Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Kemala 6

Eps 6 Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Kemala - Kho Ping Hoo.

Pada suatu hari, pagi-pagi saja sudah terjadi keributan di pelabuhan, ketika para kuli angkut barang sibuk menurunkan barang dari sebuah kapal dan mengangkut barang ke kapal yang lain.

Seorang kuli muda yang bertubuh kokoh kekar, ketika sedang mengangkut sebuah peti, terpeleset pada anak tangga yang basah dan petinya terlepas, menimpa kaki seorang mandor kulit putih yang bertubuh gendut.

Biarpun kaki itu sudah terlindung sepatu kulit, akan tetapi karena peti itu berat, maka tentu saja kaki itu terasa nyeri bukan main.

Mandor itu berteriak kesakitan, lalu menyumpah-nyumpah dan menghajar kuli itu dengan pukulan-pukulan kanan kiri membuat kuli itu roboh sampai beberapa kali.

Tiap kali dia hendak bangkit, sepatu kiri yang tidak tertimpa peti tadi menyambar dan menendang kepalanya, dagunya, dadanya, membuat dia terjerembab kembali.

Kuli-kuli lain hanya memandang tanpa bergerak, seolah-olah semua kuli yang tadi sibuk bekerja itu tiba-tiba saja berubah menjadi patung.

Ada yang mukanya membayangkan kengerian, ketakutan, akan tetapi ada beberapa puluh orang kuli yang memandang dengan alis berkerut.

Mereka ini adalah sekelompok kuli yang memang mempunyai perasaan tidak suka dan hampir anti kepada orang-orang kulit putih.

Mereka itu bekerja sebagai kuli karena memang penghasilannya jauh lebih besar dari pada kalau menjadi petani atau nelayan, Akan tetapi juga karena mereka ingin mengintai apa yang dilakukan oleh bangsa yang tidak disukainya.

Jumlah mereka ada hampir tiga puluh orang dan kebetulan sekali yang menjadi pemimpin mereka adalah pemuda yang kini dijadikan bulan-bulan kemarahan mandor itu!

Tentu saja suasana menjadi tegang.

Setiap orang anggauta kelompok itu berhenti bekerja dan memandang dengan urat syaraf tegang dan siap siaga.

Akan tetapi, karena pemimpin mereka, pemuda yang bertubuh kokoh itu dipukuli dan ditendangi tanpa melawan, merekapun hanya merasa penasaran saja dan tidak bergerak.

Beberapa orang mador melerai dan menyabarkan kawan mereka.

Akan tetapi, mandor gendut yang mukanya merah seperti orang mabok itu sudah marah sekali.

"Tidak bisa! Tidak bisa kubiarkan saja dia meremukkan kakiku! Tangan yang melakukannya harus kupotong!"

Dan dia mencabut sebatang pisau belati, kemudian, tanpa dapat dicegah oleh kawan-kawannya, dia menubruk ke depan, pisaunya menyambar ke arah tangan kuli muda itu.

Tiba-tiba kuli muda yang tadinya hanya mandah saja dihujani pukulan dan tendangan sehingga mukanya matang biru dan benjol-benjol, kini melihat luncuran pisau belati berkilat yang mengancam tangannya, cepat menarik tangannya.

Hal ini membikin marah si mandor gendut, dan sambil memaki-maki dia menyerangkan pisaunya lagi, sekali ini malah ke arah perut kuli itu.

Marahlah orang yang diserang.

Serangan itu mengarah maut, maka dia harus mempertahankan dan membela diri.

Dengan sigap dia mengelak ke samping, lalu kakinya meluncur ke depan, tepat menendang selangkang mandor gendut itu.

"Aughhh... adduuhhhh...!"

Si mandor gendut mengaduh-aduh dan berloncatan sambil menggunakan kedua tangan mendekap selangkangnya yang kena tendang.

Kiut miut rasanya, nyeri itu menusuk-nusuk dari selangkang sampai jantung.

Pada waktu itu, Kapten Charles Elliot yang ditemani oleh Peter Dull yang dikawal oleh Koan Jit bersama beberapa orang jagoan berada pula di pelabuhan.

Kapten Charles Elliot ingin melihat sendiri pembongkaran peti-peti candu agar dapat diturunkan dengan selamat.

Walaupun antara pemerintah Ceng dan Pemerintah Inggeris telah terdapat persetujuan dan perdamaian, di mana disebutkan bahwa pemerintah Ceng memperbolehkan orang-orang kulit putih melakukan perdagangan dan berdiam di Kanton, namun perdagangan candu secara terang-terangan tetap dilarang.

Namun, karena benda ini amat menguntungkan, maka secara sembunyi-sembunyi, dengan peti-peti yang bercampur dengan barang-barang lain, dan dengan tanda-tanda bahwa peti-peti itu berisi barang lain, candu tetap dapat diselundupkan dan didaratkan dalam jumlah besar.

Hari itu, perusahaan Inggeris yang bergabung dalam East Indian Company mendaratkan sejumlah besar candu dalam peti-peti yang tulisan dan gambarnya menunjukkan bahwa peti-peti itu terisi barang dagangan.

Ketika para penjaga keamanan melihat mandor itu mengaduh-aduh, mereka menjadi marah.

Beberapa orang penjaga kulit putih lalu menghampiri dengan pistol di tangan.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan Letnan Peter Dull.

"Tahan! Mundur semua dan jangan tangkap kuli itu!"

Semua orang memandang heran dan tentu saja tidak ada yang berani membantah perintah letnan ini. Peter berbisik kepada Kapten Charles Elliot yang menjadi atasannya.

"Ini kesempatan baik untuk menguji kepandaian para pembantu kita."

Mendengar ini, Charles Elliot mengangguk dan melirik kepada Koan Jit.

Bagaimanapun Peter memuji-muji orang ini, kapten itu masih belum yakin benar, bahkan menaruh curiga terhadap laki-laki yang matanya seperti mata kucing itu.

Pada saat itu, di samping kuli muda tadi sudah berdiri empat orang lain yang merupakan tokoh-tokoh dalam kelompok mereka, dan bersama si pemuda, mereka pernah dikenal sebagai ahli-ahli silat yang cukup terkenal.

Mereka berdiri tegak, akan tetapi sikap mereka jelas menantang.

Empat orang itu adalah teman-teman si pemuda yang memimpin kelompok mereka dan mereka maju ketika tadi melihat betapa pemimpin mereka akan ditangkap, dan melihat lima orang yang merupakan tokoh-tokoh utama dari kelompok mereka sudah maju, dua puluh lebih anggauta kelompok itupun sudah siap siaga untuk bertempur!

Tujuh orang jagoan yang mengawal Peter dan Charles Elliot yang maklum bahwa mereka diharapkan untuk menumpas pengacau itu tanpa mempergunakan senjata api, karena hal itu akan memancing keributan antara orang kulit putih dengan pemerintah daerah, lalu maju menghampiri lima orang itu.

Peter mengedipkan matanya kepada Charles Elliot.

Kapten ini maklum.

Memang, dia dan pembantunya sudah mengambil keputusan untuk mempergunakan kebijaksanaan dalam menghadapi pribumi yang anti kulit putih, yakin dengan cara mengadu domba antara mereka dengan jagoan-jagoan bayaran mereka.

Tentu saja pasukan mereka akan mampu membereskan perusuh-perusuh itu, akan tetapi kalau senjata api dipergunakan, tentu pihak pemerintah akan mencampuri dan perdamaian akan terganggu lagi.

Hal ini hanya memancing keributan dan keresahan.

Biarkan orang-orang itu saling hantam, dan sedapat mungkin Charles Elliot akan membasmi mereka yang anti kulit putih dengan menggunakan tenaga-tenaga bayaran dari orang pribumi.

Tujuh orang jagoan itu tanpa banyak cakap lagi lalu menerjang lima orang yang sudah siap untuk membela diri.

Terjadilah perkelahian seru antara seru antara lima orang perusuh itu dengan tujuh orang jagoan.

Akan tetapi, Peter mengerutkan alisnya melihat betapa tujuh orang jagoannya itu jelas kalah kuat.

Mereka dihajar habis-habisan, jatuh bangun dan sama sekali tidak mampu menandingi lima orang yang ternyata pandai ilmu silat itu, jauh lebih pandai dibandingkan tujuh orang jagoannya yang hanya menang lagak saja.

Charles Elliot juga marah dan kecewa.

"Suruh para pengawal kita maju!"

Katanya ke pada Peter.

"Nanti dulu, Kapten!"

Peter membantah.

"Inilah kesempatan untuk menguji kelihaian pembantu baru ini."

Karena dia bicara dalam bahasanya sendiri, Koan Jit tidak dapat menangkap artinya, namun dia mengerti ketika dua orang itu bicara sambil memandang kepadanya.

"Tuan Letnan, biar aku yang akan menghajar mereka!"

Katanya.

Peter mengangguk dan dengan langkah lebar Koan Jit lalu maju ke dalam arena perkelahian yang ditonton banyak sekali orang itu, baik dari pihak para kuli maupun dari pihak orang kulit putih yang menjadi mandor dan lain-lain.

"Mundurlah kalian!"

Bentak Koan Jit kepada tujuh orang jagoan yang ternyata tidak mampu menandingi lima orang itu.

Dengan lagak yang masih gagah-gagahan, walaupun muka mereka bengkak-bengkak dan ada pula yang terpincang-pincang, tujuh orang itu mundur dan menonton dengan dada terangkat dan tangan terkepal, seolah-olah mereka itu terpaksa mundur karena perintah atasan.

Hanya mereka sendiri yang tahu betapa lega hati mereka, karena kalau tidak disuruh mundur, akhirnya mereka akan roboh semua.

Lima orang kuli itu ternyata amat lihai, terutama sekali pemuda yang tadi menendang selangkang mandor gendut.

Kini semua mata ditujukan kepada Koan Jit.

Tubuhnya yang tinggi kurus dengan muka hitam dan pakaian serba hitam itu tidak terlalu mengesankan memang, akan tetapi lima orang itu merasa ngeri ketika mereka bertemu pandang dengan sepasang mata yang mencorong kehijauan seperti mata kucing itu.

Tiba-tiba terdengar suara Peter Dull berteriak.

"Koan Jit, jangan bunuh mereka akan tetapi beri hajaran agar mereka kapok!"

Koan Jit mengerutkan alisnya.

Kalau menurut keinginannya, lebih mudah membunuh mereka.

Akan tetapi diapun sedang mencari muka agar diperhatikan oleh Kapten Charles Elliot karena dia tahu bahwa kapten inilah yang berkuasa di antara pasukan kulit putih, bukan Peter Dull.

Koan Jit memasuki benteng pasukan kulit putih sebagai sekutu atau pembantu bukan sekedar iseng.

Dia sudah memiliki perhitungan masak-masak.

Dia melihat kekuatan yang amat besar di dalam pasukan itu, dengan senjata-senjata apinya besar kecil yang amat sukar dilawan dengan ilmu silat saja.

Maka, selain mencari tempat yang aman untuk berlindung, juga dia dapat mempergunakan kekuatan pasukan kulit putih untuk mencapai kedudukan, baik sebagi pimpinan kau m sesat, juga kedudukan tinggi di dalam pasukan itu sendiri.

Dia sengaja membiarkan Peter Dull dan pasukannya mencari-cari Diana, pura-pura membantu namun tidak sungguh-sungguh membantu.

Dia ingin melihat Peter Dull gagal dalam usahanya, dan kelak setelah keluarga Charles Elliot benar-benar kebingungan, barulah dia akan tampil sebagai bintang penolong!

Tentu jasanya akan besar sekali.

Kedudukan Peter Dull sebagai tangan kanan kapten itu harus diraihnya.

Dia memiliki cita-cita yang lebih besar lagi.

Bahkan pernah dia bermimpi betapa bersama pasukan kulit putih dia menyerbu dan merampas tahta Kerajaan Mancu dan karena jasajasanya, maka orang-orang kulit putih mengengkat dia sebagai kaisar baru!

Karena itu, mendengar perintah yang dikeluarkan oleh mulut Peter Dull tadi, Koan Jit menoleh kepada Kapten Charles Elliot.

Dia tahu bahwa kapten itu belum percaya benar kepadanya, baik kelihaiannya maupun kesetiaannya.

Dengan pandang matanya dia bertanya dan menanti keputusan kapten itu sebagai orang atasan yang paling berkuasa.

Agaknya kapten inipun maklum bahwa orang tinggi kurus ini mengharapkan pendapatnya, maka diapun mengangkat tangan berkata.

"Hajar saja mereka semua, jangan membunuh karena hal itu akan menimbulkan keributan."

Ucapan ini melegakan hati Koan Jit. Dia lalu berkata.

"Baik, aku akan menghajar mereka semua sampai kapok!"

Setelah berkata demikian, Koan Jit melangkah lebar ke arah lima orang yang masih bersiap siaga itu.

Melihat munculnya orang tinggi kurus berpakaian hitam ini seorang diri saja, tanpa senjata, lima orang itu tentu saja memandang rendah.

"Kalian berlima berlututlah dan menerima hukuman cambuk dengan suka rela, atau aku akan menghajarmu lebih parah lagi,"

Kata Koan Jit, sengaja berkata demikian untuk memperlihatkan kebesarannya.

Tentu saja lima orang yang anti kulit putih itu tidak sudi menyerah, dan mereka semua memandang Koan Jit yang dianggap sebagai antek dan kaki tangan kulit putih itu penuh kebencian.

"Cuhhh!"

Pemimpin kelompok yang masih muda dan bertubuh kokoh itu meludah ke arah Koan Jit, lalu dia berkata kepada teman-temannya.

"Biar aku sendiri yang mematahkan kaki tangan anjing penjilat iblis-iblis putih ini!"

Dan diapun menerjang dengan dahsyatnya, mengirim pukulan ke arah kepala Koan Jit.

Koan Jit miringkan kepalanya sehingga pukulan itu lewat.

Akan tetapi kuli muda itu memukul lagi dengan tangan kiri, menonjok dada.

Sekali ini Koan Jit tidak mengelak, juga tidak menangkis.

"Dukkk!!"

Pukulan itu kuat sekali datangnya dan tepat mengenai dada Koan Jit.

Akan tetapi tubuh yang jangkung kurus itu sama sekali tidak tergoyahkan, dan sebaliknya, si pemukul yang merasa tangannya seolah-olah bertemu dengan dinding baja dan nyeri sekali, seperti remuk-remuk semua tulangnya.

Dan pada saat itu, Koan Jit mengayun tangannya menampar.

"Plakkk!"

Tubuh orang muda itu terpelanting seperti disambar petir dan dia tak dapat berkutik lagi, dari mulut dan hidungnya keluar darah segar!

Melihat ini, empat orang pembantunya tadi terkejut dan marah.

Mereka langsung menyerbu dan menyerang Koan Jit dengan marah sekali.

Kembali pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan menghujani tubuh Koan Jit yang memang hendak memperlihatkan kekebalannya kepada semua orang, terutama kepada Kapten Charles Elliot.

Terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi anehnya, bukan tubuh orang yang menjadi sasaran pukulan-pukulan itu yang roboh, melainkan empat orang pemukul dan penendang itu yang mengeluarkan seruan-seruan kaget dan kesakitan ketika kaki dan tangan mereka kesakitan karena rasanya seperti membentur dinding baja.

Dan sebelum mereka sempat menyerang lagi, Koan Jit sudah menggerakkan kedua tangan, membagi-bagi tamparan dan empat orang itupun berpelantingan dan roboh pingsan!

Menyaksikan kehebatan ini, Kapten Charles Elliot sendiri terkejut dan kagum bukan main, akan tetapi juga khawatir.

"Jangan membunuh...!"

"Harap Kapten jangan khawatir. Koan Jit akan mentaati perintah dan orang-orang itu tidak dibunuh, hanya dipukul pingsan saja,"

Kata Peter Dull dengan suara mengandung kebanggaan karena bagaimanapun juga, dialah yang telah menemukan Koan Jit dan berhasil membujuknya menjadi sekutu.

Kini, dua puluh lebih orang kuli yang menjadi kawan-kawan lima orang itu sudah menyerbu dan mengeroyok Koan Jit, bahkan di antara mereka ada yang membawa senjata sepotong besi dan lain-lain alat pengangkut yang terdapat di tempat itu.

Dan terjadilah perkelahian yang makin mengagumkan hati Kapten Charles Elliot dan juga mengagumkan hati semua mandor dan orang kulit putih yang berada di situ.

Seorang diri saja, Koan Jit melayani pengeroyokan demikian banyaknya orang-orang yang buas karena kemarahan dan dia bergerak seenaknya saja.

Akan tetapi, ke manapun juga tangannya melayang, tentu seorang pengeroyok terlempar dan kesakitan, pingsan atau merangkak-rangkak tak dapat bangkit kembali karena mengalami patah tulang.

Dan dalam waktu yang amat singkat, hampir tiga puluh orang perusuh itu kini semua menggeletak malang melintang, tubuh mereka berserakan, ada yang pingsan dan ada yang merintih-rintih karena patah tulang dan kesakitan.

"Orang ini berbahaya sekali..."

Kata kapten itu kepada pembantunya, akan tetapi Peter Dull tersenyum kegirangan karena makin yakinlah hatinya bahwa Koan Jit benar-benar merupakan tenaga bantuan yang amat berharga bagi kesatuannya.

Peristiwa ini membawa perubahan semakin besar kepada Koan Jit.

Kini Kapten Charles Elliot sendiri yakin akan kehebatan orang ini, dan karena jasanya, juga disesuaikan dengan kemampuannya, kini Koan Jit diangkat menjadi komandan pasukan pribumi yang dibentuk tidak lama kemudian.

Pasukan ini terdiri dari jagoan-jagoan yang berhasil dikumpulkan Peter Dull dan kemudian diperkembangkan oleh Koan Jit.

Dia menaklukkan tokoh-tokoh sesat dan memaksa mereka itu masuk menjadi anggauta pasukannya.

Pasukan yang terdiri dari pribumi ini mempunyai bendera sendiri, akan tetapi berada di bawah armada Inggeris dan mendapatkan tempat di perbentengan yang dibangun di tepi pantai.

Koan Jit amat disegani, dan menduduki tempat penting karena sebagai komandan pasukan itu, dia dianggap seorang perwira tinggi yang kedudukannya hampir setingkat dengan Peter Dull.

Bukan Kapten Charles Elliot lagi yang membawahinya, melainkan komandan armada yang pangkatnya jauh lebih tinggi dari pada kapten itu!

Pasukan yang dipimpin Koan Jit kini terdiri dari tigaratus orang lebih dan diberi nama Pasukan Harimau Terbang!

Semua anggauta pasukan ini mengenakan topi yang terbuat dari kulit harimau!

Karena rata-rata memiliki ilmu silat lumayan dan gerakan mereka cepat, maka diberi nama Harimau Terbang.

Sementara itu, Kapten Charles Elliot merasa semakin gelisah karena usaha Peter Dull untuk mencari keponakannyabelum berhasil, pada hal lenyapnya Diana sudah berjalan selama hampir tiga bulan!

Dia merasa khawatir sekali kalau-kalau keponakannya itu melakukan penyelewengan seperti yang dilakukan Sheila, puteri mendiang Hellway yang lenyap itu kabarnya telah menjadi isteri seorang di antara para pemberontak!

Hal ini merupakan sebuah tamparan yang amat hebat bagi orang-orang kulit putih.

Dan dia merasa khawatir sekali kalau-kalau Diana juga mengalami nasib buruk seperti yang dialami Sheila.

Dia yang akan menderita aib kalau sampai terjadi hal yang amat memalukan itu.

Pada pagi itu, Kapten Elliot membicarakan soal Diana dengan Peter Dull.

Untuk kesekian kalinya, dia menegur pembantunya itu.

"Peter, mengapa sampai kini engkau belum juga berhasil menemukan Diana? Ah, apa yang terjadi dengan anak yang malang itu? Apakah engkau tidak mengerahkan seluruh tenaga untuk mencarinya? Ingat, Peter, engkau lah yang bertanggung jawab karena Diana lenyap ketika berjalan-jalan denganmu!"

Peter Dull menarik napas panjang. Hal ini memang selalu mengganggunya, bahkan membuat gelisah tak dapat tidur setiap malam.

"Kapten, saya mencinta Diana. Sayalah di samping Kapten yang merupakan orang yang merasa paling kehilangan dan gelisah. Rasanya, saya mau mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan kembali. Tentang kehilangan itu... saya kira Kapten sudah mengenal watak Diana yang keras. Diana yang memaksa saya melakukan perjalanan sejauh itu, bahkan ia juga membalapkan kudanya sampai tak dapat saya susul. Hal ini sudah saya ceritakan berkali-kali...!"

"Aku tidak perduli semua itu! Yang penting, Diana harus dapat kita temukan kembali! Harus!! Dan siapa lagi kalau bukan engkau yang dapat kuharapkan dan kupercaya untuk melakukan tugas itu sampai berhasil?"

"Selama ini saya tidak pernah berhenti berusaha menyebar orang-orang kita, bahkan juga pasukan Harimau Terbang sudah membantu, akan tetapi hasilnya kosong. Dengan sedih saya terpaksa berterus terang dengan dugaan saya bahwa Diana terjatuh ke tangan para pemberontak yang anti kepada kita, sehingga mereka itu merahasiakan di mana adanya Diana."

"Kita harus dapat menemukan Diana!"

Kapten itu marah sekali dan juga gelisah.

"Panggil Koan Jit ke sini!"

Koan Jit dipanggil menghadap dan diam-diam orang ini merasa gembira sekali.

Inilah saat yang dinanti-nantinya.

Ketika Kapten itu menyatakan keinginannya agar Koan Jit turun tangan dan membantu sungguh-sungguh agar Diana dapat ditemukan kembali, sengaja Koan Jit menoleh kepada Peter Dull dan berkata.

"Harap Kapten suka memaafkan saya. Selama ini, saya hanya melakukan perintahperintah Letnan Peter Dull dalam usaha mencari keponakan Tuan."

"Cukup! Sekarang engkau menerima perintah langsung dariku dan kau boleh melakukan pencarian dengan caramu sendiri!"

Kata Kapten itu tak sabar.

"Baiklah, Kapten. Mulai hari ini, saya akan berusaha mati-matian untuk menemukan keponakan Tuan, dan akan saya kerahkan anak buah saya dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Saya yakin bahwa dalam waktu singkat tentu akan dapat diperoleh kabar tentang keponakan Tuan itu."

Dia berhenti sebentar dan berkata kepada Letnan Peter Dull.

"Apakah Letnan sudah menyampaikan permintaan saya kepada Kapten?"

Peter Dull sedang pusing karena dimarahi atasannya.

"Permintaanmu itu sedang kupertimbangkan dan tidak ada sangkut pautnya dengan usaha mencari Diana!"

"Apa permintaanmu itu, Koan Jit?"

Mendengar pertanyaan itu, Koan Jit tersenyum.

"Saya ingin sekali melihat kemajuan kekuasaan pasukan Inggeris dan satu-satunya hal yang menjadi penghalang besar adalah kelompok-kelompok yang anti kepada bangsa kulit putih. Saya ingin mengundang semua tokoh persilatan, terutama dari golongan hitam untuk kita ajak bersama menghadapi pemerintah Mancu. Kalau mereka semua sudah berpihak kepada kita, tentu golongan yang anti kepada kita itu akan mundur. Dan saya minta agar pasukan Inggeris membantu saya dalam hal ini, yaitu setelah mereka datang berkumpul, kita basmi mereka yang tidak mau bersekutu. Dan agar pasukan membantu saya supaya dapat menjadi beng-cu di antara mereka."

Bagi Kapten Charles Elliot, semua usul Koan Jit itu dianggap hanya ambisi seorang yang ingin menjadi pemimpin para jagoan. Dia sedang pusing memikirkan Diana, maka permintaan itu dianggap sepele saja.

"Baiklah, kami akan membantumu kelak. Sekarang yang penting adalah mencari Diana sampai dapat. Tentang usul-usulmu, akan kubicarakan dengan Admiral Elliot, dan aku yakin dia akan setuju karena usahamu itu untuk memperkuat kedudukan kami pula."

Bukan main girang hati Koan Jit mendengar ini.

Admiral Elliot adalah komandan tertinggi dari armada Inggeris yang datang dan memberi hajaran kepada pemerintah Mancu karena membakar candu sehingga timbul perang candu.

Pasukan Harimau Terbang memang juga direstui oleh Admiral, akan tetapi dia, Sebagai komandan pasukan itu yang dianggap kecil, mana mungkin bertemu dan bicara dengan Admiral Elliot yang kedudukannya demikian tinggi, sebagai wakil dari Kerajaan Inggeris?

Akan tetapi, melalui kapten ini yang masih keponakan dari admiral itu, tentu usul-usulnya akan dapat disampaikan langsung dan kalau sampai dia dapat menjadi beng-cu, kalau sampai dia dapat memperoleh kedudukan tinggi di dalam pasukan Inggeris dan menguasai dunia hitam, tentu akan mudah mencapai puncak cita-citanya, yaitu merebut tahta Kerajaan Ceng!

Memang sebetulnya, mencari Diana sampai dapat, baik orangnya kalau masih hidup atau keterangan tentang dirinya kalau sudah mati, tidak terlalu sukar bagi Koan Jit kalau memang hal itu dikehendakinya.

Sekarang, setelah dia mendapatkan tugas langsung dari Kapten Charles Elliot, Koan Jit lalu mengerahkan anak buahnya, menyuruh mereka menanggalkan pakaian seragam, mengenakan pakaian biasa dan membagi-bagi kelompok pergi mencari keterangan tentang seorang gadis kulit putih yang mungkin tinggal di daerah padalaman.

Dengan berkelompok antara lima sampai se puluh orang, ratusan orang anggauta Harimau Terbang itu dalam pakaian preman mulai melakukan penyelidikan.

Mereka menyusup-nyusup ke dalam hutan-hutan, naik turun bukit, menyusuri sepanjang sungai sampai mereka tiba di daerah-daerah terpencil.

Akhirnya, beberapa hari kemudian saja, sekelompok yang terdiri dari se puluh orang dapat menemukan jejak, yaitu ketika mereka mendengar bahwa di suatu dusun terpencil terdapat seorang wanita kulit putih yang hidup seperti penduduk dusun.

Tentu saja mereka merasa girang sekali dan dengan cepat mereka mendatangi dusun itu.

Memang berita itu tidak bohong.

Di dusun itulah hidup Diana!

Selama lebih dari tiga bulan Diana hidup sebagai seorang gadis dusun.

Kini kulitnya yang biasanya putih mulus itu menjadi kemerahan dan wajahnya kini nampak berseri penuh gairah hidup.

Ia sudah terbiasa dengan kehidupan miskin sederhana, bahkan mulai dapat menikmati kehidupan ini dan mulai mengerti akan makna kebahagiaan hidup.

Berkat pendidikannya, ia bahkan mulai mengajarkan segala macam pengetahuan praktis kepada penduduk, tentang pemeliharaan kesehatan, tentang pengolahan tanah yang diketahuinya dari buku-buku, tentang kebersihan dan lain-lain.

Di samping itu, iapun menerima pelajaran yang langsung didapatnya dari praktek.

Bahkan ia sempat pula belajar ilmu silat dari Lauw Sek yang sudah menganggapnya sebagai anak atau keponakan sendiri.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Diana sudah pergi ke sawah ladang bersama keluarga Lauw.

Pagi itu mereka akan menuai padi yang sudah menguning tua.

Juga para penduduk dusun itu, pagi-pagi sekali sudah meninggalkan rumah, pergi ke sawah.

Karena sawah mereka menghasilkan padi yang gemuk dan subur, semua orang bergembira dan bahkan ada yang bernyanyi-nyanyi dengan suara lantang ketika mereka menuai padi.

Seorang di antara kau m wanita yang sedang menuai padi itu tiba-tiba minta agar Diana suka bernyanyi.

Permintaan ini segera didukung oleh semua orang dan sambil tersenyum gembira akhirnya Diana memenuhi permintaan mereka dan sambil menuai padi, iapun bernyanyi.

Ia menyanyikan sebuah lagu Inggeris yang biarpun tidak dimengerti arti kata-katanya oleh mereka yang mendengarkan, namun karena suara Diana merdu dan lagu itu adalah lagu rakyat, mereka dapat juga menikmati lagu itu.

Akan tetapi, tiba-tiba semua orang terkejut dan Diana menghentikan nyanyiannya.

Sekelompok orang muncul di tengah sawah dan mereka itu adalah se puluh orang laki-laki yang kelihatan kasar dan bengis.

Apa lagi melihat betapa di punggung mereka terselip golok atau pedang, semua orang makin ketakutan.

Pada jaman itu, pemerintah melarang orang membawa senjata tajam.

Oleh karena itu, yang berani membawa senjata tajam hanyalah dua golongan saja, para perampok dan pasukan pemerintah.

Bahkan para pendekar sekalipun, untuk menghindarkan keributan, menyembunyikan senjata mereka, kalau mereka membawanya.

Munculnya se puluh orang pria yang membawa senjata tajam ini tentu menimbulkan panik dan para petani itu serentak menghentikan pekerjaan mereka dan berkumpul.

Anak-anak dan wanita-wanita segera mendekati Ayah dan suami mereka seperti anak-anak ayam melihat burung elang dan lari bersembunyi di bawah sayap induknya.

Sejenak mereka hanya saling pandang saja.

Akan tetapi, se puluh orangyang bukan lain adalah para anggauta Harimau Terbang itu, hanya memandang ke arah Diana dengan penuh perhatian, tanpa memperdulikan orang-orang lain.

Laiuw Sek yang berdiri di dekat Diana, lalu berbisik.

"Diana, bersembunyilah di belakangku."

Diana yang tidak tahu mengapa semua orang nampak begitu terkejut bahkan seperti orang ketakutan, tidak mau bersembunyi, bahkan bertanya.

"Paman, siapakah mereka itu dan mengapa kalian semua kelihatan takut?"

Sebelum Lauw Sek sempat menjawab, seorang di antara se puluh orang itu, yang bertubuh tinggi besar dan kumisnya melintang menyerankan, bertanya, suaranya menggeledek nyaring sekali.

"Heii! Nona kulit putih, apakah engkau yang bernama Diana?"

Sebelum Diana menjawab, Lauw Sek yang lebih dulu menjawab denga suara berteriak.

"Bukan! Namanya bukan Diana dan di sini Diana menjadi semakin heran. Mengapa Lauw Sek membohong? Akan tetapi, ia sendiri tidak takut menghadapi se puluh orang itu dan ia menganggap semua ini seperti lelucon saja, maka iapun berkata.

"Namaku Jane, bukan Diana!"

Akan tetapi si kumis melintang yang menjadi pimpinan kelompok itu agaknya tidak mau pulang dengan tangan kosong. Sambil tertawa bergelak dia berkata.

"Namamu Diana atau Jane atau siapapun juga, engkau harus ikut bersama kami ke Kanton!"

"Aku tidak mau!"

Diana membentak marah. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang boleh memaksanya pergi meninggalkan tempat dan kehidupan yang menarik hatinya itu.

"Kau mau atau tidak bukan urusanku, nona. Akan tetapi tugas kami hanyalah membawamu ke Kanton, kalau kau tidak mau terpaksa kami akan memondong atau memanggulmu, ha-ha-ha!"

Sembilan orang temannya juga ikut tertawa, membayangkan keadaan yang menyenangkan, yaitu memondong atau memanggul nona kulit putih yang cantik itu.

"Tidak ada yang boleh membawa pergi nona ini!"

Tiba-tiba Lauw Sek berdiri menghadang di depan Diana dengan sikap gagah dan melindungi. Si kumis melintang melotot dan membentak marah.

"Petani busuk, siapa kau berani mencampuri urusan kami!"

"Nona ini adalah anak angkat kami!"

Lauw Sek membentak pula.

"Dan kami akan melawan siapa saja yang berani mengganggunya!"

Para petani lain juga maju, dengan cangkul dan segala alat pertanian lain mereka mengambil sikap melindungi Diana.

Melihat in, diam-diam Diana merasa terharu sekali.

Orang-orang dusun yang sederhana dan miskin ini ternyata adalah orang-orang yang memiliki budi yang luhur dan memiliki rasa setia kawan dan ketabahan besar.

Akan tetapi, se puluh orang laki-laki itu adalah golongan penjahat yang telah menjadi anggauta Pasukan Harimau Terbang.

Mereka tertawa bergelak melihat sikap para petani itu yang hendak melawan, apa lagi melihat betapa di antara mereka terdapat Kakek-kakek tua dan juga wanita-wanita yang agaknya nekat hendak melindungi gadis kulit putih itu.

"Ha-ha-ha, kalian mencari mampus!"

Kata si kumis melintang, lalu dia memerintahkan kepada anak buahnya.

"Hajar mereka itu dan biarkan aku yang akan menangkap nona ini!"

"Tahan!"

Tiba-tiba Diana membentak marah.

"Apakah kalian ini utusan dari komandan Peter Dull!"

Mendengar disebutnya nama Peter Dull oleh Diana, si kumis melintang mengangkat tangan memberi isyarat agar teman-temannya jangan bergerak dulu. Dia memandang dengan tajam kepada Diana.

"Kami mengenal Tuan Peter Dull."

"Kalau begitu, pergilah dan jangan menganggu aku. Aku adalah keponakan Kapten Charles Elliot!"

"Ha! Kalau begitu benar engkau nona Diana?"

Kata si kumis melintang, girang bukan main.

"Benar, aku Diana dan kalau kalian bersikap kasar, kelak aku akan melaporkan kepada pamanku Kapten Charles Elliot!"

"Ha-ha-ha, nona Diana. Justeru beliau yang mengutus kami untuk membawa nona pulang ke Kanton."

"Aku tidak mau!"

"Maaf, nona. Mau atau tidak, kami harus membawa nona ke Kanton. Demikianlah perintah yang harus kami jalankan."

"Pergilah kalian orang-orang jahat!"

Lauw Sek membentak dan bersama kawankawannya diapun menyerbu dan hendak menghalau se puluh orang itu.

Akan tetapi se puluh orang itu melawan dan terjadilah perkelahian yang kacau balau di tengah sawah!

Perkelahian yang tidak seimbang karena para petani itu tentu saja lebih pandai mengayun cangkul menggarap tanah dari pada berkelahi, apa lagi melawan se puluh orang tukang berkelahi itu.

Si kumis melintang sendiri lalu menubruk dan menangkap lengan Diana.

"Marilah, nona,"

Katanya sambil tertawa.

"Bngsat, lepaskan!"

Diana merengut lengannya dan menendang. Kakinya besar dan kuat, dan dia masih memakai sepatunya yang lama, sepatu boot yang keras.

"Takkk!"

Ujung sepatu itu tepat mengenai tulang kering kaki si kumis melintang.

"Aughhh... aduhh-aduhh-aduh...!"

Si kumis melintang berjingkrak-jingkrak kesakitan akan tetapi dia tidak melepaskan pegangannya.

Terjadilah betot membetot.

Akan tetapi, biarpun Diana memiliki perawakan tinggi dan lebih besar dibandingkan wanita pada umumnya, tentu saja ia kalah kuat.

Juga latihan silat yang diterimanya dari Lauw Sek tidak ada artinya bagi si kumis melintang, maka akhirnya ia dapat diringkus dan dipanggul.

Diana meronta-ronta.

"Lepaskan! Awas kau , akan kulaporkan kepada paman dan engkau akan ditembak mampus!"

Akan tetapi si kumis melintang yang sudah menerima perintah dari Koan Jit agar membawa pulang Diana, kalau perlu dengan paksa, tidak mau melepaskannya.

Sementara itu, orang-orang yang tadi membelanya kini sudah kocar kacir, dihajar oleh kawanan anggauta pasukan Harimau Terbang itu.

Mereka babak belur dan ada yang patah-patah tulangnya.

Si kumis melintang memberi aba-aba dan mereka semua lalu pergi dari situ dan Diana masih terus dipanggul oleh si kumis melintang.

Diana meronta-ronta, menjerit-jerit dan memaki-maki.

Akan tetapi, se puluh orang itu adalah orang-orang kasar yang sudah biasa melakukan segala macam perbuatan busuk dan tidak patut, di antaranya suka sekali mengganggu wanita.

Maka, ulah Diana itu membuat mereka semua menjadi marah karena dimaki-maki dan mulailah mereka memperlihatkan sikap kurang ajar.

Banyak tangan mulai mencolek-colek tubuh Diana yang masih dipanggul si kumis melintang.

Tentu saja Diana merasa semakin marah akan tetapi juga merasa ngeri karena kini ia takut kalau-kalau se puluh orang itu akan berbuat yang tidak sopan terhadap dirinya lebih lanjut.

Bagaimana kalau sampai ia diperkosa oleh mereka?

Membayangkan ini, Diana tidak berani lagi meronta dan ia mulai menangis, ditertawakan oleh se puluh orang itu yang terus membawa menuju ke Kanton.

Menjelang senja ronbongan ini tiba di sebuah hutan.

"Wah, agaknya kita harus bermalam di dalam hutan ini,"

Kata si kumis melintang sambil menurunkan tubuh Diana ke atas tanah untuk menghapus keringatnya karena gadis ini terus meronta.

Diana rebah terlentang dan matanya terbelalak penuh ketakutan memandang kepada mereka.

"Kenapa tidak terus saja dan bermalam di dalam dusun? Kita bisa menggunakan rumah penduduk."

"Dan kita perlu mencari teman-teman untuk melewatkan malam dingin, ha-ha!"

"Atau kita bagi-bagi saja sama rata perempuan bule ini. Akur?"

"Akur! Akur!"

Mereka semua berseru gembira. Tentu saja mereka hanya menggoda Diana yang sudah menjadi pucat karena merasa ngeri dan ketakutan.

"Jangan... Oohhh, jangan ganggu aku... Jangan...!"

Ia berkata dengan mata terbelalak liar ke kanan kiri seperti mata seekor kelinci yang sudah tersudut dan dikepung harimau-harimau kelaparan. Sikap ini membuat mereka menjadi semakin buas.

"Wah, siapa yang akan bersenangsenang lebih dulu?"

"Tentu aku!"

Kata si kumis melintang.

"Dan setelah aku, agar adil, harus diundi di antara kalian."

"Akur! Mari kita undi."

Disaksikan oleh Diana yang menjadi semakin ketakutan, si kumis melintang melakukan undian di antara sembilan orang temannya untuk menentukan siapa yang mendapat giliran sebagai nomor dua, nomor tiga dan seterusnya.

Hampir pingsan Diana membayangkan dirinya dipermainkan se puluh orang itu saking ngerinya.

"Jangan... ganggu aku..."

Ia berkata lagi.

"Aku berjanji, kalau kalian berlaku baik kepadaku, kelak aku akan minta kepada pamanku agar memberi hadiah yang banyak kepada kalian, sebaliknya kalau kalian... kalian menggangguku, kalian tentu akan dihukum berat."

"Heh-heh, nona manis, bukan engkau yang harus mengajukan syarat-syarat, melainkan kami. Dengar baik-baik. Mestinya engkau ini kami bunuh, akan tetapi kalau engkau mau melayani kami satu demi satu dengan manis, kemudian kelak memberi laporan yang baik kepada pamanm, maka engkau tidak akan kami bunuh. Bagaimana? Ha-ha-ha!"

Dan semua orang tertawa bergelak. Wajah Diana menjadi semakin pucat dan matanya terbelalak.

"Bunuh saja aku...,kalau begitu bunuh saja aku, jangan ganggu aku...!"

Tangisnya.

"Aduh sayang kalau dibunuh begitu saja. Sebelum dibunuh, bagaimana kalau engkau bersenang-senang dulu dengan kami semalam ini?"

"Berikan saja kepadaku kalau mau dibunuh."

"Untukku saja"

Kembali mereka tertawa-tawa bergelak.

Orang-orang kasar ini memang tidak memikirkan bahwa mereka dapat celaka kalau gadis itu kelak mengadu kepada pamannya.

Mereka adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan perbuatan-perbuatan apa saja demi memuaskan nafsu dan kesenangan diri sendiri tanpa mengingat akan akibat-akibatnya.

Yang mereka takuti adalah Koan Jit, bukan para komandan kulit putih.

Andaikata Diana mengancam mereka untuk melaporkan kepada Koan Jit, agaknya mereka itu akan teringat dan menjadi jerih.

"Sekarang begini,"

Tiba-tiba si kumis melintang berkata.

"Kalau nona memberi ciuman yang mesra kepadaku, aku akan mempertimbangkan permintaanmu tadi. Bagaimana? Ha-ha-ha, hayo cium yang mesra, nona."

Dan si kumis melintang itu membantu Diana bangkit duduk, kemudian dia mendekatkan mukanya yang dihias kumis melintang.

Hampir muntah Diana ketika mukanya berdekatan seperti itu, tercium bau apak dan memuakkan.

Ia memejamkan mata dan tentu saja tidak mau melakukan ciuman yang diminta.

Ia hanya takut kalau si kumis itu yang akan menciumnya dengan paksa, maka ia memejamkan mata, dan menangis.

Pada saat itu tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar bentakan seorang pria yang lantang.

"Kalian ini manusia ataukah binatang? Hayo lepaskan gadis itu!"

Si kumis melintang terkejut, melepaskan tubuh Diana yang jatuh rebah terlentang kembali.

Seperti se puluh orang itu yang sudah berloncatan bangun, Diana juga memandang ke arah seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di situ.

Cuaca masih cukup terang sehingga ia dapat melihat seorang pemuda yang gagah, yang muncul dan mengeluarkan bentakan tadi.

Seorang pemuda yang bertubuh tegap, berpakaian sederhana seperti pakaian seorang petani, dengan rambut hitam panjang dikuncir tebal bergantung di belakang punggungnya, Wajahnya nampak tampan dan cerah, matanya bersinar tajam akan tetapi lembut.

Timbul kekhawatiran di dalam hati Diana.

Pemuda itu biarpun tampan dan wajahnya membayangkan wibawa, namun melihat pakaiannya tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda dusun Lauw Sek, maka munculnya pemuda itu tentu hanya akan berupa bunuh diri saja.

Mana mungkin pemuda ini akan mampu mencegah perbuatan se puluh orang jahat itu?

Dapat dibayangkan betapa marah si kumis melintang dan sembilan orang kawannya melihat munculnya seorang pemuda petani yang berani menegur mereka bahkan menyuruh mereka melepaskan Diana.

Si kumis melintang melangkah maju sampai dekat sekali di depan pemuda itu dan memandang dengan mata melotot dan wajahnya beringas penuh ancaman.

"Bocah keparat apakah kau sudah bosan hidup?"

Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan lagi kepada pemuda itu untuk bicara, si kumis melintang sudah mengayun kepalan kanannya menghantam ke arah pemuda itu.

Si kumis ini merupakan jagoan di antara teman-temannya dan pandai ilmu silat, juga memiliki tenaga besar yang kuat.

Akan tetapi agaknya, bagi pemuda itu dia bukan apa-apa.

Pukulan ke arah dagu itu dielakkan dengan amat mudah, hanya miringkan kepala saja dan begitu pemuda itu menggerakkan tangan kirinya, tubuh si kumis terpelanting keras dan terbanting ke atas tanah.

Dia berteriak dan meringis kesakitan mencoba untuk bangkit, akan tetapi jatuh lagi karena agaknya ketika terbanting keras tadi urat kakinya terkilir.

Pemuda itu sekali meloncat sudah berada di dekat Diana dan gadis itu sendiri tidak tahu apa yang dilakukan pemuda itu, akan tetapi tahu-tahu ikatan kaki tangannya terlepas!

Sembilan anggauta Harimau Terbang itu menjadi marah bukan main melihat betapa pemimpin mereka roboh.

Mereka semua tahu bahwa pemuda itu tentu lihai, maka merekapun tanpa dikomando lagi sudah mencabut golok atau pedang masing-masing dan seperti segerombolan srigala mereka menyerbu ke arah pemuda itu.

Diana terbelalak dan kini hatinya penuh gelisah, mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu.

Ngeri hatinya membayangkan tubuh pemuda yang telah menolongnya itu, di depan matanya, akan dicingcang sampai hancur.

Bangkitlah semangatnya ketika ia melihat seorang lawan yang menyerang pertama kali, entah bagaimana caranya, telah dirobohkan pula oleh pemuda itu hanya dengan satu kali gerakan tangan.

Bukan main kagum rasa hati Diana dan iapun bangkit menyambar sepotong kayu kering patahan pohon dan gadis inipun menghampiri mereka yang sudah roboh.

Agaknya setiap orang lawan yang menyerang pemuda itu, segebrakan saja sudah dirobohkan dan yang sudah roboh itu tidak mampu menyerang lagi, ada yang mengaduh-aduh memegangi kakinya, pundaknya dan lain-lain.

Agaknya mereka itu mengalami tulang patah.

Diana, dengan hati penuh kegemasan, mengayun potongan kayu di tangannya itu, mengamuk di antara lawan yang sudah tak mampu bangkit kembali.

Pentungan itu diayun keraskeras dan menghantam tubuh-tubuh itu.

Terdengar suara bak-buk-bak-buk ketika gadis ini mengamuk.

Ia termasuk wanita yang bertenaga kuat dan pukulan tongkatnya yang menimpa pundak, atau dada, atau kepala tanpa pilih tempat cukup keras membuat mereka yang sudah menderita patah tulang itu menjadi semakin kesakitan.

Kalau tidak patah lagi tulang bagian lain, atau kepala menjadi bocor terpukul tongkat itu, sedikitnya tentu mereka merasa tubuh mereka memar-memar dan babak bundas.

Pemuda itu memang hebat bukan main.

Se puluh orang yang rata-rata memiliki tenaga besar dan pandai bersilat mengeroyoknya, bahkan yang sembilan orang mempergunakan senjata tajam.

Dan dia hanya membutuhkan sembilan kali gebrakan saja dengan tangan menampar untuk menyelesaikan perkelahian itu.

Se puluh orang itu hanya terkena tamparan tangan satu kali saja dan mereka sudah roboh tak mampu melanjutkan perkelahian!

Jelaslah bahwa kalau pemuda itu menghendaki, kalau dia mempergunakan tenaga yang lebih besar, se puluh orang itu bukan hanya roboh menderita patah tulang, melainkan besar sekali kemungkinannya mereka takkan mampu bangun kembali untuk selamanya!

Kini, melihat betapa Diana mengamuk dan menggebuki orang-orang yang sudah tak mampu melawan itu dengan kayu di tangannya, seperti orang menggebuki anjing saja, pemuda itu lalu meloncat dan dengan halus dia memegang lengan Diana.

"Sudahlah, nona, mereka sudah cukup mendapatkan hukuman,"

Katanya denga sikap sopan dan halus, dan sentuhan tangannya pada lengan Diana itupun cepat dihentikan dan tangannya ditariknya kembali.

Diana melempar kayunya dan membalikkan tubuh, menghadapi pemuda perkasa itu.

Sejenak ia hanya memandang dengan mata bersinar-sinar, penuh kekaguman, menjelajahi wajah yang tampan dan gagah itu.

Ia seperti melihat seorang mahluk yang aneh dan amat indah mengagumkan.

Demikian terpesona ia sampai tidak mampu berkata-kata.

Ia teringat akan sahabat baiknya, Siauw Lian Hong yang amat dikaguminya dan disayangnya.

Besar sekali persamaan antara pemuda ini dan Lian Hong, sama anggun, sama tinggi ilmu kepandaiannya.

Hanya bedanya, kalau Lian Hong seorang gadis cantik jelita, pemuda ini adalah seorang laki-laki yang tampan.

"Kau... kau penolongku... siapakah namamu?"

Akhirnya ia mampu juga mengeluarkan suara.

Melihat betapa sepasang mata yang indah dan aneh karena warnanya biru itu memandang kepadanya dengan sinar bercahaya penuh kekaguman, dan bibir itu gemetar ketika bicara, pemuda itu melangkah mundur dua tindak.

"Tak perlu diketahui, nona, tak perlu diingat lagi. Itu kawan-kawanmu telah datang."

Pemuda itu menunjuk ke kiri dan Diana menengok.

Dilihatnya Lauw Sek dan para penduduk dusun datang berlari-lari.

Melihat Lauw Sek, Diana lari menyambut dan merangkul orang tua itu yang nampaknya luka-luka berdarah pada pipi dan pahanya.

"Paman Lauw...!"

Gadis itu menangis dalam rangkulan Lauw Sek. Semua penduduk dusun merubungnya dan menghiburnya. Tiba-tiba Diana melepaskan pelukan orang tua itu dan menengok, mencari-cari dengan pandang matanya.

"Di mana dia...?"

"Dia... penolongku, di mana dia?"

Seorang di antara mereka berkata.

"Dia sudah pergi tanpa pamit!"

Lauw Sek menarik napas panjang.

"Pemuda itu luar biasa sekali. Tadi dia datang dan menemukan kami dalam keadaan babak belur dihajar gerombolan itu."

"Eh, mana gerombolan itu...?"

Diana memotong.

"Mereka sudah pergi saling bantu, dan keadaan mereka lebih parah dari pada kami,"

Kata seorang di antara mereka.

"Siapakah pemuda itu, paman?"

"Kami tidak mengenalnya, Diana. Tadi dia muncul dan kami beri tahu bahwa kami diserang oleh gerombolan jahat yang melarikan kau . Pemuda itu lalu menghilang begitu saja..."

"Dia berkelebat dan lenyap. Kami melakukan pengejaran dan melihat engkau selamat,"

Kata seorang lain.

"Ahhh... dan dia tadi tidak mau mengaku siapa namanya. Ah, paman Lauw, sungguh aku menyesal (Lanjut ke

Jilid 20) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 20 sekali. Dia telah menyelamatkan aku, mungkin menyelamatkan nyawaku, dan tak seorangpun di antara kita mengenalnya."

"Dia tentu seorang pendekar muda yang amat lihai."

"Seperti Lian Hong?"

Lauw Sek menghela napas.

"Aku tidak tahu apakah ada orang yang dapat dibandingkan dengan nona Siauw. Akan tetapi pemuda itu tentu lihai sekali kalau seorang diri dia mampu merobohkan se puluh orang penjahat tadi."

"Merobohkan? Wah, kalian tidak melihatnya tadi. Dia hampir tidak berkelahi sama sekali! Setiap kali menggerakkan tangan, seorang lawan roboh."

Diana merasa menyesal sekali tidak sempat berkenalan dengan penolongnya dan di dalam hatinya ia merasa kagum bukan main.

Ia makin mengerti sekarang bahwa di dalam negara yang rakyatnya kelihatan masih terbelakang dan bodoh ini ternyata terdapat banyak orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, Orang-orang aneh yang setelah menyelamatkan nyawa seorang lalu pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan namanya dikenal.

Ia kagum sekali dan wajah pemuda itu terukir di dalam lubuk hatinya.

Ia takkan dapat melupakan peristiwa itu, takkan dapat melupakan wajah yang tampan sederhana itu.

Lauw Sek dan para penghuni dusun itu lalu mengajak Diana pulang ke dusun mereka.

Melihat betapa banyak orang dusun luka-luka karena membela dirinya, Diana merasa terharu sekali dan iapun membantu untuk merawat mereka yang luka-luka.

Koan Jit marah bukan main mendengar laporan anak buahnya, se puluh orang yang kembali menderita luka-luka itu.

Apa lagi ketika dia mendengar bahwa mereka itu gagal membawa pulang Diana hanya karena dihalangi oleh seorang pemuda yang tidak mereka ketahui siapa.

"Gentong-gentong nasi tiada guna!"

Dia memaki marah.

"Hanya menghadapi satu orang saja kalian tidak mampu mengalahkan dan pulang dengan tangan kosong, juga dengan menderita luka-luka. Kenapa kalian semua tidak mampus saja!"

Si kumis melintang dengan muka pucat dan tubuh menggigil berlutut di depan Koan Jit.

"Harap tai-Ciangkun sudi mengampunkan kami. Pemuda itu sungguh bukan manusia biasa. Kami se puluh orang sudah berusaha sekuat tenaga, mempergunakan senjata-senjata kami melawan sampai akhirnya kami roboh tak mampu melawan lagi. Dia amat lihai sekali dan agaknya hanya paduka saja yang akan mampu mengalahkannya."

Koan Jit mengepal tinju.

"Keparat! Masa untuk membawa pulang seorang perempuan kulit putih saja harus aku sendiri yang maju?"

Koan Jit marah bukan main.

Baru kemarin, rombongan lain juga datang dengan tubuh babak belur.

Rombongan yang terdiri dari belasan orang itu mendengar adanya seorang gadis bule di sebuah perkampungan di lereng gunung.

Mereka segera mendatangi wanita itu dan karena mereka belum pernah melihat bagaimana macamnya keponakan Kapten Charles Elliot, mereka yang biasa bersikap kasar ini hendak memaksa wanita itu untuk ikut dengan mereka ke Kanton.

Akan tetapi, ternyata wanita bule sudah bersuami dan suaminya lalu mengamuk.

Mereka dihajar babak belur karena suami wanita itu adalah seorang pendekar yang amat lihai, yaitu Gan Seng Bu, sute dari Koan Jit sendiri.

Wanita itu adalah Sheila, puteri mendiang opsir Hellway.

Tentu saja Koan Jit marah sekali mendengar bahwa yang menghajar anak buahnya ini bernama Gan Seng Bu, sutenya sendiri.

Dia juga sudah mendengar tentang wanita Inggeris yang menikah dengan seorang pemberontak, akan tetapi baru sekarang dia mendengar bahwa pemberontak itu adalah Gan Seng Bu, seorang di antara dua orang sutenya.

Sebelum kemarahan itu reda, kini si kumis melintang bersama anak buahnya datang memberi laporan bahwa mereka sudah menemukan tempat tinggal Diana akan tetapi mereka tidak berhasil membawa Diana pulang bahkan dihajar babak belur pula oleh seorang pemuda yang tidak terkenal.

Tentu saja dia tidak dapat bertindak apa-apa terhadap Sheila, karena bukan wanita itu yang dicarinya.

"Antar aku ke tempat wanita itu!"

Hardiknya kepada si kumis melintang.

Lalu dia melaporkan kepada Kapten Charles Elliot bahwa dia sudah berhasil menemukan tempat tinggal Diana dan dia akan berangkat sendiri menjemput, membawa sebuah kereta ditemani oleh si kumis melintang.

Koan jit adalah seorang yang berwatak tinggi hati dan seperti biasa orang yang berwatak tinggi hati, dia memandang rendah kepada siapapun juga dan penuturan si kumis melintang bahwa Diana dilindungi seorang pemuda yang telah merobohkan se puluh orang anak buahnya itu sama sekali tidak membuat dia menjadi gentar, bahkan menimbulkan rasa penasaran dan kemarahannya.

Dia yakin akan dapat mengalahkan pemuda itu atau siapapun juga, Maka dengan hati penuh geram dia pergi bersama si kumis melintang untuk menghajar pemuda lancang itu dan turun tangan sendiri menjemput Diana.

Agaknya bintang peruntungan Koan Jit sedang gelap, dia sedang dilanda kesialan.

Ketika keretanya tiba di dusun di mana Diana tinggal, dan bersama si kumis melintang dia meloncat turun, di tonton oleh para penduduk dusun, tiba-tiba nampak Diana muncul bersama seorang gadis lain dan seorang Kakek kurus berbaju tambal-tambalan.

Koan Jit sama sekali tidak mengenal gadis dan Kakek itu, akan tetapi mudah menduga bahwa gadis cantik berkulit putih bermata biru dan berambut kuning emas itu tentulah Diana yang dicarinya.

Dia sama sekali tidak memandang kepada para penduduk di situ dan dengan langkah lebar dia menghampiri gadis itu dan berbisik kepada si kumis melintang.

"Mana pelindungnya itu?"

"Tidak ada..., tidak nampak..."

Si kumis melintang menjawab sambil menoleh ke kanan kiri dengan sikap takut-takut.

Hati orang ini masih gentar kalau dia mengenang kelihaian pemuda yang pernah menolong Diana dan legalah dia tidak melihat adanya pemuda itu di situ.

Sementara itu, Koan Jit yang ingin tugasnya cepat-cepat selesai, sudah menghadapi Diana dan berkata.

"Nona Diana, silahkan naik ke kereta. Aku datang menjemput nona atas kehendak pamanmu Kapten Charles Elliot."

Suaranya mengandung desakan yang kuat sehingga Diana merasa khawatir juga. Orang ini berada dengan si kumis melintang itu dan sikap orang yang berwibawa ini membuat ia gemetar.

"Tidak perlu dijemput, kalau aku ingin kembali ke Kanton, tentu akan kulakukan itu. Aku belum mau pulang, harap engkau suka menyampaikan pesanku kepada pamanku."

"Nona Diana, aku telah dimintai tolong oleh pamanmu untuk membawamu pulang ke Kanton, baik engkau mau atau tidak. Kalau nona tidak mau, terpaksa akan kupaksa."

Koan Jit tidak mengatakan bahwa dia diutus atau diperintah, melainkan berkata bahwa paman Diana itu minta tolong kepadanya. Hal ini saja menunjukkan ketinggian hatinya.

"Aku tidak mau pulang!"

Diana berkata lagi, kini agak marah.

"Terpaksa aku memaksamu!"

Kata Koan Jit dan tiba-tiba tangannya sudah meluncur ke depan hendak menangkap pergelangan tangan Diana.

"Plakk!!!"

Tiba-tiba tangannya itu tertangkis dan dia merasa betapa telapak tangannya tergetar.

Dia terkejut dan marah, dan ketika dia memandang wajah gadis yang telah menangkisnya itu, dia makin kaget karena dia seperti pernah melihat gadis ini.

"Koan Jit, di mana-mana engkau mempergunakan tenaga dan kepandaian untuk menghina dan memaksa orang. Apa kau sudah lupa kepadaku?"

"Ah, kau kiranya!"

Bentaknya dan kini dia teringat. Gadis inilah yang dulu pernah membebaskan Ciu Kui Eng. Kemarahannya memuncak.

"Kau lagi yang menghalangiku? Sekarang akan kubunuh kau !"

Dan diapun menyerang dengan dahsyat. Kalau dulu dia kalah oleh gadis ini karena gadis ini mengeroyoknya bersama Kui Eng, murid Tee-tok yang cukup lihai itu.

"Wuuutttt...!"

Tamparan yang akan menghancurkan batu karang itu lewat di samping kepala gadis itu yang bukan lain adalah Siauw Lian Hong, membalas dengan totokan gagang kipasnya yang sudah dikeluarkannya dengan cepat.

Gagang kipas itu melakukan totokan di dekat siku lengan Koan Jit yang tadi menyerang.

Murid pertama Thian-tok ini tentu saja maklum akan kehebatan serangan ini.

Kalau terkena totokan itu, lengannya akan lumpuh dan hal itu berbahaya sekali, maka terpaksa dia menarik kembali lengannya dan dari bawah kakinya menyambar.

Semua gerakannya dilakukan dengan kecepatan kilat, maka penasaranlah dia ketika kembali gadis itu mampu menghindarkan diri dari tendangannya.

Sebelum dia dapat menyerang lagi, tiba-tiba ada angin yang amat kuat dari arah kiri.

Dia terkejut dan memutar tubuh ke kiri, siap untuk menandingi lawan yang kuat ini dan ternyata dia berhadapan dengan Kakek berbaju tambal-tambalan tadi.

Koan Jit makin terkejut dan diperhatikannya orang itu.

Seorang Kakek yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih, kurus dengan baju tambal-tambalan akan tetapi bersih, mukanya kusut dan mulutnya tersenyum terus!

Yang membuat Koan Jit merasa kaget adalah ketika dia melihat sebuah kipas butut di tangan kiri Kakek itu.

"Ah, apakah aku berhadapan dengan San-tok?"

Kakek itu memperlebar senyumnya.

"Ha-ha, murid pertama Thian-tok sungguh hebat dan mengagumkan, mungkin dapat mengangkat dirimu di dunia hitam. Sayang, begitu merendahkan diri menjadi anjing penjilat bangsa asing, dan lebih sayang lagi, kini berhadapan dengan kami sebagai lawan karena hendak menganggu seorang gadis sahabat baik muridku."

Baru sadarlah kini Koan Jit bahwa gadis perkasa yang pernah menolong Kui Eng dan yang kini kembali menentangnya adalah murid San-tok.

Pantas demikian lihai.

Dan lebih celaka lagi, gadis itu adalah sahabat baik Diana.

Akan tetapi, bagaimana mungkin dia harus mengalah dan mundur?

Biarpun di situ ada murid San-tok dan bahkan ada San-tok sendiri, dia tidak takut!

Sepasang mata kucing yang mencorong kehijauan itu menyipit dan mulut yang biasanya lebih banyak tertutup itu, kini membayangkan ejekan.

"San-tok, engkau sudah tua bangka tentu sudah tahu bahwa setiap orang harus mencari kesenangan dengan cara masing-masing. Dan menurut aku, caraku ini yang paling baik. Apakah sekarang orang yang bernama San-tok itu, seorang di antara Empat Racun Dunia, sudah menjadi seorang pendekar budiman yang hendak melindungi seorang gadis bule bermata biru? Ha-ha, alangkah lucunya!"

"Koan Jit, tutup mulutmu yang beracun!"

Lian Hong membentak dan melangkah maju menghadapi laki-laki itu.

"Di sini tidak ada persoalan pendekar atau bukan pendekar. Yang membela Diana adalah aku, Siauw Lian Hong, karena Diana adalah sahabatku. Kalau suhu tadi maju adalah karena dia hendak membela aku, muridnya. Akan tetapi, tanpa dibela suhu sekalipun, jangan kira aku takut melawanmu!"

Lian Hong sudah membentangkan kipasnya dengan sikap menentang.

"Heh-heh-heh, Koan Jit. kau mau bicara apa lagi? Engkau memang murid Thian-tok yang hebat, akan tetapi engkau mengkhianati gurumu sendiri. Engkau hanya seorang pencuri rendah yang pengecut. Hemm, aku akan dapat mengambil Giok-liong-kiam itu darimu setiap saat kuhendaki, ha-ha!"

Terkejutlah hati Koan Jit.

Ucapan seorang di antara Empat Racun Dunia tidak boleh dianggap main-main.

Siapa tahu Kakek ini sudah tahu tempat di mana pedang pusaka itu disembunyikannya dan kalau demikian, berbahaya!

Dia sendiri terlindung di tengah-tengah benteng balatentara kulit putih, akan tetapi bagaimana dengan pusaka-pusakanya yang disimpannya di suatu tempat rahasia itu?

Membawanya ke dalam markaspun dia segan karena siapa tahu komandan-komandan bule itu akhirnya juga menghendaki pusaka-pusaka yang bagi mereka merupakan benda aneh dan kuno yang amat berharga.

Kekhawatirannya membuat dia tidak bernapsu lagi untuk berkelahi melawan Lian Hong.

Apa lagi dia memperhitungkan bahwa bagaimanapun juga, kalau sampai dia mendesak gadis itu, gurunya tentu tidak akan tinggal diam saja dan akhirnya dia harus menghadapi pengeroyokan mereka.

Walaupun dia tidak takut, akan tetapi dia maklum bahwa mereka berdua itu lihai sekali dan kalau maju bersama, mungkin dia tidak akan mampu menang.

Dan kini yang paling penting adalah memeriksa pusaka-pusakanya.

Jangan-jangan Kakek kurus ini telah mengambil Giokliong-kiam!

Terkejutlah dia ketika berpikir sampai di situ.

Dia tahu akan kehebatan keempat datuk sesat itu yang suka melakukan hal-hal luar biasa.

Tidak akan menjadi hal yang aneh sekali kalau San-tok ini diam-diam telah memasuki tempat rahasianya dan mengambil Giok-liong-kiam!

"Sudahlah.

Melihat bahwa San-tok berada di sini dan mengingat hubungan antara dia dan suhu, aku tidak mencari keributan.

Aku hanya dimintai tolong oleh Kapten Charles Elliot untuk menjemput keponakannya.

Kalau ia tidak mau diajak pulang, sudahlah."

Dia memberi isyarat kepada si kumis melintang dan keduanya lalu meloncat ke atas kereta dan kendaraan itupun kabur dengan cepatnya.

"Hong Hong, ajak Diana ke tempat lain, ke puncak yang ada sumbernya itu. Aku akan menyelidiki tempat rahasianya!"

Kata San-tok atau Bu-beng San-kai kepada muridnya.

Lian Hong maklum apa yang dimaksudkan gurunya.

Tentu gurunya khawatir kalau-kalau Koan Jit datang kembali membawa pasukan untuk memaksa Diana, maka ia harus menyembunyikan Diana ke tempat lain, dan tentu gurunya hendak menyelidiki di mana Koan Jit menyimpan pusaka Giok-liong-kiam.

Kalau tadi pusaka itu dibawa Koan Jit, tentu gurunya akan dapat menduganya dan tentu gurunya sudah menyerang untuk merampasnya.

Maka iapun mengangguk dan sekali berkelebat San-tok lenyap dari situ.

Diana memegang lengan Lian Hong.

"Lian Hong, gurumu itupun pandai menghilang seperti engkau. Alangkah banyaknya orang sakti di sini..."

Dan gadis bule ini teringat akan wajah pemuda yang menolongnya akan tetapi tidak dikenalnya sehingga kembali ia merasakan kecewa dan menyesal.

Sementara itu, kereta yang ditumpangi Koan Jit dan pembantunya membalap menuju ke Kanton.

Ketika kereta tiba di hutan terakhir di sebuah bukit yang terletak di perbatasan kota, Koan Jit yang sudah memesan kepada pembantunya untuk pulang lebih dahulu meloncat dari kereta yang masih berjalan cepat.

Begitu meloncat turun, Koan Jit memandang sekeliling dengan matanya yang tajam untuk melihat apakah ada orang yang melihat dia turun dari kereta.

Berdebar rasa jantung dalam dada San-tok.

Untung dia bersikap hati-hati sekali dan tidak membayangi larinya kereta secara terbuka, melainkan membayanginya sambil menyusup-nyusup dan bersembunyi.

Ketika tubuh Koan Jit berkelebat turun dari kereta yang masih membalap itu, hal yang sama sekali takkan pernah disangkanya, dia melihatnya dan cepat Kakek ini mendekam di balik semak-semak.

Kalau saja dia tidak bertindak cepat, tentu Koan Jit akan dapat melihatnya dan gagallah usahanya membayangi orang itu.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang melihatnya, Koan Jit lalu menyusup di antara pohon-pohon dalam hutan di bukit itu, sama sekali tidak tahu bahwa bayangannya tak pernah terlepas dari pengintaian San-tok.

Dalam hal ini, tentu saja Koan Jit masih belum mampu menandingi San-tok.

Kakek itu berjuluk Racun Gunung, tentu saja dia ahli dalam hal naik turun gunung, mengenal rahasia-rahasia hutan dan gunung dan pandai menyusup-nyusup seperti seekor kelinci yang gesit sekali.

Biasanya San-tok berkeliaran di hutan-hutan Pegunungan Wu-yi-san yang luas, maka kini hutan kecil seperti itu tidak ada artinya baginya dan betapapun hati-hati Koan Jit menyusup-nyusup, tetap saja Kakek itu mampu membayanginya.

Kakek itu kagum sekali melihat Koan Jit menyusup ke dalam semak-semak berduri dan setelah mendorong semak-semak berduri itu ke samping, ternyata di belakang semak-semak terdapat sebuah batu yang didorongnya ke kiri.

Dan nampaklah sebuah lubang yang hanya cukup dimasuki satu orang saja.

Tubuh Koan Jit lenyap memasuki lubang dan batu serta semak-semak itupun ditariknya kembali menutup lubang dari dalam.

San-tok tersenyum lebar, hatinya merasa girang sekali.

Kiranya ini tempat rahasia itu dan dia dapat menduga bahwa tentu Giok-liong-kiam disimpannya pula di tempat ini.

Tak mungkin Koan Jit berani membawa-bawa pusaka yang diperebutkan seluruh tokoh kang-ouw itu di tempat umum.

"Aih, sayang sekali Giok-liong-kiam buatanku itu tidak kubawa, masih disimpan Hong-Hong,"

Kakek itu mengeluh dalam hatinya.

Kalau pedang pusaka palsu yang sudah selesai dibuatnya menurut catatan yang didapatkannya dari mayat Kakek Kwi Ong yang tewas dan mayatnya masih utuh karena terendam air belerang di Tapie-san itu, tentu dia dapat menanti sampai Koan Jit pergi dari tempat itu dan langsung dia akan dapat menukarkan pusaka buatannya dengan Giok-liong-kiam yang berada di tangan Koan Jit!

Setelah meneliti tempat sekeliling itu, Kakek San-tok lalu secepatnya lari kembali ke puncak bukit di mana terdapat sumber airnya, tempat yang dia tentukan agar menjadi tempat persembunyian sementara dari Diana.

Dia melihat muridnya dan Diana di dekat sumber air, sedang bercakap-cakap.

Ketika melihat Kakek itu muncul, Lian Hong cepat menyambutnya.

"Bagaimana hasilnya, suhu?"

"Bgus sekali, aku sudah tahu tempatnya. Mari kalian ikut bersamaku, sekarang juga."

"Diana ikut juga...?"

Tanya Lian Hong bingung. Membawa Diana dalam perjalanan ini amatlah berbahaya. Gurunya tersenyum.

"Ya, dan ia akan banyak membantu dalam urusan ini. Tadinya aku merasa menyesal bahwa pedang buatanku itu tidak kubawa, akan tetapi kalau dipikir-pikir, kita harus bersikap hati-hati sekali. Koan Jit itu terlalu berbahaya dan licik. Siapa tahu di tempat persembunyiannya ada teman-temannya yang berjaga. Jangan sampai ada yang tahu bahwa pedang itu sudah ditukar. Nah, mari kita berangkat. Sambil berjalan nanti kuberi tahu."

Karena mereka harus melakukan perjalanan cepat dan tentu saja Diana tidak mampu mengimbangi kecepatan dua orang yang mengerahkan ginkang itu, maka terpaksa Lian Hong menggendongnya.

Diana merangkul leher sahabatnya itu erat-erat ketika ia merasa betapa tubuhnya seperti terbang saja, seperti dilarikan seekor kuda yang membalap dengan amat kencangnya.

Makin kagumlah hatinya terhadap orang-orang di dunia persilatan ini.

Setelah tiba di luar hutan di mana tempat rahasia Koan Jit ditemukan San-tok, mereka lalu berpencar.

Diana diturunkan Lian Hong dan gadis ini lalu ikut bersama San-tok, lebih dulu memasuki hutan.

San-tok menggandeng tangan Diana yang tidak merasa takut karena ia percaya sepenuhnya kepada guru sahabatnya ini yang tentu saja lebih lihai dari pada muridnya.

San-tok menuju ke dekat semak-semak berduri, meneliti keadaan di sekitarnya.

Sunyi saja, tanda bahwa tidak ada pembantu-pembantu Koan Jit berjaga atau bersembunyi di situ.

Dia tidak tahu apakah Koan Jit masih berada di dalam tempat rahasia itu.

"Koan Jit...!"

Tiba-tiba Kakek itu berteriak dan Diana terpaksa menutupi kedua telinga dengan tangannya. Teriakan Kakek itu nyaring bukan main, seperti akan memecahkan selaput telinganya.

"Koan Jit, aku sudah tahu tempat persembunyianmu. Tentu di sekitar tempat ini! Koan Jit, keluarlah, atau aku akan menyerbu tempat persembunyianmu, membunuhmu dan mengambil Giok-liong-kiam, ha-ha-ha!"

Akan tetapi, hanya gema suara Kakek itu yang menjawab dari empat penjuru.

Tidak ada jawaban dari Koan Jit.

San-tok bukan seorang bodoh.

Dia merasa yakin bahwa Koan Jit masih berada di dalam tempat persembunyiannya, atau kalau tidak demikian, tentu di tempat persembunyiannya itu terdapat kawan-kawannya atau kaki tangannya yang melakukan penjagaan.

Tiba-tiba Kakek itu menangkap kedua pergelangan tangan Diana yang berdiri di dekatnya, dan dengan sebelah tangan saja dia mengangkat tubuh Diana tinggi-tinggi di atas kepalanya, suaranya terdengar semakin lantang.

"Koan Jit, lihatlah gadis ini! Aku mau menukarnya dengan Giok-liong-kiam!"

Diana nampak tenang-tenang saja karena tadi ia sudah mendengar akan segala rencana siasat Kakek itu untuk memancing keluar Koan Jit dan iapun sudah siap membantu.

Maka ketika tubuhnya diangkat ke atas, ia tidak merasa takut.

Beberapa kali San-tok berteriak menawarkan Diana untuk ditukar dengan Giok-liong-kiam.

Akan tetapi keadaan tetap sunyi saja dan tidak ada jawaban atau tanggapan dari murid pertama Thian-tok itu.

San-tok menurunkan tubuh Diana yang berdiri dan memperlihatkan sikap ketakutan seperti yang telah direncanakan, dan Kakek itu berseru lagi.

"Koan Jit, engkau manusia Pengecut! Engkau tidak berani keluar menyambutku, ha-ha-ha! Engkau tidak pantas menjadi murid utama Thian-tok kalau begitu."

Dan Kakek ini tertawa-tawa bergelak, suara ketawanya bergema di seluruh hutan dan menakutkan binatang-binatang hutan.

Sebetulnya, Koan Jit masih berada di dalam tempat persembunyian di mana dia menyimpan pusaka-pusakanya itu.

Ketika dia mendapat kenyataan bahwa Giok-liong-kiam dan pusaka-pusaka lain masih utuh di tempat semula, hatinya merasa lega.

Akan tetapi, dia masih mengkhawatirkan ancaman San-tok yang tidak boleh dipandang ringan saja.

Maka, sibuklah dia membuat persiapan untuk melindungi harta bendanya itu dan mengatur tempat rahasia itu sedemikian rupa sehingga tidak akan mudah dimasuki orang dan memasang jebakan-jebakan yang berbahaya bagi siapa saja yang berani masuk ke tempat itu.

Dia mendengar teriakan dan tantangan San-tok dan tentu saja dia terkejut sekali mendengar suara itu datang dari tempat yang demikian dekatnya.

Dia lalu memutar otak mencari jalan terbaik untuk menghadapi lawan lihai itu.

Kalau Kakek itu datang berdua dengan murid perempuannya, sukarlah mengalahkan mereka.

Biarkan mereka masuk ke tempat ini, pikirnya dan dia dibantu oleh perangkap-perangkap dan jebakan-jebakan rahasianya, juga ular-ularnya.

Akan tetapi, San-tok tidak datang menyerbu melainkan berteriak-teriak lagi menawarkan diri Diana untuk ditukar dengan giok-liong-kiam!

Hal ini amat menarik hati Koan Jit.

Giokliong-kiam amat penting baginya, tidak mungkin akan diberikan orang begitu saja.

Akan tetapi Diana juga amat penting, harus dapat dirampasnya untuk menyenangkan hati Kapten Charles Elliot.

Dia harus mampu mendapatkan keduanya, mempertahankan Giok-liong-kiam dan merampas Diana.

Cepat Koan Jit melakukan pengintaian dari tempat sembunyinya itu.

Ketika dia melihat bahwa Kakek San-tok itu hanya sendirian saja dan benar-benar membawa Diana untuk ditukar, hanya bisa diartikan bahwa sebenarnya Kakek itu belum tahu benar di mana letak tempat rahasianya, hanya tahu daerahnya saja, ialah di hutan itu.

Kalau sudah tahu benar letak tempat rahasianya, orang seperti San-tok tak mungkin mau membujuknya dan menukar Diana dengan pedang Giok-liong-kiam, melainkan tentu terus menyerbu untuk merampas pedang pusaka itu dengan kekerasan.

Maka, setelah membuat persiapan, Koan Jit lalu keluar dari tempat rahasianya itu melalui jalan belakang yang menembus ke semak-semak lain di belakang pohon besar.

Dengan jalan memutar dia menghampiri San-tok dari belakang.

Kakek itu tentu saja mendengar kedatangan ini dan cepat memutar tubuhnya.

Dengan sikap sombong dan sama sekali tidak gentar, Koan Jit menghadapi San-tok dengan senyum yang dapat mendirikan bulu roma lawan.

Koan Jit ini dapat tersenyum seperti iblis.

Lebih menyerupai gerakan mulut mengejek dari pada senyuman karena hanya mulutnya yang bergerak seperti tersenyum, akan tetapi bagian lain dari mukanya sama sekali tidak ikut tersenyum, dan sepasang mata yang bersinar dan mencorong seperti mata kucing itu memandang tajam.

Di pinggangnya terselip sepasang pedang pendek yang tadi diambilnya dari tempat persembunyiannya karena dia merasa perlu mempersenjatai diri untuk menghadapi lawan setangguh San-tok itu.

Sepasang pedang pendek itu merupakan satu di antara kumpulan pusaka-pusaka ampuh yang dimilikinya.

"Ha-ha, engkau baik hati sekali, San-tok, sengaja mengantarkan kepadaku gadis bule ini dan juga nyawamu. Terima kasih!"

Begitu kata terakhir keluar dari mulutnya, tubuh Koan Jit bergerak cepat dan dua gulungan sinar pedang telah menyambar, satu ke arah leher San-tok dan ke dua ke arah pusarnya.

Sungguh merupakan serangan yang amat dahsyat dan keduanya merupakan sinar maut yang kalau mengenai sasaran tentu mengakibatkan kematian.

Akan tetapi yang diserangnya sekali ini adalah seorang di antara Empat Racun, Kakek yang tinggi kepandaiannya amat tinggi, sejajar dengan tingkat guru Koan Jit sendiri.

Walaupun Kakek itu juga terkejut menghadapi serangan maut yang amat dahsyat itu, namun dengan ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang luar biasa, dia sudah menggerakkan tubuhnya mengelak sambil mengibaskan kipas butut di tangannya untuk menangkis dan mematahkan rangkaian serangan sepasang pedang pendek itu.

"Takkk! Tranggg...!"

Keduanya terkejut, Koan Jit tidak menyangka bahwa kipas butut di tangan Kakek itu demikian kuatnya dan Kakek yang sudah tua itu memiliki kecepatan gerakan yang demikian mengejutkan, dan di lain pihak San-tok harus mengakui bahwa tenaga murid pertama Thian-tok itu kuat sekali di samping sepasang pedang pendek yang ampuh dan kuat, tidak rusak oleh hantaman gagang kipasnya yang didorong oleh tenaga sinkang yang tadi dikerahkannya.

Karena keduanya maklum akan ketangguhan lawan, mereka bersikap hati-hati dan kini San-tok yang balas menyerang dengan kipasnya tidak berani main-main seperti biasanya, melainkan menyerang dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus ilmu kipasnya yang ampuh.

Kipas itu mengembang dan mengibas ke arah muka lawan, akan tetapi hal ini hanya gerakan mengacaukan untuk membuat mata lawan berkedip sehingga saat itu dia dapat menyerangnya.

Akan tetapi Koan Jit tidak berkedip sehingga ketika gagang kipas itu melakukan serangkaian totokan ke arah tujuh jalan darah di bagian tubuhnya, dia dapat mengelak atau menangkis dengan sepasang pedangnya, bahkan lalu membalas dengan serangan kontan yang tidak kalah dahsyatnya.

Serang-menyerang terjadi antara dua orang yang memiliki ilmu silat tinggi itu dan kesempatan ini dipergunakan oleh Diana untuk diam-diam melarikan diri seperti yang sudah direncanakan.

San-tok membiarkan Diana lari agak jauh, barulah dia menoleh dan berteriak.

"Hai, gadis liar, hendak lari ke mana kau ?"

Dan diapun meloncat, melakukan pengejaran.

Melihat ini, Koan Jit tidak mau membiarkannya saja.

Setelah kini mulai bergebrak melawan Kakek itu, dia mendapat kenyataan bahwa dia mampu menandinginya dan hal ini membesarkan hatinya.

Sayang kalau sampai dia membiarkan Kakek itu pergi bersama Diana begitu saja.

Dia harus mampu merampas gadis itu untuk diajak kembali ke Kanton!

Maka diapun cepat ngejar di belakang San-tok.

San-tok dapat menyusul dan memegang lengan Diana yang beraksi melakukan perannya.

Ia meronta-ronta dan memukuli Kakek itu dengan kedua tangan.

Pada saat itu, Koan Jit tiba dan tiba-tiba San-tok melepaskan Diana dan menggerakkan kipasnya menyambut dengan totokan-totokan dahsyat.

Koan Jit mengelak dan menangkis, lalu membalas pula dan mereka sudah terlibat lagi dalam perkelahian yang seru.

Melihat ini, Diana melarikan diri lagi.

San-tok mengejarnya dan Koan Jit juga mengejar.

Koan Jit merasa bahwa makin jauh meninggalkan tempat rahasianya, makin baik.

Sama sekali dia tidak menduga bahwa memang dia dipancing oleh Kakek itu agar menjauh dari tempat itu!

Setelah melihat gurunya dan Koan Jit semakin jauh dan tidak nampak lagi, Lian Hong keluar dari tempat sembunyinya.

Ia sudah mempelajari keterangan gurunya dengan teliti tentang tempat rahasia itu.

Cepat ia menuju ke semak-semak itu, dan batu di belakang semak-semak berduri itu didorongnya ke kiri.

Nampaklah sebuah lubang kecil yang hitam dan gelap.

Lian Hong yang mengenakan kain menutupi mukanya dan rambutnya, sehingga yang nampak hanya sepasang matanya yang jeli, memasuki lubang itu sambil mempersiapkan kipas yang menjadi senjata ampuhnya.

Gadis ini sengaja menutupi muka agar kalau di bawah sana terdapat orang-orangnya Koan Jit, mereka tidak akan mengenalinya.

Kakinya menyentuh anak tangga yang membawanya melalui terowongan menuju ke sebuah guha dalam tanah yang cukup luas.

Ada lubang-lubang rahasia agaknya yang dapat menampung dan memasukkan cahaya matahari dari luar sehingga tempat itu walaupun tidak terang sekali, akan tetapi juga tidak gelap.

Setibanya di ujung anak tangga, tiba-tiba kakinya menginjak tonjolan kecil di atas lantai dan tiba-tiba saja Lian Hong menarik tubuh ke belakang dan menggerakkan kipasnya ke samping.

"Wuuuutt! Plakk!"

Sebatang tombak meluncur dari kiri ke kanan, nyaris mengenai perutnya dan tiga batang anak panah yang menyambar dari kanan runtuh oleh tangkisan kipasnya.

Kiranya benda yang diinjaknya tadi merupakan tombol yang menggerakkan alat-alat rahasia.

Sungguh berbahaya sekali.

Hampir saja tubuhnya disate oleh tombak tadi, atau menjadi korban anak-anak panah yang diduga tentu mengandung racun berbahaya.

Dengan hati-hati ia melangkah lagi ke depan, seluruh urat syaraf di tubuhnya siap menghadapi segala kemungkinan.

Apa yang dikhawatirkan memang terjadi.

Tempat itu ternyata berbahaya sekali dan dipasangi jebakan-jebakan maut.

Baru belasan langkah, tiba-tiba saja, mungkin digerakkan oleh lantai yang diinjaknya, lantai itu bergoyang dan runtuh ke bawah!

Untung bahwa Lian Hong memang sudah siap siaga, maka begitu lantai yang diinjaknya bergoyang, ia sudah meloncat kembali ke belakang.

Ketika ia memandang, ternyata lantai yang diinjaknya tadi telah menjadi lubang, lantainya entah ke mana dan lubang itu gelap menghitam, dan dari dalamnya keluar bau yang amis memuakkan, juga terdengar desis-desis suara yang biasa dikeluarkan oleh ular-ular berbisa!

Ia bergidik membayangkan kalau ia tadi terjeblos ke dalam lubang, tentu sudah menjadi mangsa ular-ular yang mengeroyoknya.

Perlahan-lahan, lantai yang runtuh ke bawah tadi timbul kembali menutupi lubang yang menjadi rata seperti semula.

Lian Hong sudah mengukur jarak lubang jebakan itu dan kini ia meloncat dengan ringan melewati batas lubang dan turun dengan aman di atas lantai yang keras.

Dengan hati-hati dara perkasa itu melangkah maju lagi sampai akhirnya ia tiba di sebuah anak tangga yang membawanya turun lagi.

Kini di depannya, dalam sebuah kamar dalam guha itu, nampaklah beberapa buah peti yang tertutup, juga nampak senjata-senjata kuno seperti pedang, tombak, golok dan sebagainya, bertumpuk di kamar itu!

Dengan pandang matanya yang tajam, Lian Hong mencari-cari dan perhatiannya tertarik kepada sebuah peti lonjong berwarna hitam yang agaknya baru saja diletakkan orang di atas tumpukkan peti lain.

Hal ini dapat diketahuinya karena ada bekas-bekas jari tangan pada permukaan tutup peti yang penuh debu itu, sedangkan debu pada peti-peti lain tidak terganggu.

Tentu peti ini baru saja diperiksa dan diangkat orang dan siapa lagi kalau bukan Koan Jit yang mengangkatnya?

Kalau perhatian Koan Jit ditujukan kepada peti yang satu ini, kiranya takkan keliru kalau ia menduga bahwa peti inilah benda yang dicarinya.

Dengan cekatan ia mendekati peti dan kipas di tangan kanannya bergerak ke arah pinggir tutup peti.

Peti itupun terbuka!

Ia tidak mau sembarangan mempergunakan tangan telanjang untuk membuka peti karena menghadapi manusia jahat dan licin seperti Koan Jit ia harus berhati-hati sekali.

Di dalam peti itu nampak sebatang pedang dengan ukir-ukiran berupa naga dari batu kemala!

Inilah pedang pusaka yang menggetarkan dunia kang-ouw itu.

Akan tetapi, bukan hanya pedang pusaka yang berada di dalam peti, melainkan juga seekor ular berkulit belang-belang berkembang kehijauan yang amat berbisa.

Dan begitu peti itu terbuka, ular itu dengan gesitnya keluar, mengeluarkan suara mendesis-desis dan anehnya, begitu ular itu keluar dan mendesis, Beberapa ekor ular yang berukuran besar dan panjang berdatangan dari atas dan bawah, melingkar-lingkar, menggeliat-geliat dan bergerak ke arah Lian Hong dengan desis penuh ancaman!

Semenjak kecil, Lian Hong telah digembleng oleh Kakek San-tok (Racun Gunung), seorang yang sudah biasa berkeliaran di gunung-gunung dan di hutan-hutan besar sehingga Lian Hong sudah sering menghadapi binatang-binatang buas termasuk ular-ular besar.

Oleh karena itu, menghadapi enam ekor ular besar itu ia sama sekali tidak mengenal jerih atau ngeri.

Dengan tenang ia bahkan melangkah maju dan ketika ular yang keluar dari dalam peti hitam itu meluncurkan kepala menyerangnya, kipasnya menutup dan menyambut dengan totokan gagang kipasnya.

"Trakkk!"

Ular itu terkulai dengan kepala pecah, menggeliat-geliat akan tetapi tidak mampu menyerang lagi.

Kipas itu masih terus berkelebatan dan dalam beberapa detik saja, enam ekor ular itu telah berkelojotan dengan kepala retak tertotok ujung gagang kipas yang ampuh itu.

Biarpun ular-ular itu sudah mati dan peti itu terbuka, nampak pedang pusaka yang dicarinya itu terletak di dalam peti, seperti menggapai kepadanya, Lian Hong tidak sembrono mengulur tangan untuk mengambilnya.

Ia melihat cahaya yang tidak wajar keluar dari dalam peti itu, dan pedang pusaka itupun tertutup debu tipis yang mencurigakan.

Orang macam Koan Jit tidak akan membiarkan pedang pusaka yang diperebutkan oleh semua tokoh besar dunia kangouw itu begitu saja tanpa dipasangi perangkap-perangkap untuk mencelakakan orang yang hendak mencurinya.

Dengan hati-hati Lian Hong Menggunakan kipasnya untuk mengebut ke arah dalam peti sambil mengerahkan tenaga singkang.

Debu berwarna putih halus disambar angin kebutan itu dan mengepul keluar dari peti.

Lian Hong terus menggerakkan kipasnya agar jangan ada debu mengenai dirinya.

Untung ia melakukan ini karena begitu tubuh ular yang masih berkeloyotan sekarat itu terkena debu putih, tubuh itu segera menjadi hangus seperti dibakar api dan tidak bergerak lagi, mati seketika!

Diam-diam ia bergidik.

Seperti telah diduganya, debu putih itu adalah racun yang amat ampuh, kalau ia sembrono dan mengambil pedang itu dengan tangannya, tentu tangannya akan terbakar seperti tubuh ular-ular itu.

Ia mengulangi perbuatannya tadi, mengebutkan kipasnya dengan tenaga sekuatnya ke arah pedang dalam peti dan sisa debu mengepul keluar.

Akan tetapi tiba-tiba peti itu tertutup dan sinar-sinar hitam menyambar dari arah belakang peti, menyambar dengan kecepatan kilat menyerang tubuhnya!

Lian Hong memang sejak tadi sudah siap siaga, maka begitu melihat sinar-sinar kecil menyambar, ia sudah melangkah mundur sambil mengebutkan kipasnya.

Kiranya ketika tutup peti terbuka tadi, telah menggerakkan alat rahasia yang mengirim jarum-jarum beracun setelah tutup peti tertutup kembali.

Serangan gelap itupun berbahaya sekali, bahkan lebih berbahaya dari pada serangan ular-ular itu, juga debu beracun itu karena orang yang kurang waspada dan tidak memiliki gingkang dan singkang tinggi, agaknya akan sukarlah untuk dapat menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum halus itu.

Lian Hong menggunakan ujung kipas mencokel tutup peti terbuka kembali dan kini ia merasa yakin bahwa pedang pusaka itu tidak mengandung racun lagi.

Ia mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya, sebatang pedang yang serupa benar dengan Giok-liong kiam yang berada di dalam peti.

Itulah pedang Giok-liong-kiam palsu buatan Kakek San-tok.

Lian Hong lalu mengenakan sepasang sarung tangan hitam.

Bagaimanapun juga, ia tetap berhati-hati dan setelah mengenakan sarung tangan, barulah ia berani mengambil Giok-liomg-kiam itu, diamatinya sebentar lalu dibungkusnya dengan kain hitam dan disimpannya di balik jubah.

Giokliong-kiam palsu buatan gurunya itu ia letakkan di dalam peti dan ia menutup kembali peti itu.

Ia mengerti bahwa kalau Koan Jit memasuki tempat ini, tentu dia akan tahu bahwa ada orang yang telah memasuki tempat rahasianya, melewati jebakan-jebakan dan bahkan membunuh ular-ularnya dan melenyapkan pula debu beracun, akan tetapi karena melihat Giok-liong-kiam masih berada di situ, tentu Koan Jit akan mengira bahwa orang itu tentu terkena serangan jarum-jarum beracun sehingga keluar lagi tanpa membawa Giok-liong-kiam.

Senyum manis menghias bibir Lian Hong ketika ia teringat akan hal ini, lalu ia memungut beberapa batang jarum hitam dan memasukkannya ke dalam kantong jubahnya.

Harus dibawa pergi beberapa batang jarum beracun agar Koan Jit yakin akan berhasilnya jarum-jarum beracun itu.

Sementara itu, perkelahian antara Koan Jit dan San-tok masih berjalan dengan seru.

Diana tidak melarikan diri lagi, karena kini mereka sudah jauh meninggalkan tempat rahasia itu dan ia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik seperti yang direncanakan San-tok.

Mereka berdua telah berhasil memancing Koan Jit menjauhi tempat rahasia itu dan kini ia duduk di bawah sebatang pohon yang agak jauh dari perkelahian, hal inipun sesuai dengan pesan San-tok kepadanya dan sepasang matanya terbelalak menonton perkelahian itu.

Ia semakin kagum dan terheran-heran.

Hampir ia tidak dapat percaya bahwa ada orang-orang yang dapat bergerak secepat itu sampai ia tidak dapat mengikuti gerakan kedua orang yang sedang berkelahi itu dengan pandang matanya.

Ia hanya melihat dua bayangan yang kabur berkelebatan ke sana-sini, sukar ditentukan kaki atau tangan siapa yang kadang-kadang nampak itu.

Tentu saja iapun sama sekali tidak tahu apakah Kakek yang dijagoinya itu berada di pihak yang mendesak atau terdesak.

Setelah beberapa bulan lamanya hidup di dusun dan mengikuti sendiri cara hidup orang-orang dusun, timbul perasaan kasih dalam hati Diana terhadap orang-orang dusun yang sederhana dan rukun itu.

Dan terhadap ahli-ahli silat, terutama sekali Lian Hong dan pemuda penolongnya yang tidak diketahui namanya itu, ia merasa kagum bukan main.

Timbullah perasaan ingin yang besar di dalam hati gadis ini untuk mempelajari ilmu silat agar dapat menjadi orang yang gagah dan tangguh seperti mereka itu.

Ia melihat betapa di dalam dunia yang penuh dengan kekerasan ini, amatlah perlu membekali diri dengan ilmu silat agar ia dapat membela diri kalau terancam bahaya akibat kejahatan orang.

Diana sama sekali tidak tahu bahwa Kakek yang dijagoinya itu mulai kewalahan menghadapi desakan-desakan sepasang pedang pendek di tangan Koan Jit.

Bukan karena keampuhan sepasang pedang pendek itu atau karena tingkat ilmu silat Koan Jit maka Kakek ini terdesak.

Senjata kipasnya tidak kalah ampuh dibandingkan senjata lawan, dan dalam hal ilmu silat, dia lebih matang dan tidak kalah tinggi tingkatnya.

Akan tetapi dia kalah dalam semangat.

Koan Jit berkelahi mati-matian dengan niat menghancurkan lawan, membunuh lawan.

Sebaliknya, San-tok sama sekali tidak ingin membunuh lawannya.

Dia tidak mau membunuh Koan Jit karena hal ini akan mengakibatkan bibit permusuhan antara dia dengan Thian-tok, orang segolongan.

Memang, di dalam golongan sesat terdapat semacam "kode-etik"

Atau setia kawan tak tertulis atau terucapkan, melainkan sudah diterima dan diakui oleh masing-masing bahwa mereka tidak saling ganggu.

Kalau San-tok berhadapan dengan Thian-tok sendiri, maka perkelahian di antara mereka, biar mengakibatkan kematian sekalipun, tidak akan berakibat apa-apa.

Akan tetapi, kalau sampai San-tok dalam suatu perkelahian melawan Koan Jit membunuhnya, berarti dia telah menghina pihak Thian-tok dengan membunuh muridnya, membunuh orang yang tingkatnya lebih rendah.

Inilah sebabnya mengapa San-tok berkelahi dengan semangat yang tidak sebesar Koan Jit!

Dan selain itu, diapun tidak melihat kepentingannya membunuh Kon Jit, melainkan hanya ingin memancingnya keluar dari tempat persembunyian agar muridnya, Lian Hong, dapat bekerja dengan leluasa.

San-tok mulai merasa khawatir karena muridnya belum juga muncul.

Koan Jit merupakan lawan yang amat berbahaya dan biarpun dengan ketinggian ilmunya dia dapat melindungi dirinya, memutar kipasnya sehingga gulungan sinar senjatanya itu mampu membendung serangan sepasang pedang pendek yang lihai itu, namun usianya yang sudah tua itu membuat keadaan tubuhnya tidak sekuat dahulu lagi.

Daya tahannya tidak sebesar dulu dan kalau dilanjutkan perkelahian itu sampai lama, dia akan terancam bahaya besar.

Tangannya mulai merasa tergetar kalau dia menangkis serangan pedang dan bajunya mulai basah dengan keringat, sedangkan Koan Jit nampaknya belum berkurang tenaga serangannya, bahkan mengamuk semakin dahsyat.

Legalah hati San-tok ketika tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan orang dan Lian Hong, kini dengan pakaian biasa tanpa penutup muka, telah berada di situ dan gadis ini tanpa banyak cakap lagi langsung membantu gurunya dan menyerang Koan Jit dengan kipasnya.

Tentu saja kemunculan gadis ini melegakan hati San-tok dan menggirangkan hati Diana, akan tetapi mengejutkan hati Koan Jit.

Dia mengenal kelihaian gadis ini dan melawan gadis ini bersama gurunya tentu saja merupakan hal yang amat berbahaya sekali kalau tidak mau dikatakan seperti usaha bunuh diri saja.

Diapun menggerakkan sepasang pedangnya yang meluncur cepat menyerang ke arah guru dan murid itu dengan dahsyat.

Ketika dua orang lawannya mengelak dengan loncatan ke belakang, diapun melompat jauh dan berlari cepat meninggalkan mereka.

"Ha-ha-ha, jangan mengejar, Hong Hong. Lain kali masih banyak kesempatan untuk membunuhnya!"

Kata San-tok dan ini hanya gertakan saja karena Lian Hong juga sama sekali tidak bermaksud mengejar orang itu.

Gadis ini memberi isyarat kepada gurunya dengan menepuk-nepuk pinggangnya bahwa Giok-liong-kiam telah berhasil ia tukarkan.

San-tok tertawa bergelak saking girangnya dan dia mengajak muridnya untuk segera pergi dari situ.

Lian Hong menggandeng tangan Diana.

"Mari, Diana, kita pergi."

Melihat ini, San-tok mengerutkan alisnya.

"Kenapa harus mengajak gadis bule itu? Tinggalkan saja ia di sini, akan merepotkan saja!"

Sepasang mata Lian Hong yang lebar, bening dan tajam sinarnya itu terbelalak memandang gurunya.

"Tinggalkan di sini? Tidak, suhu. Diana adalah sahabatku, bahkan seperti saudaraku sendiri. Meninggalkannya di sini berarti membiarkan ia terancam bahaya. Suhu tahu bahwa ia dicari oleh Koan Jit dan anak buahnya!"

"Diana akan merepotkan saja kalau ikut kita. Selain kita tidak dapat melakukan perjalanan cepat, juga ia mendatangkan kepusingan saja."

"Wah, Kakek yang aneh. Tadinya kukira, sebagai guru Lian Hong, engkau tentu orang sakti yang budiman dan gagah perkasa. Tidak tahunya hanya seorang Kakek yang curang,"

Tiba-tiba Diana berkata dengan mata bersinar-sinar marah dan muka yang cantik dengan kulit yang putih itu kini kemerahan.

Lian Hong terkejut mendengar itu dan ia memandang kepada kawannya itu.

Ia melihat betapa kemarahan membuat wajah Diana menjadi semakin cemerlang dan iapun merasa kagum.

Biarpun seorang wanita kulit putih, namun Diana memiliki keberanian dan semangat, bukan seorang wanita yang cengeng dan lemah seperti kebanyakan wanita yang dijumpainya.

Berani begitu saja mengatakan San-tok seorang Kakek yang curang!

Padahal, San-tok gurunya itu adalah seorang di antara Empat Racun Dunia dan untuk itu saja tangan gurunya tentu siap untuk membunuh orang!

Akan tetapi San-tok sendiripun terkejut dan memandang kepada gadis bermata biru itu dengan mata dilebarkan.

Hampir tidak percaya dia mendengar keberanian gadis itu memakinya.

"Eh, kenapa kau mengatakan aku curang?"

Tanyanya dan di dalam pandang matanya terbayang kemarahan dan ancaman sehingga diam-diam Lian Hong merasa khawatir sekali.

"Engkau curang dan tidak mengenal budi!"

Diana berkata pula. Tentu saja San-tok tidak mengenal budi. Tokoh hitam tidak akan pernah bicara tentang budi! "Coba jelaskan alasanmu memaki aku!"

"Engkau mengatur siasat memancing musuh meninggalkan sarangnya, tidak terangterangan menantangnya melainkan mempergunakan akal licik, bukankah itu merupakan kecurangan? Dan ketika engkau membutuhkan bantuanku, engkau mengajak aku kesini, setelah aku membantumu sampai berhasil, kini karena aku tidak kau butuhkan lagi, engkau hendak meninggalkan aku begitu saja terancam bahaya. Bukankah itu namanya tidak mengenal budi?"

Lian Hong tersenyum geli di dalam hatinya melihat betapa Kakek itu memandang bengong seperti orang kehabisan akal, atau seperti seorang anak-anak dimarahi ibunya karena kenakalannya.

"Wah, wah, kau membingungkan aku. Tidak kubunuh saja sudah baik, kenapa engkau banyak mengomel?"

Gerutu Kakek itu.

"Mau bunuh aku? Bunuhlah, agar lengkap engkau membuktikan sifat-sifatmu yang mengecewakan hatiku, bukan hanua curang dan tidak mengenal budi, akan tetapi pengecut lagi."

"Pengecut?"

San-tok berseru kaget.

"Seorang Kakek yang berilmu tinggi hendak membunuh seorang gadis yang selama hidupnya belum pernah belajar ilmu silat, bukankah perbuatan itu amat pengecut dan tidak tahu malu?"

Kakek itu melongo dan tidak mampu menjawab sehingga Lian Hong merasa geli. Gadis ini tertawa.

"Hi-hik, suhu, mengakulah bahwa suhu telah kalah berdebat dengan Diana dan untuk kekalahan suhu itu suhu harus menyerah."

"Aku menyerah? Maksudmu bagaimana?"

"Karena suhu kalah dan tidak mampu membantah kebenaran omongan Diana tadi, sudah adil kalau suhu memenuhi permintaannya."

San-tok menarik napas panjang.

Dia mengira bahwa permintaan itu tentu hanya agar perempuan bule itu diperbolehkan ikut menyertai perjalanan mereka.

Biarpun hal ini menjemukan hatinya, akan tetapi karena muridnya agaknya amat sayang kepada gadis bule itu, diapun mengalah.

"Baiklah, aku penuhi permintaannya."

"Suhu, benarkah? Suhu memenuhi semua permintaannya?"

Kakek itu memandang muridnya dengan curiga.

"Semua? Tidak, aku hanya memenuhi satu saja permintaannya, tidak boleh banyak-banyak."

"Satupun sudah cukup! Diana, kenapa kau tidak cepat menghaturkan terima kasih kepada guru kita?"

Diana sudah cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Kakek itu.

"Suhu, aku menghaturkan terima kasih bahwa suhu telah sudi menerimaku sebagai murid."

Kakek itu merasa seperti disambar geledek dan dia meloncat ke belakang, matanya terbelalak.

"Apa? Siapa mengambil engkau sebagai murid? Tidak sudi aku, tidak sudi...!!"

Dia melangkah maju, kedua tangannya terkepal, dia sudah siap untuk memukul gadis kulit putih itu.

Melihat keadaan gurunya, Lian Hong yang sudah mengenal baik gurunya itu cepat melangkah maju dan iapun menjatuhkan diri berlutut di depan Kakek itu, di sebelah kanan Diana.

"Suhu, harap tenang dan sabar. Ingat bahwa suhu tadi telah mengatakan untuk memenuhi permintaan Diana dan satu permintaan Diana itu adalah untuk menjadi muris suhu."

"Tidak, ini semua kau yang mengaturnya, anak nakal!"

"Sungguh mati, aku tidak akan berani melakukan hal seperti itu, suhu. Sudah sejak lama sekali Diana menyatakan bahwa ia ingin sekali menjadi murid suhu, menjadi saudara seperguruanku agar ia dapat membela diri kalau diancam orang jahat. Permintaan menjadi murid suhu itu adalah permintaan yang timbul dari dalam hati Diana sendiri, bukan aku yang membujuknya."

"Tidak, mana mungkin aku menerima seorang kulit putih sebagai murid? Orang-orang kulit putih adalah bangsa biadab, adalah bangsa jahat yang datang ke tanah air kita untuk membikin kacau. Aku tidak suka kepada mereka dan aku bahkan mau membantu para pejuang untuk mengenyahkan mereka. Bagaimana mungkin sekarang kau hendak memaksaku mengambil murid seorang gadis kulit putih? Edan barangkali kau , Hong Hong!"

"Suhu, aku sendiri tidak setuju dengan perbuatan bangsaku yang datang ke negeri ini untuk melakukan kejahatan-kejahatan."

"Huh, jangan coba untuk merayu, kau !"

Bentak San-tok marah.

"Kalau engkau tidak setuju, lalu mengapa engkau sendiri berada di negeri ini?"

Lian Hong terkejut mendengar serangan kata-kata gurunya itu yang tentu akan sulit dijawab oleh sahabatnya. Akan tetapi Diana nampak tenang saja, bahkan tersenyum dengan sikap tabah ketika ia menjawab.

"Aku datang ke negeri ini karena ada tiga hal, suhu. Pertama aku adalah keponakan dari Kapten Charles Elliot yang bertugas di sini, dan aku datang untuk diperbantukan kepadanya, mengurus bagian tata usaha. Ke dua, aku adalah seorang ahli penyelidik barang-barang kuno dan kedatanganku ke negeri ini juga untuk mempelajari dan menyelidiki tentang benda-benda kuno di sini..."

"Huh, apa maksudnya menyelidiki barang-barang kuno?"

Kakek itu memotong, tertarik, karena baru sekarang dia mendengar ada orang yang pekerjaannya menyelidiki barang kuno.

"Dari penyelidikan barang-barang kuno kita mampu menyelidiki dan menjenguk di jaman lalu, suhu, untuk membuat catatan sejarah negeri ini yang tak terpisahkan dari sejarah dunia."

San-tok bukan seorang terpelajar, maka keterangan itu membingungkan hatinya dan sinar matanya yang tadinya tertarik itu kini muram dan marah kembali.

"Dan sebab yang ke tiga, suhu, karena tadinya aku sama sekali tidak tahu bahwa bangsaku datang ke sini untuk menyelundupkan madat dan untuk memerangi rakyat di sini, tadinya kusangka bahwa mereka itu hanya datang untuk berdagang saja, perdagangan yang saling menguntungkan."

"Suhu, aku yang menanggung bahwa Diana adalah seorang yang amat baik budi, jujur dan tabah sekali, sama sekali tidak boleh disamakan dengan orang-orang kulit putih yang lain."

"Aahhh, omongan manis saja. Aku memang sudah mendengar bahwa orang-orang kulit putih paling pandai membujuk rayu, mulutnya selalu tersenyum akan tetapi mata mereka yang biru itu menyembunyikan pamrih yang jahat sekali."

Dia memandang kepada Diana yang masih berlutut.

"Apa buktinya bahwa semua omongannya itu tidak bohong belaka dan ia sama palsunya dengan semua orang kulit putih?"

"Suhu, kalau aku menyukai perbuatan bangsaku, kenapa aku lebih suka hidup di dusun bersama para petani? Bahkan aku menolak keras ketika kaki tangan pamanku itu datang untuk memaksaku kembali ke Kanton?"

Kata Diana.

"Suhu, ingat, betapapun juga, suhu sudah berjanji untuk menerimanya sebagai murid,"

Sambung Lian Hong.

"Berjanji menerima permintaannya ikut dengan kita, bukan menerima sebagai murid!"

"Akan tetapi hal itu tidak suhu jelaskan, dan yang dimaksudkan Diana adalah permintaan menjadi murid. Suhu tidak mungkin akan menjilat ludah sendiri!"

"Hong Hong, jangan kau memaksa aku! Kalau sampai salah tindak, menerima seorang bule sebagai murid kemudian kelak ia membinasakan rakyat kita, bukankah namaku akan dikutuk selama hidup sebagai seorang yang mengkhianati bangsanya?"

"Tidak, suhu. Aku yang bertanggung jawab! Biarlah aku yang akan dikutuk, bukan suhu. Diana bukan orang macam itu."

Mendengar pembelaan Lian Hong ini, Diana merasa begitu gembira dan terharu sehingga tiba-tiba ia merangkul Lian Hong, menciumi pipinya sambil menangis.

Lian Hong juga balas merangkul dan tak dapat menahan air matanya melihat betapa Diana menangis karena terharu.

San-tok menghela napas panjang, tersentuh juga perasaan hatinya melihat dua orang gadis itu berangkulan dan bertangisan.

"Sudahlah, aku menerimanya sebagai murid, akan tetapi ia harus tahan uji harus berani hidup menderita kekurangan dan belajar dengan tekun dan keras. Dan untuk tingkat permulaan, engkau lah yang mewakili aku membimbingnya, Hong Hong."

Lian Hong gembira sekali dan memberi hormat.

"Tentu saja, suhu, tentu saja."

Juga Diana merasa girang dan memberi hormat sambil berlutut sampai dahinya menyentuh tanah.

"Terima kasih, suhu. Biarlah aku bersumpah. Kalau kelak aku mempergunakan ilmu yang kupelajari dari suhu untuk mencelakakan rakyat di negeri ini, biarlah aku akan mati di ujung pedang!"

Lega juga rasa hati San-tok mendengar sumpah suka rela ini.

"Sudahlah, mari kita kembali ke Wu-yi-san."

Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan dan mulailah Diana memasuki suatu pengalaman hidup baru yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya di dusun selama ini.

Di dalam dusun itu ia memang mengalami kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya sebagai keponakan Kapten Charles Elliot, akan tetapi kehidupan di dusun itu hanya sederhana dan penuh kerja keras di ladang saja.

Setelah melakukan perjalanan bersama Lian Hong dan San-tok, barulah ia mengalami kehidupan yang benar-benar amat sukar, keras dan penuh bahaya!

Mereka tidur di tengah hutan, kadang-kadang di tempat terbuka, menentang panas, dingin, dan ancaman bahaya dari binatang-binatang buas.

Mereka menghadapi kesukaran ketika perut menagih isi, harus mengadakan makanan di tengah hutan, tanpa bekal bahan sama sekali.

Diana belajar hidup dan mengalami hal-hal yang selama hidup sebelumnya belum pernah dibayangkannya, belum pernah diimpikannya.

Ia belajar menangkap ular untuk dimakan dagingnya sekedar penyambung hidup, makan daun-daun muda, bahkan pernah diajak makan ulat-ulat gemuk karena dalam sebuah hutan, satu-satunya bahan makanan yang bisa didapatkan hanya ulat-ulat gemuk itu!

Dan iapun merasa kagum bukan main.

Sahabatnya, Lian Hong, benar seorang gadis yang luar biasa, dan gurunya itu lebih aneh lagi.

Kadang-kadang baik, kadang-kadang jahat, kadang-kadang acuh saja, akan tetapi kadang-kadang marah besar seperti orang gila.

Betapapun juga, ia telah diterima sebagai murid dan iapun maklum bahwa gurunya seorang aneh dan luar biasa dan ini saja sudah merupakan bekal baginya untuk menghadapi segala ulah dan tingkah gurunya yang aneh-aneh.

Dalam perjalanan itu, Diana digembleng oleh kesukaran-kesukaran hidup yang membuat gajih-gajih di tubuhnya lenyap, membuat tubuhnya agak kurus dan kokoh kuat, membuat kulit tubuhnya yang sudah agak gelap oleh pekerjaan di ladang, kini semakin hitam!

Akan tetapi, sifat pesoleknya belum juga hilang sehingga seringkali ia ditertawakan Lian Hong karena di dalam hutan sekalipun ia masih sering membereskan rambutnya sampai rapi dan ada saja akalnya untuk menambah merah pada bibirnya yang sudah merah!

Sementara itu, setelah melarikan diri untuk ke dua kalinya karena tidak kuat melawan San-tok dan Lian Hong, Koan Jit menyelinap dan bersembunyi, mengintai musuh-musuhnya.

Dia merasa lega melihat mereka itu pergi dari situ, tidak berusaha mencari tempat penyimpanan harta pusakanya.

Dengan hati girang dia berpendapat bahwa tentu Kakek itu benar-benar belum tahu tempat rahasianya, akan tetapi sudah dapat menduga bahwa tempat itu berada di dalam hutan ini.

Aku harus cepat memindahkan benda-benda pusaka itu, pikirnya dan setelah menanti agak lama dan merasa yakin bahwa musuh-musuhnya sudah pergi jauh, diapun cepat memasuki tempat rahasianya.

Wajah Koan Jit berubah pucat dan tubuhnya gemetar penuh ketegangan dan kekhawatiran ketika dia memasuki tempat itu.

Dia melihat bahwa jebakan-jebakan rahasia di tempat itu sudah bekerja, tanda bahwa ada orang memasuki tempat ini.

Dengan hati-hati dia terus menuju ke dalam dan melihat beberapa ekor ular itu mati, dia semakin khawatir.

Akan tetapi, kekhawatirannya berubah girang, lega dan juga terheran ketika dia melihat bahwa semua pusaka, terutama sekali Giok-liong-kiam, masih utuh!

Tidak ada sebuahpun pusaka yang hilang.

Kalau tadinya dia merasa heran, lalu dia menjadi girang sekali.

Dia melihat runtuhnya jarum-jarum hitamnya yang beracun, dan ketika dia meneliti, ternyata ada beberapa batang jarum yang hilang.

Ini hanya dapat diartikan bahwa serangan gelap jarum-jarum itu telah mengenai tubuh orang lihai yang masuk ke situ.

Orang itu tentu menjadi kaget dan ketakutan karena jarum-jarum itu memang mengandung racun yang ganas, dan orang itu melarikan diri sebelum dapat membawa Giok-liong-kiam yang agaknya memang ingin diambil oleh pencuri itu.

Dan andaikata orang itu tidak mampus oleh racun jarum-jarumnya, setidaknya usahanya itu gagal dan semua pusakanya, terutama Giok-liong-kiam, selamat!

Kenyataan bahwa tempat rahasianya sudah didatangi orang itu membuat Koan Jit makin tergesa lagi untuk memindahkan barang-barangnya yang berharga itu.

Dia tidak menyangka buruk kepada San-tok dan Lian Hong.

Kakek itu tadi berkelahi dengan dia, sedangkan gadis itu walaupun datang belakangan, namun jelas tidak menderita luka oleh jarum beracun.

Pula, kalau dua orang itu yang berusaha masuk ketempat rahasia itu, tentu Giok-liong-kiam sudah diambilnya.

Tentu orang lain yang telah memasuki tempatnya, mempergunakan kesempatan selagi dia sibuk berkelahi melawan San-tok dan muridnya.

Akan tetapi walaupun orang itu mampu melalui jebakan di lantai, ular-ular dan debu pembius, ternyata tidak mampu lolos dari jarum-jarum hitamnya yang beracun!

(Lanjut ke

Jilid 21) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 21 Pada hari itu juga, Koan Jit lalu mengumpulkan pusaka-pusakanya dan membawanya keluar dari tempat itu dan untuk sementara, secara rahasia, diboyongnya benda-benda berharga itu ke markasnya tanpa diketahui atau dicurigai oleh para pimpinan pasukan kulit putih.

Dunia persilatan, seperti kelompok-kelompok lainnya, memang memiliki sifat-sifatnya yang berlawanan, yaitu sifat buruk dan baiknya.

Buruknya, di dunia persilatan selalu terjadi kekerasan, permusuhan, dendam-mendendam, adu kekuatan yang tak kunjung henti.

Dunia ini bergelimang darah walaupun sebagian besar dari pertentangan itu terjadi antara pribadi.

Akan tetapi, ada satu sifat baik pada mereka, juga di kalangan kau m sesatnya, seperti berkali-kali terbukti dalam sejarah bahwa mereka itu dapat juga bersatu apa bila tanah air dan bangsa berada dalam bahaya.

Sejak terjadinya perang madat sampai didudukinya kota-kota pelabuhan yang besar oleh kekuasaan orang kulit putih, dunia persilatan terguncang.

Bahkan di dalam kalangan kau m sesat juga terdapat suatu perasaan tidak puas, bahkan dendam dan benci kepada orang kulit putih.

Dengan demikian, maka golongan-golongan itu, yang kesemuanya menamakan diri sendiri sebagai pejuang-pejuang patriot, terpecah-pecah menjadi beberapa aliran.

Ada golongan yang hanya memusuhi orang kulit putih dan bahkan membantu pemerintah Mancu.

Ada golongan yang sebaliknya hanya menentang pemerintah penjajah Mancu dan acuh terhadap orang-orang asing kulit putih.

Golongan pertama ini condong untuk menjadi kaki tangan pemerintah Ceng, sedangkan golongan kedua condong untuk diperalat oleh orang-orang kulit putih.

Ada pula golongan ke tiga yang menentang keduanya, menentang pemerintah penjajah Mancu, juga menentang orang kulit putih.

Tentu saja kadang-kadang timbul bentrokan antara ketiga golongan ini.

Akan tetapi, golongan yang anti kepada kedua kekuasaan asing Mancu dan kulit putih itu semakin kuat dan besar saja.

Hal ini karena banyak orang gagah merasa penasaran dan marah kepada pemerintah Ceng yang dianggap telah menjual sebagian dari tanah air kepada orang-orang asing, melihat betapa pemerintah Ceng semakin lemah dan tidak berani menentang orang kulit putih, bahkan dengan cara "menyogok"

Untuk menyenangkan hati orang kulit putih, pemerintah Mancu telah menyerahkan kota-kota pelabuhan ke dalam kekuasaan orang kulit putih.

Di antara mereka yang hatinya merasa penasaran dan bangkit, terdapat tokoh-tokoh datuk persilatan, juga para datuk golongan hitam ikut bangkit dan merasa penasaran.

Karena itu, tidak mengherankan apa bila timbul perasaan setia-kawan dan Persatuan yang besar di antara mereka untuk menghadapi kekuasaan orang kulit putih dan juga kelaliman kerajaan Ceng yang mulai lemah.

Bahkan tanpa mereka sepakati bersama, Empat Racun Dunia yang terkenal keji dan jahat itupun memiliki persamaan dalam hal ini.

Mereka berempat merasa penasaran sekali dan ingin menghabiskan sisa usia mereka yang sudah amat tua itu untuk melakukan sesuatu guna menentang orang-orang kulit putih dan pemerintah penjajah.

Karena itulah, ketika Hai-tok (Racun Lautan) mengirim undangan kepada para tokoh besar persilatan untuk menghadiri pesta yang akan diadakannya untuk memperingati ulang tahunnya yang ke tujuh puluh lima, para datuk persilatan menyambutnya dengan gembira dan hampir semua tokoh yang diundang memerlukan datang menghadiri undangan itu!

Ada beberapa hal yang mendorong Hai-tok untuk merayakan hari ulang tahunnya itu dengan mengundang tokoh-tokoh besar dunia persilatan.

Pertama, karena hatinya juga tergugah melihat keadaan tanah air yang terancam oleh orang-orang kulit putih dan karena penasaran melihat politik yang amat lemah dari pemerintah Ceng dalam menghadapi kekuasaan orang kulit putih yang semakin mendesak.

Ke dua adalah karena dia ingin membicarakan tentang Giokliong-kiam dengan para datuk, Setelah diketahui bahwa pusaka itu berada di tangan Koan Jit yang kini menjadi orang penting dan berkuasa di dalam pasukan orang kulit putih yang amat kuat itu.

Dan ke tiga, yang membuat Kakek ini penasaran dan marah, adalah karena dia mendengar dari puterinya, Kiki, bahwa kini muridnya yang amat dibanggakan dan diandalkan, yang bernama Lee Song Kim, telah menghambakan diri kepada istana kaisar yang dianggap sebagai kaisar yang lemah dan pengkhianat itu!

Sebab-sebab inilah yang membuat Hai-tok mengundang semua tokoh besar, bukan hanya dari golongan sesat seperti golongan sendiri, akan tetapi bahkan dia mengundang tokoh-tokoh besar dunia persilatan dari golongan putih atau kau m pendekar!

Hai-tok mengundang para datuk persilatan untuk datang ke pesisir timur dari mana nampak Pulau Layar di kejauhan.

Pantai ini penuh dengan batu-batu karang dan guha-guha besar, dan untuk keperluan pestanya, Hai-tok menyuruh anak buahnya untuk menggempur guha-guha dan membuat lima buah guha besar menjadi satu, menjadi ruangan sebuah guha yang luas sekali, yang menghadapi laut.

Guha itu lalu disuruh hias dan ukir dan untuk keperluan ini, dia sengaja mendatangkan ahli-ahli ukir yang pandai.

Perpaduan antara alam dan keahlian tangan manusia menciptakan sebuah ruangan dalam guha yang amat aneh dan indah.

Batu-batu karang itu diukir membentuk binatang-binatang aneh seperti naga, ki-lin, burung Hong dan sebagainya.

Lantai guha dibikin rata dan di situ dipasangi meja-meja alam, meja-meja yang dibuat dari batu karang yang diukir-ukir, demikian bangku-bangku batu karang yang amat indah penuh dengan gaya seni yang luar biasa.

Ketika para tamu berdatangan, anak buah Hai-tok yang gagah-gagah dan berpakaian indah, menyambut dan mempersilahkan para tamu memasuki tempat duduk.

Para tamu mengucapkan seruan-seruan kagum bukan main.

Tempat itu memang amat indahnya dan menakjubkan.

Selain penuh dengan batu-batu karang dan dinding-dinding batu terukir, juga bangku-bangku dan meja-meja batu karang yang indah, pemandangan keluar guha amat indah.

Air laut seperti berada di luar guha yang tinggal mengulur tangan menyentuhnya, dan air laut berkeriput lembut ditimpa sinar matahari pagi yang cerah.

Matahari sendiri yang baru muncul, masih memuntahkan sinar keemasan, akan tetapi menciptakan suatu jalur jalan putih keperakan di atas permukaan laut.

Semua tamu itu terdiri dari tokoh-tokoh besar persilatan, tokoh-tokoh dan datuk-datuk yang sudah banyak mengalami hal yang aneh-aneh.

Akan tetapi ketika memasuki guha itu, mereka tertegun dan merasa seolah-olah mereka masuk ke dalam sebuah istana dongeng di dalam lautan.

Belum lama mereka duduk, terdengar bunyi yang nyaring melengking dan lembut, seperti bunyi rumah siput besar ditiup atau bunyi suling tanduk besar, mengaum dan terbawa angin memasuki guha itu.

Semua orang memandang ke arah laut dari mana suara itu terdengar.

Para anak buah yang tadinya bertugas menjaga guha itu dan menyambut para tamu, begitu mendengar suara mengaung itu, lalu bangkit berdiri dengan sikap hormat, lalu seorang di antara mereka berseru memberi pengumuman.

"Yang mulia To-cu datang...!!"

Para tamu tahu bahwa Hai-tok yang bernama Tang Kok Bu itu adalah seorang yang amat kaya, menjadi majikan atau sebagai raja saja dari Pulau Layar yang nampak dari situ seperti layar sebuah perahu.

Mereka tahu bahwa yang disebut To-cu (Majikan Pulau) tentu Hai-tok Tang Kok Bu, tuan rumah yang mengirim undangan dan yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke tujuh puluh lima.

Karena itu, semua tamu menujukan pandang mata mereka ke tengah lautan, ke arah Pulau Layar.

Dan kini nampaklah oleh mereka beberapa buah perahu yang kecil-kecil panjang dan meruncing, bergerak dengan amat lajunya menuju ke pantai.

Beberapa orang di antaranya memegang bendera-bendera, ada yang bertuliskan kata lautan, Pulau dan Raja.

Dengan bendera-bendera itu seolah-olah Hai-tok menjadi Raja Pulau dan Lautan yang kini menuju ke pantai dengan segala kebesarannya.

Memang inilah yang dimaksudkan oleh seorang di antara Empat Racun Dunia itu.

Hai-tok ingin memamerkannya lewat pesta yang luar biasa megahnya itu, dan diapun ingin memamerkan kedudukan dan kekuasaannya lewat pemunculannya yang mengesankan.

Dan memang mengesankan sekali pemunculan Hai-tok Tang Kok Bu!

Dari jauh tadi tidak begitu nampak, hanya kelihatan seolah-olah Hai-tok duduk di atas sebuah perahu kecil seorang diri, diiringkan oleh anak buahnya yang gagah-gagah dan tampan-tampan.

Akan tetapi setelah rombongan itu dekat dengan tebing-tebing karang, di mana para tamu nonton dari dalam guha, semua orang tertegun!

Betapa tidak?

Hai-tok duduk di atas punggung seekor binatang laut yang bentuknya seperti seekor buaya besar!

Binatang itu berenang dengan cepat sekali, dikawal oleh anak buahnya yang naik perahu-perahu kecil dan yang memegang bendera-bendera kebesarannya.

Sungguh berwibawa dan gagah perkasa sekali nampaknya, juga menyeramkan.

Hai-tok Tang Kok Bu yang bertubuh tinggi besar itu mengenakan pakaian yang mewah.

Jubahnya dari sutera halus berwarna kuning dan di dadanya terdapat lukisan seekor naga!

Jubah ini saja sudah menyaingi jubah seorang raja!

Tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kokoh kuat, wajahnya kemerahan dengan cambang bauk terpelihara rapi dan sepasang mata yang besar.

Sungguh seorang Kakek yang gagah perkasa dan ranbut serta berewoknya yang masih hitam itu sangat berlawanan dengan usianya yang sudah tujuh puluh lima tahun!

Dia nampak seperti seorang laki-laki perkasa yang usianya sekitar lima puluh sampai enam puluh tahun saja.

Akan tetapi, kalau diperhatikan dengan sungguh-sungguh, pada sinar matanya yang tajam itu terdapat sesuatu yang aneh, suatu sinar yang mengandung kegenitan seorang wanita!

Dan orang akan merasa heran kalau memperhatikan wajah para anak buahnya.

Mereka itu rata-rata tampan dan tidak ada yang berusia tua, semua masih muda dan gagah.

Agaknya jauh di belakang rombongan ini, sengaja memisahkan dan memencilkan diri, nampak seorang gadis yang naik perahu seorang diri.

Tak seorangpun akan menduga bahwa gadis ini adalah puteri tunggal Hai-tok, yang bernama Tang Ki atau biasa disebut Kiki.

Gadis ini cantik manis, sinar matanya mencorong tajam penuh keberanian, akan tetapi gadis yang menjadi puteri tunggal ini tidak memperlihatkan kemewahannya.

Sama sekali tidak pesolek seperti Ayahnya.

Memang, Kiki gadis manja.

Hal ini karena sejak kecil ia telah tak beribu, dan sebagai puteri tunggal Hai-tok, tentu saja sejak kecil ia dimanja.

Akan tetapi, ia memiliki watak gagah yang mengusir kemanjaannya itu setelah menjelang dewasa.

Dan kini, setelah ia kembali dari melakukan perjalanan jauh dan melihat keadaan dunia luas, ia semakin tidak setuju dengan keadaan dan watak Ayahnya.

Inilah sebabnya mengapa ia tidak mau dekat dengan rombongan Ayahnya, dan sikap inipun tidak dapat ditundukkan oleh Ayahnya yang tahu kekerasan hati puterinya maka mendiamkan dan membiarkannya saja.

Para tamu bangkit berdiri ketika dengan gerakan gagah Hai-tok Tang Kok Bu melompat dari atas punggung binatang seperti buaya itu yang segera menyelam ke dalam air.

Kemudian dengan langkah yang tegap dan wajah angker akan tetapi mengandung senyum ramah, Hai-tok Tang Kok Bu memasuki guha dan memberi hormat kepada para tamu yang terdiri dari tokohtokoh besar dunia persilatan.

Di antara mereka, yang berada paling depan adalah Siauw-bin-hud, itu tokoh terkenal sekali dari Siauw-lim-pai yang sudah tua namun amat disegani dunia persilatan karena kesaktiannya dan yang belum lama ini namanya menimbulkan kegemparan di dunia kangouw karena dia dituduh merampas pedang pusaka Giok-liong-kiam.

Kakek Hwesio yang telah bertapa selama bertahun-tahun dan yang sudah tidak tertarik lagi akan urusan duniawi, ketika menerima undangan, dapat menduga bahwa di balik undangan ini ada suatu kepentingan besar.

Seperti para datuk lainnya, juga Siauw-bin-hud amat memperhatikan keadaan negara dan merasa tidak puas melihat sikap pemerintah menghadapi bangsa kulit putih.

Diapun melihat ancaman bahaya besar terhadap tanah air dan bangsanya, maka diapun, dalam usia setua itu, memenuhi undangan Hai-tok dan hadir, bukan semata untuk menghormati datuk itu atau berpesta, melainkan lebih condong untuk melihat dan mendengar sikap para datuk mengenai keadaan tanah air.

Selain datuk besar Siauw-bin-hud itu yang datang bersama Tan Ci Kong, cucu murid yang menerima gemblengan pribadi dari Kakek tua renta itu, juga gemblengan pribadi dari Kakek tua renta itu, juga nampak lengkap rekan-rekan dari Hai-tok, yaitu ketiga Racun Dunia lainnya.

Thian-tok hadir bersama dua orang muridnya, yaitu Gan Seng Bu dan Ong Siu Coan.

Seperti kita ketahui, Gan Seng Bu telah menjadi seorang pejuang yang menentang kerajaan Mancu dan pemuda itu telah menikah dengan Sheila, seorang gadis kulit putih.

Sedangkan Ong Siu Coan masih belum tentu kedudukannya setelah dia dipaksa meninggalkan Thian-te-pang setelah para anggautanya memberontak dipimpin oleh ketua Thian-te-pang yang lama bernama Ma Ki Sun yang dibantu oleh para tokoh pejuang lainnya dan para tokoh partai persilatan.

Dia mengundurkan diri dengan damai dari Thian-te-pang.

Ketika dua orang muda ini mendengar panggilan guru mereka, tentu saja mereka cepat mengunjungi guru mereka dan oleh Thian-tok, keduanya diajak untuk menghadiri pesta ulang tahun Hai-tok.

Seperti yang lainnya, guru dan murid ini tertarik sekali untuk bicara dengan para datuk mengenai keadaan tanah air yang kacau balau pada waktu itu.

Tee-tok (Racun Bumi) juga hadir bersama murid yang disayangnya, yaitu Ciu Kui Eng, gadis hartawan yang telah kehilangan semua harta benda dan keluarganya itu.

Tidak ketinggalan pula hadir San-tok bersama Siauw Lian Hong!

Lengkaplah keempat Racun Dunia, termasuk tuan rumah, bertemu di dalam ruangan guha yang luas dan indah itu.

Tentu saja Diana tak dapat ditinggalkan dan ikut pula, akan tetapi gadis berkulit putih ini tidak diajak hadir dalam pertemuan itu.

Baik San-tok maupun Lian Hong melarangnya dan setelah mendengar penjelasan Lian Hong bahwa yang mengadakan pertemuan itu adalah datuk-datuk persilatan dan juga pemuka-pemuka para pejuang yang menentang bangsa kulit putih, maka hadirnya Diana hanya akan memancing timbulnya keributan saja.

Diana tahu diri dan iapun tidak rewel lagi ketika ia ditinggalkan di dalam sebuah kuil tua yang tidak dipergunakan, yang terletak tak jauh dari pantai itu.

Para tamu itu berduyun-duyun memberi selamat kepada Hai-tok yang sudah duduk di atas kursi besar terbuat dari batu karang.

Satu demi satu mereka menghampiri tuan rumah dan memberi hormat, yang dibalas oleh Hai-tok dengan wajah gembira dan hati bangga.

Para tamunya adalah datuk-datuk yang memiliki kedudukan tinggi, memiliki tingkat ilmu kepandaian hebat dan kini semua datang untuk menghormat dan memberi selamat kepadanya!

Kegembiraan hatinya ini agak menghapus kekecewaannya mendengar bahwa murid yang disayangnya, Lee Song Kim, telah menyeleweng dari pada garis yang telah ditentukan olehnya, yaitu tidak boleh menghambakan diri kepada penjajah Mancu.

Setelah semua orang memberi selamat dan mengambil tempat duduk masing-masing, Haitok memandang dengan puas dan bangga.

Keadaan pesta yang istimewa, luar biasa dan mengesankan.

Semua tamu itu mengambil tempat duduk berkelompok dengan kelompok masing-masing, duduk diatas bangku-bangku batu karang dan menghadapi meja-meja kecil dari batu karang pula, bukan sembarang batu karang melainkan batu karang berkembang yang pilihan dan diukir indah, juga telah digosok mengkilap dan sama sekali tempat itu tidak mengandung bau amis lagi walaupun dari dinding sampai meja kursinya terbuat dari batu-batu karang.

Kini Hai-tok bangkit berdiri.

Suaranya terdengar besar dan berat, namun jelas dan berwibawa ketika dia bicara.

"Cu-wi (tuan-tuan sekalian) yang terhormat. Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan ucapan selamat dari cu-wi. Mengingat akan keadaan di tanah air kita yang tercinta, kami berpendapat bahwa kesempatan yang amat baik selagi kita berkumpul ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bagaimana kalau kesempatan ini kita pergunakan untuk bicara tentang keadaan di tanah air?"

"Akur! Akur!"

"Setuju sekali!"

Semua orang menyatakan persetujuan mereka dan suasana menjadi gaduh. tuan rumah mengangkat kedua tangan ke atas sambil tersenyum.

"Bgus, agaknya di antara kita memang sudah terdapat persesuaian paham. Nah, sekarang kami persilahkan cu-wi untuk menikmati hidangan kami sekedarnya, setelah makan minum barulah kita akan bicara tentang keadaan tanah air. Pikiran akan menjadi lebih tenang kalau perut sudah kenyang, bukan?"

Semua orang tertawa dan pestapun dimulailah.

Dari ruangan sebelah terdengarlah bunyi alunan musik dan nyanyian merdu.

Hai-tok sengaja mengundang ahli-ahli musik dan para penyanyi yang pandai, dengan bayaran tinggi untuk memeriahkan pesta itu.

Setelah hidangan dikeluarkan, semua orang menjadi semakin kagum.

Kiranya, semua alat makan yang dikeluarkan juga istimewa, tidak seperti alat makan biasa, melainkan unik dan cocok dengan keadaan di dalam guha penuh batu-batuan laut itu.

Mangkok dan piring terbuat dari kulit penyu, mangkok dari kerang besar dan banyak pula kembang-kembang karang yang sudah kering, dengan bentuk-bentuk aneh dan khas laut, Dengan warna-warni yang indah, dikeluarkan sebagai tempat-tempat sayuran dan masakan yang mengepulkan bau asap gurih.

Sumpit-sumpit yang dikeluarkan juga terbuat dari pada tulang-tulang ikan yang mengkilap seperti gading gajah.

Pendeknya, semua alat makan terbuat dari benda-benda yang diambil dari dasar lautan, dan di sana-sini, pada piring, mangkok dan panci kerang besar itu malah dihias dengan mutiara-mutiara gemerlapan!

Semua orang takjub dan merasa betapa mereka seakan-akan dijamu dalam pesta yang diadakan di istana dasar lautan oleh Raja Lautan!

Hebatnya, untuk mereka yang tidak makan daging seperti Siauw-bin-hud dan beberapa orang tokoh lagi, dihidangkan masakan istimewa yang sama sekali tidak mengandung barang bernyawa!

Siauw-bin-hud sampai tersenyum lebar.

"Omitohud..., harta benda dunia memang bisa mendatangkan kenikmatan dan kesenangan dunia yang tanpa batas. Ha-ha-ha, asalkan kita tidak sampai mabok olehnya!"

Mendengar ucapan Siauw-bin-hud, Thian-tok yang duduk di meja sebelah, juga tertawa lebar.

"Ha-ha, kuharap saja tempat ini tidak berubah menjadi kuil di mana ada Hwesio tua yang berceramah memberi kuliah. Mabokpun ada batasnya dan akhirnya akan sadar kembali, bukan?"

Siauw-bin-hud tidak marah, malah tersenyum.

"Siancai... ada benarnya ucapanmu itu, gendut! Segala apa di dunia ini, yang menyenangkan atau menyusahkan, tentu ada batas waktunya dan pada saatnya akan lenyap satu demi satu."

Para tamu yang aneh-aneh itu, para datuk dunia persilatan, mulai makan minum dan suasana menjadi meriah sekali.

Memang nikmat sekali makan minum bersama orang-orang yang sudah dikenal dengan baik, apa lagi kalau suasananya begitu akrab dan ada sesuatu yang membuat pada saat itu mereka melupakan segala macam bentuk permusuhan dan memiliki suatu pegangan tertentu yang menyatukan hati mereka.

Makan minum hidangan yang pilihan, lezat dan mahal, di tempat yang indah, dengan alat perabot makan yang aneh dan indah pula, dengan pemandangan yang amat mempersonakan dari laut yang terbentang luas di depan mereka, dalam suasana yang meriah.

Para datuk sesat Empat Racun Dunia makan satu meja dengan murid masing-masing.

Siauw-bin-hud dengan wajahnya yang bersih cerah dan selalu tersenyum itu duduk semeja dengan Tan Ci Kong, kemudian di meja sebelah kirinya, duduk Thian-tok yang wajahnya dan bentuk tubuhnya mirip sekali dengan Siauw-bin-hud, perutnya yang gendut, mukanya yang bulat dan serba bundar, mulutnya yang selalu tersenyum lebar, semua serupa.

Hanya bedanya, jubah Siauw-bin-hud tertutup rapat sebaliknya jubah Thian-tok terbuka lebar memperlihatkan dada dan perut gendutnya, dan kalau wajah Siauw-bin-hud halus bersih, sebaliknya wajah Thian-tok penuh berewok.

Mereka sedemikian mirpnya sehingga tidaklah mengherankan kalau dahulu dengan mudah Thian-tok menyamar sebagai Siauw-bin-hud ketika dia merampas pedang pusaka Giokliong-kiam.

Kalau jubah itu dirapatkan dan muka itu dicukur, memang dia mirip sekali dengan tokoh Siauw-lim-pai itu.

Thian-tok duduk semeja dengan dua orang muridnya, Gan Seng Bu dan Siu Coan.

Dua orang muda kakak beradik seperguruan ini ketika bertemu dan ikut bersama guru mereka menghadiri undangan Hai-tok, tidak pernah bicara tentang perselisihan mereka yang lalu seolah-olah mereka berdua sudah melupakannya.

Apa lagi antara kakak beradik seperguruan, bahkan antara orang lain yang pernah bentrok sekalipun, pada waktu menghadapi urusan tanah air yang terancam, mereka semua mengesampingkan urusan pribadi dan semua perhatian hanyan ditujukan kepada perjuangan.

Tee-tok duduk berhadapan dengan Ciu Kui Eng, sedangkan San-tok duduk bersama Lian Hong.

Memang di dalam dada masing-masing golongan terdapat jiwa patriotisme yang agak berbeda sifatnya.

Ada yang memiliki kecondongan lebih keras membenci orang kulit putih dan ada yang lebih membenci keduanya.

Akan tetapi mereka yang hadir di situ, rata-rata tidak sudi menghambakan diri kepada pemerintah penjajah Mancu atau kepada pasukan orang kulit putih, dan mereka semua mengharapkan bangkitnya rakyat yang akan memiliki pemerintah yang dipimpin oleh bangsa sendiri.

Di samping Empat Racun Dunia dan Siauw-bin-hud, hadir pula wakil-wakil dari perkumpulan-perkumpulan besar di dunia kang-ouw.

Akan tetapi karena yang diundang oleh Hai-tok hanya tokoh-tokoh besarnya saja, maka yang hadir di dalam ruangan guha itu berjumlah lebih dari tiga puluh orang saja.

Pesta itu berjalan dengan meriah dan semua tamu memuji kelezatan masakan yang dihidangkan.

Bahkan Siuw-bin-hud harus memuji masakan-masakan yang tanpa daging itu karena memang dimasak secara istimewa dan masakan tanpa daging itu tak kalah lezatnya dengan masakan lain yang berdaging.

Makan minum itu diakhiri dengan kepuasan, kekenyangan dan kelegaan hati para tamu.

Setelah selesai, alat-alat makan disingkirkan, meja-meja dibersihkan kemudian meja-meja batu karang itu dipindahkan, diganti meja yang lebar dan semua tamu duduk mengelilingi meja besar untuk mulai dengan percakapan mereka yang sebenarnya merupakan inti pertemuan yang berselubung di balik ulang tahun itu.

Dengan dipimpin oleh Hai-tok sebagai tuan rumah, mereka bicara tentang keadaan tanah air yang mulai dilanda kekuasaan orang kulit putih dan tentang keadaan pemerintah Ceng yang semakin lemah dan sama sekali tidak melindungi rakyat jelata.

"Kalau dibiarkan saja orang-orang kulit putih itu menguasai kota-kota pelabuhan, makin lama mereka akan menjadi semakin kuat. Harus diakui bahwa dengan kapal-kapal besar mereka, dengan meriam-meriam besar dan pasukan yang diperlengkapi dengan senjata-senjata api, mereka itu merupakan musuh yang sangat kuat dan sukar dikalahkan. Oleh karena itu, selagi mereka belum terlalu kuat, kita harus berdaya mengumpulkan kekuatan dan menghancurkan mereka,"

Demikian Hai-tok berkata dengan penuh semangat.

"Ha-ha-ha!"

Thian-tok tertawa bergelak menanggapi ucapan penuh semangat ini yang dikeluarkan Hai-tok setelah mereka tadi membicarakan keadaan yang makin kacau dan kemelut yang menimpa kehidupan rakyat yang dicengkeram racun madat.

"Orang-orang kulit putih itu belum dapat dibilang berbahaya karena bagaimanapun juga, mereka hanya pedagang-pedagang. Yang penting untuk segera diruntuhkan adalah kekuasaan penjajah Mancu. Kalau pemerintah dipegang oleh bangsa kita sendiri, apa sukarnya menghalau orang-orang kulit putih? Tentu saja pendapat ini tidak akan disetujui oleh mereka yang di dalam hatinya masih setia kepada pemerintah penjajah Mancu."

Sepasang alis tebal di wajah Hai-tok berkerut dan matanya yang lebar memancarkan sinar kemarahan kepada Thian-tok.

Dia merasa disindir karena dia mengerti bahwa muridnya, lee Song Kim, kini menghambakan diri kepada pemerintah Ceng di Kota Raja.

Akan tetapi rasa Persatuan dalam pembelaan tanah air membuat Kakek yang biasanya berdarah panas ini dapat mengendalikan diri, hanya suaranya terdengar mantap dan serius, sedangkan pandang matanya ditujukan langsung kepada Thian-tok yang masih tersenyum lebar.

"Memang benar ucapan Thian-tok bahwa penjajah Mancu harus ditentang, dan siapa saja yang membantu penjajah Mancu patut dikutuk. Akan tetapi, tidak benar kalau bangsa kulit putih tidak berbahaya. Lihat saja penderitaan rakyat akibat perang candu yang lalu. Siapa saja yang menghambakan diri kepada bangsa kulit putih lebih terkutuk lagi!"

Ucapan yang merupakan jawaban ini juga mengandung sindiran karena semua orang tahu bahwa Koan Jit menjadi antek orang kulit putih, sedangkan Koan Jit adalah murid pertama Thian-tok.

Kakek gendut inipun merasa akan sindiran tuan rumah, maka dia tertawa semakin keras.

"Ha-ha-ha-ha, benar sekali, Hai-tok, benar sekali! Akan tetapi sudah lama sekali aku mengutuk Koan Jit, tidak menganggapnya sebagai murid lagi, dan bukan hanya mengutuk, bahkan kalau ada kesempatan, akan kuhancurkan kepala murid murtad itu!"

Hai-tok tidak mau kalah.

"Muridku yang pertama Lee Song Kim juga murtad, telah bekerja kepada pemerintah Mancu di Kota Raja, dan akupun tidak menganggapnya murid lagi melainkan musuh!"

"Ha-ha-ha-ha, kalau begitu keadaan kita sama, Hai-tok. Satu-satu, kita masing-masing mempunyai murid yang murtad dan memalukan, ha-ha-ha!"

"Tidak sama benar keadaan kita, Thian-tok."

Hai-tok membantah, kini sepasang matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri penuh rasa kemenangan.

"Hanya seorang muridku yang murtad dan memalukan, akan tetapi kabarnya, di samping Koan Jit yang menjadi antek penjilat orang kulit putih, aku mendengar masih ada lagi muridmu yang bahkan menikah dengan seorang perempuan bule!"

Tentu saja sindiran ini amat tepat menghunjam perasaan Thian-tok, akan tetapi Kakek ini kelihatan tenang dan tersenyum lebar saja, sedangkan semua mata kini ditujukan ke arah Gan Seng Bu yang bersikap tenang memandang kepada gurunya.

Ingin ia bicara, karena dialah yang diejek, akan tetapi karena ucapan Hai-tok tadi ditujukan kepada suhunya, maka diapun tidak berani melancangi gurunya.

"Ha-ha-ha-ha, pandangan yang picik, pandangan yang membuktikan kebodohan! Bagaimana mungkin urusan perjodohan dicampuradukkan dengan urusan perjuangan membela tanah air? Perjodohan dasarnya saling mencinta dan dalam urusan cinta ini, tidak ada sangkut-pautnya dengan bangsa, negara, atau apa saja. Asal laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki, maka cinta dapat timbul tanpa mengingat bangsa dan keturunan. Siapa bisa bilang bahwa kita semua hadir di sini adalah bangsa aseli? Siapa berani memastikan dan siapa bisa membuktikan bahwa darahnya tidak ada campuran darah keturunan bangsa lain, tidak ada darah campuran darah Mongol, Mancu, atau Birma dan An-nam, bahkan darah India dan Yahudi? Ha-ha-ha-ha, kalau kita sendiri tidak bisa memastikan keaselian kita, bagaimana mau bicara tentang perbedaan bangsa dalam pernikahan? Muridku memang ada yang menikah dengan seorang perempuan bule, dan dia adalah Gan Seng Bu yang hadir di sini, akan tetapi hal itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan menentang penjajah Mancu atau bangsa kulit putih!"

Hai-tok masih tidak mau kalah dan masih penasaran. Sambil memandang tajam ke arah Gan Seng Bu, dia berkata lantang.

"Biarkan yang bersangkutan sendiri bicara. Bukankah kalau orang menikah dengan seorang perempuan kulit putih, lalu pandangannya terhadap orang kulit putih juga menjadi berubah? Tak mungkin memusuhi bangsa dari istrinya sendiri!"

"Tang Locianpwe,"

Kata Gan Seng Bu dengan suara lantang tapi hormat, sambil mengangkat muka setelah tadi memandang dan menentang pandang mata semua orang yang hadir.

"Seperti dikatakan oleh suhu tadi, pernikahan dengan isteri saya seorang wanita kulit putih sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan saya menentang kerajaan penjajah dan pengaruh kulit putih yang memasukkan madat ke negeri kita. Isteri saya menentang politik bangsanya sendiri. Kalau tidak demikian, tentu ia dan saya akan berhadapan sebagai musuh, bukan menjadi suami isteri. Dan urusan pernikahan adalah urusan pribadi, sedangkan perjuangan membela tanah air adalah urusan umum, harap jangan dicampuradukkan."

Sebelum Hai-tok atau yang lain sempat menjawab, terdengar suara halus namun begitu penuh wibawa dan membuat semua orang terdiam mendengarkan.

Itulah suara Siauw-bin-hud yang melihat betapa percakapan antara Hai-tok itu makin meruncing dan menimbulkan suasana panas.

"Omitohud..., kita ini mau dibawa ke manakah dengan percakapan tentang diri-diri pribadi? Cu-wi yang hadir ini datang hendak membicarakan segala tetek-bengek mengenai urusan pribadi masing-masing, ataukah datang hendak bicara tentang tanah air dan bangsa? Kalau urusan pribadi, lebih baik pinceng pergi karena pinceng tidak mau bicara tentang diri orang lain."

Mendengar ucapan Hwesio tua yang disegani itu, Hai-tok dan Thian-tok baru sadar dan Thian-tok tertawa bergelak.

"Aih, kalau tidak ada engkau Hwesio tua yang selalu waspada dan sadar, tentu kami akan terseret semakin jauh, ha-ha-ha!"

Hai-tok juga cepat berkata.

"Maafkan kami yang lupa diri. Sebaliknya kita melupakan saja segala pembicaraan kita tadi, Thian-tok."

Terdengar lagi suara Siauw-bin-hud.

"Sejak tadi kita bicara tentang perlunya menentang pemerintah penjajah Mancu dan pasukan kulit putih. Akan tetapi bagaimana pelaksanaannya? Menentang mereka berdua itu membutuhkan tenaga yang amat kuat dan biaya yang amat besar. Kalau tidak kuat, tentu perjuangan itu akan gagal di tengah jalan. Lihat saja betapa banyaknya kelompok pejuang yang hancur di tengah jalan. Yang terpenting bagi kita adalah mencari jalan bagaimana baiknya untuk dapat membentuk pasukan yang cukup kuat untuk menjatuhkan pemerintah penjajah dan sekaligus menghalau pasukan asing kulit putih dari tanah air."

Tiba-tiba Ong Siu Coan bangkit berdiri dan setelah memberi hormat ke arah semua orang dia lalu berkata dengan suara lantang.

"Mohon maaf kepada para Locianpwe dan cu-wi yang terhormat kalau saya berani lancang bicara. Urusan perjuangan ini memang harus dipecahkan oleh kita semua, tua dan muda karena hal ini menyangkut kehidupan rakyat atau bangsa kita. Agaknya akan berat sekali kalau dengan mati-matian kita harus melawan kedua musuh kita, yaitu kerajaan Mancu dan pasukan kulit putih. Seperti yang sudah dilakukan oleh banyak kelompok pejuang, saya merasa setuju sekali kalau dalam hal ini kita mempergunakan siasat dan kecerdikan, bukan sekedar mengandalkan kekuatan badan. Seperti kita ketahui, pasukan asing kulit putih amat kuat dengan persenjataan mereka dan merekapun tidak sangat bersahabat dengan pemerintah Mancu semenjak terjadinya pembakaran candu secara besar-besaran di Kanton itu. Kalau dua pihak itu bermusuhan dan berperang satu sama lain, hal ini amat menguntungkan kita. Biarkan mereka itu saling serang karena peperangan antara mereka akan membuat keduanya menjadi lemah. Dan kalau sudah begitu, barulah kita turun tangan menghantam mereka. Dengan demikian, kita menghemat tenaga."

Suasana menjadi bising karena semua orang menanggapi sendiri-sendiri pernyataan dari Ong Siu Coan itu.

"Omitohud..., pemikiran yang muda-muda memang patut diperhatikan karena kadang-kadang mereka itu lebih cerdik dari pada kita orang-orang tua."

Yang bicara itu adalah Hwesio yang menjadi wakil dari Bu-tong-pai.

"Memang baik sekali melakukan siasat memancing perpecahan antara pemerintah Mancu dan orang-orang kulit putih. Biarkan mereka itu berperang sendiri sementara kita menyusun kekuatan yang membutuhkan waktu dan tentu saja membutuhkan banyak biaya seperti yang dikemukakan oleh Locianpwe Siauw-bin-hud tadi."

Sebagian besar yang hadir setuju dengan pemikiran yang diajukan oleh Siu Coan itu.

Siasat itu memang baik sekali.

Mereka memang tidak suka kepada orang kulit putih dan semua ingin menghalau mereka keluar dari tanah air.

Akan tetapi selagi orang-orang kulit putih itu bermanfaat untuk membantu mereka menjatuhkan pemerintah penjajah, maka calon-calon musuh itu dapat untuk sementara dijadikan senjata demi keuntungan perjuangan mereka.

Girang karena hasil pemikiran muridnya itu diterima dengan baik oleh para tokoh yang hadir, Thian-tok teringat akan muridnya yang pertama dan dia menghantamkan telapak tangan kirinya sendiri sampai terdengar suara keras dan semua orang terkejut lalu memandang kepada Kakek gendut itu.

Wajah Kakek itu yang biasanya selalu menyeringai lebar, kini nampak agak keruh dan tidak ada senyum.

Baru Thian-tok merasa bahwa perbuatannya tadi menarik perhatian semua orang setelah semua orang terdiam dan memandang kepadanya.

"Aku teringat akan murid murtad Koan Jit itu!"

Katanya penuh kemarahan.

"Tidak saja dia telah menjadi antek orang kulit putih, akan tetapi dia juga telah melarikan Giok-liong-kiam!"

Semua orang tertarik mendengar Kakek itu mulai bicara tentang Giok-liong-kiam. Terdengar suara ketawa dan yang ketawa ini adalah Siauw-bin-hud.

"Heh-heh, ini namanya hukum karma, Thian-tok, Engkau memperoleh pedang itu dengan menggunakan nama pinceng, dan tanpa pinceng membalasmu, yang membalaskan adalah muridmu sendiri yang mencurinya darimu!"

"Siancai, apa hubungannya Giok-liong-kiam dengan perjuangan kita? Kenapa percakapan kini menyeleweng ke arah pedang pusaka itu??"

Terdengar seorang tosu dari Kunlun-pai memprotes.

"Tosu bodoh, kau tahu apa?"

Thian-tok berseru.

Memang sudah menjadi watak Empat Racun Dunia untuk menyapa orang, baik sudah dikenalnya atau belum, tak perduli apa dan bagaimana kedudukannya, dengan kasar dan tanpa sopan santun sama sekali.

Oleh karena itu diapun begitu saja memaki tosu bodoh kepada tosu Kun-lun-pai itu!

"Kalau Giok-liong-kiam sekarang berada di tanganku, aku akan kuat membiayai perjuangan kita semua sampai kerajaan penjajah Mancu dijatuhkan dan orang-orang kulit putih diusir habis!"

Kembali semua orang menjadi bising.

"Benarkah berita tentang harta karun yang berada di balik rahasia Giok-liong-kiam?"

Terdengar suara orang berseru. Thian-tok mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Jangan kalian pura-pura tidak tahu saja. Kalau kalian tidak tahu akan rahasia itu, perlu apa orang-orang seluruh kang-ouw memperebutkan pusaka itu? Hanya untuk mencari nama agar dianggap jagoan nomor satu di dunia persilatan? Omong kosong! Yang jelas karena kita semua memperebutkan harta karun yang tersembunyi itu."

"Omitohud...!"

Siauw-bin-hud berseru tersenyum.

"Ingat, Thian-tok, pinceng sama sekali tidak pernah ikut memperebutkan. Ceritakanlah, apa gunanya Giok-liong-kiam itu untuk perjuangan kita?"

Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Thian-tok mulai bercerita.

"Kalian tentu tahu bahwa orang macam aku ini tidak lagi membutuhkan bukti bahwa aku adalah jagoan nomor satu dengan memiliki Giok-liong-kiam. Phuh..! Kalau Giok-liong-kiam tidak menyimpan rahasia harta karun, perlu apa aku bersusah payah merampasnya dan menyamar sebagai Siauw-bin-hud? Giok-liong-kiam itu mengandung rahasia yang menunjukkan di mana adanya harta karun yang tak ternilai besarnya! Kalau kita dapat memiliki harta itu, dapat dipakai sebagai biaya perjuangan selama puluhan tahun. Sayang murid murtad itu telah mencurinya dari tanganku."

"Heii, si mulut besar Thian-tok!"

Tiba-tiba San-tok yang sejak tadi diam saja dan hanya saling pandang dengan muridnya sambil tersenyum, kini menegur Thian-tok.

"Pedang pusaka itu telah lama berada di tanganmu. Tentu engkau sudah mencari dan mengambil harta karun itu. Jangan pura-pura bodoh! Kami bukan orang-orang tolol yang mudah kau kelabuhi!"

"Jembel busuk enak saja kau ngomong!"

Thian-tok balas memaki akan tetapi mulutnya menyeringai. Dimaki oleh seorang rekan seperti San-tok itu sama sekali tidak merupakan penghinaan, bahkan membawa kehangatan karena keakraban.

"Kalau harta karun itu sudah berada di tanganku, perlu apa aku banyak ngomong lagi? Menurut keterangan yang kuperoleh, rahasia itu berada di gagang pedang dan kalau direndam air semalam suntuk akan timbul gambaran-gambaran atau tulisan yang menerangkan tempat dimana adanya harta karun. Akan tetapi sungguh sialan, sudah kurendam sampai tiga hari tiga malam, tidak juga nampak perubahan apa-apa. Sebelum aku berhasil menemukan rahasianya, pedang itu telah dicuri Koan Jit."

Hampir San-tok tertawa bergelak, juga Lian Hong menahan senyumnya.

Hanya mereka berdualah yang tahu akan rahasia sebenarnya dari pedang pusaka Giok-liong-kiam itu.

Thian-tok sama sekali tidak tahu bahwa pedang pusaka yang dicuri dari tangannya oleh muridnya itu adalah pedang pusaka yang palsu, walaupun yang palsu itu akan membawa pemiliknya kepada yang aseli.

"Kalau begitu, mari kita berlumba untuk merampasnya kembali dari Koan Jit!"

Terdengar seruan orang.

"Ah, bagaimana kalau muridmu itu telah mengambil harta karun itu?"

Hai-tok bertanya kepada Thian-tok. Kakek gendut itu menggeleng kepala.

"Diapun tidak lebih tahu dari pada aku. Agaknya keterangan tentang harta karun itu hanya dongeng belaka dan pedang itu tidak menyimpan apa-apa."

"Betapapun juga, kita harus berusaha untuk merampas pedang pusaka itu!"

Hai-tok berkeras.

"Akan tetapi, sekarang bukan merampas untuk diri sendiri, melainkan untuk bisa mendapatkan harta karun untuk membiayai perjuangan kita. Apakah kalian semua setuju?"

Semua orang menyatakan setuju.

"Omitohud, betapa mudahnya bicara dan betapa sukarnya melaksanakan semua itu. Pinceng mendengar bahwa Koan Jit telah menjadi seorang yang berkuasa di dalam pasukan kulit putih. Dia sendiri sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, kabarnya semua ilmu dari Thian-tok telah dikurasnya. Sekarang dia berlindung di belakang pasukan kulit putih yang memiliki benteng amat kuat. Bagaimana mungkin dapat merampas Giok-liong-kiam dari tangannya?"

Siauw-bin-hud berkata dan semua orangpun termenung karena merekapun maklum betapa sukarnya merampas pedang itu dari tangan Koan Jit.

Agaknya akan lebih sukar dari pada kalau pedang itu berada di tangan Thian-tok.

Tiba-tiba terdengar lagi San-tok bicara lagi, suaranya lantang dan menjadi perhatian semua tamu yang hadir.

"Biarpun sukar, kita semua harus berusaha untuk mendapatkan harta karun itu. Memang suatu pekerjaan yang amat sukar dan berbahaya, karena itu, sudah sepatutnya kalau siapa yang berhasil mendapat pahala yang wajar dan sesuai."

"Wah-wah, jembel tua ini minta sedekah! Pahala bagaimana maksudmu, San-tok?"

Tanya Thian-tok, tertarik juga karena siapa mau bekerja keras kalau tidak diberi imbalan jasa.

"Siapa yang berhasil mendapatkan harta karun itu dan menyerahkannya untuk kepentingan perjuangan meruntuhkan penjajah Mancu dan mengusir bangsa kulit putih, maka pedang pusaka Giok-liong-kiam diakui menjadi miliknya yang syah dan dia dianggap sebagai seorang pahlawan dan jagoan nomor satu di dunia! Bagaimana, setujukah kalian?"

"Omitohud, pinceng anggap hal itu sudah sepatutnya. Merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit yang berlindung dalam pasukan kulit putih merupakan pekerjaan yang amat berat, apa lagi kalau harus melanjutkan penyelidikan dari pedang itu sampai bisa mendapatkan harta karun. Jasa orang itu amat besar dan patutlah dia menjadi pahlawan dan dianggap jagoan nomor satu di dunia persilatan,"

Kata Siauw-bin-hud dan semua orang menyatakan persetujuan mereka dengan serentak.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lebih gemuruh dari pada suara mereka.

Semua orang terkejut karena suara itu datangnya dari luar guha.

Hai-tok yang paling dulu tahu akan keadaan di situ, lebih dahulu meloncat bangun.

Dia merasa adanya sesuatu yang luar biasa dan mencurigakan sekali.

Ketika dia tidak melihat gerakan anak buahnya, wajahnya berubah merah.

"Ada bahaya...!"

Serunya. Berbareng dengan seruannya itu, terdengar bunyi tambur di luar, disusul suara parau penuh gertakkan.

"Kalian yang berada di dalam guha, menyerahlah. Pasukan kerajaan telah mengepung tempat ini. Lebih baik menyerah dan menjadi tawanan kami dari pada harus kami kerahkan pasukan dengan jalan kekerasan!"

Mendengar itu, Hai-tok terbelalak penuh kemarahan dan semua orang mengusir kecurigaan mereka terhadap Hai-tok yang tadinya timbul.

"Di sini Tang Kok Bu, majikan Pulau Layar yang bicara!"

"Teriakannya nyaring sekali sehingga akan mudah terdengar oleh mereka yang berada di luar guha.

"Hari ini kami mengadakan perayaan hari ulang tahun kami yang ke tujuh puluh lima, dengan mengundang beberapa sahabat baik kami. Apa salahnya dengan itu? Kami tidak pernah bermusuhan dengan pasukan pemerintah. Apa maksudnya kini pasukan pemerintah mengepung tempat ini dan menyuruh kami menyerah?"

Hening sejenak setelah gema suara Hai-tok melenyap. Seolah-olah mereka yang berada di luar itu berunding sebelum menjawab teriakan tadi. Kemudian terdengar pula suara parau dari luar.

"Tang Kok Bu! Kami sudah tahu apa yang tersembunyi di balik pestamu itu! Engkau mengundang pemberontak-pemberontak, tokoh-tokoh pemberontak dari dunia persilatan untuk berunding dan mengatur rencana pemberontakan lebih lanjut. Kami mengenal banyak diantara tamu-tamu sebagai pemberontak-pemberontak di daerah Kanton dan sekitarnya, juga pengacau-pengacau yang suka menganggu pasukan-pasukan pemerintah di selatan Kota Raja. Lebih baik menyerah dengan tenang dan serahkan para pemberontak itu kepada kami. Mereka yang ternyata tidak berdosa, setelah melalui pemeriksaan, tentu akan dibebaskan kelak!"

"Ha-ha-ha, tidak kusangka bahwa Hai-tok hanya besar lagaknya saja. Mengatur pertemuan begini saja sudah bocor sehingga kita dikepung pasukan pemerintah!"

Hai-tok mengepal tinju.

"Ini tentu ada yang membikin bocor. Tentu ada anjing pengkhianat, penjilat penjajah Mancu di sini!"

"Siancai, tidak perlu ribut, yang penting kita harus dapat lolos dari tempat ini,"

Kata Siauw-bin-hud.

Kini terdengar bunyi terompet dan membanjirlah pasukan yang bersenjata tombak, golok atau pedang, menyerbu bagaikan air bah ke dalam guha itu melalui pintu-pintu yang ada.

Agaknya semua jalan masuk telah dipenuhi oleh pasukan sehingga terpaksa para tamu itu membela diri.

Tentu saja pasukan itu bukan lawan para tamu yang rata-rata adalah orang-orang sakti yang memiliki kepandaian silat tinggi.

Akan tetapi, Karena semua jalan keluar sudah tertutup dan pasukan itu berjumlah amat banyak, keadaan menjadi berbahaya sekali.

Kalau mereka diserang anak panah, apa lagi senjata api, atau tempat itu dikurungi api dan mereka diserang dengan asap, akan celakalah mereka.

Juga, andaikata mereka terus dikurung beberapa hari saja, mereka tentu akan menjadi kelaparan dan akhirnya akan tewas juga.

Pengepungan itu membuat beberapa orang tamu merasa panik dan mereka lalu nekat menyerbu ke luar guha.

Tentu saja disambut pengeroyokan puluhan, bahkan ratusan orang anak buah pasukan.

Terjadilah perkelahian-perkelahian seru di luar guha, di mana para penyerbu yang keluar itu mengalami pengeroyokan banyak sekali lawan.

Melihat ini, Hai-tok khawatir kalau-kalau banyak di antara tamunya yang akan roboh dan tewas.

Betapapun lihainya, mana mungkin menghadapi pengeroyokan ratusan orang di tempat yang sempit itu?

Biarpun akan berhasil membunuh banyak pengeroyok, akhirnya akan roboh juga.

Dia sudah memperhitungkan segala kemungkinan, maka dengan cepat dia lalu berseru.

"Cepat kalian ikut aku melarikan diri melalui air! Cepat sebelum terlambat!"

Dan diapun lalu meloncat begitu saja ke depan guha dan tubuhnya meluncur ke bawah, ke arah air laut!

Tang Ki atau Kiki yang sejak pertemuan itu tadi seringkali mengerling ke arah Ci Kong, pemuda yang pernah menolongnya, kini menghampiri pemuda itu.

"Ci Kong, mari ikut aku melarikan diri. Tidak ada jalan lain untuk melarikan diri selain seperti yang dianjurkan oleh suhu tadi."

Sebelum pemuda itu sempat menjawab, gadis itu telah menarik tangannya ke tepi tebing depan guha. Melihat air laut jauh di bawah, di tempat yang amat curam itu, tentu saja Ci Kong merasa ngeri.

"Ah, kau hendak mengajak aku bunuh diri?"

Tanyanya kepada Kiki.

"Kau masih tidak percaya padaku? Baiklah, kalau bunuh diri juga berdua dengan aku. Nah, siaplah!"

Gadis itu lalu menarik tangan Ci Kong dan keduanya meloncat ke bawah!

Ci Kong terkejut sekali akan tetapi karena dia mendapat kenyataan bahwa gadis itupun meloncat bersama dia, maka dia mulai percaya dan membiarkan dirinya jatuh bersama gadis itu yang masih memegang pergelangan tangannya.

"Tahan napas dan jatuhkan dirimu dengan tegak lurus!"

Kiki sempat berkata sebelum tubuh mereka menimpa air.

Ci Kong melupakan rasa ngerinya dan diapun menahan napas, mencoba untuk mengatur keseimbangan tubuhnya.

Akan tetapi tetap saja dia menimpa air dengan pinggul lebih dulu.

"Byurrrr...! Keduanya tenggelam dan Ci Kong merasa pinggulnya sakit bukan main. Akan tetapi gadis itu masih memegang lengannya dan kini mereka cepat timbul kembali ke permukaan air. Ci Kong, gelagapan, akan tetapi tubuhnya tidak tenggelam karena Kiki telah mencengkeram pundaknya.

"Ke sini...!"

Terdengar suara Hai-tok dan ternyata Kakek itu telah mendayung sebuah perahu yang memang disembunyikan di bawah tebing untuk keperluan darurat.

Kiki berenang sambil menarik tubuh Ci Kong dan keduanya dapat naik ke dalam perahu itu.

Sementara itu, melihat betapa Ci Kong, Kiki dan Hai-tok sudah meloncat ke bawah, banyak orang mengikuti jejak mereka.

Berlompatanlah mereka ke bawah dan tubuh mereka diterima air laut dengan lunak.

Di situ sudah ada Hai-tok dan muridnya, keduanya adalah ahli-ahli renang yang amat mahir, yang cepat menolong mereka itu naik ke dalam perahu.

Di antara tiga puluh orang itu, ada se puluh orang yang tertinggal di atas, mengamuk dan membunuh banyak anggauta pasukan pemerintah untuk akhirnya tewas dikeroyok ratusan orang.

Tak seorangpun di antara mereka yang mau menyerah, dan merekapun tewas setelah merobohkan dan membunuh puluhan orang pengeroyok.

Yang lainnya, kurang lebih dua puluh orang, telah selamat berada di perahu yang disediakan oleh Hai-tok di bawah tebing karang yang curam itu dan kini perahu itu bergerak perlahan menyusuri pantai dan akhirnya mendarat di bagian yang sunyi dan jauh dari tebing itu.

"Terpaksa kita bubaran di sini dan kami merasa menyesal sekali setelah terjadi peristiwa yang tidak terduga-duga ini. Baiklah, kita saling berpisah karena aku harus mempersiapkan diri. Pemerintah tentu tidak akan tinggal diam dan Pulau Layar tentu akan diserbu. Mari kita berlumba untuk mendapatkan harta karun itu dan peristiwa tadi makin mempertebal tekadku untuk membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu!"

Demikian Hai-tok berkata dengan penuh semangat, kemudian bersama Kiki dia menggerakkan perahu kembali ke tengah lautan menuju ke Pulau Layar.

Sementara itu, para tamu yang berhasil diselamatkan, termasuk tiga orang di antara Empat Racun Dunia bersama murid mereka, Siauw-bin-hud dan Ci Kong, segera meninggalkan tempat itu dengan berpencar.

Akan tetapi Siauw-bin-hud menahan Thian-tok, San-tok, dan Tee-tok.

"Omitohud..., sungguh sayang sekali bahwa perundingan yang baik dan sudah mulai berhasil itu diganggu penyerbuan pasukan pemerintah. Bagaimana kalau pinceng mengundang kalian bertiga bersama murid-murid kalian untuk melanjutkan perundingan sambil bersembunyi dari pengejaran pasukan ke dalam kuil Siauw-lim-si yang tua dan tidak begitu jauh dari sini?"

Tee-tok segera menyatakan kesediaannya.

"Bgus, aku memang ingin sekali bercakapcakap sebagai sahabat dengan Siauw-bin-hud yang sudah sekian lamanya kekagumi namanya dan sudah kukenal kehebatannya sejak dahulu. Aku ingin minta banyak petunjuk darimu, Siauw-binhud."

Akan tetapi Thian-tok mengerutkan alisnya.

"Hwesio tua, kiranya sudah cukup kita bicara tadi. Terlalu banyak bicara tidak ada gunanya bagiku. Dari tangankulah Giok-liong-kiam hilang dan karena itu, aku merasa paling tertekan dan paling besar kewajibanku untuk merampas kembali pedang itu, dibantu oleh dua orang muridku ini. Siu Coan, Seng Bu, mari kita pergi!"

Guru dan dua orang muridnya itu lalu pergi setelah siu Coan dan Seng Bu berpamit.

"Bagaimana dengan engkau, San-tok?"

San-tok saling pandang dengan muridnya, lalu dia berkata.

"Aha, sesungguhnya akupun masih kangen kepada kalian dan ingin bicara panjang lebar dan saling bertukar pikiran. Akan tetapi aku harus membagi tugas dengan muridku."

Lalu dia berkata kepada Lian Hong.

"Hong Hong, engkau tahu apa yang harus kau lakukan. Biarlah ini merupakan ujian bagimu. Dapatkan pusaka itu lalu bawa kepadaku. Nah, pergilah sekarang juga."

"Tapi, suhu... bagaimana dengan... sumoi...?"

San-tok terbelalak, nampaknya bingung dan terheran-heran.

"Apa? Sumoi...? Ah, benar, anak itu...!"

Dia teringat bahwa yang dimaksudkan oleh muridnya adalah Diana. Hampir lupa dia kepada gadis bule yang menjadi muridnya itu. Sialan! "Persetan..."

"Suhu, kalau suhu bersikap demikian, aku tidak akan mau melaksanakan perintah!"

Lian Hong berkata dengan sikap tegas sehingga San-tok merasa kewalahan dan agak kemalu-maluan karena di depan dua orang Kakek itu muridnya berani menantangnya.

Benar saja, Tee-tok sudah tertawa mengejek.

"Huh, mampus kau , Jembel Gunung! kau keras kepala, muridnya lebih keras kepala lagi. Mau kulihat siapa yang menang!"

San-tok menghela napas.

"Sudahlah... Memang nasibku yang sial. Baik, pergilah, Hong Hong, aku akan mengurus anak setan itu."

"Tapi, suhu, berjanjilah dulu bahwa suhu tidak akan mencelakainya."

"Anak bandel! Apa kau kira aku sudah gila, mencelakai murid sendiri?"

Tapi melihat sinar mata muridnya, dia mengangguk-angguk.

"Baiklah, baiklah, aku berjanji..."

Lian Hong merasa lega.

Ia mengenal baik gurunya yang juga seperti Kakeknya sendiri itu.

San-tok memang seorang tokoh atau datuk sesat yang memiliki watak aneh dan tergolong ganas dan buas, tidak mengenal arti perikemanusiaan atau sopan santun, tidak perduli akan segala tata cara atau kesusilaan.

Akan tetapi, di balik itu semua terdapat suatu watak yang gagah perkasa atau menghargai kegagahan dan sekali gurunya itu berjanji, dia tidak akan mau melanggar janjinya sendiri seperti sikap seorang yang menjunjung tinggi kegagahan.

Maka, setelah memperoleh janji suhunya, ia lalu memberi hormat kepada semua orang dan pergi dari situ dengan ilmu lari cepatnya yang membuat bangga San-tok dan membuat kagum semua orang.

"Siancai, muridmu itu memang hebat, San-tok,"

Kata Siauw-bin-hud, teringat akan pertemuannya pertama dengan Lian Hong yang menyerang dan memukul kepalanya.

"Ha-ha-ha, berkat kebaikan budimu ia memperoleh kemajuan, Hwesio tua,"

Jawab San-tok.

"Akan tetapi sekarang aku harus memisahkan diri untuk menjemput anak setan itu."

"Aha, kiranya si jembel gunung mempunyai seorang murid perempuan lagi yang disebut sumoi oleh muridmu tadi?"

Tee-tok berkata.

San-tok yang biasanya suka senyum-senyum terus itu kini agak cemberut.

Teringat betapa muridnya yang ke dua ini seorang gadis bule dan belum bisa apa-apa, sungguh tak dapat dibanggakan sama sekali, hatinya tak senang.

Dia tidak menjawab pertanyaan Tee-tok, melainkan bertanya kepada Siauw-bin-hud di mana letaknya kuil yang dimaksudkan.

Setelah diberi tahu, dia lalu meloncat dan pergi dari situ untuk menjemput Diana yang ditinggalkan di sebuah kuil tua yang rusak.

Sementara itu, Siauw-bin-hud dan Ci Kong melakukan perjalanan menuju ke kuil yang dimaksudkan Siauw-bin-hud bersama Tee-tok dan Ciu Kui Eng.

Dua orang Kakek itu bercakap-cakap di sepanjang perjalanan dan dua orang muda-mudi itu berjalan di belakang mereka.

Karena Ci Kong dan Kui Eng pernah bertemu, bahkan berkenalan secara mengesankan sekali, mula-mula berkelahi dan Ci Kong pernah menyelamatkan Kui Eng dari pengeroyokan pasukan pemerintah, maka setelah kini ada kesempatan, keduanya juga bercakap-cakap dengan lirih.

Sejak pertemuannya yang pertama dengan Kui Eng, hati Ci Kong memang telah tertarik.

Dia merasa kagum dan suka kepada gadis itu, walaupun gadis itu adalah puteri mendiang Ciu Lok Tai atau Ciu Wan-gwe yang pernah mencelakakan Ayahnya.

Dia sama sekali tidak melihat watak jahat dalam diri gadis ini.

Sebaliknya malah, biarpun gadis ini menjadi murid seorang datuk sesat seperti Tee-tok, namun jelas bahwa gadis ini berwatak gagah perkasa, penentang kejahatan dan bahkan bersemangat besar untuk menjadi seorang pahlawan, seorang patriot yang membela tanah air dan bangsa!

Ci Kong tidak tahu tentang cinta.

Dia tidak tahu apakah dia mencinta gadis ini, akan tetapi yang jelas, dia merasa kagum dan suka kepada gadis yang bermata tajam, berwatak keras agak angkuh namun gagah perkasa, galak akan tetapi manis dan kalau tersenyum bukan main manisnya itu.

"Nona, apa saja yang telah kau alami semenjak pertemuan kita yang pertama dahulu itu?"

Tanyanya lirih.

Kui Eng tersenyum dan mukanya menjadi agak kemerahan.

Ia masih teringat betapa dalam keadaan pingsan dikeroyok pasukan, ia pernah ditolong pemuda ini yang memondongnya dan membawanya keluar dari kepungan.

Dan betapa ia salah sangka, bukannya berterima kasih bahkan menyerang pemuda ini.

Kemudian, betapa Ci Kong sama sekali tidak merasa menyesal atau sakit hati atas perlakuannya yang tidak patut, sebaliknya pemuda itu bahkan membantunya mengangkat jenazah keluarganya untuk dikuburkan dengan sepatutnya walaupun amat sederhana.

Perpisahan antara mereka adalah perpisahan dua orang sahabat dan di lubuk hatinya, Kui Eng selalu terkenang kepada pemuda itu dengan perasaan hati kagum dan berterima kasih.

"Aku hanya membantu gerakan orang-orang gagah yang melawan pasukan pemerintah, dan kadang-kadang juga melakukan pembersihan terhadap penjahat-penjahat yang sengaja bersikap semena-mena dan merajalela di dusun-dusun dalam keadaan perang yang kacau itu. Ada kalanya kami dengan kawan-kawan menghadang pasukan kulit putih dan mengganggu mereka. Dan kau ?"

"Ah, selama ini aku tidak melibatkan diri dengan perang, tidak berpihak mana-mana sesuai dengan sikap Siauw-lim-pai selama ini. Aku hanya menentang kejahatan dan membela mereka yang lemah membutuhkan bantuan saja. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berubah banyak. Agaknya Siauw-lim-pai juga melihat bahwa tanah air dan bangsa harus dibela."

"Pernahkah engkau berhasil mencari Giok-liong-kiam?"

Tanya pula Kui Eng. Pemuda itu menggeleng kepala.

"Bertemu dengan yang bernama Koan Jit itupun belum pernah. Dan kau ?"

Kui Eng tersenyum. Pertanyaan yang duajukan pemuda ini sama benar dengan yang dilakukannya tadi, singkat namun akrab sekali.

"Wah, aku hampir celaka di tangan iblis itu. Koan Jit itu memang lihai bukan main. Aku pernah bertemu dengan dia dan bahkan kami berkelahi, akan tetapi dia berhasil menawanku dengan obat bius. Aku pasti telah celaka di tangannya kalau saja tidak tertolong oleh adik Lian Hong..."

"Murid San-tok tadi?"

"Benar, adik Hong sungguh hebat. Karena pertolongannya maka sampai sekarang aku masih bernapas, tentu saja juga karena pertolonganmu dahulu."

"Dan kalian berhasil mendapatkan Giok-liong-kiam?"

Kui Eng tersenyum dan melirik.

"Kalau sudah kami dapatkan perlu apa sekarang ributribut ? Kami hanya mampu mengusir Koan Jit, akan tetapi tidak pernah melihat pedang pusaka itu. Entah kalau adik Lian Hong karena sejak itu, baru tadi kami saling jumpa, dan belum sempat kami bercakap-cakap."

Tidak begitu leluasa mereka bercakap-cakap karena mereka berdua berjalan di belakang dua orang Kakek yang berjalan di depan mereka.

Benar seperti yang dikatakan Kakek Siauw-binhud, tak lama kemudian merekapun tiba di sebuah kuil yang tersembunyi di dalam hutan kecil di daerah lereng bukit.

Kuil itu selain menjadi tempat pertapaan beberapa orang Hwesio Siauw-limsi yang suka akan keheningan dan kesunyian, juga melayani beberapa buah dusun di sekitar bukit itu.

Hanya ada lima orang Hwesio di kuil sederhana dan tua itu.

Mereka ini terkejut bukan main melihat kedatangan Siauw-bin-hud.

Dengan berlutut mereka menyambut dengan segala kehormatan karena kepala Hwesio itu masih terhitung cucu murid Siauw-bin-hud.

"Ha-ha, pinceng hanya akan merepotkan kalian,"

Kata Siauw-bin-hud.

"Karena kami dan kawan-kawan dikejar-kejar pasukan, kami akan beristirahat di sini dan pinceng ingin meminjam sebuah ruangan untuk bercakap-cakap dengan beberapa orang sahabat."

"Tentu saja teecu terima dengan senang hati dan merasa mendapat kehormatan yang takkan teecu lupakan selama hidup!"

Kata para Hwesio itu dan memasuki kuil dan membawa mereka ke ruangan belakang yang luas, bersih dan berhawa jernih karena menghadapi kebun terbuka.

Mereka lalu duduk, menerima hidangan air minum dan makanan sederhana, bercakap-cakap sambil menanti kedatangan (Lanjut ke

Jilid 22) Pedang Naga Kemala (Seri ke 01 -Serial Pedang Naga Kemala) Karya . Asmaraman S. (Kho Ping Hoo)

Jilid 22 San-tok.

Hati San-tok masih merasa tak senang dan mendongkol ketika tiba di kuil tua di mana dia dan Lian Hong meninggalkan Diana.

Kalau menurut kata hatinya, ingin dia meninggalkan gadis bule itu atau bahkan kalau perlu membunuhnya agar tidak merepotkannya lagi.

Dia mempunyai murid seorang gadis kulit putih berambut kuning emas bermata biru?

Huh!

Seperti setan!

Apa lagi kalau diingat betapa orang-orang kulit putih telah mendatangkan malapetaka di negerinya.

Sepatutnya dia membunuhi semua orang kulit putih!

Racun madat mereka sebarkan di antara rakyat, ditukar dengan kekayaan rakyat.

Mereka itu berpesta pora di atas mayat-mayat rakyat karena kalau dilanjutkan penyebaran madat yang dijual mahal itu, akhirnya orang-orang kulit putih yang menjadi kaya raya sedangkan rakyat menjadi miskin habis-habisan dan selain miskin juga tubuh mereka menjadi rusak!

Ketika dia menyelinap ke dalam kuil.

Dia melihat Diana sedang duduk bersila dan tekun bersamadhi.

Huh, gadis bule itu telah mendapat latihan-latihan permulaan dalam ilmu siulian dari Lian Hong.

Memang muridnya itu mengajarkan siulian (Samadhi) hanya untuk mengajar gadis bule itu menjaga keselamatan badannya dan menenangkan batinnya.

Melihat betapa seorang diri di kuil tua itu, yang amat sunyi, Diana tekun melatih diri, berkuranglah rasa tidak suka di hati San-tok.

Bagaimanapun juga, gadis bule ini memang benar memiliki semangat besar dan tekun belajar.

Orang dengan kemauan dan semangat sebesar ini dapat diharapkan akan memperoleh kemajuan pesat.

San-tok memberatkan langkah kakinya sehingga terdengar suara keras dan lantai kuil itupun tergetar.

Diana terkejut, membuka matanya dan begitu dilihatnya Kakek yang menjadi gurunya itu telah berada di situ, ia cepat bangkit dengan muka cerah.

Sepasang matanya yang biru itu memandang dengan berseri-seri.

"Ough, kiranya suhu yang datang? Mana suci (kakak seperguruan) Lian Hong?"

Kembali perasaan tidak suka menyelinap di hati Kakek itu.

Matanya begitu biru, seperti mata iblis dalam dongeng, rambutnya seperti benang emas.

Sungguh menyeramkan dan menjijikkan!

Dan menyebut dia"suhu"

Begitu mesra, juga menyebut Hong Hong "suci."

Menyebalkan.

Akan tetapi dia segera teringat akan janji-janjinya kepada gadis bule ini untuk mengambilnya sebagai murid, juga janjinya kepada Lian Hong tadi bahwa tidak akan mencelakai Diana.

Kakek itu menarik napas panjang, tidak segera menjawab pertanyaan Diana.

"Mari kau ikut bersamaku, Diana. Hong Hong sedang melaksanakan tugas."

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu melangkah keluar dari kuil itu.

Diana cepat mengejarnya dan Kakek itu berjalan cepat sekali sehingga Diana terpaksa harus berlari-larian untuk dapat mengimbangi kecepatannya.

Karena tidak pernah berlatih lari terus-terusan seperti itu, maka tak lama kemudian Diana sudah terengah-engah berlari di samping San-tok yang masih berjalan seenaknya.

Dia tidak perduli melihat gadis itu sudah terengah-engah dan melangkah terus dengan langkah-langkah lebar.

Diana hampir tidak kuat lagi, akan tetapi gadis ini memiliki keangkuhan dan kekerasan hati, sama sekali tidak ingin memperlihatkan kelemahannya, apa lagi di depan gurunya!

Ketika kedua kakinya tersandung batu, membuat ia terhuyung, hampir ia tidak kuat karena napasnya semakin memburu.

Akan tetapi ia lalu teringat akan cerita Lian Hong bahwa belajar silat tidaklah mudah, harus berani menghadapi segala macam kesukaran dan bahkan guru mereka, seperti guru-guru lain yang mengajarkan ilmu silat, sering kali menguji murid-muridnya.

Wah, ini tentu merupakan ujian dari gurunya, pikir Diana.

Karena itu, sampai bagaimanapun juga, ia sama sekali tidak boleh memperlihatkan kelemahannya!

Pikiran ini, secara aneh sekali, mendatangkan semangat dan juga kekuatan sehingga kalau tadi napasnya sudah hampir putus kini ia merasa kuat lagi dan berjalan setengah berlari dengan penuh semangat!

Kakinya merasa ringan, dan napasnya tidak memburu lagi seperti tadi.

San-tok melihat perubahan itu dan dia merasa heran, akan tetapi juga kagum.

Tadi dia tentu saja melihat betapa gadis itu sudah hampir tidak kuat dan dia merasa girang sekali dapat menyiksanya.

Dia ingin melihat gadis itu roboh tidak kuat agar dapat dia memarahi dan mengejek, agar ia tidak tahan dan tidak suka menjadi muridnya.

Akan tetapi napas yang hampir putus itu kini tersambung kembali dan semangat yang hampir runtuh itu bangkit kembali!

Mau tidak mau dia merasa kagum juga dan mengerti bahwa gadis ini memang memiliki tekad yang amat besar.

Akhirnya tibalah mereka di kuil Siauw-lim-si itu.

Dua orang Hwesio penghuni kuil itu yang menyambut di luar, terbelalak keheranan melihat betapa tamu yang berpakaian tambal-tambalan itu datang bersama seorang gadis bule yang rambutnya kuning emas dan matanya biru!

Biarpun gadis itu mengenakan pakaian petani dan gerak-geriknya seperti seorang gadis pribumi, namun jelaslah bahwa gadis itu seorang gadis kulit putih.

Memang ada orang bule di negeri ini, akan tetapi biarpun orang bule itu memiliki kulit putih dan bulu yang keputih-putihan pula, namun rambutnya tidak kuning emas dan matanya tidak biru seperti itu!

Akan tetapi karena mereka berdua sudah menerima tugas untuk menyambut tamu-tamunya, mereka memberi hormat dan mempersilahkan San-tok dan Diana untuk langsung saja masuk ke ruangan belakang kuil di mana tamu-tamu terdahulu sudah berkumpul.

Dengan langkah lebar San-tok memasuki ruangan itu, meninggalkan Diana di belakangnya.

Dengan gembira dia melihat bahwa Siauw-bin-hud dan Tee-tok sudah duduk bersila di atas lantai beralaskan bantal-bantal untuk siulian, dan juga murid Hwesio itu bersama murid Tee-tok berada di situ.

Mereka berempat menyambut kedatangannya dengan pandang mata gembira akan tetapi mata mereka terbelalak ketika melihat munculnya Diana di belakang Santok.

Jadi murid ke dua dari San-tok adalah seorang gadis kulit putih?

Hampir mereka tak percaya.

San-tok tentu saja merasakan keheranan dan kekagetan semua orang itu dan untuk mengurangi rasa tak enak di hatinya itu diapun cepat-cepat menghampiri mereka, berlutut dan hendak duduk bersila seperti yang lain.

"Kau...! kau ... Penolongku yang budiman itu...!"

Tiba-tiba Diana berseru dengan suara gembira bukan main dan selagi semua orang masih bengong memandang kepadanya, gadis ini lalu berlari menghampiri Ci Kong.

Pemuda inipun masih terheran-heran melihat Diana datang bersama San-tok dan tadinya dia tidak ingat siapa adanya gadis bule itu.

Akan tetapi begitu Diana berteriak kepadanya, dia teringat bahwa itu adalah gadis yang pernah ditolongnya ketika diculik oleh tukang-tukang pukul dari Kanton yang hendak memaksa gadis itu pulang ke kota.

"Ah, aku girang sekali bertemu denganmu di sini dan aku berterima kasih sekali!"

Diana tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Ci Kong dan...

"Cup! cup!"

Ia telah mencium kedua pipi Cio Kong!

Tentu saja peristiwa ini membuat semua orang menjadi bengong.

Ci Kong sendiri tak mampu mengelak karena selain dia sama sekali tidak mengira akan dicium begitu saja oleh gadis bule itu di depan orang banyak, juga dia terlalu kaget, malu dan bingung sehingga ketika dicium kedua pipinya, dia hanya terbelalak saja!

Ciu Kui Eng hampir menjerit dan menggunakan jari tangan menutupi mulut untuk menahan jeritnya.

Tentu saja gadis inipun merasa kaget setengah mati dan sukar mengatakan perasaan apa yang memenuhi hatinya saat itu.

Perbuatan seorang wanita mencium pria begitu saja di depan banyak orang, baginya merupakan suatu perbuatan yang amat tidak patut dan tidak tahu malu!

Akan tetapi iapun melihat kewajaran dari sikap gadis bule itu, seolah-olah ia tidak pernah melakukan suatu kesalahan dan sikapnya benar-benar sikap seorang yang merasa amat gembira bertemu dengan orang yang agaknya selalu dibuat kenangan.

Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar melihat adegan itu, walaupun alisnya yang putih panjang itu agak berkerut.

Sebagai seorang yang sudah memiliki pengalaman luas dan batin yang kokoh kuat, Siauw-bin-hud tidak heran melihat adegan itu dan dia tahu bahwa gadis itu menyatakan kegembiraan dan terima kasihnya secara langsung menurutkan gejolak hatinya, Akan tetapi betapapun juga dia merasa betapa perbuatan gadis ini tentu mengguncangkan perasaan semua orang yang hadir di situ, terutama sekali membuat muridnya, Ci Kong, berada dalam keadaan yang serba salah.

Hwesio yang menjadi ketua kuil itu, yang tadi bangkit berdiri menyambut tamu barunya, berdiri bengong dan tak dapat bergerak seperti telah berubah menjadi arca.

Juga Tee-tok mengerutkan alisnya dan melirik dengan perasaan tidak senang berbayang di wajahnya.

Tee-tok diam-diam mengharapkan untuk dapat menjodohkan muridnya dengan pemuda didikan Siauw-bin-hud itu, maka kini melihat pemuda itu diciumi oleh seorang gadis bule di depan umum, sungguh membuat hatinya merasa tidak nyaman.

Yang paling terkejut setengah mati adalah San-tok.

"Ya ampuuunnn...!"

Demikian dia mengeluh dan memandang dahinya sendiri, matanya terbelalak, mulutnya melongo dan dia merasa malu dan marah bukan main.

Rasa tidak sukanya kepada Diana semakin menebal.

Sungguh sialan, pikirnya.

Perempuan bule ini benar-benar membikin malu saja dengan ulahnya yang ganjil dan tidak sopan, amat memalukan dia yang menjadi gurunya, yang membawa masuk ke kuil ini.

Padahal, diam-diam seperti halnya Tee-tok, San-tok ini juga mempunyai keinginan untuk menjodohkan muridnya, Lian Hong, dengan Ci Kong yang dikaguminya.

Bukankah pernah dia menyalurkan sinkang membantu pemuda ini di waktu masih kecil seperti halnya Siauw-binhud membantu Siauw Lian Hong?

Bukankah perbuatan dan sikap mereka berdua sebagai orang-orang tua, yang dilakukan tanpa sengaja, seperti sudah memberi tanda ikatan jodoh, antara dua orang anak itu?

"Anak gila!

Apa yang kau lakukan ini?"

San-tok membentak keras dan kalau saja di situ tidak hadir orang-orang sakti yang dikaguminya, mungkin dia sudah turun tangan memukul mati gadis kulit putih itu.

Diana seperti baru sadar dan ketika ia menengok, ia melihat betapa semua orang memandang kepadanya dengan aneh.

Baru teringatlah ia bahwa perbuatannya yang spontan tadi merupakan perbuatan yang ganjil dan asing bagi mereka ini, mungkin dianggap tidak sopan, maka mukanya tiba-tiba menjadi merah sekali.

"Suhu, pendekar ini pernah menyelamatkan aku dari tangan anggauta pasukan Hui-houwtin yang dipimpin oleh Koan Jit. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena dia sudah cepat melarikan diri. Kini, berjumpa dengan penolongku di tempat ini, hal yang sama sekali tidak kuduga-duga, aku menjadi gembira sekali dan ingin menyampaikan rasa terima kasihku kepadanya."

"Benarkah itu, orang muda?"

San-tok bertanya sambil memandang kepada Ci Kong.

Pemuda itu masih bengong.

Dapat dibayangkan betapa bingungnya rasa hati pemuda ini.

Dia diciumi begitu saja, di depan orang banyak, terutama di depan Kui Eng!

Bagaimana Kui Eng akan menanggapi adegan yang memalukan tadi?

Celaka, dia sampai tidak berani mengangkat muka bertemu pandang dengan Kui Eng.

Dia merasa malu sekali.

Mendengar pertanyaan San-tok, Ci Kong mengangguk.

"Benar, Locianpwe."

Lalu dia menoleh ke arah Diana dan menegur halus.

"Nona, perbuatanmu tadi tidak sepatutnya. Sungguh tidak sopan melakukan perbuatan terima kasih seperti itu, di depan orang banyak pula."

Diana sudah menyesali perbuatannya tadi.

"Maafkan aku, maafkan. Sungguh aku melakukannya tanpa kusadari, saking gembiranya rasa hatiku. Sejak engkau menolongku lalu pergi begitu saja, aku merasa menyesal bukan main. Kini, tanpa kuduga-duga, aku berjumpa denganmu di sini, maka aku terdorong oleh luapan hati yang gembira. Maafkan..."

Ketika ia melihat bahwa semua orang masih kelihatan bingung dan kacau, ia melanjutkan kata-katanya dengan cepat.

"Maaf, sungguh bukan maksud saya untuk bersikap tidak sopan. Sekarang saya teringat bahwa perbuatanku tadi dapat dianggap tidak sopan, akan tetapi, sesungguhnya bukan demikian maksudku. Saya... saya berterima kasih, bersukur sekali telah dapat bertemu dengan pendekar yang selama ini selalu kukenang dengan hati penuh penyesalan karena belum sempat saya mengucapkan terima kasih. Ciuman... eh, tadi itu merupakan pernyataan terima kasih dan kegembiraan, bukan... bukan tidak sopan... ah, saya harap anda sekalian dapat memaklumi..."

Melihat sikap gadis bule ini yang demikian penuh penyesalan dan wajar, dan mendengar betapa gadis asing itu dapat bicara dengan gaya yang demikian lancar, sopan dan sejujurnya, di dalam hati semua orang kecuali San-tok, telah timbul perasaan simpati dan mereka mau memaafkan.

Bahkan Kui Eng lalu tersenyum ramah.

"Sobat, engkau cantik sekali dan jujur. Siapakah namamu?"

Kui Eng menegur dengan ramah. Diana memandang kepada gadis itu dan iapun kagum. Seorang gadis yang manis, dan kelihatan begitu gagah.

"Namaku Diana, dan siapakah engkau, sobat yang manis?"

Kui Eng tersenyum gembira. Baru bicara sedikit saja, ia sudah mulai suka kepada gadis bule ini, gadis dari bangsa yang dianggap musuhnya.

"Namaku Ciu Kui Eng."

"Kui Eng, apakah engkau juga gagah perkasa dan lihai seperti suci Lian Hong?"

Kui Eng tertawa.

"Ah, mana aku bisa dibandingkan dengan adik Lian Hong yang lihai?"

Tiba-tiba Tee-tok mengeluarkan suara ketawa nyaring.

"Ha-ha, jembel gunung, inikah muridmu itu? Hemm, benar hebat kau , memilih murid dari bangsa kulit putih yang justeru sedang kita tentang!"

San-tok menjadi serba salah, tidak mampu menjawab. Akan tetapi Diana sudah menghadapi Tee-tok dengan sinar mata bernyala penuh kemarahan.

"Kakek tua, kuharap engkau sopan sedikit dan tidak menghina guruku. Apa kesalahan guruku kepadamu maka engkau berani memaki dan menghinanya?"

Kui Eng khawatir kalau-kalau gurunya marah dan turun tangan terhadap gadis asing ini, maka iapun mendahului dan menghampiri Diana.

"Diana, engkau adalah seorang gadis kulit putih. Engkau tahu bahwa bangsamu sedang dimusuhi oleh bangsa kami. Bagaimana engkau kini mendekati orang-orang seperti kami, bahkan menjadi murid San-tok, seorang diantara kami yang memusuhi bangsamu?"

Pertanyaan yang dilontarkan Kui Eng ini mewakili suara hati semua orang, bahkan juga suara hati San-tok, maka mereka semua mendengarkan dengan penuh perhatian sambil memandang wajah gadis bule itu.

Diana menarik napas panjang, lalu menatap wajah Kui Eng, bahkan melepas pandang matanya ke sekeliling sebelum menjawab dengan suara tegas dan jelas.

"Tidak salah, sobat, aku adalah seorang gadis kulit putih, berkebangsaan Inggeris. Juga tidak salah bahwa bangsaku telah melakukan hal yang amat jahat terhadap bangsa kalian dan tidak mengherankan kalau bangsaku dimusuhi di sini. Akan tetapi, justeru karena itulah aku tidak mau kembali kepada bangsaku. Setelah aku bertemu dengan suci Lian Hong, dan aku merasakan kehidupan di dusun-dusun, aku melihat betapa bangsaku telah berbuat jahat demi mencari keuntungan. Aku merasa malu dan aku ingin sekedarnya menebus keburukan mereka dengan bersaudara dengan rakyat, mempelajari kesenian rakyat, kebudayaannya, dan kemudian, siapa tahu, dengan kepandaian yang dapat kupelajari di sini, aku akan dapat menentang dan mengingatkan kesalahan bangsaku."

"Omitohud..., cita-cita ini amat luhur. Akan tetapi, nona, bagaimana kalau kelak mereka tidak mendengarkan peringatan yang kau berikan?"

Diana memandang Hwesio tua itu dan diam-diam ia merasa tunduk.

Hwesio ini memiliki pandang mata yang demikian mencorong tapi lembut dan penuh pengertian mendalam seolah-olah di dunia ini tidak ada rahasia apa-apa lagi baginya.

"Lo-suhu,"

Katanya penuh hormat.

"Kalau sampai mereka tidak mau menerima peringatan yang akan saya berikan kelak, maka saya akan menggunakan segala kepandaian yang ada pada saya untuk menentang perbuatan mereka yang jahat! Demi untuk membela kebenaran dan keadilan, saya rela mati di tangan bangsaku sendiri karena menentang mereka."

"Siancai... gadis ini biarpun berkulit putih namun semangatnya besar dan berjiwa pendekar. Engkau beruntung sekali mendapatkannya sebagai murid, San-tok."

Akan tetapi hati San-tok tidak merasa gembira oleh ucapan Siauw-bin-hud ini, bahkan dia lalu berkata kepada Diana.

"Kau keluarlah dulu, aku mau bicara dengan mereka mengenai urusan penting!"

Tentu saja wajah Diana berubah agak pucat.

Ia sudah mendengar dari Lian Hong bahwa Kakek yang menjadi gurunya ini seorang yang aneh, kadang-kadang jahat dan kejam sekali walaupun memiliki kesaktian.

Akan tetapi tak disangkanya gurunya akan tega memperlakukannya seperti ini, mengusirnya dari depan banyak orang secara merendahkan sekali.

Akan tetapi ia teringat akan pesan Lian Hong agar mentaati semua perintah suhunya, maka iapun mengangguk dan mengundurkan diri, keluar dari ruangan belakang itu menuju ke kebun.

Melihat ini, Siauw-bin-hud merasa tidak enak.

"Ci Kong, temanilah gadis itu. Sebagai seorang tamu sudah sepantasnya ia kita sambut dengan baik."

Tentu saja Ci Kong merasa tidak enak sekali.

Sebetulnya, hatinya tidak keberatan untuk menemani seorang seperti Diana yang walaupun seorang gadis kulit putih namun harus diakuinya amat cantik, walaupun kecantikannya itu asing baginya.

Namun, dia sedang berada di antara tokoh-tokoh besar, bahkan terutama sekali di situ ada Kui Eng!

Dia akan merasa lebih senang menemani Kui Eng dari pada gadis asing ini!

"Kui Eng, engkau pun pergilah menemani mereka.

Kami orang-orang tua mau bicara,"

Tiba-tiba Tee-tok berkata.

Ucapan ini menggirangkan hati Kui Eng yang segera bangkit dan turun ke kebun itu, akan tetapi juga menggirangkan hati Ci Kong karena dengan adanya Kui Eng, tidak perlu lagi dia merasa kaku dan malu-malu harus menemani Diana dari pada kalau dia berdua saja dengan gadis bule itu.

Setelah tiga orang muda itu memasuki kebun dan tak nampak lagi dari ruangan itu, Santok yang ingin segera menyampaikan keinginan hatinya lalu berkata.

"Siauw-bin-hud, aku akan menyampaikan suatu rahasia. Kebetulan sekali Tee-tok di sini, biarlah dia menjadi saksi."

Siauw-bin-hud dapat menduga bahwa tentu Kakek berpakaian tambal-tambalan itu hendak menyampaikan hal yang amat penting sekali. Akan tetapi dia bersikap tenang saja dan berkata.

"Omitohud, pinceng siap mendengarkan, San-tok."

"Tadinya, rahasia ini akan kusimpan sampai mati, karena memang aku ingin mengalihkan perhatian seluruh tokoh-tokoh agar tidak mengetahui rahasiaku ini. Akan tetapi setelah kita mengadakan pertemuan di tempat pesta Hai-tok, pendirianku berubah. Aku hendak bicara tentang rahasia Giok-liong-kiam!"

Mendengar ini, Siauw-bin-hud yang biasanya tenang itupun kini mengangkat muka memandang penuh perhatian. Apa lagi Tee-tok. Dia memandang rekannya dengan sinar mata mencorong dan penuh curiga.

"Jembel gunung! Jangan katakan bahwa engkau sudah merampas Giok-liong-kiam dari tangan murid pertama Thian-tok yang murtad itu!"

San-tok mengangguk-angguk.

"Terus terang saja, memang aku belum berhasil menemukan Giok-liong-kiam, akan tetapi dapat dikatakan bahwa Giok-liong-kiam sudah berada di tanganku! Akan tetapi sebelum aku melanjutkan ceritaku yang akan membuka rahasia Giok-liong-kiam, aku ingin minta pendapat kalian lebih dulu."

"Pendapat bagaimana?"

Tanya Siauw-bin-hud.

"Bagaimana pendapat kalian tentang orang yang akan mampu menemukan harta karun itu dan menyerahkannya untuk keperluan perjuangan menumbangkan pemerintah penjajah dan menentang bangsa kulit putih? Apa hadiah untuknya?"

"San-tok, apakah kau masih pura-pura lagi? Bukankah kau sendiri yang mengajukan usul bahwa dia yang berhasil itu akan memperoleh pedang pusaka Giok-liong-kiam, dan selanjutnya dianggap sebagai pahlawan dan jagoan nomor satu di dunia?"

Tee-tok menegur.

"Itu benar, dan hal itu sudah menjadi persetujuan bersama,"

Sambung Siauw-bin-hud.

"Aku tidak akan menyangkal persetujuan itu, Siauw-bin-hud, akan tetapi aku ingin menambahkan sedikit, yaitu bahwa apa bila aku yang berhasil menemukan harta karun itu, mengingat bahwa muridku Siauw Lian Hong yang banyak berjasa dalam hal itu, aku ingin agar engkau suka menyetujui Hong Hong menjadi jodoh muridmu, Tan Ci Kong."

Mendengar ini, Tee-tok terkejut dan cepat mencela.

"Ah, itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan Giok-liong-kiam! San-tok, baru saja aku hendak minta kepada Siauw-bin-hud agar muridnya itu dijodohkan dengan muridku Ciu Kui Eng. Karena engkau sudah menyatakan lebih dulu, biarlah akupun mengajukan pinangan dan kita lihat, siapa diantara murid-murid kita yang akan diterima menjadi calon isteri murid Siauw-bin-hud."

Kini Siauw-bin-hud yang merasa terkejut dan dia memandang kepada wajah dua datuk sesat itu dengan hati yang agak cemas.

Pinangan orang biasa saja merupakan hal yang wajar dan menerima atau menolaknya merupakan peristiwa biasa yang takkanmendatangkan akibat apapun.

Akan tetapi pinangan orang-orang seperti mereka ini, kalau ditolak tentu akan mendatangkan akibat apapun.

Akan tetapi pinangan orang-orang seperti mereka ini, kalau ditolak tentu akan mendatangkan akibat buruk, dan kini yang mengajukan pinangan sekaligus adalah dua orang!

Menerima yang satu tentu akan menolak yang lain dan dia menjadi serba salah.

Akan tetapi, Siauw bin-hud hanya sedetik dua detik saja dicekam kecemasan.

Dia sudah tersenyum kembali.

"Omitohud, betapa lucunya kalian ini, ha-ha-ha-ha!"

Kakek tua renta itupun tertawa bergelak, suara ketawa yang halus dan penuh kegembiraan.

Sejenak dua orang datuk sesat itu saling pandang dengan sikap bermusuhan, akan tetapi mendengar suara ketawa itu, San-tok berkata.

"Siauw-bin-hud, apa engkau merasa terlalu tinggi bagi orang macam aku?"

"Engkau berani memandang rendah kepadaku, dan muridku tidak pantas menjadi jodoh murid Siauw-lim-pai?"

Tee-tok juga menegur.

Dua orang datuk sesat itu nampak penasaran sekali dan siauw-bin-hud menarik napas panjang, akan tetapi masih tersenyum lebar.

Baru bayangan bahwa pinangan itu ditolak saja sudah membuat kedua orang datuk ini nampak penasaran dan marah.

Apa lagi kalau benar-benar ditolak!

Dia tidak takut akan ancaman mereka, akan tetapi dia mengkhawatirkan perpecahan akan terjadi di antara mereka, pada hal dalam menghadapi kekalutan tanah air, mereka sudah sepakat untuk bekerja sama.

"Siancai... harap kalian bersabar dan tidak mengambil keputusan dan pendapat tergesa-gesa yang tidak tepat. Siapakah yang menolak dan siapakah yang menerima? Kalian tentu tahu bahwa perjodohan hanya dapat terlaksana kalau ada persetujuan kedua pihak, maksud piceng pihak mereka yang tersangkut. San-tok, engkau mengajukan pinangan, apakah engkau telah yakin bahwa muridmu itu mencinta Ci Kong?"

Ditanya demikian, San-tok memandang bingung.

"Aku tidak tahu, akan tetapi... ia tentu mau, ia harus mau..."

"Bagaimana dengan engkau, Tee-tok, apakah muridmu itu mencinta Ci Kong?"

"Wah, mana aku tahu? Agaknya begitulah. Seharusnya begitu karena muridmu itu seorang pemuda yang baik dan alangkah baiknya kalau kita menjadi besan..."

Siauw-bin-hud memperlebar senyumnya.

"Omitohud, kalian ini dua orang tua yang berpikiran singkat dan seperti kanak-kanak saja. Bagaimana kalian berani lancang mengajukan pinangan kalau kalian belum tahu apakah murid-murid kalian itu mencinta cucu muridku, belum tahu apakah murid-murid kalian akan menyetujui? Lancang, sungguh lancang! Bagaimana kalau andaikata pinangan kalian diterima kemudian ternyata bahwa murid-murid kalian itu tidak setuju? Bukankah ini berarti kalian menghina kepada yang dipinang?"

Kembali dua orang datuk itu saling pandang dengan bingung.

"Tidak, aku tidak menghina, dan aku akan memaksa muridku untuk menyetujui!"

Kata San-tok.

"Akupun yakin muridku akan setuju, kalau ia menolak, akan kupaksa!"

"Nah, nah, itulah pikiran kekanak-kanakan, main paksa-paksaan. San-tok, pinceng sudah melihat muridmu itu dan agaknya orang seperti ia tidak akan dapat dipaksa, apa lagi untuk menikah dengan pria yang tidak dicintanya. Dan sekelebatan saja melihat muridmu, engkau pun akan mengalami kesulitan yang sama, Tee-tok. Anak-anak seperti mereka berdua itu tidak akan mudah ditundukkan, apa lagi menyangkut kehidupan mereka sendiri, kebahagiaan mereka sendiri."

"Hwesio tua, mengenai muridku, itu adalah urusanku sendiri, engkau tidak perlu ikut campur. Yang penting, engkau terima atau tidak pinanganku?"

Teriak San-tok.

"Benar, harus diputuskan sekarang siapa di antara kami yang pinangannya diterima, agar tidak membuat kami ragu-ragu dan penasaran,"

Sambung Tee-tok tak mau kalah.

"Omitohud, kalian memang hanya anak-anak kecil belaka. Mana mungkin pinceng dapat mengambil keputusan? Kalau yang kalian pinang itu adalah pinceng, maka tentu saja sekarangpun pinceng dapat mengambil keputusan! Hei, San-tok dan Tee-tok, apakah kalian meminang pinceng untuk dijodohkan dengan murid-murid kalian?"

Hwesio itu berkelakar untuk mendinginkan suasana.

"Hwesio tua jangan pecengisan!"

San-tok membentak, akan tetapi dari mukanya dapat diketahui bahwa diapun merasa geli dan kemarahannya sudah banyak berkurang.

"Siapa sudi punya mantu seperti kau , tua bangka yang sudah tinggal menanti saatnya saja?"

Tee-tok membentak. Siauw-bin-hud tertawa bergelak. Kemudian dia berkata dengan suara yang serius.

"Santok, dengarkan baik-baik. Andaikata kedua murid kalian itu setuju dengan pinangan kalian, andaikata mereka itu mencinta Ci Kong, itupun belum menjadi syarat bagi pinceng untuk menerima pinangan kalian. Yang dipinang adalah Ci Kong dan ini sepenuhnya merupakan urusan dan persoalan dia, maka keputusannya adalah di tangannya sendiri. Kalau dia suka menjadi suami seorang di antara murid kalian, pincengpun setuju saja. Akan tetapi kalau dia tidak suka, siapapun tidak akan dapat memaksanya. Dan pinceng kira kalian akan menjadi guru-guru yang bijaksana kalau bertindak seperti yang pinceng lakukan."

Dua orang datuk sesat itu kembali saling pandang dan agaknya mereka dapat melihat kebenaran kata-kata pendeta itu.

Mereka kinipun merasa ngeri kalau membayangkan watak murid mereka masing-masing yang keras hati.

Memang seharusnya bertanya dulu kepada anak-anak itu.

"Baiklah, aku tunda dulu pinangan itu dan akan kurundingkan dulu dengan muridku. Asal engkau tahu saja isi hatiku yang ingin berbesan denganmu,"

Kata San-tok.

"San-tok, kini engkau harus menceritakan apa rahasia tentang Giok-liong-kiam yang kau ketahui itu,"

Tee-tok mendesak. San-tok memandang kepada rekannya yang bertubuh pendek kecil berkepala botak hampir gundul itu dan dia tertawa.

"Heh-heh, engkau ini Hwesio bukan tosupun bukan, pendeta setengah matang, cerewet seperti perempuan bawel saja, tidak mau kalah dalam segala hal. kau mau tahu tentang Giok-liong-kiam yang diperebutkan itu? Ha-ha, Giok-liong-kiam yang diperebutkan itu, yang tadinya dirampas oleh Thian-tok dengan menggunakan nama Siauw-binhud, kemudian dicuri kembali oleh Koan Jit, pedang itu adalah pedang Giok-liong-kiam yang palsu."

"Palsu...??"

Tee-tok berteriak, sedangkan Siauw-bin-hud juga memandang tajam kepada San-tok.

Tentu saja berita ini merupakan berita yang amat penting sekali.

Namanya telah dihebohkan karena pedang pusaka itu, bahkan dia telah mempergunakan waktu bertahun-tahun untuk mencari perampas Giok-liong-kiam yang mempergunakan namanya.

Bukan itu saja, seluruh tokoh kang-ouw berebutan dan terjadi perkelahian-perkelahian, korban-korban nyawa, dan semua itu untuk memperebutkan sebuah benda palsu!

"Ya, palsu, Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit itu adalah pedang yang palsu, ha-ha!"

San-tok tertawa-tawa dengan gembira sekali.

"Aku tidak percaya!"

Tee-tok membentak, mukanya merah karena dia mengira rekannya itu mempermainkannya.

"Ha-ha-ha, kalau tidak percaya, pergilah kau mencari Koan Jit untuk memperebutkan pedang palsu dengan dia. Ha-ha, memang orang seperti engkau ini lebih patut kalau memperebutkan sebuah benda palsu dari pada mempercaya seorang seperti aku!"

"Omitohud, pinceng percaya ceritamu itu, San-tok,"

Kata Siauw-bin-hud dan suaranya terdengar mengandung kekecewaan.

Kalau dia bersusah payah selama bertahun-tahun dan namanya dihebohkan hanya untuk urusan pedang palsu, itu bukan merupakan hal yang mengecilkan hatinya sekarang ini.

Akan tetapi yang mendatangkan kecewa adalah kenyataan bahwa kalau pedang itu palsu, berarti harta karun itupun tidak akan bisa ditemukan.

Mendengar ucapan tokoh Siauw-lim-pai itu yang mempercayai cerita San-tok, Tee-tok menjadi ragu-ragu dan diapun kini memandang kepada San-tok dengan penuh harapan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut.

"Hwesio tua, engkau memang belum pikun dan dapat berpikir secara bijaksana sekali. Aku memang tidak berbohong."

"Siancai..., kalau begitu, musnahlah cita-cita kita bersama untuk mencari harta karun agar dapat dipergunakan membiayai perjuangan rakyat..."

"Ha-ha-ha, jangan khawatir, Siauw-bin-hud. Akulah yang akan menemukan harta karun itu. Secara kebetulan aku mendapatkan keterangan tentang palsunya Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit itu dan bukan hanya itu yang kuketahui. Akupun mengetahui rahasia bagaimana untuk dapat menemukan harta karun itu."

"Kau membual!"

Teriak Tee-tok.

"Kalau benar demikian, apa maksudmu menceritakan kepada kami tentang kepalsuan Giok-liong-kiam?"

Tentu saja Tee-tok merasa curiga karena biasanya, orang-orang seperti mereka, apa lagi Empat Racun Dunia, selalu mempergunakan siasat dan tipu muslihat untuk mengelabui orang lain demi keuntungan diri sendiri.

Maka, keterangan San-tok ini tentu tak dapat ditelannya mentah-mentah begitu saja.

"Ha-ha-ha, dasar tolol tetap tolol! Kalau tidak ada sebab-sebabnya, apa kau kira aku begitu bodoh untuk menceritakan ini semua kepada orang seperti engkau, Tee-tok? Sudah kukatakan tadi, rahasia ini tentu saja kusimpan sendiri dan aku bersama muridku akan tertawa geli sampai perut kaku melihat betapa kalian semua orang kang-ouw saling berlumba memperebutkan pusaka yang berada di tangan Koan Jit itu. Tadinya aku memang ingin begitu, melihat kalian seperti anjing-anjing berebutan tulang busuk, sedangkan aku diam-diam akan mengambil dan menikmati harta karun itu. Akan tetapi, setelah pertemuan di pesta Hai-tok, pendirianku berubah. Kita adalah rekan-rekan seperjuangan dan Persatuan demi tanah air ini membuat aku memaksa diri mengesampingkan kepentingan pribadi. Aku sengaja menceritakan agar kalian tidak membuang-buang waktu memperebutkan pusaka palsu itu. Nah, belum juga engkau menghaturkan terima kasih kepadaku, Tee-tok?"

"Terima kasih hidungmu! Engkau masih merahasiakan tempat harta karun dan akan mengambilnya sendiri untuk memiliki Giok-liong-kiam tulen dan mendapatkan sebutan pahlawan dan jagoan nomor satu! Akan tetapi, mengenai perjodohan murid-murid kita, aku tidak mau mengalah kalau engkau hendak memaksa Siauw-bin-hud menyerahkan muridnya!"

Mendengar nada suara menantang itu, San-tok mengerutkan alisnya dan menatap wajah rekannya itu dengan tajam.

"Kalau tidak mau mengalah, lalu kau mau apa?"

"Mau apa?"

Tee-tok melompat berdiri dan sikapnya menantang sekali.

"Hayo majulah, kau kira aku takut padamu?"

"Cacing pita! Akupun tidak takut!"

San-tok juga melompat berdiri.

"Omitohud, kalian ini benar-benar seperti anak kecil."

Siauw-bin-hud tahu-tahu sudah berdiri di antara mereka.

"Harta karun belum ditemuka, perjuangan belum dilakukan, dan kalian sudang ingin saling genjot dan saling bunuh sendiri? Pejuang-pejuang macam apa kalian ini? Celaka, kalau semua pejuang seperti kalian, belum apa-apa kita sudah kehabisan tenaga."

Dua orang Kakek yang sudah saling melotot itu sadar dan keduanya duduk kembali dengan muka merah.

"Wah, aku memang pelupa dan pemarah. Dia itu yang membikin darah naik!"

Kata San-tok.

"Maaf, Siauw-bin-hud. Menghadapi orang macam dia itu memang bisa bikin orang lupa daratan!"

Watak dan sikap dua orang datuk sesat ini memang menggelikan, seperti anak-anak saja mereka itu.

Akan tetapi, bukankah kita semua ini hanyalah anak-anak yang besar tubuhnya saja?

Apa bedanya kita dengan anak-anak?

Masih selalu memperebutkan sesuatu, masih cengeng, masih suka berkelahi, mesih mengejar-ngejar kesenangan!

Kalau orang yang susah menjadi Kakek berhadapan dengan anak cucunya, mungkin dia bersikap seperti seorang Kakek.

Akan tetapi sikap ini sesungguhnya dipaksakan berhubung keadaan, karena malu dan merasa tua.

Akan tetapi, kumpulkanlah Kakek-kakek itu dengan teman-teman sebayanya, maka akan kembali menjadi anak-anak nakal!

Hal ini tentu dirasakan oleh kita semua yang mau melihat diri sendiri dan tidak berpura-pura!

Kita ini hanya anak-anak besar tubuhnya.

Tubuh kita memang tumbuh menjadi besar, akan tetapi batin kita kadang-kadang bahkan semakin kecil, sarat dengan segala macam kepalsuan dan pamrih-pamrih tersembunyi, sedangkan anak-anak belum mengenal kepalsuan dan pamrih-pamrihnya tidak tersembunyi.

Karena merasa bersalah, Tee-tok lalu memperlihatkan sikap berbaik kembali dengan Santok.

Memang para datuk sesat itu aneh wataknya.

Mudah tersinggung dan mudah marah sampai tega membunuh kawan, akan tetapi juga tidak mendendam dan mudah melupakan perselisihan antara mereka.

"Hei, San-tok. Engkau sudah mempunyai seorang murid perempuan yang baik, kenapa engkau mengambil murid perempuan bule itu? Untuk apa punya murid seperti itu?"

"Aih, kau tidak tahu! Siapa sudi mempunyai murid seperti itu? Akan tetapi ini semua gara-gara ulah muridku Hong-Hong. Ialah yang memaksaku menerima Diana sebagai murid, dan aku diakali olehnya, kalah janji. Kalau aku tidak mau menjadi guru Diana, berarti aku menjilat ludah sendiri. Sialan!"

Mereka lalu bercakap-cakap dengan Siauw-bin-hud, membicarakan keadaan tanah air dan berita-berita yang mereka dengar tentang gerakan para pejuang, tentang kedudukan Koan Jit yang kuat dan tentang cita-cita mereka untuk menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu dan menghalau kekuasaan asing kulit putih.

Sementara itu, Diana, Ci Kong dan Kui Eng berjalan-jalan di kebun yang luas itu.

Mereka lalu duduk di ujung kebun, jauh dari kuil, di bawah pohon yang rindang di mana terdapat bangku-bangku bersih yang seolah-olah tersenyum mempersilahkan mereka duduk.

Tempat itu memang nyaman sekali.

Terdapat rumpun bambu yang gemersik tertiup angin, setiap ujung daun bergerak sendiri-sendiri seperti memiliki kehidupan pribadi, padahal merupakan serumpun, dan semua garis, semua lengkung, semua warna, antara cahaya dan bayangan, membentuk pandangan yang mengandung kesenian bernilai tinggi.

Mereka tadi sudah berkenalan sambil berjalan-jalan dan hati Diana girang sekali telah sempat berkenalan dengan penolongnya dan memperoleh sahabat baru yang demikian cantik manis dan gagah perkasa.

Diam-diam ia membandingkan Kui Eng dengan Lian Hong dan biarpun hatinya lebih condong kepada sahabat lamanya itu, namun harus diakuinya bahwa teman barunya inipun amat menarik dan mengagumkan.

"Ci Kong, sungguh aku minta maaf kepadamu atas peristiwa tadi. Aku tidak berniat buruk sama sekali dan aku lupa diri."

Kui Eng tersenyum lebar melihat wajah pemuda itu menjadi merah sekali.

"Tentu saja engkau tidak berniat buruk dan perbuatanmu itupun tidak buruk, bahkan manis sekali, Diana! Engkau tidak perlu minta maaf karena Ci Kong tentu senang juga dengan perbuatanmu tadi."

Tentu saja Kui Eng berkata demikian untuk menggoda sehingga wajah pemuda itu menjadi semakin merah.

"Sudahlah, Diana,"

Ci Kong berkata dengan halus dan diapun merasa dekat dengan gadis bule ini karena selain pandai sekali berbahasa daerah, juga gadis ini amat akrab, menyebut namanya dan nama Kui Eng begitu saja sehingga mereka segera menjadi akrab dan dapat bercakap-cakap tanpa sungkan-sungkan lagi.

"Segala yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan untuk mengganggu orang lain adalah tidak salah. Perbuatanmu itu kau lakukan karena kebiasaan cara hidup di negeri dan bangsamu. Akan tetapi di sini, perbuatan itu bisa dianggap tidak sopan, dan amat mengejutkan orang yang melihatnya."

"Aku tahu, tapi ketika aku melihatmu di sana, sungguh aku menjadi lupa diri dan hanya menurutkan kegembiraan hati saja. Salahmu sih, dahulu itu kenapa engkau pergi begitu saja tanpa pamit? Coba kau bayangkan, Kui Eng, dia baru saja menyelamatkan nyawaku dari ancaman maut, akan tetapi dia terus pergi tanpa pamit. Hati siapa takkan merasa menyesal? Maka begitu bertemu, aku begitu gembira sampai lupa diri."

"Tentu saja, Diana,"

Kata Kui Eng.

"Engkau tahu siapa Tan Ci Kong? Biarpun namanya saja cucu murid Locianpwe Siauw-bin-hud, akan tetapi dia adalah muridnya, murid tunggal yang memiliki kepandaian tinggi. Dia seorang pendekar Siauw-lim-pai dan seorang pendekar besar memang selalu bertindak tanpa pamrih. Satu-satunya yang mendorong perbuatannya hanyalah menentang kejahatan, melindungi yang lemah, dan membela kebenaran dan keadilan. Setelah menyelamatkanmu, berarti tugasnya selesai dan perlu apa dia menanti balasan atau ucapan terima kasih?"

"Begitukah...?"

Diana memandang kepada Ci Kong dan matanya yang biru lebar itu terbelalak penuh kagum.

Mula-mula Ci Kong balas memandang, akan tetapi melihat betapa mata biru amat indah dan lebar bening itu menatapnya seperti itu, dia tidak berani lama-lama memandang.

Sekarang dia mulai merasakan keindahan dan kecantikan wajah gadis bule ini!

"Wah, kalau begitu para pendekar di sini lebih hebat dari pada para ksatria dalam dongeng rakyat di negeriku!"

"Bagaimana dengan pahlawan-pahlawan dan ksatria-ksatria di negerimu?"

"Mereka juga pembela kebenaran dan keadilan, akan tetapi mereka masih ingin memperoleh pahala, terutama sekali memperoleh hadiah gelar dan puteri."

Ia kembali memandang wajah pemuda itu.

"Jadi para pendekar di sini yang selalu siap menyumbangkan tenaga dengan taruhan nyawa untuk membela kebenaran dan keadilan, selalu tidak pernah menerima balas jasa apapun?"

Kui Eng menggeleng kepala.

"Kalau menerima balas jasa itu namanya bukan pendekar, Diana. Seperti Ci Kong ini, bukan hanya tak pernah menerima balas jasa, bahkan sering menerima air tuba sebagai balas air susu yang diberikan."

"Maksudmu?"

"Dia menolong, akan tetapi yang ditolongnya membalasnya dengan kejahatan."

"Ah, mana mungkin?"

"Mungkin saja! Pernah dia menyelamatkan seorang gadis yang terancam bahaya maut, akan tetapi gadis yang diselamatkan nyawanya itu, tidak berterima kasih malah menyerangnya dan hampir membunuhnya..."

"Kui Eng...! Ci Kong mencoba untuk mencegah gadis itu melanjutkan. Akan tetapi Kui Eng tersenyum, dan berkata.

"Menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, tidak ada salahnya."

"Ah, aku tidak percaya. Mana ada orang yang begitu jahat, diselamatkan nyawanya malah menyerang dan hampir membunuh penolongnya dan tidak berterima kasih? Tidak mungkin, mana ada orang seperti itu?"

"Inilah orangnya!"

Kata Kui Eng sambil menunjuk dada sendiri.

"Ci Kong ini pernah menolongku ketika aku dikepung pasukan pemerintah. Aku sudah terluka dan kehabisan tenaga dan jatuh pingsan ketika Ci Kong menolongku, membawa aku keluar dari kepungan dan menyelamatkan aku dari ancaman maut. Kalau tidak ada dia yang turun tangan, tentu aku sudah mati. Akan tetapi begitu siuman dari pingsan, aku lalu menyerangnya mati-matian!"

"Ihhh...!"

Diana berseru kaget dan mengerutkan alisnya.

"Jangan mudah dibohongi, Diana,"

Kata Ci Kong sambil tertawa.

"Kui Eng melakukan serangan itu tanpa disadarinya. Ia mengira bahwa saya seorang musuh, maka ia menyerang mati-matian. Setelah ia tahu bahwa saya bukan musuh, kami lalu menjadi sahabat baik."

"Ah, kalau begitu aku mengerti. Aku tidak percaya orang seperti kau ini demikian jahatnya, membalas kebaikan dengan kejahatan, Kui Eng."

Ia lalu memandang kepada Ci Kong dan sebuah pikiran membuat wajah gadis bule ini berseri dan seperti biasa, ia langsung saja mengatakan apa yang dipikirkannya itu.

"Ah, kalian ini sungguh merupakan sepasang pendekar yang amat cocok! Ci Kong seorang pemuda tanpan dan gagah perkasa berwatak halus dan budiman, sedangkan Kui Eng adalah seorang gadis yang cantik manis dan lihai pula."

Mendengar ucapan yang sama sekali tak pernah mereka sangka dilontarkan begitu saja dari mulut Diana, Ci Kong dan Kui Eng saling pandang dan muka mereka mendadak menjadi kemerahan.

"Aih, kau ini ada-ada saja, Diana! Mana mungkin aku disamakan dengan pendekar ini? Dia adalah murid dari Locianpwe Siauw-bin-hud, dia seorang pendekar muda yang perkasa dari Siauw-lim-pai, sedangkan aku? Aku keturunan jahat, dan aku murid seorang datuk sesat yang biasa berkecimpung dalam dunia kejahatan. Diana, kau seperti membandingkan aku sebagai seekor burung gagak dan dia sebagai seekor burung Hong."

"Nona... Kui Eng, jangan engkau berkata demikian."

Ci Kong cepat membantah.

"Baik buruknya seseorang nampak dalam sepak terjang kehidupannya, bukan dari keturunan atau perguruannya."

"Cocok!"

Diana berkata sambil tertawa.

"Aku sudah mendengar banyak dari suci Lian Hong tentang Empat Racun Dunia. Dan akupun sekarang menjadi murid seorang di antara mereka. Akan tetapi, yang kupelajari adalah ilmu silatnya, bukan perbuatan jahat."

Tidak lama kemudian, muncul tiga orang Kakek itu, mengajak murid-murid mereka melanjutkan perjalanan.

Tiga orang Kakek itu sudah bersepakat.

San-tok hendak melanjutkan usahanya mencari harta karun.

Tee-tok ingin menyampaikan kepada rekan-rekan seperjuangan agar menghentikan usaha mereka merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit yang ternyata hanya merupakan benda palsu.

Sedangkan Siauw-bin-hud akan mengabarkan kepada para tokoh besar di dunia para pendekar agar segala permusuhan pribadi antara kau m persilatan dihentikan dulu sehingga seluruh kekuatan dapat dipersatukan untuk perjuangan.

Mereka berjanji akan saling bertemu kembali kalau San-tok sudah berhasil menemukan harta karun.

Hati Ci Kong merasa berat harus berpisah dari Diana dan Kui Eng, dua orang gadis yang amat menyenangkan hatinya itu.

Di dalam perjalanannya mengikuti Siauw-bin-hud kembali ke pusat Siauw-lim-si, Ci Kong membayangkan wajah gadis-gadis yang pernah dijumpainya dan membanding-bandingkan mereka.

Dan harus diakuinya bahwa mereka semua itu, Siauw Lian Hong, Ciu Kui Eng, Tang Ki, bahkan juga Diana, merupakan gadis-gadis pilihan yang selain memiliki kecantikan-kecantikan khas, juga mempunyai watak-watak yang aneh dan menarik.

Dia sendiri tidak tahu apakah dia jatuh cinta kepada seorang di antara mereka.

Dia tidak tahu bagaimana sih rasanya jatuh cinta itu!

Akan tetapi harus diakuinya bahwa dia merasa suka, kagum dan senang bergaul dengan mereka semua dan kalau dia disuruh memilih siapa di antara mereka semua yang paling hebat, sukarlah agaknya bagi dia untuk menentukan.

Siauw Lian Hong seorang gadis yang cantik dengan sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar bening dan tajam, dengan wajahnya yang bulat, pendiam, sederhana dan nampak cerdik dan gagah sekali.

Ciu Kui Eng seorang gadis yang manis sekali, matanya tajam, mukanya lonjong dengan mulut yang manis sekali, galak, manja akan tetapi juga memiliki sikap dan wajah gagah perkasa.

Sukar dikatakan siapa di antara keduanya itu, Lian Hong dan Kui Eng, memiliki bentuk tubuh yang lebih elok.

Keduanya bertubuh padat, penuh, langsing dan berkulit mulus.

Tang Ki atau Kiki, jelita dan galak lucu, nakal manja, ditambah manis dengan tahi lalat di pipinya, biarpun nampak galak dan nakal, namun hatinya lembut sekali juga gagah perkasa dan pinggangnya ramping bukan main, agaknya dapat dilingkari dengan jari-jari tangannya.

Dan Diana?

Wah, gadis ini memiliki kecantikan yang khas dan aneh.

Matanya biru laut, rambutnya yang seperti benang emas, kulitnya yang putih kemerahan dengan bulu-bulu halus sekali, tubuhnya yang tinggi ramping, sikapnya yang terbuka, pendeknya, ada daya tarik yang amat kuat keluar dari diri gadis bule itu.

Akan tetapi, lamunannya itu dibuyarkan oleh suara gurunya atau juga Kakek gurunya yang berkata dengan nada suara lembut.

"Ci Kong, engkau sudah mendengar sendiri betapa pinceng sudah berjanji untuk membagi tugas pekerjaan dengan para tokoh Empat Racun Dunia. Bagian tugas pinceng adalah membujuk para pendekar di seluruh negara untuk menghentikan permusuhan pribadi dan mau bekerja sama dengan segala golongan, juga golongan sesat, untuk menyatukan tenaga untuk perjuangan. Pinceng sudah terlalu tua, Ci Kong, dan selain belum tentu pinceng akan kuat untuk melaksanakan tugas berat itu, juga pinceng ingin mengaso dan bertapa lagi. Engkau wakililah pinceng melaksanakan tugas itu, pinceng akan bertapa di dalam guha maut di bukit belakang kuil yang sudah kau ketahui tempatnya. Setelah melaksanakan tugas itu selama satu tahun, engkau boleh datang memberi laporan kepada pinceng."

"Baik, su-couw, teecu akan mentaati perintah su-couw,"

Jawab Ci Kong dan Kakek itu lalu meninggalkan dia untuk kembali ke Siauw-lim-si pusat.

Ci Kong sendiri, lalu berangkat meninggalkan kuil kecil itu untuk melaksanakan tugasnya yang baginya amat menyenangkan.

Dia akan mengunjungi dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw, bukankah hal itu amat menggembirakan?

Dengan penuh semangat, Ci Kong lalu berangkat.

Kita tinggalkan dulu para tokoh yang sedang berusaha untuk memupuk kekuatan guna perjuangan itu dan mari kita melihat keadaan Gan Seng Bu dan para pejuang yang berkumpul dan tinggal di sebuah dusun sebelah barat Kanton.

Mereka itu menyamar sebagai penghuni dusun, bekerja sebagai petani-petani biasa.

Mereka berjuang dengan rahasia, kadang-kadang saja mereka menyelundup ke kota-kota dan menyerang markas-markas pasukan pemerintah penjajah.

Gan Seng Bu tinggal pula di antara mereka, bersama isterinya, yaitu Sheila.

Suami isteri muda ini, walaupun berlainan bangsa, berbeda kulit, namun ternyata mereka itu saling mencinta dengan murni.

Sheila yang mengagumi suaminya, kini sudah dapat menyelami cara hidup para pejuang dan dianggapnya bahwa suami dan kawan-kawannya itu adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa, yang patut dihormati.

Ia merasa kagum dan menghormati perjuangan suaminya dan para pejuang.

Makin nampak olehnya betapa jahatnya politik yang dianut oleh bangsanya sendiri, yang demi mengeduk keuntungan sebanyaknya, tidak segan-segan untuk meracuni sebuah bangsa dengan racun madat, Bahkan kalau perlu menguasai dan menjajah negara dan tanah air bangsa lain.

Cinta kasih yang dicurahkan oleh suami isteri ini telah menghasilkan benih dalam kandungan Sheila.

Ia sudah mengandung tiga bulan dan hal ini bukan hanya menggirangkan suami isteri muda itu, akan tetapi juga mendatangkan kegembiraan kepada para kawan seperjuangan karena mereka itu rata-rata sudah dapat menerima Sheila sebagai seorang kawan, berkat sikap Sheila yang amat baik dan juga setia kawan.

Kebahagiaan hidup sederhana mereka itu agaknya tidak akan mengalami gangguan.

Sama sekali Seng Bu dan isterinya tidak sadar bahwa ada bayangan malapetaka semakin mendekati mereka!

Bahaya ini datang dari Koan Jit!

Seperti diketahui, Koan Jit merasa marah, kecewa dan penasaran sekali karena dia gagal menangkap Diana.

Apa lagi ketika dia mendengar betapa anak buahnya yang hendak menangkap Sheila telah dihajar babak belur oleh Gan Seng Bu, hatinya menjadi semakin panas.

Dia tahu bahwa dirinya menjadi incaran para tokoh diseluruh kang-ouw yang ingin merampas Giok-liong-kiam.

Dia sendiri, sekian lamanya memiliki Giok-liong-kiam akan tetapi belum juga mampu menemukan rahasia pusaka itu, rahasia yang sudah didengarnya bahwa pusaka itu menyembunyikan rahasia harta karun yang besar.

Sudah dicobanya berbagai macam, namun senjata pusaka itu sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda menyimpan rahasia!

Dan dia tahu bahwa dirinya diancam oleh banyak tokoh-tokoh besar yang lihai, yang ingin sekali merampas pusaka itu.

Dan dianggapnya berbahaya sekali baginya, di samping Empat Racun Dunia, juga dua orang sutenya yang telah menguasai ilmu-ilmu yang pernah dipelarinya.

Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu!

Dua orang sute ini merupakan saingan yang cukup berat dan berbahaya, dan kalau mungkin harus segera disingkirkan dari muka bumi!

Inilah sebabnya, ketika dia mendengar betapa anak buahnya dihajar oleh seorang pendekar bernama Gan Seng Bu yang telah menikah dengan seorang gadis bule, dia menjadi marah akan tetapi juga girang.

Dia telah menemukan di mana sembunyinya sutenya itu.

Untuk menyerang ke dusun itu dia tidak berani.

Dia maklum bahwa tentu Gan Seng Bu yang terkenal sebagai seorang pejuang penentang pemerintah penjajah itu tidak sendirian di dusun itu, melainkan dengan kawan-kawan seperjuangan.

Kalau dia menyerbu, selain belum tentu akan dapat menang karena dia belum mengetahui kekuatan musuh, juga tentu Gan Seng Bu akan lebih mudah melarikan diri.

Dan dia memerlukan sutenya itu untuk dibunuhnya, dan diapun merasa iri bahwa sutenya itu telah dipilih oleh seorang gadis bule yang katanya cantik sekali.

Dia harus membunuh sutenya dan merampas wanita itu!

Maka, Koan Jit yang selain lihai ilmu silatnya, juga benaknya penuh dengan tipu muslihat itu lalu mengatur siasat.

Dusun yang ditinggali para pejuang itu dapat dibilang merupakan dusun pejuang.

Penduduk dusun yang tadinya bukan pejuang, begitu melihat keadaan para orang gagah itu, merasa tertarik dan bangkit semangat mereka, Bahkan para mudanya lalu belajar ilmu silat dari para pendekar dan mereka ikut pula berjaga, bahkan banyak yang sudah ikut aktip kalau kelompok itu mengadakan serangan dan gangguan pada kesatuan-kesatuan tentara kerajaan.

Baca Juga: Suling Naga 11

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert