Eps 2 Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo.
Si Pengemis Sakti terkejut juga melihat betapa serangan ini cukup hebat dan berbahaya, maka ia lalu miringkan tubuhnya dan mengulur tangan hendak merampas pisau itu.
Namun, alangkah herannya ketika hwesio kecil itu dapat mengelak pula!
Sementara itu, Lili segera menghampiri anak terikat tangannya dan segera membuka ikatan tangan.
Anak itu memandang kepadanya dengah mata mengandung rasa terima kasih akan tetapi mereka berdua lalu berpaling menonton pertempuran antara Lo Sian dan hwesio kecil tadi.
Sebetulnya tak tepat disebut pertempuran, oleh karena Lo Sian sebetulnya hanya ingin mencoba sampai di mana kelihaian anak ini dan sengaja tidak membalas.
Ia memperhatikan gerakan hwesio itu dan diam-diam ia merasa terkejut sekali ketika mengenal ilmu silat yang dimainkan oleh hwesio kecil itu.
Ia cepat mengulur tangan dan dengan gerakan kilat berhasil menotok pundak hwesio itu yang segera roboh dengan lemas.
Ternyata bahwa Lo Sian telah menotok jalan darahnya yang membuatnya menjadi lemas dan tak berdaya, sungguhpun totokan itu tidak mendatangkan rasa sakit.
"Hayo kita cepat pergi dari sini!"
Kata Lo Sian kepada Lili dan anak itu.
Karena maklum bahwa anak miskin itu tak dapat berlari cepat, Lo Sian lalu memegang tangannya dan sebentar kemudian anak itu merasa terheran-heran karena kedua kakinya tidak menginjak tanah dan tubuhnya melayang-layang ditarik oleh pengemis aneh yang menolongnya.
Lili merasa heran sekali melihat betapa suhunya berlari seakan-akan takut pada sesuatu, akan tetapi melihat kesungguhan wajah suhunya, ia tidak banyak bertanya dan mengikuti suhunya dengan cepat.
Setelah senja berganti malam dan keadaan menjadi gelap, mereka tiba di luar dusun yang berdekatan dengan hutan itu, dan barulah Lo Sian menghentikan larinya.
Akan tetapi pengemis sakti itu masih nampak gelisah dan berkata.
"Kita bermalam di sini saja."
Lalu ia mengajak Lili dan anak miskin itu duduk di tempat yang jauh dari jalan kecil menuju ke kampung, bersembunyi di balik gerombolan pohon.
"Mengapa kita tidak mencari tempat penginapan di dusun, Suhu?"
Suhunya menggelengkan kepala.
"Terlalu berbahaya."
"Suhu, mengapa Suhu melarikan diri? Apakah yang ditakutkan? Hwesio kecil itu sudah kalah dan mengapa kita harus berlari-lari ketakutan?"
Tanya Lili dengan suara mengandung penuh penasaran.
"Kau tidak tahu, Lili. Hwesio kecil itu melihat dari gerakan ilmu silatnya, tentu seorang pelayan atau murid dari seorang tua yang amat jahat dan lihai. Kalau betul dugaanku, maka berbahayalah apabila kita bertemu dengan dia!"
"Siapakah orang jahat itu, Suhu?"
Lo Sian menghela napas.
"Dia itu adalah Ban Sai Cinjin, seorang pertapa yang amat sakti dan tinggi ilmu silatnya, akan tetapi juga amat jahat dan kejam. Aku sama sekali tidak kuat menghadapinya. Kepandaiannya amat tinggi dan ilmu silatnya luar biasa sekali. Pernah aku melihat ia menghajar lima orang kang-ouw yang gagah, dan karena itu ketika aku melihat gerakan hwesio kecil tadi, aku dapat menduga bahwa kepandaian hwesio kecil itu tentu datang dari Ban Sai Cinjin!"
"Akan tetapi, Suhu..."
Tiba-tiba Lo Sian menggunakan tangannya untuk menutup mulut muridnya.
"Ssshhh..."
Bisiknya.
Lili menjadi heran, dan anak miskin itu pun diam tak berani berkutik sedikit pun.
Tak lama kemudian terlihat bayangan orang dalam gelap yang bergerak cepat sekali.
Bayangan itu setelah dekat ternyata adalah bayangan seorang tua yang gemuk sekali, agak pendek dan gerakan kedua kakinya ketika berlari di atas jalan kecil menuju ke dusun itu benar-benar hebat!
Liti melihat betapa kedua kaki orang tua gemuk pendek itu seakan-akan tidak menginjak tanah akan tetapi jelas sekali kelihatan betapa tanah yang dilalui oleh orang itu melesak ke dalam karena injakan kakinya ketika berlari!
Ketika orang yang berlari itu berkelebat di dekat tempat mereka bersembunyi, Lili mendengar suara yang parau dari orang itu berkata-kata seorang diri bagaikan sedang berdoa.
"Siauw-koai (Setan Kecil), Lo-koai (Setan Besar), semua harus tunduk kepadaku!"
Ucapan ini terdengar berkali-kali, makin lama makin perlahan sehingga akhirnya lenyap bersama bayangan orang gemuk yang luar biasa itu!
Ternyata bahwa ia lari menghilang ke dalam dusun di depan.
Barulah Lo Sian bergerak dan menghela napas ketika orang itu telah pergi dan lenyap.
"Hebat...!"
Bisiknya.
"Suhu, dia itukah orang jahat yang bernama Ban Sai Cinjin?"
Gurunya mengangguk di dalam gelap.
"Sekarang dia sedang mencari kita di dusun itu dan kalau kita tadi bermalam di sana, tentu kita semua akan tewas di dalam tangannya yang kejam."
"Akan tetapi, Suhu. Ia kelihatan bukan seperti seorang hwesio. Kepalanya biarpun botak, akan tetapi tidak gundul dan pakaiannya mewah sekali!"
"Memang aneh. Dulu ia gundul dan berpakaian seperti hwesio. Heran benar, sekarang ia agaknya telah meniadi orang biasa dan bajunya yang dari bulu itu benar-benar menandakan bahwa ia seorang kaya raya! Aneh!"
Kalau Lili dan Lo Sian dapat melihat keadaan orang yang lewat tadi dengan jelas, adalah anak miskin itu hanya melihat bayangannya yang berkelebat saja.
"Memang Ban Sai Cinjin seorang kaya!"
Katanya.
"Kaya raya, kejam, dan gila!"
Setelah mendengar suara ini, barulah Lo Sian agaknya teringat bahwa ada orang lain di situ. Ia memandang kepada anak miskin itu dan bertanya.
"Anak yang malang, siapakah kau dan coba ceritakan pula keadaan Ban Sai Cinjin yang kauketahui."
Anak itu lalu menceritakan bahwa ia bernama Thio Kam Seng, yatim piatu semenjak kecil karena ayah bundanya meninggal dunia karena sakit dan kelaparan.
Semenjak usia enam tahun ia hidup seorang diri sebagai seorang pengemis, merantau dari kota ke kota dan dari dusun ke dusun.
Akhirnya ia sampai di dusun Tong-sim-bun di depan itu dan telah setahun lebih ia tinggal di dusun itu dan hidup sebagai seorang pengemis.
Ia mengetahui tentang Ban Sai Cinjin yang dikatakan sebagai seorang hartawan besar, mempunyai banyak rumah dan toko di dusun itu, bahkan telah mendirikan sebuah kelenteng besar di dalam hutan sebagai tempat pertapaannya!
Watak dari Ban Sai Cinjin yang kejam dan aneh itu memang telah terkenal, akan tetapi oleh karena orang tua ini amat kaya, dan pula tinggi kepandaiannya, tak seorang pun berani mencelanya.
"Aku mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hidup mewah di dalam kelentengnya, bahkan sering mendatangkan penyanyi-penyanyi dari kota dan sering pula memesan masakan-masakan mewah, dan karena aku merasa amat lapar, aku mencoba untuk mencuri makanan di kelenteng itu. Sungguh celaka aku terlihat oleh hwesio kecil yang kejam itu dan hampir saja celaka kalau tidak mendapat pertolongan In-kong (Tuan Penolong)."
Lo Sian si Pengemis Sakti tidak mengira sama sekali bahwa Ban Sai Cinjin adalah guru dari orang yang menculik Lili!
Memang, sesungguhnya Ban Sai Cinjin ini adalah pertapa sakti yang pernah memberi pelajaran silat kepada Bouw Hun Ti atau penclilik Lili itu.
Kepandaian Ban Sai Cinjin memang hebat sekali dan setelah merasai kesenangan dunia, pertapa ini sekarang menjadi seorang yang mengumbar nafsunya.
Ia dapat mengumpulkan harta kekayaan dan menjadi seorang hartawan besar, hidup mewah dan suka mengganggu anak bini orang.
Akan tetapi, untuk menutupi mata umum, ia mendirikan sebuah kelenteng besar di mana katanya digunakan sebagai tempat "menebus dosa"
Dan bersamadhi.
Padahal sesungguhnya tempat ini merupakan tempat persembunyiannya di mana ia menghiburi diri dengan cara yang amat tidak mengenal malu.
Di tempat ini dapat berlaku leluasa jauh dari mata orang dusun atau orang kota.
Ban Sai Cinjin amat terkenal akan kelihaiannya dalam hal gin-kang dan lwee-kang juga senjatanya amat ditakuti orang.
Senjata ini memang istimewa, karena merupakan huncwe (pipa tembakau) yang panjang dan terbuat daripada logam yang keras diselaput emas!
Pada waktu-waktu biasa, ia mempergunakan huncwenya ini sebagai pipa biasa yang diisi dengan tembakau-tembakau yang paling mahal dan enak, juga kantong tembakaunya yang tergantung pada gagang huncwe ini terisi penuh dengan tembakau yang kekuning-kuningan bagaikan benang emas.
Akan tetapi pada saat ia menghadapi musuh, kantong itu berganti dengan sebuah kantong lain yang berisikan tembakau luar biasa sekali yang berwarna hitam.
Dan apabila ia mengambil tembakau ini dan dinyalakan di dalam pipanya, maka akan tercium bau yang amat tidak enak dan keras sekali.
Asap tembakau ini saja sudah cukup membuat lawannya menjadi pening dan pikirannya kacau karena sesungguhnya asap ini mengandung semacam racun yang berbahaya dan melemahkan semangat.
Apalagi kalau ia sudah mainkan senjata istimewa ini yang terputar cepat dan dari mulut pipa itu menyemburkan bunga api karena tembakau yang masih terbakar itu tertiup angin, bukan main berbahayanya.
Oleh karena ini pula, Ban Sai Cinjin mendapat julukan Si Huncwe Maut!
Lo Sian yang berhati budiman itu menjadi tergerak hatinya ketika mendengar penuturan anak miskin itu.
Ia memandang kepada Thio Kam Seng yang kurus dan pucat, dan biarpun ia maklum bahwa anak ini tidak memiliki cukup bakat dan kecerdikan untuk ahli silat, namun ia tadi telah menyaksikan sendirl bahwa anak ini cukup tabah dan berjiwa gagah.
Tadi telah disaksikannya betapa anak ini menghadapi maut di ujung pisau hwesio kecil itu dengan berani.
"Kam Seng, apakah kau suka ikut padaku dan belajar silat agar kelak jangan sampai kau terhina orang?"
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba anak itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambit menangis!
Saking girang dan terharunya, ia sampai tak dapat mengeluarkan sepatah pun kata, hanya berkata terputus-putus.
"Suhu..., Suhu..."
Setelah bersembunyi di situ pada malam hari itu, keesokan harinya pagi-pagi sekali Lo Sian mengajak kedua orang muridnya untuk melanjutkan perjalanan.
Ia menggandeng tangan Kam Seng agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.
Beberapa hari lewat tak terasa dan mereka telah memasuki Propinsi Sensi.
Ketika mereka lewat kota Tai-goan, Lo Sian sengaja mampir di kota yang besar dan ramai itu.
Kota Tai-goan terkenal dengan araknya yang terbuat daripada buah leci, dan karena Lo Sian adalah seorang yang suka sekali minum arak, maka sampai beberapa hari ia tidak mau tinggalkan kota itu dan memuaskan dirinya dengan minuman yang enak ini.
Pada suatu hari, ketika ia dan kedua orang muridnya keluar dari sebuah rumah makan di mana ia telah menghabiskan banyak cawan arak, ia mendengar orang berseru keras dan tiba-tiba orang itu menyerangnya dengan pukulan hebat ke arah dadanya.
Lo Sian cepat mengelak dan alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa yang menyerangnya ini bukan lain adalah orang brewok yang menculik Lili dulu!
Memang orang ini bukan lain adalah Bouw Hun Ti yang berusaha mencari gurunya dan karena ia melakukan perjalanan berkuda dengan cepat, maka ia telah sampai di tempat itu lebih dulu dan kini ia hendak kembali ke timur setelah mendengar bahwa suhunya kini tinggal di dusun Tong-sim-bun.
Kebetulan sekali di kota Tai-goan ini ia bertemu dengan Lo Sian, pengemis yang merampas Lili dari padanya itu!
Tak menanti lagi ia segera mengirim pukulan maut yang baiknya masih dapat dikelit oleh Lo Sian.
Lo Sian maklum bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tinggi, maka ia segera mencabut pedangnya yang selalu disembunylkan di dalam bajunya.
Bouw Hun Ti tertawa bergelak melihat ini dan segera mencabut goloknya.
"Jembel hina dina! Hari ini kau pasti akan mampus di ujung golokku!"
Serunya keras sambil menyerang.
Lo Sian menangkis dan mereka lalu bertempur hebat di depan rumah makan itu.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran ini tidak ada yang berani ikut campur, bahkan mereka lari cerai-berai karena takut melihat dua orang itu mainkan senjata tajam demikian hebatnya.
Sementara itu, ketika Lili melihat bahwa yang menyerang suhunya adalah penculik brewok yang dibencinya, seketika menjadi pucat karena kaget sekali.
Akan tetapi anak ini memang hebat sekali keberaniannya.
Ia tidak melarikan diri, bahkan lalu mengumpulkan batu-batu kecil dan mulai menyambit ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari Bouw Hun Ti.
Sungguhpun sambitan batu yang dilepas oleh Lili ini apabila ditujukan kepada orang biasa akan merupakan serangan yang arnat berbahaya, akan tetapi terhadap Bouw Hun Ti sama sekali tidak ada artinya.
Tidak saja semua batu itu terlempar ketika terpukul oleh sinar goloknya, biarpun andaikata mengenai tubuhnya pun takkan terasa olehnya!
Kam Seng yang melihat suhunya bertempur melawan seorang laki-laki brewok yang berwajah galak menyeramkan, dan melihat betapa Lili menyambit dengan batu, tidak mau tinggal diam dan ia pun mulai menyambit pula!
Akan tetapi, ia segera menghentikan bantuannya ini karena pandangan matanya telah menjadi kabur dan silau, ketika kedua orang yang bertempur itu kini telah lenyap terbungkus oleh sinar senjata.
Kam Seng tidak dapat membedakan lagi mana gurunya dan mana lawan gurunya!
Akan tetapi, Lili yang sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi dan sepasang matanya yang bening sudah terlatih baik semenjak kecil oleh ayah ibunya, masih dapat melihat gerakan suhunya dan gerakan musuh itu, maka masih saja ia melanjutkan penyambitannya, kini lebih hati-hati dan membidik dengan baik.
Sungguhpun serangan Lili ini tidak berarti baginya, namun cukup membikin gemas hati Bouw Hun Ti.
"Setan kecil, aku bikin mampus kau lebih dulu!"
Serunya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat menyambar Lili dan goloknya membacok ke arah kepala anak kecil itu!
Lili memiliki ketenangan ayahnya dan kegesitan ibunya.
Melihat menyambarnva sinar golok ke arah kepalanya, ia cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan bergulingan menjauhkan diri.
Akan tetapi, Bouw Hun Ti yang merasa penasaran terus mengejarnya setelah menangkis serangan Lo Sian yang menyerangnya dari samping dalam usahanya menolong muridnya.
Lili bergulingan terus dan tiba-tiba ia merasai bahwa tubuhnya berguling ke atas pangkuan seorang yang duduk di bawah pohon dekat situ.
Ia memandang dan ternyata bahwa ia telah berada di atas pangkuan seorang pengemis yang tinggi kurus dan berbaju penuh tambalan dan buruk sekali.
Melihat betapa anak itu berada di atas pangkuan seorang pengemis, Bouw Hun Ti melanjutkan serangannya, akan tetapi tiba-tiba ia berseru keras dan goloknya terpental hampir terlepas dari pegangan ketika golok itu telah mendekati tubuh Lili.
Ternyata bahwa pengemis jembel itu telah mengangkat tongkatnya dan menangkis gotok itu!
"Hmm, manusia kejam!
Apakah kau masih mau menjual lagak di depan Mo-kai Nyo Tiang Le?"
Bouw Hun Ti makin terkejut karena ia sudah mendengar nama Pengemis Setan ini yang amat lihai!
Tadi ketika menghadapi Lo Sian, biarpun ia yakin akan bisa mendapat kemenangan, akan tetapi kepandaian Lo Sian sudah cukup kuat sehingga ia tidak mungkin menjatuhkannya dalam waktu pendek.
Apalagi sekarang ditambah dengan seorang pengemis aneh yang dari tangkisan tongkatnya tadi saja sudah menunjukkan bahwa kepandaiannya amat tinggi!
Bagaimana sebatang tongkat bambu dapat menangkis goloknya yang terkenal tajam dan yang digerakkan dengan tenaga luar biasa?
Bouw Hun Ti menjadi gentar juga dan dengan marah sekali ia lalu melarikan diri!
Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan gurunya untuk minta pertolongan dan bantuan.
Lo Sian yang baru mengenal pengemis itu, segera menghampiri dan berseru girang.
"Suheng! Kau di sini?"
"Sute, dari mana kau mendapatkan anak ini?"
Tanya Mo-kai Nyo Tiang Le tanpa menjawab pertanyaan adik seperguruannya. Mendengar pertanyaan ini, barulah Lo Sian teringat kepada Bouw Hun Ti yang telah melarikan diri. Ia menghela napas dan berkata.
"Sayang sekali Suheng. Orang yang dapat menjawab pertanyaanmu itu telah melarikan diri. Aku sendiri tidak tahu siapa sebetulnya anak ini."
Ia lalu menuturkan pengalamannya ketika merampas Lili dari tangan Bouw Hun Ti, lalu menuturkan pula tentang pengalamannya menolong Thio Kam Seng.
Si Pengemis Setan itu tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Lo Sian.
Ia memandang kepada Lili yang kini telah berdiri, lalu berkata kepadanya.
"Hemm, anak nakal! Kau tidak mau menceritakan siapa ayah ibumu? Ha, ha, tak perlu kau menceritakannya lagi! Aku sudah tahu, siapa ayahmu! Dia adalah seorang maling, seorang tukang colong ayam! Karena itulah maka kau malu untuk mengaku! Ha, ha, ha!"
Bukan main marahnya hati Lili mendengar ucapan ini.
Gadis cilik ini berdiri tegak kepalanya dikedikkan, dadanya diangkat dan pandang matanya bersinar-sinar seakan-akan mengeluarkan cahaya api.
Kalau ada orang yang telah mengenal ibunya, dan melihat Lili bersikap seperti itu, tentu akan mengatakan bahwa anak perempuan ini persis sekali seperti ibunya kalau sedang marah.
"Kau... kau berani menghina ayahku? Kalau Ayah mendengar hal ini, biarpun kau berada di ujung dunia, Ayah pasti akan mematahkan batang lehermu! Ayah adalah seorang gagah perkasa tanpa tandingan! Orang macam kau, biar ada seratus pun akan dipatahkan batang lehernya dengan mudah!"
Lili benar-benar marah sekali mendengar ayahnya disebut tukang colong ayam! Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. Agaknya ia geli sekali sehingga sambil tertawa ia meraba-raba perutnya.
"Ha, ha, ha! Pandai sekali kau menutupi keadaan ayahmu! Ha, ha, ayahmu hanya seorang maling kecil. Memang ia bisa mematahkan batang leher, akan tetapi hanya batang leher ayam. Tentu saja ia kuat mematahkan batang leher seratus ekor ayam yang dicurinya! Ha, ha, ha!"
"Orang tua kurang ajar!"
Lili semakin marah sehingga ia membanting-banting kakinya yang kecil.
Ia lupa bahwa suhunya tadi menyebut suheng kepada jembel ini.
Jangankan baru supeknya yang baru dikenal sekarang, biarpun siapa juga tidak boleh menghina ayahnya!
"Hati-hatilah kau!
Beritahukan siapa namamu agar dapat kuberitahukan kepada Ayah.
Kau pasti akan dipukul mati!
Siapakah orangnya yang tidak tahu bahwa Ayah..."
Tiba-tiba Lili terhenti karena ia teringat bahwa ia tidak ingin memberitahukan nama orang tuanya, bahkan ia belum pernah mengaku kepada suhunya.
"... bahwa ayahmu hanyalah seorang tukang colong ayam...!"
Pengemis tua itu melanjutkan kata-katanya yang terhenti sambil tertawa bergelak.
"Bukan!"
Lili menggigit bibirnya dengan gemas.
"Nah, biarlah aku mengaku! Ayahku adalah Sie Cin Hai yang berjuluk Pendekar Bodoh! Ibuku adalah Kwee Lin yang terkenal gagah perkasa! Siapakah tidak kenal kepada ayah-ibuku yang menjadi murid terkasih dari Sukong Bu Pun Su?"
Sambil berkata demikian, Lili memandang dengan tajam kepada pengemis itu dan juga kepada gurunya.
Ia merasa bangga dan girang sekali ketika melihat betapa pengemis itu yang tadinya sedang tertawa, kini membuka mulutnya dengan melongo sedangkan suhunya sendiri pun memandangnya dengan mata terbelalak heran!
Lo Sian lalu mengelus-elus kepala Lili dan berkata.
"Ah, anak baik, mengapa tidak dulu-dulu kaukatakan kepadaku? Kalau aku tahu, tentu kau sudah kuantarkan kepada orang tuamu! Aku tahu siapa adanya ayah-ibumu itu dan ketahuilah bahwa Suhumu dan Supekmu ini masih orang-orang segolongan dengan ayahmu!"
"Akan tetapi, mengapa Supek tadi menghina ayahku? Mengapa ayahku disebut tukang colong ayam?"
Nyo Tiang Le tertawa bergelak dan Lo Sian juga tersenyum.
"Lili, Supekmu tadi hanya bergurau. Ketika ia mengatakan bahwa ayahmu seorang maling ayam, ia tidak tahu bahwa ayahmu adalah Sie Tai-hiap! Kalau ia tidak mempergunakan akal ini, apakah kau akan suka menyebutkan nama ayahmu?"
Lili memang cerdik. Ia tahu bahwa ia telah kena diakali, maka sambil tersenyum ia berkata kepada Nyo Tiang Le.
"Supek telah menipuku! Akan tetapi, kalau Supek telah tidak menarik kembali ucapannya tadi, aku selamanya akan benci kepada Supek!"
Mo-kai Nyo Tiang Le makin keras suara ketawanya.
"Ha-ha-ha! Siapa bilang bahwa Pendekar Bodoh pencuri ayam mengatakan demikian di depanku, orang itu akan kuhajar mulutnya dengan seratus kali pukulan tongkatku! Tidak, anak manis, ayahmu bukan pencuri ayam akan tetapi dia adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa!"
Berserilah wajah Lili mendengar pujian terhadap ayahnya ini.
"Suheng, kalau begitu, aku hendak mengantar pulang anak ini kepada Sie Tai-hiap di Shaning."
Nyo Tiang Le menggelengkan kepalanya.
"Berbahaya sekali, Sute! Kau tentu sudah dapat menduga siapa adanya orang brewok tadi?"
Lo Sian menggelengkan kepalanya.
"Sungguhpun ilmu silatnya lihai sekali dan gerakan goloknya mengingatkan aku akan kepandaian golok dari Ban Sai Cinjin, akan tetapi sesungguhnya aku tidak tahu siapa adanya orang itu."
"Dia adalah murid dari Ban Sai Cinjin, seorang peranakan Turki yang dulu memimpin barisan Turki ke pedalaman dan menimbulkan banyak kerusakan!"
Lo Sian mengangguk karena ia memang membantu tentara kerajaan menghadapi perwira yang amat tangguh itu.
"Nah, orang tadi adalah putera dari Balutin itulah! Namanya Bouw Hun Ti dan ia amat lihai, apalagi setelah mendapat latihan dari Ban Sai Cinjin. Entah mengapa ia menculik anak Pendekar Bodoh ini akan tetapi sudah jelas bahwa kalau ia melihat kau mengantar anak ini pulang, tentu ia akan turun tangan dan hal ini berbahaya sekali."
Lo Sian menundukkan kepalanya karena ia maklum bahwa kepandaian Bouw Hun Ti masih lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri sehingga ia tidak dapat melindungi keselamatan Lili dengan baik.
"Habis, bagaimana baiknya, Suheng?"
"Aku sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pertapaan Pok Pok Sianjin di puncak Beng-san. Biarlah kubawa kedua anak ini bersamaku ke sana. Kaupergilah seorang diri mencari Pendekar Bodoh dan memberi tahu bahwa puterinya telah selamat bersama dengan aku. Kam Seng ini nasibnya buruk dan patut ditolong, sedangkan aku dahulu pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su, maka sekarang sudah selayaknyalah kalau aku membalas dan menolong cucu muridnya ini! Nona kecil, kau tentu mau ikut dengan aku, bukan?"
Lili memandang kepada suhunya dan berkata.
"Suhu, teecu memang tidak mau pulang. Teecu baru mau pulang kalau Ayah dan Ibu menyusul teecu! Akan tetapi, kalau selamanya teecu harus ikut Supek, teecu tidak suka."
"Mengapa begitu, Lili?"
Tanya Lo Sian sambil tersenyum.
"Supek seorang pengemis!"
"Huss!"
Kata Lo Sian mencela.
"Aku pun seorang pengemis!"
"Benar, akan tetapi Suhu berbeda dengan Supek. Suhu pengemis bersih, akan tetapi Supek..."
"Hussh, Lili!"
Menegur suhunya. Akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa geli dan berkata.
"Biarlah, Sute. Sudah sewajarnya kalau seorang anak perempuan suka akan kebersihan dan keindahan. He, Lili anak nakal, kaulihatlah baik-baik, apakah aku masih nampak kotor dan menjijikkan?"
Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya kedua tangan Pengemis Setan itu bergerak dan tahu-tahu jubah luarnya yang butut itu telah terlepas dan Lili juga Thio Kam Seng, anak piatu itu memandang dengan mata terbelalak heran.
Setelah jubah butut kotor penuh tambalan itu terlepas, kini pengemis tua itu nampak bersih dan gagah sekali, tubuhnya tertutup oleh pakaian warna putih bersih dari sutera halus, sebatang pedang tergantung di pinggang kirinya!
Sikap pengemis tua itu pun berubah sama sekali, wajahnya yang tadi tertawa-tawa bagaikan orang gila itu menjadi sungguh-sungguh dan nampak keren sekali!
"Bagaimana, apakah kau masih merasa jijik untuk ikut Supekmu?"
Tanya Nyo Tiang Le dengan suara keren.
Lili merasa heran dan tertegun sehingga ia memandang dengan mata tak berkedip, lalu menggelengkan kepalanya.
Pengemis tua yang aneh itu lalu mengenakan kembali pakaian bututnya dan wajahnya kembali berseri-seri.
Barulah Lili merasa lega, karena sesungguhnya hatinya enak dan senang menghadapi pengemis tua yang berpakaian butut dan yang tertawa-tawa ramah ini daripada menghadapinya dalam pakaian gagah dan sikap keren tadi!
"Mengapa pakaian bersih dan indah ditutupi oleh pakaian yang demikian kotor dan buruk?"
Kini ia berani membuka mulut bertanya. Nyo Tiang Le tertawa bergelak, seperti tadi sebelum memperlihatkan pakaiannya yang dipakai di sebelah dalam.
"Ha-ha-ha, anak baik! Banyak sekali orang yang di luarnya mengenakan pakaian-pakaian indah dan mahal, memakai kebesaran dan tanda pangkat, akan tetapi coba bukalah pakaian yang indah-indah itu, kau akan melihat sesuatu yang kotor, bagaikan sebutir buah yang kulitnya merah kekuningan dan nampak segar akan tetapi kalau dikupas kulitnya akan terlihat isinya busuk! Bagiku, aku lebih suka yang sebaliknya, darl luar nampak kotor akan tetapi di sebelah dalam bersih! Ha-ha-ha!"
Lili tidak percuma menjadi puteri Pendekar Bodoh, seorang pendekar besar yang gagah perkasa dan yang terkenal ahli dalam hal filsafat hidup dan hafal akan semua ujar-ujar kuno.
Telah seringkali ayahnya memberi pelajaran budi pekerti kepadanya dan seringkali pula ia mendengar ayahnya mengucapkan ujar-ujar kuno mengenai filsafat hidup.
Kini, mendengar ucapan Nyo Tiang Le, anak yang berotak tajam ini dapat menangkap maksudnya maka ia lalu membantah.
"Supek, betapapun juga aku lebih suka lagi kalau yang bersih itu tidak hanya dalamnya saja, akan tetapi luar dalam! Sungguhpun isinya sama bersih dan sama enak, kalau disuruh memilih, aku lebih suka buah yang kulitnya menarik dan bersih daripada yang kulitnya kotor!"
Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak.
"Benar benar! Kau memang seorang perempuan, sudah seharusnya tahu merghargai keindahan, luar maupun dalam!"
Demikianlah, setelah memesan kepada Lili dan Kam Seng agar supaya taat kepada supek mereka, dan memberi janji kepada Lili bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali, Lo Sian lalu meninggalkan mereka menuju ke timur untuk mencari Pendekar Bodoh di Shaning mengabarkan tentang keadaan Lili kepada pendekar besar itu.
Nyo Tiang Le juga segera membawa kedua anak itu melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Beng-san.
Pengemis Setan ini sungguhpun menjadi suheng dari Lo Sian, akan tetapi apabila dibandingkan dengan Pengemis Sakti itu, kepandaiannya jauh lebih tinggi, juga usianya berbeda jauh sekali Lo Sian baru berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le usianya sudah lima puluh tahun lebih.
Bahkan kepandaian Lo Sian sebagian besar terlatih oleh Nyo Tiang Le dan suhu mereka hanya memberi pelajaran-pelajaran dasar saja kepada Sin-kai Lo Sian.
Kepandaian Nyo Tiang Le ini hanya sedikit lebih rendah daripada tingkat kepandaian empat besar di timur, barat, selatan, dan utara, yakni Hok Peng Taisu guru Ma Hoa, Pok Pok Sianjin di Beng-san yang sekarang menjadi guru dari Sie Hong Beng putera Pendekar Bodoh, mendiang Bu Pun Su, guru dari Cin Hai si Pendekar Bodoh dan isterinya, dan Swi Kiat Siansu, tokoh di utara yang terkenal dengan senjatanva kipas maut itu!
Kepada empat orang tokoh besar ini, Nyo Tiang Le telah kenal baik, bahkan ia pernah mendapat pertolongan dari Bu Pun Su yang terkenal paling lihai diantara para tokoh besar itu.
Mo-kai Nyo Tiang Le suka sekali melihat Lili dan karena ia tidak mempunyai murid, maka melihat murid sutenya ini tergeraklah hatinya.
Diam-diam ia mengambil keputusan untuk mewariskan ilmu pedangnya kepada Lili yang ia tahu memiliki bakat yang baik sekali.
Ia memang sedang menuju ke Beng-san untuk bertemu dengan Pok Pok Sianjin, seorang di antara tokoh-tokoh besar dunia persilatan masih hidup.
Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang bernasib malang itu, benar-benar telah mendapat karunia besar dan agaknya nasibnya telah mulai bersinar terang ketika ia bertemu dengan Lo Sian, karena tak disangka-sangkanya bahwa ia akan terjatuh ke dalam tangan orang-orang luar biasa sehingga ia dapat menjadi murid seorang gagah seperti Lo Sian, bahkan kini ia ikut melakukan perjalanan dengan Nyo Tiang Le dan ikut pula mendapat latihan ilmu silat tinggi.
*** Mari sekarang kita mengikuti perjalanan Cin Hai dan Lin Lin yang meninggalkan rumah mereka di Shaning untuk pergi mencari puteri mereka yang lenyap terculik orang.
Semenjak Kong Hwat Lojin atau Nelayan Cengeng yang menjadi guru dan ayah angkat Ma Hoa meninggal dunia dua tahun yang lalu, belum pernah Pendekar Bodoh dan isterinya mengunjungi Tiang-an.
Maka setelah mereka tiba di perbatasan kota Tiang-an, mereka berhenti sebentar dan memandang tembok kota, itu dengan pikiran penuh kenangan masa lampau.
Bagi Lin Lin, kota ini adalah kota kelahirannya dan bagi Cin Hai, kota ini pun merupakan kota di mana ia telah mengalami banyak sekali penderitaan hidup di waktu ia masih kecil.
Mereka memasuki kota dan mengunjungi rumah Kwee An.
Rumah ini adalah rumah tua, gedung besar dan kuno yang dulu menjadi tempat tinggal mendiang Kwee In Liang, yaitu ayah Kwee An dan Kwee Lin.
Kedatangan mereka mendapat sambutan yang hangat sekali dari Kwee An dan Ma Hoa.
Ma Hoa merangkul Lin Lin dan sampai lama mereka saling peluk dan mencium dengan hati girang sekali.
"Enci Ma Hoa, kau makin gemuk dan makin cantik saja!"
Lin Lin berkata sambil memandang kepada so-so (kakak iparnya) itu. Karena sudah biasa semenjak belum menikah dulu, Lin Lin tidak menyebut so-so kepada iparnya ini, akan tetapi masih menyebut enci.
"Lin Lin, kaulah yang makin cantik, akan tetapi mengapakah kau kelihatan agak pucat? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu ke sini?"
Cin Hai dan Kwee An yang saling berpegang tangan dengan girang itu juga mengucapkan kata-kata ramah tamah.
"Ah, kami mendapat kesusahan,"
Kata Lin Lin sambil menghela napas lalu menggigit bibirnya untuk menahan jangan sampai meruntuhkan air mata.
"Lili telah terculik orang!"
Pucatlah wajah Ma Hoa dan Kwee An mendengar berita hebat ini.
"Apa...??"
Ma Hoa melompat bangun dan memegang lengan tangan Lin Lin.
"Siapa orangnya yang demikian berani mampus melakukan hal itu? Lin Lin, beritahukan siapa orangnya, akan kuhancurkan kepalanya!"
Ma Hoa benar-benar marah sekali mendengar berita ini dan sepasang matanya berkilat.
Kwee An juga marah sekali dan kedua tangannya dikepal, akan tetapi ia lebih tenang dan sabar daripada isterinya.
Ia memegang tangan adiknya dan berkata.
"Ah, bagaimana bisa terjadi hal itu? Lin Lin, marilah kita semua masuk ke dalam dan ceritakanlah hal itu sejelasnya."
Suara yang lemah lembut dan sikap mencinta dari kakaknya ini lebih tajam menyentuh perasaan Lin Lin daripada sikap Ma Hoa yang menunjukkan pembelaannya dengan marah.
Tak terasa lagi Lin Lin meramkan mata menahan keluarnya air mata yang tetap saja menembus celah-celah bulu matanya dan mengalir turun ke atas pipinya.
Sambil menyandarkan kepalanya di pundak Kwee An, Lin Lin menangis dan menurut saja ditarik oleh Kwee An menuju ke ruang dalam, diikuti oleh Cin Hai dan Ma Hoa.
Setelah mereka duduk di atas kursi dan Lin Lin telah dapat menekan perasaan gelisah dan sedihnya, maka berceritalah Lin Lin dan Cin Hai tentang penculikan terhadap Lili, dan juga tentang terbunuhnya Yousuf.
Mendengar bahwa Yousuf terbunuh pula dalam keadaan yang amat mengerikan dan menyedihkan, yaitu dipenggal kepalanya, Ma Hoa menjerit dan menangis tersedu-sedu.
Kemudian ia berdiri dan dengah tangan terkepal ia berkata keras.
"Lin Lin, kita harus mencari jahanam itu sampai dapat! Hatiku belum puas kalau belum menusuk mata jahanam itu dengan senjataku!"
Juga Kwee An merasa marah dan sedih sekali mendengar berita ini. Ketika mendengar dari Cin Hai bahwa menurut orang yang melihatnya, pembunuh Yousuf itu adalah seorang Turki, Kwee An berkata.
"Tak salah lagi, tentu pembunuhnya adalah utusan Pangeran Muda dari Turki yang semenjak dahulu memusuhi Yo-pek-hu!"
"Kami pun menduga demikian,"
Kata Cin Hai.
"Oleh karena itu, kami hendak menyusul ke barat, hendak mencari keterangan dan menyelidiki ke Kansu di mana banyak terdapat orang-orang Turki baik pengikut Pangeran Muda maupun pengikut Pangeran Tua."
"Betul sekali,"
Kata Kwee An mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Di sana banyak terdapat kawan-kawan baik dari Yo-pek-hu, kurasa dari mereka kau akan bisa mendapatkan keterangan."
"Aku ingin sekali ikut pergi,"
Tiba-tiba Ma Hoa berkata.
"aku ingin mendapat bagianku menghajar penculik Lili!"
Kwee An memandang kepada isterinya, lalu dengan tersenyum ia berkata.
"Dalam keadaanmu sekarang ini lebih baik jangan melakukan perjalanan sejauh itu."
Ma Hoa membalas pandangan suaminya dan tiba-tiba mukanya berubah merah, Lin Lin mengerti akan maksud ucapan itu, maka ia merangkul Ma Hoa sambil berkata.
"Enci yang baik! Sudah berapa bulankah?"
Makin merahlah muka Ma Hoa dan dengan suara perlahan ia berkata.
"Dua..."
Cin Hai sama sekali tidak mengerti apakah maksud pembicaraan antara isterinya dan Ma Hoa, maka ia memandang kepada mereka dengan sinar mata bodoh.
Melihat wajah dan pandangan mata bodoh dari Cin Hai ini, tak tertahan pula Ma Hoa dan Lin Lin tertawa geli, bahkan Kwee An juga tersenyum, teringat akan peristiwa dulu-dulu tentang Cin Hai yang dalam beberapa hal memang agak bodoh.
Pandang mata seperti itulah yang membuat ia mendapat julukan Pendekar Bodoh!
"Eh, eh, kalian mengapakah?"
Cin Hai tildak merasa aneh melihat isterinya tertawa-tawa, karena memang demikianlah sifat Lin Lin.
Dalam keadaan bersedih ia dapat tertawa gembira, sebaliknya dalam kegembiraan tiba-tiba murung!
"Jangan tanya-tanya, ini urusan wanita.
Laki-laki tahu apa!"
Kata Lin Lin.
Akhirnya dapat juga Cin Hai menduga bahwa yang dimaksudkan tentu keadaan Ma Hoa dalam mengandung dua bulan.
Akan tetapi karena merasa jengah dan malu, ia diam saja.
Dua pasang suami isteri itu lalu bercakap-cakap melepaskan rindu.
"Eh, sampai lupa aku! Mana si cantik Goat Lan? Mengapa semenjak tadi aku tidak melihatnya?"
Kata Lin Lin.
"Ah, dia telah dibawa oleh dua orang kakek yang kalian tentu sudah kenal namanya."
"Dibawa? Apa maksudmu? Siapakah mereka?"
Tanya Cin Hai.
"Goat Lan telah diambil murid oleh Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo dan dibawa ke Liong-ki-san untuk dilatih ilmu silat."
Cin Hai dan Lin Lin merasa girang mendengar ini dan keduanya lalu memberi selamat. Ma Hoa menceritakan peristiwa tentang kedatangan kedua orang kakek gagah itu di Kuil Ban-hok-tong.
"Enci Hoa,"
Kata Lin Lin yang teringat akan sesuatu.
"aku telah mengadakan pembicaraan dengan suamiku tentang anakmu itu. Kau tentu dapat menduga maksud kami, yaitu tentang anakmu dan anak kami Hong Beng."
Wajah Ma Hoa berseri.
"Ah, bagaimana dengan puteramu yang elok itu?"
Lin Lin lalu menceritakan bahwa Hong Beng telah diantarkan ke Pok Pok Sianjin untuk menerima latihan ilmu silat.
"Kiranya tidak ada jodoh yang lebih tepat bagi Hong Beng selain anakmu yang cantik itu. Bagaimana kalau kita resmikan pertunangan itu sekarang?"
Kwee An tertawa.
"Kedua anak itu baru berusia sepuluh tahun, bagaimana harus diresmikan pertunangan mereka?"
"Maksudku, pertunangan ini disahkan antara kita, orang-orang tua mereka. Kau tentu menerima pinanganku, bukan?"
Menegaskan Lin Lin.
"Lin Lin, kau masih saja tidak sabar seperti dulu!"
Kata Ma Hoa tertawa.
"Dulu pernah kita bicarakan hal ini dan sudah saling setuju. Tentu saja, kami setuju sekali dan menerima pinanganmu dengan kedua tangan terbuka. Memang selain putera kalian siapa lagi yang patut menjadi mantu kami?"
Demikianlah, diantara tawa dan sendau gurau, mereka meresmikan pertunangan Hong Beng dan Goat Lan.
Dengan amat mudahnya Lin Lin telah lupa kesedihannya kehilangan Lili.
Cin Hai yang pendiam tak dapat melupakan nasib puterinya, akan tetapi tidak tega untuk mengingatkan isterinya tentang hal yang tidak menyenangkan ini, maka ia diam saja.
Setelah mengunjungi Kwee Tiong atau Thian Tiong Hosiang, ketua Kuil Ban-hok-tong, kakak tertua dari Lin Lin yang kini menjadi hwesio alim itu, Lin Lin dan Cin Hai lalu melanjutkan perjalanannya ke barat.
Mereka hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee An.
Ma Hoa dan suaminya mengantar mereka sampai di luar batas kota dan mereka lalu berpisah.
Cin Hai dan Lin Lin melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat dan setelah berpisah dari Ma Hoa, kembali perhatian Lin Lin seluruhnya tercurah kepada puterinya dan kegelisahanya timbul kembali.
Perjalanan mereka amat jauh, dan beberapa pekan kemudian setelah melaksanakan perjalanan cepat sekali, barulah mereka tiba di Kansu dan menuju ke kota Lancouw.
Di sepanjang perjalanan mereka teringat akan segala pengalaman mereka yang penuh bahaya pada sepuluh tahun lebih yang lampau ketika mereka dengan kawan-kawan lain mengunjungi propinsi ini.
Cin Hai dan Lin Lin lalu masuk ke perkampungan orang Turki di mana dulu Yousuf tinggal.
Orang-orang Turki yang tinggal di situ ternyata masih ingat kepada mereka, karena ketika mereka masuk ke kampung itu, mereka disambut dengan girang sekali oleh para kawan dari Yousuf itu.
Cin Hai segera dihujani pertanyaan tentang keadaan Yousuf.
Ketika mendengar bahwa bekas pemimpin mereka itu telah tewas dengan keadaan amat menyedihkan, dipenggal kepalanya oleh seorang Turki lain yang brewok, maka sedihlah hati mereka.
"Bouw Hun Ti!"
Seru seorang di antara mereka yang sudah lanjut usianya.
"Tentu Bouw Hun Ti si anjing pengkhianat yang melakukan hal itu."
Cin Hai dan Lin Lin segera mendesak orang tua itu.
"Sahabat,"
Kata Cin Hai.
"sesungguhnya kami datang dari tempat yang amat jauh, tak lain maksud kami hanya hendak menemui saudara-saudara dan minta pertolongan untuk menduga siapa adanya bangsat yang telah membunuh Yo Se Fu dan yang telah menculik puteri kami itu. Tadi kami mendengar disebutnya nama Bouw Hun Ti, siapakah gerangan dia itu dan mengapa kalian mengira bahwa dia yang melakukan perbuatan itu?"
Orang Turki tua itu baru saja datang dari Turki dan ia tahu akan keadaan Bouw Hun Ti, maka ia lalu menceritakan sejelasnya kepada Cin Hai dan Lin Lin.
Ketika mendengar bahwa Bouw Hun Ti diutus oleh Pangeran Muda untuk membawa Yousuf dengan paksa ke Turki dan bahwa Bouw Hun Ti adalah putera dari Balutin dan terkenal jahat dan kejam dan berkepandaian tinggi, Cin Hai dan Lin Lin tidak ragu-ragu lagi bahwa memang dialah orang yang dicari-carinya.
Mereka lalu mengambil keputusan untuk menanti di Lancouw, menghadang perjalanan Bouw Hun Ti yang tentu akan pulang ke Turki membawa Lili yang diculiknya, karena menurut keterangan orang-orang Turki itu, Bouw Hun Ti sampai saat itu belum kembali dari timur.
Akan tetapi, setelah menanti dua pekan belum juga kelihatan penculik dan pembunuh itu datang, Cin Hai dan Lin Lin menjadi kecewa dan gelisah sekali.
Betapapun lambat musuh itu melakukan lperjalanan, tak mungkin akan makan waktu selama itu.
Akhirnya Cin Hai dan Lin Lin mengambil keputusan untuk kembali ke timur, mencari musuh yang membawa lari puteri mereka itu.
Kepada orang-orang Turki yang berada di situ mereka minta tolong agar supaya mengamat-amati, jika melihat Bouw Hun Ti dan seorang anak perempuan, supaya berusaha merampas anak perempuan itu.
Orang-orang Turki itu maklum bahwa Lin Lin adalah anak angkat Yousuf, sehingga dengan demikian anak perempuan yang diculik oleh Bouw Hun Ti itu adalah cucu dari Yousuf, maka tentu saja mereka bersedia untuk membantu suani isteri itu dan menolong Lili.
Mereka maklum bahwa di antara mereka tidak seorang pun dapat melawan Bouw Hun Ti yang lihai, akan tetapi dengan akal dan tipu, mereka merasa yakin akan dapat menculik kembali anak itu dari tangan Bouw Hun Ti dan mengantarkannya kepada suami isteri itu.
Maka berangkatlah Cin Hai dan Lin Lin kembali ke timur.
Sungguhpun mereka merasa kecewa dan gelisah, akan tetapi ada juga sedikit kegirangan karena telah mengetahui nama dan keadaan musuh besar mereka.
Kini mereka kembali ke timur tidak melalui jalan yang mereka lalui ketika mereka menuju ke Lancouw, yakni jalan sebelah selatan, akan tetapi mereka melalui jalan sebelah timur, di sepanjang perbatasan Mongolia dalam.
Mereka mengambil keputusan hendak mampir di tempat pertapaan Pok Pok Sianjin untuk menengok Hong Beng yang belajar ilmu silat di situ.
*** Mo-kai Nyo Tiang Le bersama dua orang anak-anak murid sutenya, yakni Lili dan Kam Seng, tiba di Gunung Beng-san.
Dengan perlahan Nyo Tiang Le mengajak dua orang anak-anak itu mendaki bukit yang indah sambil menikmati pemandangan alam yang benar-benar mengagumkan.
Kam Seng kini setelah jatuh ke tangan orang-orang yang dapat ia percaya, timbul kembali sifat-sifat aslinya, yaitu pemberani, bersemangat, dan jenaka.
Lili merasa suka kepada kawan ini dan ketika mendaki bukit yang indah itu, Lili dan Kam Seng mendahului supek mereka, karena Pengemis Setan ini sebentar-sebentar berhenti untuk menikmati keindahan pemandangan alam.
Lili dan Kam Seng sudah diberi tahu oleh supek ini bahwa tuiuan mereka adalah puncak bukit di sebelah utara itu.
Maka mereka tidak sabar menanti supek mereka yang dapat berdiri diam bagaikan patung sampai lama sekali untuk menikmati tamasya alam.
"Supek benar-benar aneh,"
Kata Kam Seng sambil tertawa dan napas tersengal karena ia harus mengikuti Lili yang lebih gesit dan cepat gerakannya itu.
"apakah keindahan pohon-pohon dan rumput di bawah gunung?"
Lili hanya tersenyum dan berkata.
"Hayo cepat kita naik. Itu di atas banyak kembang merah yang indah!"
Ia lalu melompat ke depan dengan cepat bagaikan seekor anak kijang.
Tentu saja Kam Seng tak dapat menyusulnya, dan anak yang sudah terengah-engah karena telah mendaki bukit itu mencoba untuk mempercepat langkahnya sambil bersungut-sungut.
"Supek aneh, Lili juga aneh. Kembang macam itu saja, apa sih indahnya?"
Memang, Kam Seng yang semenjak kecilnya selalu menderita lahir batin, perasaannya menjadi acuh tak acuh, tak dapat merasai atau menikmati sesuatu yang sedap dipandang.
Matanya telah terlalu banyak melihat hal-hal yang menimbulkan sedih dan putus harapan, bahkan dulu ketika ia menderita kelaparan dan kesengsaraan, segala sesuatu yang betapa indah pun nampak buruk dan menjemukan.
Karena Lili berhenti dan mengagumi bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan kecil itu, maka Kam Seng dapat menyusulnya juga.
Lili meraba bunga itu, dan nampaknya girang bukan main.
Kedua pipinya bersinar kemerahan, matanya berseri gembira.
Ia memetik beberapa tangkai bunga yang terindah, diikat menjadi satu dan dibawanya dengan hati-hati dan penuh kesayangan.
Pada saat itu dari sebuah lereng bukit berlari turun seorang anak laki-laki yang gesit sekali gerakannya.
Anak ini berwajah tampan dan gagah sekali.
Sepasang alisnya hitam tebal, nampak jelas kulit mukanya yang putih kemerahan.
Rambutnya juga tebal dan hitam, diikat di atas kepala dengan sehelai pita kuning.
Tubuhnya tegap sehingga nampaknya sudah hampir dewasa, sungguhpun usianya sebenarnya baru sebelas tahun kurang.
Matanya lebar dan bersinar terang, membayangkan bahwa ia mempunyai watak yang jujur.
Anak laki-laki ini berlari turun dengan muka mengandung kemarahan.
Ia melihat dua orang anak yang berada di taman bunga itu dan melihat seorang anak perempuan memetiki kembang yang menjadi kesayangan gurunya, ia menjadi marah sekali.
"Hai! Jangan sembarangan memetik dan merusak kembang!"
Tegurnya dari jauh sambil berlari cepat menghampiri Lili dan Kam Seng.
Lili dan Kam Seng terkejut, lalu memandang.
Kam Seng diam saja karena merasa bahwa kalau taman bunga ini kepunyaan seseorang, memang mereka berdua telah berlaku salah.
Akan tetapi Lili yang berwatak keras tentu saja tidak mau mengaku salah begitu saja.
Ia memutar tubuh menanti kedatangan anak laki-laki itu dan berteriak.
"Turunlah! Apa kaukira aku takut kepadamu? Kembang indah memang sudah seharusnya dipetik, mengapa kaubilang merusak?"
Anak laki-laki yang berlari turun itu ketika mendengar suara Lili dan setelah berada lebih dekat, berubah menjadi girang sekali dan ketika itu juga lenyaplah kemarahannya.
"Lili...!"
Serunya girang dan ia mempercepat larinya.
Lili tertegun mendengar suara ini.
Tadi ia memang tak dapat melihat jelas, karena senjakala telah mulai tiba dan udara menjadi kurang terang.
Kini mendengar suara panggilan itu, ia tertegun dan akhirnya berlari menyambut anak laki-laki itu sambil berseru.
"Hong Beng...!!"
Lili memang semenjak kecil menyebut kakaknya dengan memanggil namanya begitu saja, tanpa diberi tambahan kakak atau engko.
Sungguhpun berkali-kali ayah-bundanya menyuruh ia menyebut Hong Beng kakak, namun anak yang bandel ini tetap saja tidak pernah mentaatinya dan tetap menyebut kakaknya Hong Beng saja!
Segera kedua orang anak itu berhadapan dan dengan girang Hong Beng memegang kedua tangan adiknya.
"Lili... dengan siapa kau datang? Mana Ayah dan Ibu? Dan siapakah Siauwko (Engko Kecil) itu?"
"Aku datang bersama Supek. Ayah dan Ibu tentunya berada di rumah, dan dia ini adalah Kam Seng, anak yatim piatu yang diambil murid oleh Suhu."
Hong Beng tercengang mendengar keterangan singkat ini.
"Eh, siapakah Supekmu dan siapa pula Suhumu? Mengapa kau meninggalkan rumah?"
Memang sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Hong Beng dibawa oleh ayahnya ke puncak Beng-san untuk berguru kepada Pok Pok Sianjin, seorang tua berilmu tinggi yang menjadi tokoh besar di barat.
Ketika ia pergi, adiknya berada di rumah dan tidak mempunyai guru karena seperti juga dia sendiri, adiknya pun belajar silat dari ayah ibu mereka.
Mengapa tiba-tiba saja adiknya itu mempunyai seorang suhu dan supek dan meninggalkan rumah?
Lili hendak menuturkan pengalamannya, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara suling yang amat nyaring dari atas puncak.
"Ah, Suhu sedang berlatih. Mari kau kubawa menghadap Suhu. Kau juga ikutlah Saudara Kam Seng. O ya, mana itu Supekmu yang kaukatakan datang bersamamu?"
"Supek sedang tergila-gila kepada pohon dan kembang, maka tertinggal di belakang."
Lili menerangkan sambit tertawa. Ia telah memungut kembangnya kembali dan memegangnya dengan sayang. Akan tetapi Hong Beng minta kembang itu dan berkata.
"Lili, Suhu akan marah kalau melihat kembangnya dipetik orang."
"Mengapa?"
Tanya Lili dengan heran.
"Menurut penuturan Suhu, kembang mempunyai semangat seperti orang pula, maka memetik kembang yang sedang mekar berarti sama dengan membunuh seorang muda seperti kita!"
Lili memandang kakaknya dengan mata terbelalak penuh rasa sesal, akan tetapi sambil tertawa Hong Beng lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya berlari naik ke puncak dari mana terdengar suara tiupan suling yang aneh itu.
"Hayo, Kam Seng. Larilah yang cepat!"
Ajak Lili sambil menoleh ke belakang, dan merahlah muka Kam Seng karena mana bisa ia berlari cepat di jalan menanjak yang sukar itu?
Terpaksa ia menguatkan kaki dan tubuhnya yang sudah lelah untuk mengikuti mereka, akan tetapi tertinggal jauh!
Setelah suara suling itu makin terdengar jelas karena sudah dekat, tiba-tiba Hong Beng menahan langkah kakinya dan berkata.
"Ah, orang yang tak tahu diri itu datang lagi rupanya!"
Lili tak sempat bertanya karena kakaknya menggandeng tangannya dan diajak berlari cepat menuju ke puncak dari mana terdengar suara suling yang makin nyaring menusuk telinga itu.
Ketika mereka tiba di tempat itu, Lili memandang dengan penuh keheranan ke depan.
Di atas tanah yang rata nampak dua orang sedang bergerak cepat dan aneh.
Yang seorang adalah seorang kakek berambut dan berjenggot putih yang bergerak-gerak sambil meniup suling, sedangkan yang seorang lagi adalah seorang setengah tua yang bergerak menyambar-nyambar laksana seekor burung garuda menyambar kelinci.
Lili menutup telinganya karena suara suling yang nyaring itu benar-benar membuat telinganya terasa sakit.
Adapun Kam Seng yang datang sambil terengah-engah kelelahan, memandang pula dengan terheran-heran dan melongo, akan tetapi Hong Beng berdiri diam dan matanya memandang tajam ke arah dua orang yang sedang bertempur itu.
Kakek tua itu bukan lain adalah Pok Pok Sianjin sendiri.
Memang aneh sekali kelihatannya, sungguhpun kakek itu meniup suling dengan enaknya dan lagu yang tertiup dari sulingnya terdengar merdu, akan tetapi suara suling itu amat nyaring dan seakan-akan mengandung tenaga gaib yang mengeluarkan hawa pukulan.
Buktinya, biarpun orang yang meloncat-loncat menyerang itu menggunakan seluruh kepandaiannya untuk menendang atau memukul, ia selalu terpental kembali sebelum dapat menyentuh tubuh Pok Pok Sianjin.
Hawa yang keluar dari tiupan suling itu mengandung kekuatan lwee-kang dan khi-kang yang membuatnya tertangkis dan terdorong oleh tenaga yang tidak kelihatan!
"Orang itu adalah seorang jago silat dan mahir ilmu silat Pek-eng-kun-hoat (Ilmu Silat Garuda Putih).
Telah beberapa kali ia datang minta berpibu (mengadu ilmu silat) dengan Suhu, akan tetapi Suhu tidak mau meladeninya.
Ternyata sekarang dia datang lagi, benar-benar orang tak tahu diri!"
Baru saja Hong Beng berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak dan tahu-tahu tubuh orang yang menyerang Pok Pok Sianjin itu terlempar ke belakang, jatuh bergulingan.
Akan tetapi ia cepat melompat bangun kembali dan memandang ke arah orang yang tertawa tadi.
Ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Mo-kai Nyo Tiang Le yang entah kapan telah berada di tempat itu pula!
Tentu saja Lili merasa heran karena tadi supeknya tertinggal di belakang mengapa sekarang telah mendahuluinya berada di tempat itu?
Orang yang terguling tadi setelah memandang kepada Mo-kai Nyo Tiang Le, lalu menjura dan berkata.
"Mo-kai (Pengemis Setan), aku telah menerima pengajaran, lain kali bertemu pula!"
Setelah berkata demikian, ia lalu melompat jauh dan menghilang di bawah gunung! Nyo Tiang Le bergelak-gelak dan Pok Pok Sianjin lalu menyimpan kembali sulingnya.
"Mo-kai, kau masih saja bertangan jail, pukulanmu Soan-hong-jiu (Pukulan Kitiran Angin) telah membuat ia menjadi gentar dan pergi dengan hati mendendam kepadamu!"
Nyo Tiang Le memang tadi telah melancarkan dorongan dari jauh dan hanya dengan angin pukulannya saja telah berhasil mendorong roboh orang tadi, sungguh dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian Pengemis Setan ini!
Ia tersenyum dan berkata sambil menghela napas.
"Pok Pok Sianjin, mengapa kau suka melayani segala macam orang seperti dia? Bukankah dia itu sute dari Ban Sai Cinjin? Aku pernah melihat orang tadi maka aku berani mendorongnya agar ia jangan mengganggu kau orang tua lebih lanjut."
Pok Pok Sianjin mengangguk-angguk.
"Memang, dia adalah adik seperguruan Ban Sai Cinjin dan namanya Lu Tong Kui. Ia menjagoi di Lok-yang dan telah beberapa hari ini ia merengek-rengek dan mendesakku untuk mengadakan pibu. Tentu saja aku menolaknya, akan tetapi ia mendesak terus dan menyatakan bahwa jauh-jauh dari Lok-yang ia datang untuk menguji kepandaianku. Aku tidak tega dan terpaksa melayaninya bermain-main sebentar."
Nyo Tiang Le tertawa kembali makin keras.
"Ha-ha-ha, kau orang tua benar-benar keterlaluan! Kaubilang tidak tega akan tetapi kau telah mainkan Seng-im-khi-kang, kalau aku tidak keburu mendorongnya roboh dengan Soan-hong-jiu, apakah ia tidak akan menderita luka-luka hebat di dalam tubuhnya terkena serangan hawa dari sulingmu? Ha-ha-ha!"
Pok Pok Sianjin juga tertawa.
"Kaukira aku sekejam itu? Aku baru mempergunakan Seng-im-khi-kang setelah yakin bahwa ia cukup kuat untuk menghadapi itu! Eh, Setan Tua, kau baik sekali. Telah lama aku merasa rindu kepadamu, apakah kau datang hendak menantangku main catur?"
Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak.
"Asal bertaruh minum arak baik, siapa takut kepandaian caturmu?"
Pada saat itu, Hong Beng menarik lengan tangan adiknya dan diajak berlutut di depan Pok Pok Sianjin.
"Suhu, ini adalah adik teecu yang bernama Lili!"
Pok Pok Sianjin memandang kepada Lili, mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata.
"Seperti ibunya... seperti ibunya...!"
Sementara itu, Nyo Tiang Le memandang kepada Hong Beng dan berkata.
"Inikah putera Pendekar Bodoh? Pantas sekali! Jadi kau orang tua telah menerima kehormatan mendidik putera Pendekar Bodoh? Satu kehormatan besar dan kau beruntung sekali Pok Pok Sianjin!"
Mendengar ini, Hong Beng cepat membantah.
"Bukan Suhu yang mendapat kehormatan besar dan keberuntungan, Locianpwe, akan tetapi adalah teecu yang mendapat karunia besar!"
Nyo Tiang Le mengangkat alisnya dengan heran dan kemudian tertawa dengan senang.
"Anak ini pandai membawa diri seperti ayahnya!"
Kemudian, Pengemis Setan itu menuturkan kepada Pok Pok Sianjin tentang pertemuannya dengan sutenya Lo Sian dan menceritakan pula pengalaman Lili yang terculik oleh Bouw Hun Ti.
"Suteku sedang menuju ke timur untuk memberi kabar kepada Pendekar Bodoh. Sementara itu, aku akan menanti di sini dan melatih anak ini, sambil menanti datangnya orang tuanya yang tentu akan menjemputnya."
Bukan main girangnya hati Hong Beng mendengar bahwa adiknya akan tinggal di situ untuk beberapa lama dan ayah ibunya akan datang pula di situ.
Ketika Nyo Tiang Le menceritakan pula tentang riwayat Kam Seng, Pok Pok Sianjin merasa kasihan juga.
"Biarpun bakatnya kurang, namun ia cocok menjadi murid Suteku,"
Kata Nyo Tiang Le.
Kemudian dua orang tua itu lalu masuk ke dalam pondok dan bermain catur, sedangkan Hong Beng bersama Lili dan Kam Seng lalu bermain-main di sekitar puncak Beng-san itu.
Kam Seng merasa kagum dan tunduk kepada Hong Beng yang selain berkepandaian tinggi juga amat ramah kepadanya.
Semenjak hari itu, Lili tinggal di puncak Beng-san dan mendapat latihan ilmu silat dari Nyo Tiang Le.
Dasar otaknya terang dan ia memang telah memiliki dasar kepandaian yang diajarkan oleh ayah ibunya semenjak ia masih kecil, maka sebentar saja ia telah mendapat kemajuan yang amat cepat.
Juga Kam Seng mulai menerima latihan-latihan atas petunjuk Lili dan Hong Beng, karena Nyo Tiang Le hanya memberi petunjuk-petunjuk teorinya saja sehingga anak yatim piatu itu berlatih di bawah pengawasan Hong Beng dan Lili!
Hong Beng sendiri dengan amat tekun dan rajinnya mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin terutama sekali ilmu silat tongkat yang menjadi keahlian Pok Pok Sianjin dan yang telah menjunjung tinggi namanya sebagai ahli silat kelas satu dan tokoh terbesar dari dunia persilatan sebelah barat!
Oleh karena mendapat didikan ilmu silat dari seorang ahli dan pula karena tinggal bersama kakaknya, Lili sampai lupa bahwa ayah ibunya yang dinanti-nanti ternyata belum juga datang, sungguhpun ia telah berada di atas puncak Beng-san sampai berbulan lamanya!
Mengapa sampai demikian lama Cin Hai dan Lin Lin tidak menyusul anaknya di Beng-san, padahal sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, sepasang suami isteri pendekar ini dalam perjalanannya kembali dari Kansu, hendak mampir dan menengok putera mereka di puncak bukit itu?
Sesungguhnya, Pendekar Bodoh dan isterinya menemui peristiwa yang hebat dan yang membuat mereka belum juga tiba di Beng-san!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Cin Hai dan Lin Lin telah mendapat keterangan dari orang-orang Turki kawan-kawan mendiang Yousuf, bahwa menurut dugaan mereka, tak salah lagi pembunuh Yousuf dan penculik Lili adalah seorang peranakan Tionghoa Turki yang bernama Bouw Hun Ti.
Maka mereka lalu kembali ke timur, mengambil jalan sebelah utara di sepanjang tapal batas Propinsi Kansu dan Mongolia dalam.
Mereka mengambil keputusan untuk sekalian mampir di Beng-san dan menengok putera mereka yang berlatih silat dibawah pimpinan Pok Pok Sianjin.
Puncak Beng-san terletak di Pegunungan Lu-liang-san yang panjang maka kalau mereka mengambil jalan di utara, mereka akan melewati Lu-tiang-san.
Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kota yang bernama Po-kwan, dan kota ini berada di tapal batas Mongolia dalam, di lembah Sungai Huang-ho yang belum begitu besar airnya.
Kota Po-kwan cukup ramai dan suami isteri ini selain melihat-lihat kota yang belum pernah dikunjunginya ini, juga mereka bertanya-tanya kalau-kalau ada Bouw Hun Ti di daerah itu.
Akan tetapi, tak seorang pun melihat orang she Bouw yang dicari-carinya itu, maka dua hari kemudian, Cin Hai dan Lin Lin keluar dari kota Po-kwan dan hendak melanjutkan perjalanan melalui Sungai Huang-ho menuju ke Pegunungan Lu-liang-san.
Akan tetapi, baru saja mereka keluar dari kota Po-kwan, mereka bertemu dengan orang-orang yang tak pernah mereka sangka-sangka akan bertemu di situ.
Mereka sedang berjalan keluar dari kota untuk menuju ke sungai yang berada di sebelah timur kota, dan tiba-tiba dari sebuah tikungan mereka melihat seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun berjalan cepat sekali di depan mereka.
Lin Lin memandang tajam, karena dari belakang ia serasa sudah mengenal orang itu, akan tetapi baru saja ia hendak bertanya kepada suaminya, Cin Hai telah mendahuluinya dan berseru girang.
"Lie-suheng!"
Laki-laki itu terkejut mendengar seruan ini dan segera menghentikan tindakan kakinya dan cepat membalikkan tubuh.
Wajahnya nampak tua dan muram sekali, sungguhpun ia masih kelihatan tampan dan gagah.
Kumisnya sudah mulai putih tak terurus dan jenggotnya juga panjang tak terpelihara.
Pakaiannya tidak karuan, bahkan ada beberapa bagian yang sudah robek-robek didiamkannya saja.
Akan tetapi ketika melihat Cin Hai dan Lin Lin, untuk sekejap matanya bersinar-sinar, dan Cin Hai bersama isterinya yang berlari menghampiri orang itu hanya melihat betapa kegembiraan itu berlangsung sebentar saja.
Orang itu segera menundukkan muka dan menjadi muram kembali, seakan-akan merasakan kesedihan yang luar biasa besarnya.
"Sie-sute, kaukah? Dari manakah kau dan Sumoi, kau juga baik-baik saja, bukan?"
Suaranya rata dan tak berirama, tanda bahwa ia sedang menderita kesedihan besar sekali. Cin Hai segera memegang tangan orang itu setelah memberi hormat.
"Lie-suheng, kau kenapakah?"
"Lie-suheng, agaknya kau amat bersedih? Dimanakah Enci Im Giok?"
Tanya pula Lin Lin.
Orang itu memandang kepada mereka ganti berganti kemudian tiba-tiba dari sepasang matanya keluarlah air mata yang membanjir turun membasahi kedua pipinya.
Bukan main kagetnya Cin Hai dan Lin Lin melihat keadaan orang itu.
Cin Hai segera menariknya dan mengajaknya duduk di bawah pohon di pinggir jalan dan segera mendesak kepada orang itu untuk menceritakan apakah sebenarnya yang menyusahkan hatinya.
Siapakah orang ini?
Para pembaca yang sudah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa orang ini bukan lain adalah Lie Kong Sian, murid mendiang Bu Pun Su, guru Cin Hai dan Lin Lin.
Karena ada hubungan perguruan ini, maka Lie Kong Sian masih terhitung suheng (kakak seperguruan) dari Cin Hai dan Lin Lin.
Di dalam cerita Pendekar Bodoh diceritakan bahwa Lie Kong Sian ini telah berjodoh dengan seorang pendekar wanita baju merah yang amat lihai dan yang bernama Kiang Im Giok atau lebih terkenal lagi dengan nama julukannya Ang I Niocu (Nona Baju Merah).
Lie Kong Sian tinggal bersama isterinya di sebuah pulau, yaitu Pulau Pek-lek-to yang terletak di dekat pantai laut Tiongkok sebelah timur.
Semenjak Lie Kong Sian dan isterinya mengunjungi Cin Hai dan Lin Lin untuk menyaksikan upacara pernikahan kedua adik seperguruannya itu, sehingga kini baru sekali mereka saling bertemu.
Hal itu terjadi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, yaitu baru saja setahun mereka saling berpisah.
Akan tetapi semenjak itu, mereka tak pernah saling bertemu kembali.
Bahkan ketika Cin Hai dan Lin Lin mengunjungi Pulau Pek-le-to pada lima tahun yang lalu sambil mengajak kedua anak mereka, pulau itu ternyata kosong dan tidak diketahui ke mana perginya Lie Kong Sian dan isterinya.
Agar lebih jelas bagi para pembaca yang belum membaca buku Pendekar Bodoh, baiknya diterangkan kembali bahwa Ang I Niocu adalah seorang wanita yang luar biasa cantiknya, dan boleh disamakan dengan kecantikan seorang bidadari dari kahyangan.
Dalam usia tiga puluh tahun lebih, yaitu pada saat ia menikah dengan Lie Kong Sian, ia masih nampak cantik jelita dan muda seperti seorang dara berusia tujuh belas tahun saja.
Hal ini bukan saja memang pada dasarnya ia cantik jelita, akan tetapi sebagian besar adalah pengaruh semacam telur mujijat, yakni telur Pek-tiauw (Rajawali Putih).
Nona Baju Merah ini amat sayang akan kecantikannya dan untuk menjaga ini ia tidak segan-segan untuk mencari telur burung rajawali putih yang amat sukar didapatkannya.
Karena khasiat telur inilah, maka ia selalu nampak cantik dan muda selalu.
Kecantikannya ini ditambah lagi dengan keahliannya bermain silat yang luar biasa, yaitu ilmu sliat yang disebut juga Ilmu Silat Tari Bidadari, sehingga kalau ia sudah mainkan ilmu pedangnya dengan ilmu silat ini, maka ia benar-benar merupakan seorang bidadari yang sedang menari dengan indahnya!
Tidak heran bahwa banyak sekali hati pemuda-pemuda runtuh karena kecantikannya ini bahkan Cin Hai sendiri pernah tergila-gila kepada Ang I Niocu (dituturkan dengan menarik sekali dalam ceritaPendekar Bodoh ).
Akan tetapi Ang I Niocu mempunyai watak yang amat keras dan angkuh.
Semua pinangan pemuda-pemuda yang gagah dan tampan ditolaknya belaka bahkan diejeknya pemuda-pemuda itu sehingga banyak yang patah hati.
Kemudian ia bertemu dengan Lie Kong Sian yang menjatuhkan hatinya karena budi kebaikan pemuda ini dan pula karena pemuda ini memiliki ilmu silat tinggi yang sanggup mengalahkannya.
Akhirnya mereka menikah dan hidup penuh kebahagiaan di atas Pulau Pek-lek-to yang merupakan sorga bagi mereka.
Pulau ini amat subur dan juga indah sekali pemandangannya.
Dua tahun setelah mereka menikah, Ang I Niocu mengandung.
Semenjak mengandung, pendekar wanita ini merasa tak enak sekali tubuhnya dan sifatnya yang keras itu kini timbul kembali, bahkan makin menghebat.
Seringkali ia marah-marah besar kepada suaminya hanya karena urusan kecil saja.
Akan tetapi Lie Kong Sian yang amat mencinta isterinya dan amat sabar itu, dapat menghiburnya dan selalu mengalah dalam segala hal.
Akhirnya terlahirlah seorang bayi laki-laki dan keduanya merasa amat berbahagia kembali.
Bersama dengan kelahiran itu lenyaplah semua sifat pemarah, akan tetapi tubuh pendekar wanita itu masih saja seringkali merasa tidak enak sekali dan kepalanya pening.
Perubahan besar nampak terjadi pada dirinya, sungguhpun terjadi amat lambat dan perlahan, akan tetapi tiga tahun kemudian, perubahan ini sudah menjadi sedemikian hebatnya.
Rambut Ang I Niocu yang tadinya hitam dan panjang berombak itu lambat laun menjadi putih dan penuh uban!
Kulit mukanya yang tadinya halus dan kemerah-merahan itu lambat laun menjadi keriputan dan menghitam!
Bukan main penderitaan batin yang dirasakannya, kini melihat kecantikannva melenyap dengan perlahan akan tetapi tentu, bagaikan penyakit yang memakan habis kecantikannya itu sekerat demi sekerat, hampir tak tertahankan olehnya.
Tiap kali ia melihat wajahnya pada bayangannya di dalam air, ia menangis tersedu-sedu dengan hati hancur.
Lie Kong Sian berdaya upaya menghiburnya, juga mengobatinya, akan tetapi percuma belaka.
"Isteriku,"
Katanya menghibur ketika isterinya menangis tersedu-sedu sambil menarik-narik rambutnya yang telah menjadi putih dan banyak yang terlepas dari kulit kepalanya.
"betapapun juga, dan apa pun yang akan terjadi dengan kau, aku tetap mencintamu dengan tulus ikhlas dan suci. Jangan kau bersedih, isteriku..."
Akan tetapi kata-kata ini bahkan menghancurkan hati Ang I Niocu. Dengan suara terputus-putus ia berkata.
"Ah... bagaimanakah ini...? Mengapa Thian mengutuk diriku begini hebat...? Aku baru berusia hampir empat puluh, mengapa rambutku telah putih semua, kulitku menjadi rusak seperti ini? Mana kecantikanku yang dulu...? Ah, aku malu, aku malu...!"
Ia lalu menangis dengan amat sedihnya.
"Im Giok, jangan kau berkata demikian. Kecantikan hanya keindahan lahir belaka dan kau tahu bahwa cintaku kepadamu bukan hanya berdasarkan kecantikanmu."
Akan tetapi segala macam hiburan tak dapat memuaskan hati Ang I Niocu.
Ia dan suaminya maklum bahwa kecantikannya yang dipengaruhi oleh obat telur rajawali putih itu memang mempunyai batas dan syarat yang berat.
Syarat itu ialah apabila seorang yang menjadi cantik karena telur itu melahirkan seorang anak, maka kecantikannya tidak saja akan lenyap, bahkan usianya akan bertambah dengan cepat dan lipat ganda, sehingga dalam usia empat puluh tahun, ia menjadi seorang yang usianya hampir delapan puluh tahun!
Akhirnya, setelah tersiksa oleh kesedihan sendiri sampai hampir gila, pada suatu pagi Lie Kong Sian mendapatkan isterinya telah minggat dari pulau itu menggunakan sebuah sampan dan membawa serta anaknya!
"Suamiku yang baik,"
Demikian bunyi surat yang ditinggalkan oleh Ang I Niocu untuk Lie Kong Siang "ampunilah dosaku yang amat besar kepadamu.
Aku tidak kuat lagi menahan derita sehebat ini, maka lebih baik aku keluar dari kehidupanmu, agar aku tidak menyeret kau yang berbudi ke dalam jurang kehinaan.
Biarlah aku pergi mengasingkan diri.
Anak kita kubawa dan sisa hidupku akan kugunakan untuk mendidik dan menurunkan ilmu silat kepadanya agar ia menjadi seorang yang berbudi dan gagah.
Selamat tinggal suamiku!
Kalau aku sudah mati, anak kita tentu akan mencari ayahnya untuk berbakti!"
Bukan main kagetnya hati Lie Kong Sian membaca surat peninggalan isterinya yang tercinta itu.
Ia cepat menyusul dan mengejar akan tetapi karena air tak meninggalkan bekas isterinya, ia mengejar ke lain jurusan dan tidak dapat menemukan isteri dan anaknya.
Ketika itu anaknya baru berusia tiga tahun lebih.
Hancurlah penghidupan Lie Kong Sian.
Dunia terasa kosong dan hidup terasa merupakan penderitaan dalam neraka.
Ia lalu merantau dan mencari-cari jejak isterinya sampai bertahun-tahun.
Kalau dulu ia merupakan seorang yang amat tampan dan biarpun sederhana akan tetapi selalu berpakaian pantas, sekarang ia telah berubah sama sekali.
Ia menjadi seorang pendiam, kadang-kadang seperti orang gila.
Demikianlah keadaan Lie Kong Sian yang secara kebetulan berjumpa dengan Cin Hai dan Lin Lin.
Tadinya Lie Kong Sian merasa segan untuk menceritakan penderitaannya, akan tetapi karena tidak ada orang lain di dunia ini yang lebih pantas mendengar tentang penderitaannya itu kecuali Cin Hai, ia lalu menceritakan semua itu sambil bercucuran air mata.
Cin Hai dan Lin Lin merasa terharu sekali mendengar hal ini.
Dengan air mata berlinang Cin Hai menegur suhengnya.
"Suheng, ada terjadi hal seperti itu, mengapa Suheng tidak cepat-cepat datang ke Shaning dan memberi tahu kepada kami agar kami dapat ikut mencari ke mana perginya Ang I Niocu?"
Di dalam lubuk hatinya, Cin Hai merasa amat sayang dan mencinta Ang I Niocu, sungguhpun cintanya itu telah berubah menjadi cinta seorang adik kepada kakaknya, atau lebih dari itu hampir seperti cinta seorang anak kepada ibunya.
Lin Lin merasa lebih terharu lagi.
Ia amat mencinta Ang I Niocu yang pernah membelanya tanpa mempedulikan keselamatan jiwa sendiri (baca Pendekar Bodoh), maka kini mendengar malapetaka yang menimpa diri Ang I Niocu ia menangis terisak-isak tanpa dapat mengeluarkan kata-kata sedikit pun!
Setelah puas menangis dan menumpahkan rasa sedih di dalam dada di tempat pertemuan itu, Lie Kong Sian lalu bertanya mengapa kedua suami isteri itu berada di tempat itu.
Cin Hai lalu menuturkan tentang penculikan atas diri Lili puteri mereka dan pembunuhan yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti kepada Yousuf.
Mendengar ini, bukan main marahnya Lie Kong Sian dan sambil menghela napas berat ia berkata.
"Ah, mengapa selalu orang-orang yang tak berdosa menerima siksaan hidup? Mengapa bahkan orang-orang yang selalu menjunjung kebaikan dan keadilan yang harus menderita banyak susah?"
"Suheng, biarlah aku dan isteriku membantu usahamu mencari tempat sembunyinya Niocu dan anakmu, dan aku akan membujuknya agar suka kembali kepadamu."
Lie Kong Sian menghela napas.
"Agaknya sukar sekali. Selain ia pandai menyembunyikan diri, juga hatinya amat keras dan sekali ia telah mengambil keputusan, sukarlah untuk mengubahnya. Akan tetapi, biarlah kita mengambil jalan masing-masing, Sute. Kau membantuku mencari isteriku, dan kau percayalah, kalau sampai aku bertemu dengan orang she Bouw itu, pasti kubalaskan sakit hati Yo-pekhu dan kurampas kembali puterimu."
Cin Hai yang maklum akan adat dan sifat Ang I Niocu yang keras, diam-diam merasa bahwa apabila dia yang membujuk, agaknya masih ada harapan, akan tetapi terhadap Lie Kong Sian ia diam saja.
Mereka lalu berpisah dan suami isteri itu memandang Lie Kong Sian yang berjalan pergi dengan muka tunduk itu.
Bukan main terharu hati mereka dan Lin Lin menggunakan saputangan untuk menahan isaknya ketika ia melihat suhengnya itu berjalan bagaikan mayat hidup, lemah tak bertenaga dan limbung.
"Kasihan sekali Suheng..."
Kata Cin Hai sambil menghapus air mata yang berlinang di pelupuk matanya.
Karena Cin Hai pernah mengadakan perjalanan di daerah utara bersama Ang I Niocu, yaitu pada waktu terjadi perebutan Pulau Emas antara kerajaan pihak Turki dan pihak Mongol (baca Pendekar Bodoh), maka Cin Hai mendapat dugaan bahwa Ang I Niocu tentu menyembunyikan diri di Pegunungan Im-san atau Go-bi-san di utara.
Oleh karena itu, ia menunda maksudnya menuju ke Beng-san menengok puterinya dan sebaliknya ia bersama isterinya lalu membelok ke utara dan menrari Ang I Niocu di daerah Mongol!
Inilah sebabnya maka sampai berbulan-bulan ia dan isterinya belum juga tiba di Beng-san di mana Lili dengan aman telah belajar silat di bawah asuhan Mo-kai Nyo Tiang Le si Pengemis Setan yang lihai!
*** Lo Sian Sin-kai atau Si Pengemis Sakti dengan cepat melakukan perjalanan seorang diri menuju ke Shaning di Propinsi An-hui untuk mencari Cin Hai dan mengabarkan tentang Lili yang kini berada di puncak Gunung Beng-san.
Seperti biasa tiap kali mengadakan perantauan, Pengemis Sakti ini tiada hentinya mengulur tangan memberi pertolongan kepada orang-orang yang melarat dan tertindas sehingga namanya makin terkenal sebagai seorang pendekar budiman.
Setelah tiba di Shaning, dengan amat mudahnya ia mendapatkan rumah Ciri Hai siapakah orangnya di Shaning yang tidak mengenal nama Pendekar Bodoh?
Akan tetapi, alangkah kecewa dan kagetnya ketika melihat bahwa rumah dari Pendekar Bodoh itu tertutup, bahkan masih ada kain putih tergantung di depan pintu, tanda bahwa rumah belum lama ini menderita kematian seorang keluarga dekat.
Lo Sian segera mencari keterangan kepada orang-orang di situ dan bukan main marah dan kecewanya ketika mendengar bahwa ayah angkat Nyonya Sie telah terbunuh oleh seorang peranakan Turki, dan bahwa selain melakukan pembunuhan yang kejam, penjahat itu pun menculik puteri dari Pendekar Bodoh.
Sampai lama Lo Sian tertegun mendengar ini.
Tak disangkanya bahwa orang brewok yang menculik Lili bahkan telah membunuh pula ayah angkat dari ibu anak itu!
"Bangsat besar Bouw Hun Ti,"
Bisiknya gemas sambil mengertakkan giginya.
"kau benar-benar mencari mampus berani memusuhi keluarga Pendekar Bodoh!"
Lo Sian lalu bertanya kepada orang yang memberi keterangan kepadanya ke mana perginya Pendekar Bodoh dan isterinya.
Ketika mendapat jawaban bahwa kedua suami isteri pendekar itu pergi mengejar dan mencari si penculik dan pembunuh, Lo Sian lalu cepat-cepat meninggalkan kota Shaning setelah memberi sesampul surat kepada tetangga dekat rumah Cin Hal itu dengan pesanan bahwa apabila pendekar besar itu pulang, suratnya agar supaya diberikannya.
Di dalam surat itu ia menulis bahwa Lili telah tertolong dan kini berada di puncak Beng-san bersama Mo-kai Nyo Tiang Le yang hendak mengunjungi Pok Pok Sianjin.
Kemudian ia lalu pergi keluar dari kota dan menuju ke Bukit Beng-san untuk memberi laporan kepada suhengnya, dan juga untuk melanjutkan melatih kedua orang muridnya yaitu Lili dan Kam Seng.
Tentu saja ia tidak berani lagi menganggap Lili sebagai muridnya, karena setelah kedua orang tua anak itu menjemput dan membawanya pulang, sudah tentu jauh lebih baik kalau Lili mendapat pelajaran dari ayah ibunya sendiri yang memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari padanya.
Pada suatu hari, dalam perjalanannya menuju ke Beng-san, ia tiba di kota Li-coan dan ketika ia lewat di depan sebuah rumah makan, bau arak yang amat sedap menarik hatinya dan menimbulkan seleranya yang amat kuat akan arak wangi.
Ia lalu masuk ke dalam rumah makan itu dan memesan seguci arak yang paling baik.
Pada pelayan yang memandangnya dengan mata curiga, ia memperlihatkan sepotong uang emas yang kiranya cukup untuk membayar harga lima guci arak!
Pelayan itu memandang dengan mata terbelalak dan sambil pergi untuk mengambilkan arak pesanan Lo Sian, ia menggerutu.
"Sungguh aneh sekali dunia ini! Aku yang bekerja keras siang malam tak kenal lelah, belum pernah mempunyai sekeping emas murni! Akan tetapi, hari ini aku melihat seorang setengah gila mempunyai banyak uang emas dan seorang pengemis berbaju tambalan memperlihatkan sepotong emas besar! Aneh, aneh... dunia memang tidak adil!"
Lo Sian tersenyum seorang diri.
Biarpun pelayan itu bicara dengan perlahan akan tetapi telinga Lo Sian yang tajam dapat mendengar ucapan ini dan diam-diam ia membenarkan keluh kesah pelayan itu.
Memang kalau dipikir-pikir sungguh mengherankan.
Orang-orang yang bekerja, makin berat pekerjaannya, makin kecillah penghasilannya.
Lihat saja para pembesar tinggi yang kerjanya hanya naik turun kereta, naik turun kursi kebesaran, menjual lagak di mana-mana, membentak-bentak rakyat dan cukup memberi cap kebesarannya saja, hidupnya mewah dan penghasilannya berlebihan sungguhpun penghasilannya itu didapat dengan jalan yang tidak halal!
Ketika pelayan itu datang mengantar arak yang dipesannya, tiba-tiba terdengar suara dari sudut ruang rumah makan itu yang membentak si pelayan.
"Hai, kau boleh menggerutu seorang diri, akan tetapi, jangan kaubawa-bawa aku pula! Aku mempunyai banyak emas bukan dengan jalan mencuri atau merampok, maka tutuplah mulutmu!"
Lo Sian terkejut.
Orang itu duduknya cukup jauh dari tempat pelayan tadi menggerutu, maka kalau orang dapat mendengar gerutuan si pelayan, dapat diduga bahwa orang itu memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya!
Ia menengok dan memperhatikan orang itu.
Ternyata bahwa orang itu bertubuh tegap, berwajah gagah sekali dan sepasang matanya berpengaruh, membuat orang tidak berani bertemu pandang terlalu lama dengan dia.
Akan tetapi, keadaannya memang patut disebut kurang beres ingatan karena selain pakaiannya tidak karuan macamnya, juga orang itu membiarkan rambut kepalanya bergantungan di depan matanya.
Kumis dan jenggotnya menjungat ke sana kemari tanpa terpelihara sedikit pun juga dan wajahnya muram dan gelap.
Juga orang ini telah memesan arak wangi serta meminumnya bukan melalui cawan seperti orang biasa, melainkan menenggaknya langsung dari mulut guci yang besar!
Bahkan di atas mejanya telah ada sebuah guci yang kosong dan guci ke dua telah diminum setengahnya.
Sekali pandang saja, tahulah Lo Sian bahwa orang itu tentu seorang yang pandai, akan tetapi ia belum pernah melihat orang ini sungguhpun pengalaman Lo Sian cukup banyak di kalangan kang-ouw.
Ia tidak tahu apakah orang ini termasuk golongan pendekar perantau seperti dia sendiri ataukah termasuk tokoh dari golongan hek-to (golongan hitam dan penjahat), maka ia tidak berani sembarangan menegur dan berkenalan.
Melihat pula sikap yang keras dan pemarah dari orang itu dan wajahnya yang muram, Lo Sian mengira bahwa orang itu tentulah seorang tokoh liok-lim (jago rimba hijau) yang ganas dan kejam.
Maka setelah menghabiskan araknya, ia lalu membayar dan hendak keluar dari rumah makan itu.
Akan tetapi, baru saja ia berdiri dan hendak keluar, tiba-tiba ia menjadi pucat karena dari luar masuk dua orang yang bukan lain adalah Bouw Hun Ti dan seorang setengah tua yang memakai ikat kepala lebar!
Sebaliknya, ketika Bouw Hun Ti melihat Lo Sian, ia tertawa bergelak dan berkata kepada kawannya itu.
"Ha-ha-ha, Susiok. Lihatlah, dicari ke ujung langit tak bersua, kalau tidak dicari si anjing she Lo menyerahkan diri!"
Sementara itu, Lo Sian maklum orang she Bouw tentu takkan melepaskannya dan terpaksa ia harus melawan mati-matian maka ia lalu mencabut pedangnya dan berkata.
"Bouw Hun Ti, kau manusia kejam dan hina-dina! Baru sekarang aku tahu bahwa selain menculik puteri Pendekar Bodoh secara pengecut sekali, kau pun membunuh Yousuf dengan kejam dan tak kenal malu!"
"Ha-ha-ha, Lo Sian pengemis jembel! Bagaimana orang macam kau bisa mengatakan bahwa aku pengecut dan tak kenal malu? Coba terangkan apa sebabnya kau berani berkata demikian."
"Hemm, kau melakukan kekejaman itu sewaktu Pendekar Bodoh dan isterinya tidak berada di rumah! Apakah itu boleh disebut kelakuan seorang yang gagah? Kau pengecut!"
Merahlah wajah Bouw Hun Ti dan dengan amat marah ia membentak.
"Manusia jembel yang akan mampus! Kau telah merampas anak perempuan itu dengan cara yang lebih pengecut lagi. Tempo hari kalau kau tidak mengandalkan bantuan Mo-kai Nyo Tiang Le suhengmu yang gila itu, kau telah mampus di tanganku! Nah, bersedialah untuk mampus!"
Sambil berkata demikian, Bouw Hun Ti mencabut goloknya dan bagaikan seekor harimau kelaparan ia menyerang dengan hebat sambil menendang meja yang menghadang di depannya sehingga meja itu terbang dan menimpa meja-meja lain.
Lo Sian berlaku waspada dan cepat menangkis, sehingga sebentar saja kedua orang itu bertempur hebat sambil menendang meja bangku untuk mencari ruang luas.
Kali ini Lo Sian berlaku hati-hati sekali.
Ia tahu bahwa kepandaian orang she Bouw ini lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri dan bahwa akhirnya ia takkan dapat menang apabila pertempuran itu dilanjutkan.
Apalagi menurut pendengarannya tadi, Bouw Hun Ti menyebut susiok (paman guru) kepada orang yang berikat kepala lebar itu, maka dapat dibayangkan pula betapa tinggi kepandaian orang itu.
Jalan keluar tidak ada, maka tidak ada lain jalan bagi Lo Sian melainkan melawan mati-matian dan takkan menyerah kalah begitu saja.
"He, pengemis jembel!"
Tiba-tiba orang yang disebut susiok oleh Bouw Hun Ti itu berkata.
"Katakan saja di mana adanya anak yang kauculik itu. Bouw Hun Ti, biar dia memberi pengakuan, baru kita ampunkan jiwa anjingnya!"
Akan tetapi, sebagai seorang gagah, tentu saja Lo Sian tidak sudi bersikap lemah.
Lebih baik mati daripada menyerah dan membuat pengakuan yang berarti merendahkan nama kehormatan sendiri, demikianlah pendirian tiap orang gagah.
"Keparat!"
Serunya sambil menangkis serangan golok Bouw Hun Ti yang menyambar cepat.
"Kalau hendak mengeroyok, majulah saja. Aku Sin-kai Lo Sian bukanlah orang yang takut mati!"
"Bedebah!"
Kawan Bouw Hun Ti itu berseru marah.
"Hun Ti, jangan memberi hati kepada manusia rendah ini!"
Sambil berkata demikian, ia pun melangkah maju hendak mengirim serangan dengan tangan kosong.
Akan tetapi, pada saat itu, dari ujung ruangan itu menyambar sebatang tali sutera hitam yang meluncur bagaikan seekor ular hidup dan tahu-tahu golok Bouw Hun Ti kena dilibat oleh tali itu.
Ketika tali itu dibetot keras, Bouw Hun Ti berteriak kaget karena tenaga betotan tali itu luar biasa sekali kuatnya sehingga terpaksa ia melepaskan goloknya!
Pada saat itu, susiok dari Bouw Hun Ti yang bukan lain adalah Lu Tong Kui atau sute Ban Sai Cinjin yang pernah menyerbu ke Beng-san untuk mencoba kepandaian Pok Pok Sianjin kemudian dikalahkan oleh Nyo Tiang Le, telah melepaskan pukulan ke arah Lo Sian.
Sungguhpun pukulan itu dilakukan dari tempat yang jauhnya lebih dari setombak, akan tetapi Lo Sian sampai terhuyung ke belakang, terdorong oleh sambaran angin yang luar biasa kuatnya!
Lo Sian terkejut sekali dan cepat mengerahkan tenaga pada kedua kakinya untuk menahan keseimbangan tubuhnya.
Melihat betapa golok Bouw Hun Ti dapat terlepas dengan amat mudah oleh tali sutera yang kecil, Lu Tong Kui menjadi terkejut dan juga marah.
Ia cepat menengok dan ternyata yang melepas tali sutera itu adalah seorang yang pakaiannya tidak karuan dan yang kini berdiri dengan mata memancarkan cahaya berapi.
Adapun Lo Sian yang melihat penolongnya, menjadi terkejut dan juga girang karena yang menolongnya itu adalah orang yang disangka gila tadi!
"Bouw Hun Ti!"
Terdengar orang itu berkata, suaranya tenang akan tetapi seperti juga pandang matanya, suara itu amat berpengaruh.
"kebetulan sekali kita bertemu di sini. Memang aku sedang mencari-cari kau dan hendak membunuhmu!"
Setelah berkata demikian, kembali ia menggerakkan tangan kanannya dan sutera hitam yang panjang itu meluncur bagaikan cambuk dan mengirim serangan totokan hebat ke arah jalan darah di leher Bouw Hun Ti.
Orang she Bouw ini cepat mengelak, akan tetapi bagaikan bermata dan hidup, ujung sutera hitam itu meluncur dan mengejar dan masih saja mengancam jalan darahnya.
Bouw Hun Ti menjadi pucat, terpaksa menangkis dengan tangannya dan ia berteriak kaget ketika merasa betapa tangannya seakan-akan beradu dengan mata pedang yang taiam.
Ia cepat menarik kembali tangannya dan sutera hitam itu meluncur terus ke arah lehernya!
Pada saat yang amat berbahaya bagi Bouw Hun Ti itu, Lu Tong Kui tidak tinggal diam.
Ia berseru keras dan sambil mencabut pedangnya ia melompat dan membabat ke arah sutera hitam itu.
Sutera hitam itu bergerak mengelak dan tidak sampai terbabat oleh pedangnya, akan tetapi Bouw Hun Ti terbebas dari bahaya maut.
Sesungguhnya kalau sampai sutera hitam itu menotok jalan darah pada lehernya, maka lehernya akan pecah dan ia akan binasa pada saat itu juga!
"Eh, sahabat, siapakah kau?
Mengapa kau memusuhi Bouw Hun Ti!"
Lo Tong Kui bertanya sambil melintangkan pedangnya pada dada. Orang itu tersenyum mengejek.
"Lu Tong Kui, kau tentu tidak mengenalku, akan tetapi aku tahu bahwa kau dan murid keponakanmu ini adalah orang-orang jahat yang patut dikirim ke neraka!"
"Bangsat!"
Lu Tong Kui memaki marah.
"Apa kaukira aku takut kepadamu?"
"Majulah,"
Orang itu berkata dengan suara yang masih tenang.
"setelah berhadapan dengan Lie Kong Sian, tak perlu menjual banyak lagak lagi!"
Mendengar nama ini, tidak saja Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti yang merasa akan tetapi Lo Sian juga tertegun dan memandang dengan penuh perhatian dan kagum.
Akan tetapi ia merasa ragu-ragu karena sepanjang pendengarannya, pendekar yang bernama Lie Kong Sian dan yang menjadi suami dari pendekar wanita Ang I Niocu yang amat terkenal, kabarnya berwajah tampan dan gagah.
Mengapa orang ini seperti orang gila dan berwajah muram?
Nama Ang I Niocu sudah amat terkenal dan tak seorang pun di kalangan kang-ouw yang belum mendengar namanya sungguhpun jarang yang pernah bertemu dengan pendekar wanita itu.
Kalau Ang I Niocu yang tersohor gagah perkasa itu kabarnya masih kalah oleh suaminya yang bernama Lie Kong Sian, maka tentu saja nama ini menggetarkan hati Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti!
Apalagi Bouw Hun Ti, karena sebagai suheng dari Pendekar Bodoh yang telah diganggunya, dibunuh mertuanya dan diculik puterinya, tentu saja Lie Kong Sian takkan memberi ampun kepadanya!
Lo Sian menjadi girang sekali.
"Hemm, kaukah yang bernama Lie Kong Sian, pendekar dari Pulau Pek-le-to itu? Tak kusangka bahwa orangnya hanya sebegini saja!"
Lu Tong Kui mengejek untuk memperbesar semangat sendiri, kemudian tanpa menanti jawaban ia menyerang dengan pedangnya.
Lie Kong Sian cepat mengelak sambil mencabut keluar pedangnya pula.
Pedang ini bersinar gemilang dan amat tajam, karena ini adalah pedang Cian-hong-kiam yang dulu ia terima dari isterinya sebagai tanda perjodohan ketika belum menikah.
Dengan gerakan yang luar biasa cepat dan kuatnya, Lie Kong Sian membalas dengan serangah hebat sehingga Lu Tong Kui harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian agar jangan sampai dirobohkan dengan mudah.
Bouw Hun Ti yang melihat susioknya terdesak, lalu mengambil kembali goloknya yang tadi terlepas dari pegangan, lalu membantu susioknya itu mengeroyok Lie Kong Sian.
Lo Sian tentu saja tidak mau mendiamkan hal ini dan ia pun bergerak maju sambil berseru.
"Bangsat pengecut, jangan main keroyokan!"
Akan tetapi Lie Kong Sian lalu berkata kepadanya.
"Sahabat, jangan kau turut campur! Biarkan aku sendiri memberi hajaran kepada penculik rendah ini. Yang diculik adalah keponakanku, maka aku yang berhak menghajar!"
Mendengar suara ini, Lo Sian melangkah mundur lagi karena ia tidak mau menyinggung perasaan pendekar gagah itu.
Pula, ia melihat betapa Lie Kong Sian biarpun dikeroyok dua, tetapi masih dapat mendesak kedua lawannya, dan maklum pula bahwa kepandaiannya sendiri masih kurang cukup kuat sehingga bantuannya bahkan hanya merupakah gangguan saja bagi pergerakan Lie Kong Sian.
Memang ilmu pedang dari Lie Kong Sian bukan main hebatnya.
Pendekar ini adalah murid dari mendiang Han Le Sianjin yang menjadi sute dari Bu Pun Su, maka tentu saja ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.
Biarpun Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti juga bukan sembarang orang dan kepandaian mereka sudah termasuk tinggi dan lihai, namun menghadapi Lie Kong Sian, mereka tidak banyak berdaya dan setelah bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, maklumlah mereka bahwa kalau dilanjutkan mereka tentu akan roboh di tangan pendekar besar dari Pulau Pek-le-to ini!
Lu Tong Kui adalah seorang yang licik dan juga pandai melihat gelagat.
Daripada roboh di tangan Lie Kong Sian, lebih baik melarikan diri saja, pikirnya.
Ia tak usah merasa malu melakukan hal ini, karena kalah dalam pertandingan melawan seorang gagah perkasa seperti Lie Kong Sian, bukanlah merupakan hal yang amat memalukan.
"Mari kita pergi!"
Katanya dengan cepat sambil menyerang hebat ke arah kedua kaki Lie Kong Sian.
Bouw Hun Ti memang sudah mengeluarkan keringat dingin karena takut dan gelisahnya, kini mendengar susioknya yang dibarengi dengan serangan hebat sehingga Lie Kong Sian tidak dapat menekannya, ia lalu melompat dari rumah makan.
"Bouw Hun Ti, jangan lari sebelum lehermu kupatahkan!"
Seru Lie Kong Sian menyampok pedang Lu Tong Kui dan tubuhnya berkelebat keluar mengejar Bouw Hun Ti.
Karena gerak Lie Kong Sian gesit sekali dan gin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi, maka dengan dua kali lompatan saja ia telah dapat menyusul dan mengirim bacokan dengan pedangnya dari belakang.
Bouw Hun Ti bukanlah orang lemah dan mendengar suara angin pedang dari belakang, ia cepat membalikkan tubuh dan menangkis pedang itu dengan goloknya sambil mengerahkan seluruh tenaga lwee-kangnya.
"Trang!!"
Goloknya beradu dengan pedang sedemikian kerasnya sehingga telapak tangannya serasa akan pecah kulitnya.
Ketika ia melihat, ternyata bahwa goloknya telah terbabat putus menjadi dua oleh pedang lawannya!
Dan pada saat itu, pedang Lie Kong Sian menyambar dengan cepatnya menusuk dadanya.
Bouw Hun Ti dengan suara kaget melempar tubuh ke belakang, akan tetapi ujung pedang itu masih menyerempet pundaknya dan melukai kulit pundak sehingga pecah dan darah membasahi pakaiannya!
Ia terhuyung ke belakang dan tak tertahan lagi tubuhnya jatuh terjengkang!
Untung baginya, ketika Lie Kong Sian hendak menambahkan dengan tusukan maut datang Lu Tong Kui yang menyerang Lie Kong Sian dari belakang sehingga pendekar Pulau Pek-le-to itu terpaksa membalikkan tubuh untuk menghadapi Lu Tong Kui.
Bouw Hun Ti merangkak bangun dan melihat musuh tangguh itu telah ditahan oleh susioknya, ia lalu melarikan diri secepatnya pergi dari tempat itu!
"Bouw Huii Ti, bangsat rendah, jangan lari!"
Seru Lie Kong Sian yang hendak mengejar kembali, akan tetapi Lu Tong Kui menyerangnya sedemikian rupa sehingga ia tak dapat melanjutkan niatnya mengejar musuh itu.
"Orang she Lu, jangan kau terlalu mendesak!"
Kata Lie Kong Sian.
"Aku tidak mempunyai permusuhan denganmu dan tidak bermaksud membunuhmu. Yang hendak kubikin mampus hanya bangsat rendah Bouw Hun Ti itu. Minggirlah!"
Akan tetapi Lu Tong Kui tidak menurut, bahkan mendesak makin hebat.
"Kalau begitu, agaknya kau pun telah bosan hidup!"
Teriak Lie Kong Sian marah dan pedangnya segera diputar cepat sekali.
Gerakannya berubah dan kini pedangnya merupakan seekor naga yang ganas sekali, menyambar-nyambar tak mengenal ampun.
Beberapa belas jurus Lu Tong Kui masih dapat mempertahankan diri, akan tetapi akhirnya ia berteriak ngeri dan roboh tak bernyawa pula karena dadanya telah tertembus oleh pedang di tangan Lie Kong Sian!
Pendekar dari Pulau Pek-le-to ini untuk sesaat berdiri kesima dan merasa sedikit menyesal telah membunuh orang ini yang sesungguhnya di luar kehendaknya semula.
Kemudian ia teringat kepada Bouw Hun Ti, lalu mengejar secepatnya ke arah orang she Bouw itu tadi melarikan diri.
Lo Sian yang mengejar sampai di situ merasa kagum sekali dan berseru.
"Lie Kong Sian, Tai-hiap...! Tunggu dulu! Lili sudah berada di tangan yang aman sentausa!"
Akan tetapi Lie Kong Sian telah pergi jauh dan Lo Sian tidak dapat menyusul kecepatan lari pendekar itu sehingga Si Pengemis Sakti ini hanya menggeleng-geleng kepala dan kemudian pergi dari situ, tidak mengalami kesibukan karena terjadinya pembunuhan ini.
"Bouw Hun Ti telah berada di tempat ini dengan susioknya, maka tentu ia melarikan diri menuju ke tempat tinggal gurunya yang tak jauh dari sini,"
Pikir Lo Sian dan ia lalu berlari cepat menuju ke dusun Tong-si-bun, tempat tinggal Ban Sai Cinjin.
Hari telah sore ketika ia tiba di dusun itu dan melihat betapa rumah Ban Sai Cinjin sunyi saja, ia lalu menuju ke hutan di mana ia bersama Lili menolong Thio Kam Seng anak yatim piatu itu dari siksaan seorang hwesio kecil yang mendiami kuil megah dari Ban Sai Cinjin.
Dugaannya memang tepat sekali.
Ketika ia tiba di dekat kuil itu, ia menyaksikan pertempuran yang hebat sekali tengah berlangsung antara Lie Kong Sian dan Ban Sai Cinjin sendiri!
Seperti juga dulu ia mengintai dari balik tetumbuhan yang rindang, menonton pertempuran luar biasa dahsyatnya itu.
Hwesio kecil yang kejam dulu itu berdiri tak jauh dari tempat pertempuran dan di dekatnya berdiri pula Bouw Hun Ti yang bertolak pinggang.
Tak jauh dari tempat itu berdiri pula seorang yang melihat dari keadaan pakaiannya, adalah seorang dusun yang kebetulan lewat di situ telah menonton pertempuran dengan mata terbelalak penuh kegelisahan dan ketakutan.
Orang dusun ini rupanya masih muda.
Lie Kong Sian memang telah mendapatkan jejak musuhnya dan mengejar terus sampai ke tempat itu.
Ia masih melihat berkelebatnya bayangan Bouw Hun Ti memasuki kuil yang amat mentereng di dalam hutan itu.
Lie Kong Sian ragu-ragu untuk masuk ke dalam kuil, karena ia adalah seorang yang menghargai peraturan dan kesopanan.
Tak berani ia secara sembarangan memasuki kuil tanpa seijin kepala hwesio yang menguasai kelenteng.
Maka ia lalu berseru keras.
"Bouw Hun Ti manusia jahat! Jangan kau mengotori kelenteng suci dengan telapak kakimu yang hitam! Keluarlah untuk menerima kematian secara laki-laki!"
Beberapa kali Lie Kong Sian berteriak-teriak dari luar kuil dan tak lama kemudian, dari dalam kuil itu keluarlah seorang gemuk pendek yang sudah tua akan tetapi wajahnya masih kemerah-merahan tanda bahwa ia sehat sekali.
Pakaiannya amat mengherankan karena mewahnya dan rambutnya yang sudah putih itu disisir rapi dan dikuncir ke belakang.
Di luar pakaiannya yang terbuat daripada sutera halus dan mahal itu, ia mengenakan sebuah baju luar terbuat daripada bulu yang amat halus dan mahal.
Sepatunya juga baru dan mengkilat dan pada tangan kanannya ia memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjang.
Kepala huncwe itu masih mengepulkan asap tembakau yang berbau harum, tanda bahwa tembakau yang diisapnya adalah tembakau yang mahal.
Lie Kong Sian tertegun.
Ia belum pernah bertemu dengan orang ini, dan melihat potongan tubuhnya dan huncwe yang luar biasa itu, ia menduga bahwa orang ini tentulah Si Huncwe Maut yang terkenal pula dengan sebutan Ban Sai Cinjin.
Akan tetapi mengapa Ban Sai Cinjin yang disohotkan sebagai seorang pemeluk kebatinan kelihatan begini pesolek?
Maka Lie Kong Sian merasa ragu-ragu dan hanya memandang dengan mata menyinarkan cahaya tajam.
Sebaliknya, kakek yang sebenarnya memang Ban Sai Cinjin dengan tenang keluar dari kuil diikuti oleh seorang hwesio kecil berkepala gundul dan bermata liar, lalu ia menjura kepada Lie Kong Sian dan berkata.
"Selamat datang di kuilku, Pek-le-to Tai-hiap (Pendekar Besar dari Pulau Pek-le.-to)! Sungguh satu kehormatan besar sekali mendapat kunjungan seorang gagah seperti kau. Hanya anehnya, sepanjang pendengaranku, Lie Kong Sian adalah pendekar besar yang penyabar dan tenang, akan tetapi mengapa sekarang ia mengunjungi sebuah kuil dengan pedang di tangan dan iblis maut membayang pada mukanya?"
Ucapan ini sungguhpun cukup pantas dan merendah, akan tetapi mengandung ejekan, terutama sekali tekanan kata-katanya. Lie Kong Sian juga menjura sebagai balas penghormatan, lalu bertanya.
"Kalau tidak salah dugaanku, Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) tentu yang disebut Ban Sai Cinjin si Huncwe Maut. Betulkah dugaanku ini?"
Ban Sai Cinjin tertawa dengan suara ketawanya yang aneh.
"Hehe, hehe, hehe, he-he-he, ha-ha-ha!"
Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu, hanya dengan amat tenangnya lalu mengetuk-ngetuk keluar abu tembakau dari kepala pipanya kemudian dengan masih tenang seakan-akan sedang menikmati waktu senggang seorang diri, ia membuka kantong tembakau yang tergantung pada pipa itu, mengeluarkan tembakau warna hitam yang dijemputnya dengan ibu jari, menutup kantong itu kembali dan menggantungkannya lagi pada pipanya.
Dengan mata meram-melek ia menggelintir-gelintir tembakau itu di ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu dimasukkannya ke dalam mulut huncwe tempat tembakau.
Setelah itu, barulah ia memandang kepada Lie Kong Sian yang menjadi gemas juga melihat sikap yang angkuh dan memandang rendah ini.
"Kau menduga tepat. Aku telah kenal dengan mendiang gurumu, Han Le Sianjin! Lie Kong Sian, apakah keperluanmu maka datang mengunjungi kuilku dengan pedang di tangan?"
Lie Kong Sian adalah seorang pendekar yang jujur, tabah dan tidak suka menyembunyikan perbuatannya sendiri.
Ia tahu bahwa Lu Tong Kui yang terbunuh olehnya tadi adalah sute dari Ban Sai Cinjin, maka tak perlu kiranya ia menyembunyikan permusuhannya dengan Bouw Hun Ti dan pembunuhannya terhadap Lu Tong Kui tadi, katanya.
"Ban Sai Cinjin, ketahuilah aku mengejar muridmu Bouw Hun Ti dan tadi kulihat ia bersembunyi di tempat ini."
"Hemm, memang ada muridku Bouw Hun Ti di ruang dalam, akan tetapi mengapakah kau mengejar-ngeiarnya dengan pedang di tangan?"
"Muridmu telah melakukan perbuatan yang jahat! Dia tidak saja membunuh Yousuf yang menjadi ayah angkat Nyonya Sie Cin Hai, akan tetapi juga ia telah menculik puteri dari Pendekar Bodoh itu. Kau tahu bahwa aku adalah Suheng dari Pendekar Bodoh, maka mendengar kekejaman ini, tentu saja aku tidak tinggal diam dan berusaha membalas dendam. Oleh karena itu, perlu pula kau ketahui untuk kaupertimbangkan, bahwa ketika aku mengejar muridmu tadi, sutemu Lu Tong Kui menghalangiku. Sudah kukatakan bahwa aku tidak memusuhinya, akan tetapi ia mendesak dan menyerang sehingga akhirnya ia tewas di ujung pedangku!"
Hampir meledak rasa dada Ban Sai Cinjin mendengar ini, akan tetapi perasaannya ini sama sekali tidak nampak pada wajahnya yang masih saja tersenyum-senyum mengejek.
Akan tetapi, jari-jari tangannya yang masih memasuk-masukkan tembakau pada kepala pipa itu gemetar sedikit tanda bahwa dadanya bergelora karena marah.
"Hemm, hemm, jadi kau telah membunuh Suteku pula? Lie Kong Sian! Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk berbuat sesukamu terhadap murid dan Suteku. Kau berlaku sebagai hakim sendiri untuk menghukum mereka. Apakah kau sama sekali sudah tak memandang mukaku lagi?"
"Ban Sai Cinjin, harap kau orang tua suka mempertimbangkan baik-baik dan menggunakan cengli (aturan). Muridmu telah melakukan pembunuhan terhadap diri Yousuf dan menculik pula puteri Suteku, berarti bahwa ia sengaja memusuhi Pendekar Bodoh. Adapun sutemu Lu Tong Kui itu, dia mencari kematian sendiri karena dialah yang mendesakku dan menghalang-halangiku mengejar muridmu yang jahat."
"Enak saja kau bicara!"
Tiba-tiba Ban Sai Cinjin tak dapat menahan sabarnya lagi, matanya bersinar-sinar, dadanya berombak, akan tetapi ia masih sempat menyalakan api untuk membakar tembakau di kepala pipanya.
"Bouw Hun Ti membunuh Yousuf adalah urusannya sendiri. Mereka sama-sama dari Turki dan urusan antara mereka tidak ada hubungannya dengan kita! Adapun tentang penculikan puteri Pendekar Bodoh, belum tentu kalau muridku bermaksud buruk. Buktinya, manakah anak yang diculiknya? Kau hanya menuduh secara membuta saja. Sekarang tak perlu kau banyak cakap, paling perlu kau harus membayar hutangmu dan membalas kematian Suteku!"
Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menyedot pipanya dan terciumlah bau asap yang amat keras memusingkan kepala.
"Bagus!"
Lie Kong Sian berseru marah.
"Kau hendak membela yang jahat? Majulah, jangan kira aku takut kepadamu!"
Lie Kong Sian yang sedang menderita kesedihan hati karena perginya isteri dan anaknya itu memang berubah adatnya menjadi keras dan mudah marah.
Keberaniannya bertambah-tambah karena ia tidak takut mati lagi setelah hidupnya mengalami kegagalan dan kepahitan.
"Manusia sombong! Gurumu sendiri belum tentu berani bersikap sesombong ini di hadapanku. Nah, kau mampuslah!"
Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menyemburkan asap hitam dari mulutnya.
Semburan ini bukanlah semburan biasa akan tetapi yang dilakukan dengan tenaga khi-kang sepenuhnya sehingga asap hitam itu menyambar cepat ke arah muka Lie Kong Sian!
Pendekar ini mengelak cepat karena tahu akan lihainya asap ini.
"Iblis tua, kau tak malu menggunakan kecurangan?"
Lie Kong Sian membentak marah dan menyerang dengan pedangnya, akan tetapi ketika Ban Sai Cinjin dengan huncwenya, diam-diam ia merasa terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lwee-kang dari orang tua pendek itu benar-benar hebat sekali dan masih lebih tinggi daripada tenaganya sendiri!
Maka bertempurlah kedua orang berilmu itu dengan hebat.
Pedang di tangan Lie Kong Sian bergerak cepat dan sebentar saja tubuhnya telah lenyap di dalam gulungan pedangnya sendiri, sedangkan huncwe di tangan Ban Sai Cinjin benar-benar luar biasa.
Saking cepatnya gerakan huncwe, maka yang terlihat hanyalah sinar kehitaman yang tebal dan kuat, merupakan benteng baja yang diliputi asap hitam seperti kabut, yaitu asap yang keluar dari tembakaunya yang beracun!
Setelah pertempuran berjalan seru, barulah kelihatan Bouw Hun Ti keluar dari sembunyinya dan dengan bertolak pinggang ia menonton pertempuran itu, bersama pendeta cilik gundul yang dulu hendak membedah perut Thio Kam Seng.
Kebetulan sekali pada saat itu di tempat itu terdapat seorang penduduk kampung muda yang datang mencari kayu kering.
Ketika ia mendengar suara senjata beradu, ia tertarik dan datang pula ke depan kelenteng.
Kini ia berdiri dengan mulut melongo, ketika menyaksikan pertempuran yang luar biasa dan yang selama hidupnya belum pernah disaksikannya itu.
Ia tidak dapat melihat orang yang sedang bertempur, hanya melihat gulungan sinar putih keemasan dari pedang Lie Kong Sian, dan gulungan sinar hitam dari huncwe Ban Sai Cinjin!
Dan pada saat pertempuran telah berjalan lima puluh jurus lebih, datanglah Lo Sian yang mengintai dari balik gerombolan pohon.
Biarpun Lo Sian bukan seorang biasa dan telah memiliki kepandaian tinggi, namun menyaksikan pertempuran ini, ia menjadi tertegun dan kagum sekali.
Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan pertandingan yang demikian seru dan hebatnya.
Lo Sian selama ini mengagumi kepandaian suhengnya, Mo-kai Nyo Tiang Le yang telah mewarisi seluruh kepandaian mendiang suhunya, akan tetapi melihat gerakan kedua orang yang sedang bertempur, ia merasa ragu-ragu apakah kepandaian suhengnya itu dapat menandingi kepandaian Ban Sai Cinjin.
Sebetulnya, dalam hal gerakan ilmu silat, Lie Kong Sian tak usah merasa kalah terhadap Ban Sai Cinjin.
Kalau saja kakek pesolek itu mempergunakan ilmu silat biasa, agaknya tak mungkin ia akan dapat melawan Lie Kong Sian sampai sekian lamanya.
Akan tetapi, Ban Sai Cinjin bukan seorang ahli silat biasa.
Selain ilmu silat ia telah mempelajari ilmu hoat-sut (sihir) dari bangsa Mongol, di dalam gerakan huncwenya banyak terdapat gerakan-gerakan aneh yang mempengaruhi pandangan mata lawan, seringkali huncwe itu membuat gerakan rahasia sehingga tiba-tiba Lie Kong Sian merasa matanya kabur dan pikirannya bingung.
Hanya berkat lwee-kangnya yang sudah tinggi dan permainan pedangnya yang memang sudah mendekati kesempurnaan sajalah yang masih menyelamatkan nyawanya karena lawannya tak dapat mudah membobolkan pertahanan pedangnya.
Selain ini juga dalam tenaga dalam Lie Kong Sian harus mengaku kalah.
Tenaga dalam yang dimiliki oleh Ban Sai Cinjin bukanlah tenaga biasa, akan tetapi tenaga yang diperkuat oleh ilmu hitam dan mantera.
Sebaliknya, Ban Sai Cinjin merasa kagum dan diam-diam merasa amat penasaran sekali.
Dia adalah seseorang yang belum pernah merasa dikalahkan orang, dan huncwenya telah dikenal oleh seluruh orang gagah di kalangan kang-ouw sebagai senjata yang tak terlawan sehingga ia dijuluki Huncwe Maut.
Akan tetapi, menghadapi seorang jago muda saja sampai puluhan jurus belum juga ia dapat merobohkannya!
Jangankan merobohkan, bahkan mendesak saja ia pun tidak mampu.
Maka, dengan penuh kemarahan Ban Sai Cinjin membentak.
"Siauw-koai, Lo-koai, semua tunduk kepadaku! Lie Kong Sian, ayahmu, kakekmu, gurumu, semua tunduk kepadaku. Kau juga takut kepadaku!"
Ini adalah ucapan yang mengandung mantera dan merupakan sihir yang luar biasa, karena tiba-tiba Lie Kong Sian merasa berdebar-debar dan dalam pandang matanya, Ban Sai Cinjin nampak amat menakutkan dan mengerikan hati!
Kalau orang lain yang menghadapi pengaruh ilmu hitam ini tentu akan lemas seluruh tubuhnya sehingga akan mudah sekali dirobohkan.
Namun Lie Kong Sian bukanlah orang sembarangan.
Telah bertahun-tahun tinggal menyepi seorang diri di pulau kosong di tengah laut.
Telah bertahun-tahun ia melakukan tapa dan samadhi untuk memperkuat batin dan membersihkan pikiran.
Banyak sekali godaan-godaan setan yang dialaminya di waktu ia menyepi di atas pulau itu, dan semua rintangan dan godaan itu telah dapat dihadapinya dengan baik.
Kini, mendapat serangan luar biasa dari Ban Sai Cinjin dengan ilmu hitamnya, biarpun hatinya berdebar dan rasa takut dan ngeri meliputi hatinya, namun ia dapat memperteguh imannya dan permainan pedangnya tidak menjadi kacau.
"Lie Kong Sian, lihat! Api neraka membakarmu!"
Teriak lagi Ban Sai Cinjin sambil tiba-tiba menepuk pipa tembakaunya dengan tangan kiri sehingga api tembakau memancar keluar dari kepala pipanya itu, menyambar ke arah Lie Kong Sian.
Pengaruh ilmu sihir membuat api itu nampak besar sekali yang menyambar ke arah kepalanya.
Akan tetapi Lie Kong Sian masih dapat berlaku gesit dan tidak terpengaruh oleh teriakan yang mengandung hawa hitam itu.
Ia cepat mengelak ke kiri dan sungguhpun ia merasa terkejut sekali, namun ia masih dapat menyelamatkan diri daripada serangan api tembakau beracun itu.
Tak terduga sama sekali olehnya, bahwa diam-diam Bouw Hun Ti yang berwatak curang dan palsu itu, melakukan kecurangan yang amat memalukan.
Ketika Bouw Hun Ti melihat suhunya amat sukar mengalahkan Lie Kong Sian, orang ini lalu mengeluarkan gendewanya yang kecil akan tetapi kuat sekali.
Melihat bentuknya, gendewa ini berbeda dengan gendewa yang biasa digunakan orang Tiongkok, karena sesungguhnya gendewa ini adalah gendewa model Turki.
Sambil memegang gendewa dengan tangan kiri dan tiga batang anak panah pendek di tangan kanan, Bouw Hun Ti bersiap-siap mencari kesempatan untuk membokong musuhnya yang sedang bertanding melawan gurunya itu.
Kesempatan itu tiba ketika Lie Kong Sian diserang oleh api dari kepala huncwe Ban Sai Cinjin.
Bouw Hun Ti melihat betapa Lie Kong Sian mengelak ke kiri dengan muka memperlihatkan kekagetan, maka ia cepat menggerakkan kedua tangannya dan "sr!
sr!
sr!"
Tiga batang anak panahnya yang pendek dan kecil warnanya hitam itu meluncur cepat sekali ke arah Lie Kong Sian.
Tiga batang senjata itu menyerang ke arah leher, ulu hati, dan bawah pusar!
Bukan main kagetnya hati Lie Kong Sian melihat serangan yang tiba-tiba datangnya dan tak tersangka-sangka ini!
"Bangsat curang!!"
Serunya marah dan berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak cepat ke kanan dengan miringan tubuhnya.
Memang kecepatan gerakannya dapat menolong dirinya dari ancaman tiga batang anak panah beracun itu, akan tetapi gerakannya ini disambut dengan serangan maut oleh Ban Sai Cinjin yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Selagi tubuh Lie Kong Sian miring dan dalam posisi yang amat lemah, huncwenya menyambar dan...
"tak!"
Huncwe itu dengan tepat sekali mengetuk kepala Lie Kong Sian di bagian ubun-ubunnya.
Lie Kong Sian menjerit ngeri, tubuhnya terhuyung-huyung, terputar-putar dan pedangnya terlepas dari tangan.
Kemudian setelah berputar beberapa kali, tubuh Lie Kong Sian terjungkal dan roboh tertelungkup tak bergerrak lag!!
Ubun-ubunnya telah pecah terkena pukulan huncwe yang hebat itu dan nyawanya melayang pada saat itu juga!
Lie Kong Sian, suami Ang I Niocu, pendekar besar dari Pulau Pek-le-to, telah tewas dalam keadaan yang amat mengecewakan!
Lo Sian yang mengintai dari balik pohon, mengerutkan kening dan meramkan matanya dengan hati perih dan ngeri.
Tak terasa pula dua titik air mata melompat keluar dari sepasang matanya, turun di atas pipinya.
Apakah dayanya?
Kepandaiannya masih tak cukup kuat untuk menghadapi Bouw Hun Ti, apalagi menghadapi gurunya, Ban Sai Cinjin yang amat tangguh dan kejam itu.
Sementara itu, Ban Sai Cinjin juga tercengang melihat kecurangan muridnya.
Ia menegur perlahan.
"Hun Ti, mengapa kau lancang membantuku? Kau merendahkan derajatku dengan bantuan tadi dan hatiku tidak merasa puas biarpun aku telah menang dan berhasil merobohkan Lie Kong Sian. Biarpun kau tidak membantu, akhirnya Lie Kong Sian pasti akan roboh juga di tanganku. Mengapa kau membantu dengan jalan curang?"
"Teecu tidak tahan lebih lama lagi melihat orang yang telah membunuh Susiok ini!"
Jawab Bouw Hun Ti, dan Ban Sai Cinjin terhibur juga mendengar ini. Tiba-tiba ia melihat pemuda kampung itu dan membentak.
"Siapa dia itu?"
"Entah, teecu juga tidak mengenalnya,"
Jawab Bouw Hun Ti.
"Dia adalah seorang kampung yang mencari kayu, Suhu,"
Kata hwesio cilik yang ternyata murid merangkap pelayan dari Ban Sai Cinjin.
"Celaka, dia telah melihat perbuatanku terhadap Lie Kong Sian tadi, dan kalau hal ini sampai diketahui orang luar, aku akan mendapat malu!"
Kata Ban Sai Cinjin.
Tiba-tiba tubuhnya melompat dan tahu-tahu ia telah berada di depan orang kampung muda yang masih berdiri terbelalak ngeri melihat pembunuhan tadi.
Kini ia menjadi ketakutan ketika melihat Ban Sai Cinjin telah berada di depannya dan sebelum ia dapat melarikan diri, Ban Sai Cinjin menyemburkan asap hitam ke arah mukanya.
Orang itu mendekap muka dengan tangannya, terbatuk-batuk beberapa kali seakan-akan tak dapat bernapas, kemudian tubuhnya terhuyung-huyung dan jatuh telentang tak bernapas lagi.
Mukanya menjadi hitam karena racun yang disemburkan melalul asap tembakau itu!
Dengan amat kejamnya, untuk menolong kehormatan dan namanya agar jangan sampai ada lain orang tahu akan kecurangannya terhadapi Lie Kong Sian tadi, Ban Sai Cinjin telah membunuh pemuda kampung itu begitu saja!
"Ha-ha!"
Bouw Hun Ti tertawa girang.
"Suhu telah membuat penyelesaian yang amat cepat dan tepat!"
"Sudahlah, kaukubur dua mayat itu agar jangan sampai ada orang melihatnya,"
Kata Ban Sai Cinjin.
"Suhu, mengapa menyia-nyiakan kesempatan baik ini?"
Tiba-tiba hwesio cilik itu berkata kepada gurunya.
"Jantung kedua orang ini masih segar dan mudah sekali diambil!"
Ban Sai Cinjin tertawa dan berkata kepada Bouw Hun Ti.
"Lihat Sutemu benar-benar ingin mempelajari dengan sempurna ilmu kebal itu!"
Bouw Hun Ti hanya tersenyum menyeringai.
Ia maklum bahwa suhunya mempunyai ilmu kekebalan yang dapat diturunkan kepada muridnya dengan jalan memakan obat yang dicampur dengan tiga buah jantung manusia!
"Jantung orang kampung ini tidak bersih, telah terkena racun, maka tidak dapat digunakan,"
Kata Ban Sai Cinjin.
"Kalau jantung dia itu,"
Dia menunjuk ke arah tubuh Lie Kong Sian yang masih menelungkup di atas tanah.
"masih baik, akan tetapi, dia seorang pendekar besar, aku tak sampai hati untuk membelek dada mengambil jantungnya."
"Biar murid sendiri yang melakukan hal itu, Suhu,"
Kata hwesio cilik itu dengan suara memohon.
"setelah itu barulah teecu akan menguburkannya baik-baik."
"Sesukamulah!"
Akhirnya Ban Sai Cinjin berkata sambil tersenyum, dan masuklah ia ke dalam kuilnya.
"Sute, biar aku yang mengubur orang kampung ini. Setelah kau selesai dengan yang itu, kau harus menguburkannya sendiri baik-baik."
Hwesio cilik itu mengangguk kepada suhengnya, lalu ia menghampiri mayat Lie Kong Sian dan diangkatnya menuju ke belakang kuil.
Sedangkan Bouw Hun Ti lalu mengubur mayat pemuda kampung itu secara sembarangan di tempat yang agak jauh dari kuil, seperti orang mengubur bangkai anjing saja.
Hari telah menjadi gelap dan malam itu bertambah seram dengan terjadinya dua pembunuhan itu.
Di dalam kamar dekat dapur, hwesio kecil telah menelanjangi mayat Lie Kong Sian dan telah menyediakan sebilah pisau tajam dan sebuah mangkok putih tempat jantung yang hendak diambilnya dari dalam dada Lie Kong Sian.
Kemudian, hwesio cilik ini menggunakan pisaunya untuk memotong sedikit rambut dari kepala Lie Kong Sian lalu mengikatkan rambut itu pada sebatang sumpit gading yang telah disediakan.
Ia meletakkan sumpit itu di atas mangkok putih tadi, lalu ia menyalakan tiga batang hio.
Kemudian ia bersembahyang di depan mayat itu dan berkata.
"Arwah orang she Lie! Aku, Hok Ti Hwesio, dengan sungguh hati mengundangmu untuk mengajukan beberapa pertanyaan!"
Ia lalu membawa hio bernyala itu dan berjalan mengitari mayat Lie Kong Sian tiga kali, kemudian ia menancapkan tiga batang hio itu ke dalam mulut mayat Lie Kong Sian.
Setelah itu, ia mengambil sumpit yang telah diikat ujungnya oleh rambut Lie Kong Sian tadi, diputar-putarkan di atas hio agar terkena asap hio sambil mulutnya berkemak-kemik membaca mantera.
Lalu ia menaruh sumpit itu di atas mangkok lagi dan berkata.
"Arwah orang she Lie! Kalau kau sudah masuk ke dalam sumpit ini, berputarlah!"
Sungguh aneh sekali dan sukarlah untuk diselidiki mengapa dapat terjadi demikian, akan tetapi benar saja sumpit di atas mangkok itu lalu terputar-putar bagaikan digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan!
Hwesio cilik yang bernama Hok Ti Hwesio itu tersenyum girang.
"Arwah orang she Lie! Perkenankanlah aku meminjam jantung dari tubuhmu yang sudah tidak ada gunanya lagi untuk campuran obat membuat kebal tubuhku. Kalau kau setuju, berputarlah satu kali, kalau tidak setuju, berputarlah tiga kali!"
Hwesio itu dengan penuh gairah memandang ke arah mangkok dan sumpit.
Dan sumpit itu mulai bergerak memutar satu kali, lalu diam, akan tetapi lalu memutar sekali lagi dan sekali lagi baru diam tak bergerak!
Ternyata bahwa kalau memang benar yang menjawab itu adalah arwah Lie Kong Sian, maka arwah pendekar itu tidak menyetujui jantung dari tubuhnya diambil oleh hwesio cilik ini!
Hok Ti Hwesio mengerutkan kening dan wajahnya menjadi muram.
Ia mencabut tiga batang hio itu dengan kasar dari mulut mayat Lie Kong Sian, lalu mengangkat hio itu tinggi di atas kepalanya sambil berkata.
"Arwah orang she Lie! Ketahuilah bahwa aku, Hok Ti Hwesio, akan merawat dan mengubur jenazahmu baik-baik! Dengan demikian, aku telah melepas budi kepadamu, maka apakah kau tidak mau membalas budi itu untuk bekal naik ke sorga? Nah, sekali lagi kupinta, arwah orang she Lie, berikanlah jantungmu dengan rela!"
Setelah berkata demikian, ia lalu menancapkan kembali hio itu ke dalam mulut mayat itu. Ia menghampiri sumpit di atas mangkok dan berkata lagi.
"Nah, sekarang jawablah! Berikan jantung tubuhmu kepadaku, setuju atau tidak?"
Kembali sumpit itu berputar-putar dan masih tetap...
tiga kali!
Hok Ti Hwesio membanting-banting kakinya dengan gemas sekali.
Ia mengambil pisau tajam dari atas meja dan menghampiri mayat Lie Kong Sian yang bertelanjang bulat dan telentang di atas meja panjang.
"Baik, kau tidak setuju? Aku tetap akan mengarnbil jantung tubuhmu, hendak kulihat kau bisa berbuat apa! Sudah mampus kau masih saja jahat dan memusuhi kami, orang she Lie!"
Hwesio cilik ini dengan muka kejam lalu mengangkat tangan hendak menusuk dada mayat Lie Kong Sian, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba meniup angin besar dari jendela dan api lilin menjadi padam!
Hok Ti Hwesio terkejut sekali dan menoleh ke jendela.
Wajahnya menjadi pucat karena ia melihat sebuah kepala tersembul di jendela dan karena penerangan lilin telah padam, maka kepala itu nampak hitam dan besar mengerikan!
Hok Ti Hwesio biarpun masih kecil, akan tetapi karena telah menerima latihan ilmu-ilmu hitam, tidak merasa takut terhadap segala setan dan iblis, akan tetapi oleh karena tadi ia hendak memaksa dan membedah dada mayat itu biarpun arwah si mayat tidak menyetujuinya, tentu saja kini menyangka bahwa itu adalah setan penasaran dari Lie Kong Sian yang datang mengganggu!
Ia melemparkan pisaunya ke bawah dan berlari berteriak-teriak.
"Tolong... setan... tolong, Suhu... ada setan...!"
Kepala yang tersembul di jendela itu ternyata bertubuh dan kini tubuhnya bergerak melompat ke dalam kamar, memondong mayat Lie Kong Sian dan cepat dibawa lagi keluar!
Bayangan yang disangka setan ini ternyata adalah Lo Sian!
Sebagaimana diketahui, Pengemis Sakti ini mengintai dan menyaksikan betapa Lie Kong Sian terbunuh dan betapa orang muda kampung yang tanpa disengaja menyaksikan pula pembunuhan itu, telah dibunuh secara kejam oleh Ban Sai Cinjin.
Kemudian ia mendengar tentang permintaan Hok Ti Hwesio yang hendak mengambil jantung dari mayat Lie Kong Sian.
Di depan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin Lo Sian tidak berani bergerak, akan ketika melihat hwesio cilik itu membawa mayat Lie Kong Sian ke belakang, ia lalu mengikuti dan mengintai dari jendela.
Sesungguhnya, perbuatan Lo Sian juga yang memutarkan sumpit gading tadi, dengan mengerahkan khi-kang dan meniup dari jendela, dan dia pula yang meniup padam api lilin!
Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti ketika mendengar teriakan Hok Ti Hwesio, cepat memburu dan mereka masih melihat bayangan Lo Sian membawa lari mayat Lie Kong Sian.
Mereka cepat mengejar, akan tetapi Lo Sian telah menghilang di dalam gelap, sebentar saja Lo Sian telah dapat meninggalkan kedua orang pengejarnya.
"Celaka, bangsat Lo Sian telah mengetahui peristiwa itu, bahkan telah membawa lari mayat Lie Kong Sian. Hal ini pasti akan berekor panjang sekali,"
Kata Ban Sai Cinjin sambil menghela napas.
"Biarlah, apakah Suhu takut menghadapi kawan-kawannya?"
Kata Bouw Hun Ti.
"Kalau Pendekar Bodoh dan yang lain-lain datang, kita gempur mereka!"
"Takut sih tidak, akan tetapi aku segan untuk bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw. Hidupku biasanya senang dan aman, kini pasti akan menemui gangguan dan semua ini gara-gara kau, Hun Ti! Karena itu, kau harus memperdalam kepandaianmu. Aku sendiri sudah malas untuk mengajar dan jalan satu-satunya bagimu ialah pergi ke tempat pertapaan Supekmu."
"Wi Kong Siansu di Hek-kwi-san?"
Tanya Bouw Hun Ti sambil membelalakkan kedua matanya. Ban Sai Cinjin mengangguk.
"Ya, siapa lagi selain supekmu yang dapat memperkuat kedudukan kita dan dapat memberi pendidikan ilmu silat lebih jauh kepadamu?"
"Akan tetapi, bukankah Suhu pernah menceritakan bahwa Supek itu telah mencuci tangan dan mengasingkan diri di puncak Hek-kwi-san, tidak mau mencampuri urusan dunia lagi?"
"Benar, akan, tetapi aku telah tahu akan tabiat Supekmu itu. Ia amat sayang kepada mendiang Lu Tong Kui yang biarpun menjadi Sute, akan tetapi masih iparnya sendiri. Ketahuilah rahasianya dahulu, bahwa Enci dari Lu Tong Kui pernah mengadakan hubungan dengan Supekmu itu! Nah, kalau kau membawa suratku, dan menceritakan tentang tewasnya Lu Tong Kui, tentu dia akan turun gunung dan memperkuat kedudukan kita."
"Akan tetapi, Suhu. Pembunuh Lu Tong Kui adalah Lie Kong Sian dan Lie Kong Sian telah terbalas oleh Suhu."
"Bodoh! Jangan kauberitahukan bahwa pembunuh susiokmu itu Lie Kong Sian. Beritahukan saja bahwa pembunuhnya adalah Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan bahwa matinya dikeroyok sehingga tidak saja Suheng akan mendendam kepada Pendekar Bodoh, akan tetapi juga kepada yang lain. Pendeknya, kalau Suheng dapat dibujuk turun gunung dan tinggal di sini bersama kita, jangankan baru Pendekar Bodoh, andaikata Bu Pun Su bangkit lagi dari kuburan, kita tak usah takut menghadapinya!"
Bouw Hun Ti merasa girang sekali.
"Dan bagaimana dengan Lo Sian yang membawa lari mayat Lie Kong Sian itu, Suhu?"
"Serahkan dia kepadaku. Aku yang akan mencarinya dan menghajarnya. Kau berangkatlah besok pagi-pagi ke Hek-kwi-san jangan ditunda-tunda lagi dan aku akan membuat surat untuk Suheng."
Demikianlah pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bouw Hun Ti berangkat ke tempat pertapaan Wi Kong Siansu, suheng dari Ban Sai Cinjin dengan membawa surat dari suhunya itu.
Pendeta tua yang disebut Wi Kong Siansu dan yang menjadi suheng dari Ban Sai Cinjin ini adalah seorang pertapa yang sakti.
Dulu di waktu mudanya ia terkenal sebagal seorang yang malang melintang di dunia kang-ouw, dan yang belum pernah menderita kekalahan dalam setiap pertempuran.
Bahkan orang-orang ternama dan yang termasuk tokoh-tokoh terbesar di dunia persilatan seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swi Kiat Siansu yang terkenal sebagai empat tokoh terbesar dari empat penjuru, merasa segan untuk bentrok dengan Wi Kon Siansu.
Bukan karena empat tokoh besar ini merasa jerih dari takut, akan tetapi oleh karena Wi Kong Siansu terkenal memiliki kepandaian silat yang amat ganas dan dahsyat sehingga setiap kali dia bertanding ilmu kepandaian dengan seorang lawan, lawan itu tentu akan tewas di dalam tangannya!
Bagi Wi Kong Siansu, hanya ada dua keputusan dalam tiap pertandingan, yaitu menang atau kalah dan mati!
Oleh karena inilah, maka ia mendapat julukan Toat-beng Lo-mo atau Iblis Tua Pencabut Nyawa!
Adapun Ban Sai Cinjin lalu mengadakan perjalanan pula untuk mencari dan menyusul Lo Sian yang telah mengetahui rahasianya.
Sebetulnya Ban Sai Cinjin tidak takut orang mengetahui bahwa ia telah membunuh Lie Kong Sian, kalau saja pembunuhan ltu dilakukan dalam sebuah pertempuran yang adil.
Yang membuatnya merasa kuatir kalau sampai diketahui orang adalah bahwa kekalahan Lie Kong Sian sesungguhnya karena kecurangan yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti!
Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dan mempunyai banyak sahabat hampir di seluruh daerah, maka dengan mudah ia dapat menyusul dan mengetahui di mana adanya Lo Sian yang juga banyak dikenal orang.
Kita mengikuti perjalanan Lo Sian yang membawa lari jenazah Lie Kong Sian.
Setelah dapat melepaskan diri dari pengejaran Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti, Lo Sian lalu masuk ke dalam hutan pohon pek yang bersambung dengan hutan di mana terdapat kelenteng tempat tinggal Ban Sai Cinjin.
Ia memilih tempat yang baik, yaitu sebuah bukit kecil di tengah hutan yang amat baik hongsuinya (kedudukan tanahnya).
Kemudian dengan penuh khidmat ia lalu mengubur jenazah pendekar besar Lie Kong Sian.
Sampai lama Lo Sian bersila, di depan gundukan tanah itu untuk mengheningkan cipta.
Di dalam hatinya ia menyatakan terima kasihnya kepada mendiang Lie Kong Sian, dan juga menyatakan penyesalannya bahwa karena membela dia, pendekar besar itu sampai menemui maut di tangan Ban Sai Cinjin.
Kemudian Lo Sian lalu menanam sebatang kembang mawar hutan di depan gundukan tanah itu untuk menjadi tanda.
Setelah itu, Pengemis Sakti ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Beng-san untuk menyusul suhengnya yang membawa Lili dan Kam Seng ke puncak bukit itu.
Sama sekali ia tak pernah mengira bahwa bahaya besar sedang mengancam dan mengejarnya.
Siapakah yang menyangka bahwa Ban Sai Cinjin hendak menyusul dan mencarinya?
Ia hanya mencuri mayat Lie Kong Sian dan hal ini bukanlah hal yang terlalu penting bagi Ban Sai Cinjin.
Lo Sian tidak tahu bahwa Ban Sai Cinjin mengejarnya karena ia dianggap satu-satunya orang yang telah mengetahui akan rahasia pembunuhan curang atas diri Lie Kong Sian.
Beberapa hari kemudian, baru saja Lo Sian keluar dari dusun, tiba-tiba di depannya berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Ban Sai Cinjin telah berdiri di depannya sambil tersenyum-senyum dan huncwe mautnya mengebulkan asap hitam!
Ternyata bahwa kakek pesolek yang amat lihai ini telah dapat menyusulnya.
"Ha-ha, pengemis jembel!"
Kata Ban Sai Cinjin.
"Apa kaukira kau dapat melarikan, diri begitu saja dariku setelah kau mencuri tubuh yang dibutuhkan oleh muridku?"
"Ban Sai Cinjin,"
Kata Lo Sian dengan gelisah.
"aku tidak mengganggu muridmu dan tentang jenazah Lie Kong Sian itu, memang aku yang mengambil untuk dikubur sepatutnya. Dia adalah seorang pendekar besar dan sudah sepatutnya kalau jenazahnya dikebumikan dengan baik. Apakah perbuatanku itu kauanggap salah?"
"Hemm, Lo Sian, kau pandai memutar lidah! Kau telah berkali-kali mengganggu Bouw Hun Ti mencampuri urusannya. Sekarang kau membawa pergi mayat Lie Kong Sian. Dimanakah mayat itu sekarang?"
"Sudah dikubur dengan baik."
Jawab Lo Sian.
"Bagus, dan jantungnya tentu sudah rusak. Kalau begitu, kaugantilah dengan jantungmu sendiri. Hayo pengemis jembel, kauserahkan jantungmu kepadaku, baru aku mau memberi ampun!"
Lo Sian tahu bahwa kakek ini sengaja mencari perkara. Bagaimana orang bisa hidup kalau jantungnya diambil? Ia lalu mencabut pedangnya dan berkata keras.
"Kau inginkan jantung? Inilah dia!"
Sambil berkata demikian, Lo Sian lalu menyerang dengan sebuah tusukan pedangnya yang dilakukan dengan nekad dan cepat, karena ia maklum bahwa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin jauh berada di atas tingkatnya.
Si Huncwe Maut tertawa geli, huncwe di tangannya bergerak didahului oleh semburan asap hitam dari mulutnya ke arah muka Lo Sian.
Pengemis Sakti tahu akan berbahayanya asap ini, maka ia cepat melompat ke kiri dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan.
Akan tetapi tiba-tiba pedangnya berhenti berputar karena telah tertempel oleh huncwe di tangan Ban Sai Cinjin dan tak dapat digerakkan lagi.
"Lepas!"
Ban Sai Cinjin membentak sambil memutar huncwenya sedemikian rupa sehingga pedang di tangan Lo Sian ikut terputar, kemudian dengan tenaga tiba-tiba ia membetot dan terlepaslah pedang itu dari tangan Lo Sian tanpa dapat dicegah lagi.
Kemudian huncwenya meluncur dengan sebuah totokan hebat dan robohlah Lo Sian tanpa dapat berdaya lagi karena jalan darahnya telah kena tertotok oleh huncwe yang lihai itu.
Ban Sai Cinjin mengempit tubuh Lo Sian yang menjadi lemas itu dan membawanya lari secepat terbang kembali ke kelentengnya!
Setelah tiba di kelenteng yang mewah itu, ia melemparkan tubuh Lo Sian ke atas lantai, lalu mengambil semangkok obat yang biru kehitaman warnanya.
"Minum ini!"
Katanya dan hwesio kecil muridnya itu memandang sambil menyeringai.
Lo Sian biarpun telah lemas dan tidak bertenaga lagi, namun hatinya masih cukup tabah dan keras, maka ia diam saja, biarpun mangkok itu telah ditempelkan pada bibirnya, namun ia tidak mau meneguk obat itu.
"Eh, pengemis jembel!"
Hok Ti Hwesio si hwesio kecil itu mengeiek.
"Kau kelaparan dan kehausan, minuman seenak ini mengapa tidak mau minum?"
Sambil berkata demikian, hwesio kecil ini menampar mulut Lo Sian yang tak dapat mengelak atau mengerahkan tenaga sehingga ketika terdengar suara "plak!"
Bibirnya pecah dan berdarah! "Buka mulut anjing ini!"
Kata Ban Sai Cinjin kepada muridnya.
Hok Ti Hwesio yang memang semenjak kecil mendapat pendidikan kekejaman itu sambil tertawa-tawa lalu menggunakan kedua tangannya membuka mulut Lo Sian dengan paksa, lalu mengganjal mulut itu dengan kakinya yang bersepatu kotor, sehingga mulut Lo Sian kini ternganga diganjal sepatu dari Ban Sai Cinjin lalu menuangkan obat mangkok itu ke dalam mulut Lo Sian.
Si Pengemis Sakti mencoba untuk menutup kerongkongannya, akan tetapi Hok Ti Hwesio, si hwesio kecil yang kejam dan penuh akal itu lalu memencet hidung Lo Sian dengan kedua jari tangannya.
Lo Sian terengah-engah dan terpaksa harus bernapas dari mulut dan masuklah obat itu ke dalam perutnya!
Obat itu terasa amat getir dan masam dan setelah masuk ke dalam perut terasa amat dingin sehingga ia menggigil.
Lo Sian berpikir bahwa obat itu tentulah racun dan ia tentu akan mati, maka sambil meramkan mata ia menanti datangnya maut.
Tak lama kemudian pikirannya menjadi lemah dan tak dapat digunakan lagi, lalu la menjadi pingsan tak sadarkan dirinya!
Setelah ia membuka mata kembali, ternyata ia telah berada di dalam sebuah hutan seorang diri.
Tak nampak lain orang di situ dan pikiran Lo Sian masih tidak karuan.
Segala benda di depannya nampak berputar-putar dan sebentar lagi ia berteriak-teriak.
"Pemakan jantung...! Tolong... pemakan jantung...!"
Kemudian, dengan beringas ia melompat bangun dan berlari terhuyung-huyung tidak karuan seperti orang mabok.
Terdengar ia berteriak-teriak, sebentar menangis seperti orang ketakutan setengah mati, kemudian ia tertawa dengan geli seakan-akan melihat sesuatu yang amat lucu.
Ternyata Lo Sian telah menjadi gila!
Obat yang dipaksakan memasuki perutnya itu adalah semacam obat mujijat yang merampas ingatannya dan membuat ia menjadi gila!
Alangkah kejamnya Ban Sai Cinjin dan muridnya Hok Ti Hwesio.
Ban Sai Cinjin merasa tak ada gunanya membunuh Lo Sian, maka timbul pikiran yang amat keji dan juga cerdik.
Ia mernbiarkan Lo Sian hidup, akan tetapi memberinya minum racun yang membuatnya menjadi gila sehingga tak mungkin lagi Lo Sian membuka rahasia pembunuhan atas diri Lie Kong Sian!
Jangankan mengingat akan hal itu semua, bahkan kepada diri sendiri pun Lo Sian tak ingat lagi.
Ia tidak tahu lagi siapa adanya dirinya sendiri dan tidak ingat lagi segala kejadian yang lalu, yang terbayang di depan matanya hanyalah jantung manusia yang dimakan orang!
Memang, kasihan sekali nasib Lo Sian yang terjatuh ke dalam tangan orang-orang berhati iblis!
Ia merantau tak tentu arah tujuan sebagai seorang gila.
*** Pegunungan Ho-lan-san memanjang dan menjadi tapal batas antara Mongolia dan daratan Tiongkok Propinsi Kansu.
Sungguhpun pegunungan ini di kanan kirinya, terutama sekali di bagian utara, merupakan padang pasir yang amat luas, namun pegunungan ini cukup kaya akan hutan-hutan dan pepohonan.
Hal ini adalah berkat mengalirnya Sungai Kuning, yang membuat lembah di sepanjang alirannya menjadi subur.
Oleh karena itu, tak heran apabila di tempat yang jauh dari dunia ramai ini telah banyak orang datang dan desa-desa yang cukup ramai terdapat di sepanjang sungai besar itu.
Dengan adanya Sungai Huang-ho yang tak pernah mengering ini, lapangan pencarian nafkah hidup bagi mereka tidak kurang.
Selain bercocok tanam di lembah yang subur, para penduduk dapat pula bekerja sebagai nelayan, karena air sungai mengandung cukup banyak ikan.
Selain ini, mereka dapat pula mengambil hasil hutan terutama kayu-kayu yang keras dan baik untuk pembangunan.
Pekerjaan ini makin lama makin ramai dan bahkan ada beberapa orang yang cukup bermodal lalu mendirikan perusahaan kayu bangunan.
Tukang-tukang kayu disebar ke hutan-hutan untuk menebang pohon yang baik kayunya, kemudian kayu yang telah menjadi balok-balok besar itu lalu ditumpuk di pinggir sungai, siap dikirim ke mana saja datangnya pesanan.
Untuk mengangkut kayu-kayu balok itu, air Sungai Huang-ho telah siap melakukannya tanpa menuntut bayaran sepotong uang pun!
Pada suatu hari, tiga orang laki-laki yang berusia tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap dan nampaknya kuat, berjalan mendaki sebuah puncak di Pegunungan Ho-lan-san.
Mereka ini membawa alat-alat penebang kayu, yaitu tambang besar yang digulung dan digantungkan di pinggang, sebuah golok dan sebuah kapak besar yang berat dan tajam.
Ketika mereka tiba di luar sebuah hutan yang kecil akan tetapi liar dan gelap, mereka berhenti mengaso dan duduk di atas rumput.
Sambil bercakap-cakap, mereka memandang ke arah hutan yang angker itu.
Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang dari hutan itu, membuat bagian tanah di gunung ini nampak paling tinggi menonjol.
"Sute, aku masih saja merasa sangsi untuk memasuki hutan ini,"
Terdengar orang yang tertua berkata.
"Bukankah Suhu sudah berpesan agar kita lebih baik jangan mengganggu hutan ini? Suhu sendiri katanya kalau melakukan perjalanan lewat di sini mengambil jalan memutar. Menurut Suhu, bukan karena dia takut, akan tetapi sungkan menghadapi permusuhan dengan sepasang setan itu."
"Ah, Twa-suheng,"
Kata yang termuda, mengapa kita harus percaya akan segala tahyul bodoh dari orang-orang dusun?
Mereka itu hanya menyiarkan kabar bohong yang belum pernah mereka buktikan sendiri.
Siapakah orangnya yang pernah melihat sepasang iblis itu?
Aku tidak percaya.
Kalau Suhu lain lagi, karena Suhu adalah seorang pendeta yang menghormati kepercayaan orang lain.
Kita adalah orang-orang muda yang datang dari kota memiliki kepandaian, mengapa kita harus takut terhadap segala tahyul bohong?"
Orang ke dua menyambung.
"Ucapan Sute memang ada benarnya, akan tetapi melihat keadaan hutan yang demikian liar dan angker, timbul juga perasaan tak enak di dalam hatiku. Dunia ini memang aneh dan banyak hal-hal yang belum kita mengerti. Bagaimana kalau kabar itu ternyata tidak bohong? Bagaimana kalau benar-benar muncul setan di tengah hari dan menyerang kita?"
"Mengapa takut?"
Kata pula yang termuda.
"Percuma saja kita mempelajari ilmu silat sampai beberapa tahun lamanya, dan percuma pula kita menjadi murid Pek I Hosiang yang telah terkenal namanya di dunia kang-ouw! Lagi pula, kita bukan bermaksud buruk. Kita memasuki hutan untuk menebang pohon dan mencari kayu besi yang amat dibutuhkan. Kui-loya (Tuan Kui) akan membayar tiga kali lebih banyak daripada kayu-kayu biasa."
Tiga orang yang nampak kuat dan gagah ini adalah tiga orang di antara banyak penebang pohon yang banyak bekerja di daerah ini.
Mereka adalah murid-murid dari Pek I Hosiang, seorang hwesio yang menjadi ketua dari sebuah kelenteng di dalam dusun tempat tinggal mereka.
Hwesio ini memang berkepandaian tinggi dan ia mempunyai banyak sekali murid.
Boleh dibilang, lebih tiga puluh orang penebang kayu yang muda-muda dan kuat-kuat menjadi muridnya!
Para penebang pohon ini menjual kayu yang mereka tebang pada perusahaan-perusahaan kayu yang banyak didirikan orang di tempat itu, di antaranya yang terbesar adalah perusahaan kayu milik orang she Kui yang berasal dari kota besar di daerah timur.
Sudah menjadi semacam dongeng yang amat dipercaya selama bertahun-tahun oleh penduduk di daerah Pegunungan Ho-lan-san, bahwa puncak yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, jurang-jurang dalam dan gua-gua yang angker itu menjadi tempat tinggal sepasang siluman atau iblis yang amat jahat.
Sesungguhnya, belum pernah terjadi pembunuhan atau penganiayaan terhadap manusia yang dilakukan oleh sepasang iblis itu, akan tetapi karena perasaan takut mereka, maka orang-orang lalu bercerita bahwa iblis-iblis yang meniadi penghuni hutan itu amat jahat dan mengerikan!
Hanya satu kali terjadi peristiwa yang membuktikan bahwa di hutan itu memang terdapat mahluk yang sakti, sungguhpun orang tak dapat membuktikan dengan nyata bahwa mahluk itu adalah iblis atau siluman.
Terjadinya peristiwa itu telah dua tahun lebih, yaitu ketika serombongan piauwsu mengantar seorang hartawan bersama keluarganya yang melakukan perjalanan.
Ketika rombongan ini tiba di tengah hutan, tiba-tiba, entah dari mana datangnya, terdengar suara bergema di empat penjuru dan suara ini berkata tegas.
"Lekas keluar dari hutan ini!"
Para piauwsu yang mengawal rombongan ini adalah orang-orang gagah yang sudah banyak pengalaman.
Mereka tidak gentar menghadapi perampok-perampok dan bahkan jarang ada perampok berani mengganggu mereka.
Akan tetapi, peristiwa ini baru sekali mereka alami, yaitu suara yang melarang mereka melalui sebuah hutan.
Kepala rombongan itu lalu menjura ke empat penjuru dan menjawab.
"Mohon maaf sebanyaknya dari Tai-ong kalau kami berani berlaku kurang ajar dan melalui wilayah Tai-ong (Raja Besar, sebutan untuk kepala rampok) tanpa mendapat ijin lebih dulu. Kami bersedia membayar uang sewa jalan apabila Tai-ong kehendaki, akan tetapi harap Tai-ong perkenankan kami melalui jalan ini"
Untuk beberapa lama tak terdengar suara sesuatu, akan tetapi tiba-tiba terdengar lagi suara yang berlainan dengan suara pertama.
Kalau suara pertama yang mengusir mereka keluar dari hutan tadi terdengar halus dan nyaring seperti suara wanita, sekarang terdengar suara yang juga halus dan nyaring, akan tetapi lebih besar seperti suara seorang pemuda.
"Jangan banyak cakap! Kami tidak butuh segala uang sewa jalan! Pergilah lekas dari hutan ini!"
Para piauwsu yang jumlahnya tujuh orang itu menjadi penasaran sekali. Mereka mencabut senjata masing-masing dan memandang ke sekeliling dengan sikap menantang.
"Kalau kami tidak mau pergi dan hendak melanjutkan perjalanan kami melalui hutan ini, kau mau apakah?"
Tanya kepala piauwsu itu dengan marah. Kini yang menjawabnya adalah suara pertama yang masih terdengar halus akan tetapi amat berpengaruh.
"Terpaksa kami akan menggunakan kekerasan! Kami memberi waktu sampai ada ayam hutan berkokok, itulah tanda bahwa kami akan bergerak apabila kalian belum keluar dari sini!"
Seorang di antara para piauwsu itu yang terkenal sebagai ahli senjata rahasia, diam-diam mengeluarkan beberapa batang senjata piauw, dan tiba-tiba ia menyambitkan tiga batang piauw ke arah daun-daun pohon besar dari mana suara itu datang.
Akan tetapi hanya terdengar berkereseknya daun terbabat senjata-senjata piauw itu, dan selain itu tidak nampak tanda-tanda bahwa di pohon itu terdapat manusianya!
Yang mengherankan, tiga batang piauw tadi tidak turun lagi ke bawah, seakan-akan lenyap ditelan oleh daun-daun yang lebat itu.
Para piauwsu itu saling pandang dengan heran, sedangkan keluarga hartawan itu duduk berkumpul di dekat kereta dengan muka pucat.
"Tidaklah lebih baik kita mengambil jalan memutar saja?"
Tanya hartawan itu kepada kepala piauwsu. Akan tetapi yang ditanya menggeleng kepala.
"Wan-gwe (sebutan hartawan) tidak tahu. Hal ini adalah soal kehormatan bagi piauwsu-piauwsu seperti kami. Kalau kami mengalah terhadap segala penggertak, bagaimana kami dapat menjadi piauwsu?"
Mereka menanti dengan hati penuh ketegangan dan tiba-tiba mereka terkejut ketika mendengar suara yang mereka nanti-nanti, yakni kokok seekor ayam hutan dari jauh.
"Waktunya sudah habis, kalian harus pergi!"
Tiba-tiba seru suara tadi dan entah dari mana datangnya, bagaikan meluncur dari atas awang nampak dua bayangan berkelebat cepat menubruk tujuh orang piauwsu tadi.
Para piauwsu itu terkejut sekali dan cepat memutar senjata untuk menyerang dua bayangan itu, akan tetapi alangkah terkejut mereka ketika bayangan itu lalu bergerak dengan amat cepatnya, merupakan sinar putih dan merah dan tahu-tahu senjata di tangan para piauwsu itu terlempar jauh!
Sebelum tujuh orang piauwsu itu sempat memandang, tahu-tahu mereka merasa sakit sekali pada pundak mereka, terdengar jerit mereka susul-menyusul dan tubuh mereka roboh tak dapat bangun kembali karena mereka telah terkena tiam-hwat (ilmu totok) yang lihai.
Setelah itu, hanya nampak bayangan dua sosok tubuh berpakaian merah dan putih berkelebat lenyap di balik serumpun alang-alang!
"Itulah hukuman bagi tujuh orang piauwsu sombong!"
Tiba-tiba terdengar suara yang halus itu dari atas pohon.
"Naikkan tujuh tikus itu ke atas kereta dan kembalilah kalian keluar dari hutan ini!"
Rombongan itu dengan amat ketakutan lalu menolong para piauwsu menaikkan dan menumpuk tubuh mereka yang lemas itu ke atas kereta lalu rombongan itu membalap keluar dari hutan!
Maka tersiarlah berita ini sehingga nama kedua iblis penghuni hutan amat terkenal dan semenjak itu, tak seorang pun berani melangkahkan kaki memasuki hutan.
Siapa orangnya yang takkan merasa takut dan ngeri mendengar betapa tujuh orang piauwsu ternama dibikin tak berdaya oleh sepasang siluman yang lihai itu?
Berita tentang sepasang iblis itu tentu saja tidak begitu dipercaya oleh pendatang-pendatang baru dari kota-kota besar, terutama sekali oleh orang-orang yang pandai ilmu silat.
Betapapun juga, karena mereka pun tahu bahwa di dunia ini banyak terjadi hal-hal aneh dan banyak sekali terdapat orang-orang pandai tidak berani mencoba untuk melanggar pantangan penduduk dan tidak mau memasuki hutan itu.
Bahkan Pek I Hosiang, seorang tokoh kangouw yang sudah ulung dan berkepandaian tinggi, juga menasehatkan murid-muridnya yang banyak jumlahnya agar supaya jangan mengganggu hutan itu.
"Siapa tahu,"
Kata hwesio itu kepada muridnya yang membantah.
"kalau-kalau di tempat itu terdapat seorang pertapa yang mengasingkan diri dan tidak mau diganggu pertapaannya."
Akan tetapi, sebagaimana telah dituturkan di depan, tiga orang penebang kayu yang bertubuh kuat itu duduk di luar hutan, merundingkan tentang kehendak mereka menebang kayu besi yang terdapat di hutan itu.
Mereka ini adalah murid-murid Pek I Hosiang yang terhitung pandai, dan sungguhpun tadinya yang tertua di antara rnereka masih merasa ragu-ragu untuk memasuki hutan itu, namun berkat desakan kedua orang sutenya (adik seperguruannya), akhirnya mereka masuk juga ke dalam hutan itu!
"Bagaimanapun juga, Sute, kita harus berhati-hati dan lebih baik bekerja diam-diam jangan banyak berisik,"
Kata orang tertua di antara ketiga orang penebang pohon itu.
Kedua sutenya menurut, karena memang keadaan hutan yang masih liar dan tak pernah dimasuki orang itu sangat menyeramkan.
Ketika mereka bertiga berjalan lambat sambil melihat ke kanan kiri untuk mencari pohon besi yang hendak mereka tebang, tiba-tiba orang tertua itu melihat sesuatu dan ia cepat memegang tangan kedua sutenya dan ditariknya mereka untuk bersembunyi di belakang sebatang pohon yang besar.
"Lihat, apakah itu?"
Katanya kepada kedua orang sutenya yang memandang heran. Dua orang kawannya memandang ke arah yang ditunjuknya dan mereka masih sempat melihat bayangan putih berkelebat cepat sekali.
"Orangkah dia?"
Seorang berbisik.
"Entahlah, akan tetapi gerakannya sungguh cepat!"
Memuji orang termuda yang paling tabah hatinya.
"Mari kita mendekat, dia masuk ke dalam gua itu!"
Kedua orang kawannya ragu-ragu, akan tetapi karena tidak melihat bayangan tadi muncul kembali, sedangkan sute mereka dengan berani sudah keluar dari balik pohon dan menuju ke tempat bayangan tadi menghilang, mereka juga mengikuti sute mereka.
Benar saja, di tempat yang meninggi, terdapat sebuah gua yang lebar.
Gua ini amat gelap sehingga tidak kelihatan apakah gua itu merupakan terowongan atau bukan.
Tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam.
"He! Kalian mau apa datang ke sini? Hayo cepat pergi!"
Berbareng dengan ucapan itu, terlihat berkelebat bayangan putih keluar dari gua yang gelap itu dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang pemuda yang luar biasa eloknya!
Muka pemuda ini berkulit halus dan putih, matanya tajam berpengaruh dan mulutnya yang kuat dan membayangkan kehendak yang teguh dan kemauan yang membaja.
Tubuhnya sedang dengan pinggang langsing, pakaiannva sederhana akan tetapi rapi, seperti pakaian seorang pelajar, berwarna putih.
Ia mengenakan mantel panjang yang putih pula, dan di antara semua pakaian yang menutup tubuhnya, hanya leher baju yang menurun terus ke pinggang dan kopyahnya saja yang berwarna biru.
Juga sepatunya berwarna hitam.
Memang janggal sekali melihat seorang penghuni gua yang berpakaian sedemikian putih bersih.
Melihat pemuda ini hanya seorang manusia biasa, bukan seorang iblis, ketiga orang penebang pohon itu bernapas lega.
"Kami adalah penebang-penebang kayu dan hendak mencari pohon besi yang banyak tumbuh di hutan ini,"
Jawab penebang tertua. Pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, digoyang beberapa kali lalu berkata.
"jangan kalian melakukan hal itu. Lebih baik lekas kalian pergi dari sini!"
Penebang kayu yang termuda melangkah maju dan berkata marah.
"Orang muda, dengan alasan apakah kau melarang kami melakukan penebangan pohon besi di hutan ini? Dan hak apakah yang kauandalkan untuk mengusir kami?"
"Alasannya, kalau kau melakukan penebangan pohon, berarti kau melanggar laranganku dan ini berbahaya sekali bagi keselamatanmu. Adapun tentang hak, aku menggunakan hak sebagai seorang yang lebih dulu datang di tempat ini daripada kalian bertiga!"
Marahlah penebang muda itu.
"Kau anak kecil sombong amat! Kalau kami bertiga melanjutkan kehendak kami, kau mau apakah? Apakah kau ini siluman yang menguasai hutan ini seperti yang dikabarkan orang?"
"Tutup mulut dan pergilah!"
Seru pemuda itu dan biarpun sikapnya masih setenang tadi, namun sepasang aslinya yang indah bentuknya itu mulai bergerak-gerak.
Akan tetapi, biarpun sinar mata pemuda ini tajam dan berpengaruh, namun ia hanya merupakan seorang pemuda yang halus dan tidak nampak berbahaya.
Tentu saja tiga orang penebang kayu yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian silat itu tidak takut menghadapinya.
Mereka bertiga lalu mengeluarkan senjata mereka yang menyeramkan, yaitu tangan kanan memegang golok lebar yang tajam sedangkan tangan kiri memegang sebatang kapak yang tidak kalah hebatnya.
"Ha-ha, anak muda! Betapapun galaknya mulutmu, kami tidak takut. Kami hendak menebang pohon dengan kapak dan golok ini, kau mau apa? Ha-ha-ha!"
Akan tetapi baru saja ia menutup mulutnya, pemuda itu telah lenyap.
Tubuhnya berkelebat merupakan bayangan putih dan penebang pohon yang termuda ini memekik keras ketika merasa betapa kapak dan goloknya bagaikan bisa terbang sendiri meninggalkan kedua tangannya tanpa dapat dicegah pula!
Ternyata bahwa dengan sekali gerakan saja, pemuda baju putih itu telah berhasil merampas kapak dan goloknya yang kini dilempar di atas tanah!
Dua orang penebang yang lain menjadi marah dan terkejut sekali.
Sambil berseru marah, mereka lalu maju menyerang dan pada saat itu, dua batang golok dan dua batang kapak telah menyambar ganas menuju ke tubuh pemuda baju putih itu!
Akan tetapi kembali mereka dibikin bengong oleh pemuda aneh itu.
Agaknya tubuh pemuda itu tidak bergerak sama sekali, buktinya kedua kakinya tidak berpindah tempat.
Hanya kedua lengan tangannya saja bergerak cepat dan tubuhnya bergoyang-goyang menghindari sambaran keempat senjata itu dan...
"aduh...! aduh...!"
Dua orang itu merasa kedua lengan mereka tiba-tiba menjadi lemas dan sakit sekali karena entah dengan gerakan bagaimana, jari-jari tangan pemuda itu telah berhasil menotok pergelangan kedua tangan penebang pohon itu!
Kembali senjata-senjata mereka terpaksa mereka lepaskan dan jatuh bertumpuk di atas tanah!
Sudah tentu saja mereka bertiga hampir tak dapat percaya akan kejadian yang baru saja mereka alami itu.
Bagaimanakah mereka yang memegang senjata dan memiliki kepandaian tinggi, kini dipaksa melepaskan senjata dengan cara yang demikian mudahnya oleh pemuda ini?
Ilmu silat apakah yang dipergunakan oleh pemuda baju putih itu untuk menghadapi mereka?
Mereka hanya memandang dan berdiri bagaikan patung.
Silumankah pemuda ini, demikian mereka berpikir dan memandang dengan hati merasa seram.
"Pergilah...! Pergilah...!"
Pemuda itu dengan acuh tak acuh berkata sambil menggerakkan tangan kanan seperti mengusir lalat yang mengganggunya! Tiba-tiba terdengar suara dari dalam gua.
"Siong-ji..., lempar saja tikus-tikus itu ke dalam jurang! Untuk apa melayani mereka!"
Pemuda baju putih itu menengok ke arah gua dan menjawab.
"Mereka hanyalah tiga penebang pohon yang tak berarti, Ibu!"
"Mereka telah lancang, berani mendekati tempat kita!"
Suara dari dalam gua itu makin nyaring dan tiba-tiba tiga orang penebang pohon itu melihat berkelebatnya bayangan merah yang luar biasa sekali cepatnya.
Belum sempat mata mereka melihat dengan jelas, tiba-tiba mereka telah roboh pingsan!
Ketika tiga orang penebang pohon itu siuman kembali, mereka mendapatkan diri telah berada di luar hutan yang menyeramkan itu!
Sambil mengeluh mereka meraba pundak mereka yang masih terasa sakit dan linu, bekas tertotok secara luar biasa sekali oleh bayangan merah tadi.
"Ah, Sute. Kalau kau tadi mendengar omonganku, tidak akan kita mengalami kesengsaraan ini!"
Kata yang tertua sambil bangun dengan tubuh masih lemas. Penebang termuda tak dapat menjawab karena pengalaman tadi masih membuatnya berdebar-debar.
"Mereka itukah siluman-siluman yang ditakuti orang?"
Tanyanya perlahan.
"Mungkin! Mana ada orang semuda itu sudah sedemikian lihainya? Hanya siluman saja yang dapat merampas senjata kita secara demikian aneh,"
Kata orang ke dua.
"Dan bayangan merah tadi... apakah dia itu? Ia pandai bicara, akan tetapi gerakannya demikian hebat! Hebat dan mengerikan!"
Kata yang tertua sambil bergidik teringat akan serangan bayangan merah tadi.
"Sungguh berbahaya sekali!"
"Betapapun juga, aku masih penasaran, Suheng!"
Kata yang termuda.
"Tak mungkin pemuda tadi seorang siluman. Memang kepandaiannya hebat luar biasa, akan tetapi ia seorang manusia biasa saja, bukan setan. Apakah pekerjaan mereka berdua di tempat itu? Jangan-jangan mereka adalah orang-orang jahat yang menyembunyikan diri."
"Habis kau mau apa, Sute? Terhadap orang-orang lihai seperti mereka, lebih baik kita menjauhkan diri,"
Kata yang tertua.
"Celaka, kapak dan golok kita tertinggal di depan gua!"
Mengeluh orang ke dua.
"Kita harus melaporkan hal ini kepada Suhu!"
Demikianlah, sambil tiada hentinya membicarakan peristiwa aneh itu, ketiga penebang pohon ini lalu kembali ke dusun tempat tinggal mereka.
Karena mereka menceritakan pengalaman mereka kepada kawan-kawan di dusun, maka sebentar saja gegerlah dusun itu dan semua orang membicarakan sepasang "siluman"
Di hutan itu yang disebutnya "Pek-ang-siang-mo" (Sepasang Iblis Putih Merah).
Pek I Hosiang mendengarkan penuturan tiga orang muridnya dengan penuh perhatian dan hatinya amat tertarik.
Akan tetapi ia tidak menyatakan perhatiannya, bahkan ia lalu menegur ketiga orang muridnya itu.
"Kalian bertiga memang telah berlaku lancang. Mana ada siluman di dunia ini? Seperti yang kuduga, mereka adalah orang-orang pandai yang bertapa. Mungkin pemuda itu murid si pertapa yang kalian lihat sebagai bayang-bayang merah. Lain kali janganlah kalian berlaku lancang. Hutan di sekitar pegunungan ini amat banyak, mengapa justru mencari di tempat yang terlarang itu?"
Sungguhpun mulutnya menyatakan demikian, namun di dalam hatinya Pek I Hosiang merasa tertarik dan ingin sekali menyaksikan sepasang siluman itu dengan mata kepala sendiri.
Sebagai seorang hwesio, ia tidak menghendaki permusuhan, akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang berkepandaian tinggi, tentu saja ia amat tertarik mendengar tentang kelihaian ilmu silat orang lain.
Ia ingin sekali melihat siapakah gerangan orang pandai yang menyembunyikan diri di tempat itu.
Diam-diam ia mengambil keputusan untuk pergi sendiri menemui dua orang aneh itu.
Di dalam hutan yang dianggap oleh penduduk sebagai tempat tinggal Pek-ang-siang-mo itu, terdapat sebuah lapangan terbuka dekat sebatang anak sungai yang bening airnya.
Pemandangan di situ sungguh indah.
Pada suatu pagi, di kala burung-burung hutan berkicau dan bersuka-ria menyambut datangnya sang Matahari, di atas lapangan nampak sinar pedang bergulung-gulung menyelimuti bayangan putih yang cepat sekali gerakannya.
Kadang-kadang gerakan sinar pedang itu mengendur dan tampaklah bavangan putih itu sebagai tubuh seorang pemuda baju putih yang sedang mainkan pedangnya dengan gerakan yang amat indahnya.
Di waktu permainan ilmu pedangnya mengendur, ia seakan-akan sedang menari saja.
Tidak saja ilmu pedangnya yang aneh, bahkan pedang di tangan pemuda baju putih itu lebih aneh lagi.
Disebut pedang bukan pedang, akan tetapi cara memegang dan memainkannya sama dengan pedang!
Senjata ini selain aneh juga indah akan tetapi juga mengerikan.
Ukuran besar dan panjangnya tak berbeda dengan pedang biasa, akan tetapi senjata ini tidak tajam juga tidak runcing sehingga lebih tepat kalau disebut bentuknya seperti tongkat pendek.
Akan tetapi, senjata ini berbentuk ukiran sin-liong (naga sakti) membelit tiang.
Ukirannya indah sekali dan agaknya terbuat daripada logam yang amat keras berkilauan, dan berwarna putih sedangkan tubuh naga yang melibatnya berwarna kuning.
Pemuda itu memegang naga itu pada ekornya sehingga kepala naga merupakan ujung senjata itu.
Dari mulut naga kecil itu keluar lidah merah yang panjang dan mengerikan.
Setelah bermain silat dengan gerakan lambat dan indah, tiba-tiba ia memutar senjatanya makin lama semakin cepat dan kembali lenyaplah tubuhnya terbungkus oleh gulungan sinar senjatanya yang dahsyat.
"Cukup, Siong-ji (Anak Siong), kau mengasolah!"
Terdengar suara nyaring dari seorang wanita yang berdiri tak jauh dari situ sambil memandang permainan pemuda itu dengan penuh perhatian.
Wanita itu mengenakan pakaian serba merah sungguhpun pakaiannya itu amat sederhana potongannya, namun terbuat dari kain sutera dan amat bersih.
Kalau orang melihatnya dari belakang atau dari samping, orang akan mengira bahwa ia adalah seorang wanita muda, karena bentuk tubuhnya yang langsing itu masih nampak kuat dan penuh, kulit tangannya halus dan putih.
Akan tetapi kalau orang berhadapan muka dengannya, ia akan terkejut melihat bahwa wanita ini nampak sudah tua sekali.
Rambutnya hampir putih semua, kulit mukanya berkeriput, sungguhpun matanya masih bening dan bersinar tajam, bahkan giginya masih bagus dan rata seperti gigi wanita muda yang cantik!
Masih jelas nampak bahwa dia dulu adalah seorang wanita yang amat cantiknya dengan bentuk muka yang bagus.
Kerut-merut pada jidatnya membayangkan penderitaan batin yang hebat dan mulutnya yang masih berbentuk manis sekali itu ditarik mengeras dan tak pernah nampak tersenyum.
Pembaca tentu telah dapat menduga siapa adanya wanita ini.
Dia bukan lain adalah Ang I Niocu Kiang Im Giok, pendekar wanita yang di waktu mudanya telah menggemparkan dunia persilatan karena kegagahannya.
Tak seorang pun ahli silat di dunia kang-ouw yang tidak mengenal atau tak mendengar namanya yang besar.
Ia amat terkenal, baik karena kepandaiannya maupun karena kecantikannya yang luar biasa.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu adalah seorang wanita yang amat memperhatikan dan menyayangi kecantikannya sehingga untuk menjaga kecantikannya dari usia tua, ia tidak segan-segan untuk mencari obat kecantikan berupa telur Pek-tiauw (burung rajawali putih) dan telah banyak makan telur ini yang dapat memelihara kecantikannya.
Di waktu ia berusia tiga puluh tahun lebih ia masih nampak cantik jelita bagaikan seorang gadis berusia tujuh belas tahun.
Akan tetapi segata sesuatu di dunia ini tidak kekal adanya.
Bahkan keadaan yang ditimbulkan karena kekuasaan alam yang sewajarnya pun masih tidak kekal adanya, apalagi keadaan yang ditimbulkan oleh kekuasaan yang tidak wajar.
Khasiat telur Pek-tiauw itu biarpun luar biasa sekali, namun ada pantangannya, yaitu wanita yang telah makan obat ini, apabila mempunyai putera, akan musnalah khasiat obat itu, bahkan akibatnya mengejutkan sekali.
Ang I Niocu setelah melahirkan seorang putera, tidak saja kecantikan dan kemudaannya lenyap, ia nampak amat tua dua kali lipat seperti seorang wanita berusia delapan puluh tahun!
Di bagian depan telah diceritakan bahwa karena batinnya menderita disebabkan oleh keriput di wajahnya dan uban di kepalanya yang membuatnya nampak tua sekali, diam-diam Ang I Niocu meninggalkan suamina, Lie Kong Sian, dan pergi merantau membawa putera tunggalnya.
Pendekar wanita ini merantau sampai jauh, dan semenjak meninggalkan pulau tempat tinggalnya, ia selalu memilih jalan yang sunyi agar tidak bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya.
Akhirnya ia memilih Pegunungan Ho-lan-san sebagai tempat tinggalnya di mana ia mendidik puteranya, Lie Siong, dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan.
Tempat tinggalnya hanya di dalam sebuah gua yang besar dan amat dalam.
Akan tetapi di dalam hidup penuh kesederhanaan ini, ia selalu memperhatikan keperluan putranya yang amat dicintainya.
Segala keperluan Lie Siong, makanan lezat dan pakaian indah sampai barang-barang permainan apa saja, ia adakan dan tak segan-segan pada malam hari Ang I Niocu mendatangi kota-kota besar untuk mencari barang-barang itu.
Dengan amat rajin, Ang I Niocu menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Lie Siong.
Ia mengajarkan ilmu silat pedang yang luar biasa, Sianli-utauw (Tari Bidadari), Ngo-lian-hoan-kiam-hwat (Ilmu Pedang Lima Teratai), ilmu pukulan yang disebut Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih), dan juga Kong-ciak-sin-na (Ilmu Silat Burung Merak)!
Lie Siong ternyata memiliki otak yang cerdik dan bakat yang baik sekali sehingga ia dapat mempelajari semua ilmu itu dengan cepat dan baik sekali.
Akan tetapi, oleh karena ia hanya hidup bersama dengan ibunya yang menderita dan tak pernah bergembira, maka ia pun menjadi seorang pemuda yang amat pendiam, keras hati, dan angkuh.
Ang I Niocu merasa demikian bangga kepada puteranya ini sehingga ketika puteranya baru berusia empat belas tahun, ia sengaja mencarikan sebuah senjata istimewa untuk Lie Song.
Ang I Niocu mendengar tentang seorang kepala rampok di Kun-lun-san yang mempunyai sebatang senjata yang disebut Sin-liong-kiam (Pedang Naga Sakti).
Tanpa menghiraukan jauhnya tempat itiu dan kesukaran yang dihadapinya, Ang I Niocu mendatangi tiga kepala rampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya ia berhasil mengalahkan si kepala rampok dan merampas senjatanya!
Demikianlah, dengan Sin-liong-kiam di tangannya Lie Siong makin gagah seakan-akan seekor harimau muda tumbuh sayap.
Beberapa kali anak muda ini bertanya kepada ibunya tentang ayahnya, dan Ang I Niocu juga tidak menyembunyikan sesuatu.
Ia menceritakan kepada Lie Siong tentang ayahnya yaitu Lie Kong Sian dan mengapa mereka meninggalkan Pulau Pek-le-to.
Juga Ang I Niocu menceritakan tentang pendekar-pendekar silat yang menjadi kawan-kawannya seperti Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya Kwee Lin, sepasang suami isteri murid Bu Pun Su yang amat pandai.
Ia menceritakan pula tentang Kwee An dan Ma Hoa, sepasang suami isteri pendekar yang juga memiliki ilmu silat tinggi yang menjadi sahabat baiknya.
"Kelak kalau kau bertemu dengan mereka, kau akan dapat menarik banyak pelajaran dari empat orang pendekar ini, Siong-ji,"
Ang I Niocu seringkali berkata.
Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa hati puteranya itu lebih tinggi dan lebih angkuh daripada hatinya sendiri ketika masih muda.
Mendengar ibunya memuji-muji Pendekar Bodoh dan yang lain-lain, hati Lie Siong tidak menjadi tunduk, bahkan ia merasa penasaran dan ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaian mereka itu!
Beberapa kali Lie Siong minta kepada ibunya untuk turun gunung, akan tetapi ibunya selatu mencegahnya.
"Kepandaianmu masih belum cukup sempurna, Siongji. Di dunia ini banyak sekali terdapat orang jahat, dan kalau kau tidak memiliki kepandaian yang tinggi, kau akan mudah terganggu oleh orang-orang yang jahat dan pandai."
Demikianlah, pada pagi hari itu, seperti biasa Lie Siong berlatih ilmu silat pedang di bawah pengawasan ibunya.
Kali ini Ang I Niocu merasa puas betul karena ternyata bahwa gerakan ilmu pedang puteranya sudah sempurna, tidak ada kesalahan sedikit pun.
Diam-diam ia maklum bahwa sekarang kepandaian puteranya telah mencapai tingkat yang tak lebih rendah daripada kepandaiannya sendiri!
Ia telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada putera tercinta ini.
"Siong-ji,"
Kata Ang I Niocu sambil duduk di dekat puteranya dan memandang dengan mata penuh kasih sayang.
"sekarang aku berani menyatakan bahwa kepandaianmu sudah sampai di tingkat yang cukup tinggi. Aku dapat meninggalkan dunia ini dengan hati lega karena kepandaianmu ini sudah cukup untuk digunakan sebagai penjaga diri."
Berseri wajah Lie Siong mendengar ini. Biasanya, sehabis berlatih, ibunya selalu masih mencelanya.
"Kalau begitu, sudah tiba waktunya bagiku untuk turun gunung, Ibu?"
Ang I Niocu menggeleng kepala.
"Berat bagiku untuk berpisah darimu, Anakku. Kalau kau pergi, bagaimanakah dengan aku?"
"Mengapa, Ibu? Mengapa Ibu tidak ikut turun gunung? Marilah kita turun dari tempat yang sunyi ini. Apakah selama hidup Ibu tidak mau bertemu dengan manusia?"
Tiba-tiba kerut di jidat Ang I Niocu makin mendalam.
"Tengoklah aku, Siong-ji. Lihatlah mukaku baik-baik! Alangkah akan malu hatiku dan hatimu apabila orang lain melihat mukaku yang buruk ini!"
Ia lalu menarik napas panjang berulang-ulang. Lie Siong juga mengerutkan keningnya dan memandang wajah ibunya.
"Aneh sekali, Ibu. Aku telah merasa heran karena kau selalu menyebut hal ini. Menurut pandanganku wajahmu amat cantik dan aku bangga melihat wajahmu, Ibu. Mengapa kau selalu menganggap wajahmu buruk? Aku sudah seringkali melihat wanita-wanita di dusun bawah gunung dan tak seorang di antara mereka memiliki mata sebening mata Ibu, bentuk muka secantik muka Ibu! Ibu sama sekali tidak buruk, hanya nampak tua, itu betul. Akan tetapi, apakah hal ini perlu dibuat malu? Apakah yang tidak akan menjadi tua di dunia ini? Benda-benda yang paling keras dan kuat, akhirnya akan menjadi tua pula!"
Ang I Niocu memegang tangan puteranya.
"Ah, Siong-ji, kalau saja kau dapat melihat wajah ibumu di waktu masih muda dulu! Ah, dibandingkan dengan sekarang, bedanya seperti bumi dengan langit!"
"Aku tidak peduli, Ibu. Bagiku, bagaimanapun juga perubahan yang terjadi kepada wajahmu, kau tetap ibuku. Tua atau muda, cantik atau buruk, seorang Ibu tetap menjadi wanita termulia di dunia ini! Marilah kita turun gunung, Ibu, dan aku bersumpah, siapa saja yang berani mencela wajah Ibu, yang berani menghina atau membikin malu kepadamu, akan kupecahkan kepalanya!"
Dengan terharu Ang I Niocu memeluk puteranya.
"Aku girang mendengar ucapanmu ini, Siong-ji. Kau tak perlu khawatir, kurasa tidak ada seorang pun di dunia ini yang begitu berani menghina Ang I Niocu! Seandainya ada, tak perlu kau mengeluarkan peluh, aku sendiri masih cukup kuat untuk meremukkan kepalanya!"
"Kalau begitu, kauturun gunung, Ibu?"
Kembali kening Ang I Niocu berkerut.
"Nanti dulu, Siong-ji... aku masih ragu-ragu... wajahku ini..."
Lie Siong bangun berdiri dan membanting-banting kaki.
"Lagi-lagi Ibu bicara tentang wajah...!"
"Ah, kau tidak tahu, Anakku. Dulu, Ang I Niocu adalah secantik-cantiknya orang, akan tetapi sekarang, seburuk-buruknya wanita! Bagaimana aku dapat menghadapi mereka?"
"Mereka siapa, Ibu?"
"Ayahmu, Pendekar Bodoh, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa..."
"Sudahlah, sudahlah! Aku bosan mendengar nama mereka kausebut-sebut saja!"
Kata Lie Siong sambil mempergunakan kedua tangan untuk menutup telinganya!
Pada saat itu, Ang I Niocu yang tadinya masih duduk di atas tanah, melompat bangun dan memegang lengan anaknya.
Ia mendengar sesuatu dan sebelum ia dan puteranya dapat bergerak, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dengan gesitnya dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang hwesio gundul yang berpakaian putih dan berusia kurang lebih enam puluh tahun.
Hwesio ini bermuka lebar, bermata tenang berpengaruh dan mulutnya selalu tersenyum sabar.
Baca Juga: Mutiara Hitam 1
Baca Juga: Suling Emas 29