Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Kemala 9

Eps 9 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.

Ci Kong maklum bahwa bicara dengan mereka ini memang tidak ada gunanya.

Dan diapun menyaksikan sikap Kakek gurunya.

Bijaksanakah mengajak orang-orang seperti ini untuk bekerja sama?

Jangan-jangan mereka ini tidak membantu perjuangan, malah mengotorkan perjuangan itu sendiri.

Teringat dia dengan sikap anak buah pasukan yang keji sekali, kejam terhadap rakyat di dalam pergolakan perang.

Mereka merampok, membunuh dan memperkosa rakyat.

Agaknya, orang-orang dari golongan hitampun akan berbuat serupa.

Orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai ini adalah orang-orang yang menganut kepercayaan sesuatu, yang amat fanatik, dan karena kefanatikannya itu dapat berbuat kejam bukan main.

Berbeda dengan golongan seperti para datuk, seperti Empat Racun Dunia misalnya.

Mereka itu adalah orang-orang yang berdiri sendiri, tidak mempunyai anak buah tertentu, dan andaikata mempunyai anak buah sekalipun, seperti halnya Hai-tok, mereka bertindak secara terbatas.

Mereka ini lebih tepat dinamakan orang-orang liar yang tidak perduli akan segala tata cara atau hukum, hidup seenaknya sendiri saja.

Akan tetapi, setidaknya, orang-orang seperti datuk-datuk itu masih mempunyai perasaan cinta tanah air.

Seperti telah terbukti, perjuangan orang-orang seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, sejak dahulu tidak pernah berhasil, karena mereka itu hanya merongrong pemerintah dengan perbuatan-perbuatan mereka yang jahat, mengeruhkan suasana, mengadakan kekacauan di mana-mana sehingga mereka itu lebih dikenal sebagai penjahat-penjahat yang hendak dibasmi pemeritah.

Bukan pejuang-pejuang yang memberontak terhadap pemerintah penjajah demi membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah asing.

Menghadapi serangan-serangan yang demikian berbahaya, Ci Kong juga cepat bergerak melakukan perlawanan sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya dan mengeluarkan jurus-jurus pilihan untuk menandingi dua orang tosu yang lihai itu.

Tan Ci Kong adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang istimewa.

Menurut tingkat, sebenarnya tingkatnya masih rendah, hanya terhitung murid keponakan dari empat orang pimpinan Siauw-lim-pai.

Akan tetapi, karena dia menerima gemblengan langsung dari Kakek Siauw-bin-hud, maka tingkat kepandaiannya dapat dikatakan sebanding dengan tingkat kepandaian ketua Siauw-lim-pai yang sekarang, yaitu Thian He Hwesio !

Maka, begitu kini menghadapi dua orang lawan tangguh, dia mengeluarkan kepandaiannya dan dua orang tosu itu segera terdesak mundur!

Hal ini amat mengejutkan Ciok Im Cu dan Ban Hwa Sengjin.

Mereka adalah tokoh-tokoh kelas satu dari perkumpulan masing-masing, dan kini mereka berdua maju mengeroyok seorang anggauta Siauw-lim-pai yang masih begini muda, mereka tidak mampu menang bahkan dalam waktu beberapa puluh jurus saja mereka telah terdesak mundur!

Hal ini membuat kedua tokoh itu menjadi malu dan penasaran, kemudian marah sekali.

Ciok Im Cu nampak meloncat mundur, menggosok-gosok kedua tangannya, mulutnya berkemak-kemik, dan ternyata dia sedang mengerahkan tenaganya menggunakan ilmu hitam atau sihirnya.

Kemudian tiba-tiba dari mulutnya terdengar bunyi tangis!

Tangis yang amat menyedihkan, tangis ratap memilukan disertai isak dan sesenggukan.

Dan Kakek inipun sambil mengeluarkan bunyi tangis itu, menerjang maju lagi dengan hebatnya.

Ci Kong tadinya terheran-heran mendengar Kakek itu menangis.

Akan tetapi dia menjadi terkejut karena suara tangis itu menjadi berlipat ganda banyaknya, datang dari segala penjuru seakan-akan dia terkepung oleh puluhan orang yang sedang menangis sedih!

Dan pada saat itu, Ciok Im Cu sudah menyerangnya pula.

Ci Kong menguatkan batinnya untuk melawan pengaruh tangis itu, namun tetap saja kedua matanya menjadi basah air mata!

Dia terkejut dan maklum bahwa Kakek itu mempergunakan ilmu hitam, karena dia sudah mendengar betapa orang-orang Pek-lian-pai yang beragama Pek-lian-kauw itu pandai mempergunakan ilmu sihir atau ilmu hitam.

Akan tetapi, biarpun dia memperkuat batinnya untuk menolak pengaruh ilmu itu, karena matanya basah, pandang matanya menjadi kabur dan diapun terdesak hebat oleh serangan Ciok Im Cu.

Pada saat Ci Kong terhuyung itu, tiba-tiba Ban-hwa Seng-jin mengeluarkan bentakan nyaring dan menyerangnya dari samping.

Ci Kong cepat memutar tubuh dan lengannya menangkis dengan kerasnya.

Tangan Kakek dari Pat-kwa-pai itu terpental, akan tetapi ketika tangannya terpental, ada sebuah benda kecil panjang terlempar dan menyentuh leher Ci Kong.

Pemuda itu terkejut karena tiba-tiba saja lehernya terasa nyeri.

Dia cepat merengut benda yang menempel itu dan ternyata seekor ular kecil yang telah menggigit lehernya.

Kiranya Kakek Pat-kwa-pai tadi memegang ular ketika menyerang, dan ketika lengannya tertangkis, ular itu terlempar ke arah lebernya.

Dia tidak tahu bahwa tokoh Pat-kwa-pai itu adalah seorang ahli ular beracun dan sengaja melepas ular itu pada saat dia tidak menyangkanya sama sekali.

Dengan marah Ci Kong mencengkeram kepala ular sampai hancur, kemudian dia membentak marah untuk membalas serangan lawan.

Akan tetapi, tiba-tiba luka di leher yang kecil akibat gigitan ular itu terasa panas sekali, pandang matanya berkunang dan diapun roboh terpelanting dan tidak ingat apa-apa lagi.

Pada saat Ci Kong terpelanting itulah, Kui Eng, Lian Hong dan Diana nampak muncul di sebuah tikungan.

Melihat munculnya tiga orang wanita yang kelihatan amat gesit dan berlari dengan kecepatan luar biasa itu, Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng-jin cepat melarikan diri.

Mereka merasa jerih.

Baru menghadapi seorang pemuda tadi saja, hampir mereka berdua kalah.

Kalau tidak mempergunakan ilmu hitam dan ular, mungkin mereka berdua akan kalah menghadapi pemuda tadi.

Mereka menjadi jerih karena tentu banyak terdapat orang pandai di tempat itu dan tanpa banyak cakap lagi, keduanya lalu cepat melarikan diri.

Tiga orang dara itu tadi dari jauh melihat robohnya pemuda yang dikeroyok dua orang tosu, akan tetapi karena jaraknya masih jauh, mereka tidak mengenal siapa pemuda itu dan siapa pula dua orang tosu yang melarikan diri setelah pemuda itu roboh.

Mereka tentu saja tidak berpihak karena tidak mengenal orang-orang yang berkelahi, dan mereka cepat datang menghampiri orang yang roboh itu.

"Ci Kong...!"

Hampir berbareng tiga orang gadis itu meneriakkan nama ini ketika mereka mengenal wajah pemuda yang menggeletak terlentang dengan muka pucat seperti sudah mati ini.

Diana dan Kui Eng sudah menjatuhkan diri berlutut di dekat tubuh Ci Kong.

Dengan jari-jari tangan gemetar mereka berdua meraba-raba, mengguncang-guncang dan memanggil-manggil nama Ci Kong.

Melihat keadaan dua orang gadis itu, Lian Hong lalu terduduk lemas, tak jauh dari situ, dapat memaklumi akan isi hati dua orang gadis yang menjadi sahabat baiknya itu.

Mereka mencinta Ci Kong, pikirnya.

Mereka berdua itu mencinta Ci Kong.

Dan ia sendiri?

Ia tidak tahu, akan tetapi jelas bahwa Ci Kong perlu ditolong!

Ketika tanpa disengaja tangan mereka yang memegangi tubuh Ci Kong itu saling bersentuhan, Diana dan Kui Eng saling melirik dan wajah mereka berubah merah.

Mereka lalu melepaskan pegangan dan hanya berlutut dengan kebingungan.

Diana menahan emosi hatinya.

Tidak mau ia mengulang peristiwa yang menghebohkan seperti yang pernah dilakukannya di kuil itu.

Ingin ia memeluk, merangkul dan meniupkan kembali nyawa di tubuh pemuda penolongnya yang kelihatan sudah mati itu, namun semua ini ditahannya.

Ia hanya bisa mengeluh panjang pendek dengan bingung, menundukkan mukanya dan mengusap air matanya yang jatuh berderai.

Kui Eng juga bingung sekali.

Iapun ingin memondong tubuh Ci Kong dan membawanya pergi, mengusahakan pengobatan.

Namun ia merasa malu terhadap Diana.

Ia maklum bahwa Diana, seperti juga hatinya sendiri, menaruh rasa cinta terhadap pemuda ini.

Ia hanya mengepal dan membuka tangannya, bingung dan cemas, seperti Diana dan melihat betapa Diana menangis, iapun tak dapat menahan air matanya.

"Ahhh... bagaimana ini... bagaimana ini...?"

Diana hanya meratap-ratap.

"Adik Hong, bagaimana baiknya? Dia... dia harus cepat ditolong..."

Kata Kui Eng sambil menoleh ke arah Lian Hong. Kini Lian Hong bangkit berdiri dan menghampiri.

"Kalian berhentilah menangis. Dia terluka parah, perlu ditolong, bukan ditangisi!"

Katanya agak ketus, mengejutkan kedua orang gadis itu yang segera menghapus air mata dan menahan tangis mereka.

Dengan teliti, Lian Hong lalu memeriksa dan akhirnya ia melihat luka kecil menghitam di leher pemuda itu.

"Hemm, agaknya luka inilah yang menyebabkannya keracunan,"

Katanya menuding ke arah luka. Tiga orang gadis itu merasa khawatir sekali karena wajah Ci Kong sudah mulai nampak menghitam, tanda keracunan berat.

"Ihh! Ini ada ular...!"

Tiba-tiba Diana memekik dan benar saja. Terdapat tubuh seekor ular yang sudah luncur kepalanya, tertindih tubuh pemuda itu. Lian Hong menarik ular itu dan memeriksanya.

"Hemm... ular berbisa. Agaknya dua orang tosu tadi mempergunakan ular ini untuk merobohkan Ci Kong. Kita harus cepat mencari obat untuknya, kalau tidak..."

"Kalau tidak, dia akan mampus! Ha-ha-ha...!"

Mendengar suara parau itu, tiga orang gadis itu terkejut dan berloncatan sambil memutar tubuh.

Kiranya di depan mereka telah berdiri seorang Kakek berkepala gundul botak dan berperut gendut sekali, tubuhnya bulat sehingga kancing-kancing terlepas semua, dan perut itu tidak tertutup lagi oleh baju.

Dan Lian Hong segera mengenal Kakek itu.

Demikian pula Kui Eng.

Akan tetapi Diana tidak mengenalnya, dan karena ia merasa gelisah sekali mengingat keadaan Ci Kong, munculnya Kakek yang sambil tertawa mengeluarkan kata-kata kasar, Diana menjadi marah.

"Penjahat kejam! Engkau tentu teman dari pembunuh-pembunuh tadi, engkau sungguh jahat sekali!"

Dan dengan gerakan nekat, Diana sudah menyerang ke arah Kakek itu.

Biarpun ia baru saja mulai belajar silat, akan tetapi tenaganya besar, dan gerakannya gesit berkat latihan yang keras.

Tentu saja Lian Hong terkejut bukan main dan cepat ia menubruk ke samping, memegang kedua lengan Diana.

"Sumoi, jangan sembarangan!"

Dan iapun menjura kepada Kakek gendut itu sambil berkata.

"Harap lociapwe suka memaafkan sumoiku yang bersikap kurang patut karena tidak mengenal lociapwe."

Kakek itu bukan lain adalah Thian-tok.

Melihat seorang gadis bule marah-marah kepadanya, dia memandang sambil menyeringai lebar, akan tetapi ketika mendengar pengakuan Lian Hong bahwa gadis itu sumoinya, alisnya berkerut.

"Apa? Ini sumoimu? Jadi si jembel dari gunung telah mengambil murid seorang perempuan bule? Aih, sungguh luar biasa. Kalau bukan sumoimu, tentu ia sudah kubunuh sekarang juga!"

"Harap Locianpwe suka melihat kami dan memaafkan Diana, ia bukan hanya murid Locianpwe Bu-beng San-kai, akan tetapi juga seorang di antara kita yang membantu perjuangan para patriot,"

Kata pula Kui Eng. Kini Thian-tok memandang kepada Kui Eng.

"Siapa engkau? Hemmm... ingat aku sekarang. Engkau murid Tee-tok, bukan? Ha-ha-ha... sudah berkumpul semua di sini. Bagus sekali! Dan ini orang muda pengikut Siauw-bin-hud itu. Wah, sudah lengkap, tinggal Hai-tok yang belum ada wakilnya. Bagus sekali!"

Dua orang gadis itu tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Kakek itu, sedangkan Diana yang kini tahu bahwa ia sangka dan bahwa Kakek ini tentu orang pandai yang dikenal oleh dua orang sahahatnya, diam saja, hanya memandang dengan alis berkerut karena selain ia masih gelisah memikirkan Ci Kong, juga ia tidak percaya kepada Kakek ini yang dianggapnya bersikap tidak wajar.

"Locianpwe, baru saja terjadi malapetaka atas diri Ci Kong. Dia terluka, agaknya keracunan oleh gigitan ular berbisa."

Mendengar ucapan Lian Hong, Kakek itu lalu berjongkok dekat Ci Kong.

"Ha-ha, ternyata anak Siauw-lim-pai ini masih begitu bodoh, membiarkan dirinya digigit ular belang."

Dia memandang ke arah bangkai ular, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jubahnya yang lebar.

Botol itu terisi obat lembek seperti gajih dan diambilnya sedikit, lalu dioleskannya ke atas luka di leher Ci Kong.

Tiga pasang mata para gadis itu mengikuti gerakan-gerakannya dengan hati penuh ketegangan.

Mereka melihat betapa luka kecil itu setelah dipolesi obat, lalu mengeluarkan buih atau busa yang makin lama semakin hitam.

Buih hitam ini lalu dihapus oleh Thian-tok, menggunakan daun yang dipetiknya di dekatnya, dan menaruh polesan baru.

Sampai akhirnya, buih yang keluar berwarna putih kemerahan.

Dia menghentikan pengobatan dengan polesan itu.

Kemudian masukkan doa butir pel ke dalam kerongkongan Ci Kong dan mendorong dua butir pel itu dengan arak.

Ci Kong terbatuk dan siuman.

Begitu melihat tiga orang gadis yang dikenalnya, dan juga Thian-tok yang duduk bersila sambil tertawa lebar, Ci Kong memandang bingung, celingukan mencari dua orang tosu yang tadi berkelahi dengannya.

"Ci Kong, engkau dilukai dua orang tosu itu yang sudah lari meninggalkanmu dalam keadaan pingsan dan keracunan. Untung datang Locianpwe Thian-tok yang menolong."

Kata Lian Hong.

Tentu saja Kui Eng dan Diana merasa girang dan lega bukan main melihat pemuda itu sembuh, walaupun karena malu mereka tidak mengeluarkan kata-kata apapun.

Sementara itu, Ci Kong teringat dan biarpun dia masih bingung mengapa tiga orang gadis itu tahu-tahu berada di situ, dia lalu cepat memberi hormat kepada Thian-tok.

"Terima kasih atas budi pertolongan Locianpwe."

"Ha-ha-ha-ha!"

Kakek yang bentuk tubuhnya mirip Siauw-bin-hud itu tiba-tiba tertawa bergelak dan diapun sudah meloncat bangun, berdiri dengan perut bergoyang-goyang karena dia tertawa itu.

"Kau kira aku begitu baik hati untuk menyembuhkanmu begitu saja? Tapi kita hidup harus tolong-menolong dan bantu-membantu. Nah, setelah aku mengobatimu, sekarang kalian bertiga, murid-murid Tee-tok, San-tok dan Siauw-lim-pai harus membantuku."

Mereka saling pandang dan merasa heran, dan Ci Kong lalu menjawab.

"Bantuan apakah yang dapat kami lakukan untuk Locianpwe?"

"Ha-ha, banyak, banyak! Kalian tentu sudah mendengar pula dan bahkan mengetahui dengan jelas bahwa pedang Giok-liong-kiam yang berada di tangan Koan Jit si jahanam itu ternyata palsu. Nah, kalian ceritakan sekarang tentang pedang Giok-liong-kiam yang aseli."

Tentu saja Lian Hong tidak mau menceritakan, juga Kui Eng tidak mau.

Mereka tahu bahwa Thian-tok, biarpun merupakan rekan dari guru-guru mereka, tidak dapat disamakan dengan Hai-tok, Tee-tok, dan San-tok.

Tiga orang di antara Empat Racun Dunia ini telah sepakat untuk membanting arah kehidupan mereka untuk membantu perjuangan menyelamatkan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah, Sebaliknya Thian-tok memiliki jalan hidup sendiri yang hanya memikirkan perampasan Giok-liong-kiam demi diri sendiri.

Adapun Ci Kong, belum pernah mendengar tentang hasil usaha Lian Hong mencari pusaka yang aseli, walaupun dia maklum bahwa pusaka yang mengandung rahasia tentang Giok-liong-kiam aseli, telah berada di tangan San-tok.

Akan tetapi diapun tahu siapa adanya Thian-tok, yang pernah mengotorkan dan menodai nama Siauw-bin-hud, maka diapun tidak sudi untuk menceritakan sesuatu, walaupun baru saja Thian-tok menyelamatkan nyawanya.

Thian-tok tadi menolongnya bukan karena dorongan hati yang iba, melainkan dengan pamrih untuk memeras keterangan tentang Giok-liong-kiam darinya.

"Aku tidak tahu,"

Kata Lian Hong mendahului teman-temannya.

"Akupun tidak tahu tentang Giok-liong-kiam!"

Kata Kui Eng.

"Sayang akupun tidak dapat menceritakan apa-apa kepadamu, Locianpwe,"

Kata pula Ci Kong, diam-diam setuju sekali akan sikap dua orang gadis itu.

Menceritakan kepada Kakek itu tentang apa yang mereka ketahui, tentang Giok-liong-kiam, hanya akan mendatangkan keributan saja dan Kakek ini dapat menjadi penghalang besar dari usaha mereka mencari pusaka yang akan membiayai perjuangan.

"Heh-heh-heh, kiranya engkau hanya seorang muda yang tidak mengetahui budi. Kalian bertiga, berempat dengan gadis bule itu, akan kubunuh semua kalau tidak mau memberi pengakuan sejujurnya tentang Giok-liong-kiam! Hayo, kalian pilih, ceritakan tentang pusaka itu atau kalian mampus semua?"

Sepasang mata Thian-tok mencorong kini, penuh nafsu membunuh.

Tiga orang muda itu sudah siap siaga, berdiri dengan penuh kewaspadaan menghadapi Kakek itu.

Lian Hong mendorong Diana agar mundur, dan Diana yang tahu diri maklum akan isyarat sucinya, lalu dara itupun mundur dan berlindung di balik batang pohon besar.

"Locianpwe, kami bertiga tidak dapat bercerita apapun tentang Giok-liong-kiam!"

Kata Lian Hong dengan lantang, mewakili dua orang kawannya.

"Kalau Locianpwe hendak memaksa dan membunuh kami, terpaksa kami akan melawan dan membela diri!"

Kui Eng dan Ci Kong setuju sepenuhnya dengan ucapan itu, dan merekapun tidak menambahkan apa-apa.

Kini Kakek itu mengeluarkan suara ketawa yang nyaring sekali, suara ketawanya makin lama semakin keras seperti mengaum.

Diana yang berada di belakang batang pohon terkejut sekali, cepat menggunakan kedua tangan menutup kedua telinganya dan ia cepat duduk bersila untuk bersamadhi.

Lian Hong yang menceritakan tentang kehebatan khi-kang itu dan cara untuk mengatasinya.

Untung bahwa ia telah berlatih samadhi sehingga ia dapat melindungi dirinya.

Biarpun demikian, ia masih gemetar juga.

Tiga orang murid orang-orang sakti itupun cepat mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh ilmu sin-kang Sin-houw-kang yang dikeluarkan Thian-tok itu.

Dan melihat betapa tiga orang muda itu tidak roboh oleh ilmunya, Thian-tok menjadi semakin penasaran, lalu tubuhnya bergerak melakukan penyerangan!

Ci Kong yang diserang itu mengelak dengan loncatan ke samping.

Thian-tok melanjutkan serangannya, tangan kanan mencengkeram ke arah pundak Kui Eng dan kaki kirinya menendang ke arah perut Lian Hong.

Dua orang gadis itupun dapat menghindarkan diri dengan cepat.

Thian-tok menjadi semakin marah dan dia sudah melancarkan serangan bertubi-tubi, memainkan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang ampuh.

Biarpun tubuhnya hanya satu, akan tetapi kini dia seperti memiliki tiga pasang lengan yang melakukan penyerangan gencar terhadap tiga orang lawannya.

Akan tetapi, kini dia berhadapan dengan tiga orang muda yang sudah cukup matang menguasai ilmu silat mereka.

Ketiganya cepat bergerak mengelak dan menangkis, bahkan membalas serangan Kakek itu dari tiga jurusan dengan pukulan-pukulan yang tidak kalah ampuhnya!

"Haaeehhhh..."

Berkali-kali Thian-tok mengeluarkan seruan dahsyat dan penyerangannya menjadi semakin kuat saja, angin pukulannya menyambar-nyambar dan terasa demikian kuatnya oleh tiga orang lawannya.

Kiranya Kakek ini menjadi penasaran karena tak pernah menyangka bahwa tiga orang muda itu akan mampu menandinginya.

Lian Hong sudah cepat mengeluarkan kipasnya, dan Kui Eng juga mencabut pedangnya.

Hanya Ci Kong yang tidak memegang senjata, namun pemuda Siauw-lim-pai ini dapat bergerak cepat dan memiliki kaki tangan yang terlatih dan kuat sekali.

Diserang dari tiga jurusan oleh orang-orang muda yang amat lihai itu, Thian-tok menjadi repot juga!

Ingin dia memaki-maki, merasa malu dan penasaran.

Alangkah akan malunya kalau ia, Thian-tok yang pernah menggegerkan dunia persilatan bahkan mempergunakan nama Siauw-bin-hud merampas Giok-liong-kiam, sampai kalah oleh pengeroyokan tiga orang muda saja!

Padahal, guru-guru dari tiga orang muda ini masih belum mampu mengalahkannya!

Adapun tiga orang muda ini juga maklum akan kelihaian lawan, maka mereka juga mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan ilmu-ilmu simpanan mereka yang paling lihai.

Ci Kong memainkan jurus-jurus pilihan dari ilmu silat Siauw-lim-pai yang terkenal dahsyat itu, kadang-kadang memainkan ilmu Silat Harimau dengan kedua tangan mencakar-cakar, lalu tiba-tiba mengubahnya dengan ilmu Silat Bangau, dengan tangan membentuk paruh yang menotok-notok.

Dalam menghadapi terjangan Kakek gendut itu, dengan jurus-jurus llmu Silat Monyet, dia dengan lincah dapat menghindarkan diri.

Kui Eng yang memegang sebatang pedang itupun sudah memainkan ilmunya yang paling ampuh, yaitu llmu Tongkat Cui-beng Hek-pang yang sudah diubahnya menjadi ilmu pedang.

Gerakan-gerakan pedang itu dahsyat dan ganas sekali, sesuai dengan nama ilmunya, yaitu llmu Tongkat Pengejar Nyawa!

Pedang itu berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung menyilaukan mata, dan dapat membuat serangkaian serangan yang sambung menyambung dan bertubi-tubi.

Adapun Lian Hong yang mempergunakan sebuah kipas sebagai senjata, juga lihai bukan main.

Gadis ini telah mewarisi ilmu kipas yang dahsyat dari gurunya, San-tok, di samping memiliki tenaga sin-kang yang kuat dan kelincahan gerakan yang bahkan mengatasi tingkat gin-kang dari Ci Kong sendiri!

Dikeroyok oleh tiga orang muda yang lihai ini, Thian-tok merasa kewalahan.

Kakek yang tak tahu diri ini, yang selalu menganggap diri sendiri paling hebat, tidak mau melihat kenyataan ini dan dia malah menjadi penasaran dan marah sekali.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara menggereng nyaring, dan tubuhnya berpusing, kedua lengannya dikembangkan dan seperti sebuah gasing berputar, dia membuat tiga orang mengeroyoknya terpaksa mundur.

Tiba-tiba, Kakek itu meloncat ke atas dan hinggap di atas batang pohon besar, lalu tangannya bergerak-gerak dan daun-daun pohon itu meluncur turun bagaikan senjata-senjata rahasia yang ampuh ke arah tiga orang muda itu.

Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng terkejut.

Dua orang dara itu menangkis dengan senjata mereka untuk melindungi diri, sedangkan Ci Kong menggunakan kedua tangannya untuk mengibas ke sana-sini, membuat daun-daun itu runtuh.

Mereka menjadi marah, dan ketiganya tanpa dikomando lagi, lalu meloncat ke atas pohon besar itu, hinggap di atas dahan di sekeliling Thian-tok.

Perkelahian dilanjutkan di atas pohon, lebih seru dan lebih menegangkan dari pada tadi!

Thian-tok mengamuk dengan pukulan-pukulan yang mengandung tenaga sin-kang sepenuhnya.

Akan tetapi, tiga orang muda inipun dapat menghindarkan diri dan membalas dengan tidak kalah dasyatnya.

Gerakan-gerakan mereka semua mengandung tenaga sin-kang yang menimbulkan angin pukulan yang kuat, sehingga daun-daun pohon itu runtuh berhamburan ke bawah.

Tak lama kemudian, ranting-ranting pohon itupun menjadi gundul seperti kepala Kakek Thian-tok karena daun-daunnya telah gugur semua, seperti diserang musim rontok.

Agaknya perkelahian di atas pohon ini akan berlangsung lama karena di tempat itu, kontak hanya dapat diadakan dalam jarak tertentu dan agak jauh saja karena selain saling serang, merekapun harus memperhatikan tempat untuk injakan kaki.

Sekali kaki salah injak atau terpeleset, tubuh tentu akan meluncur dan jatuh ke bawah!

Karena mereka bersikap hati-hati, maka tentu saja serangan-serangan mereka merupakan serangan jarak jauh, dan karena mereka semua telah memiliki tingkat kekuatan sin-kang yang cukup besar, maka serangan dari jarak jauh itu tidak cukup kuat untuk merobohkan mereka.

Yang paling merasa tegang dan cemas adalah Diana.

Sejak tadi, sambil menutupi kedua telinganya, ia menonton perkelahian.

Setelah Kakek itu mempergunakan ilmu tidak lagi melalui suaranya, Diana membuka kedua telinganya dan ia merasa ngeri melihat betapa tiga orang temannya itu kini mengeroyok Thian-tok dan berkelahi di atas pohon.

Ngeri ia membayangkan seorang di antara teman-temannya itu terpeleset dan jatuh.

Gerakan mereka demikian cepat.

Perkelahian yang dilakukan dengan serangan jarak jauh, membuat Diana bingung dan tidak tahu bagaimana keadaan tiga orang temannya, mendesak ataukah terdesak.

Karena kekhawatirannya, iapun lalu menggunakan akal.

"Suhu, cepat ke sini dan bantu suci... suhu..."

Mendengar teriakan Diana itu, diam-diam Thian-tok terkejut bukan main.

San-tok datang!

Dia tahu bahwa tingkat kepandaiannya sama dengan San-tok, dan andaikata dia dapat mengalahkan San-tok sekalipun, tentu akan memakan waktu yang amat lama.

Sedangkan melawan tiga orang muda ini saja dia kewalahan, bagaimana kalau San-tok datang membantu?

Tentu dia akan celaka.

Thian-tok mengeluarkan pekik dahsyat yang membuat Diana terguling karena gadis ini tidak sempat menutupi telinganya, dan Kakek itu lalu meloncat turun ke bawah, terus melarikan diri tanpa menoleh lagi, khawatir kalau-kalau tiga orang muda dibantu oleh San-tok, akan mengejarnya.

Akan tetapi tiga orang muda itu yang juga berloncatan turun, tidak mengejar, melainkan menghampiri Diana.

Untung Diana, biarpun belum lama, sudah melatih diri sehingga pengaruh pekik tadi tidak begitu hebat.

Ia hanya pening saja dan mukanya pucat, jantungnya berdebar.

Setelah melihat bahwa Diana tidak apa-apa, Lian Hong bertanya.

"Di mana Suhu?"

Diana tersenyum.

"Aku hanya pura-pura... dan ternyata akalku berhasil. Iblis tua itu pergi begitu mendengar aku memanggil suhu."

"Kau pura-pura saja? Wah, kami tadi hampir dapat mendesaknya!"

Seru Kui Eng.

"Siapa bilang ia pura-pura? Aku berada di sini!"

Tiba-tiba terdengar jawaban dan muncullah tiga Kakek yang membuat empat orang muda itu tertegun.

Kiranya San-tok muncul bersama Hai-tok dan Tee-tok!

Mereka baru saja tiba sehingga mereka tidak melihat terjadinya perkelahian tadi.

Akan tetapi San-tok dapat menangkap seruan Diana tadi dan mendengarkan percakapan antara mereka.

Ketika mereka tiba di situ, Thian-tok yang melarikan diri ke jurusan lain sudah pergi jauh.

"Suhu...!"

Kata Lian Hong, terkejut, heran dan juga girang.

"Bru saja Locianpwe Thian-tok datang ke sini. Dia mengobati Ci Kong yang keracunan karena gigitan ular berbisa, akan tetapi hanya untuk memaksa kami semua membuat pengakuan tentang Giok-liong-kiam. Ketika kami menolak, dia marah-marah dan hendak membunuh kami, sehingga kami melawan dan terjadi perkelahian."

"Perkelahian yang hebat, sampai-sampai mereka berkelahi di atas pohon. Karena khawatir kalau-kalau kalah, aku lalu berteriak, pura-pura memanggil suhu. Dan iblis itupun lari ketakutan!"

Tambah Diana.

"Mari kita kembali dan bicara di dalam guha. Banyak urusan penting yang harus kita bicarakan bersama,"

Kata San-tok.

Dan beramai-ramai mereka lalu menuju ke Puncak Naga Putih dan duduk berkumpul di dalam guha besar tempat tinggal San-tok.

Setelah mereka duduk berkumpul, empat orang muda itu menceritakan tentang kemunculan Thian-tok, kemudian Ci Kong menceritakan tentang sukongnya yang bertapa, dan betapa di lereng Wu-yi-san itu dia bertemu dengan dua orang Kakek Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang menyerangnya dan merobohkannya dengan ilmu sihir dan serangan ular berbisa.

"Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng-jin?"

San-tok berseru ketika mendengar cerita Ci Kong itu.

"Ah, mereka adalah orang-orang penting dalam Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Heran, mengapa mereka berani datang ke wilayahku? Padahal, selama ini dua perkumpulan itu tidak pernah saling ganggu dengan aku!"

Kakek ini merasa penasaran sekali.

"Mudah saja diduga,"

Kata Tee-tok.

"Tentu merekapun sudah mendengar akan desas-desus yang disebarkan oleh Koan Jit itu, dan mereka ingin pula memperebutkan Giok-liong-kiam dan melakukan penyelidikan ke sini."

San-tok dan Hai-tok mengangguk-angguk.

"Benar sekali,"

Kata San-tok.

"Tentu itu sebabnya mengapa dua orang tikus itu berkeliaran ke sini. Akan tetapi kalau bertemu dengan aku, akan kuketok kepala mereka! Dan kebetulan engkau datang, Ci Kong,"

Kata San-tok.

"Sehingga kami tak perlu mencari Siauw-bin-hud di kuilnya. Telah terjadi hal-hal yang penting dan perlu diketahui oleh Siauw-bin-hud, maka dengarlah cerita kami agar engkau dapat melapor kepada Kakek itu."

San-tok dan dua orang rekannya lalu menceritakan apa yang telah terjadi.

Kiranya berita yang disebar oleh Tee-tok akan kepalsuan Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit, terdengar pula oleh Koan Jit dan agaknya orang ini lalu menaruh curiga kepada San-tok dan muridnya.

Dia teringat akan tanda-tanda masuknya seseorang di dalam tempat penyimpanan pusaka-pusakanya.

Maka diapun lalu menyebar desas-desus bahwa Giok-liong-kiam yang asli berada di tangan Empat Racun Dunia, dan bahwa para datuk itu hendak mencari harta pusaka melalui Giok-liong-kiam untuk (Lanjut ke

Jilid 31) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 31 membiayai pemberontakan terhadap pemerintah Ceng-tiauw, dan juga mengusir orang-orang kulit putih.

Berita ini tentu saja amat menghebohkan dan menarik perhatian pemerintah, bahkan menarik pula perhatian para pimpinan pasukan kulit putih.

Baik pemerintah Ceng, maupun orang-orang kulit putih, lalu menyebar orang-orang pandai yang menjadi kaki tangan mereka untuk mencari dan merampas Giok-liong-kiam atau harta karun itu.

Dan yang menjadi sasaran utama adalah Empat Racun Dunia.

Keadaan menjadi gawat dan berbahaya bagi mereka.

Pulau Naga, tempat baru dimana Hai-tok dan anak buahnya bersembunyi, ditemukan oleh pasukan pemerintah dan diserbu, membuat Hai-tok dan anak buahnya terpaksa melarikan diri karena pasukan yang menyerbu itu amat banyak dan kuat.

Juga Tee-tok dikejar-kejar dan dicari-cari.

Dan agaknya, bukan hanya pemerintah Ceng dan orang-orang kulit putih saja yang ingin merampas harta karun, akan tetapi juga banyak golongan-golongan di dunia kang-ouw agaknya tertarik juga, terbukti dan kemunculan orang-orang Peklian-pai dan Pat-kwa-pai di Wu-yi-san.

Itulah sebabnya mengapa Hai-tok dan Tee-tok lalu pergi mencari San-tok dan mereka saling berjumpa di tengah jalan, dan bersama-sama lalu pergi ke Wu-yi-san.

"Keadaan sudah gawat sekarang,"

Akhirnya San-tok berkata.

"Kita harus cepat mengambil tindakan. Muridku ini, Lian Hong, telah berhasil mencari Giok-liong-kiam yang asli, dan aku telah menemukan rahasia yang disembunyikan di dalamnya."

Agaknya, baru sekarang semenjak bertemu dengan kedua orang rekannya, San-tok menceritakan hal itu. Hai-tok dan Tee-tok menjadi tertarik sekali.

"Apakah adanya rahasia itu?"

Tanya mereka hampir berbareng.

"Sebuah peta tempat penyimpanan harta karun,"

Jawab San-tok sambil melirik ke arah Ci Kong.

"Akan tetapi, nanti saja kita bertiga mempelajarinya. Yang penting, sekarang kita harus membagi tugas."

San-tok memandang kepada empat orang muda itu.

"Kami tiga orang tua bertugas mencari harta karun, dan kalian bertiga, Lian Hong, Kui Eng, dan Ci Kong, sebaiknya pergi ke Kota Raja dengan menyamar mencari keterangan tentang keadaan di sana, kalau mungkin, menyelidiki agar mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh pemerintah selanjutnya mengenai desas-desus tentang Giok-liong-kiam. Kita harus mengetahui rencana siasat pihak musuh agar kita tidak sampai terjebak dan terkepung seperti yang sudah-sudah. Diana tetap tinggal di sini."

"Suhu, kenapa aku tidak boleh ikut? Siapa tahu, akupun dapat membantu,"

Kata Diana.

"Kemunculanmu hanya akan mendatangkan masalah baru, dan ilmu kepandaianmu masih terlalu rendah. Engkau tinggallah disini dan berlatih dengan giat. Aku akan mengajarkan sebuah ilmu yang dahsyat kepadamu."

"Luar biasa sekali melihat seorang gadis bule menjadi muridmu, Jembel Gunung!"

Kata Tee-tok.

"Biarlah akupun akan mengajarkan sebuah ilmu yang hebat kepadamu agar dapat kau latih di sini."

"Akupun akan mengajarkan sebuah,"

Kata pula Hai-tok.

Lenyaplah kekecewaan hati Diana, dan dia menjadi gembira sekali mendengar bahwa ia akan digembleng oleh tiga orang Kakek sakti itu!

Persiapan dilakukan, dan tiga orang Kakek itu lalu mengajarkan semacam ilmu silat kepada Diana.

Tidak banyak, masing-masing hanya tiga jurus saja.

Akan tetapi jurus-jurus ini adalah jurus pilihan yang lihai bukan main.

Setelah Diana hafal akan semua jurus itu, hanya tinggal mematangkannya dalam latihan, tiga orang Kakek itu lalu berangkat meninggalkan guha di puncak Naga Putih.

Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng juga berangkat, dan Diana yang ditinggalkan seorang diri itu tenggelam dalam latihan.

Dua orang muda itu memang menarik perhatian.

Bukan hanya pakaian mereka yang amat mewah dan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah kakak beradik yang kaya raya, akan tetapi juga wajah mereka yang amat elok itulah yang membuat semua orang menengok dan memandang ke arah mereka.

Pemuda itu, dengan sikapnya yang halus, dan amat tampan.

Topinya yang indah menutupi rambut yang lebat hitam mengkilap, dikuncir besar dan panjang tergantung di punggungnya.

Jubahnya yang panjang dan lebar itupun terbuat dan kain sutera halus, terhias kalung terbuat dan mutiara.

Sepatunya mengkilap baru, dan tangan kirinya tidak terlepas dan sebuah kipas yang terlukis indah.

Seorang pemuda terpelajar yang kaya raya, seorang kongcu (Tuan muda) yang membuat setiap orang wanita yang melihatnya, memandang kagum.

Adapun gadis yang menemaninya, yang di-aku sebagai adiknya, adalah seorang gadis yang amat cantik jelita, ditambah lagi dengan pakaiannya yang amat mewah, membuat ia nampak seperti seorang puteri istana saja.

Rambutnya digelung tinggi ke atas dihias dengan perhiasan emas permata yang mahal, rambutnya dikepang dua dan diikat pita.

Kakak beradik yang kaya raya ini dikawal oleh seorang pelayan pria yang masih muda pula, berpakaian dan berwajah sederhana saja.

Pelayan ini mendorong sebuah gerobak dorong yang terisi buntalan pakaian dan barang-barang yang menjadi bekal kakak beradik itu.

Tak seorangpun akan mengira bahwa tiga orang ini sebenarnya adalah pendekar-pendekar muda yang memiliki ilmu silat tinggi sekali!

Mereka itu adalah Ci Kong yang menyamar menjadi pelayan, Lian Hong yang menyamar sebagai pemuda tampan, dan Kui Eng yang menjadi gadis kaya raya.

Mereka melakukan penyamaran dengan hati-hati sekali, karena wajah mereka bukan tidak dikenal.

Dengan menambah tebal alis, dengan merubah warna kulit muka dengan obat, dan merubah pula tata rambut, Wajah mereka memang berubah, dan siapakah yang akan menyangka bahwa kakak beradik yang kaya raya bersama pelayan mereka ini adalah tiga orang pendekar yang amat lihai?

Tiga orang ini dapat melakukan penyamaran seperti itu berkat batuan Hai-tok yang menyerahkan sekantung emas kepada mereka.

Dengan emas itu, mereka membeli perlengkapan dan perbekalan, dan melakukan perjalanan ke Kota Raja sebagai kakak beradik putera puteri keluarga kaya raya yang hendak berpesiar ke Kota Raja.

Semenjak mereka melakukan perjalanan dalam penyamaran, yang sering merasa sial adalah Ci Kong.

Dia kebagian peran seorang pelayan!

Dan Kui Eng yang wataknya memang nakal itu sering kali memberi perintah yang bukan-bukan kepadanya di depan orang banyak, dengan maksud untuk menggoda!

Untung ada Lian Hong di situ yang bersikap serius, kadang-kadang menegur Kui Eng agar jangan keterlaluan dan menghibur Ci Kong, mengingatkan pemuda itu bahwa mereka dalam penyamaran dan harus dapat bersikap wajar.

Pada suatu pagi, setelah turun dari kereta yang mereka sewa di luar pintu gerbang Kota Raja, kakak beradik ini memasuki pintu gerbang, berjalan perlahan sambil memandang ke kanan kiri seperti dua orang yang menikmati pemandangan yang ramai di Kota Raja, diikuti oleh pelayan yang mendorong kereta.

Hampir semua orang memandang ke arah mereka, bukan karena curiga, melainkan karena tertarik kepada kakak beradik itu, terutama sekali kepada gadis yang cantik jelita berpakaian mewah itu.

"Aih, koko, betapa indah dan ramainya Kota Raja!"

Kata Kui Eng dengan gaya manja kepada Lian Hong yang menyamar sebagai kakaknya.

Suaranya merdu dan sikapnya memang dibuat-buat, sehingga Ci Kong yang berdiri mengusap peluhnya karena lelah mendorong kereta, menahan senyumnya.

Orang-orang yang berada di dekat pintu gerbang, memandang penuh kagum, juga seorang penjaga yang berdiri dengan tangan kanan meraba gagang golok yang tergantung di pinggangnya, memandang kagum.

Tidak ada sedikitpun kecurigaan terhadap kakak beradik yang kaya raya ini.

"Moi-moi, kita mencari rumah penginapan dulu, setelah istirahat, baru nanti kita ke luar berjalan-jalan dan melihat-lihat,"

Jawab kakaknya dengan suara halus dan sambil bicara.

Lian Hong yang menyamar sebagai seorang kongcu itu mengipasi tubuhnya dengan kipas indah di tangan kiri.

Kui Eng lalu melambaikan lengan bajunya yang lebar itu ke arah Ci Kong.

Lagaknya memang meyakinkan sebagai seorang puteri hartawan, dan hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa dahulu Kui Eng adalah puteri seorang kaya raya, yaitu hartawan Ciu Lok Tai di Tung-kang.

Karena ia sendiri dahulunya puteri seorang hartawan kaya raya, tentu saja kini amat mudah baginya ketika menyamar menjadi seorang gadis kaya!

Yang sukar dalam penyamaran itu adalah Lian Hong yang harus berperan sebagai seorang pemuda kaya.

Bahkan Ci Kong juga merasakan kesulitan, karena biarpun dia bukan dan tidak pernah menjadi pemuda kaya, namun diapun belum pernah menjadi pelayan!

"Heii...

Akong, lekas kau pergi mencari penginapan yang baik.

Dua kamar untuk kongcu dan aku, dan engkau sendiri cari kamar pelayan di belakang!"

Perintah Kui Eng dengan gaya angkuh, akan tetapi pandang mata dan senyum dikulum itu mengandung godaan dan ejekan.

Hampir saja Ci Kong marah, akan tetapi karena pada saat itu, banyak mata sedang memperhatikan mereka, terpaksa dia membungkuk dalam dan berkata penuh gaya dan nada menghormat.

"Baiklah, Siocia (nona)!"

Diam-diam Ci Kong mendongkol sekali.

Dia tidak suka disebut Akong, walaupun memang namanya Ci Kong.

Dia ingin agar menggunakan nama lain, akan tetapi Kui Eng agaknya selalu lupa dan memanggilnya Akong, hal yang dia tahu tentu disengaja oleh gadis yang nakal itu, akan tetapi tentu saja dia tidak berani marah, pertama karena penyamarannya dan kedua karena dia memang tidak berani berbuat seperti itu terhadap seorang gadis.

Lian Hong maklum bahwa kembali Kui Eng menggoda Ci Kong, maka sambil tersenyum iapun berkata.

"Tidak perlu kau mencari kamar, Akong. Biarlah kami yang mencarinya dan kau ikut saja dengan kami. Kalau aku tidak salah ingat, di tikungan jalan depan itu terdapat sebuah rumah penginapan yang namanya Kim-ke Li-koan (Penginapan Ayam Emas), entah masih ada di sana atau tidak."

Karena tadi Kui Eng sudah menyebut nama Ci Kong dengan Akong, terpaksa Lian Hong juga menggunakan nama ini agar jangan menarik perhatian orang.

"Baik, kongcu,"

Kata pula Ci Kong dengan sikap hormat.

Kakak beradik itu berjalan perlahan-lahan diikuti oleh pelayan mereka yang mendorong kereta, diikuti pandang mata banyak orang yang merasa kagum.

Benar saja, di sebelah kiri tikungan jalan itu, terdapat sebuah rumah penginapan yang cukup besar, bahkan satu di antara penginapan-penginapan terbesar di Kota Raja.

Di depannya, selain terdapat tulisan Kim-ke Li-koan yang besar, juga terdapat sebuah patung ayam yang dicat emas.

Melihat datangnya pemuda dan pemudi yang berpakaian mewah dan berwajah elok itu, para pelayan segera menyambutnya.

Bahkan pengurus rumah penginapan itu sendiri keluar dan menyambut.

"Selamat datang, kongcu dan Siocia yang terhormat!"

Seru pengurus rumah penginapan sambil tersenyum ramah.

"Apakah ji-wi mencari kamar? Kami menyediakan kamar kelas satu untuk ji-wi"

"Terima kasih,"

Kata Lian Hong.

"Kami membutuhkari dua kamar untuk aku dan adikku, dan sebuah kamar untuk pembantu kami."

Lian Hong menunjuk ke arah Ci Kong yang kembali menghapus keringatnya dengan saputangan, usaha untuk menutupi sebagian mukanya dan juga untuk mencegah agar peluhnya tidak sampai membikin luntur warna kecoklatan yang dipoleskan pada muka dan lehernya.

"Baik, kongcu. Disini ada kamar-kamar untuk para pelayan, di belakang!"

"Tidak... kami ingin agar untuk pelayan kami disediakan kamar yang dekat dengan kamarku, agar kalau sewaktu-waktu kami membutuhkan tenaganya, kami akan dapat menghubunginya dengan mudah,"

Kata pula Lian Hong, dan diam-diam Ci Kong mengerling ke arah Kui Eng, girang bahwa Lian Hong mendahului Kui Eng yang tentu akan menggunakan kesempatan itu untuk menggodanya lagi.

"Aih, engkau diberi kamar tamu, Akong. Hati-hati, kalau mau tidur harus mencuci kaki dan badanmu dulu, jangan sampai mengotorkan kamar tamu dan membikin malu kepada kami saja."

Kui Eng masih sempat juga melontarkan godaan, dan biarpun hatinya mendongkol, Ci Kong mengangguk.

"Baik, Siocia."

Mereka lalu memperoleh tiga kamar yang berdekatan.

Akan tetapi, walaupun memperoleh kamar yang sama sesuai dengan permintaan Lian Hong, tetap saja pelayanan yang diberikan oleh para pelayan terhadap Ci Kong, berbeda dengan pelayanan terhadap kakak beradik itu.

Teh yang disuguhkan ke kamar mereka juga berbeda, teh untuk Ci Kong adalah teh nomor dua seperti yang biasa dibuat suguhan di kamar para pelayan.

Juga untuk keperluan kakak beradik itu, pelayan-pelayan membawakan air panas untuk cuci muka, sedangkan Ci Kong disuruh ambil sendiri ke dapur.

Diam-diam Ci Kong mendongkol juga.

Bayaran untuk kamar-kamar itu sama, akan tetapi pelayanannya berbeda.

Semua itu karena kedudukan, pikirnya.

Makin tinggi kedudukan seseorang, makin dihormat.

Penghormatan antara manusia merupakan penghormatan semu dan palsu belaka.

Bukan manusianya yang dihormat, melainkan kedudukannya, kepandaiannya, kekayaannya.

Bahkan lebih tepat lagi, yang dihormat adalah pakaiannya, karena pakaianlah yang menunjukkan keadaan seseorang.

Buktinya, dia dan kedua orang gadis itu berkedudukan sama.

Akan tetapi karena dia menyamar sebagai pengawal atau pelayan, sedangkan dua orang gadis itu menyamar sebagai orang-orang kaya, maka pelayanan dan penghormatan pun otomatis berbeda!

Tidaklah mengherankan apabila manusia melihat bahwa penghormatan ditujukan kepada kedudukan, saling memperebutkan kedudukan ini!

Setelah malam tiba, rumah penginapan itu cukup ramai dan hampir semua kamar terisi.

Tiga pasang mata yang tajam dari tiga orang pendekar itu dapat melihat bahwa di rumah penginapan itupun terdapat beberapa orang mata-mata yang mengamati setiap orang tamu.

Mereka sendiripun tidak terluput dan pengamatan, akan tetapi karena mereka bersikap wajar dan royal ketika mereka memesan makanan malam, para pengamat itu mundur dengan sendirinya.

Di antara para tamu terdapat lima orang laki-laki yang melihat sekelebatan saja, tiga orang pendekar itu dapat menduga bahwa mereka bukanlah orang sembarangan, dan sikap mereka yang pendiam itu cukup mencurigakan.

Juga mereka tahu bahwa para mata-mata itupun agaknya menaruh curiga terhadap lima orang itu.

"Hati-hati, kurasa akan terjadi sesuatu di sini,"

Ci Kong sempat berbisik kepada dua orang temannya.

Kui Eng dan Lian Hong mengangguk maklum karena merekapun dapat merasakan hal itu.

Dan peristiwa yang mereka duga-duga akan timbul itu memang terjadi malam itu.

Secara tiba-tiba, sepasukan tentara yang jumlahnya kurang lebih dua puluh orang, mengurung rumah penginapan itu dan pemimpinnya seorang komandan muda yang gagah, diikuti oleh beberapa orang tentara, masuk dan pintu depan.

"Semua tamu berkumpul di ruangan tengah, kamar-kamar ditinggalkan kosong! Kami pasukan keamanan melakukan pembersihan!"

Bentak panglima muda yang gagah itu.

Semua tamu menjadi panik, akan tetapi mereka segera meninggalkan kamar masing-masing.

Pengurus penginapan dan para pelayan juga segera memberi tahu kepada semua tamu yang sudah menutup pintu kamar agar meninggalkan kamar dan berkumpul di ruangan tengah, meninggalkan kamar mereka karena ada pembersihan.

Lian Hong dan Kui Eng sudah mendengar keributan itu dan merekapun cepat membereskan penyamaran mereka dan keluar dan dalam kamar.

Kiranya Ci Kong sudah keluar lebih dahulu, dan Ci Kong kelihatan ketakutan, sikap yang tepat sekali, karena hampir semua orang juga kelihatan ketakutan sehingga kalau dia, sebagai seorang pelayan, bersikap tenang, tentu hal ini malah akan menarik perhatian dan mendatangkan kecurigaan.

Melihat dua orang kawannya keluar dan kamar, dan di situ terdapat para tamu yang hilir-mudik penuh kepanikan, Ci Kong mendekati mereka.

"Celaka, kongcu Siocia... eh, ada apa ribut-ribut ini, kukira ada kebakaran... akan tetapi tidak melihat api."

"Ihh, Akong... engkau memang tolol!"

Kui Eng memperoleh kesempatan untuk menggodanya.

"Apa kau tidak mendengar pengumuman tadi? Ada pembersihan, bukan kebakaran!"

"Pembersihan? Apakah kamar-kamar akan dibersihkan? Kenapa kita harus keluar dan berkumpul di ruangan?"

Ci Kong memegang lengan seorang pelayan yang sibuk mengatur agar para tamunya berkumpul di ruangan.

"Eh, Toako, apa sih artinya pembersihan ini?"

Pelayan itu hendak menghardik, akan tetapi melihat kongcu dan Siocia yang berpakaian indah itu berada di situ, dia tidak jadi marah.

"Pasukan keamanan hendak memeriksa semua tamu dan kamar-kamarnya, mencari orang-orang jahat,"

Jawabnya singkat dan diapun sudah pergi lagi.

"Sudahlah, Akong, mari kita berkumpul di ruangan dan jangan panik,"

Kata Lian Hong.

"Nanti dulu, saya mau mengumpulkan barang-barang kita dulu,"

Ci Kong lalu berlari memasuki kamarnya dan keluar lagi membawa buntalan-buntalan besar yang siang tadi dibawanya dengan kereta dorong.

Dengan tubuh diganduli buntalan-buntalan itu, sehingga jalannya juga montang-manting, dia mengikuti dua orang majikannya pergi ke ruangan besar dimana telah berkumpul semua tamu yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh orang itu.

Semua tamu memandang ke arah Kui Eng, karena kehadiran gadis yang demikian cantiknya memang merupakan hal yang merupakan hiburan besar bagi mereka yang sedang panik ketakutan.

Ruangan itu dikepung oleh beberapa orang anak buah pasukan yang memegang golok di tangan kanan, dengan sikap galak mereka memandangi orang-orang itu.

Setelah semua tamu berkumpul, masuklah ke ruangan itu komandan yang memimpin pasukan keamanan, dan diam-diam Ci Kong terkejut bukan main.

Cepat dia berbisik di dekat Lian Hong dan Kui Eng.

"Lee Song Kim... murid Hai-tok..."

Lian Hong dan Kui Eng mengerutkan alisnya.

Mereka sudah mendengar dari Ci Kong siapa adanya Lee Song Kim ini.

Seorang murid dari Hai-tok, murid tersayang, akan tetapi kemudian murid ini telah murtad, menjadi kaki tangan pemerintah Ceng, bahkan penggerebekan di guha-guha tepi pantai ketika Hai-tok mengadakan pesta itupun merupakan hasil pengkhianatan pemuda ini.

Lian Hong dan Kui Eng memperhatikan dan kebetulan pada saat itu, Song Kim yang sedang menyapu orang-orang yang dikumpulkan itu dengan pandang matanya, melihat Kui Eng dan wajahnya yang tampan nampak berseri, sinar matanya menjadi tajam.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa dia tertarik sekali.

Memang, siapa orangnya yang tidak akan tertarik kepada gadis yang cantik jelita itu?

Apa lagi Lee Song Kim, pemuda yang berwatak kejam, cabul dan mata keranjang itu!

Maka, kini dia melangkah menghampiri dan dapat dibayangkan betapa tegang rasa hati Ci Kong ketika melihat komandan muda itu kini memandang kepadanya, lalu ke arah buntalan-buntalan yang bergantungan di pundaknya.

Tentu saja Ci Kong merasa khawatir kalau-kalau Song Kim mengenalnya.

Memang baru dua kali dia bertemu dengan Song Kim.

Yang pertama ketika dia menyelamatkan Kiki di pantai yang akan diperkosa pemuda laknat itu.

Akan tetapi walaupun mereka sudah berkelahi, ketika itu cuaca remang-remang dan Song Kim tentu tidak melihatnya dengan jelas.

Pertemuan yang kedua kalinya juga hanya singkat saja.

Agaknya Song Kim mengenalnya dan karena takut rahasianya di pantai dahulu itu dibuka, maka pemuda laknat itupun lalu melarikan diri.

Kini, dia menyamar sebagai pelayan, dengan alis yang sudah dirubah bentuknya, dengan muka dan leher yang menjadi kecoklatan dan pakaian yang seperti seorang pelayan.

Tak mungkin Song Kim mengenalnya.

Akan tetapi melihat betapa komandan itu memandang kepadanya penuh perhatian, berdebar juga rasa jantung dalam dada Ci Kong!

Karena berada di dekat Kui Eng, Song Kim hendak berlagak dan memperlihatkan kekuasaannya.

"Hei kau !"

Bentaknya sambil menuding ke arah Ci Kong.

"Apa yang kau bawa itu? Kenapa tidak ditinggal di kamar saja?"

Dengan tubuh gemetar Ci Kong berkata.

"Maaf maafkan saya, Tuan besar. Saya saya mendengar ada orang-orang jahat, maka saya khawatir barang-barang ini hilang."

Sudah menjadi kebiasaan para anak buah Song Kim kalau melakukan pembersihan, mereka itu benar-benar melakukan "Pembersihan"

Terhadap berang-barang berharga dan rumah yang sedang digeledah. Song Kim tahu akan hal ini, maka merasa diejek oleh ucapan laki-laki yang berpakaian pelayan itu.

"Apa kau bilang? Siapa penjahat?"

Melihat betapa komandan muda itu marah-marah, Kui Eng yang sudah dapat menangkap pandang mata komandan itu tadi kepadanya, cepat melangkah maju.

"Maaf, Ciangkun. Barang-barang itu adalah milik kami, dan dia adalah pelayan kami. Akong, taruh saja barang-barang itu di atas lantai."

Suara merdu ini membuat Song Kim memutar tubuhnya dan wajahnya berseri kembali.

Tak disangkanya bahwa pelayan itu adalah pelayan wanita cantik ini.

Pada saat itu, Lian Hong juga melangkah maju memberi hormat.

"Maaf, Ciangkun. Memang benar bahwa barang-barang itu milik adik saya dan saya, hanya bekal pakaian. Dia adalah pelayan kami, karena tidak tahu, tadi dia membawa barang-barang itu ke sini."

Makin girang hati Song Kim mendengar hal itu. Wanita cantik itu adalah adik pemuda tampan ini. Mereka nampak kaya raya dengan pakaian mewah, pikirnya. Diapun balas menjura dan berkata.

"Ahh, tidak mengapa kalau begitu. Sebaliknya, maafkan kami kalau kami telah mengganggu. Kami hanya melaksanakan tugas, melakukan pembersihan karena di Kota Raja terdapat banyak orang-orang jahat yang menyelundup masuk."

"Ihhh, mengerikan!"

Kui Eng berlagak dan dengan sikap manja memegang lengan kakaknya.

"Kalau begitu, kita cepat-cepat pulang saja..."

"Harap jangan takut, nona... kalau ada saya di sini, nona akan aman. Percayalah, saya akan menjaga keselamatan nona."

"Aih, Ciangkun sungguh baik hati sekali. Terima kasih, Ciangkun,"

Kata Kui Eng dengan sikap manis, diiringi kerling tajam dan senyum dikulum.

Tentu saja Lee Song Kim menjadi semakin tertarik.

Kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin dia di saat itu juga merangkul dan menciumi muka yang cantik jelita itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan belasan orang prajurit mendorong-dorong lima orang laki-laki memasuki ruangan itu.

"Lee-Ciangkun, mereka ini hendak melarikan diri dari rumah penginapan!"

Seorang prajurit melapor.

"Apa? Kalian ini tentu mata-mata jahat! Hayo mengaku, kalian siapa dan mau apa berada di sini, mengapa pula hendak melarikan diri ketika datang pembersihan! Awas, kalau kalian tidak mau mengaku, kalian akan disiksa!"

Teriak Lee Song Kim, semakin angkuh saja karena dia sedang berlagak di depan wanita cantik.

Semua orang mengira bahwa lima orang laki-laki itu tentu akan menjadi ketakutan dan minta ampun.

Akan tetapi ternyata kenyataan sama tekali tidak demikian.

Lima orang itu bahkan saling pandang, saling memberi isyarat dan tiba-tiba saja mereka maju menyerang Lee Song Kim.

Perwira muda itu cepat mengelak dan menangkis, dan para tamu menjadi panik sekali.

