkannya tombak itu yang tepat mengenai tubuh kapal dan mengait!

Dua perahu itu sudah bergandeng kini dan dengan cara yang demonstratip sekali, setelah anak buahnya menjaga agar tali itu tetap menegang, Kiki sambil membawa senjatanya lalu meloncat ke atas tambang menuju ke kapal musuh!

Melihat ini, semua anak buahnya kagum, dan pihak musuh terbelalak dan merasa jerih sekali.

Apalagi setelah dengan teriakan panjang yang melengking nyaring, Kiki meloncat ke atas geladak perahu musuh, dan begitu disambut oleh empat orang prajurit, sekali ia menggerakkan tombaknya dengan putaran cepat, empat orang prajurit itu mengaduh dan terjungkal tewas!

Makin serulah kini perkelahian di atas geladak kapal musuh itu, antara empat puluh anak buah bajak melawan seratus orang prajurit di atas perahu Ceng itu.

Akan tetapi amukan Kiki memang hebat.

Senjata-senjata tajam yang menuju ke arah tubuhnya yang terbungkus kulit buaya laut itu dibiarkannya saja dan bacokan pedang atau golok, tusukan tombak, semua meleset ketika hinggap di kulit buaya yang melindungi tubuhnya yang ramping.

Akan tetapi setiap tusukan atau pukulan tombak tulang ikan di tangannya itu pasti merobohkan lawan, karena senjata ini mengandung bisa yang ampuh!

Teriakan-teriakan dan guncangan-guncangan yang terjadi itu mengejutkan Pangeran Ceng Tiu Ong yang sedang tenggelam di dalam sebuah kitab kuno yang dipelajari isinya.

Dia bukan ahli silat, akan tetapi dari kepandaiannya membaca huruf-huruf kuno sekali, tahulah dia bahwa kitab yang dibacanya itu merupakan sebuah kitab rahasia peninggalan pendeta Buddhis Tat Mo Couwsu yang entah bagaimana dapat terselip di dalam kumpulan kitab-kitab kuno di kuil Mukden itu!

Hatinya merasa girang sekali.

Biarpun dia sendiri lebih suka "Bersilat"

Dalam kitab-kitab kuno, akan tetapi puteri tunggalnya, yang pada waktu itu berusia sembilanbelas tahun, merupakan seorang ahli silat tingkat tinggi yang amat disegani orang di Kota Raja.

Bahkan dengan adanya puterinya itulah, maka sampai sekarang dia selamat karena musuh-musuhnya tidak ada yang berani sembarangan turun tangan.

Hal ini tidak mengherankan, karena puterinya itu adalah seorang murid dari keturunan keluarga Pulau Es yang terkenal memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi!

"Wah, ini kitab untuk anakku.

Tentu ia senang sekali kalau sudah kuterjemahkan untuknya,"

Pikirnya, dan pada saat itulah dia diganggu kegaduhan di atas dek.

Pangeran Ceng Tiu Ong menyimpan kembali kitab itu dan diapun melangkah ke luar dari dalam kamarnya.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat pertempuran di atas dek itu, lebih kaget lagi melihat mayat-mayat bergelimpangan dan darah membanjiri dek kapalnya!

"Berhenti!

Tahan senjata dan berhentilah berkelahi!"

Teriaknya.

Para prajurit yang sudah kehilangan seperempat jumlah pasukannya segera menahan senjata dan mundur.

Melihat munculnya seorang laki-laki yang meneriakkan agar pertempuran dihentikan, Kiki juga berseru agar orang-orangnya mundur dan menahan senjata mereka.

Biarpun di antara orang-orangnya ada yang tewas dan terluka, namun jumlahnya kurang dari se puluh orang, berarti bahwa pihaknya sedang mendesak dan memperoleh kemenangan.

Melihat laki-laki itu yang ditaati para prajurit, ia dapat menduga bahwa tentu itulah pemimpinnya, maka dengan langkah tegap dan gagah, iapun maju menghampiri dan menghadapi Pangeran Ceng Tiu Ong.

Pangeran ini sejenak memandang dengan heran, kagum dan juga penasaran.

Inikah pemimpin para bajak yang liar dan ganas ini?

Sungguh sukar dipercaya.

"Siapakah engkau dan mengapa kalian menyerang perahu kami?"

Tanyanya, suaranya halus, akan tetapi Kiki merasakan kewibawaan pada diri Kakek yang nampaknya halus dan sabar.

"Kami adalah bajak laut yang terkenal di sini... Bajak Naga Laut, dan akulah pemimpinnya. Apakah engkau pemimpin pasukan pemerintah Mancu ini? Kalau begitu, majulah dan lawanlah aku!"

Berkata Demikian, Kiki melintangkan senjatanya yang istimewa itu. Kakek itu tersenyum pahit dan memandang ke sekeliling, ke arah mayat mayat malang melintang itu dengan pandang mata sedih.

"Siancai... orang-orang berbunuh-bunuhan hanya untuk harta. Betapa rendah dan kotornya! Kalian bajak laut tentu ingin membajak kami dan mengambil barang-barang berharga kami, bukan? Nah, lakukanlah.

"Ambillah semua yang kalian kehendaki, asal seperti buku-buku tua itu jangan kalian ambil. Ambillah dan jangan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi."

Kiki melongo.

Belum pernah selama menjadi pemimpin bajak, ia bertemu dengan seorang pembesar seperti ini.

Menyerahkan saja barangnya untuk diambil begitu saja.

Betapa pengecutnya!

Tentu ini seorang pengecut, seorang penakut yang mungkin sudah terkencing di celananya.

"Huh, tak tahu malu! Engkau takut mati?"

Bentaknya.

Dan senjata Kiki berkelebat, tahu-tahu ujung senjata yang runcing itu telah menempel di leher orang tua itu.

Pangeran Ceng Tiu Ong merasa betapa benda itu amat dingin, namun berkedippun dia tidak!

"Nona, engkau masih muda...

tidak pandai mengenal orang.

Bagaimana aku yang sudah hidup puluhan tahun ini takut mati?

Tidak, kalau engkau hendak membunuh, bunuhlah.

Aku tidak takut mati.

Aku hanya merasa kasihan kepadamu."

Senjata itu turun lagi.

"Kasihan kepadaku? Maksudmu?"

"Engkau ini seorang gadis yang masih muda belia, akan tetapi melumuri kedua tanganmu dengan dosa, mengerahkan anak buahmu untuk membunuhi banyak orang, bahkan mengorbankan nyawa anak buahmu hanya untuk merampas harta. Nah, aku ingin mengindarkan engkau berbuat dosa lebih banyak. Kalau ingin harta, ambillah saja."

Wah, kembali Kiki menjadi bengong.

Orang ini memang sama sekali tidak takut dan hampir saja ia menduga bahwa orang ini agaknya memiliki kesaktian.

Kalau tidak, bagaimana nyawanya sudah berada di ujung senjatanya masih bersikap demikian beraninya?

"Orang tua, siapakah engkau?"

"Aku Pangeran Ceng Tiu Ong dari Kota Raja,"

Jawab yang ditanya dengan nada suara datar, sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan atau ingin memperoleh keuntungan dari namanya. Mendengar ini, anak buah bajak berteriak-teriak.

"Bunuh dia! Bunuh pangeran Mancu!"

"Hemm, kau dengar sendiri, pangeran. Kami bukan hanya bajak biasa. Kami bajak yang berjiwa pahlawan. Kami memusuhi pemerintah penjajah Mancu dan orang-orang kulit putih!"

"Ahhh!"

Pangeran itu tekejut dan sepasang matanya kini memandang kagum kepada Kiki.

"Kiranya engkau seorang patriot wanita? Wah, kalau begitu, aku tidak dapat banyak bicara lagi. Terserah kepadamu... akan tetapi, pintaku, kalau aku mati, peti terisi buku di dalam kamarku itu harap jangan dibakar atau dibuang, akan tetapi kirimkan kepada seorang puteriku di Kota Raja. Kitab-kitab kuno itu penting sekali untuknya. Namanya Ceng Hiang."

Pada saat-itu, para bajak laut sudah menerjang dan menyerang lagi pasukan itu, dan perkelahian sudah berlangsung lagi, lebih seru dari pada tadi.

Kiki tidak menyerang Kakek itu.

Entah bagaimana, ia merasa sungkan untuk menyerang Kakek itu dan ia lalu mengamuk di antara pasukan Mancu.

Bukan main hebatnya sepak terjang Kiki, dan mayat-mayat para pasukan Mancu bergelimpangan.

Karena mereka itu semakin terdesak, akhirnya sisa pasukan itu lari dan berloncatan keluar dari perahu mereka untuk berenang dan menyelamatkan diri.

Anak buah bajak bersorak-sorai karena merasa memperoleh kemenangan, sama sekali tidak perduli lagi bahwa banyak pula teman mereka yang tewas atau terluka.

Akhirnya hanya tinggal Kakek itu sendiri yang masih berdiri dengan muka membayangkan kengerian melihat pembantaian antara manusia itu.

Dan para bajak itu lalu melempar-lemparkan mayat-mayat dan orang-orang yang terluka pihak lawan ke dalam lautan.

Ada pula yang mulai merampoki barang-barang berharga di perahu itu.

"Kau pergilah!"

Kata seorang bajak dan tiba-tiba dia menyeret Pangeran Ceng Tiu Ong dan melemparkannya ke luar perahu.

"Byuurrr!"

Tubuh Kakek itu terbanting ke air, dan pada saat itu, sinar bayangan orang yang kehijauan telah meloncat dan terjun ke air.

Orang itu adalah Kiki!

Entah apa yang mendorongnya, melihat Kakek ini dilempar ke air, iapun lalu terjun dan sekali menyelam ia berhasil menarik Kakek itu ke atas permukaan air.

