Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Kemala 8

Eps 8 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.

Letnan Peter Dull, perwira berusia tiga puluh lima tahun yang ganteng itu, dengan marah lalu mempersiapkan kapal yang lengkap dengan meriam-meriam besar dan membawa serdadu sejumlah tidak kurang dari duaratus orang, semua bersenjata lengkap, lalu menjelajahi lautan timur untuk mencari bajak laut.

Dia mendengar tentang bajak laut yang tersohor dengan nama Bajak Naga Laut, dan dia merasa yakin bahwa tentu bajak laut itulah yang membunuh orang-orangnya.

Dia bersumpah untuk membasmi Bajak Naga Laut itu.

Peter Dull amat membenci para pejuang yang dinamakannya pemberontak, bukan hanya karena mereka banyak mengganggu bangsa kulit putih, akan tetapi terutama sekali karena dia kehilangan Diana yang dicintanya.

Beberapa hari lamanya kapalnya mencari-cari di antara pulau-pulau kosong, akan tetapi belum juga berhasil menemukan pulau yang menjadi sarang Bajak Naga Laut.

Dia tidak tahu bahwa pada hari itu juga, sebuah perahu lain yang ukurannya lebih kecil dari kapalnya, juga berputar-putar mencari sarang bajak laut, dan perahu itu bukan lain perahu Kerajaan Ceng yang dipimpin oleh Lee Song Kim.

Sebetulnya, kapal yang dipimpin oleh Peter Dull itu sudah melalui sebuah pulau bukit karang dimana terdapat kapal Naga Laut, akan tetapi pemimpin kapal itu, Kiki, amatlah cerdiknya.

Ia melihat kapal asing itu dan maklum bahwa untuk melawan kapal itu, amatlah berbahaya.

Moncong-moncong meriam yang begitu besar dan banyak jumlahnya, serdadu-serdadu yang semua menyandang bedil di pundak dalam jumlah yang amat banyak, merupakan lawan yang terlampau berat bagi seratus orang anak buahnya.

Sebelum mereka sempat menyerbu, tentu perahu naga itu akan ditenggelamkan oleh peluru-peluru meriam.

Oleh karena itulah, biarpun anak buahnya menganjurkan, ia memerintahkan agar perahunya memutar haluan dan bersembunyi di balik bukit karang itu.

Setelah kapal asing itu lewat dan tidak nampak lagi, barulah Kiki memerintahkan orang-orangnya untuk mengembangkan layar dan melakukan pengejaran ke arah utara, Arah yang berlawanan dengan kapal asing yang tadi menuju ke selatan, karena tadipun ia melihat dengan teropongnya dari jauh bahwa ada sebuah perahu berbendera Ceng yang menuju ke utara.

Perahu pemerintah Ceng itulah yang akan dibajak, bukan kapal orang kulit putih yang terlalu kuat itu.

Pula, ia tidak melihat harapan untuk memperoleh banyak hasil bajakan dan kapal asing itu.

Melihat betapa kapal itu dipersenjatai dengan kuat dan berhilir mudik, ia dapat menduga bahwa kapal itu tidak memuat dagangan-dagangan yang berharga melainkan sedang melakukan patroli.

Dan menyerang kapal patroli, andaikata menang juga, apa hasilnya?

Yang dikejarnya itu adalah perahu yang dipimpin oleh Lee Song Kim.

Tentu saja Kiki tidak pernah menduga bahwa bekas suhengnya yang berada di perahu itu.

Dan karena Song Kim melayarkan perahunya perlahan-lahan sambil mencari-cari, sedangkan perahu naga itu berlayar kencang melakukan pengejaran, tak lama kemudian perahu pemerintah Ceng itupun tersusul.

Dengan teropongnya, Kiki mempelajari keadaan perahu musuh dan hatinya merasa girang.

Jumlah pasukan Ceng yang berada di atas perahu itu hanya kurang lebih seratus orang, dan jumlah itu sama sekali tidak ada artinya bagi anak buahnya yang juga berjumlah seratus orang.

Makanan empuk!

Dan perahu Ceng itu hanya memiliki meriam di kanan kiri perahu, dua buah saja.

Maka cepat ia lalu memerintahkan menurunkan dua buah sampan kecil yang dimuat masing-masing se puluh orang dan memberi perintah kepada mereka untuk lebih dulu melakukan penyerangan untuk mengacaukan pihak lawan dan membungkam kedua buah meriam itu.

Dua puluh orang ini memiliki kepandaian yang tinggi dalam hal ilmu di dalam air dan merekapun dengan cepatnya mendahului perahu Ceng.

Kiki sendiri yang menganggap ringan pihak lawan, ikut di dalam sebuah di antara perahu-perahu itu dan hanya menyelinapkan sebatang tongkat pendek seperti pedang yang terbuat dan pada tulang ikan yang amat kuat.

Sementara itu, Song Kim juga sudah melihat datangnya perahu naga dari jauh.

Jantungnya berdebar tegang.

Itulah perahu Bajak Naga Laut.

Dia tidak akan keliru lagi dan tentu orang-orang itu adalah anak buah bekas gurunya.

Hanya teropongnya tidak melihat adanya Kiki yang sudah ikut dengan sebuah di antara sampan-sampan itu.

Akan kuhajar kalian, pikir Song Kim dengan penuh geram.

Walaupun mereka itu adalah bekas teman-temannya, anak buahnya, akan tetapi kini mereka dianggap musuh yang harus dibasmi karena mereka mulai berani menyerang perahu-perahu pemerintah, bahkan belum lama ini membakar perahu yang ditumpangi oleh Pangeran Ceng Tiu Ong yang mengambil kitab-kitab kuno dari Mukden.

Dia tidak dapat menduga siapa yang memimpin bajak itu, akan tetapi dia tidak takut.

Biar bekas gurunya sendiri sekalipun, akan dapat berbuat apa terhadap dua meriamnya dan juga duaratus orangnya, termasuk seratus yang disembunyikan di bawah?

Biarkan bajak-bajak itu memandang rendah pasukannya dan mengira hanya seratus orang, padahal ada dua ratus orang, dua kali lipat jumlah anak buah perahu Bajak Naga Laut itu sendiri.

Makin dekatlah perahu bajak itu yang nampak menyeramkan, seperti seekor naga laut berenang karena kepala perahu berbentuk naga itu memang amat indah buatannya sehingga nampak dan jauh seperti seekor naga aseli.

Song Kim tidak memerintahkan menembak perahu musuh itu.

Dia tidak ingin kalau perahu itu kemudian ketakutan dan melarikan diri.

Biarkan mereka dekat sekali dan baru diserbu, karena dia ingin membasmi habis semua anak buah bajak laut itu.

Dia sendiri sudah menghunus sebatang golok.

Biarpun dia biasanya suka memakai pedang, akan tetapi sejak menjadi perwira dan menerima sebuah golok yang bagus dari atasannya sebagai tanda pangkat, dia merubah senjatanya dari pedang menjadi golok, dan dia memang ahli dalam permainan pedang atau golok.

Dengan wajah berseri dan sepasang mata bersinar-sinar, Song Kim menanti datangnya perahu bajak itu dan sudah terdengar suara tanduk ditiup dan sorak-sorai kau m bajak yang kasar itu.

Pasukannya yang seratus orang masih tetap bersembunyi di bawah, tidak diperbolehkan keluar sebelum terjadi pertempuran.

Dua buah sampan itu dengan kecepatan luar biasa meluncur mendekati perahu Ceng, dan perahu naga itupun semakin mendekat.

Dan kedua pihak sudah terdengar sorakan-sorakan dan makian-makian saling menantang.

Tiba-tiba saja, sebelum Song Kim memerintahkan meriam yang menghadapi perahu lawan itu ditembakkan, nampak sesosok bayangan hijau meloncat dari bawah, dan tahu-tahu dia sudah berhadapan dengan seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Kiki!

"Wah, kau sendiri, sumoi?"

Teriak Song Kim girang bukan main melihat betapa yang memimpin pembajakan itu adalah sumoinya yang pernah membuatnya tergila-gila.

Kesempatan baik untuk menangkap sumoinya yang sejak dulu sudah dirindukannya itu.

Dan dia yakin benar bahwa sumoinya masih belum tahu akan perbuatannya di malam badai itu dimana hampir saja dia berhasil memperkosa sumoinya di atas perahu, kalau tidak keburu datang badai hebat melanda perahu mereka, bahkan kemudian diapun sudah hampir memperkosa sumoinya di daratan di pantai itu kalau saja tidak muncul seorang pemuda perkasa yang telah menyerang dan menghalangi perbuatannya.

Kalau teringat akan semua itu, kini begitu melihat sumoinya, nafsu berahinya timbul kembali dan ingin sekali dia dapat menangkap dan mendekap sumoinya yang cantik jelita ini.

Akan tetapi Kiki tidak segembira dia bertemu dengan suhengnya di situ.

Ia malah nampak marah sekali, mukanya menjadi merah dan sinar matanya berapi-api.

"Engkau pengkhianat besar! Dulu engkaulah yang melaporkan kepada pemerintah! Engkau penjadi anjing Mancu!"

"Eh, sumoi... kenapa menjadi pemberontak? Lebih baik kita mengabdi kepada pemerintah yang syah dan mencari pahala."

"Jahanam!"

Bentak Kiki, dan gadis ini sudah menyerang dengan senjatanya yang istimewa, menusukkannya ke arah dada Song Kim dengan amat cepatnya.

"Tranggg!"

Golok di tangan Song Kim menangkis.

Akan tetapi Kiki yang menyerang dengan marah itu sudah menggerakkan lagi senjatanya dan menyerang bertubi-tubi dengan amat ganasnya.

Mula-mula Song Kim hanya menangkis saja, akan tetapi dia tahu bahwa kalau dia terus mengalah, dia bisa terancam maut di ujung senjata aneh yang ternyata berat dan kuat sekali itu.

Maka diapun mulai membalas dengan serangan goloknya, dan berkelahilah dua orang kakak beradik seperguruan itu dengan serunya.

Tingkat kepandaian mereka memang berimbang dan keduanya amat mahir, sama-sama memiliki gin-kang yang luar biasa sehingga tubuh mereka berkelebatan mengaburkan pandang mata para anak buah tentara Ceng, sehingga merekapun tidak berani mendekat.

Membantu komandan mereka berbahaya, salah-salah bisa mengenai tubuh komandan itu sendiri, karena gerakan kedua orang itu sukar diikuti pandang mata.

Juga sinar senjata mereka mencuat kemana-mana, dan amatlah berbahaya.

Terkena sambaran angin senjata atau terkena sinar senjata itu saja sudah akan dapat mencelakai mereka.

Sementara itu, orang-orang dari kedua sampan sudah berloncatan naik dan menyerang para penjaga meriam sehingga meriam itu tidak sempat ditembakkan dan terjadilah perkelahian di atas dek.

Kini perahu naga sudah dekat dan seperti biasa, mereka melemparkan kaitan bertali sehingga kedua perahu itu bergandengan.

Dan mereka semua sambil bersorak-sorak berlompatan menyerang perahu Ceng.

Akan tetapi, sekali ini para bajak itu kecelik.

Terdengar tembakan-tembakan senapan dan beberapa orang bajak terjungkal.

Dan ketika mereka semua sudah menyerang ke atas perahu Ceng, bermunculanlah prajurit yang tadinya bersembunyi di bawah sehingga jumlah mereka dua kali lebih banyak dari pada jumlah para penyerbu.

Melihat banyaknya prajurit pemerintah, Kiki terkejut bukan main.

Diserangnya bekas suhengnya itu mati-matian dan ketika suhengnya itu mundur, iapun dengan cekatan seperti seekor burung walet, tubuhnya mencelat ke atas tiang layar.

Maksudnya hendak cepat kembali ke perahunya untuk memperingatkan anak buahnya agar cepat mundur, karena pihak lawan terlampau kuat.

Akan tetapi, Song Kim tidak ingin melihat sumoinya lari.

Diapun berseru nyaring dan tubuhnya melayang pula ke atas, mengejar sumoinya.

Kiki menyambut dengan serangan, dan kini kedua orang yang amat cekatan itu berkelahi di atas tiang layar.

Karena tempat itu hanya kecil dan berdiri saja sukar, maka dapat dibayangkan hebatnya perkelahian itu.

Mereka bergantungan pada tali-temali layar, menginjak bambu melintang dan seperti sepasang akrobat sedang beraksi di sirkus, keduanya berlompatan, berjungkir balik dan saling serang di tempat yang tinggi itu.

Bukan hanya dari senjata lawan datangnya bahaya, akan tetapi sekali kaki tergelincir dan tubuh jatuh ke bawah, bisa celaka!

"Ha-ha-ha, sumoi, lebih baik engkau menyerah saja dan aku akan mengampuni semua anak buahmu.

kau tahu, aku menyembunyikan seratus orang prajurit, dan kini seratus orangmu itu melawan duaratus orang prajuritku.

Dan kau sendiri, mana bisa menangkan aku?

Lebih baik kau menyerah dan ikut bersamaku ke Kota Raja mencari kemuliaan.

Marilah, sumoi yang manis!"

"Tidak sudi!"

Bentak Kiki.

Akan tetapi pada saat itu, Song Kim sudah mendesaknya dan ketika ia mundur-mundur, Kiki terjebak.

Ia mundur sampai hampir ke ujung bambu yang makin mengecil dan kalau ia mundur terus, akhirnya tentu akan tergelincir dan ujung bambu.

Sedangkan Song Kim masih berdiri di atas bambu yang besar, bahkan di belakangnya ada tiang layar besar yang akan dapat dipakai berpegang kalau dia tergelincir.

"Menyerahlah, atau kau ingin mati?"

Bentak Song Kim sambil tetap menodongkan goloknya dengan sikap mengancam.

"Tidak sudi... lebih baik mati!"

Bentak Kiki, akan tetapi ini bukan bentakan putus asa karena sepasang matanya yang indah itu mengukur jarak dan melihat keadaan bambu yang diinjaknya.

"Kalau begitu mampuslah!"

Song Kim menjadi marah dan menyerang.

Akan tetapi tiba-tiba, dengan menggeluarkan pekik yang melengking, tubuh Kiki yang mundur-mundur itu terpeleset dan tubuhnya mencelat!

Ternyata dara perkasa ini membuat poksai (jungkir balik) ke belakang, tangan kirinya menangkap ujung bambu, tangan kanan yang memegang senjata itu menyerang ke arah kaki lawan, sedangkan kaki kanannya dengan gerakan yang amat cepat telah menendang ke arah dada Song Kim!

Gerakan ini sungguh sama sekali tidak tersangka oleh Song Kim sehingga dadanya kena ditendang.

"Bukkk!!"

Untung di belakangnya ada tambang dimana tangan kanannya cepat menyambar tambang, sedangkan tangan kiri yang memegang golok itu diayun ke bawah menangkis senjata Kiki.

Gadis itu maklum bahwa ia berada dalam bahaya, maka sambil kembali mengeluarkan suara melengking nyaring, tubuhnya melayang ke bawah sambil membuat gerakan salto sampai lima kali.

"Byurrrr!"

Tubuhnya jatuh ke air di luar perahu musuh.

Ia cepat menyembul kembali dan memberi aba-aba kepada para anak buahnya untuk mundur.

Semua bajak cepat kembali ke perahu mereka dan melarikan diri setelah meninggalkan korban hampir setengah jumlah mereka.

Mereka mengalami kekalahan besar dan masih untung bahwa pemimpin mereka tidak tewas dan perahu naga itupun tidak mengalami kerusakan.

Song Kim marah sekali.

Mencoba untuk menyerang kapal yang melarikan diri itu dengan tembakan meriam, akan tetapi tanpa hasil karena meriamnya tadi sudah dirusak oleh para bajak.

Setelah diperbaiki dan dapat dipergunakan, perahu bajak itu telah pergi terlalu jauh di luar jangkauan peluru meriam.

Memang dia memperoleh kemenangan dan telah menghajar para bajak.

Akan tetapi yang membuat dia penasaran sekali adalah karena dia tidak berhasil menangkap Kiki.

Dengan uring-uringan, terpaksa Song Kim memerintahkan orang-orangnya untuk kembali saja ke daratan.

Seorang gadis yang manis menunggang kuda memasuki pintu gerbang Kota Raja.

Wajahnya cerah dan sinar matanya jenaka, walaupun ada bayangan bahwa gadis ini keras hati dan galak.

Yang membuat ia nampak manis sekali adalah setitik tahi lalat di pipi kirinya.

Caranya menunggang kuda membuat banyak pria yang memandang dengan hati tertarik menjadi mundur teratur untuk berani menggoda.

Penunggang kuda seperti itu yang demikian sigap dan duduknya tegak, dengan keseimbangan yang begitu sempurna, bukanlah seorang gadis yang boleh diganggu begitu saja!

Memang tidak keliru dugaan orang.

Gadis itu bukan lain adalah Kiki!

Dia memenuhi perintah Ayahnya agar segera melaksanakan keputusan mereka untuk mengembalikan atau mengirimkan kitab-kitab dalam peti hitam kepada puteri Pangeran Ceng Tiu Ong di Kota Raja, dan selain itu, juga menyelidiki keadaan Lee Song Kim.

Semenjak mendengar tentang perbuatan Song Kim terhadap perahu naga mereka dan membunuh banyak anak buah bajak, kebencian Hai-tok terhadap bekas muridnya itu semakin menghebat, dan dia ingin cepat-cepat tahu dimana dia menemukan bekas murid itu untuk dihukumnya.

Kiki seorang gadis yang cerdik sekali.

Ia menduga bahwa kalau seorang pangeran dalam keadaan terancam maut masih teringat kepada sepeti kitab-kitab kuno, hal itu hanya berarti bahwa kitab-kitab itu amatlah berharga, setidaknya bagi sang pangeran atau puterinya.

Karena itu, setelah tiba di Kota Raja di luar tembok Kota Raja, ia sengaja menyembunyikan peti itu di rumah seorang petani sederhana yang sudah diberinya uang, dititipkannya peti berisi kitab-kitab yang bagi si petani tentu tidak berarti.

"Lebih baik kuselidiki dulu malam nanti,"

Pikir Kiki.

Ia ingin sekali mengenal lebih dahulu keadaan keluarga itu sebelum menghubunginya.

Dengan mudah ia mendapatkan sebuah kamar di sebuah hotel yang sedang saja, dan sambil memberi sekedar uang, ia menyuruh seorang pelayan hotel untuk mengurus kudanya.

Setelah malam tiba, Kiki mengenakan pakaian yang ringkas, dengan rompi berkembang.

Tentu saja rompi kulit buaya itu tak pernah dipakainya di tempat seperti ini.

Setangkai bunga dan emas permata tak lupa menghias rambutnya, dan itulah satu-satunya hiasan yang menempel di tubuhnya.

Setelah keluar dan hotel, ia langsung menuju ke jalan besar dimana berdiri gedung keluarga Pangeran Ceng Tiu Ong dengan megah, kuno, dan sunyinya.

Tembok yang mengelilingi rumah itu mengingatkan Kiki pada sebuah benteng.

Betapa tebalnya tembok itu dan juga lebih tinggi dari pada rumah-rumah lain di sekitarnya yang dibangun belakangan.

Menjelang tengah malam, keadaan di jalan raya depan rumah itu sudah sepi sekali, tak nampak seorangpun manusia lewat di situ.

Setelah meneliti ke kanan kiri dan yakin bahwa tidak ada orang yang melihatnya, Kiki lalu menggunakan gin-kangnya, dengan tubuh yang ringan sekali ia meloncat ke atas tembok yang melingkari gedung itu.

Ia berdiri di atas tembok itu dan kembali celingukan memandang ke kanan kiri, depan dan belakang.

Kini nampak olehnya sebuah kebun yang terawat indah, dan bangunan itu walaupun nampak dan luar amat kuno, ternyata di sebelah dalamnya juga terawat bersih.

"Hauuuunggg!"

Tiba-tiba terdengar auman harimau!

Bukan main kagetnya hati Kiki sampai hampir saja ia terguling jatuh dan atas tembok itu.

Ia tentu saja tidak takut berhadapan dengan harimau, akan tetapi di tempat seperti itu mendengar auman harimau, sungguh mengejutkan bukan main, karena tidak tersangka sama sekali.

Andaikata ia mendengar auman itu di tengah hutan, tentu sedikitpun ia tidak akan merasa kaget.

Ia memandang ke dalam, mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi tidak melihat seekorpun harimau, ekornyapun tidak.

Dan kini tidak terdengar suara apa-apa lagi.

Tentu di gedung itu dipelihara seekor harimau, pikir Kiki, harimau dalam kerangkeng.

Dan agaknya semua penghuninya sudah tidur, buktinya, auman harimau itupun tidak menimbulkan keributan dan agaknya para penghuni rumah itu tidak ada yang perduli dan tidur saja terus.

Dengan amat hati-hati, Kiki mengerahkan seluruh ilmu gin-kangnya sehingga tubuhnya melayang turun bagaikan sehelai daun kering saja, ia masuk ke dalam kebun.

Sejenak ia berindap-indap seperti maling.

Biarpun ia puteri tunggal Hai-tok, biarpun ia pemimpin perahu Bajak Naga Laut, namun selama hidupnya belum pernah Kiki melakukan pencurian.

Kini memasuki rumah orang tanpa diketahui pemiliknya, mendatangkan rasa berdebar-debar di jantungnya sehingga degup jantungnya sampai terdengar di dalam telinganya sendiri.

Ia seorang yang keras hati dan memiliki ketabahan luar biasa, akan tetapi memasuki rumah orang seperti maling sungguh merupakan suatu pengalaman baru yang mendebarkan.

Dengan mudahnya, Kiki memasuki pekarangan terus ke belakang dan sebuah pintu kecil yang nembus ruangan belakang dapat dibukanya dengan mudah pula.

Tanpa mengeluarkan terlalu banyak tenaga, ia dapat mematahkan kunci daun pintu itu, membuka daun pintunya perlahan-lahan.

"Geriiiittt!"

Kiki tersentak kaget, lalu tersenyum seorang diri.

Gobloknya, pikirnya, masih derit pintu saja membuat ia kaget setengah mati seperti mendengar suara setan.

Dengan hati-hati, ia memasuki ruangan belakang itu dan ternyata ruangan itu menyerupai sebuah gudang.

Tidak ada seorangpun manusia di situ, dan gudang itu penuh dengan bahan makanan.

Gandum, dendeng, bumbu-bumbu.

Baunya menyentuh hidung.

Bau yang bercampur aduk, jadi tidak enak.

Ia sempat terheran, mengapa kalau semua bahan ini sudah dimasak, bau dan rasanya menjadi nikmat.

Pintu yang terdapat di gudang ini tanpa daun, dan ketika ia memasukinya ternyata di sebelah itupun terdapat sebuah gudang kecil lainnya berisi senjata-senjata seperti pedang, tombak, golok, anak panah, ruyung, toya dan pendeknya, ada delapanbelas macam senjata pokok terkumpul di situ.

Ia merasa heran.

Tempat seperti ini hanya patut dimiliki orang yang suka berlatih ilmu silat.

Senjata-senjata itu bukan barang pusaka, hanya senjata-senjata biasa, dan melihat betapa gagang-gagang senjata itu licin dan kehitaman, ia mengerti bahwa senjata-senjata itu seringkali dipergunakan orang, mungkin untuk berlatih.

Dan memang benar, di luar gudang senjata ini terdapat ruangan luas yang jelas adalah sebuah lian-bu-thia (ruangan berlatih silat), dan di dindingnya banyak digantungi tulisan-tulisan yang gagah, pendirian-pendirian para pendekar seperti "Membela kebenaran dan keadilan di atas segala,"

"Lebih baik mati seperti seekor harimau dari pada hidup seperti seekor babi,"

Dan lain-lain lagi.

Akan tetapi, tiba-tiba mata Kiki yang sudah agak biasa dengan cuaca remang-remang di tempat itu karena hanya diterangi sebuah lampu tempel kecil di sudut, melihat sebatang pedang bersarung yang indah sekali di dinding yang tidak ada tulisannya.

Agaknya pedang itu merupakan pedang pusaka atau pedang keramat, karena di depan dinding itu terhampar sehelai permadani merah.

Kiki tertarik sekali dan cepat dihampirinya dinding itu.

Akan tetapi ketika kedua kakinya sudah menginjak permadani, tiba-tiba saja lantai yang diinjaknya terjeblos ke bawah dan tubuhnya ikut terbawa jatuh ke bawah, jelaslah bahwa jebakan ini digerakkan orang.

Ia sudah berhati-hati dan tadi menginjak dulu dengan satu kaki dan tidak terjadi apa-apa.

Baru setelah ia berdiri dengan kedua kaki, tempat itu tiba-tiba terjeblos dan tentu saja ia tidak mampu menghindarkan diri ikut jatuh ke bawah!

Akan tetapi Kiki memang seorang gadis yang hebat!

Biarpun sudah terjeblos jatuh, ia masih mampu berjungkir balik dan meluncur ke bawah dengan kedua kaki lebih dulu, kemudian hinggap di atas tanah dengan ringan.

Kiranya lantai di atas tadi tidak ikut terjeblos melainkan permadaninya.

Sebuah alat jebakan yang amat cerdik dan berbahaya.

Dan dara itu kini telah berada dalam sebuah kerangkeng yang lebarnya hanya dua meter persegi dan mempunyai sebuah daun pintu besi!

Dan ruangan bawah tanah ini luas juga, nampak dari kerangkengnya betapa ruangan itu berdinding tebal.

Sebuah obor besar menyala tak jauh dan tempat dimana ia tertahan dan suasana di situ sunyi sekali.

Kesunyian inilah yang membuat ia merasa agak takut.

Dan tiba-tiba kembali terdengar auman harimau seperti tadi!

Ia terlonjak kaget dan melihat sekitarnya.

Tidak ada harimau dalam kerangkeng itu dan hatinya lega.

"Hei, pengecut besar! Kalau memang kau gagah, keluarlah dan jangan hanya bersembunyi, mengandalkan segala jebakan curang dan harimau ompong yang hanya pandal mengaum!"

Teriaknya marah, sengaja menggunakan kata-kata yang menusuk untuk membikin marah orang yang menjebaknya agar mau keluar. (Lanjut ke

Jilid 27) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 27 Terdengar langkah kaki menuruni anak tangga di depan.

Mula-mula yang nampak hanya sepasang kakinya yang bersepatu mengkilap hitam, lalu pakaiannya yang ternyata adalah pakaian seorang panglima perang dan pedang yang tergantung di pinggang itu adalah pedang yang tadi tergantung di dinding dan yang menjadi umpan jebakan.

Kemudian nampaklah wajah dan kepala yang bertopi itu, dan Kiki menjadi bengong.

Terpesona ia memandang wajah itu.

Wajah seorang panglima muda yang demikian tampan dan halus.

Seumur hidupnya, belum pernah ia melihat seorang pemuda yang demikian tampannya!

Matanya begitu redup, dengan bulu mata panjang melengkung, hidung kecil mancung dan mulut yang seolah-olah dibuat hanya untuk mencium dengan mesra!

Begitu tampan!

Dalam mimpipun, belum pernah Kiki melihat seorang pria yang demikian gantengnya!

Ganteng dan lemah lembut.

Baru langkahnya saja demikian gagah, satu-satu seperti langkah harimau.

Harimau!

Memang benar ada harimau di belakangnya, dan kini Kiki terbelalak, bukan karena kagum akan ketampanan pria seperti tadi, melainkan karena ngeri.

Ia bukan seorang penakut, dan kalau menghadapi harimau saja, agaknya ia tidak akan lari dan ia sanggup melawan seekor harimau dengan tangan kosong kalau perlu.

Tapi bukan harimau seperti yang muncul, di belakang pemuda tampan itu.

Harimau ini luar biasa besarnya dan selain nampak galak dan buas, juga ukurannya besar dan nampaknya kokoh kuat bukan main!

Seekor harimau loreng yang sudah dewasa dan sedang kuat-kuatnya, jantan dan nampak galak.

Sepasang matanya saja sudah cukup membuat hati merasa tergetar dan aumannya tadi dapat melumpuhkan orang karena ketakutan.

Apa lagi ketika harimau yang berada di belakang pemuda tampan itu melihat seorang asing di dalam kerangkeng, dia memperlihatkan taringnya yang mengerikan saking besar dan runcingnya, juga keempat kakinya mempunyai kuku yang melengkung kuat dan runcing.

Ngeri membayangkan tubuh dicakar kaki itu, apalagi sampai dirobek-robek oleh taring-taring itu.

Mendengar ejekan Kiki, opsir muda tampan itu tersenyum mengejek dan kembali Kiki terpesona.

Setelah tersenyum, pemuda itu menjadi lebih ganteng lagi!

Lalu terdengar suaranya, suara yang halus dan terdengar sopan, tanda bahwa pemuda itu adalah seorang terpelajar.

"Nona, engkau datang sebagai seorang pencuri, setelah tertangkap engkau memaki-maki. Sungguh sulit mencari orang sekurang ajar engkau ini. Apa sih yang kau andalkan maka engkau bersikap sesombong ini?"

Lalu dia menyambung.

"Melihat betapa engkau terjatuh dan lubang jebakan tanpa luka, mungkin saja engkau memiliki sedikit ilmu kepandaian. Kalau memang ada, coba perlihatkan kepandaianmu sebelum aku mengambil keputusan apa yang harus kulakukan terhadap seorang pencuri wanita."

Tentu saja Kiki marah bukan main. Beberapa kali ia dimaki pencuri.

"Aku bukan pencuri! Kalau kau tidak menarik kembali omonganmu itu, akan kurobek mulutmu yang lancang itu."

Opsir muda itu membelalakkan matanya yang tajam dan jernih, yang berkilauan tertimpa sinar api obor besar.

"Kau hendak menampar mulutku? Wah,wah, bagaimana caranya?"

"Kau kira aku tidak mampu keluar dan tempat ini!"

Bentak Kiki, dan gadis perkasa ini lalu mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya dan menerjang pintu besi dari tempat tahanan itu.

Tang Ki adalah puteri tunggal Tang Kok Bu yang berjuluk Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia.

Ia sudah mewarisi semua ilmu Ayahnya, bahkan Ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu (Tenaga Besar Bersinar Emas) yang ampuh dan amat sukar itu sudah dipelajarinya dengan cukup baik.

Kini, dengan ilmu itu ia menerjang pintu.

"Brakkkk!"

Daun pintu itu jebol engselnya dan terbuka!

Akan tetapi Kiki juga telah menggunakan terlalu banyak tenaga sin-kang sehingga mukanya menjadi pucat dan dadanya terasa agak nyeri dan dia terhuyung keluar.

Pada saat itu, terdengar auman keras dan harimau itupun menerjang ke depan menyerang Kiki!

Karena gadis itu baru saja mengerahkan tenaga sin-kang yang amat besar, maka untuk mengerahkan sin-kang lagi, ia tidak berani, terpaksa hanya melindungi dirinya dan menggunakan kedua tangan mendorong, menyambut harimau yang menubruknya.

Akan tetapi karena tenaganya sudah banyak berkurang dan harimau itu beratnya ada lima atau enam berat orang dewasa, Kiki tidak kuat menahan dan iapun terjengkang.

Harimau itu mengaum dan mencakar.

Untung bahwa Kiki menggunakan sin-kangnya sehingga yang terkait robek, hanyalah kedua celana di bagian pahanya saja sehingga kulit pahanya yang putih itu nampak.

Akan tetapi kulitnya tidak terluka, dan iapun mendapat kenyataan bahwa binatang yang sudah terpelihara dan terlatih baik itu agaknya memang tidak ingin membunuhnya, hanya menakut-nakutinya.

Kini binatang itu mengaum dan mukanya dekat sekali dengan muka Kiki yang sudah jatuh terduduk, sehingga ia dapat mencium bau napas binatang itu yang memuakkan.

Celaka, pikirnya, harimau itu sudah siap mencakar dan menggigit.

Andaikata dengan sin-kang ia mampu melindungi tubuhnya, setidaknya semua pakaiannya akan dicabik-cabik dan mungkin saja ia akan ditelanjangi oleh harimau ini di depan perwira tampan itu.

Pikiran ini membuat ia nekat, dan ia sudah mengerahkan tenaga, hendak memukul kepala harimau itu dengan Ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu, walaupun hal itu akan dapat mendatangkan luka di dalam tubuhnya.

Akan tetapi pada saat itu, opsir tampan bersuit nyaring dan harimau itu tiba-tiba loncat ke belakang seperti ditarik ekornya saja.

Sambil menggereng-gereng marah, harimau itupun bersembunyi di belakang si opsir, persis seperti seekor kucing yang jinak.

Opsir itu berdiri sambil bertolak pinggang, menghadapi Kiki sambil berkata, matanya tetap halus akan tetapi nadanya mengejek.

"Kiranya engkau boleh juga. Kulitmu tidak lecet oleh kuku kucingku. Akan tetapi kalau hanya dengan kepandaian seperti itu, engkau berani masuk ke sini, hendak melakukan pencurian, sungguh engkau bodoh sekali."

Kiki ingin menjerit dan menangis saking marahnya. Ia meloncat dan menghadapi opsir ganteng itu matanya melotot lebar.

"Berani engkau mengatakan aku pencuri lagi? Akan kurobek mulutmu itu!"

Dan Kiki pun sudah menyerang kalang kabut dan karena ia dapat menduga bahwa opsir itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, ia sudah menyerang dengan ilmu yang paling diandalkan, yaitu Thai-lek Kim-kong-jiu.

"Haiiiittt..."

Ia membentak dan tangan kanannya dengan jari terbuka menghantam ke arah dada opsir itu.

Angin pukulan dahsyat menyambar panas ke arah dada opsir itu yang diam-diam terkejut sekali, Karena baru dia tahu benar bahwa gadis yang berani memasuki rumahnya ini benar-benar memiliki ilmu silat yang hebat dan tenaga sin-kang yang kuat sekali.

Akan tetapi diapun tahu bahwa tadi, ketika menjebol pintu besi, hal yang amat luar biasa, gadis itu telah mengerahkan seluruh tenaganya, sehingga kini, kalau dia menangkis dengan sin-kang, mungkin saja gadis itu akan terluka lebih parah lagi.

Karena itu, dia cepat mengelak dengan amat mudahnya, sambil menggeserkan kakinya secara aneh dua kali ke kanan dan ke belakang.

Tang Ki, sebagai puteri seorang datuk persilatan yang tinggi ilmunya, mengenal langkah yang aneh itu, dan tahulah dara ini bahwa iapun berhadapan dengan lawan yang pandai.

Sebelum ia menyerang lagi, opsir ganteng itu sudah mengeluarkan sebutir pel dan saku bajunya, pel yang terbungkus kain putih.

"Engkau terluka ketika merobohkan pintu tadi. Telanlah dulu pel ini, baru kita lanjutkan perkelahian, karena kalau engkau roboh karena luka dalam akibat membongkar pintu tadi, berarti bukan aku yang mengalahkanmu. Pel itu akan memulihkan keadaanmu dan kau boleh melawanku sekuat tenaga tanpa bahaya."

Dia melemparkan pel itu ke arah Kiki yang menangkapnya dengan tangan kiri.

Ayah Kiki seorang datuk sesat yang tentu saja tidak asing dengan bangsa racun.

Maka melihat pel itu, Kiki lalu menciumnya dan menjilatnya.

Tahulah dara ini bahwa pel itu bukan racun, dan memang berbau obat untuk menyembuhkan luka dalam atau menjaga agar tidak mudah menderita luka akibat guncangan tenaga sakti.

Ia tidak ragu-ragu lagi, dan karena hatinya masih marah dituduh pencuri, ia tidak berterima kasih melainkan menelan pel itu begitu saja.

Ada rasa hangat di perutnya dan sebentar kemudian, rasa nyeri di dada nyapun lenyap sama sekali.

"Nah, mari kita lanjutkan perkelahian kita..."

Tantangnya, dan iapun sudah menerjang maju lagi. Akan tetapi kembali opsir itu menghindarkan dengan langkah-langkah ajaibnya, dan berkata sambil melompat ke belakang.

"Nanti dulu, aku malu kalau berkelahi dengan gadis yang celananya robek dan nampak kulit pahanya. Mungkin kulit pahamu yang mulus itu yang akan menyelewengkan perhatianku sehingga aku kalah. Akan kucarikan ganti untukmu!"

Dia meloncat ke atas anak tangga dan lari ke atas, diikuti dengan setia oleh harimaunya.

Benar saja, tak lama dia datang lagi dan melemparkan sebuah celana sutera biru ke arah Kiki.

Gadis ini menyambutnya dan kagum.

Sebuah celana wanita yang amat indah.

Tidak kalah indahnya dengan celana-celananya di rumah, padahal sebagai anak orang kaya, pakaiannya termasuk pakaian-pakaian yang indah dan mahal.

Kain sutera celana itu halus dan tebal, sungguh merupakan celana indah yang mahal harganya.

"Pakailah celana itu dulu. Jangan khawatir, aku tidak akan mengintai dan biar harimau ini jantan, dia sudah biasa tanpa pakaian, jadi kau tak usah malu kepadanya."

Setelah berkata demikian, opsir itu membalikkan tubuhnya membelakangi Kiki.

Hampir saja Kiki tertawa mendengar ucapan yang lucu itu.

Tentu saja harimau selamanya telanjang, dan memang tak perlu malu kalau ia berganti celana ditonton harimau, walaupun harimau itu jantan dan masih muda juga!

Ia, entah bagaimana, percaya begitu saja bahwa opsir muda yang amat sopan halus itu tentu tidak akan membalik sebelum ia selesai, maka iapun lalu melepaskan celananya sendiri yang tadi cabik-cabik dicakar harimau, dan kini hanya nampak celana dalamnya yang tipis.

Cepat-cepat, sambil matanya tak pernah meninggalkan punggung pemuda itu, ia mengenakan celana biru itu dan sungguh amat mengherankan.

Celana itu ukurannya pas benar dengan dirinya, seoah-olah ia berganti celananya sendiri saja!

"Aku sudah selesai!"

Katanya sambil membuang celananya yang cabik-cabik itu ke sudut. Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan matanya yang sudah lebar itu membelalak penuh kagum.

"Waduhh... engkau semakin cantik jelita saja memakai celana biru itu, nona!"

Tiba-tiba muka Kiki berubah merah.

Belum pernah ia begini.

Biasanya, setiap pujian dari pria dianggapnya sebagai perbuatan kurang ajar, dan pria itu bisa dihajarnya, bahkan bisa dibunuhnya.

Akan tetapi sekarang, kenapa hatinya di dalam dada menjadi berdegup, bukan karena marah melainkan karena girang dan malu?

"Jangan banyak merayu gombal!"

Bentaknya.

"Mari kita lanjutkan perkelahian tadi!"

Tanpa menanti jawaban, iapun lalu menerjang lagi dan kembali ia mainkan jurus-jurus dan Thai-lek Kim-kong-jiu yang ampuh.

Opsir muda itu agaknya juga tidak berani sembrono menghadapi gadis yang galak dan lihai ini.

Dan opsir itu memiliki langkah-langkah ajaib yang membuat tubuhnya sukar sekali diserang.

Akan tetapi ketika Kiki menerjang lagi dengan mendorongkan kedua tangannya ke depan dengan jurus "Dua Tangan Menutup Guha Batu,"

Opsir muda itupun berdiri tegak, dengan kedua kaki terpentang dan sedikit membongkok, menekuk lutut dan kedua tangannyapun didorongkan ke depan menyambut.

"Desss...!"

Dua pasang tangan saling bertemu dan dua macam tenaga sakti yang hebat bertumbukan di udara.

Opsir itu merasa betapa hawa panas menjalar melalui telapak tangan lawannya, akan tetapi mampu dihentikannya hanya sampai siku saja.

Sebaliknya, Kiki terkejut setengah mati karena ada hawa dingin menjalar keluar dan telapak tangan opsir tampan itu, dan hawa dingin itu terus menjalar ke kedua lengannya sampai ke pundak, membuat ia menggigil!

Opsir itu melangkah ke belakang.

"Maafkan, nona. Ternyata engkau hebat sekali."

Kiki masih berdiri, memejamkan kedua mata dan menahan napas, mengumpulkan hawa murni dan baru setelah lewat dua menit, hawa dingin itu perlahan-lahan dapat didorongnya keluar dan kedua lengannya.

Kalau pada saat itu lawannya menyerang, ia tentu takkan mampu mempertahankan diri dan akan mudah dirobohkan.

Akan tetapi anehnya, opsir itu tidak menyerang lagi dan hanya berdiri memandang kagum.

Setelah merasa tubuhnya segar kembali, Kiki siap untuk menyerang lagi.

Ia lari ke sudut ruangan itu dan menyambar sebuah toya, karena di ruangan itu juga terdapat beberapa macam senjata.

Begitu memegang toya yang sama dengan tongkat, Kiki lalu maju menerjang, mainkan tongkatnya dengan ilmu Tongkat Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas)!

Tentu saja tongkatnya itu ketika dimainkan tidak mengeluarkan sinar emas, karena tongkat itu bukan tongkat yang biasa dipergunakan Ayahnya, akan tetapi ilmu tongkat itu hebat bukan main dan menjadi imbangan dari ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu tadi.

Hanya karena tongkat lebih panjang dari tangan, maka jangkauannya pun lebih jauh dan gerakannya lebih cepat.

Diserang bertubi-tubi dengan tongkat itu, opsir muda yang tadinya berloncatan sambil mengeluarkan langkah-langkah ajaibnya mengelak ke sana-sini, menjadi terdesak juga dan terpaksa dia mencabut pedang di pinggangnya.

Nampak sinar menyilaukan mata ketika pedang dicabut, dan kini pedang itu diputar membentuk sinar bergulung-gulung yang menyambut gulungan sinar tongkat yang putih.

Terjadi serang-menyerang dengan hebatnya, dan keduanya mendapat kenyataan bahwa memang mereka itu bertemu dengan tandingan yang sama sekali tak boleh dipandang rendah.

Yang merasa penasaran adalah Kiki.

Belum pernah rasanya ia bertemu dengan lawan sehebat ini kepandaiannya, padahal ia tahu benar betapa pemuda itu telah banyak mengalah dan pedangnya yang hebat itupun lebih banyak menangkis dari pada membalas serangan, Padahal setiap serangan pedang itu dirasakannya amat berbahaya dan sukar dielakkan, dan setiap kali toyanya menangkis, ia merasa tangannya tergetar hebat.

Padahal, kalau dilihat kenyataannya bahwa toya itu lebih panjang dan lebih berat, sesungguhnya harus si pemegang pedang yang dirugikan kalau bertemu senjata mengadu tenaga.

Setelah lewat hampir lima puluh jurus, tiba-tiba saja gerakan pedang itu berubah dan terdengar suara keras ketika kedua senjata bertemu di udara, dan toya di tangan Kiki itu patah menjadi dua potong.

Akan tetapi, bukan Kiki kalau mengalah dan mudah tunduk menyerah begitu saja.

Dengan dua potongan tongkat itu, ia masih menyerang dengan hebat.

Akan tetapi lawannya melompat ke belakang dan menyimpan kembali pedangnya.

"Sudahlah, nona. Sudah cukup kita main-main. Sekarang katakanlah mengapa engkau memasuki rumah kami secara diam-diam seperti orang yang hendak melakukan pencurian?"

"Aku tidak akan mencuri apa-apa. Tidak sudi aku menjadi pencuri. Lebih baik mati dan pada menjadi pencuri!"

Bentak Kiki dengan suara yang hampir menangis, bukan hanya karena sebal disangka pencuri, akan tetapi terutama sekali karena ia merasa bahwa ia kalah oleh pemuda itu!

Pemuda itu kembali tersenyum ramah.

"Mencuri atau tidak, akan tetapi engkau memasuki rumah orang tanpa ijin, dan malam-malam begini masuk ke rumah, tentu saja engkau dituduh mencuri. Akan tetapi engkau memang belum mengambil apa-apa, maka akupun tidak akan menuduhmu lagi mencuri. Akan tetapi, lalu apakah yang kau cari di sini?"

"Aku aku ingin mencari Pangeran Ceng Tiu Ong."

Pemuda itu nampak terkejut dan mengerutkan alisnya. Engkau mencari Pangeran Ceng Tiu Ong? Ada keperluan apakah?"

"Keperluan pribadi yang hanya akan kukatakan kepada dia sendiri. Dimanakah dia? Kalau dia atau puterinya yang bernama Ceng Hiang menyambut kedatanganku, tentu mereka akan mengerti. Aku tidak mau bicara dengan orang lain kecuali mereka.

"Nah, sekarang lebih baik laporkan kepada Pangeran Ceng Tiu Ong atau nona Ceng Hiang, aku akan menanti di sini. Ataukah engkau ingin melanjutkan perkelahian? Boleh...!"

Opsir itu kembali tersenyum.

"Wah, engkau galak amat sih! Baiklah, engkau tunggu dulu di sini, akan tetapi jangan membuat onar, aku akan meninggalkan kucingku di sini untuk menjagamu agar engkau tidak melakukan kekacauan macam-macam. Pangeran Ceng Tiu Ong dan puterinya tentu akan datang ke sini kalau memang benar mereka itu mengenalmu dan mempunyai urusan denganmu."

Opsir muda itu lalu pergi melalui anak tangga dan mengatakan sesuatu dalam bahasa aneh kepada harimau itu.

Harimau itu, seperti seekor anjing yang sudah terlatih baik saja layaknya, lalu mendekam di bawah anak tangga dan matanya terus mengamati ke arah Kiki.

Kiki merasa mendongkol bukan main.

Dibalasnya pandang mata harimau itu dan iapun mencibir.

"Kau kira aku takut terhadap seekor kucing macam engkau? Huh, kalau tidak ingat majikanmu, tentu sudah kupukul pecah kepalamu, tahu?"

Aneh!

Harimau itupun seolah-olah mencibir kepadanya dan menggereng panjang, seperti hendak mengatakan bahwa kalau dia tidak diperintah majikannya untuk berjaga saja, tentu tubuh gadis itu sudah dicabik-cabiknya dengan kuku dan diganyang dagingnya dengan taring-taringnya yang tajam meruncing.

Kiki makin mengkal hatinya dan membuang muka.

Setelah kesabarannya menanti hampir habis, tiba-tiba ia mendengar suara orang bicara dan terdengar langkah kaki menuruni tangga itu.

Tak lama kemudian, muncullah dua orang, dan orang pertama segera dikenalnya sebagai Pangeran Ceng Tiu Ong!

Dan orang kedua adalah seorang gadis yang luar biasa cantiknya, dengan pakaian yang mewah seperti puteri istana saja.

Demikian cantik jelita dan demikian indah pakaian gadis itu, sehingga sejenak Kiki hanya memandang dengan bengong.

Itukah puteri sang pangeran?

Demikian cantiknya, akan tetapi ia melihat persamaan bentuk wajah puteri itu dengan opsir muda tadi.

Celaka, jangan-jangan opsir tadi putera Pangeran Ceng Tiu Ong atau saudara dan Ceng Hiang.

Iapun bangkit berdiri.

Melihat Kiki, Pangeran Ceng Tiu Ong tersenyum gembira.

"Aih, kiranya engkau yang datang, nona!"

Katanya sambil cepat menghampiri.

Kiki adalah seorang anak datuk sesat memang, namun iapun sudah cukup mempelajari tata susila dan apalagi ia merasa pernah membuat dosa besar dengan membajak perahu pangeran ini, walaupun ia juga menyelamatkan nyawa pangeran ini dan ancaman maut.

Maka iapun cepat menjura dan berkata.

"Maafkan kedatangan saya seperti ini, pangeran. Saya datang malam-malam seperti ini karena hendak menyelidiki lebih dahulu keadaan pangeran sebelum saya menyampaikan barang-barang titipan paduka dahulu itu."

"Aih, nona Tang, marilah kita duduk dulu di ruangan tamu. Perkenalkan, ini anakku, Ceng Hiang."

Gadis yang cantik itu lalu tersenyum dan menghampiri, dan melihat senyum itu, Kiki tidak ragu-ragu lagi.

Gadis ini tentu adik dari opsir tadi!

Senyumnya sama!

"Engkau tentu yang bernama Tang Ki, nona yang pernah menyelamatkan Ayahku dari bahaya tenggelam di laut.

Aku berterima kasih kepadamu, adik yang baik,"

Katanya sambil memegang tangan Tang Ki. Kiki merasa betapa halusnya telapak tangan itu, begitu halus lembut seperti sutera! "Ah... bukan hanya menolong, akan tetapi juga menncelakakan,"

Jawab Kiki berani.

"Mari, mari kita duduk di ruang tamu. Engkau adalah tamu agung bagi kami sekeluarga, nona Tang,"

Kata pangeran itu, dan mereka lalu naik anak tangga itu diikuti oleh harimau yang segera diusir oleh nona Ceng Hiang.

Setelah melalui beberapa lorong, sampailah mereka ke ruangan tamu yang luas dan amat indahnya lagi amat terang.

Mereka duduk menghadapi meja yang terukir indah, dan segera pelayan-pelayan menyuguhkan air teh dan makanan kering.

"Maafkan, pangeran. Saya tidak akan berlama-lama, karena kedatangan saya tadi telah menimbulkan keributan. Saya disangka maling dan saya bahkan telah berkelahi melawan..."

Ia menoleh kepada Ceng Hiang.

"Opsir muda itu tentu saudaramu, bukan?"

"Aihh dia? Benar, benar... ia saudaraku,"

Kata Ceng Hiang sambil tersenyum, dan Pangeran Ceng Tiu Ong hanya tertawa saja.

"Karena itu, setelah bertemu dengan jiwi, saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya, yaitu akan mengirimkan titipan pangeran pada saya dahulu, yaitu sepeti terisi kitab-kitab kuno."

"Bgus! Ahh... adik Tang Ki yang baik, mana kitab-kitab itu?"

Yang meloncat berdiri adalah Ceng Hiang, sedangkan pangeran itu tetap duduk saja.

"Karena saya hendak menyelidiki dulu tempat tinggal pangeran, maka peti itu saya titipkan pada keluarga petani, di luar tembok Kota Raja."

"Kalau begitu harus diambil sekarang... Ayah biar aku yang antar adik Tang Ki mengambilnya, dan kami akan menggunakan kereta saja."

Ayahnya tertawa.

"Ha-ha, kalian ini orang-orang muda memang segalanya menghendaki cepat saja. Baiklah! Pelayan, suruh kusir mempersiapkan kereta sekarang juga untuk dibawa ke luar Kota Raja!"

Malam itu juga, kurang lebih tepat tengah malam, Kiki bersama Ceng Hiang berangkat berdua saja naik kereta.

Teman satu-satunya hanyalah seorang kusir yang berada di depan dan tidak nampak oleh mereka berdua yang duduk di dalam kereta.

Melihat ini, Kiki merasa girang akan tetapi juga heran.

Girang bahwa keluarga pangeran itu sedemikian besar menaruh kepercayaan kepadanya sehingga ia merasa terhormat sekali, akan tetapi juga heran mengapa seorang pangeran membiarkan puterinya pergi sendiri begitu saja di tengah malam tanpa pasukan pengawal, hanya bersama ia yang sebenarnya masih asing bagi mereka dan hanya seorang kusir saja.

Setelah kereta berjalan cepat meninggalkan gedung itu, Kiki tak dapat menahan dirinya bertanya.

"Siocia..."

"Wah, jangan memanggil nona-nona segala, adik yang baik... aku menjadi canggung,"

Ceng Hiang mencela. Kiki tersenyum.

"Habis lalu memanggil apa?"

"Namaku Hiang, she Ceng, cukup kalau kau sebut Enci Hiang saja. Bukankah aku lebih tua darimu?"

"Belum tentu... engkau kelihatan masih begini muda dan cantik jelita."

"Usiaku sudah sembilanbelas tahun."

"Wah... kalau begitu memang kau lebih tua satu tahun, Enci Hiang. Namaku Ki, she Tang, akan tetapi bisa dipanggil Kiki."

"Kalau begitu... akupun akan menyebutmu Ki-moi atau Kiki begitu saja!"

Kata Ceng Hiang sambil tertawa, dan merekapun saling merasa suka dan akrab.

"Enci Hiang, aku merasa heran sekali. Engkau adalah puteri tunggal seorang pangeran yang berkedudukan tinggi, kenapa Ayahmu membiarkan engkau pergi sendirian saja di tengah malam seperti ini tanpa ada pasukan yang mengawalmu?"

Ceng Hiang tersenyum manis.

"Bukankah ada engkau yang lebih kuat dari pada puluhan orang pengawal?"

"Tentu aku akan melindungimu dengan taruhan nyawa, akan tetapi bagaimana Ayahmu dapat begitu saja percaya kepadaku..."

"Engkau malah sudah menyelamatkan nyawanya dari kematian tenggelam di lautan."

"Akan tetapi, akupun bersama anak buahku telah membunuh pasukan pengawalnya dan membakar perahunya!"

"Ah, sudahlah, Ki-moi. Untuk apa yang sudah lalu diungkit-ungkit kembali? Ayahku mengerti, bahwa engkau dan kawan-kawanmu bukan sembarangan bajak, melainkan orang orang yang berjiwa patriot dan yang bercita-cita menggulingkan pemerintah penjajah, bukankah demikian?"

"Kalau sudah tahu begitu, lebih-lebih lagi..."

Kata Kiki terkejut dan heran.

"Kalau dia tahu bahwa aku berjiwa patriot dan hendak merobohkan kekuasaan penjajah, mengapa dia membiarkan engkau pergi sendirian dengan aku? Bukankah kalian adalah keluarga pangeran, keluarga kaisar Mancu? "Benar, akan tetapi apakah engkau tidak tahu, adikku, bahwa tidak semua orang keturunan Mancu suka akan penjajahan ini, suka akan kaisarnya yang lemah? Engkau tentu pernah mendengar tentang mendiang Puteri Nirahai dan Puteri Milana, dua orang puteri Mancu, akan tetapi berjiwa pendekar dan gagah perkasa, bahkan diam-diam merekapun menentang kelaliman kaisar dan para pembesar?"

Kiki belum pernah mendengar dan ia menggelengkan kepalanya.

"Siapakah mereka?"

"Mereka adalah puteri-puteri aseli dari Mancu, akan tetapi mereka tidak mau menjadi puteri, walaupun keduanya pernah menjadi panglima. Tidak mau tinggal di istana, bahkan Puteri Nirahai menikah dengan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es..."

"Wah, kalau nama itu pernah disebut-sebut oleh Ayah sebagai nama seorang tokoh sakti seperti dalam dongeng."

"Bukan dongeng, melainkan sungguh-sungguh ada. Dan Puteri Nirahai yang masih saudara kaisar itu lebih suka tinggal bersama suaminya, Pendekar Super Sakti di Pulau Es, dari pada menjadi puteri di istana. Puteri mereka, Puteri Milana, juga menikah dengan seorang pendekar sakti dan tidak mau menjadi puteri di istana. Nah, jangan lantas kau samakan saja manusia atau bangsa dengan sekarung beras."

"Ehhh?"

Kiki tidak mengerti.

"Kalau orang membeli beras, mengambil segenggam dan melihat beras itu jelek, lalu dia tidak jadi beli dan mengatakan bahwa beras sekarung itu jelek. Tidak demikian dengan bangsa.

"Bngsa terdiri dari manusia-manusia dan di antara manusia-manusia, tentu ada yang jelek dan ada yang baik. Ada yang suka menjajah akan tetapi ada pula yang tidak suka dengan politik penjajahan itu."

"Jadi kau dan Ayahmu..."

"Kami tidak suka dengan siasat pemerintah menjajah bangsa lain, apalagi kami tidak suka melihat kelemahan kaisar yang bertekuk lutut kepada orang-orang kulit putih. Karena itu, Ayah kagum dan percaya kepadamu. Pula, siapa sih yang akan mengganggu kita?"

Kiki hanya tersenyum, dan pada saat itu, kereta berhenti sebentar karena dihentikan oleh penjaga pintu gerbang.

Terdengar percakapan antara kusir dan prajurit penjaga yang dengan suara lantang mengatakan bahwa kereta itu milik Pangeran Ceng Tiu Ong dan bahwa kini dia sedang mengantarkan Ceng-Siocia keluar pintu gerbang untuk utusan pribadi dan kalau terburu, mungkin malam ini juga kembali ke Kota Raja lagi.

"Sobat, maafkan kami. Berhubungan perintah atasan untuk melihat siapa yang keluar masuk Kota Raja, walaupun tidak diperiksa, hanya diawasi saja, maka terpaksa kami akan menjenguk ke dalam kereta untuk meneliti kebenaran keteranganmu ini."

"Kalian tidak percaya kepadaku?"

Tukang kusir membentak, lalu suaranya ditujukan ke dalam.

"Ceng-Siocia, mereka ini ingin menjenguk dan memeriksa ke dalam kereta!"

Tentu pada waktu itu, pantang bagi para puteri bangsawan untuk dijenguk begitu saja oleh para prajurit atau laki-laki biasa. Akan tetapi, dengan halus Ceng Hiang menjawab.

"Karena sudah tugas mereka, biarlah, paman. Aku yang akan membuka sendiri kain penutup pintu kereta."

Berkata demikian, dengan kedua tangannya yang berkulit halus, Ceng Hiang menguak pintu kain itu ke kanan kiri sehingga ia dan Kiki kelihatan jelas oleh mereka yang mengepung kereta dari luar.

"Apakah kalian sudah puas sekarang..."

Para prajurit itu terpesona melihat dua orang gadis yang demikian cantik jelitanya, terutama sekali Ceng Hiang.

Dan di antara mereka, agaknya tidak ada seorangpun yang tidak mengenal Ceng Hiang.

Semua berdiri dengan sigap dan muka mereka bahkan berubah agak ketakutan.

Seorang di antara mereka yang berkumis tebal, dengan suara agak gemetar lalu berkata.

"Mohon maaf... kami... kami tidak tahu bahwa Siocia yang berada di dalam dan... kami hanya melaksanakan perintah atasan..."

Ceng Hiang tersenyum dan menutup kembali kain gorden sambil berkata dari dalam.

"Demikianlah seharusnya, setiap orang prajurit harus melaksanakan tugas dengan baik dan membela perintah atasan dengan taruhan nyawa. Paman kusir, lanjutkan perjalanan!"

"Baik, Siocia..."

Dan keretapun bergerak lagi melalui pintu gerbang, keluar dari pintu gerbang.

Setelah keluar dari pintu gerbang, di sepanjang jalan tidak ada lagi penerangan.

Tadi, biarpun sudah tengah malam, di sepanjang jalan masih ada lampu-lampu yang menerangi jalan, baik lampu untuk hiasan atau penerangan.

Akan tetapi sekarang, mereka keluar dari kota dan yang menerangi cuaca yang gelap hanyalah sinar bintang-bintang di langit dan bulan tua yang tinggal seperempatnya.

Akan tetapi, lentera kereta itu sendiri masih cukup terang sehingga sang kusir dapat melihat jalan di depannya, sejauh sedikitnya limabelas meter.

Kereta berjalan terus menuju ke sebuah dusun menurut petunjuk Kiki.

Ketika mereka tiba di dusun itu, waktunya sudah hampir subuh dan dusun itu masih terbenam dalam mimpi.

"Kiki, rasanya tidak enak kalau kita mengagetkan para penghuni dusun ini. Bagaimana kalau kita menanti saja di luar dusun, dan baru memasuki dusun kalau mereka sudah bangun dan kita tinggalkan saja kereta di luar dusun agar tidak mengejutkan orang."

Kiki semakin suka dan kagum kepada gadis yang jelita itu.

Memang hebat, pikirnya.

Sudah orangnya bangsawan, puteri pangeran, kaya raya, berkedudukan tinggi, cantik jelita, namun sama sekali tidak sombong, bahkan rendah hati dan mengingat nasib lain orang.

Mana ada bangsawan bersikap seperti gadis ini?

Bangsawan-bangsawan atau hartawan-hartawan lain biasanya bersikap congkak dan menganggap orang dusun atau orang miskin, tidak lebih seperti anjing saja.

Ia kagum dan semakin tertarik.

"Baiklah, Enci Hiang."

Ia merasa agak malu, karena andaikata ia sendiri yang datang, tentu ia akan mengetuk begitu saja pintu rumah petani itu, membangunkan pemilik rumah untuk mengambil benda yang dititipkannya.

Keduanya kini duduk di atas batu di tepi jalan, di luar dusun.

Kusir melepaskan dua ekor kuda besar itu untuk memberi kesempatan mereka beristirahat dan makan rumput, Sedangkan dia sendiri, setelah memperoleh perkenan nona majikannya, lalu merebahkan diri di bawah pohon, di atas rumput dan daun kering, dan sebentar saja diapun sudah mengorok saking lelahnya.

Dia lelah dan ngantuk karena bekerja semalam suntuk tidak tidur.

Kusir itu seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, memakai sebuah topi caping lebar yang menyembunyikan muka dan lehernya dari sengatan matahari panas karena dia duduk di depan, tak terlindung atap kereta.

Pakaiannya seperti pakaian bangsawan Kota Raja, serba biru dengan garis-garis putih di ujung kaki, lengan dan leher.

Orangnya tinggi kurus dan sikapnya juga lemah lembut, agaknya seorang terpelajar pula walaupun pekerjaannya hanya kusir.

Dua orang gadis itu duduk agak jauh dari kereta, bahkan tidak melihat kusir yang tidur ngorok itu.

Mereka asyik bercakap-cakap.

"Adik Kiki, apakah engkau tidak merasa betapa antara kita yang baru saja berkenalan, ada kecocokan yang akrab? Aku terus terang saja suka kepadamu, karena engkau memiliki sifat yang gagah perkasa dan engkau cekatan, lincah dan jenaka, walaupun agak nakal, akan tetapi hatimu amat lembut dan baik..."

"Idiihh, kiranya Enci Hiang ini selain pandai dan cantik jelita, juga ahli merayu dan memuji orang! Tidak, aku hanya seorang gadis liar, seorang gadis kang-ouw yang bisanya hanya berkelahi saja!"

"Aku tidak percaya! Biarpun dari Ayah, aku tahu bahwa engkau adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi sekali, terutama sekali pandai bermain di air seperti seekor ikan hiu, biarpun engkau membunuh musuh-musuhmu sambil tersenyum manis, namun aku tahu bahwa engkau berjiwa pendekar dan patriot yang gagah.

"Ah, betapa senangnya hidup seperti engkau ini, adikku. Engkau hidup bebas seperti seekor burung terbang di angkasa raya, dapat melakukan apa saja sekehendak hatimu..."

"Ah, siapa bilang? Engkau lebih bebas. Engkau puteri pangeran, engkau berkuasa dan berharta. Siapa bisa melarangmu? Lihat saja tadi.

"Andaikata aku yang berada di kereta sendirian saja, belum tentu aku boleh lewat begitu mudah, dan tentu mereka akan bersikap kurang ajar kepadaku. Akan tetapi kepadamu, Enci... wahh, mereka seperti melihat malaikat saja, mati kutu dan ketakutan, dan begitu menghormat."

Ceng Hiang menarik napas panjang.

"Hal itu kuakui. Memang semua pasukan, dari yang pangkatnya paling kecil sampai yang pangkatnya paling tinggi, menghormati Ayahku. Ayahku hanya seorang pangeran yang tidak menduduki jabatan penting, tidak memiliki kekuasaan, hanya penjaga perpustakaan dan seorang sasterawan, akan tetapi dia tidak pernah melakukan pelanggaran, selalu jujur dan setia, tidak mau berkorupsi dan selalu bertindak tegas menentang kelaliman. Itulah yang membuat semua orang tunduk dan segan."

"Hebat... dan ketika pertama kali aku bertemu Ayahmu, biarpun dia begitu halus budi dan tubuhnya lemah lembut, namun dia begitu berwibawa, membuat aku malu. Dan dia memiliki suatu keberanian yang belum tentu dimiliki oleh orang-orang yang pandai ilmu silat.

"Sikapnya demikian mengesankan dan aku segera tunduk. Karena itulah, ketika orangku mendorongnya ke laut, aku lalu meloncat terjun dan menyelamatkannya, dan ketika dia berpesan tentang peti terisi kitab-kitab, akupun melaksanakannya dengan baik. Entah bagaimana, aku merasa harus mentaati orang tua itu."

Ceng Hiang memegang kedua tangan Kiki.

"Itulah... karena engkau pada hakekatnya seorang gadis yang baik budi dan halus perasaanmu, seperti kukatakan tadi. Dan engkau tentulah murid seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, adikku."

"Guruku adalah Ayah kandungku sendiri."

"Aih, betapa hebatnya. Siapakah nama Ayahmu, kalau aku boleh tahu?"

"Bumi dan langit kalau dibandingkan dengan Ayahmu, Enci Hiang. Ayahku seorang kasar dan sejak muda berkecimpung dalam dunia kekerasan. Ayahku bernama Tang Kok Bu, dan dia malah lebih terkenal dengan julukan Hai-tok."

Kalau saja subuh itu tidak begitu remang-remang dan belum terang benar, tentu Kiki akan melihat keterkejutan menyelimuti wajah Ceng Hiang mendengar disebutnya julukan Hai-tok ini.

"Hai-tok (Racun Lautan)? Apakah Ayahmu itu seorang di antara Empat Racun Dunia?"

Kini Kiki yang terheran dan mengamati wajah cantik jelita itu.

"Enci Hiang, seorang halus seperti engkau ini, yang tentu hanya bergaul dengan orang baik-baik saja, yang tak pernah mengalami apalagi mengenal orang-orang kang-ouw, bagaimana bisa tahu tentang Empat Racun Dunia?"

"Ehhh... ahhh..."

Ceng Hiang gugup juga karena pertanyaan Kiki itu benar-benar membuatnya serba salah untuk menjawab.

Melihat ini, Kiki tertawa tanpa menutupi mulutnya, karena ia adalah seorang gadis yang biasa hidup bebas.

Akan tetapi, tanpa ditutupi mulutnya dengan tanganpun, sama sekali tidak membuat ia nampak kasar memalukan, bahkan semakin jelas nampak kemanisannya ketika tertawa.

"Aku mengerti, Enci Hiang. Tentu kakakmu yang memberi tahu, bukan? Kakakmu itu hebat sekali. Ilmu silatnya amat tinggi dan aku sudah ingin sejak tadi menanyakan, siapakah dia dan dari mana dia memperoleh ilmu silat sehebat itu. Aku sungguh kagum dan benar-benar terheran-heran. Sungguh mati, andaikata kami harus berkelahi mati-matian, aku meragukan sekali apakah aku akan menang melawan kakakmu itu!"

"Kakakku...? Ah, kau maksudkan koko (kanda)? Jangan heran, memang sejak kecil dia suka sekali mempelajari ilmu silat. Dan memang dialah yang bercerita kepadaku tentang Empat Racun Dunia. Lanjutkan dulu cerita tentang dirimu, nanti aku akan menceritakan tentang dia kalau memang engkau tertarik kepadanya."

Mendengar nada suara gadis itu, wajah Kiki berubah merah dan ia pura-pura cemberut.

"Ihhh... siapa yang tertarik kepadanya? Aku hanya kagum dan heran, juga harimau keluargamu itu hebat."

"Teruskan dulu ceritamu, nanti kuceritakan tentang harimau kami. Jadi, Ayahmu yang berjuluk Hai-tok itu merupakan seorang di antara Empat Racun Dunia?"

"Benar sekali, Enci. Nah, kau tahu sekarang, aku hanyalah anak seorang datuk kau m sesat yang menjadi datuknya semua bajak laut maupun bajak muara dan sungai telaga! Aku lahir dari keluarga jahat dan di dunia kau m hitam! Mana bisa disamakan dengan engkau, Enci Hiang."

Dalam suaranya, Kiki benar-benar menyatakan penyesalan akan keadaan keluarganya yang terkenal sebagai penjahat.

"Aku pernah mendengar dari kakakku, bahwa baru-baru ini pasukan pemerintah menyerbu Pulau Layar, bukankah di sana tempat tinggal Ayahmu?"

"Bukan hanya menyerbu, akan tetapi membasmi dan membakar pulau tempat tinggal kami. Hal itu terjadi setelah pasukanmu..."

"Pasukanku? Jangan ngawur, adik Kiki..."

"Ohh, maaf, maksudku... pasukan pemerintah! Pemerintah telah menyergap pesta ulang tahun yang diadakan Ayahku berhubung dengan usianya yang sudah tujuh puluh lima tahun."

"Wah, itu sudah keterlaluan namanya! Bagaimana mungkin pesta ulang tahun, apa lagi yang berpesta itu sudah berusia tujuh puluh lima tahun, diserbu oleh pasukan tentara?"

Kiki menghela napas, teringat akan suhengnya dan diam-diam ia merasa marah bukan main.

Satu di antara tugasnya adalah menyelidiki apakah suhengnya berada di Kota Raja, dan kalau benar dimana tinggalnya.

Mungkin ia bisa menyelidiki melalui gadis ini atau setidaknya melalui kakak adik ini.

Ayahnya ingin sekali menghukum sendiri murid pengkhianat itu.

"Maaf, adik Kiki. Kalau sampai pasukan pemerintah menyerbu pesta itu, mungkin ada apa-apanya di balik pesta itu. Benarkah begitu? Aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang pemberontakan... eh, maksudku, yang kalian sebut perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah. Kenapa sebuah pesta sampai diserbu pasukan?"

Kiki menghela napas panjang. Menghadapi seorang seperti Ceng Hiang ini, mana bisa ia membohonginya? Orang ini demikian halus, demikian baik dan jujur. Ia pun harus membalas kejujuran itu.

"Memang ada alasannya! Selain berpesta ulang tahun, Ayah juga mengumpulkan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan untuk diajak mengadakan rapat rahasia tentang keinginan semua orang untuk menumbangkan pemerintah penjajah dan mengusir orang-orang kulit putih."

"Ah, jadi begitukah? Kalau begitu... kalau begitu, orang-orang yang tadi kau katakan sebagai kau m dunia hitam itupun bersatu dengan para pem... eh, pejuang rakyat?"

"Tentu tidak semua, Enci. Hanya mereka yang masih mempunyai sekelumit semangat untuk membela nusa bangsa, membela tanah air. Dan Ayahku termasuk pula orang itu..."

"Dan engkau juga?"

"Enci Hiang, engkau tadi mengatakan sendiri bahwa engkau, biarpun seorang puteri keturunan Mancu, tidak suka akan penjajahan dan penindasan!"

"Kau benar, kau benar... adikku. Wah, ceritamu menarik sekali. Aku sungguh tertarik dan senang mendengarnya, juga tegang sampai jantungku berdebar tidak karuan..."

"Dan sekarang tiba giliranmu untuk bercerita, dan aku akan bertanya. Kuharap engkau suka berlaku jujur menjawab semua pertanyaanku seperti aku tadi, Enci."

"Baiklah, akan kucoba. Nah, tanyalah."

"Tentang Ayahmu dan kau sendiri sebagai bangsawan-bangsawan yang tidak suka akan penjajahan penindasan, tadi sudah kau ceritakan. Akan tetapi, sekarang aku hendak bertanya. Kenapa Ayahmu demikian mementingkan kitab-kitab kuno itu? "Ayahku dan aku dengan susah mencoba untuk membacanya, namun kami berdua tak berhasil. Sungguh kami berdua merasa buta huruf benar-benar menghadapi huruf-huruf dalam kitab-kitab itu. Apa sih gunanya kitab-kitab seperti itu, sehingga Ayahmu demikian mementingkan dan dalam keadaan terancam bahaya saja dia amat memperhatikannya dan pesan kepadaku agar kitab-kitab itu kukirimkan kepadamu kalau sampai dia tewas."

"Aku sendiri tidak akan mampu membacanya, adikku. Kitab-kitab mengandung huruf-huruf yang amat kuno dan agaknya, di Kota Raja sekalipun hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang akan mampu membaca dan menterjemahkannya, termasuk Ayahku, karena Ayah adalah seorang ahli huruf kuno, ahli sastera Sansekerta dari India. Adapun isi kitab-kitab kuno, seperti kau tahu, tentu mengandung pelajaran tentang kebatinan, agama, dan mungkin juga kepandaian silat."

"Ilmu silat? Wah, sungguh hebat kalau begitu. Akan tetapi, Ayahmu seorang yang tidak suka akan kekerasan, tentu tidak akan belajar silat. Dan engkau... seorang dara cantik jelita dan halus. Biarpun demikian, aku dapat menduga bahwa Ayahmu tentu ingin menterjemahkan kitab ilmu silat itu untuk diberikan kakakmu! Benar tidak?"

Ceng Hiang tersenyum dan hanya mengangguk saja.

"Ketika aku memasuki rumah keluargamu, aku terjebak ke di dalam ruangan bawah itu, dan aku berkesempatan untuk bertemu dengan kakakmu bersama harimaunya. Ilmu silatnya tinggi sekali. Bagaimana dia begitu lihai ilmu silatnya, sedangkan Ayahmu hanya seorang sasrerawan lemah, dan kau juga seorang gadis lemah lembut..."

"Ah, dia itu sejak kecil memang suka belajar ilmu silat, adik Kiki... dan tentu saja dia dapat disebut pandai karena dia mewarisi ilmu silat dari keturunan, keluarga para pendekar Pulau Es"

"Ahhhl!"

Kiki terbelalak kagum.

"Di antara keluarga Kerajaan Ceng, tidak ada seorangpun yang dipercaya oleh mendiang Puteri Milana kecuali keluarga kami. Itupun dilakukan secara amat rahasia. Ayahku sendiri yang menerima beberapa buah kitab pelajaran ilmu silat pulau Es, dan bersumpah bahwa Ayah hanya akan menyerahkan kepada anaknya yang dianggap berbakat dan dipercaya memiliki watak yang baik.

"Demikianlah, Ayah menerima kitab pelajaran yang amat terperinci, dari dasar-dasar ilmu silatnya sampai beberapa macam ilmu silat keluarga sakti itu. Kalau saja dapat dipelajari seluruh ilmu dari keluarga para pendekar Pulau Es, tentu akan lebih hebat lagi."

"Aihhh... kalau begitu, dia keturunan atau murid langsung dari Pulau Es dan merupakan pewaris terakhir dan tunggal...!"

Seru Kiki pula dengan penuh kagum. Ceng Hiang tersenyum manis.

"Belum tentu adikku. Jangan memujinya terlalu tinggi, karena ketahuilah bahwa keluarga Pulau Es telah menjadi keluarga yang besar dan banyak sekali. Sekarang, entah siapa saja keturunan mereka, akan tetapi aku yakin tentu banyak pula. Hanya, karena sejak dahulu keluarga Pulau Es merupakan pendekar-pendekar sakti yang tidak mau mencampuri urusan pemerintah dan tidak suka menonjolkan diri, maka mungkin tidak dikenal oleh dunia persilatan."

"Akan tetapi kakakmu itu... wah, dia memang hebat!"

Kembali Kiki berkata, dan Ceng Hiang hanya tersenyum saja.

"Siapakah namanya, Enci?"

"Namanya? Ah, namanya hampir sama dengan namaku, namanya Siang. Ceng Siang... tapi sudahlah, jangan bicarakan dia. Dia paling tidak suka dibicarakan oleh kau m wanita."

"Kenapa begitu?"

"Entah, pokoknya dia tidak suka kepada gadis-gadis."

"Ahhh..."

"Kenapa?"

"Pantas sikapnya terhadap akupun menghina dan mengejek sekali!"

"Maafkan dia, Ki-moi. Dia menghina dan mengejek bagaimana sih?"

"Berkali-kali dia memaki aku maling dan mengejek kepandaianku yang katanya masih rendah."

"Wah, dia sombong! Kepandaianmu tentu hebat, adikku... kalau tidak, mana mungkin mampu memimpin bajak laut yang terkenal? Menurut Ayah, kau lihai bukan main."

"Ah, tidak. Bagaimanapun juga, harus kuakui bahwa aku belum tentu menang melawan kakakmu! Akan tetapi sekali waktu, aku ingin mengajaknya bertanding untuk menguji kepandaian."

"Nah, sudah siang, dan itu banyak sudah orang yang keluar dari dusun, tentu hendak bekerja di sawah. Mari kita datang ke petani yang kau titipi peti itu, adik Kiki."

Mereka lalu bangkit dan memasuki dusun setelah Ceng Hiang memesan kepada kusirnya yang sudah bangun untuk menunggu di situ.

Tentu saja orang-orang dusun memandang dengan bengong, heran dan kagum melihat masuknya dua orang gadis yang demikian cantik dan mewahnya ke dusun mereka.

Akan tetapi, Kakek dan nenek pemilik rumah gubuk yang dititipi peti oleh Kiki, menyambut Kiki dengan muka cerah.

"Wah, girang sekali hati kami melihat nona datang. Hati kami selalu tidak enak semenjak nona menitipkan peti itu,"

Kata si Kakek. Kiki mengerutkan alisnya.

"Kenapa, kek?"

Ketika menitipkan, Kiki hanya mengatakan bahwa isinya adalah kitab-kitab kuno yang tidak berharga dan karena keberatan, ia titipkan di situ untuk dijemput beberapa hari kemudian, dan untuk itu ia memberi upah yang cukup lumayan kepada Kakek dan nenek itu.

Setelah celingukan ke sana sini, Kakek itu lalu berkata kepada Kiki, suaranya berbisik.

"Beberapa hari yang lalu, di dusun ini muncul tiga orang Hwesio yang amat jahat. Mereka bertanya-tanya tentang peti hitam berisi kitab-kitab. Untung kami berdua tak pernah bercerita kepada siapa saja, sehingga tidak ada orang yang tahu bahwa kamilah yang menyimpan benda itu, dan kamipun diam saja, pura-pura tidak tahu. Dan tiga orang Kakek pendeta itu telah menyiksa beberapa orang laki-laki muda dari dusun ini yang dipaksanya untuk mengaku, padahal mereka benar-benar tidak tahu."

Tentu saja Kiki merasa terkejut bukan main mendengar ini.

Akan tetapi hatinya juga lega ketika ia melihat bahwa peti hitam itu masih utuh, disembunyikan di dalam kamar, di bawah tempat tidur reyot milik Kakek dan nenek itu.

Ia dan Ceng Hiang cepat membuka peti dan melihat bahwa memang kitab-kitab kuno itu masih lengkap, jumlahnya tidak kurang dari lima puluh jilid, sebagian besar adalah kitab-kitab agama yang amat kuno dan tulisannya memakai huruf-huruf yang mereka berdua tak dapat membacanya.

"Sekarang dimana tiga orang Hwesio itu, kek?"

Tanya Kiki, hatinya merasa tidak enak sekali. Apalagi Ceng Hiang, alisnya berkerut dan ia mendengarkan dengan hati tegang.

"Tidak tahu, nona. Setelah menghajar orang, mereka lalu pergi dengan ancaman bahwa kalau ada yang menyembunyikan benda itu, kelak kalau terdapat orangnya akan dibakar hidup-hidup dan dikirimi ke neraka oleh doa-doa mereka!"

"lhhh!"

Seru Kiki.

"Hwesio macam apa sejahat itu!"

"Hati-hati, adik Kiki... aku yakin bahwa mereka itu tentu sengaja datang untuk merampas kitab-kitab ini."

"Enci Hiang, bagaimana kau bisa tahu?"

"Sudah jelas, mereka mencari benda ini dan menyiksa orang, dan mereka adalah Hwesio -Hwesio , sedangkan kitab-kitab ini adalah kitab-kitab tentang agama yang kuno, yang oleh Ayah diambil dari kuil besar kuno di Mukden atas perintah kaisar sendiri yang ingin menyelamatkan semua kitab kuno agar dirawat dan disusun oleh Ayahku sebagai pengisi perpustakaan istana."

"Ah, kalau begitu, tentu mereka itu pendeta-pendeta yang datang dari Mukden,"

Kata Kiki.

"Belum tentu. Para pendeta di sana tentu tidak berani melakukan hal yang sifatnya memberontak itu. Mungkin juga teman-teman mereka, atau pendeta-pendeta pendatang dari lain tempat yang bersekongkol dengan pendeta-pendeta Mukden."

"Atau mungkin juga orang-orang jahat yang menyamar sebagai pendeta-pendeta untuk merampas kitab-kitab ini,"

Kata Kiki.

"Rasanya tidak mungkin itu, adikku. Penjahat mana yang akan suka merampas kitab kuno seperti ini? Kita sendiripun tidak bisa membacanya. Sejak kecil aku dididik Ayah dengan ilmu sastera, akan tetapi kitab-kitab ini aku hanya bisa membaca beberapa belas hurufnya saja. Untuk apa mereka bersusah payah merampas kitab-kitab ini? Dijualpun takkan laku."

Dua orang gadis itu menduga-duga, akan tetapi karena jelas bahwa ada musuh yang berniat buruk merampas peti itu, Kiki lalu cepat memanggul peti itu, di atas pundaknya dan berkata.

"Mari kita, cepat kembali ke Kota Raja, Enci."

Bergegas keduanya lalu keluar dari dusun itu menuju ke tempat dimana mereka meninggalkan kereta.

Agaknya kusir yang tahu akan kewajibannya itu sudah siap karena dia sudah memasang lagi dua ekor kuda itu di depan kereta dan sudah duduk di tempatnya, yaitu di bangku depan.

Melihat bahwa kereta sudah siap, Ceng Hiang berkata.

"Mari kita cepat pulang!"

Ceng Hiang bersama Kiki yang membawa peti hitam itu, iapun naik dan memasuki kereta.

Hati mereka lega setelah kereta itu bergerak meninggalkan tempat itu dengan cepatnya.

Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika kereta itu makin lama bergerak semakin cepat sampai membalap seperti dikejar setan atau sedang berlumba dengan kereta lain.

Melihat ini, Ceng Hiang membentak.

"Kusir, kenapa begini cepat? Lambatkan sedikit larinya kuda, apa engkau ingin celaka di tempat yang jalannya tidak rata ini?"

Sungguh aneh.

Kusir tidak menjawab, akan tetapi larinya dua ekor kuda itu tidak berkurang, bahkan semakin membalap.

Kiki mengerutkan alisnya dan membuka gorden, memandang ke muka.

Kusir itu masih sama seperti kemarin, jangkung dan mengenakan pakaian serba biru.

Akan tetapi ia tidak melihat muka orang itu dan ia menjadi curiga.

"Berhenti! Hayo hentikan kereta ini atau engkau akan kupukul!"

Bentaknya kepada kusir itu.

Kiki marah, karena kini melihat bahwa kereta itu mengambil jalan yang salah, bukan menuju ke Kota Raja, melainkan membelok dan kini berada di luar sebuah hutan yang sunyi.

Kereta itu tiba-tiba berhenti dan ketika Ceng Hiang dan Kiki membuka gorden jendela dan pintu kereta, mereka melihat bahwa kereta itu telah dikurung oleh segerombolan orang berkuda yang dikepalai oleh tiga orang Hwesio gendut!

"Enci Hiang, kau di dalam saja bersama peti ini, biar aku yang menghadapi mereka!"

Kata Kiki, sedikitpun tidak merasa gentar, bahkan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan mukanya merah sekali.

Ia nampak semakin manis dan gagah perkasa, dan ketabahannya memancar di sinar mukanya, membuat Ceng Hiang merasa kagum bukan main.

Kiki lalu melompat ke luar dan ia menghitung jumlah lawan.

Ada tujuh orang.

Tiga orang Hwesio gendut, dua orang lagi berpakaian biasa dan kusir itu yang ternyata bukanlah kusir kereta Ceng Hiang tadi, melainkan seorang lain yang telah mengenakan pakaian yang sama.

Agaknya diam-diam kusir yang aseli telah disingkirkan dan tempatnya diganti oleh orang ini.

Tiga orang Hwesio dan dua orang kurus itu meloncat turun pula dari atas kuda masing-masing.

Seorang di antara tiga Hwesio itu, yang mempunyai tahi lalat besar di ujung hidungnya sehingga nampak lucu dan buruk, dengan perutnya yang gendut dan tubuhnya yang agak pendek, melangkah maju menghadapi Kiki.

(Lanjut ke

Jilid 28) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 28

"Serahkan peti hitam berisi kitab-kitab itu kepada kami, dan kamipun tidak akan mengganggu dua orang gadis yang lemah."

Kiki tersenyum mengejek.

"Engkau ini Hwesio dari kuil, ataukah pelawak yang menyamar sebagai Hwesio , ataukah orang-orang jahat tolol, tikus-tikus kecil yang datang mengantar kematian?"

Hwesio itu melototkan matanya.

"Omitohud! Kiranya perempuan ini seorang kuntilanak yang mencari penyakit sendiri. Perempuan sombong, ketahuilah bahwa kami adalah orang-orang yang berilmu tinggi, yang menginginkan kitab-kitab itu. Jangan berani menghina kami, dan cepat serahkan peti itu!"

"Dari pada aku yang menyerahkan peti, lebih baik kalian yang menyerahkan leher kalian untuk kupenggal satu-satu sebagai hukuman atas kejahatan kalian berani mengganggu aku!"

"Suheng, perlu apa bicara banyak-banyak dengan dia? Anak ini cukup manis, biar untuk aku saja!"

Kata seorang di antara dua laki-laki berpakaian biasa yang bertubuh kurus.

Dan sebelum kata-katanya habis diucapkan, tubuhnya sudah menubruk ke arah Kiki.

Gerakannya cepat dan dari kedua lengannya yang dikembangkan itu mengeluarkan angin pukulan yang cukup kuat.

Akan tetapi Kiki tidak mau kalah gertak.

Ia benci sekali kepada laki-laki yang kurang ajar, dan orang ini telah mengeluarkan kata-kata yang amat menghinanya.

Oleh karena itu, melihat laki-laki kurus itu menyerangnya dengan tubrukan seperti harimau hendak menerkam kambing, kemarahannya meluap dan iapun sudah mengerahkan tenaga sin-kang, dan menggunakan jurus dari ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu yang dahsyat itu.

Tangannya menyambar ke depan dan serangkum tenaga angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya menyambut laki-laki itu.

"Dessss.!!"

Tubuh laki-laki itu terdorong ke belakang dan terbanting roboh keras sekali.

Akan tetapi dia tidak tewas, melainkan mengeluarkan darah dari mulutnya, tanda bahwa dia telah menderita luka dalam.

Tidak tewasnya orang ini mengejutkan Kiki, karena ia maklum bahwa lawannya itu sebetulnya cukup tangguh.

Tadi ia dapat merobohkannya dengan mudah hanya karena laki-laki memandang rendah kepadanya dan menyerangnya dengan kedua lengan terkembang sehingga dadanya terbuka dan enak dijadikan sasaran pukulannya.

Akan tetapi, yang lebih kaget lagi adalah tiga orang Hwesio itu.

"Eh, perempuan muda, siapakah engkau ini!"

Bentak Hwesio gendut bertahi lalat di ujung hidungnya. Kiki tidak menyembunyikan siapa dirinya.

"Namaku Tang Ki, dan Ayahku adalah Hai-tok!"

Nama ini membuat muka empat orang itu menjadi pucat.

"Hai-tok pemimpin Bajak Naga Laut?"

"Akulah pemimpinnya!"

Kata pula Kiki.

"Celaka, kita terjebak. Larikan kereta!"

Bentak Hwesio gendut itu, dan dia bersama tiga orang kanannya sudah menggerakkan senjata mengepung dan mengeroyok Kiki, sedangkan kusir itu sudah mengaburkan lagi kudanya.

"Berhenti kau !"

Kiki membentak dengan khawatir, akan tetapi empat orang yang menghadangnya itu ternyata amat lihai!

Terutama tiga orang Hwesio itu yang mainkan golok amat tangkas dan berbahaya sehingga terpaksa Kiki mengelak ke sana-sini dan tidak dapat mengejar kereta yang sudah kabur dengan cepat memasuki hutan.

Tentu saja hatinya gelisah bukan main, kegelisahan bukan khawatir akan kehilangan peti berisi kitab-kitab itu, melainkan mengkhawatirkan keselamatan Ceng Hiang.

Empat orang lawannya itu ternyata memang lihai.

Si laki-laki kurus satu lagi bersenjatakan pedang dan kini yang terkena pukulannya juga sudah mampu bangkit dan biarpun mukanya pucat, dia dapat pula mengeroyok dengan pedang.

Lima orang itu kini sama sekali tidak berani main-main lagi, bahkan merasa terjebak ketika mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Hai-tok, bahkan pemimpin dari Bajak Naga Laut yang amat terkenal itu.

Mereka semua mengerahkan tenjata dan tenaga untuk mengeroyok Kiki yang bertangan kosong!

Biarpun demikian, semua serangan mereka tidak ada yang mampu merobohkan Kiki.

Gadis ini mengelak sambil berloncatan seperti seekor burung saja, bahkan tidak jarang kalau ada golok atau pedang yang tak dapat dielakkan karena datangnya terlampau cepat, ditangkisnya begitu saja dengan lengan telanjang sehingga lengan bajunya ada yang robek, akan tetapi kulit lengan yang putih mulus itu sama sekali tidak terluka oleh bacokan pedang ataupun golok lawan.

Tentu saja dalam hal ini Kiki juga berhati-hati, tidak berani ia menangkis setiap bacokan golok atau pedang yang dilakukan dengan sin-kang yang terlalu kuat, karena kekuatan sin-kang lawan itu akan dapat menembus pertahanan kekebalan kulit lengannya.

Biarpun demikian, ia mulai terdesak hebat karena lima orang pengeroyoknya itu lihai dan ia memang tidak diberi kesempatan untuk mencari senjata.

Apalagi hatiny"

Gelisah bukan main kalau mengingat keadaan Ceng Hiang.

Gadis yang lemah lembut dan cantik jelita itu dilarikan di dalam kereta oleh kusir palsu itu yang dalam hal kekejaman dan kejahatannya tentu tidak kalah oleh rekan-rekannya.

Oleh karena itu, kegelisahan ini menambah kelemahan pertahanannya dan kini Kiki mulai mundur-mundur dan mencari peluang untuk melarikan diri dan untuk mengejar kereta itu agar ia dapat melindungi Ceng Hiang.

Akan tetapi, ketika ia memandang ke arah hutan di mana kereta itu tadi menghilang, ia terbelalak melihat Ceng Hiang berjalan melenggang sambil memanggul peti hitam terisi kitab-kitab itu, dengan sikap seenaknya saja!

Hampir saja lehernya kena disambar golok Hwesio bertahi lalat kalau saja ia tidak cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan, lalu dari bawah ia meloncat sambil menendang.

"Bukkk!"

Tendangannya mengenai sasaran, menghantam perut Hwesio gendut itu, akan tetapi tenaga tendangannya itu membalik!

Kiranya Hwesio ini kekuatannya terletak di perut yang gendut itu.

Bukan gendut karena terlalu banyak makan, melainkan gendut karena terlatih dan kini terisi hawa sin-kang yang kuat sehingga ketika ditendang, ia merasa seperti menendang sebuah balon besar terisi angin yang padat saja!

Iapun bergulingan menjauh dan meloncat berdiri, agak jauh sehingga ia dapat memperoleh kesempatan melihat ke arah temannya.

Dan apa yang dilihatnya?

Ceng Hiang kini sudah menaruh peti hitam itu di atas tanah dan ia sendiri duduk bersila di atas peti itu, dengan sebatang pedang di tangannya.

Dan dua orang Hwesio mengeroyoknya dengan golok, akan tetapi kemanapun golok menyambar, tanpa menoleh, tanpa merubah bentuk duduknya yang bersila, Ceng Hiang selalu berhasil menangkis serangan golok lawan.

Semua dilakukan seenaknya seperti seorang anak kecil yang sedang main-main saja!

"Trang-tring-trang-tring..."

Berkali-kali terdengar suara senjata bertemu, dan tiba-tiba seorang Hwesio meloncat ke belakang dengan muka pucat karena ujung goloknya telah somplak, patah ujungnya ketika ditangkis pedang Ceng Hiang!

Melihat ini, hampir saja Kiki bersorak, akan tetapi juga ingin menampar mukanya sendiri.

Ia teringat pedang itu, dan kini tahulah ia siapa Ceng Hiang.

Ceng Hiang adalah opsir itu!

Ia tadi berbohong saja ketika menyebut nama Ceng Siang!

Pantas begitu tampan pemuda itu.

Saking girangnya dan melihat bahwa ia memperoleh kesempatan karena kini lima orang itu berbalik mengeroyok Ceng Hiang untuk merampas peti, ia cepat lari ke pohon dan mematahkan sebuah cabang pohon untuk dipakai sebagai senjata tongkat, senjata yang paling enak dan ampuh baginya.

Setelah kini memegang tongkat, dara inipun lari ke arena perkelahian.

"Enci Hiang, kau nakal! Kiranya engkaulah opsir lihai itu. Mari kita basmi tikus-tikus ini!"

Dan diapun mengamuk dengan tongkatnya.

Setelah kini ada Ceng Hiang yang demikian tenangnya menangkisi semua senjata, Kiki mengamuk dan tongkatnya menyambar-nyambar, merobohkan seorang Hwesio .

Melihat keadaan demikian berbahaya, lima orang itu lalu melarikan diri.

Dua orang terluka oleh tongkat Kiki, seorang lagi terpincang-pincang karena pahanya luka oleh pedang Ceng Hiang.

Kiki hendak mengejar, akan tetapi Ceng Hiang berkata.

"Tak perlu dikejar, Ki-moi. Mari kita cepat pulang!"

Kiki mengikuti Ceng Hiang yang membawa peti itu dan kembali ia tertegun.

Ceng Hiang mempergunakan ilmu berlari cepat yang demikian hebat, mungkin lebih tinggi tingkatnya dari pada ilmunya sendiri.

Tak lama kemudian, mereka tiba di tengah hutan dan kereta itu berada di situ.

Kusir yang tadi sudah menggeletak tanpa nyawa di bawah kereta.

"Biar kita duduk di bangku kusir sambil bercakap-cakap."

Kata Ceng Hiang.

"Aku biasa menjadi kusir!"

Sambil tertawa, Kiki meloncat ke bangku kusir bersama Ceng Hiang dan setelah menyimpan peti di dalam kereta, dan kereta dilarikan, Kiki merangkul gadis cantik jelita itu.

"Enci, kau nakal. Kiranya engkaulah opsir muda itu! Betul tidak? Yang namanya Ceng Siang itu, juga engkau yang menyamar, bukan?"

"Hi-hik, habis aku tidak tega mengecewakan hatimu, nampaknya engkau tertarik benar kepada... heh-heh, Ceng Siang kakakku itu."

Kiki mencubit paha Ceng Hiang.

"Tertarik? Hampir aku jatuh cinta setengah mati! kau nakal dan kejam, mempermainkan aku, Enci. Kiranya engkaulah murid keturunan keluarga Pulau Es! Aku senang sekali dapat berkenalan denganmu, Enci Hiang."

Ceng Hiang balas merangkul dengan lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya menguasai kendali dua ekor kuda yang menarik kereta.

"Akupun suka sekali padamu, Kiki. Sayang aku bukan yang bernama Ceng Siang. Kalau aku laki-laki, mungkin aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita jumpa dulu."

"Enci Hiang, engkau begini cantik jelita, begini halus dan lembut. Kenapa malam itu engkau memakai pakaian opsir dan menyamar sebagai seorang pria?"

Ceng Hiang menghela napas panjang.

"Kasihan Ayahku. Dia demikian ingin mempunyai keturunan laki-laki. Karena dia tidak punya putera, hanya mempunyai aku seorang anak saja dan ibu telah meninggal, maka untuk menyenangkan hatinya, aku seringkali menyamar sebagai pria. Kalau aku memakai pakaian pria, wah, Ayahku nampak gembira bukan main, dan anehnya, dia sering menyebutku Ceng Siang karena katanya, kalau aku dulu terlahir laki-laki, tidak diberi nama Ceng Hiang melainkan Ceng Siang. Heh-heh, Ayahku memang lucu dan kasihan sekali."

"Dia seorang pangeran tua yang amat baik hati, Enci. Akan tetapi kenapa engkau memakai pakaian opsir?"

"Hik-hik, itu ada rahasianya. Pakaian opsir itu adalah satu di antara kumpulan pusaka kuno yang disimpan Ayahku. Pakaian itu dahulu, mungkin seratus tahun lalu, pernah menjadi pakaian panglima Puteri Nirahai, isteri pendekar Super Sakti dari Pulau Es.

"Kebetulan terjatuh ke tangan Ayah yang suka mengumpulkan benda benda kuno dan malam itu, melihat engkau memasuki rumah seperti seorang pencuri, aku sengaja memakainya dan membawa harimau peliharaanku untuk menakut-nakutimu. Eh, tidak tahunya engkau begitu cantik dan gagah perkasa, sehingga harimauku sendiri tidak mampu apa-apa kepadamu."

"Tidak mampu apa-apa bagaimana? Hampir aku terkencing ketakutan!"

Dua orang gadis itu tertawa-tawa dan mereka nampak akrab bukan main.

Memang mereka merasa saling suka dan lebih lagi ketika Kiki melihat sendiri betapa lihainya gadis bangsawan ini.

Cantik jelita seperti bidadari, nampak lemah-lembut, peranakan Mancu berdarah keluarga kaisar, akan tetapi membenci penindasan dan penjajahan, dan yang lebih hebat lagi, memiliki ilmu kepandaian silat yang lebih tinggi darinya, bahkan menjadi pewaris ilmu keluarga Pulau Es!

Siapa tidak akan kagum?

"Enci Hiang, akupun tidak mempunyai saudara.

Anak Ayahku hanya aku seorang, dan bertemu denganmu, aku benar-benar merasa seolah-olah engkau ini Enciku sendiri."

"Dan kau seperti adikku sendiri!"

Keduanya saling pandang dan entah digerakkan oleh apa, keduanya bicara berbareng.

"Bagaimana kalau kita angkat saudara..."

Karena ucapan dikeluarkan berbareng, keduanya tak perlu menjawab lagi dan keduanya kembali tertawa-tawa.

"Adikku, bagaimanapun juga, aku harus minta perkenan dulu dari Ayahku, walaupun aku berani tanggung bahwa Ayah tentu akan setuju sekali. Semenjak pulang, dia selalu memuji-mujimu, dan mengatakan betapa sayangnya seorang pendekar wanita pejuang seperti engkau sampai hidup di tengah-tengah para bajak laut!"

Memang tepat seperti diduga oleh Ceng Hiang.

Begitu Ceng Hiang menyerahkan peti berisi kitab-kitab kuno itu kepada Ayahnya dan menceritakan semua pengalaman mereka, lalu menambahkan bahwa ia ingin sekali mengangkat saudara dengan Tang Ki, pangeran tua itu tanpa memandang kepada Kiki dan berkata.

"Mimpi apa aku ini, tahu-tahu peroleh seorang anak perempuan lagi yang segagah ini tanpa merawat ketika kecil? Mulai saat ini, engkau adalah adik Ceng Hiang, Kiki, dan anakku yang kedua."

Mendengar ini, Kiki merasa terharu sekali dan cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pangeran itu.

"Terima kasih atas kebaikan budi paduka..."

"Hushhh, aku Ayahmu, lupakah kau ?"

Kata pangeran itu dengan suara pura-pura marah penuh teguran.

"Maaf... Ayah..."

Ceng Hiang bertepuk tangan lalu menghampiri Kiki, mengangkatnya bangkit dan merangkul lalu mencium kedua pipinya dengan penuh rasa sayang, Menghadapi kegembiraan yang demikian besarnya dari Ayah dan anak itu, Kiki yang biasanya memiliki ketabahan besar dan yang biasanya pantang menangis itu, kini terisak-isak dan mendekapkan mukanya di pundak Ceng Hiang.

"Terima kasih... terima kasih, Enci Hiang dan... Ayah..."

Katanya megap-megap menahan tangis keharuannya.

"Aku... aku... hanya anak seorang datuk sesat, ah... betapa mungkin dan kalian berdua... ini. Mimpikah aku, Enci? Mimpikah aku..."

Dan Kiki menjambak rambutnya sendiri untuk mendapatkan kenyataan bahwa ia benar-benar tidak sedang dalam mimpi.

"Tidak mimpi, Kiki. Dan engkau tidak perlu berterima kasih seperti itu. Pertama, engkau pernah mengembalikan nyawaku yang sudah hampir ditelan lautan, dan kedua kalinya, engkau mengembalikan peti kitab-kitab ini. Sungguh, engkau seorang anak yang baik dan mudah-mudahan selanjutnya akan sebaik Ceng Hiang. Nah, sekarang bantulah aku mengeluarkan dan membersihkan kitab-kitab ini. Akan kucari mana yang tepat untuk kita."

Dengan gembira sekali, Ceng Hiang dan Kiki lalu mengeluarkan kitab itu satu demi satu, dibersihkan satu-satu, sedangkan Pangeran Ceng Tiu Ong mulai memeriksa judul kitab itu satu demi satu.

Akhirnya, dia menyisihkan dua buah kitab kuno yang sudah kuning dan lapuk.

Wajahnya berseri.

Semua hanya kitab-kitab agama dan kebatinan, kecuali yang dua ini.

Dua!

"Ya Tuhan, terima kasih.

Memang engkau sudah berjodoh untuk menjadi keluarga kami, Kiki.

Dulu, ketika memeriksa untuk yang pertama kalinya, aku teringat bahwa hanya ada sebuah kitab pelajaran silat di sini.

Akan tetapi setelah kini kuteliti kembali, ternyata ada dua buah!

Satu untuk Hiang, satu untuk kau !

Bukankah ini sudah jodoh namanya?"

Dua orang gadis itu saling pandang.

Mereka sudah memiliki ilmu-ilmu silat yang tinggi dan untuk waktu itu, jarang ada orang yang mampu menandingi mereka, apalagi wanita.

Dan kini Ayah mereka menemukan ilmu silat dalam kitab kuno.

Untuk apa?

Mana ada ilmu silat dalam kitab kuno yang usianya sudah ratusan tahun itu yang akan mampu menandingi ilmu-ilmu mereka?

Apa artinya kitab pelajaran ilmu silat bagi mereka?

"Kitab pelajaran ilmu silat apakah itu, Ayah?"

Tanya Kiki.

"Mungkin hanya untuk ilmu permulaan, Ayah,"

Kata Ceng Hiang.

"Jangan tanya aku tentang ilmu silat. Akan tetapi judulnya cukup menarik. Kalian mau tahu? Ah, nanti dulu. Sebagai Ayah, aku harus bertindak adil. Aku sama sekali tidak mengenal ilmu silat dan tidak tahu mana yang lebih penting bagi kalian di antara kedua kitab ini. Oleh karena itu, sebelum kubaca judulnya dan sebelum kuterjemahkan isinya, aku akan memberikan dulu kepada kalian seorang satu. Nah, yang agak merah tulisannya ini untukmu, Ceng Hiang, karena engkau suka akan warna merah, bukan? Dan ini, yang agak hijau tulisannya, untuk Kiki. Mudah-mudahan engkau suka warna hijau, Kiki."

"Luar biasa! Betapa bijaksana Ayah kita,"

Kata Kiki sambil tertawa kepada Encinya dan menerima kitab kuno itu.

"Kebetulan warna hijau adalah warna kesukaan saya!"

"Bgus, nah, sekarang akan kubacakan dulu judulnya. Kesinikan kitabmu itu, Hiang."

Ceng Hiang sambil tersenyum menyerahkan kitabnya dan ia merasa seolah-olah seperti sedang menarik undian.

Apakah undiannya akan berhasil baik?

Jangan-jangan kitabnya hanya berisi ilmu-ilmu belajar pasang kuda-kuda saja!

Akan tetapi dengan alis berkerut tanda bahwa otaknya bekerja Ayahnya sudah mulai membaca dengan suara perlahan-lahan.

"Kitab Pek-seng Sin-pouw, ciptaan Tat Mo Couw-su, untuk dilatih murid-murid yang bersih hatinya."

"Pek-seng Sin-pouw (Langkah Ajaib Seratus Bintang)? Apakah itu?"

Ceng Hiang bertanya, mulai tertarik karena dari ilmu-ilmu yang didapatnya sebagai warisan dari nenek moyangnya, yaitu Puteri Nirahai, ia mempelajari juga semacam ilmu langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan musuh dengan elakan-elakan berdasarkan lika-liku langkah kaki.

Akan tetapi selamanya ia belum pernah mendengar akan nama Ilmu Langkah Pek-seng Sin-pouw maka ia merasa tertarik sekali, apa lagi penciptanya adalah Tat Mo Couwsu yang juga disebut datuknya semua kau m persilatan.

"Wah, mana aku tahu? Nanti akan kuterjemahkan untukmu agar dapat kau baca dan pelajari sendiri. Ada lukisan garis-garis lurus dan lengkung yang aku tidak tahu artinya sebelum diterjemahkan. Dan kesinikan kitabmu itu, Kiki."

Dengan jantung berdebar, Kiki menyerahkan kitabnya.

Ia sendiripun tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan Ilmu Langkah Ajaib Seratus Bintang yang jatuh kepada Enci angkatnya, akan tetapi, karena kitab-kitab itu ciptaan Tat Mo Couwsu yang sudah didengar namanya, hatinya menjadi tegang penuh harap-harap cemas.

Setelah mempelajari sebentar, pangeran itu lalu membaca judul kitab yang menjadi hak milik Kiki.

"Kitab Hui-thian Yan-cu, ciptaan Tat Mo Couwsu untuk dilatih murid-murid yang penuh belas kasih hatinya."

""Hui-thian Yan-cu (Walet Terbang ke Langit)? Wah, ilmu apa lagi ini?"

Kiki bertanya, dan Encinya segera merangkulnya.

"Kiong-hi (selamat), adikku. Aku berani bertaruh bahwa kalau sudah diterjemahkan, ilmu itu tentu semacam ilmu gin-kang yang akan membuat engkau mampu terbang ke langit seperti burung walet!"

Kiki tertawa.

"Dan ilmumu itu akan membuat engkau dapat melindungi diri dengan langkah ajaib yang ruwetnya sama dengan seratus bintang. Wah, dengan langkah ajaibmu yang sudah ada saja, aku dibikin setengah mati untuk dapat menyerangmu, apalagi dengan Pek-seng Sin-pouw, tentu engkau takkan dapat ditangkap oleh seratus orang yang mengepungmu. Selamat, Enci!"

Keduanya gembira sekali, dan sang pangeran juga ikut bergembira.

"Aku sudah menduga bahwa kitab-kitab ini tentu berguna sekali bagimu, Ceng Hiang, tak kusangka kini malah berguna pula bagi Kiki. Dengan demikian, sedikit banyak aku sudah dapat membalas budi anakku Kiki."

"Gi-hu (ayah angkat), harap jangan sebut-sebut lagi tentang budi. Bagaimanapun, aku pernah membunuhi anak buah pengawal Ayah, dan membakar perahu..."

Suaranya mengandung penyesalan besar. Pangeran itu menggoyang-goyang tangannya.

"Jangan disebut-sebut lagi urusan itu, kalau terdengar orang lain tidak baik. Engkau melakukannya karena perjuangan, watakmu bukan karena memang suka membunuh atau merampok."

"Wah-wah, Ayah dan siauw-moi mulai berbantah-bantah lagi, saling salahkan diri dan saling puji. Sudahlah, mulai sekarang keduanya sudah berjanji tidak akan menyebut-nyebut lagi urusan itu dan akulah saksi hidupnya!"

Mereka bertiga tertawa, dan mulai hari itu, pangeran Ceng Tiu Ong menterjemahkan kedua kitab itu dengan seksama.

Dia tidak akan memberikan kitab yang sudah selesai diterjemahkan, akan diberikan berbareng kepada dua orang anaknya dalam waktu yang sama.

Jarang ada seorang Ayah, atau orang tua seperti Pangeran Ceng Tiu Ong ini.

Biarpun yang seorang anak kandung, yang kedua anak angkat, namun cinta kasihnya kepada mereka sama, tidak berat sebelah.

Orang tua yang bijaksana tidak akan memilih-milih anak mereka, siapa yang harus dicinta dan siapa yang kurang dicinta, bahkan siapa yang harus dibenci!

Namanya bukan cinta kasih, melainkan cinta diri sendiri.

Anak yang menyenangkan diri dicinta, yang tidak menyenangkan dibenci.

Berarti cinta model sui-poa (alat hitung), model mesin hitung, cinta model dagang dengan dasar untung rugi.

Orang tua yang membeda-bedakan anaknya sebetulnya hanya mencinta diri sendiri, mencari kesenangan diri pribadi melalui anak-anaknya.

Cinta kepada anaknya sama saja dengan cintanya kepada anjing peliharaannya, kalau anjing itu mengenal budi, kalau anjing itu tahu membalas budi dan menyenangkan, maka tetap dicinta.

Kalau tidak, anjing itu akan dipukul atau bahkan diusir!

Sama saja dengan mencinta barang-barang mati, yang baik dan berharga, dicinta...

yang buruk dan tidak berharga, dibuang!

Apakah yang begini cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya?

Mudah-mudahan tidak, dan kalau toh ada yang demikian, mudah-mudahan dapat menyadarinya dan segera mengubahnya.

Pergaulan antara Kiki dan Ceng Hiang semakin akrab saja.

Pada suatu malam, sebelum tidur, karena Ceng Hiang memaksa agar adiknya itu tidur sekamar dengannya.

Kiki mulai bertanya tentang suhengnya yang bernama Lee Song Kim.

"Enci Hiang, sebetulnya ketika aku meninggalku Pulau Naga yang kini menjadi tempat tinggal keluarga Ayahku, selain hendak mengirimkan peti kitab seperti yang dipesan Ayah, aku masih mempunyai sebuah urusan lagi yang belum sempat kubicarakan denganmu. Ada sebuah perintah Ayah, bukan gi-hu (ayah angkat) yang kumaksudkan, yang belum kulaksanakan dengan berhasil."

"Aihh, kenapa tidak kau katakan dari kemarin dulu, adikku sayang? Tugas dari seorang yang berbakti kepada orang tuanya harus dipenuhi dengan baik, dan kalau aku dapat, tentu aku akan membantumu sampai berhasil."

"Terima kasih, Enci Hiang, engkau baik sekali dan memang aku ingin minta tolong kepadamu, yaitu mungkin engkau dapat memberi keterangan tentang orang yang sedang kucari. Aku diperintah oleh Ayah untuk mencari tahu dimana adanya seorang suhengku."

"Kiranya Ayahmu mempunyai banyak murid-murid selain engkau? Wah, tentu suhengmu itu pandai sekali, baru sumoinya saja seperti engkau, apalagi suhengnya."

"Murid Ayah hanyalah aku dan suhengku itu, Enci, sudah lama dia pergi, dan aku ingin tahu dimana alamatnya karena yang kami ketahui hanya bahwa Suheng itu kini telah menjadi seorang perwira kerajaan dan tinggal di Kota Raja."

"Begitukah? Dan siapa namanya?"

"Namanya Lee Song Kim..."

Tiba-tiba Ceng Hiang yang tadinya sudah merebahkan diri dan mereka bercakap-cakap sambil tiduran, meloncat bangkit dan duduk, matanya terbelalak memandang wajah Kiki dan sampai beberapa detik lamanya tidak menjawab.

Kiki terkejut sekali.

"Eh, ada apakah, Enci Hiang?"

"Lee Song Kim...? kau maksudkan perwira baru itu, yang selalu membawa pedang dan sepasang pisau belati di pinggangnya? Usianya sebaya dengan kita, lebih tua satu dua tahun mungkin, sikapnya halus dan wajahnya tampan. Ilmu silatnya lihai..."

"Benar dia! Enci, engkau kenal dia? Tahukah kau dimana suhengku itu sekarang berada?"

"Tahu? Tentu saja aku tahu, lebih dari itu malah! Tapi, benarkah Lee Song Kim itu suhengmu? Murid dari Ayahmu, murid dari Hai-tok Tang Kok Bu?"

"Heii, apakah engkau tidak percaya kepadaku, Enci Hiang? Itulah suhengku!"

"Maksudku, apakah dia mempunyai guru lain dan hanya kebetulan saja menjadi murid Ayahmu dan hanya untuk beberapa bulan atau tahun saja?"

"Tidak, dia menjadi murid Ayah sejak dia masih kecil. Ayahkulah yang menggemblengnya sejak dia masih kecil sekali sampai dewasa. Bahkan hampir semua ilmu Ayahku telah dia kuasai, dia murid yang amat disayang oleh Ayahku."

"Di antara banyak murid-murid Ayahmu?"

"Tidak. Yang benar-benar menjadi murid Ayah hanyalah Lee Song Kim itu dan aku sendiri. Yang lainnya itu bukan murid benar-benar, hanya anak buah yang dilatih satu dua jurus ilmu saja. Tapi, kenapa kau tanyakan itu semua, Enci?"

"Karena, adik Kiki, dia itu tidak pernah mengaku sebagai murid Hai-tok. Dia mengaku bahwa ilmu silatnya adalah ilmu silat keluarga dari nenek moyangnya."

"Wah, kalau begitu... hanya ada dua kemungkinan! Pertama, dia itu bukan suhengku, hanya orang yang sama namanya saja, dan kedua, dia itu pembohong besar, mungkin karena dia merasa malu mengaku menjadi murid Hai-tok Ayahku!"

"Dan menurut dugaanmu, di antara dua kemungkinan itu, yang manakah dia?"

"Yang kedua! Aku yakin bahwa dia itulah Lee Song Kim suhengku..."

"Ssttt, nanti dulu, adikku, jangan kau memburuk-burukkan dia karena masih ada hal lain lagi mengenai dirinya yang lebih gawat sekali bagiku. Dia adalah laki-laki yang dengan perantaraan komandannya, seorang panglima sahabat baik Ayahku, yang telah... mengajukan pinangan atas diriku karena dia mengaku telah kehilangan Ayah bundanya dan hidup sebatangkara tak bersanak keluarga lagi."

"Ehh... Ohhh... kalau begitu... ahhh..."

Kiki terbelalak dan ternganga, bengong tak dapat berkata apa-apa lagi.

Sungguh perkaranya kini menjadi berbalik dan berubah sama sekali!

Kenyataan yang mengejutkan bahwa suhengnya itu menjadi kenalan baik, bahkan melamar Ceng Hiang.

Sungguh membuat kedudukan suhengnya itu lain sama sekali dan mana dia berani menjelek-jelekkan suhengnya di depan Enci angkat ini?

Tapi...

suhengnya itu seorang pengkhianat, seorang yang murtad dan jahat.

Ia mengerutkan alisnya.

Pantaskah orang seperti Lee Song Kim menjadi suami seorang gadis seperti Ceng Hiang ini?

Dan iapun menimbang-nimbang.

Sebetulnya, apakah kesalahan Lee Song Kim?

Tentang dia meninggalkan gurunya, hal itu memang atas perintah Hai-tok untuk mencari jejak Koan Jit.

Kemudian Song Kim menjadi perwira kerajaan.

Walaupun hal itu sama sekali tidak cocok bahkan bertentangan dengan politik perjuangan melawan penjajah, akan tetapi secara pribadi, apakah hal itu boleh dipersalahkan?

Dan kalau Song Kim lalu mengkhianati gurunya dan melaporkan pertemuan dalam pesta ulang tahun, bukankah kewajibannya sebagai seorang opsir dan petugas Kerajaan Ceng, dan dia hanya bertindak demi kepentingan pemerintah yang diabdinya?

Juga ketika dia menyerang perahu Bajak Naga Lautan, bukankah itu juga merupakan tugasnya sebagai opsir Kerajaan Ceng?

Berpikir demikian, Kiki menjadi bimbang dan alisnya terus berkerut, mukanya sebentar merah sebentar pucat, dan ia seperti melamun, lupa bahwa sejak tadi ia dipandang oleh kakak perempuan angkatnya itu.

Ceng Hiang sejak tadi yang memperhatikan keadaan Kiki, memandang penuh selidik, juga terheran-heran, lalu memegang kedua pundak adiknya itu dan dipaksanya adiknya bertemu pandang.

Sinar matanya yang bening tajam itu memandang penuh selidik.

"Haii... bangunlah, Kiki. Apakah engkau mimpi? Kenapa setelah mendengar tentang Lee Song Kim, engkau hanya ber-ah-eh-oh seperti orang yang tiba-tiba menjadi gagu?"

Tiba-tiba Ceng Hiang teringat sesuatu dan senyumnyapun menghilang, terganti kekhawatiran pada wajahnya.

"Adikku yang baik. Kita bukan orang lain. Aku Encimu dan engkau adikku. Kita harus jujur. Apakah... apakah... engkau mencinta suhengmu yang bernama Lee Song Kim itu?"

Kini Kiki yang terkejut ditanya begitu.

"Mencinta suheng? Wah, tidak. Sama sekali tidak! Memang dulu pernah Ayahku condong untuk menjodohkan kami, akan tetapi aku tidak mau dan sekarang Ayah sama sekali tidak menghendakinya lagi."

"Dan dia... apakah dia cinta padamu?"

"Wah, mana aku tahu, Enci? Kami kakak beradik seperguruan. Hubungan kami seperti kakak dan adik saja. Hal itupun aku tidak tahu. Aku tadi terkejut karena sama sekali tidak mengira bahwa suheng mengajukan pinangan dan akan menjadi calon suamimu."

"Hushh, jangan sembrono. Aku belum menerimanya! Kukatakan tadi bahwa dia dengan perantaraan komandannya, meminang aku, dan agaknya Ayahku suka kepadanya. Akan tetapi Ayah amat cinta kepadaku dan Ayah tidak hendak memaksa. Dia menanti jawabanku sendiri dan karena aku masih bimbang, aku belum beri jawaban. Tapi, kenapa Ayahmu yang dulu ingin menjodohkan kalian kini merubah pikirannya?"

Kiki bukan seorang gadis yang bodoh.

Ia cerdik sekali, dan kini tahulah ia bahwa Encinya ini hendak menguras keterangan dari dirinya untuk mengenal siapa sebenarnya pemuda bernama Lee Song Kim yang meminangnya itu.

Ia harus berhati-hati, karena tidak tahu sampai dimana hubungan antara suhengnya dan Encinya ini, dan apakah Encinya ini mencita Song Kim.

Ia tahu bahwa Song Kim tampan gagah, dan juga pandai merayu, kelihatannya seorang pendekar sasterawan yang budiman.

"Tentu Enci tahu betapa perasaan Ayahku mendengar bahwa dia telah menjadi seorang perwira dari pemerintah Ceng-tiauw, bukan? Nah, sejak dia menjadi perwira itu, tentu saja pendirian Ayah berubah. Akan tetapi seperti kukatakan tadi, tidak ada perasaan apa-apa dalam hatiku terhadap suheng, maka akupun tidak perduli lagi."

"Tapi, kenapa sekarang engkau disuruh Ayahmu untuk mencari tempat tinggalnya?"

Kembali Ceng Hiang mengejar dan pandang matanya semakin tajam menyelidik.

"Terus terang saja, kalau jumpa, aku diminta oleh Ayah untuk membujuk agar dia mau kembali kepada kami, mau meninggalkan kedudukannya yang sekarang."

Ceng Hiang nampak lega dan percaya, terbukti dari helaan napasnya yang panjang.

"Ah, begitukah? Akan tetapi kurasa dia tidak akan mau kembali. Kedudukannya sudah semakin baik, dan karena ilmu kepandaiannya tinggi, baginya terbuka kesempatan untuk mencapai kedudukan tinggi, mungkin bahkan sebagai panglima muda di istana."

"Tapi, bagaimana dengan engkau sendiri, Enci Hiang? Apakah... ada kecondongan hatimu untuk menerimanya? Apakah engkau cinta padanya?"

Kini Kiki yang menatap dengan sinar mata tajam penuh selidik. Kembali Ceng Hiang menarik napas panjang dan nampak ragu ragu.

"Entahlah, adikku. Entahlah. Aku memang kagum kepadanya, akan tetapi cinta? Entahlah, aku sendiri tidak tahu bagaimana sih cinta itu. Engkau yang hidup sebagai seorang gadis kang-ouw dan sudah luas sekali pengalamanmu, coba katakan, adikku, bagaimana sih rasanya kalau orang jatuh cinta? "Aku tidak yakin apakah aku cinta atau tidak padanya, walaupun aku kagum dan suka kepada suhengmu karena dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, bertampang ganteng dan bersikap sopan dan lembut. Bagaimana sih cinta itu?"

Di dalam hatinya, Kiki menaruh rasa khawatir.

Memang suhengnya itu perayu benar dan pandai bersandiwara, sikapnya selalu baik dan memang tampan.

Akan tetapi ditanya tentang cinta, dara inipun menjadi bingung sendiri.

Apa sih cinta itu?

Ia lalu mengingat-ingat, membayangkan tampang laki-laki yang pernah dikenalnya dan dikaguminya.

Banyak pendekar muda yang gagah perkasa dan ganteng, terutama sekali Tan Ci Kong itu!

Ia sendiri bertanya-tanya, apakah ia mencinta Ci Kong, akan tetapi ia sendiri tidak mampu menjawab.

Dan kini Enci angkatnya bertanya tentang cinta kepadanya!

"Cinta?

Wah, aku lebih muda darimu, Enci!

Biarpun aku sudah banyak menjelajah dan banyak mengenal orang, akan tetapi dalam urusan cinta mencinta, pengetahuanku juga nol besar!

Aku tak dapat menjawab.

Akan tetapi, bukankah kalau benar-benar engkau mencinta seorang pemuda, ada terasa di dalam hatimu?

"Bagaimana perasaanmu terhadap suhengku itu?

Apakah ada rindu?

Apakah ada keinginan untuk berdekatan terus?

Apakah ada perasaan mesra dan...

ah, bagaimana lagi ya?

Aku tidak tahu!"

Dan keduanya lalu tertawa. Ceng Hiang merangkulnya dan mencium pipinya. Kata-kata dan sikap adik angkatnya itu benar-benar lucu baginya, dan ia memperhatikan wajah Kiki.

"Kalau saja aku ini seorang laki-laki, atau engkau seorang laki-laki, agaknya aku bisa jatuh cinta padamu, Kiki. Tapi kita sama-sama perempuan, sehingga di antara kita tentu lain-lain rasanya di hati. Aku tidak tahu dan aku ragu-ragu.

"Tapi, coba ceritakan lebih banyak tentang suhengmu itu. Orang tuanya dimana? Dari mana dia berasal? Dan pekerjaan hebat apa saja yang pernah dilakukannya? Dan bagaimana dalam pergaulannya denganmu? Apakah dia jujur? Apakah dia dapat dipercaya? Apakah dia penyabar ataukah pemarah? Engkau sebagai sumoinya yang hidup sejak kecil dengan dia tentu mengenalnya dengan baik."

Kiki menjadi semakin bingung.

"Wah, wah... pertanyaanmu ini sungguh berat bagiku untuk menjawabnya, Enci. Bagaimana aku dapat menilai orang yang pernah menjadi suhengku akan tetapi juga pernah menjadi musuhku. Ketahuilah, belum lama ini belum ada dua bulan ini, telah terjadi perang antara perahu bajak yang kupimpin dan perahu kerajaan yang dipimpinnya.

"Terpaksa kami, suheng dan sumoi, bertanding di perahu secara mati-matian. Karena pelengkapannya lebih baik dan orang-orangnya lebih banyak, terpaksa aku melarikan diri bersama anak buahku. Ketahuilah, kami telah bertanding mati-matian dan nyaris seorang di antara kita tewas.

"Nah, bagaimana sekarang aku harus menilainya? Memang perkelahian dan permusuhan yang terjadi antara kami berdua bukan persoalan pribadi, melainkan disebabkan karena dia meninggalkan kelompok kami dan menjadi perwira pemerintah. Tentu saja bagi kami, dia itu kami anggap seorang pengkhianat. Maafkan aku, Enci..."

Ceng Hiang mengangguk-angguk.

"Tidak apa adikku, aku mengerti benar dan dapat merasakan apa yang kau ceritakan semua itu."

"Kau tidak marah kepadaku?"

"Kenapa marah?"

"Orang yang... kau cinta, kumaki pengkhianat dan kau tidak marah?"

"Hushh, lancang kau !"

Kini Ceng Hiang mencubit pipi Kiki.

"Siapa bilang aku cinta padanya?"

"Jadi benar-benar kau tidak sakit hati mendengar dia dimaki pengkhianat?"

Ceng Hiang menggeleng kepala. Kiki lalu merangkulnya.

"Horee! Kalau begitu... berarti engkau tidak cinta padanya, Enci Hiang! Jelaslah! Kalau kau cinta seseorang, dan orang itu dimaki pengkhianat, sudah pasti engkau akan marah. Dan sekarang kau tidak marah, itu berarti kau tidak cinta pada bekas suhengku itu."

"Akupun tidak tahu dan mungkin aku tidak cinta padanya, akan tetapi Ayah kelihatan begitu yakin akan kebaikannya, dan agaknya Ayah mengharapkan aku menerimanya. Dan aku... kau tahu, Ayah hanya mempunyai anak aku seorang, aku tidak tega mengecewakan hatinya."

"Wah-wah, kau lupa padaku, Enci? Ingat, aku pun anaknya!"

Ceng Hiang menciumnya.

"Maaf, tapi kan lain, adikku?"

"Jadi, kalau begitu... biarpun kau tidak cinta, engkau akan menerima saja pinangan itu dengan mata dipejamkan? Begitu?"

Ceng Hiang mengangguk.

"Mungkin saja, kalau hal itu membahagiakan hati Ayah."

"Tidak betul itu! Aku akan menentangnya!"

Tiba-tiba Kiki berseru dengan nada suara marah, dan berdiri turun dari tempat tidur dan bertolak pinggang.

"Eh, eh, apa-apaan kau ini? Apa kesurupan setan? tiba-tiba marah-marah seperti itu!"

Ceng Hiang mengomel.

"Aku akan menentang karena tidak adil. Kita ini bukan ayam atau kambing atau babi yang boleh begitu saja dituntun ke pejagalan disembelih, hanya untuk untuk menyenangkan manusia. Kita ini berhak memilih, Enciku yang baik. Manusia yang berhak menikmati hidup ini! "Kalau memang engkau tidak cinta pada Lee Song Kim dan gi-hu hendak memaksamu menerima menjadi calon isterinya, wah, aku akan memberontak! Aku akan menghadap gi-hu dan aku akan membelamu. Pendeknya, aku tidak rela melihat Enciku yang tersayang dijadikan ayam betina untuk disembelih dan disuguhkan orang-orang hanya untuk membikin senang hati orang lain.

"Tidak! Kecuali kalau engkau cinta padanya, nah, baru itu benar namanya. Kalau engkau mencinta seorang dan orang itupun cinta padamu, barulah boleh diadakan pernikahan. Dan kalau ada yang menentang, aku pula yang akan membelamu mati-matian!"

Kini kedua mata Ceng Hiang yang menjadi basah.

Ia menarik tangan Kiki dan merangkul adiknya itu sambil menangis perlahan saking girang dan terharu hatinya.

Selama hidupnya, Ceng Hiang belum pernah merasakan kasih sayang seorang saudara perempuan, apalagi karena ia masih kecil ketika ibunya meninggal dunia.

Kiki juga menangis dan kedua orang wanita yang sama-sama gagah perkasa itu, kini benar-benar menjadi wanita-wanita sejati yang mudah dikuasai perasannya dan suka meluapkan perasaan itu lewat air mata dari dua pasang mata yang indah itu.

Dari Ceng Hiang, Kiki mendapat keterangan bahwa Song Kim naik pangkat setelah terjadi penyerbuan di tempat ulang tahun Hai-tok, dan kini tinggal di dalam sebuah gedung yang cukup mewah, dijaga oleh serdadu-serdadu pengawal.

"Engkau jangan mengunjunginya, karena bisa terjadi salah paham setelah kalian pernah berkelahi. Juga aku ingin sekali melihat sikapnya kalau bertemu denganmu. Karena itu, Kiki... aku akan menggunakan akal agar dia datang ke sini dan..."

Ceng Hiang lalu membisikkan kata-kata di dekat telinga Kiki, dan dua orang gadis itu tertawa cekikikan seperti dua orang anak kecil yang merencanakan sesuatu yang nakal.

Memang, di dalam hati masing-masing tumbuh kegembiraan yang selama ini belum pernah mereka rasakan, setelah mereka merasa saling memiliki sebagai saudara.

Memang cinta asmara merupakan suatu hal yang amat rumit.

Tiada habisnya cerita di dunia ini dikisahkan oleh para sasterawan dan pengarang tentang cinta asmara, Sebab-sebabnya, akibat-akibatnya dan hal-hal yang terjadi sehubungan dengan perasaan yang selalu menyerang hati manusia itu, tak perduli dia berbangsa apa, pria atau wanita, tua ataupun muda.

Bagi sebagian besar pria, kalau dia jatuh cinta kepada seorang wanita, persoalannya lebih mudah dan sederhana lagi, dan dia sendiripun lebih mudah untuk memahami keadaan dirinya.

Dia tentu selalu rindu kepada wanita yang dicintanya itu, merasa suka dan selalu merasa kasihan, ingin selalu berdekatan, ingin selalu menyenangkan hatinya, ingin selalu bermesraan dan segala sesuatu pada diri wanita itu nampak olehnya sebagai yang paling indah, paling baik dan paling benar.

Sebaliknya, pada diri wanita, cinta asmara ini lebih lembut sifatnya, namun kadang-kadang menyerang lebih mendalam lagi walaupun wanita biasanya pandai menyembunyikan perasaan hatinya.

Seorang wanita dapat mencinta secara mati-matian, akan tetapi dapat pula mengubah cinta itu menjadi kebencian yang berlebihan.

Hal inipun tidak aneh karena sebagian besar batin wanita dipenuhi oleh emosi, dan wanita lebih menurutkan bisikan atau dorongan emosi perasaan hati dari pada nasihat pikiran jernih.

Ceng Hiang adalah seorang gadis yang luar biasa.

Bukan saja ia telah mewarisi beberapa macam ilmu silat pilihan dari keturunan keluarga para pendekar Pulau Es, akan tetapi Ayahnya juga mendidiknya dalam hal kesusasteraan.

Ia bukan hanya pandai silat, akan tetapi juga pandai membaca menulis, pandai membuat sajak-sajak indah dan menikmati keindahan sajak-sajak, pandai menyulam, bahkan pandai pula bernyanyi dan memainkan yang-kim (semacam kecapi) dan suling.

Karena ia terpelajar, maka ia mempelajari pula sopan santun dan tata susila, cerdik bukan main.

Akan tetapi, menghadapi kata yang disebut "Cinta", iapun bingung!

Karena itu, bukan membohong ketika ia mengatakan kepada Kiki bahwa ia tidak tahu apakah ia mencinta Lee Song Kim atau tidak.

Song Kim memang cerdik.

Ketika dia meninggalkan Pulau Layar, dengan sembunyi-sembunyi dia telah mengikuti perahu Kiki, bahkan membonceng di bawah perahu, dan ketika malam tiba, dia membikin Kiki tidak berdaya dan hampir saja dia berhasil memperkosa Kiki di tengah lautan yang gelap gulita itu.

Agaknya kekuasaan alam tidak menghendaki perbuatan jahat itu terjadi, maka tiba-tiba datang badai yang mengguncang perahu, bahkan membuat perahu itu pecah dan terbalik.

Ketika dia berhasil menarik Kiki yang masih terbelenggu pada tiang ke pantai dan hendak melanjutkan perbuatan bejatnya untuk memperkosa, tiba-tiba saja muncul Ci Kong yang menghalanginya dan karena takut kalau dikenal Kiki, terpaksa dia melarikan diri.

Song Kim lalu melakukan penyelidikan seorang diri dan mendengar bahwa Koan Jit berada di kota Kanton.

Diapun cepat menyusul ke kota itu.

Akan tetapi, di Kanton dia mendengar bahwa Koan Jit telah menjadi seorang komandan pasukan Harimau Terbang yang menjadi pasukan kepercayaan orang kulit putih!

Kedudukan Koan Jit demikian hebatnya sehingga dia sendiri merasa jerih untuk melakukan penyelidikan nekat ke markas Harimau Terbang.

Song Kim lalu mencari akal dan akhirnya mengambil keputusan bahwa kalau dia bekerja seorang diri berusaha merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit, tak mungkin dia akan berhasil, bahkan mungkin membahayakan keselamatan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, dia mencari akal yang amat bagus.

Dia lalu pergi ke Kota Raja!

Seperti biasa di kota-kota besar, tentu di situ terdapat banyak pencoleng-pencoleng, pencuri-pencuri dan pencopet-pencopet.

Song Kim lalu memperlihatkan ilmu kepandaiannya.

Dia melakukan keliling kota setiap hari, mengunjungi pasar-pasar dan setiap kali melihat ada pencopet, pencoleng yang merampas benda lain orang, dia segera turun tangan menangkapnya dan menyeret penjahat itu kepada petugas keamanan.

Bukan itu saja, bahkan di waktu malam, dia berkeliling kota melalui genteng-genteng orang dan hampir setiap malam dia menangkapi maling-maling, bahkan pernah dalam satu malam dia menangkap tujuh orang maling di tujuh tempat.

Maling-maling inipun diseretnya kepada petugas keamanan.

Tentu saja nama Lee Song Kim dalam waktu singkat menjulang tinggi di kalangan para petugas keamanan dan segera terdengar oleh komandannya.

Dia dipanggil dan ditawari pekerjaan.

Itulah yang dinanti-nanti oleh Song Kim, dan karena memang ilmu silatnya tinggi dan dia sengaja hendak mencari kedudukan, setiap kali dia keluar tentu menangkap penjahat-penjahat dan mata-mata pemberontak.

Bahkan pernah dia sendiri membasmi gerombolan pemberontak, Yaitu pejuang-pejuang yang mengadakan rapat gelap di luar kota, dan dia telah menangkap lebih dari dua puluh orang yang semua diseretnya ke pengadilan.

Kehebatan sepak terjang Song Kim ini terdengar oleh Pouw-Ciangkun, komandan pasukan keamanan, dan diapun dinaikkan pangkatnya.

Dalam waktu sebentar saja, akhirnya dia sendiri diangkat menjadi seorang opsir yang dapat diandalkan!

Dan nama baiknya sebagai seorang opsir yang giat melakukan pembersihan terhadap para penjahat, menimbulkan banyak rasa suka, baik di kalangan pejabat-pejabat Kota Raja, rakyat jelata yang merasa maupun dilindungi.

Nama Lee Song Kim menjadi buah bibir orang, seorang opsir muda yang berwatak pendekar, suka menolong, bersikap halus lembut dan ramah, pandai merayu, apalagi memang tampan.

Dan pemuda ini juga pandai membawa diri.

Walaupun pada hakekatnya dia lain nampak watak aselinya, yaitu mata keranjang dan cabul, akan tetapi dia dapat menahan nafsunya dan hanya melakukan pengumbaran nafsanya jauh dari Kota Raja dan menyamar sebagai seorang pemuda biasa sehingga nama tetap harum.

Dalam keadaan demikianlah, opsir Lee Song Kim pernah berjumpa dengan Ceng Hiang dan dia seketika dia tergila-gila.

Bukan hanya tergila-gila oleh kecantik jelitaan gadis itu, akan tetapi juga karena setelah dia mengikuti komandannya berkunjung ke rumah gadis itu, dia mendengar bahwa gadis itu adalah seorang pewaris ilmu-ilmu para pendekar pulau Es!

Gadisnya begitu cantik jelita, terkenal pandai ilmu silat, dan puteri tunggal seorang pangeran lagi!

Hati pemuda mana yang takkan tertarik?

Terlalu banyak hal-hal yang menguntungkan pada diri Ceng Hiang untuk membuat hati Song Kim tergila-gila.

Komandannya, seorang panglima, yaitu Pouw-Ciangkun, sahabat baik dari Pangeran Ceng Tiu Ong, maklum akan isi hati pembantunya yang disayangnya, maka setelah berunding, komandan yang baik hati ini lalu melamarkan Ceng Hiang untuk dijodohkan dengan Lee Song Kim, mengingat bahwa Ceng Hiang berusia dewasa dan belum terikat perjodohan dengan orang lain.

Komandan Pouw maklum akan watak Pangeran Ceng Tiu Ong yang tidak gila pangkat dan gila hormat.

Maka dia berani mengajukan Lee Song Kim, bukan bangsawan, untuk menjadi calon suami Ceng Hiang.

Dan memang benarlah, pangeran itu sama sekali tidak marah, bahkan dia kelihatan setuju sekali!

"Sudah sejak beberapa tahun aku ingin mempunyai mantu.

Akan tetapi engkau tahu sendiri watak anak sekarang, Pouw-Ciangkun.

Anakku Hiang itu masih belum juga mau menikah, dengan alasan bahwa karena ibunya tidak ada, ia tidak ingin meninggalkan aku, karena kalau sudah menikah, dia tentu akan dibawa pergi suaminya.

"Dan pula, demikian menurut katanya, ia hanya mau menikah dengan pemuda yang benar-benar cocok di hatinya. Sudah banyak pemuda di Kota Raja ini, baik putera bangsawan maupun hartawan, bahkan ada keponakan kaisar sendiri, yang kuperkenalkan kepadanya. Akan tetapi mereka semua itu ditampiknya begitu saja! Ada yang kurang tampan, kalau sudah ada yang tampan katanya kurang pandai, atau lemah tidak pandai ilmu silat seperti dirinya sendiri.

"Wah, kalau sampai sekali ini ia mau menjadi jodoh Lee Song Kim, perwira muda itu, hatiku akan girang sekali. Kebetulan malah kalau Lee Song Kim itu bukan bangsawan dan sudah tidak mempunyai Ayah ibu, dia malah bisa tinggal di sini bersama Hiang, dan menemani aku. Aha, betapa nikmatnya hidup begitu, apalagi kalau dapat menimang cucuku!"

Akan tetapi, kembali pangeran tua itu kecewa. Ketika dia mengemukakan pendapatnya tentang pinangan yang dilakukan Pouw-Ciangkun untuk Song Kim sebagai calon suaminya, gadis itu mengerutkan alisnya.

"Ayah, aku belum mengenal betul orang dan belum tahu apakah sifat-sifatnya akan mencocoki hatiku."

"Tapi dia jelas tampan dan gagah, anakku. Namanya sudah dikenal di seluruh Kota Raja, baik oleh para bangsawan, pejabat maupun rakyat. Sudah puluhan kali dia menangkapi orang jahat. Dia seorang opsir muda berjiwa pendekar."

"Bagaimanapun juga, aku harus mengenal wataknya dulu, Ayah."

"Jadi engkau tidak keberatan kalau untuk kuperkenalkan?"

"Tentu saja tidak. Kalau berkenalan saja, dengan siapapun aku tidak keberatan."

Demikianlah, opsir Lee Song Kim diundang dan diperkenalkan, dan menurut penglihatan Ceng Hiang, memang Song Kim seorang pemuda yang baik sekali, sikapnya sopan, peramah, wajahnya tampan, pengetahuannya luas.

Hanya Satu hal yang belum diketahuinya benar, yajtu tentang ilmu silatnya walaupun dalam percakapan, pemuda itu juga luas pengetahuannya dalam hal ilmu silat.

Setelah mendengar dari Kiki bahwa pemuda itu adalah suheng dari Kiki yang ia tahu amat lihai, rasa sukanya makin besar.

Hati Song Kim berdebar penuh kegembiraan ketika sore hari itu dia menerima undangan dari Ceng Hiang!

Bukan dari Ayah gadis itu seperti biasa, melainkan dari gadis itu sendiri secara langsung, dengan mengirim utusan!

Wah, agaknya besar harapannya kini, pikirnya gembira.

Dia lalu berdandan sebaik mungkin, menyisir dan meminyaki rambutnya sampai mengkilap, memakai pakaian terindah dan memakai pula minyak wangi.

Dengan dandanan yang tentu akan menjatuhkan hati setiap orang wanita, dia tersenyum-senyum dan pergi berkuda menuju ke gedung tua tempat tinggal Ceng Hiang!

Dapat dibayangkan betapa girang hatinya ketika yang menyambut kedatangannya adalah Ceng Hiang sendiri.

Gadis itupun nampak amat manisnya, apalagi dengan pakaian yang ketat dan ringkas, nampak betapa bentuk tubuhnya amat indah.

"Maaf, Lee-Ciangkun, Ayah tidak dapat keluar menemuimu karena dia sedang sibuk dengan kitab-kitab kuno yang baru didapatnya dan dibawanya dari utara,"

Kata Ceng Hiang. Song Kim menjura dengan sopan.

"Ayahmu adalah seorang sasterawan terbesar untuk jaman ini, nona, maka saya tidak merasa heran kalau di antara kitab-kitabnya, dia merasa seperti berada di sorga."

Seperti kalau aku berada di dekatmu, demikian bisik hatinya sambil menatap wajah yang amat cantik itu penuh kagum.

"Pula, yang mempunyai kepentingan denganmu memang aku, Ciangkun. Aku mempunyai sedikit urusan denganmu."

"Katakanlah, nona. Apa yang dapat kulakukan untukmu? Biar harus menerjang lautan api atau menyelam ke dasar samudera, biar harus mengorbankan nyawa, akan saya lakukan untuk membantumu, nona."

Ceng Hiang tersenyum.

Laki-laki ini memang hebat, pandai sekali bermanis muka dan merayu, dan betapa mudahnya menjatuhkan hati kepada seorang pemuda seperti ini, pikirnya.

Akan tetapi ia melihat semua ketampanan dan baik itu sebagai suatu keadaan lahiriah belaka, seperti pakaian atau kedok.

Ia belum dapat melihat apa yang berada di balik kedok itu.

Sudah berkali-kali, semenjak pinangan itu, dengan kata-kata halus atau senyum dan isyarat melalui pandang mata, pemuda ini menjelaskan cinta kasihnya yang besar dan meluap-luap terhadap dirinya.

Sekarangpun, kalau tidak mencinta, mana ada orang mau bersikap mengorbankan nyawa untuk dirinya?

"Tidak sehebat itu permintaanku, Ciangkun.

Aku hanya minta untuk dapat menguji kepandaian silatmu."

Song Kim pura-pura terkejut, walaupun sebenarnya hatinya girang bukan main.

Dia dapat menduga bahwa permintaan menguji kepandaian ini agaknya merupakan ujian terakhir untuk melihat sampai dimana tingkat kepandaiannya agar gadis ini tidak ragu-ragu menerimanya sebagai suami.

Dan dia merasa yakin akan dapat mengalahkan gadis ini dalam ilmu silat.

"Bagaimana nona mengajukan permintaan seperti itu? Lebih baik aku disuruh bertanding melawan harimaumu itu, atau dengan puluhan orang yang mengeroyokku. Bagaimana kalau aku sampai kesalahan tangan dan melukaimu? Luka sedikit saja akan membuat aku selama hidupku menyesal setengah mati."

Lagi-lagi kata rayuan maut, pikir Ceng Hiang sambil tersenyum.

"Jangan khawatir, aku dapat menjaga diri. Dan pula, bukankah kita hanya menguji kepandaian saja, bukannya berkelahi untuk saling membunuh?"

Song Kim memperlihatkan wajah seperti orang terpaksa.

"Baiklah, nona, kalau begitu. Akan tetapi aku sudah mendengar akan kehebatan ilmu silat nona yang menjadi pewaris dari ilmu silat keluarga Pulau Es, mungkin baru beberapa jurus saja aku sudah akan kalah."

Tentu saja batinnya Song Kim tidak berkata demikian.

Dia tahu bahwa kalau dia sampai kalah, makin tipis harapannya untuk diterima menjadi calon suami.

Dia harus menang, menang mutlak akan tetapi jangan sampai melukai nona manis ini.

"Mari, kuantar nona ke lian-bu-thia."

"Jangan di ruangan berlatih silat, Ciangkun,"

Kata Ceng Hiang cepat.

"Ayahku akan marah kalau mengetahui bahwa aku mengajakmu bertanding ilmu silat."

"Tidak di lian-bu-thia, lalu di mana, nona? Di kebun?"

"Juga tidak. Akan ketahuan para pelayan dan akhirnya Ayah akan tahu juga. Kita harus keluar dari rumahku, bahkan dari Kota Raja. Kita bertanding di tempat yang sunyi di luar Kota Raja."

Wah, jantung Lee Song Kim berdebar saking girangnya.

Berduaan saja dengan gadis ini di luar Kota Raja, di tempat sunyi!

Kesempatan yang amat baik untuk mendapatkannya, secara halus maupun kasar.

Akan tetapi pikiran itu segera diusirnya cepat-cepat.

Tolol kau , makinya.

Gadis ini akan diambil sebagai calon isteri.

Gadis ini adalah puteri pangeran, tak boleh disamakan dengan gadis-gadis dusun atau kota yang pernah diculik dan diperkosanya atau dijatuhkan dengan rayuannya, lalu ditinggalkan begitu saja setelah dia merengguk kepuasan.

"Baiklah, nona. Aku hanya mentaati semua perintahmu."

Ceng Hiang yang memang sudah (Lanjut ke

Jilid 29) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 29 mempersiapkan segalanya sebelum pemuda itu datang, lalu mengajaknya ke samping gedung dimana sudah ditambatkan dua ekor kuda.

Ia lalu mengajak Song Kim menunggang kuda dan tak lama kemudian, merekapun melarikan kuda keluar dari Kota Raja, menuju ke sebuah hutan kecil yang sunyi.

"Di hutan itu biasa aku berburu kelinci. Tempatnya sunyi dan aman kalau untuk mengadakan pibu (adu kepandaian)."

Setelah tiba di dalam hutan, di lapangan rumput yang cukup luas, mereka turun dari kuda dan menambatkan kuda mereka pada sebatang pohon.

Kemudian, Ceng Hiang lalu berjalan menuju ke tengah lapangan rumput, diikuti oleh Song Kim.

Bukan main, pikirnya.

Pinggul itu!

Setelah tiba di tengah lapangan rumput, Song Kim hampir saja tidak kuat untuk tidak merangkul dan merebahkan gadis itu di situ dan dipaksanya bermain cinta.

Akan tetapi ambisinya untuk mendapatkan kedudukan tinggi agar dia mempunyai cukup kekuasaan untuk kelak menyaingi Koan Jit dan merampas Giok-liong-kiam, lebih besar dari pada nafsunya.

Ceng Hiang membalikkan tubuh menghadapi pemuda itu.

"Nah, Lee-Ciangkun, sebelum kita mulai mengadu kepandaian, sekali lagi aku ingin mendengar, sebenarnya engkau ini murid siapakah?"

Song Kim mengerutkan alisnya.

Pertanyaan seperti itu tak suka dia mendengarnya.

Tentu saja tidak mungkin baginya untuk mengaku bahwa dia adalah murid dari Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia yang bahkan kini oleh pemerintah Ceng sudah dinyatakan sebagai pemberontak.

"Kalau aku tidak salah ingat, pernah saya bercerita di depan pangeran dan nona bahwa saya belajar ilmu silat dari orang tua saya sendiri yang kini telah tiada. Ilmu silat kami adalah ilmu silat keluarga."

Dia memandang tajam lalu melanjutkan.

"Mengapa nona menanyakan lagi hal itu? Pentingkah bagimu dari perguruan mana aku datang, nona?"

"Ah, tidak mengandung maksud apa-apa. Hanya banyak aku mendengar tentang jagoan-jagoan di dunia persilatan, maka aku ingin tahu apakah engkau bukan murid dari seorang di antara tokoh-tokoh yang pernah kudengar namanya."

"Nona tidak pernah atau jarang sekali merantau di dunia kang-ouw, bagaimana bisa mengenal nama tokoh-tokoh persilatan? Siapa saja di antaranya yang pernah nona dengar?"

"Bnyak sekali! Terutama tokoh-tokoh yang kini mengadakan pemberontakan-pemberontakan, banyak aku mendengar namanya. Bukankah atas jasamu pula, banyak tokoh kang-ouw yang sedang mengadakan rapat di hari ulang tahun Hai-tok telah disergap pasukan pemerintah? Jasamu itu sungguh besar sekali Lee-Ciangkun."

Wajah Song Kim agak berubah.

Tak senang dia diingatkan akan hal itu.

Memang dia sudah mengkhianati dan melaporkan gurunya sendiri, bukan sekali-kali karena dia membenci gurunya, melainkan karena dengan laporan itu, dia memperoleh dua keuntungan.

Pertama, dia berjasa pada pemerintah dan semakin dipercaya.

Kedua, makin banyak tokoh kang-ouw yang tewas, makin berkuranglah saingannya untuk memperebutkan Giok-liong-kiam.

"Hal itu sudah menjadi tugas kewajibanku, nona."

"Baiklah, mari kita mulai. Bersiaplah kau menerima seranganku, Ciangkun!"

Berkata demikian, Ceng Hiang lalu memasang kuda-kuda dengan berdiri tegak lurus, kaki kanan diangkat dan ditekuk, ujung kaki kanan menyentuh lutut kiri, tangan kiri dilingkarkan di depan dada dan tangan kanan menunjuk ke atas dengan jari-jari terbuka.

Jurus ini nampak gagah sekali dan kembali Song Kim terpesona.

Betapa cantik dan gagahnya gadis, ini pikirnya.

Dan diapun tidak mau kalah.

Dia memasang aksi dengan kuda-kuda yang kokoh kuat, kedua kakinya terpentang lebar dan kedua lutut ditekuk, kedua tangan mengepal di pinggang.

Kuda-kuda ini adalah kuda-kuda biasa yang kokoh dan dianggap merupakan kuda-kuda paling baik untuk menghadapi serangan lawan yang tangguh.

Diam-diam Ceng Hiang mengenal kuda-kuda yang kokoh itu, akan tetapi dara ini memang sudah tahu dan mendengar banyak tentang kelihaian Song Kim, maka iapun tidak mau bersikap sungkan lagi.

"Haiiittt..."

Ia berteriak sambil menyerang, menurunkan kaki kanan dan tiba-tiba kaki kirinya menendang sedemikian cepatnya, menotok ke arah pinggang kanan lawan, sedangkan tangan kiri yang tadinya diangkat tinggi-tinggi itu meluncur turun dan menotok ke arah pundak.

Istimewa sekali serangan yang merupakan totokan dalam waktu yang sama dengan ujung sepatu dan ujung tangan itu, di kedua tempat terpisah namun cukup berbahaya kalau mengenai sasaran dapat membuat lawan menjadi lumpuh seketika!

Lee Song Kim memang agak memandang rendah gadis ini.

Mana mungkin gadis yang demikian cantiknya, demikian halus dan lembutnya, puteri tunggal seorang pangeran, dapat memiliki kepandaian silat yang berarti?

Andaikata mewarisi ilmu silat keluarga Pulau Es sekalipun, latihannya tentu kurang sempurna.

Pikiran inilah yang membuat dia tetap tersenyum melihat datangnya serangan itu, walaupun diakuinya bahwa serangan itu istimewa, aneh dan cepat.

Diapun cepat menggerakkan kedua tangannya, dan dalam gerakan pertama ini saja sudah membuka rahasia wataknya tanpa disadarinya.

Dengan tangan kanan dia menangkis tendangan kaki gadis itu, dan tangan kiri menangkis totokan dari atas, akan tetapi bukan hanya menangkis begitu saja, melainkan menangkis dengan gerakan siap untuk menangkap sepatu lawan dan lengan lawan!

Dia memperhitungkan bahwa tangkisannya itu tentu akan membuat kaki dan tangan lawan melekat sebentar dan cukuplah baginya untuk memutar pergelangan tangan, dan baik sepatu maupun lengan lawannya tentu akan sudah dapat ditangkapnya.

Kalau dia mampu merampas sepatu itu dalam satu jurus, tentu gadis itu akan takluk dan malu, juga tunduk seketika.

"Duk! Plak!"

Memang dia berhasil menangkis tendangan dan totokan tangan, akan tetapi akibatnya sungguh di luar dugaannya.

Dia tadi hanya mengerahkan sebagian saja dari tenaga sin-kangnya, dengan kerahkan tenaga menyedot dan menempel karena dia tidak ingin menyakiti, apalagi melukai gadis itu.

Akan tetapi, pertemuan kedua lengannya itu seketika membuat kedua lengannya menggigil saking dinginnya, seolah-olah kedua lengannya itu dibenamkan ke dalam air es!

Dia sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu telah menguasai satu di antara ilmu-ilmu sin-kang yang luar biasa dari keluarga Pulau Es, yaitu sin-kang atau tenaga sakti yang disebut Soat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju)!

Tenaga ini selain amat kuat, juga mengandung hawa dingin yang selain dapat membuat lawan menggigil, kalau ilmu ini sudah dikuasai dengan sempurna, dapat pula membikin beku darah lawan sehingga terkena pukulan satu kali saja, lawan akan tewas dengan jantung membeku!

Begitu merasa betapa kedua lengannya menggigil, Song Kim mengeluarkan seruan kaget, mengerahkan sin-kangnya dan cepat meloncat jauh ke belakang dengan mata terbelalak saking kagetnya.

"Kenapa, Ciangkun?"

Ceng Hiang bertanya dengan senyum mengejek. Muka Song Kim berubah merah.

"Ah, sungguh luar biasa sekali. Aku sampai terkejut oleh kekuatan sin-kang nona yang amat hebat!"

"Karena itu jangan memandang rendah orang lain, Ciangkun. Nah, sambutlah serangan-seranganku."

Dan kini gadis itu tiba-tiba saja sudah bergerak, tubuhnya melayang seperti terbang ke depan, kedua tangannya membuat gerakan dengan jari-jari tangan seperti menulis corat-coret, membuat huruf-huruf tertentu di udara, akan tetapi karena Song Kim berada di depannya, maka otomatis corat sana coret sini itu merupakan serangan-serangan yang amat aneh dan mengandung angin yang mengeluarkan bunyi bercuitan!

Song Kim kembali terkejut setengah mati.

Ilmu siluman apalagi ini?

Tentu saja dia belum pernah menyaksikan, bahkan mendengarpun belum pernah, akan ilmu silat yang amat sakti dari keluarga Pulau Es, yaitu yang disebut Hong-in Bun-hoat (Ilmu Sastera Angin dan Awan).

Gerakan ilmu ini seperti orang menulis huruf-huruf di udara, dan memang sesungguhnya, jurus-jurus ilmu silat ini merupakan penulisan huruf-huruf tertentu yang tentu saja mengandung daya serang tertentu pula yang amat aneh!

Repot sekali Song Kim menghadapi serangan-serangan aneh ini, dan dia harus menggunakan kelincahan tubuhnya untuk berloncatan mengelak ke sana-sini, kadang-kadang menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Bahkan diapun berusaha untuk balas menyerang, karena dia kini tahu bahwa kalau dia tidak membalas, kalau hanya mengalah dan mempertahankan diri saja, jangan-jangan dalam beberapa jurus saja dia akan roboh!

Terjadilah pertandingan yang amat seru.

Memang Ceng Hiang hebat bukan main ilmunya, ilmu aseli dari keluarga Pulau Es, akan tetapi lawannyapun bukan orang biasa.

Lee Song Kim adalah murid tersayang dari Hai-tok, dan boleh dibilang hampir seluruh ilmu kepandaian datuk itu sudah dikuasainya.

Oleh karena itu, pertandingan itu berlangsung dengan amat serunya, akan tetapi perlahan-lahan, keaselian ilmu silat Ceng Hiang membuat Song Kim menjadi semakin kerepotan saja.

Padahal, Ceng Hiang baru mewarisi beberapa macam saja dari ilmu keluarga pulau Es.

Ia menguasai Soat-im Sin-kang, yaitu ilmu menghimpun tenaga sakti yang berhawa dingin, kemudian menguasai pula ilmu Silat Hong-in Bun-hoat yang berupa penulisan huruf-huruf di udara sambil menyerang, dan ketiga dikuasainya pula ilmu aneh yang disebut Pat-sian Mo-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa dan Setan)!

Ilmu ini dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan pedang, dan ini adalah merupakan penggabungan dari dua macam ilmu silat, yaitu Pat-san-kun (Silat Delapan Dewa) dan Pat-mo-kun (Silat Delapan Setan) yang dahulu telah tergabung menjadi ilmu silat aneh dari keluarga Pulau Es oleh Pendekar Super Sakti.

Pertandingan itu sudah berlangsung lima puluh jurus, dan tiba-tiba saja gadis itu mengeluarkan bentakan nyaring, akan tetapi tubuhnya mencelat ke belakang meninggalkan arena pertandingan.

Song Kim berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah, karena baju di pundak kirinya telah berlubang!

Kalau saja gadis itu menghendaki, tentu bukan baju itu yang berlubang, melainkan jalan darah di pundak itu yang tertotok, yang akibatnya dapat membuat lengannya lumpuh tertotok!

Akan tetapi dia memang cerdik.

"Astaga...! Sungguh hebat sekali ilmu kepandaian nona Ceng. Biarpun aku harus belajar lagi sampai seratus tahun, belum tentu aku mampu menandingi ilmu silat nona. Dimana di dunia ini ada ilmu silat yang mampu menandingi ilmu silat keluarga Pulau Es?"

Dengan kata-kata ini, selain memuji lawan agar senang hatiya, juga dia seperti hendak mengatakan biarpun kalau dia sampai kalah, hal itu adalah karena nona ini memiliki ilmu silat keturunan keluarga Pulau Es yang tidak ada bandingannya.

Jadi kekalahannya itu lumrah, bukan karena dia kurang lihai!

Ceng Hiang juga membalas penghormatan itu sambil tersenyum.

"Ah, Ciangkun pandai merendah dan mengalah saja. Ilmu silat Ciangkun memang hebat, dan terus terang saja, selama ini belum pernah aku bertemu tanding seperti Ciangkun, kecuali baru sepekan yang lalu ini aku bertemu tanding yang ilmu silatnya setingkat dengan tingkat Ciangkun."

Mendengar ini, Song Kim terkejut. Celaka, jangan-jangan nona ini menemukan seorang pemuda lain yang juga lihai, dan berarti dia mendapatkan saingan yang cukup berat.

"Wah, aku tidak percaya itu, nona. Selama ini, aku sendiri belum pernah menemukan tandingan yang seimbang dan baru nona yang benar-benar amat lihai dan dapat mengatasiku. Kalau benar ada yang lihai seperti nona katakan tadi, aku berani menghadapinya dan kalau aku kalah olehnya, aku tidak akan memperlihatkan muka di Kota Raja lagi."

Ucapan itu adalah ucapan seorang yang menahan malu karena kekalahannya tadi, juga karena dia khawatir mendapatkan saingan yang lebih lihai dari dia.

Kalau benar demikian, memang dia tidak ada muka untuk berada di Kota Raja lagi.

Lebih baik langsung saja ke Kanton dan mencari daya upaya di sana untuk merampas Giok-liong-kiam.

Kalau dia dapat mempersunting Ceng Hiang, bukan saja terlaksana idam-idaman hatinya memperisteri gadis yang cantik molek ini, akan tetapi juga kedudukannya akan meningkat tinggi dan sebagai mantu pangeran, tentu dia memiliki kekuasaan yang cukup untuk dipergunakan ke Kanton menundukkan Koan Jit dan memaksanya menyerahkan Giok-liong-kiam kepadanya.

Diam-diam Ceng Hiang sudah merasa tidak suka mendengar omongan dan melihat sikap Song Kim.

Kini, setelah mengadu ilmu, baru ia mulai melihat ciri-ciri pemuda itu yang tadinya agaknya tidak nampak atau disembunyikan.

Pertama, pemuda ini dalam perkelahian tadi memperlihatkan sikap sombong, memandang rendah kepadanya, dan juga tidak sopan karena ingin merampas sepatunya, hal yang kurang ajar sekali.

Kedua, pemuda ini tidak dapat mengakui kekalahannya dengan jujur, akan tetapi mempergunakan kecerdikan untuk memperkecil kekalahannya.

Dan ketiga, Song Kim yang baru saja kalah olehnya itu masih berani menyombongkan diri terhadap lawan-lawannya yang belum pernah diduganya siapa adanya.

Ini sudah dapat membuktikan kesombongannya, dan baru sekarang Ceng Hiang melihat segi-segi buruk pemuda itu.

Ia merasa beruntung sekali bahwa ia belum pernah menyatakan keinginannya untuk menyetujui kecondongan hati Ayahnya, belum pernah menerima pinangan pemuda itu.

"Benarkah begitu, Lee-Ciangkun? kau berhati-hatilah, orang yang kumaksudkan itu, yang memiliki kepandaian silat tinggi, pada saat ini berada di sini."

Bagaimanapun juga, tiga sifat yang tidak disukainya itu belum bisa membuktikan bahwa pemuda ini jahat.

Masih banyak sifat-sifatnya yang baik yang mengimbangi keburukannya itu.

Pemuda ini, demi kepentingannya sendiri, hanya berarti membohong dan suka memandang rendah orang lain karena tinggi hati, merasa telah memiliki ilmu silat yang tiada tandingannya.

Maka, ia hendak mempertemukannya dengan Kiki agar ia dapat melihat bagaimana sesugguhnya watak pemuda ini dan siapa sebenarnya.

Kalau hanya mendengar omongan Kiki saja, hal itupun belum ada buktinya dan siapa tahu kalau-kalau Kiki merasa sakit hati dan benci kepada suhengnya, tentu saja semua hal yang dibicarakan tentang suhengnya itu yang buruk-buruk belaka.

Karena itu, ia sudah mengatur siasat dengan Kiki seperti yang dibisikkannya di dalam kamar tidur mereka beberapa malam yang lalu.

"Benarkah dia berada di sini?"

Tentu saja Lee Song Kim terkejut sekali, akan tetapi dia memang tinggi hati. Belum pernah dia dikalahkan orang, dan di dunia ini tidak banyak yang memiliki kepandaian setinggi Ceng Hiang.

"Kalau benar, aku akan menghadapinya sekarang juga!"

"Baiklah, akan kupanggil orangnya ke sini!"

Setelah berkata demikian, Ceng Hiang bertepuk tangan tiga kali dan diam-diam Song Kim terkejut bukan main.

Ketika gadis itu bertepuk tangan, terdengar suara seperti dua buah benda keras bertemu.

Ini saja menandakan bahwa gadis itu benar-benar telah menguasai sin-kang yang amat kuat.

Terdengar suitan nyaring sebagai balasan, dan dari balik semak-semak belukar, meloncatlah seorang wanita.

Gerakannya demikian cepat dan tahu-tahu ia telah berdiri berhadapan dengan Lee Song Kim.

Pemuda itu cepat memandang dan wajahnya seketika menjadi pucat.

Kalau pada saat itu dia melihat yang muncul seorang iblis, belum tentu dia akan sekaget sekarang ini.

"Kau... sumoi..."

Katanya gagap dan seperti orang linglung, dia menoleh dan memandang kepada Ceng Hiang, lalu kepada Kiki, berganti-ganti seperti hendak bertanya, apa artinya semua ini.

"Benar, akan tetapi engkau tidak berhak menyebut sumoi kepadaku lagi. Lee Song Kim, engkau tentu mengira bahwa aku sudah mati di laut, bukan? Nah, sekaranglah tiba saatnya kita bertanding, satu lawan satu, tidak seperti dulu, kau mengandalkan jumlah yang lebih besar!"

Berkata demikian, gadis ini melintangkan sebuah tongkat yang tadi telah dipersiapkan lebih dulu di depan dadanya, dengan sikap menantang.

Tentu saja Song Kim merasa tidak enak sekali kepada Ceng Hiang.

Maka untuk membersihkan muka dan namanya, dia berkata membujuk.

"Sumoi, harap jangan bersikap begitu. Kuakui bahwa memang aku yang melaporkan rapat para pemberontak ketika suhu mengadakan pesta ulang tahun, juga aku mengaku bahwa aku membawa pasukan dengan perahu untuk menyerang perahu Bajak Naga Lautan. Akan tetapi, semua itu adalah tugasku sebagai seorang perwira, sumoi! "Aku harus menentang pemberontakan dan aku harus pula menentang para pembajak dan para penjahat lainnya. Yang bersalah adalah suhu dan kau sendiri, kenapa tidak meninggalkan kebiasaan lama, meninggalkan kejahatan dan kembali ke jalan benar dengan mengabdi kepada pemerintah dan mengamankan kehidupan rakyat jelata?"

Diam-diam Kiki dan juga Ceng Hiang merasa kagum.

Orang ini memang cerdik bukan main dan pandai sekali bicara.

Siapa saja, pihak luar, yang tidak tahu-menahu urusan dalam di antara mereka, tentu akan setuju sepenuhnya dan akan membenarkan pemuda itu.

"Lee Song Kim, tidak perlu engkau mengeluarkan kata-kata merayu. Aku menerima tugas dari Ayah untuk mencari tahu di mana tempat tinggalmu, dan Ayah sendiri yang akan datang untuk menghukummu sebagai murid yang murtad dan pengkhianat besar. Akan tetapi, jangan dikira bahwa aku takut menghadapimu. Tadi kau menantang aku melalui Enci Hiang. Nah, aku di sini, mari kira lanjutkan perkelahian kita dulu itu!"

Kalau saja di situ tidak ada Ceng Hiang, tentu Song Kim sudah marah sekali dan sudah menyerang bekas sumoinya, kalau mungkin menangkapnya hidup-hidup untuk dipermainkan dulu sebelum dibunuh, kalau tidak mungkin, langsung saja membunuhnya karena sumoinya merupakan orang berbahaya bagi hubungannya dengan Ceng Hiang.

"Sumoi, kita bersaudara seperguruan. Kalau engkau memang ingin menguji kepandaian dan hendak menyerangku, silahkan!"

Katanya dengan sikap gagah dan memang cerdik, karena seolah-olah Kiki yang memaksanya untuk bertanding!

Akan tetapi Kiki memang sudah tak dapat menahan kernarahannya lagi ketika bertemu dengan Song Kim, apalagi sejak tadi ia mendengarkan percakapan antara Song Kim dan Ceng Hiang.

Sebagai orang yang mengenal Song Kim sejak kecil, tentu saja Kiki mengenal segala yang tersembunyi di balik topeng tampan dan halus itu, dan ia tahu bahwa bekas suhengnya itu berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian dan menjatuhkan hati Ceng Hiang.

Ia tidak mau menerima kenyataan itu dan ia tidak akan merasa rela kalau sampai Ceng Hiang terjatuh ke tangan Song Kim.

"Lee Song Kim, lihat senjataku!"

Bentaknya, dan iapun sudah menyerang dengan tongkatnya.

Song Kim maklum betapa lihainya kalau sumoinya ini bersenjatakan tongkat.

Memang sebenarnya, keahliannya adalah bermain tongkat.

Tongkat suhunya amat dikenal di dunia persilatan.

Tongkat emasnya itulah yang mengangkat nama suhunya Hai-tok dan Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas) amat ditakuti lawan, di samping ilmu Silat Thai-lek Kim-kong-jiu.

Dia sendiripun mempelajari kedua ilmu itu, akan tetapi wataknya yang pesolek membuat dia mengganti tongkat dengan pedang.

Rasanya tidak berwibawa dan tidak gagah baginya kalau dia kemana-mana harus membawa tongkat.

Sebaliknya, kalau membawa pedang tentu nampak gagah.

Apalagi setelah dia menjadi opsir!

Karena tahu betapa lihainya Kiki kalau bersenjata tongkat, dia tidak berani menghadapinya dengan tangan kosong dan diapun mencabut pedangnya.

"Trangg! Cringgg...!"

Dua kali tongkat bertemu pedang, dan kini keduanya nampak berkelebatan dengan cepat sekali.

Dua gulungan sinar nampak saling belit dan kakak beradik seperguruan ini sudah saling hantam dengan amat sengitnya.

Ceng Hiang menyaksikan dari samping dan diam-diam merasa kagum.

Memang kedua orang itu hebat sekali dan andaikata ia tidak memiliki ilmu-ilmu yang dahsyat dari keluarga Pulau Es, ia sendiripun takkan mungkin dapat mengalahkan mereka ini.

Dua orang itu memiliki ilmu silat dari satu sumber dan keduanya memang berbakat.

Akan tetapi sekali ini, Song Kim merasa rugi.

Tentu saja permainan tongkat Kiki lebih hebat dari pada permainan pedangnya yang digerakkan berdasarkan ilmu Kim-kong-pang pula!

Ada beberapa bagian yang membuat dia kalah praktis, terutama karena dengan tongkat itu, Kiki dapat mempergunakan kedua ujung tongkat untuk menusuk, menghantam atau menotok jalan darah.

Sebaliknya, dengan pedang, Song Kim hanya mampu menyerang dengan ujung pedang saja, membacok atau menusuk.

Bagian gagangnya sama sekali tidak dapat dia pergunakan.

Apalagi di situ terdapat Ceng Hiang yang menonton, hal yang membuatnya menjadi gugup dan juga serba salah.

Lalu pikiran yang amat cerdik akan tetapi kejam menyelinap dalam hati Song Kim.

Kenapa dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk membunuh saja Kiki?

Dalam perkelahian adu kepandaian, apalagi kalau tingkat mereka seimbang, soal terluka atau mati bukanlah hal yang aneh!

Mereka sudah berkelahi tiga puluh jurus lebih dan dari permainan senjata mereka, mulailah gadis dapat mendesak suhengnya.

Walaupun untuk dapat mengalahkan Song Kim masih amat sukar, namun setidaknya ia sudah memperlihatkan bahwa pemuda itu tidaklah sehebat seperti bualannya.

Akan tetapi tiba-tiba ada sinar putih berkelebat dan tahu-tahu pemuda itu menubruk maju dengan pisau belati menyambar ke arah perut Kiki!

Ceng Hiang sendiri terkejut bukan main.

Akan tetapi Kiki dapat meloncat ke belakang dan gadis ini memang maklum bahwa suhengnya itu pandai memainkan sepasang pisau belati.

Tak disangkanya bahwa kini suhengnya yang sudah memegang pedang itu tidak malu-malu untuk membantu pedangnya dengau pisau belati di tangan kiri!

Agak terkejut juga Kiki, dan kini ialah yang terdesak ke belakang karena lawan sudah menyerang bertubi-tubi dengan pedang dan pisaunya!

Dan di pinggang pemuda itu masih ada sebatang pisau belati lagi.

Ceng Hiang merasa serba salah.

Untuk membantu, ia segan karena hal itu berarti suatu perbuatan curang.

Untuk mendiamkan saja, ia mulai merasa khawatir akan keselamatan Kiki.

Ia bermaksud untuk melerai saja, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki.

"Hemm, memang jahat sekali. Kembali kau ingin menghina wanita!"

Dan muncullah seorang pemuda yang entah dari mana datangnya.

Gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga, tahu-tahu dia telah berada di situ.

Seorang pemuda yang usianya tentu baru dua puluh tahun lebih sedikit, berpakaian sederhana seperti petani, kuncirnya hitam dan tebal melingkar di leher, wajahnya yang tampan itu amat sederhana, penuh dengan bayangan kehalusan budi dan kesabaran.

Melihat munculnya pemuda ini, Song Kim terkejut bukan main.

Dia mengenal pemuda yang pernah menggagalkan dia ketika dia hendak memperkosa Kiki di pantai laut dahulu itu!

Dan kini pemuda ini muncul, berarti pemuda ini akan membuka rahasianya dan celakalah dia.

Maka, melihat betapa Kiki agaknya juga mengenal pemuda itu dan gadis itu meloncat jauh ke belakang, dia lalu tiba-tiba saja menubruk ke kanan, ke arah pemuda itu dan membacokkan pedangnya ke arah leher pemuda itu, sedangkan pisau belatinya disambitkan ke arah dada!

Pemuda itu bukan lain adalah Tan Ci Kong!

Dia tadi melihat perkelahian antara dua orang itu dan segera mengenal bahwa yang diserang itu adalah Kiki, dan yang menyerang adalah pemuda yang dulu hampir memperkosa gadis itu.

Tentu saja dia marah dan segera menegur, tidak melihat bahwa tak jauh dari situ berdiri seorang gadis lain yang sedang nonton perkelahian hebat itu.

Ketika tiba-tiba, tanpa disangkanya, Song Kim menyerangnya, Ci Kong hanya mundur selangkah.

membiarkan pedang menyambar, lalu tiba-tiba dia menangkis dari samping, sedangkan pisau belati yang meluncur ke arah dada itu didiamkan saja, akan tetapi dia mengerahkan tenaga sin-kang melindungi dada dan lengan.

"Tak! Tak!"

Pedang itu terpental, tertangkis oleh lengan, sedangkan pisau belati yang mengenai dada Ci Kong juga runtuh ke atas tanah!

Bukan hanya Song Kim yang terkejut, melainkan Kiki dan Ceng Hiang juga kagum bukan main.

Terutama sekali Kiki.

Dia mengenal pemuda itu "hanya"

Cucu murid dari Siauw-bin-hud, jadi termasuk murid Siauw-lim-pai yang tidak tinggi tingkatnya, akan tetapi bagaimana dapat memiliki kekebalan yang demikian hebat?

Dara ini pernah mengenalnya, akan tetapi belum pernah menyaksikan kepandaiannya yang sungguh-sungguh.

Padahal ia sendiri tidak akan berani membiarkan pisau belati itu mengenai dadanya, maklum betapa kuatnya Song Kim, apalagi menangkis pedangnya.

Dan Ceng Hiang hanya bengong, tak pernah mengira bahwa dalam satu waktu saja, ia akan berkenalan dengan demikian banyaknya orang-orang muda yang amat lihai.

Akan tetapi, Song Kim bukan hanya terkejut, melainkan jerih sekali.

Bukan jerih melawan pemuda itu.

Akan tetapi kalau pemuda itu membuka rahasia, bukan saja Kiki akan semakin membencinya, gurunya juga akan marah, akan tetapi terutama sekali Ceng Hiang tentu akan membencinya!

Tidak akan ada harapan lagi untuk naik pangkat, apalagi memperisteri, Ceng Hiang.

Dan untuk melawan?

Wah, berat!

Baru melawan sumoinya saja, sudah amat sukar dia memperoleh kemenangan, apalagi di situ ada Ceng Hiang yang jelas lebih lihai darinya, dan pemuda tani itu juga memiliki kepandaian hebat.

"Ci Kong!"

Kiki sudah berteriak girang juga kagum karena tidak menyangka pemuda Siauw-lim-pai ini demikian tangguhnya.

"Apa maksudmu dia jahat dan menghina wanita?"

"Kiki, kau tidak tahu? Dialah laki-laki dahulu itu yang mengganggumu di pantai..."

Wajah gadis itu berubah pucat sekali, kemudian menjadi merah.

"Apa...??"

Matanya terbelalak dan membalikkan tubuh, siap untuk menyerang bekas suhengnya, akan tetapi begitu tadi Kiki mengajukan pertanyaan, Song Kim sudah melarikan diri dengan cepat tanpa pamit lagi, meninggalkan tempat itu.

"Iblis keparat... jahanam...!"

Kiki membentak.

"Hendak lari kemana kau ?"

Dan Kiki pun melakukan pengejaran.

Tentu saja Ceng Hiang terkejut dan juga mengejar.

Melihat betapa gadis cantik yang baru saja dilihatnya menjadi penonton itu mampu meloncat dan lari secepat itu, sejenak Ci Kong menjadi bengong, lalu dia menggeleng-geleng kepalanya.

"Wahh... di dunia begini banyak gadis-gadis cantik yang memiliki ilmu silat tinggi! Jangan-jangan pada suatu waktu, dunia ini akan dikuasai oleh wanita."

Dan diapun cepat melakukan pengejaran karena dia khawatir kalau-kalau Kiki akan terjebak oleh pemuda yang nampaknya tampan dan gagah, akan tetapi ternyata cerdik, curang dan juga jahat itu.

Dengan ilmunya berlari cepat, Ceng Hiang dapat menyusul Kiki dan ia berkata.

"Adikku, mari kita cari dia di gedungnya."

Baru Kiki teringat.

Tadinya ia sudah bingung karena bayangan pemuda jahat itu tidak nampak lagi.

Dan diam-diam Ceng Hiang terheran mengapa kedua mata adik angkatnya itu basah dan matanya berapi-api, jelas bahwa adiknya itu marah bukan main.

Karena mereka berdua berlari secepatnya, mereka tidak sempat bercakap-cakap, juga mereka tidak tahu bahwa tidak jauh di belakang mereka, Ci Kong masih terus lari membayangi mereka, melihat dan ingin melindungi dari jauh.

Melihat betapa puteri pangeran itu dan seorang gadis lain, juga seorang pemuda di belakang mereka, memasuki pintu gerbang sambil berlari cepat, para penjaga di situ memandang terheran-heran Akan tetapi tidak berniat bertanya, apalagi menegur.

Tidak ada prajurit yang tidak tahu siapa adanya Ceng Hiang!

Mereka tahu betapa lihainya puteri pangeran dan menganggap bahwa dara itu bersama dua orang kawannya yang juga lihai sekali dan dapat berlari secepat kijang-kijang muda.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di gedung tempat kediaman opsir Lee Song Kim, pemuda itu sudah terbang pergi.

Para penjaga di situ hanya mengatakan bahwa majikan mereka baru saja pergi membawa buntalan besar, bahkan perginya melalui pintu belakang!

Kiki hendak melakukan pengejaran, akan tetapi Ceng Hiang memegang lengan adiknya itu.

"Tak perlu dikejar, sukar sekali mencarinya kalau tidak tahu kemana dia pergi."

Mereka sudah berada di belakang gedung itu dan tidak nampak bayangan Song Kim. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki di belakang mereka.

"Memang tidak ada gunanya dikejar. Berkejaran di kota tentu bahkan akan menimbulkan kekacauan. Di tempat ramai ini amat mudah baginya sembunyi."

Ceng Hiang menengok dan melihat pemuda tani yang mengagumkan itu telah berdiri pula di situ.

Dara ini semakin kagum.

Pemuda itu tidak nampak lelah sama sekali, dan ia tadi juga tidak dapat melihat betapa pemuda ini membayangi mereka.

Betapa lihainya pemuda ini.

Mendengar suara Ci Kong, Kiki lalu membalikkan tubuhnya dan kini nampak ia menangis.

Biarpun tidak terisak-isak, akan tetapi kedua matanya merah dan masih ada air mata mengalir turun.

"Kenapa tidak dari dulu kau beritahu padaku bahwa dia yang melakukan itu!"

Bentaknya dengan nada suara marah dan memandang kepada pemuda itu dengan mata lebar dan mulut cemberut.

Agaknya dalam setiap saat, gadis ini bisa saja mendadak menyerang Ci Kong sebagai tempat peluapan kemarahannya.

Ci Kong mengembangkan kedua tangannya.

"Kiki, bagaimana aku dapat memberi tahu kepadamu kalau aku belum pernah mengenalnya. Tadi ketika aku melihat dia berkelahi denganmu, aku segera mengenalnya dan aku bahkan mengira kalau dia berkelahi denganmu karena urusan dahulu itu."

Kiki teringat dan tentu saja dara ini tak dapat marah lagi.

Memang, bagaimana Ci Kong dapat menceritakan siapa orangnya yang hendak memperkosanya kalau belum mengenal orang itu?

"Adikku, apakah yang telah terjadi antara engkau dan Lee-Ciangkun?"

Tiba-tiba Ceng Hiang bertanya karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua orang itu.

"Ciangkun, Ciangkun apa! Dia penjahat besar... aihh, malu sekali aku menjadi bekas sumoinya!"

Gadis ini membanting-banting kaki, dengan kemarahan meluap-luap, ia membayangkan semua yang terjadi.

Terkutuk!

Kalau begitu, laki-laki yang meraba-rabanya, yang menciuminya dan nyaris memperkosanya di perahu sebelum badai mengamuk itu tentu juga si jahanam itu!

"Dia itu suhengmu?"

Kini Ci Kong yang terheran-heran, sama sekali tidak mengira bahwa pria yang dahulu hendak memperkosa Kiki itu malah suhengnya sendiri!

Suheng macam apa begitu?

Akan tetapi dia teringat bahwa Kiki dan suhengnya itu adalah murid-murid Hai-tok, jadi tidaklah aneh kalau suheng itu hendak memperkosa sumoinya sendiri.

Perbuatan jahat apa yang diharamkan oleh orang-orang dari Empat Racun Dunia?

"Kiki, siapakah saudara ini dan apa artinya percakapan kalian ini?"

Kembali Ceng Hiang menuntut karena ia ingin tahu sekali.

Barulah Kiki teringat akan kehadiran Encinya itu, dan cepat ia merangkul Encinya dan kini tak tertahankan lagi ia menangis, menyembunyikan mukanya di pundak Ceng Hiang yang merangkul dan mengelus rambutnya.

Setelah meredakan tangisnya, tangis karena marah dan penasaran, Kiki lalu berkata.

"Enci, memang buruk sekali nasib adikmu ini..."

"Baik buruknya nasib hanyalah anggapan kita sendiri saja, adikku. Ceritakanlah, apa yang sesungguhnya pernah terjadi? Atau kalau engkau sungkan tidak menceritakan, akupun tidak akan memaksamu,"

Katanya halus dan lembut.

Sejak tadi, Ci Kong tertegun dan terpesona.

Dia tidak berani memandang langsung, akan tetapi setiap kali melirik kepada gadis yang dipanggil cici oleh Kiki itu, sinar matanya seolah-olah melekat dan sukar untuk dialihkan ke tempat lain!

Gadis itu begitu cantik jelita, begitu halus dan lembut, dan kata-katanya mengandung kebijaksanaan yang demikian mengagumkan.

"Enci, beberapa bulan yang lalu, aku dan suhengku itu oleh Ayah diperintah untuk meninggalkan Pulau Layar untuk mencari Koan Jit, orang yang telah merampas Giok-liong-kiam yang diperebutkan oleh semua orang kang-ouw."

Ceng Hiang mengangguk.

"Aku pernah mendengar tentang Giok-liong-kiam itu. Bukankah itu pusaka yang dicuri orang dari Thian-te-pai itu? Kalau tidak salah, pihak istana juga ikut berlumba untuk memperebutkan."

"Benar. Giok-liong-kiam terampas oleh Koan Jit murid pertama dari Thian-tok. Kami, yaitu aku dan bekas suheng itu, berebut siapa yang akan melaksanakan tugas merampas pusaka itu dari tangan Koan Jit. Dan aku mendahului Lee Song Kim itu, malam-malam aku meninggalkan pulau dan naik perahu. Akan tetapi, sungguh tak kusangka, di tengah malam tiba-tiba ada orang menotokku sehingga aku roboh tak berdaya.

"Karena sama sekali tidak mengira ada orang dapat naik ke perahuku di tengah lautan, maka aku dapat dirobohkan. Dan dia... dia... hampir saja dapat memperkosaku. Untung ketika itu tiba-tiba datang badai mengamuk, dia tidak dapat melaksanakan niatnya yang terkutuk, dan aku lalu diikatnya di tiang layar perahuku.

"Akan tetapi badai sedemikian hebatnya sehingga perahu itu membentur batu karang, pecah dan tenggelam. Untung aku diikat di tiang layar sehingga aku tidak ikut tenggelam. Ombak mempermainkan diriku setengah malam, dan menjelang pagi aku terdampar di pantai."

Ceng Hiang mendengarkan penuturan adik angkatnya dengan jantung berdebar tegang dan ia memandang adiknya itu dengan sinar mata penuh iba.

"Lalu bagaimana, adikku yang malang?"

"Celakanya, Enci. Ketika aku terdampar, jahanam keparat Lee Song Kim itupun sudah tiba di pantai itu! Dan kembali dia... dia bermaksud untuk memperkosaku!"

"Jahanam busuk!"

Ceng Hiang ikut mendamprat, akan tetapi makiannya itu terdengar barusan sama sekali berbeda dengan makian Kiki yang kasar penuh hawa amarah dan kebencian.

"Aku terbelenggu di tiang layar dan tidak berdaya, Enci. Andaikata hal itu terlaksana, aku tentu akan bunuh diri. Akan tetapi tiba-tiba saja muncul dia ini yang menyelamatkan aku. Dia menyerang Song Kim, dan agaknya karena Song Kim tidak mampu mengalahkannya, dia melarikan diri, si pengecut jahanam!"

"Bukan kalah dariku, Kiki, melainkan sekarang aku dapat menduga, pada waktu itu matahari sudah hampir keluar dan tentu dia takut kalau-kalau engkau akan mengenalinya,"

Kata Ci Kong.

"Benar!"

Kiki menepuk paha sendiri.

"Wah, sungguh jahanam itu penuh tipu muslihat! Untung engkau tadi muncul, Ci Kong, kalau tidak, sampai detik inipun tentu aku tidak pernah menyangka bahwa dialah jahanam busuk malam itu!"

"Adikku Kiki, kenapa sejak kita bertemu, engkau tidak pernah bercerita tentang peristiwa itu kepadaku?"

Tiba-tiba Ceng Hiang bertanya, nada suaranya penuh teguran.

"Ah, aku malu, Enci. Biarpun aku belum ternoda, akan tetapi aku malu untuk menceritakan kepadamu."

"Kiki, aku tidak mengira bahwa engkau mempunyai seorang kakak perempuan. Nona, terimalah hormatku, tadi aku melihat betapa nona dapat berlari cepat secara luar biasa sekali, dan aku mengerti bahwa ilmu kepandaian nona tentu lebih hebat dari pada Kiki atau aku sendiri. Kenapa nona tadi tidak turun tangan menghajar orang itu?"

Kini Ci Kong yang bertanya kepada Ceng Hiang sambil mengerutkan alisnya.

Gadis ini luar biasa, dan jelas lihai, akan tetapi dia merasa heran mengapa tadi membiarkan Kiki didesak oleh Song Kim.

Kiki tertawa dan itu tandanya bahwa dara ini sudah melupakan kemarahannya.

Memang, seorang gadis lincah jenaka seperti Kiki, wataknya mudah berubah seperti angin.

Bisa saja sebentar menangis, sebentar tertawa, mudah marah lalu berbalik ramah.

"Hi-hik, engkau hanya tahu ekorrya tak tahu kepalanya, Ci Kong. Yang kau kira kakak perempuanku ini memang benar Enciku, akan tetapi Enci angkat. Ia ini adalah puteri..."

"Hushhh, jangan mengangkatku terlalu tinggi, Kiki..."

Kata Ceng Hiang dan tiba-tiba mukanya berubah merah.

"Ci Kong, Enci Hiang ini adalah puteri tunggal dari Pangeran Ceng Tiu Ong, seorang pangeran tua yang arif bijaksana, sasterawan besar, dan mereka, Ayah dan anak itu tidak menyetujui penjajahan dan penindasan. Hebat, bukan? Dan biarpun Ayahnya seorang sasterawan yang hanya pandai membaca menulis, bahkan ahli sastera kuno, akan tetapi jangan mengira Enciku ini yang kelihatan halus lembut seorang lemah! Wah... kepandaiannya tentang silat... selangit deh!"

"Hushhh..."

Kembali Ceng Hiang mencela akan tetapi tidak melanjutkan dan tersenyum malu.

Aneh sekali, baru sekarang gadis ini merasa girang dipuji-puji di depan orang!

"Kau tahu, Ci Kong, dara cantik jelita seperti bidadari di depanmu ini siapa?

Ia adalah pewaris ilmu-ilmu silat dari keturunan keluarga pendekar Pulau Es!"

Tentu saja Ci Kong menjadi kaget bukan main. Cepat dia menjura dan berkata.

"Ah, harap Lihiap (pendekar wanita) sudi memaafkan kalau saya bersikap kurang hormat karena tidak tahu bahwa Lihiap adalah murid keluarga Pulau Es!"

Wajah cantik itu menjadi semakin merah, dan Ceng Hiang membalas penghormatan pemuda itu dengan menjura.

"Ah, Taihiap (pendekar besar) bersikap terlalu sungkan dan memuji diriku terlampau tinggi. Ini semua gara-gara adik Kiki yang nakal ini!"

Kiki tertawa dan bertepuk tangan.

"Hi-hik, yang seorang Lihiap, seorang lagi Taihiap, sungguh cocok sekali!"

Melihat betapa kedua orang itu menjadi semakin kikuk oleh godaannya, Kiki berkata.

"Kita adalah saudara dan sahabat, merupakan orang-orang sendiri. Kalian jangan begitu sungkan dengan sebutan yang menyanjung seperti itu. Enci Hiang, aku begitu bertemu dan berkenalan dengan Ci Kong, kami langsung saja menyebut nama masing-masing. Dan begitu kita saling jumpa, bukankah di antara kita juga sudah akrab? Kenapa kalian begini sungkan? Enci Hiang, Tan Ci Kong ini adalah seorang murid yang lihai sekali dari Siauw-lim-pai."

Ceng Hiang yang merasa semakin malu oleh godaan adiknya, untuk menutupi rasa kikuknya, lalu berkata.

"Kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi."

Ci Kong menarik napas panjang.

"Sudahlah, nona Ceng, adik Kiki memang benar. Di antara kita tidak perlu sungkan-sungkan dan saling memuji. Yang penting, harap kalian waspada dan hati-hati sekali terhadap orang yang ternyata adalah suheng sendiri dari Kiki. Siapakah nama suhengmu itu, Kiki...?"

"Tidak sudi aku mempunyai suheng macam dia! Dia sekarang bukan suhengku lagi, melainkan musuhku. Namanya adalah Lee Song Kim, dan kalau dapat berjumpa lagi dengannya, aku akan membunuhnya! Aku akan mencarinya!"

Ceng Hiang mengerutkan alisnya dan memegang lengan adiknya.

"Jangan, adikku. Dia memiliki kedudukan yang baik dan kuat, menjadi orang kepercayaan panglima kerajaan, bahkan dia sudah diperkenalkan kepada Ayah. Kalau engkau memusuhinya dengan bertarung, kemudian diketahui bahwa engkau adalah puteri angkat Ayah, maka tentu Ayah akan terlibat. Seorang diri saja memusuhi dia yang mempunyai pasukan besar, tak mungkin engkau akan berhasil."

"Apa yang dikemukakan nona Ceng ini memang tepat dan engkau harus bertindak dengan hati-hati, jangan sembrono, Kiki,"

Kata pula Ci Kong.

"Kau sudah dicap pemberontak-pemberontak, dan orang itu memiliki kedudukan di dalam pasukan pemerintah. Tentu engkau akan celaka dan tidak berhasil kalau berusaha sendiri untuk membasminya. Diperlukan kekuatan yang besar dan perhitungan yang matang."

Kiki yang mengepal tinju ketika menyatakan hendak mencari dan membunuh bekas suhengnya itu, menjadi lemas kembali.

"Baiklah, aku akan lapor kepada Ayah, karena memang Ayah sendiri yang akan turun tangan menghukum murid murtad itu."

Ci Kong lalu berpamit dari dua orang gadis itu.

Ceng Hiang mengajak Kiki pulang ke gedungnya, dan mulai hari itu, dengan tekun Kiki mempelajari kitab Hui-thian Yan-cu yang sudah diterjemahkan dengan jelas oleh Pangeran Ceng.

Setelah ia mengerti benar, baru ia membawa kitab itu dan meninggalkan gedung keluarga Pangeran Ceng, untuk pulang ke Pulau Naga.

Sang pangeran yang merasa suka kepada puteri angkatnya itu, memberi banyak nasihat agar gadis itu berhati-hati dan jangan menuruti nafsu dan keberanian saja dalam usaha perjuangan menentang pemerintah lalim dan pasukan orang kulit putih.

Ceng Hiang yang juga amat mencinta Kiki, merasa kehilangan dan minta adik angkatnya itu berjanji bahwa Kiki akan segera kembali ke gedung keluarga Ceng itu.

"Kau perempuan sialan, membikin orang menjadi malu saja!"

Entah berapa kali sudah Kakek itu mengomel panjang pendek kepada gadis yang berjalan di sampingnya itu.

Gadis yang berkulit putih, bermata biru dan berambut kuning emas itu tidak pernah membantah, hanya berjalan dengan langkah lebar mengimbangi langkah Kakek itu sambil menundukkan mukanya.

Ia adalah Diana, dan Kakek yang marah-marah kepadanya itu adalah San-tok.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika diajak berkunjung ke kuil untuk mengadakan pertemuan dengan Siauw-bin-hud dan Tee-tok, Diana melihat Ci Kong, dan gadis ini yang tidak dapat membendung luapan rasa girang dan terima kasihnya, telah memperlihatkan rasa girangnya secara spontan seperti kebiasaan bangsanya, ia merangkul dan mencium Ci Kong di depan orang banyak.

San-tok yang memang tadinya tidak senang kepada gadis yang dianggapnya selalu merupakan gangguan ini, menjadi semakin marah dan kini di sepanjang perjalanan dia mengomel terus.

"Engkau telah mencoreng arang di mukaku, di depan banyak orang. kau melakukan hal yang tidak sopan dan sekarang masih berani mengikuti aku. Apakah kau minta aku turun tangan membunuhmu?"

"Aku adalah murid suhu, kalau tidak mengikuti suhu, habis mengikuti siapa?"

Diana akhirnya berkaca sambil memandang wajah Kakek itu dengan sinar matanya yang tajam.

Melihat sepasang mata lebar berwarna kebiruan itu menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun juga, San-tok yang biasanya amat peramah suka senyum-senyum sendiri itu, kini cemberut dan membuang muka.

"Aku tidak sudi mempunyai murid seperti engkau!"

"Akan tetapi suhu sudah berjanji, dan aku tidak percaya seorang sakti dengan kedudukan seperti suhu akan mau melanggar janji sendiri."

San-tok merasa kewalahan dan menjadi semakin uring-uringan.

"Janji apa! Huh, kau membikin aku malu. kau tahu, Ci Kong itu adalah calon jodoh Lian Hong, dan engkau menciuminya di depan orang banyak! Celaka!"

Diam-diam Diana terkejut mendengar ini dan memang wajah Kakek itu dengan sinar mata tidak percaya.

"Ah, suci Lian Hong tidak pernah bicara tentang itu, Suhu. Kurasa tidak ada pertalian cinta di antara mereka..."

"Persetan dengan cinta! Aku menghendaki muridku itu berjodoh dengan Ci Kong, dan itu merupakan suatu hal yang tidak boleh dibantah, dan engkau telah menciumi Ci Kong begitu saja!"

Diana memiliki watak yang keras dan berani.

Kalau saja tidak mengingat bahwa ia sudah menjadi murid Kakek ini, tentu semua ucapan dan sikap Kakek itu akan dicela dan dibantahnya.

Kini, mendengar akan pendapat Kakek itu yang agaknya hendak memaksa Lian Hong berjodoh dengan Ci Kong, iapun merasa penasaran.

"Suhu, perjodohan tanpa cinta hanya akan mendatangkan sengsara! Dan tentang perbuatanku mencium Ci Kong itu, hanyalah merupakan luapan kegembiraan hatiku bertemu dengan orang yang pernah menyelamatkan aku. Apa sih artinya ciuman tanda terima kasih seperti itu? Kurasa kulit pipinya tidak lecet dan tidak akan ternoda atau berkurang!"

Hampir saja San-tok tertawa mendengar ini, dan diapun termenung.

Dia teringat bahwa biasanya diapun tidak perduli akan segala hai mengenai tata susila dan sopan santun.

Memang, dicium begitu saja tidak ada artinya, Ci Kong masih tetap utuh.

Kalau dulu hal seperti terjadi, tentu dia malah akan tertawa geli.

Akan tetapi sekarang, kenapa dia meributkan soal sepele?

Sejak dia berhubungan dengan Siauw-bin-hud, sejak dia ingin menjadi orang baik, ingin menjadi seorang pejuang dan patriot, tiba-tiba saja dia kini meributkan soal sopan santun sepele!

Dan dia merasa malu kepada diri sendiri.

Rasa malu ini ditutupinya dengan kemarahan besar.

"Sudahlah, jangan cerewet. kau pergilah, jangan mengikuti aku lagi, atau kalau engkau nekat, akan kubunuh kau ?"

"Kalau suhu hendak membunuh aku yang tanpa dosa, silahkan. Sejak dulupun, kalau suhu mau membunuhku, aku tidak akan dapat membela diri."

Sepasang mata San-tok mencorong menatap wajah gadis itu, dan melihat betapa sinar mata yang bening itu penuh keberanian ditujukan kepadanya, bukan sekedar membual atau menggertak, dia semakin mendongkol.

Gadis ini tidak dapat digertak, pikirnya.

"Tolol! Kalau aku pergi meningalkanmu, apa kau mau menyusulku?"

"Terserah kepada Suhu. Aku akan tetap mengejar. Kalau suhu hendak melanggar janji, silahkan meninggalkan aku."

San-tok membanting kakinya.

"Sialan! Kenapa hidupku yang tidak berapa lama lagi ini terganggu oleh kehadiran orang seperti engkau ini Celaka! Nah, kau berjalanlah sendiri, biar dimakan binatang buas!"

Sekali berkelebat, Kakek itu lenyap dari depan Diana.

Sejenak gadis ini menjadi pucat dan bingung.

Akan tetapi teringat akan nasihat Lian Hong bahwa menghadapi seorang Kakek luar biasa seperti guru mereka itu, Diana harus keras hati dan tahan ujian!

Maka, kini iapun memberanikan hatinya dan melangkah terus menuju ke utara, Karena ia sudah tahu bahwa gurunya bertempat tinggal di puncak Gunung Naga putih, sebuah di antara puncak-puncak Wu-yi-san.

Kalau perlu, ia akan menyusul suhunya, pergi seorang diri ke puncak itu, kalau tidak mati dimakan binatang buas di tengah jalan.

San-tok tidak pergi jauh, melainkan bersembunyi untuk melihat bagaimana sikap gadis itu setelah ditinggalkan.

Akan tetapi dia melihat betapa Diana dengan sikap penuh keberanian, masih melanjutkan perjalanan menuju utara!

Lambat atau cepat, akhirnya tentu gadis itu akan tiba juga di puncak Naga Putih menyusulnya!

Tentu gadis bule ini sudah tahu akan tempat tinggalnya dari Lian Hong!

Dia lalu mempunyai akal dan sambil menahan ketawa, San-tok lalu mendahului Diana, lalu bersembunyi ke dalam semak-semak belukar yang akan dilalui gadis itu.

Diana melangkah terus dengan cepat, sambil menggigit bibirnya bertekad untuk berjalan terus dan baru berhenti kalau kakinya sudah mogok.

Ketika ia tiba di dekat sekelompok semak belukar yang rimbun, tiba-tiba saja terdengar gerengan keras sekali dan semak-semak itu bergoyang keras!

Tentu saja gadis itu terkejut bukan main, ia menjerit kecil.

Diana berteriak, akan tetapi lalu teringat bahwa San-tok tidak berada di situ, maka iapun lalu melarikan diri tunggang-langgang.

Ia merasa yakin bahwa ada binatang buas yang amat berbahaya dalam semak-semak itu dan ia tidak perduli lagi ke arah mana ia lari.

Yang penting adalah menyelamatkan diri sebelum binatang itu keluar.

Setelah gadis itu berlari jauh, San-tok muncul dari dalam semak-semak dan tertawa bergelak, membayangkan betapa lucunya gadis itu tadi lari terbirit-birit!

"Rasakan kau sekarang!"

Katanya, dan melihat betapa Diana tadi melarikan diri ke kiri, berarti ke barat, dia merasa yakin bahwa gadis itu tentu sudah kehilangan arah dan tak mungkin akan dapat keluar dari hutan lebat itu.

San-tok lalu melanjutkan perjalanan, tidak tergesa-gesa, melainkan seenaknya karena hatinya merasa senang bahwa dia telah berhasil mengenyahkan Diana dari sampingnya.

Tidak ada lagi yang mengganggu dalam perjalanannya, dan diapun melanjutkan perjalanan seenaknya saja.

Tiga hari kemudian, karena kemalaman di jalan, terpaksa San-tok memasuki sebuah rumah kosong yang sudah hampir roboh, yang berdiri di tepi jalan di luar sebuah dusun.

Dia tadi berhasil menangkap seekor kijang dan mencuri seguci arak.

Sambil bersenandung, Kakek ini menikmati keadaannya waktu itu.

Dia membuat sebuah api unggun di ruangan belakang rumah rusak itu, memanggang paha kijang yang sudah diberinya bumbu sehingga panggang daging itu menyiarkan bau yang amat sedap.

San-tok yang sejak pagi tadi tidak makan apa-apa, mencium bau ini, memandang dengan mata haus dan air liurnya membasahi mulut.

"Suhu... aku... aku lapar...!"

San-tok meloncat dari tempat dia duduk di atas lantai dan dia menengok.

Matanya terbelalak ketika melihat tubuh Diana terguling roboh dan ternyata gadis itu telah roboh pingsan, tak jauh dari api unggun!

Melihat munculnya gadis ini, San-tok terkejut bukan main, akan tetapi juga rasa kagum menyelinap di hatinya yang keras.

Gadis bule ini benar-benar luar biasa sekali, pikirnya.

Bukankah tiga hari yang lalu sudah lari tunggang-langgang di dalam hutan itu, menuju ke barat?

Bagaimana mungkin kini dapat menyusulnya di pondok bobrok itu?

Dan diapun kini tertarik oleh kekuatan yang luar biasa itu.

Dihampirinya tubuh Diana dan memeriksa sebentar saja, tahulah dia bahwa gadis ini roboh pingsan saking lelah dan laparnya!

Pakaiannya compang-camping, juga rambutnya awut-awutan.

San-tok menarik napas panjang.

Tak dapat dia membohongi atau menyangkal hatinya sendiri bahwa dia semakin tertarik dan suka kepada gadis bule yang keras hati ini.

Tidak mengecewakan memiliki seorang murid seperti ini, pikirnya.

Dan diapun teringat akan janjinya kepada Lian Hong.

Muridnya yang amat disayangnya itu memesan dengan sungguh-sungguh agar dia tidak mengganggu Diana, agar dia melindungi gadis bule yang sudah diterimanya sebagai murid itu.

Dia lalu mengambil arak, menuangkan sedikit arak ke dalam mulut Diana dan gadis itupun siuman sambil terbatuk-batuk.

"Hemm, anak bandel. kau makanlah ini, dan minum arak ini!"

Kata San-tok.

Diana yang memang sudah kelaparan itu, menerima daging panggang dan makan dengan lahapnya, dan minum arak yang menghangatkan perutnya.

San-tok sendiri lalu makan daging panggang tanpa banyak cakap.

Terjadi perang di dalam hatinya.

Rasa kasihan sudah lama meninggalkan lubuk hati Kakek ini.

Hatinya beku dan keras.

Terhadap Diana, dia tidak merasa kasihan, hanya tertarik melihat betapa gadis ini memiliki kemauan yang demikian membaja.

Akan tetapi dia masih belum puas benar.

Memiliki murid seorang perempuan bangsa kulit putih tidak menyenangkan hatinya.

Tentu dia akan menjadi bahan kecaman dan cemooh dunia kang-ouw.

Kecuali kalau murid ini memang istimewa.

Dan dia harus menguji lagi Diana.

Dari tempat itu ke puncak Naga Putih tidaklah jauh lagi.

Mereka sudah tiba di kaki pegunungan Wu-yi-san.

Melalui perjalanan yang susah payah bagi orang biasa, dalam waktu tiga hari lagi tentu akan sampai ke sana.

"Bagaimana engkau bisa menyusulku ke sini? Apakah engkau mengenal jalanan?"

Tanya San-tok setelah gadis itu selesai makan dan kedua pipinya sudah memerah lagi tertimpa cahaya api unggun.

"Suci Lian Hong pernah menerangkan perjalanan ke Puncak Naga Putih kepadaku, Suhu."

Jawab Diana dengan sikap tenang.

"Hemm, aku tidak percaya engkau akan mampu mencapai Puncak Naga Putih. Nah, aku pergi!"

Berkata demikian, kembali San-tok meloncat dan lenyap dari situ.

Diana terpaksa melewatkan malam di rumah bobrok itu, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia sudah pergi meninggalkan tempat itu, tidak perduli walaupun kedua kakinya masih terasa sakit-sakit dan lelah sekali.

Tekadnya adalah mencapai Puncak Naga Putih atau mati di jalan!

Dengan menggunakan gin-kangnya yang luar biasa, jarak yang jauh itu ditempuh oleh San-tok dalam waktu semalam saja.

Pada keesokan harinya, dia sudah tiba di dalam guhanya di Puncak Naga Putih.

Dia sudah melupakan lagi Diana karena dia masih tidak percaya bahwa gadis itu akan mampu menyusulnya sampai ke situ.

Akan tetapi, tiga hari kemudian, ketika dia sedang duduk bersila di dalam guhanya, Diana muncul di depan guha.

"Suhu!"

Seru gadis itu dengan wajah berseri penuh kebanggaan dan kegirangan karena akhirnya ia mampu juga mencapai puncak tempat tinggal suhunya.

"Hemm, mau apa engkau menyusulku sampai ke sini?"

San-tok membentak dengan sikap acuh. Sampai waktu itu, Diana sudah mengenal benar watak Kakek yang aneh ini dan hatinya tidak tersinggung oleh sikap acuh itu.

"Suhu tentu belum lupa bahwa aku adalah murid suhu. Aku datang ke sini menyusul suhu untuk mempelajari ilmu silat seperti yang sudah suhu janjikan, dan menanti kembalinya suci Lian Hong."

"Heh, enak saja kau bicara. kau kira mudah mempelajari ilmu silat dariku? Engkau takkan kuat menahan, sukar sekali dan kau takkan mampu."

"Suhu, betapapun sukar dan sulitnya, akan kucoba."

"Latihannya berat sekali! Engkau tidak akan kuat!"

"Akan kujalani betapa beratpun."

Diana bertekad.

Kalau Lian Hong dulu mampu mempelajari ilmu dari Kakek ini, mengapa ia tidak?

Menurut Lian Hong, ia memiliki tubuh yang jauh lebih kuat dari pada wanita pada umumnya, dan memiliki daya tahan yang lebih besar.

Apa lagi pengalaman-pengalamannya selama ini, bekerja di sawah ladang, bekerja keras, tentu menambah keuletan dan daya tahan tubuhnya.

"Hemm, kalau begitu terserah. Kalau sampai engkau tidak kuat dan mati, itu salahmu sendiri. Nah, mulai hari ini, engkau harus setiap hari mengambil air dari sumber air di bawah puncak, memikul air itu ke puncak, dan juga mencarikan sayur bahan makanan untuk kita berdua. Kalau sampai engkau lalai dan kehabisan makanan dan minuman, engkau akan mati kelaparan..."

"Baik, suhu..."

Kata Diana dengan gembira.

Dan iapun mulai bekerja membanting tulang.

Ternyata tidaklah semudah yang diduganya.

Sumber air itu berada jauh di bawah puncak, di lereng yang terjal.

Membawa diri sendiri saja naik turun tempat itu amatlah sukarnya, apa lagi sambil memikul air!

Mula-mula, air sepikul yang dibawanya itu montang-manting ketika dipikul, dan sebagian airnya tumpah sehingga ketika ia tiba di puncak, ia hanya berhasil membawa air yang bersisa sedikit sekali.

Namun, gadis ini tidak pernah putus asa, dan dengan gigih ia mencoba terus.

Juga ia berhasil mendapatkan sayur-sayuran yang tumbuh jauh dari puncak, membawanya pulang dan memasak sayuran itu untuk ia dan San-tok.

Setelah bekerja selama hampir satu bulan, Diana sudah mulai dapat memikul air ke puncak dan sisa air setengah lebih!

Ia tidak lagi mengalami kesukaran dalam mencari bahan makanan maupun air.

Pada suatu sore, setelah bekerja hampir sebulan, Diana terpaksa berada di dalam guha, karena di luar hujan turun dengan derasnya, disertai kilat menyambar-nyambar.

Ia melihat suhunya duduk bersila dan timbul rasa penasaran di hati Diana.

Selama satu bulan, suhunya mendiamkannya saja, jangankan diberi pelajaran ilmu silat, diajak bicarapun tidak!

Ia merasa penasaran dan sekaranglah waktunya untuk menegur dan memprotes, pikirnya.

"Suhu..."

Tegurnya. Sampai tiga kali ia memanggil, barulah San-tok membuka matanya dan memandang dengan alis berkerut. Semenjak ada Diana, Kakek ini jarang tersenyum lagi.

"Ada apa lagi?"

Bentaknya.

"Suhu, sudah hampir satu bulan aku bekerja di sini, mengerjakan semua perintah suhu tanpa mengenal lelah. Akan tetapi selama ini, suhu belum memenuhi kewajiban suhu. Kewajiban sepatutnya dilakukan kedua pihak, bukan sepihak saja. Aku sudah memenuhi kewajibanku, memenuhi semua perintah suhu, akan tetapi suhu..."

"Aku? Berkewajiban? Eh, Diana, kewajiban apa yang ada padaku!"

Bentak Kakek itu marah.

"Kewajiban memenuhi janji suhu. Bukankah suhu sudah menerimaku sebagai murid? Mengapa suhu belum juga mengajarkan ilmu silat?"

"Huh, bocah tolol! Apa yang kuajarkan kepadamu selama sebulan ini jauh lebih bermanfaat bagimu dari (Lanjut ke

Jilid 30) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 30 pada kalau engkau belajar ilmu pukul tendang selama tiga bulan!

Dan kau masih mengomel bilang aku tidak mengajarkan apa-apa padamu?

Belajar ilmu silat tidaklah semudah yang kau duga.

Dan sekarang aku mau mengajarkan padamu ilmu yang luar biasa.

Mari!"

Kakek itu bangkit dan dengan girang.

Diana ikut pula bangkit.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika tiba-tiba gurunya menyambar lengannya dan menariknya keluar dari dalam guha, menerjang air hujan lebat.

Dan lebih kaget lagi hatinya ketika tiba-tiba gurunya memegang kedua pundaknya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang naik ke atas batu karang yang berada di depan guha.

Kakek itu meloncat lalu mendaki batu karang itu sambil membawa tubuh Diana, seolah-olah batu karang itu datar.

Padahal, batu itu meruncing dan menjulang ke atas!

Dan tidak mudah memanjat batu karang karena selain terjal juga amat licin.

Akan tetapi dalam waktu sekejap, tahu-tahu Kakek itu telah tiba di puncak, lalu meletakkan tubuh Diana di atas puncak.

"Nah, engkau bersila di sini dan berlatih samadhi!"

Katanya lalu diapun melayang turun kembali jauh di bawah, dan setelah tiba di bawah, Kakek itu memandang ke atas sambil tertawa bergelak.

Kemudian diapun masuk ke dalam guha, membiarkan Diana duduk bersila di atas puncak batu karang itu sambil berteriak-teriak dan menangis!

Diana merasa takut bukan main.

Hujan turun dengan lebatnya.

Air hujan yang menimpa muka dan tubuhnya yang tidak dapat terlindung pakaian yang koyak-koyak itu, seperti ribuan jarum menusuk-nusuknya.

Angin yang bertiup kencang seolah-olah mendorong-dorongnya agar jatuh dari atas puncak batu karang.

Dan belum lagi kilat yang menyambar-nyambar.

Mengerikan!

Diana menjerit-jerit memanggil suhunya dan menangis minta diturunkan.

Ia sendiri tidak mungkin turun dari situ.

Jangankan Diana, biar orang yang pandai ilmu silat sekalipun, takkan mudah turun dari tempat itu.

Sekali terpeleset, tentu akan jatuh dan tubuh akan menimpa batu-batu di bawahnya, tentu akan remuk!

Dapat dibayangkan betapa tersiksanya badan dan batin Diana.

Akan tetapi gadis ini segera melihat kenyataan.

Ia sudah ditaruh di situ, ini merupakan sebuah kenyataan yang sudah yang tak dapat lagi, baik oleh ia sendiri maupun oleh siapa juga!

Ia berada di puncak batu karang yang menjulang tinggi, di bawah siraman air hujan, tiupan angin keras dan ancaman kilat yang menyambar-nyambar.

Tak dapat di atasi dengan rasa tangis!

Juga ia tidak dapat turun sendiri.

Ratap tangis hanya akan melemahkan batinnya, dan kalau mempengaruhi tubuhnya, maka ia akan menjadi semakin lemah.

Rasa takut hanya datang karena ia membayangkan hal-hal yang mengerikan, membayangkan disambar kilat, membayangkan terjatuh ke bawah.

Kalau tidak membayangkan hal-hal itu, tidak ada lagi rasa takut!

Dan tersiksa hanya timbul kalau ia melawan dalam batinnya.

Mulailah ia merasa tenang dan ia membetulkan letak duduknya bersila.

Dari Lian Hong ia sudah mempelajari cara duduk yang benar dalam samadhi.

Ia lalu duduk bersila dengan baik, melipat kedua lengan di depan dada.

Pikirannya dibiarkan bebas dan bersatu dengan rasa di tubuhnya, tanpa ada tanggapan batin atau pikiran lagi.

Dirasakannya dengan penuh perhatian tiupan angin, jatuhnya air hujan menyiram tubuhnya, didengarkan bunyi kilatan guntur.

Dan sungguh aneh!

Karena pikirannya tidak membayangkan apa-apa lagi, lenyaplah segala kekhawatiran, hilanglah segala rasa takut!

Dan lebih aneh lagi, air hujan yang tadinya menyiksa di samping keruncingannya, kini terasa olehnya kesejukan yang luar biasa.

Tiupan angin terasa pula kenyamanannya, dan bunyi kilat menyambar-nyambar itu tidak begitu menakutkan lagi, bahkan menimbulkan rasa kagumnya karena kebesaran alam nampak jelas di sekitar dirinya saat itu.

Dan iapun mulai mengatur pernapasannya, duduk dengan diam seolah-olah menjadi bagian dari batu karang itu sendiri, menjadi puncaknya!

San-tok minum arak sambil tertawa-tawa.

Rasakan kau sekarang, pikirnya.

Besok pagi ia tentu akan merengek minta diturunkan dan dia akan mengajukan syarat, mau menurunkan asal gadis itu berjanji akan meninggalkan tempat itu dan selanjutnya tidak akan mengganggunya lagi!

Aha, akhirnya dia yang akan menang dan gadis yang berhati baja itu tentu dapat ditundukkan!

Karena hatinya merasa puas dan lega, malam itu San-tok tidur dengan amat nyenyaknya, dan pada keesokan harinya, baru setelah matahari naik tinggi, dia bangun dari tidurnya.

Segera dia teringat kepada Diana.

Tentu gadis itu kini sudah lemas karena ketakutan dan kalau dia keluar, tentu dara itu akan merengek minta ampun dan minta agar diturunkan dari tempat hukumannya!

"Ha-ha-ha, tikus cilik, pagi ini engkau akan betul-betul minta ampun!"

San-tok tertawa kemudian keluar dari dalam guhanya.

Akan tetapi, begitu dia keluar dari guha dan memandang ke arah batu karang meruncing itu, dia terbelalak kaget.

Dia tidak melihat seorang gadis yang menangis atau lemas atau atau merengek minta ampun!

Sebaliknya, dia melihat Diana duduk bersila di puncak batu karang itu, dengan tubuh tegak, kedua lengan terlipat di depan dada, dalam keadaan samadhi yang tenang!

Sama sekali tidak nampak takut, bahkan tubuh itu sedikitpun tidak gemetar, melainkan duduk diam seolah-olah tubuh itu bukan dari kulit daging lagi, melainkan pahatan batu pualam yang amat indah dan yang menjadi satu dengan puncak batu karang!

Demikian hebat dan indahnya pemandangan itu, membuat San-tok melongo dan dari mulutnya terdengar ucapan yang dilontarkan di luar kesadarannya.

"Hebat... indah sekali..."

Seolah-olah bukan Diana yang dilihatnya, melainkan hasil seni pahat yang amat luar biasa.

"Suhu..."

Panggilan ini mengejutkan hati San-tok, dan diapun cepat menoleh. Kiranya Lian Hong datang berlari-lari. Agaknya Lian Hong juga melihat tubuh Diana yang duduk bersila di atas batu karang itu.

"Suhu, kenapa dan bagaimana Diana bisa duduk bersila di sana?"

Pertanyaan itu mengandung teguran dan kekhawatiran.

San-tok tertawa.

Dia seorang yang amat cerdik.

Perlakuan yang diberikan kepada Diana itu untuk memaksa Diana menjadi jera dan tidak mengganggunya lagi.

Akan tetapi sekarang, Lian Hong sudah kembali dan tentu saja dia tidak dapat bertindak semaunya, ia terlalu sayang sehingga agak takut kepada murid yang dipeliharanya sejak kecil ini.

"Ha-ha-ha, dara bule itu berbakat sekali! Lihat, baru satu bulan ia sudah kuberi latihan samadhi di puncak batu karang itu, padahal dahulu, setelah kepandaianmu cukup tinggi baru engkau berlatih di situ."

"Suhu, berbahaya sekali berlatih di sana. Belum waktunya Diana diberi latihan seberat itu. Biar kuturunkan Diana!"

Berkata demikian, Lian Hong lalu memanjat batu karang itu dengan kesigapan seekor monyet.

Mendengar suara Lian Hong, Diana membuka matanya.

Begitu membuka mata, ia melihat betapa tingginya tempat ia duduk dan ia cepat memejamkan kembali kedua matanya.

Pikirannya yang kembali membuat bayangan yang menyeramkan, membuat ia ketakutan lagi.

Akan tetapi Lian Hong sudah tiba di dekatnya.

"Diana, mari kita turun. Nah, kau berpegang kepadaku dan mari kuajari bagaimana untuk dapat memanjat turun,"

Kata Lian Hong dengan tenang.

Ketenangan dan kesigapan Lian Hong membesarkan hati Diana dan dengan hati-hati ia lalu merangkak turun sambil berpegang kepada Lian Hong.

Akhirnya mereka tiba juga di bawah dengan selamat, disambut oleh San-tok yang tertawa-tawa.

Begitu tiba di bawah, Diana lalu merangkul Lian Hong dan terisak!

Lian Hong membalas rangkulan gadis bule yang telah menjadi sumoinya itu.

"Eh, Diana... kenapa engkau menangis?"

Lian Hong bertanya sambil melempar pandang mata tajam ke arah gurunya.

"Sumoi... aku... aku girang sekali melihat engkau pulang, Lian Hong suci! Aku aku rindu sekali padamu..."

"Hong Hong, bagaimana dengan tugasmu?"

Kakek yang merasa lega mendengar ucapan Diana yang sama sekali tidak menuntutnya itu, kini bertanya kepada Lian Hong.

"Sudah berhasil baik, suhu. Inilah pedang itu."

Lian Hong lalu mengeluarkan sebatang pedang dengan sarungnya yang sudah tua sekali dari balik jubahnya.

San-tok menerimanya dengan girang.

Pedang itu memang serupa benar dengan pedang Giok-liong-kiam yang palsu, yang mereka ambil dari Koan Jit.

Sebuah pedang kecil berukir tubuh naga, terbuat dari batu kemala yang warnanya hijau kemerahan.

Buatannya indah bukan main, jauh lebih indah dari pada yang palsu, walaupun bentuknya serupa.

"Ha-ha-ha, tak kusangka bahwa benda seperti ini menjadi rebutan orang sedunia!"

Kakek itu lalu membawa pedang Giok-liong-kiam ke dalam guha, sementara itu Lian Hong mengajak Diana untuk bertukar pakaian.

Berhari-hari lamanya Kakek San-tok sembunyi di dalam guhanya untuk meneliti pedang dan mencari rahasia yang disembunyikan.

Lian Hong yang mendapat kenyataan bahwa memang kini Diana telah memiliki keuletan dan kekuatan berkat gemblengan yang amat berat selama gadis bule itu berada di situ, mulai memberi latihan-latihan dasar ilmu silat kepada sumoinya, setelah memperoleh perkenan dari San-tok.

Tepat sepekan lamanya San-tok dengan tekun melakukan penyelidikan, dan pada suatu pagi, dengan gembira dia keluar dari guhanya.

Lian Hong dan Diana yang sedang berlatih silat segera menyambutnya dan ikut bergembira melihat betapa Kakek itu nampak girang bukan main.

"Sudah kudapatkan... sudah kutemukan rahasianya!"

Kakek itu bersorak sambil membuka lipatan kertas dengan hati-hati, karena kertas itu sudah kuning saking tuanya.

Dia berhasil menemukan kertas lipatan itu yang disembunyikan secara cerdik sekali di dalam gagang pedang yang berlubang.

Dua orang gadis itu segera mendekat dan ikut melihat apa yang tertulis di atas kertas berlipat itu.

Ternyata kertas tua itu memuat sebuah gambar pemandangan alam pegunungan.

Coretannya kasar dan tak dapat disebut lukisan yang baik, akan tetapi di situ terdapat tanda-tanda dan di puncak pegunungan itu terdapat sebuah kuil.

Huruf-huruf kecil yang terdapat di situ hanya menunjukkan ukuran jarak, tidak disebutkan gunung apa itu dan dimana tempat itu.

"Wah, wah... pembuat peta yang ceroboh sekali,"

Kakek San-tok mengomel, akan tetapi sepasang matanya bersinar-sinar penuh ketegangan dan kegembiraan.

"Suhu, agaknya kita harus mengenal sendiri pemandangan itu, tentu demikian maksud si pembuat peta tanpa menyebutkan dimana tempatnya, yang menujukan peta itu kepada orang-orangnya sendiri yang sudah mengenal lukisan pegunungan itu,"

Kata Diana yang ikut membantu memikirkan.

"Engkau benar, akan tetapi siapa dapat mengenal pemandangan pegunungan seperti ini? Di mana-manapun sama saja..."

"Nanti dulu, suhu!"

Tiba-tiba Lian Hong berkata dan memandang lebih teliti.

"Aku seperti pernah melihat pemandangan seperti ini. Lihat puncak yang rasanya ujungnya pecah menjadi tiga itu! Dan letak kuil itu... dengan sebatang pohon yang amat besar dan tua di belakangnya. Bukankah itu kuil Siauw-lim-si? "Aku masih ingat benar, ketika suhu mengajakku mengunjungi kuil itu dan bertemu dengan Locianpwe Siauw-bin-hud. Ketika kita berhenti di lereng untuk makan, kuil itu sudah nampak dari sana, dan aku melihat kuil itu penuh kekaguman karena teringat akan besarnya nama Siaw-lim-pai. Persis seperti dalam lukisan ini, Suhu!"

"Siauw-lim-pai...? Wah, wah... aku tidak ingat lagi. Akan tetapi, siapa tahu dugaanmu itu benar. Urusan besar ini tak dapat kulakukan sendiri. Biar aku akan mengajak Tee-tok dan Hai-tok untuk kuajak bersama-sama. Pusaka itu harus dapat kutemukan..."

Dengan gembira sekali, Kakek itu menyerahkan Giok-liong-kiam kepada Lian Hong.

"Aku sengaja menyuruh engkau yang mencari dan mengambil pusaka ini. Rahasia yang dikandungnya adalah pusaka yang akan kita sumbangkan untuk perjuangan, akan tetapi pedang ini menjadi hak milikmu. Jagalah baik-baik. Hari ini juga, aku akan berangkat mencari Tee-tok dan Hai-tok mencari pusaka itu. Hong Hong, engkau menanti aku di sini sambil melatih Diana.

"Kalau ia sudah menjadi muridku, setidaknya ia harus memiliki kekuatan dan kepandaian, jangan sampai kelak menjadi bahan ejekan orang bahwa ia sudah pernah berguru kepadaku. Ajarlah ia dengan keras agar ia cepat dapat menguasai ilmu-ilmu kita, walaupun tidak banyak."

Pada hari juga, San-tok meninggalkan Pegunungan Wu-yi-san.

Lian Hong pun semakin giat melatih ilmu silat kepada Diana yang belajar dengan tekun.

Dan memang, sebagai seorang kulit putih, Diana memiliki ketekunan dan keuletan yang mengagumkan, dan iapun berbakat sekali karena gerakan-gerakannya tidak kaku.

Hal ini mungkin dapat terjadi karena gadis ini telah menyelami kehidupan para petani di negeri itu.

Tata kehidupan yang sudah diselaminya itu membuat ia tidak merasa asing dengan kebudayaan di situ, dan pergaulannya dengan para ahli silat membuat ia mampu menerima pelajaran ilmu silat dengan mudah walaupun untuk dapat menguasainya, ia harus berlatih dengan giat dan tekun.

Beberapa hari setelah San-tok pergi, pada suatu pagi selagi kedua orang gadis itu berlatih silat, tiba-tiba terdengar suara halus.

"Ahai... kiranya Diana kini telah pandai bermain silat!"

Lian Hong cepat menoleh, demikian pula Diana, dan keduanya girang bukan main ketika mengenal siapa yang berseru itu.

"Kui Eng-ci..."

Lian Hong berseru girang.

"Wah, kau membikin aku merasa malu saja, Kui Eng!"

Diana juga berseru girang.

Lian Hong sudah mengenal baik gadis murid Tee-tok itu, bahkan ia pernah menolong Kui Eng ketika gadis itu tertawan oleh Koan Jit.

Juga Diana sudah berkenalan dengan Kui Eng ketika mereka bersama guru mereka berkunjung ke kuil dimana Siauw-bin-hud mengadakan perundingan dengan guru mereka.

"Enci Eng, angin baik apakah yang meniupmu sampai ke sini?"

Lian Hong bertanya sambil memegang tangan sahabatnya itu.

"Adik Hong, aku diutus oleh suhu untuk menemui suhumu. Dimanakah Locianpwe Bu-beng San-kai?"

Girang hati Lian Hong melihat betapa gadis itu menyebut gurunya Bu-beng San-kai, bukan San-tok.

"Suhu sedang turun gunung untuk mengunjungi gurumu, Enci Kui Eng!"

"Ahhh... sayang... aku tidak berjumpa dengan dia di perjalanan. Kalau begitu, perjalananku ini sia-sia belaka..."

"Ada kepentingan apakah, Enci Eng?"

"Suhu ingin sekali mendengar tentang hasil usaha gurumu menemukan pusaka Giok-liong-kiam yang aseli."

"Sudah kudapatkan, Enci!"

Karena tahu bahwa antara guru mereka terdapat kerja sama untuk perjuangan, Lian Hong lalu menceritakan dengan terus terang bahwa pedang Giok-liong-kiam telah ditemukannya dan suhunya telah pula mendapatkan peta yang tersembunyi di dalam gagang pedang.

"Peta itu menunjukkan tempat dimana tersimpan pusaka itu, Enci Eng. Dan karena suhu menganggap urusan itu amat penting, maka dia lalu turun gunung untuk mengadakan kerja sama dengan gurumu, juga dengan Locianpwe Hai-tok Tang Kok Bu."

Kui Eng ikut merasa girang mendengar cerita itu.

"Ah, mudah-mudahan saja guru-guru kita akan berhasil. Keadaan di tanah air kita sedemikian buruknya sehingga perlu kita semua menyumbangkan tenaga untuk mengusir penjajah Mancu dan juga..."

Kui Eng menghentikan kata-katanya dan melirik ke arah Diana. Diana tersenyum dan merangkul pundak Kui Eng.

"Kenapa berhenti? Biar kulanjutkan kata-katamu, Kui Eng. Kita harus mengusir penjajah Mancu dan orang-orang kulit putih! Jangan khawatir, aku sendiripun sama sekali tidak setuju dengan tindakan bangsaku.

"Mereka seharusnya menjadi tamu-tamu terhormat, menjadi rekan-rekan dalam perdagangan yang saling menguntungkan. Aku akan membantu kalian mengusir mereka kalau mereka masih bersikap seperti sekarang, menyelundupkan candu dan menduduki bandar-bandar besar dengan kekuatan kapal-kapal perang mereka!"

Lian Hong juga tersenyum.

"Jangan khawatir kepada sumoi Diana, Enci Eng. Biarpun ia berkulit putih, bermata biru dan berambut emas, namun hatinya bersih dan ia memiliki kegagahan."

Karena sudah terlanjur berada di situ dan mendengar bahwa San-tok sedang pergi mencari gurunya, Kui Eng lalu menerima undangan Lian Hong dan Diana untuk tinggal di situ selama beberapa hari.

Iapun ingin sekali menikmati keindahan tamasya alam di sekitar Pegunungan Wu-yi-san.

Terdapat suara keakraban yang mendalam di antara tiga orang gadis ini.

Setiap hari mereka berlatih silat, bercakap-cakap atau berjalan-jalan ke puncak-puncak lain dari pegunungan Wu-yi-san dengan penuh kegembiraan.

Sepekan lamanya Kui Eng tinggal di puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san, setiap hari nampak bergembira bersama Diana dan Lian Hong.

Hari ke delapan, iapun pamit untuk pulang karena khawatir kalau-kalau ia ditunggu-tunggu oleh suhunya.

Biarpun dengan hati berat, Diana dan Lian Hong menyetujuinya dan mengantarnya sampai ke lereng puncak itu.

"Ah, aku ingin agar engkau selalu dapat berada di sini bersama kami, Kui Eng. Senang sekali dekat dengan engkau yang manis dan gagah,"

Kata Diana. Kui Eng tersenyum.

"Engkaulah yang manis, Diana. Dan kelak engKau pun akan menjadi seorang gadis yang gagah perkasa. Mudah-mudahan saja kelak engkau dapat berguna bagi bangsamu, setidaknya dapat menginsyafkan bangsamu yang melakukan kelaliman di tanah air kami."

"Enci Kui Eng... kenapa tergesa-gesa amat? Menanti beberapa hari lagi di sini kurasa tidak ada salahnya,"

Kata Lian Hong.

"Hong-moi, kenapa engkau ingin bersenang saja? Bukankah tenaga kita dibutuhkan oleh tanah air dan bangsa? Kalau kita yang muda-muda ini hanya ingin bersenang-senang saja, lalu sampai kapan bangsa kita tercengkeram oleh penjajah? "Kurasa sudah terlalu lama kau m muda bangsa kita tertidur sehingga orang-orang Mancu itu seenaknya saja menjajah kita sampai turun-temurun. Aku harus cepat bertemu kembali dengan suhu dan secepatnya menghubungi teman-teman seperjuangan.

"Bukankah suhu kebagian tugas mengabarkan tentang kepalsuan Giok-liong-kiam yang berada di tangan Koan Jit itu agar mereka semua menghentikan perebutan pusaka itu? Nah, cukup sampai di sini saja kalian mengantar, selamat tinggal sampai jumpa pula!"

Akan tetapi pada saat itu, Kui Eng dan Lian Hong terkejut. Pendengaran mereka yang terlatih dan peka itu dapat menangkap suara orang berkelahi, jauh di bawah sana. Keduanya saling pandang.

"Ada perkelahian!"

Kata Lian Hong dan Kui Eng mengangguk.

"Apa yang kalian maksudkan?"

Tanya Diana yang tidak dapat menangkap suara perkelahian yang dilakukan oleh orang-orang pandai itu.

"Mari, sumoi, di bawah sana ada orang-orang berkelahi. Jangan-jangan suhu yang berkelahi, mari kita turun dan lihat!"

Lian Hong lalu merentangkan tangan Diana dan bersama Kui Eng menggandeng tangan diana turun dari lereng itu, menuju ke arah suara perkelahian.

Siapakah yang berkelahi di kaki bukit itu?

Seorang pemuda yang gagah perkasa sedang menghadapi pengeroyokan dua orang tosu (pendeta Agama To) yang juga lihai sekali.

Ci Kong, pemuda itu, setelah beberapa lamanya mewakili Siauw-bin-hud membujuk para pendekar dan perkumpulan silat yang besar untuk dalam keadaan sekacau itu mengadakan Persatuan dengan segala golongan untuk menghimpun kekuatan menghadapi penjajah dan orang kulit putih.

Kini menerima tugas dari suhunya untuk menghubungi San-tok, Tee-tok dan Hai-tok, untuk memberitahu bahwa Siauw-bin-hud kini hendak bertapa selama kurang lebih satu bulan.

Kakek ini memang sudah seringkali menerima getaran batin untuk melakukan tapa dan kini dia hendak bertapa untuk mencari cara terbaik untuk perjuangan kau m patriot.

Karena tempat terdekat adalah Wu-yi-san, maka dia lebih dahulu berkunjung ke gunung ini untuk menjumpai San-tok.

Akan tetapi, ketika ketika tiba di lereng pertama, dia bertemu deagan dua orang tosu.

Agaknya, dua orang tosu ini memang sudah lama bersembunyi di tempat itu, karena ketika Ci Kong lewat, mereka secara tiba-tiba muncul dari balik semak-semak, dan Ci Kong terkejut mendengar suara orang menegur.

"Orang muda, berhenti dulu!"

Dia menengok dan melihat bahwa yang tiba-tiba muncul itu adalah dua orang tosu yang usianya tentu tidak kurang dari enam puluh tahun.

Dia memandang penuh perhatian.

Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus berjenggot panjang, mengenakan jubah kuning dan di baju bagian dadanya terdapat lukisan bunga teratai putih.

Kakek ini memiliki sepasang mata yang sinarnya mencorong aneh.

Adapun tosu kedua bertubuh tinggi besar dengan perut gendut, mukanya bersih polos tanpa jenggot, rambutnya digelung ke atas.

Kakek ini juga berjubah kuning, jubah pendeta atau pertapa, dan di baju bagian dadanya terdapat lukisan pat-kwa (segi delapan).

Melihat lukisan-lukisan di dada kedua orang tosu itu, diam-diam Ci Kong terkejut.

Dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan dua orang tosu dari Pek-lian-pai (Perkumpulan Teratai Putih) dan Pat-kwa-pai (Perkumpulan Segi Delapan), dua buah perkumpulan yang menggunakan nama perjuangan, Akan tetapi di samping memusuhi pemerintah penjajah juga melakukan bermacam kejahatan yang amat keji, sesuai dengan agama mereka yang menyeleweng dan mengarah pemuasan nafsu dengan ilmu-ilmu yang aneh dan yang biasa disebut ilmu hitam.

Ci Kong menjadi waspada, akan tetapi dia teringat akan pesan sukongnya atau gurunya, yaitu Kakek Siauw-bin-hud bahwa dia bertugas untuk menghimpun segala kekuatan yang ada untuk mempersatukan kekuatan-kekuatan itu dari aliran dan golongan manapun juga agar dapat dibentuk kekuatan yang dasyat dari rakyat untuk menghadapi pemerintah penjajah dan orang asing.

Maka, diapun mengesampingkan kecurigaannya dan dengan sikap hormat dia lalu menjura.

"Selamat bertemu, ji-wi Locianpwe. Agaknya ji-wi mempunyai keperluan maka memanggil saya?"

Sikap ramah dan hormat dari Ci Kong agaknya tidak diperdulikan oleh dua orang Kakek itu, atau dipandang ringan. Yang tinggi kurus bertanya dengan suara sambil lalu.

"Siapa engkau, orang muda... dan ada hubungan apa engkau dengan San-tok maka engkau muncul di tempat ini?"

Ci Kong mengerutkan alisnya.

Tosu ini benar-benar amat sombong, dan agaknya mempunyai niat tertentu terhadap San-tok.

Akan tetapi dia lalu teringat bahwa San-tok adalah seorang datuk sesat, tidaklah aneh kalau San-tok kenal baik dengan tosu-tosu seperti ini.

Dan siapa tahu bahwa San-tok menghubungi mereka untuk bersama menghimpun tenaga menghadapi penjajah.

Maka diapun masih tetap ramah ketika memperkenalkan diri.

"Ji-wi lociapwe, dalam keadaan negara kacau seperti ini, kiranya di antara kita semua terdapat satu pertalian batin yang kokoh kuat untuk bersama-sama menghadapi pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih. Karena itu harap ji-wi tidak menaruh curiga kepada saya. Nama saya Tan Ci Kong, dan saya datang ke sini untuk menemui Locianpwe San-tok karena diutus oleh Kakek guru saya."

Dua orang tosu itu saling pandang, dan kini tosu gendut tinggi besar yang bertanya, suaranya parau dan besar.

"Dan siapakah Kakek gurumu itu?"

Tanpa ragu-ragu lagi, Ci Kong memperkenalkan nama besar Kakek gurunya, karena dia memang bermaksud untuk membujuk kedua orang ini agar Pek-lianpai dan Pat-kwa-pai suka bekerja sama untuk menghadapi musuh.

"Kakek guru saya dikenal dengan nama Siauw-bin-hud..."

Tiba-tiba Sikap kedua orang Kakek itu berubah.

"Kiranya jahanam kecil ini dari Siauw-lim-pai!"

Bentak tosu tinggi kurus, dan dia sudah menerjang dan menyerang Ci Kong dengan pukulan tangan kanan ke arah kepala yang disusul tusukan jari tangan kiri ke arah pusar.

Gerakan ini hebat sekali, merupakan serangan maut yang berbahaya, maka Ci Kong yang sama sekali tidak menyangka dirinya akan diserang, cepat merendahkan tubuh sehingga pukulan ke arah kepala itu luput, sedangkan tusukan jari ke arah pusarnya ditangkis dengan tangan kanannya.

"Plakk!"

Tangan tosu yang menusuk itu terpental saking kuatnya tangkisan Ci Kong.

"Nanti dutu, harap ji-wi totiang (saudara pendeta berdua) suka bersabar. Saya bukan musuh, bahkan mengajak ji-wi untuk bekerja sama..."

Akan tetapi tosu tinggi kurus tadi sudah menjadi semakin penasaran dan marah, apalagi karena tangkisan tadi membuka matanya, bahwa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, seorang pendekar dari Siauw-lim-pai yang selalu menjadi musuhnya.

"Jahanam dari Siauw-lim-pai, tak perlu banyak cakap lagi. Semua orang Siauw-lim-pai adalah musuh kami berdua!"

Bentaknya.

"Semua iblis sombong dari Siauw-lim-pai harus dibasmi untuk membalaskan sakit hati saudara-saudara kami yang entah sudah berapa banyak menjadi korban keganasan mereka!"

Bentak pula Kakek gendut.

Ci Kong bukan tidak tahu bahwa memang sejak dahulu, para murid Siauw-lim-pai selalu menentang para anggauta Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, akan tetapi penentangan itu bukan didasari rasa permusuhan, melainkan karena setiap murid Siauw-lim-pai tentu akan menentang perbuatan jahat.

Dan anak murid kedua perkumpulan itu terkenal jahat dan kejam, maka tentu saja di mana-mana ditentang.

Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu karena dia ingin mengajak mereka berbaik kali ini.

"Nanti dulu, ji-wi Locianpwe. Dari Kakek guru saya sendiri, Siauw-bin-hud, saya ditugaskan untuk mengajak semua aliran dan golongan di dunia persilatan untuk bekerja sama menghadapi penjajah. Alangkah baiknya kalau sementara ini, kita melupakan dulu semua urusan pribadi, menggalang Persatuan untuk menghadapi penjajah."

"Tak perlu membujuk kami, engkau seorang tokoh Siauw-lim-pai, harus mati di tangan kami!"

Bentak tosu Pek-lian-pai.

"Harap ji-wi bersabar. Siapakah ji-wi sebenarnya yang mati-matian hendak memusuhi dan membunuh saya yang tidak pernah mengenal ji-wi?"

"Buka telingamu baik-baik agar engkau tidak mati menjadi setan penasaran karena tidak tahu siapa yang menjadi pembunuhmu. Aku bernama Ciok Im Cu, seorang di antara pimpinan Pek-lian-pai, sedangkan dia ini Ban Hwa Seng-jin, seorang tokoh pimpinan Pat-kwa-pai.

"Semenjak puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu antara Siauw-lim-pai dengan kami telah ada permusuhan. Entah berapa banyak anak buah kami yang tewas di tangan orang-orang Siauw-lim-pai, maka tak perlu banyak cakap lagi. Engkau sudah mengenal nama kami. Nah, bersiaplah untuk mampus!"

Berkata demikian, Ciok Im Cu tosu dari Pek-lian-pai itu sudah menyerang lagi dengan lebih sengit, disusul oleh Ban Hwa Seng-jin yang juga menyerang dengan buas.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 12

Baca Juga: Dewi Maut 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert