Eps 11 Suling Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Naga - Kho Ping Hoo.
Jilid 33) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 ia menganggap gurunya seorang gagah yang baik hati, terutama terhadap dirinya.
Dan iapun dengan penuh ketekunan mempelajari ilmu-ilmu dari Sin-kiam Mo-li, seorang wanita cantik yang dalam hal tingkat kepandaian, tidak berada di bawah tingkat mendiang gurunya, yaitu Kim Hwa Nio-nio.
Dua orang pendeta Lama yang sedang bertapa itu terkejut sekali ketika melihat seorang pendeta Lama lain roboh terpelanting di depan guha mereka, kemudian terdengar suara orang itu mengerang kesakitan.
Dua orang pendeta Lama itu cepat keluar dari guha tempat pertapaan mereka dan alangkah kaget hati mereka ketika mereka mengenal bahwa yang roboh itu adalah Ang I Lama, seorang tokoh Lama yang amat mereka kenal dan masih terhitung paman seperguruan mereka.
"Susiok...."
Keduanya berlutut dan dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri rasa hati mereka melihat bahwa paman guru mereka itu terluka pada lambungnya, luka yang kini membengkak besar sekali, tanda bahwa selain luka itu parah, juga bahwa luka itu tidak terawat selama beberapa hari sehingga membengkak.
Melihat keadaan luka itu dan wajah paman guru mereka yang membiru, dua orang pendeta ini dengan sedih mengetahui bahwa keadaan paman guru mereka sudah payah dan sukar untuk dapat diselamatkan nyawanya.
"Susiok, apa yang telah terjadi? Mengapa susiok terluka seperti ini?"
Tanya pendeta pertama.
"Susiok, siapa yang melakukan ini?"
Tanya pendeta ke dua.
Akan tetapi keadaan Ang I Lama sudah demikian payah.
Napasnya tinggal satu-satu dan sukar sekali baginya untuk mengeluarkan suara walaupun mulutnya bergerak-gerak.
Akan tetapi, di dalam batin Ang I Lama, sedikitpun tidak ada rasa dendam terhadap Sin-kiam Mo-li, maka tidak ada sedikitpun niat di hatinya untuk memberi tahu kepada orang lain siapa yang telah melukainya.
Yang menjadi keinginan hatinya adalah untuk memberi tahu kepada Kao Cin Liong dan Suma Hui di mana adanya anak mereka yang diculik orang itu.
Akan tetapi sukar sekali mulutnya mengeluarkan kata-kata dan dengan pengerahan tenaga terakhir diapun memaksa diri untuk menyampaikan isi hatinya itu kepada dua orang pendeta Lama ini.
Akhirnya dapat juga dia mengeluarkan suara lirih sehingga dua orang pendeta Lama itu harus mendekatkan telinga mereka agar dapat menangkap lebih jelas.
"....Kao Cin Liong dan isterinya.... mereka.... cepat.... ouhhh...."
Kakek itu terkulai dan napasnya-pun terhenti.
Dia mengerahkan tenaga terlalu banyak namun tidak kuat melanjutkan kata-katanya.
Dua orang pendeta Lama itu saling pandang dengan mata terbelalak.
Merekapun tentu saja mengenal siapa yang bernama Kao Cin Liong itu, seorang yang dikenal baik oleh para pendeta Lama karena pernah memimpin pasukan pemerintah untuk menumpas pemberontakan di barat.
Panglima Kao amat terkenal dan tentu saja mereka kini terkejut dan heran mendengar disebutnya nama panglima itu dan isterinya sebagai pembunuh Ang I Lama!
Dua orang pendeta itu merasa betapa penting dan gawatnya urusan, maka setelah menyempurnakan jenazah Ang I Lama dengan membakarnya, lalu membawa abu jenazah itu, pergi meninggalkan tempat pertapaan mereka dan cepat mereka menuju ke Tibet.
Dan di depan para pimpinan Lama, mereka lalu menceritakan pengalaman mereka ketika menemukan Ang I Lama dalam keadaan sekarat sampai meninggal dunia karena luka parah di lambungnya.
Ketika para pimpinan Lama mendengar bahwa pesan terakhir dari Ang I Lama adalah nama Kao Cin Liong dan isterinya, para pimpinan Lama itu saling pandang.
Mereka ingat bahwa belum lama ini, suami isteri itu memang datang kepada mereka dan menanyakan di mana adanya Ang I Lama!
Dan mereka melihat sikap isteri pendekar bekas panglima itu jauh dari pada lembut, bahkan agaknya nyonya itu marah sekali terhadap Ang I Lama.
Dan kini muncul dua orang pendeta Lama yang menceritakan bahwa Ang I Lama tewas dengan luka di lambungnya.
Pada hal, Ang I Lama adalah seorang pendeta Lama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.
Tidak sembarang orang akan dapat melukainya, dan pula, pendeta itu adalah seorang yang halus budi dan tidak pernah bermusuhan dengan siapapun juga.
Siapa lagi kalau bukan suami isteri pendekar itu yang telah membunuhnya?
Mungkin karena Ang I Lama masih sute dari Sai-cu Lama seperti yang ditanyakan oleh isteri pendekar itu.
"Hemm, kita tidak boleh tinggal diam saja. Tanpa sebab mereka telah membunuh seorang yang hidup bersih dan suci seperti Ang I Lama. Kalau hal ini kita diamkan saja, bukankah semua orang lalu memandang rendah kepada kita, para Lama? Kita dapat membiarkan seorang Lama seperti Sai-cu Lama dibasmi dan dibunuh sekalipun tanpa sedikit juga campur tangan. Akan tetapi kalau sampai seorang seperti saudara Ang I Lama dibunuh tanpa dosa, sungguh merupakan hal yang penuh dengan penasaran. Kita harus bertindak terhadap mereka!"
"Akan tetapi mereka adalah pendekar-pendekar yang terkenal sakti dan budiman! Apa lagi kita semua mengenal siapa adanya Kao Cin Liong, bekas panglima yang gagah perkasa!"
Kata Lama ke dua.
"Kita tidak perlu takut demi membela kebenaran!"
Kata Lama ke tiga. Ketua para Lama menarik napas panjang mendengar pendapat para pembantunya.
"Omitohud, semoga Sang Buddha menerima saudara Ang I Lama sesuai engan amal kebaikannya sewaktu dia hidup. Kita memang tidak boleh tinggal diam, juga kita tidak perlu merasa takut untuk menghadapi ketidakadilan, akan tetapi bagaimanapun juga, kita harus bertindak dengan hati-hati dan tidak menurutkan nafsu amarah. Kita harus ingat bahwa kita berhadapan dengan keturunan orang-orang besar. Kao-taihiap adalah keturunan dari keluarga Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, sedangkan isterinya adalah keturunan Pendekar Super Sakti Pulau Es. Kita sama sekali tidak menghendaki kalau kita sampai menanam permusuhan dengan kedua keluarga itu. Maka, jalan satu-satunya hanyalah mencari seorang perantara untuk menuntut keadilan kepada keluarga mereka, terutama sekali keluarga Gurun Pasir mengingat bahwa Kao-taihiap adalah putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir."
Mendengar ucapan ketua mereka ini, para pendeta Lama merasa setuju.
Bagaimanapun juga, mereka percaya bahwa keluarga para pendekar itu adalah orang-orang yang selalu menunjukkan kebenaran dan keadilan.
Kalau sampai peristiwa pembunuhan terhadap diri Ang I Lama yang tidak berdosa ini sampai dilaporkan kepada Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, Tentu orang sakti itu akan bertindak adil walau terhadap puteranya sendiri sekalipun.
Mereka lalu mengadakan perundingan dan mengingat bahwa mungkin sekali urusan yang timbul antara Ang I Lama dan Kao Cin Liong berdua itu ada hubungannya dengan mendiang Sai-cu Lama, maka semua pendeta Lama setuju untuk kedua kalinya minta bantuan sahahat mereka, yaitu Tiong Khi Hwesio.
Bukankah Tiong Khi Hwesio yang bersama para pendekar membasmi komplotan Sai-cu Lama?
Karena agaknya urusan kematian Ang I Lama ini merupakan lanjutan dari pembasmian komplotan Sai-cu Lama, maka orang perantara yang mereka anggap paling tepat adalah Tiong Khi Hwesio.
Apa lagi ketua Lama mengetahui bahwa antara Tiong Khi Hwesio dan keluarga Gurun Pasir masih terdapat ikatan yang amat erat.
"Kalau tidak keliru, ikatan keluarga antara Tiong Khi Hwesio dan isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir,"
Demikian katanya.
Kenyataan ini mempertebal kepercayaan para pendeta Lama bahwa Tiong Khi Hwesio memang merupakan orang yang paling tepat untuk menjadi perantara menuntut keadilan ke Gurun Pasir.
Tiong Khi Hwesio lalu dihubungi.
Pendeta ini semenjak kembali dari menunaikan tugasnya yang berhasil baik, telah kembali ke tempat pertapaannya, di dalam sebuah pondok sederhana di puncak sebuah bukit di Pegunungan Himalaya.
Dia merasa heran akan tetapi juga tidak menolak ketika seorang pendeta Lama menyadarkannya dari pertapaan dan menyampaikan undangan para pimpinan Lama agar dia suka datang ke Lhasa karena ada urusan yang amat penting.
Setelah hwesio tua ini tiba di depan para pendeta Lama, dia disambut dengan amat ramah.
Melihat wajah yang penuh kedamaian dari pendeta ini, para pimpinan Lama merasa tidak enak hati sendiri.
Akan tetapi urusan yang mereka hadapi teramat penting maka mereka mengesampingkan semua perasaan tidak enak dan pimpinan para Lama segera menceritakan kepada Tiong Khi Hwesio tentang peristiwa yang terjadi.
Tentang kematian Ang I Lama terbunuh orang, tentang suami isteri Kao Cin Liong yang sebelumnya datang minta keterangan dari para Lama tentang Ang I Lama, kemudian para pimpinan Lama menyatakan pendapat mereka yang juga merupakan tuduhan mereka bahwa suami isteri pendekar itulah yang membunuh Ang I Lama.
"Saudara Tiong Khi Hwesio tentu sudah mengenal siapa adanya Ang I Lama, yang sudah sejak puluhan tahun hidup bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan dunia sehingga tidak mungkin menanam permusuhan dengan siapapun juga. Akan tetapi, beberapa hari sebelum dia terbunuh, pendekar Kao Cin Liong dan isterinya datang ke sini minta keterangan tentang Ang I Lama, dan melihat sikap mereka, terutama sekali isteri Kao-taihiap, jelas bahwa mereka sedang marah atau tidak suka kepada Ang I Lama yang mereka ketahui adalah sute dari Sai-cu Lama. Tak lama setelah mereka berdua pergi mencari Ang I Lama, dia ternyata dibunuh orang dan sebelum menghembuskan napas terakhir, Ang I Lama hanya dapat menyebutkan nama Kao Cin Liong dan isterinya. Semua ini kami anggap sudah cukup kuat untuk menjadi bukti kebenaran pendapat kami bahwa mereka berdua yang membunuh Ang I Lama. Terutama harus diingat bahwa Ang I Lama memiliki kepandaian yang tinggi, dan hanya orang-orang seperti suami isteri itu sajalah yang kiranya akan mampu membunuhnya,"
Tiong Khi Hwesio mengerutkan alisnya.
Tak disangkanya bahwa dia akan menghadapi urusan seperti itu.
Memang semua alasan para pimpinan Lama ini masuk di akal, dan bagaimanapun juga, Kao Cin Liong masih terhitung keponakannya.
Ibu kandung pendekar itu, Wan Ceng, adalah adik tirinya seayah berlainan ibu.
Dengan sikap tenang Tiong Khi Hwesio menanti sampai keterangan para Lama itu selesai, barulah dia bicara, sikapnya masih tenang, suaranya halus.
"Lalu apa maksud para saudara Lama sekarang mengundang pinceng datang ke sini. Apa yang dapat pinceng lakukan dalam urusan ini?"
"Kami sedang merasa bingung. Urusan pembunuhan ini tidak mungkin didiamkan saja. Akan tetapi kamipun tidak ingin menanam permusuhan dengan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir, maka kamipun teringat kepada saudara Tiong Khi Hwesio yang menjadi saudara kami yang amat baik. Terutama sekali mengingat akan adanya tali kekeluargaan saudara dengan mereka, maka kami mengharapkan bantuan saudara untuk menjadi perantara di antara kami dan mereka untuk menuntut keadilan."
Tiong Khi Hwesio mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.
Dalam usianya yang sudah tua ini, yang ingin dihabiskannya dalam kedamaian dan ketenteraman, ternyata masih ada saja urusan yang mengejarnya.
Namun, semua itu dianggapnya sudah sewajarnya, maka diapun tidak mengeluh dan tidak pula merasa penasaran atau kecewa.
"Omitohud...., kehendak Thian jadilah! Pinceng akan menemui keluarga itu dan membicarakan urusan ini."
Para pimpinan Lama merasa lega.
Kalau tidak ada Tiong Khi Hwesio yang menjadi perantara, mereka khawatir kalau-kalau akan terjadi permusuhan yang makin hebat.
Para pimpinan maklum bahwa banyak di antara pendeta Lama yang masih belum dapat menguasai dorongan perasaan dan kematian Ang I Lama itu dapat menimbulkan kemarahan dan dendam yang besar.
Beberapa hari kemudian, Tiong Khi Hwesio meninggalkan Pegunungan Himalaya, menuju ke timur dan dia berjalan seorang diri seperti orang melamun.
Dia melihat kenyataan yang amat aneh dalam kehidupan ini.
Seorang seperti Ang I Lama, bagaimana sampai tertimpa malapetaka seperti itu, dibunuh orang?
Pada hal, dia tahu benar bahwa Ang I Lama adalah seorang pendeta yang sejak puluhan tahun sudah mundur dari semua urusan dan keramaian dunia, tidak pernah bermusuhan dengan siapapun juga, bahkan tidak pernah meninggalkan tempat-tempat yang sunyi dan sepi.
Hidup dan mati adalah urusan Tuhan.
Manusia tidak menguasai kedua hal itu.
Manusia hanya wajib mengisi kehidupan dan tergantung dari dirinya sendirilah akan bagaimana jadinya dengan hidupnya.
Dia sendirilah yang akan mewarnai kehidupannya.
Namun segalanya bukan dia yang menentukan.
Betapapun pandainya seseorang, betapapun kuatnya, dia tidak mungkin dapat mempertahankan hidupnya kalau Tuhan sudah menghendaki kematiannya.
Namun, hal ini bukan berarti bahwa kita lalu begitu saja "menyerahkan nasib"
Kepada Tuhan.
Ini sama saja dengan mempersatukan Tuhan demi kepentingan diri sendiri, bahkan condong untuk memperbudak kekuasaan tertinggi di alam mayapada ini.
Tidak ada kekuasaane apapun di dunia ini yang akan mau menolong kita kalau kita sendiri tidak mau menolong diri sendiri, karena sesungguhnya di dalam diri kita terdapat pula kekuasaan itu, Melalui panca indriya kita, melalui pikiran kita, melalui seluruh urat syaraf di tubuh kita.
Semua kekuasaan itu sudah ada pada kita, maka kalau tidak kita pergunakan, tentu saja tidak ada lagi kekuasaan yang akan menolong diri kita.
"Percaya kepada Tuhan"
Atau yang lazimnya disebut iman bukan hanya permainan lidah belaka, seperti yang kita lihat dalam kehidupan kita ini.
Iman tanpa perbuatan hanya merupakan kemunafikan terselubung saja.
Sebaliknya, perbuatan tanpa iman, dalam arti kata kesadaran sepenuhnya, keyakinan sedalamnya akan kekuasaan tertinggi yang menentutan segala-galanya, maka perbuatan itu akan dapat memyeleweng tanpa kemudi, hanya didorong oleh naluri dan kepentingan diri sendiri, sama saja dengan perbuatan binatang-binatang yang tidak memiliki akal budi dan pikiran.
Kalau kita ingin berhasii, kita harus bertindak.
Kalau ingin selamat, harus menjaga diri.
Dan apa bila semua itu sudah kita lakukan, namun ternyata akhirnya gagal, maka kita harus mencari sebab kegagalan itu dalam diri sendiri!
Karena semua hal baik maupun kegagalan bersumber dari diri sendiri, bukan karena kesalahan orang lain, dan adalah licik untuk berkeluh kesah dan melontarkan semua ratapan kepada Tuhan, seolah-olah Tuhan yang bertanggung jawab atas kegagalan kita!
Kalau ada kegagalan, tentu ada kesalahan dalam tindakan kita, walaupun mungkin saja mata kita tidak melihat adanya kesalahan itu.
Kita selalu condong untuk membenarkan diri sendiri, kita merasa amat sukar untuk mengoreksi diri, untuk meneliti tindakan sendiri, untuk menemukan kesalahan dalam diri sendiri.
Cara yang ditempuh Tuhan kadang-kadang bahkan seringkali sukar untuk dimengerti oleh akal manusia yang amat terbatas ini.
Kita biasanya hanya menerima segala akibat penempuhan cara yang penuh rahasia itu, kalau menyenangkan kita bersyukur, kalau menyusahkan kita mengeluh, karena semua pendapat kita didasari untung-rugi bagi diri sendiri.
Padahal, belum tentu kalau sesuatu yang kita anggap buruk menimpa diri kita itu memang benar buruk.
Belum tentu!
Banyak sudah buktinya bahwa peristiwa buruk yang menimpa kita itu merupakan penghindaran yang luar biasa pada diri kita dari ancaman bahaya yang lebih hebat lagi!
Seperti sebuah operasi pada tubuh kita, nampaknya menyusahkan, padahal operasi itu penting sekali untuk melenyapkan penyakit yang jauh lebih ganas yang ada pada diri kita.
Karena itu, orang bijaksana selalu akan menerima segala macam peristiwa yang menimpa dirinya tanpa menilainya sebagai baik maupun buruk, selalu menerima apa adanya tanpa membanding-bandingkan, dengan penuh kesadaran bahwa segala yang terjadi sudah dikehendaki oleh Tuhan, maka sudah wajarlah!
Orang bijaksana akan selalu mengerti dan yakin bahwa "semua kehendak Tuhan jadilah!"
Sementara dia selalu waspada akan segala perbuatannya, lahir batin, termasuk jalan pikirannya, ucapannya, gerak-geriknya.
Tidak menginginkan atau menyesali yang sudah lalu, tidak mengharapkan atau menjauhi hal yang belum datang.
Bahkan sama sekali tidak memusingkan masa lalu dan masa depan, melainkan sepenuhnya hidup saat ini, sekarang ini, detik demi detik.
Semua hal inilah yang menjadi isi batin Tiong Khi Hwesio ketika dia berjalan seorang diri dengan tenangnya.
Kewaspadaannya membuat dia dapat melihat segala hal yang terjadi dalam dirinya, di luar dirinya dan apa yang terjadi dalam kehidupan manusa pada umumnya di dunia ini.
Dia melihat kepalsuan-kepalsuan menyelimuti hampir seluruh kehidupan manusia, kebaikan-kebaikan palsu karena kebaikan-kebaikan itu dilakukan orang sebagai cara untuk memperoleh sesuatu sebagai imbalan, kehormatan dipuja-puja, agama dipakai sebagai alat untuk mencapai kemenangan, dipakai untuk menutupi kebencian yang membakar batin terhadap golongan lain, dipakai untuk menangkat diri dan golongan sendiri ke tempat yang lebih tinggi dan bersih, dipakai untuk mencemooh mereka yang dianggap kotor dan lebih rendah.
Kesucian dipergunakan sebagai kebersihan pakaian yang membungkus diri, yang dianggap akan dapat menyucikan dan membersihkan tubuh yang sebenarnya kotor.
Peradaban menjadi hal yang paling tidak beradab, namun menang karena disahkan oleh umum.
Kesopanan hanya sebatas kulit, kesopanan terletak pada pangkat, pakaian, senyum dan ucapan belaka.
Tidak pernah lagi ada kesatuan antara pikiran, ucapan dan perbuatan.
Apa yang dipikirkan lain dari apa yang di ucapkan, dan apa yang diucapkan tidak cocok dengan apa yang diperbuat.
Kemunafikan dan kepalsuan di mana-mana.
Tidak ada lagi cinta kasih yang tulus ikhlas, tanpa memihak, tanpa memilih, yang ada hanyalah cinta nafsu, cinta yang didorong demi kepentingan, demi kesenangan diri pribadi.
Dia bahkan melihat betapa orang-orang melarikan diri ke guha-guha, ke gunung-gunung atau mengubur diri di dalam kelenteng atau kuil-kuil, menyiksa diri, akan tetapi sebagian besar di antara mereka itu melakukan semua itu hanya sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu yang mereka harap-harapkan, tentu saja sesuatu yang akan menyenangkan hati mereka, akan memberi kepuasan terhadap keinginan mereka.
Atau ada pula yang melakukan hal itu karena ingin melarikan diri dari kehidupan yang membuat mereka muak, berduka, kecewa dan sakit hati.
Dan tentu saja pelarian inipun merupakan cara untuk mencari sesuatu yang lebih menyenangkan!
Semua perbuatan manusia sudah menjadi palsu karena selalu menyembunyikan pamrih untuk kepentingan dan kesenangan diri pribadi.
"Ya Tuhan, apa akan jadinya dengan kita manusia ini?"
Akhirnya Tiong Khi Hwesio berbisik dalam hatinya.
"Mungkinkah kita menanggalkan semua kepalsuan dan kemunafikan itu, melenyapkan semua pamrih mencari kesenangan dan kepuasan diri pribadi itu, menanggalkan semuanya sehingga kita dapat menghadap Tuhan dalam keadaan telanjang, dalam keadaan kosong sama sekali? Mungkinkah kita menjadi kosong dan diam sehingga menjadi jernih, sehingga sinar-Mu dapat menembus dan memasuki batin. Sehingga kita mengenal cinta kasih yang suci murni?"
Angin bersilir menimbulkan suara bisik-bisik pada daun-daun di pohon.
Tiong Khi Hwesio menghentikan langkah, menengadah dan memandang daun-daun pohon yang bergoyang-goyang.
Seperti menari-nari sambil saling bergeseran menimbulkan suara bisik-bisik seperti berdendang dan diapun tersenyum.
Sim Houw dan Bi Lan telah tiba di daerah Tembok Besar.
Bi Lan telah bersikap biasa kembali, merupakan seorang gadis yang bagi Sim Houw sukar untuk dijajaki isi hatinya.
Kadang-kadang Sim Houw seperti melihat dengan jelas bahwa gadis itu membalas perasaan hatinya, membalas cintanya.
Ada kemesraan hangat dalam senyum dan pandang matanya, namun Sim Houw membantah sendiri kenyataan ini.
Tak mungkin, katanya.
Bagaimana mungkin seorang gadis remaja seperti Bi Lan, yang usianya tidak akan lebih dari delapan belas atau sembilan belas tahun, jatuh cinta kepada dia yang sudah menjelang tua?
Usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun!
Bi Lan tentu memandang dia sebagai seorang sahabat baik, bahkan mungkin sebagai seorang kakak yang melindunginya!
Kalau dia mempunyai pikiran yang bukan-bukan, bagaimana nanti pendapat Bi Lan?
Bukankah dia seakan-akan menjadi pagar makan tanaman, seorang pelindung yang hendak mengganggu gadis yang dilindunginya?
Tidak, dia tidak akan melakukan hal itu, sampai matipun tidak!
Kecuali kalau memang Bi Lan cinta padanya, akan tetapi, tak mungkin hal itu terjadi.
Kedukaan kadang-kadang melanda hati Sim Houw, akan tetapi hanya sebentar karena melihat ke-lincahan dan kegembirian Bi Lan yang jenaka, lenyaplah kedukaannya.
Bagaimanapun juga, melakukan perjalanan bersama gadis itu, pahit maupun manis mengalami bersama Bi Lan, merupakan kebahagiaan yang menghapus segala duka dan keprihatinan hatinya.
Dia tidak akan memikirkan hal lain, takkan memikirkan hal yang belum terjadi, apa akan jadinya kelak.
Yang penting, sekarang Bi Lan berada di sampingnya selalu dan itu sudah cukup baginya!
Musim salju lewat baru saja dan mereka memasuki bulan musim semi.
Biarpun pemandangan amat indah dan bunga-bunga sudah mulai ada yang berkembang, namun musim salju masih meninggalkan hawa dingin menyusup tulang.
Seringkali, walaupun sudah mengenakan pakaian tebal dan sudah mengerahkan sin-kang untuk melawan hawa dingin, tetap saja Bi Lan merengek kedinginan sehingga terpaksa Sim Houw yang merasa kasihan menghentikan perjalanan untuk membuat api unggun, biarpun pada tengah hari.
Karena itu perjalanan menjadi amat lambat dan baru setelah mereka tiba di daerah Tembok Besar, hawa tidak begitu dingin seperti ketika mereka melalui puncak-puncak pegunungan yang tinggi.
Berkali-kali Bi Lan berhenti untuk menikmati pemandangan yang amat ajaib.
Tembok Besar itu nampak seperti seekor naga, memanjang dari barat ke timur seperti tiada habisnya.
Nampak indah dan kokoh kuat.
Setelah hari menjadi malam baru mereka mencapai Tembok Besar dan hawa kembali menjadi amat dinginnya di malam hari itu.
Mereka berlindung di bawah tembok dan Sim Houw segera membuat api unggun, memanggang bekal makanan yang terdiri dari roti kering dan daging kering.
Setelah makan dan minum secara sederhana, mereka lalu duduk beristirahat di dekat api unggun.
"Begini sunyi...."
Kata Bi Lan dan tubuhnya agak menggigil, bukan karena kedinginan lagi karena api unggun itu bernyala dengan indahnya, melainkan merasa ngeri juga.
Ia berada di dalam alam yang begitu luasnya hanya bersama Sim Houw, seolah-olah mereka berdua sajalah manusia-manusia yang hidup di dunia ini.
Sunyi dan kadang-kadang terdengar suara-suara binatang yang aneh-aneh, yang belum pernah didengar sebelumnya.
Ketika terdengar bunyi lolong yang mengerikan dan panjang berkali-kali, seperti saling sahut dari sebelah kanan dan kiri, Bi Lan berbisik.
"Toako.... suara apakah itu?"
Sim Houw menatap wajah yang cantik kemerahan di bawah sinar api unggun itu sambil tersenyum.
"Itulah suara serigala-serigala yang berkeliaran di daerah ini, Lan-moi."
"Serigala? Aku pernah mendengar namanya akan tetapi belum pernah melihatnya."
"Seperti seekor anjing biasa, tidak berapa besar, namun dia adalah anjing liar yang buas. Lebih kuat dan tangkas dari pada anjing biasa karena sejak lahir berada di dalam alam bebas yang mempunyai hukum rimba, sudah biasa dengan perkelahian mati-matian, baik untuk membela diri maupun untuk mencari makan."
Bi Lan menarik napas lega.
"Suaranya demikian mengerikan, ter-nyata hanya seperti seekor anjing biasa, sama sekali tidak berbahaya."
Kembali Sim Houw tersenyum dan suaranya terdengar lembut, bukan untuk menakut-nakuti ketika dia memperingatkan.
"Moi-moi, biarpun serigala hanya merupakan seekor anjing biasa, namun dia jauh lebih berbahaya dari pada anjing. Selain kuat dan tangkas, yang paling berbahaya adalah karena dia licik dan cerdik, juga biasanya hanya menyerbu dengan gerombolan yang cukup banyak. Karena itu, binatang lain yang lebih besar dan kuat, takut menghadapi serigala. Bahkan harimaupun akan lari menjauhkan diri, takut dikeroyok."
Bi Lan terbelalak dan kembali ia menoleh ke kanan kiri dengan sikap ketakutan. Hal ini menggelikan hati Sim Houw dan diapun berkata.
"Lan-moi, kalau serigala-serigala itu mengenal-mu, tentu mereka yang akan menggigil ketakutan."
"Aku ngeri membayangkan kelicikan mereka. Mereka itu seperti segerembolan orang jahat yang curang dan licik, yang beraninya hanya melaku-kan pengeroyokan."
"Memang, dan di dunia kang-ouw, orang-orang macam itu memang ada yang disebut sebagai gerombolan serigala."
Tiba-tiba suara lolong serigala itu berubah menjadi suara menyalak-nyalak dan menggonggong yang riuh, seolah-olah ada banyak anjing yang marah-marah dan menggonggong secara berbareng, tidak seperti tadi, melolong saling saut.
Mendengar ini, Sim Houw mengerutkan alisnya.
Sebagai keturunan ahli-ahli pemburu binatang buas diapun dapat menduga apa artinya suara riuh rendah itu.
"Celaka, mereka telah menyerbu sesuatu. Mari kita lihat!"
Kata Sim Houw.
"Ih, untuk apa melihat? Paling-paling mereka itu mengeroyok seekor binatang buas yang lebih besar."
"Siapa tahu? Aku khawatir kalau-kalau mereka itu mengeroyok manusia yang perlu kita tolong. Lihat, bulan sudah muncul dan cuaca tidak begitu gelap. Kita dapat mencari ke arah suara hiruk-pikuk itu."
"Mana ada manusia di tempat seperti ini, toako?"
"Engkau tidak tahu. Biarpun jarang, kadang-kadang ada saja rombongan saudagar yang berlalu-lalang di sini, yaitu mereka yang membawa barang dagangan keluar dan masuk Tembok Besar. Marilah."
Mereka lalu menggendong buntalan pakaian mereka dan memadamkan api unggun.
Dengan Sim Houw berada di depan dan Bi Lan di belakangnya, mereka lalu berloncatan dengan hati-hati, menuju ke arah suara hiruk-pikuk yang terdengar di sebelah timur.
Mereka menyusuri sepanjang Tembok Besar karena suara ribut-ribut itu terdengar di sebelah dalam tembok, bukan di luar.
Akhirnya, setelah mendengar betapa suara gonggongan serigala itu kini bercampur dengan suara menguik dan ketakutan sehingga Sim Houw menduga tentu binatang-binatang itu mengeroyok seekor binatang lain yang kuat, mereka tiba di tempat terbuka, di kaki tembok.
Masih nampak ada api unggun kecil menyala di dekat kaki tembok, dan tak jauh dari situ, di atas rumput yang kuning dan baru bersemi setelah layu selama berbulan-bulan karena musim salju, nampak seorang laki-laki sedang dikepung dan dikeroyok oleh gerombolan anjing serigala yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh ekor!
Melihat betapa di sekitar tempat itu terdapat bangkai-bangkai serigala berserakan, dapat diketahui bahwa pengeroyok itu tadinya jauh lebih banyak lagi!
Bi Lan hendak meloncat untuk membantu, akan tetapi Sim Houw memegang lengannya.
"Sssttt.... lihat betapa gagahnya dia. Dia tidak membutuhkan bantuan...."
Bi Lan memandang dan iapun menjadi kagum.
Laki-laki itu bertubuh tinggi tegap, berdiri kokoh, kuat di atas tanah, lengan kanan ditekuk dengan tangan di bawah pinggang, jari-jari tangan terbuka dan terlentang, lengan kiri diangkat dengan tangan di de-pan dada, juga terbuka, kedua kaki terpentang lebar ke kanan kiri, sedikitpun tidak bergerak walaupun serigala-serigala itu mengepungnya sambil menyalak-nyalak dan meringis memperlihatkan taring-taring yang runcing dan memandang dengan mata yang merah beringas dan buas.
Tiba-tiba dua ekor serigala menubruk dari belakang sambil mengeluarkan suara gerengan dahsyat.
"Licik....!"
Bi Lan memaki lirih.
"Bukk! Desss!"
Laki-laki itu memutar tubuh seolah-olah di belakang kepalanya ada matanya yang melihat gerakan dua ekor binatang itu, kakinya menendang dan tangannya menyambar.
Robohlah dua ekor binatang itu, berkelojotan dan berkuik-kuik seperti anjing-anjing kena gebuk.
"Bagus....!"
Bi Lan memuji.
"Kau melihat gerakan itu? Dia murid Siauw-lim-pai atau setidaknya menguasai ilmu silat Siauw-lim-pai,"
Kata Sim Houw, juga kagum.
Laki-laki yang tak dapat dilihat jelas mukanya karena cuaca tidak cukup terang itu memang gagah sekali.
Sedikitpun dia tidak nampak gugup, tenang-tenang saja dia menanti serigala-serigala yang mengepungnya menyerang dari berbagai arah.
Namun, setiap kali ada serigala yang menerjangnya, tentu disambut pukulan tangan miring atau tendangan dan sekali pukul atau satu kali tendang saja sudah cukup untuk membuat seekor serigala roboh dan tidak mampu bangun kembali.
Serigala-serigala itu agaknya tidak menjadi jera, mereka ini menerjang dari empat penjuru.
Laki-laki itu nampak menggerakkan tubuh ke sana-sini sambil menendang dan menampar dan kini ada delapan ekor serigala yang terpelanting ke sana-sini.
Barulah sisa gerombolan itu menjadi jerih, mereka mengeluarkan suara seperti menangis dan mundur-mundur, lalu melarikan diri sambil melolong-lolong, seolah-olah merasa kecewa dan menangisi kesialan mereka malam itu.
Laki-laki itu tidak mengejar, sejenak berdiri tegak memandang ke sekeliling.
Tidak kurang dari limabelas ekor anjing serigala yang berserakan menjadi bangkai di sekitar tempat itu, ada pula yang masih berkelojotan lemah.
Laki-laki itu lalu melompat dan memanjat naik ke atas tembok sambil menatap bulan yang sudah naik agak tinggi di timur.
Sim Houw dan Bi Lan hanya memandang dengan kagum.
Betapa gagahnya laki-laki itu, seperti sebuah patung seorang pendekar yang gagah perkasa berdiri di tempat sunyi itu, diterangi sinar bulan.
Tiba-tiba laki-laki itu bicara dengan suara nyaring, kata-katanya jelas dan satu-satu, teratur seperti sajak.
Melihat kejam dan buasnya serigala mengganggu dan membunuh orang tak berdosa kenapa tidak turun tangan dan membasminya?
Penjajah lebih kejam dari pada serigala mencekik dan menindas rakyat jelata mengapa orang-orang gagah tidak bangkit dan mengusirnya?
Mendengar ucapan itu, Sim Houw dan Bi Lan merasa disindir.
Jangan-jangan laki-laki itu memang sengaja menyindir mereka!
Memang selama ini Sim Houw mendengar akan adanya orang-orang gagah, terutama dari Siauw-lim-pai, yang mengadakan gerakan, bangkit menentang pemerintah penjajah yang mereka namakan "berjuang untuk kemerdekaan rakyat".
Tentu saja pihak pemerintah menganggapnya sebagai pemberontakan-pemberontakan kecil dan semua gerakan itu ditindas oleh pasukan besar sehingga sampai demikian jauh, belum ada gerakan yang berhasil.
Mereka berdua, Sim Houw dan Bi Lan, tidak pernah mencampuri urusan itu.
Dan kalau baru-baru ini mereka membantu para pendekar untuk membasmi komplotan Sai-cu Lama yang menjadi kaki tangan pembesar lalim Hou Seng, Maka hal itu mereka lakukan tanpa ada hubungannya sama sekali dengan pemerintahan, melainkan semata-mata karena mereka memusuhi komplotan jahat itu.
Selagi Bi Lan hendak keluar dari tempat persembunyiannya, tiba-tiba Sim Houw memegang lengannya dan memberi tanda agar gadis itu tidak bergerak, kemudian dia menuding ke depan.
Bi Lan mengikuti arah yang ditunjuk dan kini iapun dapat melihat bergeraknya beberapa bayangan orang ke arah tembok.
Kemudian, nampak lima sosok tubuh yang bergerak dengan gesitnya, berloncatan ke atas tembok besar itu dan di tangan mereka nampak pula senjata tajam berkilauan tertimpa sinar bulan.
Akan tetapi bukan itu saja, masih nampak bayangan banyak orang di bawah tembok.
Sim Houw dan Bi Lan mengintai dan memandang dengan hati tertarik.
"Lie Tek San, engkau telah di kepung! Menyerahlah sebelum kami mempergunakan kekerasan!"
Seorang di antara lima penyerbu itu membentak.
Di bawah sinar bulan, nampak bahwa lima orang tua berpakaian sebagai perwira-perwira kerajaan, dan tahulah Sim Houw dan Bi Lan bahwa laki-laki itu telah dikepung oleh pasukan pemerintah, entah berapa jumlah mereka.
Dan Sim Houw terkejut juga mendengar disebutnya nama Lie Tek San itu.
Dia pernah mendengar bahwa Lie Tek San adalah seorang pendekar gagah perkasa yang melakukan gerakan menentang pemerintahan, menentang penjajah Bangsa Mancu.
Dia hanya mendengar bahwa Lie Tek San seorang pendekar dari daerah Hok-kian, seorang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang di antara mereka yang dapat lolos ketika pemerintah menyerbu dan membakar kuil Siauw-lim-si.
Biarpun dia tidak pernah mencampuri urusan perjuangan menentang pemerintah, namun, diam-diam hatinya sudah merasa kagum terhadap pendekar itu, maka kini dia memandang dengan hati tegang.
Laki-laki tinggi tegap yang disebut Lie Tek San itu kini menghadapi lima orang tadi, sikapnya tenang dan tetap gagah.
Sejenak dia memandang mereka, kemudian dia tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, kalian minta aku menyerah? Dengarlah, Lie Tek San telah bersumpah untuk menentang-kaum penjajah, melepaskan bangsaku dari cengkeraman kuku penjajah Mancu dan kalian minta aku menyerah? Ha-ha-ha!"
Pemimpin rombongan itu membentak.
"Lie Tek San, berbulan-bulan kami mencarimu. Engkau pemberontak hina, kami harus menangkapmu, hidup atau mati, dan menyeretmu untuk dihadapkan pada pengadilan yang akan menghukum seorang pemberontak hina! Sambil bertolak pinggang, Lie Tek San menjawab, suaranya lantang dan ini saja membuktikan bahwa dia memiliki tenaga khi-kang yang kuat.
"Mendengar suaramu, engkau tentu seorang Han. Akan tetapi engkau merendahkan diri menghamba pada penjajah Mancu! Apakah sudah tidak ada lagi darah Han mengalir di dalam tubuhmu? Apakah engkau tidak melihat betapa bangsa kita diinjak-injak selama berpuluh-puluh tahun oleh orang-orang Mancu? Ingat baik-baik. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, dengan jumlah yang amat banyak. Menurut sejarah, karena Bangsa Han dipimpin oleh orang-orang yang hanya mengejar kesenangan, dan karena perpecahan antara bangsa sendiri, maka bangsa kita yang besar sampai dapat ditundukkan dan dikuasai, dijajah oleh Bangsa Mancu, suku bangsa yang jumlahnya kecil itu, suku bangsa yang biadab dan terbelakang. Ratusan juta Bangsa Han yang mendiami tanah air yang amat luas dapat diperhamba oleh sekelompok orang Mancu sampai seratus tahun lebih! Mengapa bisa demikian? Tak lain karena adanya anjing-anjing penjilat macam engkau inilah yang sudah membantu penjajah Mancu untuk menginjak-injak bangsa sendiri. Tidak malukah engkau kepada nenek moyangmu dan anak cucumu kelak yang akan mengutuk dan memaki-maki namamu?"
Suara Lie Tek San penuh semangat dan kemarahan.
Sim Houw dan Bi Lan yang mencuri dengar, merasa betapa bulu tengkuknya meremang, merasa seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada mereka.
"Lie Tek San pemberontak hina! Engkau melawan pemerintah yang sah!"
Si kumis tebal yang menjadi pemimpin pasukan itu, membentak marah.
"Pemerintah penjajah Mancu kau bilang sah? Siapa yang mengesahkan? Anjing-anjing penjilat macam kau? Tak tahu malu!"
"Tangkap pemberontak ini!"
Si kumis tebal berteriak dan mereka berlima sudah mengurung orang tinggi besar yang gagah itu dengan golok besar ditangan.
Mereka mengurung dengan membentuk ngoeng-tin (barisan lima unsur), dengan rapi dan dengan gerakan ringan mereka mengepung dan siap menyerang, menutup semua jalan keluar.
Melihat gerakan dan barisan ini, Lie Tek San berseru nyaring, suaraya penuh teguran dan ejekan.
"Kiranya kalian ini yang terkenal dengan julukan Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Huang-ho), bukan? Kalian adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, orang-orang Han aseli yang telah merendahkan diri menjadi anjing-anjing penjilat para penjajah Mancu, menjijikkan sekali! Kalian hanya mengotorkan nama Bu-tong-pai yang besar!"
Lima orang itu memang benar Huang-ho Ngo-liong yang namanya terkenal sekali di sepanjang lembah Huang-ho dan mereka adalah murid-murid Bu-tong-pai yang berilmu tinggi.
Mendengar makian itu, mereka menjadi semakin marah.
"Lie Tek San manusia sombong, pemberontak hina! Bu tong-pai tidak ada hubungan apapun dengan kedudukan kami sebagai perwira, dan Bu-tong-pai juga bukan pemberontak macam Siauw-lim-pai!"
Si kumis tebal itu menggerakkan goloknya menyerang, diikuti oleh empat orang pembantunya yan semua masih terhitung sute (adik seperguruan) sendiri.
Laki-laki tinggi besar yang baru saja membasmi serigala-serigala yang menyerbunya dengan kedua tangan kosong, kini menghadapi lima orang itu dengan tangan kosong pula.
Dengan geseran-geseran kaki yang kokoh kuat dan cepat, tokoh Siauw-lim-pai ini mengelak dan membalas serangan dengan pukulan dan tendangan kaki.
Akan tetapi, lima orang itu dapat bergerak saling bantu dengan rapi sekali merupakan barisan lima orang yang saling melindungi dan saling memperkuat serangan.
Karena maklum bahwa lima orang pengeroyoknya ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan segerombolan serigala yang menyerang dengan buas tanpa perhitungan hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan, melainkan merupakan pengeroyok-pengeroyok yang lihai dan berbahaya, Lie Tek San lalu mainkan Ilmu Silat Kong-jiu-jip-pek-to (Dengan Tangan Kosong Memasuki Barisan Seratus Golok).
Tubuhnya bergerak dengan amat gesitnya, menyelinap di antara sambar sinar golok dan berusaha untuk masuk ke dalam barisan dan mematahkan lingkaran yang saling melindungi itu.
Namun, lima orang murid Bu-tong-pai itu ternyata lihai bukan main dan betapapun kuatnya Lie Tek berusaha mengacaukan rangkaian lima batang golok itu, usahanya selalu gagal dan barisan lima golok itu menjadi semakin kuat dan berbahaya saja.
Berapa kali hampir saja tubuh pendekar Siauw-lim-pai itu tercium golok kalau saja dia tidak cepat melempar diri dan beberapa kali dia harus bergulingan.
Akhirnya Lie Tek San meloncat sambil menggekkan tangan dan nampak sinar berkilauan ketika ia sudah mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang panjang.
Terdengar suara berdencingan nyaring ketika pedang itu bergerak menangkisi golok-golok yang datang bagaikan hujan.
Nampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan kini perkelahian menjadi semakin seru terjadi di atas tembok yang lebar itu.
Si kumis tebal mengeluarkan aba-aba dan kini pasukan yang tadinya hanya mengepung dan menonton, mulai memperketat kepungan, bahkan banyak yang sudah naik ke atas tembok dan menggunakan bermacam senjata mereka, ada tombak, golok atau pedang, untuk mengeroyok Lie Tek San.
Pendekar Siauw-lim-pai itu mengamuk dengan pedangnya.
Namun, jumlah pengeroyok terlalu banyak.
Pasukan itu terdiri lebih dari lima puluh orang, merupakan pasukan istimewa yang bertugas mengadakan pembersihan di perbatasan.
Akan tetapi yang membuat Lie Tek San terdesak adalah Ngo-heng-tin yang dilakukan oleh Huang-ho Ngo-liong itu.
Barisan lima orang ini ganas sekali, setelah kini dibantu oleh pasukan, gerakan mereka menjadi semakin tangkas dan kuat sehingga dua kali Lie Tek San tercium ujung golok pada pundak dan pahanya sehingga dua bagian tubuh itu terobek kulit dagingnya dan berdarah.
Akan tetapi, biarpun dia telah terluka, Lie Tek San masih mengamuk terus dan sedikitnya sudah ada sepuluh orang anggauta pasukan yang roboh oleh pedangnya.
Sementara itu, Sim Houw dan Bi Lan sejak ia nonton perkelahian itu dengan hati tegang.
Sejak tadi, mereka berdua mengadakan perundingan sambil mata mereka tak pernah meninggalkan perkelahian itu.
"Tidak semestinya kita mencampuri urusan perjuangan atau pemberontakan,"
Kata Sim Houw yang maklum betapa hati Bi Lan condong untuk membantu Lie Tek San.
"Sangat tidak enak kalau sampai dicap pemberontak dan menjadi orang buruan pemerintah. Kehidupan kita tidak akan leluasa lagi."
"Tapi.... betapa mungkin kita memeluk tangan saja melihat orang sedemikian gagahnya terbunuh? Lihat, dia mulai terdesak, terlalu banyak lawan dan terlalu banyak darah keluar dari luka pahanya itu."
Bi Lan berkata.
Sim Houw tak dapat menjawab.
Bagaimanapun juga, semua ucapan Lie Tek San yang penuh semangat tadi telah membakar hatinya dan menyentuh perasaan halusnya.
Dia dapat melihat kebenaran dalam ucapan itu.
Memang, Bangsa Han kini dijajah dan dipermainkan oleh orang-orang Mancu yang se-sungguhnya adalah bangsa biadab yang datang jauh dari utara, dari luar Tembok Besar.
Andaikata semua orang Han seperti Lie Tek San ini sikapnya dan bangkit, akan bisa apakah orang-orang Mancu itu?
Perbandingan rakyat mereka mungkin satu lawan seratus.
Sayangnya, banyak di antara orang Han yang mabok kesenangan dan kemuliaan, tidak segan-segan untuk membantu orang-orang Mancu, memperkuat pemerintah penjajah.
"Sim-ko, lihat.... dia terluka lagi. Apakah kita harus membiarkan seorang gagah terbunuh begitu saja oleh gerombolan anjing itu?"
Sim Houw melihat betapa tubuh Lie Tek San terhuyung karena sebatang tombak di tangan seorang perajurit telah mengenai punggungnya.
Dia masih mampu melindungi punggung itu dengan sin-kang, namun mata tombak itu sudah terlanjur melukainya dan masuk setengah jari dalamnya.
Dia membalik dan dengan tendangan kilat dia merobohkan perajurit itu, mencabut tombaknya dan melontarkan tombak itu ke depan, menyerang si kumis tebal.
"Tranggg....!"
Si kumis tebal menangkis dan tombak itu melesat ke samping, mengenai dada seorang perajurit sehingga perajurit itupun roboh berkelojotan!
"Mari kita bantu dia!"
Akhirnya Sim Houw mengambil keputusan sedangkan Bi Lan yang sejak tadi sudah merasa gatal tangan akan tetapi belum mau mencampuri perkelahian sebelum Sim Houw menyetujuinya, begitu mendengar ucapan ini langsung saja meloncat ke depan dan melayang naik ke atas Tembok Besar.
Karena ia maklum betapa lihainya Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Huang-ho) yang mengeroyok Lie Tek San, sambil meloncat Bi Lan sudah mencabut pedang Ban-tok-kiam dan iapun mengamuk.
Begitu pedangnya berkelebat, empat lima batang senjata para pengeroyok patah-patah dan kakinya yang terayun ke kanan kiri merobohkan empat lima orang pengeroyok.
Kemudian Bi Lan menyerbu lima orang pemimpin pasukan yang mulai mendesak Lie Tek San dengan hebatnya.
"Lan-moi, jangan bunuh orang!"
Sim Houw masih mengingatkan Bi Lan dan gadis inipun ingat bahwa ia memegang Ban-tok-kiam dan tidak boleh sembarangan membunuh orang.
Dan iapun naik ke situ bukan untuk membunuh orang.
Ia tidak pernah bermusuhan dengan anak buah pasukan itu ataupun lima orang perwira yang mengeroyok Lie Tek San.
Ia naik hanya untuk menyelamatkan pendekar Siauw-lim-pai yang gagah perkasa itu.
"Larikan dia, toako, biar aku yang menahan mereka!"
Teriaknya dan pedangnya diputar menyerang lima orang itu.
Huang-ho Ngo-liong terkejut sekali melihat munculnya seorang gadis yang memutar sebatang pedang yang mengandung hawa yang mengerikan, apa lagi melihat betapa dengan mudahnya gadis itu merobohkan beberapa orang perajurit.
Juga kemunculan gadis ini disusul munculnya seorang laki-laki yang dengan tangan kosong merampasi senjata para perajurit, dan merobohkan banyak perajurit hanya dengan dorongan tangan yang nampaknya tidak menyentuh lawan!
Mereka lalu bersatu menyambut gadis berpedang yang menyerang mereka.
Terdengar bunyi nyaring dan lima orang itu terkejut bukan main.
Dua batang golok di antara mereka patah menjadi dua, sedangkan tiga yang lain merasa betapa telapak tangan mereka panas seperti dibakar oleh gagang golok mereka sendiri!
Ketika mereka meloncat ke belakang, Sim Houw lalu meloncat ke depan, menyambar tangan Lie Tek San yang masih terhuyung dan agaknya nanar karena luka-lukanya.
"Lie-enghiong, mari kita pergi saja!"
Sim Houw menariknya dan membantunya meloncat turun dari tembok.
Lie Tek San maklum bahwa dalam keadaan luka-luka itu, melanjutkan perkelahian berarti bunuh diri.
Kini muncul dua orang yang menolongnya, maka diapun tidak banyak cakap, Lalu membiarkan dirinya ditarik dan diajak lari oleh laki-laki tampan yang tangannya lembut namun mengandung tenaga besar itu.Sementara itu, Bi Lan memutar pedangnya melin-dungi dari belakang.
Huang-ho Ngo-liong berteriak memberi aba-aba dan mereka sendiripun lalu melakukan pengejaran, namun sinar pedang Ban-tok-kiam membuat mereka bergidik dan gentar.
Sementara itu, Lie Tek San yang melihat betapa gadis itu memutar pedang yang mengandung sinar menyilaukan dan hawa yang mengerikan, terkejut dan kagum bukan main.
Akhirnya lima orang Huang-ho Ngo-liong tidak melanjutkan pengejarannya karena selain mereka sendiri jerih menghadapi pedang di tangan Bi Lan, juga anak buah mereka sudah merasa gentar dan hanya melakukan pengejaran dari jauh dengan ragu-ragu saja.
Sementara itu, malam telah tiba dan cuaca menjadi gelap.
"Sebaiknya kita berhenti dulu untuk mengobati luka-lukamu, Lie-enghiong,"
Kata Sim Houw ketika mereka melihat bahwa pasukan itu tidak mengejar lagi dan mereka sudah tiba agak jauh dari tempat itu di kaki sebuah bukit.
Mereka berhenti dan Sim Houw cepat mengeluarkan obat luka dan mengobati luka-luka di punggung, pundak dan paha orang gagah itu.
Biarpun luka-luka itu terasa nyeri dan perih, namun Lie Tek San sama sekali tidak mengeluh ketika Sim Houw merawatnya.
Di bawah sinar api unggun yang dibuat Bi Lan, mereka bercakap-cakap sambil mengobati luka-luka itu.
"Siapakah ji-wi dan bagaimana dapat mengenalku?"
Tanya Lie Tek San, memandang gadis dan orang muda itu bergantian dengan sinar mata kagum.
"Maafkan kami, terus terang saja kami sudah sejak engkau dikeroyok gerombolan serigala itu telah mengintaimu, Lie-enghiong. Kami sedang melakukan perjalanan dan kemalaman di sini, lalu kami mendengar suara serigala menyalak-nyalak. Kami datang dan melihat engkau dikeroyok. Kami tidak membantu karena engkau dapat membasmi serigala-serigala itu. Kemudian, kami melihat munculnya lima orang itu yang menyebut namamu. Namamu sebagai seorang pejuang tokoh Siauw-lim-pai telah sering kami dengar."
"Akan tetapi, ji-wi (kalian berdua) memiliki ilmu silat yang amat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kepandaianku, dan pedang pusaka nona ini.... hemm, sungguh luar biasa. Siapakah ji-wi?"
"Nama saya Sim Houw...."
"Ahhh....! Apakah pendekar yang baru muncul dengan julukan Suling Naga? Aih benar. aku dapat melihat suling di ikat pinggangmu. Sungguh mengagumkan sekali, Sim-taihiap yang masih muda sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw!"
Sim Houw tersenyum.
"Lie-enghiong terlalu memuji. Usiamu mungkin hanya beberapa tahun saja lebih tua dari pada usiaku, dan engkau sudah membuat nama besar dalam perjuangan."
"Dan siapakah nona yang gagah perkasa ini?"
Tanya Lie Tek San, girang bahwa dia dapat berkenalan dengan seorang pendekar yang mulai terkenal dengan julukan Suling Naga.
"Lie-enghiong, nama saya Can Bi Lan dan saya tidaklah begitu terkenal seperti Sim-toako,"
Kata Bi Lan tersenyum.
"Akan tetapi.... ilmu kepandaian nona hebat, dan terutama pedang itu. Apakah nama pedang pusakamu itu, nona Can?"
Karena yang dihadapinya adalah seorang pendekar dan pejuang ternama, Bi Lan tidak ragu-ragu untuk memberi keterangan yang sebenarnya.
"Pedang ini adalah Ban-tok-kiam...."
"Wahhh....! Pernah aku mendengar dari para suhu di kuil Siauw-lim-si bahwa Ban-tok-kiam adalah sebuah di antara pusaka dari Istana Gurun Pasir! Benarkah pusaka ini milik locianpwe Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir seperti yang pernah kudengar seperti dongeng dari para suhu di kuil?"
Tanya Lie Tek San girang. Bi Lan mengangguk.
"Pusaka ini milik isteri pendekar itu yang kebetulan sekali adalah suboku dan beliau meminjamkan pusaka ini kepadaku. Sekarang kami sedang menuju ke sana untuk mengembalikan pusaka ini."
Mendengar ini, kembali jagoan Siauw-lim-pai terkejut dan girang sekali.
Dia memandang wajah gadis itu penuh kagum, kemudian menatap wajah Sim Houw dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Ya Tuhan, sungguh tidak kusangka bahwa malam ini aku dapat bertemu dengan orang-orang muda yang sakti! Sungguh aku merasa amat gembira dan ter-hormat sekali!"
"Ah, aku hanya menjadi murid suhu dan subo dari Istana Gurun Pasir selama satu tahun saja,"
Kata Bi Lan merendah.
"Dan kami yang merasa amat kagum, girang dan terhormat telah dapat berkenalan dengan seorang pejuang perkasa. Nama Lie Tek San sudah menggetarkan kolong langit dan kami merasa kagum bukan main,"
Kata Sim Houw dengan suara sungguh-sung-guh. Tiba-tiba Lie Tek San memandang tajam dan bertanya.
"Benarkah Sim-taihiap kagum terhadap para pejuang?"
"Mengapa tidak? Bagi kami para pejuang adalah pendekar-pendekar yang mempergunakan ilmunya untuk kebaikan."
Orang gagah itu mengerutkan alisnya.
"Hanya sebegitu pengertian pejuang bagi Sim-taihiap?"
Tiba-tiba Sim Houw menarik tangan Lie Tek San, dan bersama Bi Lan dia sudah mengajak orang gagah itu melompat menjauhi api unggun, bahkan Bi Lan menggunakan kakinya menendang tumpukan kayu terbakar itu sehingga cerei-berai dan padam.
Pada saat mereka berlompatan itu, terdengar suara berdesing dan banyak sekali anak panah meluncur dan menyerang ke tempat di mana mereka tadi duduk.
Dan serangan anak panah ini disusul teriakan-teriakan banyak orang dan ternyata tempat itu telah dikepung oleh pasukan pemerintah.
"Tangkap pemberontak-pemberontak hina!"
Terdengar bentakan nyaring dan suara ini penuh wibawa.
Ketika tiga orang itu memandang, ternyata ada belasan orang perwira, dipimpin oleh seorang panglima brewokan tinggi besar yang tadi mengeluarkan suara bentakan itu, sedangkan di luar kepungan mereka terdapat pula puluhan orang pasukan yang bersenjata lengkap!
Obor-obor segera bernyala dipegang oleh banyak perajurit sehingga tempat yang terkepung itu kini menjadi terang dan nampak jelas wajah-wajah tiga orang yang dikepung itu, Dan kini Sim Houw dan Bi Lan juga dapat melihat wajah para perwira dan panglima itu, dan mereka mengenal pula bahwa yang memimpin pasukan ini adalah Coa-ciangkun, perwira tinggi yang pernah mereka jumpai ketika mereka bersama para pendekar lainnya membasmi komplotan Sai-cu Lama dan Bhok Gun!
Coa-ciangkun inilah yang dulu memimpin pasukan pemerintah yang akan membantu Bhok Gun dan kawan-kawannya, akan tetapi oleh pendekar Kao Cin Liong, bekas seorang panglima pemerintah, Coa-ciangkun dibuat tidak berdaya sehingga dia tidak berani campur tangan dalam bentrokan antara dua kelompok kang-ouw itu.
Dan kini, Coa ciangkun yang memimpin pasukan mengejar-ngejar Lie Tek San dan telah mengurung mereka bertiga!
Sementara itu, agaknya Coa-ciangkun juga mengenal Sim Houw dan Bi Lan, karena dia berkata dengan lantang.
"Ahhh, kiranya pemberontak Lie Tek San bersekutu dengan Pendekar Suling Naga dan gadis ini.... hemmm, bukankah engkau gadis yang dikatakan sumoi dari nona Ciong Siu Kwi, murid dari Sam Kwi, yang telah berkhianat itu? Bagus! Kiranya kini para pendekar dan juga murid datuk sesat telah menjadi kaki tangan pemberontak. Tangkap mereka, hidup atau mati!"
Bentak Coa-ciangkun dan pengepungan itu diperketat.
Sim Houw dan Bi Lan terkejut dan hendak membantah bahwa mereka bukanlah pemberontak.
Namun mereka tahu bahwa akan sia-sia saja mereka membantah, dan pula, perlu apa membantah terhadap perwira ini?
Kini nampak oleh mereka betapa para perwira dan perajurit Bangsa Han yang membantu kerajaan Mancu memang merupakan lawan yang cukup tangguh, juga perajurit yang mengepung tempat itu amat banyak.
Hebat sekali sepak terjang Lie Tek San.
Biarpun dia sudah terluka di tiga tempat dan baru saja diobati, kini dia mengamuk seperti harimau terluka.
Berkali-kali mulutnya mengeluarkan teriakan-teriakan dahsyat, disambung kata-kata makian.
"Basmi semua anjing penjilat Mancu!"
Terseret oleh sepak terjang Lie Tek San yang penuh semangat, Sim Houw dan Bi Lan juga mengamuk.
Akan tetapi dua orang ini masih selalu berjaga-jaga agar jangan sampai mereka membunuh lawan.
Biarpun lawan amat banyak, namun berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, terutama sekali Sim Houw, mereka mampu merobohkan lawan tanpa membunuh mereka, hanya melukai saja.
Dan para perajurit gentar sekali menghadapi sinar pedang Ban-tok-kiam dan sinar senjata pedang berbentuk suling Liong-siauw-kiam.
Kalau sinar pedang Ban-tok-kiam amat mengerikan karena mengandung hawa yang kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin, maka sinar pedang Suling Naga itupun membuat mereka gentar karena setiap kali bertemu dengan senjata lawan, seperti halnya Ban-tok kiam, tentu senjata lawan patah atau terlempar!
Melihat kehebatan tiga orang itu yang membuat kepungan anak buahnya kocar-kacir, bahkan para perajurit menjadi gentar dan tidak ada yang berani mendekat, Coa-ciangkun terkejut bukan main.
Kalau saja dia tahu bahwa Lie Tek San kini dibantu dua orang pendekar sakti itu, tentu tadi dia mengerahkan sedikitnya duaratus orang perajurit!
Kini, untuk minta bala bantuan sudah tidak keburu lagi, maka diapun tidak mendesak anak buahnya ketika belasan orang pembantunya sudah roboh terluka dan tiga orang yang dikepung itu kini melarikan diri ke dalam kegelapan malam.
Dia hanya mencatat dalam laporannya bahwa Sim Houw dan Can Bi Lan, dua nama yang sudah dikenalnya ketika terjadi bentrokan antara para pendekar dengan para pembantu Hou Seng dulu, kini telah menjadi pemberontak, bersekutu dengan Lie Tek San!
Sementara itu, Lie Tek San yang mengenal jalan mengajak dua orang pendekar yang telah menyelamatkannya itu untuk melarikan diri ke sebuah perkampungan besar yang berada di balik bukit.
Hari telah pagi ketika mereka tiba di perkampungan itu dan dari cara penduduk perkampungan itu berpakaian, tahulah Sim Houw bahwa itu adalah perkampungan suku Bangsa Hui!
Sebagian besar kaum pria suku Bangsa Hui ini mengenakan sorban putih pada kepalanya dan semua orang Hui, hanya sebagian kecil saja yang tidak beragama Islam.
Mereka adalah sekelompok suku bangsa yang bahasanya hanya sedikit berbeda dengan Bangsa Han, bahkan segalanya tidak berbeda dengan Bangsa Han, kecuali agama mereka.
Suku Bangsa Hui tersebar di daerah utara yang amat luas, sampai ke sudut-sudut barat utara Propinsi Sin-kiang dan sudut timur utara Propinsi Mongol dan Mancuria, Suku Bangsa Hui terkenal sebagai peternak-peternak, pejagal-pejagal dan terkenal pula pandai membuat masakan yang lezat.
Akan tetapi di samping itu, juga mereka terkenal sebagai pejuang-pejuang yang gagah dan gigih.
Di mana-mana nampak mereka itu bangkit menentang penjajah Mancu dan banyak pula yang membantu perjuangan Bangsa Han secara terbuka dalam usaha mengusir penjajah Mancu.
Kedatangan Lie Tek San yang menjadi sahabat para penduduk perkampungan Hui itu disambut meriah dan setelah diperkenalkan, juga Sim Houw dan Bi Lan disambut dengan penuh kehormatan.
Mereka bertiga dianggap sebagai tamu-tamu agung dan menerima hidangan yang serbaneka dan lezat dan terutama sekali daging domba.
Diam-diam Sim Houw dan Bi Lan kagum sekali melihat mereka.
Mereka adalah suku bangsa yang ramah, yang taat beragama, namun berjiwa patriotik dan gagah, walaupun dalam hanyak hal, Terutama sekali kebudayaan dan pendidikan, mereka agak terbelakang dan kehidupan mereka sebagian besar sebagai kelompuk nomad yang suka berpindah-pindah mencari daerah yang subur.
Mereka bertiga disambut oleh para pimpinan suku bangsa Hui dan Lie Tek San bercakap-cakap dengan mereka, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Sim Houw dan Bi Lan.
Yang dibicarakan adalah mengenai perjuangan dan dalam percakapan ini sepasang pendekar itu mendengar banyak sekali hal yang sebelumnya tak pernah mereka ketahui.
Tentang kegagah an para pejuang, tentang perjuangan mereka yang mulia.
Kalau tadinya Sim Houw dan Bi Lan menganggap para pejuang tiada bedanya dengan para pendekar, kini setelah mendengar keterangan Lie Tek San, mereka dapat melihat betapa terdapat perbedaan besar sekali.
"Perjuangan para pendekar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, dalam membela kaum lemah tertindas dan menentang kejahatan, hanya memiliki daerah yang amat sempit. Para pendekar hanya mengurus masalah perorangan yang tidak begitu besar artinya bagi bangsa dan tak mungkin para pendekar menyelesaikan masalah perorangan yang teramat banyak. Permusuhan dan dendam pribadi terjadi di mana-mana dan biarpun para pendekar turun tangan mempertahankan kebenaran dan keadilan namun kejahatan takkan pernah berakhir. Keadaan kacau-balau dan munculnya kejaha-tan itu terjadi karena keadaan, maka yang perlu dirubah adalah keadaan itu sendiri. Perjuangan para pendekar hanya seperti usaha mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri, akan tetapi sebaliknya usaha kami para pejuang adalah melenyapkan penyakitnya!"
Demikian antara lain Lie Tek San berkata penuh semangat, dan para pemimpin suku Bangsa Hui mengangguk-angguk mengerti dan mereka memandang kepada Lie Tek San penuh kagum.
Akan tetapi Sim Houw dan terutama sekali Bi Lan, merasa biagung.
"Lie-enghiong, apakah bedanya antara keduanya itu?"
Tanya Bi Lan penasaran karena mendengar betapa tindakan para pendekar tidak dihargai seperti tindakan para pejuang. Lie Tek San tersenyum.
"Besar sekali bedanya. Keadaan masyarakat bagaikan orang sakit yang tentu saja menderita nyeri karena penyakitnya. Kalau hanya rasa nyeri itu saja yang dilenyapkan, tanpa mengobati penyakitnya, maka rasa nyeri itu hanya akan lenyap untuk sementara saja dan akan muncul kembali. Sebaliknya, kalau penyakitnya yang diobati, begitu penyakitnya sembuh, otomatis rasa nyeri itupun akan lenyap. Bukankah demikian?"
"Apa hubungannya urusan penyakit dengan urusan sepak terjang para pendekar?"
Bi Lan mendesak karena masih belum mengerti.
"Can-lihiap (pendekar wanita Can), biarpun engkau memiliki ilmu kepandaian tinggi, agaknya belum begitu luas pengetahuanmu sehingga belum dapat menangkap apa yang kumaksudkan. Para pendekar bertindak menolong sesama manusia, berarti hanya mengurus masalah perorangan yang kecil saja dan selama hidupnya takkan pernah dia mampu menyelamatkan seluruh manusia dari pada tekanan kejahatan. Akan tetapi para pejuang bertindak menolong negara, menolong bangsa dan rakyat pada umumnya. Rakyat kita terjajah, tertindas dan hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan karena diperas dan ditindas oleh penjajah, dan dari keadaan inilah timbul banyak perbuatan yang menyeleweng dari pada kebenaran. Kami kaum pejuang bergerak untuk menyembuhkan penyakit ini, penyakit tertindas penjajah. Sekali penjajah lenyap dan rakyat kita hidup merdeka, keadaan menjadi adil dan makmur, maka kejahatanpun akan berkurang atau lenyap dengan sendirinya. Kalau para pendekar hanya menolong perorangan, maka para pejuang menolong seluruh rakyat dan bangsa, bahkan menolong pula anak cucu bangsa kita. Mengertikah engkau sekarang, lihiap?"
Bi Lan menjadi bengong.
Baru sekarang ini ia mendengar tentang persoalan yang demikian besarnya, menyangkut seluruh rakyat, menyangkut bangsa.
Ia hanya mengangguk, pada hal masih banyak hal yang meragukan hatinya karena belum dapat dimengertinya benar.
"Karena itu, banyak sekali para pendekar yang dianggap sebagai pendekar besar dan budiman, namun sebenarnya mereka itu kosong, bahkan banyak pula yang menyeleweng tanpa mereka sadari karena mereka sama sekali tidak memperhatikan tentang kesengsaraan rakyat seluruhnya, hanya memperhatikan kesengsaraan perorangan bahkan yang tidak ada artinya."
Sim Houw mengerutkan alisnya, merasa tidak setuju mendengar orang gagah ini mencela para pendekar besar yang budiman.
"Maaf, Lie-enghiong, setahuku, para locianpwe yang gagah perkasa selalu hidup melalui jalan kebenaran. Siapa yang tidak mendengar akan sepak terjang yang gagah dari keluarga Pulau Es misalnya, atau keluarga Istana Gurun Pasir, juga keluarga besar Siauw-lim-pai dan lain-lainnya?"
"Keluarga Pulau Es?"
Lie Tek San menarik napas panjang dan mengerutkan alisnya.
"Siapa yang tidak tahu bahwa mereka adalah keluarga para pendekar yang gagah perkasa dan sakti? Akan tetapi, semua orangpun tahu bahwa mereka itu condong untuk memihak penjajah Mancu! Bahkan di dalam darah mereka terdapat darah keluarga kerajaan Mancu! Mana bisa mereka (Lanjut ke
Jilid 34) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 dibandingkan dengan para pejuang yang siap setiap saat mengorbankan nyawa untuk negara dan bangsa?
Tidak, bagaimanapun juga, aku tidak dapat mengagumi keluarga Pulau Es!
Siapa tidak tahu betapa isteri pertama dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es adalah seorang puteri Mancu, bahkan seorang panglima terkenal yaitu Puteri Nirahai, dan puteri merekapun menjadi panglima terkenal yaitu Puteri Milana?
Dan isterinya yang ke dua, yaitu Nenek Lulu juga seorang berdarah Mancu!
Keturunan mereka memiliki darah Mancu dan betapapun gagahnya mereka itu, tentu mereka setia kepada Mancu dan membela penjajah yang menindas rakyat kita.
Bangsa Han dari suku-suku bangsa lainnya!"
Lie Tek San bicara penuh semangat.
Sim Houw dan Bi Lan mendengarkan dengan mata terbelalak.
Baru sekarang mereka mendengar ada orang gagah yang terang-terangan berani mencela keluarga Pulau Es!
"Bagaimana dengan keluarga Istana Gusan Pasir?"
Bi Lan bertanya, suaranya menantang, ingin melihat apakah pejuang itu berani mencela keluarga kedua gurunya.
"Hemmm, tidak banyak bedanya. Bukankah putera tunggal mereka, pendekar Kao Cin Liong, pernah menjadi seorang panglima kerajaan Mancu?"
"Akan tetapi sekarang dia sudah mengundurkan diri!"
Bi Lan membantah. Lie Tek San mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Maaf, lihiap, bukan maksudku untuk secara membabi-buta mencela para pendekar. Mereka adalah orang-orang sakti yang mengagumkan. Akan tetapi sayang bahwa mereka itu hanya tertarik oleh urusan pribadi. Kalau saja orang-orang sakti seperti mereka itu memikirkan nasib rakyat dan bersama-sama maju menentang penjajah, tentu pemerintah penjajah akan segera dapat dihancurkan dan rakyat kita terbebas dari pada cengkeramannya! Memang benar bahwa akhirnya pendekar Kao Cin Liong mengundurkan diri, akan tetapi kapankah keluarga itu menentang penjajah? Tidak pernah! Bahkan mereka itu, para pendekar yang gagah perkasa itu, baru-baru ini melakukan suatu kesalahan besar sekali ketika mereka membasmi kaki tangan pembesar Hou Seng!"
"Ahhh....!?!"
Sim Houw dan Bi Lan terkejut dan berbareng mereka mengeluarkan seruan kaget sambil menatap wajah pejuang itu.
Adapun para pimpinan suku Bangsa Hui sejak tadi hanya mendengarkan saja, kadang-kadang mengangguk-angguk membenarkan ucapan Lie Tek San.
"Kebetulan sekali kami berdua juga membantu para pendekar membasmi kaki tangan Hou Seng yang amat jahat itu! Kenapa perbuatan itu dianggap suatu kesalahan besar?"
Kembali pejuang itu menarik napas panjang.
Mencela para pendekar bukan merupakan tugas yang menyenangkan, akan tetapi harus dia lakukan untuk membangkitkan semangat mereka yang dianggapnya melempem.
"Dipandang secara umum, memang perbuatan menentang dan membasmi kaki tangan Hou Seng itu benar dan gagah, akan tetapi kalau dikaitkan dengan kepentingan perjuangan rakyat yang hendak membebaskan diri dari cengkeraman penjajah, maka perbuatan para pendekar itu sungguh merupakan suatu kesalahan besar yang amat merugikan perjuangan."
"Eh, bagaimana mungkin bisa demikian?"
Bi Lan penasaran.
"Lihiap, kami sudah menyelidiki keadaan Hou Seng. Dia seorang pembesar yang korup dan ber-ambisi, dia memelihara jagoan-jagoan yang terdiri dari datuk-datuk sesat yang lihai. Dia meryuruh jagoan-jagoannya untuk menculik dan membunuh para pembesar yang menentangnya. Semua perbuatannya itu sungguh amat menguntungkan perjuangan rakyat. Bukankah dengan demikian, kedudukan kerajaan Mancu menjadi semakin lemah? Hou Seng merupakan penyakit yang mengge-rogoti dari dalam, melemahkan pemerintah penjajah. Biarpun aku pribadi amat membencinya, namun perbuatannya itu justeru menguntungkan kita, merusak pihak lawan. Seyogianya dia itu dibiarkan saja, biar dia merusak kedudukan kerajaan penjajah, biar terjadi saling hantam di kalangan mereka sendiri. Akan tetapi, para pendekar muncul, membasmi kaki tangan Hou Seng, dan keadaan di istana kerajaan menjadi aman dan bersih kembali, yang berarti memperkuat kerajaan dan kami para pejuang yang rugi. Di dalam diri Hou Seng kami seolah menemukan pembantu yang amat berharga. Mengertikah sekarang ji-wi yang gagah?"
Sim Houw dan Bi Lan saling pandang dan memang mereka mulai mengerti.
Kiranya perjuangan membutuhkan pemikiran yang mendalam.
Perjuangan harus mengesampingkan perasaan dan urusan pribadi dan semua harus ditujukan demi kepentingan perjuangan rakyat itu sendiri.
Betapa besar dan mulianya!
Memang jauh lebih besar dari pada sikap dan tindakan para pendekar yang hanya memikirkan nasib orang yang dihadapinya dan ditolongnya.
Betapa kecil bantuan kepada perorangan ini kalau dibandingkan degan perjuangan yang mengingat akan nasib rakyat jelata!
Akan tetapi, Sim Houw adalah seorang pendekar yang luas pengetahuannya dan dalam pemikirannya sudah banyak pula dia membaca dan merenungkan permasalahan dunia dan kehidupan manusia pada umumya, maka menghadapi perbandingan antara pejuang dan pendekar, dia melihat perbedaan lain yang membuat para pendekar nampak lebih unggul baginya.
Diapun melihat betapa Bi Lan amat tertarik dan dia tidak akan merasa heran kalau gadis yang masih muda itu lebih mudah terseret dan terjun dalam perjuangan dan untuk menyadarkan gadis itu, dia harus mengemukakan pendapatnya sekarang juga.
"Akan tetapi maafkan saya, Lie-enghiong. Saya juga melihat kesalahan besar sekali dilakukan orang dalam perjuangan, yang membuat tindakan pejuang-pejuang menjadi tidak murni lagi."
Lie Tek San memandang tajam, akan tetapi mulutnya tersenyum tanda kelapangan hatinya.
"Tidak ada gading yang tidak retak, tidak ada manusia tanpa cacat, Sim-taihiap. Akan tetapi apakah kesalahan itu?"
"Kalau sebagian besar perbuatan para pendekar menentang kejahatan dan menolong orang-orang lemah tertindas timbul dari dorongan hati pada saat dia melihat ketidak-adilan itu, pada saat itu perdekar bertindak memberantas kejahatan tanpa pamrih, sebaliknya tindakan para pejuang merupakan tindakan yang telah direncanakan dan diatur untuk jangka waktu yang lama dan panjang. Dan biasanya, di dalam tindakan berencana ini, terdapat pamrih untuk diri sendiri walaupun nampaknya mereka berjuang untuk membela rakyat. Bukankah perjuangan itu bermaksud mengalahkan pemerintah penjajah yang lama dan bukankah perjuangan itu bercita-cita untuk menang dan kalau sudah menang, para pejuang tentu saja memperoleh kekuasaan dan kedudukan? Nah biasanya, walaupun ketika pejuang-pejuang itu masih melakukan perjuangan cita-cita mereka murni dan ditujukan untuk membebaskan rakyat jelata dari penindasan, akan tetapi kalau sudah memperoleh kemenangan dan para pejuang itu memperoleh kedudukan dan kekuasaan, mereka menjadi lupa diri. Mereka akan mabok kemenangan, mabok kekuasaan dan hanya menjejali diri sendiri dengan kesenangan yang mereka anggap sebagai hasil dan upah dari perjuangan mereka."
Para pimpinan suku Bangsa Hui atu saling pandang, dan Lie Tek San mengangguk-angguk dan menarik napas panjang, wajahnya nampak berduka dan khawatir.
"Ah, engkau telah membuka dan menelanjangi kekotoran manusia dalam perjuangan. Sim taihiap! Akan tetapi tak dapat disangkal akan kebenaran ucapanmu itu. Memang terdapat perbedaan antara kemenangan pendekar dan kemenangan pejuang. Kemenangan pendekar terhadap musuhnya tidak mendatangkan suatu keuntungan maka tidak akan menyelewengkan hati pendekar itu, dan sebaliknya kemenangan pejuang memang dapat mendatangkan pahala besar yang mudah menyeleweng-kan hati manusia yang lemah. Akan tetapi, kiranya tidak semua manusia seperti itu. Dan kita akan menjadi manusia yang berbahagia kalau teringat akan kelemahan itu sehingga penyakit itu tidak akan menghinggapi batin kita. Mudah-mudahan saja kita tidak akan seperti mereka yang kelak dimabok oleh kemenangan dan kekuasaan."
Setelah bercakap-cakap dan berjanji kepada Lie Tek San bahwa mereka akan berpikir tentang perjuangan setelah menyelesaikan urusan pribadi mereka, Sim Houw dan Bi Lan meninggalkan perkampungan suku Bangsa Hui dan mendapat petunjuk dari mereka tentang letak Istana Gurun Pasir yang mereka cari.
Istana Gurun Pasir terletak di tengah-tengah gurun pasir, di suatu daerah yang aneh karena di tengah-tengah gurun pasir yang luas itu terdapat sebidang tanah yang subur!
Istana tua itu terpencil jauh dari pedusunan dan biarpun mereka lihai, Sim Houw dan Bi Lan tentu akan mengalami kesukaran menemukan tempat ini sungguhpun Bi Lan pernah mendapat keterangan yang cukup jelas dari subonya, kalau saja mereka tidak memperoleh petunjuk dari suku Bangsa Hui.
Suami isteri sakti yang tinggal di istana tua dan kuno itu kini sudah menjadi seorang kakek dan nenek yang usianya sudah lanjut.
Kakek Kao Kok Cu yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan sebagai Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, kini telah menjadi seorang kakek yang usianya hampir delapan puluh tahun.
Walaupun dia masih nampak gagah dan sehat, namun dia sudah jarang sekali keluar dari istana tua itu, kecuali untuk keluar ke kebun merawat tanaman sayuran sambil menikmati hawa segar dan sinar matahari yang menyehatkan.
Isterinya yang dulu merupakan seorang pendekar wanita yang lihai, kinipun sudah menjadi seorang nenek berusia kurang lebih tujuh puluh lima tahun.
Mereka berdua hidup di tempat terpencil dan sunyi itu.
Masa gemilang kehidupan mereka telah lalu.
Dulu mereka adalah sepasang suami isteri yang gagah perkasa dan disegani kawan ditakuti lawan, Akan tetapi kini mereka hanya sepasang kakek dan nenek yang sudah menjauhkan diri dari keramaian dunia, makin hari semakin lemah dan tua dimakan usia dari dalam.
Yang menemani mereka hanyalah sepasang suami isteri berusia empat puluh tahun lebih, dari suku bangsa Mongol peranakan Han, yang menjadi pelayan dan membantu pekerjaan di kebun dan di rumah.
Tanah di daerah itu memang subur, bahkan terdapat sumber airnya sehingga kehidupan empat orang ini cukup makan dari tumbuh-tumbuhan yang mereka tanam sendiri.
Untuk keperluan barang lain, mereka dapat memperolehnya dari pedagang-peda-gang keliling di balik bukit, atau bertukar barang dengan penghuni dusun di balik bukit.
Agaknya suami isteri tua renta itu memang hanya menanti saat panggilan Tuhan saja dan mereka memilih tempat sunyi ini dari pada kota yang ramai.
Berkali-kali putera tunggal mereka, Kao Cin Liong minta agar ayah dan ibu ini suka ikut tinggal bersama keluarganya di kota, namun kakek dan nenek itu tidak mau, sudah terlanjur betah tinggal di tempat yang sunyi itu.
Biarpun keduanya sudah tua, untuk menjaga kesehatan, mereka tidak pernah lupa untuk melatih otot-otot tubuh mereka di samping duduk bersamadhi untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan lain di alam baka.
Ketika mereka tiba di puncak bukit dan melihat istana tua itu di kejauhan, di tengah-tengah gurun pasir, mereka memandang kagum bukan main.
Seperti dalam dongeng saja.
Sebuah istana yang dari jauh nampak indah sekali, berdiri megah di tengah-tengah padang pasir yang luas dan mati.
Dan di sekitar istana itu nampak nyata tumbuh-tumbuhan yang segar dan kehijauan.
Benar-benar mentakjubkan.
"Mari kita cepat ke sana!"
Bi Lan berteriak girang, membayangkan bahwa ia akan segera bertemu dengan kakek dan nenek yang telah menjadi guru-gurunya dan yang telah menyelamatkannya dari maut ketika ia keracunan oleh ilmu-ilmu yang sengaja diajarkan secara keliru dan menyeleweng oleh Bi-kwi, sucinya.
Sim Houw tersenyum, maklum akan ketegangan dan kegembiraan hati gadis itu.
Dia sendiri merasa tegang, akan tetapi bukan gembira melainkan khawatir.
Istana kuno itu demikian megah dan nama besar suami isteri sakti itu membuat dia merasa seolah-olah kedatangannya akan merupakan gangguan terhadap kehidupan mereka yang tenteram seperti kehidupan sepasang dewa.
Dia khawatir kalau-kalau Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya akan merasa terganggu oleh kunjungannya dan dia merasa terasing.
Namun dia menghibur diri sendiri.
Bagaimanapun juga, kunjungannya ini hanya untuk mengantar Bi Lan, dan bukankah Bi Lan merupakan murid dari mereka?
Saking gembiranya dan besar keinginannya untuk segera dapat bertemu dengan suhu dan subonya.
Bi Lan mengerahkan tenaganya dan berlari cepat menuju ke istana itu, menuruni bukit.
Kedua kakinya bergerak cepat ketika berlari di atas pasir dan Sim Houw mengikutinya sambil tersenyum, terbawa oleh kegembiraan Bi Lan.
Sebentar saja Bi Lan sudah tiba di depan istana, di dalam pekarangan depan yang penuh dengan tanaman bunga beraneka ragam dan warna.
Seorang laki-laki berbangsa Mongol dengan wajah dingin sedang mencangkul, membuangi rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar bunga-bunga itu.
Laki-laki itu adalah pelayan di istana itu dan dia sama sekali tidak menengok ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki pekarangan.
Wajahnya tetap dingin seperti arca, sehingga Bi Lan yang tadinya ingin menegurnya dan bertanya, tidak jadi membuka mulut, hanya memandang dengan penuh harapan ke arah pintu depan istana itu yang nampak terbuka sebagian.
Sinar matanya berseri gembira ketika yang diharapkannya muncul.
Seorang kakek dan seorang nenek, keduanya sudah sangat tua akan tetapi wajah mereka masih nampak segar dan tubuh mereka masih lurus, muncul dari dalam pintu, melangkah ke luar dan berdiri di serambi.
"Suhu! Subo....!"
Bi Lan berseru dan cepat ia lari naik ke atas serambi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek dan nenek itu.
Sim Houw melihat betapa kakek dan nenek itu berdiri tegak dengan sikap agung dan berwibawa, maka dia pun cepat mengikuti Bi Lan dan menjatuhkan diri berlutut pula di depan mereka.
"Suhu dan subo, teecu datang berkunjung,"
Kata Bi Lan dengan suara mengandung kegembiraan dan keharuan.
"Suhu dan subo selama ini dalam sehat saja, bukan?"
Kakek dan nenek itu diam saja dan sampai beberapa lamanya mereka hanya mengamati Bi Lan dan Sim Houw dengan penuh perhatian.
Akhirnya terdengar nenek Wan Ceng berkata, suaranya lembut akan tetapi dingin dan tidak terkandung kegembiraan seperti yang diharapkan Bi Lan.
"Bi Lan, keluarkan Ban-tok-kiam dan berikan kepadaku."
Diam-diam Bi Lan terkejut bukan main.
Dahulu, biasanya sikap subonya terhadap dirinya amat ramah dan manis, bahkan terkandung rasa sayang di dalam kata-katanya kalau bicara kepadanya.
Ia masih ingat benar.
Akan tetapi kenapa kini di dalam suara subonya terkandung nada yang dingin dan seperti orang marah.
Akan tetapi ia tidak membantah.
"Baik, subo."
Dikeluarkannya Ban-tok-kiam dari dalam buntalan pakaiannya dan dengan kedua tangan, diserahkannya pedang pusaka itu kepada subonya.
Ketika melakukan ini, ia menengadah dan memandang wajah subonya penuh perhatian.
Kembali ia terkejut.
Wajah subonya itu kelihatan tidak senang!
Juga wajah Suhunya yang biasanya penuh kesabaran dan kecerahan agak muram.
Tanpa memandang lagi kepada muridnya, nenek Wan Ceng mencabut Ban-tok-kiam dari sarungnya, lalu mendekatkan pedang itu kepada hidungnya.
Ia mengerutkan alisnya dan berkata dengan galak.
"Hemm, Ban-tok-kiam ternoda darah yang masih baru! Can Bi Lan, darah siapa yang menodai Ban-tok-kiam dan kenapa engkau mempergunakannya untuk membunuh orang?"
Gadis itu terkejut dan cepat memberi hormat.
"Harap subo sudi mengampuni teecu. Sesungguhnya, belum lama ini teecu mempergunakan Ban-tok-kiam dalam perkelahian. Teecu terpaksa mempergunakannya karena lawan berjumlah banyak dan cukup kuat."
"Hemm, masih ingatkah engkau apa pesanku ketika meminjamkan Ban-tok-kiam kepadamu?"
Kembali suara nenek itu terdengar melengking tinggi tanda kemarahan hatinya.
"Teecu masih ingat, subo,"
Kata Bi Lan, jantungnya berdebar tegang dan merasa tidak enak, tidak mengira bahwa kunjungannya diterima dengan kemarahan oleh suhu dan subonya, tidak seperti yang dibayangkannya semula, yaitu melihat suhu dan subonya menerimanya dengan gembira.
"Subo memesan agar pedang pusaka itu teecu pergunakan untuk menjaga diri dan hanya mempergunakan kalau keadaan terdesak dan teecu berada dalam bahaya."
"Hemm, bagus kalau kau masih ingat. Apakah ketika engkau mempergunakan Ban-tok-kiam baru-baru ini, engkau juga dalam ancaman bahaya?"
Ditanya demikian, Bi Lan menjadi bingung. Sejenak ia melirik ke arah Sim Houw yang juga menun-dukkan muka dengan hati merasa tidak enak.
"Maaf, subo. Teecu tidak terancam bahaya, akan tetapi ada orang lain yang terancam bahaya dan teecu harus menolongnya. Dia dikepung banyak anak buah pasukan yang dipimpin oleh perwira-perwira yang lihai. Akan tetapi teecu berani bersumpah bahwa Ban-tok-kiam tidak teecu pergunakan untuk membunuh, hanya melukai ringan saja...."
"Cukup."
Nenek Wan Ceng membentak.
"Biar hanya luka sedikit, kalau terkena Ban-tok-kiam, kau kira akan dapat hidup mereka itu tanpa kau beri obat?"
Dengan penuh semangat karena mengharapkan agar sekali ini ia dibenarkan kedua gurunya, Bi Lan berkata.
"Dia adalah seorang pendekar perkasa, seorang pejuang yang gagah berani bernama Lie Tek San. Teecu melihat dia dikeroyok di dekat Tembok Besar, maka teecu turun tangan membantunya."
"Lie Tek San pemberontak dari Siauw-lim-pai itu?"
Tanya Kao Kok Cu.
"Benar, suhu!"
Kata Bi Lan gembira karena gurunya ternyata mengenal nama besar pejuang itu.
"Hemm, kiranya bocah ini malah sudah membantu pemberontak!"
Tiba-tiba nenek Wan Ceng berseru marah, mengejutkan Bi Lan dan Sim Houw.
"Dan orang muda ini tentulah yang bernama Sim Houw dan berjuluk Pendekar Suling Naga. Benarkah?"
Sim Houw terkejut dan cepat memberi hormat, lalu memandang wajah nenek itu.
"Benar sekali, locianpwe, saya bernama Sim Houw...."
"Dan berjuluk Pendekar Suling Naga?"
Nenek itu menyambung.
"Hal itu adalah karena saya suka mempergunakan senjata Pedang Suling Naga, maka orang-orang menyebut saya demikian."
Sim Houw mengaku.
"Bi Lan, semenjak kita saling berpisah, kami banyak mendengar hal-hal buruk tentang dirimu! Dan sekarang aku melihat kenyataan sendiri bahwa bukan saja engkau telah meninggalkan kesusilaan, akan tetapi juga engkau telah menggunakan Ban-tok-kiam unntuk membunuh banyak orang, dan engkau bahkan telah menjadi seorang pemberontak."
"Subo....!"
Bi Lan berseru kaget.
"Diam!"
Bentak nenek Wan Ceng, kini tidak lagi menyembunyikan kemarahannya.
"Kami dahulu telah keliru sangka terhadap dirimu, sehingga kami bersusah payah menyembuhkan dan mendidikmu. Kiranya engkau tetap menjadi murid yang baik dari Sam Kwi, tindakanmu memang seperti golongan hitam. Engkau membantu sucimu yang jahat itu, bahkan membantunya berhadapan dengan keluarga Pulau Es yang gagah perkasa! Sungguh kami merasa ikut malu bukan main. Nah, katakan, tidak benarkah engkau dan Pendekar Suling Naga ini membantu sucimu yang berjuluk Bi-kwi itu melakukan kejahatan dan melawan keluarga Pulau Es? Jawab!"
"Teecu memang membantu suci Bi-kwi, subo, akan tetapi.... teecu membantunya hanya karena suci kini sudah sadar dan menjadi orang baik. Teecu bukan membantu ia melakukan kejahatan, melainkan melindunginya dari ancaman. Teecu sama sekali tidak menggunakan Ban-tok-kiam untuk kejahatan itu...."
"Hemmm, karena keteledoranmu menjaga Ban-tok-kiam, pedang pusaka ini terjatuh ke tangan Sai-cu Lama sehingga Teng Siang In menjadi korban Ban-tok-kiam! Bi Lan, sungguh aku kecewa dan menyesal sekali telah mengambilmu sebagai murid. Maka, sekarang engkau sudah datang dan membawa Ban-tok-kiam yang sudah ternoda, aku akan mencabut kepandaian yang pernah kuberikan kepadamu. Bersiaplah engkau!"
Nenek itu lalu menggerakkan tangannya untuk menotok ke arah pundak Bi Lan.
Totokan itu mengarah jalan darah pusat dekat leher dan kalau terkena tentu gadis itu akan menjadi lumpuh dan kehilangan semua tenaga dalamnya, bahkan mungkin membahayakan keselamatan nyawanya.
"Dukkk....!"
Totokan nenek itu, yang tidak berani dielakkan atau ditangkis oleh Bi Lan, kini tertangkis oleh tangan Sim Houw.
Dia tadi terkejut sekali dan melupakan segalanya, menangkis totokan maut itu untuk melindungi Bi Lan.
Nenek Wan Ceng melangkah mundur, matanya mencorong ditujukan kepada Sim Houw yang masih berlutut.
Tangkisan tadi menyadarkan nenek Wan Ceng betapa kuat tenaga sin-kang yang dipergunakan pemuda itu untuk menangkisnya tadi.
Ia menjadi marah, merasa ditantang.
"Sim Houw, Pendekar Suling Naga, berani engkau mencampuri urusan antara aku dan muridku sendiri. Apakah engkau menantangku?"
"Maaf, locianpwe, saya masih belum begitu gila untuk berani menantang locianpwe. Akan tetapi, kalau locianpwe berkeras untuk menghukumnya, biar-lah saya saja yang mewakilinya. Hukumlah saya, locianpwe, karena selama ini ia hanya mengikuti jejak saya. Sayalah yang bertanggung jawab, sayalah yang bersalah dan locianpwe boleh menghukum atau membunuh saya, akan tetapi mohon bebaskan Lan-moi."
Sikap dan suara Sim Houw demikian tegas dan mantap sehingga nenek itu terbelalak tidak percaya.
"Engkau menyerahkan diri untuk menggantikan Bi Lan, dan engkau tidak akan melawan?"
Tanyanya heran.
"Saya bersumpah tidak akan melawan. Hukumlah saya sebagai pengganti adik Bi Lan."
"Hemm, kalau begitu agaknya memang benar engkau yang menjadi biang keladinya sehingga murid kami menjadi jahat dan menyeleweng. Nah, terimalah hukumannya!"
Akan tetapi sebelum nenek Wan Ceng melancarkan pukulan yang lebih hebat dari pada tadi, tangannya telah disentuh suaminya.
"Perlahan dulu, aku ingin bicara dengannya,"
Kata kakek Kao Kok Cu yang lengan kirinya buntung itu.
Wan Ceng memandang heran.
Biasanya, suaminya sudah tidak mau perduli lagi dengan semua urusan dan kalau sekarang dia mencampuri, itu berarti bahwa suaminya sebenarnya merasa sayang kepada Bi Lan, murid mereka yang hanya setahun berguru kepada mereka itu.
Maka ia pun melangkah mundur, membiarkan suaminya yang agaknya akan menghadapi sendiri dua orang muda itu.
Kao Kok Cu melangkah perlahan ke depan.
"Orang muda, bangkitlah, aku ingin bicara denganmu,"
Katanya lirih, namun suaranya penuh wibawa yang memaksa Sim Houw untuk bangkit dan dengan sopan dia mengangkat muka memandang wajah kakek itu.
Dia merasa kagum dan tunduk melihat seorang kakek yang biarpun lengan kirinya buntung dan pakaiannya sederhana, namun penuh dengan wibawa yang amat kuat ini.
Wajah kakek itu nampak bersih dan terang, sepasang matanya seperti mata naga saja, lembut namun mencorong penuh kekuatan.
"Pendekar Suling Naga Sim Houw, apamukah Can Bi Lan ini?"
Ditanya demikian, Sim Houw men-jawab dengan sopan.
"Bukan apa-apa, locianpwe, hanya teman seperjalanan. Saya mengantarnya untuk mencari Istana Gurun Pasir karena ia hendak mengembalikan Ban-tok-kiam."
"Kalau bukan apa-apa, mengapa engkau hendak berkorban diri, rela dihukum bahkan dibunuh untuk menyelamatkannya?"
Wajah Sim Houw menjadi merah dan beberapa kali dia melirik ke arah Bi Lan yang masih menundukkan mukanya.
Menghadapi seorang tokoh seperti Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir ini, tentu saja dia harus berterus terang.
Berbohongpun tidak akan ada gunanya, dan dia berpendapat bahwa sekaranglah saatnya dia berterus terang kepada Bi Lan pula, sebelum terlambat, yaitu sebelum seorang di antara mereka atau keduanya tewas di tangan suami isteri yang sakti ini.
"Locianpwe, terus terang saja, saya rela berkorban nyawa untuk melindunginya karena saya amat mencintanya."
Mendengar ucapan itu, kakek dan nenek itu saling pandang, dan ketika mereka memandang kepada Bi Lan, mereka melihat betapa gadis itu makin menunduk, akan tetapi tetap saja ada dua butir air mata mengalir turun di sepanjang pipi Bi Lan.
Gadis itu merasa terharu bukan main mendengarkan pengakuan Sim Houw.
Dia memang sudah dibisiki sucinya, Bi-kwi, bahwa Sim Houw mencintanya, akan tetapi betapapun ia memancing pengakuan Sim Houw, selalu gagal dan orang muda itu tak pernah menyatakan cintanya melalui mulut.
Baru sekarang Sim Houw membuat pengakuan, di depan suhu dan subonya, dengan suara lantang.
Hal ini mendatangkan kegembiraan, kelegaan akan tetapi juga keharuan hatinya sehingga walaupun ia sudah menundukkan mukanya, ia tidak dapat menahan beberapa butir air mata mengalir turun.
Kakek itu lalu mundur selangkah dan dengan sepasang mata yang mencorong, dia memperhatikan Sim Houw.
Pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa orang muda ini benar-benar "berisi", mudah saja nampak oleh pandang matanya yang tajam dalam sikap dan pandang mata pemuda itu.
"Demi cinta engkau berani melindungi Bi Lan. Aku sudah pernah mendengar akan nama besarmu. Karena itu, ingin aku melihat apakah benar engkau mencintanya, dan sampai di mana pembelaanmu terhadap Bi Lan. Engkau majulah dan lawan aku, baru aku akan mempertimbangkan nanti apakah engkau cukup berharga untuk melindungi Bi Lan. Nah, bersiaplah untuk melayani aku bertanding, orang muda!"
Sim Houw mengerti.
Sikap Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir ini tidaklah mengherankan karena banyak tokoh persilatan yang sakti memiliki kelemahan terhadap ilmu silat.
Agaknya kakek inipun ingin menguji kepandaiannya, dan kalau memang merasa bahwa dia memiliki kepandaian cukup, kakek itu tentu akan merasa sayang untuk membunuh atau mencabut kepandaiannya dan mungkin sekali mereka akan dapat mengampuni Bi Lan.
Jadi nasib Bi Lan ditentukan oleh perlawanannya terhadap kakek sakti itu.
"Baiklah, locianpwe, saya mentaati perintah!"
Berkata demikian, Sim Houw juga melangkah mundur sampai ke pekarangan yang luas di bawah serambi itu, dan dia sudah mencabut senjatanya, yaitu Liong-siauw-kiam atau Pedang Suling Naga, dipegang dengan tangan kanannya dan dia berdiri dengan sikap hormat menanti lawannya yang melangkah lambat menuruni anak tangga itu ke serambi.
Kini kedua orang itu sudah saling berhadapan, keduanya tidak memasang kuda-kuda, seperti halnya dua orang yang hendak bertanding ilmu silat.
Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa keduanya bukanlah ahli silat sembarangan dan tidak lagi memerlukan kuda-kuda yang khusus.
Setiap posisi merupakan kuda-kuda yang baik bagi mereka, karena dari segala posisi mereka dapat saja melakukan gerakan silat, baik membela diri maupun menyerang.
Sejak tadi, Bi Lan sudah mengangkat muka dan memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Ia tahu benar betapa lihainya kakek berlengan buntung sebelah itu.
Bagaimanapun juga, Sim Houw pasti bukan lawannya dan timbul perasaan ngeri dan takut dalam hatinya.
Maka, melihat betapa keduanya sudah berdiri dan siap untuk saling serang, tiba-tiba ia mengeluarkan suara tertahan dan iapun meloncat turun dari keadaan berlutut tadi tahu-tahu ia sudah berdiri di antara Sim Houw dan Kao Kok Cu, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suhunya sambil menangis!
"Suhu....ah, suhu....
jangan suhu menyerang Sim-toako.
Lebih baik suhu bunuh saja teecu.
Dia tentu akan tewas di tangan suhu dan teecu....
teecu tidak mungkin dapat hidup tanpa dia suhu.
Teecu....
mencintanya....
ah, teecu mencintanya...."
Bi Lan menangis tersedu-sedu di depan kaki kakek itu.
Sim Houw berdiri dengan muka pucat dan kedua kakinya menggigil.
Benarkah apa yang didengarnya itu?
Benarkah itu Bi Lan yang mengaku cinta padanya di depan kakek itu?
Tanpa malu-malu menyatakan cinta kepadanya, bahkan menangis karena khawatir dia akan terbunuh dalam pertandingan ini?
Ingin dia merangkul Bi Lan, ingin dia menghiburnya, akan tetapi tentu saja dia tidak berani melakukan hal itu di depan kakek dan nenek yang nampaknya masih marah itu.
"Siapa akan membunuh orang? Anak bodoh, minggirlah dan biarkan aku menguji kepandaian Pendekar Suling Naga. Setelah itu, kalian berdua boleh pergi,"
Kata Kao Kok Cu.
Mendengar ini, bukan main girangnya hati Bi Lan dan iapun cepat mundur dan berdiri di pinggiran untuk menonton.
Ia percaya bahwa suhunya akan memegang teguh janjinya, tidak akan membunuh Sim Houw?
Tanpa disengaja, ia berdiri di dekat Wan Ceng yang juga sudah turun dari serambi, dan melihat subonya, Bi Lan berbisik.
"Subo, teecu bersumpah bahwa kami berdua tidak pernah menyeleweng, tidak pernah melakukan kejahatan."
Nenek Wan Ceng melirik kepadanya dan menjawab lirih, suaranya masih dingin.
"Hemm, akan tetapi apa yang kami dengar tentang dirimu tidak seperti yang kau katakan ini, Bi Lan."
"Subo, untuk setiap persoalan, teecu dapat menjawab dan memberi penjelasan. Setidaknya teecu berhak untuk membela diri, Subo, dari segala berita yang dijatuhkan kepada teecu."
"Sudahlah, nanti saja kita bicara lagi,"
Kata nenek itu yang memperhatikan dua orang yang sudah mulai bergerak saling mendekati.
Bi Lan memandang ke arah Sim Houw dari Kao Kok Cu yang sudah saling mendekati, Sim Hoaw memegang sulingnya, kakek itu seperti biasa, tidak memegang senjata apapun kecuali kedua ujung lengannya.
Melihat betapa gagahnya Sim Houw, dan betapa gurunya itu sudah nampak tua dan lemah, agak berkurang kekhawatiran di hati Bi Lan.
Ia tidak khawatir kalau Sim Houw akan melukai gurunya.
Ia mengenal benar siapa Sim Houw, tahu benar akan kebaikan hati Sim Houw dan kegagahannya.
Jelas bahwa pendekar itu tidak akan mau melukai kakek yang tua renta itu.
"Engkau mulailah, orang muda!"
Kata Kao Kok Cu.
Tadinya Sim Houw merasa sungkan untuk mendahului, akan tetapi mendengar ucapan kakek itu yang dianggapnya sebagai perintah, diapun lalu menggerakkan sulingnya dan berkata.
"Baik, locianpwe, saya mulai menyerang!"
Berkata demikian, suling itu berkelebat dan menotok ke arah pundak kiri yang tak berlengan itu!
Kakek itu tersenyum dan cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan pundaknya.
Orang muda ini cerdik sekali, pikirnya, agaknya dapat menduga bahwa justeru lengan baju kiri tanpa isi itulah yang berbahaya, maka dalam serangan pertama itu dia menyerang pundak kiri yang berarti melemahkan bagian yang berbahaya dan kuat!
Sambil meloncat ke belakang, kaki kakek itu melayang dengan tendangan yang amat cepat dan tidak terduga datangnya dari samping menyerong ke arah lambung Sim Houw.
Namun pemuda ini sudah dapat mengelak dengan baik, bahkan sulingnya sudah berkelebat lagi menotok ke arah lutut dari kaki yang menendang.
Kao Kak Cu sudah menarik kembali kakinya dan kini tangan kanannya menampar dengan amat dahsyatnya dari atas, mengarah ubun-ubun kepala Sim Houw dan hampir berbareng, ujung lengan baju kiri menyambar dari bawah, menotok ke arah ulu hati pemuda itu dengan kecepatan luar biasa.
Sim Houw terkejut, akan tetapi dia tidak menjadi gugup.
Sudah diduganya bahwa kakek itu merupakan lawan yang amat lihai, maka sejak tadipun dia sudah tidak berani memandang ringan, selalu waspada dan siap siaga setiap urat syarafnya menghadapi serangan yang aneh dan hebat.
"Takkk..!"
Sulingnya menangkis tangan yang menampar dari atas, sedangkan totakan ujung lengan baju kiri itupun disampoknya dengan tangan kirinya sambil memutar tubuh.
Kini sulingnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung, mengeluarkan bunyi menderu lalu melengking seperti ditiup, mendatangkan angin keras dan hawa yang panas.
Sim Houw mulai mengeluarkan kepandaiannya, memainkan sulingnya dengan ilmu gabungan dari Koai-liong-kiam-sut dan Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman dan Ilmu Pedang Suling Emas).
Kedua ilmu ini telah digabung dan menjadi ilmu yang dinamakan Liong-siauw-kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) dan cocok sekali dimainkan dengan pedang suling naga itu sebagai pengganti sepasang senjata yang sudah dikembalikannya kepada keluarga Cu di Lembah Naga Siluman, yaitu sebatang suling emas dan sebatang pedang pusaka Koai-liong-kiam.
"Bagus....!"
Nenek Wan Ceng sampai memuji dan memandang kagum sekali ketika ia melihat sinar bergulung-gulung seperti seekor naga mengamuk di sekeliling tubuh suaminya.
Belum pernah ia melihat ilmu pedang sehebat itu, apa lagi ditambah dengan suara melengking seolah-olah ada orang yang sedang meniup suling dengan amat pandai dan merdunya.
Juga kakek Kao Kok Cu merasa kagum bukan main.
Orang ini masih muda, akan tetapi telah menguasai ilmu yang demikian tingginya!
Demikian hebatnya ilmu pedang yang dimainkan dengan suling itu.
Suaranya merupakan serangan tenaga khi-kang melalui suara, menggetarkan jantung dan membuyarkan pencurahan perhatian lawan, anginnya juga mengandung hawa panas yang dahsyat dan dapat membingungkan lawan, sedangkan suling aneh itu dapat dipergunakan untuk menotok, akan tetapi juga membacok dan menusuk seperti pedang.
Di tangan pemuda itu, suling itu bergerak dengan gulungan sinar seperti seekor naga bermain-main di angkasa.
Kakek itu segera terdesak oleh sinar bergulung-gulung itu dan hanya karena dia telah memiliki ilmu yang matang dan mendarah daging maka dia dapat mengenal atau menangkis dengan tepat pada saat terancam bahaya.
Beberapa kali usahanya untuk melilit pedang atau suling itu dengan ujung lengan baju kiri tak pernah berhasil karena begitu terlilit begitu pula terlepas seolah-olah benda berupa suling atau pedang itu licin seperti tubuh ular.
Karena terdesak, kakek itu lalu merobah gerakannya dan kini dia mainkan ilmu silatnya yang paling ampuh, yaitu Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Tangan Naga Sakti).
Barulah keadaan mereka seimbang.
Sim Houw terkejut bukan main ketika melihat kakek buntung itu memainkan ilmu silat yang luar biasa kuatnya.
Dia merasa seperti menghadapi tembok benteng baja yang amat kuat, sukar ditembus oleh sinar senjatanya, bahkan setiap kali sulingnya bertemu dengan lengan atau lengan baju kiri, tangannya terasa panas dan lengannya tergetar.
Bergidik dia membayangkan ada kekuatan sin-kang sehebat itu.
Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara melengking dan tiba-tiba tubuhnya seperti rebah memanjang, seperti seekor naga saja, dan begitu bergerak, tangan kanannya mengeluarkan angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya.
Sim Houw berusaha mempertahankan dengan tangkisan putaran sulingnya, namun tenaga itu mendorong terlampau dahsyat.
Itulah ilmu sakti Sin-liong-hok-te yang hanya dapat dilakukan dengan sempurna oleh seorang yang berlengan sebelah!
Sim Houw yang mempertahankan diri, tetap saja terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung!
Kalau kakek itu berniat jahat dan mendesak, agaknya sukar baginya untuk menyelamatkan diri.
Dengan demikian, jelaslah bahwa dengan ilmu terakhir itu, kakek Kao Kok Cu masih menang satu dua tingkat dibandingkan Sim Houw yang kalah tenaga dalam dan kalah pengalaman.
"Orang muda, engkau hebat dan tidak mengecewakan berjuluk Pendekar Suling Naga!"
Kata kakek Kao Kok Cu sambil melangkah mundur tiga langkah, berarti dia mengakhiri pertandingan itu.
Bukan main girang dan lega rasa hati Sim Houw.
Diapun cepat menyimpan suling, menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Terima kasih banyak saya haturkan atas kemurahan hati locianpwe yang telah memberi petunjuk kepada saya."
Kakek itu menarik napas panjang dan menoleh kepada isterinya yang juga memandang kepadanya dan mengangguk.
Tanpa kata, suami isteri yang sudah saling mengenal lahir batin ini bermufakat bahwa seorang pemuda yang berilmu demikian tinggi dengan sikap demikian rendah hati seperti Sim Houw, agaknya sukar dipercaya kalau sampai melakukan penyelewengan dan kejahatan!
Bi Lan juga sudah mendekati Sim Houw dan berlutut di sebelah pemuda itu, hatinya lega dan girang bukan main.
"Suhu, terima kasih bahwa suhu tidak melukai Sim-toako."
Kakek itu kini tersenyum dan kembali menarik napas.
"Siancai.....! Semoga Tuhan akan memberkahi kalian dalam cinta kasih kalian. Mari kita masuk ke dalam dan bicara di dalam. Agaknya banyak hal-hal yang perlu dibicarakan dan dibikin terang."
"Benar,"
Kata Wan Ceng.
"Akupun mulai ragu-ragu apakah benar Bi Lan telah melakukan penyelewengan yang mengecewakan hatiku."
Sim Houw merasa girang sekali, menghaturkan terima kasih dan bangkit berdiri bersama-sama Bi Lan.
Ketika bangkit, tanpa disengaja, tangan kiri Bi Lan menyentuh tangan kanan Sim Houw dan otomatis kedua tangan itu saling genggam dan mereka berdua mengikuti kakek dan nenek itu masuk ke dalam istana dengan saling berpegang dan bergandeng tangan.
Beberapa kali mereka menoleh saling pandang yang memancing senyum penuh bahagia di kedua mulut mereka.
Mereka dibawa masuk oleh kedua orang tua itu ke dalam ruangan yang luas dan indah walaupun perabot di dalam ruangan itu sederhana.
Di sudut terdapat rak senjata dan sebuah almari penuh dengan buku-buku dan di tengah-tengah ruangan terdapat meja kursi terukir dari kayu hitam yang kuno.
Mereka berempat duduk di sekeliling meja itulah dan Bi Lan merasa betapa tubuhnya ditelan oleh kursi yang besar dan cekung itu.
Ia merasa dirinya kecil lahir batin di tempat yang megah namun kuno ini, apa lagi di depan suhu dan subonya yang baru saja tadi marah kepadanya, bahkan kini agaknya hendak minta keterangan secara serius darinya.
Tak lama setelah mereka duduk, muncul seorang wanita Mongol yang memasuki ruangan itu menghidangkan minuman teh.
Setelah wanita yang mukanya dingin seperti arca, persis sikap pria Mongol yang tadi bekerja di pekarangan, nenek Wan Ceng yang merasa penasaran itu mulai dengan pertanyaannya.
"Bi Lan, terus terang saja, kami berdua yang tinggal di tempat sunyi ini baru saja menerima kunjungan dari selatan dan kami mendengar banyak hal yang membuat kami ikut merasa prihatin, terutama ketika kami mendengar tentang sepak terjangmu yang membuat kepalaku pening dan hatiku kecewa, juga menyesal sekali."
Bi Lan terseryum memandang wajah subonya. Betapa ia merindukan wajah ini, akan tetapi sekarang ia harus bersikap sungguh-sungguh.
"Subo, kenapa subo belum apa-apa sudah mempercayai berita tentang diri teecu? Seperti teecu katakan tadi, setiap persoalan tentu teecu dapat menjawab dan memberi penjelasan sampai subo dan suhu mengerti benar bahwa semua akibat itu ada sebabnya dan sebabnya bukanlah karena penyelewengan atau kejahatan teecu. Teecu amat menghormat dan menyayang suhu dan subo, mana mungkin berani melakukan perbuatan jahat? Dan andaikata teecu menyeleweng dan berbuat jahat, mana teecu berani datang menghadap ke sini?"
Kakek Kao Kok Cu tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Memang benar juga pendapat Bi Lan ini...."
"Sekarang, jawablah pertanyaanku dengan keterangan yang jujur dan sejelasnya, baru aku akan menilai apakah engkau bersalah atau tidak,"
Kata nenek Wan Ceng.
"Aku mendengar bahwa Ban-tok-kiam dipergunakan orang untuk membunuh Teng Siang In, isteri mendiang paman Suma Kian Bu. Bagaimana bisa demikian kalau Ban-tok-kiam kuserahkan kepadamu?"
Bi Lan mengangguk.
"Teecu tidak berdaya ketika Sai-cu Lama merampas Ban-tok-kiam dari tangan teecu, subo. Sai-cu Lama, amat lihai dan kepandaiannya terlampau tinggi bagi teecu sehingga pedang pusaka itu dapat dirampasnya dan kemudian dia pergunakan untuk membunuh locianpwe itu. Akan tetapi ketika para pendekar menghadapi komplotan Sai-cu Lama, teecu dan Sim-toako membantu dan kami berhasil merampas kembali Ban-tok-kiam. Teecu mengaku salah bahwa Ban-tok-kiam sampai dirampas orang, akan tetapi hal itu terjadi bukan karena kelengahan, melainkan karena kebodohan dan kelemahan teecu yang tidak mampu menandingi Sai-cu Lama."
Diam-diam Bi Lan merasa heran mendengar subonya menyebut paman kepada tokoh keluarga Pulau Es itu.
Ia tidak tahu bahwa nenek Wan Ceng adalah cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, sehingga biarpun usianya lebih tua dari pada mendiang Suma Kian Bu, ia harus menyebut pendekar itu paman.
"Sekarang jelaskan bagaimana engkau membela dan melindungi sucimu yang bernama Bi-kwi, yang amat jahat itu. Bukankah ia dahulu bahkan telah menyelewengkan pelajaran silat padamu sehingga engkau hampir menjadi gila dan terancam maut? Aku mendengar bahwa Bi-kwi itu amat jahat, lebih jahat dari pada Sam Kwi, akan tetapi mengapa engkau malah membelanya, bahkan engkau telah membantunya ketika iblis betina itu berkelahi melawan Suma Ciang Bun dan muridnya, berarti engkau membantu seorang jahat melawan keluarga para pendekar Pulau Es. Nah, apa alasanmu?"
"Subo, biarpun teecu pernah menjadi murid Sam Kwi dari sejak kecil dididik oleh datuk-datuk sesat, namun semenjak menjadi murid suhu dan subo, teecu sudah dapat membedakan antara baik dan buruk. Apa lagi setelah teecu bertemu dengan Sim-toako yang selalu membimbing teecu, teecu tidak pernah membantu kejahatan. Biarpun suci sendiri, karena ia jahat, pernah menjadi lawan dan musuh teecu. Kalau teecu membela dan melindungi, adalah karena suci Bi-kwi telah insyaf dan mengubah kehidupannya menjadi orang baik-baik. Ia diserang oleh Hong Beng dan gurunya karena salah paham saja. Mungkin mereka itu mengira bahwa suci masih tetap jahat, akan tetapi teecu sendiri menyaksikan bahwa suci sudah bertaubat. Kalau orang sudah menyesali kesalahannya dan ingin bertaubat, apakah kita harus mendesaknya sampai ia tidak dapat memperbaiki kesalahannya lagi, subo?"
Bi Lan lalu menceritakan tentang keadaan Bi-kwi, betapa Bi-kwi telah bertemu dengan seorang pemuda tani yang dicintanya dan cinta itulah yang telah mengubah watak dan sifat kehidupan Bi-kwi.
Demi menyelamatkan kekasihnya itulah dia diperas dan dipaksa oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin, tokoh tokoh Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai sehingga Bi-kwi membantu mereka menghadapi Suma Ciang Bun.
Semua ini ia ceritakan dengan sejelasnya, seperti yang pernah ia dengar dari Bi-kwi sendiri.
"Demikianlah, subo. Ketika teecu melindunginya, ia berada dalam keadaan yang sama sekali tidak bersalah dan tidak melakukan kejahatan, dan teecu hanya membela kebenaran, dari manapun datangnya tanpa pilih bulu. Kalau hal itu subo anggap bersalah dan hendak menghukum teecu, maka teecu hanya dapat menyerahkan diri."
Bi Lan menutup keterangannya Nenek Wan Ceng saling pandang dengan suaminya.
Diam-diam mereka terharu juga mendengar penuturan Bi Lan tentang Bi-kwi.
Suami isteri ini tahu apa artinya cinta dan mereka percaya bahwa cinta kasih akan mampu merobah watak seorang manusia, dari keadaan yang jahat menjadi baik, cinta kasih mampu menghidupkan kembali kepekaan hati yang tadinya beku dan mati.
Mereka mendengar semua tentang Bi Lan dan Ban-tok-kiam dari kunjungan dua orang secara berturut-turut.
Pertama kali datang Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, mengunjungi mereka dan dari suami isteri inilah mereka mendengar tentang kematian Teng Siang In.
yang menjadi korban pedang pusaka Ban-tok-kiam, dan betapa puteri tunggal suami isteri keluarga Pulau Es diculik pula oleh orang yang menggunakan Ban-tok-kiam membunuh Teng Siang In.
Kemudian, datang pula.
Gu Hong Beng mengunjungi mereka dan pemuda murid Suma Ciang Bun ini mengabarkan tentang diculiknya cucu mereka, Kao Hong Li, oleh seorang yang bernama Ang I Lama juga dari Hong Beng mereka mendengar tentang penyelewengan murid mereka, yaitu Can Bi Lan.
Hong Beng yang penuh cemburu dan iri hati itu menceritakan kepada suami isteri tua itu betapa Bi Lan melakukan penyelewengan bukan saja main gila dengan Pendekar Suling Naga, bahkan Bi Lan dan Sim Houw telah membantu iblis betina Bi-kwi, dan menentang keluarga Pulau Es!
Kini, setelah mendengar penuturan Bi Lan, suami isteri ini dapat menarik kesimpulan bahwa memang terjadi salah paham antara Bi Lan berdua Sim Houw dengan Suma Ciang Bun dan muridnya, Gu Hong Beng.
Setelah saling pandang dan memberi persetujuan dengan isyarat mata, Wan Ceng lalu mewakili suaminya berkata kepada Bi Lan.
"Sekarang kami mengerti setelah mendengar keteranganmu, Bi Lan. Akan tetapi, kalian sudah terlanjur mendatangkann kesan buruk kepada keluarga Pulau Es. Karena itu engkau harus menebusnya dengan perbuatan yang akan dapat membersihkan namamu, Bi Lan. Ketahuilah bahwa cucu kami, puteri tunggal anak kami Kao Cin Liong, yang bernama Kao Hong Li, telah diculik orang yang mengaku bernama Ang I Lama. Kau wakililah kami, karena kami sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan jauh. Wakili kami dan cari Hong Li sampai dapat! Kalau engkau berhasil mengembalikan Hong Li kepada orang tuanya, maka baru aku mau mengaku engkau sebagai muridku lagi."
Bi Lan terkejut.
Tugas yang amat berat karena ia tidak tahu ke mana anak itu dibawa pergi penculiknya, dan iapun tidak mengenal siapa Ang I Lama.
Akan tetapi, Sim Houw yang berada di dekatnya menyentuh lengannya dan berbisik.
"Terimalah saja tugas itu, Lan-moi, kita cari bersama."
Mendengar bisikan ini, Bi Lan merasa besar hatinya dan dengan penuh semangat iapun berkata.
"Baiklah, subo dan suhu, teecu akan mencari, sampai dapat menemukan kembali adik Kao Hong Li. Teecu baru akan datang menghadap suhu dan subo kalau teecu sudah berhasil dengan tugas itu dan teecu mahon doa restu dari suhu berdua subo.
"Baiklah, Bi Lan. Kami membekali doa restu dan mudah-mudahan engkau akan berhasil. Sekarang berangkatlah kalian,"
Kata nenek Wan Ceng.
Akan tetapi Bi Lan tidak bangkit, bahkan memberi hormat sambil berlutut, diikuti pula oleh Sim Houw yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek dan nenek itu.
Dua orang kakek dan nenek itu bangkit berdiri, mengira bahwa dua orang muda itu berlutut untuk memberi hormat dan berpamit, akan tetapi ternyata tidak demikian karena Bi Lan berkata dengan suara penuh permohonan.
"Ada satu permohonan dari teecu kepada suhu dan subo, harap saja suhu dan subo dapat mengabulkan permohonan teecu ini."
Wan Ceng tersenyum.
"Katakanlah."
"Seperti suhu dan subo mengetahui, teecu hidup sebatangkara, tidak ada orang tua, tanpa keluarga. Ketiga suhu Sam Kwi telah tewas dan bagi teecu, suhu dan subo merupakan pengganti orang tua. Demikian pula dengan Sim-toako yang sudah yatim piatu dan tidak ada keluarga. Oleh karena itu, kami berdua mohon agar suhu dan subo yang sudi menjadi wali kami dan mengesahkan dan merestui perjodohan antara kami."
Diam-diam Sim Houw merasa girang dan bangga sekali.
Gadis ini selain mencintanya juga bersungguh-sungguh dan demikian tabah membicarakan persoalan jodoh itu tanpa lebih dulu bertanya kepadanya.
Akan tetapi, apa yang diucapkan gadis itu memang amat disetujuinya, bahkan dia akan merasa berbahagia, kalau kelak kakek dan nenek sakti itu mau mengesyahkan perjodohan antara mereka!
Kakek Kao Kok Cu dan Wan Ceng saling pandang dan kakek itu mengangguk sambil tersenyum.
Dia dapat melihat cinta kasih berpancar dari wajah dan sinar mata kedua orang muda itu, maka tidak ada lagi halangan bagi mereka untuk berjodoh, apa lagi karena tidak ada keluarga mereka yang dapat dimintai persetujuan.
Akan tetapi Wan Ceng yang cerdik segera menjawab.
"Tentu saja kami berdua suka sekali menjadi wali dan mengesahkan perjodohan kalian yang saling mencinta. Akan tetapi, ingat, kalian mempunyai tugas penting, oleh karena itu, laksanakan dulu tugas itu, baru kalian datang ke sini dan kami akan mengabulkan permintaan kalian."
Bukan main girangnya hati Bi Lan.
Berkali-kali ia memberi hormat dan menghaturkan terima kasih.
Juga Sim Houw menghaturkan terima kasih kepada kedua orang tua itu.
Akan tetapi ketika mereka hendak berpamit, tiba-tiba terdengar suara nyaring di luar istana itu.
"Kao Kok Cu dan Wan Ceng....! Apakah kalian masih hidup?"
Tentu saja empat orang itu merasa terkejut sekali mendengar suara yang mengandung tenaga khi-kang yang amat kuat itu, sehingga suara itu memasuki istana dan sampai ke ruangan itu membawa gema yang kuat.
Wan Ceng mengerutkan alisnya.
Sukar menduga siapa adanya orang yang berani menyebut namanya dan nama suaminya begitu saja itu!
Hatinya merasa tidak senang, maka ia mendahului suaminya dan berkata kepada Bi Lan dan Sim Houw.
"Kalian keluarlah dan lihat siapa orang kasar yang datang itu!"
Nenek ini dahulu ketika muda memang berwatak keras.
Mendengar ada orang berteriak-teriak di luar memanggil namanya dan nama suaminya ia merasa tidak senang dan merasa tidak perlu keluar sendiri menyambut, maka ia wakilkan kepada Bi Lan dan Sim Houw.
Ia tahu bahwa muridnya itu, terutama sekali Sim Houw, telah memiliki kepandaian yang amat lihai sehingga patut mewakilinya menghadapi orang yang bagaimanapun juga.
Bi Lan dan Sim Houw cepat berlari keluar dan ketika mereka tiba di luar istana, keduanya tersenyum lebar dengan hati lega ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang hwesio tua renta yang mereka kenal baik.
Orang itu bukan lain adalah Tiong Khi Hwesio!
Seperti kita ketahui, Tiong Khi Hwesio memimpin para pendekar muda menghadapi komplotan Sai-cu Lama, maka tentu saja Bi Lan dan Sim Houw mengenal baik pendeta ini.
Sebaliknya, Tiong Khi Hwesio juga mengenal dua orang muda itu.
Dia tersenyum ramah dan menudingkan telunjuknya kearah mereka.
"Eh-eh, kiranya kalian berdua juga berada di sini?"
Sim Houw cepat menghampiri hwesio itu dan memberi hormat, sementara itu Bi Lan sambil tertawa cepat masuk kembali ke dalam istana menemui suhu dan subonya.
Dari luar ruangan ia sudah berteriak.
"Suhu....! Subo....! Yang datang adalah locianpwe Tiong Khi Hwesio!"
Akan tetapi kakek dan nenek itu tidak mengenal nama Tiong Khi Hwesio dan mereka saling pandang dengan heran.
Hanya saja, mendengar bahwa yang datang adalah seorang hwesio, mereka lalu melangkah keluar bersama Bi Lan untuk melihat siapa hwesio yang menyebut nama mereka begitu saja.
Ketika Kao Kok Cu dan Wan Ceng tiba di luar istana, mereka berdua memandang kepada hwesio tua yang berkepala gundul dan berjubah kuning itu.
Mereka termangu, tidak mengenal hwesio tua itu.
Hwesio yang bermulut sinis, senyum yang mengarah ejekan, sepasang mata yang tajam, mencorong dan tubuh yang masih nampak tegap dan membayangkan kekuatan.
Di lain pihak, Tiong Khi Hwesio memandang kepada kakek dan nenek itu, kemudian melangkah lebar menghampiri, wajahnya berseri dan terutama sekali matanya ditujukan kepada nenek Wan Ceng, kemudian dia merangkap kedua tangan ke depan dada seperti orang berdoa.
"Omitohud....! Terima kasih kepada Sang Buddha bahwa hari ini pinceng masih berkesempatan untuk bertemu dengan Wan Ceng! Ahhh, Wan Ceng, engkau kini telah menjadi seorang nenek yang tua, namun masih nampak kelincahanmu dan kegagahanmu! Suara itu menggetar penuh perasaan. Betapa tidak akan terharu rasa hati kakek hwesio ini bertemu dengan wanita yang di waktu mudanya dulu pernah menggetarkan kalbunya, seorang wanita yang sebenarnya adalah saudaranya sendiri, seayah berlainan ibu! Wan Ceng terkejut sekali dan melangkah maju mendekat, memandang tajam penuh perhatian dan penuh selidik.
"Siapakah engkau....? Aku.... aku tidak mengenal hwesio seperti engkau ini...."
Tanyanya ragu.
"Hemmm, Si Jari Maut telah menjadi seorang hwesio, sungguh mengagumkan sekali!"
Tiba-tiba terdengar suara Kao Kok Cu berkata dan Wan Ceng memandang kepada hwesio itu dengan mata terbelalak.
"Kau.... kau.... Wan Tek Hoat....?"
Akhirnya ia berseru, suaranya gemetar dan tiba-tiba saja kedua matanya menjadi basah.
Hwesio tua itu mengejap-ngejapkan matanya yang juga menjadi basah dan dia mengangguk-angguk.
"Bertahun-tahun aku sudah menjadi hwesio dan nama pinceng adalah Tiong Khi Hwesio."
"Aihh.... Tek Hoat.... Tek Hoat.... siapa dapat mengira bahwa engkau telah menjadi seorang pendeta? Mengapa pula demikian? Dan di mana adanya adik Syanti Dewi?"
Tiba-tiba sepasang mata hwesio itu yang tadinya berseri, kini menjadi muram dan sejenak dia menundukkan kepalanya dan mengerahkan tenaga untuk menahan rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk jantungnya.
Hanya sebentar saja dia terpukul, kemudian dia sudah dapat mengangkat mukanya lagi memandang kepada nenek Wan Ceng.
"Sudah beberapa tahun lamanya ia meninggalkan aku, meninggalkan dunia, dan sejak itu pula pinceng menjadi hwesio...."
Kalimat ini cukup bagi Wan Ceng.
Ia dapat membayangkan apa yang terjadi dan hal ini memancing datangnya air mata yang lebih banyak lagi.
Ia dapat mengerti bahwa tentu Wan Tek Hoat yang amat mencinta isterinya, yaitu Syanti Dewi, menjadi patah semangat dan masuk menjadi hwesio untuk menghibur dirinya.
"Tek Hoat, kasihan kau....! Syanti Dewi, kenapa engkau begitu kejam meninggalkan dia?"
Suasana menjadi hening dan mengharukan, akan tetapi hanya sebentar karena suara ketawa kakek Kao Kok Cu memecahkan keheningan dan membuyarkan keharuan.
"Ha-ha-ha, kalian seperti dua orang anak kecil saja yang cengeng! Tiong Khi Hwesio, marilah masuk, kita bicara di dalam. Kunjunganmu sekali ini pastilah membawa berita yang amat penting. Sim Houw dan Bi Lan, kalianpun masuk kembali, kita semua bicara di dalam."
Ucapan dan sikap Kao Kok Cu ini menolong Tiong Khi Hwesio dan Wan Ceng yang tadi dilanda keharuan.
Hwesio itu tertawa dan Wan Ceng juga cepat menghapus air matanya dan sikap mereka telah menjadi biasa kembali ketika mereka melangkah ke dalam istana tua itu Setelah mereka semua duduk mengelilingi meja besar di ruangan di mana tadi Sim Houw dan Bi Lan bercakap-cakap dengan suami-isteri tua itu, Kao Kok Cu segera bertanya.
"Tiong Khi Hwesio, banyak yang dapat kita bicarakan dalam pertemuan ini karena sudah puluhan tahun kita saling berpisah. Akan tetapi kami kira yang terpenting untuk didahulukan adalah urusan yang jauh-jauh kau bawa ke sini. Ada kepentingan apakah yang mendorongmu datang dari tempat yang demikian jauhnya? Engkau datang dari Bhutan, bukan?"
Tiong Khi Hwesio menggeleng kepala.
"Tidak di Bhutan lagi. Sudah bertahun-tahun pinceng bertapa di Pegunungan Himalaya, dekat Tibet. Dan memang ada hal yang amat penting yang pinceng bawa dari Tibet. Pinceng mengunjungi kalian sebagai utusan dari para pendeta Lama di Tibet."
Hwesio itu berhenti dan memandang kepada kakek dan nenek itu dengan penuh perhatian.
Ada bermacam perasaan terkandung dalam pandang mata itu, keraguan, juga kekhawatiran dan perasaan iba.
"Para pendeta Lama di Tibet?"
Kao Kok Cu bertanya heran.
"Kurasa tidak pernah ada hubungan antara kami dengan mereka!"
"Heran!"
Kata pula nenek Wan Ceng "Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan pendeta-pendeta Lama di Tibet.
Kepentingan apakah yang membuat mereka menyuruh seorang seperti engkau untuk datang ke tempat sejauh ini, Tek Hoat?"
Nenek Wan Ceng merasa kikuk dan enggan untuk menyebut saudaranya ini dengan sebutannya yang baru, yaitu Tiong Khi Hwesio!
Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang.
"Sebuah tugas yang sungguh tidak enak bagi pinceng, akan tetapi karena pinceng juga ingin sekali berjumpa dengan kalian, maka tugas ini pinceng lakukan. Masalahnya bukan lain adalah mengenai putera kalian, yaitu Kao Cin Liong...."
"Ada apa dengan dia?"
Nenek Wan Ceng bertanya dengan suara penuh kegelisahan.
"Dia bersama isterinya telah membunuh seorang pendeta Lama yang sama sekali tidak berdosa, hanya karena mereka menyangka bahwa Lama itu tentu seorang jahat karena menjadi sute dari mendiang Sai-cu Lama."
"Ahh! Apakah pendeta itu bernama Ang I Lama?"
Wan Ceng bertanya cepat.
"Eh, kiranya engkau sudah tahu?"
Kini Tiong Khi Hwesio yang memandang heran.
"Tentu saja aku tahu!"
Wan Ceng berkata dan suaranya terdengar marah.
"Dan jangan katakan bahwa orang yang bernama Ang I Lama itu demikian suci dan tidak berdosa seperti yang kau kira, Tek Hoat. Aku tahu mengapa anakku dan mantuku membunuhnya. Dia telah menculik Kao Hong Li, cucuku! Tentu anak dan mantuku melakukan pengejaran ke sana dan dalam perkelahian memperebutkan Hong Li, mereka telah membunuhnya!"
"Omitohud....!"
Tiong Khi Hwesio berseru dengan kaget sekali.
"Akan tetapi, pinceng sudah lama mengenal Ang I Lama, juga para pendeta Lama menanggung bahwa dia adalah seorang pertapa yang sudah bertahun tidak keluar dari guhanya, dan tidak mungkin sama sekali kalau dia melakukan penculikan terhadap cucu kalian!"
"Jangan katakan tidak mungkin, Tiong Khi Hwesio,"
Kata Kao Kok Cu dengan sikap dan suara tenang.
"Ingat bahwa Ang I Lama adalah sute dari Sai-cu Lama yang baru saja dibasmi komplotannya, bahkan engkau yang memimpin para pendekar muda membasminya. Bukan tidak mungkin dia mendendam dan melakukan penculikan itu, karena anakku juga merupakan seorang di antara mereka yang ikut menentang Sai-cu Lama."
"Wan Tek Hoat!"
Kata nenek Wan Ceng.
"Engkau sudah lama mengenal Ang I Lama, akan tetapi aku telah mengenal Kao Cin Liong sejak dia kulahirkan! Dia dan isterinya tidak mungkin membunuh seorang pendeta Lama yang sama sekali tidak berdosa! Apakah engkau lebih percaya kepada pendeta Lama itu dari pada kepada keluarga kami?"
Tiong Khi Hwesio menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Omitohud.... betapa sukarnya urusan ini. Pinceng sendiri tidak tahu harus berpendapat bagaimana. Memang serba salah...."
"Wan Tek Hoat, apakah setelah engkau menjadi hwesio dan menjadi tua bangka, engkau kehilangan semua kecerdikanmu yang dulu kau banggakan?"
Nenek Wan Ceng kini berkata sambil tersenyum mengejek.
"Urusan begitu mudah kenapa engkau buat menjadi sukar? Apakah ada yang menyaksikan perkelahian antara anak dan mantuku dengan Ang I Lama yang membuat pendeta Lama itu tewas?"
"Tidak ada. Dua orang pendeta Lama menemukan Ang I Lama dalam keadaan hampir mati dan Ang I Lama hanya meninggalkan pesan dengan menyebut dua nama, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya." (Lanjut ke
Jilid 35) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35
"Hemm, dan hal ini kau jadikan pegangan bahwa anak dan mantuku yang membunuh Ang I Lama tanpa dosa?"
"Sebelum terjadi pembunuhan itu, beberapa waktu sebelumnya, anak dan mantumu itu telah mendatangi para pendeta Lama untuk menanyakan di mana adanya Ang I Lama. Anak dan mantumu mencari Ang I Lama dan tak lama kemudian, Ang I Lama tewas dengan meninggalkan pesan nama anak dan mantumu. Bukankah hal itu sudah jelas?"
"Kurang meyakinkan. Aku percaya bahwa anak mantuku membunuh Ang I Lama, akan tetapi jelas bukan membunuh orang tak berdosa, melainkan membunuh penculik cucuku. Apakah hal itu salah? Tentu saja anak dan mantuku membela anak mereka! Dan satu hal lagi menunjukkan kebodohanmu, Wan Tek Hoat. Yang menjadi orang tertuduh adalah anakku dan mantuku, akan tetapi kenapa engkau keluyuran ke sini? Bukankah lebih mudah kalau engkau datangi saja Cin Liong dan menanyakan hal itu? Bukankah engkau sudah mengenalnya dan sudah tahu pula di mana tempat tinggalnya?"
Menghadapi serangan kata-kata yang marah itu, Tiong Khi Hwesio tersenyum dan dia memandang kepada nenek itu dengan penuh kagum.
Sudah tua renta, namun nenek ini mengingatkan dia akan seorang gadis yang lincah, jenaka dan galak, yaitu ketika Wan Ceng masih seorang gadis.
Agaknya selama puluhan tahun ini, Wan Ceng masih mempertahankan wataknya yang keras!
"Jangan salah mengerti, Wan Ceng.
Para pendeta Lama mengenal baik Kao Cin Liong ketika dia masih menjadi panglima, dan merekapun tahu bahwa dia adalah putera tunggal Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir.
Karena itu, mereka merasa sungkan kepada kalian, dan akupun berpikir bahwa lebih baik kalau urusan ini kusampaikan saja kepada kalian dari pada aku harus menegur sendiri Kao Cin Liong.
Lihat, aku jauh-jauh ke sini karena merasa sungkan, juga kangen kepada kalian."
"Memang urusan ini agak ruwet,"
Kata Kao Kok Cu.
"Kami dapat menghargai sikapmu dan sikap para pendeta Lama yang masih menghargai kami orang-orang tua. Akan tetapi, kami merasa yakin bahwa andaikata Cin Liong benar membunuh Ang I Lama, tentu hal itu dilakukan karena ada hal yang amat memaksa, dan tentu dengan alasan kuat sekali. Anakku bukanlah pembunuh kejam yang membunuh pendeta yang tanpa dosa. Hal ini hendaknya engkau yakin, Tiong Khi Hwesio. Sekarang, biarlah kubebankan tugas menerangkan perkara ini kepada Bi Lan dan Sim Houw pula. Kalian dengarlah baik-baik."
Kakek itu memandang kepada dua orang muda itu yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan sikap menghormat.
"Kami siap melakukan perintah suhu,"
Kata Bi Lan.
"Kalian berdua sudah mendengar sendiri apa yang dibawa oleh Tiong Khi Hwesio. Tadinya kami mendengar bahwa cucu kami diculik Ang I Lama, dan kini dari Tiong Khi Hwesio kami mendengar bahwa Ang I Lama dibunuh oleh Kao Cin Liong dan isterinya tanpa dosa. Maka, kalau kalian meninggalkan tempat ini untuk mencari dan menemukan kembali Kao Hong Li, kalian kunjungilah rumah Kao Cin Liong di Pao-teng, dan selidiki persoalan ini baik-baik. Temui mereka dan tanyakan apa yang telah terjadi. Sukurlah kalau Hong Li sudah dapat ditemukan oleh orang tuanya, sehingga kalian tidak banyak repot. Kalau belum, cari Hong Li sampai dapat dan juga kami ingin mendengar laporanmu kelak tentang sebab Ang I Lama dibunuh mereka, kalau benar hal itu terjadi. Nah, sekarang berangkatlah kalian!"
Bi Lan dan Sim Houw lalu minta diri dari tiga orang tua sakti itu, dan meninggalkan Istana Gurun Pasir dengan cepat.
Mereka melakukan perjalanan tanpa bicara, keduanya nampak berlari cepat sambil termenung sehingga menjelang malam, pada senja hari, mereka telah berhasil melewati gurun pasir pertama dan tiba di lereng sebuah bukit yang sudah banyak ditumbuhi pohon di samping banyak pula batu-batu besar dan guha-guha lebar.
Mereka berhenti di sebuah guha yang besar dan melepaskan buntalan masing-masing, lalu duduk melepaskan lelah.
Sunyi sekali di situ.
Lebih sunyi lagi terasa oleh Bi Lan karena sejak meninggalkan Istana Gurun Pasir, temannya seperjalanan itu tidak pernah bicara, hanya nampak berlari cepat di sampingnya seperti orang melamun.
Ia melirik ke arah Sim Houw, melihat betapa laki-laki itupun duduk termenung, menundukkan muka dan sukar melihat bagaimana bentuk wajahnya karena cuaca sudah mulai remang-remang.
Beberapa kali, seperti juga tadi ketika mereka berdua lari, Bi Lan menggerakkan bibir untuk bicara, namun lehernya seperti tercekik rasanya dan tak sepatahpun kata keluar dari mulutnya.
Ia menelan ludah beberapa kali dan memperkuat hatinya, lalu memaksa diri berkata.
"Sim-toako....!"
Betapa sukarnya kata itu keluar dari mulutnya sehingga terdengar seperti bisikan saja.
Namun jelas nampak olehnya betapa Sim Houw terkejut mendengar suaranya, seolah-olah ia tadi telah menjerit keras, bukan hanya berbisik.
"Lan-moi, ada apakah....?"
Dia bertanya, menoleh, bahkan lalu mendekat dengan menggeser duduknya.
Tiba-tiba saja Bi Lan yang sejak tadi merasa tegang dan penuh harapan, merasa seolah-olah meledak dan ledakan itupun menjadi tangis!
Segala macam perasaan girang, terharu, bercampur dengan kekhawatiran, harapan dan kekecewaan sejak pemuda itu mengaku cinta kepadanya sampai tadi pemuda itu melakukan perjalanan tanpa bicara sepatahpun kata, tercurah keluar bersama air matanya dan iapun menangis terisak-isak, menyembunyikan mukanya di dalam kedua lengan yang memeluk lutut kaki yang diangkatnya.
Tubuhnya terguncang-guncang karena isaknya.
Tentu saja Sim Houw menjadi terkejut bukan main dan tangannya kini sudah menyentuh pundak Bi Lan dan suaranya terdengar penuh perasaan khawatir ketika dia berkata.
"Moi-moi, engkau kenapakah? Kenapa engkau menangis, Lan-moi? Apakah yang telah terjadi? Sakitkah engkau?"
Bi Lan tidak dapat menjawab karena tangisnya membuat ia tersedu-sedu dan sukar untuk dapat mengeluarkan kata-kata.
Sim Houw agaknya tahu akan hal ini maka dia tidak mendesak, membiarkan gadis itu menangis sampai segaia yang mengganjal hatinya mencair.
Akhirnya tangis itupun mereda dan Bi Lan mulai mengangkat mukanya, menyusuti air matanya dan kadang-kadang ia memandang kepada pemuda itu dengan sepasang mata basah dan merah.
"Bi Lan moi-moi, engkau kenapakah? Sakitkah engkau?"
Kembali Sim Houw bertanya setelah gadis itu tidak tenggelam ke dalam isak tangisnya lagi. Bi Lan mengangguk.
"Toako, aku memang sakit...."
Jawabnya dan legalah hatinya bahwa kini, setelah menangis, kata-katanya menjadi lancar.
Sim Houw mengerutkan alisnya dan mencoba untuk memandang dengan penuh perhatian di dalam cuaca remang-remang itu.
"Sakit? Sakit apakah, Lan-moi?"
"Sakit.... hati! Hatiku yang sakit."
"Ehhh?"
Sim Houw terbelalak heran.
"Sakit hati? Bagaimana rasanya?"
Dengan sungguh-sungguh dia memperhatikan, mengira bahwa gadis itu menderita semacam penyakit yang tidak dikenalnya.
"Rasanya?"
Bi Lan menelan kembali senyumnya karena merasa geli.
"Rasanya.... aku ingin marah-marah, ingin mengamuk dan menangis saja."
"Ahhh....?"
Sim Houw masih belum mengerti dan menjadi bingung.
"Dan kau sudah menangis tadi...."
"Ya, akan tetapi belum marah-marah, masih belum mengamuk."
Kini Sim Houw baru agak mengerti.
Kiranya ada sesuatu yang membuat gadis ini merasa mendongkol dan marah, pikirnya.
Dan mengertilah dia apa artinya sakit hati tadi, bukan penyakit badan, melainkan penyakit perasaan.
"Akan tetapi, ada.... apakah, moi-moi?"
"Siapa yang tidak sakit hatinya, toako? Sejak meninggalkan istana, engkau diam saja seperti patung, atau seolah-olah menganggap aku bukan manusia lagi melainkan patung hidup yang tak dapat bicara. Kenapa engkau bersikap demikian, mendiamkan aku sampai hampir sehari lamanya? Engkau sungguh kejam!"
Baru Sim Houw mengerti dengan jelas sekarang dan diam-diam hatinya lega, akan tetapi mukanya juga menjadi merah karena dia merasa semakin salah tingkah.
Lalu dengan suara lirih dan gemetar dia berkata.
"Lan-moi, kau maafkanlah aku, Lan-moi. Sama sekali aku bukan menganggap engkau patung, akan tetapi aku.... ah, terus terang saja, aku.... tidak berani bicara, Lan-moi. Semua yang terjadi di istana itu.... semua bagiku bagaikan sebuah mimpi yang amat indah dan aku takut, kalau-kalau mimpi itu akan buyar dan aku akan sadar kembali dan mimpi itu akan lenyap kalau aku bicara. Aku.... sungguh aku tadi ingin sekali bicara, akan tetapi setiap kali menggerakkan bibir, aku merasa takut dan seperti tercekik leherku. Kau maafkanlah aku, moi-moi."
Bi Lan memandang kepada Sim Houw dan pemuda itupun memandangnya.
Mereka saling pandang di antara keremangan senja sehingga hanya dapat melihat bentuk muka masing-masing.
Bi Lan merasa heran sekali.
Mengapa keadaan pemuda itu sama benar dengan keadaan dirinya ketika mereka melakukan perjalanan tadi?
Iapun ingin sekali bicara, namun amat sukar mengeluarkan kata-kata!
"Bagaimana sekarang, toako?
Apakah masih takut untuk bicara?"
Tanyanya, setengah menggoda.
"Tidak, moi-moi. Kalau kuingat, memang aku bodoh sekali. Kenyataan yang demikian indahnya membuat aku mabok dan seolah-olah aku tidak percaya akan kenyataan itu. Setelah kini kita bicara, aku tidak takut lagi. Maafkan aku."
Kembali hening, keduanya seolah tidak tahu harus berbuat apa, harus bicara apa.
Terutama sekali Sim Houw.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan yang luar biasa, yang tidak dikenal sebelumnya, akan tetapi dia tidak mengerti mengapa demikian.
Agaknya Bi Lan yang lebih tabah dalam menghadapi keadaan yang menegangkan dan membuat mereka merasa canggung itu.
"Toako...."
"Ya, Lan-moi?"
"Toako, aku ingin sekali mengetahui apakah semua pernyataanmu di depan suhu dan subo itu benar-benar keluar dari lubuk hatimu? Apakah engkau bicara sejujurnya ketika itu?"
"Pernyataan yang bagaimana, moi-moi?"
Sim Houw bertanya, hanya untuk mencari ancang-ancang atau batu loncatan.
menghadapi pertanyaan itu, karena sesungguhnya dia dapat mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu.
Bi Lan mengerutkan alisnya.
Kenapa sekarang orang yang selama ini dianggap sebagai sepandai-pandainya orang, lihai bijaksana dan cerdik pandai, mendadak saja berubah menjadi orang yang tolol?
"Pernyataanmu bahwa engkau cinta padaku.
Benarkah itu, toako, atau hanya kau jadikan alasan saja untuk menjawab desakan suhu dan subo?"
"Lan-moi, tentu saja benar! Sama benarnya dengan pengakuanmu bahwa engkau cinta padaku. Bagaimana mungkin engkau masih meragukan cintaku kepadamu, moi-moi?"
"Tentu saja aku ragu-ragu. Kenapa selama ini, selama kita berkenalan bahkan melakukan perjalanan bersama, mengalami hal-hal yang menegangkan bersama, engkau tidak pernah menyatakan cintamu, baik dalam perbuatan atau dengan ucapan? Kenapa, toako? Apakah cintamu itu baru timbul ketika kita berada di Istana Gurun Pasir?"
"Tidak, moi-moi! Aku cinta padamu sejak kita pertama kali bertemu!"
"Kalau begitu, kenapa selama ini engkau diam saja, toako? Kenapa engkau agaknya hanya menyimpan saja perasaan cintamu di dalam hati, bahkan seperti hendak merahasiakannya terhadap diriku? Kenapa?"
Sim Houw sudah siap sekarang dengan jawabannya. Dia mengangkat muka, memandang bentuk wajah yang nampak dalam keremangan cuaca itu.
"Karena aku selama ini menjadi pengecut terhadap cintaku sendiri, moi-moi. Aku tidak berani mengaku, bahkan aku selalu menyangkal akan adanya kemungkinan bahwa engkau mencintaku. Aku takut! Karena takut gagal maka aku lebih suka merahasiakan perasaan cintaku...."
"Kau takut kalau-kalau cintamu tidak kubalas?"
"Tidak, moi-moi. Bahkan aku selalu merasa bahwa tak mungkin engkau cinta padaku. Aku takut kalau-kalau aku akan kehilangan engkau, takut kalau aku mengaku cinta, engkau lalu menjauhkan diri dariku."
"Sim-toako, engkau kuanggap secerdik-cerdiknya orang, akan tetapi dalam hal ini engkau sungguh bodoh. Apakah engkau tidak dapat melihat perasaan hatiku terhadap dirimu dalam setiap pandang mataku, kata-kataku dan perbuatanku?"
"Memang ada sekali waktu nampak olehku bahwa engkau seperti mencintaku, namun semua itu kusangkal, kuanggap hanya khayalku belaka, karena tidak patut bagi seorang gadis sepertimu ini mencinta seorang laki-laki seperti aku."
"Ihhh....! Kenapa, toako? Kenapa tidak patut?"
"Moi-moi, engkau adalah seorang gadis yang masih muda belia, usiamu baru sembilan belas tahun, sedangkan aku aku sudah hampir setengah baya...."
"Aduh kasihan, ratap seorang kakek-kakek....!"
Bi Lan menggoda.
"Sim-toako, mengapa engkau begitu merendahkan diri? Berapa sih usiamu maka engkau mengatakan bahwa engkau sudah separuh baya?"
"Usiaku sudah tiga puluh empat tahun!"
"Hemm, bagiku engkau belum tua, tentu saja lebih tua dariku. Dan di dalam cinta, apakah ada batas usia?"
"Selain usiaku jauh lebih tua darimu, hampir dua kali lipat, juga aku seorang laki-laki sebatangkara, tidak memiliki apa-apa. Kuanggap diriku sama sekali tidak berharga untuk menjadi jodohmu, moimoi. Karena perasaan itulah maka aku selalu diam dan merahasiakan cintaku. Akan tetapi di istana gurun pasir, dihadapan dua orang locianpwe yang sakti dan bijaksana itu, bukan hanya sekedar menolongmu, aku merasa bahwa aku harus berterus terang sebagai seorang laki-laki yang berani mengaku dan bertanggung jawab atas segala perbuatan dan ucapannya."
"Aih, kasihan sekali engkau, toako. Aku.... dapat kubayangkan betapa engkau menderita.... dan aku sendiri, aku sudah tahu sejak lama bahwa engkau cinta padaku, koko...."
"Ah? Engkau sudah tahu?"
Bi Lan mengangguk.
"Aku diberitahu oleh suci Ciong Siu Kwi. Ia mengatakan bahwa engkau cinta padaku, hal itu baginya mudah terlihat. Aku menjadi girang sekali, aku menjadi bahagia sekali, koko, apa lagi kalau melihat tingkahmu yang salah langkah.... aku tahu bahwa sejak lama engkau cinta padaku."
"Anak nakal....!"
Sim Houw yang merasa gembira bukan main lalu tiba-tiba merangkul leher Bi Lan dan seperti sudah selayaknya, tahu-tahu Bi Lan sudah rebah di pangkuannya dan mereka saling peluk.
Sejenak mereka diam, Bi Lan menyandarkan kepalanya di dada pria yang dicintanya itu.
Ia merasa aman tenteram, merasa berbahagia dan puas, dan keduanya seperti terbuai dan terpesona oleh kenyataan yang indah itu, bahwa keduanya saling mencinta, bahwa tubuh mereka saling merindukan seperti juga hati mereka.
Sambil membelai rambut kepala gadis itu yang terlepas dari sanggulnya dan terurai di atas dadanya, Sim Houw berkata.
"Moi-moi, engkau sudah tahu bahwa aku cinta padamu, akan tetapi aku.... ah, aku selalu ragu-ragu, hampir tidak percaya bahwa seorang gadis seperti engkau dapat jatuh cinta padaku. Sekarangpun aku masih merasa terheran-heran bagaimana engkau dapat cinta padaku, moi-moi."
Bi Lan membuka matanya memandang, sinar matanya berseri dan mulutnya yang berbibir merah basah itu tersenyum.
"Sejak dulu aku cinta padamu, koko. Aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi, bahkan guru-guruku jauh dariku. Sam Kwi jauh dari hatiku karena mereka jahat, sedangkan suhu dan subo di Istana Gurun Pasir juga jauh. Aku sudah tidak mempunyai orang tua, tidak mempunyai kakak atau adik, tidak berkeluarga. Karena itu, dalam dirimu aku menemukan semuanya itu. Bagiku engkau adalah pengganti orang tua, pengganti guru, juga pengganti kakak, keluarga, dan juga kekasin hatiku."
"Tapi.... tapi kenapa justeru aku yang kau. pilih?"
Senyum di bibir Bi Lan melebar.
Perasaan halus seorang wanita membuat ia merasa bahwa tentu kekasihnya ini meragukan karena tahu bahwa ada beberapa orang pemuda pilihan yang juga cinta kepadanya.
Mengapa ia memilih Sim Houw dan bukan seorang di antara mereka?
"Karena engkau tidak hanya memkirkan diri sendiri, koko.
Engkau selalu memikirkan kepentinganku dan meniadakan kebutuhanmu sendiri.
Engkau tidak pencemburu (seperti Hong Beng, pikirnya) dan engkau tidak mengkhayal dan memikirkan wanita lain (seperti Kun Tek, pikirnya) walaupun engkau pernah kecewa dan patah hati karena wanita.
Cintamu kepadaku murni dan engkau hanya ingin melihat aku berbahagia.
Karena semua itulah, juga karena aku tertarik kepada pribadimu, kepada wajahmu, kepada perangaimu, kepada....
segala-galamu, maka aku cinta padamu."
Dihujani pujian-pujian itu, Sim Houw terharu sekali dan tanpa disadarinya lagi dia menun-duk, mendekatkan mukanya dan entah siapa yang mulai lebih dahulu, akan tetapi tahu-tahu mereka saling dekap dengan erat dan bibir mereka saling kecup dengan mesra sampai lama, sampai mereka akhirnya menyudahi ciuman itu dengan napas terengah-engah.
Bukan terengah karena kehabisan napas, melainkan terengah karena mereka merasa tubuh mereka panas dingin dan darah dalam tubuh mereka berdesir dan bergolak.
Suara seperti rintihan keluar dari leher Sim Houw dan dia menyembunyikan.
mukanya pada leher yang berkulit putih mulus dan hangat itu, di antara rambut yang membelai mukanya seperti benang-benang sutera hitam.
Sementara itu, dengan tubuh menggigil, Bi Lan memejamkan matanya, menggelinjang dan jantungnya berdebar, Tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas dan dari kerongkongannya juga keluar suara seperti merintih halus.
Sampai agak lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, sampai tiba-tiba telinga keduanya menangkap suara yang keluar dari dalam perut Bi Lan.
Suara berkeruyuknya perut yang menuntut isi!
Mendengar ini, keduanya sadar dari keadaan yang asyik masyuk itu, akan tetapi biarpun hatinya merasa agak geli, Sim Houw cukup bijaksana untuk diam saja dan pura-pura tidak mendengar.
Bahkan dia lalu mempergunakan kekuatan sin-kangnya menekan pada perutnya sendiri sehingga terdengarlah suara berkeruyuk yang sama dengan tadi, hanya yang ini lebih nyaring!
Bi Lan yang tadi merasa canggung dan malu, ketika mendengar keruyuk ke dua dari perut Sim Houw, lalu tertawa.
"Hi-hik, ada lumba nyanyi dalam perut kita, koko....!"
Sim Houw juga tertawa dan buyarlah suasana asyik masyuk tadi dan mereka berdua tersadar.
Walaupun mereka kini merenggangkan diri dan suasana masih mesra, sentuhan tangan mereka masih mengandung getaran asmara, namun mereka tidak lagi dikuasai berahi seperti tadi.
Mereka bangkit berdiri.
Sim Houw memegang kedua lengan gadis itu.
Mereka berdiri saling berhadapan, dekat sekali dan Sim Houw mencium dahi Bi Lan, lalu berkata, suaranya halus dan menggetarkan kasih sayang amat besar.
"Lan-moi, mulai sekarang kita harus berhati-hati. Kita harus dapat berjaga diri, jangan sampai terjadi kebakaran...."
"Eh? Maksudmu?"
"Tadi ketika kita saling berciuman, aku hampir kebakaran...."
Bi Lan tersenyum dan menahan suara ketawanya.
Wajahnya menjadi merah sekali.
Untung cuaca sudah mulai gelap sehingga ia tak perlu menyembunyikan kemerahan wajahnya.
"Aku tahu, karena itu, sebelum kita menikah dengan sah, sebaiknya kalau kita berhati-hati, jangan terlalu dekat agar tidak terjadi kebakaran dan pelanggaran."
"Baiklah, koko.... Bi Lan mengangguk dan semakin kagum terhadap kekasihnya itu. Demikian kuatnya! Kuat lahir batin.
"Semua itu kita lakukan demi kebahagiaan kita sendiri di kemudian hari, bukan, Lan-moi?"
"Engkau benar."
Mereka lalu membuat api unggun, dan Sim Houw berhasil menangkap dua ekor ayam hutan.
Daging dua ekor ayam hutan inilah yang mengisi perut mereka sebelum mereka akhirnya beristirahat di dalam guha itu, tubuh mereka dihangatkan oleh api unggun.
Dunia nampak amat indah bagi mereka, bahkan keadaan dalam guha yang demikian sederhana, di bawah sinar api unggun, tidur di atas tanah berbatu yang kasar, bau tanah mentah, semua itu nampak amat in-dahnya.
Keindahan terletak di dalam batin.
Batin yang berbahagia membuat segala sesuatu nampak indah menyenangkan, Segala penglihatan nampak indah, segala pendengaran menjadi merdu, segala makanan menjadi lezat.
Batin yang berbahagia mendatangkan sorga, sebaliknya batin yang keruh mendatangkan neraka.
Apapun nampak tidak menyenangkan bagi batin yang keruh.
Batin menjadi keruh karena pikiran selalu sibuk berceloteh.
Sayang bahwa kita selalu menjejali pikiran dengan segala macam persoalan sehingga pikiran tiada hentinya bekerja keras dan sibuk, oleh karena itu, batin tak pernah menjadi bening.
Sim Houw dan Bi Lan yang baru saja mendapat sinar cinta, untuk sejenak pikiran mereka tidak sibuk dan batin mereka tidak menjadi keruh.
Akan tetapi hanya sebentar saja karena setelah mereka selesai makan dan kini duduk bersila menghadapi api unggun, pikiran mereka mulai bekerja lagi mengingat-ingat akan hal yang telah lalu.
"Sungguh kita beruntung sekali bahwa keadaan berakhir dengan baik di Istana Gurun Pasir,"
Kata Sim Houw.
"Kalau aku teringat betapa tadinya subomu sudah marah sekali kepadamu, dan betapa suhu dan subomu agaknya sudah tidak percaya kepadamu, sungguh aku masih merasa ngeri. Kalau mereka menghendaki, tidak akan sukar bagi mereka untuk menghukum kita, bahkan membunuh kita sekalipun."
"Akan tetapi aku tetap percaya akan kebijaksanaan mereka, koko. Yang menggemaskan adalah orang yang memburukkan namaku di depan suhu dan subo, dan agaknya aku tahu siapa orangnya!"
Sim Houw memandang wajah kekasihnya. Diapun dapat menduga siapa orangnya, akan tetapi dia tidak mau mendahului Bi Lan.
"Siapakah dia, Lan-moi?"
"Siapa lagi kalau bukan Gu Hong Beng?"
Sim Houw pura-pura kaget.
"Kenapa engkau menyangka dia?"
"Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan subo kepadaku, terdapat tuduhan bahwa kita telah melakukan perbuatan yang melanggar susila. Siapa lagi orangnya yang akan menyangka kita berbuat demikian kecuali Gu Hong Beng yang dipenuhi perasaan cemburu dan iri itu? Dia bersama gurunya yang mendesak dan menyerang kita, dan dialah yang menuduh kita secara membuta membela suci Ciong Siu Kwi. Maka aku yakin tentulah dia yang telah memburukkan namaku di depan suhu dan subo."
Sim Houw menarik napas panjang, maklum mengapa kini pemuda yang gagah perkasa itu, murid dari seorang tokoh keluarga Pulau Es, yang tadinya merupakan seorang sahabat yang setia dan baik dari Bi Lan, kini berubah memburukkan nama Bi Lan.
Dia tahu bahwa pemuda itu jatuh cinta kepada Bi Lan, namun ditolak oleh kekasihnya ini, dan agaknya Hong Beng merasa iri hati dan cemburu.
Diam-diam dia merasa kasihan karena dia maklum bahwa orang pertama yang tersiksa oleh cemburu bukan lain adalah diri orang yang cemburu itu sendiri.
"Sudahlah, biarkan saja kalau memang benar dia yang memburukkan namamu. Mungkin memang dia menyangka kita membela sucimu secara membuta, mungkin dia mengira bahwa kita telah menyeleweng dari pada kebenaran. Yang penting, kita yakin benar bahwa kita tidak menyeleweng, bahwa kita telah berbuat benar. Kini kita harus mencurahkan segala perhatian kita untuk mencari adik Kao Hong Li. Dan sesuai dengan pesan suhu dan subomu, sebaiknya kita langsung saja menuju ke kota Pao-teng untuk mengunjungi keluarga locianpwe Kao Cin Liong."
Bi Lan menyatakan persetujuannya dan merekapun tidak lagi membicarakan tentang Hong Beng.
Dengan hati berat oleh kegelisahan dan kedukaan, suami isteri pendekar Kao Cin Liong dan Suma Hui terpaksa meninggalkan Tibet dan daerah Himalaya.
Mereka telah gagal menemukan puteri mereka walaupun mereka telah berhasil menjumpai pertapa yang berjuluk Ang I Lama.
Mereka masih menggunakan waktu berbulan-bulan untuk melakukan pencarian di daerah itu, namun tak pernah dapat menemukan jejak puteri mereka.
Jejak satu-satunya hanyalah bahwa puteri mereka diculik oleh seorang berjuluk Ang I Lama dan ternyata kakek pertapa itu tidak menyembunyikan puteri mereka!
Ke mana lagi mereka harus mencari?
Akhirnya Kao Cin Liong berhasil membujuk isterinya yang kini menjadi kurus dan pucat karena selalu merasa gelisah dan berduka memikirkan puteri mereka yang hilang, untuk pulang saja ke Pao-teng.
"Jelas bahwa tidak ada jejaknya di barat ini,"
Katanya kepada isterinya.
"Sebaiknya kita pulang saja karena siapa tahu kalau adik Suma Ciang Bun dapat menemukan jejak di sana."
Merekapun melakukan perjalanan pulang ke Pao-teng dengan hati berat.
Mereka merasa lelah lahir batin ketika mereka tiba kembali di rumah mereka, dan kedukaan mereka ditambah lagi oleh kekecewaan karena Suma Ciang Bun yang sudah lama menanti mereka di situ mengabarkan bahwa diapun gagal dalam penyelidikannya.
"Aku telah melakukan penyelidikan ke delapan penjuru berpusat dari Pao-teng, akan tetapi tidak seorangpun pernah melihat kakek berjubah merah membawa seorang anak perempuan tiga belas tahun. Agaknya, penculik itu dapat membawa Hong Li keluar dari Pao-teng dan pergi jauh tanpa ada yang melihatnya. Orang itu tentu lihai sekali."
Suma Ciang Bun menerangkan ketika begitu tiba di rumah dan bertemu dengannya, encinya, Suma Hui, mengajukan pertanyaan padanya.
"Dan bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian?"
Suma Hui lemas tak mampu bercerita, dan Kao Cin Liong yang menceritakan kepada adik isterinya itu tentang kegagalan mereka menemukan Hong Li jauh di daerah Himalaya dan Tibet sana.
Suma Ciang Bun ikut merasa kecewa dan berduka, dia mengepal tinju.
"Keparat manakah yang telah berani melakukan penculikan ini? Aku hanya menanti kembalinya Hong Beng dari Gurun Pasir, dan aku akan mengajaknya untuk mencari lagi, entah ke mana."
"Muridmu itu belum kembali?"
Suma Hui ikut bicara.
"Kenapa demikian lamanya? Jangan-jangan dia tidak berhasil menemukan Istana Gurun Pasir."
"Tidak mungkin. Sebelum berangkat sudah kuberi gambaran yang jelas tentang letak tempat itu dan jalan mana yang harus diambil untuk dapat mencapainya dengan mudah,"
Kata Kao Cin Liong.
"Kalau begitu, aku khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya,"
Kata Suma Ciang Bun.
"Sudah terlalu lama aku menanti kalian kembali di sini, dan sekarang, aku akan menyusul Hong Beng dan bersama dia mencari keponakanku itu sampai dapat."
Suami isteri itu tidak mencegah, bahkan mereka tidak mampu mengeluarkan pendapat.
Dalam keadaan gelisah dan duka, mereka seperti kehabisan akal, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.
Tidak tahu harus ke mana mencari puteri mereka, kepada siapa harus bertanya atau minta bantuan.Dalam keadaan duka dan putus asa, orang berada dalam keadaan kosong atau bening.
Sayang bahwa keheningan itu merupakan keheningan di luar sadar, keheningan sebagai akibat terseret oleh duka, keheningan yang lumpuh.
Pada hal, justeru kita amat membutuhkan keheningan, karena dari sumber atau dasar keheningan dan kekosongan inilah kita dapat memandang dengan penuh kewaspadaan!
Batin kita tidak pernah mengendap, tidak pernah kosong dan hening, Selalu penuh dengan prasangka, pendapat dari keinginan.
Karena itu, panca indera kita tidak pernah bekerja dengan sempurna dan hidup, melainkan hanya bergerak karena dorongan batin yang sarat oleh beban itulah.
Kalau batin sudah berprasangka, mana mungkin pandang mata kita dapat memandang dengan waspada dan awas?
Semua panca indera kehilangan kepekaannya karena selalu diselubungi oleh prasangka, pendapat, atau keinginan.
Kita tidak lagi melihat kenyataan apa yang ada, melainkan selalu ingin melihat sesuatu seperti yang kita kehendaki, yang kita inginkan sehingga segala kenyataan, kalau tidak cocok dengan keinginan kita, nampak buruk, bahkan amat mengganggu mata.
Demikian pula dengan pendengaran, penciuman, perasaan dan semua alat tubuh yang sudah menjadi budak dari pada nafsu kita.
Hilanglah semua ketajaman dan kepekaan yang pernah kita miliki ketika kita masih kanak-kanak, ketika pikiran kita belum sarat oleh beban, ketika "aku"
Kita belum membesar dan merajalela menguasai seluruh diri lahir batin.
Lihatlah mata orang yang baru saja bangun tidur, ketika pikirannya masih mengendap, akan nampak sinar mata yang bening dan cemerlang.
Namun, begitu batinnya disibukkan kembali oleh isi pikiran yang bermacam-macam, lenyap pula keheningan mata, kembali menjadi muram dan hampa, hanya dipermainkan suka duka, puas kecewa.
Hanya melihat benda-benda yang disuka atau tidak disuka, mendengarkan dengan dasar senang dan benci, mata seolah-olah menjadi buta dan tidak pernah melihat segala sesuatu seperti keadaan yang sebenarnya, seperti apa adanya.!
Ada pula orang yang ingin mempertajam kembali panca indera, Melahirkan kembali kepekaannya dengan jalan membius diri dengan candu dan obat-obat pembius lainnya.
Memang, untuk sesaat baban akan menjadi kosong dan bebas, dan panca indera akan bebas pula sehingga kita akan dapat menikmati keadaan apa adanya, akan nampak betapa indahnya setangkai bunga, sehelai daun, sekelompok awan, atau wajah seorang manusia, indah tanpa batasan antara bagus dan jelek, indah yang bukan berarti bagus.
Telinga akan menangkap suara-suara yang luar biasa indahnya, bukan bagus melainkan seperti apa adanya dengan segala nada dan iramanya, dengan segala gaungnya, gemanya, antara kosong dan isi dari serangkaian suara itu.
Akan tetapi, semua itu hanya ditimbulkan oleh keadaan kosong atau hening yang dipaksakan, yang timbul karena pembiusan!
Bagaikan orang minum anggur, baru menjilat percikannya saja.
Dan akibatnya, orang akan menjadi kecanduan, orang akan selalu lari kembali kepada obat bius untuk dapat memasuki alam yang indah itu lagi!
Dan kalau sudah begitu, maka hal itu menjadi kesenangan dan seperti biasanya, untuk mengejar kesenangan orang rela berkorban apapun juga, dalam hal ini, mengorbankan tubuhnya yang menjadi rusak oleh pengaruh obat bius.
Dapatkah kita memasuki keindahan itu tanpa bantuan obat bius?
Pertanyaan ini berarti, dapatkah kita membersihkan semua debu yang mengotorkan batin kita?
Dapatkah kita membuang semua beban pikiran kita?
Dapatkah kita membiarkan pikiran hening dan kosong tanpa mengisinya dengan segala kesibukan yang bukan lain adalah si aku yang ingin segala itu?
Dapat atau tidaknya, mari kita MENGAMATI saja.
Mengamati diri sendiri, pikiran sendiri, batin sendiri.
Kita amati tanpa menentangnya, tanpa berusaha menenangkan atau mengosongkannya, karena kalau ada usaha mengosongkannya, berarti TIDAK KOSONG.
Kalau kita berusaha membuatnya hening, itu berarti bahwa batin kita tidak hening lagi karena terisi kesibukan INGIN HENING.
Dapatkah kita mengamati saja, tanpa pro dan kontra, seperti nonton sandiwara yang terjadi di dalam pikiran kita, tanpa komentar?
Yang ada hanyalah pengamatan, bukan "aku"
Yang mengamati, karena kalau aku yang mengamati, tentu karena aku ingin batin ini hening, aku ingin begini dan begitu.
Jadi, yang ada hanya pengamatan, yang ada hanya kewaspadaan.
Kao Cin Liong dan isterinya adalah orang-orang gagah perkasa, pendekar-pendekar budiman, Namun mereka juga manusia-manusia biasa dengan segala kelemahannya.
Mereka tak dapat menghindarkan diri dari pada ikatan, dan ikatan dengan puteri merakalah yang membuat mereka kehilangan akal, membuat mereka berduka sekali ketika puteri mereka itu dipisahkan dari mereka.
Mereka kehilangan akal, tak sedap makan tak nyenyak tidur, selalu gelisah dan akhirnya keduanya bersepakat untuk meninggalkan rumah lagi, pergi mengunjungi Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun, di luar kota Cin-an.
Kepergian mereka mengunjungi Suma Ceng Liong itu, selain untuk menghibur diri, juga untuk mengabarkan tentang kehilangan puteri mereka agar Suma Ceng Liong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu dapat membantu mereka mencari Hong Li, atau setidaknya minta pendapatnya.
Gu Hong Beng melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat.
Dia telah meninggalkan gurun pasir dan kini tiba di luar sebuah dusun yang letaknya di sebelah utara Tembok Besar.
Tidak jauh dari tembok itu karena tadi, ketika dia menuruni sebuah bukit, dia telah melihat tembok itu melingkar-lingkar seperti seekor naga di antara pegunungan di selatan.
Melihat sebuah dusun yang berada di tempat terpencil ini, hati Hong Beng tertarik sekali.
Siapa tahu dia bisa mendapatkan arak atau makanan di dalam dusun itu, pikirnya.
Setiap hari makan bekal makanannya, yaitu roti kering dan daging kering, amat menjemukan.
Juga dia ingin sekali minum arak setelah berpekan-pekan hanya minum air saja.
Selagi dia hendak memasuki dusun itu melalui pintu gerbangnya yang rusak tiba-tiba dia mendengar teriakan suara wanita.
Hong Beng melihat seorang laki-laki berbangsa Mongol sedang memondong tubuh seorang gadis Mongol dan agaknya gadis inilah yang tadi mengeluarkan teriakan.
Hanya teriakan pendek karena kini gadis itu tak dapat berteriak lagi.
Sebuah tangan pemondongnya menutup mulutnya dan biarpun gadis itu meronta-ronta, namun sama sekali ia tidak mampu melepaskan diri dari pelukan laki-laki yang bertubuh besar itu, bagaikan seekor kijang dicengkeram seekor harimau yang buas.
Orang Mongol itu lari keluar dari dusun, langkahnya lebar dan agaknya dia telah menculik gadis itu tanpa ada yang mengetahuinya.
Biarpun Hong Beng tidak tahu apa yang telah terjadi, namun melihat seorang gadis dilarikan seorang pria secara paksa, jiwa pendekarnya bergolak dan diapun cepat meloncat dan menghadang.
"Berhenti!"
Bentaknya dalam Bahasa Mongol yang sudah dipelajarinya dengan baik.
Orang Mongol itu memandang dengan mata merah dan beringas, apa lagi ketika dia melihat bahwa yang menghadangnya adalah seorang pemuda Bangsa Han, bangsa yang dianggapnya sebagai musuh besar semenjak bangsanya kehilangan kekuasaannya di selatan, setelah penjajah Mongol berakhir.
"Keparat orang Han, minggir dan jangan mencampuri urusanku!"
Bentaknya dalam Bahasa Han yang cukup baik!
Memang, Bangsa Mongol banyak yang pandai berbahasa Han, hal ini tidak mengherankan kalau diingat bahwa mereka menjajah Tiongkok selama dua ratus tahun!
"Lepaskan gadis itu!
Tidak pantas seorang laki-laki memaksa seorang gadis yang lemah!"
Kata pula Hong Beng sambil mengamati orang Mongol itu.
Seorang pemuda yang usianya sekitar tiga puluh tahun, memiliki tubuh raksasa yang membayangkan kekuatan raksasa pula.
Otot-otot menonjol keluar dan mengembang di bawah kulit yang kemerahan karena terbakar matahari.
Dadanya bidang dan kedua lengannya yang berotot itu nampak mengandung tenaga luar biasa.
Hal ini mudah dilihat karena pemuda Mongol itu telah menanggalkan baju atasnya yang kini diikatkan di pinggangnya.
Tubuhnya yang kokoh kuat itu penuh dengan keringat yang membuat kulit tubuhnya mengkilat.
Wajahnya membayangkan kekerasan hati dan keberanian, namun matanya yang agak kemerahan itu memandang beringas dan liar, dan ada sesuatu yang tidak wajar pada pandang matanya itu.
Karena marah menghadapi Hong Beng, pemuda Mongol itu lupa akan gadis yang berada dalam pondongannya dan menjadi lengah.
Tangannya yang menutup mulut gadis itu mengendur dan kesempatan ini dipergunakan oleh gadis itu untuk menggigit tangan itu.
"Ughhhh....!"
Orang Mongol itu terkejut dan kesakitan, lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tanah.
Demikian kuat lemparannya sehingga gadis itu terbanting dan bergulingan.
Hong Beng cepat menangkap dan mengangkatnya bangun.
Gadis itu sejenak merasa nanar, akan tetapi ketika melihat bahwa ia telah ditolong oleh seorang pemuda Han yang tampan, ia merasa lega dan berbisik.
"Dia.... dia itu gila...."
Setelah berkata demikian, gadis ini lalu melarikan diri secepatnya kembali ke dalam dusun.
Hong Beng melihat betapa gadis Mongol itu cantik dan manis sekali, akan tetapi diapun terkejut mendengar bisikan itu.
Kiranya orang Mongol seperti raksasa ini adalah seorang yang gila, dan hal ini memperbesar bahaya.
Melawan seorang gila amat berbahaya, karena tentu saja seorang gila berada di luar kesadarannya, dapat menjadi kuat bukan main, dan juga nekat dan tidak mengenal takut.
Melihat gadis itu melarikan diri, orang Mongol itu berseru keras dan mengejar, akan tetap Hong Beng sudah melompat di depannya dan menghadang.
"Engkau tidak boleh kejar gadis itu!"
Kata Hong Beng.
Orang itu berhenti, menatap wajah Hong Beng dengan matanya yang merah lalu mengeluarkan suara gerengan dari kerongkongannya seperti suara binatang buas, kemudian diapun menubruk dengan kedua lengan dipentang lebar, jari-jari tangan terbuka.
Serangan itu datang dengan mendadak dan cepat sekali, akan tetapi Hong Beng sudah siap sejak tadi.
Dengan mudah dia mengelak dan menyelinap dari bawah lengan kanan lawannya.
Akan tetapi orang itu membalik dan dengan kecepatan luar biasa, kini tangan kirinya menyambar untuk mencengkeram ke arah kepala Hong Beng!
"Hemm....!"
Pemuda ini terkejut juga, tidak mengira bahwa lawan ini demikian cepat gerakannya dan agaknya memiliki ilmu berkelahi yang cukup kuat dan mahir.
Kembali Hong Beng mengelak dan menyampok lengan yang menyambar itu dari samping.
"Plakk!"
Hong Beng mendapat kenyataan betapa kuatnya tenaga yang bersembunyi di dalam lengan yang ditangkisnya itu.
Melihat betapa orang yang diserangnya itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangannya, orang Mongol itu menjadi semakin marah.
Matanya melotot dan merah sekali, dan kini sambil mengeluar-kan gerengan-gerengan menyeramkan, dia bergerak cepat menyerang Hong Beng membabi buta!
Cepat dan kuat sekali serangannya, dan bertubi-tubi karena setiap kali dielakkan atau ditangkis, dia sudah menerjang lagi dengan lebih dahsyat.
Hong Beng tidak berniat memusuhi orang ini.
Dia belum tahu apa yang telah terjadi dan siapa orang ini, siapa pula gadis tadi dan mengapa pula orang ini melarikan wanita itu.
Siapa tahu kalau-kalau wanita itu masih keluarganya sendiri?
Pula, dia tidak ingin bermusuhan dengan orang-orang Mongol karena diapun tahu bahwa orang-orang Mongol merasa sakit hati kepada orang Han dan menganggap Bangsa Han sebagai musuh mereka.
Dia tidak ingin mencari gara-gara di tempat ini dan kalau dia tadi turun tangan, semata-mata karena dia ingin membebaskan seorang wanita dari tangan seorang pria yang hendak memaksanya.
Akan tetapi karena orang itu menjadi semakin ganas, serangan-serangannya menjadi semakin dahsyat, Hong Beng merasa khawatir juga.
Bukan tidak berbahaya kalau sampai terkena cengkeraman karena agaknya orang ini ahli gulat, ilmu berkelahi Bangsa Mongol yang terkenal itu.
Dia harus dapat merobohkan orang ini tanpa membuat dia menderita luka berat, pikirnya.
Ketika orang itu kembali menubruk, dia menyelinap ke samping dan kakinya menendang ke arah paha dengan maksud agar orang itu roboh dan dia akan melarikan diri.
"Bukkk!"
Hong Beng terkejut sekali karena merasa betapa sepatu kakinya bertemu dengan gumpalan daging paha yang kerasnya seperti besi saja!
Kiranya orang ini selain kuat dan cepat, juga tubuhnya kebal!
Dia mencoba lagi dengan memukul dan menampar ke arah pundak, dada dan bahu, namun hasilnya sama.
Orang itu tidak roboh, jangankan roboh, tergoyangpun tidak oleh tamparan dan pukulannya yang dilakukan cukup keras tadi.
Pada saat itu, banyak orang berlari-lari keluar dari pintu dusun dan ternyata mereka adalah sekelompok orang Mongol.
Di depan sendiri berjalan seorang laki-laki setengah tua bersama gadis yang ditolong oleh Hong Beng tadi dan kini mereka nonton perkelahian itu dengan wajah tegang.
Karena tidak nampak sikap marah dari mereka, hati Hong Beng menjadi lega.
Jelas bahwa mereka itu tidak berpihak kepada si gila dan tidak akan mengeroyoknya karena kalau hal itu terjadi, tentu dia sudah melarikan diri.
Akan tetapi, dia menjadi semakin bingung.
Bagaimana dia harus mengalahkan orang gila ini tanpa melukainya?
Orang itu demikian cepat dan kuat, dan tubuhnya kebal bukan main.
Sudah dicobanya untuk menampar bahkan menotok, namun hasilnya sia-sia, agaknya jalan darah orang ini terlindung oleh otot-otot kuat dan daging-daging yang keras.
Karena bingungnya, Hong Beng menjadi sedikit lengah dan tiba-tiba saja orang Mongol itu sudah menubruk dan mencengkeram lehernya!
Hong Beng terkejut, membuang diri ke samping akan tetapi biarpun leher dan pundaknya luput, lengan kanannya tetap saja kena disambar dan dipegang oleh tangan kiri orang Mongol itu yang menyusul pula dengan tangan kanannya.
Dipegang oleh dua tangan yang demikian kuatnya, dengan jari-jari yang panjang dan besar, Hong Beng terkejut.
Dia berusaha menarik tangannya, namun lengannya seperti dijepit oleh jepitan baja yang besar dan kuat.
Agaknya, biar dia menarik lengannya sampai copot dari pundaknya, cekalan orang Mongol itu takkan terlepas!
Dan kini, orang itu mengerahkan tenaga.
Hong Beng merasa betapa lengannya itu diremas dengan kekuatan raksasa.
Kiut-miut rasanya, nyeri bukan main.
Daging lengan itu bisa hancur lebur, tulang-nya bisa remuk berkeping kalau dibiarkan!
Dia cepat mengerahkan sin-kangnya melindungi lengan itu, kemudian dia mencari akal untuk dapat merobohkan orang itu dan membebaskan dari cengkeraman.
Biarpun lengannya sudah dilindungi sin-kang, kalau dilanjutkan, lengan itu bisa rusak.
Akhirnya dia mendapatkan akal.
"Haiiiittt!"
Hong Beng mengeluarkan seruan nyaring dan tangan kirinya bergerak menyambar dengar cepat.
"Dukkk!"
Dengan tangan miring, Hong Beng memukul ke arah belakang telinga kanan orang Mongol itu.
Begitu kena pukulan, tiba-tiba tubuh orang Mongol itu terkulai lemas dan pegangannya pada lengan Hong Beng terlepas.
Pemuda ini meloncat ke belakang dan tubuh lawannya roboh terkulai dalam keadaan pingsan.
Perhitungan Hong Beng memang tepat.
Biarpun pukulannya tidak dapat melukai lawan, namun pukulan sin-kang itu cukup kuat untuk mengguncangkan otak dan membuat lawannya roboh pingsan!
Terdengar seruan-seruan heran dan kagum di antara para penonton yang terdiri dari orang-orang Mongol itu.
Agaknya mereka merasa heran bukan main melihat ada orang yang mampu meroboh-kan raksasa Mongol yang gila itu tanpa melukainya, apa lagi membunuhnya.
Orang Mongol setengah tua yang tadi berjalan di depan bersama gadis itu kini melangkah maju.
Bahasanya cukup baik ketika dia menegur Hong Beng dalam Bahasa Han.
"Orang muda, terima kasih atas perto-longanmu kepada Mayani, anak perempuan kami yang tadi akan dilarikan oleh si gila ini. Dia itu adalah keponakanku sendiri, akan tetapi telah beberapa bulan menderita penyakit gila. Orang muda yang gagah, perkenalkan aku adalah Agakai, ketua dari kelompok suku yang kini berada di dusun itu. Siapakah namamu, orang muda yang gagah?"
Hong Beng memandang kepada kakek setengah tua itu penuh perhatian.
Seorang laki-laki yan bersikap anggun dan gagah, sepasang matanya bersinar penuh kewibawaan.
Bukan laki-laki sembarangan, pikirnya.
Dan gadis bernama Mayani yang menjadi anak perempuan kepala suku ini, memang manis sekali dan gadis itu kini memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan mulut tersenyum ramah dan manis.
"Nama saya Gu Hong Beng, dan saya adalah seorang perantau yang sedang dalam perjalanan. Kebetulan melihat nona ini dilarikan orang, maka dengan lancang saya turun tangan membantunya, harap dimaafkan."
Agakai tertawa.
"Ha-ha, engkau sungguh pandai merendahkan diri, orang muda. Mari, kami persilahkan engkau untuk singgah sebentar untuk mempererat perkenalan antara kita."
Hong Beng mengerutkan alisnya.
Dia tadi memang ingin sekali mencari arak atau makanan, akan tetapi setelah terjadi keributan itu, dia merasa lebih senang kalau dapat melanjutkan perjalanannya.
Agaknya, kepala suku itu melihat keraguannya, maka diapun cepat berkata.
"Gu-taihiap, kami mengundangmu bukan hanya sekedar mempererat persahabatan, melainkan kami ingin mengundang taihiap menghadiri pesta pertemuan antara kami dengan beberapa orang tokoh pejuang."
"Tokoh pejuang?"
Hong Beng tertarik dan merasa heran.
"Siapakah mereka itu?"
"Mereka adalah pendeta-pendeta dan pertapa-pertapa yang sakti, dan mereka itu merupakan pejuang-pejuang rakyat yang melihat betapa rakyat menderita di bawah pemerintah Mancu, mereka bergerak dan berusaha menentang pemerintah Mancu. Mereka kini mengadakan pertemuan dengan kelompok kami karena mereka menawarkan kerja sama dengan kami. Kami harap engkau suka hadir, taihiap, karena kami percaya bahwa seorang pendekar sakti sepertimu tentu dapat membantu kami dalam menentukan sikap terhadap ajakan mereka."
Hati Hong Beng semakin tertarik.
Ingin dia melihat siapakah mereka yang disebut pejuang-pejuang itu.
Mereka adalah pendeta-pendeta dan pertapa-pertapa!
Amat menarik hati memang.
Dia sudah mendengar tentang para pejuang yang menentang pemerintah Mancu dan diam-diam dia menaruh hati kagum terhadap mereka, walaupun dia sendiri tidak berminat untuk mencampuri perjuangan yang belum dimengertinya benar.
Hong Beng menerima undangan kepala suku yang bernama Agakai itu, setelah Mayani, gadis Mongol itu ikut membujuk dengan mengatakan bahwa ia ingin mendapatkan kesempatan membalas pertolongan Hong Beng dengan suguhan arak dan daging.
Kelompok orang Mongol itu kembali ke dusun dan si Mongol gila tadi kini dibelenggu kaki tangannya dan dibawa masuk pula ke dalam dusun.
"Kami baru sepekan berada di sini,"
Kata Agakai ketika mereka memasuki dusun, kepada Hong Beng.
"Kami memilih tempat ini, meminjam dari orang-orang Hui, untuk mengadakan pertemuan dengan para pejuang seperti telah kami rencanakan."
Dusun itu sederhana saja dan Agakai berada di tempat itu bersama puterinya yang berusia sembilan belas tahun itu.
Dia sendiri seorang duda berusia empat puluh lima tahun, dan dia membanggakan diri sebagai keturunan Jenghis Khan, itu raja besar dari Kerajaan Mongol ketika menjajah di selatan.
Ayahnya, mendiang Tailu-cin, dahulu selalu menyatakan sebagai keturunan Jenghis Khan.
Betul tidaknya, Agakai sendiri tidak tahu pasti.
Memang banyak dahulu raja besar Jenghis Khan mempunyai anak, banyak di antaranya di luar nikah dan tidak diakuinya, bahkan mungkin tidak diketahuinya, anak-anak yang terlahir dari wanita-wanita yang pernah menjadi tawanan perang dan dijadikan isteri untuk beberapa malam saja!
Hong Beng diterima sebagai tamu kehormatan, disuguhi minum susu dan arak, dan disuguhi pula makanan dari daging, yang biarpun aneh bagi lidahnya karena bumbunya berbeda-dengan masakan yang biasa dimakannya, namun cukup lezat.
Mayani sendiri lalu berdandan, bersama beberapa orang gadis lain lalu mengadakan pertunjukan tari darn nyanyi untuk menghormat pemuda Han yang tampan dan gagah perkasa, yang telah menyelamatkannya dari tangan orang gila tadi.
Ngeri ia membayangkan bagaimana akan menjadi nasibnya kalau saja ia tidak ditolong oleh Hong Beng tadi karena si gila itu, sebulan yang lalu, pernah pula melarikan seorang gadis dan tiga hari kemudian, dia ditangkap di dalam sebuah guha sedangkan gadis itu yang diperkosanya secara buas, telah menjadi mayat!
Hanya karena raksasa gila itu masih keponakan kepala suku, maka dia tidak dibunuh melainkan dirantai dan disekap di belakang.
Akan tetapi, pagi tadi dia dapat melepaskan diri dan hampir saja membuat korban baru atas diri Mayani, saudara misannya sendiri!
Dan malam hari itu, datanglah tamu-tamu lain, yaitu para pejuang yang hendak mengadakan pertemuan rapat dengan Agakai dan anak buahnya.
Hong Beng sebagai seorang tamu, tidak keluar menyambut, melainkan tinggal di dalam kamar yang disediakan untuknya.
Baru setelah pertemuan dan pesta itu diadakan pada malam hari itu, Hong Beng dipersilahkan keluar dan menghadirinya.
Ternyata yang datang adalah dua puluh lebih orang-orang yang berpakaian sebagai tosu, dipimpin oleh lima orang tosu tua.
Mereka disambut oleh Agakai dan para pembantunya, dan pada malam hari itu, diadakanlah pesta pertemuan itu di pekarangan rumah besar di dalam dusun, di mana telah disediakan meja kursi dan penerangan lampu yang cukup banyak.
Dusun itu sederhana, tidak ada rumah yang cukup besar di situ untuk menjadi tempat pertemuan, maka pesta pertemuan itu diadakan di tempat terbuka.
Lima orang tosu itu duduk di meja besar, disambut oleh Agakai yang duduk pula di situ bersama lima orang pembantunya, yaitu mereka yang dianggap tokoh di antara kelompok mereka.
Mayani duduk di barisan belakang ayahnya, tidak ikut dalam rapat, akan tetapi juga tidak menjadi pelayan, melainkan bagai pendengar saja.
Ketika Hong Beng dipersilahkan duduk, pemuda itu memandang kepada lima orang tosu tadi dengan penuh perhatian.
Tiba-tiba dia terkejut karena dia mengenal bahwa dua di antara lima orang tosu itu pernah dilihatnya.
Akan tetapi dia lupa lagi di mana dan kapan dia pernah berjumpa dengan dua orang tosu itu, dan dua orang tosu itupun agaknya tidak memperlihatkan tanda bahwa mereka mengenalnya.
Agakai memperkenalkan Hong Beng kepada para tamunya.
"Tamu kehormatan kami yang kebetulan berada di sini adalah taihiap Gu Hong Beng yang telah menyelamatkan puteri kami dari ancaman malapetaka. Gu-taihiap, para pendeta inilah pejuang-pejuang yang pernah kami ceritakan kepadamu."
Hong Beng memberi hormat kepada para pendeta itu yang dibalas oleh mereka, akan tetapi mereka bersikap acuh saja kepadanya.
Ketika para pendeta itu bangkit membalas penghormatannya, barulah Hong Beng melihat bahwa di jubah para pendeta itu, di bagian dada, terdapat lukisan-lukisannya.
Tiga orang pendeta memiliki lukisan bunga teratai di dada jubah mereka, sedangkan yang dua lagi terdapat lukisan segi delapan.
Diam-diam dia terkejut.
Kiranya para tosu ini adalah pendeta-pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai!
Memang dia tahu bahwa kedua perkumpulan ini merupakan pemberontak-pemberontak atau menurut istilah mereka adalah pejuang-pejuang, akan tetapi pejuang macam apa!
Mereka tidak segan-segan untuk mengelabuhi rakyat agar mendukung gerakan mereka, akan tetapi walaupun mereka memusuhi pemerintah Mancu, namun merekapun terkenal sebagai golongan yang tidak segan melakukan segala macam kecabulan dan kejahatan demi mencapai tujuan mereka!
Orang-orang gagah dari dunia persilatan tidak suka kepada mereka dan selalu menjauhi mereka.
Bahkan para pendekar yang berjiwa patriot dan berjuang pula menentang penjajah, segan untuk bekerja sama dengan orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai.
Hatinya merasa tidak enak dan penuh curiga, akan tetapi Hong Beng hanya duduk diam saja, memperhatikan percakapan antara mereka yang mulai berlangsung.
"Selamat datang dan selamat malam, para totiang yang terhormat,"
Kata Agakai.
"Seperti telah kita sepakati bersama, kami telah berhasil membujuk dan mengusir penghuni dusun ini, orang-orang Hui, untuk meminjamkan dusun ini kepada kami selama beberapa hari agar kita dapat mengadakan pertemuan di sini. Kami masih belum yakin benar akan cerita tentang perjuangan golongan kalian, maka kami minta agar kalian suka menjelaskan lagi agar kami dapat mempertimbangkan apakah dapat menerima uluran tangan kalian untuk bekerja sama."
Tosu berjenggot panjang dan memegang tongkat berbentuk naga hitam, segera mengelus jenggotnya dan agaknya dialah yang menjadi juru bicara kawan-kawannya.
"Siancai kami hargai kejujuranmu, saudara Agakai. Pertama-tama pinto (aku) ingin menceritakan mengapa kami sengaja memilih saudara untuk bekerja sama. Kami tahu bahwa saudara Agakai adalah keturunan langsung dari Sang Maharaja Jenghis Khan yang maha besar di jaman lampau, oleh karena itu kami merasa yakin bahwa tentu saudara mempunyai semangat untuk mendirikan kembali Kerajaan Goan di mana bangsa saudara merajai seluruh Tiongkok. Nah, kami membutuhkan orang bersemangat seperti saudara untuk menggerakkan seluruh Bangsa Mongol yang jaya untuk menumbangkan kekuasaan Mancu."
Tentu saja Agakai menjadi bangga dan gembira sekali mendengar ini.
Telah tersentuh kelemahannya!
Dia memang selalu ingin menonjol-kan bahwa dia adalah keturunan Jenghis Khan, maka kini ucapan tosu itu seperti mengelus perasaannya dan dia menjadi senang sekali kepada para tosu itu.
"Memang tidak keliru kalau totiang beranggapan demikian,"
Katanya bangga.
"Akulah satu-satunya orang di seluruh Mongol yang berdarah Jenghis Khan dan yang akan mampu menggerakkan seluruh bangsaku untuk bangkit lagi."
"Itulah harapan kami, saudara Agakai. Kami menganggap bahwa gerakan yang datang dari utara lebih banyak harapan untuk berhasil, karena selain dekat dengan kota raja, juga terdapat banyak gunung dari mana kita dapat bergerak secara sembunyi. Tembok Besar tidak merupakan penghalang yang terlalu berat, bahkan para perajurit pamerintah yang melakukan tugas berjaga di Tembok Besar, kebanyakan kurang semangat dan kurang kuat, jauh dari hiburan dan sudah merasa bosan tinggal di tempat yang tandus. Kami membutuhkan bantuan saudara untuk menghimpun tenaga yang kuat, yang setiap waktu dapat kami pergunakan untuk menyerbu ke selatan. Kami akan bergerak dari dalam Tembok Besar."
"Nanti dulu, totiang. Selain pemerintah Mancu memiliki pasukan yang amat besar dan kuat, juga Kaisar Kian Liong selalu dibantu oleh para pendekar yang setia dan mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Mungkin saja menandingi pasukan dengan siasat perang, akan tetapi bagaimana akan dapat menandingi para pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi?"
"Ha-ha-ha, tidak perlu khawatir, saudara Agakai. Kami orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai memiliki banyak sekali tokoh yang berilmu tinggi, dan para pendekar itu tidak ada artinya bagi kami."
"Tapi, di sana terdapat para pendekar yang lihai, seperti keluarga Pulau Es...."
"Siancai!"
Tosu berjenggot panjang itu berseru "Keluarga Pulau Es hanyalah penjilat-penjilat kaisar, takut apa?
Kalau ada yang muncul di sini, tentu kepalanya akan pinto hancurkan dengan tongkat ini, seperti kepala arca di sana itu!"
Tiba-tiba kakek itu melempar-kan tongkatnya dan sungguh aneh.
Tongkat yang berbentuk seekor naga hitam itu tiba-tiba saja seperti "hidup", terbang melayang menyambar ke arah sebuah arca batu yang berdiri sejauh dua puluh meter lebih dari tempat kakek itu duduk.
Terdengar suara keras ketika tongkat menghantam kepala arca, dan pecah berantakanlah kepala arca itu, sedangkan tongkatnya kembali terbang ke arah tangan tosu tua itu!
Hong Beng terkejut dan maklum bahwa tosu Pek-lian-kauw ini mempergunakan ilmu sihir bercampur ilmu silat yang amat tinggi!
Sementara itu, Agakai dan para pembantunya memandang dengan mata terbelalak dan mulut bengong.
Kemudian terdengar sorak-sorai para anak buahnya yang berada di sekeliling tempat pesta itu.
Merekapun melihatnya dan memberi pujian.
Sementara itu, Hong Beng, tentu saja merasa perutnya panas mendengar betapa keluarga Pulau Es dimaki sebagai penjilat dan dipandang rendah.
Dan pada saat itu, diapun tiba-tiba teringat siapa adanya dua orang tosu yang duduk di situ, yang tadi diingatnya sebagai orang-orang yang pernah dikenalnya.
Kini dia teringat bahwa dua orang itu bukan lain adalah dua orang pendeta yang pernah dijumpainya ketika dia mencarikan obat untuk suhunya yang terluka.
Dua orang pendeta yang ditemukannya dalam keadaan luka dan menceritakan kepadanya bahwa mereka adalah dua orang yang menentang Bi-kwi, karena Bi-kwi menculiki pemuda-pemuda di dusun, akan tetapi mereka berdua kalah karena Bi-kwi dibantu oleh Bi Lan dan Sim Houw!
Karena keterangan mereka itulah maka dia bersama suhunya lalu pergi mencari Bi Lan dan Sim Houw, bahkan lalu menyerang mereka.
Kini timbul keraguan dalam hatinya!
Benarkah keterangan mereka tempo hari?
Mungkinkah seorang tosu Pek-lian-kauw dan seorang tosu Pat-kwa-pai muncul sebagai pendekar, sedangkan Bi Lan dan Sim Houw sebaliknya menjadi pembela yang jahat?
Pikiran ini membuat dia menjadi semakin marah.
Jangan-jangan dua orang pendeta ini dahulu hanya melakukan fitnah saja sehingga berhasil menga-du domba antara dia dan gurunya melawan Bi Lan dan Sim Houw!
Kalau benar, celakalah!
Pada saat itu, terdengar tosu tinggi besar perut gendut, seorang di antara dua pendeta yang pernah dijumpai Hong Beng, yaitu yang bernama Ok Cin Cu, tokoh Pat-kwa-pai, berkata kepada Agakai.
"Saudara Agakai, sudah menjadi tugas kami masing-masing tosu dari perkumpulan kami untuk menyampaikan berkah dan pelajaran kepada seorang murid wanita baru. Pinto minta agar gadis yang duduk di belakangmu itu malam nanti menjadi murid pinto yang baru dan tinggal bersama pinto dalam kamar pinto."
Agaknya Agakai sudah tahu akan kebiasaan para tosu cabul itu, maka mukanya menjadi merah karena yang dimintanya adalah puterinya!
Dia tidak perduli, akan kebiasaan mereka.
Dia bahkan menganggapnya wajar kalau tokoh-tokoh besar itu membutuhkun hiburan karena tugas mereka yang berat dalam perjuangan.
Akan tetapi kalau puterinya yang diminta, tentu saja dia tidak dapat memaksa puterinya.
Agakai tertawa.
"Totiang, agaknya engkau belum tahu bahwa ia ini adalah Mayani, puteriku sendiri. Aku tak pernah memaksa puteriku, akan tetapi kalau ia suka melayanimu dan menjadi muridmu malam ini secara suka rela, akupun tidak akan dapat melarangnya."
Dengan ucapan ini, Agakai merasa yakin bahwa puterinya tentu akan menolak.
Gadis mana yang suka melayani seorang kakek yang buruk rupa dan berperut gendut seperti tosu itu?
Apa lagi puterinya, gadis yang amat pemilih dan selama ini belum pernah mau menerima pinangan pemuda-pemuda yang cukup tampan.
Tosu berjenggot panjang yang memimpin para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai itu tiba-tiba berkata, (Lanjut ke
Jilid 36) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 36
"Aha, tentu saja nona Mayani suka melayani dan menjadi murid saudara Ok Cin Cu!"
Begitu ucapan ini dikeluarkan, tiba-tiba Mayani lalu bangkit berdiri, lalu menghampiri Ok Cin Cu dan berkata.
"Aku suka sekali melayanimu dan menjadi muridmu, totiang!"
Tentu saja Agakai terkejut setengah mati melihat puterinya demikian patuh dan dengan suka rela menghampiri tosu itu dan menyatakan suka malayani dan menjadi murid!
Janjinya telah diucapkan dan disaksikan orang banyak ternyata Mayani dengan suka sendiri mau melayani tosu gendut itu.
"Mayani....!"
Dia berseru kaget dan heran.
Tiba-tiba Hong Beng yang sudah tidak mampu menahan kesabarannya lagi karena dia maklum apa artinya sikap Mayani yang aneh itu, ialah bahwa gadis itu tentu terkena pengaruh sihir kakek berjenggot panjang, lalu bangkit berdiri, menggebrak meja dan dari mulutnya keluar suara melengking tinggi yang membuyarkan pengaruh sihir atas diri Mayani karena teriakan melengking itu mengandung tenaga khi-kang yang amat kuat.
Mayani tersentak kaget, lalu menjadi bingung mengapa ia berdiri di depan tosu gendut.
"Eh, apa yang terjadi.... ayah....?"
Tanyanya dan iapun cepat kembali ke belakang ayahnya.
"Para tosu jahat dan cabul!"
Bentak Hong Beng dengan marah sehingga sepasang matanya berkilat.
"Kalian telah menyebar racun fitnah, bujukan dengan ilmu hitam yang amat keji! Saudara Agakai, jangan engkau terkena bujukan iblis mereka ini. Mereka adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang amat jahat, berkedok perjuangan. Hampir saja puterimu terjebak dalam sihir dan menjadi korban mereka yang amat jahat!"
Para tosu itu bangkit berdiri dengan marah dan sekarang Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin, dua orang tosu yang berada di situ, juga mengenal Hong Beng.
"Siancai....! Dia ini adalah murid keluarga Pulau Es! Dia mata-mata musuh, dia mata-mata pemerintah Mancu!"
Teriak Ok Cin Cu dengan marah, memutar tongkat hitamnya yang berbentuk ular itu ke atas kepala.
Kalau tadinya Agakai terkejut mendengar kata-kata Hong Beng dan memandang kepada para tosu penuh kecurigaan dan kemarahan, kini dia terkejut dan menghadapi Hong Beng.
"Gu-taihiap, benarkah engkau murid keluarga Pulau Es?"
Dengan sikap gagah Hong Beng menjawab.
"Benar, aku adalah murid keluarga Pulau Es, dan seperti semua orang gagah di seluruh dunia, akupun menentang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw yang melakukan kejahatan dengan kedok agama dan perjuangan! Harap saudara Agakai jangan sampai terkena bujukan mereka!"
Akan tetapi, mendengar bahwa pemuda ini murid keluarga Pulau Es, Agakai yang juga telah terkena pengaruh sihir dari para tosu, segera merasa tak senang dan curiga.
Bagaimana-pun juga, dia tahu bahwa keluarga Pulau Es condong membantu pemerintah Mancu karena mereka itu berdarah Mancu pula.
"Tangkap mata-mata ini!"
Teriaknya kepada orang-orangnya.
Hong Beng terkejut dan tak sempat untuk membela diri dengan kata-kata, maka sekali meloncat dia telah berada di luar tempat pesta itu.
Akan tetapi, lima orang tosu itu sudah berloncatan dan mengepungnya.
"Ha-ha-ha, orang muda mata-mata musuh, hendak lari ke mana engkau?"
Teriak Thian Kek Seng-jin yang sudah menggerakkan tongkatnya yang berbentuk naga hitam pula, seperti tongkat tosu berjenggot panjang yang menjadi pemimpin rombongan itu.
"Wuuuttt....!"
Hong Beng mengelak, akan tetapi dia segera dikeroyok dan karena tingkat kepandaian para tosu itu amat tinggi, yang paling rendah seimbang dengan tingkatnya, tentu saja dia menjadi repot sekali menghadapi pengeroyokan mereka.
Apa lagi, di luar kepungan ini masih terdapat para anggauta Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, juga orang-orang Mongol.
Ketika tongkat hitam berbentuk ular di tangan Ok Cin Cu menyambar lehernya dan sebatang pedang menusuk lambungnya, dia cepat mengelak dan pada saat itu, tosu berjenggot panjang telah mengebutkan saputangan hitam di depan muka Hong Beng.
Karena dia dalam keadaan mengelak dan terkepung, Hong Beng tidak mampu mengelak lagi dan begitu saputangan itu dikebutkan dan mengeluarkan debu, diapun mencium bau keras dan roboh pingsan!
Kiranya para tosu itu tidak mau membunuh Hong Beng karena mereka ingin memanfaatkan pemuda ini.
Sebagai seorang pemuda murid keluarga Pulau Es, tentu saja dia merupakan orang penting.
Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin sudah pernah mempermainkannya dan mereka tahu bahwa Hong Beng merupakan seorang pemuda yang berwatak keras dan mudah ditipu.
Tidak ada gunanya membunuh pemuda ini, akan tetapi mungkin dalam keadaan hidup mereka akan dapat memanfaatkan pemuda ini, setidaknya sebagai sandera karena siapa tahu kalau-kalau di belakang pemuda ini masih terdapat keluarga Pulau Es yang hendak menyerbu mereka.
Setelah Gu Hong Beng dibikin tak berdaya dengan dibelenggu kaki tangannya, dan para tosu itu menyerahkannya kepada anak buah Agakai untuk dimasukkan sebuah kamar dan dijaga ketat, dibantu penjagaannya oleh para tosu anggauta Pek-lian-kauw, para tosu lalu mengajak Agakai melanjutkan percakapan mereka.
Mayani tak nampak di situ karena begitu tadi sadar bahwa ia telah bertindak aneh dan bahkan menyerahkan diri untuk melayani tosu gendut, gadis ini menjadi ngeri dan meninggalkan tempat itu.
Ia menangis di dalam kamarnya, teringat akan Hong Beng yang pingsan dan ditawan.
Ia tidak mengerti mengapa ayahnya berbalik memusuhi penolongnya itu dan ia merasa penasaran sekali!
Sementara itu, kakek jenggot panjang yang merupakan seorang tokoh Pek-lian-kauw, berkata kepada Agakai.
"Saudara Agakai, mengingat bahwa engkau agaknya kurang setuju kalau puterimu menjadi murid seorang di antara kami, biarlah pinto membatalkan saja dan puterimu tidak akan menjadi murid kami. Tentu saja engkau tahu bahwa sebagai pengganti puterimu, engkau sepatutnya menyediakan gadis-gadis lain untuk menjadi murid-murid kami berlima malam ini "
Wajah kepala suku itu menjadi berseri.
"Tentu saja! Jangan khawatir, kalau gadis-gadis suku kami tidak berbakat menjadi murid kalian, masih ada gadis-gadis Hui yang dapat kami minta untuk menjadi murid kalian."
"Sekarang dengarkan rencana kami selanjutnya, saudara Agakai. Seperti kami katakan tadi, untuk daerah utara ini kami mempercayakan kepada saudara untuk menghimpun kakuatan dan mempersiapkan diri. Sewaktu-waktu kami akan memberi kabar kalau pasukanmu dibutuhkan. Di bagian timur, kami telah menghubungi para bajak laut Bangsa Korea dan Jepang, dan di barat kami akan mencoba untuk menghubungi Sin-kiam Mo-li."
"Sin-kiam Mo-li? Siapakah ia?"
Tanya Agakai yang tentu saja belum mengenal tokoh-tokoh di dunia kang-ouw.
"Ia seorang wanita yang sakti, jauh lebih pandai dari pada kami semua!"
Kata tosu berjenggot panjang.
"Ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio yang tewas di tangan para pendekar, terutama keluarga Pulau Es. Karena itu, ia tentu mendendam kepada keluarga Pulau Es dan kami yakin ia akan suka menggabung-kan diri dengan kita. Untuk daerah barat, kami akan menyerahkan kepada Sin-kiam Mo-li, tentu saja kalau ia suka bergabung seperti yang kami rencanakan. Ia tinggal di tepi Sungai Cin-sa, di kaki Pegunungan Heng-tuan-san. Ia lihai dan cantik jelita walaupun usianya sudah empat puluh tahun, seperti seorang gadis remaja saja!"
Para tosu lalu memuji-muji Sin-kiam Mo-li sebagai ahli silat dan juga ahli sihir yang amat pandai.
Tentu saja Agakai menjadi kagum bukan main.
Dia telah melihat kelihaian Hong Beng yang dengan mudah merobohkan keponakannya yang gila dan yang memiliki tenaga luar biasa kuatnya itu.
Kemudian dia melihat betapa Hong Beng yang lihai itupun roboh dengan mudah oleh para tosu ini.
Maka, mendengar betapa wanita yang berjuluk Sin-kiam Mo-li itu memiliki ilmu silat dan ilmu sihir yang amat tinggi, lebih lihai dari pada para tosu itu, tentu saja sukar bagi dia untuk membayangkan kesaktian seperti itu.
Diam-diam dia merasa girang dapat bekerja sama dengan orang-orang yang demikian pandainya.
Agaknya dia akan dapat berhasil membangun kembali Kerajaan Goan-tiauw yang telah jatuh dari bangsanya yang jaya!
Para tosu itu dan para tokoh Mongol yang menjadi tuan rumah, sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi percakapan mereka didengarkan oleh dua orang yang mengintai tak jauh dari tempat itu.
Dua orang yang memiliki gerakan amat ringan dan cepat sehingga mereka mampu mendekati tempat pesta pertemuan itu tanpa diketahui orang, bahkan ikut mendengarkan percakapan antara para tosu dan Agakai dengan menggunakan pendengaran mereka yang amat peka.
Dua orang ini bukan lain adalah Sim Huow dan Can Bi Lan.
Seperti kita ketahui, dua orang ini kembali dari gurun pasir dan melakukan perjalanan cepat sehingga mereka dapat menyusul Hong Beng yang melakukan perjalanan terlebih dahulu akan tetapi karena Hong Beng pernah salah jalan sehingga membuang waktu beberapa hari maka akhirnya dia tersusul.
Sim Houw dan Bi Lan sama sekali tidak menyangka di situ akan bertemu dengan Hong Beng.
Mereka kebetulan lewat di dusun itu dan tadi mereka mendengar ribut-ribut di dalam dusun.
Ketika mereka melihat Hong Beng dirobohkan dan tertawan, mereka tidak segera turun tangan, melainkan melakukan pengintaian untuk melihat apa yang terjadi dan mengapa pula Hong Beng dikeroyok para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw di tempat itu.
Mereka berdua mengintai dan mendengarkan percakapan antara para tosu dan Agakai, kepala suku Mongol itu.
Ketika mendengar disebutnya nama Sin-kiam Mo-li anak angkat Kim Hwa Nio-nio yang mendendam kepada keluarga Pulau Es, diam-diam mereka mencatat dalam hati nama wanita itu dan alamatnya.
Kemudian, melihat bahwa yang dibicarakan oleh para tosu dan kepala suku adalah urusan pemberontakan, yang mereka namakan perjuangan, maka Sim Houw memberi isyarat kepada Bi Lan untuk meninggalkan tempat persembunyian mereka di atas pohon besar itu.
Baik buruk atau benar salahnya sesuatu atau suatu perbuatan tidak terletak di dalam perbuatan itu sendiri, melainkan terletak di dalam pandangan seseorang terhadap perbuatan itu.
Kalau si peman-dang merasa bahwa perbuatan itu menguntungkan atau menyenangkan hatinya, tentu saja dia akan mengatakan bahwa perbuatan itu baik dan benar.
Baca Juga: Mutiara Hitam 2
Baca Juga: Mutiara Hitam 10