Ia lalu menaruh tubuh Kakek yang lemas itu ke atas sebuah di antara perahu kecil bajak.

"Kami tidak akan membunuhmu, kau pergilah dengan baik-baik dari sini,"

Katanya.

Dua orang prajurit juga naik ke perahu itu dan mendayung perahu itu menjauhi perahu mereka yang dibajak, sedangkan Kiki cepat naik kembali ke atas perahu dengan pakaian basah kuyup.

Ketika ia melihat anak buahnya ada yang membawa sebuah peti hitam penuh kitab, ia menghardik.

"Berikan itu kepadaku! Itu bagianku!"

Anak buahnya terkejut dan memberikan peti hitam itu kepada Kiki.

Setelah meneliti sejenak.

Kiki mendapatkan bahwa peti itu memang berisi kitab-kitab kuno yang tulisannya tak dapat ia membacanya.

Akan tetapi ia tidak membuang peti itu dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa peti berisi kitab-kitab itu pulang ke Pulau Naga.

Setelah perahu besar itu dirampok habis, lalu perahu itu dibakar di bawah sorak-sorai para penjahat itu sampai akhirnya tenggelam.

Para bajak banyak yang merasa kecewa.

Perahu besar yang ditumpangi seorang pangeran itu ternyata tidak membawa banyak barang berharga.

"Pangeran pailit! Pangeran miskin! Hanya kutu buku!"

Mereka mengomel, akan tetapi diam-diam Kiki kagum sekali kepada Kakek itu.

Kalau seorang Kakek macam Ayahnya bersikap gagah berani dan tidak mengenal takut, hal itu tidaklah aneh karena Ayahnya seorang pria yang berilmu tinggi.

Akan tetapi Kakek pangeran tadi hanya seorang kutu buku yang lemah.

Akan tetapi, sikapnya demikian gagah berani, penuh wibawa menimbulkan kekaguman hatinya.

Diapun merasa gembira dan lega hatinya bahwa ia telah menyelamatkah Kakek pangeran itu dan kematian tenggelam di lautan.

Kalau sampai Kakek itu terbunuh, tentu kata-kata Kakek itu akan selalu terngiang di hatinya dan akan selalu mendatangkan perasaan tidak enak.

Bahkan peti terisi kitab-kitab kuno itupun kini mulai mengganggu hatinya.

Bukankah pangeran itu mengatakan bahwa kitab-kitab kuno itu amat penting bagi puterinya yang bernama Ceng Hiang?

Kalau ia bisa mengirimkannya kepada gadis itu, alangkah akan lega dan senang hatinya!

Banyak ahli filsafat dan para bijaksana yang mengatakan bahwa pada dasarnya, semua orang itu mempunyai sifat atau watak yang baik.

Bagaikan kertas putih yang masih kosong, maka sejak anak-anak, orang telah dibentuk oleh yang mengisi kertas putih.

Namun, betapapun kotornya kertas itu dicorat-coret, pada dasamya masih ada putihnya dan kadang kadang sifat kebaikan dan kebersihan ini muncul.

Benar tidaknya pendapat para ahli filsafat ini terserah kepada penilaian kita sendiri.

Yang jelas saja, semua orang ini, kita semua, condong untuk melakukan kebaikan kepada orang yang mendatangkan kesan baik kepada kita.

Kebanyakan dari kita bersikap dan berbuat baik kepada orang yang menyenangkan kita, dan yang menyenangkan ini berarti yang menguntungkan, baik batiniah maupun lahiriah.

Dengan demikian, maka segala kebaikan seperti itu adalah perbuatan munafik belaka, yang pada bakekatnya hanya untuk menyenangkan diri sendiri saja melalui lain orang.

Bukankah demikian?

Untuk dapat melihat ini, kita harus berani menghancurkan lebih dulu bayangan tentang diri kita sendiri yang kita bentuk dan bangun sejak kecil, bayangan yang nampak demikian baiknya, Bahkan yang terbaik dan terbersih, dan entah "Ter"

Apalagi.

Barulah akan nampak betapa munafiknya kita, betapa kotornya batin kita selama ini.

Dan hanya kita sendirilah yang mampu mengubahnya.

Bagaimana caranya?

Tidak ada caranya, yang terpenting, kalau kita waspada dan melihat kekotoran menempel pada diri kita, apa yang akan kita lakukan?

Kecerdasan akal budi tentu akan menggerakkan tangan untuk membersihkannya dan menghentikan segala kegiatan yang menimbulkan kekotoran itu.

Kiki membawa peti berisi kitab-kitab kuno itu ke Pulau Naga.

Ayahnya, Hai-tok Tang Kok Bu yang sekarang tidak begitu kaya raya lagi, memandang dengan alis berkerut.

Dia sendiri tidak mengenal huruf-huruf kuno itu, hanya mengenal beberapa buah saja yang kalau dirangkai tidak ada artinya.

"Kiki, apakah kau sudah gila? Buku-buku macam itu kau bawa, apakah hanya untuk dijadikan umpan rayap? Pula, aku mendengar engkau menyelamatkan seorang pangeran Mancu dari lautan. Apa-apaan pula ini? kau malah hendak melindungi bangsawan musuh!"

"Ayah, yang kutolong itu adalah seorang laki-laki tua yang gagah perkasa! Dia seperti sasterawan yang lemah, akan tetapi kegagahannya tidak kalah oleh kita. Ketika senjataku menempel di lehernya, dia berkedippun tidak! "Dan tidak pernah marah, bahkan menawarkan seluruh barangnya untuk diambil asal jangan ada perkelahian bunuh-membunuh. Dia menitip pesan agar kalau dia dibunuh, peti kitab kitab kuno ini diserahkan kepada puterinya di Kota Raja yang bernama Ceng Hiang. Aku tertarik dan kagum sekali kepada orang tua gagah itu, Ayah... dan pada saat itu, aku hanya tahu dia seorang mengagumkan, bukan pangeran atau bangsawan apapun."

"Huh, kau sudah menjadi lemah hati, ahh... tapi ini merupakan kesempatan baik sekali!"

Tiba-tiba Hai-tok memukul telapak tangannya sendiri.

"Kau bisa mengantarkan peti ini ke Kota Raja, mencari pangeran itu dan menyerahkan peti ini!"

"Ayah... aku tidak butuh ganjaran!"

"Hushh, bukan itu, anak bodoh. Tapi engkau bisa menyelidiki keadaan Song Kim, murid murtad itu. Kalau sudah tahu dimana kedudukannya dan dimana dia, aku sendiri yang akan menghajar dan membunuh dia!"

Kata Kakek itu penuh geram.

Hati Kiki mulai merasa tertarik.

Ketika masih kecil, Ayahnya pernah mengajaknya pesiar ke Kota Raja dan dia samar-samar masih teringat betapa hebat dan besarnya Kota Raja.

Besar dan indah sekali.

Dan kalau ditemukannya Pangeran Ceng Tiu Ong, tentu dia akan dapat sementara tinggal di dalam istana pangeran itu.

Dan hal inipun akan menambah banyak pengalaman hidup dan pengetahuannya.

"Engkau benar, Ayah. Baiklah, nanti kalau sudah ada saat dan kesempatan yang baik, aku akan mencarinya dan mengantarkan peti ini."

"Kenapa tidak sekarang?"

"Ayah, baru saja aku melakukan pukulan berat kepada pemerintah dengan membakar sebuah perahunya dan membajak pangeran itu. Di antara anak buah pasukan, tentu ada yang berhasil meloloskan diri dengan berenang. Kalau sekarang aku berkeliaran di Kota Raja dan ketahuan oleh mereka, apakah hal itu tidak amat berbahaya?"

Hai-tok mengangguk-angguk membenarkan pendapat puterinya.

Memang, Kota Raja tidak boleh dibuat main-main.

Di sana banyak sekali terdapat tokoh yang amat sakti, bahkan dia sendiri tidak berani sembarangan merajalela di Kota Raja.

Pihak orang kulit putih merasa marah juga ketika beberapa di antara perahu-perahu mereka juga tidak luput dari gangguan Bajak Naga Laut.

Sudah ada empat buah perahu mereka dibajak dan dibakar.

Admiral Elliot tersinggung kehormatannya.

Walaupun empat buah perahu yang dibajak dan dibakar itu hanya perahu-perahu kecil dan dia hanya kehilangan beberapa orang prajuritnya, namun hal itu merupakan pukulan baginya.

Kekuatan pasukannya terletak pada armadanya, dan kini ada perahu-perahunya yang dibakar oleh hanya bajak-bajak laut saja.

Dia sudah menyuruh orang untuk melakukan penyelidikan dimana sarang Bajak laut itu.

Orang-orangnya, terutama sekali orang-orang Harimau Terbang, hanya tahu bahwa sarang bajak laut itu adalah Pulau Layar, dikepalai oleh Hai-tok Tang Kok Bu.

Akan tetapi, ketika mereka ke sana, pulau itu sudah dibumi hanguskan dan tak seorangpun tahu dimana sarang baru dari para bajak laut yang berani itu.

Tentu saja sisa-sisa pasukan Harimau Terbang yang sudah ditinggalkan Koan Jit itu, dan masih dipergunakan oleh Kapten Elliot atas persetujuan Admiral Elliot, kini dikerahkan untuk melakukan penyelidikan.

Mereka dianggap lebih paham dan mengenal daerah perairan di lautan itu, juga mengenal para bajak laut.

Dan pasukan Harimau Terbang yang kini sisanya tinggal kurang lebih lima puluh orang itu dibagi menjadi lima kelompok, Masing-masing se puluh orang menunggang sebuah perahu yang diperlengkapi meriam untuk mencari bajak laut dan membasminya, atau kalau mereka merasa tidak kuat, melaporkannya kepada Kapten Elliot yang akan mengirim kapal untuk menghancurkannya.

Demikianlah, kini mulai nampak perahu-perahu yang memakai hiasan meriam itu berkeliaran di sepanjang pantai lautan timur.

Para anak buah Harimau Terbang adalah orang-orang yang berilmu silat didikan Koan Jit.

Mereka itu orang-orang kasar yang sudah biasa mengandalkan kekuatan dan kekerasan, maka tentu saja mereka seringkali bersikap sewenang-wenang terhadap para nelayan.

Kalau tidak merampas ikan-ikan hasil jerih payah semalam, tentu suka mengganggu wanita-wanita pelayan yang muda dan cantik.

Dengan demikian, nama Harimau Terbang terkenal sebagai pengganggu keamanan, bahkan mereka itu lebih dibenci oleh kau m nelayan dari pada para bajak laut sendiri, karena bajak-bajak laut itu tidak pernah mau mengganggu para nelayan.

Pada suatu pagi yang cerah dan air laut amat tenangnya, hanya berkeriput-keriput kecil, nampak sebuah perahu layar kecil yang hanya ditumpangi tiga orang hilir-mudik di tengah laut, tak jauh dari pantai.

Para penumpang perahu itu agaknya tidak melihat bahwa tak jauh dan pantai, ada sebuah perahu bermeriam yang mengintai.

Itulah perahu yang amat ditakuti para nelayan, perahu Harimau Terbang.

Pada layarnya saja terlukis harimau terbang yang menyeramkan, dan di atas perahu itu nampak se puluh orang laki-laki tinggi besar yang kesemuanya memakai rompi kulit harimau.

Sejak tadi, perahu-perahu nelayan sudah berpencaran melarikan diri karena ketakutan.

Akan tetapi perahu kecil yang ditumpangi tiga orang itu agaknya tidak mengenal kegalakan perahu Harimau Terbang, atau mungkin juga tidak memperdulikannya.

Sungguh mengherankan, mana ada orang, apalagi hanya tiga orang, berani tidak memperdulikan pasukan Harimau Terbang yang terkenal galak, baik di lautan maupun di daratan itu?

Akan tetapi kalau orang mengenal siapa orang yang berada di dalam perahu layar kecil itu, orang takkan merasa heran lagi.

Pemuda tampan yang berada di perahu itu, yang pakaiannya indah pesolek, menyembunyikan pedang di punggung dan sepasang pisau belati di balik pinggang, bukan lain adalah Lee Song Kim, murid tersayang dan Hai-tok!

Seperti diketahui, pemuda yang murtad terhadap gurunya sendiri itu, kini telah menjadi seorang petugas pemerintah Ceng, memiliki kedudukan yang lumayan sebagai seorang opsir.

Baru-baru ini, dialah yang mengkhianati gurunya sendiri, memberi tahu kepada komandannya akan adanya rapat gelap para tokoh kang-ouw yang anti pemerintah Ceng, dan untuk laporan ini, diapun memperoleh kenaikan pangkat.

Kini, dia ditugaskan melakukan penyelidikan siapa adanya bajak laut yang baru-baru ini membajak perahu besar yang bertugas mengambil kitab-kitab di kuil Mukden.

Tentu saja, Lee Song Kim sudah dapat menduga siapa pembajaknya.

Siapa lagi bajak yang menggunakan perahu Naga Laut kalau bukan anak buah gurunya?

Dan siapa lagi gadis cantik yang memimpin pembajakan itu kalau bukan sumoinya, Tang Ki?

Setelah Pulau Layar dibakar, bukan tidak mungkin kalau gurunya itu melakukan pekerjaan lamanya, yaitu membajak.

Dia dapat menduga dengan tepat dan bahkan yakin, akan tetapi tentu saja dia tidak berterus terang kepada komandannya, karena kalau ketahuan bahwa dia murid kepala bajak itu sendiri, dia tentu akan dicurigai.

Dua orang lainnya juga opsir-opsir rendahan yang menjadi pembantu Song Kim.

Mereka berpakaian seperti orang biasa, bukan seperti prajurit atau opsir, jadi bukan pula seperti nelayan yang pakaiannya kotor, melainkan sebagai tiga orang pelancong yang sedang bersenang-senang naik perahu layar.

Dua orang pembantu Song Kim itu berusia kurang lebih empat puluh tahun dan merupakan dua orang opsir yang pandai ilmu silat dan juga sudah banyak mengenal daerah itu.

"Di utara sana itu, yang nampak kecil hitam dari sini, adalah Pulau Layar,"

Kata seorang di antara dua opsir itu kepada Song Kim.

"Di sana yang menjadi majikan adalah seorang kaya raya she Tang, yang kabarnya dulupun pernah menjadi bajak laut, dan dia terkenal pula dengan julukan Hai-tok."

"Apa? Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia?"

Tanya Song Kim pura-pura.

"Benar, Lee-Ciangkun. Akan tetapi sudah bertahun-tahun dia tidak lagi melakukan pekerjaan membajak karena sudah kaya raya. Dan kabarnya pulau yang sudah dibakar oleh pasukan kita itu, kini ditinggalkan dan mereka lari entah kemana, sejak terjadi penyerbuan ketika Hai-tok mengadakan pesta ulang tahun itu."

Song Kim mengangguk-angguk.

Tentu saja dia tahu semua itu.

Akan tetapi dia sendiripun tidak tahu ke pulau mana gurunya itu pindah.

Terlalu banyak pulau kosong di tengah lautan sana, pulau-pulau kosong yang amat berbahaya.

Tiba-tiba terdengar suara rumah keong besar ditiup, suaranya dari jauh terdengar seperti suara seekor lembu menguak.

Song Kim dan dua orang temannya menengok dan Song Kim berkata.

"Menjemukan benar tingkah mereka itu."

Mereka melihat betapa beberapa orang dan perahu bermeriam itu memberi tanda agar mereka datang mendekat.

"Lee-Ciangkun, melihat dan pakaiannya, mereka itu tentulah orang-orang dari pasukan Harimau Terbang. Lihat itu benderanya."

"Hemm, kau maksudkan Pasukan Harimau Terbang yang menjadi anjing-anjing peliharaan orang kulit, putih?"

"Benar, Lee-Ciangkun. Kabarnya terjadi bentrokan hebat antara para anjing penjilat orang kulit putih yang menyebabkan banyak anggauta Harimau Terbang tewas, bahkan pemimpinnya yang bernama Koan Jit kini juga telah melarikan diri. Mungkin mereka itu hanya sisa-sisanya saja yang masih dipergunakan oleh pasukan Inggeris."

Kini perahu Harimau Terbang itu mendekat, dan seorang di antara mereka yang berkumis dan berwajah bengis membentak.

"Heii... apakah kalian tuli atau buta? Dipanggil tidak mau mendekat? Hayo kalian dayung ke sini, kami harus memeriksa apa isi perahu kalian!"

Song Kim merasa mendongkol sekali.

"Kami hanya pelancong-pelancong yang tidak membawa apa-apa. Dan situpun nampak bahwa perahu kami ini kosong. Mau diperiksa apanya?"

Mendengar jawaban yang berani dan tidak halus itu, pimpinan Harimau Terbang menjadi semakin marah. Matanya melotot. Belum pernah ada orang di sepanjang pantai ini berani bersikap kasar kepadanya.

"Apakah kau gila? kau tahu dengan siapa kalian berhadapan? Hayo ke sini kalau kalian tidak ingin kupenggal kepala kalian dan kuberikan kepada ikan hiu!"

Song Kim tak dapat menahan lagi kesabarannya.

"Aku tahu berhadapan dengan Pasukan Harimau Terbang, anjing-anjing kelaparan yang menjilat-jilat sepatu orang-orang bule, bukan?"

"Keparat! Mereka itu pemberontak-pemberontak! Kejar!"

Teriak si muka bengis itu, dan kini perahu Harimau Terbang mengejar perahu layar kecil itu.

Akan tetapi, Song Kim dan dua orang kawannya sengaja mempermainkan mereka.

Mereka bertiga itu memiliki perahu yang lincah dan lebih dari itu, Lee Song Kim adalah murid Hai-tok dan kepandaiannya di atas maupun di dalam air luar biasa, maka dia dapat melarikan perahunya ke kanan kiri melepaskan diri dan pengejaran lawan, bahkan mempermainkannya dengan mengelilingi perahu yang jauh lebih besar itu.

Setelah berkejaran sampai setengah jam lebih tanpa hasil, akhirnya komandan perahu Harimau Terbang menjadi marah.

"Siapkan meriam! Tembak mereka!"

Lee Song Kim sama sekali tidak mengira bahwa perahu Harimau Terbang itu akan melepaskan tembakan meriam terhadap perahu yang sama sekali tidak bersalah.

Maka ketika tiba-tiba terdengar ledakan keras dan perahunya kena hantaman peluru sehingga dia sendiri terlempar jauh ke laut, dia terkejut bukan main.

Cepat dia mencari kedua kawannya di antara perahunya yang terbakar.

Namun dia hanya menemukan dua kawan itu sudah mengambang menjadi mayat di antara kepingan-kepingan kayu dan perahunya yang terbakar dan hancur.

"Keparat busuk!"

Song Kim memaki marah sekali dan tubuhnya segera lenyap ketika dia menyelam.

Tak lama kemudian dia sudah berada di dekat perahu lawan, muncul di bawah perahu tanpa terlihat oleh seorangpun.

Dia mendengar betapa se puluh orang di atas perahu itu tertawa bergelak-gelak, mentertawakan perahunya yang terbakar dan hancur, dan tentu juga mentertawakan kematian dua orang kawannya dan dia sendiri yang oleh mereka tentu dianggap sudah mati.

Kemarahan membuat wajah pemuda ini menjadi beringas sekali.

"Jahanam busuk!"

Kembali dia membentak, dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas, ke perahu pasukan Harimau Terbang itu.

Tentu saja semua orang terkejut setengah mati ketika tiba-tiba melihat seorang pemuda tampan berada di perahu mereka.

Si muka bengis, pemimpin mereka, yang sudah memegang sebatang golok, tahu bahwa yang muncul ini tentu pihak musuh, maka dia pun cepat membacokkan goloknya yang amat tajam itu ke arah Song Kim.

Pemuda ini tidak mengelak, melainkan cepat menotok siku kanan pemegang golok, dan tiba-tiba saja tangan kanan itu menjadi lumpuh.

Sebelum si muka bengis itu tahu apa yang terjadi, nampak sinar goloknya yang sudah pindah tangan itu berkelebat dan tersemburlah darah muncrat-muncrat dari leher yang sudah buntung itu!

Song Kim menyambar kepala yang mencelat itu, menjambak pada rambutnya.

Muka yang sudah tidak berbadan lagi itu masih nampak bengis, matanya melotot, alis berkerut dan mulutnya membentuk kebengisan setengah terbuka, amat mengerikan!

Melihat betapa kepala pasukan itu tewas dengan leher putus dan kini kepalanya dijambak tangan kiri pemuda itu, para anak buahnya terkejut, ngeri akan tetapi juga marah.

Mereka lalu mencabut golok masing-masing dan maju mengeroyok.

Terjadilah perkelahian di atas perahu itu.

Akan tetapi mana mungkin prajurit-prajurit Harimau Terbang itu mampu melawan Lee Song Kim?

Sekali saja golok itu berkelebat, seorang prajurit robek perutnya dan yang kedua hampir putus lehernya, sedangkan yang ketiga menjerit karena melihat betapa muka pemimpinnya itu tiba-tiba mencium mukanya dengan keras!

Sempat dia menjerit ngeri, akan tetapi dadanya segera ditembus golok di tangan Song Kim!

Kini pemuda itu mengamuk dan tak seorangpun di antara se puluh orang itu yang sempat melarikan diri, semua habis dibabat golok rampasannya dan tubuh mereka kini malang melintang di atas dek perahu, yang sudah kebanjiran darah.

Bau amis amat memuakkan.

Song Kim lalu membuang golok rampasannya dan meloncat ke air, menyelam dan lenyap dan situ.

Biarpun Song Kim telah berhasil membunuh se puluh orang anggauta Harimau Terbang itu, namun dia kehilangan dua orang pembantunya, dan hal ini membuat hatinya menjadi marah sekali.

Dia cepat pulang ke Kota Raja, membuat laporan kepada komandannya bahwa sebelum dia sempat menemukan tempat persembunyian Bajak Naga Laut, dia bentrok dengan orang-orang Harimau Terbang yang mengakibatkan dua orang kawannya tewas.

Komandannya juga penasaran dan marah, maka Lee Song Kim lalu diutus mengepalai sebuah perahu besar dengan anak buah sebanyak seratus orang tentara pilihan, bukan hanya untuk mencari dan menumpas bajak laut, akan tetapi juga untuk menumpas pasukan Harimau Terbang kalau berani mengganggu perahu pemerintah Ceng.

Perahu besar itu memang nampaknya saja mempunyai anggauta seratus orang pasukan, akan tetapi Song Kim tidak sebodoh itu, membiarkan perahunya hanya dijaga seratus orang.

Bukankah perahu Pangeran Ceng Tiu Ong juga dikawal seratus orang prajurit dan apa jadinya?

Sebagian besar prajurit itu tewas dan perahunya dibakar!

Dan diapun tidak mungkin hanya mengandalkan kepandaiannya sendiri, karena selain pihak bajak itu banyak, juga dipimpin oleh orang pandai pula.

Kalau benar sumoinya, Kiki, yang memimpin bajak itu, tentu dia sendiri sudah akan repot menandingi sumoinya dan tidak akan dapat melindungi anak buahnya dengan baik dari serbuan para bajak.

Apalagi kalau yang memimpin bajak itu Hai-tok, bekas gurunya sendiri.

Akan tetapi diapun tidak takut terhadap Hai-tok.

Semua ilmu silat dan Kakek itu sudah dikuasainya, dan Kakek yang kaya raya itu mana akan mampu menandingi kekuatannya yang masih muda?

Karena cerdiknya, opsir muda ini lalu menyembunyikan seratus orang lagi pasukan di bagian bawah perahunya.

Jadi, kekuatannya hanya nampaknya saja seratus orang, padahal sebenarnya duaratus orang.

Dan perahunya juga bukan perahu biasa, melainkan perahu besar yang sudah diperlengkapi dengan meriam!

Benderanya besar, bendera tanda milik pemerintah Ceng-tiauw, dapat nampak dari jauh.

Dan pasukannya juga dipilih pasukan yang jagoan dan yang sudah berpengalaman bertempur di atas perahu.

Pendeknya, Lee Song Kim sudah membuat persiapan yang cermat untuk menghadapi segala kemungkinan, baik melawan pasukan Harimau Terbang maupun pasukan Bajak Naga Laut.

Sementara itu, peristiwa yang terjadi atas diri se puluh orang anggauta Harimau Terbang yang dibantai oleh Song Kim itu, segera diketahui oleh Kapten Elliot.

Bukan main marahnya kapten ini.

Dia segera memanggil Peter Dull, letnan yang gagah perkasa, bekas sahabat baik Koan Jit itu.

Setelah Koan Jit melarikan diri tanpa pamit setelah markasnya diserang oleh Ong Siu Coan dan anak buahnya dibantu Thian-tok, lalu sisa pasukan Harimau Terbang diserahkan kepada Letnan Peter Dull.

Jumlahnya masih ada kurang lebih tujuh puluh orang bersama dengan para mata-matanya sendiri.

Mendengar betapa anak buahnya dibantai orang, marahlah Peter Dull.

Karena tidak terdapat saksi hidup, dia tidak tahu siapa orangnya yang telah membunuh se puluh orang anak buahnya itu secara demikian kejamnya.

"Damn!"

Kutuknya penuh kegeraman.

"Mereka bukan manusia, melainkan iblis-iblis jahat, membunuh orang seperti itu!"

Letnan ini yang menyaksikan sendiri mayat-mayat bergelimpangan di atas perahu itu dengan leher putus, atau hampir putus, dengan dada berlubang tembus, dengan perut pecah sehingga ususnya berceceran.

Dek perahu yang banjir darah, bau amis, membuat dia muak dan menganggap pihak musuh membunuhi se puluh orang anak buahnya itu seperti iblis.

Demikianlah kita pada umumnya.

Mudah saja kita menudingkan telunjuk kepada orang lain dengan tuduhan kejam, curang, jahat dan sebagainya.

Peter Dull marah-marah dan menganggap perbuatan orang yang membunuh se puluh orang anak buahnya itu kejam seperti iblis.

Dia sama sekali tidak ingat kalau dia dan orangnya, entah sudah membunuh beratus atau berapa ribu orang!

Dan dia mengangap bahwa membunuh dengan pistol atau bedil atau meriam itu tidaklah sekejam membunuh dengan senjata tajam.

Dia sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa menyebarkan candu kepada rakyat yang jutaan banyaknya itu merupakan pembunuhan yang lebih kejam lagi, membunuh sedikit demi sedikit dengan penyiksaan lahir batin yang luar biasa kejamnya!

Inilah yang menjadi kesalahan kita semua.

Kita terlalu memperhatikan orang-orang lain, terlalu menilai perbuatan-perbuatan orang lain.

Pikiran kita setiap detik sibuk untuk menilai perbuatan orang lain, untuk membela diri, membenarkan diri, mencari segala alasan untuk membenarkan diri sendiri, mencari segala daya upaya untuk menguntungkan diri lahir batin, sehingga kita lupa akan suatu yang teramat penting dalam kehidupan kita, yaitu.

MENGAMATI DIRI SENDIRI!

Kalau saja kita selalu sadar, selalu waspada untuk mengadakan pengamatan terhadap diri sendiri, BUKAN AKU mengamati AKU, melainkan ada kewaspadaan, ada kesadaran dan pengamatan yang selalu melakukan pengamatan lahir batin dan diri kita detik demi detik.

Waspada kalau kita sedang melamun, kalau sedang bicara, kalau sedang bekerja, mencurahkan segala tenaga dan perhatian terhadap diri sendiri, apa yang kita lakukan baik yang terjadi di dalam maupun di luar diri.

Kalau sudah begitu, kita tentu tidak akan lagi menilai orang lain.

Juga tidak lagi menilai diri sendiri, karena segalanya akan sudah nampak dan dimengerti benar!

Hanya pengamatan ini sajalah yang akan mampu mengubah batin kita secara menyeluruh dan secara seketika.

Perubahan lahir tidak banyak artinya.

Perubahan batiniah yang penting bagi hidup, karena apa yang suka dinamakan kebahagiaan adalah urusan batin, bukan urusan lahir.

Urusan badan adalah kesenangan, dan dimana ada kesenangan tentu ada kesusahan.

Badan bisa merasakan enak dan tidak enak, panas atau dingin, senang atau susah.

Akan tetapi, pengamatan akan membebaskan batin dan semua pengalaman badan, sehingga batin akan tetap bebas, tidak bersandar, tidak bergantung, tidak susah atau senang, tak pernah mengeluh dan tak pernah bersorak-sorai.

Hanya batin yang seperti inilah yang benar-benar dapat merasakan dan mengerti apa yang sesungguhnya dinamakan bahagia itu.

Hanya yang beginilah yang mengerti apa yang dinamakan cinta kasih itu.

Kebahagiaan adalah urusan batin, bukan urusan badan.

Cinta kasih adalah urusan batin bukan urusan badan.

Kesenangan dan nafsu berahi, itulah urusan badan, tetapi kesenangan bisa berubah menjadi kesusahan dan cinta berahi bisa berubah menjadi kebencian!

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 7

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert