Eps 4 Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo.
"Anak itu memang betul keturunan Song Kun. Tidak lihatkah kau akan gerak matanya dan bentuk bibirnya? Sama benar dengan Song Kun. Dan andaikata sikapnya tadi hanya untuk menyelamatkan diri untuk seorang pemuda macam dia, kita takut apakah?"
Sementara itu, Kam Seng cepat kembali ke tempat supeknya yang masih menantinya.
Hatinya girang sekali.
Tadinya ia telah merasa putus harapan untuk dapat membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh, karena kalau Mo-kai Nyo Tiang Le yang menjadi gurunya masih mengatakan kalah jauh oleh Pendekar Bodoh, apalagi dia?
Pendekar Bodoh menurut supeknya ini mempunyai banyak orang-orang pandai.
Isteri Pendekar Bodoh sendiri adalah murid Bu Pun Su dan memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Masih ada lagi Ang I Niocu dan suaminya Lie Kong Sian yang terhitung kakak seperguruan dari Pendekar Bodoh, ada lagi Kwee An yang menjadi iparnya dan isteri Kwee An yang bernama Ma Hoa dan yang memiliki kepandaian tinggi karena nyonya muda ini adalah murid terkasih dari Hok Peng Taisu yang lihai!
Bagaimana ia dapat menghadapi Pendekar Bodoh seorang diri saja?
Bahkan supeknya amat menghormat Pendekar Bodoh maka tak mungkin supek atau suhunya memperkenankan ia berlaku kurang ajar terhadap Pendekar Bodoh.
Kini, pertemuan dengan Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu yang amat tinggi kepandaiannya, menimbulkan pengharapan baru di dalam hatinya.
Ia tadi tidak melihat Hok Ti Hwesio, hwesio kecil jahat murid Ban Sai Cinjin yang dulu hendak membelek perutnya, akan tetapi ia pun tidak takut.
Andaikata Hok Ti Hwesic mengenalnya, ia rasa masih dapat melayani hwesio itu, dan apalagi kalau ia sudah menjadi murid Wi Kong Siansu, tentu Hek Ti Hwesio tidak berani mengganggunya.
"Bagaimana, Kam Seng? Apakah kau melihat suhumu di sana? Dan apakah Ban Sai Cinjin berada di sana pula?"
"Teecu rasa Suhu berada di sana, Supek. Mungkin dikurung dalam sebuah kamar. Akan tetapi teecu tidak berani turun dan berlaku sembrono, karena di sana teecu melihat ada murid-murid Ban Sai Cinjin. Teecu rasa sekarang lebih baik kalau kita berdua menyerbu ke sana, karena tidak terlihat Ban Sai Cinjin, yang ada hanya Bouw Hun Ti!"
Girang sekali hati Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar kesempatan yang amat baik ini, maka ia cepat berdiri dan mengajak pemuda itu cepat berlari kembali ke hutan itu.
Kam Seng mengajak supeknya melompat ke atas genteng dan mengintai di atas ruang tadi, akan tetapi baru saja Nyo-kai Tiang Le menginjak genteng ia mendengar suara Bouw Hun Ti tertawa di bawah genteng.
"Pengemis kelaparan Nyo Tiang Le! Perlu apa mengintai seperti seorang maling? Kalau kau kelaparan tak perlu kau mencuri makanan di sini, turunlah ada makanan anjing tersedia untukmu!"
Bukan main marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan yang sangat menghina ini.
Ia memang seorang pemarah yang keras hati, maka tanpa mempedulikan sesuatu lagi, ia lalu melayang turun, diikuti oleh Kam Seng.
Akan tetapi, begitu kakinya menginjak lantai ruangan itu, Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut sekali melihat Ban Sai Cinjin dan seorang tosu tua muncul dari balik pintu.
Ban Sai Cinjin mengebulkan asap huncwenya dan melihat asap itu berwarna hitam, tahulah Mo-kai Nyo Tiang Le bahwa ia harus melawan mati-matian.
Terdengar tosu yang tak dikenalnya itu tertawa girang dan berkata kepada Kam Seng.
"Bagus, bagus, Kam Seng! Kau memang boleh dipercaya dan pinto suka menjadi suhumu. Tentu saja Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi melongo melihat dan mendengar ucapan ini.
"Kam Seng! Apakah artinya ini?"
Akan tetapi sebelum pemuda itu menjawab, Ban Sai Cinjin sudah menegur Pengemis Iblis itu.
"Orang she Nyo! Kau datang sebagai tamu tak diundang, mengapa lagakmu demikian kasar? Sebetulnya, apakah keperluanmu datang ke tempatku ini?"
"Ban Sai Cinjin, semenjak dulu kita belum pernah bermusuhan, maka harap kau suka memberi keterangan tentang suteku Lo Sian. Di manakah dia?"
Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara menghina.
"Apa kaukira aku menjadi bujang pengasuh dari Lo Sian? Kaucarilah sendiri, di sini tidak ada sutemu yang gila itu!"
"Gila...? Suteku tidak gila..."
Kata Mo-kai Nyo Tiang Le sambil memandang tajam.
Merahlah wajah Ban Sai Cinjin karena tanpa disengaja ia hampir saja membuka rahasianya.
Memang Lo Sian telah menjadi gila karena ia paksa minum obat beracun.
"Kau dan Sutemu memang orang-orang tidak waras, kalau sehat bagaimana malam-malam datang ke tempat tinggal orang lain mencari Sutemu?"
Mo-kai Nyo Tiang Le merasa segan untuk bermusuh melawan Ban Sai Cinjin yang lihai dan di situ masih ada tosu tua yang nampaknya berkepandaian tinggi itu.
Juga ia masih merasa heran mendengar percakapan antara tosu itu dengan Kam Seng, maka ia pikir lebih baik mengajak pemuda itu pergi dari tempat berbahaya ini.
"Sudahlah, aku tak mau mengganggu terlebih jauh. Hayo, Kam Seng, kita pergi dari sini!"
Katanya mengajak pemuda itu. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan sama sekali jawaban yang ia dengar dari mulut pemuda itu.
"Tidak, aku tidak pergi dari sini. Di sinilah tempatku bersama suhuku yang baru Wi Kong Siansu!"
Barulah Mo-kai Nyo Tiang Le tahu bahwa tosu itu adalah Toat-beng Lomo yang amat terkenal. Ia terkejut sekali, akan tetapi keheranannya lebih besar lagi.
"Apa katamu? Kam Seng, apa artinya ini? Apakah kau sudah gila?"
Pemuda itu memandangnya tajam.
"Tidak, Mo-kai Nyo Tiang Le, kaulah yang gila kalau kaukira akan dapat memaksaku untuk menjadi pengemis, hidup berkeliaran, pakaian tidak karuan, makan tak tentu. Aku tidak mau mengikuti kau terus. Kau, pergilah dari sini!"
Marahlah Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan ini. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda yang biasanya pendiam dan penurut itu kini berubah menjadi sedemikian kurang ajar.
"Kam Seng...! Kau murid durhaka! Kalau kau tidak mau pergi, terpaksa aku harus binasakan kau lebih dulu agar kelak tidak mencemarkan namaku!"
Tiba-tiba Kam Seng tersenyum.
"Hm, Mo-kai Nyo Tiang Le! Ketahuilah siapa sebenarnya aku. Aku adalah putera dari Ang-ho Sian-kiam Song Kun, dan aku telah bersumpah untuk membalas kematian ayahku kepada Pendekar Bodoh! Nah, apakah kau tidak mau lekas pergi dari sini? Aku masih mengingat akan sedikit kebaikanmu yang telah menurunkan sedikit ilmu silat tak berarti kepadaku. Kalau kau tidak lekas pergi, jangan menganggap aku keterlaluan kalau terpaksa turun tangan melawan dan mengusirmu!"
Serasa meledak dada Mo-kai Nyo Tiang Le. Sepasang matanya menjadi merah bagaikan terbakar dan rambutnya yang tidak karuan itu menjadi kaku berdiri.
"Murid durhaka! Manusia berhati rendah!"
Akan tetapi, Kam Seng dengan marah sekali telah mengeluarkan beberapa butir Thi-tho-ci dan mengayun senjata-senjata rahasia itu ke arah Mo-kai Nyo Tiang Le sambil berseru.
"Kau pergilah!"
Dengan amarah yang meluap-luap Mo-kai Nyo Tiang Le menyambut datangnya senjata-senjata rahasia itu dengan gerakan tangan kirinya yang menangkis dan memukul runtuh beberapa senjata-senjata rahasia itu, kemudian sambil berseru keras ia lalu melancarkan serangannya yang hebat yaitu pukulan Soan-hong-jiu yang dilakukan dengan tenaga penuh ke arah bekas muridnya itu!
Kam Seng maklum akan kelihaian pukulan ini, akan tetapi karena ia tahu pula bahwa mengelak dari pukulan ini selain sia-sia juga amat berbahaya, terpaksa ia pun mengerahkan tenaganya dan melakukan gerakah pukulan yang sama.
Biarpun jarak di antara mereka ada dua tombak lebih jauhnya, namun angin pukulan Soan-hong-jiu dari Mo-kai Nyo Tiang Le ini menyambar hebat sekali ke arah Kam Seng.
Pemuda ini juga melakukan pukulan Soan-hong-jiu dengan tenaga khi-kang sepenuhnya untuk menangkis.
Dua angin pukulan bertemu dan akibatnya Kam Seng terlempar ke belakang sampai tubuhnya menimpa dinding di belakangnya!
Namun tangkisannya itu menyelamatkan jiwanya, karena sedikitnya telah membentur tenaga pukulan bekas supeknya dan ia hanya terlempar saja tanpa menderita luka.
"Kau harus mampus!"
Mo-kai Nyo Tiang Le berseru sambil melompat ke arah bekas muridnya untuk memberi pukulan maut.
Akan tetapi, tiba-tiba dari sebelah kiri berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Wi Kong Siansu telah berada di depannya dan tersenyum mengejek.
"Wi Kong Siansu! Jangan kau ikut-ikut! Tidak ada orang kang-ouw yang begitu tidak tahu malu untuk mencampuri urusan antara guru dan muridnya sendiri!"
Teriak Mo-kai Nyo Tiang Le marah sekali. Wi Kong Siansu tertawa bergelak.
"Mo-kai, kau lupa bahwa pemuda ini bukan muridmu lagi! Ia telah menyatakan tidak sudi menjadi muridmu dan kau harus ingat lagi bahwa dia kini telah menjadi murid pinto! Apakah kaukira pinto dapat berpeluk tangan saja melihat murid pinto hendak dibinasakan olehmu?"
Saking marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi nekat.
"Bagus!"
Teriaknya "Hendak kulihat sampai di mana kehebatan Toat-beng Lo-mo!"
"Ha-ha! Majulah, mari kita main-main sebentar!"
Jawab tosu itu.
Nyo Tiang Le menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi.
Akan tetapi, tosu yang berilmu tinggi itu dengan tenangnya dapat mengelak dan membalas dengan serangannya.
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu ini melayani Pengemis Iblis dengan kedua ujung lengan bajunya yang panjang yang menyambar-nyambar dengan totokan-totokan ke arah jalan darah.
Setiap sambaran ujung lengan baju membawa angin keras dan berat sekali.
Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut ketika menyaksikan betapa angin pukulan Soan-hong-jiu yang dipergunakannya selain terpental kembali tiap kali terbentur oleh ujung lengan baju itu dan maklumlah ia bahwa dalam hal tenaga lwee-kang dan khi-kang, ia masih kalah setingkat!
Oleh karena merasa percuma saja melawan tosu lihai ini, Mo-kai Nyo Tiang Le membuat gerakan mengalah, yaitu melompat mundur beberapa tindak sambil berkata.
"Toat-beng Lo-mo, kepandaianmu benar-benar mengagumkan! Perkenankan aku pergi membawa muridku yang murtad!"
Sambil berkata demikian, ia melompat hendak menyambar tubuh Kam Seng yang berdiri di sudut akan tetapi Wi Kong Siansu telah mendahuluinya dan kembali menghadang di depannya.
"Mo-kai! Jangan kaulanjutkan kehendakmu yang salah ini. Kau pergilah dengan aman, dan pinto takkan mengganggumu. Akan tetapi kalau kau berkeras hendak mencelakakan muridku, terpaksa pinto harus turun tangan!"
Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi makin marah.
Ia maklum bahwa ia akan sukar sekali dapat menangkan tosu ini, akan tetapi kalau ia mundur, berarti bahwa ia telah menurunkan kehormatannya dengan rendah sekali.
Bagi seorang gagah, soal kehormatan lebih penting dan lebih mahal daripada nyawa.
Muridnya berlaku khianat dan durhaka, sudah menjadi haknya untuk menghukum murid itu.
Kalau ada orang lain yang menghalanginya, itu berarti penghinaan yang amat besar.
Sambil berseru keras, Mo-kai Nyo Tiang Le lalu mencabut tongkatnya yang tadi diselipkan di ikat pinggang depan.
Kemudian ia lalu menotok ke arah leher tosu itu dengan gerak tipu Sian-jin-tit-lou (Dewa Menunjukkan Jalan).
"Bagus!"
Seru Wi Kong Siansu yang segera mengebut dengan ujung lengan bajunya sebelah kiri, kemudian ia lalu mengibaskan lengan baju kanan ke arah kepala lawannya dengan gerak tipu Burung Elang Menyambar Ayam.
Nyo Tiang Le cepat mengelak dan ia lalu memutar tongkatnya dengan hebat sekali.
Tongkat pendek itu terputar-putar bagaikan kitiran, berubah menjadi gulungan sinar yang amat kuat dan dapat berkelebatan ujungnya menotok ke arah jalan darah di tubuh lawan.
Inilah ilmu tongkat dari Hoa-san-pai yang lihai sekali, karena setiap serangan dapat mendatangkan maut!
Akan, tetapi Wi Kong Siansu adalah tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan kepandaiannya tinggi sekali.
Ia telah tahu akan ilmu tongkat Hoa-san-pai ini, maka biarpun ia tidak menggunakan senjata, kedua ujung lengan bajunya sudah cukup untuk memunahkan semua serangan Nyo Tiang Le.
Nampaknya ia hanya menggerakkan kedua ujung lengan baju itu perlahan dan lambat saja, akan tetapi angin gerakannya demikian kuat sehingga tiap kali ujung tongkat Mo-kai menyerang, selalu kena ditolak oleh ujung lengan baju itu.
Setelah menyerang selama tiga puluh jurus lebih belum juga dapat mendesak lawannya yang tangguh, bahkan gulungan sinar tongkatnya makin lemah, tiba-tiba Mo-kai Nyo Tiang Le berseru keras dan tubuhnya bergulingan ke atas lantai sambil melakukan penyerangan hebat dan bertubi-tubi dari bawah!
Inilah ilmu tongkat Hoa-san-pai yang paling lihai dan disebut gerak tipu Naga Sakti Mempermainkan Mustika!
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu terkejut juga melihat cara penyerangan yang hebat dan berbahaya ini.
Ujung tongkat lawannya menyambar-nyambar dari bawah dibarengi dengan tubuh lawannya yang bergulung-gulung dan mengejarnya ke mana juga ia melompat.
Ia telah mengenal ilmu silat ini, akan tetapi oleh karena ilmu meringankan tubuh dari Mo-kai Nyo Tiang Le memang hebat, maka kelihaian penyerangan ini sungguh mengatasi dugaannya!
Ketika ia melompat untuk mengelak dari tusukan yang diarahkan kepada pusarnya, tiba-tiba Mo-kai Nyo Tiang Le berseru keras dan melompat pula, dengan cara yang amat tak terduga merubah serangannya dengan gerak tipu Monyet Tua Menyambar Bunga, langsung menusukkan tongkatnya ke arah ulu hati tosu itu!
Serangan ini amat cepat dan tak terduga sehingga sukar untuk dielakkan lagi.
Akan tetapi Wi Kong Siansu benar-benar mengagumkan.
Ia amat tenang dan tidak menjadi gugup.
Dengan ujung lengan baju sebelah kiri ia menyabet ujung tongkat itu dan lengan baju sebelah kanan untuk menyabet pula sehingga kain ini kini melibat tongkat lawannya.
Sekarang dua ujung lengan baju itu telah membelit tongkat, tak dapat dilepaskan lagi.
Melihat kesempatan baik ini, dengan girang Nyo Tiang Le lalu menggerakkan tangan kirinya, dengan jari tangan terbuka ia memukul kepala tosu itu dengan pukulan Soan-hong-jiu yang hebat!
Kalau pukulan ini mengenai kepala tosu itu biarpun ia amat kuat dan lihai, agaknya ia akan mendapat luka di dalam kepala dan nyawanya takkan dapat diselamatkan lagi.
Akan tetapi, dengan gerakan yang amat cepatnya, tosu itu menarik kepalanya ke bawah lalu melakukan serangan dengan kepalanya itu, diserudukkan ke arah dada Nyo Tiang Le, di bawah lengan kiri yang memukulnya!
Nyo Tiang, Le terkejut sekali, menahan napas dan mengumpulkan lwee-kangnya pada dada untuk menyambut benturan kepala yang tak dapat dielakkan ataupun ditangkis lagi itu.
"Duk...!!"
Tubuh Nyo Tiang Le terpental sampal dua tombak lebih, sedangkan Wi Kong Siansu nampak pucat dan terhuyung-huyung.
Akan tetapi pada saat itu dapat mengatur napasnya kembali sedangkan Nyo Tiang Le setelah terguling sambil muntah darah merah dari mulut, ternyata juga dapat melompat berdiri lagi!
Akan tetapi pada saat itu, dari sebelah kanannya menyambar benda hitam kekuningan ke arah kepalanya.
Ia terkejut dan mengelak cepat, akan tetapi terlambat!
Terdengar suara "tak!"
Ketika kepala huncwe di tangan Ban Sai Cinjin mengenai batok kepalanya.
Seketika itu juga Nyo Tiang Le merasa kepalanya pening dan matanya gelap.
Tiba-tiba ia berbangkis beberapa kali, lalu tertawa bergelak dan ia lalu melompat keluar di dalam gelap, terus melarikan diri!
Ban Sai Cinjin tertawa terbahak-bahak.
"Ia telah terluka di dalam otaknya, sekarang ia hanya kehilangan ingatannya saja, akan tetapi tak lama lagi ia akan roboh dan mampus!"
Kam Seng terkejut sekali mendengar ucapan ini dan hatinya merasa ngeri.
Sesungguhnya ia tidak mengira bahwa supeknya akan mengalami nasib sehebat itu.
Tadinya ia hanya bermaksud untuk melepaskan diri dari Mo-kai Nyo Tiang Le untuk berguru kepada tosu itu dan untuk mendapatkan harapan baru dalam cita-citanya membalas dendam.
Juga Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu menghela napas panjang dengan menyesal.
"Sute, mengapa kau menewaskannya? Permusuhan akan menjadi makin hebat."
Ban Sai Cinjin tersenyum.
"Suheng, pengemis itu terlalu menghina kita, dan orang jahat dan berbahaya seperti dia sudah sepatutnya dilenyapkan agar kelak tidak menimbulkan kepusingan."
Kam Seng lalu berlutut di depan Wi Kong Siansu dan berkata.
"Suhu, betapapun juga, Mo-kai Nyo Tiang Le pernah melepas budi kepada teecu, apakah teecu boleh mengubur jenazahnya?"
Tosu itu nampak girang.
"Bagus, Kam Seng. Sikapmu menyenangkan hatiku, karena boleh kuharapkan kesetiaanmu kepadaku kelak. Kaususullah dia, kurasa takkan jauh dari sini kau akan dapat menemukannya."
Kam Seng lalu melompat keluar dan mengejar ke arah Nyo Tiang Le tadi melompat pergi.
Benar saja, di tempat yang tak jauh dari kelenteng itu ia mendapatkan tubuh supeknya itu telah tak bernyawa lagi, rebah di atas tanah dalam keadaan terlentang!
Kedua mata pengemis iblis itu terbuka dan di bawah sinar buIan, mata itu seakan-akan memandangnya dengan penuh penyesalan, mulut yang telah biru itu seakan-akan berbisik.
"Murid durhaka!"
Ia bergidik dan cepat mempergunakan saputangan untuk menutupi muka itu, lalu ia menggali lubang di tanah dekat tempat itu untuk mengubur jenazah supeknya.
Demikianlah, semenjak saat itu, Kam Seng menjadi murid Wi Kong Siansu dan menerima latihan ilmu silat yang tinggi sehingga kepandaiannya maju pesat sekali.
Ketika Hok Ti Hwesio, murid Ban Sai Cinjin yang kini telah menjadi seorang hwesio muda yang cakap tiba di kelenteng itu, hwesio muda ini memandang kepada Kam Seng dan berkata.
"Sute, agaknya aku pernah melihat mukamu, entah di mana."
Kam Seng tersenyum dan menekan debar jantungnya.
"Tak bisa jadi, Suheng. Selama hidupku baru sekali ini aku bertemu dengan kau."
Karena Kam Seng pandai membawa diri dan amat menghormat kepada semua orang sebagai orang baru, ia amat disuka.
Selain Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio, Ban Sai Cinjin masih memptinyai seorang murid lain yang usianya baru empat belas tahun, yaitu putera seorang pangeran dari kota raja.
Pangeran itu maklum akan kelihaian Ban Sai Cinjin, maka ia lalu memberikan puteranya untuk dididik oleh kakek lihai ini.
Anak muda ini datang dua bulan setelah Kam Seng berada di kelenteng itu dan namanya adalah Ong Tek.
Sebelum berguru kepada Ban Sai Cinjin, Ong Tek pernah mempelajari ilmu silat dari panglima kerajaan, sehingga ilmu silatnya pun sudah lumayang juga.
Kam Seng memberi banyak petunjuk kepada sutenya yang dikasihinya ini, sebaliknya Ong Tek juga memberi pelajaran ilmu surat kepada suhengnya ini.
Hubungan mereka amat erat karena dengan lain-lain orang yang berada di situ, terutama dengan Hok Ti Hwesio, kedua anak muda ini kurang merasa cocok.
Dengan amat tekun dan rajin, Kam Seng berlatih ilmu silat dari Suhunya yang baru dan tanpa terasa lagi, setahun telah lewat dengan amat cepatnya.
*** Demikianlah riwayat Kam Seng yang terlihat oleh Lili.
Tentu saja Lili merasa terheran-beran melihat betapa Kam Seng dan orang tua yang berjenggot pendek itu ternyata menuju ke kelenteng di mana dulu Kam Seng akan dibelek perutnya oleh hwesio cilik murid Ban Sai Cinjin!
Sebetulnya, Kam Seng baru saja datang dari dusun Tong-sin-bun, ke rumah Ban Sai Cinjin untuk menjemput orang setengah tua yang menjadi utusan dari Parigeren Ong.
Utusan ini adalah seorang guru silat yang dulu pernah pula mengajar Ong Tek di kota raja dan kini ia menerima tugas dari Pangeran Ong untuk menengok puteranya serta membawa segala macam barang kiriman berupa pakaian, uang dan lain-lain.
Kedatangan Kam Seng dan guru silat disambut oleh Ong Tek dengan girang sekali.
Anak muda ini berlari menghampiri guru silat itu dan sambil memegang tangannya, ia bertanya.
"Tan-kauwsu, apakah Ayah dan Ibu baik-baik saja?"
"Baik, Kongcu, semua baik. Taijin dan Hujin hanya berpesan agar supaya Kong-cu belajar dengan rajin di sini."
Mereka bertiga lalu masuk ke ruang dalam, di mana terdapat Wi Kong Siansu dan Hok Ti Hwesio.
Ban Sai Cinjin tidak berada di situ, karena kakek mewah ini lebih banyak bermalam di dusun Tong-sin-bun.
Semenjak Wi Kong Siansu tinggal di kelentengnya itu, Ban Sai Cinjin tidak merasa leluasa kalau tinggal bermalam di situ pula.
Ia merasa malu kepada suhengnya karena ia memiliki kesukaan yang meniadi pantangan bagi kakak seperguruannya, yaitu misalnya berminum minuman keras, main judi dengan kawan-kawannya, atau bergurau dengan perempuan-perempuan penyanyi.
Mata Lili yang tajam masih dapat mengenal Hok Ti Hwesio sebagai hwesio kecil yang dulu hampir membelek perut Kam Seng, maka makin heranlah ia melihat betapa kini Kam Seng dapat bersahabat dengan hwesio itu!
Juga ia heran sekali ketika mendengar Kam Seng menyebut "Suhu"
Kepada tosu tua yang duduk di situ!
Di manakah adanya suhu Sin-kai Lo Sian dan supek Mo-kai Nyo Tiang Le?
Demikian dara perkasa ini bertanya seorang diri dengan penuh rasa bingung.
Lili mendengarkan guru silat she Tan itu bercerita tentang keadaan di kota raja dan hatinya berdebar keras ketika guru silat itu berkata.
"Agaknya keturunan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya telah mulai datang dan mengacau pula di sekitar kota raja."
Tidak hanya Lili yang mengintai dari atas genteng yang tertarik oleh penuturan ini, bahkan semua orang di bawah genteng juga tertarik sekali.
"Seorang pemuda keturunan Pendekar Bodoh atau entah kawan-kawannya karena menurut cerita Kam Thai-ciangkun, penjahat itu pandai ilmu-ilmu silat Pendekar Bodoh, telah mengacau di kota Tatung dan membunuh putera Kepala Daerah Tatung, yaitu Gui Kongcu. Bahkan pemuda jahat itu telah melarikan seorang gadis bangsa Haimi yang tadinya hendak menjadi bini muda Gui Kongcu!"
Kam Seng amat tertarik dan bertanya.
"Tan-kauwsu, siapakah namanya? Dan apakah ia benar-benar putera Pendekar Bodoh? Apakah namanya Hong Beng, Sie Hong Beng?"
Guru silat itu menggeleng kepalanya.
"Entahlah, tentang namanya aku tidak tahu. Hanya, menurut penuturan Kam-ciangkun, pemuda jahat itu lihai sekali. Kam-ciangkun sudah terkenal memiliki kepandaian tinggi sekali, akan tetapi ia mengaku bahwa pemuda pengacau itu ilmu silatnya benar-benar tinggi, hampir sama dengan Pendekar Bodoh!"
Tentu saja Lili merasa heran dan juga tertegun mendengar cerita ini.
Siapakah pemuda itu?
Benarkah Hong Beng kakaknya?
Boleh jadi, karena ia mendengar dari ayah ibunya bahwa kakaknya itu pun telah meninggalkan perguruan dan kini menuju pulang setelah merantau dulu untuk meluaskan pengalaman.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan ketika Lili memandang ke bawah, ia melihat bahwa yang tertawa itu adalah Hok Ti Hwesio, kepala gundul muda itu.
Hok Ti Hwesio tertawa menyeringai dengan sikap menghina dan berkata.
"Ha-ha-ha, mengapa orang selalu menyebut-nyebut nama Pendekar Bodoh dan menganggapnya seakan-akan seorang dewata? Mengapa orang agaknya memuji-muji musuh dan memperkecil semangat sendiri? Urusan Pendekar Bodoh, serahkan saja kepadaku, siapa yang takut kepadanya? Tunggulah sampai aku bertemu dengan dia!"
Semua orang tahu bahwa Hok Ti Hwesio ini selain sombong seperti gurunya juga amat lihai.
Ia telah mempelajari, tidak saja ilmu silat tinggi, akan tetapi juga ilmu sihir dan ilmu-ilmu yang aneh dan mujijat.
Ia memiliki ilmu kebal yang luar biasa, bukan ilmu kebal yang timbul karena tenaga lwee-kang, akan tetapi ilmu kebal yang dipelajari oleh pengaruh sihir.
Sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan, untuk memperoleh ilmu ini, ia tidak segan-segan untuk makan jantung manusia.
Selain itu, ia amat terkenal dengan kepandaiannya melempar dan mainkan pedang kecil atau pisau belati yang disebutnya sendiri "hui-kiam" (pedang terbang).
Pedang kecil ini dapat ia lontarkan dengan cepat dan yang aneh, pedang ini dapat mengejar sasarannya dan dapat terbang kembali seakan-akan bersayap.
Tentu saja pedang itu tidak dapat terbang sebagaimana nampaknya, melainkan karena kepandaiannya melempar yang terlatih baik dan karena bentuk pedang itu agak bengkok, ditambah dengan pengerahan tenaga yang tepat maka pedang itu seakan-akan dapat terbang kembali.
Ketika Lili mendengar ucapan hwesio muda ini, timbul kemarahannya.
Hampir saja ia melompat turun untuk mengamuk dan menampar mulut hwesio yang menantang-nantang ayahnya itu, akan tetapi ia teringat akan nasihat ayahnya yang berkata.
"Lili, kelemahan yang paling membahayakan diri kita sendiri, adalah rasa takut dan nafsu marah. Kalau kau takut dan marah, maka kau takkan dapat berlaku tenang dan mutu permainan silat akan menjadi turun serta keadaan menjadi lemah sekali. Oleh karena itu, baik dalam keadaan bagaimana juga kau harus dapat menguasai hatimu, dan dapat membebaskan diri dari rasa takut dan nafsu marah."
Aku tidak boleh marah, pikirnya dan setelah dengan susah ia dapat menekan hawa amarah yang mengalun di dalam dadanya, Lili lalu memandang kembali ke bawah.
Ia mendengar Tan-kauwsu masih banyak menceritakan keadaan kota raja dan melihat kepala Hok Ti Hwesio yang gundul plontos dan mengkilap tertimpa sinar tujuh batang lilin yang dipasang di atas meja, timbullah keinginan di hati Lili untuk mempermainkannya.
Memang gadis ini mempunyai watak seperti ibunya, jenaka, nakal dan suka mempermainkan orang yang dibencinya.
Di atas genteng itu terdapat banyak tanah lumpur yang terjadi dari debu dan air hujan.
Ia lalu menggaruk lumpur ini dari celah-celah genteng dan membuat beberapa butir pel lumpur sebesar kacang.
Lili bekerja dengan hati-hati sekali sehingga tidak menimbulkan suara sama sekali, kemudian ia meletakkan sebutir pel lumpur atau tanah liat itu di atas telapak tangan kiri, lalu menggerakkan jari tengah dan ibu jari kanan untuk menendang atau menyelentik pel itu ke bawah.
Ia tidak berani menggunakan tangan menyambit karena kalau ia lakukan hal ini, tentu angin tenaga sambitannya akan terdengar dari bawah oleh telinga orang-orang yang berkepandaian tinggi itu.
Ketika pel tanah liat itu terkena tendangan jari tengah, benda kecil ini meluncur turun dengan amat cepat menuju ke arah kepala Hok Ti Hwesio yang gundul licin dan mengkilap.
"Plok!"
Pel tanah liat itu dengan tepat sekali mengenai kepala Hok Ti Hwesio dan menjadi gepeng serta melengket di kulit kepalanya!
Akan tetapi tubuh hwesio muda itu tidak bergerak sedikit pun juga, seakan-akan serangan ini tidak terasa olehnya.
Hal ini amat mengejutkan hati Lili, oleh karena ia maklum bahwa tenaga selentikannya ini cukup untuk membuat tanah liat itu melubangi batang pohon!
Demikian keraskah batok kepala hwesio itu?
Sebaliknya, Hok Ti Hwesio juga terkejut sekali.
Ia tidak merasa terlalu sakit, akan tetapi cukup merasa pedas kulit kepalanya.
Yang membuat ia amat terkejut adalah kelihaian serangan ini.
Mengapa ia tidak mendengarnya sama sekali?
Bagaimana orang dapat menyambit sesuatu tanpa mengeluarkan suara?
Dan lagi, kalau memang betul yang menyambitnya seorang manusia yang berada di atas genteng, mengapa ia dan yang lain-lain tidak mendengarnya?
Mungkin pendengaran telinganya kurang tajam, akan tetapi Wi Kong Siansu tentu akan mendengarnya!
Maka ia lalu meraba kepalanya dan mengira bahwa yang jatuh di atas kepalanya itu hanya tai cecak yang kebetulan jatuh di atas kepalanya.
Juga Kam Seng dan Wi Kong Siansu mendengar suara "plok"
Tadi, akan tetapi karena mereka tidak melihat sesuatu hanya mengira bahwa itu adalah suara buah busuk yang jatuh di atas tanah di luar kelenteng.
Benda hitam kecil ke dua meluncur cepat, disusul dengan yang ke tiga dan ke empat.
Tiba-tiba Hok Ti Hwesio berseru keras dan mencabut pisau belatinya dengan marah sekali.
Kali ini ia merasa sakit sekali pada hidung dan kedua telinganya.
Dengan tepat sekali tiga pel tanah liat kecil itu menghantam hidung dan kedua daun telinganya.
Tak salah lagi, ini tentu perbuatan seorang manusia.
Tak mungkin binatang cecak bisa melempar tai demikian kebetulan!
"Bangsat rendah, kalau kau memang berani, turunlah!"
Bentaknya sambil mendongakkan kepalanya memandang ke arah genteng.
Akan tetapi malang baginya, karena ia berseru sambil menengadah sebutir pel tanah liat yang tidak kelihatan dan tidak terdengar menyambarnya, tahu-tahu telah memasuki mulutnya dan tak tertahan pula terus masuk ke tenggorokan turun ke perut!
"Kurang ajar!
Keparat!!"
Hok Ti Hwesio menggerakkan tubuhnya dan dengan cepat ia telah melompat keluar dan langsung naik ke genteng, sedangkan Wi Kong Siansu, Kam Seng, Tan-kauwsu dan Ong Tek memandang kelakuan hwesio itu dengan heran.
Ketika tiba di atas genteng, Hok Ti Hwesio memandang ke sana ke mari akan tetapi ia tidak melihat bayangan seekor kucing pun di atas genteng.
Dengan mendongkol dan juga heran sekali ia melompat turun dan kembali ke dalam ruang itu.
Ia berpikir bahwa kalau memang benar ada orang mengganggunya, tentu orang itu melakukan hal itu karena marah mendengar ia tadi menantang Pendekar Bodoh, maka dengan suara keras ia berkata.
"Kalau yang datang tadi Pendekar Bodoh atau konco-konconya, maka ternyata bahwa Pendekar Bodoh dan konco-konconya hanyalah pengecut-pengecut besar yang berani menyerang dengan sembunyi! Kalau ia berani turun ke sini, dalam beberapa jurus saja tentu pisauku ini akan menembus lehernya!"
Baru saja ucapannya habis, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari atas.
"Bangsat gundul bermulut besar!"
Berbareng dengan bentakan itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di ruangan itu telah berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah sekali.
Semua orang terkejut melihat gadis ini, karena bagaimanakah seorang dara muda remaja memiliki gin-kang yang sedemikian tingginya sehingga kedatangannya sampai tidak terdengar sama sekali?
Yang lebih terkejut adalah Kam Seng, karena sekali memandang saja ia mengenal gadis ini sebagai Lili!
"Lili...!"
Ia berseru perlahan dengan mata terbelalak.
Kalau orang melihat sinar matanya, di situ akan terbayang kasih sayang yang besar, tercampur kebencian yang mengejutkan.
Memang, semenjak dahulu ketika tertolong oleh Sinkai Lo Sian, Kam Seng merasa kagum dan suka sekali kepada Lili.
Ia kagum akan kecantikan dan kejenakaan gadis ini, sehingga dulu seringkali ia diam-diam memandang kepada gadis itu dengan pikiran melamun.
Akan tetapi, di samping rasa kasih sayangnya ini, ia mangandung kebencian hebat sekali mengingat bahwa dara jelita ini adalah puteri dari musuh besarnya, Pendekar Bodoh!
Seruan perlahan ini terdengar juga oleh Lili, maka ia menengok dan tersenyum manis.
"Kukira tadi bukan Kam Seng yang berada di sini, akan tetapi ternyata benar-benar kau! Mengapa kau berada di sini? Di manakah Suhu dan Supek?"
Tanyanya sambil memandang tajam.
Sinar matanya berkelebat seakan-akan menembus dada Kam Seng sehingga pemuda itu merasa tak enak hati sekali dan mukanya berubah merah.
Sementara itu, Wi Kong Siansu dan yang lain-lain juga sudah bangkit dari tempat duduknya, dan Hok Ti Hwesio bertanya kepada Kam Seng.
"Sute, siapakah perempuan ini?"
Tiba-tiba timbul sebuah pikiran yang baik dalam otak Kam Seng.
Ia memang mempunyai perasaan tidak suka kepada Hok Ti Hwesio yang kini menjadi suhengnya, dan ia ingin mengadu hwesio ini dengan Lili agar dengan demikian ia dapat mengadukan dua orang yang termasuk dalam daftar musuhnya.
"Suheng, kau tadi mencari Pendekar Bodoh. Nah, inilah puterinya yang bernama Sie Hong Li atau Lili!"
Lili makin terheran mendengar ucapan Kam Seng ini.
"Dan Si Gundul ini kalau tidak salah tentulah si tukang membelek perut, bukan? Apakah dia sekarang menjadi suhengmu, Kam Seng?"
Makin merahlah muka Kam Seng mendengar hal ini.
"Lili..."
Katanya perlahan.
"Sekarang tidak ada hubungan antara kau dan aku lagi, aku... aku sudah menjadi murid Wi Kong Siansu, yaitu suhuku yang baru ini!"
Lili tersenyum mengejek.
"Siapa bilang bahwa kau dan aku pernah ada hubungan? Dari dulu pun kita tidak mempunyai hubungan sesuatu!"
Sementara itu, Hok Ti Hwesio tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Bagus, hendak kulihat sampai di mana kelihaian anak dari Pendekar Bodoh!"
Sambil berkata demikian, ia lalu menyerang dengan pisau belatinya, menusuk ke arah dada Lili yang berdiri dengan tenang.
Melihat tusukan ini, Lili tertawa mengejek dan sambil mengelak gesit ia mentertawakan hwesio itu.
"Tukang sembelih babi! Bagaimana kau berani berlagak di depan nonamu?? Apakah kau masih ingin merasai pel tanah liat lagi? Masih kurang kenyangkah yang tadi itu?"
Sambil berkata demikian, tangan Lili terayun dan ia melemparkan dua butir pel lagi yang masih dipegangnya.
Dengan cepat sekali dua butir pel itu menyambar ke arah sepasang mata Hok Ti Hwesio!
Bukan main kagetnya Si Kepala Gundul ini, ketika melihat dua titik hitam berkelebat menyambar matanya.
Ia cepat menundukkan mukanya, akan tetapi serangan dua butir pel tanah liat itu benar-benar cepat sekali.
"Tak! Tak!"
Bagaikan dua buah pelor besi, dua butir pel tanah liat itu melesat di atas kepalanya yang gundul, sungguhpun tak dapat melukai kulitnya yang kebal, namun cukup mendatangkan rasa sakit!
"Perempuan liar, kau harus mampus!"
Serunya marah dan ia lalu maju lagi menyerang dengan cepat, menggunakan gerak tipu yang disebut Coan-jiu-ciongkiam (Lonjorkan Lengan Sembunyikan Pedang).
Gerakan ini merupakan serangan yang berbahaya sekali, karena ia melakukan serangan dengan pukulan tangan kanan sambil menyembunyikan pedang kecil itu di bawah lengannya.
Pedang kecil ini siap untuk diputar dan ditusukkan apabila pukulan itu dapat dielakkan lawan.
Akan tetapi, Lili yang sudah menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi dari ayah ibunya, bahkan sudah menerima ilmu silat warisan dari Swie Kiat Siansu yang diturunkan melalui ayahnya, tentu saja hanya mentertawakan serangan ini.
Ia maklum bahwa pedang kecil yang tersembunyi di bawah lengan itu akan melakukan serangan lanjutan, maka ia lalu memutar kedudukan kakinya, mengelak sambil mainkan Ilmu Silat Sianli Utauw (Tari Bidadari) yang indah sehingga tubuhnya seakan-akan sedang menari-nari menghadapi serangan lawannya.
Mulutnya yang kecil manis itu tiada hentinya tersenyum dan sambil menggerakkan tubuh mengerling tajam ke arah lawannya, ia menyindir.
"Tikus gundul! Tiada guna kau maju memperlihatkan kebodohanmu! Suruhlah Bouw Hun Ti si keparat itu keluar untuk kuambil kepalanya!"
Hok Ti Hwesio makin marah, apalagi ketika ia mendengar Wi Kong Siansu berkata sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah gadis itu.
"Itulah Ilmu Silat Sianli Utauw yang lihai dari Ang I Niocu! Hok Ti, kau mundurlah karena kau takkan menang menghadapi Nona ini!"
Hanya seorang saja di dunia ini yang ditakuti dan ditaati oleh Hok Ti Hwesio, yaitu gurunya, Ban Sai Cinjin.
Biarpun ia menghormati supeknya ini, namun di dalam kemarahan dan rasa penasarannya terhadap Lili ucapan supeknya itu bahkan menambah kemarahannya.
"Biarlah, Supek. Masa teecu tidak dapat mengalahkan perempuan liar ini?"
Ia lalu maju lagi dan kini mengirim serangan maut bertubi-tubi.
Pisau belati di tangannya menyambar-nyambar cepat sekali dan karena gin-kangnya memang sudah tinggi, sedangkan pisau itu kecil dan ringan, ditambah tenaga lwee-kangnya yang sudah baik, maka tubuhnya lenyap berubah menjadi segunduk bayangan yang mengurung tubuh Lili dari segenap jurusan.
Lili sudah mempelajari ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan biarpun belum sempurna seperti ayahnya, namun dara jelita yang gagah perkasa ini sudah mengerti pula tentang dasar dan pokok pergerakan ilmu silat, maka dengan enaknya ia menghadapi serangan-serangan Hok Ti Hwesio.
Ia melihat hwesio itu menyerangnya dengan gerak tipu Tiang-ging-king-thian (Pelangi Panjang Melengkung di Langit) dan pedang kecil itu menyambar di atas kepalanya, sedangkan kaki kanan hwesio itu menendang dengan cepatnya sambil mengerahkan tenaga Kim-kong-twi (Tendangan Sinar Emas).
Melihat gerakan pedang dan kaki yang menendang, Lili dapat menduga bahwa lawannya tentu memancingnya untuk mengetakkan tendangan itu dengan gerak lompat Kim-le-coan-po (Ikan Gabus Terjang Ombak) atau Cian-liong-seng-thian (Naga Sakti Naik ke Langit) agar tubuhnya naik ke atas sehingga pedang kecil yang berkelebat di atas kepalanya itu dapat menyerangnya dengan gerak tipu Liong-ting-thi-cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga).
Ia maklum pula akan berbahayanya serangan beruntun ini, akan tetapi dasar Lili memang berhati tabah, berwatak nakal jenaka, dan sudah memiliki perhitungan yang tepat maka dengan sengaja seakan-akan tidak tahu bahaya, ia segera melompat ke atas mengelakkan serangan tendangan lawan dengan Ilmu Lompat Cian-liong-seng-thian!
Hok Ti Hwesio menjadi girang sekali melihat pancingannya berhasil dan benar saja, seperti yang sudah diduga oleh Lili, pedang kecil di tangannya lalu menyambar dari atas, memapaki kepala Lili dengan gerakan Liong-ting-thi-cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga)!
Satu hal yang tidak terduga oleh Lili, yaitu sambil melakukan serangan berbahaya ini, tangan kiri Hok Ti Hwesio tidak tinggal diam dan maju memukul ke arah dada gadis itu dengan pukulan yang mengandung tenaga Thiat-ciang-kang (Pukulan Tangan Besi)!
Kam Seng yang melihat bahaya mengancam gadis cantik yang diam-diam menjatuhkan cinta kasihnya itu, hampir saja berseru ngeri karena bagaimanakah orang dapat menghindarkan diri dari bahaya serangan sehebat itu?
Akan tetapi Lili berlaku tenang.
Ia mengangkat tangan kirinya ke atas dan menggerakkan tangannya itu secara luar biasa sekali ke arah pedang lawan sehingga terdengar suara "cring...!!"
Dan ternyata ia telah berhasil menangkis pedang lawannya itu dengan gelang emas yang melingkar di pergelangan tangan kirinya!
Adapun pukulan ke arah dadanya itu ia sambut dengan tangan kanannya, dengan telapak tangan dari jari-jari yang dikembangkan!
"Ah...
tangan kanan itu sudah terang mainkan Pek-in-hoatsut akan tetapi tangan kiri itu...
apakah itu yang disebut Kong-ciak Sinna, ilmu-ilmu lihai dari Bu Pun Su?"
Terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum.
Akan tetapi, orang lain tidak memperhatikan ucapan ini karena memang lebih tertarik melihat akibat dari dua gerakan gadis yang lihai itu.
Hok Ti Hwesio tadi merasa kaget setengah mati ketika menyaksikan betapa gadis muda itu dapat menangkis pedangnya hanya dengan gelang di tangannya!
Akan tetapi kekagetannya itu tidak berarti apabila dibandingkan dengan kenyataan yang ia hadapi ketika pukulan tangan kirinya bertumbuk dengan telapak tangan gadis itu!
Ia tidak merasa bahwa kepalan tangannya sudah bertemu dengan telapak tangan kanan lawannya, akan tetapi dari telapak tangan itu mengebul uap putih dan ia merasa lengan kirinya seakan-akan hendak patah!
Rasa sakit menusuk-nusuk tulang lengannya yang kiri, dan ia tahu bahwa itu adalah akibat membaliknya tenaga pukulannya sendiri!
Sambil berseru keras hwesio ini melompat ke belakang dan cepat menggunakan gagang pedangnya untuk menotok urat lengan kirinya dan dengan cara demikian ia membuyarkan tenaga sendiri yang membalik karena tangkisan gadis secara istimewa tadi!
"Perempuan liar!
Jangan lari!"
Teriak Hok Ti Hwesio dengan keras dan marah, suatu sikap untuk menutup rasa malunya dan untuk memperbesar semangatnya.
Ia menubruk maju lagi dan kini ia bersilat lebih hati-hati.
Diam-diam ia merasa penasaran dan sedih sekali sehingga ingin sekali ia menangis berkaok-kaok saking jengkelnya.
Bagaimanakah dia, Hok Ti Hwesio, murid Ban Sai Cinjin, yang semenjak masih kecil dengan rajin dan tekunnya mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi, bahkan telah memiliki kekebalan dan ilmu kesaktian yang berdasarkan ilmu hitam, sudah "bertapa"
Mencari kesaktian dari mahluk halus, bermalam di tanah pekuburan, kini dengan pedang di tangan tidak berdaya menghadapi seorang gadis yang bertangan kosong?
Saking jengkelnya, ia tidak ingat lagi akan pengalamannya yang tadi.
Kalau Hok Ti Hwesio tidak begitu jengkel dan penasaran, tentu telah terbuka matanya bahwa ia menghadapi seorang lawan yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripadanya.
"Hemm, tikus gundul! Binatang rendah macam kau inikah yang hendak melawan ayah? Ha, kau perlu diberi rasa sedikit!"
Setelah berkata demikian, Lili mengubah caranya bersilat dan kini ia mainkan Sianli Utauw bagian yang paling cepat.
Tubuhnya seakan-akan lenyap berubah menjadi sinar kemerahan dari bajunya yang berkembang merah itu, dan pandangan mata Hok Ti Hwesio menjadi pening.
Seringkali ia menyaksikan gurunya atau supeknya bersilat dengan hebat, akan tetapi belum pernah melihat yang secepat ini.
Ia lalu mengamuk dan menggunakan pedang kecilnya menyambar ke arah bayangan tubuh lawannya, akan tetapi tiap kali pedangnya menyerang, ia merasa hanya mengenai angin saja karena lawannya sudah dapat mengelak lebih dulu.
Dan sebagai imbangannya, terdengar suara "tok!"
Karena kepalanya telah kena diketok oleh jari tangan Lili. Beberapa puluh jurus mereka bertempur dan entah sudah beberapa belas kali terdengar suara "tak-tok! tak-tok!"
Karena selalu tangan atau kaki Lili berkenalan dengan kepala yang gundul klimis itu.
Gadis ini benar-benar merasa kagum dan heran.
Ketokan, pukulan, dan tendangannya itu dilakukan dengan tenaga lwee-kang yang penuh dan kuat sekali, jangankan baru kepala orang, biarpun kepala patung batu akan pecah atau retak terkena serangan ini.
Bagaimanakah hwesio ini dapat menerima semua pukulan itu dengan adem saja, seakan-akan yang hinggap di kepalanya hanyalah lalat-lalat belaka?
Sebaliknya, Hok Ti Hwesio menjadi demikian mendongkol, malu, penasaran dan marah sehingga tak terasa lagi dari kedua matanya keluar dua titik air mata yang besar-besar!
Bukan main gemasnya karena kepalanya dibuat main bola oleh gadis ini, dan biarpun ia dapat menahan pukulan itu, namun tetap saja ia merasa sedikit puyeng!
Wi Kong Siansu khawatir kalau-kalau murid keponakan ini akan mendapat luka di dalam otaknya akibat pukulan-pukulan lihai itu, maka ia segera membentak.
"Hok Ti! Mundur kau...!"
Kali ini Hok Ti Hwesio tidak membangkang, karena di dalam suara supeknya terdengar perintah yang amat keras.
Pula, tadinya ia ingin mengadu nyawa karena merasa malu mengundurkan diri mengaku kalah setelah ia tadi bersumbar, kini ia melihat kesempatan baik karena supeknya yang memerintahnya mundur!
Dengan gerak lompatan Naga Hitam Berjungkir Balik ia melompat ke belakang, membuat poksai (salto) tiga kali dan tiba-tiba ketika tubuhnya masih berjumpalitan itu, pisau belati yang berada di tangannya telah ia lontarkan ke arah Lili!
Inilah keistimewaan Hok Ti Hwesio.
Pedang kecil atau pisau belati itu menyambar dengan cepatnya, merupakan sinar putih yang mengkilap menuju ke arah leher Lili yang sama sekali tidak menyangkanya.
Akan tetapi, dengan tenang sekali dan masih tersenyum, Lili mengangkat tangan kiri ke depan leher dan dengan gerak tipu Kwan-im-siu-koai-to (Dewi Kwan Im Menyambut Golok Siluman) ia telah dapat menangkap hui-kiam (pedang terbang) itu dan berbareng pada saat itu juga, ia mengirim pulang pedang itu dengan melontarkannya ke arah perut Hok Ti Hwesio disusul suara ejekannya.
"Nah, makanlah pisau penyembelih babimu ini!"
Baru saja tubuh Hok Ti Hwesio melompat turun, pisaunya telah terbang menyambar perutnya yang kecil karena jarang makan itu.
Ia terkejut sekali dan tidak sempat mengelak atau menangkis, maka ia lalu mengerahkan kekebalannya ke tempat yang terserang itu dan "bret!"
Hanya pakaiannya sajalah yang terobek oleh pisau itu, akan tetapi kulitnya lecet pun tidak! "Terlalu enak bagimu!"
Lili berseru penasaran dan sambil melangkah maju dua tindak, ia melancarkan pukulan Pek-in-hoatsut ke arah hwesio itu dengan kedua lengannya! "Celaka!"
Seru Wi Kong Siansu dan tosu ini dari tempatnya lalu menggerakkan ujung kedua lengan bajunya menangkis serangan angin pukulan yang dilancarkan oleh Lili ini.
Akan tetapi, masih tetap saja sebagian tenaga pukulan ini menyerang Hok Ti Hwesio sehingga hwesio itu terpental menubruk dinding di belakangnya yang terpisah tiga tombak lebih dari padanya!
Kalau saja pukulan ini tidak tertahan oleh angin tangkisan Wi Kong Siansu tak dapat diharapkan Hok Ti Hwesio akan dapat bernapas lagi.
Biarpun ia kebal, akan tetapi pukulan Pek-in-hoatsut menembus semua kekebalan dan merusak tubuh bagian dalam.
Kini Hok Ti Hwesio juga terluka, akan tetapi tidak parah dan tidak membahayakan jiwanya, namun cukup membuat ia duduk mengeluh panjang pendek dan berusaha mengerahkan tenaga dalam untuk memulihkan lukanya.
"Ganas, ganas...!"
Kata Wi Kong Siansu sambil memandang kepada Lili.
"Tak kusangka bahwa Pek-in-hoatsut dari Bu Pun Su yang budiman dan penuh hati welas asih itu kini dipergunakan oleh cucu muridnya secara demikian kejam!"
Lili tersenyum manis dan menjura kepada Wi Kong Siansu, lalu berkata.
"Wi Kong Siansu, aku yang muda sudah seringkali mendengar namamu yang besar sebagai seorang yang berkepandaian tinggi. Ucapanmu tadi memang kuakui ada benarnya akan tetapi agaknya kau orang tua telah menjadi pikun dan lupa akan ejekan orang-orang jaman dahulu yang berbunyi . peluh orang lain berbau busuk, akan tetapi kotoran sendiri berbau sedap! Tadi mudah saja kau mencela aku yang muda, bahkan membawa nama Sucouw Bu Pun Su. Akan tetapi, bukankah tikus gundul itu murid keponakanmu sendiri? Mengapa kau tidak mencelanya sama sekali? Apakah kauanggap bahwa perbuatannya terhadap aku tadi cukup pantas?"
Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini.
Ia tidak tahu bahwa Lili memang semenjak kecil gemar berkelahi dan karena seringkali bertengkar, maka ia menjadi pandai berdebat!
Apalagi karena ia seringkali mendengar ayahnya memberi nasihat dengan segala macam ujar-ujar kuno, maka ujar-ujar yang kiranya dapat ia pergunakan untuk "memukul"
Lawan, telah hafal di dalam kepalanya.
Dengan kata-katanya yang lantang itu, gadis ini sama sekali tidak memandang muka Wi Kong Siansu sehingga tosu itu menjadi penasaran sekali.
Ia merasa ditantang!
"Hemm, Nona muda, biarpun kau puteri Pendekar Bodoh, tak selayaknya kau bersikap begini sombong di hadapan Toat-beng Lo-mo!
Agaknya ayahmu hanya memberi didikan ilmu silat saja kepadamu, sama sekali tidak memberi pelajaran tentang tata susila dan sopan santun!"
Kembali Lili tersenyum lebih manis lagi. Makin manis senyum gadis ini makin berbahayalah dia, karena itu adalah tanda bahwa ia sedang mengasah otaknya dan berada dalam keadaan yang amat waspada.
"Totiang, orang-orang dahulu yang lebih tua daripadamu telah menyatakan bahwa manusia dihormat oleh sesamanya bukan karena keputihan rambutnya (usia tua), melainkan karena keputihan hatinya (budiman)."
Mulai bersinar pandang mata Wi Kong Siansu.
"Bocah lancang mulut! Apakah kau mau menyatakan bahwa kauanggap aku seorang jahat?"
"Tidak ada sangka-menyangka dalam hal ini, Totiang,"
Kata Lili sambil mengerling ke arah Kam Seng dengan pandangan mengejek.
"Ayah pernah berkata bahwa burung gagak hanya akan berkawan dengan mayat, sedangkan burung Hong hanya berkawan dengan burung sorga! Aku tidak berani menyatakan atau menyangka bahwa Totiang dan orang-orang lain jahat pula, akan tetapi aku berani menyatakan bahwa orang-orang yang bernama Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio yang keduanya tinggal di tempat ini juga adalah binatang-binatang rendah yang harus dimusnakan dari muka bumi ini!"
Ucapan ini terasa bagaikan tamparan pedas di muka Wi Kong Siansu, akan tetapi terhadap Kam Seng merupakan ujung pedang yang menikam di ulu hatinya.
Mukanya yang tadi merah sekarang berubah menjadi pucat.
Wi Kong Siansu berkata lagi.
"Hemm, kau masih kanak-kanak akan tetapi mulutmu jahat sekali. Sikapmu menantang padaku, akan tetapi aku masih malu untuk menghadapi seorang anak kecil seperti kau. Kam Seng, kauwakili aku dan coba kau uji kepandaian Nona ini!"
Kam Seng tak berani membantah.
Gurunya sudah tahu bahwa sebelum ia datang di tempat itu, ia adalah suheng dari gadis ini, maka kalau sekarang ia memperlihatkan sikap ragu-ragu dan membantah, tentu gurunya akan menaruh hati curiga kepadanya.
Pula, Lili adalah anak dari musuh besarnya yang harus pula ia balas, sungguhpun cara membalas dendam terhadap Lili telah ada rencana lain dalam otaknya!
Ia amat sayang kalau nona yang begini cantik manis sampai terbinasa.
Akan lebih baik kalau ia dapat mengambil nona ini menjadi isterinya!
Bukan karena cinta kasih murni, akan tetapi hanya untuk mempermainkan anak musuh besarnya!
Sambil menekan debar jantungnya, Kam Seng melangkah maju dan mencabut pedangnya.
"Lili,"
Katanya dengan suara tenang.
"kau telah berani menghina Suhu. Cabutlah pedangmu itu dan mari kita main-main sebentar. Hendak kulihat apakah kepandaianmu sesuai dengan kesombonganmu ini!"
Lili tidak menjawab, bahkan lalu menatap pemuda itu dan memandang dengan penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki.
Ia melihat pemuda ini sekarang nampak tampan dan gagah, mukanya putih terawat, rambutnya tersisir rapi dan diikat ke atas.
Pakaiannya bersih dan terbuat dari sutera mahal, baju warna merah dengan leher kuning emas dan celana warna biru.
Alangkah jauh bedanya dengan Kam Seng yang dulu itu!
Dulu hanya seorang pengemis kelaparan dan kurus kering, berpakaian compang-camping dan kotor.
"Hemm, Kam Seng, kau benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat! Pakaianmu semewah keadaan dalam ruangan ini! Hanya sayangnya, tidak semua keadaan di luar mencerminkan keadaan di dalam! Banyak kutemui keindahan luar yang hanya menjadi kedok daripada kebobrokan di sebelah dalam!"
Suara ini dikeluarkan dengan bibir masih tersenyum simpul, seakan-akan ia adalah seorang dewasa yang memberi nasihat kepada seorang anak kecil.
"Sudahlah, Lili, jangan banyak cakap lagi,"
Jawab Kam Seng dengan muka kemerah-merahan.
"Tidak ada gunanya bertanding kata-kata, cabutlah pedangmu!"
"Lagakmu seperti orang gagah saja!"
Lili masih menyindir dan dengan gerakan perlahan ia mengeluarkan sebuah kipas dari dalam bajunya, membuka kipas itu lalu mengipasi tubuhnya yang tidak gerah!
Bagi pandangan orang lain dan juga Kam Seng, agaknya sikap Lili ini memandang rendah sekali kepada lawannya.
Bahkan Kam Seng tidak mengira bahwa gadis itu akan menghadapinya dengan kipas di tangan!
"Lili lekas kau keluarkan pedangmu aku tidak mau menyerang orang bertangan kosong!"
Ucapan ini sengaja dikeluarkan dengan keras untuk memberi tamparan kepada Hok Ti Hwesio yang dibencinya. Akan tetapi, Lili hanya tersenyum dan mengipasi tubuhnya makin cepat lagi.
"Untuk menghadapi seekor lalat, cukup dengan sehelai kipas!"
Katanya.
Tidak seperti Kam Seng dan orang-orang lain, Wi Kong Siansu memandang kepada kipas di tangan Lili itu dengan penuh perhatian.
Bukan kipasnya yang menarik perhatiannya, melainkan cara jari tangan gadis itu memegang kipas itu.
Orang lain kalau memegang kipas tentu gagangnya digenggam di telapak tangan di antara empat jari dan ibu jari.
Akan tetapi Lili memegang kipas itu dengan gagang dijepit antara ibu jari dan telunjuk, sedangkan tiga jari tangan yang lain lurus dan tegang!
Berdebarlah dada tosu ini karena pegangan ini mengingatkan ia akan jago tua di utara, yaitu Swie Kiat Siansu, ahli Kipas Maut!
Akan tetapi tidak mungkin, pikirnya.
Bagaimana gadis ini bisa menjadi murid Swie Kiat Siansu?
"Kam Seng, jangan pandang ringan kipas itu, kau seranglah!"
Katanya kepada muridnya.
Lili diam-diam memuji ketajaman mata tosu itu, sedangkan Kam Seng menjadi terkejut dan memperhatikan kipas di tangan Lili.
Kipas itu gagangnya berwarna putih kekuningan seperti tulang.
Ia dapat menduga bahwa kalau kipas ini dipergunakan sebagai senjata, tentu gagang kipas itu terbuat daripada gading yang keras.
Layar atau permukaan kipas entah terbuat dari apa, kekuningan pula akan tetapi telah digambari gunung dan sungai dan ditulisi syair pula.
Ia masih merasa ragu-ragu.
Bagaimanakah kipas sekecil itu akan dipergunakan sebagai senjata?
Akan tetapi karena suhunya telah menyuruhnya menyerang, ia lalu bergerak maju.
"Awas pedang!"
Teriaknya dan menyeranglah dia dengan gerak tipu Liu-seng-kan-goat (Bintang Mengejar Bulan), sebuah gerak tipu serangan yang cukup berbahaya.
Bagaikan sebuah bintang, ujung pedang itu bergerak secara berantai dan dapat mengejar terus kemana saja sasarannya bergerak.
Kini yang dijadikan sasaran oleh pedangnya adalah pundak kanan Lili.
Dengan memilih sasaran pundak kanan, Kam Seng hendak menyatakan bahwa dia tidak berniat jahat atau menewaskan gadis itu.
Dengan menyerang pundak, maka ia memberi banyak kesempatan kepada Lili untuk mengelak.
Akan tetapi, ternyata Lili sama sekali tidak mengelak, bahkan menanti datangnya serangan ini dengan senyum mengejek.
Kam Seng terkejut sekali.
Betapapun juga, tidak bisa membatalkan serangannya karena hal ini akan membikin marah suhunya dan biarpun hanya pundak, kalau terkena pedangnya tentu akan terluka hebat juga!
Serangannya ini amat cepat dan dilakukan dengan tenaga lwee-kang sepenuhnya.
Ketika ujung pedang Kam Seng sudah berada dekat sekali dengan baju Lili yang menutup pundak, tiba-tiba gadis itu yang masih saja mengipasi tubuhnya dengan kipas lalu mengubah gerakan kipasnya dan kini ia mengebut ke arah pedang Kam Seng yang ujungnya sudah mendekati pundaknya.
Kam Seng hampir mengeluarkan seruan keras saking kagetnya.
Gerakan sederhana dengan kipas di tangan luar biasa sekali dibarengi penyerangan luar biasa sekali.
Sekaligus kipas itu telah melakukan tiga gerakan yang luar biasa.
Muka kipas menangkis ujung pedang, kebutannya mendatangkan angin yang menyambar mukanya sehingga membuat ia tak dapat membuka mata, dan gagang kipas dari gading itu cepat sekali melakukan totokan berbahaya ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang!
"Lihai sekali...!"
Terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum.
"Aku berani bertaruh bahwa ini tentulah Ilmu Kipas Maut dari Swie Kiat Siansu!"
Sementara itu Kam Seng yang lincah gerakannya telah dapat melompat mundur dan mukanya menjadi pucat.
Karena tadi memandang rendah hampir ia terkena totokan dalam segebrakan saja.
Sedangkan Lili makin kagum mendengar ucapan Wi Kong Siansu yang ternyata dapat mengenal ilmu silatnya demikian cepatnya.
Kam Seng berlaku hati-hati dan kini ia tidak berlaku seji (sungkan) lagi.
Ia mengerahkan kepandaiannya dan menyerang dengan cepat, mempergunakan Ilmu Pedang Hek-kwi-kiamsut, yaitu ilmu pedang ciptaan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang amat ganas dan selain kuat juga amat cepat gerakannya.
Diam-diam Lili kagum juga melihat ilmu pedang ini.
Sayang ia telah berkumpul dengan orang-orang jahat, pikirnya, kalau ia terus terdidik oleh orang baik-baik, tentu ilmu sitatnya akan amat berguna.
Sama sekali Lili tidak tahu bahwa sesungguhnya dasar ilmu silat Kam Seng ia dapat dari pendidikan Mo-kai Nyo Tiang Le.
Hanya ilmu pedangnya ini memang pelajaran dari Wi Kong Siansu.
Agaknya pemuda ini merasa malu untuk mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Nyo Tiang Le guna menghadapi gadis ini.
Lili maklum bahwa ilmu kepandaian Kam Seng lebih baik dan lebih berbahaya daripada Hok Ti Hwesio.
Perbedaan yang amat mencolok antara kedua orang ini ialah bahwa Hok Ti Hwesio mendasarkan kepandaiannya untuk daya tahan, tubuhnya kebal, pertahanannya kuat, bahkan batok kepalanya pun dapat menahan pukulan maut.
Sebaliknya, Kam Seng mendasarkan kepandaiannya pada daya serang.
Serangannya berbahaya dan cepat, tidak memberi banyak kesempatan kepada lawan.
Akan tetapi, daya tahannya tidak sekuat Hok Ti Hwesio.
Ilmu Kipas Maut yang ia warisi dari Swie Kiat Siansu adalah semacam ilmu silat yang luar biasa sekali, dan disebut ilmu silat San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Gunung dan Air).
Kipas yang dulu dipergunakan oleh Swie Kiat Siansu adalah kipas yang layarnya terbuat daripada kulit harimau, akan tetapi sebagai seorang gadis, Lili tidak suka mempergunakan kipas yang buruk rupa.
Ia sengaja membuat kipas yang kecil dan indah bentuknya, dengan layar dari kain tebal yang dilukisi dan ditulisi syair.
Dengan demkian, kipasnya ini tidak saja dapat dipergunakan untuk senjata, akan tetapi juga dapat dipakai untuk pemantas dan untuk mencari angin sejuk.
Lukisan di atas kipasnya ini indah sekali dan syairnya ditulis sendiri oleh ayahnya, maka Lili merasa sayang sekali kepada kipas ini.
Dalam perkelahian menghadapi lawan, baru kali ini ia mempergunakan kipas ini, maka ia berlaku amat hati-hati agar jangan sampai lukisan pada kipas itu menjadi rusak.
Maka ia lalu menutup kipasnya, dan hanya menggunakan gagangnya saja untuk menghadapi Kam Seng.
Hal ini tidak saja memperlambat kemenangannya, bahkan membuat ia sukar sekali menjatuhkan lawannya.
Kalau kipas itu dibuka, maka senjata istimewa ini menjadi tiga kali lipat lebih berbahaya, karena gagangnya berubah menjadi dua di kanan kiri yang keduanya dapat dipergunakan untuk menotok.
Permukaan kipas dapat dipergunakan untuk mengacaukan pandangan mata musuh, bahkan angin kipasannya saja dapat membingungkan lawan.
Dengan menutup kipas itu, maka senjata ini hanya merupakan sebuah gagang yang digerakkan untuk menangkis atau mengirim serangan totokan.
Sebelum berguru kepada Wi Kong Siansu, terlebih dulu Kam Seng telah mendapatkan gemblengan dari Mo-kai Nyo Tiang Le dan ia telah banyak menderita sehingga ia menjadi tekun sekali melatih lwee-kang, maka ilmu pedangnya kini sama sekali tak dapat dibilang rendah tingkatnya.
Kalau saja Lili tidak sayang kepada kipasnya dan melayaninya dengan kipas terbuka, dapat dipastikan bahwa kurang dari dua puluh jurus saja Kam Seng akan dapat dirobohkan.
Akan tetapi, karena Lili menghadapinya dengan kipas tertutup, maka pertempuran berjalan sengit dan ramai sekali.
Namun masih saja Lili selalu berada di pihak penyerang, karena dengan pengertiannya akan dasar dan pokok pergerakan ilmu silat, gadis ini dapat menduga gerakan-gerakan dan perkembangan serangan lawan dan dapat mendahuluinya.
Berbeda dengan ketika melawan Hok Ti Hwesio, Lili tidak mau mengejeknya dan tidak mau mempermainkannya pula, karena tidak terkandung kebencian di dalam hatinya terhadap Kam Seng, hanya penyesalan dan kekecewaan besar melihat pemuda itu tersesat.
Setelah bertempur hampir lima puluh jurus, perlahan akan tetapi pasti Lili mulai mendesak Kam Seng.
Pemuda ini merasa penasaran sekali, karena bagaimanakah Lili dapat berkelahi demikian kuatnya dengan hanya bersenjata sebuah kipas kecil?
Ia mengerahkan ilmu silat yang ia pelajari dari Mo-kai Nyo Tiang Le, akan tetapi sia-sia belaka.
Kipas Lili benar-benar hebat sekali dan selalu ujung gagang gading itu mengancam jalan darahnya.
Pada saat pedangnya berkelebat membabat pinggang Lili dan dapat ditangkis oleh Lili yang mementalkan gagang gadingnya dan membalas dengan totokan ke arah iga, terpaksa Kam Seng menjatuhkan diri ke bawah dengan gerak tipu Harimau Lapar Mengintai Korban.
Dengan amat cepatnya, ia lalu menggerakkan pedang menyapu pergelangan kaki gadis itu.
Menghadapi serangan ini, Lili memperlihatkan kepandaiannya yang mengagumkan.
Ia tidak melompat ke atas untuk menyelamatkan kakinya, bahkan ia lalu memapaki datangnya pedang ini dengan gerakan kaki yang disebut gerak tipu Dewa Bumi Menginjak Ular.
Kaki kanannya dengan kecepatan luar biasa dan dari arah atas menyerong ke bawah dapat menyambut permukaan pedang dan sambil meminjam tenaga serangan lawan, ia menekan dan menggerakkan tenaga lwee-kang pada kakinya yang terus menindih dan menginjak pedang itu di atas tanah!
Kam Seng terkejut sekali.
Ia cepat mengerahkan tenaga untuk membetot pedangnya, akan tetapi sia-sia belaka.
Pedangnya itu seakan-akan terjepit dan tertindih oleh batu karang yang berat sekali sehingga tak dapat terlepas dari tindihan kaki Lili yang memandangnya sambil tersenyum!
Kemudian, gagang kipas gading di tangan Lili menyambar turun, menotok ke arah pundak kanan Kam Seng.
Melihat datangnya totokan yang amat berbahaya ini, terpaksa pemuda itu melakukan hal yang membuatnya mendapat malu dan yang sekaligus menyatakan kekalahannya.
Yaitu ia melepaskan gagang pedangnya dan menggulingkan tubuhnya ke belakang dengan gerakan Trenggiling Turun dari Lereng!
Ia dapat menghindarkan diri dari totokan, akan tetapi ia harus melepaskan pedangnya yang berarti bahwa ia telah kalah!
Dengan muka merah ia melompat bangun dan berdiri menundukkan muka akan tetapi diam-diam ia amat mengagumi gadis puteri musuh besarnya itu.
"Hebat..., hebat...!"
Kata Wi Kong Siansu sambil melangkah maju menghadapi Lili yang masih menginjak pedang.
Sekali tosu tua ini mengebutkan ujung lengan bajunya, maka tubuhnya merendah dan ujung lengan baju melibat gagang pedang itu bagaikan seekor ular.
Lalu ia membetot keras akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi merah ketika merasa bahwa pedang itu tak dapat terbetot dari injakan kaki Lili!
Ia terkejut dan diam-diam ia kagum sekali karena ternyata bahwa tenaga injakan itu benar-benar hebat.
Ia dapat menduga bahwa gadis ini tentu nggunakan tenaga Thai-san-cui, karena hanya dengan ilmu pengerahan tenaga ini sajalah betotannya dapat tertahan.
Kakek ini tersenyum-senyum, kemudian sambil berseru.
"Lepas!"
Ia lalu mengerahkan tenaga Im-yang-cui.
Tenaga betotannya kali ini bukanlah tenaga membetot semata, karena ujung bajunya itu membetot dengan terbalik, yaitu bahkan mendorong pedang itu ke depan, kemudian ditengah-tengah dorongannya ini, ia lalu menarik keras.
Inilah tenaga Im-yang-cui yang sifatnya bertentangan, akan tetapi dapat dipergunakan dengan berbareng maka kehebatannya pun luar biasa sekali.
Lili maklum bahwa ia tidak dapat mempertahankan injakannya lagi, maka ia tiba-tiba melepaskan tenaga injakannya sambil berbareng menekuk jari kakinya, yaitu ibu jari dan jari kedua, lalu jari-jari kakinya itu menggunakan gerakan menyentik pedang itu!
Memang gadis ini selain nakal, juga banyak akal dan lihai sekali.
Sungguhpun jari kakinya tersembunyi di dalam sepatu kain, namun tenaganya dapat berkurang karenanya, dan masih dapat melakukan gerakan yang lihai ini.
Pedang itu yang terbetot oleh ujung lengan baju Wi Kong Siansu, ditambah dengan tenaga menyentik dari jari kaki Lili, tiba-tiba bergerak membalik dan seakan-akan terbang menuju ke arah leher tosu itu!
Kini Wi Kong Siansu yang maklum akan demonstrasi yang diperlihatkan oleh gadis itu, tidak mau "kalah muka"!
Melihat datangnya pedang yang melayang ke arah lehernya, ia lalu merendahkan tubuh dan membuka mulutnya.
Pedang itu, dengan tepat sekali memasuki mulutnya dan tergigitlah ujung pedang itu oleh gigi si kakek yang lihai!
Semua orang memandang dengan melongo melihat betapa gagang pedang itu bergoyang-goyang seakanakan pedang itu telah menancap di batang pohon!
Lili sendiri pun merasa kagum dan terkejut karena makin maklum bahwa ia kini menghadapi seorang tosu yang berilmu tinggi sekali.
Dengan tenang Wi Kong Siansu mengambil pedang itu dari mulutnya, kemudian tersenyum-senyum kepada Lili lalu berkata.
"Siancai... Sungguh seorang gadis yang lihai, cerdik, nakal dan tabah sekali! Nona, kau masih begini muda, akan tetapi telah mewarisi kepandaian Pendekar Bodoh, bahkan telah mewarisi kepandaian Swie Kiat Siansu! Tidak percuma kau menjadi puteri Pendekar Bodoh! Akan tetapi pinto (aku) tidak ingin bertanding melawan seorang kanak-kanak seperti kau. Lebih baik kau pulang saja dan kalau memang kau ingin mengacau rumah tangga kawan-kawanku, suruhlah ayahmu yang datang ke sini."
"Totiang, kau tidak ingin bertanding melawan aku, sebaliknya siapakah yang ingin bertempur dengan kau? Sudah kukatakan bahwa kedatanganku bukan hendak berurusan dengan kau, dan juga aku tidak butuh sesuatu dari Kam Seng atau kepala gundul itu! Aku hanya perlu mencari manusia busuk bernama Bouw Hun Ti untuk kupenggal lehernya dan kubawa pulang kepalanya!"
Pada waktu itu, Bouw Hun Ti tidak berada di kelenteng itu, bahkan tidak ada pula di dusun Tong-sin-bun, oleh karena orang she Bouw ini semenjak beberapa hari yang lalu telah pergi jauh ke utara.
Bouw Hun Ti memang seorang yang amat cerdik dan hati-hati.
Biarpun ia telah berhasil mengundang datang Wi Kong Siansu untuk memperkuat kedudukannya namun ia masih berkhawatir juga.
Setelah berunding dengan suhu dan supeknya itu dan mendapat persetujuan, ia lalu berangkat ke utara untuk mengunjungi tiga orang sahabat baiknya yang berilmu tinggi yaitu yang disebut Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun).
Ketiga orang ini adalah orang-orang yang aneh dan sakti dan yang tinggal di Hailun, yaitu sebuah kota di daerah Mancuria.
Bouw Hun Ti mengunjungi mereka untuk membujuk mereka datang dan bersama-sama menghancurkan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya.
Ia mempunyai harapan besar untuk mendapat bantuan ketiga orang ini yang masih terhitung keluarga dari Panglima Mongol yang bernama Balaki dan yang dulu tewas dalam perang ketika orang Mongol menyerbu ke selatan (baca cerita Pendekar Bodoh).
Mendengar ucapan Lili yang menyatakan hendak memenggal leher Bouw Hun Ti, Wi Kong Siansu tertawa.
"Ah, sungguh kau sombong sekali, Nona. Belum tentu Bouw Hun Ti akan demikian mudahnya menyerahkan lehernya untuk kau sembelih! Pula, pada saat ini, murid keponakanku itu tidak berada di sini."
"Bohong!"
Seru Lili marah.
"Totiang, kauingatlah. Sungguhpun aku tidak ingin bermusuhan dengan kau orang tua, akan tetapi kalau kau menyembunyikan dan membela keparat Bouw Hun Ti, terpaksa aku berlaku kurang ajar!"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh-kekeh dari kelenteng disusul dengan mengebulnya asap hitam dan berkelebatnya tubuh seorang tua pendek gemuk yang berpakaian mewah.
Ban Sai Cinjin telah datang sambil membawa huncwenya yang mengebulkan asap hitam, tanda bahwa ia telah siap untuk bertempur!
Bagaimanakah orang ini bisa datang ke kelenteng itu pada waktu malam gelap?
Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, hampir semua rumah penginapan dan toko-toko besar di dusun Tong-sin-bun adalah milik dari Ban Sai Cinjin.
Demikian pula rumah penginapan di mana Lili bermalam, adalah rumah penginapan orang tua ini pula.
Para pengurus hotel ketika menyaksikan kecantikan Lili, segera memberi laporan kepada Ban Sai Cinjin yang mata keranjang dan rnemang berwatak sebagai bandot tua.
Ia amat girang mendengar bahwa di hotel itu bermalam seorang gadis cantik jelita, dan penuturan pengurus rumah itu bahwa gadis ini nampaknya berkepandaian tinggi, bahkan makin menggembirakan hatinya.
"Ha-ha-hi-hi! Itulah yang selama ini kucari-cari,"
Katanya.
"Aku sudah bosan dengan gadis-gadis yang lemah. Aku sudah bosan dengan bunga-bunga harum yang mudah layu dan rontok. Aku menghendaki bunga hutan, bunga liar. Ha-ha-ha!"
Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa gadis itu keluar dari kamar tanpa diketahui ke mana perginya, dan ditunggu-tunggu belum juga kembali mulai curigalah hati Ban Sai Cinjin.
Di dusun sekecil Tong-sin-bun, orang dapat melancong ke manakah?
Apalagi seorang gadis muda!
Ia teringat akan penuturan pengurus hotel bahwa gadis itu berkepandaian silat, dan karena Ban Sai Cinjin merasa bahwa ia mempunyai banyak musuh yang mendendam sakit hati kepadanyaa maka ia lalu berlaku waspada.
Digantinya tembakau pada huncwenya dan ia lalu berlari cepat menuju ke kelenteng di tengah hutan itu, benar saja, ia melihat gadis cantik jelita itu berada di dalam kelentengnya dan mengucapkan ancaman terhadap muridnya Bouw Hun Ti.
Ia lalu tertawa dan melompat masuk, dan sambil menyembunyikan rasa kagumnya menyaksikan kecantikan yang luar biasa dari gadis itu ia berkata.
"Nona, kau mencari Bouw Hun Ti? Ha-ha, muridku ini sedang pergi jauh. Biarlah aku mewakilinya menyambutmu yang sudah datang dari tempat jauh. Kalau aku tahu, tentu kau tak kuperbolehkan mendiami kamar hotelku yang kecil itu, akan kusediakan kamar besar dan mewah di rumahku. Ha-ha-ha!"
Melihat munculnya orang tua itu, maklumlah Lili bahwa ia harus melawan mati-matian, karena ia tahu akan kelihaian dan kejahatan Ban Sai Cinjin.
"Hemm, aku tahu siapa kau ini. Ban Sai Cinjin, aku memang datang untuk memenggal leher muridmu Bouw Hun Ti, untuk membalas dendamku ketika aku terculik olehnya di waktu aku masih kecil dan terutama sekali untuk membalasnya karena ia telah membunuh kakekku, yaitu Yo Se Fu!"
"Mudah saja, mudah. Marilah kau ikut aku ke rumah, dan sementara menanti datangnya Bouw Hun Ti, kita makan minum untuk menghormat kedatanganmu!"
Lili maklum bahwa orang tua ini mencari perkara.
Menghadapi Ban Sai Cinjin tak boleh gegabah, apalagi di situ terdapat Wi Kong Siansu yang menjadi suheng dari orang tua mewah ini, maka kalau tidak diserang, lebih baik jangan mencari penyakit sendiri.
"Ban Sai Cinjin, kata-katamu sama hitamnya dengan tembakaumu yang berbau busuk! Siapa mau meladeni orang seperti kau? Kalau Bouw Hun Ti si jahanam itu tidak berada di sini, sudahlah!"
Ia lalu menggerakkan kakinya hendak pergi dari situ, akan tetapi tiba-tiba Ban Sai Cinjin bergerak maju menghadang di tengah jalan.
"Ha-ha-hi-hi, enak saja kau mau pergi dari sini! Kau datang ke kelentengku tanpa kupanggil, dan kau datang dengan maksud jahat, apakah aku harus membiarkan kau berlaku sesuka hatimu? Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kau berani membuka mulut besar hendak membunuh muridku. Siapakah adanya kau yang sombong ini?"
"Suhu, dia adalah puteri dari Pendekar Bodoh dan tadi dia pun hampir saja membunuh teecu!"
Tiba-tiba Hok Ti Hwesio berkata sambil menudingkan jarinya ke arah Lili dengan pandangan marah.
Hwesio muda ini ingin sekali suhunya membalaskan hinaan yang ia alami tadi.
Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ini.
Kalau gadis ini sudah dapat mengalahkan Hok Ti Hwesio, itu tandanya bahwa kepandaian gadis ini tak boleh dibuat gegabah.
Ia menengok kepada Kam Seng dan Wi Kong Siansu dengan heran.
"Ada Suheng dan Kam Seng di sini, bagaimana dia bisa mengganggu Hok Ti?"
Kam Seng buru-buru berkata.
"Teecu juga sudah kena dikalahkan oleh Nona ini."
"Hem, hem, lihai juga,"
Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk.
"Baiknya Suheng belum turun tangan, biarlah aku yang meringkus bocah ini!"
Sambil berkata demikian, dengan gerakan yang tak terduga-duga, Ban Sai Cinjin mengulurkan tangan kirinya hendak menangkap pundak Lili.
Gadis itu cepat mengelak dan menggunakan kipasnya yang masih terpegang untuk mengebut dan menotok pergelangan tangan yang diulur itu.
Ban Sai Cinjin hanya tersenyum-senyum saja dan sama sekali tidak mau mengelak.
Kakek ini telah memiliki kekebalan yang melebihi Hok Ti Hwesio dan ia tidak takut akan segala totokan biasa saja.
"Awas, Sute!"
Seru Wi Kong Siansu yang maklum bahwa sutenya memandang rendah kepada gadis muda itu.
Akan tetapi sudah terlambat, karena ujung gagang kipas di tangan Lili dengan tepat telah menotok jalan darah pergelangan tangan Ban Sai Cinjin.
Kakek ini mengerahkan kekebalannya, akan tetapi ia segera menjerit karena kaget dan kesakitan dan alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa lengan kirinya menjadi lumpuh!
Bukan main hebatnya totokan yang dilancarkan oleh kipas Lili ini, sehingga ia dapat mematahkan kekebalan Ban Sai Cinjin dan masih dapat menembusi kulit tebal itu untuk mencari sasarannya.
Sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin melompat ke belakang dan cepat ia menggunakan tangan kanannya untuk mengetok dan mengurut lengan kirinya dan dengan cepat ia dapat membebaskan lengan kirinya dari pengaruh totokan yang lihai itu!
Lili juga terkejut dan kagum sekali.
Totokannya tadi berbahaya dan dapat menewaskan seorang lawan, akan tetapi kakek itu tidak dapat roboh dan bahkan dapat memulihkan kembali jalan darahnya dengan cepat.
"Kurang ajar!"
Teriak Ban Sai Cinjin dengan marah sekali sehingga mukanya jadi pucat yang merah itu berubah menjadi pucat sekali.
"Kau ganas dan liar, harus mampus di tanganku!"
Cepat seperti harimau menerkam ia lalu menubruk maju dan menggerakkan huncwenya mengetok kepala Lili dengan gerakan yang cepat sekali.
Lili tidak mau berlaku lambat dan tiba-tiba nampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika gadis ini mencabut pedangnya, yaitu Liong-coan-kiam pemberian ayahnya!
Terdengar bunyi keras.
"trang...!!"
Ketika huncwe itu beradu dengan pedang dan bunga api berpijar indah.
Ilmu silat Ban Sai Cinjin benar-benar hebat, ganas dan kuat sekali.
Huncwe di tangannya menyambar-nyambar, diliputi uap hitam yang menyeramkan dan berbau tidak enak sekali.
Akan tetapi, pedang Liong-coan-kiam di tangan Lili, bergerak dengan indahnya pula.
Sedikit pun huncwe lawannya tak dapat mendekati tubuhnya, karena ke mana saja huncwe itu berkelebat, selalu terhalang oleh sinar pedang yang agaknya secara otomatis mengikuti gerakan lawannya.
Tubuh gadis itu ketika bersilat pedang bergerak dengan lincah dan indah bagaikan orang sedang menari, begitu lemah gemulai, namun demikian kuatnya.
Benar-benar mengagumkan dan kini Wi Kong Siansu sendiri memandang dengan mata terbelalak, bukan saja saking kagumnya, akan tetapi juga karena heran dan bingung.
Belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang sehebat dan seaneh ini!
Inilah limu pedang Liong-cu Kiam-sut, ciptaan Pendekar Bodoh.
Ilmu pedang Liong-cu Kiam-sut ini berdasarkan Ilmu Pedang Daun Bambu, ilmu pedang sederhana yang aneh dan lihai sekali yang diciptakan oleh Sie Cin Hai Si Pendekar Bodoh (baca cerita Pendekar Bodoh).
Oleh karena ilmu pedang ini ciptaan ayah Lili sendiri dan tak pernah diturunkan kepada orang lain, tentu saja ilmu pedang ini jarang sekali terlihat di dunia persilatan, berbeda dengan ilmu-ilmu pedang cabang persilatan besar seperti Go-bi Kiam-hwat, Kun-lun Kiam-hwat, dan lain-lain yang banyak dimainkan oleh para muridnya.
Kalau dilihat Lili sedang mainkan pedang ini, agaknya ia lebih mahir daripada ayahnya sendiri, yaitu dalam hal kelincahan dan keindahan gerakan.
Akan tetapi, sesungguhnya tentu saja ia tidak dapat menandingi ayahnya, terutama sekali dalam kematangan gerakan dan pengalaman pertempuran.
Kini menghadapi seorang lawan berat seperti Ban Sai Cinjin, biarpun ilmu pedangnya berhasil membingungkan lawan dan membuat huncwe maut di tangan Ban Sai Cinjin tak banyak berhasil, namun pertempuran ini membuat gadis itu menjadi letih sekali.
Tiap kali senjatanya beradu dengan senjata lawan, ia merasa urat-uratnya tergetar dan pertempuran kali ini telah memaksa ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga.
Ia memang tak usah khawatir akan terkena senjata lawan, akan tetapi sebaliknya, sukarlah pula baginya untuk dapat merobohkan lawan tangguh ini.
Huncwe itu benar-benar lihai sekali dan memiliki gerakan yang serba aneh dan tak terduga.
Ban Sai Cinjin menjadi gemas dan marah luar biasa.
Perasaan ini timbul dari rasa malu dan penasaran.
Benar-benarkah dia, Ban Sai Cinjin, Si Huncwe Maut juga Si Golok Malaikat, orang yang sudah puluhan tahun malang-melintang di kalangan kang-ouw dan jarang sekali menemui tandingan, kini tidak berdaya merobohkan seorang bocah yang belum ada dua puluh tahun usianya?
Dan seorang bocah perempuan pula, yang berkulit halus, bermata bintang, berbibir merah semringah, dan nampak lemah?
Jarang ada seorang lawan, seorang kang-ouw yang bagaimana tangguh pun, dapat melawan huncwenya lebih dari dua puluh jurus.
Akan tetapi gadis manis ini telah melawannya sampai lima puluh jurus dan sedikit pun ia belum dapat menjatuhkannya!
"Bangsat perempuan, kau harus mampus!"
Tiba-tiba Ban Sai Cinjin berseru marah dan kini tangan kirinya yang tadi tidak ikut menyerang, lalu dikepal-kepal dan kepalan tangan itu tak lama kemudian berubah menjadi kemerah-merahan!
Thio Kam Seng atau lebih benar Song Kam Seng, terkejut sekali melihat kepalan susioknya ini.
Celaka, pikirnya, kini Lili berada di pinggir jurang maut!
Ia maklum bahwa kalau kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin sudah menjadi kemerah-merahan, itu tandanya bahwa kakek ini telah mengerahkan tenaga Ang-tok-jiu (Tangan Merah Beracun)!
Jangankan sampai terkena pukul, baru tersambar oleh angin pukulan tangan Ang-tok-jiu ini saja, lawan dapat roboh menderita luka hebat yang dapat membawanya ke lubang kubur!
Harus diakui bahwa Lili adalah seorang gadis yang boleh dikata masih hijau pengalamannya dalam hal pertempuran dan jarang sekali ia bertempur menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw seperti Ban Sai Cinjin.
Akan tetapi, ia adalah puteri dari sepasang suami isteri pendekar besar.
Ayahnya, Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh, adalah seorang ahli silat yang jarang tandingannya, sedangkan ibunya, Kwee Lin atau Lin Lin, juga memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Lebih-lebih lagi karena baik ayah maupun ibunya telah mempunyai banyak sekali pengalaman pertempuran dan terutama sekali ayahnya telah seringkali menghadapi akal-akal dan ilmu-jimu jahat dan kejam yang dimiliki golongan hek-to (jalan hitam, penjahat).
Maka seringkali gadis ini didongengi oleh ayah bundanya, juga tentang Ang-se-jiu (Tangan Pasir Merah) dan Ang-tok-jiu ia pernah mendengar dari ayahnya.
Ia tidak mengira bahwa kakek ini memiliki ilmu yang jahat ini, maka setelah melihat kepalan tangan kiri Ban Sai Cinjin berubah merah, cepat ia menyelipkan kipasnya di saku baiunya dan ia pun lalu menggerak-gerakkan tangan kirinya lalu mengerahkan tenaga khi-kangnya, bergerak-gerak ke kanan kiri sehingga tak lama kemudian dari seluruh lengan kirinya mengebullah uap putih.
Inilah Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut, ilmu turunan dari sucouwnya (kakek guru) yang bernama Bu Pun Su!
Pada saat huncwe Ban Sai Cinjin melayang ke arah pelipisnya, ia menangkis dengan pedangnya dan secepat kilat Ban Sai Cinjin menonjok ke arah dadanya dengan langan kiri yang mengandung tenaga Racun Merah itu!
Angin pukulan itu telah lebih dulu menyambar dan dengan tenang akan tetapi waspada dan cepat sekali Lili lalu menangkis pula dengan tangan kiri.
Hebat sekali tenaga pukulan Angtok-jiu dan tenaga tangkisan Pek-in-hoatsut ini.
Orang tak melihat dua lengan tangan itu beradu, akan tetapi tubuh kedua orana itu terpental mundur sampai dua tindak ke belakang!
Ban Sai Cinjin menjadi pucat saking kagetnya melihat betapa gadis muda itu dapat menangkis pukulan mautnya sedemikian lihainya.
Adapun Lili juga terkejut sekali dan buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam dan mengatur napasnya ketika merasa betapa seluruh urat pada tangan kirinya terasa kesemutan!
Ini adalah tanda bahwa betapa pun hebatnya ilmu silat Pekin-hoat-sut, namun dalam hal tenaga dalam, ia masih kalah terhadap kakek ini.
Pengalaman ini membuat ia berlaku hati-hati sekali.
Berkali-kali Ban Sai Cinjin melancarkan serangan, pukulan Ang-tok-jiu, karena kakek ini pun maklum bahwa ia masih menang tenaga dan kalau ia menyerang bertubi-tubi, ada harapan ia akan melukai gadis itu.
Akan tetapi kini Lili menangkis dengan cerdik sekali.
Ia menggunakan tangkisan dari ilmu pukulan Pek-in-hoat-sut dari samping, dengan cara menyampok tenaga serangan lawan dari samping, tidak mengadu tenaga seperti tadi.
Oleh karena ini, selalu apabila pukulan Ang-tok-jiu datang, ia tidak perlu mengadu tenaganya, dan hanya menyampok dari samping sambil mengelak saja.
Dengan demikian tenaga pukulan lawan yang hebat itu tidak langsung datangnya dan tidak demikian telak menghantamnya.
Wi Kong Siansu makin kagum saja, demikian pula Ban Sai Cinjin diam-diam kagum sekali kepada puteri Pendekar Bodoh ini.
Tadinya ia tidak ingin mempergunakan kelicikan dalam pertempuran ini, karena ia segan untuk merobohkan lawannya yang masih muda dan wanita pula ini dengan ilmu hitam.
Namun, karena tahu bahwa ia tidak mudah dapat merobohkannya, dan hal ini akan lebih memalukannya lagi, tiba-tiba ia lalu menyedot huncwenya dan sekali ia berseru keras, dari mulutnya menyembur keluar asap hitam yang amat berbahaya menuju ke muka Lili!
Gadis itu terkejut sekali.
Sungguhpun asap itu masih jauh dari mukanya, namun ia telah mencium baunya yang amat memuakkannya dan ia cepat melempar tubuhnya ke belakang, melakukan gerakan Burung Walet Pulang ke Sarang membuat gerakan poksai (salto) sampai tiga kali dan turun beberapa tombak jauhnya dari lawannya.
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak.
Ia maklum bahwa lawannya takut kepadanya, maka ia berseru.
"Nona manis, kau hendak lari ke mana?"
Lalu ia menyedot huncwenya pula dan kesempatan itu ia pergunakan untuk membuka kantong tembakau yang tergantung pada huncwenya dan mengisi mulut huncwe itu dengan tembakau baru.
Ia mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya dengan asap mautnya!
Lili maklum bahwa sungguhpun hawa Pek-in-hoat-sut dari tangan kirinya akan dapat menolak asap hitam itu buyar terkena hawa Pek-in-hoat-sut, asap yang ringan itu masih akan dapat menyerangnya.
Asap macam ini tidak menyerangnya mengandalkan tenaga tiupan, melainkan mengandalkan kejahatan racun yang dikandungnya.
Maka ia lalu melepaskan tenaga Pek-in-hoat-sut dari lengan kirinya dan sebagai gantinya ia lalu mengeluarkan kipasnya.
Sekali ia menggerakkan jari tangan kirinya, kipasnya ini telah terkembang dan dipegangnya seperti hendak mengipas tubuhnya.
Ban Sai Cinjin belum tahu gadis ini telah mewarisi Ilmu Silat San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Bukit dan Air) yang lihai dari Swie Kiat Siansu, maka tanpa memperhatikan kipas ini, ia lalu menyerbu lagi dengan sekaligus mengeluarkan tiga serangannya.
Tangan kirinya memukul dengan Ang-tok-jiu, tangan kanan menggerakkan huncwe menotok leher, dan dari mulutnya menyemburkan asap yang hitam dan tebal ke arah muka lawannya!
Lili merasa girang melihat lawannya tidak memperhatikan kipasnya dan gadis yang cerdik ini mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya yang amat lihai ini.
Ia menanti datangnya serangan dengan amat tenang dan sengaja berlaku agak lambat untuk menarik perhatian lawan.
Untuk menghindarkan diri dari tiga serangan itu, ia mempergunakan gin-kangnya (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, berkelit ke kanan sambil merendahkan tubuh, karena maklum bahwa asap hitam itu tidak akan turun ke bawah.
Ia sengaja menanti untuk memancing lawannya.
Benar saja, Ban Sai Cinjin melihat keadaan gadis yang agaknya lambat gerakannya ini, menjadi girang dan mengira bahwa gadis itu telah terkena racun asap hitamnya, maka ia melanjutkan serangan dengan mencengkeram ke bawah dan mengayun huncwenya.
Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba kipas di tangan kiri Lili dikebutkan ke arah uap hitam yang tebal tadi sehingga uap itu melayang ke arah muka Ban Sai Cinjin!
Tentu saja sebelumnya, Ban Sai Cinjin telah mempergunakan obat penawar untuk menolak pengaruh asap hitam dari huncwenya sendiri sehingga serangan asap yang membalik ke mukanya ini tidak membahayakannya sama sekali.
Akan tetapi bukan itulah kehendak Lili.
Kebutan kipasnya ini bermaksud membuat asap hitam itu menutupi pandang mata lawannya dan maksudnya ini memang berhasil baik.
Betapapun juga, Ban Sai Cinjin tidak berani menghadapi racun asap tembakaunya sendiri dengan mata terbuka.
Untuk sesaat sambil meniup ke arah asap itu ia meramkan matanya dan dengan tak terduga-duga sekali, tiba-tiba ia merasa pangkal lengan kirinya sakit sekali!
Ternyata bahwa tadi ketika ia sedang menghadapi asap yang membalik itu, secepat kilat Lili mengelak dari serangan kedua tangannya, bergerak sambil menggeser kaki ke kanan dan dari samping ia mengirim totokan dengan kipasnya yang dapat tepat sekali mengenai pangkal lengan kiri lawannya!
Tubuh Ban Sai Cinjin terhuyung ke belakang dan tiba-tiba ia merasa datangnya angin dingin ke arah leher dan lambungnya!
Ia maklum akan bahaya maut itu.
Ternyata bahwa lambungnya telah diserang oleh pedang Liong-coan-kiam dengan gerakan Lutung Sakti Memetik Buah sedangkan lehernya telah diserang oleh sepasang gagang kipas dengan gerakan Gunung Thai-san Menimpa Kepala!
Ban Sai Cinjin mengeluarkan keringat dingin dan cepat ia menjatuhkan diri ke belakang, akan tetapi gerakan kipas ke arah lehernya itu luar biasa cepatnya "Krek!"
Terdengar suara dan pundaknya masih terkena gagang kipas itu.
Ban Sai Cinjin menjerit dan maklum bahwa tulang pundaknya telah terlepas sambungannya!
Lili tidak niau memberi hati dan terus mendesak dengan serangan yang lebih hebat lagi.
Agaknya nyawa Ban Sai Cinjin terpaksa akan meninggalkan raganya tak lama lagi.
Akan tetapi, tentu saja Wi Kong Siansu tidak mau tinggal diam melihat sutenya terancam bahaya maut.
Cepat bagaikan seekor burung gagak menyambar bangkai, ia melompat ke belakang gadis itu dan mengirim serangan dengan kebutan ujung lengan bajunya!
Lili sedang mengerahkan tenaga dan perhatiannya untuk menewaskan kakek mewah yang dibencinya itu.
Sungguhpun ia mendengar angin pukulan Wi Kong Siansu dari belakang dan mencoba untuk mengelak, ia tetap terlambat.
Gerakan Wi Kong Siansu luar biasa cepatnya dan tahu-tahu jalan darah kim-to-hiat di punggungnya telah kena tertotok oleh ujung lengan baju tosu itu.
Lili mengeluh perlahan, kipas dan pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya dengan lemas tak berdaya terkulai ke atas lantai!
Ban Sai Cinjin dengan meringis-ringis telah dapat bangun kembali dan melihat keadaan Lili yang sudah roboh oleh suhengnya, ia masih dapat tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, Suheng, bagus! Kau telah dapat merobohkan kuda betina liar ini!"
Matanya berkilat penuh dendam terhadap Lili dan ia bergerak perlahan maju menghampiri gadis muda itu.
Lili masih dapat memandang lawannya ini dan pikirannya masih berjalan terang, akan tetapi seluruh tubuhnya sudah lemas tak dapat digerakkan lagi.
Gadis ini maklum akan bahaya yang akan menimpa dirinya dan sinar ketakutan terbayang pada matanya.
Gadis ini tidak takut akan mati, akan tetapi ia maklum bahwa terjatuh ke dalam tangan manusia iblis seperti Ban Sai Cinjin ini, nasibnya akan jauh lebih mengerikan daripada kematian!
Akan tetapi, pada saat itu tiba-tiba bayangan tubuh Kam Seng berkelebat dan pemuda ini tahu-tahu telah mendahului Ban Sai Cinjin menyambar tubuh Lili yang terus dipeluk dan dipondongnya!
"Kam Seng!
Kau lepaskan dia!"
Ban Sai Cinjin berseru keras dengan mata melotot.
Kam Seng memandang kepada susioknya.
Hatinya bimbang ragu.
Di lubuk hatinya ada perasaan cinta besar terhadap gadis ini, sungguhpun perasaan itu tertutup kabut kebenciannya karena kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, musuh besarnya!
Kalau gadis jelita ini harus mati, maka dialah yang berhak membunuhnya, bukan orang lain.
Apalagi ia merasa ngeri dan jijik memikirkan akan gadis jelita ini di tangan susioknya.
Maka ia lalu memandang kepada suhunya dan berkata.
"Suhu, maukah Suhu memberikan puteri musuhku ini kepada teecu?"
Wi Kong Siansu adalah seorang kakek yang tajam pandangan matanya.
Karena pengalamannya, ia dapat merasa bahwa muridnya yang tersayang tentu jatuh hati dan tertarik oleh kecantikan gadis ini.
Ia pun dapat melihat sinar mata dahsyat dari mata sutenya, maka ia lalu berkata kepada sutenya.
"Sute, berikan gadis ini kepada Kam Seng. Kau tentu masih ingat bahwa ayah gadis ini adalah musuh besar dari Kam Seng dan biarkanlah ia melepaskan sakit hati dan dendamnya kepada puteri musuh besarnya!"
Ban Sai Cinjin memandang marah, akan tetapi ia lalu tertawa.
"Baik, baik, Suheng. Kau yang meronohkannya, maka kau pula yang berhak menentukan nasibnya. Akan tetapi awaslah kalau gadis ini sampai terlepas, Kam Seng. Dia lihai sekali dan kau takkan dapat menguasainya!"
Wi Kong Siansu juga tertawa.
"Sute, kau sudah tua. Kam Seng lebih muda, maka kau tentu tahu akan kehendak hatinya melihat gadis cantik ini. Biarlah, dia melampiaskan dendamnya dan biar dia pula yang menghabiskan nyawa musuhnya ini. Hati-hati, Kam Seng, jangan sampai dia terlepas!"
Juga Hok Ti Hwesio berkata Kam Seng sambil menyeringai.
"Sute, kalau kau sudah selesai dengan dia berikanlah kepadaku. Aku perlu jantungnya untuk obat!"
Kemudian hwesio ini berjalan masuk ke kelenteng.
Sambil tertawa-tawa Ban Sai Cinjin juga berjalan masuk untuk mengobati lukanya.
Ong Tek, putera pangeran yang semenjak tadi menyaksikan segala peristiwa ini dengan dada berdebar dan muka pucat, lalu pergi pula ke dalam kamarnya sambil menarik tangan Tan-kauwsu.
Kini Wi Kong Siansu tinggal berdua dengan Kam Seng yang masih memondong tubuh Lili yang lemas.
"Muridku, kau tentu mencinta gadis ini, bukan?"
Bukan main terkejutnya hati pemuda itu mendengar ucapan suhunya. Untuk beberapa lama ia tidak mau dan tak dapat menjawab, akan tetapi akhirnya ia menjawab juga dengan perlahan.
"Suhu lebih waspada dan awas. Sesungguhnya, sakit hati teecu terhadap ayah gadis ini amat besar, oleh karena itu, teecu hendak menjadikannya sebagai isteri di luar kehendaknya ataupun kehendak orang tuanya. Hal ini akan dapat teecu pergunakan untuk membalas penghinaan dan sakit hati, kalau tak terkabul cita-cita teecu menewaskan Pendekar Bodoh."
Wi Kong Siansu menggeleng-geleng kepalanya.
"Salah... salah..., muridku. Aku mengerti akan maksudmu, akan tetapi apakah kaukira akan mudah saja menjadikan gadis ini sebagai sekutu kita? Biarpun kau dapat memaksanya menjadi isterimu, akan tetapi apa kaukira dia akan tunduk begitu saja? Kau jangan memandang rendah gadis ini. Dia benar-benar lihai sekali. Lebih baik kau tamatkan saja riwayatnya agar kelak kita tidak mengalami gangguan dari padanya."
Tosu ini membicarakan tentang mati hidup seorang gadis bagaikan bicara tentang seekor domba saja!
Memang, bagi Wi Kong Siansu, urusan-urusan dunia sudah tidak masuk hitungan pula dan mati hidup baginya hanya urusan kecil.
"Akan teecu pikir-pikir dulu, Suhu,"
Kata Kam Seng dan ia lalu membawa Lili ke dalam kamarnya. Di ruang dalam, ia bertemu dengan Ong Tek yang menghadangnya dan pemuda tanggung ini berkata.
"Suheng... hendak kau apakan gadis ini?"
Wajah Kam Seng berubah merah.
"Kau tak usah tahu, Sute. Kau masih kecil dan belum tahu urusan. Gadis ini adalah musuh besarku, ayahnya dulu telah membunuh ayahku."
"Ah...!"
Hanya demikian seruan Ong Tek yang segera berlari kembali ke dalam kamarnya.
Akan tetapi sebelum memasuki kamarnya ia merasa pundaknya dipegang orang.
Ketika ia menengokg ternyata Hok Ti Hwesio yang memegangnya.
"Ong-sute, jangan kau turut campur dengan urusan itu. Seng-sute sedang berpesta-pora, mendapat keuntungan besar, mendapat hadiah seorang bidadari jelita. Kau tentu tidak tahu...! Ha-ha-ha!"
"Tidak... tidak!"
Ong Tek menjadi pucat dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Suheng, besok pagi juga aku akan pergi dari sini. Aku mau pulang saja ke kota raja! Tak tertahan olehku semua kejadian yang mengerikan ini. Tak kusangka sama sekali bahwa kalian demikian... demikian..."
"Apa maksudmu, Sute?"
Hok Ti Hwesio memandang tajam.
"Mengapa kalian begitu kejam terhadap seorang gadis seperti dia?"
Sambil berkata demikian, Ong Tek lalu melompat ke dalam kamarnya dan menutupkan pintunya keras-keras, terdengar ia menangis dan berkata-kata dengan Tan-kauwsu utusan dari kota raja itu.
Hok Ti Hwesio termenung sambil mengerutkan jidat.
Kemudian ia lalu mencari suhu dan supeknya untuk menceritakan sikap dari putera pangeran ini.
Sementara itu, dengan dada berdebar keras, Kam Seng memondong tubuh Lili ke dalam kamarnya, menutup daun pintu dan melemparkan tubuh Lili ke atas pembaringannya.
Gadis itu terbanting ke atas pembaringan dengan tubuh lemas dan rebah telentang tak berdaya.
Hanya sepasang matanya saja yang masih bertenaga dan kini ditujukan kepada Kam Seng dengan tajam berapi-api!
Ia telah mendengar semua percakapan tadi dan tahu akan maksud pemuda ini.
Yang membuatnya terheran-heran adalah ketika mendengar bahwa Kam Seng adalah musuh besar Pendekar Bodoh, bahwa ayahnya telah membunuh ayah pemuda ini!
Sungguh-sungguh mengherankan, akan tetapi keheranannya ini tersapu habis oleh kebenciannya terhadap pemuda ini.
Ia maklum bahwa ia tidak berdaya sama sekali.
Telah dicobanya untuk membebaskan diri daripada totokan Wi Kong Siansu, akan tetapi sia-sia saja.
Ia maklum dengan hati penuh kengerian bahwa ia telah berada di dalam tangan Kam Seng dan takkan dapat melawan sedikitpun juga.
Akan tetapi masih ada semangat di dalam hatinya yang tidak karuan rasanya itu, yaitu semangat membalas dendam.
Biarlah, pikirnya, dan tunggulah saja!
Kalau aku sampai terlepas daripada totokan ini, akan kuhancurkan kepalamu sampai menjadi bubur!
Sementara itu, Kam Seng duduk menghadapi Lili dengan wajah sebentar merah sebentar pucat.
Ia menatap wajah dan tubuh Lili tanpa berkedip.
Seribu satu macam pikiran teraduk di dalam hatinya.
Pikirannya menjadi pening.
Berkali-kali ia telah mengulurkan tangan hendak meraba muka gadis, itu, akan tetapi selalu ditariknya kembali.
Pandang mata Lili yang bagaikan dua sinar api itu terasa menusuk matanya.
Hatinya penuh gairah kalau ia melihat wajah yang manis hidung yang kecil bangir, apalagi bibir yang luar biasa indah dan manisnya itu.
Akan tetapi sepasang mata Lili merupakan dua pedang mustika yang membuat ia senantiasa tak enak pikiran.
"Dia musuh besarku!"
Demikian bisik hatinya.
"Aku boleh membunuhnya, menghinanya! Ayahku dulu terbunuh oleh ayahnya!"
"Akan tetapi ia dan Sin-kai Lo Sian pernah menolongku!"
Bisik lain suara hatinya.
"Dan aku... aku cinta kepadanya. Alangkah baiknya kalau ia bisa menjadi isteriku untuk selamanya!"
"Sekarang pun kau bisa mengambilnya menjadi isterimu!"
Bisik suara pertama.
"Siapa tahu kalau ia akan dapat tunduk terhadapmu dan membalas cintamu. Setidaknya malam ini kau akan menjadi suaminya!"
Terdorong oleh bisikan ini, Kam Seng mengulurkan tangan kanan untuk beberapa lama jari-jari tangannya membelai rambut Lili yang halus.
Belaian ini penuh dengan kasih sayang, akan tetapi tiba-tiba ia menarik kembali tangannya ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata Lili.
Demikianlah, sampai lewat tengah malam Kam Seng berada dalam keadaan ragu-ragu.
Nafsu dendamnya mendorongnya untuk membunuh Lili, untuk menghinanya, untuk melampiaskan sakit hatinya terhadap ayah gadis itu.
Akan tetapi lain kekuasaan menahan kehendaknya ini, kekuasaan cinta.
Kekuasaan ini membuat ia tidak tega untuk menyakiti Lili baik menyakiti hati maupun raganya.
Akhirnya ia tidak kuat pula menghadapi pandangan mata Lili.
Ia mencabut pedangnya dan ia hendak membebaskan gadis ini dari siksaan lebih lanjut.
Hendak dibunuhnya gadis ini dan habis perkara!
"Lili,"
Katanya sambil berdiri dengan pedang di tangan.
"Aku akan membunuhmu, dan sebelum itu hendaknya kau ketahui bahwa kau adalah puteri musuh besarku! Ayahku bernama Song Kun dan menjadi kakak seperguruan ayahmu, akan tetapi ayahmu telah membunuhnya! Ayahmu telah membunuh ayahku dan karena itulah aku hidup sengsara. Karena itulah ibuku terlunta-lunta dan aku menjadi yatim piatu, menjadi pengemis untuk bertahun-tahun lamanya! Karena itu kau harus mati! Kau harus berterima kasih kepadaku karena kau terhindar dari penghinaan, terhindar dari penghinaan Susiok, dan... dan... aku pun tidak sampai hati menghinamu! Aku... aku kasihan kepadamu!"
Ia berhenti sebentar dan dilihatnya air mata mengalir turun dari sepasang mata indah dan jelita itu.
"Lili, bersedialah untuk mati,"
Katanya sambil mengangkat pedangnya.
Dari kedua mata gadis itu tidak nampak rasa takut sedikit pun, bahkan sinar berapi-api tadi telah padam, bibirnya agak tersenyum.
Lili memang merasa lega bahwa ia tidak akan menjadi kurban penghinaan dan ia menghadapi kematian dengan amat tabahnya.
Kam Seng mengayun pedangnya ke atas dan...
tiba-tiba ia menurunkan pedangnya kembali, bahkan pedang itu terlepas ke atas lantai!
Ia lalu meramkan mata dan menubruk Lili, lalu...
mencium jidat gadis itu satu kali.
Dilemparkannya tubuhnya ke belakang, terduduk di atas bangku yang tadi didudukinya.
Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya.
Terdengar elahan napas berkali-kali.
"Ah, Lili... aku... aku tidak tega membunuhmu... aku... aku cinta kepadamu!"
Sinar mata Lili mulai berapi-api lagi.
Untuk ciuman pada jidatnya itu saja ia dapat membunuh Kam Seng kalau dapat.
Keadaan menjadi sunyi kembali.
Kam Seng duduk seperti tadi, menghadapi Lili, tak tahu harus berbuat apa!
Betapa pun bencinya kepada Pendekar Bodoh, hatinya tidak tega untuk mengganggu atau membunuh gadis ini.
"Lili... Lili... aku tidak sanggup membunuhmu... tanganku gemetar... bagaimana aku sanggup membunuh gadis yang kucinta dengan seluruh jiwaku? Tidak, Lili, tidak! Aku takkan membunuhmu, akan tetapi... aku pasti hendak mencari ayahmu, aku harus membalas sakit hatiku terhadap Pendekar Bodoh...!"
Demikian keluh kesah yang keluar dari mulut Kam Seng sambil menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.
Pada saat itu, terdengar suara senjata-senjata beradu di ruang depan dibarengi teriakan Hok Ti Hwesio.
"Supek... tolong...! Supek, lekas bantu...! Lekas bantu merobohkan gadis setan ini...!"
Mendengar seruan ini, Kam Seng melompat bangun.
Kalau Hok Ti Hwesio sampai minta tolong kepada suhunya, yaitu Wi Kong Siansu, dan tidak minta tolong kepada suhunya sendiri, berarti bahwa tentu terjadi malapetaka hebat dan datang musuh yang tangguh.
Ia hendak melompat keluar dari kamarnya, akan tetapi ia teringat kepada Lili dan merasa khawatir bahwa kalau ia meninggalkan gadis itu seorang diri, jangan-jangan gadis yang dikasihinya itu akan diganggu oleh Hok Ti Hwesio atau Ban Sai Cinjin.
Ia merasa ragu-ragu sebentar, lalu menghampiri Lili dan berkata.
"Lili, aku hendak membebaskanmu. Ketahuilah, bahwa perbuatanku ini hanya terdorong oleh rasa cinta kasih terhadapmu, dan ketahuilah pula bahwa pada suatu hari aku pasti akan membalas dendamku pada ayahmu yang sudah membunuh ayahku!"
Setelah berkata demikian, Kam Seng lalu menggerakkan jari tangan kanannya dan menotok pundak Lili.
Ia telah belajar ilmu silat dari Wi Kong Siansu, maka ia tahu pula bagaimana harus membuka totokan dari suhunya itu.
Setelah menotok pundak gadis itu, ia lalu melompat keluar sambil membawa pedangnya, langsung menuju ke ruang depan dari mana terdengar suara senjata beradu.
Biarpun pengaruh totokan yang menghentikan jalan darahnya telah lenyap dan jalan darahnya telah terbuka kembali, namun Lili masih merasa lemas dan hanya dapat bergerak perlahan.
Ia segera mengumpulkan semangat dan mengatur pernapasannya untuk melancarkan kembali jalan darahnya.
Ia melihat betapa kipas dan pedangnya telah ditaruh di atas meja dalam kamar itu oleh Kam Seng.
Hatinya merasa tidak karuan dan ia telah mengalami ketegangan hebat selama dibawa di dalam kamar Kam Seng.
Kini ia merasa terharu, marah, malu, dan juga diam-diam ia merasa berterima kasih kepada pemuda itu.
Ada sedikit rasa girang di dalam hatinya bahwa sungguhpun pemuda itu telah menggabungkan diri dengan orang-orang jahat, namun pada dasarnya hati pemuda itu tidaklah kejam dan jahat.
Masih ada kegagahan dalam lubuk hati Kam Seng.
Ia teringat akan supeknya Song Kun, karena ia pernah ia diceritakan tentang halnya Song Kun ini oleh ibunya.
Setelah kesehatannya pulih kembali, Lili lalu mengambil senjata-senjatanya dan melompat keluar di mana kini suara senjata masih beradu ramai sekali.
Ketika ia tiba di ruang luar, di bawah sinar lampu ia melihat seorang gadis cantik manis yang memiliki gerakan lincah sekali, sedang bertempur dikeroyok tiga oleh Ban Sai Cinjin, Song Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio!
Sungguh mengagumkan sekali betapa gadis cantik manis itu menghadapi lawannya sambil tersenyum-senyum dan mainkan kedua tangannya yang tak memegang senjata.
Ginkangnya sungguh hebat dan mengagumkan, bagaikan seekor kupu-kupu bermain di antara tiga bunga itu menyambar-nyambar di antara tiga gulungan sinar senjata di tangan tiga pengeroyoknya.
"Goat Lan...!"
Lili berteriak girang ketika ia mengenal wajah manis yang tersenyum-senyum itu.
"Hai, Lili, anak nakal! Kau di sini?"
Gadis itu dalam menghadapi desakan lawan-lawannya masih sempat berjenaka.
"Goat Lan, jangan khawatir. Mari kita basmi tiga anjing busuk ini!"
Lili lalu mencabut keluar kipas dan pedangnya, lalu menyerbu dan menyerang Ban Sai Cinjin.
Ia merasa segan dan sungkan untuk menyerang Kam Seng, maka ia sengaja memilih Ban Sai Cinjin dan membiarkan Goat Lan menghadapi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio.
Ban Sai Cinjin sudah merasai kelihaian Lili, bahkan tadi sore pundaknya telah terluka hebat oleh gadis ini.
Dalam keadaan sehat ia masih belum dapat mengalahkan Lili, apalagi sekarang pundaknya masih belum sembuh benar, tentu saja ia merasa amat gelisah.
Kalau saja ia tidak sedang terluka, tadipun Goat Lan tidak nanti dapat mempermainkannya begitu mudah.
Dan ia maklum bahwa belum tentu ia kalah oleh Lili kalau saja tadi sore ia tidak bertempur dengan main-main dan memandang rendah.
Terpaksa ia menggigit bibir, dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.
Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang selain berkepandaian amat tinggi, juga telah mengenal banyak sekali taktik perkelahian dan mempunyai banyak tipu-tipu curang.
Pengalamannya luas sekali dan tenaga lwee-kangnya sudah mendekati batas kesempurnaan.
Oleh karena itu biarpun ia sudah terluka masih amat sukarlah bagi Lili untuk dapat merobohkan kakek mewah ini.
Sebaliknya, jangan harap bagi Ban Sai Cinjin untuk mengalahkan puteri Pendekar Bodoh yang memiliki ilmu kipas dan ilmu pedang yang luar biasa sekali.
Berbeda dengan pertempuran antara Lili dan Ban Sai Cinjin yang berjalan seru dan seimbang pertempuran antara gadis cantik manis dan kedua pengeroyoknya, Kam Seng dan Hok Ti Hwesio, berjalan berat sebelah.
Ketika tadi dikeroyok tiga, gadis itu masih dapat melayani dengan senyum simpul, apalagi sekarang.
Biarpun kepandaian Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaian silat para ahli silat biasa, namun bagi gadis manis itu mereka berdua ini masih merupakan ahli-ahli silat kelas rendah saja!
Bagaimanakah gadis itu yang ternyata adalah Kwee Goat Lan, dapat tiba-tiba muncul di situ?
Dan mengapa tahu-tahu sudah dikeroyok oleh Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio pada saat Lili tertawan dalam kamar Kam Seng?
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dalam percakapan antara Ong Tek putera pangeran dan Hok Ti Hwesio, pemuda cilik dari kota raja itu merasa amat muak dan tidak senang melihat peristiwa yang terjadi di dalam kuil di mana ia belajar silat kepada Ban Sai Cinjin.
Betapapun juga, Ong Tek adalah seorang pemuda bangsawan yang semenjak kecil dididik dengan pelajaran-pelajaran kesopanan dan juga ia telah banyak membaca kitab-kitab kuno di mana terdapat segala macam pelajaran tentang kebajikan.
Ia menjadi terkejut dan juga kecewa melihat dengan kedua mata sendiri betapa jahat adanya orang-orang yang selama ini ia hormati dan junjung tinggi.
Maka ia lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menangis, lalu ia memaksa kepada Tan-kauwsu, utusan dari ayahnya itu, untuk pada malam hari itu juga meninggalkan kuil dan pulang ke kota raja.
Sikap pemuda bangsawan ini membuat Hok Ti Hwesio menjadi curiga dan cepat hwesio ini menjumpai suhunya.
Ketika Ban Sai Cinjin mendengar keadaan muridnya dari kota raja itu, ia pun mengerutkan alisnya.
"Sungguh berbahaya,"
Katanya perlahan.
"Kalau anak itu pulang dan menceritakan segala peristiwa yang terjadi kepada ayahnya dan para pembesar, nama kita akan hancur dan tercemar."
"Mengapa pusing-pusing, Suhu? Kalau Sute tidak mau menurut kehendak kita dan bahkan hendak merusak nama kita, lebih baik kita lenyapkan dia dan guru silat itu, habis perkara!"
Ban Sai Cinjin menjadi ragu-ragu.
"Enak saja kau bicara! Apa kaukira Ong Tek itu orang biasa saja yang boleh kita perbuat sesuka kita! Kalau ia sampai lenyap, apa kaukira Pangeran Ong tidak akan mencari dan menimbulkan huru-hara yang akan menyulitkan kita?"
Hok Ti Hwesio tersenyum "Apa sih bahayanya seorang putera bangsawan macam Ong Tek?
Sedangkan menghadapi orang-orang besar seperti pendekar Pek-le-to Lie Kong Sian, Mo-kai Nyo Tiang Le, Sin-kai Lo Sian, kita masih dapat membereskan mereka tanpa banyak ribut dan tak seorang pun mengetahui, apalagi seorang manusia macam Ong Tek dan seorang guru silat seperti orang she Tan itu?
Suhu, mengapa kita tidak mau meminjam nama puteri Pendekar Bodoh untuk melenyapkan mereka?
Kita siarkan bahwa yang menewaskan Ong Tek dan Tan-kauwsu adalah puteri Pendekar Bodoh, bukankah ini baik sekali?"
Ban Sai Cinjin berseri wajahnya.
"Kau benar! Kau memang cerdik sekali, Hok Ti!"
Ia memuji.
"Kita lenyapkan kedua orang itu, kemudian kita bikin puteri Pendekar Bodoh seperti Lo Sian. Ha-ha-ha-ha! Akan lenyap jejak mereka dan tak seorang pun mengetahuinya."
Pada saat itu, terdengar tindakan kaki dua orang yang berlari keluar dari kelenteng itu.
"Nah, itu mereka agaknya hendak melarikan diri pada malam hari ini juga. Kita harus bertindak cepat sebelum Supek mengetahui!"
Kata Hok Ti Hwesio yang merasa takut kepada supeknya, Wi Kong Siansu yang pada saat itu sudah berada di dalam kamarnya.
Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio lalu melompat keluar dan mereka melihat Ong Tek diikuti oleh Tan-kauwsu yang menggendong buntalan pakaian putera pangeran itu.
"Ong Tek, kau hendak pergi ke manakah?"
Ban Sai Cinjin membentak. Melihat suhunya datang bersama Hok Ti Hwesio, Ong Tek menjadi terkejut dan sinar ketakutan membayangi wajahnya yang tampan.
"Suhu... teecu hendak... hendak pulang ke kota raja bersama Tan-suhu. Teecu... merasa rindu kepada ayah dan ibu...!"
"Hemm, kau hendak lari dari kami, ya? Bagus, murid macam apa kau ini? Tidak boleh, kau tidak boleh pergi! Kau tentu hendak membuka mulut besar di kota raja tentang kami, ya?"
"Tidak... tidak, Suhu... tidak!"
Kata Ong Tek dengan muka pucat ketika melihat suhunya melangkah maju dengan huncwe mengancam di tangan.
"Kau murid durhaka. Kau harus diberi hajaran!"
Tan-kauwsu melompat maju.
"Jangan kau berani mengganggu Ong-kongcu, Ban Sai Cinjin! Ingat, dia adalah putera Pangeran Ong!"
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak.
"Haha-ha. Segala tikus busuk seperti kau berani pula ikut campur bicara! Apa kaukira aku takut kepada segala macam pangeran? Biar kepada Kaisar sendiri pun aku tidak takut!"
Ia lalu melangkah maju dan mengayun huncwenya ke arah kepala guru silat she Tan itu!
Serangan ini hebat dan cepat sekali, akan tetapi Tan-kauwsu sungguhpun tidak memiliki ilmu silat yang dibandingkan dengan kepandaian Ban Sai Cinjin, namun ia telah banyak merantau dan telah memiliki pengalaman yang banyak dalam pertempuran.
Cepat ia mengelak ke belakang akan tetapi hawa pukulan huncwe itu masih membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.
Pada saat Ban Sai Cinjin hendak mengejar untuk mengirim pukulan maut, tiba-tiba dari atas genteng menyambar turun sesosok bayangan manusia yang begitu cepat gerakannya sehingga nampak bagaikan seekor burung garuda menyambar.
"Manusia setan!"
Seru bayangan itu dengan suaranya yang nyaring dan merdu.
"Kau benar-benar kejam!"
Dan tiba-tiba huncwe di tangan Ban Sai Cinjin yang sudah dipukulkan ke arah kepala Tan-kauwsu itu terpental mundur oleh tenaga pukulan dari atas!
Ketika Ban Sai Cinjin yang merasa terkejut sekali itu memandang, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang cantik manis dengan dua lesung pipit di sepasang pipinya.
Gadis ini cantik dan jenaka sekali, sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang pagi, mulutnya tersenyum lebar sehingga giginya yang rata dan putih berkilau bagaikan mutiara itu nampak berkilat.
Ban Sai Cinjin tercengang karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa seorang gadis muda dapat menahan huncwenya dengan tangan kosong saja!
Ia maklum bahwa ia sedang menghadapi seorang gadis muda yang menjadi murid orang sakti.
Gadis cantik itu tersenyum manis.
"Kau tentu yang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut. Hemm, pantas saja kau disebut Huncwe Maut, karena hampir saja kau membunuh orang lagi."
Ia lalu menengok ke arah Ong Tek dan Tan-kauwsu, lalu berkata kepada Ong Tek.
"Aku sudah mendengar bahwa kau adalah seorang putera pangeran. Entah bagaimana kau bisa tersesat dalam neraka dunia ini, akan tetapi itu bukan urusanku. Lebih baik kau lekas melanjutkan niatmu pergi dari sini. Lebih cepat lebih baik. Jangan takut, boneka besar pengusir burung di sawah ini serahkan saja kepadaku!"
Ong Tek memandang tajam, agaknya untuk mengukir wajah gadis penolongnya itu dalam ingatannya, kemudian ia mengangguk memberi hormat dan segera pergi, diikuti oleh Tan-kauwsu.
"Ong Tek, jangan kau berani pergi dari sini!"
Seru Hok Ti Hwesio yang segera mencabut pisaunya dan menyambitkan pisau terbangnya itu ke arah Ong Tek!
Pisau itu terbang lewat di dekat gadis itu yang dengan tenang mengulur tangan dan sekali tangannya bergerak, pisau itu telah disampok ke bawah sehingga pisau itu kini meluncur ke bawah dan menancap di atas lantai!
"Hemm, hwesio gundul, sudah banyak aku mendengar tentang hwesio-hwesio gundul yang pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat rendah dan yang mencemarkan nama para pendeta Buddha!
Agaknya kau yang paling rendah diantara mereka semua!"
Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan dan melihat sikap gadis itu.
Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan huncwenya.
Juga Hok Ti Hwesio lalu menubruk kembali pisaunya, mencabutnya dari lantai dan maju menyerang.
Ban Sai Cinjin yang biasanya amat sayang kepada gadis cantik, biarpun harus diakui bahwa dara di hadapannya ini memiliki kecantikan yang amat menggiurkan dan jarang terdapat, kini sama sekali tidak terguncang hatinya, bahkan ingin sekali ia membunuh gadis ini.
Demikianlah, Ban Sai Cinjin dan muridnya lalu menyerang hebat kepada gadis manis itu yang melayani mereka dengan tangan kosong.
Sungguh hebat ilmu gin-kang dari gadis itu.
Dengan lincahnya ia dapat mengelakkan dari sambaran huncwe dan pisau lawannya, bahkan ia masih sempat memaki-maki, mentertawakan dan membalas serangan mereka dengan pukulan-pukulan yang tidak boleh dipandang ringan.
Ban Sai Cinjin terkejut sekali melihat sepak terjang gadis ini.
Diam-diam ia mengeluh dalam hatinya.
Selamanya hidup, belum pernah ia mengalami malam sesial ini.
Berturut-turut telah datang dua orang gadis yang aneh dan lihai sekali!
Kalau saja ia tidak terluka pundaknya oleh pukulan kipas dari Lili sore tadi, tentu ia akan dapat menyerang lebih baik terhadap gadis yang baru datang ini.
Ia dapat melihat betapa gadis itu mempergunakan Ilmu Silat Bi-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) yang menjadi pecahan Ilmu Silat Tangan Kosong Kwan-im-siu-ban-po (Dewi Kwan Im Menyambut Selaksa Musuh)!
Akan tetapi pergerakan kedua tangan gadis ini aneh, agak berbeda dengan ilmu silat tersebut, dan yang membuatnya diam-diam harus mengakui dan mengagumi adalah ilmu ginkang dari gadis ini.
Ilmu meringankan tubuhnya mengingatkan ia kepada empat besar di dunia dan terutama sekali kepada Bu Pun Su!
Akan tetapi, gadis yang kini tertawan dalam kamar Kam Seng dan yang menjadi cucu murid Bu Pun Su sendiri, agaknya tidak sehebat ini ilmu gin-kangnya!
Melihat betapa ia dan gurunya sama sekali tak berdaya, bahkan telah dua kali ia menerima pukulan tangan halus akan tetapi antep itu, Hok Ti Hwesio mulai berteriak-teriak memanggil supeknya minta bantuan!
Hanya berkat ilmu kebalnya yang hebat, ia terhindar dari malapetaka ketika tangan gadis itu berhasil memukulnya sampai dua kali.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, teriakan-teriakan Hok Ti Hwesio terdengar oleh Kam Seng yang berada di dalam kamarnya menghadapi Lili yang tertawan.
Suara senjata yang didengarnya adalah suara pisau di tangan Hok Ti Hwesio beradu dengan huncwe Ban Sai Cinjin.
Memang, Goat Lan yang jenaka dan nakal itu berkali-kali menyampok tangan Hok Ti Hwesio sehingga pisaunya menjadi nyeleweng dan membentur senjata suhunya sendiri, membuat Ban Sai Cinjin menjadi makin marah dan mendongkol.
Goat Lan terheran ketika melihat seorang pemuda tampan dengan pedang di tangan maju mengeroyoknya.
Ia melihat gerakan pedang yang cukup tangkas dan lihai.
Kini setelah dikeroyok tiga, ia tidak mendapat banyak kesempatan untuk membalas dengan serangannya.
Akan tetapi ia benar-benar tabah dan jenaka.
Biarpun tiga orang lawannya amat tangguh, ia masih melayani mereka dengan tangan kosong, mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya, menyambar-nyambar di antara gelombang serangan.
Dan pada saat itu, datanglah Lili.
Hal ini benar-benar tak pernah disangka oleh Goat Lan.
Tentu saja ia menjadi amat gembira dan girang.
Telah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Lili, mungkin sudah ada tiga tahun.
Ia melihat betapa calon adik iparnya ini maju menyerbu dengan senjata kipas dan pedang.
Ia merasa amat heran ketika melihat betapa Lili menyerbu Ban Sai Cinjin dengan muka merah dan mata berapi, agaknya Lili amat marah dan membenci kakek mewah itu.
Melihat kemarahan Lili yang agaknya penuh nafsu membunuh itu, Goat Lan tidak mau main-main lagi dan ketika ia berseru keras, kaki kanannya dengan gerakan Soan-hong-twi (Tendangan Kitiran Angin) telah berhasil menendang-tubuh belakang Hok Ti Hwesio.
Tendangan ini dilakukan dengan tenaga yang ratusan kati beratnya dan cukup membuat tulang punggung lawan menjadi patah-patah.
Akan tetapi, bagaikan sebuah bal karet, tubuh Hok Ti Hwesio terpental keras dan ketika membentur dinding, lalu mental kembali dan bergulingan di atas lantai tanpa luka sedikit pun!
Goat Lan terheran-heran sehingga untuk sesaat ia berdiri bengong memandang manusia bal itu!
Tentu saja ia tidak tahu bahwa Hok Ti Hwesio telah melatih diri dengan ilmu kebal yang luar biasa dan yang dimilikinya setelah ia makan jantung tiga orang manusia!
Pada saat Goat Lan berdiri bengong memandang Hok Ti Hwesio saking herannya, Kam Seng mengirim tusukan maut dengan pedangnya.
Ujung pedangnya telah berada dekat sekali dengan dada kiri Goat Lan, akan tetapi alangkah terkejut hati Kam Seng ketika tiba-tiba, bagaikan tubuh seekor ular, tubuh gadis itu melenggok ke kiri dan tusukan itu hanya lewat, di pinggir tubuhnya saja!
Dan sebelum Kam Seng kehilangan rasa herannya, tiba-tiba ia merasa lengan kanannya sakit dan pedangnya telah terlepas dari pegangannya!
Tanpa ia ketahui, dengan gerakan yang amat cepat bagaikan kilat menyambar, Goat Lan telah mengirim totokan ke arah urat nadinya!
Hok Ti Hwesio telah bangun berdiri lagi, demikian juga Kam Seng telah mengambil kembali pedangnya karena totokan tadi tidak berbahaya, akan tetapi kedua orang itu kini merasa ragu-ragu dan hanya memandang kepada gadis itu dengan bengong.
Mereka mengira sedang berhadapan dengan setan, karena bagaimanakah seorang gadis cantik lagi muda itu dapat menghadapi mereka dengan tangan kosong dan membuat mereka tak berdaya dengan dua kali serangan saja?
Sementara itu, Ban Sai Cinjin telah diserang dan didesak hebat oleh Lili yang berusaha membunuhnya!
Pundak yang tadi terluka mulai terasa amat sakit dan agaknya sambungan tulang yang telah disambung itu kini terlepas lagi!
Keadaannya benar-benar berbahaya dan Goat Lan hanya memandang sambil tertawa-tawa.
Pada saat itu, terdengar seruan orang dan tahu-tahu dari dalam menyambar angin yang menolak kipas Lili yang sedang dipukulkan ke arah dada Ban Sai Cinjin!
Goat Lan terkejut ketika melihat betapa kipas itu terpental dan tahu bahwa dari dalam ada orang berkepandaian tinggi yang turun tangan.
Benar saja, seruan tadi lalu disusul dengan munculnya seorang tosu tua.
"Nona Sie!"
Kata tosu itu ketika Lili melompat mundur.
"Muridku telah berlaku baik kepadamu, mengapa kau masih mati-matian mengacaukan tempat tinggal orang lain?"
Melihat munculnya tosu yang sore tadi telah merobohkannya, kemarahan Lili makin memuncak.
Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Wi Kong Siansu ini jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, akan tetapi puteri Pendekar Bodoh ini memang memiliki ketabahan yang diwarisinya dari ayah bundanya.
"Tosu siluman, rasakan pembalasanku!"
Teriaknya keras dan ia cepat menyerang dengan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Liong-cu-kiam-sut di tangan kanan dan mainkan San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Gunung dan Air) dengan tangan kirinya!
Wi Kong Siansu sudah tahu akan kelihaian gadis galak ini, maka ia berlaku hati-hati sekali dan mainkan kedua lengan bajunya dengan cepat.
Juga Goat Lan berdiri dengan kagum memandang ilmu silat yang dimainkan oleh Lili.
Diam-diam ia mengakui bahwa ilmu silat Lili benar-benar hebat sekali.
Akan tetapi ketika ia melihat gerakan kedua ujung lengan baju tosu itu, ia lebih kaget lagi.
Ujung lengan baju yang terbuat dari kain lemas itu kini mengeras bagaikan ujung toya baja dan tiap kali terbentur dengan pedang atau gagang kipas Lili, terdengar suara keras dan senjata di tangan gadis itu terpental ke belakang.
Melihat hal ini saja maklumlah Goat Lan bahwa kepandaian tosu tua ini benar-benar hebat dan kalau dibiarkan saja, Lili mungkin takkan dapat menang.
Maka ia lalu mencabut senjatanya dan berseru.
"Kakek tua, jangan kau orang tua menghina yang muda!"
Ketika Wi Kong Siansu melihat datangnya serangan dan melihat senjata di tangan Goat Lan, kakek ini terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur.
Ternyata bahwa gadis ini sekarang memegang dua batang bambu kuning yang hanya sebesar lengan anak-anak dan berujung runcing, panjangnya kira-kira hanya tiga kaki!
"Tahan, Nona.
Apakah hubunganmu dengan Hok Peng Taisu?"
Goat Lan memang bersifat nakal dan jenaka, maka sambil tersenyum-senyum ia menjawab.
"Totiang (sebutan untuk pendeta tua), aku yang muda tidak mau membawa-bawa nama orang-orang tua untuk menakuti-nakuti kau!"
Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini.
"Siapa takut kepadamu? Biarpun Hok Peng Taisu sendiri yang datang, aku Wi Kong Siansu belum tentu akan takut kepadanya! Hanya kulihat bahwa sepasang bambu runcingmu itu adalah bambu runcing yang merupakan kepandaian tunggal dari Hok Peng Taisu."
"Sudahlah, tak perlu membawa-bawa nama orang tua itu di tempat yang kotor ini. Pendeknya, kalau Totiang takut, sudah saja jangan kau mengganggu adikku ini!"
"Siapa takut? Biarlah, biar kumencoba kepandaian Bu Pun Su dan Swie Kiat Siansu yang diturunkan kepada Nona Sie ini dan sekalian kurasakan kelihaian bambu runcing dari Hok Peng Taisu!"
Sambil berkata demikian, Wi Kong Siansu lalu mencabut pedangnya yang disembunyikan di balik jubahnya yang lebar.
Pedang ini bersinar kehitaman dan inilah pedang mustika yang amat ganas dan berbahaya yang bernama Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam)!
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu memang telah menciptakan semacam ilmu pedang tunggal yang pada waktu itu merupakan sebuah dari ilmu-ilmu pedang yang paling terkenal dan ditakuti di masa itu.
Ilmu pedang ini ia ciptakan berdasarkan pedang mustikanya yang didapatkannya di atas Bukit Hek-kwi-san.
Karena pedang itu mengeluarkan sinar kehitam-hitaman dan didapatkannya di atas Bukit Hek-kwi-san (Bukit Setan Hitam), maka ia lalu memberi nama Hek-kwi-kiam pada pedang itu dan lalu memberi nama pada ilmu pedang ciptaannya Hek-kwi-kiamsut.
Biarpun Kam Seng sudah mempelajari ilmu pedang ini dengan tekunnya, akan tetapi oleh karena ilmu pedang ini amat sukar dan banyak sekali perubahannya, maka kepandaian itu boleh dibilang belum ada sepersepuluh bagian dari kepandaian Wi Kong Siansu Si Iblis Tua Pencabut Nyawa!
"Majulah, anak-anak muda!
Biarlah kalian mendapat kehormatan mengenal Hek-kwi-kiamsut dari dekat!"
Akan tetapi Lili yang amat marah sudah tak sabar lagi mendengar ocehan tosu itu dan cepat maju menyerang dengan pedangnya.
Goat Lan yang dapat menduga kelihaian tosu itu, lalu maju pula membarengi gerakan Lili dan mengirim serangan dengan bambu runcingnya.
Sesungguhnya, dari kedua suhunya yang menggemblengnya selama delapan tahun, yaitu Sin Kong Tianglo Si Raja Obat dan Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak, Giok Lan hanya menerima latihan-latihan ilmu silat tangan kosong dan lwee-kang serta gin-kang.
Akan tetapi gadis ini tentu saja tidak mau meniru kedua suhunya yang mempergunakan senjata-senjata yang paling aneh di antara sekalian senjata ahli silat di dunia ini.
Yok-ong Sin Kong Tianglo selalu mempergunakan senjata keranjang obat dan pisau pemotong rumput, sedangkan Im-yang Giok-cu mempergunakan senjata guci arak.
Oleh karena itu, di samping menerima gemblengan ilmu silat dari kedua kakek sakti ini, Goat Lan juga mempelajari ilmu pedang dari ayahnya dan terutama sekali yang paling disukai ialah mempelajari ilmu bambu runcing dari ibunya!
Bahkan setelah ia dapat mainkan ilmu bambu runcing dengan pandai, ia lalu minta kepada ayahnya untuk membuatkan bambu runcing terbuat dari sepasang bambu kuning seperti milik ibunya!
Hanya dengan senjata inilah Goat Lan melakukan perantauannya!
Ilmu silat Goat Lan tentu saja sudah amat tinggi dan tangguh.
Ia telah menerima gemblengan dari empat orang berkepandaian tinggi dan biasanya ia hanya menghadapi para lawan yang betapa lihai pun dengan kedua kaki tangannya sambil mengandalkan gin-kangnya yang seperti ibunya itu.
Akan tetapi kini menghadapi Wi Kong Siansu, terpaksa ia mengeluarkan bambu-runcingnya.
Demikian pula dengan WiKong Siansu.
Biasanya, orang tua ini selalu memandang rendah lawan-lawannya dan tak pernah ia mengeluarkan pedang mustikanya.
Kini menghadapi dua orang gadis cantik dan masih muda ia sampai mengeluarkan pedangnya, dapat diketahui bahwa tosu ini sama sekali tidak berani memandang ringan kepada Lili dan Goat Lan.
Bahkan Ban Sai Cinjin sendiri memandang heran dan ia bersiap sedia dengan hati berdebar-debar.
Hok Ti Hwesio dan Kam Seng tentu saja hanya berdiri di sudut ruang yang luas itu sambil menonton dan sama sekali tidak berani mencoba untuk ikut turun tangan.
Pertempuran kali ini memang benar-benar hebat sekali.
Ilmu Pedang Hek-kwi-kiam-sut luar biasa ganas dan cepatnya sehingga ruang yang terang oleh cahaya lampu itu menjadi muram, karena sinar pedang itu bergulung-gulung bagaikan uap gunung berapi yang mengandung abu hitam.
Akan tetapi sepasang bambu runcing di tangan Goat Lan merupakan titik kuning, yang kadang-kadang berkelebat bagaikan halilintar menyambar dengan cepatnya.
Adapun pedang Liong-coan-kiam terkenal sebagai pedang yang ampuh, kini digerakkan dengan Ilmu Pedang Liong-cu-kiam-sut sungguh mengagumkan, berkelebat-kelebat bersinar putih bagaikan perak merupakan seekor naga perkasa yang bermain-main di antara awan hitam dan halilintar!
Kipas maut di tangan kiri Lili merupakan pusat angin yang apabila digerakkan membuat para penonton merasakan sambaran angin dingin yang aneh!
Empat ilmu silat yang luar biasa tingginya kini bertemu, dimainkan oleh tiga orang, sungguh merupakan pemandangan yang sukar dilihat orang!
Ban Sai Cinjin, Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio sampai berdiri bengong bagaikan terpaku di lantai.
Bagi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio yang ilmu kepandaiannya jauh lebih rendah, tidak ada kemungkinan sama sekali bagi mereka untuk ikut turun tangan dalam pertempuran, maha dahsyat itu, akan tetapi tidak demikian dengan Ban Sai Cinjin.
Apabila diukur tingkat kepandaiannya, memang ia tidak usah mengaku kalah terhadap dua orang gadis itu.
Maka diam-diam kakek mewah ini lalu menelan dua butir pel dan mengurut-urut pundaknya, membenarkan letak tulang pundak dan mengatur napasnya.
Setelah pundaknya tidak begitu sakit lagi, ia lalu mengeluarkan tembakau hitamnya yang berbahaya, dan mulai mengisi kepala huncwenya dengan tembakau beracun itu.
Tak lama kemudian, mengebullah asap tembakau yang membuat kepala menjadi pening dan napas menjadi sesak.
Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sendiri terpaksa melangkah mundur menjauhi agar jangan sampai terkena serangan asap beracun itu.
Goat Lan adalah murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo Si Raja Obat, maka tentu saja ia juga mempelajari ilmu pengobatan, terutama sekali tentang racun yang seringkali dipergunakan oleh kaum hek-to (jalan hitam, yaitu orang-orang jahat).
Begitu hidungnya mencium bau asap tembakau yang mulai melayang-layang di ruangan itu, ia maklum bahwa kakek mewah dengan huncwe mautnya itu akan turun tangan, mengandalkan huncwe dan asapnya yang lihai.
Cepat tangan kirinya menancapkan bambu runcing yang kiri di ikat pinggang, menjaga diri dengan bambu runcing kanan, lalu menggunakan tangan kirinya untuk merogoh saku bajunya.
Ia mengeluarkan dua butir buah yang putih warnanya, lalu menyerahkan sebutir kepada Lili sambit berkata.
"Lili, masukkan buah ini ke dalam mulut dan gigit! Jangan telan!"
Lili menerima buah itu dan ketika ia menggigitnya, maka mulut dan hidungnya terasa dingin dan pedas, akan tetapi tercium hawa yang amat harum keluar dari mulut dan hidungnya.
Pada saat itu, Ban Sai Cinjin sudah melompat maju dan menyerbu dengan huncwe mautnya sambil mengebulkan asap hitam dari mulutnya ke arah dua orang gadis itu.
Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Lili dan Goat Lan tidak mengelak dan menerima asap itu tanpa terpengaruh sedikit pun!
Ternyata bahwa asap hitam itu sebelum dapat memasuki hidung atau mulut kedua orang dara pendekar ini, telah diusir kembali oleh hawa harum yang keluar dari mulut dan hidung mereka!
Akan tetapi, setelah Ban Sai Cinjin ikut menyerbu, sibuk jugalah Lili dan Goat Lan.
Tadi ketika menghadapi dan mengeroyok Wi Kong Siansu, keadaan mereka baru dapat disebut seimbang, masih saja mereka berdua merasa amat sukar untuk dapat merobohkan Toat-beng Lo-mo yang memang sakti itu.
Kini, Ban Sai Cinjin yang memiliki ilmu kepandaian tidak lebih rendah daripada tingkat mereka, tentu saja menimbulkan banyak kesukaran dan terpaksa keduanya mengerahkan kepandaian pada penjagaan diri.
"Lili, mari kita pergi, malam sudah lewat!"
Kata Goat Lan sambil memutar kedua bambu runcingnya menghadapi pedang hitam Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu.
Memang, malam telah terganti pagi dan ayam-ayam hutan mulai berkokok nyaring, burung-burung mulai berkicau.
"Ha-ha-ha, nona-nona manis! Kalian baru boleh pergi setelah meninggalkan tubuh kalian yang bagus di sini. Hanya nyawa kalian saja yang bisa pergi! Ha! ha!"
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak karena girangnya melihat betapa ia dan suhengnya dapat mendesak kedua nona lihai itu.
Sesungguhnya, pertempuran itu boleh dibilang amat ganjil.
Wi Kong Siansu tetap dikeroyok dua oleh Lili dan Goat Lan, sedangkan Ban Sai Cinjin hanya membantu suhengnya dengan serangan-serangan curang kepada dua orang nona itu.
Lili dan Goat Lan tak dapat membalas kakek mewah ini karena mereka selalu harus mencurahkan perhatian terhadap Toat-beng Lo-mo yang benar-benar berbahaya dan lihai.
Kedua nona itu merasa serba sulit.
Kalau seorang di antara mereka meningalkan Toai-beng Lo-mo untuk menghadapi Ban Sai Cinjin, mungkin sekali ia dapat merobohkan Ban Sai Cinjin yang sudah terluka pundaknya.
Akan tetapi kawan yang ditinggalkan juga amat berbahaya kedudukannya dan mungkin tak akan kuat menghadapi Toat-beng Lo-mo.
Maka mereka tetap saling bantu dan tidak mau meninggalkan kawan dan bersama-sama menghadapi desakan Toat-beng Lo-mo dan Ban Sai Cinjin tanpa dapat membalas!
Sesungguhnya, Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu biarpun hati nurani dan perikemanusiaannya amat tipis, namun ia masih mempunyai kegagahan dan keangkuhan, tidak mempunyai sifat pengecut dan rendah seperti sutenya.
Mendengar ejekan sutenya terhadap dua orang nona itu, ia merasa amat jengah dan malu.
Dua orang kakek yang telah terkenal tokoh-tokoh besar persilatan dan yang telah membuat nama besar di kalangan kangouw, kini menghadapi dua orang gadis yang usianya baru belasan tahun dan telah bertempur dua ratus jurus belum juga dapat mengalahkan mereka!
Apalagi kalau ia mengingat bahwa dua orang gadis muda ini adalah anak dan murid-murid dari orang-orang sakti seperti Hok Peng Taisu, Bu Pun Su dan Pendekar Bodoh, ia merasa gentar juga kalau harus merobohkan atau menewaskan mereka ini.
Juga ada sedikit rasa sayang dalam hatinya kalau harus menewaskan dua orang gadis muda yang demikian cantik jelita, jenaka, dan memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian tingginya.
Sebagai seorang ahli silat yang kawakan, tentu saja ia selalu merasa sayang kepada orang-orang muda yang berbakat dan yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi.
Tiba-tiba Lili dan Goat Lan yang sudah merasa sibuk dan mengambil keputusan untuk berlaku nekad, merasa betapa desakan pedang Hek-kwi-kiam mengendur dan melemah.
Mereka merasa heran sekali, akan tetapi tentu saja kedua orang gadis ini betapa pun tabah dan beraninya, tidak sudi berlaku bodoh dan membunuh diri.
Cepat mereka mempergunakan kesempatan selagi pedang Hek-kwi-kiam mengendur dan mengecil sinarnya, mereka lalu berbareng melakukan penyerangan kepada Ban Sai Cinjin yang amat nekad menyerang membabi buta.
Hampir saja Ban Sai Cinjin menjadi kurban pedang Lili kalau saja Toat-beng Lomo tidak cepat-cepat menggerakkan pedangnya menangkis.
Akan tetapi perubahan ini, yaitu dari pihak terserang menjadi pihak penyerang, telah memberi kesempatan kepada Lili dan Goat Lan untuk cepat melompat keluar dari ruangan itu!
Ban Sai Cinjin hendak mengejar akan tetapi suhengnya mencegah.
"Mereka sudah lari, jangan dikejar, Sute. Kepandaian mereka tinggi dan tak perlu pertempuran yang sudah berlangsung setengah malam ini akan diperpanjang lagi."
Karena pundaknya juga terasa amat sakit, terpaksa Ban Sai Cinjin membatalkan niatnya.
Kalau suhengnya tidak ikut mengejar, bagaimana ia dapat melawan kedua orang gadis yang lihai itu?
Ia menarik napas panjang dan berkata.
"Baru anak dari Pendekar Bodoh dan seorang kawannya saja, dua orang gadis muda, sudah membuat kita tak berdaya, apalagi kalau Pendekar Bodoh sendiri dan kawan-kawannya datang menyerbu!"
Ucapan ini sengaja dikeluarkan untuk mencela dan menegur suhengnya, dan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu juga merasa sindiran ini. Ia menghela napas ketika menjawab.
"Kau tahu sendiri bahwa mereka adalah murid orang-orang sakti. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku kalah atau takut kepada mereka, Sute. Yang menjadikan pikiranku ruwet adalah pulangnya Ong Tek. Kalau Pangeran Ong mendengar bahwa puteranya hampir saja kau bunuh, bukankah ini berarti bahwa kita memancing permusuhan dengan para perwira kerajaan?"
"Aku tidak takut, Suheng!"
Jawab Ban Sai Cinjin.
Toat-beng Lo-mo tidak menjawab, hanya menarik napas panjang.
Perkara sudah menjadi makin besar dan ruwet, tak ada lain jalan melainkan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
"Kam Seng, mulai sekarang kau harus melatih diri baik-baik, karena kau pun maklum bahwa pihak musuh-musuhmu ternyata terdiri dari orang-orang pandai."
Pada siang harinya, datanglah Bouw Hun Ti membawa tiga orang tua aneh dan besarlah hati Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin melihat kedatangan tiga orang tua ini.
Mereka ini adalah Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun), tiga orang-kakek aneh dan sakti yang sudah amat terkenal namanya di perbatasan Mancuria di utara.
Baru melihat keadaan tiga orang ini saja sudah amat aneh.
Yang seorang tinggi kurus potongan tubuhnya seperti suling, sama besarnya dari kaki sampai ke kepalanya.
Orang kedua gemuk dengan muka lebar dan mulut besar, berjubah pendeta Buddha, mulutnya lebar seperti terobek dari telinga ke telinga.
Orang ke tiga lebih aneh lagi.
Kalau orang tidak melihat mukanya, tentu akan menyangka bahwa dia adalah seorang anak kecil.
Dari pundak sampai ke kaki memang ia persis seperti seorang anak berusia sepuluh tahun, akan tetapi kalau orang melihat wajahnya, ia akan terkejut dan heran.
Mukanya adalah muka seorang kakek tua berjenggot dan berkepala botak.
Sungguhpun keadaan ketiga orang ini aneh sekali, namun ilmu kepandaian mereka amat tersohor dan mereka terkenal sebagai orang-orang sakti.
Hailun Thai-lek sam-kui tadinya agak merasa segan untuk menurut bujukan Bouw Hun Ti, akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu agak takut dan gelisah serta mengharapkan bantuan mereka untuk menghadapi Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, ketiga orang Iblis Geledek ini menjadi amat tertarik.
Mereka lalu ikut turun gunung dan tiba di tempat tinggal Ban Sai Cinjin.
Dengan serta merta Ban Sai Cinjin yang kaya raya lalu memberi perintah kepada Hok Ti Hwesio untuk mempersiapkan hidangan-hidangah yang paling mewah dan lezat.
Mereka lalu makan minum dengan riangnya.
Kegelisahan yang tadi terlupakan sudah oleh Ban Sai Cinjin.
Bahkan Wi Kong Siansu mulai merasa lega karena ia maklum akan kelihaian tiga orang iblis itu.
Sementara itu, setelah dapat melarikan diri dari kuil dan meninggalkan Ban Sai Cinjin dan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang lihal, Lili lalu membawa Goat Lan untuk mampir ke rumah penginapan dan mengambil buntalan pakaiannya.
Kemudian, pada pagi itu juga mereka lalu melarikan diri keluar dari dusun Tong-sin-bun.
"Ah, sungguh lihai tosu tua itu!"
Kata Goat Lan setelah mereka tiba di luar dusun. Ia berhenti dan memegang kedua tangan Lili.
"Akan tetapi mengapa kau bisa berada di dalam kuil itu, Lili? Dan apakah yang terjadi? Pertemuanku dengan kau di tempat itu selain amat menggirangkan hati, juga amat mengejutkan dan mengherankan!"
Lili membalas pelukan Goat Lan dan berkata sambil tertawa.
"Sesungguhnya, aku sedang melakukan perjalanan untuk mengunjungi kau di Tiang-an."
"Aih, aneh benar kau ini. Dari tempat tinggalmu ke Tiang-an, sama sekali tidak melewati tempat ini. Apakah kau tersesat jalan?"
Lili tersenyum lagi.
"Goat Lan, berjanjilah dulu, bahwa kau takkan membuka rahasiaku ini kepada orang lain. Juga tidak kepada ayah ibu, karena sesungguhnya aku telah mengambil jalan sendiri!"
"Rahasia apakah?"
Goat Lan bertanya heran.
"Sesungguhnya, dari rumah aku berpamit untuk pergi ke Tiang-an dengan alasan sudah merasa rindu kepadamu. Akan tetapi, diam-diam aku tidak menuju ke rumahmu, melainkan membelok ke Tong-sin-bun untuk mencari musuh besarku, Bouw Hun Ti. Kau tentu sudah mendengar bahwa Bouw Hun Ti adalah murid dari Ban Sai Cinjin, maka aku langsung menuju ke sana untuk mencarinya. Nah, jangan kauceritakan hal ini kepada ayah atau ibuku, karena mereka tentu akan marah besar. Memang ayah ibuku benar, karena hampir saja aku mendapat celaka besar."
Maka berceritalah Lili tentang pengalamannya, akan tetapi tentu saja ia tidak menceritakan bahwa ketika ia tertawan, Kam Seng telah mencium jidatnya!
Ia hanya memberitahukan kepada Goat Lan bahwa Kam Seng itu sesungguhnya adalah putera dari Song Kun, suheng dari ayah Lili!
"Dan bagaimana kau bisa kebetulan sekali datang pada malam hari tadi, Goat Lan?"
"Mari kita mengaso dulu dibawah pohon itu,"
Kata Goat Lan sambil menuju ke arah sebatang pohon besar di pinggir jalan.
"Ceritaku agak panjang karena memang telah lama kita tidak saling bertemu. Mari kita duduk di sana dan mari kuceritakan pengalamanku. Kau tentu akan tertarik mendengarnya. Karena ketahuilah bahwa aku pernah bertemu dengan Bouw Hun Ti musuh besarmu itu!"
Mereka lalu pergi dan duduk di bawah pohon yang rindang itu, dan berceritalah Goat Lan dengan jelas, didengarkan oleh Lili dengan asyiknya.
Memang sudah terlalu lama kita meninggalkan Goat Lan dan sepatutnya kita menengok keadaannya semenjak ia diambil murid Yok-ong Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Goat Lan dibawa oleh kedua suhunya ke Bukit Liong-ki-san, sebuah bukit yang puncaknya nampak di sebelah selatan kota Tiang-an.
Dengan amat tekun dan rajinnya Goat Lan melatih diri di, bawah bimbingan Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu.
Selama delapan tahun ia berlatih silat, juga ia mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-ong Sin Kong Tianglo.
Kedua kakek ini merasa amat gembira melihat ketekunan dan kemajuan murid tunggal mereka dan menurunkan ilmu-ilmu silat yang paling tinggi.
Goat Lan tidak merasa kesepian oleh karena hampir sebulan sekali, ayah ibunya tentu datang menengoknya, bahkan ia menerima pula latihan ilmu silat dari kedua orang tuanya.
Sebaliknya kedua orang suhunya pada waktu menganggur selalu bermain catur dan kedua orang kakek itu biarpun sudah seringkali mendapat petunjuk dari Goat Lan, tetap saja masih amat bodoh dalam hal permainan catur!
Agaknya memang betul kata orang-orang dulu bahwa otak orang tua sudah menjadi keras dan tumpul!
Tidak saja Kwee An dan Ma Hoa seringkali berkunjung ke puncak Liong-ki-san, bahkan beberapa kali Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya, yaitu Lin Lin, membawa Lili naik ke gunung itu untuk mengunjungi.
Oleh karena itu, hubungan antara Lili dan Goat Lan menjadi erat.
Delapan tahun kemudian, Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu yang sudah merasa bahwa kepandaian yang mereka ajarkan kepada Goat Lan sudah cukup, kedua orang kakek yang kini telah berusia amat tua itu lalu kembali ke tempat tinggal masing-masing, yaitu di daerah utara.
Goat Lan kembali ke Tiang-an, melanjutkan pelajaran ilmu silatnya dari ayah bundanya sehingga ia kini menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Kalau dibuat perbandingan, gadis muda ini memiliki lebih banyak ilmu silat yang tinggi-tinggi daripada ibu atau ayahnya, maka tentu saja Kwee An dan Ma Hoa menjadi amat bangga akan puteri tunggalnya ini.
Dua tahun lamanya Goat Lan mempelajari ilmu pedang dari ayahnya dan Ilmu Silat Bambu Runcing dari ibunya.
Seperti ibunya, ia dapat mainkan Ilmu Silat Bambu Runcing ciptaan Hok Peng Taisu dengan amat baiknya dan bahkan berkat didikan Im-yang Giok-cu ia memiliki lwee-kang yang amat hebat serta gin-kang yang dilatihnya dari Sin Kong Tianglo membuat gerakannya laksana seekor burung walet.
Pada suatu hari, datanglah Im-yang Giok-cu yang membawa berita amat menyedihkan hati Goat Lan dan orang tuanya.
Ternyata bahwa Sin Kong Tianglo yang sudah amat tua itu meninggal dunia di daerah utara.
"Sin Kong Tianglo meninggalkan sebuah pesanan untukmu, Goat Lan,"
Kata Im-yang Giok-cu setelah kesedihan Goat Lan agak reda.
"Pada waktu ini, putera Kaisar yang menjadi Putera Mahkota, menderita sakit hebat sekali. Menurut Sin Kong Tianglo, obat satu-satunya yang dapat menyembuhkan penyakit pangeran itu hanyalah To-hio-giok-ko (Daun Golok Buah Mutiara) yang terdapat di daerah bersalju sebelah utara tapal batas. Dan karena mencari obat itulah maka ia menemui kematiannya! Tubuhnya yang amat tua itu tidak kuat menahan dingin dan karena serangan hawa dingin dan kelelahan, ia tewas di sana!"
"Mengapa ia bersusah payah mencarikan obat untuk Putera Mahkota?"
Tanya Ma Hoa dengan heran.
Pertanyaan ini agaknya terkandung dalam pikiran Kwee An dan Goat Lan pula karena mereka juga memandang kepada Im-yang Giok-cu untuk mendengar bagaimana jawaban kakek itu.
Im-yang Giok-cu menurunkan guci araknya dan sebelum menjawab ia meneguk dulu araknya.
"Memang Raja Obat itu orangnya aneh sekali. Seperti juga aku tua bangka tiada guna, ia tidak menaruh perhatian tentang keadaan Kaisar dan keluarganya. Akan tetapi, sebagai seorang ahli pengobatan ia mempunyai satu kelemahan, yaitu selalu ingin menyembuhkan penyakit yang paling aneh. Selain daripada itu, harus diakui bahwa diantara para pangeran, maka Putera Mahkota boleh disebut seorang pemuda yang paling baik, mempunyai sifat-sifat baik dan agaknya kalau ia menjadi Kaisar kelak, ia akan menjadi seorang Raja yang bijaksana. Karena itulah, maka banyak sekali ahli pengobatan yang mencoba untuk menyembuhkannya, hanya untuk mencegah agar jangan sampai ada pangeran lain yang menggantikannya menjadi Putera Mahkota kalau ia meninggal."
"Dan apakah pesan mendiang Suhu untukku?"
Tanya Goat Lan kepada suhtinya yang kedua ini.
"Ia mengharuskan engkau untuk pergi ke utara mencari obat itu dan menyembuhkan penyakit Putera Mahkota!"
Jawab Im-yang Giok-cu sambil meneguk araknya lagi.
Goat Lan menerima berita ini dengan tenang saja, akan tetapi kedua orang tuanya saling pandang dengan muka berubah.
Mereka telah maklum akan berbahayanya perjalanan ke daerah utara yang selain dingin juga banyak terdapat orang-orang buas dan jahat.
"Mengapa harus Goat Lan yang pergi mencari obat itu?"
Tanya Kwee An dan Ma Hoa menyambung dengan suara penasaran.
"Apakah tidak bisa orang lain yang mencarikannya?"
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak.
"Tentu saja aku maklum akan kekhawatiranmu berdua. Siapa orangnya yang akan membiarkan Goat Lan pergi seorang diri ke tempat jauh itu? Akan tetapi Sin Kong Tianglo memang orang aneh!"
Ia mengangguk-angguk lalu menyambung.
"Aneh dan gila!"
Bagi Goat Lan, tidak aneh kalau Im-yang Giok-cu memaki gila kepada Sin Kong Tianglo, karena memang dua orang suhunya ini sudah biasa saling memaki!
"Dan susahnya, ini adalah pesannya, pesan orang yang hendak menghembuskan nyawanya.
Pesan seorang yang sudah meninggal harus dilaksanakan dan dipenuhi, kalau tidak, ah...
aku orang tua takkan dapat hidup tenang dan tenteram lagi.
Arwah Sin Kong Tianglo tentu akan menjadi setan dan mengejar-ngejarku ke mana-mana.
Pesannya ialah Giok Lan seorang, tidak boleh orang lain, harus melanjutkan usahanya mencari obat To-hio-giok-ko itu dan menyembuhkan penyakit Putera Mahkota."
"Akan tetapi,"
Bantah Ma Hoa.
"mengapa mendiang Sin Kong Locianpwe begitu mengkhawatirkan kesehatan Putera Mahkota dan tidak mempedulikan bahaya yang dapat menimpa diri anakku? Apakah ini adil namanya? Atau, apakah dia tidak sayang kepada muridnya?"
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak.
"Belum kuceritakan yang lebih aneh lagi. Sesungguhnya Sin Kong Tiangto sendiri tidak berapa peduli apakah Putera Mahkota akan mati atau hidup, akan tetapi sampai pada saat terakhir, orang tua yang berkepala batu itu selalu hendak mempertahankan namanya! Ia memang angkuh dan menjaga namanya sebagai Yok-ong (Raja Obat)! Ketahuilah, secara kebetulan Yok-ong Sin Kong Tianglo tiba di kota raja dan ia bertemu dengan orang-orang kang-ouw ahli pengobatan yang terkenal dari seluruh daerah. Tentu saja, tukang obat bertemu ahli obat, mereka bicara asyik tentang hal pengobatan dan akhirnya mereka itu berdebat ramai sekali. Semua tukang obat yang berada di kota raja menyatakan bahwa untuk penyakit yang diderita oleh Putera Mahkota, tidak ada obatnya lagi di dunia ini. Akan tetapi Yok-ong Sin Kong Tianglo menyatakan bahwa ada obatnya! Ia dibantah oleh banyak orang dan akhirnya semua orang minta bukti. Kakek gila itu menantang dan menyatakan kesanggupannya, bahwa ia akan mendapatkan obat itu dan menyembuhkan Putera Mahkota dengan taruhan bahwa kalau ia tidak bisa, ia tidak mau memakai gelar Yok-ong (Raja Obat) lagi! Nah, celakanya, ketika ia sedang mencari obat itu, ia terserang hawa dingin dan meninggal dunia. Masih baik bahwa ia bertemu denganku dan aku sudah menawarkan tenaga untuk melanjutkan usahanya mencari obat itu, akan tetapi ia tidak mau menerima tawaranku, katanya, harus muridku yang akan mencari obat dan menyembuhkan penyakit Putera Mahkota. Biarlah muridku sendiri yang menolong namaku dari hinaan orang, dan biar muridku yang membuktikan bahwa julukan Yok-ong bukanlah sia-sia belaka!"
Kwee An, Ma Hoa, dan Goat Lan mendengarkan penuturan ini dengan bengong. Tanpa diberitahu, mereka bertiga maklum bahwa hal ini menyangkut nama baik dan kehormatan Sin Kong Tianglo.
"Nah, kalian tahu sekarang mengapa dia menghendaki Goat Lan seorang yang mencari obat itu? Kakek gila itu takut kalau-kalau para ahli obat di dunia kang-ouw akan mencela, mentertawainya, dan menghina julukannya sebagai Yok-ong! Dan aku tahu, kalau terjadi hal demikian, nyawa Yok-ong itu tentu akan berkeliaran dan terutama sekali yang dijadikan sasaran adalah aku, karena akulah yang berjanji kepadanya untuk menyampaikan hal ini kepada Goat Lan dan membujuknya agar supaya suka berbakti kepadanya."
"Baik, Suhu, teecu akan pergi melanjutkan usaha Suhu Sin Kong Tianglo!"
Tiba-tiba Goat Lan berkata dengan suara tetap. Im-yang Giok-cu tertawa bergelak lalu menenggak araknya lagi.
"Ha-ha-ha, sudah kuduga!"
Katanya dengan mata dikedip-kedipkan girang.
"Kalau tidak demikian jawabanmu, kau tentu bukan murid Yok-ong dan aku!"
Im-yang Giok-cu lalu menuangkan semua sisa araknya ke dalam perut lalu berkata lagi dengan wajah berseri.
"Goat Lan, Sin Kong Tianglo telah berkata kepadaku bahwa kalau kau sanggup melanjutkan usahanya dan mengangkat namanya sebagai Yok-ong, aku boleh memberikan barang warisannya ini!"
Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan segi empat yang tipis kepada muridnya.
Goat Lan menerimanya dan dengan hati-hati ia membuka bungkusan kain kuning itu dan ternyata bahwa di dalamnya terdapat sebuah kitab yang sudah usang dan kuning.
"Kitab obat dari Suhu!"
Goat Lan berseru dengan mata terbelalak.
Pernah Yok-ong Sin Kong Tianglo menyatakan kepadanya bahwa banyak sekali orang-orang pandai dan orang-orang jahat yang menginginkan kitab itu, akan tetapi suhunya itu selalu menjaganya dengan baik-baik.
"Kitab ini amat berharga,"
Kata suhunya dahulu.
"maka jangan harap orang lain dapat mengambilnya dari aku. Aku lebih menghargai kitab ini daripada jiwaku sendiri! Dan kalau aku mati kitab ini akan kubawa serta. Karena kalau sampai terjatuh ke dalam tangan orang jahat, kitab ini akan mendatangkan malapetaka hebat kepada dunia, sungguhpun di dalam tangan orang baik-baik benda ini akan merupakan penolong manusia yang amat besar jasanya."
Dengan bengong Goat Lan memegang kitab itu dan Im-yang Giok-cu berkata lagi.
"Aku merasa berat sekali membawa kitab ini selama melakukan perjalanan ke sini, oleh karena aku pun maklum akan keinginan orang-orang kang-ouw yang menghendaki kitab ini. Di waktu kitab ini berada di tangan Sin Kong Tianglo, tidak ada yang berani mencoba-coba untuk merampasnya, akan tetapi setelah orang tua itu meninggal dunia, tentu mereka akan berusaha mendapatkan kitab ini. Oleh karena itu hati-hatilah kau menjaga kitab ini, muridku. Dan satu hal lagi, kalau kau hendak mencari obat Tohio-giok-ko, hanya satu tempat yang terdapat daun dan buah itu yaitu di sepanjang lembah Sungai Sungari di sebelah selatan kota Hailun. Nah, aku sudah memenuhi tugasku. Selamat tinggal!"
Setelah berkata demikian, Im-yang Giok-cu lalu pergi dengan cepat tanpa dapat ditahan lagi.
Kwee An dan Ma Hoa saling pandang dengan mata masih mengandung penuh kekhawatiran.
Akhirnya Ma Hoa memegang tangan Goat Lan dan berkata.
"Goat Lang memang sudah seharusnya kau menjaga nama baik suhumu. Akan tetapi, kami tidak tega untuk melepasmu pergi seorang diri begitu saja. Kami akan pergi bertiga."
"Benar kata-kata ibumu, Goat Lan. Tempat itu amat jauh dan aku sendiri bersama Pendekar Bodoh pernah melakukan perjalanan ke sana dan memang tempat itu amat berbahaya."
"Akan tetapi, Suhu Sin Kong Tianglo telah memesan agar supaya aku pergi sendiri, kalau sampai terdengar oleh orang kang-ouw bahwa aku sebagai murid Sin Kong Tianglo mengandalkan kepandaian Ayah dan lbu untuk mendapatkan obat itu, bukankah nama Suhu akan ditertawakan orang?"
"Peduli apakah kalau mereka mentertawakan di belakang punggung kita?"
Kata Ma Hoa.
"Coba suruh mereka tertawa di depan mukaku, tentu tertawanya itu adalah tertawa terakhir dalam hidupnya!"
"Akan tetapi aku ingin pergi seorang diri, Ibu. Apabila Ayah dan Ibu ikut membantuku, aku akan merasa seakan-akan aku menyalahi pesanan terakhir daripada Suhu. Hanya kitab ini..."
Ia memandang kepada kitab itu dengan penuh khidmat.
"aku tidak berani membawa-bawanya pergi merantau. Lebih baik ditinggal di sini di dalam perlindungan Ayah dan Ibu."
"Goat Lang jangan berkata demikian,"
Ayahnya menegur.
"Kalau kau pergi merantau seorang diri, kau tentu akan membikin ibumu selalu merasa gelisah dan berkhawatir selalu. Apakah kau senang melihat ibumu selalu dirundung kegelisahan memikirkan keadaanmu?"
Goat Lan menengok kepada ibunya yang juga memandangnya. Melihat sinar mata ibunya yang penuh kasih sayang dan wajah yang cantik itu kini menjadi murung, Goat Lan lalu tersenyum dan memeluk ibunya.
"Ah, Ayah! Kau jangan merendahkan Ibu! Ibu kan bukan anak kecil lagi dan Ibu sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepadaku. Bukankah begitu, Ibu? Semenjak kecil, Ayah dan Ibu telah mendidik dan memberi pelajaran ilmu silat dan kepandaian untuk menjaga diri kepadaku. Bahkan delapan tahun lamanya dua orang suhuku telah menggemblengku untuk meyakinkan ilmu silat tinggi, kemudian Ayah dan Ibu memberi tambahan lagi ilmu kepandaian yang kupelajari dengan rajin. Selama bertahun-tahun itu aku selalu tekun, rajin dan dengan susah payah mempelajari ilmu silat. Kalau sekarang melakukan perjalanan sebegitu saja aku harus mundur dan takut, apa perlunya aku mempelajari ilmu silat selama ini? Bukankah hal itu hanya akan merendahkan nama kedua orang suhuku, bahkan akan mendatangkan rasa malu kepada Ayah dan Ibu? Aku telah mempelajari ilmu silat, kalau tidak sekarang dipergunakan, habis apakah kepandaian itu harus kukeram di dalam kamar, menyulam, membaca buku, mempelajari tulisan-tulisan indah dan sajak, sehingga kepandaian silat itu akan membusuk dan kemudian terlupa olehku?"
Selama puteri mereka ini bicara, Kwee An dan Ma Hoa bertukar pandang dan mata mereka bersinar gembira.
Girang hati mereka mendengar semangat yang gagah ini.
Lenyaplah keraguan mereka dan tanpa mereka lihat perubahannya, ternyata Goat Lan kini telah menjadi dewasa.
Hanya orang yang sudah dewasa saja dapat mempunyai pendirian seperti itu.
Akhirnya keduanya menyetujui keberangkatan Goat Lan setelah memberi nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk yang amat perlu diketahui seorang perantau.
"Hanya satu hal yang harus kaujanjikan,"
Kata Ma Hoa.
"yaitu kau tidak boleh pergi lebih lama dari enam bulan."
"Baik, Ibu, aku berjanji. Perjalanan ke sana pulang pergi menurut perhitungan Ayah hanya makan waktu dua bulan, maka waktu enam bulan sudah cukup bagiku."
"Bukan karena aku ingin memberi batas waktu yang terlalu sempit dan mengikat, anakku, hanya kau harus ingat bahwa usiamu telah sembilan belas tahun dan perjanjian kita terhadap keluarga Sie sudah dekat waktunya."
Tiba-tiba wajah Goat Lan menjadi merah.
Ia memang tahu bahwa ia telah dipertunangkan dengan Sie Hong Beng, kakak dari Lili, putera dari Pendekar Bodoh yang tidak diketahui bagaimana rupanya.
Ia hanya satu kali bertemu dengan Sie Hong Beng, yaitu ketika ia masih berusia lima tahun!
Semenjak itu, belum pernah ia bertemu lagi dan ia sudah lupa akan rupa pemuda yang kini menjadi caIon suaminya itu.
Memang, kalau ia ingat bahwa pemuda itu adalah kakak Lili yang cantik manis dan putera dari Pendekar Bodoh yang amat terkenal sebagai suami isteri pendekar yang gagah dan dikasih sayangi oleh ayah ibunya, ia boleh merasa puas akan ikatan jodoh ini.
Namun betapapun juga, sungguhpun mulutnya tak pernah berkata sesuatu, namun ada perasaan kurang enak di dalam lubuk hati, ia belum melihat bagaimana keadaan pemuda tunangannya itu, bagaimana macam orangnya dan bagaimana pula kepandaiannya.
Goat Lan berangkat ke utara sambil membawa pesan dan nasihat kedua orang tuanya.
Ia masih ingat betapa ayah ibunya beberapa kali berpesan kepadanya bahwa apabila ia bertemu dengan seorang yang bernama Bouw Hun Ti, jangan ragu-ragu dan ia diperbolehkan menyerang dan membinasakan orang itu.
"Dia adalah pembunuh Paman Yousuf dan dahulu telah menculik Lili, maka berarti bahwa dia adalah musuh besar kita pula. Menurut penuturan Pendekar Bodoh, penjahat bernama Bouw Hun Ti itu kepandaiannya tak perlu ditakutkan, akan tetapi kau berhati-hatilah Goat Lan, karena ia adalah murid dari Ban Sai Cinjin yang amat jahat dan curang."
Bagaikan seekor burung terlepas dari kurungan, Goat Lan melakukan perlajanan dengan amat gembira.
Baru kali ini ia melakukan perantauan dan melakukan segala sesuatu atas keputusan sendiri.
Selama ini selalu ada orang-orang yang menjaganya, suhu-suhunya, ayah ibunya, dan baru sekarang ia merasa betapa besar kegunaan segala pelajaran ilmu silat yang dipelajarinya selama bertahun-tahun itu.
Ia tidak membekal lain senjata kecuali sepasang bambu runcingnya dan karena ayah bundanya maklum akan kemampuannya menjaga diri dengan tangan kosong atau dengan bambu runcing itu, maka mereka melepaskan dengan hati aman.
Tepat seperti yang telah diperhitungkan oleh Kwee An, kurang lebih sebulan kemudian setelah melakukan perjalanan cepat dan lancar, Goat Lan tiba di lembah sungai Sungari di perbatasan Boancu.
Ia lalu berjalan di sepanjang sungai itu dan ketika ia tiba di sebelah selatan kota Hailun, ternyata bahwa lembah itu tertutup oleh hutan tang amat liar dan gelap.
Hari telah menjadi senja ketika ia tiba di sebuah dusun di luar hutan.
Melihat ke arah hutan yang amat gelap dan membuat tempat itu nampak hampir hitam.
Goat Lan terpaksa menunda perjalanannya.
Ia merasa lapar setelah melakukan perjalanan sehari lamanya, akan tetapi biarpun asap gurih dan sedap yang keluar dari sebuah rumah makan kecil membuat hidungnya berkembang kempis dan perutnya menggeliat-geliat, ia dapat menahan selerangan dan lebih dulu mencari tempat penginapan.
Namun ia kecewa karena ternyata bahwa di dusun itu tidak terdapat rumah penginapan.
Satu-satunya rumah penginapan kecil yang masih ada papan namanya, telah ditutup.
Heranlah Goat Lan melihat keadaan ini dan ia bertanya kepada seorang kakek petani yang memandangnya dari pintu rumahnya.
"Lopek, aku adalah seorang pelancong yang membutuhkan tempat penginapan. Di manakah kiranya terdapat rumah penginapan di dusun ini?"
Kakek itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian dan sepasang matanya yang keriput dan sipit itu membayangkan kecurigaan besar, kemudian melihat bahwa yang bertanya kepadanya adalah seorang gadis muda cantik dan halus tutur sapanya, kecurigaannya berubah menjadi keheranan besar.
"Nona, mendengar bicaramu, kau tentulah datang dari selatan. Mengapa kau tersasar sampai sejauh ini? Kaulihat sendiri, di dusun ini hanya sebagian saja dari penduduknya adalah orang-orang Han, sebagian besar adalah penduduk dari suku bangsa lain. Kau hendak pergi ke manakah?"
Memang benar, semenjak tadi agak sukar bagi Goat Lan untuk bertanya keterangan sesuatu, karena di mana-mana ia melihat orang-orang yang amat berlainan dengan orang-orang Han, baik bentuk muka maupun keadaan pakaiannya.
Sungguhpun jawaban kakek ini tidak pada tempatnya, yaitu menjawab dengan sebuah pertanyaan pula, akan tetapi Goat Lan tetap bersabar dan tersenyum ramah.
"Tidak salah dugaanmu, Lopek. Aku memang datang dari selatan dan seperti telah kukatakan tadi, aku adalah seorang pelancong."
"Sebagai seorang pelancong, kau benar-benar telah memilih tempat yang aneh. Hawa begini dingin, tidak ada pemandangan indah di sini, banyak penyakit merajalela."
Ia memandang kepada pakaian Goat Lan yang tidak tebal dan kepada wajah serta tangan gadis itu yang telanjang tidak tertutup sesuatu, dan makin heranlah dia.
Bagaimana mungkin seorang gadis cantik jelita dan muda seperti ini dapat menahan dingin yang menggoroti kulit?
Pada waktu itu, bulan kedua baru tiba dan keadaan sedang dingin-dinginnya.
Bagi kakek itu sendiri biarpun telah puluhan tahun ia tinggal di daerah dingin ini, namun tetap saja pada waktu seperti itu, tanpa perlindungan pakaian dari kulit domba, ia takkan tahan dan dan kulit tubuhnya akan pecah-pecah.
"Nona, selanjutnya kau hendak ke manakah?"
Tanyanya kemudian.
"Aku ingin bermalam di dusun ini untuk satu malam dan besok pagi-pagi aku akan melanjutkan perjalanan ke sana!"
Goat Lan menudingkan telunjuknya ke arah hutan yang kini sudah menjadi hitam karena diselimuti oleh malam yang mulai mendatang. Tiba-tiba kakek itu nampak gugup dan pucat.
"Jangan, Nona...! Jangan kau pergi ke sana. Dengarlah kata-kata orang tua seperti aku. Hidupku tak lama lagi dan aku ingin mencegah seorang muda seperti engkau dari kesengsaraan, jangan kau memasuki tempat itu kalau kau sayang kepada nyawamu!"
Goat Lan terkejut, akan tetapi hatinya yang tabah membuat ia tetap tenang.
Ia memandang kepada kakek itu dengan tajam dan ketika kakek itu balas memandang dan sinar mata mereka bertemu, kakek itu menjadi makin pucat dan ia melangkah mundur dua langkah.
"Kau... matamu sama benar dengan matanya... kau..."
"Eh, ada apakah Lopek? Aku seorang manusia biasa, seorang pelancong yang membutuhkan tempat penginapan untuk beristirahat malam ini. Jangan kau bicara yang aneh-aneh Lopek. Dapatkah kau menolongku dan memberitahukan di mana aku dapat bermalam? Kalau tidak mau, tidak apalah, aku bisa mencari keterangan dan minta tolong kepada orang lain."
Ucapan ini agaknya menyadarkan kakek itu kembali.
"Kau... kau bukan orang jahat?"
Goat Lan merasa mendongkol, akan tetapi terpaksa ia tersenyum juga.
Melihat pandangan mata dan wajah kakek itu, ia maklum bahwa sikap yang aneh ini timbul dari rasa takut yang hebat dari orang tua ini.
"Tiada gunanya aku menjawab pertanyaanmu ini, Lopek. Siapakah orangnya di dunia ini yang suka mengaku bahwa ia adalah orang jahat? Tentu saja seperti orang lain di dunia ini, aku akan menjawab bahwa aku bukan orang jahat, akan tetapi biarpun kau dapat mendengar jawaban mulutku, bagaimana kau akan dapat mengetahui keadaanku yang sebenarnya?"
Jawaban ini benar-benar membuat kakek itu tercengang.
"Nona, kau masih amat muda akan tetapi sudah dapat bicara seperti itu. Terang bahwa kau bukan orang jahat. Mari, silakan masuk, akan kuceritakan mengapa aku mencegahmu memasuki tempat berbahaya itu."
Akan tetapi Goat Lan menggeleng kepalanya.
"Aku datang untuk mencari tempat penginapang Lopek, bukan untuk mendengar cerita tentang tempat berbahaya,"
Ia mengangguk dan hendak pergi meninggalkan kakek itu. Akan tetapi orang tua itu melangkah maju dan berkata.
"Nona, kalau aku mempersilakan kau masuk ke dalam gubukku, itu berarti aku menawarkan tempat ini untuk kau tinggal malam ini. Tentu saja kalau kau sudi menempati rumah yang buruk dan kecil ini. Dan aku berani menawarkan rumahku, oleh karena aku maklum bahwa di dalam dusun ini kau takkan dapat menemukan rumah penginapan. Nah, sudikah kau?"
Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari kakek itu dan melihat pandang matanya yang jujur, Goat Lan terpaksa melangkah masuk sambil tersenyum menyatakan terima kasihnya.
Di luar dugaannya semula, biarpun rumah itu dari luar nampak amat buruk dan di dalamnya juga amat sederhana, namun benar-benar bersih dan menyenangkan.
Sebuah lampu terletak menyala di atas meja kayu yang sederhana bentuknya akan tetapi yang seringkali bertemu dengan kain pembersih.
Di kanan kiri meja itu terdapat dua buah bangku kayu yang sederhana pula.
Dari ruang depan yang kecil ini nampak dua buah pintu kamar di kanan kiri yang tertutup oleh muili (tirai pintu) yang berwarna kuning dan cukup bersih sungguhpun sudah ada beberapa tambalan di sana sini.
Kakek itu mempersilakan Goat Lan mengambil tempat duduk di atas bangku.
Lalu ia sendiri mengeluarkan sebotol arak dan dua cawan kosong dari peti besi yang berdiri di sudut.
"Aku orang miskin, Nona, seperti sebagian besar orang yang tinggal di sini."
"Kau maksudkan, seperti sebagian besar manusia di dunia ini,"
Menyambung Goat Lan.
"Kemiskinan bukanlah hal yang menyusahkan hati, Lopek."
Kembali kakek itu tercengang dan wajahnya berseri.
"Mendengar ucapanmu, hampir aku percaya bahwa kau adalah seorang gadis petani yang sederhana dan bijaksana. Akan tetapi tak mungkin seorang gadis petani mempunyai wajah seperti kau dan pakaianmu pula. Ah, kau tentulah seorang gadis bangsawan yang kaya raya."
Sebelum Goat Lan membantah kakek itu telah menaruh botol arak di atas meja, lalu cepat berkata lagi.
"Kau tentu belum makan, Nona? Tunggulah, biar aku masak bubur untukmu."
Goat Lan cepat mencegah dan segera mengeluarkan sepotong uang perak.
"Jangan repot-repot, Lopek. Memang aku lapar dan belum makan semenjak pagi tadi, akan tetapi kalau kau suka, tolonglah belikan nasi dan sedikit masakan dengan uang ini."
Kakek itu memandang ke arah uang perak di atas meja dan tersenyum pahit, kemudian ia mengambil uang itu dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu bertindak keluar.
"Lopek, jangan lupa, beli untuk dua orang. Aku tidak mau makan sendiri saja!"
Goat Lan berseru kepada kakek itu yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Goat Lan yang sudah banyak menerima banyak pesan dari ayah bundanya agar supaya berlaku hati-hati setelah kakek itu keluar, cepat ia mengadakan pemeriksaan di dalam rumah itu.
Disingkapnya tirai pintu kamar dan dilongoknya ke dalam.
Kamar tidur biasa saja dan amat sederhana.
Demikian pun kamar tidur ke dua.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 21
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 19