Ceritasilat Novel Online

Suling Emas Dan Naga Siluman 13

Eps 13 Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo.

Pemuda itu menundukkan muka, kedua matanya sedikit pun tidak bergerak, seolah-olah dia berada dalam samadhi yang hening.

Ci Sian merasa agak mendongkol juga.

Semua orang kagum kepadanya, akan tetapi pemuda ini, melirikpun tidak.

Sombong!

Ia pun membuang muka tidak mau lagi memandang kepada pemuda itu.

"Nona, siapakah she (nama keturunan) Nona?"

Terdengar tosu tinggi besar itu bertanya, suaranya halus dan pertanyaannya singkat.

Semenjak bertemu dengan ayah kandungnya dan melihat keadaan ayah kendungnya yang dianggap sebagai seorang pria mata keranjang, Ci Sian merasa malu untuk mengaku sebagai puteri Bu Seng Kin yang lebih terkenal dengan julukan Bu-taihiap.

Akan tetapi, berhadapan dengan para tokoh Kun-lun-pai, orang-orang tua yang begini penuh wibawa, Ci Sian merasa tidak enak hati kalau membohong, maka ia pun menjawab dengan sikap horrnat.

"Locianpwe, she saya adalah Bu."

"She Bu? Adakah hubungannya dengan Bu-taihiap?"

Terkejutlah Ci Sian mendengar pertanyaan ini, pertanyaan yang sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya.

Matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan sangkalan yang keras.

"Tidak! Dia tidak ada hubungannya denganku!"

"Siancai...., mungkin Bu-taihiap telah melukai hati banyak wanita, akan tetapi tak dapat disangkal lagi bahwa dia seorang pendekar besar. Baiklah, Nona Bu. Pinto tadi mendengar bahwa Nona datang ke Kun-lun-pai untuk menantang pi-bu kepada Ketua Kun-lun-pai?"

Ditodong langsung dengan pertanyaan ini, Ci Sian menjadi gugup juga.

"Aku...., aku hanya mohon petunjuk dari Locianpwe, karena aku merasa telah bersalah terhadap Kun-lun-pai...."

"Ha-ha, bagaimana pendapatmu, Sute? Nona ini sungguh bersemangat sekali,"

Kata Ketua Kun-lun-pai itu kepada sutenya dan Thian Kong Tosu juga tersenyum.

"Nona tadi berkata bahwa Nona adalah ahli-waris dari Pendekar Suling Emas? Apakah buktinya?"

Ketua Kun-lun-pai itu kembali bertanya.

Ci Sian mencabut keluar sulingnya yang tadi sudah disimpannya kembali.

Sekali lagi terdengar bunyi suling melengking ketika dicabutnya dan baru sekaranglah pemuda yang duduk bersila di sebelah kiri Thian Heng Tosu itu mengangkat muka memandang.

Bukan memandang kepada Ci Sian melainkan kepada suling emas kecil yang berada di tangan dara itu.

"Itukah suling peninggalan Pendekar Suling Emas? Coba pinto pinjam sebentar!"

Berkata demikian tiba-tiba Thian Heng Tosu menggerakkan tangan kanannya ke arah Ci Sian.

Dara ini terkejut bukan main karena mendadak sulingnya seperti hidup dan terbang terlepas dari pegangan tangannya, melayang ke arah kakek itu.

Maklumlah ia bahwa kakek itu telah mempergunakan sin-kang yang kuat sekali untuk mengambil sulingnya dari jarak jauh tanpa menyentuhnya.

Ia menjadi marah, cepat ia mengerahkan sinkang yang baru saja dilatihnya dari Pendekar Siluman Kecil, dan ia pun menggerakkan tubuh dan tangannya di dorongkan ke depan, mulutnya melengking nyaring.

"Heiiittt....!"

Dan....

suling yang tadinya sudah meluncur kembali ke tangannya!

"Maaf, Locianpwe.

Suling ini menjadi kawan penghibur dan pelindungku, siapapun juga tidak boleh merampasnya, kecuali kalau aku sudah roboh tanpa nyawa!"

Kata Ci Sian sambil tersenyum. Kakek itu terbelalak, lalu mengangguk-angguk.

"Bagus sekali, memang bukan omong kosong belaka! Akan tetapi, bukankah suling itu terlalu kecil untuk menjadi pusaka peninggalan Pendekar Suling Emas, Nona Bu?"

"Memang pusaka itu berada di tangan suhengku, akan tetapi kami berdua telah mewarisi ilmunya,"

Jawabnya singkat.

"Siancai....! Jadi engkau masih ingin untuk menguji kepandaian tua bangka seperti pinto ini, Nona?"

"Aku.... aku mohon petunjuk Locianpwe."

"Aah, pinto akan ditertawai orang sedunia kalau turun tangan menghadapi seorang dara yang pantasnya menjadi cucuku. Biarlah, pinto wakilkan kepada murid pinto ini. Maukah Nona menghadapinya untuk sekedar belajar kenal dengan ilmu masing-masing?"

Kakek itu menuding ke arah pemuda yang masih bersila di sebelah kirinya.

Ci Sian memandang.

Hemm, pemuda yang sombong itu, katanya dalam hati sambil memandang rendah.

"Kalau Locianpwe menganggap dia sudah patut melawanku, boleh saja,"

Jawabnya dan sengaja dia mengeluarkan kata-kata yang sifatnya memandang rendah ini.

"Han Beng, kau memperoleh kesempatan yang baik sekali hari ini. Selama ini engkau hanya tekun berlatih, nah, hari ini engkau memperoleh kesempatan untuk membuktikan sampai di mana kemajuanmu dalam latihan. Kau layanilah Nona ini. Ingat, engkau mewakili gurumu dan juga mewakili Kun-lun-pai!"

Mendengar ucapan suhunya itu, pemuda yang sejak tadi diam saja, bergerak melepaskan kakinya dan duduk bersila, lalu berlutut di depan kakek itu sambil berkata.

"Teecu mentaati perintah Suhu."

"Untuk menikmati kepandaian ahli waris Pendekar Suling Emas harus melihat permainan sulingnya (Lanjut ke

Jilid 39) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 39 sebagai senjata.

Han Beng, engkau pergunakanlah pedang kayu untuk latihan itu.

Pertandingan ini hanya merupakan perkenalan saja, maka pedang kayu cukuplah,"

Kata lagi kakek itu, dan sikapnya gembira bukan main.

Kakek yang menjadi Ketua Kun-lun-pai ini memang mengharapkan pemuda ini yang dapat mewarisi ilmu-ilmunya, maka kini memperoleh kesempatan mencoba tingkat kepandaian muridnya, tentu saja dia merasa gembira.

Apalagi dia tadi sudah menguji kepandaian dara itu ketika dia meminjam sulingnya dan dia merasa kagum kepada dara yang memiliki kepandaian tinggi, yang lincah bersemangat dan cantik jelita itu.

Diam-diam dia membandingkan muridnya dengan dara itu.

Nampaknya serasi benar.

Pemuda itu bernama Cia Han Beng, seorang pemuda yatim piatu yang hidupnya ditekan dan dikuasai oleh rasa dendam yang mendalam.

Ayahnya seorang pendekar Kun-lun-pai pula, menjadi seorang di antara korban-korban kekejaman Kaisar Yung Ceng.

Ayahnya terbunuh oleh Kaisar itu, dan ibunya, seorang wanita cantik, kini menjadi selir Kaisar!

Dalam keadaan menderita batin, karena dendam, pemuda ini akhirnya diangkat sebagai murid oleh Ketua Kun-lun-pai dan bukan hanya menerima warisan ilmuilmu yang tinggi dari gurunya, melainkan juga menerima petunjuk-petunjuk sehingga cengkeraman nafsu dendam telah lama meninggalkan batinnya.

Memang di lubuk hatinya terdapat perasaan menentang pemerintah, seperti juga gurunya dan semua murid Kun-lun-pai, akan tetapi bukan disebabkan oleh dendam pribadi, melainkan disebabkan oleh keadaan tanah air yang dijajah oleh bangsa Mancu itu.

Seperti yang terdapat dalam batin aetiap orang pendekar yang gagah di Tiongkok pada waktu itu, Cia Han Beng diam-diam juga menanti kesempatan untuk menyumbangkan tenaganya demi kebebasan tanah air dan bangsanya dari-pada penjajahan bangsa Mancu.

Mungkin disebabkan latar belakang kehidupan keluarga ayahnya yang tertimpa malapetaka itu dan yang membuatnya hidup sebatang kara, biarpun api dendam pribadi di dalam batinnya telah padam, membuat pemuda yang gagah itu bersikap pendiam dan selalu seperti berada dalam awan gelap, seolah-olah tidak ada kegairahan dan kegembiraan lagi dalam hidupnya.

Mendengar ucapan suhunya, Han Beng kembali memberi hormat, lalu dia meng-hampiri rak senjata di mana terdapat segala macam senjata untuk permainan silat dan dia mengambil sebatang pedang kayu yang biasa dipakai untuk latihan.

Setelah itu, dengan sikap senang sekali dia menghadapi Ci Sian, menjura seperti sikap seorang pemain silat memberi penghormatan kepada calon lawannya dan berkata.

"Nona, silakan....!"

Dan dia pun lalu mundur ke tengah ruangan lian-bu-thia itu.

Diam-diam Ci Sian merasa mendongkol sekali.

Tadinya ia yang memandang rendah kepada pemuda yang dianggapnya sombong itu, dan ia hendak mengejeknya, akan tetapi kini terjadi kebalikannya.

Pemuda itu malah disuruh mempergunakan sebatang pedang kayu oleh gurunya.

Suling emasnya yang merupakan senjata pusaka yang ampuh sekali itu kini akan dihadapi hanya dengan sebatang pedang kayu!

Tentu saja hal ini merupakan ejekan baginya dan membuat mukanya menjadi merah sekali.

Akan tetapi, karena Ketua Kun-lun-pai tadi mengatakan bahwa untuk membuktikan bahwa ia benar ahli waris Suling Emas ia harus memainkan suling itu, maka ia mengambil keputusan untuk mengalahkan pemuda itu secepat mungkin!

Maka tanpa banyak cakap lagi ia pun meloncat ke depan pemuda itu.

Kini mereka berhadapan.

Pemuda itu memasang kuda-kuda, gerakannya lambat dan gagah ketika ia mengangkat kaki kirinya ke atas, menempel di lutut kanan, tangan kiri miring di depan dada dan pedang kayu itu ditudingkan ke atas, gagangnya menempel dahi.

Melihat pasangan kuda-kuda yang memang indah dan gagah ini, Ci Sian menyebirkan bibirnya.

Huh, aksinya, ia mengejek dalam hati dan tiba-tiba ia berseru,.

"Lihat serangan!"

Dan tanpa banyak lagak lagi ia pun sudah menyerang dan menggerakkan sulingnya, menusuk ke tenggorokan lawan dan suling yang digerakkannya itu mengeluarkan bunyi seperti ditiup.

Han Beng merobah kedudukan tubuhnya, tangannya bergerak dan pedang kayunya menangkis.

Dari gerakan suling yang berkelebat dan membentuk sinar menyilaukan mata itu dan dari suara melengking yang keluar dari suling itu, dia tahu bahwa dara itu mempergunakan tenaga khi-kang yang amat kuat, maka ketika menangkis, dia pun telah mengerahkan sin-kang pada pedang kayunya, dan memang keduanya sengaja hendak mengukur tenaga masing-masing dalam benturan senjata yang pertama itu.

"Tringggg....!"

Suara emas terpukul kayu dengan kerasnya menimbulkan suara berdencing nyaring dan keduanya terkejut sekali ketika betapa seluruh lengan mereka tergetar hebat, membuat keduanya cepat melangkah ke belakang untuk mengatur kedudukan tubuh masing-masing.

Mereka sejenak berdiri saling pandang, seperti dua ekor ayam jago yang sedang berlagak, seperti hendak mengukur kekuatan masing-masing melalui pandang mata.

Keduanya memandang kagum.

Han Beng tak pernah menyangka bahwa seorang dara muda seperti itu dapat memiliki tenaga yang demikian kuatnya, Juga sebaliknya Ci Sian tidak mengira bahwa pemuda pendiam yang dianggapnya sombong ini ternyata bertenaga dahsyat pula.

Sementara itu, dua orang tokoh besar Kun-lun-pai yang melihat pertemuan dua tenaga dahsyat itu memandang dengan wajah berseri.

Memang setanding, pikir mereka.

Akan tetapi Ci Sian yang berwatak panas itu, merasa penasaran sekali.

Ia segera mengeluarkan seruan nyaring dan sulingnya sudah digerakkan, lenyap bentuknya berubah menjadi segulungan sinar yang melengking-lengking dengan nada suara naik turun seperti ditiup dengan mulut saja!

Juga gulungan sinar kuning emas itu menyilaukan mata, mendatangkan angin menyambar dahsyat sekali.

Han Beng terkejut dan pemuda itu pun cepat memutar pedang kayunya dengan pengerahan tenaga sin-kang sekuatnya.

Nampaklah sinar kehijauan dan juga pedang kayu itu mendatangkan angin yang kuat.

Ci Sian mulai menyerang, gerakannya aneh dan amat cepat, juga dahsyat sekali, sukar diduga ke mana suling itu akan menyerang.

Han Beng berusaha mengimbangi, namun pemuda yang sudah memiliki ilmu silat yang tinggi-tinggi dari Kun-lun-pai ini diam-diam terkejut karena sekali ini dia benar-benar menjadi sibuk sekali menghadapi serangan-serangan yang demikian aneh dan cepatnya.

Bukan hanya pemuda ini, bahkan Thian Heng Tosu dan Thian Kong Tosu juga memandang dengan mata terbelalak dan mulut mereka mengeluarkan seruan-seruan kagum dan heran.

Belum pernah selama hidup mereka yang telah menjelajahi dunia kang-ouw ini mereka menyaksikan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling sehebat ini!

Bukan hanya tusukan-tusukan suling itu yang merupakan totokan-totokan indah dan berbahaya sekali, juga bacokan gerakan pedang yang dirobah menjadi pukulan-pukulan suling itu, amat kuatnya, ditambah lagi suara melengking-lengking yang membikin bingung lawan karena suara ini menyembunyikan desir senjata yang biasanya dapat dikenal dan ditangkap telinga sehingga mudah diikuti gerakannya.

Han Beng cepat mainkan Kun-lun Kiam-sut (ilmu Pedang Kun-lun) yang menjadi andalan para pendekar Kun-lun-pai, dan pemuda yang cerdik ini pun mengerahkan seluruh gerakannya kepada daya tahan untuk melindungi dirinya.

Dengan demikian, barulah dia terhindar dari sambaran sinar kuning emas itu, walaupun tetap saja dia terdesak hebat karena sukar baginya untuk balas menyerang.

Sekali dia berani balas menyerang, berarti daya tahannya berkurang dan hal ini amat berbahaya karena desakan suling itu benar-benar amat hebat!

Thian Heng Tosu menarik napas panjang beberapa kali.

"Ah, kita ini seperti katak dalam tempurung saja!"

Katanya kepada sutenya.

"Lihat, beberapa tahun saja kita tidak keluar, di dunia telah muncul ilmu pedang yang dimainkan suling sedemikian hebatnya."

"Akan tetapi, Suheng, saya mendengar bahwa ilmu-ilmu yang diwariskan oleh Pendekar Suling Emas biarpun hebat, akan tetapi rasanya menurut berita yang kudengar, tidak ada yang seperti ini.... kabarnya yang paling hebat adalah Hong-in Bun-hoat, akan tetapi ini...."

"Hemm, kalau Han Beng lebih unggul dalam hal sin-kang, agaknya dia akan dapat mengatasi kedahsyatan ilmu suling itu. Akan tetapi tenaga mereka agak seimbang. Kita sendiri pun, tanpa mengandalkan sin-kang, kiranya akan sukar mengalahkan ilmu suling itu...."

Kata pula Ketua Kun-lun-pai.

"Nampaknya ilmu yang kuno sekali, akan tetapi mengandung kemujijatan...."

"Dan lihat, bukankah ilmu sin-kang dara itu pun luar biasa hebatnya? Melihat kerepotan Han Beng ketika mengadu tenaga, agaknya Nona itu memiliki sin-kang yang sama anehnya dengan ilmu sulingnya."

Dan memang benar apa yang dikatakan oleh Thian Kong Tosu.

Ketika ia sudah mendesak lawannya dengan mati-matian namun pemuda itu dengan per-tahanannya yang kokoh kuat seperti benteng baja dapat menutup diri sehingga semua serangannya gagal, Ci Sian menjadi semakin penasaran.

Ia tidak mau mempergunakan khi-kang dan mengalahkan lawan dengan tiupan suling, karena ilmu itu merupakan ilmu simpanan dan menurut pesan suhengnya, ia tidak boleh sembarangan mengeluarkannya kalau tidak terpaksa benar.

Maka, ia lalu mengerahkan tenaga sin-kang yang baru saja dilatihnya dari Suma Kian Bu, dan kini serangan-serangannya itu mengandung penggabungan dua tenaga yang berlawanan, sebentar panas sebentar dingin sekali.

Dan Han Beng yang merasakan hawa panas dan dingin silih berganti ini me-ialui pedang kayu yang dipakai untuk menangkisnya, menjadi terkejut, bingung dan terdesak semakin hebat.

Akhirnya, karena kacau pertahanannya oleh tenaga yang silih berganti itu, ada lubang dalam pertahanannya dan cepat dimasuki oleh sinar suling.

"Tukk....!"

Pundaknya terkena totokan dan biarpun dia sudah miringkan tubuh sehingga totokan itu tidak tepat mengenai sasaran, namun hawa dingin itu telah menyerang masuk dan membuat Han Beng menggigil, lalu pemuda ini menjatuhkan dirinya bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan lanjutan.

Ci Sian yang masih merasa penasaran itu mengejar.

"Tahan....!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang gerakannya cepat sekali, seperti petir menyambar dan tahu-tahu sebatang tongkat menahan suling di tangan Ci Sian.

Ci Sian marah dan hendak menggerakkan suling menyerang orang ini, akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang menghalangnya adalah Suma Kian Bu sendiri, mukanya berobah merah dan ia pun bersungut-sungut.

"Kenapa engkau malah membantu lawan?"

Tegurnya sambil menyimpan kembali sulingnya.

"Ci Sian, Kun-lun-pai adalah partai besar yang selamanya menjadi sahabat, jangan engkau membikin kacau di sini,"

Kata Suma Kian Bu dan segera muncul Siang In yang segera memegang lengan Ci Sian.

"Wah, kami mencari-carimu setengah mati, kiranya engkau membikin ribut di rumah orang."

Siang In merangkulnya dan lenyaplah kemarahan Ci Sian.

Sementara itu, semua tosu terkejut melihat masuknya pria berambut putih riap-riapan bersama seorang wanita cantik ini.

Tak seorang pun di antara mereka mengenal pria ini, akan tetapi Suma Kian Bu sudah memberi hormat dengan sikap sopan sekali kepada dua orang tosu tua pemimpin Kun-lun-pai itu.

"Mohon Locianpwe sudi memberi maaf kepada kami. Kalau saya tidak salah, Ji-wi Locianpwe adalah Thian Heng Tosu dan Thian Kong Tosu, dua orang pimpinan Kun-lun-pai, benarkah?"

Thian Heng Tosu hanya mengangguk, dan sekarang, seperti biasa, Thian Kong Tosu yang mewakili suhengnya menyambut tamu.

"Penglihatan Sicu memang tepat sekali. Kalau boleh pinto mengetahui, siapakah Sicu dan apakah maksud kunjungan Sicu tiba-tiba ini dan apa hubungan sicu dengan Bu-siocia?"

"Nama saya Suma Kian Bu...."

"Siancai....! She Suma? Apa hubungannya dengan Suma-taihiap, Suma Han Pendekar Super Sakti penghuni Pulau Es yang namanya terkenal di seluruh kolong jagat itu?"

Kata Thian Kong Tosu, sedangkan suhengnya juga memandang tajam penuh selidik kepada Kian Bu.

"Beliau adalah ayah kandung saya."

"Ah, sungguh hebat peristiwa yang terjadi hari ini!"

Tiba-tiba Thian Heng Tosu berkata.

"Agaknya memang sudah digariskan bahwa kita akan memperoleh bantuan Suma-taihiap, mari kita duduk di dalam dan bicara. Nona Bu, kami mengaku bahwa muridku telah kalah olehmu. Setelah ternyata bahwa kita adalah orang-orang sendiri, biarlah pinto yang mintakan maaf atas kesalahan murid-murid kami kepadamu."

Tidak enak juga rasa hati Ci Sian melihat betapa Ketua Kun-lun-pai sendiri sampai minta maaf kepadanya.

"Ahh, Locianpwe, sesungguhnya sayalah yang terburu nafsu, saya yang minta maaf kepadamu,"

Jawabnya.

Kini pemuda murid Ketua Kun-lun-pai itu menjura ke arah Ci Sian dan pandang mata serta suaranya penuh kejujuran dan kekaguman ketika dia berkata.

"Bu-siocia, saya mengaku kalah padamu."

"Ah, dengan mempergunakan pedang kayu, berarti engkau telah mengalah,"

Jawab Ci Sian, merasa tidak enak terhadap Suma Kian Bu dan Siang In yang melihat betapa ia yang datang mengacau Kun-lun-pai, malah dipuji-puji orang.

Ketua Kun-lun-pai yang nampak berseri wajahnya itu, bersama sutenya, mengajak tiga orang tamunya menuju ke ruangan dalam, diikuti pula oleh Han Beng.

Hanya enam orang itulah yang memasuki ruangan ini, sedangkan murid-murid lain tidak ada yang diajak masuk.

Setelah mengambil tempat duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang besar, Thian Kong Tosu berkata sambil mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Ah, kiranya yang membunuh ular itu adalah pendekar dari Pulau Es! Pantaslah kalau demikian dan kami tidak merasa penasaran lagi."

"Kami melakukan perjalanan dan mendengar bahwa ada ular hijau yang sudah banyak menjatuhkan korban. Ketika kami melihat dusun yang setiap tahun menyerahkan korban manusia hidup-hidup kepada ular yang mereka dewa-dewakan, kami mengambil keputusan untuk membasminya. Ular itu sungguh berbahaya sekali dan hanya karena nasib sajalah kami berhasil membunuhnya,"

Kata Kian Bu, lalu disambungnya.

"Dan sekiranya Nona Ci Sian ini yang menjadi sahabat seperjalanan kami melakukan sesuatu pelanggaran terhadap Kun-lun-pai, biarlah Locianpwe memandang muka kami untuk memaafkannya."

"Ah, sama sekali tidak! Hanya terjadi kesalahpahaman saja!"

Kata wakil ketua itu.

"Dua orang murid Kun-lun-pai kami utus untuk menyelidiki tentang berita dibunuhnya ular. Mereka bertemu dengan Nona Bu dan terjadi kesalahpahaman sehingga Nona Bu memberi hajaran kepada mereka, bahkan lalu mengejar sampai ke Kun-lun-pai. Mata kami yang tua terbuka menyaksikan ilmu yang luar biasa dari Nona Bu!"

"Ah, Locianpwe harap jangan terlalu memuji, membuat saya merasa malu saja,"

Ci Sian berkata dan memang wajahnya menjadi merah karena malu terhadap Pendekar Siluman Kecil. Kian Bu tersenyum.

"Sudahlah, baik sekali engkau bertemu dengan pimpinan Kun-lun-pai yang bijaksana, kalau dengan golongan lain tentu berakibat tidak enak."

"Suma-taihiap, setelah Taihiap datang, harap kami diperkenalkan dengan Lihiap ini...., menurut berita, Taihiap datang bersama isteri Taihiap...."

Kata pula Thian Kong Tosu.

"Benar, ia adalah isteri saya, Locianpwe,"

Kata pendekar itu dan Siang In lalu memberi hormat sambil tersenyum manis.

Ci Sian melihat betapa wajah isteri pendekar itu kini semakin cantik saja, seperti ada sinar yang segar berseri dan wajahnya yang manis.

"Sungguh satu kehormatan besar menerima Sam-wi yang gagah perkasa sebagai tamu,"

Tiba-tiba Ketua Kun-lunpai berkata.

"Dan sungguh kebetulan sekali karena kami sedang menghadapi suatu urusan yang amat penting dan besar, yang tentu akan menarik juga perhatian Sam-wi."

"Urusan apakah itu, Locianpwe?"

Tanya Kian Bu.

"Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat baik kami dari kota Pao-ci di Shen-si datang dan membawa berita yang amat mengejutkan, yaitu bahwa Pangeran Mahkota Kian Liong telah lenyap!"

Tentu saja Kian Bu terkejut sekali mendengar ini.

"Lenyap? Bagaimana bisa Lenyap!"

"Seperti biasa, Pangeran Kian Liong melakukan perjalanan merantau sendirian dan seperti biasa pula, diam-diam banyak pendekar yang membayanginya dan melindunginya secara diam-diam karena kalau dilihat atau diketahui oleh Sang Pangeran, beliau tentu akan merasa tidak senang. Dan pada suatu hari, setelah Sang Pangeran memasuki sebuah kuil, beliau Lenyap tanpa meninggalkan jejak!"

"Hemm, lalu bagaimana, Locianpwe?"

Tanya Kian Bu, tertarik, akan tetapi merasa bahwa hal itu tidak ada sangkutannya dengan dia.

"Tentu saja menjadi geger, walaupun tidak ada yang berani menceritakan hal ini secara terang-terangan. Hanya menjadi desas-desus dan berita angin di dunia kang-ouw saja bahwa para pendekar kini seperti berlumba mencari pangeran. Timbul kekhawatiran besar bahwa para pendukung dan bekas anak buah mendiang Sam-thaihouw yang melakukan penculikan dan dikhawatirkan keselamatan Sang Pangeran."

"Ah, sudah lama sekali saya tidak pernah mendengar tentang keluarga istana...., apakah yang telah terjadi dengan Sam-thaihouw, Locianpwe?"

Tentu saja Kian Bu mengenal siapa adanya nenek yang berpengaruh itu, karena sesungguhnya, menurut kakak kandungnya, yaitu Puteri Milana, nenek yang amat berpengaruh terhadap Kaisar itu membencinya, bahkan membenci seluruh keluarga Pulau Es!

Ketua Kun-lun-pai itu memandang tajam, akan tetapi sutenya yang mengajukan pertanyaan kepada Kian Bu.

"Harap Suma-taihiap suka memaafkan pertanyaan pinto. Akan tetapi.... bukankah Taihiap masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Kaisar? Kalau tidak salah, ibu kandung Taihiap adalah Puteri Nirahai yang amat terkenal...."

Kian Bu menggerakkan tangannya dengan tidak sabar.

"Ah, itu sih dahulu, harap Locianpwe jangan sebut-sebut lagi. Kami sekarang adalah keluarga Pulau Es, bukan lagi keluarga istana. Apa yang telah terjadi dengan Sam-thaihouw?"

"Taihiap belum mendengar berita yang menggemparkan itu? Semua orang telah mendengarnya!"

Lalu Thian Kong Tosu menceritakan tentang kematian Sam-thaihouw yang menurut desas-desus adalah karena rahasianya diketahui Kaisar bahwa sesungguhnya Sam-thaihouw merupakan seorang berbahaya yang selain mempengaruhi Kaisar dan seluruh Istana, juga mengumpulkan tokoh-tokoh dunia sesat.

Mendengar berita ini, diam-diam Kian Bu merasa bersyukur dalam hati.

Terbebaslah kini Kaisar dari pengaruh yang amat jahat.

"Akan tetapi, para pengikut dan kaki tangan Sam-thaihouw masih berkeliaran!"

Tosu itu menyambung.

"Terutama sekali Im-kan Ngo-ok yang tadinya menjadi kaki tangannya, juga dapat melarikan diri. Oleh karena itu, lenyapnya Pangeran ini tentu saja dihubungkan dengan kaki tangan Sam-thaihouw, siapa tahu mereka itu ingin membalas dendam karena kejatuhan Sam-thaihouw adalah karena Sang Pangeran yang membongkar rahasianya."

Kian Bu mengangguk-angguk.

Cerita itu memang menarik, akan tetapi tidak cukup membangkitkan semangatnya untuk mencampuri.

Ayahnya, Pendekar Super Sakti, selalu menasihatkan putera-puteranya agar jangan mencampuri urusan istana.

"Urusan istana, urusan perebutan kekuasaan, urusan pemberontakan, sesungguhnya hanyalah perebutan kedudukan dan kekuasaan, dan untuk kepentingan itu mereka menggerakkan rakyat. Rakyatlah yang disuruh maju sebagai pendobrak, sebagai senjata dan perisai, dengan dalih perjuangan demi tanah air, bangsa, dan lain-lain yang serba muluk-muluk sehingga rakyat menjadi buta, tidak tahu bahwa sebenarnya mereka itu hanya diperalat oleh beberapa gelintir orang yang memperebutkan kedudukan, kalau pendobrakan dan perebutan itu berhasil, beberapa gelintir orang itulah yang akan menempati kedudukan mulia dan bukan hanya mereka itu melupakan rakyat, bahkan mereka menjadi penindas-penindas yang baru terhadap rakyat. Tentu saja dalam perebutan itu, rakyat yang maju itulah yang menjadi korban, sedangkan beberapa gelintir orang itu hanya bersembunyi di dalam gedung-gedung dilindungi pasukan pengawal, siap untuk meraih hasil kemenangan kalau menang dan siap untuk melarikan diri mengungsi kalau kalah. Karena itu, jangan bodoh. Bertindaklah kalau melihat rakyat tertindas atau melihat kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa atau kuat terhadap si lemah, akan tetapi jangan melibatkan diri ke dalam perebutan kekuasaan di istana."

Nasihat ayahnya itu selalu menjadi pegangan Kian Bu, maka kini mendengar akan urusan yang diceritakan oleh ketua dan wakil Ketua Kun-lun-pai, dia tidak bergerak untuk ikut-ikut, walaupun dia merasa tertarik.

Dia pun tahu bahwa Pangeran Kian Lioarg adalah seorang pangeran muda yang bijaksana dan menghargai orang-orang gagah, bahkan yang dicinta oleh banyak pendekar karena mereka mengharapkan kelak Pangeran ini akan menjadi seorang kaisar yang bijaksana.

"Locianpwe membicarakan urusan Pangeran dengan maksud bagaimanakah?"

Akhirnya Kian Bu bertanya secara langsung sambil memandang tajam. Kini Ketua Kun-lun-pai yang agak pendiam itu yang berkata.

"Mendengar akan bahaya yang mengancam diri Sang Pangeran, kami tak dapat tinggal diam saja, Suma-taihiap. Yang dapat kami andalkan hanyalah murid pinto Cia Han Beng ini. Betapapun juga, pinto masih sangsi apakah dia akan cukup mampu melaksanakan tugas seberat itu, mengingat bah-wa pihak lawan terdapat orang-orang sakti seperti Ngo-ok dan lain-lain. Maka, melihat kemunculan Sam-wi yang mempunyai kepandaian hebat, maka pinto akan merasa gembira mendengar kalau saja Sam-wi tertarik dan dapat bekerja sama dengan Han Beng untuk menyelamatkan Pangeran."

Mendengar ucapan ini, Suma Kian Bu menarik napas panjang.

"Harap Ji-wi Locianpwe suka memaafkan kami dan tidak menjadi kecewa. Hendaknya diketahui bahwa kami mempunyai urusan pribadi yang penting, yang mengharuskan kami kembali ke Pulau Es, maka kami tidak akan dapat mencampuri urusan kehilangan Sang Pangeran itu."

Melihat kekecewaan membayang di wajah Ketua Kun-lun-pai itu, Ci Sian ikut bicara.

"Akan tetapi harap, Locianpwe tidak terlalu merendahkan diri sendiri. Kulihat bahwa dia telah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!"

Dia menuding ke arah Cia Han Beng yang cepat menundukkan mukanya yang berobah merah.

"Kami tidak ingin terlibat dalam urusan golongan atas!"

Kata pula Siang In.

"Siancai...., Sam-wi tentu memiliki alasan kuat sendiri maka berpendirian demikian. Maafkanlah kami yang telah berani membujuk Sam-wi."

Percakapan dilanjutkan dalam suasana yang kurang enak karena penolakan ini dan tak lama kemudian Kian Bu berpamit dan meninggalkan Kun-lun-pai bersama isterinya dan Ci Sian.

Setelah mereka tiba jauh dari tembok perkampungan Kun-lun-pai itu, Ci Sian yang sejak tadi merasa penasaran bertanya.

"Mengapa kalian menolak? Bukankah kalian adalah pendekar-pendekar yang sudah sepatutnya melindungi Sang Pangeran yang terancam bahaya?"

Kian Bu dan isterinya tersenyum.

"Ci Sian, engkau tidak tahu. Memang harus kami akui bahwa Pangeran Kian Liong adalah seorang pangeran yang bijaksana dan dicinta oleh para pendekar. Akan tetapi kita belum tahu siapakah yang menentangnya. Kalau yang menentangnya itu orang-orang dari golongan hitam seperti Ngo-ok dan kawan-kawannya, memang sudah sepatutnyaa kalau kita turun tangan melindungi beliau. Akan tetapi, engkau pun tahu bahwa Pangeran itu adalah seorang Pangeran Mancu, dari istana Kaisar penjajah. Bagaimana kalau yang menentang itu kaum patriot yang menghendaki terbebasnya rakyat dari cengkeraman penjajah?"

Ci Sian memandang dengan mata terbelalak heran.

Ia sudah amat akrab dengan Kian Bu dan isterinya, maka tidak ada lagi perasaan sungkan di dalam hatinya dan langsung saja ia berkata.

"Tapi.... tapi..... Taihiap, bukankah ibumu sendiri seorang puteri istana dan bukankah itu berarti bahwa engkau sendiri masih terhitung keluarga Kaisar?"

Kian Bu menghela napas panjang.

"Tidak salah. Ibuku seorang puteri Mancu. Akan tetapi ayahku seorang pendekar. Betapapun juga, lebih banyak darah Han mengalir di dalam tubuhku, dan betapapun juga, sebagai seorang pendekar aku tidak setuju dengan penjajahan. Maka terus terang saja, agaknya tidak mungkinlah kalau aku harus menentang para patriot."

"Tapi.... tapi...., bukankah keluarga Pulau Es terkenal sekali dalam membasmi para pemberontak? Nama-nama seperti Puteri Nirahai, dan Puteri Milana amat terkenal...."

"Engkau harus dapat membedakan antara pemberontak yang bergerak demi merebut kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri, dan pemberontakan rakyat yang tertindas dan yang ingin menghalau penjajah. Kukatakan tadi, andaikata yang menentang Kaisar itu golongan hitam, tentu aku akan turun tangan membela Pangeran. Sudahlah, Ci Sian, sesungguhnya bukan itu yang mendorong kami untuk menolak tawaran Ketua Kun-lun-pai dan yang memaksa kami harus cepat pulang ke Pulau Es."

"Apakah itu....?"

Ci Sian bertanya dan tiba-tiba Siang In merangkulnya.

Nyonya ini tertawa dan mukanya menjadi merah sekali, akan tetapi sepasang matanya berseri-seri.

Dirangkulnya dara itu dan dibisikinya.

Mendengar bisikan ini, Ci Sian terlonjak kegirangan dan ia pun merangkul leher Siang In dan mencium pipinya.

"Benarkah, Enci? Ah, kionghi...., kionghi....! Sungguh aku merasa ikut gembira sekali, Enci Siang In!"

"Terima kasih, Adikku, dan terima kasih pula atas bantuanmu ketika kami menundukkan ular naga hijau itu.... karena tanpa bantuanmu...."

"Ah, mudah-mudahan kelak puteramu gagah perkasa seperti naga, Enci!"

"Hushh....! Bagaimana kau tahu dia bakal laki-laki?"

Siang In mencela dan mereka pun tertawa gembira.

Akan tetapi, kegembiraan hati Ci Sian hanya sebentar karena segera wajahnya yang cantik menjadi muram ketika Kian Bu dan Siang ln memberi tahu kepadanya bahwa hari itu juga suami isteri ini akan meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Pulau Es.

Karena Siang In sudah mengandung, hampir dua bulan kandungannya, maka tidak baik kalau mereka terus merantau, dan Siang In harus tenang tinggal di rumah.

"Kita berpisah di sini, Ci Sian. Yang baik-baik engkau menjaga diri. Kepandaianmu sudah cukup tinggi dan kiranya engkau sudah dapat menjaga diri sendiri dengan cukup kuat, akan tetapi hanya satu hal yang harus kau ingat benar, yaitu kurangilah watak kerasmu itu,"

Demikian Kian Bu meninggalkan pesan setelah mereka tiba di dalam pondok dan suami isteri itu sudah mempersiapkan diri untuk berangkat.

Saking terharunya, Ci Sian hanya mengangguk, kemudian ketika Siang In hendak berpamit kepadanya, Ci Sian merangkul dan keduanya saling peluk sambil menangis!

Aneh memang melihat dua orang wanita yang sama-sama memiliki kepandaian amat tinggi dan kegagahan luar biasa itu kini saling rangkul sambil menangis.

Betapapun juga, mereka itu adalah wanita-wanita yang tentu saja lebih halus perasaannya dibandingkan pria.

Akhirnya, suami isteri itu pergi meninggalkan Ci Sian.

Mereka singgah di dusun Naga Hijau untuk pamit kepada para penghuni dusun.

Setelah ditinggalkan oleh dua orang itu, Ci Sian juga tidak tahan tinggal lebih lama lagi di pondok dalam hutan itu.

Ia mengemas barang-barangnya dan ia pun segera pergi dari situ tanpa pamit lagi kepada para penghuni dusun.

Sebentar saja sudah pergi jauh meninggalkan dusun itu, menuju ke timur dan setelah senja mendatang, barulah ia menghentikan perjalanannya, beristirahat di bawah pohon besar di sebuah lereng gunung.

Ketika ia duduk di bawah pohon besar itu, memandang ke kanan kiri yang amat sunyi, merasa benar betapa ia hidup seorang diri saja di dunia ini, tiba-tiba saja rasa kesepian menyelinap di dalam hatinya dan tak dapat ditahannya lagi, air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya.

Ci Sian menangis karena sedih, karena merasa kesepian.

Ia merasa ngeri, merasa asing, merasa kehilangan dan ditinggalkan.

Rasa kesepian, merasa sendiri saja tanpa teman, merasa terasing dan tidak ada yang mempedulikan, perasaan ini amat ditakuti oleh semua orang.

Perasaan ini mendatangkan iba diri dan kesedihan.

Karena takut akan rasa kesepian inilah maka semua orang mudah sekali terikat, bahkan suka mengikatkan diri dengan sesuatu.

Kita merasa ngeri kalau harus menderita kesepian, maka kita mengikatkan diri dengan isteri, keluarga, sahabat, bangsa, suku kelompok, atau kita mengikatkan diri dengan gagasan-gagasan sehingga kita merasa aman dan merasa "tidak sendirian".

Rasa ngeri membayangkan harus bersendirian inilah agaknya yang membuat kita merasa ngeri akan kematian.

Bagaimana kalau kita mati?

Kita akan sendirian, akan kehilangan segala-galanya!

Inilah yang mendatangkan kengerian, dan karena ini pula maka kita mengikatkan diri dengan segala macam agama atau kepercayaan, sebagai penghibur diri di waktu masih hidup bahwa kalau kita mati kelak, kita akan terbebas daripada "sendirian"

Itu.

Akan tetapi, benarkah bahwa kesunyian, keheningan, di mana kita berada seorang diri, baik jasmani maupun rohaniah, sendiri tanpa siapapun juga, mendatangkan kengerian?

Siapakah itu yang merasa ngeri?

Bukankah yang takut itu adalah pikiran yang membayangkan segala keadaan, mengharapkan yang menyenangkan dan menghindarkan yang tidak menyenangkan?

Pernahkah kita menghadapi kesunyian ini, kesepian ini, rasa bersendirian ini, menghadapinya, mengamatinya tanpa penilaian, tanpa pendapat dan gagasan tentang kesepian itu?

Maukah kita mencoba untuk menyelami kesepian ini, memandangnya tanpa ide-ide tentang kesepian sehingga antara kesepian dan kita tidak ada jarak pemisah lagi?

Sehingga kita merupakan sebagian daripada keheningan itu?

Proses badaniah yang menjadi tua, lapuk lalu mati, merupakan hal yang wajar.

Kita tidak merasa takut atau ngeri akan hal itu.

Yang kita takutkan adalah bagaimana nanti jadinya dengan "kita"!

Bagaimana nanti dengan keluarga kita, orang-orang yang kita cinta, dengan harta benda kita, dengan nama kita, kedudukan kita dan sebagainya lagi.

Semua ikatan-ikatan itulah yang membuat kita merasa ngeri untuk mati, ngeri untuk berpisah dari semua itu.

Kita merasa ngeri karena dengan kehilangan semua itu, kita ini BUKAN APA-APA lagi.

Kita membayangkan, apakah jadinya dengan kita kalau kita tidak punya keluarga lagi, tiada teman, tiada harta benda, tiada segala yang kesemuanya mendatangkan kesenangan itu?

Itulah sebabnya mengapa kita takut akan kematian, takut akan kesepian.

Pikiran yang membentuk si aku yang selalu ingin senang dan menjauhi ketidaksenangan, pikiran ini yang merasa ngeri karena membayangkan bahwa semua kesenangan itu akan berpisah dari kita.

Akan tetapi, kita dapat merasakan keadaan mati ini selagi kita masih hidup.

Jasmani kita masih hidup, akan tetapi kalau batin kita dapat terbebas dari segala ikatan, maka rasa takut akan kehilangan ikatan-ikatan itu tidak ada.

Dan tanpa adanya rasa takut ini, maka keheningan atau kesunyian akan merupakan sesuatu yang lain sama sekali!

Bukankah berarti bahwa kita lalu menjadi seperti patung hidup!

Sama sekali tidak.

Kita masih hidup di dalam dunia ramai dengan segala aneka ragam, namun batin kita bebas daripada ikatan, sehingga kalau sewaktu-waktu kita harus berpisah, kita tidak akan merasa takut atau ngeri, kita tidak akan merasa berduka.

Ikatan selalu menimbulkan rasa takut akan kehilangan dan rasa duka kalau kehilangan.

Makin kuat ikatan itu, makin besar rasa takut dan makin besar kedukaan.

Sebuah benda saja dapat nenimbulkan ikatan yang demikian kuat sehingga kalau kita kehilangan benda itu, akan timbul rasa duka yang amat sangat.

Dapatkah kita terbebas dari ikatan dengan kesemuanya itu?

Ada yang bertanya bahwa kalau kita bebas daripada ikatan dengan keluarga, bukankah itu berarti bahwa kita tidak mencinta keluarga kita lagi?

Sama sekali bukan demikian.

Cinta kasih sama sekali bukanlah ikatan!

Kalau kita mencinta anak kita, benar-benar mencintanya, hal itu bukan berarti bahwa kita harus terikat dengan anak kita itu.

Yang ada hanya bahwa kita ingin melihat anak kita berbahagia hidupnya!

Sebaliknya, ikatan menimbulkan keinginan untuk menyenangkan diri sendiri, karena memang ikatan diciptakan oleh si aku yang ingin senang tadi.

Cinta yang mengandung ikatan bukanlah cinta kasih namanya, melainkan keinginan untuk memuaskan dan menyenangkan diri sendiri.

Cinta yang mengikat kepada anak menimbulkan keinginan untuk menguasai anak itu, untuk memperoleh kesenangan batin melalui si anak, dan terasa berat kalau berpisah, karena si aku merasa dipisahkan dengan sumber yang menyenangkan diri.

Tidakkah demikian?

Demikian pula dengan isteri atau suami atau keluarga atau benda, atau juga gagasan.

Semua itu hanya merupakan alat untuk menyenangkan diri sendiri dan karenanya menimbulkan ikatan.

Cinta kasih baru ada kalau tidak terdapat keinginan untuk menyenangkan diri sendiri.

Dan tanpa adanya cinta kasih, tidak mungkin ada kebaikan atau kebajikan, karena tanpa adanya cinta kasih, segala yang nampak baik itu adalah semu, berpamrih, dan segala macam pamrih itu sumbernya adalah pada si aku yang ingin senang.

Setelah menumpahkan rasa dukanya melalui runtuhnya air mata, akhirnya timbul semacam kelegaan di dalam hati Ci Sian Sian.

Ia termenung dan dalam renungannya ini ia lupa segala, lupa akan kedukaannya, lupa akan keadaannya yang kesepian.

Ia memandang ke depan dan melihat angkasa sedemikian indah dan agungnya, penuh dengan tata warna yang tak dapat dilukiskan indahnya.

Ada warna merah yang beraneka macam, dari merah yang jingga sampai yang jambon dan kekuning-kuningan, ada warna biru yang belum pernah dapat dibandingkannya dengan warna biru di bumi.

Dan awan-awan kelabu membentuk mahluk-mahluk yang aneh, raksasa yang perkasa, binatang buas yang luar biasa.

Senjakala menciptakan keindahan yang demikian agung dan besarnya, yang sekaligus mengusir atau membuat lupa segala kedukaannya yang tadi menyelimuti hati Ci Sian.

Hal ini adalah karena segala pikiran, batin dan segala indera dara itu dicurahkan kepada keindahan di angkasa itu.

Dan kalau sudah begini, maka segala sesuatu nampak indah.

Bahkan pohon yang berdiri terpencil di depan itu, pohon yang sebagian batangnya rusak oleh ketuaan, yang beberapa cabang-nya gundul dan kering, nampak menonjol dan hidup, merupakan sebagian yang tak terpisahkan dari segala yang indah.

Juga dirinya terlebur menjadi satu kesatuan daripada keindahan dan keheningan itu, tidak terpisah-pisah.

Pada saat itulah Ci Sian mengalami apa yang dinamakan kematian.

Akan tetapi, gerengan seekor binatang buas membuyarkan kesatuan itu dan begitu pikiran Ci Sian bekerja, ia pun sudah kembali lagi kepada dirinya sendiri, dirinya yang kesepian, dirinya yang penuh dengan iba diri.

Dan Ci Sian melewatkan malam yang menggelisahkan.

Apakah yang telah terjadi dengan diri Pangeran Kiang Liong?

Seperti telah kita ketahui dari bagian depan cerita ini, Pangeran yang bijaksana ini telah bertentangan dengan Sam-thaihouw, dan dengan bantuan keluarga pendekar Kao Kok Cu, isterinya Wan Ceng dan puteranya, Jenderal Muda Kao Cin Liong, akhirnya Pangeran membuka rahasia Sam-thaihouw, membuat nenek tua ini terserang penyakit jantung dan tewas.

Setelah Sam-thaihouw dan kini kaki tangannya dibasmi dari istana, hati Pangeran itu merasa lega dan gembira bukan main.

Akan tetapi, Pangeran yang semenjak muda sekali sudah suka sekali berkelana ini, tidak dapat tinggal diam terlalu lama di istana.

Pada suatu hari, dia sudah lolos lagi dari istana dan mengembara ke barat, menyamar sebagai seorang pemuda biasa saja.

Kesukaannya mengembara ini selain didorong oleh ke-inginannya untuk mengenal rakyat lebih dekat, juga karena dia ingin mempelajari dan mendengar suara rakyat agar kelak kalau dia menggantikan ayahnya memerintah, dia akan dapat mengambil sikap dan keputusan yang sesuai dengan selera rakyat terbanyak.

Di samping ini, pemuda bangsawan ini pun suka bergaul dengan para sastrawan dan para pendekar dan hanya dengan menyamar sebagai seorang biasa sajalah maka pergaulannya itu dapat berjalan dengan perasaan bebas, tidak seperti kalau mereka itu menghadapnya sebagai seorang pangeran di mana harus dilakukan banyak peraturan dan peradatan.

Seperti biasa, biarpun Pangeran ini tidak memperkenankan pasukan pengawal untuk mengawal perjalanannya, namun ada pengawal-pengawal istana rahasia yang diam-diam membayanginya, di samping beberapa orang pendekar yang mendengar akan perjalanan ini lalu membayanginya untuk melindunginya secara diam-diam.

Pangeran Kian Liong juga maklum akan hal ini.

Sebenarnya dia pun tidak merasa senang dilindungi secara diam-diam seperti ini, akan tetapi karena yang melindunginya tidak menampakkan dirinya, tentu saja dia pun tidak dapat berbuat sesuatu untuk mencegah mereka.

Para hwesio yang menerima kedatangan Pangeran itu, menyambutnya sebagai seorang pemuda yang dermawan.

Pemuda ini memberi sumbangan yang cukup besar dan ketika pemuda itu menyatakan bahwa dia ingin memperoleh kamar dan bermalam di kuil itu, para hwesio segera menyambutnya dan menyediakan sebuah kamar yang sederhana di sebelah belakang bangunan kuil.

Karena dia merasa amat tertarik oleh bangunan kuno kuil itu dan ingin menenangkan hatinya di dalam kuil maka Pangeran Kian Liong ingin bermalam di situ dan tidak bermalam di rumah penginapan seperti biasa.

Hal ini menyulitkan para pelindungnya.

Kalau Pangeran itu bermalam di rumah penginapan, para pelindung itu dapat pula menyewa kamar di rumah penginapan itu untuk mengamat-amati Sang Pangeran.

Akan tetapi sekali ini Sang Pangeran bermalam di kuil, tentu saja tidak mungkin bagi mereka untuk bermalam di kuil itu juga.

Maka mereka berpencaran dan ada juga yang bermalam di tempat terbuka di belakang kuil, atau di rumah penduduk di sekitar kuil itu.

Pada hari kedatangan Sang Pangeran di Kuil Hok-te-kong itu, seperti biasa banyak pula orang datang bersembahyang.

Memang kuil itu amat terkenal "manjur", yaitu banyak permintaan para pemujanya tercapai setelah bersembahyang di kuil itu!

Dan setelah tercapai apa yang diminta mereka lalu membayar "kaul"

Yaitu semacam janji untuk membalas jasa atau untuk menyatakan terima kasih apabila permintaan mereka terkabul.

Kaul ini berupa sembahyang besar-besarnya, membakar segala macam harta kekayaan berupa tiruan dari kertas yang dimaksudkan agar "di sananya"

Dapat menjadi barang berharga sungguh-sungguh untuk memberi sumbangan kepada yang telah mengabulkan permintaan mereka!

Bahkan sampai jaman sekarang pun masih ada kepercayaan semacam itu!

Tentu saja dengan bermacam cara, sesuai dengan tradisi dan agama masing-masing.

Dan semua ini jelas memperlihatkan betapa lemahnya kita manusia ini.

Melihat betapa diri sendiri ini kosong dan lemah, tidak ada apa-apanya, melihat pula akan kehidupan yang menimbulkan rasa takut, didorong pula oleh keinginan-keinginan untuk mengejar kesenangan-kesenangan baik kesenangan jasmani maupun rohani, maka kita yang merasa tidak berdaya ini lalu mencari pegangan!

Kita lalu membayangkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi itulah yang kita jadikan sasaran untuk membantu dan menolong kita, baik dalam mencapai kesenangan lahiriah maupun batiniah.

Pikiran lalu mereka-reka menurut kepercayaan masing-masing, menurut tradisi ribuan tahun lamanya.

Dibuatlah arca-arca, patung-patung, benda-benda keramat dan dipujanya sebagai tempat yang dihuni oleh sesuatu yang kita anggap lebih tinggi daripada kita itu.

Timbul sebutan dewa-dewa, malaikat-malaikat, roh-roh suci, dan sebagainya lagi.

Kita bukan hanya memujanya karena rasa takut, karena ingin selamat, ingin terlindung dan sebagainya, akan tetapi juga kita memuja untuk meminta sesuatu, minta bantuan agar sukses dalam usaha perdagangan, agar dapat jodoh, agar dapat anak, agar menang perkara, agar manjur kutuk kita terhadap musuh, dan sebagainya lagi.

Dan kalau "kebetulan"

Apa yang kita minta itu terkabul, kepercayaan kita menjadi semakin tebal dan kita lalu membalas budi dengan cara masing-masing.

Demikianlah keadaannya.

Kalau kita mengamati itu semua, bukankah kita ini sungguh lemah dan bodoh sekali?

Kalau kita melihat dengan sungguh-sungguh bahwa semua itu adalah palsu dan timbul dari rasa takut kita, dari keinginan kita memperoleh segala macam kesenangan, beranikah kita untuk menanggalkan itu semua?

Kalau tidak berani, berarti kita belum melihat kenyataan akan kepalsuan itu.

Di antara para tamu yang datang bersembahyang, terdapat seorang laki-laki setengah tua.

Usianya sudah men-dekati lima puluh tahun, akan tetapi dia masih nampak gagah dan tampan.

Pakaiannya sederhana namun bersih dan rapi, wajahnya yang tampan gagah itu selalu berseri dan mulutnya selalu membayangkan senyuman sehingga orang-orang suka melihatnya.

Tamu ini tidak ikut sembah-yang, hanya mengamati tempat itu dan orang-orang yang bersembahyang dengan sinar mata tajam.

Seorang hwesio tua menyambut pria gagah ini dan pria itu menjura sambil bertanya.

"Apakah Ciong suhu ada di dalam?"

"Dia telah sejak tadi menantimu, Taihiap. Silakan masuk ke ruangan tamu di sebelah kanan."

Pria itu mengangguk dan berjalan masuk.

Ketika dia memasuki ruangan tamu sebelah kanan, seorang hwesio tua yang bertahi lalat di dahinya, yaitu Ciong-hwesio yang menjadi ketua kuil itu, cepat menyambutnya dan segera mereka bercakap-cakap dengan suara lirih.

"Baik sekali engkau cepat datang, Bu-taihiap,"

Kata Ciong-hwesio dengan wajah berseri.

"Pinceng sudah khawatir sekali karena menurut beberapa orang penyelidik, Ngo-ok sudah nampak berada di kota ini pula."

Pria gagah itu memang bukan lain adalah Bu Seng Kin atau Bu-taihiap, pendekar terkenal itu.

Kita sudah mengenal pendekar ini sebagai ayah kandung Ci Sian, dan juga sebagai seorang pendekar yang mempunyai banyak isteri.

Seperti telah diceritakan dalam bagian depan, Bu Seng Kin dan keluarganya merasa terpukul batinnya dan merasa malu ketika pinangan mereka untuk menjodohkan puteri Bu Seng Kin dan Nandini, Yaitu Bu Siok Lan, dengan Kao Cin Liong, ditolak mentah-mentah dan secara yang kasar oleh keluarga Kao.

Penolakan ini tentu saja mendatangkan perasaan marah dan dendam di pihak keluarga Bu, akan tetapi pada saat terjadi penolakan, tentu saja Bu Seng Kin tidak berani untuk memperlihatkan kemarahannya.

Penolakan ini pula yang menambah perasaan anti di dalam hati keluarga Bu terhadap istana.

Memang sejak dahulu mereka itu tidak suka kepada kerajaan penjajah, apalagi kini mereka merasa dihina oleh seorang jenderal muda dan keluarganya, maka sikap mereka yang tidak suka terhadap Kerajaan Mancu makin menebal.

Apalagi di situ terdapat Nandini, Puteri Nepal yang pernah menjadi Panglima Nepal dan dikalahkan oleh pasukan-pasukan kerajaan.

Puteri ini membujuk-bujuk kepada suaminya untuk tidak tinggal diam dan membangkitkan jiwa patriot Bu Seng Kin untuk menentang pemerintah penjajah.

Inilah sebabnya maka Bu Seng Kin atau Bu-taihiap diam-diam bergabung dengan para pendekar yang diam-diam menentang dan memusuhi Kerajaan Mancu.

Dan dalam hal ini, Bu-taihiap memperoleh teman-teman yang baik, yaitu dari golongan Siauw-lim-pai yang kini secara terang-terangan dimusuhi oleh Kaisar Yung Ceng.

Para hwesio pengurus Kuil Hok-tekong adalah hwesio-hwesio yang condong berpihak kepada Siauw-lim-pai dan hal ini tidaklah aneh karena Ciong-hwesio yang menjadi ketua kuil itu adalah anak murid Siauw-lim-pai pula.

Maka terjadilah pertemuan antara Bu-taihiap dan Ciong-hwesio itu, yang dilakukan dengan rahasia.

"Hemm, mereka sudah muncul? Tentu mereka tidak berani turun tangan di siang hari. Malam nanti aku akan siap menghadapi mereka, harap Ciong-suhu jangan khawatir. Bahkan peristiwa ini amat kebetulan sekali. Kalau di sini terjadi penyerangan dari luar, dan ketika kami menghadapi mereka, maka dengan mudah Ciong-suhu akan dapat melarikan Pangeran tanpa ada yang menduga kalau Ciong-suhu yang melakukannya."

Mereka lalu bicara bisik-bisik mengatur siasat dan rencana selanjutnya.

Mereka samasekali tidak tahu bahwa di antara para tamu yang bersembahyang itu terdapat seorang nenek bongkok yang juga bersembahyang dan mulutnya berkemak-kemik minta berkah, dengan terbongkok-bongkok, nenek itu membakar kertas dan berjalan masuk ke ruangan dalam kuil sambil menengok ke kanan kiri, mencari-cari.

Seorang hwesio cepat menghampiri dan menegur.

"Hei, Nenek, engkau hendak ke manakah? Tidak diperkenankan masuk ke dalam...."

"Ah, Siauw-suhu, aku ingin bertemu ketua kuil...., aku ingin menghaturkan terima kasih karena cucuku telah terkabul permintaannya dan memperoleh seorang anak laki-laki. Aku ingin Ciong-hwesio memilihkan nama untuk cucu buyutku itu...."

Dan nenek itu memaksa masuk terus.

"Tapi.... Ciong-suhu sedang sibuk...."

"Ahh, apa sukarnya memberikan nama saja? Biarlah aku mengganggu sebentar, beliau tentu tidak akan marah. Di manakah beliau?"

"Tidak boleh, nanti pinceng mendapat marah...."

Hwesio muda itu hendak menghalang, akan tetapi dia merasa tidak enak juga untuk berkeras terhadap seorang nenek dan nenek itu kini sudah mendekati ruangan tamu di mana Ciong-hwesio masih bercakap-cakap dengan Bu Seng Kin.

Mendengar ribut-ribut di luar kamar tamu itu, Ciong-hwesio memberi isyarat kepada Bu-taihiap, lalu membuka pintu dan berteriak.

"Ada apakah ribut-ribut di situ?"

Dan diam-diam dia merasa terkejut dan curiga melihat seorang nenek tua renta sedang berbantahan dengan seorang hwesio, agaknya Si Nenek hendak memaksa masuk.

"Maaf, Suhu, nenek ini nekat saja hendak menghadap Suhu, katanya hendak minta diberi nama untuk cucu buyutnya,"

Melihat Ciong-hwesio, nenek itu cepat menghampiri dan menjatuhkan dirinya berlutut.

"Mohon kemurahan hati Losuhu.... karena kami sekeluarga sudah berjanji, maka setelah cucu saya mela-hirkan, kami sekeluarga mengharap agar Losuhu memberikan sebuah nama untuk anak itu."

"Omitohud.... kiranya demikian?"

Hwesio tua itu berkata halus, menarik napas panjang, lalu melanjutkan.

"Beri saja nama Tiong Gi."

"Terima kasih, terima kasih, Losuhu.... kata nenek itu dengan gembira sambil memberi hormat dan matanya mengerling ke arah pintu kamar tamu dari mana ia dapat melihat Bu-taihiap yang duduk di bangku dan memandang keluar dengan sikap tidak sabar karena gangguan itu. Setelah menghaturkan terima kasih berkali-kali, dan matanya yang tua itu kembali memandang ke kanan kiri seperti biasa sikap orang tua yang pikun dan ingin tahu segala, nenek itu lalu melangkah ke dalam! Hwesio muda itu cepat menghadang.

"Eh, engkau hendak ke mana, Nek?"

"Mau keluar, ke mana lagi....?"

Tanya nenek itu dengan sikap pikun dan ia terus saja berjalan tanpa mempedulikan orang lain sehingga ia sampai di pintu tembusan dan menjenguk ke dalam.

Akan tetapi sekali ini Ciong-hwesio sendiri yang melangkah maju dan memegang lengan nenek itu.

Lengan yang lemah tanpa tenaga, pikirnya dan dia melepaskan kembali pegangannya.

"Nek, jalan keluar bukan ke sana!"

Hwesio muda itu lalu memberi petunjuk dan sekali ini nenek itu keluar dari dalam kuil, lalu terbongkok-bongkok berjalan ke jalan raya, mulutnya berkali-kali membisikkan nama "Tiong Gi....!"

Akan tetapi ketika nenek itu telah tiba di tempat yang jauh dari kuil itu dan ia sudah merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia lalu memasuki sebuah rumah kecil dan sikapnya menjadi berbeda sama sekali.

Gerakannya sigap ketika dia masuk ke dalam rumah itu dan ketika ia disambut oleh seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, ia lalu mengeluh.

"Ah, sampai lelah punggungku harus kutekuk terus! Jelas, orang she Bu itu berada di sana, sedang berunding dengan ketua kuil!"

"Dan engkau tidak melihat bayangan Pangeran?"

Tanya laki-laki tinggi besar itu.

"Tidak ada, akan tetapi aku yakin dia berada di dalam sebuah kamar. Tidak ada jalan lain, kita harus berusaha memasukinya malam ini."

Laki-laki tinggi besar itu mengangguk.

"Memang kupikir juga begitu. Akan terjadi keributan malam ini di kuil."

Tak lama kemudian, laki-laki tinggi besar dan seorang wanita yang cantik keluar dari rumah itu dan memanggil pemilik rumah yang mereka sewa selama dua hari.

Nenek itu tidak nampak lagi dan setelah mereka berdua pergi, seorang hwesio datang ke situ dan bertanya-tanya tentang seorang nenek.

Akan tetapi tidak ada seorang pun yang tahu dan pemilik rumah itu hanya memberi tahu bahwa yang menyewa rumahnya adalah seorang laki-laki tinggi besar dan isterinya yang cantik.

Tentu saja hwesio itu segera memberi laporan kepada ketuanya, dan Ciong-hwesio mengerutkan alisnya.

Dia memang sudah merasa curiga kepada nenek tadi, akan tetapi karena nenek itu sudah hilang dan tidak ada yang mengetahuinya, dia pun hanya memesan kepada anak buahnya agar malam itu mereka berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan.

Peristiwa bermalamnya Pangeran di kuil itu memang merupakan hal yang kebetulan dan sama sekali tidak diduga-duga orang.

Semenjak orang-orang kang-ouw mendengar bahwa Pangeran Mahkota pergi seorang diri, banyak yang membayanginya, banyak pihak hendak mengganggunya, akan tetapi ada pula yang melindunginya sehingga pihak yang hendak mengganggunya masih ragu-ragu.

Akan tetapi, seperti seekor lalat memasuki sarang laba-laba, Pangeran itu dengan kehendak sendiri masuk ke dalam kuil bahkan minta bermalam di situ, tidak tahu bahwa kuil itu adalah sarang dari orang-orang yang tidak suka kepada kerajaan ayahnya!

Bahkan orang-orang Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang banyak menaruh dendam kepada ayahnya.

Juga para pelindungnya tidak ada yang mengira bahwa ketua kuil itu adalah bekas murid Siauw-lim-pai pula sehingga mereka enak-enak saja dan mengira bahwa Pangeran itu berada di tempat yang aman.

Padahal, sesungguhnya Pangeran itu seperti seekor anak domba yang memasuki guha srigala!

Malam itu tidak terang bulan.

Malam yang cerah dan indah sekali, seolah-olah tidak akan pernah terjadi hal-hal yang buruk.

Lewat senja, tidak seperti biasanya, Kuil Hok-te-kong telah menutupkan pintunya.

Baru saja pintu itu ditutup, terdengar ketukan pada pintu itu.

Setelah ketukan-ketukan itu diulang, seorang hwesio berkata dari balik pintu.

"Malam ini kami tidak menerima tamu, karena kami sedang mengadakan upacara sembahyang yang penting. Harap suka kembali besok saja!"

Akan tetapi, dari luar pintu terdengar suara yang besar dan parau.

"Saudara, pinceng bukanlah tamu hendak bersembahyang, melainkan dua orang saudara yang ingin mohon bertemu dengan Ciong-losuhu."

Mendengar ucapan ini, lubang di tengah-tengah pintu itu terbuka dan sebuah mata, mata hwesio penjaga, mengintai dari dalam.

Ketika mata itu melihat bahwa yang berdiri di depan pintu itu adalah dua orang hwesio, yang seorang lagi agak kecil, dia merasa heran.

"Ji-wi siapakah dan dari mana? Ada keperluan apa hendak menghadap Ciong-suhu?"

Hwesio yang tinggi besar itu memandang ke kanan kiri dan belakang, kemudian menjawab dengan suara berbisik.

"Kami adalah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai yang dikejar-kejar, mohon perlindungan!"

"Omitohud....!"

Mata di balik lubang itu terbelalak.

"Sebentar, pinceng harus melaporkan dulu kepada Suhu!"

Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan Ciong-hwesio sendiri yang menyambut mereka.

Kedua orang hwesio itu memberi hormat kepada Ciong-hwesio yang dibalas oleh ketua kuil Hok-te-kong itu.

"Mari silakan, mari kita bicara di lian-bu-thia."

Setelah tiba di ruangan berlatih silat, dua orang hwesio ini melihat betapa di situ telah berkumpul banyak hwesio dan mereka semua memandang dengan mata penuh selidik.

Ciong-hwesio sendiri juga memandang penuh selidik.

Dia memang jarang pergi ke Siauw-lim-pai dan tentu saja tidak banyak mengenal hwesio Siauw-lim-pai, akan tetapi kalau memang benar mereka ini hwesio-hwesio Siauw-lim-pai yang dikejar-kejar tentara pemerintah, tentu saja dia harus membantu mereka.

Hwesio tinggi besar itu bermuka hitam sekali dengan mata lebar, nampak gagah, sedangkan hwesio yang lebih kecil bermuka kuning dan kasar sehingga ketampanannya lenyap oleh kekasaran mukanya, juga matanya agak juling.

"Kalian berdua dari kuil mana? Dan mengapa malam-malam tiba di kota ini?"

Ciong-hwesio bertanya dan penuh curiga.

"Kami adalah anak murid Siauw-lim-pai yang datang dari Kuil Siauw-lim-pai yang dibakar oleh Kaisar lalim. Kami dikejar-kejar dan berhasil melarikan diri sampai di sini, mendengar bahwa Ciong-suhu adalah bekas anak murid Siauw-lim-pai pula, maka kami mohon perlindungan dan mengharap agar dapat diterima di kuil sini,"

Kata hwesio yang ber tubuh kecil dengan suara mohon dikasihani.

"Omitohud...., sudah tentu saja pinceng tidak akan menolak. Akan tetapi, di dalam keadaan genting seperti ini kita harus bersikap hati-hati!. Coba Ji-wi perlihatkan beberapa jurus Siauw-lim-pai agar pinceng tidak ragu-ragu lagi bahwa Ji-wi benar-benar murid Siauw-lim-pai."

Hwesio bertubuh kecil itu memandang hwesio tinggi besar muka hitam.

"Silakan Suheng."

"Baik, saya akan mainkan Pek-ho-kun dari Siauw-lim-pai!"

Katanya dan segera hwesio muka hitam ini bersilat.

Ternyata gerakannya cukup gesit dan mantap, dan karena tubuhnya memang tinggi besar, maka dia nampak gagah.

Melihat gerakan ini, diam-diam Ketua Hok-te-kong itu girang sekali.

Orang ini merupakan tenaga bantuan yang boleh diandalkan, pikirnya.

Setelah selesai bersilat, hwesio muka hitam itu berhenti dan tidak nampak dia terengah-engah, tanda bahwa dia sudah menguasai pula ilmu pernapasan dengan baik.

"Sekarang saya hendak mainkan Lo-hon-kun!"

Kata hwesio bertubuh kecil dan dia pun cepat bergerak dan bersilat.

Kembali Ciong-hwesio gembira sekali.

Si Kecil ini gerakannya luar biasa gesitnya, dan pukulan-pukulannya sudah matang, padahal Lo-han-kun bukan ilmu silat yang sembarangan saja.

Ternyata dua orang ini benar-benar murid Siauw-lim-pai yang tergolong baik ilmu silatnya, agaknya tidak selisih banyak dengan kepandaiannya sendiri.

"Bagus! Ji-wi memang murid-murid Siauw-lim-pai. Nah, dengarlah. Adanya kami bercuriga dan bersikap hati-hati adalah karena kita semua menghadapi urusan yang besar sekali. Mari, mari kita bicara di dalam dan pinceng mengharapkan bantuan Ji-wi untuk melakukan penjagaan."

Hwesio tua itu mengajak dua orang tamunya masuk di dalam dan memberitahukan segala urusannya dengan suara bisik-bisik.

Kedua hwesio pendatang baru itu mengangguk-angguk dan nampak serius sekali.

Mereka adalah musuh-musuh kerajaan, tentu saja mereka bersiap-siaga untuk membantu teman seperjuangan, apalagi mengenai urusan yang demikian pentingnya.

"Akan tetapi, Ciong-losuhu, kalau memang ada musuh-musuh Pangeran yang hendak membunuh Pangeran itu, mengapa pula pendekar yang membantu kita itu.... siapa namanya, Bu-taihiap? Kenapa dia harus menentang musuh-musuh Pangeran itu?"

Tanya hwesio kecil yang bernama Tan Tek Hosiang.

"Omitohud...., memang sebaiknya kalau pinceng beri tahu. Pertama, kalau sampai Pangeran terbunuh di sini, tentu kita semua akan celaka, apalagi kalau ketahuan bahwa pinceng adalah murid Siauw-lim-pai. Ke dua, Pangeran ini bukan orang jahat, melainkan seorang yang bijaksana sekali, walaupun dia adalah seorang Pangeran Mancu. Ke tiga, dengan adanya penyerbuan kaum sesat itu, terbuka kesempatan bagi kita untuk menculik Pangeran itu dan tuduhan tentu akan jatuh kepada kaum sesat yang melakukan penyerbuan untuk membunuh Pangeran.

"Untuk apa kita menculik Pangeran penjajah itu?"

Tanya Lim Kun Hosiang, Si Tinggi Besar muka hitam.

"Untuk membalas kematian saudara-saudara kita yang dibunuh Kaisar, kenapa kita tidak membunuh saja dia?"

"Omitohud.... semoga Sang Buddha memberi penerangan pada batinmu yang gelap oleh dendam pribadi!"

Kata hwesio tua itu dengan alis berkerut.

"Bukan urusan kita para hwesio soal bunuh-membunuh itu! Pula, kita ingin menahan Sang Pangeran sebagai sandera untuk memaksa Kaisar agar menghentikan permusuhannya kepada Siauw-lim-pai, dan agar membebaskan para pendekar yang ditahan."

Dua orang hwesio itu mengangguk-angguk.

"Baiklah, kami berdua akan membantu dan malam ini kami akan menjaga dengan penuh kewaspadaan agar jangan sampai ada yang dapat mengganggu Sang Pangeran."

Malam ini amatlah sunyi di Kuil Hok-te-kong.

Nampaknya saja sunyi, akan tetapi sebetulnya, semua hwesio dikerahkan untuk melakukan penjagaan, terutama sekali di sekitar kamar di mana Pangeran tinggal.

Dua orang hwesio tamu juga berjaga-jaga di sekitar kamar itu dan melihat silat kedua orang ini, Ciong-hwesio bahkan memberi tugas kepada mereka berdua untuk melakukan penculikan terhadap Sang Pangeran itu dengan dalih menyelamatkannya dan melarikannya ke luar kuil di mana sudah menanti kuda di belakang kuil, sedangkan hwesio-hwesio lain hanya membantu Bu-taihiap, Kalau-kalau pendekar itu akan kewalahan menghadapi pihak lawan yang diperkirakan akan kuat sekali, apalagi melihat hadirnya Ngo-ok di kota itu.

Anehnya, yang tidak sunyi malah di dalam kamar Pangeran Kian Liong!

Pangeran ini menemukan kitab syair kuno di dalam kamar tamu itu, syair tulisan Li Po yang termasyhur.

Kini dengan suara merdu, dengan penuh perasaan Pangeran muda itu (Lanjut ke

Jilid 40) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 40 membaca syair kuno dengan tenangnya, suaranya memecahkan kesunyian malam itu!

Sungguh aneh, kuil yang biasanya kalau malam terdengar suara orang membaca liam-keng (nyanyi pujaan keagamaan) diiringi ketukan kayu yang nyaring kini tidak terdengar, dan sebaliknya terdengar suara orang membaca sajak.

Semua orang berhati tegang, dan orang yang menjadi pusat perhatian dan ketegangan itu malah enak-enak dengan tenangnya membaca sajak!

Akan tetapi, kalau para hwesio itu sempat mengintai ke dalam kamar itu, tentu mereka akan terkejut dan terheran-heran.

Mereka mendapat perintah untuk berjaga tanpa mengeluarkan suara, maka tak seorang pun di antara mereka yang berani meninggalkan pos penjagaan, apalagi untuk mengintai kamar Pangeran yang dijaga ketat itu.

Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh kedua orang hwesio pendatang baru itu dan sungguh perbuatan mereka amat luar biasa!

Dengan gerakan amat hati-hati, seperti dua bayangan setan saja, mereka itu menyelinap dan memasuki kamar Pangeran itu melalui atas genteng di mana mereka memang bertugas jaga.

Mereka sebagai orang penting dalam urusan penculikan Pangeran ini memang berjaga di atas sedangkan semua hwesio lainnya disuruhnya berjaga di bawah.

Melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu ada dua orang memasuki kamarnya, tentu saja Sang Pangeran terkejut bukan main dan sebelum dia sempat mengeluarkan suara, orang tinggi besar itu telah menekan pundaknya, membuat tubuhnya lemas dan dia tidak mampu bersuara, sedangkan orang yang tubuhnya kecil terus menyambar kitab syair kuno itu dan melanjutkan pembacaan sajak!

Pangeran Kian Liong memandang bengong.

Hwesio bertubuh kecil itu dapat membaca sajak itu dengan suara yang walau tidak persis sekali, mirip sekali dengan suaranya sendiri, dan lebih lantang!

Sementara itu, hwesio yang tinggi besar itu sudah mendekatkan mulutnya kepada telinganya dan berbisik, membuat Pangeran itu menjadi semakin terheran-heran.

"Tenanglah, Pangeran.... Paduka terancam bahaya maut.... kami berdua datang untuk menyelamatkan Paduka. Hwesio-hwesio itu hendak menculik Paduka, dan ada penjahat-penjahat hendak membunuh Paduka.... hamba tidak dapat bicara banyak, akan tetapi harap Paduka menurut saja. Mengertikan dan percayakah Paduka kepada kami?"

Biarpun terbelalak dan terheran-heran memandang kepada dua orang hwesio aneh ini, namun Pangeran Kian Liong yang sudah banyak mengalami hal aneh dan banyak bertemu dengan orang-orang kang-ouw yang wataknya luar biasa, mengangguk.

Tentu saja dia percaya, karena kalau tidak percaya, mau apa lagi?

Dua orang ini kalau hendak berniat buruk, tentu tidak akan banyak bicara lagi dan tentu akan langsung saja membunuhnya.

Perlu apa mereka ini membohonginya?

"Bagus,"

Kata atau bisik hwesio tinggi besar muka hitam itu dengan lirih, sedemikian lirihnya sehingga tertutup sama sekali oleh suara rekannya yang membaca sajak dengan suara Sang Pangeran dengan lantangnya itu.

"Harap Paduka dengar baik-baik. Teman hamba ini akan menyamar menjadi Paduka, dan Paduka akan dirias agar berobah menjadi dia, paduka dan dia bertukar tempat, jadi yang diculik nanti adalah dia, bukan Paduka. Mengertikah? Selanjutnya Paduka ikut dan menurut saja semua permintaan hamba."

Kembali Sang Pangeran mengangguk dan tersenyum, karena dia mulai merasa tertarik dan gembira menghadapi pengalaman baru yang aneh ini.

Dan kini giliran kedua orang hwesio itulah yang terheran-heran, juga kagum.

Pangeran ini, dalam keadaan bahaya, setelah diberi tahu akan keadaan-nya, malah tersenyum dan nampak gembira!

Dan erjadilah kini hal yang lebih aneh lagi.

Setelah menerima bisikan Si Tinggi Besar itu yang membebaskan totokannya, Kini hwesio kecil itu menyerahkan kitab syair kepada Pangeran dan atas isyarat hwesio tinggi besar, Pangeran itu melanjutkan bacaan sajak hwesio bertubuh ramping itu dengan suara gembira dan lantang!

Dan kini dia melihat hal yang aneh.

Hwesio bertubuh kecil itu meraba-raba kepalanya dan....

gundulnya tanggal dan di bawah topeng gundul itu nampak rambut seorang wanita yang hitam halus!

Kiranya hwesio bertubuh ramping yang pandai meniru suaranya dan pandai membaca sajak itu adalah seorang wanita yang menyamar!

Pangeran ini merasa semakin heran ketika wanita itu meraba-raba mukanya yang kembali ada topeng seperti kulit yang copot dari muka itu dan....

nampaklah wajah yang kulitnya putih kemerahan, wajah seorang wanita cantik!

Dan mata itu kini tidak lagi juling!

Wanita itu mendekatinya sambil berbisik.

"Maaf, Pangeran!"

Dan mulailah wanita itu mendadaninya.

Pangeran Kian Liong hanya mencium bau harum keluar dari rambut wanita itu ketika wanita itu memakaikan topeng kepala gundul dan wajah hwesio itu "Sayang....,"

Kata wanita itu lirih.

"Paduka tentu tidak dapat membuat mata Paduka juling...."

Tanpa menghentikan suara bacaan sajaknya, Pangeran Kian Liong mencoba menjulingkan matanya, dan wanita cantik itu tersenyum geli, nampak giginya yang putih seperti mutiara.

"Lumayan juga,"

Katanya.

"Akan tetapi malam ini tidak perlu Paduka! menjulingkan mata, hanya kalau perlu saja. Dan ada teman hamba ini yang akan melindungi Paduka."

Tak lama kemudian, selesailah Pangeran itu didandani dan biarpun dalam keadaan tergesa-gesa itu dia tidak persis sekali, namun memang mirip dengan hwesio juling tadi!

"Sekarang maafkan hamba, terpaksa hamba harus mengganti pakaian Paduka"

Dan wanita itu pun menanggalkan jubah hwesionya yang besar dan nampaklah bahwa di bawah jubah itu ia memakai pakaian dalam wanita yang tipis sehingga nampak bentuk tubuhnya yang padat dan menggairahkan.

Pangeran Kian Liong bukan seorang yang mata keranjang, akan tetapi dia pun seorang jujur, maka dia tidak membuang muka melainkan memandang dengan sinar mata memancarkan kekaguman yang jujur tanpa ada kekurangajaran, membuat wanita itu menjadi merah kedua pipinya.

Dengan cepat wanita itu lalu membantu temannya menanggalkan pakaian luar Pangeran itu, dan ia pun memakai pakaian Pangeran itu, juga topinya dan dari saku baju dalamnya dikeluarkanlah sebuah kantong terisi bermacam-macam perabot untuk menyamar.

Di depan cermin yang terdapat di kamar itu, dengan cekatan sekali wanita itu melakukan sesuatu dengan mukanya, rambutnya dan....

ketika ia kemudian menghadapi Sang Pangeran, Pangeran Kian Liong hampir berseru saking kagetnya melihat wajahnya pada wanita itu.

Begitu serupa!

Kini mereka berdua memakaikan jubah hwesio itu pada Sang Pangeran dan kini mereka bertukar sepatu dan lengkaplah sudah pertukaran itu!

"Cepat, ada suara di luar....!"

Tiba-tiba Pangeran palsu itu berbisik. Temannya, hwesio yang tinggi besar bermuka hitam itu mengangguk.

"Jangan mengeluarkan suara, Pangeran,"

Kata Si Tinggi Besar dan tiba-tiba dia sudah mengempit tubuh Pangeran yang sudah berobah menjadi hwesio itu, dibawa melayang naik melalui genteng dan di lain saat mereka telah tiba di atas wuwungan, mendekam di balik wuwungan.Memang terdengar suara orang di bagian depan, dan semua hwesio mendengar suara orang bicara itu, tapi mereka, tanpa adanya perintah, tidak ada yang berani keluar, melainkan menanti dengan hati penuh ketegangan.

"Eh, ada suara ribut apa di luar?"

Terdengar suara "pangeran"

Itu dari dalam kamar.

Semua orang terkejut, tidak ada yang menjawabnya dan tiba-tiba lilin di dalam kamar itu dipadamkan.

Mereka semua berlega hati.

Agaknya Sang Pangeran merasa lelah dan hendak tidur, pikir mereka.

Suara orang bicara itu datang dari ruangan tengah kuil.

Terdengar suara seorang pria tertawa mengejek, suaranya lantang sekali.

itulah suara Bu Seng Kin, atau Bu-taihiap yang memang telah berjaga-jaga dan begitu muncul bayangan lima orang yang berkelebat cepat, dia pun meloncat keluar dari tempat persembunyiannya bersama seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, seorang di antara isteri-isterinya yang terlihai.

Memang pendekar ini yang maklum akan kehebatan lima orang Ngo-ok, telah mengajak isterinya yang dapat diandalkan ini, untuk membantunya.

"Ha-ha-ha, sekarang lengkaplah sudah! Kelima orang Ngo-ok sudah berkumpul di sini!"

Katanya sambil tertawa.

Memang Bu-taihiap ini merupakan musuh lama dari Ngo-ok.

Dahulu, ketika dia merantau bersama mendiang Sim Loan Ci, yaitu isterinya atau ibu kandung dari Ci Sian, dia pernah bentrok dan dikeroyok oleh tiga orang di antara Ngo-ok, yaitu Twa-ok, Ji-ok dan Sam-ok.

Tiga orang dari Ngo-ok itu memang lihai bukan main sehingga dalam pertempuran itu, Sim Loan Ci yang tidak sehat badannya terluka dan terpaksa Bu-taihiap membawa lari isterinya, dikejar-kejar oleh tiga orang dari Ngo-ok itu.

Dan kemudian, baru-baru ini ketika Pangeran Kian Liong hen-dak dilarikan Su-ok dan Ngo-ok, dua orang terakhir dari Im-kan Ngo-ok, Bu-taihiap mempermainkan mereka berdua yang baru di jumpainya pada saat itu.

Memang dahulu, ketika pertama kalinya Bu-taihiap bertanding melawan tiga orang pertama dari Im-kan Ngo-ok, dua orang terakhir ini tidak ada sehingga baru pertama kali itulah mereka saling bertemu, walaupun tentu saja mereka sudah saling mengenal nama.

"Hemm, kiranya orang she Bu masih hidup dan ikut menjaga di sini! Bagus, dengan demikian kami dapat sekali tepuk...."

"He, orang she Bu mata keranjang, engkau berganti isteri lagi?"

Su-ok mengejek.

"Ini isteri barumu, ya? Eh, engkau memang pandai pilih perempuan, hemm, cantik juga isteri barumu ini...."

"Tutup mulutmu yang busuk!"

Wanita itu membentak dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke depan dan tangannya menampar ke arah muka Su-ok.

Si Gendut Pendek ini tertawa dan menangkis, memandang rendah.

"Duk! Plakk...."

Tubuhnya terpelanting dan mukanya bengkak terkena tamparan itu. Si Gendut mengaduh-aduh dan merasa terkejut bukan main.

"Hi-hi-hik, matamu sudah buta barangkali, Sute? Lihat baik-baik siapa wanita itu! Lupakah kau kepada Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu dari Lembah Suling Emas?"

Ji-ok mengejek adik angkatnya yang ke empat.

Tadinya Su-ok merasa penasara dan malu sekali bahwa sekali gebrakan saja dia telah kena ditampar oleh isteri baru Bu-taihiap itu.

Kini dia memandang lebih jelas dan dia pun mengenal wanita ini yang pernah dijumpainya, maka rasa penasaran di hatinya agak berkurang, terganti oleh perasaan marah.

Kalau tadi dia sampai kena ditampar adalah karena dia tidak mengenal wanita itu dalam cahaya penerangan yang tidak begitu terang dalam ruangan itu sehingga dia memandang rendah dan tidak menjaga diri baik-baik.

Dia tahu bahwa ilmu kepandaian Bu-taihiap memang hebat dan dia bukan lawan pendekar itu, akan tetapi kalau hanya melawan Cui-beng Sian li ini, kiranya dia tidak akan kalah atau selisih antara tingkat mareka tidak jauh.

"Su-ko, mari kubantu engkau menangkap perempuan ini!"

Kata Ngo-ok dan Si Jangkung ini secara tiba-tiba saja sudah berkelebat di depan wanita itu.

Demikian cepat gerakannya sehingga wanita dari Lembah Suling Emas itu merasa terkejut juga.

"Heh-heh, Ngo-te, kau membantuku ataukah aku yang harus membantu engkau menangkap wanita ini untuk kemudian kau perkosa?, Ha-ha!"

Kata Su-ok.

Mendengar ucapan ini, Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu menjadi marah bukan main.

Sambil mengeluarkan teriakan nyaring ia sudah menerjang ke depan dan menyerang Su-ok dengan pukulan tangan yang mengandung sin-kang kuat sekali sehingga tangan itu mengeluarkan suara bercuitan dan menjadi kuat tidak kalah dengan senjata baja.

Su-ok maklum akan kelihaian nyonya ini maka dia pun segera mengelak dan balas menyerang.

Ngo-ok yang merasa yakin bahwa sekali ini dia akan memperoleh korban baru yang istimewa karena nyonya ini bukan wanita sembarangan, sudah membantu temannya.

Tang Cun Ciu tidak menjadi gentar dan wanita ini sudah memainkan ilmu silat yang amat diandalkannya yaitu Pat-hong Sin-kun.

Melihat betapa dua orang adik angkat mereka menyerang wanita itu, Sam-ok tertawa dan berkata dengan nada suara mengejek.

"Bu Seng Kin, sekali ini engkau tidak akan dapat lolos lagi dari tangan kami!"

"Begitukah? Boleh coba!"

Jawab Bu Seng Kin sambil tersenyum.

Dia sudah sering berhadapan dengan tiga orang datuk sesat ini dan dia tahu benar betapa lihainya mereka.

Bahkan belasan tahun yang lalu, dia selalu terdesak oleh mereka bertiga ini.

Akan tetapi selama belasan tahun itu dia telah meningkatkan kepandaiannya dan kini dia ingin memperlihatkan kepada mereka bahwa sekarang dia tidak akan kalah lagi.

Hanya keadaan isterinya yang membuat dia khawatir.

Dia tahu bahwa kalau hanya menghadapi seorang lawan, isterinya masih cukup kuat, akan tetapi dikeroyok dua, berbahaya sekali.

Twa-ok, Ji-ok, dan Sam-ok memang amat membenci Bu Seng Kin yang me-rupakan musuh lama.

Kini melihat bahwa pendekar ini menghalangi niat mereka untuk membunuh pangeran mahkota, yang kepada mereka diperintahkan oleh seorang pembesar bekas kaki tangan Sam-thai-houw, mereka menjadi marah sekali.

Mereka sudah mengambil keputusan untuk sekali ini membunuh Bu Seng Kin dan mereka merasa yakin akan sanggup melakukannya.

Biarpun tingkat kepandaian pendekar ini sejak dahulu sudah lebih tinggi daripada seorang di antara mereka.

Hal ini sudah seringkali terjadi belasan tahun yang lalu ketika mereka bertiga mengejar-ngejar pendekar ini.

Tentu pendekar yang mereka benci ini sama sekali tidak tahu bahwa mereka bertiga pun sudah meningkatkan ilmu kepandaian mereka, bahkan jauh lebih hebat dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu.

Ji-ok yang bertopeng tengkorak itu membuka serangan.

Mata di balik tengkorak itu yang seperti mata setan, berkilat-kilat menakutkan, dan tiba-tiba dari balik tengkorak itu terdengar suara yang nyaring sekali, suara yang aneh karena lengking ini seperti suara orang tertawa akan tetapi juga seperti suara orang menangis, dan tiba-tiba ia sudah meloncat ke depan, kedua tangannya yang bergerak dengan aneh karena kedua jari telunjuknya menuding sedangkan jarijari lain digenggam.

Akan tetapi dari gerakan jari-jari telunjuk ini menyambar hawa dingin yang kuat dan mengandung ketajaman seperti pedang.

"Srattt....! Srattt....!"

Bu-taihiap terkejut bukan main dan dia mengenal serangan maut, maka cepat dia mengelak dan balas menendang untuk menahan desakan wanita itu.

Dia tidak tahu bahwa orang ke dua dari Im-kang Ngo-ok itu ternyata telah memperoleh ilmu yang dahsyat, yang baru saja dipergunakan untuk menyerangnya, yaitu ilmu Kim-ci (Jari Pedang) yang mengeluarkan hawa dingin dan amat berbahaya itu.

Akan tetapi, karena tingkat kepandaiannya memang lebih tinggi daripada wanita itu, dia tidak merasa gentar dan balas menyerang dengan hebatnya, sungguhpun pukulan-pukulan berat yang mengandung sin-kang kuat sekali sehingga ketika berusaha menangkis pukulan ini, Ji-ok terdorong mundur dan terhuyung.

Sam-ok, orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok akan tetapi yang paling cerdik itu, sudah cepat maju membantu temannya.

Karena maklum akan kehebatan ilmu kepandaian lawan, begitu maju dia pun sudah mengeluarkan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu Thian-te Hong-i (Hujan Angin Bumi Langit), semacam ilmu silat yang dilakukan dengan tubuh berpusing.

Bu Seng Kin cepat meloncat untuk menghindar dan balas menyerang dengan cepat melayani dua orang pengeroyoknya.

Akan tetapi kini Toa-ok sudah terjun ke dalam arena perkelahian pula, kedua tangannya bergerak sembarangan, akan tetapi lengannya dapat mulur panjang dan cengkeraman-cengkeramannya yang dilakukan seperti serangan gorila itu amat berbahaya karena lengan itu mengandung tenaga yang dahsyat.

Maka Bu-taihiap sudah dikeroyok tiga dan terjadilah perkelahian yang amat seru di ruangan itu.

Sementara itu, Su-ok dan Ngo-ok merasa penasaran sekali ketika sampai belasan jurus mereka berdua belum juga mampu menangkap wanita itu, maka Su-ok lalu mengeluarkan ilmunya yang diandalkan yaitu ilmu pukulan Katak Buduk.

Dengan tubuh merendah sampai hampir berjongkok, ia mendorongkan kedua ta-ngannya dan dari tenggorokannya keluar suara berkokok aneh.

Hawa yang dahsyat dan amis menyambar, membuat Tang Cun Ciu terkejut dan meloncat ke belakang, namun tetap saja ia masih terhuyung.

Untuk menyelamatkan diri, wanita ini sudah mencabut pedangnya dan begitu pedang diputar dan tubuhnya menerjang ke depan, nampak gulungan sinar yang amat menyilaukan mata mengurung tubuh Su-ok.

Melihat ini, Ngo-ok menjadi marah dan dia pun sudah berjungkir-balik, lalu menyerang dengan kedua kakinya yang panjang, menendang-nendang ke arah lengan kanan lawan untuk merampas pedang.

Dihadapi oleh dua orang yang mengeluarkan ilmu-ilmu aneh ini, kembali Tang Cun Ciu terdesak hebat.

Keadaan Bun Seng Kin sendiri tidak lebih baik daripada wanita itu.

Dia pun terdesak setelah tiga orang pengeroyoknya mengeluarkan ilmu-ilmu aneh yang hebat itu.

Teringatlah dia akan tugasnya memancing para lawan ini menjauhi kuil dan memberi kesempatan kepada teman-temannya untuk melakukan siasat mereka, yaitu menggunakan kesempatan ribut-ribut itu untuk menculik Pangeran sehingga kelak akan mudah menimpahkan kesalahan kepada para penyerbu ini.

"Ciu-moi, mari ke tempat yang lebih luas!"

Teriaknya dan tiba-tiba Bu-taihiap mengeluarkan seruan nyaring, kedua tangannya menyambar-nyambar dan dia mengeluarkan ilmu pukulan aneh yang hebat.

Tiga orang lawannya terkejut dan untuk menjaga diri, mereka mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh pendekar itu untuk menerjang ke arah Su-ok dan Ngo-ok yang juga mundur untuk menghindarkan serangan dahsyat itu.

Dan mereka berdua, Bu-taihiap dan isterinya lalu meloncat cepat keluar, dari ruangan itu.

"Im-kan Ngo-ok, mari kita lanjutkan pertandingan di luar yang lebih luas, di mana sekali ini aku akan membasmi kalian!"

Teriak Bu Seng Kin.

Im-kan Ngo-ok, yang merasa sudah hampir memperoleh kemenangan itu, tentu saja menjadi penasaran.

Kalau orang she Bu ini tidak ditewaskan lebih dulu, tentu akan sukar bagi mereka untuk melaksanakan perintah untuk membunuh Pangeran.

Maka dengan marah mereka pun mengejar ke depan, yaitu ke pekarangan kuil yang cukup luas, di tempat terbuka dan cuacanya remang-remang karena penerangan yang ada hanya sinar bulan ditambah lampu gantyng yang berada di depan kuil itu.

Namun cukuplah bagi ahli-ahli silat itu yang dalam perkelahian tidak hanya mengandalkan pada mata melainkan juga kepada ketajaman pendengaran mereka.

Setelah Im-kan Ngo-ok tiba di pekarangan luar dari kuil itu, ternyata Bu Seng Kin sudah berdiri saling membelakangi dengan isterinya.

Hal ini berarti bahwa mereka bermaksud untuk bekerja sama menghadapi lima orang lawan itu, karena dengan kedudukan saling membelakangi, berarti mereka dapat saling melindungi dan menghindarkan diri dikepung lawan.

Dan selain itu, juga tempat itu sudah dikurung oleh tujuh orang hwesio yang dipimpin oleh Ciong-hwesio ketua kuil itu sendiri, dan mereka bertujuh itu sudah memegang senjata masing-masing berupa toya atau tongkat panjang.

Melihat ini, Im-kan Ngo-ok tertawa semua.

Bagi mereka, lebih banyak jawan yang maju berarti dapat lebih puas membabat dan membunuh lawan.

Dan tentu saja, selain Bu-taihiap, mereka memandang rendah kepada yang lain-lain, apalagi hwesio-hwesio itu.

"Heh-heh-heh, biarlah aku yang membasmi kerbau-kerbau gundul itu!"

Su-ok terkekeh dan meloncat maju.

"Ihh, lupakah engkau bahwa kepalamu sendiri pun gundul dan engkau pun seorang hwesio gagal?"

Ji-ok mengejek orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok itu.

Akan tetapi Su-ok tidak peduli dan dia sudah bergerak mengamuk kalang-kabut, memukul sana-sini ke arah para hwesio itu.

Ciong-hwesio yang tahu diri, tahu bahwa dia dan teman-temannya, sungguhpun telah memiliki ilmu silat yang luma-yan, namun sama sekali bukanlah lawan Im-kan Ngo-ok, segera memberi isyarat dan mereka bertujuh sudah mengeroyok Su-ok.

Lumayan dapat menahan seorang di antara mereka sehingga Bu-taihiap tidak terlalu berat, pikirnya.

Memang ada benarnya pendapat Ciong Hwesio itu.

Akan tetapi, biarpun kini mereka dapat saling bantu, dikeroyok empat orang dari Im-kan Ngo-ok meru-pakan hal yang amat berat dan berbahaya.

Bu-taihiap dan Tang Cun Ciu tetap saja sibuk sekali menghadapi serangan mereka yang bertubi-tubi dan setiap serangan amat berbahaya itu.

Cun Ciu sudah berusaha agar ia menghadapi Ngo-ok saja, Dan ia selalu memutar tubuh menghadapi lawan ini yang merupakan lawan yang paling ringan di antara tiga orang yang lain.

Dan Bu-taihiap juga diam-diam harus mengakui bahwa kalau dia selama ini meningkatkan kepandaiannya, ternyata musuh-musuhnya juga demikian, bahkan kini mereka memiliki ilmu-ilmu yang aneh sekali.

Cara Ngo-ok bersilat dengan jungkir balik itu membingungkan Cun Ciu sehingga ketika dia mengelak, lalu membabat dengan pedangnya ke arah kedua kaki lawan, hampir saja sebelah kaki lawan yang bergerak aneh dapat menendang pergelangan tangan.

Memang pergelangan tangannya sudah kena tendang, akan tetapi pedang itu sudah dipindahkannya ke tangan kiri dan pedangnya membacok ke arah kaki.

Dan pada saat itu, tiba-tiba saja serangan jari tangan Kiam-ci dari Ji-ok sengaja diselewengkan ke arahnya.

Cun Ciu yang sedang sibuk menghadapi kedua kaki Ngo-ok yang lihai itu, terkejut dan mengelak, lehernya dapat diselamatkan dari sambaran tajam tangan pedang itu, akan tetapi pundaknya kena diserempet hawa yang dingin dan tajam.

Dicobanya untuk menangkis dengan tangan kanan yang tidak memegang pedang, akan tetapi ia kalah cepat dan ia mengeluarkan seruan kaget, pundaknya terasa perih dan berdarah seperti terkena sambaran pedang tajam!

Selagi ia terhuyung, tiba-tiba saja tangan Ngo-ok dari bawah menyambar dan hendak mencengkeram kakinya.

Serangan yang amat berbahaya!

Akan tetapi, Cun Ciu adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan ia pernah melakukan kegemparan besar di dunia kang-ouw dengan mencuri pedang dari istana.

Maka, biarpun pundaknya terluka dan kini tiba-tiba saja tangan Ngo-ok yang berada di bawah itu menyambar untuk menangkap pergelangan kakinya, ia masih dapat menyelamatkan dirinya dengan menarik kakinya itu, lalu langsung kakinya menendang ke arah muka Ngo-ok yang berjungkir balik itu!

Ngo-ok terkejut bukan main, dengan lengannya dia menangkis, akan tetapi dari atas pedang di tangan kiri Cun Ciu menyambar dan membabat ke arah kakinya!

Ngo-ok mengeluarkan teriakan keras dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke belakang dan mukanya berobah agak pucat karena nyaris kakinya terbacok!

Dia maju lagi dengan lebih hati-hati, sedangkan Bu-taihiap sendiri lega hatinya melihat isterinya, akan tetapi dari kanan kiri, Toa-ok dan Sam-ok menyambutnya.

Sementara itu, Su-ok yang dikeroyok tujuh orang hwesio sambil tertawa-tawa mempermainkan tujuh orang hwesio itu.

"Heh-heh-heh, omitohud.... bagaimana kalian berani melawan sucouw kalian? Hayo berlutut dan minta ampun, ha-haha!"

Dan memang orang cebol ini telah membagi-bagi pukulan kepada tujuh orang itu tanpa mereka dapat membalas, sung-guhpun mereka telah menyerang dengan toya mereka.

Semua pukulan toya luput, dan kalaupun ada yang mengenal tubuh Si Cebol, toya-toya itu membalik dan setiap kali Si Cebol berhasil menampar, tentu hwesio-hwesio itu terpelanting dan babak bundas.

Tentu saja Su-ok sengaja mempermainkan mereka, karena kalau dia mempergunakan tenaga sin-kangnya ketika menampar atau memukul, tentu mereka telah tewas sejak tadi.

"Sute, kau ini sudah tua bangka seperti kanak-kanak saja. Hayo cepat bereskan mereka dan bantu kami!"

Ji-ok menegurnya ketika melihat sikap Su-ok, karena mereka berempat memang belum juga mampu merobohkan Bu-taihiap dan Cun Ciu walaupun mereka berempat sudah dapat mendesak.

Pertahanan kedua orang itu cukup kuat dan sukar ditembus.

"Heh-heh-heh, bukankah katamu sendiri bahwa mereka ini adalah rekan-rekanku? Bagaimana aku dapat membunuh mereka? Aku takut dosa dan tidak dapat masuk Nirwana.... ha-ha-ha!"

"Sute, cepat bantu kami!"

Terdengar Toa-ok membentak dan barulah Su-ok tidak berani main-main lagi, maklum bahwa kalau toakonya sudah bicara, maka tentu serius dan tentu akan marah kalau dia berkelakar terus.

"Baik, Toako!"

Katanya dan tiba-tiba dia berjongkok, mengeluarkan pukulan Katak Buduknya, memukul ke arah Ciong-hwesio.

"Wuuuuttt.... dessss....!"

Dan tubuh Su-ok terpental dan terguling-guling seperti sebuah bola ditendang!

Apa yang terjadi?

Su-ok meloncat bangun dan matanya terbelalak memandang kepada seorang hwesio tinggi besar bermuka hitam yang tadi telah menangkisnya.

Bukan main!

Tangkisan itu tidak hanya mampu membuyarkan tenaga ilmu pukulan Katak Buduk, bahkan membuat dia terdorong dan terpelanting keras!

Hwesio muka hitam itu lalu berkata kepada Ciong-hwesio dan yang lain-lain.

"Harap Ciong-suhu dan saudara-saudara lain mundur,"

Ciong-hwesio girang sekali dengan munculnya Lim Kun Hosiang, Hwesio tinggi besar muka hitam yang mengaku murid Siauw-lim-pai dan yang datang bersama Tan Tek Hosiang yang bertubuh kecil itu.

Tak disangkanya bahwa hwesio ini sedemikian lihainya sehingga mampu menandingi Su-ok.

Maka dia pun mundur bersama teman-temannya.

Su-ok yang merasa penasaran sekali menjadi marah.

Sambil mengeluarkan gerengan seperti harimau kelaparan, Si Pendek ini lalu menjatuhkan dirinya dan menggelundung ke arah hwesio muka hitam itu dan tiba-tiba dia menyerang dengan pukulan yang ampuh.

Akan tetapi, hwesio muka hitam itu tidak mengelak, melainkan menangkis dengan kedua kaki terpentang dan kedua tangannya mendorong ke arah lawan yang memukulnya dengan ilmu pukulan Katak Buduk itu.

"Desss....!"

Akibatnya hebat sekali.

Su-ok kembali terpental dan bergulingan, dan ketika dia mencoba bangun, dia roboh kembali dan dari mulutnya mengalir darah segar.

Si Pendek ini cepat duduk bersila dan mengatur pernapasan karena dia telah terluka dalam!

Dan hwesio muka hitam itu kini cepat melangkah ke medan pertempuran.

Sejenak dia memandang kepada Bu-taihiap dan mengeluarkan suara dengusan dari hidungnya, akan tetapi ketika dia melihat Cun Ciu yang didesak oleh Ngo-ok dan kadang-kadang menerima serangan Ji-ok dengan Kiam-ci yang berbahaya itu, Si Hwesio Muka Hitam ini maju dan ketika Ji-ok menyerang lagi ke arah Cun Ciu, dia pun maju dan menangkis.

"Plakkk!"

Dan Ji-ok terpental dengan kaget sekali.

Tangkisan itu kuat bukan main, bahkan jauh lebih kuat daripada tangkisan Cun Ciu dan setingkat dengan tenaga Bu-taihiap!

Pada saat itu Si Hwesio Muka Hitam sudah menendang ke arah muka Ngo-ok yang masih berjungkir balik.

Ngo-ok cepat menangkis dengan lengannya dan kakinya menendang ke arah tengkuk lawan baru ini.

Akan tetapi, hwesio muka hitam itu tidak mempedulikan tengkuknya ditendang.

Ketika tendangannya ditangkis, Ngo-ok terkejut karena merasa lengannya nyeri dan ketika tendangannya tiba mengenai tengkuk lawan, kakinya terpental seperti membentur besi.

Pada saat itu tangan hwesio tinggi besar muka hitam itu sudah menonjok ke depan, ke arah perutnya.

Tentu saja Ngo-ok menjadi terkejut dan tak tahu bagaimana harus menyelamatkan diri.

Untung pada saat yang amat berbahaya sudah menggerakkan kakinya menendang dan tepat mengenai punggung adiknya yang ke lima ini.

"Desss....!"

Tubuh Ngo-ok terlempar dan terbanting, akan tetapi, dia terbebas dari ancaman maut pukulan hwesio muka hitam itu.

Toa-ok maklum bahwa lawan yang baru datang ini lihai sekali, maka dia pun cepat menggunakan tangan kanannya untuk memukul dengan tangan terbuka.

Di antara suadara-saudaranya, Toa-ok ini memiliki kepandaian yang paling hebat, atau setidaknya setingkat dengan kepandaian Ji-ok.

Biarpun gerakan-gerakannya sederhana saja, namun dia memiliki tenaga dahsyat yang sukar untuk dapat ditandingi lawan.

Maka pukulannya dengan tangan terbuka ke arah hwesio muka hitam itu pun dahsyat bukan main, sampai mengeluarkan angin bercuitan suaranya.

Namun, diserang seperti itu, Si Muka Hitam tidak mengelak, melainkan menangkis dengan tangan terbuka pula.

Jelasnya, Si Muka Hitam ini tidak takut untuk mengadu tenaga dengan orang pertama dari Im-kan Ngo-ok itu.

"Plakkk!"

Dua telapak tangan bertemu dengan amat dahsyatnya dan akibatnya, keduanya terdorong mundur dan agak terhuyung.

Terkejutlah Toa-ok.

Hwesio yang tak terkenal ini memiliki tenaga yang seimbang dengan dia!

Berar-ti setingkat pula dengan Bu-taihiap.

Sementara itu, mendapat bantuan hwesio yang kosen itu, bangkitlah semangat Bu-taihiap dan dia sudah mendesak Sam-ok dan Ji-ok dengan pukulan-pukulan sakti.

Kedua orang itu menghindarkan diri mundur.

Pada saat itu, nampak gulungan sinar hitam yang mengeluarkan bunyi berdesing-desing dan ternyata hwesio muka hitam itu telah memutar sebatang cambuk baja yang tadinya menjadi ikat pinggangnya di balik jubah hwesio.

Bukan main hebatnya senjata ini dan amat berbahaya, maka melihat ini, Toa-ok yang melihat bahwa dengan bantuan setangguh ini maka pihaknya akan mengalami banyak kerugian, lalu berteriak memberi tanda kepada adik-adiknya untuk melarikan diri.

Mereka berlima pun berloncatan dan Ji-ok sudah menyambar lengan Su-ok yang terluka tadi, dibawanya lari dengan cepat sekali.

Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu tadinya tidak tahu siapa adanya hwesio tinggi besar muka hitam yang amat lihai ini, akan tetapi begitu melihat gerakan silatnya dan melihat cambuk baja itu, ia berseru kaget.

"Sam-te....!"

Hwesio muka hitam itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata.

Mendengar seruan ini, Bu-taihiap yang tadinya merasa ragu-ragu siapa adanya orang tinggi besar yang amat lihai itu terkejut pula.

"Ah, kiranya Ban-kin-sian Cu Kang Bu...."

Orang tinggi besar itu membuang muka tidak mau melayani Bu Seng Kin, bahkan lalu meloncat dan lari dari tempat itu, menghilang ke dalam gelap, meninggalkan Bu Seng Kin dan Tang Cun Ciu yang memandang bengong ke arah lenyapnya pendekar itu.

Juga Ciong-hwesio menjadi terkejut dan terheran, apalagi ketika mendengar betapa Bu-taihiap dan isterinya sudah mengenal hwesio tinggi besar itu.

"Apa yang terjadi? Siapakah dia itu sebenarnya? Pinceng mengira benar-benar hwesio Siauw-lim-pai.... dan mana Tan Tek Hosiang, yang seorang lagi?"

Karena khawatir akan kegagalan siasat yang sudah mereka rencanakan, maka Ciong-hwesio lalu lari ke dalam, diikuti oleh Bu-taihiap dan Tang Cun Ciu.

Akan tetapi hati mereka lega ketika mendengar betapa Sang Pangeran telah berhasil dilarikan oleh para hwesio anak buah Ciong-hwesio, melalui pintu belakang dan menunggang kuda, sesuai dengan rencana, dengan dalih menyelamatkan Pangeran itu.

"Bagus....!"

Kata Ciong-hwesio.

"Kalau begitu sekarang harus cepat-cepat menyiarkan berita bahwa Pangeran yang bermalam di kuil ini telah diculik penjahat-penjahat yang datang bersama Im-kan Ngo-ok!"

Akan tetapi, Bu Seng Kin dan Tang Cun Ciu merasa tidak enak sekali melihat munculnya Cu Kang Bu yang menyamar sebagai hwesio.

"Ciong-suhu, biar kami berdua mengejar mereka dan ikut mengawal Pangeran, sedangkan urusan penyebaran berita tentang penculikan Pangeran oleh orang-orang golongan hitam terserah kepada Ciong-suhu."

Pendekar bersama isterinya ini cepat meloncat dan lenyap di dalam kegelapan malam, sedangkan Ciong-hwesio bersama para hwesio yang menjadi penghuni kuil itu segera menyiarkan bahwa pemuda yang menjadi tamu kuil itu telah diculik penjahat yang datang menyerbu kuil pada malam itu.

Dan dugaan Ciong-hwesio memang tepat sekali.

Begitu berita itu disiarkan, malam itu juga, menjelang pagi, banyak bayangan berkelebat memasuki kuilnya.

Bayangan beberapa orang yang jelas merupakan orang-orang kang-ouw, yang bertanya tentang peristiwa terculiknya pemuda itu.

Mereka ini adalah para pendekar yang diam-diam melindungi Pangeran Kian Liong.

Karena Pangeran itu bermalam di dalam kuil dan mereka semua mengira bahwa keadaan Pangeran itu aman, maka mereka menjadi lengah.

Apalagi karena mereka tidak mungkin ikut-ikutan bermalam di dalam kuil.

Justeru pada malam itulah, di waktu mereka lengah, penjahat datang dan Pangeran itu diculik orang!

Ciong-hwesio menyambut mereka semua dengan hormat dan memperlihatkan keheranannya.

"Memang, tamu muda pinceng itu dilarikan penjahat yang malam tadi menyerbu ke kuil kami. Akan tetapi.... mengapa Cu-wi-enghiong kelihatan begini gugup? Siapakah Kongcu itu....? Pinceng hanya tahu bahwa dia menyumbang besar dan dia pandai sekali membaca sajak...."

Seorang di antara para pendekar itu memandang tajam lalu berkata, suaranya penuh peringatan.

"Losuhu, ingatlah baik-baik, pemuda itu adalah Sang Pangeran Mahkota sendiri yang menyamar!"

"Omitohud....!"

Ciong-hwesio merangkapkan kedua tangan di depan dada dan tidak bicara lagi.

Dia tentu saja hanya berpura-pura, akan tetapi sebagai seorang pendeta dia tidak mau banyak membohong, maka merasa lebih baik kalau tutup mulut saja.

"Oleh karena itu, lenyapnya Sang Pangeran di kuil ini tentu merupakan bahaya juga bagi kuil ini,"

Demikian pendekar itu melanjutkan.

"Katakan, siapakah yang melakukan penculikan ini?"

"Bagaimana pinceng tahu? Yang pinceng ketahui hanyalah ada lima orang penjahat yang lihai sekali menyerbu kuil. Kami berusaha untuk menghalaunya karena mengira mereka itu perampok-perarnpok biasa. Dan ketika kami sedang sibuk melawannya, pemuda itu tahu-tahu lenyap dilarikan orang. Siapa lagi kalau bukan teman-teman para penjahat itu yang melakukannya?"

"Seperti apa macamnya penjahat-penjahat yang menyerbu itu?"

"Yang lima orang itu? Wah, mereka itu lihai bukan main. Kami semua bukanlah tandingannya, akan tetapi agaknya mereka tidak ingin membunuh kami. Mereka adalah lima orang yang amat menakutkan.... seperti iblis-iblis...."

Ciong-hwesio lalu menceritakan keadaan lima orang itu, yang tentu saja sudah diketahuinya bahwa mereka adalah Im-kan Ngo-ok.

Mendengar cerita kakek pendeta itu, orang-orang kang-ouw yang mendengarkan menjadi pucat wajahnya.

"Im-kan Ngo-ok....!"

Bisik beberapa orang di antara mereka dengan nada suara gentar.

"Celaka....! Kalau mereka yang menculik...."

Dan para pendekar itu dengan cepat lalu meninggalkan kuil untuk melakukan pengejaran dengan hati penuh kebimbangan dan ketakutan.

Ciong-suhu menahan senyumnya.

Siasatnya berhasil baik sekali.

Teman-temannya tentu telah berhasil mengamankan Pangeran itu untuk keperluan mereka, keperluan rakyat, keperluan perjuangan!

Kaisar tentu akan dapat dibikin tidak berdaya kalau puteranya menjadi tawanan kaum patriot.

Setidaknya, nasib mereka akan menjadi lebih baik, dan Kaisar harus memenuhi tuntutan mereka!

Akan tetapi ketika kakek ini dengan hati gembira memasuki kamar samadhinya, dia terkejut bukan main melihat ada sesosok bayangan orang berdiri tegak di dalam kamar itu!

Bulu tengkuknya meremang.

Dia adalah seorang ahli silat yang tak dapat dibilang bertingkat rendah, penglihatan dan pendengarannya masih kuat berkat latihan bertahun-tahun.

Akan tetapi, bagaimana ada orang memasuki kamarnya tanpa dia mengetahuinya, tanpa dia dapat mendengar atau melihatnya?

Setankah bayangan ini.

Ibliskah?

"Omitohud....!"

Dia berbisik beberapa kali, memandang dengan tajam ke arah bayangan itu.

Bayangan itu yang tadinya di sudut gelap, melangkah maju dan nampaklah seorang pria muda yang sama sekali tidak menyerupai iblis atau setan.

Sebaliknya malah, pria muda itu adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh empat atau tiga puluh lima tahun yang tampan dan gagah, berpakaian sederhana namun bersih dan rapi, pakaiannya tertutup jubah besar lebar.

Sepasang matanya itu saja yang tidak lumrah manusia, seperti mata beberapa orang tertentu, mata Bu-taihiap misalnya, yaitu mengandung sinar mencorong dan tajam sekali.

Sikap orang ini pendiam dan agak dingin, akan tetapi senyum bibir dan pandang matanya membayangkan kehalusan budi.

"Siapa.... siapakah engkau....?"

Ciong-hwesio bertanya.

"Maaf, Losuhu, tidak perlu benar diketahui siapa saya, akan tetapi saya datang untuk bertanya, benarkah Im-kan Ngo-ok menyerbu kuil ini dan menculik Pangeran Mahkota dari sini? Pertanyaan yang langsung ini berbeda dengan pertanyaan para orang kang-ouw tadi, dan pemuda ini agaknya tidak takut untuk langsung bertanya tentang Im-kan Ngo-ok, dan penglihatan Ciong-hwesio yang sudah banyak pengalaman itu segera dapat menduga bahwa orang muda ini lain daripada yang lain, dan tentu merupakan seorang pendekar tak terkenal yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

"Benar, Sicu. Mereka menyerbu dan ketika kami sibuk menghadapi mereka yang kami sangka hanyalah pengacau dan perampok biasa, tahu-tahu pemuda yang baru pinceng ketahui ternyata adalah Sang Pangeran itu lenyap diculik orang. Tentu kawan-kawan Im-kan Ngo-ok yang melakukannya."

Orang muda itu mengangguk dan memandang tajam sekali, seolah-olah sinar matanya mampu menembus dada kakek itu, membuat Ciong-hwesio merasa serem.

"Kalau Losuhu dan para hwesio kuil ini dapat menentang Im-kan Ngo-ok dan keluar dengan selamat dari pertempuran, sungguh itu hanya menandakan bahwa Losuhu dan para suhu di kuil ini memiliki kepandaian yang tak dapat diukur tingginya!"

Ciong-hwesio terkejut sekali dan merasa tersudut, maka sebagai seorang yang banyak pengalaman dan cerdik, dia cepat menggoyang tangan dan menarik napas panjang.

"Omitohud....! Orang seperti pinceng dan para teman yang lemah ini, mana mungkin dapat menandingi mereka? Untung ada Bu-taihiap dan isterinya yang membantu sehingga kami semua dapat keluar dengan selamat dari pertempuran itu."

Orang muda itu mengangguk-angguk.

"Ah, jadi Bu-taihiap dan isterinya yang menghadapi mereka? Akan tetapi, Sang Pangeran tetap saja hilang?"

Ciong Hwesio menjadi waspada.

Orang muda ini tidak boleh dipandang ringan, dan memiliki kecerdikan dan ketenangan yang luar biasa.

Maka dia pun menjawab dengan merangkapkan tangan di depan dadanya.

"Omitohud, beritulah yang terjadi, Sicu. Pinceng sendiri tidak tahu siapa yang menculiknya, hanya menduga siapa lagi kalau bukan teman-teman Im-kan Ngo-ok yang sengaja menyerbu dan memancing kami semua keluar dari kuil menghadapi mereka sehingga Sang Pangeran yang tadinya kami kira tamu biasa, diculik orang dengan mudahnya."

"Jadi tidak ada seorang pun suhu di kuil ini yang sempat melihat siapa penculiknya?"

Ciong-hwesio menggeleng kepalanya dan orang muda itu lalu menjura.

"Terima kasih atas semua keterangan Losuhu."

Orang muda itu berkelebat dan lenyap seperti pandai menghilang saja.

Setelah orang muda itu menghilang, Ciong-hwesio menjadi gelisah.

Dia tidak mengenal siapa adanya pendekar muda ini, akan tetapi dia dapat menduga bahwa orang ini lihai sekali.

Celakanya, dia tidak dapat menduga di golongan mana pendekar ini berpihak.

Di golongan musuh Pangeran seperti Im-kan Ngo-ok yang hendak membunuh Pangeran?

Ataukah di golongan kaum patriot?

Agaknya tidak mungkin kalau pemuda itu memihak kaum patriot, karena kalau demikian halnya tentu dia telah mengenalnya, dan sikapnya tidak seperti itu, seolah-olah mencurigai dan menyelidikinya.

Ataukah di golongan pelindung Pangeran seperti banyak terdapat pada golongan pendekar?

Mungkin sekali.

Belum lama ini pun, Siauw-lim-pai menganjurkan murid-muridnya untuk melindungi Pangeran yang dianggapnya bijaksana, tidak seperti ayahnya yang kini menjadi kaisar.

Akan tetapi, semenjak Kaisar memusuhi Siauw-lim-pai, ada perintah baru dari pihak Siauw-lim-pai, dan siasat yang sekarang ini pun disetujui Siauw-lim-pai, yaitu hendak mempergunakan Pangeran sebagai sandera untuk mengekang kelaliman Kaisar.

Karena sangsi dan khawatir, Ciong-hwesio lalu mengumpulkan anak buahnya dan dia sendiri lalu naik kuda dan diam-diam pada pagi hari sekali itu sudah membalapkan kudanya untuk menyusul rombongan pembantu-pembantu-nya yang melarikan Sang Pangeran.

Sementara itu.

"Sang Pangeran"

Yang dilarikan oleh lima orang hwesio itu membalapkan kudanya memasuki hutan yang gelap.

Setelah tiba di tempat gelap, terpaksa kuda mereka tidak dapat dibalapkan lagi dan seorang di antara para hwesio itu menangkap kendali kuda dan menuntun kuda yang ditunggangi Sang Pangeran ini, berjalan perlahan-lahan menyusup ke dalam hutan.

Setelah munculnya hwesio tinggi besar muka hitam yang ternyata telah dikenal oleh Tang Cun Ciu sebagai Cu Kang Bu, tokoh ke tiga dari penghuni Lembah Suling Emas, maka tentu mudah diduga oleh para pembaca siapa adanya hwesio bertubuh kecil ramping yang ternyata seorang wanita dan yang kini menggantikan kedudukan Sang Pangeran dengan penyamarannya yang persis itu.

Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Ang-siocia atau Yu Hwi yang pandai melakukan penyamaran seperti itu?

isteri Cu Kang Bu ini, bekas murid Hek-sin Touw-ong, selain pandai ilmu silat yang tinggi, juga pandai sekali dalam ilmu mencopet atau mencuri dan di samping ini pandai sekali dalam ilmu menyamar.

Tentu saja nenek tua yang berjubel di antara mereka yang bersembahyang di kuil Hok-te-kong siang hari sebelumnya adalah Yu Hwi juga, yang datang sebagai nenek untuk melakukan penyelidikan dan ia telah melihat Bu-taihiap di dalam kuil.

Yu Hwi dan suaminya, Cu Kang Bu, pergi meninggalkan Lembah Naga Siluman, yaitu nama sebutan baru dari Lembah Suling Emas setelah keluarga Cu dikalahkan oleh Kam Hong sebagai ahli waris Suling Emas, karena mereka berdua merasa khawatir akan keselamatan Cu Pek In, keponakan mereka.

Tadinya mereka mengira bahwa Cu Pek In hanya akan pergi sebentar saja.

Akan tetapi setelah ditunggu-tunggu sampai sebulan tidak juga gadis itu pulang, Cu Kang Bu merasa tidak enak sekali terhadap twakonya yang kini bersama Ji-konya ber-tapa di tempat yang terasing.

Dia merasa bertanggung jawab akan keselamatan dara itu, maka dia pun lalu meninggalkan lembah bersama isterinya untuk mencari Cu Pek In yang minggat itu dan membujuknya pulang ke lembah.

Karena jejak dara itu menuju ke timur, maka mereka pun melakukan pengejaran dan akhirnya mereka tiba di kota Pao-ci di mana mereka secara kebetulan mendengar percakapan para pendekar yang melindungi Pangeran bahwa Sang Pangeran yang menyamar sebagai seorang pemuda biasa itu kini menginap di dalam kuil Hok-te-kong.

Cu Kang Bu merasa tertarik, demikian pula isterinya.

Sudah lama mereka berdua mendengar dalam perjalanan itu tentang keributan di istana, tentang kematian Sam-thaihouw, tentang kelaliman Kaisar yang memusuhi Siauw-lim-pai.

Juga tentang Pangeran Kian Liong yang kabarnya amat bijaksana dan mencintai rakyat.

Timbul perasaan suka dan kagum dalam hati suami isteri perkasa ini.

Akan tetapi ketika secara kebetulan pula mereka melihat Im-kan Ngo-ok berada di kota itu, hati mereka terkejut bukan main dan penuh kekhawatiran.

Mereka bukanlah orang-orang yang semata-mata membela Pangeran karena politik, bukan pula menentang kaum patriot.

Mereka ini adalah suami isteri yang tidak ingin melibatkan diri dengan semua urusan perebutan kekuasaan itu, akan tetapi mereka berpihak kepada Pangeran hanya dengan dasar bahwa menurut yang mereka dengar, Pangeran adalah seorang pemuda yang bijaksana dan mencinta rakyat.

Seorang yang baik, dan kini orang yang mereka kagumi itu agaknya terancam bahaya besar dengan adanya Im-kan Ngo-ok berkeliaran di kota yang sama.

Itulah sebabnya mengapa Yu Hwi menyamar sebagai seorang nenek tua yang ingin bertemu dengan Ciong-hwesio untuk minta diberi nama kepada cucu buyutnya.

Kehadiran Bu-taihiap di tempat itu membuat mereka maklum bahwa urusan ini bukan urusan kecil, melainkan urusan yang mengandung politik di mana orang-orang yang memiliki kesaktian ikut pula terlibat.

Maka mereka bersikap hati-hati.

Bagi mereka yang terpenting adalah menyelamatkan Pangeran Mahkota, baik dari tangan orang-orang yang hendak membunuhnya, maupun dari tangan siapapun juga, yang mempunyai iktikad buruk terhadap Pangeran itu.

Demikianlah, dengan kepandaiannya dalam ilmu penyamaran, Yu Hwi berdandan dan mendandani suaminya.

Dengan topeng-topeng yang memang selalu siap dalam buntalannya, ia dan suaminya berobah menjadi hwesio-hwesio dan dengan berani mereka menemui Ciong-hwesio, berhasil mengelabuhi semua hwesio dan diterima sebagai rekan-rekan yang boleh dipercaya.

Ketika mereka berdua diuji oleh Ciong-hwesio, tentu saja mereka mampu mainkan beberapa jurus ilmu silat Siauw-lim-pai yang umum.

Tentu saja "Pangeran"

Yang dikawal oleh lima orang anak buah Ciong-hwesio itu adalah Yu Hwi yang menyamar.

Tadinya, Cu Kang Bu dan Pangeran Kian Liong yang menyamar sebagai dua orang hwesio itu, ikut pula mengawal.

Akan tetapi tak lama kemudian, sesuai dengan rencana suami isteri itu, Cu Kang Bu mengajak Sang Pangeran itu untuk kembali ke kuil dan menyuruh lima orang hwesio untuk melanjutkan pengawalan mereka.

"Pinceng berdua harus membantu Ciong-suhu menghadapi orang-orang jahat,"

Demikian Cu Kang Bu yang menyamar sebagai hwesio tinggi besar muka hitam itu memberi alasan kepada para hwesio anak buah Ciong-hwesio itu.

Tentu saja mereka merasa setuju, mengingat, bahwa yang menyerbu kuil adalah tokoh-tokoh sakti seperti Im-kan Ngo-ok itu.

Dan demikianlah, Cu Kang Bu mengendong Pangeran dengan cepat lari kembali ke kuil tanpa dilihat oleh para hwesio yang mengawal "Pangeran"

Itu.

Cu Kang Bu lalu menyuruh Pangeran Kian Liong yang menyamar sebagai hwesio itu menanti agak jauh dari kuil bersembunyi di dalam bagian yang gelap, sedangkan dia sendiri dengan gerakan cepat sekali lari ke kuil dan seperti telah kita ketahui, dia berhasil membantu Bu Seng Kin dan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu memukul mundur Im-kan Ngo-ok.

Karena suaminya pergi bersama Sang Pangeran sesuai dengan rencana, yaitu suaminya akan membawa pergi Pangeran Kian Liong dan mengamankannya dari pengejaran semua orang yang beritikad buruk terhadap Sang Pangeran, maka Yu Hwi yang sekarang menggantikan kedudukan Pangeran itu berada sendirian saja dengan lima orang hwesio yang mengawalnya.

Ia tidak segera mau bergerak, menanti sampai lama untuk memberi kesempatan kepada suaminya agar suaminya dapat membawa Sang Pangeran ke tempat yang jauh dan aman betul.

Ia tidak tahu bahwa ada sedikit perobahan, yaitu bahwa suaminya tidak langsung membawa pergi Pangeran Kian Liong, melainkan kembali ke kuil untuk membantu menghadapi Im-kang Ngo-ok.

Hal ini di luar perhitungannya, menyimpang dari siasat mereka.

Yu Hwi tidak tahu bahwa melihat bekas twa-so itu harus berhadapan dengan Im-kan Ngo-ok yang lihai, hati suaminya tidak dapat membiarkan begitu saja tanpa membantu.

Kini hati wanita yang cerdik ini menjadi tenang setelah Sang Pangeran berhasil diajak pergi oleh suaminya.

Kalau ia mau, tentu pada saat itu juga dengan mudah ia akan dapat meloloskan diri dari "pengawalan"

Lima orang hwesio itu.

Akan tetapi Yu Hwi tidak mau menimbulkan keributan dan membuka rahasia pada malam itu juga karena dengan demikian tentu suaminya yang membawa pergi Sang Pangeran itu belum tiba di tempat seperti yang mereka rencanakan.

Menurut rencana mereka, malam itu juga Cu Kang Bu akan membawa Sang Pangeran menuju ke kota besar Sian melalui jalan sungai dan baru pada keesokan harinya, Yu Hwi akan menyusulnya dengan jalan darat.

Mereka akan saling bertemu di Sian.

Dan Yu Hwi akan meninggalkan para pengawalnya tanpa mereka ketahui kalau mungkin, sehingga para pengawal itu hanya akan kehilangan "pangeran"

Dan menduga bahwa Pangeran itu tentu diculik orang tanpa setahu mereka.

Dan hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Yu Hwi selama mereka berenam masih menunggang kuda di dalam hutan itu.

Dan ternyata enam orang hwesio itu membawanya berkuda terus sampai mereka keluar dari hutan itu dan tiba di luar hutan, di sebuah lereng sunyi di tepi sungai, setelah hampir pagi!

Di tempat sunyi itu telah disediakan sebuah pondok kayu sederhana dan para hwesio itu mempersilakan Sang Pangeran untuk beristirahat di dalam kamar kayu di pondok itu.

Mereka sendiri lalu membuat api unggun karena hawa udara amat dinginnya, dan ada yang memasak air.

Ada pula seorang di antara mereka yang beriaga di luar jendela kamar itu dengan toya di tangan.

Yu Hwi merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu yang berada dalam kamar itu.

Ia merasa lelah dan mengantuk sekali.

Tentu saja ia merasa lelah karena ia harus menunggang kuda hampir semalam suntuk, terutama karena kedua kakinya diganjal agar ia menjadi sejangkung Pangeran.

Akan tetapi, tiba-tiba pendengarannya yang terlatih itu menangkap suara yang tidak wajar, di luar jendela kamarnya.

Cepat, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, ia meloncat turun dan mengintai dari lubang celah-celah jendela.

Dan matanya terbelalak melihat sosok bayangan yang gerakannya cepat sekali, berkelebat tiba di belakang hwesio penjaga yang memegang toya itu dan sekali bayangan itu menggerakkan tangan menepuk pundak maka hwesio itu tanpa mengeluh menjadi lemas dan pingsan!

Bayangan itu lalu menarik hwesio penjaga, merebahkannya dengan posisi duduk bersandar dinding pondok, toyanya bersandar dinding pula, dan nampaknya seperti penjaga itu masih berjaga namun sambil duduk karena lelah dan kantuknya!

Kemudian, bayangan itu mendorong daun jendela terbuka dan meloncat masuk.

Yu Hwi sudah bersiap-siap, akan tetapi ia menjadi bengong dan begitu besar keheranan dan kekejutannya sampai ia tidak mampu bergerak atau mengeluarkan suara apa pun.

Tentu saja ia mengenal bayangan ini setelah memasuki kamar pondok, karena bayangan ini bukan lain adalah Kam Hong!

"Sssttt....

harap jangan bersuara, Pangeran,"

Bisik Kam Hong.

"Paduka berada dalam bahaya. Hwesio-hwesio itu adalah anggota kaum patriot yang menentang Kaisar. Hamba datang untuk menyelamatkan Paduka"

Dan sebelum Yu Hwi kehilangan kagetnya, tiba-tiba saja Kam Hong sudah memondongnya dan membawanya meloncat keluar dari jendela itu, terus berloncatan dengan kecepatan kilat menghilang di antara pohon-pohon dalam cuaca yang masih remang-remang itu!

Tentu saja Yu Hwi menjadi terkejut, terheran, marah, malu dan entah perasaan macam apa lagi yang mengaduk hatiya ketika ia dipondong oleh dengan tangan Kam Hong seperti itu dan dibawa lari ke dalam hutan!

Kalau menurut perasaannya, ingin ia meronta, bahkan mungkin sambil memukul pria muda yang pernah menjadi calon suaminya, menjadi tunangannya yang syah!

Akan tetapi ia tidak mau membikin gaduh karena kalau terjadi demikian, tentu para hwesio akan mendengar dan rahasianya bahwa ia bukanlah Pangeran Kian Liong akan terbuka.

Oleh karena itu, terpaksa ia menahan dirinya, diam saja membiarkan dirinya dipondong dan dilarikan oleh Kam Hong.

Akan tetapi setelah mereka lari jauh ke dalam hutan dan sinar matahari pagi mulai menerobos masuk hutan melalui celah-celah daun pohon, tiba-tiba Yu Hwi tak dapat menahan rasa malunya lagi dan ia menjerit.

"Lepaskan aku! Lepaskan!"

Kam Hong terkejut bukan main mendengar jeritan ini.

Mengapa suara Pangeran Kian Liong berobah menjadi suara perempuan?

Dia melepaskan pondongannya dan memandang dengan kedua mata terbelalak.

Orang ini masih Pangeran yang dibawanya lari tadi!

Akan tetapi suara itu...!

"Pangeran..."

Katanya bingung.

"Ada apakah maka Paduka...."

"Pangeran! Pangeran! Apakah matamu sudah buta? Tak tahu malu!"

Dan Yu Hwi sudah melangkah maju dan kedua tangannya menyambar untuk menampar muka Kam Hong!

Tentu saja pendekar ini terkejut dan menjadi semakin heran.

Tamparan Pangeran itu bukanlah tamparan orang biasa, melainkan tamparan yang dilakukan oleh orang yang memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat!

Maka tentu saja dia mengelak mundur, masih bingung karena kembali dia mendengar betapa suara pangeran ini mirip suara seorang wanita.

Teringatlah Kam Hong kini betapa ketika dia memondong dan melarikan Pangeran tadi, dia mencium bau harum yang lembut dan juga dia merasa betapa tubuh Pangeran itu mempunyai kehangatan dan kelembutan yang membuat dia tadi diam-diam merasa heran.

Dia tadi mengira bahwa memang seorang pangeran, seorang pemuda bangsawan tertinggi yang kehidupannya serba mulia dan mewah memang sudah sepatutnya memiliki kelembutan seperti wanita, maka semua itu tidak dipedulikannya.

Sekarang baru dia mengerti.

Kiranya Pangeran Kian Liong ini seorang wanita!

Dan terkejutlah dia.

Pangeran itu sudah terkenal sekali dan jelas bukan wanita.

Kalau begitu, ini tentu seorang wanita yang menyamar sebagai Pangeran Kian Liong!

Dan sepanjang pengetahuannya, wanita yang pandai melakukan penyamaran sehebat itu hanya seorang saja di dunia ini!

"Kau....

kau siapa?

Apa artinya ini....?"

Dia memandang terbelalak sambil terus mengelak mundur.

"Apa artinya....? Artinya.... engkau buta atau memang kurang ajar, mempergunakan kesempatan....!"

Yu Hwi terus mendesak dan kini bukan hanya ingin menampar, melainkan melakukan serangan-serangan pukulan yang dahsyat!

Kam Hong mengelak dan kadang-kadang menangkis.

Sekarang dia yakin benar bahwa "pangeran"

Ini tentu penyamaran Yu Hwi, bekas tunangannya itu!

Dan dia disangka telah tahu akan penyamaran itu dan dengan dalih menolong pangeran dia dikira mempergunakan kesempatan itu untuk memondong dan me-meluknya!

"Ah kau salah duga....

dengarlah dulu...."

Kam Hong berkata. Akan tetapi wanita yang berwatak keras itu menyerangnya terus. Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring.

"Hwi-moi, apa artinya ini?"

Mendengar suara ini, Yu Hwi menghentikan serangan-serangannya, menoleh, lalu lari menubruk dan merangkul suaminya sambil menangis!

Sedangkan Kam Hong berdiri memandang dengan muka merah, merasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa.

"Yu Hwi, ada apakah....?"

Cu Kang Bu merangkul isterinya, kemudian mengangkat muka memandang kepada Kam Hong dengan sinar mata berkilat, alisnya berkerut mengandung keraguan dan juga kecurigaan.

Melihat isterinya masih menangis sesenggukan, kembali Cu Kang Bu bertanya.

"Apa artinya ini? Hwi-moi, kenapa engkau menangis? Apa yang telah terjadi?"

"Dia.... dia memondongku.... hu-huuh....!"

Yu Hwi akhirnya berkata sambil menangis.

Mendengar ini, Cu Kang Bu terkejut bukan main.

Dia adalah seorang pendekar yang gagah perkasa.

Andaikata dia tidak mengenal Kam Hong, tentu ucapan isterinya itu akan diselidiki lebih dulu sebab-sebabnya mengapa isterinya dipondong orang.

Akan tetapi dia mengenal Kam Hong sebagai bekas tunangan isterinya, maka ucapan isterinya itu tentu saja membuat mukanya seketika menjadi merah dan sinar matanya mengandung kemarahan besar.

Dia melepaskan rangkulannya dan melangkah maju menghadapi Kam Hong.

"Orang she Kam...."

Suaranya terdengar kaku.

"Aku mengenal siapa engkau, tahu bahwa engkau adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan kami pernah dikalahkan olehmu, akan tetapi jangan mengira bahwa aku takut menghadapi kematian di tanganmu untuk membela kehormatan isteriku! Majulah, kita hanya dapat mencuci penghinaan ini dengan darah!"

Kam Hong menarik napas panjang dan mukanya yang tadinya pucat itu kini menjadi merah.

Dia menggeleng kepalanya beberapa kali.

Menarik napas panjang lagi, lalu memandang kepada pria tinggi besar itu dengan sinar mata penuh penyesalan.

"Maafkanlah kalau tanpa kusengaja aku telah membuatmu marah, Saudara Cu Kang Bu. Akan tetapi dengar dulu penjelasanku sebelum engkau mengambil kesimpulan dan pendapat yang mungkin keliru dan kelak hanya akan membuatmu menyesal. Kebetulan aku mendengar tentang bahaya yang mengancam Pangeran Kiang Liong di kota Pao-ci dan kebetulan pula aku melihat Im-kan Ngo-ok. Maka aku lalu melakukan penyelidikan pagi lewat tengah malam tadi di kuil di mana Pangeran itu mondok. Aku mendengar dari para hwesio bahwa kuil diserbu Im-kan Ngo-ok dan bahwa Pangeran diculik teman-teman Im-kan Ngo-ok. Maka aku lalu melakukan pengejaran dan pencarian. Akhirnya aku melihat Sang Pangeran di dalam pondok yang dijaga oleh beberapa orang hwesio. Aku lalu memasuki pondok dan aku cepat memondong dan melarikan Pangeran dari pondok itu, khawatir kalau-kalau sampai ada Im-kan Ngo-ok yang mengejar. Aku khawatir kalau harus menghadapi lima orang tangguh itu, tentu aku tidak dapat melindungi Pangeran dengan baik. Sungguh mati aku tidak tahu bahwa yang kupondong adalah seorang pangeran palsu. Sungguh sukar membedakan karena.... karena memang cuaca masih agak gelap dan aku sama sekali tidak menyangka...."

Wajah yang tadinya merah itu kini berseri dan Cu Kang Bu merasa lapang dadanya. Dia menoleh kepada isterinya.

"Hwi-moi, benarkah itu....?"

Yu Hwi mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.

"Kalau benar, mengapa engkau menangis dan marah-marah?"

Suaminya bertanya. Yu Hwi mengangkat mukanya.

"Habis, apakah aku harus merasa senang dan tertawa? Dia memondongku, mengertikah engkau? Aku merasa terhina!"

"Ah, Hwi-moi, mengapa pandanganmu begitu dangkal? Kam-taihiap melakukannya karena tidak sengaja, karena tidak tahu bahwa yang dipondongnya bukan Pangeran aseli! Ha-ha-ha-ha!"

Cu Kang Bu tertawa karena merasa betapa lucunya peristiwa itu. Yu Hwi masih menunduk dengan muka merah dan mulut cemberut.

"Aku mohon maaf, baik kepada Adik Yu Hwi maupun kepadamu, Saudara Cu."

Kata Kam Hong.

"Ah, kami yang harus minta maaf kepadamu, Kam-taihiap. Isteriku telah bersikap kekanak-kanakan dan tidak adil padamu, sedangkan aku...."

Pria tinggi besar itu menghela napas panjang.

"Agaknya aku masih harus banyak belajar darimu, Taihiap. Aku masih belum dapat menguasai diri, mudah terseret oleh perasaan dan cemburu. Sungguh memalukan sekali."

Mendengar percakapan dua orang gagah itu, Yu Hwi kini baru sadar bahwa memang sikapnya tadi amat keterlaluan.

Ia pun dapat mengerti bahwa bekas tunangannya itu tentu saja tidak dapat mengenal penyamarannya.

Dan ia pun tadi marah-marah karena dorongan emosi yang timbul karena merasa canggung dan malu.

Maka untuk membelokkan percakapan mengenai urusan itu, ia cepat-cepat bertanya kepada suaminya.

"Di mana beliau? Kenapa tak kelihatan bersamamu?"

Dan memang membelokkan percakapan ini tepat sekali.

Suaminya menghela napas panjang dan kelihatan kecewa dan gelisah sekali setelah teringat akan Pangeran itu.

"Sungguh aku merasa menyesal bukan main. Beliau telah lenyap...."

"Lenyap?"

Penegasan ini dikeluarkan oleh dua mulut, yaitu mulut Kam Hong dan Yu Hwi. Kembali Cu Kang Bu menarik napas panjang.

"Salahku....! Ketika aku membawa Pangeran keluar, aku melihat pertempuran antara Im-kan Ngo-ok melawan Bu Seng Kin dan Twaso-ku...."

"Ah, Subo juga ikut....?"

Yu Hwi berseru kaget dan heran. Suaminya mengangguk.

"Subomu kini agaknya telah bersatu dengan Bu Seng Kin...."

Di dalam suaranya terkandung kepahitan, mengingatkan dia akan, kematian twakonya karena perbuatan twasonya itu yang berjina dengan Bu Seng Kin.

".... melihat kelihaian Im-kan Ngo-ok, dan mengingat akan hubungan antara twaso dan keluarga kita, terutama mengingat bahwa betapapun juga ia adalah gurumu, maka aku lalu menyuruh Pangeran bersembunyi dan aku lalu membantu mereka mengusir Im-kan Ngo-ok. Akan tetapi setelah berhasil, dan aku kembali ke tempat di mana kutinggalkan Pangeran, beliau telah lenyap tanpa meninggalkan jejak. Aku mencarinya sampai berputar-putar dan akhirnya aku hendak menyusulmu untuk kuajak (Lanjut ke

Jilid 41) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 41 mencari bersama-sama. Nah, ku jumpai kalian di sini...."

"Saudara Cu, Adik Yu Hwi, selamat berpisah, aku harus mencari Pangeran!"

Setelah berkata dengan tiba-tiba saja itu, Kam Hong meloncat dan lenyap.

Suami isteri itu merasa kagum dan mereka pun pergi dari situ karena tidak ingin diketahui orang bahwa mereka yang telah melarikan Pangeran Yu Hwi cepat berganti pakaian dan kini suami isteri ini tidak menyamar lagi.

Ke manakah perginya Pangeran Kian Liong?

Ketika Pangeran itu bersama hwesio tinggi besar meninggalkan kuil dan Pangeran itu menyamar sebagai seorang hwesio pula, Pangeran Kian Liong merasa amat gembira dan juga tegang hatinya.

Baru sekarang dia mengalami peristiwa yang amat mendebarkan, lucu dan menggelikan.

Dia menyamar sebagai hwesio!

Hal ini merupakan semacam pengalaman atau permainan baru bagi Pangeran muda yang tabah ini.

Dia pernah menyamar sebagai seorang pelajar biasa, seorang pelancong, bahkan pernah dia menyamar sebagai seorang jembel muda ketika dia melakukan perjalanan mengembara untuk memperdalam pengalamannya dan untuk dapat mengenal kehidupan rakyatnya secara lebih dekat lagi.

Akan tetapi menjadi hwesio?

Baru sekarang inilah!

Dia menjadi seorang hwesio gundul tanpa kehilangan rambutnya yang panjang tebal.

Pangeran Kian Liong bersembunyi di dalam bayangan yang gelap ketika hwesio tinggi besar itu meninggalkannya dan memesan agar dia tinggal dulu di situ karena hwesio tinggi besar itu akan melihat keadaan dan membantu para hwesio menghalau pengacau yang datang menyerbu dan yang mempunyai maksud buruk dan jahat terhadap Sang Pangeran.

Akan tetapi, tidak lama kemudian setelah hwesio tinggi besar itu meloncat pergi, Pangeran itu merasa tidak betah tinggal menyembunyikan dirinya di balik bayangan gelap itu.

Dia kan sudah menyamar sebagai hwesio?

Siapa yang akan tahu bahwa hwesio ini adalah Pangeran Mahkota?

Terdorong oleh sifatnya yang pemberani dan juga oleh kesenangannya nonton pertempuran adu silat, tertarik oleh suara-suara perkelahian di dalam kuil itu, Pangeran Kian Liong akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah menuju ke kuil kembali untuk melihat perkelahian!

Dan pada saat dia tiba di dinding pagar kuil, tiba-tiba terdengar seruan perlahan memanggilnya.

"Paduka di sini, Pangeran?"

Otomatis lupa akan penyamarannya, Pangeran itu menjawab.

"Benar, siapakah Anda?"

Pemuda tampan gagah itu tidak menjawab, langsung menyambar dan memanggulnya, dan melarikan diri di tempat gelap.

Sebelum Pangeran itu sempat mengeluarkan suara, dua buah jari tengah telah menekan tengkuknya, membuat Pangeran itu tidak mampu mengeluarkan suara lagi.

Dan pemuda itu lari dengan kecepatan yang luar biasa, membuat Sang Pangeran terpaksa harus memejamkan mata karena ngeri juga.

Menjelang pagi, barulah pemuda itu berhenti dan mereka sudah berada jauh di sebelah utara kota Pao-ci, sudah mendekati kota Thian-sui yang berada di luar perbatasan Propinsi Shen-si dan sudah termasuk dalam Propinsi Kan-su.

Dan ternyata di sebuah tempat yang sunyi dalam sebuah dusun, di situ telah menanti sebuah kereta dan Pangeran Kian Liong lalu dibawa masuk ke dalam kereta oleh pemuda yang melarikannya itu.

Di dalam kereta telah menanti tiga orang wanita cantik, dan kini, setelah "pemuda"

Itu tidak lari lagi dan dapat dilihat wajahnya, Sang Pangeran baru maklum dan merasa terheran-heran mendapat kenyataan bahwa pemuda itu pun ternyata adalah seorang wanita!

Bahkan kini dia pun teringat bahwa dia pernah melihat empat orang wanita cantik ini sebagai pembantu dan pengawal mendiang Sam-thaihouw!

Dia tidak mengenal nama mereka, tidak tahu siapakah adanya empat orang wanita cantik ini, akan tetapi dia pernah melihat mereka ini mengawal Ibu Suci Ke Tiga itu.

Maka Sang Pangeran pun mengertilah bahwa dia terjatuh ke tangan orang-orang yang sangat boleh jadi memusuhinya, atau setidaknya mereka ini adalah bekas tangan kanan atau pembantu-pembantu Sam-thaihouw yang selalu menganggapnya sebagai musuh.

"Bagus sekali, A-ciu, engkau berjasa besar sekali ini. Memang aku tahu, hanya engkau di antara kita yang paling pandai menyamar."

A-hui, orang pertama dari Su-bi Mo-li (Empat Iblis Betina Cantik) itu berkata memuji adiknya yang paling muda.

"Wah, akan tetapi aku merasa tegang dan ngeri, Twa-ci, (Kakak Perempuan Tertua), kalau mengingat betapa orang-orang sakti berada di sana, sedang bertempur menghadapi suhu-suhu kita,"

Jawab A-Ciu sambil bergidik.

"Untung sekali orang sakti, hwesio tinggi besar itu meninggalkan Pangeran seorang diri, kalau tidak, mana aku berani turun tangan?"

"Betapapun juga, kita telah berhasil. Mari kita cepat membawanya pergi dari sini,"

Kata pula A-hui.

Mereka itu bercakap-cakap di depan Pangeran, seolah-olah Sang Pangeran itu tidak ada saja, sama sekali tidak peduli bahwa Sang Pangeran mendengar semua percakapan mereka.

A-ciu yang masih menyamar sebagai pria itu kini duduk di tempat kusir dan mencambuk dua ekor kuda yang segera lari menarik kereta itu.

Sedangkan tiga orang cicinya duduk di dalam kereta bersama Sang Pangeran.

Para pembaca tentu masih ingat akan Su-bi Mo-li, empat orang wanita cantik yang menjadi murid-murld terkasih itu.

Ssmpai sekarang pun, kelimanya belum Juga menikah dan masih hidup berempat sebagai petualang-petualang wanita yang namanya ditakuti oleh banyak orang kang-ouw, karena selain mereka ini amat lihai, juge mereka ini kejam dan ganas sekali.

Yang tertua bernama A-hui, kini berusia tiga puluh lima tahun dan seperti juga dahulu, ia selalu memakai baju berwarna kuning.

Ada tahi lalat di dagunya dan tahi lalat ini di samping mendatangkan kemanisan pada wajahnya, juga mendatangkan bayangan kekerasan hati yang mengerikan.

Orang ke dua bernama A-kiauw, berusia tiga puluh dua tahun, selalu memakai baju merah.

Orang ke tiga, yang memakai baju biru bernama A-bwee, berusia tiga puluh satu tahun, Sedangkan A-ciu, yang termuda berusia tiga puluh tahun, kalau berpakaian, biasa sebagai wanita selalu memakai baju hijau dan A-Ciu ini wajahnya manis sekali, gerak-geriknya lincah dan lebih genit daripada kakak-kakaknya.

Mereka semua merupakan ahli-ahli pedang yang lihai dan jarang mereka itu bergerak sendiri-sendiri, selalu tentu berempat.

Di dalam kereta Sang Pangeran menghadapi tiga orang wanita itu.

Beberapa saat lamanya dia memandang tajam kepada mereka tanpa kata-kata.

Dan tiga orang wanita itu, yang oleh orang-orang kang-ouw dinamakan iblis-iblis betina, orang-orang yang sudah terbiasa dengan segala perbuatan kejam, yang dapat membunuh orang tanpa berkedip mata, kini lebih banyak menundukkan muka, tidak dapat bertahan lama menentang pandang mata Pangeran muda itu.

Sikap Pangeran ini sungguh amat mengagumkan dan menimbulkan rasa segan dan takut.

Sikap yang sedikit pun tidak membayangkan rasa takut atau khawatir, bahkan dari sepasang mata yang tajam dan jernih itu terdapat pandangan seperti orang dewasa melihat tingkah laku anak-anak nakal, bibirnya mengandung senyum bertoleransi besar, seolah-olah dia maklum sudah mengapa anak-anak di depannya itu berbuat nakal seperti itu dan sudah siap untuk memaafkan!

Akhirnya, menghadapi tiga orang wanita yang duduk bersila di depannya, yang hampir tidak berani lagi mengangkat muka memandangnya karena tanpa setahunya ada wibawa keluar dari dirinya, Sang Pangeran berkata, suaranya halus namun mengandung nada teguran.

"Bukahkah kalian berempat ini pernah menjadi pengawal-pengawal mendiang Sam-thaihouw?"

Tiga orang wanita itu mengangkat kepala untuk saling pandang dan mereka itu nampak bingung dan gugup, akan tetapi terpaksa A-hui, sebagai seorang pertama yang memimpin, memberanikan hatinya yang berdebar untuk mengangkat muka memandang wajah Pangeran itu.

"Benar, Pangeran...."

Jawabnya, suaranya lirih.

Akan tetapi setelah ia memandang mata yang tajam dan peramah itu, ke-beraniannya mulai timbul kembali dan ia mulai tersenyum manis.

Pangeran Kian Liong yang tahu bahwa tidak ada gunanya lagi baginya untuk menyamar, karena empat orang wanita ini sudah mengenalnya, lalu melepaskan topengnya, yaitu topeng penutup muka dan kepalanya.

Kepala gundul itu pun berobahlah menjadi kepala yang berambut hitam tebal, dan wajahnya yang aseli, wajah seorang pemuda tampan, nampaklah.

Dan kini A-hui dan dua orang adiknya memandang kagum.

Sinar matahari pagi telah menerobos masuk ke dalam kereta melalui celah-celah jendela kereta, dan melihat pemuda yang tampan dan berwibawa, yang sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut itu, diam-diam mereka kagum dan tunduk sekali.

Pangeran Kian Liong menanggalkan pula jubah pendeta dan kini sepenuhnya dia telah menjadi pangeran kembali, sungguhpun dia masih mengenakan sepatu pendeta karena sepatunya sendiri telah dipakai oleh Yu Hwi.

"Nah, katakan, apa maksud kalian melarikan aku ini? Apa yang kalian kehendaki dariku?"

Pertanyaan yang diajukan dengan kata-kata yang jelas, dengan suara yang tenang dan pandang mata yang tajam itu membuat A-hui nampak gugup.

"Kami.... kami...."

Dan ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya, muka sebentar pucat sebentar merah.

Hal ini tidaklah mengherankan.

Orang yang baginya penuh keinginan, penuh dengan ambisi, adalah orang yang tidak bebas sehingga gerak-geriknya tidak lagi dapat tenang dan wajar, melainkan setiap gerak-geriknya dipengaruhi oleh keadaan batinnya yang penuh keinginan itu.

Orang yang demikian inilah yang selalu menjilat-jilat di depan orang yang lebih tinggi atau yang dianggap lebih tinggi, dan selalu bersiap kejam dan menghina terhadap orang yang dianggap lebih rendah.

"Kalian disuruh oleh orang-orangnya mendiang Sam-thaihouw untuk menculikku dan kemudian membunuhku?"

Pangeran Kian Liong membentaknya, suaranya masih tenang, sedikit pun tidak nampak rasa takut pada wajahnya.

"Ah, tidak! Tidak sama sekali, Pangeran,"

Jawab A-hui.

"Sesung-guhnya.... kami.... eh, menyelamatkan Paduka dari cengkeraman beberapa golongan yang memperebutkan Paduka. Guru-guru kami sendiri tidak tahu bahwa kami telah berhasil berhasil menyelamatkan Paduka."

Pangeran Kian Liong mengerutkan alisnya.

Tentu saja dia tidak mau percaya begitu saja kepada mereka ini.

Dari kerling dan senyum mereka, dia tahu orang-orang macam apa adanya wanita-wanita ini.

Ada kecabulan dan kegenitan membayang di dalam sinar mata dan senyum mulut mereka.

Ada ketamakan besar terbayang dalam sinar mata itu.

"Hemm, begitukah? Ceritakan apa yang terjadi, dan mengapa kalian menyelamatkan aku, dan menyelamatkan dari apa?"

Setelah menarik napas panjang dan batuk-batuk kecil beberapa kali untuk menenangkan hatinya, akhirnya A-hui dapat bercerita dengan lancar, dengan sikap yang manis sekali.

"Pangeran, setelah mendiang Sam-thaihouw meninggal, kami keluar dari istana. Para suhu kami, yaitu Im-kan Ngo-ok, masih berhubungan dengan kaki tangan Sam-thaihouw, akan tetapi kami tidak lagi. Memang benar bahwa guru-guru kami menghendaki kami mengamat-amati Paduka dan membantu mereka untuk memberi laporan dan menanti saat baik agar mereka dapat menangkap Paduka. Dan memang kami yang melaporkan kepada mereka bahwa Paduka berada di Pao-ci, menyamar sebagai pemuda biasa dan bermalam di Kuil Hok-te-kong. Akan tetapi ketika kami melihat guru-guru kami berniat buruk terhadap Paduka, dan ketika guru-guru kami sedang berhadapan dengan orang-orang sakti yang sedang memperebutkan Paduka, yaitu di antara mereka adalah kaum patriot yang membenci Paduka karena kebangsaan Paduka, dan juga orang-orang kang-ouw yang sakit hati terhadap Sri Baginda Kaisar, maka kami mengambil jalan sendiri. Kami melihat Paduka dilarikan seorang hwesio tinggi besar yang amat lihai. Kami dapat menduga bahwa hwesio yang dipanggul itu tentulah Paduka, karena tadinya, hwesio yang mirip penyamaran Paduka adalah seorang hwesio Siauw-lim-pai yang pandai. Maka ketika Paduka ditinggal seorang diri, adik kami A-Ciu lalu melarikan Paduka, sedangkan kami bertiga siap di sini dengan kereta."

Sang Pangeran mengangguk-angguk.

Tentu saja dia maklum sekali bahwa di balik semua itu terkandung keinginan pribadi dari empat orang ini, karena sungguh sangat tidak boleh jadi kalau perbuatan mereka itu sernata-mata hendak "menolong"

Dia!

Melainkan hanya merupakan suatu cara untuk mencapai apa yang mereka lnginkan darinya, tentu saja!

"Sekarang, setelah kalian dapat membawaku, lalu apa yang hendak kalian lakukan?

Ke mana kalian hendak membawaku pergi?"

"Paduka masih terancam, karena orang-orang sakti dari beberapa golongan itu tentu masih akan terus mencari Paduka dan kalau mereka itu menemukan kami, tentu saja kami tidak mungkin akan dapat melawan mereka. Di antara mereka itu terdapat golongan guru-guru kami pula! Maka, harap Paduka suka ikut bersama kami dan akan kami sembunyikan di suatu tempat. Setelah keadaan mereda dan aman, barulah kami akan mengantar Paduka kembali ke kota raja dengan selamat.

"Sebelum memasuki kota Thian-sui, kereta itu membelok ke kanan dan di lembah Sungai Cing-ho mereka menuju ke sebuah pondok tua yang terpencil dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi sekali.

Akan tetapi ketika Pangeran dipersilakan masuk, ternyata pondok itu di sebelah dalamnya bersih dan baru saja dicat, dengan perabot sederhana namun serba baru dan bersih.

Agaknya, empat orang wanita ini memang sudah mempersiapkan tempat itu kalau-kalau mereka berhasil menguasai Pangeran dan secara cerdik mereka yang pura-pura membantu guru-guru mereka itu ternyata mempunyai rencana rendiri.

Ternyata bukan hanya isi pondok itu saja yang sudah mereka persiapkan bahkan di situ terdapat bahan-bahan masakan sehingga ketika mereka semua sudah memasuki pondok dan kereta disembunyikan di belakang pondok, empat orang wanita itu sibuk masak-masak sambil bernyanyi dan bersendau-gurau, membiarkan Sang Pangeran beristirahat di dalam sebuah kamar yang cukup bersih pula.

Akhirnya mereka berkumpul lagi di tengah pondok, di mana telah diatur meja makan bundar dan masakan-masakan yang masih mengepul panas memenuhi meja.

"Silakan makan, Pangeran!"

Kata mereka sambil tersenyum manis.

Ada yang menuangkan air teh panas, ada yang mengambilkan masakan dan lain-lain.

Pendeknya, Sang Pangeran dilayani dengan manis budi oleh mereka.

Pangeran Kian Liong juga menerima pelayanan itu tanpa banyak komentar, karena dia merasa lapar dan Pangeran ini makan dan minum tanpa sungkan lagi.

Setelah selesai makan dan meja dibersihkan, barulah Pangeran Kian Liong bertanya kepada empat orang wanita itu, yang kini telah membersihkan diri dan bertukar pakaian baru, dan A-ciu yang tadinya menyamar sebagai seorang pemuda itu kini ternyata merupakan wanita yang tercantik di antara mereka.

"Nah, sekarang katakanlah kepadaku. Mengapa kalian bersusah-payah hendak menolongku? Bukankah kalian ini bekas kaki tangan Sam-thaihouw yang selalu memusuhiku? Apa pamrih kalian yang bersembunyi di balik kalian ini? Kalian menghendaki hadiah dariku?"

Empat orang wanita itu saling pandang, kemudian A-hul, sebagai yang tertua dan pemimpin mereka, dengan sikap manis berkata.

"Terus terang saja, Pangeran, memang kami berempat meng-harapkan anugerah Paduka maka kami mati-matian menentang orang-orang sakti dan berani merebut dan menyelamatkan Paduka dari ancaman mereka."

"Hemm, anugerah apa yang kalian kehendaki dariku?"

Pangeran itu bertanya, tidak merasa heran karena memang sudah diduganya bahwa mereka ini tidak mungkin menolongnya tanpa pamrih.

"Uang?"

"Tidak, Pangeran. Kami tidak membutuhkan uang. Kami hanya menghendaki agar.... Pangeran mengambil kami sebagai selir-selir Paduka."

"Ah....?"

Wajah Pangeran itu berobah merah, karena malu dan juga marah.

"Apa.... apa alasannya maka kalian ingin menjadi selir-selirku?"

"Sejak lama kami berempat merasa amat kagum kepada Paduka, dan mencinta.... dan kami baru akan merasa berbahagia kalau dapat menjadi selir-selir Paduka yang selalu melayani Paduka dengan penuh kasih sayang...."

Kata pula A-hui dengan sikap manis.

Hampir saja Pangeran Kian Liong tertawa bergelak mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan suara halus ini.

Tentu saja isi hati wanita-wanita itu sudah jelas nampak olehnya.

"Hemm, kalian tdak menghendaki uang karena kalian akan mudah saja memperoleh uang kalau kalian kehendaki, maka kalian menginginkan agar memperoleh kedudukan tinggi, dan kelak mungkin akan menjadi seperti Sam-thaihouw, mempunyai kekuasaan besar di istana, Begitukah?"

"Terserah penilaian Paduka. Akan tetapi itulah kehendak kami, menjadi selir-selir Paduka sebagai imbalan pertolongan kami hari ini kepada Paduka, telah menyelamatkan Paduka dari ancaman maut di tangan musuh-musuh Paduka."

"Kalau aku tidak mau memenuhi kehendakmu menjadi selir-selirku itu?"

"Mau tidak mau Paduka harus memenuhi keinginan kami."

Kata A-hui sambil tersenyum.

"Ingat, Paduka berada di tangan kami, dan betapa mudahnya bagi kami untuk membunuh Paduka sekarang juga kalau kami kehendaki!"

Kata A-Ciu, wanita termuda yang tadi menyamar sebagai pria. Sang Pangeran tersenyum.

"Mengancam lagi. Heh, perempuan-perempuan bodoh, apakah kalian kira aku takut mati? Kalau aku takut mati, tak mungkin aku berada di sini. Entah sudah berapa puluh kali kematian mengancamku. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memaksaku melakukan sesuatu yan tidak kusukai."

Empat orang wanita itu saling pandang dan mereka merasa gelisah juga melihat sikap yang tenang sekali dari Pangeran muda itu.

Mereka seperti dapat merasakan bahwa seorang pangeran seperti ini tidak mungkin diancam dan dipaksa, maka jalan satu-satunya adalah bersikap manis dan membujuknya sampai berhasil.

"Harap Paduka maafkan kami, Pangeran, tiba-tiba A-bwe, orang ke tiga yang berbaju biru berkata halus.

"Tentu saja kami tidak akan berani mengganggu seujung rambut pun dari Paduka. Akan tetapi, sementara ini Paduka hanya tinggal bersama kami di sini, karena musuh-musuh Paduka masih berkeliaran mencari-cari Paduka."

Pangeran Kian Liong maklum bahwa orang-orang seperti mereka ini tidak akan segan-segan untuk melakukan kekerasan, bahkan mungkin saja membunuhnya.

Dia pun bukan orang bodoh yang nekat dan membiarkan mereka membunuhnya begitu saja.

Dia harus mencari kesempatan untuk membebaskan diri atau menanti sampai ada orang gagah yang membebaskannya dari tangan empat wanita ini.

Sementara itu, dia harus bersabar, walaupun ini bukan berarti bahwa dia akan merendahkan diri dan menuruti kemauan mereka.

"Boleh saja aku tinggal di sini asal kalian menyediakan kebutuhanku."

"Apa kebutuhan Paduka?"

"Buku bacaan yang baik, sejarah-sejarah kuno dan kitab-kitab syair. Makan minum setiap hari yang cukup pantas, kemudian, jangan kalian menggangguku dan membiarkan aku sendiri membaca kitab."

"Baiklah, Pangeran,"

Kata A-hui sam-bil berkedip kepada tiga orang adiknya, karena ia tahu bahwa terhadap seorang pangeran muda yang luar biasa ini mereka harus pandai bersiasat dan tidak bersikap kasar.

Biarlah Sang Pangeran merasa tenang dulu, hilang marahnya terhadap mereka dan perlahan-lahan mereka berempat akan dapat membujuk dan merayunya.

Seorang pria muda seperti itu, mustahil tidak akan jatuh menghadapi rayuan maut mereka berempat, apa lagi kalau dibantu dengan obat-obat perangsang yang dapat dengan mudah mereka campurkan di dalam makanan untuk Sang Pangeran.

Demikianlah, Sang Pangeran Mahkota disembunyikan oleh empat orang wanita itu tanpa ada yang mengetahuinya dan semua pencarian yang dilakukan oleh orang-orang berilmu tinggi itu, baik go-longan yang memusuhi Pangeran dan hendak membunuhnya, golongan patriot yang hendak menawannya maupun golongan pendekar yang hendak melindunginya, menjadi sia-sia belaka.

Dan tersiarlah berita bahwa Pangeran Mahkota telah lenyap dari kota Pao-ci tanpa meninggalkan jejak dan berita ini yang pernah dibicarakan oleh para pimpinan Kun-lunpai kepada Suma Kian Bu, Teng Siang In dan Bu Ci Sian.Berita ini pula yang membuat para pimpinan Kun-lun-pai mengutus murid Kun-lun-pai yang pada waktu itu dianggap paling boleh diandalkan, yaitu seorang pemuda bernama Cia Han Beng, untuk mewakili Kun-lun-pai dan ikut mencari Sang Pangeran.

Tentu saja pencarian dari pihak Kun-lun-pai ini mengandung maksud lain lagi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun-lun-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang patriotik, maka kalau mereka mencari Pangeran Mahkota, tentu dasarnya lain dan untuk kepentingan usaha mereka yang selalu ingin membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah.

Dan wakil mereka, yaitu pemuda Cia Han Beng, adalah seorang pemuda yang disakitkan hatinya oleh Kaisar Yung Ceng.

Ayahnya dibunuh dan ibunya dijadikan selir Kaisar!

Biarpun dendam telah dienyahkan dari batinnya, yaitu dendam pribadi, diisi dengan cita-cita patriotik untuk bangsanya, namun setidaknya peristiwa itu mempertebal sikapnya memusuhi pihak penjajah yang pada waktu itu dipimpin oleh Kaisar yang telah menghancurkan kelurga orang tuanya.

Dengan berita tentang hilangnya Pangeran Kian Liong, maka bermunculanlah tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti dan mereka ini dapat dibagi menjadi empat golongan.

Golongan pertama adalah golongan yang hendak menangkap dan bah-kan membunuh Sang Pangeran, yaitu mereka yang dahulunya menjadi anak buah Sam-thaihouw seperti Im-kan Ngo-ok dan yang lain-lain.

Golongan ke dua adalah para patriot yang selain hendak menyelamatkan Pangeran yang dianggapnya baik dan menguntung-kan rakyat kalau menjadi kaisar kelak, juga hendak mereka jadikan semacam sandera untuk, memaksa Kaisar memenuhi tuntutan-tuntutan mereka.

Golongan ke tiga adalah golongan para pembela Pangeran, yaitu selain para pembela resmi, tokoh-tokoh pembesar dan pengawal kerajaan, juga para pendekar yang mencinta Pangeran itu dan hendak menyelamatkannya dari ancaman bahaya musuh-musuhnya tentu saja, sedangkan golongan ke empat adalah golongan orang-orang seperti Cu Kang Bu dan Yu Hwi, yaitu yang mem-bela Pangeran sebagai pendekar-pendekar yang tidak ingin melihat perbuatan jahat dilakukan di depan mereka tanpa mereka menentangnya.

Su-bi Mo-li, empat orang wanita cantik itu, telah melakukan penyelewengan besar dan berbahaya sekali.

Mereka berempat itu telah berani mengkhianati atau menyeleweng dari perintah lima orang Im-kan Ngo-ok, yaitu guru-guru mereka.

Mereka telah membelakangi lima orang tokoh datuk besar itu dan tidak peduli lagi akan bahaya besar yang mengancam mereka kalau sampai perbuatannya ketahuan.

Semua penyelewengan bentuk apa pun juga didasari karena pengejaran akan sesuatu yang menyenangkan itulah yang membuat kita kadang-kadang menjadi buta, tidak mengenal bahaya, seperti sekelompok laron yang tertarlk oleh sinar api sehingga tidak tahu akan bahaya dan akhirnya mati terbakar api itu sendiri.

Mengapa setiap kesibukan kita, setiap tindakan kita, selalu menyembunyikan suatu pamrih untuk mencapai sesuatu yang kita anggap membahagiakan?

Mengapa kita selalu membayangkan telah melihat kebahagiaan tersembunyi di balik sesuatu sehingga kita mengejar-ngejar sesuatu itu dan berani mempertaruhkan segala-galanya untuk mengejar ini?

Kita bisa saja memberi nama yang muluk-muluk kepada pengejaran ini.

Namakanlah ia cita-cita, ambisi dan sebagainya.

Berilah alasan muluk-muluk pula bahwa pengejaran ini, cita-cita ini yang akan mengatakan kemajuan sukses, dan sebagainya.

Namun darimanakah timbulnya pengejaran ini?

Pengejaran ini timbul karena adanya suatu tujuan, suatu titik di "sana"

Yang kita anggap sebagai sesuatu yang akan mendatangkan kesenangan.

Keinginan mencapai tujuan yang dianggap menjadi sumber kesenangan tertentu inilah yang melahirkan pengejaran.

Ada yang mengejar-ngejar harta benda.

Ada yang mengejar-ngejar kedudukan.

Tentu saja dengan anggapan bahwa harta benda atau kedudukan itu akan mendatangkan kesenangan yang kadang-kadang dipandang, sebagai kebahagiaan.

Benarkah kita akan berbahagia kalau sudah memperoleh apa yang kita kejar itu?

Kepuasan karena terpenuhinya keinginan sesaat itu memang mungkin akan kita rasakan, akan tetapi kepuasan seperti itu sama sekali bukanlah kebahagiaan.

Kesenangan itu hanya, bertahan sebentar saja.

Segera akan terganti oleh kebosanan, dan kita akan melihat kenyataan bahwa yang tadinya dikejar-kejar dan kini sudah terdapat itu ternyata tidaklah seindah seperti yang kita gambarkan semula ketika kita masih mengejarnya!

Dan kita sudah dicengkeram oleh pengejaran akan sesuatu yang lain lagi, yang lebih indah lagi menurut pandangan kita, Dan mulailah kita terseret dan hanyut ke dalam arus keinginan yang takkan pernah menanti sebelum kita mati.

Dan kekecewaan-kekecewaan, kebosanan-kebosanan silih berganti menjadi ekor dari berhasilnya setiap pengejaran.

Ada pula pengejaran yang tujuannya bukan hal-hal lahiriah, melainkan hal-hal batiniah.

Akan tetapi, pada hakekatnya, mengejar sorga dan mengejar uang sama saja.

Mengejar Sorga pun, seperti mengejar uang, disebabkan oleh keinginan memperoleh sesuatu yang kita anggap menyenangkan.

Semua yang dikejar itu hanyalah kesenangan, tentu saja dapat "dibungkus"

Dengan pakaian yang bersih-bersih dan muluk-muluk.

Dan setiap pengejaran tentu mendatangkan konflik, karena pengejaran itu sendiri sudah merupakan hasil dari konflik, yaitu tidak puas dengan apa adanya dan menginginkan sesuatu yang belum ada.

Pengejaran pasti menimbulkan kekerasan, karena dalam pengejaran kita akan menghalau segala sesuatu yang kita anggap sebagai perintang.

Juga akan mendatangkan penyelewengan, karena kita ingin secepatnya memperoleh yang kita kejar, dengan cara apapun juga.

Dari sini timbullah penghalalan segala macam cara untuk mencapai tujuan.

Kita selalu haus akan kebahagiaan, karena kita merasa tidak bahagia!

Kita selalu memandang jauh ke depan, dengan anggapan bahwa di-SANA-lah terdapat kebahagiaan!

Semua ini membuat kita menjadi lengah.

Kenapa kita tidak mau membuka mata dan menghadapi saat ini, sekarang ini, menyelidiki yang di SINI, dan tidak terbuai oleh khayal dari keinginan akan hal-hal yang belum ada?

Mengapa menujukan pandang mata ke seberang sana dan tidak pernah mau mengamati seberang sini?

Memang lucu dan menyedihkan sekali hal ini.

Kita dapat melihat hal ini jelas tergambarkan oleh keadaan orang-orang yang suka memancing ikan.

Mereka yang duduk di seberang sana melempar kail mereka sejauh mungkin mendekati seberang sini dengan anggapan bahwa di seberang sinilah terdapat ikan terbanyak.

Sebaliknya yang duduk di seberang sini berusaha melemparkan kailnya sejauh mungkin mendekati seberang sana dengan pendapat yang sama, yaitu di seberang sanalah terdapat ikan terbanyak!

Perangai seperti inilah yang membuat mata kita selalu melihat bunga di kebun orang lebih indah daripada bunga di kebun sendiri!

Padahal, kebahagiaan hanya terdapat dalam saat demi saat sekarang, bukan terdapat dalam masa depan.

Namun, kita tidak pernah mau menyelidiki kenyataan ini.

Pikiran kita selalu penuh dengan kenangan masa lalu dan bayangan-bayangan masa depan, membuat kita buta terhadap saat itu!

Su-bi Mo-li sudah mempersiapkan segala-galanya demi berhasilnya usaha mereka.

Mereka bercita-cita untuk menjadi selir Pangeran, agar kelak dapat menjadi selir-selir Kaisar!

Dan mereka sudah merasa yakin akan hasil usaha mereka ini.

Mereka memperlakukan Pangeran dengan manis budi, setiap hari berusaha membujuk dan merayu Pangeran Kian Liong.

Mereka bahkan secara diam-diam memberi obat-obat ke dalam makanan Pangeran itu.

Dan semua ini tentu saja berhasil.

Sang Pangeran mulai merasakan adanya rangsangan berahi yang hebat, yang setiap hari semakin memuncak.

Hal ini menyiksanya dengan hebat.

Namun, Pangeran ini adalah seorang pemuda yang luar biasa, Seorang laki-laki sejati yang tidak lemah, dan betapapun hebat tubuhnya terpengaruh obat perangsang itu, namun batinnya masih kuat dan dia tidak pernah mau tunduk!

Obat perangsang itu hanya mampu mempengaruhi tubuhnya namun tidak dapat menodai batinnya, sehingga betapa pun empat orang wanita itu merayunya, dia tetap dapat mempertahankan diri dan menolak kehendak mereka yang bermaksud menjerumuskannya ke dalam perjinaan dengan mereka!

Melihat kekerasan hati Pangeran yang sukar diluluhkan ini, Su-bi Mo-li menjadi kecewa sekali.

Akan tetapi mereka tidak berani menambah obat-obat perangsang itu karena obat-obat itu kalau terlalu banyak dapat menjadi racun yang akan membunuh Sang Pangeran.

Maka, oleh kegagalan bujuk rayu ini mereka mengatur rencana lain.

"Pangeran yang keras kepala itu sukar ditundukkan,"

Kata A-hui ketika berunding dengan adik-adiknya.

"Kita sudah terlanjur bertindak sendiri. Tidak ada lain jalan lagi, kita harus mempergunakannya sebagai jalan untuk memperoleh pengampunan dan memperoleh kedudukan dari Kaisar! "Ah, apa yang kau maksudkan, Toaci?"

Tanya A-ciu terkejut.

"Maksudku? Tiada lain jalan, kita harus menghadap Kaisar, menceritakan bahwa kita telah berhasil menyelamatkan Pangeran dari cengkeraman maut dan untuk itu kita selain minta diampuni sebagai bekas orang-orang Sam-thaihouw, juga minta diberi kedudukan, kalau mungkin sebagai orang dalam istana!"

"Aihh, ngeri aku kalau harus menghadap Kaisar!"

Kata A-ciu yang tahu bahwa Kaisar bukan orang sembarangan dan betapa dengan gerakan jarinya saja Kaisar bisa menyuruh tangkap dan bunuh mereka seketika tanpa ada setan yang akan menyelamatkan mereka.

"Kita akan ditangkap dan dibunuh!"

Kata pula A-bwee, orang ke tiga dengan wajah berobah pucat.

"Tapi, Toaci berkata benar,"

Kata A-kiauw, orang ke dua.

"Apakah kalian lebih senang kalau bertemu dengan para suhu dan tewas di tangan mereka?"

Dua orang adiknya bergidik. Mati di tangan guru mereka, apalagi di tangan Ngo-ok, sungguh mengerikan sekali.

"Tiada pilihan lain bagi kita,"

Kata A-hui.

"Bertemu para suhu, kita akan celaka. Akan tetapi kalau menghadap Kaisar dengan membawa Pangeran, masih ada harapan bahwa permohonan kita akan terkabul. Betapapun juga, Sang Pangeran tentu akan menolong dan melindungi kita, bukankah kita selalu bersikap baik kepadanya?"

Para sumoinya setuju mendengar ucapan A-hui ini, dan pula memang mereka tidak menpunyai pilihan lagi yang lebih baik.

Maka beramai-ramai mereka lalu menghadap Pangeran Kian Liong.

Sang Pangeran yang sedang asyik membaca kitab itu memandang kepada mereka dan mengerutkan alisnya.

"Hemm, Su-bi Mo-li, kalian hendak melakukan apa lagi terhadap diriku?"

Seperti telah disetujui bersama, A-hui dan para sumoinya lalu menjatuhkan dirinya berlutut menghadap Sang Pangeran.

Pangeran Kian Liong terheran.

Memang biasanya, empat orang wanita ini selalu bersikap baik, manis, bahkan kadang-kadang terlalu manis dan genit, bersikap membujuk dan merayunya.

Akan tetapi belum pernah mereka memperlihatkan sikap begitu menghormat, sampai berlutut seperti sekarang.

Maka tahuiah Sang Pangeran yang cerdas ini bahwa tentu ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap ini, maka dia pun bersikap waspada sungguhpun dia tetap nampak tenang-tenang saja.

"Hamba berempat mohon ampun kepada Thaicu (Pangeran Mahkota) kalau ada kesalahan hamba sekalian selama hamba menyembunyikan dan melindungi Paduka di tempat ini,"

Kata A-hui mewakili adik-adiknya.

Pangeran Kian Liong tersenyum.

Sikap dan ucapan ini menunjukkan bahwa mereka ini agaknya sudah kehilangan akal kehabisan daya untuk merayunya, maka dengan cerdik mereka sebelumnya telah mohon ampun dan menonjolkan jasa mereka yang "melindunginya".

Akan tetapi hal itu saja sudah membuat hatinya merasa lega.

Agaknya dia tidak akan terganggu lagi oleh rayuan-rayuan mereka, pikirnya.

"Kalau memang kalian merasa telah melakukan sesuatu kesalahan, sadar akan kesalahan itu dan tidak melakukan lagi, maka itulah yang terutama. Bertaubat jauh lebih penting daripada minta maaf."

Lalu dia meman-dang tajam dan bertanya.

"Sekarang, apakah selanjutnya yang akan kalian lakukan terhadap diriku?"

"Hamba bermaksud untuk mengantar Paduka kembali ke istana Paduka di kota raja dengan naik kereta. Akan tetapi.... mengingat bahwa hamba berempat pernah membantu mendiang Sam-thaihouw, maka hamba merasa takut kepada Sri Baginda Kaisar. Siapakah yang akan dapat melindungi hamba sekalian di kota raja kecuali Paduka Thaicu yang bijaksana dan budiman? Oleh karena itu, hamba sekalian menyerahkan mati hidup hamba di tangan Paduka dan mohon Paduka sudi melindungi kami atas kemarahan Sri Baginda Kaisar kepada hamba berempat nanti."

Pangeran Kian Liong mengangguk-angguk.

"Permintaan kalian cukup pan-tas, akan kupertimbangkan kalau kita sudah tiba di kota raja dengan selamat."

Biarpun jawaban Sang Pangeran itu belum meyakinkan, namun empat orang wanita itu sudah merasa lega.

Mereka sudah tahu akan kebijaksanaan dan kemurahan hati Pangeran ini, Maka Pangeran Mahkota yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai seorang pangeran yang budiman ini tentu tidak akan menarik kembali janjinya.

Dan memang sikap mereka kini menjadi baik sekali, penuh hormat dan kegenitan mereka pun lenyap.

Malam itu mereka menjamu Pangeran dengan masakan-masakan bersih dan lezat, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka telah mempersiapkan kereta dan mempersilakan Sang Pangeran naik ke dalam kereta, ditemani oleh tiga orang di antara mereka sedangkan A-ciu, yang sudah menyamar sebagai seorang pria, duduk di tempat kusir.

Maka berangkatlah mereka meninggalkan hutan itu untuk mengawal Sang Pangeran kembali ke kota raja.

Tentu saja sebelumnya mereka telah melakukan penyelidikan dan melihat bahwa keadaan telah menjadi tenang dan dingin kembali, Dan tidak nampak ada orang-orang sakti yang berkeliaran di sekitar daerah itu.

Perjalanan ini dilakukan melalui lembah Sungai Huang-ho yang subur.

Di sepanjang perjalanan, Sang Pangeran sempat mengagumi keindahan dan kesuburan tanah di sepanjang lembah sungai ini dan merasa gembira sekali melihat hasil sawah ladang para petani disepanjang perjalanan itu.

Su-bi mo-li juga merasa girang dan lega karena selama melakukan perjalanan sampai selama tiga hari, tidak pernah ada gangguan terhadap mereka dan tidak pernah mereka melihat bayangan orang-orang sakti yang pernah mencoba untuk memperebutkan Sang Pangeran di kota Pao-ci.

Namun, perjalanan menuju ke kota raja masih jauh dan mereka baru akan merasa aman benar kalau sudah tiba di istana dan kalau Kaisar sudah benar-benar suka mengampuni mereka.

Pada hari ke empat, mereka menyeberangi Sungai Huang-ho.

Dengan dua buah perahu besar, mereka membawa kereta menyeberang, dan setelah tiba di seberang, mereka melanjutkan perjalanan memasuki daerah Propinsi Shan-si, dengan maksud menuju ke kota besar Tai-goan.

Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di jalan yang di kanan kirinya diapit oleh padang rumput yang luas.

Daerah ini merupakan daerah rawa sehingga tidak mudah ditanami oleh para petani.

Karena agak rendah maka sering digenangi air sungai kalau sedang naik.

Maka yang tumbuh di situ hanya rumput yang membentuk daerah itu menjadi padang rumput yang luas.

Akan tetapi jalan itu menuju ke sebuah bukit yang menjanjikan suasana lebih menyenangkan, dengan kehijauan pohon-pohon yang sudah nampak dari padang rumput itu.

"Kita berhenti mengaso di bukit itu,"

Kata Pangeran Kian Liong setelah dia menyingkap tirai depan.

"Aku sudah merasa lelah dan lapar."

"Baik, Pangeran,"

Jawab A-hui cepat dan ia menyuruh adiknya, A-ciu yang menjadi kusir itu untuk mempercepat jalannya kereta sampai ke bukit di depan.

Pagi tadi mereka sudah menukar kuda mereka dengan kuda-kuda baru yang segar dan kuat, maka perjalanan itu dapat dilanjutkan dengan cepat.

Kalau tadi di tepi sungai masih nampak banyak orang, kini makin lama jalan yang mereka lalui menjadi semakin sepi dan akhirnya setelah kereta tiba di bukit dan memasuki daerah berhutan, tak nampak ada seorang pun manusia kecuali mereka berlima.

Ketika melihat ada sebatang pohon besar yang daunnya amat rindang di tepi jalan, A-ciu menghentikan keretanya dan mereka lalu mempersilahkan Pangeran Kian Liong untuk beristirahat dan menyuguhkan makan minum kepadanya.

Semua ini dilakukan di dalam kereta saja, karena demi menjaga keamanan Sang Pangeran sendiri, Pangeran itu diminta agar tetap tinggal di dalam kereta dan tidak memperlihatkan dirinya.

Bahkan tiga orang wanita itu pun hanya berani keluar kalau tidak ada orang lain.

Mereka ini juga menyembunyikan diri di dalam kereta, dan hanya A-ciu seorang, yang telah menyamar sebagai seorang pemuda, yang berani memperlihatkan diri di atas tempat duduk kusir.

Mereka makan bersama.

Tiga orang wanita bersama Pangeran Kian Liong di dalam kereta sedangkan A-ciu yang berpakaian pria itu di atas kereta, di tempat duduk kusir.

Dengan ramah dan sopan, penuh hormat, tiga orang wanita itu melayani Pangeran Kian Liong makan minum, dan Pangeran yang sudah merasa lelah dan lapar itu pun tidak malu-malu lagi, makan dengan enaknya.

Tiba-tiba terdengar teriakan mengerikan dan kereta itu berguncang.

Pangerang Kian Liong hendak menyingkap tirai, akan tetapi lengannya di pegang oleh A-bwee, sedangkan A-hui sendiri lalu mengintai dari balik tirai.

Wanita itu hampir menjerit dan menutup mulut dengan tangannya ketika ia melihat bahwa A-ciu telah tewas dalam keadaan masih duduk di tempat kusir.

Darah menetes-netes turun dari sebuah lubang di pelipis kepalanya!

Tentu saja A-hui terkejut, juga kedua orang adiknya yang sudah ikut mengintai.

Mereka bertiga berloncatan keluar dengan marah bukan main melihat betapa adik seperguruan mereka yang paling muda itu telah dibunuh orang!

Begitu melompat keluar, mereka bertiga sudah mencabut pedang masing-masing.

Akan tetapi, ketika nampak berkelebatnya beberapa bayangan orang, tiga orang wanita ini menjadi pucat sekali, Mata mereka terbelalak, mulut ternganga tanpa dapat mengeluarkan suara apa-apa, hanya memandang bengong kepada lima orang yang bermunculan di depan mereka itu.

Im-kan Ngo-ok!

Tentu saja tubuh tiga orang wanita ini menggigil dan mereka merasa ketakutan berhadapan dengan lima orang guru mereka yang datang dengan lengkap itu.

Mereka memang sudah saling berunding dan mengambil keputusan bahwa kalau hanya satu atau dua di antara guru-guru mereka muncul, mereka berempat akan melakukan perlawanan dengan nekad.

Akan tetapi kini mereka berlima muncul semua!

Dan di pihak mereka, A-ciu telah di tewaskan!

Apa daya mereka?

Melawan?

Sama dengan membunuh diri!

Maka, dengan hati penuh rasa ngeri dan takut, tiga orang wanita itu yang merasa betapa lutut kaki menggigil dan lemas, segera menjatuhkan diri berlutut.

"Suhu sekalian.... harap ampunkan bahwa teecu telah terlambat.... tapi.... tapi teecu sudah menawan Pangeran dan hendak menyerahkannya kepada Suhu...."

Kata A-hui, mewakili dua orang adiknya yang sudah tidak mampu mengeluarkan suara lagi itu.

"Hemm, kalian kira kami tidak tahu bahwa kamu ingin menguasai Pangeran sendiri, kemudian hendak membawa Pangeran ke istana di kota raja, juga demi memenuhi keinginan kalian sendiri? Murid-murid murtad!"

Bentak Sam-ok.

Mendengar ini, tiga orang wanita itu menjadi semakin ketakutan dan kini mengertilah mereka mengapa A-ciu telah dibunuh oleh para guru mereka ini.

Kiranya rahasia mereka telah diketahui oleh lima orang sakti itu!

A-bwee yang mengingat betapa Ngo-ok amat mencintanya sebagai seorang kekasih, cepat maju ke depan kaki orang termuda dari Im-kan Ngo-ok itu.

"Ngo-suhu.... ampunkan teecu....!"

Ratapnya.

Ngo-ok tersenyum, lalu mengulurkan tangannya.

Melihat ini, giranglah hati Abwee.

Kalau guru ke lima ini melindunginya, agaknya masih ada harapan baginya untuk terbebas dari kematian di tangan guru-guru mereka ini.

Maka ia pun dengan manja, mempergunakan kecantikannya sebagai seorang wanita, bangkit dan menyerahkan diri ke dalam pelukan Ngo-ok merangkul dan membelainya.

Jari-jari tangan itu merayap ke mana-mana, sampai ke kukunya dan tiba-tiba A-bwe mengeluarkan jeritan yang menyayat hati, Tubuhnya terjengkang dan tangannya, kanan dan kiri, berlepotan darah karena kedua kuku ibu jari tangannya telah dicabut oleh Ngo-ok!

Rasa nyeri menyelinap dan menusuk-nusuk jantungnya, membuat wanita itu merintih-rintih memelas.

Akan tetapi lima orang datuk kaum sesat itu sama sekali tidak tergerak hatinya, sama sekali tidak menaruh kasihan kepada bekas murid-murid mereka sendiri.

Ngo-ok sudah memasangkan kuku-kuku tadi pada tasbehnya yang aneh, tasbeh yang terbuat daripada kuku-kuku ibu jari para wanita yang pernah menjadi korbannya, ratusan banyaknya!

A-hui dan A-kiauw yang menyaksikan peristiwa itu, menjadi putus asa dan maklum bahwa mereka tidak mungkin dapat diampuni, maka keduanya lalu meloncat dan hendak melarikan diri dari tempat itu.

Akan tetapi, Su-ok tertawa dan bersama dengan Sam-ok dia sudah meloncat ke depan, dan sebelum dua orang wanita itu dapat melihatnya, mereka sudah menghadang di depan.

Dua orang wanita itu menjadi nekad, meng-gerakkan pedangnya untuk menyerang.

Akan tetapi, beberapa jurus saja mereka sudah roboh terguling dengan kepala pecah dan tewas seketika!

Sedangkan A-bwee yang masih belum tewas itu lalu diseret oleh Ngo-ok ke balik semak-semak di mana Ngo-ok mempermainkan sampai akhirnya A-bwee juga tewas.

Ketika Ngo-ok sedang melampiaskan nafsu iblisnya di balik semak-semak, empat orang datuk lainnya menghampiri kereta.

Sang Pangeran sejak tadi menonton peristiwa di luar kereta itu dengan hati ngeri dan marah.

Mengingat betapa di negerinya terdapat orang-orang yang demikian kejamnya!

Mengapa pemerintah tidak turun tangan membasmi orang-orang yang begini jahat?

Die mengambil keputusan bahwa kelak, kalau dia sudah menjadi kaisar, dia akan mengerahkan orang-orang pandai untuk menangkapi, menghukum atau membunuh penjahatpenjahat seperti Im-kan Ngo-ok ini, karena kalau orang-orang jahat dan kejam seperti ini dibiarkan berkeliaran di dunia, tentu hanya akan menimbulkan kejahatan-kejahatan yang mengerikan seperti yang ditontonnya sekarang ini.

Dalam keadaan seperti itu, Sang Pangeran sama sekali tidak memikirkan dirinya yang terancam bahaya maut maka dia pun sama sekali tidak merasa takut.

Baru setelah empat orang kakek itu menghampiri ke arah kereta, Sang Pangeran merasa ngeri dan teringat bahwa Im-kan Ngo-ok itu muncul untuk menangkap dirinya!

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara berdesing nyaring sekali dan disusul oleh teriakan Ngo-ok.

Empat orang kakek itu terkejut dan cepat memutar tubuhnya memandang ke arah semak-semak di mana tadi Ngo-ok menyeret tubuh A-bwee yang masih merintih-rintih itu.

Dan mereka terbelalak melihat tubuh Ngo-ok keluar dari semak-semak dalam keadaan masih setengah telanjang dan kakek tosu yang bertubuh jangkung ini mendekap dadanya yang mengucurkan darah, terus mundur terhuyung.

Dari semak-semak itu keluar seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap, bersikap gagah sekali, memegang sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya kemerahan, dan memiliki sepasang mata yang mencorong menandakan bahwa pemuda itu adalah orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Han Beng!

Seperti kita ketahui, pemuda ini adalah murid Kun-lun-pai yang menerima pendidikan langsung dari Ketua Kun-lun-pai Thian Heng Tosu dan merupakan satu-satunya murid Kun-lun-pai yang tinggi dari tosu pertapa Ketua Kun-lun-pai itu.

Thian Heng Tosu memang sengaja memilih pemuda ini untuk mewakili Kun-lun-pai melaksanakan cita-cita Kun-lun-pai yang berjiwa patriot, menentang pemerintah penjajah dan membantu para pendekar Siauw-lim-pai yang telah dimusuhi oleh Kaisar itu.

Dan tugas pertama dari Cian Han Beng adalah ikut menyelidiki dan mencari Pangeran Kian Liong yang dikabarkan hilang di kota Pao-ci itu.

Ketika Cia Han Beng tiba di tempat itu dan melihat Su-bi Mo-li dibunuh oleh guru-guru mereka sendiri, dia tidak mau mencampurinya.

Dia hanya ingin melindungi Pangeran yang diduganya tentu berada di dalam kereta itu setelah dia mendengar percakapan antara Im-kan Ngo-ok dan Su-bi Mo-li.

Akan tetapi, ketika dia melihat Ngo-ok di belakang semak-semak sedang mempermainkan seorang di antara Su-bi Mo-li, pemuda ini tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

Bagaimanapun jahatnya, Su-bi Mo-li adalah wanita-wanita dan melihat A-bwee yang sudah setengah mati itu dipermainkan secara biadab oleh Ngo-ok sampai mati di belakang semak-semak, Han Beng segera menerjang dan menyerang dengan pedangnya!

Serangan Han Beng itu hebat sekali, dengan jurus rahasia dari Kun-lun-pai.

Dan Ngo-ok, seperti biasa.

memandang rendah kepada pemuda yang tidak pernah dikenalnya ini, maka dia pun menghadapi serangan itu seenaknya saja.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tahu-tahu pedang itu menerobos dan menusuk dadanya!

Dia mengerahkan sinkangnya, namun ternyata tenaga yang dipakai untuk menusuk itu pun kuat bukan main sehingga dia baru dapat melepaskan diri setelah pedang itu menusuk cukup dalam, membuat dia terhuyung ke belakang dan mengeluarkan teriakan kesakitan.

Melihat betapa Ngo-ok agaknya terluka parah oleh pemuda yang tak terkenal itu, empat orang datuk menjadi marah bukan main.

Mereka dapat menduga bahwa tentu pemuda ini merupakan seorang di antara pendekar yang melindungi Pangeran, maka Su-ok dan Sam-ok sudah menerjang maju dengan dahsyat.

Karena mereka berdua maklum bahwa orang yang telah melukai Ngo-ok dalam waktu sesingkat itu tentu memiliki kepandaian tinggi, maka keduanya sudah menerjang dengan pengerahan sin-kang sekuatnya dan begitu menerjang mereka pun sudah mengeluarkan ilmu mereka yang paling hebat.

Sam-ok sudah mengeluarkan Ilmu Thian-te Hong-i, yaitu menyerang sambil memutar-mutar tubuhnya seperti gasing itu, sedangkan Su-ok juga sudah mempergunakan pukulan Katak Buduknya yang ampuh.

Akan tetapi pendekar muda dari Kun-lun-pai ini adalah seorang murid yang selama bertahun-tahun digembleng sendiri oleh Thian Heng Tosu, seorang pertapa sakti yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas sekali dalam ilmu silat.

Han Beng memiliki pengertian yang mendalam dari pelbagai ilmu silat tinggi, dan dari suhunya dia pernah pula mendengar keistimewaan dari ilmu-ilmu seperti yang kini dihadapinya.

Gurunya pernah bicara tentang ilmu silat yang dilakukan dengan badan berputaran itu, juga pernah bicara tentang ilmu pukulan yang dilakukan sambil berjongkok itu.

Maka dia pun tidak bersikap ceroboh, maklum akan kelihaian lawan dan dia memutar pedangnya dengan cepat.

Dia tidak mau menangkis pukulan Su-ok, dan juga dia menahan bahaya yang datangnya dari Sam-ok dengan sinar pedangnya yang bercahaya kemerahan.

Pedang, di tangan pemuda ini bukan pedang sembarangan, melainkan sebuah pusaka dari Kun-lun-pai yang diterimanya dari suhunya.

Pedang itu berpamor daun-daun merah maka mempunyai sinar merah dan bernama Ang-hio-kiam (Pedang Daun Merah).

Sinar merah yang bergulung-gulung itu mengeluarkan suara berdesing nyaring dan segera nampak bahwa pemuda dengan pedang pusakanya itu ternyata memiliki ilmu pedang yang amat hebat sehingga tokoh ke tiga dan ke empat dari Im-kan Ngo-ok itu pun sampai terdesak oleh gulungan sinar pedang!

Tentu saja mereka menjadi terkejut sekali.

Kalau mereka berlima kewalahan menghadapi Bu-taihiap dan isterinya yang dibantu oleh Ban-kin-sian Cu Kang Bu, hal itu tidak membuat mereka penasaran.

Bu-taihiap adalah seorang pendekar sakti yang telah amat terkenal namanya sedangkan satu di antara isterinya yang tempo hari membantunya bukan lain adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, wanita sakti yang pernah menggegerkan dunia persilatan dengan perbuatannya yang amat berani, yaitu mencuri pedang Koai-liong-pokiam dari dalam istana.

Kemudian yang membantu mereka, Ban-kin-sian Cu Kang Bu, biarpun jarang keluar dari Lembah Suling Emas dan tidak terkenal di dunia kang-ouw, namun merupakan tokoh penghuni lembah itu, maka kekalahan Im-kan Ngo-ok dari mereka bukan merupakan hal yang perlu dibuat penasaran.

Akan tetapi kalau sekarang ini, dalam beberapa gebrakan saja Ngo-ok telah terluka, dan kini Su-ok bernama Sam-ok yang mengeroyok pemuda tak bernama itu malah terdesak, sungguh membuat orang merasa penasaran bukan main.

"Tahan!"

Teriakan Toa-ok ini amat berpengaruh dan dua orang temannya sudah mundur, juga Cia Han Beng menghentikan gerakan pedangnya, memandang tajam kepada lima orang datuk itu.

Ngo-ok masih mendekap dada dengan tangan kiri, akan tetapi tidak mengeluh lagi.

Tadi dia telah mengobati lukanya dan biarpun luka itu cukup parah, namun tidak membuat dia roboh.

Kini dia pun berdiri sambil memandang dengan muka merah penuh kebencian dan kemarahan kepada pemuda itu.

"Orang muda, siapakah engkau dan mengapa engkau menyerang kami? Mengapa engkau mencampuri urusan kami?"

Toa-ok bertanya karena menyaksikan kelihaian pemuda itu, dia harus lebih dulu mengenal siapa adanya orang ini sebelum turun tangan.

Pemuda itu melintangkan pedangnya di depan dada, memandang jijik kepada Ngo-ok, kemudian menjawab, suaranya lantang namun tenang.

"Aku bernama Cia Han Beng dari Kun-lun-pai."

"Ah, kiranya seorang pendekar Kun-lun!"

Kata Toa-ok dengan sikapnya yang lemah lembut dan halus itu, sungguh tidak sesuai dengan keadaan muka dan badannya yang mirip gorila.

"Kalau benar engkau dari Kun-lun-pai, orang muda, sungguh ada dua hal yang amat mengherankan hati kami."

"Katakanlah, apa yang mengherankan hati kalian Im-kan Ngo-ok?"

"Hem, bagus, kiranya engkau malah sudah mengenal kami. Di antara Kun-lun-pai dan kami, sejak dahulu tidak perhah ada permusuhan. Engkau sebagai seorang muda dari Kun-lun-pai telah mengenal kami, tentu telah mengenal pula Su-bi Mo-li, murid-murid kami yang kami hukum mati karena berkhianat dan murtad, mengapa engkau mencampuri urusan antara kami dan murid-murid kami? Itulah soal pertama yang mengherankan kami"

"Mudah saja aku menjawabnya,"

Kata Han Beng.

"Biarpun antara Kun-lun-pai dan Im-kan Ngo-ok tidak pernah ada permusuhan pribadi, akan tetapi hal itu tidak menghalangi aku untuk turun tangan apabila menyaksikan perbuatan yang jahat dan kejam. Aku tidak mencampuri urusan antara guru dan murid, sama sekali tidak. Aku tidak peduli apa yang terjadi antara kalian dan empat orang murid kalian yang sama sesatnya itu."

"Eh, omongan ngacau!"

Ngo-ok membentak.

"Kalau tidak mencampuri, mengapa engkau menyerangku?"

"Mudah saja jawabnya. Aku melihat seorang laki-laki yang berwatak binatang atau iblis sedang menganiaya dan memperkosa seorang wanita, maka tidak peduli siapa laki-laki itu dan siapa pula wanita itu, aku tidak dapat tinggal diam saja. Aku tidak berpihak, melainkan menentang perbuatan yang amat keji itu, oleh siapa dan terhadap siapa pun dilakukannya!"

"Hemm, hal itu dapat kami mengerti. Akan tetapi urusan ke dua yang kami heran. Di dalam kereta itu terdapat Pangeran Kian Liong, Pangeran Mahkota. Kami hendak menangkap dan membawanya pergi. Apakah engkau juga hendak menghalangi kami?"

"Tentu saja!"

Jawab Han Beng.

"Dan apa pula alasannya?"

Tanya Toa-ok.

"Bukankah Kun-lun-pai terkenal sebagai tempat para pendekar yang selalu menentang pemerintah penjajah? Apakah sekarang Kun-lun-pai sudah berbalik hati, menjadi anjing penjilat pemerintah penjajah?"

"Tutup mulut kalian yang busuk!"

Han Beng membentak marah sekali.

"Siapa tidak tahu bahwa Im-kan Ngo-ok yang menjadi anjing penjilat penjajah, dan kini membalik karena keadaan tidak menguntungkan? Ketahuilah, Im-kan Ngo-ok, kami Kun-lun-pai tetap berjiwa patriot, apa pun yang terjadi. Karena itulah maka aku harus melindungi Pangeran Kian Liong dan sama sekali bukan berarti bahwa kami hendak menjadi penjilat penjajah!"

"Bocah sombong!"

Terdengar Ji-ok menjerit marah dan wanita ini sudah menerjang ke depan, jari telunjuknya menyerang dengan ilmu yang dinamakan Kiam-ci (Jari Pedang) dan sinar yang tajam mengeluarkan suara mencicit me-nyambar ke arah leher Han Beng.

"Cringgg....!"

Han Beng menggerakkan pedang menangkis dan balas menyerang.

Sinar pedangnya meluncur ke arah dada wanita itu yang cepat meloncat ke be-lakang untuk mengelak, diam-diam harus mengakui bahwa gerakan pedang pemuda itu sungguh berbahaya sekali.

Toa-ok juga tidak tinggal diam, sudah menubruk maju dengan kedua lengannya yang berbulu itu bergerak aneh, akan tetapi dari gerakan itu timbul angin yang keras menyambar ke arah Han Beng.

Pemuda itu pun mengelak dan balas menyerang.

Dan majulah kelima Im-kan Ngo-ok mengeroyok, berjungkir balik dan mempergunakan kedua kakinya yang panjang untuk menyerang.

Cia Han Beng bukan tidak tahu bahwa lima orang lawannya adalah orang-orang sakti yang memiliki kepandaian tinggi sekali, maka dia sama sekali tidak memandang rendah, bahkan bersikap amat hati-hati.

Pedangnya diputar cepat menutupi dan melindungi seluruh tubuhnya dan dia tidak berani sembarangan menyerang setelah kini dikeroyok lima.

Mengurangi sedikit saja daya tahannya akan mendatangkan bahaya, dan menyerang berarti mengurangi pertahanannya.

Padahal, menghadapi lima orang itu, dia harus benar-benar melakukan pertahanan yang amat kuat.

Memang harus diakui bahwa Cia Han Beng telah mewarisi hampir semua kepandaian Ketua Kun-lun-pai yang menaruh harapan besar terhadap dirinya.

Akan tetapi betapapun juga, pemuda ini masih kurang pengalaman berkelahi menghadapi lawan-lawan tangguh dan kini, begitu keluar dari pertapaan, dia harus menghadapi lima orang Im-kan Ngo-ok sekaligus.

Tentu saja hal ini merupakan beban yang terlampau berat baginya.

Biarpun dia telah mainkan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang amat terkenal itu, yang telah dikuasainya sampai di bagian yang paling rahasia, namun menghadapi pengeroyokan lima orang datuk kaum sesat ini, perlahan-lahan Han Beng mulai terdesak hebat.

Namun, dia masih terus melakukan perlawanan dengan memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga angin pukulan-pukulan aneh dari mereka itu bahkan tidak mampu menembus gulungan sinar yang bertahan itu.

Betapapun juga, pemuda itu bukan tidak tahu bahwa kalau dilanjutkan lambat-laun dia akan kehilangan tenaga dan akhirnya akan menjadi semakin lemah.

Tidak demikian dengan pengeroyoknya karena dia harus mengeluarkan tenaga lima kali lipat untuk menghadapi lima orang pengeroyok ini.

Akhirnya dia akan kehabisan tenaga dan tentu akan kalah akhirnya dan pemuda ini mulai merasa bingung.

Dia tidak pernah memikirkan bahaya untuk dirinya sendiri, melainkan bingung memikirkan bagaimana dia akan dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, bagaimana dia akan mampu menyelamatkan Sang Pangeran yang masih berada di dalam kereta.

Dari dalam keretanya, Pangeran Kian Liong yang menyaksikan itu semua dan hatinya menjadi semakin tak senang, Sepak terjang Im-kan Ngo-ok sungguh membuat hatinya tidak senang.

Dia melihat kecurangan dan kekejaman yang luar biasa pada diri lima orang datuk sesat itu.

Melihat pemuda gagah perkasa itu dikeroyok lima orang kakek yang sudah menjadi datuk kaum sesat, Sang Pangeran merasa penasaran sekali.

Macam itukah watak datuk-datuk yang biasanya membanggakan dirinya?

Ternyata merupakan pembunuh-pembunuh dan tukang-tukang pukul tak tahu malu yang suka mengandalkan kepandaian sendiri dan mengandalkan jumlah besar saja.

"Hei!, Im-kan Ngo-ok, apakah kalian berlima tidak malu? Bukankah kalian adalah orang-orang tua yang sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw? Bahkan Sam-ok adalah bekas Koksu Nepal, bukan? Mengapa kalian tidak malu melakukan pengeroyokan? Kalian telah membunuh murid-murid kalian sendiri, hayo bebaskan pemuda gagah itu dan aku akan menyerah kepada kalian!"

Teriakan lantang dari Pangeran Kian Liong yang membuka tirai kereta itu amat mengherankan hati Han Beng.

Pemuda ini memang sudah banyak mendengar tentang kegagahan dan kebijaksanaan Pangeran Mahkota ini dan biarpun dia selalu ingat bahwa Pangeran itu adalah seorang Pangeran Mancu, seorang keluarga Kaisar penjajah, namun tetap saja dia merasa amat kagum mendengar ucapan yang mengandung kegagahan luar biasa itu.

Sementara itu, mendengar ucapan Sang Pangeran, Im-kan Ngo-ok merasa malu dan menjadi semakin penasaran dan marah.

Su-ok yang sudah mengalami banyak kekecewaan karena Pangeran ini, lalu meninggalkan Han Beng.

"Omitohud, Pangeran itu sungguh telah mendatangkan banyak kepusingan. Biarlah kuhabiskan saja riwayatnya."

Si Gundul Pendek ini lalu menggelinding menuju ke kereta.

Melihat ini, Cia Han Beng menjadi khawatir sekali akan keselamatan Sang Pangeran, maka dia memutar pedangnya untuk mencari kesempatan meloncat dan menyelamatkan Sang Pangeran.

Akan tetapi, empat orang pengeroyoknya yang maklum akan kehendaknya itu mengepung dan menyerang semakin ketat sehingga terpaksa Han Beng harus menjaga dirinya.

Su-ok telah berdiri di dekat kereta dan melihat Sang Pangeran duduk di dalam kereta, memandang kepadanya melalui jendela kereta yang sudah dibuka tirainya itu.

"Heh-heh-heh, Pangeran Kian Liong, engkau telah banyak merugikan kami, dan telah menghancurkan harapan kami untuk memperoleh kedudukan di istana. Oleh karena itu, aku akan membunuhmu sekarang juga."

"Kakek yang munafik, mati merupakan hal yang jauh lebih bersih daripada hidup akan tetapi seperti engkau ini, berlagak menjadi hwesio akan tetapi hidup sebagai datuk sesat yang jahat. Engkau mencemarkan agama, maka hidupmu tentu akan terkutuk!"

"Heh-heh, ngocehlah selagi engkau bisa, Pangeran. Sekarang bersiaplah untuk mampus!"

Berkata demikian, Su-ok lalu merendahkan tubuhnya dan mengerahkah tenaga dari ilmu Katak Buduk, bermaksud menghantam ke arah kereta agar Sang Pangeran tewas bersama hancurnya kereta itu.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara melengking nyaring dan ada sinar keemasan barkelebat, langsung sinar emas ini menyambar ke arah kepala gundul Su-ok!

Su-ok terkejut, karena dia sudah mengerahkan tenaga, maka dia pun lalu memukul dengan ilmu pukulan Katak Buduk ke arah sinar kuning emas yang menyambar itu.

"Dess...."

Bukan main hebatnya pertemuan antara tenaga Katak Buduk dan sinar kuning emas itu dan akibatnya....

tubuh Su-ok terguling-guling seperti sebuah bal ditendang!

Tentu saja Su-ok terkejut bukan main, dadanya terasa panas dan nyeri.

Ketika dia bangkit berdiri, ternyata di situ telah berdiri seorang dara cantik yang gagah, yang memegang sebatang suling Emas!

Bukan main rasa heran dan penasaran di dalam hatinya.

Melihat pemuda Kun-lun-pai itu saja sudah mendatangkan penasaran, sekarang muncul seorang dara yang memiliki tenaga sedemikian dahsyatnya, sehingga mampu menyambut pukulan saktinya, bahkan membuatnya terpelanting dan terguling-guling sampai jauh dengan dada terasa panas dan nyeri.

Dara itu bukan lain adalah Ci Sian!

Ketika melihat Han Beng dikeroyok, tentu saja Ci Sian segera menghampiri dan hendak turun tangan membantu.

Akan tetapi melihat Su-ok mendekati (Lanjut ke

Jilid 42) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 42 kereta dan mengancam Sang Pangeran, ia cepat menyambar dan menyelamatkan Sang Pangeran dengan menyambut serangan Su-ok yang dahsyat itu.

Karena ia sudah tahu bahwa Im-kan Ngo-ok adalah datuk-datuk kaum sesat yang berilmu tinggi, maka begitu terjun ia sudah mengerahkan khi-kangnya ketika menyambut pukulan sakti dari Su-ok yang mengakibatkan Si Gundul itu terlempar.

Su-ok yang sudah bangkit kembali itu memandang bengong.

Kini Ci Sian sudah menerjang dan membantu Han Beng, memutar sulingnya dan tanpa mengeluarkan sepatah pun kata ia sudah menyerang Ji-ok yang bertopeng tengkorak itu.

Ji-ok juga terkejut ketika ada sinar emas menyambarnya, dan ketika ia menangkis mempergunakan Kiam-ci, hampir saja ia terguling seperti yang telah dialami oleh Su-ok.

Terkejutlah Im-kan Ngo-ok melihat ini dan mereka teringat akan Kam Hong yang juga amat lihai dalam mempergunakan suling emas sebagai senjata.

Dan melihat kehebatan dara ini, mengertilah mereka bahwa pihak lawan bertambah dengan seorang yang lihai, biarpun hanya merupakan seorang gadis remaja saja.

Maka Su-ok juga cepat terjun ke medan perkelahian dan membantu teman-temannya.

Biarlah, Pangeran itu ditinggalkan sebentar.

Paling perlu merobohkan dua orang muda ini.

Pangeran itu pun tentu tidak akan mampu melarikan diri sampai jauh.

Cia Han Beng merasa girang bukan main melihat munculnya Ci Sian.

Bukan hanya gembira karena dia memperoleh seorang kawan yang amat lihai dan boleh diandalkan, akan tetapi juga gembira karena keselamatan Sang Pangeran dapat lebih terjamin sekarang, dan terutama sekali dia merasa gembira memperoleh kesempatan bertemu kembali dengan dara ini!

Biarpun pada lahirnya pemuda ini tidak memperlihatkan sesuatu, akan tetapi sesungguhnya dia telah jatuh hati kepada Ci Sian pada pertemuan pertama mereka di Kun-lun-san, terutama setelah keduanya saling menguji kepandaian dalam sebuah pibu persahabatan.

"Nona, terima kasih atas bantuanmu!"

Serunya dan kini pedangnya makin hebat gerakannya, menjadi gulungan sinar merah yang menyambar-nyambar dahsyat.

Ci Sian tidak menjawab, melainkan juga memutar sulingnya dengan tidak kalah dahsyatnya.

Kalau dulu mereka berpibu, kini mereka seolah-olah bersaing mendemonstrasikan kepandaian mereka.

Tentu saja yang rugi dalam hal ini adalah Im-kan Ngo-ok!

Menghadapi seorang Han Beng saja mereka tadi sudah merasa sukar sekali untuk merobohkannya, apalagi kini ditambah dengan nona yang memiliki kepandaian tidak berada di sebelah bawah tingkat pemuda Kun-lun-pai itu.

Setelah dibantu oleh Ci Sian, kini Han Beng mendesak lima orang datuk itu.

Sampai kurang lebih tiga puluh jurus, tiba-tiba Han Beng mengeluarkan bentakan nyaring.

"Haiiiitttt....!"

Pedangnya menyambar ganas, darah muncrat dan robohlah Ngo-ok yang memang sudah terluka dan paling lemah dan lambat gerakannya itu.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 8

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert