Eps 10 Suling Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Naga - Kho Ping Hoo.
Pernah ia terluka dan Cu Kun Tek mengobati pinggangnya, hampir sama seperti yang dilakukan Sim Houw tadi, hanya bedanya kalau Kun Tek meraba pinggangnya, Sim Houw meraba pahanya.
Ketika itu, Hong Beng muncul dan pemuda yang cemburu ini langsung saja menyerang Kun Tek karena menyangka mereka berbuat cabul!
Dan kini, tiba-tiba Hong Beng muncul dan mendengar seruannya tadi yang mengatakan mereka tidak tahu malu iapun tahu bahwa kembali Hong Beng cemburu dan salah sangka!
Maka, iapun menjadi marah.
Dengan muka merah dan mata berapi-api, iapun melangkah maju.
"Gu Hong Beng, engkaulah laki-laki yang tak tahu malu!"
Ia membentak dengan marah sekali.
"Selalu mencampuri urusan orang dan menjatuhkan fitnah, menuduh orang yang bukan-bukan karena cemburu. Sungguh tak tahu malu, cinta tak dibalas berubah cemburu gila!"
Wajah Hong Beng menjadi merah, bukan hanya karena marah akan tetapi juga karena malu.
Ucapan itu memang tepat sekali, seperti ujung pedang yang menusuk dan menembus jantungnya.
Karena tepat itulah maka mendatangan rasa nyeri yang lebih hebat lagi.
Memang dia cemburu, dia iri terhadap Sim Houw.
Kenapa Bi Lan demikian akrab dengan Sim Houw.
Mungkinkah dara itu, yang menolak cintanya, kini jatuh cinta kepada Sim Houw?
Aneh, pikirnya.
Dalam segala hal, kecuali barangkali dalam hal ilmu silat, dia tidak kalah oleh Sim Houw.
Dia lebih muda, sebaya dengan Bi Lan, juga cukup tampan!
Sim Houw terlalu tua untuk Bi Lan.
Hal ini membuat dia menjadi semakin penasaran.
Akan tetapi sebelum dia sempat menjawab lagi.
Sim Houw yang sudah mengenal Hong Beng sebagai seorang di antara para pendekar muda yang gagah perkasa, bahkan dia mendengar bahwa pemuda ini adalah murid dari keluarga Pulau Es, cepat melangkah maju dan memberi hormat kepada Hong Beng dan pria yang usianya kurang dari empat puluh tahun dan nampak pendiam dan serius itu.
"Saudara Gu Hong Beng, harap jangan salah sangka terhadap nona Can Bi Lan. Kami semalam berkelahi melawan musuh-musuh yang lihai dan nona Can terkena pukulan pada paha kirinya. Kami beristirahat di sini dan aku hanya berusaha menghilangkan rasa yeri yang dideritanya karena luka memar di pahanya."
"Aku tidak mempersoalkan itu!"
Gu Hong Beng juga membentak dengan suara tetap ketus.
"Akan tetapi kalian sungguh tidak tahu malu telah mengambil jalan sesat dan membantu, juga melindungi iblis betina Bi-kwi murid Sam Kwi! Sekarang kami datang untuk minta agar kalian memberi tahu kepada kami di mana tempat persembunyian Bi-kwi agar kami dapat membasminya!"
Bi Lan marah sekali mendengar ini.
"Hong Beng, tutup mulutmu yang kotor! Kami berdua memang membela dan melindungi suci Ciong Siu Kwi dari gangguan orang-orang jahat. Dan suci sekarang telah menjadi seorang wanita yang baik-baik, jangan kau memakinya sebagai iblis betina."
"Hemmm, bohong besar Bi Lan, aku tidak menyangka bahwa engkau sekarang telah berbalik pikir dan mencontoh kehidupan sucimu yang bejat ahlaknya itu. Siapa sudi percaya kebohonganmu bahwa orang macam Bi-kwi dapat berubah menjadi wanita baik-baik? Dan buktinyapun tidak begitu. Baru-baru ini ia bahkan membantu orang-orang jahat untuk memusuhi suhuku ini."
Berkata demikian, Hong Beng menunjuk kepada laki-laki berusia tiga puluh delapan tahun itu yang sejak tadi memandang tajam tanpa mengeluarkan sebuah katapun.
"Ahhh....!"
Sim Houw dan Bi Lan berseru kaget.
Kiranya pria yang datang bersama Gu Hong Beng ini adalah guru pemuda itu, berarti bahwa pria ini adalah pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es!
Sim Houw memandang penuh perhatian dan merasa terkejut sekali.
Para pembaca tentu akan terheran pula bagaimana Suma Ciang Bun dapat muncul bersama Gu Hong Beng di tempat itu.
Seperti telah kita ketahui, Suma Ciang Bun yang sedang bersamadhi diganggu oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin yang minta bantuan Ciong Siu Kwi.
Wanita ini terpaksa memenuhi permintaan mereka untuk menyelamatkan Yo Jin yang mereka jadikan tawanan dan semacam sandera untuk memeras Siu Kwi.
Dan dalam perkelahian dikeroyok tiga ini, terpaksa Suma Ciang Bun melarikan diri dengan membawa luka.
Belum jauh dia melarikan diri, dia terpaksa beristirahat dan berusaha mengobati lukanya.
Dalam keadaan demikianlah dia bertemu dengan Hong Beng, muridnya yang memang sedang mencarinya.
Melihat gurunya terluka, Hong Beng lalu membantu suhunya untuk mengobati luka itu dan bertanya bagaimana suhunya sampai menderita luka.
Ditanya oleh muridnya, Suma Ciang Bun menarik napas panjang.
"Dua orang dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw menyerangku, dan memang dua perkumpulan itu selalu memusuhi keluarga Pulau Es. Aku herhasil mengalahkan dan mengusir mereka berdua. Akan tetapi, beberapa hari kemudian mereka datang lagi, kini dibantu oleh seorang wanita cantik yang masih muda dan lihai sekali. Dan sekali ini, pengeroyokan mereka bertiga membuat aku terluka dan terpaksa melarikan diri."
Hong Beng marah sekali.
"Hemm, siapakah wanita itu, suhu? Seperti bagaimana rupanya?"
Ketika Suma Ciang Bun menggambarkan keadaan Siu Kwi, Hong Beng menepuk pahanya.
"Ah, tidak salah lagi! Tentu iblis wanita itu yang membantu para tosu Pek-lian-kauw!"
"Kau kenal wanita itu?"
"Ia tentu Bi-kwi, murid Sam Kwi. Ia memang jahat bukan main, suhu, keji dan pantas untuk dibasmi dari permukaan bumi!"
Hong Beng lalu menceritakan semua pengalamannya sejak dia meninggalkan suhunya.
Girang hati Suma Ciang Bun mendengar bahwa muridnya telah melakukan banyak hal gagah, bahkan muridnya telah bertemu dan bekerja sama dengan para pendekar keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir.
Dengan perawatan Hong Beng, Suma Ciang Bun cepat sembuh kembali dari luka-lukanya.
Pada suatu hari, Gu Hong Beng meninggalkan gurunya di dalam guha di bukit yang berbatu-batu itu untuk mencarikan makanan bagi suhunya.
Ketika dia sedang berjalan seorang diri di tempat sunyi itu, menuju ke sebuah dusun, tiba-tiba di sebuah tikungan dia melihat dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu, sedang duduk mengaso di tepi jalan.
Agaknya dua orang kakek itu kelelahan, atau sedang sakit.
Hong Beng yang menaruh curiga karena teringat akan cerita gurunya yang diganggu oleh tosu tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, cepat menghampiri dua orang kakek itu.
Mereka memakai pakaian pendeta, akan tetapi bagian luarnya memakai jubah yang tebal karena hawa memang dingin dan agaknya mereka menderita luka ketika melihat mereka seperti bukan orang jahat, Hong Beng menjura dengan penuh hormat.
"Kenapa-kah ji-wi totiang berada di sini dan kelihatannya seperti sedang menderita? Siapakah ji-wi totiang?"
Melihat seorang pemuda yang gagah dan bersikap sopan, dua orang tosu itu sejenak memandang penuh perhatian.
Seorang di antara mereka yang tinggi besar dan berperut gendut, segera berkata.
"Siancai, siancai.... terima kasih atas perhatianmu, orang muda yang baik. Penglihatanmu tajam sekali, karena kami memang sedang sakit, menderita luka-luka dalam yang cukup berat."
Hong Beng terkejut.
"Ahh? Apakah ji-wi totiang baru saja berkelahi dengan orang lain?"
Kakek yang kurus kering mengangguk-angguk.
"Memang penglihatanmu tajam sekali, dan tentu engkau seorang yang gagah perkasa, orang muda. Sebelum kita bicara lebih jauh, bolehkah pinto mengetahui siapa namamu dan dari perguruan manakah?"
Melihat sikap dua orang tosu itu seperti bukan orang jahat, dan memang kebanyakan pendeta dan pertapa tentulah orang-orang yang baik, maka diapun mengaku terus terang.
"Saya bernama Gu Hong Beng, guru saya adalah pendekar Suma Ciang Bun...."
"Aihhh!"
Si kakek gendut berseru.
"Pendekar Suma dari Pulau Es?"
Hong Beng tersenyum, agak bangga.
"Memang suhu adalah keturunan keluarga Pulau Es dan siapa-kah ji-wi totiang?"
Sebelum kakek gendut menjawab, kakek kurus sudah mendahului.
"Kami adalah dua orang pertapa yang sudah lama mengasingkan diri dan kadang-kadang saja melakukan perjalanan ke gunung-gunung dan dusun-dusun. Pinto Pek-san Lo jin dan ini adalah sute Hek-san Lo-jin. Dalam perjalanan kami, di balik bukit ini, di sebuah dusun kami mendengar bahwa ada seorang siluman betina yang membikin kacau dusun dengan menculik dan membunuhi pemuda-pemuda tampan. Sebagai seorang yang selalu menentang kejahatan, kami berdua lalu melakukan penelitian dan mendapat kenyataan bahwa siluman betina itu adalah Bi-kwi, murid dari mendiang Sam Kwi...."
"Ah, aku tahu siluman itu!"
Hong Beng berseru "Apakah ji-wi kalah olehnya sehingga terluka?"
"Sayang sekali, sebenarnya kami berdua dapat menundukkan siluman itu. Akan tetapi muncul dua orang yang membantunya sehingga kami terluka. Pembantunya itu bukan lain adalah seorang pemuda bernama Sim Houw, dan pacarnya bernama Can Bi Lan sumoi dari siluman betina itu...."
"Ahhhh....! Pacarnya....?"
Hong Beng menegaskan dengan hati panas.
Panas karena Bi Lan dan Sim Houw membantu Bi-kwi, juga panas karena mendengar bahwa Bi Lan menjadi pacar Sim Houw.
"Ya, pacarnya. Mereka demikian akrab, dan mereka lihai sekali. Kami kalah dan terluka. Ah, kalau taihiap adalah murid dari keluarga Pulau Es, kami harap taihiap suka menghadapi mereka, untuk menyelamatkan para pemuda di dusun-dusun wilayah ini."
"Jangan khawatir, ji-wi totiang, saya dan suhu pasti akan dapat membasmi siluman itu dan kaki tangannya!"
Setelah kembali ke tempat di mana gurunya beristirahat, Hong Beng lalu bercerita tentang dua orang pertapa itu.
Mendengar ini, Suma Ciang Bun menjadi marah.
(Lanjut ke
Jilid 30) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30
"Hemmm, mula-mula ia membantu para tokoh Pek-lian-kauw dan kini menculik pemuda-pemuda dusun. Hong Beng, mari kita pergi mencari mereka!"
"Akan tetapi suhu baru saja sembuh...."
"Aku sudah sembuh sama sekali. Mereka itu lihai, kalau engkau yang maju sendiri, aku khawatir engkau akan celaka. Kalau kita maju berdua, tentu mereka akan dapat kita basmi."
Demikianlah, guru dan murid itu meninggalkan guha dan mulai dengan usaha mereka untuk mencari Siu Kwi, Bi Lan dan Sim Houw.
Dan pagi hari itu, kebetulan sekali mereka melihat Bi Lan dan Sim Houw dan melihat betapa Sim Houw memijit-mijit paha kiri Bi Lan, tentu saja cemburu, iri hati dan kemarahan membuat Hong Beng tak dapat menahan diri dan segera maju menegur dengan sikap marah.
Mendengar tuduhan Hong Beng terhadap Siu Kwi, Bi Lan segera mengambil sikap membela sucinya.
"Ia juga menceritakan hal itu kepadaku!"
Bantahnya.
"Memang benar ia telah membantu tosu Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw untuk memusuhi Suma-locianpwe, akan tetapi ia melakukannya dengan terpaksa karena pemuda tunangannya ditawan oleh para tosu itu."
Mendengar mereka berbantahan, Suma Ciang Bun segera melangkah maju.
"Sudahlah, tidak perlu berbantahan. Yang penting, harap kalian suka memberi tahu di mana adanya siluman betina itu karena kami ingin membunuhnya."
Bi Lan marah sekali, juga Sim Houw mengerutkan alisnya.
Sikap pendekar keturunan keluarga Pulau Es ini sungguh tidak menyenangkan, dan terlalu terburu nafsu hendak membunuh orang.
Tidak dapat diajak berunding dengan baik-baik, dan sikap itu agaknya didorong oleh ketinggian hati yang tidak memandang kepada orang lain.
"Suci Ciong Siu Kwi tidak bersalah dan kami tidak tahu ia berada di mana. Andaikata kami tahu sekalipun, tidak akan kami beritahukan kepada orang-orang yang berniat untuk mengganggunya!"
Kata Bi Lan dengan suara ketus. Hong Beng meloncat ke depan.
"Bi Lan!"
Katanya, suaranya keren.
"Antara kita sudah terjalin persahabatan sejak lama sekali, dan kita sama mengenal masing-masing sebagai pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kelaliman dan kejahatan. Apakah engkau lupa akan hal itu? Ketika kita semua menyerbu para pembantu pembesar lalim Hou Seng. engkau melepaskan Bi-kwi dan kukira hal itu hanya karena engkau mengingat hubungan perguruan dan menaruh hati kasihan kepadanya. Akan tetapi siapa tahu, kini agaknya engkau malah tersesat dan hendak mengikuti jejaknya! Engkau melindungi seorang iblis betina, biarpun iblis itu pernah menjadi sucimu. Ingatlah, Bi Lan dan sadarlah sebelum terlambat."
Dia lalu memandang kepada Sim Houw.
"Sim-taihiap selama ini kuanggap sebagai Pendekar Suling Naga yang terkenal. Kenapa setelah dekat dengan Bi Lan, tidak mau membimbing gadis ini ke arah jalan yang benar?"
"Hong Beng, tutup mulutmu! Engkau tidak berlak mengurus kehidupanku! Aku yakin akan kebenaran suciku yang ingin menjadi orang baik, dan kalau engkau tidak setuju, terserah. Tidak perlu memberi kuliah kosong kepadaku!"
Bi Lan kini juga sudah marah sekali.
"Bi Lan, engkau tahu bahwa aku sayang kepadamu. Akan tetapi kalau engkau berpihak kepada iblis betina Bi-kwi, terpaksa aku menganggapmu sebagai orang yang akan menyeleweng dan patut dihajar."
"Keparat, majulah! Siapa takut kepadamu?"
Bi Lan juga membentak marah.
Hong Beng maju dan mengirim tamparan yang dielakkan oleh Bi Lan dan gadis inipun membalas dengan tendangan kilat yang dapat pula dielakkan oleh Hong Beng.
Mereka segera terlibat dalam suatu perkelahian sengit, karena keduaya sudah menjadi panas hati dan marah sekali.
Cemburu memang merupakan suatu penyakit yang amat berbahaya.
Anggapan bahwa cinta harus dihiasi cemburu adalah anggapan yang menyesatkan.
Cemburu timbul dari pementingan diri pribadi, cemburu adalah iri hati karena ke-inginannya untuk menguasai sesuatu atau seseorang secara mutlak, terganggu.
Cemburu menda-tangkan kemarahan dan bahkan kebencian, menimbulkan permusuhan.
Cinta kasih adalah sesuatu yang suci murni, dan hanya dengan peniadaan kepentingan diri pribadi maka cinta kasih dapat bersinar.
Cemburu adalah kembangnya nafsu, bukan kembangnya cinta.
Hong Beng tadi mengang-gap bahwa dia mencinta Bi Lan.
Akan tetapi karena Bi Lan menolak cintanya, datanglah cemburu dan dia merasa iri hati terhadap setiap orang pria yang akrab dengan gadis yang pernah membuatnya tergila-gila itu.
Dan dari kenyataan ini saja mudah dinilai bahwa cintanya terhadap Bi Lan adalah cinta nafsu, cinta karena tertarik oleh kecantikan dan pribadi gadis itu.
Cintanya mudah berubah menjadi cemburu dan kebencian sehingga kini tanpa ragu-ragu lagi dia mengerahkan tenaga dan kepandaian untuk berkelahi dengan gadis yang katanya pernah dia cinta itu!
Berkelahi mati-matian berarti berusaha untuk mencelakai, melukai atau bahkan membunuh!
Mungkinkah cinta kasih yang suci berubah menjadi nafsu ingin membunuh?
Kalau cinta nafsu memang mungkin, karena antara cinta berahi dan nafsu membunuh terdapat pertalian yang kuat, yaitu keduanya timbul dari pementingan diri sendiri, merupakan nafsu yang selalu menguasai batin manusia.
Melihat betapa gadis itu dapat bergerak dengan lincah, Hong Beng lalu mengeluarkan tenaga sakti yang dilatihnya dengan tekun, yaitu tenaga Hwi-yang Sin-kang dari keluarga Pulau Es.
"Dukk!"
Bi Lan menahan seruannya ketika tangannya bertemu dengan tangan Hong Beng karena dari tangan pemuda itu keluar hawa panas yang luar biasa sekali, seperti hendak membakar tangannya?
Marahlah gadis ini.
Ia maklum betapa lihainya murid keluarga Pulau Es ini, maka iapun cepat meraba gagang pedangnya.
"Singgg....!"
Nampak sinar berkilauan ketika Ban-tok-kiam dicabut.
Melihat ini, Suma Ciang Bun terkejut bukan main.
Dia jarang melihat pedang Ban-tok-kiam milik nenek Wan Ceng sehingga dia tidak mengenal pedang itu.
Akan tetapi dia tahu benar bahwa pedang di tangan gadis itu tentulah sebatang pedang pusaka yang amat ampuh, maka dia mengeluarkan seruan kaget.
Juga Hong Beng terkejut.
Tentu saja dia mengenal pedang ini dan maklum betapa ampuhnya Ban-tok-kiam, maka diapun melompat ke belakang.
"Bi Lan, engkau mempergunakan pusaka itu apakah benar-benar hendak membunuh aku?"
Bi Lan tersenyum mengejek.
"Hong Beng, kalau engkau menyerangku dengan pukulan-pukulan ampuh itu, apakah bukan untuk membunuhku melainkan untuk bersamaku menari-nari?"
Mendengar ejekan ini, Hong Beng maju lagi.
"Baiklah, kalau engkau hendak membunuhku, akupun tidak takut mati!"
Dan diapun menyerang lagi, akan tetapi terpaksa meloncat ke samping ketika di sambut tusukan pedang yang mengeluarkan sinar yang menggiriskan.
"Gadis kejam menggunakan senjata yang keji!"
Tiba-tiba Suma Ciang Bun meloncat ke depan.
"Biarkan aku menghadapinya, Hong Beng!"
Akan tetapi, Sim Houw sudah menghadang ke depan pendekar itu.
"Locianpwe, maafkan saya. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka dan harap locianpwe tidak mencampuri."
Suma Ciang Bun kini menatap wajah Sim Houw. Sudah pernah aku mendengar berita tentang munculnya pendekar muda, yang berjuluk Pendekar Suling Naga.
"Kalau engkau membela siluman betina, biarlah aku mencoba kelihaianmu."
Berkata demikian.
Suma Ciang Bun sudah maju menampar dan tamparannya mendatangkan angin yang amat kuat.
Sim Houw cepat mengelak dan diapun maklum bahwa pendekar itu memiliki tenaga sakti dari keluarga Pulau Es yang amat berbahaya, maka diapun lalu mengeluarkan Liong-siauw-kiam, yaitu suling pedangnya yang ampuh.
Melihat senjata itu, Suma Ciang Bun memandang kagum.
"Itukah Liong-siauw-kiam yang terkenal itu? Bagus, hendak kucoba keampuhannya!"
Dan diapun mencabut keluar sepasang pedangnya.
Siang-kiam (sepasang pedang) itu indah sekali, ketika dicabut mengeluarkan sinar putih dan gagangnya dihias ronce-ronce biru dan ketika digerakkan, maka sepasang pedang itu saling berpapasan dan mengeluarkon suara berdencing dan muncratlah bunga api.
Dia telah memainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang amat hebat dari Pulau Es.
Sim Houw tentu saja maklum akan kelihaian lawan dan diapun memutar senjatanya yang istimewa.
Akan tetapi, pendekar ini tidak berniat untuk mencelakai lawan.
Dia tahu benar bahwa Suma Ciang Bun adalah keturunan keluarga Pulau Es, seorang pendekar tulen dan kalau sekarang berkelahi dengannya, tidak lain hanya karena salah paham gara-gara Siu Kwi.
Tentu saja pendekar ini bersama muridnya mengenal Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi karena sejak dahulu memang Siu Kwi dimusuhi para pendekar bahkan sudah beberapa kali bentrok dengan Hong Beng.
Tentu saja Hong Beng dan guru nya sama sekali tidak tahu, bahkan tidak akan mau percaya bahwa Ciong Siu Kwi kini sudah bukan Bi-kwi lagi, bukan Setan Cantik, bukan manusia iblis yang jahat, melainkan seorang wanita yang jatuh cinta dan yang sedang berusaha untuk merobah jalan hidupnya, ingin menjadi seorang isteri yang baik dan setia, ingin menjadi seorang ibu yang baik dan bijaksana!
Sim Houw tidak mungkin dapat memusuhi seorang pendekar seperti Suma Ciang Bun dan Hong Beng.
Kalau dia sekarang terpaksa maju, hanyalah karena dia tidak ingin pendekar itu melawan Bi Lan.
Suma Ciang Bun adalah seorang pendekar yang berpengalaman dan berilmu tinggi.
Tentu saja gerakan-gerakan Sim Houw yang tidak sungguh-sungguh itu segera dapat diketahuinya dan diapun mulai meragu apakah Pendekar Suling Naga ini pantas menjadi musuhnya!
Jangan-jangan pendekar ini dan gadis itu membela siluman betina itu karena memang ada dasarnya yang kuat!
Diapun meragu dan tidak sungguh-sungguh pula mendesak dengan siang-kiamnya, karena tentu saja dia segan untuk mendesak lawan yang tidak bersungguh-sungguh menyerangnya.
Berbeda dengan perkelahian yang terjadi antara Bi Lan dan Hong Beng.
Dua orang muda itu agaknya sudah dikuasai oleh kemarahan dan keduanya berkelahi dengan mati-matian!
Akan tetapi, Hong Beng terdesak hebat karena pemuda ini jerih menghadapi Ban-tok-kiam.
Dia banyak mengelak dan hanya kadang-kadang saja membalas dengan pukulan jarak jauh, mengandalkan sin-kang yang hebat dari keluarga Pulau Es yang sudah dikuasainya.
Dan agaknya Bi Lan juga merasa betapa ia telah mendapatkan kemenangan karena pedangnya, maka pedangnya itu hanya dipergunakan untuk mengancam saja, dengan kelebatan sinarnya yang bergulung-gulung, sedangkan dara ini lebih condong menyerang dengan tamparan tangan kiri atau tendangan kakinya.
Agaknya ia ingin menang dengan serangan kaki atau tangannya, bukan dengan pedangnya.
Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dari jauh, suara desis yang makin lama semakin keras dan terciumlah bau amis binatang buas!
Semua orang yang sedang berkelahi itu cepat meloncat untuk menghentikan perkelahian sementara, Dan nampaklah oleh mereka seorang laki-laki kecil kurus bongkok sedang mengeluarkan suara mendesis tinggi sambil kedua tangannya diacung-acungkan ke atas dan di depannyw merayap ratusan ekor ular besar kecil seperti sekumpulan bebek yang sedang digembalakan oleh orang kurus bongkok itu.
Ratusan ekor ular itu mengeluarkan suara mendesis-desis dan binatang-binatang inilah yang mengeluarkan bau amis.
Suara mendesis semakin keras karena ular-ular itu kini merayap dengan cepat ke arah mereka yang tadi berkelahi, agaknya diberi semangat oleh kakek bongkok yang menjadi gembalanya.
Di belakang kakek bongkok itu nampak lima orang lain lagi yang kesemuanya bersenjata tongkat.
Melihat kakek bongkok itu, tahulah Sim Houw dan Bi Lan bahwa dia adalah Coa-ong Seng-jin, tokoh Pek-lian-kauw yang semalam mengeroyok mereka.
Terkejutlah Sim Houw.
"Lan-moi, mari kita pergi!"
Katanya dan diapun menangkap tangan Bi Lan dan meloncat jauh lalu mengajak gadis itu berlari cepat sekali meninggal-kan tempat itu.
"Hendak lari ke mana kau?"
Bentak Hong Beng yang hendak mengejar, akan tetapi suhunya berseru.
"Hong Beng, jangan kejar!"
Hong Beng tidak melanjutkan pengejarannya dan menghampiri suhunya yang masih memandang ke arah kakek bongkok yang menggiring ratusan ular itu.
Kini ular-ular itu seperti binatang-binatang sirkus terlatih saja, mengepung tempat itu seperti barisan mengepung musuh.
Melihat betapa penggembala ular itu memakai tanda anggauta Pek-lian-kauw di dadanya, diam-diam Suma Ciang Bun menjadi marah.
Jelaslah bahwa dua orang muda tadi benar-benar telah bersekongkol dengan siluman betina yang menjadi sahabat orang-orang Pek-lian-kauw, pikirnya.
Dia pernah dikeroyok tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw bersama siluman betina bernama Bi-kwi itu, dan dua orang muda tadi menbela Bi-kwi.
Kini terbukti bahwa kakek Pek-lian-kauw dan ular-ularnya ini datang untuk membantu Sim Houw dan Bi Lan, dan mengepung dia dan muridnya.
Tiba-tiba Suma Ciang Bun mengeluarkan bunyi melengking tinggi sekali, suara yang keluar dari mulutnya seperti bukan suara orang, seperti suara suling melengking.
Hong Beng yang pernah mendengar dari suhunya bahwa suhunya juga memiliki ilmu pawang ular, yaitu ilmu untuk menguasai ular-ular yang pernah dipelajari dari ibu suhunya, memandang dengan hati tegang dan penuh perhatian.
Dia sendiri tidak pernah mempelajari ilmu itu dan dia tidak gentar menghadapi pengepungan ular-ular itu walaupun merasa jijik.
Dia melihat betapa kini semua ular yang berada di situ mengangkat kepala seperti mendengarkan suara melengking itu dan menghadap ke arah Suma Ciang Bun.
Pendekar itu menggerak-gerakkan kedua tangannya yang diangkat ke atas dan lengannya, membentuk ular yang mematuk-matuk, hampir sama dengan gerakan Coa-ong Seng-jin yang menggembala ular-ular itu.
Dan kini ular-ular itu berhenti mendesis-desis dan nampak gelisah, bahkan sudah ada yang merayap pergi ketakutan!
Coa-ong Seng-jin terkejut bukan main melihat betapa ular-ularnya dapat dikuasai orang lain.
Diapun cepat mengeluarkan suara mendesis tinggi dan menggerak-gerakkan kedua lengannya yang juga membentuk tubuh ular yang mengangkat kepalanya, dengan tangan menjadi kepala ular.
Dia mengerahkan seluruh kepandaian pawangnya untuk menguasai kembali ular-ularnya.
Namun, Suma Ciang Bun juga terus mengeluarkan suara melengking dan menggerak-gerakkan kedua lengannya.
Ular-ular itu menjadi panik dan bingung sekali, tidak tahu harus mentaati perintah yang mana di antara keduanya itu karena keduanya memiliki daya tekan yang sama kuatnya.
Karena panik, ular-ular itu lari simpang-siur, saling bertabrakan dan kemudian menjadi ganas dan saling gigit!
"Hooo-hoooo, anak-anak bodoh....
dengarkan aku, majulah....
maju dan serang musuhku....!"
Coa-ong Seng-jin berteriak-teriak marah.
Akan tetapi karena dia berteriak-teriak, dengan sendirinya desisnya terhenti dan pengaruhnya atas ular ular itupun membuyar sehingga pengaruh lengkingan Suma Ciang Bun menjadi kuat sekali, membuat ular-ular itu mentaati dan segera mereka merayap dan lari cerai-berai meninggalkan tempat itu seperti sekelompok anjing yang disiram air atau diancam gebukan!
Coa-ong Seng-jin menjadi marah bukan main.
Dengan sepasang mata berubah merah, dia lalu meloncat ke depan, menangkap seekor ular yang besar dan panjang, dan ular itu segera menjadi jinak di tangannya.
Dengan senjata baru berupa ular yang ternyata adalah seekor ular senduk yang amat berbisa itu, dia melangkah maju menghampiri Suma Ciang Bun.
"Setan, siapakah engkau?"
Bentaknya.
Coa-ong Seng-jin tentu saja tidak tahu akan tipu muslihat dan akal busuk yang dipergunakan oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin untuk mengadu domba antara pendekar keluarga Pulau Es ini bersama muridnya dengan Sim Houw dan Bi Lan.
Dia bersama teman-temannya sedang mencari-cari kedua orang muda itu setelah rombongannya yang terdiri dari tigabelas orang dipecah menjadi tiga rombongan kecil oleh Thian Kong Cin-jin.
Ketika tadi dia melihat dua orang muda itu sedang berkelahi melawan dua orang lain dia cepat memanggil ular-ular ita untuk mengepung agar, dia dapat segera turun tangan merobohkan Sim Houw dan Bi Lan.
Akan tetapi, ternyata dua orang muda itu sudah lebih dahulu melarikan diri dan kini ular-ularnya malah dibikin kacau oleh laki-laki tampan yang pakaiannya indah ini!
Suma Ciang Bun sudah mengenal Coa-ong Seng-jin sebagai seorang tokoh Pek-lian-kauw dari lukisan teratai putih di jubah kakek itu, maka diapun terus terang menjawab dengan tenang.
"Tosu Pek-lian-kauw, aku bernama Suma Ciang Bun dan ini muridku Gu Hong Beng."
"Suma....? Keluarga Pulau Es....?"
Coa-ong Seng-jin membentak dan empat orang temannya juga terkejut mendengar nama keluarga itu. Suma Ciang Bun mengangguk sambil menahan senyumnya.
"Celaka, kiranya keparat dari keluarga Pulau Es! Bunuh dia dan muridnya!"
Dan diapun sudah menggerakkan tangannya dan ular cobra itu sudah dilemparkannya ke arah Suma Ciang Bun.
Pendekar ini dengan tenang saja mengulur tangan menangkap ular itu yang segera menjadi jinak pula, kemudian dia melemparkan ular itu kembali ke arah lawan!
Coa-ong Seng-jin menerima ularnya kembali, akan tetapi ular itu segera dibantingnya karena dianggap tidak ada gunanya dipakai menyerang seorang yang memiliki ilmu pawang ular seperti lawannya.
Dengan menggereng keras dia lalu mengeluarkan sebatang rantai dari pinggangnya, dan meluncurlah rantai itu menghantam ke arah Suma Ciang Bun.
Kiranya kakek bongkok ini memang ahli mempergunakan senjata rantai dan tidak aneh kalau dia suka mempergunakan ular sebagai senjata, pengganti rantainya.
Suma Ciang Bun menyambut dengan sepasang pedangnya yang tadi sudah disimpannya.
Dua gulungan sinar putih berkelebat dan bergulung-gulung ketika dia menghadapi serangan rantai lawannya.
Empat orang teman Coa-ong Seng-jin yang terdiri dari tiga orang anggauta Pek-lian-kauw dan seorang anggauta Pat-kwa-kauw maju pula mengeroyok.
Hong Beng tidak tinggal diam, cepat dia maju menghadapi dan membantu gurunya.
Kembali di tempat itu terjadi perkelahian yang lebih sengit dari pada tadi.
Akan tetapi sekali ini, guru dan murid itulah yang menjadi pemenang dengan mendesak lima orang lawannya.
Empat orang pembantu Coa-ong Seng-jin itu adalah murid-murid kepala, maka rata-rata mereka sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Namun, menghadapi Hong Beng dan gurunya, mereka repot sekali.
Belum sampai tiga puluh jurus, dua orang murid kepala roboh, seorang terkena tamparan Hong Beng dan yang kedua terserempet pedang di tangan Suma Ciang Bun.
Melihat ini, tiga orang tosu lainnya cepat menyam-bar tubuh kawan yang roboh dan melarikan diri.
Kembali Suma Ciang Bun melarang muridnya untuk melakukan pengejaran.
"Tidak perlu mengejar musuh yang melarikan diri,"
Katanya.
"Kecuali kalau musuh lari membawa pergi sesuatu."
Hong Beng menarik napas panjang. Kemarahannya yang timbul karena cemburu tadi masih belum lenyap dan dia merasa hatinya mengkal dan tidak enak sekali.
"Sayang sekali tosu-tosu bedebah itu datang mengganggu, suhu, sehingga Sim Houw dan Bi Lan dapat melarikan diri."
Suma Ciang Bun tersenyum dan memandang wajah muridnya dengan tajam, kemudian tiba-tiba dia bertanya.
"Hong Beng, apakah engkau mencinta gadis itu?"
"Gadis.... gadis mana.... apa maksud suhu?"
Hong Beng terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu dan biarpun dia maklum siapa yang dimaksudkan suhunya, saking kagetnya dia menjadi gugup.
"Engkau mencinta atau pernah mencinta Can Bi Lan, bukan?"
Hong Beng menundukkan mukanya yang berubah merah dan dia mencoba tersenyum, senyum pahit, lalu dia mengangguk.
"Teecu tidak dapat berbohong kepada suhu. Memang sesungguhnyalah, teecu mencinta.... atau lebih tepat lagi pernah mencinta Bi Lan."
"Dan menurut ucapan gadis tadi, hubungan kalian putus karena gadis itu menolak cintamu karena ia sudah mencinta Sim Houw?"
"Ia memang menolak cinta teecu, suhu, akan tetapi ketika itu ia belum mencinta siapapun juga. Baru sekarang teecu melihat ia akrab dengan Sim Houw, keakraban yang tidak sopan dan tidak tahu malu!"
Hatinya menjadi semakin panas ketika ia teringat dan membayangkan adegan mesra antara Bi Lan dan Sim Houw tadi.
"Engkau tidak sungguh-sungguh mencintanya, Hong Beng, karena itu lupakan saja gadis itu. Bodoh sekali kalau menyiksa diri dan membenamkan diri dalam kebencian dan kedukaan karena cintanya ditolak."
Wajah Hong Beng menjadi merah.
"Teecu juga sudah melupakannya, suhu. Hanya teecu merasa tak senang dan panas sekali melihat betapa Bi Lan yang dahulunya seorang pendekar wanita yang lihai dan menentang kejahatan, kini setelah bergaul dengan Sim Houw lalu berbalik menjadi sesat dan membela wanita iblis seperti Bi-kwi yang bersekutu dengan orang-orang Pek-lian-kauw. Suma Ciang Bun mengerutkan alisnya.
"Aku masih merasa heran dengan sikap mereka, Hong Beng. Pendekar Suling Naga itu lihai sekali, akan tetapi dia tidak berkelahi sungguh-sungguh tadi ketika melawanku."
"Ah, akan tetapi Bi Lan menyerang teecu dengan mati-matian, sehingga nyaris teecu tewas oleh Ban-tok-kiam di tangannya!"
Kata Hong Beng penasaran.
"Ban-tok-kiam....?"
Tanya Suma Ciang Bun karena dia merasa pernah mendengar nama pedang itu.
"Benar, suhu. Pedang yang mengerikan itu adalah Ban-tok-kiam, pedang milik isteri dari locianpwe Kao Kok Cu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir."
"Apa....?"
Suma Ciang Bun terkejut sekali, memandang kepada muridnya dengan mata terbelalak.
"Kau maksudkan pedang milik.... bibi Wan Ceng....? Apa hubungannya gadis itu dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?"
"Mereka adalah guru-guru Bi Lan, suhu."
"Eh? Bukankah kau bilang bahwa Can Bi Lan itu sumoi dari Bi-kwi, dengan demikian murid dari Sam Kwi?"
"Benar, suhu, akan tetapi Bi Lan pernah bertemu dengan Kao-locianpwe dan isterinya, dan menerima gemblengan mereka, bahkan diberi pinjam pedang Ban-tok-kiam. Bi Lan sendiri menceritakan semua ini kepada teecu."
Ciang Bun menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
"Sungguh aneh sekali. Bagaimana mungkin paman Kao Kok Cu dan bibi Wan Ceng mau mengambil murid seorang gadis yang telah menadi murid Sam Kwi?"
"Dan sekarang agaknya watak Sam Kwi dan Bi-wi telah menular kepada Bi Lan sehingga ia menjadi seorang wanita sesat."
"Jangan menuduh sembarangan lebih dulu, Hong Beng. Bagaimanapun juga, aku masih merasa sangsi. Kalau mereka bersekutu dengan pihak Pek-lian-kauw, tentu mereka tadi tidak melarikan diri dan bersama dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw itu mengeroyok kita. Kalau demikian halnya, mungkin kita berdua takkan kuat bertahan."
Suma Ciang Bun lalu mengajak muridnya meninggalkan tempat itu.
Dia bermaksud mengunjungi encinya, yaitu Suma Hui yang telah menjadi isteri Kao Cin Liong, selain untuk menjenguk kakaknya itu, juga untuk bicara dengan kakak iparnya, Kao Cin Liong, tentang keanehan orang tua pendekar itu yang mengambil gadis yang telah menjadi murid Sam Kwi sebagai murid pula, bahkan meminjamkan pedang pusaka sehingga Bi Lan mempergunakan pedang pusaka itu untuk bertindak sesat.
"Sim koko, kenapa sih engkau selalu mengajak aku melarikan diri? Lama kelamaan aku bisa merasa sebagai seorang pengecut besar. Sudah beberapa kali, di tengah pertandingan engkau memaksa aku untuk melarikan diri. Untuk yang sudah-sudah engkau selalu mempunyai alasan. dan sekarang apa lagi alasanmu, Sim-ko? Aku tidak kalah menghadapi Hong Beng yang sombong itu, dan engkaupun belum tentu kalah oleh gurunya. Kemunculan para tosu Pek-lian-kauw itupun tidak membuat aku menjadi jerih. Kenapa kita harus melarikan diri seperti dikejar setan?"
Tanya Bi Lan dengan suara mengandung penasaran dan matanya yang jeli itu menatap wajah Sim Houw dengan tajam penuh selidik.
"Lan-moi, sebetulnya sejak semula aku ingin mencegah engkau berkelahi dengan Hong Beng dan gurunya, akan tetapi engkau dan Hong Beng demikian bernapsu untuk berkelahi. Ketika para tosu Pek-lian-kauw muncul, kesempatan baik muncul dan aku mengajak engkau pergi. Aku pikir bahwa tidak semestinya kita melayani Hong Beng dan gurunya hanya salah paham dengan kita."
"Salah paham apa? Hong Beng menghinaku!"
Bentak Bi Lan marah. Sim Houw tersenyum.
"Dia marah-marah karena salah paham, Lan-moi. Pertama, bantuan kita terhadap Ciong-lihiap menimbulkan salah paham sehingga dia menyangka kita membela pihak yang jahat. Kemudian yang ke dua, dia melihat keadaan kita dan kembali dia salah kira, menyangka yang bu-kan-bukan. Dia bukan sengaja menghina, melainkan bertindak sembrono karena salah sangka dan karena cemburu...."
"Kenapa mesti cemburu? Aku bukan pacarnya, bukan kekasihnya, bukan apa-apanya! Sudah dua kali dia mengulang perbuatannya yang didorong oleh cemburu buta itu. Pertama kali ketika aku terluka dan Cu Kun Tek mengobati punggungku, Hong Beng juga menjadi cemburu dan menyerang Kun Tek kalang-kabut seperti orang gila. Kemudian tadi.... hemmm, dia kira aku ini siapa? Aku bukan apa-apanya, dia tidak berhak untuk cemburu!"
Sim Houw menarik napas panjang.
Diam-diam dia merasa kasihan kepada Hong Beng.
Tahulah dia bahwa Hong Beng pernah tergila-gila kepada Bi Lan dan agaknya karena cintanya ditolak, Hong Beng menjadi sakit hati dan cemburu.
Memang hal itu buruk sekali, akan tetapi dia tidak terlalu menyalahkan Hong Beng yang masih muda itu.
"Karena engkau menolak cintanya maka dia sakit hati dan cemburu, Lan-moi."
"Apa dia akan memaksa bahwa aku harus membalas cintanya? Phuhh, memang wataknya buruk sekali. Orang lain yang kutolak cintanya tidak marah-marah dan cemburu macam dia!"
Sim Houw tertarik sekali.
"Siapakah dia itu, Lan-moi?"
Bi Lan sedang panas hatinya terhadap Hong Beng dan sedang merasa penasaran karena diajak pergi melarikan diri oleh Sim Houw, maka tanpa berpikir panjang lagi ia menjawab.
"Kun Tek juga menyatakan cintanya kepadaku dan kutolak!"
Tiba-tiba dara itu berhenti bicara karena ia teringat bahwa Kun Tek masih terhitung paman Sim Houw, walaupun usia Sim Houw belasan tahun lebih tua dari pemuda Lembah Naga Siluman itu.
Akan tetapi Sim Houw tersenyum, tidak nampak kaget karena memang diapun sudah pernah menduganya.
"Lan-moi, dua orang pemuda gagah perkasa dan pilihan telah menyatakan cinta kepada dirimu. Akan tetapi kenapa engkau menolak keduanya?"
Bi Lan mengerutkan alisnya.
"Habis, kalau aku tidak mempunyai perasaan cinta terhadap mereka, apakah aku harus menerima seorang di antara me-reka?"
Sim Houw menggeleng kepalanya.
"Tentu saja tidak, Lan-moi. Tetapi.... apakah selama ini engkau tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang?"
Bi Lan melupakan kemarahannya dan ia terse-nyum.
"Agaknya nasibku sama dengan engkau, Sim-ko. Seperti juga engkau yang selama ini tidak pernah jatuh cinta lagi kepada seorang gadis, akupun tidak pernah jatuh cinta kepada seorang pria. Agaknya ada persamaan antara kita. Kalau engkau sekali waktu jatuh cinta kepada seorang wanita, mungkin sekali akupun akan jatuh cinta kepada seorang pria, siapa tahu?"
Dan gadis itupun lari mendaki bukit di depan dengan cepat.
Sim Houw tertegun sejenak, lalu menggeleng kepala dan mengejar.
Dia sungguh tidak mengerti akan sikap Bi Lan.
Gadis itu amat menarik hatinya, amat dicintanya sejak pertama kali bertemu.
Bi Lan dianggapnya memiliki watak yang amat aneh, dan mungkin keanehan watak gadis inilah yang merupakan satu di antara daya tarik gadis itu baginya.
Kadang-kadang demikian mudah membaca isi hati Bi Lan, seperti membaca sebuah kitab terbuka saja.
Akan tetapi ada kalanya, sikap Bi Lan merupakan teka-teki yang amat sulit baginya, sukar dimengerti.
Kadang-kadang timbul harapannya karena dia melihat tanda-tanda bahwa Bi Lan sayang dan cinta kepadanya, akan tetapi dia masih meragukan hal ini.
Mungkin seorang gadis remaja seperti Bi Lan dapat jatuh cinta kepadanya?
Bi Lan telah menolak cinta kasih pemuda-pemuda hebat yang sebaya dengan gadis itu.
Kalau pendekar-pendekar muda seperti Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek saja ditolak cintanya, apa lagi seorang laki-laki yang sudah tua seperti dia!
Usianya sudah tiga puluh empat atau tiga puluh lima tahun, sedangkan usia Bi Lan baru delapan belas tahun.
Dia dua kali lebih tua dari gadis itu, pantas menjadi pamannya!
Mungkinkah gadis muda seperti Bi Lan yang menolak dua orang pendekar perkasa dan muda seperti Hong Beng dan Cu Kun Tek, dapat mencinta seorang tua seperti dia?
Sukar untuk dapat dipercaya dan hal inilah yang membuat hati Sim Houw senantiasa meragu dan dia takut untuk menyatakan cinta kasihnya.
Takut kalau-kalau pernyataan cintanya hanya akan memisahkan dia dari Bi Lan.
Biarlah tidak menyatakan cinta, disimpannya sebagai rahasianya sendiri saja asalkan dia dapat berdekatan terus dengan Bi Lan.
Dia telah tergila-gila kepada Bi Lan, mencinta Bi Lan dengan seluruh batin dan badannya, sampai ke rambut-rambutnya, dan baru sekaranglah dia mencinta wanita lain setelah dulu cintanya ditolak oleh Kam Bi Eng.
Dilihatnya bayangan Bi Lan sudah sampai di puncak bukit itu, maka diapun segera mengerahkan tenaganya untuk mempercepat larinya mengejar gadis itu.
Mereka sudah tiba di perbatasan utara dan Sim Houw sudah mendengar bahwa daerah tembok besar ini selain sunyi dan liar, juga amat berbahaya karena siapa yang dihadang oleh orang-orang jahat di daerah ini, jangan harap akan bisa mendapatkan pertolongan dari orang lain karena tempat itu sunyi.
Bekas Panglima Kao Cin Liong yang kini menjadi seorang saudagar rempah-rempah di kota Pao-teng, di kenal oleh hampir semua orang di kota itu.
Bukan hanya dikenal sebagai seorang pedagang yang berhasil, melainkan juga sebagai seorang dermawan yang selalu membuka kedua tangan untuk menolong orang lain yang kesusahan, Juga terkenal sebagai seorang bekas panglima dan seorang pendekar yang berilmu tinggi.
Apa lagi di kalangan dunia persilatan.
Semua orang kang-ouw tahu belaka siapa adanya Kao Cin Liong, karena dia adalah putera dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!
Juga isterinya amat terkenal, karena Suma Hui adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.
Seperti telah kita ketahui, Kao Cin Liong yang kini berusia lima puluh tahun dan Suma Hui yang berusia empat puluh tahun itu, hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu anak perempuan berusia tigabelas tahun yang diberi nama Kao Hong Li.
Mudah saja diduga bahwa Hong Li tentu saja memiliki kepandaian silat yang luar biasa.
Ayah dan ibunya adalah pendekar-pendekar kenamaan yang sakti, maka tentu saja sejak anak ini masih kecil, ia telah digembleng oleh kedua orang tuanya sehingga ketika usianya tiga belas tahun, Ia telah menjadi seorang anak perempuan yang lincah dan lihai bukan main.
Sukar mencari seorang dewasa, biar pria sekalipun, yang akan mampu mengalahkan gadis cilik ini.
Bahkan mereka yang ilmu silatnya tanggung-tanggung saja, jangan harap akan mampu menandingi Hong Li.
Di dalam usianya yang baru tigabelas tahun, Hong Li sudah nampak cantik.
Mudah dilihat bahwa ia akan menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan menarik dalam waktu beberapa tahun lagi.
Tubuhnya tinggi langsing dan padat, penuh dengan tenaga terlatih.
Matanya yang membuka wajahnya nampak cerah.
Mata itu paling indah.
Lebar dan jeli, bagaikan telaga yang bening.
Sikapnya lincah, jenaka, akan tetapi galak.
Hal terakhir ini mungkin timbul karena sebagai anak tunggal, tentu saja ada sedikit kemanjaan dalam hatinya.
Apa lagi kesadaran bahwa ayah ibunya adalah pendekar-pendekar sakti yang dikagumi dan dihormati orang sedikit banyak mendatangkan ketinggian hati.
Ayah ibunya tidak menghendaki hal ini dan tentu saja mereka tidak suka kalau anak tunggal mereka tinggi hati atau manja, akan tetapi karena mereka menganggap Hong Li masih terlalu kecil dan kurang pengalaman, maka sedikit ketinggian hati dan kemanjaan itu mereka anggap sebagai hal lumrah yang kelak tentu akan hilang sendiri kalau jiwa pendekar sudah menjadi dasar batin Hong Li.
Peradaban dan kebudayaan kita telah membentuk diri kita seperti keadaannya sekarang, yaitu gila hormat dan haus akan pujian!
Semenjak kecil kita dijejali kebiasaan untuk mengagungkan nilai-nilai, mengejar nilai-nilai.
Anak-anak kecil dipuji kalau melakukan hal-hal yang dianggap baik dan menyenangkan, dicela kalau sebaliknya.
Di sekolahpun para murid diajar untuk memperebutkan nilai-nilai.
Kemajuan mereka diukur dengan nilai-nilai.
Karena itu, kita berangkat besar dengan pengertian bahwa kita amat memerlukan nilai-nilai baik dalam kehidupan ini, dan betapa senangnya menerima pujian-pujian, betapa tidak menyenangkan menerima celaan-celaan.
Kita menjadi orang-orang yang munafik dan palsu, mengejar pujian-pujian dengan segala cara.
Kita selalu ingin memamerkan segi-segi yang dipandang baik oleh orang lain dalam diri kita, hanya untuk mengejar pujian.
Kita berangkat dewasa menjadi manusia yang gila pujian dan gila hormat.
Tidak mengherankan kalau Hong Li tidak terkecuali.
Ia berangkat besar seperti anak-anak lain yang selalu haus akan pujian dan selalu ingin memamerkan kepandaiannya, ingin menonjolkan keistimewaan yang ada pada dirinya dan yang tidak terdapat pada diri orang lain.
Seperti orang-orang tua yang hidup di alam kita ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui juga tidak terkecuali, selalu mengajarkan kepada anak tunggal mereka tentang kebaikan agar anak mereka selalu berbuat kebaikan dan menjadi "orang baik", selalu menjauhkan perbuatan-perbuatan yang dianggap jahat dan tidak baik.
Seperti juga orang-orang tua lain dalam kehidupan kita ini, mereka ingin membentuk anak mereka, seperti membentuk sebuah boneka dari tanah liat, agar menjadi sebaik-baiknya, tentu saja menurut pandangan mereka yang juga menjadi pandangan masyarakat, menjadi pandangan umum sesuai dengan kebudayaan dan peradaban kita.
Akan tetapi, dapatkah kebaikan diajarkan, dipelajari dan dilatih?
Segala yang dapat dipelajari dan dilatih adalah sesuatu yang mati, dan sesuatu yang diusahakan untuk dimiliki tentu mempunyai dasar sebagai pamrih.
Kalau kita berbuat kebaikan dengan pamrih, setelah mempelajari dan melatihnya, apakah itu dapat dinamakan kebaikan lagi, ataukah bukan sekedar cara dan usaha untuk mendapatkan pamrih itu, yang dapat saja berupa pujian, kepuasan hati, pahala batiniah dan sebagainya?
Kebaikan yang SENGAJA DILAKUKAN dengan kesadaran bahwa kita melakukan perbuatan baik, jelas bukan kebaikan lagi namanya, melainkan suatu usaha.
Dan seperti usaha-usaha lainnya, kalau sampai usaha itu gagal mendatangkan hasil, tentu akan mengecewakan.
Misalnya, orang yang menolong orang lain kemudian orang yang ditolongnya itu tidak membalas kebaikannya bahkan merugikan, tentu akan merasa sakit hati dan kecewa.
Orang yang melakukan kebaikan, kemudian tidak menerima pujian bahkan dicela, tentu akan marah dan kecewa!
Jelaslah bahwa kebaikan-kebaikan seperti itu, yang dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa yang dilakukan itu adalah kebaikan, bukan kebaikan lagi namanya, melainkan hanya sekedar cara untuk menyenangkan hati sendiri memetik buahnya kelak!
Betapa jauh bedanya dengan perbuatan yang dilakukan berdasarkan cinta kasih.
Perbuatan ini digerakkan oleh perasaan sayang, perasaan iba, tanpa pamrih apapun juga untuk diri sendiri, merupakan perbuaran spontan yang wajar.
Bukan lagi dinamakan kebaikan karena si pelaku tidak mengingat lagi apakah perbuatannya itu baik ataukah tidak baik.
Yang ada hanyalah kewajaran, tanpa pamrih, dan dalam perbuatan seperti ini maka sinar cinta kasih akan meneranginya.
Betapa lucu namun amat menyedihkan melihat betapa kita berlumba-lumba untuk menjadi orang baik dengan menyebar segala perbuatan palsu, seolah-olah kebaikan dapat dicapai melalui kepalsuan dan kemunafikan.
Lihat betapa bangsa-bangsa berlumba di dunia ini untuk membicarakan dan mencapai perdamaian dengan senjata di tangan!
Kalau ada sinar cinta kasih menerangi batin, maka tanpa diusahakan sekalipun, kedamaian tentu sudah ada, karena takkan mungkin terjadi perang!
Kalau ada cinta kasih di dalam batin, maka kita tidak perlu melakukan perbuatan yang kita anggap baik lagi, karena setiap perbuatan kita yang berdasarkan cinta kasih adalah suci!
Pada suatu sore, terdengar sorak dan tepuk tangan sekumpulan anak-anak di kebun rumah besar keluarga Kao Cin Liong.
Mereka adalah belasan orang anak-anak laki-laki dan perempuan yang berkumpul di kebun itu, mengagumi Hong Li yang sedang bermain silat pedang.
Memang indah sekali permainan itu.
Hong Li baru saja menerima oleh-oleh sebatang pedang yang indah dari ayah ibunya yang baru saja kembali dari kota raja.
Sebatang pedang yang mewah, bukan pedang pusaka, namun terbuat dari baja yang baik, Bentuknya kecil dan cocok untuk dimainkan seorang anak perempuan, gagangnya terukir indah dan pedang itu sendiri putih bersih berkilau seperti perak.
Sarung pedangnya juga penuh dengan ukiran bunga dan kupu-kupu beraneka warna, amat halus dan indah ukirannya.
Dan kini, Hong Li bermain pedang itu di dalam kebun, disaksikan dan dikagumi oleh belasan orang anak-anak.
Mereka itu adalah teman-teman bermain Hong Li, anak-anak tetangga.
Memang, dalam hal ini Kao Cin Liong dan isterinya bersikap bebas, tidak seperti orang-orang tua lain yang memperhitungkan derajat dan kedudukan dalam memilih teman-teman untuk anak-anak mereka.
Biarpun Cin Liong dan Suma Hui adalah suami isteri pendekar yang lihai sekali, bahkan Kao Cin Liong seorang bekas panglima yang terpandang, dan kini mereka hidup berkecukupan, Namun mereka membiarkan anak perempuan mereka bergaul bebas dengan anak-anak tetangga.
Dalam hal membiarkan anaknya bergaul bebas, Kao Cin Liong dan Suma Hui memang menyimpann dari kebiasaan umum.
Biasanya, orang-orang tua akan melarang anak perempuan mereka bergaul bebas, apalagi setelah berusia tigabelas tahun, usia remaja menjelang dewasa.
Agaknya, watak mereka sebagai pendekar-pendekar yang biasa hidup berkelana dan bebas yang membuat mereka tidak berkeberatan melihat anak perempuan mereka bergaul dengan anak siapa saja, laki-laki maupun perempuan.
Bagaimanapun juga, anak-anak itu bersikap sopan terhadap Hong Li dan menyebutnya siocia (nona), tentu hal ini mereka lakukan karena melihat betapa semua orang menghormati Hong Li sebagai keluarga jagoan dan keluarga kaya pula.
"Bagus....! Bagus sekali....!"
"Kao-siocia seperti bidadari sedang menari! "Lihat, pedang itu seperti naga putih melayang-layang....!"
Pujian-pujian ini keluar dari mulut anak-anak yang sedang menonton Kao Hong Li memamerkan pedang barunya dan juga ilmu silatnya yang memang hebat.
Sekecil itu, ia sudah pandai sekali bersilat pedang, bukan hanya indah dipandang, Namun di dalamnya mengandung kekuatan-kekuatan yang akan mengejutkan seorang ahli sekalipun.
Tidaklah mengherankan kalau diingat bahwa Hong Li sudah berlatih Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang dipelajarinya dari ibunya, ilmu pedang yang merupakan satu di antara ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es.
Apa lagi ia sudah menguasai dasar-dasar gerakan ilmu pilihan dari Istana Gunung Pasir, yaitu ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat (Naga Sakti).
Biarpun gerakan pedangnya belum matang benar, dan tenaga sin-kang yang mendorongnya belum dapat dibilang terlalu kuat, namun gerakan-gerakan itu selain indah, juga baik sekali, karena dilatih sejak ia masih kecil.
Setelah Hong Li berhenti bermain silat pedang dan sinar yang bergulung-gulung dari pedangnya lenyap, anak-anak itu betepuk tangan memuji.
"Ilmu pedang yang jelek sekali!"
Suara ini melengking tinggi mengatasi kegaduhan anak-anak itu sehingga terdengar oleh mereka semua.
Tentu saja semua anak itu terkejut dan menengok, sedangkan Hong Li juga menengok ke kanan dengan alis berkerut, hatinya mendongkol mendengar ada orang mengatakan ilmu pedangnya jelek, pada hal semua anak di situ bersorak memuji.
Ketika anak-anak itu menoleh dan memandang kepada seorang kakek yang tiba-tiba saja berada di situ tanpa mereka ketahui kedatangannya, Mereka merasa heran dan tidak tahu siapa adanya kakek berkepala gundul yang memakai jubah lebar berwarna merah darah ini.
Akan tetapi Hong Li sudah banyak mendengar dari kedua orang tuanya tentang tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw, tentang pendeta-pendeta dan pertapa-pertapa yang memiliki ilmu kepandaian yang hebat, dan betapa di antara para kakek atau nenek yang berpakaian seperti pendeta itu terdapat pula tokoh-tokohnya yang sesat.
Maka, melihat munculnya kakek gundul berjubah merah ini, Hong Li memandang dengan hati agak khawatir, tidak tahu apakah kakek ini seorang baik ataukah jahat, kawan ataukah lawan dari ayah ibunya.
Akan tetapi, mendengar betapa begitu muncul kakek itu sudah mencela ilmu pedangnya, agaknya tidak mungkin kalau kakek ini merupakan kawan ayah ibunya.
"Kakek tua, siapakah engkau yang berani mencela ilmu pedangku?"
Tanyanya dengan alis berkerut dan pedang barunya masih berada di tangan kanan.
Ia mengelebatkan pedangnya dan terdengar suara berdesing diikuti sinar pedang berkilat.
Kakek itu tertawa, suara ketawanya juga melengking tinggi dan halus.
"Ha-ha-ha, bukan hanya ilmu pedangmu, juga pedangmu itu jelek sekali, Ha-ha!"
Tentu saja Hong Li menjadi semakin marah.
Pedangnya itu adalah pedang baru oleh-oleh ayah bundanya dan pedang itu sejak kemarin menjadi pusat kekaguman teman-temannya, akan tetapi sekarang dikatakan jelek sekali oleh kakek ini!
Ia memandang dengan sinar mata mencorong penuh penasaran dan kemarahan, dan diam-diam ia memperhatikan kakek itu.
Seorang kakek yang usianya enampuluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka halus dan gerak-gerik lembut, sepasang matanya bening dan seperti mata wanita dengan bulu mata yang panjang melengkung.
Tak dapat disangkal, wajah kakek berkepala gundul ini meninggalkan bekas wajah seorang laki-laki yang tampan sekali.
"Kakek pendeta, engkau ini hwesio dari manakah? Kalau ada keperluan dengan orang tuaku, datang saja lagi besok pagi karena mereka sedang pergi.."
"Omitohud.... aku tahu bahwa mereka sedang pergi membeli rempah-rempah di seberang sungai. Aku datang bukan untuk mereka, melainkan untuk nonton permainan pedangmu yang jelek."
Hong Li menjadi marah sekali.
Alisnya yang hitam panjang berkerut, sepasang matanya yang lebar itu mengeluarkan sinar berkilat dan mukanya menjadi kemerahan.
"Engkau ini kakek pendeta yang sombong dan jahat. Apa salahku maka engkau datang datang hendak menghina aku?"
"Ha-ha, aku tidak menghina, melainkan hendak nonton ilmu pedang yang jelek."
"Kalau begitu, apakah engkau berani menghadapi pedangku dan ilmu pedangku yang jelek ini?"
"Omitohud, tentu saja aku berani. Ilmu pedangmu dan pedangmu itu tidak ada artinya, hanya patut untuk pamer dan berlagak saja."
Bukan main marahnya Hong Li mendengar ucapan pendeta berjubah merah itu.
Sejak kecil ia hanya melihat orang-orang bersikap hormat dan kagum terhadap keluarganya, apa lagi terhadap ilmu silat keluarganya.
Dan sekarang, kakek kurus ini menghina ilmu silatnya dan berani menantangnya.
"Kakek sombong, kalau begitu hadapilah pedangku ini!"
Bentaknya dan sekali melompat ia telah menghampiri kakek pendeta itu dengan pedang ditodongkan.
"Ha-ha, bocah lucu, engkau menodongku dengan setangkai bunga mawar?"
Tiba-tiba kakek itu berkata sambil tertawa dan tangannya membuat gerakan ke arah pedang dan....
Hong Li, dan belasan orang anak itu, terbelalak ketika melihat betapa yang berada di tangan Hong Li memang benar setangkai bunga mawar, bukan pedang yang tadi dimainkan dengan indahnya!
Akan tetapi, Hong Li adalah keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir.
Ibunya adalah cucu Pendekar Super Sakti, maka tentu saja ia segera dapat mengerti bahwa kakek pendeta jubah merah ini telah main-main dan mempergunakan ilmu sihir.
Hanya sebentar saja ia terkejut dan terbelalak, lalu ia mengerahkan sin-kangnya, memaksa diri untuk bertahan dan tidak hanyut oleh kekuatan sihir.
"Yang kutodongkan adalah pedang baruku! Siapa bilang bunga mawar?"
Bentaknya dan iapun menggerak-gerakkan pedangnya.
Karena tentu saja tenaga batinnya belum kuat benar, matanya melihat betapa yang berada di tangan kanannya itu berubah-ubah, kadang-kadang nampak sebagai pedang, lalu berubah menjadi setangkai bunga lagi.
Namun, ia menjadi nekat, bunga atau pedang, tetap saja ia pergunakan untuk menyerang kakek kurus itu!
Dalam penglihatan belasan orang anak itu, nampak lucu sekali melihat Hong Li menyerang kakek itu kalang kabut dengan menggunakan setangkai bunga mawar!
Akan tetapi, kakek itu sendiri kagum bukan main.
Anak ini tidak mengecewakan menjadi cucu buyut Pendekar Super Sakti dan ilmu pedangnya memang hebat bukan main.
Hatinya semakin tertarik dan suka kepada Hong Li.
Menghadapi serangan-serangan gadis cilik itu, ia mempergunakan kecepatan gerakannya, tubuhnya melayang-layang dengan ringah dan lembutnya, seperti berubah menjadi sehelai bulu yang bergerak ke sana-sini, selalu luput dari terkaman ujung pedang yang dimainkan Hong Li.
"Anak baik, engkau berjodoh dengan Ang I Lama, marilah ikut dengan pinceng!"
Tiba-tiba belasan orang anak itu mendengar suara ini yang diikuti oleh bunyi ledakan keras.
Semua anak ketakutan karena tempat itu berubah menjadi lautan asap.
Mereka tak dapat melihat, bahkan mereka terpaksa mundur karena asap itu tebal sekali dan menakutkan.
Ketika asap itu perlahan-lahan melayang pergi, anak-anak itu menjadi bingung karena mereka tidak melihat Hong Li dan kakek pendeta jubah merah tadi.
Mereka berdua telah lenyap tanpa meninggalkan bekas, seolah-olah ikut terbang pergi bersama asap tebal.
Tentu saja anak-anak ini menjadi ketakutan dan bingung.
Mereka berlari-larian pulang sambil menangis melapor kepada orang tua masing-masing tentang peristiwa lenyapnya Kao Hong Li bersama kakek pendeta gundul berjubah merah.
Para pelayan keluarga Kao yang mendengar laporan inipun menjadi bingung dan ketakutan.
Keadaan menjadi gempar dan semua orang mencari-cari ke mana perginya Hong Li, namun tidak dapat menemukan jejak anak itu yang lenyap seperti berubah menjadi asap.
Keadaan menjadi semakin geger ketika Kao Cin Liong dan Suma Hui pulang dari perjalanan mereka ke seberang sungai untuk membeli rempah-rempah.
Dua pekan sekali suami isteri itu memang pergi sendiri membeli barang dagangan.
Ketika mereka mendengar akan peristiwa aneh yang mengakibatkan lenyapnya anak tunggal mereka, tentu saja sepasang pendekar ini menjadi terkejut dan marah.
Mereka menggunakan kepandaian mereka untuk melakukan pengejaran dan pencarian.
Akan tetapi, sampai semalam suntuk mereka mencari tanpa hasil dan akhirnya, menjelang pagi pada keesokan harinya, dengan lemas mereka pulang ke rumah.
Suma Hui menahan tangisnya, akan tetapi kedua matanya merah dan wajahnya membayangkan kedukaan dan kegelisahan yang mendalam.
Akan tetapi Kao Cin Liong nampak tenang saja, walaupun tentu saja dia juga merasa bingung dan gelisah.
"Tenangkan hatimu,"
Katanya kepada isterinya karena dia tidak tega melihat wajah isterinya demikian penuh duka dan kegelisahan.
"Setidaknya kita boleh merasa yakin bahwa anak kita masih dalam keadaan selamat. Kalau penjahat atau siapa saja yang menculiknya itu berniat buruk, tentu hal itu sudah dilakukannya, tidak perlu bersusah-susah melarikannya."
Suma Hui dapat mengerti pendapat ini.
Memang, kalau penjahat itu hendak membunuh Hong Li, tidak perlu dibawa pergi.
Akan tetapi, siapa yang menculik Hong Li?
Dan kenapa?
Mereka berdua lalu mendatangi anak-anak yang menyaksikan peristiwa itu dan kagetlah hati mereka ketika mendengar bahwa sebelum Hong Li dan kakek jubah merah itu lenyap berubah menjadi asap, terdengar kakek itu berkata.
"Anak baik, engkau berjodoh dengan Ang I Lama, marilah ikut dengan pinceng!"
Keterangan ini tentu saja amat penting bagi mereka.
Jelaslah bahwa pendeta berkepala gundul yang berjubah merah itu adalah Ang I Lama dan dialah yang telah melarikan Hong Li.
Kata "berjodoh"
Yang dipergunakan pendeta itu dapat berarti berjodoh untuk menjadi muridnya, akan tetapi juga untuk maksud yang cabul dan jahat.
Mereka berdua tahu betapa banyaknya orang-orang jahat dan keji yang menyembunyikan kejahatannya di balik kedudukan atau pakaian.
Betapa banyaknya pencuri-pencuri dan perampok-perampok besar bersembunyi di balik pakaian seorang pembesar, penjahat-penjahat keji bersembunyi di balik pakaian pendeta-pendeta.
"Ang I Lama....? Suma Hui mengulang nama itu sambil mengepal tinju.
"Siapakah dia dan mengapa dia melakukan hal ini kepada keluarga kita?"
Ia memandang suaminya dengan harapan suaminya akan mengenal nama itu.
Akan tetapi sejak tadi Kao Cin Liong juga mengerutkan alisnya dan memeras ingatannya, akan tetapi dia merasa tidak pernah mengenal nama itu.
Maka, menjawab pertanyaan isterinya, diapun menggeleng kepalanya.
"Aku tidak pernah mengenal nama itu, akan tetapi untung bahwa dia meninggalkan sebuah nama. Karena dia seorang pendeta Lama, maka di mana lagi dia berada kalau bukan di Tibet?"
Tiba-tiba Suma Hui menepuk meja di depannya.
"Brakkk....! Ah, tentu saja!"
"Apa.... maksudmu?"
Suaminya bertanya sambil memandang penuh perhatian. Isteri itu memandang suaminya.
"Tentu ada hubungannya dengan Sai-cu Lama! Kita ikut membasmi komplotan Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama dan sekarang muncul seorang pendeta Lama lainnya yang menculik anak kita. Apakah kau pikir tidak ada hubungannya antara kedua orang pendeta Lama itu?"
Suaminya mengangguk-angguk.
"Sangat boleh jadi, akan tetapi kita tidak mengenal. Ang I Lama itu dan tidak tahu di mana dia berada. Kurasa satu-satunya jalan untuk mencarinya adalah ke Tibet. Di sana tentu kita akan memperoleh keterangan jelas di mana adanya Ang I Lama."
"Memang agaknya hanya itu jalannya dan marilah kita pergi sekarang saja. Aku tidak tahan berdiam di rumah lebih lama lagi memikirkan nasib anak kita...."
Dan kini Suma Hui tak dapat menahan membanjirnya air mata.
Melihat ini, suaminya lalu mendekati-nya dan merangkulnya.
Memecah bendungan air mata itu dan Suma Hui menangis tersedu-seda di dada suaminya yang membiarkannya mengangis untuk melampiaskan segala perasaan marah, khawatir dan duka yang sejak malam tadi ditahan-tahannya.
Setelah kedukaan Suma Hui mereda, Suami isteri ini lalu cepat-cepat berkemas untuk menyediakan bekal perjalanan mencari anak mereka ke Tibet!
Perjalanan yang amat jauh dan makan banyak waktu.
Selagi mereka sibuk, datanglah tamu yang tidak mereka duga-duga.
Dua orang tamu datang dan mereka ini bukan lain adalah Suma Ciang Bun dan Gu Hong Beng!
melihat adiknya, datang lagi perasaan duka di hati Suma Hui dan iapun menubruk adiknya sambil menangis.
Tentu saja Suma Ciang Bun terkejut sekali melihat ulah encinya.
Encinya, setahunya, adalah seorang wanita yang keras hati dan tabah bukan main, lebih tabah dari pada dia sendiri.
Kalau sekarang encinya sampai bersedih dan menangis seperti itu, apa lagi melihat betapa sepasang mata encinya sudah bengkak-bengkak bekas banyak tangis, dia khawatir tentu telah terjadi hal yang luar biasa dan hebat sekali.
"Enci Hui, engkau kenapakah? Apa yang telah terjadi sehingga engkau menjadi begini berduka?"
Karena encinya menangis semakin sedih, Suma Ciang Bun mengangkat muka memandang cihunya (kakak iparnya) dengan alis berkerut.
Kao Cin Liong merangkul isterinya dan dengan lembut menarik tubuh isterinya dari Suma Ciang Bun, lalu mengajak duduk.
"Tenanglah dan kebetulan sekali Ciang Bun datang. Mungkin dia dapat membantu."
Mendengar ini, Suma Hui menghentikan tangisnya dan memandang kepada adiknya.
"Hong Li telah diculik orang....!"
Tentu saja Ciang Bun terkejut sekali.
"Ah! Siapa penculiknya dan kapan terjadinya? Bagaimana dia berani melakukan hal itu?"
Kao Cin Liong yang lebih tenang segera memberi keterangan kepada adik iparnya.
"Kemarin sore, ketika kami berdua pergi membeli rempah-rempah di seberang sungai dan Hong Li berada seorang diri di rumah, datang penculik itu. Dia seorang pendeta Lama yang berjuluk Ang I Lama, dan dia menculik Hong Li dengan mempergunakan ilmu sihir seperti yang kami dengar dari anak-anak yang menemani Hong Li pada waktu itu."
Lalu dengan singkat namun jelas, Kao Cin Liong menceritakan tentang peristiwa penculikan itu seperti yang didengarrya jari anak-anak.
"Ang I Lama....?"
Suma Ciang Bun mengulang nama itu sambil mengerutkan alis.
"Bun-te, apakah engkau mengenal nama jahanam itu?"
Tanya Suma Hui penuh harapan. Suma Ciang Bun yang sudah banyak melakukan perantauan itu termenung.
"Seperti pernah kudengar nama itu, akan tetapi entah di mana dan kapan. Nama itu jarang muncul di dunia kang-ouw...."
Pada saat itu Kao Cin Liong melihat betapa Gu Hong Beng, murid adik iparnya itu, memandang dengan sinar mata bercahaya.
"Hong Beng, apakah engkau mengenalnya?"
Dia bertanya.
Suami isteri ini pernah mengenal Hong Beng, bahkan bersama pemuda ini dan para pendekar lainnya, pernah membantu untuk menghancurkan persekutuan yang mendukung Thai-kam Hou Seng.
"Ang I Lama.... apakah tidak ada hubungannya dengan Sai-cu Lama....?"
Hong Beng berkata.
"Akupun berpendapat demikian,"
Suma Hui berkata.
"akan tetapi, di manakah adanya Ang I Lama dan mengapa dia melakukan hal ini kepada kami?"
"Ahhh....! Sekarang aku ingat, enci Hui!"
Kata Suma Ciang Bun.
"Aku pernah mendengar nama Ang I Lama dan tentu saja ada hubungan antara dia dan Sai-cu Lama, karena Ang I Lama adalah seorang di antara para pimpinan pendeta Lama di Ti-bet. Akan tetapi.... menurut yang pernah kudengar, Ang I Lama termasuk pendeta Lama yang bersih dan tidak sudi melakukan kejahatan, apa lagi menculik keponakanku Hong Li."
"Siapa tahu hati orang? Mungkin saja dia mendendam atas kematian Sai-cu Lama, karena bukankah mereka sama-sama dari Tibet dan sama-sama pendeta Lama? Mungkin atas dasar dendam itulah, dan mengingat bahwa kami berdua juga membantu usaha menghancurkan persekutuan Sai-cu Lama, maka kini Ang I Lama datang membalas dendam dengan cara yang curang, yaitu menculik dan melarikan anak kami,"
Kata Suma Hui.
"Benar, akan tetapi kita harus bertindak hati-hati, enci. Hal ini harus diselidiki lebih dulu secara cermat agar jangan sampai enci menuduh orang yang tidak berdosa."
"Tentu saja. Sekarangpun kami sedang berkemas untuk segera berangkat ke Tibet, melakukan penyelidikan tentang Ang I Lama itu!"
"Perjalanan yang amat jauh dan sukar,"
Kata Suma Ciang Bun.
"Jangankan baru ke Tibet, biar Ang I Lama melarikan diri ke neraka sekalipun, pasti akan kami kejar sampai dapat!"
Kata Suma Hui dengan gemas.
"Kalau begitu, biarlah kita membagi tugas,"
Kata Suma Ciang Bun.
"Enci dan cihu mencari ke Tibet, dan aku akan mencari di sekitar sini. Siapa tahu yang namanya Ang I Lama itu masih bersembunyi di dekat dan di sekitar daerah ini. Sedangkan Hong Beng biarlah ke Istana Gurun Pasir untuk melapor."
"Eh? Ada urusan apa ke sana?"
Kao Cin Lion bertanya sambil memandang heran mendengar bahwa adik iparnya itu hendak menyuruh muridnya mengunjungi tempat kediaman orang tuanya yang jarang dikunjungi orang.
Dia sendiri merasa tidak suka kalau ketenangan dan ketenteraman kehidupan ayah ibunya terganggu.
Suma Cang Bun menarik napas panjang.
"Sebenarnya kedatanganku ini untuk melapor kepada cihu tentang perbuatan sumoimu."
"Sumoiku? Sumoi yang mana?"
Cin Liong bertanya heran.
"Bukankah cihu mempunyai seorang sumoi? Murid Sam Kwi yang diambil murid oleh ayah ibumu."
"Ah, maksudmu gadis yang bernama Can Bi Lan itu? Mengapa ia? Bukankah ia pantas sekali menjadi murid ayah ibuku karena sepak terjangnya menghadapi persekutuan Sai-cu Lama membuat kagum?"
"Ia telah melakukan penyelewengan sekarang! Bayangkan saja, ia membela dan membantu Bi-kwi yang melakukan kecabulan dan membunuhi banyak pemuda. Padahal, Bi-kwi bekerja sama dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw untuk mengeroyokku sehingga nyaris aku tewas di tangan mereka. Bi Lan itu telah mempergunakan pedang pusaka ibumu, Ban-tok-kiam untuk (Lanjut ke
Jilid 31) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 bersekongkol dengan tosu-tosu jahat itu, melakukan kejahatan, dan membela Bi-kwi.
Dan dalam hal ini, ia dibantu pula oleh Pendekar Suling Naga yang lihai."
Mendengar ini, Kao Cin Liong mengerutkan alisnya.
"Hemm, berbahaya sekali kalau begitu. Ia membawa po-kiam (pedang pusaka) dari ibuku, kalau dipergunakan secara keliru, akan merusak nama baik keluarga kami."
Suma Hui diam saja tidak berani memberi komentar karena menyangkut nama baik keluarga suaminya.
"Sayang kita harus pergi ke Tibet untuk mencari anak kita, kalau tidak tentu kita dapat mencarinya dan meminta kembali pedang pusaka itu,"
Kata Suma Hui dengan hati-hati karena ia khawatir kalau suaminya akan membatalkan niatnya mencari Hong Li untuk mencari Bi Lan berhubung dengan terancamnya nama baik keluarganya.
"Biarlah saya yang akan pergi menghadap Kao Locianpwe di Istana Gurun Pasir, untuk melaporkan tentang penyelewengan Can Bi Lan dan sekalian mengabarkan tentang diculiknya adik Kao Hong Li oleh Ang I Lama,"
Kata Hong Beng dengan cepat.
"Ah, kalau begitu baik sekali!"
Suma Hui berseru girang, memandang kepada suaminya.
Cin Liong juga mengangguk dan memandang kepada Hong Beng dengan sinar mata berterima kasih.
Tak disangkanya bahwa kehidupannya yang selama ini tenang dan tenteram, dalam satu hari saja berubah menjadi keruh, penuh dengan persoalan yang mendatangkan duka dan kekhawatiran.
Biarpun baru pagi hari itu bertemu, mereka terpaksa harus berpisah lagi pada siang harinya karena mereka harus mulai dengan tugas masing-masing.
Kao Cin Liong dan Suma Hui berangkat menuju ke Tibet untuk mencari Ang I Lama dan puteri mereka, sedangkan Suma Ciang Bun pergi mencari jejak pendeta Lama yang melarikan keponakannya.
Hong Beng sendiri juga berangkat menuju ke utara, untuk berkunjung ke Istana Gurun Pasir menghadap Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya.
Kedukaan dan kekhawatiran terbayang di wajah mereka, terutama sekali di wajah Kao Cin Liong dan Suma Hui.
Di dalam hati yang selalu mengejar kesenangan, pasti akan sering kali dikunjungi oleh kesusahan.
Tidak mungkin merangkul suka tanpa menyentuh duka, karena suka dan duka adalah sama.
Sama-sama menjadi ciptaan pikiran sendiri.
Yang mengandung suka atau duka bukanlah si peristiwa, melainkan pikiran kita sendiri dalam menanggapi peristiwa yang terjadi.
Kalau kita menghadapi segala macam peristiwa seperti apa adanya tanpa menghendaki lain, tanpa menjangkau kesenangan atau mengelak kesusahan, maka yang ada hanyalah kewajaran yang tidak mendatangkan duka apapun.
Seperti orang menghadapi panas terik matahari, tanpa mengeluh kita lalu mempergunakan akal budi untuk berteduh, dan seperti orang menghadapi malam gelap dan dingin, kita pun tidak mengeluh melainkan mempergunakan kebijaksana untuk membuat penerangan di dalam gelap dan mempergunakan sarana untuk berlindung dari kedinginan.
Tanpa susah atau senang dan kalau sudah begitu, di dalam kegelapan maupun kepanasan malam dan siang kita dapat melihat keindahan di luar penilaian.
Kao Hong Li membuka kedua matanya dan ia merasa seperti dalam mimpi.
Ia terbangun dan tidak menggerakkan badan terlebih dahulu.
Setelah membuka kedua matanya, anak yang cerdik ini memutar otaknya, mengingat-ingat.
Ia lalu teringat akan peristiwa aneh yang dialaminya.
Mula-mula yang teringat olehnya adalah ketika ia bermain silat pedang di antara kawan-kawannya, di dalam kebun, disambut pujian para kawannya.
Lalu munculnya kakek gundul berjubah merah yang lalu melawannya.
Tiba-tiba terdengar ledakan itu, dan nampak asap tebal, dan tubuhnya melayang-layang di antara asap yang membuat ia merasa seperti terbang di angkasa, di antara awan-awan.
Lalu iapun lemas tak ingat apa-apa lagi.
Ia diculik!
Ingatan ini mengejutkannya.
Ia telah dilarikan oleh kakek aneh itu!
Kini Hong Li, masih belum menggerakkan tubuhnya, mulai memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Ia rebah terlentang di atas sebuah dipan kayu yang keras dan kasar dan dipan itu terletak di sudut ruangan ini.
Sebuah kamar dari empat dinding yang berlumut dan kotor, dengan daun pintu rusak terbuka di sebelah kanan.
Tidak kecil juga tidak berdaun di sebelah kanan.
Tidak nampak ada orang di situ, hanya ia sendiri saja di atas dipan.
Ia telah dilarikan oleh kakek itu ke sini, pikirnya.
Entah di mana ini.
Kakek yang aneh dan sakti itu tidak ada.
Inilah kesempatan baik baginya untuk melarikan diri.
Hong Li mulai menggerakkan kaki tangannya.
Lega rasa hatinya karena kaki tangannya dapat digerakkan dengan mudah dan ketika ia bangkit duduk, kepalanyapun tidak terasa pening.
Ia dalam sehat.
Dicarinya pedangnya.
Tidak nampak di situ.
Ia lalu dengan hati-hati turun dari pembaringan itu, perlahan-lahan agar jangan mengeluarkan suara, lalu berindap-indap melangkah menuju ke pintu yang daunnya terbuka lebar karena memang sudah bobrok itu.
Agaknya di luar, senja telah mendatang, namun matahari masih meninggalkan sisa cahayanya sehelum dia menghilang sama sekali.
Dengan hati-hati Hong Li mengintai ke luar.
Tidak ada orang.
Dan di luar sana nampak pohon-pohon lebat.
Sebuah hutan!
Ia berada di dalam sebuah rumah tua, agaknya bekas kuil, di dalam sebuah hutan lebat.
Ia harus cepat melarikan diri!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara orang, suara yang halus dan sudah pernah didengar, suara Ang I Lama yang menculiknya!
"Aha, anak baik, engkau sudah bangun?"
Hong Li cepat membalikkan tubuhnya dan ternyata kakek itu berada di dalam kamar itu!
Pada hal tadi tidak nampak seorangpun di situ.
Ah, tentu kakek ini telah mempergunakan ilmu sihirnya pula, pikirnya.
Hong Li menjadi marah dan ia meraba-raba pinggangnya, lupa bahwa tadi sia-sia saja ia mencari pedangnya, pedang barunya yang indah.
"Aha, mencari pedangmu? Inilah pedangmu, terimalah!"
Dia mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubah merahnya dan menyerahkan kepada Hong Li.
Gadis cilik itu cepat menyambar pedangnya, pedang barunya, lalu mengambil sikap untuk menye-rang.
"Anak baik, untuk apa engkau mencari pedangmu?"
"Untuk membunuhmu, kakek jahat!"
Bentak Hong Li dan iapun menggerakkan pedangnya, menyerang dengan marah dan dengan pengerahan seluruh tenaganya.
"Ha-ha, pedang itu tidak ada gunanya, sudah kukatakan ini kepadamu. Lihat, kau boleh tusuk pe-rutku ini, aku takkan menangkis atau mengelak."
Hong Li menerjang maju, menggerakkan pedang-nya untuk menusuk ke arah perut.
Ia melihat kakek itu berdiri tegak saja, membiarkan perutnya ditusuk!
Ketika ujung pedangnya hampir menyentuh jubah merah, Hong Li menahan tenaganya dan bahkan menghentikan tusukannya.
Tidak bisa ia menusuk begitu saja perut orang yang tidak melawan!
Tidak mungkin ia melakukan pembunuhan dengan hati dingin seperti itu.
"Oho, kenapa tidak kau lanjutkan tusukanmu?"
Kakek itu tertawa.
"Lawanlah, jangan diam saja!"
Bentak Hong Li. Kakek itu terbelalak, memandang heran, lalu tertawa.
"Ha-ha, keturunan keluarga Pulau Es dan Gu-run Pasir memang aneh luar biasa. Nah, aku melawan sekarang, hendak kutangkap kepalamu dan akan kubuktikan betapa pedangmu itu tidak ada gunanya!"
Kakek itu kini menggerakkan kedua tangannya, hendak mencengkeram kepala Hong Li dari kanan kiri.
Melihat ini, gadis cilik itu menyuruk ke depan, mendahului dengan tusukan pedangnya ke arah perut.
Kini ia tidak ragu-ragu lagi menusuk karena bukankah musuh menyerangnya dengan hebat pula.
Kalau ia tidak mendahului, tentu kepalanya akan remuk oleh kedua tangan yang kuat itu.
"Wuuutt.... krekkk....!"
Kao Hong Li terkejut bukan main.
Pedangnya telah menusuk perut, akan tetapi rasanya seperti menusuk segumpal baja saja dan pedangnya kini patah-patah menjadi tiga potong!
Ia membuang gagangnya dan memandang kakek itu dengan mata terbelalak, dan melihat betapa kakek itu tersenyum-senyum dan memandang sambil mengejek, ia marah sekali dan dengan nekat kini ia menyerang dengan kedua tangannya yang terkepal.
"Heh-heh-heh, engkau setan cilik yang nakal!"
Dan kini Hong Li mengalami hal yang membuatnya semakin terkejut dan heran.
Tubuhnya terhalang sesuatu yang tidak nampak, seolah-olah ada tenaga yang menahannya dari depan sehingga gerakannya terhalang dan ia tidak dapat mendekati kakek itu!
Betapa kuatnya ia menerjang, selalu ia bertemu dengan tenaga itu dan tubuhnya bahkan terdorong ke belakang.
Setelah beberapa kali mencoba dan tidak berhasil, akhirnya Hong Li berdiri diam dan hanya menatap kakek itu dengan sinar mata tajam dan penuh kemarahan.
Ia tahu bahwa kakek itu sakti sekali dan ia tidak berdaya, namun Hong Li tidak merasa takut sedikitpun juga.
"Kakek jahat, engkau pengecut besar!"
Tiba-tiba ia membentak.
Kakek itu yang sedang tersenyum, tiba-tiba menghentikan senyumnya dan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan ada kemarahan membayang pada mata yang tajam mencorong itu.
"Hemm. setan cilik, kenapa engkau berani memaki aku pengecut besar?"
"Kalau engkau bukan pengecut, tentu engkau tidak akan memusuhi aku, seorang anak kecil! Kalau engkau memang gagah dan memiliki kepandaian, tentu engkau akan menantang ayahku atau ibuku, bukan menculik dan melarikan diriku. Beranimu hanya mengganggu anak kecil, akan tetapi terhadap ayah dan ibuku, engkau melarikan diri sampai terkencing-kencing. Huh, pengecut besar tak tahu malu!"
Akan tetapi kini kakek itu tertawa bergelak.
"Haha-ha, dan engkau setan cilik amat gagah berani, sungguh mengagumkan sekali. Engkau memang berjodoh dengan pinceng, anak baik. Namamu Kao Hong Li, bukan? Heh-heh, dan aku bernama Ang I Lama. Engkau lihat sendiri, kepandaianku setinggi langit dan engkau beruntung sekali dapat ikut bersamaku!"
"Huh, kepandaianmu tidak ada artinya kalau engkau berani melawan ayah dan ibuku!"
Hong Li berseru mengejek, pada hal di dalam hatinya ia meragu apakah ayah dan ibunya akan mampu menandingi kakek yang selain lihai ilmu silatnya, juga lihai ilmu sihirnya ini.
Menurut penuturan ibunya, kakek buyutnya yang bernama Suma Han berjuluk Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, selain sakti juga memiliki ilmu sihir yang amat hebat.
Juga nenek Teng Siang In, isteri dari paman kakeknya yang bernama Suma Kian Bu dijuluki Pendekar Siluman Kecil, memiliki juga kekuatan sihir.
Sayang ibunya sendiri tidak pernah mempelajari ilmu sihir dan hanya ahli dalam hal ilmu pawang ular yang pernah ia pelajari sedikit itu.
Karena kakek itu hanya tertawa saja dan tidak menjawab, Hong Li lalu bertanya, suaranya masih terdengar ketus akan tetapi sedikitpun ia tidak memperlihatkan perasaan takut.
"Kakek jahat, engkau bernama Ang I Lama, seorang pendeta yang mestinya melakukan kebaikan di dunia ini. Akan tetapi kenapa engkau menculik aku tanpa sebab?"
"Ha-ha, sebabnya karena aku suka kepadamu, Kao Hong Li. Engkau akan menjadi muridku dan menemani hidupku yang sunyi."
"Hemm, kakek jahat, ke mana engkau hendak membawaku?"
Hong Li mulai merasa ngeri, membayangkan bahwa ia selanjutnya harus hidup bersama kakek mengerikan ini.
"Ke mana lagi kalau tidak ke Tibet?"
"Tidak, aku tidak mau!"
Kata Hong Li.
"Biar engkau akan membunuhku sekalipun, aku tidak sudi menjadi muridmu, tidak sudi ikut bersamamu!"
Setelah berkata demikian, Hong Li lalu meloncat keluar dari ruangan itu melalui pintu yang terbuka.
Ia bermaksud melarikan diri dengan nekat.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara kakek itu berkata di depannya.
"Hong Li, aku di sini!"
Dan tahu-tahu kakek itu telah menghadang di depannya.
Hong Li menengok dan dengan mata terbelalak me-lihat bahwa kakek tadi masih berada di dalam ruangan itu.
Bagaimana mungkin kakek itu berubah menjadi dua orang?
Ia lalu memutar tubuh ke kiri untuk melarikan diri melalui lorong di depan kamar, akan tetapi kembali terdengar suara kakek itu.
"Hong Li, aku berada di sini!"
Dan di depannya kembali sudah menghadang kakek itu.
Ketika ia menengok, ternyata kakek yang berada di dalam kamar maupun yang pertama kali menghadangnya masih berada di tempat masing-masing.
Dengan demikian, kini ada dua orang kakek yang sama!
Ia memutar tubuh lagi dan kembali melihat munculnya seorang kakek lain yang sama sehingga sebentar saja ia sudah dikepung oleh banyak orang kakek yang sama!
Hong Li dapat menduga bahwa ini tentu permainan sihir, maka dengan nekat ia menerjang ke depan.
"Ha-ha-ha, anak keras kepala berhati baja. Engkau memang nakal!"
Dan tiba-tiba Hong Li merasa banyak tangan menangkapnya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi.
Kemudian, kakek itu mengikat kaki tangannya dengan ikat pinggang, lalu memondong tubuhnya dan melemparkannya pula ke atas dipan yang tadi dan sama sekali tidak mampu bergerak karena ikatan kaki tangannya itu kuat sekali.
Dan kini ia melihat bahwa kakek yang tadinya banyak itu kembali menjadi seorang saja.
Kakek itu berdiri di dekat dipan, menyeringai.
"Heh-heh, bagaimana, anak nakal. Apakah engkau sekarang sudah menyerah dan mau ikut bersamaku dengan suka rela?"
"Tidak sudi!"
Hong Li membentak, masih galak walaupun kaki tangannya tidak mampu bergerak lagi.
"Engkau memilih mati?"
"Ya! Aku tidak takut mati!"
Kata Hong Li dengan gagah. Kakek itu memandang kepada Hong Li dengan sinar mata-penuh kagum.
"Bagaimana kalau sebelum mati kusiksa dulu? Engkau berani menghadapi siksaan?"
"Tak perlu cerewet lagi! Mau bunuh, mau siksa, terserah, akan tetapi aku tidak sudi menyerah!"
"Huh, bocah tak tahu disayang! Biar kuberi engkau waktu semalam lagi untuk berpikir panjang. Besok aku datang lagi dan kalau engkau tetap menolak, aku akan menyiksamu sampai engkau merasa menyesal telah dilahirkan di dunia ini!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat kakek itupun lenyap dari situ.
Hong Li rebah seorang diri dan setelah kakek itu pergi, barulah ia merasa ngeri membayangkan betapa ia akan disiksa sampai mati pada besok hari kalau ia tidak mau menyerah.
Tidak, ia harus dapat melarikan diri, pikirnya.
Ia tidak sudi menyerah, juga tidak ingin mati konyol.
Mulailah ia berusaha menggerakkan kaki tangannya untuk melepaskan ikatan, namun sia-sia saja.
Ikatan itu terlalu kuat sehingga kedua kaki tangannya sama sekali tidak mampu berkutik.
Ia teringat kepada ayah ibunya dan tak terasa lagi, dua titik air mata membasahi pelupuk matanya.
Sekarang, setelah ditinggalkan kakek itu, ia mulai merasa ketakutan.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya kalau ia membayangkan siksaan yang tak dapat ia perkirakan.
Kakek itu terlalu kejam, terlalu jahat.
Entah siksaan apa yang akan diterimanya.
Kalau ia dibunuh seketika, hal itu tidak ditakutinya, akan tetapi kalau ia disiksa perlahan-lahan, sungguh hal ini amat menakutkan.
Akan tetapi menyerah menjadi murid kakek itu?
Tidak, ia tidak sudi!
Kakek itu terlalu jahat.
Dan kalau ia menolak, ia akan di siksa sampai mati.
Tidak, ia belum ingin mati, tidak mau mengalami derita siksaan.
Sampai lewat tengah malam, Hong Li diombang-ambingkan oleh perasaan takut dan benci kepada kakek itu.
Menyerah salah, menolak juga salah.
Ia bingung sekali dan kalau saja sejak kecil ia tidak digembleng sehingga memiliki semangat dan kegagahan, tentu anak yang baru berusia tiga belas tahun ini sudah menangis atau menjerit-jerit.
Akan tetapi tidak, Hong Li hanya diam saja, hanya ada beberapa butir air mata membasahi pipinya dan ia menggigit bibirnya untuk mencegah tangis dan jeritannya.
Tiba-tiba ada gerakan di pintu.
Jantung di dalam dada Hong Li berdebar penuh ketega-ngan.
Apakah kakek jahat itu sudah akan memulai dengan siksaannya pada hal malam belum lewat?
Hong Li merasa betapa seluruh bulu di tubuhnya meremang saking ngerinya, Akan tetapi, yang muncul bukanlah kakek Ang I Lama yang dibencinya, melainkan seorang wanita cantik!
Usia wanita itu sebaya dengan ibunya akan tetapi pakaiannya mewah sekali.
Tubuhnya tinggi ramping dan rambutnya digelung ke atas dengan dihias permata dan emas yang indah.
Pakaiannya dari sutera tipis berwarna merah muda dan biru.
Biarpun usianya tentu ada empat puluh tahun, namun wanita itu masih nampak muda, dengan sepasang mata yang lebar dan tajam.
Begitu memasuki kamar dan melihat Hong Li memandangnya, wanita itu menaruh telunjuk di depan mulutnya sebagai tanda agar Hong Li tidak mengeluarkan suara berisik.
Hong Li diam saja, memandang dengan heran, akan tetapi juga dengan penuh harapan.
Mudah diduga dari sikapnya bahwa kedatangan wanita asing ini tentu bermaksud baik terhadap dirinya.
Ketika wanita itu menghampiri pembaringan.
Hong Li mencium bau yang harum seperti bunga mawar dan begitu wanita itu tersenyum kepadanya, ia merasa suka sekali.
Seorang wanita cantik dan ramah, dan tentu datang untuk menolongnya, pikirnya.
"Bibi, engkau siapakah?"
"Sstttt....!"
Wanita itu mendesis lirih.
"Aku datang untuk menolongmu, akan tetapi aku harus dapat mengalahkan dulu Ang I Lama...."
Hong Li memandang terbelalak, kagum.
"Dapatkah engkau mengalahkan dia, bibi?"
Tanyanya, penuh keraguan mengingat akan kesaktian pendeta Lama yang menculiknya itu.
"Tidakkah labih baik bibi membebaskan aku, lalu kita melarikan diri selagi dia tidak berada di sini?"
Wanita itu menggeleng kepalanya.
"Engkau tidak tahu siapa Ang I Lama. Dia akan mengejar dan akhirnya aku harus berhadapan dengan dia pula. Tidak, aku harus lebih dulu mengalahkan dia, baru aku akan dapat membebaskanmu. Engkau bernama Kao Hong Li, ayahmu Kao Cin Liong putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan ibumu cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, bukan?"
Hong Li mengangguk, tidak merasa heran kalau wanita ini mengenal ayah ibunya, karena ia tahu bahwa nama ayah dan ibunya terkenal sekali di dunia kang-ouw.
"Aku suka dan kagum kepadamu. Engkau tabah dan berani, engkau keturunan para pendekar dan keluarga yang amat terkenal. Dan aku akan menghadapi Ang I Lama dengan taruhan nyawa untuk menolongmu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau aku minta engkau ingat akan pertolonganku dan membalas budi, bukan?"
Kembali Hong Li mengangguk.
Kalau wanita ini menandingi Ang I Lama dengan mempertaruhkan nyawa untuk menolongnya, tentu saja ia berhutang budi dan nyawa kepadanya.
"Aku akan berterima kasih sekali, bibi."
Wanita itu tersenyum. Manis sekali kalau tersenyum.
"Apa gunanya terima kasih untukku? Dengar, Hong Li. Aku akan menandingi Ang I Lama dan kalau berhasil mengalahkannya, aku akan membebaskanmu. Akan tetapi, untuk itu aku minta engkau berjanji bahwa engkau akan mengangkat aku sebagai ibu dan guru."
"Eh, mengapa sebagai ibu?"
Hong Li terheran.
"Aku.... aku merindukan seorang anak dan engkau pantas menjadi anak angkatku, Hong Li. Nah, maukah engkau?"
"Menjadi anak angkat dan murid?"
"Bukan itu saja. Engkau harus berjanji mengangkat aku sebagai ibu dan guru, kemudian juga bahwa selama lima tahun engkau akan hidup bersamaku, mempelajari ilmu dan menemani aku sebagai ibu angkatmu."
Hong Li merasa bimbang.
Permintaan yang aneh-aneh.
Akan tetapi wanita ini hendak mempertaruhkan nyawa menolongnya dan kalau benar dapat mengalahkan Ang I Lama, memang wanita ini patut menjadi gurunya.
Juga apa salahnya mengangkat seorang wanita baik yang menyelamatkannya sebagai ibu?
"Hanya itu?"
Ia bertanya lagi.
"Hanya itu, juga engkau harus berjanji bahwa selamanya, melindungi aku dari gangguan dan serangan siapapun juga."
Tentu saja permintaan terakhir ini tidak berat, bahkan tanpa diminta sekalipun, siapa yang tidak akan melindungi dan membela ibu angkatnya dari serangan orang lain?
Kembali ia mengangguk.
"Baiklah, aku berjanji...."
"Hong Li, urusan ini bukan main-main, melainkan persoalan hidup atau mati bagiku, juga menyangkut kebahagiaan hidupku selanjutnya, karena itu, tidak cukup engkau berjanji. Bersumpahlah!"
Kembali Hong Li terkejut.
Selamanya belum pernah ia bersumpah dan permintaan wanita ini agar ia bersumpah mengejutkannya dan membuatnya bimbang.
Akan tetapi hanya untuk sebentar saja.
Janji dan sumpahnya untuk sesuatu yang baik, apa salahnya kalau ia akan diselamatkan dan ditolong oleh wanita ini.
"Baikiah, subo (ibu guru). Saya bersumpah kalau subo dapat membebaskan aku dari tangan Ang I Lama, aku akan mengangkatmu sebagai ibu dan juga sebagai guru, dan aku akan membela dan melindungimu dari gangguan siapa-pun juga!"
Wanita itu nampak girang bukan main, membungkuk dan mencium pipi Hong Li dengan bibirnya.
"Anakku sayang, muridku yang hebat! Kau tunggu saja, agar jangan mendatangkan curiga, sementara engkau rebah dalam keadaan terikat dulu. Aku akan menghadang Ang I Lama di luar dan aku akan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaianku untuk mengalahkannya."
Setelah berkata demikian, wanita itu meloncat dan lenyap dari dalam kamar itu.
Hong Li termenung.
Hatinya diliputi kebimbangan.
Memang, dari gerakannya ketika meloncat atau menghilang tadi, ia dapat mengetahui bahwa wanita yang belum diketahui namanya itu memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi, mampukah wanita itu mengalahkan Ang I Lama yang demikian saktinya?
Apa lagi kalau diingat bahwa Ang I Lama memiliki ilmu sihir, ia bergidik.
Andaikata wanita cantik itu memiliki ilmu silat tinggi seperti ibunya dan mampu menandingi Ang I Lama dalam perkelahian, akan tetapi bagaimana kalau kakek Tibet itu mempergunakan ilmu sihir?
Kalau wanita itu sampai kalah dan tertawan, terluka atau bahkan terbunuh, ia akan merasa semakin menyesal karena berarti bahwa kematian wanita itu adalah karena membelanya!
Waktu terasa merayap lambat sekali bagi Hong Li yang tenggelam dalam ketegangan sejak munculnya wanita cantik itu.
Ia bahkan terkejut ketika muncul Ang I Lama dari pintu.
Kakek itu menjenguknya lalu tertawa melihat betapa ia masih rebah terlentang dengan kaki tangan terikat.
"Ha-ha-ha, sudah cukupkah engkau merenungkan nasibmu? Nanti kalau, matahari mulai memasukkan sinarnya melalui jendela itu, aku akan datang dan minta keputusanmu, apakah engkau mau menyerah ataukah memilih mati tersiksa. Ha-ha-ha!"
Ang I Lama lalu keluar lagi sambil tertawa.
Tiba-tiba perhatian Hong Li tertarik oleh suara yang terdengar dari luar kamar itu.
Terdengar suara gedebugan dan gerakan orang berloncatan, disusul bentakan Ang I Lama.
"Sin-kiam Mo-li, berani engkau menyerangku?"
Lalu terdengar jawaban yang mendebarkan hati Hong Li karena ia mengenal suara wanita cantik tadi "Ang I Lama, tinggalkan tempat ini dan biarkan aku yang mengurus Kao Hong Li karena ia berjodoh untuk menjadi anak angkatku!"
"Ha-ha-ha, Sin-kiam Mo-li, apakah engkau hendak mengantar kematianmu maka berani mencampuri urusanku? Nah, terimalah kematianmu!"
Kembali terdengar suara gedebugan dan Hong Li dengan mata terbelalak dan hati berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran mendengar gerakan orang yang sangat ringan dan cepat.
Juga terdengar suara berdesing-desing.
Ia menduga bahwa yang bersenjata pedang itu tentulah Sin-kiam Mo-li karena bukankah julukannya itu sudah menunjukkan bahwa wanita itu merupakan seorang ahli pedang.
Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Berpedang Sakti), julukan yang mengerikan.
Kenapa wanita secantik dan sebaik itu dijuluki Iblis Betina, pikir Hong Li dengan penasaran.
Diam-diam ia berdoa agar wanita itu memperoleh kemenangan dalam perkelahian yang terjadi di luar kamar itu.
Tak lama kemudian, di antara suara gerakan orang bersilat itu, terdengar seruan Ang I Lama.
"Kiam-sutmu hebat juga. Akan tetapi lihat, apakah ini?"
Dan terdengarlah suara ledakan-ledakan yang mengejutkan hati Hong Li karena anak itu maklum bahwa tentu pendeta Lama itu telah mempergunakan ilmu sihirnya.
Ia memandang khawatir sekali ke arah pintu dan melihat asap putih mengepul di luar pintu itu.
Celaka, pikirnya, mampuskah Sin-kiam Mo-li menghadapi ilmu sihir yang aneh itu?
Akan tetapi, terdengar suara ketawa lembut wanita itu.
"Hemm, Ang I Lama, permainan sihirmu ini merupakan permainan kanak-kanak bagiku."
Kembali terdengar suara gedebugan, disusul suara Ang I Lama berteriak seperti orang kesakitan.
"Ahhhh. engkau benar lihai....!"
Dan suara perkelahian itupun terhenti, tanda bahwa di luar kamar tidak ada lagi orang berkelahi.
Hong Li sampai merasa pedas pada matanya karena sejak tadi ia memandang ke arah pintu dengan mata terbelalak, tak pernah berkedip, dengan hati tegang.
Ia tidak tahu bagaimana kesudahan perkelahian itu, akan tetapi mendengar suara-suara mereka tadi, ia merasa yakin bahwa penolong-nya tidak kalah walaupun pendeta Tibet itu mempergunakan ilmu sihir.
Dugaannya terbukti kebena-rannya ketika ia mendengar langkah kaki halus dan muncullah Sin-kiam Mo-li di ambang pintu.
Sinar lampu yang tidak begitu cerah menimpa wajah yang nampak cantik itu dan wanita itu tersenyum.
"Subo, kau menang....! Hong Li berseru dan wanita itu semakin girang. Sejak bersumpah, anak ini telah menyebutnya subo! Ia lalu melangkah menghampiri dipan.
"Subo, bagaimana engkau bisa melawan ilmu sihirnya? Wanita itu memperlebar senyumnya.
"Sihir merupakan permainan kanak-kanak bagiku, Hong Li. Lihat ini!"
Ia menggerakkan kedua tangannya ke arah tangan dan kaki Hong Li dan....
ikatan pada pergelangan tangan dan kaki anak itupun putus-putus dan Hong Li bebas seketika!
Dengan girang dan kagum sekali Hong Li bangkit dari pembaringan, kemudian, sebagai seorang anak angkat dan murid yang tahu diri, ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita itu.
"Subo, terima kasih atas pertolonganmu!"
Sin-kiam Mo-li merangkul Hong Li dan mengangkatnya bangun. Hong Li memandang wanita itu dengan wajah berseri.
"Ah, subo tentu lihai sekali mempergunakan pedang-pedang itu."
Ia menudingkan ke arah sepasang pedang yang berada di punggung Sin-kiam Mo-li. Sebatang pedang pendek dan sebatang pedang panjang.
"Mengingat akan julukan subo, Sin-kiam Mo-li, tentu subo merupakan ahli pedang yang hebat!"
Wanita itu mengangguk-angguk.
"Hong Li, engkau takkan kecewa menjadi anak angkat dan muridku."
Tiba-tiba teringatlah Hong Li bahwa ia sudah bersumpah mengangkat guru dan ibu kepada wanita ini, dan selama lima tahun ia akan ikut dengan wanita ini, bahkan berjanji akan membela dan melindunginya kelak selama hidupnya.
Teringatlah ia akan orang tuanya sendiri dan tiba-tiba saja ia menjadi bingung.
Sin-kiam Mo-li memiliki pandang mata yang ta-jam.
Ia melihat kebimbangan menyelimuti wajah anak itu, maka iapun bertanya sambil mengerutkan alisnya.
"Ada apakah, Hong Li?"
Hong Li adalah seorang anak yang berwatak jujur. Ia memandang wajah gurunya dan berkata.
"Subo, tiba-tiba saja aku teringat kepada ayah ibuku. Memang benar bahwa aku telah berjanji dan bersumpah kepadamu, dan aku juga akan memenuhi janjiku, selain mengangkatmu sebagai ibu dan guru, juga ikut bersamamu selama lima tahun dan kelak aku akan membela dan melindungimu. Akan tetapi, subo harus tahu bahwa orang tuaku tentu kehilangan aku dan kini mencari-cariku. Bagaimana kalau subo membawa aku lebih dulu pulang untuk berpamit kepada orang tuaku? Aku pasti akan memenuhi janjiku, aku hanya tidak ingin membuat mereka berkhawatir dan berduka."
Akan tetapi Sin-kiam Mo-li menggeleng kepala-nya.
"Hong Li, permintaanmu ini tentu saja tidak mungkin dapat kupenuhi. Bayangkan saja. Kalau kita bertemu dengan ayah ibumu, apakah engkau kira mereka akan mengijinkan aku pergi membawamu? Dan aku tidak ingin bentrok dengan mereka karena memperebutkan engkau, Hong Li. Hong Li dapat mengerti akan alasan subonya.
"Akan tetapi, bagaimana kalau pada suatu hari ayah ibuku dapat menemukan kita, subo?"
"Mungkin saja, karena mereka orang-orang yang lihai. Dan kalau terjadi hal itu, tentu mereka akan memaksa untuk membawamu pergi, dan aku akan mempertahankan. Kalau sudah begitu, aku hanya mengharapkan kebijaksana-anmu dan kejujuranmu juga kesetiaanmu akan janji dan sumpahmu."
"Jangan khawatir, subo"
Kata anak perempuan itu dengan sikap gagah.
"Aku sudah berjanji dan bagiku, janji adalah kehormatan. Seorang gagah lebih mengutamakan kehormatan daripada nyawa. Dan aku yakin bahwa ayah dan ibu juga tidak ingin melihat anak mereka menjadi seorang pengkhianat yang melanggar sumpahnya sendiri!"
"Bagus, anakku yang baik, muridku yang hebat kelak engkau akan amat berguna bagiku. Aku girang sekali telah menolongmu, Hong Li. Mari ikutlah aku, kita pulang."
"Pulang?"
"Ya, pulang."
Sin-kiam Mo-li tersenyum.
"Kau kira aku tidak mempunyai tempat tinggal? Marilah, dan engkau akan merasa senang sekali tinggal di rumahku, eh, sekarang menjadi rumah kita."
Akan tetapi, ternyata bahwa mereka harus melakukan perjalanan sampai puluhan hari untuk dapat tiba di tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, karena tempat itu berada di tepi Sungai Cin-sa di kaki Pegunungan Heng-tuan, di tapal batas sebelah barat dari Propinsi Secuan!
Dengan melakukan perjalanan yang cepat dan jarang berhenti, Kao Cin Liong dan Suma Hui akhirnya tiba juga di Lhasa, di kota terbesar daerah Tibet itu, tempat yang menjadi pusat dari pemerintahan para Dalai Lama, dan juga menjadi pusat para pendeta Lama.
Tempat ini dianggap keramat oleh para pendeta Lama dan oleh seluruh rakyat di Tibet.
Kao Cin Liong adalah seorang yang sudah banyak pengalaman.
Ketika dia menjadi seorang panglima kerajaan, dia pernah memimpin pasukan sampai di Tibet, dan sebagai seorang panglima, dia amat dikenal di jaman itu.
Maka, kini dia memasuki daerah Tibet tanpa merasa asing.
Isterinya, Suma Hui yang belum pernah melihat kota Lhasa, memandang penuh kagum dan diam-diam merasa khawatir.
Tembok kota Lha-sa demikian kokoh kuat, dan istana yang menjadi pusat para pendeta Lama itu demikian megah, besar dan indah.
Kalau puterinya berada di dalam istana itu, bagaimana ia akan mampu mengeluarkannya?
Akan tetapi.
ketenangan suaminya menimbulkan kembali kepercayaan diri dan keyakinannya bahwa mereka berdua pasti akan dapat menemukan dan membawa pulang puteri mereka tercinta, anak tunggal mereka.
Para pendeta Lama yang menjadi pimpinan di situ, banyak di antaranya yang mengenal bekas Panglima Kao Cin Liong dan merekapun menyambut kunjungan suami isteri itu dengan hormat dan ramah.
Suami isteri pendekar itu tidak mau menceritakan kehilangan anak mereka, dan mereka hanya mengatakan bahwa mereka mempunyai urusan pribadi yang penting dengan seorang pendeta Lama berjuluk Ang I Lama.
"Mohon petunjuk para suhu apakah di sini terdapat seorang suhu yang berjuluk Ang I Lama, karena kami berdua sengaja datang dari jauh untuk mencarinya, untuk suatu urusan pribadi yang penting antara suhu Ang I Lama dan kami,"
Demikian antara lain Kao Cin Liong menyatakan keperluan kunjungan mereka di tempat suci itu.
"Omitohud.... aneh sekali kalau ada tamu mencari Ang I Lama untuk urusan pribadi, karena setahu kami, sudah hampir dua tahun Ang I Lama mengasingkan diri dan tidak pernah berurusan dengan dunia luar. Akan tetapi kalau taihiap ingin mengetahui tempat tinggalnya, Ang I Lama kini berada di dalam guha di puncak Bukit Biruang Putih, tidak jauh dari sini."
Suma Hui tidak dapat menahan keinginan tahunya. Setelah suaminya mengucapkan terima kasih atas keterangan itu, iapun bertanya.
"Cu-wi losuhu, kalau tidak salah, suhu Sai-cu Lama juga berasal dari sini, bukan?"
Mendengar pertanyaan ini, para pendeta Lama saling pandang dan muka mereka menjadi kemerahan.
"Omitohud....!"
Seorang di antara mereka menjura ke arah Suma Hui.
"Semoga Sang Buddha mengampuni kami. Memang benar, lihiap, Sai-cu Lama berasal dari sini. Akan tetapi dia murtad dan untung ada Tiong Khi Hwesio yang menolong kami dan menundukkannya. Sahabat kami Tiong Khi Hwesio sudah mengunjungi kami beberapa hari yang lalu dan sudah menceritakan bahwa dia berhasil melenyapkan Sai-cu Lama berkat bantuan para pendekar dan di antara mereka yang membantu untuk membasmi komplotannya termasuk ji-wi. Karena itu, dalam kesempatan ini, pinceng mewakili saudara kami sekalian menghaturkan terima kasih kepada ji-wi."
Kao Cin Liong dan isterinya cepat membalas penghormatan itu, dan bekas panglima itu merasa tidak enak melihat sikap para pendeta Lama yang menjadi kikuk ketika disebut nama Sai-cu Lama yang dianggap mengotorkan nama para pendeta Lama di Tibet.
"Harap cuwi losuhu memaafkan kami. Isteriku menyebut nama Sai-cu Lama karena kami menduga bahwa ada hubungan antara Sai-cu Lama dan Ang I Lama."
Dengan ucapan ini, Cin Liong sengaja memancing keterangan tentang kedua orang pendeta Lama itu.
"Omitohud.... dugaan ji-wi memang tepat sekali, Ang I Lama adalah sute dari mendiang Sai-cu Lama, akan tetapi biarpun mereka itu saudara seperguruan, sungguh perbedaan antara mereka seperti bumi dengan langit. Sai-cu Lama menyeleweng dari pada kebenaran dan tersesat mengingkari ajaran-ajaran agama, sebaliknya Ang I Lama adalah seorang yang benar-benar taat kepada agama, bahkan selalu prihatin dan bertapa untuk mencari penerangan dan kedamaian."
Akan tetapi, keterangan bahwa ada hubungan saudara seperguruan antara kedua pendeta Lama itu, menambah keyakinan hati suami isteri itu bahwa mereka telah menemukan jejak yang benar.
Tentu Ang I Lama menculik puteri mereka karena hendak membalas dendam atas kematian suhengnya, Sai-cu Lama pikir mereka.
Mereka tahu bahwa dendam dapat saja membutakan mata batin manusia, dan bukan tidak mungkin kalau Ang I Lama yang katanya tekun bertapa itu tidak dapat menahan dendam sakit hatinya.
Setelah memperoleh keterangan dan petunjuk tentang tempat tinggal atau tempat bertapa Ang I Lama, suami isteri pendekar itu lalu menghaturkan terima kasih dan meninggalkan istana para pendeta Lama di kota Lhasa itu, dan dengan cepat mereka mendaki bukit yang bernama Bukit Biruang Putih karena dari jauh memang bentuknya seperti seekor biruang.
Di musim dingin, puncak itu diliputi salju sehingga nampak seperti seekor biruang putih, dan di musim panas, masih nampak putih karena puncaknya adalah batu kapur yang gundul.
Hari telah siang ketika suami isteri itu akhirnya tiba di depan guha besar, sebuah guha di puncak bukit kapur dan guha itu sudah memakai pintu kayu buatan manusia.
Sunyi sekali di situ dan pemandangan alam dari depan guha memang amat indahnya.
Dari situ nampak kota Lhasa, bahkan istana para pendeta Lama juga nampak dari situ, kelihatan seperti mainan saja, namun amat indahnya.
Suma Hui berkeringat karena ketegangan hatinya.
Ia membayangkan akan dapat menemukan puterinya di dalam gua itu, maka hatinya tegang bukan main.
Masih selamatkah puterinya?
Dan akan mampukah ia dan suaminya merampas kembali puteri mereka kembali?
Menurutkan dorongan hatinya, ingin Suma Hui menerjang dan menghancurkan pintu guha itu, namun suaminya yang maklum akan keadaan hati isterinya, menggeleng kepalanya memberi isyarat, lalu dia sendiri mendekati pintu kayu yang tertutup dan berkata dengan suara menghormat tidak keras akan tetapi karena dia mengerahkan khi-kangnya, maka suara itu dapat menembus daun pintu ke dalam guha.
"Locianpwe Ang I Lama, maafkan kalau kami datang mengganggu. Kami suami isteri Kao Cin Liong dan Suma Hui dari jauh di timur datang berkunjung untuk bertemu dan bicara dengan locianpwe!"
Keheningan menjawab suara Kao Cin Liong.
Suami isteri itu menanti sampai beberapa lama, namun tidak ada jawaban.
Mereka saling pandang dan kemarahan nampak di wajah Suma Hui.
Wanita ini melangkah mendekati pintu dan tanpa dapat dicegah suaminya lagi, ia menggedor pintu itu.
"Dor-dor-dorrr....!"
Daun pintu itu terguncang, lalu ia berteriak, suaranya nyaring sekali.
"Ang I Lama, engkau telah menculik puteri kami! Keluarlah dan kembalikan puteri kami kepada kami atau aku akan menghancurkan daun pintu guha ini!"
Kini segera terdengar suara dari balik pintu itu.
"Omitohud.... apakah dosa pinceng maka hari ini kejatuhan fitnah yang keji ini....?"
Daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah seorang kakek yang berpakaian serba kuning dengan jubah lebar berwarna merah.
Kakek ini usianya sekitar enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, dengan sepasang mata yang tajam namun lembut sinarnya, dan wajahnya yang nampak sabar dan tenang.
Dengan langkah lambat dia keluar pintu guha dan menghadapi suami isteri itu dengan sinar mata mengandung keheranan.
Sejenak matanya memandang kepada suami isteri itu penuh selidik, kemudian dia berkata lagi.
"Omitohud, tadi pinceng mendengar bahwa ji-wi adalah Panglima Kao Cin Liong dan isterinya Suma Hui. Benarkah itu?"
"Saya bukan panglima lagi, locianpwe. Benar saya adalah Kao Cin Liong dan ini isteriku Suma Hui. Kami datang dari Pao-teng, sengaja untuk mencari dan menemui locianpwe."
"Omitohud.... sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi pinceng. Sayang pinceng tidak dapat menyambut dengan kehormatan, akan tetapi, ada urusan penting apakah maka ji-wi jauh-jauh datang mencari pinceng?"
Suma Hui sudah tidak sabar lagi.
Tadi ketika kakek itu muncul, ia mengharapkan kakek itu akan disertai Hong Li.
Akan tetapi anak itu tidak nampak, maka ia merasa khawatir sekali.
"Bukankah engkau yang berjuluk Ang I Lama?"
Tiba-tiba ia bertanya dengan sikap ketus. Sikapnya ini membuat kakek itu memandang heran, akan tetapi dengan lembut dia mengangguk.
"Benar sekali."
"Kalau begitu, jangan berpura-pura lagi dan cepat bawa keluar anak kami Kao Hong Li dan serahkan kembali kepada kami!"
Kini kakek itu memandang kepada mereka berdua dengan sinar mata penuh keheranan, dan melihat betapa mereka berdua juga memandang kepadanya penuh selidik.
"Omitohud, jadi yang pinceng dengar tadi bukan hanya mimpi? Semula pinceng mendengar bahwa ji-wi datang untuk bicara dan karena sudah bertahun-tahun pinceng bertapa, pinceng terpaksa tidak melayani. Lalu terdengar fitnah keji itu yang memaksa pinceng keluar. Apakah artinya ini? Pinceng sama sekali tidak pernah menculik puteri ji-wi atau puteri siapapun juga. Bahkan selama dua tahun ini baru sekaranglah pinceng keluar dari dalam guha ini."
Suami isteri itu saling pandang dengan alis berkerut.
Sungguh tidak mereka sangka mereka akan mendengar jawaban seperti ini.
Sama sekali tidak menyenangkan!
Kalau benar bukan pendeta Lama ini yang menculik Hong Li, berarti mereka telah melakukan perjalanan jauh dengan sia-sia.
Bukan itu saja, juga harapan mereka untuk dapat menemukan kembali anak mereka di situ menjadi buyar, dan di samping itu mereka akan meraba-raba di dalam kegelapan karena tidak tahu siapa penculik itu dan di mana adanya puteri mereka.
"Ang I Lama, tak perlu engkau membohongi kami! Mana mungkin ada orang tinggal di dalam guha selama bertahun-tahun, tanpa makan dan minum. Kalau engkau tidak pernah keluar, berarti engkau tidak pernah makan minum dan hal itu saja membuktikan kebohonganmu!"
Teriak Suma Hui tak sabar, ngeri membayangkan bahwa benar-benar pendeta ini bukan penculik Hong Li.
"Omitohud, selama hidup pinceng tidak pernah berbohong. Lihat, lihiap, setiap dua tiga hari sekali ada murid Lama yang datang mengantar makanan dan minuman, ditaruhnya di luar daun pintu. Itu kiriman pagi tadi belum kuambil. Biasanya, pinceng hanya mengeluarkan tangan untuk mengambil makanan atau minuman sekedar untuk menghidupkan badan ini."
Pendeta Lama itu menuding ke dekat pintu, dan benar saja.
Di situ nampak sebuah baki terisi beberapa potong roti, madu dan air dalam botol.
Kao Cin Liong menjura.
"Maaf, locianpwe, harap diketahui bahwa kami berdua berada dalam keadaan penuh kekhawatiran dan kedukaan. Anak tunggal kami diculik orang yang menurut anak-anak yang menyaksikannya, penculik itu adalah seorang pendeta berjubah merah yang mengaku bernama Ang I Lama, dan menurut keterangan mereka, bentuk muka dan tubuhnya cocok dengan keadaan locianpwe. Penculik itu berilmu tinggi dan mempergunakan ilmu sihir ketika melarikan anak kami. Mendengar nama itu kami jauh-jauh dari Pao-teng, melakukan perjalanan berbulan-bulan, menyusul ke sini. Setelah bertemu dengan locianpwe dengan penuh harapan akan bertemu dengan anak kami, tentu saja jawaban locianpwe itu mengecewakan sekali dan kami tidak dapat percaya begitu saja."
Kakek pendeta itu mengangguk-angguk.
"Pinceng dapat mengerti dan dapat merasakan kecemasan ji-wi. Dari rumah yang amat jauh ji-wi membawa harapan untuk dapat menemukan kembali puteri ji-wi di sini, tentu saja ji-wi tidak mau menerima begitu saja kenyataan yang akan meghancurkan harapan ji-wi. Nah, pinceng persilahkan ji-wi untuk menggeledah ke dalam guha ini dan mencari puteri atau jejak puteri ji-wi."
"Biar aku yang memeriksa ke dalam dan kau menjaga di sini!"
Kata Suma Hui mendahului suaminya.
Cin Liong tahu bahwa isterinya masih belum percaya kepada Ang I Lama dan takut kalau-kalau pendeta itu melarikan diri, maka diapun mengangguk.
Dengan hati penuh ketegangan, juga harapan, Suma Hui lalu memasuki guha itu.
Sebuah guha yang cukup lebar dan di dalamnya bersih sekali, mendapatkan cukup hawa, bukan hanya dari pintu yang kini terbuka, Juga dari lubang-lubang di bagian atas yang memasukkan hawa dan cahaya matahari.
Lantainya dari batu yang halus dan bersih, dan di dalamnya hanya terdapat sebuah dipan kayu bertilam kasur tipis, kitab-kitab agama, tasbeh dan alat-alat sembahyang.
Suma Hui meneliti guha itu penuh perhatian, bahkan memeriksa keadaan lantai dengan teliti sekali, mencari jejak puterinya, juga mencari kalau-kalau di situ terdapat alat-alat rahasia dan tempat tersembunyi.
Namun, ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, juga tidak menemukan jejak atau tanda-tanda bahwa puterinya pernah berada di tempat itu.
Saking kecewa dan bingungnya, kedua mata Suma Hui basah air mata ketika ia keluar dari dalam guha itu.
Bagaikan seekor harimau betina kehilangan anaknya, ia menghadapi Ang I Lama dengan sikap marah dan ia membentak.
"Ang I Lama, aku tidak menemukan anakku di dalam guha. Tentu engkau telah menyembunyikan di tempat lain. Hayo kau mengaku dan kembalikan anakku, kalau tidak aku akan memaksamu agar mengaku!"
"Omitohud.... pinceng tidak pernah menculik puteri ji-wi dan pinceng tidak berbohong. Lihiap sudah menggeledah guha pinceng. Lalu apa lagi yang harus pinceng lakukan untuk meyakinkan hati ji-wi bahwa pinceng tidak pernah menculik puteri ji-wi?"
"Semua saksi mengatakan bahwa engkaulah penculiknya!"
Suma Hui membentak marah.
Ia mengharapkan sekali bahwa kakek inilah penculiknya, karena kalau bukan kakek ini, lalu siapa dan ke mana ia harus mencari anaknya?
Perjalanan dari rumahnya ke Tibet merupakan perjalanan yang amat jauh dan sukar, dan ia tidak mau melihat perjalanannya ini sia-sia belaka.
"Omitohud...., sungguh luar biasa sekali. Semua saksi mengatakan bahwa pinceng yang melakukan penculikan itu. Akan tetapi pinceng tidak melakukannya. Mengapa pinceng harus melakukan perbuatan jahat itu? Pinceng tidak pernah bermusuhan dengan siapapun, apa lagi dengan ji-wi,"
Kata kakek itu sambil menarik napas panjang.
"Maafkan kami, locianpwe,"
Kata Cin Liong dengan sikap yang masih hormat.
"Bukankah locianpwe masih saudara seperguruan dari mendiang Sai-cu Lama?"
"Mendiang....?"
Wajah pendeta itu nampak terheran.
"Dia telah tewas ketika berkomplot dengan pengkhianat dan mengacau di kota raja, dan kami membantu para pendekar yang menghancurkan komplotannya. Nah, hal ini agaknya merupakan alasan yang cukup kuat andaikata locianpwe melakukan balas dendam dengan menculik anak kami."
"Omitohud....! Tentang kematian suheng Sai-cu Lama pun baru sekarang pinceng dengar, bagaimana pinceng dapat mendendam? Sungguh menyedihkan bahwa dia meninggal dunia dalam keadaan penuh dosa. Biarpun pinceng benar sutenya, namun di antara kami tidak pernah ada hubungan, lahir ataupun batin. Andaikata pinceng sudah tahu akan kematiannya sekalipun, pinceng tidak akan mendendam kepada siapapun juga. Hanya Thian yang menentukan kematian seseorang. Ji-wi atau siapapun juga tidak mungkin dapat membunuh seseorang tanpa kehendak Thian, Hanya Thian yang membunuh atau menghidup-kan seseorang."
"Tak perlu banyak alasan kosong! Siapa tidak tahu bahwa diantara para Lama jubah marah terdapat banyak yang menyeleweng? Jubah pendetamu, kepala gundulmu, dan pertapaanmu hanya untuk kedok saja, menutupi semua keburukan yang dapat kau lakukan. Ang I Lama, para saksi itu adalah sekumpulan anak yang masih bersih dan jujur. Mereka tidak mungkin membohong. Mereka melihat sendiri betapa penculik itu adalah seorang pendeta yang berjubah merah, dan pendeta itu mengaku bernama Ang I Lama! Engkau hendak menyangkal, terpaksa aku menggunakan kekerasan!"
Berkata demikian, Suma Hui yang sudah menjadi marah sekali karena cemas tidak berhasil menemukan jejak puterinya, segera menggerakkan tubuhnya, menyerang dengan hebatnya.
Serangan wanita ini amat hebat dan dahsyat karena ia sedang marah dan ia merasa yakin bahwa kakek yang diserangnya inilah penculik puterinya, maka begitu menyerang ia sudah menggunakan sebuah jurus dari Cui beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Pengejar Roh).
Melihat datangnya serangan dahsyat ini, terdengar Ang I Lama mengeluh dan kakek inipun cepat meloncat ke belakang.
Tubuh kakek ini demikian ringannya seolah-olah dia dapat terbang saja dan ketika pukulan itu datang dengan hawa pukulan yang amat kuat, tubuhnya terdorong ke belakang seperti sehelai kapas yang dipukul saja!
Melihat pukulan pertamanya tidak mengenai sasaran, Suma Hui sudah menerjang lagi, melanjutkannya dengan serangan-serangan yang dahsyat, kini mempergunakan tenaga Hui-yang Sin-kang yang mengeluarkan hawa panas.
Kakek itu terhuyung-huyung ke belakang sambil mengatur langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan semua pukulan dan ketika serangkaian pukulan itu lewat tanpa mengenai tubuhnya, diapun berseru dengan nada sedih.
"Omitohud.... apakah ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es hanya untuk membunuh orang yang tidak bersalah?"
Mendengar keluhan ini, Suma Hui merasa disindir, akan tetapi ia menjadi semakin marah dan penasaran.
"Singgg....! Nampak sinar berkelebat, sinar yang menyilaukan mata dari sepasang pedang yang sudah dicabut oleh wanita perkasa itu.
"Ang I Lama, untuk menemukan kembali puteriku, aku berani menghadapi siapa saja dan membunuh siapa saja!"
Bentaknya dan iapun kini menyerang dengan sepasang pedangnya! Ang I Lama meloncat ke belakang dengan gerakan seperti seekor kera dan diapun mengeluh.
"Omitohud.... lihiap terlalu mendesak! Kegelisahan dan kedukaan telah membuat lihiap menjadi mata gelap."
Suma Hui tidak perduli dan mendesak terus dengan pedang-pedangnya.
Kakek itu bersilat dengan gerakan-gerakan lucu, seperti seekor kera, akan tetapi dia berhasil berloncatan menyelinap di antara gulungan kedua sinar pedang.
Memang Ang I Lama adalah seorang ahli silat Sin-kauw-kun (Silat Kera Sakti) yang amat lihai.
Diapun memiliki sepasang pedang dan menjadi ahli bermain siang-kiam, akan tetapi menghadapi amukan Suma Hui, jelas bahwa dia selalu mengalah, dan tidak mau mempergunakan sepasang pedangnya walaupun serangan-serangan wanita sakti itu amat berbahaya bagi keselamatan dirinya.
Menghadapi desakan sepasang pedang yang demikian lihainya seperti sepasang pedang di tangan Suma Hui yang memainkan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis), satu di antara ilmu-ilmu keluarga Pulau Es yang amat hebat, mana mungkin hanya mengelak saja?
Untuk menyelamatkan dirinya, terpaksa Ang I Lama harus membalas serangan lawan untuk membendung gelombang serangan Suma Hui.
Akan tetapi dia membalas bukan dengan maksud mencelakai lawan, melainkan sekedar menahan desakan lawan, dengan cengkeraman-cengkeraman keras untuk merampas pedang dan totokan-totokan untuk melumpuhkan tubuh lawan.
Ketika sepasang pedang Suma Hui mendesak hebat, tiba-tiba dengan gerakan aneh, tubuh kakek pendeta itu menyelinap dan berada di belakang tubuh wanita itu, tangan kanannya menyambar ke arah tengkuk untuk melakukan totokan.
Akan tetapi, Suma Hui membalik dan pedangnya menyambar, membabat ke arah lengan yang diulur ke arah tengkuknya tadi.
Sinar pedang berkelebat dan Ang I Lama tidak sempat lagi untuk mengelak dan walaupun dia sudah menarik kembali lengannya, tetap saja pedang itu menyambar ke arah lengannya dan....
"crokkk....!"
Setengah dari lengan itu terbabat buntung! "Hui-moi, jangan....!"
Kao Cin Liong berseru kaget dan meloncat ke depan, memegang lengan isterinya dan menariknya lembut agar isterinya menahan dirinya.
"Omitohud, sungguh berbahaya....!"
Kata kakek itu dan diapun memandang lengan kanannya yang ternyata masih utuh, akan tetapi lengan bajunya yang buntung setengahnya.
Kiranya kakek ini, dalam saat terakhir ketika pedang membabat, Masih sempat menarik lengannya di dalam lengan baju sehingga yang terbabat buntung hanya lengan bajunya saja!
Melihat kenyataan itu, diam-diam Cin Liong terkejut dan girang.
Girang karena ternyata isterinya tidak jadi membikin cacat pendeta yang belum tentu berdosa ini, dan terkejut karena maklum bahwa kakek ini sungguh sakti, sudah dapat membuat lengannya mulur dan mengkeret.
Ilmu seperti itu dapat membuat lengan mulur sampai dua kali panjang lengan itu, dan dapat membuat lengan itu memendek sampai setengahnya, seperti yang dilakukan kakek tadi untuk menyelamatkan lengannya dari babatan pedang.
Sudahlah, Hui-moi.
Agaknya memang locianpwe ini tidak bersalah karena sejak tadi dia mengalah terus menghadapi serangan-seranganmu.
Kalau bukan dia yang melakukan, berarti ada orang lain yang mempergunakan namanya.
Aku yakin bahwa locianpwe Ang I Lama tidak akan tinggal diam saja namanya dipergunakan orang lain untuk melakukan kejahatan terhadap kita sehingga mendatangkan fitnah padanya.
Suma Hui juga mengerti bahwa agaknya memang bukan kakek ini yang menculik puterinya.
Kalau memang kakek ini memiliki dendam terhadap ia dan suaminya, tentu kakek ini akan melakukan perlawanan, mengingat bahwa tingkat kepandaian kakek ini mungkin lebih tinggi dari tingkatnya.
Akan tetapi kakek ini selalu mengalah, tidak balas menyerang dan selalu bersikap lembut.
Hal ini membuat hatinya menjadi semakin gelisah dan berduka.
Tak terasa lagi, dua matanya menjadi basah dan air mata jatuh menuruni kedua pipinya yang agak pucat.
Wanita ini menderita kesengsaraan batin semenjak puterinya, yang merupakan anak tunggal itu, lenyap diculik orang.
"Habis, ke mana kita harus mencari anak kita...?"
Suaranya terdengar demikian memelas, menggetar dan lirih, kedua matanya yang merah dan basah itu ditujukan kepada suaminya dengan pandang mata yang penuh duka sehingga suaminya merasa terharu dan kasihan sekali.
Dia sendiri tidak tahu harus mencari ke mana, maka pertanyaan penuh kegelisahan itupun tidak dapat dijawabnya.
"Omitohud.... kenapa ada orang tega memisahkan ibu dari anaknya? Sungguh merupakan perbuatan yang amat kejam. Pinceng dapat mengerti akan kedukaan dan kebingungan hati ji-wi. Karena pinceng juga ingin sekali membantu, maka dapakah ji-wi memberitahukan, siapa kiranya musuh-musuh ji-wi yang paling besar?"
Kao Cin Liong menggeleng kepala.
"Kami merasa tidak mempunyai musuh-musuh, locianpwe, akan tetapi tentu saja ada orang-orang yang membenci kami di luar pengetahuan kami. Semenjak saya mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai panglima, kami hidup sebagai pedagang dan tidak mencampuri urusan kang-ouw. Kecuali ketika kami membantu para pendekar untuk menghancurkan komplotan Sai-cu Lama yang mengacau di kota raja."
"Nah, itulah, komplotan itulah. Siapakah di antara mereka selain mendiang suheng Sai-cu Lama? Siapakah yang menjadi kelompak pimpinan mereka?"
Pendeta itu bertanya dan memandang dengan alis berkerut, penuh perhatian.
"Ada banyak di antara mereka, akan tetapi yang menjadi pimpinan terpenting hanya beberapa orang,"
Jawab Kao Cin Liong sambil mengingat-ingat.
"Mereka adalah Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, Iblis Mayat Hidup...."
"Sam Kwi (Tiga Iblis)?"
Tanya Ang I Lama.
"Benar, locianpwe. Sam Kwi bersama murid mereka yang berjuluk Bi-kwi. Kemudian ada lagi Kim Hwa Nio-nio dan muridnya yang bernama Bhok Gun. Itulah mereka yang menjadi komplotan dan pembantu Sai-cu Lama."
Ang I Lama mengangguk-angguk, sepasang alisnya berkerut dan tangan kirinya meraba-raba dagunya.
"Apakah mereka semua tewas dalam pertempuran itu?"
"Semua tewas, kecuali Bi kwi, murid Sam Kwi."
"Hemmm, apakah tidak mungkin ia yang melakukan penculikan itu?"
Cin Liong menggeleng kepala.
"Kiranya tidak mungkin. Kalau ia mendendam, tentu tidak ditujukan kepada kami, karena kami hanya membantu saja para pendekar yang menghancurkan komplotan itu. Pula, tidak mungkin ia dapat menyamar sebagai locianpwe, karena ketika melakukan penculikan, menurut saksi, yaitu anak-anak yang menyaksikan, penculik itu menggunakan ilmu sihir dan lenyap diantara gumpalan asap tebal."
"Sihir?
Hemmm....
Kakek itu lalu duduk bersila dan seperti orang bersamadhi, akan tetapi kulit di antara kedua alisnya berkerut, tanda bahwa dia tenggelam di dalam pemikiran yang mendalam.
Karena merasa tidak perlu lebih lama berada di tempat itu, Cin Liong lalu menggandeng tangan isterinya yang nampak sedih itu, meninggalkan tempat itu, menuruni bukit perlahan-lahan.
Dia harus pulang dulu, baru dari rumah nanti mencari jejak puteri mereka.
Juga, dia mengharapkan hasil penyelidikan Suma Ciang Bun, selain itu juga ingin mendengar bagaimana dengan pendapat orang tuanya di Istana Gurun Pasir yang dilapori oleh Gu Hong Beng, murid Suma Ciang Bun.
Rumah itu tidak besar, merupakan rumah dengan dua buah kamar besar dan tiga kamar dibagian belakang yang menjadi tempat tinggal para pelayan, dua buah ruangan dan sebuah gudang.
Kecil akan tetapi nampak indah sekali karena bangunannya dibuat secara artistik, gentengnya merah dan tembok rumah itu sendiri di cat hijau, hampir tersembunyi di antara daun-dan pohon yang besar.
Pohon-pohon yang tumbuh disekeliling rumah itupun bukan pohon liar, melainkan diatur tumbuhnya,dan terdiri dari pohon-pohon yang asing dan jarang terdapat di daerah pegunungan Heng-tuan-san itu.
Rumah itu berdiri di lereng paling bawah, masih merupakan kaki pegunungan kaki pegunungan Heng-tuan-san.
Tanah disekeliling rumah itu subur sekali karena sungai Cin-sa mengalir di bagian belakang rumah itu, hanya beberapa ratus meter saja jauhnya.
Karena daerah itu merupakan daerah tapal batas Propinsi Secuan, dan jauh dari jalan raya, maka keadaannya amat sunyi.
Sunyi dan indah.
Dusun terdekat berada sejauh belasan li dari situ.
Itulah tempat tinggal wanita cantik yang berjuluk Sin-kiam Mo-li.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sin-kiam Mo-li, wanita cantik yang bersikaphalus menarik itu, kini telah menjadi guru Kao Hong Li.
Seperti kita ketahui, Sin-kiam Mo-li telh berhasil merampas Kao Hong Li dari tangan penculiknya yang mengaku bernama Ang I Lama, kemudian Hong Li berjanji untuk berguru dan mengaku ibu kepada Sin-kiam Mo-li, ikut bersama wanita itu selama lima tahun.
Bahkan Hong Li telah disuruh bersumpah!
Ketika ia pertama kali tiba di tempat tinggal gurunya yang juga menjadi ibu angkatnya, Hong Li merasa gembira sekali, melihat betapa tempat itu amatlah indahnya.
Rumah itu kecil mungil dan dari jauh, ketika mereka tiba di bawah kaki gunung, rumah itu nampak jelas, Seperti rumah boneka yang berwarna-warni, dikelilingi pohon-pohon besar yang indah pula, juga diantara pohon-pohon itu terdapat banyak sekali tanaman bunga yang beraneka ragam dan warna.
Ketika mereka mulai mendaki bukit, rumah indah itu lenyap tertutup pohon-pohon yang amat banyak dan mereka mendaki melalui lorong-lorong yang amat sulit dikenal kembali karena bentuknya yang aneh-aneh dan banyak pula yang sama.
Lorong-lorong di antara pohon-pohon besar itu juga seringkali membelok, bahkan tikungannya ada pula yang seperti berbalik ke arah yang berlawanan.
Di sana-sini lorong itu putus dan di depannya hanya nampak jurang lebar menganga, (Lanjut ke
Jilid 32) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32 ada pula yang tiba-tiba saja di depan jalan terdapat kolam pasir yang bentuknya aneh, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman.
Ada pula lapangan rumpur yang hijau dan nampak segar, akan tetapi gurunya memperingatkan agar ia jangan menginjak lapangan rumput itu.
Tadinya Hong Li mengira bahwa gurunya melarangnya agar jangan merusak rumput hijau segar itu, akan tetapi kemudian gurunya memberi tahu bahwa menginjak tempat itu sama saja dengan bunuh diri!
Banyak tempat, tempat yang tidak boleh diinjak, bahkan ada pula tanaman-tanaman yang memiliki bunga-bunga indah akan tetapi gurunya melarang ia menyentuh bunga dan daun tanaman itu.
Tangannya akan melepuh keracunan, kata gurunya.
Sungguh tempat yang indah akan tetapi aneh dan menyeramkan.
Akan tetapi setelah mereka tiba di rumah mungil itu, hati Hong Li tertarik dan ia senang sekali menerima sambutan tiga orang pelayan yang usianya rata-rata tiga puluh tahun, pelayan-pelayan wanita yang rata-rata berwajah cantik dan berpakaian bersih rapi.
"Ini adalah anak angkat, juga muridku,"
Kata Sin-kiam Mo-li kepada mereka, memperkenalkan Hong Li.
"Aih, siocia, engkau manis sekali!"
Kata yang berbaju merah.
"Siocia, yang baik, kami akan melayanimu dengan penuh kasih sayang!"
Kata yang berbaju hitam.
"Siocia, siapakah namamu?"
Tanya yang berbaju putih.
Hong Li memandang mereka seorang demi seorang dengan penuh perhatian.
Mereka itu berwajah cantik, tidak seperti pelayan dari dusun, dan pakaian mereka yang rapi itu seperti pakaian seragam.
Celana mereka baru, akan tetapi baju mereka, yang mempunyai potongan yang sama, berbeda warnanya.
Rata-rata mereka bersikap ramah, akan tetapi yang mengherankan, sikap mereka lincah dan sepasang mata mereka tajam, gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka bukanlah wanita-wanita bodoh yang lemah.
Sebelum ia menjawab, gurunya sudah bicara lagi.
"Hong Li, mereka inilah pelayan-pelayan yang juga menjadi teman kita dan penghuni tempat ini. Nama mereka mudah dilihat dari pakaian mereka. Ini Ang Nio (Nona Merah), dan ini Pek Nio (Nona Putih) dan Hek Nio (Nona Hitam). Kalian ketahuilah bahwa siocia (nona) ini adalah Kao Hong Li. Ia belum tahu akan keadaan tempat tinggal kita, maka hari ini kalian ajaklah ia berjalan-jalan dan kalau aku belum memerintahkan, jangan membuka rahasia tentang tempat ini. Belum waktunya dan bisa berbahaya. Nah. aku mau beristirahat. Layanilah Hong Li sebaiknya."
Setelah berkata demikian, Sim-kiam Mo-li meninggalkan muridnya yang segera diajak oleh tiga orang pelayan itu untuk melihat lihat keadaan di dalam rumah itu.
Ketika Hong Li diajak masuk ke dalam, ia menjadi kagum dan juga bingung.
Kagum karena rumah itu mewah dan memiliki perabot rumah yang serba indah dan mahal, penuh dengan lukisan-lukisan mahal, pot-pot bunga kuno yang antik, juga lantainya ditutup permadani tebal.
Akan tetapi yang membuat ia merasa bingung adalah ketika ia harus berputar-putar untuk memeriksa kamar itu yang walaupun tidak berapa besar namun berlika-liku dan memiliki lorong-lorong di antara pot-pot bunga dan perabot rumah.
Gurunya mendiami kamar pertama dan ia memperoleh kamar ke dua yang selama ini dibiarkan kosong, sedangkan tiga orang pelayan itu tinggal di kamar belakang.
Anehnya, ia harus dituntun oleh Ang Nio ketika melihat-lihat di dalam rumah itu.
"Jangan pandang ringan keadaan dalam rumah ini, nona. Tanpa petunjuk kami, nona takkan dapat memasuki kamar sendiri,"
Kata Ang Nio melihat betapa Hong Li mengerutkan alisnya karena harus dituntun.
"Ah, masa? Kenapa tidak bisa?"
"Keadaan di dalam rumah ini telah diatur oleh toanio (nyonya besar) menurutkan garis-garis pat-kwa (segi delapan), penuh dengan alat-alat rahasia sehingga kalau ada orang luar berani masuk, selain dia terancam oleh jebakan-jebakan, juga sukar baginya untuk mencari jalan keluar."
Hong Li tidak percaya.
Tiga orang pelayan itu lalu membiarkan ia mencari jalan sendiri dan benar saja!
Jalan yang diambilnya itu buntu, kalau tidak terhalang meja kursi, pot bunga, tentu menjadi tertutup oleh sebuah pintu yang ketika dibukanya membawanya ke bagian lain yang sama sekali tidak disangkanya.
Ia mencoba untuk mencapai pintu kamar yang diberikan kepadanya, namun selalu gagal!
Dan ketika ia melihat sebuah kursi besar menghalang antara ia dan pintu itu, ia menggeser kursi itu dengan hati girang.
Kalau kursi itu disingkirkan, tentu ia dapat langsung saja menghampiri pintu itu dan berarti menang!
Akan tetapi, begitu kursi digeser, terdengar suara dan tahu-tahu dirinya telah berada dalam sebuah kurungan besi!
Tiga orang pelayan itu menghampiri sambil tertawa-tawa.
"Sudahlah, nona,"
Kata Pek Nio sambil menggerakkan alat rahasia dan kurungan itupun terlipat dan lenyap, sedangkan kursi kembali ke tempatnya semula.
"Masih untung engkau terjebak dalam kurungan, karena di sini terdapat jebakan yang lebih berbahaya lagi. Mari, kita tunjukkan semua rahasia dalam rumah ini agar engkau dapat bergerak dengan bebas."
Mau tidak mau Hong Li kini percaya bahwa rumah yang nampak mungil tidak berapa besar ini penuh dengan alat rahasia dan diatur sedemikian rupa sehingga orang luar jangan harap akan dapat masuk, atau kalau sudah masuk jangan harap akan dapat keluar kembali.
Tiga orang pelayan itu menerangkan sejelasnya dan Hong Li memang memiliki otak yang cerdas sekali.
Dalam waktu sehari saja ia sudah mengenal semua rahasia di dalam rumah itu dan ia merasa kagum sekali, semakin kagum terhadap gurunya atau ibu angkatnya.
Dari pengaturan rumah ini saja sudah dapat diketahui bahwa Sin-kiam Mo-li memang amat lihai.
Akan tetapi, ternyata bahwa jalan menuju ke rumah gurunya itupun tidak dapat didatangi orang secara mudah!
Jalan itu mengandung rahasia yang lebih rumit dari pada rahasia di dalam rumah dan biarpun dari kaki gunung sudah dapat dilihat rumah mungil di lereng itu, jangan harap bagi orang luar untuk dapat menemukannya!
Dia akan tersesat dan hanya berputar-putar di antara pohon-pohon, atau kalau dia salah langkah, dia akan tewas dalam keadaan mengerikan.
Dan diam-diam Hong Li amat cemas, untuk dapat mengenal jalan naik turun dari rumah itu ke kaki gunung, ia harus mempelajarinya sampai lebih dari sepekan barulah ia dapat turun dan naik sendiri tanpa ditemani pelayan.
Dan ternyata bahwa jalan dari kaki gunung menuju ke rumah itu melalui lorong di antara pohon-pohon yang diatur menurut garis-garis pat-kwa yang amat rumit.
Semenjak tiba di tempat itu bersama gurunya, Hong Li mulai dilatih ilmu silat oleh Sin-kiam Mo-li.
Tidak begitu sukar bagi Sin-kiam Mo-li untuk mengajarkan ilmu-ilmunya yang tinggi karena gadis cilik itu memang sudah memiliki dasar yang baik sekali.
Sebagai cucu keluarga pendekar besar, sejak kecil ia memang sudah mempelajari dasar-dapat ilmu silat tinggi, bahkan ilmu silatnya sudah demikian lihainya sehingga orang dewasa yang ilmu silatnya tanggung-tanggung saja jangan harap akan mampu menandinginya.
Hong Li merasa suka tinggal di tempat yang indah itu, apa lagi sikap gurunya dan tiga orang pelayan itupun amat ramah kepadanya.
Hannya ada satu hal yang membuat ia merasa tidak suka, yaitu tempat itu jauh dari tetangga.
Dusun terdekat letaknya belasan li dari situ.
Kadang-kadang ia merasa kesepian dan merindukan kehadiran anak-anak lain yang dapat dijadikan teman.
Pada suatu pagi, Sin-kiam Mo-li memanggilnya.
Hong Li cepat datang menghadap.
"Hong Li, mari kau ikut aku melihat tontonan yang mengasyikkan.
"Tontonan apakah, subo?"
Hong Li bertanya dengan girang mendengar bahwa ia diajak nonton sesuatu yang mengasyikkan.
Disangkanya bahwa gurunya tentu akan mengajaknya ke sebuah dusun atau kota untuk nonton pertunjukan dan hal ini merupakan suatu perubahan yang segar dan penghibur kesepiannya.
Akan tetapi gurunya mengajaknya menuju ke kebun belakang di mana terdapat sebuah menara dari bambu di mana subonya suka berdiam diri untuk berlatih siu-lian.
Menara itu tidak mempunyai anak tangga, dan biasanya Sin-kiam Mo-li hanya mempergunakan ilmunya, meloncat seperti burung terbang melayang menuju ke atas menara di mana terdapat sebuah panggung tertutup dari papan.
"Subo, bagaimana aku dapat naik ke sana?"
Hong Li bertanya ragu ketika subonya menunjuk ke menara itu dan mengatakan bahwa mereka akan "nonton"
Dari sana.
Biarpun Hong Li sudah berlatih gin-kang sejak kecil dan tubuhnya memiliki keri-nganan dan kegesitan yang mengagumkan, namun kalau disuruh meloncat setinggi itu, ia masih belum mampu.
"Kelak engkau harus bisa melompat ke atas. Sekarang marilah kubantu engkau!"
Wanita cantik itu lalu menyambar lengan kiri Hong Li dan mereka lalu meloncat ke atas.
Baru mencapai setengahnya lebih, tubuh Hong Li tentu akan meluncur turun kembali kalau saja gurunya tidak menariknya ke atas dan Hong Li merasa seperti terbang dan tahu-tahu mereka sudah tiba di depan pondok atau panggung tertutup di atas menara itu.
Dari tempat setinggi itu, Hong Li dapat melihat ke kaki gunung dan nampaklah lorong kecil berlika-liku yang menuju ke sebuah dusun di kaki gunung.
Pernah ia datang ke dusun itu ketika ia berlatih melewati lorong yang penuh rahasia itu.
"Hong Li, lihat ke sana itu. Kita akan melihat tontonan yang menggembirakan!"
Kata wanita can-tik itu dengan suara gembira dan wajahnya berseri, sepasang matanya berkilauan tajam.
Hong Li yang sudah ingin bertanya tontonan apa yang dimaksudkan subonya, kini memandang ke arah yang ditunjuk subonya dan iapun dapat melihat mereka itu.
Ada lima orang nampak kecil-kecil dari atas itu, dan mereka sedang merayap perlahan-lahan menuju ke rumah mereka.
Kini lima orang itu telah tiba di luar daerah mereka, mulai berhadapan dengan pohon-pohon yang sudah diatur menjadi deretan pertama dari benteng pohon-pohon yang penuh rahasia.
Nampak dari atas betapa lima orang itu seperti sedang berunding, kemudian berpencar mengambil jalan sendiri-sendiri.
Agaknya mereka tahu bahwa jalan menuju ke rumah itu tidak mudah, maka mereka berpencar mencari jalan sendiri-sendiri.
Melihat gerakan mereka yang lincah dan ringan, mudah diduga bahwa lima orang itu bukan orang-orang sembarangan.
"Subo, siapakah mereka?"
Tanya Hong Li tanpa mengalihkan pandangannya dari lima orang itu.
Dari tempat ia berdiri, mudah dilihat gerakan lima orang itu.
Biarpun mereka berpencar, karena dari tempat tinggi itu mereka nampak kecil, maka pandang matanya dapat mengikuti gerakan mereka dengan jelas.
"Mereka adalah lima ekor tikus yang agaknya sudah bosan hidup dan mencari mati di sini,"
Jawab subonya dengan suara mengandung kegembiraan.
Hong Li terkejut dan kini ia menoleh dan memandang kepada subonya.
Wanita cantik itu nampaknya gembira sekali, sepasang matanya berseri mengikuti gerakan lima orang di bawah sana.
"Apa yang subo maksudkan?"
Tanyanya dengan heran.
"Mereka itu mencari mati karena melakukan pelanggaran daerah kita,"
Jawab pula gurunya dengan sikap masih gembira dan acuh terhadap pertanyaanpertanyaan muridnya.
"Tapi.... tapi mengapa, subo? Mengapa Subo membiarkan saja mereka melanggar wilayah kita dan memasuki daerah berbahaya itu?"
Kini Sin-kiam Mo-li menoleh kepada muridnya.
"Hemn aku tidak menyuruh mereka melakukan pelanggaran, bukan? Kalau sampai mereka mampus, itu adalah salah mereka sendiri!"
Sejenak Hong Li tidak mampu membantah.
Memang tak dapat disalahkan kalau gurunya membiar-kan saja lima orang itu memasuki daerah berbahaya dan menghadapi kematian mereka, akan tetapi, mengapa gurunya demikian kejam membiarkan lima orang menghadapi kematian tanpa mencegah-nya?
"Subo, kalau begitu biarlah aku yang akan memberi tahu mereka agar mereka mundur dan tidak melanjutkan perjalanan mereka memasuki daerah ini.
Mungkin mereka tidak tahu bahwa daerah ini berbahaya,"
Katanya pula. Tiba-tiba gurunya tertawa.
"Hemm, Hong Li engkau tidak tahu. Apa kau kira mereka itu tidak tahu? Mereka sengaja memasuki daerah kita karena mereka hendak mencari aku."
"Eh? Jadi subo mengenal mereka? Mau apa mereka mencari subo?"
"Mereka hendak membunuhku."
Sepasang mata Hong Li terbelalak kiranya ada permusuhan di antara lima orang itu dan subonya.
Pantas subonya membiarkan saja mereka menghadapi bahaya.
Akan tetapi ia masih merasa penasaran sekali.
"Subo, kenapa mereka hendak membunuh subo? Dan siapakah sesungguhnya mereka itu?"
"Beberapa pekan yang lalu, seorang teman mereka memasuki daerah ini, mungkin dengan niat jahat, dan tewas di pasir maut. Kematiannya itu adalah kesalahannya sendiri, akan tetapi teman-temannya agaknya kini datang hendak menuntut balas atas kematian kawan mereka. Mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Cin-sa-pang (Perkumpulan Sungai Cin Sa), orang-orang sombong tak tahu diri sehingga berani menantangku."
Di dalam suara wanita cantik ini terkandung kemarahan.
"Biar mereka tahu rasa sekarang agar tidak memandang rendah kepadaku."
Hong Li memandang lagi dan melihat betapa dengan cekatan lima orang itu kini berloncatan dan masuk semakin dalam di antara pohon-pohon.
"Gerakan mereka lincah dan cekatan. Bagaimana kalau mereka sampai di rumah subo?"
"Tidak begitu mudah. Tiga orang pelayanku sudah siap menyambut mereka. Lihat!"
Hong Li memandang dan benar saja, ia melihat tiga bayangan orang berlari turun setelah keluar dari dalam rumah mungil.
Jaraknya terlalu jauh untuk dapat melihat wajah mereka, akan tetapi melihat baju mereka itu, yang seorang merah, seorang putih dan seorang hitam, iapun tahu bahwa mereka itu adalah Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio.
Baru sekarang ia melihat betapa tiga orang pelayan itu berloncatan dengan amat cepatnya.
Memang ia sudah menduga bahwa mereka sebagai pelayan-pelayan subonya agaknya pandai pula ilmu silat, akan tetapi tidak disangkanya mereka akan dapat bergerak secepat itu.
Dan kini terjadilah tontonan yang memang menegangkan dan mendebarkan hati Hong Li.
Dari tempat yang tinggi itu, ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana.
Mula-mula Ang Nio yang lebih dulu bertemu dengan seorang di antara lima orang penyerbu itu.
Tepat di tengah-tengah setelah orang itu mampu naik sampai ke bagian tengah daerah yang penuh pohon-pohon itu, agaknya bingung dan berputar-putar di sekitar tempat itu.
Hong Li tidak tahu apa yang mereka bicarakan, akan tetapi keiihatan betapa laki-laki itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio dengan gerakan yang cepat.
Dan ia melihat betapa Ang Nio mengelak dan balas menyerang, tak kalah cepatnya gerakan pelayan itu.
Ia melihat betapa dua orang itu berkelahi dengan gerakan-gerakan cepat dan kini laki-laki itu mengeluarkan senjata sebatang golok besar.
Ang Nio juga mengeluarkan sebatang pedang tipis dan perkelahian menjadi semakin seru dan menegangkan hati Hong Li.
Biarpun ia tidak tahu secara jelas urusannya, akan tetapi mendengar penuturan subonya tadi, tentu saja ia berpihak kepada Ang Nio.
Dianggapnya bahwa pria yang menyerbu itu memang tak tahu diri, berani melanggar daerah orang lain, bahkan iapun tadi melihat betapa pria itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio.
Perkelahian itu tidak berlangsung lama ketika dari tempat Hong Li menonton, terdengar laki-laki itu berteriak dan tubuhnya roboh.
Perkelahian itu paling lama hanya berlangsung tiga puluh jurus dan pedang di tangan Ang Nio telah menembus dada lawannya yang roboh dan tewas.
Sementara itu, di bagian lain juga terjadi perkelahian antara Pek Nio melawan seorang penyerbu.
Juga di sebelah kiri, nampak Hek Nio melayani seorang penyerbu lain.
Hong Li memandang dengan hati berdebar.
Agaknya, baik Pek Nio maupun Hek Nio, dapat mengatasi perkelahian itu dan dengan pedang di tangan, mereka mendesak lawan masing-masing yang bersenjata golok.
Seperti juga tadi, kurang lebih tiga puluh jurus kemudian, lawan mereka itu roboh oleh pedang mereka.
Dari tempat yang cukup jauh itu Hong Li tidak melihat darah mengalir, akan tetapi ia melihat betapa tiga orang telah roboh dan tewas.
Kini tinggal dua orang lagi yang secara kebetulan dapat saling bertemu di bawah sebatang pohon besar.
Mereka bicara dan menuding ke sana-sini, ke kanan kiri, Agaknya saling menceritakan bahwa mereka berdua menjadi bingung dan tidak tahu jalan mana yang akan dapat membawa mereka ke rumah kecil mungil yang tadi nampak dari kaki gunung.
Tiba-tiba mereka terkejut dan membalikkan tubuh.
Tiga orang wanita pelayan itu, masing-masing menyeret tubuh seorang lawan yang sudah mati, muncul dari balik pohon dan berada di depan mereka!
Tentu saja dua orang laki-laki itu menjadi terkejut setengah mati melihat betapa tiga orang kawan mereka tahu-tahu telah menjadi mayat diseret oleh tiga orang wanita cantik itu.
Agaknya merekapun tahu bahwa mereka berada dalam keadaan berbahaya sekali.
Tiga orang kawan mereka sudah tewas oleh tiga orang wanita ini, dan tentu mereka seperti menyerahkan nyawa saja kalau melawan.
Tanpa dikomando lagi, dua orang itu membalikkan tubuh melarikan diri turun gunung.
"Hik-hik!"
Hong Li mendengar suara subonya terkekeh.
"Mereka kira akan dapat lolos begitu saja? Bodoh!"
Hong Li memandang kepada dua orang itu yang melarikan diri cerai berai karena lorong itu sempit dan banyak sekali cabang-cabangnya.
Ia yang sudah mempelajari rahasia lorong itu segera tahu bahwa mereka berdua mngambil jalan yang keliru!
Mereka bukan menuju turun gunung, melainkan akan terputar-putar saja melalui tempat-tempat yang amat berbahaya.
Tentu mereka berdua itu akhirnya akan terperangkap di tempat berbahaya, tak mungkin lolos seperti kata-kata subonya tadi, pikirnya.
Dugaannya memang tepat karena tak lama kemudian terdengar seorang di antara mereka mengeluarkan teriakan mengerikan, walaupun hanya terdengar lapat-lapat dari tempat Hong Li berdiri itu.
Ia cepat memandang dan Hong Li mengerutkan alis, jantungnya berdebar tegang penuh kengerian.
Kiranya seorang di antara dua laki-laki yang melarikan diri tadi, kini salah langkah menginjak padang rumput dan segera tubuhnya tersedot karena di bawah rumput yang hijau subur dan indah itu terdapat lumpur yang dapat menyedot mahluk yang bergerak, dan yang terjatuh ke tempat itu.
Dan walaupun dari tempat ia menonton tidak nampak, Hong Li tahu bahwa tentu nampak di permukaan padang rumput itu ekor-ekor ular yang seperti belut, yang tentu kini sudah mengeroyok orang yang terjatuh ke situ.
Teriakan-teriakan itu masih susul-menyusul, kemudian sunyi dan padang rumput itu sudah nampak hijau dan indah kembali.
Orang itu sudah tenggelam dan kalau digali, agaknya hanya akan ditemukan tulang rangkanya saja!
Hong Li bergidik.
Ia sudah melihat kedahsyatan tempat itu ketika ia mempelajari tempat itu dan rahasianya, Diberi petunjuk oleh tiga orang pelayan, dan Ang Nio melempar seekor kelenci ke tempat itu.
Ia melihat betapa kelenci itu yang bergerak mencoba untuk lari, disedot semakin dalam dan iapun melihat pula ekor-ekor ular tersembul ketika mereka memperebutkan kelenci yang disedot ke bawah dan lenyap!
Kini Hong Li yang wajahnya menjadi agak pucat karena merasa ngeri, mengikuti larinya orang ke dua dengan pandang matanya.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Ia merasa kasihan kepada orang itu dan diam diam ia mengharapkan agar orang terakhir itu akan berhasil menyelamatkan diri turun gunung.
Kalau saja saat itu ia berada di bawah dan dekat dengan orang itu, tentu, tanpa ragu-ragu lagi ia akan meneriakkan petunjuk agar orang itu dapat menemukan jalan yang benar dan dapat meninggalkan tempat itu dengan selamat.
Dengan jantung berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan, Hong Li memandang ke arah orang terakhir yang tersaruk-saruk mencari jalan keluar itu.
Terdengar pula suara gurunya menahan ketawa.
Mau tak mau Hong Li merasa tak senang dan melirik.
Dilihatnya betapa wajah cantik gurunya itu tampak berseri, matanya penuh kegembiraan mengikuti gerakan orang terakhir itu dan tiba-tiba Hong Li merasa ngeri.
Sikap gurunya ini tiada bedanya sikap seekor kucing yang menanti dan melihat seekor tikus yang sudah tersudut!
Iapun kembali menujukan pandang matanya ke bawah.
Orang yang berlari-larian itu kini tubuhnya sudah penuh keringat karena beberapa kali dia menghapus keringat dari muka dan lehernya, memandang ke kanan kiri mencari jalan keluar, lalu lari lagi setelah memilih satu di antara lorong yang bercabang-cabang itu.
"Jangan ke sana....!"
Tiba-tiba Hong Li berseru, akan tetapi seruannya tentu saja tidak terdengar orang itu.
Dan orang itupun sudah sampai di tempat yang amat berbahaya itu.
Tak lama kemudian, orang itu sudah mengeluarkan suara jeritan menyayat hati dan tubuhnya sudah tenggelam sampai ke pinggang di pasir maut!
Pasir maut itu adalah sebuah kolam pasir, akan tetapi pasir itu dapat berputar dan menyedot seperti lumpur tadi.
Pasirnya licin dan mudah bergerak, sedangkan kolam itu dalam sekali.
Sedikit saja orang yang terjatuh ke situ bergerak, maka tubuhnya akan tenggelam semakin dalam!
Hong Li merayap turun melalui tihang-tihang yang menyangga menara itu, tihang-tihang bambu yang besar.
"Hong Li, hendak ke mana engkau?"
Gurunya menegur heran.
"Subo, aku harus menolong orang itu!"
Kata Hong Li dan ia merasa heran bahwa gurunya diam saja, tidak menghalangi dan juga tidak menegurnya lagi.
Ia terus merayap turun dan setelah tiba setengah lebih tinggi menara itu, iapun berani meloncat turun, kemudian ia lari menuju ke tempat orang itu tenggelam di pasir maut.
"Diam, jangan bergerak sedikitpun!"
Hong Li berseru setelah tiba di tepi kolam.
"Aku akan menolongmu, jangan bergerak sedikitpun. Makin engkau bergerak, tubuhmu akan semakin tenggelam!"
Laki-laki itu berusia empat puluh tahun lebih.
Setelah dekat, kini Hong Li melihat betapa wajah itu kasar dan buruk, sepasang matanya liar akan tetapi pada saat itu, dia berada dalam keadaan putus asa dan ketakutan.
Melihat munculnya seorang gadis cilik yang usianya baru belasan tahun di tepi kolam dan mendengar bahwa gadis itu akan menolongnya, laki-laki itu memandang dengan penuh harapan.
"Tolonglah aku.... ah, selamatkanlah aku...."
Suaranya lirih dan gemetar penuh rasa takut.
Ngeri dia membayangkan kematian di depan matanya, kematian yang mengerikan.
Ketika tadi dia menginjak pasir, kakinya terjeblos sebatas lutut.
Dia berusaha untuk mengangkat kakinya, akan tetapi semakin dia berusaha, semakin dalam tubuhnya tenggelam sampai kini dia tenggelam sebatas dada, hanya kedua lengannya saja yang mampu bergerak.
Begitu mendengar peringatan Hong Li, diapun tidak berani bergerak dan benar saja.
Setelah dia tidak bergerak sama sekali, tubuhnya berhenti tenggelam semakin dalam.
Akan tetapi, napasnya sesak dan tubuhnya dari dada ke bawah yang tertanam di pasir itu terasa panas bukan main.
"Tenanglah dan jangan bergerak,"
Kata pula Hong Li.
Ia lalu melepaskan ikat pinggangnya yang panjang, hanya meninggalkan sedikit saja secukupnya untuk mengikat celananya dan mempergunakan ikat pinggang itu untuk menyelamatkan orang itu.
Ujung ikat pinggang itu diganduli sebuah batu dan dilemparnya ke arah orang yang tenggelam.
"Tangkap ujung ikat pinggang ini dan jangan bergerak, biar aku yang akan menarikmu keluar! Ingat, jangan bergerak agar tubuhmu tidak tenggelam semakin dalam!"
Orang itu menangkap ujung ikat pinggang, akan tetapi karena dia terlalu bergairah untuk segera dapat keluar, dia menarik ikat pinggang itu dan tubuhnya bergerak maka tubuh itu segera tersedot semakin dalam sampai ke leher!
"Tolol, jangan bergerak kataku!"
Hong Li membentak marah dan mulailah ia mengerahkan tenaga-nya untuk menarik orang itu keluar dari pasir.
Laki-laki itu kini sudah terlampau takut sehingga tidak berani berkutik, bahkan bersuarapun dia tidak berani lagi.
Pasir sudah sampai ke dagunya dan turun beberapa sentimeter lagi, tentu mulut dan hidungnya tertutup dan berarti kematian baginya.
Akan tetapi diam-diam hatinya girang dan juga kagum bukan main melihat betapa anak perempuan yang baru belasan tahun usianya itu memiliki kekuatan yang demikian hebat sehingga dia merasa betapa tubuhnya sedikit demi sedikit mulai tertarik keluar!
Dia tadi melibat-libatkan ujung tali itu pada pinggang dan lengannya sehingga biarpun kini kedua lengannya sebagian sudah tenggelam pula, ketika tali itu ditarik, tubuhnya terbetot keluar.
Sedikit demi sedikit sampai akhirnya tubuhnya keluar sebatas pinggang!
"Tariklah lagi, nona yang baik, tarik terus....!"
Laki-laki itu terengah-engah, penuh ketegangan dan harapan. Dan Hong Li menarik terus, keringat membasahi dahi dan lehernya.
"Prattt....!"
Tiba-tiba ikat pinggang itu putus tengahnya dan tubuh orang yang sudah naik sampai ke pinggul itu tenggelam kembali sampai ke pinggang di mana dia mengeluh panjang pendek dan tidak berani bergerak sama sekali!
"Jangan bergerak, aku akan mencari alat lain untuk menarikmu keluar,"
Kata Hong Li.
Gadis ini lalu menggunakan tenaganya untuk merobohkan sebatang pohon kecil yang panjangnya ada tiga meter.
Ia mengguncang-guncang pohon kecil itu sampai akarnya jebol dan akhirnya berhasil menumbangkannya.
Setelah membuangi cabang, ranting dan daunnya, ia menggunakan batang pohon yang besarnya hanya sebetis kakinya itu untuk menolong orang itu.
Batang pohon itu cukup panjang dan ujungnya dapat dipegang oleh orang itu dengan kedua tangan.
Lalu Hong Li mulai menarik lagi, perlahan-lahan dan akhirnya ia berhasil menarik tubuh orang itu sampai keluar dari kolam pasir.
Orang itu menjatuhkan diri di atas tanah, terengah-engah dan mukanya yang tadi pucat sekali, sekarang berubah agak merah.
Dia mengeluarkan suara seperti setengah menangis dan setengah tertawa.
Kemudian dia bangkit duduk memandang Hong Li dan matanya terbelalak.
"Nona, sungguh engkau hebat sekali!"
Hong Li cemberut. Baru teringat ia bahwa ia telah menolong musuh gurunya, merasa seperti seorana pengkhianat.
"Kenapa engkau melanggar wilayah kami? Engkau memang bersalah dan sepatutnya dihukum. Akan tetapi aku kasihan padamu, tidak tega melihat orang terjatuh ke kolam pasir maut. Nah, sekarang pergilah, akan kutunjukkan jalan keluar untukmu."
Tiba-tiba orang itu menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu Hong Li sudah ditangkapnya.
Gadis cilik terkejut, meronta dan hendak melawan, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena laki-laki itu sudah menotoknya, menotok jalan darahnya yang membuat ia tidak mampu berkutik lagi.
Hong Li terkejut dan marah bukan main.
"Apa yang kau lakukan ini?"
Bentaknya. Laki-laki itu menyeringai dan secara kurang ajar mengelus dagu Hong Li.
"Engkau cantik dan manis sekali! Sekarang engkau menjadi tawananku dan engkau harus menunjukkan jalan keluar yang akan menyelamatkan diriku. Kalau tidak, aku akan mencekikmu sampai mampus!"
Hong Li terbelalak.
Kalau saja ia tadi bercuriga, kiranya tidak akan demikian mudahnya ia tertawan dan tertotok.
Ia sama sekali tidak mengira bahwa orang yang baru saja diselamatkannya dari ancaman maut mengerikan berbalik malah bertindak curang dan jahat kepadanya.
Akan tetapi ia tidak mempunyai waktu lagi untuk berheran dan penasaran karena kini laki-laki itu telah mengikat kedua tangannya ke belakang tubuhnya, menotok jalan darah yang membuat ia tidak mampu mengeluarkan suara, akan tetapi kini tubuhnya dapat bergerak lagi.
"Hayo cepat tunjukkan jalan itu kepadaku, kalau engkau menipuku, tentu engkau akan kusiksa sampai mampus!"
Kata laki-laki itu sambil mencengkeram pundak Hong Li.
Gadis cilik ini merasa penasaran dan marah sekali sampai kedua matanya mengeluarkan air mata.
Bukan air mata karena takut, melainkan karena marah dan penasaran sekali.
"Sudah, jangan menangis dan cepat tunjukkan jalannya!"
Laki-laki itu mengira bahwa anak perempuan itu menangis karena takut.
Dia mendorong tubuh Hong Li dan anak perempuan ini terpaksa melangkah maju.
Ia tahu bahwa dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu, melawan-pun tidak akan ada gunanya.
Dan iapun tidak dapat mengeluarkan suara.
Sesungguhnya hal ini tidak perlu dilakukan orang itu.
Walaupun tidak ditotok, iapun tidak mau mengeluarkan suara.
Untuk apa?
Minta tolong kepada suhunya dan tiga orang pelayan?
Ia telah mengkhianati mereka, dan ia yakin bahwa gurunya yang berada di menara itu tentu melihat semua peristiwa yang dialaminya ini.
Perlu apa minta tolong?
Memalukan saja.
Biarlah, ia sudah bersalah, dan biarlah kini ia menerima hukumannya.
Ia melangkah terus, pundaknya masih dicengkeram laki-laki yang mengikutinya dari belakang.
Hong Li tidak membawa laki-laki itu melalui jalan yang akan menyelamatkannya.
Sama sekali tidak.
Di dalam dadanya kini membawa api kemarahan yang membuat ia ingin membalas perbuatan laki-laki ini yang dianggapnya terlalu jahat.
Mudah saja baginya untuk menjerumuskan laki-laki ini ke dalam perangkap-perangkap maut, akan tetapi iapun tentu akan ikut terjebak dan mati bersama laki-laki ini.
Dan ia tidak takut mati, hanya ia tidak sudi kalau harus mati bersama laki-laki ini.
Tidak mau melakukan perjalanan ke alam baka berbareng dengan dia, bahkan dari tempat yang sama.
Tidak, dia harus dapat mencari perangkap yang lebih baik.
Akhirnya tibalah Hong Li di jalan buntu!
Di depan nampak jurang yang amat curam, yang tidak mungkin dilalui.
Di situ terdapat dua jalan bercabang ke kiri dan ke kanan.
Kedua lorong ke kanan dan ke kiri ini tertutup daun-daun kering, nampaknya aman dan mudah dilewati.
Namun, Hong Li yang sudah hafal akan rahasia lorong-lorong itu, maklum bahwa melangkah ke kiri berarti akan membawa mereka terjatuh ke dalam sumur yang di dasarnya tidak kurang dari limabelas meter dalamnya, terdapat batu-batu meruncing yang akan menyambut tubuh mereka!
Di balik daun-daun kering yang ke kiri itu terdapat lubang sumur itu.
Kalau melangkah ke kanan, mereka akan terjatuh ke dalam kolam lumpur yang juga berbahaya sekali karena tubuh akan terus tenggelam semakin dalam dan akhirnya akan tewas pula.
Akan tetapi, tidaklah secepat kalau terjatuh ke dalam sumur itu matinya.
Hanya adanya ular-ular lumpur yang sebetulnya semacam belut yang suka makan daging manusia, yang membuat ia bergidik ngeri membayangkan betapa tubuhnya bagian bawah akan digerogoti binatang-binatang itu sebelum ia mati.
Ia tahu bahwa jalan satu-satunya adalah melompati sumur di sebelah kiri.
Sumur itu tidak lebar, paling lebar satu setengah meter saja.
Sekali melompat juga akan melampauinya dan selamat.
Tidak, ia tidak boleh membawa laki-laki itu melompat, karena begitu melompat, laki-laki itu tentu akan mudah turun dan keluar dari daerah berbahaya.
Melihat anak perempuan itu berdiri termangu-mangu dan ragu-ragu, laki-laki itu mengguncang pundaknya dan membentaknya dengan nyaring.
"Hayo cepat tunjukkan jalan!"
Diapun bingung melihat betapa jalan itu yang bagian depan buntu, menuju ke jurang yang amat curam, sedangkan jalan kanan dan kiri sama saja tertutup daun-daun kering.
Dia tahu betapa berbahayanya lorong-lorong di situ dan dia tidak tahu mana jalan yang benar, yang kanan ataukah kiri.
Tanpa ragu-ragu Hong Li menudingkan telunjuknya ke kanan!
Laki-laki itu nampak lega dan diapun memperkuat cengkeramannya di pundak Hong Li mendorong tubuh anak itu membelok ke kanan dan menghardik.
"Hayo jalan!"
Hong Li sudah hafal benar akan rahasia tempat itu.
Paling banyak lima langkah mereka akan terjeblos.
Ia memperhitungkan langkahnya dan setelah empat langkah, tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhnya, meloncat ke belakang dan menendang dengan cepat sekali.
Laki-laki itu terkejut, melangkah ke samping akan tetapi ketika cengkeraman tangannya terlepas, dia masih sempat menangkap lagi pundak itu, maka begitu tubuhnya terjeblos, dia membawa Hong Li ikut pula terpelanting dan terjeblos ke dalam kolam lumpur!
"Auhhhhh, toloonggg....!"
Laki-laki yang merasa ngeri dan ketakutan itu, perasaan takut yang sudah sejak tadi menghantuinya, tidak dapat menahan lagi mulutnya dan berteriak minta tolong.
Dalam kekagetannya tadi, dia melepaskan cengkeramannya dan tubuh Hong Li terpelanting dan terjeblos sejauh dua depa di sebelah depannya.
Kalau laki-laki itu yang tadi meronta tenggelam sampai dada, Hong Li tenggelam sampai ke pinggang dan mereka kini saling berpandangan.
Dan laki-laki yang terbelalak dengan muka pucat dan berkaok-kaok minta tolong itu melihat betapa tubuh anak perempuan itu nampak tenang-tenang saja, bahkan tersenyum mengejek memandangnya!
Biarpun Hong Li tidak mampu mengeluarkan suara, namun pandang matanya mengejek sepenuhnya dan rasa puas membayang di sepasang matanya.
Gadis cilik ini kehilangan rasa takutnya, lupa akan adanya ular-ular di dalam lumpur, karena girangnya dapat membuat laki-laki yang jahat itu kini tidak berdaya.
Hong Li teringat ketika tiba-tiba ia melihat benda yang mengkilap bermunculan di permukaan lumpur yang tertutup daun-daun kering itu.
Ular atau belut lumpur!
Matanya terbelalak dan hampir saja ia menjerit saking ngeri dan jijiknya, Apalagi ketika ada seekor ular atau belut itu yang muncul tak jauh dari hidungnya, seolah-olah binatang itu ingin berkenalan dulu dengan wajah-wajah para calon korbannya.
Akan tetapi ia menahan perasaan ngeri ini dan menggigit bibir.
Tidak demikian dengan laki-laki itu.
Dia mengeluarkan pekik yang mengerikan karena memang pada saat itu, ada bagian bawah tubuhnya yang mulai dijilati atau digigit.
Berbareng dengan dengan jeritan laki-laki itu, nampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu tubuh Hong Li telah terlibat kain hitam dan tubuh itu lalu terbetot naik oleh kain yang melilitnya, kemudian tubuh Hong Li ditarik keluar dari lumpur oleh tangan Sin-kiam Mo-li yang sudah berdiri di tepi kolam lumpur itu, menggunakan sabuk hitam menolong muridnya.
Begitu tiba di tepi kolam, Hong Li menubruk kaki gurunya.
"Subo, maafkan aku.... tidak.... hukumlah aku, subo...."
Katanya setengah menangis saking kesal dan marahnya terhadap laki-laki jahat itu. Sin-kiam Mo-li tersenyum.
"Engkau sudah cukup terhukum, Hong Li."
Pada saat itu, kembali terdengar teriakan-teriakan mengerikan.
Hong Li menengok dan melihat betapa laki-laki itu dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali, menjerit-jerit dan meronta-ronta, akan tetapi karena dia keras meronta, Maka tubuhnya cepat sekali tersedot semakin dalam dan lumpur sudah mencapai lehernya!
Hong Li tidak dapat melihat lebih lanjut dan diapun menyembunyikan mukanya di balik kedua tangannya.
Akan tetapi telinganya masih mendengar jeritan-jeritan itu, kemudian pekik itupun terhenti tiba-tiba seolah-olah orang itu tiba-tiba dicekik.
Ia tahu apa yang terjadi.
Tentu mulut yang berteriak itu kini telah terbenam kedalam lumpur.
Ia tidak berani menengok.
Baru setelah tidak ada lagi suara terdengar dari belakangnya, ia berani menengok dan kolam lumpur itu telah tenang, tidak ada suara apa-apa lagi, tidak ada gerakan apa-apa lagi dan lumpur telah tertutup kembali oleh daun-daun kering, Hong Li bergidik dan ia tetap berlutut.
Tubuhnya agak menggigil, bukan hanya karena kedinginan.
Sebuah tangan lembut menyentuh kepalanya dan terdengar suara Sin-kiam Mo-li.
"Hong Li, sejak tadi aku melihat keadaanmu, dan kalau aku menghendaki, sejak tadi tentu aku dapat membebaskanmu dari cengkeraman jahanam itu. Akan tetapi aku sengaja membiarkan saja, hanya membayangi agar engkau memperoleh pengalaman. Ketika engkau menipunya masuk lumpur, aku tahu bahwa engkau tentu sudah merasa menyesal dan mendapat kenyataan betapa jahatnya orang ini. Nah, pelajaran ini agar kau ingat selalu, muridku. Jangan percaya kepada orang lain begitu saja, dan bersikaplah hati-hati selalu terhadap orang lain, apa lagi yang belum kau ketahui benar bagaimana wataknya."
"Akan tetapi, subo. Aku sungguh tak dapat membayangkan bagaimana ada orang sejahat itu. Ditolong malah membalas dengan kekejaman dan kejahatan!"
Sin-kiam Mo-li tertawa, kemudian berkata dengan suara tegas.
"Semua orang di dunia ini juga begitu, Hong Li. Setiap orang bertindak demi kebaikan dan keuntungan diri sendiri, karena itu, siapa kalah cerdik, siapa kalah kuat, dia menjadi korban. Engkau harus kuat dan cerdik, dan kalau perlu mendahului lawan sebelum engkau yang menjadi korban. Yang ada bukan baik dan jahat, melainkan cerdik dan bodoh, muridku."
Diam-diam Hong Li merasa tidak setuju dan heran sekali mendengar nasihat gurunya ini, akan tetapi ia tidak mau membantah.
Alangkah bedanya nasihat gurunya ini dari nasihat ayah ibunya!
Ayah ibunya selalu mengajarkan agar ia mempergunakan kepandaiannya untuk menolong sesama manusia yang menderita, untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan.
Akan tetapi, gurunya ini agaknya hanya mengajarkan agar ia selalu bersikap cerdik dan tidak mempercaya semua orang, bahkan turun tangan lebih dahulu sebelum menjadi korban kejahatan orang lain.
Gurunya lalu mengajaknya pulang untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Ketika ia memperoleh kesempatan bicara dengan tiga orang pelayan itu, ia memperoleh keterangan bahwa tiga orang penyerbu yang lain, yang telah tewas di tangan mereka, mayatnya tidak mereka kubur melainkan mereka lemparkan begitu saja ke dalam kolam lumpur!
Hong Li hanya menyimpan rasa ngeri dan tidak setujunya, dan mulai saat itu ia lebih banyak menutup mulut, walaupun diam-diam ia merasa heran akan keadaan guru dan tiga orang pelayan itu.
Namun ia memang pandai mempergunakan kesempatan dan sejak ia mengetahui bahwa tiga orang pelayan wanita itu lihai, ia mulai mengajak mereka untuk menemaninya berlatih silat.
Dan ternyata memang mereka itu lihai sekali dan merupakan teman berlatih yang baik, walaupun dari mereka ia tidak dapat memperoleh ilmu baru.
Setidaknya, setiap orang dari mereka itu dapat melayaninya dalam latihan silat.
Mulai hari itu, gurunya seringkali mengajak Hong Li naik ke menara dan menganjurkan muridnya untuk berlatih siu-lian di dalam panggung tertutup di puncak menara.
Dan anak itu memang suka naik ke menara karena dari situ ia dapat melihat pemandangan yang luas, dan dapat melihat apa yang terjadi di sekeliling tempat tinggal gurunya.
Kadang-kadang biarpun baru beberapa hari tinggal di situ, kalau sedang berdiri melamun di puncak menara dan memandang gunung-gunung yang jauh, timbul perasaan rindu kepada ayah ibunya.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali ketika matahari sudah naik dan menebarkan cahayanya yang keemasan dan masih lembut ke permukaan bumi, Hong Li sudah berlatih silat seorang diri di bawah menara.
Kemudian ia naik ke atas menara.
Ia masih belum mampu dengan sekali meloncat naik ke atas, melainkan hanya meloncat sampai setengah tihang, menyambar tihang dan memanjat naik.
Kini ia berdiri di puncak, di depan pondok, memandang ke arah timur di mana matahari membuat angkasa di timur cemerlang dan indah bukan main.
Beberapa kelompok awan membentuk raksasa-raksasa aneh, akan tetapi warnanya yang biru keabuan itu mulai memudar tertimpa cahaya matahari.
Tiba-tiba perhatian Hong Li tertarik oleh sesosok tubuh yang mendaki kaki gunung dan menuju ke arah rumah gurunya.
Orang itu berjalan perlahan dan kini sudah tiba di luar daerah berbahaya yang mengelilingi rumah gurunya.
Tadinya disangka oleh Hong Li bahwa orang itu hanya kebetulan lewat saja dan tidak akan memasuki daerah berbahaya, akan tetapi ketika orang itu mulai memasuki lorong yang menuju ke daerah yang penuh bahaya, iapun terkejut dan merasa khawatir sekali.
Siapakah orang itu, pikirnya.
Lawan ataukah kawan?
Dan ia merasa ngeri membayangkan betapa akan jatuh korban lagi di tempat berbahaya itu.
Bagaimanapun juga, hatinya tidak setuju dengan adanya daerah rahasia yang penuh dengan bahaya maut itu.
Betapapun jahatnya lima orang yang menyerbu tempo hari, cara mereka menemui kematian sungguh amat mengerikan dan terlalu kejam.
Akan tetapi, perasaan khawatirnya segera berubah menjadi perasaan heran dan kagum.
Orang yang baru datang itu, biarpun hanya dengan langkah-langkah yang perlahan, namun ternyata orang itu selalu mengambil jalan yang benar!
Dari tempat tinggi itu Hong Li dapat melihat dengan mudah.
Dari situ ia dapat melihat keadaan lorong-lorong rahasia itu seperti melihat peta dan iapun sudah hafal mana yang benar dan mana yang menyesatkan dan berbahaya.
Dan orang itu selalu membelok melalui lorong yang benar, Seolah-olah telah mengenal dengan baik jalan-jalan yang penuh dengan rahasia itu.
Langkah-langkahnya teratur dan kakinya seperti telah mengenal tempat berbahaya, selalu berjalan melalui tempat aman dan menghindarkan jebakan-jebakan rahasia yang banyak terdapat di situ.
Kalau begitu, tentu seorang sahabat baik gurunya yang sudah sering da-tang ke sini, pikir Hong Li.
Hatinya tertarik sekali dan cepat ia turun dari menara untuk melihat dari dekat siapa adanya orang yang baru datang itu.
Ia berlari menuju ke rumah dan heranlah ia melihat bahwa orang yang tadi dilihatnya dari menara itu ternyata kini sudah tiba di depan rumah.
Dari atas nampaknya dia berjalan perlahan, akan tetapi ternyata sudah tiba di depan rumah dengan selamat, berarti bahwa orang itu benar-benar telah mampu melalui lorong-lorong rahasia yang amat berbahaya itu.
Dan kini orang itu telah berhadapan dengan gurunya.
Juga tiga orang pelayan wanita berada di situ, akan tetapi mereka berdiri agak jauh sambil memandang dengan sikap khawatir.
Hong Li lari mendekati tiga orang pelayan itu dan kini ia dapat melihat wajah pendatang itu dengan jelas.
Begitu melihatnya, Hong Li terbelalak dan merasa terkejut bukan main ketika ia mengenal bahwa pendatang itu bukan lain adalah Ang I Lama, orang yang dahulu menculiknya dari kebun rumah orang tuanya!
Tidak salah lagi.
Ia mengenal wajah itu, mengenal tubuh tinggi kurus yang memakai jubah pendeta berwarna merah itu Melihat munculnya kakek ini, kemarahan muncul dalam hati Hong Li.
Agaknya kakek itu tahu pula akan kehadiran Hong Li dan dia memandang dengan penuh perhatian.
"Omitohud, agaknya inilah anak itu. Eh, anak baik, ke sinilah dan mari engkau ikut pinceng pulang ke rumah orang tuamu. Ke sinilah....!"
Kakek itu melambaikan tangan ke arah Hong Li.
Anak perempuan ini terkejut bukan main karena biarpun hatinya tidak menghendaki, namun kedua kakinya di luar kehendaknya sudah melangkah menghampiri kakek itu!
Melihat ini, gurunya membentak.
"Hong Li, kembali ke tempatmu!"
Dan dalam bentakan ini terkandung kekuatan yang agaknya membuyarkan pengaruh panggilan kakek itu.
Hong Li seperti baru dapat menguasai kedua kakinya sendiri dan ia berhenti melangkah, terkejut melihat keadaan dirinya dan iapun berlari kembali mendekati tiga orang pelayan yang segera merangkulnya.
"Siocia, engkau di sini saja dan jangan bergerak,"
Bisik Ang Nio.
Hong Li mengangguk dan melepaskan diri dari rangkulan mereka.
Ingin ia melihat bagaimana gurunya menghadapi kakek aneh itu.
Ia tidak merasa khawatir karena bukankah gurunya pernah menang dari kakek itu ketika merampas dirinya dari tangan kakek itu yang, dikalahkannya di dalam kuil tua dahulu?
Sementara itu, Ang I Lama sudah menghadapi Sin-kiam Mo-li dan terdengar suaranya yang lemah lembut.
"Sekali lagi, Sin-kiam Mo-li, pinceng minta dengan hormat dan sangat agar engkau suka menyerahkan anak itu kepada pinceng."
"Ang I Lama, tidak malukah engkau mengeluarkan kata-kata seperti itu? Lupakah engkau akan nasib Sai-cu Lama yang menjadi suhengmu? Hemm, tak kusangka bahwa engkau yang dianggap sebagai seorang pertapa yang memiliki kesaktian, ternyata sama sekali tidak mengenal budi antara saudara, dan tidak setia, bahkan ingin mengkhianati golongan sendiri. Pergilah dan jangan mencampuri urusan pribadiku!"
Sikap Sin-kiam Mo-li ketus dan tegas.
"Omitohud.... untuk kembali ke jalan benar masih belum terlambat. Kenapa engkau tidak mau melihat kenyataan? Sadarlah dan serahkan anak itu kepada pinceng."
"Kakek tua bangka! Ia telah menjadi murid dan anak angkatku! Dengar baik-baik, ia telah menjadi anakku! Lihatlah, aku adalah seekor harimau betina, mana sudi melepaskan anaknya?"
Tiba-tiba Hong Li terkejut bukan main melihat bahwa gurunya telah berubah menjadi seekor harimau yang besar.
Harimau itu mengeluarkan auman yang menggetarkan tanah di mana ia berdiri.
Hong Li melirik ke arah tiga orang pelayan wanita itu.
Mereka juga berdiri dengan mata terbelalak memandang, akan tetapi mereka bersikap tenang saja, agaknya tidak merasa heran melihat betapa majikan mereka telah berubah menjadi seekor harimau besar dan buas!
Kao Hong Li bukanlah anak sembarangan.
Ia keturunan dua orang keluarga besar yang amat terkenal di dunia persilatan, yaitu ayahnya adalah keturunan keluarga Istana Gurun Pasir sedangkan ibunya keturunan keluarga Pulau Es, gudangnya orang-orang sakti.
Tentu saja ia, biarpun usianya baru tigabelas tahun, tahu benar bahwa gurunya berubah menjadi harimau hanya merupakan hasil ilmu sihir belaka, bukan sungguh-sungguh menjadi harimau!
Betapapun juga, ia masih belum kuat untuk menembus pengaruh sihir ini, maka dalam penglihatannya, gurunya berubah menjadi harimau, sesuai dengan ucapannya tadi!
Dan kini "harimau betina"
Yang hendak mempertahankan anaknya itu dengan buasnya, sambil mengeluarkan suara mengaum dahsyat, menyerbu, menerjang dan menubruk ke arah Ang I Lama!
"Omitohud, engkau semakin jauh tersesat!"
Ang I Lama menggerakkan tubuhnya, jubah merahnya berkibar ketika dia meloncat ke belakang dan menghindarkan diri dari tubrukan harimau.
Ketika harimau itu membalik dan hendak menubruk lagi, Ang I Lama yang telah menyambar segenggam tanah, menyambitkan tanah itu ke arah harimau.
"Siancai, kembalilah kepada keaselianmu, Sin-kiam Mo-li!"
Harimau itu hendak mengelak, namun terlambat dan ketika ada tanah menyentuh tubuhnya, terdengar suara ledakan keras dan harimau itu mengaum, akan tetapi segera lenyap dan berubah kembali menjadi Sin-kiam Mo-li yang nampak terhuyung.
Wanita ini marah sekali.
Ia mengangkat kedua tangan ke atas dan dari tubuhnya keluarlah asap hitam bergulung-gulung yang segera menutupi tubuhnya dan membuat keadaan di situ menjadi gelap.
Diam-diam Hong Li merasa ngeri menyaksikan ini.
Sungguh hebat ilmu sihir gurunya, akan tetapi kakek itupun memiliki ilmu kepandaian tinggi yang ternyata sanggup menaklukkan harimau jadi-jadian tadi.
Akan tetapi kembali Ang I Lama tidak nampak gugup.
"Omitohud....!"
Serunya berkali-kali dan diapun merangkap kedua tangan di depan dada, kemudian mulutnya meniup dan buyarlah asap hitam itu, makin lama semakin menipis dan akhirnya nampaklah kembali Sin-kiam Mo-li yang menjadi semakin penasaran.
Wanita cantik ahli sihir ini maklum bahwa agaknya ia tidak akan mampu mengalahkan kakek itu kalau mempergunakan sihir, maka ia segera menerjang maju, sekali ini menyerang dengan pukulan tangan terbuka.
Bukan main hebatnya pukulan yang dilontarkan oleh dua tangan wanita itu.
Angin menyambar dahsyat dan terdengar bunyi bercuitan ketika kedua tangan itu menyambar.
Kembali kakek itu mengelak ke samping dan kedua lengannya digerakkan untuk menangkis dari samping.
"Dukkk!"
Kedua pasang lengan itu bertemu di udara dan seperti ada halilintar saja yang menyambar terasa oleh Hong Li akibat dari adu kekuatan dahsyat itu.
Angin pukulan membuat ia mundur dua langkah sambil terbelalak memandang.
Ia melihat gurunya terhuyung, sedangkan kakek itu tetap berdiri tegak sambil tersenyum.
Senyum lembut itu sejak tadi tak pernah meninggalkan wajah Ang I Lama.
Sin-kiam Mo-li menjadi semakin marah dan ia menyerang lagi dengan pukulan bertubi-tubi.
Pendeta Lama itu dengan tenang menyambut dan terjadilah perkelahian yang hebat.
Gerakan Sin-kiam Mo-Ii amat cepat, berloncatan menyambar-nyambar bagaikan seekor burung yang menyerang seekor ular, akan tetapi pendeta itu bagaikan seekor ular melingkar, dengan gerakan tenang namun mantap menyambut setiap serangan dari manapun juga datangnya, menangkis sambil balas menyerang.
Walaupun dia hanya membalas dengan tamparan-tamparan atau cengkeraman, namun serangannya mengandung kekuatan yang membuat lawannya harus cepat menghindarkan diri.
Bi-arpun gerakan gurunya itu amat cepatnya, namun Hong Li yang sudah menguasai dasar ilmu silat tinggi, dapat mengikuti gerakannya sehingga ia dapat melihat betapa tangguhnya kakek yang bernama Ang I Lama itu.
Kalau ia tidak salah menduga, gurunya kalah dalam hal tenaga oleh kakek itu.
Hal ini terbukti betapa gurunya selalu menghindarkan bentrokan lengan kalau serangannya ditangkis lawan, dan setiap kali terpaksa kedua lengan bertemu, tentu tubuh gurunya terdorong ke belakang atau terhuyung.
Dugaan anak perempuan itu memang tepat.
Sin-kiam Mo-li merasa betapa dahsyatnya tenaga lawan dan ia maklum bahwa kalau ia harus selalu menghindarkan bentrokan, maka akhirnya ia akan terdesak.
Cepat kedua tangannya bergerak ke balik bajunya dan di lain saat, tangan kiri wanita itu telah memegang sebuah kebutan bergagang emas dengan bulu merah, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
Kiranya Sin-kiam Mo-li memiliki sepasang senjata yang amat hebat, yaitu kebutan dan pedang.
Nama julukannya, Sin-kiam (Pedang Sakti) saja sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli pedang yang pandai, sedangkan kebutan di tangan kirinya itupun sama sekali tak boleh dipandang ringan, karena ujung setiap lembar bulu kebutan itu telah dicelup racun sehingga orang yang terkena sabetan ujung kebutan itu tentu akan keracunan!
"Sing-sing....wuuuuttt....!"
Nampak gulungan sinar putih dan merah dari pedang dan kebutan ketika wanita itu menyerang dengan cepatnya ke arah lawan.
"Siancai....!"
Ang I Lama berseru dan cepat dia membuat langkah-langkah yang aneh untuk menghindarkan diri.
Beberapa kali dia berhasil mengelak, kemudian tiba-tiba tangannya memegang seuntai tasbeh dan dengan benda ini yang diputar-putar, dia berhasil menangkis kebutan dan pedang.
"Trik! Trik! Tranggg....!"
Nampak api berpijar ketika pedang bertemu dengan biji-biji tasbeh itu.
Dan kembali pertemuan tenaga melalui senjata itu membuat Sin-kiam Mo-li terdorong ke belakang.
Perkelahian berlangsung semakin seru.
Kadang-kadang tubuh kedua orang itu lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka yang menjadi satu.
Agaknya tingkat kepandaian mereka memang seimbang, hanya kakek pendeta itu memiliki tenaga yang lebih kuat walaupun mungkin dia kalah dalam hal kecepatan gerakan.
Juga di antara mereka terdapat perbedaan besar dalam hal serangan.
Kalau Sin-kiam Mo-li menyerang dengan hebat, setiap serangannya merupakan serangan maut yang mengarah nyawa, sebaliknya pendeta itu selalu berhati-hati dalam serangannya dan jelas bahwa dia banyak mengalah dan tidak bermaksud membunuh lawan.
Betapapun juga, karena kalah tenaga, nampaknya Sin-kiam Mo-li terdesak dan terhimpit, dan kadang-kadang terhuyung ke belakang.
Hal ini membuat Hong Li memandang khawatir.
"Majulah, bantulah subo,"
Desaknya berulang-ulang kepada tiga orang pelayan itu.
Tiga orang pelayan itu semua memegang sebatang pedang, akan tetapi mereka tidak berani maju, merasa betapa ilmu kepandaian mereka masih terlampau rendah untuk membantu majikan mereka mengeroyok pendeta Lama yang demikian saktinya.
Melihat ini, Hong Li menjadi tidak sabar lagi.
Dirampasnya pedang dari tangan Ang Nio dan iapun berkata.
"Kalau begitu, biarlah aku yang membantu subo!"
Ia pun meloncat ke depan. Tiga orang pelayan itu terkejut.
"Siocia.... mereka berseru, akan tetapi karena anak perempuan itu sudah menerjang maju dan masuk ke dalam arena perkelahian merekapun tak dapat mencegah lagi.
"Lama jahat!"
Hong Li membentak dan pedangnya menusuk ke arah lambung pendeta itu.
Ang I Lama terkejut melihat anak perempuan itu menyerangnya dengan pedang.
Dia tidak mengelak, membiarkan pedang itu mengenai lambungnya dan berkata.
"Omitohud, anak baik, pinceng datang untuk membebaskanmu!"
"Takk!"
Pedang itu membalik dan Hong Li merasa tangannya nyeri karena pedangnya seperti menusuk baja saja.
Sebelum ia mampu mengelak, tiba-tiba tangan kiri pendeta Lama itu telah menangkap pundaknya.
"Mari ikut bersama pinceng, anak baik!"
Kata pula Ang I Lama. Akan tetapi Hong Li menjadi marah dan meronta.
"Lepaskan aku, pendeta jahat!"
Dan kembali pedangnya menusuk, kini mengarah dada kakek itu.
"Trakkk!"
Pedangnya patah menjadi dua potong!
Dan sekali Ang I Lama menggerakkan tangan kirinya, tubuh Hong Li telah terlempar ke atas dan berada dalam podongan kakek itu.
"Lepaskan anakku!"
Sin-kiam Mo-li membentak dan pedangnya membacok ke arah kepala Ang I Lama.
"Tranggg....!"
Tasbeh itu menyambar dan menangkis pedang, membuat pedang terpental.
Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li membentak dan kebutannya kini menyambar ke arah....
kepala Hong Li yang dipondong pendeta itu.
Tentu saja Ang I Lama terkejut bukan main, sama sekali tidak menyangka bahwa wanita itu akan menyerang anak yang dipondongnya.
Dengan agak tergesa-gesa diapun menggerakkan tasbehnya melindungi Hong Li dan menangkis kebutan.
"Prattt!"
Bulu-bulu kebutan itu kini melibat tasbeh dan terjadi tarik menarik.
Pada saat itu, Hong Li yang tidak tahu bahwa baru saja nyawanya terancam maut ketika wanita itu menyerangnya dengan kebutan, kini ingin mem-bantu gurunya.
Melihat betapa mereka saling tarik senjata masing-masing, Hong Li menggunakan tangannya, mencengkeram ke arah mata Ang I Lama!
"Siancai....!"
Ang I Lama terkejut bukan main.
Anggauta tubuhnya tidak akan takut menghadapi serangan seorang anak kecil seperti Hong Li, akan tetapi kalau yang diserang itu matanya, tentu saja mata itu tidak dapat dibuat kebal!
Untuk mempergunakan sihir mempengaruhi anak itu, sudah tidak keburu lagi.
Terpaksa dia menarik kepalanya ke belakang untuk mengelak dan pada saat itu, pedang di tangan kanan Sin-kiam Mo-li sudah menyambar dan menusuk lambung pendeta Lama itu.
Demikian cepat gerakan ini, dilakukan pada saat yang tepat, mempergunakan kesempatan selagi pendeta itu repot mengelak dari cengkeraman tangan Hong Li sehingga tak mungkin dapat dihindarkan lagi.
"Cappp....!"
Biarpun pendeta itu mempergunakan sin-kang, namun sudah tidak keburu dan pedang itu menancap sampai dalam dan ketika dicabut, darahpun muncrat dan pada saat itu, Sin-kiam Mo-li telah berhasil merampas kembali Hong Li dari pondongan Ang I Lama.
"Omitohud....!"
Ang I Lama menggunakan tangan kiri mendekap luka di lambungnya, lalu membalik-kan diri dan lari meninggalkan tempat itu, membawa luka yang dalam di lambungnya!
Sin-kiam Mo-li tidak berani mengejar.
Ia tahu bahwa pendeta itu lihai bukan main dan kalau ia tidak memperoleh kesempatan baik tadi, belum tentu ia akan keluar sebagai pemenang.
Ia tadi telah bertindak cerdik bukan main dengan menyerang kepala Hong Li.
Memang, ia, membahayakan keselamatan nyawa anak itu tadi.
Akan tetapi akal itu bagus sekali.
Serangan yang mematikan itu tentu saja membuat Ang I Lama yang ingin menyelamatkan Hong Li, menjadi kaget dan melindungi dan terbukalah kesempatan baginya untuk menyerang.
Apa lagi di bantu oleh Hong Li.
Ia puas dengan dirinya sendiri dan juga girang bahwa ternyata anak angkat dan muridnya itu setia kepadanya.
Ia tidak berani mengejar karena ia tidak yakin apakah Lama itu menderita luka yang cukup parah.
Dirangkulnya Hong Li dan diciuminya pipi anak itu.
"Hong Li, bagus sekali, engkau telah membantu-ku mengalahkan Lama yang jahat itu!"
"Akan tetapi, subo. Hampir saja aku celaka olehnya. Dia sungguh lihai dan jahat sekali!"
Kata Hong Li.
"Memang dia lihai dan jahat, maka engkau harus berlatih dengan baik agar kelak dapat mengalahkan orang-orang seperti dia ini."
"Di bawah bimbingan subo, tentu aku akan dapat menguasai ilmu-ilmu yang hebat, dan sekarang di dalam perlindungan subo aku merasa aman. Subo, jangan lupa mengajarkan ilmu sihir kepadaku."
Sin-kiam Mo-Ii tertawa dan menggandeng anak itu, diajak masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Hong Li merasa girang dan puas pula, sama sekali ia tidak tahu bahwa baru saja ia kehilangan seorang penolong yang akan mampu membawanya kembali kepada orang tuanya dan bahkan membebaskan-nya dari cengkeraman seorang wanita iblis yang sesungguhnya merupakan musuh besar keluarganya!
Sin-kiam Mo-li tidaklah sebaik hati seperti yang dibayangkan oleh Hong Li.
Anak perempuan ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak ia diculik dari kebun rumah orang tuanya, terdapat rahasia besar di balik semua peristiwa itu.
Yang melakukan penculikan terhadap dirinya sama sekali bukanlah Ang I Lama yang pada waktu itu masih tekun bertapa di dalam guha pertapaannya.
Lalu siapakah yang melakukan penculikan itu?
Bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li sendiri!
Wanita cantik yang tinggi semampai inilah yang menyamar sebagai Ang I Lama dan melakukan penculikan dengan mempergunakan nama Ang I Lama!
Hal ini dapat dilakukannya dengan amat mudah karena selain pandai ilmu silat, iapun pandai ilmu sihir dan pandai melakukan penyamaran.
Akan tetapi, mengapa Sin-kiam Mo-li melakukan hal itu dan siapakah ia sebenarnya?
Sin-kiam Mo-li adalah anak angkat dari Kim Hwa Nio-nio!
Ketika Kim Hwa Nio-nio bersekongkol dengan Sai-cu Lama, Sin-Kiam Mo-li sedang melakukan perantauan ke daerah pantai selatan dan ia tidak tahu akan persekutuan itu, juga tidak mencampurinya.
Ketika ia pulang ke utara, baru ia mendengar bahwa ibu angkatnya, juga gurunya itu, ternyata telah tewas bersama Sam Kwi dan Sai-cu Lama dalam sebuah komplotan yang dihancurkan oleh para pendekar, terutama keturunan keluarga Pulau Es dan keluarga Istana Gurun Pasir.
Tentu saja ia terkejut dan berduka, juga sakit hati.
Akan tetapi iapun maklum siapa itu keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir.
Ia merasa tidak mampu menandingi mereka itu dengan berterang, maka ia lalu melakukan balas dendam dengan cara lain.
Setelah melakukan penyelidikan, iapun menjatuhkan pilihannya kepada Kao Hong Li, satu-satunya anak yang menjadi keturunan dari kedua pihak, keturunan keluarga Pulau Es, juga keturunan keluarga Gurun Pasir.
Dan terjadilah penculikan itu.
Ia sengaja mempergunakan nama Ang I Lama yang mahir dalam ilmu sihir dan mudah dipalsu, dengan maksud untuk mengadu domba.
Ia harus membangkitkan Ang I Lama sebagai sute dari Sai-cu Lama agar suka menentang dua keluarga pendekar yang menjadi musuh mereka berdua itu.
Akan tetapi ia cukup mengenal watak Ang I Lama yang saleh dan tidak mau menggunakan kekerasan, melainkan hanya bertapa dengan tekun dan tidak pernah mencampuri urusan dunia ramai.
Maka ia mempergunakan siasatnya, menyamar sebagai Ang I Lama untuk mengadu domba.
Tadinya, niatnya hanya selain mengadu domba, juga menimbulkan duka kepada keluarga itu yang kehilangan puterinya.
Mungkin puteri mereka itu akan ia bunuh untuk membalas dendam.
Akan tetapi setelah ia melihat Hong Li yang demikian manis dan tabah, hatinya tertarik dan timbul pikirannya untuk memanfaatkan rasa sukanya itu demi dua keuntungan.
Pertama, ia akan merasa puas memiliki murid dan anak angkat yang amat baik dan berbakat, memenuhi kerinduannya akan seorang keturunan, dan ke dua, ia akan mendidik anak itu agar kelak mengikuti jejaknya yang berlawanan dengan jalan hidup musuh-musuhnya, yaitu kedua keluarga pendekar itu!
Hong Li tidak tahu akan semua itu.
Ia hanya mengenal gurunya sebagai seorang wanita berilmu tinggi dan pandai sihir yang telah menyelamatkannya dari tangan Ang I Lama!
Walaupun pada hari-hari terakhir ini ia mendapat kenyataan bahwa gurunya dapat berwatak keras dan kejam terhadap musuh-musuhnya, Seperti yang diperlihatkannya ketika menghadapi lima orang penyerbu dari Cin-sa-pang itu, namun (Lanjut ke
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 15
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 6