Eps 10 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.
Berkali-kali, seolah-olah menghormati ilmu yang baru saja dimainkannya itu. Setelah itu, baru dia membuka mata memandang kepada Koan Jit yang masih berdiri terpesona.
"Nah, orang muda... apakah engkau sudah melihatnya dan mengertinya?"
Koan Jit merasa mukanya menjadi panas saking malu. Dia merasa bodoh sekali. Sedikitpun dia tidak dapat ingat lagi gerakan-gerakan tadi.
"Locianpwe,"
Katanya dengan sikap menghormat setelah dia dapat menduga siapa yang berada di depannya!
"Aku telah melihat semua gerakan itu, namun tidak mengerti dan tidak mampu mengingatnya.
Gerakan-gerakan itu terlalu indah dan terlalu ruwet bagiku.
Mohon petunjuk Locianpwe."
Kakek itu tertawa.
"Tidak aneh kalau begitu. Sebagai seorang Hwesio , ilmu silat itu tercipta ketika pinceng merenungi pelajaran-pelajaran agama tentang kebahagiaan, dimana terdapat duabelas pasal. Nah, untuk dapat memainkan ilmu ini, teorinya terletak dalam kalimat-kalimat pelajaran itu, maka pelajaran itu harus dipahami benar, bukan hanya dihafalkan, bahkan pelajaran teori itu harus diresapi sehingga dapat dijiwai dan mendarah-daging.
"Apa artinya pelajaran teori kalau tidak diresapi sehingga mendarah daging? Selain itu, juga latar belakang pendidikan dan lingkungan seseorang menentukan berhasil atau tidaknya dia mempelajari ilmu baruku ini. Nah, orang muda... coba engkau memainkan ilmu silat yang sudah kau kuasai agar pinceng dapat menentukan bagaimana caramu untuk menerima dan mewarisi ilmuku yang baru ini sebaiknya."
Koan Jit tadi merasa kagum dan dia ingin sekali memiliki Ilmu Silat Kebahagiaan itu.
Maka mendengar ucapan Siauw-bin-hud, diapun lalu melangkah maju dan mulailah dia bersilat.
Dia sudah menguasai ilmu-ilmu silat dari Thian-tok sebaik-baiknya.
Tidak ada di antara kedua orang sutenya yang mampu menandinginya dalam ilmu silat perguruan mereka.
Hanya Thian-tok sajalah yang kiranya dapat mengunggulinya dan itupun hanya sedikit selisihnya.
Maka dia lalu memainkan jurus-jurus pilihan dan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat.
Baru dia bersilat sebanyak belasan jurus, Siauw-bin-hud sudah menghentikannya.
"Sudah cukup, orang muda. Omitohud... kiranya engkau adalah murid Thian-tok? Tidak salah lagi, tentu engkau yang bernama Koan Jit."
"Tidak salah dugaan Locianpwe, dan akupun dapat menduga bahwa Locianpwe tentulah Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai."
"Ha-ha-ha-ha, susahnya menjadi orang yang dikenal! Sampai di dalam guha terpencil sekalipun, masih saja dikenal orang. Koan Jit, pinceng sudah melihat dasar-dasar ilmu silatmu, dan terus terang saja, kalau engkau hendak menguasai Ilmu Silat Kebahagiaan, engkau harus melatih teorinya sampai matang betul.
"Tanpa mengingat setiap kata dan kalimat-kalimat pelajaran itu, takkan mungkin engkau akan mampu memainkan ilmu silatku yang baru. Apakah engkau siap untuk mempelajarinya, ataukah engkau merasa tidak sanggup dan ingin segera membunuh pinceng?"
"Aku sudah siap mempelajarinya,"
Kata Koan Jit dengan suara tegas.
"Kalau begitu, dengarkan dan pelajari satu demi satu pelajaran agama tentang kebahagiaan, baru kemudian sepasal demi sepasal, dicocokkan dengan ilmu silatnya sejurus demi sejurus. Hanya dengan cara demikian, engkau akan dapat melatih diri dan menguasai ilmu itu sebaik-baiknya."
Kakek itu lalu mengajarkan ilmu yang diambil dari kitab suci Dharmapada, yaitu kitab suci Agama Buddha, pasal limabelas yang mengajarkan tentang kebahagiaan.
Setiap pasal lalu dia jelaskan hubungannya yang mendarah daging dengan jurus gerakan silat yang bersangkutan.
Memang rumit sekali, karena itu, Koan Jit harus menghafalkan pasal-pasal itu sampai dapat menjiwai isinya.
Pelajaran itu ada duabelas pasal, dan bunyinya seperti demikian.
* Kita hidup bahagia bila tak membenci seorangpun di tengah-tengah orang-orang yang membenci.
Kita hidup bebas dari kebencian di antara orang-orang yang membenci.
* Kita hidup bahagia bila bebas dari penyakit di antara orang-orang yang sakit.
Kita hidup bebas dari penyakit di antara orang-orang yang sakit.
* Kita hidup bahagia bila bebas dari keserakahan di antara orang-orang yang serakah.
Kita hidup bebas dari keserakahan di antara orang-orang yang serakah.
* Kita hidup bahagia, bila tidak terikat oleh kemilikan.
Kita akan hidup bahagia laksana dewa-dewa yang memancarkan cahaya.
* Kemenangan memabokkan si pembenci, yang kalah menderita kesedihan.
Dia yang tak lagi memikirkan kemenangan dan kekalahan, senantiasa tenang dan bahagia.
* Tiada api melebihi nafsu, tiada penyakit melebihi kebencian, tiada penderitaan melebihi cengkeraman badani, tiada kebahagiaan melebihi Nirwana.
* Keserakahanlah penyakit yang paling berbahaya, mengejar keinginan penderitaan yang paling besar.
Bagi yang mengerti akan kenyataan ini, Nirwana-lah kebahagiaan tertinggi.
* Kesehatanlah anugerah terbesar, puas akan apa adanya-lah kekayaan terbesar.
Keyakinan adalah hubungan terbaik, dan Nirwanalah kebahagiaan tertinggi.
* Setelah menikmati kesucian dan ketenangan, terbebaslah dan belenggu takut dari dosa.
Setelah demikian barulah dapat meneguk kebahagiaan hidup di dalam Dharma.
* Memandang Para Bijaksana adalah baik, bergaul dengan mereka membahagiakan.
Yang tidak bergaul dengan si dungu akan senantiasa berbahagia.
* Yang bergaul dengan orang-orang dungu seperti bergaul dengan musuh, menyebabkan derita.
Bergaul dengan orang bijaksana seperti sanak saudara menyebabkan kebahagiaan.
* Karena itu, seperti bulan bergerak mengikuti garis peredarannya, hendaknya orang mengikuti para bijaksana yang berpemandangan luas, terdidik, sabar dan taat kepada peraturan Para Bijaksana sehingga patut untuk diikutinya.
Demikianlah bunyi lengkap ujar-ujar dalam kitab Dharmapada tentang kebahagiaan.
Memang hebat sekali Siauw-bin-hud yang menciptakan ilmu silat berdasarkan semua ujar-ujar itu.
Koan Jit adalah orang yang selama ini bergelimang dalam kejahatan, tidak pernah peduli lagi akan kesadaran atau kebajikan.
Bagaikan sebuah lampu yang sudah tebal dan kotor oleh debu, maka sinarnya tak mampu menyorot keluar, tidak mampu mendatangkan penerangan dan selalu berada dalam kegelapan.
Akan tetapi, latihan yang diberikan oleh Siauw-bin-hud, yang mengharuskan dia menghafal semua ujar-ujar itu sedemikian rupa sampai meresap dan dapat menjiwai, mendarah daging dalam kehidupannya, seolah-olah membersihkan debu dan lampu itu, dan diapun dapat melihat karena sinarnya menjadi terang.
Perlahan-lahan namun pasti, terjadi perubahan hebat dalam diri dan batin Koan Jit.
Makin dia memperdalam Ilmu Silat Kebahagiaan itu, semakin hebat pula terjadi perubahan itu.
Selama seratus hari dia berlatih, dan Koan Jit seperti orang yang baru lahir kembali, bedanya dengan Koan Jit sebelumnya, seperti bumi dan langit!
Matanya yang biasanya tajam seperti mata kucing, penuh kebencian dan kekejaman, kini berubah menjadi tajam penuh kewaspadaan dan kelembutan.
Sikapnya yang biasanya gelisah dan selalu ketakutan, kini berubah lembut dan ramah tersenyum.
Bukan hanya lahirnya yang berubah karena pencerminan keadaan batinnya, bahkan ilmu silatnya pun mengalami perubahan hebat.
Dulu, gerakan-gerakannya dalam ilmu silat penuh dengan gerak-gerak tipu yang penuh kecurangan dan kekejaman, penuh dengan ancaman maut.
Kini, gerakan-gerakannya yang masih sama cepatnya itu menjadi gerakan yang aneh dan terutama sekali Ilmu Silat Kebahagiaan itu dapat diresapinya sehingga merupakan ilmu yang dapat mengatasi dan menundukkan lawan dengan cepat tanpa melakukan pembunuhan.
Setelah seratus hari berlatih siang malam dengan sungguh-sungguh di bawah pimpinan Siauw-bin-hud, Kakek ini tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Omitohud... berkah Sang Buddha yang berlimpahan telah membuat engkau berhasil Koan Jit. Melihat gerakan-gerakanmu dalam berlatih tadi, engkau telah menguasai seluruh duabelas jurus Ilmu Silat Kebahagiaan, dan semoga engkau akan dilimpahi damai dan bahagia.
"Nah, engkau sudah lulus sekarang dan tepat seperti yang pinceng janjikan, setelah pinceng mewariskan ilmu baru ini kepadamu, pinceng siap untuk kau bunuh. Terimalah pedang ini dan lakukanlah niatmu membunuh pinceng!"
Kakek itu sambil tersenyum ramah lalu menyerahkan sebatang pedang terhunus kepada Koan Jit.
Sejenak Koan Jit memandang nanar dan tertegun, seolah-olah tidak percaya akan apa yang didengarnya, dan seolah-olah dia sudah lupa dan kini terkejut karena diingatkan kembali bahwa dia pernah mempunyai keinginan membunuh Kakek ini.
Hawa panas karena haru naik dari dadanya dan seperti menyangkut dan mencekik tenggorokannya.
Dia menerima pedang itu dari tangan Siauw-bin-hud tanpa berkata apapun, kemudian diapun mengayun pedang itu!
Bukan untuk membunuh Siauw-bin-hud, melainkan untuk membacok dan membuntungi kedua kakinya sendiri.
"Siancai...!"
Siauw-bin-hud menggerakkan tangannya dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh pikiran lumrah.
"Trakkk!"
Pedang itu tertangkis dan terlepas dan pegangan Koan Jit.
"Omitohud, Koan Jit... apa yang kau lakukan itu?"
Siauw-bin-hud berkata dengan suara membentak.
Koan Jit menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siauw-bin-hud, dan dia menangis menggerung-gerung seperti anak kecil sambil membentur-benturkan dahinya ke atas tanah.
Selama hidupnya, baru sekali inilah dia mengalami hal seperti itu.
Jiwanya seperti meratap, perasaannya meluap-luap, keharuannya membuat dia menangis sesenggukan seperti seorang anak kecil.
Dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, melainkan menggerung-gerung dan membentur-benturkan dahinya di atas tanah depan kaki Siauw-bin-hud, Kakek yang pernah mau dibunuhnya itu.
Siauw-bin-hud memandang dan tersenyum, hatinya merasa gembira dan bahagia bukan main, karena dia mengerti bahwa telah terjadi pergolakan dalam batin Koan Jit, bahwa telah terjadi penyesalan yang akan membuat orang itu bertaubat selama hidupnya, perubahan yang membuka mata batin Koan Jit sehingga dia dapat melihat betapa sesat dan jahatnya dia di waktu yang sudah-sudah.
Dia membiarkan Koan Jit menangis, karena hanya tangislah yang merupakan obat terbaik dalam keadaan seperti itu.
Tanpa tangis, manusia akan menderita makin banyak kesengsaraan dan penyakit lahir batin.
Tangis dapat merupakan peluapan segala derita batin.
Setelah gejolak batin itu agak reda, dengan suara halus Siauw-bin-hud berkata.
"Koan Jit, hampir saja engkau melakukan hal yang bahkan lebih sesat dan jahat dari pada segala perbuatanmu yang sudah-sudah. Engkau hendak menyiksa diri sendiri? Bahkan membunuh diri sendiri, tiada gunanya untuk menebus segala kesalahan yang telah dilakukan di waktu yang sudah.
"Yang penting bukan hanya penyesalan dan pernyataan taubat. Yang terpenting adalah membuka mata penuh kewaspadaan dan kesadaran, sehingga mulai saat ini, engkau akan selalu dalam keadaan sadar dan akan melakukan hal-hal yang baik."
"Saya mengerti, Locianpwe... dan maafkanlah perbuatan saya tadi. Saya terdorong oleh rasa menyesal kepada diri sendiri bagaimana saya pernah mempunyai niat untuk membunuh Locianpwe yang bijaksana dan budiman. Malu sekali kalau saya mengenang semua perbuatan saya yang lalu. Mulai sekarang, saya bersumpah akan mengakhiri sisa hidup saya untuk mengabdi kebenaran dan kebajikan."
Kakek itu menarik napas panjang.
"Omitohud! Pinceng merasa berbahagia sekali bahwa penerangan telah mengusir kegelapan dan hatimu, Koan Jit. Akan tetapi, pinceng menyembunyikan diri karena tidak tahan melihat keadaan dunia yang menjadi keruh oleh ulah manusia. Dimana-mana, manusia telah mengumbar hawa nafsu, menggunakan kekerasan untuk saling bunuh.
"Dan semua perbuatan itu disembunyikan dalam dalih yang muluk-muluk. Ah, kinipun berkecamuk perjuangan menentang pemerintah penjajah.
"Memang sudah menjadi hak bangsa kita untuk memberontak. Akan tetapi, untuk inipun terpaksa harus dipergunakan kekerasan, bunuh-membunuh. Betapa ngerinya dan pinceng tidak akan melihat itu semua.
"Ingat, Koan Jit... engkau masih muda dan tentu saja engkau boleh mencampuri urusan perjuangan. Sebagai seorang warga negara, memang engkau berkewajiban untuk melindungi tanah air dan membela bangsamu. Akan tetapi semua itu harus kau lakukan dengan hati setia dan jujur, dan jangan sedikitpun juga bersumber kepada kepentingan diri pribadi. Mementingkan diri pribadi akan menodai dan mencemarkan semua perjuangan."
"Locianpwe, setelah menerima petunjuk Locianpwe selama ini, saya sudah dapat melihat dengan jelas, dan saya tidak mempunyai pamrih apapun, Locianpwe. Keinginan pribadi saya sudah mati, dan biarlah saya anggap demikian sehingga kematian itu akan saya tandai dengan pakaian berkabung untuk selamanya."
Siauw-bin-hud merasa gembira bukan main.
Gembira karena tanpa disangka-sangkanya, dalam keadaan dalam pertapaan itu, Tuhan telah menuntun Koan Jit memasuki guha sehingga orang itu akhirnya merasa memperoleh kesadaran.
Diapun lalu mempergunakan kesempatan itu untuk memberi petuah dan nasihat-nasihat yang amat berharga kepada Koan Jit, agar bekal batin orang itu semakin penuh untuk dia pergunakan menghadapi kehidupan yang sudah menjadi keruh dan kotor oleh ulah manusia pada umumnya itu.
Manusia sudah sedemikian butanya, sehingga untuk memperebutkan kesenangan bagi dirinya sendiri yang meluas menjadi ketenangan keluarga, kelompok, suku dan bangsanya, mereka rela untuk saling berbunuhan.
Dengan dalih mencari perdamaian, mereka rela membunuh.
Perdamaian hendak dicapai manusia melalui perang!
Ketenteraman hendak dicapai melalui huru-hara!
Sungguh aneh, lucu akan tetapi menyedihkan, namun kalau kita mau membuka mata memandang, memang demikianlah keadaan dunia kita!
Demikianlah jerit manusia yang dapat melihat semua itu, seperti yang sering dijeritkan oleh hati Siauw-bin-hud.
Terjadi perubahan besar dalam hubungan antara pemerintah Ceng dan pasukan-pasukan kulit putih.
Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi dimana-mana, yang bukan hanya memusuhi pemerintah Ceng akan tetapi juga merongrong pasukan kulit putih, membuat dua golongan ini segera melihat bahwa Persatuan antara mereka amat menguntungkan mereka bersama.
Bahkan penumpasan terhadap para pemberontak itu, kalau dilakukan dengan cara masing-masing, dapat memancing timbulnya pertentangan di antara mereka sendiri.
Hal ini terjadi pula di dalam ruangan bawah tanah di bukit sebelah belakang kuil Siauw-lim-si.
Karena bekerja sendiri-sendiri dalam menghadapi para pemberontak, maka mereka nyaris bertempur sendiri, saling bermusuhan.
Mereka maklum bahwa kalau hal ini terjadi, yang untung hanyalah para pemberontak.
Kedua pihak akan menjadi lemah sendiri.
Pasukan pemerintah Ceng lebih menguasai keadaan dan mengenal daerah, sedangkan pasukan orang kulit putih yang tidak begitu mengenal daerah, lebih kuat dalam persenjataan karena menguasai banyak senjata api.
Hal ini nampak oleh para pimpinan pasukan kedua pihak, dan mereka lalu mengadakan persekutuan atau Persatuan untuk bersama-sama menghadapi pemberontak-pemberontak itu dan menumpasnya.
Dan semenjak mereka mengadakan kerja sama, maka operasi-operasi yang mereka lakukan banyak membuahkan hasil.
Sarang-sarang para pemberontak yang kecil-kecil, yang berkelompok tidak lebih dari puluhan orang, berhasil disergap dan banyak dilakukan pembunuhan dan penangkapan-penangkapan.
Setelah adanya kerja sama itu, dalam waktu satu bulan saja, tempat tahanan pemerintah Ceng telah penuh dengan para tawanan yang dianggap sebagai pemimpin-pemimpin pemberontakan, dan jumlah tahanan ini setiap hari meningkat.
Di dalam penjara kota Hang-couw yang menjadi kota pelabuhan dimana tentara kulit putih berpusat di samping di Sang-hai, penuh dengan tahanan para pemberontak yang jumlahnya mencapai seratus orang lebih!
Mereka adalah orang-orang yang dianggap cukup penting, walaupun bukan pemimpin-pemimpin besar, karena para pemimpin besar itu belum ada yang dapat ditawan.
Menurut para komandan kedua pasukan yang bergabung itu, para pimpinan besar adalah pendekar-pendekar lihai, juga termasuk tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, dan datuk-datuk seperti San-tok, Hai-tok, Tee-tok dan murid-murid mereka.
Karena itu, ingin sekali mereka menangkap tokoh-tokoh besar ini, karena sekali tokoh-tokoh besar itu tertangkap, mereka yakin bahwa pemberontakanpun akan mudah dipadamkan.
Maka, kedua pihak lalu mengatur siasat, mencari jalan agar dapat menangkap para pimpinan pemberontak.
Malam itu amat gelap dan suasana di penjara besar kota Hang-couw sudah sunyi, karena agaknya para tahanan sudah tidur pulas walaupun keadaan mereka amat sengsara.
Kamar-kamar yang penuh dengan tawanan, tidur begitu saja di atas lantai yang dingin, juga berbau busuk.
Lebih dari seratus orang tawanan berada di satu ruangan besar yang terbagi menjadi belasan kamar.
Mereka ini semua adalah tawanan perang, anggauta-anggauta pemberontak yang tertangkap ketika diadakan pembersihan.
Akan tetapi para penjaga masih berjaga dengan penuh kewaspadaan.
Tidak kurang dari dua puluh orang berjaga di situ.
Mereka maklum bahwa teman-teman para tawanan yang masih berkeliaran di luar tentu akan berusaha membebaskan mereka yang tertawan.
Oleh karena itu, para penjaga itu siang malam secara bergiliran melakukan penjagaan yang kuat.
Dan karena kini pasukan-pasukan pemerintah Mancu telah bergabung dengan pasukan-pasukan orang kulit putih, di antara para penjaga itu terdapat dua orang perajurit kulit putih yang membawa bedil dan pistol.
Penjara itu dikurung tembok tinggi dan empat sudutnya terdapat tempat penjagaan yang selalu dijaga oleh masing-masing empat orang penjaga.
Isi penjara itu seluruhnya tidak kurang dari empatratus orang, akan tetapi tawanan para pemberontak disatukan di dalam ruangan yang dijaga ketat oleh dua puluh orang penjaga pilihan.
Malam semakin larut dan dingin.
Para penjaga sudah melakukan perondaan ketika tanda waktu tengah malam dipukul, dan keadaan di seluruh penjara itu nampak aman dan tenteram saja.
Para tahanan agaknya sudah tidur semua.
Terdengar dengkur di sana sini.
Ada pula terdengar keluhan-keluhan berat, dan tangis lirih tertahan.
Demikianlah keadaan ruangan penjara itu setiap malamnya.
Tak seorangpun di antara enam belas orang penjaga yang bertugas jaga di empat penjuru penjara melihat betapa ada sesosok bayangan hitam berkelebat dengan kecepatan seperti seekor kucing saja, melompati pagar tembok yang kebetulan agak gelap karena cahaya lampu gantung terhalang mencapai bagian itu.
Karena gerakan bayangan itu amat cepat, memang tidak mudah menangkap gerakannya.
Apalagi dia tadi hanya nampak bergerak melayang dan meloncati pagar tembok saja, yang hanya makan waktu dua-tiga detik.
Kini dia menyelinap ke dalam gelap, akan tetapi sudah berada di sebelah dalam tembok penjara.
Ketika bayangan itu muncul di bawah sebuah lampu gantung, biarpun hanya sebentar, namun sinar lampu yang menimpa mukanya menunjukkan bahwa dia adalah seorang laki-laki yang masih muda dan berwajah tampan.
Akan tetapi, dia cepat menggunakan sehelai saputangan hitam untuk menutupi bagian bawah mukanya, sehingga yang nampak kini hanya sepasang matanya yang mencorong tajam karena kepalanya juga terbungkus kain hitam.
Pakaiannya juga serba hitam sehingga ketika kembali dia berkelebat ke bagian yang tidak begitu terang, tubuhnya lenyap ditelan warna hitam.
Ketika itu, dua puluh orang penjaga yang bertugas juga di sebelah luar pintu besar ruangan tempat para tahanan pemberontak, masih asyik bermain catur dan kartu untuk melewatkan waktu malam.
Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak pernah menyangka bahwa tak jauh dari situ, di balik tiang yang besar, ada sesosok tubuh berpakaian serba hitam menyelinap dan mengintai ke arah mereka.
Bayangan itu menggunakan pandang matanya yang tajam untuk menyelidiki keadaan.
Pintu ruangan itu hanya satu-satunya, pintu besar dari besi yang kuat dan nampak betapa daun pintu itu ditutup dan diperkuat dengan sebuah rantai baja yang besar dan digembok.
Di sebelah dalam ruangan ini terbagi menjadi belasan kamar, yang tidak berdaun pintu dan tubuh para tawanan malang melintang di dalam kamar-kamar itu, nampak dari luar karena pintu besar itu beruji.
Setelah membuat perhitungan dengan pandang matanya, bayangan itu menggerakkan tangan kanan mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, juga tangan kirinya merenggut sebuah benda bulat.
Dia membuat perhitungan dan mengukur jarak dengan pandangan matanya, kemudian tangan kirinya melontarkan benda bulat itu ke arah para penjaga, dan sengaja melemparkan benda itu ke dekat meja penjaga yang sedang bermain kartu, dimana terdapat pula dua orang perajurit kulit putih yang membawa bedil dan pistol.
Terdengar ledakan keras dan asap mengepul tebal memenuhi ruangan itu.
Para perajurit yang berjaga mengeluarkan teriakan-teriakan kaget, beberapa orang di antara mereka terguling dan menutupi muka mereka karena serangan asap tebal.
Di antara kebutan asap tebal itu, bayangan hitam tadi berkelebat dan cepat dia menggunakan pedangnya membacoki rantai yang mengikat pintu besar.
Hanya beberapa kali bacokan saja, membuat rantai itu putus dan diapun cepat membuka daun pintu dan melompat masuk.
Para tahanan sudah terbangun karena terkejut.
Mereka semua terbelalak melihat semua yang terjadi, dan hati mereka terguncang dengan penuh kegembiraan dan ketegangan.
Tak salah lagi, mereka sedang ditolong orang yang pandai!
"Cepat, kalian lari keluar!"
Kata bayangan itu.
"Siapakah saudara?"
Tanya seorang di antara para tahanan. Tanpa menjawab, bayangan itu membuka penutup mukanya sehingga sejenak mukanya tertimpa sinar lampu gantung.
"Kau... kau ..."
Beberapa orang pemimpin pemberontak berseru kaget dan heran bukan main.
"Sssttt!"
Bayangan itu menutup kembali kain hitam di mukanya.
"Aku sengaja menyelundup ke dalam pasukan pemerintah. Keluarlah dan tunggu aku di luar kota sebelah selatan di luar hutan. Sudah kupersiapkan segalanya di sana."
Kini para penjaga sudah datang menyerbu.
Akan tetapi, bayangan itu mengamuk dengan pedangnya, menerjang keluar diikuti para tahanan yang juga melakukan perlawanan.
Karena para tahanan itu berjumlah seratus orang lebih, dan penolong mereka itu amat lihai, tentu saja para penjaga tidak kuat bertahan.
Apalagi dua orang perajurit kulit putih yang mereka andalkan, yang membawa bedil dan pistol, telah tidak berdaya dan setengah pingsan karena merekalah yang paling dekat dengan bom asap yang tadi meledak dekat sekali dengan mereka.
Jangankan mempergunakan senjata api dan ikut bertempur, untuk membuka mata saja mereka tidak sanggup.
Karena ini, para penjaga lalu melarikan diri dan terdengarlah mereka memukul kentungan tanda bahaya.
Karena markas pasukan gabungan pemerintah dan orang kulit putih berada tak jauh dari penjara, maka kini berbondong-bondong muncullah pasukan yang menyerbu ke penjara.
Akan tetapi, seratus lebih orang tahanan itu telah menyerbu keluar dan kini terjadilah pertempuran kecil di depan penjara dan nampak oleh para tawanan betapa penolong mereka mengamuk dengan hebatnya.
Betapapun juga, karena jumlah pasukan pemerintah lebih besar, akhirnya di antara para pelarian itu, ada pula yang tertangkap kembali.
Hanya kurang lebih tiga puluh orang saja, yang berhasil lolos.
Dan mereka ini, sesuai dengan pesan penolong mereka, lalu dengan berpencar keluar dari kota Hang-couw sebelah selatan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali tiga puluh orang telah berkumpul di luar hutan yang masih gelap itu.
Dan penolong merekapun muncul, masih berpakaian hitam-hitam akan tetapi tanpa mengenakan kain hitam penutup muka.
Melihat orang ini, tiga puluh tiga orang itu lalu menyambut dengan gembira.
Seorang pemimpin pemberontak berseru dengan kagum.
"Sungguh tidak kami sangka! Lee-Ciangkun selama ini dikenal sebagai seorang yang paling gigih menentang kami kau m pejuang, akan tetapi kenapa sekarang membalik dan menentang mereka, membantu para patriot?"
Laki-laki muda yang tampan, itu adalah Lee Song Kim, dan dia tersenyum.
"Akupun seorang warga negara yang mencinta tanah air dan bangsa."
Dia menarik napas panjang.
"Memang dahulu aku pernah terbujuk oleh pemerintah, akan tetapi setelah melihat betapa pemerintah bersekutu dengan orang-orang asing, dan melihat betapa orang-orang gagah bergerak memberontak terhadap kekuasaan asing, timbul semangatku untuk membantu perjuangan. Apalagi mengingat bahwa suhuku, yaitu Hai-tok Tang Kok Bu, menjadi seorang di antara pimpinan pejuang. Akan tetapi, aku tetap menjadi opsir pemerintah. Hal ini akan memudahkan aku untuk bergerak serta sembunyi dan berkedok lalu mengadakan kontak dengan para pejuang. Sebagai seorang opsir tinggi, aku dapat mengetahui semua rencana dan rahasia yang akan dilakukan oleh gabungan pasukan pemerintah dan orang kulit putih. Harap sampaikan pesanku kepada para pimpinan kalian bahwa mulai saat ini aku, Lee Song Kim, berpihak kepada mereka, akan tetapi diam-diam masih memegang jabatanku agar dapat mengetahui gerakan musuh."
Tentu saja para pemberontak atau yang menamakan diri mereka sendiri pejuang itu menjadi gembira.
Apalagi ketika Lee Song Kim membawa mereka ke sebuah tempat persembunyian didalam hutan dimana telah disediakan lebih dari empat puluh ekor kuda untuk mereka!
Benar-benar perbuatan Lee Song Kim sekali ini amat berjasa bagi perjuangan dan telah menjadi bukti yang cukup bahwa bekas penentang perjuangan itu kini benar-benar telah menjadi seorang di antara mereka.
"Lalu apa yang akan dilakukan oleh Lee-Ciangkun selanjutnya untuk membantu perjuangan?"
Tanya seorang di antara mereka. Song Kim tersenyum lagi, akan tetapi dia menggeleng kepala.
"Harap saudara-saudara jangan menyebut aku Lee-Ciangkun kalau kita sedang mengadakan pertemuan seperti ini. Bukankah kita sama-sama pejuang?"
"Baiklah, Lee-Taihiap! Harap beri petunjuk, apa yang harus kami lakukan selanjutnya dan bagaimana Taihiap akan dapat menghubungi kami, atau kami menghubungi Taihiap."
Song Kim tersenyum, girang dan bangga bahwa dia kini disebut Taihiap (Pendekar Besar).
"Cu-wi (anda sekalian) tentu sudah maklum bahwa aku menjadi opsir tinggi yang kini ditempatkan di Nan-king. Karena itu, tidak amanlah kalau kita mengadakan pertemuan di dekat Nan-king. Sebaiknya, tempat inilah, di dalam hutan ini, yang menjadi tempat pertemuan antara kita.
"Kuharap kalian sampaikan kepada para pimpinan kalian, selain apa yang telah kulakukan, juga agar para pimpinan dapat menemui aku pada tanggal satu bulan depan di tempat ini, di waktu malam. Hari itu masih ada tiga minggu lagi, dan kukira dalam waktu itu, aku sudah akan memperoleh banyak keterangan yang penting tentang gerakan pasukan pemerintah.
"Andaikata ada keperluan mendesak untuk disampaikan kepadaku, hubungi saja tukang sayur bernama Lo Kian yang tinggal di kota Nan-king, di ujung barat dekat kuil. Dialah yang suka menyetorkan sayur mayur ke gedungku, dan dia dapat kalian percaya untuk menyampaikan apa saja kepadaku tanpa dicurigai orang lain."
Semua orang bergembira karena mereka percaya bahwa perwira muda yang mereka tahu amat lihai itu biasanya ditakuti oleh para pejuang, kini benar-benar berpihak kepada mereka.
"Hidup Lee-Taihiap!"
Mereka berseru setelah mereka hendak berangkat, dan tak lama kemudian dengan berpencaran.
Song Kim juga cepat menyelinap pergi dan lenyap di antara batang-batang pohon di hutan itu.
Tentu saja di dunia kang-ouw dan para pejuang dan patriot menjadi geger ketika mereka mendengar akan peristiwa yang terjadi di dalam penjara kota Hang-couw itu.
Bermacam-macam tanggapan mereka terhadap peristiwa mengejutkan itu.
Banyak pula di antara mereka yang menaruh curiga.
Berita ini sampai pula ke telinga Hai-tok.
Mendengar tanggapan para pimpinan pejuang bahwa mungkin muridnya hanya mengatur siasat saja, hati Hai-tok menjadi panas.
"Kita lihat saja tanggal satu bulan depan nanti. Kalian datanglah ke hutan itu. Aku sendiri akan membayangi, dan kalau benar dia berkhianat dan mengatur jebakan, aku sendiri yang akan membunuhnya dengan kedua tanganku ini!"
Di dalam hatinya, Kakek yang bertubuh tinggi besar ini merasa kecewa dan berduka.
Dia amat mencinta Song Kim dan dianggapnya Song Kim murid yang teramat baik.
Tentang kecabulan atau kejahatan kejahatan lain yang dilakukan muridnya, dia tidak perduli, karena baginya, hal itu dianggap sebagai petualangan saja dan sudah wajar dilakukan oleh muridnya.
Akan tetapi ketika mendengar betapa muridnya itu menghambakan diri kepada pemerintah Ceng dan bahkan bersekongkol dengan orang-orang kulit putih, dia merasa malu dan marah bukan main.
Diam-diam tadinya dia mengharapkan untuk dapat menjodohkan Kiki dengan muridnya itu.
Akan tetapi Kiki malah pernah melapor kepadanya betapa Song Kim berusaha memperkosa Kiki.
Kini, Hai-tok mendengar betapa muridnya melakukan perbuatan yang amat membesarkan hatinya, yaitu membebaskan para tawanan di Hang-couw.
Kalau benar-benar muridnya itu telah berbalik pikiran dan menentang penjajah dan orang asing, dia masih mengharapkan untuk meraih murid itu agar kelak menjadi jodoh Kiki.
Maka, mendengar tanggapan yang mencurigai Song Kim, hatinya menjadi panas, juga khawatir karena siapa tahu muridnya itu benar-benar melakukan siasat untuk menghancurkan para pejuang.
Pada hari yang dijanjikan, para pemimpin pejuang menyebar anak buah untuk menyelidiki keadaan hutan di sebelah selatan kota Hang-couw.
Sejak sore hari, anak buah pejuang menyelinap dan melakukan penyelidikan.
Namun, hutan itu sunyi saja, tidak nampak seorangpun perajurit pemerintah atau kulit putih yang bersembunyi atau pengepung tempat itu.
Hati mereka menjadi lega.
Tidak kurang dari tujuh orang pemimpin kelompok-kelompok pejuang telah berdatangan ke tempat itu dengan mempergunakan ilmu kepandaian mereka sehingga hutan itu kini seperti didatangi iblis-iblis yang berkelebatan cepat.
Tokoh-tokoh besar seperti Hai-tok, San-tok dan Tee-tok tidak nampak, juga murid-murid mereka.
Mereka itu sedang bertugas di lain tempat.
Hanya Hai-tok yang diam-diam membayangi dan mengamati hutan itu, siap untuk membekuk batang leher muridnya kalau benar Song kini melakukan siasat memasang perangkap untuk para pimpinan patriot.
Setelah malam berkurang gelap karena bulan mulai muncul, bulan sabit yang ditemani bintang-bintang, muncul pulalah Lee Song Kim di tempat itu.
Melihat betapa pemuda ini datang seorang diri, tujuh orang pimpinan kelompok pejuang itupun melompat keluar dari tempat sembunyi mereka dan Song Kim telah dikepung oleh mereka.
Tentu saja tujuh orang ini mengenal baik perwira muda perkasa yang biasanya menjadi musuh besar mereka itu.
"Ah, cu-wi telah datang? Sungguh baik sekali, karena aku tidak mempunyai cukup waktu. Akan tetapi aku membawa berita yang amat mengejutkan dan juga amat penting bagi cu-wi (anda sekalian)."
Seorang di antara tujuh pemimpin itu, yang memakai sebuah topi caping lebar dan berpakaian seperti petani, melangkah maju.
Dia adalah seorang pemimpin pejuang yang terdiri dari keluarga petani.
Dia seorang kang-ouw berjuluk Kang-jiu-eng (Pendekar Bertangan Baja), ilmu silatnya tinggi, murid Bu-tong-pai dan terkenal gagah perkasa.
Pendekar yang usianya empat puluh tahun ini lalu menjura.
"Lee-Taihiap, kami semua telah mendengar akan perbuatan Taihiap membebaskan para tahanan di penjara Hang-couw. Untuk itu kami semua mengucapkan banyak terima kasih, dan kami merasa gembira bahwa Taihiap telah berbalik pikir dan membantu kami, berpihak kepada para pejuang dan menentang penjajah dan pasukan asing. Akan tetapi terus terang saja, di antara kamipun masih ada yang meragukan iktikad baik dari Taihiap, kami tidak tahu apakah Taihiap benar-benar akan membantu para pejuang."
Song Kim mengangkat kedua tangan ke atas dan memotong.
"Cukuplah, saudaraku yang baik. Aku bertindak menurut naluriku, dan aku tidak perduli dipercaya ataukah tidak, karena akupun tidak mengharapkan imbalan. Biarlah aku berjuang dengan caraku sendiri.
"Sekarang, dengarkanlah berita penting yang kubawa, dan bersiap-siaplah agar kalian tidak sampai dilanda malapetaka. Pasukan gabungan antara pemerintah dan orang kulit putih telah membuat rencana besar.
"Mereka telah menemukan sarang para pejuang di empat tempat, dan mereka akan melakukan penyerbuan serentak di empat tempat itu, dengan mengerahkan kekuatan yang besar, masing-masing tempat akan diserbu oleh seribu orang tentara gabungan. Waktu penyerbuan adalah tanggal tujuh tengah malam, dan kalau hal ini sampai terjadi, empat sarang itu tentu akan hancur dan seluruh penghuninya akan dibasmi habis."
Tentu saja keterangan ini penting bukan main. Bahkan Kang-jiu-eng sendiri memandang dengan mata terbelalak dan wajah berubah.
"Lee-Taihiap, empat tempat markas kami manakah yang telah diketahui dan akan diserbu?"
"Pertama adalah sarang yang berada di lereng bukit kembar di selatan Nanking, kemudian sarang kedua adalah yang berada di tepi muara Sungai Han-sui, yang ketiga adalah sarang yang berada di perkampungan Cou-san, dan keempat yang berada di kuil tua di hutan sebelah timur Nan-king."
Terdengar seruan-seruan kaget, karena di antara tujuh orang pemimpin kelompok pejuang itu terdapat empat orang pimpinan dan tempat-tempat yang disebutkan itu.
Bahkan Kang-jiu-eng sendiri adalah pemimpin dari kelompok yang bersembunyi di tepi muara Sungai Han-Sui!
Song Kim tidak mempedulikan mereka kini sibuk bicara sendiri, bahkan anak buah pejuang kini sudah bermunculan, memenuhi tempat itu.
"Aku tidak mempunyai banyak waktu. Kepergianku ini tidak dapat terlalu lama. Kalau mereka kehilangan aku, tentu akan menimbulkan curiga. Berita yang penting telah kusampaikan.
"Terserah kalau cu-wi ragu-ragu kepadaku, tidak percaya dan tidak mau bersiap-siap. Akan tetapi kalau penyerbuan itu benar terjadi, jangan salahkan aku. Nah. sampai lain kali. Kalau cuwi merasa perlu menghubungi aku, pakai saja tukang sayur sebagai perantara. Selamat berpisah!"
Lee Song Kim lalu berkelebat dan sekali meloncat, diapun lenyap dari depan semua orang yang merasa kagum dan jerih melihat kelihaian perwira muda yang kini berpihak kepada mereka itu.
Song Kim yang berloncatan dengan cepatnya meninggalkan hutan itu, ketika tiba di luar hutan, tiba-tiba terkejut karena seorang Kakek tinggi besar tahu-tahu telah berada di depannya, menghadang sambil bertolak pinggang.
Kakek ini bukan lain adalah Hai-tok, gurunya!
Dengan mata mencorong marah, Hai-tok mengertak.
"Hemm... murid durhaka, sekarang engkau hendak berkata apalagi!"
Melihat gurunya, Song Kim cepat menjatuhkan dirinya berlutut.
"Suhu... teecu telah bersalah dan bersedia menebus kesalahan teecu."
"Engkau tidak hanya mengkhianati guru sendiri dan bangsa sendiri. Engkau telah menjadi anjing penjilat sepatu penjajah Mancu dan bahkan orang-orang kulit putih! Apa kau kira aku dapat membiarkan engkau hidup setelah melakukan perbuatan terkutuk itu!"
"Ampun suhu. Teecu memang telah terbujuk dan silau oleh kedudukan. Akan tetapi teecu telah insyaf dan sadar, dan kini teecu sedang berusaha menebus semua kesalahan teecu dengan membantu perjuangan."
Diam-diam Hai-tok merasa girang dan juga bangga terhadap muridnya ini. Tentu saja dia tadi sudah mendengarkan semua yang dibicarakan Song Kim ketika bertemu dengan para pimpinan pejuang.
"Aku sudah tahu akan hal itu, kalau tidak, apa kau kira sekarang engkau masih dapat bicara? Nah, akan kulihat apakah laporanmu tadi benar. Kalau engkau berkhianat, masih belum terlambat bagiku mencarimu dan menghukummu dengan kedua tanganku sendiri!"
"Teecu bersedia menerima hukuman mati dari suhu kalau teecu berkhianat,"
Kata Song Kim dengan suara tegas. Dan hati Kakek itu menjadi semakin girang. Tidak percuma dia menyayang murid ini dan mewariskan hampir semua ilmu kepandaiannya.
"Nah... sekali ini kuberi kebebasan padamu. Pergilah!"
"Suhu memang selalu baik kepada teecu. Terima kasih, suhu."
Berkata demikian, Song Kim lalu meloncat dan lenyap dari depan suhunya yang mengikutinya dengan pandang mata penuh rasa bangga.
Tentu saja para pimpinan pejuang segera bubaran dan cepat kembali ke tempat masing-masing.
Terutama sekali empat orang yang mendengar bahwa sarang mereka akan diobrak-abrik oleh pasukan gabungan yang terdiri dari seribu orang.
Bayangkan saja, seribu orang perajurit musuh, dan banyak di antara mereka yang memegang senjata api!
Tentu mereka akan hancur binasa dan sukar sekali untuk dapat meloloskan diri.
Tentu saja sebelum hari tanggal tujuh itu tiba, para pejuang telah meninggalkan sarang masing-masing, mengosongkan markas itu dan bersembunyi di tempat lain.
Akan tetapi dengan hati penuh ketegangan, para pimpinan pejuang itu mengutus beberapa orang anak buah untuk melakukan pengintaian dari tempat aman, untuk melihat apakah benar pada tanggal itu akan terjadi penyergapan seperti yang diceritakan oleh Lee Song Kim kepada mereka.
Hari tanggal tujuh pun tibalah, dan terlihat ketegangan memuncak di dalam hati para pejuang!
Dan menjelang tengah malam, dengan hati ngeri mereka melihat bahwa apa yang diceritakan oleh Song Kim itu benar terjadi semua!
Di setiap tempat dari empat markas mereka itu, datang seribu orang perajurit gabungan yang lengkap dengan senjata api menyerbu, Dan ketika mereka mendapat kenyataan bahwa markas-markas itu telah kosong, mereka menjadi marah dan membakar segala yang terdapat di situ.
Dapat dibayangkan oleh para pejuang apa yang akan menjadi nasib mereka, sekiranya mereka tidak tahu lebih dahulu dan berada dalam keadaan tidur pulas selagi penyergapan itu terjadi.
Tentu mereka akan dibantai dan sama sekali tidak diberi kesempatan untuk meloloskan diri!
Kembali dunia kau m pejuang menjadi gempar!
Dan kini, mereka semua memuji-muji Lee Song Kim.
Tidak ada lagi yang meragukan kesetiaannya terhadap perjuangan.
Bukankah pemuda itu telah menyelamatkan ribuan nyawa para pejuang?
Dan kini para pimpinan pejuang, yang jumlahnya belasan orang, mengadakan pertemuan rahasia dipimpin oleh Si Pendekar Tangan Baja.
"Tenaga Lee-Taihiap amat kita perlukan,"
Demikian antara lain Kang-jiu-eng berkata.
"Dengan adanya dia yang dipercaya oleh pemerintah penjajah dan pasukan asing, kita akan dapat mengetahui semua gerak-gerik mereka. Tiba saatnya bagi kita untuk menyatukan kekuatan dan mengadakan pukulan balasan yang tepat.
"Kalau kita sudah mengetahui rahasia kekuatan dan kedudukan mereka, tentu akan mudah bagi kita untuk menghantam mereka dengan hasil baik. Dan semua keterangan itu, kiranya hanya dapat kita peroleh dari Lee-Taihiap."
"Benar, kita harus cepat menghubung Lee-Taihiap,"
Kata seorang di antara mereka.
"Dan kita sudah tahu bagaimana caranya untuk dapat menghubungi Lee-Taihiap. Nanti kalau sudah ada kontak dan ada penentuan harinya untuk mengadakan pertemuan dengan Lee-Taihiap, cuwi akan kuberi kabar lagi."
Demikianlah, tukang sayur Lo Kian segera dihubungi dan benar saja, dari tukang sayur ini, Kang-jiu-eng dapat mengadakan pertemuan rahasia dengan Song Kim.
Perwira muda itu menyambut baik undangan para pimpinan pejuang.
Dan pada suatu malam, diadakanlah pertemuan antara Song Kim dan belasan orang pimpinan pejuang.
Akan tetapi, dalam pertemuan ini, Song Kim mengerutkan alisnya dan nampak kecewa karena dia tidak melihat adanya tokoh-tokoh besar pimpinan para pejuang.
"Aku ingin membicarakan urusan yang amat penting, menggambarkan keadaan pasukan pemerintah dan pasukan asing. Karena itu, rapat yang amat penting ini seharusnya dihadiri oleh seluruh pimpinan pejuang, terutama sekali para Locianpwe. Kenapa para Locianpwe tidak hadir di sini? "Padahal, selain suhu Hai-tok yang dibantu puterinya, yaitu sumoi Tang Ki, masih terdapat tokoh-tokoh seperti Locianpwe San-tok, Locianpwe Tee-tok, bahkan Locianpwe Siauw-bin-hud bersama murid-murid mereka yang aktif dalam perjuangan. Kenapa mereka tidak muncul? Apakah mereka masih belum percaya kepadaku?"
"Bukan begitu, Taihiap. Akan tetapi selain para Locianpwe itu sukar sekali ditemui dan mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, juga para murid mereka melakukan perjuangan dengan menyendiri, mengandalkan kepandaian mereka yang tinggi. Karena itu, hanya kami saja yang hadir, para pimpinan dan pasukan-pasukan pejuang yang merupakan sebagian besar dari seluruh pejuang yang ada."
Song Kim menggeleng kepala dengan kecewa.
"Sayang, tak mungkin aku dapat membuka semua rahasia tanpa hadirnya mereka. Sekali dibuka, rahasia dan kekuatan pihak pemerintah, kita harus melakukan penyergapan total dan serentak. Dan hal ini merupakan perang yang tidak kepalang tanggung.
"Kalau menang, kita berhasil menumbangkan penjajah dan mengusir pasukan asing. Akan tetapi salah perhitungan sedikit saja, akan membahayakan kedudukan kita sendiri. Oleh karena itu, perlu kehadiran para Locianpwe, baru aku mau mengadakan perundingan."
Ucapan Song Kim itu dapat diterima oleh para pimpinan pejuang.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Lee-Taihiap, dan kalau kita mau berusaha, tentu para Locianpwe itu dapat kita undang untuk menghadiri rapat yang amat penting ini. Bukankah dalam pertemuan yang lalu, Locianpwe Hai-tok Tang Kok Bu juga berkenan datang? Mengapa yang lain tidak dapat hadir kalau memang kita cari dan kita undang?"
"Nah, kalau begitu, biarlah diadakan pertemuan lain kali saja dan agar dapat mengundang para Locianpwe, kalau mungkin bersama murid-murid mereka. Tempatnyapun harus dirobah.
"Ada sebuah tempat yang amat baik untuk pertemuan besar itu, tempatnya sunyi dan sebaiknya diadakan pada pagi hari. Pagi-pagi sekali pada saat matahari mulai memancarkan sinarnya, pada saat ayam-ayam jantan mulai berkokok."
"Dimanakah tempat itu, Lee-Taihiap?"
"Di lembah Sungai Han-sui, di kaki Bukit Naga. Bukankah di sana terdapat sebuah padang rumput yang dikelilingi anak bukit? Tempat itu baik sekali kalau kita berkumpul di sana, tidak akan nampak oleh orang luar. Dan tempat itu sunyi sekali, tak pernah dikunjungi orang. Selain itu, juga luas sehingga kalau terjadi apa-apa, kita akan dapat bubar dan berpencar ke segala penjuru."
Semua orang mengangguk-angguk (Lanjut ke
Jilid 35) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 35 setuju. Memang tempat itu pernah mereka jadikan tempat untuk berlatih baris dan ilmu silat.
"Akan tetapi kapankah waktunya, Taihiap?"
"Sebaiknya, agar kita mempunyai waktu untuk mengundang para Locianpwe, nanti dua minggu kemudian."
Mereka lalu berunding dan setelah waktu dan tempat ditentukan, mereka lalu bubaran dengan perasaan puas.
Para pimpinan pejuang itu lalu bekerja keras untuk menghubungi tokoh-tokoh besar yang mereka kenal.
Siauw-bin-hud tak mungkin dapat dihubungi karena tokoh ini tidak mau lagi mencari urusan dunia dan telah mengasingkan diri entah kemana.
Juga pendekar yang dianggap wakilnya, yaitu Tan Ci Kong, sukar untuk dihubungi karena pendekar ini melakukan gerakan sendiri setelah berhasil mengelabuhi Song Kim dengan penyamarannya bersama Lian Hong dan Kui Eng.
Dia berpencar dan terpisah dari dua orang gadis itu dan melanjutkan bantuannya terhadap para patriot dengan cara bekerja sendiri.
Bahkan para pendekar muda itu tidak berhasil dihubungi para pimpinan pejuang, akan tetapi mereka masih merasa beruntung karena berhasil menghubungi Hai-tok, Tee-tok, dan San-tok.
Tiga orang Kakek itu telah menyatakan kesanggupan mereka untuk menghadiri rapat pertemuan dengan Lee Song Kim untuk mengatur dan merencanakan penyerbuan total yang besar-besaran.
Dan malam yang telah direncanakan semenjak tengah malam, di tempat yang ditentukan itu bermunculan tokoh-tokoh yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.
Mereka itu bermunculan seperti setan-setan saja, dengan gerakan yang amat cepat sehingga secara tiba-tiba saja mereka nampak seorang demi seorang.
Mereka berkumpul di lapangan rumput yang luas itu, lapangan rumput yang kelilingi anak bukit dan tanggul air Sungai Han-sui.
Tempat itu memang sunyi melengang dan merupakan tempat yang amat baik, karena kedatangan musuh sudah akan dapat dilihat dan jarak jauh.
Hai-tok, Tee-tok dan San-tok bermunculan tanpa membawa murid mereka, karena pada waktu itu, kebetulan murid-murid mereka sedang tidak ada di tempat.
Kalau ada murid-murid mereka, tentu mereka akan mewakilkan kepada murid-murid mereka.
Akan tetapi karena tidak ada wakil, dan mengingat pentingnya pertemuan itu, mereka datang sendiri, dan setelah terdengar bunyi ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya, seluruh pimpinan para pejuang telah berkumpul di tempat itu.
Jumlah mereka ada limabelas orang, terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi.
"Hai-tok, mana setan cilik yang menjadi muridmu itu? Kenapa dia belum juga muncul?"
Tiba-tiba terdengar suara Tee-tok bertanya, biarpun tubuhnya pendek kecil akan tetapi suaranya lantang terdengar oleh semua orang yang kini menoleh dan memandang kepada Hai-tok untuk mendengarkan jawabannya, karena karena merekapun ingin sekali mengetahui mengapa Lee Song Kim belum juga nampak muncul di tempat yang sudah dijanjikan itu.
"Mana aku tahu? Sudah lama dia tidak menjadi munidku, bahkan pernah hampir menjadi musuh besarku. Kalau dia sekarang menunjukkan jasa yang besar, barulah dia patut menjadi muridku."
"Ha-ha-ha-ha! Hai-tok memang selamanya licik! Kalau murid itu baik, cepat diakuinya sebagai murid, kalau sebaliknya, berbalik menjadi musuhnya. Jangan-jangan sekali ini dia tidak muncul dan kita berada dalam perangkap. Hai-tok, kalau terjadi demikian, maka sekali ini jelas kau kalah licik dibandingkan muridmu sendiri, ha-ha!"
San-tok berkata lantang. Hai-tok mengerutkan alisnya dan memandang kepada Racun Gunung itu dengan mata mendelik.
"Jagalah sedikit mulutmu, San-tok! Sebelum engkau melihat buktinya, jangan dulu menjatuhkan fitnah. Bukankah sudah dua kali Song Kim membuktikan bahwa dia setia dan membela kawan-kawan kita?"
Pada saat itu, terdengarlah suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan dan jauh, dan semua orang saling pandang karena belum juga nampak munculnya orang yang mereka tunggu-tunggu, yaitu Lee Song Kim.
Tiba-tiba tiga orang Kakek sakti itu memutar tubuh memandang ke arah anak bukit yang menjadi tanggul sungai.
Semua orang ikut memandang dan nampaklah sesosok tubuh manusia.
Mula-mula nampak kecil saja akan tetapi dengan cepat menjadi besar.
Cahaya matahari pagi sudah mengusir kegelapan malam dan dengan kecepatan luar biasa, tubuh manusia itu kini menuruni anak bukit.
Semua orang tadinya menduga bahwa tentulah Lee Song Kim, orang yang mereka tunggu-tunggu itulah yang datang.
Akan tetapi mereka kini memandang ragu karena nampaklah bahwa orang itu memiliki tubuh yang gemuk dengan perut gendut dan kepala kelihatan gundul dari jauh.
"Eh, mau apa iblis itu datang ke sini?"
Hai-tok menggumam ketika dia mengenal bahwa orang yang datang dengan cepatnya ini adalah Thian-tok! "Hemmm, biar kutantang dia mengadu ilmu di tempat yang baik ini,"
Kata Tee-tok yang marah karena Thian-tok adalah seorang di antara Empat Racun Dunia yang sama sekali tidak mau tahu tentang perjuangan, bahkan kabarnya mengikuti murid-muridnya yang menghambakan dirinya kepada orang kulit putih hal yang amat dibencinya oleh para patriot.
"Ho-ho, diapun masih hutang beberapa gebukan dariku!"
Sambung San-tok yang juga tidak suka kepada Thian-tok.
Akan tetapi orang yang dijadikan bahan percakapan tiga orang tokoh sakti itu, setelah tiba di depan mereka, memperlihatkan sikap dan wajah yang serius sekali, bahkan nampak agak gugup.
"Celaka... celaka!"
Katanya sambil memandang kepada mereka semua, lalu menghadapi Hai-tok, dia memaki.
"Hai-tok, muridmu itu boleh jadi cerdik dan pandai sekali, akan tetapi ini keterlaluan, menyeret para pimpinan pejuang ke dalam perangkap maut!"
"Apa maksudmu!"
Bentak Hai-tok, sedangkan yang lain juga terbelalak memandang Kakek, berperut gendut yang bertelanjang dada ini.
"Maut telah berada di depan mata, kalian masih belum tahu! Tempat ini telah dikepung ribuan orang perajurit dan kalian tidak mungkin dapat lolos lagi!"
Kata Thian-tok.
Semua orang terkejut, akan tetapi tiga rekan Thian-tok itu masih tidak percaya.
Thian-tok ini terkenal cerdik dan licik, siapa tahu dia inilah yang berbohong.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar tambur dan terompet.
Semua orang terkejut dan memandang ke sekeliling, dan nampaklah orang-orang berpakaian seragam bermunculan di atas bukit-bukit yang mengelilingi tempat itu.
Barisan anak panah, barisan senapan, bahkan di delapan penjuru muncul meriam yang menodongkan moncongnya ka arah mereka.
"Celaka, kita terjebak!"
Lima orang pejuang yang menjadi panik akan tetapi juga marah karena mereka telah dikhianati dan terjebak, segera meloncat dan bermaksud untuk melawan dan menerobos keluar.
"Jangan...!"
Thian-tok masih berseru kepada mereka, akan tetapi dalam keadaan panik dan marah seperti itu, lima orang itu sama sekali tidak mau perduli dan mereka sudah berlompatan naik ke bukit untuk menerjang pasukan yang mengepung tempat itu dan yang berjajar di puncak bukit-bukit kecil itu.
Akan tetapi, sebelum lima orang itu sempat menggerakkan senjata tajam di tangan mereka, tiba-tiba terdengar bunyi letusan meledak-ledak dan ratusan butir peluru beterbangan menyambar.
Lima orang pemimpin pejuang itu roboh terjengkang, dan mayat-mayat mereka terguling-guling jatuh lagi ke bawah bukit.
Tubuh mereka berlumuran darah dan luka-luka yang banyak sekali.
Para pemimpin pejuang lainnya hanya memandang dengan pandang mata terbelalak, penuh kemarahan akan tetapi merekapun maklum bahwa memang tidak ada gunanya melawan musuh yang demikian banyaknya, apalagi mereka dikepung barisan anak panah dan senjata api.
Sebelum mereka sempat menyerang, tentu tubuh mereka menjadi sasaran peluru dan anak panah.
Pada saat itu, muncullah Letnan Peter Dull bersama seorang panglima pasukan pemerintah Mancu.
Mereka muncul di bawah pengawalan pasukan kulit putih yang membawa bedil yang sudah dipasangi bayonet, juga di dekat mereka terdapat dua buah meriam besar.
"Pemberontak-pemberontak! Kalian sudah terkepung, dan kalau kalian mau menyerah tanpa perlawanan, kamipun tidak akan membunuh kalian, melainkan menangkap kalian dan membawa kalian ke Nan-king! Menyerahlah atau kami akan memerintahkan meriam-meriam dan senapan-senapan dan anak-anak panah menyerang kalian!"
"Kami tidak akan melawan dan menyerah!"
Terdengar Thian-tok berseru keras sambil memandang kepada tiga orang rekannya yang juga tidak dapat melihat jalan yang lain yang lebih baik kecuali menyerah untuk sementara waktu ini.
Panglima Ceng itu lalu mengeluarkan aba-aba dan belasan orang perajurit Ceng yang membawa borgol lalu menuruni anak bukit.
Mereka lalu memborgol kedua tangan para pimpinan pejuang itu di belakang punggung masing-masing.
Borgol baja itu amat kuat, sengaja dibuat untuk para pemimpin pejuang yang terkenal lihai itu.
Setelah semua tawanan diborgol kedua tangannya di belakang, sang panglima lalu memerintahkan mereka semua memasuki empat buah kereta yang sudah dipersiapkan pula di situ.
Kereta-kereta besar yang terbuat dan pada baja, dengan jeruji-jeruji baja yang amat kuat, masing-masing ditarik oleh empat ekor kuda.
Terpaksa para tokoh pejuang itu di bawah todongan senapan, berjalan dan beriringan memasuki kereta.
Tinggal sebelas orang saja yang menyerah, karena yang lima orang telah tewas tadi dan mayat-mayat mereka kemudian diseret dan dilempar ke dalam kereta lain oleh para perajurit.
Empat buah kereta itupun lalu bergerak, dikepung oleh para perajurit yang merasa lega dan gembira sekali karena orang-orang yang amat lihai itu menyerah tanpa perlawanan.
Hai-tok, dengan mata merah, memandang ke sekeliling mencari-cari, akan tetapi dia tidak melihat bayangan Lee Song Kim.
Diam-diam dia mengepal tinju.
Awas kau , kalau aku berhasil lolos, tugasku yang pertama kali adalah mencarimu dan menghancurkan kepalamu, demikian bisik hatinya.
Akan tetapi sikap San-tok lain lagi.
Dia masih tersenyum-senyum dan mengejek Thian-tok.
"Eh, apa-apaan engkau ikut ditawan bersama kami? Bukankah engkau pernah menjilati sepatu orang bule? Ataukah engkau juga seperti iblis cilik itu, kini pura-pura saja menjadi tawanan bersama kami?"
"Orang gunung tolol!"
Thian-tok juga terkekeh.
"Sejak semua usahaku sia-sia belaka, tak berhasil mendapatkan Giok-liong-kiam, tak berhasil pula mengangkat kedudukan muridku, juga tidak berhasil membunuh Koan Jit jahanam murtad, aku tahu bahwa aku telah berdosa terhadap tanah air dan bangsa.
"Nah, sekarang ada kesempatan bagiku untuk menebus dosa, tapi dasar aku sial, aku terlambat memberi tahu kalian. Aku gagal menolong kalian, bahkan aku sendiri terperosok ke dalam. Sudahlah, gembira juga dapat bersama kalian bertiga menghadapi bahaya maut, ha-ha-ha!"
San-tok tertawa geli. Melihat ini, Thian-tok mengerutkan alisnya.
"Berani kau mentertawai aku?"
Bentaknya.
"Aku menertawakan diriku sendiri, mentertawakan diri kita berdua. Kita semua, termasuk Siauw-bin-hud dan seluruh orang kang-ouw, setengah mati memperebutkan Giok-liong-kiam. Dan harus diakui bahwa akhirnya akulah yang berhasil. Akan tetapi, kemudian apa jadinya? Setelah peti harta karun kutemukan, ternyata isinya kosong! "Ehh? Engkau bersungguh-sungguh?"
Sambil tertawa-tawa, San-tok menceritakan semua yang telah dialaminya di dalam guha itu, betapa setelah menemukan peti, ternyata isinya telah kosong.
Semua tokoh ikut mendengarkan dan merasa terheran-heran.
Dan merekapun mendengar pula akan kelicikan Lee Song Kim yang membiarkan para tokoh sakti menemukan harta karun, baru dia akan muncul bersama pasukannya untuk merampasnya.
Akan tetapi ketika itu, pasukan pemerintah belum mengadakan persekutuan dengan pasukan asing, maka hampir saja terjadi bentrok sendiri di antara mereka untuk memperebutkan peti yang ternyata kosong.
"Aih, kalau begitu siapa gerangan yang telah mendahului kalian? Aku jelas tidak!"
Kata Thian-tok.
"Kita semua telah didahului oleh tokoh-tokoh ratusan tahun yang lalu, yang mempergunakan tiga perempat bagian dari harta itu untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Akan tetapi sisanya yang seperempat entah lenyap kemana,"
Kata San-tok.
Para tokoh lain sibuk merenungi diri mereka yang kini menjadi tawanan, seperti tikus-tikus memasuki lubang jebakan dan mereka heran melihat sikap empat orang tokoh Empat Racun Dunia itu yang kelihatan tenang-tenang dan enak-enakan saja.
Tentu saja para pembesar tinggi di Kota Raja girang bukan main mendengar bahwa berkat siasat cerdik yang dilakukan oleh Lee Song Kim, akhirnya semua pemimpin para pejuang dapat ditangkap tanpa perlawanan berarti!
Lee Song Kim diterima oleh kaisar sendiri dan menerima pangkat panglima.
Sambil menanti keputusan pengadilan di Kota Raja, untuk sementara para tawanan itu ditahan di kota Nan-king, di tempat rahasia yang amat kuat.
Tahanan itu berada di bawah tanah, melalui lorong-lorong yang penuh rahasia dan dijaga dengan ketatnya oleh pasukan gabungan.
Jangankan orang-orang biasa, biar pasukan yang besar sekalipun takkan mudah untuk dapat membebaskan para tawanan itu.
Dan dunia para pejuang menjadi semakin gempar.
Para pimpinan mereka telah tertawan, menjadi korban siasat busuk dari pengkhianatan Lee Song Kim.
Tentu saja hal ini membuat gerakan para pejuang seperti lumpuh seketika.
Gangguan-gangguan keamanan kini hanya terjadi secara kecil-kecilan dan tidak ada artinya lagi.
Para pejuang kehilangan semangat.
Kemana perginya murid-murid dan Empat Racun Dunia?
Apakah mereka tidak mendengar akan malapetaka yang menimpa guru-guru mereka?
Tentu saja mereka mendengarnya karena berita tentang peristiwa itu segera tersebar dengan luas.
Para pendekar muda itu terkejut bukan main dan mereka segera mengadakan pertemuan di sebuah tempat rahasia di Nan-king untuk membicarakan urusan itu.
Mereka semua telah berkumpul.
Ci Kong, Siu Coan, Kui Eng, Lian Hong, dan Kiki, telah mengadakan pertemuan di dalam sebuah kuil tua yang rusak dan tidak terpakai lagi di lereng bukit luar kota Nan-king.
Berhari-hari mereka berlima itu berusaha untuk membebaskan tawanan, namun usaha mereka selalu gagal.
Dengan susah payah, akhirnya mereka dapat juga mengetahui dimana adanya tempat tahanan itu, akan tetapi untuk dapat memasuki tempat tahanan itu saja sudah amat sulit, apalagi untuk membebaskan mereka!
Baru muncul saja, mereka telah berhadapan dengan moncong-moncong bedil dan pistol, dan disambut oleh ratusan orang perajurit.
Sampai beberapa kali mereka mencoba dan berbagai jurusan, namun akhirnya selalu mereka harus melarikan diri kalau tidak ingin menjadi korban peluru bedil dan pistol.
Tempat tahanan itu, menurut penyelidikan mereka, berada di ruangan bawah tanah di belakang kebun dan rumah penjara di Nan-king.
Dan di belakang itu adalah sebuah bukit, berarti bahwa tempat tahanan itu berada di bawah bukit.
Jalan masuk satu-satunya hanyalah melalui pintu penjara itu, karena pintu masuk terowongan itu berada di dalam halaman penjara sebelah belakang.
Dan di tempat inilah berkumpul lebih dari seratus orang perajurit gabungan, setiap saat siap dengan senjata api dan pengeroyokan mereka.
Semenjak sore, setelah kembali mempelajari keadaan di penjara itu, lima orang pendekar muda itu sudah melakukan pengintaian dan penyelidikan terhadap gerak-gerik para penjaga.
Mereka memang mengambil keputusan untuk bagaimana juga membebaskan para pemimpin pejuang, terutama sekali Empat Racun Dunia yang memiliki pengaruh besar terhadap para pejuang.
Mereka bukan saja hendak menolong guru mereka masing-masing, akan tetapi, seperti juga Ci Kong yang gurunya tidak ditahan, mereka bertindak demi perjuangan.
Setelah tengah malam lewat, mereka menganggap tiba saatnya untuk melakukan percobaan lagi.
Yang keempat kalinya, karena sudah tiga kali mereka gagal, bahkan Siu Coan menderita luka sedikit di pangkal lengan kirinya, kena serempet peluru.
Pada saat itu, mereka menganggap bahwa para pengawal dan penjaga itu tentu telah mulai mengantuk.
Mereka telah memperhitungkan bahwa menurut penyelidikan mereka, baru dua jam lagi penjagaan akan diganti dan saat itulah mereka sedang lelah-lelahnya dan ngantuk-ngantuknya.
Lima orang itu menyerbu dari lima jurusan, berloncatan dan atas tembok penjara yang tinggi.
Tentu saja para penjaga menjadi terkejut dan cepat kentungan dipukul.
"Mereka kembali lagi, lima ekor setan cilik itu. Bunuh mereka!"
Teriak komandan jaga.
Dan tiba-tiba saja mereka itu lari bersembunyi!
Selagi lima pemuda perkasa itu terkejut melihat ini, karena biasanya mereka segera dikeroyok, tiba-tiba saja terdengar ledakan-ledakan dari kanan kiri dan depan, dan tahulah mereka bahwa para penjaga itu memang sudah siap siaga!
Kini mereka tidak melakukan pengeroyokan lagi, melainkan membersihkan tempat itu dari para penjaga sehingga hanya mereka berlimalah yang tinggal menjadi sasaran tembakan-tembakan.
"Awas... mundur!"
Bentak Ci Kong dan mereka sudah bergulingan ke atas tanah sehingga semua tembakan itu tidak mengenai sasaran, kemudian terpaksa mereka berlompatan kembali ke atas tembok penjara dan meloncat ke luar lalu melarikan diri!
Mereka berlima menanti datangnya fajar dengan gelisah.
Tak dapat tidur di dalam kuil tua itu betapa pun lelah tubuh mereka.
Kegagalan kali ini adalah kegagalan total.
Tiga kali yang terdahulu, biarpun gagal, mereka berhasil mengacaukan keadaan, bahkan merobohkan banyak pengawal.
Akan tetapi sekali ini, begitu muncul mereka terpaksa harus melarikan diri lagi!
Sampai pagi mereka membicarakan urusan itu, mencari-cari akal bagaimana cara agar dapat menolong guru-guru mereka.
"Bagaimanapun juga, kita harus membebaskan mereka! Aku harus menyelamatkan suhu, dan kalau perlu aku akan mengerahkan para pejuang dan pembantuku, yaitu mereka yang bekerja di pelabuhan!"
Kata Kui Eng penuh semangat.
"Akupun harus menyelamatkan Ayah, biarpun untuk itu harus mempertaruhkan nyawa!"
Kata pula Tang Ki atau Kiki puteri Hai-tok Tang Kok Bu.
"Benar... aku harus membebaskan suhu pula,"
Kata Lian Hong. Ong Siu Coan mengangguk-angguk.
"Memang mereka perlu diselamatkan. Aku tidak terlalu mementingkan suhu yang juga ikut tertangkap karena suhu selama ini tidak pernah mencampuri urusan perjuangan. Akan tetapi aku lebih mementingkan para pimpinan pejuang, karena tenaga dan pikiran mereka amat diperlukan."
Ci Kong juga mengangguk-angguk.
"Memang mereka harus dibebaskan, akan tetapi bagaimana caranya? Sudah empat kali kita berusaha, selalu gagal."
"Kita harus mencoba lagi sekuat tenaga dan kalau perlu mencari bala bantuan!"
Kui Eng berkata.
"Aku pun dapat mengumpulkan ribuan orang teman untuk melakukan penyerbuan ke penjara kalau mungkin,"
Kata pula Siu Coan, dan dia tidak membual ketika mengeluarkan ucapan itu.
Pemuda ini memang telah mengumpulkan bekas-bekas anggauta Thian-te-pang yang masih setia kepadanya, dan membentuk sebuah perkumpulan baru yang dia beri nama Pai Sang-ti Hwee (Perkumpulan Pemuja Tuhan), dimana dia memasukkan Agama Kristen menurut penafsirannya sendiri.
Kalau dia sekali ini berkumpul dengan para murid Empat Racun Dunia adalah karena dia ingin bekerja sama dengan mereka, menarik perhatian dan simpati mereka agar kelak dia dapat memperoleh bantuan untuk gerakannya itu.
"Aih, berbahaya kalau begitu!"
Kata Lian Hong.
"Kalau terlalu banyak yang melakukan penyerbuan, selain penjagaan akan semakin diperketat, juga ada bahayanya para tawanan itu dibunuh sebelum penyerbuan berhasil membebaskan mereka."
"Akan tetapi, bagaimanapun juga, kita harus mengerahkan seluruh daya upaya kita untuk membebaskan mereka!"
Kiki kembali berkata dengan tidak sabar melihat betapa teman-temannya bersikap terlalu hati-hati.
Tiba-tiba saja terdengar suara dari luar kuil.
Suara itu dibawa masuk oleh angin, terdengar sayup-sayup akan tetapi jelas sekali.
"Tindakan yang sembrono untuk membebaskan tawanan hanya akan mendatangkan kerugian bagi perjuangan."
Lima orang muda perkasa itu terkejut sekali.
Tak mereka sangka akan ada orang yang datang ke tempat itu dan melihat betapa orang itu bicara tentang tawanan, dapat diduga bahwa orang itu tentu sejak tadi telah mendengarkan percakapan mereka.
Bagaikan berlumba, mereka lalu meloncat keluar dan ketika mereka tiba di ruangan depan, mereka melihat seorang laki-laki berpakaian serba putih dan memakai topi caping lebar telah berdiri di tengah ruangan yang butut itu.
Laki-laki itu bertubuh tinggi kurus, pakaiannya terbuat dan kain kasar putih bersih dan terawat baik walaupun potongannya sederhana sekali.
Sepatunya penuh debu tanda bahwa dia datang dari tempat jauh, dan topi capingnya itu menyembunyikan mukanya.
Dia berdiri tegak seperti patung dengan muka ditundukkan.
"Siapa engkau?"
Siu Coan bertanya. Muka orang itu tertutup topi caping, dan juga dia berdiri di bagian yang masih gelap oleh bayangan karena matahari belum memancarkan sinar sepenuhnya.
"Apa artinya kata-katamu tadi?"
Ci Kong juga menegur karena dia tertarik oleh ucapan orang itu tadi.
"Aku hanya memperingatkan agar kalian tidak sampai terjebak musuh. Para pimpinan pejuang memang tertawan, akan tetapi mereka tentu akan dipergunakan sebagai umpan oleh musuh agar kalian datang untuk membebaskan mereka, dan pihak musuh akan berusaha untuk menangkap juga atau membunuh kalian. Karena itu, berhati-hatilah, jangan sampai kalian tertipu dan terjebak.
"Kalian adalah orang-orang muda yang diharapkan oleh para patriot dan oleh guru-guru kalian untuk mewakili mereka memimpin para pejuang. Kalau kalian hanya sibuk dengan usaha pembebasan tawanan, maka perjuangan akan terhenti dan bahkan menjadi kacau karena tidak ada pemimpinnya lagi."
"Siapakah engkau yang hendak mencampuri urusan kami?"
Siu Coan membentak lagi dan mendekati. Orang berpakaian putih itu lalu mengangkat mukanya.
"Aihhh...!!"
Lima orang muda itu terkejut bukan main dan berlompatan ke belakang seperti hendak menghindarkan diri dari ular berbisa yang amat berbahaya.
Tidak aneh kalau mereka terkejut setengah mati, karena orang berpakaian serba put"h yang memakai caping lebar itu bukan lain adalah Koan Jit.
"Kau...!!"
Tiga orang gadis perkasa itupun berseru kaget.
"Dia tentu datang untuk memata-matai kita!"
Kata pula Kiki.
Dan teman-temannya juga menduga demikian.
Mereka semua mengenal siapa adanya Koan Jit yang pernah menjadi tokoh penjilat dan pembantu pasukan kulit putih, dan terkenal sebagai penentang para pejuang.
Tempat persembunyian mereka telah diketahui orang ini dan hal itu amatlah berbahaya.
"Keparat ini harus dibasmi!"
Bentak Kui Eng yang membenci Koan Jit karena pernah ia hampir menjadi korban kejahatan dan kekejaman orang ini.
Gadis ini sudah menerjang ke depan dan menyerang dengan pukulan kilat ke arah muka Koan Jit.
Akan tetapi, dengan gerakan yang ringan sekali, Koan Jit mengelak sambil mundur dan berkata.
"Aku datang bukan dengan niat buruk, harap maafkan aku!"
Melihat betapa Kui Eng telah maju menyerang, Lian Hong dan Kiki juga tidak tinggal diam.
Mereka menerjang ke depan dan mengeroyok Koan Jit, karena mereka tahu betapa lihainya orang ini.
Koan Jit cepat menggerakkan tubuhnya dan mengatur langkah, dan tiga orang gadis itu terkejut bukan main.
Tubuh Koan Jit bagaikan sesosok bayangan saja yang tak mungkin dapat dirobohkan.
Agaknya, kemanapun mereka menyerang, tubuh itu selalu mendahului tangan kaki mereka dan selalu serangan mereka tidak mengenai sasaran.
Yang amat aneh, gerakan Koan Jit itu kadang-kadang luar biasa sekali, tidak seperti orang bersilat, melainkan seperti orang melakukan samadhi, bersembahyang dan sebagainya.
Gerakan seorang pendeta yang melakukan ibadat!
Dan berkali-kali mulut Koan Jit mengucapkan "Omitohud!"
Disambung dengan suara membujuk agar ketiga orang gadis itu suka bersabar dan bahwa dia tidak menghendaki kekerasan dan perkelahian! Sungguh seorang Koan Jit yang aneh sekali.
"Haiiiittt!"
Kui Eng menyerang dengan cengkeraman, disusul oleh Lian Hong yang memukul ke arah dada, sedangkan Kiki tak mau kalah, sudah menghantam pula dengan jari telunjuk kanan ditekuk mengarah tengkuk.
Akan tetapi, Koan Jit membuat gerakan aneh untuk menghadapi tiga serangan yang amat berbahaya ini.
Tiba-tiba dia memutar tubuh, meloncat ke atas dan turun dengan kaki kiri ditekuk berlutut, kaki kanan berjungkit di depan sehingga tubuhnya setengah berlutut dan kedua tangannya d"angkat ke depan dada seperti orang memberi hormat.
Akan tetapi betapapun aneh gerakan ini, ternyata dia mampu menghindarkan serangan tiga orang gadis itu!
Siu Coan mengeluarkan seruan.
Tentu saja dia mengenal hampir seluruh iImu silat Koan Jit karena Koan Jit adalah toa-suhengnya.
Akan tetapi apa yang dimainkan Koan Jit sekarang ini benar-benar membuat dia bengong, karena dia belum pernah melihat ilmu silat seperti itu!
Apalagi melihat wajah toa-suhengnya itu.
Sungguh jauh sekali bedanya dengan dahulu.
Dahulu, Koan Jit selalu berpakaian serba hitam, mukanya hitam gelap dan sepasang matanya kehijauan mencorong seperti mata kucing.
Kini, wajah Koan Jit kehilangan warna gelapnya, menjadi cerah dan bibirnya selalu mengarah senyum penuh kesabaran, matanya mengeluarkan sinar lembut dan seperti orang yang penuh pengertian dan mengalah.
Anehnya, ketika mainkan ilmu silat aneh yang hanya dipergunakan untuk menghindarkan diri dari serangan tiga orang gadis itu, Koan Jit tersenyum dan wajahnya memancarkan sinar kebahagiaan.
Hal ini tidaklah aneh, karena Koan Jit yang maklum bahwa dia dikeroyok oleh tiga orang gadis yang amat lihai, sudah mengeluarkan ilmu yang dipelajarinya dan Siauw-bin-hud, yaitu Ilmu Silat Kebahagiaan.
Dia menggerakkan tubuhnya sambil mengingat ujar-ujar dalam kitab Dharmapada, sedikitpun tidak mempunyai niat untuk membalas dan sama sekali tidak marah.
Dia menganggap tiga orang pengeroyoknya itu seperti tiga orang anak nakal yang tidak tahu apa yang mereka lakukan sehingga dia memandang penuh pengertian dan sama sekali tidak menjadi marah.
Sementara itu, melihat betapa tiga orang gadis yang lihai itu sampai sebegitu jauh belum juga mampu merobohkan Koan Jit, Ci Kong lalu melompat ke depan dan membentak sambil mengirim pukulan dengan tangan kanannya, keras dan cepat sekali datangnya mengarah lambung Koan Jit.
Pada saat itu, Koan Jit baru saja meloncat ke atas untuk menghindarkan tendangan Kaki Lian Hong, melihat datangnya pukulan Ci Kong yang amat berbahaya itu, dia lalu menggerakkan lengan kirinya menangkis.
"Dukkk...!"
Tubuh Ci Kong terdorong mundur dan dia merasa betapa seluruh lengannya tergetar hebat.
Kagetnya bukan kepalang karena dari pertemuan lengan itu saja dia tahu bahwa Koan Jit memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya.
Siu Coan tadinya ragu-ragu, akan tetapi, melihat betapa empat orang itu tidak mampu mengalahkan Koan Jit yang selalu mengelak dan menangkis tanpa satu kalipun membalas, dia terpaksa meloncat maju dan ikut pula mengeroyok.
"Sute, kau juga?"
Seru Koan Jit dengan suara heran, akan tetapi diapun mengelak dan kini dia menghadapi pengeroyokan lima orang yang amat lihai!
Akan tetapi, diam-diam Koan Jit harus mengakui kehebatan ilmu baru yang diterimanya dari Siauw-bin-hud.
Betapapun lihainya, kalau saja dia tidak memiliki Ilmu Silat Kebahagiaan itu, baru menghadapi pengeroyokan tiga orang gadis itu saja dia tentu akan kalah, apalagi menghadapi pengeroyokan mereka berlima!
Dan sebaliknya, lima orang pengeroyok itupun kagum bukan main.
Sampai puluhan jurus lamanya, Koan Jit yang dikeroyok lima itu selalu mengelak dan andaikata ada pula beberapa kali pukulan menyerempet tubuhnya, maka pukulan itu meleset seperti mengenai tubuh seekor belut yang amat licin.
"Aihhh, kalian tidak percaya kepadaku...?"
Keluh Koan Jit, dan akhirnya tubuhnyapun mencelat dengan tiba-tiba jauh keluar dari ruangan depan kuil itu.
Lima orang pengeroyoknya tertegun.
Tak mereka sangka bahwa tubuh itu akan dapat keluar begitu saja dari kepungan mereka.
"Biarkan aku bicara dengan dia!"
Kata Siu Coan, dan tiba-tiba diapun meloncat dan melakukan pengejaran.
Empat orang muda yang lain hanya memandang saja.
Mereka tahu bahwa bagaimanapun juga, Koan Jit adalah murid Thian-tok dan toa-suheng dari Sui Coan, maka mereka berempat tidak ingin mencampuri urusan antara saudara seperguruan yang berlainan watak itu.
"Orang itu benar-benar memiliki kepandaian yang amat luar biasa,"
Kata Lian Hong penuh kagum.
"Sayang aku tidak sempat mempergunakan ilmuku yang baru. Ingin aku menguji keampuhan ilmuku dengan lawan seperti dia,"
Kata Kiki.
Gadis ini telah mewarisi sebuah ilmu yang hebat ciptaan Tat Mo Couwsu, yaitu Ilmu Hui-thian Yan-cu (Walet Terbang ke Langit), semacam ilmu silat yang mengandalkan gin-kang yang amat tinggi, akan tetapi karena kesibukannya, ia belum sempat melatih ilmu ini dengan sempurna.
"Dia berbahaya sekali,"
Kata Kui Eng yang harus mengakui bahwa ilmu kepandaian penjahat itu nampaknya bahkan lebih hebat dan pada dahulu.
Dahulu, pernah Kui Eng dan Lian Hong mengeroyoknya, dan pengeroyokan mereka berdua saja sudah dapat mengimbangi kelihaian Koan Jit.
Akan tetapi sekarang, biar dikeroyak oleh lima orang, penjahat itu tidak dapat dirobohkan, bahkan sempat pula melarikan diri.
"Akan tetapi, aku merasa ada keanehan pada dirinya,"
Kata Ci Kong sambil mengingat-ingat gerakan-gerakan aneh dan orang yang mereka keroyok tadi.
"Aku seperti mengenal langkah-langkah kaki seperti itu, dan sikapnya itu! Gerakan-gerakannya mengingatkan aku akan gerakan seorang pendeta suci yang beribadat, dan dia sama sekali tidak pernah membalas serangan kita. Aku yakin, ada perubahan aneh pada diri Koan Jit dan mudah-mudahan Siu Coan dapat mengejarnya dan dapat memberi penjelasan pada kita."
"Bagaimanapun juga, tempat ini sudah tidak aman bagi bagi kita, sudah diketahui orang. Kita harus mencari tempat yang lebih baik lagi,"
Kata Lian Hong.
"Setelah tempat ini diketahui orang dan percakapan kita tadi didengarkan orang, maka sebaiknya kalau kita mempercepat gerakan kita untuk mencoba lagi menyelamatkan dan membebaskan, para tawanan!"
Kata Kiki sambil mengepal tinju. Ci Kong menarik napas panjang.
"Munculnya Koan Jit memang aneh dan membuat kacau rencana kita. Akan tetapi sebaiknya kita menanti kembalinya Ong Siu Coan untuk mendengar apa yang diketahuinya dari Koan Jit."
Sementara itu, Siu Coan berlari secepatnya untuk melakukan pengejaran terhadap Koan Jit.
Dia merasa terheran-heran disamping juga kagum sekali menyaksikan sepak terjang bekas toa-suhengnya itu.
Jelas bahwa toa-suhengnya itu memiliki ilmu silat yang luar biasa anehnya, agaknya ilmu baru yang luar biasa, yang membuat suhengnya mampu menandingi pengeroyokan mereka berlima!
Bukan main.
Dia tahu bahwa seorang di antara Empat Racun Dunia sekalipun, tidak akan mungkin mampu menghadapi pengeroyokan mereka berlima.
Akan tetapi hal itu tidaklah terlalu aneh karena memang dia tahu bahwa Koan Jit selain lihai juga cerdik sekali, dan mungkin telah menemukan ilmu yang aneh tadi, yang membuat dia terheran-heran adalah melihat sikap orang itu, terjadi perubahan lahir batin yang amat hebat.
Koan Jit memang telah berubah.
Hal ini kita ketahui semenjak dia berjumpa dengan Siauw-bin-hud dan menerima Ilmu Silat Kebahagiaan yang langsung mempengaruhinya lahir batin.
Lahirnya, memperoleh ilmu silat yang luar biasa sekali, dan batinnya juga mengalami perubahan karena dia kini menjadi insyaf dan sadar akan semua kesesatannya.
Ketika Koan Jit melarikan diri, meninggalkan lima orang muda yang tidak mau menerimanya dan bahkan salah sangka dan menyerangnya, dia tentu saja tahu bahwa seorang di antara mereka, yaitu bekas sutenya, Ong Siu Coan, melakukan pengejaran seorang diri.
Dia sengaja lari menjauhi kuil itu menuju ke tepi sungai yang sunyi, dan setelah melihat tempat ini amat baik dan sunyi, dia lalu berdiri di tepi sungai menanti.
Siu Coan sampai di tempat itu dan melihat Koan Jit berdiri termenung di tepi sungai, berdiri tegak dengan muka yang tertutup gaping itu menunduk, dia menjadi ragu-ragu dan jerih.
Bagaimana kalau bekas suhengnya itu kumat dan menyerangnya?
Tentu dia tidak akan mampu mempertahankan diri.
Apalagi bukankah dia dan suhunya baru-baru ini telah mengobrak-abrik sarang Koan Jit dan anak buahnya, bahkan suhunya telah berhasil melarikan semua pusaka yang dibawa Koan Jit?
Bagaimana kalau Koan Jit mendendam atas serangan itu?
Biarpun dia membelakangi bekas sutenya, namun pendengarannya yang tajam dapat menangkap gerak-gerik Siu Coan.
"Sute, ke sinilah dan jangan takut atau ragu. Aku memang ingin sekali bicara penting denganmu."
Mendengar ini, wajah Sui Coan menjadi merah.
Suhengnya telah mengetahui kedatangannya, bahkan tahu pula bahwa dia ragu-ragu dan agak takut.
Diapun lalu melangkah menghampiri dan Koan Jit membalikkan badan.
Mereka saling berpandangan dan kembali perasaan aneh menyelinap di hati Sui Coan.
Suhengnya ini benar-benar berubah seperti telah menjadi seorang manusia lain.
"Suheng, aku mengejarmu karena hendak bertanya, apa sebenarnya keperluanmu mengunjungi kami di kuil tua itu?"
"Aku datang untuk mencarimu dan hanya kebetulan saja mendengar apa yang kalian percakapkan, maka aku memberi nasihat dan peringatan. Berbahaya sekali usaha membebaskan tawanan karena penjagaan amat ketat. Salah-salah tawanan tidak dapat dibebaskan dan kalian malah tertawan atau terbunuh."
"Suheng, kau mencariku ada urusan apakah?"
Siu Coan bertanya dan bersikap waspada karena inilah yang ditakuti.
Jangan-jangan mencari karena menaruh dendam atas penyerangan anak buahnya yang dibantu suhunya itu.
Koan Jit melihat sikap ini dan dia tersenyum lembut.
"Jangan khawatir, sute. Aku sudah melupakan masa laluku, dan apa yang kulakukan sekarang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan masa laluku. Aku mencarimu untuk meminta penjelasanmu tentang harta pusaka Giok-liong-kiam."
Wajah Siu Coan berubah dan matanya memandang tajam.
"Apa maksudmu, suheng?"
"Sute... mungkin orang lain tidak ada yang menyangka, akan tetapi aku sudah mendengar akan dongeng tentang gagalnya Empat Racun Dunia menemukan harta karun karena peti itu sudah kosong dan isinya yang tinggal seperempat sudah lenyap dalam keributan ketika terjadi perebutan di dalam guha itu. Dan aku mendengar pula betapa engkau mendirikan Pai Sang-ti Hwe, menyebarkan banyak uang untuk menyebarkan agamamu yang baru.
"Aku tahu akan kecerdikanmu sute, dan dapat menghubungkan satu peristiwa dengan yang lainnya. Nah, aku hanya mengharapkan kejujuranmu dan penjelasanmu. Apa maksudmu dengan pengangkangan atas harta pusaka itu untuk dirimu sendiri?"
Siu Coan memandang tajam.
"Apakah suheng bermaksud merampas harta pusaka itu?"
"Omitohud... dijauhkan Tuhan aku dari pikiran seperti itu. Sudah kukatakan bahwa aku telah meninggalkan masa laluku dan tidak akan kembali lagi ke jalan sesat. Aku hanya ingin tahu, karena kalau engkau berlaku curang terhadap para pejuang, terpaksa aku akan menentangmu."
"Memang tak perlu kusangkal, suheng. Akan tetapi engkau tentu sudah dapat menduga akan cita-citaku. Aku akan mengembangkan Pai Sang-ti Hwe, bukan hanya sebagai sebuah perkumpulan agama, melainkan untuk menjadi batu loncatan agar aku dapat mempunyai pasukan yang kuat untuk menumbangkan pemerintah penjajah. Hanya itulah cita-citaku, karena itu, sebagian harta pusaka itu kuuangkan dan kupergunakan untuk memperbesar dan memperkuat perkumpulanku.
"Dan seperti yang kau lihat, akupun tidak tinggal diam melihat para pemimpin pejuang ditawan. Aku ingin mempersatukan semua pejuang agar menjadi suatu kesatuan yang amat kuat untuk menghadapi pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih."
Siu Coan berhenti sebentar, lalu melihat betapa pandang mata suhengnya itu tidak berubah, dia berkata lagi.
"Suheng, kalau benar engkau kini membantu perjuangan, kuharap engkau merahasiakan ini dari orang lain. Kalau Empat Racun Dunia mengetahuinya, mungkin mereka akan berusaha merampasnya kembali dan cita-citaku yang tinggi akan mengalami kegagalan."
"Omitohud, semoga cita-citamu yang baik itu berhasil. Aku tidak akan membocorkan rahasiamu sute."
Siu Coan menjadi girang, juga semakin terheran-heran. Dia mendekat dan menyentuh pundaknya.
"Koan-suheng, terima kasih atas kebaikanmu. Akan tetapi aku sungguh merasa heran. Apakah yang telah terjadi pada dirimu, suheng? Bukan aku tidak merasa girang dengan perubahan ini, akan tetapi sungguh engkau telah mengalami perubahan yang luar biasa, seperti bumi dan langit kalau dibandingkan dengan keadaanmu dahulu. Apakah yang terjadi pada dirimu?"
Koan Jit tersenyum dan Siu Coan melihat betapa keseraman sudah lenyap sama sekali dan wajah suhengnya itu.
Matanya memandang lembut!
"Sute...
segala sesuatu pasti ada akhirnya.
Aku telah tersesat sejak kecil, dan sudah sepatutnya kalau semua masa lalu itu berakhir!
Kuharap saja engkau kelak tidak akan mabok kemenangan kalau engkau berhasil sehingga engkau lupa diri, dan tidak akan menaruh dendam kalau engkau gagal.
"Nah, sekarang cobalah engkau membujuk orang-orang muda itu agar tidak terburu nafsu membebaskan para tawanan. Aku sendiri sudah menyelidiki tempat itu dengan seksama, dan kalau kalian percaya kepadaku, serahkan sajalah pembebasan para tawanan itu kepadaku."
Setelah berkata demikian, Koan Jit mengangguk sebagai tanda hormat, lalu membalik dan sekali tubuhnya melayang, dia telah melompati anak sungai yang cukup lebar itu dan tiba di seberang, terus berlari cepat dan menghilang.
Untuk beberapa lamanya Siu Coan hanya berdiri bengong, bukan hanya melihat kehebatan gin-kang orang itu, melainkan masih terheran-heran melihat sikapnya tadi.
Akan tetapi dia teringat-akan teman-temannya dan segera kembali ke kuil.
"Apakah engkau dapat menyusulnya?"
Ci Kong bertanya, sedangkan tiga orang gadis itupun memandang kepada Siu Coan dengan penuh perhatian.
Karena Siu Coan juga murid Thian-tok seorang di antara Empat Racun Dunia dan kini bergabung dengan mereka untuk bersama-sama membebaskan tawanan, maka Ci Kong dan tiga orang gadis itu telah menerimanya sebagai seorang teman seperjuangan.
Siu-Coan mengangguk, duduk di atas lantai dan menarik napas panjang.
"Dia telah menjadi yang aneh luar biasa, telah terjadi perubahan yang amat hebat atas dirinya. Aku berhasil bercakap-cakap sebentar dengan dia dan menurut pengakuannya, dia sama sekali tidak ingin memusuhi kita, hanya ingin memberi nasihat agar kita berhati-hati dan jangan sembarangan menyerbu penjara. Dia sendiri sudah menyelidiki tempat itu, dan katanya dialah yang akan membebaskan para tahanan."
"Siapa sudi percaya kepadanya? Dia orang jahat dan palsu, jangan-jangan dialah yang akan menjebak kita!"
Kata Kui Eng yang tentu saja masih benci orang itu.
"Memang kita harus lebih berhati-hati terhadap orang seperti dia yang amat licik itu,"
Kata pula Lian Hong.
"Benar... dia seperti Lee Song Kim, palsu, curang dan pengkhianat. Semua ini gara-gara Song Kim. Hemm... aku ingin sekali mengadu kepandaian dan nyawa kalau bertemu dengan jahanam busuk itu!"
Kui Eng berkata sambil mengepal tinju.
"Siu Coan, apakah engkau dapat percaya kepada Koan Jit itu?"
Ci Kong bertanya sambil menatap tajam wajah murid Thian-tok yang kini menjadi teman seperjuangan mereka.
Siu Coan merasa ragu-ragu.
Dia sendiripun terus terang saja takkan pernah dapat percaya kepada Koan Jit, sehingga dia selalu akan merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau Koan Jit yang telah mengetahui akan rahasianya itu sekali waktu akan membocorkan rahasianya.
Memang dialah orangnya yang dahulu menyamar sebagai perajurit kerajaan Ceng dan diam-diam menyelinap ke balik arca besar dan mengambil sisa isi peti harta karun itu, membungkusnya dengan kain dan membawanya pergi dengan diam-diam.
Harta itu besar sekali, dan akan dipergunakannya untuk menghimpun pasukan yang kuat guna mewujudkan cita-citanya menggulingkan pemerintah Mancu.
"Sukar bagiku untuk percaya, akan tetapi kukira nasihatnya agar kita berhati-hati itu ada benarnya juga,"
Akhirnya dia menjawab hati-hati.
"Jangan-jangan dia adalah mata-mata musuh,"
Kembali Kui Eng berkata.
Gadis ini sekarang kalau bicara berwibawa dan memang dara ini sudah biasa mengemukakan pendapatnya yang selalu diturut oleh para pejuang dan kelompok pekerja-pekerja pelabuhan yang telah mengangkatnya menjadi pemimpin dan penasihat.
"Karena itu, kurasa lebih baik kalau kita mempercepat gerakan kita, mendahului sebelum musuh membuat penjagaan yang semakin kuat lagi."
Ci Kong mengangguk-angguk.
"Memang kurasa sebaiknya demikian. Nah, mari kita membuat rencana. Malam ini juga kita serbu lagi tempat itu. Akan tetapi kita harus mempergunakan siasat."
"Siasat apa yang akan kita pakai untuk menghadapi kekuatan para penjaga dan pengawal?"
Tanya Siu Coan tertarik, karena murid atau cucu murid Siauw-bin-hud itu memang selain lihai ilmu silatnya, juga cerdik dan berpemandangan luas.
"Kurasa sebaiknya kalau kita berpencar,"
Kata Ci Kong sambil memandang kawan-kawannya bergantian.
"Kita berpencar dan memancing agar mereka meninggalkan tempat penjagaan mereka, atau setidaknya kekuatan mereka terpecah-pecah. Kalau sudah demikian, baru kita melihat kesempatan untuk menyelinap masuk. Tidak perlu semua, siapa yang melihat kesempatan baginya terbuka, dia harus cepat menyelinap masuk dan yang lain membantunya dengan terus mengacau dan mengalihkan perhatian para penjaga agar teman yang sudah masuk itu mendapat kesempatan untuk terus menuju ke tempat para tawanan dan membebaskan mereka.
"Sekali mereka bebas, tentu saja mereka dapat menyerbu keluar dan membantu kita. Akan tetapi, ini hanya pendapatku saja, kita bersama harus memperbincangkan dan bersama-sama mengatur dan merencanakan siasat yang akan kita pakai malam nanti."
Lima orang muda itu lalu mengadakan perundingan.
Mereka menggambarkan keadaan sudah mereka selidiki itu, Ci Kong membuatnya di atas lantai dan mereka lalu mempelajarinya dan mengatur siasat-siasat bersama.
Pekerjaan ini hanya berhenti kalau mereka makan saja, dan akhirnya menjelang senja mereka telah menentukan siasat yang telah mereka atur bersama.
Mereka membagi tugas masing-masing akan memasuki penjara itu dari lima jurusan.
Siu Coan dan Ci Kong bertugas membakari bagian-bagian penjara itu dari kanan kiri, dan selanjutnya mendatangkan kekacauan dengan menyerangi para penjaga dari jurusan yang berpindah-pindah.
Selagi keadaan panik oleh kebakaran, Lian Hong dan Kiki menyerbu dari belakang dan depan, menyerang para penjaga.
Dua orang pemuda dan dua orang gadis itu di waktu menyerbu harus berteriak-teriak seolah-olah memberi tanda kepada kawan-kawan mereka yang banyak dan berada di belakang.
Hal ini untuk membuat keadaan para penjaga semakin panik.
Dan yang ditugaskan untuk menyelinap ke dalam penjara adalah Kui Eng.
Gadis ini memang mencalonkan dirinya, mengingat bahwa ia harus menolong gurunya, dan teman-temannya setuju, karena di antara mereka yang kesemuanya memiliki ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang luar biasa, Kui Eng yang paling hebat.
Dengan gin-kangnya yang istimewa, akan lebih mudah menyelinap dengan gerakan cepat, juga kalau keadaan membahayakan, ia dapat pula melarikan diri dengan lebih cepat dari pada kawan-kawannya.
Malam itu keadaan di sekitar penjara kota Hang-couw sunyi seperti biasa.
Bulan bersembunyi di balik awan dan kegelapan ini membantu lima orang muda yang sudah sejak tadi bersiap-siap untuk melaksanakan tugas mereka menyerbu penjara.
Ci Kong dan Siu Coan, secara berpencar, telah mengumpulkan minyak tanah dan kain-kain untuk alat pembakaran, juga mereka membekali diri dengan gendewa dan anak panah.
Setelah lewat tengah malam dan keadaan amatlah sunyinya, tiba-tiba nampak api berkobar di sebelah timur dan barat penjara, kemudian nampak api meluncur ke atas, ke arah atap bangunan bangunan penjara.
Tentu saja keadaan menjadi geger.
"Kebakaran! Kebakaran!"
"Cepat padamkan api!"
"Ada yang sengaja melakukan pembakaran!"
"Mereka mempergunakan panah berapi!"
Para penjaga menjadi panik, berlarian ke sana sini dan berusaha memadamkan api yang mulai berkobar di sana-sini.
Selagi orang-orang di dalam penjara menjadi panik dan berusaha memadamkan api, terdengar teriakan-teriakan para penjaga karena munculnya orang dari depan dan belakang yang mengamuk dan merobohkan banyak penjaga.
Yang mengamuk itu adalah Lian Hong yang muncul dari belakang.
Gadis ini mempergunakan senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang kipas yang menyambar ke sana sini.
Setiap kali kipasnya menyambar, seorang di antara penjaga yang mengepung dan mengeroyoknya tentu roboh.
Sambil mengamuk, Lian Hong berteriak-teriak memberi semangat kepada kawan-kawan yang seolah-olah berada di belakangnya.
"Hayo kawan-kawan, serbu...!"
Dari depan, seorang gadis lain juga mengamuk.
Dia ini adalah Kiki yang mengamuk seperti seekor naga betina marah, tangan kakinya merupakan empat buah senjata ampuh dan setiap ada pengeroyok berani terlalu dekat, tentu roboh oleh tangan atau kakinya.
Seperti juga Lian Hong, ia berteriak-teriak ke arah belakang.
Pengamukan dua orang gadis perkasa ini tentu saja membuat para penjaga menjadi semakin panik.
Ada di antara mereka yang memegang senapan dan pistol, akan tetapi karena pasukan itu membuat para penjaga mengeroyok kalang-kabut, tentu saja yang memegang senjata api tidak berani mempergunakan senjata api mereka, takut kalau-kalau mengenai kawan sendiri.
Lian Hong yang mengamuk dengan kipasnya, setelah merobohkan belasan orang, melihat betapa para pengeroyoknya mundur dan bahkan melarikan diri, agaknya jerih menghadapi pengamukan Kiki atau ikut membantu memadamkan api.
Melihat betapa ia ditinggal tinggal musuh, gadis ini melihat kesempatan amat baik!
Kenapa ia tidak menyelinap masuk dan membantu Kui Eng, pikirnya.
Iapun cepat menggunakan kegesitan tubuhnya untuk meloncat ke dalam, dan melihat betapa pintu menuju ke belakang terbuka dan di situ tidak nampak penjaga yang agaknya sudah menjadi panik, iapun cepat menyelinap masuk!
Kiki mengalami hal yang sama.
Iapun merobohkan beberapa orang penjaga dan melihat betapa para penjaga lainnya menjadi gentar atau sibuk memadamkan api, dan ia ditinggal sendiri, iapun cepat menyelinap dan berhasil memasuki pintu belakang yang ditinggalkan penjaga.
Ci Kong menghabiskan bahan bakarnya, membakari apa saja yang dapat dibakarnya.
Ketika para penjaga melihatnya dan mengeroyoknya, dia mengamuk, merobohkan dua orang dan berlari ke bagian lain untuk memancing perhatian mereka.
Diapun dikepung dan dikeroyok banyak orang, namun Ci Kong tidak menjadi gentar.
Bagaikan orang mencabuti rumput saja, dia menangkap-nangkapi para pengeroyoknya dan melemparkan mereka ke kanan kiri, matanya mencari-cari untuk melihat apakah Kui Eng sudah berhasil menyelinap ke dalam dan ke belakang.
Akan tetapi saatnya amat baik, pikirnya.
Sambil berlari-larian ke sana sini menarik perhatian dan mengacaukan para penjaga, Ci Kong melihat betapa pintu yang menuju ke belakang ke arah penjara bawah tanah, terbuka dan ditinggalkan penjaga.
Apakah Kui Eng sudah masuk, pikirnya.
Ah, kesempatan baik terbuka dan diapun ingin sekali membantu Kui Eng.
Terlalu berbahaya bagi gadis itu kalau masuk sendiri, pikirnya.
Dan selagi para penjaga sibuk memadamkan api dan kacau balau karena agaknya mengira bahwa markas mereka diserbu banyak musuh, tidak sukar baginya untuk menyelinap masuk.
Diapun lalu meloncat dengan cepat menghilang dari depan para pengeroyoknya, dan selagi mereka kebingungan harus mencari kemana, diapun sudah menyelinap ke dalam pintu yang menembus ke belakang.
Alangkah heran dan kaget hati Ci Kong ketika dia masuk ke bagian belakang, dia tiba di sebuah ruangan dan di situ dia melihat Siu Coan, Kui Eng, Lian Hong, dan Kiki, sudah lebih dulu sampai.
Empat orang itupun heran melihat munculnya Ci Kong, dan tahulah Ci Kong bahwa mereka semua memang memiliki pendapat dan maksud yang sama.
"Ah, kiranya kita berkumpul di sini. Baik sekali, karena kita dapat segera menyerbu ke dalam ruangan bawah tanah."
Akan tetapi, empat orang remannya itu hanya memandang ke kanan kiri dengan muka berubah agak pucat.
Ketika Ci Kong memandang, kiranya nampak moncong-moncong senapan, menodong mereka dan lubang-lubang di dinding kanan dan kiri!
"Celaka!"
Serunya, tahu bahwa mereka telah terjebak ke dalam sebuah ruangan yang ditodong oleh pasukan senapan yang bersembunyi di balik dinding kanan kiri! "Mari kita cepat keluar!"
Akan tetapi pada saat itu, pintu tembusan dari luar itu telah penuh dengan orang.
Kiranya puluhan perajurit dengan rapi telah berjajar di depan pintu dan seorang pria berpakaian panglima tertawa bergelak, diiringi suara ketawa belasan orang temannya yang masuk bersamanya.
Lima orang muda itu memandang dengan muka merah dan mata bersinar penuh kemarahan ketika mengenal bahwa yang masuk ini bukan lain adalah Lee Song Kim!
Tahulah mereka bahwa mereka memang sengaja dijebak!
Siasat mereka itu ternyata telah dihadapi dengan siasat yang lebih licik dan licin dari Lee Song Kim, sehingga mereka itu digiring menjadi satu di depan pintu terowongan yang menuju ke penjara.
"Ha-ha-ha, kalian seperti lima ekor harimau yang telah digiring masuk ke dalam kandang! Hanya ada dua pilihan, maju kalian mampus atau mundur dan masuk ke dalam kamar tahanan seperti para pemberontak lainnya!"
Kata Lee Song Kim dengan gembira dan suaranya mengandung kepuasan karena siasatnya memancing lima orang ini berhasil baik.
Kiki memandang kepada pemuda itu dengan mata mendelik.
Kebenciannya memuncak terhadap pemuda itu yang dulu pernah akan memperkosanya, kemudian mengkhianati para tokoh dan Ayahnya sendiri ketika Ayahnya mengadakan pesta ulang tahun, bahkan mengkhianati para pimpinan pejuang sehingga sebagian besar dari mereka, termasuk Empat Racun Dunia, telah menjadi tawanan dan sekarang menjebak mereka berlima pula!
"Lee Song Kim jahanam keparat busuk!
Engkaulah manusia tak tahu malu, pengkhianat dan pengecut paling besar di dunia!"
Song Kim tertawa.
"Ha-ha-ha, sumoiku Kiki yang manis. Engkau makin marah semakin cantik saja! Terima kasih engkau mengangkat aku menjadi penjahat paling besar di dunia, cocok untuk menjadi murid Hai-tok, bukan? Dan cocok untuk menjadi suamimu.
"Jangan khawatir, biarpun engkau ditawan, kelak engkau akan kujadikan isteriku, dan dua orang temanmu ini patut pula menjadi selir-selirku. Kalian bertiga memang jelita dan menggairahkan, ha-ha-ha!"
"Manusia hina!"
Kiki membentak dan iapun tidak peduli lagi akan todongan senapan, langsung menubruk ke depan dan menyerang Song Kim dengan ganasnya.
Song Kim tertawa dan cepat menangkis, bahkan bermaksud menangkap pergelangan tangan bekas sumoinya.
Dia mengira bahwa Kiki masih seperti dulu dalam hal ilmu silat seimbang dengan dia, bahkan dia masih lebih kuat dalam hal tenaga sin-kang.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa Kiki menyerangnya dengan pengerahan tenaga dan ilmu barunya, yaitu Hui-thian Yan-cu yang membuat tubuhnya seperti seekor burung saja, ringan cepat dan gesit.
Maka, sebelum tangkisan tiba, Kiki sudah merubah gerakan tangannya dan tahu-tahu tangan itu sudah menampar ke arah leher Song Kim dengan cepat dan kuat bukan main.
Song Kim terkejut, miringkan tubuhnya.
"Plakk...!"
Tamparan itu tidak mengenai leher yang dapat mengakibatkan bahaya, melainkan meleset dan mengenai pundak, akan tetapi cukup keras membuat Song Kim terhuyung.
Empat orang pembantunya maju menahan Kiki yang segera terdesak, karena empat orang itu selain lihai, memegang senjata golok yang diputar cepat membentuk empat gulungan sinar.
Terpaksa Kiki mundur untuk menghindarkan diri dari bacokan-bacokan golok.
"Tembak!"
Terdengar aba-aba seorang perwira kulit putih.
"Tahan dulu! Jangan tembak. Aku menghendaki mereka tertawan hidup-hidup!"
Teriak Song Kim dengan gemas, dan dia lalu mengerahkan para perajurit untuk menyerang mereka dengan senjata tajam, bukan dengan senjata api.
Terjadilah pengeroyokan yang ketat.
Lima orang muda itu dengan gigih membela diri, akan tetapi karena jumlah lawan banyak, juga para pembantu Song Kim ternyata cukup lihai dengan permainan golok mereka.
Kiranya para pembantu Song Kim ini adalah jagoan-jagoan dan Kota Raja yang disohorkan dengan sebutan Cap-sha Toa-to (Tigabelas Golok Besar).
Karena tempat itu sempit dan para pengeroyok amat banyak, setelah merobohkan beberapa orang perajurit pengawal, lima orang muda itu terpaksa mundur terus dan tiba di mulut terowongan yang menembus ke tempat penjara.
Mereka tahu bahwa sekali mereka masuk ke dalam terowongan yang agaknya sempit itu, akan sukarlah bagi mereka untuk meloloskan diri.
Terowongan itu lebarnya hanya satu meter lebih, dan tingginya dua meter dan agaknya agak gelap.
Menurut penyelidikan yang mereka peroleh, terowongan itu menuju ruangan-ruangan tahanan yang berada di bawah bukit, di belakang rumah penjara besar di luar.
Akan tetapi mereka tak berdaya.
Nekat menerobos kepungan, berarti mereka akan menghadapi bahaya barisan golok dan pasukan yang besar jumlahnya, dan andaikata mereka mampu membobol barisan ini, mereka masih akan melewati ruangan dimana terdapat pasukan senapan yang menodong dari kanan kin!
Bahkan kinipun, di samping desakan Tigabelas Golok Besar, juga terdapat beberapa orang perajurit dan perwira kulit putih yang siap dengan pistol mereka, untuk berjaga-jaga kalau kalau lima orang yang terdesak itu dapat membobol kepungan.
Sukarlah bagi mereka untuk meloloskan diri, dan agaknya satu-satunya jalan hanya mundur sampai akhirnya mereka tertawan dan menjadi satu dengan para pimpinan pejuang yang sudah menjadi tawanan.
"Biar aku mengadu nyawa dengan keparat itu!"
Kiki hendak menerjang ke depan, akan tetapi Siu Coan menyambar lengan gadis itu.
"Apa kau sudah gila? Tidak perlu membunuh diri dan mati konyol selagi masih ada jalan untuk hidup!"
Kata Siu Coan. Sejenak mereka saling pandang, dan ada sinar mata aneh di dalam mata pandang Siu Coan yang membuat Kiki menundukkan muka dengan jantung berdebar.
"Mari kita mundur,"
Kata Ci Kong yang melihat kebenaran pencegahan Siu Coan.
Dalam keadaan seperti itu, maju berarti mati konyol dan mundur paling-paling tertawan.
Tertawan belum berarti mati, dan dalam keadaan tertawan, masih ada harapan untuk dapat meloloskan diri.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras berturut-turut tiga kali yang datangnya dari belakang mereka.
Lantai terowongan itu sampai tergetar dan bukan hanya lima orang muda itu yang merasa terkejut, bahkan Lee Song Kim dan teman-temannya, juga para perajurit, terkejut bukan main.
(Lanjut ke
Jilid 36) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 36
"Apa yang terjadi di sana?"
Teriak Song Kim dengan bingung.
"Di sebelah dalam itu adalah ruangan penjara, bagaimana di sini bisa terdengar ledakan dahsyat tiga kali itu? Apa artinya ini?"
Pada saat itu, dari dalam terowongan berkelebat bayangan putih yang ternyata bukan lain adalah Koan Jit!
Melihat orang ini muncul dari dalam terowongan di belakang mereka, lima orang muda ini terkejut dan terheran-heran.
Koan Jit muncul dengan pakaian robek dan di tangannya terdapat dua buah alat peledak bersumbu yang belum dinyalakan sumbunya.
Sejenak Koan Jit memandangi mereka, terutama kepada sutenya.
"Ah... sudah kukatakan, aku yang akan membebaskan mereka dan kalian tidak percaya kepadaku, sekarang aku harus membebaskan kalian. Larilah, aku akan menahan mereka,"
Katanya, dan diapun melangkah maju ke depan mulut terowongan.
Empat orang dan tigabelas Golok Besar menyambutnya, akan tetapi dengan gerakan aneh, Koan Jit menghadapi empat batang golok itu, dan tiba-tiba saja kedua kakinya bergerak, dan empat orang itu roboh tak mampu berkutik lagi karena ujung kaki Koan Jit telah menendang bagian tubuh yang lemah.
Seorang opsir yang berada di dekat mulut terowongan menusukkan pedangnya, akan tetapi Koan Jit menendang dan sungguh hebat gerakan ini, karena pedang itu tiba-tiba terlepas dari pegangan opsir itu dan menusuk dada si opsir kulit putih yang terbelalak karena lebih merasa terkejut dan terheran dari pada rasa sakit.
Dia terhuyung dan bersandar pada dinding, tangan kanan mendekap dada yang tertusuk pedangnya sendiri sampai hampir tembus.
"Siapkan regu tembak!"
Song Kim berteriak.
Ketika melihat munculnya orang ini, Song Kim merasa terkejut bukan main.
Dia tahu akan kehebatan ilmu kepandaian Koan Jit, maka diapun tidak mau mengambil resiko, apalagi melihat betapa empat orang di antara Tigabelas Golok Besar telah roboh dan opsir kulit putih itupun terluka parah.
Seregu perajurit campuran sudah siap dengan senapan mereka, moncong senapan ditodongkan ke arah Koan Jit.
Akan tetapi, Koan Jit berdiri tegak, lalu dengan tenang menyulut sumbu dua buah bom peledak itu.
Dia menoleh lagi kepada lima orang muda yang masih berdiri bengong dan berdesakan di belakangnya.
"Kalian masih belum pergi? Larilah ke dalam dan bantu mereka membebaskan diri..."
Lima orang itu menjadi bengong dan ragu-ragu.
Mereka adalah pendekar pendekar perkasa, pejuang-pejuang yang gigih dan pantang mundur.
Kini, melihat Koan Jit berdiri seorang diri menghadapi lawan, bagaimana mungkin mereka dapat pergi meninggalkan Koan Jit menentang musuh dan menantang maut seorang diri begitu saja?
Betapa pengecut sikap mereka kalau mereka membiarkan Koan Jit mati sedangkan mereka melarikan diri!
Karena bimbang, lima orang muda itu memandang dengan mata terbelalak.
Koan Jit berdiri tegak, dengan sikap tenang dan gagah, tangan kanan memegang sebuah peluru atau bom bersumbu, diangkat ke atas dan ditempelkan pada langit-langit terowongan, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah peluru lain yang sumbunya juga sudah bernyala.
"Tembaakkk!"
Perintah Song Kim sambil mundur-mundur panik melihat peluru-peluru bersumbu itu, juga para perajurit menjadi panik dan ketakutan.
Terdengarlah ledakan-ledakan ketika senapan-senapan itu memuntahkan peluru-pelurunya.
Jelas nampak beberapa peluru itu menyengat tubuh Koan Jit yang tidak mampu mengelak lagi di tempat sempit itu, dan agaknya memang dia tidak mau mengelak lagi.
Nampak bajunya penuh tanda lubang ketika peluru-peluru itu menembus kulit tubuhnya.
"Kalian cepat lariiii..."
Tiba-tiba Koan Jit berseru, suaranya parau, dan pada saat itu dia melontarkan peluru bersumbu yang berada di tangan kirinya.
"Awaaassss!!"
Siu Coan tiba-tiba menubruk empat orang temannya dan menyeret mereka untuk lari ke dalam terowongan lalu menjatuhkan diri bertiarap agak jauh dari mulut terowongan.
Baru saja tubuh mereka menyentuh lantai, terdengar suara ledakan keras sekali beruntun dua kali, bergemuruh suaranya memekakkan telinga sampai agak lama, sehingga mereka berlima itu tidak berani mengangkat muka.
Kemudian sunyi!
Tidak terdengar apa-apa lagi, kecuali rontoknya batu-batu kecil dan tanah di sekeliling mereka.
Tidak ada suara manusia, tidak ada suara berisik.
Lima orang itu bangun dan merangkak, terbatuk-batuk karena tempat itu penuh dengan asap dan debu, kemudian mereka bangkit dan setengah merangkul menghampiri mulut terowongan.
Tidak ada mulut terowongan lagi, karena kini terowongan itu tertutup sama sekali.
Kiranya terowongan itu, di bagian depan, telah runtuh sama sekali, menutupi mulut terowongan.
"Suheng..."
Terdengar Siu Coan memanggil, sambil meraba-raba di antara tumpukan tanah dan batu.
Tentu saja tidak terdengar jawaban dan empat orang temannya kini juga mendekatinya.
Mereka meraba-raba di tempat yang menjadi remang-remang gelap itu, dan akhirnya Siu Coan terdengar mengeluh.
"Suheng, ahhhh... Suheng!"
Siu Coan terdengar menangis!
Ci Kong dan tiga orang gadis itu menjadi terkejut dan heran, mereka mendekati, dan ketika mereka melihat pemuda gagah itu menangis sambil memegangi sebuah sepatu, mengertilah mereka.
Kiranya yang tertinggal dari Koan Jit hanyalah sebuah sepatu!
Agaknya tubuhnya hancur lebur oleh ledakan tadi atau tertimbun.
Terdengar Kiki juga menangis perlahan.
Gadis ini hanya nampak di luarnya saja galak dan keras, namun sebenarnya hatinya lembut sekali sehingga ia merasa amat terharu melihat Siu Coan menangisi sebuah sepatu.
Kematian Koan Jit memang amat mengesankan hati lima orang gagah itu.
Kematian seorang patriot, seorang gagah perkasa yang rela mengurbankan nyawa demi menyelamatkan orang-orang lain.
Biarpun Koan Jit pernah menjadi seorang tokoh sesat yang luar blasa kejamnya dan jahatnya, namun pada saat akhir-akhir hidupnya, dia adalah seorang gagah perkasa yang patut dikagumi.
"Cepat, mari kita membantu para tawanan,"
Kata Ci Kong yang teringat akan hal yang lebih penting.
Mengingat akan ini, Siu Coan menyimpan sebelah sepatu itu di dalam saku bajunya dan merekapun melanjutkan perjalanan, setengah meraba-raba di dalam terowongan itu, terus menuju ke belakang.
Tak lama kemudian, mereka melihat cahaya menerangi terowongan itu dari belakang, dan mereka mendengar pula suara orang.
Ketika mereka tiba di bagian belakang, ternyata penjara.
Mengertilah mereka bahwa tadi Koan Jit datang dari tempat itu, membongkar penjara bawah tanah dengan menggunakan bahan peledak yang amat kuat sehingga tempat itu terbongkar dan berlubang.
Sungguh perbuatan yang amat berani dan cerdik!
Ketika Empat Racun Dunia melihat murid-murid mereka, tentu saja mereka terheran-heran dan juga girang.
"Kiki, bagaimana kalian dapat muncul dari dalam sana? Tadi kami mendengar ledakan-ledakan yang keras!"
Kata Hai-tok kepada puterinya.
"Hai-tok, bicara bisa dilakukan nanti. Mari cepat keluar dan pergi, apa kau ingin tertawan kembali?"
San-tok mencela rekannya dan mereka semuapun cepat-cepat melarikan diri dari tempat itu melalui lubang besar yang menembus lereng bukit.
Ucapan San-tok ini memang benar.
Tak lama kemudian, tempat itu telah didatangi ratusan orang perajurit, akan tetapi ketika mereka memasuki lubang besar memeriksa ruangan penjara bawah tahanan, semua tahanan telah lenyap.
Sekali ini Lee Song Kim merasa kecewa dan marah bukan main.
Akan tetapi diapun harus mengakui kegagalannya, padahal semua telah diaturnya sedemikian rapinya bersama Peter Dull yang kini naik pangkat menjadi Kapten.
Segala jerih payahnya yang berpura-pura membantu para pejuang, ternyata mengalami kegagalan setelah keberhasilan total berada di ambang pintu.
Kalau saja dia berhasil menawan lima orang muda itu, maka berarti bahwa semua tenaga pimpinan para pemberontak yang paling tangguh telah berhasil ditawan, dan tentu pemberontakan-pemberontakan itu akan lebih mudah untuk dihancurkan.
Akan tetapi kini kenyataannya malah sebaliknya.
Semua tawanan telah berhasil meloloskan diri dan semua ini akibat campur tangan Koan Jit, orang yang tadinya pernah menjadi orang kepercayaan pasukan kulit putih.
Kegagalan ini menimbulkan salah paham, saling mencurigai bahkan percekcokan antara Lee Song Kim dan Kapten Peter Dull.
"Lihat apa yang terjadi!"
Lee Song Kim antara lain berkata marah kepada sekutunya itu.
"Semua gagal karena ulah si jahanam Koan Jit, orang yang pernah menjadi kepercayaanmu, kapten! Kalau dia tidak pernah menjadi kaki tanganmu, tentu dia tidak akan pandai bermain-main dengan alat peledak dan tidak dapat mengetahui rahasia lorong dalam tanah penjara Hang-couw!"
Peter Dull memandang marah kepada panglima pasukan Ceng itu.
"Lee-Ciangkun, harap kau tahan sedikit kata-katamu! Memang benar Koan Jit pernah menjadi pembantuku. Akan tetapi ketika itu, diapun sudah banyak jasanya dalam menghadapi para pemberontak. Dan kalau diingat, bagaimanapun juga dia adalah bangsamu! Pengkhianat itu adalah bangsamu, jadi tanggung jawabmu lebih besar dari pada tanggung jawabku!"
Percekcokan itu mengakibatkan kerenggangan hubungan dan kerja sama antara pasukan pemerintah Ceng dan pasukan orang kulit putih.
Hal ini menguntungkan para pejuang, karena kalau dua kekuatan itu bersatu, memang berbahaya bagi para pejuang.
Dan semenjak para pimpinan pejuang bebas dan penjara itu, kini mereka menjadi semakin bersemangat dan pemberontakan terjadi dimana-mana, memusingkan pemerintah penjajah Mancu, Bahkan juga memusingkan orang-orang kulit putih yang selalu merasa terancam.
Semenjak peristiwa kerja sama membebaskan para tawanan itu, Siu Coan seringkali menghubungi Kiki dan Ayahnya, sehingga di antara mereka terdapat hubungan yang akrab.
Sering kali seorang diri, Siu Coan mengarungi lautan dan pergi mengunjungi Pulau Naga, tempat tinggal baru dari Hai-tok.
Karena pemuda itu pandai membawa diri, dan royal sekali dengan hadiah-hadiah, maka dia dikenal baik oleh para bajak laut anak buah Hai-tok.
Semenjak kerja sama di antara lima orang muda perkasa itu, Siu Coan sudah merasa amat tertarik kepada Kiki.
Gadis itu lincah jenaka, nakal manja, akan tetapi memiliki watak lembut sehingga ketika Siu Coan menangisi kematian suhengnya, gadis itupun ikut pula menangis.
Biarpun Kiki sejak kecil hidup sebagai puteri Hai-tok yang kaya raya, namun ia selalu berpakaian ringkas sederhana, dan tidak jahat seperti Hai-tok walaupun kadang-kadang ia dapat bersikap keras hati.
Akan tetapi bentuk tubuhnya padat menggiurkan dan wajahnya amat manis, terutama sekali tahi lalat di pipinya menjadi penambah kemanisan wajahnya.
Siu Coan segera mengerti bahwa dia telah jatuh hati kepada gadis ini, benar-benar jatuh cinta, bukan sekedar tertarik oleh kecantikan seorang gadis.
Setiap gerak-gerik gadis itu menyentuh perasaannya, membuat dia merasa terharu dan juga sayang.
Di lain pihak, Kiki yang pernah merasa tertarik dan kagum kepada Ci Kong, kinipun mulai tertarik karena perhatian Siu Coan yang berlebihan terhadap dirinya.
Setiap kali datang, Siu Coan tentu membawa oleh-oleh yang aneh-aneh.
Buah-buahan segar dan selaian, makanan aneh-aneh dari orang kulit putih, juga alat-alat kecantikan dan perhiasan yang serba mahal dan langka.
Ia tahu akan kegagahan Siu Coan dan biarpun Siu Coan, seperti juga ia yang menjadi puteri seorang di antara Empat Racun Dunia, adalah murid Thian-tok yang terkenal paling jahat di antara Empat Racun Dunia.
Namun dia mengenal Siu Coan sebagai seorang pemuda gagah perkasa, seorang pejuang yang berani dan juga bukan seorang penjahat.
Tubuh Siu Coan yang tinggi besar, dengan bentuk muka yang jantan dan gagah, kecerdikan dan kelihaiannya, cukup untuk menarik hati Kiki yang pada waktu itu masih bebas.
Hai-tok Tang Kok Bu tentu saja dapat menduga akan isi hati Siu Coan, akan tetapi diapun rupa-rupanya tidak menaruh keberatan akan hubungan puterinya dan Siu Coan.
Hai-tok tadinya mengidamkan agar puterinya menjadi isteri Lee Song Kim, akan tetapi kemudian ternyata bahwa muridnya itu adalah seorang pengkhianat besar yang amat dibencinya.
Sebaliknya, Siu Coan adalah murid Thian-tok yang telah membuktikan kegagahan dan juga jiwa patriotnya, dan di samping itu, Siu Coan pandai membawa diri, seringkali membawa oleh-oleh arak yang langka, makanan-makanan yang aneh-aneh sehingga hati orang tua inipun merasa tertarik dan suka.
Kini bukan merupakan hal aneh lagi kalau Siu Coan datang berkunjung dan bersama Kiki dia berjalan-jalan di sepanjang pantai yang sunyi dan indah penuh dengan pasir putih di Pulau Naga.
Semua anak buah Hai-tok tahu belaka bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang pandai dan gagah perkasa, menjadi sahabat baik nona mereka.
Pada suatu senja yang amat indah, Kiki dan Siu Coan duduk berdua saja di tepi pantai sebelah barat.
Tempat itu sunyi dan senja itu seperti senja-senja biasanya di tempat itu, amatlah indahnya.
Matahari tenggelam di barat, meninggalkan kebakaran di langit.
Sukar melukiskan keindahan matahari tenggelam di senja hari.
Sinar kemerahan yang amat indah membakar langit, dan awan-awan nampak seperti mahluk-mahluk ajaib yang hidup dengan bentuk yang menakjubkan dengan warna yang luar biasa pula.
Puncak awan-awan itu seperti diselaput perak dan latar belakang biru keunguan di antara lautan merah.
Bentuk-bentuk awan itu seperti mahluk-mahluk yang memenuhi semua khayal, seperti binatang purba, atau seperti raksasa dan iblis yang menyeramkan namun mempesona.
Ada pula sekelompok awan putih yang kalau dipandang dengan mata khayal menggambarkan keadaan sebuah kerajaan khayal, dengan bangunan-bangunan yang ajaib, keadaan sebuah alam lain.
Dan kesemuanya itu demikian diam, demikian hening, penuh damai, tenteram dan dalam pada itu, demikian yang lebih hebat lagi, keadaan senja yang indah itu, tidak pernah sama setiap harinya.
Tetap indah, tetap mempesona, dan tidak membosankan karena tidak pernah sama, tidak ada pengulangan.
Berbahagialah orang yang dapat menikmati keindahan alam dimana saja, kapan saja, dalam keadaan bagaimanapun juga.
Hal ini mungkin dirasakan setiap manusia yang pikirannya tidak dibebani oleh segala macam keinginan sehingga ketika mata terbuka dan memandang dengan waspada, semua gambaran diterima dengan batin yang bersih dan kosong.
Batin yang selalu sibuk dan kacau oleh segala macam keinginan si aku, tak mungkin dapat menikmati apa yang ada.
Dan menikmati apa yang ada ini merupakan kesenian hidup yang paling berharga.
Pada waktu itu, Siu Coan mulai mempropagandakan agama barunya.
Agama Kristen yang dipeluknya dan diterimanya itu hanya dipelajarinya setengah matang, bahkan dengan penafsiran-penafsiran yang sembarangan, bercampur aduk dengan tradisi dan ketahayulan lama.
Siu Coan hanya mengambil bagian-bagian yang mengenakkan hatinya saja dalam Agama Kristen.
Dia hanya mempropagandakan janji-janji muluk dan pahala-pahala yang ditawarkan, seperti pengampunan dosa dan sorga bagi mereka yang percaya.
Karena inilah, banyak pula orang yang tertarik dan mulai menjadi pengikutnya.
Kita selalu condong untuk mencari enak saja, dalam segala perkara, dalam segala macam persoalan, bahkan di dalam keagamaan sekalipun!
Pikiran kita sudah terbiasa sejak kecil, oleh pendidikan, oleh lingkungan, oleh masyarakat dan cara hidup masyarakat kita, untuk selalu mempergunakan perhitungan untung-rugi dalam segala macam hal.
Dalam hubungan antara manusia, dalam agama sekalipun, bahkan dalam hubungan antara negara dan bangsa, kita selalu mendasarinya dengan perhitungan untung-rugi yang menguntungkan adalah sahabat kita, yang merugikan adalah musuh kita.
Karena kebiasaan menghadapi segala sesuatu dengan untung-rugi inilah maka di dalam agama sekalipun, kita memasukinya dengan perhitungan.
Diampuni dosanya dan kelak mendapatkan sorga merupakan janji muluk yang diberikan oleh hampir semua agama, dan hal ini memang amat menarik hati orang.
Siapakah yang tidak ingin diampuni dosanya, bebas dari siksa kelak dan memperoleh sorga yang digambarkan sebagai keadaan, yang amat enak?
Apalagi kalau syarat memperolehnya hanyalah kepercayaan.
Alangkah mudahnya.
Hanya percaya, habis perkara, dan pahala-pahala itupun datanglah!
Benarkah semudah itu untuk percaya?
Kita tidak menyadari rupanya bahwa "Percaya di mulut"
Jauh sekali bedanya dengan "Percaya di hati."
Dan kebanyakan dari kita condong untuk percaya di mulut saja.
Setiap orang mengatakan bahwa dia percaya kepada Tuhan!
Benarkah itu?
Benarkah kita percaya kepada Tuhan dari lubuk hati kita, ataukah pengakuan itu hanya sebatas bibir dan lidah saja?
Karena, kalau orang percaya kepada Tuhan, setiap saat dia akan merasa adanya Tuhan, dan karena itu, diapun tidak akan pernah menyeleweng semenitpun.
Akan tetapi biasanya, kita hanya ingat dan percaya kepada Tuhan kalau kita membutuhkan pengampunan-Nya, membutuhkan pertolongan-Nya, dan kita sama sekali melupakannya kalau kita tidak membutuhkan itu.
Karena itu, kata "Percaya"
Tidaklah semudah yang kita kira.
Siu Coan membawa pula propaganda agamanya ke Pulau Naga.
Demikian pandai dia bicara, sehingga orang seperti Hai-tok sendiripun mulai terpengaruh dan tertarik!
Juga Kiki merasa tertarik sekali kalau Siu Coan bicara tentang agamanya.
Akan tetapi pada senja hari yang indah itu, Siu Coan bicara tentang hal lain.
Dia bicara tentang cita-citanya, juga tentang rencananya kepada Kiki!
"Percayalah, Kiki, akan tiba saatnya aku berhasil memenuhi cita-cita yang telah ku pupuk sejak dahulu, yaitu memiliki sebuah pasukan yang amat kuat, untuk menjadi bala tentara yang akan menyerbu dan menghancurkan kerajaan penjajah.
Untuk itu, segala kemampuanku telah ku kerahkan, dan kini aku diam-diam telah menghimpun banyak sekali orang yang suatu saat akan dengan suka rela masuk menjadi anggauta.
"Akulah orangnya yang kelak akan mampu meruntuhkan kekuasaan penjajah, Kiki... dan untuk tugas yang amat besar ini, aku membutuhkan dorongan dan bantuan batin yang amat kubutuhkan, yaitu dirimu."
Kiki tersenyum dan memandang dengan mata terbelalak, ia merasa heran sekali mendengar kalimat terakhir itu.
Ketika ia tersenyum, wajahnya nampak amat manis oleh Siu Coan.
Memang Kiki amat manis, apalagi tahi lalat kecil di pipinya itu membuat wajahnya selalu nampak manis dalam keadaan apapun.
"Ong-Toako, apakah maksudmu dengan diriku?"
"Untuk mencapai cita-cita besar itu, aku hanya didampingi seorang yang merupakan dorongan batin yang amat kuat bagiku, yaitu seorang wanita yang ku cinta dan ku harapkan untuk mendampingiku selamanya. Dan wanita itu adalah engkau, Ki-moi.
"Engkaulah gadis yang ku cinta, dan aku tahu bahwa engkaulah jodohku, engkaulah yang patut menjadi calon isteriku. Tentu saja kalau engkau bersedia menerima uluran tanganku."
Wajah yang manis itu seketika menjadi merah sekali.
Kiki bukan seorang gadis pemalu dan sejak kecil ia biasa hidup bebas dan tanpa terikat oleh banyak peraturan dan pantangan.
Namun, sebagai seorang gadis, naluri wanitanya tentu saja bekerja seketika pada pria yang menyatakan cinta secara langsung begitu, dan iapun merasa salah tingkah dan canggung karena malu.
Sejenak ia hanya menundukkan mukanya yang berubah merah sekali, mulutnya setengah tersenyum dan pikirannya masih melayang jauh.
Pernah ia tertarik kepada Ci Kong, pemuda yang amat dikaguminya.
Akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada Ci Kong.
Namun ia mengerti bahwa pemuda yang menjadi murid Siauw-bin-hud itu agaknya takkan mau merendahkan diri untuk berpacaran dengannya, puteri Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia!
Dan iapun dapan menduga bahwa ada apa-apa antara Ci Kong dan Lian Hong, melihat betapa erat dan akrabnya hubungan antara pemuda dan gadis itu.
Dan kini, tahu-tahu Siu Coan menyatakan cintanya, dan hal ini membuatnya tertegun dan termangu walaupun ia tidak merasa heran atau kaget karena sudah lama ia dapat menduga bahwa pemuda jangkung ini tentu "Ada hati"
Kepadanya, melihat dari sikapnya selama ini.
"Bagaimana, Ki-moi... adakah harapan bagiku? Dapatkah engkau menerima cintaku, dan maukah engkau menyambut uluran tanganku untuk bersamaku mencapai dan menikmati cita-citaku?"
Suara Siu Coan yang mendesaknya ini mengejutkan Kiki yang sedang melamun dan menariknya kembali ke dunia nyata.
Ia menoleh dan menatap wajah pemuda itu penuh perhatian, seolah hendak menjenguk isi hati Siu Coan.
Seorang pemuda yang cukup baik, pikirnya, bahkan amat baik dan jarang ada pria seperti Siu Coan.
Wajahnya cukup ganteng, tubuhnya tinggi tegap dan ilmu silatnya juga memiliki tingkat yang tinggi.
Selain lihai ilmu silatnya, juga ia tahu bahwa pemuda ini berjiwa pahlawan yang gagah perkasa, pula amat cerdiknya, dan melihat betapa Siu Cuan dapat berlaku amat royal, agaknya pemuda ini memiliki banyak simpanan harta.
Akan tetapi ia masih merasa ragu-ragu.
Bagaimana kalau kemudian cinta pemuda ini palsu?
Ia menghendaki seorang pria yang mencintanya selama hidupnya, dan bagaimana ia dapat yakin akan cinta Siu Coan?
Kemudian ia berkata dengan suara lirih namun tegas.
"Ong-Toako, terima kasih atas kejujuranmu, dan aku merasa girang dan bangga bahwa aku menjadi gadis pilihanmu. Akan tetapi, dalam urusan perjodohan, aku ingin kepastian bahwa kita memang saling berjodoh dan untuk itu membutuhkan waktu bagi kita berdua untuk menyelidiki. Selain itu masih ada satu hal yang amat mengganggu hatiku sebelum masalah ini dapat kubereskan, aku tidak akan bicara tentang cinta dan jodoh, Toako."
Biarpun gadis itu belum menerima dengan sepenuhnya, namun jelas bahwa Kiki tidak menolak. Hal ini saja sudah menggirangkan hati Siu Coan.
"Ki-moi, apakah masalah itu? Katakan dan aku tentu akan membantumu mengatasinya."
Gadis itu menarik nafas panjang.
"Bukan lain adalah si jahanam Lee Song Kim itu."
"Suhengmu itu?"
"Dulu suhengku, akan tetapi sekarang musuh besarku, musuh besar kita semua! Selama hidupku, baru satu kali aku dihina laki-laki, dan orang itu adalah Lee Song Kim! Kalau tidak ada Tan Ci Kong yang menolongku, entah apa yang terjadi ketika aku sudah tidak berdaya dalam tangan jahanam itu!"
Kiki lalu menceritakan dengan singkat pengalamannya ketika ia tertawan oleh Lee Song Kim dan nyaris diperkosa di pantai, akan tetapi terbebas dari bencana itu oleh pertolongan Ci Kong.
"Hemm, jahanam itu memang jahat sekali..."
Kata Siu Coan setelah mendengar cerita Kiki.
"Bukan itu saja, dia bahkan hampir mencelakakan Ayahku dan gurumu, dan para pimpinan pejuang. Karena itu di dalam hatiku, aku sudah bersumpah bahwa aku harus membunuhnya. Sebelum jahanam itu tebunuh olehku, aku tidak akan berpikir tentang perjodohan!"
"Jangan khawatir, Ki-moi. Aku yang akan membantumu sampai jahanam itu mampus di tangan kita!"
Kata Siu Coan penuh semangat.
"KaIau begitu, mari kita berangkat sekarang juga untuk mencarinya!"
Kata Kiki dengan suara gembira dan penuh semangat.
"Kita minta perkenan dan Ayah dulu."
Tanpa menanti jawaban pemuda itu, Kiki bangkit dan melangkah pergi ke arah rumah keluarganya di tengah pulau. Siu Coan mengikutinya, dan tak lama kemudian mereka berduapun sudah menghadap Hai-tok.
"Ayah, sekarang juga aku mau meninggalkan pulau, ke Kota Raja mencari dan membunuh jahanam Lee Song Kim dan Ong-Toako ini hendak membantuku sampai usahaku ini berhasil."
Hai-tok bangkit dan tempat duduknya, tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kokoh kuat dan diapun mengelus jenggotnya.
Berkali-kali dia menarik napas panjang dan menggeleng kepala, lalu terdengar dia berkata seperti kepada diri sendiri.
"Aihhhh, sejak kecil dia ku gembleng, bahkan kemudian ku harapkan agar dia menjadi suamimu, menjadi mantuku. Siapa kira nasib menghendaki lain, kini engkau malah hendak pergi mencari dan membunuhnya, dibantu oleh Siu Coan."
"Tapi, Ayah, dia menjadi pengkhianat yang mengekor kepada penjajah, bahkan hampir juga mencelakai para pimpinan pejuang dengan pengkhianatannya."
"Hemm, itulah yang menjengkelkan hatiku. Engkau boleh pergi dan bunuhlah dia, dan engkau Ong Siu Coan, coba jawab, kenapa engkau hendak membantu anakku untuk mencari dan membunuh Song Kim?"
Siu Coan adalah seorang yang amat cerdik. Biarpun diserang pertanyaan tiba-tiba itu, dia tidak menjadi gugup, bahkan dia dapat berpikir panjang secara cerdik sekali.
"Locianpwe, maafkan saya. Sesungguhnya, tak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk mencampuri urusan antara Locianpwe dan murid Locianpwe Lee Song Kim itu. Locianpwe seorang yang berhak menentukan apa yang harus dilakukan terhadap dirinya.
"Akan tetapi, mendengar bahwa Ki-moi hendak pergi mencarinya, saya menawarkan diri untuk membantu, karena saya khawatir kalau-kalau Ki-moi akan gagal bahkan terancam bahaya. Saya akan melindungi dan membantunya sampai tugasnya berhasil baik."
"Hemm, mengapa engkau mau membantu dan melindungi Kiki?"
Kembali Siu Coan memperlihatkan ketenangannya.
"Locianpwe, sesungguhnya saya telah jatuh cinta kepada puteri Locianpwe,"
Katanya merendah.
Tiba-tiba Hai-tok Tang Kok Bu tertawa bergelak.
Senang hatinya mendengar jawaban Siu Coan tadi.
Jawaban pertama tadi berarti bahwa pemuda ini cukup menghormatinya dan tidak berani memusuhi Song Kim tanpa seijinnya.
Dan jawaban kedua menunjukkan kejujuran yang disukainya.
"Ong Siu Coan, engkau tahu siapa Kiki, engkau tahu pula siapa aku. Ia adalah anakku yang tunggal. Engkau berani jatuh cinta kepadanya. Apa sih yang kau andalkan? Apa yang dapat kau persembahkan kepadanya dan kepadaku?"
Siu Coan tahu bahwa Kakek ini memiliki banyak harta, maka memamerkan harta kepadanya tidak akan ada artinya, juga memamerkan kepandaian tidak ada gunanya karena Hai-tok adalah seorang yang sakti.
"Locianpwe, saya mempunyai cita-cita untuk membentuk perkumpulan besar yang akan memiliki balatentara yang kuat. Sekarangpun, saya sudah mulai memupuk perkumpulan Pai Sang Ti-hwe untuk menjadi sebuah perkumpulan yang amat kuat.
"Kalau saya sudah berhasil membangun balatentara yang kuat, saya akan menyerbu dan meruntuhkan kekuasaan penjajah, dan saya akan menjadi pemimpinnya. Dan itulah yang dapat saya persembahkan kepada Locianpwe dan Ki-moi, tentu saja kalau saya berhasil berkat bantuan Ki-moi, juga Locianpwe."
Kakek itu kembali mengangguk-angguk. Diam-diam dia kagum akan kecerdikan yang terkandung dalam jawaban pemuda itu.
"Baiklah, Siu Coan. Engkau bentuklah balatentara besar itu, dan kalau sudah ada buktinya, engkau boleh menikah dengan Kiki, tentu saja kalau Kiki mau menerimamu. Bagaimana, Kiki... maukah engkau menerima Siu Coan sebagai suamimu kalau dia sudah berhasil menghimpun balatentara yang besar..."
Kini Kiki menghadapi Ayahnya dengan tabah, tidak malu-malu lagi.
"Kalau kami berhasil membunuh Song Kim, kemudian kalau Ong-Toako sudah berhasil menghimpun balatentara besar seperti yang diceritakannya, saya akan menerima pinangannya dan menjadi isterinya, Ayah."
"Ha-ha... engkau sudah mendengar sendiri, Siu Coan. Nah, kalian berangkatlah sekarang juga, dan jangan kembali sebelum membawa kabar bahwa jahanam itu sudah mampus di tangan kalian!"
Bukan main girang rasa hati Siu Coan mendengar kata-kata Kakek itu.
Kalau Kiki sudah setuju dan Ayahnya sudah menyetujui pula, jelaslah bahwa Kiki akan menjadi isterinya, hal yang selama ini menjadi buah mimpi dalam tidurnya.
Mereka berdua lalu berangkat berperahu meninggalkan Pulau Naga.
Seperti juga para pendekar muda lainnya, Ciu Kui Eng merasa gembira bukan main karena telah berhasil membebaskan para tawanan, dan ia sendiripun dapat terbebas dari ancaman bahaya maut di lorong bawah tanah itu berkat bantuan dan pengorbanan Koan Jit yang amat mengharukan hatinya itu.
Dia juga melarikan diri keluar dari lorong bawah tanah melalui lubang yang dibuat oleh bahan peledak yang diledakkan oleh Koan Jit, dan karena khawatir akan pengejaran musuh, iapun seperti yang lain-lain melarikan dengan terpencar.
Setelah keluar dari kota, Kui Eng melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Kanton, dan di kota ini, ia menyelinap ke dalam ruangan rahasia yang menjadi tempat pertemuan anak buahnya, yaitu para kuli pelabuhan yang pernah mengangkatnya menjadi pimpinan para kuli yang menjadi pejuang-pejuang tanah air.
Peranan yang dipegang oleh para kuli pelabuhan ini penting sekali.
Mereka nampaknya saja bekerja untuk orang-orang kulit putih di pelabuhan, mengangkuti barang-barang yang naik turun kapal.
Akan tetapi, diam-diam mereka dapat bertugas sebagai mata-mata pejuang, dan di samping ini, merekapun mempergunakan kesempatan untuk mencuri barang-barang orang kulit putih, terutama sekali senjata api dan peluru-pelurunya.
bantuan para kuli ini terhadap perjuangan amat besar dan diakui oleh para pejuang.
Ketika Kui Eng pergi meninggalkan Kanton, ia menyerahkan pimpinan para kuli kepada seorang yang belum lama bekerja, namun sudah diakui oleh para temannya sebagai seorang pemuda yang cerdik dan lihai.
Kui Eng mengenal pemuda ini sebagai seorang di antara anak buahnya, walaupun ia belum pernah melihat bagaimana lihainya pemuda ini.
Nama pemuda itu adalah Thio Ki, seorang pemuda bertubuh tegap dan bersikap gagah, namun pendiam.
Dari sepasang matanya yang amat tajam itu saja dapat diduga bahwa dia cerdik dan gagah perkasa, juga amat pemberani.
Para kuli tentu saja sudah mendengar akan peristiwa di Kota Raja, tentang pengkhianatan murid pejuang yang telah menangkap para pimpinan pejuang, kemudian betapa para pimpinan pejuang itu dapat dibebaskan oleh para pendekar muda.
Maka, ketika Kui Eng datang, para kuli itu berkumpul dan menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
Mereka agaknya sudah mendengar pula, bahwa Kui Eng adalah seorang di antara para pendekar muda yang telah membebaskan para tawanan penting itu, maka para kuli menyambut kedatangan Kui Eng dengan pesta dan juga dengan perasaan bangga.
Ada sesuatu pada diri Thio Ki yang membuat Kui Eng menaruh perhatian kepada pemuda itu.
Dalam menyambut kedatangannya, Thio Ki memperlihatkan sikap yang berbeda dengan kawan-kawan lain.
Karena ia duduk semeja dengan Thio Ki dan beberapa orang yang dianggap sebagai orang-orang yang penting di antara kelompok pejuang yang menyamar sebagai kuli-kuli pelabuhan ini, Kui Eng melihat betapa Thio Ki memandang kepadanya dengan sepasang basah air mata!
Semua anak buah kelompok itu memang memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kagum dan juga gembira dan bangga, akan tetapi tidak ada yang matanya menjadi basah oleh keharuan seperti yang ia lihat pada diri Thio Ki ini!
Karena pemuda itu berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya dan mengusap air mata dengan punggung tangannya sebelum air mata itu tumpah keluar, maka tidak ada orang lain kecuali Kui Eng yang melihat hal ini.
Diam-diam Kui Eng merasa heran sekali, apalagi ketika beberapa kali bertemu pandang dengan Thio Ki dan melihat pancar sinar mata penuh kasih sayang ditujukan kepadanya!
Diam-diam Kui Eng terkejut.
Usianya sudah sembilanbelas tahun, sudah cukup dewasa bagi seorang wanita untuk dapat mengenal pria melalui pandang matanya.
Ia sudah terbiasa oleh pandang mata pria yang memancarkan sinar kagum atau suka, dan ia dapat membedakan antara pandang mata kagum dan tertarik dari pria, dan pandang mata yang aneh seperti yang ditujukan oleh Thio Ki kepadanya.
Belum pernah ada pria memandang kepadanya seperti itu.
Demikian mendalam dan menyentuh perasaannya, menimbulkan rasa haru.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali para anggauta kelompok kuli itu sudah pergi bekerja ke pelabuhan.
Akan tetapi Thio Ki tidak pergi dan mengatakan kepada teman-temannya bahwa hari itu dia mangkir karena terasa badannya kurang sehat.
Dengan demikian, yang tinggal di tempat rahasia pertemuan mereka itu hanya Kui Eng dan Thio Ki berdua.
Setelah mereka semua pergi dan meninggalkan Thio Ki, Kui Eng menghampiri pemuda itu dan bertanya.
"Thio-Toako, kenapa engkau tidak pergi bekerja seperti teman-teman yang lain?"
Thio Ki memandang wajah gadis ini sejenak lalu menjawab, suaranya tegas walaupun lirih.
"Ciu-Lihiap, aku sengaja tidak pergi bekerja karena ingin bicara berdua saja denganmu."
Sekali ini Kui Eng terkejut.
Ia mendengar sendiri tadi ketika pemuda ini mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia tidak enak badan, akan tetapi sekarang kepadanya membuat pengakuan yang demikian jujur.
Terlalu jujur sehingga terdengar berani dan lancang sekali.
Akan tetapi ia tidak menjadi marah.
Ia menyukai kejujuran, hanya tidak mengerti mengapa pemuda ini tadi berbohong kepada teman-temannya.
"Thio-Toako, ada urusan apakah maka engkau sengaja tidak bekerja, berbohong kepada teman-teman, hanya untuk bicara berdua dengan aku? Apa yang akan kau bicarakan?"
Tanya Kui Eng sambil duduk di atas sebuah kursi dan menatap tajam wajah pemuda itu, alisnya berkerut dengan sikap menegur.
Thio Ki berdiri di depan Kui Eng, sikapnya seperti seorang anak kecil yang dimarahi ibunya.
"Maaf, Lihiap. Aku berbohong kepada teman-teman karena merasa malu untuk membuat pengakuan kepada mereka. Aku... aku hanya ingin bicara berdua dengan Lihiap, ingin mendengar tentang pengalaman-pengalaman Lihiap dengan lebih jelas ketika Lihiap bersama para pendekar lain membebaskan para Locianpwe yang tertawan."
Kui Eng menahan ketawanya.
Pemuda ini sungguh seperti anak kecil saja!
Kiranya dia demikian tertarik dengan cerita tentang pengalamannya yang semalam ia ceritakan kepada teman-teman secara singkat.
Agaknya pemuda ini ingin mendengar lebih banyak dan lebih jelas lagi.
"Ah, begitukah? Duduklah, Toako, dan kita bercakap-cakap,"
Kata Kui Eng.
Dengan wajah lega dan girang, Thio Ki lalu menyeret kursi dan duduk berhadapan dengan gadis itu.
Kui Eng lalu mengulang ceritanya, akan tetapi sekali ini ia bercerita dengan lebih terperinci.
Diceritakannya tentang pengkhianatan Lee Song Kim, dan tentang kegagahan Koan Jit yang menjadi penyelamat dari semua tahanan dan pembebas mereka.
Diceritakannya pula jalannya pertempuran dan bahaya besar yang mengancam para pendekar ketika terjebak, tersudut dan dihujani peluru senapan.
Dengan sepasang mata mengeluarkan sinar gembira dan tegang, Thio Ki mendengarkan semua cerita itu, mengagumi kegagahan Koan Jit dan ikut cemas ketika mendengarkan cerita tentang bahaya maut yang mengancam para pendekar, terutama diri Kui Eng sendiri.
Setelah Kui Eng selesai bercerita, Thio Ki berulang kali menarik napas panjang, lalu memandang wajah Kui Eng sambil berkata.
"Sungguh berbahaya sekali apa yang baru saja Lihiap alami. Ah... kuharap saja lain kali, kalau Lihiap hendak melakukan pekerjaan yang demikian sulit dan berbahaya, Lihiap suka memberi tahu kepadaku dan aku akan ikut serta, akan membantu Lihiap sekuat tenaga."
Sikap dan ucapan pemuda itu sedemikian seriusnya sehingga Kui Eng yang tadinya merasa geli itu menahan senyumnya.
Pemuda ini bukan kakanak-kanakan, melainkan bicara dengan serius, dan teringatlah ia ketika ia datang kemarin, melihat betapa Thio Ki menahan tangisnya.
Tergugah kembali keinginan tahunya dan sekaranglah saatnya ia dapat bertanya kepada pemuda ini, selagi mereka berdua saja.
"Thio-Toako, kemarin ketika aku pulang dan baru datang, aku melihat sikapmu seperti orang menangis. Kenapakah?"
Bertanya demikian, Kui Eng menatap tajam wajah pemuda itu penuh selidik.
Mata Kui Eng memang terkenal tajam sehingga ketika ia menatap dengan penuh perhatian.
Thio Ki merasa seolah-olah sinar mata itu menembus dan menjenguk isi hatinya.
Akan tetapi, dia balas memandang dan dengan suara yang tegas dan jujur diapun menjawab.
"Aku merasa begitu berbahagia melihat Lihiap pulang dalam keadaan selamat. Sungguh aku merasa khawatir sekali akan keselamatanmu, Lihiap.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang mengakibatkan Lihiap cedera berat atau tewas, ahh... aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dan bagaimana pula dengan kehidupanku ini. Karena itu, aku minta dengan sangat agar lain kali Lihiap suka mengajakku. Aku akan membantu dan membelamu dengan taruhan nyawaku, Lihiap."
Kini Kui Eng terbelalak memandang pemuda itu, bahkan saking heran dan kagetnya mendengar ucapan penuh perasaan itu, iapun bangkit berdiri.
"Thio-Toako, apa maksudmu? Apa artinya semua pengakuanmu itu? Kenapa engkau demikian memperhatikan diriku?"
Thio Ki memandang wajah gadis itu tanpa berkedip, dan agaknya memang dia sudah mengambil keputusan untuk bicara terus terang kepada pendekar ini tanpa sungkan atau takut lagi, siap menghadapi segala resiko pengakuannya.
"Ciu Kui Eng Lihiap, masih belum dapatkah engkau mengerti bahwa aku amat mencintaimu? Aku rela berkorban nyawa demi untuk membela dan melindungimu. Aku cinta padamu, Lihiap. Nah, aku sudah membuat pengakuan. Kalau Lihiap merasa tersinggung dan marah, silahkan menjatuhkan hukuman apapun kepadaku."
Kui Eng memandang bengong, tidak tahu perasaan apa yang mencekam hatinya di saat itu.
Ia sama sekali tidak marah, bahkan ada rasa kagum, ada rasa gembira, akan tetapi juga kecewa di dalam hatinya.
Kagum melihat keberanian dan kejujuran pemuda ini menyatakan cintanya kepadanya, kagum karena Thio Ki hanya seorang kuli pelabuhan!
Hanya seorang kuli pelabuhan dan pejuang biasa saja, bukan pendekar sakti, telah berani mengaku cinta.
Hal ini membutuhkan keberanian besar dan ia menjadi kagum oleh keberanian dan kejujuran itu.
Dan iapan merasa gembira bahwa di dunia ini ada yang mencintainya sedemikian rupa sehingga siap dan rela berkorban nyawa untuk membela dan melindunginya.
Akan tetapi iapun kecewa mengapa bukan pria idamannya yang membuat pengakuan cinta itu!
Kalau saja yang mengaku cinta kepadanya itu Ci Kong, bukan Thio Ki, alangkah akan bahagia rasa hatinya.
Sejenak mereka saling pandang, sinar mata Thio Ki mengandung penuh harapan, sebaliknya sinar mata Kui Eng mengandung penuh penyesalan.
Ia merasa menyesal mengapa ia harus menolak cinta kasih seorang pemuda yang demikian mencintainya seperti Thio Ki, walaupun pemuda ini hanya seorang kuli pelabuhan!
Kalau saja iapun hanya seorang wanita biasa, kalau saja di sana tidak ada Ci Kong.
Ah, betapa akan bahagia rasa hatinya menerima cinta kasih seorang pemuda seperti Thio Ki ini.
"Lihiap, aku tidak akan minta maaf, karena aku tidak merasa bersalah dengan pengakuan cintaku terhadap dirimu. Oleh karena itu, kalau Lihiap merasa tersinggung dan hendak menghukumku, silahkan."
Kui Eng menggeleng kepala.
"Jangan salah sangka, Toako. Aku tidak marah dan tidak merasa tersinggung, bahkan aku merasa berterima kasih sekali. Kita adalah sahabat dan rekan seperjuangan, maka memang sebaiknya kalau bersikap jujur seperti yang telah kau perlihatkan.
"Aku hanya merasa menyesal karena terpaksa aku tidak dapat menyambut perasaan hatimu yang murni itu, karena aku... aku telah jatuh cinta kepada seorang pria lain.
"Nah, baru kepadamulah aku membuat pengakuan ini, untuk mengimbangi kejujuranmu. Aku... aku telah jatuh cinta kepada Tan Ci Kong, tidak tahu apakah perasaan hatiku ini mendapat sambutannya ataukah aku hanya bertepuk sebelah tangan."
Kui Eng menarik napas panjang dan menundukkan mukanya, tidak tega melihat wajah Thio Ki yang tentu akan merasa terpukul sekali mendengar penolakannya yang terus terang.
Dan memang Thio Ki merasa terpukul, akan tetapi hal ini diterimanya dengan jantan.
Hanya wajahnya saja yang berubah agak pucat dan pandang matanya agak sayu, karena jawaban itu memang merupakan pukulan batin yang cukup berat baginya.
Namun, bibirnya tersenyum pahit dan diapun menarik napas panjang sampai tiga kali untuk menenangkan hatinya.
Sampai lama mereka berdiam diri, Thio Ki seperti orang termenung, Kui Eng tetap menundukkan mukanya.
Akhirnya Thio Ki merasa tenang kembali.
"Terima kasih, Lihiap. Keterus teranganmu sungguh banyak menolongku. Aku semakin kagum kepadamu. Engkau adalah seorang wanita yang sukar dicari keduanya di dunia ini, dan memang pilihan hatimu itu tepat sekali.
"Aku sudah mendengar siapa adanya pendekar muda Tan Ci Kong, murid Siauw-lim-pai yang namanya menggemparkan itu. Dan aku hanya dapat berdoa semoga Lihiap akan dapat hidup bahagia bersamanya.
"Maafkan segala yang telah kulakukan dan kuucapkan, dan anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa, sehingga kita tetap menjadi sahabat dan rekan. Nah, aku mohon pamit, akan menyusul kawan-kawan bekerja."
Tanpa menanti jawaban, Thio Ki lalu meninggalkan gadis itu.
Sepeninggal pemuda itu, Kui Eng duduk termenung.
Hatinya merasa bimbang.
Ia sudah membuat pengakuan kepada orang lain akan cintanya terhadap Ci Kong, padahal kepada Ci Kong sendiripun ia belum pernah bicara tentang cinta!
Dan iapun tidak tahu apakah Ci Kong akan membalas cintanya ataukah tidak!
Bagaimana kalau Ci Kong tidak mencintanya?
Nampaknya Ci Kong demikian akrab dengan Lian Hong, juga dengan Diana!
Dan ia merasa kagum dan kasihan kepada Thio Ki, yang menerima pukulan batin secara demikian gagah.
Kerelaan dan ketulusan hati pemuda ini sungguh berkesan di dalam sanubarinya.
Sayang bahwa Thio Ki hanya seorang kuli pelabuhan biasa, seorang pekerja kasar dan pejuang biasa saja!
Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki memasuki ruangan rahasia tempat para pejuang berkumpul dan berunding itu.
Kui Eng mengangkat muka dan mengerutkan alisnya.
Kenapa Thio Ki datang kembali?
Sungguh bodoh kalau pemuda itu datang kembali, hanya akan memperburuk keadaan dan tidak mengenakkan perasaan saja!
Kenapa sikap yang amat bijaksana itu kini berubah menjadi suatu kecanggungan dan kebodohan?
Timbul kemarahan dalam hati Kui Eng, dan ia sudah siap menegur kalau pemuda itu muncul di ambang pintu.
Akan tetapi, ketika orang yang langkahnya terdengar tadi muncul di ambang pintu ruangan itu, semua kemarahan lenyap dari pikiran Kui Eng, terganti oleh rasa kaget dan heran.
Ia sudah meloncat bangkit berdiri dan menatap laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kini berdiri di ambang pintu.
Ia mendengar langkah-langkah kaki lain datang ke tempat itu dan segera ia bersikap waspada.
Wajah laki-laki itu tidak asing baginya.
Seorang laki-laki yang tinggi besar tubuhnya, perutnya gendut, mukanya licin dan sepasang matanya sipit sekali.
Dan kini bermunculan belasan orang di belakang laki-laki itu, dan iapun terkejut karena belasan orang itu berpakaian seperti perwira-perwira bala tentara kerajaan!
"Hahaha, sudah kukira, tentu di sini tempat rahasia para pemberontak itu.
Dan kiranya pemimpin perempuan yang disohorkan orang itu adalah engkau.
Selamat bertemu kembali, nona Ciu Kui Eng!"
Suara orang inipun amat dikenalnya, akan tetapi tetap saja Kui Eng tidak dapat mengingat lagi siapa adanya orang ini. Ia memandang dengan alis berkerut, lalu membentak.
"Siapakah engkau?"
"Ha-ha-ha, sudah lupa kiranya kepada sahabat lama! Agaknya setelah menjadi pemberontak, engkau hanya mengenal orang-orang jahat dan pemberontak-pemberontak hina saja, nona. Aku adalah komandan Ma, pernah menjadi sahabat keluargamu."
Ah kenapa ia sampai lupa?
Tentu saja.
Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan kota Kanton!
Dan tanpa bertanya, iapun tahu bahwa ia berada dalam bahaya.
Tentu Ma-Ciangkun ini datang bersama rekan-rekannya untuk melakukan penyerbuan dan pembersihan terhadap para pejuang.
Untung bahwa semua anak buahnya telah pergi meninggalkan tempat itu, sehingga tidak ada bukti bahwa para kuli pelabuhan itu adalah pejuang-pejuang.
Juga untung sekali bahwa Thio Ki baru saja pergi dari situ.
Ia tidak takut atau khawatir menghadapi belasan orang perwira itu.
Iapun merasa tidak perlu untuk berbantahan dengan Ma Cek Lung, maka dengan sikap acuh, ia lalu mengambil kursi yang tadi ia duduki, dengan kedua tangan ia mematah-matahkan kursi, mengambil sebatang kakinya yang panjang, lalu dengan senjata tongkat kaki kursi di tangan, iapun membentak.
"Kalian datang mencari mampus!"
Dan tongkat di tangannya itu sudah menyambar ke depan.
Akan tetapi agaknya Ma Cek Lung sudah mengenal kelihaian orang, setidaknya dia sudah mendengar bahwa puteri bekas sahabatnya yang kini menjadi pemberontak ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Maka dia sudah meloncat ke belakang, dan belasan orang perwira itu sudah berlompatan masuk ke dalam ruangan yang luas itu, memegang golok besar dan mengepungnya!
Melihat cara tigabelas orang ini, diam-diam Kui Eng terkejut.
Kiranya tigabelas anak buah Mi Cek Lung ini bukan orang biasa, pikirnya...
dan iapun teringat akan nama Chap-sha Toa-to-tin (Barisan Tigabelas Golok Besar) dari Kota Raja yang kabarnya amat berbahaya dengan permainan golok besar mereka!
Agaknya Ma Cek Lung, dalam usahanya melakukan pembersihan, kini dibantu oleh jagoan-jagoan dari Kota Raja ini.
Dugaannya memang tidak keliru.
Tigabelas orang berpakaian perwira yang mengepungnya itu adalah Chap-sha Toa-to-tin yang namanya terkenal sekali di Kota Raja.
Kini tigabelas orang yang memiliki ilmu golok dari Bu-tong-pai itu telah mengepung, dan mereka bergerak mengitari Kui Eng dengan pasangan kuda-kuda yang berubah.
Kui Eng yang terkepung di tengah-tengah, berdiri tegak dengan potongan kayu di tangan, tubuhnya sama sekali tidak bergerak, kedua matanya saja melirik ke kanan kiri, kedua telinganya juga dikerahkan untuk mengikuti gerakan mereka yang berada di belakang tubuhnya yang tak dapat diikuti gerakannya dengan pandang mata.
Ia sedang memperhitungkan bagaimana untuk meloloskan diri dari kepungan.
Nampak jelas bahwa niatnya meloloskan diri sudah tercium musuh, karena barisan tigabelas orang itu, terutama memberi tekanan dan kekuatan ke arah pintu.
"Hemm, nona Ciu Kui Eng. Mengingat akan hubungan baik antara orang tuamu dan aku, mengingat bahwa dahulu aku telah mengenalmu ketika engkau masih kanak-kanak, kunasihatkan agar engkau menyerah saja. Percuma engkau Chap-sha Toa-to-tin, karena tubuhmu tentu akan tersayat-sayat menjadi empatbelas potong.
"Sayang sekali kalau begitu, bukan? Engkau masih muda dan cantik jelita. Menyerahlah... dan kalau engkau berjanji mau membantu pemerintah dan menunjukkan dimana adanya para pemberontak lainnya, aku dapat menolongmu agar engkau diampuni."
Kui Eng memandang marah ke arah orang gendut itu.
Ingin ia menggunakan tongkatnya membunuh orang itu, akan tetapi hal itu tidak mungkin dapat dilakukan karena pengepungan tigabelas orang itu amat ketat.
Golok besar di tangan mereka berkilauan saking tajamnya dan tangan-tangan yang memegang golok itupun mantap dan kokoh kuat.
"Bwa saja ocehanmu sebagai bekal ke neraka!"
Bentaknya, dan tiba-tiba Kui Eng menyerang ke kanan, ke arah pengepung yang berada di sebelah kanannya.
Tongkat pendek itu, bekas kaki kursi, berkelebat menjadi gulungan sinar yang amat cepat menerjang, dan dengan bertubi-tubi sudah menotok ke arah jalan darah seorang pengepung, Lalu dilanjutkan dengan sambaran ke arah mata orang lain, dan tusukan ke arah lambung orang ketiga.
Terdengar suara berkerontangan nyaring dan nampak sinar golok berkelebatan menyilaukan mata ketika banyak golok melakukan penangkisan secara serentak, sehingga tiga kali serangan bertubi dari Kui Eng itu semua dapat tertangkis!
Kui Eng terkejut, kiranya bukan kosong saja nama besar Chap-sha Toa-to-tin.
Setiap kali tongkatnya menyerang, tongkat bertemu dengan sedikitnya empat batang golok besar, dan tentu saja tenaga empat orang itu cukup untuk mengimbangi, bahkan menekan tenaganya sendiri!
Tiba-tiba terdengar aba-aba, dan ada angin menyambar-nyambar dari arah belakangnya.
Kui Eng cepat menggerakkan tubuhnya, memutar sambil menangkis dan aba-aba itupun dikeluarkan terus oleh seorang di antara para pengepungnya, Diikuti oleh tigabelas orang itu yang bergerak secara teratur sekali, melakukan serangan kepadanya secara bertubi-tubi.
Kui Eng menjadi semakin sibuk dan terpaksa mengerahkan tenaga dan memainkan Cui-beng Hek-pang, yaitu ilmu Tongkat Hitam Pengejar Nyawa.
Namun, melihat betapa banyaknya orang yang mengeroyok dan mengepungnya, sekali ini ia tidak mampu memainkan ilmu tongkat di bagian yang menyerang, melainkan menggunakan tongkatnya sebagai perisai untuk melindungi seluruh tubuh dari sambaran golok yang tiada hentinya itu.
Untung bahwa ia memiliki gin-kang atau ilmu meringankah tubuh yang istimewa.
Kegesitan dan keringanan tubuhnya membantu banyak.
Ia dapat berloncatan ke sana-sini bukan hanya sekedar mengelak, melainkan dengan perubahan kedudukan itu, ia mampu mengacaukan pengepungan.
Namun, ternyata bahwa Chap-sha Toa-to-tin benar hebat sekali.
Mereka memiliki gerakan yang aneh dan rapi, merupakan benteng yang amat kuat sehingga sukar sekali dibobol.
Biarpun kegesitan tubuh Kui Eng dan kelihaian permainan tongkat gadis itu membuat mereka sukar sekali untuk dapat merobohkan Kui Eng, namun agaknya akan amat sukar pula bagi gadis perkasa itu untuk meloloskan diri.
Sementara itu, dari luar kepungan, Ma Cek Lung tertawa-tawa dan tetap membujuk agar gadis itu menyerah saja.
Perwira gendut ini memang mengharapkan Kui Eng menyerah dan menakluk, karena dia melihat dua keuntungan baginya kalau gadis itu menyerah.
Pertama, gadis itu manis bukan main dan dapat dia membayangkan betapa akan senangnya kalau gadis itu mau menjadi kekasihnya sebagai jaminan keselamatannya, Dan kedua, dia akan memperoleh tenaga bantuan yang amat kuat.
Kalau gadis itu mau membantunya, tentu akan mudah baginya mengetahui tempat persembunyian para pemberontak dan dia akan memperoleh pahala besar kalau berhasil menangkapi mereka.
Akan tetapi tentu saja Kui Eng tidak sudi menyerah.
Gadis ini maklum bahwa ia menghadapi pengeroyokan barisan golok yang amat kuat, namun ia bertekad untuk melawan sampai akhir!
Tongkatnya berkelebatan membentuk sinar bergulung-gulung, dan tubuhnya menyelinap di antara gulungan sinar golok yang datang seperti hujan.
Bagaimanapun juga, ia berada di pihak yang terdesak dan terancam bahaya, tidak mendapatkan kesempatan lagi untuk balas menyerang.
Tigabelas orang bergolok melakukan penyerangan seperti gelombang dari laut yang datang dan pergi tanpa henti-hentinya.
"Ha-ha-ha, nona Ciu Kui Eng yang manis, lebih baik engkau menyerah sebelum kulitmu yang halus itu tersayat golok. Sayang, bukan? Katakanlah engkau menyerah dan aku akan memberi aba-aba agar pengeroyokmu mundur dan... ahhh..."
Tiba-tiba ada bayangan didahului sinar yang menyilaukan mata, dan tubuh komandan Ma Cek Lung yang sedang tertawa-tawa dan membujuk Kui Eng itupun terpelanting dengan mandi darah karena lehernya hampir putus dibabat sebatang pedang di tangan pria muda yang baru muncul.
Pria ini kini terjun ke dalam ruangan dimana Kui Eng dikepung, dan pedangnya membuat gerakan amat kuat mengeluarkan suara mengaung dan membentuk sinar bergulung-gulung!
Karena datangnya penyerang dari luar kepungan, ditujukan kepada para pengepung, tentu saja kepungan Tigabelas Golok Besar itu menjadi buyar dan kacau.
Akan tetapi, agaknya barisan ini memang sudah matang dan siap menghadapi segala macam kemungkinan.
Terdengar aba-aba dari pemimpin mereka, dan tiba-tiba saja barisan itu terbelah menjadi dua bagian, tujuh orang tetap mengepung dan mengeroyok Kui Eng, sedangkan yang enam mengepung pria itu.
"Aha, kiranya sisa orang-orang Kang-sing-pang yang datang menghantar nyawanya!"
Bentak pimpinan barisan itu kepada pendatang baru.
Akan tetapi pria berpedang itu tidak menjawab, melainkan memutar pedangnya dan segera dia dikeroyok oleh enam orang yang mengepungnya.
Terdengar suara berdenting-denting dan nampak bunga api berpijar ketika pedangnya berkali-kali bertemu dengan golok para pengeroyoknya.
Nampak oleh Kui Eng betapa para pemegang golok itu terkejut karena golok mereka terpental bertemu dengan pedang yang mengandung tenaga kuat.
Juga ia melihat betapa gerakan penolongnya itu cepat dan amat kuat, ilmu pedang yang amat lihai.
Semakin kagumlah hatinya, karena orang ini bukan lain adalah Thio Ki!
Kuli pelabuhan itu ternyata kini menjadi seorang ahli pedang yang hebat, sehingga biarpun dikeroyok oleh enam orang, segera dia mampu mendesak mereka!
Kui Eng merasa terkejut, heran dan juga kagum, dan semua ini menambah besar semangatnya.
Tongkat sederhana di tangannya berkelebatan dan terdengar teriakan kesakitan ketika ujung tongkatnya itu meremukkan tulang pundak kiri seorang pengeroyok!
Akan tetapi pada saat itu, terdengar teriakan lain dan seorang di antara mereka yang mengeroyok Thio Ki juga terhuyung ke belakang dengan paha terluka lebar oleh ujung pedang pemuda itu!
Kui Eng menjadi semakin kagum.
Kiranya pemuda ini lihai sekali, dan agaknya tidak mau kalah olehnya.
Maka kegembiraannya bangkit, dan gadis ini setelah mengerling dan tersenyum ke arah Thio Ki, dan cepat menggerakkan tongkatnya.
Di lain pihak, Thio Ki juga mempercepat gerakan pedangnya, dan kini keduanya seperti berlomba untuk bersicepat menjatuhkan lawan.
Berturut-turut Kui Eng melukai dua orang, dan Thio Ki juga merobohkan dua orang.
Melihat kehebatan pemuda yang baru datang ini, yang membuat keadaan menjadi berbalik dan amat berbahaya bagi mereka.
Chap-sha Toa-to-tin segera mengeluarkan seruan keras dan mereka cepat menyambar teman-teman yang terluka, lalu melarikan diri dari tempat itu.
Thio Ki hendak melakukan pengejaran, akan tetapi Kui Eng berseru.
"Toako, jangan kejar. Mari kita cepat lari! Mereka tentu akan mendatangkan pasukan lebih besar."
Pemuda itu sadar dan kagum akan ketenangan Kui Eng yang dalam keadaan bagaimanapun memperlihatkan kecerdikan seorang pemimpin.
Mereka lalu berloncatan pula meninggalkan tempat itu, dan tak lama kemudian mereka telah keluar dari kota dan berada di pantai laut yang sunyi.
Keduanya melepas lelah dan duduk di atas pasir yang putih bersih, menghadap ke lautan yang tenang dan biru.
"Thio-Toako, engkau sungguh pandai menyembunyikan rahasia dirimu."
Kui Eng berkata sambil memandang wajah pemuda itu yang kini nampak gagah. Thio Ki mengerutkan alisnya.
"Maaf, Lihiap..."
"Sudahlah, jangan membikin aku menjadi malu dengan sebutan Lihiap (pendekar wanita)."
"Akan tetapi, engkau memang seorang pendekar wanita..."
"Aihhh, Thio-Toako, melihat gerakan pedangmu tadi, aku tidak akan mampu menandingimu! Kalau engkau menyebut aku Lihiap, apakah aku harus menyebutmu Taihiap (pendekar besar)?"
"Lalu, aku harus menyebutmu apa?"
"Sebut saja namaku, dan karena engkau lebih tua, boleh menyebut moi-moi."
"Ah, mana aku berani?"
"Kenapa tidak, Toako? Aku menyebutmu Toako (kakak), apa salahnya engkau menyebut moi-moi (adik) kepadaku? Jangan engkau berpura-pura lagi. Engkau bukanlah kuli pelabuhan biasa, bukan pejuang biasa, dan tadi aku mendengar seorang di antara mereka menyebut nama Kang-sim-pang (Perkumpulan Hati Baja)."
Thio Ki menarik napas panjang.
"Baiklah, Ciu-moi (adik Ciu) dan terima kasih atas kebaikanmu."
"Siapa yang patut berterima kasih? Engkau telah menolongku, Toako, bahkan mungkin engkau tadi telah menyelamatkan nyawaku. Akulah yang sepatutnya berterima kasih kepadamu."
"Sudahlah, Ciu-moi, di antara kita yang menjadi rekan seperjuangan, mana perlu berterima kasih? Sudah sepatutnya kalau kita saling membantu."
"Engkau benar, aku kagum sekali kepadamu, Toako. Selama ini engkau mampu menyembunyikan keadaan dirimu yang sebenarnya. Sebetulnya, siapakah engkau ini, dan apa hubunganmu dengan Kang-sim-pang?"
"Hubunganku dekat sekali dengan Kang-sim-pang, karena mendiang Ayah adalah ketua perkumpulan kami itu."
"Ahhh..."
"Engkau sudah tahu akan Kang-sim-pang, Ciu-moi?" (Lanjut ke
Jilid 37) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 37
"Tentu saja! Sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang pemerintah penjajah pula, dan yang dalam beberapa bulan ini diserbu dan dihancurkan oleh pasukan pemerintah di daerah timur Propinsi Ce-kiang, bukan?"
"Benar, dan Chap-sha Toa-to-tin itulah di antara mereka yang menyerbu. Seorang di antara anak buah kami telah dapat terbujuk oleh penjajah dan mengkhianati kami. Dalam penyerbuan itu, banyak saudara kami tewas termasuk Ayah dan ibu. Aku mampu lolos dan menjadi orang buruan, lalu aku lari ke sini dan bergabung dalam kelompok kuli pelabuhan."
Kui Eng mengangguk-angguk dan memandang kagum.
"Kiranya engkau adalah putera Pang-cu dari Kang-sim-pang, dan engkau menyamar sebagai kuli pelabuhan, setiap hari bekerja kasar dan berat di pelabuhan sampai berbulan-bulan. Sungguh engkau hebat dan tahan uji, Toako."
Thio Ki menarik napas panjang.
"Karena engkau yang menjadi pimpinan, maka aku menjadi betah menyamar sebagai kuli pelabuhan. Ah, sudahlah tidak ada gunanya bicara soal itu.
"Sekarang yang penting setelah tempat kita diketahui musuh, sebaiknya aku cepat memberi kabar kepada kawan-kawan agar jangan sekali-kali datang ke tempat itu. Kalau sampai diketahui bahwa teman-teman kita yang menjadi kuli pelabuhan adalah anggauta perjuangan, tentu akan celaka kita semua."
Kui Eng mengangguk, diam-diam merasa semakin menyesal.
Karena ia telah jatuh cinta kepada Ci Kong, ia harus menolak cinta seorang pemuda yang demikian hebat seperti Thio Ki!
Bukan seorang kuli pelabuhan biasa, bukan seorang pejuang biasa, melainkan seorang pendekar berilmu tinggi, putera ketua Kang-sim-pang yang terkenal.
Mereka lalu berpisah, dan Kui Eng menyerahkan kepada Thio Ki untuk mencari tempat pertemuan baru bagi kawan-kawan mereka, bahkan menyerahkan kepemimpinan sementara kepada Thio Ki, karena ia akan pergi mencari Ci Kong!
Akan tetapi kepada Thio Ki, untuk mencegah agar jangan sampai pemuda itu tersinggung, ia tidak menyebut-nyebut nama Ci Kong, melainkan mengatakan bahwa ia ingin mencari gurunya, yaitu Tee-tok.
Berpisahlah kedua orang muda itu, meninggalkan kesan yang mendalam di hati Kui Eng.
"Sudah yakin benarkah engkau akan rencanamu ini, Diana? Bagaimana kalau sampai engkau gagal, dan terancam bahaya maut?"
Untuk terakhir kalinya, Kakek berpakaian pengemis itu berkata dengan sikap meragu.
Semenjak mereka turun gunung menuju ke Kanton, Bu-beng San-kai atau San-tok, Kakek itu, berkali-kali membujuk Diana agar jangan melanjutkan niatnya, namun gadis itu tetap nekat.
"Aku sudah yakin benar, suhu."
Jawab Diana dengan suara tegas, seperti jawabannya pada setiap bujukan suhunya agar ia tidak melanjutkan rencananya itu.
"Dan andaikan ada bahaya mengancam, aku sekarang sudah dapat menjaga diri, bukan? Harap suhu tidak khawatir. Aku harus melakukan sesuatu untuk kawan-kawan tercinta, untuk perjuangan mereka yang mulia, dan untuk mencegah bangsaku menghalangi perjuangan itu, demi kebaikan bangsaku sendiri."
Mereka kini telah tiba di luar kota Kanton.
San-tok berkeras mengantar muridnya ke Kanton, karena bagaimanapun juga, hatinya tidak tega membiarkan murid yang dulu dibenci akan tetapi kini amat disayangnya itu pergi sendirian saja.
Sebagai seorang gadis berkulit putih, tentu saja Diana akan menarik perhatian sepanjang jalan dan akan mengalami banyak sekali gangguan.
Rakyat sudah mulai menaruh perasaan benci terhadap orang kulit putih dan tentu saja mereka tidak akan mau percaya kalau mendengar bahwa Diana adalah seorang gadis kulit putih yang berpihak kepada para pejuang.
Juga Diana, dengan kulitnya yang putih, rambutnya yang keemasan dan matanya yang biru, tidak mungkin menyamar, walaupun ia berpakaian seperti wanita biasa.
Dan memang di sepanjang perjalanan menuju ke Kanton, disana menimbulkan banyak keheranan, dan banyak pula gangguan.
Namun, dengan adanya San-tok, tak seorangpun berani mengganggunya sampai akhirnya pada sore hari itu, mereka tiba di luar tembok kota Kanton.
Kepercayaan Diana kepada dirinya sendiri bukan tanpa alasan.
Ia kini bukanlah Diana yang dulu.
Ia bukan saja telah digembleng oleh San-tok dengan ilmu silat yang praktis, akan tetapi bahkan telah menerima pelajaran dan Hai-tok dan Tee-tok.
Walaupun dari mereka itu hanya memperoleh beberapa jurus, namun merupakan jurus-jurus pilihan.
Diana kini bukanlah gadis yang lemah lagi.
Rencananya timbul ketika ia mendengar tentang permusuhan yang semakin menjadi antara para pejuang dan pasukan kulit putih.
Hal ini membuat ia prihatin sekali.
Bangsanya datang sebagai pedagang, kenapa harus mencampuri urusan pribadi negara asing?
Apa pula kalau rakyat asing di negeri itu memperjuangkan kebebasan mereka sendiri.
Seharusnya orang kulit putih menjaga kebaikan hubungannya dengan rakyat, karena akhirnya dengan rakyatlah mereka akan berdagang.
Maka ia lalu kemukakan pendapat dan rencananya kepada San-tok.
Tentu saja Kakek ini merasa girang, hanya masih khawatir kalau-kalau murid yang disayangnya itu akan menderita celaka.
Dia sendiri maklum bahwa tentu perjuangan akan lebih lancar dan berhasil kalau tidak ada orang kulit putih yang menjadi penghalang besar.
"Diana, sekali lagi kuperingatkan kepadamu bahwa rencanamu ini amat berbahaya bagi dirimu sendiri. Kalau engkau gagal, engkau mungkin akan dianggap pengkhianat oleh bangsamu, ditangkap dan dihukum sebagai seorang pengkhianat yang rendah. Ah, alangkah sedihnya hatiku kalau begitu, dan aku tidak akan berdaya untuk dapat menolongmu, muridku."
Diana yang biasanya bersikap lugu dan tidak pernah mempergunakan peraturan-peraturan terhadap gurunya, sekali ini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya.
Hatinya terharu sekali, karena baru sekarang ia merasa benar bahwa gurunya amat menyayanginya.
"Suhu, aku dapat membela diri, akan tetapi andaikata sampai aku gagal, dihukum atau dibunuh sekalipun, anggap saja bahwa aku gugur dalam membela perjuangan suhu dan kawan-kawan. Aku percaya bahwa pamanku Kapten Charles Elliot akan dapat mempertimbangkan semua pendapatku demi kebaikan bangsa kami sendiri."
San-tok tersenyum, lalu menggunakan tangan kanannya menyentuh kepala yang rambutnya seperti benang emas itu.
"Baiklah, muridku. Aku percaya akan kesanggupanmu. Nah, sebelum gelap, engkau masuklah ke dalam kota. Aku hanya mengharapkan agar engkau dapat berhasil."
Diana bangkit dan sejenak memegang tangan gurunya.
"Suhu, kalau sampai aku gagal, tolong sampaikan ucapan selamat tinggalku kepada Tan Ci Kong."
Gurunya mengangguk, maklum akan isi hati muridnya.
"Hemm... kau mencinta Ci Kong?"
Soal cinta merupakan hal yang tidak memalukan untuk dibicarakan bagi Diana. Ia menjawab lirih.
"Pernah aku mencinta seorang pria bangsaku, suhu, dan semenjak itu, semenjak kami dipisahkan, aku tidak pernah mencinta pria lain. Akan tetapi Ci Kong, ah... aku berhutang budi dan nyawa kepadanya. Aku suka padanya dan mungkin saja aku jatuh cinta padanya. Tapi dia... dia adalah satu-satunya pria yang dicinta oleh Lian Hong! "Suhu harus menjodohkan Lian Hong dengan Ci Kong. Sudahlah, suhu, aku menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan suhu yang telah dilimpahkan kepadaku. Selamat tinggal, suhu."
"Pergilah, muridku,"
Kata San-tok.
Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya, dan dengan langkah lebar menuju ke pintu gerbang kota Kanton.
Sejak masuknya Diana ke dalam pintu gerbang, banyak menarik perhatian orang.
Para penjaga sendiri memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi karena gadis yang mengenakan pakaian petani dusun itu adalah seorang gadis kulit putih yang berambut kuning emas dan bermata biru, mereka tidak berani menegur.
Ketika Diana menuju ke gedung tempat tinggal pamannya, setibanya di sebuah tikungan, tiba-tiba ada yang memanggil namanya dengan teriakan nyaring, dan iapun cepat menoleh ke kiri.
"Diana! Benar engkaukah ini? Ah, seperti dalam mimpi saja rasanya!"
Diana memandang pria yang berpakaian kapten itu, pria yang gagah dan tampan sekali, yang amat dikenalnya karena pria itu adalah Peter Dull.
Diana sudah lama sekali tidak pernah bicara dalam bahasanya sendiri, maka biarpun ia masih dapat mendengar dengan jelas dan mengerti semua kata-kata Peter Dull, ia sendiri merasa kaku untuk menjawab.
Dengan hati-hati dan kaku, iapun menjawab.
"Benar, aku adalah Diana Mitchell. Dan engkau adalah Tuan Peter Dull, bukan?"
Peter membelalakkan matanya, mengamati Diana dan kepala sampai ke kaki, mulutnya mengarahkan senyum karena merasa lucu sekali.
Diana dalam pakaian petani dusun, dengan sepatu kain butut, dan bicaranya itu!
Seperti baru belajar bahasa Inggeris saja!
Akhirnya, meledaklah ketawanya.
"Ha-ha-ha, sungguh ajaib! Lucu dan aneh sekali! Satu tahun lebih engkau menghilang dan kini muncul seperti ini. Lucu! Akan tetapi harus ku akui bahwa engkau menjadi semakin sehat, cantik dan segar saja, Diana!"
Dengan kaku dan dingin, Diana mengangguk.
"Terima kasih dan selamat tinggal, Tuan Peter, aku harus segera menemui paman Charles Elliot."
"Diana, berhenti dulu!"
Peter Dull berseru.
"Pamanmu tidak berada di Kanton lagi. Sudah lama dia pindah tugas ke Shang-hai."
Diana menahan langkahnya.
"Apa? Bukankah selama itu dia menjadi kepala perwakilan English East Indian Company di sini? Mengapa pindah dan sejak kapan?"
Peter tersenyum.
"Mari kita bicara di dalam benteng, Diana. Banyak hal penting terjadi yang perlu kau ketahui. Kalau perlu, aku akan mengantarmu ke Shang-hai dengan kapal. Mari, dan jangan sebut aku Tuan. Bukankah sejak dulu kita ini bersahabat? Dan aku kuharap engkau suka memaafkan segala peristiwa yang lalu, Diana."
Diana memandang tajam.
Benarkah Peter Duli ini telah berubah, menyesali perbuatannya yang dahulu?
Ia mempunyai urusan penting, tidak seharusnya melibatkan diri dalam urusan dendam yang hanya akan menjadi penghalang rencananya.
Ia harus berbaik dengan pamannya dan dengan semua pejabat pasukan bangsanya.
"Baiklah, Peter. Sudah kulupakan semua yang terjadi di masa lalu."
"Bgus! Selamat datang, Diana... dan mari kita masuk ke benteng,"
Kata Peter mengulurkan tangan yang disambut oleh Diana.
Mereka lalu melangkah menuju ke benteng di dekat pantai.
Hari telah gelap ketika mereka memasuki perbentengan dan lampu-lampu telah dinyalakan.
Para perajurit yang bertugas jaga, terbelalak heran ketika melihat komandan mereka masuk bersama seorang gadis kulit putih yang pakaiannya aneh.
Apa lagi ketika mereka mengenal bahwa gadis itu adalah Diana Mitchell, gadis yang sempat menggemparkan seluruh perajurit di Kanton itu dengan petualangannya.
Mata para perajurit memandang terbelalak sampai Peter dan Diana memasuki ruangan besar di dalam.
"Uiii... akhinya ia jatuh ke tangan Kapten Peter juga, ha-ha!"
Kata seorang perajurit tua yang brewok.
Kini para perajurit yang baru, yang belum mengenal Diana, bertanya-tanya kepada para perajurit tua, dan ramailah keadaan di bagian luar itu karena mereka yang tahu akan persoalannya lalu bercerita kepada mereka yang tidak tahu.
Seorang sersan muda yang agaknya juga belum mengenal Diana, bertanya kepada perajurit brewok.
"Siapa sih perempuan itu dan apa maksudmu ia jatuh ke tangan Kapten Peter."
Perajurit brewok tertawa lagi.
"Aha, engkau belum tahu, Sersan. Sejak dulu, Kapten Peter tergila-gila kepada Diana Mitchell, gadis cantik itu, keponakan Kapten Charles Elliot. Kabarnya mereka cekcok dan gadis itu melarikan diri. Berbulan-bulan lamanya Kapten Peter mengerahkan pasukan untuk mencari dan membawanya kembali, namun tanpa hasil.
"Ia mulai dilupakan karena sudah menghilang selama satu tahun lebih, disangka sudah mati. Bahkan gadis itu dikabarkan bersekutu dengan para pemberontak! Akan tetapi siapa bahwa hari ini sang domba dengan jinaknya datang kembali sendiri ke kandang, siap untuk diterkam sang harimau yang sudah lama kelaparan, ha-ha-ha!"
Sersan itu ikut tertawa, demikian pula para perajurit lainnya.
"Aih, ingin sekali aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dan apa yang terjadi di dalam."
"Ha-ha, siapa berani melakukan itu? Kalau ketahuan, tentu akan dihukum cambuk oleh Kapten Peter sampai seluruh kulit di punggung cabik-cabik."
Beberapa lamanya mereka bercakap-cakap dan bergurau tentang kembalinya Diana, akan tetapi setelah hal itu tidak menarik lagi, keadaan kembali menjadi sunyi dan yang berada di depan hanyalah mereka yang bertugas jaga.
Sementara itu, dengan sikap gembira dan ramah, Peter mengajak Diana duduk di ruangan dalam yang luas dan bersih, dan di situ tidak nampak adanya seorangpun perajurit.
"Silahkan duduk, Diana. Biar aku mengambilkan pakaian untukmu. kau dapat berganti pakaian di kamar ini."
"Terima kasih, Peter. Tidak usah, aku tidak perlu berganti pakaian. Pakaianku ini masih bersih."
"Tapi kau , ah... mana engkau pantas memakai pakaian seperti itu? Aku mempunyai gaun yang masih baru dan..."
"Terima kasih, tidak usah repot-repot. Sudah setahun lebih setiap hari aku memakai pakaian seperti ini dan sudah terbiasa dan enak dipakai. Aku datang untuk bicara, Peter."
"Okey, sesukamulah. Mau minum apa?"
Dia menuju ke bar dimana tersedia bermacam minuman.
"Jangan minuman keras untukku, cukup air jeruk atau air buah lainnya kalau ada, atau air teh."
Peter menahan senyumnya.
Sungguh berubah sekali gadis ini akan tetapi harus diakuinya bahwa Diana semakin cantik, semakin matang dan tubuhnya kini menggairahkan.
Dia menuangkan air jeruk ke dalam gelas, dan bir untuk dirinya sendiri, lalu menghampiri Diana, menyerahkan gelas terisi air jeruk.
Diana menerima dan meminumnya sedikit, lalu meletakkan gelas itu di atas meja.
"Nah, sekarang ceritakanlah tentang pamanku."
"Pamanmu telah dipindahkan ke Shang-hai tiga bulan yang lalu. Di sana direncanakan untuk dibangun benteng yang lebih kuat dan pada di sini, dan karena hubungan dengan Kota Raja lebih dekat, maka pamanmu ditugaskan di sana.
"Jangan khawatir, besok akan ku atur agar engkau dapat berlayar ke Shang-hai, dan kalau perlu aku sendiri yang akan menemanimu ke sana. Akan tetapi, selama ini engkau kemana sajakah, Diana? Pamanmu dan seluruh keluarganya merasa cemas bukan main. Mengapa engkau tidak mau kembali ke sini dan apa saja yang telah kau alami selama ini?"
Diana merasa tidak puas mendengar berita yang demikian singkat tentang pamannya, dan iapun diam-diam bersikap waspada dan tidak percaya kepada Peter Dull ini.
Maka, ketika tadi ia menerima segelas air jeruk, minuman itu hanya dicicipinya sedikit, dan ia yang kini memiliki perasaan yang peka, dapat merasakan kelainan pada minuman itu.
Ia curiga bahwa minuman itu dicampuri obat, pembius atau obat tidur, maka ia tidak berani minum banyak sebelum yakin benar bahwa minuman itu bersih.
Betapapun juga, ia merencanakan hubungan baik antara pasukan kulit putih dan para pejuang, maka ia tidak seharusnya memulai dengan sikap permusuhan dengan Peter yang merupakan orang penting pula dalam pasukan kulit putih.
"Engkau tahu bahwa aku suka menyelidiki benda-benda kuno dan tradisi-tradisi yang bersangkutan dengan sejarah. Di dusun-dusun dan gunung-gunung, aku menemukan banyak hal yang menarik, sehingga aku betah tinggal di sana."
"Hemmm..."
Peter Dull tersenyum sinis penuh ejekan.
"Apakah bukan karena engkau tertarik kepada mereka, bersekutu dan bergaul dengan segala macam bandit, pencuri, perampok, bajak, pembunuh dan pengacau-pengacau hina itu. Aku banyak mendengar tentang petualanganmu, Diana."
Kedua telinga Diana menjadi merah, akan tetapi ia menahan kesabarannya.
"Para penyelidikmu bodoh-bodoh dan keliru mengambil kesimpulan, Peter. Mereka itu, sahabat-sahabatku itu, sama sekali bukan penjahat. Mereka adalah pendekar-pendekar tulen, satria-satria sejati dan patriot-patriot yang perkasa! "Justeru untuk menjelaskan semua itulah, maka aku pulang, Peter. Dan engkaupun perlu mendengar agar terbuka matamu dan sadar bahwa selama ini, sikap yang diambil oleh pasukan kita adalah keliru sama sekali."
Peter Dull memandang dengan alis berkerut sinar mata penuh selidik.
"Apa maksudmu?"
"Mereka itu adalah pejuang-pejuang yang menentang penjajah Mancu, yang berjuang untuk membebaskan tanah air mereka dari cengkeraman penjajah Mancu. Bangsa kita datang ke negeri ini untuk berdagang, bukan? "Nah, mengapa mencampuri urusan perjuangan, bahkan membantu pemerintah penjajah dan menentang perjuangan para pendekar yang hendak membebaskan bangsa dan tanah airnya dari cengkeraman penjajah? Sikap ini membuat rakyat menjadi benci dan timbul anti kulit putih, dan hal itu kurasa amat merugikan bangsa kita sendiri."
"Wah-wah, agaknya engkau kini menjadi pembela para pemberontak itu, Diana!"
"Pembela yang benar, Peter. Dan itu adalah tugas setiap orang manusia, bukan? Aku pulang ini untuk membuka mata kalian. Hentikan permusuhan terhadap para pejuang, bahkan kalau mungkin, bantulah perjuangan mereka. Kalau perjuangan mereka berhasil, tentu hubungan perdagangan antara kita dan rakyat akan menjadi semakin akrab dan menguntungkan."
"Jadi engkau pulang untuk membujuk pamanmu agar bersekongkol dengan pemberontak dan memusuhi pemerintah yang syah?"
"Engkau memandang persoalannya dari sudut yang lain, demi keuntungan pemerintah penjajah! Memang pemerintah yang syah, akan tetapi benarkah itu kalau orang Mancu memegang pemerintahan di negeri ini? Rakyat yang berjuang untuk membebaskan tanah airnya dari cengkeraman penjajah bukanlah pemberontak jahat!"
"Ah, sudahlah, Diana. Bukan tugas kita untuk bicara tentang politik, ada jenderal-jenderal yang pekerjaannya mengurus hal-hal demikian. Mari, minumlah air jeruk itu, kemudian beristirahatlah. Oya, engkau tentu belum makan malam, bukan? Biar kusuruh sediakan makan malam untuk kita."
Peter mengalihkan percakapan.
Diana merasa penasaran, akan tetapi diam-diam otaknya bekerja.
Ia harus yakin benar bagaimana sebenarnya sikap Peter terhadap dirinya.
Ia harus yakin tentang minuman ini, tentang segalanya.
"Oya... kau tadi bilang ada gaun untuk pengganti pakaianku? Coba tolong ambilkan hendak kulihat, kalau cocok, boleh juga berganti pakaian."
Berkata demikian, Diana mengangkat gelasnya dan menempelkan gelas itu di bibirnya. Peter memandang dengan wajah berseri, bangkit berdiri.
"Baik, akan kuambilkan. Nah, begitu sebaiknya sikapmu, Diana. Minumlah, kalau kurang akan kuambilkan lagi."
Dan diapun melangkah ke arah kamar.
Secepat kilat, Diana menuangkan seluruh isi gelasnya ke dalam pot bunga yang berdiri di sudut.
Gerakannya cepat sekali dan tidak mengeluarkan suara sehingga Peter tidak mendengar sesuatu.
Tak lama kemudian, Peter kembali lagi membawa sebuah gaun berwarna merah muda, juga sepasang sepatu.
Dia memang menyimpan banyak pakaian wanita untuk persediaan, karena sering dia membawa wanita cantik ke dalam benteng untuk menghiburnya dan dia suka sekali memberi hadiah pakaian-pakaian indah kepada wanita yang dibawanya.
Diana memperhatikan Peter dari sudut matanya dan ia melihat betapa wajah Peter berubah girang ketika pria itu memandang ke arah gelas minuman yang telah kosong.
"Sudah kau minum habis? Ah, engkau tentu haus sekali. Kuambilkan lagi, ya?"
"Tidak usah, Peter, sudah cukup. Enak dan segar sekali air jeruk itu."
"Sebentar lagi engkau tentu akan merasa lebih segar!"
"Apa maksudmu?"
"Tidak apa-apa... nah, inilah gaun itu. Bagus dan tentu cocok sekali wama merah muda ini untuk kulitmu yang putih mulus itu. Nah, bergantilah di dalam kamarku itu, Diana."
Diana bangkit berdiri dan tiba-tiba ia terhuyung, tangan kirinya meraba dahi dan tangan kanannya memegangi ujung meja.
"Ohhh... kepalaku pening..."
Rintihnya.
"Hai, berhati-hatilah... engkau tentu lelah sekali. Nah, beristirahatlah di dalam kamar, Diana. Mari kupapah engkau..."
Peter lalu menggandeng tangan Diana dan merangkul pundaknya.
Karena rangkulan ini wajar saja, Dianapun tidak menolak dan masih melanjutkan sandiwaranya, pura-pura pening dan mengantuk, meniru lagak orang yang mengantuk dan lemas.
Sengaja ia bersandar pada pundak Peter, memberatkan tubuhnya sehingga terasa oleh Peter bahwa ia benar-benar lemas dan mengantuk.
Setelah mereka memasuki kamar, Peter memapahnya ke arah tempat tidur.
"Duduklah, Diana... dan mari kugantikan pakaianmu. Pakaianmu ini kurang longgar, tidak enak untuk dipakai tidur."
Peter kini setelah melihat Diana duduk di atas pembaringan dengan tubuh lemas, mulai beraksi.
Tangannya dengan penuh gairah hendak membuka kancing baju Diana.
Gadis ini masih berpura-pura tidak sadar, akan tetapi ia menggunakan tangan menolak tangan Peter yang meraba-raba ke dada dan hendak membuka kancing bajunya itu.
"Peter, jangan..."
Katanya dengan suara lemah.
"Ah, jangan malu-malu, Diana. Bukankah engkau sudah biasa melakukan hal ini dengan anjing-anjing pemberontak itu? Malam ini akupun harus menikmatimu sebelum besok kau bertemu dengan pamanmu. Marilah!"
"Peter, ahhh... jangan..."
Diana lalu bangkit berdiri, mendorong kedua tangan Peter yang kurang ajar, dan dengan masih terhuyung menjauh dari pembaringan, matanya yang mengantuk dicobanya untuk dilebar-lebarkan memandang wajah Peter.
Ia harus yakin bahwa Peter benar-benar menaruhkan obat ke dalam minuman tadi sebelum ia turun tangan memberi hajaran.
"Hayolah, Diana. Sudah bertahun-tahun aku menaruh berahi padamu, akan tetapi engkau malah lari kepada anjing-anjing itu. Hayo, mari kita bersenang-senang, karena aku tidak suka kalau harus memaksamu. Mari, sebelum engkau pulas, karena tidak enak kalau engkau tidur seperti mayat."
Diana sudah hampir yakin mendengar kata-kata itu, akan tetapi ia masih berpura-pura.
"Apa? Tidur seperti mayat?"
Ketika Peter maju untuk menyambar lengannya, ia menangkis dengan pengerahan tenaga sambil mendorong.
Peter tidak menyangka akan gerakan ini, maka pundaknya terdorong keras dan diapun terhuyung dan menabrak meja.
"Ahh, engkau melawan dengan kekerasan! Percuma, Diana. Sebentar lagi engkau akan jatuh lemas, dan aku akan mempermainkan engkau seperti juga engkau mempermainkan hatiku. Engkau akan menjadi milikku semalam ini, baru hatiku puas!"
Diana masih terhuyung.
"Kau... kau menaruh apa dalam minumanku tadi...?"
"Ha-ha-ha, engkau cerdik juga, ya? Tiga butir pel obat tidur, cukup membuatmu tidur seperti mayat selama satu malam penuh, ha-ha-ha!"
Peter menubruk dengan penuh nafsu, akan tetapi kini Diana yang sudah mendapatkan keterangan yang diharapkan, menyambutnya dengan tamparan keras.
"Plakkk!!"
Demikian kerasnya tamparan itu sehingga tubuh Peter terpelanting dibarengi pekiknya kesakitan.
Dia jatuh dan bangkit lagi sambil meraba pipinya yang membengkak, meludahkan darah karena duabuah giginya copot.
"Perempuan keparat! Berani engkau memukulku?"
Saking marahnya, dia lupa bahwa amat aneh bagi seorang wanita yang sudah dipengaruhi obat tidur dapat menampar sekuat itu.
Kini dia menubruk dengan kedua tangan siap mencabik-cabik pakaian Diana.
Akan tetapi, dia menubruk tempat kosong.
"Plakkk...!"
Tamparan yang lebih keras lagi jatuh ke pipinya, kini yang sebelah kiri.
Kembali dia terpelanting roboh dan pipi kirinya membengkak lebih besar dan lebih menghitam.
Kini agaknya Peter baru teringat bahwa tidak mungkin orang terbius dapat memukul seperti itu.
Dia merangkak bangkit dan berdiri memandang dengan mata terbelalak.
Dia melihat Diana berdiri sambil tersenyum simpul, senyum yang penuh ejekan, sama sekali tidak kelihatan mengantuk atau lemas lagi.
Mengertilah dia bahwa dia yang dipermainkan.
"Kau... kau tidak minum air jeruk itu!"
Bentaknya. Diana tertawa dan hidungnya kembang-kempis, karena ia sungguh marah dan ingin mengejek orang itu.
"Peter, kau kira aku belum mengenal manusia macam apa adanya engkau? Sejak dulu engkau tidak berubah. Palsu, curang dan pengecut! Aku dapat menduga akan akal busukmu, dan sekarang aku ingin memberi hajaran keras kepada binatang bertubuh manusia macam kamu!"
Diana sudah marah sekali sehingga ia tidak perduli akan tugasnya untuk menjalin hubungan baik antara bangsanya dan kau m pejuang.
Ia tidak ingat lagi akan politik, karena ia menghadapi seorang manusia yang jahat dan patut dihajar.
Mendengar ucapan itu, tentu saja Peter merasa malu dan hal ini membuat kemarahannya memuncak.
"Bgus! Kiranya kedatanganmu memang sudah kau rencanakan untuk membikin kacau! Engkau mata-mata pemberontak busuk, pengkhianat bangsa!"
"Tutup mulutmu yang kotor!"
Diana membentak marah.
Akan tetapi Peter sudah menerjang ke depan untuk menangkap lengan gadis itu, karena dia masih belum sadar bahwa Diana kini bukan dara yang dulu lagi, bukan gadis lemah, maka dia merasa yakin akan dapat menangkap gadis itu dan membuatnya tidak berdaya.
Betapapun juga, dia tentu lebih kuat, pikirinya.
Namun, tangkapan kedua tangannya luput dan ketika dia mendesak dengan tubrukan seperti seekor beruang menubruk lawan, kembali Diana dapat mengelak dengan amat mudahnya.
Bahkan demikian cepat gerakan Diana, sehingga tahu-tahu ia sudah berada di samping kiri Peter dan ketika kakinya menendang, Peter tidak mampu menangkis atau mengelak lagi.
"Bukk!"
Ujung kaki kiri Diana dengan cepat dan kuatnya mencium lambung Peter.
"Hekkhh!"
Peter mengeluh dan meringis, karena perutnya mendadak terasa mulas sehingga dia melipat tubuhnya, membungkuk ke depan sambil menekan perut dengan kedua tangan.
Diana mengangkat kaki kanannya dan lututnya mengarah dagu lawan yang menunduk rendah.
"Desss!"
"Ouhhh...!"
Kembali Peter berteriak dan tubuhnya kini terbuka karena kepalanya seperti dilempar ke atas saking kuatnya hantaman lutut yang mengenai dagu tadi.
Karena tubuhnya hampir terjengkang dan kedua tangannya terangkat, tubuhnya bagian depan terbuka lebar.
Diana kini menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan tangan terkepal ke arah ulu hatinya.
"Dukkk!"
"Ukkkhhh..."
Dan tubuh Peter terjengkang dan terbanting ke atas lantai.
Belum knocked out (terpukul pingsan), baru knocked down (terpukul jatuh).
Akan tetapi nyeri pada lambung, dagu dan dadanya membuat dia terengah-engah dengan napas sesak.
Sejenak dia bangkit duduk dan memandang ke arah Diana dengan kepala nanar, pandang mata berkunang karena dia melihat bintang-bintang bertaburan dan berjatuhan ke bawah lalu menari-nari di depan matanya.
Setelah bintang-bintang itu lenyap, dia memandang wajah Diana dengan mata terbelalak.
Baru sadarlah dia bahwa Diana telah menguasai ilmu silat.
Bangkitlah kemarahannya kembali, marah saking malunya.
Dia menggoyang-goyang kepalanya seperti hendak mengusir kepeningan dan bangkit berdiri, matanya memandang ke kanan dimana terdapat pedangnya yang tergantung di dinding.
"Perempuan setan! Engkau malah belajar silat dari para pemberontak itu, ya?"
Dan Peter pun meloncat, lalu mencabut pedangnya.
Kalau ia menghendaki, Diana dapat saja menghalanginya atau merobohkannya kembali sebelum dia sempat bangkit berdiri, akan tetapi gadis itu tidak mau berbuat demikian.
Dara perkasa ini tidak takut lawannya bersenjata pedang, asal jangan mempergunakan pistol.
Dan ia tidak melihat pistol di pinggang Peter.
Kalau ia melihatnya tentu sudah dirampasnya senjata api itu.
Tidak nampak pula ada senjata api di kamar itu, maka hatinya pun tenang karena ia merasa yakin bahwa ia akan dapat menundukkan Peter, tanpa atau dengan pedang sekalipun.
Dengan pedang di tangan, Peter kini menghampiri Diana, sikapnya bengis mengancam, di kedua ujung bibirnya masih ada darah dan muka yang biasanya tampan itu kini nampak buruk penuh kebengisan, menyeringai kejam, di sepasang matanya terbayang nafsu membunuh!
"Terkutuk!
Kubunuh kau ...kubunuh kau ...!"
Peter mengancam dengan suara terputus-putus karena napasnya terengah-engah saking marah dan nyerinya.
"Hemmm... sekarang nampaklah keaslianmu, Peter Dull! Memuakkan sekali!"
Diana mengejek. Memang ia merasa muak. Kalau dibandingkan dengan sikap para pendekar seperti Ci Kong, sungguh jauh bedanya, seperti naga dengan cacing.
"Mampus kau !"
Peter menerjang dengan pedangnya, membacok sekuat tenaga dengan pedangnya, lupa bahwa yang diserangnya dengan maksud membunuh itu adalah seorang wanita, keponakan dari Kapten Charles Elliot pula!
Akan tetapi, tanpa banyak kesulitan, Diana mengelak dan pedang itu hanya mengenai angin belaka.
Peter bukan seorang lemah.
Dia adalah seorang ahli tinju, juga ahli pedang.
Begitu pedangnya luput dari sasaran, secepat kilat pergelangan tangannya membuat pedang membalik, kini menusuk ke arah dada.
Kalau pedang itu sampai mengenai sasaran, tentu bagian lunak di antara payudara Diana akan tertembus dan pedang akan menembus jantung dan paru-paru!
Akan tetapi, kembali dengan gerakan ringan sekali, Diana miringkan tubuhnya dan tusukan itupun luput.
Peter menjadi semakin penasaran dan pedangnya kini menyambar-nyambar menusuk, membacok, membabat, menusuk lagi bertubi-tubi.
Namun, semua serangannya dapat dielakkan dengan mudah oleh Diana yang mempergunakan gerak langkah Bintang Sakti seperti yang dipelajarinya dari San-tok.
Karena serangannya selalu gagal, Peter menjadi semakin berang.
"Perempuan iblis... sekali ini mampus kau !"
Bentaknya, dan pedangnya menusuk ke arah perut Diana, tangan kirinya menyusul dengan cengkeraman ke arah muka gadis itu!
Serangan ini hebat sekali, dilakukan dengan tenaga sepenuhnya dan cepat bukan main.
Diana sudah siap menyambut serangan itu.
Tubuhnya miring sehingga pedang menusuk lewat di dekat lambung, tangan kirinya cepat maju mengetuk siku Peter dan tangan kanannya menangkap pergelangan tangan yang mencengkeram mukanya sambil mengelak.
"Plakk!"
Siku itu tertekuk dan seketika Peter merasa tangan kirinya lumpuh, pedangnya terlepas.
Pada saat itu, Diana melanjutkan tangan kirinya memukul ke arah pundak Peter dan tangan kanannya yang menangkap pergelangan tangan kiri itu menarik dengan sentakan kuat.
"Krekk!"
Pukulan tangan miring itu berhasil mematahkan tulang pundak Peter, dan ketika Diana melepaskan tendangan yang mengenai perut Peter yang agak gendut, tubuh itu terjengkang dan terbanting keras!
Diana berdiri saja bertolak pinggang, memandang sambil tersenyum simpul.
Hatinya merasa gembira sekali, bahwa ia telah dapat memberi hajaran kepada orang yang pernah menyakiti hatinya ini.
Hajaran untuk membalas bagi dirinya sendiri, juga bagi banyak pejuang yang telah menjadi korban keganasan Peter dan kaki tangannya.
Peter merintih-rintih.
Pundak kanannya yang patah tulangnya terasa nyeri sekali kalau tubuhnya digerakkan.
Dia memaksa diri bangkit duduk, dan tangan kirinya melepaskan kancing bajunya.
Diana mengira bahwa Peter melepas kancing baju agar rasa nyeri di pundaknya berkurang karena bajunya menjadi longgar.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dengan cepat, tangan kiri Peter merogoh ke dalam, dan kini keluar sambil mengacungkan sebuah pistol.
Diana hendak meloncat ke depan dan menyerang, akan tetapi dengan sigapnya, Peter sudah menodongkan moncong pistol itu, lalu perlahan-lahan bangkit.
"Angkat tangan!"
Melihat Diana meragu, Peter membentak lagi.
"Angkat tangan atau... akan kuhancurkan kepalamu dengan peluru pistolku. Angkat tangan!"
Diana maklum bahwa sekali ini ia tidak berdaya.
Kalau ia nekat menyerang, tentu ia tidak akan mungkin dapat mendahului cepatnya sambaran peluru dari jarak yang hanya empat meter itu.
Ia tidak mau mati konyol, maka iapun mengangkat kedua tangannya atas sambil tersenyum mengejek.
"Lihat kegagahan Tuan Peter Dull, menodong seorang wanita dengan pistol walaupun dia mampu menggunakan kaki tangannya dan pedangnya."
"Tutup mulutmu... dan jangan kira aku tidak akan berani menembakkan pistolku ini untuk merobek-tobek tubuhmu!"
"Ingat, Tuan. Aku adalah keponakan Kapten Charless Elliot!"
Diana mengejek, sedikitpun tidak nampak gentar.
"Huhh... keponakan yang sudah menyeleweng, sudah berubah menjadi pengkhianat. Ingat, engkau datang sebagai mata-mata pemberontak! Lihat saja pakaianmu, kalau kutembak mampus engkau sebagai mata-mata pemberontak, siapa yang akan menyalahkan aku!"
"Nah, Tuan Peter Dull yang gagah perkasa... kalau begitu, tembaklah aku. kau kira aku takut mati?"
Diana menantang, akan tetapi ia tidak berani menyerang, karena ia maklum bahwa hal itu berarti mati konyol.
"Tidak begitu mudah, Diana. Engkau harus melayaniku, mau atau tidak. Hayo cepat kau buka pakaianmu itu. Cepat kataku!"
Moncong pistol itu mengancam dan kini Peter Dull sudah berdiri dan melangkah maju.
Diana mengukur jarak.
Terlalu berbahaya untuk turun tangan, pikirnya.
Sebaiknya mengacau perhatian Peter, dan mendekatinya sedapat mungkin.
Ia tersenyum mengejek, akan tetapi jari-jari tangannya bergerak ke arah kancing bajunya, matanya tak pernah berkedip menatap wajah Peter.
Dengan sengaja, Diana melepas kancing bajunya satu-satu dengan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit membiarkan tubuhnya terbuka dan penutupnya seperti seorang penari telanjang sedang bergaya.
Hal ini memang disengaja dan merupakan siasatnya.
Memang ia berhasil, karena sepasang mata Peter semakin lama semakin melotot dan kemerahan melihat tubuh yang putih mulus itu sedikit demi sedikit nampak.
Setelah Diana menanggalkan bajunya sehingga nampak seluruh tubuh bagian atas, berkali-kali Peter menelan ludah dan dia tidak sadar betapa tadi, ketika membuka bajunya, sedikit demi sedikit kaki Diana mendekat sehingga jarak antara mereka tinggal dua meter lagi.
Mulai menggigil tubuh Peter dirangsang gairah berahi.
Melihat betapa Diana menghentikan gerakannya melepaskan pakaian, dengan suara parau Peter berkata.
"Teruskan... teruskan, Diana, tanggalkan semua pakaianmu. Celana itu!"
Napasnya terengah-engah.
Diana tersenyum, membayangkan kemenangan terakhir.
Kedua tangannya, dengan jari-jari yang panjang, dengan lembut menyentuh ikat pinggangnya lalu perlahan-lahan melepaskan ikat pinggang itu, ikat pinggang yang mengikat celana suteranya, kakinya bergeser sedikit demi sedikit, dan setelah jarak antara mereka tinggal satu meter lebih, tangan Diana bergerak, ujung ikat pinggang menyambar arah pergelangan tangan Peter yang memegang pistol.
"Prattt!!"
Ujung ikat pinggang itu menyengat seperti unjung cambuk baja dan pistol itu terlepas dari tangan Peter, jatuh ke atas lantai dan disepak oleh kaki Diana sampai terlempar jauh.
"Dessss!"
Saking marahnya, Diana menendang dengan pengerahan tenaga, dan tubuh Peter terlempar menabrak dinding.
"Brukkkk!"
Seperti pecah rasa kepala Peter ketika kepalanya tertumbuk pada dinding, dan dunia seperti dilanda gempa yang hebat.
Dia mengerang kesakitan dan memejamkan matanya.
Akan tetapi ketika peningnya hilang dan dia membuka mata melihat Diana masih berdiri dan mulai mengenakan lagi pakaiannya, tiba-tiba dia meloncat berdiri, dan ketika tangan kirinya meraih ke balik bajunya, kembali tangan kirinya telah memegang sebuah pistol kecil!
"Darr...!"
Diana terkejut bukan main.
Pundaknya terasa panas karena pangkal lengannya di tembus peluru!
Nyeri, pedih dan panas rasanya.
Tak disangkanya bahwa Peter masih memiliki sebuah pistol lain yang kecil akan tetapi cukup berbahaya.
"Perempuan keparat!"
Peter memaki, menggunakan punggung tangan kanannya yang lumpuh mengusap darah dan mulutnya, matanya liar seperti mata binatang buas.
"Peluru itu hanya peringatan saja. Peluru kedua akan menembus dadamu atau kepalamu. Pekerjaanmu belum selesai. Hayo lepaskan celanamu!"
Peter kini amat marah dan benci kepada Diana, mengambil keputusan untuk menghina wanita itu sepuas hatinya sebelum membunuhnya.
Ya, dia akan membunuhnya, membalas dendam atas semua luka dan penghinaan yang dialaminya sekarang.
Diana maklum bahwa Peter tidak akan mengampuninya.
Ia dapat menduga bahwa akhirnya Peter akan membunuhnya dengan pistol itu.
Ia merasa menyesal mengapa ia memandang rendah kepada Peter yang ternyata cerdik bukan main.
Kalau ia tahu bahwa Peter masih mempunyai sebuah simpanan pistol lain, tentu akan dibunuhnya orang itu tadi.
Kini, sukarlah mengharapkan kesempatan untuk dapat merobohkan Peter lagi, karena tentu dia sudah siap siaga dan waspada.
"Manusia hina, jangan mengira bahwa aku akan sudi menuruti kemauanmu. Kalau engkau hendak membunuhku... bunuh saja. Siapa sudi membuka pakaian untukmu?"
Dan Diana pun kini bahkan mengenakan kembali bajunya dengan sikap yang santai dan tenang.
Melihat sikap Diana, Peter juga maklum bahwa dia tidak mungkin memaksa Diana.
Tak mungkin memperkosa wanita yang seperti harimau betina itu, dan tidak ada cara baginya untuk menangkap dan membelenggunya.
Pula, tubuh dan hatinya sudah sakit sekali, melenyapkan semua nafsu berahinya yang tadi berkobar.
Dia lalu mengacungkan pistolnya membidik ke arah kepala Diana.
"Diana Mitchel! bersiaplah untuk mampus!"
Tangannya yang teguh itu memegang pistol dengan kuat, jari-jarinya mencengkeram erat dan jari telunjuknya siap menarik pelatuk.
Diana maklum bahwa tidak ada harapan untuk meloloskan diri, maka iapun berdiri tegak sambil memandang kepada Peter dengan sinar mata tajam menusuk, bibirnya masih tersenyum mengejek, siap menghadapi kematian dengan tabah dan gagah seperti yang ia lihat pada diri semua pendekar yang dikaguminya.
"Darrr!"
Tubuh itu melonjak dan terpelanting jatuh, menggelepar sebentar lalu terdiam.
Diana menoleh, dan seperti dalam mimpi melihat munculnya seorang sersan muda dari ambang pintu, memegang sebuah pistol yang masih mengepulkan asap.
Sejenak mereka berpandangan.
Lalu Diana berlari maju menghampiri sambil mengembangkan kedua lengannya.
"Johnny? Johnny... kau kau kah ini...?"
"Diana...!"
Mereka saling tubruk, saling rangkul, berciuman, dan Diana terisak-isak menangis.
Hampir ia tidak percaya.
Baru saja ia lolos dan maut, dan penolongnya, orang yang mendahului Peter dan menembaknya adalah Johnny, kekasihnya yang terpaksa ditinggalkannya karena orang tuanya tidak menyetujui perjodohan antara ia dan pemuda itu.
"Diana, aku masuk tentara untuk menyusulmu dan aku... tidak tahan melihat tingkahnya terhadap dirimu... kau pergilah, Diana. Cepat pergilah... biar aku yang bertanggung jawab atas kematiannya!"
Tanpa melepaskan rangkulannya, Diana berkata di antara isaknya.
"Tidak! Aku tidak ingin melihat engkau berkorban. Engkau tentu akan dihukum, mungkin selama hidup, mungkin hukuman mati. Tidak, mari kita pergi berdua."
Diana cepat melepaskan rangkulannya dan mengambil pistol yang terlepas dari tangan Peter yang kini menggeletak tak bernyawa itu.
"Kita bersenjata, mari kita pergi, Johnny..."
"Kau ingin melihat aku mengkhianati bangsa kita sendiri, Diana? Mana mungkin?"
"Tidak... kita lari untuk menyelamatkan diri, bukan untuk berkhianat. Kelak kuceritakan semua tentang perjalananku, Johnny, dan engkau akan mengetahui segalanya tentang perjuangan rakyat di sini..."
Akan tetapi Johnny kelihatan masih ragu-ragu dan berat untuk melarikan diri. Dia tentu akan dituduh pengkhianat dan pemberontak.
"Tenanglah, Diana. Mari kita hadapi semua ini berdua, kita ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, betapa Peter telah menghinamu dan betapa dengan terpaksa aku harus menembaknya untuk menyelamatkan dirimu yang sudah berada di ambang maut itu."
"Tapi, kau tentu akan dihukum..."
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat yang turun dan atas atap, dan di situ berdirilah seorang Kakek.
"Suhu...!"
Diana berseru kaget dan masih menangis.
"Diana, inikah kekasihmu yang pemah kau ceritakan kepadaku itu?"
"Benar, suhu. Dialah Johnny, kekasihku... dan dia pula yang tadi menyelamatkan nyawaku, akan tetapi kini kita berada dalam kesukaran, suhu. Kita tentu akan ditangkap dan dihukum!"
"Diana, siapakah orang tua ini?"
Tanya Johnny, bingung dan terkejut melihat betapa ada orang muncul begitu saja, melayang dari atas seperti setan.
Kakek itu sudah tua sekali, tentu lebih dan tujuh puluh tuhun usianya, bertubuh kurus dan pakaiannya, biarpun bersih, penuh tambalan seperti pakaian pengemis, memegang sebuah kipas yang digoyang-goyangkan mengenai tubuhnya sambil tersenyum-senyum.
"Jhonny, Kakek ini seorang sakti, guruku yang berjuluk San-tok."
Diana memperkenalkan.
"Dengar kalian baik-baik. Akulah yang akan mengakui pembunuhan terhadap komandan ini, dan kalian pura-pura lari ketakutan dari ruangan ini. Sudah, Diana... jangan membantah, ini perintahku. Larilah atau aku akan bersungguh-sungguh menghajar kalian!"
Dengan cepat Diana menterjemahkan kata-kata Kakek itu kepada kekasihnya yang menjadi terheran-heran.
Akan tetapi Kakek itu kini sudah maju dan melakukan tendangan dua kali dengan kakinya.
Diana dapat mengelak, tetapi Johnny terkena tendangan dan tubuhnya jatuh terguling-guling!
Dia semakin terkejut, akan tetapi Diana sudah menyambar lengannya dan ditariknya pemuda itu untuk melarikan diri.
"Mari kita lari...!"
Katanya, maklum akan keanehan watak gurunya yang mungkin akan benar-benar mengamuk dan menghajar mereka berdua.
Mereka berlari keluar dan dalam ruangan itu, hampir bertabrakan dengan para penjaga yang sudah berlarian datang karena mereka tadi mendengar tembakan-tembakan.
Melihat betapa Sersan Johnny dan Diana bergandengan tangan dan berlarian seperti orang ketakutan, mereka terheran-heran.
"Apa yang terjadi?"
Tanya mereka.
"Kapten terbunuh!"
Kata Johny masih gugup dan bingung karena perubahan yang terjadi dengan tiba-tiba dan tak disangka-sangka itu.
Para penjaga terkejut bukan main, dan mereka berlari-larian memasuki ruangan itu dengan senjata api di tangan.
Dan mereka melihat seorang Kakek aneh berdiri di dalam ruangan, memegang pistol dan tiba-tiba Kakek itu menembak ke sana-sini dengan pistol itu.
Mereka terkejut dan cepat berlindung dan siap untuk balas menembak.
Akan tetapi, Kakek itu menembak terus membabi buta sampai semua peluru habis dari dalam pistol itu, lalu terdengar dia tertawa-tawa.
Ketika para penjaga menyerbu ke dalam dengan pistol di tangan, ternyata ruangan itu sudah sunyi.
Peter Dull masih menggeletak tak bernyawa lagi, dan Kakek yang tadi mengamuk dengan pistol itu sudah lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Hanya atap dan genteng di atas ruangan itu terbuka lebar, sehingga semua orang dapat menduga bahwa Kakek aneh itu tentu melarikan diri melalui atap.
Tentu saja peristiwa itu menggemparkan.
Dan Diana bersama Johnny yang tentu saja dihujani pertanyaan itu, hanya mengatakan bahwa selagi mereka bercakap-cakap dengan Peter Dull, tiba-tiba muncul Kakek itu yang diserang oleh Peter dengan pistol.
Akan tetapi Kakek itu mampu merampas pistol dan menembak Peter, bahkan mereka berdua tentu akan tewas kalau tidak keburu melarikan diri.
Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Diana ketika mendapat kenyataan bahwa pamannya, Kapten Charles Elliot, masih berada di Kanton, dan ia hanya dibohongi saja oleh Peter yang memiliki niat buruk terhadap dininya.
Ia lalu pergi menghadap pamannya bersama Jhonny, dan mereka disambut dengan gembira.
Keluarga Elliot tadinya mengira bahwa Diana telah meninggal dunia, maka kemunculannya tentu saja amat menggirangkan hati mereka.
Diana menceritakan semua pengalamannya tentang perlakuan Peter yang tidak patut, dan pengalamannya hidup di antara para pendekar memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya.
Ia mengulang kembali pendapatnya seperti yang pernah ia nyatakan kepada Peter tentang kekeliruan sikap balatentara kulit putih terhadap para pejuang.
"Para pejuang itu adalah pendekar-pendekar gagah perkasa, paman,"
Demikian antara lain Diana berkata kepada pamannya.
"Mereka memperjuangkan kemerdekaan dan memusuhi pemerintah penjajah Bangsa Mancu. Mereka tidak memusuhi kita, hanya tentu saja mereka menentang cara perdagangan kita yang memasukkan candu sehingga merusak kesehatan lahir batin rakyat.
"Kenapa kita harus membantu pemerintah penjajah sehingga menimbulkan kebencian di hati rakyat terhadap kita? Kalau kita ingin berdagang sehingga kelak mendatangkan hasil baik, kurasa jalan satu-satunya adalah bersahabat dengan rakyat, karena aku yakin, pada suatu waktu, pemerintah penjajah akan terguling."
Kapten Charles Elliot mendengarkan semua cerita Diana dengan penuh kegum.
Keponakannya ini seorang gadis kulit putih, dapat hidup sampai hampir dua tahun di antara para pemberontak itu, tanpa terganggu, sungguh merupakan peristiwa yang ajaib.
Dan dia kagum terhadap keponakannya.
Diapun dapat menerima semua pendapat yang dikemukakan gadis itu.
"Bagaimanapun juga, Diana... urusan politik tidak ditentukan oleh kita. Tugasku hanya melaksanakan perintah atasan saja, politik dan sikap kita terhadap negara ini sudah ditentukan oleh pemerintah kita di Inggeris, setidaknya oleh perwakilan pemerintah kita di India. Bagaimana aku berani merobah politik itu."
"Akan tetapi, paman memiliki kekuasaan disini, setidaknya paman dapat menjelaskan akan kekeliruan sikap itu kepada atasan paman."
Kapten tua itu menggeleng kepala.
"Tugas bawahan hanyalah mentaati dan melaksanakan perintah atasan, bukannya membantah atau memberi saran, Diana. Politik adalah permainan orang-orang besar, bukan permainan militer seperti aku ini."
Diana merasa penasaran sekali.
"Kalau begitu, biarlah aku sendiri yang akan membujuk para pembesar yang berwenang di sana?"
Beberapa hari kemudian, Diana bersama Johnny, setelah mendapat perkenan dari Kapten Charles Elliot, berangkat menuju ke Inggeris, dan Diana berjuang untuk sahabat-sahabatnya yang ditinggalkan, demi kepentingan perjuangan mereka.
Bukan tidak ada manfaatnya tindakan Diana ini, karena sedikit banyak semua pendapatnya mempengaruhi para pejabat yang berwenang, membuat mereka mengerti akan keadaan para pejuang dan dapat menentukan sikap demi keuntungan masa depan dan bangsa mereka yang melakukan perdagangan di timur laut.
Orang tua Diana juga tidak berkeberatan lagi akan pilihan hati Diana, maka Johnny pun diterima sebagai tunangan dan calon suami Diana.
Kegagalan Lee Song Kim membuat kedudukan pemuda ini mulai goyah.
Biarpun kebebasan para tawanan itu tidak dapat disalahkan kepada Lee Song Kim, namun para pembesar Mancu mulai merasa curiga terhadap pemuda ini, dan menyalahkan dia mengapa para tawanan itu tidak cepat dibunuh saja sebelum berhasil melarikan diri.
Song Kim tidak dapat banyak membantah, karena untuk dapat menangkap para pimpinan pemberontak itu sekali lagi merupakan hal yang amat sukar, bahkan tidak mungkin sama sekali.
Siasatnya yang lalu telah berhasil baik, membuat dia dipercaya oleh kau m pejuang sehingga dia dapat memancing para pimpinan itu untuk berkumpul lalu dikepung dan ditangkap.
Akan tetapi, siapa kira, setelah mereka itu tertawan, mereka dapat lolos walaupun penjagaan amat kuatnya!
Tak disangkanya bahwa Koan Jit, orang yang pernah menjadi kaki tangan orang kulit putih itulah yang akhirnya membebaskan para tawanan dengan mengorbankan dirinya.
Melihat keadaan dirinya yang mulai kehilangan kepercayaan di pihak para pembesar Kota Raja, Song Kim mencari akal untuk memulihkan kedudukannya.
Diam-diam dia mulai bersekutu dengan dua orang tokoh penting dari Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai!
Permainan Song Kim sekali ini amat berbahaya, akan tetapi dia berhati-hati sekali.
Dengan cerdik dia mendekati dua orang tokoh perkumpulan yang menjadi musuh besar kerajaan, dengan maksud bahwa kalau sampai kedudukannya tak dapat dipertahankan lagi, dengan mudah dia mencari pengaruh di kalangan dua perkumpulan besar itu.
Song Kim memang memiliki ambisi besar untuk memperoleh kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang besar.
Dan pada suatu hari, dia mengajukan pinangan atas diri Ceng-hiang kepada Pangeran Ceng Tiu Ong!
Perbuatan yang teramat berani!
Biarpun ia telah menjadi seorang panglima muda, akan tetapi dia seorang militer biasa saja, tidak berdarah bangsawan, bukan keturunan Mancu, dan dia berani mengajukan pinangan atas diri puteri seorang pangeran.
Song Kim bukan hanya tergila-gila kepada kecantikan Ceng Hiang, akan tetapi juga dia melihat keuntungan besar kalau saja dia dapat menjadi suami puteri itu.
Sebagai mantu seorang pangeran, yang juga memiliki kedudukan tinggi sebagai pengurus perpustakaan istana, tentu saja derajatnya akan naik dan akan lebih mudah baginya untuk memperoleh kedudukan yang lebih penting dan tinggi.
Akan tetapi mudah saja diduga.
Pinangan itu ditolak, bahkan Pangeran Ceng Tiu Ong yang sudah mendengar akan ulah Lee Song Kim dari puterinya, menolak dengan keras dan dengan jawaban yang ketus terhadap utusan Song Kim.
Hal ini membuat Song marah dan merasa sakit hati.
Dan pada suatu hari, gegerlah di kalangan pembesar Kota Raja, karena Pangeran Ceng Tiu Ong ditangkap oleh pasukan keamanan dengan tuduhan bersekongkol dengan pemberontak!
Tentu saja hal ini terjadi karena ulah Lee Song Kim yang melaporkan bahwa pangeran itu mempunyai hubungan dengan Hai-tok, seorang di antara pimpinan para pemberontak, bahkan puteri dan Hai-tok yang bernama Tang Ki pernah bersembunyi di dalam gedung keluarga Ceng.
Di dalam pemeriksaan, Pangeran Ceng Tiu Ong tidak menyangkal bahwa dia memang mengenal Kiki puteri Hai-tok, akan tetapi membantah keras bahwa dia bersekongkol dengan pemberontak.
"Kapal kami dibajak oleh puteri Hai-tok itu, dan saya tentu telah tewas dilempar ke laut kalau tidak diselamatkan oleh Kiki. Kemudian, gadis itu mengembalikan kitab-kitab kuno. Apakah saya harus menangkapnya setelah ia menyelamatkan saya dan mengembalikan kitab-kitab penting? Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa saya lalu bersekongkol dengan pemberontak. Itu adalah fitnah belaka."
Antara lain dia membantah.
Namun, pengakuannya bahwa dia mengenal baik puteri Hai-tok, bahkan gadis pemberontak itu pernah menjadi tamunya, tentu saja membuat hakim menjadi curiga dan menahan pangeran ini di dalam penjara.
Tentu saja Ceng Hiang menjadi khawatir dan berduka sekali.
Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Memang menjadi kenyataan bahwa keluarganya bersikap baik terhadap Kiki, dan menjadi kenyataan pula bahwa Kiki adalah seorang gadis bahkan tokoh pemberontak.
Ayahnya memang tidak memusuhi pemberontak-pemberontak, karena Ayahnya, seperti ia sendiri, tahu bahwa mereka itu sebenarnya adalah pejuang-pejuang, para patriot dan pendekar yang gagah perkasa.
Beberapa hari setelah Pangeran Ceng Tiu Ong ditangkap, pada suatu malam yang sunyi, Ceng Hiang mendengar gerakan orang di luar kamarnya.
Ia cepat memadamkan lampu dan berkelebat melalui jendela, terus melayang ke atas genteng rumahnya.
Ia melihat dua sosok bayangan orang bergerak cepat.
Ketika dua bayangan orang itu tiba di bawah lampu yang tergantung di sudut, Ceng Hiang girang sekali.
"Tan-Taihiap...!"
Ceng Hiang segera mengenal wajah Ci Kong, dan walaupun ia tidak mengenal siapa adanya wanita cantik dan gagah yang datang bersama Ci Kong.
Ia percaya bahwa tentu wanita cantik itu sahabat Ci Kong dan merupakan seorang pendekar pula.
Gadis yang datang bersama Ci Kong itu memang seorang pendekar wanita, karena ia adalah Siauw Lian Hong.
Berita tentang ditangkapnya Pangeran Ceng Tiu Ong tentu saja tersiar luas dan terdengar pula oleh Ci Kong.
Pendekar itu maklum siapa adanya Pangeran Ceng Tiu Ong, seorang pangeran yang memiliki pendapat yang gagah dan adil, bahkan puterinya masih murid dari keturunan keluarga Pulau Es, merupakan ahli waris ilmu keluarga Pulau Es.
Hal ini saja sudah menarik hatinya dan timbul keinginannya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dia sudah diperkenalkan oleh Kiki kepada Ceng Hiang, gadis yang pernah membuatnya termenung dan terkenang selama beberapa hari, karena dia terpesona oleh kecantikan dan kegagahan gadis bangsawan itu.
Dan kini Ayahnya telah ditangkap, kabarnya dituduh bersekongkol dengan para pejuang.
Tentu saja hatinya menjadi tertarik (Lanjut ke
Jilid 38) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 38 sekali dan timbullah keinginan hatinya untuk mengunjungi ramah gedung keluarga itu.
Karena dia memandang perlu kalau membawa teman yang boleh diandalkan, maka setelah menceritakan Ceng Hiang dan orang tuanya kepada Lian Hong, dia lalu mengajak gadis ini untuk berkunjung pada malam hari itu.
Lian Hong sendiri sudah tertarik ketika mendengar bahwa puteri Pangeran Ceng itu adalah murid keluarga Pulau Es yang pernah didengarnya seperti dalam dongeng itu, dan berita bahwa pangeran itu ditangkap dengan tuduhan bersekongkol dengan para pejuang juga sudah menimbulkan perasaan suka setia kawan di dalam hatinya.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 12
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 12