Eps 8 Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Rajawali - Kho Ping Hoo.
Ketika dia memejamkan matanya, terasa tubuhnya seperti melayang-layang.
Aku kelaparan, pikirnya, tubuhku lemas kepalaku pening.
Akan tetapi betapa nikmatnya begini, betapa nikmatnya rebah untuk tidak bangkit kembali.
Betapa enaknya mati, daripada hidup menanggung aib dan malu, menanggung derita yang amat hebat.
Tiba-tiba dia membuka matanya dan seperti ada kekuatan baru, dia meloncat dan berdiri, mengepal tinjunya, matanya bersinar-sinar dan muka yang pucat itu kini bersinar kemerahan seperti dibakar.
"Tidak....! Tidaaaakkk....!"
Dia berteriak dan baru sadar bahwa dia berteriak-teriak ketika mendengar gema suaranya sendiri.
Bibirnya bergerak-gerak, akan tetapi kini dia tidak berteriak lagi.
"Aku tidak boleh mati! Aku harus hidup, aku harus mencari dia, aku harus mem-bunuh dia, baru aku boleh mati!"
Timbul kembali semangat dan gairahnya untuk hidup ketika di dalam himpitan kedukaan itu dia teringat akan sakit hatinya, seolah-olah di dalam kegelapan dia melihat titik terang.
Apalagi seka-rang dia memperoleh harapan baru untuk mencari pemuda laknat yang telah menghancurkan harapan hidupnya setelah dia mendengar cerita pelayan Si Dewa Bongkok.
Pemuda itu katanya menuju ke kota raja!
Jangankan hanya ke kota raja, biar pergi ke neraka sekalipun akan dikejar dan dicarinya.
Gairah baru yang timbul itu membuat Ceng Ceng berlari keluar dari kuil dan tak lama kemudian dia sudah kembali lagi membawa seekor bangkai kelinci dan beberapa macam buah yang dipetiknya di hutan.
Kemudian dia memillh tempat yang bersih di dalam kuil tua, memanggang daging kelinci dan mengisi perutnya yang sudah amat lapar.
Setelah perutnya kenyang, tenaganya pulih maka mulailah dia mengantuk karena matanya pun sangat membutuhkan istirahat.
Dia membersihkan kolong meja di belakang sebuah arca Jilaihud yang besarnya melebihi manusia itu, arca yang tidak terpelihara dan sudah berlumut karena tertimpa hujan dan cahaya matahari.
Seperti seekor kucing malas, Ceng Ceng merebahkan diri di belakang arca dan melingkar, sebentar saja dia sudah tertidur.
Ceng Ceng tidak tahu sama sekali akan apa yang terjadi di luar kuil, tak lama kemudian dia tidur pulas.
Dari dalam hutan, di luar kuil itu, muncullah Ang Tek Hoat yang masih mengempit tubuh Jenderal Kao Liang, diiringi oleh dua orang lain, yaitu seorang nenek yang berwajah kejam dan seorang laki-laki tua berkepala gundul berpakaian pendeta berwarna kuning yang sudah kumal.
Hwesio tua bertubuh tegap itu memegang sebatang toya dan mereka berdua mengiringkan Tek Hoat dengan wajah yang serius.
Mereka ini termasuk kaki tangan pemberontak yang diperbantukan kepada Tek Hoat di samping Siang Lo-mo yang amat lihai itu.
Setelah tiba di depan kuil, Tek Hoat melepaskan kempitan lengannya sehingga tubuh jenderal itu terjatuh ke atas tanah.
Jenderal Kao tidak mampu melawan lagi karena kedua kakinya telah ditotok oleh pemuda lihai itu sehingga lumpuh dan dia hanya mampu menggerakkan tubuh dari pinggang ke atas.
"Uhhh....!"
Dengan sukar jenderal itu berhasil bangkit duduk, memandang kepada Tek Hoat sambil tersenyum mengejek lalu berkata.
"Orang muda, engkau lihai sekali, Sayang engkau menjadi kaki tangan pemberontak. Setelah kau berhasil menawanku, tidak lekas membunuh mau menanti apa lagi?"
Tek Hoat tidak menjawab, hanya memandang tajam, kemudian dia mengeluarkan dari balik jubahnya yang lebar itu sehelai kertas putih, pit dan bak, kemudian menyodorkan alat-alat tulis itu kepada Jenderal Kao sambil berkata, (Lanjut ke
Jilid 24) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24
"Jenderal Kao, engkau sudah menjadi taklukan dan tawanan kami. Akan tetapi mati atau hidupmu adalah engkau sendiri yang menentukannya. Kami memberimu dua pilihan, yaitu engkau memilih hidup ataukah mati."
Tek Hoat menghentikan sebentar kata-katanya dan Jenderal Kao mendengarkan dengan sikap tidak peduli. Kemudian dia melanjutkan.
"Kalau engkau memilih hidup, tulislah pengakuan di atas kertas ini bahwa engkau merencanakan pemberontakan dan bahwa Panglima Kim Bouw Sin telah berani menentang usaha pemberontakanmu maka kau lalu menangkapnya. Nah, pengakuanmu itu berarti hidup bagimu karena engkau akan kubebaskan. Kalau engkau menolak, berarti engkau memilih mati."
Tiba-tiba jenderal itu tertawa bergelak, suara ketawanya bergema sampai jauh dan terdengar menyeramkan bagi Tek Hoat dan dua orang pembantunya.
Dengan sinar mata berapi dan wajah membayangkan kegagahan, jenderal yang sudah tidak berdaya itu menjawab.
"Orang muda, siapa pun adanya engkau dan betapa lihai pun engkau, jangan harap untuk dapat membujuk aku untuk melakukan perbuatan rendah itu dengan ancaman kematian. Aku orang she Kao adalah seorang laki-laki sejati yang tidak gentar menghadapi kematian. Bagiku, seribu kali lebih baik mati dalam kebenaran daripada hidup bergelimang kehinaan. Andaikata aku memiliki sepuluh nyawa sekalipun akan kurelakan semua daripada harus melakukan apa yang kau minta itu, apalagi nyawaku hanya satu. Kau hendak bunuh, bunuhlah. Dunia tidak akan berubah dengan matinya seorang manusia!"
Tek Hoat memandang kagum akan tetapi juga mendongkol.
Tugasnya adalah memaksa jenderal ini membuat surat pengakuan itu, karena Pangeran Liong Bin Ong amat membutuhkan surat seperti itu untuk menyatakan kebersihan dirinya dan melemparkan kekotoran pemberontak kepada Jenderal Kao Liang sehingga dengan demikian dia akan dapat melanjutkan usaha kotornya dengan aman.
Kini, menghadapi sikap jenderal yang benar-benar amat jantan, timbul rasa kagum di hati Tek Hoat.
Akan tetapi dia teringat akan tugasnya sendiri, teringat akan cita-citanya sendiri untuk meraih kedudukan setinggi mungkin melalui pengabdiannya kepada Pangeran Liong, maka dia lalu berkata dengan suara dingin.
"Baiklah, engkau sendiri yang memilih mati dan jangan kau mengira akan dapat mati dengan mudah dan enak saja."
Dia menoleh kepada hwesio dan nenek itu sambil berkata.
"Bikin api unggun yang besar. Kita bakar dia hidup-hidup, hendak kulihat apakah dia masih begitu tenang menghadapi kematian!"
Dengan sikap ini Tek Hoat masih ingin menakut-nakuti jenderal itu dengan harapan Jenderal Kao akan menurut.
Akan tetapi jenderal itu bersikap tetap tenang, bahkan dia tersenyum melihat dua orang itu mulai membuat api unggun.
Melihat sikap jenderal itu, Tek Hoat menjadi makin kagum.
Dia lalu duduk di atas anak tangga kuil tua, menghadapi jenderal yang duduk di atas tanah itu dan berkata.
"Jenderal Kao, mengapa engkau mati-matian membela Kaisar? Engkau bahkan siap mengorbankan nyawamu! Betapa bodohnya engkau! Apakah kau tidak melihat bahwa engkau hanya diperbudak saja oleh Kaisar dan keluarganya, oleh mereka yang duduk di atas? Engkau diperas tenagamu, kesetiaanmu, engkau hidup di tempat terasing, setiap hari terancam bahaya, selalu berperang dan semua itu hanya untuk meng-amankan dan menyenangkan kehidupan para atasan yang hanya tahu berfoya-foya belaka. Betapa bodoh untuk mengorbankan diri sendiri demi kesenangan dan kelangsungan hidup makmur orang-orang lain!"
Jenderal Kao memandang pemuda itu sejenak, sinar matanya tajam sekali.
"Orang muda, aku tidak mengenalmu akan tetapi engkau adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi sayang engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri sehingga engkau tidak lagi dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar, engkau tidak segan-segan melakukan perbuatan rendah hanya untuk memenuhi keinginan dirimu yang mengejar kesenangan belaka. Engkau tidak tahu dan tidak mengerti mengapa aku bersikap seperti ini. Sama sekali bukan karena ingin menyenangkan dan menjaga kelangsungan hidup makmur Kaisar dan keluarganya, melainkan demi kebenaran. Aku seorang jenderal, seorang komandan pasukan yang tahu akan tugas dan kewajibanku dan ini adalah benar, maka aku siap membela dengan jiwa ragaku, bukan sekali-kali demi Kaisar, sungguhpun beliau merupakan satu di antara manusia yang telah melepas budi kepadaku."
"Hemm, kau keras hati, Jenderal Kao. Sayang bahwa aku terpaksa akan membakarmu hidup-hidup. Betapa murahnya nyawamu, hanya seharga pengakuan di atas kertas."
"Terserah, aku siap untuk mati. Hanya kalau boleh, sebelum mati aku ingin menyatakan terima kasih dan penghormatanku yang terakhir kepada mereka yang telah melepas budi kepadaku ketika aku masih hidup."
Tek Hoat makin kagum.
Jenderal ini selain gagah perkasa, juga ternyata merupakan seorang jantan yang tidak melupakan budi orang sampai saat terakhir.
Berat baginya untuk menolak, maka dia mengangguk.
"Aku akan bersembahyang di depan arca Jilaihud dan menyembahyangi arwah mereka."
Sambil merangkak, menggunakan kekuatan kedua lengannya saja jenderal itu naik anak tangga menghampiri meja besar, yaitu meja sembahyang yang sudah butut di depan arca Jilaihud.
Tek Hoat mengikutinya dari belakang, siap dan waspada menjaga jangan sampai tawanannya ini meloloskan diri.
Dari dalam saku baju dalamnya, jenderal itu mengeluarkan beberapa helai gambar.
Pertama-tama adalah gambar kaisar tua, yaitu ayah Kaisar sekarang yang dianggapnya sebagai orang pertama yang telah melimpahkan budi kepadanya dan kepada ayahnya dan kakeknya.
Kemudian dia mengeluarkan gambar-gambar kakeknya, ayahnya, dan ibunya, dan yang terakhir sekali dia mengeluarkan sehelai gambar lain yang membuat Tek Hoat terheran-heran.
Gambar ini adalah gambar wajah seorang wanita muda remaja yang cantik jelita.
Gambar itu pun diletakkannya di atas meja, di sudut dan terpisah dari gambar-gambar yang lain.
Ceng Ceng sudah sadar dari tidurnya ketika mendengar suara ribut-ribut tadi.
Dia mengintai dan dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika melihat bahwa yang ribut-ribut itu adalah Jenderal Kao Liang yang menjadi tawanan dari pemuda yang amat dikenalnya, pemuda nakal yang pernah menolongnya dari dalam sungai, Ang Tek Hoat!
Dia tidak mengenal dua orang yang lain, akan tetapi dapat menduga bahwa hwesio tua dan nenek berwajah bengis itu tentulah pembantu-pembantu Tek Hoat, berarti kaki tangan pemberontak!
Tentu saja dia ingin sekali keluar dan menolong Jenderal Kao, akan tetapi melihat jenderal itu lumpuh kedua kakinya, dia menahan diri.
Ceng Ceng adalah seorang gadis yang cerdik sekali, maka dia tidak menurutkan hatinya menghadapi peristiwa itu.
Dia maklum bahwa kalau dia muncul begitu saja, tidak akan ada gunanya karena pemuda itu lihai bukan main.
Ingin menyelamatkan Jenderal Kao, jangan-jangan malah dia sendiri yang tertawan.
Maka dia menanti kesempatan yang baik dan hanya mengintai ketika Jenderal Kao mendekati meja besar di depan arca untuk menyembahyangi leluhurnya.
Hampir saja dia menjerit ketika dia melihat dan mengenal gambar gadis di atas meja itu.
Gambar itu adalah gambar wajahnya!
Dialah yang disembahyangi oleh jenderal itu, di samping kaisar tua leluhurnya.
Mengertilah kini Ceng Ceng.
Tentu jenderal itu menganggap dia sudah mati dan mengingat betapa dahulu dia menolong jenderal itu sehingga tidak terjeblos ke dalam sumur maut, maka jenderal itu menganggapnya sebagai penolongnya dan selalu menyimpan gambarnya yang agaknya disuruh buat seorang ahli lukis yang pandai.
Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipi Ceng Ceng.
Dia merasa terharu sekali, keharuan yang membuat dia hampir nekat untuk menerjang ke luar.
"Heiii....!"
Tiba-tiba Tek Hoat berseru keras ketika pemuda ini juga mengenal gambar Ceng Ceng.
"Kiranya gambar dia....?"
Dan hal yang aneh sekall terjadi.
Pemuda itu cepat membuang muka, membalikkan dirinya dan tidak berani memandang gambar Ceng Ceng!
Hal ini adalah karena pada dasarnya, Tek Hoat adalah seorang laki-laki yang juga menjunjung tinggi kegagahan.
Dia pernah bersumpah kepada Ceng Ceng bahwa setiap kali bertemu dengan gadis itu dia tidak akan memandangnya.
Kini, begitu mellhat gambar wajah gadis itu, otomatis dia terdorong oleh janji sumpah itu dan dia membuang muka.
Ceng Ceng yang bersembunyi di balik arca besar itu melihat keadaan Tek Hoat dan dia mengambil keputusan untuk menerjang ke luar menolong Jenderal Kao yang sedang berlutut terhadap gambar-gambar itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara keras dan dinding di dekat jenderal jebol disusul masuknya sesosok tubuh seorang pemuda yang tinggi besar.
Ceng Ceng terbelalak memandang.
Mukanya pucat seketika dan jantungnya berdebar tegang, matanya mengeluarkan sinar berapi dan bibirnya tertarik beringas, kedua tangan dikepal, napasnya agak terengah-engah.
Tentu saja dia mengenal wajah pemuda tinggi besar ini.
Pemuda laknat yang telah memperkosanya!
Melihat munculnya seorang pemuda tinggi besar yang asing, hwesio tua pembantu Tek Hoat yang tadi membuat api unggun cepat menerjang dengan tongkatnya karena dia menduga bahwa tentu pemuda ini datang untuk menolong Jenderal Kao.
Serangannya dahsyat sekali, toya di tangannya mengeluarkan suara mengiuk ketika memecahkan angin dan menyambar ke arah kepala pemuda tinggi besar itu.
Akan tetapi pemuda itu tidak mengelak, melainkan menggerakkan lengan kirinya menangkis.
"Dukkk....!"
"Ehhhh....!"
Hwesio Itu terpental dan terhuyung sampai lima langkah, terpaksa menggunakan kedua tangan untuk memegangi toyanya yang hampir terlepas dari pegangannya!
Pemuda tinggi besar itu menggerakkan kepala dengan sikap gagah sekali dan rambutnya yang amat panjang, gemuk dan hitam berputar melingkari lehernya dan dia siap berdiri melindungi Jenderal Kao yang masih berlutut dengan kedua tangan terkepal dan mata memandang tajam ke arah tiga orang lawan itu.
Tek Hoat terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh, sambil bertolak pinggang kiri, telunjuk kanannya menuding dan dia membentak dengan suara nyaring.
"Siapa kau berani mencampuri urusan kami?"
Akan tetapi pada saat itu, terdengar lengking nyaring dan dari balik arca besar meloncat sesosok tubuh manusia yang langsung menerjang dan menyerang pemuda tinggi besar itu dengan kedua tangan terbuka, kedua tangan yang melancarkan pukulan-pukulan beracun yang amat ampuh.
Dari kuku-kuku jari tangan itu menyambar angin dahsyat dan tercium bau harum yang aneh, tanda bahwa kuku-kuku itu mengandung racun amat hebat.
"Wut-wut-plak-plak, bretttt....!"
Pemuda tinggi besar itu pun terkejut, maklum bahwa dia diserang orang dengan pukulan-pukulan dan cengkeraman beracun yang amat berbahaya, maka dia sudah mengelak dan kemudian menangkis dengan lengannya, akan tetapi tetap saja ujung dengan bajunya yang digulung di bawah sikunya tercengkeram dan robek.
"Huh.... pemberontak hina....!"
Pemuda tinggi besar itu menghardik, suaranya nyaring dan besar, matanya bernyala memandang wajah orang yang menyerangnya.
Wajah yang hitam hanya tampak matanya saja yang bersinar-sinar penuh kebencian.
Ceng Ceng telah melumuri mukanya dengan kotoran dan hangus hitam di belakang arca besar sebelum dia melompat ke luar tadi.
Dia melakukan hal ini karena tadinya dia ragu-ragu melihat betapa pemuda laknat itu ternyata datang untuk menolong Jenderal Kao!
Kalau saja dia tidak merasa enggan dan malu terhadap Jenderal Kao, tentu dia tidak akan menyembunyikan mukanya.
Akan tetapi, terjadi perang di dalam hatinya.
Sebagian dia harus bersyukur dan membantu pemuda yang datang menolong Jenderal Kao, akan tetapi sebagian lagi mengingat akan kebenciannya dia harus menyerang dan sedapat mungkin membunuh pemuda laknat itu!
Maka ketika kebenciannya yang menang, dia menutupi mukanya agar tidak dikenal oleh Jenderal Kao.
"Mampuslah!"
Ceng Ceng membentak, kemudian dia menubruk lagi ke depan dengan menggunakan seluruh sin-kang untuk mendorong semua racun di tubuhnya ke dalam kedua tangannya.
"Dukk! Dess..... Aahh....!"
Pemuda itu mengeluh dengan kaget ketika merasakan lengan tangannya yang menangkis menjadi panas dan gatal, tanda bahwa dia terkena racun yang amat ampuh.
Akan tetapi di lain pihak, Ceng Ceng tidak kuat menahan tangkisan pemuda yang luar biasa kuat tenaga sin-kangnya itu sehingga dia terbanting ke kiri dan roboh bergulingan.
Ketika dia meloncat bangun lagi, pemuda tinggi besar itu telah memondong tubuh Jenderal Kao dengan lengan kiri.
"Hendak lari ke mana kau?"
Nenek pembantu Tek Hoat meloncat ke depan dan nenek ini sudah menyerang dengan tangan kosong yang dibentuk seperti cengkeraman kuku garuda.
Terdengar suara bersiutan ketika kedua cakar itu menyambar-nyambar, yang satu hendak meraih dan merampas Jenderal Kao, yang lain mencengkeram ke arah leher pemuda tinggi besar.
Namun, dengan gerakan indah dan gesit, pemuda itu mengelak, lalu menggunakan tangan kanannya menyambar ke depan, menangkap pergelangan tangan yang berbentuk cakar itu dan sekali sendal, tubuh nenek itu terjungkal dan terguling-guling sampal jauh!
"Wuuuutttt....!
Singggg....!"
"Aihhh....!"
Pemuda tinggi besar itu cepat meloncat dan mukanya agak berubah.
Ternyata Tek Hoat telah menyerang dengan sebatang pedang yang mendatangkan hawa mengerikan.
Itulah pedang Cui-beng-kiam yang amat hebat, pedang peninggalan dari Datuk Pulau Neraka yang amat sakti.
Karena melihat betapa pemuda tinggi besar itu ternyata lihai sekali dan Jenderal Kao telah dipanggulnya, Tek Hoat yang tidak ingin melihat tugasnya gagal telah mengeluarkan pedang simpanannya dan menyerang pemuda itu.
Melihat betapa pemuda tinggi besar yang memanggul tubuh Jenderal Kao itu masih dapat mengelak dengan sigapnya, Tek Hoat menjadi amat penasaran.
Tadinya pemuda ini menganggap dirinya sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang tidak ada lawannya.
Akan tetapi ternyata pemuda tinggi besar ini hebat sekali kepandaiannya dan kalau sampai jenderal itu dapat dirampasnya, Tek Hoat akan merasa malu dan kehilangan muka terhadap dua orang pembantunya itu.
Bahkan Siang Lo-mo sendiri mengakui keunggulannya dan dua orang tokoh besar itu tidak keberatan ketika ditunjuk oleh Pangeran Liong Bin Ong untuk "membantu"
Dia karena mereka sudah mengenal kelihaian Tek Hoat.
Kalau sampai kini seorang pemuda saja mampu merampas Jenderal Kao, benar-benar dia akan merasa malu sekali.
"Jahanam, jangan harap akan dapat lolos dari sini....!"
Tek Hoat menghardik marah sekali dan tubuhnya berkelebat cepat mengejar ke depan.
Gerakannya amat ringan dan cepat.
Pemuda tinggi besar itu kembali terkejut.
Tak disangkanya bahwa pemuda tampan yang menculik jenderal itu ternyata bukan main lihainya.
Dia hanya melihat bayangan berkelebat didahului sinar pedang Cui-beng-kiam yang mendirikan bulu roma.
Pemuda tinggi besar itu maklum bahwa serangan ini bukan main hebatnya, pedang meluncur menusuk lehernya, sedangkan tangan kiri pemuda itu meraih untuk merampas jenderal di pundaknya.
"Haiiittt....!"
Pemuda tinggi besar itu tiba-tiba mengeluarkan suara melengking keras sekali menggetarkan hati Tek Hoat yang cepat mengerahkan khi-kangnya dan melanjutkan serangannya.
Pemuda tinggi besar itu menggerakkan kepalanya dari rambutnya yang panjang dan yang tadi melingkar di lehernya itu mendadak mencuat ke depan menangkis pedang.
"Plakkk!"
Ujung rambut itu terus membelit pedang seperti ekor ular yang hidup.
Tek Hoat terkejut sekali, lalu merobah cengkeraman tangan kirinya menjadi pukulan yang disertai sin-kang kuat.
"Dessss....!"
Lengan kanan pemuda tinggi besar itu menangkis dan akibatnya membuat keduanya terkejut dan terhuyung sampai lima langkah jauhnya!
Pedang yang terlibat ujung rambut terlepas.
Tek Hoat menjadi merah mukanya.
Hatinya makin penasaran dan kembali dia meloncat ke depan dan menyerang pemuda tinggi besar yang masih memanggul tubuh Jenderal Kao dengan tangan kirinya itu.
Pedang Cui-beng-kiam berkelebat dan kembali disambut oleh ujung rambut yang tebal dan panjang.
Kini Tek Hoat menggunakan tangan kiri mendorong dengan telapak tangan terbuka dan hawa sin-kang yang amat dahsyat menyambar ke depan.
Dia telah mengerahkan sin-kang yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu Tek Siauw-jin yang disebut Tenaga Inti Bumi.
Dahsyatnya bukan kepalang dan debu mengepul tinggi ke arah pemuda tinggi besar itu.
"Hebat....!"
Pemuda tinggi besar itu berseru kagum, kembali tangan kanannya menangkis dengan dorongan yang sama ke depan dan kini yang bertemu di udara hanyalah dua tenaga sakti yang tidak kelihatan, akan tetapi yang memiliki kekuatan dahsyat.
Pada saat itu, hwesio pembantu Tek Hoat sudah menyerang dengan toyanya, menghantam punggung pemuda tinggi besar.
Tentu saja pemuda yang memiliki kepandaian tinggi ini tahu akan datangnya serangan toya, akan tetapi karena dia sedang bertanding sin-kang dengan lawannya yang amat tangguh dia terpaksa menerima gebukan itu.
"Bukkk....!"
Pemuda tinggi besar itu mengeluh sedikit, tubuhnya tergetar lalu tiba-tiba dia meloncat jauh ke belakang lalu melarikan Jenderal Kao yang masih terpondong di pundak kirinya.
"Jangan lari.... ahh....!"
Tek Hoat terkejut sekali karena tiba-tiba orang yang mukanya hitam itu telah menyerangnya dengan kedua tangan yang mengandung hawa beracun!
Tek Hoat mengelak dengan loncatan ke samping.
Dia menjadi bingung.
Jelas bahwa orang bermuka hitam ini tadi me-nyerang pemuda tinggi besar ltu mati-matian, akan tetapi mengapa kini berbalik menyerangnya?
"Apakah kau gila?
Siapa kau?"
Bentaknya dan melihat orang itu tetap menyerangnya dengan ganas, Tek Hoat menjadi marah.
Tentu saja dia tidak takut akan serangan orang itu dan untuk memperlihatkan kelihaiannya, dia menangkis dengan lengan kiri sambil mengerahkan tangannya.
"Desss....!"
Untuk kedua kalinya, tubuh Ceng Ceng terlempar dan terbanting sampai bergulingan.
Tubuhnya sakit-sakit rasanya, akan tetapi di lain pihak Tek Hoat terkejut merasakan lengannya panas dan gatal-gatal seperti habis menyentuh ular berbulu yang beracun!
"Keparat, kau berani menggunakan racun....?"
Tek Hoat menghardik dan kini dia melangkah maju, pedang Cui-beng-kiam tergetar di tangan kanannya.
Melihat ini, maklumlah Ceng Ceng bahwa dia tidak akan mampu menang menghadapi Tek Hoat yang amat lihai itu.
Maka dia cepat menggosok kedua pipinya dan meloncat berdiri.
"Lihat, siapa aku? Berani kau melanggar sumpah memandang aku?"
Sejenak Tek Hoat terbelalak dan memandang bingung ketika mendapat kenyataan bahwa wajah yang tersembunyi di balik kotoran hangus itu adalah wajah seorang dara yang cantik.
Akan tetapi ketika dia melihat sehelai saputangan dikeluarkan oleh gadis itu, teringatlah dia.
"Kau....?"
Serunya kaget dan heran sekali, akan tetapi otomatis dia lalu membalikkan tubuhnya membuang muka!
Ceng Ceng mempergunakan kesempatan ini untuk meloncat keluar dari kuil tua setelah dia menyebar tiga macam racun bubuk yang dulu dibawanya keluar dari dalam terowongan bawah tanah.
Lalu dia menggunakan ilmunya berlari cepat, meninggalkan pemuda yang masih membelakanginya itu.
Tek Hoat adalah seorang yang amat lihai.
Biarpun matanya tidak melihat, namun telinganya dapat menangkap gerakan Ceng Ceng dan dia tahu bahwa dara itu telah meloncat pergi.
Cepat dia membalik dan merasa menyesal mengapa dia dahulu begitu mudah bersumpah sehingga kini dia mengalami kesukaran dari gadis liar itu.
"Lari ke mana kau?"
Bentaknya karena dia mulai merasa marah, merasa tertipu dan dipermainkan oleh gadis itu yang mempergunakan sumpahnya sebagai senjata.
Akan tetapi terkejutlah dia ketika mencium bau yang luar biasa kerasnya, dan melihat tanah di depannya mengeluarkan asap seperti terbakar!
Tahulah dia bahwa gadis itu, entah bagaimana, kini telah menjadi seorang ahli racun yang amat berbahaya.
Dia berseru keras menahan napas dan cepat meloncat tinggi melampaui tanah yang mengandung racun itu.
Dia menoleh dan bergidik.
Racun-racun itu amat hebat, selain dapat membuat batu-batu hancur, juga ada yang mengeluarkan bau keras mujijat yang memabokkan.
Maka dia mengambil keputusan untuk membiarkan Ceng Ceng pergi dan dia lalu berlari cepat hendak mengejar pemuda tinggi besar yang telah melarikan Jenderal Kao dan yang tadi telah dikejar oleh dua orang pembantunya.
Kurang lebih satu li jauhnya, ketika dia berada di luar hutan, Tek Hoat berhenti tiba-tiba dan berdiri termenung memandang mayat dua orang yang meng-gelatak di atas tanah.
Mayat hwesio dan nenek pembantunya tadi!
Dia mengerutkan alisnya dan diam-diam dia merasa menyesal sekali mengapa pembantu-pembantunya begitu tidak becus, Sedangkan orang-orang yang membantu Jenderal Kao adalah orang-orang pandai, seperti pemuda tinggi besar itu, dan dua orang pemuda tampan yang telah muncul secara tidak terduga-duga ketika dia dan para pembantunya menyerbu rombongan Jenderal Kao.
Tak lama kemudian terdengar derap kaki banyak kuda dan ternyata yang muncul adalah rombongan Siang Lo-mo yang juga tidak berhasil merobohkan dua orang pemuda itu.
Siang Lo-mo menyesal sekali mendengar bahwa Jenderal Kao yang telah berhasil diculik itu terampas musuh, maka bersama Tek Hoat mereka lalu menuju ke kota raja untuk melapor kepada Pangeran Liong Bin Ong akan kegagalan mereka.
Sementara itu, pemuda tinggi besar itu berlari cepat sekali, menyimpang dari jalan raya yang menuju ke kota raja dan menjelang senja dia berhasil membebaskan totokan di tubuh jenderal itu.
"Dari sini ke pintu gerbang kota raja tidak jauh lagi. Engkau terluka, orang muda. Marilah ikut bersamaku ke kota raja,"
Kata Jenderal Kao sambil memandang wajah yang gagah itu dengan rasa kagum dan suka. Pemuda itu menggeleng kepala.
"Silakan Tai-ciangkun pergi ke kota raja. Sekarang sudah aman. Kita harus berpisah di sini."
Setelah berkata demikian, pemuda itu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.
"Nanti dulu....!"
Jenderal Kao memegang lengan pemuda itu.
"Engkau terluka, perlu perawatan...."
Pemuda itu menoleh, menggeleng kepala.
"Aku tidak apa-apa, Ciangkun, harap jangan khawatir. Yang perlu, Ciangkun harus cepat melarikan diri ke kota raja, dan biarlah aku yang menghadang mereka yang hendak mengejarmu."
Setelah berkata demikian, pemuda itu melangkah pergi.
"Bagaimana kau dapat pergi begitu saja setelah menyelamatkan aku? Setidaknya beritahukan kepadaku siapa namamu!"
Jenderal Kao berseru penasaran. Pemuda itu berhenti, menoleh dan menjawab.
"Saya mendengar dari para penghuni dusun bahwa Ciangkun adalah Jenderal Kao yang budiman, dan terkenal, sehingga siapa pun sudah sepatutnya membantu kalau Ciangkun berada dalam kesulitan. Adapun aku.... aku seorang kelana yang tidak punya nama. Selamat berpisah, Tai-ciangkun!"
Pemuda itu berkelebat dan lenyap di balik pohon-pohon di dalam hutan.
Jenderal Kao termenung sejenak, menarik napas panjang lalu terpaksa melanjutkan perjalanan ke kota raja.
Dia harus melaporkan semua pengalamannya, akan tetapi dia menyesal sekali mengapa pemuda yang amat dikaguminya, amat menarik hatinya itu tidak mau memperkenalkan diri.
Juga dia masih terheran-heran melihat munculnya orang yang mukanya hitam, yang tadinya menyerang mati-matian kepada pemuda penolongnya, kemudian malah membalik dan melindunginya dari pengejaran para penculik.
Benar-benar telah muncul banyak orang aneh yang berilmu tinggi, pikirnya.
Juga ketika rombongannya diserbu kaki tangan pemberontak, muncul dua orang pemuda remaja yang amat lihai.
Mengapa tiba-tiba saja dunia penuh dengan orang-orang muda yang berkepandaian tinggi sekali dan berwatak aneh?
Harus diakuinya pula bahwa pemuda yang menculiknya, yang masih amat muda, telah memiliki ilmu kepandaian yang mengejutkan dan mengerikan.
Melihat adanya orang-orang seperti dua orang kakek aneh dan pemuda lihai itu berada di pihak pemberontak, tahulah dia bahwa keadaannya sudah berbahaya dan haruslah pihak Kaisar cepat-cepat turun tangan.
Dia akan merundingkan hal ini dengan Puteri Milana, karena hanya puteri yang sakti itulah yang dia harapkan akan dapat memperingatkan Kaisar dan mengatur kekuatan dari dalam untuk menghancurkan pemberontak dan kaki tangannya.
Sambil melanjutkan perjalanan secepatnya, jenderal yang gagah perkasa ini beberapa kali mengepal tinju.
Sejak muda dia mengabdikan diri kepada kerajaan dan telah mengalami banyak hal.
Dia hanya mengenal satu cara untuk mengamankan dunia, untuk mengamankan negara, yaitu dengan kekerasan, dengan tegas menghukum yang jahat dan dengan mati-matian membela yang benar.
Maka kini hanya ada satu niat yang tercurah di dalam perhatian hati dan pikirannya, yaitu menumpas pihak pemberontak dengan kekerasan, membasmi mereka tanpa mengenal ampun lagi, karena hanya jalan inilah yang dianggapnya paling tepat untuk mengamankan negara.
Betapa banyaknya orang berpendapat seperti Jenderal Kao, yaitu bahwa keamanan dan kedamaian hanya dapat dicapai melalui kekerasan dan dengan cara membasmi mereka yang menentang.
Ada pula orang berpendapat bahwa kedamaian hanya dapat tercapai dengan jalan anti kekerasan dan mengajar orang-orang supaya hidup baik dan bajik.
Kedua pendapat yang kelihatannya berlawanan ini sebetulnya sama saja, Yaitu ingin merubah keadaan kehidupan manusia di dunia yang semenjak ribuan tahun sampai sekarang selalu penuh dengan pertentangan, kekacauan, permusuhan dan kebencian ini.
Yang pertama adalah ingin membentuk dunia yang damai dengan cara kekerasan, yang kedua ingin membentuk dunia yang damai dengan cara lain.
Kita semua lupa agaknya bahwa dunia adalah masyarakat, dan masyarakat adalah hubungan antara manusia, yaitu kita-kita ini juga.
Merubah dunia atau merubah masyarakat tidak akan mungkin apabila kita-kita ini, masing-masing manusia, tidak berubah lebih dulu.
Pemberontakan demi pemberontakan, revolusi demi revolusi, sepanjang sejarah berkembang, telah terjadi di seluruh pelosok dunia.
Namun, pemberontakan itu disusul oleh pemberontakan lain, revolusi disusul oleh revolusi lain, pembaharuan disusul oleh pembaharuan yang lain.
Setiap bentuk revolusi lahiriah hanya mendatangkan permusuhan dan pertumpahan darah, saling bunuh-membunuh dan akhirnya hanya menanam bibit kebencian pada pihak yang kalah, dan menanam bibit kekuasaan kepada pihak yang menang.
Di bagian yang menang timbullah perpecahan-perpecahan lagi karena memperebutkan pahala atas jasa-jasa mereka di dalam perjuangan yang lalu.
Tentu saja di dalam perebutan ini pun terdapat yang menang dan yang kalah.
Yang menang akan menduduki puncak pimpinan, sedangkan yang kalah, yang tidak kebagian akan menjadi penasaran dan sakit hati, akan timbul keluhan dan tuntutan akan ketidak-adilan dan muncullah pemberontakan-pemberontakan baru dari mereka yang merasa dikesampingkan, mereka yang merasa berhak namun tidak memperoleh bagian.
Sumber segala kekacauan ini, segala perebutan ini, baik perebutan kekuasaan maupun perebutan harta benda, terletak pada diri pribadi masing-masing manusia sendiri.
Maka tidak mungkin menyalahkan kepada masyarakat karena kita sendiri yang membentuk masyarakat.
Dunia akan berubah, masyarakat akan berubah kalau diri kita masing-masing berubah!
Segala macam pemberontakan, revolusi, pembaharuan sosial, akan gagal selama diri sendiri masing-masing tidak berubah lebih dulu.
Kalau manusianya sudah berubah, otomatis masyarakat dan dunia akan mempunyai wajah lain!
Tidak sekacau dan sekejam ini di mana kebencian dan permusuhan tampak setiap saat di manapun juga, di mana di satu pihak orang hidup berkelebihan di lain pihak ada yang kelaparan.
Segala macam tindakan dalam hidup akan menjadi palsu dan rusak apabila ditunggangi oleh si aku, karena tindakan itu tak lain tak bukan hanyalah merupakan cara bagi si aku untuk mencapai tujuannya!
Dan si aku ini amatlah cerdik dan liciknya, amatlah lihainya seperti Kauw Cee Thian Si Raja Monyet yang terkenal di dalam cerita See-yu yang pandai berpian-hoa (berganti rupa) sampai menjadi tujuh puluh dua macam.
Biasa saja si aku ini bersembunyi di balik istilah-istilah muluk seperti tanah air, negara dan bangsa, bendera pusaka, Tuhan, kemerdekaan, perdamaian, kebahagiaan, dan sebagainya yang muluk-muluk lagi.
Namun kalau kita mau membuka mata melihat sesungguhnya apa yang berkecamuk di dalam batin dan pikiran kita, Akan tampaklah oleh kita bahwa semua itu hanya dipergunakan oleh si aku untuk mencapai tujuan yang menguntungkan bagi si aku, baik keuntungan lahiriah maupun keuntungan batiniah.
Maka segala istilah itu lalu dibubuhi kata-kata "ku", menjadi negaraku, bangsaku, Tuhanku, dan sebagainya yang merupakan bentuk lain dari pada si aku sendiri!
Maka muncullah pertentangan yang tak dapat dihindarkan lagi antara negaraku dan negaramu, agamaku dan agamamu, kebenaranku dan kebenaranmu, Tuhanku dan Tuhanmu, dan sebagainya.
Mungkin usaha seperti yang direncanakan oleh Jenderal Kao itu akan berhasil seperti yang dibuktikan dalam sejarah, namun hasil ini untuk sementara, dan seperti dibuktikan oleh sejarah pula.
Pemberontakan-pemberontakan timbul tenggelam di jaman Pemerintah Ceng seperti juga di jaman pemerintah-pemerintah terdahulu.
Setiap pemberontakan menentang kekuasaan yang bercokol tentu diberi nama yang indah-indah dan gagah seperti perjuangan demi rakyat, demi bangsa, bahkan ada kalanya menarik nama Tuhan tanpa segan-segan lagi sampai pemberontakan itu berhasil menumbangkan kekuasaan yang ada.
Akan tetapi setelah kekuasaan baru timbul, disusul oleh pemberontakan yang lain, yang lebih seru, dengan menggunakan rakyat, bangsa atau Tuhan sebagai topeng, namun pada hakekatnya sama saja sungguhpun mungkin istilah-istilahnya yang berbeda sesuai dengan jamannya.
Jenderal Kao Liang melanjutkan perjalanannya ke kota raja dengan hati-hati.
Dia maklum bahwa pihak pemberontak tentu tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja dan tentu akan berusaha untuk menangkapnya kembali.
Dia tidak takut akan bahaya yang mengancam dirinya, akan tetapi dia lebih mengkhawatirkan keadaan negara.
Dia harus berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai tertangkap pemberontak sebelum dia tiba di kota raja, sebelum dia menyampaikan semua pengalamannya kepada Kaisar atau setidaknya Puteri Milana.
Mengertilah jenderal ini bahwa kalau sampai dia tertawan atau terbunuh, tentu pihak pemberontak akan memutarbalikkan kenyataan, melaporkan kepada Kaisar bahwa dialah yang akan memberontak dan dengan demikian kedudukan para pimpinan pemberontak di kota raja menjadi aman dan mereka dapat menyusun kekuatan.
Tidak, dia tidak boleh tertangkap kembali.
Maka jenderal ini hanya melakukan perjalanan di waktu malam, kalau siang dia bersembunyi dan pakaian perangnya pun sudah dibuangnya dan dia hanya memakai pakaian biasa seperti seorang penduduk biasa.
Dengan cara demikian, setelah lewat dua malam, akhirnya sampailah jenderal ini di kota raja pagi-pagi sekali, menumpang pada seorang pedagang sayur-sayuran yang mengangkut dagangannya dengan gerobak.
Setelah masuk di kota raja, jenderal ini tidak banyak membuang waktu lagi, langsung saja dia menuju ke istana Puteri Milana dan kepada para pengawal yang menjaga di depan dia minta berjumpa dengan puteri itu.
Para pengawal yang mengenal jenderal ini cepat melapor kepada majikan mereka dan tidak lama kemudian, Jenderal Kao Liang yang disuruh menunggu di kamar tamu disambut oleh Puteri Milana, Panglima Han Wi Kong suami puteri itu, dan dua orang pemuda tampan yang segera dikenal oleh jenderal itu.
Melihat dua orang pemuda ini, Jenderal Kao cepat berseru.
"Bukankah Ji-wi yang telah datang menolong ketika rombongan kami diserang pemberontak?"
"Sayang kami tidak berhasil menyelamatkanmu, Goanswe,"
Kata Kian Lee.
"Siang Lo-mo dan para pembantunya dapat kami pukul mundur, akan tetapi Goanswe telah dilarikan orang,"
Kata Kian Bu.
"Sudahlah, kita harus bergembira bahwa ternyata Kao-goanswe dapat menyelamatkan diri dan tiba di sini. Kao-goanswe, mereka ini adalah adik-adikku, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu dari Pulau Es,"
Kata Milana.
"Ahhh.... pantas.... kiranya putera-putera dari Pendekar Super Sakti!"
Jenderal itu berseru kaget, heran dan kagum sekali.
"Goanswe, silakan duduk."
Han Wi Kong mempersilakan jenderal itu dan mereka lalu duduk mengitari meja.
Jenderal Kao menceritakan semua pengalamannya, didengarkan oleh mereka berempat dan Puteri Milana mengerutkan alisnya.
Setelah jenderal itu selesai bercerita, Milana mengangguk-angguk.
"Sudah pasti sekali bahwa tentu Pangeran Tua yang menjadi biang keladi ini semua. Agaknya dia berhasil membujuk Kaisar untuk memanggilmu, Goanswe, dan sementara itu dia telah menaruh kaki tangannya di tengah jalan. Untung bahwa kau bisa lolos berkat pertolongan pemuda tak terkenal itu."
"Nanti saya akan menghadap Kaisar untuk membuka rahasia mereka itu!"
Jenderal Kao berkata penuh rasa penasaran.
"Sebaiknya jangan begitu. Masih belum waktunya untuk menentang mereka secara terbuka karena kita belum memperoleh bukti pemberontakannya. Biarkan saya saja yang menyampaikan semua ini kepada Kaisar, sedangkan Goanswe sebaiknya dengan diam-diam kembali ke utara, biar dikawal dan ditemani dua orang adikku ini. Yang penting adalah agar supaya Kim Bouw Sin si panglima pemberontak itu jangan sampai lolos. Dia merupakan saksi dan bukti yang amat kuat untuk membongkar pemberontakan Pangeran itu. Kao-goanswe sendiri maklum betapa kuat kedudukan dua orang Pangeran Liong, pengaruh mereka besar dan tentu saja Kaisar merasa segan untuk menentang adik-adiknya itu. Tanpa bukti dan saksi yang cukup, berbahayalah menentang mereka secara terbuka."
"Akan tetapi kalau dibiarkan saja, makin lama kedudukan mereka makin kuat dan amat berbahayalah bagi negara."
Jenderal itu membantah.
"Karena itu, tugas kita ada dua. Pertama, dengan kekuatan pasukan yang dipimpin oleh Goanswe, kita harus menindas pemberontakan di manapun, dan aku akan membantu dari dalam untuk membersihkan mereka dari kota raja. Ke dua, kita harus mengumpulkan bukti dan saksi sebanyaknya dan sekuatnya untuk disampaikan kepada Kaisar agar pembersihan dapat dilakukan dengan sah. Maka kalau Goanswe terlalu lama di sini dan meninggalkan pasukan, saya khawatir kalau-kalau pasukan yang di utara dapat dipengaruhi dan dikuasai pemberontak."
Jenderal Kao menepuk meja.
"Bagus sekali! Memang apa yang Paduka kemukakan itu tepat semua dan harus dilaksanakan. Baiklah, hari ini juga saya akan kembali ke utara setelah saya menjumpai keluarga saya. Memang, yang terpenting adalah agar manusia rendah Kim Bouw Sin itu tidak sampai lolos!"
"Kedua adik saya Kian Lee dan Kian Bu akan mengawal dan menemani Goanswe,"
Kata Milana sambil mempersilakan Jenderal itu minum teh panas yang dihidangkan oleh pelayannya.
"Hati saya akan menjadi tenang kalau begitu,"
Kata Sang Jenderal karena dia sudah menyaksikan sendiri kelihaian dua orang muda ini, apalagi setelah sekarang dia tahu bahwa mereka adalah putera-putera Pendekar Super Sakti!
"Kami akan menemani Goanswe dan sehidup semati dalam perjalanan sampai ke benteng di utara,"
Kata Kian Lee.
"Akan tetapi sebaiknya kita berangkat meninggalkan kota raja malam nanti...."
Kata Kian Bu.
"Eh, mengapa harus menanti sampai malam?"
Kian Le berkata. Kian Bu mengejap-ngejapkan matanya kepada kakaknya itu, akan tetapi Kian Lee tetap tidak mengerti.
"Mengapa? Katakan saja, mengapa harus malam nanti baru berangkat? Tidak usah pakai bahasa rahasia, kita di sini berada diantara orang sendiri,"
Kata Kian Lee.
"Aihh, masa Lee-ko tidak mengerti? Tidak enak kalau harus kukatakan begitu saja."
"Adik Kian Bu, jangan membikin kami penasaran karena ingin tahu. Mengapa kau mengusulkan demikian?"
Panglima Han Wi Kong ikut bicara.
"Waah, kalau begitu terpaksa saya bicara akan tetapi harap Kao-goanswe lebih dulu maafkan saya,"
Kian Bu berkata.
"Eh, tentu saja.... katakanlah apa yang terkandung di hatimu, Siauw-sicu (Orang Muda Gagah),"
Jenderal itu berkata sambil tersenyum.
"Kao-goanswe baru saja tiba dari utara, baru saja terbebas dari ancaman bahaya maut, dan baru saja hendak menjumpai dan berkumpul dengan keluarganya di kota raja. Bagaimana kami berdua tega untuk mendesak-desaknya agar cepat-cepat meninggalkan mereka? Maka sebaiknya malam nanti kita berangkat."
Milana tersenyum, Kian Lee menjadi merah mukanya karena marah kepada kelancangan adiknya, Han Wi Kong mengangguk-angguk dan Jenderal Kao tertawa bergelak sambil memegang pundak Kian Bu.
"Siauw-sicu, engkau jujur dan memperhatikan kepentingan orang lain. Sungguh bagus sekali!"
"Bu-te, kau memang nakal!"
Milana menegur akan tetapi sambil tersenyum. Sedangkan Kian Lee memandang adiknya itu dengan mata penuh teguran. Jenderal Kao berkata.
"Memang saya setuju dengan usul itu, bukan sekali-kali karena saya ingin terlalu lama melepas rindu terhadap keluarga. Saya sudah tua, dan berpisah dengan keluarga sudah merupakan hal yang tidak asing lagi bagi saya. Akan tetapi memang sebaiknya kalau malam nanti baru kita berangkat agar tidak menarik perhatian pihak pemberontak. Biarlah mereka menyangka bahwa saya masih menjadi buronan dan sebaiknya kalau tahu-tahu saya telah berada kembali di benteng agar mereka tidak sempat lagi mengusahakan lolosnya Kim Bouw Sin."
"Memang tepat sekali, Kao-goanswe. Kim Bouw Sin merupakan saksi yang penting sekali,"
Milana berkata.
"Akan tetapi ada lagi orang yang lebih penting dan yang amat membutuhkan perlindungan saya, yang terpaksa saya tinggalkan ketika utusan Kaisar datang."
Jenderal itu berkata.
"Dia itu adalah Puteri Bhutan, Syanti Dewi."
"Ehhh....?"
Milana berseru kaget dan heran sekali.
"Bagaimana dia yang dikabarkan hilang itu bisa berada di utara? Menurut para penyelidikku, Syanti Dewi berhasil lolos dari kepungan pemberontak, dikawal oleh seorang gadis perkasa, akan tetapi lalu hilang, dan kabarnya ditolong oleh seorang nelayan tua ketika Syanti Dewi dan pengawalnya itu hanyut di sungai."
"Memang demikianlah,"
Jawab jenderal itu.
"Dan nelayan tua itu adalah Gak Bun Beng taihiap yang mengantarnya ke benteng saya."
"Ah....?"
Seruan yang keluar dari mulut Milana agak tergetar, namun dia sudah dapat menguasai hatinya yang berdebar keras, sedangkan suaminya, Panglima Han Wi Kong, diam saja pura-pura tidak melihat keadaan isterinya ketika mendengar disebutnya nama Gak Bun Beng.
"Sedangkan gadis perkasa yang mengawalnya itu adalah adik angkat Sang Puteri sendiri, yang juga telah mendahului datang ke benteng utara akan tetapi.... dia tewas ketika menyelamatkan saya. Gak-taihiap meninggalkan Puteri Syanti Dewi kepada saya dengan harapan untuk melindunginya dan kalau waktunya tiba mengantarnya ke kota raja atau kembali ke Bhutan. Akan tetapi terpaksa dia saya tinggalkan ketika utusan Kaisar tiba. Saya amat mengkhawatirkan keadaan puteri yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri itu. Nah, sekarang saya harus singgah ke rumah dulu menjenguk keluarga, kemudian saya akan cepat kembali ke utara dan saya bergembira sekali ditemani oleh Ji-wi Siauw-sicu yang lihai ini."
Semua orang mengangguk setuju dan tak lama kemudian, dengan kereta milik Milana sendiri sehingga tidak akan ada yang berani mengganggunya.
Jenderal Kao bersembunyi di dalam kereta yang membawanya ke gedung tempat tinggal keluarganya, di ujung kota raja sebelah timur.
Kian Lee dan Kian Bu mengawal di belakang kereta dengan menunggang kuda sehingga orang-orang yang telah mendengar bahwa mereka adalah adik-adik dari Puteri Milana, jadi juga masih cucu dari Kaisar, menduga bahwa yang berada di dalam kereta tentulah Puteri Milana yang mereka kagumi.
Kereta itu memasuki halaman gedung keluarga Jenderal Kao dan setelah jenderal itu turun dan menyelinap masuk diikuti oleh Kian Lee dan Kian Bu yang disambut dan dipersilakan menunggu di ruangan tamu, kereta itu kembali ke istana Puteri Milana.
Tentu saja terjadi pertemuan yang amat mengharukan dan penuh dengan kegembiraan dan pelepasan rindu antara Jenderal Kao dan keluarganya.
Sementara itu Kian Lee dan Kian Bu kembali dulu ke istana kakak mereka untuk membuat persiapan sebagai bekal di perjalanan.
Menjelang senja, barulah mereka berdua datang ke gedung keluarga Jenderal Kao dan untuk menanti datangnya malam kedua orang muda ini asyik bermain siang-ki (catur) di ruangan tamu yang luas.
Jenderal Kao keluar sebentar menemui mereka dan mengatakan bahwa mereka akan berangkat setelah malam menjadi gelap dan keadaan di luar menjadi sunyi.
Dia sudah mengatur dengan kepala penjaga malam itu sehingga mereka akan dapat keluar dari pintu gerbang utara tanpa banyak halangan dan dengan diam-diam.
Dua orang kakak beradik itu menyetujui, kemudian melanjutkan permainan catur mereka.
Setelah malam mulai sunyi, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat cepat sekali naik ke atas genteng gedung itu dari arah kiri.
Gerakannya lincah, ringan dan cekatan dan dia berindap-indap mengintai ke bawah gedung dari atas genteng.
Bayangan hitam ini bukan lain adalah Ceng Ceng!
Seperti telah di-ceritakan di bagian depan, dara ini telah berhasil lolos dari kuil setelah dia membikin Tek Hoat tidak berdaya dengan saputangan dan sumpah pemuda itu, kemudian melarikan diri sambil menyebar racun sehingga Tek Hoat tidak mengejarnya.
Ceng Ceng lalu menuju ke kota raja dengan hanya satu tujuan, yaitu mencari pemuda laknat itu.
Di tengah perjalanan inilah dia melihat Jenderal Kao Liang.
Hatinya girang sekali karena pemuda laknat yang menjadi musuh besarnya itu tentu mempunyai hubungan dengan jenderal ini, bahkan yang terakhir dia melihat pemuda itu menolong Jenderal Kao.
Akan tetapi, untuk keluar begitu saja menemui jenderal ini, dia tidak sanggup.
Pertama, dia masih teringat akan kebaikan jenderal ini kepadanya, bahkan melihat betapa dalam menghadapi kematian, jenderal ini masih teringat kepadanya dan bersembahyang kepada arwahnya!
Kedua, dia kini merasa tidak seperti dulu lagi, selalu timbul rasa rendah diri dan malu bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya dahulu sebagai sahabat-sahabat baik.
Ke tiga, setelah pemuda itu menolong Jenderal Kao, tentu pemuda itu menjadi sekutu jenderal ini.
Bagaimana dia dapat menjumpai jenderal ini dan menanyakan pemuda yang hendak dibunuhnya itu?
Tidak, sebaiknya dia membayangi jenderal ini yang tentu akhirnya akan membawanya bertemu dengan pemuda laknat itu!
Demikianlah, dengan hati-hati, Ceng Ceng membayangi Jenderal Kao dari jauh, sampai jenderal itu memasuki kota raja.
Ketika jenderal itu memasuki istana Puteri Milana, dia tidak berani ikut masuk karena malam telah terganti pagi dan istana itu dijaga ketat.
Apalagi setelah dia memperoleh keterangan bahwa istana itu milik Puteri Milana, dia makin tidak berani masuk!
Kakeknya dahulu telah berpesan kepadanya untuk membawa Syanti Dewi kepada Puteri Milana.
Sekarang, tanpa Syanti Dewi, bahkan dengan diri yang sudah "kotor", bagaimana dia berani berhadapan dengan Pu-teri Milana yang dipuji-puji dan dijunjung tinggi namanya oleh mendiang kakeknya?
Maka dia menanti sambil bersembunyi di luar dan ketika dia melihat kereta yang dikawal oleh dua orang pemuda tampan yang juga telah dikenalnya, diam-diam dia membayangi pula.
Girang hatinya ketika dia dapat melihat Jenderal Kao turun dari kereta itu memasuki gedung.
Apalagi ketika dia mencari keterangan dan mendengar bahwa gedung itu adalah tempat tinggal keluarga Jenderal Kao Liang, dia segera menanti dan mengintai sampai datangnya malam.
Kini Ceng Ceng sudah meloncat naik ke atas genteng gedung itu.
Kini timbul tekad di hatinya bahwa kalau dia tidak bisa menemukan pemuda laknat itu di dalam gedung Jenderal Kao, dia akan menampakkan diri dengan menutupi sebagian mukanya dengan saputangan, kemudian menanyakan kepada jenderal itu tentang si pemuda tinggi besar.
Akan tetapi, Ceng Ceng sama sekali tidak menyangka bahwa gerak-geriknya telah sejak tadi diikuti oleh dua pasang mata yang memandang dengan penuh keheranan, kecurigaan juga kegelian.
Yang memandang ini adalah Kian Lee dan Kian Bu.
Mereka berdua tadi masih asyik bermain catur di ruangan tamu dan tentu saja pendengaran mereka yang sudah terlatih secara hebat itu segera dapat menangkap suara tidak wajar dari atas genteng.
Keduanya saling pandang, mengangguk dan di lain saat mereka telah mengintai dari balik wuwungan, mengawasi gerak-gerik Ceng Ceng dengan heran.
Kedua orang pemuda ini tidak turun tangan karena mereka terheran-heran mengenal wajah Ceng Ceng ketika ada sinar lampu dari bawah menyorot ke atas tepat menimpa wajah cantik itu.
"Dia....!"
Kian Lee berbisik dan jantungnya berdebar.
Sejak bertemu dengan Ceng Ceng di pasar kuda, hatinya sudah tertarik sekali oleh kecantikan dara ini dan sekarang, gadis yang seringkali dikenangnya itu berada di atas gedung Jenderal Kao dengan gerak-gerik mencurigakan sekali.
"Sssttt...."
Kian Bu menegur.
"Bu-te, jangan.... jangan tergesa-gesa turun tangan.... jangan sampai keliru, kita membayanginya saja...."
Bisik Kian Lee.
Kian Bu menahan senyumnya.
Rasakanlah, pikirnya.
Setiap menghadapi wanita cantik, sikap kakaknya ini selalu dingin.
Baru sekarang kakaknya kelihatan gugup dan tegang melihat seorang gadis cantik!
Akan tetapi dia mengangguk setuju karena dia pun tidak ingin salah tangan sebelum tahu apa maksud kedatangan gadis yang aneh itu.
Kini Ceng Ceng yang sama sekali tidak pernah mengira bahwa dirinya dibayangi oleh dua orang pemuda yang amat lihai, berlutut di atas genteng dan mengintai ke bawah, lalu melayang turun dengan amat ringannya, berindap-indap menghampiri jendela dan mengintai dari balik jendela dengan melubangi kertas jendela.
Dari lubang kecil itu dia melihat Jenderal Kao duduk menghadapi meja bersama seorang wanita setengah tua yang masih cantik dan lemah lembut, dan dua orang anak laki-laki, bercakap-cakap dalam suasana yang mesra.
Ceng Ceng dapat menduga bahwa tentu jenderal itu bercakap-cakap dengan isteri dan putera-puteranya.
Dia melirik ke sana-sini, namun tidak tampak pemuda laknat yang dicarinya.
Hatinya kecewa sekali.
Dia sudah terlanjur masuk, penasaran kalau sampai tidak menemukan orang yang dicarinya.
Diambilnya segulung kertas, kertas yang telah direndam obat yang dapat menimbulkan asap beracun yang membius orang.
Dia ingin membius mereka yang berada di dalam kamar itu agar tertidur semua baru dia akan menggeledah dan mencari.
Kalau tidak berhasil menemukan pemuda itu, baru dia akan memakai topeng dan memaksa Jenderal Kao memberitahukan di mana adanya si laknat itu.
Akan tetapi, baru saja dia hendak membakar kertas itu pada lampu yang tergantung di situ, tiba-tiba terdengar bentakan Kian Lee.
"Nona, apa yang hendak kau lakukan itu?"
Melihat menyambarnya dua sosok bayangan orang yang bagaikan sepasang burung rajawali melayang dari luar itu, Ceng Ceng terkejut bukan main.
Tidak ada jalan keluar baginya untuk lari karena dua orang pemuda lihai itu melayang dari luar, maka cepat dia mendorong daun jendela dan terpaksa dia meloncat ke dalam di mana Jenderal Kao dan anak isterinya berada!
Saking gugupnya, lupalah dia untuk menutupi mukanya dengan saputangan dan baru dia teringat setelah dia telah berada di dalam kamar itu dan Jenderal Kao sudah memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan muka pucat, tanda bahwa jenderal itu telah mengenalnya!
Maka cepat dia mengeluarkan bubukan putih dari sakunya, meremas-remasnya dengan tangan kanan dan tampaklah asap putih tebal mengebul dan menyelimuti dirinya.
"Kau.... kau.... Nona Ceng...."
Jenderal Kao hanya dapat berkata demikian karena hatinya tergoncang hebat.
Ceng Ceng cepat menggunakan asap tebal sebagai selimut dan melompat lari melalui jendela di seberang lain dari kamar itu.
"Bangsat, hendak lari ke mana kau?"
Dua orang putera Jenderal Kao yang berada di situ hendak meloncat mengejar.
"Jangan.... mengganggunya....! Biarkan dia pergi....!"
Jenderal Kao membentak dan dua orang pemuda yang usianya belasan tahun itu dengan kaget menahan gerakan mereka.
Dari jendela dari mana Ceng Ceng masuk tadi berkelebat dua sosok bayangan dan Kian Lee bersama Kian Bu sudah berada di dalam kamar itu.
Lega hati mereka melihat bahwa keluarga Jenderal Kao selamat, maka cepat mereka berlari ke arah jendela di seberang yang sudah terbuka.
"Ji-wi Siauw-sicu (Kedua Orang Gagah Muda), harap jangan mengejar dia....!"
Kembali Jenderal Kao berseru keras kepada dua orang pemuda Pulau Es ini sehingga mereka kaget dan heran, lalu membalik dan memandang kepada jenderal itu.
"Dia.... dia tadi...., dia bukan manusia melainkan arwah! Aihhh, sungguh kasihan Nona Ceng....!"
Jenderal itu lalu menoleh kepada dua orang puteranya.
"Lekas kau suruh pelayan mempersiapkan meja sembahyang. Aku harus menyembahyangi rohnya agar tidak penasaran dan dapat tenang...."
Dua orang putera Jenderal Kao itu, yang bernama Kao Kok Tiong berusia enam belas tahun dan Kao Kok Han berusia tiga belas tahun, mengangguk dan meninggalkan kamar untuk melakukan perintah ayah mereka.
Kedua orang pemuda ini, seperti juga ayah mereka, sejak kecil sudah menerima gemblengan ilmu silat dan ilmu perang, mereka memiliki kepandaian yang lumayan dan amat taat serta tunduk kepada ayah mereka, sikap perajurit-perajurit yang amat baik!
"Kao-goanswe, dia bukan arwah, dia manusia biasa,"
Kian Bu berkata. Jenderal itu menggeleng kepala dan memandang dua orang pemuda itu, wajahnya masih pucat sekali dan pandang matanya sayu.
"Aku belum menceritakan tentang dia secara panjang lebar kepada kalian dan kepada Puteri Milana. Akan tetapi kalau tidak ada Nona Lu Ceng atau Candra Dewi itu, sekarang aku tentu sudah menjadi setan penasaran di dalam sumur maut."
Ketika dua orang puteranya kembali bersama pelayan yang membawa meja dan segala keperluan sembahyang, jenderal itu menceritakan tentang usaha pemberontak menjebaknya di sumur maut dan betapa Lu Ceng telah menyelamatkan nyawanya dengan pengorbanan dirinya.
"Akan tetapi, kami berdua pernah berjumpa dengan dia, Goanswe! Bahkan kami membantu dia menghadapi segerombolan orang liar yang merupakan ahli-ahli tentang racun di Lembah Bunga Hitam!"
Kian Bu kembali membantah.
"Dan memang dia amat berubah dibandingkan dengan dahulu, dia menjadi liar dan ganas, akan tetapi...."
Dia tidak melanjutkan karena di ujung bibirnya sudah terdapat kata-kata pujian terhadap gadis itu.
"Yang kalian jumpai tentulah orang lain, Siauw-sicu. Tidak mungkin dia, karena aku melihat dengan mata sendiri betapa dia terjerumus ke dalam sumur maut, bahkan Gak-taihiap yang mencoba untuk menyelidikinya, sudah pingsan ketika baru tiba di tengah sumur."
"Akan tetapi dia tadi...."
Kian Bu mencoba membantah.
"Yang muncul tadi jelas adalah arwahnya. Sungguh gadis yang amat baik.... sampai mati pun masih berusaha menemui dan melindungiku. Dia menghilang bersama asap putih, dia... dia arwah Nona Ceng.... akan terus berkeliaran dan penasaran kalau tidak kusembahyangi."
"Tapi...."
Kian Lee menyentuh tangan adiknya sehingga Kian Bu tidak banyak bicara lagi.
Dengan hati tidak karuan rasanya, bingung dan juga penasaran, Kian Lee melihat betapa jenderal itu mengeluarkan sehelai gambar nona yang telah menarik hatinya itu, memasang gambar itu pada meja sembahyang, kemudian dia menyalakan lilin dan berkata kepada isteri dan kedua orang puteranya.
"Kalian lihat baik-baik wajah itu. Dialah yang telah menyelamatkan nyawaku dengan mengorbankan diri dan nyawanya sendiri. Dialah mgndiang Nona Lu Ceng atau Nona Candra Dewi dari Bhutan."
Sebelum jenderal itu mengajak isteri dan dua orang puteranya bersembahyang, tiba-tiba muncul seorang penjaga yang memberi hormat kepada jenderal itu dan melapor bahwa di luar datang seorang tamu yang berkeras menyatakan hendak bertemu dengan keluarga Jenderal Kao Liang.
Jenderal Kao mengerutkan alisnya dan sepasang matanya memandang penjaga itu dengan marah.
"Engkau mengatakan bahwa aku berada di sini?"
Penjaga itu cepat memberi hormat dengan berlutut.
"Tentu saja tidak, Taijin. Saya telah menegurnya bahwa malam seperti ini bukan waktunya orang bertemu, dan saya malah mengatakan bahwa tuan rumah, yaitu Jenderal Kao Liang, bertugas di benteng utara. Akan tetapi dia berkeras minta bertemu dengan keluarga jenderal, katanya ada urusan yang amat penting. Sikap orang itu mencurigakan dan andaikata paduka tidak ada di sini, tentu saya akan mengerahkan teman-teman untuk mengusirnya dengan kekerasan. Akan tetapi karena paduka berada di sini, saya tidak berani lancang dan terpaksa melapor...."
Wajah yang tadinya marah itu kini berseri.
"Bagus! Kau melakukan tugasmu dengan baik. Kalau begitu, antarkan dia masuk!"
"Ayah....!"
Kao Kok Tiong berseru khawatir.
"Biarkan aku yang menemuinya."
Ayahnya menggeleng.
"Orang yang datang malam-malam begini tentu hanya mempunyai dua maksud, yaitu kalau baik tentu dia membawa kabar yang amat penting bagiku, sebaliknya kalau buruk tentu dia berbahaya sekali. Maka biar dia langsung ke sini dan kuhadapi sendiri."
Kian Lee dan Kian Bu mengangguk setuju dan menganggap sikap jenderal ini amat bijaksana.
Mereka berdua pun merasa curiga sekali karena orang yang datang bertamu malam hari begitu, apalagi dalam keadaan yang penuh ketegangan karena kehadiran Jenderal Kao di sini adalah suatu rahasia, memang merupakan kejadian yang aneh dan amat mencurigakan.
Mereka berdua sudah siap menghadapi segala kemungkinan, karena mereka menduga bahwa orang yang datang itu lebih banyak membawa bahaya daripada membawa kebaikan.
Tak lama kemudian terdengar derap langkah dua orang menuju ke kamar itu.
Semua orang memandang ke pintu dengan hati tegang.
Penjaga itu muncul, memberi hormat dan melapor.
"Tamu telah datang menghadap!"
Jenderal Kao memberi isyarat supaya penjaga itu mundur. Penjaga itu melangkah keluar dan muncullah tamu yang dinanti-nanti itu.
"Aha, kiranya engkau yang datang, orang muda yang gagah?"
Jenderal Kao berseru girang sekali ketika melihat bahwa tamu yang muncul itu bukan lain adalah pemuda tinggi besar yang pernah menolongnya dari tangan penculiknya ketika dia hendak dibakar hidup-hidup di dalam kuil tua.
Sambil memegang lengan pemuda tinggi besar itu, Jenderal Kao menoleh kepada kedua orang pemuda Pulau Es dan kepada anak-anak dan isterinya.
"Inilah dia pemuda gagah perkasa yang telah menyelamatkan nyawaku, akan tetapi yang sama sekali tidak mau menyebutkan namanya! Mari masuk, dan duduklah."
Pemuda tinggi besar itu kelihatan canggung dan sungkan. Dia menjura kepada jenderal itu dan semua orang, kemudian berkata kepada Jenderal Kao.
"Harap Tai-ciangkun sudi memaafkan kedatanganku yang mengganggu ini. Sebetulnya, terpaksa sekali aku datang mengganggu...."
"Aihhh! Engkau adalah seorang pemuda perkasa, penolongku yang budiman, bagaimana bisa mengucapkan kata-kata mengganggu?"
"Sungguh, kalau tidak terpaksa saya tidak akan datang ke sini, Tai-ciangkun. Kedatanganku ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan peristiwa yang lalu diantara kita. Akan tetapi karena aku mendengar bahwa Tai-ciangkun adalah komandan di utara, maka aku datang untuk minta keterangan tentang diri seorang perwira yang belasan tahun yang lalu bertugas di sana, dan tentu dia adalah anak buah Tai-ciangkun. Aku sedang mencari-cari orang itu, maka harap Tai-ciangkun berbaik hati untuk memberitahu kepadaku di mana adanya orang itu."
Jenderal Kao mengerutkan alisnya dan mengangguk.
"Tentu saja aku akan berusaha sedapat mungkin untuk membantumu, orang muda. Siapakah adanya orang yang kau cari itu?"
"Iiihhh...."
Jerit tertahan dari isteri jenderal ini membuat semua orang memandang kepadanya.
Wanita ini sedang memandang pemuda itu dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Kenapa kau?"
Jenderal itu membentak heran. Isterinya hanya menggeleng kepala lalu menutupi mukanya.
"Nah, orang muda, katakan siapa orang yang kau cari itu?"
"Aku.... aku tidak tahu namanya...."
Pemuda itu menjawab gagap dan kelihatan bingung.
Memang dia bingung sekali.
Ketika dia masih kecil dan tersesat di gurun pasir, dia mengalami penderitaan yang amat mengerikan, seolah-olah melihat maut mendekati dirinya sedikit demi sedikit sehingga (Lanjut ke
Jilid 25) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 berkali-kali dia pingsan dan siuman kembali, batinnya mengalami tekanan yang amat hebat dan berat.
Ketika dia ditemukan oleh suhunya, Si Dewa Bongkok, yang diingat hanyalah namanya sendiri, bahkan she-nya (nama keluarga) nyapun dia sudah lupa, apalagi nama ayahnya.
Akan tetapi samar-samar dia masih ingat bahwa ayahnya adalah seorang perwira dan mengingat bahwa dia tersesat di gurun pasir utara, maka tentu ayahnya itu seorang perwira di benteng utara.
Kao Liang memandang tajam dengan alis berkerut, penuh iba dan penasaran.
"Orang muda yang baik, bagaimana aku bisa membantumu kalau kau tidak tahu nama orang yang kaucari itu? Apakah dia musuhmu?"
"Dia.... dia adalah ayahku.... akan tetapi aku tidak tahu namanya.... hanya kuingat bahwa dia adalah seorang perwira...."
Tiba-tiba Nyonya Kao bangkit dari tempat duduknya, wajahnya masih pucat dan dia menghampiri pemuda tinggi besar itu, langsung bertanya dengan bibir gemetar.
"Kau.... kau.... siapa namamu....?"
Tentu saja sikap dan perbuatan nyonya ini mengherankan semua orang.
Pemuda tinggi besar itu memandang Nyonya Kao dengan ragu-ragu, kemudian menjawab lirih.
"Nama saya Kok Cu...."
"Kok Cu....?"
Teriakan ini keluar dari mulut empat orang, yaitu Jenderal Kao sendiri, isterinya, dan dua orang puteranya.
"Kok Cu anakku....!"
Nyonya Kao sudah menubruk dan merangkul leher pemuda tinggi besar itu sambil menangis.
"Kok Cu, ya Tuhan.... engkau ini....?"
Jenderal Kao juga sudah mencengkeram pundak pemuda tinggi besar itu, mukanya pucat matanya terbelalak dan bibirnya bergetar menahan keharuan hatinya.
"Twako....!"
Kao Kok Tiong memegang lengan kakak sulungnya.
"Twako...!"
Kok Han juga mendekat.
Tentu saja Kok Cu, pemuda tinggi besar yang berambut panjang terurai itu, terkejut setengah mati dan sejenak dia terlalu bingung.
Kenyataan yang dihadapinya terlalu mengejutkan dan sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya.
Siapa menyangka bahwa pembesar gagah perkasa yang ditolongnya di tengah perjalanan itu, yang kemudian dia ketahui Jenderal Kao yang dijunjung tinggi seluruh rakyat di daerah utara, ternyata adalah ayah kandungnya sendiri!
Sukar untuk menerima dan mempercayai kenyataan yang amat mengejutkan ini.
"Ayah dan ibuku....? Ah, bagaimana....?"
Dia dipeluki empat orang yang sudah menangis saking bahagia dan terharu itu. Jenderal Kao melihat kebingungan pemuda itu.
"Mari kita semua duduk. Kok Cu, dengarlah baik-baik. Ketika engkau dan ibumu kubawa ke utara, pada suatu hari engkau lenyap ketika sedang bermain-main di luar benteng. Pada waktu itu terjadi badai yang amat besar, maka kami semua mengira bahwa engkau tentu telah terseret badai dan terkubur di dalam gurun pasir karena berhari-hari kami mengerahkan pasukan mencarimu tanpa hasil. Ketika itu engkau baru berusia sepuluh tahun. Adikmu Kao Kok Tiong ini baru berusia setahun, dan adikmu yang bungsu Kao Kok Han belum terlahir. Memang ketika itu aku belum menjadi jenderal, akan tetapi sudah menjadi komandan dari benteng kecil di utara."
Jenderal itu lalu menuturkan dengan jelas sehingga Kok Cu baru tahu bahwa dia adalah bermarga keluarga Kao.
"Ayah...., Ibu....!"
Akhirnya dia menjatuhkan dirinya berlutut di depan kedua orang tuanya itu.
Ibunya memeluknya dan Jenderal Kao tertawa bergelak, menenggak araknya sambil menoleh kepada Kian Lee dan Kian Bu.
"Ha-ha-ha-ha, susah dan senang memang sudah menjadi pakaian manusia hidup! Suka dan duka bersilih ganti menjadi bumbu manis dan pahit dalam hidup! Ji-wi Siauw-sicu, di dalam keprihatinan yang hebat bertemu dengan anak yang hilang, bukankah ini merupakan hiburan yang amat menggembirakan?"
"Kao-goanswe, kami berdua menghaturkan kionghi (selamat) kepadamu!"
Kian Lee berkata sambil membungkuk bersama adiknya.
"Terima kasih, terima kasih....!"
"Mengapa kalian begitu bodoh?"
Nyonya Kao yang masih merangkul puteranya itu berkata.
"Apakah kalian tidak melihat betapa miripnya dia dengan ayahnya? Lihat saja, bentuk badannya, mulutnya, hidungnya! Begitu melihatnya, aku sudah menduganya.... aihh, Kok Cu, kedatanganmu menambah umur ibumu...."
Wanita itu tertawa dengan air mata bercucuran.
"Ayah...."
Sebutan yang amat asing ini keluar dari bibir pemuda tinggi besar itu dengan kaku.
"Siapakah dua orang sahabat yang gagah ini?"
"Hayo kuperkenalkan! Mereka ini adalah Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu, dua orang pemuda sakti putera dari Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es, adik-adik dari Puteri Milana, cucu dari Kaisar...."
"Cukuplah semua kementerengan itu, Kao-goanswe!"
Kian Bu berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Saudara Kao Kok Cu, terimalah ucapan selamat kami!"
Kian Lee berkata.
Kok Cu balas memberi hormat dan ketika ayahnya menceritakan akan pertolongan kedua orang pemuda itu ketika ayahnya terancam bahaya, dia pun menghaturkan terima kasihnya.
Pemuda tinggi besar ini sikapnya tenang, agak kasar karena tidak biasa berbasa-basi, bahkan hampir buta huruf, akan tetapi memiliki pribadi yang menarik, jujur, terbuka, dan tidak berpura-pura, sungguhpun terlalu dalam untuk diukur, seakan-akan menyimpan rahasia yang gelap dengan sikap diamnya.
"Ibu, saya melihat persiapan sembahyang.... siapakah...."
"Hai, Kok Cu, ayahmu telah terlalu banyak menerima budi kebaikan orang!"
Jenderal Kao berkata sambil memegang tangan puteranya dan menariknya ke depan meja sembahyang.
"Kami sekeluarga sedang menyembahyangi arwah seorang penolong yang budiman. Engkau sebagai putera sulungku, harus mengetahui mereka yang telah melepas budi kepada kita, agar kelak kalau ayahmu tidak mampu membalas budi mereka, engkau sebagai anak sulungku akan selalu mengingatnya."
Jenderal ini bersama isterinya dan tiga orang puteranya kini mulai bersembahyang, mengacungkan hio (dupa biting) dengan penuh hormat kepada gambar yang dipasang di meja sembahyang.
Melihat betapa gambar gadis yang amat menarik hatinya itu disembahyangi seperti telah mati, Kian Lee merasa jantungnya seperti ditusuk dan dia memejamkan matanya.
Ketika tangan Kian Bu menyentuh lengannya, dia sadar dan membuka mata.
"Mereka itu salah duga...."
Kian Bu berbisik.
"Dia belum mati."
Kian Lee mengangguk dan menghela napas panjang.
"Akan tetapi tidak perlu kita menyangkal dan berdebat dengan mereka...."
"Ahhh....!"
Semua orang terkejut melihat pemuda tinggi besar, Kok Cu, yang tadinya ikut bersembahyang meloncat ke belakang seperti diserang ular kakinya, mukanya pucat dan dia memandang kepada gambar di atas meja sembahyang.
"Hei, kau kenapa, Kok Cu?"
Jenderal Kao menegur. Mereka telah selesai bersembahyang dan tentu saja mereka terkejut menyaksikan sikap pemuda itu.
"Ayah, siapa.... siapa yang kita sem-bahyangi ini? Gambar siapa itu?"
Dia menunjuk ke arah gambar Ceng Ceng di atas meja.
"Aku belum menceritakan tentang dia kepadamu, Kok Cu. Mari duduk, akan kuceritakan padamu. Dia bernama Lu Ceng, seorang gadis perkasa yang telah tewas mengorbankan diri dalam usahanya menyelamatkan nyawa ayahmu. Kalau tidak ada dia ini, kiranya hari ini engkau tidak akan dapat bertemu dengan ayah kandungmu."
Lalu Jenderal Kao menceritakan semua peristiwa yang terjadi di sumur maut. Setelah dia selesai bercerita, dia bertanya.
"Kenapa kau kelihatan kaget melihat gambar mendiang Nona Lu Ceng?"
Kok Cu menundukkan mukanya.
Hanya dia yang tahu betapa hatinya seperti diremas-remas, seperti ditusuki jarum-jarum beracun.
Perih dan penuh penyesalan hebat, membuat dadanya sesak dan mukanya pucat.
Terbayang di depan matanya peristiwa di dalam guha, tampak jelas olehnya betapa dia telah melakukan hal yang amat hina di luar kehendaknya, betapa di suatu saat dia seperti telah berubah menjadi seekor binatang buas, menjadi setan yang amat jahat.
Betapapun dia melawan, dia tidak dapat mengusai nafsu birahinya yang didorong oleh racun-racun amat hebatnya sehingga terjadilah perbuatannya yang amat keji.
Memperkosa seorang dara cantik jelita dan gagah perkasa, dara yang muncul untuk menolongnya!
Dia telah membalas pertolongan orang dengan perbuatan yang sejahat-jahatnya, sekeji-kejinya yang dapat diderita seorang wanita, yaitu memperkosa wanita yang menjadi penolongnya itu!
Kini, hatinya lebih parah lagi ketika mendapat kenyataan bahwa dara itu pun telah menyelamatkan nyawa ayahnya tanpa mempedulikan keselamatan nyawanya sendiri!
Manusia macam apa dia ini!
Dan ayahnya adalah seorang panglima besar yang amat gagah, seorang yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat di utara, ibunya seorang wanita yang demikian lemah lembut dan halus budi pekertinya, kedua orang adiknya pun demikian tampan dan gagah.
Dia....
ah, dia lebih keji dari binatang, lebih jahat daripada setan.
Dia tidak layak menjadi putera Jenderal Kao Liang, tidak layak berada diantara keluarga terhormat itu!
"Kok Cu, kau kenapa?
Mengapa wajahmu pucat begitu?"
Ibunya bertanya.
"Kok Cu, kau tadi kelihatan kaget ketika melihat gambar mendiang Nona Lu Ceng. Mengapa?"
Jenderal Kao bertanya pula.
"Ayah, Ibu.... aku terkejut karena.... karena aku pernah bertemu dengan Nona ini...."
Jawabnya.
"Dia.... dia belum mati, Ayah."
"Nah, apa kata kami tadi, Kao-goanswe? Nona itu memang belum mati. Saudara Kao Kok Cu, ketahuilah bahwa baru saja nona itu malah muncul di kamar ini!"
Kian Bu berseru saking girangnya bahwa mereka berdua memperoleh teman untuk menjadi saksi bahwa nona itu belum mati!
Akan tetapi dia sendiri terkejut melihat betapa mata Kok Cu terbelalak liar dan memandang ke kanan kiri seolah-olah pemuda itu ketakutan mendengar bahwa gadis itu tadi berada di tempat itu!
Jenderal Kao Liang menghela napas panjang.
"Aku sendiri pun kalau bisa mohon kepada Thian agar dia masih hidup! Dan mudah-mudahan begitulah! Akan tetapi, bagaimana mungkin orang dapat bertahan hidup setelah terjerumus ke sumur maut itu? Dan andaikata benar dia hidup, mengapa dia tadi tidak menjumpai aku? Antara dia dan aku sudah seperti ayah dan anak sendiri. Mengapa kalau dia masih hidup, dia bersikap demikian penuh rahasia?"
Tidak ada orang yang dapat menjawabnya, dan kedua saudara Suma terpaksa harus mengakui keanehan ini di dalam hati mereka.
Akan tetapi Kok Cu mempunyai dugaan lain.
Tentu saja nona itu berubah sikapnya setelah mengalami peristiwa terkutuk itu, setelah menderita karena kebiadabannya!
Siapa tahu nona itu telah menjadi gila karenanya!
"Kok Cu, sekarang kau ceritakan pengalamanmu semenjak kau lenyap di dalam badai,"
Perintah Jenderal Kao.
Seperti orang dalam mimpi karena semua pikirannya masih hanyut terbawa lamunannya terhadap nona yang diperkosanya, Kok Cu menceritakan pengalamannya dengan singkat, betapa dia ditolong oleh seorang manusia sakti berjuluk Si Dewa Bongkok penghuni dari Istana Gurun Pasir, diambil murid dan baru sekarang diperkenankan meninggalkan istana itu.
"Selain berusaha mencari ayah dan ibu yang sudah kulupa namanya, aku pun memikul tugas dari suhu untuk mencari kitab yang hilang tercuri orang. Dalam pengejaran mencari kitab itulah aku ter-tipu dan tertangkap di Lembah Bunga Hitam, dan aku bertemu dengan Nona Lu Ceng di sana...."
Pemuda itu menghentikan ceritanya, bulu tengkuknya meremang karena dia teringat akan perbuatannya terhadap dara itu dan baru saja mendengar bahwa nona itu telah memasuki rumah orang tuanya.
"Kok Cu, kalau aku tidak salah menghitung, usiamu sudah dua puluh enam tahun sekarang. Engkau telah memiliki kepandaian tinggi, itu bagus sekali. Aku akan mengusahakan tempat bagimu di dalam barisan, dan setelah engkau memperoleh kedudukan, kami akan mencari jodoh untukmu."
"Benar sekali ucapan ayahmu, Kok Cu. Aku sudah sering bermimpi menimang-nimang seorang cucu!"
Ibunya menambahkan.
"Maaf Ayah, dan Ibu. Terpaksa malam ini juga aku minta diri karena aku harus memenuhi dulu perintah Suhu. Setelah urusan ini selesai barulah aku akan kembali ke sini dan menghabiskan sisa usiaku untuk berbakti kepada Ayah dan Ibu."
Ibunya hendak membantah, akan tetapi Jenderal Kao memberi isyarat kepada isterinya, lalu berkata.
"Engkau benar! Kalau tidak ada suhumu, tentu engkau sudah tewas di padang pasir. Budi suhumu sampai mati pun takkan dapat dibalas lunas, maka satu-satunya perintah itu harus kau laksanakan dengan sebaiknya sampai berhasil. Akan tetapi...., besok pagi-pagi aku sendiri akan kembali ke utara bersama kedua orang Suma Siauw-sicu ini. Apakah engkau tidak bisa menanti sampai besok dan kita semalam ini bercakap-cakap di sini?"
"Maaf, Ayah. Karena harus mengikuti petunjuk dan jejak, malam ini pun aku harus melanjutkan perjalanan mencari kembali kitab suhu itu...."
Akhirnya ayah dan ibunya tidak dapat mencegah lagi dan setelah memberi hormat kepada semua orang, sekali berkelebat lenyaplah tubuh tinggi besar itu melalui jendela.
Semua orang, termasuk kedua orang kakak beradik Suma, merasa kagum sekali.
Seperti setan cepatnya, Kok Cu meninggalkan gedung orang tuanya.
Hatinya tidak karuan rasanya.
Dia girang dan merasa berbahagia sekali karena berhasil bertemu dengan ayah bunda dan adik-adiknya, akan tetapi perasaan ini bercampur dengan perasaan menyesal dan berduka.
Dia merasa tidak patut menjadi anggauta keluarga yang mulia dan terhormat itu, Dia merasa telah mengotori nama besar dan kehormatan ayahnya dengan perbuatannya terhadap Lu Ceng, dara yang dianggap sebagai bintang penolong keluarganya!
Dan baru saja, menurut ayahnya, Lu Ceng telah datang ke tempat orang tuanya.
Hal ini berarti bahwa gadis itu telah berada di kota raja!
Dengan pikiran melayang-layang, pemuda itu meloncat dari genteng sebuah rumah ke genteng lain, tanpa tujuan namun hati dan pikirannya penuh dengan bayangan Lu Ceng!
Ceng Ceng menangis di dalam kamar penginapan, sampai mengguguk akan tetapi dia menutupi mukanya dengan bantal agar tidak ada suara tangisnya keluar dari kamar itu.
Makin diingat, makin hancur rasa hatinya.
Tidak mungkin dia dapat bertemu dengan Jenderal Kao yang telah menyembah-yanginya itu.
Dia tidak pantas bertemu dengan jenderal gagah perkasa itu, merasa betapa dirinya sudah kotor.
Dan pula, jelas bahwa pemuda laknat yang dicarinya tidak berada di tempat itu, tidak berada bersama Jenderal Kao.
Kalau ada, tentu tadi dia sudah melihatnya.
Ingin sekali dia mengunjungi istana Puteri Milana yang dijunjung tinggi oleh mendiang kakeknya, siapa tahu Syanti Dewi telah berada di situ.
Akan tetapi bagaimana dia mampu bertemu muka dengan seorang puteri yang demikian mulia?
Dan dia merasa malu juga bertemu dengan Syanti Dewi karena sekali bertemu dengan kakak angkatnya itu, tentu dia tidak lagi dapat menyimpan rahasianya, tentu dia akan menceritakan segalanya dan hal ini hanya berarti mati membunuh diri saking malunya.
Teringat olehnya akan nasibnya yang amat buruk.
Sejak kecil tidak melihat ayahnya, bahkan ibunya meninggalkannya menjadi seorang anak yatim piatu di dalam asuhan kakeknya.
"Aihh, Kong-kong...!"
Dia merintih dan tangisnya makin menjadi-jadi ketika dia teringat kepada kakeknya yang tewas secara menyedihkan itu.
Teringat pula dia akan peristiwa yang paling hebat, yang sekaligus menghancurkan hidupnya, peristiwa di dalam guha yang menimbulkan dendam yang sedalam lautan, kebencian yang setinggi langit.
Hidupnya kini hanya untuk satu tujuan saja, mencari dan membunuh pemuda laknat yang telah memperkosanya itu!
"Ahhh....!"
Dia mengepal tinju dan menggigit gigi.
Dia tahu bahwa pemuda laknat itu memperkosanya di bawah pengaruh racun yang hebat.
Akan tetapi hal ini tidak mengurangi kebenciannya, tidak mengurangi dendamnya.
Kalau diingat betapa dia telah berusaha menolong pemuda itu!
Menolongnya, membebaskannya dari ancaman maut, dari dalam kerangkeng, akan tetapi pemuda itu malah membalasnya dengan perbuatan yang lebih keji daripada kalau membunuhnya!
Pemuda itu telah mendatangkan siksa dan derita hebat sehingga dia dalam keadaan mati tidak hiduppun tidak.
Betapa dendam memainkan peran penting di dalam kehidupan manusia, bahkan dendam mencengkeram sebagian besar dari kehidupan manusia sehingga di seluruh pelosok dunia terjadilah pertentangan, permusuhan, benci-membenci dan akhirnya membesar menjadi perang antara bangsa, perang antara negara.
Dendam yang menimbulkan kebencian bersumber kepada si aku.
Si aku yang dirugikan lahir maupun batin melahirkan kemarahan dan dendam, kebencian, maka timbullah kekerasan dari dendam dan kebencian ini.
Aku diganggu dan dirugikan, keluargaku diganggu, hartaku, namaku, kedudukanku, kepercayaanku, bangsaku, maka aku menjadi marah, dendam dan benci!
Segala hal yang tampak maupun yang tidak tampak, yang menjadi kepunyaan si aku, tidak boleh diganggu.
Kalau yang diganggu itu keluarga, harta benda, kedudukan, agama, bangsa dan negara orang lain, biasanya kita tidak peduli.
Maka si akulah yang menjadi sumber timbulnya dendam dan kekerasan yang mengikutinya.
Di mana terjadi pertentangan dan permusuhan yang disusul dengan bentrokan, tentu ada yang kalah dan ada yang menang.
Pihak yang kalah atau lebih tepat lagi, pihak yang dirugikan, tentu akan mendendam dan selalu rindu akan kesempatan untuk membalas dendam itu.
Setelah kesempatan tiada maka terjadilah kekerasan yang lain lagi dan hal ini menimbulkan dendam kepada pihak yang kalah, baik perorangan maupun kelompok, maupun negara.
Maka dendam-mendendam tidak habisnya di dunia ini, diantara manusia, diantara bangsa dan negara.
Jika dendam masih mencengkeram manusia tidak mungkin ada perdamaian dalam hidup manusia.
Selama dendam belum lenyap dari batin manusia, segala macam usaha ke arah perdamaian akan sia-sia belaka.
Akan tetapi, apabila dendam dan kebencian tidak lagi bertahta di dalam batin manusia, apakah akan ada permusuhan, apakah akan ada perang lagi?
Kiranya tidak perlu orang bersusah payah mengadakan usaha perdamaian lagi karena tidak akan ada lagi permusuhan dan perang!
Jika dendam kebencian masih bernyala di hati dan pikiran kita, maka segala usaha kita untuk berdamai dengan musuh yang kita benci merupakan kepalsuan dan hanya akan menghasilkan per-damaian palsu belaka.
Hanya setelah kita bebas dari dendam kebencian, baru kita dapat hidup damai dengan orang laln, dan tidak perlu lagi usaha perdamaian itu karena kita tidak mempunyai musuh siapa pun, tidak mendendam maupun membenci siapa pun!
Yang penting harus disadari bahwa sumber segala dendam kebencian terletak kepada si aku, yaitu si pikiran yang menciptakan si aku.
Kita selalu ingin merubah yang di luar, untuk disesuaikan demi kesenangan dan keenakan si aku, kita lupa bahwa sumber segala kekacauan terletak kepada si aku.
Diri sendirilah yang harus berubah, si sumber yang harus berubah.
Dan perubahan akan terjadi apabila ada pengertian dan pengenalan diri sendiri, melihat dengan mata terbuka akan kekotoran yang memenuhi diri sendiri.
Melihat tanpa pamrih, tanpa keinginan apa pun, tanpa ingin merubah, tanpa ingin memperbaiki, menambah atau mengurangi.
Dari penglihatan ini timbul pengertian karena penglihatan tanpa pamrih ini merupakan kewaspadaan, menimbulkan kesadaran penuh dan otomatis akan timbul tindakan-tindakan dari pengertian dan kesadaran itu yang akan menimbulkan perubahan.
Sayang bahwa Ceng Ceng tidak sadar akan semua kenyataan sederhana itu.
Dia merasa sengsara, diracuni oleh dendam dan kebencian sehingga seperti seorang yang mabok, dia kadang-kadang menangis, kadang-kadang beringas dan beberapa kali dia hampir-hampir mengambil keputusan nekat untuk membunuh diri!
Tiba-tiba dia bangkit duduk, tidak bergerak dan perhatiannya tertarik oleh suara burung malam yang lapat-lapat di atas genteng.
Bagi telinga orang biasa, tentu akan menganggap bahwa itu adalah suara burung malam tulen.
Namun pendengaran Ceng Ceng yang terlatih menangkap sesuatu yang aneh dalam suara itu, apalagi ketika dia mendengar suara berkeresekan di atas genteng rumah penginapan, kecurigaannya timbul.
Ditiupnya lilin di dalam kamarnya, disambarnya buntalan pakaian dan pedang Ban-tok-kiam, dibereskan kembali pakaiannya yang kusut, kemudian dia membuka jendela dan meloncat keluar jendela, menuju ke belakang rumah penginapan dan meloncat ke atas genteng.
Dari situ tampak olehnya dua orang yang berpakaian hitam bergerak di atas genteng bagian depan rumah itu, maka dia cepat mendekati dan membaya-ngi.
Dua sosok bayangan itu melayang turun dengan gerakan yang ringan sekali.
Ceng Ceng mengintai dari atas dan mendengarkan percakapan singkat mereka.
"Sudah pastikah engkau, Twako?"
"Sudah jelas dia, siapa lagi? Pangeran itu masuk dengan menya-mar sebagai pedagang sayur dan sekarang disembunyikan oleh perwira itu di rumahnya."
"Kalau begitu kita harus cepat menangkapnya sebelum dia sempat menghadap istana!"
"Memang perintah-nya begitu, akan tetapi kita menunggu teman-teman yang dikirim ke sini untuk membantu kita."
Tidak terlalu lama mereka menunggu karena segera muncul lima orang laki-laki yang memiliki gerakan ringan dan cepat.
Setelah berbisik-bisik dan berunding, tujuh orang itu lalu berlari ke jurusan utara.
Ceng Ceng cepat mengejar dan terus membayangi tujuh orang itu tanpa turun tangan karena dia ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh mereka itu.
Yang jelas, mereka itu mempunyai niat buruk terhadap diri seorang pangeran.
Dia teringat akan Puteri Milana yang dipuji-puji mendiang kakeknya.
Puteri Milana juga keluarga Kaisar, maka tentu masih ada hubungan dengan Pangeran ini.
Maka sepantasnyalah kalau dia menyelidiki dan melindungi Pangeran itu.
Siapakah tujuh orang itu dan siapa pangeran yang hendak mereka tangkap?
Tujuh orang itu adalah kaki tangan Pangeran Tua Liong Khi Ong yang menyamar sebagai orang-orang biasa dan memang banyak terdapat kaki tangan pangeran ini berkeliaran di kota raja.
Sungguhpun mereka tidak berani banyak bergerak karena di kota raja terdapat banyak pula anak buah Puteri Milana, namun mereka ini merupakan penyelidik-penyelidik dari Pangeran Liong Khi Ong.
Adapun pangeran yang hendak mereka tangkap adalah Pangeran Yung Hwa.
Telah diceritakan di bagian depan bahwa Pangeran Yung Hwa adalah pangeran putera Kaisar dari selir, seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang amat tampan dan halus gerak-geriknya, seorang ahli sastra yang halus budi bahasanya dan romantis jiwanya.
Pangeran Yung Hwa ini pernah mendengar berita tentang kecantikan Puteri Syanti Dewi dari Bhutan sehingga dia tergila-gila oleh berita itu.
Tidaklah mengherankan kalau seorang seperti pangeran muda ini tergila-gila kepada seorang dara yang belum pernah dilihat sebelumnya, tergila-gila hanya karena mendengarkan berita tentang puteri itu!
Memang jiwa seorang yang suka akan seni seperti Pangeran Yung Hwa amat romantis, amat peka dan halus, mudah tergerak dan mudah terpesona.
Mendengar tentang Puteri Syanti Dewi yang kabarnya ahli dalam hal seni sastra, tari dan lukis, pandai pula meniup suling dan mainkan alat tetabuhan lain, bahkan kabarnya pandai pula menari pedang, di samping memiliki kecantikan yang luar biasa seperti seorang dewi dari kahyangan, hatinya tergerak dan sekaligus dia telah jatuh cinta!
Karena tergila-gila dan tidak dapat pula menahan rindunya, dia menghadap ayahnya, yaitu Kaisar, dan mengajukan permohonan agar dia dilamarkan Puteri Syanti Dewi dari Bhutan itu!
Akan tetapi Kaisar yang telah dipengaruhi oleh adik tirinya, Pangeran Liong Bin Ong, berpendapat lain.
Kaisar menolak permintaan puteranya ini, bahkan melamar Puteri Bhutan itu untuk dijo-dohkan dengan Pangeran Liong Khi Ong yang sudah berusia lima puluh tahun dan sudah mempunyai banyak selir!
Mendengar ini, remuklah hati Pangeran Yung Hwa dan dengan berani dia menulis sajak memaki-maki pamannya itu sebagai seorang tua yang tidak tahu malu, yang mata keranjang dan lain-lain untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya.
Kemudian dia lolos dari istana melarikan diri!
Pangeran Liong Khi Ong tentu saja marah sekali kepada keponakannya ini ka-rena sajak yang memaki-makinya itu dipasang di kuil besar dekat istana sehingga sebentar saja banyak orang yang tahu dan dia menjadi buah tertawaan orang.
Dengan seijin Kaisar yang memang sudah mendengar akan hal itu dan hendak menghukum puteranya, Pangeran Liong Khi Ong mengerahkan pasukan untuk menangkap kembali Pangeran Yung Hwa yang minggat.
Di bagian depan dari cerita ini telah diceritakan betapa Pangeran Yung Hwa yang sedang melarikan diri dalam kereta dan dikejar oleh pasukan Pangeran Liong Khi Ong, secara kebetulan bertemu dengan Gak Bun Beng dan Syanti Dewi yang menyamar, lalu pangeran muda itu mendapat pertolongan Gak Bun Beng sehingga lolos dari bahaya.
Akan tetapi tentu saja dia tidak pernah menduga bahwa dara cantik yang berada bersama penolongnya itu bukan lain adalah Puteri Bhutan yang menjadi gara-gara semua keributan itu!
Dengan bantuan seorang pamannya, yaitu saudara dari ibunya yang menjadi selir Kaisar, dia bersembunyi di luar kota raja.
Ketika dia mendengar dari pamannya akan gerakan pemberontakan yang agaknya dikendalikan darl kota raja oleh kedua orang pangeran tua, Yung Hwa terkejut sekali.
Dia segera melakukan penyelidikan-penyelidikan, kemudian pada malam hari itu, dengan bantuan pamannya dia berhasil menyelundup masuk ke kota raja dengan niat menghadap ayahnya untuk minta ampun dan untuk menyampaikan hasil-hasil penyelidikannya tentang gerakan pemberontakan dua orang pangeran tua.
Pangeran Yung Hwa tidak tahu bahwa penyeludupannya itu telah diketahui oleh kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong yang cepat melapor kepada pangeran tua itu.
Pangeran Liong Khi Ong segera memerintahkan tujuh orang kaki tangannya itu untuk menangkap Pangeran Yung Hwa.
Ketika Ceng Ceng melihat betapa tujuh orang itu yang harus diakuinya memiliki gerakan yang ringan dan gesit sekali dan diketahuinya merupakan lawan-lawan yang berat, mengepung sebuah rumah di ujung kota, dia lalu langsung menghampiri pintu rumah itu dan mengetuknya.
Dia maklum bahwa perbuatannya itu diintai oleh tujuh orang itu dengan penuh keheranan dan perhatian, namun dia tidak peduli dan mengetuk terus dengan kuat sampai terdengar suara seorang laki-laki dari sebelah dalam.
"Siapakah di luar?"
"Aku ingin berjumpa dengan Pangeran,"
Kata Ceng Ceng.
Hening sejenak di belakang pintu itu, kemudian penutup lubang digeser dan tampak sebuah mata mengintai dari balik lubang.
Ketika orang di balik pintu itu melihat bahwa yang mengetuk pintu hanyalah seorang dara cantik dan sendirian pula, sinar matanya membayangkan kelegaan hati.
"Nona, engkau siapakah dan apa mak-sud kedatanganmu?"
"Biarkan aku masuk, aku ingin berjumpa dengan Pangeran. Dia terancam bahaya dan aku ingin melindunginya."
Sinar mata itu kelihatan terkejut dan heran, lalu nampak ragu-ragu.
Pengintai ini adalah Perwira Chi yang melindungi dan menyembunyikan Pangeran Yung Hwa sebelum Pangeran itu sempat menghadap ayahnya di istana Kaisar.
"Bukalah sebelum terlambat,"
Ceng Ceng berbisik.
"Rumah ini sudah mereka kurung!"
Perwira itu makin kaget dan cepat dia membuka daun pintu, membiarkan Ceng Ceng menyelinap masuk dan cepat menutupkan kembali pintunya.
"Di mana dia?"
Ceng Ceng bertanya.
Laki-laki berusia empat puluh tahun lebih itu mengangguk dan memberi isyarat kepada dara itu untuk mengikutinya ke sebelah dalam rumahnya.
Dalam perjalanan menuju ke ruangan dalam ini, Ceng Ceng bertemu dengan isteri Perwira Chi dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil, berusia di bawah sepuluh tahun, dan dua orang pelayan.
Mereka kelihatan takut-takut dan memandang kepada Ceng Ceng dengan muka pucat.
Ketika Ceng Ceng mengikuti orang itu masuk ke sebuah ruangan, seorang pemuda bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangannya dengan pandang mata penuh selidik.
Begitu berhadapan, diam-diam Ceng Ceng harus mengakui bahwa baru sekali ini dia berjumpa dengan seorang pemuda yang demikian tampannya!
Pemuda itu usianya tentu sudah dua puluh tahun lewat, wajahnya yang berkulit putih itu bentuknya tampan sekali, dan ada keagungan dalam sikap-nya.
Wajah itu agak bundar, dengan alis hitam tebal dan hidung mancung.
Sepasang matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup, dan mulutnya selalu tersenyum.
Bentuk tubuhnya sedang dengan sikap seorang yang berhati tabah dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Pakaiannya serba indah, sungguhpun bentuknya sederhana.
"Paman Chi, siapakah Nona ini?"
Suaranya halus sekali ketika dia mengajukan pertanyaan ini dan dari sikapnya yang agak membungkuk dan pandang matanya, jelas bahwa dia terheran akan tetapi juga menghormat, sehingga Ceng Ceng juga segera menjura dengan hormat mengingat bahwa pemuda tampan ini adalah seorang pangeran!
Ceng Ceng tidak menanti perwira itu menjawab karena dia maklum bahwa perwira itu tentu saja juga tidak mengenalnya, maka dengan singkat dia berkata.
"Apakah Paduka seorang pangeran?"
Pangeran Yung Hwa tersenyum dan Ceng Ceng memandang kagum.
Begitu tersenyum pemuda ini kelihatan makin tampan dengan deretan giginya yang putih seperti mutiara.
"Benar, Nona. Aku adalah Pangeran Yung Hwa, dan baru padamulah aku berterus terang."
"Saya bernama Lu Ceng, dan tadi saya melihat ada tujuh orang yang mengurung rumah ini. Saya mendengar percakapan mereka bahwa mereka akan menyerbu dan menangkap paduka, oleh karena itu saya sengaja datang untuk melindungi paduka."
Perwira itu kelihatan terkejut, mengeluarkan suara perlahan di tenggorokannya dan mencabut pedang dari pinggangnya, mukanya pucat dan matanya memandang ke kanan kiri.
Akan tetapi Pangeran Yung Hwa tenang saja, senyumnya tidak pernah meninggalkan wajahnya yang tampan.
"Tenanglah, Paman Chi, Nona Lu, kalau boleh aku bertanya, mengapa Nona menempuh bahaya dan bagaimana pula Nona akan melindungi aku?"
"Mendengar bahwa paduka seorang Pangeran yang terancam bahaya, sudah sementinya kalau saya berusaha melindungi dan biarpun sedikit, saya pernah belajar ilmu dan tidak takut menghadapi tujuh orang itu."
"Ah, kiranya Nona adalah seorang pendekar wanita!"
Pangeran itu memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar.
"Masih begini muda...., betapa mengagumkan! Akan tetapi.... sebaiknya kalau Nona cepat pergi dari sini. Nona masih amat muda, kalau dalam melindungiku sampai Nona tertimpa bencana, aku Yung Hwa selama hidupku akan menyesal."
Ceng Ceng memandang sejenak dan ada perasaan lembut mengelus perasaannya.
Pemuda bangsawan ini benar-benar seorang pemuda yang selain tampan dan halus, juga amat berbudi, tidak mengingat diri sendiri saja.
Betapa jauh bedanya kalau dibandingkan dengan pemuda-pemu-da nakal dan ceriwis yang dijumpainya tiga kali, pertama kali di pasar kuda, kedua kalinya ketika dia terkurung oleh banyak pengeroyok di Lembah Bunga Hitam dan mereka berdua membantunya, ketiga kalinya ketika dia melihat mereka mengejarnya di rumah Jenderal Kao.
Lebih jauh lagi bedanya kalau dibandingkan dengan Ang Tek Hoat, pemuda jahat yang menjadi kaki tangan pemberontak itu!
Dan makin jauh lagi kalau dibandingkan dengan pemuda laknat, pemuda tinggi besar yang telah memperkosanya!
"Harap paduka jangan khawatir, dan sebaiknya Paduka bersembunyi di kamar ini saja.
Paman, harap Paman menjaga beliau dan keluarga Paman juga sebaiknya dikumpulkan semua di kamar ini.
Biar aku sendiri yang menghadapi kalau mereka berani masuk!"
Sambil berkata demikian, Ceng Ceng mencabut pedangnya.
"Singgg....!"
Perwira Chi berseru kaget melihat berkelebatnya sebatang pedang yang begitu menyilaukan mata dan yang mengandung hawa dingin menyeramkan.
"Lu-siocia (Nona Lu)....!"
Pangeran Yung Hwa berkata.
"Sekali lagi kumohon kepadamu, jangan mempertaruhkan nyawa demi aku. Aku adalah seorang laki-laki dan sudah biasa akhir-akhir ini menghadapi ancaman bahaya. Akan tetapi kau.... tidak boleh engkau menghadapi bahaya maut untukku, Nona!"
"Awas....! Trang-cring-cring-cring....!"
Pedang di tangan Ceng Ceng berkelebatan dan membentuk sinar bergulung-gulung ketika menangkis datangnya puluhan batang senjata rahasia yeng menyambar-nyambar dari atas genteng di empat penjuru.
"Kau hebat, Nona.... tapi aku tetap khawatir...."
Pangeran Yung Hwa memuji ketika menyaksikan kelihaian Ceng Ceng, akan tetapi Perwira Chi yang sudah datang bersama anak isterinya dan dua orang pelayan, mendesaknya agar memasuki ruangan dalam yang tidak berjendela sehingga tidak dapat diserang dari luar.
Kemudian dia menutupkan pintu ruangan itu dan meloncat keluar dengan pedang di tangan, berdiri di dekat Ceng Ceng sambil berkata.
"Terima kasih, Lihiap. Saya bersedia membantumu dan melindungi Beliau dengan taruhan nyawa."
Akan tetapi diam-diam Ceng Ceng merasa khawatir sekali.
Tadi ketika dia menggunakan pedang menangkis, lengan kanannya sampai tergetar hebat, tanda bahwa para musuh yang melepas senjata rahasia itu memiliki tenaga yang amat kuat!
Kalau tujuh orang yang pandai itu semua menyerbu ke tempat yang sempit ini, terpaksa dia harus menggunakan racun, dan hal ini bahkan akan membahayakan perwira ini, mungkin juga membahayakan Pangeran dan keluarga Perwira Chi.
"Paman, harap Paman masuk saja ke dalam ruangan dan menjaga mereka di dalam, dan jangan Paman atau siapa saja keluar karena di depan pintu ruangan ini akan kusebari racun agar tidak ada yang dapat masuk. Percayalah kepadaku!"
Perwira itu membelalakkan mata.
Dia maklum bahwa dara yang muda ini tentu memiliki kepandaian tinggi, dan memang hatinya akan lebih tenang kalau dia menjaga Pangeran dan keluarganya di bawah matanya sendiri, maka dia mengangguk dan membuka pintu, lalu meloncat ke dalam dan menutupkan pintunya kembali.
Ketika pintu terbuka sebentar itu, Ceng Ceng melihat betapa Pangeran Yung Hwa duduk dengan tenang dan tersenyum lalu mengangguk kepadanya.
Hati dara ini makin kagum.
Dalam keadaan menegangkan seperti itu, Pangeran itu kelihatan tenang saja.
Sungguh sikap yang luar biasa gagahnya bagi seorang pangeran yang lemah.
Setelah Perwira Chi memasuki ruangan itu dan menutupkan pintu satu-satunya dari ruangan itu, Ceng Ceng lalu mengeluarkan bubuk racun berwarna putih dari saku bajunya.
Bubuk racun itu tinggal sedikit, dan sisa ini ditaburkan semua di depan pintu ruangan, dari pintu sampai dua meter jauhnya sehingga siapa pun yang akan memasuki ruangan melalui pintu itu tentu akan menginjak bubuk racun yang telah ditaburkannya dan tidak tampak itu.
Kemudian Ceng Ceng lalu meloncat keluar dan langsung dia melayang ke atas genteng.
Baru saja tubuhnya mencelat dan hinggap di atas genteng, dari empat penjuru dia diserang oleh tujuh orang kaki tangan Pangeran Liong Khi Ong itu.
Ceng Ceng yang sudah siap, tidak menjadi gentar dan cepat dia memutar pedang Ban-tok-kiam untuk melindungi tubuhnya sedangkan tangan kirinya menyebarkan bubuk racun merah yang juga tinggal bersisa sedikit dan tadi sudah dipersiapkannya.
Bubuk racun merah ini merupakan racun yang memabokkan dengan keharumannya yang luar biasa, dan sungguhpun lawan tidak akan tewas oleh racun ini, akan tetapi yang mencium baunya tentu akan roboh dan lemas, pening dan tidak dapat bertanding lagi.
"Awas racun....!"
Seorang diantara tujuh lawan itu berseru nyaring dan cepat meloncat mundur.
Kawan-kawannya juga meloncat mundur, namun seorang diantara mereka terhuyung dan roboh di atas genteng, setengah pingsan karena dia telah mencium racun itu!
Enam orang yang lain, seorang diantara mereka berpakaian perwira menjadi marah dan menyerbu lagi setelah mereka menutup hidung mereka dengan kapas yang sudah dicelup obat penawar.
Melihat ini, Ceng Ceng makin khawatir.
Kiranya mereka itu pun merupakan orang-orang lihai yang mengerti sedikit banyak tentang racun.
Dan kini Ceng Ceng terdesak hebat.
Biarpun dia sudah memutar pedang Ban-tok-kiam sekuatnya dan secepatnya, namun senjata pedang dan golok itu menekan berat sekali.
Dalam belasan jurus saja dia sudah mandi keringat.
Celakanya, dorongan pukulan tangan beracun dari tangan kirinya agaknya kurang kuat bagi enam orang lawan ini yang menangkis dengan hawa pukulan sin-kang dari jauh sehingga tidak pernah bersentuhan tangan.
"Mampuslah....!"
Ceng Ceng membentak marah, pedangnya menusuk tiga kali yang merupakan serangkaian serangan ke arah tiga orang lawan, sedangkan kepalanya bergerak ke kanan kiri, dan dari mulutnya yang manis bentuknya itu meluncur air ludah yang beracun ke arah tiga orang lawan yang lain!
"Aduhhh....!"
Seorang diantara mereka, yang memandang rendah serangan ludah itu, dengan tepat terkena percikan ludah di lehernya dan dia berteriak-teriak sambil memegangi lehernya yang seperti di-bakar rasanya, lalu bergulingan roboh di atas genteng, tidak dapat bertanding lagi.
Akan tetapi pada saat itu, sebuah tendangan kilat mengenal pinggul Ceng Ceng.
Dara ini mengeluh, terhuyung dan hanya berkat kecepatan gerak pedangnya saja yang diputar melindungi diri maka dia terhlndar dari bahaya maut ketika lima orang itu menerjang secara berbareng ketika dara itu terhuyung.
"Trang-cring-cring-cring....!"
Ceng Ceng bergulingan di atas genteng sambil menggerakkan pedang Ban-tok-kiam menangkisi pedang dan golok yang mengejarnya.
Banyak genteng pecah oleh gerakannya ini dan tubuhnya terus bergulingan karena lima orang lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk meloncat berdiri.
Dia terdesak benar-benar sampai bergulingan ke pinggir atas dan nyaris terjatuh ke bawah.
Terpaksa dia menghentikan gerakannya dan terus menangkisi pedang dan golok yang bertubi-tubi menyerangnya.
Lima orang itu bukanlah orang-orang sembarangan.
Mereka adalah pengawal-pengawal kelas satu yang menjadi kaki tangan Pangeran Liong Bin Ong, maka tentu saja mereka memiliki kepandaian yang tinggi.
Selain itu, juga mereka telah berpengalaman di dunia kang-ouw, maklum bahwa gadis yang dikeroyoknya itu biarpun ilmu silatnya tidak terlalu hebat, namun memiliki kepandaian tentang racun yang mengerikan, karena inilah mereka tidak berani sembarangan menggunakan tangan kiri menyerang agar tubuh mereka tidak bersentuhan dengan gadis beracun itu, melainkan menggunakan pedang atau golok mereka untuk menyerang.
Tendangan tadi yang mengenai pinggang Ceng Ceng, tentu akan mencelakakan yang menendang kalau saja dia tidak memakai sepatu kulit tebal.
"Wuuuutt-plak-plak-plak!"
Lima orang itu terkejut sekali, terhuyung ke belakang karena sambaran angin dorongan yang amat kuat.
Ketika mereka melihat bahwa yang mendorong mereka itu adalah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka buruk sekali, mereka terkejut dan maklumlah mereka bahwa orang ini memiliki sin-kang yang amat hebat.
Maka mereka lalu berpencar, ada yang meloncat ke atas wuwungan yang lebih tinggi untuk bersiap-siap dengan senjata rahasia mereka.
Ceng Ceng sendiri terkejut dan cepat bangkit, menggigit bibir karena pinggangnya terasa nyeri.
Pada saat itu, laki-laki tinggi besar bermuka buruk itu membuka mulut dan mengeluarkan teriakan melengking yang amat dahsyat, teriakan yang seolah-olah membuat semua atap di sekitar tempat itu tergetar, genteng-genteng banyak yang merosot dan lima orang pengeroyok itu mengeluh, senjata mereka terlepas dan tubuh mereka terguling di atas genteng dalam keadaan pingsan!
Ceng Ceng sendiri merasa betapa tubuhnya seperti kemasukan tenaga yang dahsyat, telinganya seperti akan pecah rasanya, dan dia terhuyung-huyung.
Akan tetapi tiba-tiba sebuah tangan yang besar menepuk punggungnya dan dia sadar kembali, memandang laki-laki tinggi besar itu dengan penuh kagum dan juga serem.
Wajah orang ini sungguh buruk dan menakutkan.
Kulit mukanya kasar seperti kulit punggung buaya, agak hitam kemerahan, mulutnya yang lebar seperti tidak pernah tertutup, hidungnya besar bengkok dan matanya besar sebelah, rambutnya riap-riapan dan panjang sedangkan sepasang mata yang besar sebelah itu mengeluarkan sinar yang aneh.
Sungguh wajah yang menakutkan seperti wajah setan dalam dongeng!
"Kau pergilah, kenekatanmu tadi berbahaya...."
Orang itu berkata dan Ceng Ceng makin terheran-heran.
Mukanya begitu buruk menakutkan, akan tetapi suaranya halus dan kepandaiannya luar biasa tingginya.
Sejenak Ceng Ceng termangu, kemudian secara tiba-tiba dia menggerakkan pedangnya menyerang.
Serangan kilat ini dilakukan dengan dahsyat karena mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak dekat.
Ban-tok-kiam meluncur ke arah dada orang tinggi besar itu dan agaknya tidak ada jalan lagi bagi orang tinggi besar untuk dapat meinghlndarkan diri dari bahaya maut ini, apalagi karena tangan kiri Ceng Ceng yang mengerahkan tenaga beracun mencengkeram ke arah perut dan kepalanya digerakkan sedemikian rupa sehingga rambutnya juga menyambar ke arah kedua mata lawan.
Benar-benar serangan tiba-tiba yang amat berbahaya.
"Ahhh....!"
Laki-laki bermuka buruk mengeluarkan seruan kaget, dan hanya mengangkat tangan kirinya ke depan dan menyambar pedang itu dari samping dan membiarkan rambut dan tangan kiri Ceng Ceng mengenai sasaran.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati dara ini ketika tangan kirinya bertemu dengan perut yang keras seperti baja, membuat jari-jari tangannya tidak dapat mencengkeram bahkan terasa nyeri, sedangkan rambutnya yang menyambar mata itu tiba-tiba membuyar ditiup oleh mulut Si Buruk Rupa, dan pedangnya ditangkap oleh tangan lawan!
Pedangnya, Ban-tok-kiam yang ampuh, yang mengandung racun mujijat, ditangkap oleh tangan begitu saja seolah-olah hanya sebatang pedang kayu yang tidak berbahaya!
Dia mengerahkan tenaga membetot, namun sia-sia, bahkan ketika laki-laki itu menggerakkan tangan, dia tidak mampu mempertahankan dan pedangnya terlepas, lalu dilempar di atas genteng oleh laki-laki itu.
"Apakah kau sudah gila?"
Laki-laki itu menegur. Ceng Ceng segera menjatuhkan dirinya berlutut dan laki-laki itu mendengus heran.
"Memang kusengaja untuk menguji kepandaianmu In-kong, aku mohon kepadamu agar kau suka menerimaku sebagai murid!"
Mata yang besar sebelah itu berkedip-kedip penuh keheranan.
"Kau.... kau seorang yang aneh, Nona. Selamat tinggal...."
Dia membalikkan tubuh membelakangi Ceng Ceng yang masih berlutut.
"In-kong...., jangan pergi dulu."
Ceng Ceng berseru dan laki-laki itu berdiri di wuwungan, membelakangi Ceng Ceng dan bersedakap.
"Mau bicara apa lagi?"
Terdengar suaranya yang halus.
"In-kong, aku ingin sekali menjadi muridmu, belajar ilmu yang tinggi untuk kupergunakan membalas dendamku kepada seorang pemuda laknat yang amat lihai dan selamanya aku tidak akan melupakan budimu.... In-kong....!"
Namun Ceng Ceng hanya dapat bangkit berdiri dengan muka pucat dan hati kecewa sekali karena selagi dia bicara tadi, laki-laki bermuka buruk itu telah berkelebat dan lenyap, meninggalkannya tanpa menjawab sedikitpun juga.
Dengan kekecewaan hebat Ceng Ceng memungut pedangnya, lalu melayang turun setelah melihat bahwa tujuh orang itu masih rebah malang melintang dengan pingsan di atas genteng.
Ketika dia memasuki rumah dan menghampiri pintu ruangan di mana Pangeran Yung Hwa dan sekeluarga Perwira Chi bersembunyi, tiba-tiba pintu itu terbuka dan Pangeran Yung Hwa muncul, memandang kepadanya dengan wajah girang sekali sambil berkata.
"Ah, syukur kepada Thian bahwa kau selamat, Nona....!"
"Haiii, jangan keluar....!"
Ceng Ceng berteriak kaget melihat Pangeran itu hendak melangkah keluar.
Seruannya terlambat, maka dia cepat meloncat seperti seekor burung walet, langsung menubruk dan merangkul tubuh Pangeran itu yang sudah melangkahkan kakinya sehingga mereka berdua terlempar kembali ke dalam ruangan, bergulingan seperti saling berpelukan!
Dengan kedua dengan masih memeluknya, Pangeran Yung Hwa membuka matanya, memandang terheran-heran.
Ketika Ceng Ceng meronta, dia melepaskan ke dua lengannya.
"Ah maaf....!"
Muka Pangeran itu menjadi merah sekali. Bersama Ceng Ceng dia bangkit berdiri, melihat dara itu mengebut-ngebutkan pakaiannya.
"Akan tetapi, mengapa Nona....?"
"Pangeran, di luar pintu itu tadi kusebarkan racun untuk menghalangi orang luar memasuki ruangan ini, dan hampir saja kau yang menjadi korban!"
Ceng Ceng mengomel, lupa bahwa dia bicara dengan seorang putera Kaisar sehingga dia seenaknya saja menyebut "kau"!
Sepasang mata yang indah dari pangeran itu terbelalak.
"Aihh.... kiranya baru saja kau kembali setelah menyelamatkan nyawaku, Nona Lu!"
Dia memandang ke atas lalu bertanya.
"Bagaimana dengan mereka?"
"Semua pingsan,"
Jawab Ceng Ceng sederhana.
"Ah, sungguh hebat! Bagaimana aku dapat membalas budimu, Nona Lu?"
Yung Hwa berkata lagi sambil menjura.
"Lihiap, bagaimana baiknya sekarang?"
Perwira Chi yang masih pucat, wajahnya itu tiba-tiba bertanya.
"Kalian semua harus cepat pergi dari sini, kalau tidak, berbahaya sekali,"
Jawab Ceng Ceng.
"Mari kalian semua ikut dengan aku!"
Yung Hwa berkata.
"Kita harus malam ini juga masuk ke istana, barulah aman."
"Akan tetapi...."
Perwira itu meragu.
"Beliau berkata benar,"
Ceng Ceng memotong.
"Memang sebaiknya kalau sekarang juga kalian semua menyelamatkan diri ke dalam istana. Kiranya tidak akan sukar bagi Pangeran Yung Hwa untuk memasuki istana."
"Akan tetapi kalau ada pencegatan di tengah jalan?"
Perwira Chi masih meragu.
"Aku akan mengawal,"
Ceng Ceng menjawab.
"Ah, budimu makin bertumpuk, Nona Lu!"
Pangeran Yung Hwa berseru terharu, akan tetapi Ceng Ceng cepat membuka pintu dan membersihkan racun dari lantai depan pintu.
"Aku tidak yakin apakah sudah bersih betul, sebaiknya kaubawa keluargamu meloncat sampai dua meter lebih dari pintu, Chi-ciangkun (Perwira Chi)!"
Ceng Ceng berkata. Perwira itu mengangguk, memondong isteri dan anak-anaknya bergantian dan membawa mereka meloncat.
"Maukah engkau membantu aku, Nona?"
Yung Hwa berkata, matanya memandang tajam penuh harapan dan penuh selidik.
Wajah Ceng Ceng menjadi merah, akan tetapi dengan sederhana dia mengangguk dan mengeluarkan tangannya.
"Kau berpeganganlah pada tanganku, Pangeran!"
Setelah mereka saling berpegang tangan, Ceng Ceng meloncat dan menarik tubuh pangeran itu ke atas bersamanya.
"Ahhh....!"
Pangeran Yung Hwa memuji dengan kagum dan agaknya dia lupa bahwa dia masih memegang tangan yang berkulit halus itu, sampai Ceng Ceng dengan halus menarik tangannya.
"Mari kita berangkat dan kalau ada pencegatan di jalan, biarkan aku meng-hadapi mereka akan tetapi lanjutkan perjalanan kalian ke istana,"
Ceng Ceng memesan dan berangkatlah mereka semua meninggalkan rumah Perwira Chi menuju ke istana.
Di sepanjang jalan, Pangeran Yung Hwa yang kelihatan tenang saja tidak seperti Perwira Chi sekeluarganya yang nampak gugup dan tegang, tiada hentinya memuji-muji kelihaian Ceng Ceng.
Tidak ada halangan sesuatu di jalan sampai mereka tiba di pintu gerbang istana yang terjaga ketat oleh sepasukan pengawal istana.
Ketika mereka melihat Pangeran Yung Hwa yang mengepalai rombongan kecil itu, tentu saja mereka mengenalnya dan cepat memberi hormat kepada pangeran yang mereka kenal sebagai seorang pangeran yang baik budi dan halus itu.
"Mereka ini adalah tamuku dan malam ini kami perlu sekali menghadap ibuku di istana,"
Kata Pangeran Yung Hwa kepada para penjaga yang tidak berani melarang.
"Kalau begitu, kita berpisah di sini,"
Kata Ceng Ceng.
"Selamat berpisah, Pangeran dan Chi-ciangkun."
"Eh, eh.... kau harus ikut dengan kami memasuki istana, Lu-siocia!"
Pangeran itu berseru.
"Harus....?"
Ceng Ceng memandang dengan sikap angkuh dan matanya seolah-olah hendak mengatakan bahwa tidak ada seorang pun manusia di dunia ini yang mengharuskannya berbuat sesuatu!
"Eh, maksudku...."
Pangeran Yung Hwa mendekati nona itu dan berbisik.
"Harap Nona mengawal kami sampai kami aman berada di tempat tinggal ibuku. Di dalam istana itu banyak kaki tangan pemberontak."
Mendengar ini, Ceng Ceng mengerutkan alisnya.
Memang kalau dia lepaskan mereka di situ kemudian mereka itu tetap saja terjatuh ke tangan musuh yang tentu menyebar anak buahnya di dalam lingkungan istana, akan sia-sialah semua pertolongannya.
"Baiklah....!"
Katanya dan wajah pangeran itu menjadi berseri, jelas bahwa dia merasa girang sekali.
Karena pangeran itu merupakan seorang tokoh istana yang amat dikenal dan disuka oleh para penjaga, maka mereka tidak menemui halangan.
Bahkan semua penjaga yang melihat pangeran ini menjadi girang sekali.
Tersiar luas bahwa Pangeran Yung Hwa melarikan diri karena kecewa tidak diperkenankan menikah dengan Puteri Bhutan, dan kini agaknya pangeran itu sudah dingin hatinya dan mau pulang, maka tentu saja para penjaga ikut merasa girang.
Agaknya biarpun di lingkungan bangunan istana itu terdapat banyak kaki tangan Liong Bin Ong, namun pangeran ini belum begitu gila untuk berani turun tangan di lingkungan istana, karena hal ini akan berbahaya sekali bagi dirinya sendiri.
Maka Pangeran Yung Hwa dan rombongannya dapat tiba di tempat ibunya dengan selamat tanpa halangan.
Ibu pangeran itu, seorang wanita setengah tua, selir Kaisar yang masih kelihatan cantik jelita, menyambut puteranya dengan cucuran air mata saking girangnya.
Pertemuan mengharukan antara ibu dan anak mendatangkan rasa haru pula di hati Ceng Ceng.
"Ah, Ibu, saya sampai lupa. Ini adalah Nona Lu Ceng, seorang pendekar wanita yang telah berkali-kali menyelamatkan nyawa puteramu."
Selir kaisar itu mengangkat muka memandang dan tersenyum ramah sambil menghapus air matanya. Ceng Ceng cepat menjura dengan hormat, lalu berkata.
"Saya tidak berani mengganggu lebih lama lagi, perkenankan saya pergi."
"Eh, nanti dulu, Nona Lu. Mana mungkin malam-malam begini membiarkan aku pergi? Kau bermalam di sini, besok pagi masih belum terlambat untuk pergi."
Pangeran itu berkata dan ibunya juga menahan sambil melangkah maju dan memegang tangan Ceng Ceng.
Dara ini merasa bingung dan sungkan, akan tetapi sikap selir kaisar yang halus dan ramah itu membuat dia tidak berani menolak lagi.
Dia lalu diantar ke sebuah kamar dan dipersilakan mengaso, dilayani oleh seorang pelayan wanita.
Juga perwira Chi dan keluarganya sudah diberi tempat untuk mengaso dan tidur, sedangkan Pangeran Yung Hwa dan ibunya bercakap-cakap sampai jauh malam.
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali Ceng Ceng sudah bangun dan mandi di dalam kamar mandi yang serba mewah dan indah.
Kemudian dia memasuki taman di samping kamarnya untuk menanti munculnya Pangeran Yung Hwa karena dia ingin segera pergi dari tempat itu.
Akan tetapi baru saja dia memasuki taman, tampak pangeran itu sudah bangkit dari sebuah bangku menyambutnya.
"Selamat pagi, Lu-siocia. Kuharap Nona dapat beristirahat dengan cukup semalam."
"Ah, terima kasih, Pangeran. Kebetulan sekali karena memang saya ingin mohon diri dari sini."
"Duduklah dulu, Nona Lu Ceng, duduklah di bangku sini. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu."
Terpaksa Ceng Ceng duduk di bangku berhadapan dengan pangeran itu karena melihat sikap pangeran itu sungguh-sungguh.
"Biarpun baru saja aku berjumpa denganmu, Nona, akan tetapi ada perasaan aneh di hatiku bahwa kita telah menjadi sahabat yang tidak perlu menyimpan rahasia lagi. Karena itu aku ingin menceri-takan kepadamu mengapa aku sebagai seorang pangeran kaudapatkan bersembunyi di dalam rumah perwira Chi dan mengapa pula ada usaha-usaha dari luar untuk menangkap atau membunuh aku."
Ceng Ceng selanjutnya tidak ingin mencampuri urusan pangeran itu, juga tidak ingin mendengarkan ceritanya, akan tetapi mengingat akan sikap halus ibu pangeran ini dan akan keramahan Si Pangeran sendiri, juga karena dia merasa kagum dan tertarik kepada pangeran yang tampan dan halus bersikap sederhana, tidak angkuh seperti biasanya kaum bangsawan, merasa tidak tega untuk menolak dan dia hanya mengangguk.
"Mula-mula adalah kesalahanku sendiri. Aku tergila-gila kepada Syanti Dewi, Puteri Bhutan.... eh, kau kenapa?"
Pangeran yang sambil bercerita selalu menatap wajah Ceng Ceng melihat betapa tiba-tiba dara itu membelalakkan matanya dan wajah yang tadinya diam dan dingin itu seperti mengeluarkan cahaya dan kedua pipinya kemerahan.
Namun Ceng Ceng segera dapat menguasai hatinya yang tadi terkejut mendengar pangeran itu terang-terangan menyatakan tergila-gila kepada kakak angkatnya, Syanti Dewi.
"Tidak apa-apa, lanjutkanlah...."
Jawabnya.
"Akan tetapi ayahku, Sri Baginda Kaisar menolak permintaanku untuk dilamarkan puteri itu, bahkan menjodohkan puteri Bhutan itu dengan Paman Pangeran Liong Khi Ong yang sudah setengah abad usianya demi politik. Hatiku sakit dan aku lalu lolos dari istana, melarikan diri. Sikapku membikin marah Paman Pangeran Liong Khi Ong dan Liong Bin Ong, aku dikejar-kejar dan nyaris tewas. Aku dilindungi dan disembunyikan oleh pamanku, saudara ibuku di luar kota raja dan di situ aku mendengar akan rencana pemberontakan yang diatur oleh kedua orang paman Pangeran Liong itu. Bahkan pencegatan rombongan Puteri Syanti Dewi yang diboyong itu pun kabarnya dilakukan oleh sekutu para pemberontak. Maka aku lalu kembali ke Istana, akan tetapi di tengah jalan aku terlihat oleh kaki tangan pemberontak dan tentu aku sekarang telah tewas kalau tidak ada engkau yang muncul dan menyelamatkan nyawaku, Nona Lu Ceng!"
"Sudahlah, Pangeran. Hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Kakek adalah seorang bekas pengawal dahulu, maka sudah sepatutnya kalau aku melindungi seorang pangeran yang terancam bahaya oleh orang-orang jahat yang memberontak. Sekarang ijinkan aku memohon diri untuk melanjutkan perjalananku."
Ceng Ceng bangkit berdiri.
"Engkau hendak ke manakah, Nona Lu?"
Ceng Ceng termenung.
Dia sendiri tidak tahu akan pergi ke mana.
Akan tetapi segera terbayang olehnya pemuda tingi besar yang memperkosanya, pemuda laknat yang menjadi musuh besarnya.
"Aku.... aku mencari seseorang...."
"Keluargamu?"
"Bukan...."
"Sahabatmu....?"
"Bukan!"
"Habis siapa dia? Biar aku akan membantumu dan menyuruh para pengawal mencarinya." (Lanjut ke
Jilid 26) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26
"Terima kasih, Pangeran. Ini urusan pribadi. Aku akan pergi sekarang...."
Ceng Ceng sudah melangkah hendak pergi, akan tetapi pangeran itu bangkit berdiri dan berkata.
"Nanti dulu, Nona Lu!"
Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan membalikkan tubuhnya, memandang penuh selidik.
"Ada urusan apa lagi?"
"Tadi sudah kukatakan bahwa ada sesuatu yang akan kusampaikan kepadamu."
"Engkau sudah menceritakan semua."
"Bukan.... bukan itu.... akan tetapi, ahh, maafkan aku karena engkau begitu tergesa hendak pergi, terpaksa aku terus terang saja. Nona Lu Ceng, aku.... begitu bertemu denganmu.... aku.... aku cinta padamu, Nona!"
Ceng Ceng benar-benar terkejut bukan main, matanya terbelalak memandang dengan mulutnya agak terbuka karena dia sama sekali tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari mulut pangeran yang amat tampan itu!
"Maaf, Nona.
Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini.
Aku bahkan telah membicarakan dengan ibu, dan beliau sudah setuju.
Nona Lu, aku cinta padamu dan kalau Nona setuju, aku ingin meminangmu sebagai isteriku...."
"Ahhh....!"
Ceng Ceng menundukkan mukanya yang tiba-tiba menjadi merah sekali.
Selama hidupnya, baru satu kali ini ada pria mengaku cinta secara demikian terang-terangan, bahkan sekaligus melamarnya sebagai isterinya.
"Maafkan, Nona Lu Ceng. Memang ini tidak semestinya, memang sepatutnya aku mengajukan pelamaran kepada orang tuamu, akan tetapi karena aku tidak tahu di mana kau tinggal, siapa orang tuamu, dan karena kau begitu tergesa-gesa hendak pergi, aku takut kalau-kalau kita tidak akan saling bertemu kembali, maka aku memberanikan diri...."
Tiba-tiba Lu Ceng menangis terisak-isak menutupi mukanya dan dia menjatuhkan diri duduk di atas bangku.
Disebutnya orang tuanya oleh pangeran itu membuat hatinya seperti ditusuk, mengingatkan dia akan semua nasibnya dan betapa tidak ada orang tua maupun kakeknya yang dapat dia sandari, yang dapat menghiburnya.
"Ahh, ampunkan aku, Nona Lu. Agaknya aku telah melukai hatimu.... akan tetapi percayalah, aku tidak bermaksud menghinamu.... semua pernyataanku keluar dari hatiku yang murni...."
Ceng Ceng mengusap air matanya, lalu memandang.
Dilihatnya pangeran itu telah menjatuhkan diri berlutut di depannya!
Seorang pangeran putera kaisar, telah berlutut di depannya!
Berlutut kepadanya!
Dara ini terlalu muda untuk mengerti bahwa cinta asmara memang dapat membuat seorang pria melakukan apa saja sehingga kalau seorang pangeran sampai berlutut di depan dara yang di-cintanya, hal itu sama sekali tidaklah aneh!
Maka dia segera meloncat berdiri dan membalikkan tubuhnya.
"Pangeran, harap jangan berlutut!"
Pangeran Yung Hwa bangkit berdiri dan wajahnya berseri.
"Engkau tidak marah kepadaku?"
Ceng Ceng kembali menghadapi pangeran itu, kini memandang dengan sinar mata penuh selidik karena masih sukar baginya untuk dapat percaya bahwa pangeran yang amat tampan ini, putera kaisar, benar-benar jatuh cinta padanya dan meminangnya untuk menjadi isterinya!
"Tidak, aku tidak marah, hanya aku merasa heran sekali, Pangeran."
"Heran? Ha-ha-ha, Nona Lu! Seorang dara seperti engkau ini, biar dewa sekalipun pantas untuk jatuh cinta, apalagi hanya seorang pangeran puteri selir macam aku!"
Ucapan ini benar-benar mengelus rasa hati Ceng Ceng, mengangkat harga dirinya setinggi langit.
"Pangeran Yung Hwa, apakah engkau sudah lupa lagi kepada Puteri Syanti Dewi yang kau katakan sendiri telah membuat engkau tergila-gila tadi?"
"Ah, dia? Aku telah insyaf setelah aku melarikan diri keluar dari istana, Nona. Aku hanya tergila-gila kepada bayangan, kepada gambaran belaka. Selamanya aku belum pernah bertemu dengan Syanti Dewi, hanya tergila-gila mendengar berita orang tentang kecantikannya, tentang kebaikannya. Akan tetapi engkau.... engkau adalah seorang dara dari darah daging, yang hidup, bukan bayangan mati. Dan setelah aku berjumpa denganmu, tidak ada lagi bayangan Syanti Dewi di dalam hatiku, yang ada hanya engkau, Nona."
Makin nyaman rasa hati Ceng Ceng mendengarkan semua kata-kata itu.
Dia seperti merasa dalam mimpi yang amat indah dan dia memejamkan matanya karena hampir tidak percaya bahwa ini mimpi.
Pangeran yang tampan dan halus itu, yang di balik kehalusan dan kelemahannya memiliki keberanian dan kegagahan luar biasa pula ketika menghadapi bahaya, telah jatuh cinta padanya, meminangnya sebagai isteri!
Tubuhnya gemetar semua ketika tahu-tahu dia merasa ada dua lengan yang memeluknya.
Dari balik bulu matanya, dia melihat bahwa Pangeran Yung Hwa telah merangkulnya dengan mesra, betapa dekat muka yang halus tampan itu, yang kini menjadi kemerahan dan mata yang indah itu memandang kepadanya penuh cinta kasih mesra, membuat Ceng Ceng hampir pingsan!
Ketika merasa betapa napas yang panas dari hidung pangeran itu meniup pipinya, dia mengelak sedikit dan berbisik.
"Akan tetapi, Pangeran.... aku.... aku hanya seorang gadis perantau...."
Ceng Ceng tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini pangeran itu telah mempererat dekapannya dan telah mencium pipinya dengan hidung sambil membisikkan kata-kata indah di dekat telinganya.
"Ceng-moi.... bagiku engkau adalah seorang bidadari.... engkau mulia seperti Kwan Im Pouwsat sendiri.... engkau gagah perkasa seperti pendekar wanita Hoan Lee Hwa (dalam cerita Sie Jin Kwi) dan aku.... aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku, Moi-moi...."
"Ahhh.... tapi.... tapi aku...."
Kembali Ceng Ceng tak mampu melanjutkan karena kini bibir pangeran itu telah menutup mulutnya dengan ciuman yang hangat dan mesra, yang dilakukan dengan penuh getaran batinnya.
Sejenak Ceng Ceng terlena seperti pingsan dalam pelukan pangeran itu, menerima ciuman yang melupakan segala hal itu.
Tiba-tiba terbayang wajah pemuda laknat dan teringatlah dia akan keadaan dirinya.
Dia meronta dan pangeran itu berseru kaget, tentu saja pelukannya terlepas dan dia tidak mampu menahan gerakan Ceng Ceng yang meronta tadi.
Wajah Ceng Ceng pucat sekali, matanya menjadi liar.
"Tidak....! Tidak....! Tidak....!"
Gadis itu setengah menjerit.
"Aih, Moi-moi.... kekasihku.... ada apakah....?"
Pangeran itu berseru kaget dan melangkah dekat, akan tetapi Ceng Ceng melangkah mundur menjauhi.
"Jangan sentuh aku! Jangan....!"
Jeritnya.
"Aduh, Ceng-moi, kenapakah? Apakah salahku? Aku cinta padamu...."
"Tidak boleh begitu!"
"Mengapa? Terasa olehku betapa engkau pun membalas cintaku, Ceng-moi. Kenapa tidak boleh?"
Sepasang mata itu kembali mencucurkan air mata karena dia teringat kembali akan keadaan dirinya yang telah ternoda, yang telah diperkosa oleh Si Pemuda Laknat.
Akan tetapi betapa mungkin dia menceritakan hal itu kepada orang lain, apalagi kepada pangeran ini?
Lebih baik mati!
"Pangeran, ketahuilah bahwa Enci Syanti Dewi adalah kakak angkatku.
Karena itu, engkau tidak boleh cinta padaku.
Nah, selamat tinggal!"
Dengan isak tertahan Ceng Ceng meloncat ke atas genteng dan melarikan diri.
"Ceng-moi....!"
Pangeran itu berseru memanggil, namun Ceng Ceng tidak mau menoleh lagi, bahkan mempercepat loncatannya sehingga sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Pangeran Yung Hwa yang menjadi bengong dan pucat, sinar matanya layu kehilangan gairah hidup.
Air mata masih mengalir perlahan di kedua pipi Ceng Ceng ketika dara ini berjalan perlahan keluar dari pintu gerbang sebelah selatan kota raja.
Hatinya diliputi bermacam perasaan.
Terharu mengingat akan cinta kasih Pangeran Yung Hwa yang dia percaya sungguh-sungguh mencintanya, kecewa bahwa dia terpaksa tidak dapat menyambut cinta kasih pangeran itu, dan keadaan ini selain mendatangkan duka, juga menambah sakit hatinya terhadap Si Pemuda Laknat karena pemuda itulah yang menjadi biang keladi semua kedukaan dan kesengsaraan hatinya.
Sungguhpun dia sendiri belum tahu apakah dia juga mencinta pangeran itu, namun kalau tidak terjadi malapetaka menimpa dirinya, Agaknya tidak akan sukar bagi dara manapun juga untuk membalas cinta kasih seorang pria seperti Pangeran Yung Hwa itu.
Hatinya menjadi panas dan murung mengingat pemuda tinggi besar, Si Laknat yang dicarinya itu.
Ke mana dia harus mencari?
Inilah yang membuat dia murung dan kesal karena dia tidak tahu di mana adanya musuh besar yang diburunya itu.
Dengan langkah gontai tanpa tujuan tertentu dan pikiran melayang-layang, tanpa disadarinya lagi Ceng Ceng telah melakukan perjalanan sehari penuh tanpa berhenti.
Hari telah menjelang malam, senja yang cepat gelap karena langit tertutup awan.
Ceng Ceng tiba di luar dusun sebelah selatan kota raja di mana terdapat sebuah sungai, yaitu Sungai Yung-ting.
Seperti orang kehilangan se-mangat, tubuhnya lemas karena sehari penuh tidak makan atau minum, Ceng Ceng naik ke atas jembatan yang menyeberang sungai itu.
Dalam cuaca yang remang-remang, dia melihat sebuah benda di pinggir jembatan itu, dan ketika dia mendekat, ternyata benda itu adalah sebuah pot bunga.
Benda yang tidak semestinya berada di jembatan, dan hal ini menarik perhatiannya, membuat dia berhenti dan mengamati pot bunga itu dengan heran.
Tidak ada seorang pun manusia di jembatan itu, hanya dia seorang diri.
Terasa aneh sekali berada di jembatan besar itu seorang diri, seperti tergantung di angkasa, dan pot bunga itu menambah keanehan suasana yang dirasakannya.
Pot bunga itu terbuat dari besi tebal, tentu berat sekali, apalagi ditambah beratnya tanah di dalamnya.
Hal ini menandakan bahwa orang yang membawanya ke tempat ini tentu seorang yang memiliki tenaga besar.
Akan tetapi tidak tampak seorang pun manusia di situ.
"Hei, Nona cilik! Mau apa engkau longak-longok di situ? Lekas pergi kalau tidak ingin mampus menjadi setan air!"
Suara ini terdengar dari kolong jembatan, seperti suara setan karena tidak kelihatan bayangan orang.
Kalau saja bukan Ceng Ceng, seorang laki-laki pun tentu akan takut mendengar suara kasar itu dan tentu akan lari terbirit-birit, menyangka bahwa yang bersuara mengancam itu tentulah setan sungai atau setan jembatan.
Akan tetapi Ceng Ceng adalah seorang gadis yang pemberani, apalagi setelah dia pernah hidup di neraka bawah tanah bersama subonya, Ban-tok Mo-li Ciang Si (Iblis Betina Selaksa Racun), tidak sesuatu pun di dunia ini yang ditakutinya.
Pada saat itu, hatinya sedang mengkal dan kesal, maka begitu mendengar suara itu, mendadak saja darahnya naik dan dia menjadi marah sekali.
Ditendangnya pot bunga itu dengan kaki kanannya sambil mengerahkan sin-kang tentunya karena dia tahu bahwa pot besi itu amat berat.
Pot besi itu terlempar keluar jembatan!
Akan tetapi, Ceng Ceng tidak mendengar suara benda itu terjatuh ke air, seolah-olah benda itu lenyap di tengah udara begitu saja.
Selagi dia termangu-mangu dan dengan heran menjenguk dari jembatan sambil berusaha menembus kegelapan di bawah dengan matanya, tiba-tiba terdengar suara suitan orang dan tampaklah berkelipnya lampu dari tepi sungai.
Penerangan seperti kunang-kunang ini bergerak ke tengah sungai dan di dalam cuaca remang-remang itu tampaklah sebuah perahu.
Kembali terdengar suara orang, suara yang kasar tadi, akan tetapi kini suara itu terdengar halus penuh hormat!
"Kami mempersilakan Li-hiap untuk menerima penyambutan kami dan meloncat ke perahu."
Tentu saja Ceng Ceng tidak sudi memenuhi permintaan ini.
Biarpun dia tidak takut, akan tetapi dia tidaklah sebodoh itu, mau saja dijebak orang yang tidak dikenalnya.
"Huhh!"
Dia mendengus dan hendak pergi melanjutkan perjalanannya.
Akan tetapi kakinya berhenti bergerak lagi ketika mendengar suara orang tadi, kini penuh ejekan sungguhpun masih tetap menghormat.
"Apakah kami telah keliru? Apakah seorang calon beng-cu (pemimpin rakyat) mengenal rasa takut? Apa sih bahayanya meloncat dari jembatan ke perahu jika memiliki kepandaian tinggi? Harap Lihiap tidak menduga yang bukan-bukan! Kami sengaja menyambut Lihiap dan maafkan kelancangan kami tadi karena kami tidak menyangka bahwa calon beng-cu yang ditunggu-tunggu dari selatan adalah seorang wanita muda!"
Bergolak darah di tubuh Ceng Ceng ketika dia dikira takut tadi.
Kemudian dia tertarik mendengar kata-kata selanjutnya.
Mengertilah dia bahwa dia disangka orang lain dan pot bunga itu merupakan semacam tanda rahasia bagi orang yang diundang dan penyambutan undangan kiranya adalah dengan menendang pot bunga itu!
Secara tidak disengaja dia telah menyambut undangan mereka!
Siapa tahu, pemuda laknat itu berada bersama dengan mereka!
Agaknya mereka itu adalah kaum sesat seperti pernah dia mendengar cerita kakeknya, golongan hitam atau kaum sesat yang sedang mengadakan pemilihan pimpinan atau beng-cu dan dia dianggap seorang calon beng-cu.
Pemuda laknat itu sudah pasti merupakan seorang tokoh kaum sesat pula, maka sangat boleh jadi dia akan menjumpainya di tempat orang-orang ini.
Teringat akan kemungkinan besar ini, tanpa meragu lagi dia lalu mengayun tubuhnya meloncat ke bawah, ke atas perahu yang menjemputnya!
Biarpun dalam hal ilmu silat mungkin kepandaian Ceng Ceng belum termasuk hitungan, namun gadis ini memiliki gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang cukup baik, maka ketika meloncat dan hinggap di perahu tidak menimbulkan banyak guncangan.
Dua orang laki-laki tinggi besar menyambutnya di perahu dengan sikap menghormat.
"Selamat datang, Lihiap. Terpaksa kami menyambut secara begini karena pasukan pemerintah kini sering kali melakukan perondaan dengan ketat. Silakan Lihiap mengaso di dalam perahu. Kami terpaksa menyamar sebagai nelayan-nelayan biasa."
Ceng Ceng adalah seorang dara yang memiliki kecerdasan.
Dia sudah yakin sekarang bahwa dua orang ini keliru menyambut orang yang diharapkan kedatangannya, orang yang dianggap sebagai seorang calon beng-cu.
Maka dia pun tidak banyak cakap karena dia ingin melihat ke mana dia akan dibawa dan mungkin sekali di tempat itu dia akan bertemu dengan musuh besar yang dicari-carinya itu.
Akan tetapi untuk mengetahui lebih banyak, dia menegur setengah bertanya, berdasarkan kata-kata seorang di antara mereka tadi setelah dia duduk dan perahu digerakkan dengan cepat.
"Bagai-mana kalian sampai tidak menyangka? Apakah kalian tidak memperoleh keterangan cukup tentang orang yang harus kalian sambut?"
Seorang di antara mereka menggunakan dayung mendayung perahu yang meluncur cepat sekali sehingga diam-diam Ceng Ceng merasa ngeri, teringat dia akan pengalaman pahitnya dahulu ketika dia bersama Syanti Dewi dihanyutkan perahu sehingga akhirnya perahu bertumbukan dan dia bersama Syanti Dewi tenggelam dan hanyut sehingga terpisah sampai sekarang.
Semenjak itu, dia merasa ngeri kalau mengingatnya dan seka-rang dia naik sebuah perahu yang didayung cepat sekali, maka tentu saja hatinya menjadi tegang dan khawatir, namun tidak ada perubahan pada wajahnya.
Orang ke dua segera menjawab, sikapnya tetap menghormat, dan agaknya dia memang suka bicara maka dia bercerita banyak sehingga menyenangkan hati Ceng Ceng yang memang hendak memancing keterangan dari orang lain.
"Maaf, Lihiap. Memang kami telah memperoleh keterangan dari Pangcu, akan tetapi kami semua anggauta Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi) tidak ada yang pernah bertemu dengan kelima orang Loan-ngo Mo-li (Lima Iblis Betina dari Sungai Loan), hanya mendengar bahwa Lihiap berlima adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan Lihiap sendiri sebagai orang pertama dari Loan-ngo Mo-li diundang oleh Pangcu kami untuk memasuki sayembara perebutan kedudukan beng-cu. Tentu saja kami mengira bahwa Loan-ngo Mo-li adalah lima orang wanita yang tidak semuda Lihiap, apalagi Lihiap sebagai orang pertama...."
Orang laki-laki tinggi besar itu tidak berani melanjutkan kata-katanya ketika melihat Ceng Ceng memandang seperti orang marah.
Memang dara ini menjadi marah ketika dia disangka orang pertama dari Lima Iblis Betina!
Akan tetapi karena dia tahu itu, maka dia menekan kemarahannya, hanya melangkah ke tengah perahu di mana terdapat bilik bambu sambil berkata.
"Sudahlah, aku hendak mengaso!"
Di dalam bilik perahu itu, Ceng Ceng memutar otaknya.
Jelas bahwa dia telah melibatkan diri dalam urusan kaum sesat yang berbahaya!
Akan tetapi ketika teringat kemungkinan untuk menemukan jejak musuh besarnya, atau setidaknya dia akan dapat bertanya-tanya kepada kaum sesat yang tentu mengenal orang itu, hatinya lega dan dia dapat tidur nyenyak di dalam bilik perahu yang sempit itu.
Pada keesokan harinya, dia terbangun oleh cahaya matahari yang menembus celah-celah bilik.
Dia membuka jendela bilik kecil dan menggunakan tangannya mengambil air untuk mencuci muka dan tangannya, kemudian dia keluar dari bilik.
Dua orang laki-laki yang sedang mendayung perahu, mengangkat muka dan jelas kelihatan betapa mereka tercengang dan memandang kagum.
Mereka sudah terheran-heran melihat betapa orang yang mereka jemput adalah seorang wanita muda, dan kini mereka menjadi makin heran dan kagum sekali melihat wajah dara, yang demikian cantik jelita, wajah yang bersinar kemerahan ditimpa matahari pagi sehabis digosok-gosok ketika mencuci muka tadi.
Di lain pihak, Ceng Ceng merasa tak senang dipandang seperti itu, apalagi yang memandangnya adalah dua orang laki-laki tinggi besar yang kini kelihatan berwajah kejam, kasar dan kurang ajar!
"Kalian memandang apa?"
Bentaknya marah.
Suaranya melengking tinggi meng-getarkan dan dua orang itu cepat-cepat menundukkan mukanya.
Seorang di antara mereka, yang kumisnya tebal sekali, berkata.
"Maaf, Lihiap. Kami hanya mempunyai bekal roti kering dan arak kasar, kalau Lihiap suka...."
"Aku lapar! Aku ingin makan daging ikan."
"Akan tetapi.... kami tidak membawa pancing atau jala...."
"Bodoh! Biar aku yang menangkap ikan, kalian yang memanggangnya nanti!"
Ceng Ceng lalu duduk di pinggir perahu.
"Bawa perahu ke pinggir, di bawah pohon sana tentu banyak ikannya."
Dua orang itu tidak membantah dan benar saja, di bawah pohon yang rindang itu terdapat banyak ikan lee-hi atau semacam itu.
Ceng Ceng memasukkan tangan kirinya ke dalam air di dekat perahu, digoyang-goyang perlahan sehingga menarik beberapa ekor ikan besar.
Setelah ikan-ikan itu dekat, Ceng Ceng mengerahkan sin-kangnya sehingga hawa beracun di dalam tubuhnya berkumpul di tangan, getaran-getaran hebat terjadi dan dua ekor ikan yang terdekat terkena hawa beracun tangannya, menjadi mabok dan diam saja ketika ditangkap oleh gadis ini!
Ceng Ceng melemparkan dua ekor ikan itu ke dalam perahu sambil berkata.
"Nah, kalian panggang ikan-ikan ini! Seekor untukku!"
Setelah berkata demikian, dia meninggalkan mereka dan duduk di kepala perahu yang sudah dijalankan lagi oleh seorang di antara mereka sedangkan orang yang berkumis tebal sudah sibuk dengan ikan-ikan tadi.
Mereka tadi terkejut dan melongo, dan kini mereka yakin akan kelihaian gadis cantik ini!
Ceng Ceng memang sengaja memperlihatkan kepandaiannya, kepandaian yang tidak dimengerti oleh dua orang itu, yang mengira bahwa gadis itu menggunakan ilmu aneh untuk menangkap ikan.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di hadapan mereka adalah seorang gadis beracun yang amat berbahaya, murid tunggal dan pewaris tunggal dari Ban-tok Mo-li yang belum ada tandingannya dalam hal ilmu tentang racun!
Hari telah siang ketika perahu itu menyentuh tepi sungai di sebuah lembah yang penuh dengan batu-batu besar dan pohon-pohon liar.
Ketika Ceng Ceng bersama dua orang laki-laki itu meloncat ke darat dari perahu, dia melihat banyak orang di lembah itu.
Dia bersikap hati-hati dan waspada, maklum bahwa dia berada di antara kaum sesat yang agaknya telah berkumpul di tempat ini untuk mengadakan pemilihan seorang beng-cu, yaitu orang yang dianggap patut untuk memimpin mereka semua.
Memang dugaannya ini, berdasarkan cerita Si Kumis Tebal, adalah benar.
Hari itu, semua tokoh kaum sesat yang tinggal di sekitar kota raja berkumpul di lembah itu atas undangan penyelenggara pertemuan itu, yaitu perkumpulan Tiat-ciang-pang.
Perkumpulan ini merupakan perkumpulan kaum sesat yang paling besar dan paling terkenal di sekitar daerah kota raja, karena para anggautanya adalah golongan perampok dan pencopet!
Mereka ini menganggap diri mereka sebagai golongan sesat yang lebih "terhormat"
Dan lebih tinggi daripada tingkat golongan sesat yang lain.
Terutama sekali terhadap golongan pencuri, Tiat-ciang-pang memandang rendah.
Bagi mereka, pekerjaan kaum pencuri adalah kotor dan bersifat pengecut.
Pencuri mengambili barang orang yang sedang tidur, sedang tidak berdaya dan pekerjaan ini dianggap kotor dan hina oleh kaum pencopet dan perampok yang bergabung dalam perkumpulan Tiat-ciang-pang!
Berbeda dengan mereka, demikian pendapat mereka.
Mereka adalah para pencopet dan perampok, yang mengambil atau merampas barang orang yang sadar, yang dapat berjaga diri yang dapat melawan.
Pekerjaan mereka lebih menunjukkan kejantanan!
Memang demikianlah sifat kita manusia pada umumnya.
Kita amat kritis terhadap orang lain karena dalam memandang orang lain, mata kita selalu mencari cacat-cacatnya dalam segala perbuatan orang lain.
Kita amat pandai untuk menunjukkan kesalahan orang lain dan dalam menilai orang lain, kita biasanya membutakan mata terhadap kebaikannya akan tetapi menonjolkan cacat-cacatnya!
Kita tidak pernah memandang seperti itu kepada diri sendiri.
Sebaiknya, kita membutakan mata terhadap cacat-cacat kita dan menonjolkan kebaikan kita.
Kalau toh kita terpaksa melihat kesalahan kita, kita akan selalu siap membela diri, siap mencarikan alasan untuk membela kesalahan kita itu agar tidak menjadi kesalahan lagi!
Senjata kita untuk itu selalu adalah pembelaan diri, bahwa kita melakukan suatu hal yang tidak baik karena terpaksa dan sebagainya.
Kita semua pada hakekatnya ingin baik, ingin menjadi baik, ingin menjadi budiman, ingin menjadi orang yang bajik.
Akan tetapi betapa mungkin hal ini terjadi?
Dalam keadaan diri kotor ingin tampak bersih, hal ini sama sekali tidak mungkin.
Segala usaha palsu akan dilaksanakan untuk menutupi kekotorannya itu agar kelihatan bersih.
Akan tetapi, ditutupi dengan apa pun, tentu saja akan tetap tinggal kotor!
Yang penting bukanlah keinginan untuk bersih, melainkan kesadaran akan kekotoran dirinya!
Kesadaran ini timbul dari pengertian, dari pengertian ini datang bersama pengenalan diri sendiri.
Kesadaran dan pengertian akan melenyapkan kekotoran itu dan dengan lenyapnya kekotoran, hilang pula keinginan untuk bersih.
Pengertian timbul pada kewaspadaan saat ini, pengertian adalah saat demi saat yang mendatang-kan tindakan seketika.
Pengertian yang disimpan menjadilah pengetahuan yang mati, seperti semua pengetahuan yang hanya menjadi barang lapuk di dalam gudang ingatan.
Pengertian dari kewaspadaan adalah kesadaran akan segala sesuatu di luar dan di dalam diri kita setiap saat!
Bukan aku yang mengerti, bukan aku yang waspada, bukan aku yang sadar!
Begitu ada aku di situ terdapat penilaian, perbandingan dan pemilihan, si aku menimbulkan pengejaran akan kesenangan dan penolakan akan yang tidak menyenangkan.
Maka segala perbuatan akan bersumber kepada si aku, maka jauh dari kebenaran.
Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi) yang merasa diri sebagai perkumpulan "orang-orang gagah"
Itu memiliki anggauta kurang lebih seratus orang banyaknya, semua terdiri dari pencopet dan perampok yang rata-rata memiliki kepandaian cukup hebat.
Ketuanya adalah seorang perampok tunggal yang memiliki kepandaian tinggi, terutama sekali ilmunya yang dinamakan Tiat-ciang-kang (Ilmu Tenaga Tangan Besi) yang membuat kedua tangannya seperti besi kerasnya, dapat dipergunakan sebagai senjata, bahkan menghadapi lawan yang tidak terlalu kuat, kedua tangan ketua ini dapat dipergunakan untuk menangkis senjata tajam!
Ketua Tiat-ciang-pang ini berjuluk Tiat-ciang (Si Tangan Besi) dan bernama Tong Hoat.
Lembah Sungai Yung Ting itu menjadi pusat berkumpulnya para anggauta Tiat-ciang-pang dan setelah masuk menjadi anggauta perkumpulan ini, para pencopet dan perampok yang telah memiliki kepandaian itu diperkenankan untuk melatih diri dengan Ilmu Tangan Besi.
Tentu saja tidak mudah memiliki ilmu ini secara sempurna karena latihan-latihannya yang amat berat dan sebagian besar yang melatih ilmu ini tidak kuat, atau yang dapat berhasil pun hanya sekedar dapat membuat lengan mereka lebih kuat dan keras dari biasanya.
Tidak ada yang berhasil mencapai tingkat seperti yang dimiliki oleh ketua mereka, Tiat-ciang Tong Hoat sendiri.
Mungkin karena merasa bahwa mereka adalah kaum sesat yang "terhormat"
Dan "gagah", maka timbullah semacam keangkuhan di dalam hati Tong Hoat, ketua perkumpulan itu, sehingga mereka memiliki pegangan atau pendirian sebagai orang-orang "gagah"
Yang tidak mau tunduk kepada golongan pemberontak yang membujuk mereka untuk bersekutu!
Karena ada pertentangan dan perpecahan di antara kaum sesat itulah, gara-gara bujukan pihak pemberontakan yang berusaha untuk merangkul mereka, maka hari ini diadakan pertemuan yang dipelopori oleh Tiat-ciang-pang, untuk mengadakan pemilihan beng-cu.
Selain untuk memperlihatkan kekuatannya, juga Tiat-ciang-pang ingin menyatukan golongan sesat dan membersihkan golongan ini dari pengaruh pemberonta-kan dengan jalan memilih seorang beng-cu.
Tong Hoat sendiri maklum bahwa di antara golongan kaum sesat ini, terdapat banyak orang pandai.
Karena merasa bahwa belum tentu dia seorang diri dapat menangkan kedudukan beng-cu ini, maka dia teringat kepada seorang tokoh yang dia tahu amat tinggi kepandaiannya, yaitu orang pertama dari Loan-ngo Mo-li atau Lima Iblis Betina Sungai Loan.
Dia mengundang Song Lan Ci, demikian nama wanita lihai itu, dan karena pada waktu itu terdapat banyak mata-mata, baik dari pihak pemerintah maupun dari pihak pemberontak, maka dia menyuruh dua orang kepercayaannya menyambut dengan tanda-tanda rahasia seperti yang telah dia janjikan dengan Song Lan Ci.
Kehadiran wanita lihai ini adalah untuk memperkuat kedudukannya, atau kalau perlu, daripada kedudukan beng-cu jatuh ke tangan orang yang memihak pemberontak, lebih baik jatuh ke tangan tokoh wanita ini.
Dan dia merasa yakin bahwa Song Lan Ci akan suka membantunya, mengingat bahwa di antara dia dan wanita itu terdapat hubungan yang cukup erat!
Pernah dua tahun yang lalu, secara kebetulan dia bertemu dengan Sing Lan Ci yang sedang dikepung oleh musuh-musuhnya, dikeroyok banyak orang dan berada dalam keadaan terdesak.
Melihat seorang wanita cantik dan gagah perkasa dikeroyok banyak orang laki-laki, Tong Hoat segera maju membantu sehingga para pengeroyok dapat dipukul mundur dan terjalinlah perkenalan dan persahabatan di antara mereka.
Ceng Ceng mengikuti dua orang penjemputnya itu untuk menghadap Ketua Tiat-ciang-pang.
Ketika berjalan menuju ke sebuah pondok yang agak jauh dari tempat perhentian perahu, mereka berjalan melewati banyak sekali orang-orang golongan sesat yang sedang menanti di sekitar tempat itu.
Ceng Ceng mencari-cari dengan matanya kalau-kalau musuh besarnya berada di antara mereka itu.
Akan tetapi dia tidak melihat munculnya, dan agaknya akan aneh sekali kalau musuh besarnya itu, seorang pemuda tinggi besar yang tampan dan gagah, berada di antara orang-orang ini.
Orang-orang yang jorok dan menimbulkan kengerian di hatinya.
Ada di antara mereka yang sedang bermain kartu dan bertaruhan besar sehingga tempat itu menjadi bising dengan suara mereka.
Itu adalah golongan para penjudi yang hidupnya hanya diisi dengan kegemaran ini, berjudi dan mempertaruhkan segala miliknya.
Ada pula yang sedang minum arak sambil tertawa-tawa dan mereka ini semua sudah mabok atau setengah mabok.
Inilah golongan pemabok yang hidupnya hanya mengejar kesenangan dibuai alam khayal ketika mabok.
Golongan lain yang memisahkan diri mereka agak aneh.
Mereka ini terdiri dari orang-orang yang sebagian besar sudah tua dan tubuh mereka kurus, muka pucat.
Mereka ini berkelompok dan kelihatan tenang-tenang saja, akan tetapi di antara mereka itu tampak asap bergulung-gulung ke atas seolah-olah di tempat itu terjadi kebakaran kecil.
Ceng Ceng mendengus dan cuping hidungnya bergerak-gerak ketika dia mencium bau yang memuakkan.
Tahulah dia bahwa kelompok ini adalah golongan pecandu madat dan penggemar asap beracun semacam ini.
Hidup mereka tidak ada bedanya dengan golongan-golongan lain, mengejar kesenangan membiarkan dirinya diayun di angkasa oleh asap madat!
Ada pula golongan lain yang pakaiannya mewah dan pesolek, sikap mereka genit dan ketika Ceng Ceng lewat, mereka itu tersenyum-senyum, bersuit, dan ada pula yang mengeluarkan kata-kata cabul sungguhpun mereka tidak langsung menujukan kata-kata itu kepada Ceng Ceng.
Inilah golongan hidung belang yang kerjanya setiap hari hanya memikirkan kecabulan dan mengejar-ngejar wanita cantik.
Lengkaplah semua golongan sesat berada di tempat itu.
Maling, pencopet, perampok, pemadat, pemabok, hidung belang, penjudi, semua berkumpul di situ dan merasa betah karena seperti berada di antara keluarga sendiri!
Ceng Ceng merasa ngeri seolah-olah dia telah memasuki suatu masyarakat yang aneh dan asing baginya.
Pintu pondok terbuka dari dalam ketika diketok oleh dua orang penjemput itu.
Mereka masuk melewati beberapa orang pengawal yang memandang tajam, kemudian memasuki sebuah ruangan di mana duduk seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih dan sikapnya masih gagah.
Di depannya duduk pula empat orang laki-laki lain yang agaknya menjadi tamunya.
Ketika dua orang pembantu Ketua Tiat-ciang-pang itu melaporkan bahwa orang yang dijemput telah tiba, dan laki-laki itu memandang Ceng Ceng, dia mengerutkan alisnya.
Kemudian mempersilakan empat orang sekutunya itu keluar, juga dua orang pembantunya yang menjemput Ceng Ceng disuruhnya keluar.
Setelah mereka berada berdua saja di ruangan itu, laki-laki yang bukan lain adalah Tiat-ciang-pangcu Tong Hoat itu, bangkit berdiri dan menjura ke arah Ceng Ceng.
Ceng Ceng memandang tajam, melihat bahwa setelah berdiri, laki-laki itu bertubuh agak pendek dan gendut, namun sikapnya gagah dan berwibawa.
"Silakan duduk, Nona. Bagaimana kabarnya dengan Loan-ngo Mo-li, terutama sekali dengan Nona Song Lan Ci?"
Tong Hoat bertanya dengan ramah. Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mengenal siapa adanya Loan-ngo Mo-li atau Song Lan Ci sekalipun."
Mendengar jawaban ini, berubah wajah Tong Hoat dan dia meloncat berdiri, sejenak memandang ke luar seolah-olah dia hendak bertanya kepada dua orang pembantunya yang sudah disuruhnya keluar tadi, kemudian dia memandang wajah Ceng Ceng penuh perhatian dan keraguan.
"Nona, apa yang kau katakan ini? Bukankah engkau diutus oleh Nona Song...."
"Aku tidak mengenal dia!"
Tong Hoat menjadi makin curiga dan dia memandang marah.
"Kalau begitu, siapa engkau dan mengapa engkau berani memalsukan orang yang kuundang?"
Ceng Ceng mengangkat mukanya dan memandang dengan berani.
"Siapa adanya aku, tidak ada sangkut-pautnya denganmu! Aku tidak mengenal orang-orang yang kau sebut namanya tadi, juga aku tidak mempunyai urusan dengan Tiat-ciang-pang. Aku datang ke sini karena ketika aku lewat di jembatan, aku menendang pot bunga dan aku disambut oleh dua orangmu yang membawa perahu. Nah, sekarang aku berada di sini dan aku bukan orang yang kau undang. Habis, engkau mau apa?"
Mendengar ucapan Ceng Ceng dan melihat sikap gadis itu, Tong Hoat terheran-heran, akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu dara muda yang cantik ini bukan orang sembarangan.
Kalau sampai bocor rahasia ini dan ketahuan oleh pihak lawan bahwa dia telah keliru memanggil orang, tentu selain akan mendatangkan ejekan dan tertawaan, juga lawan akan melihat kelemahan Tiat-ciang-pang.
Kembali dia memandang Ceng Ceng.
Seorang wanita muda yang telah berani menempuh bahaya ketika dijemput dua orang pembantunya seperti dara ini, tentu memiliki kepandaian yang tinggi, pikirnya.
Kalau tidak demikian halnya, tentu dua orang pembantunya akan mengetahui kekeliruan mereka dan sudah bertindak.
Maka timbul pikirannya untuk menyambut orang yang keliru dlpanggil ini sebagal seorang kawan, daripada sebagai lawan dalam keadaan menghadapi pihak lawan yang menjadi kaki tangan pemberontak.
Dia lalu tertawa dan duduk kembali.
"Ha-ha-ha, ini namanya jodoh! Memang kita berjodoh untuk menjadi sahabat, Nona. Kuharap engkau suka memaafkan ketololan dua orang pembantuku. Akan tetapi sungguh kami merasa mendapat kehormatan besar memperoleh kunjungan seorang wanita gagah seperti Nona. Ketahuilah bahwa aku adalah pangcu (ketua) dari Tiat-ciang-pang dan satu di antara kegemaranku adalah bersahabat dengan orang-orang gagah di dunia kang-ouw."
Ceng Ceng memutar otaknya.
Orang ini adalah ketua perkumpulan yang agaknya besar dan berpengaruh.
Dia sudah datang ke tempat itu, sebaiknya kalau dia bersahabat dengan ketua ini.
Dengan bantuan ketua ini, agaknya akan lebih mudah baginya untuk menyelidiki di mana adanya musuh besarnya.
"Kalau memang engkau berniat baik, Pangcu, aku pun datang bukan untuk mencari musuh baru. Namaku adalah Lu Ceng, dan seperti kukatakan tadi, aku tidak mempunyai sangkut-paut dengan orang-orang yang kau undang, juga tidak ingin mencampuri urusan pemilihan bengcu di sini."
Tong Hoat kembali tersenyum, lalu bangkit dan menjura.
"Aku merasa terhormat sekali, Nona Lu Ceng. Aku adalah Tong Hoat yang dikenal sebagai Tiat-ciang (Si Tangan Besi), ketua dari Tiat-ciang-pang. Sebelum kita bicara lebih jauh, sebagai tanda perkenalan dan penghormatanku, aku mempersilakan Nona minum arak penghormatan ini!"
Ketua itu menuangkan secawan arak lalu memberikan cawan itu kepada Lu Ceng.
Ceng Ceng menerima tanpa banyak cakap, lalu membawa cawan itu ke dekat bibirnya.
Sekali cium saja mengertilah dia bahwa arak itu dicampuri obat bius!
Hatinya marah bukan main dan ingin dia melemparkan cawan dan araknya itu ke muka ketua Tiat-ciang-pang.
Akan tetapi kemarahan ini ditahannya.
Dia hendak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, pula dia malah ingin memperlihatkan bahwa dia tidak takut akan segala macam obat bius.
Jangankan baru obat bius yang merupakan racun yang lemah saja, biar minuman itu dicampuri racun yang akan menghanguskan isi perut orang lain, dia masih akan berani meminumnya.
Tanpa banyak cakap lagi dia lalu minum habis arak itu sekali teguk, dipandang dengan sepasang mata bersinar-sinar oleh Tong Hoat.
"Bagus, ternyata engkau seorang yang gagah, Nona. Agaknya engkau sudah mendengar dari kedua orangku bahwa kami di sini menyelenggarakan pertemuan di antara golongan kami untuk memilih seorang beng-cu...."
Ketua itu menghentikan kata-katanya saking herannya melihat Ceng Ceng sama sekali tidak kelihatan terpengaruh oleh obat bius yang biasanya amat kuat dan manjur itu.
Apalagi ketika dia melihat Ceng Ceng bangkit berdiri dan menyambar guci arak yang istimewa itu di mana terdapat arak yang sudah dicampuri obat bius, kemudian tanpa banyak cakap Ceng Ceng lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawannya sampai dua kali dan terus meminumnya, ketua ini memandang bengong!
Satu cawan arak itu cukup untuk membius dua tiga orang dewasa, dan tiga cawan arak itu akan berubah menjadi racun yang mematikan!
"Eh, sudah cukup arak itu, Nona....!"
Dia menegur.
"Hemm, engkau kiranya seorang tuan rumah yang pelit!"
Ceng Ceng pura-pura marah, lalu melemparkan guci itu ke atas.
Guci berputaran ke atas, lalu turun perlahan ke atas meja seperti diletakkan oleh tangan yang tidak kelihatan, dan sedikit pun tidak ada arak yang tumpah dari dalam guci.
Tong Hoat memandang dan demonstrasi lontaran yang mempergunakan tenaga sin-kang ini sama sekali tidak membuat dia terheran karena dia sendiri pun agaknya akan mampu melakukannya.
Akan tetapi yang membuat dia terheran-heran adalah karena nona muda itu telah menghabiskan tiga cawan arak bercampur obat bius dan kelihatannya masih enak-enak saja!
"Lekas, Nona Lu!
Kau minumlah obat penawar racun ini!"
Dia mengeluarkan sebutir pel dari dalam bungkusan.
"Lekas sebelum terlambat....!"
Katanya dengan nada khawatir sekali.
Ceng Ceng memandang tajam dan tidak menerima obat itu.
Dia merasa makin heran akan sikap Ketua Tiat-ciang-pang ini.
Tadi sengaja hendak meracuninya dengan obat bius, dan sekarang bingung memberikan obat penawarnya!
"Kenapa ribut-ribut?"
Bentaknya sambil bangkit berdiri.
"Bukankah kau sengaja menaruh racun ke dalam arak itu dan ingin melihat aku roboh pingsan?"
Ketua itu makin terkejut mendengar ini.
Kiranya nona muda ini malah sudah tahu bahwa yang diminumnya adalah arak yang bercampur racun akan tetapi toh masih diminumnya, bukan hanya satu cawan seperti disuguhkannya, melainkan mengambil sendiri dan minum sampai tiga cawan!
Apa artinya ini?
"Nona Lu....
maafkan aku.
Memang, tadinya aku hendak mengujimu.
Kalau kau mudah saja terjebak dan pulas oleh obat bius, maka engkau bukanlah orang yang dapat kuharapkan bantuannya.
Akan tetapi engkau tidak apa-apa, dan engkau minum lagi dua cawan!
Ini di luar perhitunganku dan aku tidak ingin melihat engkau celaka karena racun.
Maka kau minumlah obat penawar ini!"
Ceng Ceng tersenyum.
Kemarahannya lenyap seketika.
Kiranya ketua ini hanya ingin mengujinya!
Sambil tersenyum dia menghampiri guci tadi, menuangkannya lagi sampai tiga kali ke dalam cawannya dan minum berturut-turut tiga kali lagi!
Setelah itu, dia mengusap bibirnya dengan saputangan, memandang ketua itu dan berkata.
"Pangcu, baru enam cawan yang dicampuri obat bius seperti ini, apa sih artinya?"
Melihat ini, Tong Hoat menjadi kagum dan terheran-heran. Dia menjadi girang dan segera menjura dengan dalam.
"Aihh, kiranya mataku sudah lamur saking tuanya, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata, tidak melihat kedatangan seorang yang memiliki kesaktian hebat! Nona Lu, engkau benar-benar menggirangkan dan mengagumkan hatiku, dan kami Tiat-ciang-pang akan berterima kasih sekali apabila Nona sudi membantu kami!"
Ceng Ceng duduk kembali, lalu berkata tenang.
"Aku ingin mendengar dulu dalam hal apa aku dapat membantumu, Pangcu."
"Membantu memperkuat kedudukanku agar kita dapat merampas kedudukan bengcu, Nona Lu."
"Hemm.... bagaimana mungkin aku membantu engkau mengejar kedudukan untukku, Pangcu? Aku tidak ingin melibatkan diri dengan urusan pribadi orang lain...."
"Jangan salah mengerti, Nona Lu. Aku tidak haus akan kedudukan. Aku sudah menjadi pangcu dari Tiat-ciang-pang, itu pun sudah cukup memusingkan. Siapa sudi menjadi beng-cu yang hanya akan menghadapi banyak pekerjaan yang memusingkan belaka? Kalau aku ingin merampas kedudukan itu hanyalah untuk menyelamatkan seluruh golongan hek-to (jalan hitam)!"
"Menyelamatkan bagaima-na?"
"Agar jangan sampai mereka itu dibawa menyeleweng!"
Hampir saja Ceng Ceng tertawa keras mendengar ini.
Pangcu ini ingin menjaga agar kaum sesat, manusia-manusia yang sudah hidup menyeleweng itu tidak dibawa nyeleweng!
Betapa lucu dan anehnya!
"Aku tidak mengerti, Pangcu.
Menyeleweng bagaimana yang kau maksudkan?"
"Dengar baik-baik, Nona. Kaum pemberontak diam-diam sudah merajalela di seluruh pelosok dan kini mereka itu berusaha untuk menguasai dan mempengaruhi kaum hek-to. Biarpun kami tergolong orang-orang dari hek-to, namun kami memiliki kehormatan. Urusan mencopet dan merampok adalah urusan pekerjaan, akan tetapi menjadi pemberontak adalah suatu kerendahan dan merupakan perbuatan hina! Kami dari Tiat-ciang-pang menentangnya mati-matian. Karena tidak ingin melihat golongan hek-to diperalat oleh seorang beng-cu yang menjadi kaki tangan pemberontakan, maka mati-matian kami hendak mempertahankannya agar kedudukan beng-cu tidak sampai terjatuh ke tangan seorang kaki tangan pemberontak!"
Ceng Ceng mengangguk-angguk.
Mengertilah dia kini akan persoalannya, dan diam-diam dia merasa heran dan kagum juga mengapa seorang ketua perkumpulan kaum sesat ini memiliki jiwa patriot juga!
Tentu saja Ceng Ceng siap sedia untuk membantu kerajaan menghadapi pemberontak.
Betapapun juga, dia adalah keturunan orang-orang yang setia kepada negara!
"Baik, kalau begitu aku akan membantu, Pangcu.
Akan tetapi ingatlah baik-baik, aku bukan membantu engkau pribadi atau membantu Tiat-ciang-pang, melainkan membantu untuk menentang kaki tangan pemberontak!
Nah, sekarang jelaskan, siapa dan pihak manakah yang menjadi kaki tangan pemberontak di antara golongan hek-to?"
"Di antara kami kaum sesat telah terpecah belah menjadi empat kelompok,"
Ketua Tiat-ciang-pang itu menuturkan.
Selanjutnya dengan panjang lebar dia menceritakan keadaan kaum sesat yang berkumpul di tempat itu.
Di antara empat kelompok kaum sesat itu, kelompok pertama tentu saja adalah perkumpulan Tiat-ciang-pang di-ketuai oleh Tong Hoat yang merasa bahwa perkumpulannya adalah perkumpulan penjahat-penjahat yang berjiwa gagah dan patriotik, yang menentang usaha pihak pemberontak untuk menarik kaum sesat sebagai sekutunya.
Kelompok ke dua adalah kelompok yang dipergunakan oleh pihak pemberontak untuk menguasai dunia kaum sesat membujuk mereka yang belum mau menggabungkan diri, dan kelompok ini terdiri dari para pencuri, dipimpin oleh seorang maling terkenal yang berjuluk Tangan Malaikat!
Kelompok ke tiga hanya terdiri dari belasan orang bajak yang dipimpin oleh dua orang kakak beradik she Ma dan mereka ini adalah orang-orang yang bermuka dua atau orang-orang yang licik, yang berjanji suka membantu pemberontak asal mereka diberi kedudukan sebagai beng-cu!
Sedangkan kelompok ke empat adalah para penjudi, ialah sisanya yang tetap tidak memihak mana pun, bahkan menganggap bahwa urusan pemberontakan terhadap pemerintah bukanlah urusan mereka.
Melihat perpecahan di antara kaum sesat ini maka Tong Hoat memelopori diadakannya pertemuan pada hari itu untuk memilih beng-cu.
Tentu saja kesempatan ini dipergunakan oleh pihak pemberontak untuk dapat menguasai mereka, bahkan Pangeran Liong Bin Ong sendiri segera mengirim utusan untuk menjamin agar pihaknya berhasil menguasai golongan hitam yang merupakan kekuatan yang cukup besar.
Ceng Ceng mendengarkan penuturan ini dengan penuh perhatian.
Kemudian dia berkata.
"Kalau begitu, seperti telah kukatakan tadi, Pangcu, urusan antara golonganmu tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku. Akan tetapi, kalau aku melihat bahwa kaki tangan pemberontak ingin menguasai golonganmu untuk kepentingan pemberontakan, tentu aku akan turun tangan menentangnya."
Tong Hoat sudah merasa cukup puas dengan janji ini dan tak lama kemudian dia mengajak Ceng Ceng keluar karena pertemuan akan segera dimulai.
Empat kelompok itu sudah berkumpul di sekeliling lapangan luas di tepi sungai, dan jelas tampak bahwa kelompok terbesar adalah kelompok Tiat-ciang-pang.
Juga kelihatan bahwa empat kelompok itu masing-masing memiliki jagoan-jagoan yang berdiri di depan kelompoknya.
Di tengah-tengah lapangan rumput yang mereka kelilingi itu terdapat sebuah bangunan panggung yang luasnya tidak kurang dari sepuluh meter persegi.
Panggung itu dijaga di bawahnya oleh para anggauta Tiat-ciang-pang yang bertindak sebagai pengundang atau tuan rumahnya.
Dengan gerakan ringan seperti seekor burung garuda melayang, Tong Hoat sudah meloncat ke atas panggung.
Dia menjura ke empat penjuru, lalu berkata lantang.
"Cu-wi (Saudara Sekalian) yang terhormat tentu sudah maklum bahwa pertemuan ini diadakan untuk melakukan pemilihan seorang beng-cu. Kita semua membutuhkan seorang beng-cu. Kita semua membutuhkan seorang pemimpin di jaman kacau ini agar dapat mengadakan ketertiban antara kita semua. Karena kita adalah orang-orang yang mengandalkan kekuatan tangan kaki untuk dapat hidup, maka pemilihan beng-cu pun didasarkan atas tingkat kekuatan tangan dan kaki. Siapa yang terpandai di antara kita, dari golongan mana pun dia datang, berhak untuk menjadi beng-cu dan memimpin kita semua. Kami persilakan orang gagah yang ingin memasuki pemilihan untuk naik ke panggung."
Tong Hoat lalu menjura lagi dan melompat turun membiarkan panggung itu kosong lagi untuk menanti munculnya para calon beng-cu.
Tak lama kemudian berkelebat dua bayangan orang yang meloncat ke atas panggung.
Ceng Ceng yang menyelinap di antara para anggauta Tiat-ciang-pang dan mencari-cari musuhnya dengan harapan kalau-kalau dia akan dapat menemukan pemuda laknat di antara para kaum sesat ini, melihat bahwa yang berada di atas panggung adalah dua orang laki-laki yang usianya tentu lebih dari lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan keduanya memiliki sikap yang kasar seperti tukang-tukang pukul.
Seorang di antara mereka mengeluarkan setumpuk kartu dari sakunya, mengocok kartu itu sambil tersenyum dan berkata kepada teman-temannya.
"Wah, mudah-mudahan saja ada lawan yang tebal kantong!"
Dari sikap ini Ceng Ceng sudah dapat menduga bahwa mereka tentulah dua orang penjudi ulung.
Akan tetapi orang ke dua hanya tersenyum, kemudian dia menjura ke empat penjuru dan berkata.
"Kami adalah dua saudara seperguruan dan golongan kami paling tidak suka melihat urusan politik. Pemerintah maupun pemberontak bukanlah sekutu kami. Di antara golongan kami, kami berdua menjadi calon beng-cu dan kalau kami berdua berhasil menduduki kursi bengcu, kami berdua akan mengatur agar semua kaum kita tidak mencampuri urusan pemerintah maupun pemberontak."
"Ho-ho, manusia-manusia sombong!"
Terdengar bentakan dan kelihatan dua sosok bayangan orang melayang ke atas panggung.
Mereka adalah dua orang kakak beradik she Ma seperti yang telah diceritakan oleh Tong Hoat kepada Ceng Ceng.
Dengan lagak sombong kedua orang she Ma yang bertubuh tinggi kurus itu memperkenalkan diri.
"Kami dua orang kakak beradik Ma Ciang dan Ma Kai tidak hendak menjanjikan apa-apa lebih dulu seperti dua orang sombong ini. Kalau kami telah berhasil menjadi beng-cu, baru akan kami adakan peraturan yang harus diturut oleh semua kawan."
Orang ke dua dari kakak beradik Ma ini lalu menghampiri dua orang pertama sambil membentak.
"Hayo kalian turun lagi sebelum kami paksa untuk turun!"
"Ha-ha-ha!"
Penjudi yang mempermainkan kartu-kartunya tertawa.
"Kami sudah mendengar akan kelihaian kakak beradik she Ma, tukang-tukang todong yang disegani. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kami takut, dan dalam memperebutkan kedudukan beng-cu, hak kami pun sama besarnya dengan kalian atau siapa juga. Lebih baik kalian yang turun daripada mendapat malu dan kalah oleh kami berdua, ha-ha-ha!"
"Cet-cet-cet-cettt....!"
Penjudi itu tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya dan empat helai kartunya melayang dan menyambar papan, di situ empat helai kartu itu menancap sampai setengahnya lebih.
Semua orang melongo dan merasa kagum juga ngeri.
Ternyata hebat sekali penjudi ini.
Kartu-kartunya dapat dipergunakan sebagai senjata rahasia yang demikian ampuh.
Mengenai papan yang keras saja menancap sampai dalam, kalau mengenai tubuh orang tentu akan hebat akibatnya, tidak kalah oleh senjata rahasia apa pun.
Akan tetapi Ma Ciang tertawa bergelak ketika dia mencabut sebuah di antara empat helai kartu yang menancap di papan itu.
"Ha-ha-ha, dasar ular-ular kartu, tentu pandai bermain gila dengan kartu-kartunya!"
Dia meremas kartu itu dan terdengar bunyi seperti barang keras patah-patah.
Ternyata kartu terbuat dari besi tipis dan digambari seperti kartu, bukan kartu kertas biasa!
Dua orang penjudi itu menjadi marah dan telah mencabut senjata pedang mereka yang tersembunyi di balik baju, kemudian maju menerjang.
Akan tetapi kakak beradik she Ma telah siap, dengan gerakan lincah mereka mencelat ke belakang dan mencabut golok mereka.
Maka terjadilah pertandingan mati-matian antara dua orang penjudi dan dua orang perampok itu.
Suara senjata pedang bertemu golok terdengar nyaring dan mengerikan.
Ceng Ceng menonton dan menahan napas.
Hatinya terasa tegang.
Melihat pertempuran bukan merupakan tontonan aneh baginya, akan tetapi dia melihat seorang pemuda yang muncul di antara para anggauta golongan sesat itu dan hatinya tegang sekali ketika dia mengenal pemuda itu.
Seorang pemuda tampan yang menyelinap di antara banyak orang, hanya sebentar saja tampak olehnya namun segera pemuda itu lenyap kembali, agaknya berdiri di bagian belakang dan sengaja menyembunyikan diri.
Pemuda itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!
Melihat kehadiran pemuda yang dia tahu amat lihai ini, dia dapat menduga bahwa tentu akan terjadi hal-hal yang hebat.
Ceng Ceng yang cerdik dapat menduga bahwa tentu pemuda itu mewakili kaum pemberontak untuk menguasai golongan sesat.
Melihat munculnya Tek Hoat, otomatis Ceng Ceng juga menyelinap ke belakang para anggauta Tiat-ciang-pang agar pemuda itu tidak melihatnya.
Dari belakang beberapa orang dia mengintai dan mencari-cari, namun Tek Hoat tidak kelihatan bayangannya lagi.
Teriakan kesakitan membuat Ceng Ceng menoleh dan memandang ke atas panggung.
Ternyata dua orang penjudi itu terhuyung dan terluka oleh golok kedua orang kakak beradik she Ma dan kini dua orang perampok tunggal itu menggunakan kaki menendang lawan yang sudah terluka.
Dua orang penjudi terlempar ke bawah panggung dan cepat mereka ditolong oleh kawan-kawan mereka yang segera mengundurkan diri karena setelah dua orang jagoan mereka kalah, mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk kemenangan bagi golongan mereka.
Dua orang saudara Ma masih berdiri di atas panggung memegang golok mereka sambil tersenyum-senyum memandang ke empat penjuru.
Beberapa kali mereka mengajukan tantangan kepada calon beng-cu lain untuk menguji kepandaian, akan tetapi tidak kelihatan ada yang meloncat naik.
Hal ini memang disengaja oleh para kaki tangan pemberontak yang dipimpin oleh Si Tangan Malaikat setelah dia mendapat perintah dari pemuda yang mewakili utusan Pangeran Liong Bin Ong.
Tek Hoat memang amat cerdik.
Kalau orang-orangnya sendiri yang maju dan merampas kedudukan beng-cu, hal itu akan terlalu mencolok dan kurang baik, kecuali kalau memang terpaksa.
Kalau sekarang dua orang saudara Ma yang dia tahu merupakan orang-orang bermuka dua, dapat menjadi beng-cu, hal itu lebih baik.
Mudah untuk mempengaruhi dua orang ini, dengan jalan menyogok dengan uang.
Yang penting bagi dia, atau bagi pemberontak adalah agar kaum sesat jangan sampai dikuasai oleh Tiat-ciang-pang yang anti pemberontak dan mempunyai kesetiaan kepada kerajaan.
Oleh karena inilah, maka dia memerintahkan agar anak buahnya, ter-masuk Si Tangan Malaikat, jangan menyambut tantangan dua orang saudara Ma, bahkan boleh menyumbang suara untuk mengangkat mereka sebagai beng-cu!
Ma Ciang dan Ma Kai yang melihat bahwa mereka tidak disambut orang, menjadi heran dan juga girang.
Ma Ciang lalu berkata lantang.
"Saudara sekalian, rekan-rekan yang terhormat! Kalau memang tidak ada lagi calon yang merasa cukup kuat untuk mengalahkan kami, maka kami minta agar kalian memberi suara mengangkat kami sebagai beng-cu dan wakilnya!"
"Setuju....!"
"Kita mengangkat kedua saudara Ma sebagai beng-cu dan wakilnya!"
Keadaan menjadi ribut karena suara mereka yang memberikan suaranya, tentu saja didukung oleh semua anak buah para pemberontak yang menyelundup di antara mereka.
Hanya golongan yang tadi kalah saja yang diam dan hanya menonton dengan wajah muram, sedangkan golongan Tiat-ciang-pang tidak ada seorang pun yang bersuara.
"Lu-siocia (Nona Lu), lihatlah betapa anak buah pemberontak mendukung mereka, sedangkan dua orang itu adalah orang-orang bermuka dua yang mudah saja dibeli. Apakah Nona tidak akan turun tangan?"
Bisik Tong Hoat Ketua Tiat-ciang-pang kepada Ceng Ceng. Ceng Ceng menggelengkan kepalanya.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak akan mencampuri urusan pemilihan beng-cu, dan aku hanya turun tangan kalau anak buah pemberontak sendiri yang naik ke panggung, itu pun kalau engkau tidak mampu mengatasinya, Pangcu."
Ketua itu mengangguk.
"Baiklah, aku hanya mengharapkan bantuan Nona untuk membela negara karena aku pun bukan seorang yang haus akan kedudukan bengcu."
Setelah berkata demikian, Tong Hoat berteriak keras mengatasi suara gaduh mereka yang sedang menyokong suara kepada dua orang saudara Ma.
Teriakannya ini membuat semua orang ini diam, apalagi ketika mereka melihat Ketua Tiat-ciang-pang sudah meloncat naik ke atas panggung.
Dua orang saudara Ma memang sudah sejak tadi menanti munculnya jagoan dari Tiat-ciang-pang ini, maka kini mereka menghadapi Tong Hoat sambil tersenyum.
Ma Ciang berkata.
"Aihh, kiranya Pangcu sendiri sebagai tuan rumah yang memberi penghormatan kepada kami! Apakah Pang-cu dan semua anggauta Tiat-ciang-pang tidak rela kalau kami yang terpilih menjadi beng-cu?"
Ma Kai juga berkata.
"Agaknya pangcu dari Tiat-ciang-pang juga menginginkan kedudukan beng-cu!"
Tong Hoat memandang tajam dan suaranya terdengar lantang oleh semua orang ketika dia menjawab.
"Saya adalah pangcu dari Tiat-ciang-pang dan saya sama sekali tidak haus akan kedudukan beng-cu. Kalau kami mempelopori pertemuan dan mengadakan pemilihan beng-cu ini adalah karena kami melihat adanya perpecahan di antara kami. Sekarang, Ji-wi telah menang dari dua orang saudara dari golongan penjudi tadi. Akan tetapi, seorang beng-cu dan wakilnya harus orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi untuk dapat diandalkan oleh golongan kita semua. Oleh karena itu, terpaksa karena tidak ada lagi yang mau naik, saya sendiri yang akan menguji apakah Ji-wi sudah tepat dan pantas untuk menjadi beng-cu dan wakilnya. Kalau memang cukup kuat dan lihai, tentu saja kami juga akan setuju jika Ji-wi diangkat menjadi pimpinan."
"Bagus! Dengan lain kata-kata Pangcu menantang kami berdua! Kai-te (Adik Kai), hayo kita coba kelihaian pang-cu dari Tiat-ciang-pang ini!"
Setelah berkata demikian, Ma Ciang dan Ma Kai memutar-mutar golok mereka di atas kepala dan bergerak mengelilingi Ketua Tiat-ciang-pang itu.
"Tidak adil! Tidak adil!"
Tedengar teriakan dari para anggauta Tiat-ciang-pang.
"Dua orang me-ngeroyok satu orang sudah tidak adil!"
"Apalagi kalau menggunakan golok mengeroyok seorang bertangan kosong!"
Teriakan-teriakan ini terdengar susul-menyusul dan disokong pula oleh golongan yang tadinya diwakili oleh dia orang penjudi.
Golongan ini memang tidak pro atau anti pemberonta-kan, akan tetapi melihat Ketua Tiat-ciang-pang akan dikeroyok dua, mereka merasa tidak senang.
Ma Ciang dan Ma Kai menjadi malu juga, wajah mereka merah dan sambil tertawa Ma Ciang menyimpan goloknya diturut oleh adiknya, lalu berkata.
"Baiklah, kalau pang-cu dari Tiat-ciang-pang ngeri melihat darah, kami akan melayani dengan tangan kosong pula, kecuali kalau Pang-cu jerih menghadapi kami bersama."
Ucapan ini pun lantang terdengar oleh semua orang.
Tong Hoat mengerutkan alisnya, dia maklum bahwa kedua orang ini hanya besar mulutnya belaka.
Biarpun mereka menggunakan golok, dia pun tidak takut, apalagi bertangan kosong.
Melihat gerakan mereka tadi ketika melawan dua orang jagoan pertama, dia sudah dapat menilai tingkat mereka dan merasa pasti akan dapat mengalahkan mereka berdua, bersenjata maupun tidak.
"Silakan Ji-wi maju, saya sudah siap menghadapi Ji-wi maju bersama!"
Teriaknya.
Ma Ciang dan Ma Kai menjadi girang.
Mereka mengira bahwa Ketua Tiat-ciang-pang ini telah berhasil mereka bakar hatinya sehingga malu untuk mundur.
Sambil menggereng seperti dua ekor harimau kelaparan, mereka menerjang ke depan, mencengkeram dan memukul.
Tong Hoat sudah siap.
Tubuhnya bergerak mengelak dan menangkis, lalu mengirim pukulan balasan.
"Dukkk! Dukkk!"
Dua orang bersaudara Ma terhuyung ke belakang, meringis kesakitan.
Lengan mereka terasa sakit sekali ketika beradu dengan lengan Tong Hoat yang tentu saja mengerahkan ilmunya Tangan Besi!
Namun dua orang itu bukan menjadi jera bahkan menjadi penasaran dan marah, lalu menerjang lagi dengan lebih dahsyat, disambut dengan tenang oleh Tong Hoat.
Lega hati Ceng Ceng menyaksikan jalannya pertandingan itu.
Dia yakin bahwa Ketua Tiat-ciang-pang yang benar-benar lihai ilmu silatnya bertangan kosong itu akan dapat mengalahkan kedua orang lawannya dengan mudah sehingga dia tidak perlu turun tangan membantu.
Setelah melihat munculnya Tek Hoat, dia menjadi makin ragu untuk mencampuri urusan pemilihan beng-cu ini.
Kecuali kalau Tek Hoat yang maju, jelas bahwa pihak pemberontak ingin menguasai golongan ini dan kalau demikian halnya, dia tentu akan turun tangan!
Sekarang, melihat Tong Hoat mendesak kedua orang lawannya, perhatiannya kembali ditujukan untuk mencari musuh besarnya dan dia mulai bergerak perlahan mencari-cari di antara para hadirin yang banyak jumlahnya itu.
Pertandingan di atas panggung masih berjalan dengan seru.
Dua orang saudara Ma dengan bernapsu mencoba untuk mengalahkan Ketua Tiat-ciang-pang, akan tetapi karena memang kalah tingkat dan kalah kuat, Mereka terdesak terus dan setiap kali Tong Hoat menangkis dengan pengerahan tenaga, mereka tentu terdorong dan terhuyung ke belakang dan menyeringai kesakitan, tanda bahwa dalam pertemuan lengan itu mereka jauh kalah kuat.
Betapapun kedua orang itu mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya, namun belum sampai lima puluh jurus akhirnya mereka harus mengakui keunggulan Tong Hoat.
Ketua Tiat-ciang-pang ini menggunakan kekuatan tangan besinya menampar dalam kesempatan yang terbuka dan berturut-turut mereka terlempar dari atas panggung.
Biarpun Ketua Tiat-ciang-pang yang masih mengingat akan hubungan antara golongan tidak memukul keras sehingga mereka tidak sampai terluka parah, namun keduanya tidak berani nekat naik lagi karena maklum bahwa mereka bukanlah lawan Ketua Tiat-ciang-pang itu.
"Bagus! Tiat-ciang-pang mengundang orang hanya untuk memamerkan kepandaian sendiri!"
Terdengar seruan orang dan dari bawah panggung tampak seorang laki-laki tinggi kurus meloncat naik ke panggung.
Ketika semua orang memandang, mereka berbisik-bisik dengan hati tegang karena maklum bahwa tentu akan terjadi pertandingan yang amat hebat antara pendatang baru yang mereka kenal baik ini menghadapi Ketua Tiat-ciang-pang.
Orang tinggi kurus ini bukan lain adalah tokoh besar golongan maling yang berjuluk Tangan Malaikat!
Kini Tangan Malaikat hendak menantang Tangan Besi, tentu saja akan terjadi pertandingan ramai!
Sebetulnya sudah lama terdapat kebencian antara dua golongan ini, yaitu golongan para maling dan golongan pencopet dan perampok yang bergabung di dalam perkumpulan Tiat-ciang-pang.
(Lanjut ke
Jilid 27) Kisah Sepasang Rajawali (Seri ke 09 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 Hal ini adalah karena Tiat-ciang-pang memandang rendah golongan maling, bahkan tidak mau menerima seorang pencuri sebagai anggauta, maka tentu saja golongan ini merasa terhina dan menaruh dendam.
Ketika tokoh maling yang berjuluk Tangan Malaikat itu yang bernama Lauw Sek, datang dari selatan dan bergabung dengan golongan maling, mereka merasa menemukan seorang jagoan dan secara tidak resmi mengangkat Lauw Sek sebagai pimpinan mereka.
Lauw Sek Si Tangan Malaikat ini dengan mudah saja terpikat oleh kaum pemberontak, dan diam-diam Lauw Sek membawa teman-temannya untuk bersekutu dengan kaki tangan pemberontak yang ingin menguasai kaum sesat.
Lauw Sek adalah seorang yang memiliki kepandaian cukup tinggi maka dia berani memakai julukan Tangan Malaikat yang menyatakan bahwa selain pandai ilmu silat, juga dia adalah seorang ahli mencopet dan mencuri.
Akan tetapi selama ini ia tidak begitu bodoh untuk mencari perkara dengan Tiat-ciang-pang yang merupakan perkumpulan besar yang banyak anggautanya.
Sekarang, dalam pertemuan resmi ini, dimana diadakan pemilihan beng-cu, apalagi karena didukung oleh kaki tangan Pangeran Liong Bin Ong, dia menjadi berani untuk menentang dan menghadapi orang yang selama ini memang dibenci oleh dia dan kawan-kawannya.
Kini kedua orang yang diam-diam saling membenci itu berhadapan di atas panggung.
Tong Hoat juga membenci orang ini karena memang dia selalu memandang rendah kaum pencuri yang di-anggapnya merupakan pengecut besar, apalagi setelah dia mengetahui bahwa Tangan Malaikat dan kawan-kawannya telah merendahkan diri untuk diperalat oleh kaum pemberontak.
"Memang hanya kaum pengecut saja yang mau menjadi pengkhianat,"
Katanya dengan pandang mata mengejek.
"Kalau golongan kita dipimpin oleh seorang pengecut dan pengkhianat, hancurlah kita semua!"
Muka Lauw Sek menjadi merah sekali karena ucapan itu biarpun tidak langsung ditujukan kepadanya, namun jelas bahwa Ketua Tiat-ciang-pang ini menghinanya di depan banyak orang.
"Hem, pangcu dari Tiat-ciang-pang, agaknya menurut pandanganmu, tidak ada orang lain yang lebih pantas menjadi beng-cu selain engkau, ya? Hendak kulihat sampai di mana tingginya kepandai-anmu dan apakah tangan besimu itu benar-benar keras seperti besi!"
Setelah berkata demikian Lauw Sek sudah maju menerjang dengan dahsyat, menggunakan kedua tangannya yang hergerak cepat sekali sehingga tampaknya seolah-olah dia memiliki enam buah lengan!
Tong Hoat maklum bahwa kepandaian orang ini tidak boleh disamakan dengan dua orang saudara Ma tadi, maka dia pun cepat menggerakkan tubuh dan kedua tangannya menangkis sambil membalas dengan pukulan yang tidak kalah dahsyatnya.
Cepat sekali gerakan dua orang itu, yang kelihatan hanyalah bayangan banyak tangan, kadang-kadang dikepal, kadang-kadang terbuka, saling pukul dan saling tangkis dan terdengar suara bersiutnya hawa pukulan kedua pihak yang agaknya memiliki kecepatan yang berimbang.
Lauw Sek yang berhati besar karena merasa mempunyai dukungan amat kuat, bernafsu sekali untuk mengalahkan lawan, maka gerakannya cepat dan serangannya bertubi-tubi seperti air membanjir.
Sebaliknya, Tong Hoat bersikap hati-hati dan tenang, gerakannya kokoh kuat membendung banjir serangan itu dan setiap kali menangkis, dia mengerahkan ilmu yang diandalkannya, yaitu Tangan Besi.
Berkali-kali dua pasang lengan itu bertemu dengan dahsyat, kadang-kadang mengeluarkan bunyi berdetak seolah-olah dua tulang yang kuat saling beradu, namun keduanya tidak kelihatan terdorong dan agaknya sama kuatnya.
Biarpun Lauw Sek kelihatan juga kuat dan pantas berjuluk Tangan Malaikat, karena kelihatannya dia tidak terpengaruh oleh benturan tangan yang amat kuat dari Tong Hoat, akan tetapi sebetulnya dia merasa betapa kedua lengannya nyeri dan makin lama makin hampir tak tertahankan olehnya.
Setiap kali bertemu dengan lengan lawan, dia merasa seolah-olah tulang lengannya retak dan maklumlah dia bahwa biarpun dalam hal ilmu silat, dia tidak kalah jauh oleh lawan, namun harus dia akui bahwa Tong Hoat benar-benar memiliki lengan yang kuat dan keras seperti besi!
Diam-diam dia mengeluh dan teringatlah dia akan pesan pemuda sakti utusan Pangeran Liong Bin Ong yang berpesan agar dia berhati-hati menghadapi tangan besi lawan, dan pemuda yang dia tahu amat sakti itu telah meminjamkan sebuah sarung tangan kepadanya.
Sarung tangan itu dia simpan di dalam saku bajunya, karena dia tidak mau memakainya, akan tetapi setelah sekarang memperoleh kenyataan betapa lihainya Ketua Tiat-ciang-pang, teringatlah dia akan pesan pemuda itu dan segera dia melompat mundur sambil tertawa.
Dikeluarkannya sarung tangan berwarna hitam itu dan dipakainya di tangan kanan.
Tercium bau yang wangi-wangi aneh memabokkan.
Tong Hoat tidak mengenal sarung tangan itu.
Dia dapat menduga bahwa tentu sarung tangan itu merupakan senjata yang ampuh, akan tetapi karena bukan merupakan senjata tajam, dia me-mandang rendah.
"Hemm, apakah lenganmu telah terasa nyeri maka engkau menggunakan sarung tangan itu?"
Dia mengejek. Lauw Sek tersenyum.
"Tanganmu memang keras seperti besi, akan tetapi jangan mengira aku takut. Tangan besimu akan mencair kalau bertemu dengan sarung tangan ini!"
Tek Hoat tentu saja tidak percaya dan dia sudah menerjang lagi.
Dia tadi sudah hampir memperoleh kemenangan karena pihak lawan sudah terus didesaknya.
Dengan pengerahan tenaga pada kedua lengannya, dia menyerang tanpa mempedulikan sarung tangan hitam yang melindungi tangan kanan dan sebagian dari lengan kanan Lauw Sek.
"Plak-plak! Dukkk....!"
Tong Hoat meloncat ke belakang dengan kaget sekali, lalu menggosok-gosok lengan kirinya yang bertemu dengan lengan kanan bersarung tangan dari lawannya.
Lengan kirinya terasa gatal-gatal dan panas sekali!
Wajahnya berubah.
Tahulah dia bahwa sarung tangan itu ternyata ampuh sekali dan tentu mengandung racun yang amat jahat!
"Kau curang....!"
Serunya.
"Ha-ha-ha, Pangcu. Kau takut....?"
Lauw Sek tertawa mengejek dan siap menyerangnya kembali.
"Pangcu harap mempergunakan obat dari Lihiap ini, dilumurkan pada kedua tangan!"
Tiba-tiba terdengar seruan ini dan seorang anggauta Tiat-ciang-pang melemparkan sebuah bungkusan ke arah ketuanya.
Mendengar ini Tong Hoat menerima dengan girang dan tahulah dia bahwa nona Lu Ceng diam-diam telah membantunya.
Mengingat betapa nona itu dapat menghabiskan beberapa cawan arak bercampur racun tanpa akibat apa-apa, dia maklum bahwa pendekar wanita itu adalah seorang ahli racun, maka dia cepat membuka bungkusan itu.
Di dalamnya terdapat cairan kental seperti lumpur, berwarna kuning.
Cepat dia membalurkan semua obat itu pada tangan dan lengannya.
Rasa gatal dan panas pada tangan kanannya lenyap seketika, dan kedua lengannya terasa dingin.
"Majulah, siapa takut sarung tangan beracunmu?"
Dia membentak dan menyerang lagi.
Terjadilah pertandingan yang mati-matian.
Lauw Sek selalu menggunakan tangan kanannya yang memakai sarung tangan, akan tetapi kini lawannya menangkis dan menerima tanpa ragu-ragu lagi dan setiap kali mereka bertemu lengan dan tangan, karena memang dia kalah kuat tenaganya, dia yang merasa kedua lengannya sakit-sakit.
Seratus jurus telah lewat dan pertandingan itu makin seru.
Akan tetapi kini Lauw Sek main mundur dan selalu menghindarkan pertemuan kedua lengan karena kedua lengannya sudah bengkak-bengkak dan nyeri bukan main.
Kesempatan baik dipergunakan oleh Tong Hoat ketika Lauw Sek yang sudah tidak berani menangkis itu berusaha mengelak dari pukulan lawan.
Tong Hoat menggerakkan kedua kakinya, mainkan ilmu tendangan berantai dan akhirnya Lauw Sek terkena sebuah tendangan kaki kiri yang membuat tubuhnya terlempar ke bawah panggung!
Sorak-sorai dan tepuk tangan menyambut kemenangan Tong Hoat, tidak saja dari para anggauta Tiat-ciang-pang, akan tetapi juga dari mereka yang tadi dikalahkan oleh dua orang saudara Ma.
Akan tetapi di bawah sorak-sorai yang diselingi oleh teriakan-teriakan yang menyatakan mengangkat Tong Hoat sebagai beng-cu itu, tampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan Ketua Tiat-ciang-pang itu telah berdiri seorang pemuda tampan yang bertubuh sedang saja dan kelihatannya tidak seperti seorang yang lihai.
Pakaian pemuda ini sederhana saja, dengan jubah atau baju luar yang berwarna biru tua, celana kuning dan baju dalam putih.
Biarpun pakaiannya terbuat dari kain yang mahal dan baru, akan tetapi potongannya biasa dan sederhana saja sehingga dia kelihatan hanya seperti seorang pemuda pekerja yang sederhana dari kota.
Akan tetapi rambutnya yang hitam panjang itu merupakan kuncir yang besar mengkilap, ber-gantung di punggungnya, kulit mukanya putih dan ketampanan wajahnya makin mencolok dan sinar matanya yang tajam berapi dan bibirnya yang tersenyum simpul mengejek.
Melihat pemuda ini, Ceng Ceng cepat mendekati panggung dan memandang dengan penuh perhatian dan ketegangan karena dia mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!
"Tiat-ciang-pangcu, apakah syaratnya bagi seorang beng-cu yang dipilih dalam pertemuan ini?"
Ang Tek Hoat bertanya, suaranya lantang namun halus dan tenang.
"Bukankah syaratnya adalah orang yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara kita semua?"
Tong Hoat memandang pemuda itu penuh selidik, akan tetapi dia merasa belum pernah melihat pemuda ini.
Kalau pemuda ini merupakan seorang tokoh kaum sesat di sekitar kota raja, tentu dia mengenalnya.
Maka tentu pemuda inl seorang anggauta biasa saja, atau kalau dia seorang pandai, tentu datang dari daerah lain.
"Benar demikian, orang muda. Engkau siapakah dan datang dari mana?"