Ceritasilat Novel Online

Pendekar Remaja 3

Eps 3 Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo.

Dia adalah Pek I Hosiang yang sengaja datang mencari ke dalam hutan ini karena hendak menyaksikan sendiri bagaimana macamnya "Sepasang Iblis"

Yang ditakuti orang-orang itu.

Ia telah dapat menemukan gua tempat tinggal sepasang iblis itu dan melihat golok dan kapak milik tiga orang rnuridnya berserakan di depan gua.

Melihat gua itu kosong dan sunyi, Pek I Hosiang lalu mencari ke tempat lain dan akhirnya ia mendengar suara dua orang bercakap-cakap maka cepat menghampiri mereka.

Pek I Hosiang cepat membungkuk dan merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.

"Omitohud! Harap dimaafkan apabila pinceng mengganggu Ji-wi, dan datang tanpa diundang. Kalau pinceng tidak salah duga, Ji-wi tentulah sepasang pendekar yang mengasingkan diri di dalam hutan ini, dan yang telah disohorkan oleh semua orang di sekitar pegunungan ini."

Tiba-tiba Ang I Niocu melangkah maju menghadapi hwesio itu dan membentak.

"Pergilah...! Kau hwesio tak tahu adat, pergilah dari sini!"

Pek I Hosiang terkejut melihat wanita tua yang amat galak ini, akan tetapi dengan sabar ia tersenyum dan kembali memberi hormat.

"Maaf, maaf! Sudah pinceng akui tadi bahwa pinceng berlaku lancang, akan tetapi pinceng memang sengaja datang hendak berkenalan dengan Ji-wi yang lihai. Pinceng mendengar tentang keadaan Ji-wi dari tiga orang murid pinceng yang beberapa hari yang lalu telah berlaku kurang ajar dan menerima hukuman. Pinceng bernama Pek I Hoasiang dan menjadi ketua dari kelenteng di bawah gunung. Pinceng sengaja datang untuk memintakan maaf bagi ketiga murid pinceng. Bolehkah kiranya pinceng mengetahui, Ji-wi siapakah?"

"Sudahlah, sudahlah!"

Ang I Niocu membanting-banting kakinya dengan gemas dan hilang sabar.

"Kami tidak ingin mengetahui namamu dan tidak ingin pula memperkenalkan nama. Kaupergilah, jangan sampai aku kehilangan kesabaranku dan menjatuhkan tangan kepadamu!"

Akan tetapi Pek I Hosiang masih tetap tenang dan sabar.

"Toanio (Nyonya Besar), harap suka berlaku sabar, karena sesungguhnya pinceng tak bermaksud buruk. Sudah bertahun-tahun pinceng mendengar tentang adanya sepasang siluman di hutan ini, tetapi pinceng tidak percaya dan menduga bahwa yang dianggap siluman tentulah dua orang sakti yang bertapa di sini."

"Cukup...! Pergi...!"

Ang I Niocu membentak lagi.

"Omitohud! Banyak sudah pinceng ketemu orang-orang pandai, akan tetapi tidak ada yang seaneh Ji-wi ini..."

"Kau mencari penyakit!"

Sambil membentak marah, Ang I Niocu lalu maju menyerang dengan sebuah pukulan dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut.

Pukulan ini hebat luar biasa sekali, karena dari kedua lengan tangannya mengebul uap putih!

"Omitohud!"

Kembali Pek I Hosiang menyebut nama Buddha dan cepat seperti kilat ia mengelak sambil menangkis dengan tangan kanannya.

Ketika dua lengan tangan beradu, Pek I Hosiang berseru kaget dan terhuyung-huyung mundur tiga tindak, sedangkan Ang I Niocu juga merasa betapa tenaga pukulannva terbentur pada tenaga yang amat kuat.

Ia merasa heran sekali karena jarang ada orang yang dapat menahan pukulan Pek-in-hoat-sut!

Ia maklum bahwa hwesio ini bukanlah orang sembarangan.

Sebaliknya, melihat pukulan ini, Pek I Hosiang memandang dengan mata terbelalak.

"Bukankah... pukulan tadi sebuah gerakan dari Pek-in-hoatsut?"

Katanya sambil memandang dengan mata terbelalak. Kembali Ang I Niocu tertegun.

"Kau sudah mengetahui kelihaian pukulanku, tidak lekas minggat dari sini??"

Ia maju lagi, siap menyerang kembali.

"Ah... kalau begitu..., Toanio ini, tentulah Ang I Niocu!"

Bukan main terkejut dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar bahwa hwesio tua ini telah mengenalnya.

Selama ini ia berusaha untuk menjauhi manusia agar tidak ada orang melihat bahwa Ang I Niocu yang cantik jelita kini telah berubah menjadi seorang nenek tua buruk.

"Bangsat gundul! Dengan menyebut nama itu, berarti kau harus mampus!"

Teriaknya dan kembali ia memukul. Akan tetapi Pek I Hosiang dapat mengelak dengan cepat sambil berkata.

"Tentu Ang I Niocu! Siapa lagi wanita berbaju merah yang cantik jelita dan dapat mainkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut selain Ang I Niocu?"

Ucapan ini makin membakar hati Ang I Niocu.

Sesungguhnya, dalam pandangan mata Pek I Hosiang, ia masih nampak cantik jelita, sungguhpun sudah amat tua, akan tetapi ia mengira bahwa hwesio itu sengaja menghina dan mengejeknya dengan menyebutkan cantik jelita tadi.

Ketika ia hendak menyerang kembali, tiba-tiba Lie Siong berkata.

"Ibu, berikanlah hwesio ini kepadaku!"

Ang I Niocu tiba-tiba teringat akan puteranya dan ia lalu timbul pikiran untuk mencoba kepandaian puteranya itu. Hwesio ini cukup tangguh, dan tepatlah kalau digunakan sebagai ujian bagi puteranya.

"Baik, kaumajulah dan hancurkan kepala orang yang sudah berani menghina ibumu ini,"

Katanya sambil melompat mundur.

Di dalam hatinya, Lie Siong tidak setuju dengan pendapat ibunya.

Ia sama sekali tidak menganggap hwesio tua ini menghina ibunya, akan tetapi ia tidak berkata sesuatu.

Memang ia sengaja hendak mencoba kepandaian hwesio ini, sekalian untuk mencegah ibunya turun tangan, karena pemuda ini dapat menduga bahwa kalau ibunya yang maju, hwesio ini pasti akan tewas!

Demikianlah, tanpa menanti hwesio itu mengeluarkan kata-kata, Lie Siong lalu melompat maju dan menyerangnya dengan pukulan dari Ilmu Silat Sianli-utauw.

Hwesio itu kagum sekali melihat gerakan yang indah ini dan timbul kegembiraan hatinya untuk mencoba kepandaian "siluman"

Ini.

Pek I Hosiang adalah seorang hwesio yang memiliki ilmu silat tinggi.

Dia adalah murid tunggal dari Biauw Leng Hosiang, tokoh kang-ouw yang amat terkenal.

Bagi pembaca yang sudah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa Biauw Leng Hosiang adalah sute (adik seperguruan) dari Biauw Suthai, tokouw (pendeta wanita) yang lihai dan yang menjadi guru pertama dari Lin Lin atau Nyonya Cin Hai si Pendekar Bodoh!

Oleh karena itu tentu saja ilmu silatnya amat tinggi.

Tidak seperti gurunya yang tersesat (baca Pendekar Bodoh), Pek I Hosiang ternyata menjadi seorang hwesio yang suci dan beribadat.

Pek I Hosiang telah sering mendengar nama Ang I Niocu dan mendengar pula bahwa ilmu silat Pendekar Wanita Baju Merah itu amat tinggi.

Ia tahu pula bahwa Ang I Niocu mendapat latihan dari Bu Pun Su dan mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi seperti Pek-in-hoatsut, Kong-ciak-sinna dan lain-lain.

Maka ketika ia melihat pemuda itu bersilat demikian indahnya, ia dapat menduga bahwa tentu inilah ilmu silat yang disebut Sianli-utauw!

Biarpun gerakan pemuda itu lemah lembut dan ilmu silatnya lebih patut disebut tarian yang indah, namun ia maklum akan kelihaian tarian ini dan tidak berani memandang ringan.

Beberapa kali ia sengaja menangkis untuk mencoba tenaga pemuda ini, akan tetapi ia terkejut sekali ketika merasa betapa lengannya tergetar tiap kali bertemu dengan lengan pemuda itu!

Ia menjadi kagum sekali.

"Pantas...!"

Serunya sambil mengelak dari sebuah pukulan.

"Pantas sekali kau menjadi putera Ang I Niocu yang lihai!"

Selama hidup Pek I Hosiang belum pernah menghadapi tandingan semuda dan selihai ini, maka saking gembiranya, ia lalu mencabut keluar senjatanya, yaitu sepasang toya pendek yang tadi diselipkan pada ikat pinggangnya.

"Anak muda, mari kita coba-coba mengadu senjata!"

Katanya.

Lie Siong mewarisi watak ibunya yang keras dan tinggi hati, maka mendapat tantangan ini, ia tidak mempedulikan lawannya dan terus saja menyerang dengan tangan kosong!

Ia lalu mengeluarkan limu Silat Kong-ciak-sinna, semacam ilmu silat yang banyak mempergunakan cengkeraman dan memang tepat sekali dipergunakan untuk menghadapi lawan bersenjata dengan tangan kosong!

Pek I Hosiang terkejut sekali dan biarpun mulutnya tetap tersenyum dan sepasang matanya memandang kagum, namun di dalam hatinya ia merasa penasaran dan tidak senang.

Alangkah sombongnya anak muda ini, pikirnya.

Karena itu, ia lalu memutar kedua toyanya dengan cepat sekali dan mengerahkan seluruh kepandaiannya bermain toya.

Perlu diketahui oleh para pembaca yang belum membaca Pendekar Bodoh bahwa tingkat ilmu silat Biauw Leng Hosiang tidak di bawah tingkat Ang I Niocu, maka karena Pek I Hosiang juga sudah mewarisi sebagian besar dari ilmu silat gurunya itu, maka tentu saja Lie Siong tak dapat tahan menghadapinya dengan tangan kosong.

Kedua toya pendek di tangan Pek I Hosiang bergerak bagaikan sepasang ular besar menyerang dengan berlenggak-lenggok, sehingga usaha Lie Siong dengan Ilmu Silat Kong-ciak-sinna untuk merampas senjata ini tak pernah berhasil.

Bahkan lambat akan tetapi pasti, Pek I Hosiang mulai mendesak pemuda itu!

Melihat betapa pemuda itu masih saja tidak mau mengeluarkan senjatanya, Pek I Hosiang lalu mainkan gerak tipu Hing-san-chian-kun (Menyerampang Bersih Ribuan Tentara).

Kedua toyanya menyambar-nyambar dari kanan kiri mengeluarkan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin menderu.

Lie Siong diam-diam terkejut juga melihat kehebatan lawan ini dan ia terpaksa lalu menggerakkan kedua kakinya dan menghindarkan desakan lawan dengan Tui-po-lian-hoan (Gerakan Kaki Mundur Berantai) sambil memukul-mukulkan kedua tangan menggunakan tenaga dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut untuk menolak datangnya kedua toya yang berbahaya itu.

Namun, gerakan kedua toya di tangan Pek I Hosiang amat cepatnya dan juga tidak lurus seperti senjata lain, melainkan berlenggak-lenggok tak tentu dari mana arah menyerangnya sehingga sukarlah untuk ditangkis, sungguhpun dengan tenaga Pek-in-hoatsut yang lihai.

Karena itu, terpaksa Lie Siong mengenjot kedua kakinya, dan sambil berseru keras ia melompat dengan gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Melompat ke Atas) kemudian disusul dengan gerakan Koai-liong-hoan-sin (Naga Iblis Berjungkir Balik) tubuhnya talu berjumpalitan di udara dan dengan jalan ini ia terhindar dari serangan lawan.

Ketika ia melompat turun kembali, di tangannya telah nampak pedang Sin-liong-kiam yang berbentuk naga itu!

Bukan main kagumnya Pek I Hosiang melihat Sin-liong-kiam yang hebat itu!

"Bagus, jangan berlaku seeji (sungkan) anak muda yang gagah, kau majulah dengan pedangmu itu!"

Mereka bertempur lagi dan kali ini benar-benar pertempuran itu hebat dan ramai sekali.

Lie Siong memutar pedangnya yang aneh itu dengan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan-kiam-hwat, sedangkan Pek I Hosiang mainkan Ilmu Toya Hek-cia-kun-hwat yang juga luar biasa cepat dan kuatnya.

Akan tetapi, akhirnya hwesio tua itu terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu pedang lawan yang muda tapi lihai itu.

Dengan gerak tipu Lian-hwa-gai-ho (Bunga Teratai Membuka Daun), Lie Siong menyerang dengan hebat sekali menusuk pusar lawannya.

Pek I Hosiang amat terkejut menyaksikan hebatnya serangan ini.

Sungguhpun pedang lawannya itu tidak runcing, namun bahayanya tidak kalah oleh pedang biasa yang runcing, karena kepala naga itu mempunyai tanduk yang runcing dan dapat digunakan untuk menotok jalan darah atau melukai tubuh.

Ia cepat menangkis dengan toya di tangan kanannya sambil mengayun toya di tangan kiri mengemplang lawan.

Inilah gerakan ilmu toya yang disebut Menerima Kembang Memberi Buah dari Ilmu Toya Heng-cia-kun-hwat yang lihai.

Memang Ilmu Toya Heng-cia-kun-hwat ini selalu mengutamakan gerakan pembalasan yang amat cepat.

Tiap kali toya kanan atau kiri menangkis, maka toya kedua pasti membarengi serangan lawan itu untuk mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya!

Akan tetapi, Lie Siong sudah tahu akan sifat ilmu toya ini, maka ia tadi menyerang dengan gerakan Lian-hwa-gai-ho, ia telah siap sedia dengan tangan kirinya.

Melihat toya di tangan kiri lawan menyambar ke arah kepalanya, ia cepat mengulur tangan dan menggunakan cengkeraman Kong-ciak-sinna mencoba merampas toya itu!

Tentu saja Pek I Hosiang tidak mau membiarkan toyanya dirampas, dan ia cepat mengubah gerakan toya kiri ini ke samping agar tidak sampai dirampas.

Akan tetapi ternyata bahwa gerakan merampas dari pemuda itu hanya gerakan pancingan belaka untuk mengalihkan perhatian Pek I Hosiang, karena sesungguhnya yang hendak merampas senjata lawan adalah tangan kanannya yang memegang pedang.

Ketika lawannya memperhatikan gerakan tangan kiri maka ketika pedang itu ditangkis oleh toya kanan, Lie Siong menggetarkan tangan kanannya dan lidah merah dari pedang naga itu dengan cepat lalu membelit toya lawan dan sekali ia berseru keras dan menarik, toya kanan dari Pek I Hosiang telah terbetot dan terlepas!

Pek I Hosiang terkejut sekali, cepat ia menggunakan gerakan Naga Hitam Keluar dari Awan, melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan lawannya.

Akan tetapi sebetulnya, tak perlu ia menggunakan gerakan ini, karena Lie Siong tidak menyerangnya, juga tidak mengejarnya.

Melihat sebatang toyanya tergantung pada lidah pedang naga itu, Pek I Hosiang menghela napas dan tersenyum pahit.

"Omitohud! Kau anak muda benar-benar mengagumkan! Pinceng Pek I Hosiang mengaku kalah!"

Ia menjura kepada Lie Siong.

Pemuda itu tidak menjawab, hanya menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba toya yang tadi terbelit oleh lidah pedang naganya, kini terlepas dan meluncur ke arah pemiliknya dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya!

Pek I Hosiang cepat mengulur tangan dan menangkap toyanya yang hendak menembus dadanya itu.

Akan tetapi, Ang I Niocu tidak puas dengan kemenangan puteranya yang tidak melukai lawannya itu.

"Hwesio busuk, lekas kaupergi dari sini dan tinggalkan toyamu!"

Katanya dan secepat kilat ia telah mencabut pedang Liong-cu-kiam yang bercahaya menyilaukan itu.

"Tak seorang pun yang datang bersenjata boleh pulang membawa senjatanya!"

Ia lalu menerjang dengan cepat, menyerang dengan gerak tipu Dewi Kwan Im Menyebar Bunga hingga pedangnya berkelebat berubah menjadi segulung sinar indah.

Pek I Hosiang terkejut dan cepat mengangkat kedua toyanya untuk menangkis.

"Traang...! Traaaang...!"

Ketika dua kali pedang Liong-cu-kiam bertemu dengan sepasang toya itu, ternyata dengan amat mudahnya toya-toya itu terbabat putus!

Ang I Niocu melompat mundur kembali, masukkan pedang ke dalam sarung pedangnya dan berkata singkat.

"Pergilah!"

Pek I Hosiang menjadi pucat dan ia masih menahan perihnya hati karena hinaan ini. Ia tersenyum sabar dan menjura.

"Terima kasih atas petunjuk dari Ang I Niocu dan puteramu!"

Hwesio ini lalu melompat dan turun gunung dengan tindakan kaki cepat sekali. Setelah hwesio itu tidak nampak bayangannya lagi, Lie Siong lalu berkata kepada ibunya.

"Ibu, Liong-cu-kiam itu hebat sekali. Kalau pedangku Sin-liong-kiam bertemu dengan pedang Liong-cu-kiam, bukankah senjataku akan terbabat putus pula?"

"Siong-ji, apa kaukira ibumu akan mencarikan pedang sembarangan saja untukmu tanpa diuji terlebih dulu? Cabutlah pedangmu itu!"

Lie Siong meloloskan Sin-liong-kiam sedangkan Ang I Niocu juga mencabut Liong-cu-kiam.

"Nah, mari kita berlatih, sekalian untuk membuktikan apakah pedangmu akan rusak kalau akan bertemu dengan pedangku!"

Anak dan ibu itu lalu bermain pedang, serang menyerang dengan hebatnya, bahkan lebih hebat daripada pertempuran melawan hwesio tadi!

Beginilah Ang I Niocu melatih anaknya!

Dulu, sebelum Lie Siong memiliki kepandaian tinggi, tiap kali berlatih dengan ibunya, pemuda ini tentu mengalami kesakitan dan selalu dirobohkan oleh ibunya!

Pernah ia mengalami ditotok sampai pingsan, dipukul sampai matang biru, bahkan ketika berlatih senjata tajam, pernah pundaknya tergores pedang sampai mengeluarkan darah!

Hal ini disengaja oleh Ang I Niocu untuk memberi ketabahan kepada puteranya.

Kini mereka berlatih dengan pedang-pedang mustika, hal yang baru kali ini mereka lakukan.

Liong-cu-kiam dan Sin-liong-kiam berkali-kali bertemu dan terdengar suara nyaring dibarengi bunga api berpijar, akan tetapi kedua pedang itu ternyata tidak rusak!

Seratus jurus lebih mereka bermain pedang dan yang nampak hanya bayang-bayang putih dan merah yang diselimuti oleh gulungan sinar pedang Liong-cu-kiam yang putih seperti perak dan sinar pedang Sin-liong-kiam yang kekuning-kuningan seperti emas!

"Sudah cukup...!"

Keduanya berhenti dan menyimpan pedang masing-masing, hati Lie Siong merasa puas sekali dan diam-diam Ang I Niocu yang nampak berpeluh pada jidatnya itu makin sayang dan bangga terhadap puteranya.

Kini kepandaian puteranya itu tidak kalah olehnya!

"Siong-ji, sekarang orang-orang sudah tahu akan tempat tinggal kita, bahkan hwesio gundul tadi sudah mengetahui siapa adanya kita!

Kurasa tak perlu lagi kita lebih lama tinggal di tempat ini!"

Lie Siong menatap wajah ibunya. Ia girang sekali, akan tetapi kegirangan ini sama sekali tidak membayang pada wajahnya yang elok.

"Jadi, kita turun gunung?"

Tanyanya penuh harapan.

Betapapun keras hatinya sehingga ia seringkali berbantah dengan ibunya, namun Lie Siong adalah seorang anak yang berbakti dan sama sekali ia tidak mau memaksa pergi kalau ibunya belum memberi persetujuannya.

Akan tetapi ibunya menggeleng kepala.

"Bukan kita, akan tetapi engkau sendiri! Sudah lama kau ingin merantau, bukan? Nah, sekarang kepandaianmu sudah cukup. Kau pergi dan carilah pengalaman di dunia kang-ouw!"

"Akan tetapi, bagaimana dengan kau, Ibu...? Kau akan kesunyian, hidup seorang diri di tempat ini..."

Ibunya mencabut pedang Liong-cu-kiam yang ampuh tadi.

"Aku sudah mempunyai kawan. Liong-cu-kiam ini adalah kawanku yang amat setia, pedang inilah yang memberi kenang-kenangan kepadaku."

Sambil berkata demikian, ia mengusap-usap pedang itu dengan tangannya, penuh kasih sayang.

"Ibu, dari manakah kau memperoleh Liong-cu-kiam itu?"

Ibunya menghela napas panjang dan teringatlah ia akan segala pengalaman dengan Pendekar Bodoh ketika mendapatkan pedang itu (baca Pendekar Bodoh).

"Sesungguhnya, Susiok-couw Bu Pun Su yang memberi pedang ini kepadaku. Masih ada sebatang lagi, yang lebih panjang, dan yang sekarang terjatuh ke dalam tangan Pendekar Bodoh."

"Ah, aku ingin sekali menyaksikan kelihaian orang tua yang menjadi susiok-couwmu itu, Ibu."

"Anak bodoh, jangan sembarangan bicara! Susiok-couw Bu Pun Su adalah seorang yang paling tinggi ilmu kepandaiannya. Tidak ada tokoh di dunia ini yang dapat mengimbanginya, dan sekarang yang mewarisi kepandaiannya hanyalah Pendekar Bodoh seorang sungguhpun ibumu pernah mendapat latihan darinya."

"Hemm, aku pun sejak dulu ingin sekali bertemu dengan Pendekar Bodoh yang seringkali Ibu puji-puji."

"Pergilah dan kau tentu akan bertemu dengan mereka yang pandai itu. Pergi dan berlakulah hati-hati, jangan membikin malu nama ibumu."

Setelah berkata demikian, Ang I Niocu mengajak puteranya kembali ke dalam gua lalu mengumpulkan pakaian puteranya.

Ia mengeluarkan pula beberapa stel pakaian warna kuning dengan leher baju merah.

Memang, semenjak masih kecil, Lie Siong selalu diberi oleh ibunya pakaian warna putih atau kuning sehingga lama kelamaan pemuda itu hanya suka mengenakan pakaian putih atau kuning saja.

"Nah, kaupergilah, Anakku. Kau telah tahu di mana tempat tinggal sahabat-sahabatku, carilah mereka dan jangan kau membikin malu ibumu. Juga kau sudah tahu siapa adanya tokoh-tokoh kang-ouw yang jahat dan yang pernah bermusuhan dengan ibumu. Hati-hatilah terhadap mereka. Kurasa ayahmu tidak berada di Pulau Pek-le-to lagi, karena ayahmu tentu mencari kita. Kasihan ayahmu itu, kaucarilah kepadanya dan mintakan ampun ibumu yang telah meninggalkan dia. Berangkatlah, doaku besertamu selamanya."

"Selamat tinggal, Ibu. Dan... Ibu hendak ke manakah? Bilakah aku dapat bertemu dengan Ibu lagi?"

"Tak perlu kaubingungkan soal ibumu, Nak. Aku boleh jadi berada di sini atau di tempat lain, akan tetapi jangan khawatir, kita pasti akan bertemu kembali kelak."

Berat hati Lie Siong ketika hendak meninggalkan tempat itu. Ia telah melangkah keluar dari gua, akan tetapi tiba-tiba ia kembali lagi dan memeluk ibunya.

"Ibu, berjanjilah bahwa kita pasti akan bertemu lagi."

Ang I Niocu merasa terharu dan ia tersenyum, senyum yang sudah bertahun-tahun meninggalkan bibirnya. Ia mendekap kepala puteranya dan mencium jidat puteranya yang tercinta itu.

"Jangan gelisah, Siong-ji. Apa kaukira aku senang hati berpisah dengan kau untuk selamanya? Percayalah, pasti aku akan bertemu kembali dengan engkau, Anakku."

Maka berangkatlah Lie Siong, membawa sebungkus pakaian yang diikatkan di punggungnya, dan pedangnya, Sin-liong-kiam atas kehendak ibunya, disembunyikan di balik mantelnya yang panjang.

Ketika ia telah keluar dari hutan tempat tinggalnya dan memasuki hutan berikutnya, ia mendengar suara riuh rendah dan ternyata bahwa dari bawah gunung nampak dua puluh orang lebih sedang naik menuju ke hutan itu.

Mereka ini adalah penebang-penebang pohon yang bersenjata lengkap, mengiringkan enam orang yang bukan lain adalah para pengusaha kayu.

Mereka ini merasa penasaran ketika mendengar cerita tiga orang penebang pohon yang bertemu dengan sepasang "siluman"

Itu dan kini setelah mengumpulkan dua puluh lebih orang-orang yang dianggap paling kuat dan gagah di antaranya sebagian besar murid-murid dari Pek I Hosiang, lalu beramai-ramai naik ke atas gunung hendak menyerbu dan menangkap siluman-siluman itu!

Lie Siong tertarik hatinya melihat orang banyak ini, terutama ketika dia melihat mereka itu berhenti dan bersorak seakan-akan menonton sesuatu yang menarik hati.

Ketika Lie Siong tiba di dekat tempat itu, ternyata ia melihat empat orang yang bertubuh kuat sedang mendemonstrasikan tenaga mereka.

Keempat orang ini adalah murid-murid Pek I Hosiang yang paling pandai.

Tadi ketika mereka berjalan naik, mereka tiada hentinya membicarakan sepasang siluman itu dan timbul hati ngeri dan takut diantara sebagian besar para penebang pohon.

Oleh karena itu, untuk membakar semangat para kawan, empat orang yang terkuat itu lalu memperlihatkan tenaga mereka dan memang mereka ini kuat sekali!

Sebatang pohon yang besarnya tak kurang dari tubuh enam orang menjadi satu, telah diikat batangnya dengan seutas tambang yang besar dan amat kuat, kemudian empat orang itu lalu mengerahkan tenaga, menarik tambang itu.

Urat-uratnya menonjol pada dada dan tangan mereka yang telanjang karena untuk demonstrasi ini, mereka sengaja menanggalkan baju agar tidak robek.

Memang sukar dipercaya kehebatan tenaga mereka.

Empat ekor kerbau belum tentu akan dapat menarik pohon itu sehingga tumbang, akan tetapi ketika empat orang ini mengerahkan tenaga, terdengar suara keras sekali dan pohon itu roboh berikut akar-akarnya!

Karena semua orang sedang menonton pertunjukan ini dengan penuh perhatian maka tak seorang pun di antara mereka melihat Lie Siong yang diam-diam berdiri di antara mereka, yang menonton demonstrasi itu.

Berbareng dengan robohnya pohon itu, terdengar sorak-sorai memuji, karena siapakah yang tidak kagum menyaksikan tenaga luar biasa dari empat orang jagoan itu?

Empat orang itu memandang ke sekeliling dengan bangga dan mengangkat dada, akan tetapi tiba-tiba seorang di antara mereka yang berjenggot pendek, melihat Lie Siong.

Ia merasa heran karena tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi keheranannya berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat betapa pemuda yang lemah-lembut ini tidak ikut bersorak memuji.

Memang tak seorang pun di antara mereka mengenal Lie Siong, karena tiga orang penebang pohon yang pernah ia robohkan itu tidak berani ikut bersama rombongan ini.

Si Jenggot Pendek melangkah maju dan menegur.

"Eh, Sobat! Kau ini siapakah dan mengapa kau diam saja? Apakah kau tidak menghargai kepandaian kami? Ketahuilah, hanya mengandalkan tenaga dan kepandaian kami berempatlah maka sepasang siluman Pek-ang-siang-mo itu akan ditumpas!"

Semua orang kini memandang kepada Lie Siong dengan heran karena mereka pun tidak mengenal pemuda ini dan tidak tahu pula kapan pemuda ini datang di situ.

Lie Siong merasa mendongkol sekali melihat kesombongan mereka, terutama sekali mendengar betapa mereka hendak membasmi sepasang iblis yang ia dapat menduga tentu dimaksudkan ibunya dan dia sendiri.

Dengan wajah tenang dan tidak berubah sedikitpun juga, ia berkata acuh tak acuh.

"Apa sih anehnya tenaga kalian berempat? Lebih baik kalian pergi dan jangan masuk ke dalam hutan di atas ini."

"Eh, eh, mengapa kau berkata demikian?"

Tanya Si Jenggot Pendek.

"Karena tenagamu yang hanya dapat merobohkan pohon lapuk itu takkan ada gunanya. Kalau kalian pergunakan untuk menarik lawan biarpun hanya satu kakinya saja kalian tidak akan mampu merobohkannya!"

Bukan main marahnya empat orang jagoan itu dan semua orang juga memandang dengan heran dan marah.

"Orang muda, kautahanlah lidahmu! Kalau kau bicara sembarangan saja, dengan sekali pukul aku akan menghancurkan kepalamu!"

Kata seorang di antara empat jagoan itu yang bertubuh besar pendek.

"Siapa bicara sembarangan? Kalianlah yang bermata buta dan sombong."

"Kaubicara sungguh-sungguh?"

Kata Si Jenggot Pendek sambil tersenyum menghina.

"Kalau begitu, kau berani membiarkan sebelah kakimu kami tarik dengan tambang dan kau merasa pasti bahwa kami takkan dapat merobohkanmu?"

Semua orang tertawa mengejek mendengar ini, dan enam orang pengusaha itu berdiri sekelompok dan berbisik-bisik karena mereka juga merasa sangat heran melihat keberanian pemuda tampan ini.

Akan tetapi Lie Siong masih bersikap tenang dan dingin.

"Mengapa tidak berani? Kalau kau bisa menarik sebelah kakiku dengan tambang dan dapat merobohkan aku, barulah kalian patut naik ke hutan itu."

"Bagus!"

Seru Si Jenggot Pendek.

"Akan tetapi kalau kakimu sampai terbetot putus dari tubuhmu, jangan kaupersalahkan kami, anak muda yang manis!"

Terdengar suara orang tertawa disusul dengan ejekan.

"Kalau kakinya sudah copot, bagaimana ia bisa mengeluarkan kata-kata lagi?"

Kembali terdengar semua orang tertawa geli sungguhpun mereka memandang makin tertarik dan dengan penuh perhatian.

Semua orang menduga-duga siapa gerangan pemuda yang mencari penyakit ini.

Apakah dia berotak miring?

"Boleh, aku berjanji,"

Jawab Lie Siong yang hendak mempermainkan orang-orang sombong itu.

"sebaliknya kalian semua harus berjanji bahwa apabila kalian tak dapat merobohkan sebelah kakiku selama hidup kalian tidak akan mengganggu dan menebang pohon di hutan itu!"

"Jadi!!"

Seru Si Jenggot Pendek, tidak memikirkan lagi keheranan hati yang timbul karena ucapan pemuda ini seakan-akan membela sepasang siluman di hutan itu!

Semua orang lalu mundur dan membuat lingkaran, berdiri mengelilingi pemuda itu.

Para pengusaha berdiri sekelompok sedangkan para penebang kayu berdiri di kelompok tersendiri, tidak berani mendekati para "thauwke" (majikan) itu.

Empat orang kuat itu lalu mempersiapkan tambang besar tadi.

Si Jenggot Pendek memegang ujung tambang dan menghampiri Lie Siong sambil bertanya menyeringai.

"Kau sudah siap?"

Lie Siong menurunkan buntalan pakaiannya dan menaruh di atas tanah bawah pohon, kemudian ia kembali ke tengah lapangan itu, dan berdiri dengan satu kaki, mengangkat kaki kirinya ke depan, dan kedua tangannya ditaruh di belakang.

Sikapnya demikian enak dan seakan-akan tak bertenaga sama sekali sehingga semua orang tertawa mengejek.

Kalau orang yang memiliki kepandaian silat, tentu akan memasang bhesi (kuda-kuda) yang teguh, mengerahkan tenaga pada kaki yang hendak ditarik.

Akan tetapi mengapa pemuda ini berdiri seakan-akan sedang makan angin menikmati sinar bulan purnama?

Sungguh lucu dan menggelikan.

Jangan kata hendak ditarik dengan tambang oleh empat orang yang bertenaga gajah, sedangkan kalau ada angin besar bertiup saja, agaknya pemuda itu akan rubuh.

Tentu saja mereka itu tidak tahu bahwa Lie Siong diam-diam telah mengerahkan ilmu memberatkan tubuh yang disebut Ban-kin-cui (Beratkan Tubuh Selaksa Kati) dan cara berdiri itu adalah bhesi (kuda-kuda) dari Ilmu Silat Sianli-utauw (Ilmu Silat Bidadari), yaitu disebut Berdiri Dengan Kaki Berakar!

"Aku sudah siap!"

Kata Lie Siong dengan suara dingin saja seakan-akan tidak menghadapi urusan penting.

Sambil tertawa haha-hihi, Si Jenggot Pendek lalu membelitkan ujung tambang kepada kaki kanan Lie Siong tepat pada tulang keringnya, di atas pergelangan kaki, agak di bawah betisnya.

Kemudian setelah memeriksa bahwa ikatan tali pada kaki itu cukup kuat takkan terlepas bila ditarik, ia lalu mendekati kawan-kawannya dan sambil tersenyum-senyum ia berkata perlahan.

"Kita menggunakan tenaga tiba-tiba menariknya agar ia jatuh terjengkang!"

Tiga orang tersenyum gembira dan menganggukkan kepalanya.

Mereka lalu berdiri berbaris dan memegang tambang itu.

Semua orang memandang dengan napas tertahan, karena betapapun mereka merasa lucu dan penasaran kepada pemuda yang mereka anggap berotak miring ini, melihat wajah yang elok dan kulit yang halus itu mereka merasa kasihan juga.

Sedikitnya kaki yang tak seberapa besarnya itu pasti akan patah oleh tarikan empat orang kuat ini, pikir mereka.

Bahkan seorang pengusaha yang berpakaian kuning dan yang masih muda berwajah tampan, lalu menghampiri Lie Siong dan berkata.

"Hian-te, mengapakah kau melakukan hal yang bodoh ini? Kaumintalah maaf kepada mereka dan aku yang tanggung bahwa perkara ini akan dibikin habis sampai di sini saja."

Lie Siong paling tidak suka kalau ada orang menaruh hati kasihan kepadanya, maka sambil mengerling tajam ke arah orang itu, ia berkata.

"Jangan ikut campur, dan mundurlah!"

Tentu saja semua orang makin merasa tak senang melihat sikap ini, dan orang baju kuning itu pun mundur dengan muka kemerahan.

"Aku sudah siap, hayo tariklah sekuatmu!"

Kata Lie Siong sekali lagi. Orang berjenggot pendek itu memberi aba-aba.

"Tarik...!!"

Dan keempat orang itu mengerahkan seluruh tenaga membetot tambang itu sehingga urat-urat pada lengan dan dada mereka mengembung.

Semua orang memandang dan terbayanglah sudah di mata mereka betapa pemuda elok ini akan jatuh tunggang-langgang dengan kaki patah.

Akan tetapi...

sungguh aneh, sama sekali tidak terjadi hal seperti itu!

Pemuda elok itu masih berdiri seperti tadi, kaki kiri diangkat ke depan, kedua tangan ditaruh di belakang dan sedikit pun ia tidak berkedip seakan-akan sama sekali tidak merasa akan tarikan dan sama sekali tidak mengerahkan tenaga untuk mempertahankan diri!

"Aduh...!

Sungguh aneh!"

Terdengar suara penonton.

"Tak masuk di akal!"

"Tak mungkin...!"

"Ajaib sekali...!!"

Kalau semua orang yang menonton menjadi terheran-heran, empat orang jagoan itu lebih terkejut lagi.

Tambang itu telah tertarik sehingga menegang, bahkan terdengar bergerit saking kuatnya mereka menarik, akan tetapi mereka merasa seakan-akan sedang menarik sebuah gunung saja!

Untuk sesaat mereka saling pandang, kemudian dengan amat penasaran mereka lalu menarik lagi.

Kini tarikan mereka tidak teratur lagi, suara mereka "ah-ah, uh-uh"

Sambil mengerahkan tenaga sekuatnya, sehingga mereka terhuyung ke sana terdorong ke mari, akan tetapi tetap saja kaki yang dilibat tambang dan ditarik itu sama sekali tidak bergeming sedikit pun!

Kini tak seorang pun penonton dapat mengeluarkan suara, bahkan bernapas pun mereka hampir lupa!

Keempat orang jagoan itu sambil membetot, memandang kepada pemuda itu dengan mulut ternganga saking herannya, akan tetapi mereka tidak berhenti menarik.

Mustahil tidak dapat merobohkannya, pikir mereka dan kembali mereka mengerahkan tenaga seadanya untuk membetot kaki yang hanya kecil saja itu!"

Peluh sebesar kacang telah menitik turun dari jidat mereka, dan napas mereka mulai terengah-engah setelah beberapa lama mereka menarik dengan tenaga sepenuhnya.

Lie Siong merasa bahwa sudah cukup ia memperlihatkan tenaganya, maka ia lalu membentak keras.

"Tidak lekas lepaskan tambang?"

Sambil berkata demikian, tanpa menurunkan kaki kirinya, kaki kanannya melakukan gerakan mengisar dan...

tak dapat ditahan pula, empat orang jagoan itu terdorong ke depan dan karena mereka masih belum melepaskan tambang itu, mereka jatuh saling timpa!

Yang paling sial adalah Si Jenggot Pendek karena ia tertindih oleh dua orang kawannya dan karena jatuhnya dengan hidung di depan, maka ketika ia merangkak bangun kembali, hidungnya yang tadinya mancung telah menjadi pesek dan berdarah!

Kini ramailah orang-orang itu memuji dan menyatakan keheranan mereka.

Bagaimana mungkin terjadi hal yang aneh ini?

Biarpun sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mereka masih belum dapat percaya bahwa seorang pemuda yang lemah-lembut dan berkulit halus itu dapat memiliki tenaga yang demikian besarnya.

Siapakah pemuda lihai ini?

Mereka saling bertanya tanpa berani menanyakan sendiri kepada pemuda itu.

Pada saat itu, nampak dua orang berlari dari bawah lereng dan mereka ini adalah seorang laki-laki tinggi besar bersama seorang hwesio.

Ketika laki-laki tinggi besar itu tiba di situ dan melihat Lie Siong, ia lalu cepat berseru kepada semua orang.

"Dia adalah iblis putih!"

Orang ini adalah seorang di antara penebang pohon yang dulu pernah dirobohkan oleh Lie Siong, dan mendengar seruan ini, semua orang menjadi pucat mukanya, ada yang menggigil dan bahkan ada yang cepat mengangkat kaki lari dari situ!

Akan tetapi, ketika mereka melihat hwesio yang datang bersama penebang tadi, semua orang menjadi tabah kembali dan mengikuti hwesio itu menghampiri Lie Siong.

Hwesio itu bukan lain adalah Pek I Hosiang sendiri.

Melihat bahwa yang menimbulkan keributan itu adalah Lie Siong, Pek I Hosiang lalu merangkapkan kedua tangan di depan dada sambil memberi hormat.

"Omitohud, tidak tahunya Siauw-enghiong (Orang Muda Gagah) yang datang di sini! Maafkan murid-murid pinceng yang bodoh dan tidak tahu aturan, Siauw-eng-hiong. Sesungguhnya ketika pinceng mendengar bahwa mereka ini hendak menyerbu ke dalam hutan segera pinceng menyusul ke sini untuk mencegah mereka."

Melihat Lie Siong hanya berdiri tanpa menjawab, hwesio itu lalu memandang kepada semua orang dan berkata.

"Cuwi sekalian, harap mendengarkan kata-kata pinceng. Mulai sekarang janganlah ada seorang pun berani mengganggu hutan di atas itu! Ketahuilah bahwa di situ tinggal dua orang pendekar sakti yang mengasingkan diri! Pegunungan ini mempunyai banyak sekali hutan-hutan besar, mengapa harus mengganggu hutan kecil? Kalau kalian sayang diri jangan sekali-kali berani memasuki hutan itu. Ang I Niocu dan puteranya bukanlah siluman, akan tetapi pendekar-pendekar besar yang berkepandaian tinggi dan tidak mau diganggu!"

Semua orang terkejut mendengar ini, karena tak pernah mereka sangka bahwa hwesio ini pun telah kenal kepada kedua orang yang tadinya dianggap siluman itu terutama sekali para murid yang pernah mendengar nama Ang I Niocu yang tersohor!

Mereka cepat memandang kepada pemuda yang diperkenalkan sebagai putera Ang I Nicou itu, akan tetapi alangkah heran dan kagetnya semua orang ketika melihat bahwa di situ tidak nampak lagi bayangan pemuda tadi!

Pemuda tadi telah lenyap bersama buntalan pakaiannya tanpa diketahui oleh seorang pun kecuali Pek I Hosiang.

Hwesio ini berkata.

"Dia sudah pergi!"

Ia menghela napas.

"Masih baik bahwa pemuda itu sendiri yang datang di sini, tidak bersama ibunya. Kalau kalian berani mengganggu ibunya tak dapat kubayangkan kengerian yang menjadi akibatnya!"

Semenjak saat itu, semua orang memandang hutan itu sebagai tempat keramat dan tak seorang pun berani naik ke situ.

Nama Ang I Niocu makin terkenal, dan juga puteranya menjadi buah bibir semua orang yang tinggal di sekitar Pegunungan Ho-lan-san.

*** Pada suatu hari, ketika Lie Siong tiba di sebuah jalan yang sunyi, ia melihat dua orang laki-laki sedang bertengkar.

Tadinya ia tidak hendak mempedulikan dua orang yang bercekcok itu, akan tetapi karena ia mendengar suara yang seorang amat aneh dan kaku seperti orang asing, ia tertarik juga dan segera menghampiri mereka sambil bersembunyi di balik pohon besar.

Laki-laki yang bicaranya kaku itu adalah seorang setengah tua yang berkumis dan berjenggot panjang, nampaknya gagah sekali, dan matanya bersinar tajam.

Orang yang bercekcok dengan dia adalah seorang muda yang bertubuh tinggi besar dan bermuka kasar dengan mulut selalu menyeringai sombong.

"Gui-kongcu (Tuan Muda Gui), sudah berkali-kali aku menegur dan menasihatimu agar kau jangan menggoda anakku, akan tetapi agaknya kau sengaja bahkan menghina puteriku. Aku biasanya amat sabar, akan tetapi jangan kira bahwa kesabaranku ini tanda bahwa aku takut kepadamu!"

Laki-laki muda itu tertawa bergelak dengan sikap menghina sekali.

"Paman Manako, kau orang tua mengapa tidak memaklumi hati orang-orang muda? Aku mencinta Lilani, mengapa aku menghina? Aku pernah melamar anakmu itu, mengapa pula kau berani menampik pinanganku? Ingatlah, Paman Manako, kau datang sebagai seorang perantau, dan kalau tidak ada aku dan ayahku, tak mungkin kau dapat tinggal di daerah ini!"

"Kurang ajar!"

Bentak laki-laki yang bernama Manako itu.

"Gui-kongcu, kau telah mengucapkan kata-kata menghina terhadap seorang laki-laki Haimi. Kalau aku tidak ingat bahwa kau masih kanak-kanak dan tidak ingat bahwa ayahmu telah menolongku, untuk ucapanmu itu saja aku sanggup membunuhmu! Memilih mantu tak dapat dipaksa. Anakku Lilani tidak suka kepadamu, bagaimana aku harus menerima pinanganmu? Sungguh amat tidak tahu malu bagi seorang pemuda yang sudah ditolak pinangannya, masih saja mendesak dengan cara yang kurang ajar sekali!"

"Manako!"

Pemuda itu membentak marah, kini tidak mcnggunakan lagi sebutan paman.

"Lupakah kau sedang bicara dengan siapa?"

Pemuda ini lalu mencabut pedangnya dengan sikap mengancam. Orang tua berjenggot itu tersenyum dan dengan tenang ia pun mencabut pedangnya pula.

"Tentu saja aku tidak lupa. Aku berhadapan dan bicara dengan Gui-kongcu, putera dari Kepala Daerah Ki-ciang. Akan tetapi agaknya kau lupa bahwa aku Manako bukan seorang penjilat. Tidak peduli siapa saja kalau berani menghinaku, akan kulawan!"

"Orang Haimi yang sombong, rasakan tajamnya pedangku!"

Teriak pemuda tinggi besar itu dan segera ia menyerang dengan sebuah tusukan hebat.

Gerak tipunya ini adalah yang disebut Han-ya-pok-cui (Burung Gagak Menyambar Kelinci), sebuah tipu gerakan dari Ilmu Pedang Tat-mo-kiam-hwat yaitu ilmu pedang ciptaan pendekar besar Tat Mo Couwsu.

Akan tetapi, dengan tenang orang Haimi itu menangkis dengan pedangnya sehingga Pemuda she Gui itu terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lawannya amat besar, membuat pedangnya terpental ke belakang!

Ia berseru keras dan segera menyerang lagi dengah gerak tipu Hui-eng-bok-thou (Elang Terbang Menyambar Kelinci), kedua kakinya melompat ke atas dan pedangnya menyambar.

Akan tetapi, Manako, orang Haimi itu dengan gesitnya lalu mengubah kedudukan kakinya, melangkah dengan kaki kanan ke belakang, lalu memutar tubuhnya dengan gerak tipu Monyet Sakti Memasuki Gua.

Dengan gerakan ini ia dapat menghindarkan diri dari serangan lawan kemudian ia balas menyerang dengan tak kurang hebatnya.

Sebentar saja ternyata bahwa ilmu pedang orang Haimi ini jauh lebih unggul daripada ilmu pedang lawannya dan cepat ia mendesak dan mengurung pemuda itu dengan pedangnya yang menyambar-nyambar!

Lie Siong yang mengintai dari balik pohon maklum bahwa orang tua itu tidak berniat buruk, karena kalau ia mau, dengan mudah saja ia pasti akan dapat merobohkan pemuda itu.

Akan tetapi pemuda itu ternyata tak tahu diri dan ia tidak tahu bahwa orang tua itu telah berlaku murah hati dan mengalah.

Kalau ia tahu diri, tentu ia takkan melawan terus.

Sebaliknya, ia malah memaki-maki dan menyerang dengan membuta tuli.

"Kau benar-benar tak tahu diri!"

Teriak Manako dan sebuah serangan dengan pedang diputar dibarengi gerakan menggetarkan pedang, membuat pedang pemuda itu terkurung dan tertempel, kemudian sekali orang tua itu membentak.

"Lepas senjata!"

Sambil membetot, pedang pemuda itu terlempar dan terlepas dari pegangan!

Pada saat itu, tujuh orang yang berpakaian seperti perwira kerajaan lari mendatangi dan mereka segera mencabut senjata golok dan pedang.

"Orang Haimi yang sudah bosan hidup!"

Teriak seorang di antara para perwira itu.

"Kau berlaku kurang ajar terhadap Gui-kongcu?"

"Bukan aku yang mulai lebih dulu!"

Jawab Manako dengan berani, akan tetapi tujuh orang perwira itu segera mengurung dan menyerangnya.

Manako melawan sekuatnya, akan tetapi tujuh orang perwira itu kepandaiannya rata-rata lebih tinggi daripada kepandaian pemuda she Gui tadi sehingga sebentar saja Manako terdesak hebat dan menjadi sibuk sekali.

Pada saat orang tua itu berada dalam keadaan yang amat berbahaya, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dari balik pohon.

Lie Siong yang menyaksikan keroyokan yang berat sebelah itu tidak mau tinggal diam dan dia telah melompat keluar, langsung mengamuk dan mainkan Ilmu Silat Kong-ciak-sinna.

Tubuhnya bergerak cepat bagaikan halilintar menyambar dan di mana saja tubuhnya berkelebat, seorang perwira lalu menjerit, pedang atau goloknya terampas dan tubuhnya menerima pukulan atau tendangan yang cukup membuatnya mencium tanah tanpa dapat bangun kembali!

Pemuda she Gui yang melihat kehebatan lawan baru ini, dengan cerdik lalu diam-diam melarikan diri dari situ.

Tujuh orang perwira itu dalam waktu pendek saja telah dirobohkan oleh Lie Siong yang tidak menggunakan senjata sehingga orang tua Haimi itu telah memandang dengan bengong.

Manako cepat menghampiri Lie Siong, memberi hormat dan berkata kagum.

"Kau hebat sekali, anak muda. Kehebatanmu mengingatkan aku akan Sie Tai-hiap!"

"Siapakah Sie Tai-hiap itu?"

Tanya Lie Siong.

"Sie Tai-hiap adalah Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh! Seperti kau inilah sepak terjangnya menghadapi orang-orang jahat."

Lie Siong tadi membantu Manako tanpa mengandung maksud sesuatu, hanya terdorong oleh hatinya yang tak senang melihat keroyokan yang tidak adil.

Kini mendengar betapa orang tua itu memuji-muji nama Pendekar Bodoh, ia menjadi sebal sekali.

Telah seringkali ibunya memuji-muji Pendekar Bodoh sehingga nama Pendekar Bodoh ini seakan-akan merupakan lidi yang ditusuk-tusukkan ke dalam telinganya, sekarang mendengar lagi orang memujinya, membuat ia tidak puas.

"Sudahlah, aku tidak kenal segala Pendekar Bodoh. Kaupergilah sebelum orang-orang ini sempat mengeroyokmu lagi!"

Manako memandang heran kepada pemuda yang bersikap dingin ini, akan tetapi ia lalu teringat bahwa ia telah melawan perwira-perwira bahkan bertempur dengan putera Kepala Daerah, maka dengan cepat ia lalu memberi hormat lagi dan berlari pergi dari situ.

Akan tetapi, baru saja ia membelok di sebuah tikungan jalan, tiba-tiba ia telah dicegat oleh belasan orang perwira yang mengantar pemuda she Gui tadi!

Ternyata bahwa Gui-kongcu setelah lari cepat lalu memanggil lebih banyak perwira untuk mengeroyok pemuda yang lihai dan Manako.

"Penggal leher orang Haimi jahat ini!"

Gui-kongcu berseru marah dan sebentar saja Manako telah dikeroyok oleh belasan orang perwira itu.

Perwira-perwira yang datang ini tingkatnya lebih tinggi dari pada tujuh orang perwira yang tadi, bahkan di antara mereka terdapat seorang panglima tamu dari kota raja yang amat terkenal kegagahannya.

Panglima muda ini bernama Kam Liong dan orang ini bukan lain adalah keturunan dari Panglima Besar Kam Hong Sin yang amat tersohor karena kegagahannya (baca Pendekar Bodoh).

Sudah tentu saja Manako bukan tandingan para perwira ini.

Panglima muda yang berkepandaian tinggi itu sama sekali tidak mau turun tangan karena ia merasa rendah untuk mengeroyok seorang Haimi!

Akan tetapi, perwira-perwira yang lain sudah cukup kuat untuk merobohkan Manako sehingga sebentar saja orang Haimi ini roboh dengan beberapa luka parah pada tubuhnya.

Lie Siong yang hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba mendengar bentakan-bentakan para perwira yang mengeroyok Manako, karena pertempuran itu terjadi di belakang tikungan dan tidak kelihatan dari tempatnya, maka ia cepat berlari menghampiri tempat itu.

Alangkah marah dan terkejutnya ketika ia melihat betepa Manako telah roboh mandi darah, dikeroyok oleh belasan orang perwira.

"Pengecut hina dina!"

Seru Lie Siong sambil mencabut keluar Sin-liong-kiam dari balik jubahnya.

Sekali tubuhnya berkelebat, ia merupakan bayangan putih yang cepat gerakannya bagaikan seekor burung garuda.

Seperti juga tadi ketika menghadapi tujuh orang perwira, kini begitu ia menggerakkan pedangnya, golok dan pedang perwira beterbangan dan teriakan-teriakan terdengar susul-menyusul dibarengi jatuhnya tubuh mereka bertumpang tindih.

Bukan main kagetnya Panglima Muda Kam Liong ketika menyaksikan kelihaian pemuda baju putih ini.

Terpaksa ia harus bertindak, kalau tidak, mungkin belasan orang perwira itu akan roboh semua!

Ia mencabut keluar pedangnya yang mengeluarkan cahaya berkilauan, dan sekali mengenjot tubuhnya, ia telah melayang dan menyambut pedang Lie Siong yang mengeluarkan sinar kuning keemasan.

"Trang...!"

Sepasang pedang itu bertemu, menimbulkan bunga api berpancaran.

"Tahan dulu!"

Seru Kam Liong dan Lie Siong yang merasa tercengang menyaksikan ada pedang yang dapat menyambut Sin-liong-kiamnya, segera menahan senjata dan memandang dengan sinar mata tajam.

Dua orang muda yang sama tampan sama gagah ini saling pandang dengan penuh perhatian.

Lie Siong melihat seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang panglima, pakaiannya gagah dan mentereng sekali, wajahnya membayangkan kegagahan.

Sedangkan Kam Liong tercengang ketika melihat bahwa orang yang lihai sekali kepandaiannya itu ternyata hanya seorang pemuda berkulit muka halus dan bersikap lemah lembut!

"Saudara yang gagah, kau siapakah dan mengapa kau membela seorang pemberontak bangsa Haimi?"

"Aku tidak tahu apa yang kaumaksudkan dengan pemberontak, dan juga aku tidak peduli apa yang menjadi persoalannya, akan tetapi yang sudah jelas bahwa orang tua ini kalian keroyok secara tidak tahu malu sekali. Pengecut-pengecut macam kalian ini tak dapat kuberi ampun!"

Marahlah Kam Liong mendengar ucapan ini yang dianggapnya amat sombong dan kurangajar.

"Orang sombong!"

Teriaknya sambil menggerakkan pedang di tangan.

"Kau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Tidak tahukah bahwa kau berhadapan dengan Panglima Muda she Kam dari kota raja?"

Mendengar disebutnya she Kam ini, Lie Siong memandang dengan penuh perhatian. Ibunya pernah menuturkan kepadanya tentang panglima kosen bernama Kam Hong Sin.

"Ada hubungan apakah kau dengan Panglima Kam Hong Sin?"

Tanyanya tiba-tiba.

"Dia adalah ayahku, bagaimana kau dapat mengetahui namanya? Siapakah kau sebetulnya dan siapa pula guru atau orang tuamu!"

Akan tetapi Lie Siong tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan melangkah maju dan berkata.

"Bagus! Kalau begitu biarlah kita menguji kepandalan masing-masing dan tak perlu banyak mengobrol lagi!"

Ia lalu memutar pedangnya yang aneh bentuknya itu.

Kam Liong yang maklum akan kelihalan lawan, tidak berlaku lambat dan cepat sekali ia menangkis dan membalas dengan serangannya yang tak kalah hebatnya.

Kam Liong adalah putera tunggal dari Panglima Kam Hong Sin yang tinggi ilmu silatnya.

Pemuda ini mengikuti jejak ayahnya dan kini telah menduduki pangkat yang tinggi dalam ketentaraan di kota raja, telah mewarisi hampir seluruh kepandaian ayahnya.

Ia amat lihai, terutama dalam ilmu pedang yang berasal dari ilmu pedang Partai Kun-lun-pai.

Gerakan pedangnya cukup cepat dan kuat, ditambah pula dengan pedangnya yang bukan sembarangan, melainkan sebuah pedang mustika hadiah dari kaisar, tentu saja ia jarang menemukan tandingan dalam ilmu pedang.

Akan tetapi, setelah ia bertempur menghadapi Lie Siong, ia menjadi terkejut sekali oleh karena ilmu silat pemuda elok ini benar-benar hebat dan lihai sekali.

Pedang yang berbentuk naga itu selain amat keras sehingga tidak menjadi rusak oleh pedang mustikanya, juga amat berbahaya.

Pedang itu kalau menyabet tidak akan melukai kulit, akan tetapi akan meremukkan tulan dan otot, sedangkan tanduk pedang naga itu dapat digunakan untuk menusuk bagian tubuh yang berbahaya.

Yang lebih istimewa lagi adalah lidah pedang naga yang panjang itu, karena lidah ini dapat berputar-putar melakukan sambaran-sambaran tersendiri dan menotok jalan darah.

Bahkan beberapa kali lidah merah ini mencoba untuk melibat pedang di tangannya untuk dirampasnya!

Kam Liong teringat akan nama-nama pendekar besar yang pernah ia dengan dari ayahnya.

Menurut ayahnya, ilmu pedangnya atau ilmu silatnya harus dipergunakan dengan amat hati-hati apabila menghadapi mereka atau murid dan keturunan mereka.

"Apakah kau putera Sie-taihiap Si Pendekar Bodoh?"

Ia bertanya sambil menangkis sebuah tusukan ke arah lehernya.

"Aku tidak kenal Pendekar Bodohl"

Jawab Lie Siong dengan hati mangkel karena lagi-lagi ia mendengar nama pendekar ini disebut-sebut orang!

Ia lalu menyerang lebih hebat lagi dan mainkan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan-kiamsut, pedangnya berputar demikian hebatnya seakan-akan berubah menjadi lima putaran sehingga nampak bagaikan lima bunga teratai, sesuai dengan namanya, yaitu Ngo-lian-hoan-kiamsut (Ilmu Pedang Lima Bunga Teratai).

Kam Liong terkejut melihat ilmu pedang ini dan terpaksa ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri, dan untuk sementara ia mencurahkan perhatiannya terhadap pertahanannya sehingga tak sempat bertanya lagi.

Akan tetapi, setelah ia terdesak, ia lalu menggunakan gerak tipu Pek-hong-koan-jit (Bianglala Putih Menutup Matahari).

Pedang mustikanya berputar cepat sekali sehingga merupakan payung penutup tubuhhya yang amat rapat dan kuat.

"Kalau begitu, tentulah putera Kwee An Locianpwe!"

Kata Kam Liong lagi, menduga-duga. Karena kalau bukan putera Pendekar Bodoh, hanya putera atau murid Kwee An Locianpwe saja yang memiliki kepandalan sedemikian hebatnya, demikian ia berpikir.

"Jangan mengobrol! Aku tidak kenal orang she Kwee itu!"

Jawab Lie Siong dengan marah dan ia pun merasa penasaran sekali karena telah bertempur lima puluh jurus lebih, belum juga dapat mengalahkan panglima muda yang lihai ini.

Ia lalu berseru keras dan dengan pedang di tangan kanan mainkan Ilmu Pedang Sin-liong-kiamsut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu pedang yang diciptakan oleh ibunya sendiri untuk menyesuaikan pedang yang dipergunakannya, ia lalu menggunakan tangan kirinya untuk menyerang dengan Ilmu Pukulan Pek-in-hoatsut yang membuat tangan kirinya mengeluarkan uap putih!

Pek-in-hoatsut sudah terkenal sekali kelihaiannya, dan kepandaian ini adalah warisan dari Guru Besar Bu Pun Su, tidak saja pukulannya yang amat lihai, bahkan uap putih itu saja kalau menyambar lawan dapat mematahkan tenaga lwee-kang dan dapat mendatangkan luka di dalam tubuh.

Akan tetapi ilmu pedang itu pun luar biasa hebatnya.

Ketika Ang I Niocu menciptakan ilmu pedang ini untuk puteranya, ilmu pedang ini disesuaikan dengan bentuk Pedang Naga Sakti itu, sehingga di dalam gerakannya ini terdapat totokan-totokan jalan darah, dan juga lidah pedang naga yang panjang itu dipergunakan dengan ilmu melempar tali kepandalan tunggal dari Lie Kong Sian!

Bukan main terkejutnya hati Kam Liong ketika menyaksikan serangan lawannya yang hebat ini, ia terkejut dan cepat mengelak dari serangan pukulan Pek-in-hoatsut, akan tetapi lidah pedang naga itu telah berhasil membelit pedangnya dan sekali Lie Siong mengerahkan tenaga, pedang itu telah terbetot terlepas dari pegangan Kam Liong!

Kam Liong kaget sekali dan berteriak keras sambil melempar tubuhnya ke belakang lalu membuat gerakan melompat berjungkir balik beberapa kali ke belakang.

Inilah gerakan Naga Sakti Menembus Awan yang amat indah sehingga diam-diam Lie Siong kagum juga melihat gerakan lawannya.

"Pergi...! Pergi kalian dari sini!"

Bentaknya sambil menggerakkan tangan kanan sehingga pedang Kam Liong yang terampas tadi tahu-tahu terlepas dan meluncur ke arah dada pemiliknya!

Kam Liong tidak keburu menyambut dan terpaksa cepat menjatuhkan tubuhnya sehingga pedangnya itu meluncur terus dan menancap pada dada seorang perwira yang berdiri di belakangnya!

Perwira itu menjerit dan tewas dengan dada tertembus pedang!

"Kau...

kau tentu putera Ang I Niocu!"

Seru Kam Liong dalam dugaannya sambil mencabut pedangnya dan memandang kagum. Mendengar ini, Lie Siong terkejut sekali dan juga marah.

"Apakah kau ingin mampus?"

Bentaknya sambil menggerakkan tubuh menerjang, akan tetapi Kam Liong yang sudah tahu akan kelihaian pemuda elok ini tidak berani melawan dan melarikan diri!

Lie Siong hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar keluhan orang Haimi yang menggeletak mandi darah itu, maka ia menunda niatnya hendak mengejar dan menghampiri orang tua yang terluka tadi.

Ketika ia berlutut, ternyata orang tua itu keadaannya payah sekali.

Tubuhnya penuh luka dan darah telah keluar banyak sehingga napasnya tinggal satu-satu.

"Orang muda..."

Katanya terengah-engah.

"kau gagah sekali... tak ubahnya Pendekar Bodoh sendiri... kau tentu berbudi... seperti Pendekar Bodoh pula... kautolonglah puteriku... Lilani... ia tentu mendapat susah dari putera kepala daerah she Gui itu! Lekas, tolonglah... ia yatim piatu... tolong anakku...!"

Melihat keadaan orang tua itu sudah tak ada harapan lagi, Lie Siong lalu bertanya.

"Di mana dia...? Di mana anakmu itu?"

"Di... di rumahku, di ujung barat kota Tatung, tak jauh dari sini... kau cepat tolonglah dia... hanya kaulah orang satu-satunya yang menjadi harapanku..."

Tiba-tiba orang tua itu menarik napas panjang dan ternyata napas itu adalah tarikan yang terakhir!

Lie Siong cepat bangun berdiri dan membentak kepada perwira yang terluka dan yang ditinggalkan oleh kawan-kawannya.

"Kau harus rawat jenazahnya baik-baik, kalau tidak, awas! Lain kali aku datang mengambil kepalamu!"

Perwira itu mengangguk-angguk dengan muka pucat.

"Baik, baik... Hohan!"

Lie Siong lalu melompat pergi dan berlari cepat sekali menuju ke kota Tatung yang berada di sebelah selatan hutan itu.

Setibanya di kota itu, Lie Siong lalu menuju ke ujung barat dan dengan mudah saja ia mencari keterangan tentang rumah tempat tinggal seorang bangsa Haimi bernama Manako.

Ketika ia menanyakan kepada seorang tetangga orang Haimi itu karena rumah yang dicarinya ternyata tertutup, tetangga itu memandangnya dengan ragu-ragu dan muka takut.

"Kongcu, kau mencari Manako, apakah kau masih keluarganya?"

"Bukan, aku hanya sahabatnya. Aku mau bertemu dengan Nona Lilani, puterinya."

Muka orang yang nampak ketakutan itu menjadi makin pucat. Ia memberi isarat dengan jari tangannya ditaruh ke depan mulut lalu berkata perlahan.

"Sst, Kongcu, jangan kau bicara terlalu keras tentang gadis itu. Lebih baik lekas kau pergilah dari sini dan jangan katakan kepada siapapun juga bahwa kau telah kenal dengan Nona itu...! Aku kasihan kepadamu karena kau adalah orang Han bukan bangsa Haimi."

Lie Siong memandang tajam dan sekali ia menggerakkan tangannya, ia telah memegang tengkuk orang itu dengan keras sehingga orang yang dipegangnya menjadi terkejut dan ketakutan.

Tangan yang mencekik tengkuknya seakan-akan sepasang jepitan baja yang kuat sekali.

"Hayo, lekas katakan, apa yang telah terjadi dengan Lilani, dan di mana ia berada!"

"Am... ampun, Hohan...! Gadis itu baru tadi telah dibawa pergi oleh sepasukan perajurit, ditangkap oleh Gui-siauw-ya!"

"Kaumaksudkan Gui-siauwya putera Kepala Daerah?"

"Benar, Hohan."

"Di mana rumah Kepala Daerah itu?"

Orang itu cepat-cepat menunjuk ke arah timur dan berkata.

"Di tengah kota ini, bangunan yang tertinggi dan terbesar."

Lie Siong melepaskan pegangannya dan sekali ia berkelebat, lenyaplah tubuhnya dari depan orang yang menjadi bengong dan bergemetaran seluruh tubuhnya itu.

Mudah saja untuk mencari gedung besar Kepala Daerah she Gui di kota itu, karena gedungnya besar dan tinggi, berada di tengah-tengah kota.

Tanpa banyak peraturan lagi, Lie Siong lalu memasuki pintu gerbang dan ketika empat orang penjaga pintu menegur dan menghampirinya, dengan beberapa kali menggerakkan kaki tangannya, empat orang penjaga itu terlempar ke kanan kiri.

Ia terus masuk ke dalam didahului oleh seorang penjaga yang bergegas lari memberi laporan tentang datangnya seorang pengamuk muda yang lihai.

Dengan diiringkan oleh serombongan penjaga, Gui-taijin sendiri keluar dari ruang dalam, bersama Kam Liong, panglima muda yang menjadi tamunya.

Begitu melihat pembesar ini, Lie Siong melompat dan menangkap lengannya.

"Hayo lepaskan Lilani, kalau tidak kepalamu akan kuhancurkan!"

Katanya dengan bengis. Pembesar Gui yang sudah setengah tua itu memandang heran dan gelisah, lalu bentaknya marah.

"Siapakah kau dan apa maksudmu?"

Juga Kam Siong lalu maju dan menjura ke arah Lie Siong.

"Taihiap, harap kau bersabar dulu, ada urusan dapat diurus dan ada persoalan dapat dirundingkan. Sesungguhnya kami tidak mengerti akan maksud kedatanganmu ini, dan siapakah adanya Lilani?"

Lie Siong mengerling tajam dan dengan heran ia melihat bahwa wajah panglima muda itu tidak membayangkan kebohongan. Akan tetapi ia lalu berkata dengan penuh sindiran.

"Bagus! Kalian telah membunuh orang Haimi itu dan merampas puterinya, sekarang masih berpura-pura tidak tahu?"

"Siapa yang membunuh orang dan siapa yang merampas puterinya?"

Gui Taijin berseru marah.

"Jangan menuduh sembarangan saja!"

Kam Liong yang berdiri di samping dengan muka merah lalu berkata kepadanya.

"Sesungguhnya memang ada pembunuhan atas diri orang Haimi itu. Akan tetapi menurut keterangan puteramu orang Halmi itu adalah seorang pemberontak, oleh karena itulah maka ketika aku dimintai bantuan, aku lalu membantu puteramu. Akan tetapi tentang perampasan gadis itu, aku sama sekali tidak tahu!"

Sesungguhnya, Gui Taijin ini tidak tahu sama sekali tentang urusan puteranya, dan segala peristiwa yang terjadi tadi adalah di luar kehendak dan pengetahuannya.

Puteranya bertindak seorang diri untuk melampiaskan nafsu jahatnya dan mempergunakan kedudukannya sebagai putera Kepala Daerah.

"Apakah artinya semua ini?"

Gui Taijin membentak marah kepada para penjaga yang berdiri dengan ketakutan.

"Di mana adanya Gui Kongcu? Benarkah ia telah merampas anak gadis orang?"

Seorang penjaga dengan ketakutan lalu memberi hormat dan melapor.

"Kongcu telah membawa gadis itu ke rumah peristirahatan Taijin di dekat sungai."

"Keparat...!"

Seru Gui Taijin, akan tetapi pada saat itu, Lie Siong sudah melompat maju dan dengan mudah ia telah menangkap penjaga yang bicara tadi, mengempitnya dan membawanya lompat keluar dari situ.

"Kau harus tunjukkan kepadaku di mana adanya tempat itu!"

Katanya.

Biarpun ia sedang marah kepada puteranya, kini melihat betapa pemuda yang lihai itu hendak mengejar ke sana, Gui Taijin merasa berkhawatir juga.

Ia lalu mengerahkan perajurit-perajuritnya dan dengan cepat melakukan pengejaran pula, didampingi oleh Kam Liong yang diam-diam merasa benci kepada putera Kepala Daerah itu.

Perajurit yang dikempit dan dibawi lari oleh Lie Siong itu merasa seakan-akan dibawa terbang oleh seekor burung besar dan dengan muka pucat ia lalu menunjukkan jalan yang menuju ke sebuah dusun di pinggir Sungai Yung-ting.

Di tempat ini, Kepala Daerah Gui memang mempunyai sebuah gedung indah di mana ia dan keluarganya menghibur diri di musim panas.

Setelah tiba di tempat yang dicari Lie Siong lalu melempar tubuh penjaga itu kesamping jalan di mana penjaga itu rebah dengan tubuh menggigil tak berani bangun, kemudian pemuda perkasa itu lalu cepat melompat ke atas tembok tinggi yang mengelilingi gedung itu.

Beberapa orang penjaga melihatnya dan berteriak-teriak sambil mengejar, akan tetapi Lie Siong tidak mempedulikannya dan terus saja melompat masuk dan menyerbu ke dalam.

Ia bertemu dengan beberapa orang penjaga yang berlari keluar mendengar teriakan kawan-kawannya, akan tetapi bagaikan orang membabat rumput saja, Lie Siong merobohkan mereka dengan pukulan dan tendangan kakinya.

Ketika ia telah merobohkan para penjaga, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan wanita, maka cepat ia mengejar ke dalam dari mana jeritan itu terdengar, ternyata bahwa jeritan itu terdengar dari ruangan belakang, di mana bangunan didirikan di atas air.

Memang gedung yang indah ini bagian belakangnya berada di atas air Sungai Yung-ting, sehingga kalau orang duduk di belakang, ia akan menikmati pemandangan yang indah sekali.

Lie Siong terus berlari ke belakang, dua orang penjaga yang menghadang di jalan kembali dirobohkannya dengan sekali pukul.

Sekali lagi ia mendengar jeritan wanita dan kali ini terdengar keras sekali dari balik sebuah pintu.

Dengan marah Lie Siong menendang daun pintu itu dan alangkah marahnya ketika ia melihat seorang pemuda yaitu pemuda yang dengan orang Haimi itu, sedang menarik-narik tangan seorang gadis muda yang meronta-ronta, menjerit-jerit, dan memaki-maki!

Muka laki-laki jahanam yang tadinya menyeringai seakan-akan merasa gembira melihat perlawanan gadis itu, tiba-tiba menjadi pucat bagaikan mayat ketika ia mendengar pintu kamar itu mengeluarkan bunyi keras dan melihat daun pintu itu roboh.

Lebih kagetlah dia ketika melihat munculnya Lie Siong, pemuda gagah perkasa yang telah menghajar para perwira pembantunya siang tadi dengan hebatnya.

Betapapun juga, melihat Lie Siong bertindak menghampirinya dengan mata bersinar marah, Gui Kongcu masih ingat akan pedangnya yang diletakkan di atas pembaringan.

Ia menyambar pedangnya dan menyambut kedatangan Lie Siong dengan sebuah bacokan hebat.

Akan tetapi tanpa berkejap sedikit pun, Lie Siong lalu mengangkat tangannya dan dengan gerak tipu Tangan Kapak Membacok Cabang ia lalu menangkis sambaran pedang itu dengan babatan tangannya dari samping ke arah pinggir pedang.

"Krak!"

Pedang itu menjadi patah ketika terkena sambaran tangan Lie Siong yang dimiringkan.

Pukulan ini hebat sekali dan tak sembarangan ahli silat berani mempergunakan untuk menangkis pedang.

Biar bagaimanapun juga tangan tebuat daripada kulit dan daging pembungkus tulang, tentu saja tak mungkin dipergunakan untuk diadu dengan tajamnya pedang.

Akan tetapi gerakan Tangan Kapak Membacok Cabang ini mengandalkan kecepatan dan ketangkasan, disertai tenaga lwee-kang yang amat kuat.

Digunakannya bukan untuk menyambut datangnya pedang yang tajam, melainkan digerakkan dari pinggir dengan memukul pedang itu dari samping pada mukanya dengan mempergunakan tangan yang dimiringkan.

Tentu saja kalau gerakan ini kurang cepat atau kurang tepat, banyak bahayanya tangan akan bertemu dengan mata pedang dan akan terluka!

"Bangsat hina-dina!"

Lie Siong membentak marah dan sekali ia majukan tangan kiri, ia telah mencekik batang leher pemuda cabul itu.

"Pergilah!"

Serunya dan tubuh Gui Kongcu yang dilempar itu melayang laju keluar dari jendela kamar dan langsung meluncur ke dalam sungai yang amat dalam itu, kemudiar terdengar suara "byur!"

Tanda bahwa air telah menyambutnya dan setelah itu sunyi. Gadis itu memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar. Gadis itu memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar.

"Siapakah kau...?"

Dengan jujur gadis ini tidak menyembunyikan kekaguman yang keluar dari suara dan pandangan matanya.

Lie Song balas memandang.

Ia melihat seorang gadis yang berusia paling banyak enam belas tahun, berwajah cantik jelita, kecantikan yang aneh dan berbeda dengan kecantikan wanita biasa.

Mungkin karena matanya yang lebar sekali itu atau rambut dan manik matanya yang hitam, atau mungkin suaranya yang bernada lain daripada suara gadis biasa.

"Apakah kau yang bernama Lilani?"

Tanya Lie Siong yang lebih heran daripada tertarik melihat kecantikan ini. Gadis ini mengangguk.

"Dan kau siapakah?"

"Aku datang menolongmu untuk memenuhi pesanan ayahmu."

Tiba-tiba gadis itu memegang lengan Siong dan bertanya dengan muka pucat.

"Bagaimana dengan Ayah? Di mana dia...?"

Benar-benar gadis aneh, pikir Lie Siong dengan hati tidak enak karena merasa betapa telapak tangan gadis itu dengan halus memegang lengannya.

Di mana ada seorang gadis yang belum dikenalnya memegang lengan seorang pemuda begitu saja?

Ia menarik lengannya dan menggeleng kepala, lalu berkata singkat.

"Kita pergi dulu dari tempat ini!"

Karena maklum bahwa gadis ini tidak memiliki kepandaian tinggi, ia lalu memegang tangan Lilani dan menariknya keluar dari kamar itu.

Akan tetapi, baru saja ia keluar dari kamar ternyata bahwa gedung itu telah penuh dengan perwira yang menghadang jalan keluarnya.

Para perwira dan penjaga dengan senjata tajam di tangan menyerbu masuk untuk menolong putera Kepala Daerah.

Ketika melihat pemuda baju putih itu bejalan sambil menggandeng tangan Lilani, mereka berseru keras dan menyerang.

Bagi Lie Siong, tidak sukarlah menghadapi mereka itu dan mencari jalan keluar melalui jalan darah, akan tetapi ia teringat akan gadis itu.

Kedatangannya bukanlah dengan maksud untuk mengamuk dan mencari permusuhan dengan para perwira itu, akan tetapi khusus untuk menolong Lilani.

Melihat para perwira itu menyerbu, Lie Siong lalu membalikkan tubuh dan menarik tangan Lilani memasuki kamar itu kembali.

"Celaka, mereka mengejar kita!"

Kata Lilani akan tetapi gadis ini tidak nampak takut.

"Kau pergilah, jangan sampai kau menjadi korban karena menolongku. Aku sanggup melawan mereka dan sebelum aku mati, pasti aku akan dapat membunuh seorang dua orang!"

"Bodoh!"

Kata Lie Siong dan ia lalu bertindak ke arah jendela, lalu menjenguk keluar.

Kamar ini berada di bagian terbelakang, maka di luar jendela itu kosong dan di bawah jendela adalah air Sungai Yung-ting yang nampak kebiruan.

Tak mungkin membawa gadis itu lompat keluar, karena tubuh mereka tentu akan terjatuh ke dalam air dan ia tidak pandai berenang.

Sementara itu, suara kaki para pengejar telah makin dekat sehingga Lie Siong merasa bingung juga.

Kemudian ia mendapat akal.

Pedang Sin-liong-kiam dicabut dan tubuhnya tiba-tiba melayang naik sambil memutar pedang itu pada di atas kamar.

Terdengar suara keras dan langit-langit itu berlubang besar sedangkan potongan kayu jatuh berhamburan di dalam kamar itu.

Lie Siong melompat turun kembali dan cepat ia menyambar tubuh gadis itu tanpa banyak cakap lagi.

Ketika itu, para pengejar sudah tiba di depan kamar.

Lie Siong menggunakan tangan kiri mengempit pinggang Lilani yang ramping, lalu menyambar daun pintu yang sudah roboh ketika ditendangnya tadi.

Daun pintu yang berat itu ia lemparkan ke arah para penyerbu sehingga tiga orang terdepan menjadi terjengkang tertimpa oleh daun pintu itu.

Kawan-kawannya di belakang tertimpa pula sehingga mereka menjadi tumpang tindih dan untuk sesaat lamanya tak dapat melanjutkan pengejaran.

Lie Siong cepat melompat naik sambil mengempit Lilani.

Ketika para pengejar tiba di dalam kamar, ternyata bahwa dua orang muda itu lenyap!

Tak lama kemudian Kam Liong dan Gui Taijin datang pula, akan tetapi mereka tak dapat mencari Lie Siong maupun Lilani.

Sedangkan Gui Kongcu pun tak nampak bayangannya!

Sesungguhnya, dengan kepandaiannya yang tinggi, Kam Liong tentu saja dapat mengejar Lie Siong yang melarikan diri dari atas genteng.

Akan tetapi panglima muda ini tidak mau melakukannya.

Pertama ia memang segan bermusuhan dengan Lie Siong yang gagah perkasa dan lihai itu, kedua kalinya ia tidak suka akan kebiasaan Gui Kongcu dan tidak mau membantu perbuatan jahat.

Ia tahu bahwa pendekar muda baju putih itu tentu mengambil jalan genteng, maka ia hanya memberitahukan ini kepada para perwira yang segera melompat dan mengejar ke atas genteng.

Namun gerakan mereka tidak secepat Lie Siong.

Ketika melihat para pengejarnya kacau-balau karena serangannya dengan daun pintu tadi, Lie Siong lalu melompat ke atas langit-langit yang telah berlubang.

Dengan mudah ia menghancurkan genteng dari bawah, lalu keluar dari lubang di genteng itu.

Setelah berada di atas genteng, cepat ia melarikan diri, berlompatan bagaikan seekor garuda putih terbang sehingga Lilani terpaksa meramkan mata saking ngerinya melihat tubuhnya melayang-layang di atas genteng yang begitu tinggi.

Lie Siong membawa Lilani ke pinggir sungai dan melihat perahu-perahu kecil para nelayan ditambatkan di pinggir sungai, ia lalu melompat ke sebuah perahu kecil yang terbaik, memutuskan talinya dan segera mendayung perahu itu ke tengah sungai.

"Hai...!"

Pemilik perahu itu berteriak.

"Hendak kaubawa kemana perahuku itu?"

Sementara itu, Lilani yang sudah di dalam perahu berkata.

"Tidak baik mencuri perahu orang, siapa tahu kalau-kalau nelayan miskin itu akan kehilangan sumber nafkahnya kalau perahu ini kita bawa pergi."

Lie Siong memandang kepada gadis itu dengan heran dan juga kagum.

Ia tak menjawab, akan tetapi merogoh buntalannya dan mengeluarkan sepotong emas murni.

Ketika berangkat ia mendapat bekal tiga puluh potong lebih emas murni seperti ini dari ibunya.

"Ini cukup?"

Tanyanya sambil memperlihatkan emas itu kepada Lilani.

Gadis ini memandang dengan mata terbelalak.

Ia tahu akan nilai emas dan sepotong emas di tangan Lie Siong ini kalau dijual dapat digunakan untuk membeli sedikitnya tiga atau empat buah perahu kecil seperti ini.

"Terlalu banyak,"

Jawabnya.

"sepertiga juga sudah cukup."

Akan tetapi setelah mendengar jawaban ini, tanpa banyak cakap lagi ia lalu mengayun tangannya dan melemparkan potongan emas itu ke arah orang yang berteriak-teriak tadi.

"Perahumu kubeli, inilah uangnya!"

Seru Lie Siong.

Ketika orang itu memungut potongan emas yang jatuh tepat di depannya, tentu saja ia menjadi girang sekali dan berlari-larilah ia pulang sambil berjingkrak-jingkrak dan menari-nari karena merasa mendapat keuntungan yang besar sekali.

Lie Siong membiarkan perahunya hanyut oleh aliran air yang deras dan ia hanya menggunakan dayung untuk mengemudi jalannya perahu.

Semenjak mereka duduk di dalam perahu, yaitu pada siang hari tadi, sampai sekarang sudah hampir senja, mereka tak pernah bicara sepatah kata pun!

Lilani hanya duduk sambil menundukkan kepala, kadang-kadang memandang ke pinggir sungai dan hanya sewaktu-waktu saja mengerling kepadanya.

Gadis itu nampak susah, bingung dan juga malu-malu.

Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi.

Berada dekat seseorang yang sama sekali tidak pernah bicara, tidak menengok kepadanya, dan tidak mempedulikannya, jauh lebih sunyi rasanya daripada kalau ia berada seorang diri tanpa kawan!

"Kita mau ke manakah?"

Tanyanya sambil mengerling tajam ke arah pemuda yang angkuh dan tinggi hati itu.

"Ke mana saja air ini membawa perahu yang kita tumpangi,"

Jawab Lie Siong tanpa memandang.

"Ke mana akan dibawanya?"

"Entahlah!"

Lilani menarik napas panjang.

Aneh dan sukar benar pemuda ini.

Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi seorang pemuda seperti ini.

Hampir setiap laki-laki yang pernah ditemuinya, baik pemuda maupun sudah tua, selalu akan memandangnya dengan mata gairah, tersenyum-senyum dan segera mengeluarkan ucapan-ucapan menggoda atau memuji.

Akan tetapi pemuda ini...

menengok pun tidak, bahkan diam saja seperti patung!

Sungguh hampir tak dapat dipercaya wajah pemuda yang seelok dan setampan itu ternyata didampingi oleh watak yang demikian angkuh dan aneh.

"Kau telah menolongku dari bahaya maut..."

"Tak perlu dibicarakan hal sekecil itu."

Lie Siong memotong. Lilani berpaling dan menggigit bibir. Alangkah sukarnya menghadapi orang ini, pikirnya.

"Bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Aku she Lie dan namaku Siong."

Lilani menarik napas lega.

Sedikitnya pemuda ini tidak merahasiakan namanya.

Akan tetapi ia masih merasa penasaran karena dalam menjawab pertanyaannya, pemuda itu sama sekali belum mau menengoknya, bahkan duduknya pun membelakanginya!

"Di manakah ayahku?

Di mana dia?"

Tanya Lilani.

Tiba-tiba pemuda itu menarik napas panjang, lalu mendayung perahunya ke tepi.

Ia menghentikan perahunya di tempat yang dangkal, lalu memutar tubuhnya, menghadapi gadis itu.

Ternyata bahwa Lie Siong bukan karena keangkuhannya semata maka ia tidak mau menengok gadis itu, akan tetapi sebagian besar karena rasa terharu mengingat akan nasib gadis ini.

Sebelum tewas orang tua berbangsa Haimi itu mengatakan bahwa Lilani telah menjadi yatim piatu, maka itu berarti bahwa ibu gadis ini telah meninggal dunia pula.

Melihat sikap pemuda itu, Lilani menjadi pucat dan mengulang pertanyaan lagi.

"Katakanlah, di mana dia?"

"Ayahmu telah tewas."

Gadis itu tidak kelihatan terkejut, juga tidak menangis menjerit-jerit.

Ia hanya meramkan kedua matanya dengan kening berkerut.

Akan tetapi, keadaannya ini lebih mengharukan hati Lie Siong yang mungkin takkan demikian terharu kalau melihat gadis itu menangis tersedu-sedu.

Lama mereka duduk berhadapan dalam keadaan demikian.

Lilani duduk bagaikan patung, sedangkan Lie Siong duduk memandangnya dengan penuh keharuan hati yang tak diperlihatkan.

"Sudah kuduga..."

Akhirnya Lilani dapat juga mengeluarkan kata-kata seperti berbisik.

Ketika ia membuka kembali matanya, selaput matanya menjadi merah, tanda bahwa ia telah mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan membanjirnya air mata.

Betapapun juga masih nampak beberapa titik air mata mengalir perlahan menuruni pipinya yang pucat.

"Tentu oleh anak buah keparat she Gui itu, bukan?"

Kata-kata ini merupakan pertanyaan dan tuntutan kepada Lie Siong untuk menceritakan semua peristiwa yang terjadi, maka ia pun lalu menceritakannya tentang pertempurannya membantu Manako dan betapa orang tua itu terbunuh oleh keroyokan para perwira.

Mendengar penuturan ini, gadis itu memandang ke arah awan yang bergerak perlahan di angkasa, mengepal kedua tangannya yang kecil, menggigit bibirnya dan membiarkan air matanya mengalir turun bagaikan sumber air kecil, lalu, berkata.

"Bangsaku dimusnahkan! Ibuku terbunuh, kini ayahku terbunuh pula! Terkutuklah manusia-manusia berjiwa iblis itu...!"

Mendengar ucapan ini, Lie Siong merasa tertarik dan lalu ia minta gadis itu menuturkan riwayatnya.

Ia mulai merasa kagum melihat ketabahan hati gadis cantik ini, yang dapat menahan perasaannya sehingga tidak menangis menjerit-jerit seperti gadis lain yang tertimpa bencana sehebat itu.

"Benar-benarkah kau ingin mengetahui riwayat seorang yang rendah dan bodoh seperti aku, Tai-hiap?"

Tanya Lilani sambil memandang melalui air matanya ketika ia mendengar permintaan Lie Siong.

"Tentu saja. Setelah ayahmu minta kepadaku untuk menolongmu, sudah sepatutnya aku mengetahui keadaanmu untuk menetapkan kemudian apa yang selanjutnya harus kulakukan dengan kau."

Lilani menghela napas, menghapus air matanya dengan ujung baju kemudian menuturkan riwayatnya dengan singkat.

Lilani adalah puteri tunggal dari Manako, kepala suku bangsa Haimi yang terdiri tiga ratus orang suku bangsa Haimi yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah.

Manako adalah suami dari Meilani dan suami-isteri ini hidup dengan rukun dan saling mencintai, memimpin bangsanya dengan penuh keadilan dan ketenteraman.

Manako dan Meilani pernah tertolong oleh Pendekar Bodoh, bahkan sebelum menikah dengan Manako diantara Meilani dan Kwee An pernah terjadi hal yang amat lucu sehingga Kwee An hampir dipaksa menikah dengan Meilani yang cantik jelita akan tetapi bergigi hitam itu!

(Baca cerita Pendekar Bodoh).

Setelah berkenalan dengan pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa ini, maka banyak kemajuan yang diperoleh Meilani dan Manako, sehingga ketika mereka memperoleh seorang puteri, yaitu Lilani, anak ini tidak dihitamkan giginya seperti yang telah menjadi kebiasaan suku bangsa Haimi.

Manako dan Meilani melatih ilmu silat kepada puteri mereka itu dan mereka semua hidup penuh kebahagiaan.

Akan tetapi, pada waktu Lilani berusia empat belas tahun, malapetaka besar menimpa keluarga suku bangsa Haimi itu.

Kelompok mereka terdesak oleh bangsa Mongol yang hendak menawan mereka untuk dijadikan pekerja paksa sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke selatan, keluar dari tapal batas Mongolia, setelah mengadakan perlawanan sengit dan kehilangan beberapa puluh jiwa.

Pada waktu itu, golongan yang lemah dan kecil selalu tentu tertindas dan terinjak oleh yang besar.

Setelah mereka melalui tapal batas, mereka tidak menemui kebahagiaan bahkan sepasukan tentara kerajaan yang menjaga tapal batas itu, lalu menyerbu mereka, membunuh yang laki-laki sambil menculik yang wanita!

Pertempuran hebat terjadi.

Manako dan Meilani melakukan perlawanan sekuat tenaga, bahkan Meilani yang pernah menerima petunjuk-petunjuk ilmu silat dari Ma Hoa isteri Kwee An dan dari Lin Lin isteri Pendekar Bodoh, lalu mengamuk bagaikan seekor naga betina.

Juga Lilani yang baru berusia empat belas tahun itu ikut pula mainkan pedang, membantu ibu dan ayahnya.

Akan tetapi kekuatan musuh terlampau besar dan akhirnya terpaksa Manako membawa Lilani melarikan diri dengan hati hancur setelah melihat Meilani roboh tak bernyawa lagi di bawah tusukan banyak pedang musuh!

Kelompok suku bangsa Haimi hancur dan cerai-berai.

Banyak yang tewas atau tertawan dan ada pula yang dapat melarikan diri berpencaran.

Manako berhasil melarikan diri bersama puterinya dan selama dua tahun lebih ia merantau bersama Lilani, pindah dari satu kota ke lain kota.

Akhirnya sampailah ia di kota Tatung dan tinggal di situ bersama puterinya.

Ia tidak khawatir akan biaya hidupnya sehari-hari, karena ketika melarikan diri, ia masih menyimpan berbagai barang dari emas, bahkan ia mempunyai sebatang golok yang seluruhnya terbuat daripada emas.

Juga keamanannya terjamin, karena pada masa itu, hanya suku-suku bangsa kecil yang berkelompok saja yang mendapat gangguan dan dicurigai.

Akan tetapi kalau hanya satu dua orang saja takkan mendapat gangguan dari siapapun juga, asalkan taat akan peraturan-peraturan kota setempat.

Manako dan Lilani hidup berdua dengan hati menderita kesedihan, dan selalu mereka teringat akan keadaan suku bangsanya yang sudah musna, dan terutama sekali teringat akan Meilani yang gugur dalam pertempuran itu.

Akan tetapi apakah yang dapat mereka lakukan?

Lilani menjadi dewasa dan makin cantik jelita seperti mendiang ibunya.

Telah biasa dikatakan orang bahwa kecantikan dan kepandaian merupakan karunia dan berkah Thian Yang Maha Kuasa.

Akan tetapi bagi Manako dan Lilani, ternyata bahwa kecantikan Lilani tidak merupakan berkah bahkan merupakan sebab bencana besar!

Putera kepala daerah she Gui ketika menyaksikan keindahan bentuk tubuh dan kemanisan wajah Lilani gadis Haimi itu, tergerak hatinya dan ia mengajukan pinangan kepada Manako untuk minta gadis itu sebagai selirnya.

Manako adalah bekas kepala suku bangsa, dan betapapun juga, ia boleh disebut raja kecil.

Tentu saja ia mempunyai keangkuhan dan mendengar pinangan ini, ia merasa terhina sekali.

Mana ia sudi memberikan puterinya yang tunggal untuk dijadikan selir oleh putera seorang Kepala Daerah?

Demikianlah, ia menolak pinangan itu yang berakhir malapetaka besar baginya.

Gui Kongcu merasa sakit hati dan sebagaimana telah dituturkan di atas, akhirnya pemuda bangsawan jahanam ini lalu melakukan kekerasan, membunuh Manako dan menculik Lilani!

Setelah menuturkan riwayatnya sambil menghela napas Lilani berkata.

"Dulu ibuku pernah menceritakan kepadaku bahwa di antara orang-orang bangsa Han terdapat pendekar-pendekar seperti Kwee An Eng-hiong dan Pendekar Bodoh, akan tetapi setelah menderita akibat kejahatan bangsamu yang menjadi perwira-perwira kaisar kukira bahwa sekarang tidak ada lagi pendekar-pendekar seperti itu! Ternyata sekarang, aku bertemu dengan engkau yang berbudi dan gagah perkasa. Ah, Lie Tai-hiap, dengan jalan bagaimanakah aku dapat membalas budimu yang besar ini?"

Lie Siong merasa kasihan sekali mendengar riwayat gadis ini.

"Apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?"

Gadis itu menggeleng kepalanya dengan sedih.

"Tidak mempunyai sahabat-sahabat yang boleh kautumpangi?"

Kembali Lilani menggelengkan kepalanya yang cantik sambil termenung.

Lie Siong tak dapat berkata-kata lagi, hanya duduk diam dengan bingung.

Apakah yang harus ia lakukan?

Bagaimana ia dapat menolong gadis ini selanjutnya?

Ia sendiri adalah seorang perantau, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.

"Dan... bagaimanakah tujuanmu? Kau hendak pergi ke manakah?"

Lie Siong lalu bertanya perlahan.

Lilani yang semenjak tadi dapat menahan kesedihan hatinya, ketika mendengar pertanyaan ini, hanya dapat memandang dengan sinar mata amat mengharukan, lalu ia menangis tersedu-sedu!

Ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya dan air mata mengalir keluar dari celah-celah jari tangannya sedangkan tubuhnya terisak-isak.

Lie Siong menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Selama hidupnya, baru kali ini ia merasa bingung dan menghadapi perkara yang luar biasa sukarnya.

"Lilani, ayahmu berpesan kepadaku untuk menolongmu dari tangan jahanam she Gui itu. Aku telah melakukannya dan setelah kau kini bebas dan selamat, aku tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Ketahuilah, bahwa aku sendiri tidak mempunyai tempat tinggal, merantau seorang diri, juga tidak mempunyai tujuan tertentu..."

Tiba-tiba Lilani menghentikan tangisnya dan ia mengangkat mukanya memandang pemuda itu. Sebelum bicara, beberapa kali ia menelan ludah karena merasa tenggorokannya seakan-akan terganjal sesuatu.

"Lie Taihiap, aku maklum akan maksudmu. Tak perlu kau menyusahkan keadaanku dan janganlah aku menjadi penghalang dari kebebasanmu. Aku tahu bahwa dengan adanya aku, kau tidak merasa senang, tidak dapat bergerak bebas, pertama karena aku seorang gadis, kedua karena aku lemah. Kau janganlah menjadi bingung, Tai-hiap, jangan kau memikirkan aku lagi. Pergilah kau melanjutkan perjalananmu, biar aku seorang diri di perahu ini sampai... sampai... entah ke mana saja perahu dan air sungai ini membawaku!"

Lie Siong lalu berdiri, merogoh buntalannya dan mengeluarkan sepuluh potong emas murni. Ia memberikan benda berharga ini kepada Lilani dan berkata.

"Kau cukup maklum akan keadaanku dan ini sedikit bekal untuk biaya perjalananmu."

Dengan air mata masih menitik turun, Lilani memandang tangan yang mengangsurkan potongan-potongan emas itu. Ia menggeleng kepala dan berkata tegas.

"Tai-hiap, kau telah menolongku dan untuk itu saja aku telah merasa amat berat serta tidak tahu harus membalas budimu dengan cara bagaimana. Karena itulah maka aku tidak berani memberatkan kau lagi, apalagi menerima pemberianmu. Ah, tidak, aku tak dapat menerima emas ini. Hidupku takkan lama lagi... untuk apakah benda itu...?"

Tertegun hati Lie Siong mendengar ucapan ini, akan tetapi ia pun tidak mau banyak cakap, memasukkan emas itu ke dalam buntalan kembali lalu ia melompat ke darat.

"Kalau begitu, selamat berpisah!"

Katanya lalu melompat pergi.

Lilani duduk di perahu dan memandang bayangan pemuda itu dengan lemas.

Ia merasa seakan-akan semangatnya telah melayang pergi meninggalkan tubuhnya.

Merasa betapa seluruh perasaannya telah terbawa pergi oleh pemuda yang gagah perkasa, tampan dan juga aneh serta amat pendiam itu.

Ia maklum bahwa hatinya telah terampas oleh kegagahan Lie Siong dan jantungnya telah tertembus oleh sinar mata pemuda itu.

Ia maklum bahwa tanpa adanya pemuda itu didekatnya, hidupnya tidak ada artinya lagi.

Bangsanya telah musna, ayah bundanya telah tewas.

Tadinya ia bercita-cita untuk membangun suku bangsanya, untuk menggantikan kedudukan ayahnya kemudian bersama bangsanya, berjuang memperbaiki nasib.

Akan tetapi kini semua itu lenyap, lenyap bersama bayangan Lie Siong.

Dengan Lie Siong di sampingnya, ia merasa pasti dan yakin bahwa cita-citanya itu akan terlaksana.

Tak tertahan lagi ia lalu menjatuhkan mukanya di atas kedua telapak tangannya dan menangis dengan hati terasa disayat-sayat.

Dalam kesedihannya yang hebat ini, terbayanglah wajah ibunya yang cantik jelita dan teringatlah ia betapa ibunya pernah menuturkan kepadanya tentang perhubungan ibunya dengan seorang pendekar besar bernama Kwee An yang bertempat tinggal di Tiang-an.

Ibunya, Meilani, pernah menuturkan kepadanya betapa ibunya itu pun pernah jatuh hati kepada pendekar itu.

Ah, mengapa ia harus putus asa?

Sahabat-sahabat baik ibunya masih banyak.

Kalau saja ia dapat mencari Kwee An dan Ma Hoa, atau Pendekar Bodoh dan Lin Lin, tentu mereka akan mau menolong, menolong puteri tunggal Meilani!

Akan tetapi teringat akan kejahatan putera kepala daerah she Gui itu, hatinya menjadi gentar lagi.

Banyak sekali manusia-manusia jahat semacam pemuda she Gui itu di dunia ini!

Ah, alangkah bedanya dengan Lie Siong pemuda yang sopan santun dan gagah perkasa itu.

Pemuda yang sedikit pun tidak mau mengganggunya, jangankan mengganggunya, bahkan menengok pun tidak, agaknya ia bukan seorang gadis cantik!

Mungkin dalam pandangan Lie Siong, ia hanya seorang perempuan yang buruk rupa dan menjemukan!

Mengingat akan hal ini, kembali hatinya terasa bagaikan disayat dan air matanya mengucur makin deras.

Tiba-tiba ia mendengar suara yang halus di sebelah belakangnya.

"Lilani, sudahlah, jangan kau terlalu berduka."

Seketika itu juga air matanya yang mengucur berhenti mengalir seakan-akan sumbernya tertutup rapat, kedua matanya dibuka lebar-lebar dan ia cepat memutar lehernya menengok.

Ternyata bahwa Lie Siong telah berdiri di darat sambil bertolak pinggang!

"Lie Tai-hiap...!"

Dalam seruan ini terkandung kegirangan yang luar biasa sekali.

"Aku tak merasa enak hati meninggalkan kau dalam keadaan begini."

Kata pemuda itu sambil mengerutkan kening seakan-akan tidak puas akan kelemahannya sendiri.

"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kau, maka akan sia-sialah usahaku membebaskan kau dari cengkeraman orang jahat, dan berarti aku telah melanggar janji kepada ayahmu."

"Tai-hiap... Thian Yang Agung telah mengirimmu kembali padaku..."

Kata Lilani dengan bisikan terharu.

"Akan tetapi aku masih tidak tahu harus membawa kau ke mana, Lilani. Sekarang kaucarilah tujuan tertentu agar aku dapat mengantarkan kau ke tempat yang aman, baru kemudian akan melanjutkan perantauanku."

"Tai-hiap, aku sudah mendapat pikiran ketika kau pergi tadi. Aku teringat akan Kwee-lo-enghiong dan Pendekar Bodoh. Kalau saja kau sudi mengantarkan aku sampai ke tempat tinggal mereka, aku akan mendapat perlindungan yang sentausa. Budimu takkan kulupakan selama hidupku, Tai-hiap."

"Sudahlah, jangan bicara tentang budi,"

Kata Lie Siong yang segera masuk ke dalam perahu.

"Aku pernah mendengar bahwa Kwee Lo-eng-hiong tinggal di kota Tiang-an. Baiknya kita mengambil jalan sungai ini sampai ke kota raja, kemudian kita menuju ke Tiang-an dengan jalan darat."

Saking girangnya, Lilani tak menjawab, hanya mengangguk-angguk sambil menatap pemuda itu dengan mata berseri.

Lenyaplah segala kesedihannya, segala keraguannya.

Dengan pemuda ini di sampingnya, dunia seakan-akan menjadi lebih lebar dan terang, air Sungai Yang-ting seakan-akan merupakan sutera kehijauan yang dibentangkan di depannya, bunyi riak air berdendang merdu dan ia mendengar hatinya bernyanyi gembira!

Lie Siong tidak banyak bicara, hanya mendayung perahu itu dengan cepat ke tengah dan lajulah perahu itu terbawa aliran air sungai ditambah dengan tenaga dayung di tangan Lie Siong yang kuat.

*** Kita tinggalkan dulu Lie Siong dan Lilani yang melakukan pelayaran dalam usaha mereka mencari tempat tinggal Kwee An atau Pendekar Bodoh untuk mendapatkan tempat tinggal dan tempat menumpang bagi gadis itu.

Marilah kita menengok keadaan Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya, Lin Lin, yang melakukan perjalanan ke perbatasan utara, bahkan memasuki daerah Mongol untuk mencari Ang I Niocu!

Dengan hati penuh keharuan dan kegelisahan Cin Hai dan Lin Lin hendak kembali ke selatan perbatasan Mongol di mana dulu Ang I Niocu dan Lin Lin pernah mengadakan perantauan.

Mereka mencari keterangan di sana-sini, mengadakan kunjungan ke berbagai tempat dan pegunungan, akan tetapi hasilnya sia-sia belaka.

Pada suatu hari, ketika dengan putus harapan Cin Hai dan Lin Lin hendak kembali ke selatan dan tiba di dalam sebuah hutan, mereka mendengar orang bernyanyi dengan suara nyaring.

"Ah kipas sial, kipas butut! Apakah jasamu terhadapku? Hanya mendatangkan nama besar yang kosong. Menambah musuh menjauhkan sahabat. Kau tidak mampu merenggut nyawaku. Yang jemu dan telah lama terkurung. Kau tetap hanya menghibur badan. Mengusir hawa panas mendatangkan angin. Ah, kipas butut, kipas sial!"

Hutan itu liar dan sunyi, maka tentu saja Cin Hai dan Lin Lin terheran-heran mendengar nyanyian ini, karena selain kata-katanya amat aneh, juga suara itu nyaring sekali sehingga menggema di seluruh hutan!

Suami isteri ini saling pandang dan cepat menghampiri arah datangnya suara.

Mereka tertegun melihat seorang kakek tua sekali tengah duduk di bawah sebatang pohon besar sambil menggunakan sebuah kipas yang benar-benar sudah butut untuk mengipasi tubuhnya yang gemuk.

Pakaian kakek ini hampir telanjang tidak terurus dan tubuhnya sudah kotor penuh debu dan lumpur.

Kalau saja tidak melihat kipas yang terbuat daripada kulit harimau itu tentu suami isteri pendekar ini tidak mengenal orangnya.

Cin Hai yang lebih dulu mengenalnya dan segera berseru keras.

"Swie Kiat Siansu! Locianpwe, mengapa kau berada di sini?"

Ia lalu menghampiri bersama isterinya, dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Kakek tua renta yang gemuk itu memandang dengan bermalas-malasan, kemudian ia tertawa bergelak dan memukul-mukul kepalanya dengan kipasnya.

"Ha-ha-ha-ha! Pendekar Bodoh...! Agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadaku sehingga di saat terakhir masih dapat bertemu dengan engkau! Alangkah sempitnya dunia ini? Dan alangkah cepatnya sang waktu berlari."

Ia memandang kepada Lin Lin dan berkata pula.

"Agaknya kalian sedang menderita, akan tetapi jangan ceritakan hal itu kepadaku, aku sudah cukup kenyang mendengar penderitaan manusia sehingga menjadi bosan. Eh, Nyonya muda, coba kaubuatkan masakan yang cocok untukku, nanti kuberikan kipasku yang butut ini kepadamu."

Lin Lin diam-diam merasa mendongkol. Untuk apakah kipas butut itu baginya? Akan tetapi dengan muka girang Cin Hai berkata kepadanya.

"Kautangkaplah seekor kelinci dan panggang itu untuk Locianpwe."

Lin Lin memandang kepada suaminya, akan tetapi karena ia telah percaya kepada suaminya yang sesungguhnya tidak bodoh itu, ia lalu bangkit berdiri dan berlari memasuki hutan.

"Ha-ha, Pendekar Bodoh, kau baik sekali. Berapa orangkah anakmu sekarang?"

"Dua orang, Locianpwe, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Putera teecu itu kini sedang belajar di bawah asuhan Pok Pok Sianjin."

Kembali kakek gemuk itu tertawa bergelak.

"Bagus, bagus! Setan tua dari barat itu agaknya tidak mau mampus sambil membawa kepandaiannya yang akan membikin pusing saja di neraka! Baikiah, kalau begitu, aku pun akan meninggalkan kipas ini kepada anakmu yang perempuan itu. Akan tetapi aku harus makan dulu, telah dua pekan lebih aku tidak makan sama sekali!"

Sambil berkata demikian, kakek ini lalu menggunakan tangan kanannya untuk menekan tanah dan berpindah tempat duduk.

Terkejutlah Cin Hai ketika melihat bahwa kakek ini menderita penyakit hebat sekali, agaknya tangan dan kaki kirinya telah lumpuh tak dapat digerakkan lagi!

Sungguh mengherankan, dalam keadaan demikian dan dua pekan tidak makan, kakek ini masih saja nampak gemuk dan sehat!

"Maafkan, Locianpe.

Apakah Locianpwe menderita sakit?"

Swie Kiat Siansu mengangguk-angguk dan menghela napas.

"Agaknya dosaku terlalu besar sehingga sebelum mampus harus menderita dulu. Setelah tua, darahku jalan terlampau cepat dan memecahkan urat-urat syaraf, membuat semua urat-urat di setengah tubuhku pecah-pecah. Akan tetapi tidak apa, dalam keadaan sakit atau tidak, kematian akan datang juga akhirnya!"

Cin Hai teringat akan keadaan orang tua ini pada belasan tahun yang lalu. Swie Kiat Siansu adalah seorang di antara "empat besar"

Yang menjagoi di seluruh daratan Tiongkok.

Pada masa itu, Bu Pun Su (guru Cin Hai dan Lin Lin) dan Hok Peng Taisu (guru Ma Hoa) merupakan tokoh besar dari selatan dan timur, adapun Pok Pok Sianjin adalah tokoh dari barat.

Tokoh dari utara yang paling terkenal adalah Swie Kiat Siansu inilah!

Empat orang ini, yaitu Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swie Kiat Siansu terkenal sebagai empat besar dan kepandaian mereka telah mencapai tingkat tertinggi hingga jarang bertemu tandingan!

Hanya sayang sekali bahwa Swie Kiat Siansu telah salah dalam memilih murid.

Dua orang muridnya yang bernama Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu menjadi perwira-perwira Mongol dan berwatak jahat sekali.

Swie Kiat Siansu ini bersama Pok Pok Sianjin pernah mengadakan pibu (adu kepandaian silat) menghadapi Hok Peng Taisu dan Bu Pun yang diwakili Pendekar Bodoh (bacalah cerita Pendekar Bodoh).

Kini melihat keadaan orang tua ini, diam-diam Cin Hai menghela napas dan teringatlah ia bahwa ia sendiri kelak takkan terlepas daripada pengaruh usia tua dan kematian.

Akan tetapi, mendengar bahwa kakek ini hendak menyerahkan kipasnya kepada puterinya, ia menjadi girang sekali.

Menyerahkan senjata berarti menyerahkan atau menurunkan ilmu silat, dan kipas kakek ini memang merupakan senjatanya yang paling lihai dan yang telah membuat namanya menjadi terkenal sekali.

Tak lama kemudian, Lin Lin datang sambil membawa dua ekor kelinci putih yang gemuk.

Ia tertawa manis sekali dan berkata.

"Aku sengaja menangkap keduanya agar pasangan ini tidak terpisah, biarpun sudah berpindah tempat ke dalam perut!"

Swie Kiat Siansu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha! Pantas saja kau dan suamimu Pendekar Bodoh ini dapat hidup rukun dan damai, tidak tahunya kau dapat menghargai kesetiaan dan kecintaan! Lekas masak... lekas masak... aku tidak tahan lagi menghadapi cacing-cacing perutku!"

Cin Hai lalu membuat api dan setelah kedua kelinci itu disembelih dan dibersihkan, dagingnya lalu dipanggang.

Tak lama kemudian terciumlah bau yang sedap dan menimbulkan selera, Swie Kiat Siansu menahan air liurnya ketika tercium bau sedap ini olehnya.

"Aduh, cacing perutku makin menggeliat-geliat. Lekas bawa ke sini!"

Lin Lin tersenyum senang, karena ucapan ini secara tidak langsung menyatakan pujian atas pekerjaannya.

Wanita manapun juga di dunia ini mempunyai dua macam kesenangan yang sama, yaitu mendapat pujian tentang kepandaiannya atau kelezatan masakannya.

Ia lalu membawa daging yang sudah merah dan mengebulkan uap dan kesedapan itu kepada Swie Kiat Siansu.

Kakek tua yang hanya dapat menggerakkan tangan kanannya itu lalu menerima daging itu dan makan dengan amat lahapnya.

Cin Hai dan Lin Lin memandang kagum karena biarpun daging itu baru saja keluar dari api dan amat panas, akan tetapi kakek itu dapat memakannya demikian enak dan sekali-kali tidak kelihatan kepanasan!

Tanpa menawarkannya kepada Cin Hai dan Lin Lin yang terpaksa memandang sambil menelan ludah, kakek itu makan terus dengan enak dan lahapnya sampai lenyaplah daging dua ekor kelinci itu berpindah ke dalam perutnya!

Swie Kiat Siansu menggunakan tangan kanannya yang masih berminyak untuk mengelus-elus perutnya yang gendut, lalu ia tertawa dan berkata.

"Aah, yang senang saja kalian sepasang ketinci tinggal di perutku!"

Ia tertawa lagi, kemudian berkata.

"Sayang tidak ada arak..."

"Jangan khawatir, Locianpwe, teecu membawa bekal arak,"

Kata Cin Hai yang cepat mengeluarkan seguci arak dari buntalannya. Berserilah wajah kakek itu.

"Bagus, bagus! Kau baik sekali! Ah, benar-benar Thian telah memimpin kalian suami isteri ke tempat ini untuk menyenangkan hatiku di saat terakhir ini dan untuk menerima warisan dariku!"

Ia lalu minum arak itu dan nampak senang sekali.

Tiap kali habis menenggak arak, ia menjulurkan lidah dari mulut dan diputarnya lidah itu menghapus kedua bibirnya dengan puas sekali.

Lin Lin juga merasa girang ketika mendengar bahwa kakek itu hendak menurunkan ilmu silat dan kepandaian mainkan senjata kipas itu kepada puterinya, maka ia pun bersiap sedia untuk memasak apa saja yang dibutuhkan kakek ini.

Dua pekan lebih Cin Hai dengan tekun mempelajari ilmu silat tinggi dari Swie Kiat Siansu untuk kemudian dipelajarkan kepada puterinya.

Karena Cin Hai telah memiliki dasar ilmu silat tinggi dan memiliki pengertian dasar dan pokok segala macam ilmu silat, maka setelah memperhatikan dan mempelajari selama dua pekan, ia telah dapat menerima semua kepandaian itu.

Pada malam ke lima belas, setelah memberikan keterangan-keterangan terakhir dan memberikan kipas itu kepada Cin Hai, Swie Kiat Siansu berkata puas.

"Nah, bebaslah aku dari kipas sial dan butut itu! Eh, Nyonya muda, tolong kaupanggangkan sepasang kelinci lagi untukku!"

"Baik, Locianpwe,"

Jawab Lin Lin yang selama itu selalu mengurus keperluan Swie Kiat Siansu yang membawa mereka tinggal di sebuah gua di hutan itu.

Setelah sepasang kelinci didapatkan dan dagingnya dimasak, kembali kakek itu makan dengan enaknya dan menghabiskan persediaan arak yang tinggal seguci lagi dari Cin Hai.

Setelah makan kenyang, ia lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang di atas tanah, berkata.

"Besok kalian boleh pergi!"

Dan sebentar kernuthan ia tidur mendengkur!

Cin Hai dan Lin Lin teringat akan Bu Pun Su, guru mereka yang juga memiliki adat yang amat aneh seperti kakek ini pula.

Dengan perlahan mereka lalu keluar dari gua itu dan makan buah-buahan yang dikumpulkan oleh Lin Lin.

"Besok kita disuruh pergi,"

Kata Cin Hai.

"Karena Ang I Niocu tidak ada kabarnya, lebih baik kita kembali mencari anak kita dan mampir di Beng-san menengok putera kita."

Teringat akan puteri mereka, Sie Hong Li atau Lili yang terculik oleh Bouw Hun Ti, Lin Lin tiba-tiba merasa berduka sekali dan menunda makannya, memandang dengan mata melamun ke tempat jauh.

Perlahan-lahan dua titik air mata mengalir turun membasahi pipinya.

"Isteriku, jangan kau berduka. Percayalah bahwa Thian pasti akan melindungi Lili,"

Cin Hai menghibur sambil menepuk-nepuk pundak isterinya.

Mendengar hiburan ini, Lin Lin makin terharu dan sedih sehingga ia lalu menangis terisak sambil menjatuhkan kepalanya di atas pundak suaminya.

Cin Hai membiarkan saja karena untuk melepaskan kedukaan, memang tidak ada yang lebih baik daripada tangis dan air mata.

Karena besok pagi mereka harus pergi, maka sekali lagi Cin Hai menghafal dan melatih ilmu silat yang diturunkan oleh Swie Kiat Siansu sehingga malam itu mereka berada di luar gua dan melatih ilmu silat dengan amat rajinnya.

Dasar suami isteri ini memang gemar sekali akan ilmu silat maka berlatih semalam penuh di bawah sinar bulan itu merupakan hiburan yang amat baik bagi kedukaan hati mereka karena lenyapnya puteri mereka.

Akan tetapi, alangkah kagetnya sepasang suami isteri ini ketika pada keesokan harinya mereka memasuki gua tempat tinggal Swie Kiat Siansu, mereka mendapatkan kakek itu telah menggeletak tak bergerak dan tak bernapas lagi!

Ternyata setelah makan kenyang dan tidur, kakek yang usianya sudah seratus lebih ini dan yang terserang penyakit berat telah menghembuskan napas terakhir, hal yang sudah lama dinanti-nantinya!

Dengan penuh penghormatan, Cin Hai dan isterinya lalu mengurus jenazah itu, menggali tanah dan mengubur jenazah itu sebagaimana mestinya.

Mereka bersembahyang dengan sederhana, menunda keberangkatan mereka sampai pada keesokan harinya lagi untuk memberi penghormatan terakhir.

Kalau kiranya manusia mati masih mempunyai roh, dan kalau rohnya ini pandai melihat dan berpikir, maka roh Swie Kiat Siansu tentu akan merasa berterima kasih sekali melihat sepasang suami isteri ini.

Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Hai dan isterinya meninggalkan tempat itu dan terus menuju ke selatan.

Di sepanjang jalan tiada hentinya mereka berdua mencari keterangan dan menyelidiki tentang Ang I Niocu dan juga tentang Bouw Hun Ti.

Tanpa mendengar keterangan sesuatu tentang kedua orang yang dicari-carinya itu, akhirnya mereka sampai di Beng-san dan mendaki gunung itu dengan cepat.

Baru saja mereka tiba di lereng gunung, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring memanggil mereka.

"Ayah... lbu...!!"

Cin Hai dan Lin Lin cepat menengok dengan wajah berubah, dan alangkah kaget, heran dan girang hati mereka ketika melihat di atas sebuah puncak berdiri Lili bersama Hong Beng dan seorang anak laki-laki lain lagi!

Lin Lin berlari seperti terbang cepatnya ke arah anaknya itu sambil menangis.

Cin Hai juga berlari mengejar isterinya, akan tetapi kali ini ia kalah cepat!

Kegirangan agaknya telah membuat nyonya muda itu seakan-akan terbang saja dan ilmu berlari cepatnya makin hebat.

Juga Lili dan Hong Beng berlari turun dari puncak.

Setelah berhadapan, Lin Lin lalu menubruk Lili sambil mencium anaknya itu dan menangis tersedu-sedu.

"Lili... Lili... anak nakal... kau selamat, Nak?"

Dengan megap-megap Lin Lin bertanya.

Lili juga menangis saking girangnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia menengok kepada ayahnya yang juga sudah datang ke situ lalu tersenyum!

"Ayah dan Ibu tidak marah...?"

Tanyanya.

"Mengapa marah? Tidak, anakku, tidak!"

Jawab Cin Hai.

"Kenapa Kong-kong tidak ikut datang?"

Tanya lagi Lili dan mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Lin Lin menangis lagi.

Hong Beng maju mendekati ibunya dan melihat ibunya menangis sedih kali ini, ia lalu menyentuh pundak ibunya yang masih berlutut memeluk Lili.

"Ibu, apakah yang terjadi dengan Kong-kong?"

Karena Lin Lin tidak dapat menjawab, Cin Hai yang maju dan berkata tenang.

"Kong-kongmu telah ditewaskan oleh orang-orang yang menculik Lili. Maka kalian belajarlah baik-baik agar kelak dapat mencari musuh besar ini."

Lili yang amat sayang kepada engkongnya, menjerit ketika mendengar berita ini.

"Apa...?"

Ia memandang kepada ayahnya dengan mata bernyala.

"Engkong di... dibunuh oleh bangsat itu...?"

Ketika Cin Hai menganggukkan kepalanya, Lili merangkul ibunya dan menangis keras.

Adapun Hong Beng yang juga amat sayang kepada kong-kongnya itu, berdiri dengan muka muram dan pemuda cilik ini mengepal tinju dan membanting-banting kakinya sambil berkata perlahan.

"Jahanam...! Jahanam...!"

Akan tetapi ia tidak mengeluarkan air mata. Diam-diam Cin Hai menjadi bangga melihat ketenangan dan kekuatan hati puteranya ini, maka ia lalu menarik tangan Lili, mendekapnya dan berkata halus.

"Lili, lihat kakakmu itu. Kau tidak boleh berhati lemah dan menangis seperti seorang anak cengeng! Kewajibanmulah untuk kelak membalas sakit hati kong-kongmu."

Mendengar ucapan ayahnya, bangkit semangat Lili dan dengan muka masih basah air mata ia berkata.

"Ayah, aku bersumpah untuk mencari keparat Bouw Hun Ti dan menghancurkan kepalanya!"

Lin Lin juga sudah dapat menguasai keharuan hatinya dan nyonya muda ini teringat kepada pemuda cilik yang tadi bersama kedua anaknya.

Ternyata pemuda itu masih berdiri tak jauh dari mereka dan hanya diam saja sambil memandang dengan mata berduka.

Anak ini adalah Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang menjadi murid Sin-kai Lo-sian atau kini menjadi suheng dari Lili.

Melihat betapa Lili dan Hong Beng bertemu kembali dengan kedua orang tua mereka, hatinya menjadi perih dan teringatlah ia akan nasibnya sendiri yang sudah ditinggal mati oleh ayah ibunya.

"Eh, anak itu siapakah?"

Tanya Lin Lin kepada Lili. Baru Lili teringat kepada suhengnya ini dan ia lalu melambaikan tangan kepadanya.

"Lili, siapakah kedua orang gagah ini?"

"Kam Seng, kau kesinilah bertemu dengan ayah bundaku!"

Dengan malu-malu Kam Seng lalu bertindak maju dan memberi hormat sambil menjura kepada Cin Hai dan Lin Lin.

"Dia bernama Thio Kam Seng, murid dari Suhu,"

Kata Lili.

"Suhu? Siapakah Suhumu?"

Tanya Cin Hai terheran.

Lili lalu menceritakan pengalamannya semenjak ia diculik oleh Bouw Hun Ti, lalu tertolong oleh Sin-kai Lo sian dan dibawa ke atas Gunung Beng-san ini dan kemudian dilatih oleh Mo-kai Nyo Tiang Le, suheng dari Lo Sian atau supek mereka.

Cin Hai dan Lin Lin merasa girang sekali mendengar penuturan iin dan mereka amat berterima kasih kepada Sin-kai Lo Sian, pengemis sakti yang sudah mereka dengar namanya itu.

"Di mana dia, penolong dan suhumu itu? Kami harus bertemu dengan dia untuk menghaturkan terima kasih,"

Kata Lin Lin.

"Dia sudah turun gunung, Ibu. Katanya hendak pergi ke Shaning untuk mencari Ayah dan Ibu, melaporkan keadaanku yang sudah tertolong."

Pada saat itu, dari puncak gunung nampak bayangan orang yang cepat sekali berlari mendatangi.

"Nah, itu dia Supek datang!"

Kata Kam Seng ketika melihat bayangan itu.

Cin Hai dan Lin Lin cepat menengok dan mereka melihat seorang yang berpakaian pengemis datang berlari cepat sekali dari atas.

Mo-kai Nyo Tiang Le biarpun sudah seringkali mendengar nama Pendekar Bodoh akan tetapi belum pernah bertemu muka, maka ia tidak mengenal siapa adanya dua orang itu.

Dari atas ia tadi melihat seorang laki-laki dan seorang wanita bercakap-cakap dengan tiga orang anak itu, maka cepat ia menghampiri karena ia berkhawatir kalau-kalau kedua orang itu adalah orang-orang jahat.

Ketika melihat dua orang itu bersikap gagah dan berwajah elok, ia lalu bertanya kepada Lili.

"Lili, siapakah kedua orang gagah ini?"

"Supek, mereka ini adalah ayah bundaku!"

Kata Lili dengan girang dan tersenyum, sama sekali lenyap rasa dukanya yang tadi!

Memang watak gadis cilik ini benar-benar sama dengan ibunya.

Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut sekali mendengar pengakuan ini.

Ia memandang dengan penuh perhatian kepada Cin Hai yang sementara itu bersama isterinya telah menjura kepadanya untuk memberi hormat.

"Ah, jadi kau ini adalah Pendekar Bodoh yang bernama Sie Cin Hai? Maaf, maaf! Aku tidak mengenal orang pandai!"

Nyo Tiang Le cepat menjura dan membalas penghormatan itu.

"Nyo Loheng (Saudara Tua Nyo) terlalu sungkan!"

Jawab Cin Hai merendah.

"Sesungguhnya kami berdua yang harus menghaturkan banyak terima kasih atas kebaikan hatimu, terutama sekali kepada adikmu yang telah menolong nyawa puteri kami. Mudah-mudahan saja budi ini akan terbalas oleh Thian apabila kami tiada kesempatan untuk membalasnya."

Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa terbahak-bahak dengan gembira sekali, sehingga Lili dan Kam Seng memandang karena jarang mereka menyaksikan supek mereka ini sedemikian gembiranya.

"Pendekar Bodoh, kau seperti anak kecil saja!"

Kata Pengemis Iblis Mo-kai Nyo Tiang Le setelah tertawa bergelak.

"Di antara kita masih perlukah bicara tentang budi? Sekarang Lili telah bertemu dengan kalian, suami isteri pendekar yang kepandaiannya tinggi sekali, maka sudah cukup lama kiranya aku tinggal di tempat ini mengganggu Pok Pok Sianjin! Lili, yang baik-baiklah kau belajar ilmu kepandaian agar kelak jangan sampai terculik orang lagi. Ha-ha-ha! Kam Seng, kauikutlah padaku turun gunung!"

Setelah berkata demikian, Mo-kai menyambar lengan tangan Kam Seng dan berlari pergi dari situ dengan cepat. Lili tertegun menyaksikan sikap ini, akan tetapi Cin Hai hanya tersenyum saja dan berkata.

"Memang orang-orang kang-ouw selalu mempunyai watak yang aneh sekali. Kita harus catat nama Mo-kai Nyo Tiang Le itu sebagai seorang sahabat baik. Marilah kita naik ke puncak untuk menghadap Pok Pok Sianjin!"

Mereka beramai-ramai lalu pergi ke atas puncak dan menghadap Pok Pok Sianjin yang menerima kedatangan mereka dengan girang.

"Pendekar Bodoh, kebetulan sekali kau dan isterimu datang! Apakah kalian sudah bertemu dengan Sin-kai Lo Sian?"

Setelah memberi hormat, Cin Hai menjawab.

"Belum, Locianpwe."

Ia lalu menceritakan perjalanannya mencari Lili, dan betapa mereka bertemu pula dengan Swie Kiat Siansu yang meninggal dunia karena penyakit dan usia tua. Pok Pok Sianjin menarik napas panjang.

"Aah, semua kawan-kawan telah meninggalkan aku! Mereka sudah bebas dan senang! Tinggal aku seorang tua bangka yang harus mengalami penderitaan entah beberapa tahun lagi."

Cin Hai dan Lin Lin tidak lama tinggal di tempat itu, hanya tiga hari, ini pun karena Hong Beng selalu menahan mereka.

Akhirnya mereka turun gunung bersama Lili, setelah memesan kepada Hong Beng untuk belajar ilmu dari Pok Pok Sianjin dengan giat dan rajin.

Pemuda cilik ini diam-diam merasa amat kesepian setelah adik perempuannya turun gunung mengikuti ayah ibunya, akan tetapi Hong Beng memang seorang pemuda pendiam dan selain tenang, juga ia memiliki kekuatan batin yang cukup tabah.

Kesunyiannya ini ia tutup dengan ketekunannya belajar ilmu silat sehingga Pok Pok Sianjin merasa makin gembira menurunkan ilmu-ilmunya kepada pemuda yang berbakat ini.

Demikianlah, kalau Sie Hong Beng dengan rajin mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin, Lili juga menerima latihan ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan ia menerima pula Ilmu Silat Kipas Maut yang diwariskan oleh Swie Kiat Siansu untuknya.

Biarpun Lili mempunyai watak yang lincah dan tidak dapat tekun belajar, akan tetapi apabila ia teringat akan kematian kakeknya, ia lalu mengerahkan semangatnya dan mempelajari ilmu silat dengan giatnya sehingga ayah bundanya merasa girang juga melihat perubahan ini.

*** Seperti telah dikatakan oleh Swie Kiat Siansu, waktu memang berlari amat pesatnya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun terbang lalu dengan cepatnya sehingga kita sendiri tidak merasakan sesuatu, tahu-tahu usia selalu bertambah tua!

Memang aneh kalau direnungkan, apabila kita memperhatikan jalannya waktu, jangan kata setahun, sebulan maupun sehari, baru satu jam saja kalau kita menanti datangnya sesuatu, nampaknya amat lama.

Akan tetapi siapakah orangnya yang setiap saat memperhatikan jalannya waktu?

Kita semua tidak merasa dan sungguhpun masa kanak-kanak kadangkala masih suka di depan mata, peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu masih terbayang nyata, namun kalau dihitung-hitung kita telah menjadi makin tua.

Belasan tahun itu kalau tidak kita rasakan, tahu-tahu telah lewat bagaikan baru kemarin saja!

Siapa bilang kalau hidup ini lama?

Benarkah kata para pujangga bahwa hidup yang singkat ini harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang berguna agar kita tidak menyesal kalau sudah terlambat!

Tak terasa lagi, sepuluh tahun telah berlalu cepat semenjak terjadinya peristiwa di atas.

Telah sepuluh tahun anak-anak itu belajar ilmu silat dengan rajinnya.

Lili telah berusia delapan belas tahun dan ia kini menjadi seorang gadis yang amat cantik jelita berwatak gembira suka tertawa, bermata kocak dan selalu berseri, bibirnya selalu tersenyum manis, gerakannya lincah sekali dan pendek kata, ia sama benar dengan ibunya, Lin Lin, di waktu muda!

"Kalau aku melihat anak kita, aku teringat kepada dara yang bernama Lin Lin!"

Kata Cin Hai sambil menengok kepada isterinya yang duduk di dekatnya. Lin Lin yang biarpun sudah berusia hampir empat puluh tahun masih nampak cantik itu, mengerling sambil cemberut manja.

"Ah, kau ini memang tukang memuji! Lili memang hampir sama dengan aku, akan tetapi, siapa bilang dia cantik? Ibunya buruk rupa, bagaimana anaknya bisa cantik?"

Cin Hai tertawa karena ia sudah maklum bahwa isterinya ini biarpun di mulutnya mengomel namun di dalam hatinya merasa girang sekali.

Mereka duduk di kebun belakang memandang Lili yang sedang berlatih ilmu silat.

Lin Lin memandang kagum lalu menghela napas.

"Betapapun juga, ada satu hal yang menyusahkan hatiku. Dia sudah berusia delapan belas tahun, akan tetapi bertunangan pun belum! Sampai usia berapakah ia kelak menikah?"

"Hal itu tak perlu tergesa-gesa,"

Jawab suaminya dengan tenang.

"ia cantik jelita dan ilmu silatnya tinggi, harus mendapat jodoh yang sesuai!"

Lin Lin mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Memang, satu hal sudah pasti bahwa ketika aku masih gadis, ilmu silatku tidak setinggi tingkat kepandaiannya. Lihat alangkah indahnya gerakan Sian-li-san-hwa (Bidadari Menyebar Bunga) yang ia mainkan itu!"

Cin Hai memandang lagi ke arah Lili yang masih bersilat.

Memang, gadis itu sedang melatih Ilmu Silat Sianli Utauw (Ilmu Silat Bidadari) yang amat indah dan cepat dan gerakan Sianli-san-hwa adalah sebuah di antara tipu-tipu ilmu silat ini.

Melihat gerakan puterinya itu, Cin Hai menjadi kagum dan diam-diam ia membandingkan puterinya ini dengan Ang I Niocu dan Lin Lin.

Anak gadisnya ini benar-benar mengagumkan dan pikiran Cin Hai mulai mencari-cari pemuda manakah gerangan yang patut menjadi mantunya.

Ia merasa puas dengan ikatan jodoh antara puteranya, Hong Beng, dengan Goat Lan, puteri dari Kwee An.

Akan tetapi untuk Lili, ia belum dapat memilih seorang calon mantu yang cukup sesuai dan cocok.

Sementara itu, Lili sudah menghentikan permainannya dan seperti merasa bahwa kedua orang tuanya sedang memandangnya dan membicarakannya, ia lalu menengok dan berlari-lari menghampiri ayah ibunya.

Dengan sikap manja ia duduk di dekat ibunya sambil memeluk pundak Lin Lin yang menggunakan saputangannya untuk menghapus peluh yang membasahi jidat dan leher puterinya dengan penuh kasih sayang.

"Ibu, sekarang kau dan Ayah harus memberi perkenan kepadaku untuk pergi mengunjungi Enci Goat Lan, dan aku ingin sekali melakukan perjalanan seorang diri."

"Tak baik bagi seorang gadis muda untuk melakukan perjalanan seorang diri,"

Kata Cin Hai. Lili merengut.

"Aah, Ayah selalu berkata demikian untuk mencegah keinginan hatiku. Bukankah Ayah dan lbu sering bercerita betapa Ibu dulu juga seringkali merantau menambah pengalaman? Lagi pula, aku bukan seorang anak kecil lagi, bukan seorang gadis muda yang masih bodoh, usiaku sudah delapan belas tahun, Ayah!"

Cin Hai memandang dengan muka bersungguh-sungguh.

"Lili, dulu lain lagi, karena keadaan negara tidak sekacau ini. Orang jahat dahulu tidak sebanyak sekarang. Pula, ayah dan ibumu dahulu telah banyak membasmi penjahat sehingga banyak orang-orang jahat memusuhi kita. Kalau mereka tahu bahwa kau adalah anakku, mereka pasti akan turun tangan dan mengganggumu."

Lili berdiri dan dengan sikap menantang berkata keras.

"Aku tidak takut! Aku bukan puteri ayah dan ibu, bukan anak Pendekar Bodoh dan cucu murid Pendekar Sakti Bu Pun Su kalau aku takut! Ayah, apa perlunya aku semenjak kecil mempelajari segala macam ilmu silat itu tanpa mengenal lelah kalau sekarang aku takut mendengar tentang orang-orang jahat? Bukankah ayah sendiri sering berkata bahwa kepandaian yang dipelajari dengan susah payah tak akan ada artinya kalau tidak dipergunakan demi kepentingan orang banyak? Seorang ahli silat yang tidak mengulurkan tangan mempergunakan kepandaiannya menolong orang tertindas, bukanlah pendekar namanya!"

Cin Hai tersenyum.

Ia merasa betapa puterinya yang cerdik ini seringkali menggunakan ujar-ujar dan pelajaran yang ia berikan untuk melawan dia sendiri!

"Sudah, bicara dengan kau takkan ada orang bisa menang!

Kalau kau hanya rindu kepada calon Sosomu (Kakak Iparmu) Goat Lan, tunggulah beberapa hari lagi, nanti kita bertiga dapat melakukan perjalanan ke sana."

Lili makin cemberut.

"Tidak, aku ingin pergi seorang diri, bebas seperti burung di udara. Aku ingin merantau menambah pengalaman, ingin mempergunakan kepandaian yang kupelajari untuk menolong orang-orang lemah yang tertindas. Di samping itu, aku ingin mencari si jahanam Bouw Hun Ti untuk membalas perhitungan lama! Kalau Ayah tidak boleh, aku... aku akan minggat!"

Cin Hai melongo dan Lin Lin segera memegang tangan puterinya.

"Hush, Lili! Jangan kau berkata begitu!"

Lili memandang kepada ibunya dan matanya berseri nakal ketika ia berkata memperingatkan.

"Ibu, lupakah kau bahwa kau dulu pernah minggat pada malam hari bersama Ang I Niocu? Ibu sendiri yang menceritakan hal itu kepadaku!"

Lin Lin tak dapat menjawab, hanya memandang kepada suaminya dengan bohwat (tak berdaya).

"Lili,"

Kata Cin Hai menolong isterinya.

"Ibumu lain lagi. Ketika itu ibumu bercita-cita untuk menyusulku dalam usaha membalas dendam kepada musuh-musuh yang telah membasmi keluarga ibumu."

"Apa bedanya? Sekarang pun aku hendak pergi untuk membalas dendam kepada keparat Bouw Hun Ti!"

Kemudian, dara yang manja ini lalu membanting kaki dengan muka merah dan berkata.

"Ah, sudahlah! Ibu dan Ayah tidak sayang kepadaku! Tidak ingin melihat aku senang, Kalau Beng-ko lain lagi. Dia anak laki-laki, dicinta dan dimanja, semenjak kecil ikut berguru di Beng-san dan boleh merantau sesuka hatinya! Ah, aku ingin menjadi seorang anak laki-laki!"

Cin Hai dan Lin Lin saling pandang dengan bengong.

Celaka dua belas, pikir Cin Hai di dalam hatinya.

Anak ini lebih keras kepala daripada ibunya!

Akan tetapi Lin Lin berpikir lain.

Hebat bisik hatinya, anak ini malah lebih gagah dan bersemangat daripada ayahnya!

"Sudahlah, Lili jangan marah-marah seperti kucing terinjak buntutnya!"

Kata Cin Hai.

"Baiklah, kami akan merundingkan hal ini."

Setelah Lili kembali ke dalam kamarnya, suami isteri ini masih duduk di tempat itu.

"Bagaimana baiknya?"

Tanya Lin Lin dengan gelisah "Kalau ia memaksa dan pergi, apakah kiranya tidak berbahaya?"

"Berbahaya sih tidak,"

Jawab suaminya setelah berpikir keras.

"Kepandaian Lili sudah lebih dari cukup, bahkan kiranya tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Ang I Niocu ketika dia merantau dahulu. Tak mudah anak kita itu dirobohkan lawan. Akan tetapi, kau tahu sendiri akan bahayanya perantauan di dunia kang-ouw. Tidak hanya kepandaian silat tinggi saja yang dapat menjaga keselamatan tubuh. Banyak akal-akal busuk yang jauh lebih berbahaya daripada kepandaian silat lawan."

"Kalau begitu, kita harus melarangnya pergi!"

Kata Lin Lin cepat dan penuh kekuatiran. Pendekar Bodoh menggelengkan kepalanya.

"Melarang pun tidak benar. Anak itu lebih keras kepala daripada engkau!"

"Hm, jadi aku keras kepala, ya? Mengapa kau dulu suka padaku yang keras kepala ini?"

Cin Hai tertawa.

"Justeru kekerasan kepalamu itulah yang membuat aku suka kepadamu. Sudahlah, jangan kita bercekcok karena urusan ini, kita sudah cukup tua bukan anak-anak lagi."

"Kau yang mulai!"

"Begini saja baiknya. Mulai sekarang kita memberi pelajaran baru kepada Lili, membeberkan semua rahasia penjahat-penjahat di dunia kang-ouw agar terbuka matanya terhadap tipu-tipu muslihat yang keji. Kalau ia sudah tahu akan segala hal itu, barulah kita memberi perkenan kepadanya untuk merantau dengan dibatasi waktunya. Pergi ke Tiang-an takkan lebih dari dua bulan pulang pergi, dan kalau memberi waktu tiga atau empat bulan saja, ia takkan berani pergi terlalu jauh."

Karena tidak dapat mencari jalan lain yang lebih baik terpaksa Lin Lin menyatakan persetujuannya.

Lili merasa girang sekali ketika mendengar keputusan orang tuanya ini.

Ia segera menyatakan kesanggupannya untuk mempelajari semua tipu-tipu busuk dari orang-orang golongan hek-to (jalan hitam, yaitu para penjahat).

Sampai hampir dua pekan ia menerima wejangan dan nasihat, memperhatikan semua cerita dari ayah bundanya tentang kekejaman orang-orang jahat.

Kemudian ia mempelajari pula peta perjalanannya, yaitu dari Shaning di Propinsi An-hui tempat tinggal mereka, melalui Propinsi Ho-nan dan memasuki Propinsi Hopei menuju ke Tiang-an yang terletak di sebelah utara Sungai Huang-ho.

Lin Lin yang amat sayang kepada puterinya itu memberi bekal yang cukup banyak, sambil tiada hentinya memberi nasihat-nasihat agar dara itu berlaku hati-hati.

Seekor kuda yang amat kuat dan baik menjadi tunggangan Lili, dan gadis itu membawa bungkusan besar berisi pakaian, uang, bahkan obat-obat untuk menjaga diri.

Pedangnya Liong-coan-kiam, pemberian ayahnya tergantung di pinggangnya.

Bajunya berkembang merah dengan pinggiran biru, celananya putih bersih dari sutera mahal.

Sepatunya berkembang dan ia nampak cantik jelita dan gagah sekali.

Kedua orang tuanya memandang dengan bangga ketika mereka melihat puteri mereka duduk di atas kuda bulu putih dengan sikap demikian gagahnya.

"Ayah, Ibu, aku berangkat!"

Katanya sekali lagi setelah duduk di atas kudanya.

"Hati-hatilah di perjalananmu,"

Kata Cin Hai.

"Sampaikan salam kami kepada Kwee pekhu sekeluarga,"

Pesan Lin Lin.

Kemudian berangkatlah Lili.

Ia membalapkan kudanya yang kuat itu keluar dari Shaning lalu langsung menuju ke utara.

Ia merasa gembira sekali, wajahnya yang manis berseri-seri, sepasang matanya bersinar gemilang.

Ia benar-benar merasa seperti seekor burung yang terbang bebas merdeka di angkasa raya.

Apakah ia akan langsung menuju ke Tiang-an sebagaimana yang berkali-kali dipesankan oleh ayah ibunya?

Ah, tidak!

Dia bukan Lili yang nakal kalau ia menurut nasihat orang tuanya dan langsung menuju ke tempat tinggal pekhunya (uwaknya) di Tiang-an.

Tidak, maksud tujuannya dengan perantauannya ini sesungguhnya adalah untuk mencari musuh besarnya, Bouw Hun Ti!

Pergi mengunjungi Goat Lan di Tiang-an hanya menjadi alasan saja yang dipergunakan di hadapan orang tuanya agar ia diperbolehkan pergi!

Oleh karena inilah maka ia lalu membelok ke barat setelah keluar dari kota Shaning!

Bukan Tiang-an yang ditujunya, melainkan Tong-sin-bun, dusun tempat tinggal Ban Sai Cinjin!

Ia hendak mencari Bouw Hun Ti di dalam kelenteng besar dalam hutang kelenteng milik Ban Sai Cinjin di mana dulu ia dan Sin-kai Lo Sian menolong Thio Kam Seng!

Dulu ia suka menggigil ngeri kalau teringat akan Ban Sai Cinjin, orang tua yang aneh dan lihai itu, akan tetapi sekarang, jangankan baru Ban Sai Cinjin biarpun raja iblis sendiri muncul di depannya, belum tentu Lili akan merasa takut!

Keadaan Lili yang demikian mewah pakaiannya, cantik jelita, gadis muda yang melakukan perjalanan seorang diri, tentu saja menarik perhatian banyak orang.

Akan tetapi melihat cara ia naik kuda dan melihat gagang pedangnya yang tergantung pada pinggangnya, membuat orang-orang maklum bahwa nona cantik ini tentulah seorang perantau yang pandai ilmu silat dan tak seorang pun berani mencoba-coba untuk mengganggunya.

Hanya satu kali terjadi gangguan ketika ia masuk ke kota Lok-yang.

Di kota ini terdapat seorang jagoan muda bermuka kuning yang berjuluk Oei-bin-liong (Naga Muka Kuning) bernama Lok Ceng.

Ia adalah seorang ahli silat dari cabang Bu-tong-pai, berwatak sombong dan berlagak tinggi.

Kebetulan sekali Lok Ceng sedang duduk di depan restoran terbesar di Lok-yang, ketika Lili menghentikan kudanya di depan restoran itu, melompat turun dan memanggil seorang pelayan.

Seorang pelayan berlari menghampiri.

Lili menyerahkan kendali kudanya sambil berkata.

"Kau urus baik-baik kudaku sewaktu aku makan. Berilah dia makan dan sikat bulunya sampai bersih. Hati-hati jangan sampai ada orang jahat mengganggu buntalanku di atas kuda itu dan jangan khawatir, hadiahnya akan besar!"

Pelayan itu tersenyum dan mengangguk dengan hormat.

"Tentu saja, Siocia. Akan kulakukan pesanmu baik-baik."

Ia lalu menuntun kuda itu ke pinggir restoran.

"Kuda yang bagus!"

Tiba-tiba terdengar suara parau dan keras sehingga Lili menengok ke arah orang yang memuji kudanya.

Orang ini bukan lain adalah Lok Ceng sendiri.

Melihat seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar, bermuka kuning dan bermata kurang ajar itu, Lili berlaku hati-hati dan segera membuang pandangan matanya.

Tanpa mempedulikan orang itu, Lili terus saja memasuki restoran itu dan memesan makanan kepada pelayan yang cepat datang menghampirinya.

Restoran itu besar sekali dan para tamu yang makan di situ tidak kurang dari duapuluh orang banyaknya.

Mereka makan sambil bercakap-cakap gembira.

Ketika Lili memasuki restoran itu, hampir semua mata menengok memandang kagum.

Akan tetapi Lili tidak mempedulikan semua ini karena semenjak keluar dari rumah, ia telah menjadi biasa dengan pandangan kagum dari mata laki-laki.

Ia telah menganggap hal ini biasa saja.

Ibunya telah menasihatinya untuk bersikap dingin dan jangan mempedulikan hal ini.

"Lili, kau seorang gadis muda yang cantik manis,"

Kata ibunya memberi nasihat.

"akan banyak sekali gangguan kauhadapi di perjalanan. Laki-laki memang bermata minyak, selalu tidak dapat menjaga mata mereka kalau melihat seorang gadis cantik. Akan tetapi, kalau mereka itu memandangmu dengan mata kagum dan kurang ajar, janganlah kauhiraukan mereka. Asal mereka tidak mengganggumu dengan ucapan atau perbuatan kurang ajar, anggap saja mereka itu sebagai patung-patung hidup yang tak perlu dilayani."

Oleh karena itu, maka Lili selalu menganggap sepi mata laki-laki yang memandangnya dengan kagum bahkan orang-orang yang tersenyum-senyum dengan penuh arti kepadanya, dianggapnya sebagai lalat saja!

Akan tetapi, pada saat ia sedang menikmati hidangan yang telah dikeluarkan oleh pelayan, tiba-tiba telinganya yang tajam dapat menangkap perubahan yang terjadi di dalam warung itu.

Suara yang tadinya riuh gembira, tiba-tiba terhenti dan ketika ia mengerling, ternyata orang muda bermuka kuning yang tadi memuji kudanya, telah memasuki ruang itu dengan langkah dibuat-buat dan dada diangkat!

Diam-diam Lili merasa heran mengapa semua orang agaknya takut kepada pemuda ini, apalagi ketika ia mendengar betapa setiap meja yang dilalui oleh pemuda itu, selalu ada orang yang menawarkan makan dengan sikap menghormat sekali.

Akan tetapi pemuda tinggi besar muka kuning itu menolak semua penawaran dengan gerakan tangan, lalu ia tersenyum-senyum menghampiri meja dekat meja di mana Lili sedang makan!

Ia lalu mengambil tempat duduk dan memandang kepada Lili dengan cara yang amat menjemukan.

Mulutnya menyeringai bagaikan seekor kuda kelaparan dan terdengarlah ia berkata keras.

"Kudanya besar dan bagus, pemiliknya lebih bagus lagi!"

Semua orang yang duduk di situ maklum siapakah yang dimaksudkan oleh Lok Ceng ini.

Lili juga maklum bahwa pemuda itu sedang berusaha mengganggunya, akan tetapi oleh karena ucapannya itu masih belum bersifat kurang ajar, ia pura-pura tidak mengerti dan melanjutkan makannya.

Melihat betapa gadis manis itu tidak menengok dan tidak mempedulikan pujiannya, Lok Ceng menjadi makin berani.

Dengan sikap kurang ajar sekali dan tertawa haha-hihi ia lalu menggeser kursinya dan duduk di dekat meja Lili, menghadapi gadis itu dan memandang dengan mata kurang ajar dan mulut menyeringai.

Semua orang diam-diam tersenyum, ada yang merasa geli, ada yang merasa gembira, akan tetapi ada pula yang diam-diam merasa kuatir akan nasib gadis cantik jelita itu.

Semenjak tadi Lili menahan sabarnya, karena ia selalu masih teringat akan nasihat ibunya agar menjauhkan diri dari setiap permusuhan.

Akan tetapi karena orang itu kini duduk dekat di depannya tentu saja ia merasa amat terganggu dan masakan yang tadinya nikmat itu, kini tidak enak lagi rasanya.

"Lalat kuning sungguh menjemukan!"

Ia lalu menunda makanannya dan dengan perlahan Lili menggebrak mejanya sambil mengerahkan tenaga khi-kang ke arah mangkok masakan yang banyak kuahnya.

Air kuah di dalam mangkok itu tiba-tiba memercik ke arah Lok Ceng dan tak dapat terelakkan lagi mengenai bajunya!

Semua orang terkejut mendengar gadis itu berkata demikian, karena siapa pun tentu akan maklum bahwa dengan sebutan lalat kuning, gadis itu telah memaki Lok Ceng!

Mana ada lalat yang berwarna kuning?

Yang kuning ialah muka dari Lok Ceng!

Akan tetapi, tidak seorang pun tahu bahwa air kuah yang memercik ke atas dan membasahi baju Lok Ceng itu adalah perbuatan yang disengaja oleh Lili.

Mereka mengira bahwa hal itu kebetulan saja.

Bahkan Lok Ceng sendiri pun tidak menyangka bahwa gadis itu memiliki kepandaian tinggi sehingga dapat menggerakkan tenaga khi-kang untuk membuat air kuah itu muncrat ke arahnya.

Oleh karena itu, pemuda ini hanya tersenyum-senyum saja dan biarpun ia tahu bahwa dirinya dimaki "lalat kuning", ia tidak menjadi marah.

Ia lebih suka melihat seorang gadis yang melawan apabila diganggunya, daripada seorang gadis yang akan tersenyum-senyum melayani gangguannya.

"Aku ingin sekali menjadi potongan-potongan daging itu, untuk berkenalan dengan bibir dan mulut yang manis!"

Katanya lagi tak kenal malu dan orang-orang yang mendengar ucapannya ini lalu tertawa untuk mengambil hati jagoan muda yang disegani ini.

Mendengar ucapan dan melihat sikap orang muka kuning itu, Lili maklum bahwa kegagahan orang itu hanya pada lagaknya saja, akan tetapi sebetulnya tidak memiliki kepandaian tinggi.

Hal ini mudah saja diduga.

Seorang yang berkepandaian tinggi, tentu akan tahu akan demonstrasi tenaga khikang yang diperlihatkannya tadi.

Akan tetapi, Si Muka Kuning ini agaknya tidak tahu akan hal ini, bahkan mengeluarkan ucapan yang demikian kurang ajar.

Lili sudah kehabisan kesabarannya.

"Lalat kuning, kau lapar dan ingin makan daging? Nah, ini makanlah!"

Secepat kilat tangannya menyambar mangkok yang berisi masakan penuh kuah dan sebelum Si Muka Kuning sempat mengelak, isi mangkok itu telah menyiram mukanya, bahkan sepotong daging mengenai mulutnya demikian keras sehingga ia merasa sakit!

Suara tertawa dari para tamu tadi tiba-tiba tak terdengar lagi dan mereka kini memandang dengan muka pucat.

Belum pernah ada orang yang berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng sedemikian hebatnya!

Sementara itu, untuk sesaat Lok Ceng merasa kedua matanya pedas dan tak dapat dibuka sehingga ia menjadi gelagapan dan mempergunakan kedua tangannya untuk membersihkan mukanya.

Keadaannya amat lucu dan para penonton menahan suara ketawa mereka karena sungguhpun mereka merasa geli melihat orang yang ditakuti itu berada dalam keadaan demikian lucunya, akan tetapi mereka tidak berani memperdengarkan suara ketawa.

Kini kegembiraan Lok Ceng lenyap sama sekali.

Mukanya yang berwarna kuning menjadi kemerah-merahan karena marah dan berminyak karena siraman kuah tadi.

Matanya yang sudah bebas dari kepedasan kuah kini memandang dengan melotot.

"Gadis liar, apakah kau sudah bosan hidup berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng?"

Ia membentak dan melangkah maju.

"Eh, eh, cacing muka kuning!"

Lili mengejek dan sengaja mengganti sebutan naga menjadi cacing.

"Apakah kau masih belum kenyang?"

Sambil berkata demikian, kembali tangannya bergerak dan kini lain masakan penuh kecap berwarna merah yang masih ada setengah mangkok melayang cepat ke arah muka Lok Ceng.

Si Naga Muka Kuning cepat mengelak akan tetapi kurang cepat dan tahu-tahu mukanya telah tersiram oleh masakan kecap ini!

Untung baginya ia cepat-cepat meramkan kedua matanya yang tadi melotot sehingga kecap itu tidak memasuki kedua matanya.

Akan tetapi celaka sekali, ia tidak dapat menutup kedua lubang hidungnya sehingga kedua lubang hidungnya yang lebar itu diserbu oleh kecap membuat ia tersedak dan berbangkis-bangkis beberapa kali seakan-akan hendak copot!

Kini para tamu di restoran itu terpakga mendekap mulut masing-masing untuk menahan ketawa, karena melihat Lok Ceng berbangkis-bangkis, sambil mencak-mencak sungguh merupakan pemandangan yang amat lucu dan menggelikan.

Lok Ceng memaki-maki dan kemarahannya memuncak.

Ia mencabut golok yang terselip pada pinggangnya dan kini mengamuk hebat.

Beberapa kali ia membacok ke kanan kiri dan meja kursi yang terkena bacokan golok itu menjadi terbelah.

Ia masih menggerakkan kedua kakinya menendang ke sana ke mari sehingga meja kursi beterbangan ke mana-mana.

Para tamu yang tadinya menahan ketawa, menjadi ketakutan dan segera mereka menyingkirkan diri ke tempat jauh, mepet pada dinding, berjajar merupakan pagar.

Muka mereka menjadi pucat karena sekarang keadaan bukan main-main lagi.

Gadis itu pasti akan menjadi korban golok Lok Ceng yang amat tajam.

Akan tetapi, Lili tidak mau membu ang banyak waktu untuk melayani Si Muka Kuning yang sombong itu.

Biarpun Lok Ceng mengobat-abitkan golok dengan ganas sekali, ia tidak menjadi gentar dan dengan senyum mengejek tubuhnya bergerak dan tahu-tahu ia telah berada di depan si pengamuk itu.

"Gadis liar, kupenggal lehermu!"

Teriak Lok Ceng.

"Manusia tak tahu diri, kau harus diberi rasa sedikit!"

Lili balas membentak dan dengan gerak tipu Sianli-jip-pek-to (Bidadari Memasuki Ratusan Golok) sebuah gerakan dari Ilmu Silat Sianli-utauw, ia melompat maju dan dengan tubuh lincah sekali ia dapat masuk diantara gotok itu dan langsung menggerakkan tangan kanan ke arah iga lawannya.

"Duk!"

Dengan tepat sekali jari tangannya mengirim tiam-hwat (totokan) yang mengenai jalan darah hong-twi-hiat dengan jitu sekali.

Terdengar Lok Ceng memekik kerasa dan aneh...!

Orang muka kuning yang tinggi besar ini tak dapat bergerak lagi.

Tubuhnya menjadi kaku dan dalam keadaan masih berdiri dengan golok terpegang erat-erat di tangan kanannya!

Semua orang memandang dengan mata terbelalak.

Mereka masih tidak mengerti mengapa Lok Ceng berdiri kaku seperti patung.

Lili yang semenjak kecil memang telah mempunyai kesukaan berkelahi dan memang wataknya nakal dan jenaka itu, tersenyum-senyum dan dengan mata berseri-seri ia lalu mengambil semua mangkok di atas meja yang masih terisi masakan, lalu ia membalikkan mangkok itu ke atas kepala Lok Ceng, sehingga Lok Ceng kini memakai topi mangkok yang isinya tumpah dan mengalir di sepanjang hidungnya!

Semua orang yang merasa lebih heran daripada lucu itu, tak dapat tertawa dan masih memandang dengan bengong, bahkan pelayan yang dipanggil oleh Lili seakan-akan tak mendengar panggilan gadis itu dan masih berdiri bengong sambil memandang ke arah Lok Ceng.

"He, aku mau membayar! Mana pelayan?"

Teriak Lili. Barulah pelayan itu berlari menghampiri sambil membungkuk-bungkuk.

"Nah, ini untuk membayar masakan yang telah kumakan. Lebihnya untuk mengganti kerugian rumah makan ini karena barang-barang yang dirusak oleh lalat kuning ini!"

Ia melemparkan sepotong uang perak yang berat ke atas meja, lalu keluar dari restoran itu, sama sekali tidak mempedulikan Lok Ceng yang masih berdiri seperti patung batu.

Pelayan yang mengurus kudanya mendapat hadiah yang lumayan pula.

"Eh, Siocia..."

Kata pelayan ini.

"bagaimana dengan Oei-bin-liong? Tubuhnya kaku dan ia tidak dapat menggerakkan kaki pergi dari rumah makan kami."

Lili tertawa geli.

"Biarlah, bukankah ia menjadi sebuah patung yang baik sekali untuk menarik perhatian langganan sehingga restoran selalu akan penuh dengan tamu?"

"Akan tetapi... tentu ia akan marah dan... bagaimana kalau ia mati?"

Lili berkata dengan sungguh-sungguh.

"Jangan kuatir. Aku sengaja memberi hukuman kepadanya. Dalam waktu pendek ia akan dalam keadaan demikian, nanti kesehatannya akan pulih kembali."

Setelah berkata demikian, Lili lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kudanya itu cepat-cepat meninggalkan Lok-yang.

*** Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama dua pekan akhirnya sampailah Lili di tempat yang menjadi tujuan utamanya, yaitu dusun Tong-sin-bun.

Ia lalu memilih rumah penginapan dan menyewa sebuah kamar.

Kudanya ia serahkan kepada pelayan untuk dirawat baik-baik.

Tanpa bertanya kepada orang lain, Lili dapat mencari rumah Ban Sai Cinjin dengan mudah, oleh karena di dalam dusun yang tak berapa besar itu, hanya satu-satunya gedung yang besar dan mewah yang menjadi tempat tinggal Ban Sai Cinjin.

Bahkan ketika ia bertanya kepada pelayan, hotel di mana ia bermalam juga milik dari Ban Sai Cinjin yang kayaraya dan berpengaruh besar.

"Nona datang dari mana dan apakah hendak bertemu dengan Ban Sai Cinjin Loya?"

Lili tersenyum dan maklum bahwa semua pekerja di dalam hotel ini adalah anak buah Ban Sai Cinjin, maka ia menjawab.

"Ah, tidak. Aku hanya seorang pelancong yang tertarik melihat keadaan di dusun ini yang amat ramai."

Pada senja hari itu diam-diam tanpa diketahui oleh seorang pun, Lili mengenakan pakaian yang ringkas, menggantungkan pedangnya di pinggang, lalu keluar dari penginapan itu untuk mencari musuh besarnya, Bouw Hun Ti.

Ia menduga bahwa musuh besarnya itu tentu berada di kelenteng yang dulu pernah dilihatnya dengan Sin-kai Lo Sian, yaitu dalam sebuah hutan tak jauh dari dusun Tong-sin-bun itu.

Akan tetapi sebelum menuju ke hutan itu, ia sengaja menyelidiki dulu gedung besar tempat tinggal Ban Sai Cinjin yang nampak sunyi dari luar.

Ketika ia hendak melompat ke atas pagar tembok yang tinggi dan yang mengelilingi gedung itu, tiba-tiba ia melihat seorang pemuda yang tampan bersama seorang setengah tua berjalan keluar dari gedung itu dengan tindakan cepat.

Lili cepat bersembunyi di tempat gelap dan memandang tajam.

Bukan main heran dan terkejutnya ketika ia melihat pemuda itu.

Tak salah lagi, pemuda itu tentulah Thio Kam Seng, anak laki-laki yang dulu pernah ditolong oleh suhunya, Sin-kai Lo Sian, atau yang boleh juga disebut suhengnya, karena mereka keduanya pernah menjadi murid Sin-kai Lo Sian.

Lili menjadi girang sekali dan hampir saja ia memanggil pemuda itu.

Akan tetapi ia dapat menahan keinginannya ini karena teringat bahwa pemuda ini baru saja keluar dari gedung Ban Sai Cinjin.

Hal ini benar-benar aneh sekali.

Kam Seng pernah hampir dibunuh oleh seorang murid Ban Sai Cinjin, bagaimana sekarang ia bisa keluar masuk demikian leluasa di gedung Ban Sai Cinjin itu?

Hal ini menimbulkan kecurigaannya dan ia tidak memanggil pemuda itu, bahkan lalu diam-diam mengikuti perjalanan Kam Seng dan orang tua itu yang berjalan cepat menuju ke hutan di mana terdapat kelenteng besar kepunyaan Ban Sai Cinjin.

Bagaimanakah Kam Seng dapat berada di tempat itu dan keluar dari gedung Ban Sai Cinjin dengan enaknya?

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ketika Pendekar Bodoh dan isterinya naik ke Gunung Beng-san dan bertemu kembali dengan Lili, pemuda ini dibawa pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le.

Sesungguhnya, Thio Kam Seng tidak mempunyai riwayat hidup yang baik.

Dulu ketika ditolong oleh Sin-kai Lo Sian, ia memang menceritakan riwayatnya bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena kemiskinan dan kelaparan, akan tetapi sesungguhnya tidak demikian halnya.

Thio Kam Seng ini adalah anak tunggal dari seorang tokoh persilatan tinggi yang bernama Song Kun.

Para pembaca dari cerita Pendekar Bodoh tentu masih ingat bahwa Song Kun adalah sute (adik seperguruan) dari Lie Kong Sian, dan bahwa karena kejahatannya hendak mengganggu Lin Lin akhirnya Song Kun tewas dalam tangan Cin Hai, Si Pendekar Bodoh.

Pada waktu hal ini terjadi, Cin Hai belum menikah dengan Lin Lin, akan tetapi Song Kun telah meninggalkan seorang gadis yang dipeliharanya sebagai isteri tidak sah, dan isterinya ini telah mengandung tiga bulan.

Karena Song Kun terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang yang jahat sekali, maka ia mempunyai banyak bini peliharaan di mana-mana, baik yang ia dapatkan karena ketampanannya maupun yang ia ambil secara paksa, bahkan yang diculiknya dari rumah orang tua gadis itu!

Setelah Song Kun tewas dalam tangan Pendekar Bodoh, Thio Kui Lin hidup terlunta-lunta.

Untuk kembali ke rumah orang tuanya ia merasa malu, dan hanya untuk kepentingan anak dalam kandungannya belaka ia masih mempertahankan hidupnya.

Beberapa bulan kemudian, dalam keadaan yang amat sengsara, terlahirlah seorang anak laki-laki yang ia beri nama Kam Seng.

Karena Thio Kui Lin sesungguhnya amat benci kepada suaminya yang mengambilnya secara paksa maka ia memberi nama keturunan Thio kepada puteranya ini.

Betapapun juga, setelah Kam Seng berusia lima tahun dan sudah pandai berpikir, ketika Kam Seng bertanyakan ayahnya, Kui Lin lalu menceritakan bahwa ayahnya telah tewas dalam tangan seorang pendekar besar bernama Pendekar Bodoh!

Dalam keadaan yang amat miskin, Kui Lin hidup berdua dengan puteranya.

Mereka terlunta-lunta dan hidup serba kekurangan, dan akhirnya Kui Lin jatuh sakit yang membawanya kembali ke alam baka.

Semenjak itu Kam Seng menjadi yatim piatu, hidup merantau terlunta-lunta sebagai seorang pengemis cilik.

Ternyata ia mempunyai otak yang cerdik sekali, dan agaknya kecerdikan ayahnya menurun kepadanya.

Ia dapat berpura-pura bodoh dan jarang bicara, padahal segala sesuatu ia perhatikan betul-betul.

Cerita ibunya tentang ayahnya yang terbunuh oleh Pendekar Bodoh, berkesan di dalam lubuk hatinya, dan ia tak dapat melupakan nama Pendekar Bodoh ini dari ingatannya.

Demikianlah, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia tertolong oleh Sin-kai Lo Sian, diangkat menjadi muridnya dan akhirnya ia diajak pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le Si Pengemis Iblis yang lihai.

"Kita harus mencari suhumu,"

Kata Mo-kai Nyo Tiang Le.

"Sebelum kita bertemu dengan gurumu, kau harus melatih diri baik-baik, akan kuajarkan ilmu silat-ilmu silat tinggi kepadamu agar kelak kau tak usah kalah oleh murid Pok Pok Sianjin atau puteri Pendekar Bodoh sekalipun!"

Diam-diam Kam Seng merasa girang sekali, telah lama ia menahan-nahan dendamnya ketika ia mengetahui bahwa musuh besarnya, yaitu pembunuh ayahnya, adalah ayah Lili yang menjadi sumoinya.

Dapat dibayangkan betapa menggeloranya hatinya ketika dulu ia melihat Pendekar Bodoh di puncak Gunung Beng-san.

Saking terharu dan sedihnya tak berdaya membalas dendam, dulu ia telah menangis sedih.

Tak seorang pun mengetahui apa yang menyebabkannya menangis.

Kini mendengar ucapan Mo-kai Nyo Tiang Le supeknya, ia menjadi girang sekali dan mulai hari itu ia belajar dengan tekun dan rajinnya, membuat girang hati Mo-kai Nyo Tiang Le.

Bertahun-tahun Kam Seng pergi merantau dengan Mo-kai Nyo Tiang Le, menjelajah seluruh propinsi di daerah Tiongkok, akan tetapi mereka tak bertemu dengan Sin-kai Lo Sian, bahkan mendengar beritanya pun tidak.

Orang-orang kang-ouw yang mereka tanyai, tak seorang pun pernah bertemu dengan Sinkai Lo Sian yang telah menghilang untuk bertahun-tahun lamanya.

Terpaksa Mo-kai Nyo Tiang Le mewakili sutenya mendidik Kam Seng yang sesungguhnya menguntungkan pemuda itu, karena kepandaian Pengemis Iblis ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian Pengemis Sakti.

Sembilan tahun lamanya Mo-kai Nyo Tiang Le mengajak Kam Seng merantau, berpindah-pindah dari barat ke timur, dari utara ke selatan dan sementara itu, kepandaian Kam Seng telah maju dengan cepat sekali.

Ia telah mewarisi kepandaian Mo-kai Nyo Tiang Le, terutama sekali permainan Ilmu Silat Soan-hong-kun-hwat (Ilmu Silat Kitiran Angin) dan ilmu melepas senjata rahasia yang disebut Thio-tho-ci (biji buah Tho besi).

Ilmu permainan tongkat dari Pengemis Iblis ini pun telah ia warisi dengan baik sekali.

"Supek,"

Kata Kam Seng pada suatu hari setelah supeknya itu menyatakan kekesalan hatinya karena belum juga dapat bertemu dengan Sin-kai Lo Sian.

"apakah tidak bisa jadi Suhu terkena celaka di tangan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin? Bagaimana kalau kita mencari di sana?"

Supeknya mengangguk-angguk.

"Mungkin dugaanmu ini benar juga. Aku pun telah mempunyai dugaan demikian."

Ia menghela napas.

"Memang Ban Sai Cinjin jahat dan kejam, akan tetapi ilmu kepandaiannya amat tinggi. Jangankan Sute, aku sendiri belum tentu dapat melawannya. Akan tetapi, kita harus dapat mengetahui bagaimana dengan nasib Sute. Kita berangkat ke dusun Tong-sin-bun."

Mereka lalu menuju kembali ke barat dan tiba di dusun itu di waktu malam.

"Supek, biarlah teecu menyelidiki ke kuil itu."

"Kau hati-hatilah, Kam Seng. Di sana terdapat banyak orang pandai,"

Kata Mo-kai Nyo Tiang Le yang duduk di bawah pohon sambil minum arak yang dibelinya di warung arak.

"Jangan kuatir, Supek. Tak percuma selama ini teecu mempelajari ilmu kepandaian dari Supek."

Pemuda ini lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke hutan itu.

Ia melihat kelenteng itu terang sekali, penuh dengan lampu-lampu penerangan yang besar dan mewah.

Melihat keadaan kelenteng itu dan melihat betapa kain-kain sutera yang halus tergantung dijadikan tirai penutup pintu, ia menghela napas dan melirik ke arah pakaiannya sendiri.

Semenjak ia pergi ikut dengan supeknya belum pernah ia berpakaian baik.

Pakaiannya tambal-tambalan dan kotor sekali.

Sesungguhnya tidak sukar baginya kalau ia mau mengambil pakaian dari para hartawan, akan tetapi supeknya tentu melarangnya, dan ia merasa malu untuk berpakaian bagus sedangkan supeknya berpakaian kotor penuh tambalan.

Keadaannya sama seperti seorang pengemis muda!

Kam Seng menanti sampai beberapa lama, akan tetapi oleh karena ia tidak melihat seorang pun keluar dari kelenteng itu, ia lalu memberanikan diri dan menghampiri kelenteng itu.

Dengan ginkangnya yang sudah terlatih baik dengan mudah ia lalu melompat ke atas genteng.

Dari atas genteng ia melihat bahwa penerangan yang paling besar keluar dari ruangan belakang, maka dengan amat hati-hati ia lalu menuju ke ruang itu, mengerahkan gin-kangnya agar genteng yang diinjaknya tidak menerbitkan suara berisik.

Ketika ia mengintai ke bawah, ia melihat tiga orang sedang bercakap-cakap di dalam ruangan itu.

Ia mengenal dua orang diantara mereka yaitu Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin.

Yang seorang lagi adalah seorang tosu tua yang rambutnya masih nampak hitam, demikianpun jenggotnya.

Kam Seng merasa heran mendengar bahwa Ban Sai Cinjin yang berambut putih dan tua itu menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada tosu ini.

Sungguh mengherankan bahwa seorang yang usianya lebih tua daripada Ban Sai Cinjin masih nampak segar dan rambutnya masih hitam.

Akan tetapi pada saat itu, percakapan mereka lebih menarik hati Kam Seng, karena ia mendengar nama Pendekar Bodoh' disebut-sebut.

"Memang Pendekar Bodoh lihai sekali,"

Ia mendengar tosu itu berkata sambil menganggukkan kepalanya.

"Ia telah mewarisi kepandaian Bu Pun Su. Akan tetapi pinto (aku) tahu bagaimana harus menghadapi dan melawannya. Ia mengandalkan pengertiannya tentang pokok dan dasar gerakan ilmu silat sehingga kalau ia dilawan dengan ilmu silat biasa, ia akan menang di atas angin. Akan tetapi pinto telah mempelajari ilmu silat dunia barat yang mempunyai gerakan berlainan dan dasarnya pun berbeda sehingga kalau menghadapi Pendekar Bodoh, belum tentu pinto takkan dapat merobohkannya!"

"Supek berkata benar,"

Bouw Hun Ti tiba-tiba berkata.

"bagaimanapun juga, Pendekar Bodoh bukan tidak dapat dilawan! Pernah teecu mendengar bahwa Pendekar Bodoh masih belum selihai Hek Pek Mo-ko (Iblis Hitam dan Iblis Putih, tokoh kang-ouw yang muncul dalam cerita Pendekar Bodoh). Pernah dia terluka oleh kedua saudara itu. Kalau kepandaian Suhu saja sudah setingkat dengan kepandaian Hek Pek Mo-ko karena dari satu cabang persilatan, mustahil kalau Supek tidak dapat menundukkan Pendekar Bodoh!"

Ketika Ban Sai Cinjin menyedot huncwenya dan hendak menjawab tiba-tiba tosu itu menengok ke arah genteng di mana Kam Seng mengadakan pengintaian dan berkata halus.

"Sahabat muda yang mengintai di atas genteng, kauturunlah saja!"

Bukan main kagetnya Kam Seng mendengar ucapan ini.

Semenjak tadi ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan hatinya tertarik sekali.

Kalau orang-orang di bawah ini yang demikian lihai ternyata memusuhi Pendekar Bodoh, maka ia tidak sekali-kali boleh memusuhi mereka.

Alangkah baiknya kalau ia bisa berkawan dengan mereka untuk membalas dendamnya kepada Pendekar Bodoh!

Telah berkali-kali supeknya, Mo-kai Nyo Tiang Le menyatakan bahwa kepandaian Pendekar Bodoh amat tinggi, masih lebih tinggi daripada kepandaian Pengemis Iblis itu, maka sudah menipislah harapan di dalam hati Kam Seng mendengar pernyataan ini.

Kini mendengar betapa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin dan tosu yang menjadi suheng kakek berhuncwe itu demikian tingginya, ia mendapat sebuah pikiran baik sekali.

Mendengar ucapan tosu itu, makin yakinlah ia bahwa tosu itu benar-benar lihai sekali, maka ia lalu menjawab.

"Maafkan teecu yang muda berlaku lancang!"

Setelah berkata demikian, ia lalu meloncat ke bawah, melayang sambil menggunakan gerakan In-liong-san-hian (Naga Awan Perlihatkan Diri).

Gerakan ini cukup indah dan ilmu lompatnya cukup hebat sehingga tiga orang yang berada di ruang itu memandang dengan kagum.

Melihat seorang pemuda cakap berbaju tambal-tambalan dan kotor sekali, Ban Sai Cinjin lalu melangkah maju, dan bertanya.

"Orang muda, siapakah kau dan mengapa kau melakukan pengintaian di kelentengku?"

Kam Seng menjura memberi hormat dan otaknya yang cerdik diputar-putar, kemudian ia berkata dengan sikap gagah dan suara tenang.

"Tadi teecu mendengar tentang totiang ini yang hendak melawan Pendekar Bodoh. Oleh karena ada permusuhan pribadi antara teecu dan Pendekar Bodoh, maka hati teecu tertarik sekali dan ingin teecu mencoba kepandaian Totiang yang lihai. Teecu maklum bahwa teecu bukanlah lawan Totiang ini, akan tetapi kalau Totiang dapat mengalahkan teecu dalam sepuluh jurus, teecu akan menghambakan diri menjadi murid dan akan menceritakan sesuatu bahaya yang mengancam ketenteraman di sini. Kalau Totiang tidak dapat mengalahkan teecu dalam sepuluh jurus, jangah harapkan akan dapat menangkan Pendekar Bodoh!"

Kata-kata ini membuat Bouw Hun Ti menjadi marah sekali dan ia melompat ke depan, cepat mengirim pukulan keras ke arah kepala Kam Seng sambil berseru.

"Macammu hendak menantang Supek?"

Pukulan tangan kanan Bouw Hun Ti ini keras sekali dan tenaga yang terkandung dalam pukulan itu cukup untuk menghancurkan batu karang.

Sudah diketahui bahwa ilmu kepandaian Bouw Hun Ti sudah mencapai tingkat tinggi, lebih tinggi dari Sin-kai Lo Sian maka dapat diduga betapa lihai dan berbahayanya pukulan ini.

Akan tetapi, Kam Seng bukanlah seorang pemuda yang bodoh.

Ia telah mewarisi kepandaian Mo-kai Nyo Tiang Le dan kepandaiannya sekarang mungkin sudah lebih tinggi daripada Sinkai Lo Sian!

Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lwee-kang tak mungkin ia dapat melawan orang kuat ini, maka ia lalu mempergunakan kecerdikannya.

Dengan lengan kanan, ia mengerahkan tenaga halus untuk menangkis pukulan lawan, sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, akan tetapi digerakkan memukul ke depan dengan ilmu silat Soan-hong-jiu (Kepalan Kitiran Angin).

Bouw Hun Ti merasa terkejut sekali karena sebelum pukulannya mengenai sasaran, lebih dulu pukulan lawan itu mendatangkan angin yang hebat dan berbahaya sehingga terpaksa ia miringkan tubuhnya dan pukulannya tidak keras lagi.

Ketika pukulannya tertangkis oleh lengan kiri Kam Seng, keduanya terpental ke belakang!

"Bagus...!"

Kata tosu itu yang sesungguhnya adalah suheng dari Ban Sai Cinjin yang bernama Wi Kong Siansu.

Wi Kong Siansu ini sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan adalah seorang pertapa di Hek-kwi-san dan dijuluki Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pencabut Nyawa).

Oleh karena merasa kuatir menghadapi musuh-musuh yang tangguh, Ban Sai Cinjin menyuruh Bouw Hun Ti untuk mengundang dan membujuk suhengnya itu yang kemudian ternyata berhasil baik.

Melihat pukulan Soan-hon-jiu yang digerakkan oleh Kam Seng, Wi Kong Siansu menjadi tertarik dan ia lalu berdiri dari bangkunya.

"Bouw Hun Ti, biarkan anak muda ini memenuhi keinginannya."

Ia melangkah maju menghadapi Kam Seng.

"Anak muda, sebelum pinto menuruti permintaanmu yang kurang ajar tadi, lebih dulu katakanlah kau siapa, anak siapa dan mengapa kau bermusuhan dengan Pendekar Bodoh?"

Semenjak dulu, Kam Seng tak pernah menyebut-nyebut nama ayahnya di depan siapapun juga.

Sekarang karena maklum sepenuhnya bahwa ia berada diantara orang-orang yang menjadi musuh Pendekar Bodoh pula, ia tidak merasa ragu-ragu untuk memberitahukan nama ayahnya, bahkan ia pun merubah pula shenya yang biasanya Thio itu menjadi Song.

"Teecu bernama Kam Seng, she Song, Ayah teecu telah tewas di tangan Pendekar Bodoh, dan ayah teecu itu bernama Song Kun."

Mendengar disebutnya nama ini, Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin saling pandang dengan terkejut sekali.

"Apa? Ayahmu adalah Song Kun Si Tubuh Baja yang berjuluk Ang-ho-sian-kiam?"

Tanya Wi Kong Siansu dengan heran.

"Entahlah, karena ayah telah tewas sebelum teecu terlahir. Teecu hanya mendengar dari ibuku yang sekarang telah meninggal dunia pula. Hanya satu hal yang teecu ketahui, yaitu bahwa ayah teecu yang bernama Song Kun itu terbunuh oleh Pendekar Bodoh!"

"Benar, benar!"

Wi Kong Siansu mengangguk-angguk.

"Memang terbunuh oleh Pendekar Bodoh. Marilah, kau maju dan hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu, anak muda!"

Kam Seng memang sengaja menantang untuk dirobohkan dalam sepuluh jurus karena ia mempunyai maksud tertentu.

Ia telah maklum sampai di mana tingkat kepandaiannya, apabila diukur dengan kepandaian supeknya Nyo Tiang Le.

Sungguhpun ia belum dapat menyamai ilmu kepandaian supeknya itu, namun dari latihan-latihan dengan supeknya ia dapat menaksir bahwa supeknya itu tak mungkin akan dapat merobohkan dan mengalahkannya dalam tiga puluh jurus!

Maka ia sengaja menantang untuk dirobohkan dalam sepuluh jurus oleh tosu itu, karena kalau hal ini memang dapat terjadi, ia tidak ragu-ragu lagi akan kepandaian tosu ini dan tidak ragu-ragu untuk mengkhianati supeknya!

Setelah tosu itu melangkah maju menghadapinya, tanpa seji (sungkan) lagi Kam Seng lalu menyerang dengan Ilmu Silat Soan-hong-kun-hwat yang paling lihai.

Ia hendak mendahului menyerang agar supaya kakek itu tidak mempunyai kesempatan untuk menyerangnya.

Kalau saja ia dapat menyerang bertubi-tubi sampai sepuluh jurus, biarpun tidak dapak merobohkan tosu itu, berarti ia telah menang karena dalam sepuluh jurus kakek itu tak dapat mengalahkannya!

Wi Kong Siansu agaknya maklum akai isi pikirannya ini, maka sambil tersenyun kakek yang amat lihai ini tidak memberi kesempatan kepada Kam Seng untuk menyerang dengan susulan lain.

Begitu pukulan Kam Seng mendatang dan telah dekat dengan dadanya yang sama sekali tidak terpengaruh oleh angin pukulan itu ia mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis dan tangan kanannya lalu meluncur keluar membarengi pukulan itu menotok ke arah pundak Kam Seng.

Pemuda ini terkejut sekali karena tangkisan ujung lengan baju itu ketika menimpa lengannya, tulang lengannya terasa sakit sekali bagaikan beradu dengan baja keras sedangkan totokan itu pun cepat sekali datangnya sehingga hampir saja ia menjadi korban dalam segebrakan saja!

Ia cepat menjatuhkan diri ke belakang, berjumpalitan ke belakang dua kali, kemudian setelah berdiri ia lalu menyerang lagi.

Serangan dalam jurus ke dua ini dilakukan dengan gerak tipu yang amat lihai.

Ia melakukan serangan dari tiga jurusan, tangan kanan diputar merupakan kepalan yang mengarah kepala, tangan kiri dengan jari tangan terbuka menyabet lambung sedangkan kaki kanan menyusul dengan tendangan maut ke arah pusar!

Inilah gerak tipu yang disebut Sam-in-koan-goat (Tiga Awan Menutup Bulan).

Gerakan tiga macam pukulan ini dilakukan susul menyusul sehingga hampir boleh dibilang berbareng datangnya, dan karena yang diarah oleh ketiga pukulan ini adalah anggota-anggota tubuh yang berbahaya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan Sam-in-koan goat ini.

Satu saja di antara ketiga pukulan itu mengenai sasaran, cukup untuk mengantar nyawa orang ke tempat asal!

"Bagus...!"

Seru Wi Kong Siansu melihat kehebatan serangan ini.

Dengan amat tenang kakek ini melangkahkan kakinya dalam bentuk segitiga.

Pertama-tama ia melangkah ke kanan sambil menundukkan kepala menghindarkan diri dari pukulan ke arah kepalanya, lalu melangkah lagi menyerong ke muka sambil menangkis pukulan ke arah lambungnya, sedangkan tendangan yang mengarah pusarnya itu tidak dielakkan, bahkan ia lalu mengangkat kakinya menyambut tendangan itu dengan tendangan pula.

Sungguh mengherankan.

Kalau dilihat tendangan Kim Seng amat keras dan cepat datangnya sedangkan kakek itu hanya mengangkat sedikit saja kakinya untuk menyambut tendangan pemuda itu akan tetapi begitu sepatu mereka bertemu, Kam Seng berseru kaget dan tubuhnya terlempar ke belakang tiga tombak lebih!

Masih baik bahwa ia mempunyai gin-kang yang sempurna sehingga ia dapat berjungkir balik dan mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat turun dengan kaki terlebih dulu!

Bukan main kagumnya hati Kam Seng.

Ia maklum bahwa tosu ini benar-benar jauh lebih lihai daripada supeknya, maka tanpa banyak ragu-ragu lagi, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tosu itu.

"Kalau Totiang sudi menerima teecu sebagai murid, teecu akan merasa bahagia sekali."

Wi Kong Siansu tertawa bergelak.

"Sayang kau ditinggal ayahmu dan tidak bertemu dengan guru yang baik. Kalau ada ayahmu, tentu kepandaianmu sudah sepuluh kali lipat lebih pandai daripada sekarang."

Ban Sai Cinjin lalu maju dan mengebulkan huncwenya.

"Song Kam Seng, kau tadi bilang bahwa kau mempunyai rahasia yang hendak dituturkan. Apakah rahasia itu? Hayo kau berkata terus terang, karena kalau memang betul kau putera Song Kun, kita adalah orang-orang sendiri. Ketahuilah bahwa antara kami dengan ayahmu dahulu terdapat perhubungan yang baik sekali."

"Sesungguhnya amat malu untuk menuturkan keadaan teecu,"

Kata Kam Seng sambil menundukkan kepalanya dan masih berlutut di depan Wi Kong Siansu.

"Semenjak kecil teecu telah ditinggal mati ibu, dan ayah bahkan telah meninggalkan teecu sebelum teecu terlahir. Teecu berkelana dan bersengsara seorang diri dengan hati mengandung dendam kepada Pendekar Bodoh, akan tetapi apa daya? Kemudian, teecu bertemu dengan Mo-kai Nyo Tiang Le yang memberi pelajaran ilmu silat kepada teecu. Sungguhpun kemudian teecu ketahui bahwa Mo-kai Nyo Tiang Le dan juga Sin-kai Lo Sian adalah kawan-kawan segolongan dengar Pendekar Bodoh sehingga hati teecu merasa segan sekali untuk belajar ilmu silat darinya, akan tetapi terpaksa teecu pertahankan juga. Karena, lebih baik menerima pelajaran ilmu silat dari siapapun juga daripada tidak berkepandaian sama sekali. Nah, kebetulan sekali hari ini teecu dibawa oleh Mo-kai Nyo Tiang Le yang sedang berusaha mencari Sin-kai Lo Sian. Dia menyangka bahwa sutenya itu tentu telah mendapat celaka dari Ban Sai Cinjin, maka ia lalu menyuruh teecu mengadakan penyelidikan ke sini!"

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha! Mo-kai Nyo Tiang Le pengemis kelaparan! Apa yang kutakuti terhadap orang seperti dia itu?"

"Teecu juga maklum akan hal ini, dan mulai saat ini juga, kalau kiranya Cu-wi Locianpwe sudi menerima, teecu ingin tinggal di sini mempelajari ilmu silat dan kemudian bersama Cu-wi ikut menyerbu dan membalas hukum kepada Pendekar Bodoh."

Ban Sai Cinjin agaknya masih ragu-ragu dan menaruh hati curiga. Akan tetapi Wi Kong Siansu sambil berkedip sutenya itu, berkata kepada Kam Seng.

"Anak muda, kami percaya bahwa kau memang putera Song Kun. Akan tetapi, siapa mengetahui keadaan seseorang? Mo-kai Nyo Tiang Le yang menjadi gurumu itu ternyata hendak memusuhi sute dan menyuruh kau mengadakan penyelidikan ke sini. Bagaimanakah kalau sikapmu ini hanya sandiwara belaka agar kau dapat menyelamatkan diri dari kami? Kalau kau sekarang bisa memancing Mo-kai Nyo Tiang Le datang ke sini, tanpa mengatakan bahwa pinto dan Ban Sai Cinjin berada di tempat ini, dan kemudian di depan kami kau memperlihatkan sikapmu bermusuh dengan dia, barulah kami akan percaya. Menerima murid bukanlah hal yang amat mudah, dan sebelum mengetahui betul kesetiaanmu, pinto tidak dapat menerimamu sebagai murid."

"Baiklah, harap Cu-wi suka menanti sebentar. Malam ini juga teecu akan membawa Mo-kai Nyo Tiang Le datang ke tempat ini!"

Setelah berkata demikian, Kam Seng memberi hormat dan melompat keluar dari ruangan itu. Ban Sai Cinjin hendak menggerakkan tangan mencegah, akan tetapi suhengnya berkata.

Baca Juga: Suling Emas 1

Baca Juga: Bu Kek Siansu 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert