Eps 11 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.
Lian Hong memandang kagum ketika melihat bahwa gadis bangsawan yang menjadi ahli waris ilmu silat keluarga Pulau Es itu ternyata demikian lihainya, sehingga sudah mengetahui akan kedatangan mereka, bahkan telah mengenal Ci Kong dari atas genteng.
"Ceng-Siocia (nona Ceng), kami sengaja datang berkunjung padamu,"
Ci Kong berkata.
Bayangan langsing di atas genteng itu lalu melayang turun dan untuk ke dua kalinya Lian Hong memandang kagum, bukan hanya melihat keringanan tubuh itu, melainkan kini ia dapat melihat wajah yang luar biasa cantiknya.
Kulit muka itu demikian halusnya, putih kemerahan dan lembut seperti wajah Kwan Im Pouwsat saja, dan gerak-geriknya demikian halus, pandang matanya demikian jernih dan berwibawa walaupun pada saat itu ada bayangan duka di matanya yang indah.
"Ceng-Siocia, kami mendengar..."
"Silahkan masuk, Tan-Taihiap... dan kita bicara di dalam,"
Ceng Hiang memotong dengan sikap tenang namun suaranya berpengaruh.
Ci Kong mengangguk dan bersama Lian Hong, dia mengikuti gadis bangsawan itu memasuki ruangan belakang, dan dari situ terus menembus ke ruangan tengah dimana terdapat sebuah meja dan beberapa kursi mengelilinginya.
Mereka mengambil tempat duduk di ruangan itu.
"Ceng-Siocia, perkenalkan, ini adalah nona Siauw Lian Hong, seorang di antara tokoh muda pejuang. Hong-moi, ini adalah nona Ceng Hiang seperti yang sudah kuceritakan kepadamu."
Dua orang gadis itu bangkit dan saling memberi hormat. Ceng Hiang memandang kagum kepada Lian Hong.
"Semuda ini sudah menjadi seorang pendekar dan pejuang yang gagah perkasa. Sungguh aku merasa iri hati kepadamu, adik Lian Hong. Aku tidak mungkin dapat sebebas engkau dalam menentukan langkah hidup, terkekang oleh keadaan."
"Engkau terlalu memuji, Ceng-Siocia. Sebaliknya, aku sudah mendengar bahwa engkau adalah seorang gadis bangsawan yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya."
"Adik Lian Hong, harap engkau jangan bersikap sungkan, dan sebut saja Enci kepadaku. Dan engkau juga, Tan-Taihiap, jangan menyebut Siocia. Sebut saja adik, bukankah kita ini adalah orang-orang dengan kegemaran yang sama? Aku akan menyebutmu Toako."
"Baiklah, Ceng-moi,"
Kata Ci Kong dengan hati girang bukan main, juga merasa bangga karena gadis bangsawan tinggi itu mau memandangnya sebagai orang dengan derajat yang sama.
"Dan harap sekarang suka kau ceritakan tentang peristiwa yang menimpa keluargamu. Sebenarnya, apakah yang telah terjadi?"
"Ayah ditangkap karena fitnah orang, dituduh bersekutu dengan Hai-tok dan puterinya. Seperti engkau tahu, Tan-Toako, Kiki pernah menjadi tamuku dan ia memang sahabat baikku. Akan tetapi hubungan antara ia dan kami sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perjuangan menentang pemerintah. Tentu saja Ayah tidak menyangkal bahwa kami mengenal Kiki, akan tetapi menolak tuduhan bahwa kami kami bersekongkol untuk memberontak."
"Ketika Kiki datang sebagai tamu keluargamu, apakah ada orang luar yang mengetahuinya?"
Ci Kong bertanya sambil berpikir keras.
"Tidak ada, dan Kiki tidak tinggal lama di sini. Tak seorangpun tahu bahwa ia adalah puteri Hai-tok yang pernah membajak kapal Ayah."
"Ah, tak salah lagi. Tentu ini perbuatan Lee Song Kim!"
Ci Kong berseru.
"Siapa lagi kalau bukan dia! Dialah yang mengetahui akan persahabatanmu dengan Kiki!"
"Lee Song Kim lagi? Jahanam itu sungguh menjemukan!"
Lian Hong juga berseru marah. Ceng Hiang mengangguk.
"Dugaanmu memang tepat, Toako. Akupun sudah menduga demikian dan melakukan penyelidikan. Memang benar dialah yang melapor kepada panglima pasukan keamanan setelah pinangannya terhadap diriku ditolak Ayah dengan keras. Akan tetapi, apa yang harus kulakukan? "Dia adalah seorang panglima, dan Ayah sendiri telah mengaku bahwa kami mengenal Kiki walaupun tidak ada hubungan persekongkolan apa-apa. Hal itu saja cukup untuk mendatangkan kecurigaan dalam hati panglima itu sehingga Ayah ditahan."
"Apakah tidak ada usaha sama sekali darimu untuk menolong Ayahmu?"
Tanya Lian Hong.
"Sudah, dan jalan satu-satunya bagiku hanyalah minta bantuan seorang yang dekat dengan istana, minta pengampunan dari kaisar mengingat akan jasa-jasa Ayahku. Mudah-mudahan saja usahanya itu berhasil, dan kalau kaisar sendiri yang mengampuni Ayah, maka tentu dia akan dibebaskan, karena tidak ada bukti bahwa Ayah berkhianat atau memberontak."
"Apakah berita yang terakhir kita dengar tentang hubungan Song Kim dengan tosu-tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai itu tidak ada gunanya untuk menolong Ayah Enci Ceng Hiang?"
Tiba-tiba Lian Hong bertanya. Ci Kong menepuk meja.
"Benar! Cara yang baik sekali untuk mencairkan fitnah adalah membuktikan bahwa si pelempar fitnah itu sendirilah yang kotor! Song Kim menuduh Pangeran Ceng bersekongkol dengan pemberontak, kalau kemudian terbukti oleh yang berwajib bahwa dia sendiri yang bersekongkol dengan pemberontak, maka dengan sendirinya fitnahnya menjadi lemah. Kita harus dapat mengatur agar komandan pasukan keamanan sendiri yang melihat bukti persekongkolannya dengan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai."
Tentu saja Ceng Hiang menjadi girang.
"Benarkah itu?"
Mereka bertiga lalu mengatur siasat.
Ci Kong dan Lian Hong akan melakukan penyelidikan dan membayangi gerak-gerik Song Kim dan dua orang tosu dan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai itu.
Kemudian mereka akan cepat mengabarkan kepada Ceng Hiang, dan gadis bangsawan inilah yang akan menyampaikan berita itu kepada panglima pasukan keamanan agar Song Kim dapat tertangkap basah selagi mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pemberontak yang sejak puluhan tahun menjadi musuh besar pemerintah itu.
"Akan tetapi, Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai mempunyai pergerakan yang sejalan dengan perjuangan kita, yaitu menentang pemerintah penjajah,"
Kata Lian Hong sambil memandang Ci Kong dengan pandang mata tajam.
"Kalau kini kita menentang mereka, bukankah hal itu berarti suatu pengkhianatan dari kita terhadap rekan-rekan seperjuangan?"
"Aih! Aku tidak ingin kalian menjadi pengkhianat demi menyelamatkan Ayahku!"
Kata Geng Hiang sambil memandang cemas.
"Jangan khawatir Ceng-moi. Tidak ada pengkhianatan di sini."
Ci Kong berkata cepat ketika melihat Ceng Hiang berkhawatir, lalu dia memandang Lian Hong.
"Sejak dahulu, tidak ada hubungan antara kita dengan Pek-lian-pai maupun Pat-kwa-pai. Bahkan kau m pendekar selalu menentang mereka karena mereka itu mengelabuhi rakyat dan melakukan bermacam kejahatan dengan kedok agama dan perjuangan. Memang benar mereka itu memusuhi pemerintah, akan tetapi permusuhan itu timbul bukan karena semangat kepatriotan mereka, melainkan karena pemerintah memusuhi mereka sebagai akibat dan kejahatan kejahatan yang mereka lakukan.
"Tidak, Hong-moi, kita sama sekali bukanlah rekan-rekan Pek-lian-pai maupun Pat-kwa-pai! Pula, apa yang akan kita lakukan sama sekali bukan ditujukan untuk menentang atau merugikan perkumpulan-perkumpulan itu dalam permusuhan mereka dengan pemerintah, melainkan untuk menjebak dan menjatuhkan Lee Song Kim! Bukan kita tujukan untuk memusuhi mereka!"
Lian Hong memandang heran.
Ci Kong demikian penuh semangat untuk menyelamatkan Ayah Ceng Hiang, dan tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya.
Cara Ci Kong membela, cara pemuda itu memandang Ceng Hiang, sungguh belum pernah ia melihat Ci Kong memandang wajah seorang gadis seperti itu!
"Terserah, aku hanya mengingatkan,"
Katanya sambil menarik napas panjang dan hatinya merasa semakin tidak enak ketika tiba-tiba Ceng Hiang merangkulnya.
"Adik Lian Hong, maukah engkau membantuku? Lihat, aku sendiri puteri seorang pangeran, akan tetapi aku tidak pernah memusuhi para pejuang, bahkan Ayahku juga bersimpati kepada mereka. Kini Ayahku terkena musibah, kepada siapa lagi kalau bukan kepada para pendekar seperti kalian aku memalingkan muka mengharapkan uluran tangan dan bantuan."
Lian Hong memandang wajah yang cantik sekali itu, dan melihat betapa kedua mata Ceng Hiang membasah.
Iapun merasa kasihan dan mengangguk, sejenak melupakan perasaan tidak enak yang timbul karena cemburu tadi.
Setelah bercakap-cakap mengatur rencana siasat mereka, Lian Hong dan Ci Kong lalu berpamit.
Mereka meninggalkan tempat itu setelah kembali Lian Hong melihat sinar mata aneh memancar dan kedua mata Ci Kong.
Mereka pergi seperti ketika mereka datang, yaitu dengan diam-diam, melalui jalan gelap sehingga tidak ada seorangpun melihat kunjungan mereka kecuali Ceng Hiang.
Ketika para pengawal melaporkan akan kedatangan nona Ceng Hiang yang meminta dengan sangat agar dia suka menerimanya untuk membicarakan urusan penting, Ciong-goanswe (Jenderal Ciong) yang bernama Ciong Ti itu mengerutkan alisnya.
Dialah panglima pasukan keamanan di Kota Raja, dan dia pula yang menangkap Pangeran Ceng Tiu Ong atas laporan Lee Song Kim bahwa pangeran itu bersekongkol dengan pemberontak.
Ciong-goanswe adalah seorang panglima yang berwatak keras, jujur dan berdisiplin.
Dia mengenal baik Pangeran Ceng, akan tetapi biarpun dia mengenal pangeran itu sebagai seorang pejabat tinggi yang baik dan jujur, pula setia, terpaksa dia turun tangan melakukan penangkapan atas pelaporan Lee Song Kim, karena pada waktu itu, bersekongkol dengan pcmberontak merupakan dosa terbesar.
Dia percaya pula bahwa pangeran itu tidak bermaksud memberontak dan hanya kebetulan mengenal seorang gadis pemberontak, Akan tetapi hal ini saja cukup untuk memaksa dia melakukan penahanan, karena kalau tidak, tentu dia akan dituduh menerima sogokan atau "Ada apa-apa."
Penangkapan atas diri Pangeran Ceng Tiu Ong ini yang mencuat, banyak pembesar tinggi yang jujur dan setia merasa tidak senang dan penasaran, memang merupakan peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, akan tetapi terpaksa dia menahan pangeran itu demi patuhnya terhadap peraturan dan hukum.
Ciong Ti berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan memiliki sepasang mata yang lebar dan tajam, juga berwibawa.
Dia mengenal pula siapa adanya Ceng Hiang, puteri tunggal Pangeran Ceng Tiu Ong.
Dia tahu bahwa gadis itu adalah pewaris ilmu silat keluarga Pulau Es, seorang gadis yang amat cantik, akan tetapi juga amat lihai ilmu silatnya.
Karena itu, mendengar bahwa pada siang hari itu Ceng Hiang datang dan minta bicara dengannya, dia mengerutkan alisnya dan merasa tidak tenang.
Apakah maunya gadis ini datang kepadanya?
Sudah pasti mengenai penahanan Ayahnya, pikirnya.
Apakah hendak mempergunakan kekerasan?
Pikiran inilah yang membuat Ciong-goanswe diam-diam mempersiapkan pasukan pengawalnya berjaga-jaga di sekeliling ruangan dimana dia akan menerima puteri Pangeran Ceng.
Setelah itu, barulah dia mengutus pengawalnya untuk menjemput gadis itu yang menanti di ruangan tunggu.
Ceng Hiang bukan seorang gadis bodoh.
Biarpun ruang tunggu yang luas itu nampak sunyi dan di situ hanya duduk Jenderal Ciong seorang diri, ia dapat menduga bahwa di sekitar tempat itu tentu telah siap siaga puluhan orang perajurit pengawal pilihan yang akan menyerbu bagaikan sekawanan lebah atas isyarat sang jenderal.
"Nona Ceng, silahkan duduk!"
Kata Ciong Ti dengan sikap ramah namun tegas.
Dia kagum melihat sikap nona yang amat cantik itu.
Sedikitpun tidak nampak berduka atau khawatir, melainkan melangkah dengan tegap dan dengan sikap tenang.
"Terima kasih, Ciangkun (komandan),"
Jawab Ceng Hiang, dan setelah memberi hormat, iapun duduk berhadapan dengan jenderal itu, terhalang meja besar.
"Nah, sekarang katakanlah, apa maksud kunjungan nona ini?"
"Saya datang untuk bicara dengan Ciangkun mengenai penangkapan yang dilakukan kepada Ayahku."
Ciong Ti yang sudah menduga akan jawaban ini, menarik napas panjang dan menggerakkan tangannya.
"Ahh, penangkapan Ayahmu adalah urusan negara, bukan urusan pribadiku, nona. Oleh karena itu, untuk membicarakannya harus di kantor, bukan disini tempatnya. Pula, yang menangani masalah penangkapan orang-orang yang dianggap memberontak adalah kejaksaan, bukan aku."
"Akan tetapi, penangkapan itu dilakukan atas perintahmu, Ciong-Ciangkun. Ada hal-hal penting yang perlu kau ketahui untuk menunjukkan betapa engkau telah memperoleh sebuah laporan yang sifatnya melempar fitnah dan..."
"Sudah, cukuplah, nona Ceng,"
Kata panglima itu sambil bangkit berdiri.
"Aku tidak mau bicara tentang pekerjaan di sini, harap nona pulang saja agar jangan sampai orang menyangka yang bukan-bukan."
Akan tetapi Ceng Hiang tidak bangkit berdiri, masih duduk dengan sikap tenang. Semua ini sudah ia perhitungkan, karena iapun sudah mengenal watak panglima ini. Ia tersenyum.
"Ciong-Ciangkun, aku datang bukan untuk melakukan penyuapan, juga bukan untuk membujuk maupun mengancam menggunakan kekerasan. Aku datang untuk bicara, dan bukan hanya demi kepentingan Ayahku, melainkan juga demi kepentingan dan kedudukan Ciangkun sendiri."
Panglima itu memandang tajam, sepasang matanya yang lebar itu semakin melotot dan alisnya berkerut.
"Nona Ceng, apa maksudmu?"
"Kalau engkau tidak mau bicara dengan aku, terpaksa aku akan melapor kepada Sribaginda Kaisar sendiri, dan nanti atau besok tentu Ciangkun akan ditangkap sebagai seorang pengkhianat."
"Ehhh! Apa yang kau katakan ini, nona? Hati-hatilah menjaga ucapanmu! Engkau melempar fitnah keji dan untuk itu, engkau dapat kusuruh tangkap!"
Perwira itu mengancam marah.
"Engkau harus dapat menjelaskan maksud kata-katamu itu!"
"Tentu saja akan kujelaskan, dan untuk penjelasannya membutuhkan kata-kata, bukan? Duduklah, Ciangkun, dan dengarkan aku bicara. Kalau bicaraku tidak benar, masih belum terlambat bagi Ciangkun untuk mengusirku atau bahkan menangkapku sekalipun."
Panglima itu berpikir sejenak.
Memang tidak ada ruginya mendengarkan, karena gadis ini tadi sudah berjanji tidak akan menyuap, membujuk atau mengancam.
Dan diapun mulai tertarik dan merasa penasaran sekali mendengar bahwa dia mungkin dapat ditangkap sebagai seorang pengkhianat.
Gila!
"Baiklah, akan tetapi harap bicara yang benar dan jangan melempar fitnah!"
"Aku tidak biasa melempar fitnah, Ciangkun, seperti yang dilakukan oleh si pelapor tentang diri Ayah itu. Ayah tidak pernah mengenal Tang Ki. Akulah yang mengenalnya, dan perkenalan kamipun bukan perkenalan politik.
"Kami mengenal Tang Ki hanya karena ia seorang gadis yang pernah menyelamatkan nyawa Ayah dari laut, dan karena Tang Ki mengembalikan kitab-kitab yang penting. Itu saja! "Ciangkun mendengarkan fitnah yang dilempar oleh Lee Song Kim, dan sama sekali tidak ada buktinya bahwa keluarga kami bersekutu dengan pemberontak. Sebaliknya, yang menjadi pemberontak adalah Lee Song Kim, dan kalau Ciangkun mendengarkan semua laporannya yang mengadu domba, kalau Ciangkun membelanya, berarti Ciangkun membela pemberontak, dan tentu Ciangkun akan ditangkap sebagai pengkhianat kalau aku melapor kepada Sribaginda Kaisar."
Panglima itu terkejut sekali, juga penasaran.
"Nona Ceng, nona masih muda, harap jangan bicara sembarangan saja. Yang kau kemukakan tadi adalah fitnah keji. Apa buktinya bahwa Lee-Ciangkun adalah seorang pemberontak?"
Ceng Hiang tersenyum.
"Kalau boleh aku bertanya, apa buktinya pula bahwa Ayahku adalah seorang pemberontak, Ciangkun? Aku bukan tukang fitnah, dan aku tentu saja dapat membuktikan kebenaran omonganku tadi. Ciangkun tahu mengapa Lee Song Kim melempar fitnah kepada Ayahku? "Ada dua hal yang mendorongnya melakukan hal yang curang dan keji itu. Pertama, untuk membalas dendam karena lamarannya terhadap diriku ditolak Ayah, dan kedua, karena dia hendak mengadu domba antara para pejabat yang jujur dan setia seperti Ciangkun dan Ayah."
Panglima itu menggerakkan tangan dengan tidak sabar.
"Ceritakan mana buktinya bahwa Lee-Ciangkun adalah pemberontak."
"Ciangkun, kalau aku hanya bercerita, itu bukan bukti namanya. Aku akan mengajak Ciangkun menyaksikan sendiri! "Malam nanti, kuajak Ciangkun untuk menyaksikan betapa Lee Song Kim mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh pemberontak yang akan membuat Ciangkun terkejut sekali. Dan kuharap saja, setelah melihat bahwa pelapor dan pemfitnah Ayah adalah seorang pemberontak, Ciangkun akan berusaha untuk pembebasan Ayah yang tidak berdosa."
Panglima itu mengerutkan alisnya.
"Tapi... tapi..."
"Ciangkun meragukan kejujuranku dan khawatir kalau aku akan mencelakakan Ciangkun? Ingat, Ciangkun, Ayahku masih berada di dalam tahanan dan bebas tidaknya Ayah tergantung dan perbuatanku. Mana aku berani mengkhianati Ciangkun dan membiarkan Ayahku celaka?"
Panglima itu mengangguk-angguk.
"Dan jangan Ciangkun membawa pengawal, dan banyaknya orang tentu akan diketahui oleh Lee Song Kim, dan kalau dia bercuriga, tentu tidak akan dilangsungkan pertemuan rahasia itu. Akulah yang akan melindungi dan menjaga keselamatan Ciangkun dengan taruhan nyawaku."
Kembali Ciong-goanswe mengangguk-angguk.
"Baiklah, akan tetapi kalau semua keteranganmu ini bohong, keadaan Ayahmu akan menjadi lebih buruk lagi, bahkan engkau sendiri akan kusuruh tangkap."
"Baik, aku bersedia menebus dengan nyawaku kalau aku berbohong, Ciangkun. Sampai malam nanti sekitar jam tujuh, aku akan datang menjemput Ciangkun. Jangan kaget kalau nanti malam aku datang dengan rahasia, tidak terang-terangan seperti sekarang ini."
Gadis itu lalu meninggalkan gedung tempat tinggal Ciong-goanswe yang masih duduk termenung setelah gadis itu pergi.
Dia tidak dapat dibilang bersahabat baik dengan Lee Song Kim, bahkan diam-diam ada rasa curiga di dalam hatinya ketika para tawanan itu, para pimpinan penting dan pemberontakan, dapat lolos.
Tadinya dia sudah mengusulkan agar hasil baik dan siasat yang dilakukan Lee Song Kim itu dimanfaatkan, yaitu para tawanan itu dijatuhi hukuman berat atau dihukum mati agar membikin takut para pemberontak.
Akan tetapi Lee Song Kim minta agar pengadilannya ditangguhkan, karena menurut dia, tawanan itu tentu akan memancing datangnya para pimpinan lainnya sehingga merupakan perangkap yang amat baik.
Memang benar para pemberontak berdatangan, akan tetapi mereka tidak datang ditangkap, bahkan mereka membebaskan para tawanan penting itu!
Ketika dia menerima pelaporan dari Lee Song Kim, hatinya sudah dipenuhi keraguan, namun sebagai komandan pasukan keamanan, dia harus bertindak.
Dan kini muncul puteri pangeran itu yang membawa berita yang sama sekali tak pernah diduganya!
Kunjungan Ceng Hiang siang itu kepada Panglima Ciong Ti merupakan siasat yang sudah diaturnya bersama Ci Kong dan Lian Hong.
Dua orang pendekar muda ini dengan penuh ketekunan melakukan penyelidikan dan membayangi Lee Song Kim, sehingga akhirnya mereka mendengar bahwa malam nanti Song Kim akan mengadakan pertemuan dengan tokoh tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang juga mereka bayangi dengan teliti.
Berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, dua orang pendekar muda ini dapat melakukan penyelidikan tanpa diketahui oleh mereka yang dibayangi.
Setelah yakin bahwa malam itu Song Kim akan mengadakan pertemuan di sebuah kuil Agama To yang hanya dipakai sebagai kedok saja oleh para tosu Pek-lian-pai, Ci Kong dan Lian Hong cepat memberi kabar kepada Ceng Hiang yang segera mendatangi Jenderal Ciong Ti.
Malam hari itu, sesosok bayangan yang memakai mantel lebar, jalan mengendap-endap menuju ke kuil yang berdiri di luar Kota Raja sebelah utara.
Sukar dikenal mukanya, karena orang itu selalu berjalan di tempat-tempat gelap dan menutupi mukanya dengan sebuah topi lebar.
Yang nampak hanyalah bahwa dia seorang laki-laki memakai mantel hitam yang lebar.
Orang tidak tahu apakah dia itu tua ataukah masih muda, dan bagaimana macam mukanya.
Dia tidak segera memasuki kuil, melainkan lewat di depan kuil, kemudian kembali lagi dan lewat lagi.
Setelah dia merasa yakin benar bahwa di sekitar kuil sunyi saja tidak nampak seorangpun, baru dia menengok ke kanan kiri, lalu menyelinap masuk ke dalam kuil itu dengan amat cepatnya.
Sebelum dia, ada dua orang tosu tua memasuki kuil dan karena sebagai tosu-tosu merupakan hal yang wajar saja memasuki kuil itu, mereka berdua itu tidak bersikap sebagai orang yang bermantel hitam.
Namun semua peristiwa ini nampak jelas oleh Ciong-goanswe yang sejak sore tadi telah bersembunyi di tempat aman, agak jauh dari kuil, bersama Ceng Hiang yang menjemputnya.
Ketika dua orang tosu itu lewat, Ceng Hiang berbisik.
"Kenalkah Ciangkun kepada dua orang tosu itu?"
Yang ditanya memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi menggeleng kepala.
"Yang bertubuh tinggi besar dan berperut gendut itu adalah Ban Hwa Seng-jin, tokoh Pat-kwa-pai yang terkenal sekali. Sedangkan yang tinggi kurus berjenggot panjang itu adalah Ciok Im Cu, tokoh Pek-lian-pai. Mereka berdua itu lihai sekali, dan merupakan dua orang tokoh pemberontak yang mempunyai banyak anak buah dan amat berpengaruh di dalam dua perkumpulan itu."
"Akan tetapi, kenapa tidak ada gambar Teratai Putih dan Pat-kwa pada baju mereka."
"Tentu mereka bersikap hati-hati dan tidak mau menonjolkan diri. Akan tetapi, aku berani bertaruh bahwa di balik jubah mereka itu tentu tersembunyi tanda-tanda kedudukan mereka."
"Akan tetapi, mana Lee-Ciangkun? Apakah sudah berada di dalam?"
"Ssttt, nanti dulu, dia tentu akan datang,"
Kata Ceng Hiang sambil memandang ke kiri.
Ceng Hiang melihat betapa daun-daun di sebatang pohon besar di tepi jalan bergoyang-goyang.
Itulah isyarat dari Lian Hong agar jangan mengeluarkan suara berisik.
Adapun Ci Kong, tentu kini sedang membayangi Lee Song Kim, yang menurut rencana persekutuan itu yang sudah dapat diketahui Lian Hong dan Ci Kong, tentu malam itu akan datang ke kuil.
Munculnya dua orang tosu tadi saja sudah membuktikan kebenaran hasil penyelidikan mereka.
Kemudian muncullah orang bermantel hitam dan bertopi lebar itu.
Kembali ada tanda dari Lian Hong, dan Ceng Hiang segera berbisik.
"Itulah dia orang yang kau tunggu-tunggu, Ciong-goanswe."
Jenderal Ciong terkejut dan memandang penuh perhatian.
Akan tetapi malam sudah gelap dan orang itu hanya lewat saja di depan kuil.
Mula-mula dia merasa curiga dan tidak percaya karena sukar mengenal Lee Song Kim dalam pakaian hitam dan topi lebar itu, apalagi bayangan itu tidak memasuki kuil dan terus saja.
Akan tetapi tak lama kemudian, bayangan itu datang kembali, lewat lagi beberapa kali di depan kuil, kemudian menyelinap masuk.
Jantung jenderal itu berdebar penuh ketegangan.
"Mari ikut denganku, Ciangkun."
Ceng Hiang mengajak dan menarik tangan jenderal itu untuk bangkit berdiri.
"Akan tetapi, Lee-Ciangkun memiliki kepandaian tinggi, dan dua orang tosu itupun tentu lihai sekali. Bagaimana kalau engkau kalah? Biar aku memanggil dulu se puluh orang pengawalku,"
Kata sang jenderal. Dia sendiri bukan orang lemah, namun dia adalah ahli perang, bukan ahli silat yang terlalu pandai sehingga kalau dibandingkan dengan Lee Song Kim, dia tentu kalah jauh.
"Jangan khawatir, seperti sudah direncanakan, se puluh orang pengawal Ciangkun itu tentu akan dibawa oleh sahabatku untuk melakukan pengepungan. Dan aku sendiri bersama dua orang sahabatku cukup untuk menghadapi mereka bertiga."
"Tapi, siapakah dua orang sahabatmu itu?"
"Seperti sudah kuberitahukan kepadamu, Ciangkun. Mereka adalah pendekar-pendekar yang tidak mau terlibat dalam urusan ini, melainkan hanya membantuku menghadapi Lee Song Kim dan dua orang tosu lihai itu. Mereka tidak ingin dikenal oleh orang lain kecuali aku sendiri. Marilah!"
Dengan berindap-indap, mereka berdua menuju ke kuil.
Nampak berkelebat sesosok bayangan mendahului mereka, dan Ceng Hiang tahu bahwa itu adalah Lian Hong, sedangkan Ci Kong, sesuai dengan rencana, tentu akan menggiring se puluh orang pengawal untuk melakukan pengepungan.
Lian Hong bekerja dengan cepat.
Seperti telah diselidikinya, ia tahu bahwa yang menjadi penghuni kuil itu hanyalah dua orang tosu lemah, maka dengan cepat tanpa mengeluarkan suara, ia telah berhasil menotok dua orang tosu yang, berjaga di bagian luar sehingga mereka roboh pingsan tanpa sempat berteriak lagi.
Amanlah kini jalan masuk bagi Ceng Hiang dan Ciong Ti.
Lian Hong menyambut mereka di tempat gelap dan memberi tanda dengan telunjuk menuding ke arah belakang.
Ceng Hiang maklum bahwa pertemuan antara Lee Song Kim dan dua orang tosu itu diadakan di ruangan belakang, maka sambil menggandeng tangan Jenderal Ciong, ia mengajak pembesar itu memasuki ruangan tengah menuju ke belakang.
Dengan hati-hati, Ceng Hiang membawa Jenderal Ciong bersembunyi di balik jendela dan mengintai ke dalam.
Mereka bertiga duduk menghadapi dari kiri.
Di bawah sinar lampu yang terang, Ciong Ti mengenal baik wajah pria bermantel hitam dan bertopi lebar tadi.
Kini topinya telah dibuka dan memang dialah Lee Song Kim.
Dan kini dua orang tosu itupun sudah membuka jubah mereka, dan nampaklah gambar pat-kwa di dada seorang tosu, sedangkan gambar teratai putih nampak jelas di dada tosu yang kurus.
"Ji-wi totiang (dua orang pendeta berdua), harap jangan ragu-ragu lagi terhadap diriku. Tentu ji-wi sudah mendengar betapa para pimpinan pejuang telah dapat dibebaskan.
"Aku menjadi panglima hanya untuk mengelabuhi pemerintah Mancu saja! Akan tetapi sayang, teman-teman seperjuangan yang liar itu rupanya tidak percaya kepadaku, padahal, jebakan yang kuatur untuk menangkap para pimpinan itupun hanya siasat untuk mengelabuhi para pejabat tinggi.
"Apa sukarnya bagiku untuk membebaskan mereka? Sayang, para pejuang itu berani namun tolol, maka aku memilih untuk bekerja sama dengan ji-wi totiang saja, karena aku sudah mendengar akan kehebatan gerak perjuangan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai."
"Kami tidak ragu-ragu dan bukan tidak percaya kepadamu, Lee-Ciangkun. Akan tetapi apa artinya segala janji dan kepercayaan tanpa adanya bukti-bukti yang meyakinkan? Apa keuntungan kami kalau kami berhubungan dan bekerja sama denganmu?"
Kata Ciok Im Cu, tosu Pek-lian-pai itu dengan sikap tenang.
"Tepat sekali! Di jaman ini memang banyak terjadi kecurangan-kecurangan, oleh karena itu, kami harus dapat memilih kawan yang tepat. Tanpa bukti, terus terang saja pinto masih belum percaya benar, Ciangkun!"
Kata Ban Hwa Seng-jin dengan suaranya yang berat.
"Ha-ha-ha, sikap ji-wi totiang ini sudah kuduga sebelumnya. Nah, lihatlah ini, ji-wi totiang. Dalam catatan ini sudah tercatat semua rahasia kekuatan pasukan keamanan yang berjaga di Kota Raja.
"Bagian-bagian mana yang kuat, bagian mana yang lemah, dan tempat-tempat penting. Gudang-gudang senjata bahkan jadwal penjagaan yang dilakukan setiap siang dan malam hari, sehingga dengan mudah ji-wi akan dapat menentukan waktu penyerbuan yang amat tepat."
Mendengar ini, Ciong Ti tak dapat menahan kesabarannya lagi. Dia memukul daun jendela dengan tangan kanannya.
"Brakkkkk...!"
Daun jendela itupun jebol.
"Lee Song Kim pengkhianat hina! Menyerahlah untuk kutangkap!"
Bukan main kagetnya Song Kim mendengar bentakan yang amat dikenalnya itu.
Dia lalu cepat mengantungi lagi buku catatan, kemudian meloncat ke luar melalui pintu.
Juga dua orang tosu itu sudah berloncatan keluar.
Akan tetapi setibanya di luar kamar, mereka melihat bahwa mereka telah dikepung oleh se puluh orang perajurit pengawal, sedangkan Ciong-goanswe berdiri bersama Ceng Hiang yang cantik, akan tetapi yang pada saat itu memandang seperti seekor harimau betina sedang marah.
Melihat bahwa perbuatannya telah dilihat oleh Ciong-goanswe sendiri, maklumlah Song Kim bahwa tidak akan ada pengampunan baginya dari pihak pemerintah, maka diapun membentak keras.
"Mampuslah...!"
Dan pedangnya yang sudah dilolos itu menusuk ke arah dada Ciong Ti ketika dia menerjang ke depan.
"Tranggg!!"
Bunga api berpijar ketika pedang di tangan Ceng Hiang menangkis tusukan itu dan menyelamatkan Ciong-goanswe yang cepat mundur di belakang tubuh para pengawalnya.
"Lee Song Kim manusia hina, engkaulah yang akan mampus kalau tidak menyerah!"
Bentak Ceng Hiang sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
Lee Song Kim marah bukan main, akan tetapi diam-diam diapun merasa jerih.
Dia sudah tahu akan kehebatan ilmu pedang gadis bangsawan itu.
Akan tetapi melihat bahwa yang muncul hanyalah se puluh orang perajurit pengawal yang menemani gadis perkasa itu, dan dia bersama dua orang tosu yang lihai, hatinya menjadi besar.
"Ji-wi totiang, kita harus dapat membunuh mereka semua ini!"
Bentaknya, dan diapun memutar pedangnya menyerang Ceng Hiang dengan harapan dua orang tosu itu akan membantunya untuk bersama-sama membunuh semua orang ini agar rahasia persekutuannya dengan para tosu pemberontak tidak sampai bocor.
Baik Ciok Im Cu maupun Ban Hwa Seng-jin juga maklum, bahwa kalau mereka tidak dapat membunuh bersama panglima muda yang berkhianat itu, rencana mereka yang amat baik akan gagal sama sekali, maka merekapun cepat menerjang ke depan untuk membantu Song Kim.
Ciok Im Cu mempergunakan kedua tangannya mencengkeram sambil mengeluarkan gerengan nyaring dan membentak.
"Nona, berlututlah engkau!"
Ceng Hiang sedang menangkis pedang Song Kim.
Ia menggunakan gerakan memutar sehingga pedang lawan terbawa berputaran dan hampir terlepas dan tangan Song Kim yang terkejut sekali.
Akan tetapi pada saat itu, serangan Ciok Im Cu datang.
Ceng Hiang terkejut bukan main ketika bentakan tosu itu membuat kedua kakinya seperti mendadak kehilangan tenaga, lemas dan seperti memaksanya untuk menjatuhkan diri berlutut!
Maklumlah ia bahwa Kakek berjenggot panjang itu mempergunakan ilmu sihir, maka iapun mengerahkan tenaga batinnya dan sambil mengeluarkan lengking panjang, ia melompat ke belakang.
Selain terhindar dari cengkeraman, ia terhindar pula dari pengaruh sihir yang dilontarkan oleh Ciok Im Cu dalam bentakannya tadi.
Ban Hwa Seng-jin, tokoh Pat-kwa-pai, telah mengeluarkan dua ekor ular dari saku bajunya.
Dua ekor ular yang kini dipegang di kedua tangannya dengan ekor membelit pergelangan tangannya itu, adalah dua ekor ular berbisa yang amat berbahaya.
Sekali saja terkena gigitannya, dalam waktu beberapa detik saja, orang yang digigitnya akan mati kejang.
Dan keistimewaan tokoh Pat-kwa-pai ini, selain ilmu silatnya yang tinggi, adalah juga sebagai pawang ular.
Dengan kedua ular di tangannya, dia menyerang lawan dan kalau pukulannya luput, patukan ular-ularnya lebih berbahaya lagi dari pada kedua pukulannya.
Kini sambil menggeram, Kakek gendut tinggi besar itu menyerang dengan tubrukan, kedua tangannya menyerang dari atas dan bawah.
Tentu saja dua ekor ularnya juga siap sambil mendesis-desis, mengeluarkan bau amis.
Melihat serangan ular berbisa ini, Ceng Hiang memutar pedangnya dan sinar pedangnya yang bergulung-gulung itu dengan rapat melindungi seluruh tubuhnya.
Tentu saja Ban Hwa Seng-jin tidak berani mengambil resiko terbabat lengannya atau ular-ularnya dengan menerjang galungan sinar pedang itu.
Dia lalu menahan serangannya dan mengirim tendangan ke arah kaki Ceng Hiang tanpa takut terbabat pedang, karena Kakek ini memiliki kekebalan luar biasa pada kakinya.
Kalau pedang itu terkena tendangannya, bahkan ada bahayanya akan terlepas dari pegangan pemiliknya.
Namun, Ceng Hiang juga cerdik dan tahu betapa dahsyatnva tendangan itu, maka iapun melangkah mundur.
Dan iapun kini dikeroyok tiga.
Biarpun Ciong-goanswe menganjurkan se puluh orang pengawalnya untuk membantu puteri itu, tetap saja mereka tidak dapat maju karena gerakan empat orang yang sedang berkelahi itu luar biasa cepatnya, sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus terjun ke dalam arena perkelahian.
Setelah menemukan kitab Pek-seng Sin-pouw (Langkah Ajaib Seratus Bintang), Ceng Hiang kini walaupun dikeroyok tiga, selalu dapat menghindarkan diri dari setiap serangan dengan langkah-langkah aneh yang didapatkan dari kitab peninggalan Tat Mo Couwsu itu.
Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan tiga orang yang amat lihai itu, Tentu saja ia berada dalam bahaya dan tidak mampu balas menyerang, melainkan hanya terus menghindarkan diri, mengandaikan langkah-langkah dan ilmu pedangnya.
Pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat, dan tahu-tahu Ci Kong telah menyerang Ciok Im Cu, sedangkan Lian Hong menyerang Ban Hwa Sengjin.
Tadi, dua orang pendekar ini sejenak mengagumi kehebatan langkah-langkah ajaib yang dimainkan Ceng Hiang, kemudian Ci Kong yang khawatir akan keselamatan gadis bangsawan yang membuatnya tergila-gila itu, menerjang masuk dan diikuti cepat oleh Lian Hong.
Ciok Im Cu menyambut munculnya Ci Kong dengan pukulan ampuh tangan kirinya yang terkepal diikuti dorongan tangan kanan yang terbuka dan telapak tangan kanan itu, mengepul uap, dibarengi bentakan.
"Robohlah, orang muda!"
Namun, Ci Kong adalah gemblengan Kakek tua renta Siauw-bin-hud, tentu saja selain memiliki ilmu silat Siauw-lim-pai yang amat kuat dan tenaga sin-kang yang dahsyat, juga memiliki tenaga batin yang mampu menolak pengaruh sihir yang dilontarkan Ciok Im Cu tadi.
Dia mengerahkan sin-kang dan menyambut serangan kedua tangan lawan itu dengan dorongan yang kokoh kuat seperti batu karang.
"Desss!"
Akibat pertemuan tenaga itu, tubuh Ciok Im Cu terdorong mundur dua langkah.
Tentu saja Kakek Pek-lian-pai ini terkejut dan marah sekali.
Dia menggerakkan tangan kiri ke dalam saku jubahnya, dan seuntai tasbeh putih telah berada di tangan kiri itu.
Terdengar suara berkelitikan ketika tasbeh itu dia gerakkan, suara geseran antara biji-biji tasbeh, akan tetapi dasar seorang Kakek sihir, suara inipun mengandung pengaruh sihir yang ampuh.
Suara berkelitikan itu memasuki telinga lawan dengan suara yang nyaring dan mendatangkan rasa nyeri, bukan hanya di dalam telinga, bahkan sampai menembus ke dalam jantung.
Namun, Ci Kong dapat menolaknya dengan kekuatan batinnya sehingga suara itu tidak mengganggunya.
Ketika tasbeh itu berubah menjadi gulungan sinar putih menyambar ke arah kepalanya, diapun cepat mengelak sambil melepaskan tendangan dari samping mengarah lambung lawan.
Tosu tinggi kurus itu mampu mengelak, dan ketika tubuhnya ditarik ke belakang dengan kepala dicondongkan ke depan, tiba-tiba dia menggerakkan kepalanya dan jenggotnya yang panjang itu menyambar ke depan, seperti ujung kebutan saja menyerang ke arah mata Ci Kong.
Pemuda ini terkejut juga.
Tak disangkanya bahwa tosu ini sedemikian lihainya, bahkan mampu menggunakan jenggot panjang itu sebagai senjata yang cukup berbahaya.
Dia menarik muka ke belakang menghindar dan merekapun segera terlibat dalam perkelahian yang seru.
Sementara itu, Lian Hong sudah menerjang Ban Hwa Seng-jin dengan senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kipas yang kedua gagangnya berujung ranting.
Sepasang gagang itu dengan kecepatan kilat menyambar ke arah leher si tosu gendut yang tadi sedang mengeroyok Ceng Hiang, sehingga Ban Hwa Seng-jin terkejut bukan main dan cepat dia melangkah mundur untuk menghindarkan diri.
Ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya adalah seorang gadis lain yang juga cantik manis, dia cepat mempergunakan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada Lian Hong.
Ular yang melibat pergelangan tangan kirinya juga mengeluarkan suara mendesis dan menyemburkan uap beracun ke arah gadis itu.
Lian Hong tidak menjadi gugup menghadapi serangan ini, digerakkannya kipasnya, kipas terbuka dan menyambar ke depan, didahului oleh angin kebutan kipasnya yang membuat uap yang disemburkan ular itu membalut ke arah muka Ban Hwa Seng-jin sendiri.
Dan secepat kilat kipas itu tertutup kembali dan kedua gagang yang sudah bersatu itu kini menusuk ke arah leher setelah berhasil menghalau tangan yang hendak mencengkeram tadi dengan totokan.
Kembali Ban Hwa Seng-jin terpaksa harus mengelak karena gerakan kipas itu sedemikian cepatnya sehingga tidak keburu untuk menghindarkan dengan tangkisan pula.
Dia semakin kaget dan maklum bahwa lawannya ini lihai bukan main, maka sambil mengeluarkan suara menggereng, diapun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, dibantu oleh kedua ekor ularnya, melakukan serangan bertubi-tubi.
Namun semua serangan itu dapat dihindarkan oleh Lian Hong yang juga membalas dengan tidak kalah dahsyatnya.
Dua orang inipun segera terlibat dalam perkelahian yang mati-matian.
Sementara itu, melihat munculnya Ci Kong dan Lian Hong, tentu saja Lee Song Kim terkejut bukan main.
Hatinya merasa gentar sekali, karena dia maklum siapa adanya dua orang pendekar itu yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak kalah olehnya, apalagi Ci Kong.
Celaka, pikirnya, dengan munculnya dua orang pendekar itu, biar dia dibantu oleh dua orang tosu, akhirnya dia dan teman-temannya akan kalah juga.
Dan kalau dia tertangkap oleh Jenderal Ciong Ti, tentu dia akan dihukum sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak.
Maka tanpa banyak membuang waktu lagi, dia lalu meloncat ke belakang pada saat Ceng Hiang masih belum menyerangnya, karena tadi gadis ini didesak oleh pengeroyokan tiga orang lawan.
Melihat Song Kim, orang yang menyebabkan ditangkapnya Ayahnya itu meloncat dan lari, Ceng Hiang terkejut.
"Keparat, mau lari kemana kau ?"
Bentaknya.
"Kejar dan tangkap dia!!"
Ciong-goanswe juga berteriak, dan se puluh orang pengawalnya sudah berloncatan dan lari mengejar.
Mereka inilah yang mengganggu pengejaran Ceng Hiang.
Karena se puluh orang itu mengejar lebih dahulu, kecepatan Ceng Hiang menjadi terhalang oleh mereka yang mengejar kalang kabut itu, dan ketika dia akhirnya keluar dan dalam kuil, Song Kim sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Ceng Hiang mencoba untuk mengejar dan mencari-cari, namun tidak berhasil sehingga gadis ini merasa marah, penasaran dan menyesal sekali.
Ia segera kembali ke dalam kuil, dan ternyata perkelahian telah berhenti.
Dua orang tosu itu telah roboh terluka dan ditangkap.
Ketika mendengar bahwa Song Kim dapat lolos, Jenderal Ciong Ti juga merasa kecewa dan penasaran, demikian pula Ci Kong dan Lian Hong.
Akan tetapi dengan adanya dua orang tosu itu sebagai saksi akan pengkhianatan dan pemberontakan Lee Song Kim, Jenderal dong Ti berani mengeluarkan dan membebaskan Pangeran Cong Tiu Ong, karena memang pelapornya ternyata malah menjadi pengkhianat dan pelaporan itu hanya berdasarkan dendam dan usaha mengadu domba.
Pangeran Ceng Tiu Ong dibebaskan disertai pernyataan maaf dari Ciong Ti Goanswe.
Lian Hong dan Ci Kong ikut pula menjemput Pangeran Ceng Tiu Ong yang dibebaskan dari di dalam gedung pangeran itu.
Keluarga Ceng mengadakan perayaan untuk bergembira menyambut pembebasan pangeran itu.
Yang hadir hanya anggauta keluarga, yang ikut bergembira hanya anggauta keluarga dan para pelayan, akan tetapi dua orang tamu itu, Ci Kong dan Lian Hong, dianggap sebagai tamu agung bahkan anggauta keluarga sendiri, dan mereka berdua ikut pula dalam pesta keluarga ini.
Dalam kesempatan ini, Ceng Hiang menceritakan kepada Ayahnya dan keluarganya tentang jasa dua orang tamu itu yang berhasil membebaskan Ayahnya.
"Kalau tidak ada mereka, Ayah, sukarlah membebaskan Ayah. Mereka ini. Tan Ci Kong Toako, dan adik Siauw Lian Hong, adalah dua orang pendekar perkasa!"
Pangeran Ceng Tiu Ong mengangguk-angguk dan mengucapkan terima kasih kepada dua pendekar muda itu.
"Aku sudah mendengar dari jenderal Ciong ketika dia membebaskan aku,"
Katanya.
"Memang ada usaha dari Yu Kiang yang menghubungi menteri, dan menteri sudah mendesak Jenderal Ciong yang masih terhitung saudara misan Menteri. Akan tetapi, menurut Jenderal Cong, dia tidak atau belum berani mengambil keputusan untuk membebaskan aku.
"Baru setelah terbukti akan pengkhianatan dan pemberontakan Lee Song Kim, jenderal itu berani dan bertanggung jawab untuk membebaskan aku. Oya, mana Yu Kiang? Kenapa dia tidak diundang datang?"
Kedua pipi Ceng Hiang agak kemerahan ketika ditanya tentang orang yang bernama Yu Kiang itu oleh Ayahnya.
"Dia berpamit untuk pergi menemui Menteri dan menghaturkan terima kasihnya, Ayah. Beberapa hari lagi tentu dia akan datang."
Ci Kong dan Lian Hong tidak mencampuri percakapan mereka.
Sebetulnya, Lian Hong sudah ingin pergi meninggalkan gedung pangeran itu, namun Ci Kong membujuknya untuk menerima undangan Ceng Hiang, selain untuk menyambut pulangnya Ayahnya dari tahanan, juga untuk tinggal selama beberapa hari di dalam rumah gedungnya.
"Kalau kalian tidak ingin memenuhi permintaanku kali ini, kapan lagi aku akan dapat berkumpul? Berjumpapun akan sukar agaknya dengan kalian. Karena itu, dalam kesempatan ini biarkanlah aku bergaul dengan kalian, untuk menyatakan rasa syukur dan terima kasih kami."
Demikian antara lain Ceng Hiang membujuk.
Biarpun demikian, andaikata tidak ada Ci Kong yang segera menerima undangan itu, tentu Lian Hong akan memaksa diri pergi atau paling lama tinggal semalam saja di rumah gedung yang megah itu.
Betapapun juga, Lian Hong tidak merasa menyesal telah menerima undangan Ceng Hiang, karena ia merasa menjadi tamu terhormat, tinggal di kamar yang mewah bersama sahabat barunya itu, setiap hari menikmati hidangan yang serba lezat dan mahal.
Keluarga Ceng, walaupun keluarga bangsawan, ternyata tidak tinggi hati dan semua ramah kepadanya, terutama sekali Ceng Hiang dan Pangeran Ceng Tiu Ong.
Dan yang lebih dari semua itu, ia tinggal di dalam gedung itu bersama Ci Kong!
Andaikata tidak ada Ci Kong di situ, ia masih sangsi apakah ia akan betah tinggal lama-lama di tempat yang indah mewah itu.
"Ceng Lihiap..."
Ceng Hiang sedang melamun di atas bangku di dalam tamannya itu.
Ia melamun tentang Ci Kong.
Semenjak bertemu dengan pemuda itu, apalagi pertemuan terakhir ini ketika pemuda itu bersama Lian Hong membantunya dan berhasil membebaskan Ayahnya, bayangan pemuda itu selalu mengganggunya.
Pandang mata Ci Kong kepadanya, bicaranya, sikapnya, jelas sekali membayangkan gairah cinta!
Ia tidak salah duga.
Ia melihat jelas betapa Ci Kong jatuh cinta padanya.
Dan ia sendiri?
Ah, ia tertarik sekali kepada Ci Kong.
Gadis mana yang takkan kagum kepada pemuda itu?
Selain memiliki wajah yang tampan, bentuk tubuh yang gagah, sikap yang ramah dan sopan, juga pemuda itu adalah seorang pendekar sakti yang rendah hati dan budiman.
Seorang pendekar, murid terpandai dari Siauw-lim-pai yang mengagumkan.
Betapa akan mudahnya mengaku cinta kepada pemuda seperti itu!
Selamanya ia sendiri belum pernah jatuh cinta, akan tetapi sudah banyak melihat pandang mata laki-laki penuh gairah cinta ditujukan kepadanya.
Namun, baru sekaranglah pandang mata laki-laki seperti itu membuat ia termenung.
Ci Kong cinta padanya, dan ia?
"Ceng Lihiap..."
Ceng Hiang sadar dan lamunannya.
Tadipun ia sudah mendengar suara itu, akan tetapi suara itu memasuki lamunannya dan seolah-olah menjadi bagian dan lamunannya.
Kini ia tersadar dan menengok.
Dua pasang mata bertemu pandang.
Matahari sudah turun ke barat, namun cahayanya yang redup masih menerangi taman itu.
"Aih, Tan-Toako...!"
Serunya sambil bangkit berdiri, namun jantungnya berdebar tegang.
la sedang melamun tentang pemuda ini, dan tahu-tahu pemuda ini muncul di dalam taman itu, sendirian saja!
Dan pandang matanya itu, begitu penuh dengan pancaran cinta kasih sehingga diam-diam ia merasa terharu dan tegang.
Namun Ceng Hiang menekan perasaannya dan tersenyum ramah.
"Aih, Tan-Toako, engkau mengejutkan hatiku saja. Kenapa masih menyebut Lihiap padaku? Bukankah kita ini sudah menjadi sahahat baik, seperti kakak dengan adik saja? "Maaf, aku merasa janggal kalau harus menyebut adik. Kurasa sepantasnya aku menyebut Lihiap atau Siocia. Engkau engkau terlalu tinggi untukku."
"Ah, jangan berkata demikian, Toako. Aku tidak merasa lebih tinggi atau engkau lebih rendah. Bagaimana aku bisa memandang rendah kepadamu, engkau yang sudah menolong keluarga kami dari malapetaka? Engkau sudah menyelamatkan kami, mungkin nyawa Ayah..."
Dengan suara gemetar Ci Kong berkata.
"Demi engkau, aku rela berkorban nyawa sekalipun."
Sudah lama Ci Kong menanti-nanti kesempatan untuk mengucapkan kalimat ini.
Dan kini kesempatan itu tiba, maka dia mengucapkannya dengan suara menggetar, dan Ceng Hiang mendengarkan dengan hati terharu.
Ia tidak merasa terkejut maupun heran, karena ia sudah dapat menduga akan isi hati pemuda ini.
Akan tetapi tidak disangkanya bahwa pemuda ini sekarang akan berterus terang tentang perasaannya.
"Aihh, sudahlah, Toako. Aku sudah tahu akan kemuliaan hatimu. Engkau seorang pendekar budiman yang akan merelakan nyawa demi membela kebenaran dan keadilan, dan mengulurkan tangan untuk menolong siapa saja. Nah, sekarang katakan. Hanya kebetulan saja engkau memasuki taman ini untuk menikmati bunga, ataukah ada keperluan lain dengan aku?"
"Maaf kalau aku mengganggumu. Terus terang saja, aku sudah menunggu-nunggu kesempatan ini, untuk dapat bicara berdua saja denganmu."
Ceng Hiang masih berpura-pura tidak tahu.
"Aih, engkau aneh, Tan-Toako. Bicara berdua saja denganku? Wah, ada rahasia apakah ini? Mari duduk, dan bicaralah."
Ceng Hiang sebetulnya merasa tegang hatinya dan kedua kakinya agak menggigil, maka iapun menjatuhkan diri duduk kembali di atas bangku.
Ci Kong tidak duduk, melainkan berdiri di depannya.
Jantung di dalam dada pemuda ini berdebar keras, wajahnya menjadi agak pucat akan tetapi dia memaksa diri, mengisi hatinya dengan keberanian yang dianggapnya nekat, dan diapun berkata, suaranya lirih dan agak gemetar.
"Maaf, Ceng-Lihiap... terus terang saja, sejak pertemuan kita yang pertama kali dahulu itu, lalu disambung pertemuan berikutnya, aku seperti tergila-gila kepadamu. Wajahmu yang cantik, suaramu, gerak-gerikmu, semua terbayang di depan mata setiap saat, sukar bagiku untuk melupakannya. Ahh, bisa gila aku kalau perasaan ini terus kutahan-tahan, karena itu... melihat kesempatan ini, biarlah aku berterus terang saja. Aku... aku cinta padamu, Lihiap..."
Suasana menjadi hening sekali setelah Ci Kong berhenti bicara.
Pemuda itu masih berdiri di depan gadis itu, menunduk dan memandang wajah itu dengan sinar mata penuh harap, namun juga penuh kegelisahan, karena baginya agaknya tidak mungkin puteri pangeran itu dapat cinta kepada semang miskin seperti dia.
Sementara itu, sejenak Ceng Hiang memandang wajah pemuda itu.
Pernyataan cinta yang terang-terangan itu sebenarnya tidak mengejutkan hatinya, namun setelah diucapkan oleh Ci Kong, dara ini menjadi lemas dan bingung juga.
Ia lalu menundukkan mukanya, bahkan menutupi muka itu dengan kedua tangannya untuk menenangkan hatinya.
Gerakan ini diterima salah oleh Ci Kong.
"Ceng-Lihiap... kalau kata-kataku menyinggungmu, maafkan aku... memang tidak pantas bagi seorang rendah seperti aku berani menyatakan cinta kepada seorang Siocia sepertimu..."
"Tidak! Jangan kau berkata begitu, Toako!"
Ceng Hiang bangkit berdiri dan karena Ci Kong berdiri di depannya, ketika ia bangkit berdiri, mereka berdiri berdekatan sekali.
Sejenak keduanya seperti terpesona oleh keadaan ini, demikian berdekatan sehingga mereka dapat mencium bau badan masing-masing.
Seperti didorong oleh sesuatu, Ci Kong mengulur kedua lengannya dan tahu-tahu Ceng Hiang telah berada di dalam rangkulannya!
Akan tetapi hanya sebentar saja Ceng Hiang membiarkan dirinya hanyut oleh perasaannya, terbuai oleh alunan perasaan.
Ia segera dengan lembut melepaskan rangkulan Ci Kong dan menjauh sampai tiga langkah, kemudian ia mengangkat muka memandang wajah pemuda itu.
"Tan-Toako, selama ini engkau kuanggap sebagai seorang sahabat yang teramat baik, dan aku suka kepadamu, kagum kepadamu sebagai seorang pendekar yang budiman dan berilmu tinggi. Akan tetapi tentang cinta? Ah, aku tidak tahu, Toako. Pernyataanmu begitu tiba-tiba sehingga membingungkan hati."
"Maafkan aku, seperti kukatakan tadi, aku dapat menjadi gila kalau terus menerus menahan perasaan tanpa kunyatakan. Sekarang hatiku sudah lega, Lihiap. Kalau engkau menerima cintaku dan membalasnya, aku akan menjadi seorang manusia yang paling berbahagia di dunia ini.
"Andaikata sebaliknya, andaikan engkau tidak menerimanya dan tidak ada perasaan cinta kepadaku, akupun tidak akan sakit hati, tidak akan menyalahkanmu, karena hal itu adalah wajar saja. Nah, aku mohon diri dan maafkan sebesarnya, Lihiap.
"Aku hanya akan menanti, menanti keputusanmu seperti ladang yang kekeringan menanti turunnya hujan. Malam ini telah terlaksana apa yang kurasakan selama ini, hatiku terasa lega, dadaku terasa lapang, aku minta diri untuk berada di luar gedung semalam ini. Selamat sore, Lihiap."
Ci Kong lalu membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari taman itu, dadanya memang serasa lapang setelah dia menyatakan cintanya, seolah-olah beban yang terangkat dan dalam dadanya.
Dia tidak tahu betapa Ceng Hiang tetap duduk melamun di dalam tamannya setelahnya pergi.
Ceng Hiang duduk seperti tadi sebelum Ci Kong datang, akan tetapi kini wajahnya nampak agak muram.
Terjadi perang di dalam batinnya.
Harus diakuinya bahwa tadi hampir saja ia tenggelam.
Ia sudah hanyut dan betapa indahnya menempuh kehidupan ini selanjutnya berdua dengan seorang pria seperti Ci Kong!
Betapa mudahnya melepaskan segala penghalang dan menjatuhkan diri dalam pelukan Ci Kong, membiarkan diri dan hati mencinta pemuda itu.
Akan tetapi, sudah hampir dua tahun ia telah dijodohkan, walaupun belum diterimanya secara resmi, dengan putera seorang pembesar tinggi, seorang pemuda bangsawan yang sebenarnya harus diakui cukup baik.
Yu Kiang, demikian nama pria itu, adalah seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun.
Seorang pemuda yang terpelajar tinggi, pandai dalam urusan kenegaraan, halus budi pekertinya, berbudi dan adil seperti Ayahnya.
Seorang pemuda pilihan.
Ia belum pernah menyatakan persetujuannya, namun iapun belum pernah menolak kehendak Ayahnya dalam pilihan calon mantu bagi Ayahnya ini.
Dan sikap Yu Kiang amat baik, tak pernah terlalu mendesak, menanti dengan penuh kesabaran dalam cintanya.
Hubungan Yu Kiang dengan keluarga Ceng amat akrabnya, dan dia sering kali datang berkunjung.
Namun sikapnya terhadap Ceng Hiang selalu sopan, seperti seorang sahabat lama yang baik.
Dan harus diakuinya bahwa Ceng Hiang banyak mendapat penambahan pengetahuan dari Yu Kiang.
Hanya dalam hal ilmu silat sajalah Ceng Hiang menang, dan pemuda itu yang hanya menganggap ilmu silat sebagai olah raga belaka.
Namun dalam hal lain, dalam pengetahuan umum, Ceng Hiang boleh menjadi muridnya!
Dan kini muncul Ci Kong.
Biarpun Ayahnya juga amat kagum kepada Ci Kong, namun ia merasa yakin bahwa Ayahnya pasti takkan setuju kalau ia memutuskan hubungan dengan Yu Kiang lalu menerima cinta Ci Kong, menerima pemuda itu untuk menjadi calon suaminya.
Tiba-tiba ia mendengar suara gerakan di belakangnya.
Sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, Ceng Hiang dapat melompat ke depan sambil memutar tubuh untuk melihat siapa yang muncul secara mencurigakan di belakangnya itu.
Dan ternyata yang muncul adalah Lian Hong.
Akan tetapi hampir tidak mengenal lagi gadis itu.
Muka gadis itu pucat, rambutnya kusut, bekas-bekas air mata nampak jelas di kedua pipinya, matanya agak merah dan membengkak.
Dan yang lebih mengejutkan hati Ceng Hiang adalah sebuah kipas yang berada di tangan gadis itu.
Kipas itu bagi wanita lain mungkin merupakan kipas penghias diri atau pengusir kegerahan, namun bagi Lian Hong merupakan senjata istimewa dan bukan main ampuhnya.
Lian Hong bekas menangis dan kini memegang senjata menghadapinya!
"Adik Lian Hong...!"
Tegurnya, masih dicekam kekagetan dan keheranan.
"Dari manakah engkau dan apa yang telah terjadi?"
"Ceng Hiang, buang saja semua sikap manismu itu!"
Tiba-tiba Lian Hong membentak, wajahnya yang nampak pucat, kini berobah merah dan ia menggerakkan kipasnya.
"Dan cabut pedangmu itu. Aku tidak biasa menyerang lawan yang tidak bersiap!"
"Lian Hong...! Gilakah engkau...?"
Ceng Hiang kembali menegur, kini alisnya berkerut dan matanya menatap tajam, khawatir karena jangan-jangan Lian Hong terserang penyakit gila.
"Cukup! Pergunakan pedangmu atau aku akan membunuhmu begini saja!"
Dan kini Lian Hong mengirim serangan dengan kipasnya yang menotok ke arah pundak Ceng Hiang.
Melihat betapa serangan itu bersungguh-sungguh dan bukan main berbahaya, Ceng Hiang melempar tubuh ke belakang membuat pok-sai (salto) sampai susun tiga kali dan barulah ia terhindar dari ancaman maut.
Wajahnya menjadi agak pucat karena serangan tadi benar-benar amat berbahaya.
"Lian Hong, sadarlah! Aku Ceng Hiang, Encimu, sahabatmu, dan engkau adalah sahabat baik dan tamu agung kami!"
Ia mengingatkan karena masih menyangka bahwa Lian Hong tiba-tiba menjadi miring otaknya. (Lanjut ke
Jilid 39) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 39
"Engkau Ceng Hiang, puteri seorang pangeran yang cantik jelita, akan tetapi menggunakan kecantikannya untuk memikat laki-laki!"
Tiba-tiba Lian Hong menyerang lagi, kini lebih hebat lagi.
Angin bertiup ke arah muka Ceng Hiang, dan kalau gadis ini berkedip, mungkin saja serangan susulan akan mencabut nyawanya.
Namun Ceng Hiang kini menjadi terkejut bukan main mendengar ucapan Lian Hong, dan tahulah ia apa yang menyebabkan Lian Hong menjadi seperti gila ini!
Gadis ini cemburu!
Ah, mengapa ia begitu bodoh?
Gadis ini mencinta Ci Kong, dan agaknya tadi melihat dan sudah duga ia mengira bahwa ia bercintaan dengan Ci Kong, berpacaran di dalam taman itu!
Cepat ia meloncat sambil mencabut pedangnya dan menggunakan pedang menangkis beberapa kali karena gagang kipas itu menyerang bertubi-tubi.
"Trang-trang-cringgg!"
Bunga api berpijar ketika dua senjata itu bertemu berulang kali, namun Ceng Hiang berhasil menghalau semua tusukan yang merupakan serangkaian serangan itu.
"Heiii, nanti dulu, Lian Hong!"
Ceng Hiang berseru, penuh penasaran.
"Engkau salah sangka!"
Akan tetapi, Lian Hong sedang marah sekali. Kemarahan membuat semua pertimbangan menjadi miring, bahkan berantakan sama sekali.
"Aku melihat dengan mataku sendiri. Tak perlu kau menyangkal. Ataukah, engkau hanya seorang pengecut yang tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya?"
Lian Hong menyerang lagi dan kembali ia mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan jurus yang paling ampuh.
Lian Hong adalah murid terkasih dan Bu-beng San-kai atau yang berjuluk San-tok yang sakti.
Gadis ini telah menerima ilmu-ilmu yang paling hebat dari San-tok, dan selain ilmu silat kipas yang amat tangguh, Juga ia telah memiliki gin-kang luar biasa yang membuat ia bergerak seperti terbang dan memiliki pula tenaga sin-kang yang amat kuat.
Kini dalam keadaan marah dan mata gelap, apalagi ia memegang senjata utamanya yaitu kipas, tentu saja serangannya berbahaya bukan main.
Ceng Hiang adalah seorang gadis yang berhati lembut.
Akan tetapi, iapun telah terdidik untuk menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa walaupun keadaan ini hanya menjadi dasar wataknya saja, sedangkan kehidupannya tetap sebagai seorang puteri bangsawan.
Ia amat sayang kepada Lian Hong dan maklum bahwa gadis ini marah-marah seperti orang gila karena cemburu.
Akan tetapi, mendengar dirinya dianggap seorang pengecut, mukanya berubah merah.
Pantang bagi seorang gagah untuk disangka pengecut.
Melihat keganasan serangan Lian Hong, ia berloncatan mengelak sambil memainkan Pek-seng Sin-pouw.
Dengan langkah langkah ajaibnya ini, ia menghindarkan diri dan semua serangan, akan tetapi Lian Hong tak boleh disamakan dengan lawan lain.
Gadis ini amat lihai dan cerdik sehingga tak mungkin bagi Ceng Hiang kalau hanya menghadapi amukan Lian Hong itu dengan pengelakan melalui langkah-langkah Pek-seng Sin-pouw saja.
Ia terdesak hebat dan beberapa kali nyaris terkena tusukan gagang kipas, maka terpaksa Ceng Hiang lalu menggunakan pedangnya lagi.
Terdengar bunyi berdesing dan nampak sinar berkilat ketika ia memainkan pedangnya, akan tetapi begitu menangkis kipas yang menimbulkan suara berdenting nyaring dan keduanya terdorong mundur oleh kekuatan masing-masing, Ceng Hiang masih membujuk lagi.
"Adik Lian Hong, marilah kita bicarakan masalah ini sebelum senjata kita mengambil korban di antara kita!"
Akan tetapi Lian Hong sudah terlalu marah.
"Kalau bukan engkau, tentu aku yang menggeletak tak bernyawa malam ini!"
Bentaknya, dan iapun menyerang lagi, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk banyak bicara lagi.
Mereka kini berkelahi dengan seru, walaupun pihak Lian Hong lebih banyak menyerang, sedangkan Ceng Hiang lebih banyak mengelak dan menangkis, dan kalau kadang-kadang ia balas menyerang, itu hanya untuk membendung gelombang serangan yang dilakukan oleh Lian Hong dalam keadaan marah itu.
Suara senjata mereka yang sering saling bertemu itu mengeluarkan suara nyaring berdentingan.
Cemburu adalah suatu dorongan perasaan yang amat berbahaya, baik bagi orang lain, terutama sekali bagi diri sendiri.
Cemburu menggelapkan pikiran, melenyapkan kesadaran, menimbulkan dendam, sakit hati dan kebencian.
Cemburu dapat membuat seorang manusia berubah kejam penuh dengan kebencian.
Cinta asmara antara pria dan wanita tak mungkin sepihak, harus datang dari kedua pihak.
Dan kalau orang yang kita cinta itu kemudian menoleh kepada orang lain, Hal itu berarti bahwa ia tidak cinta sesungguhnya kepada kita!
Padahal, didalam cinta tercakup kesetiaan, dalam arti kata tidak mau menyakiti hati orang yang kita cinta, kemesraan, dan selalu ada dorongan untuk menyenangkan dan membahagiakan hati orang yang kita cinta.
Dan kalau sudah terdapat kenyataan bahwa orang yang kita cinta itu menoleh kepada orang lain, berarti tidak cinta kepada kita, apa gunanya timbul cemburu yang mendatangkan kebencian?
Kalau kita benar-benar mencinta, kita tidak mengharapkan apa-apa lagi!
Cinta kasih yang murni tidak mendatangkan cemburu, tidak memperbesar si aku, tidak mengejar kesenangan belaka, tidak ingin memiliki atau dimiliki dengan arti kata mengikat, tidak ingin mengekang orang yang kita cinta.
Cinta kasih adalah kebahagiaan.
Dan kebahagiaan berubah menjadi kesenangan kalau sudah mengikat.
Dan kesenangan ini hanya merupakan wajah lain saja dari kesusahan.
Suka duka tak terpisahkan.
Lian Hong dimabok cemburu.
Tadi, tanpa disengajanya, ia melihat adegan di dalam taman antara Ceng Hiang dan Ci Kong.
Sayang bahwa ia tidak melihat atau mendengar seluruhnya dari pertemuan antara kedua orang muda itu.
Bahkan ia datang tepat pada saat Ci Kong merangkul Ceng Hiang!
Melihat betapa pemuda yang selama ini dicintanya setengah mati itu kini merangkul Ceng Hiang, hatinya seperti dibakar rasanya.
Hampir ia terhuyung roboh, akan tetapi dengan air mata bercucuran, Lian Hong menahan perasaannya dan segera pergi meninggalkan taman itu untuk dapat menangis di tempat sunyi dan tidak ketahuan oleh orang lain.
Di tempat sunyi inilah, sambil menangis, ia membayangkan kehancuran hidupnya, kemusnahan harapannya, Seolah-olah ia melihat istana yang dibangunnya di dalam lamunan dan mimpi, dimana ia hidup berbahagia bersama Ci Kong untuk selamanya, tiba-tiba dihancurkan dan yang menghancurkan itu adalah Ceng Hiang!
Timbul kemarahan dan kebenciannya terhadap Ceng Hiang, sehingga ia mengambil keputusan untuk mengadu nyawa saja dengan Ceng Hiang!
Melihat betapa Lian Hong menyerangnya semakin ganas dan nekat seolah-olah gadis itu sudah mengambil keputusan untuk membunuh atau dibunuh dalam perkelahian itu, Ceng Hiang menjadi penasaran juga.
Berkali-kali ia minta kepada Lian Hong untuk bicara, namun gadis itu sama sekali tidak pernah menghiraukannya!
Akhirnya Ceng Hiang kehilangan kesabarannya.
Ia telah sejak tadi mengalah, sudah lebih dan lima puluh jurus Lian Hong menyerangnya dan ia tidak pernah membalas dengan serangan maut.
"Baiklah!"
Ia membentak.
"Engkau telah kehilangan kejernihan pikiranmu, Lian Hong! Engkau buta oleh cemburu dan hendak membunuhku. Aku berhak membela diri karena tidak bersalah!"
Kini Ceng Hiang memutar pedangnya dengan cepat dan membalas dengan serangan yang gencar.
Pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung, seperti seekor naga bermain di angkasa.
Lian Hong tidak menjadi gentar dan iapun mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu-ilmunya.
Terjadilah perkelahian yang lebih hebat lagi antara dua orang gadis perkasa itu.
Kedua orang gadis itu memang memiliki bakat yang seimbang, dan merekapun menerima gemblengan dalam waktu yang sama lamanya.
Hanya bedanya, kalau Lian Hong menerima pelajaran ilmu-ilmu bela diri dari seorang datuk sesat, seorang di antara Empat Racun Dunia, sebaliknya Ceng Hiang mewarisi ilmu-ilmu yang murni dari keluarga Pulau Es.
Bagi orang-orang yang baru setengah matang mempelajari ilmu silat, tentu saja ilmu silat dari kau m sesat lebih unggul, karena di dalamnya terkandung gerakan-gerakan keji dan penuh tipu muslihat, Pukulan-pukulan yang curang, bahkan penggunaan alat-alat rahasia atau kadang-kadang alat beracun.
Akan tetapi, bagi mereka yang sudah memiliki ilmu silat tinggi dan mendalam seperti halnya Lian Hong dan Ceng Hiang, akhirnya pemilik ilmu silat yang murnilah yang unggul.
Demikianlah, akhirnya kini Ceng Hiang dapat mendesak Lian Hong dengan pedangnya.
Apalagi semenjak gadis bangsawan ini mewarisi kitab Ilmu Pek-seng Sin-pouw dan kumpulan kitab kuno ciptaan Tat Mo Couwsu, kelihaiannya meningkat, dan setelah mendesak lawan sampai belasan jurus, akhirnya pedangnya berhasil merobek kipas di tangan Lian Hong menjadi dua dan sekaligus melukai lengan kiri gadis itu.
Lian Hong mengeluh, kipasnya yang sudah pecah menjadi dua terlepas dan ia memandang lengannya yang berdarah.
Hal ini bukan membuat ia menjadi jerih, bahkan ia semakin marah.
"Bagus, bunuhlah aku kalau kau mampu!"
Bentaknya, dan ia sudah siap untuk menyerang lagi dengan kedua tangan kosong.
Akan tetapi, Ceng Hiang sudah merasa menyesal bukan main karena melukai lengan Lian Hong.
Gadis perkasa itu adalah seorang di antara para penolongnya, yang telah membantunya membebaskan Ayahnya, dan kini ia malah melukai penolongnya itu.
Ia lalu menyimpan pedangnya dan sambil berdiri lunglai, ia berkata.
"Adik Lian Hong, aku menyesal sekali telah melukaimu. Kalau memang engkau akan merasa lega jika membunuhku, nah, silahkan. Biarlah aku balas budimu yang telah menolong Ayahku dengan nyawaku. Nah, kau pukullah dan bunuhlah aku. Aku tidak akan melawan lagi."
Lian Hong yang tadi marah sekali, dan sudah siap untuk menyerang dengan kedua tangan kosong, seketika memandang lemas.
Biarpun sejak kecil ia berguru kepada seorang datuk sesat, namun ia sama sekali tidak pernah mewarisi watak jahat gurunya.
Sebaliknya, dalam dirinya berkobar api dan semangat kepahlawanan, dan ia menjadi seorang gadis gagah perkasa yang menjunjung tinggi kegagahan.
Kini melihat lawannya berdiri lunglai dan tidak mau melawan, dengan sendirinya iapun menjadi lemas.
Mana mungkin ia menyerang dan membunuh orang yang tidak mau melawannya?
"Kau...
kau mempergunakan kecantikan dan kepandaian dan kekayaanmu untuk memikat hati Ci Kong...!"
Lian Hong berkata, terengah-engah karena perkelahian tadi telah menguras tenaganya, apalagi kini hatinya penuh ketegangan. Ceng Hiang mengerutkan alisnya.
"Adikku yang baik, engkau boleh jadi melihat pertemuan kami tadi di sini, akan tetapi engkau salah sangka. Aku tidak memikatnya, aku tidak merampasnya darimu.
"Kalau tadi Ci Kong merangkulku, itu hanya karena dorongan perasaan hatinya. Akan tetapi aku segera melepaskan diri. Salahkah aku kalau dia jatuh cinta kepadaku, adikku? Akan tetapi, aku tidak merampasnya."
Lian Hong memandang wajah itu, mukanya berubah pucat.
"Akan tetapi... kau ... kau juga mencintanya, bukan?"
Ceng Hiang tersenyum sedih.
Ia tahu bahwa kalau ia mengaku cinta, berarti ia akan menghancurkan hati Liang Hong, dan ia sendiripun belum yakin, apakah ia mencinta Ci Kong ataukah hanya suka dan kagum saja.
Ia lalu menggeleng kepala dan suaranya mengandung kesungguhan hatinya ketika ia berkata.
"Ci Kong juga menanyakan hal itu, dan jawabanku kepadanya adalah bahwa aku memang suka dan kagum kepadanya, sebagai seorang sahabat. Akan tetapi cinta? Ahhh, terlalu pagi untuk bicara tentang cinta. Tidak, adik Lian Hong, aku tidak pernah mengaku cinta kepadanya! "Aku yakin engkau cukup gagah dan bijaksana untuk dapat melihat kenyataan dan tidak sembarangan menyalahkan aku. Bukan salahku kalau ada orang-orang mencintaku, bukan? Akan tetapi, kalau engkau memang sudah buta oleh cemburu dan hendak membunuhku, silahkan, aku takkan melawan."
Tiba-tiba Lian Hong menangis dan menubruk Ceng Hiang.
Ia telah sadar kembali dan ia merasa menyesal bukan main.
Ia menangis sesenggukan di pundak Ceng Hiang yang merangkulnya, dan kedua mata gadis bangsawan inipun menjadi basah oleh air mata keharuan.
"Enci Hiang, maafkan aku... oohhh... maafkan aku. Ah, kenapa tadi engkau tidak membunuhku saja!"
Lian Hong menangis tersedu-sedu. Baru sekali ini gadis yang keras hati ini menangis, perasaan hatinya seperti tersayat-sayat.
"Sudahlah, adikku, aku mengerti perasaanmu...! Sungguh heran, kenapa Tan-Toako berani bersikap seperti itu? Benarkah di samping kegagahan dan segala sifatnya yang amat kukagumi itu, terdapat sifat mata keranjang sehingga dia setelah menjadi kekasihmu, masih berani mengaku cinta kepadaku?"
"Tidak... tidak... jangan salah sangka, Enci. Dia... dia bukan kekasihku... maksudku, kami belum pernah saling mengaku cinta."
"Ahhh?"
Ceng Hiang terbelalak.
"Jadi maksudmu... engkau hanya mencintanya secara diam-diam?"
Lian Hong mengangguk.
"Dan kalian belum pernah bicara tentang cinta kalian?"
Ceng Hiang bertanya.
"Belum pernah, walaupun tadinya aku mengira diapun cinta kepadaku. Tapi ternyata dia cinta kepadamu, Enci. Aku bersalah kepadamu, aku telah memakimu, menyerangmu kau maafkan aku, Enci... semua ini karena aku... aku menjadi seperti gila karena cintaku kepadanya. Maafkan aku..."
Ceng Hiang mencium pipi yang basah itu.
"Tidak mengapa, adikku. Mari kubalut dan kuobati lukamu. Akulah yang minta maaf telah merusak kipasnu dan melukai lenganmu..."
Lian Hong menarik dirinya dan memandang dengan mata merah dan basah.
"Tidak, Enci. Semua ini salahku, dan engkau tidak bersalah andai kata engkau tadi membunuhku. Sekarang selamat tinggal, Enci... biarkan aku sendiri dalam kehampaan hidupku...!"
Lian Hong lalu meloncat dan menghilang ke dalam kegelapan.
"Adik Lian Hong!"
Ceng Hiang memanggil, akan tetapi bayangan gadis itu telah lenyap dan Ceng Hiang tidak mengejar, tahu bahwa tidak ada artinya mengejar, bahkan ia hanya akan membuat Lian Hong semakin berduka saja.
Ia berdiri bengong sambil menarik napas berulang-ulang.
Tak disangkanya bahwa malam ini akan terjadi dua hal yang demikian hebat tergores di dalam kalbunya.
Ci Kong menyatakan cintanya, dan Lian Hong hampir gila karena cemburu dan hampir saja membunuhnya!
Ia lalu merenungkan dan menyelidiki hatinya sendiri.
Cintakah ia kepada Ci Kong?
Bagaimana dengan Yu Kiang pilihan, Ayahnya?
Kalau ia memilih Yu Kiang yang tidak dicintanya, walaupun ia suka pula kepada pemuda bangsawan itu, berarti ia berkorban dan memaksa diri tidak menerima uluran tangan Ci Kong yang begitu menggairahkan hatinya.
Sebaliknya, kalau ia menerima Ci Kong, berarti ia membuat Lian Hong patah hati dan merana, juga tentu membuat Yu Kiang berduka, selain itu membuat Ayah dan keluarganya kecewa.
Jalan mana akan ditempuhnya?
Yang mana akan dipilihnya?
"Aihhh...
aku tidak tahu...
aku tidak tahu..."
Keluhnya, dan iapun memungut kipas Lian Hong yang telah robek menjadi dua itu, dan perlahan-lahan meninggalkan taman dan memasuki kamarnya dengan wajah muram dan pandang mata sayu.
Jalan setapak di lereng bukit itu sepi bukan main, akan tetapi lebih sepi lagi rasanya di dalam hati Lee Song Kim yang sedang berjalan di atasnya.
Wajah pemuda ini pucat, rambutnya yang panjang hitam dan lebat itu nampak kusut.
Demikian pula pakaiannya, dan wajah yang biasanya nampak tampan berseri itu kini muram.
Dan matanya yang kemerahan dan pakaian serta sepatunya yang penuh debu, mudah diduga bahwa dia telah melakukan perjalanan jauh dan jarang tidur.
Dia nampak lelah, lelah lahir batin, dan memang keadaan Song Kim pada saat itu seperti keadaan orang yang putus asa.
Bagaimana dia tidak akan putus asa dan gelisah?
Cita-citanya yang setinggi langit itu kini buyar sama sekali.
Dia kehilangan kedudukan, kehilangan kemuliaan, kehilangan segalanya, setelah dia mengorbankan golongannya, gurunya pula, setelah dia merendahkan diri bersekongkol dengan para tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, kesemuanya itu gagal sama sekali, bahkan kini dia menjadi seorang buruan.
Diburu oleh pemerintah, juga diburu dan dimusuhi oleh para pejuang, baik dari golongan pendekar maupun dan golongan sesat.
Dia merasa diasingkan di dunia ini, tidak mempunyai sahabat, dikelilingi oleh musuh belaka.
Perasaan kesepian ini seringkali melanda batin kita, tak perduli bagaimana keadaan kita, tak peduli kita berada di tengah banyak orang atau keluarga, tak perduli kita berada dalam keadaan yang kaya raya atau berkecukupan, maupun dalam kedudukan tinggi dan kemuliaan.
Perasaan sepi menggerogoti batin, apalagi kalau kita merasa tidak dicinta seorangpun.
Perasaan kesepian dan sendirian inilah yang mendorong kita untuk mengikatkan diri kepada sesuatu atau seseorang sebagai sumber-sumber kesenangan.
Kita mengikatkan diri sebagai anggauta suatu kelompok, golongan, persahabatan, atau kita mengikatkan diri dengan suatu aliran, dengan benda-benda, dengan sumber-sumber kesenangan yang lain.
Dan kita takut dan merasa ngeri kalau harus meninggalkan semua itu, karena kita membayangkan betapa hidup ini akan terasa kosong dan sepi!
Ngeri akan perasaan sepi dan bersendirian inilah agaknya yang membuat orang takut akan kematian.
Bukankah kalau sudah mati, kita kehilangan segala-galanya dan berada dalam keadaan kesepian dan menghadapi segala sesuatu sendirian saja?
Karena inilah maka kita berusaha mencari pegangan, mencari kepercayaan sebagai sesuatu yang akan menemani kita, akan menjadi bekal dalam menghadapi kematian atau kesepian dan kesendirian itu.
Ngeri timbul dan rasa takut yang selalu menghantui batin kita.
Kita haus akan cinta kasih, haus akan cinta orang lain terhadap kita, perhatian dan keramahan orang-orang lain terhadap diri kita, dan hal ini menunjukkan bahwa kita sendiri kering, tidak memiliki cinta kasih!
Orang yang tidak memiliki cinta kasih, bagaikan sebuah cawan yang kering dan kosong, selalu haus akan isi.
Sebaliknya, batin yang penuh dengan cinta kasih bagaikan cawan yang penuh air, terus diisi oleh air yang mengalir masuk, sehingga bukan saja air itu dapat membasahi dan memenuhi cawan itu sendiri, melainkan juga dapat meluap dan membasahi dan mengisi cawan lain.
Orang yang batinnya penuh dengan sinar cinta kasih, tidak mengharapkan cinta kasih orang lain terhadap dirinya lagi, bagaikan sebuah ruangan tidak lagi membutuhkan cahaya karena dirinya telah menjadi cahaya yang dapat menerangi ruangan-ruangan lain.
Hidup harus berani bersendirian, bukan dalam arti kata kesepian dan merasa ditinggalkan seorang diri, melainkan bersendirian, berdikari, bebas tidak bersandar atau bergantung kepada gagasan, benda, atau orang lain.
Hanya dalam keadaan bebas tidak terikat inilah, pikiran tidak merajalela, mengendap dan si-aku pun tidak menonjolkan diri, sehingga kini dapat waspada setiap saat.
Hanya dalan keadaan bebas inilah, cinta kasih dapat memenuhi relung-relung batin kita dengan sinarnya.
Hanya dalam keadaan bebas dari segala ikatan inilah, Sinar Illahi dapat menyentuh batin kita, dan kita menjadi waspada akan apa yang dinamakan kekuasaan, kemurahan dan cinta kasih Tuhan Yang Maha Kasih!
Segala macam perbuatan dalam bentuk apapun merupakan pencerminan keadaan batin.
Kalau batin kita bebas sehingga penuh dengan sinar cinta kasih, maka perbuatan yang akan dilakukan oleh badan kita, dengan sendirinya berdasarkan cinta kasih.
Batin yang bebas dan penuh cinta kasih tidak mengenal kebencian, iri hati, dendam, permusuhan, dengki.
Si aku yang menjadi sumber dan segala macam perasaan dan nafsu itu telah tiada.
Lee Song Kim adalah seorang pemuda yang penuh dengan ambisi, penuh dengan apa yang dinamakan secara halus "Cita-cita", yang sesungguhnya bukan lain dari pada keinginan mendapatkan sesuatu yang dianggap lebih baik dari pada apa yang kita miliki sekarang.
Dan cita-cita ini mulur terus, tiada batasnya, membuat kita selalu tidak puas dengan apa yang ada, dan membuat kita kadang-kadang (seringkali) membuta dalam menggunakan segala cara untuk mengejarnya.
Cita-cita yang tercapai melahirkan cita-cita lain yang lebih hebat.
Cita-cita yang gagal mendatangkan kekecewaan dan kedukaan, seperti halnya Lee Song Kim.
Semenjak dia melarikan diri ketika diserbu oleh Jenderal Ciong yang dibantu oleh pasukan pengawal, Ceng Hiang, Ci Kong dan Lian Hong, dia terus lari sampai berpekan-pekan lamanya.
Jarang dia berhenti, kecuali kalau tidak kuat lagi karena mengantuk atau lapar.
Dia masih merasa untung bahwa dia mampu meloloskan diri dari kepungan orang-orang yang lihai itu.
Dia kini berada di lereng bukit-bukit yang menjadi anak Pegunungan Tai-hang-san, di sebelah selatan Kota Raja.
Hari masih pagi sekali ketika Song Kim berjalan seorang diri di tempat yang amat sunyi itu.
Dia tidak mempunyai tujuan tertentu.
Yang penting baginya sekarang ini adalah menyelamatkan diri dan pengejaran musuh-musuhnya.
Selagi dia berjalan seenaknya keluar dari dalam hutan dimana dia melewatkan malam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh berkelebatannya bayangan dua orang, dan ketika dia mengangkat muka, yang muncul di depannya secara tiba-tiba itu adalah Ong Siu Coan dan Tang Ki atau Kiki.
Tentu saja dia terkejut bukan main, menengok ke kanan kiri.
Tidak ada jalan baginya untuk menghindarkan pertemuan itu.
Mereka berdua telah berada di depannya dan andaikata dia melarikan diri kembali ke dalam hutan, tentu mereka akan melakukan pengejaran.
Mereka berdua itu akan sukar dapat ditinggalkan, karena dia mengenal kelihaian sumoinya sendiri, juga tahu bahwa pemuda jangkung murid Thian-tok itupun lihai bukan main.
Selain itu, kedua kakinya sudah terlalu lelah untuk melarikan diri dari dua orang ini, maka diapun menjadi nekat dan menghadapi mereka dengan sinar mata tajam dan seluruh tubuhnya siap siaga.
Dalam keadaan tersebut seperti itu, menghadapi dua orang lawan yang amat lihai, Song Kim masih belum kehilangan kecerdikannya.
Dia segera memasang senyum ramah dan menghadapi Kiki dengan wajah cerah dan ramah.
"Aih, kiranya sumoi. Dan manakah, sumoi... dan bagaimana dengan keadaan suhu? Kuharap beliau berada dalam keadaan baik dan sehat saja."
Kiki dan Siu Coan sampai melongo sejenak melihat sikap dan mendengar sapa yang ramah itu. Akan tetapi Kiki segera membentak dengan ketus dan marah.
"Lee Song Kim! Tak perlu engkau menanam madu di bibirmu, mencoba untuk membujuk rayu aku! Engkau tahu bahwa aku mencarimu, dan setelah kini kita saling bertemu, aku akan membunuhmu! Bersiaplah untuk menebus dosa-dosamu dan menerima kematian di tanganku!"
Kiki sudah mencabut sebatang pedang yang tadi tergantung di punggungnya di antara buntalan pakaiannya.
Gadis ini biasanya tidak mempergunakan pedang, karena memang ilmu silatnya sudah mencapai tingkat tinggi.
Akan tetapi, dalam menghadapi bekas suhengnya, ia sudah mempersiapkan diri dan membawa sebatang pedang yang baik dari kumpulan senjata pusaka milik Ayahnya.
"Aih, sumoi, kenapa engkau bersikap begini? Aku adalah suhengmu, bukan? Suhengmu satu-satunya! Bukankah kita sudah menjadi saudara seperguruan dan teman bermain semenjak kita kecil?"
"Cukup! Tutup mulutmu dan cabut pedangmu!"
Kiki membentak, semakin marah karena ia tahu bahwa bekas suhengnya itu berusaha untuk merayunya.
Heran ia, mengapa pemuda bejat itu masih berani mencoba untuk membujuknya suatu hal yang takkan mungkin berhasil.
"Sumoi, melihat muka suhu, yang seperti telah menjadi Ayahku sendiri, tidak maukah engkau melupakan segala hal yang telah berlalu? Mungkin aku pernah melakukan kesalahan-kesalahan, akan tetapi aku akan bertobat, dan aku mengharapkan maafmu..."
"Lee Song Kim!"
Kini Ong Siu Coan ikut berkata, suaranya keren.
"Di antara semua dosamu, bagaimana orang dapat mengampuni pengkhianatanmu terhadap para pimpinan pejuang tempo hari?"
Menghadapi Siu Coan, Song Kim membusungkan dada dan marah.
"Ong Siu Coan! Engkau adalah murid Thian-tok dan aku adalah murid Hai-tok, sama-sama murid seorang di antara Empat Racun Dunia. Tidak perlu engkau bersikap sombong dan mengatakan aku berdosa dan pengkhianat.
"Engkau sendiri pernah menjadi pengkhianat, pernah menjadi anjing pasukan bule! Kalau sumoi tidak mencampuri, aku mau berkelahi melawanmu sampai seribu jurus, sampai seorang di antara kita menggeletak mampus untuk menentukan siapa yang lebih unggul!"
"Lee Song Kim, jahanam busuk!"
Teriak Kiki yang marah mendengar tantangan Song Kim terhadap Siu Coan.
"Dosa yang pernah kau lakukan terhadap diriku sudah tak dapat diampuni, akan tetapi dosamu terhadap para pimpinan pejuang lebih besar lagi. Kami berdua mewakili para pimpinan pejuang, hari ini datang untuk menghukum dan membunuhmu. Kalau engkau tidak mau bersiap sekarang, juga aku akan membunuhmu, baik engkau melakukan perlawanan maupun tidak. Heiiiittt...!"
Kiki sudah menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada Song Kim. Cepat sekali serangan itu dan didukung tenaga yang kuat.
"Ehhh!"
Song Kim meloncat ke kiri untuk menghindarkan tusukan, akan tetapi Kiki sudah mendesak lagi dengan bacokan ke arah leher.
Kembali Song Kim mengelak dengan melangkah mundur cepat-cepat, dan terpaksa dia mencabut pedangnya, karena kembali pedang di tangan bekas sumoinya itu sudah menyambar lagi.
"Trangggg!"
Dua batang pedang bertemu dan demikian keras pertemuan itu sehingga bunga api berpijar, dan keduanya mundur dua langkah untuk memeriksa pedang masing-masing.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Song Kim untuk membujuk.
"Sumoi, benarkah hatimu demikian tega untuk membunuh aku, suhengmu sendiri?"
"Cerewet!"
Bentak Kiki yang merasa tidak suka diingatkan bahwa orang ini adalah bekas suhengnya.
Pedangnya menyambar ganas, sehingga terpaksa Song Kim harus mencurahkan perhatiannya untuk menangkis dan balas menyerang, karena kalau tidak, tentu keadaannya akan berbahaya sekali.
Sikapnya terhadap Kiki yang ramah itu tetap saja hanya merupakan siasat.
Kalau mungkin dia akan membunuh Kiki agar kemudian dapat menghadapi Siu Coan.
Maka, kini diapun membalas serangan Kiki dengan babatan pedangnya.
Mereka terlibat dalam perkelahian yang seru dan Song Kim terkejut sekali.
Biarpun kepandaian dan tingkat ilmu silat mereka berimbang, namun dalam hal permainan pedang, Song Kim lebih pandai.
Hal ini diketahuinya benar.
Akan tetapi sekarang, melihat betapa sumoinya itu dapat bergerak dengan kecepatan kilat, ketika pedangnya membabat, tiba-tiba tubuh sumoinya lenyap dan tahu-tahu telah menyerangnya dari kanan!
Hal ini amat mengejutkan hatinya.
Belum pernah dia melihat sumoinya memiliki gin-kang sedemikian hebatnya, sehingga seolah-olah pandai terbang saja.
Namun, dia sengaja memutar pedang dengan cepat untuk melindungi tubuhnya.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa Kiki sudah mendapat kitab ilmu meringankan tubuh Hui-thian Yan-cu (Walet Tebang ke Langit) ciptaan Tat Mo Cowsu.
Akan tetapi, tiba-tiba Siu Coan sudah terjun lagi ke dalam arena perkelahian itu, dan biarpun Siu Coan tidak memegang senjata, namun serangan-serangannya yang menggunakan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sungguh amat berbahaya bagi Song Kim!
Dikeroyok dua, pemuda ini menjadi repot bukan main.
Baru melawan sumoinya yang kini mendadak memiliki gerakan yang demikian cepatnya saja dia tadi sudah merasa kewalahan dan mulai terkejut karena belum tentu dia akan keluar sebagai pemenang melawan sumoinya.
Dan sekarang ditambah lagi dengan majunya Siu Coan yang tingkat kepandaiannya seimbang dengan dia maupun Kiki.
Tentu saja dia terdesak hebat dan hanya mampu mengelak dan menangkis saja.
"Suhu! Suhu Hai-tok Tang Kok Bu!"
Tiba-tiba Song Kim berteriak nyaring.
"Apakah suhu akan membiarkan saja sumoi Tang Ki membunuh suheng sendiri? Suhu, aku sudah seperti anak suhu sendiri, haruskah aku mati di tangan adikku sendiri?"
Kiki menjadi marah sekali mendengar ocehan ini.
"Jahanam busuk, keparat hina tak tahu malu!"
Bentaknya.
"Ayah tidak mempunyai anak macam engkau, dan aku tidak sudi mempunyai suheng seperti engkau!"
Dan iapun mendesak lagi dengan pedangnya.
Melihat pedang itu membacok ke arah kepalanya dari atas dengan kecepatan kilat dan juga mengandung kekuatan sin-kang yang hebat, tidak ada jalan lain bagi Song Kim yang baru saja mengelak dan sebuah tendangan yang dilakukan oleh Siu Coan kecuali menangkis dengan pedangnya dari bawah ke atas.
"Tranggg!"
Kedua pedang itu bertemu dan melekat.
Kiki telah mempergunakan sin-kang untuk menempel pedang lawan, dan kesempatan ini dipergunakan Siu Coan untuk menggerakkan tangan mengetuk ke arah siku lengan kanan Song Kim.
"Duk! Ahhhh..."
Song Kim terpaksa melepaskan pedangnya.
Lengan kanannya seperti lumpuh dan dia cepat meloncat ke belakang.
Akan tetapi pada saat itu, ujung kaki Kiki sudah menendang pinggangnya dan diapun terjungkal roboh.
Maklum akan bahaya maut yang mengancam dirinya, Song Kim sudah meloncat lagi dan mengirim pukulan maut ke arah Siu Coan yang dielakkan oleh pemuda ini.
Kiki yang merasa rendah kalau harus menghadapi lawan yang sudah kehilangan senjata itu dengan pedangnya, sudah menyimpan pedangnya dan kini menerjang dengan kedua kaki dan tangannya.
Juga Siu Coan menyerangnya dan terjadilah perkelahian tanpa senjata.
Akan tetapi dalam hal ini, Song Kim semakin terdesak dan dalam waktu beberapa belas jurus saja, tubuhnya sudah menjadi sasaran pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari kedua orang pengeroyoknya.
Dia mencoba untuk melawan, namun karena memang kalah cepat dan kalah kuat, dia menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan kedua orang itu, sehingga tubuhnya babak belur dan dari hidung dan mulutnya sudah keluar darah.
Song Kim melawan terus, namun semakin lama tubuhnya menjadi semakin lemah dan pada saat yang amat gawat bagi keselamatan nyawanya itu, tiba-tiba muncul seorang tinggi besar yang begitu muncul menerjang maju dan menendang ke arah Siu Coan.
Siu Coan terkejut bukan main dan cepat melompat ke samping untuk menghindar.
"Locianpwe, mengapa Locianpwe menyerangku? Bukankah Locianpwe sudah memberi ijin kepadaku untuk membantu Ki-moi membunuh pengkhianat ini?"
Kata Siu Coan yang terkejut sekali melihat bahwa penyerangnya itu adalah Hai-tok Tang Kok Bu, Ayah Kiki.
"Ayah!"
Kiki juga berseru keras.
"Kenapa Ayah membela jahanam busuk ini..."
Akan tetapi Hai-tok yang nampak marah itu terus menyerang Siu Coan.
"Bagaimanapun juga, dia ini adalah muridku yang pernah kuanggap sebagai anak sendiri. Ong Siu Coan, engkau masih orang lain dan engkau berani memukulinya, aku harus membalas perlakuan tidak patut itu!"
Tentu saja Siu Coan repot harus mengelak kesana-sini, karena dia tidak berani menangkis, dan akhirnya sebuah tamparan mengenai pundaknya.
"Plaakkk...! Hebat bukan main tamparan itu, dan kalau saja Siu Coan tidak melindungi tubuhnya dengan sin-kang yang membuat pundaknya kuat dan kebal, tentu pundak itu akan hancur. Biarpun tidak demikian, tubuhnya terpelanting dan bergulingan sampai jauh dan dia meloncat bangun dengan kepala pening.
"Ayah, jangan!"
Kiki berseru keras melihat betapa Siu Coan terpelanting oleh tamparan Ayahnya.
"Sumoi, apakah engkau akan menjadi seorang anak durhaka yang hendak melawan Ayahnya sendiri membela orang lain?"
Tiba-tiba Song Kim berseru dan seruannya ini menahan gerakan Kiki yang menjadi bingung.
Dan Hai-tok sudah menerjang lagi ke depan, agaknya hendak membunuh Siu Coan!
Watak dan Empat Racun Dunia memang aneh dan pantas mereka menjadi datuk-daruk kau m sesat.
Tadinya Hai-tok memang sudah setuju kalau puterinya berjodoh dengan Siu Coan, dan mengijinkan pemuda itu membantu Kiki mencari dan membunuh Song Kim.
Akan tetapi, setelah dua orang itu pergi, dia membayangkan Song Kim semenjak masih kecil telah menjadi muridnya, Bahkan karena dia tidak mempunyai anak laki-laki, dia sudah menganggap Song Kim sebagai pengganti anaknya.
Maka, timbul perasaan menyesal dan diapun lalu meninggalkan pulau untuk membayangi perjalanan Kiki dan Siu Coan.
Maka, ketika tadi dia mendengar teriakan Song Kim yang menyebut-nyebut namanya, tentu saja hatinya tergerak, dan ketika melihat Song Kim yang disayanginya itu dijadikan bulan-bulanan pukulan dan tendangan Kiki dan Siu Coan, dia tidak mampu menahan diri lagi dan keluar membela munidnya itu.
Dan kemarahannya dia tumpahkan kepada Siu Coan yang hendak dibunuhnya!
Kini dia menendang dengan dahsyatnya.
Tendangan itu amat kuat, mendatangkan angin keras, dan biarpun Siu Coan sudah siap siaga, menangkis dengan tangan, tetap saja tubuhnya terlempar dan terpelanting keras.
"Brukkk...!"
Dan baru saja dia meloncat bangun, Kakek itu sudah berada di depannya dan lengannya yang panjang dan besar itu menyambar dengan pukulan maut ke arah kepala Siu Coan.
Pemuda ini terkejut, akan tetapi sebagai murid seorang sakti, dia masih berhasil membuang diri ke belakang dan bergulingan seperti seekor trenggiling, menjauhi lawan.
Hai-tok mengejar, mencoba untuk menggunakan kakinya menginjak kepala pemuda yang tadinya ingin diambil mantu itu, dan kalau kepala itu kena injak sekali saja, tentu akan remuk!
Sambil bergulingan, Siu Coan mengelak setiap kali kaki gajah itu datang menginjak, dan dia sukar memperoleh kesempatan untuk meloncat bangun.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan pada saat kaki kiri Hai-tok melakukan injakan mautnya, sebuah kaki lain yang juga besar menyambut dari depan, sehingga dua batang kaki yang kuat itu saling beradu tulang kering.
"Desss...!!"
Akibatnya, dua tubuh yang besar itu sama-sama terdorong ke belakang sampai lima langkah.
Tentu saja Siu Coan memperoleh kesempatan untuk meloncat bangun, dan bukan main girang dan lega hatinya ketika melihat bahwa yang menolongnya itu adalah gurunya sendiri, Thian-tok.
Sementara itu, dua orang Kakek itu kini berdiri saling pandang dengan dua pasang mata mencorong saling tantang.
"Ho-ho-ho! Hai-tok, sungguh tidak pantas perbuatanmu, menyerang dan mengancam nyawa muridku, seolah-olah aku sebagai gurunya sudah tidak ada saja!"
Kata Thian-tok sambil menyeringai.
"Memang aku hendak membunuh Ong Siu Coan, kau mau apa? Dia sudah memukuli muridku, maka aku hendak memukulinya sampai mampus!"
"Ha-ha-ha, kenapa Hai-tok menjadi seorang pengecut besar sekarang? Urusan anak-anak kenapa dicampuri orang tua? Kalau memang engkau mencari tanding, inilah aku lawanmu, tua sama tua! Siu Coan, minggirlah dan jangan mencampuri. Biar aku yang akan menghadapi tua bangka ini!"
Kata Thian-tok sambil menyeringai.
Kakek ini semakin gendut saja, jubahnya terbuka sehingga nampak dadanya yang berbulu sampai ke pusar, perutnya yang gendut dengan pusar yang menonjol.
Tangan kirinya memegang sebuah mangkok butut, tangan kanannya memegang sebuah ciu-ouw (guci arak) butut pula.
Mendengar tantangan Thian-tok, Hai-tok menjadi marah bukan main.
Dia dan Thian-tok selama ini memang tidak pernah bersahabat.
Keduanya adalah dua orang tokoh di antara Empat Racun Dunia, datuk-datuk kau m sesat yang tak pernah saling bersahabat.
Kalau akhir-akhir ini mereka memiliki hubungan baik, hanyalah karena keduanya merasa berkewajiban untuk menentang pemerintah penjajah dan orang-orang asing kulit putih.
Kini, begitu ada urusan mengenai murid masing-masing, tentu saja mereka saling membela murid dan siap untuk saling gempur.
"Song Kim dan Kiki! Kalian minggir dan jangan mencampuri. Biar kuhajar tua bangka gendut ini!"
Bentaknya kepada anak dan muridnya.
Dua orang Kakek itu lalu melangkah maju saling menghampiri.
Thian-tok masih memegang guci arak dan mangkoknya, dua alat minum arak akan tetapi juga dapat menjadi senjatanya yang ampuh.
Adapun Hai-tok juga sudah memegang tongkatnya yang indah, tongkat yang terhias emas permata.
Mereka kini berhenti dan jarak di antara mereka tinggal dua meter lagi.
Sejenak mereka berdiri tegak, saling pandang seperti hendak mengalahkan lawan atau mengukur kekuatan masing-masing dengan pandang mata mereka yang mulai mencorong, sambil diam-diam keduanya mengerahkan tenaga sin-kang mereka, menyalurkan tenaga itu ke arah seluruh tubuh, terutama pada kedua tangan mereka.
"Hai-tok, kau majulah kalau tubuhmu sudah gatal-gatal ingin merasakan hajaranku, ha-ha-ha!"
Thian-tok berseru sambil mengamang-amangkan guci arak dan mangkoknya ke atas kepala.
"Thian-tok iblis tua bangka gendut, aku sudah sejak tadi bersiap. Engkau yang datang menantangku, majulah untuk menerima gebukan tongkatku!"
Tantang Hai-tok.
"Heh-heh-heh, engkau mencari penyakit!"
Kata Thian-tok, dan diapun melangkah maju, bergerak aneh dan tiba-tiba guci arak itu menyambar ke arah pelipis kiri lawan sedangkan mangkok bututnya bergerak menyambar ke arah pusar.
Nampaknya kedua senjata itu tidak berbahaya, namun Hai-tok yang lebih tahu bahwa biarpun kelihatannya tidak meyakinkan, namun sepasang senjata itu telah mengangkat nama Thian-tok ke puncak ketenarannya.
Dia maklum betapa lihainya lawan ini, yang dalam banyak hal memiliki tingkat yang sama dengan dia, maka diapun tidak berani bersikap sembrono.
Kakinya melangkah mundur dan untuk menghindarkan serangan berganda lawan itu, dia memutar tongkatnya, bukan hanya untuk melindungi tubuh, melainkan sekaligus untuk balas menyerang!
Akan tetapi, dengan dua buah senjatanya yang istimewa, Thian-tok juga dapat menghindarkan diri dari serangan tongkat itu.
Serang menyerang terjadi dan berkali-kali terdengar suara keras ketika tongkat bertemu dengan guci atau mangkok.
Hai-tok yang maklum akan kelihaian lawan, segera mengeluarkan ilmunya yang paling diandalkan melalui tongkatnya, yaitu ilmu Tongkat Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas).
Tongkatnya berputar seperti kitiran bahkan semakin cepat lagi sehingga tidak nampak bentuknya, yang kelihatan hanyalah sinar keemasan yang menyilaukan mata saja dibarengi suara mendengung-dengung.
Thian-tok juga tidak berani memandang rendah.
Dia mengerahkan tenaganya dan memainkan limu Silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang sudah mencapai puncak kesempurnaannya, dan mengimbangi kekuatan lawan dengan Kim-ciong-ko, yaitu ilmu kebal yang menbuat tubuhnya dapat menahan senjata tajam.
Lawannya, Hai-tok, terkenal dengan tenaga saktinya yang disebut Thai-lek Kim-kong-jiu, yang membuat tangan Kakek ini dapat menghancurkan batu karang, maka Thian-tok selalu melindungi tubuhnya dengan ilmu kebalnya.
Mereka saling serang dan saling desak dengan senjata masing-masing, dan ratusan kali senjata mereka saling bertemu, menimbulkan suara nyaring dan bunga api berpijar.
Seberapa kali mereka menarik senjata dan mengamankan senjata masing-masing, takut kalau-kalau senjata yang disayang itu menjadi rusak.
Akhirnya, setelah mereka bertanding selama ratusan jurus, Thian-tok melompat ke belakang.
"Nanti dulu, Hai-tok!"
"Thian-tok, kau mundur. Apakah mengaku kalah?"
Tanya Hai-tok sambil menggunakan lengan baju menghapus keringatnya di leher.
"Ha-ha-ha-ha, belum lecet kulitku, belum retak tulangku, bahkan belum keluar keringatku, siapa yang kalah! Ha-ha-ha!"
Thian-tok tertawa bergelak.
Hai-tok mengerutkan alis.
Memang benar, lawannya belum berkeringat di leher dan dahinya.
Dia lupa bahwa hal ini adalah karena lawannya memakai baju yang terbuka sehingga dada, leher dan perutnya telanjang, dan tentu saja tidak mudah berkeringat seperti dia yang berbaju rapat dan tebal.
"Hemm, manusia sombong! Kalau tidak kalah, kenapa mundur dan menghentikan perkelahian?"
Bentak Hai-tok sambil melintangkan tongkatnya.
"Aku hanya takut kalau-kalau senjata-senjataku ini rusak. Aku hendak menyimpan senjata-senjataku ini dan menantangmu untuk berkelahi dengan kedua tangan kosong.
"Kita dilahirkan hanya dengan kaki tangan, maka marilah kita lanjutkan dengan menggunakan kaki tangan saja untuk melihat siapa yang sesungguhnya lebih unggul. Atau, engkau takut bertangan kosong dan hendak menghadapi kedua tanganku dengan tongkat itu? Ha-ha-ha, begitupun aku berani!"
"Huh, gendut sombong jangan berlagak. Siapa takut padamu? Lihat, aku juga menyimpan tongkatku, dan mari kita bertanding dengan tangan kosong sampai selaksa jurus!"
Hai-tok menyerahkan tongkatnya kepada Song Kim yang menerimanya dengan membungkuk hormat.
Girang hati pemuda ini karena dia maklum bahwa dalam hal inipun dia lebih dipercaya oleh gurunya dari pada Kiki, sehingga tongkat pusaka itu dititipkan kepadanya!
Selamatlah dia karena gurunya tentu akan membelanya mati-matian.
Dia tadi sudah memungut pedangnya dan kini, di samping pedangnya, tongkat pusaka itu berada di tangannya.
Andaikata suhunya sampai kalah, dia dapat mempergunakan tongkat itu untuk mengamuk, diapun sudah pernah mempelajari Kim-kong-pang.
Kini dua orang Kakek itu, dengan tangan kosong, sudah saling menghampiri.
Tubuh mereka yang sama besarnya itu, termasuk kelas berat, bergerak maju perlahan-lahan seperti dua ekor gajah yang hendak berkelahi.
Tiga orang muda yang sejak tadi menjadi penonton, Kiki, Siu Coan, dan Song Kim, tidak berani bergerak untuk membantu, karena mereka sudah dilarang untuk mencampuri perkelahian tingkat tinggi itu.
Tentu saja, karena tidak boleh membantu, hati mereka menjadi penuh dengan ketegangan.
Terutama sekali hati Kiki.
Gadis ini merasa bingung dan diam-diam ia marah kepada Ayahnya.
Ayahnya sudah menyatakan persetujuannya kepada Siu Coan untuk membantunya membunuh Song Kim.
Bagaimana sekarang Ayahnya itu berbalik membela Song Kim?
Dan kini muncul guru Siu Coan yang membela Siu Coan sehingga berkelahi mati-matian dengan Ayahnya.
Tentu saja sukar baginya untuk berpihak lagi!
Kalau ia berpihak kepada Ayahnya, seperti kecondongan hatinya, berarti ia berpihak kepada Song Kim!
Dan ini tidak boleh terjadi!
Sebaliknya kalau ia berpihak kepada Siu Coan, berarti ia menghadapi Ayahnya sendiri sebagai musuh dan inipun tidak boleh terjadi!
Sementara itu, dua orang Kakek itu sudah saling serang.
Setelah tidak mempergunakan senjata, perkelahian itu menjadi semakin sengit, semakin seru dan ramai sekali.
Terdengar suara "Bak-bik-buk"
Ketika dua pasang lengan itu saling bertemu dan bertumbukan.
Dua tenaga sakti saling bertemu dan getarannya sampai terasa oleh tiga orang muda itu.
Namun, kedua orang Kakek itu memang memiliki kekebalan sehingga biarpun kadang-kadang ada pukulan yang sempat mampir ke tubuh, pukulan itu dapat mereka tahan dan mereka masih juga bertahan, belum ada yang roboh.
Keduanya mengerahkan tenaga dan juga mengerahkan kecepatan mereka, dan memang kedudukan mereka seimbang sehingga perkelahian itu berlarut-larut tanpa ada yang mendesak atau terdesak.
Saling gebuk, saling tendang, dan kalau dua tenaga raksasa itu bertemu dengan dahsyatnya, paling-paling keduanya hanya terdorong mundur, terhuyung-huyung, kemudian melangkah maju lagi sambil mendengus-dengus penuh kemarahan dan penasaran.
Bukan main lamanya perkelahian itu.
Setelah matahari condong ke barat, keduanya mulai kehabisan tenaga.
Hampir sehari penuh mereka berkelahi!
Dan mereka adalah Kakek-kakek yang usianya tujuh puluh tahun lebih.
Bahkan Thian-tok sendiri yang bajunya terbuka sekarang mandi keringat, demikian pula Hai-tok.
Keduanya sudah bermandi peluh sendiri, dan dari kepala mereka keluar uap putih membumbung ke atas, tanda bahwa tubuh mereka panas sekali.
Mereka kini agak terhuyung, kehabisan tenaga dan napas.
Dengan napas mereka semakin berat, sementara pukulan-pukulan mereka semakin kendur.
Bahkan kini mereka tidak berani lagi menendang karena salah-salah dapat terjengkang sendiri kalau menendang dengan sisa tenaga yang tinggal sedikit.
Kiki merasa kasihan kepada Ayahnya.
Ia tidak berpihak, akan tetapi tentu saja sebagai anak, ia khawatir kalau-kalau Ayahnya akan roboh bukan karena kalah, melainkan karena kehabisan tenaga dan napas, walapun keadaan Thian-tok tidak jauh bedanya.
Ia lalu berkata nyaring.
"Kenapa ji-wi seperti anak-anak kecil saja? Lihat, matahari pun bosan melihat ji-wi dan bersembunyi. Kenapa tidak berhenti dulu dan dilanjutkan kalau hari sudah terang kembali?"
Teriakannya percuma saja, karena dua orang Kakek itu dengan keras kepala dan keras hati masih saling gebuk walaupun gebukan mereka kini sudah hampir tak mengandung tenaga lagi, seperti saling tepuk saja.
"Locianpwe Thian-tok dan Ayah. Kalau kalian mau berhenti malam ini, aku akan memasakkan daging kijang yang enak untuk kalian, dan memasakkan air teh yang hangat dan harum."
Ucapan ini menolong.
Tiba-tiba saja dua orang Kakek itu mendengar betapa perut mereka berkeruyuk.
Leher mereka kering haus, dan mendengar penawaran Kiki itu, mulut mereka menjadi basah oleh air liur mereka.
Entah siapa yang lebih dulu memulai, tiba-tiba saja tubuh mereka merenggang dan saling menjauhi, dan keduanya menghadapi Kiki.
"Heh...heh... aku mendengar masakan daging kijang tadi? Mana?"
Kata Thian-tok.
"Teh hangat? Aih, aku haus sekali Kiki!"
Kata Hai-tok. Kiki memandang kepada dua orang Kakek itu bergantian.
"Kalau kalian mau berjanji malam ini tidak akan berkelahi, aku tentu akan menyediakan makanan dan minuman seperti yang kukatakan tadi, bahkan lebih banyak lagi."
Dua orang Kakek itu saling pandang dan agaknya mereka bimbang. Mau mengalah, merasa malu, diteruskan, sudah terlalu lelah.
"Bagaimana Thian-tok?"
Tanya Hai-tok. Thian-tok mengangguk cepat.
"Memang tidak enak bertanding dalam gelap. Besok bisa kita lanjutkan."
"Nah, sekarang kalian beristirahatlah, aku akan mempersiapkan makanan dan minuman,"
Kata Kiki dengan girang.
Karena tidak berani bermain curang, tiga orang muda itu lalu diam-diam turun tangan dan bekerja.
Tanpa diperintah, bukan untuk bermuka-muka melainkan karena melihat keperluannya, Song Kim lalu mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun, sedangkan Siu Coan pergi untuk mencari kijang atau kelinci.
Kiki sendiri sibuk mengumpulkan alat-alat dan bumbu masak.
Thian-tok mengeluarkan guci araknya dan menuangkan arak ke dalam mangkuk.
Melihat itu, Hai-tok menelan ludah.
Agaknya Thian-tok tahu akan hal ini, maka diapun setelah minum arak dari mangkuk, melemparkan gucinya kepada Hai-tok.
"Nah, kau minumlah dulu dari guciku, Hai-tok, sebelum anakmu selesai membuat air teh!"
Hai-tok menerima guci itu dan tanpa malu-malu lagi membuka tutupnya dan minum arak beberapa teguk, lalu melemparkan kembali guci itu, kepada pemiliknya.
Kini dua orang Kakek itu, di bawah penerangan sinar api unggun yang kemerahan, mulai memeriksa tubuh masing-masing.
Ada perasaan memar pada beberapa bagian tubuh yang terkena pukulan, dan mereka kini memeriksa kedua lengan mereka yang bengkak-bengkak dan matang biru.
Masing-masing mengeluarkan obat dan menggosok kedua lengan dan kaki dengan obat gosok.
Memang aneh sekali watak dua orang Kakek yang menjadi datuk sesat di antara Empat Racun Dunia ini.
Tidak ada kejahatan yang pantang mereka lakukan, namun karena kedudukan mereka yang tinggi, mereka itu merupakan orang-orang yang tidak mau melakukan hal-hal yang akan merendahkan nama mereka.
Seperti keadaan mereka sekarang itu.
Kini Thian-tok hanya tinggal sendirian saja.
Muridnya Siu Coan, pergi berburu binatang.
Dalam keadaan kehabisan tenaga seperti itu, kalau Hai-tok mau berlaku curang, tentu mudah baginya menyuruh Song Kim turun tangan membunuh Kakek itu.
Akan tetapi tidak, Hai-tok sama sekali tidak sudi melakukan kecurangan ini, bahkan andai kata muridnya itu berani berbuat curang, tentu dia sendiri yang akan menentangnya.
Padahal tadi, dalam perkelahian, mereka itu dengan sungguh-sungguh berusaha mencari kemenangan dan berusaha saling merobohkan atau bahkan saling membunuh!
Padahal, kalau tidak menghadapi sesama datuk sesat, andaikata menghadapi lawan dari lain golongan, dua orang datuk ini tidak segan-segan untuk melakukan segala macam tipu muslihat dan kecurangan!
Kiranya di antara mereka terdapat semacam kode etik atau persetujuan tanpa kata yang dipegang teguh di antara golongan mereka sendiri!
Tentu saja ini hanya dilakukan oleh mereka yang sudah menjadi datuk atau yang kedudukannya sudah tinggi, sehingga mereka perlu menjaga nama dan kehormatan mereka sebagai datuk.
Tak seorangpun akan percaya kalau diberitahu bahwa di antara dua orang Kakek itu terjadi perkelahian mati-matian kalau dia melihat betapa malam itu mereka berdua duduk bersama menghadapi api unggun sambil menikmati hidangan masakan yang dibuat oleh Kiki!
Kijang muda gemuk yang didapatkan Siu Coan, akhirnya habis semua dagingnya oleh mereka berlima!
Setelah makan minum dengan kenyang, dua orang Kakek itu menguap dan nampak betapa mereka mengantuk sekali, hampir tidak lagi dapat membuka kedua mata.
"Heh-heh-heh, enak sekali masakan anakmu, Hai-tok! Heh-heh-heh!"
Kata Thian-tok sambil mengelus-elus perutnya yang gendut. Hai-tok tersenyum.
"Dan senang sekali dapat berlatih silat denganmu. Aihh, sudah puluhan tahun aku tidak dapat berlatih seenak tadi. Engkau ini tua-tua masih hebat, aku kagum sekali. Akan tetapi tunggu saja sampai besok. Besok aku akan memaksa engkau bertekuk lutut di depan kakiku!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Thian-tok tertawa.
"Engkaulah yang tua-tua keladi, makin lama makin menjadi. Akan tetapi besok engkau tentu akan roboh dan tak dapat bangkit kembali!"
Keduanya masih ingin saling mengejek, akan tetapi karena kantuk yang hampir tak tertahankan, keduanya menguap berkali-kali dan merebahkan diri dekat api unggun yang hangat.
"Kalian tak boleh menyerang siapapun, tak boleh berkelahi. Urusan ini harus kami berdua yang menyelesaikan melalui perkelahian terakhir besok!"
Kata Hai-tok kepada murid dan puterinya.
"Siu Coan, jangan kau campuri urusanku ini. Tunggu sampai besok dan jangan kau melayani siapapun. Tahu?"
Thian-tok juga memesan muridnya.
Tiga orang muda itu hanya saling pandang.
Kehebatan perkelahian antara guru-guru mereka itu membuat urusan di antara mereka, pertentangan di antara mereka nampak kecil tak berarti.
Sebelum tiga orang muda itu menjawab, dua orang Kakek luar biasa itu sudah mendengkur dengan keras.
Bahkan dalam dengkur itu, mereka seperti berlumba untuk saling mengalahkan.
Demikian keras dengkur mereka sehingga banyak binatang hutan yang tidak berani mendekati tempat itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, begitu matahari menyinarkan cahayanya di permukaan bumi, dua orang Kakek itu sudah terbangun, mengulet dan tiba-tiba saja mereka teringat akan urusan mereka dan keduanya meloncat berdiri.
Mereka kembali mengulet dan merasa segar setelah malam tadi makan dan tidur sampai kenyang.
Akan tetapi harus mereka akui bahwa kedua lengan mereka masih terasa nyeri-nyeri dan seluruh tubuh mereka terasa linu dan pegal, tulang-tulang mereka seolah-olah tidak benar letaknya!
Melihat betapa dua orang Kakek itu nampaknya sudah siap lagi, Kiki yang tetap merasa khawatir itu berkata.
"Ayah, apakah kalian tidak mau sarapan dulu?"
"Ha-ha-ha, Hai-tok sungguh dimanja anaknya. Anak baik, kalau Ayahmu terlalu kenyang makan, tentu belum seratus jurus dia sudah roboh di depan kakiku, terlalu banyak makan, ha-ha-ha..."
"Tidak perlu sarapan, Kiki. Hei, Thian-tok, lihat di angkasa sudah ada tanda-tanda bahwa hari ini adalah hari kematian Thian-tok. Kematian sudah berada di depan mata dan engkau masih banyak berlagak?"
"Engkaulah yang akan mampus, ha-ha-ha. Mari kita lanjutkan perkelahian kemarin, Setan Lautan Pemakan Ikan."
"Iblis gendut, nanti kutendang pecah perutmu!"
Hai-tok juga memaki dan keduanya segera menghampiri lapangan rumput dimana kemarin mereka berkelahi. Dan di lain saat, sudah terdengar suara "Bk-bik-buk"
Ketika mereka sudah saling hantam dan saling tendang dengan penuh semangat.
Tenaga mereka masih utuh sekarang, walaupun badan masih terasa lelah.
Semalam mereka sudah mengatur siasat mencari akal bagaimana harus mengalahkan lawan, maka sekarang mereka mengerahkan tenaga dan menggunakan segala macam akal untuk mencapai kemenangan.
Seperti juga kemarin, Hai-tok memainkan ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu.
Ketika Thian-tok yang juga sudah mengatur akal semalam untuk mencari jalan untuk mengalahkan lawan menyerangnya dengan kedua tangan dibentuk seperti cakar-cakar naga, Tiba-tiba Hai-tok menangkis dan tubuhnya terpelanting, lalu rebah miring.
Tentu saja Thian-tok merasa girang, sekali dan secepat kilat dia membungkuk untuk mengirim serangan selanjutnya kepada lawan yang sudah roboh.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh yang miring itu bergerak seperti seekor ikan di dalam air, lalu membalik dan kakinya menendang ke arah lutut dan pusar Thian-tok!
Kiranya Hai-tok tadi hanya pura-pura saja jatuh, lalu menggunakan gerakan yang diambil dari gerakan ilmu di dalam air yang dikuasainya "berenang"
Dan melakukan tendangan tiba-tiba amat kuat. Thian-tok hanya mampu menyelamatkan lututnya, akan tetapi tendangan kedua yang mengarah ke pusarnya itu terpaksa diterimanya sambil mengerahkan sin-kang.
"Desss...!"
Thian-tok tidak terluka karena terlindungi hawa sin-kang, namun saking kerasnya tendangan, tubuhnya yang gendut itu terpental dan terbanting ke atas tanah dalam keadaan duduk.
"Ngeeek!"
Karena terbanting pantatnya, Kakek itu merasa nyeri juga dan menyeringai lebar untuk menutupi rasa nyerinya.
Dia sudah bangkit lagi ketika Hai-tok datang melakukan serangan dengan tubuh agak membungkuk seperti seekor kerbau menanduk, akan tetapi yang menjadi tanduknya adalah dua buah tangannya.
Melihat serangan yang aneh ini, Thian-tok tertawa akan tetapi juga siap dengan siasat yang diaturnya semalam.
Dia membiarkan lawan menyerang sampai dekat, dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke depan.
Dan genggaman tangan kirinya keluarlah tanah dan debu yang tadi dicengkeramnya dengan diam-diam ketika dia terjatuh.
Kini tanah berdebu yang dilempar dengan tenaga besar itu menyambar ke arah muka dan leher Hai-tok.
Tentu saja Hai-tok terkejut bukan main.
Terpaksa memejamkan mata untuk melindungi mata kemasukan dengan kedua tangannya cepat menubruk dengan cengkeraman ke depan.
Namun dia menubruk tempat kosong, dan sadar bahwa lawan menggunakan siasat, dia cepat membalik dan mengayun kedua tangan melindungi tubuh.
Akan tetapi kurang cepat.
Thian-tok tadi setelah menyambitkan debu, sudah meloncat dan dan atas dia menghantam ke arah tengkuk lawan.
"Plakkk!"
Pukulan itu tertangkis, akan tetapi karena agak terlambat, pukulan itu masih menyeleweng dan mengenai pundak kiri Hai-tok.
"Desss!"
Hai-tok sudah melindungi tubuhnya dengan kekebalan, akan tetapi kerasnya pukulan membuat dia terpelanting roboh!
Kakek itu memang lihai sekali, begitu roboh, kedua kakinya melakukan tendangan-tendangan berantai ke atas dan dengan kedua tangan menekan tanah sehingga Thian-tok tidak berani mendekat, dan Hai-tok mampu bangkit kembali dengan loncatan.
Mereka kini berdiri saling berhadapan lagi, dengan napas agak terengah dan kedua mata melotot.
Karena masing-masing sudah merasakan hantaman lawan, mereka mulai marah dan muka mereka menjadi kemerahan, sepasang mata mereka memancarkan sinar beringas!
Dua orang Kakek tua renta itu sudah saling berhadapan bagaikan dua ekor singa yang siap untuk saling terkam!
Tiga orang muda itu menonton seperti kemarin serasa tegang, karena mereka dapat menduga bahwa hari ini, tentu dua orang Kakek itu sudah mengambil keputusan untuk menang.
Perkelahian hari ini tentu mati-matian dan menentukan, apalagi karena tenaga mereka tentu tidak akan sekuat kemarin lagi.
Mungkin belum sampai siang, seorang di antara mereka akan roboh dan bisa juga tewas.
Hal ini membuat mereka (Lanjut ke
Jilid 40) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 40 merasa serba salah.
Membantu, berarti mereka melanggar larangan suhu mereka.
Tidak membantu, hati merasa tidak tega melihat betapa suhu masing-masing sudah nampak loyo dan repot.
Memang, kedua orang Kakek yang usianya sudah amat tinggi itu telah memeras tenaga di luar batas kemampuan tubuh mereka yang tua, sehingga kini mereka sudah mulai nampak kehabisan tenaga dan napas walaupun mereka baru berkelahi tiga-empat jam dan matahari belum naik terlalu tinggi.
Kini, dua orang Kakek itu tidak dapat mengerahkan sin-kang, tidak mampu bergerak cepat.
Gerakan mereka lambat sekali, namun setiap gerakan masih mengandung sin-kang yang kuat.
Pukulan-pukulan dilakukan lambat, namun penuh tenaga, demikian pula tangkisan.
Setiap pertemuan kedua lengan, baru nampak betapa hebatnya mereka mempergunakan tenaga sin-kang.
Sekitar mereka seolah-olah ikut tergetar apabila lengan mereka saling bertemu.
Selagi tiga orang muda itu kebingungan, tidak tahu apa yang harus mereka takukan, tiba-tiba terdengar suara halus namun nyaring.
"Omitohud, kalian seperti anak-anak nakal saja! Harap hentikan pertandingan itu, pinceng mau bicara!"
Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang hwesio tua yang bertubuh gendut seperti tubuh Thian-tok, dan tiga orang muda itu tentu saja mengenal Kakek ini yang bukan lain adalah Siauw-bin-hud!
Akan tetapi, dua orang Kakek yang sedang berkelahi itu tidak menghentikan perkelahian mereka.
Bukan mereka tidak mau mendengarkan dan menuruti permintaan Siauw-bin-hud, melainkan mereka tidak mungkin lagi dapat menghentikan perkelahian itu.
Gerakan-gerakan mereka yang lambat itu susul-menyusul dan apabila seorang di antara mereka mendahului lawan menghentikan serangan, besar bahayanya dia akan terkena pukulan yang akan mendatangkan akibat yang parah.
Melihat ini, Siauw-bin-hud diam-diam terkejut.
Tak disangkanya bahwa dua orang Kakek sesat ini berkelahi benar-benar, bahkan sudah berada di ambang maut karena keduanya sudah berada dalam keadaan mengadu nyawa.
Cepat dia mengeluarkan seruan halus.
"Omitohud!"
Dan tubuhnya menerjang ke depan di tengah-tengah antara kedua orang Kakek itu.
Siauw-bin-hud mengembangkan kedua lengannya ke kanan kiri, yang kanan menolak tangan Thian-tok, yang kiri menolak tangan Hai-tok.
"Desss...!"
Hebat bukan main pertemuan tenaga antara dua orang Kakek yang sedang berkelahi itu dengan tenaga Siauw-bin-hud yang menahan mereka.
Dua orang Kakek itu merasa betapa tenaga serangan mereka amblas ke dalam kelunakan yang membuat mereka merasa seperti terjatuh dari tempat tinggi sekali.
Mereka melawan karena terkejut, akan tetapi perlawanan mereka itu mengakibatkan mereka terlempar ke belakang sampai dua meter, sedangkan Siauw-bin-hud berdiri dengan tubuh agak bergoyang-goyang dan mukanya agak pucat.
Kakek Siauw-lim-pai ini baru saja terhimpit antara dua tenaga raksasa!
Dari sini saja dapat diketahui betapa hebatnya kepandaian Siauw-bin-hud, dan dua orang Kakek itupun harus mengakuinya.
Mereka bangkit berdiri dengan agak susah.
Thian-tok dibantu oleh Siu Coan dan Hai-tok dibantu oleh Song Kim yang cepat-cepat menghampiri gurunya.
"Siauw-bin-hud, kenapa engkau mencampuri urusan kami? Aku sudah hampir dapat membunuhi Setan Gendut itu tadi!"
Kata Hai-tok setelah dia dapat mengatur pernapasannya dan dia nampak penasaran.
"Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, Setan Lautan itulah yang tadi sudah hampir mampus. Eh, hwesio yang jahil, apakah engkau hendak pamer kepandaian maka engkau berani melerai kami?"
"Omitohud, sungguh heran sekali, malah kalian yang menegur pinceng!"
Siauw-bin-hud tertawa.
"Apakah itu tidak terbalik namanya? Sepatutnya, pinceng yang harus menegur kalian! Sepatutnya kalian, seperti pinceng, berprihatin melihat keadaan negara kita."
"Lihat, perjuangan rakyat menurun semangatnya, pemerintah penjajah Mancu menjadi semakin lemah tak tahu malu, menjuali bagian-bagian tanah kepada orang kulit putih, dan lihat... orang orang asing kulit putih itu kini menjadi semakin kuat, merajalela dan kekuasaan mereka semakin meluas.
"Dalam keadaan seperti ini, kalian bukannya bersatu untuk menyusun kekuatan menentang dan membela tanah air dan bangsa, malah kalian seperti anak-anak kecil saja yang memperebutkan kembang gula, saling pukul sampai loyo! Apakah kalian tidak malu? Omitohud, kalau kalian orang-orang tua tidak memberi contoh yang baik, apalagi yang dapat diharapkan dari yang muda-muda?"
"Ah, engkau tidak tahu apa yang tenjadi di antara kami!"
Hai-tok membentak, masih penasaran.
"Murid Thian-tok memukuli muridku, siapa yang tidak akan marah?"
"Maaf, locianpwe..."
Kata Siu Coan membela diri.
"Saya telah mendapat ijin locianpwe Tang Kok Bu untuk membantu puterinya, Ki-moi, mencari dan membunuh pengkhianat Lee Song Kim. Bahkan saya sudah diterima untuk menjadi calon suami Ki-moi. Akan tetapi ketika kami menghajar Lee Song Kim, muncul Tang-locianpwe menyerang saya."
"Nah, nah... apa itu tidak gila namanya? Melihat Siu Coan diserang oleh tua bangka ini, aku merasa ditantang!"
Thian-tok menyambung.
"Omitohud...!"
Siauw-bin-hud tertawa lebar.
"Heh-heh-heh, kiranya hanya urusan jodoh. Hai-tok, bagaimana pendapatmu tentang jodoh puterimu?"
"Aku belum pernah meresmikan perjodohan antara anakku dan Ong Siu Coan. Akan tetapi sekarang aku ingin menjodohkan anakku dengan Lee Song Kim!"
Kata Hai-tok.
"Ayah! Aku tidak sudi!!"
Kiki berteriak memandang ayahnya dengan mata terbelalak penuh penasaran dan kemarahan.
"Engkau harus mau!"
Kata ayahnya.
"Tidak, lebih baik aku mati saja dari pada menikah dengan dia!"
"Hemm, hendak membantah dan melawan orang tua? Kalau begitu matilah!"
Hai-tok menjadi marah dan mengambil tongkatnya, akan tetapi Siauw-bin-hud sudah di depannya sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, urusan perjodohan adalah urusan yang menggembirakan, kenapa harus mengakibatkan seorang ayah hendak membunuh puterinya? Hai-tok, sebenarnya yang ingin menikah itu engkau ataukah puterimu? Yang hendak memilih suami itu engkau ataukah puterimu?"
Mendengar pertanyaan ini, Thian-tok tertawa bergelak, dan muka Hai-tok berubah merah sekali.
Dia tahu bahwa pendeta tua itu tidak ingin mengejeknya, namun pertanyaan itu merupakan tikaman bagi hatinya karena dia memang seorang yang suka sekali kepada pemuda-pemuda tampan!
"Gila!
Tentu saja anakku!"
Bentaknya ketus.
"Nah, kalau anakmu yang mau berjodoh, kenapa tidak membiarkan ia memilihnya sendiri? ia yang akan menikah, ia pula yang berhak menentukan calon suaminya, bukan?"
Siauw-bin-hud berkata ramah dan sambil tersenyum. Hai-tok menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.
"Tidak, tidak akan baik jadinya kalau anak memilih sendiri. Harus orang tua yang memilihkan. Pandangan anak masih sempit dan hijau, hanya melihat ketampanan wajah seorang pemuda saja.
"Sebaliknya, pandangan orang tua lebih luas dan jauh jangKau annya, memperhitungkan masa depan anaknya. Tidak, Siauw-bin-hud, sekali ini engkau keliru. Pemilihan jodoh seorang anak perempuan harus di tentukan oleh orang tuanya."
"Heh-heh-heh, ini pandanganmu sebagai orang tua, bukan? Tentu saja begitu! Orang tua memilihkan calon jodoh anak perempuannya sesuai dengan pandangannya, sesuai dengan pandangannya terhadap calon mantu itu. Dan pinceng percaya bahwa orang tua yang memilihkan jodoh anaknya akan memperhitungkannya masak-masak untuk masa depan anaknya.
"Akan tetapi benarkah demikian? Bukankah si orang tua hanya memperhitungkan masa depan dirinya sendiri? Si orang tua hanya mencari kesenangan hatinya sendiri tanpa memperhitungkan perasaan anaknya? Dia boleh senang kepada calon mantu yang dipilihnya, akan tetapi bagaimana dengan anaknya? "Orang tua menganggap bahwa apa yang disukai tentu akan disukai pula oleh anaknya, benarkah pendapat ini? Ingat, Hai-tok, alam pikiran orang tua dan anaknya belum tentu sama, selera di antara mereka mungkin sekali berbeda."
Sejenak Hai-tok termenung, lalu membantah.
"Akan tetapi Siauw-bin-hud, pandangan seorang gadis muda masih terlalu dangkal dan hijau untuk dapat melakukan pemilihan yang tepat. Ia akan mudah terpikat dan terbujuk omongan manis, sikap yang manis, dan wajah yang gagah tampan. Apakah orang tuanya tidak akan ikut menyesal kelak kalau sampai ternyata kemudian pilihannya itu keliru?"
"Mungkin saja bisa keliru. Akan tetapi kekeliruan karena pilihan sendiri menjadi tanggung jawabnya sendiri, dan si anak yang akan mengalami segala akibatnya, bukan? Orang tua hanya menonton saja.
"Kalau seorang anak keliru memilih, kelak ia akan menyesali nasib dan diri sendiri yang salah pilih, tidak menyalahkan orang tua. Sebaliknya, kalau orang tua yang salah pilih, dia akan menjadi bulan-bulan penyesalan anaknya!"
Hai-tok mengerutkan alisnya dan memandangi kepada Hwesio tua itu.
"Siauw-bin-hud... engkau memang pandai bicara. Habis, apa yang harus dilakukan orang tua? Menurut saja kepada kehendak anak perempuannya, walaupun dia tahu bahwa pilihan anaknya itu keliru?"
"Ho-ho-ho, jangan menjebak omongan, Hai-tok. Apa yang harus dilakukan orang tua? Bukan orang yang baik namanya kalau membiarkan saja, acuh saja akan segala tindakan anak-anaknya.
"Orang tua harus memberi kebebasan kepada anaknya, akan tetapi bukan berarti lalu acuh dan tidak perduli. Orang tua mengamati saja dari belakang, dan kalau melihat kenyataan bahwa tindakan anaknya keliru, orang tua berkewajiban untuk mengingatkannya, menasihatinya.
"Akan tetapi bukan berarti lalu orang tua memaksa anaknya untuk mentaati segala kehendaknya, menerima segala pilihan yang dilakukan orang tua untuk anaknya. Apalagi dalam hal memilih jodoh."
"Mungkin ada benarnya ucapanmu itu, Siauw-bin-hud. Akan tetapi kenyataannya, kuanggap Lee Song Kim ini seorang murid dan calon mantu yang baik sekali."
"Ha-ha-ha-ha!"
Thian-tok tertawa bergelak.
"Baik apanya? Karena ulahnya, kita berdua hampir mati konyol, Hai-tok! Dan para pimpinan pejuang hampir mati konyol semua! Dan Kau masih memujinya sebagai murid dan calon mantu yang baik? Heh-heh-heh!"
"Thian-tok, engkau lah yang mendurhakai golongan kita! Coba ingat baik baik, apa jadinya dengan murid-muridmu sendiri? Apa jadinya dengan murid Tee-tok dan San-tok? Huh, mereka semua menjadi orang-orang yang meninggalkan golongan kita, condong untuk menjadi pendekar dan menentang golongan kita! "Huh, lupakah engkau siapa dirimu, siapa kita, siapa Empat Racun Dunia yang namanya pernah menggemparkan jagad? Hanya muridku seorang inilah yang masih aseli! Dia melakukan apa saja yang hebat, yang tidak kalah oleh tindakan kita! "Segala kecurangan dan tipu muslihat itu menunjukkan bahwa dia cerdik dan patut menjadi murid Hai-tok! Dia melakukan semua itu karena ada tujuan yang besar, bukan sekedar main gagah-gagahan! Aku suka padanya dan dia patut menjadi muridku, bahkan patut menjadi mantuku atau puteraku sekalipun!"
Dibantah seperti itu, Thian-tok tak mampu bantah lagi.
Memang, tadinya diapun merasa bangga akan tinglah laku Koan Jit, muridnya yang pertama, yang dalam hal kejahatan tidak kalah oleh Empat Racun Dunia sendiri!
Akan tetapi muridnya itu akhirnya tewas sebagai seorang pendekar!
Dan Siu Coan inipun tidak begitu menonjol dalam hal kejahatan seperti suhengnya.
Apalagi Gan Seng Bu yang mati muda karena tergila-gila kepada seorang wanita kulit putih!
"Ha-ha-ha, sesukamulah Hai-tok, itu urusan pribadimu, aku tidak mau turut campur.
Asal engkau tidak mengganggu muridku, akupun tidak perduli,"
Akhirnya Thian-tok berkata dengan sikap acuh.
"Omitohud...!"
Siauw-bin-hud juga tertawa kini.
"Bukankah amat mudahnya melenyapkan permusuhan dan lebih enak hidup damai antara manusia! Hai-tok, urusan jodoh adalah urusan anak, hal itu sudah Kau akui kebenarannya. Nah, urusan perjodohan anakmu juga serahkan saja kepadanya sendiri. Biarkan ia yang memilih calon suaminya."
"Aku memilih Ong Siu Coan!"
Tiba-tiba Kiki berseru.
Sebetulnya, hati Kiki hanya satu kali saja pernah tertarik kepada pria, yaitu kepada Tan Ci Kong.
Akan tetapi karena dara inipun tahu bahwa Ci Kong dicinta banyak gadis lain, dan melihat betapa Siu Coan yang mendekatinya, iapun menentukan pilihannya kepada Siu Coan, seorang pemuda yang dianggapnya memiliki cita-cita besar sekali.
Hai-tok cemberut.
Untuk menentang anaknya, dia merasa malu kepada Thian-tok dan Siauw-bin-hud.
Maka sambil bersungut-sungut dia menyumpah.
"Anak tolol! Kalau engkau tidak mau berjodoh dengan Song Kim pilihanku, biarlah engkau tak usah kembali ke Pulau Naga dan jangan anggap aku sebagai ayahmu lagi!"
Kiki adalah seorang anak yang sejak kecil dimanja dan memang wataknya keras dan bandel sekali. Mendengar ucapan ayahnya itu, ia memandang ayahnya dan berkata.
"Kata ayah sendiri bahwa anak harus mentaati perintah orang tua. Nah, sekarangpun aku akan mentaati perintah ayah, aku tidak akan pulang ke Pulau Naga."
"Ha-ha-ha!"
Thian-tok tertawa bergelak sampai perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang.
"Bagus, bagus! Ini namanya Hai-tok rugi kehilangan anak perempuan, akan tetapi aku untung mendapatkan seorang mantu perempuan, ha-ha-ha!"
Siauw-bin-hud melihat betapa sepasang mata Hai-tok mencorong marah, maka diapun cepat berkata sambil tertawa.
"Siapa bilang Hai-tok rugi? Dia boleh jadi kehilangan anak perempuan, akan tetapi dia mendapatkan seorang anak laki-laki sebagai penggantinya."
Mendengar ini, wajah Hai-tok berseri dan diapun tertawa.
"Ha-ha-ha... orang bilang bahwa anak perempuan itu hanya mendatangkan kesialan belaka, sebaliknya anak laki-laki mendatangkan bahagia. Thian-tok memperoleh seorang anak perempuan, dan aku mendapatkan seorang anak laki-laki, biarlah semua kesialan akan menimpa Thian-tok dan semua kebahagiaan menjadi bagianku. Mulai detik ini, Song Kim kuangkat menjadi puteraku."
Song Kim yang amat cerdik itu, begitu mendengar ucapan Suhunya seperti itu, tanpa membuang waktu lagi dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hai-tok, memberi hormat dan berkata.
"Ayah...!"
Dan Hai-tok menerima penghormatan itu sambil tersenyum girang. Dengan berkerut, Kiki melangkah maju.
"Song Kim, di antara kita masih ada perhitungan yang belum kita bereskan! Bangkitlah dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa tanpa ada campur tangan orang lain! Aku tantang Kau , dan kalau engkau tidak berani menerima tantanganku, berarti engkau hanya seorang laki-laki pengecut dan hina, rendah dan tak tahu malu!"
Song Kim memang cerdik.
Tadi dia sudah melihat gerakan-gerakan Kiki, dan dia maklum bahwa sumoinya itu telah memperoleh ilmu lain yang membuat sumoinya dapat bergerak amat cepatnya.
Mungkin sekarang dia tidak akan mampu mengalahkan sumoinya, maka setelah selesai memberi penghormatan ke ayah angkatnya, diapun bangkit berdiri tanpa menjauhi ayahnya dan berkata dengan halus.
"Sumoi, apakah sebabnya engkau menantangku? Perhitungan apakah yang ada di antara kita?"
"Keparat! Engkau masih pura-pura tidak tahu dan berani bertanya lagi? Lupakah engkau akan apa yang Kau lakukan terhadap diriku ketika aku berangkat meninggalkan Pulau Layar? Engkau menyerangku di dalam perahu dan dengan curang merobohkan aku. Kemudian engkau ... engkau berusaha untuk memperkosaku!"
Song Kim tertawa, meniru suara ketawa guru atau ayah angkatnya yang jarang tertawa itu.
"Hemm, sumoi... hal itu hanya membuktikan bahwa aku jauh lebih cerdik dan pada engkau , sehingga engkau dapat kutundukkan di dalam perahu. Akan tetapi, tidak ada alasannya sama sekali bagimu untuk membalas dendam kepadaku, karena bukankah engkau belum ternodai."
"Jahanam! Kalau sudah ternoda, lebih baik aku mati!"
Teriak Kiki marah. Hai-tok berkata, nada suaranya tegas kepada Kiki.
"Kiki, kalau engkau sudah ternoda oleh Song Kim, engkau harus menjadi isterinya. Kalau belum ternoda, sudahlah... tidak ada urusan lagi antara engkau dan dia."
Melihat betapa ayahnya selalu membela Song Kim, Kiki menjadi marah sekali, akan tetapi ia menghadapi ayahnya, walaupun ia tidak diakui lagi, tetap saja ia tidak berani melawan ayahnya yang juga menjadi gurunya.
Mukanya menjadi merah dan ia tidak tahu apakah ia harus marah-marah ataukah menangis.
Melihat ini, Siu Coan cepat maju dan berkata dengan suara lantang.
"Sungguh penasaran sekali kalau dosa-dosa yang dilakukan Lee Song Kim dibiarkan begitu saja! Semua urusan pribadi boleh kita lupakan. Akan tetapi kita tidak sepantasnya melupakan bahwa dia telah menjadi pengkhianat dan telah menangkap para pimpinan pejuang! Dia telah menjadi musuh para pejuang, maka kita semua akan menjadi pengkhianat pula kalau membiarkan saja dia berkeliaran!"
"Dia tidak selamanya menjadi pengkhianat!"
Hai-tok cepat membela.
"Orang yang cerdik selalu bertindak menurut angin yang menguntungkan. Sekarang tidak mungkin lagi bagi dia untuk bekerja sama dengan pemerintah Mancu atau orang kulit putih, berarti dia sekarang menjadi sekutu pejuang."
Siauw-bin-hud tertawa lagi. Dia tidak menghendaki terjadi perpecahan antara mereka yang diharapkan akan dapat membantu gerakan para pejuang.
"Omitohud... di dunia ini, manakah ada yang baik selamanya? Baik dan buruk sudah menjadi pakaian manusia, menguasai diri manusia seperti siang dan malam. Perbuatan-perbuatan yang lalu, yang dianggap jahat dan buruk penuh dosa, dapat saja ditebus dengan perbuatan baik.
"Ingatlah kepada Koan Jit. Kurang bagaimana dia? Akan tetapi pada saat terakhir, dia menjadi seorang patriot, seorang pahlawan yang dikagumi semua orang. Kalau Lee Song Kim dapat berbuat seperti Koan Jit, bukankah orang akan melupakan semua perbuatannya yang lalu dan mengaguminya pula."
Mendengar ini, Siu Coan tidak dapat membantah lagi.
Harus diakui kebenaran ucapan kakek gundul itu.
Suhengnya, Koan Jit, memang merupakan pengkhianat yang jauh lebih besar dibandingkan Song Kim, akan tetapi setelah pada saat kehidupannya yang terakhir, Koan Jit melakukan perbuatan gagah berani, berkorban nyawa demi perjuangan.
Orang mengaguminya dan melupakan semua dosanya yang lalu.
Thian-tok juga tidak berani membuka mulut, hanya menyeringai saja karena diapun merasa akan kebenaran omongan Siauw-bin-hud.
Dia sebagai guru Koan Jit, tentu saja tidak dapat mencela Song Kim sebagai seorang pengkhianat seperti yang dilakukan oleh Siu Coan.
"Ha-ha-ha, memang tua bangka Siauw-bin-hud memiliki pandangan yang amat luas. Kita semua harus menerima pendapatnya itu, dan sudahlah... aku tidak mau memperpanjang urusan lagi. Siu Coan dan Kiki, sebaiknya kalian melanjutkan perjalanan dan buang saja pikiran kalian untuk membunuh Song Kim! Kini dia telah menjadi putera Hai-tok. Kita menjadi anggauta keluarga besar pejuang."
"Suhu, teecu hendak melanjutkan niat teecu untuk membentuk pasukan besar,"
Kata Siu Coan.
"Dan aku akan membantunya!"
Kata pula Kiki.
"Ha-ha-ha, berangkatlah, muridku, jangan kecewakan harapan gurumu. Engkau harus menjadi pejuang nomor satu di dunia ini, ha-ha-ha!"
Kata Thian-tok.
Mereka lalu bubaran.
Siu Coan bersama Kiki, Song Kim pergi mengikuti Hai-tok, dan yang tinggal di situ kini hanyalah Thian-tok dan Siauw-bin-hud.
Dua orang kakek yang sebaya, dengan bentuk tubuh dan muka yang mirip sekali seperti dua orang kembar namun dalam keadaan yang amat berbeda, karena yang seorang adalah pendeta Siauw-lim-pai yang terkenal sebagai seorang pertapa yang hidup bersih, sebaliknya Thian-tok adalah seorang di antara Empat Racun Dunia yang paling jahat!
Keduanya sama sakti, juga sama-sama suka tertawa gembira.
Kini mereka berdiri berhadapan dan saling pandang sambil menyeringai lebar.
"Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, kalau sekali ini engkau tidak muncul, entah akan bagaimana jadinya dengan Hai-tok dan aku. Mungkin kami berdua sudah mampus sekarang. Engkau ternyata dapat memperpanjang usiaku entah beberapa tahun lagi!"
Kata Thian-tok.
"Bagaimana engkau begini kebetulan dapat muncul di sini?"
Siauw-bin-hud tertawa.
"Aha... masih belum tahukah engkau , Thian-tok? Thian sendirilah yang membawa pinceng sampai di sini dan melerai kalian yang sedang berkelahi."
"Haiii, jangan bohong engkau , Hwesio tua! Bagaimana Thian dapat membawamu ke sini? Apakah engkau digendongnya? Ha-ha-ha!"
Biarpun wajahnya masih penuh senyum berseri, Siauw-bin-hud menjawab.
"Thian-tok, coba rasakan, apakah jantungmu masih berdenyut?"
Thian-tok terkejut, dan sambil mengerutkan alisnya dia memperhatikan. Dan memang jantungnya masih berdenyut! Untung sekali. Dia tadi sudah terkejut setengah mati mendengar ucapan Siauw-bin-hud itu.
"Coba Kau hentikan sebentar saja. Dapatkah?"
"Ha-ha-ha, apakah engkau telah menjadi gila, Siauw-bin-hud? Bagaimana mungkin menghentikan denyut jantung? Kalau berhenti berdenyut, berarti aku sudah mampus!"
"Nah, engkau mengakui juga, bukan? Kalau Tuhan menghendaki, sekarang juga denyut jantung kita terhenti dan kita mati. Namun Tuhan menghendaki bahwa engkau masih hidup, kita masih hidup.
"Mengertikah engkau sekarang bahwa kedatanganku ini juga dikehendaki oleh Tuhan? Segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan, karena kita hidup inipun atas kehendak Tuhan."
"Ha-ha-ha, engkau memang pandai membujuk, Siauw-bin-hud. Aku tidak pernah memikirkan tentang Tuhan, melainkan melihat kenyataan. Engkau dapat datang ke sini, sebetulnya hendak kemanakah?"
Dia berhenti sebentar dan memandang tajam menghentikan tawanya.
"Bukankah selama ini engkau hanya bertapa saja? Mengapa sekarang keluyuran sampai di sini. mau apakah engkau ?"
"Omitohud..."
Siauw-bin-hud menarik napas panjang.
"Kehendak Tuhan pun terjadilah! Pinceng mendengar akan keadaan yang makin memburuk di negeri kita. dua kekuasaan besar yaitu pemerintah Mancu dan orang-orang kulit putih bagaikan dua ekor anjing kelaparan yang hendak memperebutkan tanah air kita.
"Tanah air kita mungkin akan tercabik-cabik oleh dua kekuasaan itu, dan yang menyedihkan, gerakan para pejuang kini menjadi semakin lemah. Karena itulah pinceng keluar dan ingin menganjurkan para pejuang untuk bergerak lagi lebih bersemangat. Kalau bukan kita sendiri yang bergerak, sampai kapankah bangsa dan tanah air kita terbebas dan cengkeraman penjajah?"
Thian-tok tertawa.
"Jangan engkau khawatir, Siauw-bin-hud. Tidak lama lagi akan muncul sebuah angkatan perang yang amat kuat, dengan balatentara yang besar, dipimpin oleh seorang gagah yang kelak akan mengusir penjajah dan bangsa asing lainnya dari tanah air."
"Omitohud, alangkah baiknya kalau ramalanmu itu benar. Siapakah orangnya yang akan mampu melakukan itu?"
"Bukan lain adalah muridku tadi... Ong Siu Coan!"
"Omitohud... pinceng melihat dia sebagai seorang muda yang penuh cita-cita. Mudah-mudahan harapanmu terkabul, Thian-tok. Nah, sekarang pinceng hendak melanjutkan perjalanan dan engkau pun usahakanlah agar dapat menghubungi para patriot di seluruh tanah air untuk membantu perjuangan."
Dua orang kakek ini saling berpisah meninggalkan tempat itu yang kini berubah sunyi sekali.
Sunyi bukan berarti kesepian, melainkan sunyi yang hening.
Keheningan mendatangkan kedamaian.
Keheningan menonjolkan kekuasaan alam, dan keheningan baru mungkin muncul kalau batin tidak dibebani oleh bermacam keinginan.
Kalau airnya keruh, takkan nampak apa-apa kecuali yang berada di permukaan saja.
Akan tetapi kalau airnya jernih, akan nampaklah segala rahasia dan keindahan sampai ke dasarnya.
Thian-te-pang merupakan sebuah perkumpulan orang gagah yang kini menjadi semakin besar semenjak mereka ikut terjun dalam perjuangan karena banyak orang muda perkasa yang tertarik dan masuk menjadi anggauta dan murid Thian-te-pang.
Pusatnya berada di lereng bukit Kijang Putih di Propinsi Hunan, di sebelah utara kota Kanton.
Seperti kita ketahui, perkumpulan ini pernah dikuasai oleh Ong Siu Coan.
Ketika ketua Thian-te-pang yang bernama Ma Ki Sun melihat betapa kekuasaan Ong Siu Coan makin besar, dia lalu minta bantuan para tokoh kang-ouw yang perkasa untuk merebut kembali kedudukannya.
Dan melihat betapa di situ hadir banyak tokoh besar di dunia persilatan, dengan cerdik Siu Coan lalu mengundurkan diri sehingga tidak terjadi bentrok antara dia dan Ma Ki Sun.
Pada hari itu, tempat yang menjadi pusat Thian-te-pang nampak ramai, penuh dengan para anggauta Thian-te-pang.
Ada dua ratus orang lebih anggauta Thian-te-pang kini, merupakan orang-orang muda yang rata-rata gagah perkasa dan bertubuh kuat.
Pada pagi hari itu, Ma Ki Sun memang memanggil seluruh anggauta untuk berkumpul di situ.
Di sebuah lapangan rumput yang amat luas di lereng bukit Kijang Putih, mereka sudah berkumpul.
Di tengah lapangan rumput itu terdapat sebuah tiang bambu yang tinggi dan di ujungnya berkibar bendera Thian-te-pang yang bergambar tanda Im dan Yang, yaitu bulatan dimana terdapat bagian yang hitam dan putih saling melingkar.
Itulah tanda perkumpulan ini, dan tanda inipun terdapat di baju semua orang anggauta, terlukis di dada baju mereka.
Setelah dua ratus lebih orang itu berkumpul, keadaan menjadi bising karena mereka semua saling bercakap, seperti dalam pasar saja.
Dan memang mereka membicarakan panggilan berkumpul ini, karena mereka semua tahu belaka bahwa sang ketua memanggil untuk memecahkan masalah yang timbul di antara mereka.
Ada sebagian yang dengan penuh semangat ingin melanjutkan perjuangan, akan tetapi sebagian pula yang terbanyak, merasa malas dan tidak bersemangat tetapi setelah kini perjuangan pada umumnya mengendur.
Banyak sudah korban jatuh di antara para pejuang, namun sampai sekian lamanya, tetap saja pemerintah Mancu bertahan, bahkan kini orang-orang kulit putih makin memperlebar sayap mereka dan bekerja sama dengan pemerintah.
Karena perbedaan paham, tentu saja terjadi pertentangan di antara mereka sendiri, dan kini Ma Ki Sun, yang menjadi pang-cu (ketua) mereka, memanggil semua anggauta untuk berkumpul pada pagi hari itu.
Baru setelah ketua Thian-te-pang muncul, kegaduhan itu berhenti dan suasananya menjadi sunyi karena semua orang memperhatikan sang ketua yang memasuki lapangan rumput itu.
Ma Ki Sun kini sudah berusia enam puluh enam tahun, tubuhnya kini menjadi agak gemuk, tidak sekurus dahulu.
Mata kirinya yang buta membuat dia kelihatan lebih berwibawa, dengan pakaiannya yang juga memakai tanda gambar lambang perkumpulannya.
Wajahnya nampak sekali membayangkan wataknya yang angkuh dan keras, dan memang Ma Ki Sun ini seorang yang keras hati, dengan julukan It-gan Lam-eng (Pendekar Selatan Bermata Satu).
"Para anggauta dan murid sekalian, dengarkan apa yang akan kukatakan kepada kalian!"
Terdengar suara lantang sang ketua setelah dia meloncat naik ke atas panggung yang memang dipasang di bawah tiang bendera.
Karena dia berada di atas panggung yang cukup tinggi, semua orang anggauta dapat melihat ketua mereka dengan jelas.
"Kalian semua tahu sudah..."
Sambung ketua itu yang dapat dikatakan bicara di depan para muridnya atau anak buahnya.
"Perjuangan telah mengendur dan kedudukan kita sebagai pejuang semakin lama semakin lemah, sehingga kalau kita maju, sama saja dengan membunuh diri. Perjuangan adalah gerakan rakyat seluruhnya.
"Kalau yang lain mengendur dan mundur, tentu saja tidak mungkin bagi kita untuk maju sendiri dan mengorbankan nyawa dengan sia-sia belaka. Balatentara Ceng terlampau kuat, apalagi kini mereka diperkuat dengan senjata api, dan mereka bersahabat dengan orang-orang kulit putih.
"Kita lawan mereka!!"
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari para anggauta yang bersemangat.
Banyak di antara mereka yang telah kehilangan keluarga atau kehilangan sahabat karib yang gugur dalam peluangan, maka bagi mereka kini lebih condong kepada persoalan pribadi yang mendendam dan pada persoalan perjuangan.
"Ya... bunuh semua orang kulit putih!"
Teriak seseorang yang diikuti oleh banyak orang yaitu mereka yang merasa dendam kepada orang kulit putih karena keluarga mereka menjadi korban senjata api pasukan kulit putih.
Keadaan menjadi lebih gaduh dan pada tadi, karena ada pula orang-orang yang berteriak mendukung sang ketua.
Kegaduhan itu tentu akan makin menjadi dan bukan tidak mungkin mereka akan berkelahi satu sama lain kalau saja sang ketua tidak cepat mengangkat kedua tangan ke atas sambil mengerahkan khi-kang dan membentak nyaring.
"Semua diam...! Kuminta semua tenang...!"
Bagaikan dikomando saja, semua orang berdiam diri dan kegaduhan lenyap seketika, membuat suasana menjadi lengang dan aneh rasanya.
Setelah melihat keadaan menjadi tenang, Ma Ki Sun mengeluarkan suaranya lagi, kini terdengar ketus dan marah.
"Kalian bersikap seolah-olah segerombolan serigala liar yang tidak ada pemimpinnya lagi! Lihatlah aku! Bukankah aku ketua kalian, guru kalian? Akulah yang berhak mengambil keputusan dan menentukan langkah perkumpulan kita. Nah, sekarang dengarkan dan taati saja dan jangan membuat ribut!"
Setelah melihat semua orang tidak ada yang berani mengeluarkan suara, Ma Ki Sun melanjutkan kata-katanya.
"Seperti kukatakan tadi, para pejuang kini mengendur semangat mereka. Bukan kita yang mengendur, namun mereka. Dan kita harus bersikap cerdik, tidak bunuh diri mati konyol! Bukan berarti kita berhenti dan menentang perjuangan, melainkan berhenti dulu dan tidak melakukan hal-hal yang akan mencelakakan diri sendiri.
"Kita mulai sekarang tidak boleh memusuhi pemerintah atau orang kulit putih, kita melihat keadaan saja. Kalau kelak perjuangan menjadi lagi, barulah kita akan bergerak kembali!"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring melengking.
"Ma Ki Sun telah menjadi seorang pengecut! Tidak pantas dia menjadi ketua Thian-te-pang yang gagah perkasa..."
Semua orang terkejut, apalagi setelah melihat berkelebatnya dua bayangan orang, dan ketika semua orang memandang ke arah melesatnya dua bayangan itu, tahu-tahu di atas panggung telah berdiri dua orang muda, seorang laki-laki dan seorang perempuan, berhadapan dengan Ma Ki Sun!
Semua orang terkejut, apalagi ketika mengenal bahwa pemuda itu adalah Ong Siu Coan yang telah mereka kenal dengan baik!
Dan gadis itu amat cantik manis dan gagah sekali sikapnya.
Sebelum Ma Ki Sun yang terkejut bukan main melihat munculnya Ong Siu Coan itu sempat menegurnya, Siu Coan sudah memandang ke arah bendera yang berkibar di puncak tiang dan berkata, suaranya tetap nyaring seperti tadi sehingga terdengar oleh semua anggauta yang berdiri mengurung di bawah panggung.
"Aiihh, sungguh sayang sekali bendera Thian-te-pang yang demikian agung itu hari ini harus tercemar oleh sikap ketuanya yang pengecut. Sebaliknya, bendera itu ku selamatkan saja dari tangan seorang pengecut. Ki-moi, tolong Kau ambikan bendera itu!"
"Baik, Toako!"
Kata Kiki.
Dan gadis itu dengan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah mencelat ke atas, membuat salto dan setiap kali berjungkir balik, tubuhnya melayang semakin tinggi, tangannya menyentuh tiang dan membuat salto lagi sampai akhirnya ia tiba di puncak tiang.
Tangannya kini meraih gagang bendera dan sekali cabut, bendera itu telah berada di tangannya.
Lalu dengan gerakan indah, dengan salto tiga kali, tubuhnya meluncur turun membawa bendera yang berkibar, dan dengan ringan kedua kakinya hinggap di atas papan panggung pula.
Menyaksikan pertunjukan demonstrasi gin-kang yang demikian hebatnya, banyak anggauta Thian-te-pang tak dapat menahan kekaguman mereka dan mereka bertepuk tangan memuji, bahkan ketua Ma Ki Sun sendiri memandang bengong.
Harus diakuinya bahwa gadis itu memiliki gin-kang yang amat luar biasa, dan belum pernah dia melihat orang mampu melakukan hal seperti itu.
Akan tetapi melihat kemunculan bekas saingannya itu, mendengar kata-kata Siu Coan, kemudian melihat bendera pusaka perkumpulannya dirampas orang, tentu saja Ma-pangcu menjadi marah bukan main.
"Ong Siu Coan! Apa maksudmu dengan kedatanganmu kali ini, dan dengan kata-katamu yang lancang bahkan berani merampas bendera kami. Engkau sudah menghina Thian-te-pang?"
Siu Coan tertawa, sengaja tertawa keras agar terdengar oleh semua anggauta.
"Ha-ha-ha! Ma Ki Sun! Aku tadi hanya kebetulan saja lewat bersama tunanganku, dan aku tidak akan mencampuri seandainya tidak mendengar kata-katamu tadi. Engkau sendiri menyelewengkan para anggauta Thiau-tepang yang gagah perkasa dan patriotik! "Engkau hendak menyeret mereka dan pejuang-pejuang gagah perkasa menjadi pengecut-pengecut dan pengkhianat-pengkhianat yang hina. Tentu saja aku tidak rela! Kalau engkau tidak lagi mampu memimpin saudara-saudara yang gagah ini, biarlah aku yang memimpinnya mulai detik ini!"
"Ong Siu Coan! Engkau lah yang pengkhianat besar! Siapa tidak tahu bahwa engkau pernah menjadi kaki tangan orang kulit putih?"
Bentak Ma Ki Sun, khawatir sekali karena sikap pemuda ini dapat menarik simpati para muridnya, seperti dahulu.
"Ha-ha-ha... kata-katamu itu menunjukkan bahwa engkau memang tolol! Pengetahuanmu dangkal sekali dan orang macam engkau ini akan memimpin Thian-te-pang? Phuhh! Akan dibawa kemana perkumpulan besar ini? "Aku memang menyelundup ke dalam kalangan orang kulit putih, bukan untuk berkhianat seperti engkau , melainkan untuk mempelajari keadaan mereka! Nah, buktinya sekarang aku berada di luar dan menentang mereka, bukan?"
"Ong Siu Coan, jangan engkau mencampuri urusan Thian-te-pang. Engkau bukan orang kami, pergilah sebelum aku menyuruh semua anak buahku untuk menangkap atau membunuh kalian berdua, dan kembalikan bendera kami!"
Kembali Siu Coan tertawa.
"Ha-ha-ha, apakah engkau tidak melihat bahwa sebagian besar dari para saudara Thian-te-pang setuju dengan aku dan mereka berpihak kepadaku? Andaikata ada sebagian yang berjiwa pengecut sepertimu dan memihak padamu, apa yang akan dapat mereka lakukan? Lihat, tempat ini sudah terkepung!"
Siu Coan mengeluarkan suara melengking dan nampaklah puluhan orang yang memakai pakaian seragam indah biru putih, dan mereka itu semua menodongkan anak panah dan gendewa yang sudah dipentang, bahkan di antara mereka ada pula yang menodongkan senapan atau pistol!
Sikap puluhan orang itu gagah sekali, pakaian mereka yang seragampun indah!
Mereka adalah anak buah Siu Coan yang memang telah dipersiapkan lebih dahulu.
Tentu saja Ma Ki Sun terkejut sekali, dan para anggauta Thian-te-pang juga terkejut dan gentar.
"Ha-ha-ha, Ma Ki Sun. Sebelum orang-orang yang berpihak denganmu bergerak, dada mereka akan ditembusi anak panah atau peluru panas! Saudara-saudara anggauta Thian-te-pang semua yang tercinta. Lihatlah baik-baik... bukankah saudara-saudaramu yang kini menjadi pembantuku memiliki perlengkapan yang lebih baik? Kalian akan menjadi seperti mereka kalau mau memilih aku menjadi ketua!"
"Hidup pendekar Ong Siu Coan!"
"Hidup Ong-pangcu...!"
Teriakan-teriakan ini yang menyebut Siu Coan sebagai ketua Ong membuat Ma Ki Sun marah bukan main.
"Bangsat Ong Siu Coan! Engkau baru bisa menjadi ketua setelah aku roboh tak bernyawa!"
"Ah, begitukah? Kalau begitu, mari kuantar engkau ke neraka!"
Kata Ong Siu Coan sambil tersenyum mengejek. Pada saat itu, nampak seorang laki-laki melompat naik ke atas panggung.
"Suhu, biar teecu yang menghadapi penjahat ini!"
Bentaknya, dan orang itu bukan lain adalah Lui Siok Ek, murid kepala Thian-te-pang, murid yang paling pandai dari Ma Ki Sun.
Lui Siok Ek usianya sudah hampir enam puluh tahun, tubuhnya agak pendek namun matanya mencorong penuh semangat.
Siu Coan memandang rendah.
"Ha-ha, kalian berdua majulah, biar kubereskan sekaligus!"
Akan tetapi, Ma Ki Sun yang biarpun maklum bahwa ilmu silat Siu Coan amat lihai, tidak mau merendahkan diri.
"Kami bukan golongan pengecut yang suka melakukan pengeroyokan!"
Dia berkata dengan suara lantang agar didengar oleh para muridnya.
"Toako, biar aku yang menghajar tikus ini!"
Kata Kiki sambil menyerahkan bendera yang tadi diambilnya dari puncak tiang.
Sambil tertawa, Siu Coan menerima bendera itu, lalu berdiri di pinggir panggung melihat Kiki yang menghadapi lawannya.
Seperti juga Suhunya, Lui Siok Ek sudah mengenal Siu Coan dan sudah tahu akan kelihaian Siu Coan.
Bahkan mendiang Coa Bhok yang lihai, wakil ketua Thian-te-pang, sute dari Ma Ki Sun, roboh oleh Siu Coan.
Akan tetapi Lui Siok Ek yang setia kepada gurunya, tidak perduli akan bahaya dan dia sudah maju mewakili Suhunya.
Kini, melihat bahwa yang menghadapinya bukan Siu Coan, melainkan gadis cantik itu, hatinya merasa agak lega.
Biarpun gadis itu tadi memperlihatkan ilmu gin-kang yang luar biasa, dia tidak merasa gentar seperti kalau harus melawan Siu Coan, dan dia sudah sudah mencabut pedangnya.
"Singgg...!"
Nampak sinar berkilau ketika pedang itu dicabutnya dan diputar-putarnya di atas kepala membentuk gulungan sinar pedang.
Kiki menghadapi Lui Siok Ek sambil tersenyum mengejek.
Ia tidak mengeluarkan pedangnya, melainkan menghadapi lawan itu dengan tangan kosong, karena begitu melihat gerakan pedang lawan, walaupun ia tahu bahwa lawannya cukup tangguh, namun ia merasa kuat untuk menandinginya.
"Majulah!"
Katanya sambil tersenyum.
"Apa perlunya Kau memutar-mutar pedang itu? Di sini tidak ada anak kecil untuk ditakut-takuti!"
Diejek seperti itu, tentu saja Lui Siok Ek menjadi marah.
Dia adalah jagoan nomor satu di antara semua murid dan anggauta Thian-te-pang, dan kini gadis yang masih ingusan ini mengatakan bahwa pedangnya hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil.
Akan tetapi dia adalah seorang gagah, tentu saja merasa malu kalau harus menyerang seorang gadis muda sekali itu dengan pedang sedangkan lawannya bertangan kosong.
"Bocah sombong, jangan banyak tingkah. Keluarkan senjatamu dan tandingi aku!"
Kiki memperlebar senyumnya. Tahi lalat di pipinya membuat senyumnya nampak manis sekali, akan tetapi ucapannya menyengat perasaan lawan.
"Aku tidak biasa mempergunakan senjata terhadap lawan yang tidak ternama. Majulah dan pergunakan pedangmu, kedua tanganku sudah cukup untuk menghadapi pisau dapurmu itu."
Muka Lui Siok Ek menjadi semakin merah, matanya melotot.
Tidak saja dia diejek sebagai lawan yang tidak ternama, akan tetapi sekarang pedangnya malah dikatakan pisau dapur!
Padahal, dengan pedangnya ini, entah sudah berapa puluh lawan roboh olehnya.
"Perempuan lancang mulut! Aku adalah Lui Siok Ek, murid nomor satu di Thian-te-pang, dan kalau engkau tidak pandai menggunakan senjata, biarlah kuIawan engkau dengan tangan kosong pula!"
Dia lalu menyimpan pedang ke dalam sarung pedangnya dan memasang kuda-kuda dengan sikap gagah di depan Kiki.
Mula-mula kedua kakinya terpentang lebar, tangan kiri membentuk cakar ke atas kepala, tangan kanan ditekuk di depan pusar, kemudian perlahan-lahan namun dengan sikap tegap dan dua kakinya membuat gerakan melingkar dan kedua lengannya juga membuat silang-silang di depan dada, kemudian kembali kepada posisi semula, akan tetapi kini lebih dekat di depan Kiki.
Gadis ini melihat semua itu sambil tersenyum geli.
"Hanya murid?"
Kiki tertawa sambil menutup mulutnya dengan lagak mengejek sekali.
"Sayang, muridku tidak kubawa, kalau ada dia, tentu akan kusuruh dia melawanmu."
"Cerewet! Bersiaplah dan mari kita bertanding, bukan hanya berkicau!"
Bentak Lui Siok Ek marah.
"Kau kira sejak tadi aku mengapa? Aku sudah siap sebelum engkau menjual lagak. Nah, seranglah!"
Kata Kiki, akan tetapi tubuhnya tidak membuat gerakan apa-apa, tidak memasang kuda-kuda seperti umumnya orang hendak berkelahi atau bersilat.
Kiki berdiri begitu saja seenaknya, bahkan tangan kirinya bertolak pinggang dan sikapnya acuh, Seolah-olah ia tidak sedang menghadapi seorang lawan yang siap menyerangnya, melainkan sedang bercakap-cakap dengan seorang sahabat yang akrab.
Di antara para anggauta Thian-te-pang yang tentu saja merasa kagum kepada nona yang cantik manis dan menarik perhatian dengan demonstrasinya mengambil bendera tadi, diam-diam merasa khawatir sekali.
Mereka ini mengenal Lui Siok Ek, murid kepala yang mewakili ketua Thian-te-pang mengajarkan ilmu silat kepada mereka, mengenal betapa lihainya orang pendek itu, dan betapa kadang-kadang kalau marah Lui Siok Ek amat galak dan dapat bertindak keras dan kejam, mereka tahu bahwa saat itu Lui Siok Ek amat marah!
Dugaan mereka memang benar.
Mendengar ejekan dan melihat sikap yang memandang rendah kepadanya, dia tidak mampu lagi menahan kesabarannya.
"Perempuan sombong, lihat seranganku!"
Berkata demikian, Lui Siok Ek menggerakkan tubuhnya, Tangan kiri menyambar dari atas, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala gadis itu seperti cakar garuda, sedangkan tangan kanannya membarengi serangan pertama mengirim totokan ke arah lambung Kiki!
Serangan itu hebat sekali, sekaligus kedua tangan menyerang dan keduanya sama bahayanya, dapat mendatangkan maut.
Melihat serangan yang hebat ini, banyak orang merasa ngeri.
Namun, Kiki masih tetap tersenyum dan masih berdiri seenaknya, seolah-olah tidak mengenal datangnya bahaya maut.
Akan tetapi, setelah kedua tangan lawan tiba dekat, tangan kirinya yang tadi bertolak pinggang, tiba-tiba mencuat ke atas dan jari tangannya yang kecil mungil menyambut datangnya cengkeraman itu dengan totokan ke arah pergelangan tangan, sedangkan tangan kanannya dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, telah meluncur ke depan.
Kedua jari telunjuk dan tengah sudah menusuk ke arah mata lawan, sedangkan totokan tangan lawan dielakkannya dengan menggoyang pinggulnya sehingga lambung yang ditotok berpindah tempat!
Gerakannya cepat bukan main sehingga Lui Siok Ek mengeluarkan seruan kaget sekali.
Bukan hanya lengan kirinya terancam totokan, akan tetapi juga sepasang matanya bisa menjadi buta kalau terkena tusukan dua jari tangan itu!
Terpaksa dia lalu menarik kembali tangan kirinya dan melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari bahaya, akan tetapi dia harus berjungkir balik sampai dua kali untuk menghindarkan serangan susulan lawan.
Ketika dia sudah berdiri lagi dalam jarak yang agak jauh, ternyata gadis itu sama sekali tidak mengejarnya, dan masih berdiri seperti tadi, seenaknya dengan tangan kiri bertolak pinggang dan mulut tersenyum.
"Heii...! Engkau ini hendak bertanding ataukah mau main sirkus!"
Kiki mengejek.
"Baru segebrakan saja sudah mau melarikan diri!"
Lui Siok Ek tidak menjawab, melainkan mengeluarkan suara menggereng marah dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, Langsung mengirim pukulan-pukulan keras bertubi-tubi, seolah-olah lupa bahwa yang diserangnya secara hebat itu hanyalah seorang gadis muda.
Akan tetapi Kiki memperlihatkan kelihaiannya.
Gin-kangnya sudah menjadi hebat bukan main semenjak ia mewarisi Ilmu Hui-thian Yan-cu dari kitab peninggalan Tat Mo Couwsu, dan kini dengan enak saja ia berlompatan ke sana sini, menggeser kaki dan tidak pernah menangkis, melainkan hanya mengelak namun tidak ada sebuahpun pukulan yang dapat mengenai sasaran, bahkan menyentuh ujung pakaiannyapun tidak.
Papan panggung itu sampai mengeluarkan bunyi berkeretakan ketika Lui Siok Ek terus mendesak dengan serangan-serangan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.
Makin lama, semakin hebat pula serangannya karena ia semakin penasaran melihat betapa semua serangannya mengenai tempat kosong belaka.
Mereka berputar-putar di panggung itu, Kiki masih tersenyum-senyum sambil melangkah mundur, meloncat ke samping, kadang-kadang tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya hingga lawan menjadi bingung, dan ketika lawan membalikkan tubuh, ternyata ia sudah berada di depannya.
Semua mengikuti pertandingan ini dengan hati tegang dan kagum, kadang-kadang ada saja murid Thian-te-pang yang tidak dapat menahan ketawanya melihat betapa Lui Siok Ek kebingungan karena kehilangan lawan yang tiba-tiba saja lenyap dari depannya dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya!
Setelah puas mempermainkan lawan, tiba-tiba terdengar suara gadis itu membentak nyaring.
"Berlututlah Kau !"
Semua orang terbelalak karena melihat benar-benar Lui Siok Ek menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu!
Sihirkah ini?
Akan tetapi bagi Lui Siok Ek, sama sekali bukan sihir, karena ujung sepatu Kiki mencium lututnya dan tentu saja kakinya menjadi lemas seketika dan tertekuk lututnya di depan gadis itu.
Lututnya tidak terluka, hanya lumpuh untuk beberapa detik saja.
Hal ini membuat Siok Ek semakin marah.
Dicabutnya pedang dari sarung, dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah melakukan serangan maut dengan pedangnya, kini tidak perduli lagi bahwa gadis itu sama sekali tidak memegang senjata.
Semua menahan napas, ngeri membayangkan betapa tubuh gadis itu akan koyak-koyak dan darah akan muncrat dari tubuh yang menggairahkan itu.
Akan tetapi, biarpun kini Lui Siok Ek mempergunakan pedang untuk menyerang bertubi-tubi dengan cepat, ujung pedangnya tak pernah mampu menyentuh kulit badan Kiki.
Gadis ini mampu bergerak lebih cepat lagi, mengelak ke sana sini bagaikan sehelai bulu yang bergerak menghindar seperti tertiup oleh angin gerakan pedang, sehingga tubuh itu sudah mengelak sebelum tusukan atau bacokan tiba!
Dan karena pedang itu gerakannya cepat, sedangkan gerakan Kiki lebih cepat lagi, maka tubuh gadis itu lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara gulungan sinar pedang.
Sungguh merupakan pemandangan yang mentakjubkan dan terdengar seruan-seruan kaget dan kagum.
Sekarang Kiki tidak mau membuang waktu dengan main-main lagi.
Juga harus diakuinya bahwa permainan pedang lawan cukup berbahaya, maka iapun mengeluarkan kepandaiannya.
Ketika terdengar ia mengeluarkan bentakan nyaring, tahu-tahu jari tangannya telah berhasil menotok pundak kanan lawan.
Seketika Iumpuh lengan kanan Siok Ek dan pedang yang dipegangnya sudah berpindah tangan.
Sebelum dia dapat mengelak, kaki Kiki sudah menendangnya dengan keras.
"Dukkk...!"
Tubuh Siok Ek terlempar sampai hampir terpelanting ke bawah panggung.
Dia tidak terluka, dan kemarahan membuat mukanya berubah pucat.
Dia telah dikalahkan oleh seorang gadis muda di depan gurunya dan semua anggauta Thian-te-pang.
Rasa malu membuat kemarahannya memuncak dan menggelapkan pikirannya.
Sambil berteriak seperti gila, dia bangkit dan lari menerjang Kiki dengan gerakan buas, tidak terkendali kesadarannya lagi, melainkan penuh dengan dorongan kemarahan yang membuatnya mata gelap.
"Aughhhhhh!"
Dia menerjang dan teriakan yang keluar dari mulutnya seperti gerengan seekor binatang buas. Melihat ini, Kiki meloncat dengan elakan manis.
"Lui Siok Ek, engkau sudah kalah, kenapa nekat?"
Bentak Kiki.
Kiki sekarang tidak main-main dan suaranya penuh wibawa ketika ia membentak dari sudut lain panggung itu.
Akan tetapi, ketika tubrukannya luput, Siok Ek menjadi semakin beringas.
Teriakan Kiki tidak dijawabnya, dan ia lari untuk menyerang lagi.
Melihat ini, Kiki menggerakkan tangannya dan pedang rampasannya itu meluncur dengan cepat sekali menyambut tubuh Siok Ek yang sedang lari menerjang dengan buasnya.
"Capp! Arrgghhhh...!"
Pedang itu menancap dan menembus dari dada ke punggung.
Mata Siok Ek terbelalak dan tubuhnya terhuyung-huyung lalu terjungkal keluar dan panggung, tewas di bawah panggung.
Mayatnya segera dibawa keluar oleh para anggauta Thian-te-pang.
"Keparat Ong Sui Coan!"
Kini Ma Ki Sun menjadi marah sekali.
Marah dan berduka, karena murid yang paling diandalkan itu tewas.
Begitu membentak, dia menyerang Siu Coan, tangan kiri berusaha merampas bendera, tangan kanan mencengkeram ke arah leher.
Siu Coan cepat mengelak.
Berkali-kali dia harus mengelak karena lawannya menyerang secara bertubi-tubi.
Dia lalu meloncat ke dekat Kiki dan menyerahkan bendera itu kepada gadis yang kini memegang bendera dan berdiri di sudut.
Setelah menyerahkan bendera itu kepada Kiki, Siu Coan menghadapi lawannya, dan begitu dia diserang dengan pukulan tangan kanan ke arah perutnya, dia menangkis dan balas menyerang, dan kini serang menyerang terjadi dengan amat serunya.
Perkelahian sekali ini berbeda dengan tadi.
Tingkat kepandaian Lui Siok Coan jauh sekali berada di bawah tingkat kepandaian Kiki, sehingga perkelahian tadi terjadi berat sebelah dan Kiki dapat memperoleh kemenangan dengan mudah sekali.
Akan tetapi, Ma Ki Sun tidak boleh disamakan dengan murid kepala tadi.
Tingkat kepandaiannya lebih dari dua kali lipat tingkat Siok Ek.
Kakek ini pernah menggemparkan dunia persilatan dengan julukan It-gan Lam-eng.
Hampir dua tahun yang lalu, Ma Ki Sun pernah dikalahkan oleh Siu Coan ketika pemuda ini berhasil membunuh Coa Bhok, wakil ketua Thian-te-pang.
Dan semenjak kekalahannya itu, Ma Ki Sun menjadi pendiam dan dia memperdalam ilmu silatnya.
Kini, dia telah memperoleh banyak kemajuan, dan walaupun dia belum dapat mengimbangi kehebatan Siu Coan, setidaknya dia sudah merupakan lawan yang cukup tangguh bagi pemuda itu.
Tadinya Siu Coan tidak termaksud merampas Thian-te-pang dengan kekerasan, tidak harus membunuh para pemimpinnya, cukup dengan menaklukkannya saja.
Akan tetapi, diapun tidak menyalahkan Kiki yang telah membunuh Siok Ek, karena orang itu terlalu mendesak.
Sekarang setelah Siok Ek terbunuh, mau tidak mau dia harus membunuh pula Ma Ki Sun.
Hal ini untuk melenyapkan orang yang menaruh dendam.
Dia tahu bahwa Thian-te-pang yang berkuasa hanyalah dua orang itu, dan kalau mereka terbunuh, tentu yang lain akan menakluk.
Apalagi dia tadi melihat bahwa banyak di antara para anggauta yang berpihak kepadanya.
Maka ketika Ma Ki Sun menyerangnya dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, diapun menyambut dengan serangan yang tak kalah lihainya.
dua orang itu berkelahi dengan sungguh-sungguh, akan tetapi setelah lewat lima puluh jurus, Ma Ki Sun mulai terdesak hebat oleh Siu Coan.
Bagaimanapun juga, Ma Ki Sun sudah berusia enam puluh tahun lebih sedangkan Siu Coan adalah seorang pemuda yang sedang kuat-kuatnya.
Ketua Thian-te-pang itu kalah dalam segala-galanya, kalah lihai ilmu silatnya, kalah kuat tenaganya dan juga kalah panjang napasnya.
Setelah lewat lima puluh jurus, ketua itu terdesak dan hanya mampu menangkis dan mengelak saja.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Siu Coan yang terus mendesaknya, dan pada suatu kesempatan yang baik, Siu Coan berhasil memasukkan tangannya yang terbuka dan miring menghantam dada lawan.
"Bukkk!"
Tubuh itu terjengkang.
Ma Ki Sun tewas seketika karena pukulan tangan yang ampuh tadi telah merusak isi dada termasuk jantungnya.
Pukulan itu menggetarkan isi dada, juga mengandung hawa panas yang sukar ditahan.
Para anggauta yang berpihak kepada Ma Ki Sun kelihatan marah dan beringas, akan tetapi Siu Coan cepat mengangkat bendera yang diambilnya dari tangan Kiki tinggi-tinggi di atas kepalanya sambil berseru keras.
"Semua anggauta Thian-te-pang, pandanglah bendera kita ini!"
Siu Coan mengibar-ngibarkan bendera itu.
"Ma-pangcu telah tewas dalam perkelahian yang adil, dan kini akulah yang akan memimpin kalian, membawa Thian-te-pang kembali ke jalan gagah perkasa seperti yang kita semua kehendaki. Aku akan membentuk pasukan besar dan kalian akan memperoleh kedudukan yang sesuai dengan kemampuan kalian. Thian-te-pang akan menjadi perkumpulan terbesar dunia, dan kita akan menumbangkan kekuasaan penjajah dan mengusir orang-orang kulit putih dari tanah air."
Mereka yang berpihak kepada Siu Coan, bersorak-sorak, sedangkan mereka yang masih ragu-ragu, saling pandang.
Mereka ini maklum bahwa kalau mereka memberontak, akhirnya mereka semuanya akan terbasmi.
Anak buah Siu Coan telah mengepung mereka dengan anak panah dan senjata api!
"Saudara-saudara yang merasa tidak cocok dan tidak mau bekerja sama dengan kami, tidak dipaksa dan dipersilahkan meninggalkan Thian-te-pang.
Kami tidak akan mengganggu asalkan kalian juga tidak (Lanjut ke
Jilid 41) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)
Jilid 41 mengganggu Thian-te-pang.
Akan tetapi ingat, kalian akan ketinggalan kalau tidak mau bekerja sama dengan kami, karena Thian-te-pang kelak akan menjadi perkumpulan para pejuang terbesar di tanah air."
Akhirnya, hanya belasan orang saja yang meninggalkan Thian-te-pang, dan para anggauta yang lain menerima Siu Coan sebagai ketua mereka yang baru!
Dengan cerdiknya, Siu Coan lalu membagi-bagikan harta peninggalan Ma Ki Sun yang tidak berkeluarga itu kepada para anggauta Thian-te-pang.
Dia sendiri tidak membutuhkan harta yang baginya tidak berapa artinya itu, dibandingkan dengan harta karun yang diperolehnya di tempat rahasia, harta karun yang menjadi rahasia Giok-liong-kiam.
Demikianlah, bersama Kiki yang selalu mendampinginya, Siu Coan mulai menyusun kekuatan.
Banyak perkumpulan yang didatangi dan ditaklukkan, baik secara halus maupun kasar, untuk bergabung dengannya dan memperkuat pasukan yang sedang disusunnya.
Untuk ini, tentu saja dia mengeluarkan banyak biaya, akan tetapi hal itu dapat dicukupkan dengan adanya harta karun Giok-liong-kiam.
Kita tinggalkan dulu Ong Siu Coan yang berambisi besar dan kini sedang memperlebar sayapnya, dan mari kita ikuti perjalanan Lian Hong.
Lian Hong yang patah hati, Lian Hong yang merana karena cintanya gagal!
Kenapa begitu banyak manusia di dunia ini yang merasa patah hati, yang berduka karena cinta?
Mengapa cinta kasih kita ini hanya mendatangkan kebahagiaan sebentar, lalu berubah menjadi kekecewaan dan kedukaan?
Mengapa?
Pertanyaan ini amat penting untuk diselidiki, dan yang dapat melakukan penyelidikan secara tepat hanyalah mereka yang terlanda derita patah hati atau karena cinta gagal ini.
Kenapa cinta harus gagal?
Kata "Gagal"
Ini saja sudah menunjukkan habisnya suatu "Keinginan", dan karena keinginan itu tidak tercapai maka dinamakan gagal.
Akan tetapi, haruskah cinta berdampingan dengan suatu keinginan?
Biasanya, kalau orang jatuh cinta, maka dia ingin agar orang yang dicintanya itu membalas cintanya, kemudian menjadi miliknya!
Kalau sudah begini, tentu saja timbul kemungkinan lain, yaitu kegagalan!
Dan segala macam bentuk pengejaran untuk memenuhi apa yang diinginkan, selalu membuahkan kebosanan dan kekecewaan kalau gagal.
Siapakah yang memiliki keinginan itu?
Aku!
Bagaimana terciptanya aku?
Karena kesenangan, pengalaman yang menyenangkan bersarang di dalam ingatan, akan muncullah keinginan untuk mengulang kesenangan itu kembali.
Aku adalah keinginan untuk senang, aku adalah takut untuk mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.
Aku dan keinginan tidak pernah terpisah, karena kalau tidak ada keinginan, tidak ada rasa takut, akupun tidak pernah ada.
Kita sendiri yang membuat cinta kasih menjadi sesuatu yang menyenangkan, menjadi suatu alat untuk menyenangkan diri sendiri.
Inilah sebabnya mengapa banyak terjadi kedukaan dalam cinta.
Padahal, cinta yang mendatangkan duka itu bukan lagi cinta namanya, melainkan kesenangan.
Kita kehilangan sumber kesenangan itu, maka kecewalah kita, dukalah kita.
Kuburan itu sunyi sekali.
Malam itu terang bulan.
Dunia nampak indah bukan main bermandikan cahaya bulan purnama.
Segala sesuatu nampak keemasan dan kehijauan.
Tiada awan menghalang bulan.
Keindahan yang penuh rahasia, keindahan yang membuat setiap orang kalau keluar rumah menjadi termenung.
Namun Lian Hong tidak melihat keindahan itu.
Ia sedang tenggelam ke dalam kedukaan, tenggelam ke dalam lautan air mata.
Ia sedang menangis di depan kuburan orang tuanya!
Duka adalah hasil permainan pikiran yang mengingat-ingat hal yang telah lalu.
Seperti rasa takut yang menjadi permainan pikiran mengingat dan membayangkan hal yang belum datang, duka juga merupakan permainan pikiran belaka.
Pikiran mengingat-ingat dan mengunyah kembali keadaan yang lalu, menimbulkan iba diri dan pikiran membayangkan betapa sengsaranya diri.
Pikiran seperti mengubah diri menjadi tangan jari-jari kejam meremas hati, maka keluarlah tangis dan keluh kesah.
Demikian pula dengan keadaan Lian Hong yang kini berlutut di depan makam ayah ibunya sambil menangis.
Gadis ini sejak kecil digembleng oleh orang sakti dan memiliki batin yang kuat, gagah dan biasanya pantang untuk menangis.
Biarpun ia seorang wanita, namun berkat gemblengan San-tok yang sakti dan aneh, ia telah menjadi seorang gadis yang menganggap bahwa tangis hanya merupakan tanda kelemahan saja.
Akan tetapi sekali ini, ia menangis sesenggukan di depan makam ayahnya.
Pikirannya melayang-layang membayangkan keadaan dirinya yang penuh sengsara.
Sejak kecil ditinggalkan mati ayah ibunya, dan sekarang ia kehilangan Ci Kong, satu-satunya orang di dunia ini yang dicintanya setengah mati!
Ci Kong ternyata mencinta gadis lain!
Ia merasa kehilangan, ia merasa kesepian!
Beginilah cinta kita pada umumnya.
Aku yang penting, bukan si dia!
Aku kehilangan, aku kesepian, tentu saja aku kecewa, aku berduka.
Ini berarti bahwa aku hanya menyayang diriku sendiri!
Sudah sejak siang tadi Lian Hong merenungi keadaan dirinya di depan kuburan ayah ibunya, kadang-kadang menangis, kadang-kadang hanya duduk diam seperti patung.
Diraihnya kini buntalannya yang hanya berisi beberapa potong pakaian, dan ketika dibukanya, nampak sebatang pedang yang amat indah di dalamnya.
Dikeluarkannya pedang itu.
Giok-liong-kiam!
Pedang Naga Kemala yang pernah menggegerkan seluruh tokoh persilatan yang hendak memperebutkannya.
Sebuah pedang pusaka yang dijadikan rebutan karena menyembunyikan pusaka harta karun yang tak terhitung besarnya.
Akan tetapi kini harta karun itu telah lenyap, peti yang ditemukan atas petunjuk yang ada pada pedang itu telah kosong, isinya telah diambil orang lain.
Yang ada tinggal pedang itu.
Ia berhak memiliki pedang pusaka itu.
Dan kini Lian Hong memegang pedang itu dengan kedua tangannya.
Sebatang pedang indah yang sudah seringkali dikaguminya.
Ia seringkali kalau memandangi dan mengagumi pedang itu, membayangkan betapa ia akan memberikan pedang itu kepada suaminya, kepada Ci Kong kalau sudah menjadi suaminya!
Akan tetapi sekarang harapannya musnah, yang ada tinggal pedang itu yang berkilauan di depannya, seperti mentertawakannya, seperti mengejeknya.
Tiba-tiba timbul suatu dorongan hasrat gila.
Lian Hong memegang gagang pedang dengan tangan kanannya.
Pedang ini terbuat dan batu kemala yang mahal dan indah, tak pernah dipakai untuk bertanding karena ia khawatir pedang itu akan rusak.
Namun, kalau dipakai membunuh diri tentu bisa!
"Ihhh!
Pengecut!"
Lian Hong memaki diri sendiri, dan cepat-cepat ia memasukkan pedang pusaka itu kembali ke dalam sarung pedang dan memegangi benda itu dengan kedua tangannya.
Bayangan yang sejak tadi mengintainya dari jauh dari balik sebatang pohon besar itu, tiba-tiba muncul dan terdengar suaranya menegur.
"Hong Hong... apakah engkau sudah menjadi gila?"
Lian Hong terkejut dan cepat mengangkat muka.
Dilihatnya seorang kakek kurus dengan baju tambal-tambalan, matanya sipit tersenyum-senyum lebar sambil mengipasi tubuhnya dengan sebuah kipas butut, telah berdiri di dekat makam ayah ibunya.
"Suhu!"
Lian Hong berseru dan kembali kedukaannya datang menerpanya, sehingga ia menubruk kaki gurunya sambil menangis lagi.
"Eh, eh... apakah engkau benar sudah gila? Sejak tadi menangis, termenung, bahkan mau membunuh diri!"
Kakek itu memandang kepada muridnya dengan terheran-heran.
Dia mengenal muridnya sebagai seorang gadis yang keras hati, tabah dan pantang menangis, dan sekarang apa yang dilihatnya?
Seorang gadis yang cengeng dan lemah sekali!
"Suhu...
ah, Suhu...
bunuh saja aku...
aku tidak kuat rasanya menanggung derita batin ini!"
Lian Hong menangis sambil merangkul kedua kaki gurunya.
"Bangkitlah, duduklah yang benar!"
Tiba-tiba kakek itu membentak dan diapun duduk di atas rumput di depan makam, berhadapan dengan muridnya.
Sinar bulan purnama menyinari wajah muridnya yang pucat kehijauan, dan semakin kagetlah hati kakek itu.
Akan tetapi sekali ini dia tidak tersenyum melainkan mengerutkan alis dan suaranyapun terdengar bengis.
"Apa yang kulihat dan dengar ini? Benarkah engkau ini Lian Hong muridku? Ataukah hanya seorang gadis lemah yang cengeng? "Hong Hong, aku gurumu, juga pengganti orang tuamu yang sudah di kubur di sini. Kalau ada sesuatu, rundingkanlah dengan aku, bukan ditangisi seperti perempuan cengeng di depan kuburan orang tuamu.
"Apa Kau kira orang tuamu yang sudah dikubur ini akan dapat menolongmu kalau engkau menghadapi kesulitan? Hayo ceritakan, apa yang membuat engkau menjadi seperti orang gila ini?"
Mendengar suara gurunya, Lian Hong terkejut dan hal ini menolongnya.
Gurunya selalu bicara sambil tertawa dan seperti orang yang tidak pernah bersikap serius, akan tetapi sekali ini Suhunya demikian ketus dan bengis.
Hal ini mengejutkannya dan seperti menyeretnya turun kembali ke dalam dunia kenyataan, bukan dunia yang penuh bayangan yang membuatnya iba diri dan berduka tadi.
Teringatlah ia betapa ia menangis secara keterlaluan sejak sore tadi dan iapun melihat kenyataan betapa cengengnya ia, betapa biasanya ia akan memandang rendah sikap cengeng seperti itu.
Iapun sadar dan mengambil keputusan untuk berterus terang kepada gurunya yang memang benar menjadi pengganti orang tuanya karena ia tidak mempunyai siapapun lagi di dunia ini.
Maka iapun duduk berhadapan dengan Suhunya, menahan isak terakhir dan menghapus titik air terakhir di sudut matanya dengan lengan bajunya yang sudah basah.
"Suhu, aku telah jatuh cinta..."
"Ha-ha-ha-ha!"
Meledaklah suara ketawa kakek itu.
Mendengar suara dan pengakuan muridnya, mengertilah San-tok bahwa muridnya sudah sembuh dan hatinya merasa lega, juga dia merasa geli mendengar pengakuan itu sehingga suara ketawanya memotong keterangan muridnya.
"Jatuh cinta saja sampai membuat engkau menangis dan berduka. Bukankah sepatutnya engkau tertawa gembira?"
Lalu dia menambahkan cepat.
"Siapakah pria yang beruntung memperoleh cintamu itu?"
"Dia Tan Ci Kong..."
"Ha-ha-ha!"
Kembali meledak suara ketawa kakek itu.
"Cocok, cocok... memang akupun ingin sekali engkau berjodoh dengan murid Siauw-bin-hud itu. Dia memang seorang pemuda yang gagah dan patut menjadi suamimu. Akan tetapi... eh, kenapa tadi engkau menangis dan ingin mati, padahal engkau jatuh cinta kepada Ci Kong?"
"Dia... dia mencinta gadis lain, Suhu..."
Sedih sekali rasa hati Lian Hong, akan tetapi sekarang ia telah sadar dan kuat sehingga tidak lagi menangisi walaupun mulutnya cemberut menandakan kekesalan hatinya.
Kali ini San-tok yang meloncat ke atas, berdiri sambil melototkan matanya yang sipit dan membanting-banting kaki.
"Apa Kau bilang? Dia berani menolak cintamu? Keparat!"
"Dia tidak menolak, Suhu."
"Lebih gila lagi! Dia cinta padamu, akan tetapi berani mencinta lain perempuan?"
"Tidak, Suhu, tidak begitu..."
"Dia mencintamu, bukan?"
"Aku tidak tahu..."
"Ehhh? Engkau cinta padanya, dan engkau belum tahu apakah dia cinta padamu ataukah tidak? Sungguh aneh dan gila. Coba kuulangi... engkau mencinta Ci Kong akan tetapi engkau tidak tahu apakah dia cinta padamu atau tidak, kemudian engkau mengetahui bahwa dia mencinta gadis lain dan hatimu lalu menjadi sengsara dan engkau menangis di sini. Begitukah?"
Lian Hong menganggukkan kepalanya.
Setelah kini gurunya membicarakan urusan itu dengan suara datar saja tanpa perasaan, nampak olehnya betapa sikapnya memang mendekati gila.
Mengapa urusan begitu saja membuat ia tadi menangis seperti anak kecil, bahkan ingin membunuh diri?
Tiba-tiba kakek itu berkata dengan suara lantang.
"Kenapa engkau begini bodoh? Pergi dan bunuh perempuan yang dicintanya itu!"
Lian Hong tidak kaget mendengar ini. Ia sendiri pernah mendatangi Ceng Hiang dan ingin membunuhnya! Memang tidak ada lain jalan, tentu demikianlah sikap gurunya. Ia menggeleng kepalanya.
"Wanita itu tidak bersalah, Suhu... dan iapun belum tentu mencinta Ci Kong, dan pula, aku tidak sanggup mengalahkannya."
San-tok membelalakkan matanya mendengar bahwa wanita yang dicinta Ci Kong itu sedemikian lihainya sehingga Lian Hong tidak mampu mengalahkannya!
"Wah, kalau begini katakan dimana ia, aku yang akan membunuhnya!"
Namun Lian Hong menggeleng kepala.
"Tidak guru, aku tidak ingin demikian. Apa artinya membunuhnya kalau Ci Kong tetap saja tidak cinta padaku?"
"Apakah Ci Kong sudah pasti tidak cinta padamu?"
"Aku tidak tahu, Suhu."
"Engkau tidak pernah bicara tentang cinta dengan dia?"
"Tidak pernah. Tadinya aku menyangka dia cinta padaku, melihat dari pandang matanya, bicaranya dan sikapnya. Akan tetapi kemudian, aku melihat sendiri betapa dia jatuh cinta kepada gadis lain."
"Wah, ini seperti main teka-teki saja. Tidak baik membiarkan diri dalam keraguan. Hayo bangkit berdiri dan ikut aku!"
"Ke... kemana, Suhu?"
Tanya Lian Hong tergagap, akan tetapi ia mengumpulkan pedang dan buntalan pakaiannya.
Lian Hong lalu bangkit berdiri dan tanpa disadarinya, ada isak terlepas dari dadanya, seolah-olah ada sesuatu yang membuat dadanya menjadi lega.
Rasanya plong seperti ada ganjalan yang diambil dari dalam dadanya.
Diam-diam kakek itu merasa iba kepada muridnya.
Wajah yang cantik itu memang kelihatan agak kurus, mukanya pucat sehingga mata yang biasanya sudah lebar itu menjadi semakin lebar.
Dia tahu bahwa muridnya memang menderita hebat selama beberapa hari ini, dan kalau tidak cepat ditolong, mungkin saja akan jatuh sakit.
"Kita mencari Siauw-bin-hud dan muridnya!"
"Tapi..."
Lian Hong meragu dan terkejut, karena mengira bahwa gurunya akan membuat gara-gara.
Kalau gurunya menyerang Siauw-bin-hud, mana mungkin gurunya akan menang?
Pula, ia merasa malu kalau harus memaksa Ci Kong menerima dirinya.
Tidak, ia tidak akan mengemis cinta!
"Tidak ada tapi!
Tidak baik membiarkan diri tenggelam dalam keraguan.
Sebaiknya kalau kita berterus terang saja.
Aku akan meminang Ci Kong untukmu.
Tinggal diterima atau tidak, akan tetapi ada ketentuan, tidak seperti keadaan hatimu sekarang ini, penuh keraguan tidak menentu.
Hayo!"
Kakek itu membalikkan tubuh dan melangkah lebar.
Lian Hong masih ragu-ragu, akan tetapi kedua kakinya melangkah dan iapun mengikuti gurunya.
Biarlah, pikirnya.
Ia akan menurut saja kepada gurunya.
Mungkin ini lebih baik dari pada merana seorang diri.
Memang sebaiknya ada ketentuan.
Dan hatinyapun mulai terhibur.
Dengan melakukan perjalanan cepat, San-tok dan Lian Hong tiba di kaki pegunungan dimana terdapat kuil Siauw-lim-si di puncaknya itu, dan berhenti mengaso karena telah beberapa hari lamanya mereka melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Melihat Suhunya yang biasanya ramah dan suka tertawa itu, tiba-tiba kehihatan termenung, Lian Hong menjadi heran.
"Suhu, ada apakah? Suhu kelihatan seperti orang melamun."
Heran sekali. Kakek itu menarik napas panjang, hal yang jarang sekali dia lakukan. Alisnya berkerut dan dia menjawab, suaranya berat.
"Aku memang sedang melamun dan hatiku sedih karena aku teringat kepada Diana yang pernah ikut bersamaku naik ke bukit ini, Hong Hong."
Karena ia sendiri terlalu terbenam ke dalam masalahnya sendiri, baru sekarang Lian Hong teringat kepada Diana.
"Ah, dimana ia sekarang, Suhu? Apakah Suhu meninggalkannya seorang diri saja di puncak Naga Putih?"
Kakek itu menggeleng kepala.
"Tidak, Hong Hong. Diana telah mengajak aku turun gunung, dan gadis itu memang tidak mengecewakan sekali menjadi muridku. Ia telah bertekad untuk membujuk para pimpinan pasukan orang kulit putih untuk tidak memusuhi para pejuang!"
"Ahhh..."
Lian Hong terkejut sekali.
"Dan ia hampir saja menjadi korban dalam usahanya itu. Ia terjebak dan hampir celaka, tidak berdaya karena ditodong. Untunglah, dalam keadaan terjepit itu muncul seorang bintang penolong yang tak disangka-sangka."
"Suhu, apakah yang telah terjadi dengan Diana? Dimana ia sekarang?"
Lian Hong bertanya penuh kekhawatiran.
San-tok lalu menceritakan pengalamannya bersama Diana.
Betapa dia mengantar Diana sampai ke Kanton, dan gadis yang gagah perkasa itu berusaha untuk menjelaskan kepada para pimpinan pasukan kulit putih bahwa para pejuang bukanlah bandit-bandit seperti yang mereka sangka, melainkan orang-orang gagah yang memperjuangkan hak mereka membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu.
Betapa kemudian Diana terjebak oleh seorang komandan kulit putih dan hampir saja celaka kalau tidak muncul seorang perajurit yang ternyata adalah kekasih Diana yang pernah berpisah karena dipisahkan orang tua.
Betapa kemudian, kekasih Diana itu menembak mati si komandan yang kurang ajar, dan betapa dua orang muda itu terancam bahaya karena telah membunuh komandan.
"Di situ aku lalu turun tangan. Kuakui bahwa akulah pembunuh komandan itu, dan aku lalu mengamuk dan melarikan diri. Dengan demikian, Diana dan kekasihnya akan terbebas dari tuduhan membunuh komandan,"
Kata kakek itu, dan nampaknya puas bahwa dia telah dapat menolong murid yang disayangnya itu.
"Lalu sekarang dimanakah Diana, Suhu?"
Kembali kakek itu menarik napas panjang.
"Kalau aku tidak terlalu sayang padanya, tentu akan kutahan ia agar jangan meninggalkan negeri ini. Akan tetapi, aku tidak tega. Ia telah bertemu kembali dengan kekasihnya. Ah, tahukah engkau , Hong Hong, bahwa gadis itupun pernah jatuh cinta kepada Ci Kong?"
Lian Hong mengangguk. Sudah diduganya akan hal itu dan kenyataan itu bahkan makin menyedihkan hatinya. Ci Kong terlalu baik sehingga banyak gadis yang jatuh cinta kepadanya.
"Akan tetapi, dimana ia sekarang?"
"Ia telah pergi jauh sekali ke negeri barat, ke negerinya sendiri. Aku sempat melihatnya naik ke kapal. Akan tetapi hanya ia saja yang tahu bahwa aku mengantar kepergiannya. Aku menjadi orang buruan mereka.
"Ia berangkat bersama kekasihnya, menempuh hjdup baru, ataukah kembali kepada hidup lama? Setidaknya, ia ke sana untuk terus berjuang dengan caranya sendiri, yaitu membujuk pamerintah bangsanya agar lebih menghargai para pejuang."
Dara itu mengerutkan alisnya.
Hatinya merasa agak kecewa dan juga merasa rindu kepada Diana yang disayangnya.
Sama sekali tak disangkanya bahwa Diana telah pergi, dan agaknya tidak ada kemungkinan untuk dapat bertemu kembali dengan gadis itu!
Mereka langsung menuju ke sebuah guha di belakang kuil Siauw-lim-pai, sebuah guha besar di puncak bukit itu dimana Siauw-bin-hud biasanya tinggal atau bertapa.
Ketika mereka tiba di sana, San-tok melihat bahwa Siauw-bin-hud sedang menerima seorang tamu yang bukan lain adalah Tee-tok!
Melihat munculnya San-tok, Siauw-bin-hud tertawa.
"Heh-heh-heh, sungguh beruntung sekali engkau , San-tok. Pinceng baru saja kembali kemarin dan sudah harus menerima tamu-tamu agung. Engkau lebih beruntung dari pada Tee-tok yang harus menanti kembaliku sampai satu minggu di sini."
Kakek itu memandang kepada Lian Hong dan mengangguk-angguk.
"Muridmu itu semakin cantik dan gagah saja, San-tok. Mari, silahkan duduk."
"Ha-ha, engkau melihat muridku semakin cantik dan gagah, Siauw-bin-hud? Bagus, kalau begitu, engkau tentu setuju kalau aku ingin menjodohkan muridku dengan muridmu, Tan Ci Kong! Aku datang untuk membicarakan urusan perjodohan itu denganmu, Hwesio tua!"
Tiba-tiba Tee-tok yang sejak tadi diam saja, meloncat berdiri.
"Iblis Gunung tak tahu malu! Selalu engkau menjadi penghalang! Kedatanganku jauh lebih dulu darimu. Sudah seminggu aku di sini dan baru saja aku sempat bertemu dengan Hwesio tua ini yang sejak kedatangannya kemarin mengeram saja di kuil. Dan akupun tadi sedang membicarakan urusan perjodohan antara Ci Kong dengan muridku, Kui-Eng."
San-tok terbelalak, lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, sampai lupa aku bahwa ada manusia lain di sini. Tee-tok, apa salahnya kita berdua sama-sama melamar? Keputusannya tergantung kepada Siauw-bin-hud, bukan? Kalau dia setuju kepada muridku jodoh muridnya, engkau mau apa?"
"Keparat! Engkau memandang rendah kepadaku ya? Kalau lamaranku sudah ditolak, baru engkau boleh mengajukan lamaran. Sungguh tak tahu malu, dan kalau engkau tidak cepat pergi bersama muridmu itu, aku akan terpaksa menghajarmu!"
Tee-tok membentak marah.
Biarpun kakek ini pendek kecil kepalanya botak hampir gundul dan pakaiannya seperti tosu, akan tetapi dia jauh lebih galak dan pada San-tok.
Kini, kakek yang katai ini kelihatan marah sekali dan membusungkan dada menantang, kelihatan lucu.
"Heh-heh, engkau hendak menghajarku? Tee-tok, sejak dahulu sampai kapanpun aku tidak pernah takut kepada setan cilik macam kamu. Majulah!"
Tiba-tiba Siauw-bin-hud sudah bangkit dan berada di antara mereka, sedangkan Lian Hong hanya diam saja, wajahnya berubah kemerahan.
Iapun sudah menduga bahwa Kui Eng juga jatuh cinta kepada Ci Kong!
Begitu banyaknya gadis yang gagah perkasa dan baik-baik jatuh cinta kepada pemuda itu, seperti dipakai berebut sehingga ia menjadi bingung sendiri.
dua orang kakek itu tadinya sudah siap untuk saling gebuk, akan tetapi ketika melihat Siauw-bin-hud berdiri di antara mereka, keduanya menahan diri.
Siauw-bin-hud terkekeh geli.
"Omitohud...! Empat Racun Dunia agaknya sudah berubah menjadi kanak-kanak lagi yang suka berkelahi. Kalau beberapa bulan yang lalu, Thian-tok berkelahi melawan Hai-tok karena urusan perjodohan murid, kini Tee-tok dan San-tok agaknya tidak mau kalah, siap untuk saling gebuk karena urusan jodoh murid masing-masing.
"Seperti pernah kutanyakan kepada mereka, sekarang aku juga ingin bertanya kepada kalian berdua, kakek-kakek tua bangka yang sudah terlalu banyak makan garam dunia. Sebenarnya, yang ingin menentukan jodoh dan menikah itu, kalian sendiri ataukah murid-murid kalian?"
Dua orang kakek itu melongo dan saling pandang, kemudian Tee-tok berkata dengan bersungut-sungut.
"Pertanyaan gila! Tentu saja muridku, masa aku setua ini memikirkan kawin?"
"Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud mengoceh tidak karuan. Tentu saja muridku yang hendak kulamarkan muridmu. Aku sendiri, untuk apa kawin? Memikirkan kawin saja, bulu tengkukku sudah meremang semua saking ngerinya, ha-ha-ha!"
Kata San-tok.
"Omitohud... setidaknya kalian dua orang kakek masih memiliki kejujuran untuk mengaku. Nah, kalau yang hendak memilih jodoh itu murid kalian. Kenapa kalian berdua yang ribut-ribut? Biarkan murid-murid kita yang menentukan pilihan hati masing-masing, dan kita ini orang-orang tua hanya mendengarkan dan merestui saja.
"Tidakkah begitu sebaiknya. Kalau Ci Kong dengan murid San-tok saling mencinta, biarlah mereka berjodoh, sebaliknya kalau Ci Kong saling mencinta dengan murid Tee-tok, biarlah mereka itu berjodoh."
"Muridku mencinta Ci Kong!"
Kata San-tok cepat.
"Muridku juga!"
Kata pula Tee-tok. Lian Hong mendengarkan sambil menundukkan mukanya, bagaimanapun juga, hatinya terasa malu mendengar percakapan kakek-kakek itu tentang perjodohannya.
"Kalau begitu, serahkan pemilihannya kepada Ci Kong sendiri! Siapa di antara kedua nona murid kalian yang dicintanya. Kalau Ci Kong tidak mencinta, bagaimana mungkin dapat dipaksa untuk menikah? "Eh, anak baik. Mengapa engkau tidak langsung saja bertanya kepada Ci Kong dan mengajaknya menikah kalau kalian saling mencinta? Jangan suruh kakek-kakek sinting ini mengurus perjodohanmu, akhirnya bahkan akan membikin kacau saja,"
Kata Siauw-bin-hud kepada Lian Hong sambil tersenyum.
"Tee-tok dan San-tok, dengarlah. Cinta tak mungkin dapat dipaksakan, dan menurut pendapat pinceng yang bodoh, perjodohan tak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik kalau kedua pihak yang bersangkutan tidak saling mencinta. Kalau hanya dari sepihak, berarti yang lain terpaksa dan perjodohan yang dipaksakan hanya dapat terjadi pada binatang saja, bukan pada manusia."
Dua orang kakek itu saling pandang dan mengangguk-angguk. San-tok lalu menoleh dan berkata kepada muridnya.
"Hong Hong, omongan Hwesio ini ceng-li (masuk di akal), maka sebaiknya kalau engkau terus terang saja bertanya kepada Ci Kong. Eh, Hwesio, dimana sih adanya muridmu yang diperebutkan para gadis itu?"
"Dia tidak berada di sini, entah dimana. Pinceng baru saja pulang dari menemui berbagai golongan untuk membujuk agar mereka membangkitkan kembali semangat mereka untuk berjuang. Dan kebetulan sekali pinceng bertemu kalian di sini.
"Pinceng melihat bahwa perjuangan menentang penjajah ini akan menemui banyak kesulitan, apalagi setelah kini orang-orang kulit putih makin berpengaruh di daratan. Kalau segenap lapisan masyarakat, seluruh rakyat dan segala golongan, segala suku, segala agama dapat bersatu padu menentang penjajah, pinceng kira barulah kemerdekaan tanah air dan bangsa akan benar-benar terlaksana. Dan sudah menjadi kewajiban kita yang tua-tua ini untuk membangkitkan gairah dan semangat yang muda-muda untuk bangkit. Nah, pinceng sudah terlalu banyak bicara, maafkan kalau pinceng sekarang ingin beristirahat."
Setelah berkata demikian, kakek itu begitu saja membalikkan tubuh dan memasuki guha untuk duduk bersila dan bersamadhi.
"Bagaimana pendapatmu, Tee-tok?"
San-tok bertanya kepada rekannya. Tee-tok mengangguk-angguk.
"Memang Hwesio tua bangka itu benar. Kita terlalu meributkan urusan pribadi, urusan kanak-kanak. Biarkan saja murid kita mengurus persoalan jodoh masing-masing tanpa kita mencampurinya. Aku akan memberitahu muridku sekarang juga."
Setelah berkata demikian, Tee-tok lalu meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Hanya Lian Hong dan San-tok saja yang masih berada di luar guha.
"Nah, muridku, engkau sudah melihat dan mendengar sendiri semua percakapan tadi. Memang sebaiknya kalau engkau mencari Ci Kong dan membicarakan urusanmu itu secara pribadi dan terus terang."
"Suhu, tadinya akupun tidak ada niat sama sekali untuk datang ke sini, hanya mengikuti kehendakmu saja,"
Kata Lian Hong, bersungut-sungut.
"Kalau memang Ci Kong tidak cinta kepadaku, akupun tidak sudi untuk mengemis kepadanya, Suhu. Biarlah aku akan merawat kuburan kedua orang tuaku yang kulihat tidak terpelihara. Setelah selesai merawat kuburan, baru aku akan bergabung lagi dengan para teman pejuang."
San-tok menarik napas panjang.
"Terserah kepadamu, Hong Hong. Hanya pesanku, jangan tenggelam ke dalam kedukaan. Aku sudah semakin tua, hatiku akan berduka kalau melihat engkau sengsara, muridku. Aku akan kembali saja ke puncak Naga Putih dan menghabiskan sisa usiaku di sana, sambil menanti berita darimu."
"Baik, Suhu. Kalau terjadi sesuatu yang penting, tentu aku akan menyusul Suhu ke sana."
Guru dan murid inipun saling berpisah. Lian Hong kembali lagi ke dusun Tung-kang di Kanton, sedangkan San-tok atau Bu Beng San-kai kembali ke puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san.
"Tan-Toako, maafkanlah aku. Demi kebahagiaan kita masing-masing, terpaksa aku harus berterus terang, dan kuharap saja keterus teranganku ini tidak begitu menyakitkan hatimu."
Demikian Ceng Hiang mengeluarkan kata-kata dengan halus, pandang matanya penuh kegelisahan ketika memandang wajah pemuda itu.
Pagi itu ia menemui Ci Kong dan mengajak pemuda itu bercakap-cakap di dalam taman.
Ci Kong juga menatap wajah yang cantik jelita itu dan alisnya berkerut, akan tetapi dia tetap saja bersikap tenang.
"Ceng-Lihiap, sepagi ini engkau memanggil aku untuk mengajak bercakap-cakap dan ucapan pertama darimu adalah minta maaf. Sesungguhnya, apakah yang hendak Kau katakan? Memang aku lebih menyukai kejujuran dan keterus terangan dari pada mendendam sesuatu dalam hati. Katakanlah, aku sudah siap untuk mendengar hal yang betapa burukpun."
"Toako, mengenai pernyataanmu malam tadi, sudah kupikirkan masak-masak, karena hal itu menyangkut kehidupanku mendatang. Aku meneliti diri sendiri, dan sekarang dengan hati terurai, aku dapat mengatakan kepadamu bahwa yang ada dalam hatiku terhadapmu hanyalah rasa suka dan kagum saja, Toako.
"Aku... maafkan, aku tidak mungkin dapat menerima dan membalas cintamu, karena aku telah bertunangan dengan Yu-koko, yaitu orang yang berusaha menolong ayah melalui pembesar di kota raja. Nah, aku sudah berterus terang... dan sekali lagi maafkan aku, Toako."
Gadis itu memandang wajah pemuda itu yang menjadi pucat sehingga ia menjadi tidak tega, lalu menundukkan mukanya.
Ia tahu bahwa kata-katanya walaupun sudah diatur sebaik-baiknya agar terdengar lembut dan tidak menyinggung, tetap saja mendatangkan kenyerian yang membuat wajah pemuda itu menjadi pucat seketika.
Keadaan menjadi hening setelah ia mengeluarkan kata-kata itu.
Ceng Hiang tidak berani mengangkat muka memandang, hanya menunggu dan rasanya lama bukan main ia menanti jawaban Ci Kong yang tak kunjung tiba, seolah-olah pemuda itu mendadak kehilangan kemampuannya untuk bicara.
Dan memang demikianlah, pernyataan Ceng Hiang yang terus terang itu merupakan pukulan batin yang cukup hebat bagi Ci Kong, membuatnya tertegun dan lidahnya seolah-olah menjadi kaku.
Dia hanya menatap wajah yang menunduk itu dengan hati terasa pedih.
Akan tetapi, pemuda gemblengan ini akhirnya dapat menekan perasaannya dan suaranya terdengar agak menggetar dan lirih dia bertanya.
"Engkau cinta padanya?"
Ceng Hiang terkejut.
Pertanyaan tiba-tiba ini tidak diperhitungkannya sebelumnya dan ia tertegun, tak mampu menjawab.
Akan tetapi ia seorang gadis yang cerdik dan jujur, maka ia dapat mengatasi rasa kagetnya, dan dengan menentang pandang Ci Kong yang penuh selidik itu ketika ia menjawab halus.
"Aku tidak tahu, Toako, akan tetapi sudah pasti aku akan belajar mencintanya, atau setidaknya aku akan berusaha untuk membahagiakan orang yang menjadi suamiku kelak. Engkau tahu, aku adalah seorang gadis yang masih terikat oleh tradisi kebangsawanan. Tak mungkin bagi seorang gadis dari golonganku untuk menentukan jodohnya sendiri.
"Ayahku memilihkan untukku, dengan segala pertimbangan dan kebijaksanaan, dan aku tidak kecewa atas pilihan ayah. Yu-koko adalah seorang pemuda bangsawan yang amat baik. Kurasa tidak akan sukar bagiku untuk mencintanya kelak setelah dia menjadi suamiku."
Ci Kong mengangguk-angguk.
Dia tadi menatap wajah gadis itu penuh selidik dan dia tahu bahwa gadis itu tidak menyembunyikan sesuatu, bicara dengan sejujurnya.
Dia dapat menghargai sikap gadis itu dan membuat dia menjadi semakin kagum, akan tetapi juga membuat hatinya terasa semakin pedih.
Dia lalu menarik napas panjang.
"Aku mengerti, Lihiap. Aku yakin bahwa pilihan orang tuamu tentu tepat sekali. Seorang bangsawan seperti engkau ini memang sudah sepatutnya kalau berjodoh dengan seorang pemuda bangsawan yang kaya raya dan berkedudukan tinggi pula.
"Sedangkan aku, ah... biarlah aku menyadari keadaanku sendiri, Lihiap. Maafkan atas kelancanganku semalam. Setelah aku sadar, aku merasa malu karena sungguh-sungguh aku seorang pemuda yang tidak tahu diri. Nah, aku mohon diri, Lihiap. Aku akan pergi sekarang juga."
"Toako! Apakah engkau tidak berpamit kepada ayah dulu?"
Ceng Hiang terkejut melihat pemuda itu akan pergi begitu mendadak, dan di dalam hatinya timbul perasaan iba yang mendalam.
"Tidak perlu, Lihiap. Tolong agar engkau nanti menyampaikan ucapan maaf dariku, juga terima kasihku kepada beliau. Selamat tinggal!"
"Nanti dulu, Toako!"
Ci Kong yang sudah bergerak hendak memutar tubuh itu, berhenti dan membalikkan tubuhnya memandang wajah gadis itu.
Dia melihat ada titik air mata turun dan kedua mata Ceng Hiang, dan hatinya merasa terharu sekali.
Gadis ini amat baik, terlalu baik.
Dialah yang sial dan bukan jodoh gadis ini.
"Tan-Toako, aku tidak ingin melihat engkau pergi membawa dendam dan sakit hati kepadaku."
Ci Kong memaksa dirinya untuk tersenyum.
"Dendam dan sakit hati? Aihhh, mengapa engkau menduga begitu, Lihiap? Tidak, selamanya aku tidak akan mendendam kepadamu. Aku mengerti keadaanmu, dan cinta seseorang tak mungkin dapat dipaksakan. Sungguh mati, aku sama sekali tidak menyesal kepadamu, hanya menyesali diri sendiri yang tak tahu diri..."
"Tan-Toako, tunggu dulu, aku mau bicara..."
"Lihiap, ada urusan apalagi yang dapat dibicarakan antara kita?"
Mendengar suara yang mengandung kepahitan itu, Ceng Hiang menghapus dua titik air matanya, dan berkatalah ia dengan halus, namun nadanya mengingatkan.
"Tan-Toako, sesungguhnya, pernyataan cintamu kepadaku itu salah alamat."
Sepasang mata Ci Kong terbelalak dan alisnya berkerut.
Apa maksud gadis ini, pikirnya heran.
Benarkah bahwa Ceng Hiang sengaja hendak menghinanya setelah menolak cintanya?
Dia menatap tajam penuh selidik, namun pandang mata gadis itu sedikitpun tidak nampak bahwa ia melakukan suatu kesalahan yang disembunyikan.
"Ceng-Lihiap, apa maksudmu?"
Tanyanya, suaranya agak gemetar.
"Maksudku, engkau menyatakan cinta kepada gadis yang keliru. Semestinya bukan aku yang harus Kau nyatakan cinta, akan tetapi kepada seorang gadis lain yang selalu mengharapkan pernyataan cintamu."
Lega rasa hati Ci Kong. Gadis ini tidak bermaksud mengejek atau menghinanya, dan timbul heran dan keinginan tahunya.
"Siapakah gadis yang Kau maksudkan?"
Ceng Hiang tersenyum dan ia merasa heran sendiri.
Setelah membicarakan orang lain, setelah ia sendiri tidak tersangkut, ia dapat tersenyum dan timbul kembali kegembiraannya, maka tahulah ia dengan yakin bahwa ia memang hanya kagum dan suka kepada pemuda ini, dan tidak jatuh cinta, ia sama sekali tidak akan merasa cemburu atau iri kalau melihat Ci Kong dapat berjodoh dengan Lian Hong, bahkan sebaliknya, ia akan merasa gembira sekali.
"Tan-Toako, benarkah engkau tidak tahu? Engkau yang begini gagah perkasa dan bijaksana, benarkah engkau begini bodoh sehingga tidak melihat adanya seorang gadis yang amat baik, yang sudah bertahun-tahun menantimu dengan segenap jiwa raganya yang setiap saat mengharapkan pernyataan cintamu? Tidak dapatkah engkau menduga siapa gadis itu?"
Ci Kong mengelengkan kepalanya, dan diam-diam dia terkejut sekali.
Beberapa buah wajah terbayang di depan matanya.
Lian Hong?
Kui Eng?
Kiki?
Diana?
Akan tetapi dia tidak pernah menduga bahwa ada gadis yang jatuh cinta kepadanya seperti apa yang dikatakan oleh Ceng Hiang.
"Sungguh, aku tidak tahu, Lihiap. Siapakah gadis itu?"
"Siapa lagi kalau bukan Siauw Lian Hong?"
Ci Kong membelalakkan kedua matanya menatap wajah gadis itu penuh selidik, akan tetapi wajah itu menunjukkan bahwa Ceng Hiang bicara sebenarnya. Pemuda itu lalu mengerutkan alisnya.
"Lihiap, harap jangan main-main. Di antara para gadis yang menjadi sahabatku, Lian Hong adalah seorang yang paling pendiam dan tidak pernah bicara tentang perasaannya."
"Justeru karena ia pendiam maka ia menderita hebat, Toako. Ia mencintamu sejak pertama kali bertemu denganmu, dan ia memendam cintanya itu di dalam hatinya, setiap saat merindukanmu.
"Setiap saat menanti pernyataan cintamu kepadanya, karena ia merasa yakin bahwa engkau juga mencintanya. Nah, bukankah pernyataan cintamu yang Kau nyatakan kepadaku itu salah alamat... dan seharusnya engkau menyatakan cintamu kepada Lian Hong?"
Ci Kong termenung dan mengingat-ingat.
Harus diakuinya bahwa dia amat menyayang Lian Hong, bahkan pernah terpikir olehnya apakah dia jatuh cinta kepada gadis murid San-tok yang gagah perkasa itu.
Akan tetapi sikap Lian Hong yang pendiam, yang agak angkuh malah, membuat dia mundur teratur dan mengira bahwa gadis itu hanya berteman dengannya, tidak menaruh hati cinta kepadanya.
Lalu dia teringat akan pengalamannya ketika bekerja sama dengan Lian Hong.
Bahkan terbayang olehnya betapa Lian Hong yang menyamar sebagai pria ketika dia menyamar sebagai pelayan dan mereka mengawal Kui Eng yang menyamar sebagai seorang gadis hartawan, selalu menggodanya kalau dia nampak cemburu melihat Kui Eng dirayu oleh Lee Song Kim "Tapi bagaimana engkau dapat mengetahui hal itu, Lihiap?
Apakah ia menceritakan hal itu kepadamu?"
"Lian Hong adalah seorang gadis yang keras hati dan selalu menyimpan perasaannya, Toako. Akan tetapi sangat aneh sekali, ia telah melihat pertemuan kita-kita semalam dan ia telah salah sangka, mengira bahwa kita saling mencinta dan ia..."
"Ia bagaimana, Lihiap?"
Ci Kong bertanya dan hatinya penuh ketegangan dan kekhawatiran, juga kasihan mendengar betapa Lian Hong yang katanya mencintanya mati-matian itu melihat pertemuannya dengan Ceng Hiang.
Melihat perhatian yang makin meningkat dari Ci Kong terhadap Lian Hong, hati Ceng Hiang menjadi gembira dan bersemangat.
"Ia hampir membunuh diri, Toako."
"Ahhh!!"
Bukan main kagetnya hati Ci Kong mendengar ini. Dia terbelalak memandang kepada Ceng Hiang.
"Me... mengapa ia melakukan itu dan... dan kemudian bagaimana, Lihiap, dan dimana ia sekarang?"
"Tan-Toako, katakan saja terus terang kepadaku. Bukankah engkau mencinta adik Lian Hong?"
Berkata demikian, Ceng Hiang menatap tajam pemuda itu, seolah-olah hendak menjenguk isi hatinya.
Ci Kong juga memandang kepadanya, dan sejenak dua pasang mata bertemu pandang, kemudian Ci Kong menunduk dan suaranya lirih ketika dia membuat pengakuannya.
"Aku aku tidak yakin benar, Lihiap. Aku amat sayang kepadanya, aku suka dan kagum kepadanya. Aku menganggap ia sebagai seorang sahabat baik, sebagai seorang teman seperjuangan, bahkan sebagai saudara.
"Mungkin aku cinta kepadanya, akan tetapi kami tidak pernah bicara tentang itu, dan aku semenjak bertemu denganmu, Lihiap, aku hanya memperhatikanmu. Ah, mungkin aku cinta padanya... aku tidak tahu."
"Engkau cinta padanya, Toako. Lihat betapa engkau gelisah memikirkan keadaannya. Engkau cinta padanya seperti juga ia cinta padamu."
"Ceng-Lihiap, katakanlah, dimana ia sekarang?"
Nona itu menggeleng kepalanya.
"Ia pergi, hanya pamit kepadaku semalam, tanpa memberi tahu kemana akan pergi, dengan hati patah dan semangat hancur, seperti patahnya ini..."
Ceng Hiang mengeluarkan sebuah kipas yang sudah robek menjadi dua bagian itu dan menyerahkannya kepada Ci Kong.
Pemuda itu terkejut dan merampas kipas itu dari tangan Ceng Hiang, lalu mencengkeram kipas itu, wajahnya pucat.
"Ini senjatanya! Ah, dimana ia, Lihiap? Dimana Hong-moi?"
"Ia pergi meninggalkan kipas ini setelah menceritakan semua perasaan hatinya kepadaku. Pergilah, pergilah sekarang, Toako... dan cari Lian Hong. Kasihan anak baik itu, ia mungkin akan menderita selama hidupnya, dan hanya engkau seorang yang akan mampu membahagiakan hidupnya."
"Aku akan pergi, aku akan mencarinya. Ah, Lian Hong..."
Kembali Ci Kong hendak pergi, akan tetapi ditahannya kakinya dan dia menoleh.
"Katakan, Lihiap... apakah sikapmu terhadap diriku ini karena engkau mendengar bahwa Lian Hong mencintaku? Apakah engkau sengaja mengalah, tidak menerima cintaku agar aku dapat hidup bersama Lian Hong?"
Ceng Hiang kembali terkejut, tak menyangka akan ditanya seperti itu.
Akan tetapi, pada saat dara ini kebingungan harus menjawab bagaimana, terdengar suara gaduh dan muncullah Pangeran Ceng Tiu Ong bersama seorang pemuda yang tampan dan berpakaian indah, bersikap halus dan gagah.
"Hiang-ji, mari ke sini. Tunanganmu telah berhasil membujuk kaisar, bukan hanya mengampuni aku, bahkan permintaanku untuk mengundurkan diri dari jabatan ini dikabulkan! Ah, aku akan dapat beristirahat dan hidup tenang di dusun, dan semua ini berkat bantuan Yu Kiang!"
Pangeran tua itu nampak girang sekali.
Munculnya ayahnya dan tunangannya, melepaskan Ceng Hiang dari keadaan terjepit oleh pertanyaan Ci Kong tadi, dan iapun sudah tahu akan jawabannya, jawaban tanpa kata.
Iapun memperlihatkan wajah cerah, tersenyum manis dan menghampiri dua orang itu, langsung mendekati Yu Kiang.
"Benarkah itu, koko? Ah, sungguh engkau baik hati sekali, dan aku berterima kasih sekali kepadamu, Yu-koko."
Ketika menyebut "Yu-koko", Ceng Hiang sengaja mengeluarkan kata-kata yang mesra dan suara yang manis, sehingga sekali pandang saja tahulah Ci Kong bahwa gadis bangsawan itu mencinta tunangannya.
Dan ini berarti tidak mencinta dirinya.
Tahulah dia bahwa dia telah bersikap tolol.
Apa artinya dia dibandingkan dengan pemuda yang bernama Yu Kiang ini?
Seorang pemuda yang tampan, juga sikapnya halus dan amat gagah, pakaiannya indah, pembawaannya agung, tentu saja kaya raya.
Sedangkan dia?
Seorang perantau, tak berumah tinggal, tidak punya apa-apa, dan orang macam dia berani menyatakan cinta kepada seorang gadis bangsawan seperti Ceng Hiang!
"Oya, Yu-koko, inilah Toako Tan Ci Kong, pendekar yang telah membantuku menolong ayah itu."
Yu Kiang segera menghampiri Ci Kong dan memberi hormat dengan pandang mata kagum.
"Ah, kiranya ini Tan-taihiap yang gagah perkasa itu?"
"Marilah, kita semua duduk dan mengobrol di dalam. Mari, Tan-taihiap,"
Kata Pangeran Ceng dengan ramah.
"Maafkan saya, Pangeran. Baru saja saya berpamit kepada Ceng-Lihiap, karena saya mempunyai uusan penting sekali yang harus saya laksanakan sehingga sekarang juga saya mohon diri. Maaf bahwa saya telah mengganggu keluarga Ceng yang terhormat dan banyak terimakasih atas segala keramahan dan kebaikan budi yang dilimpahkan selama saya berada di sini."
Ci Kong memberi hormat, dan tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk bicara, diapun sudah meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.
"Ayah, adik Lian Hong juga sudah pergi, bahkan malam tadi ia pergi. Ia mempunyai urusan yang amat penting maka ia pergi lebih dulu. Ia minta agar memaafkannya,"
Kata Ceng Hiang. Pangeran tua itu menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
"Orang-orang muda yang gagah perkasa dan berbudi mulia, akan tetapi dengan watak yang amat aneh. Aihh, ngeri aku membayangkan seandainya engkau menjadi seorang gadis kang-ouw dan berwatak aneh seperti mereka, Hiang-ji."
Katanya kemudian.
"Mari kita bicara di dalam."
Dengan hati yang tidak karuan rasanya, Ci Kong meninggalkan kota raja.
Dia harus mencari Lian Hong!
Harus dapat cepat menemukannya sebelum terjadi apa-apa dengan Lian Hong.
Gadis itu hendak membunuh diri karena cintanya terhadapnya?
Sudah bertahun-tahun mencintanya dan setiap saat mengharapkan pernyataan cintanya?
Dan Lian Hong selalu diam saja, tak pernah bicara apapun tentang cinta, bahkan tidak memperlihatkan cemburu terhadap para gadis lain yang juga mencintanya!
Terbayanglah semua kebaikan Lian Hong terhadap dirinya, dan hatinya diliputi penuh keharuan.
Kini, dia sudah melupakan bayangan Ceng Hiang.
Yang nampak hanyalah bayangan Lian Hong seorang.
"Hong-moi... ah, Hong-moi!"
Berkali-kali Ci Kong mengeluh, merasa menyesal mengapa dia membuat hati gadis itu hancur, walaupun hal itu tidak disengajanya.
Agaknya Lian Hong melihat ketika dia merangkul Ceng Hiang di dalam taman itu, padahal rangkulan itu hanya sebentar, hanya terdorong oleh perasaan hatinya, bukan rangkulan sebagai tanda dua orang sedang berpacaran.
Ceng Hiang tidak cinta kepadanya, melainkan mencinta Yu Kiang, tunangannya, hal yang wajar dan sudah sepatutnya demikian.
Lian Hong lah yang cinta padanya, dan diapun mencinta Lian Hong.
Baru sekarang hal itu terasa benar olehnya.
Kemana dia harus mencari Lian Hong?
Ke tempat tinggal gurunya, San-tok di Puncak Naga Putih Pegunungan Wu-yi-san?
Akan tetapi, kemana kiranya seorang gadis akan pergi kalau ia menderita duka yang mendalam?
Tentu ke rumah orang tuanya, akan tetapi gadis itu sudah tidak mempunyai orang tua lagi.
Dan teringatlah dia dalam perjumpaannya yang terakhir kalinya dengan Lian Hong, di rumah keluarga Ceng sebelum gadis itu pergi, bahwa Lian Hong berniat untuk membersihkan dan memperbaharui makam kedua orang tuanya.
Di Tung-kang, dusun kelahiran mereka, tentunya.
Benar!
Dia sendiri kalau sedang menderita duka, condong untuk pergi mengunjungi kuburan orang tuanya dan kembali ke dusun tempat kelahirannya.
Maka Ci Kong lalu mengambil keputusan untuk pergi ke selatan, ke dusun Tung-kang di luar kota Kanton.
Dia melakukan perjalanan secepatnya, dan di sepanjang perjalanan dia melakukan penyelidikan.
Betapa girang rasa hatinya ketika dia akhirnya menemukan jejak Lian Hong dari seorang pelayan restoran yang mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu, gadis seperti yang digambarkan oleh Ci Kong memang lewat di kota itu dan makan di restoran itu.
Tidak salah lagi, pikir Ci Kong girang, tentu Lian Hong sedang melakukan perjalanan menuju ke Tung-kang.
Lian Hong tidak lagi menangis.
Biarpun ia merasa betapa hidupnya kini amat sepi dan semangatnya lemah, gairahnya menipis, ia tidak mau menangis lagi.
Sudah beberapa hari lamanya ia berada di kuburan orang tuanya, menbersihkan kuburan itu, dan setiap hari menyuguhkan masakan sembahyang kepada ayah ibunya.
Malam itu adalah malam kelima ia berada di situ.
Setiap malam Lian Hong tidur di depan kuburan ayah ibunya, di atas rumput tebal.
Baca Juga: Suling Emas 4
Baca Juga: Pendekar Sadis 3