Eps 9 Suling Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Naga - Kho Ping Hoo.
"Kita harus pergi ke sana, anakku. Memang, dengan bijaksana kepala dusun Lui telah memaafkanmu, akan tetapi yang memintakan maaf adalah aku. Kalau engkau sendiri yang datang menghadap dan minta maaf, tentu dia akan lebih senang hatinya dan selanjutnya, kita tidak akan mengalami gangguan lagi."
Siu Kwi mendengarkan percakapan itu dan ia mengerutkan alisnya.
"Jin-toako, kuharap engkau berhati-hati menghadapi orang-orang seperti Lui-kongcu itu. Orang-orang seperti itu tidak mudah melupakan kekalahan dan selalu menaruh dendam, dan mereka mungkin akan menggunakan siasat untuk menjebakmu. Kurasa lebih baik kalau engkau tidak pergi ke sana."
Yo Jin tadinya sudah siap mengikuti ayahnya. Mendengar ucapan Siu Kwi, dia menjadi ragu-ragu.
"Kurasa benar juga pendapat Kwi-moi, ayah. Mengapa aku harus menghadap ke sana kalau aku tidak bersalah apa-apa terhadap mereka? Pula, mereka sudah diam saja, berarti sudah tidak ada apa-apa. Kuharap saja Lui-thungcu tidak jahat seperti puteranya dan dapat menyadari kesesatan puteranya dan dengan kesadaran itu memaafkan aku. Kalau aku muncul, jangan-jangan dia malah menjadi marah kembali dan melakukan tindakan yang tidak menguntungkan. Tentu saja kakek Yo kecewa bukan main dan hatinya mendongkol. Puteranya itu selalu taat kepadanya, akan tetapi setelah siluman itu mencengkeram dan menguasainya, kini berani membangkang terhadap perintahnya.
"Yo Jin....,"
Bentaknya marah. Dia hanya berani memarahi anaknya, sedangkan terhadap Siu Kwi, dia memandangpun tidak.
"Selama ini engkau seorang anak penurut, akan tetapi sekarang engkau berani membantah kehendak ayahmu! Baik, engkau boleh tidak menurut kepadaku, akan tetapi selamanya engkau tidak perlu mentaati aku lagi!"
Berkata demikian, kakek itu lalu memutar tubuh dan keluar.
"Ayah....!"
Yo Jin berseru dengan kaget, cepat dia lari keluar mengejar ayahnya. Setelah tiba di luar dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya.
"Ayah, maafkan aku, bukan maksudku untuk membantah...."
"Cukup, cepat berganti pakaian dan ikut aku ke rumah Lui-thungcu atau.... jangan sebut aku ayah lagi!"
Tentu saja Yo Jin tidak berani membantah. Dia masuk lagi ke dalam kamar dan berganti pakaian sambil berkata kepada Siu Kwi.
"Kwi-moi, kau maafkan aku. Aku terpaksa pergi sebentar ikut ayah. Dia marah dan kau tentu maklum bahwa aku tidak mungkin menentang kehendaknya."
Siu Kwi tersenyum sabar.
"Aku mengerti, toako. Pergilah, aku akan menanti kembalimu di sini dengan sabar hati."
Lega rasa hati Yo Jin mendengar dan melihat sikap Siu Kwi itu dan diapun segera pergi bersama ayahnya, meninggalkan dusun mereka yang terletak di sebelah selatan itu untuk berkunjung kepada kepala dusun Lui di dusun sebelah timur.
Di sepanjang perjalanan itu, kakek Yo memperoleh kesempatan untuk menasihati anaknya.
Dia memperingatkan anaknya tentang bahaya yang mengancam dirinya kalau semakin akrab dan dekat dengan wanita cantik yang menjadi tamu mereka.
"Sadarlah engkau, anakku,"
Demikian dia menu-tup nasihatnya yang agaknya tidak diperdulikan oleh Yo jin, didengarkan tanpa dijawab.
"Engkau sudah berada dalam cengkeramannya, engkau sudah dibikin mabok oleh hawa siluman. Masih untung bahwa selama ini engkau belum tidur bersama siluman itu, karena kalau hal itu terjadi, akan celakalah engkau. Sadar dan mundurlah sebelum terlambat, anakku."
Biarpun Yo Jin maklum bahwa ayahnya membujuknya untuk menjauhi Siu Kwi terdorong oleh rasa sayang karena ayahnya tidak ingin melihat dia celaka, akan tetapi hatinya terasa panas dan tidak enak mendengar betapa ayahnya yakin bahwa Siu Kwi adalah seorang siluman.
"Ayah, sudah beratus kali kukatakan bahwa Ciong Siu Kwi bukan seorang siluman, melainkan seorang wanita yang patut dikasihani, yang berhati mulia."
"Tapi tosu itu...."
"Persetan dengan tosu tahyul itu, ayah! Dengar, ayah. Sudah beberapa lama aku mengenal Siu Kwi dan belum pernah satu kalipun ia melakukan hal yang bukan-bukan. Ia selalu sopan dan merawatku dengan teliti dan tekun. Ia suka kepadaku, hal itu amat kuharapkan dan nampaknya begitu, dan aku.... cinta padanya, ayah, akan tetapi selama ini belum pernah ia memperlihatkan perasaannya dengan perbuatannya yang melanggar susila. Ia seorang wanita baik-baik, ayah, seorang wanita yang sudah banyak men-derita."
Kakek itu mengerutkan alisnya.
Agak ragu-ragu juga hatinya setelah mendengar ucapan anaknya itu.
Memang tidak ada bukti nyata bahwa Siu Kwi seorang siluman.
Akan tetapi keganjilan-keganjilan yang terjadi bersama kemunculannya ia meragu dan hanya menggeleng kepala.
Biarlah, biarlah Lui-thungcu yang akan menangani persoalan ini.
Dia sudah berunding dengan kepala dusun itu.
Ajakannya kepada puterannya untuk menghadap kepala dusun Lui ini juga termasuk pelaksanaan dari rencana mereka.
Dia harus mengajak Yo Jin ke sana agar para tosu sakti yang sudah berada di rumah Lui-thungcu dapat mengobati dan membersihkan diri Yo Jin dari hawa siluman itu.
Hal ini akan lebih mudah kalau dilakukan sewaktu Yo Jin tidak berada di rumah.
Ayah dan anak ini disambut oleh kepala dusun Lui yang didampingi Lui-kongcu dan juga dua orang tosu tua yang memegang tongkat.
Tosu pertama memakai pakaian yang longgar berwarna putih dan di dadanya terdapat lukisan bunga teratai putih di atas dasar biru yang berbentuk bulat.
Tosu ini usianya sudah tujuh puluhan tahun, mukanya merah sekali seperti berdarah dan tangannya memegang sebatang tongkat berbentuk naga berwarma hitam.
Tubuhnya kecil kurus seperti tulang-tulang dibungkus kulit saja.
Adapun tosu ke dua, tinggi besar dan perutnya gendut.
Pakaiannya berwarna kuning dengan lukisan pat-kwa (segi delapan) di dadanya, Berbeda dengan tosu pertama yang rambutnya digelung ke atas, tosu ke dua ini rambutnya dibiarkan riap-riapan dan karena rambutnya sudah putih semua, maka nampaklah dia seperti seorang yang suci.
Juga dia memegang tongkat hitam berbentuk ular, lebih kecil dari pada tongkat tosu pertama.
Tosu ke dua ini bermuka pucat kekuningan, seperti orang berpenyakitan.
Begitu menghadap kepala dusun ini, kakek Yo yang di tengah perjalanan tadi sudah memberi tahu kepada anaknya apa yang diakukan kalau sudah berhadapan dengan kepala dusun Lui, menyentuh lengan anaknya memberi isyarat.
Yo Jin mengerutkan alisnya.
Begitu menghadap kepala dusun itu dan melihat betapa kepala dusun memandangnya dengan sinar mata marah, terutama sekali Lui-kongcu yang jelas sekali kelihatan marah kepadanya dan memandangnya penuh kebencian, hatinya sudah merasa menyesal mengapa dia datang ke tempat ini.
Akan tetapi, untuk menyenangkan hati ayahnya, dia lalu melangkah maju dan memberi hormat kepada kepala dusun itu bersama puteranya, sambil berkata dengan suara lantang.
"Lui-thungcu dan Lui-kongcu, mentaati perintah ayah, maka saya datang menghadap ji-wi untuk mohon maaf atas segala hal yang telah terjadi antara saya dan Lui-kongcu."
Ayah dan anak yang biasanya dihormati orang dan diagungkan seperti keluarga raja kecil itu, mengerutkan alis lebih dalam karena mereka merasa tidak puas melihat sikap Yo Jin.
"Kenapa tidak dari dulu engkau datang mohon maaf?"
Bentak Lui-kongcu dengan suara marah.
Yo Jin menoleh kepada ayahnya.
Sikap pemuda itu sama sekali tidak diduganya, karena menurut ayahnya, keluarga Lui sudah memaafkannya, akan tetapi mengapa Lui-kongcu masih bersikap demikian keras?
Dia melihat ayahnya hanya menunduk, maka dia lalu mengangkat muka menentang pandang mata Lui-kongcu.
Dilihatnya kongcu itu memandang kepadanya dengan sikap yang amat angkuh.
Bangkitlah rasa penasaran di dalam hati pemuda ini.
"Saya baru saja sembuh dari sakit, dan baru hari ini ayah mengajak saya datang ke sini,"
Jawabnya, singkat dan suaranya juga sama sekali tidak merendah.
"Brakkk!"
Tangan kepala dusun Lui menggebrak meja di depannya.
"Yo Jin, engkau sungguh seorang pemuda yang keras kepala! Di depan kami engkau berani bersikap seperti ini? Hayo lekas berlutut!"
Wajah Yo Jin menjadi marah karena penasaran. Ayahnya kembali menyentuh lengannya.
"Anakku, taatilah perintah Lui-thungcu."
Akan tetapi Yo Jin tidak mau.
"Tidak, ayah. Aku tidak bersalah, mengapa aku harus berlutut minta ampun dan mohon dikasihani? Tidak, aku mau pulang saja!"
Berkata demikian, Yo Jin lalu membalikkan tu-buhnya dan melangkah pergi tanpa pamit dari depan kepala dusun itu.
"Eh, bocah laknat, berani kau kurang ajar kepadaku? Kembali kau!"
Bentak kepala dusun itu dengan marah.
"Henmm, Yo Jin, kembalilah kau!"
Tiba-tiba terdengar suara parau dan yang mengeluarkan ucapan ini adalah tosu bermuka merah, tokoh Pek-lian-kauw itu.
Dia berkata sambil menggerakkan tangan kiri ke arah Yo Jin Dan terjadilah keanehan!
Tiba-tiba saja Yo Jin yang sudah melangkah pergi itu menghentikan langkahnya, menoleh dan memutar tubuh lalu kembali ke depan kepala dusun Lui!
Pemuda itu sendiri terkejut bukan main.
Mendengar suara parau tadi, seolah-olah ada kekuatan aneh yang memaksanya, bahkan kemauannya seperti membeku dan kedua kakinya, seluruh tubuhnya bergerak sendiri di luar kehendaknya Dia kini berdiri di depan kepala dusun itu, berdiri tegak dan mukanya menunjukkan kekerasan hatinya yang enggan tunduk.
Kembali tokoh Pek-lian-kauw itu menggerakkan tangan kirinya seperti orang melambai.
"Yo Jin, berlututlah di depan Lui-thungcu!"
Sungguh luar biasa sekali.
Yo Jin tidak sudi berlutut, akan tetapi tiba-tiba saja kakinya terasa lemas dan diapun jatuh bertekuk-lutut!
Terdengar kakek Pek-lian-kauw itu terkekeh girang.
Yo Jin mengangkat mukanya memandang, dan terkejut melihat betapa sepasang mata kakek itu mencorong seperti mata kucing.
"Kau.... kau.... bukan manusia, kaulah yang siluman!"
Bentaknya dan suara ini baru bisa dikeluarkannya setelah dia menguatkan hatinya dan memaksa mulutnya untuk meneriakkan kata-kata ini.
"Bocah kurang ajar kau!"
Bentak Lui-thungcu sambil menggapai empat orang perajurit pengawal yang berjaga tak jauh dari situ.
"Hajar dia!"
"Ha-ha, tak perlu pakai banyak orang, Lui-thungcu. Biar pinto yang menghajarnya!"
Yang bicara adalah kakek tokoh Pat-kwa-kauw yang bertubuh tinggi besar itu dan sebelum si kepala dusun menjawab, tangan kirinya sudah menyambar ke depan.
Angin yang kuat sekali keluar dari gerakan tangan itu dan tubuh Yo Jin terpelanting seperti didorong oleh tenaga yang amat keras!
Pemuda itu terkejut, mencoba bangkit kembali, akan tetapi setiap kali tosu Patkwa-kauw itu menggerakkan tangan, diapun terbanting dengan keras.
Sampai beberapa kali Yo Jin jatuh bangun dan terbanting keras di atas lantai, bergulingan di depan kepala dusun Lui dan puteranya yang tertawa girang melihat betapa musuh yang dibencinya itu kini menjadi bulan-bulan kesaktian dua orang kakek itu.
Sementara itu, kakek Yo terkejut sekali melihat betapa anaknya disiksa.
Diapun cepat maju berlutut di depan kepala dusun Lui.
"Lui-thungcu, maafkan anakku. Perjanjian antara kita tidak begini! Harap jangan pukul lagi puteraku!"
Kepala dusun Lui menjadi marah.
"Usir tua bangka yang tidak mampu mengajar anak ini keluar dan penjarakan Yo Jin!"
Empat orang pengawal itu maju, memegang lengan kakek Yo dan menariknya bangun. Kakek itu menjadi marah sekali.
"Aturan mana ini? Kita berjanji untuk bersama-sama menghadapi siluman, akan tetapi mengapa anakku disiksa dan aku diusir? Lui-thungcu, apakah engkau sudah melupakan perjanjian antara kita....?"
"Usir dia! Seret dan pukul agar dia tidak banyak cerewet lagi!"
Bentak kepala dusun Lui.
Memang benar bahwa kakek Yo pernah bersekutu dengannya untuk menghadapi siluman yang berada di rumah keluarga Yo, Akan tetapi, kepala dusun itu yang kini dibantu oleh dua orang kakek tosu yang sakti, masih tidak melupakan dendamnya ketika puteranya dipukuli Yo Jin sehingga pulang dengan muka bengkak-bengkak.
Kakek Yo hanya melaporkan tentang adanya siluman dan dia akan membasmi siluman itu bersama dua orang tosu sakti.
Kakek Yo tidak dibutuhkannya sama sekali, bahkan perlu dihajar karena keluarga Yo pernah menghina puteranya.
Kini kakek Yo menjadi marah.
Dia meronta dan melepaskan pegangan, mengamuk dan memukul roboh seorang pengawal.
Akan tetapi tiga orang pengawal itu mengeroyoknya dan tubuhnya yang tua dihujani pukulan.
Kakek Yo yang tinggi besar dan biasa bekerja berat dan kasar ini, melawan mati-matian dan ternyata tubuhnya memang kuat.
Empat orang pengawal itu sampai kewalahan untuk dapat menangkap dan menyeretnya keluar.
"Ha-ha, biar aku yang melemparnya keluar kata tosu Pit-kwa-kauw yang membiarkan Yo Jin yang tadi terbanting-banting itu kini mendekam lemas dan pusing, lalu dia turun dari atas kursinya, menghampiri kakek Yo. Kakek Yo yang sudah menjadi marah sekali, menyambutnya dengan pukulan keras! "Dukk!"
Tongkat berbentuk ular itu menotok dan seketika tubuh kakek Yo roboh lemas.
Kembali tongkat itu bergerak, mengungkit dan seperti orang melempar kulit pisang menggunakan sebatang tongkat, sekali tangannya bergerak, tubuh kakek yang tinggi besar itu terlempar keluar pintu dan terbanting roboh dengan keras sekali di luar pintu!
Kakek Yo merangkak bangun, dari mulut dan hidungnya keluar darah.
Totokan tongkat yang mengenai dadanya tadi membuat dadanya terasa seperti akan pecah dan kekuatan dalam tubuhnya habis.
Dia merangkak, tertatih-tatih bangkit.
"Ayahhh...."
Yo Jin berteriak melihat betapa ayahnya disiksa.
Akan tetapi, empat orang pengawal itu telah menangkapnya, mengikat kedua lengannya ke belakang dan menyeretnya dari ruangan itu untuk dijebloskan dalam kamar tahanan.
"Ayah peringatkan Kwi-moi....!"
Yo Jin masih sempat berteriak dan teriakan ini didengar oleh kakek Yo.
Kini baru kakek Yo teringat akan semua ucapan puteranya, betapa jahatnya keluarga Lui dan betapa Siu Kwi adalah seorang wanita yang amat baik, seorang janda yang patut dikasihani dan yang agaknya saling mencinta dengan Yo Jin.
Timbul penyesalan di dalam hatinya dan kakek ini maklum kini bahwa perlakuan keluarga Lui kepada dia dan puteranya adalah karena Lui-kongcu ingin mendapatkan wanita cantik itu!
Wanita itu bukan siluman dan kini terancam bahaya!
Dia merasa menyesal sekali telah memusuhi Siu Kwi dan dialah yang mendorong puteranya sehingga kini Yo Jin ditangkap dan Siu Kwi terancam bahaya.
Penyesalannya mendatangkan kekuatan baru pada diri kakek ini dan biarpun dia telah menderita luka parah di dalam tubuhnya, namun dia masih mampu mengeluarkan tenaga terakhir untuk berlari pulang secepatnya.
Tenaga kakek Yo habis ketika dia tiba di depan rumahnya dan diapun roboh terguling.
Pada saat itu, Siu Kwi yang melihat dia pulang berlari-lari sendirian saja, sudah cepat keluar menyambut.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Siu Kwi melihat kakek itu roboh dan mukanya pucat sekali, napasnya terengah-engah dan dari mulut dan hidungnya keluar darah.
Cepat ia berlutut an ketika ia mengangkat tubuh atas kakek itu untuk didudukkan, wanita ini terkejut.
Dengan pengalaman dan kepandaiannya, ia dapat melihat bahwa kakek ini telah menderita luka dalam yang amat hebat dan tidak akan dapat disembuhkan lagi!
Kakek ini telah menerima serangan orang yang menggunakan ilmu kepandaian tinggi, mungkin totokan atau tamparan.
Hatinya mulai merasa gelisah, apalagi karena Yo Jin tidak pulang bersama kakek itu.
"Yo-lopek, kau kenapakah? Apa yang telah terjadi dan mana Jin-toako?"
Kakek itu membuka mulut untuk bicara, akan tetapi yang keluar hanya suara menggelogok diikuti tumpahan darah!
Siu Kwi cepat menekan bagian dada kakek itu dan menotok beberapa jalan darah.
Kakek itu kini berhasil mengeluarkan suara.
"Yo Jin.... ditangkap.... Lui-thungcu.... dua tosu sakti....aaahhh...."
Kakek itu menghentikan kata-katanya, matanya terbelalak, lalu terpejam dan kepalanya terkulai lemas.
Siu Kwi maklum bahwa kakek itu telah tewas.
Ia mengangkat tubuh kakek itu dan membawanya ke dalam rumah.
Setelah merebahkan mayat itu di dalam kamar kakek Yo, ia lalu melompat keluar dan seperti terbang saja Siu Kwi sudah berlari menuju ke dusun timur.
Hatinya gelisah sekali, akan tetapi juga marah.
Yo Jin ditangkap dan ayahnya dibunuh!
Hari telah sore ketika Siu Kwi tiba di dusun timur dan ia langsung mencari rumah kepala dusun, Setelah tiba di depan pintu gerbang pekarangan rumah besar itu, Siu Kwi langsung saja masuk.
Dua orang penjaga menghadangnya dan dua orang ini senyum-senyum kurang ajar ketika melihat bahwa tamu yang datang adalah seorang wanita cantik.
"Nona hendak mencari siapakah?"
Tanya seorang di antara mereka sambil melintangkan tombaknya dengan lagak galak, namun sinar matanya seperti hendak menelanjangi wanita yang berdiri di depannya.
"Apakah ini rumah kepala dusun Lui?"
"Benar,"
Jawab orang ke dua yang perutnya gendut.
"Dan kalian ini penjaga-penjaga di sini?"
Siu Kwi bertanya lagi.
Dua orang itu mengangguk.
Siu Kwi menahan diri agar tidak sembarangan membunuh orang.
Kepala dusun itulah yang harus dihadapi, bukan segala macam penjaga rendahan.
Maka ia lalu melangkah maju lagi untuk masuk ke dalam rumah itu, mencari kepala dusun Lui.
"Hei, nona, tunggu dulu!"
"Kau tidak boleh masuk begitu saja! Beritahukan nama dan keperluan, dan kami akan lebih dulu melapor ke dalam!"
Siu Kwi memandang kepada dua orang penjaga yang sudah melintangkan tombak di depannya itu. Kesabarannya hilang dan ia membentak.
"Pergilah!"
Kedua tangannya dipentang seperti orang membuka daun pintu dan tubuh dua orang penjaga itupun terpelanting ke kanan kiri dan terguling-guling sampai jauh!
Siu Kwi tidak memperdulikan lagi dua orang yang merangkak bangun dengan mata terbelalak dan kepala nanar itu, dan ia terus melangkah maju sampai ke ruangan depan.
Lima orang pengawal mengejar keluar ketika mendengar suara ribut-ribut dan mereka tadi sempat melihat betapa dua orang rekan mereka terguling-guling dan seorang wanita cantik berjalan memasuki ruangan itu.
Cepat mereka mengepung wanita itu.
"Aku tidak mau berurusan dengan kalian. Suruh kepala dusun Lui keluar, atau aku akan mencarinya sendiri dan menyeretnya keluar!"
Kata Siu Kwi, suaranya dingin sekali karena ia sudah marah.
Kalau saja ia masih Siu Kwi sebulan yang lalu, tentu ia tidak akan banyak cakap lagi dan membunuh lima orang ini.
Jaga dua orang penjaga tadi tentu kini tak dapat bangun lagi.
Akan tetapi sekarang ia menjaga diri dengan ketat agar jangan sampai ia sembarangan saja membunuh orang.
Tentu saja lima orang pengawal itu tidak sudi memenuhi permintaannya.
Mereka tadi sudah melihat betapa wanita ini merobohkan dua orang rekannya, hal ini saja sudah menunjukkan bahwa wanita ini datang sebagai musuh majikan mereka.
Betapapun juga, lima orang pengawal ini masih memandang rendah kepada Siu Kwi.
Mereka yang sudah mengepung itu langsung mengulurkan tangan dan (Lanjut ke
Jilid 27) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 menubruk, seperti hendak berlumba menangkap dan memeluk perempuan cantik itu.
"Pergilah kalian!"
Bentak Siu Kwi dan tiba-tiba tubuhnya bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Terdengar lima orang pengeroyok itu mengaduh dan tubuh merekapun terpelanting ke kanan kiri, roboh berserakan.
Sejenak mereka menjadi nanar dan terheran-heran.
Mereka tidak tahu bagaimana mereka tadi sampai roboh.
Kedua tangan wanita itu bergerak membagi-bagi tamparan seperti kilat menyambar-nyambar saja.
Kini merekapun sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi, Maka mereka bangkit lagi sambil mencabut golok dari pinggang.
Mereka mengepung lagi dengan besar hati karena keributan itu telah menarik perhatian orang dan kini dari dalam muncul pasukan pengawal berjumlah belasan orang, mengiringkan Lui-thungcu yang datang bersama Lui-kongcu dan dua orang tosu.
Akan tetapi, serangan golok lima orang itupun tidak ada artinya sama sekali bagi Siu Kwi.
Ketika melihat lima orang itu menyerang serentak dengan golok mereka, Siu Kwi mendahului mereka.
Tubuhnya bergerak cepat dan tahu-tahu lima orang itu sudah berpelantingan kembali, golok mereka beterbangan dan kini mereka terbanting lebih keras dari pada tadi sehingga mereka tidak dapat serentak bangun seperti tadi melainkan merangkak-rangkak sambil mengeluh seperti segerombolan anjing kena gebuk!
"Itulah siluman itu!"
Tiba-tiba Lui-kongcu berseru sambil menudingkan telunjuknya ke arah Siu Kwi.
Mendengar ini, kepala dusun Lui segera memberi isyarat kepada tiga belas orang pengawalnya untuk maju.
"Tangkap siluman ini, hidup atau mati!"
Perintahnya.
Tiga belas orang pengawal itu merupakan pengawal-pengawal pribadi yang pilihan dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, tidak seperti lima orang pengawal biasa yang sudah dirobohkan itu tadi.
Mereka bergerak hati-hati, mencabut pedang dan perisai baja, lalu mengepung Siu Kwi.
Wanita ini melihat bahwa ruangan itu terlampau sempit untuk menghadapi pengeroyokan, maka iapun meloncat turun ke pekarangan yang lebar.
Tiga belas orang itu mengejarnya tanpa meninggalkan gerakan barisan yang teratur.
Ternyata tiga belas orang pengawal ini bukan orang-orang sembarangan dan mereka bergerak dalam gaya barisan Cap-sha Kiam-tin (Barisan Pedang Tiga belas) yang berubah-ubah seperti garis perbintangan.
Karena itu, biarpun Siu Kwi melompat ke pekarangan, tetap saja wanita itu dalam keadaan terkepung.
Kini Siu Kwi berdiri tegak sambil bertolak pinggang.
Kegembiraannya timbul kembali.
Sudah terlalu lama ia menganggur dan tak pernah menghadapi perkelahian.
Kini, dikepung tigabelas orang yang berpedang, timbul gairahnya untuk berkelahi.
Akan tetapi, kesadarannya akan kesesatan yang dimasukinya dalam kehidupannya yang lalu tak pernah meninggalkan batinnya sehingga kini ia menghadapi mereka tanpa ada perasaan benci.
Perasaan benci inilah yang membuat orang dapat berbuat kejam, dapat membuat orang membunuh orang lain dengan mudah saja.
Tidak, ia tidak akan membunuh orang, biarpun untuk menyelamatkan Yo Jin ia mau berbuat apa saja.
Melihat orang yang mereka kepung itu hanya berdiri tegak sambil bertolak pinggang, tiga belas orang itu menjadi penasaran.
Wanita ini sungguh memandang rendah kepada mereka.
Orang yang memimpin barisan itu, yang berkumis panjang, mengeluarkan aba-aba dan tiga orang yang berada di belakang Siu Kwi sudah menyerang dengan pedang mereka.
Seorang membacok ke arah leher, seorang lagi menusuk ke punggung dan orang ke tiga membabat ke arah kaki!
Sungguh merupakan serangan dari belakang yang amat berbahaya karena semua barisan tubuh lawan, atas, tengah dan bawah diserang dengan berbareng.
Dan yang diserang masih kelihatan enak-enakan saja.
"Ia akan mampus sekarang! kata kepala dusun Lui melihat serangan itu.
"Heh-heh, dugaanmu keliru, thungcu. Orang-orangmu yang akan kalah!"
Ucapan ini keluar dari mulut tosu tokoh Pek-lian-kauw yang berada di dekatnya sehingga kepala dusun itu terkejut bukan main.
Memang dugaan tosu itulah yang tepat.
Ketika tiga batang pedang itu sudah menyambar dekat, tiba-tiba tubuh Siu Kwi meloncat ke depan sehingga tiga serangan dari belakang itu luput dan wanita itu kini malah menyerang pengepung yang berada di depannya.
Empat orang serentak menyambutnya dengan pedang dan perisai.
Akan tetapi agaknya Siu Kwi tidak perduli akan ini.
Kaki tangannya bergerak cepat sekali dan terdengar suara keras ketika dua perisai baja pecah oleh tendangan Siu Kwi dan kakinya masih terus mengenai dada para pemegangnya, sedangkan kedua tangannya sudah merobohkan dua orang lain lagi.
Dalam segebrakan saja, dari keadaan diserang oleh empat orang di belakangnya, wanita itu telah merobohkan empat orang di depannya!
Hal ini sungguh sama sekali tak pernah disangka oleh barisan tiga belas orang itu.
Mereka kini tinggal sembilan orang dan mereka cepat melangkah mengitari Siu Kwi yang kembali berdiri tegak sambil bertolak pinggang di tengah lingkaran.
Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, hanya kedua bola matanya yang bergerak mengikuti gerakan sembilan orang pengepung itu.
"Orang she Lui!"
Siu Kwi sempat berseru kepada kepala dusun yang berdiri di kepala anak tangga bersama puteranya dan dua orang tosu itu.
"Bebaskan Yo Jin dan aku akan meninggalkan tempat ini!"
Akan tetapi pada saat itu, sembilan orang pengepungnya sudah menerjang maju secara serentak.
Banyak pedang berkilat dari segenap penjuru, menyerang ke arah tubuh Siu Kwi.
Agaknya, sembilan orang itu hendak mencincang tubuh wanita itu menjadi bahan bakso!
Namun, Siu Kwi menyambut serangan itu dengan gerakan tubuhnya yang lincah.
Begitu tubuhnya berkelebat, bayangannya saja yang nampak, tubuhnya sudah lenyap saking cepatnya ia bergerak.
Sembilan orang itu terus menyerang ke arah bayangan, namun mereka kalah cepat.
Bayangan itu sudah menerjang ke kanan kiri, depan belakang dan berturut-turut terdengar pekik kesakitan disusul robohnya seorang pengeroyok.
Siu Kwi tak pernah menghentikan gerakannya.
Bayangannya terus berkelebatan dan akhirnya, sembilan orang pengeroyok itupun roboh seperti empat orang pertama!
Pedang dan perisai berserakan dan mereka itu mengaduh-aduh karena biarpun tak seorang di antara mereka tewas, namun mereka menderita patah tulang atau setidaknya salah urat yang membuat mereka tidak mampu berkelahi lagi.
Dengan muka pucat dan mata terbelalak kini memandang gentar, tigabelas orang itu lalu merangkak bangun dan menyusul lima orang rekan mereka yang sudah lebih dulu mengundurkan diri, minggir di tempat aman sambil berusaha untuk mengobati cedera pada tubuh mereka.
Kepala dusun Lui dan puteranya saling pandang dengan muka berubah pucat.
Tak mereka sangka bahwa dua puluh orang penjaga dan pengawal semua roboh oleh wanita itu!
"Ia benar-benar siluman!"
Bisik Lui-kongcu yang kini menjadi ketakutan sehingga lenyaplah semua gairahnya terhadap wanita cantik itu.
Akan tetapi, selagi ayah dan anak itu memandang khawatir dan mulai ketakutan, tiba-tiba terdengar suara ketawa dari dua orang tosu itu.
"Ha-ha-ha, siluman betina ini memiliki kepandaian yang lumayan! Timbul kegembiraan pinto untuk mencobanya!"
Dan tosu bermuka pucat tokoh Pat-kwa-kauw sudah menuruni anak tangga dan menghampiri Siu Kwi.
"Heh-heh, tosu. Hati-hatilah, atau kau akan kalah. Pinto tadi melihat gerakan-gerakan luar biasa dari kaki tangannnya, seperti pernah pinto kenal jurus-jurus yang dipergunakannya,"
Kata tosu Pek-lian-kauw yang juga menuruni anak tangga.
Siu Kwi yang masih berdiri tegak, kini menghadapi dua orang tosu itu dan memandang tajam penuh selidik.
Tosu pertama yang memakai jubah berlukiskan gambar pat-kwa itu memiliki wajah yang pucat kekuningan, hampir sama kuningnya dengan jubahnya.
Perawakannya tinggi besar akan tetapi karena mukanya pucat, dia nampak seperti orang yang menderita sakit.
Di tangan kanannya terdapat sebatang tongkat berbentuk ular hitam, Panjangnya seperti pedang dan ujungnya yang berupa ekor ular itu runcing.
Adapun tosu ke dua, usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari tosu pertama, tubuhnya kurus kering, pakaiannya putih dengan tanda gambar teratai di dada.
Tosu kurus kering ini mukanya berwarna merah darah sehingga kembali Siu Kwi terkejut.
Di tangan tosu ini terdapat sebatang tongkat panjang, sepanjang tubuh tosu itu berbentuk naga hitam.
Biarpun ia tidak pernah bertemu dengan mereka dan tidak mengenal mereka, namun dengan mudah Siu Kwi dapat menduga bahwa tosu pertama tentulah seorang tokoh Pat-kwa-kauw, sedangkan tosu ke dua tentulah seorang tokoh Pek-lian-kauw.
Dan dari warna muka mereka, juga dari sinar mata mereka, tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan dua orang sakti yang tidak boleh dipandang ringan.
"Heii, siluman betina. Sebenarnya siapa kamu? Berterusterangiah kepada pinto, karena kalau engkau bersikap lunak, mungkin pinto dapat pula bersikap lunak kepadamu, heh-heh-heh!"
Sepasang mata tosu Pat-kwa-kauw yang mencorong itu kini menjelajahi wajah dan tubuh wanita di depannya.
Sekali pandang saja maklumlah Siu Kwi bahwa tosu tua bertubuh tinggi besar dan berperut gendut ini adalah seorang mata keranjang.
"Siancai...., toyu Ok Cin Cu memang suka bersikap lunak terhadap wanita. Memang sebaiknya kalau engkau mengaku terus terang siapa kamu dan apa sebenarnya maksudmu sehingga orang seperti engkau ini membela dan melindungi seorang dusun seperti orang she Yo itu!"
Kata pula tosu Pek-lian-kauw.
Tentu saja hati Siu Kwi menjadi panas sekali.
Ia dan ketiga orang gurunya adalah orang-orang yang tidak pernah mengenal takut dan walaupun mereka tidak pernah memilih kelompok, namun ia sendiri tidak pernah bermusuhan dengan orang-orang Pek-lian-kauw ataupun Pat-kwa-kauw.
"Ji-wi totiang (dua pendeta), aku bernama Ciong Siu Kwi dan selamanya aku tidak pernah bentrok dengan Pek-Lian-kauw maupun Pat-kwa-kauw. Jalan hidupku bersimpang dengan jalan hidup ji-wi. Karena itu, demi keutuhan dunia persilatan, kuharap ji-wi tidak mencampuri urusan pribadiku. Aku membela ia karena aku mencintanya! Nah, aku sudah berterus terang, hendaknya ji-wi juga suka bersikap jujur."
Dua orang tosu itu adalah orang-orang yang terpandang di dalam golongan masing-masing, bahkan menduduki tingkat tinggi sebagai ketua-ketua cabang perkumpulan masing-masing.
Melihat sikap dan mendengar ucapan Siu Kwi, dua orang kakek itu tersenyum lebar dan diam-diam merekapun dapat menduga bahwa wanita yang masih muda ini tentu bukan orang sembarangan.
Jelas bukan siluman seperti yang mereka katakan dengan yakin untuk membuat kepala dusun Lui percaya kepada mereka.
Dan merekapun tahu bahwa wanita bernama Ciong Siu Kwi ini lihai sekali ilmu silatnya, seorang wanita yang sudah banyak makan asam garamnya hidup di dunia sesat yang penuh kekerasan.
Wanita ini bukan golongan pendekar, hal ini dapat diduga oleh mereka.
Dan seorang wanita yang keras hati dan jujur sehingga mengaku begitu saja tentang cintanya kepada seorang pemuda dusun, hal yang sendirinya sudah merupakan suatu keganjilan.
Aneh sekali selera wanita ini, pikir mereka.
Mengapa menjatuhkan pilihan kepada seorang pemuda dusun yang bodoh dan tolol dan amat sederhana?
Pada hal, wanita seperti ini, akan mudah saja memilih pacar di antara para kongcu yang kaya dan pandai di kota-kota besar.
"Ho-ho, engkau hendak berkenalan dengan pinto, nona? Pinto memang ketua cabang Pat-kwa-kauw berjuluk Ok Cin Cu. Pinto juga tidak ingin bermusuhan dengan engkau, hanya memenuhi permintaan Lui-thungcu untuk menghadapi siluman, Akan tetapi, pinto tidak membenci siluman, asal ia bersikap manis kepada pinto, heh-heh!"
Kakek mata keranjang ini mengedipkan sebelah matanya untuk memberi isyarat kepada Siu Kwi.
"Dan pinto adalah ketua cabang Pek-lian-kauw, berjuluk Thian Kek Seng-jin. Benarlah katamu, nona. Diantara kita orang-orang dunia persilatan tidak perlu pecah belah. Karena itu, mari kita tinggalkan saja urusan lurah Lui dengan keluarga Yo, dan kita memperdalam perkenalan ini. Bagaimana?"
Tosu Pek lian-kauw terkekeh.
"Ji-wi totiang memang tidak mempunyai sangkutpaut dengan urusan ini. Akan tetapi urusan ini langsung menyangkut diriku! Orang yang kucinta, Yo Jin, telah ditawan, bahkan ayahnya telah tewas. Aku harus membebaskan Yo Jin, baru aku mau meninggalkan tempat ini bersama dia dan tidak akan memperpanjang urusan."
"Ho-ho, nanti dulu, nona. Yo Jin sudah berdosa terhadap Lui-thungcu, tidak dapat dibebaskan begitu saja sebelum menerima hukuman. Dan pinto telah membantu Lu-thungcu untuk menangkapnya,"
Kata Thian Kek Seng-jin sambil tertawa.
"Kalau begitu, aku akan membebaskannya dengan menggunakan kekerasan!"
Kata Siu Kwi dan tubuhnya sudah meloncat ke samping untuk memasuki rumah besar itu mencari pria yang dikasihaninya dan ditawan di tempat itu.
Akan tetapi nampak sinar berkelebat dan tahu tahu tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu sudah menodong dada Siu Kwi dari samping.
"Ha-ha, tidak begitu mudah, nona. Sebaiknya engkau bersikap manis dan menurut saja kepada pinto agar tidak perlu pinto menghadapimu sebagai lawan."
Kesabaran yang sejak tadi ditahan-tahan oleh Siu Kwi sudah habis.
"Tosu keparat!"
Bentaknya dan iapun menerjang dengan sengit.
Tangan kirinya memukul dengan jari terbuka ke arah dada lawan sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah kepala, seperti hendak menjambak rambut putih yang riap-riapan itu.
"Heh-heh, liar juga engkau, nona!"
Kakek Pat-kwa-kauw itu tertawa mengejek dan dari sikapnya ini jelas bahwa dia memandang rendah kepada lawannya yang hanya seorang wanita muda.
Tongkat hitamnya diputar untuk menangkis pukulan ke arah dadanya sedangkan tubuhnya melangkah mundur agar cengkeraman ke arah kepalanya itu tidak sampai.
"Uhhh...."
Sikap memandang rendah dari Ok Cin Cu hampir saja mencelakakan dirinya sendiri ketika tiba-tiba saja kepalanya nyaris kena dicengkeram oleh tangan Siu Kwi yang terus mengejarnya.
Lengan wanita itu dapat memanjang dan dapat melanjutkan cengkeraman tangannya walaupun sudah dielakkan!
Kalau saja Ok Cin Cu tidak memandang rendah, tentu dia tidak sekaget itu.
Kini, terpaksa dia melempar diri ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali sehingga tubuhnya terhuyung-huyung ketika dia sudah berdiri kembali.
Wajahnya yang pucat kuning itu berubah agak merah.
Kini dia tidak berani memandang rendah lagi dan tanpa banyak cakap, dia memutar tongkatnya dan menerjang ke depan.
Tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar hitam yang amat kuat.
Melihat gerakan tongkat ini, Siu Kwi terkejut juga.
Kiranya tongkat itu merupakan senjata pengganti pedang dan permainan pedang lawannya amat lihai.
Diam-diam ia merasa menyesal mengapa ia tidak membawa pedang.
Semenjak ia bertemu dengan Yo Jin, ia telah menyembunyikan pedangnya dan mengubur senjata itu di dalam hutan tak jauh dari dusun tempat tinggal Yo Jin.
Akan tetapi Siu Kwi tidak takut.
Ia mengandalkan kelincahan gerakannya dan juga kekebalan yang disalurkan di kedua lengannya untuk menghadapi tongkat lawan dengan tangan kosong.
Ia masih tetap memainkan Hek-wan Sip-pat-ciang, ilmu simpanan mendiang Raja Iblis Hitam yang membuat lengannya dapat memanjang.
Akan tetapi ilmu tongkat tosu Pat-kwa-kauw itu benar-benar ampuh dan gulungan sinar hitam itu tidak dapat ditembus Hek-wan Sip-pat-ciang.
Wanita yang memiliki banyak macam ilmu silat itu merobah-robah gerakannya dan mainkan berbagai ilmu yang dipelajarinya dari mendiang Sam Kwi.
Ia sudah mempergunakan ilmu tendangan Pat-hong-twi yang ampuh, mainkan ilmu silat Hun-kin-tok-ciang yang amat berbahaya, bahkan menggunakan Kiam-ciang (Tangan Pedang).
Namun, lawannya memang hebat.
Ok Cin Cu adalah seorang di antara tokoh-tokoh besar Pat-kwa-kauw yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi.
Bukan hanya ilmu silatnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, juga kakek ini memiliki tenaga yang kuat.
Kalau saja Siu Kwi tidak memiliki ilmu kebal Kulit Baja yang diwarisi dari mendiang Iblis Akhirat, tentu ia sudah roboh karena sudah tiga kali tongkat ular hitam itu berhasil mengenai tubuhnya.
Kini dua orang tosu itu benar-benar kagum dan juga penasaran.
Hanya karena mereka merasa bahwa kedudukan mereka sudah tinggi yang mencegah mereka melakukan pengeroyokan.
Biarpun kadang-kadang merasa kewalahan, Ok Cin Cu merasa malu untuk minta bantuan kawannya, sedangkan Thian Kek Seng-jin juga merasa sungkan untuk turun tangan mengeroyok.
Di situ terdapat banyak orang menonton dan apa akan kata dunia kang-ouw kalau mendengar bahwa mereka berdua mengeroyok seorang wanita muda?
"Takkk....!"
Untuk ke empat kalinya, ujung tongkat ular hitam itu menotok dan mengenai lambung Siu Kwi, namun wanita itu hanya terhuyung mundur sedikit dan kini Siu Kwi yang juga merasa penasaran mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya seperti lenyap menjadi bayangan yang bergerak cepat sekali.
Dan angin kuat menyambar-nyambar ganas dibarengi suara bercuitan ketika ia maju menyerang!
Ok Cin Cu terkejut bukan main sehingga dia terdesak mundur sampai lima langkah!
"Tahan....!"
Terdengar bentakan Thian Kek Seng-jin dan tongkatnya meluncur ke depan melintang dan menghadang Siu Kwi yang terpaksa menghentikan gerakan serangannya.
"Nona, aku mengenal ilmu-ilmumu. Masih ada hubungan apakah antara engkau dan Sam Kwi? tanya kakek dari Pek-lian-kauw itu. Siu Kwi tidak ingin memperkenalkan guru-gurunya, akan tetapi karena lawan sudah mengenal ilmu silatnya, iapun menjawab dengan ketus.
"Mereka adalah guru-guruku dan seingatku, baik Sam Kwi maupun aku sendiri, tidak pernah bentrok dengan pihak Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw!"
"Siancai....! Kalau begitu engkau tentu yang berjuluk Bi-kwi!"
Kakek Pek-lian-kauw itu berseru lagi sambil memandang dengan penuh selidik.
Siu Kwi menarik napas panjang.
Nama julukan Bi-kwi telah begitu tersohor dan kotor, bahkan lebih terkenal dari orangnya sendiri.
Buktinya, tosu Pek-lian-kauw ini tidak mengenal dirinya, akan tetapi telah mengenal nama julukannya.
Dan ia sendiri sudah mengambil keputusan untuk membuang nama julukan itu jauh-jauh, tidak akan pernah memakainya lagi.
Akan Tetapi kini ia diingatkan bahwa nama julukannya adalah Bi-kwi!
"Nama itu pernah kupakai, sekarang tidak lagi!"
Jawabnya dengan suara dingin.
"Bagus! Kiranya di antara para antek Hou Seng masih ada yang berkeliaran di sini!"
Berkata demikian, Thian Kek Seng-jin sudah menerjang maju dengan tongkat panjangnya yang berbentuk naga hitam.
Gerakannya nampak lambat, namun mendatangkan angin pukulan yang keras dan didahului oleh suara berdesir.
Siu Kwi cepat mengelak, akan tetapi dari samping, Ok Cin Cu menyambutnya dengan tongkat ular hitamnya Wanita ini meloncat dan menghadapi dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, ia lalu memainkan ilmu silatnya yang paling baru, yaitu Sam-kwi Cap-sha-kun!
Ilmu silat ini memang ciptaan Sam Kwi yang paling hebat, diciptakan bersama bersumber dari semua ilmu silat mereka yang pilihan, digabungkan menjadi satu.
Dalam ilmu silat ini terkandung gerakan pukulan ilmu silat Hek-wan Sip-pat-ciang, tendangan Pat-hong-twi dan ilmu silat Hun-kin Tok-ciang, juga terkandung Kiam-ciang yang ampuh.
Dua orang tosu itu terkejut menghadapi ilmu silat ini yang memang dahsyat sekali dan beberapa kali mereka sampai terdesak mundur.
Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang selain memiliki ilmu silat tinggi, juga banyak pengalaman dalam perkelahian, maka dengan berpencar, kedua tosu itu mengurung dan gerakan tongkat mereka dapat membendung kedahsyatan Sam-kwi Cap-sha-kun.
Apa lagi ketika Thian Kek Seng-jin mulai mengeluarkan bentakan-bentakan dengan suaranya yang parau dan penuh wibawa, mengandung tenaga sakti ilmu hitam dan sihir, maka beberapa kali Siu Kwi merasa jantungnya terguncang dan karena itu gerakannya kurang sempurna sehingga hampir saja ia menjadi korban hantaman tongkat.
Siu Kwi mulai terdesak dan setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba tongkat hitam di tangan tokoh Pek-lian-kauw berhasil menghantam pundak kirinya.
"Bukkk....!"
Biarpun tubuh Siu Kwi sudah terlindung ilmu kekebalan, tetap saja ia terpelanting dan hampir terbanting roboh kalau saja ia tidak cepat membuat gerakan jungkir balik beberapa kali.
Siu Kwi menggigit bibir menahan rasa nyeri.
Biarpun ia tidak terluka, namun kerasnya pukulan itu seolah-olah merontokkan isi dadanya!
Dan dua orang kakek itu masih menerjang terus tanpa mengenal ampun.
Siu Kwi berusaha mengelak, namun sebuah tusukan dengan tongkat ular hitam dari Ok Cin Ca yang menyambar dadanya, ketika ia mengelak, masih saja menyerempet pangkal lengan kanannya sehingga kulit dan sedikit dagingnya robek dan mengucurkan darah!
Maklumlah Siu Kwi bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan tewas di tangan dua orang kakek sakti ini.
Dan kalau ia mati, berarti Yo Jin tidak akan ada yang menolong lagi.
Maka, tiba-tiba saja ia melempar tubuh ke atas tanah, bergulingan dan ketika dua orang kakek itu mengejarnya, Siu Kwi mengge-rakkan kedua tangannya.
Sinar hitam menyambar ke arah muka dua orang lawannya.
Yang disambitkannya itu hanyalah pasir dan tanah, namun tidak boleh dipandang rendah karena yang diserang adalah muka dan sambitan itu didorong oleh tenaga sin-kang yang amat kuat sehingga jangankan sampai mengenai mata, baru mengenai kulit muka saja sudah dapat mengakibatkan luka-luka.
Dua orang kakek itu terkejut dan cepat memutar tongkat sambil berlompatan ke beiakang.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Siu Kwi untuk melompat jauh dan melarikan diri.
Cuaca sudah mulai remang-remang gelap sehingga ia dapat menyelinap hilang di dalam bayangan rumah-rumah dan pohon-pohon.
Dua orang kakek itupun tidak melakukan pengejaran.
Malam itu gelap dan sunyi sekali di rumah kepala dusun Lui.
Agaknya peristiwa sore tadi masih berbekas.
Robohnya semua pengawal yang jumlahnya dua puluh orang sungguh membuat gelisah hati keluarga Lui, Walaupun kemudian ternyata bahwa dua orang tosu sakti itu dapat mengusir "siluman."
Kini diam-diam kepala dusun Lui mendatangkan pengawal-pengawal baru yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang, berjaga-jaga di sekitar perumahan keluarga itu.
Terutama sekali di kamar tahanan terdapat penjagaan yang amat ketat karena di situlah tempat Yo Jin ditahan dan kepala dusun Lui tidak ingin melihat tahanan ini lolos.
Walaupun dia berada di dalam tahanan, Yo Jin mendengar dari percakapan para penjaga di luar kamarnya tentang siluman betina yang mengamuk dan merobohkan dua puluh orang pengawal akan tetapi kemudian dapat diusir pergi oleh dua orang tosu.
Diam-diam dia merasa heran sekali.
Siapakah yang mereka maksudkan dengan siluman betina itu?
Benarkah ia itu Siu Kwi?
Siu Kwi mengamuk dan mengalahkan dua puluh orang pengawal?
Sukar baginya untuk mempercayai berita ini.
Siu Kwi demikian lemah-lembut.
Alisnya berkerut ketika ia teringat bahwa wanita itu dituduh sebagai siluman, bahkan ayahnya sendiripun menganggapnya demikian.
Jangan-jangan memang benar!
Dan kini Siu Kwi mengamuk sebagai siluman!
Dia bergidik dan cepat mengusir pikiran ini, lalu membayangkan ayahnya.
Ayahnya dipukul dan disiksa, dan dia merasa gelisah sekali memikirkan ayahnya.
Dia menarik-narik belenggu kaki tangannya, namun tiada guna.
Hal itu sudah dilakukannya sejak dia ditahan dan sampai kulit pergelangan kaki dan tangannya lecet-lecet dan nyeri bukan main.
Menjelang tengah malam, sesosok bayangan berkelebatan di luar pekarangan perumahan kepala dusun Lui.
Bayangan ini adalah Siu Kwi.
Setelah sore tadi ia berhasil melarikan diri, Ia bersembunyi di dalam hutan dan duduk bersila, memulihkan tenaganya dan memulihkan pula kesehatannya karena hantaman pada pundak dan tusukan pada pangkal lengannya.
Ia sudah mengobati luka di pangkal lengannya.
Ha-tinya gelisah bukan main.
Ia belum berhasil membebaskan Yo Jin dan di tempat itu terdapat dua orang lawan yang demikian tangguhnya.
Hatinya terasa perih kalau ia teringat kepada pria yang dikasihaninya.
Tak lama kemudian, ia lalu berlari cepat, kembali ke dusun selatan dan dengan bantuan para tetangga, ia mengurus pemakaman kakek Yo.
Karena keadaan, maka terpaksa jenazah itu dikubur secara sederhana sekali.
Para tetangga juga melakukannya dengan ketakutan setelah mendengar dari Siu Kwi bahwa kakek itu mati karena dipukuli orang-orang kepala dusun Lui, dan juga bahwa Yo Jin ditangkap oleh mereka.
Maka, setelah selesai mengubur jenazah itu malam itu juga, para tetangga bergegas pulang ke rumah masing-masing, takut kalau sampai tersangkut urusan itu.
Dan Siu Kwi lalu melakukan perjalanan kembali ke dusun timur.
Bagaimanapun juga, ia harus dapat menyelamatkan Yo Jin , harus dapat membebaskan pemuda itu dari dalam tahanan.
Sampai lama ia berkeliaran di luar rumah keluarga Lui.
Dengan susah payah, tadi ia mengisi perutnya.
Ia hampir tak dapat menelan nasi, akan tetapi dipaksakannya karena ia maklum bahwa ia membutuhkan tenaga sepenuhnya untuk dapat menyelamatkan Yo Jin.
Kalau ia membiarkan perutnya kosong, tentu tenaganya menjadi berkurang.
Kini ia berkeliaran di luar pekarangan, untuk meneliti keadaan.
Hati-nya terasa girang.
Agaknya keluarga Lui menyangka bahwa ia sudah jera untuk datang lagi, sudah takut terhadap dua orang kakek itu, maka kini keadaan di rumah itu sunyi saja, tidak terdapat penjagaan yang ketat.
Sunyi dan gelap.
Namun, Siu Kwi bukan seorang bodoh.
Ia tidak mau mudah terjebak oleh siasat musuh.
Siapa tahu kalau-kalau pihak musuh mengatur jebakan dan sengaja memancingnya.
Karena itu ia tidak segera masuk, melainkan melakukan pengintaian dan pemeriksaan dari luar.
Ia menanti sampai tengah malam dan setelah melihat bahwa benar-benar tidak terdapat penjaga di sekitar pagar tembok, baru ia meloncat naik ke atas pagar tembok, mendekam di atasnya untuk mengintai ke dalam.
Ia merasa heran.
Keadaan amat sunyi dan gelap.
Benarkah keluarga Lui demikian lengahnya sehingga setelah kemenangan dua orang kakek sore tadi lalu menganggap bahwa ia tidak akan berani muncul kembali?
Ataukah setelah ia merobohkan dua puluh orang penjaga itu, lalu tidak ada penjaga lain yang menggantikan karena mereka semua itu lelah dan mengalami patah tulang dan luka-luka?
Ia tidak dapat menerima kemungkinan ini.
Tak mungkin, pikirnya.
Andaikata kepala daerah itu lengah, dua orang tosu lihai itu pasti tidak.
Akan tetapi, mengingat akan Yo Jin, ia tidak perduli lagi.
Biarlah mereka mengatur jebakan, ia tidak takut.
Ia akan berusaha membebaskan Yo Jin, kalau perlu dengan taruhan nyawa!
Setelah meneliti keadaan di dalam dan tidak nampak berkelebatnya orang, ia lalu meloncat turun ke dalam kebun belakang rumah itu.
dan menyelinap di antara semak-semak, mendekati bangunan rumah di belakang.
Ia menduga bahwa tentu tempat tahanan itu berada di bagian belakang.
Yo Jin mendengar percakapan para penjaga di luar pintu kamar tahanan itu dengan hati khawatir.
"Kalau dombanya dijaga, tentu harimaunya tidak berani muncul. Karena itu maka kita harus bersembunyi."
Demikian antara lain dia mendengar seorang penjaga bicara, kemudian terdengar suara mendesis tanda bahwa pembicara itu disuruh diam.
Keadaan lalu menjadi sunyi dan ketika Yo Jin bangkit berdiri dan menjenguk dari jeruji pintu, dia melihat betapa di luar pintu tidak terdapat seorangpun penjaga lagi.
Keadaaan amat sunyi, dan tempat itu hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung.
Agaknya lampu-lampu lainnya telah dibawa pergi atau dipadamkan.
Suasana sunyi sekali, tak nampak seorang pun di luar kamar tahanan.
Sunyi dan gelap di kebun belakang itu, yang nampak dari dalam kamar tahanan.
Yo Jin menggerakkan kedua kakinya melangkah ke arah pintu.
Suara belenggu kakinya terseret memecahkan kesunyian.
Dia berdiri di belakang pintu kamar yang terbuat dari besi itu, dan berpegang dengan kedua tangan yang terbelenggu pada jeruji besi, memandang ke luar, termenung.
Apakah maksud ucapan penjaga tadi?
Diakah yang diumpamakan domba tadi?
Dan siapakah harimaunya yang diharapkan akan muncul?
Siu Kwikah?
Jantungnya berdebar tegang.
Dia tidak dapat yakin bahwa Siu Kwi yang dimaksudkan harimau itu, betapapun juga, dia tahu bahwa para penjaga itu sedang mengatur siasat untuk memandang dan menjebak seseorang yang disebut harimau, dengan menggunakan dia sebagai domba, sebagai umpannya.
Dengan jantung berdebar penuh ketegangan, Yo Jin meninggalkan belakang pintu.
memandang ke luar dengan penuh perhatian.
Sepasang matanya seperti ingin menembus kegelapan malam di depan sana.
Entah berapa lama dia berdiri memandang keluar itu.
Tiba-tiba pandang matanya menangkap berkelebatnya sesosok bayangan hitam.
Dia terkejut dan mengikuti dengan pandang matanya.
Bayangan itu melompat dan tahu-tahu di bawah lampu gantung, hanya lima meter dari pintu kamar tahanan, berdiri seorang wanita yang bukan lain adalah Siu Kwi!
"Kwi-moi....!"
Serunya lirih, matanya terbelalak seolah-olah dia tidak dapat percaya kepada pandang matanya sendiri.
"Kaukah itu....?"
Dan diapun merasa betapa bulu tengkuknya meremang.
Kalau wanita ini benar Siu Kwi, apakah ia benar-benar....siluman?
Cara pemunculannya ini!
"Sssttt....!"
Wanita itu menaruh telunjuk di depan bibir.
"Jin-toako, aku datang untuk membebaskanmu...."
Akan tetapi Yo Jin teringat akan percakapan para penjaga dan wajahnya berubah pucat.
Celaka, kiranya harimaunya benar Siu Kwi dan tentu kini Siu Kwi telah terperangkap.
"Kwi moi, awas! Ini sebuah perangkap....!"
Teriaknya.
"Kau larilah, pergilah!"
Pada saat itu, tiba-tiba saja nampak sinar terang disusul suara berisik.
Dan ketika Siu Kwi membalikkan tubuh memandang, ternyata tempat itu telah dikepung; oleh puluhan orang bersenjata lengkap di tangan kanan dan dengan obor di tangan kiri.
Agaknya mereka tadi bersembunyi dan serentak memasang obor sambil mengepung tempat itu.
Dan muncullah dua orang tosu yang sore tadi telah mengalahkannya!
"Ha-ha-ha-ha, siluman betina ini berani muncul lagi.
Benar-benar keras kepala dan sudah bosan hidup!"
Kata Ok Cin Cu dan perutnya yang gendut itu bergoyang-goyang ketika dia tertawa.
"Ia bukan siluman!"
Yo jin membentak marah dari dalam kamar tahanan.
"Heh-heh-heh, siapa bilang bahwa Bi-kwi bukan siluman? Engkau telah mabok oleh rayuannya, orang muda, heh-heh!"
"Tutup mulutmu yang kotor!"
Siu Kwi membentak dan menyerang ke arah Thian Kek Seng-jin yang masih tertawa.
Panas hatinya mendengar dirinya dihina di depan Yo Jin.
Ketika tosu Pek-lian-kauw itu mengelak sambil memutar tongkatnya untuk balas menyerang, Siu Kwi sudah mencahut pedangnya dan menangkis.
Ia tadi sudah mengambil senjata ini dan begitu menangkis, iapun menusuk dengan ganasnya.
"Tranggg...."
Bunga api berpijar ketika pedangnya kini ditangkis dlari samping oleh Ok Cin Cu yang menggunakan tongkat ular hitamnya.
Ketua cabang Pek-lian-kauw itupun menerjang dengan tongkat naga hitam, untuk membantu kawannya.
Kembali terjadi pengeroyokan.
Akan tetapi Siu Kwi mengamuk dengan hebat.
Pedangnya lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyelimuti tubuhnya.
Yo Jin memandang bengong.
Baru dia tahu bahwa wanita yang dicintanya itu sama sekali bukanlah seorang wanita lemah, melainkan seorang ahli silat yang amat lihai!
Kini diapun sadar mengapa dalam perkelahian-perkelahiannya, dia selalu menang walaupun dikeroyok, dan kini terjawab pula keanehan ketika para pengeroyoknya mencabut belati akan tetapi tidak sempat mempergunakan senjata itu.
Tentu Siu Kwi bukan siluman betina, melainkan seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi!
"Kwi Moi....!"
Keluhnya dengan terharu.
Seorang pendekar wanita telah bersikap demikian baik kepadanya!
Kini dia menonton dengan hati yang tidak karuan rasanya.
Ada rasa heran, bangga, akan tetapi juga kegelisahan besar melihat betapa kini kekasihnya itu dikeroyok oleh banyak orang.
Para pengawal itu sudah mendengar bahwa banyak rekan mereka sore tadi dilukai oleh wanita ini.
Maka, merekapun tidak tinggal diam dan ikut menyerang.
Hasilnya sungguh celaka bagi mereka.
Begitu ada para pengawal ikut menyerang, gulungan sinar pedang Siu Kwi semakin melebar dan setiap kali ada sinar mencuat dari gulungan cahaya itu, terdengar pekik disusul robohnya seorang pengawal.
Dalam waktu sebentar saja, tidak kurang dari tujuh orang pengawal roboh dan terluka oleh ujung pedang di tangan Siu Kwi!
Melihat ini, dua orang tosu itu menjadi marah.
"Kalian semua mundur! Biarkan kami berdua yang menangkapnya!"
Teriak Thian Kek Seng-jin.
Mendengar teriakan ini, para pengawal itu mundur karena merekapun jerih melihat betapa dalam segebrakan saja, setiap orang rekannya yang berani menyerang pasti roboh terluka.
Kini mereka mengepung sambil menonton dua orang tosu itu mengeroyok Siu Kwi!
Seperti sore tadi, kembali Siu Kwi dikeroyok dua.
Kali ini mereka berkelahi lebih mati-matian karena pedang di tangan Siu Kwi kini tidak sungkan-sungkan lagi, mengirim serangan maut yang amat berbahaya.
Namun, seperti juga tadi.
Siu Kwi belum cukup kuat untuk menghadapi pengeroyokan dua orang tosu yang amat lihai itu, Setelah lewat lima puluh jurus, gulungan sinar pedangnya makin menyempit dan iapun terdesak terus oleh dua batang tongkat panjang dan pendek itu.
Apa lagi seperti tadi, Thian Kek Seng-jin mengeluarkan bentakan-bentakan yang mengandung kekuatan sihir untuk melemahkan lawan, maka Siu Kwi hamir tidak mampu balas menyerang lagi, melainkan hanya mengelak dan menangkis sambil mundur.
Yo Jin tidak dapat mengikuti perkelahian itu dengan baik karena selain dia berdiri di belakang pintu jeruji yang sempit, juga jalannya perkelahian itu telampau cepat baginya sehingga ia tidak dapat mengikuti dengan andang matanya yang menjadi kabur.
Dia hanya melihat gulungan sinar putih dari pedang Siu Kwi dikurung dua gulungan sinar hitam, dan kadang-kadang saja nampak tubuh tiga orang itu atau kaki mereka yang menginjak tanah.
Namun, hatinya merasa khawatir sekali.
"Bukkk....!"
Sebuah pukulan tongkat Thian Kek Seng-jin mengenai punggung Siu Kwi dan sedikit darah keluar dari mulut wanita itu.
Ia telah terluka.
Maka iapun tahu bahwa sekali ini ia juga tidak berhasil.
Diputarnya pedangnya dengan nekat sambil membalikkan tubuhnya.
Para pengawal yang berada di belakangnya menjadi panik, apa lagi ketika ketika dua orang pengawal roboh.
Terpaksa mereka mundur dan membuka kepungan.
Siu Kwi menerobos keluar dan meloncat ke dalam kebun, terus meloncat naik ke atas tembok pagar dan melarikan diri.
Seperti sore tadi, dua orang tosu itu tidak mengejarnya, melainkan tertawa mengejek.
Terhuyung-huyung Siu Kwi lari memasuki hutan.
Ketika tiba di tengah hutan, di bagian terbuka, iapun menjatuhkan diri di atas rumput, menelungkup dan menangis!
Ia bukan menangis karena lukanya, melainkan menangis karena tidak mampu manyelamatkan Yo Jin.
Kalau ia mengingat kembali betapa Yo Jin berdiri di belakang pintu jeruji dengan kaki tangan terbelenggu dan pucat, ia merasa kasihan sekali dan tangisnya makin mengguguk.
Akan tetapi, wanita yang keras hati ini segera dapat menguasai dirinya.
Tugasnya masih belum selesai.
Yo Jin belum diselamatkan.
Dan ia kembali terluka, sekali ini lebih parah karena pukulan dengan tenaga sin-kang itu telah mengakibatkan luka dalam, walaupun tidak amat berbahaya namun membutuhkan pengobatan dengan segera.
Diusirnya bayangan Yo Jin yang melemahkan batinnya.
Siu Kwi mengeluarkan obat dan menelan dua butir pil merah Kemudian iapun duduk bersila untuk mengumpulkan hawa murni, mengobati lukanya dan memulihkan tenaganya.
Ia terus bersila sampai pagi, kesehatannya berangsur-angsur pulih, dan juga tenaganya mulai pulih kembali.
Matahari mulai meneroboskan cahayanya melalui celah-celah ranting dan daun pohon, namun Siu Kwi masih bersamadhi dengan lelap.
Demikian lelapnya sampai ia tidak tahu bahwa di dalam hutan itu muncul dun orang yang sejak tadi mengintainya.
Baru setelah dua orang itu melangkah dekat menghampirinya, ia sadar dan cepat ia membuka mata.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia mengenal mereka sebagai Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin!
Akan tetapi rasa kaget ini juga dibarengi kemarahan yang meluap-luap karena kedua orang inilah yang telah menggagalkan usahanya untuk membebaskan Yo Jin.
Maka ia meloncat dan menghadapi dua orang tosu itu dengan sepasang mata bernyala ganas penuh kebencian.
"Dua tosu jahanam, kalian masih hendak mendesakku? Baik, aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"
Bentaknya dan iapun sudah memasang kuda-kuda, siap untuk berkelahi mati-matian.
Akan tetapi dua orang tosu itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap bemusuh, bahkan tersenyum.
"Bi-kwi...."
"Namaku Ciong Siu Kwi dan aku tidak mau menggunakan julukan itu lagi!"
Bentak Siu Kwi memotong kata-kata Ok Cin Cu. Kakek tinggi besar berperut gendut dengan rambut riap-riapan ini tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, harimau hendak berganti bulu domba, ya? Baiklah, nona Ciong Siu Kwi, kami datang bukan untuk mendesakmu, melainkan untuk berdamai denganmu."
Siu Kwi memandang dengan mata tajam penuh selidik. Tentu saja ia tidak dapat mempercaya begitu saja kepada orang-orang seperti tosu itu.
"Apa kehendak kalian?"
Tanyanya singkat, masih bersikap seperti seorang musuh.
"Ha-ha, bukankah engkau menghendaki agar pemuda she Yo itu kami bebaskan?"
Kini Thian Kek Seng-jin, ketua cabang Pek-lian-kauw bertanya.
Mendengar pertanyaan ini, sepasang mata Siu Kwi berkilat.
Tentu saja timbul gairahnya mendengar pertanyaan itu.
Akan tetapi ia seorang cerdik, dan cepat wajahnya nampak biasa seolah-olah pertanyaan itu bukan merupakan penawaran yang memikat hatinya.
"Hal yang sudah jelas itu mengapa kau tanyakan lagi?"
Ia balas bertanya. Kembali dua orang tosu itu tersenyum lebar.
"Kita adalah orang-orang segolongan dalam dunia persilatan, karena itu, perlu apa kita harus saling bermusuhan? Sebaiknya kalau kita bekerja sama, saling bantu, bukankah hal itu akan lebih menguntungkan kita kedua pihak?"
Kata pula Thian Kek Seng-jin yang lebih pandai bicara dibandingkan Ok Cin Cu.
"Kau maksudkan, kalian akan membebaskan Yo Jin dan sebagai gantinya aku harus melakukan sesuatu untuk kalian?"
"Ha-ha-ha, ia memang seorang wanita yang amat cerdik, toyu!"
Ok Cin Cu tertawa girang dan Thian Kek Seng-jin mengangguk-angguk.
"Tepat dugaanmu, nona Ciong. Engkau membutuhkan pembebasan Yo Jin, dan kami berdua juga mempunyai kebutuhan yang kami harapkan akan mendapat bantuanmu agar terlaksana."
"Katakan, apa yang harus kulakukan untuk membantu kalian?"
"Kami berdua mempunyai kebutuhan masing-masing, dan kami akan membebaskan Yo Jin kalau engkau suka memenuhi dua permintaan kami untuk kebutuhan kami itu. Bagaimana, nona Ciong?"
Tanya pula Thian Kek Seng-jin.
"Katakan, apa yang harus kulakukan."
Jawab Siu Kwi dan di dalam batinnya, wanita ini tentu saja sudah menyetujui permintaan mereka.
Apapun akan ia lakukan demi menyelamatkan Yo Jin, pria yang dicintanya itu.
Thian Kek Seng-jin memandang kepada Ok Cin Cu, kemudian kepada Siu Kwi lagi sambil berkata.
"Biarlah sahabat Ok Cin Cu akan menceritakan sendiri permintaannya. Adapun pinto ingin engkau membantu pinto menghadapi seorang musuh besar. Kami sudah maju berdua, namun belum dapat menandinginya. Kalau engkau maju membantu kami, aku yakin akan dapat mengalahkan musuh besar itu."
Siu Kwi terkejut.
Kalau dua orang seperti tosu Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw ini saja tidak mampu menandingi orang itu, tentu musuh besar Thian Kek Seng-jin itu seorang yang lihai bukan main.
Akan tetapi ia hanya membantu mereka berdua, dan hal ini tentu saja tidak berat baginya.
Hanya, ia sudah mengambil keputusan tidak melakukan perbuatan jahat, maka iapun ingin tahu lebih dahulu siapa orang yang akan mereka keroyok itu.
"Siapakah orang itu?"
"Dia adalah seorang keturunan pendekar Pulau Es."
Siu Kwi terkejut dan mengerutkan alisnya.
Keluarga Pulau Eslah yang telah menghancurkan semua cita-citanya, dan biarpun tadinya ia sudah tidak mau memikirkan hal itu dan tidak mau menanam persiapan dengan siapapun, akan tetapi sedikit banyak ada perasaan tidak suka terhadap keluarga Pulau Es dalam hatinya.
Maka mendengar bahwa musuh besar ketua cabang Pek-lian-kauw ini adalah seorang ang-gauta keluarga Pulau Es, iapun tanpa berpikir panjang lagi lalu mengangguk.
"Baiklah! Aku akan membantu kalian menghadapi musuh itu, dan kalian harus membebaskan Yo Jin."
"Heh-heh, nanti dulu! Tiba-tiba Ok Cin Cu berkata sambil menyeringai sehingga nampak mulutnya yang tinggal mempunyai beberapa buah gigi yang besar-besar.
"Itu adalah syarat yang diajukan sahabat Thian Kek Seng-jin, sedangkan syarat dari pinto masih belum. Kalau engkau membantu menghadapi musuh itu, berarti baru separuh dari syarat kami kau penuhi. Engkau tentu tidak ingin kami membebaskan separuh badan orang she Yo itu, bukan? Kau memilih dari pingang ke atas atau dari pinggang ke bawah yang harus dibebaskan?"
Siu Kwi tidak mau menyambut kelakar ini. Tentu saja ia tidak mau mendapatkan setengah saja dari badan Yo Jin.
"Katakanlah, apa syaratmu!"
Katanya cepat dan ketus.
Ok Cin Cu menyeringai dan Thian Kek Seng Jin mentertawakan temannya itu.
Akan tetapi yang ditertawakan sama sekali tidak merasa malu, bahkan nampak gembir sekali ketika berkata.
"Ciong Siu Kwi, sudah lama sekali pinto mendengar akan nama Bi-kwi yang selain lihai ilmu silatnya, juga lihai sekali dalam hal lain mengenai pria. Nah, ilmu silatmu sudah pinto lihat dan rasakan. Akan tetapi pinto ingin membuktikan sendiri kelihaianmu dalam hal yang lain itu. Pinto ingin agar engkau tidur bersama pinto satu malam dan melayani pinto. Baru pinto mau membebaskan Yo Jin seutuhnya!"
Kalau lain wanita yang diajukan itu, tentu ia akan merasa malu dan tersinggung sekali.
Akan tetapi, bagi Siu Kwi, hubungan dengan pria bukan merupakan hal yang aneh.
Sejak remaja ia sudah melayani Sam Kwi, tiga orang gurunya yang juga sudah kakek-kakek, Dan selama ia bertualang sebagai Bi-kwi, entah sudah berapa banyak pria yang dipermainkannya uutuk melampiaskan napsunya.
Permintaan terang-terangan dari Ok Cin Cu itu dianggapnya biasa saja, walaupun ia merasa terhina karena biasanya, ialah yang memilih laki-laki.
Kecuali Sam Kwi, belum pernah ia melayani pria secara terpaksa.
Akan tetapi, sekali ini, ia tidak berani marah, ia akan melakukan apa saja untuk pembebasan Yo Jin dan syarat yang diajukan oleh Ok Cin Cu itu, baginya adalah lebih berat dari pada syarat yang diajukan Thian Kek Seng-jin.
Menyerahkan badannya bagi Siu Kwi tidak ada artinya, karena hatinya sudah ia serahkan sebulatnya kepada satu orang saja, yaitu Yo Jin!
Dan ia melakukan itu bukan karena penyelewengan, bukan karena pemuasan nafsu, melainkan semata-mata untuk menyelamatkan Yo Jin!
"Baik, kuterima syaratmu.
Nah, sekarang kalian bebaskan Yo Jin, dan aku akan memenuhi syarat kalian!"
"Ho-ho-ho, jangan tergesa-gesa, nona manis Thian Kek Seng-jin berseru.
"Kami yang mengajukan syarat, maka kami harus melihat syarat-syarat itu terlaksana lebih dulu, baru kami akan membebaskan Yo Jin."
Betapa mendongkolnya rasa hatinya, terpaksa Siu Kwi menurut.
Pagi hari itu juga kedua orang tosu mengajak Siu Kwi untuk membantu mereka menghapi musuh besar Thian Kek Seng-jin.
Hari telah siang ketika mereka bertiga tiba dilereng sebuah bukit tandus yang penuh dengan batu-batu besar dan guha-guha.
Dan di sebuah di antara guha-guha itulah terdapat musuh besar yang dimaksudkan!
Laki-laki itu sedang duduk bersila dimulut guha ketika Ok Cin Cu, Thian Kek Seng-jin dan Ciong Siu Kwi memandang penuh perhatian.
Hatinya tertarik untuk melihat orang yang demikian lihainya sehingga dua orang tosu seperti Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin sampai tidak mampu menandinginya.
Laki laki itu belum tua benar, paling banyak empat puluh tahun usianya.
Mukanya bulat dengan kulit yang agak gelap, namun bentuk mukanya tampan dan gagah, juga terawat rapi.
Rambutnya yang dikuncir mengkilap bersih dan halus karena minyak, wajahnya juga bersih, tidak ditumbuhi brewok karena agaknya dia rajin mencukur kumis dan jenggotnya.
Pakaiannya juga baik dan bersih, bahkan agak mewah.
Seorang pria yang pesolek, pikir Siu Kwi.
Ia belum pernah bertemu dengan pria ini.
Di punggung pria yang duduk bersila itu nampak sepasang pedang beronce biru dan sarungnya terukir indah.
Pria yang gagah ini memang benar keluarga Pulau Es.
Bahkan dia masih cucu dari mendiang Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, karena dia adalah Suma Ciang Bun!
Seperti kita ketahui, delapan tahun yang lalu, Suma Ciang Bun menyelamatkan nyawa Gu Hong Beng yang kemudian selama tujuh tahun digemblengnya di pegunungan.
Setelah Hong Beng menjadi seorang pemuda yang lihai, Suma Ciang Bun mengutus muridnya itu untuk memperluas pengalam-an dan pengetahuan, pergi ke kota raja untuk melakukan penyelidikan terhadap pembesar Hou Seng.
Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Akhirnya dengan bergabung bersama para pendekar sakti, Hong Beng membantu runtuhnya kekuasaan yang dibentuk oleh Hou Seng itu.
Sementara itu Suma Ciang Bun sendiri menyepi ke gunung-gunung untuk bertapa.
Seperti biasa di sepanjang perjalanannya, kalau melihat hal-hal yang tidak adil, dia pasti turun tangan sebagai seorang pendekar.
Dan sudah beberapa pekan lamanya dia berada di pegunungan tandus itu, menanti kembalinya Hong Beng karena dia sudah berpesan kepada muridnya itu agar dua tahun kemudian datang mencarinya di pegunungan tandus itu.
Kehadirannya di dalam guha di gunung itu diketahui oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin.
Dua orang tokoh besar Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw ini segera mengenal pendekar keturunan keluarga Pulau Es ini dan semenjak dahulu memang kedua aliran ini menganggap keluarga Pulau Es sebagai musuh besar.
Semenjak jaman Pendekar Super Sakti masih muda, kedua aliran ini, terutama sekali Pek-lian-kauw, sudah memusuhi Pendekar Pulau Es.
Melihat Suma Ciang Bun, tentu saja Thian Kek Seng-jin yang kebe-tulan berada di situ cepat turun tangan menyerang.
Akan tetapi, dia tidak dapat menandingi kelihaian Suma Ciang Bun.
Bahkan ketika Ok Cin Cu membantunya, dua orang tosu itu tetap saja kewalahan dan akhirnya mereka melarikan diri.
Itulah sebabnya, melihat kelihaian Siu Kwi, Thian Kek Seng-jin lalu mempunyai akal untuk mengajak wanita itu membantunya dengan janji akan membebaskan Yo Jin dan seperti telah diperhitungkan-nya, Siu Kwi yang benar-benar jatuh cinta kepada Yo Jin, tak dapat menolak syaratnya.
Dengan hati besar karena mereka kini datang bertiga, Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin tertawa melihat musuh besar itu masih duduk bersila.
"Ha-ha-ha, Suma Ciang Bun! Kematianmu sudah berada di depan mata. Bangunlah dan terimalah kematianmu di tangan kami! Thian Kek Seng-jin berseru dengan nyaring sedangkan Ok Cin Cu hanya tertawa bergelak. Siu Kwi tidak bertanya, hanya memandang tajam dan mengamati gerak-gerik orang yang sedang duduk bersila itu. Tiba-tiba saja Siu Kwi berseru.
"Awas jarum....!"
Ketika Suma Ciang Bun menggerakkan tangan kirinya.
Jarum-jarum halus sekali menyambar ke arah mereka bertiga.
Dua orang tosu itu terkejut sekali dan merekapun cepat meloncat ke pinggir sambil mengebutkan lengan baju.
Siu Kwi sendiri meloncat tinggi sehingga beberapa jarum yang menyambar kearahnya lewat di bawah kakinya.
Hebat bukan main serangan jarum-jarum halus itu, dilakukan oleh Suma Ciang Bun yang masih duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya.
Pendekar itu menyerang mereka hanya mengandalkan pendengarannya saja.
Ketika mereka bertiga sudah berdiri tegak kembali dan memandang, ternyata Suma Ciang Bun kini sudah bangkit, menghadapi mereka dengan alis berkerut.
Siu Kwi agak gentar melihat sinar mata yang mencorong itu dan ia dapat menduga bahwa pendekar ini berwatak keras.
Suma Ciang Bun tadi menyerang mereka dengan jarum-jarumnya karena pendekar ini merasa jengkel bahwa samadhinya di ganggu oleh dua orang tosu yang sudah pernah dikalahkannya itu.
Akan tetapi dia mendengar seruan seorang wanita dan melihat betapa wanita itu dengan gerakan yang luar biasa ringannya telah meloncat ke atas ketika menghindarkan diri diri sambaran jarum-jarumnya.
Tahulah dia bahwa dua orang tosu itu telah datang lagi membawa seorang teman yang amat lihai.
"Siapakah engkau yang membantu Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw? Aku tidak pernah bermusuhan denganmu!"
Suma Ciang Bun memandang tajam kepada wanita cantik pesolek itu.
Sebelum Ciong Siu Kwi yang merasa bimbang itu menjawab, Thian Kek Seng-jin sudah mendahuluinya.
"Ha-ha, engkau tidak mengenal Bi-kwi murid mendiang Sam Kwi yang tewas di tangan para pendekar Pulau Es?"
Memang Thian Kek Seng-jin ini cerdik sekali.
Dia sudah tahu akan keadaan Siu Kwi, maka dia segera menghadapkan wanita yang membantunya itu sebagai musuh besar Suma Ciang Bun.
Mendengar bahwa wanita itu adalah murid Sam Kwi yang menjadi tokoh-tokoh besar dunia sesat, Ciang Bun tidak merasa heran kalau wanita itu kini membantu musuh-musuhnya.
"Bagus!"
Serunya marah.
"Kalian memang harus dibasmi dan sekali ini aku tidak mau kepalang tanggung!"
Berkata demikian, Suma Ciang Bun menggerakkan tangan mencabut sepasang pedangnya.
Sepasang pedang yang mengeluarkan sinar berkilauan berada di kedua tangannya dan diapun sudah berdiri dengan tegak, sikapnya menantang.
Ok Cin Cu sudah melintangkan tongkat ular hitamnya yang dimainkan sebagai pedang, Sedangkan Thian Kek Seng-jin menggerakkan tongkat naga hitam sebagai sebatang tongkat panjang yang ampuh.
Melihat ini, teringat akan janjinya, Siu Kwi juga melolos pedangnya ikut mengepung pendekar itu.
Ciang Bun sudah pernah bertanding melawan pengeroyokan dua orang tosu itu dan dia maklum bahwa tingkat kepandaian mereka itu hanya sedikit selisihnya dengan tingkatnya sendiri.
Kalau dia mampu mengalahkan mereka kanyalah karena ilmu silatnya yang luar biasa sehingga dua orang kakek itu menjadi bingung dan kacau dibuatnya.
Akan tetapi, tenaga mereka tidak lebih kecil dari pada tenaga sin-kangnya walaupun dia sudah menguasai dua macam tenaga sakti yang bertentangan dari Pulau Es, yaitu Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang.
Sayang bahwa dia tidak pernah berhasil menguasai kedua sinkang itu sampai ke puncaknya.
Biarpun tidak begitu mudah baginya mengalahkan pengeroyokan dua orang tosu itu, namun dia percaya bahwa sekali inipun dia akan mampu mengalahkan, bahkan mungkin merobohkan mereka, kalau saja di situ tidak ada si wanita yang memiliki gerakan demikian ringannya.
Untuk menguji sampai di mana kehebatan wanita itu, dia lalu langsung menggerakkan tubuhmya menyerang Siu Kwi dengan pedang kanannya yang menusuk ke arah dada disambung dengan gerakan pedang kiri yang dari atas membacok ke arah kepala.
Serangan ini cepat dan hebat karena merupakan bagian dari ilmu silat Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis), jurus yang dinamakan Siang-mo jio-cu (Sepasang Iblis Berebut Mustika).
Jurus ini dapat dikembangkan dengan serangan-serangan kanan kiri yang berlawanan atau berbeda arahnya dan sambung-menyambung menjadi serangkaian serangan yang amat berbahaya.
Melihat betapa sepasang pedang itu menyerangnya dari depan dan atas, berarti hanya satu jurusan saja, Siu Kwi yang memiliki gerakan cepat itu karena ia telah mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh), cepat membuang diri ke kiri untuk mengelak.
Akan tetapi sambil mengelak, ia telah menusukkan pedangnya dari samping ke arah lambung lawan disusul tendangan kilat ke arah lutut.
Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, maka Siu Kwi bergerak cepat, begitu diserang, mengelak sambil membalas dengan tidak kalah hebatnya.
"Cringgg....!"
Ciang Bun terkejut melihat kehebatan wanita itu.
Tepat dugaannya bahwa wanita itu lihai, buktinya, menghadapi serangannya tadi, dapat langsung saja membalas.
Dia menangkis dengan pedang kirinya dan membabat kaki yang menendang dengan pedang kanan.
Akan tetapi Siu Kwi sudah menarik kakinya dan meloncat ke belakang untuk mengatur kedudukannya.
Pada saat itu Ok Cin Cu sudah menyerang dari samping, menusukkan tongkat ular hitam ke arah leher, sedangkan dari belakang, Thian Kek Seng-jin juga menyerang dengan babatan tongkat panjangnya ke arah kaki!
Ciang Bnn cepat memutar tubuh, menangkis tongkat yang menusuk leher, kemudian dia meloncat ke atas membiarkan tongkat lewat di bawah kakinya, tubuhnya terus meluncur ke depan, masih menyerang Siu Kwi!
Kini sepasang pedangnya itu bergerak dari kanan kiri dengan jurus Siang-mo Koan-bun (Sepasang Iblis Menutup Pintu).
Gerakannya ini memang merupakan lingkaran sinar pedang yang menutup jalan keluar lawan.
Lawan yang diserangnya tidak akan mempu mengelak ke kanan atau ke kiri lagi sehingga tidak ada kesempatan untuk balas menyerang.
Namun, Siu Kwi mengenal serangan berhahaya.
Ia mempergunakan kelincahan tubuhnya, sudah meloncat ke belakang sehingga kembali serangan Ciang Bun yang amat cepat itu luput dari sasaran!
Hal ini membuat Ciang Bun penasaran dan pada saat itu, melihat betapa kedua orang tosu sudah menerjangnya lagi dari kanan kiri, dia memutar sepasang pedangnya menyambut.
Berkali-kali terdengar bunyi nyaring dan nampak bunga api berpijar kalau pedang di tangan pendekar itu bertemu dengan tongkat lawan.
Siu kwi yang melihat berapa pendekar itu agaknya berbalik hendak mendesak dua orang tosu, sudah cepat menerjang dengan serangan-serangan pedangnya yang sinarnya bergulung-gulung.
Tentu saja serangan-serangan wanita ini tak dapat dipandang ringan dan memecah perhatian Ciang Bun yang terpaksa harus melayani tiga orang pengeroyoknya yang tangguh.
Kalau ada yang menonton pertandingan ini, tentu orang akan merasa kagum bukan main, walaupun cepatnya gerakan mereka membuat mata biasa sukar untuk dapat mengikuti pertandingan, sukar melihat siapa yang terdesak dan siapa yang mendesak.
Yang nampak hanya gulungan sinar senjata mereka, dan bayangan tubuh mereka terbungkus gulungan sinar itu, hanya kadang-kadang saja nampak bayangan mereka dan kaki mereka menyentuh tanah.
Suma Ciang Bun adalah seorang keturunan langsung dari keluarga Pulau Es dan dia sudah menguasai ilmu-ilmu yang luar biasa tingginya.
Akan tetapi, perlu diketahui bahwa yang menjadi penentu terakhir mengenai tinggi rendahnya tingkat seorang ahli silat, adalah si orang itu sendiri, bukan ilmunya.
Ilmu silat memang ada yang bagus ada yang buruk ada yang lambat ada yang cepat, ada yang praktis tanpa kembangan ada yang memakai banyak kembangan.
Namun, setelah dikuasai seseorang, tentu saja sifat-sifat itu terseret oleh keadaan orang itu sendiri.
Dan perlu diketahui bahwa sejak kecilnya, bakat ilmu silatnya tidaklah begitu menonjol dan kalah jauh kalau dibandingkan dengan keturunan keluarga Pulau Es yang lain.
Ilmu-ilmu silat yang dikuasainya memang hebat bukan main, akan tetapi tidak mencapai tingkat yang terlalu tinggi sehingga menghadapi pengeroyokan tiga orang yang lihai ini, Suma Ciang Bun mulai terdesak hebat.
Perhitungan Thian Kek Seng-jin memang tepat.
Dia dan Ok Cin Cu tidak mampu menandingi Suma Ciang Bun dan hal ini membuat dia merasa penasaran bukan main.
Dia tidak tahu siapa lagi yang dapat dimintai bantuannya.
Ketika dia dan Ok Cin Cu bentrok dengan Siu Kwi dan melihat kelihaian wanita itu, terutama sekali kecepatan gerakannya, tahulah dia bahwa kalau wanita ini dapat membantunya, maka dia tentu akan mampu mengalahkan pendekar Pulau Es itu.
Betapapun juga, ilmu-ilmu silat yang dimainkan Suma Ciang Bun memang hebat sekali sehingga walaupun tiga orang itu mampu mengepung ketat dan mendesak sampai seratus jurus lamanya belum juga mereka bertiga itu mampu mengalahkan Suma Ciang Bun yang masih melawan dengan gigih.
Akan tetapi kini pendekar itu lebih banyak bertahan dan melindungi diri dari pada menyerang.
Tiba tiba tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu menusuk ke arah leher Ciang Bun dari kiri, Dibarengi dengan pukulan tongkat naga hitam ke arah pinggangnya dari kanan Ciang Bun tidak sempat mengelak lagi, terpaksa menggunakan sepasang pedangnya menangkis ke kanan kiri dengan jurus Siang-mo Khai-bun (Sepasang Iblis Membuka Pintu).
Jurus ini bukan hanya menangkis, melainkan dilanjutkan dengan serangan balasan yang hebat.
Akan tetapi pada saat dia menangkis, nampak sinar pedang meluncur ganas dari depan, yaitu pedang yang diserangkan oleh Siu Kwi ke arah dadanya.
Serangannya sedemikian cepatnya sehingga Ciang Bun merasa terkejut.
Dengan menggunakan pantulan tenaga ketika menangkis tongkat naga hitanm, pedang kanannya mental dan meluncur, memapaki sinar pedang Siu Kwi dari depan, sedangkan pedang kirinya dengan tenaga sin-kang masih menempel tongkat ular hitam.
"Cringgg....!"
Siu Kwi mengeluarkan seruan kaget karena pedangnya hampir terlepas dari pe-gangannya ketika bertemu dengan kerasnya dengan pedang lawan.
Akan tetapi pada saat itu, tongkat naga hitam menyambar dari belakang dan tidak dapat dielakkan atau ditangkis oleh Ciang Bun lagi.
"Bukkk....!"
Tubuh Ciang Bun terlempar keras, terbanting dan terguling-guling.
Dia menderita luka parah oleh pukulan tongkat yang mengenai punggungnya itu, maka ketika dia terguling-guling, dia sengaja bergulingan dengan cepat, kemudian meloncat dan melarikan diri.
Pendekar ini maklum bahwa dia telah terluka dan kalau tidak melarikan diri, tentu tiga orang lawan itu akan membunuhnya.
"Kejar dia....!"
Thian Kek Seng-jin berseru marah ketika melihat lawan yang sudah terluka itu melarikan diri.
"Kenapa mesti dikejar?"
Siu Kwi membantah.
"Dia sudah kalah dan lari."
"Kejar! Kita harus membunuhnya!"
Thian Kek Seng-jin berteriak dan diapun mengejar diikuti Ok Cin Cu, Siu Kwi terpaksa ikut mengejar.
"Jangan mencari penyakit!"
Kembali ia berkata sambil berlari di samping kakek itu.
"Jangan mendesak terus. Bagaimana kalau muncul tokoh-tokoh Pulau Es lainnya? Dia hanya tokoh kecil saja! Aku sudah banyak bertemu dengan mereka, yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari dia!"
Thiar Kek Seng-jin mencari-cari akan tetapi bayangan Suma Ciang Bun tak nampak lagi.
Juga dia mulai jerih mendengar kata-kata Siu Kwi.
Baru mengalahkan Suma Ciang Bun sekarang saja sudah demikian repotnya, apa lagi kalau muncul tokoh Pulau Es lain-nya yang lebih lihai.
Pula, kalau wanita ini tidak mau membantunya, dia dan Ok Cin Cu juga tidak berdaya menghadapi tokoh yang mereka kejar-kejar itu.
Maka, biarpun hatinya kurang puas karena dia tidak berhasil membunuh musuhnya, terpaksa dia memghentikan pengejarannya.
Ketika Ok Cin Cu pada malam itu menuntut syaratnya, diam-diam Siu Kwi bergidik memandang ka-kek berusia hampir tujuh puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan rambut riap-riapan, tubuhnya yang kurang terjaga kebersihannya itu mengeluarkan bau busuk.
Akan tetapi, dengan terpaksa Siu Kwi menyerahkan dirinya kepada tosu gendut itu ketika sang tosu membawa-nya ke sebuah pondok kecil di luar dusun.
Ia menyerahkan diri sambil mematikan (Lanjut ke
Jilid 28) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 perasaannya dan dengan tingkat kepandaiannya, hal ini tidak sukar ia lakukan.
Yang masuk ke dalam ingatannya hanyalah bahwa ia melakukan pengorbanan untuk pria yang dicintanya.
Apapun akan ia lakukan demi keselamatan Yo Jin.
Karena apa yang ia lakukan itu tanpa disertai perasaan sedikitpun, maka bagi Ok Cin Cu wanita ini tiada bedanya dengan sesosok mayat saja.
Tentu saja hal ini membuat Ok Cin Cu merasa tidak puas dan kecewa, seperti bercinta dengan mayat atau patung dan diam-diam di pun marah sekali.
Pada keesokan harinya, dua orang tosu itu berjanji bahwa malam berikutnya mereka akan membebaskan Yo Jin.
"Engkau datanglah ke tempat tinggal Lui-thungcu pada tengah malam dan Yo Jin akan kami bebaskan dengan diam-diam agar dapat kaujemput. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati agar jangan sampai ketahuan oleh keluarga Lui. Biarlah mereka mengira bahwa engkau dan orang-orang lain yang datang membebaskan Yo jin. Kami akan pura-pura melakukan pengejaran dan mencari,"
Kata Thian Kek Seng-jin dan tentu saja Siu Kwi menyetujui dengan hati penuh harapan.
Malam itu cuaca gelap sekali.
Bulan memang belum waktunya keluar dan sedikit bintang yang nampak kadang-kadang tertutup awan hitam yang lewat di bawahnya.
Sebelum tengah malam, Siu Kwi telah berada di luar pagar tembok yang mengelilingi kompleks bangunan tempat tinggal keluarga Lurah Lui.
Dengan hati berdebar penuh kegembiraan dan ketegangan ia menanti sambil merenungkan semua yang telah terjadi semenjak ia berjumpa dengan Yo Jin.
Telah terjadi perubahan besar dalam hidupnya, dimu-lai sejak ia dan sekutunya kalah dan hancur oleh para pendekar.
Akan tetapi perubahan besar baru benar terjadi setelah ia berjumpa dengan Yo Jin.
Ia telah berkorban untuk Yo jin.
Di luar kehendaknya ia telah membantu dua orang tosu itu memusuhi pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es.
Bahkan di luar kehendaknya ia telah menyerahkan tubuhnya kepada Ok Cin Cu.
Kedua hal itu terpaksa ia lakukan karena ia tidak melihat cara lain untuk menyelamatkan Yo Jin yang berada dalam cengkeraman dua orang tosu yang tangguh itu.
Hatinya gembira.
Betapa-pun juga, pengorbanan itu tidak berapa berat.
Apa artinya menyerahkan badan tanpa perasaan dan hati?
Dan ia hanya membantu untuk mengalahkan Suma Ciang Bun.
Semua hal itu terlupa karena ia membayangkan betapa gembiranya sebentar lagi ia dapat menyelamatkan dan mengajak pergi Yo Jin.
Ia akan hidup berbahagia bersama pria itu.
Satu-satunya halangan, yaitu ayah Yo Jin, telah tewas pula.
Sejak siang tadi ia sudah membayangkan hal ini dan sudah mengatur rencana.
Ia hendak mengajak Yo jin pergi dan hidup di sebuah tempat yang baru di mana tak seorangpun akan menge-nalnya.
Ia akan hidup sebagai manusia baru di tempat yang baru, bukan sebagai Bi-kwi murid Sam Kwi, melainkan sebagai isteri seorang pria sederhana seperti Yo Jin.
Betapa akan berbahagianya mereka, merawat dan mendidik anak-anak mereka.
Anak-anak!
Ah, belum pernah sebelumnya ia membayangkan tentang rumah tangga, suami dan anak-anak.
Suara berdenting ketika tanda waktu dipukul para penjaga, menciutkan hatinya dan membuatnya sadar dari lamunan.
Tengah malam telah tiba!
Iapun men-dekati pagar tembok dan setelah merasa yakin bahwa keadaan di situ sunyi saja, ia lalu meloncat ke atas pagar tembok, meneliti sebentar keadaan di sebelah dalam yang ternyata juga sunyi seperti keadaan di luar.
Maka ia lalu melompat turun dan menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak menuju ke bagian belakang.
"Kwi-moi.... aku di sini....! Mendengar suara Yo Jin itu, bukan main girang rasa hati Siu Kwi.
"Jin-koko....!"
Serunya lirih dengan suara gemetar dan iapun berlari ke arah suara tadi.
Agaknya pria yang dikasihinya itu berada di belakang pondok yang menjadi kandang kuda, menantinya.
Betapapun gembira dan tegang rasa hatinya, Siu Kwi tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya.
Ia berurusan dengan dua orang tosu yang selain tangguh, juga cerdik dan mungkin saja suka bertindak curang, maka ia selalu siap siaga.
Kewaspadaan inilah yang menyelamatkannya.
Ketika ia sudah melihat bayangan Yo Jin yang berdiri di belakang kandang kuda, dan ia berlari di antara pohon-pohon di kanan kiri, tiba-tiba saja kakinya terlibat tali sehingga ia terguling.
Ia meloncat dan kakinya masih terlibat banyak sekali tali yang agaknya ditarik orang.
Karena memang sebelumnya sudah siap siaga, Hanya sebentar saja Siu Kwi terkejut dan secepat kilat ia telah mencabut pedangnya dan dengan beberapa kali bacokan saja, tambang-tambang itu sudah putus semua.
Untung ia melakukan hal ini karena kalau tidak, tentu tubuhnya akan terlibat semua dan ia tentu tidak akan mampu melawan lagi!
Tiba-tiba keadaan menjadi terang.
Obor-obor di nyalakan dan ternyata tempat itu telah dikepung oleh puluhan orang penjaga yang dipimpin oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin sendiri!
Dan di kejauhan, ia melihat betapa Yo Jin dengan kaki tangan terikat, berdiri dan terikat pada sebatang pohon.
Tahulah ia bahwa memang dua orang tosu itu bersikap curang sekali.
Ia sengaja dipancing untuk ditangkap, bukan untuk disuruh menjemput Yo Jin seperti yang dijanjikan.
Tentu saja ia menjadi marah sekali dan sepasang matanya mencorong seperti mengeluarkan api.
"Tosu-tosu jahanam yang berwatak hina dan rendah!"
Bentaknya dan iapun menerjang dengan pedangnya ke arah dua orang tosu itu.
Akan tetapi, banyak sekali tombak panjang menyambutnya dan sebentar saja ia sudah dikepung dan dikeroyok oleh puluhan orang penjaga yang memegang tombak panjang.
Dan kini dua orang tosu itupun menerjang maju sehingga tentu saja Siu Kwi menjadi repot sekali melayani mereka.
Namun, ia mengamuk seperti seekor harimau betina terluka, pedangnya berkelebatan dan sudah ada beberapa orang penjaga yang roboh mandi darah.
Pedang di tangan Siu Kwi sudah berlepotan darah.
Akan tetapi, ia sendiri menerima tusukan tombak dan hantaman tongkat berkali-kali.
Pundaknya dan paha kirinya terluka, kulitnya robek dan mengucurkan darah.
Pipinya bengkak dan punggungnya juga dua kali menerima hantaman tongkat panjang naga hitam di tangan Thian Kek Seng-jin.
"Kwi-moi...., larilah...., selamatkan dirimu....!"
Teriakan melengking ini menyadarkan Siu Kwi.
Itulah suara Yo Jin dan iapun sadar bahwa mengamuk terus berarti mencari mati.
Dan kalau ia mati di situ, tentu tidak ada harapan lagi bagi Yo jin.
Selain ia seorang, siapa lagi yang akan membela Yo Jin?
Hatinya berdarah kalau ia membayangkan Yo Jin yang belum juga dapat diselamatkannya.
Akan tetapi, ia akan terus berusaha, dan untuk itu, ia harus mampu keluar dari kepungan ini lebih dahulu.
Maka, tiba-tiba ia menerjang ke belakang dan membalikkan tubuhnya.
Karena yang berada di belakangnya hanya para penjaga, mereka itu menjadi panik ketika tiba-tiba dua orang di antara mereka roboh mandi darah.
Terbukalah pengepungan mereka dan Siu Kwi lalu menerjang ke arah itu.
Para pengepung mundur dan keadaan menjadi kacau balau.
Dua orang tosu tidak dapat mendesak Siu Kwi karena terhalang oleh para penjaga yang lari ke kanan kiri.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Siu Kwi untuk melompat ke luar pagar tembok dan menghilang di dalam kegelapan malam.
Siu Kwi menangis sesenggukan.
Tangisnya lebih sedih dari pada tangisnya yang pertama kali sebelum ia berjumpa Jengan Yo jin.
Selamanya ia tidak pernah menangis dan pertama kali menangis adalah ketika ia merasa kesepian, setelah persekutuannya hancur.
Akan tetapi tangisnya sekarang ini sungguh keluar dari dasar hatinya.
Ia menangis sampai terisak-isak dan tersedu-sedan, kadang-kadang menyebut nama Yo Jin.
Ia merasa berduka, gelisah, dan menyesal sekali.
Bagaimanapun juga, kalau diusut dari semula, ialah yang menjadi gara-gara sampai Yo Jin terpaksa menjadi orang tahanan, bahkan ayahnya tewas dibunuh orang.
Kalau Yo Jin tidak berjumpa dengannya, tentu dia tidak akan mengalami semua malapetaka ini.
Dan ia sendiri sekarang tidak berdaya sama sekali untuk menyelamatkan Yo Jin.
Semua impiannya kemarin kini buyar dan hancur pula, seperti hancurnya semua cita-citanya.
Karena kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sedangkan ia sendiri sudah menderita luka-luka yang cukup parah, Siu Kwi hanya dapat menangis!
Menangis seorang diri di dalam hutan yang sunyi itu.
Pundak dan pahanya masih terluka menganga dan mengeluarkan darah, juga pipinya benjol, bekas pukulan tongkat di punggungnya juga mendatangkan rasa ngilu dan nyeri bukan main.
Akan tetapi ia tidak memperdulikan semua itu, tidak perduli akan keadaan dirinya.
Yang terpikir olehnya hanyalah Yo Jin!
Dalam keadaan menangis ini, muncul-lah Siu Kwi sebagai seorang wanita sepenuhnya.
Seorang wanita yang normal, mahluk yang lemah dan terbuai perasaan, dan mencari pelarian dari segala derita ke dalam tangis.
Dulu sekali, tangis merupakan hal yang memalukan baginya, merupakan pantangan karena perbuatan ini dianggapnya memamerkan kelemahan dan cengeng.
Akan tetapi sekarang, setelah merasa tidak berdaya dan bingung memikirkan keadaan pria yang dicintanya, yang tidak mampu ditolongnya, iapun tak dapat berbuat lain kecuali menangis!
Dan tangisnya ini adalah pencurahan dari semua penderitaan batin yang sejak dahulu selalu ditekan dan ditahannya.
Penderitaan batin ketika ia masih kecil kehilangan ayah ibu, ketika ia terpaksa melayani gairah nafsu tiga orang gurunya, Sam Kwi, yang diterimanya dengan pasrah namun sebenarnya di dasar hatinya timbul pemberontakan yang ditekannya.
Semua himpitan batin itu dahulu ia imbangi dengan perbuatan-perbuatan sesat dan kejam, sebagai pelariannya.
Akan tetapi sekarang, setelah ia melihat betapa kesesatannya tidak mendatangkan kebaikan bagi dirinya, setelah ia ingin merobah jalan hidupnya, satu-satunya pelarian hanyalah tangis kesedihan.
"Suci....!"
Tiba-tiba terdengar suara wanita menegurnya.
Siu Kwi mengangkat mukanya yang tadi ditutupi dengan kedua tangannya.
Sebuah muka yang membengkak, ujung bibir yang masih berdarah, muka yang basah air mata yang bercucuran dari sepasang mata yang kemerahan.
Ketika ia melihat bahwa yang datang menegurnya adalah Bi Lan, Siu Kwi merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk dan iapun menangis semakin menjadi-jadi sampai mengguguk.
Yang datang itu memang Bi Lan bersama Sim Houw.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah berhasil menghancurkan komplotan kaki tangan pembesar Hou Seng, dibantu oleh para pendekar keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, para pendekar bubaran dan Bi Lan pergi bersama Sim Houw.
Kedua orang ini merasa saling tertarik dan terikat satu sama lain, merasa betapa mereka tak mungkin dapat saling berpisah lagi.
Memang, selama melakukan perjalanan menuju ke utara, keduanya belum pernah saling mengaku cinta!
Sim Houw yang sudah tahu bahwa dia kini mati-matian jatuh cinta kepada Bi Lan, merasa sungkan untnk mengakui cintanya.
Dia jauh lebih tua dari pada Bi Lan.
Usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun, sedangkan Bi Lan belum ada dua puluh tahun!
Gadis itu pantas menjadi keponakannya!
Biarpun dia sungguh mencintanya, akan tetapi kalau dia mengaku akan hal itu, bukankah dia akan ditertawakan, bahkan disangka bahwa semua kebaikannya terhadap gadis ini berpamrih?
Tidak, dia tidak berani mengaku cinta, walaupun hatinya sudah yakin akan hal itu.
Di lain pihak, Bi Lan sendiri yang masih hijau dalam soal asmara, hanya melihat Sim Houw sebagai seorang pria yang amat baik kepadanya.
Dan iapun merasa amat suka kepada Sim Houw, kagum dan juga bangga dapat mempunyai seorang sahabat seperti pendekar ini.
Dan yang lebih dari segalanya, ia merasa aman tenteram penuh kedamaian kalau berada di samping Sim Houw.
Dalam perjalanan mereka ke utara, mereka pada pagi hari ini memasuki hutan dan mereka merasa terheran-heran ketika mendengar isak tangis sampai ke telinga mereka, terbawa angin bersilir.
Karena merasa heran dan curiga, menduga bahwa mungkin saja terjadi kejahatan.
mereka lalu mempergunakan ilmu meringankan tubuh, berindap menghampiri tempat dari mana suara itu datang.
Dan dapat dibayangkan betapa heran dan terkejut hati Bi Lan ketika melihat bahwa yang sedang menangis terisak-isak itu adalah Bi-kwi!
Karena itu, segera ia memanggil dan kini, setelah sucinya itu memandang kepadanya, ia melihat keadaan sucinya yang luka-luka dan mukanya membengkak, dan kini sucinya menangis semakin menjadi-jadi.
"Suci.... kau.... kau menangis....?"
Bi Lan menghampiri dan menjadi semakin terheran-heran. Belum pernah ia melihat sucinya ini menangis, apa lagi menangis sampai sedemikian sedihnya.
"Apakah yang telah terjadi, suci?"
Bagaimana juga, di dalam hatinya, Bi Lan merasa kasihan kepada sucinya, orang yang sejak ia kecil melatihnya dan menemaninya, walaupan sikap Ciong Siu Kwi terhadapnya tak dapat dibilang manis.
Juga ia teringat bahwa tanpa pertolongan sucinya, tentu dirinya telah ternoda oleh Sam Kwi.
Mendengar pertanyaan ini, Siu Kwi menjadi semakin berduka.
Akan tetapi, ia segera teringat, bahwa kalau sumoinya ini mau membantu, tentu ia akan dapat menyelamatkan Yo Jin!
Timbul lagi harapannya, akan tetapi karena khawatir kalau-kalau Bi Lan menolak permintaan tolongnya, iapun menjadi semakin berduka.
"Sumoi.... jangan dekati aku kalau kau tidak mau ketularan segala kesialan yang menimpa diriku.... ahhh, rasanya aku ingin mati saja, sumoi...."
Katanya sambil mengusap air mata dari kedua pipinya dan iapun memandang ke arah Sim Houw yang berdiri tak jauh dari situ.
Apa lagi kalau orang she Sim itu mau membantunya, sudah dapat dipastikan bahwa Yo Jin dapat diselamatkan!
"Suci, sungguh aku merasa heran sekali melihat engkau dapat berduka cita seperti ini.
Apakah yang sesungguhnya telah terjadi?
Aku melihat engkau menderita luka-luka.
Apakah engkau berkelahi?"
Siu Kwi menarik napas panjang untuk menghentikan tangisnya.
"Aku tidak tahu apakah kemunculanmu ini akan merupakan pertolongan bagiku atau tidak, sumoi. Akan tetapi, biarlah kuceritakan semua kepadamu...."
Ia kembali menarik napas panjang.
Bi Lan kini duduk di atas rumput, di dekatnya sedangkan Sim Houw duduk di atas batu.
Agaknya pendekar itupun tertarik untuk mendengarkan ceritanya yang membuat ia sampai menangis sedemikian sedihnya.
"Sumoi, setelah kau membiarkan aku pergi, baru aku merasa betapa sunyi dan merana hidupku, baru aku sadar betapa semua kesesatan yang telah memenuhi hidupku yang lalu tidak pernah mendatangkan kebahagiaan kepadaku. Engkau benar, sumoi, engkau tidak mau mengikuti jejak tiga orang suhu kita yang sesat. Aku ingin merobah hidupku, dan dalam kesadaranku itu, bertemulah aku dengan seorang pemuda petani yang bodoh dan sederhana dan lemah."
Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Yo Jin, betapa kemudian muncul tiga orang pemuda berandalan yang hendak menganggunya, dan betapa Yo Jin, pemuda dusun yang lemah dan bodoh itu, membelanya mati-matian.
"Bayangkan, sumoi! Dia yang lemah dan bodoh, rela dikeroyok dan dipukuli sampai babak-belur, hanya untuk membela aku yang tidak dikenalnya. Betapa gagahnya dia! Dan aku.... akupun jatuh cinta kepadanya, sumoi...."
Kembali Siu Kwi menangis dan Bi Lan memandang sucinya dengan mata terbelalak.
Aneh sekali mendengar cerita dan pengakuan sucinya ini.
Biasanya, sucinya mempermainkan pria sesuka hatinya.
Pria-pria itu dianggap boneka saja olehnya, atau binatang peliharaan yang dianggap sebagai penghibur.
Akan tetapi kini, terang-terangan sucinya mengaku jatuh cinta kepada seorang pemuda dusun yang sederhana, bodoh dan lemah!
"Dan semua pengorbanannya untuk diriku itu membawa akibat yang amat mencelakakan baginya.
Ayahnya sampai terbunuh orang, dan dia sendiri sekarang menjadi tawanan...."
Siu Kwi menceritakan semua hal yang telah terjadi dengan nada suara sedih sekali.
"Aku telah berusaha untuk menyelamatkannya, untuk membebaskannya. Akan tetapi, dua orang tosu ketua cabang Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw itu terlalu tangguh bagiku. Bahkan mereka telah menipuku. Mereka berjanji membebaskan Yo Jin kalau aku mau bekerja sama. Thian Kek Seng-jin minta aku membantunya melawan dan mengalahkan pendekar Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es. Hal ini telah kulakukan dan pendekar itu dapat dikalahkan sampai melarikan diri. Kemudian akupun memenuhi permintaan Ok Cin Cu untuk melayaninya dan tidur bersamanya selama semalam. Semua ini kulakukan dengan pemaksaan diri, di luar kemampuanku demi untuk menolong Yo Jin. Akan tetapi, mereka berdua menipuku, tidak memenuhi janji, bahkan aku dikeroyok banyak orang malam tadi sampai nyaris tewas dan menderita luka-luka inilah, aku hampir putus asa, sumoi. Tidak mengapalah aku mati asal Yo Jin selamat...."
Bi Lan saling pandang dengan Sim Houw.
Hampir ia tidak dapat percaya akan cerita sucinya itu.
Ia sudah terlalu mengenal sucinya sehingga cerita itu seperti tak masuk akal!
"Suci, sekarang yang terpenting adalah mengobati luka-lukamu.
Luka di pundak dan pahamu itu cukup lebar, dan kulihat engkau seperti menderita luka dalam pula.
Biarlah kami membantu mengobatimu, suci."
"Tidak! Tidak perlu aku diobati kecuali kalau.... ahh, mana mungkin kalian suka membantuku?"
Dan tiba-tiba Siu Kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan sumoinya! "Sumoi, aku mohon padamu, kau bantulah aku menyelamatkan Yo Jin...."
Tentu saja Bi Lan menjadi terkejut setengah mati dan cepat-cepat ia memegang kedua pundak sucinya, membangunkannya kembali.
"Hal itu nanti kita bicarakan, suci. Sekarang biarlah kami mengobatimu dulu...."
"Tidak, sumoi. Kalau engkau tidak mau berjanji untuk membantuku menghadapi dua tosu jahanam itu dan menyelamatkan Yo Jin, akupun tidak perlu diobati dan biarlah aku mati saja."
Bi Lan kembali menoleh dan memandang kepada Sim Houw.
Ia masih meragukan kebenaran ucapan sucinya ini, akan tetapi Sim Houw mengangguk.
Pendekar itu dapat melihat bahwa tak mungkin Siu Kwi berbohong.
Apa lagi mendengar bahwa kedua lawan Siu Kwi adalah tosu-tosu dari Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw, tentu saja hatinya condong untuk membantu bekas suci Bi Lan ini.
Tentang benar tidaknya cerita Ciong Siu Kwi, hal itu dapat diselidiki nanti.
"Baiklah, suci. Aku berjanji untuk membantumu, akan tetapi dengan syarat bahwa apa yang kau ceritakan semua tadi adalah benar."
Siu Kwi menarik napas panjang dan mengangguk.
"Aku mengerti dan tidak menyalahkan kalau engkau masih meragukan kejujuranku, sumoi, Akan tetapi engkaupun tentu belum yakin benar akan keputusanku untuk merobah cara hidupku. Aku telah bertemu dengan pria yang kucinta sepenuh jiwaku, dan aku melakukan apa saja demi untuk dia. Kalau ceritaku tidak benar, boleh engkau mengundurkan diri."
"Sekarang, yang terpenting mengobati luka-lukamu, suci."
Siu Kwi menurut dan tiba-tiba merintih.
Baru sekarang ia merasa betapa seluruh tubuhnya nyeri, luka-luka itu, perih dan panas, di dalam dadanya juga terasa nyeri dan tenaganya hampir habis!
Kini, setelah ia merasa mendapatkan bala bantuan, baru ia merasakan semua kenyerian ini.
Bi Lan dan Sim Houw lalu merawat Siu Kwi.
Dengan obat luka Siu Kwi sendiri yang amat manjur, luka di paha dan pundaknya dicuci oleh Bi Lan dan diobati lalu dibalut, sedangkan untuk menyembuhkan luka di dalam dada akibat guncangan pukulan tongkat pada punggungnya, ia dibantu oleh Sim Houw yang menempelkan telapak tangan di punggungnya.
membantu wanita itu menghimpun tenaga dalam dan memulihkan kesehatannya.
Menjelang senja, sembuhlah Siu Kwi.
Tubuhnya yang terlatih memang kuat, ditambah lagi semangatnya yang besar dan menyala-nyala akibat timbulnya harapan dalam hatinya untuk menyelamatkan Yo Jin.
Dan pada malam hari itu juga Siu Kwi mengajak Bi Lan dan Sim Houw untuk membantunya membebaskan Yo Jin.
Bi Lan memang sudah berunding mengenai hal ini, maka Bi Lan lalu berkata kepada bekas sucinya itu.
Suci, bukan hanya karena kurang penuh kepercayaan kami kepadamu, akan tetapi bagaimanapun juga, kami tidak mau bertindak secara sembrono dan melibatkan diri dalam permusuhan, pada hal kami tidak mempunyai urusan apa-apa.
Oleh karena itu, kami mau kau ajak pergi ke dusun itu, Hanya saja tidak bertindak sebagai perampas tawanan, melainkan secara damai."
"Maksudmu bagaimana? Apapun tindakan yang kalian ambil untuk membantuku, terserah. Bagiku yang terpenting adalah keselamatan Yo Jin."
Diam-diam Bi Lan merasa terharu.
Bukan main hebatnya cinta kasih sucinya ini terhadap pria yang bernama Yo Jin itu.
Dan ia mulai percaya bahwa semua cerita sucinya itu tidak bohong.
"Kami akan ikut bersamamu menemui lurah Lui dan dua orang tosu itu. Kita minta dengan baik-baik saja agar Yo Jin itu dibebaskan. Kemudian kita lihat bagaimana perkembangannya. Kalau perlu, tentu saja kami akan membantumu membebaskan dia dengan jalan kekerasan, tentu saja setelah kami pertimbangkan urusannya."
Siu Kwi mengangguk-angguk.
"Aku tidak menyalahkan kalian kalau meragukan kebenaran omonganku. Marilah kita berangkat dan kalian lihat sendiri."
Mereka lalu berangkat menuju ke dusun timur itu, ke tempat lurah Lui di mana Yo Jin ditahan, di bawah pengawasan dua orang tosu yang tangguh.
Tidak seperti malam kemarin, malam itu terdapat penjagaan yang ketat sehingga begitu mereka tiba di dusun itu saja, para penjaga sudah melihat dan segera mengenal Siu Kwi.
Karena merasa jerih menghadapi wanita itu, para penjaga itu cepat berlari ke rumah lurah Lui dan melaporkan munculnya "siluman"
Itu.
Juga para penduduk dusun itu, yang sudah mendengar akan adanya siluman yang mengamuk di rumah lurah mereka, Kini menjadi ketakutan dan cepat-cepat mereka bersembunyi dan menutupkan semua jendela dan pintu rumah mereka ketika mendengar teriakan para penjaga yang berlarian bahwa siluman itu muncul kembali.
Demikianlah, ketika Siu Kwi, Bi Lan dan Sim Houw tiba di depan pekarangan rumah lurah Lui, mereka sudah disambut oleh puluhan orang penjaga yang dipimpin oleh dua orang tosu itu.
Banyak obor dinyalakan sehingga keadaan menjadi terang sekali.
Ketika Thian Kek Seng-jin dan Ok Cin Cu melihat bahwa Siu Kwi datang bersama seorang gadis muda yang cantik sekali dan seorang laki-laki yang sikapnya sederhana, mereka berdua memandang rendah.
Siu Kwi sudah terluka, pikir mereka dan dua orang temannya itu tak mungkin memiliki kelihaian melebihi Siu Kwi.
Pula, di situ terdapat puluhan orang penjaga yang membantu.
"Heh-heh, Bi-kwi, siluman jahat. Engkau berani muncul kembali, apakah engkau ingin menyerahkan nyawamu?"
Thian Kek Seng-jin berkata sambil melintangkan tongkat naga hitamnya.
"Ha-ha, barangkali engkau rindu pada pinto, nona manis?"
Kata si gendut Ok Cin Cu.
Siu Kwi menahan gejolak kemarahan yang memenuhi hatinya.
Ia harus dapat meyakinkan sumoinya dan Sim Houw akan kebenaran ceritanya.
"Thian Kek Seng-jin dan Ok Cin Cu, aku datang ke sini untuk bicara dengan kalian secara baik-baik. Mengapa kalian berkeras hendak menahan Yo Jin? Dia tidak mempunyai kesalahan apapun. Dia membelaku ketika Lui-kongcu hendak kurang ajar...."
"Dia ditangkap karena berani kurang ajar memukul Lui-kongcu!"
Kata Ok Cin Cu.
"Akan tetapi Lui-kongcu yang kurang ajar dan lebih dulu menyerangnya. Urusan itu amat kecil, akan tetapi kalian sudah memukul ayahnya sampai tewas. Dan kalian masih belum puas. Kalian membujuk aku untuk membantu Thian Kek Seng-jin mengalahkan Suma Ciang Bun pendekar keluarga Pulau Es, kemu-dian Ok Cin Cu bahkan memaksa aku melayaninya selama satu malam, dan berjanji akan membebaskan Yo Jin. Aku telah memenuhi permintaan kalian, melakukan hal itu semua. Akan tetapi kalian melanggar janji, bukan membebaskan Yo Jin, bahkan menjebak dan hendak menangkap aku. Ji-wi totiang, sebagai pendeta, tosu dan tokoh-tokoh kang-ouw, apakah kalian tidak malu atas perbuatan kalian itu? Maka malam ini aku datang untuk minta dengan baik-baik agar Yo Jin dibebaskan, dan akupun tidak akan memperpanjang urusan ini."
Dua orang tosu itu tertawa bergelak dan para penjaga juga ikut pula tertawa.
Riuh rendah suara ketawa mereka dan barulah kebisingan itu berhenti setelah Thian Kek Seng-jin bicara.
"Bi-kwi siluman jahat! Engkau adalah pecundang kami, masih berani datang untuk mengajukan tuntutan? Apakah karena engkau membawa dua orang temanmu ini? Kami tidak takut dan kalian bertiga tentu takkan dapat lolos dari pengepungan kami!"
Lega rasa hati Siu Kwi karena ia sudah membeberkan semua persoalan dalam tuntutannya tadi dan iapun menoleh kepada Bi Lan dan Sim Houw.
"Sumoi dan Sim-taihiap, kurasa sudah cukup aku bicara."
Sim Houw melangkah maju menghadapi dua orang tosu itu.
"Ji-wi totiang."
Katanya halus.
"benarkah apa yang dikatakan oleh nona Ciong tadi, bahwa orang she Yo itu kalian tahan tanpa bersalah, dan kalian telah mengingkari janji terhadap nona Ciong?"
"Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami!"
Bentak Ok Cin Cu marah.
"Kalau benar, engkau mau apa?"
Thian Kek Seng-jin juga membentak.
"Sim-toako, jelas bahwa suci yang benar. Dua orang tosu bau ini memang jahat sekali!"
Bi Lan berseru marah.
"Kepung, tangkap atau bunuh mereka bertiga ini!"
Bentak Thian Kek Seng-jin memberi aba-aba kepada para penjaga yang memang sudah mengepung tempat itu.
"Kalau benar ji-wi adalah Thian Kek Seng-jin ketua cabang Pek-lian-kauw dan Ok Cin Cu ketua cabang Pat-kwa-kauw, maka perbuatan ji-wi ini sungguh patut disesalkan dan amat tercela!"
Kata pula Sim Houw yang nampak tenang saja walaupun para penjaga sudah bergerak mengepung dengan sikap mengancam.
"Bocah sombong! Kepung dan tangkap, biarkan nona manis yang baru datang ini pinto sendiri yang menangkapnya!"
Bentak Ok Cin Cu.
"Nanti dulu!"
Thian Kek Seng-jin memberi komando kepada anak buahnya.
"Pinto merasa penasaran melihat kesombongan bocah ini. Orang muda, siapakah engkau? Pinto tidak ingin membunuh orang yang tanpa nama."
Sebelum Sim Houw menjawab, Siu Kwi sudah mendahului.
"Dia adalah pendekar Sim Houw, Pendekar Suling Naga! Dan ini adalah sumoiku Can Bi Lan!"
Mendengar disebutnya Pendekar Suling Naga, dua orang tosu itu saling pandang.
Mereka pernah mendengar akan munculnya seorang pendekar baru yang lihai.
Akan tetapi mereka tidak merasa takut dan sambil berteriak nyaring, Thian Kek Seng-jin sudah menggerakkan tongkat naga hitamnya menyerang ke arah Sim Houw, sedangkan Ok Cin Cu yang memandang rendah Bi Lan yang diperkenalkan sebagai sumoi dari Siu Kwi, sudah menubruk dengan tongkat ular naga menotok jalan darah di pundak Bi Lan, sedang tangan kirinya mencengkeram ke arah dada.
Serangan ini amat kurang ajar sifatnya sehingga dengan marah Bi Lan lalu mengelak sambil mencabut pedangnya.
Melihat sinar mengerikan dari pedang yang berada di tangan Bi Lan, Ok Cin Cu terkejut dan bergidik.
Akan tetapi dia tidak menjadi takut dan cepat menggerakkan tongkat ular hitamnya untuk menyerang.
Bi Lan menangkis dan balas menyerang sehingga terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka.
Ok Cin Cu tidak berani memandang rendah lagi.
Gadis yang menjadi sumoi dari Ciong Siu Kwi ini memiliki pedang pusaka amat menggiriskan, juga gerakan-gerakannya tidak kalah cepat dibandingkan sucinya.
Sementara itu, serangan tongkat naga hitam dari Thian Kek Seng-jin juga amat dahsyat, membuat Sim Houw maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh.
Terpaksa diapun mencabut pedangnya dan ketika pedang itu tercabut, terdengar suara melengking nyaring yang mengejutkan pula hati Thian Kek Seng-jin.
Di antara kedua orang inipun segera terjadi perkelahian yang seru.
Melihat betapa dua orang tosu itu sudah dilawan oleh sumoinya dan Sim Houw, Siu Kwi lalu mengamuk, menerjang puluhan orang penjaga yang mengepung.
Amukannya memang menggiriskan dan sebentar saja sudah ada delapan orang pengeroyok yang roboh oleh pedangnya.
Yang lain menjadi gentar dan Siu Kwi terus menerjang maju dan mendesak para pengeroyok untuk mundur.
Akhirnya ia berhasil memasuki pekarangan, terus ia meloncat ke dalam dan lari ke bagian belakang bangunan rumah keluarga Lui.
Di bagian belakang, ia disambut oleh enam orang penjaga.
Dengan mudah, ia merobohkan lima orang dan menangkap seorang yang hendak melarikan diri.
"Cepat bawa aku ke kamar tahanan Yo Jin!"
Bentaknya sambil menempelkan ujung pedang di dada orang itu.
Pedang itu menembus baju dan menusuk kulit sehingga kulitnya terluka.
Tentu saja penjaga itu terkejut dan ketakutan, mengangguk-angguk dan dengan ditodong pedang dia membawa Siu Kwi ke belakang.
Akhirnya Siu Kwi menemukan Yo Jin yang duduk bersandar dinding di dalam sebuah kamar tahanan.
Siu Kwi menampar penjaga itu dengan tangan kirinya.
Tanpa mengeluh lagi penjaga itu roboh dan Siu Kwi mempergunakan pedangnya untuk menjebol daun pintu kamar tahanan.
"Kwi-moi akhirnya engkau datang....!"
Yo Jin berseru girang.
"Jin-koko....!"
Ingin Siu Kwi merangkul orang itu, akan tetapi perasaan ini ditahannya dan iapun melepaskan belenggu kaki dan tangan pemuda itu.
Baru beberapa hari saja ditahan, tubuh pemuda ini menjadi kurus sekali dan mukanya pucat.
"Jin-koko, engkau lebih baik pulang dulu ke dusun, biar aku akan menyusul ke sana setelah selesai urusan ini!"
Katanya cepat. Ia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan ditawan musuh lagi ketika ia sedang mengamuk bersama sumoinya dan Sim Houw.
"Tapi kau.... kau...."
"Jangan khawatir, aku mampu menjaga diri. Pulanglah, koko, aku akan menyusul nanti."
Yo Jin mendengar suara ribut-ribut orang berkelahi di luar, maka diapun mengangguk dan tidak membantah lagi ketika tangannya ditarik okh Siu Kwi, diajak menuju ke kebun.
Dua orang penjaga berusaha menghadang, namun dengan tendangan kakinya, Siu Kwi merobohkan mereka.
"Cepat, keluarlah dari pintu ini!"
Kata Siu Kwi dan sekali dorong, pintu kecil di kebun itupun jebol.
Melihat kehebatan wanita ini, Yo Jin beberapa kali terbelalak.
Dia maklum bahwa wanita yang dicintanya ini adalah seorang wanita sakti, maka tanpa bicara apa-apa lagi diapun lari keluar dan cepat pulang ke rumahnya di dusun selatan.
Setelah melihat kekasihnya itu menghilang di dalam kegelapan malam, Siu Kwi lalu melompat kembali ke dalam kebun dan berlari ke dalam rumah.
Para pelayan ketakutan, dan dengan mudah saja Siu Kwi menemukan kepala dusun Lui lengkap dengan isteri-isterinya dan anak-anaknya di dalam ruangan belakang.
Mereka terjaga oleh belasan orang penjaga, namun setelah ia menyerbu dan merobohkan empat orang, yang lain lalu melarikan diri meninggalkan keluarga itu yang berkelompok sambil menggigil ketakutan.
Lurah Lui dan keluarganya, sudah mendengar bahwa Siu Kwi yang dituduh siluman itu sebenarnya adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi, dan hanya dua orang tosu tua itu saja yang mampu menundukkannya.
Akan tetapi malam ini, wanita itu datang bersama dua orang teman yang juga amat lihai dan kini "siluman"
Itu telah datang menemukan mereka!
Siu Kwi masuk dengan pedang di tangan.
Melihat betapa pedang itu berlepotan darah, dan wajah yang cantik itu nampak beringas, sepasang matanya seperti mencorong, lurah Lui dan keluarganya menjadi pucat.
Siu Kwi menyapu mereka dengan pandang matanya, lalu menudingkan telunjuk kirinya ke arah Lui kongcu yang mencoba untuk menyembunyikan kepalanya di belakang punggung ibunya.
"Lui-kongcu, ke sini kau!"
Bentaknya.
"Tidak.... tidak....!"
Pemuda itu menggigil ketakutan.
"Ke sini atau akan kuseret dan kubunuh kau!"
Pemuda itu hampir terkencing di celananya saking takutnya, akan tetapi mendengar bentakan itu dia lalu merangkak maju dan berlutut di depan Siu Kwi.
"Engkau juga ke sini, lurah Lui!"
Bentak Siu Kwi.
Lurah Lui bangkit berdiri dan maju.
Dengan congkak akan tetapi pucat dia tetap berdiri, tidak berlutut seperti puteranya.
Bagaimanapun juga, dia adalah kepala dusun itu dan sudah biasa orang-orang berlutut di depannya, bukan dia yang harus berlutut.
Siu Kwi tidak perduli akan sikap itu.
"Kalian berdua yang membikin gara-gara sehingga Yo Jin ditahan dan ayahnya tewas. Kalian berdua yang membuat aku menderita pula. Pertama-tama adalah gara-gara Lui-kongcu ini yang menjadi biang keladinya. Sudah sepatutnya kalau kupenggal kepalamu sekarang, juga!"
Siu Kwi mengelebatkan pedangnya.
"Ampun.... ampun.... tidak....jangan bunuh aku.... aku tidak berani lagi!"
Sekali ini Lui-kongcu benar-benar terkencing di celananya.
Melihat ini, Siu Kwi memandang muak.
Alangkah jauh bedanya pemuda ini dengan Yo Jin, pemuda pilihannya.
Pemuda ini seperti seekor anjing penakut yang takut digebuk, sebaliknya Yo Jin seperti seekor harimau yang pantang menyerah.
"Engkau telah membuat Yo Jin tersiksa, engkau laki-laki mata keranjang penggoda wanita dengan mengandalkan kedudukan ayahmu!"
Tiba-tiba nampak sinar berkelebat.
Lui-kongcu menjerit dan darah muncrat.
Ketika pemuda itu melihat bahwa lengan kirinya buntung sebatas siku dan darah muncrat-muncrat, dia menjerit-jerit dan lari kepada ibunya, lalu menangis menggerung-gerung dan jatuh pingsan.
Melihat ini, tiba-tiba kedua kaki lurah Lui menjadi lemas dan diapun, roboh berlutut karena kedua lututnya seperti kehilangan tenaga.
"Ampun, lihiap.... ampunkan kami...."
Ratapnya. Keluarganya semua berlutut minta-minta ampun. Melihat keluarga lurah itu, hati Siu Kwi menjadi agak lemah, hal yang baru sekarang ia alami.
"Baik, aku tidak akan membunuhmu. Akan tetapi engkau telah mempergunakan kedudukanmu untuk bertindak sewenang-wenang, memperalat pendeta-pendeta palsu dan jahat untuk menghina orang, maka engkau harus diberi pelajaran!"
Kembali pedangnya berkelebat dan lurah Lui menjerit kesakitan karena kaki kanannya terbabat buntung sampai lutut!
Kembali darah muncrat-muncrat dan ketika semua orang menjerit ketakutan, wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Di luar, perkelahian masih berlangsung dengan seru.
Akan tetapi, Ok Cin Cu sudah bermandi peluhnya sendiri.
Gerakan lawan yang hanya seorang gadis muda itu memang luar biasa sekali dan terutama sekali pedang di tangan wanita itu membuat dia kadang-kadang menggigil.
Bi Lan memang sudah memainkan ilmu pedang Ban-tok-kiam-sut dan karena ilmu itu dimainkan dengan pedang Ban-tok-kiam, maka bukan main hebatnya.
Bi Lan menyerang dengan sungguh-sungguh.
Ia merasa sakit hati dan benci sekali mengingat betapa tosu ini telah menipu sucinya, membujuk sucinya melayaninya dan menyerahkan tubuhnya untuk menebus keselamatan Yo Jin.
Sakit hatinya mengingat akan hal ini dan kebenciannya terhadap tosu tinggi besar perut gendut inipun memuncak.
Maka ia menyerang untuk membunuh dan gerakan-gerakannya membuat tosu itu kalang kabut.
Di lain pihak, Sim Houw juga mendesak lawannya dengan hebat.
Kalau pemuda ini menghendaki, sudah sejak tadi dia mampu merobohkan dan membunuh lawan.
Akan tetapi, Sim Houw tidak ingin membunuh.
Dia tahu bahwa ketua cabang Pek-lian-kauw ini berwatak buruk dan jahat, suka melakukan hal-hal terkutuk di balik topeng perjuangan melawan pemerintah penjajah.
Akan tetapi, dia tidak ingin membunuh, hanya ingin memberi peringatan saja.
Ketika dia melihat betapa sera-ngan-serangan Bi Lan merupakan serangan-serangan maut yang amat berbahaya bagi ketua cabang Pat-kwa-kauw, dia terkejut.
"Lan-moi, jangan membunuh orang....!"
Teriaknya memperingatkan.
Pada saat itu terdengar suara keras dan tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu patah menjadi dua, sedangkan sinar pedang Ban-tok-kiam masih terus menyambar ke arah leher kakek gendut itu!
Untung bahwa Bi Lan masih mendengar teriakan Sim Houw dan ia memang patuh sekali terhadap pemuda ini.
Ia tahu bahwa sekali saja tergores Ban-tok-kiam, akan sukarlah menyelamatkan nyawa kakek gendut itu, maka ia menyelewengkan pedangnya ke samping, dan berbareng jari tangan kirinya menusuk ke depan.
"Crottt....!"
Mata kanan Ok Cin Cu tertembus jari tangan Bi Lan.
Kakek itu mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya terjengkang dan terbanting keras.
Saat itu, pedang suling naga mengeluarkan lengking tinggi dan terdengar suara keras ketika tongkat naga hitam juga patah menjadi tiga potong.
Pedang itu masih terus menyambar dan pergelangan tangan kiri Thian Kek Seng-jin terbabat putus.
Kakek inipun menjerit dan melompat jauh ke belakang.
Mereka berdua cepat menotok dan mengurut jalan darah masing-masing untuk menghentikan keluarnya darah dari luka, dan tanpa bicara apa-apa lagi keduanya meloncat dan melarikan diri dari tempat itu.
Melihat betapa dua orang tosu itu melarikan diri, para penjaga juga menjadi ketakutan dan menjauhkan diri.
Pada saat itu Siu Kwi muncul.
"Di mana mereka?"
Tanyanya ketika ia tidak melihat adanya dua orang tosu itu.
"Kami sudah memberi hajaran dan mereka melarikan diri,"
Kata Bi Lan, lega bahwa Sim Houw memberi peringatan pada saat yang tepat sehingga ia tidak perlu membunuh tosu yang menjadi lawannya tadi.
Lega rasa hati Siu Kwi.
Dua orang tosu itu memang jahat, akan tetapi iapun tidak mempunyai nafsu untuk membunuh mereka.
"Sudahlah, terima kasih atas bantuan kalian. Tanpa bantuan kalian, tak mungkin aku dapat membebaskan Yo Jin."
"Di mana dia sekarang....?"
Tanya Bi Lan yang ingin sekali melihat bagaimana macamnya pemuda yang mampu merobohkan hati sucinya yang tadinya dianggap tidak mempunyai hati itu.
"Aku tadi telah membebaskannya dan menyuruhnya pulang ke dusunnya lebih dahulu, baru aku akan menyusulnya.
"Aih, suci, kenapa begitu saja membiarkan dia pergi sendiri? Bagaimana kalau sampai dia tertangkap musuh lagi?"
Kata Bi Lan.
"Mari kita cepat pergi menyusulnya."
Bi Lan hanya mempergunakan dugaan ini agar ia dapat ikut pergi menyusul karena ia sungguh ingin sekali bertemu dengan pemuda itu.
"Baik, mari kita pergi,"
Kata Siu Kwi dan mereka bertiga lalu berlari cepat menuju ke dusun selatan Sim Houw diam-diam tersenyum, dapat mengetahui bahwa Bi Lan ingin melihat orang yang mampu menundukkan hati seorang wanita seperti Ciong Siu Kwi yang tadinya terkenal sebagai Bi-kwi yang amat kejam dan jahat.
Diapun tidak mengeluarkan pendapatnya karena diapun harus membuktikan bahwa semua peristiwa yang diceritakan Siu Kwi itu benar dan hal ini baru terbukti kalau dia sudah bertemu dengan orang yang bernama Yo Jin itu.
Kalau semua ini benar, tidak percuma dia membantu Siu Kwi dan menanam permusuhan baru dengan pihak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw.
Bagi seorang pendekar, yang terpenting adalah bahwa setiap tindakannya berdasarkan membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan kelaliman.
Tidak perduli untuk perbuatannya itu dia akan dibenci atau dimusuhi orang, karena yang jelas, mereka yang memusuhinya tentulah bukan orang baik-baik.
Dengan cepat tiga orang itu telah tiba di dusun selatan dan langsung mereka pergi ke rumah keluarga Yo.
Akan tetapi, rumah itu kosong dan Yo Jin tidak berada di situ.
Dengan hati khawatir Siu Kwi lalu bertanya kepada tetangga dan mendengar bahwa tadi pemuda itu telah pulang, akan tetapi begitu mendengar dari para tetangga bahwa ayannya telah meninggal dunia, pemuda itu berlari keluar lagi sambil menangis.
"Ah, kasihan Jin-koko...."
Kata Siu Kwi dengan hati terharu.
"Aku tahu, ia pasti pergi mengunjungi kuburan ayahnya...."
Dan merekapun lalu keluar dari dusun itu, menuju ke sebuah tanah kuburan yang amat sunyi karena letaknya di luar kota, di kaki sebuah bukit.
Benar saja, mereka menemukan Yo Jin sedang berlutut dan menangis di depan sebuah kuburan yang masih baru.
"Jin-ko....!"
Siu Kwi berseru memanggil.
Pemuda itu bangkit, membalikkan tubuh dan dua orang itu saling pandang di dalam cuaca yang remang-remang karena malam itu hanya diterangi oleh bintang-bintang bertaburan di langit hitam.
"Kwi-moi....!"
Suara pemuda itu terdengar parau karena lama dia tadi menangis.
"Jin-koko....!"
Siu Kwi melangkah maju dan entah siapa yang bergerak lebih dulu, keduanya saling rangkul dan keduanya terisak menangis!
Bi Lan berdiri bengong.
Benarkah wanita yang menangis di dada laki-laki itu sucinya?
Benarkah ia Bi-kwi yang biasanya demikian kejam dan keras hati?
Terdengar Sim Houw batuk-batuk untuk menyadarkan dua orang yang sedang dilanda keharuan itu bahwa di situ hadir lain orang!
Suara batuk itu menyadarkan mereka dan keduanya melepaskan rangkulan.
"Kwi-moi, ayah.... ayahku...."
"Tenanglah, Jin-ko. Ayahmu telah meninggal dunia dengan tenang dan dia menghembuskan napas terakhir dalam rangkulanku."
"Ahh, Kwi-moi, apakah yang telah terjadi? Ceritakanlah...."
"Mari kita duduk dengan tenang dan aku akan menceritakan semuanya, Jin-ko."
"Kita duduk di dekat makam...."
"Apakah tidak sebaiknya kita pulang saja, Jin-ko dan bicara di rumah?"
"Tidak, malam ini aku tidak akan meninggalkan makam ayah."
"Biar aku membuat api unggun,"
Tiba-tiba Bi Lan berkata dan dibantu oleh Sim Houw, ia mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun di dekat makam.
Yo Jin agaknya baru sadar bahwa wanita yang dicintanya itu datang bersama dua orang lain.
"Kwi-moi, siapakah mereka ini?"
"Mari kita duduk dekat api unggun dan kuperkenalkan kau kepada mereka, Jin-ko. Tanpa adanya bantuan mereka, sampai sekarangpun kita belum dapat berkumpul kembali."
Mereka berempat lalu duduk di dekat makam, dan mereka mengelilingi api unggun yang dibuat oleh Bi Lan dan Sim Houw.
Yo Jin duduk di dekat Siu Kwi, berhadapan dengan Bi Lan yang duduk di dekat Sim Houw.
Mereka sejenak saling berpandangan dan diam-diam Bi Lan harus mengakui bahwa laki-laki pilihan sucinya itu biarpun nampak berpakaian sederhana, memiliki pandang mata yang jujur dan polos, wajah yang bersih dan cukup ganteng walaupun kesederhanaan dan keluguan membayangkan kebodohan.
Dan biarpun pemuda ini seorang lemah, dalam arti tidak mengenal ilmu silat, namun bentuk tubuhnya jantan dan kokoh kuat karena terbiasa bekerja berat di ladang.
Betapapun juga, Bi Lan masih belum dapat mengerti dan masih terheran-heran memikirkan bagaimana sucinya dapat jatuh cinta kepada seorang pemuda tani sederhana seperti ini.
Pada hal kalau ia menghendakinya, sucinya dapat memiliki pemuda-pemuda terbaik dari kota, putera bangsawan atau hartawan atau bahkan putera ahli-ahli silat kenamaan sekalipun.
Sucinya cantik jelita, memiliki ilmu kepandaian tinggi, cerdik dan pendeknya, memiliki segala-galanya untuk dapat menarik hati pria manapun.
"Jin-ko, mereka inilah yang telah membantuku untuk membebaskanmu. Gadis ini bernama Can Bi Lan dan ia adalah sumoiku sendiri walaupun tingkat ilmu kepandaiannya jauh melebihiku. Dan pendekar ini adalah Pendekar Pedang Suling Naga bernama Sim Houw, seorang tokoh persilatan yang bernama besar dan terkenal sekali."
Yo Jin dengan secara sederhana, hanya memberi hormat sambil duduk ke arah mereka, berkata lantang.
"Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan ji-wi yang mulia, dan semoga Thian yang akan membalas segala budi kebaikan ji-wi."
Diam-diam Sim Houw kagum juga.
Seorang pemuda dusun, petani yang bodoh dan mungkin buta huruf, namun mengerti akan tata susila dan kesopanan, mengenal budi walaupun pernyataan terima kasihnya itu sederhana saja.
"Saudara Yo Jin, harap jangan sungkan. Tidak ada istilah melepas budi di antara kita,"
Kata Sim Houw.
"Engkau sendiri, walaupun tidak mempunyai keahlian silat telah berani membela nona Ciong, bahkan untuk semua itu selain engkau menderita dan menjadi tawanan, juga ayahmu berkorban nyawa. Dibandingkan dengan apa yang telah kau lakukan itu, perbuatan kami tidak ada artinya."
Mendengar ucapan Sim Houw, diam-diam hati Siu Kwi merasa kagum sekali.
Baru sekarang ia melihat dan mendengar sendiri akan sikap seorang pendekar yang rendah hati.
Dahulu, tiga orang gurunya, Sam Kwi, selalu menekankan bahwa para pendekar adalah manusia-manusia sombong yang selalu memusuhi golongan mereka.
Juga dia merasa senang bukan main mendengar betapa Yo Jin dipuji-puji.
Tanpa disadari duduknya semakin mendekat pemuda dusun itu dan pandang matanya penuh kebanggaan dan cinta kasih ketika ia menatap wajah di sampingnya itu yang diterangi cahaya api unggun.
"Jin-koko adalah seorang laki-laki yang paling gagah perkasa dan paling hebat yang pernah kukenal. Dia sudah mengorbankan dirinya, bahkan kehilangan ayahnya, untuk membelaku. Berkali-kali dia membelaku mati-matian. Sungguh aku telah berhutang budi padanya, berhutang nyawa. Mulai detik ini, aku tidak akan mau berpisah darinya, sampai mati.... aku akan mendampinginya sebagai isterinya.... karena aku.... aku cinta padanya."
Bagi Sim Houw dan Bi Lan yang sudah mengenal Siu Kwi ucapan yang terang-terangan ini tidak mengherankan akan tetapi wajah Yo Jin menjadi merah padam dan dia merasa malu bukan main.
Akan tetapi kejujurannya melenyapkan perasaan malu itu, dan diapun hendak menumpahkan isi hatinya secara blak-blakan, selagi di situ ada orang-orang lain yang amat berharga untuk menjadi saksi.
"Kwi-moi, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku semenjak pertemuan kita yang pertama kali itu, aku takkan merasa lega sebelum hal itu kukemukakan di sini. Biarlah Can-lihiap dan Sim-taihiap ini menjadi saksi."
Siu Kwi memandang kepada wajah pemuda itu dengan sinar mata berseri.
Sikap yang jujur dan terus terang dari pemuda ini merupakan satu di antara watak-watak yang amat dikaguminya.
"Bicaralah, Jin-ko."
Yo Jin menarik napas panjang dan agaknya berat baginya untuk mengeluarkan isi hatinya.
"Kwi-moi, terima kasih saya amat mendalam bahwa seorang seperti saya ini mendapat kehormatan untuk menerima cinta kasih seorang wanita seperti engkau. Hal ini kuterima dengan hati gembira dan ringan seandainya engkau seorang gadis biasa, karena sesungguhpun sudah jatuh cinta kepadamu. Akan tetapi...."
Siu Kwi mengerutkan alisnya dan menatap wajah yang menunduk itu dengan hati khawatir.
"Akan tetapi.... apa Jin-ko?"
"Kwi-moi, engkau sudah melihat keadaan saya. Seorang pemuda dusun, pemuda petani yang tidak terpelajar, buta huruf, miskin, bahkan kini setelah ayah tiada, saya hidup sebatangkara, tiada sanak kadang, tiada kemampuan. Akan tetapi engkau...."
"Aku.... kenapa, Jin-koko?"
Siu Kwi mendesak sambil tersenyum sehingga nampak deretan giginya yang rapi berkilau tertimpa sinar api unggun.
Yo Jin memandang wajah Siu Kwi dan pandang mata mereka saling bertemu, dan masing-masing dapat merasakan kasih sayang terpancar dari pandang mata itu, akan tetapi Yo Jin lalu mengalihkan pandang matanya, kini memandang Sim Houw dan kepada Bi Lan seolah-olah minta pertimbangan dari kedua orang saksi itu.
"Kwi-moi.... ah, sesungguhnya menyebutmu moi-moi saja sudah tidak pantas bagiku. Sepatutnya engkau kusebut lihiap. Engkau adalah seorang wanita kota, terpelajar, kaya, pandai dan bahkan memiliki kepandaian silat yang luar biasa. Engkau seorang wanita sakti, seorang pendekar wanita yang...."
"Cukup, Jin-ko, cukup....!"
Siu Kwi memotong sambil menyentuh lengan pemuda itu.
"Aku sudah mengenalmu lahir batin, akan tetapi engkau sungguh belum tahu banyak tentang diriku! Engkaulah yang terlalu berharga untukku, Jin-ko. Engkau seorang pemuda yang bersih, jujur, setia, kuat lahir batin, gagah perkasa, sedangkan aku.... aku hanya...."
"Wanita perkasa, pendekar yang sakti...."
"Tidak, tidak....! Engkau hanya tahu satu tidak mengenal dua tiga dan selanjutnya. Biarlah aku mengaku kesemuanya, Jin-ko. Keadaanku yang lalu juga akan selalu menjadi ganjalan di hatiku kalau belum kuceritakan kepadamu...."
"Suci! Perlukah itu....?"
Bi Lan menegur, khawatir melihat sucinya akan menceritakan keadaan masa lalunya. Siu Kwi tersenyum dan mengangguk kepada sumoinya.
"Mutlak perlu, sumoi. Aku tidak tega membiarkan Jin-koko menggambarkan aku sebagai seorang dewi dari langit, pada hal dalam kehidupanku yang lalu aku adalah seorang iblis. Di dalam cinta harus ada kejujuran, kita harus dapat melihat orang yang kita cintai seperti apa adanya, melihat segala cacat dan keburukannya, bukan sekedar melihat kebagusannya saja."
Sim Houw yang sejak tadi mendengarkan semua itu, menggeleng-geleng kepala dan memandang kagum.
"Kalian adalah orang-orang luar biasa, hebat.... hebat...."
Yo Jin memandang bingung.
"Kwi-moi, aku tidak ingin mendengar tentang keburukanmu...."
Dengarlah baik-baik, Jin-ko, agar engkau tidak merasa rendah diri terhadap aku.
Engkau hanya mengenal namaku, yaitu Ciong Siu Kwi, akan tetapi kau tidak men hal-hal lain mengenai diriku.
Seperti juga engkau, aku tidak mempunyai keluarga.
Sejak kecil aku ikut bersama tiga orang guruku yang terkenal dengan julukan Sam Kwi (Tiga Iblis), tokoh-tokoh golongan sesat, penjahat-penjahat yang kejam dan ganas.
Dan jangan mengira bahwa aku seorang pendekar wanita, sama sekali tidak!
Aku bahkan dimusuhi para pendekar karena aku memang jahat dan kejam, aku seorang di antara tokoh-tokoh sesat yang dijuluki Bi-kwi (Iblis Cantik)."
"Aku tidak percaya....!"
Yo Jin berseru, kaget bukan main mendengar pengakuan yang dianggap mengerikan itu.
"Kenyataannya begitu, Jin-ko. Aku kejam dan jahat, entah telah berapa banyaknya orang, baik yang bersalah maupun yang tidak, tewas di tanganku. Aku telah membunuh banyak orang, aku pendukung kejahatan dan penentang kebaikan. Bukan itu saja, aku juga bukan seorang wanita baik-baik, bukan seorang wanita bersih. Sejak remaja aku sudah menjadi kekasih tiga orang guruku dan sejak dewasa, entah sudah berapa banyak pria yang kujadikan kekasihku, baik dengan suka rela maupun dengan paksa! Aku mempermainkan pria-pria itu seperti barang mainan, kalau sudah bosan kucampakkan, atau kubunuh."
"Tidak.... tidaaaakk....! "
Yo Jin berteriak dengan mata terbelalak karena merasa ngeri, dan juga tidak percaya.
"Engkau seorang wanita gagah perkasa, halus budi dan sopan!"
"Itu menurut penglihatanmu, dan memang sejak berjumpa denganmu, aku mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia sesat, untuk merobah kehidupan menjadi seorang baik-baik. Akan tetapi, engkau harus mengenal masa laluku, Jin-ko, agar kalau engkau masih mau memasuki hidup baru bersamaku, engkau masuk dengan mata terbuka, bukan dengan mata terpejam, dengan suka rela, bukan paksaan. Nah, sekarang kulanjutkan, Jin-ko. Baru-baru ini, baru kemarin dulu malam, aku terpaksa menyerahkan tubuhku ini kepada Ok Cin Cu, tosu ketua cabang Pat-kwa-kauw yang menangkapmu, aku tidur dengan dia dan melayaninya selama satu malam...."
"Ahhhh, tidaaaakk.... ah, Kwi-moi, kenapa engkau menyiksa hatiku seperti ini....?"
Yo Jin menutupi mukanya dengan kedua tangan seperti hendak mengusir gambaran yang diceritakan Siu Kwi kepadanya itu.
"Yo-toako, suci hanya menceritakan hal-hal yang memang benar terjadi. Akan tetapi ketahuilah bahwa suci terpaksa melakukan hal itu demi untuk membebaskanmu. Ia tidak berdaya menghadapi dua orang tosu itu, maka ia dapat ditipu oleh mereka yang menjanjikan untuk membebaskanmu."
Yo Jin menurunkan kedua tangannya. Wajahnya agak pucat dan kedua matanya merah ketika dia menatap wajah wanita yang dicintanya.
"Kwi-moi, apakah masih ada lagi ceritamu tentang dirimu? Kalau masih ada, tuangkanlah semua, jangan disimpan-simpan agar kelak engkau tidak akan merasa penasaran dan menceritakannya kembali kepadaku."
Siu Kwi terbelalak.
"Jin-koko, masih-belum cukupkah itu? Masih belum cukupkah kotoran yang menodaiku sehingga engkau dapat melihat bahwa akulah yang sesungguhnya tidak berharga bagimu?"
Yo Jin tersenyum dan menggeleng kepala.
"Kwi-moi, kejujuranmu ini bahkan menambah cintaku kepadamu. Aku mencinta engkau sekarang ini, seperti keadaanmu sekarang ini. Aku tidak perduli akan keadaanmu yang lampau, apa lagi engkau sudah mengambil keputusan dan untuk merobah jalan hidupmu. Engkau telah melakukan penyelewengan, biarlah aku akan membantumu sekuat tenaga untuk kembali ke jalan benar, Kwi Moi."
"Jin-koko....!"
Siu Kwi menubruk dan hendak mencium kaki Yo Jin sambil menangis saking terharu hatinya.
Akan tetapi Yo Jin menangkapnya dan menariknya sehingga kini wanita itu menangis dengan kepala di atas pangkuannya, menangis sesenggukan seperti anak kecil dan rambutnya dibelai sayang oleh Yo Jin.
Melihat peristiwa ini, Bi Lan tak dapat menahan keharuan hatinya dan iapun memandangi dengan kedua mata lebar akan tetapi air matanya berlinang-linang, kemudian perlahan-lahan menetes turun melalui sepasang pipinya.
Hatinya dipenuhi rasa haru, kasihan, akan tetapi juga ikut gembira bahwa sucinya telah menemukan seorang pria yang sungguh-sungguh mencintanya lahir batin.
Ia tidak tahu betapa dari samping, Sim Houw memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kasih sayang.
Setelah tangisnya mereda, Siu Kwi mengangkat kepalanya dari pangkuan Yo Jin dan bangkit duduk.
Tangisnya terhenti dan dengan muka yang basah air mata, rambut yang kusut, ia memandang kepada Yo Jin dengan malu-malu, kemudian tersenyum dan berkata lirih.
"Aihh, aku seperti anak kecil saja...."
"Aku cinta dan kasihan kepadamu, Kwi-moi,"
Kata Yo Jin yang kini memandang kepada wanita itu dengan sinar mata lain, mengandung rasa iba.
Betapa sengsara kehidupan wanita ini di masa yang lalu dan dia berjanji kepada diri sendiri untuk mencoba membahagiakan Siu Kwi dalam kehidupan mendatang.
"Sudahlah, kita hentikan percakapan tentang masa lalu dan kita bicara saja tentang hal-hal yang berada di depan kita, meninggalkan segala yang sudah terlewat di belakang kita."
Kata Bi Lan dan Sim Houw mengangguk-angguk setuju.
"Kalian memang bijaksana sekali,"
Kata Siu Kwi.
"dan aku merasa girang bahwa kalian telah menjadi saksi pengakuanku kepada Jin-ko. Baiklah, sekarang kita bicara tentang masa depan. Sumoi, engkau dan Sim-taihiap hendak pergi ke manakah dan bagaimana bisa kebetulan bertemu dengan aku sehingga kalian dapat menolong aku dan Jin-koko?"
Sikap Siu Kwi sudah biasa lagi dan biarpun mukanya masih merah dan basah, rambutnya masih kusut, namun ia sudah dapat menguasai hatinya, bahkan kini setelah ia membuat pengakuan di depan Yo jin yang diterima dengan baiknya oleh pria itu, ada sinar kebahagiaan yang cerah pada wajahnya, terutama pada sinar matanya.
Tadinya, ada perasaan gelisah kalau ia mengingat akan masa lalunya dan membayangkan betapa Yo Jin akan berbalik membencinya kalau mendengar akan masa lalunya.
Kalau hal seperti itu terjadi, kiranya akan sukar baginya untuk dapat merobah hidupnya!
Kebaikan tidak dapat dinamakan baik lagi kalau dilakukan dengan kesadaran bahwa hal itu baik.
Keinginan hati untuk berbuat baik membuat perbuatan itu sendiri menjadi tidak baik, palsu dan munafik.
Kebaikan tidak dapat diperbuat dengan sengaja.
Kebaikan tidak mungkin dapat dipelajari atau dilatih.
Yang dapat dilatih itu hanyalah kepura-puraan saja.
Kebaikan adalah wajar seperti sinar matahari, seperti harumnya bunga.
Kebaikan adalah suatu sifat yang terpencar dari suatu kepribadian yang bersih.
Kebaikan adalah suatu tindakan yang timbul dari batin yang penuh kasih.
Keinginan untuk menjadi sesuatu, biarpun sesuatu itu kelihatan agung seperti menjadi orang baik, mengotorkan kebaikan itu sendiri.
Keinginan menjadi sesuatu selalu mendatangkan kepalsuan, karena pamrih atau keinginan yang menyembunyikan keuntungan bagi diri sendiri itu selalu mempunyai tujuan.
Keinginan akan memperoleh buahnya atau hasilnya ini menjadi terpenting, sedangkan perbuatan baik itu sendiri hanya dijadikan alat untuk mencapai hasil yang menguntungkan atau menyenangkan itu!
Hal ini akan nampak jelas kalau kita mau mengamati diri sendiri setiap saat, pada saat keinginan timbul, keinginan yang dianggap suci dan luhur sekalipun.
Kita buka mata batin, kita amati dan akan nampaklah bahwa ada setan bersembunyi di sudut belakang keinginan luhur itu, yang menanti datangnya hasil baik untuk diterkamnya.
Yang penting bukan ingin menjadi orang baik, melainkan sadar akan keburukan-keburukan dalam perbuatan kita.
Kesadaran akan kekotoran ini timbul dalam pengamatan kita secara serius terhadap diri sendiri lahir batin.
Kesadaran akan perbuatan-perbuatan buruk kita akan menghentikan perbuatan buruk itu, bukan dengan maksud agar menjadi baik!
Karena kalau menghentikan perbuatan buruk itu menyembunyikan pamrih agar menjadi baik, maka yang menjadi baik juga masih keburukan itu sendiri yang berganti baju atau bersalin warna belaka.
Cinta kasih dan kebaikan selalu ada, karena cinta kasih dan kebaikan adalah suatu kewajaran yang tidak dibuat-buat, bukan hasil latihan, tanpa teori-teori muluk.
Akan tetapi, cinta kasih dan kebaikan tidak nampak sinarnya karena batin kita penuh dengan debu kotoran yang diciptakan pikiran yang membentuk si-aku yang selalu dipenuhi (Lanjut ke
Jilid 29) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 keinginan-keinginan.
Singkirkan semua debu kotoran itu, dan cinta kasih dan kebaikan akan memancarkan sinarnya dengan terang dan wajar.
Sejak kecil kita diajar untuk melakukan hal-hal baik sehingga dengan otomatis kita selalu berusaha untuk berbuat baik karena ada pahala di ujung perbuatan baik.
Pahala itu dijanjikan kepada kita oleh kebudayaan kita, melalui tradisi dan agama.
Pahala itu dapat dinamakan kehidupan tenteram, kebahagiaan, sorga, nirwana dan sebagainya lagi, juga nama baik atau keuntungan materi yang lebih jelas nampak.
Maka berlumba-lumbalah kita untuk melakukan perbuatan baik, yang pada hakekatnya hanya berlumba untuk mendapatkan pahala itulah!
Jadi, apa artinya melakukan perbuatan baik, atau menjadi orang baik, Kalau dibaliknya tersembunyi pamrih mengejar pahala?
Apa artinya kita menolong orang dan memberi sesuatu, kalau dalam perbuatan itu kita mengharapkan balas jasa dari orang yang kita tolong, atau kita mengharapkan pujian, nama baik dan sebagainya?
Kalau begini, jauh lebih benar kalau kita tidak melakukan perbuatan baik dari pada melakukan perbuatan baik yang semu, palsu dan berpamrih!
Lebih baik kalau kita mengamati diri sendiri dan melihat adanya kepalsuan-kepalsuan dalam kebaikan kita ini.
Karena hanya dengan pengamatan yang mendalam dan menyeluruh maka terjadi perobahan, terjadi penghentian segala yang palsu itu.
Dan kalau sudah tidak ada keinginan untuk memperoleh pahala, kalau sudah tidak ada keinginan menjadi orang baik, maka semua perbuatan kita adalah wajar!
Bukan baik buruk lagi, melainkan wajar.
Dan tentu saja kewajaran ini merupakan pencerminan dari pada kepribadian kita.
Kalau pribadi sudah bersih dari pada segala macam debu kekotoran berbentuk keinginan-keinginan demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri, maka yang tinggal hanya kewajaran di mana sinar cinta kasih dan kebaikan akan menerangi semua perbuatan itu.
Karena itu, bukankah jauh lebih baik kalau pelajaran berupa keinginan menjadi orang baik ini dirobah dalam kehidupan anak-anak kita, dirobah menjadi pengamatan terhadap kepalsuan-kepalsuan diri sendiri setiap saat?
Agar kebaikan dan cinta kasih menyinarkan cahayanya secara wajar dengan pembersihan diri dari dalam?
Ketika Siu Kwi mengajukan pertanyaan itu kepada Bi Lan, gadis ini lalu menjawab dengan wajah gembira.
"Memang hanya karena kebetulan saja kami bertemu denganmu, suci. Aku sedang melakukan perjalanan ke utara, ke gurun pasir untuk mencari suhu dan subo."
"Perdekar Naga Sakti Gurun Pasir ?"
Tanya!
Siu Kwi dan suaranya mengandung kekaguman.
Pernah ia sebagai Bi-kwi, bertemu dengan mereka dan merasakan sendiri kesaktian mereka yang menggiriskan.
"Benar, suci. Aku hendak mengembalikan pedang. Ban-tok-kiam milik subo ini. Dan Sim-toako ini berbaik hati untuk mengantarku ke sana. Di dalam perjalanan, ketika kami tiba di hutan itu, kami mende-ngar tangismu dan sungguh kebetulan sekali kita dapat saling bertemu di sana."
Siu Kwi menarik napas panjang.
"Memang, di dunia ini terjadi banyak sekali peristiwa secara kebetulan saja. Baru sekarang aku dapat menyadarinya betapa besar kekuasaan Thian yang seolah-olah sudah mengatur segala yang nampak dan tidak nampak dalam alam semesta ini. Pertemuan dengan jin-ko juga hal yang kebetulan saja."
Sim Houw mengangguk-angguk.
"Memang tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ciong-lihiap. Nampaknya saja kebetulan karena tadinya kita tidak tahu sama sekali, akan tetapi sesungguhnya sudah ada garisnya sendiri-sendiri. Baik buruknya garis itu sepenuhnya berada dalam tangan kita masing-masing, karena hal-hal yang nampaknya tidak ada huhungan sama sekali itu sesungguhnya masih merupakan suatu rangkaian yang tergantung dari keadaan kehidupan kita sendiri, yang ditentukan oleh kita sendiri dengan segala ulah kita."
Siu Kwi menghela napas panjang.
"Ah, betapa menariknya mempelajari soal kehidupan. Dulu, aku sama sekali tidak perduli akan sebab akibat, tidak perduli akan isi kehidupanku...."
"Sudahlah, suci, kita tadi berjanji akan meninggalkan masa lalu. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan dan ke mana kalian hendak pergi?"
Siu Kwi memandang kepada Yo Jin yang juga sedang menatap wajahnya di bawah sinar api unggun.
Wajah Siu Kwi nampak luar biasa cantik dan manisnya dalam pandangan mata Yo Jin.
Dua pasang mata itu bertemu dan biarpun mulut mereka diam saja, namun mereka seperti saling mengenal isi hati masing-masing dan sudah mengadakan persetujuan dengan pandang mata mereka.
"Aahh, kami.... akan memulai suatu kehidupan baru, sumoi. Aku akan meninggalkan seluruh kehidupan lama yang pernah kulalui dengan segala kekerasannya, melupakan segala-galanya dan belajar menjadi seorang isteri yang baik dan setia, dan kalau Thian menaruh kasihan kepada seorang seperti aku, aku ingin menjadi seorang ibu yang bijaksana bagi anak-anak kami. Kami akan pergi dan tinggal di sebuah dusun yang jauh dan baru, dan aku.... ah, maaf jin-ko, aku lupa belum minta persetujuan-mu dalam hal ini...."
Yo jin tersenyum dan memandang dengan sinar mata mengandung penuh kasih sayang dan pengertian.
"Aku setuju saja dengan rencanamu, Kwi-moi. Memang sebaiknya kita pergi jauh dari sini untuk melupakan hal-hal lalu dan agar jangan terjadi lagi hal-hal yang buruk."
Malam itu dilewatkan oleh empat orang muda ini dengan bercakap-cakap dan baik Bi Lan maupun Sim Houw diam-diam merasa heran, kagum dan juga girang sekali melihat betapa sikap Siu Kwi yang dulu terkenal dengan julukan Bi-kwi (Setan Cantik) berubah sama sekali!
Baik sinar matanya yang menjadi lembut penuh kasih sayang, terutama kalau ditujukan kepada Yo Jin, suaranya yang menjadi halus merdu bebas dari kebencian, gerak-geriknya, pendeknya orang akan pangling dan tidak mengenal-nya lagi sebagai Siu Kwi beberapa bulan yang lalu!
Sudah lajim di antara kita manusia, perbuatan sesat mendatangkan akibat yang buruk bagi kita sendiri, dan kalau sudah demikian, timbul penyesalan dan janji bertaubat di mulut atau di hati.
Bertaubat seperti ini seringkali tidak ada hasilnya sama sekali dan tak lama kemudian kita akan terjerumus lagi ke dalam kesesatan yang sama!
Kesesatan dilakukan orang karena orang ingin meneguk kesenangan dari perbuatan itu dan bertaubat karena penyesalan setelah timbul akibat buruk bagi diri sendiri bukanlah bertaubat yang sesungguhnya lagi.
Taubat macam ini tidak akan bertahan lama, dan setelah penyesalan sebagai akibat buruk itu menipis.
rasa bertaubatpun ikut pula menipis dan tak lama kemudian, daya tarik untuk meneguk kesenangan kembali mendorong kita untuk melakukan perbuatan yang sama.
Seperti orang minum arak.
Kalau kemudian mabok dan sakit-sakit seluruh badan, mulut dan hati menyatakan bertaubat tidak akan minum arak lagi.
Akan tetapi, setelah rasa sakit-sakit itu hilang, kita akan lupa karena membayangkan enak dan nikmatnya minum arak, dan kitapun minum lagi.
Demikian seterusnya seperti lingkaran setan yang tidak pernah putus.
Yang penting bukanlah bertaubat karena menyesal menerima akibat buruk, melainkan pengamatan terhadap diri sendiri setiap saat.
Pengamatan ini akan mendatangkan kesadaran dan kebijaksanaan, dan pengamatan ini akan merobah diri seketika, saat demi saat, sehingga tidak terjadi pengulangan-pengulangan.
Kebaikan bukanlah suatu yang menjadi kebiasaan, melainkan harus dihayati detik demi detik dengan pengamatan terhadap diri sendiri.
Yang penting itu membersihkan diri dari kotoran, bukan keinginan untuk bersih.
Keinginan untuk bersih saja tidak membuat kotoran menjadi lenyap.
Dan kalau kotoran sudah lenyap, untuk apa ingin menjadi bersih?
Sesal dan taubatpun tidak ada kalau segala perbuatan kita didasari cinta kasih, bukan lagi menjadi pelaksanaan dari pada keinginan untuk mengejar dan memperoleh kesenangan, karena perbuatan didasari cinta kasih ini tanpa pamrih sehingga apapun yang menjadi akibat dari perbuatan ini tidak akan menimbulkan penyesalan apapun.
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, Bi Lan dan Sim Houw berpamit untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Siu Kwi menggandeng tangan Bi Lan dan diajaknya sumoinya itu agak menjauh dari Sim Houw dan Yo Jin karena ia ingin bicara empat mata dengan sumoinya itu.
Setelah berada cukup jauh sehingga percakapan mereka tidak akan terdengar orang lain, Siu Kwi lalu merangkul adik seperguruannya.
"Sumoi, aku mengucapkan selamat kepadamu!"
"Eh, untuk apa, suci?"
"Engkau telah memperoleh seorang pacar yang pilihan! Aku ikut merasa girang, adikku. Sim-taihiap adalah seorang pria pilihan yang amat mengagumkan hatiku. Engkau tentu beruntung sekali!"
Wajah Bi Lan berubah merah.
Heran ia mengapa sucinya dapat menduga dengan tepat bahwa ia memang diam-diam jatuh cinta sampai ke ujung rambutnya kepada Sim Houw!
Akan tetapi, mengingat sikap Sim Houw yang tidak pernah menyatakan cintanya.
ia menjadi sedih dan menarik napas panjang.
"Aihh, aku tidak seberuntung engkau, suci."
"Eh? Salahkah rabaanku bahwa engkau mencinta Sim-taihiap?"
Siu Kwi tertawa dan merangkul sumoinya.
"Anak bodoh! Tanpa pengakuan mulutpun, apakah engkau tidak dapat mengerti dan melihatnya? Aku sudah melihat dengan jelas sekali betapa Sim-taihiap amat mencintamu!"
"Ehhh....?"
Bi Lan terbelalak memandang wajah sucinya penuh selidik.
"Percayalah, sumoi. Dia amat mencintamu, dan mungkin dia terlalu rendah hati untuk membuat pengakuan. Akan tetapi aku yakin bahwa dia cinta padamu, jelas nampak dalam pandang matanya kepadamu, suaranya, dan sikapnya. Hanya wanita yang buta saja yang tidak akan dapat melihat cintanya kepadamu, sumoi!"
Wajah Bi Lan menjadi semakin merah akan tetapi kini wajah itu berseri dan mulutnya tersenyum manis sekali.
Ia percaya akan keterangan sucinya, karena ia tahu benar bahwa encinya adalah orang yang sudah memiliki pengalaman luas dalam menilai pria.
"Terima kasih suci!"
Bi Lan merangkul dan Bi Lan mengangguk dan mencium pipi sucinya. Kini wajahnya yang manis nampak berseri penuh kebahagiaan.
"Keteranganmu itu sungguh amat berharga, mendatangkan cahaya yang menerangi seluruh hati dan perasaanku. Terima kasih!"
Ketika mereka berangkulan ini, terasa oleh masing-masing betapa keduanya saling mengasihi dan menyayang seperti kakak beradik sendiri saja.
Dan Siu Kwi tidak dapat menahan air mata yang membasahi kedua matanya ketika melihat Bi Lan pergi bersama Sim Houw.
Akan tetapi, ketika ia merasa ada tangan menyentuh pundaknya dengan lembut, iapun membalik dan merangkul Yo Jin, menyembunyikan mukanya di dada pria yang dicintanya itu.
Cinta asmara memang hebat, kuasanya terhadap perasaan manusia amat besarnya sehingga cinta asmara mampu mendatangkan sorga ataupun neraka di dalam kehidupan seseorang.
Mereka menemukan sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi di lereng bukit itu.
Sudah hampir dua pekan mereka berpisah dari Siu Kwi dani Yo Jin dan kini mereka sudah tiba di deretan bukit-bukit yang tak terhitung banyaknya dan yang nampaknya tak pernah habis itu, Gunung-gunung besar kecil yang bertaburan di sepanjang perbatasan sebelah utara.
Tembok Besar nampak bagaikan seekor naga yang berlika-liku dan naik turun bukit-bukit dan gunung-gunung, amat indah dan megahnya.
Mereka belum melewati Tembok Besar yang sudah nampak jauh di utara dari tempat mereka berhenti untuk melewatkan malam.
Setelah makan malam dan membersihkan diri di sumber air di belakang kuil tua, makan yang cukup lezat walaupun yang mereka makan hanyalah bekal roti dan daging kering bersama air jernih karena perut lapar dan tubuh lelah, Bi Lan dan Sim Houw duduk di ruangan belakang kuil tua itu.
Ruangan itu merupakan bagian yang masih paling baik di antara bagian lain yang sudah rusak dan banyak yang sudah runtuh.
Mereka sore tadi sudah membersihkan tempat itu sehingga enak untuk dipakai beristirahat.
Sim Houw sudah mengumpulkan kayu bakar yang diambilnya dari dalam hutan, ditumpuk di situ untuk dipakai malam nanti, pengusir nyamuk dan hawa dingin.
Setelah menumpuk beberapa potong kayu bakar, Bi Lan lalu membuat api dan sebentar saja ruangan itu yang tadinya sudah mulai gelap menjadi terang kemerahan dan hawanya yang tadinya dingin menjadi hangat.
Hal ini mendatangkan perasaan gembira di hati Bi Lan.
Ia memandang wajah Sim Houw yang juga duduk di dekat api unggun, di depannya.
Memandang sampai lama jarang berkedip, mulutnya tersenyum seperti orang mengejek.
Tadinya Sim Houw tidak menyangka sesuatu karena selama melakukan perjalanan bersama dara ini, Hubungan mereka akrab dan setiap hari entah berapa puluh kali dia melihat dara yang memang lincah jenaka ini tersenyum.
Dan memang wajah itu paling manis kalau tersenyum, muncul lesung pipit di kanan kiri mulutnya.
Akan tetapi ketika melihat bahwa dara itu menatap sejak tadi hampir tak pernah berkedip, diapun merasa canggung dan kikuk sekali, menjadi salah tingkah.
Ingin mengalihkan pandang mata, merasa sayang karena pada saat itu wajah Bi Lan nampak cantik jelita dan manis seperti wajah seorang bidadari dalam dongeng, akan tetapi kalau dipandang terus dia merasa malu dan khawatir kalau dianggap kurang sopan.
Dicobanya mengalihkan perhatian dengan menambah kayu bakar pada api unggun, akan tetapi karena matanya tidak mau diajak pindah, dia tidak melihat bahwa tangannya terjilat api.
"Uhhh....!"
Dia menarik tangannya. Untung dia bertindak cepat dan dua jari tangannya hanya terjilat dan terasa panas saja, belum sampai melepuh.
"Eh, kau kenapa, Sim-koko? Tanganmu terbakar?' tanya Bi Lan kaget dan cepat ia menangkap lengan kiri pemuda itu untuk diperiksa. Ah, hanya terjilat sedikit, tidak terluka...."
Bi Lan merasa lega melihat bahwa tangan itu tidak melepuh, hanya hangus sedikit.
"Sakitkah, koko?"
Melihat kesungguhan sikap Bi Lan yang amat memperhatikan dan meng-khawatirkan tangannya itu, diam-diam Sim Houw merasa gembira sekali.
Akan tetapi dia meng-geleng kepalanya dan dengan lembut menarik kembali tangannya karena merasa malu diperlakukan seperti anak kecil oleh Bi Lan.
"Tidak, Lan-moi, hanya panas sedikit saja. Salahku sendiri kurang hati-hati."
Hening sampai agak lama.
Sim Houw kini menunduk dan dia masih merasa bahwa gadis itu terus memandangnya, seolah-olah terasa olehnya sinar mata yang hangat itu menatapnya.
"Sim-koko, ada satu hal yang sudah lama menjadi pertanyaan bagiku dan ingin sekali aku mendengar jawabannya secara terus terang darimu."
Sim Houw mengangkat mukanya memandang dengan penuh keheranan, dan sinar matanya menyelidiki wajah dara itu seperti hendak menjenguk isi hatinya.
"Pertanyaan apakah itu, Lan-moi?"
"Sim-ko, perjalanan menuju ke Istana Gurun Pasir merupakan perjalanan yang amat jauh, sukar dan berbahaya, bukankah begitu?"
Sim Houw mengangguk-angguk.
"Benar sekali, Lan-moi, dan juga amat jauhnya."
"Nah, inilah yang membuat aku terheran-heran dan tiada habis kupikirkan. Kenapa engkau bersusah payah mengantar aku ke sana, Sim-ko? Perjalanan ini mengandung resiko, berbahaya dan sukar, kenapa engkau yang bukan apa-apa denganku, berani mengambil resiko dan mengantarkan aku? Kenapa, Sim-ko?"
Mendengar pertanyaan ini dan melihat betapa sinar mata dara itu memandang kepadanya dengan amat tajam penuh selidik, wajah Sim Houw berubah merah.
Untung sinar api unggun itu juga berwarna merah sehingga menyembunyikan kemerahan mukanya, dan diapun menundukkan muka memandangi api unggun, seolah-olah hendak mencari jawabannya dari nyala api itu.
"Bagaimana, Sim-ko? Jawablah dengan terus terang."
Kata Bi Lan dan gadis ini yang sudah tahu dari Siu Kwi bahwa pemuda ini sebenarnya cinta kepadanya, memandang dengan hati tegang akan tetapi juga dengan senyum simpul melihat sikap Sim Houw yang seperti orang kebingungan dan canggung.
Akhirnya Sim Houw menarik napas panjang.
"Kenapa hal itu saja kau tanyakan, Lan-moi? Bukankah sudah jelas bahwa kita adalah sahabat baik? Kita sudah banyak mengalami hal-hal yang berbahaya bersama, bahkan sudah bersama-sama terancam bahaya maut. Karena engkau seorang gadis, tentu saja aku tidak ingin membiarkan engkau seorang diri saja mencari Istana Gurun Pasir yang demikian jauhnya, melakukan perjalanan yang demikian berbahayanya seorang diri saja. Karena itulah aku mengantarmu, Lan-moi."
"Akan tetapi,.... perjalanan ini selain sukar juga mempertaruhkan nyawa! Engkau tentu mempunyai banyak sahabat, apakah terhadap semua sahabatmu engkau akan melakukan hal yang sama? Akupun mempunyai banyak sahabat, akan tetapi kiranya selain engkau tidak akan ada yang mau melakukan perjalanan berbahaya ini untuk mengantar aku. Alasan bersahabat itu kurang meyakinkan hatiku, Sim-ko!"
"Akan tetapi kita bukan sahabat biasa, Lan-moi, melainkan sahabat yang sangat baik! Melebihi saudara sendiri. Pendeknya, aku tidak ingin melihat engkau terancam bahaya dan aku.... aku siap mengorbankan nyawa untuk melindungimu...."
Bukan main girang dan terharu rasa hati Bi Lan.
Jelas sudah jawaban itu membuktikan kebenaran keterangan Siu Kwi.
Perdekar ini cinta padanya.
Akan tetapi ia belum puas.
Kenapa tidak secara langsung saja Sim Houw menyatakan cinta padanya?
Bagaimanapun juga, tidak baik kalau ia terlalu mendesak, dan iapun tersenyum manis, dengan penuh keyakinan bahwa senyumnya menciptakan lesung pipit yang tidak pernah gagal mendatangkan sinar kagum dalam sepasang mata pendekar itu.
Ia tidak menyadari bahwa malam ini, ditimpa sinar api unggun, senyumnya amat istimewa, membuat Sim Houw terpesona dan pendekar ini terpaksa menundukkan pandang matanya untuk menenang-kan hatinya yang terguncang oleh kekaguman.
"Kalau begitu, terima kasih atas kebaikan hatimu. Sim-ko."
Hening lagi sejenak.
Sim Houw termenung memandang nyala api unggun.
Bi Lan yang termenung, kadang-kadang mengangkat muka memandang wajah orang muda itu.
Bukan seorang pemuda remaja lagi.
Akan tetapi juga bukan seorang kakek tua, melainkan wajah seorang laki-laki.
Seorang jantan yang sudah matang, denqan wajah memperlihatkan garis-garis pengalaman dan kepahitan hidup.
"Sim-ko...."
"Hemmm....?"
Sim Houw sadar dari lamunan dan menatap wajah Bi Lan.
Sesaat pandang mata mereka bertemu, bertaut dan kini Bi Lan yang menundukkan pandang matanya, merenung ke arah nyala api.
"Sim-ko,"
Katanya lirih, tetap merenung ke arah api unggun seolah-olah ia bicara kepada api.
"Engkau pernah mencinta seorang wanita namun gagal karena ia mencinta pria lain. Sakitkah hatimu, Sim-ko?"
Sim Houw menatap wajah itu penuh selidik namun tetap saja dia tidak tahu ke mana arah angin pertanyaan dara itu.
Dia mengerutkan alisnya dan menjawab dengan tegas.
"Sakit hati? Ah, tidak sama sekali, Lan-moi. Kenapa aku harus sakit hati? Ia mencinta pria lain yang lebih baik dari pada aku dan ia hidup berbahagia. Tidak ada alasan bagiku untuk sakit hati."
"Maksudku bukan sakit hati dan menaruh dendam, Sim-ko. Akan tetapi, apakah engkau tidak patah hati, tidak putus asa dan menderita sakit dalam dirimu?"
Sim Houw tersenyum dan memandang gadis itu yang kini juga menatapnya. Heran dia mendengar pertanyaan itu dan diapun menggeleng kepala dengan pasti.
"Tidak, Lan-moi. Patah hati dan putus asa hanya dilakukan oleh orang yang lemah. Apapun yang terjadi di dalam hidup, suka maupun duka hanyalah bagaimana kita menilainya saja. Duka hanyalah gambaran iba hati yang berlebihan. Segala macam peristiwa hidup harus kita hadapi dengan tabah dan ikhlas, tanpa keluhan."
"Tapi.... tapi.... apakah kegagalan cinta itu tidak membuat engkau jera, Sim-ko?"
"Jera bagaimana maksudmu?"
"Jera dan tidak berani untuk jatuh cinta kembali."
"Cinta tidak pernah gagal, Lan-moi. Perjodohan bisa saja putus dan gagal. Akan tetapi cinta? Kurasa cinta itu abadi, Lan-moi."
Bi Lan memandang bingung, tidak mengerti.
"Akan tetapi.... apakah semenjak engkau gagal.... eh, maksudku semenjak hubungan cintamu dengan Kam Bi Eng yang kini menjadi isteri Suma Ceng Liong itu engkau pernah jatuh cinta lagi dengan seorang gadis lain?"
Sim Houw tersenyum, sampai lama tidak dapat menjawab.
Memang harus diakuinya bahwa sejak berpisah dari Kam Bi Eng yang memilih Suma Ceng Liong sebagai jodohnya, dia tidak pernah lagi jatuh cinta, sampai sekarang, karena dia tahu benar bahwa dia jatuh cinta kepada Bi Lan!
Akan tetapi untuk mengakui cintanya, dia merasa sungkan dan segan, khawatir kalau-kalau hal itu akan menyinggung perasaan Bi Lan dan juga dia merasa ngeri kalau-kalau hal itu akan memisahkan dia dengan gadis ini.
"Aku sudah tua sekarang, Lan-moi siapakah yang mau menaruh hati kepadaku?"
Jawabnya menyimpang. Tiba-tiba Bi Lan tertawa, menutupi mulutnya.
"Hi-hi-hik,"
Ia seperti mengajak bicara kepada nyala api unggun karena ia memandang kepada api itu "coba dengarkan keluhan kakek tua renta ini, menyesali kehidupannya yang tua renta dan sepi.
Kasihan sekali dia....!"
"Lan-moi, sudahlah jangan goda aku. Kita bicara urusan lain saja...."
"Aku justeru ingin bicara tentang cintamu, Sim-ko."
Sim Houw menarik napas panjang dan dia sungguh tidak mengerti akan sikap dan watak gadis ini yang kini begitu tiba-tiba bicara tentang hal yang bukan-bukan!
"Sesukamulah, Lan-moi."
"Kau marah....?"
Sim Houw tersenyum dan memandang dengan wajah berseri.
Bagaimana mungkin dia dapat marah kepada dara ini, dara yang dicintanya?
Pertanyaan yang aneh-aneh itu merupakan satu di antara keistimewaan Bi Lan, yang demikian lincah dan penuh gairah hidup.
"Tidak, Lan-moi. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah marah kepadamu."
"Kenapa?"
Tiba-tiba dara itu mendesak.
"Karena.... karena engkau tidak pernah bersalah, engkau wajar dan lincah gembira...."
Kembali Bi Lan mengerutkan alisnya. Sukar benar pria ini mengakui cintanya, pikirnya penasaran.
"Jadi selama ini, sejak engkau berpisah dan gagal dalam hubunganmu yang pertama dengan wanita yang kau cinta, engkau tidak pernah jatuh cinta lagi, Sim-ko?"
Sim Houw tidak menjawab, hanya menggeleng kepala, dan tiba-tiba dia memegang tangan Bi Lan, menariknya dengan sentakan keras sehingga dara itu terlempar ke arahnya dan melalui atas api unggun.
Tentu saja Bi Lan terkejut bukan main, akan tetapi Sim Houw segera memberi isyarat dengan tangannya.
Kiranya seekor ular sebesar kelingking, akan tetapi panjangnya lebih dari dua kaki, telah berada di atas lantai di mana Bi Lan duduk.
Ular itu adalah seekor ular berbisa yang amat berbahaya.
Dengan sekali menggerakkan tangannya, jari tangan Sim Houw mengetuk ke arah kepala ular yang diangkat tegak.
Ular tu terlempar ke dalam api unggun dan berkelojotan.
"Mari....!"
Kata Sim Houw sambil menyambar tangan Bi Lan dan juga buntalan mereka dan mengajak gadis itu meloncat ke luar kuil dengan gerakan cepat.
Kembali Bi Lan terkejut, akan tetapi hilanglah rasa kagetnya ketika mereka tiba di luar dan ia melihat bahwa di luar kuil telah berdiri belasan oranq!
Tahulah kini Bi Lan bahwa munculnya ular berbisa tadipun tidak wajar, melainkan dimunculkan dengan sengaja oleh seorang di antara belasan orang ini untuk menyerangnya.
Dan melihat bahwa di antara mereka terdapat orang-orang berpakaian seperti pendeta, iapun dapat menduga bahwa tentu mereka ini orang-orang Pek-lian-kauw atau Pat-kwa-kauw.
Dugaannya memang tidak keliru.
Di bawah penerangan empat buah obor besar yang dipegang oleh empat orang di antara mereka, ia dapat melihat gambar teratai putih dan segi delapan di dada baju para pendeta itu.
Jelaslah bahwa kedatangan mereka ini tentu ada hubungannya dengan dua orang pendeta, yaitu Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin yang telah ia kalahkan bersama Sim Houw.
"Kalian ini tentulah siluman-siluman dari Pat-kwa kauw dan Pek-lian-kauw!"
Bi Lan membentak marah.
"Siapakah di antara kalian yang tadi melepas ular berbisa?"
Seorang di antara tiga belas orang itu adalah seorang kakek bongkok yang mukanya buruk sekali, seperti monyet karena kecilnya muka itu, hidungnya pesek dan matanya juga amat kecil.
Tubuhnya yang kecil pendek dan bongkok itu dibungkus jubah dan melihat gambar bunga teratai di dadanya, jelas dapat diketahui bahwa dia adalah seorang pendeta Pek-lian-kauw.
Mendengar pertanyaan Bi Lan, kakek bongkok ini terkekeh dan suara ketawanya juga lucu dan tida lumrah seperti tubuhnya karena yang terdengar hanya suara "kek-kek-kek-kek!"
Seperti leher dicekik dan tubuhnya terguncang-guncang semua.
"Heh-heh-heh!"
Suara tercekik-cekik itu disusul kekeh mengejek dan diapun menggurat-gurat tanah di depan kakinya dengan ujung tongkatnya.
Tongkat itu berwarna hijau dan bentuknya seperti ular, dan memang tongkat itu sebetulnya adalah seekor ular besar yang panjangnya tidak kurang dari lima kaki, warnanya hijau dan anehnya, kadang-kadang ular itu dapat menjadi kaku seperti ketika ekornya digutat-guratkan pada tanah tadi.
"Akulah yang mengirim ular tadi untuk berkenalan denganmu, nona."
"Kakek iblis jahanam!"
Bentak Bi Lan dan iapun sudah menerjang ke depan, mengirim pukulan dengan tamparan tangan kanannya ke arah kepala kakek bongkok itu.
Ia marah sekali karena dengan mengirim ular berbisa tadi, berarti kakek ini ingin membunuhnya secara keji sekali.
Maka, kini ia pun langsung saja menyerang dengan tamparan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya dan karena ia teringat bahwa kakek ini adalah seorang ahli ular berbisa, maka iapun menggunakan ilmu yang sama kejamnya, yaitu Ilmu Pukulan Ban-tok Ciang-hoat (Ilmu Silat Selaksa Racun)!
Pukulan dengan ilmu ini memang amat dahsyat.
Ilmu ini dipelajari oleh Bi Lan dari nenek Wan Ceng, isteri dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka selain amat kuat, juga mengandung hawa beracun yang berbahaya sekali.
Kakek bongkok itu berjuluk Coa-ong Seng-jin, berusia enam puluh lima tahun dan dia masih terhitung sute dari Thian Kek Seng-jin.
Biarpun dalam hal ilmu silat dan ilmu sihir, tingkatnya tidak melebihi tingkat Thian Kek Seng-jin, namun kakek ini memiliki suatu kelebihan.
Sesuai dengan julukannya, yaitu Coa-ong (Raja Ular), dia adalah seorang pawang ular yang pandai.
Maka, ketika belasan orang ini, atas pemberitahuan Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin yang terluka parah oleh Sim Houw dan Bi Lan, mengejar dan mendapatkan dua orang itu, Coa-ong Seng-jin segera mengirim seekor ular berbisa yang nyaris menggigit Bi Lan.
Pada hal, andaikata Sim Houw tidak menariknya sehingga gadis itu terhindar dari gigitan ular, Bagi Bi Lan tidaklah terlalu berbahaya jika ia sampai digigit ular berbisa.
Ia telah mewarisi ilmu Ban-tok Ciang-hoat, dan ia telah menerima pelajaran tentang racun-racun dari nenek Wan Ceng sehingga gigitan beracun tentu tidak akan mencelakainya.
Melihat betapa gadis itu dapat lolos dari "kiriman"
Ular, Coa-ong Seng-jin maklum bahwa gadis itu dan temannya yang berjuluk Pendekar Suling Naga merupakan dua orang lawan yang tangguh.
Apalagi melihat keadaan Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin yang terluka parah.
Maka, kini melihat gadis itu menyerangnya dengan tamparan yang cepat dan kuat, Coa-ong Seng-jin juga mengerahkan tenaganya, tangan kirinya menyambut tamparan itu sedangkan tangan kanannya yang memegang tongkat ular hidup itu menggerakkan ularnya yang menyambar ke depan, ke arah leher Bi Lan!
"Dukkk!"
Dua tangan itu bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Coa-ong Seng-jin tergetar hebat.
Dia terkejut sekali, akan tetapi melanjutkan serangannya dengan ular di tangan kanan.
Melihat ular yang menyambar ke arah lehernya, Bi Lan sama sekali tidak merasa gentar.
Ia menggerakkan tangan kirinya untuk menangkap leher atau kepala ular, untuk dicengkeram hancur.
Untungnya kalau memiliki tongkat hidup, ular itu agaknya memiliki indra yang tajam dan dapat mengelak dengan menarik lehernya ke belakang, melengkung dan mulutnya mendesis-desis mengeluarkan uap beracun.
Biarpun ia tidak takut terhadap uap beracun itu, Bi Lan maklum bahwa setidaknya, kalau kulit terkena semburan uap itu, tentu akan gatal-gatal, maka iapun meloncat ke belakang.
Coa-ong Seng-jin tidak berani memandang rendah setelah tadi pertemuan tangan dengan gadis muda itu membuat tubuhnya tergetar dan terhuyung.
Tahulah dia bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat!
Sementara itu, Sim Houw tidak menghendaki Bi Lan untuk tergesa-gesa menyerang musuh yang banyak jumlahnya dan dia dapat melihat bahwa lima orang berpakaian pendeta yang berdiri di depannya itu bukanlah orang-orang lemah.
Dengan sikap tenang dia lalu melangkah maju.
"Cu-wi totiang (para bapak pendeta), ada keperluan apakah cuwi malam-malam datang mengganggu kami yang sedang beristirahat melewatkan malam di kuil tua ini?"
"Siancai!"
Seorang tosu yang kelihatannya sudah amat tua renta karena rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua, Usianya tentu lebih dari tujuh puluh tahun, memegang sebatang tongkat yang panjang, sama dengan tinggi tubuhnya, mengelus jenggotnya yang putih panjang ketika dia mengeluarkan seruan itu dan dialah yang melangkah maju menghadapi Sim Houw.
Sejenak mereka berdiri saling pandang dan Sim Houw juga mengamati kakek atu penuh perhatian.
Seorang kakek yang tua dan nampaknya lemah, namun melihat sikapnya yang berwibawa, pandang matanya yang mencorong, diapun dapat menduga bahwa tentu kakek yang pada dadanya ada gambar Pat-kwa ini adalah seorang dari Pat-kwa-kauw yang bertingkat tinggi.
Dugaannya juga tepat karena kakek ini merupakan orang ke dua di perkumpulan Pat-kwa-kauw, menjadi wakil ketua.
Nama julukannya adalah Thian Kong Cin-jin dan sebagai orang ke dua Pat-kwa-kauw, tentu dia memiliki ilmu kepan-daian yang tinggi.
"Orang muda, apakah engkau yang berjuluk Pendekar Suling Naga, yang dengan semena-mena telah melukai seorang tokoh kami dari Pat-kwa-kauw, dan juga seorang tokoh sahabat kami dari Pek-lian-kauw?"
Agaknya kakek ini memandang rendah kepada Bi Lan, maka dia sama sekali tidak memperdulikan gadis itu, walaupun tadi dia melihat sendiri betapa gadis itu mampu menandingi serangan balasan dari Coaong Seng-jin.
"Sim-ko, jelas bahwa mereka ini adalah siluman-siluman yang hendak membalaskan kekalahan Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin, dua orang tosu siluman itu!"
Bi Lan berseru.
"Benar, totiang,"
Jawab Sim Houw.
"Saya bernama Sim Houw dan nona ini adalah Can Bi Lan."
Kakek yang sikapnya halus berwibawa itu mengangguk-angguk.
"Benarkah kalian telah melindungi seorang siluman betina dan melukai dua orang rekan kami?"
Sim Houw mengerutkan alisnya.
"Kami berdua membela yang lemah dan benar. Saudara Yo Jin dengan sewenang-wenang ditangkap, ayahnya dibunuh, karena itu kami membantu tunangannya untuk membebaskannya. Kedua orang totiang Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin bahkan hendak menangkap kami, maka terjadilah perkelahian dan akibatnya mereka berdua terluka. Harap cu-wi totiang memaafkan karena kami sesungguhnya sama sekali tidak mencari permusuhan dengan pihak manapun juga."
"Hemm, enak saja, heh-heh!"
Kata Coa-ong Seng-jin.
"Sudah melukai orang sampai menderita luka parah, minta maaf. Kalian tentu orang-orang yang belum lama ini membasmi para pembantu Hou-taijin. Hayo katakan, siapa di antara kalian yang membunuh Kim Hwa Nio-nio!"
Ditanya demikian oleh si kakek bongkok, Sim Houw mengerutkan alisnya.
Dia tidak merasa heran kalau para tosu Pek-lian-kauw mengenal Kim Hwa Nio-nio, mungkin kenalan baik karena mereka sealiran.
"Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya membantu pembesar durna, maka aku membantu para pendekar untuk membersihkan kota raja dari pengaruh mereka. Dalam pertempuran itu, Kim Hwa Nio-nio memang terbunuh olehku,"
Jawabnya tenang.
Mendengar ini, lima orang tosu itu, dua dari Pat kwa-kauw dan tiga dari Pek-lian-kauw, menjadi marah.
Bahkan Thian Kong Cin-jin yang memimpin rombongan itu nampak marah dan kelembutannya tertutup oleh kemarahan yang membuat mukanya merah dan matanya terbelalak.
Patut diketahui bahwa Kim Hwa Nio-nio di waktu mudanya amat populer di antara para tosu Pek-lian-kauw dan menjadi sahabat baik mereka.
"Hemm, kiranya yang bernama Suling Naga adalah seorang muda yang sombong dan mudah menjatuhkan tangan maut kepada golongan kami. Sim Houw, Pendekar Suling Naga, sekarang kami datang untuk minta nyawamu guna menebus semua rekan kami yang telah terbunuh atau terluka olehmu!"
"Tidak kelirulah jalan pikiran totiang?"
Sim Houw berkata dengan sikap masih tenang sekali.
"Semua yang kulakukan itu bukan berdasarkan permusuhan atau kebencian pribadi, melainkan karena aku membela yang benar dan secara tidak kebetulan sekali yang totiang bela itu berdiri di pihak yang sesat. Kalau sekarang totiang hendak membela yang salah, bukankah berarti bahwa totiang juga akan mengambil jalan sesat, tidak sesuai dengan kedudukan totiang sebagai seorang pendeta?"
"Siancai....! Engkau sungguh terlalu sombong, orang muda. Pinto memiliki pandangan dan kebenaran pinto sendiri. Nah, rasakan pembalasan kami!"
Berkata demikian, kakek itu menggerakkan tongkatnya yang panjang dan angin besar menyambar ke arah Sim Houw.
Pemuda itu terkejut dan cepat melompat ke belakang.
Tongkat tidak mengenai dirinya, akan tetapi anginnya membuat pakaian dan rambutnya berkibar-kibar.
Dia maklum akan kelihaian lawan, maka tanpa ragu-ragu lagi diapun cepat menghunus pedang Liong-siauw-kiam yang diputarnya menjadi segulu-ngan sinar yang mengeluarkan bunyi mengaung-ngaung.
Melihat ini, Bi Lan tidak tinggal diam.
Dicabutnya pedang Ban-tok-kiam dan iapun menerjang maju, yang diterjangnya adalah kakek bongkok yang merasa ngeri sekali melihat pedang di tangan gadis itu.
"Pedang iblis.... pedang iblis....!"
Katanya berkali-kali sambil berloncatan ke sana-sini dan memainkan ular hijau di tangannya untuk mencari peluang memulai serangan.
Tiga orang tosu lain sudah mempergunakan senjata mereka masing-masing, yaitu tongkat dan tasbeh untuk mengepung Bi Lan dan Sim Houw.
Seorang membantu Coa-ong Seng-jin dan dua orang membantu Thian Kong Cin-jin.
Tingkat kepandaian lima orang itu rata-rata seperti tingkat kepandaian Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin, hanya tingkat Thian Kong Cin-jin yang paling tinggi.
Kakek tua renta ini memang lihai bukan main dan dia merupakan seorang ahli tenaga sin-kang yang kuat.
Kekuatannya itu ditambah dengan kekuatan ilmu hitam sehingga kadang-kadang tongkatnya seperti hidup dan dapat bergerak sendiri!
Menghadapi kakek ini saja Sim Houw harus berhati-hati sekali, apa lagi kakek itu dibantu oleh dua orang tosu lain yang juga lihai, maka Sim Houw harus mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Untung bahwa di tangannya terdapat suling Liong-siauw-kiam.
Kehebatan permainan pedang suling yang mengeluarkan suara seperti orang memainkan lagu dengan suling, membuat tiga orang lawannya gentar dan sukar menembus pertahanan Sim Houw.
Di lain pihak, Bi Lan juga mengamuk dengan pedangnya.
Sebetulnya, tingkat kepandaian dua orang pengeroyoknya itu masing-masing sudah lebih tinggi sedikit dari pada tingkatnya, akan tetapi berkat keampuhan Ban-tok-kiam, dua orang lawannya juga gentar dan berhati-hati sekali menghadapi sambaran sinar pedang yang luar biasa ampuh dan menggiriskan itu.
Thian Kong Cin-jin diam-diam merasa kagum akan tetapi juga penasaran sekali.
Di situ masih terdapat beberapa orang murid kepala yang merupakan murid-murid terpandai, akan tetapi makin banyak yang mengeroyok akan membuat gerakannya dan kawan-kawannya menjadi kacau dan tidak teratur.
Dia pun teringat akan rencana siasatnya sebelum mereka menyerbu.
Melihat kegagahan dua orang muda itu diapun lalu mengeluarkan suara melengking, yaitu aba-aba rahasia yang hanya dimengerti oleh kawan-kawannya, sesuai dengan siasat yang telah mereka rencanakan.
Mendengar aba-aba ini, lima orang tosu itu segera berlompatan mundur dan pada saat itu, tiga buah obor besar tadi tiba-tiba saja dipadamkan!
Keadaan menjadi gelap gulita dan diam-diam lima orang tosu yang sudah merencanakan siasat ini, telah membentuk kepungan segi lima!
Mereka dapat bergerak di dalam gelap karena memang sudah mereka rencanakan lebih dulu.
Sim Houw dan Bi Lan terkejut bukan main ketika dari keadaan yang terang kini berubah menjadi gelap dan di dalam kegelapan itu, tiba-tiba saja ada sambaran-sambaran senjata dari lima penjuru!
Mereka terpaksa memutar pedang dan menangkis hanya mengandalkan pendengaran mereka saja.
Akan tetapi karena sambaran senjata-senjata itu datang dengan gencar, dari arah-arah yang tidak terduga sama sekali, Maka paha kiri Bi Lan terkena pukulan tongkat, sedangkan punggung Sim Houw juga terkena pukulan tongkat yapg cukup keras.
Mereka tidak terluka parah namun pukulan-pukulan itu cukup mendatangkan rasa ryeri.
Sim Houw maklum bahwa kalau dilanjutkan, dia dan Bi Lan mungkin terluka berat karena dia tahu bahwa lima orang pengeroyok itu sudah mengatur siasat untuk bergerak di dalam gelap, gerakan yang sudah diatur semacam barisan.
Belum lagi kalau delapan orang yang lain ikut maju mengeroyok!
Diapun mendapatkan akal, dan dengan mengandalkan pendengarannya, dia cepat mendekati dan mengadu punggung dengan Bi Lan, sambil keduanya memutar pedang di depan mereka.
Dengan rabaan dan sentuhan lengan kiri, Sim Houw memberi isyarat dan memegang tangan kiri dara itu sambil berteriak.
"Lan-moi, kita bobol kepungan di kiri!"
Sambil berkata demikian, dia menarik gadis itu ke kanan dan bersama gadis itu memutar pedang di arah kanan.
Ketika dia berteriak, lima orang itu tentu saja memusatkan pertahanan di kiri untuk mencegah mereka melarikan diri.
Siapa kira, dua orang yang mereka kepung itu malah menyerbu ke kanan, di mana Coa-ong Seng-jin berada.
Kakek bongkok ini berusaha nmemutar tongkat ular hijaunya, akan tetapi ular itu terpotong menjadi lima potong disambar Ban-tok-kiam dan Liong-siauw-kiam dan ia sendiri cepat melompat mundur kalau tidak ingin terbabat oleh sinar pedang yang berkilauan itu.
Sim Houw terus menarik tangan Bi Lan dan keduanya melarikan diri secepanya setelah berhasil terlepas dari kepungan.
"Kejar mereka!"
Thian Kong Cin-jin membentak marah.
"Nyalakan obor!"
"Mereka lari ke arah hutan!"
Obor-obor lalu dinyalakan dan tiga belas orang itu melakukan pengejaran.
Namun bayangan dua orang buruan itu telah lenyap.
Thian Kong Cin-jin tidak kehilangan akal.
Dia lalu memecah-mecah rombongannya menjadi tiga.
Dia sendiri pergi bersama dua orang, Coa-ong Seng-jin bersama empat orang, dan lima orang sisanya menjadi satu bagian.
Tiga rombongan ini lalu melakukan pengejaran dan pencarian dengan berpencar, memasuki hutan sambil membawa obor.
Melakukan pengejaran sambil membawa obor merupakan suatu kebodohan.
Sim Houw dan Bi Lan yang melarikan diri ke dalam hutan, tentu saja dapat melihat obor mereka dan dua orang ini dapat mengarahkan pelarian mereka menjauhi obor.
Bi Lan agak terpincang dan Sim Houw juga merasa nyeri pada punggungnya.
Setelah mereka keluar dari dalam hutan, mereka melalui sebuah bukit dan menjelang pagi, keduanya mengaso.
Para pengejar tidak nampak lagi.
Mereka berhenti di bukit yang berbatu-batu, bersembunyi di antara batu-batu besar untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga sambil mengobati bagian yang memar karena pukulan tongkat.
"Sim-ko, kita belum kalah mengapa engkau memaksa aku melarikan diri? Kalau dilanjutkan, bukan tidak mungkin kita akan dapat merobohkan dan membunuh seorang dua orang di antara lima ekor mo-nyet itu,"
Bi Lan yang merasa penasaran mengeluh karena merasa tidak puas.
Pahanya terasa nyeri dan ia belum membalas kepada musuh-musuhnya!
"Justeru itulah yang tidak kukehendaki, Lan-moi.
Kalau keadaan terang, aku masih mampu menahan dan memperingatkanmu agar tidak sembarangan membunuh orang.
Akan tetapi setelah gelap, berbahaya sekali bagi kita, juga berbahaya bagi mereka karena kalau engkau mengamuk, aku tidak dapat menanggung keselamatan nyawa mereka pula.
"Akan tetapi, Sim-ko. Mereka itu berusaha mati-matian untuk membunuh kita! Kenapa engkau masih tidak setuju kalau kita membunuh mereka? Bukankah mereka itu orang-orang yang jahat?"
"Belum tentu, Lan-moi. Mereka memusuhi Ciong lihiap, sucimu itu dan tentu saja mereka masih mengira bahwa sucimu itu seorang yang jahat dan sesat. Kiranya hanya kita berdua sajalah yang yakin benar bahwa sucimu kini telah berubah sama sekali. Akan tetapi, orang lain belum tentu dapat percaya. Dari pada kesalahan tangan membunuh orang yang tidak berdosa sehingga tertanam benih permusuhan yang tiada kunjung habis, lebih baik kalau kita meloloskan diri."
"Akan tetapi kita melarikan diri! Tentu mereka mentertawakan kita dan menganggap kita pengecut!"
Bi Lan membantah dengan penasaran.
"Mereka tidak akan dapat mentertawakan kita, Lan-moi. Mereka sendiri yang telah memperlihatkan sikap pengecut, dengan pengeroyokan dan pemadam-an obor."
Bi Lan lalu teringat akan percakapan mereka tentang cinta sebelum orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu datang menyerbu.
Hatinya masih dipenuhi rasa penasaran.
Pria ini boleh jadi mencintanya, seperti yang dikatakan oleh sucinya.
Dan memang, melihat setiap gerak-gerik Sim Houw, caranya melindunginya, pandang matanya, kata-katanya, iapun percaya bahwa Sim Houw mencintanya.
Akan tetapi mengapa dia tidak pernah mengakuinya?
Sudah dipancing-pancing dalam percakapan itu, tetap saja Sim Houw pandai mengelak dan mengalihkannya.
Tiba-tiba ia memper-oleh akal.
"Aduhhhh....!"
Ia berteriak dan menggigit bibir, merintih dan kedua tangannya memegang paha kirinya, memijit-mijitnya perlahan, mukanya berkeriput menahan nyeri.
Sim Houw terkejut bukan main dan cepat dia menghampiri.
"Kenapa, Lan-moi? Ada apakah dengan kakimu....?"
Tanyanya penuh was-was.
"Aduhh.... Sim-ko, pahaku ini....ah, tadi tidak begitu nyeri, akan tetapi sekarang...."
"Sekarang bagaimana, Lan-moi....?"
Sim Houw bertanya tanpa disadarinya, saking khawatir, dia meraba paha kiri yang dipijit-pijit Bi Lan itu.
"Nyeri sekali.... auuhhh, tak tertahankan nyerinya...."
"Lan-moi, biar aku memeriksanya, jangan-jangan ada tulang yang patah atau urat yang terkilir...."
"Ya.... cepatlah.... aduhhh, pukulan monyet tua bongkok itu keras sekali...."
Sim Houw terpaksa merobek celana di bagian paha kiri dan nampaklah kulit paha yang putih mulus.
Dia menggunakan kedua tangannya meraba dan memijit-mijit, memeriksa apakah ada tulang yang patah.
Akan tetapi, selain tanda agak biru bekas gebukan, paha itu tidak ada apa-apa, tidak ada tulang yang patah atau urat yang terkilir.
Hatinya merasa lega sekali.
"Tidak ada tulang patah dan tidak ada urat terkilir, Lan-moi,"
Katanya.
"Akan tetapi, nyerinya sampai menusuk ke jantung....!"
Bi Lan mengaduh.
"Hanya luka memar saja, Lan-moi, akan tetapi mungkin saking kerasnya pukulan, maka menimbulkan rasa nyeri. Biar kuurut sebentar biar jalan darahnya pulih dan luka di bawah kulitnya cepat sembuh."
Mulailah Sim Houw memijit-mijit paha itu.
Tadi hatinya gelisah karena mengkhawatirkan gadis itu.
Sekarang, setelah dia yakin bahwa paha itu tidak apa-apa, hanya luka memar saja yang biarpun nyeri akan tetapi tidak terlalu berbahaya, barulah dia melihat betapa indahnya paha yang nampak karena kain celananya dirobek itu.
Dia adalah seorang pria yang normal dan sehat.
Usianyapun sudah cukup dewasa, bahkan sudah terlalu dewasa.
Maka wajarlah kalau gairahnya bangkit ketika dia melihat mulusnya paha Bi Lan, apa lagi kedua tangannya meraba dan memijit bagian tubuh yang nampak indah itu, merasakan kelembutannya, kekenyalannya dan kehangatannya.
Mukanya berubah merah, napasnya agak terengah dan sepuluh jari tangannya yang meraba dan memijit itu mulai gemetar.
Bi Lan yang sejak tadi mencurahkan perhatiannya untuk memperhatikan keadaan pria itu, tentu saja dapat mengetahui perubahan ini.
Dan diam-diam hatinya merasa gembira sekali dan senyumnya membayang di bibir.
Tentu saja paha kirinya terasa nyeri, akan tetapi tidaklah separah yang diperlihatkannya.
Melihat keadaan Sim Houw, jantungnya berdebar dan kini pijitan jari-jari tangan Sim Houw itu terasa lain, membuatnya berdebar dan terangsang.
"Ahh, enak sekali, Sim-ko, nyerinya hilang. Terima kasih...."
"Tak perlu berterima kasih, Lan-moi. Syukurlah kalau pijitanku menolong,"
Kata Sim Houw yang berusaha keras untuk menekan gejolak perasaannya.
"Sim-ko, aku melanjutkan percakapan kita malam tadi. Apakah sampai sekarang engkau masih belum jatuh cinta kepada seorang wanita? Apakah engkau masih belum berani mengaku cinta kepada wanita lain setelah pengalamanmu yang pahit itu?"
Ditanya begini, kedua tangan Sim Houw semakin gemetar dan dia menghentikan pijitannya.
Sudah berada di ujung bibirnya untuk mengaku cinta kepada Bi Lan, namun ditahannya.
"Aku.... aku.... aku"
Saking bingungnya, tak tahu harus berkata apa, dia kembali menggunakan sepuluh jari tangannya memijati paha yang nyeri itu.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring "Tak tahu malu....!"
Baik Sim Houw maupun Bi Lan terkejut bukan main.
Sim Houw menarik kedua tangannya.
Bi Lan cepat menutupkan bagian celana yang terbuka di paha dan keduanya meloncat bangun dan membalikkan tubuh.
Kiranya di situ telah berdiri dua orang laki-laki dan melihat bahwa seorang di antara mereka adalah Gu Hong Beng yang berdiri terbelalak dengan mata berapi dan bertolak pinggang, Bi Lan teringat akan penglihatan tadi dan mukanya menjadi merah sekali.
Terbayang kembali peristiwa beberapa waktu yang lalu.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 3
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 14