Ketika para prajurit hendak turun tangan, terdengar Song Kim berseru.

"Kalian jangan membantu, biarkan aku sendiri menghadapi lima ekor tikus ini! Dan para tamu semua jangan ribut, lihat... kusuguhkan tontonan yang menarik!"

Lee Song Kim tentu saja bukan orang bodoh, dan ketika lima orang tadi bergerak menyerangnya, dia sudah dapat mengukur kemampuan mereka.

Mereka berlima itu hanyalah orang-orang yang mengandalkan tenaga besar saja, namun tidak memiliki ilmu silat yang berarti.

Karena dia yakin akan mampu mengalahkan mereka, maka diapun ingin sekali memperlihatkan kepandaiannya untuk berlagak di depan para tamu penginapan, terutama sekali di depan Kui Eng yang telah menarik perhatiannya.

Lima orang itupun nampaknya sudah nekat.

Tempat itu sudah dikurung oleh pasukan yang bersenjata lengkap.

Mereka tidak akan mampu melarikan lagi.

Andaikata dapat membobol keluar kepungan, merekapun akan sulit untuk dapat keluar dan Kota Raja.

Maka, kini mereka hendak nekat dan mengamuk, sebelum mereka roboh, mereka akan membunuh prajurit pemerintah sebanyaknya dan terutama sekali perwira muda ini.

Melihat betapa perwira muda itu melarang para prajurit mengeroyok, dan kini prajurit itu berdiri tegak dengan sikap sombong di tengah-tengah ruangan, lima orang itu lalu mengepungnya dan bergerak mengitarinya, mencari-cari lowongan untuk dapat menyerang si perwira yang sombong.

Song Kim hanya berdiri dan bertolak pinggang, tersenyum-senyum menghadap ke arah Kui Eng.

Dan Kui Eng juga dengan cerdik sekali memasang sikap yang penuh kagum memandang kepada perwira itu.

Tadi Lian Hong berbisik kepadanya bahwa mungkin sekali mereka bisa mendapatkan rahasia dan perwira muda itu.

Maka, melihat betapa perwira itu tertarik kepadanya, Kui Eng sengaja hendak menjatuhkannya agar mereka dapat berkenalan dan terdapat kemungkinan mengorek keterangan dan perwira itu.

"Heiiittt!"

Tiba-tiba seorang di antara lima orang laki-laki gagah yang berada di belakang tubuh Song Kim, menyerang dengan tubrukan.

Kedua tangannya mencengkeram ke arah leher, agaknya hendak mencekik dan belakang.

Seperti aba-aba saja, teriakan itu disusul oleh gerakan empat orang temannya yang juga sudah menyerang dari berbagai jurusan, Ada yang mencengkeram, ada yang menghantam kepala ada pula yang menendang.

Namun, Song Kim bersikap tenang saja.

Tubuhnya bergerak, kedua kakinya melangkah ke sana-sini dengan amat gesitnya, dan serangan lima orang itu semua tidak mengenai sasaran.

Lima orang itu merasa penasaran dan mereka melanjutkan serangan bertubi-tubi.

Namun, dengan gin-kang yang istimewa, Lee Song Kim mengatur langkah-langkahnya dan semua serangan itupun gagal.

Jangankan mengenai tubuhnya, menyentuh ujung jubahnyapun tidak.

Para prajurit tertawa-tawa melihat betapa komandan mereka mempermainkan lima orang itu.

Mereka semua sudah maklum akan kelihaian Lee Song Kim, dan kini mereka tahu bahwa komandan mereka itu sengaja mempermainkan lawan-lawannya dan memperlihatkan kebolehannya.

"Ha-ha, kalian kiranya hanya lima ekor tikus yang tiada gunanya! Kalian tentu mata-mata dan pemberontak, bukan?"

Sambil mengelak ke sana-sini, Song Kim berkata dengan suara lantang.

Akan tetapi lima orang itu tidak menjawab, melainkan menyerang terus dengan penuh kegarangan.

Mereka maklum bahwa mereka tentu akan mati semua, akan tetapi semangat mereka tidaklah mengendur dan walaupun mereka tahu bahwa perwira muda ini ternyata lihai bukan main, mereka tidak menjadi jerih dan tidak sudi untuk mengaku atau menyerah.

Sementara itu, Ci Kong memandang dengan jantung berdebar.

Beberapa kali dia mengepal tinjunya.

Liang Hong melihat ini dan diam-diam mengedipkan matanya mencegah agar pemuda itu tidak melakukan sesuatu.

Ia sendiripun khawatir melihat lima orang itu, akan tetapi lima orang itu sungguh tak tahu diri.

Dengan kepandaian seperti itu, mereka berani menjadi mata-mata memasuki Kota Raja!

Kalau ia dan kawan-kawannya turun tangan menolong lima orang itu, berarti tugas mereka akan gagal dan mereka belum tentu dapat menyelamatkan lima orang itu keluar dari Kota Raja.

Bahkan keadaan mereka bertiga sendiri akan terancam!

Ci Kong mengerti akan hal ini, dan biarpun hatinya merasa penasaran sekali melihat lima orang pejuang itu dipermainkan, namun dia hanya mengepal tinju dan mengertak gigi.

"Kalian tikus-tikus bandel. Rasakan ini!"

Dan kini tiba-tiba Lee Song Kim menggerakkan tangan balas menampar.

"Plakk!"

Seorang di antara para pengeroyok itu terplanting roboh tak mampu bangkit kembali.

Tulang rahangnya patah-patah dan kini mukanya menggembung dan dia berkelojotan setengah pingsan.

Dengan kecepatan yang luar biasa, Song Kim lalu berkelebatan membagi pukulan dan sekejap mata saja, empat orang pengeroyok lainnya juga roboh dan tidak mampu bangkit kembali.

Lee Song Kim tersenyum, menepuk-nepuk kedua tangan dan pakaiannya seperti orang membersihkan debu, mengerling ke arah Kui Eng.

"Nah, lihatlah, nona. Kalau ada penjahat-penjahat mengganggu nona, akan kurobohkan seperti itu."

Lalu dengan suara galak, dia memerintahkan prajuritnya untuk menyeret lima orang itu dan memaksa mereka agar mengaku siapa mereka dan apa tujuan mereka menyelundup ke Kota Raja.

Lee Song Kim lalu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap semua tamu, juga kamar-kamar mereka.

"Kamar kongcu dan Siocia ini bersama pengawalnya tidak usah diperiksa, mereka adalah orang baik-baik,"

Tambahnya. Kini Kui Eng menyembunyikan ketegangan hatinya dan iapun tersenyum kepada Lee Song Kim setelah tubuh lima orang itu digusur pergi.

"Aihh, Ciangkun sungguh gagah perkasa!"

Ia memuji dan tentu saja Song Kim girang bukan main mendengar pujian ini, yang baginya merupakan tanda bahwa agaknya dia tidak bertepuk tangan sebelah karena nona inipun kagum kepadanya!

Hal ini tidak mengherankan hatinya, karena sudah terbiasa bagi Song Kim bahwa setiap orang wanita akan kagum melihat ketampanan dan kegagahannya!

"Aihh, hal itu tidak ada artinya, nona.

Mereka hanya tikus-tikus kecil tidak ada artinya.

Biar ada lima puluh orang seperti mereka, aku akan mampu mengalahkan mereka semua.

Kalau boleh aku berkenalan dengan kalian, siapakah nama nona dan siapa pula nama kakak nona, dimana ji-wi tinggal?"

Kini Kui Eng memasang aksi malu-malu kucing.

"Ihh... Ciangkun tanya saja kepada kakakku ini."

Kui Eng memang nakal. Sebetulnya, ia tidak suka bercakap-cakap dengan Song Kim dan kini ia sengaja mengoperkan tugas itu kepada Lian Hong! Terpaksa Lian Hong yang memberi keterangan.

"Nama saya Bi Seng dan adik saya ini bernama Bi Hwa, kami she Liem dan tinggal di Thian-cin, akan tetapi kedua orang tua kami sudah pindah dan kembali ke kampung kami, di luar kota Thian-cin. Orang tua kami dikenal sebagai Liem Wan-gwe di Thian-cin."

Tentu saja semua itu hanya nama-nama khayal belaka.

Lian Hong sengaja mempergunakan she Liem, she yang dipunyai banyak orang, dan di Thian-cin atau di kota manapun, sudah pasti terdapat Liem Wan-gwe (hartawan Liem), bukan hanya seorang saja.

"Ah, kiranya Liem-kongcu dan Liem-Siocia adalah orang-orang muda hartawan yang sedang pesiar ke Kota Raja, begitukah?"

Tanya Song Kim ramah. Dua orang itu mengangguk membenarkan.

"Saya bernama Lee Song Kim dan menjadi seorang komandan pasukan keamanan di Kota Raja."

Kini para prajurit setelah selesai melakukan pemeriksaan, tentu saja dengan mengantongi barang-barang berharga seperti biasanya, sudah berkumpul di situ dan membuat laporan kepada Lee Song Kim bahwa semuanya beres, tidak ada yang mencurigakan di antara para tamu kecuali lima orang yang sudah ditangkap tadi.

Song Kim menghadapi kakak beradik itu.

"Sungguh sayang bahwa terpaksa saya harus pergi menyelesaikan tugas. Sebetulnya masih ingin sekali saya bercakap-cakap dengan ji-wi yang ramah. Bagaimana kalau saya mengundang ji-wi untuk datang berkunjung ke rumah saya? Saya ingin mengundang ji-wi makan siang pada hari esok, dan saya sangat mengharapkan ji-wi tidak akan keberatan."

"Aih, Ciangkun sungguh baik sekali..."

Kata Kui Eng dengan suara merdu.

"Kami hanya akan mengganggu waktu yang berharga dari Ciangkun saja,"

Kata Lian Hong, dengan sikap wajar orang yang sungkan.

"Tidak, sama sekali tidak, Liem-kongcu. Ji-wi tidak akan mengganggu, bahkan akan menyenangkan hati saya."

"Akan tetapi... tentu akan mengganggu Lee Hu-jin (Nyonya Lee),"

Kata pula Lian Hong. Lee Song Kim tertawa. Ketawa yang diatur agat kelihatan tampan dan sopan.

"Ha-ha-ha! Hu-jin mana yang akan terganggu? Saya masih belum mempunyai isteri, seperti juga Liem-kongcu dan Liem-Siocia..."

Berkata demikian, Song Kim memandang wajah gadis itu dengan penuh tantangan, dan Kui Eng dengan cerdik dapat mengubah kemarahan menjadi sikap malu-malu dan iapun menundukkan mukanya yang menjadi merah.

Bukan merah malu sebenarnya, melainkan merah karena marah.

"Baiklah kalau begitu, Lee-Ciangkun. Besok siang menjelang tengah hari, kami akan berkunjung ke rumah Ciangkun. Akan tetapi... dimanakah gedung tempat tinggal Ciangkun?"

Tanya Lian Hong.

"Tidak jauh dari istana!"

Kata Song Kim bangga.

"Di sebelah timur pintu gerbang utara. Kalau jiwi sampai di pintu gerbang istana sebelah utara dan bertanya kepada siapa saja dimana rumah komandan she Lee ini, tentu semua orang akan dapat menunjukkannya."

Mereka berpisah setelah sekali lagi Song Kim minta agar besok siang mereka benar-benar datang berkunjung.

Setelah pasukan itu pergi, barulah semua tamu kembali ke kamar masing-masing dan barulah mereka yang merasa kehilangan barang-barang berharga itu berseru kaget.

Akan tetapi, siapakah yang berani membuat ribut karena kehilangan itu?

Sudah jelas bahwa pasukan yang memasuki dan menggeledah kamar mereka, hanya anak buah pasukan itu.

Jelas bahwa pasukan itulah yang mencuri barang-barang berharga mereka.

Ribut-ribut soal barang, jangan-jangan malah akan menyeret tubuh mereka masuk penjara.

Karena itu, mereka yang kehilangan diam saja dan hanya mengeluh dan menangis.

Setibanya di kamar Lian Hong, Kui Eng mengepal tinju.

"Bedebah keparat! Ihh, betapa ingin aku menampar mulutnya sampai remuk!"

"Tenanglah, Enci Eng. Siapa orangnya tidak muak melihat mukanya, akan tetapi kita harus pandai bersandiwara. Aku yakin bahwa engkau akan dapat mengorek rahasia penting dan orang she Lee itu..."

Kata Lian Hong.

"Hemm, enak saja engkau berkata demikian, Hong-moi, karena akulah yang menjadi perempuan dan menjadi incarannya. Bagaimana kalau sampai dia bersikap keterlaluan dan kurang ajar?"

"Kita hajar dan bunuh saja si keparat itu!"

Tiba-tiba Ci Kong juga memasuki kamar Lian Hong berseru.

Dia sudah sejak tadi menahan-nahan kedongkolan hatinya terhadap Lee Song Kim.

Apalagi ketika dia mengingat betapa lima orang tadi, para pejuang, tentu akau tewas di bawah siksaan orang-orang komandan itu.

"Ci Kong, harap engkau bersabar pula. Memang tugas kita ini sukar sekali. Aku sendiripun lebih senang kalau melakukan tugas dimana kita hanya mempergunakan kaki tangan untuk melawan musuh. Akan tetapi tugas kita sekali ini adalah menggunakan otak, bersiasat dan harus cerdik, dan dapat menahan emosi. Kalau tidak, kita akan gagal sama sekali.

"Jangan kau khawatir, Enci Eng. Kalau dia hendak kurang ajar, engkau tentu dapat mencegahnya dengan sikapmu. Kalau dia bertindak kasar, hendak menggunakan kekerasan, selain engkau tidak takut kepadanya, di dekatmu ada aku dan Ci Kong."

"Hemm, kuharap saja dia bertindak kasar terhadap Kui Eng, agar aku dapat menghancurkan kepalanya!"

Kata pula Ci Kong.

Pemuda ini biasanya pendiam dan sabar, akan tetapi peran yang dipegangnya selama ini membuat dia seringkali kehilangan kesabaran!

Pada keesokan harinya, menjelang tengah hari, dengan menumpang sebuah kereta sewaan, Lian Hong dan Kui Eng dikawal oleh Ci Kong, datang berkunjung ke rumah gedung Lee Song Kim.

Tidak sukar menemukan rumah gedung mungil ini.

Ternyata Lee Song Kim, dalam waktu singkat saja telah dapat merebut kedudukan yang baik, mendapat kepercayaan besar dari panglima pasukan keamanan, bahkan dia pernah diperkenalkan kepada kaisar sendiri oleh panglima itu dan menerima pujian kaisar.

Untuk kesempatan ini, Kui Eng mengenakan pakaian yang amat indah.

Sutera biru muda itu, dengan hiasan sulaman emas dan merah, sungguh membuat ia nampak cantik bukan main.

Rambutnya digelung tinggi, dan sisanya diikat dengan pita, dikepang dua, dan ia memakai minyak wangi.

Juga Lian Hong mengenakan pakaian baru, bahkan Ci Kong juga mengenakan baju yang baru sehingga walaupun bajunya itu masih menunjukkan bahwa dia hanya seorang pelayan, namun dia cukup bersih, bahkan tampan!

Akan tetapi dia tidak lupa untuk menambah warna kecoklatan pada mukanya, lehernya dan kedua tangannya yang tidak tertutup pakaian.

Karena kusir kereta sewaan tahu bahwa dia membawa penumpang yang menjadi tamu-tamu dan Lee-Ciangkun, maka dengan gembira dia memasuki kereta itu melalui pintu gerbang.

Para prajurit yang berjaga di luar pintu, sudah diberitahu oleh Song Kim sehingga mereka menyambut kereta itu dan mempersilahkannya masuk tanpa melakukan pemeriksaan lagi.

Lee Song Kim sendiri yang keluar menyambut dari dalam gedungnya, dan melihat pemuda itu, hampir saja Ci Kong tertawa.

Pemuda yang kemarin menjadi komandan dengan pakaian perwira yang gagah, berubah menjadi seorang pemuda pesolek!

Wajahnya yang tampan nampak bersih sekali seperti dibedaki, alisnya jelas ditambahi penghitam alis, dan bibirnya juga memiliki warna merah yang tidak wajar!

Benar-benar seorang muda yang pesolek!

Topinya adalah topi yang biasa dipakai oleh kongcu-kongcu bangsawan, dan yang lucu adalah jubahnya.

Jubah itu berwarna merah, berkembang dan bertuliskan huruf REZEKI, seperti yang biasa dipakai oleh bangsawan-bangsawan kaya raya dan berkedudukan tinggi, atau seperti pakaian seorang pengantin pria!

"Wah, sungguh saya merasa berbahagia sekali menerima kunjungan ji-wi.

Sungguh ji-wi merupakan dua orang muda yang tepat memegang janji.

Silahkan masuk, nona, silahkan, kongcu.

Mari kita langsung saja ke ruangan makan, karena saya telah mempersiapkan hidangan untuk memberi selamat kepada ji-wi.

Mari...

silahkan!

Dengan amat ramahnya, Lee Song Kim mengajak dua orang tamunya masuk ke dalam.

Tanpa mengeluarkan suara apapun, Ci Kong mengikuti dua orang temannya, dengan sikap membungkuk-bungkuk seperti layaknya sikap seorang pelayan yang sungkan-sungkan dan malu-malu.

Melihat betapa pelayan itu ikut masuk, Song Kim mengerutkan alisnya, akan tetapi dengan sikap ramah dia berkata kepada Lian Hong.

"Liem-kongcu, sebaiknya pelayanmu itu biar menanti di luar, nanti kusuruh pelayan-pelayanku untuk menjamunya."

"Maaf, Lee-Ciangkun. Kalau boleh, biarlah dia ikut untuk melayani kami. Dia pelayan kami sejak kecil, sehingga kami menganggapnya seperti keluarga sendiri saja, dan kami akan merasa kaku tanpa dia yang melayani. Dia harus selalu dekat kami agar mudah kalau sewaktu-waktu kami membutuhkan sesuatu."

Lian Hong berkata dengan balus. Song Kim memandang ke arah Kui Eng, dan gadis inipun mengangguk.

"Benar, Ciangkun. Kalau tidak ada Akong yang melayani, kami akan merasa kaku."

Mendengar ucapan Kui Eng itu, terpaksa Song Kim membiarkan Ci Kong ikut masuk ke dalam gedungnya.

Mereka langsung diajak memasuki ruangan makan dimana telah tersedia meja bundar yang besar, dan ruangan itu sudah terhias dengan indah, penuh dengan bunga-bunga dan kertas berwarna, seolah-olah tuan rumah memang mengadakan pesta saja.

Yang menarik perhatian tiga orang pendekar muda itu adalah bahwa rumah itu benar-benar kosong, tidak ada anggauta keluarga Lee Song Kim, kecuali para pelayan yang terdiri dari pria-pria muda dan gadis-gadis muda, tampan dan cantik mereka itu.

Song Kim mempersilahkan Lian Hong dan Kui Eng untuk duduk berhadapan dengannya di meja bundar, Sedangkan Ci Kong yang tahu diri hanya berdiri di pinggiran, tidak berani mendekati meja, dan menonton saja betapa dua orang temannya itu mulai dijamu dengan hidangan-hidangan yang serba mahal dan lezat, dan diapun hanya melayani dengan menuangkan arak untuk kongcu dan Siocianya, lalu mundur lagi.

Tentu saja beberapa kali dia harus menelan ludah sendiri melihat betapa dua orang itu makan dengan enaknya, bahkan Kui Eng yang nakal itu beberapa kali memuji-muji kelezatan makanan, terutama sekali bakmi dan bakso yang dihidangkan.

Padahal mi bakso merupakan makanan kegemaran Ci Kong!

Song Kim gembira bukan main mendengar pujian Kui Eng, dan dia menjamu kedua orang tamunya itu dengan sikap ramah.

Setelah selesai makan, Lee Song Kim lalu mengajak dua orang tamunya itu menuju ke taman bunga di belakang ruangannya.

"Di dalam panas sekali, mari kita mencari angin di taman bungaku yang sedang penuh bunga, hawanya sejuk dan segar,"

Katanya.

Memang taman bunga itu indah, penuh dengan bunga-bunga beraneka warna dan taman itu terawat.

Lian Hong memberi isyarat kepada Kui Eng dengan sentuhan tangan, lalu dara ini sengaja berkata sambil menuding ke arah belakang taman.

"Aihh, di sana ada sekumpulan bunga seruni yang paling kusuka. Lee-Ciangkun, bolehkah saya melihat-lihat ke sana?"

Mendengar ini, Song Kim girang sekali. Pada saat itu, Kui Eng sudah duduk di atas sebuah bangku menikmati keindahan serumpun bunga mawar di depannya.

"O... tentu saja boleh, silahkan, Liem-kongcu! Silahkan!"

"Marilah, Akong, kau temani aku melihat-lihat bunga seruni di sana!"

Kata Lian Hong sambil lalu, kemudian bersama Ci Kong meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan tuan rumah.

Memang ia sengaja melakukan ini untuk memberi kesempatan kepada Kui Eng bercakap-cakap berdua saja dengan tuan rumah, sehingga Kui Eng akan dapat berusaha mengorek keterangan dan perwira muda itu.

Setelah berada di bagian belakang kebun, di kumpulan bunga seruni yang sedang mekar semerbak itu, Ci Kong mengomel.

"Lian Hong, apakah tidak berbahaya meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan laki-laki hidung belang itu?"

"Ssttt, jangan begitu, Ci Kong. Dia akan mampu berbuat apa terhadap Kui Eng? Jangan lupa, Kui Eng memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan kita, dan kurasa ia akan mampu mengendalikan Lee Song Kim kalau laki-laki itu akan melakukan hal yang tidak pantas. Pula, kita berada di sini, tidak begitu jauh, bukan? Biarlah Kui Eng memperoleh kesempatan untuk menguras keterangan darinya."

Ci Kong diam saja, hanya alisnya berkerut.

Dia tahu benar siapa adanya perwira muda itu.

Seorang laki-laki yang amat keji, bahkan sumoinya sendiri, Kiki, hampir saja menjadi korban kekejiannya dan diperkosanya.

Mengingat akan hal itu, dia benci sekali terhadap Song Kim, dan kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin dia pada saat itu juga menyerang Song Kim dan membunuhnya!

Sementara itu, Kui Eng yang mengerti bahwa dua orang kawannya itu sengaja membiarkan ia berdua dengan tuan rumah agar ia dapat mencoba untuk mengorek rahasia, segera berkata.

"Aihh, begini indah taman bungamu, Ciangkun. Duduk di sini, aku merasa seolah-olah dunia ini begini indah dan aman tenteram. Akan tetapi kalau aku teringat akan peristiwa malam tadi, aku merasa ngeri. Lee-Ciangkun, sebenarnya apakah yang telah terjadi maka engkau dan pasukanmu harus melakukan pembersihan seperti itu?"

Sejak tadi Song Kim memandang gadis itu dengan penuh kagum.

Seorang gadis yang amat cantik jelita.

Dan kaya raya pula!

Kalau dia dapat mempersunting gadis ini, alangkah akan senang hatinya.

Bukan saja mendapatkan seorang isteri yang cantik manis, akan tetapi kaya raya pula!

"Ah, keadaan sekarang amat kacau, nona.

Di luar tempat ini banyak berkeliaran orang jahat dan mata-mata pemberontak."

"Pemberontak? Aih, aku sudah banyak mendengar tentang itu, Ciangkun. Dari Ayahku, aku banyak mendengar tentang Perang Candu di selatan, dan tentang orang-orang kulit putih, tentang pemberontakan-pemberontakan yang timbul.

"Bhkan sebelum aku berangkat, aku mendengar Ayah mendongeng tentang sebuah pusaka yang diperebutkan, harta pusaka yang amat besar nilainya, dan kabarnya harta pusaka itu terjatuh ke tangan orang-orang sakti yang kabarnya akan dipergunakan untuk pemberontakan. Benarkah itu?"

Diam-diam Song Kim terkejut mendengar ini, akan tetapi ketika dia melihat wajah yang polos itu, dia tidak jadi curiga dan diapun maklum bahwa berita tentang Giok-liong-kiam yang terjatuh ke tangan Empat Racun Dunia sudah tersebar luas.

Dia sendiripun sedang berusaha mati-matian, dengan menyebar mata-mata dan kaki tangannya, untuk mengamati para tokoh itu.

Pemerintah sudah bertekad untuk merampas harta pusaka yang tersimpan rahasianya dalam pedang pusaka Giok-liong-kiam.

Dan gadis ini tentu hanya mendengar hal itu seperti dongeng saja.

"Memang benar! Ada harta karun yang amat besar nilainya, kini terancam akan terjatuh ke tangan orang-orang jahat yang hendak mengadakan pemberontakan."

"Ihhh! betapa mengerikan kalau sampai mereka berhasil, menguasai harta itu dan mengadakan pemberontakan, tentu keadaan negara akan menjadi kacau. Dan mungkin keluargaku harus mengungsi ke Kota Raja. Aku akan minta kepada Ayah untuk mengungsi ke Kota Raja. Akan tetapi kami tidak mempunyai rumah disini."

"Jangan khawatir, nona. Aku yang akan menampung keluargamu kalau keluargamu benar-benar ingin mengungsi ke Kota Raja..."

Katanya dengan senyum dan pandang mata memikat.

"Tapi, Ciangkun. Kalau pemerintah sudah tahu akan hal itu, kenapa pemerintah tidak turun tangan? Kenapa tidak mengirim pasukan dan merampas saja harta pusaka itu agar jangan terjatuh ke tangan para pemberontak?"

Dengan cerdik, Kui Eng memancing dengan sikap bodoh dan tidak mengenal persoalan.

"Ah, engkau tidak mengerti, nona. Persoalannya tidaklah sesederhana itu. Kalau pusaka itu berada di tangan penjahat-penjahat biasa, tentu akan mudah. Akan tetapi keadaannya tidaklah demikian."

"Lee-Ciangkun, engkau membikin aku menjadi bingung. Maukah engkau bercerita untuk melengkapi dongeng dari Ayah? Siapa sih yang menguasai harta pusaka itu, dan kenapa kau bilang bahwa tidak mudah untuk merampas agar harta itu tidak dipergunakan memberontak?"

Song Kim tersenyum.

"Sebetulnya ini rahasia yang tidak boleh kuberitahukan orang lain."

"Aih, kalau Ciangkun menganggap aku orang lain, bukan sahabat baik, tak usah diceritakan..."

Kata Kui Eng sambil cemberut.

Song Kim semakin tertarik.

Kalau cemberut, gadis ini menjadi semakin manis saja.

Memang Kui Eng memiliki kelebihan di sekitar mulutnya.

Mulut itu manis sekali, sehingga dalam keadaan bagaimanapun, cemberut atau tersenyum, tetap saja nampak manis.

"Kukatakan tadi, kepada orang lain tidak boleh kuceritakan, kalau kepadamu sih tidak apa-apa, nona. Akan tetapi sebelum aku bercerita, engkau harus berjanji dulu."

"Baik, aku berjanji tidak akan menceritakannya kepada orang lain!"

"Ha-ha, bukan itu, nona. Akan tetapi berjanjilah bahwa besok malam engkau dan kakakmu akan datang menghadiri pesta yang akan kuadakan di dalam taman ini. Yang akan hadir hanyalah rekan-rekan dan tokoh-tokoh di Kota Raja. Maukah engkau berjanji akan hadir?"

Biar disuruh berjanji apapun, tentu Kui Eng akan menyanggupi, karena ia ingin sekali mendengar rahasia yang sudah berada di ujung bibir tuan rumah ini.

"Baiklah, kalau tiada halangan sesuatu, aku dan koko akan hadir besok malam."

"Nah, sekarang akan kuceritakan kepadamu, dan biarlah aku duduk di dekatmu agar suara bisikanku dapat kau dengar, nona. Hal ini tidak boleh didengar orang lain."

Tanpa menanti persetujuan Kui Eng, pemuda itu lalu duduk di dekat Kui Eng, di atas bangku!

Kui Eng terkejut.

Dalam keadaan biasa, ia tentu akan marah sekali.

Akan tetapi ia hanya menggeser tubuhnya agak minggir agar jangan terlalu dekat dengan tubuh pemuda itu yang bau harum semerbak karena terlalu banyak memakai minyak wangi.

"Nona Liem, pusaka yang diperebutkan itu merupakan sebuah pedang pusaka yang disebut Giok-liong-kiam. Dahulu pedang itu diperebutkan karena dianggap sebagai lambang kegagahan, dan siapa yang memiliki pedang itu dianggap sebagai jagoan nomor satu di dunia persilatan. Akan tetapi kemudian, orang mendapat kabar bahwa pedang itu menyembunyikan rahasia tempat penyimpanan harta karun yang amat besar! Perebutan menjadi lain lagi sifatnya. Pemerintah juga mendengar bahwa harta karun itu akan dipergunakan oleh orang-orang jahat untuk membiayai pemberontakan. Oleh karena itu, pemerintah sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa pedang itu terjatuh ke tangan Empat Racun Dunia, yaitu tokoh tokoh dunia persilatan."

Diam-diam Kui Eng merasa geli mendengar ini.

Kalau saja pemuda perwira ini tahu bahwa ia adalah murid Tee-tok dan Lian Hong murid San-tok, bahkan Ci Kong yang menjadi pelayan itu adalah murid Siauw-lim-pai, tentu Song Kim akan dapat mati berdiri saking kagetnya.

Semua yang diceritakan itu tentu saja diketahuinya dengan baik.

"Kalau sudah diketahui, kenapa pemerintah tidak mempergunakan pasukan saja untuk menangkap mereka dan merampas pedang itu?"

Ia berkata untuk memperlihatkan bahwa ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Song Kim tersenyum lebar.

"Wah, tidak semudah itu, nona. Engkau tahu siapa adanya Empat Racun Dunia itu. Mereka adalah orang-orang yang sakti seperti iblis, dan tidak mudah menangkap mereka. Pemerintah sudah turun tangan, mencoba untuk menyerbu tempat tinggal dua orang di antara mereka, namun hanya mampu membuat sarang mereka kocar-kacir, akan tetapi tidak mampu menangkap mereka."

"Ihh...!"

Kui Eng pura-pura kaget.

"Mengerikan sekali! Kalau begitu, apakah pemerintah harus diam saja membiarkan mereka mendapatkan harta karun dan mempergunakan harta itu untuk memberontak?"

Perwira itu menggeleng kepala dan tersenyum.

"Kami tidaklah sebodoh itu, nona. Kini kami sudah menyebar mata-mata dimana-mana, mengawasi gerak-gerik mereka. Bahkan kami akan membiarkan Empat Racun Dunia itu mencari dan menemukan harta pusaka itu lebih dahulu.

"Setelah ditemukan, barulah kami akan menyergap mereka dan merampas harta pusaka itu. Kalau kini kami merampas Giok-liong-kiam pun percuma saja, kami belum tentu akan bisa mendapatkan rahasia tersembunyi yang menunjukkan tempat penyimpanan harta karun itu."

Diam-diam Kui Eng terkejut bukan main, akan tetapi juga girang.

Kiranya pemerintah mempunyai siasat seperti itu!

Ia harus cepat-cepat memberitahukan hal itu kepada gurunya.

Akan tetapi, gurunya sudah pergi bersama San-tok dan Hai-tok!

Mungkinkah orang-orangnya pemerintah akan dapat membayangi tiga orang Kakek itu?

Ia tidak percaya ada orang-orang mampu membayangi mereka tanpa mereka ketahui.

Betapapun juga, berita ini amat penting.

"Nah, begitulah. Jangan kau khawatir, nona. Pemerintah tidak akan tinggal diam bersandiwara dan mengambil sikap malu, dan adalah menjadi tugas kewajibanku untuk merampas harta karun itu."

"Aih, kiranya engkau memiliki kedudukan yang amat penting dan tugas yang amat berat, Lee-Ciangkun. Kuharap saja engkau akan berhasil."

Song Kim bangkit berdiri.

"Aku pasti akan berhasil berkat doamu, Liem-Siocia! Engkau sungguh baik sekali mendoakan aku, dan untuk tanda terima kasihku, terimalah setangkai bunga mawar ini sebagai tanda persahabatan dan terima kasih!"

Lee Song Kim memetik setangkai bunga mawar merah dan memberikannya kepada Kui Eng!

Gadis ini tentu saja merasa marah di dalam hatinya, karena pemberian setangkai bunga mawar dapat diartikan pernyataan cinta.

Akan tetapi ia malu.

"Aihhh, mana aku berani menerimanya, Ciangkun?"

Iapun nampak malu-malu.

Pada saat itu, Lian Hong dan Ci Kong sudah kembali dari belakang taman, dan melihat betapa Lee Song Kim merayu Kui Eng yang duduk kemalu-maluan, Ci Kong memandang dengan mata melotot.

Dia teringat bahwa Song Kim adalah seorang penjahat cabul yang suka mempermainkan wanita, dan kini penjahat itu merayu Kui Eng.

Ingin dia meloncat dan menerkam pemuda jai-hwa-cat itu.

Song Kim memetik bunga mawar untuk diberikan kepada Kui Eng, dan perbuatannya memetik bunga mawar itu mengingatkan Ci Kong akan kelakuannya sebagai seorang jai-hwa-cat (pemetik bunga atau pemerkosa)!

Melihat betapa Ci Kong memandang dengan mata melotot, Lian Hong lalu menyentuh lengannya dan mengedipkan matanya, bermaksud menyabarkan pemuda itu.

Lian Hong merasa betapa hatinya tidak enak.

Ada rasa iri di dalam hatinya.

Ia mengira bahwa Ci Kong cemburu dan ini menandakan bahwa Ci Kong mencinta Kui Eng!

Karena tangannya ditarik-tarik dan ketika dia menoleh dia melihat Lian Hong mengedipkan mata dan tersenyum, Ci Kong teringat lagi akan peran yang dipegangnya, dan diapun bersikap biasa lagi, akan tetapi dia batuk-batuk.

Mendengar batuk-batuk ini, Kui Eng bangkit berdiri tanpa menerima bunga mawar itu, dan Song Kim juga memutar tubuhnya sambil tersenyum.

"Ah, apakah Liem-kongcu sudah menikmati bunga-bunga seruni itu?"

Tanyanya, sedikitpun tidak merasa malu walaupun dia tahu bahwa sikapnya terhadap Liem-Siocia yang merayu tadi tentu ketahuan oleh pemuda itu dan pelayannya.

"Sudah cukup, Lee-Ciangkun. Tamanmu memang indah sekali."

"Liem-kongcu, adikmu tadi telah menyanggupi dan berjanji akan datang pada pesta yang akan kuadakan besok malam di taman ini!"

Lian Hong memandang kepada Kui Eng dan gadis inipun mengangguk.

"Benar, koko. Lee-Ciangkun mengundang kita dan aku sudah menyanggupi. Tentu pesta itu akan meriah sekali."

Lian Hong pura-pura menarik napas panjang.

"Ah, sebetulnya besok malam aku ingin mengajakmu nonton wayang. Akan tetapi karena kau sudah berjanji kepada Lee-Ciangkun, baiklah, kita akan datang besok malam."

Lian Hong lalu berpamit dan menghaturkan terima kasih kepada Song Kim dan berjanji besok malam akan hadir dalam pesta itu.

Song Kim dengan gembira sekali mengantar mereka sampai ke luar gedung, beberapa kali matanya yang tajam itu menatap ke wajah Kui Eng, akan tetapi selalu menunduk dan pura-pura tidak melihat isyarat yang terpancar dari pandang mata itu.

Setelah tiba di rumah penginapan, Ci Kong mengepal tinju.

"Bedebah! Engkau harus berhati-hati terhadap jai-hwa-cat itu, Kui Eng!"

"Huh, memangnya kenapa?"

Kui Eng mengejek.

"Apa kau kira aku akan mudah begitu saja jatuh terhadap bujuk rayu seekor buaya seperti dia? Akan tetapi, dia telah menceritakan sesuatu yang amat penting bagi kita!"

"Aih, benarkah engkau berhasil, Enci Eng? Apa yang diceritakannya?"

Kui Eng lalu menceritakan tentang segala yang didengarnya dan Song Kim. Lian Hong terkejut bukan main mendengar bahwa pemerintah (Lanjut ke

Jilid 32) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 32 sengaja hendak membiarkan Empat Racun Dunia menemukan harta karun, baru akan disergap.

"Aih. kalau begitu... aku harus cepat-cepat memberitahukan suhu!"

"Tenanglah, Hong-moi. Tadinya ukupun terkejut dan berpikir seperti engkau. Akan tetapi, kukira tidak perlu tergesa-gesa. Andaikata benar dia mengirim mata-mata untuk menyelidiki dan mengamati semua gerak-gerik guru-guru kita, akan tetapi siapakah yang akan mampu membayangi gurumu, guruku, dan juga Locianpwe Hai-tok? "Aku tidak percaya akan ada yang mampu membayangi dan mengikuti mereka tanpa mereka ketahui. Sebaiknya kalau kita menanti sampai besok malam. Siapa tahu besok malam kita akan mendengar hal-hal penting lain lagi."

Ci Kong mengangguk-angguk.

"Kui Eng benar. Memang perjalanan tiga orang Locianpwe itu tak mungkin dapat dibayangi orang tanpa mereka tahu. Agaknya pemerintah belum tahu bahwa rahasia itu sudah berada di tangan ketiga Locianpwe yang sekarang sedang mencarinya."

"Akan tetapi engkau jangan seperti yang sudah-sudah, memperlihatkan muka marah terhadap Lee Song Kim!"

Kata Lian Hong.

"Habis, aku benci sekali melihat tampangnya!"

Kata Ci Kong sebal.

"Aih, kalau engkau bersikap seperti itu, apa artinya kita bertiga susah-susah melakukan penyamaran?"

Kui Eng mencela.

"Kita harus dapat bersikap cerdik dan menahan emosi, Ci Kong. kau kira bagianku ini ringan dan mudah? Huh, kau tidak tahu betapa muaknya aku duduk di dekatnya, dan hidungku penuh dengan bau wangi-wangi itu. Rasanya ingin muntah saja!"

Mendengar ini, Lian Hong tertawa dan Ci Kong juga tertawa.

"Baik, maafkanlah aku, Kui Eng. Biar aku mengaku bahwa dalam penyamaran ini, engkaulah yang paling berhasil, dan engkaulah yang paling berjasa."

Ci Kong menjura.

"Cih, siapa minta dipuji!"

Kui Eng mendengus dengan sikap manja dan kembali Lian Hong tertawa.

Diam-diam Lian Hong menduga-duga, apakah di antara kedua orang muda ini terdapat jalinan cinta kasih di luar kesadaran mereka.

Ia sendiri merasa kagum dan suka kepada Ci Kong.

Akan tetapi cinta?

Ia sendiri tidak tahu, karena ia tidak mengerti bagaimana sesungguhnya cinta itu.

Malam itu, di taman bunga di belakang gedung Lee Song Kim, sudah dihias dengan meriah.

Lampu-lampu gantung dipasang di pohon-pohon dan di tiang-tiang sehingga suasana dalam taman itu cukup terang dan amat indah.

Meja-meja diatur di antara rumpun-rumpun bunga, dan tamu yang jumlahnya kurang lebih dua puluh lima orang sudah menuju meja-meja yang diatur dengan nilai seni yang tinggi di antara bunga-bunga yang harum.

Song Kim memang sengaja menjamu para rekan dan pembantunya sambil mengumpulkan laporan mereka, dan tentu saja karena diapun ingin menyenangkan kakak beradik Liem yang baru dikenalnya itu.

Ketika Lian Hong, Kui Eng dan Ci Kong muncul, dia sendiri yang menyambut tamu baru ini dan mengantar mereka ke sebuah meja yang memang sudah sejak sore tadi dia persiapkan untuk Kui Eng dan kakaknya.

Bahkan untuk Ci Kong disediakan sebuah bangku yang ditaruh tidak terlalu jauh dari meja itu.

Serombongan pemain musik berikut penyanyi-penyanyinya memeriahkan suasana dalam pesta kecil itu.

Dan keramaian ini, tak dapat dicegah lagi mengundang kerumunan banyak penonton di luar pagar taman.

Mereka adalah penduduk di sekitarnya yang ingin nonton keramaian, mendengarkan musik dan nyanyian.

Penjaga-penjaga yang berjaga di luar taman mencegah mereka mendesak terlalu dekat pagar dan mengamati mereka agar jangan ada yang mengadakan kekacauan mengganggu pesta Lee-Ciangkun.

"Aih, Liem-Siocia sungguh pantas sekali memakai pakaian merah muda,"

Demikian sambutan Song Kim yang pandai merayu ketika dia mengantar kakak beradik ini ke sebuah meja yang dipersiapkan untuk mereka, agak di pinggir.

Karena para penonton di luar pagar itu berada di tempat gelap, maka wajah mereka tidak begitu nampak sehingga tidak akan mengganggu para tamu yang berada di dalam taman.

Suasana meriah sekali dengan adanya musik suling dan yang-kim yang mengikuti suara nyanyian merdu.

Suara ini diseling dengan suara ketawa, suara beradunya cawan arak dan sumpit pada mangkok, dan suara orang bicara.

Setelah menyalami para tamunya satu demi satu, bicara sambil bersendau-gurau dengan mereka, akhirnya Lee Song Kim duduk menemani Lian Hong dan Kui Eng.

"Aih, biarpun hanya kecil-kecilan, lelah juga mempunyai kerja pesta seperti ini, harus melayani dan menjumpai para tamu. Aku lebih senang duduk disini bersama ji-wi,"

Katanya sambil menarik napas panjang, agaknya merasa lega bahwa akhirnya dia dapat duduk di dekat Kui Eng.

"Pestamu ini biarpun kecil tapi meriah sekali, Ciangkun. Hidangannya serba istimewa dan lezat."

Kui Eng memuji.

"Hemm, araknya sedap."

Tambah Lian Hong.

"Ah, terima kasih atas pujian ji-wi. Sebetulnya, dalam kesempatan ini aku ingin bicara urusan penting sekali dengan Liem-kongcu dan Liem-Siocia, akan tetapi, hemm... sukar sekali mengatakan isi hatiku."

Song Kim nampak meragu.

"Ciangkun, di antara kita yang sudah menjadi sahabat baik, kenapa masih ragu-ragu dan sungkan lagi?"

Kui Eng sengaja memancing dengan sikap berani.

"Kalau Ciangkun hendak bicara, katakanlah, kami siap mendengarkan,"

Tambah Lian Hong sambil menduga-duga, persoalan penting apakah yang akan dibicarakan oleh tuan rumah itu. Song Kim kembali ragu-ragu, akhirnya menarik napas panjang.

"Nanti dulu, biar aku mengajak paman Loa ke sini, dia adalah wakilku dalam segala hal penting. Harap ji-wi suka tunggu dulu, aku mau menghubungi paman Loa dan bicara dengan dia. Sebentar aku kembali dan memperkenalkan dia dengan ji-wi."

Berkata demikian, Song Kim bangkit lagi, menjura dan meninggalkan meja itu, diikuti pandang mata tiga orang muda itu yang melihat betapa Song Kim berhenti-henti di meja-meja tamu karena ditegur oleh para tamu.

Ci Kong yang sejak ladi merasa tidak enak, kini bangkit dan menghampiri meja, berkata lirih sekali kepada Kui Eng.

"Hati-hatilah, jangan terlalu ramah kepadanya. Engkau seperti memberi hati kepadanya, dan aku khawatir, dia akan melakukan hal yang bukan-bukan terhadap dirimu."

Melihat betapa Ci Kong kelihatan cemburu, Kui Eng tertawa dan menutupi mulutnya dengan gaya genit dibuat-buat. Lalu ia menuding ke arah mangkok di depannya.

"Nah, kau lihat, masakan yang satu ini lezat bukan main. Mau coba?"

Ia lalu mengambilkan potongan-potongan daging dan sayur, memasukkannya ke dalam sebuah mangkok kosong dan memberikannya kepada Ci Kong.

Pemuda ini mendongkol sekali, akan tetapi karena tiba-tiba dia melihat betapa ada mata dari balik pagar, mata para penonton di luar mengamati mereka, diapun terpaksa menerima mangkok itu, duduk kembali ke atas bangkunya dan melanjutkan makan.

Di depannya terdapat meja kecil biarpun hanya makan sendirian, diapun tadi menerima hidangan di atas meja itu.

Memang lezat hidangan yang disuguhkan Kui Eng, berbeda dengan masakan yang berada di depannya.

Kembali dia merasa mendongkol.

Agaknya, hidangan untuknya adalah hidangan kelas dua saja, berbeda dengan hidangan untuk Kui Eng dan Lian Hong yang kelas satu!

Sikap Kui Eng memberi makanan kepada Ci Kong tadi, ternyata memang diikuti oleh sepasang mata yang menjadi milik seorang gadis yang bersembunyi di antara para penonton di luar pagar.

Sepasang mata yang tajam sekali, mata seorang gadis yang berpakaian serba hitam sehingga tidak begitu nampak di dalam kegelapan, apalagi di antara banyak penonton.

Gadis ini berpakaian serba hitam dan ringkas, rambutnya awut-awutan sebagian menutupi mukanya.

Agaknya disengaja untuk menyembunyikan mukanya ketika ia menyusup di antara penonton untuk ikut menonton pesta di taman itu.

Siapakah adanya gadis yang berada di luar pagar taman itu?

Ia bukan lain adalah Tang Ki atau Kiki, puteri Hai-tok Tang Kok Bu!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kiki datang ke Kota Raja membawa kitab-kitab lama dan telah berhasil menyerahkan kitab-kitab itu kepada Pangeran Ceng, bahkan ia kemudian diangkat saudara oleh Ceng Hiang, puteri Pangeran Ceng.

Setelah mempelajari sebuah kitab pelajaran silat peninggalan Tat Mo Couw-su yang sudah diterjemahkan oleh Pangeran Ceng, Kiki lalu pulang ke Pulau Naga untuk membuat laporan kepada Ayahnya.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika Kiki melihat pulau itu sudah kosong dan ia bertemu dengan seorang bekas anak buahnya yang mengabarkan bahwa pulau itu sudah diserbu oleh pasukan pemerintah yang banyak jumlahnya sehingga terpaksa Hai-tok melarikan diri ke darat.

"Siapa lagi kalau bukan si laknat Song Kim yang melakukan ini!"

Kiki mengepal tinju dan dengan hati penuh kemarahan, ia kembali ke Kota Raja dengan niat untuk mencari Song Kim dan membalas dendam!

Biarpun tadinya ia sudah dicegah oleh Ceng Hiang yang mengatakan bahwa seorang diri saja tak mungkin ia memusuhi Song Kim yang memiliki pasukan besar, namun kemarahannya membuat gadis ini nekat.

Demikianlah, ia melakukan penyelidikan ke rumah Lee Song Kim pada malam itu, dan kebetulan sekali pada malam hari itu, Lee Song Kim mengadakan pesta kecil di taman bunganya.

Kiki menyusup di antara para penonton di luar pagar dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika ia mengenal Ci Kong berada pula di antara para tamu, akan tetapi pemuda itu mengenakan pakaian seperti seorang pelayan, melayani dua orang tamu, seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan.

Dengan heran, ia melihat pula Song Kim bercakap-cakap dengan gadis dan pemuda itu, dan Ci Kong hanya memandang dengan sikap seorang pelayan.

Ia menduga bahwa tentu gadis cantik itu merupakan pacar Song Kim, karena sikap gadis itu demikian memikat dan sikap Song Kim demikian penuh bujuk rayu.

Ketika Song Kim meninggalkan meja itu, dan ia melihat betapa gadis cantik dan yang pakaiannya jelas merupakan seorang gadis yang amat kaya raya itu mengambilkan makanan dalam mangkuk dan memberikannya kepada Ci Kong, dengan sikap yang genit, ia merasa benci sekali kepada gadis itu!

Biarpun ia tidak dapat mendengarkan percakapan mereka, namun di bawah sinar lampu, ia melihat betapa sikap gadis cantik itu genit sekali, dan sebaliknya Ci Kong nampak kesal dan menahan kemarahan.

Huh, seorang gadis yang tidak mengenal malu sama sekali, pikir Kiki.

Ia seorang gadis yang cukup berakal.

Tidak mau ia menurutkan nafsu kemarahan lalu menyerbu ke tempat itu.

Ia tahu betapa lihainya Song Kim, dan tentu tempat itu penuh dengan teman-teman Song Kim yang lihai.

Dan melihat hadirnya Ci Kong di situ, iapun terheran-heran.

Apakah pemuda Siauw-lim-pai itu kini telah terpikat dan menjadi sekutu Song Kim?

Sungguh celaka kalau begitu.

Akan tetapi, ia tidak percaya dan ia melihat bahwa pemuda itu menyamar sebagai seorang pelayan.

Wajahnya menjadi demikian kehitaman, kulitnya berubah dan setelah ia memandang lebih teliti, ia melihat pula bahwa wajah pemuda itu agak berubah.

Ia tadi, seketika mengenal Ci Kong dari sinar matanya.

Jarang ada orang memiliki mata seperti itu, dan sekali pandang saja, ia mengenal mata itu dan tahu bahwa orang itu adalah Tan Ci Kong!

Tentu pemuda itupun seperti ia, melakukan penyelidikan dan kini berhasil menyusup di antara tamu dengan jalan menyamar!

Ah, kenapa ia tidak melakukah hal secerdik itu?

Kalau ia menyamar lalu dapat berdekatan dengan Song Kim dan tiba-tiba menyerang, tentu ia akan berhasil membunuh manusia laknat itu!

Sementara itu, tak lama kemudian muncul lagi Song Kim, kini bersama seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang berpakaian seperti seorang sasterawan.

Laki-laki ini bermuka sempit dan meruncing seperti muka tikus, dengan mata sipit, akan tetapi sikapnya demikian menarik dan merendahkan diri, menjilat-jilat seperti seekor anjing yang mencari muka pada majikannya.

Song Kim tersenyum ketika memperkenalkan laki-laki itu.

"Inilah paman Loa, Liem-kongcu dan Liem-Siocia. Dia adalah orang kepercayaanku dan suka kuutus untuk mengerjakan hal-hal yang teramat penting. Paman Loa, inilah Liem-Siocia dan kakaknya Liem-kongcu."

"Ah, kongcu dan Siocia yang mulia, mata yang tua ini sungguh beruntung sekali dapat bertemu dan melihat wajah Siocia yang cantik seperti bidadari dan kongcu yang tampan. Semoga ji-wi diberi berkah panjang umur dan banyak rejeki!"

Katanya sambil menjura dengan dalam sekali sampai dahinya hampir menyentuh tanah.

Biarpun merasa sebal, Lian Hong dan Kui Eng membalas penghormatan orang ini dan Ci Kong hampir saja tertawa saking geli hatinya.

"Aih, engkau terlalu memuji, paman Loa,"

Kata Lian Hong. Akan tetapi mata yang sipit itu kini memandang wajah Ci Kong dan agaknya dia dapat melihat bahwa Ci Kong merasa geli hatinya.

"Dan dia ini, orang yang gagah ini siapakah?"

Tanyanya sambil menuding ke arah Ci Kong.

"Dia adalah Ci Kong, pelayan kami,"

Kata Lian Hong dengan cepat.

"Hah, seorang pelayan? Pelayan ji-wi? Baik sekali! Sobat Akong, harap engkau dapat menikmati makan minum disini, dan kenallah aku sebagai Loa Lo-ya (tuan tua Loa), dan jangan khawatir, nanti kuberi bekal beberapa hadiah untukmu."

Tentu saja Ci Kong merasa sebal sekali, akan tetapi dia tidak berarti memperlihatkan sikapnya, hanya mengangguk tanpa bicara.

Walaupun sikap ini dianggap kurang hormat, tanpa ucapan terima kasih, namun orang she Loa itu agaknya tidak menjadi kecil hati.

Dengan sikap ramah, dia lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan mereka.

"Harap ji-wi maafkan kehadiran saya ini, akan tetapi sesungguhnya saya merasa amat kasihan kepada Lee-Ciangkun yang minta kepada saya untuk bicara dengan ji-wi. Lee-Ciangkun merasa sungkan untuk bicara sendiri, maka mengutus saya untuk mewakilinya bicara dengan ji-wi, terutama dengan Liem-Siocia. Sebelumnya harap Siocia sudi memaafkan saya. Tentu Siocia cukup baik hati untuk dapat memaafkan seorang tua seperti saya ini kalau saya lancang bicara, bukan?"

Hati Kui Eng semakin sebal. Laki-laki ini amat cerewet, pantasnya bukan laki-laki, melainkah seorang nenek-nenek. Akan tetapi ia memaksa diri tersenyum.

"Tidak mengapa, paman. Bicaralah, dan kepentingan apakah yang hendak disampaikan Lee-Ciangkun melalui paman?"

Berkata demikian, Kui Eng memandang ke arah Lee Song Kim, dan perwira muda itu kelihatan malu-malu!

Tentu saja sikap Lee Song Kim ini hanya aksi belaka, walaupun tak dapat disangkal bahwa dia merasa betapa jantungnya berdebar tegang.

Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis hartawan ini, bukan sekedar timbul berahi melihatnya seperti biasanya kalau dia melihat gadis cantik.

"Begini, Liem-Siocia. Dan Liem-kongcu, maafkan kalau saya lancang mengajak adikmu bicara."

"Tidak mengapa... bicaralah, paman,"

Kata Lian Hong.

"Hemm... sebelumnya, saya ingin bertanya, apakah ji-wi ini merupakan kakak beradik berdua saja? Maksud saya, apakah tidak ada saudara yang lain?"

"Kami hanya berdua saja,"

Kata Kui Eng, hatinya sebal akan tetapi juga geli melihat sikap menjilat-jilat seperti itu.

"Dan berapakah usia Liem-Siocia tahun ini? Shio apa?"

Kui Eng mengerutkan alisnya. Akan tetapi ia teringat bahwa ia sedang bermain sandiwara, maka iapun menjawab.

"Usiaku tahun ini sembilanbelas tahun, shio Kelenci."

"Wah, sembilanbelas tahun, shio Kelenci! Sungguh tepat! Sama benar! Lee-Ciangkun juga berusia sembilanbelas tahun, mungkin beberapa bulan lebih tua karena beliau shio Harimau."

Kui Eng mengerutkan alisnya. Sejak tadi ia sudah merasa muak dan tidak senang kepada orang ini, akan tetapi ditahan-tahannya.

"Hemm, apakah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan menanyakan usia segala itu?"

Orang she Loa itu agaknya tidak tahu bahwa gadis itu sudah marah, dan dengan mulut masih menyeringai, memperlihatkan gigi yang keropos dan hitam-hitam karena biasa menghisap tembakau dan madat, dia berkata.

"Maksud baik sekali, Siocia. Maksud yang suci dari Lee-Ciangkun. Maaf, kami yakin bahwa Siocia tentu belum bertunangan dengan pria lain bukan?"

Kui Eng kini maklum kemana tujuan percakapan itu.

Kiranya Lee Song Kim bermaksud untuk meminangnya.

Hampir saja ia tertawa dan merasa betapa lucunya.

Ia berperan sebagai gadis kaya dan sengaja memikat perwira itu agar membocorkan rahasia negara, tidak tahunya perwira itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan ingin meminangnya menjadi isterinya!

Biarpun hatinya merasa semakin sebal, ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan orang she Loa itu.

Orang she Loa itu makin memperlebar senyumnya sehingga semua gigi yang kehitaman itu nampak.

"Bgus sekali! Ciangkun kita inipun masih belum pernah menikah. Saya diberi tugas untuk mengajukan pinangan kepada orang tua Liem-Siocia, akan tetapi sebelum itu, Lee-Ciangkun ingin sekali memperoleh keyakinan lebih dahulu bahwa Siocia masih belum ada yang punya, dan bahwa Siocia dan kongcu sudah menyetujui. Dan kau , sobat... harap kau suka membantu kami dan suka menceritakan hal yang baik-baik dari Lee-Ciangkun kepada Liem wan-gwe sekeluarga di sana."

Berkata demikian, orang she Loa ini sudah mengeluarkan tiga keping uang emas dan memberikannya kepada Ci Kong dengan sikap yang royal sekali.

Ci Kong sudah tidak mampu menahan kemarahannya.

Penyamaran itu sudah melampaui batas kesabarannya karena dihadapkan dengan suasana yang amat menyinggung kehormatan dan perasaannya.

"Makanlah sendiri!"

Bentaknya sambil menolak tangan yang menyerahkan uang ini dan tangan kirinya menyambit dengan sebuah mangkok.

"Prokk!"

Mangkok berisi sayur-sayuran itu melayang dan tepat menghantam mulut orang she Loa yang sedang terbuka.

Demikian kerasnya sambitan itu sehingga mangkok itu memaksa masuk ke mulut, masuk separuhnya dan kuahnya muncrat memenuhi muka.

Orang she Loa itu kebingungan, hanya mengeluarkan suara "Ak-ak-uk-uk", berusaha melepaskan mangkok dan mulutnya, dan darah mengucur keluar bersama kuah karena giginya telah patah semua, juga bibirnya hancur.

Kui Eng dan Lian Hong melihat hal ini, maklum bahwa penyamaran mereka bertiga tiada gunanya lagi.

Kui Eng hendak melampiaskan rasa sebalnya kepada Song Kim yang juga terbelalak karena heran dan kagetnya melihat betapa pelayan tamu-tamunya itu tiba-tiba menyerang orang kepercayaannya seperti itu.

Maka tanpa banyak cakap lagi, Kui Eng juga sudah menubruk ke depan dan menyerang Song Kim dengan pukulan yang kuat sekali ke arah dada!

Makin kagetlah rasa hati Song Kim karena dia melihat betapa kuatnya pukulan gadis yang menjatuhkan hatinya itu menuju dadanya.

Dia cepat menangkis karena betapapun dia masih memandang rendah dan tidak percaya bahwa gadis itu dapat memiliki kepandaian tinggi, ketika menangkis dia hanya menggunakan setengah saja dan tenaganya.

"Dukkk!"

Dan akibat dari penggunaan tenaga yang hanya setengahnya itu, tubuh Song Kim terdorong dan terlempar ke belakang, menabrak semak-semak di belakangya!

Barulah dia kaget setengah mati dan maklum bahwa ternyata gadis kaya raya itu memiliki tenaga sin-kang yang hebat.

Cepat dia berteriak kepada para pengawal karena kini dia dapat menduga bahwa tiga orang tamunya ini adalah musuh-musuh yang melakukan penyelidikan dengan menyamar!

Dan diapun kini sudah teringat bahwa wajah pelayan itu seperti pernah dilihatnya.

Ketika dia memandang dan bertemu pandang dengan mata Ci Kong, jantungnya berdebar keras dan kini teringatlah dia!

Pemuda itu yang pernah menolong Kiki!

Ah...

betapa bodohnya dia karena tergila-gila kecantikan gadis kaya raya yang mengaku sebagai Liem-Siocia itu, dia seperti telah menjadi buta dan tidak menaruh curiga kepada mereka.

Lee Song Kim bersuit keras dan segera pasukannya datang mengepung, juga di antara para tamu terdapat para pembantunya dan rekannya yang pandai ilmu silat, sehingga sebentar saja, Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng sudah dikepung.

Dan kini, melihat gerak-gerik Liem-kongcu, Song Kim dapat melihat pula bahwa pemuda yang mengaku sebagai pemuda hartawan itu adalah seorang wanita!

Pantas begitu tampan dan halusnya!

Apalagi ketika dia melihat Lian Hong sudah mengeluarkan sebatang kipas, diapun dapat menduga bahwa gadis itu tentulah murid San-tok!

Kui Eng juga sudah mencabut sebatang pedang yang tadinya disembunyikan di balik bajunya yang mewah dan lebar panjang.

Hanya Ci Kong yang tidak biasa mempergunakan senjata, kini bersiap siaga dengan kedua tangan kosong saja.

"Tangkap mata-mata, hidup atau mati!"

Bentak Lee Song Kim sambil mencabut pedangnya.

Tiga orang muda itu lalu dikeroyok dan mereka pun mengamuk.

Begitu mereka bergerak, enam orang prajurit pengawal roboh!

Tentu saja Song Kim merasa kaget sekali dan dia makin yakin bahwa tiga orang ini adalah orang-orang yang lihai, mungkin diutus oleh Empat Racun Dunia untuk melakukan penyelidikan.

Dan mengingat betapa dia sudah menceritakan rahasia dan rencana pemerintah terhadap Empat Racun Dunia, dia menjadi semakin gelisah.

"Kepung, jangan biarkan mereka lolos!"

Katanya, dan diapun menerjang ke arah Ci Kong. Murid Siauw-lim-pai itu mengelak.

"Jahanam busuk seperti engkau ini harus dilenyapkan dari dunia!"

Bentak Ci Kong.

Kini Song Kim tidak merasa ragu lagi.

Inilah pemuda yang sudah dua kali menolong dan membantu Kiki menghadapinya pertama kali di pantai, dan kedua kalinya di hutan ketika dia menyerang Kiki di depan Ceng Hiang itu.

Maka marahlah dia dan pedangnya diputar dengan cepat, diapun menyerang secara bertubi-tubi ke arah Ci Kong yang harus mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan balas menyerang.

Akan tetapi, betapapun lihainya tiga orang pendekar muda itu, kini kepungan menjadi semakin ketat karena datangnya sejumlah pasukan pembantu.

Mereka bertiga kini dikepung oleh rekan-rekan Song Kim yang merupakan jagoan-jagoan Kota Raja yang memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga tidak semudah ketika merobohkan para prajurit tadi bagi tiga orang pendekar itu.

Mereka maklum bahwa kalau dilanjutkan, keadaan mereka tentu akan terancam bahaya.

Mereka berada di Kota Raja, dan kalau terus menerus datang balatentara berupa pasukan-pasukan, dan jagoan-jagoan Kota Raja, mereka akan terancam malapetaka.

"Mari kita pergi!"

Teriak Ci Kong kepada dua orang gadis itu.

Akan tetapi bicara mudah, tetapi melaksanakannya yang sukar, karena kepungan para jagoan itu ketat sebali.

Apalagi di luar kepungan para jagoan itu masih terdapat kepungan pasukan yang berlapis-lapis!

Tiba-tiba terjadi keributan di luar kepungan, dan kepungan para pasukan itu menjadi kacau-balau dan membuyar.

Kiranya ada orang yang mengamuk di sebelah luar kepungan dan membuyarkan kepungan ini.

Melihat betapa kepungan itu terbuka, Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng tidak mau menyia-nyiakannya.

Itulah jalan keluar, dan mereka lalu menggerakkan kaki tangan membuat para pengeroyok mundur, dan mereka lalu meloncat dan menerobos kepungan yang sudah terbuka dan membuyar itu.

"Kejar! Tangkap mereka!"

Bentak Song Kim sambil mengejar.

Rekan-rekannya juga ikut mengejar, demikian pula para prajurit.

Keadaan menjadi kacau-balau.

Para rerajurit lari ke sana-sini, bersimpang siur karena mereka tentu saja tidak dapat mengejar tiga orang muda yang berloncatan dengan cepatnya itu dan tidak tahu harus mengejar kemana.

Yang dapat mengejar dan tidak tertinggal terlalu jauh hanyalah Lee Song Kim dan beberapa orang rekannya saja.

Melihat betapa Lee Song Kim dan beberapa orang jagoan Kota Raja terus mengejar, Ci Kong segera berkata kepada dua orang gadis itu.

"Kita harus berpencar, mengambil jalan masing-masing, dan kita laporkan semua hasil penyelidikan kita kepada suhu masing-masing."

Dua orang gadis itu setuju, dan Lian Hong berkata.

"Biar aku mengambil jalan utara, Enci Eng mengambil jalan timur, dan Ci Kong melalui pintu selatan. Selamat berpisah!"

Lian Hong lalu memutar tubuhnya utara, Kui Eng juga lari ke timur, dan Ci Kong membalik ke arah selatan.

Melihat betapa tiga orang itu berpencar, Song Kim menjadi bingung.

Akan tetapi dasar mata keranjang, dia berpikir bahwa yang terpenting adalah menawan Kui Eng, maka diapun terus melakukan pengejaran terhadap Kui Eng tanpa memperdulikan yang lain.

Para rekannya juga terpencar, ada yang mengejar ke utara, ada yang ke selatan.

Akan tetapi mereka itu merasa jerih terhadap orang yang mereka kejar, sehingga ketika Lian Hong dan Ci Kong berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka tidak melanjutkan pengejaran mereka.

Demikian pula dengan Song Kim.

Tak disangkanya bahwa Kui Eng dapat berlari cepat sekali, meloncati pagar tembok yang amat tinggi dan keluar dari Kota Raja.

Dia merasa jerih karena khawatir kalau-kalau di luar tembok Kota Raja, gadis itu mempunyai kawan-kawan yang lihai, sedangkan dia hanya seorang diri saja.

Maka dengan uring-uringan, dia kembali ke Kota Raja untuk mempersiapkan pasukan besar, dan dengan pasukan ini dia akan melakukan pengejaran dan pencarian.

Kui Eng berlari secepatnya dan malam yang gelap membantunya.

Setelah tiba di luar kota Tang-san, di tepi Kanal Besar yang menyambung aliran Sungai Huang-ho dan Yang-ce-kiang di selatan, sampai ke Tang-san dekat Kota Raja, malam sudah menjadi pagi.

Ia merasa lega bahwa tidak nampak seorangpun pengejar lagi dan iapun berhenti di tepi sungai kanal itu untuk beristirahat.

Matahari naik semakin tinggi di timur dan Kui Eng lalu bangkit dari istirahatnya, bermaksud untuk melanjutkan perjalanan.

Karena tidak merasa perlu menyamar lagi, ia menanggalkan pakaian mewah yang hanya merupakan pakaian sebelah luar saja, sedangkan di dalam adalah pakaiannya yang biasa dan iapun melepaskan sanggulnya dan mengikat rambutnya dengan pita.

Kini ia berubah menjadi seorang gadis kang-ouw yang suka melakukan perjalanan jauh seorang diri, berpakaian ringkas.

Pakaian gadis kaya itu ia lemparkan ke dalam air sungai, dan perhiasan-perhiasan emas permata yang tadinya dipakainya, ia simpan ke dalam saku bajunya.

"Kau perempuan genit menjemukan!"

Tiba-tiba terdengar ada orang membentak.

Kui Eng terkejut sekali, akan tetapi juga terheran-heran karena yang membentak itu adalah seorang wanita.

Ketika ia membalikkan tubuhnya, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang sebaya dengannya, cantik manis dan gagah, akan tetapi sinar matanya menunjukkan bahwa gadis itu galak dan sedang marah.

Tentu saja Kui Eng yang juga memiliki watak galak dan keras hati itu, menjadi merah mukanya, ketika datang-datang, gadis yang tak dikenalnya itu memakinya.

"Eh, eh, apakah engkau ini orang gila?"

Ia membalas.

"Datang-datang memaki orang!"

Gadis itu bukan lain adalah Kiki!

Malam tadi ia berada di antara kerumunan penonton di luar pagar taman bunga Lee Song Kim.

Melihat bekas suhengnya, orang yang hampir saja memperkosanya, ia sudah marah sekali.

Akan tetapi ia tidak bodoh dan tidak mau dengan nekat menyerang di tempat itu.

Dan hatinya semakin mendongkol melihat sikap gadis cantik berpakaian mewah itu yang jelas memikat Song Kim dengan gerak-geriknya, dan juga melihat betapa gadis itu bersikap demikian akrab dan manis terhadap Ci Kong!

Kenapa Ci Kong mau bersahabat dengan gadis yang sudah lirak-lirik dan senyum-senyum terhadap Lee Song Kim itu?

Ketika terjadi keributan, Kiki hanya melihat betapa Ci Kong menyerang laki-laki bermuka tikus itu dan kemudian timbul perkelahian di dalam taman.

Ia mengira bahwa tentu penyamaran Ci Kong ketahuan.

Ia menjadi bingung.

Untuk meloncat dan membantu di dalam, amat berbahaya, akan tetapi tentu saja ia tidak dapat membiarkan Ci Kong dikepung dan dikeroyok begitu saja tanpa membantu.

Maka, melihat kepungan yang ketat, ia lalu mengamuk di sebelah luar kepungan, menyerang para prajurit pengawal yang mengepung sehingga bagian itu buyar dan terbuka, kemudian ia sendiri cepat melarikan diri karena berada terlalu lama di situ dapat membahayakan dirinya sendiri.

Ia berlari cepat dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk.

Kemudian, dengan gerakannya yang lincah, iapun lari keluar dan pintu gerbang sebelah timur.

Kiki tidak tahu bahwa Kui Eng juga melarikan diri melalui pintu sebelah timur, maka ketika agak jauh dari pintu gerbang itu, ia melihat Kui Eng berlarian, diam-diam ia membayangi dan jauh.

Ia merasa heran dan terkejut melihat betapa gadis yang berpakaian mewah dan bersikap genit itu dapat berlari secepat itu.

Rasa penasaran membuat ia membayangi terus.

Dan pada pagi hari itu, melihat Kui Eng membuang pakaiannya dan berganti pakaian, Kiki muncul dan begitu muncul ia lalu memaki gadis itu karena masih teringat olehnya betapa gadis yang kelihatannya suka kepada Song Kim dan membalas rayuannya itu, juga agaknya mempergunakan kecantikannya untuk merayu Ci Kong.

Kiki adalah seorang gadis yang berdarah panas, seperti juga Kui Eng.

Ketika mendengar Kui Eng memakinya gila, iapun marah sekali!

"Engkaulah yang gila, engkau gila laki-laki!"

Bentaknya, dan Kiki sudah mencabut pedangnya.

Kui Eng terkejut melihat gadis yang galak itu mencabut pedang, terkejut dan juga merasa penasaran sekali.

Gadis ini sungguh amat menghinanya, mengatakan ia gila laki-laki!

Kalau bukan gadis yang miring otaknya, tentu seorang gadis yang menjadi mata-mata dari pemerintah dan sengaja mencari perkara atau...

ah, kini ia dapat menduganya.

Agaknya gadis ini adalah pacar dan Lee Song Kim yang merasa cemburu melihat ia bergaul dengan akrab bersana perwira muda itu!

"Persetan!

kau kira aku takut melihat pedangmu yang seperti pisau dapur itu?"

Bentaknya.

"Makanlah pisau dapur ini!"

Kiki balas membentak dan ia pun menyerang dengan dahsyat sekali. Pedangnya mengeluarkan mendengung, berubah menjadi kilatan sinar yang menyilaukan mata, menyambar ke arah leher Kui Eng.

"Ihhh...!"

Kui Eng terkejut bukan main, dan cepat ia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali untuk menyelamatkan diri, tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis galak itu memiliki ilmu pedang yang demikian hebat dan berbahayanya.

Maka iapun cepat mencabut pedangnya sendiri.

Kiki tersenyum mengejek.

"Engkau jerih menghadapi pisau dapurku?"

"Tak perlu banyak cerewet, agaknya engkau sudah bosan hidup! Lihat pedangku!"

Kui Eng membentak marah dan iapun cepat memainkan Ilmu Tongkat Ciu-beng Hek-pang dengan pedangnya.

Ilmu tongkat yang dimainkan dengan pedang itu menjadi aneh sekali, dan Kiki yang diserang secara bertubi-tubi dengan gaya yang aneh namun amat berbahaya itu, juga terkejut.

Iapun sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis yang pandai berlari cepat itu, ternyata juga amat lihai ilmu pedangnya, lihai dan aneh pula.

Kiki adalah seorang gadis yang amat cerdik.

Begitu berkelahi selama belasan jurus saja, tahulah ia bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai dan memiliki tingkat kepandaian yang tidak berada di bawah tingkatnya sendiri!

Sayang bahwa ia belum sempat melatih ilmu barunya Hui-thian Yan-cu, dan agaknya kalau ia menandingi lawan ini dengan ilmu-ilmu dari Ayahnya, biarpun belum tentu ia kalah, namun takkan mudah ia memperoleh kemenangan.

Gadis lawannya ini memiliki ilmu pedang yang aneh dan cepat, juga memiliki tenaga sin-kang yang sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Kiki lalu menggunakan akal, dan ketika Kui Eng menyerang dengan tusukan cepat sehingga pedangnya menjadi sinar menyambar, ia sengaja meloncat ke kanan agak jauh sehingga ia terpeleset dan jatuh ke bawah!

Akan tetapi ia jatuh berdiri di dalam air di tepi sungai kanal itu.

Air hanya menjilat sampai ke lututnya.

Melihat Kui Eng menjenguk dan atas, ia tersenyum mengejek.

"Perempuan genit, beranikah engkau turun kesini dan melawanku di sini!"

Tantangnya.

Kui Eng merasa mendapat angin.

Ia telah berhasil membuat lawannya terjatuh ke bawah, dan biarpun lawan itu belum terluka, sedikitnya hal itu menunjukkan bahwa ia berhasil mendesaknya.

Mendengar tantangan itu, tentu saja ia menjadi marah.

"Kenapa tidak berani? Sampai ke api nerakapun untuk melawanmu, aku tidak akan takut!"

Bentaknya sambil meloncat turun dan memutar pedangnya. Kiki menyambut sambil tersenyum.

"Bersiaplah untuk minta ampun setelah kau kubenamkan ke dalam air!"

Sambil berkata demikian, ia terus saja menyerang dan ternyata gerakannya luar biasa gesitnya, padahal mereka berkelahi dengan tubuh terendam air sampai setinggi lutut.

Kui Eng cepat menangkis dan diam-diam gadis ini terkejut sekali.

Kenapa setelah berada di air, lawannya menjadi semakin ganas dan gesit?

Ia sama sekali tidak tahu bahwa lawannya adalah puteri Hai-tok (Racun Lautan) yang sejak kecil sudah biasa berkecimpung di dalam air!

Gadis ini memang mempunyai ilmu di dalam air yang istimewa!

Ia lebih berbahaya kalau berada di air dari pada di darat!

Karena gerakan kakinya terganggu oleh air, tidak seperti Kiki yang enak saja berloncatan di air, Kui Eng segera terdesak hebat.

Juga air yang berombak itu membuat Kui Eng menjadi gugup.

"Heh-heh... sebentar lagi engkau akan kupaksa bertiarap di dalam air!"

Kiki mengancam dan mengejek. Pada saat yang gawat bagi Kui Eng itu, tiba-tiba muncul Ci Kong di tepi sungai kanal.

"Heiiii... tahan dulu. Hentikanlah perkelahian itu, kalian adalah teman-teman sendiri...!"

Teriak Ci Kong sambil mengangkat kedua lengannya ke atas dan lari menghampiri dua orang gadis yang berkelahi mati-matian itu.

Melihat munculnya Ci Kong, dua orang gadis itu menahan pedang mereka dan menoleh, memandang kepada Ci Kong dengan alis berkerut.

"Huh! Teman sendiri? Aku tidak merasa mempunyai teman seperti ini!"

Kata Kiki marah.

"Akupun tidak mempunyai teman yang miring otaknya ini!!"

Kui Eng balas memaki.

"Sabarlah, tenanglah. Dan kalian naiklah ke sini, nanti aku yang akan memberi keterangan yang jelas!"

Dua gadis itu berloncatan naik, akan tetapi masih memegang pedang masing-masing, karena kalau keterangan Ci Kong tidak memuaskan, mereka akan melanjutkan perkelahian yang belum ada ketentuannya siapa menang siapa kalah itu.

Ci Kong memandang kepada mereka dan tersenyum.

Tentu saja dia mengenal watak kedua orang gadis ini.

Watak yang galak dan lincah, ganas kalau sudah marah, namun keduanya memiliki kegagahan seperti pendekar wanita, walaupun keduanya adalah puteri dan murid datuk-datuk sesat!

"Kenapa kau senyum-senyum, Ci Kong!"

Kui Eng membentak, masih marah sekali karena tadi hampir saja ia celaka karena dipancing dengan perkelahian di air.

"Awas, Ci Kong, kalau engkau berat sebelah, aku takkan sudi mendengar penjelasanmu, dan kau boleh membantunya untuk mengeroyokku, aku tidak takut! "Huh! Siapa akan mengeroyok? kau kira aku takut kepadamu?"

Kui Eng membentak marah.

"Aihh tenanglah, dan dinginkan dulu kepala kalian. Hati boleh panas akan tetapi kepala harus dingin. Sekarang aku akan bertanya lebih dulu kepadamu, Kui Eng. Kenapa engkau sampai berkelahi dengannya?"

"Ia yang mulai! Aku melarikan diri sampai ke sini dan beristirahat. Eh... ia tahu-tahu muncul dan memaki-makiku. Siapa tidak menjadi marah! Bahkan ia menantangku, tentu saja kulayani!"

Kata Kui Eng dengan suara lantang penuh kemarahan. Ci Kong kini menghadapi Kiki.

"Dan bagaimana dengan engkau, Kiki? Benarkah apa yang dikatakan Kui Eng tadi? Dan mengapa pula engkau datang-datang memaki-maki padanya dan menantang berkelahi?"

Kiki cemberut.

"Semalam aku melihat gadis ini memikat hati Lee Song Kim. Tentu ia pacarnya! Ketika engkau membuat ribut di taman itu dan terkepung, aku mengacau dari luar sehingga kepungan membuyar dan engkau dapat melarikan diri.

"Aku sudah berada di luar Kota Raja ketika aku melihat gadis ini berlari-larian. Aku yakin ia melakukan pengejaran terhadap dirimu, gadis ini tentu pacar Lee Song Kim. Maka aku lalu memaki dan menantangnya!"

Kiki tentu saja tidak mau menceritakan bahwa sikap Kui Eng terhadap Ci Kong dalam taman itu yang akrab, dan memberikan sayur dan daging dalam mangkuk yang membuat ia merasa cemburu dan marah!

Mendengar keterangan dua orang gadis itu, Ci Kong tertawa.

"Ha-ha, kiranya hanya karena salah paham saja, dan salah sangka ini timbul darimu, Kiki. Ketahuilah bahwa ia ini adalah Kui Eng, murid tunggal dari Tee-tok Locianpwe! Dan Kui Eng, ia adalah Tang Ki, puteri tunggal dari Locianpwe Hai-tok.

"Ayah dan guru kalian bekerja sama sebagai sahabat dalam satu perjuangan, dan kalian saling hantam sendiri. Bagaimana ini? Kiki, engkau salah sangka dan sepatutnya kalau engkau mengaku salah dan mina maaf."

Akan tetapi Kiki mengerutkan alisnya, biarpun ia terkejut juga mendengar bahwa lawannya itu adalah murid tunggal Tee-tok! "Akan tetapi, ia... ia kulihat begitu akrab dengan Song Kim, musuh kita!"

"Tentu saja! Ketahuilah bahwa kami bertiga, aku, Kui Eng, dan Lian Hong bertugas melakukan penyelidikan ke Kota Raja. Kui Eng ini menyamar sebagai seorang gadis kaya raya, Lian Hong menyamar sebagai kakaknya, dan aku sendiri menyamar sebagai pelayan mereka. Kami bertemu dengan Song Kim dan melihat dia tertarik kepada Kui Eng, maka kami pergunakan kelemahannya untuk mengorek rahasia pemerintah.

"Dan kami berhasil, sampai-sampai bekas suhengmu yang laknat itu benar-benar jatuh cinta kepada Kui Eng dan melamarnya! Kami bertiga memberontak dan melarikan diri berkat bantuanmu dari luar yang tidak kami ketahui. Sikap Kui Eng terhadap Song Kim itu adalah sandiwara."

"Ohhh...!"

Kiki sadar akan kekeliruannya dan memandang kepada Kui Eng yang juga memandang kepadanya, dan keduanya tersenyum.

"Ayah dan guru kalian sedang bekerja sama demi perjuangan menghadapi pemerintah penjajah, akan tetapi kalian di sini saling hantam, berkelahi mati-matian. Padahal, dalam keadaan seperti ini, kita harus menggalang Persatuan. Kalau kita berkelahi sendiri karena urusan sepele, tentu akan melemahkan kekuatan kita. Apalagi di antara kalian hanya terjadi salah paham saja, bahkan andaikata ada urusan yang sungguh-sungguh sekalipun, kepentingan pribadi harus dikesampingkan dulu demi perjuangan dan Persatuan."

"Kalau begitu, aku yang bersalah kepadamu, Enci Ciu Kui Eng. Aku minta maaf..."

Kata Kiki dengan jujur. Kui Eng merangkulnya.

"Sudahlah, adik Kiki. Itu hanya merupakan kesalahpahaman saja, dan tidak aneh kalau engkau benci kepadaku karena mengira bahwa aku adalah kaki tangan Lee Song Kim."

"Nah, begitu baru benar..."

Kata Ci Kong dengan hati lega.

Kalau dua orang gadis ini sampai bermusuhan, tentu akibatnya hebat, bukan hanya mereka yang tersangkut, bahkan mungkin Ayah dan guru mereka akan terlibat.

Dia teringat akan sikapnya seperti orang yang cemburu ketika masih menyamar sebagai pengawal, maka diapun berkata kepada Kui Eng dalam kesempatan itu.

"Kui Eng, pengalaman kita menyamar itu amat berat terasa olehku. Melihat betapa Song Kim yang pernah berlaku keji terhadap Kiki, mengingat akan kekejamannya dan kejahatannya, dan dia mendekatimu, sungguh membuat aku kadang-kadang hampir tak dapat menahan kemarahan hatiku. Maka, kuharap engkau tidak marah dan berkecil hati kalau pada walau itu aku kadang-kadang seperti orang marah-marah, Kui Eng."

Kui Eng tersenyum.

"Dan kau maafkan aku yang selalu menggodamu sebagai seorang pelayan kami."

Kiki yang mendengarkan percakapan itu, diam-diam merasa lega, karena ia tahu bahwa keakraban yang diperlihatkan Kui Eng ketika memberikan makanan itu hanyalah kenakalan gadis itu saja yang hendak menggoda Ci Kong.

Iapun merasa heran sekali terhadap dirinya sendiri.

Kenapa ia merasa tidak enak dan iri melihat Ci Kong akrab dengan gadis lain?

Apakah yang telah terjadi di dalam hatinya terhadap pemuda ini?

"Sekarang, sebaiknya kita mengambil jalan masing-masing.

Kui Eng, engkau tentu akan secepat mungkin menyusul gurumu untuk mengabarkan apa yang telah kita alami, dan kurasa Lian Hong juga demikian.

Dan engkau, Kiki, sebenarnya engkau hendak kemanakah?"

"Aku baru saja pulang ke Pulau Naga, dan ternyata pulau itu telah diserbu oleh pasukan pemerintah, Ayah sudah pergi entah kemana."

"Kami tahu akan penyerbuan itu, kami mendengar dari Lee Song Kim yang membuka semua rahasia pemerintah kepada Kui Eng,"

Kata Ci Kong.

"Dan Ayahmu bersama guru Lian Hong, San-tok Locianpwe, dan guru Kui Eng, Tee-tok Locianpwe, sedang pergi untuk mencari harta karun."

"Ah, kalau Ayahku pergi bersama guru Enci Eng, biarlah aku ikut bersama Enci Eng saja untuk meriyusul Ayah,"

Kata Kiki. Kui Eng menyambutnya dengan gembira.

"Memang sebaiknya demikian sehingga kalau para orang tua itu membutuhkan bantuan, kami dapat segera membantu,"

Kata Kui Eng.

"Baiklah, aku sendiri akan kembali ke Siauw-lim-si, melapor kepada para suhu dan menanti sampai Kakek guru Siauw-bin-hud keluar dari ruangan pertapaannya."

Mereka lalu berpisah, Kui Eng pergi bersama Kiki, dan Ci Kong pergi seorang diri.

Pemuda ini masih tersenyum-senyum kalau membayangkan betapa dua orang gadis itu yang sekarang menjadi sahabat akrab, tadi saling serang mati-matian.

Diam-diam diapun memuji kecerdikan Kiki yang memancing Kui Eng berkelahi di air.

Kalau dilanjutkan perkelahian ini, banyak kemungkinan Kui Eng akan kalah, karena dia tahu bahwa Kiki adalah seorang yang ahli bermain di air.

Dan dalam perjalanan seorang diri ini, Ci Kong membanding-bandingkan para gadis yang pernah dikenalnya dan yang kesemuanya menarik hatinya.

Mulai Lian Hong, lalu Kui Eng, Kiki, dan Ceng Hiang.

Mereka semua memiliki kepribadian yang amat menarik dan memiliki ciri khas masing-masing yang mengagumkan.

Lian Hong seorang gadis sederhana, pendiam namun cerdik dan gagah.

Matanya yang lebar itu merupakan suatu keindahan tersendiri yang khas.

Kui Eng amat manis, dengan mata yang tajam, sikap yang manja dan galak, akan tetapi gagah perkasa dan mulutnya yang merupakan keindahan dengan memiliki daya tarik yang luar biasa.

Lincah dan garang, namun gagah.

Kiki nakal dan manja, juga lucu dan galak, akan tetapi di balik kegalakannya itu, hatinya lembut sekali.

Tahi lalat di pipinya membuat dia nampak semakin jelita.

Kemudian Ceng Hiang.

Betapa cantik jelitanya puteri pangeran itu!

Paling cantik di antara mereka semua.

Begitu anggun, cantik dan agung.

Lebih lagi, ia murid keturunan keluarga Pulau Es.

Sungguh mengagumkan sekali.

Dan keempatnya adalah gadis-gadis perkasa yang berjiwa pendekar, bahkan juga menentang kelaliman.

Mereka bagaikan batu-batu kemala yang sudah tergosok dan kemilauan, mempunyai daya tarik yang khas, dan masing-masing merupakan seorang gadis yang istimewa sehingga akan sukarlah kiranya kalau dia disuruh memilih siapa di antara mereka yang paling menarik hatinya.

"Uuhh, engkau ini siapa berani menilai-nilai anak gadis orang..."

Ci Kong tersadar dan mencela diri sendiri.

Belum tentu ada di antara mereka yang sudi padamu!

Ia teringat akan keadaan diri sendiri yang sebatang kara, miskin dan tempat tinggalpun tidak punya.

Dalam keadaan seperti itu, bagaimana dia berani memikirkan diri seorang gadis?

Tak tahu diri, makinya kepada diri sendiri, dan diapun melanjutkan perjalanan dengan lesu.

"Tidak salah lagi, inilah gambar kuil Siauw-lim-si!"

Kata Tee-tok setelah San-tok memperlihatkan gambar peta itu.

"Lihat, bukankah gambar di kiri ini adalah tebing dimana terdapat guha-guha besar itu?"

"Benar, akupun teringat sekarang,"

Kata Hai-tok.

"Aku pernah ke sana melalui daerah di utara ini, yang dilukiskan penuh dengan hutan dan banyak terdapat jurang yang curam di situ!"

San-tok mengangguk-angguk.

"Cocok dengan dugaanku. Harta pusaka itu tersimpan di wilayah Siauw-lim-si, sungguh aneh sekali! Akan tetapi sungguh kebetulan, karena dengan demikian, tentu akan lebih mudah lagi untuk menemukannya, dengan bantuan Siauw-bin-hud."

Dengan penuh harapan, tiga orang Kakek sakti ini segera menuju ke Siauw-lim-si.

Akan tetapi, kedatangan mereka itu disambut dengan alis berkerut oleh para pimpinan Siauw-lim-si.

Thian He Hwesio , ketua Siauw-lim-si, maklum bahwa tiga orang di antara Empat Racun Dunia ini sekarang bersatu atau bekerja sama dengan paman gurunya, Siauw-bin-hud.

Mereka kini menjadi pimpinan pemberontak yang melakukan perjuangan menentang pemerintah penjajah.

Dia sendiri bersikap agak lunak walaupun di dalam hatinya, tentu saja Hwesio ini tidak suka kepada tokoh-tokoh sesat itu.

Akan tetapi tiga orang sutenya yang menjadi pembantu pembantunya, rata-rata bersikap keras dan secara berterang memperlihatkan sikap tidak senang kepada tiga orang Kakek itu.

Melihat sikap tiga orang sutenya, Thian He Hwesio diam saja tidak banyak cakap ketika menyambut tiga orang Kakek itu.

Mereka berempat itu menyambut di luar kuil di halaman depan yang luas.

Ketika tiga orang Kakek tadi muncul, para murid Siauw-lim-pai bergegas melapor ke dalam, dan empat orang pimpinan itupun segera keluar menyambut karena khawatir bahwa kedatangan para datuk sesat itu akan membuat keributan.

"Keperluan apakah yang mendorong sam-wi (kalian bertiga) untuk datang mengunjungi kuil kami yang butut ini?"

Demikian Thian He Hwesio menyambut mereka dengan ucapan dan sikap serius. San-tok yang mewakili teman-temannya segera menjawab sambil tersenyum ramah.

"Kami bertiga datang untuk bertemu dengan Siauw-bin-hud, karena kami ingin membicarakan hal yang amat penting dengan dia mengenai urusan perjuangan."

"Omitohud... kedatangan sam-wi sungguh tidak kebetulan sekali."

Kata Thian He Hwesio dengan sikap biasa, walaupun seperti tiga orang pembantunya, dia juga merasa tidak enak melihat sikap tiga orang itu yang sama sekali tidak menghormati nama paman guru mereka, Siauw-bin-hud, seolah-olah Kakek sakti dan Siauw-lim-pai itu seorang sahabat mereka saja!

"Susiok Siauw-bin-hud kini sedang bertapa dan sama sekali tidak boleh diganggu oleh siapapun juga atau urusan apapun juga."

Tiga orang datuk sesat itu terkejut dan saling pandang, kemudian San-tok berkata.

"Akan tetapi kedatangan kami ini penting sekali, mengenai harta karun yang kami cari bersama Siauw-bin-hud untuk membiayai perjuangan! Kami sudah menemukan rahasia itu, dan kami ingin berunding dengan Siauw-bin-hud mengenai pengambilan harta karun itu!"

Para pimpinan Siauw-lim-pai adalah Hwesio -hwe-sio yang beribadat, yang selalu mencari jalan bersih.

Oleh karena itu, tentu saja mereka tidak suka berdekatan, apalagi bekerja sama dengan golongan sesat, terutama sekali dengan datuk-datuk sesat seperti Empat Racun Dunia.

Bahkan mereka menganggap sebagai tugas mereka untuk menentang dan kalau mungkin membasmi golongan sesat untuk menyelamatkan manusia dari ancaman mereka.

Maka biarpun dengan dalih perjuangan, tetap saja mereka tidak setuju kalau harus bekerja sama dengan orang-orang macam Empat Racun Dunia.

"Kalian bertiga sudah mendengar apa yang dikatakan toa-suheng sebagai ketua Siauw-lim-pai,"

Tiba-tiba Thian Khi Hwesio berkata dengan sinar mata tajam.

"Susiok sedang bertapa dan tidak boleh diganggu, dan kami harap sam-wi tidak memaksa. Kembalilah saja kalau susiok sudah keluar dari pertapaannya!"

"Tapi, Siauw-bin-hud sendiri yang mengajak kami bekerja sama dalam perjuangan! Dan urusan harta karun ini penting sekali untuk perjuangan. Untuk urusan ini, sewaktu-waktu tentu Siauw-bin-hud akan menerima kami, dan kalian, Hwesio -Hwesio Siauw-lim-si, tidak berhak melarang kami!"

San-tok mendesak. Kini Thian Khi Hwesio melangkah ke depan.

"Sudah kami katakan, kalian tidak boleh memaksa!"

"Aku ingin bicara dengan ketua Siauw-lim-pai!"

San-tok menuding ke arah Thian He Hwesio .

"Hemm, pinceng yang bertugas mengenai urusan luar, dan suheng Thian Tek Hwesio ini yang menjadi kepala rumah tangga. Kami berdua yang berhak untuk berurusan dengan para tamu dari luar!"

Kata pula Thian Khi Hwesio , dan kini Thian Tek Hwesio yang pendek kecil juga sudah melangkah maju. San-tok menjadi penasaran sekali.

"Hei... Hwesio -Hwesio lancang! Siauw-bin-hud sendiri sudah menerima kami sebagai teman-teman seperjuangan, akan tetapi mengapa kalian tidak dapat menerima kami sebagai sahabat?"

"Urusan Susiok Siauw-bin-hud dengan kalian adalah urusan pribadi susiok, sama sekali bukan utusan Siauw-lim-pai. Kalau susiok ada, maka kami sama sekali tidak berhak mencampuri!"

"Hemmm, sungguh tinggi hati!"

Kini Hai-tok juga ikut bicara, suaranya mengandung kemarahan.

"Hei, Hwesio -Hwesio Siauw-lim-pai! Biarpun golongan kami berbeda dengan golongan kalian, akan tetapi sudah kami sepakati dengan Siauw-bin-hud bahkan untuk urusan perjuangan, kita bekerja sama! Apakah kalian Hwesio -Hwesio Siauw-lim-pai tidak merestui perjuangan menentang pemerintah penjajah?"

"Urusan perjuangan kami adalah urusan kami sendiri, tidak ada sangkutpautnya dengan kalian,"

Jawab Thian Khi Hwesio angkuh.

"Kalian datang untuk berurusan dengan susiok Siauw-bin-hud, dan beliau sedang bertapa. Apalagi yang harus diributkan? Kalian kembali saja kalau beliau sudah keluar, bukankah jawaban dan sambutan kami ini sudah tepat dan adil?"

"Wah-wah, agaknya kalian Hwesio -Hwesio Siauw-lim-pai ini tidak tahu akan pentingnya urusan. Dengarlah! Kami bersama Siauw-bin-hud sudah sepakat untuk bekerja sama dan mendapatkan harta karun yang menjadi rahasia Giok-liong-kiam. Harta karun itu akan kami pergunakan untuk biaya perjuangan.

"Dan sekarang, kami telah mengetahui rahasianya dan tempat harta karun itu berada di sekitar pegunungan ini! Nah, bukankah itu penting sekali untuk dilaporkan kepada Siauw-bin-hud?"

Diam-diam empat orang pimpinan Siauw-lim-pai itu terkejut mendengar ini.

Harta karun dari Giok-liong-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang kang-ouw itu berada di sekitar pegunungan mereka?

Akan tetapi, mereka tentu saja bukan orang-orang yang masih mengejar harta, apalagi kalau harta karun itu dicari untuk dipergunakan sebagai biaya perjuangan, mereka sama sekali tidak ingin menghalangi.

Akan tetapi, karena yang hendak mencari adalah datuk-datuk sesat sedangkan Siauw-bin-hud masih bertapa, merekapun tidak rela membiarkan para datuk sesat itu untuk berkeliaran di daerah atau wilayah kekuasaaan Siauw-lim-pai.

"Betapapun penting, namun urusan itu adalah urusan susiok pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai. Oleh karena itu, tetap saja kami minta agar sam-wi kembali saja kelak kalau susiok sudah keluar dan berkenan menerima tamu!"

Kata Thian Khi Hwesio dengan suara tegas, dan tiga orang Hwesio tua yang lain mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

"San-tok, kenapa mesti ladeni Hwesio -Hwesio yang cerewet seperti nenek-nenek ini?"

Tiba-tiba Tee-tok berseru kehabisan sabar.

"Kita tinggalkan saja mereka dan Siauw-bin-hud, dan mari kita cari sendiri harta itu, habis perkara!"

"Nanti dulu!"

Thian Tek Hwesio yang bertubuh pendek kecil berseru.

"Pegunungan ini termasuk wilayah kekuasaan kami, dan kalian tidak boleh sembarangan saja melanggarnya dan membikin kacau tanpa seijin kami. Dan sebelum susiok keluar dari pertapaannya, kami tidak mengijinkan siapapun juga mengganggu ketenteraman wilayah kami!"

Hai-tok marah sekali.

"Eh, Hwesio -Hwesio cerewet! Sejak kapan kalian menguasai gunung? Yang menjadi milik kalian adalah bangunan kuil dan pekarangannya, bukan seluruh pegunungan ini!"

"Pinceng tetap melarang!"

Bentak Thian Tek Hwesio , yang dibenarkan oleh Thian Kong Hwesio .

"Dan kami tetap akan mencari di sekitar sini!"

Hai-tok juga membentak dan kedua pihak sudah saling melotot.

"Omitohud...! Harap kalian jangan bersikeras!"

Tiba-tiba Thian He Hwesio berkata kepada tiga orang sutenya.

"Asalkan mereka itu tidak mengganggu ketenteraman kuil kita, kalau mereka mau mencari di pegunungan ini, apa salahnya?"

"Toa-suheng... kalau kita membiarkan saja datuk-datuk sesat berkeliaran di sini dan berbuat sesuka hati mereka, lalu apa akan kata dunia kang-ouw? Kita akan ditertawakan... dan dalam waktu singkat, semua golongan sesat akan datang berkeliaran di daerah kita tanpa minta perkenan kita terlebih dahulu."

"Siancai, pinceng harap para sute akan menahan kesabaran diri,"

Kata pula Thian He Hwesio .

"Kita harus dapat membeda-bedakan orang. Bagaimanapun juga, kita mengetahui bahwa memang ada hubungan antara susiok dengan ketiga tamu ini. Asalkan mereka tidak mengganggu kuil dan tidak memasuki pagar tembok yang mengelilingi tempat kediaman kita, biarkanlah mereka mencari apa yang mereka namakan harta karun itu."

Karena ketua Siauw-lim-pai sendiri yang berkata demikian, maka biarpun dengan muka muram dan tidak senang, Thian Tek Hwesio , Thian Kong Hwesio dan Thian Khi Hwesio tidak berani membantah lagi.

San-tok, Tee-tok dan Hai-tok juga tidak memperdulikan mereka lagi.

Tanpa pamit, mereka yang juga merasa mendongkol karena tidak dapat berjumpa dengan Siauw-bin-hud, keluar dan pekarangan itu.

Pintu gerbang depan segera ditutup oleh para Hwesio setelah mereka (Lanjut ke

Jilid 33) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 33 keluar, seolah-olah menjadi tanda bahwa setelah keluar, mereka sama sekali tidak diperkenankan untuk masuk lagi.

San-tok yang memimpin dua orang temannya, lalu mulai mencari-cari.

Akan tetapi belum lama mereka berkeliaran di lereng pegunungan itu, tiba-tiba muncul tiga orang Hwesio yang bukan lain adalah Thian Kong Hwesio , Thian Tek Hwesio dan Thian Khi Hwesio !

Melihat tiga orang Hwesio pembantu ketua Siauw-lim-pai yang tadi memperlihatkan sikap tidak setuju akan niat mereka untuk mencari harta pusaka di daerah itu, San-tok, Tee-tok dan Hai-tok memandang dengan marah.

"Mau apa agi kalian bertiga datang menemui kami?"

San-tok berkata dengan sikap marah, karena dia dapat menduga bahwa tiga orang Hwesio ini tentu datang bukan dengan maksud baik terhadap mereka.

"Kami datang untuk menyatakan bahwa kami merasa penasaran dan tidak setuju melihat kalian berkeliaran disini melanggar wilayah kami,"

Kata Thian Khi Hwesio .

"Eh? Kalian mau apa? Bukankah tadi ketua Siauw-lim-pai telah memberi persetujuan kepada kami?"

Bentak San-tok.

"Kalian jelas melanggar wilayah kami, akan tetapi karena toa-suheng yang menjadi ketua Siauw-lim-pai sudah memberikan persetujuan, kamipun tidak akan mengingkarinya. Akan tetapi hendaknya kalian bertiga mengetahui bahwa kami di Siauw-lim-pai mempunyai peraturan-peraturan! Satu di antaranya adalah bahwa siapapun yang hendak memaksakan kehendaknya melanggar peraturan Siauw-lim-pai, harus dapat mengalahkan kami lebih dulu."

"Keparat! Kalian menantang kami?"

Bentak San-tok.

"Bukan menantang. Akan tetapi, kita semua semenjak kecil berkecimpung dalam dunia persilatan. Namun kami lebih suka mempergunakan perundingan dan jalan damai. Akan tetapi kalau perundingan dan jalan damai itu tidak dapat tercapai, terpaksa kami mempergunakan ilmu silat untuk menentukan. Nah. Sekarangpun menghadapi kalian, kami menemui jalan buntu dan hanya ilmu silat yang akan menentukah siapa di antara kita yang harus mengalah."

"Maksudmu bagaimana, Hwesio ?"

Bentak San-tok yang mewakili dua orang temannya.

"Mengingat bahwa kalian datang bertiga, kami pun datang bertiga. Mari kita tentukan siapa yang lebih kuat di antara kita. Kalau kalian dapat mengalahkan kami... kami akan mengalah dan membiarkan kalian berkeliaran di wilayah kami tanpa kami ganggu. Akan tetapi kalau kami dapat mengalahkah kalian, kami harap kalian pergi dan sini dan jangan mengganggu kami lagi."

Tiga orang datuk sesat itu memang memiliki watak aneh dan suka sekali berkelahi.

Kini, menghadap tantangan tiga orang Hwesio itu, timbul kegembiraan hati mereka untuk menguji.

Mereka tahu bahwa sebagai pimpinan Siauw-lim-pai, tentu tiga orang itu memiliki ilmu silat yang lihai sekali.

Akan tetapi mereka tidak takut, sebaliknya malah merasa gembira karena semakin tangguh pihak lawan, semakin menggembirakan.

"Baik... mari kita mulai saja!"

Hai-tok sudah membentak, dan Kakek yang tinggi besar, mukanya merah dan bersikap gagah perkasa ini, sudah melangkah maju.

"Kita mau keroyokan tiga lawan tiga, ataukah satu lawan satu?"

Melihat Hai-tok yang bertubuh tinggi besar, Thian Kong Hwesio yang juga berperawakan tinggi besar sudah melangkah maju menghadapinya.

"Tidak perlu..."

Katanya.

"Kita bertanding satu lawan satu, dan karena jumlah kita masing-masing bertiga, maka tentu akan ada ketentuan siapa kalah siapa menang."

"Bgus!"

Kata Hai-tok.

"Yang menang dua kali berarti menang. Nah, majulah, kita buka pertandingan ini!"

Berkata demikian, Hai-tok sudah mengeluarkan tongkat emasnya, lalu berkata.

"Kita bertangan kosong ataukah menggunakan senjata?"

Sikap ini dinilai gagah oleh lawannya. Thian Kong Hwesio , sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai, adalah seorang ahli ilmu silat tangan kosong, maka diapun cepat menjawab.

"KaIian adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan susiok Siauw-bin-hud, dan kami menantang kalian bukan karena permusuhan, melainkan karena hendak menegakkan peraturan Siauw-lim-pai. Kita hanya mengadu ilmu, bukan mengadu nyawa, jadi sebaiknya tanpa senjata!"

"Ha-ha, dengan atau tanpa senjata, bagiku sama saja!"

Kata Hai-tok.

Dan sekali menggerakkan tongkatnya, tongkat itupun meluncur ke samping dan menancap sampai menembus sebatang pohon yang besarnya dua kali manusia.

Melihat tenaga sambitan yang hebat ini, diam-diam Thian Khi Hwesio merasa kagum dan tahulah bahwa lawannya adalah seorang yang memiliki tenaga kuat.

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Thian Tek Hwesio yang pendek kecil berkata.

Thian Tek Hwesio adalah orang terdekat dengan ketua Siauw-lim-pai dan sebagai kepala rumah tangga, tentu saja dia merupakan orang pertama yang bertanggung jawab terhadap pertandingan itu.

"Karena kita tidak saling bermusuhan, maka pertandingan ini harus dibatasi. Masing-masing tiga puluh jurus saja, dan selama tiga puluh jurus, masing-masing tentu tahu siapa yang lebih kuat, asalkan mau jujur."

"Ha-ha-ha! Tiga puluh jurus sudah cukup bagiku,"

Kata Hai-tok.

Dua orang Kakek bertubuh tinggi besar itu sudah saling berhadapan dan memasang kuda-kuda masing-masing.

Empat orang Kakek yang lain menjadi penonton dan juga mencurahkan perhatian, karena merekapun dapat menjadi penilai yang baik untuk melihat siapa di antara kedua orang itu yang akan muncul sebagai pemenang.

Bagi mereka yang sudah memilih tingkat kepandaian tinggi, menang kalahnya seseorang dalam pertandingan dapat mereka nilai dengan melihat jalannya pertandingan, walaupun belum ada yang roboh.

"Lihat serangan!"

Hai-tok tanpa sungkan-sungkan lagi lalu membuka serangan, dan begitu menyerang, dia sudah memainkan ilmu silatnya yang paling diandalkan, yaitu Thai-lek Kim-kong-jiu!

Hebat dan dahsyat sekali pukulannya ketika dia membuka serangan.

Pukulan tangannya mendatangkan angin yang menyambar kuat, dan bahkan terdengar suara berdesing ketika tangan yang terbuka dan lebar itu meluncur ke arah dada lawan.

Thian Kong Hwesio maklum akan kehebatan lawan, maka diapun cepat mengelak dan balas menyerang.

Terjadilah serang-menyerang dan keduanya ternyata mempergunakan tenaga sin-kang yang amat kuat sehingga angin menyambar-nyambar dan suara pukulan berdesingan.

Keduanya sama-sama bersikap hati-hati dan selalu mengelak sehingga lewat dua puluh jurus, belum juga ada di antara mereka yang mengadu tenaga!

Gerakan mereka begitu mantap sehingga semua pukulan dapat dielakkan dengan geseran-geseran dan langkah-langkah kaki yang tegap dan tepat.

Mereka berdua maklum bahwa karena semua serangan masing-masing tidak pernah menemui sasaran, maka biarpun sudah hampir mencapai tiga puluh jurus, di antara mereka belum ada yang nampak mendesak atau terdesak.

Maka, tepat pada jurus ke tiga puluh, keduanya sengaja hendak mengadu tenaga.

"Haiiiitttt...!"

Hai-tok Tang Kok Bu mengeluarkan suara melengking, dan kedua tangannya yang terbuka melakukan pukulan mendorong dengan pengerahan tenaga sin-kang dari Thai-lek Kim-kong-jiu!

Thian Kong Hwesio juga ingin mengambil penentuan kalah menang, maka diapun mengeluarkan teriakan panjang.

"Hiaaatttt...!"

Dan kedua tangannya juga mendorong ke depan menyambut kedua tangan lawan.

"Bressss...!!"

Dua tenaga yang dahsyat melalui dua pasang tangan itu, bertemu di udara dan akibatnya, dua orang Kakek tinggi besar itu terdorong mundur, masing-masing sampai lima langkah dan mereka berdua saling pandang dengan mata terbelalak dan muka sedikit pucat.

"Omitohud, engkau kuat sekali, Hai-tok!"

Kata Thian Kong Hwesio dan diapun menjatuhkan diri bersila dan memejamkan mata.

"Ahh, engkaupun tidak kalah kuat, Thian Kong Hwesio !"

Hai-tok berkata sejujurnya dan diapun harus cepat bersila untuk menghimpun hawa murni agar jangan sampai menderita luka dalam yang parah akibat benturan tenaga raksasa tadi.

Empat orang Kakek yang lain dapat menilai bahwa dua orang Kakek tinggi besar itu sama kuat dalam pertandingan tadi.

Thian Tek Hwesio lalu melangkah maju disambut oleh Tee-tok.

Memang lucu pertandingan itu.

Kalau tadi Thian Kong Hwesio yang tinggi besar ditandingi oleh Hai-tok yang juga bertubuh tinggi besar, maka kini Thian Tek Hwesio yang kecil pendek ditandingi pula oleh Tee-tok yang juga bertubuh kecil pendek!

"Wah, aku tidak bisa meninggalkan tongkat butut dan tasbehku seperti yang dilakukan Hai-tok tadi.

Maka, Hwesio yang baik, perkenankan aku tetap memegang tasbeh dan tongkatku ini,"

Kata Tee-tok kepada Thian Tek Hwesio .

"Silahkan. Bagi pinceng, sama saja bahayanya kaki tanganmu dan kedua senjatamu itu,"

Jawab Hwesio kecil pendek itu yang sudah memasang kuda-kuda.

"Bgus! Engkau jujur, Hwesio ! Sambutlah ini!"

Tee-tok juga tanpa sungkan-sungkan lagi sudah menyerang dan tongkat butut hitam itu sudah lenyap berubah menjadi sinar hitam yang cepat sekali gerakannya, disusul sinar hitam tasbehnya yang mengirim serangan susulan!

Hebat memang kecepatan gerakan dari Tee-tok ini.

Akan tetapi, dia memperoleh lawan yang seimbang, karena Thian Tek Hwesio yang menjadi kepala rumah tangga kuil Siauw-lim-si itupun terkenal sekali karena ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang istimewa.

Dan tubuh mereka berkelebatan ketika mereka saling serang, sukar diikuti oleh pandang mata orang biasa.

Hanya empat orang Kakek teman mereka saja yang mampu mengikuti jalannya pertandingan itu.

Dua orang Kakek pendek kecil itu memang memiliki kecepatan gerakan yang sama, dan mereka juga saling serang dengan seimbang.

Tee-tok memainkah ilmu tongkatnya yang hebat, yaitu Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa).

Dan biarpun susah sekali baginya untuk dapat mendesak lawan, akan tetapi serangan berganda dengan tasbeh dan tongkatnya, pada jurus ketiga puluh, membuat tongkatnya berhasil merobek ujung jubah yang dipakai Thian Tek Hwesio !

Keduanya lalu melompat ke belakang dan Thian Tek Hwesio menjura sambil berkata.

"Pin-ceng mengaku kalah."

Sebetulnya, kalau mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh sebagai dua orang musuh, tidak akan mudah bagi Tee-tok untuk dapat mencapai kemenangan.

Dan tongkatnya yang berhasil merobek jubah tadipun belum dapat dianggap sebagai kemenagan, karena robeknya baju tidak membahayakan diri pemakainya.

Namun, Thian Tek Hwesio dengan jujur mengaku kalah, karena betapapun juga, dia belum dapat melakukan apa-apa sedangkan bajunya sudah robek.

Hal ini dapat diartikan bahwa dia terdesak dan kalah cepat oleh gerakan tongkat, sehingga tidak mampu menghindarkan ujung bajunya dari sambaran tongkat.

Kini Thian Khi Hwesio melompat maju, dihadapi oleh San-tok yang tersenyum.

"Thian Khi Hwesio ... engkau harus dapat mengalahkan aku, baru keadaan kita sama. Kalau tidak, berarti pihak kalian yang kalah, dan kalian harus memperbolehkan kami mencari harta itu di sekitar pegunungan ini tanpa gangguan orang-orang Siauw-lim-pai."

"Hemm, majulah, San-tok... dan kita sama lihat saja!"

Kata Hwesio itu sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

San-tok juga mengeluarkan kipasnya, senjatanya yang paling istimewa dan diapun mengeluarkan bentakan lalu menyerang terlebih dahulu.

Kipasnya menyambar dahsyat ke arah muka lawan, disusul totokan gagang kipas yang menghunjam ke bawah menuju dada.

Akan tetapi, dengan gesit dan mantap, Thian Khi Hwesio dapat mengelak, lalu membalas serangan itu dengan jurus silat Harimau.

Kedua tangannya mencakar-cakar dengan dahsyatnya, bahkan dikombinasikan dengan tendangan-tendangan maut.

San-tok harus memainkan kipasnya dengan cepat, dan diapun segera mainkan Pek-liong Kwi-san (Kipas Setan Naga Putih).

Kipas itu menyambar-nyambar ganas, dan biarpun Thian Khi Hwesio mampu menangkis dan mengelak, namun dia tidak memperoleh banyak kesempatan untuk balas menyerang.

Tiga kali serangan San-tok hanya dapat dibalasnya dengan sekali serangan saja, itupun tidak begitu berbahaya.

Oleh karena itu, walau dia satu kalipun belum pernah terkena serangan San-tok yang bertubi-tubi datangnya, setelah lewat tiga puluh jurus, Thian Khi Hwesio melompat ke belakang dan berkata.

"Pinceng mengaku kalah!"

Melihat sikap tiga orang Hwesio itu, San-tok dan dua orang temannya lalu menjura pula, dan San-tok berkata dengan suara lantang.

"Ilmu kepandaian sam-wi tidak banyak selisihnya dengan tingkat kami, akan tetapi yang amat mengagumkan hati kami adalah kejujuran yang sam-wi miliki. Kejujuran seperti itu merupakan suatu kegagahan tersendiri yang amat mengagumkan dan belum tentu kami miliki."

Setelah tiga orang Hwesio itu pergi, tiga orang Kakek datuk sesat ini lalu mulai mempelajari lagi isi peta kuno yang dibawa oleh San-tok.

Mereka mendaki sebuah puncak terdekat, dan dari tempat ini mereka dapat melihat keadaan kuil Siauw-lim-si dan daerah sekitarnya.

San-tok mengeluarkan petanya dan mereka bertiga bersama-sama mempelajari isi peta.

"Lihat..."

Kata San-tok sambil mempelajari peta.

"Disini jelas ditunjukkan bahwa batu besar yang berada di depan kuil itu menjadi pusat pengukuran. Tanda panah dan tempat batu itu terletak, menunjuk ke kiri, berarti ke arah belakang kuil. Disini tertulis bahwa dari tanda panah ini, kita harus menempuh jarak lima ratus tombak. Berarti dari depan pintu gerbang, tempat batu itu terletak, kita harus menuju ke belakang sejauh kurang lebih setengah li. Dan melihat bahwa dalamnya kuil itu paling banyak seperempat li, jadi kita akan tiba di belakang kebun kuil itu, padahal di sana yang nampak hanya satu bukit batu!"

"Dan kita tidak mungkin melakukan penyelidikan ke sana, karena kita harus memasuki daerah kuil sebelah dalam tembok pagar. Dan mereka tentu sudah melakukan penjagaan ketat sehingga tak mungkin kita menyusup masuk."

Kata Hai-tok dengan alis berkerut.

"Menurut petunjuk peta, jelas bahwa tempat rahasia itu berada di belakang kebun kuil itu, di daerah bukit batu. Mungkin tersembunyi di sebuah guha, atau setidaknya tentu berada di dalam bukit itu. Bagaimana kita dapat menyelidiki ke sana?"

Tanya pula Tee-tok.

"Tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara, haruslah kita mencari jalan melalui tebing-tebing karang di belakang kuil!"

Kata San-tok.

"Wah, mana mungkin? Di sana hanya ada tebing-tebing karang yang curam, penuh dengan guha-guha yang berbahaya."

Tee-tok membantah.

"Justeru guha-guha itulah yang harus kita selidiki! Siapa tahu kita dapat membuat jalan tembusan dari guha-guha itu langsung saja ke selatan menuju ke arah yang ditunjuk peta ini, yaitu di belakang kebun kuil. Mari kita selidiki!"

Kata San-tok, dan merekapun lalu menuju ke sebelah utara atau sebelah belakang daerah bangunan kuil dan kebunnya.

Memang tidak mudah mencapai tempat itu, yang merupakan tebing curam penuh dengan batu-batu besar dan guha-guha.

Mereka segera melakukan penyelidikan.

Guha-guha yang banyak terdapat di situ mereka masuki satu demi satu.

Akan tetapi mereka tidak menemukan apa-apa.

Sampai beberapa hari lamanya mereka melakukan penyelidikan tanpa hasil.

"Tidak ada lain jalan, kita harus membuat terowongan dari dalam guha yang sekiranya tepat menuju ke belakang kebun kuil. Kita harus mencari jalan menembus sampai ke belakang kuil itu,"

Kata San-tok.

Dua orang temannya setuju karena agaknya hanya itulah jalan satu-satunya.

Mulailah tiga orang Kakek itu bekerja keras, menggunakan kepandaian dan kekuatan mereka untuk membongkar batu-batu dan membuat jalan terowongan dari dalam sebuah guha menuju ke selatan, ke arah kuil!

Mereka tidak tahu betapa dalam dan jauhnya mereka harus membongkar tanah dan batu, namun mereka bekerja tak mengenal lelah dan pantang mundur.

Pada suatu pagi, ketika tiga orang Kakek itu mulai melanjutkan pekerjaan mereka yang berat, tiba-tiba berkelebat bayangan orang.

"Suhu!"

Tentu saja mereka terkejut, akan tetapi menjadi girang ketika mengenal gadis yang datang adalah Lian Hong, murid San-tok.

Dua orang Kakek yang lain juga merasa girang.

Mereka percaya penuh kepada murid San-tok ini, karena pedang Giok-liong-kiam yang aseli, yang mengandung peta itupun adalah hasil usaha Lian Hong yang mencarinya.

"Di mana Kui Eng? Kenapa ia tidak datang bersamamu?"

Tanya Tee-tok.

Muridnya, Kui Eng, pergi bersama gadis ini dalam usaha mereka melakukan penyelidikan tentang keadaan di Kota Raja, ditemani oleh Ci Kong murid Siauw-bin-hud.

Dan sekarang hanya Lian Hong seorang diri yang muncul dan menyusul ke tempat itu.

Dengan singkat Lian Hong menceritakan semua pengalamannya sampai mereka hampir celaka karena penyamaran mereka ketahuan.

"Kami terpaksa berpencar mengambil jalan masing-masing agar memecah kekuatan para pengejar."

Lian Hong menutup penuturannya.

"Dan karena aku tahu bahwa suhu bertiga tentu menuju ke sekitar daerah kuil Siauw-lim-si, maka aku segera menyusul ke sini."

"Huh, gara-gara Siauw-bin-hud tidak mau keluar dan kekerasan kepala para pimpinan Siauw-lim-pai, terpaksa kami harus membuat jalan terowongan yang begini sulit,"

Kata San-tok.

"Menurut Ci Kong, memang Locianpwe Siauw-bin-hud sedang bertapa. Akan tetapi, ada suatu hal penting yang kami dapatkan, suhu. Yaitu tentang usaha pemerintah Ceng yang diam-diam memasang mata-mata dimana-mana, menyebar orang-orang pandai untuk mengamati gerak-gerik kita semua. Bahkan mengambil siasat untuk membiarkan suhu bertiga mendapatkan harta karun itu, baru mereka akan turun tangan merampas. Karena itu, aku khawatir bahwa gerak-gerik suhu bertiga akan diintai musuh."

Tiga orang Kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kau kira kami begitu bodoh untuk dapat membiarkan orang melakukan pengintaian terhadap kami?"

Kata San-tok.

"Jangan khawatir akan hal itu, Hong Hong. Sekarang kau bantulah kami dengan mencarikan alat-alat untuk membuat terowongan tembusan ini agar kami dapat bekerja lebih cepat."

Lian Hong lalu pergi melaksanakan perintah gurunya.

Dan dalam hal ini, tiga orang Kakek dan Empat Racun Dunia itu memang lengah dan terlalu mengagulkan diri sendiri.

Mereka merasa aman dan yakin bahwa tidak ada orang berani mengamati mereka!

Mereka terlalu memandang rendah pihak lawan, sehingga mereka sama sekali tidak tahu bahwa jauh sebelum mereka tiba di Siauw-lim-si, Tempat itu sudah berada dalam pengawasan dan pengamatan orang siang malam!

Dengan sendirinya, semua gerak-gerik mereka semenjak mereka tiba di pegunungan itu, tidak lepas dan pengamatan orang.

Setelah Lian Hong memperoleh alat-alat seperti sekop, linggis dan lain-lain, dan gadis itu membantu tiga orang Kakek, maka pekerjaan mereka dapat berjalan semakin lancar dan terowongan itu menjadi semakin dalam.

Kurang lebih sebulan mereka bekerja dan akhirnya usaha merekapun berhasil!

Pada suatu siang, hantaman linggis mereka menjebolkan batu terakhir, dan merekapun tiba di tempat yang luas, ruangan bawah tanah yang amat luas!

Tentu saja mereka menjadi girang bukan main.

Dengan hati-hati, empat orang itu lalu merangkak memasuki lubang yang mereka buat itu ke dalam ruangan yang luas.

Ternyata ruangan luas itupun merupakan sebuah terowongan yang lebar dan dalam.

Mereka, San-tok di depan, ditemani Lian Hong, sedangkan dua orang Kakek yang lain mengikuti di belakang, terus maju dan setelah mereka mengikuti jalan berbelok-belok dan naik-turun menelusuri guha yang merupakan terowongan berliku-liku, sampailah mereka pada sebuah ruangan besar berlantai batu-batu raksasa yang menonjol di antara jurang-jurang terjal di dalam perut gunung yang gelap.

Ada cahaya masuk melalui lorong-lorong yang nampaknya aneh dan amat besar, seperti berada di dalam bangunan raksasa saja.

Beberapa garis sinar matahari yang menembus celah-celah dinding merupakan jendela-jendela raksasa yang menenerangi ruangan yang luas sekali itu.

Dengan amat hati-hati, San-tok berlompatan dari batu ke batu, mengerahkan gin-kangnya, diikuti oleh Lian Hong, Tee-tok dan Hai-tok.

Mereka harus berhati-hati sekali, karena sekali terpeleset dari batu raksasa yang mereka injak, tubuh mereka akan terjatuh ke dalam jurang yang entah berapa dalamnya karena tidak nampak.

Ruangan luas itupun penuh dengan halimun yang agaknya masuk pula melalui jendela, membuat tempat itu menjadi menyeramkan sekali.

Mereka berjalan terus ke depan, dengan amat hati-hati, dan tiba-tiba saja batu-batu besar yang mereka lalui itu terhenti dan terputus.

Di depan mereka terdapat jurang menganga mengerikan.

Dari depan nampak segaris cahaya yang aneh dan tiba-tiba San-tok berseru keras.

"Hei, lihat... siapa itu?"

Semua orang memandang ke depan dengan mata terbelalak, karena penglihatan di depan mereka itu sungguh luar biasa sekali.

Nampak sebuah arca dari batu yang amat besar, tinggi dan besarnya ada lima orang.

Arca seorang Kakek berkepala gundul akan tetapi mukanya penuh kumis dan brewok, berwibawa, dan nampak betapa arca itu adalah arca seorang Kakek yang tentu berilmu tinggi.

Arca itu duduk dengan kedua telapak kaki saling bertemu, dan kedua tangan di atas pangkuan.

Dan di antara kedua tangan raksasa itu terdapat sebuah peti kuning.

Yang amat mengherankan hati empat orang itu adalah ketika melihat seorang Kakek gundul bertubuh gendut duduk bersila di belakang peti, di atas pangkuan arca, dan Kakek itu bukan lain adalah Siauw-bin-hud yang agaknya bersamadhi dengan wajah seperti biasa, cerah oleh senyumnya.

Arca itu memang sangat luar biasa.

Agaknya dibuat dari sebuah bukit batu karang, dipahat secara istimewa terus ke bawah, Dan arca itu nampak duduk di atas batu karang yang persegi.

Sulit dibayangkan bagaimana orang dapat membuat arca seperti itu!

Antara batu-batu yang diinjak oleh empat orang itu dan batu persegi yang diduduki arca, terdapat jurang yang amat dalam, dan jaraknya tidak kurang dari se puluh meter.

Melihat betapa Siauw-bin-hud sudah berada di tempat itu dan di depannya terdapat sebuah peti, tiga orang Kakek itu menjadi marah sekali.

Tanpa memeriksa sekalipun, mereka dapat menduga bahwa peti itulah yang dimaksudkan oleh tanda peta pusaka Giok-liong-kiam.

Peti itulah yang berisi harta pusaka, dan ternyata Siauw-bin-hud telah berada di situ.

Kakek Siauw-lim-pai itu ternyata telah mengkhianati mereka, telah lebih dahulu menentukan tempat rahasia itu dan agaknya bermaksud memiliki harta itu untuk diri sendiri.

"Hei, Siauw-bin-hud! Tidak kami sangka bahwa engkau telah mendahului kami, dan ternyata engkaupun sama saja dengan mereka yang memperebutkan harta, hendak memiliki sendiri harta pusaka itu. Engkau Hwesio palsu, tidak ada bedanya dengan Thian-tok!"

Teriak San-tok dengan marah, dan hilanglah kebiasaannya yang suka bergembira dan berkelakar itu. Dia marah sekali, seperti juga Hai-tok dan Tee-tok.

"Siauw-bin-hud! Bicaramu tentang perjuangan melawan penjajah, kiranya hanya bual kosong belaka! Kami yang dikenal sebagai datuk-datuk sesat, kiranya masih lebih bersih dari pada kamu yang berkepala gundul dan berjubah pendeta!"

Teriak Hai-tok sambil mengepal tinju.

"Hei, Hwesio palsu Siauw-bin-hud, kalau engkau masih pura-pura tidur, kami terpaksa akan meloncat ke situ dan menghajar kepala gundulmu!"

Teriak Tee-tok sambil mengacung-acungkan tongkat bututnya.

Siauw-bin-hud membuka kedua matanya, dan mulutnya yang memang sudah tersenyum itu kini terbuka lebar, tersenyum cerah dan matanya memandang kepada empat orang itu bergantian.

"Omitohud!"

Serunya seperti orang terheran-heran.

"Bagaimana kalian bisa tiba di sini? Sungguh mengherankan!"

"Hwesio palsu! Jangan pakai pura-pura heran lagi! Kami bersusah payah, sebulan lebih membongkar batu-batu karena ulah pimpinan Siauw-lim-si, dan kini setelah kami berhasil sampai di sini, ternyata harta pusaka itu telah berada dalam pelukanmu. Katakan saja bahwa engkau menantang kami!"

Teriak San-tok. Tiga orang Kakek itu sungguh merasa marah bukan main, mengira bahwa Siauw-bin-hud sengaja mempermainkan mereka.

"Siancai! Pinceng sungguh tidak mengerti mengapa sikap kalian bertiga begitu marah-marah kepada pinceng? Nona, engkau yang masih muda dan tidak berkepala batu seperti mereka, coba ceritakan mengapa tiga orang tua bangka ini marah-marah seperti kemasukan setan."

Lian Hong lebih percaya kepada Siauw-bin-hud dari pada tiga orang Kakek itu. Ia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalahpahaman di sini. Cepat ia menjura dan berkata dengan suara halus.

"Locianpwe, harap diketahui bahwa tiga orang Locianpwe ini melakukan pencarian terhadap harta pusaka menurut petunjuk peta yang terdapat dalam Giok-liong-kiam aseli. Dan peta itu menunjukkan bahwa harta pusaka itu berada di sekitar tempat ini. Akan tetapi, ketika mereka datang ke kuil Siauw-lim-si hendak bertemu dengan Locianpwe, para pimpinan Siauw-lim-si menolak, bahkan mengajak ketiga Locianpwe ini mengadu ilmu.

"Kemudian, para pimpinan Siauw-lim-si hanya membolehkan kami mencari di luar tembok pagar pekarangan Siauw-lim-si. Terpaksa kami membongkar gunung melalui guha-guha di belakang kuil. Sebulan lebih kami bekerja mati-matian, dan hari ini berhasil menembus ke sini. Ternyata Locianpwe sudah berada disini dan... dan... harta itu... peti itu..."

Siauw-bin-hud tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Kiranya begitu? Sudah puluhan tahun tempat ini menjadi tempat pinceng bertapa! Tempat ini dahulu dibuat oleh sucouw Tat Mo Couwsu, bahkan arca itu kabarnya adalah arca dirinya. Pinceng seringkali berdekatan dengan arca ini dan juga peti ini, akan tetapi pinceng selalu menganggap peti ini hanya pelengkap saja dari arca.

"Hati pinceng tidak pernah dikotori keinginan akan harta, maka tidak pernah memeriksa apakah peti ini ada isinya ataukah tidak. Jadi kiranya, peti inikah yang dimaksudkan harta karun dalam rahasia Giok-liong-kiam itu? Ha-ha-ha-ha... sungguh lucu, bertahun-tahun setiap hari berada di depan pinceng!"

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, disusul oleh letusan-letusan dan ledakan-ledakan yang mendatangkan suara bergema dan mengaung di tempat itu.

Siauw-bin-hud yang melihat betapa ada peluru beterbangan dan hampir mengenai kepalanya, ia pun terkejut sekali.

"Omitohud...! Tempat ini kemasukan orang-orang jahat!"

Serunya, dan tiba-tiba tubuhnya sudah melayang ke depan, dan dia berdiri di dekat tiga orang Kakek dan Lian Hong.

Selagi mereka terheran dan terkejut, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, yaitu dari kanan, nampak ratusan batang anak panah menyambar-nyambar ke arah kiri dari mana tadi datang peluru-peluru dan terdengar ledakan-ledakan.

"Pasukan pemerintah Ceng!"

Terdengar suara nyaring dan bergema di dalam ruangan bawah tanah itu.

"Kami yang lebih dulu menemukan harta karun!"

Suara itu datang dari kiri, dan ketika empat orang Kakek dan Lian Hong memandang ke kiri, yang nampak hanyalah bayangan-bayangan orang bersembunyi di balik batu-batu dan nampak pula ujung senapan yang dipasangi bayonet.

Beratus-ratus jumlahnya!

"Hei, kalian pasukan asing!

Kami yang datang lebih dahulu dan harta pusaka itu adalah hak milik kami!

Kalian orang-orang asing tidak berhak dan pergilah!"

Teriakan ini terdengar dari sebelah kanan.

Ketika lima orang itu memandang ke arah sana, di belakang batu-batu besar nampak ujung topi ratusan orang prajurit pemerintah Ceng yang bersenjata tombak, golok dan anak panah.

"Hemm, kita lihat saja siapa yang akan berhasil mendapatkan harta pusaka itu!"

Terdengar ledakan-ledakan senapan dari kiri yang dibalas dengan sama gencarnya oleh pihak tentara Ceng dengan anak panah mereka.

Terjadilah pertempuran yang seru antara tembakan-tembakan senapan dan hujan anak panah dan kanan kiri.

Melihat ini, Siauw-bin-hud, San-tok, Tee-tok, Hai-tok dan Lian Hong, terpaksa harus berlari mencari tempat perlindungan di balik batu-batu besar.

Sambaran peluru-peluru dan anak panah itu terlalu gencar dan terlalu berbahaya bagi mereka sekalipun.

Setelah berada di tempat perlindungan di balik batu-batu besar, Siauw-bin-hud berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Omitohud, kiranya pasukan asing dan pasukan Ceng sudah menyerbu pula tempat ini. Agaknya pemerintah Ceng menyerbu melalui kuil, dan pasukan asing menyerbu melalui jalan terowongan yang kalian buat! Dan mereka semua hendak merebut peti itu! Anehnya, pinceng sendiri sama sekali tidak pernah menduga bahwa peti yang dipangku arca itulah yang terisi harta karun itu. Akan tetapi, benarkah itu?"

"Kurasa benar, Siauw-bin-hud. Menurut petunjuk peta yang disimpan sebagai rahasia pedang Giok-liong-kiam, memang di sinilah tempatnya. Dan dimana lagi disimpannya harta pusaka itu kalau tidak di dalam peti yang dipangku oleh arca besar itu?"

Kata San-tok dengan yakin.

Ruangan itu kini penuh asap dan ledakan-ledakan senapan.

Keadaan menjadi gelap dan membuat mata terasa pedas, bahkan terdengar banyak di antara para pasukan kedua pihak batuk-batuk.

"Kita harus turun tangan,"

Bisik Siauw-bin-hud.

"Kalau tidak, pertempuran itu tentu akan berlarut-larut dan akhirnya harta itu akan terjatuh ke tangan satu di antara mereka. Pinceng tidak boleh menentang pasukan Ceng, karena hal itu akan mengakibatkan dimusuhinya Siauw-lim-si yang memang sudah dianggap suka memberontak oleh pemerintah.

"Kini kita membagi tugas. Kalian bertiga, San-tok, Tee-tok dan Hai-tok, menerjang ke kanan, hajar pasukan pemerintah Ceng agar mereka itu mundur, sedangkan pinceng dan nona ini akan mendesak pasukan asing agar mundur keluar dan sini. Kalau kita lakukan secara berbareng, tentu kedua pihak menjadi kacau dan mudah-mudahan berhasil mendesak mereka mundur. Dan setelah mereka mundur, kita mengambil peti itu dan pergi dari sini melalui jalan rahasia yang pinceng kenal."

Tiga Kakek itu menganguk-ngangguk.

"Rencanamu bagus sekali, Siauw-bin-hud. Dan maafkan persangkaan kami tadi..."

Kata San-tok.

Tiga orang Kakek itu lalu berloncatan dan menyelinap di antara batu-batu, lalu membuat sergapan ke kanan dimana berkumpul pasukan pemerintah Ceng yang ratusan orang banyaknya.

Sebaliknya, Siauw-bin-hud ditemani oleh Lian Hong, menyelinap ke kiri dan mereka berdua juga melakukan penyergapan kepada pasukan asing.

Terjadilah kekacauan di kedua pihak.

Biarpun Siauw-bin-hud dan Lian Hong hanya merobohkan para serdadu itu tanpa membunuh mereka, tidak seperti amukan tiga orang datuk sesat yang menyebar maut, namun para prajurit asing menjadi panik dan ketakutan ketika tiba-tiba saja teman-teman mereka roboh bergelimpangan tanpa mereka ketahui sebabnya.

Siaw-bin-hud dan Lian Hong bergerak dengan amat cepat dari balik batu-batu besar.

Selagi keadaan di kedua pihak amat kacau karena amukan lima orang itu, dan ruangan menjadi semakin gelap oleh asap senapan, dari kanan menyelinap sesosok tubuh yang berpakaian seperti seorang prajurit pasukan Ceng.

Akan tetapi gerakannya cepat bukan main ketika dia menyusup-nyusup itu.

Keadaan demikian kacau sehingga tidak ada yang melihat gerakan sosok tubuh ini, apalagi ketika orang itu kadang-kadang melepaskan sebuah benda yang mengeluarkan asap yang menyakitkan mata.

Orang itu terus menyelinap, dan dengan loncatan ringan dia menyeberang dan tiba di atas batu persegi yang diduduki arca.

Dia menyelinap di dalam lubang di antara kaki arca dari mana keluar cahaya matahari, dan lenyaplah tubuhnya masuk ke bawah arca!

Sementara itu, pertempuran masih terus berlangsung dengan hebatnya.

Pihak pasukan asing mengira bahwa yang merobohkan banyak prajurit secara aneh dan bersembunyi itu tentulah orang-orang pandai yang berpihak kepada pasukan Ceng, sebaliknya pasukan Ceng yang diamuk oleh tiga orang Kakek sakti itupun menduga bahwa orang-orang pandai itu tentu berpihak kepada pasukan asing.

Hal ini membuat kedua pihak merasa jerih.

Terlalu banyak pasukan yang berada di depan sudah roboh.

Apalagi pasukan tentara Ceng yang melihat betapa prajurit-prajurit mereka roboh dan tewas dalam keadaan yang mengerikan.

Sementara itu, tak seorangpun melihat betapa sosok tubuh yang tadi menyelinap masuk ke bawah arca, kini sudah keluar lagi sambil membawa buntalan yang coba ditutupnya dengan baju prajuritnya.

Dan diapun dengan kecepatan luar biasa sudah menyelinap lagi di antara batu-batu dan menghilang ke arah kanan, dimana terdapat banyak sekali pasukan pemerintah Ceng.

Peristiwa itu terjadi dengan amat cepatnya, tertutup oleh asap yang tebal, dan tidak ada orang melihatnya karena semua orang terlibat dalam pertempuran.

Serbuan yang dilakukan oleh lima orang itu membuat pasukan kedua pihak kocar-kacir dan akibatnya merekapun terpaksa keluar dari dalam ruangan itu sambil membawa teman-teman yang terluka dan meninggalkan teman-teman yang telah tewas.

Setelah kedua pihak mundur dan keluar dan ruangan yang semakin penuh dengan asap itu, Siauw-bin-hud lalu mengajak empat orang itu meloncat ke atas batu persegi.

Mereka berlima lalu mendekati peti, dan Siauw-bin-hud dibantu oleh San-tok, membuka tutup peti.

"Omitohud!"

"Celaka...!"

Teriak San-tok ketika dia melihat bahwa peti itu telah kosong!

Di dasar peti terdapat lubang yang agaknya baru saja dibuat orang!

Dan yang tertinggal di dalam peti hanyalah sehelai kertas yang sudah tua sekali dengan tulisan huruf-huruf yang sudah kabur.

Dengan suara jelas, Siauw-bin-hud membaca tulisan itu.

Kiranya tulisan kuno itu menyatakan bahwa sebanyak tiga perempat bagian harta karun itu telah dipergunakan untuk menyelamatkan banyak sekali orang ketika terjadi bencana kelaparan selama beberapa tahun di daerah barat, yang terjadi ratusan tahun yang lalu.

Surat itu ditandatangani oleh orang yang menamakan dirinya Ceng Sim (Hati Bersih).

"Diambil untuk menyelamatkan rakyat sebanyak tiga perempat, lalu mana sisanya yang seperempat lagi?"

Hai-tok berseru dengan marah.

"Lihat! Lubang di dasar peti ini baru saja dibuat orang!"

Kata Siauw-bin-hud yang segera melakukan pemeriksaan.

"Hemm, dia tentu mengambil jalan melalui lubang di antara kaki arca ini. Ah, tentu ketika terjadi keributan tadi, dia telah melakukannya. Sungguh cerdik bukan main.

"Seperempat bagian itu masih banyak sekali kukira. Lihat, menurut surat-surat peninggalan ini, tiga perempat bagian saja dapat dipergunakan menyelamatkan orang-orang sebanyak berjuta-juta penduduk dari dua propinsi yang dilanda bencana kelaparan karena serangan belalang. Siapa yang berani mengambilnya?"

Tiga orang Kakek itu saling pandang.

"Hemm... kalau kami tidak melihat sendiri engkau membantu kami menghalau pasukan, tentu kami akan menuduhmu main-main, Siauw-bin-hud,"

Kata Tee-tok.

"Tidak perlu tuduh-menuduh dalam hal ini,"

Kata Lian Hong.

"Kalau Locianpwe Siauw-bin-hud hendak mengambil sendiri harta pusaka itu, tentu tidak perlu berpura-pura dan sudah lama membawanya pergi bersama petinya, dan tidak meninggalkan bekas-bekasnya. Tentu ada orang lain yang memanfaatkan keadaan ribut-ribut tadi untuk melarikan isi peti secara cerdik sekali."

Tiga orang Kakek itu mengangguk dan Siauw-bin-hud menarik napas panjang.

"Omitohud! Agaknya memang Tuhan belum menghendaki jatuhnya pemerintah penjajah Mancu, sehingga usaha kita mencari dana menjadi gagal di saat terakhir. Dan tempat ini menjadi kotor oleh pertempuran tadi. Lihat!"

Kata Siauw-bin-hud dengan muka penuh penyesalan.

Dia menuding ke arah mayat yang bergelimpangan, ada puluhan banyaknya, baik yang tewas oleh amukan tiga orang Kakek itu maupun yang tewas oleh peluru dan anak panah.

"Mari kita keluar. Tempat ini harus diruntuhkan agar menjadi kuburan mereka."

Biarpun hal mereka merasa kesal dan kecewa karena harta pusaka itu ternyata sudah diambil orang, yang tiga perempat bagian sudah dipergunakan orang ratusan tahun yang lalu untuk menolong rakyat dari bencana kelaparan, dan yang seperempat, sisanya, baru saja dicuri orang yang lihai, namun tiga orang Kakek itu terpaksa mengikuti Siauw-bin-hud ke luar dari tempat itu mengambil jalan rahasia, sebuah terowongan kecil yang nampak setelah sebuah pintu rahasia di dinding batu itu terbuka.

Mereka memasuki terowongan dan akhirnya keluar dari sebuah guha di belakang kuil.

Kakek pendeta itu lalu menarik sebuah rantai besar, dan segera terdengar suara gemuruh di dalam bukit itu, tanda bahwa tempat dimana terdapat arca raksasa tadi telah runtuh dan menimbun semua yang berada di dalamnya, termasuk mayat-mayat yang bergelimpangan.

Pasukan Ceng dan pasukan asing yang melihat betapa pintu-pintu ke arah terowongan menjadi tertutup oleh batu-batu yang menggelinding keluar dari dalam ruangan, terkejut dan cepat menjauhi tempat itu.

Mereka kembali ke tempat masing-masing dengan tangan hampa, bahkan kehilangan banyak anggauta, terutama sekali pihak pasukan Ceng karena banyak anak buah mereka tewas oleh amukan tiga orang Kakek sakti.

Setelah tiba di atas, San-tok, Lian Hong, Tee-tok dan Hai-tok lalu berpamit kepada Siauw-bin-hud.

"Usaha kita gagal, terpaksa kami akan bergerak menentang penjajah dengan kekuatan seadanya!"

Kata San-tok.

"Omitohud... pinceng juga menyesal sekali. Apalagi karena agaknya akan sukar untuk mencari siapa pencuri harta karun itu. Betapapun juga, pinceng akan menasihatkan para murid Siauw-lim-pai untuk menunjang gerakan kalian menentang pemerintah penjajah.

"Kalau seluruh rakyat dapat digerakkan, pinceng percaya bahwa pemerintah penjajah akan dapat digulingkan dan diusir dari tanah air. Pinceng yang sudah tua dan tidak mau bertempur lagi, hanya akan membantu dengan doa-doa pinceng."

Merekapun pergi dan saling berpisah.

San-tok pergi bersama muridnya, Tee-tok dan Hai-tok juga pergi dengan saling berjanji akan mengadakan kontak satu sama lain, dan terutama akan melakukan gerakan di selatan di daerah Kanton, dan di utara di daerah Propinsi Hok-kian.

Semenjak terjadinya peristiwa perebutan harta karun di ruangan dalam perut bukit di belakang kuil Siauw-lim-pai yang kemudian lenyap dicuri orang tanpa ada yang mengetahui, Maka pemberontakan terjadi dimana-mana.

San-tok, Tee-tok dan Hai-tok, makin meramaikan pemberontakan.

Juga murid-murid mereka tidak mau ketinggalan, menggerakkan orang-orang segolongan yang menentang pemerintah penjajah.

Perang kecil-kecilan terjadi, pemberontakan berkobar-kobar dimana-mana.

Pasukan pemerintah Ceng menjadi sibuk sekali karena dimana-mana mereka menemui perlawanan dan tentangan.

Bahkan pasukan kulit putih juga menjadi semakin terdesak karena sudah seringkali markas mereka diserbu pada malam hari yang gelap dan sunyi, apalagi kalau sedang hujan.

Juga patroli-patroli mereka harus diperkuat karena seringnya pasukan kecil mereka disergap di dalam perjalanan di waktu malam.

Keadaan menjadi semakin kacau.

Biarpun pemberontakan-pemberontakan kecil itu berdalih membela rakyat dan tanah air, namun akibat dari kekacauan-kekacauan yang timbul karena pemberontakan-pemberontakan itu, yang paling menderita adalah rakyat kecil!

Pemerintah semakin mudah curiga sehingga banyak rakyat tidak berdosa menjadi korban keganasan pasukan pemerintah yang membabi buta.

Juga pihak pemberontak selalu mencurigai rakyat yang tidak berpihak kepada mereka, menuduh rakyat yang tidak memihak mereka sebagai mata-mata pemerintah penjajah, dan para pemberontak yang menamakan diri pejuang-pejuang itu tidak segan-segan untuk menyiksa atau bahkan membunuh mereka yang dituduh menjadi mata-mata.

Tak dapat disangkal lagi dan sudah terbukti berulang kali dalam sejarah di bagian manapun di dunia ini, setiap terjadi perang, apapun dalih perang itu, sudah pasti yang menjadi korban utama adalah rakyat jelata!

Dan setiap terjadi perang, maka kekerasan merajalela, manusia-manusia menjadi mata gelap dan kehilangan perikemanusiaan mereka.

Yang ada hanyalah bunuh membunuh, dibunuh atau membunuh!

Hukum tidak dihiraukan lagi.

Keadilan dan kebenaran terinjak-injak.

Yang ada hanyalah memperebutkan kemenangan dengan cara bagaimanapun juga.

Perang merupakan peristiwa terkutuk dan menjadi puncak dari pada pelepasan nafsu keganasan manusia.

Dengan amat cerdik dan liciknya, setan-setan perang membangkitkan semangat rakyat demi tanah air, demi bangsa, bahkan ada kalanya setan-setan perang mempergunakan bujukan demi agama, demi kebenaran dan demi keadilan!

Betapa menyedihkan!

Manusia saling membenci, saling bunuh demi agama yang sama sekali tidak membenarkan pembunuhan dan kebencian.

Manusia saling membunuh demi kebenaran, padahal membunuh itu sudah menyimpang dari kebenaran.

Semua ini menyedihkan, namun terjadi berulang kali sampai saat ini!

Semangat rakyat didorong menuju ke pemberontakan oleh ulah orang-orang kulit putih.

Karena mereka, dengan persetujuan pemerintah Ceng yang lemah, kini semakin berkuasa dan merajalela di kota-kota besar dan bandar-bandar besar.

Pemerintah Ceng nampak semakin lemah saja menghadapi orang-orang kulit putih.

Rakyat menjadi semakin tertekan dan kemarahan menimbulkan pemberontakan dimana-mana.

Pada suatu sore di pelabuhan Kanton.

Seperti biasa, puluhan orang, hampir seratus orang kuli yang masih muda-muda dan bertubuh tegap dan kuat, bekerja di pelabuhan, mengangkut barang-barang milik orang-orang kulit putih.

Ada yang menurunkan peti-peti dari kapal, ada pula yang mengangkat barang-barang rempah-rempah dan lain-lain ke atas kapal yang lain.

Memang orang kulit putih memperoleh keuntungan besar dalam penjelajahan mereka ke daratan Cina.

Mereka mendatangkan barang-barang dari luar negeri, mengangkut rempah-rempah dan sutera-sutera halus dari daratan dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Akan tetapi tidak seperti biasanya, kuli-kuli angkut itu nampak gelisah dan marah.

Pagi tadi, ada dua orang di antara mereka yang ditahan dan dipukuli oleh serdadu kulit putih.

Mereka itu ditangkap karena mencuri segulung kain sutera.

Mereka ditangkap, mengaku sambil menangis bahwa mereka melakukan hal itu karena terpaksa, karena keponakan mereka sakit keras dan membutuhkan uang untuk pembeli obat.

Dua orang itu adalah kakak beradik.

Para kuli gelisah karena sampai sore, dua orang itu belum dibebaskan dan menurut kabar, mereka itu dipukuli dan disiksa setengah mati.

Akhirnya, mereka tidak tahan lagi, dan pada saat serdadu bule membunyikan bel tanda bahwa pekerjaan berakhir, mereka semua beramai-ramai menghadap ke kantor, menuntut agar dua orang yang ditahan itu dibebaskan.

"Mereka memang bersalah, akan tetapi mereka sudah menerima hukuman. Mereka boleh saja dikeluarkan, akan tetapi tidak perlu ditahan terus,"

Demikian tuntutan mereka.

Melihat kerumunan puluhan orang kuli itu di depan kantor, komandan jaga, seorang perwira muda kulit putih menjadi marah dan juga khawatir kalau-kalau mereka melakukan pemberontakan.

"Pergi kalian! Urusan dua orang tahanan itu adalah urusan kami, kalian tidak boleh mencampuri. Pergi atau kami akan menggunakan kekerasan!"

Bentak perwira itu. Para kuli menjadi semakin penasaran. Mereka malah mogok, duduk di depan kantor dan mengacung-acungkan tinju.

"Kami tidak akan pergi sebelum dua orang kawan kami dibebaskan!"

Mereka mulai berteriak-teriak dan hal ini membuat perwira itu menjadi panik.

Dia segera menghubungi markas dan sekitar lima puluh orang bekas anak buah Harimau Terbang yang kini berada di bawah pimpinan Peter Dull, dikirim ke tempat kerusuhan itu.

Peter Dull sendiri tidak muncul karena peristiwa itu dianggapnya remeh dan cukup untuk diselesaikan oleh sersan bule itu dan anak buahnya saja.

Ketika pasukan Harimau Terbang datang ke tempat itu, para kuli masih mogok duduk di depan kantor.

Sersan bule lalu memerintahkan mereka pergi lagi.

"Pergi kalian, kalau tidak, terpaksa kami akan bertindak!"

Lima orang di antara mereka yang menjadi pimpinan, bangkit dan mengacungkan tangan terkepal ke atas.

"Kami tidak akan pergi tanpa dua orang kawan kami yang tertahan!"

"Tangkap lima orang itu!"

Perintah sang sersan, dan beberapa orang anggauta pasukan Harimau Terbang dengan sikap bengis lalu melangkah maju hendak menangkap lima orang itu.

Akan tetapi, para kuli yang jumlahnya hampir seratus orang itu serentak bangkit melindungi lima orang kawan mereka.

Melihat ini, sersan itu menjadi marah.

Dia mencabut pistolnya dan berteriak.

"Hajar anjing-anjing pemberontak itu! Pukuli mereka sampai babak belur!"

Mendengar perintah ini, pasukan Harimau Terbang yang sikapnya seperti anjing-anjing pemburu yang diperintah majikan mereka, langsung saja menyerbu, dan karena mereka adalah orang-orang yang sudah dilatih ilmu silat dan sudah biasa berkelahi, maka biarpun kawanan kuli angkut itu bertubuh kuat dan nekat, tentu saja para kuli ini bukan lawan para pasukan Harimau Terbang.

Terjadilah perkelahian yang berat sebelah karena kuli-kuli angkut itu menderita pukulan-pukulan sampai mereka jatuh bangun.

Sersan itu sendiri mengacung-acungkan pistolnya, siap membidik kalau dirinya diserang atau kalau sampai pasukankannya kalah.

Hampir seratus orang kuli itu tentu akan luka-luka semua kalau saja pada saat itu tidak muncul seorang gadis yang mengamuk bagaikan seekor naga menyambar-nyambar!

Setiap kali tangannya menampar, kakinya menendang, tentu roboh seorang perajurit Harimau Terbang!

Sepak terjangnya menggiriskan sekali!

Padahal, ia adalah seorang gadis yang cantik manis, dengan sepasang mata yang amat tajam dan usianya belum ada dua puluh tahun.

Ia adalah Ciu Kui Eng, gadis yatim piatu murid Tee-tok yang gagah perkasa itu.

Ketika tadi Kui Eng kebetulan lewat dan melihat perkelahian itu, ia segera tahu bahwa para kuli angkut sedang disiksa oleh pasukan orang-orang yang menjadi anjing penjilat orang kulit putih.

Ia marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi, ia segera terjun ke dalam perkelahian dan mengamuk, merobohkan orang-orang berpakaian seragam bertopi kulit harimau itu.

Biarpun di antara anak buah pasukan itu yang pandai sudah mencoba untuk mengeroyok dan melawan Kui Eng dengan ilmu silat mereka, namun mereka itu masih jauh untuk dapat menandingi Kui Eng, sehingga dalam beberapa gebrakan saja, mereka itu satu demi satu dirobohkan oleh gadis perkasa itu!

Melihat betapa dalam waktu singkat, gadis yang mengamuk seperti kerbau gila itu sudah merobohkan belasan orang anak buah Harimau Terbang, sersan kulit putih itu terkejut bukan main.

Tak disangkanya ada seorang gadis sedemikian hebatnya.

Karena khawatir kalau-kalau pasukannya kalah semua, dia lalu membentak keras.

"Hai, tahan dan angkat tangan, kalau tidak, kutembak kau , gadis liar!"

Dimaki gadis liar, Kui Eng menjadi marah.

Biarpun opsir itu membidikkan pistol kepadanya, ia tidak takut.

Dengan gerakan gin-kang yang amat ringan, tubuhnya sudah meluncur ke depan, menghampiri opsir itu.

Si sersan terkejut, ingin menembak, akan tetapi gerakan gadis itu terlalu cepat dan tubuh gadis itu meluncur seperti terbang, tahu-tahu sudah menubruk ke arah kakinya.

Opsir itu menendang, akan tetapi tidak cukup cepat dan tahu-tahu tubuhnya terjengkang dan pistolnya dirampas orang!

Karena dia terbanting keras ke belakang, kepalanya menghantam tanah agak keras dan diapun terkulai, pingsan karena gegar otak!

Kui Eng tidak membuang pistol itu, melainkan menyelipkan di pinggangnya dan iapun terus mengamuk.

Orang-orang Harimau Terbang menjadi jerih dan mereka sudah berteriak-teriak agar ada yang melapor ke markas minta bala bantuan.

Kui Eng cukup cerdik.

Ia tahu bahwa kalau bala bantuan datang, tentu ia dan para kuli itu akan celaka.

"Cepat, kita lari!"

Teriaknya.

Kuli-kuli angkut itupun tahu diri.

Mereka bergembira sekali karena memperoleh bantuan seorang gadis perkasa, dan mereka tadi juga melakukan perlawanan dengan semangat gigih sehingga banyak di antara mereka yang merasa puas sudah dapat menendangi anak buah pasukan Harimau Terbang.

Kini mendengar teriakan Kui Eng, mereka lalu melarikan diri sambil membawa teman-teman yang terluka, setelah tidak lupa menyerbu ke kantor dan membebaskan dua orang teman yang ditahan dan yang telah disiksa menderita luka-luka itu.

Melihat mereka berlarian, Kui Eng merasa khawatir.

Melarikan diri bersama demikian banyaknya orang tidaklah mudah dan tentu keadaan mereka akan diketahui lawan.

"Kemana kita lari?"

Teriaknya.

"Mari, Lihiap, ikuti kami!"

Teriak seorang di antara lima orang yang tadi bertindak sebagai pimpinan.

Mereka berlari terus melalui lorong-lorong dan kampung-kampung tempat tinggal penduduk yang miskin.

Akhirnya, mereka memasuki sebuah rumah seperti gudang yang panjang dan tua.

Ruangan yang panjang itu mereka masuki dan ternyata ada sebuah tangga turun menuju ke dalam ruangan bawah tanah yang juga panjang dan agak pengap.

Setelah mereka semua memasuki ruangan bawah tanah ini, pintu tembusan itu tertutup secara rahasia dan mereka itu yang berjumlah hampir seratus orang lalu minta agar Kui Eng suka memimpin mereka.

Kui Eng berdiri di atas mimbar yang terbuat dan peti-peti ditumpuk dan lima orang pimpinan itu lalu berkata dengan suara keras.

"Mari kita mulai sekarang memberontak terhadap orang kulit putih!"

"Berontaaaakkk...!!"

Semua orang mengacungkan kepalan tangan ke atas. Seorang di antara lima pimpinan, yang tinggi besar dan bersikap kasar, tiba-tiba berseru.

"Saudara-saudara, bagaimana kalau kita mengangkat Lihiap ini menjadi pimpinan kami? Akur atau tidak?"

"Akuuuurrr!"

Semua orang bersorak dan mengepal tinju ke atas, memandang kepada Kui Eng dengan sinar mata kagum dan penuh harapan.

Kui Eng menjadi terkejut dan serba salah.

Memang ia sendiri juga ditugaskan oleh suhunya untuk membantu pemberontakan, terutama pemberontakan terhadap pemerintah penjajah Mancu.

Akan tetapi mana mungkin ia, seorang gadis, menjadi pemimpin sekelompok laki-laki yang bertubuh kuat dan bersikap kasar ini?

Betapapun juga, ia tahu bahwa mereka ini dapat menjadi anak buah yang patuh dan nekat, dan kalau ia menolaknya, tentu akan melumpuhkan semangat mereka yang sedang berkobar.

"Nanti dulu, kawan-kawan..."

Kata Kui Eng sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Suasana segera menjadi sirap dan hening, semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Pertama-tama, aku ingin bertanya, mengapa kalian hendak memberontak? Bukankah selama ini kalian menjadi kuli-kuli angkut di kapal-kapal asing itu. Kenapa kalian secara mendadak lalu timbul keinginan untuk berontak?"

Si tinggi besar bermata lebar itu yang menjawab.

"Lihiap, bolehkah saya mewakili semua kawan memberi jawaban?"

Melihat betapa semua orang mengangguk tanda setuju, Kui Eng berkata sambil memandang kepada orang tinggi besar itu.

"Boleh, katakanlah."

"Begini, Lihiap. Kami semua sejak dahulu, memang merupakan pekerja-pekerja kasar karena kami tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan halus. Kalau tidak terjadi sesuatu, agaknya kamipun tidak akan memberontak. Akan tetapi, akhir-akhir ini kami seringkali diperlakukan amat tidak adil dan semena-mena oleh orang-orang kulit putih dan antek-anteknya, terutama para anggauta pasukan Harimau Terbang itu.

"Dahulu, sebelum terjadi Perang Candu, kami masih dapat mengharapkan perlindungan dari alat-alat pemerintah. Akan tetapi sekarang, alat-alat pemerintah nampak tunduk pula terhadap orang-orang kulit putih.

"Kami tidak mempunyai pelindung lagi. Maka, kami mengambil keputusan untuk membentuk kesatuan dan pemberontak. Akan tetapi kami membutuhkan pimpinan, dan melihat betapa Lihiap memiliki kepandaian tinggi, dan sudah menolong kami, maka kami ingin sekali mengangkat Lihiap menjadi pemimpin kami."

"Akurrr...!"

"Setuju...!"

"Hidup Lihiap...!"

Melihat orang-orang itu kesemuanya laki-laki muda dan gagah, memandang kepadanya dengan kegembiraan meluap, bahkan ada di antara mereka yang melahapnya dengan pandang mata, diam-diam Kui Eng merasa ngeri dan bergidik.

Betapa mungkin dia akan hidup sebagai pemimpin di antara begini banyak pria yang setiap hari akan mengerumuni dan memandangnya dengan kekaguman yang kadang-kadang disertai nafsu dan gairah?

"Kawan-kawan, tenanglah dahulu,"

Katanya. Setelah semua orang tenang, ia melanjutkan, kata-katanya jelas dan tetap.

"Aku tahu akan semangat kalian sedang terbakar, dan memang kita semua tidak suka melihat tanah air terjajah Bangsa Mancu, dan melihat orang-orang kulit putih semakin merajalela! Sudah sepatutnya kalau kita semua bangkit untuk membela bangsa dan tanah air.

"Akan tetapi, aku sudah terbiasa bergerak bebas di luar suatu perkumpulan. Bukan aku tidak mau membantu kalian, akan tetapi aku tidak mempunyai kecakapan untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi, aku akan mengajarkan ilmu silat, beberapa jurus yang tangguh dan penting untuk kalian. Bagaimana?"

Riuh rendah sambutan mereka, ada yang setuju, ada yang tetap hendak mengangkat gadis cantik dan lihai itu sebagai pemimpin. Kembali Kui Eng mengangkat tangan ke atas minta mereka tenang.

"Karena tidak mungkin mengajarkan ilmu silat yang tangguh dalam waktu singkat kepada kalian semua, maka aku akan mengajarkan kepada lima orang pemimpin kalian ini saja, kemudian merekalah yang akan mengajarkan kembali kepada kalian. Menyesal sekali aku tidak dapat menjadi pemimpin kalian, karena aku sendiri masih terikat oleh tugas-tugas dari guruku."

Orang-orang itu akhirnya tidak berani mendesak lagi dan hanya berteriak menanyakan nama gadis itu.

"Namaku Kui Eng,"

Kata Kui Eng sambil tersenyum, tidak berani memperkenalkan shenya.

Siapa tahu mereka itu sudah pernah mendengar atau mengenal tentang Ayahnya yang pernah dimusuhi banyak orang karena mengedarkan madat!

Dengan nama itu, semua orang mengira bahwa ia she Kui bernama Eng.

"Hidup Kui-Lihiap!"

Terdengar teriakan berulang-ulang, dan Kui Eng membiarkan saja mereka salah duga terhadap namanya, ia lalu berunding dengan lima orang pimpinan para kuli yang memberontak itu.

Dan mulai hari itu, setiap hari untuk beberapa jam lamanya, Kui Eng datang ke tempat rahasia itu dan melatih lima orang itu dengan beberapa jurus ilmu silat yang tangguh.

Ia memilih jurus-jurus yang praktis saja, yang akan menghasilkan kemenangan dalam perkelahian singkat melawan para perajurit musuh, baik perajurit pasukan Ceng maupun perajurit anak buah pasukan Harimau Terbang.

Karena kini kelompok bekas kuli angkut itu memiliki andalan, maka mereka dapat masuk bekerja kembali dengan muka berseri dan dada terangkat.

Orang-orang kulit putih masih membutuhkan tenaga mereka, dan tidak mungkin dapat mengganggu mereka semua.

Barang-barang itu perlu diangkat dari dan ke kapal.

Maka para kuli itu, di samping kuli-kuli baru, masih diterima bekerja, walaupun pihak orang kulit putih mengadakan pengawasan dengan amat ketatnya.

(Lanjut ke

Jilid 34) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 34 Tentu saja dua orang yang pernah ditahan dan lima orang yang menjadi pimpinan, tidak berani memperlihatkan diri lagi.

Dan kini, para kuli angkut itu bukan hanya bekerja untuk mencari uang, melainkan juga mencari kesempatan untuk melakukan pencurian, di samping diam-diam bekerja sebagai mata-mata untuk mengamati gerak-gerik orang kulit putih.

Dalam catatan sejarah kelak, orang-orang yang bekerja sebagai kuli angkut inilah yang banyak membantu para pejuang dalam menentang orang-orang kulit putih.

Setelah memberi latihan selama beberapa bulan, akhirnya Kui Eng meninggalkan para kuli angkut itu.

Akan tetapi walaupun ia tidak menjadi pimpinan mereka, nama Kui Eng atau Kui-Lihiap takkan pernah terlupa oleh mereka, sebagai seorang pendekar wanita perkasa yang mereka kagumi.

Orang yang berjalan seorang diri menuruni lereng gunung itu bertubuh jangkung kurus, akan tetapi tidak kelihatan kecil karena memang dia bertulang besar.

Mukanya kehitaman dan matanya amat tajam seperti mata kucing.

Pakaiannya juga serba hitam dan langkahnya tegap penuh wibawa, bahkan cara dia mengangkat mukanya yang kehitaman itu terbayang suatu kesombongan.

Akan tetapi, sepasang mata yang tajam itu kini dihias alis yang selalu berkerut, dan sinar mata yang tajam itu agak muram, mulutnya membayangkan kegelisahan dan kedukaan.

Tiba-tiba dia berhenti melangkah dan tubuhnya menyelinap dengan cepatnya, lenyap di balik semak-semak.

Akan tetapi, seorang gendut pendek yang muncul dari belakang sebatang pohon besar tertawa.

"Ha-ha-ha, sobat berpakaian hitam. Tak perlu kau bersembunyi, aku sudah tahu bahwa engkau berada di balik semak-semak itu. Keluarlah dan lebih baik engkau membagi hasil dengan aku, atau aku akan menangkapmu, ha-ha!"

Orang jangkung berpakaian hitam itu keluar dan balik semak-semak.

Mereka saling berhadapan.

Dan kini orang pendek gendut itu kelihatan terkejut melihat muka yang kehitaman dengan sepasang mata yang amat tajam itu.

"Kau... kau siapa dan mengapa bersembunyi? kau tentu seorang kang-ouw, bukan?"

Si gendut ini tadi hanya main-main, akan tetapi sekarang dia nampak jerih melihat sepasang mata itu. Mulut itu berkeriput dan sepasang mata yang tajam itu memancarkan sinar yang kejam.

"Tolol, ulahmu sendiri yang akan mengakhiri hidupmu. Aku sudah menghindarkan pertemuan, akan tetapi engkau memaksa aku keluar. Nah, mampuslah!"

Si tinggi kurus itu menggerakkan tubuhnya.

Si pendek gendut terkejut dan mencabut golok sambil mengelak.

Akan tetapi sia-sia belaka.

Terdengar suara keras ketika goloknya terlempar dan tubuhnya terkulai, dan diapun sudah tewas karena pelipisnya, terkena tamparan tangan orang berpakaian serba hitam itu.

Orang itu sejenak memandang tubuh korbannya yang sudah menjadi mayat, menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, lalu meloncat dan lari secepatnya meninggalkan mayat itu.

Sebentar saja dia sudah tiba di tempat yang amat jauh dari situ, baru dia berjalan lagi seenaknya.

Ketika di depan nampak sebuah dusun, diapun memutar tubuhnya dan mengambil jalan menghindar pertemuan dengan dusun di depan.

Orang berpakaian serba hitam itu adalah Koan Jit!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Koan Jit terpaksa melarikan diri dari markas pasukan Harimau Terbang yang diserbu oleh gurunya sendiri, yaitu Thian-tok bersama sutenya, Ong Siu Coan yang mengerahkan bekas anak buahnya dari Thian-te-pai yang setia kepadanya.

Setelah mendengar berita bahwa Giok-liong-kiam yang berada di tangannya itu palsu, dia tersenyum masam dan hatinya menjadi semakin kecewa.

Pusakanya itu, bersama pusaka simpanannya lainnya, terampas oleh Thian-tok dalam penyerbuan itu, dia tidak punya apa-apa lagi.

Kemudian dia menyebar berita desas-desus itu bahwa pusaka Giok-liong-kiam yang kini terampas oleh gurunya itu adalah pusaka palsu!

Dia teringat akan keadaan di tempat rahasia dimana dia menyimpan pusaka-pusakanya ketika dia dipancing pergi oleh San-tok.

Tentu Kakek itu yang telah menukar pusakanya!

Hatinya merasa penasaran sekali dan diapun menyebar berita bahwa pusaka Giok-liong-kiam kini berada di tangan Empat Racun Dunia, dan bahwa mereka itu hendak mencari harta karun dan pusaka itu untuk mereka pergunakan memberontak!

Dengan penyebaran berita ini, dunia pun menjadi ramai, bahkan kini pihak pemerintah secara sungguh-sungguh mulai menyebar orang-orang pandai untuk merampas pusaka itu.

Demikian pula orang-orang kulit putih.

Akan tetapi, balas dendam yang dilakukannya ini tetap saja tidak memuaskan hatinya.

Dia gelisah sekali, gelisah karena duka dan kecewa, juga karena dia merasa kesepian, merasa sendirian.

Dia merasa gagal dalam segala hal!

Kedudukannya yang sudah baik di pasukan orang kulit putih telah terlepas dan tak mungkin dia kembali kepada orang kulit putih.

Sudah terdapat suatu perasaan tidak enak, bahkan bermusuh sejak dia membunuh sutenya sendiri, Gan Seng Bu.

Dia tentu sedang dicari oleh pasukan orang kulit putih, dan kalau sampai tertangkap, tentu hukuman yang berat, mungkin hukuman mati tembak menantinya.

Dia telah meninggalkan markas dalam keadaan kacau dan hancur.

Membantu pemerintah Ceng?

Tentu dia akan ditangkap pula.

Pengabdiannya kepada orang kulit putih membuat dia dianggap sebagai pengkhianat, mungkin sebagai pemberontak pula.

Tidak mungkin dia tidak dapat membantu orang-orang Mancu, tidak mungkin dapat membantu pemerintah Ceng.

Membantu para pemberontak?

Juga tidak mungkin sama sekali.

Selama ini dia malah membantai banyak pemberontak dengan pasukan Harimau Terbangnya.

Bahkan Empat Racun Dunia memusuhinya.

Juga semua orang kang-ouw memusuhinya, baik dan golongan sesat maupun golongan pendekar.

Dia menjadi orang yang terasing.

Dia selalu merasa diamati orang, kemanapun dia pergi.

Merasa terancam dan dimanapun dia berada, dia merasa tidak aman.

Karena itu, dia selalu gelisah dan menyembunyikan diri, menghindarkan pertemuannya dengan siapapun.

Koan Jit merasa hidupnya terhimpit.

Dimana-mana dia dimusuhi orang, dan segala hal yang dipegangnya ternyata telah gagal.

Beberapa kali dia didorong oleh keinginan bunuh diri saja, namun dia tidak memiliki keberanian cukup besar untuk mengakhiri hidupnya, karena dia membayangkan betapa ngerinya dirinya akan menempuh keadaan yang tidak dikenalnya, keadaan sesudah mati yang kabur dan menakutkan.

Dia merasa amat tersiksa.

Hidup gelisah matipun takut.

Bukit itu menarik perhatiannya.

Penuh dengan hutan-hutan yang subur dan dia melihat banyak tanaman-tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat hidup di daerah itu.

Tempatnya sunyi dan sejak tadi dia tidak pernah melihat adanya orang di situ.

Tempat yang baik sekali, pikirnya.

Pemandangan alamnya juga indah, hawanya sejuk.

Tiba-tiba timbul pikirannya untuk tinggal di bukit itu.

Diapun mulai mencari-cari tempat yang kiranya cocok untuk menjadi tempat tinggalnya, sementara atau seterusnya.

Di sebuah dinding karang yang curam, dia melihat ada sebuah guha besar yang tertutup batu besar.

Dia heran melihat batu itu.

Melihat tanda-tandanya, agaknya batu itu belum lama tergeser menutup guha.

Dan celah-celah di tepi guha, dapat dilihat bahwa guha itu besar dan dapat menjadi tempat tinggal yang enak.

Akan tetapi batu besar itu menutupinya.

Koan Jit lalu menggulung lengan bajunya, dan dengan mengerahkan tenaganya, dia mendorong batu besar itu.

Memang hebat sekali tenaga Koan Jit.

Batu itu perlahan-lahan tergeser ke pinggir dan nampaklah lubang guha itu, memang merupakan sebuah guha yang lebar dan amat dalam sehingga dari luar nampak gelap.

Dia merasa girang sekali.

Seperti telah diduganya tadi, guha itu luas dan enak untuk ditinggali.

Dan batu besar itu dapat dipergunakan sebagai pintu sehingga tempat tinggalnya akan tertutup dan tidak dapat diganggu orang luar.

Akan tetapi dia harus memeriksa dulu keadaan guha.

Setelah matanya terbiasa oleh keadaan dalam guha yang remang-remang, diapun masuk.

Sebuah terowongan di ujung kanan guha itu diikutinya dan tibalah dia di sebuah ruangan dalam bukit itu, ruangan yang lebar dan enak karena sinar matahari dapat masuk dari atas dari celah-celah batu karang yang pecah.

Hawa yang sejukpun masuk dan celah-celah itu.

Dan dia terkejut.

Di ruangan itu terdapat seorang Kakek yang bertubuh gendut, sedang duduk bersila.

Mula-mula dia mengira sebuah arca, akan tetapi dia terkejut karena melihat bahwa Kakek itu seperti gurunya, seperti Thian-tok!

Ketika dia menghampiri dan memandang dengan teliti, ternyata Kakek itu bukan gurunya, melainkan seorang Hwesio gendut yang mirip gurunya, seorang Kakek Hwesio yang sudah amat tua.

"Omitohud, selamat datang, orang yang gagah perkasa. Apakah engkau juga sedang mencari tempat yang baik untuk menjernihkan batin?"

Suara itu demikian lemah lembut, demikian ramah dan mengandung getaran suara yang selama hidupnya belum pernah didengar dan dirasakan Koan Jit.

Getaran itu menyentuh hatinya, getaran yang penuh kontak perasaan, penuh kasih sayang, seolah-olah dia mendengar suara Ayahnya atau ibunya sendiri.

Dia sudah hampir lupa akan suara orang-orang yang mengasihi, karena sejak kecil dia sudah terpisah dan Ayah bundanya, dan semenjak kecil dia hidup di lingkungan orang-orang yang selalu mempergunakan kekerasan, dimana tidak pernah bergema suara yang mengandung kasih sayang.

Oleh karena itu, mendengar suara ini, dia tertegun.

Akan tetapi, dia segera teringat bahwa di tempat ini terdapat orang yang akan mengenalnya, kemudian akan mengkhianatinya.

Semua orang merupakan musuh baginya, merupakan ancaman bagi keselamatan dirinya.

Maka, kemarahan dan kebencian menyelubungi hatinya, mengusir perasaan haru yang tergerak dalam hatinya mendengar kelembutan suara penuh kasih sayang tadi.

"Orang tua, aku sudah mengambil keputusan untuk membunuh setiap orang yang kujumpai. Tanpa kusengaja aku bertemu dengan engkau di sini, maka engkaupun akan kubunuh sekarang juga!"

Demikian katanya dengan bengis dan keren, sambil melangkah maju.

"Omitohud... orang muda yang gagah perkasa. Engkau kira engkau ini siapakah maka akan dapat membunuh yang hidup? Hidup dan mati bukanlah urusan pinceng, akan tetapi jangan engkau mengira bahwa engkau akan mampu membunuh kehidupan.

"Mungkin engkau akan dapat membunuh pinceng, akan tetapi yang mati hanyalah tubuh seorang Hwesio tua yang tiada artinya. Dan siapa bilang bahwa kematian akan mengakhiri segala duka? Siapa bilang bahwa dengan membunuh pinceng atau orang lain, engkau akan terlepas dari pada himpitan yang menekan batinmu itu..."

Mendengar ucapan itu, Koan Jit mengerutkan alisnya.

Seperti diingatkan dia betapa membunuh banyak orang yang dijumpainya selama ini, sama sekali tidak melenyapkan kegelisahannya, bahkan menambah.

Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat lain.

Orang ini, seperti yang lain, harus dibunuhnya, kalau tidak, keselamatannya akan terancam.

"Hwesio tua... apapun pendapatmu, tetap saja engkau harus kubunuh. Itulah satu-satunya jalan bagiku! Tentu saja engkau boleh membela diri, karena melihat batu itu, aku percaya bahwa engkau seorang yang memiliki kepandaian. Nah, hanya engkau atau aku yang akan kalah dan mati. Bersiaplah!"

"Nanti dulu, orang muda. Sudah lama pinceng melepaskan nafsu membunuh, dan pinceng sudah merasa bosan untuk mempergunakan kepandaian dalam perkelahian yang tiada gunanya. Pinceng tidak akan melawan kalau engkau hendak membunuh pinceng, hanya pinceng tidak ingin ilmu baru yang pinceng ciptakan baru-baru ini akan lenyap begitu saja bersama pinceng.

"Oleh karena itu, sebelum engkau membunuhku, pinceng mempunyai sebuah permintaan, yaitu engkau terima dan warisilah ilmu baruku itu. Setelah itu, barulah pinceng akan dapat mati dengan tenang karena ilmu yang selama ini pinceng ciptakan dengan susah payah itu sudah diwarisi orang. Bagaimana?"

Mendengar permintaan ini, Koan Jit mengerutkan alisnya.

Dia memiliki banyak musuh.

Menghadapi Thian-tok saja, dan tentu juga tokoh-tokoh Empat Racun Dunia, dia tidak akan menang.

Dia perlu memiliki ilmu-ilmu yang sakti dan dahsyat.

Dia menduga bahwa Kakek ini tentu bukan orang sembarangan.

Dia akan melihat seperti apa ilmu itu.

Kalau memang merupakan ilmu kesaktian yang dahsyat, tiada salahnya kalau dia mewarisinya.

Sebaliknya kalau ternyata ilmu yang dangkal dan tiada gunanya, masih belum terlambat untuk membunuh Kakek itu.

"Baiklah, aku suka menerima warisan ilmumu itu. Setelah itu, baru aku akan membunuhmu."

"Siancai... legalah hati pinceng. Ilmu silat baru ini pinceng beri nama Ilmu Silat Kebahagiaan, hanya terdiri dari duabelas jurus. Nah, kau lihat baik-baik. Pinceng hendak memainkan duabelas jurus Ilmu Silat Kebahagiaan itu."

Diam-diam Koan Jit merasa geli dan memandang rendah.

Ilmu silat yang namanya aneh begitu, apalagi hanya duabelas jurus, ada apanya sih yang hebat?

Akan tetapi, dia memandang penuh perhatian ketika Kakek itu bangkit.

Kakek itu sungguh memiliki tubuh yang gemuk, perutnya gendut dan mukanya penuh dengan senyum ramah, mirip sekali dengan muka gurunya.

Dan tiba-tiba saja, dia teringat, mukanya berubah pucat.

Siauw-bin-hud!

Kakek ini adalah Kakek Siauw-bin-bud, tokoh Siauw-lim-pai yang luar biasa saktinya itu.

Gurunya sendiri, Thian-tok, tidak mampu menandingi Kakek ini!

Kedua kakinya terasa dingin dan gemetar.

Kakek ini adalah seorang yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya, dan dia telah mengancam untuk membunuhnya!

Ah, sudah terlanjur, pikirnya.

Biarlah, kalau aku kalah nanti, biar aku mati di tangannya.

Tidak akan kecewa tewas di tangan seorang sakti seperti Siauw-bin-hud yang sudah terkenal di seluruh dunia persilatan!

Dan diapun sudah mengamati ketika Kakek itu mulai bersilat.

Dan Koan Jit terpesona!

Kakek itu bersilat dengan gaya yang lain dari pada ilmu-ilmu silat lain.

Demikian lemas, demikian indah, demikian bersih, dan gerakan itu seperti orang kegirangan saja.

Namun dia melihat betapa setiap jalan dari depan tertutup oleh gerakan-gerakan itu, dan gerakan-gerakan itu memungkinkan orang yang bersilat melakukan serangan balasan dari arah manapun juga.

Ilmu silat ini seperti sebuah benteng baja yang mempunyai banyak lubang-lubang untuk meluncurkan anak-anak panah!

Sebuah ilmu silat yang amat luar biasa, akan tetapi gerakan-gerakannya sedemikian anehnya sehingga dia yang biasanya sekali melihat saja sudah dapat menangkap sebagian besar dari gerakan silat, sekali ini menjadi bingung dan sukar mengingat bagaimana caranya bergerak seperti itu!

Diam-diam dia yang memperhatikan maklum bahwa ilmu itu sungguh merupakan ilmu yang sakti.

Biarpun tidak membayangkan kekerasan, namun hawa pukulan itu meluncur dan ketika mengenai dinding guha, mengaung dan menimbulkan bunyi gema yang susul-menyusul!

Mengerikan!

Dan diapun yakin bahwa semua ilmunya tidak akan mampu menandingi ilmu yang bernama Ilmu Silat Kebahagiaan itu.

Akhirnya Siauw-bin-hud, Kakek Hwesio itu, berhenti bersilat, berdiri tegak dan merangkap kedua tangan di depan dada, memejamkan mata dan mengucap "Omitohud"

Baca Juga: Bu Kek Siansu 5

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert