Suling Emas Dan Naga Siluman 12

Eps 12 Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo.

Dari percakapan itu, tahulah mereka bahwa pria tinggi besar itu bukan lain adalah Bouw-thicu, ditemani oleh empat orang pembantunya yang kesemuanya nampak garang dan bertenaga kuat, sedangkan wanita itu tentulah Lui Shi yang telah mereka dengar.

Memang seorang wanita yang cantik, usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun akan tetapi nampak masih cantik dengan muka dirias tebal, sikapnya genit, dan pakaiannya serba ringkas namun wanita ini pesolek sekali.

Dan mendengar percakapan mereka, tahulah Siang In dan Ci Sian bahwa Lui Shi ini pun baru saja pulang dari penyelidikannya ke tempat tinggal Thio-thicu!

"Bagaimana, Nona Lui, benarkah berita angin itu bahwa orang she Thio itu memperoleh seekor kuda hebat yang dapat menyaingi kuda kita?"

Antara lain Bouw-thicu bertanya.

Mendengar per-tanyaan ini, diam-diam Siang In dan Ci Sian kagum juga akan cara kerjanya para anak buah orang ini sehingga tentang kuda Hek-liong-ma yang akan membantu Thio-thicu dalam perlombaan, sudah didengar oleh orang she Bouw ini.

"Memang benar, Bouw-loya."

Jawab wanita yang masih disebut nona itu, yang menunjukkan bahwa wanita ini masih belum menikah.

"Akan tetapi Lo-ya tidak usah khawatir, karena biarpun kuda hitam mereka itu pun baik sekali, akan tetapi kuda itu hanyalah seekor kuda jantan. Maka dalam perlombaan, tidak mungkin kuda jantan itu mau melampaui kuda hitamku yang betina. Dan andaikata demikian pun, saya masih mempunyai akal untuk menundukkan kuda lawan itu agar jantan melanggar atau mendahuLui."

"Hemm, perlombaan kuda itu penting sekali, Nona Lui, dan bagaimanapun juga, pihak kita tidak boleh sekali-kali kalah. Kalau memang orang she Thio itu benar-benar menemukan kuda jempolan dan dalam perlombaan dapat mengalahkan kudamu, lalu bagaimana?"

"Jangan khawatir, saya mempunyai jampe untuk menahan kuda itu, dan kalau jampe itu gagal, masih ada jarum-jarum saya untuk merobohkannya kalau perlu agar kuda kita tidak terkalahkan."

Mendengar ini, Bauw-thicu tertawa girang.

"Bagus, bagus.... akalmu sungguh bagus sekali, Nona. Kalau kuda kita benar-benar menang, jangan khawatir, hadiahnya besar sekali untukmu!"

Terdengar mereka tertawa-tawa dan Siang In lalu menarik lengan Ci Sian untuk meninggalkan tempat itu.

Dengan hati-hati mereka pergi dan meloncat naik ke atas genteng, lalu mempergunakan ilmu berlari cepat untuk kembali, ke perkam-pungan Thio-thicu.

"Si Genit itu! Ingin kutampar mukanya yang dipulas itu!"

Di tengah jalan Ci Sian mengomel.

"Ia mau menjampe kuda dan menyerang dengan jarum! Si keparat!"

"Kita harus sabar dan menanti sampai perlombaan diadakan. Tentang jampe, jangan khawatir, Hek-liong-ma tentu lebih taat kepada suamiku, dan tentang serangan jarumnya...."

"Serahkan saja jarum-jarum itu kepadaku, EnCi Siang In! Kalau benar-benar ia berani menyerang dengan jarum, awas Si Genit itu!"

Ci Sian mengepal tinju.

Ketika dua orang pendekar wanita ini tiba kembali di rumah Thio-thicu, ter-nyata Suma Kian Bu masih menanti di luar kamar dan pendekar ini dengan tersenyum mendengarkan cerita isterinya tentang hasil penyelidikannya.

Malam itu mereka mengaso dan tidak terjadi hal-hal yang luar biasa.

Lapangan rumput itu amat luas dan sepotong tanah ini merupakan daerah milik pemerintah, jadi merupakan daerah netral bagi para tuan tanah yang pada pagi hari itu berkumpul di situ.

Suasana amat meriah, seperti dalam pesta.

Dan memang pesta itu diadakan tiap tahun dan diprakarsai oleh pejabat pemerintah di Sin-kiang, dalam usahanya untuk mengalihkan permusuhan antara para tuan tanah itu menjadi semacam perlombaan yang sehat.

Dan yang populer adalah lumba kuda itulah.

Pembesar yang paling tinggi, yaitu semacam gubernur atau kepala Propinsi Sin-kiang, sudah hadir bersama para pembesar bawahannya yang lain, dan sepasukan tentara pengawal berbaris rapi di seputar panggung kehormatan yang dibangun untuk para pembesar ini, di luar arena perlombaan kuda.

Dari tempat yang tinggi di panggung ini, para pembesar dapat melihat pemandangan yang indah dan aneh, yaitu kelompok-kelompok orang yang mudah dibedakan dari atas dengan melihat warna tenda, pakaian pasukan pengawal, dan bendera mereka.

Setiap orang tuan tanah datang bukan hanya membawa kuda jagoan mereka, akan tetapi juga para pembantunya dan sepasukan pengawal masing-masing yang berpakaian seragam.

Bermacam-macam warna pakaian pasukan pengawal ini, akan tetapi semuanya berbeda!

Dan lucunya, tenda yang mereka dirikan, untuk Sang Tuan Tanah dan keluarganya tentu saja, agar terlindung dari panas dan dapat menyakasikan balapan itu dengan santai, tenda-tenda itu pun tidak ada yang sama warnanya!

Karena perbedaan warna inilah maka pemandangan dari atas panggung para pembesar itu nampak indah dan aneh.

Tenda-tenda para tuan tanah itu didirikan di sekitar luar arena perlombaan yang amat luas itu, masing-masing memilih tempat yang agak tinggi agar mudah (Lanjut ke

Jilid 36) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 36 mengikuti perlumbaan kuda.

Rombongan Thio-thicu berada di tempat yang tidak jauh dari panggung, tempat para pembesar duduk.

Seperti para tuan tanah yang lain, juga di tempat ini didirikan sebuah tenda besar tempat Thio-thicu berlindung dari sengatan matahari siang nanti.

Akan tetapi tidak seperti yang lain, Thio-thicu tidak membawa pasukan pengawal, melainkan hanya beberapa orang pengawal yang juga bertindak sebagai pelayan.

Bahkan Thio-thicu tidak membawa keluarganya.

Pihak tuan tanah Thio ini hanya membawa seekor kuda saja, yang ditutupi selimut kuda sehingga tidak nampak jelas dari luar apa warna kuda itu dan bagaimana macamnya karena muka kuda itu pun tertutup selimut.

Suma Kian Bu dan dua orang pendekar wanita itu datang bersama Thio-thicu.

Karena ia akan menunggang Hek-liong-ma ikut berlomba, Ci Sian mengenakan pakaian ringkas warna kuning, rambutnya diikat dengan kain sutera merah.

Akan tetapi ia sudah memberitahu kepada Thio-thicu bahwa ia hanya akan keluar bersama kudanya kalau semua peserta sudah berkumpul.

Sejak tadi, banyak sudah peserta yang memasuki gelanggang, menunggangi kuda masing-masing dan menjalankan kuda mereka berkeliling sebagai pemanasan dan juga untuk berlagak.

Setiap kuda dengan penunggangnya mempunyai pendukung sendiri-sendiri, tentu saja kawan-kawannya para pembantu majikan masing-masing.

Kali ini, yang mengikuti perlombaan hanya ada sembilan orang, thicu, sungguhpun hampir semua thicu yang jumlahnya dua puluh orang lebih itu datang untuk menyaksikan perlombaan itu, juga untuk bertaruh dengan taruhan-taruhan yang besar sekali.

Hal ini adalah karena para thicu yang tanggung-tanggung saja sudah meng-undurkan diri, tidak berani mengikuti perlombaan, apalagi setelah mendengar akan adanya kuda hitam milik Bouw-thicu yang dapat lari seperti terbang itu.

Yang mengikuti perlombaan hanyalah para thicu yang tergolong besar, dalam arti luas daerahnya dan kekayaannya.

Akan tetapi, semua orang sudah mendengar bahwa yang agaknya akan mampu menandingi kuda hitam milik Bouw-thicu hanyalah Thio-thicu.

Menurut kabar angin, Thio-thicu memiliki kuda "simpanan"

Yang belum pernah dilihat orang, akan tetapi yang kabarnya akan mampu menandingi kuda hitam milik Bouw-thicu itu.

Maka,tujuan orang-orang di situ, termasuk para pembesar, hanyalah kepada dua orang tuan tanah ini.

Dan terjadilah taruhan-taruhan besar di antara para thicu yang tidak ikut berlumba, bahkan yang ikut berlumba dengan menurunkan seekor kuda pun ikut berlumba bahkan yang ikut berlumba dengan menurunkan seekor kuda pun ikut berlomba antara dua thicu terkemuka ini.

Sudah ada tujuh ekor kuda yang memasuki arena.

Tujuh ekor kuda pilihan yang besar dan kuat, dengan penunggangnya yang semuanya adalah pria-pria muda yang tubuhnya kerempeng.

Memang sebaiknya kalau penunggang kuda balap dipilih orang bertubuh kecil dan ringan, demikian pendapat para pemilik kuda balap.

Tujuh ekor kuda itu dengan para penunggangnya, berjalan dengan gagah berputaran di sekitar tempat permulaan, atau garis start di mana telah berkumpul pula para petugas yang mengatur perlumbaan.

Di tempat pemberangkatan itu telah dipasang sembilan tempat kuda, agar para kuda itu dapat bersiap dengan tenang dan baru bergerak kalau aba-aba dan pintu tempat itu sudah diberikan dan dibuka.

Akan tetapi karena para pengikut belum lengkap, maka para penunggang kuda belum memasuki tempat masing-masing, masih memperagakan kebolehan mereka menunggang kuda dan keindahan kuda tunggangan mereka.

Agaknya Lui Shi, wanita pembantu Bouw-thicu itu memang sengaja menanti dan hendak melihat seperti apa macamnya kuda yang akan diajukan oleh Thio-thicu, oleh karena itu, ia pun menanti dan belum juga keluar bersama kudanya.

Akhirnya setelah menanti dan belum juga kuda jagoan Thio-thicu muncul, dan para penonton yang sudah tidak sabar lagi berteriak-teriak menuntut agar Bouw-thicu yang sudah dinanti-nanti orang itu suka mengeluarkan kudanya, Bouw-thicu menyuruh Lui Shi untuk memasuki arena.

Maka muncullah wanita cantik ini di atas kudanya yang hitam, dengan amat gagahnya memasuki arena itu.

Kuda hitamnya memang amat indah.

Besar dan bertubuh kuat sekali, bulunya hitam mengkilap seperti dicat, bulu surinya riap-riapan amat rapinya dan bulu ekornya juga subur dan indah.

Wanita itu sendiri nampak cantik dan gagah, perkasa, apalagi karena wajahnya yang dirias tebal, dari jauh nampak amat cantik, jelita.

Pakaiannya dari sutera putih dan merah muda itu serasi benar dengan bulu kuda yang hitam kelam, maka ketika kudanya memasuki arena, dan angin membuat bulu suri dan ekor kuda juga baju sutera putih dan merah muda itu berkibar-kibar, para penonton menyambutnya dengan sorak-sorai dan tepuk tangan.

Pada pagi hari itu, boleh dibilang seluruh penduduk di sekitar daerah itu berkumpul di tempat itu, terutama kaum prianya.

Soraksoral yang menggegap-gempita menyambut munculnya Lui Shi ini membuat kuda hitam yang ditungganginya terkejut dan berdiri di atas dua kaki belakang.

Semua orang terkejut dan khawatir, akan tetapi Lui Shi dapat duduk di atas panggung kuda yang berdiri itu dengan enaknya, bahkan mengangkat tangan kiri melambai-lambai ke segala jurusan dengan gaya memikat.

Ketika kuda hitam itu sudah menurunkan kembali kedua kaki depannya, tiba-tiba wanita itu sendiri meloncat dan tubuhnya yang tadinya duduk itu kini berdiri di atas punggung kuda, dan ia melarikan kudanya berputar-putar di situ seperti seorang akrobat pemain sirkus kuda yang mahir.

Kembali para penonton menyambutnya dengan tepuk sorak gembira.

Lui Shi sengaja lewat di depan panggung, memberi hormat kepada para pembesar lalu lewat pula di depan rombongan Thio-thicu dengan lagak mengejek.

Ketika Lui Shi lewat di situ, Suma Kian Bu dan Siang ln sengaja tidak memperlihatkan diri.

Ci Sian melihat bahwa calon lawannya sudah muncul, lalu membuka penutup dan pelindung tubuh kudanya, meloncat ke atas punggung kuda itu dan setelah mengangguk kepada Siang In dan Kian Bu, ia pun lalu menggerakkan kudanya memasuki arena perlumbaan.

Semua penonton memang sudah sejak tadi menanti munculnya kuda dari Thio-thicu, terutama mereka yang berpihak kepada tuan tanah ini dan telah mempertaruhkan banyak uang untuk kuda Thio-thicu.

Kini, melihat munculnya seekor kuda hitam yang serupa benar dengan kuda hitam milik Bouw-thicu, hanya bedanya kuda hitam ini jantan sedangkan kuda hitam milih Bouw-thicu betina, semua orang terheran-heran.

Apalagi ketika melihat bahwa yang menunggang kuda hitam itu adalah seorang dara remaja yang berpakaian serba kuning, seorang dara yang biarpun tidak memakai riasan muka seperti Lui Shi akan tetapi yang memiliki kecantikan seperti bidadari dan sikapnya amat gagah, pecahlah ledakan sorak-sorai dan tepuk tangan.

Semua orang memang sudah mendengar berita angin bahwa Thio-thicu juga telah mendapatkan seekor kuda pilihan yang kabarnya akan mampu menandingi kuda hitam milik Bouw-thicu.

Akan te-tapi tidak ada yang mengira bahwa kuda itu pun adalah seekor kuda hitam yang sama benar, bahkan agak lebih tinggi dibandingkan dengan kuda milik Bouw-thicu.

Dan yang membuat mereka gembira dan terheran-heran karena sama sekali lebih tidak mereka sangka lagi adalah bahwa penunggangnya juga seorang wanita, bahkan seorang dara remaja yang demikian cantik dan gagahnya!

Biarpun dari jauh Lui Shi nampak cantik sekali, akan tetapi semua orang tahu bahwa kecantikan wanita yang lebih tua itu banyak dibantu oleh bedak dan gincu, sedangkan kecantikan dara remaja itu adalah kecantikan aseli.

Maka, kenyataan bahwa kuda kedua orang tuan yang saling bersaing itu serupa, dan juga penunggangnya sama wanita cantik, tentu saja para penonton menjadi gembira sekali dan suapana menjadi tegang, apalagi mereka yang bertaruh.

Sibuklah mereka ini untuk menambah atau merobah taruhan mereka setelah kedua "jago"

Itu keluar.

Sementara itu, melaLui wakil masing-masing, terjadi pertaruhan yang luar biasa antara Bouw-thicu dan Thio-thicu.

Mereka itu saling mempertaruhkan tanah di perbatasan antara wilayah mereka, tanah yang luas lebih dari separoh milik mereka, masih ditambah lagi dengan jumlah perak dan emas yang membuat salah satu di antara mereka rudin kalau kalah!

Dan pertaruhan besar ini disyahkan dan disaksikan oleh kepala daerah sendiri!

Ci Sian tidak berlagak seperti yang diperlihatkan Lui Shi tadi.

Akan tetapi tanpa berlagak sekalipun dara ini sudah nampak gagah sekali.

Hek-liong-ma berlari congkiang dan Ci Sian langsung melarikan kudanya ke dalam tempat berkotak yang diperuntukkan para pembalapitu.

Ia membawa kudanya memasuki tempat yang bertuliskan huruf Thio.

Sementara itu, semua kuda yang sudah memasuki kotak masing-masing.

Karena para petugas perlumbaan sudah mengibarkan bendera, pertanda bahwa perlumbaan akan dimulai dan semua kuda harus bersiap-siap di dalam kotak masing-masing.

Semua pembalap memandang ke arah petugas yang memegang sebuah bendera merah dan yang berdiri di tempat yang agak tinggi.

Petugas inilah yang akan memberi tanda dimulainya balap kuda itu.

Kalau bendera yang diangkatnya tinggi itu sudah dikelebatkan turun, itulah tandanya.

Dan Si Petugas, itu pun masih memegang tangkai bendera dengan kedua tangannya dan dia sejak tadi memandang ke atas panggung, ke arah kepala daerah.

Karena kalau para pembalap itu menanti tanda dari dia, maka diapun menanti tanda dari pembesar itu.

Hanya kepala daerah saja yang berhak memberi tanda bahwa perlumbaan boleh dimulai.

Agaknya kepala daerah itu sedang menerima laporan-laporan dari para petugas dan penyelidikannya bahwa segala sesuatunya berjalan beres, tidak ada apa apa yang mencurigakan dan tidak ada permainan curang dilakukan orang dalam perlumbaan itu.

Maka, setelah merasa yakin bahwa tidak ada hal yang patut dicurigai, kepala daerah itu lalu bangkit dari tempat duduknya, lalu mengangkat tangan ke kanan ke atas dan menggerakkan tangan itu tiba-tiba ke bawah.

inilah tanda bahwa perlumbaan boleh dimulai, yang merupakan isyarat bagi Si Petugas pemegang bendera merah.

Dan semua mata penonton hampir tak pernah berkedip memandang ke arah kotak-kotak itu, menanti dengan hati berdebar saat dimulainya perlumbaan yang menegangkan hati itu, terutama yang akan terjadi di antara dua penunggang kuda wanita itu.

Akan tetapi, di dalam ketegangan ini ada saja penonton yang berkelakar mengatakan bahwa jangan-jangan yang dinanti-nanti dengan tegang, yaitu dua orang pembalap wanita itu, ternyata akan menjadi pemenang dari belakang!

"Bagaimanapun juga, mereka hanyalah wanita-wanita!"

Tambahnya.

Kelakar ini mengurangi ketegangan dan terdengar suara ketawa.

Bagaimanapun juga, kelakar itu masuk di akal dan bukan hal yang tidak mungkin akan terjadi seperti yang diramalkan oleh orang itu.

Dan betapa akan lucunyakalau kedua penunggang kuda wanita itu, yang kini dikagumi dan diadakan pusat pertaruhan yang amat ramai, di akhir perlumbaan itu akan menjadi juara dari belakang, yaitu nomor satu dan nomor dua paling akhir!

Begitu kepala daerah itu menggerakkan tangannya, petugas yang memegang bendera merah pun berseru dengan suara nyaring, suara yang sudah dinanti-nanti oleh para peserta perlumbaan.

"Perlombaan dimulaiiiii!"

Dan bendera merah itu pun berkelebat turun dari atas.

Para pembalap itu menggebrak kuda masing-masing, pada saat para petugas menarik palang yang menutup kotak-kotak itu dan mulailah terdengar derap kaki kuda yang diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai para penonton.

Binatang-binatang itu seperti mendapatkan semangat tambahan, atau memang ketakutan mendengar sorak-sorai itu dan mereka pun lari semakin kencang.

Menurut peraturan perlumbaan, para pembalap harus mengelilingi arena balap itu sebanyak tiga kali putaran, Dan setelah memutar lapangan itu tiga kali, lalu membelok ke depan panggung para pembesar di mana telah disediakan seikat bunga dengan pita merah yang digantungkan.

Peserta yang paling dulu meraih dan mengambil seikat bunga indah yang dinyatakan sebagai pemenang pertama.

Ada pula di situ digantungkan ikatan bunga untuk diambil oleh pemenang ke dua dan ke tiga.

Dan di sepanjang arena perlumbaan itu, di tengah jalan diadakan rintangan-rintangan seperti pagar dan parit yang harus dilompati oleh kuda peserta.

Jadi, yang diperlumbakan bukan hanya kecepatan, melainkan juga ketangkasan dan kemahiran si penunggang kuda.

Pada tengah putaran pertama, sembilan ekor kuda itu masih kelihatan sama cepatnya, mereka lari kencang berdampingan seolah-olah mereka itu bersepakat untuk lari bersama, tidak saling mendahuLui.

Akan tetapi begitu mereka tiba di rintangan-rintangan di mana mereka harus mengerahkan kekuatan kaki dan kemahiran penunggang kuda masing-masing untuk melompat agar tidak sampai tersandung pagar atau jatuh ke dalam parit lumpur, mulailah nampak keunggulan Lui Shi Wanita ini mengeluarkan teriakan melengking dan agaknya ini merupakan tanda bagi kuda hitamnya untuk meloncati parit dengan loncatan yang amat indah dan tinggi, jauh melampaui para saingannya dan ketika tiba di seberang parit, kuda itu lalu lari membalap dengan cepat sekali seolah-olah keempat kakinya tidak lagi menyentuh bumi!

Sorak-sorai meledak dari para penonton di luar arena balap itu, terutama sekali dari anak buah Bouw-thicu dan dari mereka yang berpihak dan bertaruh atas kuda hitam milik Bouw-thicu.

Dan seolah-olah didorong oleh suara sorak-sorai ini, kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi makin membalap sehingga jauh meninggalkan para saingannya.

Sedangkan Hek-liang-ma yang ditunggangi Ci Sian masih bersama dengan para pembalap lain, hanya berada paling depan saja.

Makin cepat juga kuda hitam Lui Shi meluncur sehingga ketika putaran pertama habis, ia telah meninggalkan para lawan sejauh hampir seperempat putaran!

Tentu saja para penonton menjadi gegap-gempita, bersorak-sorak dan mencemooh kuda lain, terutama Ci Sian yang tadinya diharapkan akan dapat mengimbangi kecepatan kuda milik Bouw-thicu itu.

Hal ini membuat Lui Shi timbul kesombongannya dan mulailah ia berlagak.

Ia berloncatan di atas punggung kudanya, berjungkir-balik, berjongkok dan menari-nari di atas punggung kudanya yang berlari kencang itu.

Memang harus diakui bahwa wanita ini pandai sekali menunggang kuda.

Berdiri di atas punggung kudanya yang berlari kencang itu agaknya bagi wanita itu tiada bedanya dengan berdiri di atas tanah saja!

Para penonton tentu saja menjadi semakin gembira, ada yang tertawa dan bertepuk tangan riuh, bahkan mereka yang berpihak kepada kuda lain pun mau tidak mau harus mengagumi kepandaian wanita itu dan kecepatan lari kuda hitam yang ditungganginya.

Mereka semua tahu bahwa apa yang dipertontonkan wanita itu bukanlah main-main, berbeda dengan pertunjukan komedi kuda di mana kudanya tidak berlari sekencang itu dan bukan sedang dalam suatu perlumbaan besar.

Sekali saja salah perhitungan dan wanita itu terjatuh dari punggung kuda, akibatnya maut!

Thio-thicu memandang semua itu dan wajahnya berobah agak lesu.

Dia adalah seorang yang sudah sering mengadakan perlombaan kuda dan setelah melihat betapa dalam putaran pertama, jadi sepertiga jarak perlumbaan, pihak musuh sudah mendahului dengan seperempat putaran, harapannya sudah menipis.

Tak mungkin ada kuda yang akan dapat menyusul ketinggalan sejauh itu.

Dan diam-diam dia pun harus mengakui bahwa kuda hitam milik orang she Bouw itu memang luar biasa sekali.

Belum pernah dia melihat ada kuda dapat berlari secepat itu, juga belum pernah dia melihat penunggang kuda sepandai wanita yang bekerja untuk lawan itu.

Maka dia pun menoleh ke arah Suma Kian Bu dan Teng Siang In yang duduk di sebelah kirinya dan dia terheran-heran.

Suami isteri pendekar ini nampak tenang-tenang saja!

Hal ini membuat dia penasaran, maka dia pun tak dapat menahan hatinya bertanya kepada Siang In yang duduknya paling dekat dengannya.

"Bagaimana pendapat Toanio? Kuda kita agaknya akan kalah...."

Betapa herannya hati tuan tanah itu ketika mendengar jawaban pendekar wanita itu dengan suara tenang.

"Ia tidak akan kalah, Adik Ci Sian adalah seorang penunggang kuda yang baik dan mencinta kudanya. Ia tidak mau menguras tenaga kudanya, melainkan menanti saat baik. Lihatlah....!"

Tuan tanah itu menengok, apalagi karena tepat pada saat itu terdengar sorak-sorai riuh-rendah, dan tepuk tangan gegap-gempita.

Ketika dia menoleh ke arah perlombaan, wajahnya segera berobah, kalau tadinya lesu kini menjadi berseri-seri dan saking lupa diri dia sampai bangkit berdiri dari tempat duduknya.

Dia melihat kuda hitam yang ditunggangi Ci Sian mulai "terbang"!

ya, memang lebih pantas disebut terbang karena kuda hitam itu berlompatan atau berlari seperti terbang saja, meninggalkan kelompok teman-temannya yang tadinya tertinggal jauh oleh kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi!

Lui Shi tadinya masih enak-enakan, masih mengira bahwa semua tepuk sorak itu adalah untuknya.

Memang ia sudah yakin akan kemenangannya dan memandang rendah kepada semua lawannya.

Bukankah ia sudah menang seperempat putaran dan dua putaran lagi ia akan meninggalkan mereka lebih jauh lagi!

Akan tetapi ketika ia iseng-iseng menoleh ke arah panggung dan melihat betapa rombongan Thio-thicu juga bersorak-sorak, bahkan Thio-thicu sendiri yang gendut itu bangkit berdiri dan berjingkrak-jingkrak, ia terkejut dan heran sekali.

Cepat Lui Shi menoleh dan ketika ia melihat seekor kuda hitam meluncur cepat sekali dari belakang, tahulah ia bahwa kuda hitam yang ditunggangi dara remaja itu, milik Thio-thicu, telah mulai berusaha untuk mengejar dan menyusulnya!

"Setan!"

Ia memaki dan kalau tadinya ia enak-enakan jongkok di atas punggung kudanya, kini ia turun lagi dan duduk di atas punggung, lalu membedal kudanya agar berlari lebih cepat lagi.

Kuda hitam tunggangannya itu bukan lain adalah kuda hitam milik suami isteri dari Pulau Es itu, dan memiliki ketangkasan yang seimbang dengan Hek-liong-ma.

Maka begitu dibedal, kuda ini meringkik dan meluncur ke depan lebih cepat lagi.

Terjadilah kejar-mengejar antara dua ekor kuda hitam ini.

Kejar-mengejar dalam putaran yang kedua dan ketika menghadapi rintangan, mereka berlompatan dengan amat cekatan.

Karena kuda hitam Lui Shi dibedal sekuatnya, maka kembali Hek-liong-ma tidak dapat menyusulnya dan jarak di antara mereka masih cukup jauh, sungguhpun Hek-liong-ma juga sudah jauh sekali meninggalkan para lawan yang lain!

Dan ketika putaran kedua habis, jarak antara mereka masih ada sedikitnya lima puluh meter!

Tentu saja kejar-kejaran ini membuat para penonton panas dingin rasanya, apalagi di pihak Bouw-thicu dan Thio-thicu.

Mereka semua dari kedua rombongan ini, sudah bangkit berdiri dan tidak ada yang tidak menggerakkan kaki tangan dan mulut mereka untuk memberi dorongan semangat.

Seolah-olah nampak semangat mereka beterbangan ke arah dua kuda jagoan masing-masing dan semangat itu ikut mendorong pantat kuda agar lebih cepat lagi!

Tinggal satu putaran lagi dan di sinilah letak, keuntungan Ci Sian.

Kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi telah lebih dulu diperas tenaganya, dipaksa berlari sekencangnya dan pada putarsn terakhir ini, nampak betapa kuda itu menjadi lemah.

Mulutnya mulai berbuih dan hidungnya mendengus-dengus, tanda bahwa kuda itu mulai kelelahan.

Tidak demikian dengan Hek-liong-ma yang kelihatan semakin gembira untuk mengejar kuda di depan itu.

Lomba itu kini seolah-olah hanya dilakukan oleh dua ekor kuda hitam itu.

Yang lain-lain sudah tidak masuk hitungan lagi.

Bahkan para thicu yang memiliki kuda lain itu sama sekali tidak lagi memperhatikan kuda mereka sendiri yang jauh tertinggal di belakang, melainkan menujukan perhatian mereka kepada dua ekor kuda yang berrlari secepat terbang itu.

Dan para petaruh mulai berteriak-teriak untuk menambah taruhan mereka.

Kini, lambat namun jelas sekali, Hek-liong-ma mulai dapat mengurangi jaraknya dari kuda hitam di depan.

Dan Lui Shi yang sejak tadi sering menoleh ke belakang, melihat pula akan hal ini.

Telinganya dapat menangkap derap kaki kuda di belakangnya itu, yang merupakan suara seperti ancaman setan, makin lama semakin jelas.

Mereka berdua tiba di tempat di mana ada rintangan-rintangan pagar dan parit dan mulailah Hek-liong-ma memperlihatkan ketangkasannya.

Lompatan demi lompatan dilakukannya dan perlahan-lahan kuda ini mulai dapat menyusul kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi!

Ketika semua rintangan dapat dilompati oleh dua ekor kuda itu, kini dua ekor kuda itu sudah hampir sejajar, dan Hek-liong-ma hanya kalah setengah badan saja!

Kini Lui Shi dapat melihat wajah Ci Sian yang tersenyum tenang, wajah yang menimbulkan benci dan iri dalam hati Lui Shi.

Tiba-tiba Lui Shi mengeluarkan suara nyaring yang bunyinya seperti ring-kikan kuda.

"Hiiii-yehh.... hiii-yehhh....!"

Dan akibatnya memang hebat.

Hek-liong-ma mengurangi kecepatan gerakan kakinya dan tiba di belakang kuda hitam betina itu!

Mereka kini sudah melalui separuh dari putaran terakhir!

Ci Sian terkejut sekali dan ia teringat bahwa wanita ini adalah seorang penjinak kuda.

Tentu teriakannya tadi merupakan teriakan yang khas, yang merupakan bahasa kuda yang agaknya menahan Hek-liong-ma!

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara lain di dekat mereka.

Suara ini seolah-olah berada dekat sekali dengan dua orang wanita itu, dan seperti suara setan yang tidak nampak.

"Hek-liong-ma.... ckk, ckk.... hyaaakkk....!"

Mendengar suara ini, Hek-liong-ma tiba-tiba meloncat ke depan dan dengan beberapa kali loncatan saja kuda ini sudah dapat menyamai lagi sehingga lari berendeng dengan kuda hitam!

Penonton seperti gila, berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan menyaksikan peristiwa ini, kejar-mengejar yang mendebarkan dan menegangkan hati ini.

Ada beberapa orang petaruh yang jantungnya lemah sudah jatuh pingsan di tempat dia berdiri!

Melihat ini, Lui Shi terkejut bukan main dan beberapa kali ia berusaha untuk menguasai Hek-liong-ma dengan teriakan-teriakan aneh.

Akan tetapi selalu ada suara lain yang menentangnya dan agaknya Hek-liong-ma lebih taat kepada suara tanpa rupa ini.

Diam-diam Ci Sian kagum bukan main dan tahulah ia bahwa suara itu tentulah suara Pendekar Siluman Kecil yang mempergunakan khi-kang yang amat kuat, mengirim suara dari jauh untuk menguasai Hek-liong-ma.

Melihat betapa Hek-liong-ma kini malah telah menang setengah badan dibandingkan dengan kudanya, Lui Shi marah bukan main tangan kirinya mengambil sesuatu dari balik bajunya dan tangan itu bergerak.

Sinar lembut menyambar ke arah belakang kuda Hek-liong-ma.

Akan tetapi, sejak tadi Ci Sian tidak pernah lengah.

Ia tahu akan kecurangan lawan, maka sejak tadi pun ia sudah bersiap.

Melihat tangan kiri lawan merogoh saku saja ia sudah curiga, maka begitu tangan kiri itu bergerak dan jarum-jarum meluncur ke arah belakang tubuh Hek-liong-ma, cepat dara ini mencondongkan tubuhnya ke belakang, dengan tangan kiri ia mengebut dan mengerahkan tenaga khi-kang sehingga jarum-jarum itu runtuh, Akan tetapi masih sempat menyambar dan menangkap beberapa batang jarum dengan tangan kirinya, lalu langsung menyambit dan jarum-jarum itu kembali kepada pemiliknya.

Akan tetapi berbeda dengan Lui Shi, Ci Sian tidak menyerang kuda, melainkan langsung menyambitkan jarum-jarum itu ke arah tubuh Lui Shi!

Lui Shi kaget bukan main.

Tak disangka bahwa dara remaja yang menjadi penunggang kuda hitam itu ternyata adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali!

Disangkanya hanya seorang penunggang kuda yang mahir ilmu menunggang kuda saja.

Siapa tahu, dengan kebasan tangannya, bukan saja dara itu mampu meruntuhkan jarum-jarumnya, bahkan dapat menangkap jarum-jarumnya dan kini sambitan cepat seperti kilat menyambar!

Wanita ini mengeluarkan seruan kaget dan tiba-tiba saja tubuhnya lenyap dari atas kuda.

"Ehhh....?"

Ci Sian terkejut, akan tetapi ia menjadi kagum ketika wanita itu muncul kembali dan ternyata tadi ketika mengelak dari serangan jarumnya, Wanita itu telah menjatuhkan dirinya ke bawah perut kuda dengan kedua kaki tetap mengait tubuh kuda itu.

Sungguh merupakan ilmu menunggang kuda yang hebat, yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli pemain sirkus yang amat mahir.

Kini mereka terus membalapkan kuda mereka dan dua ekor kuda itu, masih terus lari berendeng, sungguhpun Hek-liong-ma menang setengah badan.

Sorak-sorai masih menggegap-gempita di kalangan penonton, bahkan para pembesar yang juga ikut-ikutan merasa tegang, sudah berdiri semua di atas panggung dan ikut bertepuk-tangan.

Kini putaran terakhir hampir habis!

Melihat kudanya akan kalah begini terus, tiba-tiba Lui Shi mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menaburkan benda putih di atas pinggul dan ekor kudanya.

Dan tiba-tiba Hek-liong-ma mengeluarkan suara meringkik aneh dan....

kuda ini menahan larinya, kemudian berlari di belakang kuda hitam itu sambil mendengus-dengus!

Ci Sian menjadi terkejut dan juga bingung.

Ia tidak tahu apa yang telah terjadi.

Ia tidak tahu bahwa Lui Shi yang ahli itu telah menaburkan obat yang membuat kuda-kuda jantan seolah-olah menganggap kuda betina itu sedang dalam waktu birahi!

Dan hal ini merangsang kuda Hek-liong-ma yang sudah mengenal kuda hitam itu sebagai kawan lamanya, lalu lari di belakangnya, tidak mau mendahului tentu saja para penonton bersorak-sorak lagi melihat ramainya perlumbaan itu, melihat betapa kini kembali kuda tuan tanah Thio tertinggal di belakang, kalah satu badan!

Bahkan Suma Kian Bu dan isterinya juga berdiri saling pandang dengan bingung, tidak tahu apa yang telah terjadi dan tidak tahu pula harus berbuat apa.

Pendekar Siluman Kecil telah mengirim aba-aba kepada Hek-liong-ma, akan tetapi tetap saja kuda ini tidak mau mendahului kuda betina.

Putaran terakhir sudah habis dan kini tinggal membelok untuk merebutkan ikatan bunga dengan pita merah sebagai tanda pemenang atau juara pertama!

Dan Hek-liong-ma masih ketinggalan satu badan!

Pada saat terakhir itu, saking penasarannya, tiba-tiba Ci Sian mengeluarkan suling emasnya, meniup suling itu dengan nada yang begitu tingginya sehingga tidak terdengar oleh telinga manusia, akan tetapi karena ia mengerahkan khi-kang dan menujukan suara suling dengan ilmu yang dipelajarinya bersama Kam Hong, menujukan suara itu menyerang kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi, tiba-tiba saja kuda hitam yang ditunggangi Lui Shi itu meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas dan tentu saja otomatis larinya terhenti!

Kuda itu telah terserang pendengarannya oleh suara lengkingan tinggi yang menggetar dan seolah-olah menusuk kedua telinganya, membuat binatang itu meringkik kesakitan dan juga amat terkejut.

Tentu saja kesempatan baik ini tidak disia-siakan oleh Ci Sian.

Ia membedal kudanya, Hek-liong-ma meloncat ke depan dan sebelum Lui Shi dapat menguasai kembali kuda hitamnya yang ketakutan, dengan mudahnya Ci Sian sudah meraih dan menyambar ikatan bunga dengan pita merah sebagai tanda bahwa ia keluar sebagai juara.

Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh memenuhi lapangan itu dan Lui Shi yang akhirnya dapat menguasai kembali kudanya karena kini tidak ada lagi suara suling yang membikin takut kuda itu, baru dapat melihat ketika mendengar sorak-sorai itu bahwa kejuaraan telah direbut oleh Ci Sian dan kuda hitamnya.

"Keparat....!"

Ia mengutuk dan membalapkan kudanya ke depan dengan muka merah penuh geram.

Ia tahu bahwa dara remaja itu tentu telah melakukan sesuatu yang membuat kudanya tadi ketakutan.

Ia pun tadi melihat dara itu meniup suling yang mengkilap, dan biarpun telinganya tidak menangkap suara apa-apa, namun getaran yang halus sekali terasa olehnya maka tahulah ia bahwa dara itu menggunakan siasat untuk membuat kudanya ketakutan dan berjingkrak tadi.

Maka ia menjadi marah sekali sehingga ia tidak ingat lagi bahwa di samping hadiah sebagai juara pertama, masih ada juara ke dua dan ke tiga.

Ia membalapkan kudanya mengejar Ci Sian yang sudah mengambil ikatan kembang dengan pita merah itu.

"Iblis curang!"

Bentak Lui Shi sambil mengejar.

Melihat sikap wanita ini, Ci Sian maklum bahwa ia terancam serangan, maka cepat ia melemparkan ikatan bunga sebagai tanda juara itu ke arah Thio-thicu karena ia sudah tiba di depan rombongan itu, kemudian ia pun meloncat turun ke atas tanah, membiarkan Hek-liong-ma dirawat oleh beberapa orang tukang kuda pembantu Thio-thicu yang segera menyelimuti kuda itu dengan selimut bulu dan menyeka keringat kuda itu.

Melihat betapa Ci Sian sudah menantinya dengan berdiri tegak, Lui Shi menjadi semakin marah, merasa kalau ditantang.

Maka ia pun meloncat turun dari atas kudanya ke depan Ci Sian.

"Lui Shi.... ambil juara ke dua!"

Terdengar Bouw-thicu dan anak buahnya berteriak.

Akan tetapi Lui Shi seperti tidak mendengar seruan-seruan itu, dan Ci Sian yang diam-diam merasa marah kepada wanita curang ini, sengaja mengejek agar Bouw-thicu kehilangan semua kejuaraan.

"Hemm, wanita tak tahu malu. Engkau sudah kalah, masih banyak lagak mau apakah?"

Setelah berkata demikian, sambil tersenyum mengejek Ci Sian lalu meloncat ke atas panggung.

Panggung itu memang memanjang ke depan, tempat para petugas tadi menyampaikan pengumuman dan lain-lain, dan kini ditinggalkan kosong karena semua pembesar dan petugas sudah duduk di kursi masing-masing.

Dan Ci Sian melompat ke tempat ini, dengan sengaja, untuk memancing Lui Shi menjauhi kejuaraan yang ke dua dan ke tiga, dan juga agar mereka berdua dapat nampak oleh semua orang yang berada di bawah, terutama sekali oleh para pembesar yang duduk di atas panggung.

Diejek oleh Ci Sian, kemarahan Lui Shi meluap, membuatnya menjadi mata gelap dan tanpa mempedulikan apa-apa lagi, melihat lawannya itu melompat naik ke atas panggung, ia pun lalu menggunakan gin-kangnya meloncat ke atas panggung.

Semua ini dapat dilihat dengan jelas oleh para penonton, juga oleh para pembesar dan tentu saja semua orang tertarik dan tegang.

Kini semua mata memandang ke arah dua orang wanita itu yang sudah saling berhadapan di ujung panggung, dan agaknya tidak ada seorang pun yang mempedulikan jalannya perlombaan lagi.

Ada pertunjukan yang lebih menarik dan menegangkan di atas panggung.

"Eh, engkau berani mengejarku?"

Ci Sian terus menggoda dan mengejek.

"Sudah kalah tidak mau menyadari kebodohan sendiri, malah mengamuk-ngamuk. Sungguh engkau ini nenek-nenek tak tahu malu, tebal muka....!"

Ci Sian terus menggoda.

Sepasang mata wanita itu mendelik dan kini wajahnya tidak kelihatan terlalu cantik lagi.

Bahkan mengarah buruk, karena keringatnya membasahi dahi, membuat pupur tebal itu luntur dan kulit mukanya yang tertutup bedak tidak rata itu malah menjadi coreng-moreng.

"Keparat, kubunuh engkau.... kubunuh engkau...."

Lui Shi berkata dengan suara mendesis dan napas agak memburu saking marahnya.

"Aha, begitu mudahkah? Benarkah engkau akan mampu?"

Ci Sian tetap saja mengejek.

Ucapan dan sikap dara remaja ini bagaikan angin yang mengipasi api kemarahan Lui Shi, maka wanita ini menjadi lupa diri.

Ia lupa bahwa ia berada di tempat yang gawat, di depan para pembesar dan pejabat setempat, bahkan di depan kepala daerah Propinsi Sin-kiang!

Dengan mata gelap ia sudah melolos keluar senjatanya, yaitu sebatang pedang lemas yang dapat digulungnya dan disembunyikannya di balik bajunya, dan dengan pedang di tangan ini ia menerjang maju, mulutnya mendesis.

"Kucincang engkau.... kucincang dan kupenggal kepalamu....!"

Akan tetapi ia terlalu memandang rendah kepada Ci Sian, terkecoh oleh keadaan dara remaja itu.

Biarpun dalam pandangan orang-orang lain yang menyaksikannya, serangan pedang dari Lui Shi itu amat cepat dan kuat dan amat berbahaya, namun dalam pandangan Ci Sian Sian tidaklah demikian.

Ia dapat mengikuti gerakan pedang itu baik dan dengan mudahnya ia mengelak sampai tujuh kali beruntun ketika pedang itu menyerang bertubi-tubi.

Tenaga manusia itu terbatas dan tidak mungkin serangan dilanjutkan terus tanpa henti, karena si penyerang perlu memulihkan tenaga dan mengatur napas.

Ketika pedang itu berhenti bergerak menyerang setelah semua bacokan dan tusukannya mengenai angin belaka, detik ini dimanfaatkan oleh Ci Sian, tangan kirinya menyambar dan biarpun Lui Shi juga seorang wanita yang gesit, namun sehabis menyerang bertubi-tubi itu, ia belum mampu menjaga diri, maka dengan kecepatan sekejap mata, tahu-tahu pipinya telah berkenalan dengan telapak tangan Ci Sian yang menyambar.

"Plakkk....!"

Telapak tangan Ci Sian itu halus lembut dan hangat, telapak tangan seorang dara yang terpelihara dan terawat baik-baik, yang tidak pernah atau jarang bekerja berat.

Akan tetapi karena tangan itu terlatih, mengandung kekuatan sin-kang yang amat hebat, maka biarpun tamparan itu dilakukan oleh Ci Sian dengan perlahan saja, bukan dengan niat membunuh, tidak urung tubuh Lui Shi terputar seperti disambar halilintar, dan setelah berjungkir balik dan memutar pedang mengatur keseimbangan, barulah ia dapat terhindar dari keadaan terpelanting dan roboh.

Seluruh mukanya terasa berdenyut-denyut dan panas sekali, dan ternyata pipi kanannya telah membengkak dan merah, sedangkan ujung bibirnya pecah berdarah!

Sejenak ia terbelalak, saking terkejut, heran dan penasaran.

Akan tetapi segera semua itu ditelan oleh kemarahannya yang berkobar-kobar.

Orang marah sama dengan orang mabuk.

Dalam keadaan marah, kewaspadaan kita tertutup, seolah-olah tertutup oleh asap dari api kemarahan, membuat kita buta dan tidak dapat melihat kenyataan dengan terang.

Kemarahan membutakan mata menulikan telinga dan dalam keadaan mabuk seperti itu, orang dapat melakukan apa saja, terutama melakukan hal-hal yang kejam, karena satu-satunya tujuan hanyalah melampiaskan kemarahan yang hanya dapat terlak-sana dengan membalas dendam kepada orang yang menimbulkan kemarahan itu.

Kemarahan merupakan penghamburan energi batin yang amat besar dan amat kuat sehingga banyaknya kemarahan akan mempengaruhi jamani, menjadi lekas lapuk dan tua.

Dalam kemarahannya, Lui Shi seperti tak melihat apa-apa lagi kecuali wajah dara remaja yang dianggapnya seperti setan yang amat dibencinya itu.

Ia mengeluarkan pekik melengking tinggi yang menyeramkan dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.

Dari tangan kiri itu menyambar sinar yang sama ketika ia menyerang kuda, dan tahulah Ci Sian bahwa lawannya yang curang ini kembali mempergunakan senjata rahasia jarum-jarum halus.

Namun, senjata rahasia seperti itu tentu saja merupakan permainan kanak-kanak bagi pendekar wanita remaja yang telah memiliki kesaktian ini.

Dengan kebutan tangan kirinya, Ci Sian membuat semua jarum itu runtuh, sedangkan yang melesat dan mengenai kulit tubuhnya setelah menembus pakaian, bertemu dengan kulit yang dilindungi sin-kang amat kuat sehingga tidak terasa sama sekali!

Ci Sian mencabuti empat lima batang jarum yang menancap di pakaiannya, dan membuangnya ke atas lantai seperti membuang kutu busuk.

Lui Shi terbelalak.

Kalau saja tidak dimabokkan oleh kemarahan yang berkobar, semua kenyataan ini saja tentu sudah menyadarkannya bahwa dara remaja itu bukan lawannya, terlalu tangguh baginya.

Namun, ia sudah mabok dan ia sudah menubruk lagi dengan pedangnya, menyeranq dengan tusukan kilat ke arah dada Ci Sian.

Kini Ci Sian tidak mau memberi hati lagi.

Ia miringkan tubuh, tangan kirinya mengikuti gerakan lawan menusuk dengan jari tangan ke arah lambung, tusukan ini amat cepat dan berbahaya, mengeluarkan angin bersuit mengejutkan Lui Shi yang cepat menarik pedang dan hendak membacok tangan yang menusuk itu.

Akan tetapi tiba-tiba saja tangan Ci Sian Sian menyambar dan tanpa dapat dihindarkan lagi, untuk kedua kalinya pipi Lui Shi ditampar.

Sekali ini pipi kiri.

"Plakk!"

Tamparan yang keras sekali, membuat tubuh itu terputar dan terpelanting, dan ketika Lui Shi mampu bergulingan untuk mematahkan kejatuhan tubuhnya dan ia melompat bangun, pipi kirinya bengkak lebih besar daripada pipi kanannya dan ujung mulut kirinya juga berdarah.

Mukanya menjadi buruk sekali setelah kedua pipinya bengkak itu, bahkan bengkak-bengkak itu sampai membuat kedua matanya nampak sipit dan lucu, dan hidungnya terjepit antara dua bukit membengkak dari kedua pipinya.

"Anak setan....!"

Ia memaki dan menerjang lagi.

Ci Sian memapaki dengan tendangan akhirnya Lui Shi terjengkang.

Akan tetapi kembali wanita itu bangkit dan menyerang kembali Ci Sian menendang dan sekali ini ia mengerahkan lebih banyak tenaga.

"Desss....!"

Tubuh Lui Shi terlempar dan terguling-guling sampai ke depan kursi kepala daerah yang sudah menjadi marah sekali.

Semua orang melihat betapa Lui Shi yang mulai lebih dulu berkelahi itu.

Lui Shi yang melakukan penyerangan-penyerangan sedangkan Ci Sian hanya melindungi diri saja.

Maka kepala daerah itu lalu membentak.

"Tangkap perempuan pengacau ini!"

Lui Shi bukanlah wanita sembarangan.

Ialah yang menghubungkan Bouw-thicu dengan para pemberontak Mongol.

Kini melihat bahwa dirinya hendak ditangkap, kemarahannya yang sudah meluap itu membuat ia meloncat berdiri dan hendak menyerang pembesar itu!

Akan tetapi tiba-tiba dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu Suma Kian Bu dan Teng Siang In telah berdiri di depannya!

Lui Shi mengenal suami isteri yang menjadi pemilik kuda yang dicurinya.

Akan tetapi ia tidak mengenal mereka ini siapa dan belum tahu bahwa pemilik kuda itu adalah sepasang suami isteri yang kepandaiannya malah lebih tinggi daripada kepandaian gurunya sekalipun!

Maka ia tidak takut.

"Maling kuda, engkau menyerahlah!"

Kian Bu berkata.

"Huh! Mampuslah!"

Kata Lui Shi dan ia pun menubruk dengan tusukan pedangnya.

"Takk!"

Pedang itu dengan tepat mengenai dada pendekar berambut putih itu, akan tetapi pedang itu melengkung!

Pedang lemas, akan tetapi kalau dipergunakan oleh Lui Shi dengan pengerahan sin-kang, pedang itu dapat menjadi keras atau lemas.

Kini, ia menggunakan tenaga keras dan ternyata ketika mengenai dada orang, pedangnya melengkung seperti sebatang daun saja!

Dan tahu-tahu pedangnya itu telah dijepit oleh dua jari tangan pria itu, Lui Shi mengerahkan tenaga untuk mencabut pedangnya terlepas dari jepitan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pendekar itu, namun hasilnya sia-sia belaka, pedangnya itu seolah-olah sudah berakar pada kedua jari itu!

Bukan main kagetnya hati Lui Shi.

Baru sekarang ia tahu bahwa pemilik kuda yang memiliki wajah tampan gagah namun amat menyeramkan ini kiranya memiliki kepandaian lebih hebat lagi!

Kian Bu mengerahkan tenaga pada jari-jari tangannya, membuat gerakan menekuk dan memuntir.

"Krekk!"

Pedang itu patah menjadi dua!

Pucatlah wajah Lui Shi.

Pedangnya itu adalah sebuah pedang pusaka yang terbuat dari baja pilihan, yang mampu membabat putus besi dan baja biasa.

Akan tetapi kini pedang itu patah oleh tekukan dua jari tangan orang ini!

Tubuhnya mulai gemetaran karena tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti!

"Maling busuk, sebaiknya engkau menyerah"

Kata lagi Suma Kian Bu.

"Aku.... aku tidak mencuri apa-apa...."

Dalam gugupnya Lui Shi mencoba untuk membela diri.

"Bagus! Sudah mencuri membohong pula!"

Siang In mencibir.

"Sungguh pengecut tak tahu malu. Kuda hitam betina itu adalah kuda kami yang kau curi dari kami, menggunakan kepandaianmu menjinakkan kuda. Dan engkau masih berani menyangkal?"

Tiba-tiba dari samping terdengar suara orang, suara yang berat dan berwibawa.

"Harap jangan ada fitnah-fitnah yang tidak sehat disini! Kuda hitam itu adalah milik kami, dan kami menerimanya dari Lui Shi dengan syah. Kuda itu sejak dahulu adalah milik Lui Shi, bagaimana kini tiba-tiba ada orang menuduhnya mencuri?"

Suara ini adalah suara Bouw-thicu yang sudah tiba di tempat itu bersama beberapa orang pengawal pribadinya.

Tuan tanah yang bertubuh tinggi besar ini naik ke panggung dan setelah memberi hormat kepada para pembesar, terutama kepala daerah yang dikenalnya dengan baik, lalu mengeluarkan teguran itu kepada Suma Kian Bu dan Teng Siang In.

Mendengar teguran tuan tanah yang tinggi besar itu, Kian Bu berkata.

"Bouw-thicu, mungkin engkau sendiri juga tertipu oleh wanita ini. Akan tetapi kuda hitam itu benar milik kami. Kuda kami adalah sepasang, dan yang betina hilang dalam perjalanan kami, dan ternyata di curi oleh wanita ini."

"Bohong....!"

Lui Shi berkata dengan suara teriakan, sikapnya sudah pulih karena ia dibela oleh Bouw-thicu. Kini ia kelihatan marah dan penasaran.

"Kuda itu sejak kecil kukenal dan kupelihara, bagaimana tiba-tiba ada orang mengakuinya?"

"Taijin, kami mohon keadilan!"

Bouw-thicu berkata kepada Kepala Daerah Propinsi Sin-Kiang yang langsung menghadapi pertikaian ini.

Kepala daerah itu tersenyum dan memandang kepada Suma Kian Bu.

"Kalau ada dua pihak mengakui seekor kuda sebagai miliknya, maka jalan satu-satunya hanyalah agar kedua pihak memperlihatkan bukti akan kebenaran pengakuan masing-masing. Kalau ada bukti, barulah benar bahwa dia pemiliknya."

Bouw-thicu tersenyum.

Biarpun dia tadi kecewa karena kekalahan Lui Shi, bahkan kejuaraan kedua dan ketiga telah direnggut peserta lain, namun kini agaknya terbuka kesempatan baginya untuk menjatuhkan nama Thio-thicu atau setidaknya orangnya tuan tanah lawan itu, di hadapan semua pembesar dan semua penonton.

Biarpun dia kalah bertaruh, kekalahannya yang amat besar, baik dalam hal tanah yang luas maupun jumlah uang yang amat banyak, namun dia akan menang muka!

"Nah, pihak kami telah dapat mem-buktikan, lalu apakah bukti pihak lain yang mengaku-aku kuda hitam itu sebagai kudanya?"

Ucapan ini jelas ditujukan kepada pihak Thio-thicu yang juga sudah naik ke atas panggung itu, dan Thio-thicu tentu saja hanya dapat menoleh kepada Suma Kian Bu dan menyerahkan jawabannya kepada pendekar ini.

Suma Kian Bu bersikap tenang saja, dan mengangguk-angguk.

"Memang adil sekali, pemiliknya yang aseli harus dapat menunjukkan bahwa kuda itu taat kepadanya, dan itu dapat menjadi bukti. Nah, untuk membuktikan itu, aku akan menyuruh kuda itu melemparkan siapapun juga yang berani menungganginya!"

Kata pendekar itu dengan tenang.

"Baik, aku akan menungganginya!"

Tiba-tiba Lui Shi berseru dengan cepat dan wajahnya berseri-seri.

Di dalam hidupnya, selama ini Lui Shi tak pernah terpisah dari kuda yang menjadi kegemarannya, juga memang keahliannya adalah menunggang kuda.

Selain itu, ia merasa yakin bahwa ia telah benar-benar menguasai kuda hitam itu yang tentu takkan pernah mau membangkang terhadap perintahnya.

Maka ia menerima tantangan ini.

"Biarlah masing-masing pihak membuktikan bahwa ia pemilik sejati. Siapa yang mampu menungganginya selama terbakarnya sebatang hio maka dialah pemiliknya!"

"Itu sudah adil!"

Siang In berseru pula.

Kepala daerah itu merasa gembira dan minta kepada para pembantunya membuat pengumuman di ujung panggung itu akan adanya pertunjukan yang cukup menarik ini, untuk membuktikan siapa pemilik aseli dari kuda hitam itu.

Seorang petugas dengan suaranya yang nyaring segera membuat pengumuman dan para penonton menjadi gembira sekali karena setelah perlumbaan yang cukup menarik dan ramai itu, kini terdapat lagi sebuah pertunjukan yang akan cukup menegangkan.

Dan kembali ramailah orang saling bertaruh, yaitu bertaruh untuk siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Dan seperti juga tadi, kini banyak yang berani menjagoi Lui Shi, setelah mereka tadi melihat ketangkasan wanita ini dalam menunggangi kudanya.

Mereka, para penonton ini, tidak peduli siapa sesungguhnya pemilik kuda hitam itu, maka mereka bertaruh untuk siapa yang akan menang dalam menundukkan kuda itu dan tetap dapat menungganginya selama terbakarnya sebatang hio.

"Biarlah aku yang akan menungganginya."

Bisik Ci Sian kepada suami isteri itu. Akan tetapi sekali ini Siang In menggeleng kepala.

"Jangan Ci Sian. Aku sendiri pun tidak berani untuk melayaninya menunggang kuda. Satu-satunya yang akan dapat mengalahkannya hanyalah suamiku."

Mendengar bisikan kembali dari Siang In ini, Ci Sian tidak banyak cakap karena ia percaya penuh kepada suami isteri ini.

Apalagi karena memang kuda itu adalah milik mereka.

Apa yang diucapkan oleh Siang In memang tepat sekali.

Mereka mempunyai dua ekor kuda, yang keduanya sama benar, sama-sama hitam dan merupakan sepasang kuda yang sukar dicari bandingnya dan merupakan binatang-binatang yang luar biasa.

Yang jantan mereka sebut Twa-liong, sedangkan yang betina mereka sebut Siauw-liong (Naga Kecil), dan keduanya merupakan jenis kuda Hekliong-ma (Kuda Naga Hitam) yang dulu pernah dimonopoli oleh keluarga Kerajaan Mongol ketika berkuasa di Tiongkok.

Di jaman itu, boleh dibilang Hek-liong-ma hanya dimiliki oleh keluarga Raja dan orang lain tidak diperbolehkan memilikinya.

Kalau ada yang memilikinya tentu dirampas.

Setelah Kerajaan Goan (Mongol) roboh dan hancur, diperkirakan orang bahwa keluarga Raja itu pun membasmi kuda-kuda Hek-liong-ma.

Dan memang kenyataannya juga demikian, akan tetapi ternyata ada beberapa ekor kuda yang dapat lolos dan dua ekor kuda yang dimiliki oleh pendekar penghuni Pulau Es dan isterinya itu adalah keturunan dari kuda-kuda Hek-liong-ma yang lolos itu.

Twa-liong (Naga Besar) yang jantan menjadi tunggangan Siang In, sedangkan Siauw-liong menjadi tunggangan Suma Kian Bu.

Oleh karena itulah, maka biarpun Siauw-liong juga tidak asing dengan Siang In, namun nyonya ini maklum bahwa kuda itu akan lebih, akrab dan mudah mengenal bau badan orang lain.

Pula, dengan membiarkan suaminya yang menunggangi kudanya itu, ia sendiri dapat berjaga-jaga untuk menolak pengaruh ilmu sihir atau ilmu hitam, kalau-kalau pihak lawan mempergunakannya untuk mencapai kemenangan.

"Untuk menentukan siapa yang lebih dulu harus mencoba menunggangi kuda itu, akan diadakan undian."

Kata seorang petugas yang telah ditugaskan oleh pembesar kepala daerah untuk mengurus pertandingan ini dan Sang Petugas ini memang ahli dalam mengurus segala macam perlombaan atau pertandingan.

"Tidak adil!"

Kata Lui Shi.

"Dialah yang menuduhku maling kuda dan dia yang mengaku-aku kudaku ini sebagai kudanya, maka dia yang harus lebih dulu membuktikan kebenaran omongannya bahwa kuda ini akan taat kepadanya!"

Petugas itu hendak membantah karena peraturan perlombaan tidak peduli akan semua alasan.

Yang penting, para peserta perlombaan harus mentaati peraturan dan berlaku bagi semua peserta, itu barulah adil namanya.

Akan tetapi Kian Bu segera berkata.

"Baiklah, biar aku yang menunggangi kudaku itu lebih dulu!"

Karena pihak yang lain sudah setuju, maka petugas itu pun tidak banyak ribut lagi dan wajah Lui Shi berseri, walaupun wajah itu kini tidak dapat nampak manis lagi setelah bedak dan gincunya luntur dan bengkak-bengkak bekas tamparan Ci Sian tadi.

Memang wanita ini amat cerdik.

Ia memang sudah yakin akan kemampuannya sendiri yang membuat ia percaya bahwa ia tidak mungkin dapat terjatuh dari atas punggung kuda hitam itu untuk selama terbakarnya sebatang hio (dupa) saja.

Akan tetapi ia belum tahu sampai di mana kemahiran lawan menunggang kuda.

Kalau lawan ini pun berhasil bertahan sampai selama itu, bukankah hal itu masih belum membuat ia keluar sebagai pemenang?

Oleh karena itu, ia mencari jalan untuk memaksa lawan leblh dulu menunggang kuda dan ia akan menggunakan semua kepandaiannya untuk membuat lawan ini tidak dapat bertahan sampai habisnya hio itu terbakar.

Kalau lawan gagal, barulah ia dengan enak akan dapat memetik kemenangan itu!

Sebaliknya, andaikata lawannya berhasil, ia pun dapat mempelajari rahasia apa yang dimilikinya atas kuda itu sehingga ia akan dapat menguasai rahasia itu pula!

Memang ia seorang wanita cerdik!

Setidaknya, ia sendiri menganggap dirinya amat cerdik.

Karena perlombaan balap kuda sudah selesai maka kini para penonton tanpa dapat dicegah lagi telah mendesak maju mengerumuni panggung dan para pasukan penjaga hanya dapat mencegah mereka terlalu mendekat panggung dan memberi arena pertandingan menunggang kuda yang cukup luas di bawah panggung.

Para pembesar sudah berpindah duduk, kini di tepi panggung itu agar dapat menyaksikan dengan jelas pertandingan kemahiran menunggang kuda yang akan berlangsung antara dua orang wakil dari Thio-thicu dan Bouw-thicu itu.

Biarpun persoalannya kini tidak ada sangkut-pautnya dengan kedua orang tuan tanah itu, melainkan lebih merupakan persoalan pribadi antara Lui Shi dan Suma Kian Bu, akan tetapi karena mereka berada di pihak dua orang tuan tanah itu, maka umum menganggap bahwa pertandingan ini merupakan kelanjutan daripada balap kuda tadi.

Untuk memberi kesempatan kedua orang itu memperlihatkan bukti bahwa seorang di antara mereka adalah pemilik kuda yang sah, maka ketika yang seorang menunggang kuda, pihak lain diperbolehkan memberi aba-aba kepada kuda itu, akan tetapi harus dengan duduk di pinggiran dan tidak boleh mendekati kuda untuk mengganggunya dengan gerakan.

Aba-aba saja sudah merupakan bukti cukup, kepada orang mana yang kuda itu akan lebih taat.

Seorang petugas yang ahli tentang kuda, telah memeriksa kuda hitam itu dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, yang mengkha-watirkan dipasangkan kepada kuda itu.

Dia memegangi kendali kuda dan mengelus kuda itu, menanti seorang rekannya membuat persiapan menyalakan sebatang dupa.

Setelah dari atas panggung, pembesar kepala daerah yang bertindak sebagai juri itu memberi tanda dengan tangannya, maka petugas yang memegang dupa lalu menyalakannya dan Suma Kian Bu diberi tanda untuk mulai dengan menunggang kuda.

Kian Bu menghampiri kuda hitam, merangkulnya dan berbisik lirlh.

"Siauw-ma....!"

Kuda itu mendengus-dengus, kemudian seperti mengenal bau badan pendekar itu dan kegirangan, kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depan ke atas, membuat petugas yang memegang kendali kuda menjadi kewalahan dan terpaksa melepaskan kendali kuda.

Kian Bu girang sekali dan karena petugas sudah memberi isyarat kepadanya untuk mulai menunggang, sedangkan hio sudah dinyalakan, dia pun lalu melompat dengan gerakan ringan sekali ke atas punggung Siauw-ma.

Tiba-tiba dari tempat duduknya, Lui Shi mengeluarkan suara aneh, teriakan parau seperti yang biasa dipergunakan oleh bangsa Tibet kalau membentak binatang yak mereka.

Mendengar ini, Siauw-ma nampak terkejut dan mengangkat kedua kaki depannya, akan tetapi Kian Bu masih duduk dengan tenang di atas punggung kuda itu dan membisikkan suaranya memanggil nama kuda itu dan menepuk-nepuk lehernya, kuda itu tenang kembali biarpun matanya masih terbelalak.

Suara Kian Bu telah dikenalnya benar, dan bukan hanya suaranya, juga bau badannya dan bahkan cara pendekar itu duduk di atas punggungnya telah dikenalnya kembali dan membuat kuda itu menjadi jinak dan taat.

Dengan tenang Kian Bu menjalankan kudanya berputaran di depan panggung itu, namun dia tidak menjadi lengah dan diam-diam dia memperhatikan kepada lawannya, yaitu Lui Shi yang menjadi mulai penasaran karena kuda hitam itu tidak mau mentaati perintahnya.

Kembali ia mengeluarkan bentakan-bentakan aneh, yaitu perintah-perintah kepada kuda itu untuk melemparkan penunggangnya dari atas punggung.

Perintah-perintah ini memang ada pe-ngaruhnya terhadap Siauw-ma, bahkan sebuah perintah membuat kuda itu sempat bertekuk lutut kedua kaki ke depannya dan membuat kuda itu mendekam!

Akan tetapi, Pendekar Siluman Kecil itu masih saja enak-enak duduk di atas punggungnya, dan dengan suara halus Kian Bu memerintahkan kudanya bangkit kembali dan Siauw-ma juga menurut!

Bertubi-tubi Lui Shi membentakkan perintahnya dan mengeluarkan semua keahliannya untuk menjinakkan dan menaklukkan kuda itu, namun selalu kuda itu menjadi tenang kembali setelah mendengar suara Kian Bu.

Sementara itu, dupa yang dinyalakan terus menyala dan sudah hampir habis, tanda bahwa sepuluh menit sudah hampir dilewati.

Lui Shi menjadi semakin penasaran dan tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara mendesis-desis seperti datangnya ratusan ekor ular!

Mendengar suara ini, Siauw-ma menjadi terkejut sekali, mengangkat kedua kaki depan ke atas dan meringkik-ringkik, matanya liar terbelalak dan nampaknya ketakutan sekali.

Akan tetapi kuda itu tidak mampu membuat Kian Bu terlempar dari punggungnya.

Pendekar itu lalu merangkul leher kuda, mendekatkan mulutnya ke telinga kuda itu dan berbisik-bisik dan membujuk-bujuk dengan lemah-lembut.

Akhirnya, perlahan-lahan Siauw-ma menjadi tenang kembali dan menurunkan lagi kedua kaki ke depan, walaupun binatang itu masih nampak takut-takut dan tubuhnya masih gemetar.

Sementara itu, hio sudah terbakar habis dan petugas memberi tanda.

Kian Bu tersenyum dan di bawah tepuk sorak mereka yang menjagoi pihak Thio-thicu, dia pun meloncat turun dari atas kudanya.

Kini tibalah giliran Lui Shi untuk memperlihatkan kemahirannya berkuda, dan terutama untuk memperlihatkan sebagai bukti bahwa kuda itu akan taat kepadanya dan ia akan mampu bertahan di atas punggungnya selama terbakarnya hio.

Dengan penuh keyakinan akan kemampuannya sendiri, wanita ini pun menghampiri kuda itu.

Dengan lagak yang genit ia merangkul leher kuda lalu mencium muka kuda itu.

Akan tetapi ketika wanita itu meloncat ke atas punggung kuda, pandang mata yang tajam dari Kian Bu dan yang selalu waspada itu telah dapat melihat betapa wanita itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku baju dalamnya.

Dia tidak tahu benda apakah itu, akan tetapi dapat menduga bahwa tentu wanita itu akan menggunakan kecurangan dan dia menduga bahwa benda itu tentu semacam alat atau obat untuk membuat Siauw-ma menjadi penurut dan seperti lumpuh sehingga akan kehilangan semangat dan mau saja diperlakukan apapun oleh wanita itu.

Inilah agaknya yang membuat kuda itu dahulu dengan mudah dapat dicurinya.

Memang dugaan Kin Bu itu benar, Lui Shi sudah melihat tadi betapa pria berambut panjang putih itu memiliki kepandaian hebat dan juga benar-benar memiliki pengaruh yang besar terhadap kuda hitam itu.

Agaknya, dalam soal mempengaruhi kuda itu, ia akan kalah.

Tadi pun ia tidak berhasil membuat kuda itu mengamuk dan menjatuhkan penunggangnya.

Biarpun ia percaya akan ketrampilannya sendiri dalam hal menunggang kuda, akan tetapi tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi melihat betapa kuda itu begitu taat kepada pemiliknya.

Untuk mencegah terjadinya kemungkinan yang akan membuat ia kalah, maka ia telah mengeluarkan akar pembius kuda.

Dengan akar ini, ia akan dapat menundukkan kuda hitam dan membuatnya terbius sehingga tidak mempunyai semangat dan kemauan lagi.

Caranya, selain membiarkan kuda itu mencium akar itu, juga menotok beberapa jalan darah di belakang telinga dan menusukkan jarumnya di atas kepala di antara kedua matanya.

Mudah saja hal itu akan dapat dilakukannya, akan tetapi ia baru akan melakukan kalau benar-benar ia nanti tidak dapat lagi menguasai kuda itu dan terancam bahaya dipaksa turun dari punggungnya.

Tiba-tiba wanita itu terkejut bukan main.

Ada suara di dekat telinganya, seolah-olah ada orang bicara di dekatnya, dekat sekali dengan telinganya sehingga blarpun suara itu seperti bisikan saja, namun terdengar jelas satu-satu.

"Kalau engkau pergunakan benda itu terhadap Siauw-ma, sebelumnya engkau akan roboh dan binasa!"

Lul Shi terkejut bukan main dan cepat menengok ke arah Suma Kian Bu, pada saat itu ia melihat pendekar itu menggerakkan tangan kanannya dengan telunjuk menuding ke arahnya sambil terdengar pendekar itu berkata.

"Jangan bermain curang!"

Bagi orang lain, agaknya pendekar itu hanya menuding dan memperingatkannya agar lawan tidak bermain curang.

Akan tetapi bagi Lui Shi berbeda sekali akibatnya.

Ia merasakan adanya sambaran tenaga yang amat kuat dari telunjuk pendekar itu dan tiba-tiba saja ia merasakan dekat tenggorokannya tersentuh sesuatu!

Maklumlah ia bahwa kalau pendekar itu menghendaki, dari jarak jauh pendekar itu akan mampu membunuhnya!

Mukanya berobah pucat dan dengan cepat ia sudah mengantongi kembali benda akar yang tadinya hendak dipergunakan untuk membius kuda hitam!

Dan ia melihat pendekar itu tersenyum!

Lui Shi menenangkan hatinya yang terguncang.

Ia maklum bahwa menghadapi pendekar ini, ia harus hati-hati sekali dan tidak boleh sembrono.

Kalau ia nekat menggunakan akal curang, tentu pendekar itu akan turun tangan dan agaknya akan sukarlah baginya untuk menyelamatkan diri.

Akan tetapi ia masih percaya akan kemampuannya menunggang kuda.

Jangankan kuda hitam itu yang sudah terbiasa dengannya, biar seekor kuda liar yang belum pernah dikenalnya sekalipun, tentu ia akan mampu menungganginya!

Maka, dengan penuh kepercayaan akan kemampuannya sendiri, ia pun membalas senyuman itu, dengan senyum mengejek.

Dengan lagak yang genit Lui Shi menjalankan kudanya berputaran di depan panggung seperti yang dilakukan oleh Kian Bu tadi.

Tiba-tiba terdengar suara Kian Bu, terdengar oleh semua orang, akan tetapi dengan khi-kangnya, Kian Bu dapat membuat suaranya itu langsung terdengar oleh Siauw-ma dengan jelas sekali.

Ketika kuda itu masih berada padanya, memang Kian Bu mengajarnya dengan aba-aba yang biasa saja sehingga kuda itu dapat mengenal baik suara dan maksud kata-kata Kian Bu, tentu saja kata-kata tertentu yang sudah biasa didengarnya ketika kuda itu dilatih.

"Siauw-ma, lemparkan penunggangmu dari punggungmu!"

Dan reaksi yang menjadi tanggapan kuda itu memang seketika.

Binatang itu meringkik dan mula-mula ia mengangkat kedua kaki depan ke atas, kemudian berloncatan ke kanan kiri sambil menggoyang-goyang tubuhnya.

Dan para penonton bersorak-sorak karena melihat pemandangan yang mendebarkan.

Kuda itu membuat segala macam gerakan aneh dan kuat untuk melemparkan penunggangnya dari atas punggung.

Mula-mula Lui Shi berusaha menenangkan kuda itu dengan belaian-belaian tangan pada leher, dengan bisikan-bisikan, dengan bentakan-bentakan dan dengan tendangan-tendangan kakinya pada perut dan tubuh kuda.

Namun, segera ia memperoleh kenyataan bahwa kuda itu sama sekali tidak mau mentaati semua perintah lawannya yang menyuruh binatang itu melemparkannya dari punggungnya.

"Setan hitam! Bagaimana pun engkau takkan mungkin dapat melemparkan aku!"

Akhirnya ia berseru marah dan menempel di punggung kudanya seperti seekor lintah menempel di perut kerbau!

Kuda itu beriingkrak-jingkrak, menggoyang-goyang tubuhnya dan berusaha menggigit ke arah penunggangnya, namun dengan kemahirannya yang mengagumkan, Lui Shi tetap dapat bertahan terus.

Tubuh wanita itu terguncang-guncang, miring ke kanan kiri, depan belakang, namun ia tetap dapat bertahan di atas punggung Siauw-ma.

Diam-diam Suma Kian Bu, Teng Siang In dan Ci Sian harus mengakui bahwa memang wanita itu memiliki kemahiran menunggang kuda yang hebat!

Sukar dicari orang lain yang akan mampu bertahan setelah kuda hitam itu membuat usaha mati-matian seperti itu, untuk melemparkan penunggangnya!

Dan dupa itu pun terbakar perlahan-lahan, mendekat gagangnya.

Sebentar lagi akan habis, namun Lui Shi tetap dapat bertahan di atas punggung Siauw-ma.

Melihat ini, Pendekar Siluman Kecil mengangguk-angguk.

"Keras kepala!"

Gumamnya dan tiba-tiba terdengar lagi suaranya yang nyaring.

"Siauw-ma, bergulinglah engkau!"

Lui Shi terkejut sekali.

Tak disangkanya pendekar itu pernah mengajarkan Siauw-ma untuk bergulingan!

Ketika kuda itu menjatuhkan diri, ia berusaha menahannya dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Namun, ia tidak dapat menahan dan ketika kuda itu akhirnya rebah miring dan hendak bergulingan, tentu saja Lui Shi tidak mau tubuhnya terhimpit oleh badan kuda itu.

Akan remuk-remuk tulangnya kalau terjadi hal itu!

Maka ia pun meloncat ke atas tanah sebelum kuda itu bergulingan dan dengan demikian ia pun kalah!

Dupa itu belum habis terbakar dan ia sudah turun dari atas punggung kuda!

Sorak-sorak dan tepuk tangan yang riuh menyambut kemenangan pihak Thio-thicu ini dan wajah Bouw-thicu menjadi merah sekali.

Habislah sudah dia!

Balapan kuda kalah, dan untuk itu dia telah kalah taruhan yang amat banyak, lebih dari setengah hartanya.

Dan sekarang, dalam lomba ketangkasan kuda yang sekaligus juga menentukan siapa pemilik kuda dan siapa pencurinya, dia pun kalah.

Hal ini berarti bahwa namanya akan tercemar sebagai orang yang memelihara pencuri kuda!

Kekecewaan demi kekecewaan membuat dia menjadi marah sekali dan diam-diam dia telah mempersiapkan para tukang pukulnya yang berkepandaian tinggi.

"Orang asing ini menggunakan ilmu siluman! Dia orang asing yang datang untuk mengacau di Sin-kang. Bunuh dia!"

Teriaknya dan lebih dari dua puluh orang tukang pukulnya dengan senjata di tangan sudah menerjang kepada Suma Kian Bu!

Akan tetapi pada saat itu, Ci Sian dan Teng Siang In sudah berloncatan, demikian pula Suma Kian Bu sendiri sudah menyambut serangan orang-orang itu dengan tangkas sekali.

Semua penonton yang tadinya menjadi panik dan ketakutan, kini berdiri melongo dan kagum sekali melihat betapa pendekar dan dua orang wanita cantik itu dengan mudahnya merobohkan semua pengeroyok!

Bagaikan tiga ekor naga sakti mengamuk, mereka itu bergerak ke sana-sini di antara kilatan senjata para pengeroyok dan ke mana pun tiga orang ini bergerak menyambar, tentu ada seorang pengeroyok yang roboh!

Dalam waktu singkat saja, lebih dari dua puluh orang itu roboh semua Lui Shi yang tadinya juga ikut mengeroyok, hendak melarikan diri, demikian pun Bouw-thicu.

Akan tetapi Siang In sudah meloncat dengan cepat menghadang Lui Shi.

"Engkau ini hanya tikus busuk, biasanya hanya merayap lari, sekarang hendak merayap ke manakah?"

Terjadilah keanehan yang luar biasa.

Lui Shi sejenak terbelalak, kemudian....

wanita ini pun lalu menurunkan kedua lengannya dan....

merangkak-rangkak dan hendak melarikan diri dengan merangkak seperti seekor tikus besar!

Tentu saja semua orang terheran-heran melihat ini, bahkan ada yang tertawa geli.

Di lain saat, Siang In yang tadinya menguasai wanita itu dengan kekuatan sihir, sudah menotok pundaknya, membuat Lui Shi roboh dan tak mampu bergerak lagi.

Sementara itu, Bouw-thicu juga dihadang oleh Suma Kian Bu.

Tuan tanah yang tinggi besar itu (Lanjut ke

Jilid 37) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 37 ternyata bukanlah orang lemah.

Melihat bahwa segala usahanya gagal, dia menjadi nekat.

Sambil berteriak memberi aba-aba kepada semua orangnya untuk menyerang, dia sudah menyerang Kian Bu.

Akan tetapi, sekali tangkis dan sekali totok saja Kian Bu membuatnya terjungkal dan ketika anak buah tuan tanah ini hendak bergerak maju, tiba-tiba pasukan pemerintah sudah bergerak dan mengepung mereka.

Pembesar kepala daerah yang sudah berdiri di tepi panggung lalu berkata dengan suara nyaring, dan karena keadaan amat menegangkan sedangkan baru sekarang Kepala Daerah mengeluarkan suara, maka suaranya terdengar dengan jelas dan menjadi perhatian semua orang.

"Perhatian para tamu dan penonton! Suami-isteri pendekar yang memiliki kuda hitam ini adalah adik kandung dari Panglima Puteri Milana! Sudah terbukti bahwa Thio-thicu memenangkan perlombaan balapan kuda, dan bahkan kuda hitam yang dikeluarkan Bouw-thicu ternyata adalah milik Suma-taihiap ini! Bouw-thicu sengaja membuat keributan dan dia akan diadili. Kalau ada yang berani berbuat keributan, mereka akan dianggap pemberontak dan akan ditumpas!"

Tentu saja semua orang terkejut sekali mendengar pengumuman pembesar ini.

Bahkan Thio-thicu sendiri menjadi terkejut.

Tak pernah disangkanya bahwa tamunya itu adalah adik kandung Pang-lima Puteri Milana yang amat terkenal itu.

Siang In dan Ci Sian sendiri juga terkejut dan mengertilah mereka bahwa semalam, ketika mereka pergi menyelidiki keadaan Bouw-thicu, diam-diam pendekar itu telah pergi menghubungi pembesar Kepala Daerah dan menceritakan segala hal tentang dirinya dan tentang Bouw-thicu.

Bouw-thicu dan Lui Shi ditangkap, demikian pula para pengawal Bouw-thicu yang tadi membikin ribut dengan menyerang Kian Bu dan akhirnya semua roboh oleh Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian.

Setelah pembesar Kepala Daerah membagi-bagi hadiah kejuaraan, pertemuan itu dibubarkan dan semua penonton pulang ke rumah masing-masing dengan hati puas karena banyak hai yang dapat mereka saling bicarakan dan ceritakan kepada orang lain, yang telah terjadi di padang rumput tempat perlombaan itu.

Malam hari itu, Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian diundang dan dijamu makan oleh Pembesar Kepala Daerah!

Dalam pesta ini, diundang pula Thio-thicu dan semua tuan tanah yang telah ikut perlombaan.

Memang Pembesar Kepala Daerah Sin-kiang itu cukup cerdik.

Setelah malam tadi Kian Bu menjumpainya dan memperkenalkan diri, diam-diam dia terkejut sekali dan khawatir kalau-kalau pendekar ini adalah utusan dari kerajaan untuk menyelidiki hasil pekerjaan atau tugasnya di Sin-kiang.

Oleh karena itulah maka dia siang tadi bersikap keras terhadap Bouw-thicu, Sungguhpun tuan tanah ini merupakan seorang di antara para sahabatnya, bahkan yang paling royal terhadap dirinya.

Dan malam ini, selain mengundang pendekar itu dan keluarganya sebagai penghormatan, juga sekalian memanggil atau mengundang semua tuan tanah karena kesempatan ini hendak dipergunakan untuk dua hal, pertama, agar pendekar itu, kalau benar utusan pemerintah pusat, dapat melihat betapa para tuan tanah sudah dapat dipersatukannya, dan kedua, kehadiran pendekar itu hendak dipergunakannya untuk mempengaruhi para tuan tanah agar mereka tidak lagi menimbulkan keributan satu sama lain.

Pesta itu berlangsung meriah dan dalam kesempatan ini Suma Kian Bu mencari keterangan tentang berita angin adanya ular naga hijau di daerah itu.

Mendengar pertanyaan pendekar ini, Sang Kepala Daerah terbelalak dan berkata.

"Ah, memang ada ular raksasa itu, Suma-taihiap! Bukan hanya dongeng dan berita bohong belaka. Bahkan kami sendiri pernah mengirim pasukan untuk membasminya, akan tetapi sebaliknya kami malah kehilangan belasan orang yang tewas oleh amukan ular naga itu!"

Suma Kian Bu, Teng Siang In dan Ci Sian tertarik sekali. Apalagi suami isteri itu yang memiliki kepentingan pribadi dengan ular naga itu.

"Bagaimana ceritanya Taijin?"

Tanya Kian Bu.

"Dua tahun yang lalu, ketika baru-baru kami dipindahkan ke sini, kami mendengar akan adanya ular naga hijau yang seringkali makan manusia. Mula-mula kami tidak percaya akan adanya berita itu dan hanya mengira bahwa yang dikabarkan itu tentulah seekor ular besar biasa saja dan sangat boleh jadi kalau ada ular besar makan manusia yang kebetulan lewat di dekatnya. Akan tetapi karena makin banyak orang yang mengabarkan akan hal itu, sebagai seorang pembesar baru kami lalu mengirim pasukan untuk menyelidiki dan kalau memang benar, membasmi ular itu. Dan akibatnya, belasan orang anggauta pasukan kami tewas dalam keadaan mengerikan."

Pembesar itu berhenti sebentar dan menarik napas panjang.

"Apakah yang terjadi dengan mereka, Taijin?"

Tanya Siang In, tertarik sekali.

Ia dan suaminya datang dari tempat yang demikian jauh ke Sin-kiang ini, selain merantau juga terutama sekali tertarik oleh cerita atau dongeng tentang naga hijau itu, dan kini mendengar keterangan yang demikian jelas dari pembesar kepala daerah, tentu saja ia merasa amat tertarik.

Kiranya dongeng itu memang ada sungguh-sungguh!

Kembali pembesar itu menarik napas panjang dan untuk menenteramkan hatinya, dia minum arak dari cawannya.

"Mengerikan sekali dan sampai sekarang kami tidak lagi berani mengirim pasukan, hanya menganjurkan agar orang-orang di daerah itu jangan sekali-kali berani melewati daerah hutan itu, agar mengambil jalan memutar saja karena ular naga itu benar-benar amat berbahaya dan agaknya memang siluman yang bertapa. Bayangkan saja, semua senjata tajam dari pasukan kami tidak ada yang dapat melukainya sedikitpun juga! Dan semburan dari mulutnya, bahkan suaranya saja cukup membuat banyak perajurit kami pingsan! Dan yang lebih mengerikan, ular itu setiap kali memperoleh korban manusia, yang dimakan hanya kepalanya saja. Jadi belasan orang perajurit kami itu tewas dengan kepala lenyap dan badan masih utuh!"

Semua orang, juga para tuan tanah yang mendengar cerita ini bergidik.

Mereka memang sudah mendengar akan semua hal itu, dan sudah lama tidak ada orang berani bercerita tentang ular naga itu, karena didesas-desuskan bahwa kalau disebut-sebut, malamnya siluman ular itu akan datang dan mencelakakan orang yang menyebut namanya.

Diam-diam Suma Kian Bu dan isterinya girang sekali mendengar bahwa dongeng tentang ular naga itu ternyata benar-benar terjadi dan ular naga itu memang benar ada!

"Taijin, kami ingin sekali melihat ular naga hijau itu dan perlu kami akan mencoba untuk menundukkannya agar ia tidak lagi mengganggu rakyat.

Bagaimana kami dapat menemukannya?"

Semua orang merasa tegang dan juga gembira mendengar bahwa pendekar yang masih adik kandung Panglima Puteri Milana yang terkenal itu hendak membasmi ular naga siluman itu.

"Ular naga itu tempatnya di daerah Pegunungan Kun-lun-san, di bagian selatan yang jarang dilalui orang, sudah termasuk wilayah Tibet. Dan jalan menuju ke sana bukan mudah, dan kiranya tanpa penunjuk jalan, akan sukarlah Taihiap akan dapat menemukannya. Akan tetapi, siapakah yang akan berani menjadi penunjuk jalan?"

Kata pembesar itu.

"Tidak perlu penunjuk jalan, Taijin. Asal kami memdapatkan gambaran dan peta yang jelas menuju ke tempat itu, kami akan dapat mencarinya sendiri."

Jawab Kian Bu penuh semangat.

"Itu mudah diatur. Komandan pasukan dua tahun yang lalu itu masih ada dan dia tentu dapat membuatkan gambaran dan peta menuju ke tempat itu. Ya, dialah satu-satunya orang yang akan dapat membuatkan peta itu untukmu."

Dan memang demikianlah.

Setelah komandan pasukan itu ditemui, komandan tua ini dapat bercerita banyak dan juga dapat membuatkan peta yang cukup jelas menuju ke tempat yang baginya amat mengerikan itu.

Kian Bu membuat gambar dan catatan-catatan, sementara itu Siang In mendengarkan penuh harapan dan Ci Sian juga mendengarkan penuh perhatian karena hatinya merasa amat tertarik.

Setelah mereka bertiga berada di ruangan istirahat, Ci Sian berkata kepada Siang In.

"Enci In, biarlah aku ikut dengan kalian dan membantu kalian menaklukkan ular naga hijau itu!"

Suami isteri pendekar itu memandang kepadanya dan nampak kaget.

"Tapi, Nona.... perjalanan ini berbahaya sekali...."

Kata Suma Kian Bu sambil mengerutkan alisnya.

"Benar, Adik Sian. Engkau sudah mendengar sendiri betapa dahsyat dan berbahayanya ular itu. Sungguh kami akan merasa menyesal bukan main kalau sampai terjadi apa-apa denganmu...."

Sambung Siang In. Ci Sian mengerutkan alisnya dan memandang kepada suami isteri itu bergantian. Kemudian ia berkata, suaranya tegas.

"Harap Taihiap dan Enci menenangkan hati. Aku hendak pergi ikut atas kehendakku sendiri dan bukan karena bujukan kalian, jadi kalau terjadi apa-apa denganku, tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang akan menyalahkan kalian. Setelah melakukan perjalanan seorang diri dan bertemu dengan kalian dan setelah apa yang kita alami bersama di sini, bagaimana mungkin aku meninggalkan kalian begitu saja? Akan tetapi, kalau kalian tidak menghendaki aku ikut, kalau aku hanya merupakan gangguan bagi kalian berdua, biarlah aku pergi sendiri mencari ular itu, untuk mencoba menandinginya. Siapa tahu aku dapat melenyapkan suatu bahaya bagi rakyat...."

Mendengar ini dan melihat sikap Ci Sian yang mukanya merah seperti mau menangis itu, Siang In lalu merangkulnya.

Ia tahu akan isi hati dara yang keras wataknya ini.

Ia tahu bahwa Ci Sian merasa amat cocok dengan ia dan suaminya, maka dara itu masih ingin bekerja sama dengan mereka dan agaknya merasa enggan berpisah.

Apalagi karena dara itu sedang kesepian dan menderita batinnya ditinggalkan suhengnya.

"Adikku yang baik, sama sekali bukan karena kami menolakmu. Kami sendiri pun sangat suka bersamamu akan tetapi.... engkau tahu bahwa kami pergi mencari ular itu untuk kepentingan kami pribadi.... jadi, kalau sampai.... terjadi apa-apa denganmu...."

Ci Sian balas merangkul.

"Enci Siang In, kau kira aku ini orang macam apa? Setelah lama mempelajari ilmu, apakah aku terlalu menyayangi nyawa? Mati hidup bukan urusan manusia, kenapa takut kalau sudah berani hidup? Aku ingin membantu kalian.... aku.... aku kesepian...."

"Baiklah, dan tentu saja, dengan bantuanmu, kami merasa lebih yakin akan dapat menaklukkan ular naga hijau itu!"

Ci Sian merasa girang sekali dan Suma Kian Bu hanya menarik napas panjang saja dan tidak membantah lagi.

Dia mengerti bahwa antara dua orang wanita itu tentu ada ikatan yang lebih mendalam, dan kalau dia berkeras menolak, bukan hanya dara itu yang akan merasa sedih dan kecewa, akan tetapi juga dia akan menyinggung hati isterinya.

Pada keesokan harinya, berangkatlah tiga orang itu meninggalkan rumah Thio-thicu.

Siang In menunggang Hek-liong-ma sedangkan Kian Bu menunggang seekor kuda yang baik pula, pemberian Thio-thicu.

Biarpun Siang In menyuruh Ci Sian tetap menunggangi Hek-liong-ma dara ini menolak dengan halus dan mengatakan bahwa kuda itu adalah milik suami isteri pendekar ini dan kalau ia menunggangi, ia akan merasa seperti menunggang sesuatu yang bukan haknya.

Dengan diantar oleh Thio-thicu dan anak buahnya sampai keluar perkampungan mereka, Tiga orang pendekar ini meninggalkan tempat itu dengan hati puas karena mereka telah melakukan sesuatu yang amat berguna untuk kesejahteraan rakyat setempat.

Mereka percaya bahwa selanjutnya, para thicu itu tidak lagi akan menurutkan hati dendam untuk saling gempur.

Ular hijau yang besar itu dikabarkan orang yang suka tahyul, sebagai seekor ular siluman yang sudah bertapa ratusan tahun.

Sudah lajim terjadi di antara manusia di dunia ini yang suka sekali akan hal yang aneh-aneh dan menambah sesuatu yang mereka tidak mengerti menjadi semakin aneh dengan dugaan-dugaan dan reka-rekaan mereka sendiri yang kemudian menjadi semacam tahyul.

Menurut dongeng atau berita angin itu, ular yang amat besar itu kabarnya memiliki mustika di dalam kepalanya yang kalau malam gelap mencorong.

Bahkan ada orang berani bersumpah mengatakan bahwa pada suatu malam dia melihat ular itu terbang ke angkasa dan dari mulutnya keluar mustika yang bernyala-nyala.

Tentu saja cerita orang ini mirip dengan dongeng tentang naga yang beterbangan di angkasa, seperti yang dimainkan orang pada hari-hari pesta, yaitu naga dengan mustikanya.

Tentu saja semua itu hanyalah khayalan orang-orang yang dihantui oleh rasa takut yang amat sangat.

Ular itu memang ada, dan memang merupakan seekor ular yang amat besar.

Jarang orang menjumpai ular sebesar itu.

Perutnya melebihi besarnya paha manusia yang gemuk sekalipun, dan kalau binatang itu sudah menelan korban perutnya menggembung sebesar tubuh korban yang ditelannya.

Panjangnya tidak leblh dari lima belas meter!

Ular ini kulitnya kehijauan dan saking tuanya, kulitnya itu gelap menghitam dan amat keras.

Entah sudah berapa kali ular ini berganti kulit.

Ular ini semenjak lama sekali, entah berapa tahun atau belas atau berapa ratus tahun tak seorang pun tahu, berdiam dari pohon besar ke pohon besar lainnya dalam sebuah hutan lebat di Pegunungan Kun-lun-san.

Dan setiap kali berdiam di sebatang pohon besar, binatang ini seperti bertapa bertahun-tahun lamanya.

Akan tetapi ada sesuatu keanehan pada binatang yang sudah amat tua ini.

Kalau ada binatang lain seperti kijang, kelinci atau bahkan harimau sekalipun, dan kebetulan perutnya lapar, tentu ia akan menyambar binatang itu dari atas pohon, dengan melibatkan ekornya pada cabang besar di atas, kepalanya bergantung di bawah, Ular yang amat besar itu menyambar korbannya yang sama sekali tidak menduga karena tidak mendengar sesuatu dan tidak dapat mencium bau ular yang berada di atasnya itu.

Ada kalanya, kalau yang disambarnya itu binatang besar lain seperti harimau dan lain-lain yang lebih buas, maka korban itu tentu saja melakukan perlawanan.

Dan kalau begini, ular itu akan melepaskan ekornya yang melilit cabang sehingga tubuhnya meluncur ke bawah, lalu ekornya melilit tubuh korbannya, melilit dengan tenaga raksasa dan binatang yang betapa kuatnya akan patah-patah tulangnya kalau dililit oleh ekor dan tubuh ular yang amat kuat ini.

Biasanya, perlawanan para korban itu tidak akan berjalan lama karena selain memiliki tenaga lilitan yang amat kuat, juga ular itu dapat menyemburkan uap yang membius dan beracun, Juga gigitannya amat kuat dengan taring yang mengerikan dan mengandung racun pula.

Keanehan ular itu adalah, kalau korbannya binatang lain, maka setelah melilitnya dan membuat tulang-tulang tubuh korban itu patah-patah lalu korban itu ditelannya dan tubuh yang tulangnya sudah patah-patah itu menjadi lemas dan dapat melalui kerongkongannya yang tidak begitu besar.

Akan tetapi, kalau korbannya manusia, maka ia hanya mencaplok kepala orang itu saja, menggigit putus lehernya dan menelan kepalanya, sedangkan badan para korban manusia itu dibiarkannya membusuk begitu saja!

Dengan adanya tulang-tulang manusia tanpa kepala di bawah pohon-pohon besar yang pernah dijadikan tempatnya bertapa, maka dapat diketahui bahwa banyak sudah manusia-manusia yang menjadi korban ular ini.

Jangan dikira bahwa hanya pasukan yang dikirim Pembesar Kepala Daerah Sin-kiang itu saja yang merupakan manusia-manusia yang menjadi korbannya.

Banyak sudah manusia yang kepalanya telah masuk ke dalam perut ular ini.

Para pemburu yang belum tahu akan adanya ular ini, juga orang-orang yang tidak tahu dan kebetulan lewat di hutan itu.

Selain mereka ini yang tidak tahu akan adanya ular itu dan menjadi setan penasaran, banyak pula, seperti para anggauta pasukan itu yang tewas ketika sengaja datang untuk melawan ular itu.

Mereka ini adalah para pendekar yang sengaja datang di tempat itu untuk membasmi ular ini, akan tetapi akhirnya bahkan mereka sendiri yang tewas dalam keadaan mengerikan, Yaitu kepala mereka lenyap ke dalam perut ular dan tubuh mereka membusuk sampai tinggal rangkanya saja di bawah pohon tanpa ada yang berani mengurusnya.

Bahkan ada beberapa orang pertapa di Kun-lun-san, ada pula beberapa orang pendekar Kun-lun-pai sendiri yang pernah mencoba untuk menaklukkan ular itu, namun akibatnya payah, ada yang tewas ada pula yang luka-luka dan masih untung bagi mereka yang dapat menyelamatkan dirinya dan hanya menderita luka-luka yang cukup parah.

Semenjak kegagalan para pendekar Kun-lun-pai, maka Ketua Kun-lun-pai lalu membuat pengumuman kepada rekan-rekan di dunia kang-ouw agar jangan mengganggu ular itu yang dianggap sebagai ular keramat tak terkalahkan, bahkan ada yang menyebutnya siluman ular yang bertapa.

Sebetulnya bukan karena ular itu sakti, ular dewa, atau ular siluman.

Ular itu memang kuat sekali dan hal ini tidaklah mengherankan.

Sedangkan ular sebesar lengan saja sudah amat kuat, apalagi sebesar dan sepanjang itu!

Dan harus diingat bahwa ular ini sudah tua sekali, kulitnya sedemikian kerasnya sehingga kebal terhadap senjata tajam, melebihi kerasnya kulit buaya tua.

Dan karena kulit ular itu merupakan sisik yang bertumpuk, maka sukar ditembusi senjata tajam, orang-orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi itu sudah berusaha membunuhnya namun tidak ada senjata yang mampu menembus kulitnya dan hal inilah yang membuat ular itu sukar dikalahkan.

Selain itu, juga ular ini ternyata, mempunyai racun sehingga dapat mengeluarkan hawa beracun melalui semburan dan juga gigitannya mengandung racun yang amat kuat.

Perjalanan menuju ke hutan di mana ular hijau itu berada merupakan sebuah perjalanan yang tidak mudah.

Apalagi karena hutan yang dimaksudkan itu berada di dekat puncak, yang kini terkenal dengan nama Puncak Naga Hijau, sebuah di antara puncak-puncak yang tinggi dari Pegunungan Kun-lun-san yang terkenal itu.

Mereka bertiga melakukan perjalanan berpekan-pekan, dan akhirnya mereka tiba di dusun terakhir yang berada di lereng bawah puncak.

Dari dusun itu ke atas, selain tidak ada dusun lagi karena orang-orang tidak berani tinggal terlalu dekat dengan hutan itu, perjalanan amatlah sukarnya melalui jalan setapak yang kadang-kadang harus melalui jurang dan bergantungan pada akar-akar pohon dan batu-batu, Maka terpaksa tiga ekor kuda itu mereka titipkan pada kepala dusun.

Dusun itu kecil dan sederhana sekali, jauh daripada tempat ramai, bahkan jauh dari peradaban kota sehingga kepala daerahnya pun merupakan orang yang diangkat oleh kelompok dusun itu sendiri.

Bukan merupakan seorang pejabat pemerintah.

Dan dusun itu hanya dihuni oleh beberapa puluh keluarga yang miskin, yang hidup dengan jalan bertani dan berburu.

Tentu saja kedatangan tiga orang yang berpakaian indah menurut mereka itu, merupakan hal yang luar biasa dan tiga orang pendekar ini disambut dengan gembira.

Kepala Dusun itu merupakan satu-satunya orang yang sudah pernah hidup di kota dan lebih beradab dibandingkan dengan yang iain-lainnya.

Kepala Dusun inilah yang menyambut Kian Bu dan dua orang wanita itu.

"Sungguh luar biasa sekali menerima kunjungan Sam-wi."

Katanya setelah mempersilakan mereka duduk di atas bangku-bangku kayu yang kasar buatannya, di ruangan depan yang terbuka dan keadaannya miskin sekali di mana para penduduk dusun itu berkerumun dan mendengarkan percakapan mereka.

"Bertahun-tahun sudah tidak ada orang asing yang datang ke dusun ini. Sam-wi hendak pergi ke manakah maka sampai di tempat terpencil ini?"

Suma Kian Bu maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang dusun yang jauh dari dunia ramai, dan biasanya, orang-orang di dalam dusun yang terpencil seperti ini, jauh pula dari kebiasaan orang-orang kota yang suka ber-palsu-palsu, dan biasanya orang-orang seperti ini adalah terbuka dan poios, jujur.

Oleh karena itu, dia pun tidak merasa perlu untuk menyembunyikan maksud kunjungannya.

"Lopek, kami jauh-jauh datang dengan hanya satu tujuan, yaitu menuju ke Puncak Naga Hijau itu. Karena perjalanan ke atas puncak menurut keterangan yang kami peroleh amat sukar dan tidak bisa dilakukan dengan berkuda, maka kami bermaksud untuk selain beristirahat sehari di sini melewatkan malam, juga untuk menitipkan tiga ekor kuda kami di sini."

Para penduduk dusun itu, yang mendengarkan kata terjemahan dari seorang laki-laki tua yang mengerti bahasa Han, satu-satunya orang yang tahu bahasa itu di samping kepala dusun, yang tadinya berisik, tiba-tiba berhenti bicara dan semua mata memandang kepada Suma Kian Bu dengan terbelalak dan wajah mereka berobah, kini penuh ketegangan!

Kepala Dusun itu sendiri pun mengerutkan alisnya dan pandang matanya kepada Kian Bu kehilangan keramahannya, namun mulutnya masih bicara dengan ramah.

"Tentu saja Sam-wi boleh menitipkan tiga ekor kuda itu di sini dan kami akan merawatnya dengan baik. Akan tetapi, belum pernah ada orang naik ke puncak itu. Apakah keperluan Sam-wi hendak mendaki puncak?"

"Kami bertiga bermaksud untuk mencari ular naga hijau dan membasminya."

Kata Suma Kian Bu dengan terus terang karena dia merasa yakin bahwa penduduk dusun ini, yang berada di lereng puncak di mana terdapat hutan tempat tinggal ular itu, tentu sudah tahu akan ular besar itu.

Akan tetapi, akibatnya sungguh membuat tiga orang pendekar itu terkejut bukan main.

Kepala Dusun itu mengeluarkan teriakan panjang, wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak dan terdengar bentakan-bentakan keras ketika semua penduduk dusun yang mendengarkan terjemahan ucapan Suma Kian Bu itu serentak bangkit dan naju dengan senjata perburuan mereka siap di tangan, jelas hendak mengeroyok Suma Kian Bu dan dua orang wanita pendekar itu!

Puluhan orang yang memenuhi tempat itu serentak maju menerjang dengan mengeluarkan teriakan-teriakan aneh.

Melihat ini, Suma Kian Bu, Siang In dan Ci Sian terkejut sekali dan tentu saja mereka pun cepat meloncat dari bangku mereka.

"Jangan lukai orang!"

Kian Bu berseru cepat kepada isterinya dan dara itu, karena dia menduga bahwa tentu ada kesalahpahaman dalam hal ini.

Tiga orang pendekar ini menghadapi para penyerang dengan tangan kosong saja, akan tetapi para penyerang yang terdepan segera berteriak-teriak kaget, senjata mereka terampas dan tubuh mereka sendiri terlempar ke belakang menimpa teman-temannya yang berada di belakang.

Suma Kian Bu sendiri sudah menangkap lengan tangan kepala dusun itu, menjatuhkan golok yang dipegangnya, kemudian menekuk lengan kepala kampung itu ke belakang dan cepat dia berseru dengan suara nyaring sekali, menggetarkan seluruh tempat itu karena dia mengerahkan khikangnya.

"Tahan semua, atau pemimpin kalian akan mati?"

Biarpun ucapannya tidak diterjemahkan, namun mudah saja menangkap artinya, apalagi melihat betapa Kepala Dusun itu sudah ditekuk ke belakang lengannya sehingga tidak berdaya!

"Hayo, ceritakan, apa artinya semua ini?"

Bentak Suma Kian Bu kepada Kepala Dusun itu.

"Mengapa engkau dan orangmu mendadak mengeroyok kami?"

Kepala Dusun itu menyeringai kesakitan, akan tetapi dengan suara tegas dia berkata.

"Kau bunuhlah aku, kau bunuhlah kami, karena kalau tidak kau bunuh sekalipun, kami semua akan mati! Dan lebih baik mati di tanganmu, seorang manusia, daripada mati di tangannya...."

Kian Bu makin heran.

"Sungguh aneh, apa sih maksudmu, Lopek? Harap kau menyuruh teman-teman mundur dulu dan jelaskan kepada kami mengapa kalian tiba-tiba mengeroyok kami, dan mengapa pula engkau begini putus asa dan minta mati. Kesalahan apakah yang telah kami lakukan?"

Dengan wajah yang masih bersungut-sungut, setelah dilepaskan oleh Kian Bu dan semua penghuni dusun sudah agak tenang walaupun mereka masih mengurung dan sikap mereka masih marah dan bermusuhan, kepala dusun itu berkata.

"Kalian bertiga hendak mengganggu dewa ular, hal itu berarti sama saja dengan hendak membunuh kami orang sedusun!"

"Dewa ular....? Membunuh kalian sedusun? Lopek, jelaskan, apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

Kian Bu mendesak.

"Dengan susah payah selama bertahun-tahun kami orang-orang sedusun meredakan kemarahan dewa ular, bahkan kami rela mengorbankan seorang di antara kami setiap tahun untuk menjadi korban. Semua itu, adalah untuk melindungi kehidupan kami agar tidak sampai terancam. Akan tetapi, hari ini kalian datang untuk mengganggunya dan sudah pasti bahwa kami semua yang akan menerima hukuman akibat kemarahanhya."

Tentu saja tiga orang pendekar itu menjadi tetkejut bukan main.

"Apa katamu, Lopek? Kalian memberikan korban setiap tahun?"

"Ya.... bahkan.... tahun lalu.... seorang di antara anak-anakku perempuan kurelakan.... dan tahun ini, telah tiba saatnya, kami masih bingung untuk memilih siapa lagi yang harus kami korbankan. Dan kalian datang untuk mengganggunya, berarti kami semua akan mati...."

Suma Kian Bu mengepal tinjunya, tiba-tiba dia marah sekali kepada ular itu.

Tahulah dia bahwa saking tangguhnya, ular itu mendatangkan rasa takut sedemikian rupa kepada para penghuni dusun ini dan mereka menganggapnya sebagai dewa yang akan mendatangkan malapetaka kalau tidak diberi korban seorang manusia setiap tahun.

Kepala Dusun ini bahkan telah menyerahkan anak perempuannya untuk korban!

"Lopek, dan Saudara-saudara semua.

Jangan khawatir, kali ini kami datang untuk membasminya, untuk membunuhnya agar kalian semua terbebas daripada ancaman binatang laknat itu!"

"Ah, tiada guna.... entah sudah berapa banyak orang sombong yang bersumbar sebelum bertemu dengan dewa ular, dan akhirnya mereka itu tewas satu demi satu! Kalian pun akan tewas dan sesudah itu, karena gangguan kalian, dan ular akan mengamuk dan akan menghabiskan kami semua!"

Kembali Kepala Dusun itu nampak marah dan penasaran. Melihat betapa orang-orang itu sukar diberi penjelasan, akhirnya Suma Kian Bu memperoleh akal.

"Engkau tadi mengatakan bahwa untuk tahun ini belum dipilih korban? Kapankah biasanya diadakan korban?"

"Setiap tahun sekali, pada permulaan musim rontok, pada saat itu dewa ular akan meninggalkan pohon yang mulai rontok daunnya. Pada saat itulah kami harus menyerahkan seorang korban, kalau tidak, dewa ular tentu akan mendatangi dusun untuk mencari korban sendiri dan kalau sudah begitu, kami akan dihukum sehingga sedikitnya dia akan mengambil dua tiga orang korban!"

"Kapankah hari penyerahan korban itu?"

"Dua hari lagi, tepat pada saat bu1an purnama."

Jawab Si Kepala Dusun.

"Bagus! Kalau begitu, sekali ini kalian bukan menyerahkan seorang korban, melainkan tiga orang korban, yaitu kami bertiga. Biar dia kekenyangan dan puas sehingga tidak akan menganggu kalian lagi!"

Kata Suma Kian Bu Aneh mendengar ucapan ini yang segera diterjemahkan, Semua orang memandang dengan wajah berseri kepada Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian.

Sinar mata mereka penuh dengan harapan dan rasa syukur.

Kalau begini lain lagi soalnya, pikir mereka.

Kalau tiga orang itu mengatakan hendak membasmi dewa ular, hal itu eungguh tak masuk diakal dan selain tiga orang itu akhirnya akan tewas, yang lebih celaka lagi ular itu akan menimpakan kutuk dan pembalasannya kepada mereka sedusun.

Sebaliknya kalau tiga orang itu mau menjadi korban, tentu saja hal ini melepaskan mereka daripada bahaya amukan ular itu, setidaknya untuk waktu setahun dan mereka tidak perlu bingung-bingung mencari dengan hati berat, anak siapa yang akan dikorbankan!

Akan tetapi, Kepala Dusun itu masih memandang penuh keraguan.

"Benarkah kalian bertiga mau menjadi korban untuk dewa?"

"Benar, Lopek. Kami bertiga bersedia untuk dikorbankann demi menyelamat-kan dusun ini dari ancamannya."

Jawab Kian Bu dengan suara tegas.

"Tapi.... biasanya, para korban itu dibelenggu kaki tangannya, dan direbahkan dalam guha sebelum dewa ular pindah dari pohon ke dalam guha...."

Mendengar ini wajah Siang In menjadi merah dan hampir saja nyonya ini menjadi marah karena dianggapnya sebagai penghinaan kalau ia harus membiarkan dirinya dibelenggu kaki tangannya!

Akan tetapi suaminya memandang kepadanya dan isteri yang sudah mengenal dengan baik segala pandang mata suaminya ini dapat menerima isyarat suaminya yang kemudian menjawab.

"Kalau begitu, biarlah kalian mengikat dan membelenggu kaki tangan kami dan merebahkan kami di dalam guha itu."

Mendengar ini, lenyaplah keraguan dari pandang mata Kepala Dusun itu, terganti dengan ketakjuban dan kegirangan.

"Ah, sungguh hampir tak dapat dipercaya. Kalian bertiga seperti utusan dewa yang datang untuk menolong kami saja!"

Serunya.

Dari percakapan dan sikap mereka itu, Suma Kian Bu yang amat cerdik itu sudah dapat menangkap keadaan dan watak mereka.

Dia tahu bahwa orang-orang ini adalah orang-orang dusun yang jujur dan polos, bodoh dan amat tahyul, oleh karena itu, dengan suara garang dengan pengerahan khi-kang sehingga suaranya bergema di ruangan itu dan amat mengejutkan semua orang dia berkata.

"Kalian sangka siapa kami ini? Kami memang utusan dewa untuk datang ke dusun ini dan menyelamatkan kalian!"

Siang In sudah dapat menanggapi kata-kata suaminya.

Maka selagi semua orang terbelalak mendengar terjemahan kata-kata Kian Bu tadi, dan kepala dusun itu memandang dengan muka pucat saking kagetnya, tiba-tiba nyonya yang cantik ini mengeluarkan suara melengking.

tinggi, menggetarkan jantung semua pendengarannya.

Kemudian dengan suara yang amat berpengaruh karena disertai kekuatan sihirnya, dengan pandang mata seperti mencorong ketika semua orang menoleh dan memandangnya, tertarik oleh lengkingan tinggi tadi, ia berkata.

"Apakah kalian sudah buta? Lihat baik-baik! Kami adalah utusan dari Kwan Im Pouwsat sendiri! Aku adalah Dewi Api, lihat tubuhku mengeluarkan api bernyala! Lihat baik-baik!"

Dan terdengar semua orang yang terbelalak itu tiba-tiba berteriak-teriak ketakutan ketika mereka melihat betapa tubuh nyonya yang cantik itu tiba-tiba berkobar-kobar di tengah-tengah api!

Bahkan Ci Sian sendiri juga terkena pengaruh sihir itu dan ia kaget sekali melihat tubuh Siang In terbakar.

Namun, ia segera mengerahkan khi-kangnya dan mengusir pengaruh itu dan ia melihat betapa nyonya itu tetap berdiri biasa saja, sama sekali tidak ada api keluar dari tubuhnya!

Akan tetapi kini semua penduduk dusun itu dipimpin oleh Kepala Dusun mereka, sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap tiga orang itu!

"Ampunkan hamba sekalian....

hamba tidak tahu bahwa Paduka bertiga adalah dewa-dewa...."

Kian Bu merasa kasihan dan tidak tega untuk mempermainkan orang-orang yang jujur dan bodoh ini. Dia tersenyum dan mengangkat kedua tangannya.

"Bangkitlah kalian dan jangan berlutut. Ketahuilah bahwa biarpun kami ini utusan pada dewa, akan tetapi pada saat ini, kami memakai tubuh manusia biasa, maka kalian juga harus memperlakukan kami sebagai manusia biasa. Nah, kami sudah siap untuk menjadi korban. Kapan hal itu dapat dilaksanakan?"

"Biasanya yang kami lakukan setiap tahun, pada hari bulan purnama penuh, siangnya korban dibawa ke guha dan ditinggalkan, karena pada malam harinya dewa ular akan datang, pindah dari pohon yang mulai rontok daunnya ke dalam guha itu. Dan tahun ini, bulan purnama penuh akan muncul dua hari lagi."

"Baiklah, kami bertiga boleh kalian bawa ke guha itu pada besok lusa siang, agar malamnya kami dapat bertemu dengan dewa ular itu."

Kata Kian Bu.

Sebetulnya, setelah para penghuni dusun itu dapat ditundukkan oleh ilmu sihir Siang In, mereka semua itu sudah percaya dan tentu mau membantu.

Akan tetapi Kian Bu berpikir lain.

Menghadapi ular yang lihai itu tidak perlu bantuan orang-orang dusun yang sudah ketakutan itu, karena selain mereka itu tidak ada gunanya, juga bahkan di antara mereka mungkin saja akan tewas dan hal ini tidak dikehendakinya.

Selain itu, ular yang sudah amat tua itu agaknya jauh lebih cerdik daripada ular-ular biasa.

Dia khawatir kalau-kalau ular itu mencari tempat lain dan tidak akan datang ke guha kalau tidak disediakan korban, yaitu calon mangsanya yang mudah.

Dan menghadapi ular itu di tempat terbuka jauh lebih menguntungkan daripada menghadapinya di dalam guha, atau kalau ular itu datang, sebelum memasuki guha, mereka bertiga dapat menyambutnya di depan guha, di tempat terbuka, diterangi oleh sinar bulan purnama, dan mereka bertiga akan siap untuk memegang obor di tempat itu.

Mengenai belenggu kaki tangan itu, tentu saja bukan merupakan persoalan bagi mereka bertiga.

Kini para penduduk dusun itu amat menghormati mereka bertiga yang dianggap selain utusan dewa, juga merupakan penolong mereka.

Baru mau menjadi pengganti korban saja sudah membuat mereka bersyukur dan berterima kasih!

Maka, kini tiga orang pendekar itu dijamu oleh para penduduk dan dilayani dengan sikap hormat sekali.

Pada dua hari berikutnya, setelah matahari condong ke barat, Suma Kian Bu, Sian In dan Ci Sian sudah siap.

Semua penghuni dusun, laki-laki perempuan tua muda, sudah berkumpul di depan rumah Kepada Dusun.

Kepala Dusun, dengan dibantu oleh beberapa orang dan disaksikan oleh semua penghuni, mulai mengikatkan tali-tali yang kuat pada kaki tangan tiga orang pendekar itu.

Tiga orang pendekar itu sudah makan sore dan sudah mandi bersih, suatu keharusan bagi para calon korban, memakai pakaian bersih dan pengikatan kaki tangan mereka dilakukan dengan penuh khidmat okh Kepala Dusaan dan para pembantunya.

"Lihatlah, agar kalian semua yakin bahwa kami adalah utusan para dewa!"

Kata Suma Kian Bu untuk mendatangkan kesan terakhir.

Dia menggerakkan kedua lengannya dan "Kreekkk....!

Putuslah tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya, dan sekali menggerakkan kedua kakinya, putus pula belenggu kedua kakinya!

Semua orang terkejut sekali dan wajah kepala dusun menjadi pucat.

Akan tetapi Kian Bu sudah memasangkan kembali kaki tangannya untuk diikat kembali dengan tali-tali baru.

Setelah mengikatkan kaki tangan itu selesai, Kian Bu berkata.

"Dengar baik-baik pesan kami. Setelah menaruh kami di mulut guha, harap kalian semua pergi dan bersembunyi di rumah masing-masing. Kalau ada suara apapun jangan sekali-kali keluar dan biarkan kami bertiga menghadapi ular itu. Dan jangan lupa, sediakan obor, minyak dan lilin bernyala di guha."

Kepala Dusun mengangguk-angguk dan tak lama kemudian, tiga orang pendekar itu yang kaki tangannya terbelenggu, sudah digotong di atas tandu seperti yang biasa setiap tahun terjadi.

Akan tetapi kalau biasanya yang digotong hanya seorang korban saja, kini ada tiga orang calon korban yang digotong ramai-ramai.

Dan seperti biasanya, para penghuni dusun itu dengan dipimpin seorang pendeta yang menganut agama campuran antara Bhudis dan Taoism, menyanyikan lagu-lagu pujaan untuk para dewa.

Kian Bu, Siang In, dan Ci Sian duduk di atas tandu dengan kaki tangan terbelenggu, akan tetapi mereka tersenyum-senyum dan merasa seperti menjadi pengantin saja karena mereka berpakaian baru, diberi kalungan bunga, dipikul di dalam tandu, dan diiringkan oleh banyak orang yang bernyanyi-nyanyi dipimpin oleh pendeta satu-satunya yang berada di dusun itu.

Iring-iringan mengantar calon korban untuk dewa ular ini biasanya setiap tahun dilakukan dengan iringan air mata keluarga Si Korban.

Akan tetapi sekali ini, suasananya gembira dan semua wajah orang dusun itu cerah dan berseri.

Hal ini bukan hanya karena di antara mereka tidak ada yang kehilangan sanak keluarga, akan tetapi juga karena ada harapan dalam hati mereka untuk dapat terbebas selamanya daripada rasa takut terhadap Si Dewa Ular.

Akan tetapi di antara harapan dan kegembiraan ini, ada pula kekhawatiran menyelinap di dalam hati mereka.

Bagaimana kalau tiga utusan dewa itu gagal?

Dan andaikata mereka berhasil dan dewa ular dapat dienyahkan, bukankah hal itu berarti bahwa berkah dari dewa ular untuk mereka pun akan ikut lenyap?

Kepercayaan tahyul seperti yang dimiliki oleh para penduduk dusun di dekat Puncak Naga Hijau di Pegunungan Kun-lun-san itu bukan hanya merupakan peristiwa yang dapat terjadi dan menimpa, sekelompok manusia yang masih terbelakang atau yang peradabannya belum tinggi.

Kalau kita mau mengamati keadaan sekeliling kita, mau mengamati kehidupan kita sendiri, bahkan di jaman modern ini sekalipun, kita masih terikat dan terbelenggu oleh berbagai kepercayaan dan ketahyulan!

Kelompok ini percaya akan ini dan tidak percaya akan itu.

Golongan lain percaya akan itu dan tidak percaya akan hal yang dipercaya oleh kelompok pertama ini.

Bahkan kepercayaan-kepercayaan yang merupakan adat pusaka keturunan nenek moyang itu dapat menjadi bahan untuk saling bertentangan dan bermusuhan!

Kepercayaan akan hal-hal yang di luar jangkauan pikiran merupakan ketahyulan yang lama-lama berobah menjadi tradisi.

Dan biasanya, hal-hal seperti itu hanya untuk dipercaya saja, bukan untuk dimengerti!

Dan kita pun takut untuk melanggarnya atau meninggalkannya dari batin kita.

Tentu saja rasa takut ini timbul oleh suatu kepercayaan pula bahwa memegang teguh tradisi kepercayaan tahyul itu mendatangkan selamat, berkah, yang pada pokoknya adalah menyenangkan atau menguntungkan, Dan sebaliknya kalau kita menanggalkan atau membuangnya, kita akan kehilangan apa yang kita namakan selamat, berkah atau yang menyenangkan itu.

Kita takut akan dilanda kesusahan karenanya.

inilah sumber rasa takut menanggalkan atau membuangnya.

Lalu bagaimanakah timbulnya kepercayaan akan tahyul yang menjadi tradisi itu?

Semua kepercayaan, kalau kita mau merenungkannya dengan penuh kebebasan dan perhatian, timbul karena kebodohan, karena ketidakmengertian.

Kepercayaan itu pasti timbul karena kita tidak mengerti, tidak tahu, lalu kita mendengar pengertian itu dari mulut orang yang kita hormati, kita kagumi, kita anggap lebih tahu daripada kita, atau dari kitab yang ditulis oleh orang yang kita muliakan, maka kita pun lalu percayalah!

Kalau ketidakmengertian kita tentang sesuatu itu diterangkan oleh orang yang tidak kita agungkan, tidak kita hormati atau kagumi, maka kita pun lalu tidak percaya!

Jadi, percaya atau tidak percaya itu timbul dari sumber yang sama, yaitu dari kebodohan atau ketidakmengertian.

Sebagai contoh misalnya, kita belum pernah melihat sendiri, belum pernah membaca, belum pernah mendengar, pendeknya kita tidak mengerti sama sekali tentang Kutub Utara.

Lalu datanglah seseorang yang menulis atau bercerita kepada kita tentang Kutub Utara, tentang keanehan-keanehannya, keajaiban-keajaibannya dan sebagainya.

Nah, di sinilah asal mula timbulnya percaya atau tidak percaya.

Karena kita sendiri tidak mengerti, maka kita lalu mendengarkan orang itu dan tanggapan kita tentu saja dipengaruhi oleh perasaan kita terhadap orang itu.

Kalau orang itu kita agungkan, kita akan percaya, dan kalau sebaliknya kita tidak mengagungkannya, kita tidak percaya!

Dan kepercayaan atau ketidakpercayaan ini kita turunkan kepada murid-murid atau anak-anak keturunan, dan selanjutnya menjadi kepercayaan turun temurun.

Sebaliknya kalau orang itu, atau siapapun juga adanya, datang lalu bercerita atau menulis tentang sesuatu yang sudah kita mengerti atau ketahui, sudah tentu tidak akan timbul percaya atau tidak percaya lagi.

Yang ada hanyalah kenyataan bahwa apa yang diceritakan itu benar atau bohong.

Kalau ada orang mengatakan bahwa darah manusia itu hijau warnanya atau matahari itu timbul dari barat, maka di sini tidak ada percaya atau tidak percaya, karena kita sudah tahu dan mengerti benar bahwa keterangan orang itu bohong!

Sebaliknya, kalau ada orang mengatakan bahwa pohon besar itu dihuni setan atau dewa, maka keterangan ini menimbulkan percaya atau tidak percaya, karena kita tidak mengerti dan tidak mengetahui benar akan hal itu.

Maka, dapatkan kita hidup bebas dari segala macam kepercayaan dan ketahyulan ini?

Beranikah kita mengakui dengan rendah hati bahwa kalau timbul pertanyaan akan sesuatu yang tidak kita mengerti, yang tidak terjangkau oleh akal budi pikiran kita, lalu kita menjawab bahwa kita TIDAK TAHU?

Biasanya, kita takut atau malu untuk mengakui bahwa kita tidak tahu.

Kita selalu ingin mengaku bahwa kita tahu segalanya, padahal sebagian besar dari hal-hal yang kita katakan kita tahu itu sebenarnya hanyalah pengetahuan mati yang kita dengar dari keterangan orang lain, yang tidak kita hayati sendiri.

Karena, sesungguhnya hanya orang yang tidak tahu sajalah yang dapat membuka mata, yang dapat menyelidiki, dapat menyelami, dapat mempelajari dengan otak dan hati kosong sehingga penyelidikan itu dapat dilakukan seteliti-telitinya, tidak dipengaruhi oleh pengetahuan-pengetahuan mati yang hanya akan menjadi batu penghalang bagi penyelidikannya akan hal-hal yang baru.

Sayang bahwa mereka yang tidak tahu itu begitu ingin untuk dianggap tahu sehingga dengan mudah mereka menerima segala pengetahuan dari orang lain melalui kepercayaan.

Setelah tiba di depan guha, semua penghuni dusun nampak ketakutan dan sejak mendekati tempat itu tadi pun sudah tidak ada yang berani mengeluarkan suara.

Suasana memang amat menyeramkan karena tempat itu terpencil, jauh dari dusun, jauh dari manusia dan tidak nampak bekas-bekas tangan manusia di situ dan dalam perjalanan mereka itu, Mereka tidak melihat tapak seorang pun manusia.

Tiga buah joli atau tandu itu diturunkan dan tiga orang pendekar digotong dengan hati-hati dan dengan sikap penuh hormat, lalu satu demi satu direbahkan di mulut guha yang gelap.

Kepala Dusun lalu menyalakan sebatang lilin di sudut guha, obor-obor yang belum dinyalakan ditinggalkan di sudut pula, obor yang sudah diberi minyak pembakar.

Kemudian, setelah mereka semua memberi hormat ke arah tiga orang pendekar yang rebah di mulut guha, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kepala Dusun itu lalu mengajak orang-orangnya untuk pergi meninggalkan guha seperti yang telah dipesankan oleh Suma Kian Bu kemarin.

Setelah semua orang pergi, Kian Bu, Siang In dan Ci Sian lalu memutuskan semua tali yang membelenggu kaki ta-ngan mereka.

"Akan tetapi, kita harus tetap tinggal di sini."

Kata Kian Bu kepada dua orang wanita itu.

"Jangan lengah dan harus tetap waspada. Biarpun aku sendiri tidak percaya bahwa ular itu adalah siluman, iblis atau dewa, akan tetapi dia tentu seekor binatang yang sudah tua, kebal, dan cerdik sekali. Maka, biarlah kita tinggal rebah agar tidak membuat dia curiga, dan siap untuk menyerbu kalau dia sudah berada di depan guha. Sebelum aku menyerangnya, harap kalian jangan bergerak dulu. Kita belum tahu sampai di mana kelihaiannya, maka kita tidak boleh sembrono."

Karena memang sudah mendengar betapa banyaknya orang-orang lihai menjadi korban ular itu, maka Siang In dan Ci Sian mengangguk.

Tadi pun dua orang wanita ini merasa agak ngeri melihat adanya rangka-rangka manusia di dalam guha.

Tentu itu adalah rangka-rangka para korban, karena rangka-rangka itu hanya merupakan tulang-tulang tubuh manusia, semua tanpa kepala!

Menanti merupakan pekerjaan yang amat berat.

Dalam menanti, sang waktu seolah-olah menjadi luar biasanya lambannya, seperti gerakan maju seekor keong.

Mereka bertiga ditinggalkan di tempat itu menjelang senja dan kini mereka menanti datangnya sang malam yang dirasakan amat lambatnya.

Akan tetapi akhirnya cuaca menjadi gelap, malam mulai datang menyelubungi bumi, mengusir sinar-sinar matahari lenyap, kegelapan menyelubungi hutan dan satu-satunya sinar hanyalah lilln yang bernyala di dalam guha.

Mereka yang berada di dalam guha itu menanti dengan hati tegang.

Belum ada tanda pergerakan yang luar biasa, dan yang terdengar hanyalah bunyi belalang dan binatang malam, jauh di dalam hutan.

Nyamuk-nyamuk yang tertarik oleh nyala lilin mulai berdatangan dan mengganggu mereka.

Tapi, berkat ilmu kepandaian mereka yang sudah tinggi, gangguan itu tidak menyiksa benar.

Dengan kibasan tangan saja mereka mampu meruntuhkan nyamuk-nyamuk yang berani menyerang mereka.

Gangguan itu lebih dirasakan oleh mengiangnya nyamuk di dekat telinga daripada penyerangan sengatan mereka.

Bulan purnama mulai menyinari bumi ketika mereka mulai merasakan datangnya ancaman yang sejak tadi dinanti-nanti itu.

Ada bau amis yang aneh yang memasuki hidung mereka.

Apalagi kalau ada angin bersilir, bau itu makin tercium keras sekali, membuat Ci Sian, merasa muak sekali.

"Awas.... agaknya dia mulai datang...."

Kata Kian Bu dengan suara berbisik.

Pendekar ini adalah putera Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es, dan pendekar ini memiliki ilmu kesaktian hebat, sudah mengalami segala macam pertempuran dan bahaya yang hebat-hebat.

Namun malam itu dia merasakan ketegangan luar biasa juga.

Demikian pula Siang In.

Terutama sekali, Ci Sian yang belum begitu banyak pengalaman hidupnya.

Dara ini merasakan jantungnya berdebar-debar penuh ketegangan dan keringat dingin membasahi lehernya.

Andaikata ia berada di situ seorang diri saja, tentu ia sudah meninggalkan tempat yang menyeramkan itu.

Akan tetapi, adanya Pendekar Siluman Kecil dan isterinya membesarkan hatinya dan dara ini memandang keluar guha dengan penuh perhatian, siap menghadapi segala kemungkinan.

Bau amis bercampur harum aneh yang keras itu makin terasa.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi kresek-kresek dan tumbangnya sebatang pohon seperti dilanda sesuatu yang berat.

"Kalau aku menyerangnya, kalian cepat nyalakan obor itu dan menancapkan obor-obor itu di luar guha, diempat penjuru agar kita dapat menghadapinya dengan baik"

Bisik Kian Bu kepada dua orang wanita itu yang hanya mengangguk tanda mengerti.

Dua orang wanita ini seperti kehilangan suara saking tegangnya.

Kian Bu memandang keluar guha dengan penuh perhatian.

Cahaya bulan cemerlang menerangi keadaan di luar guha, dan sesungguhnya, tanpa obor sekalipun cuaca sudah cukup terang.

Akan tetapi Kian Bu menyuruh menyalakan obor bukan hanya agar cuaca menjadi terang, melainkan untuk berjaga-jaga saja, kalau-kalau ada awan yang akan menutupi bulan dan membuat tempat itu menjadi gelap.

Amatlah berbahaya kalau bertanding melawan ular di tempat gelap.

Jadi obor-obor yang disuruhnya untuk dinyalakan itu hanya bertugas sebagai cadangan kalau-kalau sang bulan, tertutup awan.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu, yang menimbulkan ketegangan luar biasa itu, tibalah!

Mula-mula hanya nampak bayangan yang panjang menggeleser di atas tanah, membuat rumput-rumput tersibak.

Ketika tiba di depan guha, tiba-tiba ular itu mengangkat kepalanya, dan lehernya terangkat, kepalanya naik sampai satu meter di atas tanah.

Nampaklah mukanya yang mengerikan itu!

Mukanya memang seperti muka ular biasa, hanya lebih besar dan yang mengerikan sekali adalah mulutnya yang mengeluarkan suara mendesis dibarengi hawa seperti uap putih mengepul, dan sepasang cabang lidahnya bergerak-gerak keluar, lidah yang merah kehitaman.

Sepasang mata yang besar itu mencorong seperti mengeluarkan api, dan kepalanya yang tertimpa sedikit cahaya bulan itu nampak berkilauan.

inilah agaknya yang menimbulkan dongeng bahwa kepalanya mencorong padahal sesungguhnya karena kulit kepalanya mengkilap seperti berminyak, tentu saja nampak berkilauan.

Betapapun juga, Suma Kian Bu yang sudah banyak mengalami hal-hal yang luar biasa itu, diam-diam terkejut dan harus mengakui dalam hatinya bahwa selama hidupnya belum pernah dia melihat ular yang demikian besar dan panjangnya, dan juga yang kelihatan ganas dan menyeramkan.

Akan tetapi, karena dia pun tahu bahwa binatang ini bukanlah sebangsa siluman atau dewa, juga bukan seekor naga seperti yang sering terdapat dalam dongeng, yang bisa terbang dan memiliki kesaktian lain, maka dia pun tidak menjadi gentar.

Agaknya ular besar itu memang sudah biasa pindah ke dalam guha di awal musim rontok seperti yang diceritakan oleh Kepala Dusun, dan juga agaknya telah terbiasa memperoleh mangsa yang mudah di dalam guha itu.

Maka sekarang pun binatang ini berhenti di depan guha dan mengangkat kepalanya, agaknya untuk menjenguk lebih tinggi agar dapat melihat jelas apakah sudah tersedia mangsa baginya kali ini.

Sejak tadi Kian Bu memang sudah bersiap sedia.

Seluruh urat syaraf di dalam tubuhnya sudah menegang, terisi oleh pengerahan sin-kang untuk menghadapi lawan yang tangguh dan berbahaya.

"Nyalakan obor!"

Tiba-tiba Kian Bu berseru dan belum juga gema suaranya itu lenyap, dia sudah meloncat keluar dari dalam mulut guha itu dan langsung saja dia menerjang ke arah kepala ular yang diangkat tinggi itu.

Pendekar Siluman Kecil ini memiliki sebuah senjata yang luar biasa, yaitu sebatang tongkat sakti yang terbuat dari akar pohon yang hanya terdapat di sebuah pulau tak jauh dari Pulau Neraka.

Akar kayu ini amat keras dan ulet, tidak rusak oleh baja yang tajam sekalipun, dan lebih peka untuk disaluri tenaga sin-kang daripada logam lainnya.

Biasanya, hampir tidak pernah pendekar ini menghadapi lawan dengan senjatanya ini yang lebih pantas dipergunakan untuk pegangan atau iseng saja.

Hal ini adalah karena dengan dua pasang kaki dan tangan saja dia sudah lebih dari kuat menghadapi lawan.

Kedua tangannya itu lebih dahsyat daripada senjata lawan yang bagaimanapun.

"Dukkkk!"

Tongkat yang dipukulkan ke arah kepala ular itu tepat mengenai sasarannya, akan tetapi Kian Bu kaget sekali karena tongkatnya terpental dan seluruh lengan kanannya tergetar hebat.

Dia memang sengaja hendak mengukur sampai di mana kekuatan dan kekebalan ular itu dan akibatnya dia terkejut.

Tiba-tiba, sebagai balasan serangan itu, ular itu menggerakkan kepalanya dan mulutnya terbuka.

Terdengarlah bunyi mendesis nyaring dan Kian Bu harus meloncat jauh ke kiri untuk menghindarkan diri ketika dia merasakan sambaran angin dahsyat yang panas dan berbau amis!

Pada saat itu, Ci Sian dan Siang In sudah menyalakan obor pada nyala lilin dan meloncat keluar, tepat pada saat ular itu menyembur kepada Kiam Bu.

Dua orang wanita ini terkejut karena tiba-tiba ada angin keras yang menyambar dan membuat obor mereka itu bergoyang-goyang apinya dan hampir padam, juga mereka merasakan hawa panas terkandung dalam angin itu, di samping bau amis yang memuakkan.

"Taruh obor itu agak jauh!"

Kian Bu berseru lagi, dan kini pendekar ini yang sudah merasakan kekuatan ular yang amat besar itu, meloncat maju sambil menggerakkan tongkatnya, kini menusuk ke arah mata kanan ular.

Dia terkejut dan heran karena ular itu sama sekali tidak mengelak!

Akan tetapi kegirangannya lenyap ketika ujung tongkatnya bertemu dengan benda yang amat keras dan licin sehingga tusukannya meleset!

Kiranya, tanpa menggerakkan kepalanya, ular itu mampu membuat gerakan sedikit yang cukup untuk membuat ujung tongkat itu mengenai pinggiran mata yan sama kuatnya dengan kulit kepala maupun badannya.

Kulit bersisik itu amat keras dan licin, sehingga ketika tusukan tongkatnya meleset, Kian Bu terdorong ke depan.

Dan pada saat itu dia merasa adanya angin pukulan yang amat kuatnya menimpanya dari arah kiri.

Cepat Kian Bu mengerahkan gin-kangnya dan meloncat.

Untung dia dapat bergerak cepat karena begitu dia menghindar, ekor ular yang besar dan berat itu, dengan kekuatan dahsyat yang ratusan kati beratnya, menimpanya dan karena luput, ekor itu menimpa batu yang pecah berantakan seperti dipukul palu godam yang amat berat!

Seperti juga tadi, begitu diserang ular itu membalas dengan cepatnya, maka kini Kian Bu bersikap hati-hati sekali.

Dia sudah mencoba tongkatnya untuk memukul dan menusuk, dan akibatnya, bahkan serangan balasan ular itu tidak kalah hebatnya dan berbahayanya.

Dan begitu serangannya luput, ular itu tidak melanjutkan serangan, melainkan menanti seperti tadi, dengan kepala diangkat dan sepasang matanya mencorong memantulkan sinar obor-obor yang dipasang oleh Ci Sian dan Siang In di sekitar tempat itu.

Dua orang wanita itu kini mendekat dan mengepung ular.

Siang In sudah memegang senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang payung yang berujung runcing, sedangkan Ci Sian sudah memegang suling emasnya.

"Ci Sian, kita serang dari kanan kiri! Tujukan serangan ke arah matanya!"

Kata Siang In yang tadi sudah melihat betapa dua kali serangan suaminya gagal.

Wanita perkasa ini maklum bahwa kulit ular itu benar-benar amat kebal sehingga menyerang kulitnya akan sia-sia belaka, bahkan amat berbahaya, maka dengan cerdik ia menganjurkan Ci Sian untuk melakukan serangan berbareng ke arah kedua mata binatang itu dari kanan kiri.

Ci Sian mengangguk dan dua orang wanita itu seperti berlumba cepat, menerjang dari kanan kiri.

Ci Sian menusukkan sulingnya ke arah mata kiri.

Sedangkan Siang In menusukkan ujung payungnya ke arah mata kanan.

Akan tetapi, tiba-tiba ular itu menurunkan kepalanya dan menyembunyikan kepala itu di bawah perut dan tiba-tiba saja ekornya sudah datang menimpa dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan.

"Awas....!"

Suma Kian Bu berseru dan dua orang wanita itu sudah meloncat pergi dengan cepat.

Akan tetapi, angin pukulan yang amat kuat masih mendorongnya dan membuat mereka berdua terbanting dan bergulingan sampai jauh.

Tentu saja mereka terkejut bukan main ketika melompat berdiri lagi.

Pada saat itu, Kian Bu sudah meloncat dengan kecepatan kilat sehingga yang nampak hanya bayangannya saja dan tahu-tahu dia sudah mendekati kepala ular itu dan memukul dengan kepalan tangan kirinya.

"Desss....!"

Pukulan itu dahsyat bukan main, mengandung tenaga Swat-im Sin-kang dari Pulau Es, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya.

Karena tahu bahwa ular itu sungguh kebal dan tidak dapat dilukai oleh senjata, maka Kian Bu kini mempergunakan tenaga Swat-im Sin-kang, yaitu tenaga dalam yang dingin, berkat latihan di Pulau Es.

Biarpun tangannya tidak akan dapat melukai kulit binatang itu, namun dia mengharapkan bahwa getaran tenaga pukulannya akan dapat melukai sebelah dalam kepala binatang itu.

Dan memang agaknya harapannya ini tidak sia-sia, karena ular itu ternyata menderita berat oleh pukulannya yang mengguncangkan isi kepalanya.

Ekor ular itu membelit dan menghantam Kian Bu terpaksa menangkis dengan tangan kanan yang memegang tongkat!

"Dess....!"

Tubuh Kian Bu terlempar dan tongkatnya terlepas dari tangannya!

Pendekar ini tidak terluka, hanya terlempar saking besarnya tenaga pukulan ekor ular itu.

Begitu meloncat bangun, Kian Bu sudah menerjang lagi, meloncat dan memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-kiang di tangan kiri, dan tenaga Hwi-yang Sin-kiang di tangan kanan.

Kedua pukulan yang mengandalkan tenaga sin-kang yang berlawanan ini yaitu dingin dan panas, dilakukannya berganti-ganti.

Dan serangan-serangan ini memang hebat sekali.

Satu kali pukulan tangan kanan atau tangan kiri pendekar itu sudah cukup untuk merobohkan, bahkan menewaskan seorang lawan tangguh.

Biarpun berkali-kali terkena pukulan, namun nampaknya ia tidak merasakan nyeri, bahkan kini ia mulai mengeluarkan teriakan-teriakan yang menyeramkan.

Teriakannya itu seperti teriakan seekor burung gagak yang nyaring, parau dan menyeramkan sekali.

Agaknya ia marah bukan main terkena pukulan-pukulan yang mendatangkan rasa nyeri itu.

Melihat betapa suaminya sudah mulai menyerang dengan bertubi-tubi, Siang In segera membantunya dengan menggerakkan pa-yungnya, menerjang dan menusukkan ujung payungnya, kembali mengarah mata ular itu.

Ci Sian juga membarenginya dan menghantamkan suling ke belakang kepala ular itu sambil mengerahkan semua tenaga dalamnya.

Kian Bu yang sudah menyerang bertubi-tubi itu berada dekat dengan ular dan dia tahu betapa ular itu tiba-tiba menggerakkan ekornya.

"Awas! Mundur....!"

Dia berteriak, akan tetapi agaknya isterinya dan Ci Sian tidak menghiraukannya karena kedua orang wanita itu memang hendak membantunya dan tentu saja tidak tega melihat dia sendiri saja melawan ular yang amat tangguh itu.

Melihat dua orang wanita itu tidak menghiraukannya, Kian Bu yang maklum akan dahsyatnya sambaran ekor ular, sudah meloncat dan menggunakan kedua lengannya untuk menangkis sambaran ular yang tadinya menghantam ke arah dua orang wanita itu.

"Dessss....!"

Hebat sekali pertemuan antara ekor ular dan kedua lengan Kian Bu.

Pendekar ini merasa seolah-olah seluruh tulangnya remuk dan tak dapat bertahan lagi, terpelanting, sedangkan dua orang wanita itu terdorong oleh hawa pukulan yang dahsyat ini, kembali bergulingan.

Sedangkan tusukan suling dan ujung payung itu pun tidak melukai ular, bahkan membuatnya menjadi semakin marah.

Ular itu merasakan ekornya nyeri sekali, maka kemarahannya dipusatkan kepada Kian Bu yang telah banyak mendatangkan rasa nyeri kepadanya.

Sebelum Kian Bu sempat meloncat, ular itu sudah menubruk dan tahu-tahu tubuh Kian Bu telah terkena libatan ekornya!

Pendekar itu terkejut, mengerahkan tenaga Hwi-yang Sinkang, memberontak.

Tenaga ini besar sekali.

Belenggu baja saja kiranya akan patah-patah oleh tenaga Hwi-yang Sin-kang yang panas ini.

Akan tetapi, tubuh ular itu jauh lebih kuat daripada baja, karena tubuh itu dapat melentur seperti karet, namun mengandung kekuatan libatan yang amat luar biasa.

Betapapun juga, karena Kian Bu memberontak itu, libatannya berkurang kekuatannya dan Kian Bu berhasil menarik kedua lengannya keluar dari libatan sehingga hanya pinggangnya ke bawah saja yang terlibat.

Dia merasa betapa tenaga libatan itu makin kuat saja, seperti ada tenaga dalam yang makin lama makin besar hendak meremuk tulang-tulangnya dengan tekanan yang dahsyat.

Dan kini kepala ular itu membalik dan dengan moncong terbuka lebar ular itu hendak mencaplok kepala Kian Bu!

"Desss....!"

Kian Bu memapaki kepala itu dengan pukulan tangan kanannya, lalu "Plakkk!"

Tangan kirinya juga menampar.

Ular itu terkejut dan kesakitan, kembali menggeluarkan teriakan parau yang amat nyaring.

Kian Bu merasa seolah-olah telinganya ditusuk-tusuk, maka dia pun mengerahkan khi-kangnya dan melengking nyaring.

Ular itu terkejut, dan diam, akan tetapi tidak melepaskan lilitannya.

Siang In dan Ci Sian terkejut bukan main melihat Kian Bu terlilit ular dan tidak mampu melepaskan diri.

Wajah Siang In menjadi pucat dan dengan nekat wanita ini lalu menyerang dengan senjata payungnya.

Terjangannya hebat sekali dan ujung payungnya seperti kilat cepatnya nenyambar ke arah kedua mata binatang itu.

Dan Ci Sian pun cepat membantunya, memukul-mukulkan sulingnya dengan pengerahan khi-kangnya yang amat kuat itu ke arah moncong ular, maksudnya andaikata tidak dapat melukai ular pun ia akan mencegah ular itu menggigit Kian Bu.

"Tak-tak....!"

Ujung payung itu mengenai kulit yang keras ketika ular itu menggerakkan kepalanya sehingga tusukan-tusukan itu meleset, tidak mengenai mata melainkan mengenai bagian muka yang tertutup kulit keras.

"Trakkk!"

Hantaman suling di tangan Ci Sian bertemu dengan gigi dan ada sebuah gigi ular itu yang patah terkena pukulan suling.

Kembali ular itu berteriak parau dan keras dan Kian Bu merasa betapa lilitan tubuh ular itu menjadi semakin kuat.

Dia pun menggunakan kedua tangannya untuk memukuli tubuh ular yang melilitnya, menggunakan pukulan-pukulan tangan miring seperti membacok-bacok.

Tenaganya yang luar biasa kuatnya itu pun tidak dapat membuat kulit ular itu rusak, akan tetapi setidaknya tenaga pukulannya, mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa sehingga ular itu berteriak-terlak atau mengeluarkan suara parau dan serak.

Lilitannya menjadi semakin kuat.

Karena maklum bahwa dia tidak mampu melepaskan diri dari belitan maut itu, dan bahwa isterinya maupun Ci Sian bisa terancam bahaya, maka Kian Bu cepat berteriak.

"Mundurlah.... jangan dekat-dekat....!"

Akan tetapi, sebagai seorang isteri yang amat mencinta suaminya, tentu saja Siang In tidak mau meninggalkan suaminya yang sedang dibelit ular, dan dalam keadaan terancam hebat itu pendekar wanita ini pun sudah menjadi panik penuh kekhawatiran, maka dengan muka pucat ia sudah menyerang lagi sambil membentak nyaring.

"Lepaskan suamiku....!"

Payungnya menyambar seperti kilat, kembali menyerang ke arah mata kanan ular itu.

Ular itu memang luar biasa sekali.

Dia tidak mengelak, melainkan mempergunakan kepalanya untuk menangkis.

"Dessss....!"

Tubuh Siang In terlempar sampai beberapa meter jauhnya karena ditumbuk oleh kepala yang amat kuat itu.

Siang In tidak terbanting hebat karena ia cepat menggulingkan tubuhnya, akan tetapi kepalanya agak pening juga oleh benturan keras itu.

Sementara itu, Ci Sian melihat dengan penuh kengerian ketika ular itu kini mengangkat tinggi kepalanya dan mulutnya terbuka lebar, siap untuk mencaplok kepala Suma Kian Bu yang masih meronta-ronta seperti seekor lalat dalam perangkap sarang laba-laba itu.

Agaknya tidak akan ada apapun yang dapat menyelamatkan nyawa pendekar sakti itu.

"Mundurlah.... biarkan aku...."

Kata pula Kian Bu yang terkejut menyaksikan isterinya terlempar tadi.

Akan tetapi Siang In menjadi semakin nekat.

Biarpun kepalanya masih pening dan tubuhnya sakit-(Lanjut ke

Jilid 38) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 38 sakit, terutama sekali pundak kirinya yang terkena hantaman langsung oleh kepala ular itu, namun kekhawatirannya akan keselamatan suaminya membuat ia lupa akan diri sendiri.

Ia sudah hendak menyerbu lagi ketika tiba-tiba lengannya dipegang oleh tangan Ci Sian Sian.

"Enci, biarkan aku mencoba ini...."

Siang In menahan gerakannya dan memandang Ci Sian sudah menempelkan suling emasnya di depan mulut dan terdengarlah suara suling yang aneh dan suara itu melengking tinggi mengalun dan mengandung getaran yang amat halus namun amat kuat.

Ternyata dara ini teringat akan pelajaran tiupan sulingnya, dan menurut suhengnya, tiupan suling itu mengandung suara yang penuh dengan kekuatan khi-kang, dan menurut suhengnya, suara itu selain dapat mengusir pengaruh gaib atau juga segala macam kekuatan sihir dari lawan, juga dapat dipergunakan untuk menyerang atau mempengaruhi lawan.

Dan Ci Sian juga teringat akan pelajaran dari gurunya, yaitu Si Raja Ular See-thian Coa-ong tentang kelemahan ular.

Ia sendiri dapat memanggil ular-ular dengan getaran suara meninggi dalam nada tertentu, yaitu ilmu yang didapatnya dari See-thian Coa-ong.

Dengan menggabungkan ilmunya meniup suling dan ilmunya menguasai ular itu, ia ingin mencoba kepandaiannya untuk mempengaruhi dan menundukkan ular raksasa ini.

Tentu saja Ci Sian belum yakin akan hasilnya, karena pelajaran menaklukkan ular dari suhunya, See-thian Coa-ong itu, hanya ditujukan terhadap ular-ular biasa, terutama ular beracun.

Belum pernah selama hidupnya ia melihat ular seperti yang mereka lawan ini.

Ular yang menyelamatkannya ketika terjatuh dari tebing dahulu, yaitu ular peliharaan See-thian Coa-ong, tidak ada setengahnya dibandingkan dengan besar ular raksasa ini!

Dengan senjata payung di tangan, siap untuk menerjang, dan sepasang matanya tak pernah berkedip memandang ke arah ular yang melilit tubuh suaminya, Siang In berdiri memandang.

Pendekar wanita ini sendiri bergetar mendengar suara suling melengking tinggi ini, sehingga ia harus mengerahkan sin-kang untuk melindungi jantungnya yang seperti ikut tergetar.

"Bagus, teruskan.... teruskan....!"

Tiba-tiba terdengar Kian Bu berkata girang.

Terjadilah keanehan.

Mendengar suara melengking tinggi yang beralun itu, ular yang tadinya sudah membuka mulut, dengan marah sekali hendak mencaplok kepala Kian Bu, tiba-tiba menghentikan gerakan kepalanya dan mengangkat kepala tinggi-tinggi, diam tak bergerak, seolah-olah terpesona!

Kemudian, mulailah kepala itu bergerak-gerak ke kanan kiri, mulutnya masih terbuka dan kadang-kadang binatang itu menyemburkan uap yang panas dan berbau amis!

Giranglah hati Ci Sian ketika melihat hasil tiupan sulingnya ini.

Ia pun cepat meniupkan nada-nada suara yang telah dipelajarinya dari See-thian Coa-ong untuk membuat ular itu berlutut atau mendekam di depan kakinya.

Ada ber-macam-macam perintah yang dapat dilakukannya terhadap ular, sesuai dengan yang diajarkan See-thian Coa-ong, melalui nada suara tertentu yang biasanya dikeluarkan dari kerongkongannya dengan pengerahan khi-kang.

Akan tetapi, kini dengan tiupan sulingnya, tentu saja kekuatan itu lebih hebat lagi.

Namun Ci Sian terkejut dan juga bingung.

Ular raksasa itu tidak mentaati perintah melalui sulingnya, melainkan nampak panik dan bingung, juga seperti ketakutan.

Agaknya, suara melengking yang langsung ditujukan kepadanya oleh dara perkasa itu amat mengganggu telinganya, membuat kepalanya rasanya seperti ditusuk-tusuk dari dalam!

Ular itu kebingungan, ketakutan, dan membuka mulutnya lebar-lebar, mendesis-desis dan menggeliat-geliat, menggerakkan kepala seperti menari-nari, akan tetapi tarian yang tidak teratur, tarian kebingungan!

Ci Sian melanjutkan tiupannya, menduga bahwa agaknya "alat penerima"

Ular raksasa ini sudah berbeda dengan ular-ular pada umumnya.

Akan tetapi, melihat betapa tubuh ular itu menggeliat dan karenanya lilitannya juga mengendur, ia terus meniup sulingnya, bahkan menggunakan nada yang makin meninggi sampai tidak dapat ditangkap oleh anak telinga lagi!

Dan ular itu semakin tersiksa!

Dalam keadaan kebingungan itu, ular raksasa ini agaknya melupakan Kian Bu sehingga lilitannya mengendur dan ketika memperoleh kesempatan baik, Kian Bu berhasil meloloskan diri, sekali meloncat sudah terbebas dari lilitan ular.

Akan tetapi ketika kedua kakinya tiba di atas tanah dekat isterinya, dia terhuyung dan tentu akan terpelanting kalau tidak dipeluk isterinya.

Kiranya pendekar ini tadi terlalu banyak mengerahkan tenaga untuk berusaha melepaskan diri dari lilitan ular itu, dan juga untuk menjaga agar tulang-tulangnya tidak remuk terhimpit.

Setelah mengatur napas sebentar dan keadaannya pulih kembali, Suma Kian Bu lalu mengambil payung isterinya, matanya tak pernah terlepas memandang ular itu.

Ketika tadi ular itu membuka mulut lebar-lebar hendak mencaplok kepalanya, dia melihat betapa bagian dalam dari mulut ular itu merupakan daging yang kemerahan, dan dia percaya bahwa tidak mungkin daging di sebelah dalam rongga mulut itu kebal.

Di situlah agaknya kelemahan ular ini, pikirnya.

Di bagian luar tubuhnya, ular itu kebal, terlindung sisik yang amat tebal dan kuat.

Akan tetapi kalau mulutnya terbuka, maka di dalam rongga mulutnya itu merupakan bagian yang lemah dan tidak terlindung.

Ular itu masih ternganga lebar dan menyembur-nyemburkan uap, kebingungan dan kegelisahan sekali.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Kian Bu telah mempergunakan ilmu gin-kangnya yang luar biasa, melayang ke depan dan secepat kilat, sebelum ular itu tahu bahwa dirinya diserang, pendekar ini sudah menusukkan payungnya dari bawah, memasuki mulut itu dan ujung payung yang seperti pedang itu menusuk dan menembus rongga mulut bagian atas, memasuki otak di kepala ular dan menembus sampai keluar di antara kedua mata ular itu.

"Mundur....!"

Kian Bu berteriak nyaring sambil meloncat jauh meninggalkan ular itu.

Sementara itu, Ci Sian dan Siang In juga berloncatan ke belakang.

Untung bahwa mereka melakukan ini karena tiba-tiba saja ular yang sudah terluka parah itu mengamuk!

Bukan main dahsyatnya amukan ular ini.

Kepalanya yang sudah berlubang dan mengucurkan darah yang banyak sekali itu, menyambar-nyambar ke sana sini dan apa saja yang ditemukan, baik batu maupun batang pohon, tentu digigitnya sampai hancur!

Ekornya juga menyambar ke kanan kiri dan batu-batu besar pecah-pecah terkena hantaman ekornya.

Debu mengepul tinggi dan semua hiruk-pikuk itu ditambah lagi dengan teriakan-teriakannya yang menyayat hati.

Teriakan-teriakan ini terdengar sampai ke dusun dan semua orang dusun, sejak mendengar suara ular itu memekik-mekik tadi, sudah menjatuhkan diri berlutut di rumah masing-masing dengan muka pucat dan tubuh menggigil ketakutan.

Mereka mengira bahwa tentu tiga orang pendekar itu telah tewas semua dan sekarang Dewa Ular itu marah-marah dan akan mengamuk ke dusun itu!

Akan tetapi, biarpun luka yang diderita oleh ular raksasa itu hanyalah luka kecil saja yang diakibatkan oleh tusukan ujung payung yang seperti pedang, namun luka itu menembus kepala dan merusak otak, pusat segala-galanya.

Maka amukan itu hanya berlangsung beberapa menit saja dan akhirnya ular itu tergolek mati di depan guha!

Tiga orang pendekar itu menanti sampai beberapa lama, sampai akhirnya mereka yakin benar bahwa binatang itu telah mati.

Barulah Kian Bu mendahului mereka, meloncat ke dekat ular itu dan menggerak-gerakkan kepala ular itu dengan kakinya.

Namun, kepala itu terangkat dan terkulai lemas, tanda bahwa ular itu benar-benar telah tewas.

Maka dia pun memberi isyarat kepada dua orang wanita pendekar itu yang segera maju menghampiri.

Ngeri juga hati mereka melihat besarnya, ular ini.

Bahkan Ci Sian sendiri yang memiliki ilmu menaklukkan ular dan sudah dapat disebut ahli ular atau pawang ular, bergidik melihat ular yang luar biasa ini.

Pendekar Siluman Kecil yang melihat bahwa ular.

itu telah benar-benar tewas, menoleh kepada Ci Sian dan berkata.

"Nona, engkau telah menyelamatkan nyawaku."

Siang In juga merangkul dara itu dan berkata.

"Kalau tidak ada engkau, Adikku, entah apa akibatnya yang menimpa kami berdua."

Ci Sian tersenyum, balas merangkul Siang In dan berkata kepada Kian Bu.

"Suma-taihiap, harap jangan bersikap sungkan. Di antara kita, mana ada istilah saling menolong atau menyelamatkan? Kita maju bertiga menghadapi ular itu, jadi tidak ada yang ditolong atau menolong."

Kian Bu mengangguk.

"Baik, engkau masih muda akan tetapi pandai membawa diri, Nona. Tunggu, aku Suma Kian Bu bukan orang yang tak pandai membalas budi."

Setelah berkata demikian, pendekar ini menggunakan ujung payung isterinya untuk menggurat kepala ular yang sudah terluka itu.

Anehnya, setelah ular itu mati, biarpun kulit kepalanya masih keras, namun tidak begitu sukar bagi pendekar untuk membelahnya dengan hati-hati.

Kepala itu terbelah dan nampak isinya ketika dikuakkan dan dapat dibayangkan betapa girang rasa hati suami isteri yang dipenuhi harapan itu ketika di dalam kepala itu mereka menemukan sebuah benda bulat sebesar ibu jari, berwarna kehijauan, macamnya seperti sebutir mutiara yang berkilauan, akan tetapi agak lunak.

itulah agaknya dongeng tentang mustika naga itu!

Dengan hati-hati sekali Siang In menyimpan benda itu, dibungkusnya dengan sehelai saputangan bersih.

Sedangkan Kian Bu berkata.

"Nona Bu Si Cian...."

Ci Sian terkejut dan memandang dengan mata terheran-heran, akan tetapi kemudian ia dapat menduga dan menoleh kepada Siang In.

"Memang aku telah menceritakan riwayatmu kepada suamiku, Ci Sian."

"Benar Nona. Aku sudah mendengar bahwa Nona adalah puteri dari Bu Seng Kin atau yang terkenal dengan sebutan Bu-taihiap itu. Aku sendiri belum pernah berjumpa dengan orangnya, namun namanya sudah terkenal lama di dunia kang-ouw. Nona, kami berdua sudah melihat bahwa Nona adalah orang yang patut menjadi sahabat baik atau bahkan keluarga kami sendiri. Oleh karena itu, kalau sekiranya Nona suka, aku ingin menurunkan semacam ilmu kepadamu yang akan menambah kepandaianmu dan memperhebat ilmu silatmu. Kami akan tinggal di sini selama beberapa bulan, dan kalau engkau mau, aku akan dapat mengajarkan ilmu itu kepadamu di sini."

Siang In yang masih merangkulnya itu segera berkata.

"Adikku, kesempatan baik sekali bagimu untuk memperdalam ilmumu! Percayalah, suamiku tidak pernah bicara main-main. Kau temanilah kami di sini mempelajari ilmu itu, karena bukankah engkau pun tidak mempunyai tujuan tertentu hendak ke mana? Kalau ilmumu sudah lebih sempurna, tentu akan lebih mudah bagimu untuk merantau dan.... mencari Suhengmu."

Ci Sian termenung sejenak.

Ia tahu akan kelihaian pendekar ini dan sebagai seorang pendekar wanita muda, tentu saja ia pun masih haus akan ilmu-ilmu yang hebat.

Dan ia pun merasa amat cocok dengan Siang In.

Akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Kian Bu dan berkata.

"Terima kasih atas kebaikan Taihiap."

Siang In cepat membangunkan Ci Sian dan suaminya berkata.

"Ah, mengapa sekarang engkau yang bersikap sungkan, Nona? Aku hendak menurunkan ilmu yang paling diandalkan. keluarga Pulau Es, yaitu gabungan Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku lalu menjadi gurumu atau melepas budi kepadamu! Aku hanya melihat bahwa engkau adalah orang yang pantas memiliki ilmu keluarga kami itu."

Tiba-tiba terdengar suara banyak orang datang ke tempat itu dan dari jauh saja sudah nampak obor-obor yang mereka bawa.

Kiranya mereka itu adalah para penghuni dusun yang dipimpin oleh kepala dusun.

Tadinya, orang-orang itu ketakutan setengah mati mendengar suara pekik-pekik yang dahsyat dari ular raksasa.

Akan tetapi setelah suara itu berhenti, mereka lalu bermunculan dari rumah masing-masing dan dengan pimpinan Kepala Dusun, akhirnya mereka memberanikan diri untuk menuju ke guha.

"Kalau Dewa Ular mau mengampuni kita, itu baik sekali."

Kata Kepala Dusun itu kepada semua orang.

"Akan tetapi kalau beliau marah dan hendak membasmi kita semua, daripada mati konyol, lebih baik kita melawan sampai mati! Lebih baik mati sebagai manusia yang pandai membela diri daripada mati sebagai tikus-tikus yang penakut!"

Ucapan penuh semangat ini, yang sedikit banyak dipengaruhi oleh kedatangan tiga "utusan dewa"

Itu, membakar semangat para penghuni dusun dan akhirnya, Mereka pun mengumpulkan senjata seadanya, membawa obor dan berbondong-bondong datang ke arah guha.

Dari jauh mereka pun sudah melihat obor yang dipasang di sekitar guha.

Dengan jantung berdebar-debar, mereka terus melangkah maju dan akhirnya mereka semua berdiri terbelalak memandang ke depan guha, di mana berdiri tiga orang "utusan dewa"

Itu dan di depan tiga orang itu menggeletak tubuh ular besar yang tak bergerak-gerak!

Ketika mereka semua melihat ke arah kepala ular itu, tahulah mereka bahwa ular itu telah mati.

Serentak mereka bersorak gembira dan mereka dipimpin oleh Kepala Dusun untuk menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah tiga orang "utusan dewa"

Itu! Kian Bu menghadapi mereka dan berkata, suaranya nyaring dan penuh wibawa.

"Saudara sekalian, bangkitlah dan tidak perlu kalian terlalu memuja kami. Ketahuilah, kami sama sekali bukan utusan dewa. Kami adalah manusia-manusia biasa yang menentang kejahatan, juga yang selalu siap menolong mereka yang tertindas atau terancam. Kami datang untuk membasmi ular raksasa ini dan kami telah berhasil. Kami tidak minta balasan apa-apa, hanya kami ingin tinggal untuk beberapa bulan di tempat ini, harap Saudara sekalian tidak menaruh hati keberatan."

Tentu saja Kepala Dusun dan para penghuni dusun itu sama sekali tidak keberatan, bahkan mereka merasa girang dan bangga sekali.

Berkat bantuan Kepala Dusun dan para penghuni dusun itu, dibangunlah dua buah pondok kecll untuk suami isteri itu dan untuk Ci Sian dan mulai hari itu, tiga orang pendekar itu tinggal di tepi hutan, di dekat guha.

Bangkai ular itu atas anjuran Kian Bu lalu dikuliti oleh para penghuni dusun, dagingnya dibagi-bagi dan dimasak.

Kulit ular itu dijemur dan dijadikan semacam "lambang"

Dusun itu, dipentang dan dipasang di dinding ruangan besar tempat tinggal Kepala busun, dan dengan resmi mereka menyebut dusun mereka itu dusun Naga Hijau!

Kian Bu, juga mencari daun-daun dan akar-akar obat sebagai campuran Jeng-liong-cu (Mustika Naga Hijau) itu, dimasak dan diminum oleh dia dan isterinya.

Ramuan obat aneh ini setiap hari direbus dan airnya diminum oleh mereka dengan penuh harapan.

Sementara itu, mulailah Kian Bu menurunkan ilmu pusaka dari Pulau Es, yaitu ilmu gabungan dua tenaga sakti Hwi-yang Sin-kang (Inti Api) Swat-im Sin-kang (Inti Es).

Ilmu ini adalah ilmu menghimpun tenaga dalam yang harus dilatih setiap hari oleh Ci Sian dengan cara bersamadhi.

Kadang-kadang dara ini dilatih bersamadhi di dalam guha di mana dinyalakan api unggun besar sehingga udara di dalam guha itu pengap dan panas bukan main.

Namun, berkat latihan dan petunjuk Kian Bu, Ci Sian mampu bertahan bertapa di dalam guha api ini sampai sehari penuh!

Dan kadang-kadang dia diharuskan bersamadhi di puncak gunung di tengah malam yang amat dingin, bahkan duduk bersamadhi dengan merendam tubuhnya di dalam sumber air di hutan itu.

Karena memang Ci Sian berbakat baik dan juga amat, tekun, maka dengan cepat ia dapat menguasai sin-kang itu, bahkan lewat beberapa pekan kemudian ia telah mulai latihan menyalurkan tenaga gabungan itu ke dalam gerak tangan, baik melalui pukulan tangan kosong ataupun melalui senjata suling emasnya.

Tiga bulan lewat dengan cepatnya.

Selama itu, tiga orang pendekar ini dilayani oleh para penghuni dusun.

Mereka bertiga tidak kekurangan bahan makanan, karena sedikitnya sepekan sekali Kepala dusun dengan beberapa orang wakil penduduk tentu datang membawa bahan-bahan makanan hasil sawah ladang mereka.

Sementara itu, Ci Sian telah berhasil menguasai ilmu dari keluarga Pulau Es.

Tentu saja, penguasaan ilmu ini membuat ia menjadi semakin lihai, karena kini ilmu pedang yang dimainkan dengan sulingnya, yaitu Kim-siauw Kiam-sut yang dipelajarinya bersama Kam Hong, bertambah kehebatannya.

Tadinya, ilmu itu sudah hebat sekali.

Selain memiliki gerakan yang amat aneh dan lihai, juga gerakan suling itu mengandung tenaga khi-kang yang amat kuat, di samping ditambah lagi suara suling melengking yang dapat melumpuhkan lawan.

Semua kehebatan Kim-siauw Kiam-sut itu kini ditambah lagi dengan penyaluran sinkang yang dapat diatur menurut kehendaknya, bisa dingin seperti es, bisa panas seperti api!

Pada pagi hari itu, setelah semalam suntuk berlatih samadhi dengan hasil yang baik sekali, Ci Sian pergi ke sumber air dan mencuci mukanya untuk mengusir kantuk yang mulai menyerangnya.

Setelah mencuci muka dan mengeringkan mukanya, ia lalu duduk di tepi air kolam di tepi sumber di mana airnya tergenang penuh dan jernih sekali, juga air itu diam hanya bergerak sedikit sekali, seperti sebuah cermin ketika sinar matahari menyinarinya.

Ia pun lalu mengurai rambut, menyisir rambutnya yang panjang hitam dan halus itu.

Baru kemarin ia mencuci rambutnya itu dengan getah daun semacam daun lidah buaya dan rambut itu kini nampak halus mengkilap dan bersih, berbau sedap karena ketika digelungnya, ia menaruh kembang mawar hutan di rambutnya.

Sambil bersisir, Ci Sian menjenguk ke dalam air, di mana ia melihat wajahnya terpantul dengan jelasnya.

Seraut wajah yang segar dan cantik manis, berbentuk bulat seperti bulan purnama.

Karena raut wajahnya itulah maka ia disebut Siauw Goat (Bulan Kecil) oleh kakeknya dahulu.

Teringat akan ini, terbayanglah semua pengalamannya dan teringatlah ia kembali kepada Kam Hong, suhengnya.

Dara itu menarik napas panjang dan sekali lagi ia menjenguk dan memandang wajahnya.

Ia menyeringai, lalu menjebirkan bibirnya kepada bayangan itu.

Kemudian, melihat wajahnya yang lucu di dalam air, ia geli dan tersenyum sendiri.

Dan betapa manisnya ketika ia tersenyum.

"Ci Sian, engkau lebih bahagia ketika masih menjadi Siauw Goat dahulu."

Katanya lirih, seolah-olah bayangan di dalam air itu adalah orang lain yang dapat diajaknya bercakap-cakap.

"Ketika itu, engkau hidup bahagia dan selalu gembira di samping kakek, dimanja dan dicinta semua orang. Tapi sekarang? Uhh, Suhengmu yang paling kau sayang pun meninggalkanmu!"

Tiba-tiba saja Ci Sian menangis!

Sampai sekarang pun ia masih belum dapat menentukan perasaan apakah yang mengganggu hatinya ini.

Ia memang mencinta suhengnya itu, akan tetapi apakah ini cinta kasih antara sumoi terhadap suheng, antara seorang dara yang haus akan kasih sayang ayah bunda sehingga suhengnya itu dianggapnya sebagai pengganti ayah bundanya, kasih seorang murid terhadap gurunya, atau kasih sayang antara sahabat yang dikaguminya dan dipujanya, ataukah ini kasih sayang seorang wanita terhadap seorang pria?

Ia tidak tahu!

Cinta kasih!

Apakah itu sesungguhnya?

Sudah seringkali pengarang mengajak pembaca untuk merenungkan dan mempelajari kenyataan hidup yang amat mujijat ini, dan tiada bosannya pengarang mengajak pembaca untuk merenungkannya kembali.

Cinta kasih, apakah itu sesungguhnya?

Betapa halusnya!

Setiap orang merasakan keadaannya, namun sekali mencoba untuk mengukurnya dengan pikiran-pikiran, dengan kata-kata, maka kita kehabisan kata-kata untuk menyelaminya, kehabisan akal untuk dapat menguraikannya.

Kita terbiasa untuk membagi-bagi cinta kasih, karena kehabisan akal itu, membagi-baginya dengan cinta kasih antara anak dan orang tua, antara sahabat, antara warga dan negaranya, antara suami dan isteri, pria dan wanita dan sebagainya.

Bahkan, saking bingungnya kita, saking dangkalnya pikiran ini untuk dipakai mengukur cinta kasih, timbullah kata-kata untung-untungan bahwa cinta kasih itu buta, cinta kasih itu sorga, cinta kasih itu sengsara, dan sebagainya!

Namun, semua anggapan itu hanyalah menjadi pengetahuan mati berdasarkan pengalaman masing-masing orang.

Kalau orang merasa sengsara karena cinta, maka dikutuknyalah cinta.

Kalau crang merasa bahagia, maka di pujanyalah.

Cinta kasih tidak pernah terpecah-belah.

Yang memecah belah adalah sang pikiran atau si aku yang selalu mengambil kesimpulan senang susah, untung rugi.

Cinta kasih tak mungkin dapat diuraikan, karena bukan merupakan sesuatu yang mati, sesuatu yang sudah pasti dan tidak berobah lagi, karena pikiranlah yang selalu berobah sesuai dengan keadaan diri pribadi.

Dengan pikiran kita yang dangkal, pikiran yang bukan lain hanya merupakan barang lapuk dan mati, tumpukan hal-hal yang sudah lalu, pikiran yang tak mungkin dapat mengenal hal-hal yang baru, mana mungkin kita dapat menentukan apakah sesungguhnya cinta kasih itu?

Ratusan, bahkan ribuan orang yang dinamakan kaum cerdik pandai boleh mengatakan bahwa cinta kasih adalah begini atau begitu, ini atau itu.

Namun, sampai sekarang, cinta kasih masih saja merupakan hal yang tidak kita mengerti benar.

Cinta kasih tidak mungkin dapat disentuh melalui pikiran yang lapuk dan usang.

Cinta kasih adalah sesuatu yang selalu baru, sesuatu yang terlalu agung untuk dapat diraba oleh panca indera dan pikiran.

Oleh karena itu, agaknya hanya ada satu jalan untuk menyentuhnya, Yaitu kita membebaskan diri daripada yang lapuk-lapuk itu, kita membiarkan diri kosong daripada segala pengetahuan tentang cinta kasih yang selalu didasari untung rugi si aku ini.

Kita membiarkan diri bersih daripada segala yang BUKAN CiNTA KASIH.

Yang bukan cinta kasih itu tentu saja adalah kemarahan, kebencian, permusuhan, iri hati, pementingan diri sendiri dan segala hal yang menimbulkan konflik antara kita dengan orang lain, bahkan antara kita dengan kita sendiri, dengan pikiran sendiri.

Dalam keadaan kosong itu, kosong tanpa dibuat-buat, dalam keadaan bebas itu, dalam keadaan bersih itu, seperti kaca yang sudah bersih daripada debu, mungkin saja sinar cinta kasih akan dapat menembus masuk!

Dan kalau sinar cinta kasih sudah menembus masuk, kiranya tidak ada lagi persoalan, tidak ada lagi pemecah-belahan.

Ci Sian merupakan seorang manusia, satu di antara kita yang menjadi bingung oleh perasaan sendiri, oleh karena pikirannya sendiri.

Ia hidup selama beberapa bulan di dekat sepasang suami isteri, dan memang semenjak tinggal di situ, antara suami isteri itu nampak kemesraan yang lebih daripada yang sudah-sudah.

Menyaksikan suami isteri yang hidup saling mencinta, penuh kasih sayang dan kemesraan ini, tentu saja menimbulkan semacam perbandingan dalam hati Ci Sian.

Ia membandingkan keadaannya dengan keadaan Siang In, seorang wanita lain, dan timbullah rasa iba diri dan mungkin juga rasa iri hati ini.

Rasa iba diri ini membuat ia merasa sengsara dan tidak bahagia, bahkan menimbulkan rasa rindunya kepada Kam Hong, satu-satunya pria yang selama ini dekat dengan hatinya!

Ci Sian sudah berhenti menangis, dara ini memang tidak pernah dapat lama menangis.

Hatinya yang keras membuat ia mudah menguasai hatinya kalau sedang dirundung kedukaan.

Ia menjenguk ke air lagi, makin mengkal hatinya melihat matanya menjadi merah.

Ditamparnya air di depannya itu dan tanpa disengaja ia mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang dan ada butiran-butiran air yang membeku menjadi es!

Dengan bersungut-sungut, mulutnya yang berbibir merah itu cemberut, karena hatinya yang tadi berduka itu kini menjadi jengkel, ia lalu menggelung rambutnya dengan sembarangan saja.

Tiba-tiba ia meloncat kaget.

Telinganya yang berpendengaran tajam itu dapat menangkap suara yang tidak wajar.

Begitu meloncat ia sudah membalikkan tubuhnya sambil membentak.

"Siapa di situ?"

Dari balik semak-semak belukar muncullah dua orang pria.

Pakaian mereka sederhana, seperti pakaian pertapa atau pendeta, dan kepala mereka tertutup topi tosu berwarna kuning.

Usia mereka antara tiga puluh sampai empat puluh tahun.

Begitu mereka muncul dari balik semak-semak dua ocang pria ini berdiri dengan bengong seperti patung memandang kepada Ci Sian.

Memang hebat bukan main dara ini di pagi hari itu.

Hebat saking cantik dan manisnya!

Kecantikan aseli, seperti keindahan alam, seperti setangkai bunga bermandikan embun, seperti ujung ranting berdaun dibelai angin, seperti segumpal awan berarak di angkasa.

Cantik jelita dan indah mempesona!

Pakaian dara itu sederhana saja, namun tidak dapat menyembunyikan kepadatan tubuhnya dengan lekuk-lengkung yang sempurna.

Rambutnya yang hitam halus dan lebat itu digelung sembarangan saja, anak rambut atau sinom di jidatnya berjuntai dan melingkar-lingkar.

Leher yang panjang itu seperti leher anak angsa, nampak kulit leher yang putih halus, wajahnya yang bulat seperti bulan purnama itu manis.

Sepasang mata yang sedang merah itu mengeluarkan sinar mencorong dan sungguhpun agak merah karena habis menangis, namun tidak mengurangi kejelitaannya.

Hidung yang kecil mancung itu agar merah, masih ada bekas tangis di ujung hidung yang kemerahan.

Dan mulut yang kecil mungil itu masih cemberut, namun tidak membuat wajah itu kehilangan kemanisannya.

Dagunya runcing agak berlekuk, dan biarpun dara itu sedang marah, namun tekukan bibirnya membuat lesung pipit di pipi kiri, dekat mulut, nampak membayang sudah.

Orang termuda dari dua tosu itu menahan napas, kemudian menarik napas panjang dan dengan mata yang tak pernah dapat berkedip itu, sepasang mata yang lebar sekali, memandang wajah Ci Sian seperti hendak ditelannya bulat-bulat dengan pandang matanya, tosu ini berkata.

"Siancai....! Bidadarikah? Silumankah....?"

Kalau saja ia berada dalam keadaan biasa, tentu Ci Sian akan menilai ucapan ini sebagai kekagetan biasa saja dan mungkin ia akan merasa geli dan menurutkan wataknya yang kadang-kadang kekanak-kanakan dan nakal, mungkin saja ia akan menggoda dua orang ini yang membayangkannya bidadari atau siluman.

Akan tetapi, pada saat itu hatinya sedang mengkal, sedang jengkel karena duka.

Oleh karena itu, sikap dan ucapan tosu itu dianggapnya sebagai ejekan, sebagai kekurangajaran, atau bahkan sebagai penghinaan yang membuatnya marah sekali!

Memang demikianlah kenyataan yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita menjadi jengkel, kita menjadi marah, kita menjadi sakit hati, semua ini sama sekali bukan disebabkan oleh keadaan di luar diri kita.

Sebab utamanya adalah terletak dalam diri kita sendiri.

Keadaan di luar itu merupakan suatu fakta dan yang memegang peran penting adalah tanggapan pikiran kita terhadap fakta di luar diri itu.

Dan tanggapan ini sendiri terpengaruh kuat sekali oleh keadaan hati.

Tanggapan-tanggapan terhadap keadaan di luar ini selalu berobah.

Akan berbeda sekali tanggapan kita dalam keadaan hati senang dibandingkan dengan tanggapan di waktu hati sedang mengkal.

Jadi, kemarahan adalah buatan kita sendiri.

Akan tetapi kita selalu mencari sebab kemarahan di luar diri kita, kita menyalahkan orang lain atau benda atau keadaan di luar diri kita, tidak mau menjenguk ke dalam sehingga kita tidak melihat bahwa kemarahan adalah buatan kita sendiri, disebabkan oleh tanggapan kita sendiri.

"Kalian berdua ini tikus-tikus darimana berani menghinaku? Apakah kalian sudah boean hidup?"

Demikian Ci Sian yang merasa dipermainkan atau dihina ini membentak sambil melangkah maju dan bertolak pinggang.

Dua orang tosu yang tadinya terpesona oleh kecantikan aseli seorang dara remaja di tengah-tengah hutan sunyi itu, sungguh-sungguh terpesona dan sama sekali tidak bermaksud untuk kurang ajar, kini terkejut.

Yang tadi mengeluarkan suara adalah seorang tosu, akan tetapi betapapun juga, dia adalah seorang laki-laki yang masih muda, baru kurang lebih tiga puluh lima tahun usianya.

Bagi seorang laki-laki yang usianya sebegitu, tidak anehlah kalau daya tarik kecantik-an wanita masih amat kuat baginya sehingga ucapannya tadi terpancing keluar dari mulutnya langsung dari hati yang terpikat, untuk menyatakan pujiannya.

Kini, melihat sikap dan mendengar ucapan Ci Sian, mereka terkejut dan juga tidak senang, mengerutkan alis.

Bagi dua orang tosu ini, tidak pantaslah kalau seorang dara remaja demikian keras kata-katanya.

Karena dimaki tikus yang bosan hidup, tosu ke dua yang hidungnya bengkok, menjadi penasaran dan marah.

Tosu ini usianya sudah mendekati empat puluh tahun.

"Sute, ia sudah pasti bukan bidadari. Mendengar kata-katanya, ia lebih pantas kalau seorang siluman!"

Ucapan ini bagaikan minyak bakar yang disiramkan kepada api kemarahan Ci Sian.

Sepasang alisnya bergerak naik dan matanya menjadi semakin mencorong mengeluarkan sinar kilat.

"Bagus, bedebah keparat, kalian patut dihajar!"

Bentaknya dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah meluncur ke depan dengan kecepatan yang luar biasa, kedua tangannya sudah bergerak menampar ke arah muka dua orang tosu itu.

"Siancai....!"

Tosu bermata lebar itu berseru, terkejut menyaksikan gerakan dara itu yang benar-benar amat cepat, apalagi ketika merasa betapa dari tangan yang menampar itu keluar hawa pukulan dahsyat yang terasa amat dingin!

"Plak!

Plak!"

Dua orang tosu itu menangkis dan akibatnya mereka terdorong ke belakang dan hampir saja terjengkang.

Akan tetapi mereka dapat berjungkir balik dan ternyata mereka memiliki gerakan yang tangkas juga.

Akan tetapi muka mereka merah sekali oleh kenyata-an betapa tamparan seorang dara remaja belasan tahun saja sudah membuat mereka hampir jatuh.

Hal ini mendatangkan rasa penasaran dan marah.

"Eh, bocah galak dan kurang ajar! Engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan!"

Kata tosu hidungnya bengkok.

"Tentu saja aku tahu!"

Teriak Ci Sian yang sudah marah sekali.

"Kalian adalah dua orang hidung kerbau!"

Kedua orang itu menjadi marah.

"Bagus, agaknya karena mengandalkan sedikit ilmu silat, engkau bocah setan menjadi kurang ajar!"

Teriak tosu mata lebar dan dia pun sudah menubruk maju, menggerakkan kedua tangannya, dengan cara yang cepat bertubi-tubi kedua tangan itu telah melakukan serangan, yang kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dari atas, sedangkan yang kanan sudah menusuk lambung dengan tangan miring.

"Huh, kerbau busuk!"

Ci Sian memaki lagi dan ia sama sekali tidak mau mengelak, akan tetapi kedua tangannya bergerak menangkis dan sekali ini dikerahkannya tenaga gabungan yang selama tiga bulan ini dilatihnya di bawah petunjuk Pendekar Siluman Kecil Suma Kian Bu.

"Desss....!"

Tangkisan itu hebat sekali dan karena Ci Sian sendiri belum dapat mengukur sampai di mana kehebatan tenaga sin-kang yang baru saja dilatihnya itu, ia telah mengerahkan tenaga lebih dari setengah bagian dan akibatnya, tosu bermata lebar itu terlempar ke belakang seperti sebuah layang-layang putus talinya dan jatuh terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!

Dari mulutnya mengalir darah segar!

Tentu saja temannya menjadi kaget bukan main.

Tosu berhidung bengkok ini tidak seceroboh sutenya.

Dia tahu dari tangkisan tadi bahwa nona itu memiliki kepandaian yang hebat, dan kini melihat sutenya sekali tangkis saja roboh pingsan, dia pun tahu bahwa dia bukan tandingan nona itu.

"Siancai...., sungguh ganas dan kejam....!"

Katanya dan dia pun lalu memondong tubuh sutenya, dipanggulnya dan larilah tosu itu dari tempat itu.

Ci Sian sendiri juga terkejut menyaksikan akibat daripada tangkisannya tadi dan diam-diam ia pun merasa menyesal.

Betapapun juga, tosu-tosu itu hanya mengeluarkan kata-kata pujian karena terkejut dan heran mendapatkan seorang nona muda seperti dirinya di dalam hutan itu, maka tidak semestinya kalau hanya untuk kesalahan seperti itu ia menurunkan tangan ganas.

Akan tetapi karena sudah terlanjur, dan karena ingin tahu siapa adanya mereka dan dari mana mereka datang, Ci Sian lalu membayangi tosu, berhidung bengkok yang memanggul tubuh sutenya yang pingsan itu.

Tosu berhidung bengkok itu dapat lari cepat sekali dan hal ini saja menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.

Untung bagi Ci Sian bahwa dara ini pun sekarang telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi sehingga dengan mudah ia dapat terus membayangi ke mana perginya tosu itu.

Sesungguhnya, dua orang tosu itu bukan orang sembarangan.

Mereka adalah murid-murid tingkat pertengahan dari perkumpulan atau partai persilatan Kun-lun-pai yang amat terkenal itu!

Di dalam dunia persilatan, di samping Siauw-lim-pai dan beberapa buah partai lain, maka Kun-lun-pai juga termasuk partai yang terbesar dan mernpunyai banyak murid-murid yang pandai dan menonjol di dunia kang-ouw.

Kun-lun-pai berpusat di Pegunungan Kun-lun-san dan pusat itu letaknya di balik puncak, tidak begitu jauh dari dusun yang kini bernama dusun Naga Hijau itu.

Tentu saja orang-orang Kun-lun-pai tahu akan adanya ular hijau yang amat berbahaya itu, Dan karena ular itu pun tidak pernah mengganggu manusia dan berada di tempat yang jauh dari tempat kediaman manusia, maka para tosu Kun-lun-pai yang menganggap ular itu bukan binatang sembarangan saja, tidak mau mengganggunya.

Para pimpinan Kun-lun-pai sebagian besar adalah pertapa-pertapa yang menganut Agama To dan dalam agama ini memang terdapat kepercayaan akan keajaiban-keajaiban alam dan hal-hal gaib yang tidak dapat diukur oleh pikiran manusia.

Maka, para pimpinan Kun-lun-pai sendiri yang melarang murid-muridnya untuk mengganggu ular hijau itu.

Bagi para tosu yang suka ber-filsafat itu, binatang di hutan jauh lebih bersih daripada manusia di kota.

Binatang hutan memang ada yang menerkam dan makan lain binatang, akan tetapi hal itu dilakukannya tanpa ada kebencian, melainkan karena dorongan perut lapar.

Bahkan jarang ada binatang akan menyerang manusia kalau tidak diganggu terlebih dahulu.

Berbeda dengan manusia yang saling benci, saling bunuh dan saling tipu hanya disebabkan karena ingin hidup sendiri, ingin senang sendiri.

Sebagai sebuah partai persilatan yang besar, Kun-lun-pai juga menjaga nama dan tidak sembarangan mencampuri urusan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Kun-lun-pai, bahkan tidak pernah mau mencampuri urusan dunia kang-ouw.

Sebagian besar di antara para pendekarnya berjiwa pahlawan dan walaupun jarang di antara mereka yang menjadi perajurit atau panglima, namun mereka tidak pernah memberontak dan selalu berpihak kepada pemerintah dan selain menentang para penjahat, mereka pun menentang pemberontakan.

Berita tentang terbunuhnya ular hijau itu sampai juga ke Kun-lun-pai.

Para tosu yang menjadi pimpinan Kun-lun-pai, mendengar hal ini dan ada perasaan tidak senang di dalam hati mereka mendengar ada orang luar yang datang membunuh ular hijau itu.

Akan tetapi, mereka tidak mengang-gapnya sebagai urusan besar, maka mereka mengutus dua orang murid pertengahan itu untuk melakukan penyelidikan dan menanyakan siapa gerangan pendekar yang mampu membunuh ular hijau yang amat berbahaya dan tangguh itu.

Dua orang tosu itu adalah Lim-cu dan San-cu, yaitu Si Hidung Bengkok dan Si Mata Lebar.

Mereka mendatangi dusun Naga Hijau dan ketika mereka mendengar bahwa yang membunuh ular hijau adalah seorang pendekar bersama dua orang wanita, mereka tertarik sekali.

Apalagi mendengar bahwa tiga orang pendekar itu masih tinggal di tempat di mana mereka membunuh ular, dengan mendirikan pondok-pondok sederhana dan seperti melakukan tapa, dua orang tosu itu segera pergi menyelidiki dan mereka bertemu dengan Ci Sian.

Malang bagi mereka, kekaguman mereka itu diterima dengan salah oleh Ci Sian sehingga terjadi perkelahian yang mengakibatkan San-cu terluka cukup parah.

Pada waktu itu, yang menjadi Ketua Kun-lun-pai adalah Thian Heng Tosu, seorang kakek berusia enam puluh tahun yang jarang keluar dari tempat pertapaannya.

Urusan perkumpulan dipegang oleh seorang wakilnya, yang menjadi sutenya sendiri, yaitu Thian Kong Tosu, seorang tosu yang usianya juga sudah enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan bersikap lembut karena selain ahli ilmu silat tinggi, Juga Thian Kong Tosu ini seorang sastrawan yang pandai.

Memang para anggauta Kun-lun-pai tidak pernah ada yang menjadi pemberontak dan tidak ada pula yang menjadi pembesar atau perajurit pemerintah, akan tetapi dari ketuanya sampai para muridnya, mereka adalah patriot-patriot sejati yang mencinta tanah air dan bangsa.

Oleh karena itu, tentu saja dengan adanya penjajahan bangsa Mancu terhadap Tiongkok, diam-diam mereka semua merasa sedih sekali dan hal ini pula yang membuat Thian Heng Tosu seperti enggan berurusan dengan dunia.

Ketika bangsa Mancu mulai menyerbu Tiongkok, para pendekar Kun-lun-pai ikut pula berjuang menghalau musuh, namun kekuatan Mancu tidak dapat dibendung dan akhirnya bangsa Mancu berhasil menguasai Tiongkok.

Semua adalah karena kelemahan Kaisar sendiri.

Dan bangsa Mancu yang pandai itu makin memperkuat diri sehingga cengkeraman mereka di bumi Tiongkok amat kokoh kuatnya dan semua usaha para patriot untuk memberontak dan menentang penjajah ini gagal belaka.

Hal inilah yang membuat hati Thian Heng Tosu menjadi tertekan dan dia selalu menyembunyikan diri dalam pertapaan dan memesan kepada semua murid agar jangan lancang dan ceroboh menentang pemerintah yang amat kuatnya itu.

Biarpun dia selalu menyembunyikan diri, bukan berarti bahwa Thian Heng Tosu tidak memperhatikan keadaan perkumpulannya.

Dia setiap sepekan sekali menerima laporan dari sutenya, yaitu Thian Kong Tosu tentang keadaan di luar, dan mendengar betapa kaisar yang sekarang ini sewenang-wenang, bahkan membakar Kuil Siauw-lim-si dan sebagai seorang bekas murid Siauw-lim-pai telah murtad terhadap perguruan itu, Thian Heng Tosu menjadi semakin prihatin.

Dan selain dia tetap memperhatikan perkumpulannya, juga siang malam tiada hentinya dia menurunkan ilmu-ilmunya dan menggembleng seorang murid yang paling disayangnya, yaitu seorang pemuda yang bernama Cia Han Beng.

Walaupun pemuda itu baru berusia dua puluh satu tahun, namun dia hampir dapat menguasai semua ilmu yang dimiliki gurunya, yaitu Ketua Kun-lun-pai yang sakti itu.

Demikianlah keadaan Kun-lun-pai secara singkat dan kita ikuti kembali Ci Sian yang membayangi dua orang tosu Kun-lun-pai itu.

Setelah melewati puncak yang tertutup salju, akhirnya Ci Sian melihat tosu berhidung bengkok itu membawa sutenya yang dipanggul ke dalam sebuah kumpulan bangunan dikelilingi pagar tembok.

Dari atas puncak, nampak oleh Ci Sian bahwa bangunan itu sudah kuno dan amat sederhana namun kuat, dan di tengah-tengah kelompok bangunan itu terdapat bangunan seperti kuil.

Wuwungan atap kuil itu dihias dengan ukiran sepasang naga berebut mustika.

Ia tidak berani sembarangan memasuki tempat yang tampak sunyi itu, karena melihat betapa tosu berhidung bengkok itu mampu memanggul sutenya dan berlari tanpa berhenti sampai demikian jauhnya, ia tahu bahwa tosu itu lihai dan tentu di tempat itu terdapat banyak orang pandai.

Ci Sian berindap-indap menghampiri sebelah depan pagar tembok dari jauh saja sudah nampak olehnya huruf-huruf yang ditulis dengan gaya yang amat gagah, tertulis di atas papan depan pintu gerbang.

Yang nampak paling besar dan mengejutkan hatinya adalah tulisan tiga huruf yang berbunyi .

KUN LUN PAI.

Jantungnya berdebar tegang.

inikah pusat perkumpulan Kun-lun-pai yang kabarnya merupakan partai persilatan besar yang memiliki banyak pendekar yang pandai itu?

Tentu saja ia sudah sering mendengar tentang Kun-lun-pai yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw.

Alisnya berkerut.

Ia mendengar bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah perkumpulan besar yang melahirkan pendekar-pendekar sakti.

Akan tetapi mengapa dua orang tosu itu demikian kurang ajar dan biarpun mereka memiliki kepandaian yang lumayan, namun tidak cukup tinggi seperti yang pernah didengarnya tentang Kun-lun-pai?

Nama perkumpulan ini membuat ia bersikap hati-hati dan membuat ia mengenang kembali apa yang terjadi tadi.

Setelah menggunakan pikiran yang dingin, tidak terbakar oleh perasaan marah, diam-diam dara ini harus mengakui bahwa dua orang tosu itu sesungguhnya belum dapat dikatakan kurang ajar.

Wajarlah kalau dua orang tosu itu terkejut melihatnya, dan wajar pula kalau seorang di antara mereka memuji kecantikannya.

Ia sendiri yang terburu nafsu dan marah-marah, malah memaki dua orang tosu itu.

Betapapun juga, setelah membayangi sampai di sini, ia harus memasuki tempat itu dan melihat apakah benar bahwa dua orang tosu itu adalah orang-orang Kun-lun-pai.

Kalau memang benar, masih belum terlambat baginya untuk minta maaf.

Melihat keadaan yang sunyi, timbul keberanian hati Ci Sian dan dengan gerakan ringan sekali ia sudah meloncat ke atas pagar tembok itu dan sejenak diamatinya sebelah dalam.

Juga sunyi dan tidak nampak seorang pun manusia, maka ia menjadi penasaran dan meloncatlah ia ke dalam.

Kemudian, karena ia merasa bahwa mengintai dari atas genteng merupakan keadaan yang paling aman karena dari situ ia dapat melihat ke sekelilingnya, dara ini lalu meloncat lagi ke atas genteng yang paling rendah, tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.

Dari sini ia berloncatan ke atas genteng dari bangunan yang paling besar yang terletak di belakang kuil.

Dari atas genteng, ia mengintai dengan menggeser dua buah genteng.

Ia melihat sebuah ruangan yang cukup luas di bawah bangunan itu dan sungguh mengherankan sekali, kalau tadi tempat amat sunyi seolah-olah tidak ada penghuni-nya, ternyata di dalam ruangan itu terdapat banyak orang.

Mereka semua terdiri dari tosu-tosu yang kebanyakan sudah berusia lima puluh tahun lebih, duduk bersila membuat lingkaran lebar di atas lantai yang beralaskan tikar.

Dan di antara belasan orang tosu ini, nampak seorang tosu yang usianya sudah enam puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus, sikapnya tenang dan wajahnya lembut dan ramah.

Di depan tosu ini nampak tosu hidung betet berlutut dan tosu mata lebar yang terpukul pingsan tadi rebah telentang di depan tosu tua.

Biarpun mereka itu belasan orang jumlahnya, namun semua diam dan tidak mengeluarkan suara, bahkan tidak bergerak, duduk bersila seperti orang dalam samadhi.

Hanya tosu tua itulah yang menggerakkan jari tangannya menotok beberapa kali setelah memeriksa tubuh tosu bermata lebar yang sudah siuman akan tetapi masih nampak menyeringai kesakitan itu.

"Nah, engkau sudah sembuh, boleh bangkit sekarang,"

Kata tosu tua itu dengan halus.

Dan tosu mata lebar lalu bangkit dan benar saja, dia tidak lagi merasa nyeri dan cepat dia berlutut menghatur-kan terima kasih.

"Sekarang, ceritakan apa yang telah terjadi,"

Katanya kemudian.

Tosu berhidung bengkok yang menjadi suheng dari tosu yang pingsan tadi segera menceritakan pengalamannya bersama sutenya ketika mereka berdua melakukan penyelidikan ke dusun Naga Hijau tentang berita dibunuhnya naga hijau itu.

"Teecu berdua menyelidiki ke dalam dusun itu dan dari para penduduk teecu mendengar bahwa yang membunuh ular itu adalah seorang pria gagah perkasa bersama isterinya dan seorang dara muda. Menurut cerita mereka, tiga orang itu memiliki ilmu kepandaian seperti dewa. Karena teecu mendengar bahwa tiga orang itu masih berada di dalam hutan, bahkan membuat dua pondok dan tinggal di situ melakukan samadhi, teecu berdua lalu melakukan penyelidikan ke sana."

Semua tosu mendengarkan penuturan itu dengan hati tertarik, bahkan Ci Sian sendiri juga ikut mendengarkan dan ia ingin tahu apa yang akan diceritakan oleh dua orang ini tentang dirinya.

"Teecu berdua melakukan penyelidikan ke dalam hutan dan kami terkejut bukan main ketika bertemu dengan seorang dara muda yang cantik seorang diri di hutan itu,"

Kemudian Lim-cu, tosu hidung bengkok itu menceritakan pengalamannya bersama sutenya ketika menegur dara itu sehingga timbul percekcokan yang disusul dengan perkelahian.

Segala yang terjadi diceritakannya tanpa ada yang ditutupi.

Mereka menceritakan betapa dara itu menjadi marah ketika mereka mengucapkan kata-kata kagum, dan betapa dara itu menyerang lebih dulu kemudian memaki-maki mereka dengan kata-kata menghina sehingga timbul perkelahian.

Betapa dara itu amat lihainya sehingga sutenya roboh pingsan.

Mendengar cerita tosu itu yang demikian jelas tanpa ditutup-tutupi, tanpa menyembunyikan kesalahan diri sendiri atau membela diri sendiri, wajah Ci Sian berubah merah.

Mendengar penuturan yang jelas itu, ia melihat kembali segala yang terjadi dan merasa betapa ia sudah bersikap keterlaluan karena salah sangka.

Ia mengira bahwa tosu-tosu itu mata keranjang dan kurang ajar, dan tanpa penyelidikan lebih dulu ia sudah marah-marah.

Kini nampaklah ia betapa tanpa adanya Kam Hong di sampingnya, ia memang merupakan seorang muda yang pemarah dan ceroboh sekali.

Akan tetapi ia mende-ngarkan terus, ingin tahu tanggapan para tosu di situ, terutama tosu tua yang halus dan berwibawa itu.

"Siancai.... tidak ada akibat tanpa sebab, dan sebab itu selalu berada di dalam diri sendiri. Lim-cu dan San-cu, kalau kalian mau mengamati diri sendiri, akan nampak jelaslah bahwa walaupun kalian tidak mempunyai niat buruk, namun kalian telah bersikap sembrono dan mengeluarkan kata-kata tanpa diteliti dan sembarangan saja sehingga kalian menimbulkan kemarahan nona itu. Dan nona itu pun agaknya terlalu mengandalkan kepandaiannya sehingga ia menjadi ringan tangan, mudah saja memukul orang. Biarlah hal ini menjadi pelajaran bagi kalian agar lain kali bersikap tenang, jangan sampai menimbulkan perkiraan orang bahwa kalian adalah tosu-tosu yang kurang ajar,"

Kakek itu menarik napas panjang.

"ini adalah akibat keadaan, ah, betapa banyaknya orang-orang yang berpakaian pendeta, yang bersikap seperti orang suci, ternyata masih menyimpan kecabulan di dalam hatinya...."

Kemudian tosu itu mengangkat mukanya ke atas, ke arah tempat Ci Sian mengintai, dan dara itu terkejut bukan main melihat sepasang mata yang seolah-olah mencorong dan sinarnya seperti menembus genteng!

"Nona, sejak tadi Nona sudah mengintai dan mendengarkan segalanya.

Kami tidak menyimpan rahasia, maka kalau ingin bicara, silakan turun!"

Ci Sian terkejut sekali dan merasa malu.

Ia ingin lari dari situ, akan tetapi ketika ia bangkit berdiri dan menengok, ternyata tempat yang tadinya sunyi itu kini penuh dengan tosu yang berbaris rapi, menjaga dan mengurung tempat itu seperti pagar manusia yang berdiri diam seperti patung!

Bangunan di mana ia mengintai di atas itu terkurung oleh belasan tosu, dan di atas pagar tembok juga nampak beberapa orang tosu berdiri, dan pintu gerbang juga dijaga ketat.

Tahulah ia sekarang bahwa tempat itu sama sekali bukan sunyi, dan juga sama sekali Kun-lun-pai bukan perkumpulan yang lengah, melainkan ia sengaja dibiarkan masuk dan setelah ia masuk, barulah jalan keluarnya tertutup!

Ci Sian menjadi marah dan ada dorongan hatinya untuk keluar dan mengamuk, akan tetapi ia teringat bahwa ia bukanlah seorang pencuri, bahwa kedatangannya hanya ingin tahu lebih banyak tentang dua orang tosu tadi.

Sudah kepalang basah, pikirnya.

Lebih baik menyelam sekali!

Dan ia pun lalu membuka genteng dan meloncat ke dalam ruangan itu dengan gerakan yang amat ringan sehingga ketika kedua kakinya menyentuh lantai ruangan itu, tidak terdengar sedikit pun suara.

Begitu Ci Sian turun, para tosu itu menggeser diri dan mundur, namun masih duduk bersila seperti tadi dan wajah mereka nampak tenang saja.

Thian Kong Tosu bangkit berdiri dan merangkapkan kedua tangan di depan dadanya, memandang dengan wajah berseri dan sepasang mata kagum.

"Sungguh, tak dapat pinto menyalahkan murid-murid Kun-lun-pai yang mengeluarkan kata-kata pujian kepada Nona. Memang Nona adalah seorang nona muda yang selain cantik, juga memiliki kegagahan luar biasa, dan mengingat betapa Nona masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, sungguh membuat orang merasa kagum sekali."

Wajah Ci Sian berobah merah.

Kini baru ia merasa betapa bodohnya ketika ia marah-marah mendengar pujian dua orang tosuitu.

Ia tidak dapat membedakan antara pujian setulusnya dan pujian yang bersifat menjilat atau pujian orang yang mata keranjang.

Pujian yang dikeluarkan dari mulut dua orang tosu tadi tidak ada bedanya dengan pujian tosu tua ini.

Akan tetapi, Ci Sian memang memiliki watak keras dan pantang mundur.

Ia memang merasa salah, akan tetapi ia merasa malu kalau hanya minta maaf begitu saja.

Kalau ia salah, biarlah ia dihukum dan hukumannya sesuai dengan kesalahannya tadi!

Maka ia pun cepat menjura kepada tosu tua itu dan berkata, suaranya lantang sekali dan sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut.

"Totiang, telah lama sekali saya mendengar tentang Kun-lun-pai, bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan besar yang para anggautanya terdiri dari pendekar-pendekar yang lihai! Saya telah salah paham mengira dua orang tosu Kun-lun-pai sebagai orang-orang kurang ajar dan saya sudah kesalahan turun tangan. Oleh karena itu, setelah saya berada di sini, maka saya ingin sekali memperoleh pelajaran dari Ketua Kun-lun-pai sendiri. Apakah Totiang ini Ketua Kun-lun-pai?"

Bukan main ucapan itu, merupakan tantangan halus terhadap Ketua Kun-lun-pai.

Semua tosu yang hadir di situ adalah tosu-tosu kaum atasan dari Kun-lun-pai, dari tingkat tiga ke atas.

Mendengar ucapan ini, semua mata ditujukan kepada Ci Sian dan semua alis dikerutkan.

Jarang sekali, bahkan belum pernah, ada orang berani menantang Ketua Kun-lun-pai, walaupun tantangan itu disembunyikan di balik kata-kata minta pelajaran.

"Siancai....! Sungguh seorang dara yang bersemangat baja! Mengagumkan sekali. Nona yang merasa salah ingin menembus kesalahannya dengan membiarkan diri dihajar oleh Ketua Kun-lun-pai! Sungguh membayangkan ketabahan yang luar biasa sekali!"

Ucapan itu baru menyadarkan semua tosu dan kini mereka memandang kagum.

Ci Sian sendiri terkejut karena rahasia hatinya ternyata dapat dilihat sedemikian mudahnya oleh tosu tua ini.

"Apakah Totiang yang terhormat Ketua Kun-lun-pai?"

Tanyanya, memandang tajam. Ingin ia mencoba kepandaian tosu tua yang bermata tajam mencorong ini. Thian Kong Tosu menggeleng kepala sambil tersenyum.

"Bukan, Nona, pinto bukan Ketua Kun-lun-pai...."

"Totiang, nama saya Ci Sian. Harap Totiang suka memberi tahu siapa ketua di sini dan suka menyampaikan permintaan saya untuk menerima pelajaran darinya!"

Ucapan ini pun membayangkan keterbukaan dara itu yang memperkenalkan namanya lebih dulu dan menyampaikan keinginannya tanpa banyak bunga kata-kata lagi.

Thian Kong Tosu tertawa dan mengelus jenggotnya.

"Siancai...., sungguh membuat hati tua ini menjadi kagum. Nona, pinto adalah Thian Kong Tosu yang mewakili suheng Thian Heng Tosu mengurus perkumpulan ini. Ketua kami adalah Thian Heng Tosu, akan tetapi sejak lama beliau tidak pernah keluar dari tempat samadhinya. Untuk urusan apapun beliau tidak pernah mau keluar, apalagi untuk melayani Nona yang ingin menguji kepandaiannya. Harap Nona maklum dan tidak mendesak kami."

Ci Sian mengerutkan alisnya.

Penolakan tantangan pi-bu secara halus ini hanya dapat disebabkan oleh dua hal.

Pertama, yang ditantang takut menghadapinya, dan ke dua, yang ditantang memandang rendah kepadanya sehingga merasa tidak perlu melayaninya.

Dan tidaklah mungkin kalau Ketua Kun-lun-pai takut kepadanya, maka ia pun mengambil kesimpulan bahwa pihak Kun-lun-pai memandang rendah kepadanya sehingga mempergunakan alasan itu karena memandang tidak perlu melayani tantangan seorang muda seperti dirinya!

"Totiang, kalau Ketua Kun-lun-pai merasa terlalu tinggi untuk melayani saya, biarlah beliau mewakilkan kepada jagoan Kun-lun-pai yang terpandai untuk memberi petunjuk dan pelajaran kepada saya, sebagai tanggung jawab saya yang tadi telah melukai seorang murid Kun-lun-pai!"

Thian Kong Tosu tersenyum maklum.

"Tidak ada yang mendendam atas peristiwa tadi, Nona, tidak ada yang menganggap ringan kepadamu...."

"Totiang! Saya tidak akan merasa puas sebelum menerima petunjuk dari Kun-lun-pai!"

"Nona, sudah lama Kun-lun-pai tidak pernah bentrok dengan pihak manapun juga. Kalau Nona memaksa, sungguh kami merasa tidak enak sekali kepada perguruan Nona. Tidak patutlah kalau kami pihak yang lebih tua menghina Nona yang begini muda...., kami tentu tidak ada muka untuk berhadapan dengan perguruanmu, Nona."

"Jangan khawatir, Totiang. Tidak akan ada orang dari perguruan saya yang menuntut. Ketahuilah, saya tidak mempunyai guru, hanya seorang suheng. Kami berdua adalah keturunan yang mewarisi ilmu dari Suling Emas! Nah, inilah sulingku dan saya mohon petunjuk dari tokoh Kun-lun-pai!"

Sambil berkata demikan, dara itu sudah mencabut suling emasnya.

Melihat cara dara itu mengeluarkan suling dan begitu suling dicabut terdengar suara melengking nyaring dari lubang suling, dan mendengar bahwa dara ini mengaku sebagai ahli waris Suling Emas, tentu saja Thian Kong Tosu menjadi terkejut bukan main.

Sebagai seorang tokoh tua di dunia persilatan, tentu saja dia pernah mendengar nama besar Pendekar Suling Emas yang hidup di jaman beberapa ratus tahun yang lalu.

Akan tetapi nama itu kemudian menjadi seperti dalam dongeng saja karena tidak pernah nama itu muncul lagi di dunia kang-ouw, walaupun para tokoh kang-ouw masih sering mencoba untuk mencari peninggalan pendekar sakti itu.

Dan kini, tiba-tiba saja muncul gadis ini, seorang dara muda jelita yang mengaku sebagai ahli waris Pendekar Suling Emas!

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara yang halus namun demikian jelasnya terdengar oleh semua orang di dalam ruangan itu.

"Siancai...., kesempatan yang hanya timbul sekali dalam seratus tahun! Sute, persilakan ahli waris Pendekar Suling Emas untuk memasuki lian-buthia, kami akan menanti di sana."

Mendengar suara ini, semua tosu yang berada di situ menjatuhkan diri berlutut, dan Thian Kong Tosu sendiri cepat menjura dan menjawab.

"Baik, Suheng,"

Wajah tosu ini berseri.

Baru seka-rang suhengnya, Thian Heng Tosu Ketua Kun-lun-pai, berkenan keluar dari tempat pertapaannya, karena tertarik pula oleh sebutan Pendekar Suling Emas itu.

Siapa orangnya yang takkan tertarik?

"Nona Ci Sian, engkau sungguh beruntung sekali, berhasil menarik hati ketua kami untuk keluar dan menemuimu.

Silakan, Nona, kita pergi menghadap suheng Thian Heng Tosu Ketua Kun-lun-pai yang Nona cari-cari tadi, ke lian-bu-thia!"

"Baik dan terima kasih, Totiang,"

Jawab Ci Sian yang merasa jantungnya berdebar juga.

Suara lirih yang amat jelas tadi saja sudah menunjukkan betapa saktinya orang yangmengeluarkannya.

Ia pun mengikuti Thian Kong Tosu dan para tosu lainnya menuju ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) yang berada di bagian belakang dari bangunan itu.

Semua tosu menjatuhkan diri berlutut menghadap kakek yang duduk bersila itu, kecuali Thian Kong Tosu yang menjura lalu juga duduk tak jauh dari situ.

Ci Sian memandang dengan mata tajam menyelidik.

Kakek itu juga seorang tosu, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, akan tetapi wajahnya sama sekali tidak menyeramkan seperti tubuhnya, karena wajah itu membayangkan kehalusan budi dan keramahan.

Biarpun usianya sebaya dengan sutenya, namun tosu ini kelihatan lebih tua, seolah-olah ada kedukaan membayang pada wajahnya yang halus itu.

Juga rambutnya sudah hampir putih semua padahal sutenya baru separuh rambutnya yang putih.

Ketika Ci Sian menjura kepadanya, tosu yang memandangnya itu mengangguk dan tersenyum ramah.

Ci Sian melihat bahwa yang berada di ruangan lian-bu-thia yang luas itu bukan hanya Ketua Kun-lun-pai ini, melainkan juga seorang pemuda dan ia tertarik sekali.

Pemuda ini berbeda dengan semua yang hadir di situ, tidak memakai pakaian tosu walaupun rambutnya yang hitam lebat itu pun digelung seperti model gelung rambut tosu, ke atas.

Seorang pemuda yang berperawakan sedang, berwajah tampan dan terutama sekali sepasang alisnya itu menimbulkan kagum di hati Ci Sian.

Sepasang alis itu nampak hitam sekali seperti dilukis dan membuat wajahnya nampak lebih bersih dan putih, dan bentuk alis itu seperti sepasang golok telentang.

Baca Juga: Istana Pulau Es 5

Baca Juga: Mutiara Hitam 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger