Eps 8 Suling Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Naga - Kho Ping Hoo.
Tanya Bi Lan.
Hong Beng lalu bercerita, betapa dia dan Kun Tek berjumpa di sebuah restoran dan mereka berdua sama-sama menghadapi pengeroyokan Bhok Gun dan Bi-kwi bersama anak buah mereka.
Mereka melarikan diri dan mulailah mereka melakukan penyelidikan tentang Hou Taijin, dan dengan jalan melakukan pengintaian, mereka melihat betapa Sim Houw dan Bi Lan digiring sebagai tawanan.
"Karena kami dapat menduga betapa bahayanya menjadi tawanan para iblis itu, maka kami segera mengambil keputusan untuk pada malam ini menyelundup ke gedung itu dan berusaha membebaskan kalian."
"Untung kalian datang tepat pada saatnya,"
Kata Sim Houw. Mendengar betapa Pendekar Suling Naga itu memuji-muji dua orang pemuda itu, Bi Lan merasa tidak senang.
"Hendaknya kalian ketahui bahwa sebelum kalian datang, Sim-toako sudah berhasil membebaskan kami berdua dari pengaruh totokan dan belenggu kaki tangan. Kami memang sudah siap untuk melarikan diri dan tepat ketika terjadi keributan, kalian muncul."
"Dan memudahkan kami meloloskan diri, kata Sim Houw pula yang ingin menyembunyikan jasa sendiri akan tetapi hendak mengangkat jasa dua orang muda itu.
"Akan tetapi, kami masih belum selesai dengan mereka. Aku harus merampas kembali Liong-siauw-kiam, sedangkan Lan-moi harus merampas kembali Ban-tok-kiam."
"Akan tetapi itu berbahaya sekali,"
Kata Hong Beng sambil memandang wajah gadis yang pernah menolak cintanya itu.
"Ban-tok-kiam dikuasai oleh Sai-cu Lama yang lihai sedangkan Liong-siauw-kiam telah dirampas Kim Hwa Nio-nio, apa lagi di sana kini terdapat Sam Kwi, kedudukan mereka menjadi semakin kuat."
"Betapapun besar bahayanya, aku harus mendapatkan kembali Ban-tok-kiam dan aku akan pergi bersama Sim-toako."
Kata Bi Lan.
"Biar aku membantu kalian!"
Kata Hong Beng.
"Aku juga!"
Kata Kun Tek.
"Paman Kun Tek dan saudara Hong Beng terimakasih atas kebaikan kalian. Akan tetapi, menyusup ke tempat seperti ini lebih baik berpencar, kata Sim Houw. Tiba-tiba dia berhenti bicara dan memberi isyarat kepada tiga orang temannya untuk diam. Mereka semua tak bergerak mencurahkan ketajaman pendengaran mereka. Lapat-lapat terdengar suara lirih di luar kuil itu.
"Omitohud...., harap sam-wi tidak mencurigai pinceng. Katakan saja pada nona yang kehilangan Ban-tok-kiam bahwa pinceng datang untuk membicarakan tentang pedang itu."
Mendengar suara itu, Bi Lan bangkit berdiri.
"Ssttt, kalau tak salah....itu suara hwesio yang dulu mengejar Sai-cu Lama...."
"Benar.... dia seperti suara Tiong Khi Hwesio...."
Kata Hong Beng, teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan bersama Bi Lan dan pedang itu terampas oleh Sai-cu Lama kemudian muncul hwesio tua renta itu.
"Kalian masih mengenal suara pinceng? Bagus!"
Terdengar suara dari luar itu dan Sim Houw sendiri terkejut.
Hwesio diluar itu sungguh memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya!
Maka mereka berempat lalu menyambut keluar.
Dan memang benar dugaan Bi Lan dan Hong Beng, diluar berdiri seorang hwesio tua yang berjubah kuning.
Itulah Tiong Khi Hwesio, nama baru dari Wan Tek Hoat.
"Locianpwe hendak bicara dengan saya?"
Tanya Bi Lan sambil memandang tajam penuh perhatian.
Bagaimanapun juga, ia belum mengenal orang ini dan tidak tahu hwesio ini seorang kawan ataukah seorang lawan.
"Locianpwe, silahkan masuk dan kita bicara didalam,"
Kata Sim Houw yang tidak ragu-ragu lagi bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti.
Mereka lalu masuk ke ruangan belakang itu setelah tiga orang hwesio penjaga kuil dapat diyakinkan bahwa hwesio tua yang baru tiba ini memang mengenal para pendekar muda itu.
Setelah mengambil tempat duduk, hwesio tua itu berkata mendahului mereka.
"Pinceng sudah mendengar semua akan peristiwa yang terjadi di gedung markas Kim Hwa Nio-nio itu. Kalian adalah orang-orang muda yang berani dan pinceng merasa kagum sekali. Pinceng sudah mengenal dua orang di antara kalian."
Dia menunjuk kepada Bi Lan.
"Engkau adalah murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng, para majikan Istana Gurun Pasir, dan engkau telah kehilangan Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama. Dan engkau,"
Dia menunjuk kepada Hong Beng.
"Engkau murid keluarga Pulau Es. Akan tetapi pinceng belum mengenal kalian dua orang muda yang lain. Murid-murid siapakah kalian?"
"Locianpwe, saya bernama Sim Houw dan guru-guru saya adalah mendiang ayah saya sendiri yang bernama Sim Hong Bu dan suhu yang bernama Kam Hong,"
Kata Sim Houw dengan sikap merendah.
"Wah, apakah Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas itu? Kalau begitu bukan orang lain, masih segolongan sendiri."
"Dan saya bernama Cu Kun Tek, guru saya adalah ayah saya sendiri yang bernama Cu Kang Bu. Sim Houw ini masih terhitung keponakan saya, dan kami tinggal di Lembah Naga Siluman."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Keluarga Cu memiliki nama besar. Sungguh pinceng girang sekali bahwa pinceng berkesempatan bertemu dengan orang-orang muda perkasa, yang mengingatkan pinceng akan masa muda pinceng dahulu. Orang-orang muda, pinceng sudah mendengar bahwa selain Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama, juga pedang pusaka milik seorang diantara kalian telah dirampas Kim Hwa Nio-nio."
"Pedang Sim-toako ini yang dirampas, pedang itu adalah Liong-siauw-kiam dan oleh Sim-toako diserahkan begitu saja karena mereka mengancam akan membunuh saya yang sudah ditangkap lebih dahulu,"
Kata Bi Lan Hwesio itu mengangguk-angguk.
"Tadi pinceng mendengar bahwa kalian hendak memasuki sarang itu untuk merampas pedang. Hal itu sama sekali tidak boleh dilakukan. Untuk menangkap harimau, orang harus memancing harimau-harimau itu keluar dari sarangnya, bukan memasuki sarang. Itu berbahaya sekali.
"Saya mengerti maksud locianpwe. Lalu bagaimana baiknya? Saya harus merampas kembali Ban-tok-kiam,"
Kata Bi Lan.
"Ha-ha, andaikata engkau tidak ingin merampas kembali, aku tentu akan berusaha untuk mengambil kembali dari tangan pendeta palsu itu untuk dikembalikan kepada Wan Ceng,"
Kata Tiong Ki Hwesio.
"Pihak lawan amat kuat. Kalian tentu sudah tahu betapa lihainya Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio. Dan ditambah lagi dengan Sam Kwi, maka kekuatan di pihak mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Itu semua masih ditambah lagi dengan pasukan pemerintah. Kalau sampai pasukan pemerintah dikerahkan, mana mungkin kita melawan pemerintah? Kita bisa dicap sebagai pemberontak dan akan berhadapan dengan balatentara pemerintah. Kita harus memakai akal dan membagi-bagi tugas. Aku akan memancing keluar mereka dari dalam sarang sehingga kita tidak mudah terkepung."
Empat orang muda itu serentak tunduk terhadap kakek ini yang kelihatan demikian tegas dan mantap dalam semua rencananya.
Akan tetapi di tengah-tengah percakapan mereka, Bi Lan yang selalu ingin tahu dengan jelas memotong percakapan itu dan bertanya.
"Maafkan dulu, locianpwe. Kini di antara kita telah terdapat suatu persekutuan untuk melawan musuh dan terus terang saja, kami orang-orang muda tunduk dan dapat menerima semua akal dan rencana locianpwe. Locianpwe telah mengenal kami semua, akan tetapi kami sebaliknya belum tahu benar siapa sesungguhnya locianpwe ini. Bukankah sudah waktunya bagi kami untuk mengenal siapa sebenarnya diri locianpwe?"
Mendengar ucapan gadis itu, tiga orang muda itu mengangguk-angguk membenarkan.
Memang mereka semua juga sudah menduga-duga siapa sesungguhnya kakek ini, akan tetapi mereka tidak seberani Bi Lan untuk menanyakannya.
Mendengar ucapan gadis itu, Tiong Khi Hwesio tertawa.
"Ha-ha-ha, sejak jaman dahulu, kaum wanita lebih teliti dan lebih ingin tahu. Akan tetapi memang sebaik-nya demikianlah, karena kerja sama harus didasari saling percaya yang sepenuhnya. Bi Lan, kalau engkau ini murid dari nenek Wan Ceng, engkau harus menyebut aku susiok (paman guru) karena antara kami ada pertalian persaudaraan. Namun, sudah puluhan tahun aku memisahkan diri ke barat sehingga antara kami tidak ada hubungan lagi."
"Ah, kalau begitu, mungkin saya dapat menebak siapa adanya locianpwe ini!"
Hong Beng berseru dengan sepasang mata bersinar gembira.
Murid ini di waktu senggang banyak mendengar cerita dari gurunya tentang keluarga para pendekar Pulau Es, maka mendengar bahwa antara nenek Wan Ceng dan hwesio itu terdapat pertalian persaudaraan, diapun dapat menduga siapa orangnya.
"Benarkah kau dapat menebaknya siapa, Hong Beng?"
Kun Tek bertanya, ikut gembira.
"Omitohud, agaknya murid keluarga Pulau Es banyak mendengar tentang diri pinceng. Cobalah, barangkali tebakanmu tepat, orang muda."
Hwesio itupun membujuknya.
"Sebelumnya harap locianpwe sudi memaafkan saya, akan tetapi bukankah locianpwe, seperti juga nenek Wan Ceng, masih terhitung keluarga Pulau Es pula?"
Hwesio itu mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh dibilang begitulah, walaupun sebagai keluarga luar."
"Kalau begitu, agaknya tidak keliru lagi bahwa locianpwe dahulu di waktu muda adalah pendekar yang berjuluk Si Jari Maut dan bernama Wan Tek Hoat. yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari Bhutan dan...."
"Cukuplah, anak baik. Tak pinceng sangkal, memang dahulu pinceng bernama Wan Tek Hoat, akan tetapi kini pinceng adalah Tiong Khi Hwesio, tidak punya apa-apa lagi, sudah habis semua yang pernah pinceng miliki. Nah, tentu sekarang engkau lebih percaya kepadaku, bukan?"
Tanyanya kepada Bi Lan. Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan.
"Sejak tadipun aku sudah percaya kepada locianpwe, hanya ingin tahu saja. Kiranya locianpwe.... eh, susiok malah masih saudara dari subo."
"Nah, sekarang kalian semua perhatikan dengan baik-baik. Kita harus mengatur siasat yang sudah direncanakan baik-baik. Ketahuilah bahwa sebelum menghubungi kalian, pinceng sudah bertemu dengan keluarga Pulau Es yang kini telah berada di kota raja, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya, juga Suma Ceng Liong dan isterinya."
Mendengar ini, empat orang muda itu menjadi girang dan mereka mendengarkan siasat yang direncanakan oleh kakek sakti itu dengan penuh perhatian.
Dan mereka menganggap siasat itu baik sekali, untuk mempertemukan golongan sesat itu dengan para pen-dekar dan mengadakan pertandingan perkelahian tanpa campur tangan pemerintah.
Para penjaga gedung yang menjadi sarang Kim Hwa Nio-nio menjadi gempar ketika pada suatu pagi, mereka melihat sebatang pisau menancap di daun pintu gerbang dan pisau itu membawa sebuah sampul putih dengan tulisan berwarna merah, ditujukan ke pada Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio!
Bergegas komandan jaga mengambil pisau dan sampul itu dan berlari-lari masuk menghadap Kim Hwa Nio-nio.
Nenek itu sudah duduk menghadapi hidangan makan pagi, lengkap dengan para temannya.
Di sini hadir Sai-cu Lama, ketiga Sam Kwi, Bhok Gun, Bi-kwi dan mereka kelihatan gembira.
Malam tadi, berkat kelihaian Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, mereka telah berhasil menyingkirkan dua orang selir yang juga menjadi dua orang pengawal pribadi Hou Seng.
Dua orang selir ini dianggap sebagai saingan oleh Kim Hwa Nio-nio, karena dua orang ini seringkali mempengaruhi Hou Taijin dengan bisikan-bisikan mereka.
Ketika Suma Lian diserahkan sebagai hadiah oleh Sai-cu Lama kepada Hou Seng, dua orang selir ini yang membisikkan agar pembesar itu menerima saja, akan tetapi memperlakukan anak itu dengan baik-baik dan jangan diganggu, memperingatkan Hou Taijin bahwa Pendekar Pulau Es masih ada hubungan keluarga dengan kaisar.
Dan masih banyak nasihat-nasihat yang diberikan oleh dua orang selir itu, yang selalu diturut oleh Hou Seng.
Oleh karena itu, Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama merasa bahwa mereka berdua itu merupakan saingan yang mengkhawatirkan.
Bagaimana kalau sekali waktu dua orang selir itu membisikkan agar Hou Taijin tidak mempercaya Kim Hwa Nio-nio dan teman-temannya lagi?
Dan kesempatan baik mereka peroleh ketika mereka memperkenalkan Sam Kwi kepada pembesar itu.
Malam itu, Hou Taijin berkenan menerima mereka bersama Sam Kwi untuk datang menghadap dan seperti biasa, Hou Taijin menyambut pembantu-pembantu baru yang berilmu tinggi itu dengan perjamuan makan.
Dan seperti biasa pula, dua orang selir yang pandai ilmu siiat itu tak pernah meninggalkan Hou Taijin, seolah-olah menjadi bayangannya.
Setelah Sam Kwi diperkenalkan, Hou-Taijin merasa gembira sekali.
Tiga orang dengan bentuk tubuh dan muka seperti itu, demikian menyeramkan, bahkan mengerikan, tanpa diuji lagi dia sudah percaya bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Maka, Hou Taijin lalu berkata sambil tersenyum lebar.
"Kedatangan sam-wi amat menggembirakan hatiku dan kami ingin menyambut kedatangan sam-wi dengan secawan arak!"
Mendengar ucapan ini, seorang di antara dua selir merangkap pengawal pribadi itu lalu melayani majikan mereka dengan menuangkan secawan arak dari guci yang tersedia, ke dalam cawan pembesar itu yang sudah tersedia pula di atas meja.
Juga Sam Kwi sambil tertawa mengisi cawan mereka dengan arak sampai penuh, kemudian mereka semua mengangkat cawan arak masing-masing.
Akan tetapi, sebelum cawan itu menempel di bibir Hou Taijin, Kim Hwa Nio-nio berseru.
"Taijin, tahan!"
Secepat kilat, iapun menyambar cawan itu dari tangan Hou Seng, kemudian terdengar suara gaduh dan dua orang selir itu telah roboh dan tewas seketika karena mereka telah terkena pukulan maut dari Sai-cu Lama.
Pukulan kedua tangan kakek itu tadi menyambar ganas dan tepat mengenai dada mereka, membuat mereka roboh tanpa dapat menjerit lagi, muka mereka menjadi agak kehitaman karena pukulan tadi adalah pukulan beracun!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hou Taijin, Dia terbelalak.
"Apa.... apa artinya ini....!"
Dia membentak, khawatir bahwa jangan-jangan para pembantunya ini mengadakan pengkhianatan dan pemberontakan.
Akan tetapi hatinya lega karena sikap mereka tidak demikian.
Kim Hwa Nio-nio berkata halus.
"Harap paduka maafkan kelancangan kami, akan tetapi kami telah menyelamatkan nyawa paduka dari pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang pengawal pribadi paduka ini,"
Kata Kim Hwa Nio-nio dan cawan arak tadi masih berada di tangannya.
"Apa? Mereka ini hendak berkhianat? Ah, hal itu tidak mungkin! Kalian tentu keliru. Mereka adalah selir-selirku yang setia!"
"Kim Hwa Nio-nio berkata benar, Taijin. Kami berdua melihat betapa tadi mereka memasukkan bubukan putih ke dalam cawan paduka. Itu tentu racun yang amat jahat!"
Kata Sai-cu Lama.
"Karena itu, selagi Kim Hwa Nio-nio mencegah paduka minum, saya mendahului mereka dan membunuhnya agar tidak sempat menyerang paduka,"
Hou Taijin masih ragu-ragu dan ketika dia memandang kepada tiga orang tamu baru, Sam Kwi yang sudah tahu akan rencana teman-temannya, mengangguk-angguk.
"Kamipun melihatnya,"
Kata mereka.
"Begini saja, Taijin. Tuduhan kami itu perlu dibuktikan agar Taijin dapat percaya."
Melihat pembesar yang masih memandang mayat dua orang selirnya dengan muka pucat, Kim Hwa Nio-nio lalu berteriak menyuruh dua orang pengawal cepat membawa dua ekor kucing ke situ.
Sebelum kucing yang diminta itu datang, Kim Hwa Nio-nio berkata.
"Taijin, kalau taijin tidak percaya, boleh taijin periksa di saku atau ikat pinggang mereka, tentu mereka membawa sebotol kecil bubukan putih."
Dengan jari-jari tangan gemetar, pembesar itu memeriksa dan benar saja, di tubuh dua orang selirnya, masing-masing terdapat sebuah botol kecil berisi bubukan putih, yang disembunyikan di dalam ikat pinggang mereka.
Dia mengambil botol-botol itu dan meletakkannya di atas meja.
"Apakah ini?"
Tanyanya, suaranya masih agak gemetar karena hatinya masih diliputi ketegangan.
"Racun yang jahat sekali, taijin. Dan sebagian dari racun itu tadi ditaburkan ke dalam cawan taijin ini,"
Kata pula Kim Hwa Nio-nio.
Dua ekor kucing yang diminta itu datang.
Kim Hwa Nio-nio membuka dengan paksa mulut kucing itu dan menuangkan arak dari cawan Hou Seng ke dalam mulut kucing.
Biarpun kucing itu meronta, percuma saja, arak itu telah memasuki perutnya.
Dan seketika kucing itu berkelojotan dan tewas, tubuhnya berubah menghitam!
"Nah, apa akan jadinya kalau saya tadi tidak mencegah paduka minum arak dari cawan itu?"
Kata Kim Hwa Nio-nio dan Hou Seng bergidik, kembali memandang kepada dua orang selirnya, kini pandang matanya mulai mengandung kemarahan dan kebencian.
"Mereka.. mereka nampaknya begitu baik, mencinta dan setia.... dan aku telah memberi segala-galanya, tapi.... tapi mengapa...."
"Tidak aneh, taijin. Musuh taijin banyak sekali dan agaknya mereka itu mampu merobah pendirian dua orang ini. Karena itu, taijin harus berhati-hati dan percayalah, selama ada kami, kami akan selalu melindungi taijin dari ancaman bahaya,"
Kata Sai-cu Lama dengan suaranya yang halus.
Kini dari dua botol itu dituangkan bubuk putih ke dalam arak, lalu dituangkan dengan paksa ke dalam mulut kucing ke dua dan akibatnya, kucing inipun kejang-kejang berkelojotan dan tewas seketika.
Percayalah Hou Taijin dan dua mayat dan bangkai kucing itu lalu disingkirkan, dan perjamuan itu dilanjutkan, walaupun Hou Taijin sudah kehilangan seleranya.
Demikianlah, peristiwa semalam itu tentu saja sudah diatur oleh komplotan Kim Hwa Nio-nio yang cerdik.
Melalui para pelayan, mereka berdua memperoleh keterangan bahwa dua orang selir itu selalu membawa sebotol kecil racun.
Racun ini selalu mereka bawa karena mereka ingin membunuh diri dengan cepat kalau sekali waktu mereka itu terjatuh ke tangan musuh-musuh Hou Seng, Sehingga mereka tidak usah menderita siksaan dan juga tidak ada bahayanya mereka akan membocorkan rahasia suami dan juga majikan mereka itu.
Demikian besarnya kesetiaan mereka kepada Hou Seng.
Akan tetapi justeru keterangan inilah yang memudahkan Kim Hwa Nio-nio mengatur siasat keji itu.
Ketika Hou Seng hendak minum araknya, tentu saja di dalam arak itu tidak ada apa-apanya.
Ia sengaja merampasnya untuk membuat suasana menjadi kalut dan memberi kesempatan kepada Sai-cu Lama untuk membunuh dua orang selir itu.
Walaupun memiliki kepandaian silat yang lumayan, tentu saja dua orang selir itu sama sekali bukan tandingan Sai-cu Lama dan sama sekali tidak mampu menghindar ketika pukulan maut datang menyambar.
Dan dalam kegaduhan ini, dengan mudah Kim Hwa Nio-nio memasukkan bubuk racun ke dalam cawan arak itu.
Tentu saja ketika diminumkan kepada kucing, kucing itu tewas seketika.
Dan botol bubuk racun itu benar saja ditemukan dan karena memang benda itu racun, ketika diminumkan kucing ke dua, binatang itupun mati!
Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya menganggap siasat itu berhasil dengan amat baiknya.
Dua orang selir yang mereka anggap saingan yang berbahaya itu, telah dapat mereka singkirkan, dan yang terpenting, Hou Seng agaknya percaya akan pengkhianatan selir-selirnya sehingga dengan demikian, semua kepercayaan pembesar itu tentu akan terjatuh ke tangan mereka!
Untuk kemenangan ini, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka sudah merayakan kemenangan itu dengan sarapan pagi yang mewah.
Akan tetapi, kegembiraan mereka itu terganggu oleh datangnya pengawal yang dengan muka pucat menyerahkan pisau dan sampul.
"Kami tidak tahu siapa yang menancapkan pisau itu di pintu gerbang, karena tahu-tahu ketika kami membuka pintu gerbang, pisau itu sudah menancap di daun pintu, membawa sampul itu."
Demikian laporan pengawal itu.
Karena surat itu ditujukan kepada Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, nenek yang dianggap sebagai pimpinan kelompok pembantu Hou Taijin itu, segera membuka sampulnya dan mengeluarkan suratnya yang bertuliskan dengan tinta merah.
Ternyata surat itu adalah tantangan untuk pi-bu (mengadu ilmu silat), seperti yang biasa dilakukan di dunia persilatan.
Yang menantang adalah Tiong Khi Hwesio yang menantang Sai-cu Lama, dan Sim Houw menantang Kim Hwa Nio-nio.
Pada hari itu lewat tengah hari, dua orang penantang itu menunggu di tepi hutan di sebelah utara pintu gerbang kota raja!
"Heemmm....
keparat!"
Kim Hwa Nio-nio memaki dengan muka merah dan melemparkan surat itu kepada Sai-cu Lama. Pendeta ini membacanya dan diapun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio sudah mengejarku sampai di sini? Ha-ha-ha, dia memang sudah bosan hidup. Dengan Ban-tok-kiam di tangan, dia pasti akan mampus di tanganku sekali ini!"
Sambil tertawa-tawa, Sai-cu Lama menyerahkan surat itu kepada Iblis Mayat Hidup yang duduk di sebelahnya.
Sam Kwi membaca surat itu bergantian, kemudian Bhok Gun dan Bi-kwi juga membacanya.
Ketika surat itu kembali ke tangan Kim Hwa Nio-nio, Iblis Akhirat, si cebol dari Sam Kwi, yang melihat betapa Kim Hwa Nio-nio tidak gembira, berkata, dan suaranya lantang membuyarkan ketegangan yang timbul oleh surat itu.
"Suci, tak usah takut menghadapi Sim Houw itu. Bukankah Liong-siauw-kiam sudah berada di tanganmu? Dan kamipun akan membantumu."
Kim Hwa Nio-nio mengerutkan alisnya.
"Siapa bilang aku takut menghadapi orang muda itu? Akan tetapi, aku khawatir kalau-kalau surat tantangan ini hanya suatu perangkap belaka untuk memancing harimau keluar dari sarang!"
"Ha-ha-ha!"
Sai-cu Lama tertawa gembira.
"Harimau tetap harimau, di dalam maupun di luar sarang, kita tetap berani dan menang!"
"Apakah engkau akan mengabaikan saja tantangan pi-bu ini, suci?"
Tanya Iblis Akhirat dengan khawatir, karena mengabaikan tantangan pi-bu amat mencemarkan nama seorang datuk persilatan.
"Pinceng pasti datang memenuhi tantangan Tiong Khi Hwesio, ha-ha!"
Sai-cu Lama masih tertawa-tawa memandang rendah lawannya.
Dan diapun memiliki alasannya untuk memandang rendah.
Bukankah dia dahulu kalah oleh Tiong Khi Hwesio dalam perkelahian yang seimbang dan setelah berjalan lama baru akhirnya dia kalah?
Kalau kini dia menggunakan pedang Ban-tok-kiam, dia merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya itu.
"Mengabaikan tantangan pibu tidak mungkin, akan tetapi...."
Kim Hwa Nio-nio masih kelihatan ragu-ragu.
"Kalau kita semua pergi bertujuh, walau andaikata mereka itu membawa teman-teman, kita tidak perlu takut,"
Kata pula Iblis Akhirat membesarkan hati sucinya.
"Aku mengerti akan kekhawatiran subo,"
Tiba-tiba Bhok Gun berkata.
"Dan memang kekhawatiran itu beralasan. Penantang kita adalah musuh-musuh dan bisa saja mereka menggunakan pi-bu ini sebagai pancingan untuk menjebak kita. Akan tetapi, subo, justeru kita harus dapat memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan dari perangkap yang mereka pasang ini."
"Eh? Maksudmu bagaimana?"
Tanya Kim Hwa Nio-nio kepada muridnya yang cerdik itu.
"Mereka menggunakan muslihat memancing harimau keluar sarang? Baik, kita keluar! Akan tetapi diam-diam aku akan menghubungi Coa-ciangkun agar dikerahkan pasukan sebanyak seratus orang untuk mengepung tempat itu dan begitu lawan berkumpul dan kita hendak dijebak, kita kerahkan pasukan untuk menangkap mereka semua. Dengan demikian berarti perangkap kita menghancurkan perangkap mereka."
Sai-cu Lama mengangguk-angguk.
"Wah, Nio-nio, muridmu ini boleh juga!"
Semua orang menyatakan kagum dan Kim Hwa Nio-nio dapat menerima usul itu.
Mereka melanjutkan makan minum sambil menyusun rencana untuk menghadapi pihak lawan yang mengajukan tantangan.
Tempat yang dipilih dalam surat tantangan pi-bu itu memang sunyi sekali.
Di luar kota raja sebelah utara terdapat sebuah hutan yang lebat, dan di luar hutan ini terdapat lapangan rumput.
Kalau musim semi tiba dan rumput di situ gemuk sekali, banyak penggembala ternak membawa ternaknya ke situ untuk makan rumput.
Akan tetapi pada waktu itu, rumput di situ gundul dan kering maka tidak ada seorangpun pengembala mau membawa ternaknya ke tempat itu dan keadaan di situ amat sunyi.
Matahari amat cerahnya dan cahayanya yang panas menimpa segala yang nampak di permukaan bumi, memberi kehidupan yang segar.
Kita adalah mahluk-mahluk yang sama sekali tidak dapat menikmati berkah yang berlimpahan dalam kehidupan ini.
Satu di antara berkah-berkah yang berlimpahan adalah sinar matahari!
Tanpa sinar matahari, kita dan segala sesuatu di permukaan bumi ini akan mati!
Sinar matahari menyehatkan, menghidupkan, dan memberi segala yang menjadi kebutuhan mutlak kita.
Memberi panas, kehangatan, penerangan, kenikmatan yang tiada habis-habisnya.
Namun, hanya sedikit di antara kita dapat menikmatinya.
Segala keindahan yang terbentang di depan kita hidup karena sinar matahari.
Bahkan pandang mata kita takkan ada artinya tanpa sinar matahari.
Sedikit saja di antara kita yang dapat menghirup berkah melimpah ini dengan sepuasnya mereguknya dan menikmatinya.
Dan yang sedikit itu pun hanya dapat menikmatinya jarang sekali, di waktu mereka teringat saja.
Dan di samping sinar matahari, masih banyak sekali berkah itu, seperti hawa udara, air, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
Namun otak ini sudah terlalu penuh dengan persoalan-persoalan, dengan masalah-masalah yang kita buat sendiri sehingga hidup di dunia yang begini indah penuh berkah ini tak terasa lagi sebagai suatu keindahan melainkan berubah menjadi neraka karena kita terbenam ke dalam duka dan sengsara oleh problema-problema buatan kita sendiri itu.
Bayangan makin memendek mendekati kaki, tanda bahwa matahari sudah naik semakin tinggi.
Tengaharipun terlewat dan tak lama kemudian, tempat yang sunyi itu berubah dengan munculnya beberapa orang di lapangan rumput itu.
Yang muncul adalah seorang kakek tua renta yang berjubah pendeta hwesio dan berkepala gundul, bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian sederhana.
Mereka ini adalah Tiong Khi Hwesio dan Sim Houw, dua orang penantang pi-bu itu!
Belum lama kedua orang penantang ini muncul di lapangan rumput yang luas, nampak bermunculan Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, diiringkan oleh Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi!
Kim Hwa Nio-nio tersenyum mengejek, hatinya girang sekali karena kini nenek itu tidak khawatir akan terjebak pihak musuh.
Ada seratus dua puluh orang pasukan sejak pagi tadi bersembunyi di dalam hutan itu, siap untuk menyerbu setiap saat mereka dibutuhkan!
Bahkan Coa-ciangkun sendiri, perwira tinggi yang menjadi sekutu Hou Seng Taijin, memimpin pasukan itu.
Tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan.
Dan tentang pi-bu itu sendiri, iapun tidak takut.
Andaikata kemudian ternyata bahwa ia tidak mampu menandingi orang muda she Sim itu, di sebelahnya masih ada Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi yang tentu tidak akan tinggal diam.
Apa lagi ketika melihat bahwa yang muncul hanya dua orang penantang itu, Kim Hwa Nio-nio tersenyum mengejek.
"Ha-ha-ha-ha!"
Sai-cu Lama tertawa bergelak setelah berhadapan dengan Tiong Khi Hwesio.
"Kiranya engkau sampai juga ke sini. Tiong Khi Hwesio, mau apakah engkau jauh-jauh menyusulku dari Tibet, kemudian mengajukan tantangan pi-bu itu?"
Tiong Khi Hwesio memandang tajam kepada la-wannya.
"Sai-cu Lama, pinceng berkewajiban untuk menangkapmu karena engkau telah membunuh dua orang pimpinan Lama. Dahulu pinceng merasa kasihan dan membebaskanmu, akan tetapi engkau tidak mengubah kelakuan yang buruk, bahkan menimbulkan kekacauan di mana-mana."
"Menangkap aku? Ha-ha-ha, jangan sesombong itu, Tiong Khi Hwesio. Dahulupun, setelah berkelahi mati-matian sampai ribuan jurus, baru engkau dapat sedikit mengungguli aku. Akan tetapi sekarang, jangan harap lagi! Aku bahkan akan membunuhmu di sini, ha-ha!"
Berkata demikian, Sai-cu Lama menggerakkan tangan kanannya dan nampaklah sinar berkelebat dan berkilat ketika sebatang pedang yang mengandung hawa menyeramkan telah dicabutnya.
Itulah Ban-tok-kiam!
"Omitohud, kejahatanmu semakin meningkat saja, Sai-cu Lama.
Engkau menggunakan pedang yang kau rampas dari orang lain.
Dan justeru karena pedang itulah maka pinceng semakin bersemangat untuk mengejarmu.
Selama ini pinceng pantang mempergunakan senjata, akan tetapi sekali ini terpaksa, omitohud,....!" (Lanjut ke
Jilid 24) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24 Dan ketika tangan Tiong Khi Hwesio bergerak ke bawah jubahnya, dia sudah mencabut sebatang pedang yang mengandung hawa sedemikian menyeramkan sehingga semua orang merasakan ini.
Bahkan Sam Kwi sendiri bergidik ketika melihat pedang itu.
Tidak mengherankan karena kini Tiong Khi Hwesio mengeluarkan senjata pusakanya yang selama ini disembunyikannya saja, yaitu pedang pusaka yang bernama Cui-beng-kiam (Pedang Pencabut Nyawa)!
Pedang pusaka ini dahulu milik seorang datuk sesat seperti iblis yang menjadi penghuni Pulau Neraka bernama Cui-beng Koai-ong (Raja Setan Pengejar Nyawa), sebatang pedang yang luar biasa ampuhnya dan menjadi lawan yang kuat sekali dari Ban-tok-kiam.
Sementara itu, Kim Hwa Nio-nio sudah berhadapan dengan Sim Houw.
"Hemm, orang muda, engkau berhasil meloloskan diri dan sekarang datang mengantar nyawa, sungguh lucu sekali. Dengan Liong-siauw-kiam di tanganku, bagaimana engkau akan mampu menandingi aku?"
Nenek itu mencabut Liong-siauw-kiam yang dipegangnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang kebutannya.
Sepasang senjata ini memang membuat Kim Hwa Nio-nio menjadi semakin lihai bukan main.
"Senjata pusaka itu milikku dan engkau merampasnya dengan cara licik. Akan tetapi, jangan mengira aku takut menghadapimu, Kim Hwa Nio-nio."
Berkata demikian, kedua tangan Sim Houw bergerak dan dia telah mengeluarkan sepasang senjata, yaitu sebatang suling emas dan sebatang pedang yang juga memiliki sinar yang menyeramkan sekali.
Pedang di tangan kanannya itu bukan lain adalah Koai-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman).
Mudah saja diduga dari mana Sim Houw memperoleh sepasang senjata ini.
Cu Kun Tek telah menyerahkan dan meminjamkan sepasang senjata, yang tadinya memang menjadi milik Sim Houw dan dikembalikannya kepada keluarga Cu itu, kepada pendekar ini, meminjamkannya agar Sim Houw dapat menandingi nenek yang memegang Liong-siauw-kiam.
Seperti juga Sai-cu Lama yang terkejut melihat betapa lawannya mempunyai sebatang pedang pusaka yang kelihataanya ampuh itu, Kim Hwa Nio-nio tercengang melihat lawannya kini memegang sepasang senjata suling emas dan pedang pusaka berkilauan dan memiliki hawa yang demikian menyeramkan.
Diam-diam ia merasa jerih dan mengerling ke arah Sam Kwi, sebagai tanda kepada tiga orang sutenya itu agar bersiap-siap membantunya.
"Heh-heh, sudah lama aku mendengar nama Pendekar Suling Naga, dan kesempatan ini takkan kusia-siakan!"
Kata Iblis Akhirat dan tiba-tiba saja tangannya bergerak.
Sinar terang berkelebat meluncur dari tangannya, menyambar ke arah Sim Houw.
Itulah Toat-beng Hui-to (Golok Terbang Pencabut Nyawa), yang secara curang telah dipergunakan oleh Im-kan Kwi, orang pertama dari Sam Kwi itu.
Akan tetapi, Sim Houw telah mendengar banyak tertang kelihaian dan kecurangan tiga orang yang dia dapat menduga adalah Sam Kwi ini, maka dia telah bersikap waspada sejak tadi.
Dia dapat menundukkan kepala mengelak dan golok itu terbang di atas kepalanya, lalu kembali kepada pemiliknya!
Diam-diam Sim Houw terkejut.
Ilmu melempar golok yang hebat, pikirnya, dan berbahaya sekali.
Golok yang dapat terbang kembali seperti itu dapat dipergunakan berkali-kali.
Dia sudah sering mendengar cerita Bi Lan tentang kehebatan tiga orang iblis ini.
"Hemm, kiranya Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama hanya berani menerima tantangan karena mengandalkan banyak lawan,"
Kata Sim Houw mengejek.
"Omitohud, sudah pinceng duga bahwa kalian akan bertindak curang. Kalian datang bertujuh, maka sudah sepatutnya kalau kamipun keluar bertujuh!"
Dan kakek ini tiba-tiba saja mengeluarkan suara melengking panjang dan dari balik batu-batu besar bermunculan lima orang yang dengan cepatnya berlari menuju ke padang rumput itu.
Kim Hwa Nio-nio dan teman-temannya cepat memandang.
Yang muncul itu lima orang, akan tetapi mereka hanya mengenal seorang di antara mereka, yaitu Bi Lan.
Adapun empat orang lainnya adalah Kao Cin Liong dan isterinya Suma Hui, kemudian Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng!
Dua pasang suami isteri inilah yang telah bertemu dengan Tiong Khi Hwesio dan mereka segera diajak berunding untuk bersama-sama menghadapi gerombolan datuk sesat yang menjadi kaki tangan Hou Seng.
Seperti telah kita ketahui, Suma Ceng Liong dan isterinya.
Kam Bi Eng yang kematian nenek Teng Siang In dan kehilangan puteri mereka, Suma Lian, tidak sempat mendengar dari Hong Beng, siapa adanya kakek yang menculik puteri mereka ini.
Akan tetapi mereka mengenal luka yang diakibatkan oleh pedang Ban-tok-kiam, maka mereka lalu melakukan perjalanan cepat pergi mengunjungi keluarga Kao, yaitu penghuni Istana Gurun Pasir di luar Tembok Besar.
Dari nenek Wan Ceng, mereka mendengar bahwa pedang itu tadinya oleh nenek Wan Ceng dipinjamkan kepada muridnya, yang juga menjadi murid Sam Kwi.
Akan tetapi nenek Wan Ceng memperkuat keyakinannya bahwa muridnya itu tidak mungkin melakukan kejahatan, dan ia mengkhawatirkan bahwa pedang itu telah terampas oleh orang jahat dari tangan muridnya.
Setelah mendengar penuturan nenek Wan Ceng tentang pedang Ban-tok-kiam, suami isteri itu kembali ke selatan dan sampai di kota raja.
Mereka hendak mengunjungi Kao Cin Liong untuk minta bantuannya, akan tetapi kebetulan sekali Kao Cin Liong dan Suma Hui juga baru saja tiba di kota raja dan mereka bertemu di perjalanan.
Pertemuan mereka yang mengharukan di tengah jalan itu menarik perhatian seorang kakek hwesio yang bukan lain adalah Tiong Khi Hwesio.
Wajah Suma Ceng Liong yang mirip dengan wajah Suma Kian Bu di waktu muda, menarik perhatiannya dan melihat sikap dan gerakan mereka, Tiong Khi Hwesio dapat mengetahui bahwa empat orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Maka diapun segera menghubungi mereka dan memperkenalkan diri sebagai Tiong Khi Hwesio yang dahulu pernah bernama Wan Tek Hoat.
Tentu saja nama ini amat dikenal oleh Suma Ceng Liong dan Suma Hui, dan mereka lalu mengadakan perundingan.
Girang hati Suma Ceng ketika mendengar dari kakek ini bahwa yang mempergunakan pedang Ban-tok-kiam adalah seorang pendeta Lama bernama Sai-cu Lama.
Apa lagi setelah mereka berempat itu dipertemukan dengan Hong Beng, Kun Tek dan terutama Bi Lan.
Mereka dapat mendengar secara jelas segala hal mengenai Sam Kwi -dan Sai-cu Lama.
Dan mereka bersama-sama lalu mengadakan perundingan, dipimpin oleh Tiong Khi Hwesio yang mengatur siasat.
Mereka itu merupakan sekelompok kecil anggauta keluarga para pendekar Pulau Es, kecuali Cu Kun Tek dan mereka membagi-bagi tugas.
Melihat munculnya lima orang itu, Sam Kwi, Bi-kwi dan Bhok Gun cepat menyambut mereka.
Sesuai dengan tugas mereka, Kao Cin Liong menghadapi Iblis Akhirat, Suma Ceng Liong menghadapi Raja Iblis Hitam, Kam Bi Eng yang sudah siap dengan suling emasnya menghadapi Iblis Mayat Hidup, Bhok Gun dihampiri oleh Suma Hui sedangkan Bi-kwi dihadapi Bi Lan!
Kini mereka benar-benar melakukan pi-bu satu lawan satu dan semua ini sudah diperhitungkan oleh keluarga Pulau Es itu!
Sam Kwi yang tidak mengenal lawannya, memandang rendah.
Terutama sekali Im-kan Kwi (Iblis Akhirat), orang pertama dari Sam Kwi, ketika melihat majunya seorang laki-laki setengah tua yang tidak begitu mengesankan, memandang rendah.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang dihadapinya itu adalah Kao Cin Liong, bekas panglima yang amat terkenal di kota raja, putera dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!
"Ha-ha-ha, kalian ini semua sudah bosan hidup, mengantar nyawa untuk mati konyol!"
Berkata demikian, Iblis Akhirat ini membuka perkelahian satu lawan satu itu dengan serangannya yang ganas, yaitu dengan menggunakan Kiam-ciang (Tangan Pedang) menubruk ke arah Cin Liong.
Melihat lawan maju dan menyerang sembarangan dengan tangan kanan dibarengi pengerahan tenaga sin-kang yang membuat tangan itu berdesing seperti senjata tajam, Cin Liong yang sudah mendengar tentang si cebol ini dari Bi Lan, menyambut dengan tangkisan dan untuk mengadu tenaga, diapun mengerahkan sin-kangnya yang istimewa, pelajaran dari Istana Guruu Pasir.
"Desss....!"
Dan Iblis Akhirat mengeluarkan pekik kaget karena tangkisan itu bukan saja mampu menangkis serangan Kiam-ciang, Akan tetapi bahkan dia merasa betapa seluruh lengan kanannya tergetar hebat seperti bertemu dengan baja yang lemas namun kuat sekali.
Dan ternyata Iblis Akhirat tidak menyendiri dalam kekagetannya.
Raja Iblis Hitam yang menyerang Ceng Liong, membuka serangan dengan mempergunakan jurus dari Hek-wan Sip-pat-ciang, tangan kirinya mencengkeram dan lengannya mulur panjang melewati kepala lawan, lalu dari belakang tubuh lawan, lengan itu membalik dan tangannya mencengkeram ke arah kepala Ceng Liong!
Cucu Pendekar Super Sakti ini sudah mendengar pula dari Bi Lan tentang ilmu kepandaian si Raja Iblis Hitam, bahkan Bi Lan sudah mendemonstrasikan semua ilmu tiga orang gurunya, maka diapun tidak terkejut melihat lengan yang dapat mulur memanjang itu.
Dia membalik dan menangkis, mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang.
"Dukk....!"
Dan seperti juga rekannya, Raja Iblis Hitam yang tinggi besar ini mengeluarkan teriakan kaget dan cepat menarik kembali lengan kirinya yang mulur tadi karena tangkisan lawan itu bukan saja membuat pukulannya membalik dan tangannya terpental, akan tetapi seluruh lengannya merasa dingin seperti dimasuki air es!
Dia terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar Pulau Es, maka diapun tidak berani main-main lagi.
Sama saja kekejutan yang dialami oleh Iblis Mayat Hidup.
Kakek yang seperti tengkorak hidup ini-pun tadinya memandang ringan kepada Kam Bi Eng, wanita yang masih nampak cantik jelita dalam usianya yang tiga puluh dua tahun itu.
Seorang wanita yang hanya bersenjatakan sebatang suling emas!
Maka dia ingin menangkap wanita ini hidup-hidup, dan sudah menubruk dengan Ilmu Hun-kin Tok-ciang untuk membikin putus otot kedua pundak lawan dan sekaligus membekuknya.
Seperti juga suaminya, Kam Bi Eng sudah mempelajari lebih dahulu ilmu-ilmu dari calon lawannya.
Diketahuinya sudah bahwa lawannya ini selain memiliki Sam Kwi Cap-sha-ciang seperti yang lain, juga paling ahli dalam penggunaan Kiam Ciang, dan memiliki ilmu silat yang berbahaya, yaitu Hun-kin Tok ciang.
Kini, melihat datangnya serangan, ia mengenai jurus Hun-kin Tok-ciang dan cepat ia sudah memutar sulingnya.
Terdengar suara melengking-lengking dan tahu-tahu lengan kanan Iblis Mayat Hidup sudah tertangkis, sedangkan lengan kirinya tiba-tiba menjadi kejang karena serangannya disambut oleh totokan yang cepat sekali datangnya dari suling yang menangkis lengan kanan tadi, Mengenai tepat pada pergelangan tangannya dan membuat lengan itu menjadi kejang.
Dia menahan pekiknya akan tetapi melangkah mundur untuk mengurut lengan kirinya, lalu maju lagi menyerang dengan Kiam-ciang, bertubi-tubi dan dengan marah sekali.
Bhok Gun yang dihadapi Suma Hui terkejut bukan main dan segera dia mengerti bahwa wanita ini bukan lawannya!
Wanita ini memiliki pukulan-pukulan yang mengandung hawa panas sekali ,seperti api, dan ketika menangkis mengenai lengan kirinya ada hawa yang amat dingin seperti es menyusup ke dalam lengannya!
Hampir saja dia melepaskan pedangnya, dan dia cepat melompat mundur dengan mata terbelalak.
Suma Hui tersenyum mengejek dan ialah yang kini menerjang mendesak lawannya cepat memutar pedangnya melindungi tubuh.
Bi-kwi seoranglah yang agaknya menemukan tandingan yang seimbang.
Akan tetapi ia menjadi semakin penasaran saja karena semua serangannya terhadap Bi Lan atau Siauw-kwi yang ketika kecil menjadi muridnya ini, dapat dihindarkan oleh Bi Lan, bahkan Bi Lan membalas dengan tidak kalah sengitnya!
Dua orang ini, ketika mempergunakan ilmu silat dari Sam Kwi, nampaknya seperti orang berlatih saja karena gerakan mereka sama, dan kelincahan mereka berimbang.
Bi-kwi menjadi semakin penasaran dan sambil mencoba untuk mendesak sumoinya, ia berteriak-teriak memaki dan menghina, disambut oleh Bi Lan sambil tersenyum saja.
Memang ialah yang minta kepada Tiong Khi Hwesio agar diperbolehkan menghadapi sucinya, karena ia sudah hafal akan semua ilmu sucinya, dan iapun tahu bagaimana caranya untuk menghadapi dan melawannya.
Ada sedikit kelebihan pada diri Bi-kwi, yaitu ia lebih matang dalam hal ilmu-ilmu dari Sam Kwi dibandingkan sumoinya.
Akan tetapi kekurangan Bi Lan ini tertutup oleh ilmu-ilmu dari Naga Sakti Gurun Pasir yang pernah dilatihnya, bahkan ilmu-ilmu ini akan membuat Bi-kwi bingung kalau dikeluarkan oleh Bi Lan.
Sementara itu, Kim Hwa Nio-nio sudah terlibat dalam perkelahian yang amat hebat dan seru melawan Sim Houw.
Liong-siauw-kiam di tangan nenek itu memang membuatnya semakin lihai.
Kebutan di tangan kirinya itu sudah berbahaya sekali, ujung bulu kebutan yang kadang-kadang lemas kadang-kadang kaku seperti batangan-batangan baja itu menyambar-nyambar ganas dan setiap ujung bulu kebutan itu dapat menghancurkan otot atau jalan darah dapat ditotoknya.
Ini semua masih ditambah lagi dengan pedang suling yang menyambar-nyambar seperti seekor naga.
Akan tetapi, dalam hal peng-gunaan Liong-siauw-kiam ini, Nenek Kim Hwa Nio-nio hanya dapat memanfaatkan ketajamannya saja, dan lubang-lubang pada pedang itu hanya mengeluarkan suara mendengung panjang, tidak seperti kalau Sim Houw yang memainkannya.
Biarpun demikian, karena pedang suling itu bekerja sama dengan kebutan, nenek itu benar-benar merupakan lawan yang berbahaya dan kuat sekali.
Namun, Sim Houw telah mempergunakan sepasang senjata yang memang menjadi senjata istimewanya sebelum dia memiliki pedang suling.
Kini pedang di tangan kanannya berkelebatan dan mengaung-ngaung seperti seekor naga mengamuk, sedangkan suling emas di tangan kiri mengeluarkan suara melengking-lengking, lebih kuat malah dari pada lengking suara suling yang keluar dari suling emas di tangan Kam Bi Eng, sumoinya yang menghadapi Iblis Mayat Hidup, seorang di antara Sam Kwi.
Dan dengan sepasang senjata yang ampuh ini, Sim Houw dapat menandingi dan mengimbangi permainan sepasang senjata Kim Hwa Nio-nio sehingga mereka terlibat dalam pertandingan yang amat seru.
Perkelahian antara Sai-cu Lama dan Tiong Khi Hwesio agaknya merupakan perkelahian yang paling hebat di antara mereka.
Dua orang kakek ini memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi, dan keduanya memiliki tenaga sin-kang yang sudah matang, juga pengalaman berkelahi puluhan tahun lamanya.
Lebih lagi, kini keduanya mempergunakan pedang pusaka yang amat ampuh dan baru sinar pedangnya saja sudah cukup untuk menggentarkan hati lawan.
Kalau tadinya Sai-cu Lama mengandalkan keampuhan Ban-tok-kiam sehingga dengan senjata ampuh itu dia dapat menebus kekalahannya yang sedikit dari Tiong Khi Hwesio, Kini harapannya itu kandas.
Ternyata pedang pusaka di tangan lawan itu tidak kalah ampuhnya, bahkan kini Tiong Khi Hwesio memainkan ilmu pedang yang amat aneh dari Pulau Neraka, membuat Sai-cu Lama repot dan harus melindungi diri kuat-kuat.
Dengan demikian, dia mulai terdesak dan lebih banyak menangkis daripada menyerang.
Beratlah melawan kakek yang menggunakan pedang Cui-beng-kiam dengan Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dan didasari dengan tenaga Inti Bumi, semacam sin-kang yang hebat dari Pulau Neraka.
Hebat bukan main perkelahian yang terjadi di luar hutan, di padang rumput yang sunyi itu.
Yang terdengar adalah sambaran-sambaran senjata yang berdesingan, bentrokan-bentrokan senjata dan teriakan-teriakan yang mengiringi suatu serangan.
Akan tetapi lebih-lebih dari itu semua, dua suara suling melengking-lengking seperti ditiup terdengar, yaitu dari suling emas yang digerakkan oleh Kam Bi Eng dan yang digerakkan oleh Sim Houw.
Biarpun Kam Bi Eng adalah puteri Pendekar Suling Emas Kam Hong, namun dalam hal memainkan suling emas, ia masih kalah matang dibandingkan suhengnya, Sim Houw.
Dua batang suling yang berkelebatan seperti naga itu selain mengeluarkan hawa pukulan yang hebat, mengintai nyawa lawan, juga mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup dan dimainkan saja.
Yang paling repot di antara gerombolan datuk sesat itu adalah Bhok Gun.
Dia diserang dan didesak oleh Suma Hui yang kini sudah mengeluarkan senjatanya pula, yaitu sepasang pedang!
Padahal tadi, dengan kedua tangan kosong saja ia masih mampu mengatasi pedang lawan.
Karena jengkel tak dapat segera mengalahkan lawan, Suma Hui telah mencabut sepasang pedangnya dan kini ia mainkan Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang luar biasa ganasnya.
Bhok Gun terkejut dan dia terus didesak mundur oleh lawan.
Hal ini sungguh sama sekali di luar perhitungan Bhok Gun.
Ketika berangkat, Kim Hwa Nio-nio begitu yakin bahwa mereka bertujuh akan mampu mengalahkan lawan tanpa perlu bantuan pasukan.
Akan tetapi sekarang, ternyata mereka menghadapi tujuh orang lawan yang demikian tangguhnya sehingga mereka semua terdesak.
Maka, Bhok Gun segera mengeluarkan suara teriakan tiga kali.
Mendengar ini, Kim Hwa Nio-nio yang juga terdesak dan maklum bahwa dari teman-temannya ia tidak dapat mengharapkan bantuan karena mereka sendiripun terdesak, segera bersuit tiga kali.
Teriakan Bhok Gun dan suitan gurunya itu merupakan isyarat bagi pasukan yang bersembunyi di dalam hutan untuk bergerak.
Terdengar sorak-sorai dan seratus dua puluh orang perajurit keluar dari dalam hutan menuju ke padang rumput.
Akan tetapi, pada saat itu, nampak seorang laki-laki tinggi besar berlari-lari mendahului para perajurit ke arah padang rumput dan di belakangnya ikut berlari Hong Beng dan Kun Tek!
Ketika tiba di dekat padang rumput, panglima itu dibawa meloncat oleh Hong Beng ke atas sebuah batu besar.
Panglima itu mengeluarkan sebuah sempritan dari saku bajunya dan meniup alat ini berkali-kali.
Mendengar itu, para perajurit menahan langkah mereka dan hanya mengurung tempat perkelahian itu, dan semua perajurit itu memandang ke arah orang berpakaian panglima itu dengan bingung.
"Berhenti di tempat! Dilarang bergerak mencampuri perkelahian!"
Mendengar teriakan ini, tentu saja para perajurit tidak berani bergerak.
Yang mengeluarkan perintah itu adalah Coa-ciangkun, komandan mereka sendiri!
Ketika tadi mereka membuat persiapan di dalam hutan, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dari masing-masing kelompok mempunyai seorang perwira atau kepala kelompok.
Dan kini, para kepala kelompok itu sendiri menjadi bingung dan cepat memberi aba-aba agar anak buahnya jangan bergerak.
Mereka terkejut dan merasa heran akan perintah dari komandan mereka itu.
Tentu saja Kim Hwa Nio-nio menjadi lebih kaget lagi.
"Coa-ciangkun, cepat bergerak menangkap pemberontak-pemberontak ini!"
Teriaknya sambil terus memutar sepasang senjatanya melindungi tubuhnya dari desakan Sim Houw.
"Kim Hwa Nio-nio, kami tidak melihat adanya seorangpun pemberontak. Mereka adalah para pendekar, keluarga dari para pendekar Pulau Es! Karena perkelahian ini adalah urusan pribadi dan tidak menyangkut pemerintah, kami tidak mau campur tangan. Seluruh pasukan mundur....!"
Sempritan itu ditiupnya beberapa kali sebagai isyarat agar pasukannya mundur.
Para perwira juga cepat memberi aba-aba dan pasukan itupun mundur kembali ke dalam hutan!
Semua ini adalah hasil rencana yang matang dari Tiong Khi Hwesio.
Dia dapat menduga bahwa orang-orang licik seperti Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, untuk mencari kemenangan, tentu bukan hanya membawa semua temannya, melainkan juga mengandalkan bantuan pasukan pemerintah.
Perhitungannya itu tepat ketika pagi hari itu, para pendekar melihat masuknya pasukan yang seratus orang lebih besarnya ke dalam hutan dengan cara sembunyi.
Mereka itu agaknya keluar dari pintu gerbang timur, lalu mengambil jalan memutar ke utara dan memasuki hutan itu dari timur.
Melihat ini, Hong Beng dan Kun Tek segera melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh Tiong Khi Hwesio kepada mereka berdua.
Dua orang pendekar muda ini menyusup ke dalam hutan, mendekati tempat persembunyian para perajurit.
Ketika mereka melihat betapa Coa-cianqkun sedang memberi perin-tah dan keterangan dan perintah kepada para pembantunya, mereka hanya mengintai saja.
Sampai Coa-ciangkun selesai memberi perintah pasukan itu dibagi menjadi enam kelompok, masing-masing dikepalai oleh seorang perwira, dan panglima itu mengundurkan diri beristirahat ke dalam sebuah pondok darurat yang dibuat oleh anak buahnya, barulah mereka berdua turun tangan.
Dengan kepandaian mereka yang tinggi, mudah saja bagi Hong Beng dan Kun Tek untuk menyergap dan membuat para pera-jurit yang berjaga di belakang pondok tiba-tiba saja roboh pingsan tanpa mengetahui apa yang menimpa diri mereka.
Totokan-totokan yang dilakukan dua orang pendekar itu membuat enam orang perajurit roboh terkulai dan seperti orang tidur saja.
Mereka lalu membongkar dinding belakang pondok darurat itu dan masuk ke dalam.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya Coa-ciangkun ketika tiba-tiba ada dua orang pemuda gagah berdiri di depan pembaringannya selagi dia beristirahat.
Sebelum dia sempat berteriak, Kun Tek sudah menodongkan sebatang pisau belati ke arah dada pembesar militer itu dan Hong Beng cepat menotok urat gagunya dan membuat tubuh pembesar itu lemas.
Kemudian, dua orang pemuda itu membawa tubuh Coa-ciangkun keluar pondok melalui pintu belakang, dan terus membawanya jauh ke dalam hutan, tempat yang memang sudah mereka persiapkan.
Di tempat sunyi ini, Hong Beng membebaskan totokannya sehingga panglima itu dapat bergerak dan bicara kembali.
"Maafkan kami, Coa-ciangkun, akan tetapi kami terpaksa melakukan hal ini terhadap ciangkun, karena kami sedang menghadapi fitnah yang dilakukan oleh Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama bersama kawan-kawan mereka!"
Setelah merasa dirinya bebas dan dua orang pemuda itu tidak menodongnya lagi, Panglima Coa marah sekali.
Dia bukan orang lemah, bahkan orang yang memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi.
Maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menerjang maju, mengirim pukulan ke arah dada Hong Beng.
Pemuda ini tidak mengelak, melainkan menerima pu-kulan itu begitu saja.
"Bukk....!"
Bukan pemuda itu yang roboh, melainkan panglima itu terkejut dan berseru keras sambil meloncat ke belakang.
Ketika tangannya bertemu dada pemuda itu, dia merasa tangannya sakit dan ada hawa yang amat dingin seperti es menyusup ke dalam tubuhnya melalui tangan yang memukul!
"Siapa....
siapa kalian....?"
Bentaknya.
"dan.... apa maksud kalian berbuat kurang ajar seperti ini terhadap aku?"
"Maaf, ciangkun. Harap suka dengarkan dulu baik-baik. Kami tujuh orang adalah pendekar-pendekar yang melihat betapa ada sekelompok datuk kaum sesat kini merajalela di kota raja. Mereka adalah Kim Hwa Nio-nio, Sai-cu Lama, Sam Kwi dan yang lain-lain. Kami harus menentang mereka dan hari ini kami menantang mereka mengadakan pi-bu di luar hutan ini. Akan tetapi kami tahu bahwa tentu orang-orang sesat itu mengunakan akal jahat, menarik pasukan pemerintah untuk campur tangan dengan tuduhan bahwa kami pemberontak-pemberontak. Karena itu terpaksa kami mendahului, mendatangi ciangkun untuk memperkenalkan diri dan menceritakan hal yang sebenarnya."
Coa-ciangkun adalah seorang pembesar militer yang korup dan ambisius, dan karena inilah maka mudah saja dia diperalat oleh Hou Seng.
Tentu saja dia mengerti bahwa Hou Seng mempergunakan datuk-datuk kaum sesat untuk memperkuat kedudukan.
Hal itu tidak dia perdulikan karena dianggap bukan urusannya.
Yang penting baginya, dia memperoleh banyak hadiah dan janji bahwa kelak kedudukannya akan dinaikkan kalau dia membantu Hou Taijin yang sedang berkembang kekuasaannya itu.
Oleh karena itu, mendengar ucapan Hong Beng, dia tidak merasa heran, bahkan memandang dengan sikap tidak perduli, bahkan dia mencurigai Hong Beng.
"Orang muda, mana aku tahu bahwa engkau dan kawan-kawanmu bukan pemberontak-pemberon-tak. Aku hanya mendengar laporan bahwa ada pemberontak-pemberontak sedang hendak ditangkap oleh Kim Hwa Nio-nio dan teman-temannya, maka aku hendak menangkap mereka dengan kekuatan pasukanku."
"Tentu saja ciangkun juga sudah kena dikelabuhi. Tahukah ciangkun bahwa kami bertujuh dipimpin oleh seorang hwesio tua?"
"Ya, menurut laporan, para pemberontak ini dipimpin oleh seorang hwesio tua yang bernama Tiong Khi Hwesio"
"Hemmm, ciangkun adalah seorang panglima yang sudah lama bertugas, tentu mengenal pula catatan sejarah dan riwayat para panglima besar di kota raja yang setia kepada kaisar dan pemerintah. Tentu ciang-kun pernah pula mendengar nama Puteri Milana, bukan? Apakah ciangkun mau berpura-pura tidak mengenal puteri dari mendiang Pendekar Super Sakti dari Pulau Es itu? Dan kenalkah akan nama Puteri Nirahai?"
Coa-ciangkun menelan ludah dan mukanya berubah ketika dia menatap wajah pemuda itu.
"Tentu.... tentu aku mengenal nama Puteri Nirahai dan.... ketika masih muda sekali pernah aku melihat Puteri Milana memimpin pasukan. Gagah sekali akan tetapi apa hubungannya dengan ini semua?"
"Sabarlah, ciangkun dan dengarkan ceritaku. Ciangkun tahu bahwa yang memimpin kami bertujuh adalah Tiong Khi Hwesio dan hwesio tua itu bukan lain adalah Pendekar Tangan Maut Wan Tek Hoat, cucu tiri Pendekar Supert Sakti, suami Puteri Syanti Dewi dari Bhutan."
"Ahh....!"
Panglima itu terkejut.
"Nah, apakah ciangkun masih percaya bahwa tujuh orang yang dipimpin oleh pendekar Wan Tek Hoat yang kini telah menjadi seorang pendeta itu, para pendekar budiman dan gagah perkasa itu benar-benar hendak memberontak? Tujuh orang memberontak? Apakah itu masuk di akal?"
Panglima itu mulai merasa bimbang.
"Aku.... aku tidak tahu...."
"Dan ketahuilah pula, bahwa di antara kami yang dianggap pemberontak ini, terdapat pula bekas Pa-nglima Kao Cin Liong! Tentu ciangkun belum lupa akan nama besarnya....!"
Panglima Coa menjadi semakin gelisah.
Tentu saja dia mengenal Kao Cin Liong yang sudah lama mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai panglima.
Akan tetapi Panglima Kao itu terkenal jujur dan bersih sehingga tidak disuka di antara rekan-rekannya.
"Dan mereka semua, ketujuh orang yang akan mengadakan pi-bu dengan Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya, semua adalah anggauta keluarga Pulau Es."
"Hemm, engkau sendiri agaknya seorang di antara mereka dari Pulau Es, bukan?"
Panglima itu bertanya. Hong Beng mengangguk. Memang tadi dia sengaja menerima pukulan untuk mendemonstrasikan kekuatan Soat-im Sin-kang dari Pulau Es.
"Guru saya adalah cucu dari Pendekar Pulau Es, ciangkun."
"Hemm, kalau begitu, apa yang kalian kehendaki?"
"Kami mengharap kebijaksa-naan Coa-ciangkun agar menarik mundur pasukan, agar tidak mencampuri pi-bu antara kami dan para datuk sesat itu."
Coa-ciangkun mengerutkan alisnya.
Mana mungkin hal ini dilakukan?
Kalau dia melakukan hal itu, tentu Hou Seng akan marah kepadanya.
Bukankah Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya itu merupakan para pembantu yang amat dipercaya oleh Hou Taijin?
Dia menggeleng kepala beberapa kali.
"Tidak mungkin aku melakukan hal itu. Sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi pemberontak. Kalau aku tidak setia kepada kewajibanku, berarti aku berdosa besar dan mendapat hukuman."
Hong Beng mengerutkan alisnya dan mencoba membantah.
"Akan tetapi, ciangkun sama sekali tidak dapat melihat bukti bahwa kami memberontak terhadap pemerintah. Kami hanya menentang para datuk kaum sesat yang merajalela di kota raja!"
"Aku tidak tahu akan hal itu. Mereka itu adalah pembantu-pembantu Hou Taijin...."
Tahulah Hong Beng bahwa panglima ini sudah menjadi antek Hou Taijin, maka dia segera berkata dengan nada suara tegas.
"Kalau ciangkun tidak mau memenuhi permintaan kami dengan baik, terpaksa kami akan membunuh ciangkun!"
"Hong Beng, bunuh saja dia ini! Dia tentu antek Hou Seng dan merencanakan pemberontakan terhadap kaisar!"
Kun Tek juga berkata dengan sikap mengancam.
Orang seperti Panglima Coa ini hanya galak terhadap bawahannya atau terhadap rakyat jelata yang tidak mampu melawan saja.
Kalau dia sendiri menghadapi ancaman dan berada dalam keadaan tak berdaya, kekuasaan dan anak buahnya tidak lagi mampu melindunginya, dia berubah menjadi seorang penakut dan pengecut.
Orang yang paling kejam sebetulnya adalah orang yang menyembunyikan rasa takut yang besar sekali di dalam batinnya.
Melihat betapa dua orang pemuda yang dia tahu amat lihai ini bersikap hendak membunuhnya, Coa-ciangkun menjadi ketakutan.
Wajahnya berubah pucat dan tubuhnya gemetar.
"Jangan kira kami akan kalah kalau kau tidak mau memenuhi permintaan kami!"
Bentak Hong Beng.
"Kami dapat membunuhmu, kemudian kami masih mempunyai waktu cukup untuk membunuh enam orang perwira pembantu itu, baru kami akan mengamuk membunuhi pasukan yang tentu akan kacau karena kehilangan pimpinan itu. Kami tidak melakukan hal itu, justeru karena kami bukan pemberontak dan kami tidak mau menyusahkan pasukan pemerintah. Nah, cepat kau pilih sekarang juga!"
Ucapan itu merupakan desakan yang membuat Coa-ciangkun tidak berdaya lagi.
Dia tahu bahwa orang-orang kang-ouw ini berbahaya sekali.
Membunuh atau dibunuh bagi mereka tidak ada artinya, seperti para perajurit yang maju perang.
"Baiklah."
Akhirnya dia berkata sambil menundukkan muka, seperti tunduknya hati yang sudah tidak mampu mencari jalan keluar lagi.
Dia terpaksa melakukan ini, dan tentang akibatnya dengan Hou Taijin, Itu urusan nanti dan dia baru akan mencari jalan keluarnya kalau saatnya sudah tiba.
Demi-kianlah, Hong Beng dan Kun Tek lalu membawa pembesar militer itu mendekati padang rumput, sambil bersembunyi.
Ternyata perkelahian pibu itu sudah dimulai dan ketika Bhok Gun dan Kim Hwa Nio-nio memberi isyarat kepada pasukan yang bergerak maju, dua orang pendekar muda itu lalu membawa Coa-ciangkun keluar.
Karena terpaksa, Coa-ciangkun meneriakkan perintahnya agar pasukannya itu tidak bergerak lalu mengundurkan diri.
Tentu saja peristiwa ini sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya.
Mereka terkejut bukan main dan sekaligus menjadi gelisah.
Pasukan itu mundur ke dalam hutan dan mereka tidak terlindung pasukan lagi!
Pada hal, mereka semua terdesak dengan hebat oleh pihak lawan.
"Coa-ciangkun, engkau akan dihukum gantung oleh Hou Taijin atas perbuatanmu ini....!"
Kim Hwa Nio-nio berteriak marah, akan tetapi kemarahannya yang ditujukan kepada Coa-ciangkun inilah yang mencelakakannya.
Ia sudah terdesak hebat oleh suling dan pedang di tangan Sim Houw, dan karena ia marah-marah dan meneriakkan kata-kata itu kepada Coa-ciangkun sambil menoleh ke arah batu besar di mana panglima itu berdiri, berarti dia membagi perhatiannya, dan kelengahan sedikit saja membuat Sim Houw melihat lowongan yang baik sekali.
"Singgg.... srattt....!"
Darah muncrat dan Kim Hwa Nio-nio terpekik, Liong-siauw-kiam terlepas dari tangan kanannya dan Sim Houw sudah cepat menyambar pedang pusaka itu dengan suling emasnya.
Pedang pusaka itu dapat ditempel suling dan ditariknya, lalu dipegangnya dengan tangan kiri sambil menyimpan suling emas.
Kim Hwa Nio-nio terbelalak melihat lengan kanannya.
Ujung pedang Koai-liong Po-kiam tadi dengan kecepatan seperti kilat melihat lowongan dan sudah menyambar ke arah lengan kanan, membuat putus urat nadi lengan kanannya sehingga darahnya muncrat-muncrat keluar.
Kim Hwa Nio-nio menotok lengan kanannya untuk menghentikan jalan darah, kemudian sambil mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya, ia menggunakan kebutan di tangan kiri untuk menyerang Sim Houw dengan membabi-buta.
Akan tetapi, kalau tadi saja ketika ia masih menggunakan dua senjata, ia selalu terdesak oleh Sim Houw, apa lagi sekarang setelah lengan kanannya tak dapat dipergunakan lagi untuk menyerang!
Dengan mudah saja Sim Houw mengelak, lalu nampak sinar berkelebat menyilaukan mata ketika Koai-liong Po-kiam meluncur dan membabat.
Nampak bulu-bulu kebutan itu berhamburan karena terbabat putus dan selagi nenek itu terhuyung, Liong-siauw-kiam sudah bergerak di tangan kiri Sim Houw.
"Tukk....!
Nampaknya ujung Liong-siauw-kiam itu hanya menyentuh sedikit saja belakang kepala nenek itu sebelah kiri, akan tetapi akibatnya sungguh hebat.
Nenek Kim Hwa Nio-nio mengeluarkan jeritan mengerikan dan tubuhnya terjengkang dan terbanting ke atas tanah, dan tubuh itu diam tak bergerak lagi.
Kiranya ujung pedang pusaka Suling Naga itu telah membikin retak bagian kepala itu dan merusak isi kepala sehingga nenek itupun tewas seketika setelah mengeluarkan jeritan itu.
Kebutan buntungnya masih tergenggam di tangan kirinya.
Nenek ini, bagaimanapun juga tewas sebagai seorang gagah, tak pernah menyerah sampai maut merenggut nyawanya.
Jeritan nenek yang mengantar nyawanya itu disusul pekik yang keluar dari mulut Bhok Gun.
Sejak tadi, diantara tujuh orang di masing-masing pihak, Bhok gun yang paling repot keadaannya.
Tingkat kepandaian lawan, yaitu Suma Hui, masih lebih tinggi dengan selisih yang lumayan, maka sejak bentrok pertama kali, Bhok Gun selalu terdesak dan lebih banyak menangkis daripada menyerang.
Ketika mendengar teriakan Coa-ciangkun yang memerintahkan pasukannya mundur, Wajahnya menjadi pucat sekali dan jeritan gurunya benar-benar merupakan pukulan hebat baginya.
Tubuhnya seketika menjadi lemas dan dia tak mampu lagi menghindarkan benturan pedangnya dengan pedang milik Suma Hui yang membuat pedangnya menyeleweng dan terpental, kemudian tahu-tahu pedang kanan lawan telah menembus dadanya.
Dengan teriakan panjang diapun roboh dan nyawanya melayang, menyusul nyawa subonya.
Kematian dua orang ini tentu saja mendatangkan perasaan tidak tenang dan gelisah dalam dada Bi Kwi, Sam Kwi dan bahkan Sai-cu Lama sendiri.
Diantara mereka, hanya Sai-cu Lama dan Bi Kwi yang dapat mengimbangi permainan lawan, sedangkan tiga orang Sam Kwi itu harus mengakui bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang sakti dan mereka merasakan betapa beratnya menandingi mereka.
"Sai-cu Lama, kembalikan Ban-tok-kiam milik keluarga Gurun Pasir itu!"
Sim Houw yang sudah mengembalikan pedang dan suling kepada Kun Tek kini maju menerjang Sai-cu Lama dengan Liong-siauw-kiam, membantu Tiong Khi Hwesio.
Diserang oleh senjata pusaka itu dari samping, Sai-cu Lama terkejut karena serangan dengan pedang pusaka itu selain mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, juga mengeluarkan suara lengkingan nyaring seolah-olah ada suling ditiup dekat telinganya dan mengguncang jantungnya.
Suara itupun mengandung khi-kang yang amat hebat!
Dia cepat menggerakkan Ban-tok-kiam menangkis.
"Cringgg....!"
Nampak bunga api berhamburan ketika Ban-tok-kiam bertemu dengan Liong-siauw-kiam.
"Bagus! Kalian ini pendekar macam apa? Main keroyok!"
Bentak Sai-cu Lama dengan sikap congkak, untuk menutupi kegelisahannya, matanya sudah liar mencari-cari jalan keluar untuk melarikan diri.
"Ingat, Sai-cu Lama. Yang melakukan tantangan adalah aku dan locianpwe Tiong Khi Hwesio terhadap Kim Hwa Nio-nio dan engkau, jadi boleh saja aku maju melawanmu dan membantu locianpwe ini karena lawanku sudah tewas."
Dan Sim Houw melanjutkan serangannya.
"Omitohud...., memang sudah tiba saatnya engkau harus menyerah Sai-cu Lama. Ucapan Pendekar Suling Naga itu benar, dan pinceng tidak malu harus mengeroyokmu agar engkau cepat takluk!"
Tiong Khi Hwesio juga menyerang dengan pedang pusakanya, Cui-beng-kiam yang ampuh itu.
Hwesio tua ini maklum bahwa andaikata dia akan menangpun, akan makan waktu banyak sekali untuk menundukkan Lama yang menyerang Ban-tok-kiam.
Akan tetapi, kalau seorang pendekar muda sakti seperti Sim Houw itu maju membantunya, pihak lawan tentu takkan dapat bertahan lama.
Sai-cu Lama tidak melihat adanya lowongan untuk melarikan diri.
Melarikan diri dari dua orang lawan yang sakti itu berarti bunuh diri, maka diapun mengamuk dan melawan mati-matian dan sekuat tenaga.
Tentu saja dia harus bergerak lebih cepat dan mengalurkan tenaga lebih banyak dari pada dua orang yang mengeroyoknya dan karena itu, sebentar saja tubuhnya sudah penuh keringat, napasnya memburu dan dari kepalanya yang gundul itu keluar uap tebal!
Setelah merobohkan lawannya, Suma Hui membalikkan tubuh dan melihat betapa suaminya, Kao Cin Liong masih terlibat dalam perkelahian yang amat seru melawan kakek cebol Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat, wanita yang gagah ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia pun menerjang ke dalam perkelahian itu.
"Haiiiittt....!"
Sepasang pedang di tangannya sudah berubah menjadi dua sinar bergulung-gulung yang menyambar-nyambar ke arah kepala dan tubuh Iblis Akhirat.
Tentu saja orang pertama dari Sam Kwi ini terkejut bukan main.
Menghadapi Kao Cin Liong saja dia sudah merasa repot dan terdesak terus, makin lama dia merasa tubuhnya semakin lemah dan lelah sedangkan lawannya nampak masih segar.
Kini, isteri lawannya yang memainkan sepasang pedang dengan amat ganasnya, ikut maju mengeroyok!
Tentu saja dia menjadi panik dan gerakannya kacau.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kao Cin Liong utuk mengirim sebuah tendangan ke arah perut kakek cebol itu.
"Dukkk....!"
Iblis Akhirat yang juga seorang ahli tendang Pat-hong-twi, berhasil menangkis tendangan itu dengan kakinya, akan tetapi pada detik yang sama, pedang di tangan kiri Suma Hui "masuk"
Dan menyayat paha kakinya.
"Srattt....!"
Darah mengucur deras dari celana dan kulit paha yang robek.
Iblis Akhirat terkejut, golok Toat-beng Hui-to yang hanya dapat dipergunakan dalam jarak jauh, kini dibabatkan ke arah perut Suma Hui, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah selangkang Kao Cin Liong.
Hebat memang orang pertama dari Sam Kwi ini.
Dalam keadaan terluka itu, dia masih mampu sekaligus membagi serangan kepada dua orang lawannya.
Dan serangan berganda inipun sama sekali tak boleh dipandang ringan karena kalau mengenai sasaran, tentu dua orang lawannya itu akan roboh tewas!
Akan tetapi, tentu saja suami isteri keturunan Gurun Pasir dan Pulau Es itu tidak mudah dirobohkan oleh lawan yang sudah terdesak.
"Tranggg....!"
Golok itu dibabat oleh pedang sedemikian kerasnya sehingga patah, dan tangan yang mencengkeram itupun dapat ditangkis oleh Cin Liong yang menyusulkan tamparan ke arah kepala.
Pada saat yang sama, sepasang pedang di tangan Suma Hui telah melakukan gerakan menggunting, satu ke arah kaki dan satu ke arah pinggang!
Dalam satu detik, tubuh Iblis Akhirat menghadapi serangan ke arah kepala, pinggang dan kakinya.
Dia terkejut dan dengan gugup berusaha meloncat ke belakang.
Namun kurang cepat.
"Prokk!"
Iblis Akhirat tidak sempat mengeluh karena kepalanya retak terkena tamparan tangan Cin Liong dan tubuhnya terlempar lalu terbanting jatuh tanpa dapat bergerak kembali!
Suma Hui yang seperti seekor naga betina haus darah, begitu lawan ke dua ini tewas, ia sudah menerjang lagi memasuki perkelahian antara Iblis Mayat Hidup dan Kam Bi Eng.
Sepasang pedangnya bergulung-gulung mengurung tubuh Iblis Mayat Hidup yang menjadi terkejut karena sejak tadi diapun sudah repot menghadapi suara suling emas yang melengking-lengking dan yang membawa sinar-sinar maut itu dari lawannya, Kam Bi Eng.
Melihat betapa Suma Hui menerjang maju membantunya, Kam Bi Eng lalu berseru.
"Enci Hui, kuserahkan tengkorak ini kepada enci dan cihu (kakak ipar), aku mau membantu suamiku!"
Berkata demikian, Kam Bi Eng meloncat keluar dari perkelahian itu dan langsung menubruk ke arah Raja Iblis Hitam yang sedang berkelahi melawan suaminya, Suma Ceng Liong.
Sebenarnya, kalau dia menghendaki, Suma Ceng Liong sudah akan dapat merobohkan lawannya sejak tadi.
Tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari lawannya.
Akan tetapi pendekar ini memang sengaja mempermainkan lawannya.
Betapapun juga, tidak ada niat membunuh lawan dalam hatinya.
Akan tetapi tiba-tiba isterinya masuk dan me-ngirim serangan dahsyat ke arah Raja Iblis Hitam yang menjadi kaget dan terhuyung ke belakang.
Maka diapun menerjang maju lagi membantu isterinya yang tentu saja membuat Hek-kwi-ong si Raja Iblis Hitam menjadi semakin repot dan terdesak.
Kao Cin Liong juga tidak membiarkan isterinya maju sendiri melawan Iblis Mayat Hidup.
Diapun membantu isterinya sehingga dua orang Sam Kwi yang masih tinggal itu menjadi repot bukan main menghadapi pengeroyokan suami isteri pendekar itu.
Baik Raja Iblis Hitam maupun Iblis Mayat Hidup sama sekali bukan lawan suami isteri yang maju bersama itu.
Dalam waktu belasan jurus saja, Raja Iblis Hitam roboh oleh pukulan suling di tangan Kam Bi Eng, sedangkan Iblis Mayat Hidup roboh oleh tusukan pedang Suma Hui!
Sam Kwi tewas dan kini tinggal Bi-kwi dan Sai-cu Lama saja yang masih mempertahankan diri.
Ketika Hong Beng hendak membantunya, Bi Lan berseru nyaring.
"Jangan bantu aku, biarkan aku sendiri yang membuat perhitungan dengan Bi-kwi!"
Karena teriakan ini maka para pendekar hanya nonton saja, dan biarpun mereka tidak ada yang membantu karena teriakan itu, namun mereka bersiap-siap untuk melindungi Bi Lan kalau sampai terancam.
Betapapun juga, Bi-kwi merupakan lawan yang berat bagi Bi Lan karena mereka berdua itu memiliki tingkat yang seimbang.
Sementara itu, Sai-cu Lama menjadi semakin lemah.
Beberapa kali dia terhuyung dan Sim Houw yang ingin merampas Ban-tok-kiam, menggunakan kesempatan itu untuk menerjang dengan Liong-siauw-kiam di tangannya.
Senjata pusaka ini mengancam kepala lawan dan pada saat yang sama, tangan Tiong Khi Hwesio mencengkeram ke arah pusar.
Sai-cu Lama yang sudah kerepotan itu menangkis cengkeraman dengan tangan kiri sedangkan pedang Ban-tok-kiam menyambut serangan Liong-siauw-kiam.
"Cringgg.... tukk....! Pertemuan pedang pusaka itu disusul totokan yang dilakukan cepat sekali oleh Sim Houw, tepat mengenai pundak kanan Sai-cu Lama. Biarpun tubuh Sai-cu Lama kebal dan totokan itu hanya membuat lengan kanannya kesemutan sebentar, namun ini cukup bagi Sim Houw untuk merenggut dan merampas pedang Ban-tok-kiam dari tangan yang dalam beberapa detik kesemutan dan kehilangan tenaga itu! Pada saat Ban-tok-kiam terampas, kaki Tiong Khi Hwesio menendang, tepat mengenai lutut Sai-cu Lama dan pendeta inipun roboh! "Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio, engkau menang dengan keroyokan. Sekarang apa yang hendak kau lakukan kepadaku?"
Sai-cu Lama yang sudah tak berdaya itu masih tertawa mengejek.
"Pinceng akan membawamu ke Tibet agar diadili oleh para pimpinan Dalai Lama,"
Jawab Tiong Khi Hwesio.
"Ha-ha-ha. kau hanya akan dapat membawa mayatku!"
Dan tiba-tiba saja sebelum ada orang mampu mencegahnya, tangan kanan pendeta Lama itu bergerak ke arah kepalanya sendiri dan jari-jari tangannya sudah mencengkeram dan amblas ke dalam kepalanya.
Dia mengeluarkan pekik dahsyat dan tewas seketika dengan kelima jari tangan masih terbenam ke dalam kepalanya.
Darah dan otak mengalir keluar dari jari jari tangan yang masih menancap itu.
Mengerikan!
"Lan-moi, terimalah kembali pedangmu!"
Sim Houw berkata sambil menyusup masuk dalam perkelahian antara Bi Lan dan Bi-kwi.
Bi Lan menyambut pedang Ban-tok-kiam dengan girang dan kini ia seperti seekor harimau betina tumbuh sayap.
Begitu pedang berada di tangannya dan diputarnya, Bi-kwi nampak terkejut dan jerih.
Akan tetapi tiba-tiba saja Bi-kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan Bi Lan!
Wanita ini melihat betapa enam orang yang lain telah tewas.
Melanjutkan perkelahian tidak ada gunanya lagi.
Menghadapi Bi Lan saja sejak tadi ia tidak mampu menang.
Setiap kali gadis itu mengeluarkan ilmu yang didapatnya dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, Bi-kwi selalu menjadi bingung dan terdesak.
Maka, ketika Bi Lan menerima Ban-tok-kiam dari Sim Houw, Bi-kwi maklum bahwa kalau ia melanjutkan perkelahian, ia tentu akan roboh di tangan bekas sumoinya sendiri.
Maka iapun mempergunakan siasat, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut.
"Sumoi, kalau kau mau melupakan hubungan lama dan hendak membunuhku, bunuhlah!"
Katanya.
Wanita ini sudah mengenal betul watak sumoinya ini.
Di balik kekerasan hati dan keberanian Bi Lan, tersembunyi watak yang halus dan mengenal budi.
Melihat bekas sucinya berlutut di depan kakinya, Bi Lan menjadi bengong.
Iapun teringat betapa bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun wanita inilah yang mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadanya, mewakili Sam Kwi.
Biarpun kemudian Bi-kwi menyelewengkan ajaran-ajaran itu, namun harus diakuinya bahwa ia mempelajari banyak dari Bi-kwi.
Apa lagi kalau diingat bahwa ketika ia berada di ambang kehancuran, tertawan oleh Sam Kwi dan hendak dijadikan mangsa mereka, Bi-kwilah yang menyelamatkannya dan membebaskannya.
Semua ini terbayang di dalam ingatannya dan Bi Lan menjadi lemas.
"Bangkit dan pergilah dari sini. Selamanya jangan sampai jumpa dengan aku lagi,"
Kata Bi Lan.
Bi-kwi bangkit, hampir tidak percaya.
Ia memandang kepada Bi Lan dengan bibir mengulum senyum, hatinya mengejek, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi, dengan muka tunduk ia lalu pergi dari situ.
Para pendekar memandang saja, tidak ada yang berani mencampuri, walaupun diam-diam merasa heran bagaimana Bi Lan membiarkan seorang wanita sejahat itu bebas.
"Omitohud.... suatu tindakan yang bijaksana,"
Tiba-tiba terdengar Tiong Khi Hwesio berseru kagum.
"Sudah terlalu banyak orang mati terbunuh, mengerikan sekali!"
Dia memandang kepada enam mayat yang berserakan di situ dan semua orangpun ikut memandang.
Akan tetapi tidak ada seorangpun di antara para pendekar itu yang merasa menyesal.
Orang-orang seperti Sam Kwi, Sai-cu Lama, Kim Hwa Nio-nio dan muridnya itu, kalau tidak disingkirkan dari dunia, tentu hanya akan memperbanyak jumlah perbuatan jahat saja dan membikin banyak orang tak berdosa menderita oleh perbuatan mereka.
Hanya dua orang yang kelihatan menyesal dan bingung.
Mereka adalah Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng.
"Mereka telah tewas, akan tetapi.... di mana adanya anak kami yang diculik oleh Sai-cu Lama?"
Tiba-tiba terdengar suara yang besar dan tegas.
"Jangan khawatir, anak kalian selamat, berada di sini bersamaku!"
Semua orang menengok dan dari dalam hutan keluarlah seorang kakek tua renta yang menggandeng dua orang anak perempuan di kanan kirinya.
Seorang di antara dua anak perempuan itu adalah Suma Lian.
"Ayah....! Ibu....!"
Suma Lian berlari menghampiri orang tuanya yang menyambutnya dengan rangkulan dan ciuman penuh kegembiraan dan keharuan.
"Ayah, tahukah ayah siapa kakek yang menyelamatkan aku ini?"
Suma Lian berlari dan menggandeng tangan kakek tua renta yang menghampiri sambil menuntun anak perempuan kedua sambil tersenyum.
Suma Ceng Liong dan isterinya memandang, juga semua orang memandang.
"Omitohud!"
Tiong Khi Hwesio berseru paling dulu.
"Locianpwe telah meninggalkan Beng-san dan hidup merantau dalam pakaian pengemis? Sungguh aneh sekali dan amat mengherankan!"
Kakek yang kini memakai nama julukan Bu-beng Lo-kai itu tersenyum.
"Tidak begitu mengherankan seperti melihat engkau, mantu raja ini, sekarang menjadi seorang hwesio!"
Dan dua orang kakek itupun tertawa. Mendengar bahwa kakek berpakaian jembel itu datang dari Beng-san, Suma Ceng Liong terkejut.
"Dari Beng-san....?"
Serunya.
"Apakah.... locianpwe ini.... paman.... paman...."
Dia masih ragu-ragu untuk menyebutkan nama orang itu.
"Ayah, kakek ini adalah suami nenek Milana!"
"Benar, dia paman Gak Bun Beng!"
Seru Suma Hui dan ia bersama Suma Ceng Liong segera memberi hormat kepada kakek berpakaian jembel itu.
Kakek itu tertawa dan memandang kepada Tiong Khi Hwesio.
"Agaknya keadaanku tidak jauh bedanya dengan dia yang kini telah menjadi hwesio itu. Nama lama itu sudah hampir kulupa, namaku sekarang adalah Bu-beng Lo-kai, nama yang diberikan oleh Suma Lian kepadaku, ha-ha-ha. Dan engkau, hwesio yang baik, siapakah namamu?"
Tiong Khi Hwesio menjura dengan hormat.
"Nama pinceng adalah Tiong Khi Hwesio."
Kakek jembel itu kini memandang kepada Suma Lian.
"Nah, Suma Lian, engkau sudah bertemu dengan orang tuamu. Bagaimana sekarang? Aku akan segera pergi bersama Li Sian."
"Enci Lian, mari kita pergi!"
Kata Li Sian. Suma Lian memandang kepada ayah ibunya.
"Ayah dan ibu, bolehkah aku ikut dengan kakek untuk belajar ilmu silat?"
Suami isteri itu saling pandang.
Tentu saja mereka merasa berat untuk berpisah dari anak satu-satunya ini.
Akan tetapi merekapun merasa sungkan terhadap kakek itu kalau hanya melarang begitu saja.
Ceng Liong lalu bertanya kepada Bu-beng Lo-kai.
"Benarkah bahwa paman ingin mengajak Suma Lian untuk dibimbing dalam ilmu silat?"
Bu-beng Lo-kai tersenyum.
"Usiaku tidak berapa banyak lagi dan memang aku ingin meninggalkan semua ilmu yang pernah kupelajari kepada Suma Lian dan Li Sian, kalau saja kalian tidak menaruh keberatan."
Makin tidak enak rasa hati Suma Ceng Liong kalau harus melarang, maka dia mengharapkan bantuan anaknya.
"Lian-ji, di rumah engkau dapat belajar ilmu silat dari ayah ibumu. Kenapa engkau ingin ikut paman Gak?"
"Ayah, aku suka sekali kepada kakek Bu-beng Lo-kai, juga aku suka sekali kepada Li Sian. Aku ingin ikut dia merantau, menjelajahi dunia sambil berlatih silat bersama adik Li Sian. Ayah, aku tidak akan melupakan ayah dan ibu, dan setelah selesai belajar, tentu aku akan pulang lagi."
Suami isteri itu saling pandang.
Kakek itu menghendakinya, bahkan tadi dengan suara memohon menyatakan keinginannya untuk mewariskan ilmu-ilmunya kepada Suma Lian, dan anak itu sendiripun menginginkannya.
Tentu akan janggal sekali rasanya kalau mereka melarang.
Mereka adalah pendekar-pendekar dan di waktu masih kecil dan masih muda, Itulah saatnya bagi seorang pendekar untuk menerima gemblengan-gemblengan dalam kehidupan, menderita kesukaran-kesukaran dan pengalaman-pengalaman berbahaya.
Semua itu telah mereka alami dahulu di waktu mereka masih muda.
Tentu saja mereka tidak ingin puteri mereka menjadi lemah dan luput dari pengalaman-pengalaman yang amat diperlukan itu.
Maka merekapun menyetujui dan Kam Bi Eng menahan air matanya ketika ia dan suaminya mengikuti bayangan anak mereka yang digandeng pergi oleh kakek tua renta itu, bersama seorang anak perempuan lain, puteri keluarga Pouw yang juga menderita musibah yang amat hebat.
Para pendekar yang tadi terlibat dalam perkelahian, kini di bawah pimpinan Tiong Khi Hwesio, sibuk melakukan penguburan atas semua mayat bekas lawan.
Kemudian merekapun bubar dan meninggalkan tempat itu yang kembali menjadi sunyi-senyap seperti biasa.
Peristiwa hebat itu, perkelahian antara datuk-datuk sesat dan para pendekar, hanya ditandai dengan adanya sebuah makam baru di tepi hutan itu.
Peristiwa hebat yang mengakibatkan terbasminya semua pembantu Hou Seng, bukan tidak ada pengaruhnya bagi pergolakan yang terjadi di kota raja karena ulah pembesar Hou Seng.
Perubahan besar terjadi dengan sendirinya.
Ketika mendengar betapa semua pembantunya dibasmi oleh para pendekar, terutama keturunan para pendekar Pulau Es, Hou Seng menjadi terkejut bukan main.
Berita itu tersiar luas sampai kaisar sendiri mendengarnya dan bertanya kepadanya, ada hubungan apa antara para datuk sesat itu dengan dirinya!
Akan tetapi Hou Seng memang cerdik.
Sambil menangis dia mengadu kepada kaisar betapa limpahan kasih sayang dari kaisar itu menimbulkan iri hati yang membuat dia dimusuhi oleh banyak pejabat.
Karena merasa dirinya terancam, terpaksa dia mempergunakan tenaga luar untuk melindungi keselamatannya, dan dia sama sekali tidak tahu bahwa tenaga luar itu kemasukan tokoh-tokoh dari dunia sesat.
Sebagai contohnya dia menceritakan tentang dibunuhnya dua orang pengawal pribadinya merangkap selirnya oleh para datuk sesat.
Panjang lebar dia bercerita dan mengemukakan alasan-alasan sampai akhirnya kaisar merasa kasihan dan berpihak kepadanya!
Dan sejak itu, urusan para datuk yang menyelundup ke kota raja itu tidak dibicarakan lagi, kesalahan Hou Seng dimaafkan.
Akan tetapi, Hou Seng sendiri tidak berani banyak tingkah semenjak peristiwa itu dan dia tidak lagi mau mencari gara-gara.
Kedudukannya sudah cukup baik dan dia harus tahu diri dan tidak mengadakan tindakan-tindakan yang menimbulkan kecurigaan kaisar.
Hou Seng tidak begitu membela kematian para datuk itu karena dia telah mengetahui bahwa dua orang selir yang menjadi pengawal pribadi itu sesungguhnya difitnah oleh Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya.
Hal ini diketahuinya sebelum terjadi pembunuhan atas diri para datuk sesat oleh para pendekar.
Diketahuinya karena dia merasa curiga melihat betapa kematian kedua kucing itu tidak sama keadaannya.
Kucing pertama mati dengan muka kehitaman, akan tetapi kucing ke dua tidak demikian.
Hal itu menunjukkan bahwa racun pertama yang diminumkan kucing dari cawan araknya itu tidak sama dengan racun yang diambil dari tubuh selir-selirnya yang diminumkan kucing ke dua.
Racun-racun yang dibawa dua orang selirnya itu membuat kucing mati tanpa hitam pada mukanya, sedangkan racun yang berada dalam cawan araknya itu merupakan racun yang lain lagi, berarti racun itu berada dalam cawan araknya bukan dari kedua orang selirnya melainkan dari luar!
Apa lagi ketika dia mendengar dari para selirnya bahwa dua orang selir merangkap pengawal pribadi itu memang selalu membawa racun di tubuhnya, untuk membunuh diri kalau sampai mereka tertangkap musuh agar mereka tidak perlu disiksa untuk mengakui dan membuka rahasia Hou Seng!
Mendengar ini, Hou Seng merasa menyesal sekali dan kepercayaannya terhadap para datuk sudah goyah, itulah sebabnya, ketika mendengar betapa para datuk itu tewas oleh para pendekar, dia pura-pura tidak tahu saja.
Bahkan Coa-ciangkun tidak ditegurnya sama sekali!
Diam-diam dia malah bersyukur akan tindakan Coa-ciangkun.
Bayangkan saja kalau pasukan itu mencampuri dan kemudian terdengar berita bahwa pasukan itu bekerja sama dengan para datuk sesat atas perintahnya!
Mungkin kaisar sendiri tidak akan memaafkannya kalau sampai terjadi hal seperti itu.
Betapapun juga, usaha para pendekar menentang Kim Hwa Nio-nio dan akhirnya berhasil membasmi komplotan itu, amat berhasil dan keadaan kota raja menjadi tenteram kembali.
Diam-diam para pembesar yang setia kepada kaisar bersyukur dan memuji-muji para pendekar.
Mereka maklum akan kelemahan kaisar dan mereka tidak akan mengadakan reaksi terhadap Hou Seng sebagai kekasih dan kepercayaan kaisar kalau saja Hou Seng tidak mengadakan tindakan yang bukan-bukan.
Dan kini, dibasminya komplotan kaki tangan Hou Seng, membuat pembesar itu menjadi jerih dan tidak begitu menonjol lagi.
Sementara itu, para pendekar sudah kembali ke tempat masing-masing.
Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, yang kehilangan puteri mereka dengan suka rela, hanya bercakap-cakap sebentar, karena adanya Sim Houw di situ membuat suami isteri ini merasa kurang enak hatinya.
Seperti diketahui, Kam Bi Eng tadinya adalah tunangan dari Sim Houw menurut ikatan orang tua mereka, akan tetapi kemudian tunangan itu terputus karena Bi Eng tidak mencinta Sim Houw, melainkan mencinta Suma Ceng Liong.
Setelah suami isteri itu pergi, Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui juga berpamit setelah Cin Liong meningggalkan pesan kepada Bi Lan.
"Sumoi, biarpun engkau baru setahun belajar dari ayah ibuku, engkau tetap seorang sumoi (adik seperguruan) dariku. Dan ibu telah meminjamkan Ban-tok-kiam, hal itu berarti bahwa ibu sayang dan percaya kepadamu. Dan aku sendiri, dalam pergaulan beberapa saat ini, tahu bahwa pilihan ayah ibu terhadap dirimu tidak keliru. Nah, engkau berhati-hatilah menjaga Ban-tok-kiam dan bawa pusaka itu kembali kepada ibuku."
Tiong Khi Hwesio juga meninggalkan tempat itu untuk pulang ke Bhutan, karena semua pengalamannya setelah bertemu dengan para pendekar itu, membuka matanya bahwa dia telah terlalu menurutkan kedukaan hati sehingga dia lupa bahwa dia telah melupakan puterinya sendiri, Wan Hong Bwee atau Puteri Gangga Dewi yang hidup bersama suaminya di Bhutan.
Dia ingin kembali dan tiba-tiba merasa rindu kepada puterinya itu, dan ingin menghabiskan sisa usianya di dekat keluarga puterinya dan dekat pula dengan makam isterinya.
Setelah Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek juga pergi, melanjutkan perjalanan masing-masing, tinggal-lah Bi Lan dan Sim Houw berdua.
Mereka saling pandang dan akhirnya Sim Houw yang bertanya lebih dahulu.
"Lan-moi, sekarang engkau hendak ke manakah?"
Sampai lama Bi Lan tidak mampu menjawab.
Gadis ini sedang merasakan sesuatu yang amat aneh terjadi di dalam hatinya.
Ia melihat Sam Kwi, tiga orang gurunya, tewas dan tidak merasa kehilangan.
Juga kepergian Bi-kwi yang disusul kepergian semua pendekar, termasuk Hong Beng dan Kun Tek, tidak sedikitpun membekas di dalam hatinya.
Ia tidak merasa kehilangan dan kesepian.
Akan tetapi mengapa sekarang, setelah berada di ambang perpisahannya dengan Sim Houw, tiba-tiba saja ia merasa bahwa tak mungkin dia dapat berpisah dari orang ini?
Ia seakan-akan sudah seharusnya berada di samping Sim Houw, menghadapi kehidupan yang penuh dengan kesulitan ini bersama Sim Houw!
Ia merasa bahwa begitu berpisah, ia akan kehilangan segala-galanya.
Apa pula gejala seperti ini?
Apa artinya?
Apakah ia jatuh cinta kepada Sim Houw?
Tidak mungkin!
Selama dalam perjalanan berdua, Sim Houw bersikap seperti seorang kakak, begitu penuh perhatian dan sayang, akan tetapi kesayangan seorang saudara.
Sedikitpun Sim Houw tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia cinta kepadanya.
Berbeda dengan sikap Hong Beng atau Kun Tek ketika berdua bersamanya.
Dan ia sendiri?
Tiba-tiba Bi Lan merasa nelangsa.
Bagaimana kalau ia benar-benar mencinta orang ini akan tetapi di lain pihak Sim Houw tidak cinta kepadanya?
Tiba-tiba ia menjadi panik, takut kehilangan Sim Houw!
"Eh, Lan-moi, kenapa kau kelihatan melamun dan tidak menjawab pertanyaanku?"
Sim Houw bertanya, suaranya mengandung perasaan iba.
Dia tahu bahwa sejak kecil, gadis ini bergaul dengan Sam Kwi sebagai guru-guru dan penolongnya, juga dengan Bi-kwi sebagai sucinya yang pernah mendidiknya seperti diceritakan gadis itu kepadanya.
Dan kini tiba-tiba saja ia kehilangan semua orang itu!
Tentu Bi Lan berduka, walaupun tidak diperlihatkannya, demikian Sim Houw berpikir.
Bi Lan menjadi kaget dan kedua pipinya berubah merah.
"Aku.... aku.... ah, aku tidak mendengar pertanyaanmu, toako. Engkau bertanya apakah tadi?"
"Aku bertanya, ke mana engkau hendak pergi sekarang, Lan-moi."
"Ke mana....? Ah, tadi aku bingung, toako. Yang jelas, aku harus mengembalikan pedang Ban-tok-kiam ini kepada subo." (Lanjut ke
Jilid 25) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25
"Itu benar, Lan-moi. Dan mengapa engkau menjadi bingung?"
"Entahlah, toako Setelah semua orang pergi, setelah semua tujuan perjalananku tercapai, semua masalah yang tadinya kujadikan tujuan dan kewajiban terpenuhi, aku merasa kosong, sunyi dan bingung. Baru terasa olehku betapa hampanya hidup ini, toako. Aku tadinya mempunyai guru-guru, mempunyai suci, mempunyai mereka sebagai musuh-musuhku juga. Sekarang mereka telah tidak ada. Dan aku seperti berada seorang diri saja di dunia ini, kosong dan sunyi, tidak ada gunanya lagi...."
"Ah, engkau dilanda perasaan kesepian, Lan-moi. Pernah aku mengalaminya...."
Sim Houw menghentikan kata-katanya, merasa bahwa dia telah terlanjur bicara.
Akan tetapi, ucapannya itu rupanya menarik perhatian Bi Lan karena gadis itu cepat mendesaknya.
"Pernah kau mengalami kesepian seperti aku ini, toako? Kapankah engkau mengalaminya? Dan mengapa? Orang seperti engkau ini, yang memiliki kepandaian tinggi, pengetahuan luas, banyak kawan-kawan baik, bagaimana bisa kesepian seperti aku?"
Belum pernah selamanya Sim Houw menceritakan keadaan dirinya kepada siapapun juga.
Biarpun dia pernah menderita sengsara karena kesepian, namun hal itu selama ini menjadi rahasia hatinya.
Akan tetapi, entah bagaimana, kini mendengar desakan Bi Lan, dia ingin membuka rahasia hatinya!
Dia ingin sekali nampak oleh gadis itu sebagaimana adanya, tanpa rahasia dan biarlah segala keburukan dan cacatnya nampak, kalau ada!
"Baru-baru ini perasaan itu berakhir, Lan-moi, akan tetapi selama bertahun-tahun, aku seperti hidup di alam mimpi, setiap hari aku melamun dan merasa kesepian yang selalu menghantui diriku.
Dan semua itu timbul karena....
putus cinta, Lan-moi."
Bi Lan tertarik sekali.
"Ceritakanlah, toako, ceritakanlah. Aku ingin sekali mendengar tentang cinta itu!"
Melihat betapa gadis itu kini nampak bersemangat, Sim Houw tersenyum.
"Mari kita tinggalkan dulu tempat ini,"
Dia melirik ke arah gundukan tanah di mana terkubur enam mayat itu.
"Di dalam hutan sana itu aman kita bicara."
Mereka lalu memasuki hutan dan di bawah sebuah pohon besar, di mana terdapat batu-batu yang kering dan bersih, mereka duduk berhadapan.
"Ketahuilah, Lan-moi. Ketika aku berusia belasan tahun, oleh orang tuaku aku telah ditunangkan dengan seorang gadis yang kemudian menjadi sumoiku sendiri karena gadis itu adalah puteri tunggal dari suhu. Akan tetapi, kalau aku yang telah menerima ikatan perjodohan itu dengan taat mulai memperhatikan gadis itu dan sudah mempunyai perasaan cinta, sebaliknya gadis itu tidak cinta kepadaku, melainkan cinta kepada orang lain! Melihat kenyataan ini, maka aku mengalah, akulah yang memutuskan tali perjodohan itu sehingga gadis itu dapat menikah dengan pria yang dicintanya."
Sampai di sini, Sim Houw berhenti dan termenung.
"Dan kau....?"
Bi Lan bertanya, hatinya merasa terharu.
Ia dapat membayangkan betapa sedihnya hati pemuda itu, dan betapa luhur budinya, mengalah karena ingin membahagiakan gadis yang dicintanya.
"Aku....?"
Sim Houw tersenyum pahit.
"Aku lalu merantau.... sampai sekarang ini."
"Sumoimu....? Ahhh, bukankah wanita cantik yang sakti itu, yang memegang suling emas, isteri dari pendekar Suma Ceng Liong, ia itulah sumoimu? Jadi iakah orangnya gadis.... yang pernah menjadi tunanganmu itu?"
Sim Houw sudah menguasai kembali hatinya dan dia mengangguk sambil tersenyum.
"Ia hebat dan lihai, bukan? Dan suaminya juga hebat. Mereka memang pasangan yang sepadan dan cocok, aku ikut gembira melihat ia berbahagia dengan suaminya dan mereka telah mempunyai seorang anak perempuan yang demikian manis."
Bi Lan memandang dengan sinar mata kasihan.
"Dan engkau sekarang masih merasa kesepian, toako?"
"Tidak, tidak lagi! Penderitaan itu sudah lewat bagiku."
Dan diam-diam Sim Houw maklum bahwa yang melenyapkan perasaan kesepian itu adalah setelah dia berjumpa dengan Bi Lan!
Dia mencinta gadis ini, akan tetapi cintanya sekali ini bukan sekedar cinta nafsu yang dibangkitkan oleh gairah karena tertarik oleh pribadi dan kecantikan Bi Lan.
Tidak!
Ia mencinta Bi Lan, merasa kasihan kepada Bi Lan dan dia ingin melihat orang yang dicintanya ini berbahagia.
Bukan hanya ingin memperoleh gadis ini sebagai isterinya agar selamanya tidak berpisah darinya, Dia tidak akan menderita lagi walaupun dia tidak menjadi suami Bi Lan, asal gadis ini hidup bahagia.
"Dan sejak itu kau.... kau tak pernah jatuh cinta lagi?"
Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan hati Sim Houw.
Akan tetapi dia tenang sekali sehingga kekagetannya tidak sampai nampak di wajahnya.
Dia hanya menggeleng kepalanya.
Apa lagi yang dapat dilakukannya?
Mengaku bahwa kini dia jatuh cinta kepada Bi Lan?
Tidak!
Biarpun dia sungguh mencinta gadis ini, dia tidak akan membuat pengakuan, tidak akan memberi kesempatan gadis ini mentertawakannya.
Putus cinta merupakan suatu kegagalan yang pernah dialami dan ditertawakan cintanya akan merupakan hal yang lebih menyakitkan lagi.
Biarlah cintanya kepada Bi Lan menjadi suatu rahasia saja bagi dirinya sendiri.
Tiba-tiba ada suatu keinginan menyelinap di hati Bi Lan.
Ia ingin menghapus kedukaan Sim Houw karena penderitaan putus cinta itu.
Ia ingin membahagiakan orang ini.
Ia ingin orang ini dapat jatuh cinta lagi dan bukan kepada orang lain, kecuali kepada dirinya!
Betapa akan bahagianya dicinta oleh seorang pendekar yang memiliki cinta kasih sedemikian besar dan tulusnya.
Seorang pria yang sudah matang, tidak dan bukan pemuda mentah seperti Hong Beng dan Kun Tek, cinta yang penuh cemburu, dan cinta yang membanding-bandingkan seperti Kun Tek.
Hong Beng dan Kun Tek!
Dua orang pemuda itu dapat membantunya.
Setidaknya, nama mereka.
"Cinta memang membuat orang menjadi bingung, ya, toako? Aku sendiripun bingung menghadapi-nya!"
Tiba-tiba Bi Lan berkata dan wajahnya membayangkan kedukaan.
Rasa kaget yang lebih besar melanda hati Sim Houw.
Tidak lagi!
Begitu kejamkah nasib sehingga baru saja bertemu dan jatuh cinta, dia sudah harus mendengar bahwa Bi Lan juga sudah mencinta pemuda lain?
Terlalu cepat datangnya, terlalu kejam walaupun dia sudah siap dengan kekuatan batin yang sudah mengalami luka patah cinta.
Dia tetap tenang ketika bertanya.
"Hemm.... apakah hatimu juga dilanda cinta, Lan-moi?"
"Aku tidak tahu. Akan tetapi ada dua orang pemuda yang sama-sama menyatakan cinta kepadaku. Mereka adalah Gu Hong Beng dan Cu Kun Tek...."
"Ahh!"
Sim Houw tercengang karena hal ini sama sekali tak pernah dibayangkannya.
Paman cilik itu telah jatuh cinta!
Hampir dia tertawa, akan tetapi lalu teringat bahwa sekarang Kun Tek bukan seorang anak kecil lagi, melainkan seorang pemuda yang telah dewasa!
"Mula-mula Hong Beng yang lebih dahulu mengaku cinta.
Kemudian Kun Tek juga menyatakan cinta kepadaku.
Hong Beng pernah merasa cemburu dan berkelahi dengan Kun Tek.
Akan tetapi sekarang agaknya mereka sudah dapat mengatasi rasa cemburu itu dan keduanya nampak sudah rukun dan akrab.
Aku menjadi bingung, Sim-toako."
"Kenapa bingung? Pilih saja salah satu, mana yang berkenan di hatimu."
"Kalau menurut pandanganmu, siapa di antara kedua pemuda itu yang lebih baik, Sim-toako?"
Bertanya demikian, Bi Lan menatap wajah itu dengan penuh perhatian dan sinar matanya yang tajam itu seolah-olah hendak menembus ke dalam dan menjenguk isi hati Pendekar Suling Naga.
Sim Houw mengerutkan alisnya.
Dia berpikir dengan sungguh-sungguh karena dia menanggapi permintaan gadis itu dengan sungguh hati pula.
"Lan-moi, sungguh pertanyaanmu ini aneh sekali. Perjodohan hanya benar kalau berdasarkan cinta kasih, dan hanya engkau sendiri yang mengetahui siapa di antara kedua orang pemuda itu yang kau cinta."
"Justeru itu yang tidak aku ketahui, toako. Selama hidupku, belum pernah aku jatuh cinta. Aku tidak tahu yang mana di antara mereka yang kucinta. Akan tetapi terus terang saja, aku suka keduanya karena mereka berdua adalah murid-murid orang sakti, memiliki ilmu kepandaian tinggi, keduanya adalah pendekar-pendekar sejati, dan keduanya sudah pernah menyelamatkan aku dari ancaman maut. Oleh karena itu, sukar bagiku untuk memilih seorang di antara mereka. Tolonglah, toako, tolong bantu aku. Menurut engkau, siapa di antara mereka yang lebih baik?"
Ia berhenti sebentar lalu menyambung.
"Terus terang sajalah, Sim-toako, apakah aku harus memilih salah satu dan yang mana, ataukah aku harus menolak dua-duanya?"
Tentu saja kalau menurut kata hatinya, Sim Houw akan mengatakan agar gadis itu menolak keduanya!
Akan tetapi Sim Houw tidak melakukan hal ini, tidak mau melakukan begitu karena dia tidak mau mempengaruhi pilihan hati Bi Lan.
Betapapun juga, dia harus membantu gadis itu agar jangan salah pilih.
"Aku tidak ingin mempengaruhimu, Lan-moi. Engkau tahu bahwa Cu Kun Tek adalah pamanku, walaupun usianya jauh lebih muda dariku. Akan tetapi hubungan keluarga itu sama sekali tidak kumasukkan dalam penilaianku. Mari kita nilai mereka itu seorang demi seorang. Pertama kita menilai Gu Hong Beng. Dia murid pendekar Sakti Suma Ciang Bun, seorang anggauta keluarga Pulau Es, akan tetapi aku tidak tahu siapa orang tuanya. Dan menurut ceritamu, dia berwatak pencemburu, sedangkan sifat-sifatnya tentu engkau yang lebih tahu karena engkau pernah bergaul dengannya. Sekarang Cu Kun Tek. Dia keturunan penghuni Lembah Naga Siluman dan keturunan keluarga Cu yang terkenal sebagai keluarga yang memiliki kepandaian tinggi dan kegagahan luar biasa, dan tentu dia telah mewarisi ilmu dari keluarga itu. Sepanjang pengetahuanku, dia jujur dan keras akan tetapi sifat-sifat itu memang merupakan sifat keluarga Cu di Lembah Naga Siluman. Adapun sifat-sifat lainnya, engkau pula yang lebih mengenalnya. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memilih yang mana."
Diam-diam sejak tadi Bi Lan memperhatikan Sim Houw dan mendengar ucapan dan melihat sikap yang sungguh-sungguh itu, tiba-tiba saja Bi Lan merasa kecewa.
Agaknya pendekar ini sama sekali tidak peduli ia akan berjodoh dengan pria mana!
Pendekar ini sama sekali tidak menaruh perhatian kepada dirinya!
Tiba-tiba saja Bi Lan merasa nelangsa sekali.
Ia merasa betapa kini, satu-satunya orang yang dekat dirinya, dekat pula dengan hatinya, hanyalah Sim Houw.
Kalau Sim Houw begitu acuh terhadap pilihannya akan seorang calon suami, berarti pendekar ini tidak menaruh hati kepadanya.
Ia menarik napas panjang.
"Sudahlah, Sim-toako. Aku sendiri sudah menolak cinta mereka. Hong Beng kuanggap kekanak-kanakan dan pencemburu besar, sedangkan Kun Tek hanyalah seorang laki-laki yang tinggi hati mengenai wanita. Aku sudah menolak cinta mereka berdua karena aku tidak cinta kepada mereka! Sekarang aku mau pergi saja, mencari subo.... selamat tinggal!"
Dan gadis itu sudah meloncat dan lari dengan cepat meninggalkan Sim Houw.
"Heiii! Nanti dulu, Lan-moi....!"
Sim Houw mengejar, akan tetapi gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya dan ilmu gin-kang (meringankan tubuh) sehingga tubuhnya berlari seperti terbang saja.
Sim Houw harus mengerahkan tenaga pula untuk dapat menyusul dan setelah mereka berlari berkejaran sampai jauh meninggalkan hutan itu, barulah Bi Lan dapat tersusul oleh Sim Houw.
"Lan-moi, berhentilah sebentar, aku mau bicara!"
Kata Sim Houw setelah berhasil mendahului lalu menghadang di depan gadis itu.
Dia melihat betapa selain terengah-engah kelelahan, juga ada bekas-bekas air mata di kedua pipi Bi Lan.
Mudah dilihat bahwa ketika berlari-larian, Bi Lan telah menangis!
"Sim-toako, kenapa engkau mengejarku?"
Bi Lan bertanya, dan suaranya yang agak parau juga membayangkan bekas tangis.
Akan tetapi karena gadis itu berusaha menyembunyikan tangisnya, biarpun Sim Houw merasa heran sekali, dia pura-pura tidak melihat tangis itu.
"Lan-moi, engkau begitu tergesa-gesa pergi. Engkau hendak mencari keluarga Istana Gurun Pasir, apakah engkau sudah tahu di mana tempat itu?"
Bi Lan menggeleng kepala.
"Aku belum pernah ke sana, akan tetapi subo pernah memberi keterangan tentang arah dan tanda-tandanya menuju ke sana sete-lah melewati Tembok Besar di utara."
"Aih, perjalanan itu begitu jauhnya! Lewat Tembok Besar? Sungguh merupakan daerah yang asing dan berbahaya sekali, Lan-moi. Karena itu, aku akan mengantarmu sampai engkau tiba di Istana Gurun Pasir."
Sinar kegembiraan yang cerah menerangi wajah yang tadinya kusut dan keruh itu.
Dengan sepasang mata terbelalak gadis itu menatap wajah Sim Houw.
Melihat betapa sepasang mata yang masih basah itu kini terbelalak lebar dan indah memandangnya, dan bayangan senyum didahului lesung pipit di kanan kiri pipi, Sim Houw memejamkan kedua matanya.
Kagum dan haru memenuhi hatinya, akan tetapi dia memejamkan mata agar tidak terpesona oleh keindahan yang dilihatnya.
"Sim-toako.... benarkah engkau hendak mengantar aku?"
Sim Houw mengangguk, tersenyum.
"Tentu saja benar."
"Tapi.... aku hanya akan mengganggu waktumu...."
"Sama sekali tidak, Lan-moi. Aku tidak mempunyai pekerjaan apa-apa, tidak mempunyai tugas sesuatu, bahkan tidak mempunyai tempat tinggal. Kemanapun aku pergi, sama saja. Di mana-mana adalah tempat tinggalku. Perjalanan itu amat berbahaya dan hatiku tidak rela membiarkan engkau pergi seorang diri menempuh bahaya sebesar itu."
"Akan tetapi.... kenapa, toako? Kenapa engkau hendak bersusah payah untukku? Kenapa?"
Ingin sekali Sim Houw mengatakan seperti yang juga diharapkan oleh Bi Lan, bahwa untuk Bi Lan dia mau melakukan apa saja karena dia mencinta gadis itu.
Akan tetapi Sim Houw menahan mulutnya dan tidak mau mengatakan hal seperti itu.
Tidak, dia tidak akan membuka rahasia hatinya kepada Bi Lan sebelum dia yakin benar bahwa Bi Lan juga mencintanya dan akan menerima dan membalas cintanya.
"Lan-moi, engkau masih bertanya lagi kenapa? Bukankah kita sudah menjadi sahabat yang baik? Bukankah kita sudah sama-sama mengalami hal-hal yang hebat, bahkan sama-sama menghadapi bahaya maut di tangan Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawan mereka? Setelah apa yang kita alami bersama itu, bagaimana mungkin sekarang aku membiarkan engkau pergi menempuh bahaya melakukan perjalanan ke luar Tembok Besar? Dan akupun hidup seorang diri, tidak mempunyai tempat tinggal, jadi, tiada salahnya kalau aku menemanimu pergi ke utara sampai engkau tiba di tempat yang kau cari, bukan?"
Bi Lan merasa kurang puas dengan jawaban itu, akan tetapi karena hatinya terlalu gembira mendengar keputusan Sim Houw yang hendak mengantarnya mencari Istana Gurun Pasir, iapun tersenyum gembira kini.
"Ah, terima kasih, Sim-toako, engkau sungguh baik sekali kepadaku. Ah, bagaimana aku akan dapat membalas semua kebaikanmu? Engkau pernah menolongku, bahkan engkau membantu aku mendapatkan kembali Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama, dan sekarang engkau hendak mengantarkan aku mencari subo dan suhu di gurun pasir! Ahh, betapa senangnya hatiku. Tadinya aku sudah bingung. Biarpun subo sudah memberi gambaran tentang jalan menuju ke tempat itu, aku masih bingung dan aku.... aku takut!"
Sim Houw tersenyum melihat kegembiraan gadis itu.
Hatinya juga dipenuhi oleh perasaan girang yang belum pernah dirasakannya selama ini.
Melihat gadis itu demikian gembira mendatangkan perasaan nyaman di hatinya.
Kalau saja selamanya dia dapat membuat gadis itu bergembira selalu!
"Lan-moi, ucapanmu itu membuat aku merasa lucu, Engkau takut?
Aihh, selama ini aku mengenalmu sebagai seorang gadis perkasa yang tidak mengenal takut!
Sungguh aneh dan lucu mendengar engkau berkata bahwa engkau takut."
"Sungguh, toako, Aku tidak berbohong. Aku ketakutan, bukan takut akan ancaman orang tertentu, bukan takut akan bahaya. Melainkan takut.... eh, aku merasa begitu sunyi dan terpencil, seperti seekor semut di tengah-tengah daun yang hanyut di tengah sungai. Aku takut akan kesepian itu sendiri, toako."
Sim Houw nengangguk-angguk.
Ketakutan seperti itu pernah pula dia rasakan.
Kesepian, merasa hidup sendirian dan tidak dibutuhkan oleh siapa-siapa lagi!
Betapa mengerikan itu.
"Aku mengerti, Lan-moi. Marilah kita berangkat sebelum hari menjadi gelap. Kita harus mencari tempat istirahat yang baik malam ini karena kita terlalu lelah setelah semua pengalaman dan perkelahian yang menegangkan itu. Kita tidak perlu tergesa-gesa, melainkan harus dapat menikmati perjalanan ini, menikmati semua keindahan alam yang tentu berlainan dengan keadaan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Dan waspada akan bahaya di tempat asing itu. Mari kita berangkat."
Dengan wajah berseri keduanya lalu berjalan berdampingan, menuju ke utara, melalui jalan yang sunyi itu.
Akan tetapi kini mereka tidak merasa sunyi lagi.
Bahkan sinar matahari nampak cerah sekali, dan awan-awan di angkasa membentuk gambar-gambar yang menarik, seperti sekelompok domba yang berjalan perlahan-lahan menuju ke timur dalam suasana yang begitu bersih, jernih dan gembira.
Wanita itu menangis seorang diri, terisak-isak dan tersedu-sedan di dalam pondok tua di tepi jalan yang sunyi itu.
Sudah berjam-jam ia menangis seorang diri, pundaknya terguncang-guncang dan kadang-kadang tangisnya terdengar menyedihkan.
Ia seorang wanita yang cantik, usianya tiga puluh dua tahun.
Sebetulnya ia mengenakan pakaian yang indah, dari sutera yang mahal dan mewah, dengan hiasan-hiasan rambut dan tubuh terbuat dari pada emas permata.
Akan tetapi pakaian yang indah itu kini kusut dan bahkan kotor karena beberapa hari tidak pernah diganti.
Rambutnya yang panjang hitam itu terlepas dari sanggulnya, riap-riapan menutupi sebagian mukanya.
Di dekatnya, terletak di atas lantai, nampak sebuah pedang dalam sarung pedang yang indah.
Ia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang memiliki ilmu silat tinggi.
Jarang ada orang dapat menandinginya.
Ia seorang wanita kosen dan lihai.
Akan tetapi, sekarang ia berada dalam kedukaan dan ketika ia menangis seperti itu, nampak betapa bagaimanapun juga, ia hanya seorang perempuan yang lemah tak berdaya dan membutuhkan perlindungan!
Wanita itu adalah Ciong Siu Kwi atau yang dikenal dengan julukan Bi-kwi (Iblis Cantik).
Seperti telah kita ketahui, gerakan wanita ini dengan semua sekutunya telah mengalami kegagalan dan hanya berkat pengampunan yang diberikan oleh Bi Lan atau Siauw-kwi (Iblis Cilik) sajalah maka ia sendiri dapat keluar dari pertempuran itu dengan selamat.
Sekutunya telah hancur, semua orang yang bekerja sama dengannya telah tewas dalam pertempuran melawan para pendekar.
Guru-gurunya, Sam Kwi, tewas semua, juga Bhok Gun, kekasihnya yang terakhir, tewas.
Demikian pula orang-orang sakti seperti Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio tewas di tangan para pendekar.
"Uuhhhh....hu-hu-huhhh....!"
Ciong Siu Kwi menangis terisak-isak.
Ia bukan menangisi mereka itu.
Sama sekali tidak.
Bagaimanapun juga, permainan cintanya dengan Bhok Gun hanya merupakan petualangannya saja.
Tidak ada rasa cinta di dalam hatinya terhadap Bhok Gun atau siapapun juga ia, wanita ini belum pernah mencinta orang, arti kata yang sesungguhnya.
Permainan cintanya dengan pria-pria seperti yang sudah-sudah, hanyalah merupakan pelampiasan nafsu belaka.
Juga tidak ada rasa cinta terhadap Sam Kwi, tiga orang gurunya yang juga memperlakukan sebagai kekasih.
Cinta kasih tidak mendatangkan duka.
Cinta kasih tidak membelenggu batin.
Cinta kasih itu bebas dan wajar, seperti sinar matahari yang menghidupkan segala yang berada dalam sentuhannya, menghidupkan dan membahagiakan, sama sekali tanpa pamrih untuk kepentingan atau kesenangan diri sendiri.
Sebaliknya, nafsu berahi, seperti segala macam nafsu, menimbulkan ikatan, membelenggu.
Dan tentu saja menimbulkan derita karena ikatan berarti ketergantungan.
Kita menggantungkan kesenangan batin terhadap sesuatu atau seseorang dan kalau gantungan itu terlepas, tentu kita akan jatuh dan kita menderita duka.
Ikatan itu dapat saja berupa ikatan terhadap kekasih, keluarga, harta benda, kedudukan, bahkan ikatan terhadap suatu cita-cita.
Dan yang suka menggantungkan diri, mengikatkan diri adalah si aku, ciptaan pikiran.
Pikiran menciptakan aku yang selalu ingin senang, pikiran menimbulkan ikatan terhadap segala sesuatu yang menyenangkan si aku, dan kalau terjadi kegagalan dan perpisahan sehingga terlepas ikatan itu, maka pikiran pula yang tenggelam ke dalam duka.
Si aku selalu condong untuk membesarkan iba diri, pementingan diri pribadi, karena dasarnya adalah pengejaran terhadap kesenangan pribadi dan pelarian terhadap hal-hal yang dianggap tidak menyenangkan.
Siu Kwi tidak menyedihi kematian orang-orang itu.
Tidak ada ikatan dalam batinnya terhadap mereka.
Guru-gurunya, Bhok Gun dan yang lain-lain itu baginya hanya berupa alat belaka, untuk mencapai idaman hatinya, cita-citanya.
Kehilangan alat-alat itu tidak mendatangkan duka, karena dapat saja ia mencari alat-alat lain.
Akan tetapi, yang menimbulkan duka adalah hancurnya semua cita-citanya.
Habislah segala-galanya.
Gagal semuanya dan rasa kecewa dan iba diri membuatnya berduka sehingga ia, seorang wanita perkasa yang biasanya amat keras hati, kini menangis dan air matanya mengalir deras tanpa dapat dibendungnya.
Ia sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi yang dicengkeram duka.
Ia merasa hampa, kosong dan tidak ada artinya hidup ini baginya.
Hatinya nelangsa dan terasa kesepian yang mengerikan mencekam hatinya.
Apa lagi kalau diingat betapa ia telah kalah oleh Bi Lan!
Gadis itu adalah sumoinya, bahkan lebih dari itu, dapat dibilang muridnya karena ialah yang membimbing dan melatihnya sejak awal.
Bahkan ia telah menyelewengkan pelajaran silatnya untuk mencelakakan Bi Lan.
Akan tetapi, Bi Lan tidak mati, tidak celaka, bahkan memperoleh ilmu-ilmu yang hebat.
Membanding-bandingkan keadaan dirinya dan Bi Lan membuat perasaan hatinya tertusuk dan terasa nyeri sekali.
Tertusuk rasa kecewa dan iri hati.
Anak yang hampir gila itu kini malah menjadi seorang pendekar, menjadi seorang tokoh baik yang menonjol, dan bahkan dibela oleh para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir!
Penilaian secara otomatis menimbulkan perbandingan keadaan diri sendiri dengan orang lain dan muncullah ketidakpuasan, bahkan putus harapan.
Kita selalu merasa kurang, selalu merasa betapa buruk keadaan kita karena kita menilai dan membandingkan.
Dan kalau sudah ada penilaian dan perbandingan, tentu saja tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Hasil pemikiran tentu saja tidak sempurna karena pikiran merupakan suatu sumber kekacauan dari konflik-konflik dan pertentangan-pertentangan antara baik buruk, untung rugi dan sebagainya.
Bagi orang yang tidak menilai, tidak membandingkan, melainkan memandang dan mengamati segala sesuatu tanpa penilaian, tanpa perhitungan untung rugi, akan nampak bahwa tidak ada yang tidak sempurna pada alam semesta ini!
Bagaimana mungkin hasil dari ulah dan perbuatan kita akan sempurna kalau kita sendiri penuh dengan benci, iri, dan pementingan diri sendiri?
Siu Kwi menangis tersedu-sedu.
Mengingat akan keadaan Bi Lan yang dianggapnya hidup penuh kebahagiaan, ia merasa betapa ia tidak punya apa-apa lagi.
Ia merasa kesepian dan takut untuk melanjutkan hidup, merasa tidak kuat untuk memulai hidup baru.
Mengapa hid"pnya begini sengsara dan serba mengecewakan?
Mengapa ia seakan-akan dikutuk?
Ketika hatinya mengeluh demikian, ada bisikan pada hati nuraninya yang membuat Siu Kwi menghentikan tangisnya, Mukanya pucat dan sepasang matanya yang menjadi membengkak dan merah karena tangis itu kini sayu memandang jauh ke depan, merenungkan segala kehidupannya yang lalu.
Nalurinya membisikkan bahwa hidupnya yang lalu penuh dengan penyelewengan dan kejahatan.
Sebagai manusia, tentu saja ia mempunyai kesadaran dan pengertian tentang baik buruk.
Akan tetapi, selama kejahatan yang dilakukannya itu mendatangkan hasil baik dan mendatangkan kesenangan, ia tidak perduli dan seperti lupa bahwa yang dilakukan adalah jahat.
Barulah, setelah perbuatan jahat itu mendatangkan suatu malapetaka yang menimpa diri, timbul penyesalan!
Walaupun penyesalan itu belum tentu berarti mendatangkan perasaan bertaubat, melakukan lebih condong menyesali kegagalan atau malapetaka itu!
Akan tetapi, Siu Kwi merasa benar-benar menyesal mengapa ia membiarkan dirinya terseret ke dalam kejahatan.
Timbul keinginan hatinya untuk mengubah cara hidupnya, meninggalkan dunia sesat dan mencontoh jalan yang ditempuh oleh sumoinya.
Akan tetapi bagaimana caranya?
Jalan apakah yang harus diambil?
Namanya sudah menjadi rusak dan kiranya tidak ada seorangpun manusia di dunia ini, kecuali mereka dari golongan sesat pula, yang akan mempercayanya dan mau menerimanya.
Akan tetapi kalau ia bergaul lagi dengan golongan sesat, maka sejarah akan terulang.
Ia tentu akan bergelimang kejahatan lagi dan ia sudah merasa takut untuk menderita akibatnya yang amat buruk, seperti yang dirasakannya sekarang.
Pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan memang dapat menimbulkan kepalsuan-kepalsuan dalam batin kita.
Kalau kita TAHU bahwa kita berbuat baik, maka pengetahuan ini saja sudah menyembunyikan suatu pamrih di balik perbuatan kita itu.
Tahu tentang kebaikan tentu saja dirangkai dengan tahu bahwa kebaikan itu membuahkan suatu keuntungan!
Sebaliknya, tahu tentang kejahatan disertai pengetahuan bahwa perbuatan jahat itu membuahkan keburukan dan kerugian kepada kita.
Dengan demikian, kita BERUSAHA untuk melakukan kebaikan, tentu saja karena tahu bahwa hal itu akan mendatangkan keuntungan bagi kita.
Kita memaksa diri tidak mau melakukan kejahatan dengan pengetahuan bahwa hal itu akan mencelakakan kita sendiri.
Jelaslah bahwa pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan ini dapat mendorong kita untuk menjadi munafik, untuk menjadikan perbuatan kita palsu dan tidak wajar!
Tentu saja bukan maksud kita untuk mengabai-kan pengetahuan tentang baik dan jahat.
Akan tetapi kita harus mengenal dasar dari perbuatan kita sendiri, mengenal watak-watak palsu kita sendiri dengan cara pengamatan terhadap diri sendiri, setiap kali kita berbuat, setiap kali kita bicara, setiap kali kita berpikir.
Amat jauh bedanya antara perbuatan baik yang kita sadari dengan perbuatan apapun juga yang kita lakukan dengan dasar cinta kasih!
Jika ada sinar cinta kasih menerangi sikap dan perbuatan kita, maka perbuatan itu wajar, kita lakukan tanpa penilaian baik ataukah buruk dan yang sudah pasti sekali, segala perbuatan yang dilakukan dengan dasar cinta kasih, seperti matahari menyinarkan cahayanya, seperti bunga menyiarkan keharuman dan keindahannya, seperti ibu menyusui anaknya, maka perbuatan itu adalah suci!
Ketika Siu Kwi sedang terombang-ambing dalam lamunannya sendiri, mulai timbul rasa penyesalan terhadap segala perbuatannya yang sudah-sudah, dan timbul pula keinginan untuk mengubah jalan hidupnya, meninggalkan kesesatannya, tiba-tiba ia mendengar suara seorang laki-laki bernyanyi.
Suara itu lantang dan bersih, kadang-kadang tersendat suaranya seperti tertahan sesuatu, dan lagunyapun lagu dusun yang sederhana sekali, seperti orang membaca sajak saja..Alangkah cantiknya duniaku!
Langit biru terhias awan bergumpal-gumpal Itulah atap rumahku!
Pohon-pohon berdaun hijau berbunga aneka warna Itulah dinding rumahku!
Tanah segar dengan babut rumput hijau Itulah lantai rumahku....!
Siu Kwi membelalakkan kedua matanya.
Hatinya tersentuh.
Ada kesederhanaan dan keaslian dalam suara itu.
Kewajaran yang indah walaupun isi nyanyian itu teramat sederhana.
Dan suara itu begitu wajar dan segar, membayangkan bahwa penyanyinya tentulah berada dalam kebahagiaan.
Siu Kwi yang tadi merasa sengsara, jauh dari kebahagiaan yang didambakannya, menjadi tertarik sekali.
Tangisnya terlupa, terhenti dengan sendirinya dan sejak tadi ia terbawa hanyut oleh suara nyanyian.
Suara itu masih bernyanyi, mengulang-ulang kata-kata itu akan tetapi tidak menjemukan, seperti suara burung-burung pagi berkicau dengan riang.
Ia bangkit berdiri, membereskan pakaiannya yang kusut, juga rambutnya yang awut-awutan dalam keadaan setengah sadar karena gerakan itu hanya terjadi karena kebiasaan, kemudian ia keluar dari dalam pondok tua dan berjalan menuju ke arah suara nyanyian.
Wajahnya masih agak pucat, bekas-bekas air mata masih nampak di kedua pipinya.
Matanya masih kemerahan dan agak membengkak.
Isaknya kadang-kadang masih mengguncang dadanya, seperti gema tangisnya tadi.
Ia berjalan perlahan ke arah suara.
Pria itu berusia antara dua puluh lima tahun.
Dia tidak berbaju, hanya memakai sebuah celana dari kain kasar yang berwarna hitam.
Celana panjang itu digulungnya sampai ke lutut dan di sana-sini ternoda lumpur.
Badan yang tidak tertutup baju itu memperlihatkan otot-otot yang berkembang dengan bagusnya, bergerak-gerak ketika kedua lengannya mengayun cangkul.
Tubuh yang tegap itu nampak penuh dengan tenaga.
Wajahnya sederhana saja, bersih dan penuh kejantanan.
Pria itu mencangkul tanah berlumpur sambil bernyanyi, suara nyanyiannya kadang-kadang tersendat kalau cangkulnya terayun dan menghunjam tanah basah di depan kakinya.
Bunyi "crok-crok!"
Cangkulnya seirama dengan nyanyiannya dan agaknya suara itu menjadi pengiring nyanyiannya yang sederhana.
Pria itu memusatkan perhatiannya dengan sepenuhnya kepada tanah yang dicangkulnya dan ini merupakan suatu keharusan.
Kalau tidak, cangkulnya dapat menghantam batu atau menyeleweng, ke arah kakinya sendiri.
Akan tetapi ada yang lebih dari pada itu, yalah rasa cinta terhadap apa yang dikerjakannya!
Dan rasa cinta inilah yang mendatangkan ketekunan, mendatangkan pencurahan perhatian, sepenuhnya.
Dan sepatutnya, kita semua mencontoh pemuda itu, yaitu .
melakukan segala pekkerjaan dengan perasaan cinta terhadap apa saja yang kita kerjakan!
Dan kalau sudah begitu, kita bekerja tanpa mengharapkan apa-apa, karena di dalam pekerjaan itu sendiri kita sudah menemukan suatu kebahagiaan besar.
Adapun hasil pekerjaan itu hanyalah merupakan akibat saja dari pekerjaan kita, merupakan bunga dan buah dari pada pohon yang kita tanam.
Siu Kwi memandang ke arah pria itu dengan terpesona.
Sampai lama ia berdiri seperti patung mengamati pria itu, mengikuti seluruh nyanyiannya, mengikuti setiap gerak kaki tangannya.
Biasanya, ia memandang rendah kepada orang-orang yang bekerja kasar, apa lagi seorang petani miskin dan kotor seperti pria itu!
Seorang pria yang tentu saja tidak terpelajar, bodoh dan juga lemah, hanya memiliki tenaga kasar saja, bukan ahli silat!
Biasanya, terhadap seorang pria mencangkul sawah seperti ini, ia tentu sama sekali acuh, menengokpun tidak sudi.
Akan tetapi sekarang, ia terpesona!
Ada keindahan tersendiri yang khas pada tubuh pria itu.
Wajahnya yang sederhana, tubuhnya yang tegap, nyanyiannya, Semua itu nampak begitu riang dan cerah, seperti burung yang berkicau sambil berlompatan dari dahan ke dahan, seperti sinar matahari pagi itu.
Ah, dia tentu seorang yang berbahagia, pikir Siu Kwi.
Dan iapun ingin sekali tahu.
Bagaimana ia akan bisa memperoleh kebahagiaan?
Bagaimana pula pria petani sederhana ini dapat hidup demikian bahagia, walaupun bergelimang kesederhanaan, lumpur kotor dan mungkin kemiskinan?
Pada hal pria itu jelas seorang yang amat sederhana, bodoh hanya seorang petani biasa!
Siu Kwi melangkah maju menghampiri sampai ia tiba di tepi sawah.
Pemuda yang sedang mencang-kul itu belum juga melihat kedatangannya.
Ini saja biasanya cukup untuk menjengkelkan hati Siu Kwi yang merasa tidak diperhatikan, pada hal jarak antara ia dan pemuda itu hanya beberapa meter saja.
"Heii, bung! Aku ingin bertanya sedikit padamu."
Akhirnya Siu Kwi berkata dan biarpun tidak ada kemarahan di hatinya terhadap pemuda itu, karena sudah menjadi kebiasaannya, suaranya terdengar lantang dan juga galak.
Pria petani itu nampak terkejut.
Tak disangkanya akan ada seorang wanita datang menegurnya dan ketika dia menengok, dia menjadi semakin terkejut sehingga sampai beberapa lamanya dia hanya bengong saja memandang, menoleh ke arah Siu Kwi dengan cangkul masih dalam genggaman kedua tangan.
Tentu saja, melihat seorang wanita dengan pakaian indah dan sedemikian cantiknya kini berdiri di depannya dan mengajak dia bicara, merupakan suatu pengalaman yang amat mengejutkan dan mengherankan bagi petani itu.
Tentu saja dia menjadi bengong dan tak mampu mengeluarkan jawaban.
Siu Kwi mengerutkan alisnya.
Biasanya, melihat pertanyaannya tidak segera dijawab orang, tentu akan membuat ia marah sekali.
Akan tetapi aneh, sekali ini tidak.
Ia seperti dapat mengerti bahwa pria ini terheran-heran dan terkejut, sehingga melihat orang itu bengong, ia merasa geli sendiri.
"Heii, bung! Apakah engkau tuli ataukah gagu sehingga tidak mendengar dan tidak dapat menjawab?"
Barulah pemuda petani itu nampak semakin gugup.
Ia menurunkan cangkulnya, demikian keras dan canggung sehingga cangkul itu menimpa lumpur yang memercik ke atas dan mengenai dagunya!
Melihat ini, Siu Kwi menjadi semakin geli dan tanpa disadarinya, wanita itu tersenyum lebar dan iapun tidak sadar betapa senyumnya ini membuat wajahnya manis sekali.
"Uh, maaf....!"
Kata pemuda itu, mencoba untuk membungkuk sebagai tanda penghormatan.
"Nyonya.... eh, nona.... tadi bertanya apakah?"
Sikap yang canggung dan suara yang lantang itu saja sudah mendatangkan kegembiraan di hati Siu Kwi.
"Aku belum bertanya,"
Jawabnya.
"akan tetapi aku ingin bertanya sedikit padamu dan maafkan kalau aku mengganggu pekerjaanmu."
Siu Kwi merasa heran sendiri mendengar sikap dan bahasanya.
Ia seolah-olah mendengar suara orang lain bicara melalui dirinya.
Belum pernah ia se "ramah"
Dan se "sopan"
Ini terhadap orang lain, apa lagi hanya seorang pria petani.
Pemuda itu tentu saja mengira bahwa tentu nona kota ini hendak bertanya jalan, atau menanyakan dusun di sekitar tempat itu, maka dia menjawab.
"Boleh saja kalau nona mau bertanya. Apakah yang nona tanyakan?"
"Yang ingin kutanyakan adalah . Apakah engkau berbahagia?"
Petani muda itu melongo. Sama sekali tidak pernah disangkanya dia akan menerima pertanyaan seperti itu.
"Apa....? Ehh....... aku....? Bahagia? Ah, aku tidak tahu, nona."
Pemuda ini terlalu polos dan jujur, kalau mengatakan tidak tahu, tentu benar-benar tidak tahu, atau tidak mengerti apa yang ia tanyakan.
Ia mengangguk yakin.
"Engkau tentu seorang yang hidup bahagia. Ya, aku yakin engkau tentu berbahagia!"
Akan tetapi pemuda itu tidak yakin.
"Bahagia? Apa sih bahagia itu, nona?"
Kini Siu Kwi yang bengong. Apa sih bahagia itu? "Bahagia.... ya, bahagia, hidupnya senang dan tenteram, aman makmur penuh damai...."
Pemuda itu mengangguk-angguk.
"Itukah yang dinamakan bahagia?"
"Begitulah.... atau mungkin aku keliru, entahlah."
Pemuda itu memandang bingung.
"Bagaimana pula ini? Kalau nona sendiri tidak tahu dengan jelas, apa lagi aku. Aku tidak pernah mendengar kata itu dan akupun tidak membutuhkan kebahagiaan itu."
Siu Kwi membelalakkan kedua matanya.
Tidak membutuhkan kebahagiaan!
Pemuda sederhana ini tidak membutuhkan kebahagiaan!
Sedangkan ia yang berenang di dalam kemewahan begitu rindu dan butuh akan kebahagiaan karena merasa tidak bahagia, karena merasa nelangsa dan berduka.
Agaknya itulah jawabannya.
Pemuda itu berbahagia di dalam kesederhanaannya, berbahagia karena tidak butuh bahagia lagi.
Dan ia yang berduka, merasa ditinggalkan kebahagiaan, maka ia amat membutuhkan kebahagiaan!
Kalau saja ia tidak berduka, kalau saja ia dapat menikmati segalanya seperti pemuda ini, tentu iapun tidak akan butuh kebahagiaan karena sudah berbahagia!
"Ya, tentu engkau berbahagia, karena engkau bekerja sambil bernyanyi-nyanyi gembira.
Engkau tentu seorang yang hidup berbahagia,"
Katanya lagi, memandang wajah dan tubuh pemuda itu dengan kagum. Pemuda itu mengerutkan alis sejenak, lalu mengangguk-angguk pula.
"Boleh jadi. Aku dapat melihat semua keindahan pagi ini, dapat mendengarkan kicau burung yang gembira, melihat bunga-bunga dan pohon-pohon, mencium keharuman tanah yang kucangkul, dapat menghirup udara segar dengan bebas, kalau lapar dapat makan dan kalau haus dapat minum, memiliki pekerjaan. Mau apa lagi?"
Siu Kwi semakin tertarik dan memandang kagum.
Bukan kagum dan bukan seperti biasanya tertarik oleh laki-laki karena dorongan nafsu berahi.
Bukan sama sekali.
Sekali ini, ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam hatinya.
Ia merasa tertarik dan kagum karena ia melihat betapa laki-laki yang berlepotan lumpur ini lebih utuh sebagai manusia dari pada dirinya sendiri.
Laki-laki ini jauh lebih berarti dalam kehidupan ini.
Ia seperti melihat mutiara gemerlapan di dalam lumpur.
Seorang pemuda yang amat polos, jujur terbuka, bersih seperti batu kemala yang belum digosok, Nampak kasar dan biasa saja namun mengandung keindahan yang amat berharga di dalamnya.
Jawaban pemuda itu merupakan suatu pelajaran yang tak ternilai harganya, walaupun pemuda itu tidak sengaja hendak mengajarkan sesuatu kepadanya.
Memang demikianlah.
Guru berada di mana-mana kalau saja kita mau membuka mata lahir batin dan mau mengamati segala sesuatu di dalam dunia ini, di luar dan di dalam diri sendiri, secara seksama dan waspada.
Melayangnya sehelai daun kering dari atas pohon karena patah dari tangkainya, sudah dapat merupakan suatu pelajaran tentang hidup dan mati.
Dalam mempelajari dan mengerti tentang hidup, tak perlu mencari guru dalam bentuk seorang manusia, karena kehidupan adalah sesuatu yang bergerak terus.
Kehidupan adalah suatu kenyataan yang kita hayati sendiri.
Sedangkan apa yang dapat diajarkan oleh seorang guru hanyalah pengetahuan mati tentang kehidupan.
Jawaban pemuda petani itupun dapat merupakan suatu pembukaan rahasia tentang kebahagiaan.
Dia sudah dapat menerima segala sesuatu yang ada sebagai suatu kenikmatan hidup.
Dia TIDAK MENCARI SESUATU YANG TIDAK ADA PADANYA!
Karena itulah dia tidak merasa kekurangan apa-apa, dia tidak mengejar apa-apa.
Kalau sudah begitu, tentu saja tidak ada kekecewaan, tidak ada iri, tidak ada kebutuhan akan sesuatu dan tidak ada duka.
Dan kalau sudah begini, tentu saja dia tidak membutuhkan kebahagiaan, karena kebutuhan akan kebahagiaan muncul apabila kita merasa bahwa kita tidak bahagia!
Kalau semua orang seperti pemuda petani itu, tentu tidak akan ada kemajuan!
Demikian orang membantah.
Mungkin dia benar!
Akan tetapi, apakah yang kita namakan kemajuan itu?
Kita mendambakan kemajuan, kita mengagung-agungkan kemajuan.
Akan tetapi apakah sebenarnya kemajuan itu?
Model celana dipotong pendek, lalu panjang lagi, lalu pendek lagi, panjang lagi.
Sempit, lalu long-gar, sempit lagi.
Itukah kemajuan?
Benda-benda dibikin modern agar LEBIH MENYENANGKAN.
jadi, kemajuan berarti pengejaran sesuatu yang dianggap lebih menyenangkan!
Itukah kemajuan?
Dan sampai di mana kita sekarang ini maju?
Sudah majukah?
Sudah sampai di batas manakah?
Matahari menyinarkan cahayanya yang cerah.
Burung-burung berkicau di pohon-pohon.
Bunga-bunga mekar semerbak harum.
Sejak jutaan tahun yang lalu sudah begitu, dan terus begitu.
Semua itu tidak mengejar kemajuan, melainkan bertumbuh dengan wajar.
Apakah keadaan alam seperti itu dapat kita katakan tidak maju?
Pikiran yang didorong oleh keinginan untuk mencari kesenangan yang lebih, tidak mungkin berdaya cipta (creative).
Tidak akan menjadikan kita bijaksana dan cerdas.
Sebaliknya, pikiran yang selalu mengejar kesenangan yang lebih akan menjadi licik penuh akal, kejam dan tak pernah puas.
Perbaikan keadaan tentu terjadi karena manusia mempergunakan akal budi yang memang sudah ada padanya sejak lahir.
Keburukan hidup menghadapi alam, akan mendorong manusia mempergunakan akal budinya untuk mengatasi segala kesukaran.
Daya cipta akan berkembang secara wajar, demi kesejahteraan hidup, bukan demi pergejaran kesenangan.
Selagi Siu Kwi termenung karena jawaban pemuda tani itu, tiba-tiba pemuda itu nampak gelisah.
"Nona, harap kau cepat bersembunyi di balik pohon dan semak-semak itu. Cepat, di sana datang tiga orang pemuda berandalan. Mereka baru sepekan berkeliaran di sini, dan mereka itu pemuda-pemuda dari kota yang berandalan. Cepat, bersembunyilah, nona, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
Siu Kwi sadar dari lamunannya dan ia menengok.
Benar saja, dari jauh nampak tiga orang laki-laki yang agaknya bicara sambil bergurau dan tertawa-tawa.
Akan tetapi mereka masih terlalu jauh untuk dapat didengar apa yang mereka bicarakan dan untuk melihat orang-orang macam apa adanya mereka.
Kalau menurut wataknya yang biasa, tentu saja Siu Kwi akan memandang rendah segala pemuda berandalan seperti itu.
Akan tetapi sekali ini memang terjadi hal yang aneh dalam hati Ciong Siu Kwi.
Mendengar ucapan pemuda petani itu, ia tidak membantah, melainkan cepat-cepat pergi bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari tempat itu, di tepi jalan dekat pohon besar.
Makin dekatlah tiga orang laki-laki yang keluyuran sambil bersenda-gurau itu dan akhirnya mereka tiba di tepi sawah di mana pemuda petani itu sudah melanjutkan pekerjaannya yang tadi, yaitu mencangkul tanah.
Tiga orang pemuda iseng itu sejak tadi memang sudah merasa bosan karena tempat itu sunyi dan kini melihat pemuda yang sedang mencangkul tanah, timbul kegembiraan mereka.
Mereka menemukan seorang yang dapat dijadikan bahan olok-olok dan keberandalan mereka.
"Hei, lihat itu si tolol bekerja keras!"
Teriak orang pertama yang kepalanya besar dan kedua telinganya kecil seperti telinga tikus.
"Ha-ha-ha, kusangka dia tadi seekor kerbau yang sedang meluku sawah!"
Teriak orang ke dua, orang ini kurus kering seperti berpenyakitan.
"Kau kira apa? Apa sih bedanya si tolol dengan seekor kerbau? Hei, tolol! Coba tirukan suara kerbau, bagaimana?"
Teriak orang ke tiga yang gendut.
Mereka itu tiga orang pemuda yang melihat pakaiannya saja dapat diketahui bahwa mereka itu adalah orang-orang kota!
Padahal, merekapun tadinya orang-orang dari dusun tak jauh dari situ, hanya sudah lama mereka tinggal di kota dan ketularan kesombongan orang-orang kota yang memandang rendah kepada para petani yang miskin.
Kini mereka memperolok seorang pemuda petani, padahal mereka lahir di rumah-rumah keluarga petani.
Pemuda yang sedang mencangkul itu sudah mendengar bahwa tiga orang pemuda itu adalah pemuda berandalan yang sudah sepekan suka melakukan hal-hal yang buruk, memperlihatkan kenakalan mereka mendatangkan keributan dan perkelahian, juga kekacauan.
Oleh karena itu dia bersikap tidak perduli dan pura-pura tidak mendengar saja.
Tiga orang pemuda itu mendongkol juga karena olok-olok mereka sama sekali tidak dilayani.
Mereka selalu memperoleh kegembiraan dari olok-olok mereka, baik kalau yang dihina itu melawan maupun ketakutan.
Akan tetapi pemuda petani itu diam saja, menganggap mereka seperti angin saja!
Marahlah mereka.
"Hei, tolol! Apakah kamu tuli atau gagu?"
"Hayo naik ke sini, kau harus bersihkan sepatu kami dengan baik!"
"Kalau tidak, akan kuhajar kamu! Hayo naik ke sini!"
Akan tetapi, pemuda itu tetap diam saja, hanya melirik sedikit dan di dalam hatinya dia mengambil keputusan bahwa kalau tiga orang itu berani masuk ke sawahnya, dia akan melawan mereka, akan membuat mereka berenang di sawahnya dan minum air lumpur!
"Hayo naik kamu, pengecut!
Naik ke sini biar kuhajar kau sampai minta-minta ampun!"
Teriak pula tiga orang pemuda itu sambil mencak-mencak dengan marah.
Mereka tidak berani memasuki sawah karena takut kalau sepatu dan pakaian mereka men-jadi kotor.
Akan tetapi pemuda petani itu tetap diam saja dan melanjutkan pekerjaannya mencangkul dengan tekun.
"Kurang ajar!
Serang dia dengan batu kata seorang dari mereka dan mereka bertiga kini mencari batu-batu sebesar kepalan tangan dan menyambitkan batu-batu itu ke arah pemuda petani.
Pemuda petani itu berusaha untuk menangkis dan mengelak, akan tetapi masih ada batu yang mengenai kepalanya sampai timbul benjolan besar.
Tiga orang pemuda itu tertawa-tawa.
Mulai giranglah hati mereka karena mereka dapat menghajar pemuda petani itu.
Mereka akan menghujankan batu sampai pemuda itu roboh dan minta-minta ampun!
Melihat keadaan pemuda petani itu, hati Siu Kwi merasa khawatir.
Ia sudah marah sekali terhadap tiga orang pemuda berandalan dan kalau ia mau, sekali menggerakkan tangan saja ia akan dapat membunuh mereka dan hal itu tentu sudah dilakukannya sejak tadi kalau saja tidak terjadi perubahan besar dalam hati Siu Kwi.
Kini ia keluar dari balik semak-semak dan berseru dengan suara yang sengaja dibikin agar terdengar seperti suara orang ketakutan.
"Jangan sambiti dia.... ah, jangan sakiti dia....!"
Tiga orang pemuda itu terkejut dan menoleh heran.
Akan tetapi wajah mereka menjadi terang berseri dan mulut mereka menyeringai nakal ketika mereka melihat bahwa yang berseru itu adalah seorang wanita yang demikian cantik manisnya!
Mereka merasa tercengang dan tidak pernah menduga sama sekali bahwa di tempat sunyi itu mereka akan dapat bertemu dengan seorang wanita secantik itu!
Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena mereka sudah membayangkan kesenangan yang akan mereka dapat dari wanita itu.
"Ahhh....! Tidak mimpikah aku?"
Teriak si gendut.
"Benarkah di depanku ada wanita secantik bidadari?"
"Luar biasa sekali! Petani tolol busuk itu mempunyai seorang pacar yang begini cantiknya!"
Kata si kepala besar.
"Hati-hati, kawan. Jangan-jangan ia ini seorang siluman!"
Kata si kurus kering.
Siu Kwi merasa heran sekali atas perubahan yang terjadi pada dirinya.
Kenapa ia tidak marah dan membunuh mereka ini?
Dahulu, jangankan sampai menggoda dengan nada menghina, baru memandang secara kurang ajar saja, kalau ia tidak suka kepada laki-laki itu, tentu akan dibunuhnya seketika!
"Dia tidak bersalah apa-apa, kenapa kalian menganggunya?"
Hanya itu saja yang ia katakan, itupun dengan nada meminta agar para pemuda itu jangan mengganggu si petani.
Sementara itu, pemuda petani itu terkejut bukan main melihat munculnya wanita cantik itu dari balik semak-semak.
Dia tahu bahwa tiga orang pemuda berandalan itu tentu tidak akan mau melepaskan wanita itu begitu saja.
Karena khawatir kalau gadis itu menderita dari gangguan mereka yang kurang ajar, pemuda petani itu segera melangkah keluar dari dalam sawah, lalu cepat menghampiri mereka dan berdiri di depan gadis itu dengan sikap melindungi.
"Kuharap kalian tidak mengganggu gadis ini. Kami adalah orang-orang yang tidak pernah mengganggu kalian, maka kuminta dengan sangat agar kalian tidak mengganggu kami,"
Kata pemuda itu dengan sikap tenang.
Melihat pemuda yang bertelanjang dada dan berlepotan lumpur ini kini berani melindungi wanita itu, tiga orang pemuda berandalan menjadi marah sekali.
"Petani busuk, mampuslah!"
Bentak si perut gendut dan dia sudah menyerang dengan pukulan keras menyambar ke arah muka si pemuda petani.
"Desss....!"
Pemuda petani itu tidak mengira bahwa dia akan dipukul, maka dia tidak sempat menangkis dan mukanya kena dipukul.
Pukulan ini tepat mengenai batang hidungnya, maka segera nampak darah keluar dari lubang hidungnya.
"Plakkk....!"
Karena marah, si pemuda petani membalas dan tangannya yang menampar mengenai pipi si gendut.
Tubuh si gendut terpelanting.
Tamparan itu demikian kerasnya sampai membuat matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut, ditambah rasa panas dan pedih di pipinya.
Dua orang temannya segera maju mengeroyok.
Pemuda petani itu mengamuk.
Kini dia dikeroyok tiga, dan tiga orang pemuda berandalan itu seperti tiga ekor serigala yang mengeroyok seekor anjing pemburu yang melawan mati-matian.
Akan tetapi karena pemuda petani itu tidak pandai silat, hanya mengandalkan kekuatan tubuh yang tahan pukulan dan tenaga besar semangat berkobar, dia menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan tiga orang pengeroyoknya.
Biarpun demikian, sungguh dia bertubuh kuat dan biarpun dihujani pukulan dan dikeroyok, dia masih sempat berteriak.
"Nona, cepat kau pergilah dari sini!"
Siu Kwi memandang dengan penuh kagum.
Pemuda petani itu kini menjadi seorang yang kegagahannya tidak kalah oleh para pendekar manapun juga.
Bahkan mungkin lebih gagah, pikirnya.
Kalau seorang pendekar berani membela orang lain, dia mengandal-kan kepandaian silatnya dan senjatanya.
Akan tetapi, pemuda ini membelanya mati-matian, pada hal pemuda sederhana ini tidak pandai silat.
Bahkan dalam hujan pukulan itu dia masih minta kepada-nya untuk menyelamatkan diri.
Dia benar-benar merasa gembira karena selama hidupnya baru sekaranglah dia bertemu dengan seorang pria yang membelanya mati-matian tanpa pamrih sedikitpun juga!
Biasanya, di dalam kehidupannya yang lalu, kalau ada pria membelanya, maka di balik pembelaan itu tentu mengandung pamrih tertentu.
Seperti Bhok Gun misalnya.
Para pria yang bersikap baik kepadanya tentu mengharapkan imbalan jasa.
Akan tetapi pemuda petani ini sama sekali tidak!
Mereka tidak saling mengenal, dan pemuda itu jelas tidak mengharapkan apa-apa, bahkan minta agar ia pergi secepatnya.
Keharuan, suatu perasaan aneh yang baru pertama ini dikenal Siu Kwi, menyelubungi hatinya dan iapun cepat pura-pura melarikan diri.
Akan tetapi ia cepat menyelinap kembali, tanpa diketahui mereka, dan bersembunyi di balik pohon tak jauh dari tempat perkelahian itu terjadi, mengintai dengan hati penuh kagum dan khawatir.
Pemuda tani itu benar-benar hebat!
Biarpun tubuhnya menjadi bulan-bulan pukulan dan tendangan sehingga dada yang bidang itu, juga lengannya, menjadi matang biru, bahkan mukanya juga benjol-benjol, namun dia pantang menyerah.
Seperti seekor harimau terbuka dia mengamuk terus, tidak sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya.
Sebaliknya, setiap kali dia membalas dan mengenai tubuh lawan, tentu pengeroyok yang kena dipukul atau ditendang berteriak kesakitan lalu memaki-maki dan membalas dengan serangan membabi buta.
Dari keadaan perkelahian itu saja sudah dapat dinilai watak masing-masing.
Pemuda petani itu bertubuh kuat sehingga akhirnya tiga orang lawan yang mengeroyoknya dan lebih banyak memukulnya itu menjadi kewalahan sendiri.
Mereka lalu mencabut pisau belati dan mengepung dengan wajah beringas seperti serigala haus darah.
Melihat berkilatnya tiga buah pisau belati di tangan mereka, Siu Kwi mengerutkan alisnya.
Pemuda petani itu tentu akan celaka kalau ia tidak turun tangan, pikirnya.
Jari-jari tangannya memungut tiga butir batu kerikil dan tiga kali tangannya terayun ke depan.
Tiga orang pemuda yang sudah mencabut pisau belati itu tiba-tiba mengeluarkan pekik kesakitan, pisau mereka terlepas dari tangan dan untuk beberapa detik lamanya mereka tidak mampu bergerak.
Kesempatan ini dipergunakan oleh pemuda tani, yang tidak tahu mengapa mereka melepaskan kembali pisau-pisau mereka, untuk maju menghajar mereka dengan pukulan-pukulan keras.
Tiga orang pemuda itu jatuh bangun dan semangat mereka sudah buyar sama sekali.
Mereka masih ketakutan karena tanpa sebab mereka tadi merasa tangan mereka nyeri bukan main, pisau mereka terlepas dan mereka tidak mampu bergerak.
Teringatlah mereka akan wanita cantik tadi dan kembali timbul dugaan bahwa wanita itu tentu siluman dan kini membantu si pemuda petani.
Maka, tanpa dikomando lagi, mereka bertiga lalu melarikan diri tunggang langgang!
Pemuda petani itu berdiri memandang mereka sampai bayangan mereka lenyap di antara pohon-pohon.
Dia lalu menyeka darah dari hidung dan bibirnya yang pecah-pecah, menggunakan punggung tangan yang juga matang biru membengkak.
Setelah tiga orang lawannya pergi, baru dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan diapun agak terhuyung menghampiri pohon besar di tepi jalan.
"Ah, kau terluka...."
Hampir saja pemuda petani itu menerjang dan menyerang Siu Kwi yang muncul dengan tiba-tiba dari balik batang pohon besar.
Dia sudah melupakan wanita itu yang disangkanya tentu sudah melarikan diri ketakutan dan tidak akan kembali lagi ke tempat itu.
"Ah, kau....?"
Serunya kaget, juga girang bukan main.
Kukira engkau sudah pergi jauh dari tempat ini, nona.
Dengan hati merasa lega sekali pemuda tani itu lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, karena tubuhnya kini terasa lelah bukan main, tenaganya seperti hampir habis.
Siu Kwi cepat berlutut di dekatnya.
"Ah, tubuhmu luka-luka semua, babak bundas.... ah, tentu nyeri sekali...."
Katanya dan dengan lembut jari-jari tangan wanita itu menyentuh dada, pundak dan pangkal lengan yang memar dan matang biru.
Sentuhan-sentuhan lembut itu seperti obat yang amat nyaman terasa oleh pemuda tani.
Biarpun usianya sudah dua puluh lima tahun, akan tetapi dia belum pernah menikah, bahkan jarang bergaul dengan wanita.
Dan kini, tiba-tiba muncul seorang wanita yang luar biasa cantiknya berdekatan dengannya, menyentuh tubuhnya dengan lembut.
Jantung pemuda itu berdebar keras sekali dan hal ini mudah nampak oleh Siu Kwi sehingga wanita inipun diam-diam merasa girang sekali.
Ia sudah berpengalaman, sudah mengenal banyak pria dan tahu akan keadaan seorang pria.
Maka mudah saja ia mengetahui bahwa pria dusun inipun amat tertarik kepadanya dan bahwa pendekatannya membuat pemuda itu berdebar jantungnya.
Anehnya, sekali ini ia merasa demikian girang dan bangga akan kenyataan ini!
"Luka-lukamu ini perlu dirawat.
Aku biasa merawat luka, marilah kuantar engkau pulang dan akan kurawat luka-lukamu....
ahhh...."
Tiba-tiba Siu Kwi teringat dan mukanya berubah pucat dan iapun bangkit dan melangkah mundur.
Pria petani itu sudah merasa girang mendengar bahwa wanita cantik itu akan ikut dia pulang dan akan merawat luka-lukanya, akan tetapi terkejut melihat perubahan sikap wanita itu.
Diapun bangkit berdiri, memandang penuh selidik.
"Ada apakah, nona?"
"Kau....ah, tentu di rumahmu ada isteri dan keluargamu yang akan merawatmu...."
Kata Siu Kwi, memandang penuh pertanyaan dan dengan hati gelisah.
Mengapa dia tidak ingat akan hal itu?
Seorang pria sedewasa ini, apa lagi hidup di dusun, sudah tentu pria ini sudah menikah dan mungkin sudah mempunyai beberapa orang anak!
Hatinya seperti ditusuk-tusuk.
Kalau dulu, ia tidak akan perduli apakah seorang laki-laki itu berkeluarga atau tidak, mau atau tidak padanya.
Kalau ia suka, dengan halus maupun kasar ia tentu akan memiliki pria itu, atau membunuh-nya.
Akan tetapi sekarang, ia ragu-ragu, khawatir dan berduka membayangkan bahwa laki-laki ini tentu sudah beristeri!
Pemuda petani itu tersenyum.
Senyumnya cerah, wajar dan sehat.
"Nona, aku belum pernah menikah. Di rumahku hanya tinggal aku dan ayahku seorang. Ibuku sudah lama meninggal."
Merasa bagaikan sebongkah batu dilepaskan dari hatinya yang tertindih, Siu Kwi ingin sekali merangkul dan mencium pemuda itu.
Namun aneh lagi.
Ia merasa malu melakukannya, dan ia menahan gejolak perasaannya itu.
"Aih, kalau begitu baru aku berani ikut denganmu dan merawat luka-lukamu."
Karena pertanyaan wanita itu, kini si pemuda petani juga memandang ragu.
Masih nonakah wanita ini ataukah sudah nyonya?
Kiranya sukar dipercaya kalau masih nona, karena usianya sudah tidak begitu muda lagi walaupun kecantikannya membuat ia nampak jauh lebih muda.
Setidaknya, tidak lebih muda darinya dan wanita seusia ini tak mungkin masih perawan.
"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, nona.... atau.... nyonyakah?"
Luar biasa sekali!
Siu Kwi merasa mukanya panas dan ia tentu akan terheran-heran kalau dapat melihat betapa kulit mukanya berubah kemerahan seperti seorang perawan yang tersipu malu!
Heran sekali ia, mengapa ia merasa begini malu dan canggung ditanya oleh pemuda ini apakah ia masih gadis ataukah sudah menikah?
Tentu saja akan tidak enak sekali kalau ia mengaku masih gadis, karena usianya sudah tidak pantas untuk itu.
"Aku.... aku seorang janda yang ditinggal mati suamiku, beberapa tahun yang lalu. Semenjak itu, aku hidup seorang diri saja...."
"Ahh....! Maafkan pertanyaanku kalau aku telah menyinggung perasaanmu dan mendatangkan kembali kenangan yang menyedihkan,"
Kata pemuda itu, agak terkejut. Siu Kwi tersenyum, manis sekali.
"Hal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, kesedihan sudah lama meninggalkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin mengetahui siapakah namamu dan di mana rumahmu?"
"Aku she Yo bernama Jin, tinggal berdua dengan ayah di dusun sebelah selatan itu."
Dia menudingkan telunjuknya ke arah selatan di mana nampak dari situ sekelompok rumah dusun.
"Namamu Jin (Welas Asih), pantas engkau berhati mulia, mau membela dan menolong aku yang sama sekali tidak kau kenal. Aku she Ciong, namaku Siu Kwi dan lempat tinggalku tidak tetap karena aku sudah tidak memiliki keluarga lagi."
Pemuda dusun yang bernama Yo Jin itu memandang dengan sinar mata mengandung iba dan dia menggeleng kepala.
"Akan tetapi.... apakah sama sekali tidak mempunyai anggauta keluarga? Orang tua, saudara-saudara...."
Akan tetapi Ciong Siu Kwi menggeleng kepala dan ia memang tidak berbohong.
Ia sendiri sudah tidak mempunyai sanak keluarga sama sekali ketika dipungut oleh Sam Kwi.
"Aku hidup sebatangkara, seorang diri saja di dunia yang luas ini. Aihh, kenapa kita bercakap-cakap saja, engkau perlu dirawat. Mari kuantar engkau pulang."
Siu Kwi lalu memegang lengan pemuda itu dan membantunya bangkit berdiri.
Melihat betapa wanita itu memegang lengannya, kembali jantung Yo Jin tergetar dan diapun masih merasa ragu-ragu.
Seorang wanita secantik ini, sudah menjanda dan nampak begitu mewah pakaiannya, hendak menggandengnya!
"Tapi, nyonya...."
"Hemm, Yo Jin. Aku sudah memperkenal-kan bahwa namaku Siu Kwi, bukan?"
"Baiklah,.... adik Kwi. Aku.... aku masih sangsi apakah mungkin seorang seperti engkau ini merawatku....?"
Senang hati Siu Kwi disebut Kwi-moi (adik Kwi) walaupun ia yakin bahwa ia lebih tua dari pemuda itu.
Diapun sengaja menyebut toako (kakak) untuk mengimbangi sebutan Yo Jin dan untuk menghormati pemuda dusun itu.
Kenapa tidak, Jin-toako?
Engkau sudah menolongku, menyelamatkan aku dari gangguan tiga pemuda berandalan itu.
Budimu terlampau besar dan sudah sepatutnya kalau aku kini merawatmu, sekedar untuk membalas kebaikanmu dan menyatakan terima kasihku.
Akan tetapi....
tentu saja aku tidak berani memaksa (Lanjut ke
Jilid 26) Suling Naga (Seri ke 13 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 kalau engkau tidak sudi dirawat oleh seorang janda yang hidup merana dan kesepian.
Di dalam kalimat terakhir itu terkandung isak dan inipun bukan pura-pura karena memang hati Siu Kwi merasa sedih sekali membayangkan hatinya yang sedang kesepian dan merana itu menderita pukulan karena ditolak oleh Yo Jin.
Ia merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda ini.
Bukan sekedar nafsu berahi yang mendorongnya.
Entah bagaimana, melihat sikap pemuda ini yang melindungi dan membelanya mati-matian tanpa pamrih, ia merasa aman sentausa berada di samping Yo Jin.
Perasaan sepi lenyap.
"Aih, mana mungkin aku menolak uluran tanganmu, Kwi-moi? Mari, marilah kita pulang."
"Pulang?"
Seperti dalam mimpi Siu Kwi mengulang kata yang terdengar amat luar biasa itu, amat asing namun amat indahnya.
"Ya, pulang! Bukankah engkau tadi mengajakku pulang? Ke rumahku, rumah ayahku."
"Pulang....?"
Kembali Siu Kwi mengulang kata itu, kata yang baginya mengandung makna yang asing dan indah, Seolah-olah "pulang"
Merupakan sebuah tempat milik mereka berada, sebuah sarang yang aman sentausa, yang nyaman dan penuh kedamaian.
Ayah Yo jin adalah seorang kakek petani yang bertubuh tinggi besar, berwatak jujur dan dia menyambut pulangnya puteranya dengan alis berkerut.
Tentu saja dia merasa heran bukan main melihat anaknya pulang bersama seorang, wanita cantik berpakaian mewah yang menggandengnya.
Mereka nampak demikian mesra!
Akan tetapi perasaan heran ini menjadi kekagetan dan kekhawatiran ketika dia melihat betapa muka anaknya itu matang biru dan bengkak-bengkak.
Baru dia mengerti setelah Yo Jin menceritakan bahwa dia diganggu dan dikeroyok oleh tiga orang pemuda kota yang berandalan itu dalam membela Ciong Siu Kwi yang hendak diganggu.
"Nyonya.... eh, adik Ciong Siu Kwi mene-mani aku karena ia hendak merawat luka-lukaku, ayah. Aku tidak dapat menolak maksud baiknya itu."
Ayahnya mengangguk-angguk dan menatap wajah wanita ini dengan tajam penuh selidik.
Pandang mata itu membuat Siu Kwi merasa kikuk sekali, akan tetapi ia hanya menundukkan mukanya.
"Mari, Jin-toako, kucuci luka-luka itu, karena kalau didiamkan saja dan terkena kotoran dapat membengkak dan berbahaya,"
Katanya halus kepada Yo Jin.
Pemuda itu mengangguk dan mulailah Siu Kwi merawatnya.
Ia mencuci luka-luka itu, dengan jari-jari tangan menyentuh halus ia menggosok bagian yang bengkak, menaruh obat pada bagian yang memar dan matang biru.
Entah mana yang lebih manjur, obat yang dipergunakan Siu Kwi ataukah sentuhan jari-jari tangannya, akan tetapi Yo Jin merasa betapa kenyerian di tubuhnya lenyap seketika.
Mau rasanya dia dipukuli orang setiap hari kalau sesudah itu dirawat oleh jari-jari tangan wanita cantik ini!
Karena dia memang jujur, maka suara hatinya ini tak dapat ditahannya.
"Wah, aku sungguh beruntung!"
Katanya, Ayahnya sudah meninggalkan mereka yang berada di ruangan samping.
"Beruntung? Kenapa?"
Tanya Siu Kwi, ingin tahu sekali.
"Ya, beruntung telah dipukuli orang sampai babak belur dan matang biru."
Siu Kwi memandang heran.
"Eh? Betapa anehnya!"
"Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin aku akan mendapatkan perawatanmu seperti ini?"
Siu Kwi merasa betapa jantungnya berdebar.
Ingin ia merangkul pemuda itu, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya.
Ia harus bersikap biasa, ia tidak menuruti lagi segala kehendak hatinya seperti yang sudah-sudah.
Namun ia tidak dapat terbebas dari perasaan jengah sehingga mukanya berubah kemerahan.
"Jin-toako, masih sakitkah bekas pukulan dan tendangan itu?"
"Tidak, sama sekali sudah lenyap. Sentuhan tanganmu yang lembut mengusir semua rasa nyeri,"
Jawab Yo Jin sungguh-sungguh.
"Senangkah engkau kurawat begini?"
"Senang sekali! Mau rasanya aku setiap hari menerima pukulan asal engkau yang merawatnya."
Siu Kwi memandang penuh perhatian.
Bersandiwarakah pemuda ini?
Apakah dia sebenarnya seorang laki-laki yang pandai merayu hati wanita dan kini berpura-pura sebagai seorang pemuda dusun yang bodoh?
Tidak, dia merasa yakin bahwa pemuda ini bukan seorang perayu, melainkan seorang yang amat jujur.
Apa yang diraskannya, apa yang dipikirkannya, langsung saja keluar melalui mulutnya.
Dan ia merasa betapa ada suatu kegembiraan besar memenuhi dadanya.
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring di luar rumah dan ayah Yo Jin memasuki ruangan itu dengan wajah membayangkan kekhawatiran besar.
"Mereka bertiga datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun di timur! Ah, Yo Jin, engkau mencari gara-gara saja. Bagaimana baiknya sekarang?"
Yo Jin mengerutkan alisnya dan diapun bangkit. Sedikitpun dia tidak merasa takut.
"Ayah, mereka itu pengacau-pengacau tak tahu malu. Kalau mereka berani datang untuk membikin ribut di sini, biarlah aku akan menghajar meereka lagi."
Berkata demikian, dengan sikap gagah Yo Jin lalu melangkah keluar.
"Toako, berhati-hatilah...."
Siu Kwi berseru dan iapun sudah bangkit dan memegang lengan pemuda itu. Yo Jin menoleh.
"Lebih baik engkau jangan keluar, jangan memperlihatkan diri. Biar aku yang menghadapi mereka."
"Tapi.... tapi engkau akan dikeroyok lagi, dipukuli...."
Yo Jin tersenyum dan untuk beberapa detik lamanya tangannya menggenggam tangan wanita itu.
"Tak perlu dirisaukan! Bukankah di sini ada engkau yang akan mengobati semua bekas pukulan?"
Dia lalu melepaskan tangannya dan cepat keluar karena orang-orang itu sudah berteriak-teriak lagi.
Siu Kwi berdiri bengong dan mulutnya tersenyum, wajahnya berseri.
Ia merasa seperti seorang gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta!
Akan tetapi ia segera mengkhawatirkan keadaan Yo jin dan iapun cepat mengintai dari balik pintu.
Ternyata tiga orang pemuda berandalan itu, setelah melarikan diri.
Segera pergi menghadap Lui-kongcu (tuan muda Lui), putera dari kepala dusun tempat asal tiga orang pemuda itu.
Mereka memang berkawan dengan putera kepala dusun yang terkenal mata keranjang.
Mereka memuji-muji kecantikan wanita yang menjadi pacar seorang pemuda petani di dusun selatan sehingga Lui-kongcu tertarik sekali.
Apa lagi mendengar betapa tiga orang pemuda itu yang dianggap sebagai anak buahnya, telah dihajar babak-belur oleh pemuda itu karena memperebutkan wanita cantik, Lui-kongcu merasa penasaran.
Mengandalkan kedudukan ayahnya, dia memang sudah biasa merajalela dan suka membikin kacau, menekan para penduduk yang tentu saja takut kepadanya mengingat akan kedudukan ayahnya, yaitu kepala dusun Lui.
Ketika Yo Jin muncul diikuti oleh ayahnya yang memandang khawatir, Lui-kongcu sudah menyambutnya dengan dampratan.
"Monyet inikah yang telah lancang tangan berani memukuli tiga orang pemuda dusun kami?"
Dia membentak sambil menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka Yo Jin.
"Siapakah namamu?"
Yo Jin tidak mengenal pemuda yang bertubuh jangkung kurus dan berwajah tampan akan tetapi angkuh ini.
Akan tetapi tadi ayahnya sudah memberi tahu bahwa tiga orang pemuda berandalan itu datang bersama Lui-kongcu putera kepala dusun timur.Maka dia dapat menduga tetu pemuda tampan jangkung berpakaian mewah ini putera kepala dusun itu.
"Maaf, bukan aku yang memukuli dan mengeroyokku. Aku hanya membela diri saja. Namaku adalah Jin she Yo...."
"Bagus, Yo Jin. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun kami di timur. Engkau telah berani kurang ajar terhadap kami, hayo cepat berlutut minta ampun!"
Bukan watak Yo Jin untuk merendahkan diri karena takut. Dia tidak merasa besalah, maka diapun tidak takut terhadap siapa juga.
"Lui-kongcu, sudah kukatakan bahwa aku tidak bersalah, maka diapun tidak takut terhadap siapa juga.
"Lui-kongcu, sudah kukatakan bahwa aku tidak bersalah. Merekalah yang terkenal sebagai pemuda-pemuda berandalan yang suka membikin kacau. Sebaiknya kalau Lui-kongcu sebagai putera kepala dusun, menghukum mereka agar mereka tidak lagi menjadi berandalan-berandalan yang suka mengacau ke kampung-kampung."
"Tutup mulutmu! Engkau berani membantah dan melawan aku, ya?"
Bentak Lui-kongcu marah sambil melangkah maju mendekati Yo Jin.
"Hayo lekas berlutut!"
"Aku tidak bersalah apa-apa, kenapa harus berlutut?"
Jawab Yo Jin dengan sikap tenang dan alis berkerut, pandang mata tajam ditujukan kepada wajah kongcu itu.
"Engkau melawanku?"
Lui-kongcu membentak, lalu membuat gerakan memasang kuda-kuda dengan gagah dan membentak.
"Haiiiit....!"
Lalu tubuhnya menerjang ke depan, tangannya yang dikepal memukul bertubi-tubi.
Yo Jin menyangka bahwa anak kepala dusun ini akan memukulnya, dan dia pun merasa sungkan untuk membalas, maka dia menangkis sedapatnya.
Karena tidak membalas, dan karena dia masih lelah, beberapa pukulan mengenai tubuhnya, dan tentu saja terasa nyeri karena mengenai bagian yang memar dan masih biru.
Lui-kongcu melanjutkan serangannya sambil berteriak-teriak seperti lagak seorang jagoan tulen.
Karena kesakitan, Yo Jin lalu melawan.
Dia membalas dengan pukulan tangan kanan yang mengenai dada Lui-kongcu sehingga tubuh si jangkung ini terpelanting!
Kiranya, hanya lagak saja seperti jagoan.
Memang dia pernah belajat silat, akan tetapi orang seperti dia mana ada ketekunan belajar secara sungguh-sungguh?
Dia belajar hanya untuk berlagak, maka yang dihafalnya hanyalah pemasangan kuda-kuda dan gerakan-gerakan yang nampak indah, namun karena dia tidak tekun mempelajari dasar-dasarnya, maka semua gerakannya itu kosong belaka, bagaikan bungkusan indah yang tidak ada isinya.
Maka, begitu Yo Jin membalas, diapun terkena pukulan dan terpelanting.
Melihat demikian, tiga orang pemuda berandalan itupun maju mengeroyok.
Tentu saja Yo Jin yang masih belum pulih kesehatannya, dan masih lelah itu, harus menerima hajaran empat orang pengeroyoknya, dipukul dan ditendang sampai babak belur.
Namun, dengan gigih dia membela diri dan melawan, sedikitpun tidak pernah mengeluh.
"Heiii, jangan berkelahi! Jangan pukuli anakku....!"
Ayah Yo Jin yang melihat puteranya dipukuli orang lalu maju untuk melerai, akan tetapi ia disambut oleh pukulan-pukulan yang membuat ia roboh terpelanting pula!
Melihat itu, Siu Kwi lalu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Tahan, jangan berkelahi!"
Mendengar suara perempuan, empat orang pengeroyok itu menghentikan amukan mereka dan Lui-kongcu memandang bengong ketika dia melihat seorang wanita muda yang amat cantik jelita berdiri di situ.
Tiga orang pemuda berandalan itupun memandang dan mereka segera mengenal wanita itu.
"Kongcu, itulah pacarnya yang cantik!"
Lui-kongcu tidak perlu diberitahu lagi karena matanya yang berminyak sudah melahap kecantikan yang berada di depan matanya dan diapun sudah dapat menduga bahwa tentu wanita ini yang menjadi gara-gara keributan itu, yang diperebutkan dan dia tidak menyalahkan anak buahnya kalau tergila-gila kepada wanita ini.
Memang cantik jelita!
"Yo Jin, aku akan mengampunimu kalau engkau mau memberikan pacarmu ini kepadaku, setidaknya kupinjam dia untuk beberapa malam lamanya!"
Kata Lui-kongcu tanpa malu-malu lagi.
Dapat dibayangkan betapa panas rasanya hati Yo jin.
Dia sudah jatuh cinta kepida Siu Kwi dan kini mendengar kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar itu, yang ditujukan kepada Siu Kwi, tentu saja dia menjadi marah.
"Lui-kongcu, andai kata ia itu pacarku, tunanganku atau isteriku, tentu takkan kuserahkan kepadamu, dan akan kuhajar engkau yang berani bersikap kurang ajar! Akan tetapi sayang, ia hanya seorang sahabat baru dan seorang tamuku yang terhormat."
Mendengar jawaban ini, Lui-kongcu dan tiga orang pemuda berandalan itu saling pandang.
Si gendut, seorang di antara tiga pemuda berandalan itu, berseru tak percaya.
"Kau bohong! Kalau bukan pacarmu, kenapa engkau membelanya sampai mati-matian?"
"Hemmm, orang-orang macam kalian ini tentu merasa heran, akan tetapi orang-orang sopan tentu mengerti bahwa sudah sepatutnya kalau seorang pria menghormati wanita, membelanya dan bukan seperti kalian yang hendak menghinanya dan mempermainkannya!"
"Ha-ha-ha, bocah petani dusun tolol! Orung macam engkau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau ia bukan apa-apamu, sudah, mundur kau dan jangan turut campur!"
Kata Lui-kongcu yang diam-diam merasa jerih juga melihat kenekatan Yo Jin yang agaknya tidak mengenal takut dan sakit.
Ia menghampiri Siu Kwi dan tersenyum menyeringai sambil memasang aksi.
"Nona cantik, marilah engkau ikut bersamaku. Aku adalah Lui-kongcu, putera kepala dusun di timur yang kaya raya. Engkau tentu akan mengalami kesenangan kalau ikut bersamaku. Jadilah tamuku yang terhormat dan kita bersenang-senang bersama. Marilah, manis!"
Dia mengulur tangan hendak memegang tangan Siu Kwi.
Agaknya, pemuda ini selalu yakin bahwa setiap orang perempuan tentu akan tunduk dan memyambut ajakannya dengan girang.
Wanita mana yang dapat menolaknya?
Dia masih muda, tampan dan gagah, kaya raya dan ayahnya menjadi kepala dusun yang hidupnya seperti seorang raja kecil saja di dusunnya!
Sudah terlalu banyak wanita yang tunduk kepadanya, seperti kerbau dicocok hidungnya kalau dia merayu dan mengajak mereka.
Siu Kwi ingin sekali tampar menghancurkan kepala Lui-kongcu itu.
Akan tetapi ia masih terus sadar dan teringat bahwa ia kini harus menjadi seorang yang baru sama sekali, tidak boleh lagi mempergunakan ilmunya untuk mengulangi lagi kehidupan sesat dan kejam seperti yang sudah-sudah.
Akan tetapi, tentu saja ia tidak dapat memadamkan kemarahan yang berkobar di dalam dadanya melihat sikap anak kepala dusun itu.
"Tidak, aku tidak mau pergi ke mana-mana, ti-dak mau pergi meninggalkan Jin-toako yang membutuhkan perawatanku. Kalian pergilah dari sini dan jangan membikin kacau!"
Lu-kongcu tertawa dan membelalakkan matanya.
"Aih, kenapa begitu, nona manis? Apakah engkau lebih suka tinggal di sini, di tempat yang kotor dan amat tidak pantas bagimu ini? Dan lihat si tolol Yo Jin ini, seorang petani busuk yang kotor dan bodoh. Tidak patut sama sekali engkau bersahabat dengan orang tolol macam ini. Untuk menjadi bujangmupun, dia belum pantas!"
Siu Kwi menjadi marah bukan main.
"Huh, toako Yo Jin ini adalah seorang laki-laki sejati. Dia seribu kali lebih baik dari pada kamu dan kawan-kawanmu. Pergilah dan jangan menganggu kami lagi!"
Mendengar ucapan ini, Lui-kongcu menjadi marah.
Mukanya merah sekali.
Pemuda dusun itu seribu kali lebih baik dari dia?
"Hajar mampus petani busuk ini, baru kularikan gadis tak tahu diri itu!"
Katanya dan diapun sudah menyerang Yo jin dengan marah, dibantu kawan-kawannya.
Dan kini, mereka mencabut pisau yang sudah mereka persiapkan lebih dulu.
"Jin-toako, kau pukul mereka sampai puas!"
Tiba-tiba Siu Kwi berkata.
"Cepat hajar mereka, toako!"
Tentu saja Yo Jin terheran mendengar seruan itu, akan tetapi dia menjadi semakin heran dan girang melihat betapa empat orang pemuda yang mengeroyoknya itu tiba-tiba saja menghentikan gerakan-gerakan mereka dan ketika dia memukul mereka, Empat orang itu sama sekali tidak melawan, tidak menangkis atau mengelak.
Dia tidak tahu bahwa dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, Siu Kwi telah membuat mereka untuk sementara lumpuh dengan sambitannya, mempergunakan kerikil-kerikil kecil sekali.
Enak saja Yo Jin membabat mereka dengan kaki tangannya, memukul dan menendang sampai mereka itu terguling-guling.
Ketika pengaruh totokan sudah hilang dan mereka mampu bergerak kembali, mereka sudah menjadi ketakutan.
Lui-kongcu bangkit berdiri, sempoyongan dan memandang kepada Yo Jin dan Siu Kwi bergantian, kemudian dia memandang kepada ayah Yo jin dan berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Siu Kwi.
"Ia seorang siluman! Ya, seorang siluman betina yang jahat dan akan menghancurkan keluargamu!"
Setelah berkata demikian, Lui-kongcu melarikan diri diikuti tiga orang pemuda berandalan.
Tadi, tiga orang pemuda itu sudah menceritakan betapa mereka mengalami hal yang aneh ketika mencabut pisau sehingga mereka dihajar oleh Yo Jin.
Sekarang, kembali mereka mengalami hal yang sama dan juga Lui-kongcu mengalaminya.
Maka, mereka semua condong percaya kepada dugaan pemuda berandalan kepala besar bahwa agaknya Yo Jin dibantu siluman, dan siapa lagi kalau bukan perempuan cantik itu silumannya?
"Mereka sungguh kurang ajar!"
Bentak Yo Jin marah ketika mendengar wanita yang telah menjatuhkan hatinya dimaki siluman.
"Biarkan mereka pergi, Jin-toako. Mereka adalah anak-anak yang masih bodoh dan hanya mengandalkan kedudukan orang tua dan kekayaan saja. Wah, luka-lukamu lecet kembali, mari kuberi obat lagi."
"Baik, Kwi-moi dan terima kasih atas kebaikanmu."
Dua orang muda itu hendak masuk kembali ke dalam rumah.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba terdengar ayah Yo Jin membentak.
Orang tua ini sungguh amat terpengaruh oleh kata-kata yang ditinggalkan oleh Lui-kongcu.
Pada jaman itu, memang semua orang amat percaya akan tahyul, percaya akan siluman-siluman yang suka mendatangkan gangguan terhadap kehidupan manusia, percaya pula akan dewa-dewa pelindung dan segala macam tahyul lagi.
Mendengar ucapan Lui-kongcu, ayah inipun terkejut dan sejak tadi dia sudah mengamati Siu Kwi penuh perhatian.
Seorang wanita yang amat cantik, dengan pakaian mewah dan perhiasan emas permata yang mahal-mahal.
Dan wanita seperti itu mau mendekati puteranya, seorang petani biasa!
Dan pula, wanita itu muncul begitu tiba-tiba.
mengaku tak memiliki keluarga, tak memiliki rumah tinggal.
Mana mungkin ini?
Seorang wanita gelandangan tidak sekaya ini, apa lagi secantik ini.
Dan mengapa Yo Jin tiba-tiba saja menjadi begitu nekat membelanya sehingga anak itu bahkan berani menentang seorang putera kepala dusun?
Agaknya anaknya itu sudah tergila-gila kepada siluman ini, yang tentu saja telah mempergunakan ilmunya untuk menundukkan Yo Jin.
Puteranya itu walaupun sudah berusia dua puluh lima tahun, akan tetapi dia yakin masih seorang perjaka tulen dan menurut dongeng, siluman memang suka mengubah diri menjadi seorang perempuan cantik untuk menghisap sari tenaga dari tubuh seorang perjaka!
Dan menurut dongeng, seorang perjaka yang terpikat oleh siluman, akan mati kehabisan darah, bahkan keluarganya juga akan ikut tertimpa malapetaka!
Mendengar bentakan ayahnya dan kini melihat betapa ayahnya memandang dengan mata terbelalak kepada Siu Kwi, Yo Jin merasa heran.
"Ada apakah, ayah?"
"Tidak boleh.... nona ini tidak boleh memasuki rumah kita....!"
Lalu orang tua itu menjadi ketakutan ketika teringat bahwa seorang siluman amat sakti dan akan mampu membunuhnya hanya dengan pandang matanya, dan juga amat kejam, maka cepat dia menjura kepada Siu Kwi.
"Nona, harap maafkan kami.... harap suka mengasihani seorang tua seperti aku, seorang duda yang hidup berdua dengan anakku Yo Jin. Harap kau suka memaafkan kami dan jangan.... jangan menjadikan anakku korban.... carilah korban lain, masih banyak terdapat perjaka di dusun ini dan dusun-dusun lainnya...."
Biarpun Yo Jin dan Siu Kwi terheran-heran mendengar ucapan yang tersendat-sendat itu, mereka berdua maklum apa yang dimaksudkan oleh orang tua itu.
Kakek itu menuduh Siu Kwi siluman!
"Ayah....!
jangan begitu...."
"Lopek, aku mengerti apa yang kau maksudkan. Engkau menuduh aku seorang siluman betina, bukankah begitu?"
Kata Siu Kwi, suaranya terdengar dingin menusuk.
Wanita ini memang marah bukan main.
Gatal-gatal kedua tangannya.
Ia telah diusir, bahkan dituduh seorang siluman.
Kalau dulu, beberapa hari yang lalu saja, tak mungkin ia dapat mengampuni orang yang berani mengusir-nya dan menuduhnya siluman.
Tentu ia akan membunuh orang itu.
Akan tetapi, ia kini hanya merasa marah dan juga berduka sekali.
Ayah pria yang menjatuhkan hatinya kini mengusirnya dan menuduhnya siluman.
Kakek itu menjura.
"Maafkan.... maafkan kami...."
Siu Kwi tidak dapat menahan kesedihannya. Ia terisak lalu berlari pergi.
"Kwi-moi....! Tunggu, jangan tinggalkan aku, Kwi-moi....!"
Yo Jin berteriak dan mengejar.
"Yo Jin, berhenti kau!"
Ayahnya menghardik.
Selama ini, Yo Jin hanya hidup berdua dengan ayahnya, maka tentu saja dia amat menyayang ayah ini dan mentaatinya.
Kini, mendengar bentakan ayahnya, dia seperti tertahan oleh sesuatu yang amat kuat, berhenti berlari, menoleh dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut.
"Ayah...., Kwi-moi....!"
Dan pemuda inipun terguling, pingsan.
Setelah mengalami pengeroyokan sampai dua kali, menerima gebukan-gebukan yang amat banyak, dan hanya sentuhan dan sikap Siu Kwi saja yang menguatkan hatinya sehingga dia dapat bertahan, kini dia tidak dapat menahan pukulan batin melihat ayahnya menuduh kekasihnya itu siluman dan Siu Kwi pergi meninggalkannya!
"Orang she Yo, sungguh besar sekali nyalimu!
Engkau membiarkan anakku yang kurang ajar itu untuk memukul dan melukai Lui-kongcu, putera kepala dusun timur!
Sungguh, engkau membikin malu aku yang menjadi kepala dusun di sini!"
Kata kepala dusun Tong kepada kakek Yo.
Dia menerima pengaduan dari rekannya, kepala dusun Lui dan karena merasa malu hati terhadap rekannya, maka dia cepat memanggil kakek Yo datang menghadap dan menegurnya dengan keras.
"Sekarang juga Yo Jin harus menyerahkan diri agar dapat kuantarkan kepada kepala dusun Lui untuk menerima hukuman!"
Tentu saja kakek Yo terkejut mendengar ini dan dia cepat-cepat memberi hormat.
"Mohon beribu ampun dan kebijaksanaan Tong-thungcu,"
Katanya.
"Sesungguhnya anak saya Yo Jin sama sekali tidak bersalah, akan tetapi dia terbujuk oleh siluman betina. Untung bahwa saya telah berhasil mengusir siluman betina itu dan menyelamatkan anakku dari ancaman malapetaka."
Kepala dusun itu tertegun.
"Siluman....? Apa maksudmu?"
Kakek Yo lalu menceritakan tentang munculnya siluman betina yang menyamar sebagai seorang wanita cantik sehingga menjadi perebutan antara anaknya dan Lui-kongcu dan terjadi perkelahian.
Akan tetapi, anaknya itu terbujuk oleh siluman dan dalam keadaan tidak sadar.
"Kalau terlambat sedikit saja saya mengusir siluman itu, tentu anakku telah mati. Siluman itu sudah saya usir, dan harap Tong-thungcu suka membujuk Lui-thungcu agar mengampuni anak saya yang sebenarnya tidak salah karena berada dalam pengaruh siluman dan tidak sadar."
"Ah, jangan mencari alasan dengan cerita yang gila!"
Bentak kepala dusun Tong.
"Siapa mau percaya omonganmu? Hayo bawa Yo Jin ke sini, ataukah aku harus ke sana sendiri untuk menangkapnya?"
"Ah, Tong-thungcu tidak percaya? Marilah, harap dilihat sendiri keadaan anak saya yang sampai sekarang masih belum sadar benar,"
Kata kakek Yo.
Kepala dusun itu merasa heran dan diapun segera mengikuti kakek Yo, dikawal oleh tiga orang anak buahnya.
Setelah tiba di dalam rumah kakek Yo, kepala dusun Tong melihat betapa Yo Jin benar-benar berada dalam keadaan sakit dan tidak sadar.
Pemuda itu berbaring demam gelisah di atas pembaringan di dalam kamarnya.
Mukanya merah sekali, tubuhnya panas dan pemuda itu mengigau, memanggil-manggil "Kwi-moi!"
Berkali-kali.
"Nah, begitulah keadaannya, thungcu. Yang dipanggilnya itu adalah nama siluman itu. Maka harap Tong-thungcu suka mengasihaninya dan suka membujuk Lui-thungcu."
Kakek Yo dengan suara mohon dikasihani minta kebijaksanaan kepala dusun Tong sambil menyerahkan bungkusan yang terisi seluruh simpanan uangnya kepada pembesar itu.
Mula-mula kepala dusun itu berpura-pura menolaknya.
Akan tetapi, melihat bahwa isi buntalan itu cukup banyak, diapun menyuruh pengawalnya untuk menerima bungkusan itu sambil berkata.
"Sebenarnya, berat bagiku untuk memenuhi permintaanmu. Aku merasa malu hati kepada rekanku, kepala dusun Lui. Akan tetapi, melihat keadaan anakmu, aku percaya dan biarlah saya akan membicarakan hal ini dengan dia."
Kakek Yo merasa girang dan berterima kasih, dan sambil membungkuk-bungkuk dia mengantar kepala dusun itu meninggalkan rumahnya sampai di luar pekarangan.
Dia rela kehilangan semua simpanannya asal anaknya tidak ditangkap.
Kakek Yo benar-benar percaya bahwa anaknya sakit karena berdekatan dengan siluman.
Hawa siluman yang menimbulkan sakit panas itu, maka diapun mengundang seorang dukun untuk menyembuhkan puteranya.
Dukun itu seorang tosu yang suka mempelajari ilmu klenik dan sang tosu, dengan biaya yang cukup besar tentunya, segera melakukan sembahyangan di situ, menggunakan darah anjing dipercik-percikkan di empat penjuru rumah, berkemak-kemik membaca mantera dan dengan rambut riap-riapan dan pedang di tangan dia berjalan pula mengitari rumah sampai tujuh kali.
Akhirnya dia meninggalkan rumah kakek Yo sambil mengantongi hadiah yang cukup banyak, juga sebungkus masakan yang lezat.
Akan tetapi, penyakit Yo Jin tidak menjadi sembuh, bahkan setelah lewat tiga hari, keadaannya menjadi semakin payah.
Dan pada malam hari ke tiga itu, setelah kakek Yo tertidur nyenyak saking lelahnya, sesosok bayangan hitam berkelebat di atas genteng rumah itu.
Bayangan itu melakukan pengintaian dari atas genteng, membuka genteng di atas kamar Yo Jin dan ia mendekam sambil mengintai ke dalam kamar.
Dilihatnya Yo Jin rebah terlentang dengan muka merah akan tetapi kurus sekali, dan pemuda itu bergerak gelisah ke kanan kiri dengan gerakan lemah.
"Kwi-moi.... Kwi-moi.... jangan tinggalkan aku.... Kwi-moi...."
Demikianlah dia mengigau berkali-kali, mengulang-ulang nama itu dengan bisikan-bisikan lemah.
"Ohhh....!"
Bayangan itu terisak dan menangis.
Bayangan itu adalah Siu Kwi dan iapun cepat melayang turun dan memasuki kamar Yo Jin.
Ditubruknya Yo Jin dan dirangkulnya tubuh yang panas itu.
Yo Jin membuka kedua matanya dan melihat wajah orang yang dirindukannya, diapun merangkul.
"Kwi-moi....!"
"Jin-toako! Aihh.... toako, kau kenapakah....?"
"Kwi-moi, tangan tinggalkan aku lagi...."
Pemuda itu mengeluh lemah.
"Tidak, tidak ah,.... betapa bodohku telah meninggalkanmu."
Ia mencium dahi pemuda itu.
"Hemm, badanmu panas. Engkau demam."
Cepat Siu Kwi memeriksa keadaan Yo Jin dan wanita yang pandai dan banyak pengalaman ini maklum bahwa pemuda itu terserang demam karena luka-lukanya yang tidak terawat kini membengkak dan keracunan!
Cepat ia bekerja, mencuci luka-luka itu dan menaruhkan obat luka yang selalu dibawanya, dan juga menyuruh Yo Jin menelan dua butir pel kuning.
Setelah menelan pel, Yo Jin tidur pulas dengan kepala di atas pangkuan Siu Kwi.
Siu Kwi duduk di tepi pembaringan, mengelus-elus rambut dikepala Yo Jin yang kusut.
Ia memandangi wajah yang kurus itu dan tak terasa dua butir air mata menetes turun, keluar dari kedua matanya.
Hatinya diliputi keharuan yang amat mendalam.
Selama tiga hari ini, ia sendiri tersiksa sekali.
Ia berkeliaran di hutan-hutan dan gunung-gunung, mencoba untuk melupakan Yo Jin, namun tidak berhasil sama sekali.
Makin dilupakan, makin teringat dan selama tiga hari ini ia hampir tidak makan dan tidak tidur sama sekali.
Akhirnya, iapun tidak kuat dan memaksa diri kembali ke dusun itu dan di waktu malam telah menggelapkan dusun, iapun mendatangi rumah pria yang dicintanya untuk menengok dengan diam-diam.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat Yo Jin ternyata dalam keadaan sakit yang cukup payah.
Dan lebih terharu lagi ketika ia mendengar igau pemuda itu dalam sakitnya.
Baru ia tahu bahwa sepeninggalnya, Yo Jin jatuh sakit dan terus mencari-cari dan memanggil-manggilnya!
"Ah, Jin-toako....
aku cinta padamu....
aku cinta padamu...."
Bisiknya berkali-kali dan ia mendekap kepala di pangkuannya itu seperti mendekap sebuah mustika yang takkan pernah dilepaskannya lagi.
Karena ia sendiri selama tiga hari kurang tidur, setelah kini bertemu kembali dengan Yo Jin, Bahkan pemuda itu tertidur di pangkuannya, hati Siu Kwi merasa demikian tenteram sehingga iapun memejamkan matanya, bersandar pada dinding dan dengan kepala pemuda itu masih di atas pangkuannya, iapun tertidur pulas.
Seperti itulah keadaan mereka ketika pada keesokan harinya kakek Yo memasuki kamar anaknya.
Dia berdiri terpukau di ambang pintu, terbelalak, bahkan sempat menggosok mata dengan punggung tangan beberapa kali seperti tidak percaya akan penglihatannya sendiri.
Perempuan siluman itu telah berada dalam kamar anaknya!
Agaknya kehadiran kakek ini cukup untuk membangunkan Siu Kwi.
Ia membuka matanya dan melihat kakek itu di ambang pintu kamar, ia segera teringat akan keadaannya.
Wajahnya menjadi merah sekali dan dengan lembut ia menurunkan kepala Yo Jin dari atas pangkuannya.
"Aku.... aku datang untuk mengobati Jin-toako yang ternyata terserang demam karena luka-lukanya,"
Katanya lirih kepada kakek Yo.
Kakek Yo masih tidak mampu bersuara.
Ada perasaan marah akan tetapi juga takut terhadap perempuan di depannya.
Pada saat itu, Yo Jin juga terbangun.
"Kwi-moi keluhnya dan ketika dia membuka mata dan melihat Siu Kwi telah berada di dekat pembaringan, dia cepat menangkap tangan gadis itu.
"Ah, Kwi-moi, benarkah engkau ini? Engkau telah datang kembali?"
Tanyanya dengan suara gemetar. Siu Kwi meremas tangan pemuda itu.
"Aku datang untuk mengobatimu, Jin-toako.
"Ah, terima kasih, Kwi-moi. Aku sudah sembuh! Melihat engkau datang saja aku sudah sembuh sama sekali. Lihat, aku sudah bisa duduk!"
Seperti seorang anak kecil yang kegirangan, pemuda itu bangkit duduk walaupun dengan tubuh yang masih lemas.
Hati Siu Kwi merasa terharu bukan main.
Kakek Yo tidak dapat menyangkal bahwa anaknya benar-benar kelihatan sembuh.
Akan tetapi, hal ini bahkan memperkuat dugaannya bahwa Siu Kwi tentulah seorang siluman tulen yang sengaja membuat Yo Jin sakit dan kini kembali untuk mengobati Yo Jin agar dia dapat percaya!
Akan tetapi, untuk menuduh demikian, dia tidak berani.
Pertama, diapun ingin melihat anaknya sembuh dulu, dan ke dua, dia mulai merasa ngeri dan takut terhadap Siu Kwi.
"Kwi-moi, jangan kau pergi lagi, Kwi-moi...."
Kata Yo Jin sambil menggenggam tangan wanita itu.
"Tidak, Jin-toako. Aku kembali uutuk menemanimu dan merawatmu sampai sembuh."
"Sampai sembuh dan engkau akan pergi lagi? Tidak, Kwi-moi, engkau tidak boleh pergi, selamanya, dari sampingku!"
Genggaman tangan Yo Jin semakin erat seolah-olah dia benar-benar merasa khawatir kalau-kalau wanita itu akan pergi lagi.
Siu Kwi memandang ke arah kakek Yo.
"Kalau saja Yo-lopek mau mengijinkannya."
"Ayah, biarkan Kwi-moi di sini. Aku.... aku tidak dapat hidup tanpa ia, ayah!"
Yo Jin berkata dengan suara lantang dan nekat.
Sikap ini sungguh membuat Siu Kwi terharu sekali dan kembali dua titik air mata runtuh dari matanya yang berlinang-linang.
Pemuda ini belum pernah menyatakan cinta, akan tetapi setiap katanya, setiap pandang mata, selalu penuh dengan sinar cinta yang mendalam.
Kakek itu menghela napas dan memutar otaknya.
Dia tentu saja tidak setuju, akan tetapi tidak berani mengaku terus terang di depan siluman itu.
Akhirnya dia memperoleh akal dan berkata.
"Baiklah, biar ia merawatmu sampai engkau sembuh. Setelah engkau sembuh, baru kita bicara tentang itu."
Setelah berkata demikian, kakek Yo lalu meninggalkan kamar itu.
Setelah kakek itu memberi perkenan, bukan main lega dan girang rasa hati Siu Kwi.
Ia melepaskan tangan Yo Jin dan berkata.
"Nah, sekarang engkau harus tidur lagi. Aku akan membuatkan bubur untukmu, engkau harus makan yang banyak, selalu minum obat, dan banyak tidur...."
"Akan tetapi, aku ingin bercakap-cakap denganmu, Kwi-moi...."
"Hsshhh, belum waktunya mengobrol. Ingat, aku perawatmu dan kau harus mentaati semua permintaanku!"
Ia mengangkat telunjuknya seperti orang mengancam, dengan sikap yang manja dan genit saking girang hatinya. Yo Jin tertawa.
"Baiklah, baiklah. Aku akan mentaatimu dan menutup mulutku."
"Heii, jangan ditutup terus. Tidak enak kalau kau kelihatan marah dan tidak mau mengajak bicara padaku."
Mereka tertawa dan di dalam suara ketawa mereka terkandung keriangan.
Keadaan hatinya saja sudah merupakan obat yang amat mujarab bagi penyakit Yo Jin.
Selama tiga hari, Siu Kwi merawat Yo Jin dengan amat tekunnya.
Ia juga mencucikan pakaian Yo Jin.
Kakek Yo tetap tidak mau dibantunya dan bahkan tidak membolehkan Siu Kwi mencucikan pakaiannya yang kotor!
Pendeknya, dia tidak mau bersentuhan dengan siluman!
Juga segala yang dimasak oleh Siu Kwi, kakek itu tidak mau menyentuhnya.
Dia selalu makan di luar, di rumah teman-teman atau di warung nasi selama Siu Kwi berada di rumahnya.
Ketahyulan membuat orang dapat melakukan hal yang amat bodoh.
Ketahyulan muncul kalau orang mudah percaya kepada diri sendiri, tidak mau melihat kenyataan yang ada melainkan dipermainkan oleh khayal, mengagungkan hal-hal yang dianggap aneh dan berada di luar pengertian mereka.
Jelaslah bahwa ketahyulan adalah suatu kebodohan dan orang dapat melakukan segala hal yang tidak masuk akal.
Kakek Yo masih tebal perasaan takut terhadap setan-setan, sebagai akibat dari ketahyulannya.
Menghadapi kehadiran Siu Kwi, dia percaya sepenuhnya bahwa wanita itu adalah siluman.
Banyak hal yang dianggapnya cukup menjadi bukti bahwa Siu Kwi adalah siluman.
Pertama, asal-usulnya yang tidak jelas, kemunculannya begitu saja.
Ke dua, kecantikannya yang menyolok dan betapa orang yang secantik dan sekaya itu, melihat kemewahan pakaiannya, dapat jatuh cinta kepada anaknya, seorang pemuda tani dusun.
Ke tiga, kepandaiannya mengobati.
Ke empat, kemunculannya kembali yang aneh, tahu-tahu berada di dalam kamar!
Sungguh seperti setan!
Karena rasa takutnya, kakek Yo lalu melaporkan kembalinya Siu Kwi kepada kepala dusun Tong secara diam-diam dan mendengar bahwa di rumah kakek Yo telah datang siluman yang ditakuti itu, kepala dusun Tong cepat memberi kabar kepada kepala dusun Lui.
Terjadilah persekongkolan antara kakek Yo dan kedua orang pejabat itu untuk bersama-sama menghadapi siluman Si tosu dusun lalu dihubungi dan tosu inilah yang mendatangkan tosu-tosu lain, Tokoh-tokoh yang akan membuat dua orang kepala dusun itu sendiri terkejut setengah mati kalau mengenal mereka karena para tosu itu adalah tokoh-tokoh besar Pek-lian-Liuw (Agama Teratai Putih) dan Pat-kwa-kauw (Agama Segi Delapan) yang condong ke arah golongan sesat dan terkenal pula sebagai pemberontak-pemberontak.
Setelah mereka yang bersekongkol itu mengadakan pertemuan mengatur siasat, kakek Yo lalu mendapat tugas untuk membawa Yo Jin ke rumah kepala dusun Lui yang menjadi sarang pertemuan mereka.
Mereka akan melihat gelagat dulu sebelum menggunakan kekerasan karena menurut para tosu, siluman dapat memiliki kesaktian yang sukar dikalahkan.
Demikianlah, setelah Yo Jin kelihatan sembuh benar, ayahnya lalu mengajaknya untuk pergi menghadap ke rumah kepala dusun Lui.
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 6
Baca Juga: Suling Emas 6