Eps 5 Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo.
Diam-diam mereka terkejut bahwa para pengemis ini telah mengenal mereka, menunjukkan bahwa pengemis-pengemis itu mempunyai mata tajam, atau mungkin sekali mereka sudah lama mengintai ketika terjadi keributan di dalam pesta yang diadakan Tung-hai-sian.
Ciang Gu Sik yang pendiam itu membalas penghormatan sambil berkata.
"Kami merasa terhormat sekali dapat bertemu dengan ji-wi dari Bu-tek Kai-pang yang terkenal!"
"Akan tetapi mengapa ji-wi tidak terang-terangan hadir dalam pesta ulang tahun Locianpwe Tung-hai-sian?"
So Cian Ling bertanya, yang merupakan teguran dan juga sindiran bahwa dia sudah menduga mereka berdua tentu hadir dengan sembunyi.
"Dan memalukan fihak tuan rumah dengan kehadiran pengemis-pengemis macam kami?"
Jawab si hidung melengkung.
"Ah, mana kami berani?"
Han Tiong dan Thian Sin memandang kepada mereka semua itu dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang.
Kini mereka berdua sudah bertemu dengan orang-orang dari empat datuk yang terkenal itu!
Dan kini yang menghadang mereka adalah orang-orang atau para murid dari Pak-san-kui, See-thian-ong dan Lam-sin!
Akan tetapi, Kong Liang sudah menjadi marah sekali.
Pemuda ini biasanya dihormati orang, dan memang sebagai putera ketua Cin-ling-pai tentu saja dia merasa dirinya tinggi, dan sekarang, orang-orang dari golongan hitam atau kaum sesat ini saling bertemu dan bicara gembira, bersikap seolah-olah dia tidak berada di situ, atau dia dianggap sebagai patung atau semut saja!
Di dalam pesta dia sudah tidak dihargai, mendapat tempat duduk di bawah panggung, dan kini orang-orang inipun tidak menghargainya.
Sungguh membuat perut terasa panas!
"Jalan ini adalah jalan umum!
Kalau mau bicara minggirlah dan biarkan kami lewat!"
Kata Kong Liang yang sudah melangkah ke depan dan menggunakan kedua tangannya mendorong ke arah dua orang pengemis yang berada paling dekat dan menghadang jalan.
Dorongannya ini disertai tenaga Thian-te Sin-ciang, maka terdengar angin menyambar keras.
Dua orang pengemis itu menggerakkan tubuh mereka mengelak, dan masing-masing telah mencabut tongkat mereka, lalu membentak.
"Hemm, inikah putera ketua Cin-ling-pai? Sebelum kau melanjutkan perjalanan, hayo lebih dulu kau hadapi kami!"
Bentak si hidung melengkung sambil melintangkan tongkat di depan dadanya.
Kiranya tongkat itu berwarna hitam mengkilap dan bentuknya seperti tubuh ular.
Itu adalah sebatang tongkat yang terbuat daripada tumbuh-tumbuhan dalam laut yang melingkar-lingkar atau saling lingkar sehingga kalau diambil dan dikeringkan menjadi bentuk seperti ular, semacam kayu akar bahar yang kuat dan ulet sekali, juga yang menurut kepercayaan umum yang tahyul mengandung kekuatan mujijat!
"Akulah Cia Kong Liang, putera ketua Cin-ling-pai!
Kalian ini jembel-jembel dari mana dan mengapa memusuhi Cin-ling-pai?"
"Kami adalah anggauta Bu-tek Kai-pang dari Heng-yang. Guru, ketua dan pemimpin kami, yang mulia Lam-sin akan membenarkan sikap kami memusuhi putera Cin-ling-pai! Sejak dahulu, Cin-ling-pai adalah musuh golongan kami, akan tetapi engkau putera ketuanya berani sekali menghina dan hendak memperisteri puteri Tung-hai-sian Locianpwe! Sungguh tak tahu malu dan bosan hidup!"
"Pendapat Bu-tek Kai-pang cocok dengan pendapat kami!"
Kata Siangkoan Wi Hong dengan girang dan untuk menambah semangat kepada dua orang pengemis itu.
Hati pemuda ini menjadi lebih besar setelah muncul dua orang pengemis itu yang memperkuat fihaknya.
Wajah Cia Kong Liang menjadi merah sekali mendengar ucapan pengemis itu.
Sedikitpun juga dia tidak bermaksud memperisteri Bin Biauw, akan tetapi menyangkal hal ini sama saja dengan membela diri, seolah-olah dia merasa takut.
"Jembel busuk lancang mulut. Apapun yang akan kuperbuat, apa sangkut-pautnya dengan kalian? Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuat kalian roboh!"
"Bagus! Coba saja, orang Cin-ling-pai sombong!"
Dua orang pengemis itu sudah mengerakkan tongkat mereka dan mengeroyok dari kanan kiri Kong Liang tidak mau memberi hati, Dan pemuda perkasa inipun sudah mencabut Hong-cu-kiam yang melilit pinggang sehingga nampak sinar emas bergulung-gulung.
Dua orang pengemis ini seperti sebagian besar dari pada anggauta Bu-tek Kai-pang, dahulu adalah tokoh-tokoh yang tunduk kepada Lam-thian Kai-ong (Raja Pengemis Dunia Selatan).
Akan tetapi semenjak munculnya Lam-sin yang menjatuhkan Lam-thian Kai-ong dan yang mengangkat diri sendiri sebagai Malaikat Selatan yang menguasai seluruh pengemis bahkan Lam-thian Kai-ong yang sudah tua itu menjadi pembantu utamanya, maka para tokoh pengemis di seluruh wilayah selatan menjadi anggauta Bu-tek Kai-pang.
Jumlah mereka tidak banyak, hanya dua puluh empat orang karena Lam-sin tidak mau mengambil pengemis sebagai anggautanya tanpa diuji dulu.
Ujian yang amat berat dan hanya para tokoh yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi sajalah yang berhasil lulus dan jumlah mereka tidak lebih dari dua puluh empat orang untuk seluruh wilayah selatan!
Tentu saja, dengan para anggauta yang memiliki kepandaian tinggi itu, nama Bu-tek Kai-pang menjadi terkenal sekali.
Dan seperti para anggauta lain, dua orang tokoh inipun amat lihai, terutama sekali dalam menggunakan tongkat akar bahar hitam itu karena mereka semua telah mempelajari ilmu tongkat ciptaan ketua baru mereka, yaitu Lam-sin.
Ilmu tongkat yang diberi nama Hok-mo-pang (Tongkat Penakluk Iblis).
Mereka berdua itu sengaja diutus oleh Lam-sin untuk mewakilinya memenuhi undangan Tung-hai-sian, akan tetapi karena watak Lam-sin ini yang paling aneh di antara empat datuk, dan selalu merahasiakan dirinya, Maka diapun memesan kepada dua orang wakilnya itu untuk hadir secara bersembunyi saja!
Baru setelah terjadi sesuatu, dua orang pengemis itu memperlihatkan diri, dan mereka mempunyai pendapat yang sama dengan pendapat Siangkoan Wi Hong, yaitu kalau sampai Tung-hai-sian memilih putera Cin-ling-pai sebagai mantu, maka kekuatan empat datuk akan menjadi retak dan hat itu amat membahayakan mereka sendiri.
Karena inilah maka dua orang pengemis ini lalu turun tangan menentang.
Akan tetapi, sekali ini mereka berdua bertemu dengan batu karang.
Begitu tongkat-tongkat mereka itu bertemu dengan Hong-cu-kiam, keduanya terkejut karena lengan tangan mereka yang memegang tongkat itu tergetar hebat dan hampir saja tongkat mereka terlepas dari pegangan!
Maka mereka lalu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu mereka Hok-mo-pang untuk mengeroyok dan terjadilah perkelahian yang amat seru!
Han Tiong memandang dengan ails berkerut, tidak senang dengan terjadinya perkelahian dan permusuhan yang dia tahu dapat menjadi besar ini.
Akan tetapi sebaliknya, Thian Sin memandang dengan senyum tenang sehingga So Cian Ling yang memang sudah tertarik kepada pemuda ini, merasa semakin kagum.
Dia tahu bahwa pemuda tampan ini, yang kabarnya adalah putera Pangeran Ceng Han Houw yang terkenal sebagai seorang perayu wanita yang tampan dan juga seorang jagoan tanpa tanding yang pernah menggemparkan dunia persilatan, adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Ingin sekali dia berkenalan lebih intim dengan pemuda ini, akan tetapi sayangnya, keadaan membuat mereka berdiri saling berhadapan sebagai lawan.
Sementara itu, perkelahian antara Kong Liang yang dikeroyok oleh dua orang pengemis Bu-tek Kai-pang terjadi dengan serunya karena dua orang pengemis itu kini semakin penasaran dan mereka telah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaian mereka untuk mengalahkan orang muda itu.
Namun, kiranya masih harus membutuhkan sedikitnya enam orang seperti mereka untuk dapat mengalahkan Cia Kong Liang, pemuda yang sudah mewarisi kepandaian ketua Cin-ling-pai itu dan perlahan-lahan, sinar pedang berwarna keemasan itu makin kuat dan makin menindih sinar dua batang tongkat hitam mereka.
Melihat betapa dua orang pengemis Bu-tek Kai-pang itu takkan menang, diam-diam Siangkoan Wi Hong lalu memberi isyarat kepada tiga orang suhengnya yang juga menjadi anggauta atau anak buah ayahnya, Pak-thian Sam-liong.
Tiga orang laki-laki gagah yang merupakan murid-murid kepala Pak-san-kui ini, biarpun termasuk golongan kaum sesat, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi sehingga segan melakukan hal yang dianggapnya rendah seperti misalnya pengeroyokan, karena mereka itu menganggap kedudukan mereka tinggi sehingga malu untuk mengeroyok, bukan karena memang sungguh-sungguh berwatak jantan atau gagah.
Maka, melihat isyarat sute mereka yang juga merupakan tuan muda mereka, ketiganya saling pandang, lalu mereka melepaskan jubah masing-masing sehingga nampak pakaian mereka yang ringkas, putih-putih dengan sabuk biru dan di punggung masing-masing nampak sebatang pedang.
"Ji-wi Sin-kai, mundurlah, biar kami yang menggantikan ji-wi!"
Kata seorang di antara mereka kepada dua orang pengemis yang sudah terdesak hebat itu.
"Kami belum kalah!"
Teriak seorang di antara dua pengemis itu sambil mencoba untuk membalas serangan lawan dengan tongkatnya.
Melihat kebandelan dua orang pengemis itu, Pak-thian Sam-liong mendongkol.
Sudah jelas terdesak, dan tinggal menanti mampus saja, mengapa masih berlagak, pikir mereka.
"Orang she Cia, lawanlah kami Pak-thian Sam-liong kalau memang engkau jagoan!"
Mereka berteriak, kini menggunakan akal lain, menantang putera ketua Cin-ling-pai itu.
Kong Liang juga mendongkol bahwa sampai begitu lamanya dia belum juga berhasil merobohkan dua orang lawannya, padahal dia sudah mendesak mereka dengan hebat.
Kini mendengar tantangan Pak-thian Sam-liong, dia berseru keras.
"Kalau kalian sudah bosan hidup, majulah sekalian, siapa takut kepada orang-orangnya Pak-sam-kui?"
Tantangan ini terlalu tekebur, pikir Han Tiong yang mengerutkan alisnya.
"Paman, biarkan aku menghadapi mereka!"
Katanya karena dia mengkhawatirkan pamannya kalau sampai dikeroyok lima!
"Han Tiong, jangan!
Biarkan aku sendiri merobohkan mereka!"
Jawab Kong Liang tegas, ucapan yang menunjukkan wataknya yang angkuh, tidak mau dibantu dan seolah-olah dia sudah yakin akan menang sehingga dia menggunakan kata-kata "merobohkan"
Mereka.
Han Tiong tidak berani membantah dan Thian Sin tersenyum kepadanya ketika melihat Pak-thian Sam-liong kini sudah terjun ke dalam medan pertempuran membantu dua orang kakek pengemis, karena mereka tadi ditantang, jadi merekapun tidak segan-segan lagi untuk mengeroyok!
"Tiong-ko, fihak mereka masih ada, mengapa tidak sikat mereka ini saja?
Orang she Siangkoan ini agaknya masih belum kapok!
Hayo Siangkoan Wi Hong, kalau engkau ingin kurobohkan untuk ke dua kalinya, majulah engkau!"
Siangkoan Wi Hong tertawa untuk menyembunyikan rasa marah dan malunya ketika diingatkan akan kekalahannya melawan pemuda ini di depan orang-orang lain, terutama di depan para murid See-thian-ong dan Lam-sin.
"Ha-ha-ha, bocah sombong, kalau engkau mampu mengalahkan yang-kimku ini, biarlah engkau boleh membuka mulut lebar!"
Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan So Cian Ling yang sudah maju menyambut Thian Sin sambil berseru kepada Siangkoan Wi Hong.
"Siangkoan-kongcu, biarlah aku yang menghadapi dia ini!"
Dan tanpa banyak cakap lagi So Cian Ling menerjang dan menyerang dengan pedangnya yang bersinar putih!
Thian Sin cepat mengelak dan menegur dengan suara penuh sesalan.
"Hemm, kukira engkau telah sadar ketika kita saling berjumpa di Bwee-hoa-san, ternyata sekarang engkau kembali memusuhi kami tanpa sebab!"
Akan tetapi, So Cian Ling sudah menyerang lagi sambil berkata.
"Orang she Ceng, keluarkanlah senjata dan kepandaianmu!"
Dara ini memang merasa tertarik kepada Thian Sin, kagum dia melihat ketampanan, kegagahan dan juga sikap Thian Sin, maka sekarang dia hendak melihat sampai di mana ilmu kepandaian pemuda ini.
Pernah dia melihat Thian Sin mengalahkan seorang di antara tiga orang pewaris ilmu-ilmu kakeknya, akan tetapi memang tingkat kepandaian tiga orang paman itu masih rendah dan dia belum menguji sendiri sampai di mana kelihaian Thian Sin.
Oleh karena itu, melihat kesempatan ini dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan segera menandingi Thian Sin, biarpun di dalam hatinya dia sama sekali tidak membenci atau memusuhi Thian Sin.
Sebaliknya malah, dia ingin sekali mengenal Thian Sin lebih dekat, sebagai sahabat baik!
Akan tetapi Thian Sin tidak mau mengeluarkan pedang pemberian neneknya, yaitu Gin-hwa-kiam.
Pedang itu dianggapnya benda pusaka warisan neneknya.
Dan dia menganggap bahwa lawannya ini, murid See-thian-ong, bukankah lawan yang perlu dihadapi dengan pedang.
Dengan amat gesitnya dia mengelak ke kanan kiri dari sambaran pedang yang bersinar putih itu, dan sambil mengelak diapun balas menyerang dengan tamparan-tamparan yang amat kuat, karena tamparan itu mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang.
"Wuut-wuuut-singgggg...!"
Pedang di tangan So Cian Ling bergerak cepat sekali dan menyambar-nyambar kuat, namun Thian Sin dapat mengelak lebih cepat lagi dan ketika pedang itu masih meluncur menyambar dengan tusukan kilat ke arah lehernya, tangan kirinya menangkis.
"Eh...?"
So Cian Ling terkejut dan berusaha menarik pedangnya karena dia tidak ingin pedangnya bertemu dengan tangan kosong pemuda itu, membayangkan betapa tangan itu tentu akan robek atau putus kalau bertemu dengan pedang pusakanya.
Namun gerakannya kalah cepat dan pedang itu bertemu dengan tangan kiri Thian Sin.
"Plakk!"
Dara itu terpekik dan meloncat ke belakang.
Tangan itu seperti daging yang amat lunaknya terasa oleh tangannya yang memegang pedang, akan tetapi sama sekali tidak terluka.
Dia memandang kagum bukan main.
Tahulah dia bahwa pemuda ini telah memiliki tenaga sin-kang yang tingkatnya sudah amat tinggi sehingga bukan hanya dapat membuat tangan menjadi sekeras baja, akan tetapi juga membuat tangan itu menjadi selemas kapas dan tidak mungkin dapat terluka!
Itulah tingkat sin-kang yang baginya masih terlalu tinggi dan mungkin hanya gurunya saja yang sudah mencapai tingkat itu!
"Engkau hebat...!"
Katanya berbisik, namun cukup untuk dapat terdengar oleh Thian Sin.
Pemuda ini merasa mukanya agak panas karena merasa malu dan juga senang sekali mendapat pujian lawannya.
Maka diapun lalu mencoba ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kakeknya, yaitu Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) yang dipelajarinya dari Yap Kun Liong.
Dan benar hebat ilmu ini, apalagi dimainkan oleh orang yang sudah memiliki tingkat gin-kang dan sin-kang sepertl dia!
Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun adalah ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mungkin dapat dikuasai sepenuhnya oleh Thian Sin yang baru mempelajari selama sebulan saja!
Akan tetapi, karena memang pada dasarnya pemuda ini telah memiliki ilmu-ilmu silat tinggi, terutama setelah dia menguasai Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang merupakan biang ilmu-ilmu silat tinggi, gerakannya sudah amat cepat dan juga hebat ketika dia mainkan Pat-hong Sin-kun sehingga dia dapat membalas serangan pedang lawan dengan sama cepat dan seringnya.
Hal ini amat mengagumkan Cian Ling sehingga berkali-kali dara ini mengeluarkan suara memuji.
Siangkoan Wi Hong sejak tadi menonton pertandingan ini dan hatinya merasa semakin tidak senang mendengar betapa Cian Ling memuji-muji pemuda putera Pangeran Ceng Han Houw itu.
Pemuda putera Pak-san-kui ini tadinya selalu merasa bahwa di dunia ini tidak akan ada pemuda yang melebihi dia!
Akan tetapi, dia harus mencatat kenyataan pahit ketika dia dikalahkan oleh Thian Sin dan sekarang, selagi dia ingin membalas kekalahannya itu dengan mengandalkan yang-kimnya sebagai senjatanya yang paling diandalkan didahului oleh Cian Ling dan mendengar betapa Cian Ling memuji-muji Thian Sin.
"Bocah sombong!"
Teriaknya dan dia sudah menerjang maju.
"Plakk!"
Ujung yang-kim yang menyerang Thian Sin dengan hebatnya itu tersampok miring dan ternyata yang menangkis itu adalah tangan kiri Han Tiong yang berkata dengan tenang.
"Saudara Siangkoan yang gagah, apakah tidak malu untuk melakukan pengeroyokan?"
Kemarahan Siangkoan Wi Hong makin berkobar.
"Keparat, siapa takut berhadapan dengan putera Pendekar Lembah Naga?"
Setelah berkata demikian, yang-kimnya bergerak cepat meluarkan suara berdering dan yang-kim itu sudah menyambar ke arah kepala Han Tiong.
Han Tiong dengan sikapnya yang selalu tenang dan waspada itu dengan mudah mengelak sampai belasan kali sambil diam-diam mempelajari gerakan-gerakan senjata aneh itu.
Hanya kadang-kadang saja dia membalas dengan tamparan Thian-te Sin-ciang untuk menahan serangan lawan yang bertubi-tubi datangnya dan amat berbahaya itu.
Sementara itu, melihat betapa sumoinya yang berpedang, dia tahu lebih daripada dia sendiri itu, belum juga mampu mendesak lawannya yang bertangan kosong, dan mendengar betapa sumoinya itu memuji-muji lawan, Ciang Gu Sik juga menjadi penasaran dan marah.
Diam-diam perjaka tua yang berusia tiga puluh lima tahun ini tergila-gila kepada sumoinya, maka kini melihat adanya tanda-tanda bahwa sumoinya tertarik kepada pemuda ganteng yang lihai ini, tentu saja dia merasa cemburu dan iri hati.
Tanpa banyak cakap lagi dia sudah mencabut joan-pian terselaput emas itu dan nampaklah sinar keemasan ketika joan-pian itu bergerak menyambar dan menyerang Thian Sin.
"Suheng! Jangan main keroyok! Aku tidak perlu bantuan!"
Cian Ling berseru kaget melihat gerakan suhengnya.
Akan tetapi Ciang Gu Sik tidak mau peduli, bahkan mempercepat gerakannya menyerang Thian Sin dengan senjatanya.
Namun dengan mudahnya Thian Sin mengelak, bahkan dua kali dia menangkis dengan tangan telanjang, membuat ujung cambuk baja terselaput emas itu membalik dan mengejutkan pemegangnya.
Sementara itu, Cia Kong Liang juga sudah dikeroyok oleh lima orang, yaitu dua orang pengemis dari Bu-tek Kai-pang dan tiga orang Pak-thian Sam-liong!
Pendekar muda putera ketua Cin-ling-pai ini mengamuk dengan pedangnya, namun karena lima orang lawannya itu tergolong tokoh-tokoh yang lihai, dia dikepung rapat oleh Pak-thian Sam-liong yang masing-masing memegang pedang dan dua orang pengemis yang masing-masing memegang tongkat.
Kong Liang terpaksa harus memutar pedangnya dan mainkan Siang-bhok Kiam-sut, Ilmu pedang yang luar biasa itu dan yang memang merupakan ilmu pedang yang amat kuat dalam pertahanan.
Seluruh gulungan sinar pedangnya seolah-olah menyelimuti tubuhnya, merupakan benteng baja yang kokoh kuat sehingga semua serangan lima orang lawan itu selalu tertangkis dan tidak pernah dapat menembus benteng gulungan sinar keemasan yang amat kuat itu.
Betapapun juga, tidaklah mudah bagi Kong Liang untuk balas menyerang karena lima orang pengeroyoknya itu benar-benar dapat bekerja sama dengan baiknya, terutama setelah Pak-thian Sam-liong membentuk barisan Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga), dibantu pula oleh dua orang kakek pengemis yang lihai.
Juga pertandingan antara Siangkoan Wi Hong dan Han Tiong berlangsung dengan seru dan kelihatannya seimbang.
Padahal, sesungguhnya bukanlah demikian.
Memang harus diakui bahwa setelah dia mempergunakan senjatanya yang aneh, yaitu yang-kim, Siangkoan Wi Hong kini jauh lebih lihai daripada ketika dia dengan tangan kosong melawan Thian Sin, bagaikan seekor harimau tumbuh sayap.
Akan tetapi, dibandingkan dengan putera Pendekar Lembah Naga itu, dia masih kalah jauh, apalagi dalam kehebatan ilmu silat yang dipelajari oleh putera pendekar sakti itu.
Biarpun Han Tiong (Lanjut ke
Jilid 16) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 bertangan kosong, namun kalau dia menghendaki, dia dapat mendesak lawan dengan serangan-serangan ampuhnya.
Akan tetapi Han Tiong tidak mempunyai keinginan untuk merobohkan lawan.
Antara dia dan Siangkoan Wi Hong tidak ada permusuhan apapun, dan dia tidak membenci pemuda ini, maka mengapa dia harus merobohkannya dan melukainya?
Dia lebih banyak bertahan saja dan mencoba untuk mengalahkan lawan tanpa melukainya, dan tentu saja hal ini tidak mudah mengingat bahwa Siangkoan Wi Hong merupakan seorang lawan yang cukup pandai, bahkan berbahaya sekali.
Berbeda dengan Han Tiong, begitu Ciang Gu Sik maju mengeroyoknya, Thian Sin segera menghadapinya dengan kekerasan.
Sejak tadi dia mainkan Pat-hong Sin-kun untuk menghadapi Cian Ling, sekalian untuk melatih ilmu silat baru ini, dan begitu dia melihat Ciang Gu Sik memasuki medan perkelahian dan menyerangnya dengan hebat, dia cepat mencoba pula ilmu barunya yang dipelajarinya dari Kakek Yap Kun Liong, yaitu Pek-in-ciang.
Begitu dia mengerahkan sin-kang dan menggunakan pukulan dengan tangan kirinya mengerahkan Pek-in-ciang nampak uap mengepul dari telapak tangannya.
Itulah sebabnya ilmu ini dinamakan Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih).
Ciang Gu Sik adalah murid pertama See-thian-ong, sungguhpun tingkat kepandaiannya masih di bawah So Cian Ling, namun dia memiliki banyak pengalaman pertempuran dan termasuk seorang tokoh pandai.
Akan tetapi dia terkejut ketika merasa betapa uap putih itu menyambar dahsyat, membuat ujung joan-pian yang dipergunakan untuk menyerang itu membalik!
Pada saat itu, Cian Ling sudah menusukkan pedangnya ke arah leher Thian Sin sambil membentak nyaring, bentakan yang dikeluarkan agar pemuda itu dapat peringatan lebih dulu sebelum dia menyerang karena majunya suhengnya yang mengeroyok ini membuat hatinya tidak enak.
Thian Sin yang ingin memamerkan kepandaiannya, masih tetap menggunakan Pek-in-ciang, mendorongkan tangannya yang mengeluarkan uap putih itu ke arah pedang sehingga pedang itupun menyeleweng.
Akan tetapi, Thian Sin kurang pengalaman dan tidak tahu bahwa Pek-in-ciang lebih tepat dan ampuh kalau dipergunakan untuk melawan orang yang bertangan kosong.
Kini, menghadapi dua lawan yang bersenjata dia mengandalkan Pek-in-ciang, tentu saja tidak tepat karena Pek-in-ciang itu baru ampuh kalau bertemu dengan tubuh dan tangan lawan, dan kalau untuk menghadapi senjata tajam yang keras, hanya mampu mendorongnya sedikit saja.
Maka kini dia dihujani serangan dan akhirnya ujung joan-pian di tangan Ciang Gu Sik itu berhasil pelecut pundaknya dan ujung joan-pian yang digerakkan dengan ahli itu terus melilit lehernya!
"Aihhh...!"
Cian Ling memekik kaget, dan menahan tusukan pedangnya.
Akan tetapi sesaat kemudian, bukan Thian Sin yang mengeluh, melainkan Gu Sik sendiri.
"Auhhhhh... ah, lepaskan...!"
Murid See-thian-ong ini terbelalak, terengah dan menarik-narik joan-piannya yang melingkari leher Thian Sin!
Sungguh suatu pemandangan yang aneh sekali, jelas nampak betapa joan-pian itu tadi mengenai pundak Thian Sing bahkan ujungnya, seperti seekor ular, melilit leher pemuda itu.
Akan tetapi kenapa bukan pemuda itu yang menderita, sebaliknya malah Gu Sik yang memegang gagang cambuk atau joan-pian itu?
Ternyata bahwa Gu Sik merasa betapa tenaga sin-kang dari tubuhnya tersedot keluar melalui joan-pian, membanjir keluar dan hal ini amat mengejutkannya.
Semakin dia mengerahkan tenaga untuk membetot joan-pian, makin hebat pula tenaga sin-kangnya membanjir keluar.
Hal ini amat mengejutkan dan mendatangkan kengerian sehingga akhirnya dia berteriak-teriak minta dilepaskan!
Thian Sin sudah melangkah dekat dan tangan kirinya menampar.
"Plakk!"
Tubuh Gu Sik terpelanting dan joan-pian itu terlepas dari tangannya.
Akan tetapi Thian Sin masih teringat akan larangan kakaknya untuk tidak membunuh, maka tamparannya yang mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang itu hanya diarahkan ke pundak lawan sehingga Gu Sik tidak sampai menderita luka parah yang membahayakan nyawanya.
Pada saat Gu Sik berteriak-teriak tadi, Cian Ling terkejut dan dia ingin membantu suhengnya, akan tetapi diapun tidak ingin mencelakai Thian Sin, maka tangan kirinya yang maju dan mencengkeram ke arah pundak pemuda itu.
Akan tetapi, Thian Sin tidak mengelak dan membiarkan pundaknya dicengkeram.
Dia melanjutkan dengan menampar Gu Sik dan membiarkan tangan dengan jari-jari yang kecil meruncing itu mencengkeram pundak.
"Ehhh...!"
Cian Ling juga mengeluarkan seruan kaget ketika merasa betapa sin-kangnya tersedot secara hebat sekali melalui tangannya yang mencengkeram.
Dan pada saat itu, Thian Sin sudah melangkah dekat dan tangannya bergerak untuk menampar!
Cian Ling terkejut bukan main, maklum bahwa nyawanya terancam maut, Akan tetapi dia yang sudah tersedot sin-kangnya itu saking kagetnya tidak mampu berbuat apa-apa, hanya memandang kepada Thian Sin dengan sepasang matanya.
Justeru daya tarik kewanitaan So Cian Ling terletak pada hidung dan terutama matanya.
Mata itu jeli dan indah sekali, dan melihat sepasang mata itu memandang kepadanya seperti itu, Thian Sin yang sudah menggerakkan tangan itu, tiba-tiba mengubah gerakannya sehingga tangannya tidak jadi menampar, melainkan...
meraba dan mengelus dagu yang halus itu lalu mencubitnya dan melangkah mundur melepaskan tenaga Thi-khi-i-beng.
Cian Ling mengeluh lirih dan meloncat ke belakang.
Seluruh tubuhnya terasa panas dingin dan kedua kakinya masih gemetar teringat akan bahaya maut tadi, dan mukanya merah sekali teringat betapa pemuda itu mengelus dan mencubit dagunya!
"Ahhh...
kau ...
kau ..."
Dan dia tersenyum malu-malu, menundukkan mukanya yang menjadi semakin merah.
"Kenapa kau ... tidak memukulku...?"
Bisiknya.
"Aku tidak bisa memukul wanita..."
Kata Thian Sin.
Pada saat itu, Han Tiong juga sudah mendesak Siangkoan Wi Hong.
Kalau dia menghendaki, kiranya belum sampai lima puluh jurus dia akan mampu merobohkan pemuda putera Pak-san-kui itu, akan tetapi Han Tiong tidak ingin merobohkan orang, apalagi membunuhnya.
Pada saat Thian Sin hendak membantu kakaknya agar lawan dapat segera dikalahkan, tiba-tiba terdengar suara halus.
"Tahan, jangan berkelahi...!"
Dan muncullah Tung-hai-sian bersama Bin Biauw dan belasan orang anak buah Tung-hai-sian.
Melihat betapa Kong Liang dan lima orang pengeroyoknya masih terus berkelahi, kakek cebol itu cepat memasuki medan perkelahian dan dengan tenang dia beberapa kali menggerakkan kedua tangannya.
Terdengar seruan-seruan kaget, juga Kong Liang sendiri cepat mencelat ke belakang karena dari kedua tangan kakek itu menyambar hawa pukulan yang luar biasa dinginnya dan kuatnya, yang membuat mereka yang mengeroyoknya terhuyung ke belakang dan dia sendiri harus meloncat ke belakang kalau tidak mau terdorong oleh hawa dingin yang amat kuat itu.
Tahulah putera ketua Cin-ling-pai ini bahwa kakek cebol itu sungguh memiliki tenaga sin-kang yang amat luar biasa.
"Tahan, jangan berkelahi antara orang sendiri. Ada urusan boleh dibicarakan dengan baik!"
Kata pula Tung-hai-sian.
Sedangkan sejak tadi Han Tiong telah melompat mundur meninggalkan lawannya dan Siangkoan Wi Hong juga tidak berani melanjutkan perkelahian setelah melihat adanya Tung-hai-sian yang melerainya.
Hanya Kong Liang sajalah yang tadi tidak peduli dan memaksa lima orang lawannya untuk melanjutkan pertempuran.
Di antara lima orang itu, ada dua orang dari Pak-thian Sam-liong dan seorang dari pengemis-pengemis Bu-tek Kai-pang yang terluka oleh pedang Kong Liang, walaupun bukan luka yang berat, sedangkan Kong Liang kelihatan mandi keringat karena dia tadi harus terus memutar pedangnya secepat mungkin untuk membendung serangan bertubi-tubi dari lima oreng pengeroyoknya.
Tung-hai-sian memandang kepada Kong Liang dan dua orang keponakannya, kemudian kepada para murid tiga datuk dari barat, utara, dan selatan itu, lalu menarik napas panjang.
"Hemm, kiranya para wakil dari sahabat-sahabat See-thian-ong, Pak-san-kui, dan Lam-sin yang berkelahi di sini menghadapi wakil Cin-ling-pai. Kalian semua adalah tamu-tamu kami maka kami harap, menghabisi urusan dan tidak berkelahi di wilayah ini. Tentu kalian tahu bahwa kami tidak menghendaki tamu-tamu kami yang terhormat sampai ada yang terganggu di wilayah kami."
Ucapannya itu halus namun mengandung ketegasan seorang datuk yang merasa bahwa kekuasaan atas wilayahnya dilanggar.
"Maaf, locianpwe. Kami dari Cin-ling-pai sama sekali tidak mencari permusuhan, akan tetapi kalau dalam perjalanan pulang kami dihadang dan ditantang, tentu saja kami tidak akan undur selangkahpun!"
Jawab Kong Liang dengan sikap gagah.
Tung-hai-sian menoleh kepada Siangkoan Wi Hong, dan pemuda inipun segera berkata dengan suara mengandung rasa penasaran.
"Paman, sejak dahulu Cin-ling-pai adalah musuh kita, apakah sekarang paman hendak mengubah keadaan itu? Apakah kita harus tunduk kepada manusia-manusia sombong yang mengangkat diri sebagai pendekar-pendekar?"
Tung-hai-sian menarik napas panjang.
Sebagai seorang datuk, dia sudah tahu akan maksud kata-kata itu dan tahu pula akan isi hati para putera dan murid tiga orang datuk itu.
Mereka ini tentu merasa tidak rela kalau melihat dia hendak berbesan dengan ketua Cin-ling-pai yang dianggapnya sebagai golongan putih yang selalu dianggap musuh oleh golongan hitam!
Akan tetapi, bicara tentang urusan pribadinya dengan orang-orang muda yang hanya merupakan murid-murid tiga orang datuk lain itupun terlalu rendah baginya.
Dia akan bicara kalau yang dihadapinya itu tiga orang datuk itu sendiri.
Maka diapun lalu berkata, suaranya lantang sekali dan penuh wibawa.
"Cu-wi, kami tidak peduli dari golongan mana, akan tetapi sekali menjadi tamu kami, keselamatannya harus kami lindungi selama mereka berada dalam wilayah kami! Kami harus menjaga nama sebagai tuan rumah yang baik dan selama menjadi tamu kami, maka semua urusan pribadi untuk sementara tidak ada! Tamu tetap tamu yang harus diterima dengan baik dan keselamatannya adalah keselamatan kami. Oleh karena itu, kami melarang siapapun juga untuk menggunakan kekerasan di dalam wilayah kami. Di luar wilayah kami, hal itu bukan urusan kami lagi. Harap cu-wi mengerti dan mentaati hal ini!"
Cia Kong Liang menjura dan menghindarkan pandang mata penuh kemesraan disertai senyum simpul manis sekali dari Bin Biauw, dan dia berkata.
"Kami dari Cin-ling-paipun sama sekali tidak ingin mencari permusuhan dengan siapapun juga. Nah, kami mohon diri, locianpwe."
Tung-hai-sian yang diam-diam merasa suka untuk mempunyai seorang mantu yang demikian lihai, halus dan sopan, mengangguk dan balas menjura.
"Selamat jalan, Cia-sicu, dan sampai jumpa."
"Selamat jalan, Cia-koko..."
Kata Bin Biauw, suaranya merdu merayu dan sikapnya manis sekali. Terpaksa Kong Liang menjawab.
"Selamat tinggal, nona."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Han Tiong dan Thian Sin mengikuti paman mereka itu pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Baru setelah tiga orang pemuda itu pergi dan kini sikap dan cara mereka bicara sungguh berlainan sekali dibandingkan dengan tadi ketika mereka bicara di depan tiga orang pemuda itu atau di dalam pesta.
Kini sikap orang-orang muda itu tidaklah sehalus dan sesopan tadi, dan juga sikap mereka lebih terbuka.
Kong Liang, Han Tiong dan Thian Sin tentu akan merasa terheran-heran kalau mereka bertiga itu mendengarkan percakapan antara mereka itu sekarang.
"Paman Tung-hai-sian!"
Kata Slangkoan Wi Hong dengan sinar mata memandang penuh teguran.
"Kita adalah golongan srigala atau harimau. Patutkah kalau srigala berbesan dengan golongan anjing atau harimau berjodoh dengan kucing? Datuk timur ingin berbesan dengan ketua Cin-ling-pang? Huh, betapa menyebaikan!"
"Ha-ha-ha-ha, agaknya locianpwe dari timur sudah mulal lemah dan jerih menghadapi Cin-ling-pai, maka ingin berbaik dengan mereka!"
Seorang di antara dua pengemis Bu-tek Kai-pang juga berkata, suaranya mengejek.
"Kalian ini cacing-cacing busuk!"
Tiba-tiba Bin Biauw yang tadinya bersikap amat halus dan sopan itu kini memaki-maki.
"Urusan perjodohanku apa perlunya kalian ikut bicara? Apakah kalian ini nenek moyangku yang akan mencampuri urusan jodohku?"
Tung-hai-sian memegang tangan puterinya untuk menyabarkannya, kemudian dia berkata sambil memandang, bergantian kepada Siangkoan Wi Hong dan pengemis itu.
"Kalau tidak ingat bahwa kalian mewakili Pak-san-kui dan Lam-sin, tentu sudah kurobek mulut kalian yang lancang! Siapa yang mau berbesan dengan Cin-ling-pai? Andaikata hal itu kulakukan juga, apakah aku harus menyembah-nyembah minta ijin dari datuk lain lebih dahulu? Sudahlah, kalian pergi dari sini dan jangan membuat aku marah."
"Hemm, aku akan lapor kepada ayah, lihat apa pendapatnya tentang keanehan ini!"
Kata Siangkoan Wi Hong yang segera mengajak tiga orang suhengnya pergi dari situ.
"Orang-orang lelaki memang mulutnya busuk!"
Tiba-tiba So Cian Ling mengomel.
"Mereka sendiri seenaknya memilih perempuan, akan tetapi melarang perempuan memilih lelaki! Huh, menyebalkan!"
Dan diapun lalu meloncat pergi, diikuti oleh Ciang Gu Sik.
"Kamipun akan membawa oleh-oleh cerita lucu dan baik untuk pimpinan kami. Selamat tinggal, locianpwe!"
Kata dua orang pengemis itu yang segera berlari pergi pula dari situ.
Tung-hai-sian tidak menjawab dan memang sopan santun tidak berlaku dalam dunia mereka, kecuali hanya untuk berpura-pura di depan tamu-tamu lain.
Di antara golongan mereka sendiri, sopan santun hanya dianggap sebagai lelucon yang menggelikan, suatu kepura-puraan palsu.
Bin Biauw masih mendongkol dengan sikap orang-orang yang agaknya hendak menghalangi perjodohannya dengan putera Cin-ling-pai yang membuatnya tergila-gila itu, maka diapun lalu pergi dengan sikap marah, diikuti oleh ayahnya dan orang-orangnya.
Sementara itu, di tengah perjalanan, Ciang Gu Sik mengomeli Cian Ling.
"Sumoi, sikapmu tadi sungguh memalukan. Engkau hendak main gila dengan putera Pangeran Cen Han Houw itu!"
Cian Ling berhenti melangkah, sepasang matanya memandang tajam.
Matanya masih indah, akan tetapi kini dari sepasang mata itu bersinar sesuatu kemarahan yang menyeramkan.
"Suheng, dia itu gagah dan tampan dan aku suka padanya! Apa salahnya kalau timbul berahiku melihatnya dan kalau aku ingin bermain cinta dengan dia, engkau mau apakah?"
Suaranya penuh tantangan, dadanya yang sudah membayangkan tonjolan di balik pakaiannya itu dibusungkan, bibirnya tersenyum mengejek.
Wajah Ciang Gu Sik menjadi merah, akan tetapi sebentar kemudian kembali menjadi warna aselinya, yaitu pucat seperti wajah orang berpenyakitan.
"Mau apa? Hanya ingin membunuhnya!"
"Hi-hi-hik! Mau membunuhnya? Silakan kalau engkau mampu, suheng!"
"Tentu saja aku mampu! Aku tadi kalah karena terkejut oleh ilmu silumannya. Ilmu itu tentu yang dinamakan Thi-khi-i-beng. Aku akan bertanya kepada suhu bagaimana caranya menundukkan Thi-khi-i-beng!"
"Sesukamulah! Aku sih ingin menundukkan hatinya. Hemmmmm... dia ganteng dan menarik sekali!"
Dara itu lalu berloncatan ke depan melanjutkan perjalanannya.
Memang mengejutkan kalau melihat sikap datuk Tung-hai-sian dan para murid datuk-datuk yang lain itu.
Mereka begitu kasar, akan tetapi juga blak-blakan mengucapkan segala hal yang terkandung di dalam hati mereka, tanpa mempedulikan tata susila dan kesopanan lagi.
Bagi mereka, kesopanan adalah sesuatu yang palsu, kepura-puraan dan kemunafikan yang menggelikan.
Pandangan mereka itu bagaikan bumi dan langit, sama sekali menjadi kebalikan dari pandangan golongan yang menamakan diri mereka golongan bersih atau kaum pendekar.
Mereka ini mengutamakan kesusilaan, kesopanan dan kebudayaan.
Kehormatan bagi seorang pendekar lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Nama baik didahulukan, nama baik pribadi yang mengembang menjadi nama baik keluarga dan mungkin dikembangkan lagi menjadi nama baik golongan.
Manakah yang benar di antara dua pandangan ini?
Keduanya mengandung kebenaran dan kekeliruan, seperti pada umumnya segala hal di dunia ini.
Sekali dinilai, maka akan nampaklah kebenarannya, baik buruknya, untung ruginya dan sebagainya lagi.
Yang penting bagi kita adalah membuka mata, waspada sehingga mengenal apa yang menjadi kenyataan, apa yang palsu di dalam segala hal.
Karena kewaspadaan ini akan menimbulkan kesadaran dan pengertian yang selanjutnya akan mendatangkan tindakan seketika, yaitu melepaskan yang palsu itu, seperti kalau kita melihat dan mengerti bahwa yang kita genggam adalah kotoran dan kita melepaskan kotoran itu tanpa dipikirkan lagi!
Semenjak kecil, kita diajar oleh orang tua, oleh guru, oleh masyarakat di sekeliling kita, untuk bersopan-sopan untuk bersusila.
Kita diperkenalkan kepada hal-hal yang dianggap tidak sopan dan tidak bersusila, hal-hal yang dianggap sopan dan bersusila.
Ditekankan kepada kita sampai mendalam sekali bahwa yang tidak sopan itu tidak baik dan yang sopan itu baik, dan sebagainya.
Ditekankan pula bahwa hidup haruslah baik dan sebagainya.
Tekanan-tekanan inilah yang mendorong kita untuk menjadi baik!
Untuk dianggap baik!
Dan keinginan baik inilah yang melahirkan kepalsuan, kemunafikan, sehingga kita pandai sekali berpura-pura, lain mulut lain di hati.
Kita terdorong oleh keinginan agar "menjadi orang baik"
Termasuk orang sopan, bersuslia dan sebagainya, sehingga kita melakukan hal-hal yang palsu, berpura-pura berlawanan dengan isi batin sendiri, hanya demi agar dianggap sebagai orang baik.
Maka timbullah sikap manis di mulut pahit di hati, penghormatan-penghormatan yang sifatnya menjilat-jilat, dan kepalsuan-kepalsuan dalam hampir setiap gerak-gerik kita dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau kita mau membuka mata dengan waspada dan memandang dengan sewajarnya dan sejujurnya kepada diri sendiri, akan nampaklah semua kepalsuan ini.
Sikap dan ucapan kita terhadap isteri atau suami, terhadap pacar, terhadap anak atau orang tua, terhadap sahabat, terhadap orang-orang lain.
Bahkan sikap kita dalam sembahyang misalnya, terhadap Tuhan!
Kita ini orang-orang munafik.
Beranikah kita melihat kenyataan ini?
Melihat kenyataan ini bukan berarti bahwa kita harus hidup bebas semau gue, seperti golongan para datuk, boleh bersikap dan bicara sesuka hatinya, bersikap kasar dan keras sekali terhadap orang lain.
Sama sekali bukan demikian!
Melainkan melihat kenyataan akan kepalsuan kita agar kita tidak palsu lagi, agar kita bebas dari sikap pura-pura itu.
Agar kalau kita menghormat seseorang, maka penghormatan itu datang dari lubuk hati, agar kalau mulut kita tersenyum, agar kalau kita mengucapkan kata-kata sayang kepada isteri atau suami, pacar atau anak, batin juga penuh dengan kasih sayang itu!
Belajar hidup dalam keadaan utuh!
Betapa indahnya ini!
Utuh dalam arti kata SATUNYA HATI, KATA DAN PERBUATAN!
Betapa akan indahnya!
Bebas dari kepalsuan dan kepura-puraan.
Dapatkah...
atau lebih tepat lagi, maukah kita mulai sekarang juga, saat ini juga?
Kehidupan akan mengalami perubahan yang luar biasa hebatnya dan ini hanya dapat dibuktikan dengan penghayatan, bukan dengan teori belaka!
Dua orang pemuda itu memandang kepada Kong Liang yang berdiri di depan mereka, di persimpangan jalan, dan kalau Han Tiong memandang kepada pamannya dengan bayangan perasaan heran dan iba, sebaliknya Thian Sin mengerutkan alisnya dan kelihatan penasaran sekali.
"Akan tetapi, mengapa paman mencela kami? Bukankah kami berdua membantu paman menghadapi musuh yang mengeroyok paman?"
Thian Sin membantah dengan suara bernada penasaran.
"Kalian sungguh gegabah sekali! Fihak lawan begitu lihai, bagaimana kalau sampai kalian terluka atau lebih celaka lagi, terbunuh dalam perkelahian itu? Aku yang bertanggung jawab terhadap keselamatan kalian,"
Kong Liang mengomel.
"Tapi kami dapat menjaga diri, paman,"
Han Tiong berkata dengan tenang, sama sekali tidak terdengar penasaran seperti adiknya.
"Hemm, betapapun, aku sendiri cukup untuk melayani dan mengalahkan mereka semua. Tanpa bantuan kalianpun, kalau tidak keburu Tung-hai-sian datang, mereka semua akan roboh oleh pedangku."
Dua orang pemuda dari Lembah Naga itu tidak membantah lagi.
"Maafkan kami, paman."
Akhirnya Han Tiong berkata.
"Dan sekarang kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Lok-yang. Harap sampaikan hormat kami kepada ayah bunda paman."
"Sampaikan pula hormat dan terima kasihku kepada mereka, terutama kepada nenek, paman,"
Kata pula Thian Sin. Kong Liang mengangguk.
"Baik, akan kusampaikan. Dan hati-hatilah kalian dalam perjalanan. Kalian belum banyak pengalaman dan di dunia ini banyak orang jahat yang amat lihai, hindarkanlah bentrokan-bentrokan dengan orang-orang kang-ouw."
Dia menasihati dengan sikap seperti seorang dewasa menasihati anak-anak yang masih bodoh.
Setelah mereka berpisah, dua orang pemuda Lembah Naga itu melanjutkan perjalanan ke Lok-yang.
Diam-diam Thian Sin merasa heran kalau mengenangkan sikap Cia Kong Liang.
Pamannya itu harus diakui seorang yang gagah perkasa.
Akan tetapi kalau dibandingkan dengan kakaknya, sepatutnyalah kalau Han Tiong kakaknya itu yang menjadi paman sedangkan Kong Liang yang menjadi keponakan.
Sikap kakaknya yang pendiam dan penuh wibawa, yang selalu merendahkan diri dan tidak suka menonjolkan kepandaian, juga yang selalu menghindarkan kekerasan itu jauh lebih "matang"
Dibandingkan dengan sikap Kong Liang yang gagah perkasa namun mentah itu.
"Tiong-ko, kenapa sikap paman Kong Liang seperti itu?"
Akhirnya dia tidak dapat menahan rasa penasaran di dalam hatinya dan bertanya kepada kakaknya.
Han Tiong menarik napas panjang dan menjawab sambil lalu.
"Sudahlah, adikku, Paman Kong Liang itu memang paman kita akan tetapi diapun masih muda."
Dari jawaban ini saja Thian Sin merasa betapa kakaknya sungguh lebih "tua"
Dan matang dibandingkan dengan Cia Kong Liang, dan dia merasa yakin bahwa dalam hal kepandaianpun kakaknya itu agaknya tidak kalah dibandingkan dengan putera ketua Cin-ling-pai.
Lok-yang adalah sebuah kota yang besar dan ramai.
Seperti kita telah ketahui, di kota inilah Gu Khai Sun tinggal bersama dua orang isterinya, yaitu wanita kembar Kui Lan dan Kui Lin, bersama dua orang anak mereka, yaitu Ciu Bun Hong putera Kui Lin yang telah berusia kurang lebih tujuh betas tahun dan Ciu Lian Hong puteri Kui Lan yang telah berusia enam belas tahun.
Ciu Khai Sun, jagoan lihai murid Siauw-lim-pai ini hidup berbahagia dengan keluarganya, membuka sebuah perusahaan pengawalan barang yang bernama Hui-eng-piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Garuda Terbang), yaitu melanjutkan perusahaan yang tadinya dipegang oleh mendiang Na Tiong Pek, yaitu suami Kui Lin yang pertama.
Setelah dipimpin oleh Ciu Khai Sun yang dikenal sebagai murid Siauw-lim-pai yang pandai, Perusahaan ini semakin maju dan semakin banyak orang mempercayainya untuk mengawal barang-barang yang berharga atau keluarga mereka yang dikirim atau pergi ke tempat jauh melalui daerah-daerah berbahaya.
Bendera kecil yang bergambar seekor burung garuda terbang itu amat terkenal di kalangan liok-lim, yaitu para bajak sungai dan para perampok hutan, dan tidak ada penjahat yang berani mencoba-coba mengganggu rombongan yang dikawal oleh piauwsu (pengawal) dari Hui-eng-piauwkiok.
Baru melihat kereta-kereta yang atasnya ditancapi sebuah bendera kecil bergambar burung garuda terbang itu saja, para penjahat sudah mundur kembali dan tidak berani mengganggunya.
Tentu saja untuk memperoleh nama besar yang ditakuti para penjahat ini bukan merupakan hal yang mudah.
Selama bertahun-tahun Ciu Khai Sun mengawal sendiri setiap pengiriman barang berharga dan entah sudah berapa puluh kali dia harus menggunakan kepandaiannya menundukkan para perampok dan merampas kembali barang-barang yang dirampok mereka.
Setelah melihat kegagahan pimpinan Hui-eng-piauwkiok ini, barulah perusahaan itu memperoleh nama besar dan sampai bertahun-tahun selama ini, tidak pernah ada gangguan dalam perjalanan.
Oleh karena itu, Ciu Khai Sun yang sudah berusia empat puluh enam tahun itu, selama beberapa tahun ini hanya mengandalkan kebesaran namanya dan membiarkan semua barang atau keluarga dikawal oleh para pembantunya.
Sedangkan dia sendiri lebih banyak berada di rumah, menerima tamu-tamu yang hendak mempercayakan barang-barang atau keluarga mereka untuk dikawal, Dan semua sisa waktunya dipergunakan untuk melatih silat kepada dua orang anaknya, yaitu Ciu Bun Hong dan Ciu Lian Hong.
Semua ilmu silat yang dimilikinya dia ajarkan kepada dua orang anaknya itu sehingga mereka menjadi dua orang muda yang pandai.
Ciu Bun Hong kini telah menjadi seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang bertubuh tinggi besar seperti ayahnya.
Adapun Ciu Lian Hong telah menjadi seorang dara remaja berusia enam belas tahun yang amat cantik jelita, dengan tubuh yang sedang dan langsing, seperti ibunya.
Kecantikan Lian Hong memang mengagumkan sekali sehingga dia terkenal di kota Lok-yang sebagai ratu di antara semua dara karena cantiknya.
Orang tuanya amat mencintanya dan mereka bertiga, yaitu ayahnya dan dua orang ibunya, merasa bangga sekali akan dia.
Juga dalam hal ilmu silat, dia tidak kalah dibandingkan dengan kakaknya, sedangkan dalam ilmu kesusasteraan dan kesenian, dia meninggalkan kakaknya itu jauh di belakang.
Memang, Lian Hong adalah seorang dara yang amat mengagumkan, seorang dara pilihan dan selain menjadi kebanggaan orang tuanya, juga menjadi kembang mimpi para muda di Lok-yang.
Akan tetapi sampai dia berusia enam belas tahun, orang tuanya masih belum dapat menentukan jodohnya.
Agaknya bagi orang tua dara ini, tidak ada seorangpun pemuda yang pantas menjadi jodoh puteri mereka, setidaknya, selama ini mereka telah menolak entah berapa banyak lamaran yang datang.
Lian Hong sendiri agaknya sama sekali belum memikirkan soal perjodohan.
Cia Han Tiong pernah berkunjung ke Lok-yang dan dia masih teringat akan tempat tinggal kedua orang bibinya itu.
Ternyata kini rumah gedung itu semakin besar dan megah, dan kantor yang berpapan Hui-eng-piauwkiok dengan huruf-huruf besar itupun agaknya telah diperbesar.
Dari keadaan rumah dan kantor ini saja Han Tiong sudah dapat mengerti bahwa perusahaan pamannya itu telah memperoleh kemajuan pesat, maka diam-diam diapun mereka gembira.
Pagi telah melarut menjelang siang ketika dua orang pemuda Lembah Naga ini memasuki pekarangan rumah gedung keluarga Ciu.
Han Tiong memandang dengan wajah berseri dan senyum gembira ketika dia mengenal kedua orang bibinya itu sedang duduk di ruangan depan, dan dia sendiripun bingung karena tidak dapat membedakan mana Bibi Lan dan mana Bibi Lin!
Mereka begitu sama, bukan hanya bentuk wajah mereka, bahkan bentuk tubuh merekapun tiada bedanya.
Adapun dua orang nyonya kembar itu, yang kini sudah menjadi nyonya setengah tua berusia kurang lebih empat puluh tiga tahun, menghentikan percakapan mereka dan memandang dengan heran ketika melihat ada dua orang pemuda memasuki pekarangan rumah mereka.
Biasanya, semua tamu tentu datang ke kantor di sebelah dan kalau ada yang hendak bertemu dengan Ciu Khai Sun sendiri, tentu pegawai kantor akan melaporkan kepada majikannya dan Khai Sun akan menemui tamu itu di kantor pula.
Memang ada beberapa orang sahabat baik yang langsung datang ke rumah untuk berkunjung kepada keluarga itu, akan tetapi kini dua orang wanita itu sama sekali tidak mengenal dua orang pemuda yang datang ini, maka keduanya memandang heran.
Han Tiong dengan wajah gembira, sudah melangkah ke depan dan menjura dengan hormatnya kepada mereka, diikuti pula oleh Thian Sin.
"Saya harap bibi berdua sekeluarga berada dalam keadaan baik-baik saja selama ini,"
Kata Han Tiong dengan sikap halus.
"Siapa kalian...?"
Tanya Kui Lan.
"Dan ada keperluan apakah?"
Sambung Kui Lin. Han Tiong tentu saja tidak tahu yang mana bibi pertama dan mana bibi ke dua.
"Ah, harap bibi berdua suka memaafkan kami kalau kami membikin kaget. Agaknya bibi tidak mengenal saya. Saya adalah Cia Han Tiong..."
"Han Tiong...?"
"Putera Sin-koko...?"
Dua orang wanita itu melangkah maju dan mereka segera memegang kedua tangan Han Tiong dengan wajah gembira sekali.
"Aihhh, sudah menjadi seorang dewasa!"
"Dan gagah benar kau , Han Tiong!"
"Mana mungkin kami dapat mengenalmu, dulu ketika kau datang, engkau masih kecil dan sekarang telah menjadi begini besar!"
Han Tiong menjadi bingung.
Dia tidak tahu yang mana Bibi Lan dan mana Bibi Lin yang bicara sambil sambung itu.
"Maaf... maaf... saya sendiri juga tidak dapat mengenal dan membedakan antara bibi berdua..."
Kedua orang wanita itu tersenyum lebar.
Bagi mereka tidaklah aneh melihat kebingungan orang yang tidak dapat membedakan antara mereka.
"Aku Bibi Lan,"
Dan kata Kui Lan.
"Dan aku Bibi Lin."
Kata yang kedua.
"Dan siapakah pemuda ini?"
Kui Lan dan Kui Lin memandang kepada Thian Sin yang sejak tadi hanya diam saja dan melihat pertemuan antara Han Tiong dan dua orang bibinya itu.
Dia tahu bahwa kedua orang wanita itu adalah adik-adik tiri dari ayah angkatnya, merupakan dua orang wanita kembar.
Akan tetapi dia sendiri sudah dapat melihat perbedaan antara kedua orang wanita itu, sungguhpun memang pada lahirnya mereka itu serupa benar.
Thian Sin memiliki pandangan yang amat tajam dan dia sudah melihat bahwa perbedaan yang cukup besar antara mereka itu terdapat pada pandang mata mereka.
Yang mengaku sebagai Bibi Lan itu mempunyai sinar mata yang mengandung keriangan atau kelincahan, sebaliknya yang mengaku sebagai Bibi Lin itu mempunyai sinar mata yang lebih dalam dan juga pendiam dan lebih tenang.
Dan hanya kalau keduanya dilanda kegembiraan seperti ketika mengetahui bahwa pemuda itu adalah keponakan mereka, maka keduanya sukar dibedakan karena sinar mata mereka itu keduanya berseri-seri.
"Dia ini adalah Ceng Thian Sin, putera mendiang Paman Ceng Han Houw dan Bibi Lie Ciauw Si."
Han Tiong memperkenalkan dan kembali Thian Sin menjura.
Karena dia menjura sambil menundukkan muka, maka dia tidak melihat betapa sejenak wajah kedua orang wanita itu berubah dan mata mereka agak terbelalak mendengar nama Ceng Han Houw.
Thian Sin hanya mendengar kakaknya menyambung kata-katanya dengan agak tergesa-gesa.
"Thian Sin ini juga menjadi saudara angkat saya dan putera angkat dari ayah, maka dia boleh dibilang juga menjadi keponakan bibi berdua pula."
"Ahhh... syukurlah kalau begitu,"
Kata Kui Lin.
"Dia tampan sekali!"
Puji Kui Lan.
"Mari-mari, kita masuk saja. Pamanmu sedang melatih silat kepada Bun Hong dan Lian Hong."
Dengan ramah dua orang wanita itu lalu mengajak Han Tiong dan Thian Sin memasuki gedung dan mempersilakan mereka duduk di ruangan dalam.
Kui Lan sudah berlari ke belakang untuk mengabarkan tentang kedatangan dua orang muda itu kepada suaminya dan dua orang anak mereka.
Tak lama kemudian wanita itu datang lagi bersama suaminya dan dua orang anak mereka.
Han Tiong dan Thian Sin cepat bangkit dari tempat duduk mereka dan menghormat kepada laki-laki tinggi besar yang gagah perkasa itu.
Ciu Khai Sun sudah berusia empat puluh enam tahun, sebagian rambutnya sudah mulai memutih, akan tetapi dia masih nampak gagah dan tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kokoh kuat.
Dengan wajah berseri pendekar yang gagah perkasa ini menerima penghormatan Han Tiong dan Thian Sin tertawa dan dia memegang kedua pundak Han Tiong.
"Ah, engkau telah menjadi seorang pemuda dewasa Han Tiong!"
Katanya dengan ramah sekali, kemudian menoleh dan memandang kepada Thian Sin.
"Dan ini Ceng Thian Sin, adik angkatmu? Tampan dan gagah dia!"
Hati Thian Sin merasa lega bahwa tidak nampak keheranan mendengar bahwa putera Pangeran Ceng Han Houw, seperti yang sering kali dia lihat kalau dia diperkenalkan sebagai putera pangeran itu.
"Tiong-koko!"
Kata Bun Hong sambil maju memberi hormat.
"Hai, engkau sudah menjadi seorang pemuda yang lebih tinggi daripada aku!"
Han Tiong berseru gembira sambil membalas penghormatan pemuda yang bertubuh seperti ayahnya itu.
Memang Bun Hong nampak gagah perkasa seperti ayahnya, apalagi pada saat dia mengenakan pakaian ringkas, pakaian berlatih silat sehingga nampaklah bentuk tubuhnya yang kekar.
"Tiong-koko!"
Dara itu memberi hormat dan memanggil pula.
Han Tiong memandang dan jantungnya berdebar.
Belum pernah dia merasakan jantungnya berdebar seperti ini kalau dia bertemu dengan seorang dara.
Akan tetapi gadis ini memang luar biasa sekali, sukar baginya untuk menggambarkan bagaimana cantiknya.
Semua bagian tubuh dara itu, dari rambutnya yang agak kusut karena habis berlatih silat, dahinya yang masih agak basah oleh peluh, sampai kepada cara dia berdiri dan memberi hormat, semua itu memiliki daya tarik yang demikian mempesonakan sehingga untuk sekejap Han Tiong seperti terpesona dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya, dengan kekuatan hatinya dia mampu juga membuat dirinya bergerak dan keluar dari pesona yang melumpuhkan itu.
"Ah, adik Lian Hong! Engkaupun telah menjadi seorang gadis yang dewasa...!"
Hanya demikian dia mampu berkata, setelah menahan sekuat hatinya agar mulutnya tidak mengatakan "yang sangat cantik jelita"
Sungguhpun hatinya meneriakkan demikian.
Kemudian dia teringat Thian Sin dan menyambung kata-katanya.
"O ya, Bun-te dan Lian Hong-moi, perkenalkan dia ini adalah Ceng Thian Sin, adik angkatku, juga boleh dibilang suteku sendiri karena diapun menjadi anak angkat dan murid ayah. Sin-te, inilah adik Bun Hong dan Lian Hong yang sering kuceritakan kepadamu."
Akan tetapi sudah sejak tadi sepasang mata Thian Sin seperti melekat pada diri Lian Hong!
Semenjak dara itu muncul, dia sudah memandang wajah dan tubuh dara itu dan dia seperti melihat seorang bidadari dari kahyangan turun!
Kedua matanya hampir tidak dapat dikejapkan lagi, karena dia sudah terpesona.
Banyak sudah dia melihat wanita cantik, akan tetapi belum pernah rasanya dia bertemu dengan seorang dara seperti ini bahkan dalam mimpipun belum.
Begitu melihat, dia sudah jatuh cinta sepenuhnya.
Sesungguhnya, tidak tepatlah kalau dikatakan bahwa Lian Hong adalah seorang dara yang cantiknya melebihi wanita-wanita lain atau seorang yang tanpa cacad.
Akan tetapi, sungguh merupakan kenyataan bahwa bukan jarang seorang wanita berubah menjadi bidadari tanpa cacad di dalam pandang mata pria, kalau pria itu telah jatuh cinta atau sudah tergila-gila.
Setiap gerakan, setiap bagian tubuh, bahkan apapun juga yang menempel pada wanita yang menjatuhkan hati seorang pria, akan nampak cantik dan indah tanpa cacad!
Rambut kusut melingkar-lingkar yang bagi umum akan nampak kacau, bagi orang yang jatuh hati akan nampak sebagai penambah manis yang menggairahkan!
Dan demikian selanjutnya dan hal itu bukanlah semata-mata terjadi pada diri seorang wanita yang telah menjatuhkan hati seorang pria.
Segala keindahan itu bukanlah melekat kepada sesuatu yang berada di luar, melainkan diciptakan oleh rasa peka akan keindahan, yaitu yang bersumber di dalam batin kita sendiri.
Keindahan bukan melekat pada sang bunga, melainkan orang yang memiliki rasa keindahan sajalah yang dapat melihat betapa indahnya bunga itu.
"Sin-te...!"
Dengan suara halus Han Tiong menegur.
Thian Sin terkejut dan cepat dia menjura dengan sikap hormat sambil menundukkan mukanya yang berubah merah.
Akan tetapi dia memang seorang pemuda yang pandai membawa diri, maka dengan riang dia berkata.
"Maaf, maafkan, karena sesungguhnya saya terkejut sekali. Tiong-ko pernah menceritakan tentang adik berdua masih kecil-kecil, dan kiranya adalah seorang pemuda dan seorang dara yang sudah dewasa. Maafkan..."
Mereka semua tertawa dan dengan ramah Khai Sun lalu mempersilakan mereka duduk.
Seorang pelayan datang membawa minuman dan Han Tiong yang menjadi pusat perhatian dan pertanyaan, harus menjawab hujan pertanyaan yang diajukan oleh keluarga itu.
Dengan sikap hormat Han Tiong lalu menyerahkan surat dari ayahnya yang ditujukan kepada Ciu Khai Sun dan dua orang isterinya itu.
Setelah membaca surat itu, wajah pendekar ini berseri-seri dan sambil tersenyum dia menyerahkan surat itu kepada dua orang isterinya yang membacanya secara bergilir kemudian menyimpan surat itu.
Isi surat dari Pendekar Lembah Naga itu adalah di samping mengabarkan keselamatan, dan memperkenalkan dua orang muda itu, juga mengajukan usul kepada keluarga Ciu untuk menjodohkan puteri keluarga Ciu dengan seorang di antara mereka.
Pertemuan itu sungguh mendatangkan kegembiraan besar di dalam hati semua anggauta keluarga di Lok-yang itu.
Di dalam kegembiraan Ciu Khai Sun dan dua orang isterinya terdapat kebingungan dan keraguan pula karena sungguh tidaklah mudah bagi mereka untuk memilih di antara Han Tiong dan Thian Sin!
Kalau melihat keadaan lahiriah, jelas bahwa Thian Sin jauh lebih tampan dibandingkan dengan Han Tiong.
Dan tentang sikap, biarpun Thian Sin tidak sependiam seperti Han Tiong, namun dia tergolong pemuda yang sikapnya sopan dan pandai membawa diri, bahkan ramah sekali dibandingkan dengan Han Tiong yang hanya bicara kalau perlu saja.
Akan tetapi kalau mengingat ayah mereka, tentu saja hati keluarga ini condong memilih Han Tiong.
Han Tiong adalah putera dari Pendekar Lembah Naga, sehingga tidak diragukan lagi.
Akan tetapi, Thian Sin adalah putera Pangeran Ceng Han Houw yang demikian jahatnya!
"Kita tidak boleh menilai seseorang dari keadaan ayahnya atau ibunya!"
Kata Kui Lin dan ucapan ini tentu saja didukung seratus persen oleh Kui Lan.
Bukankah mereka berduapun anak kandung dari seorang ayah yang tak dapat dibilang mempunyai watak yang baik?
Ciu Khai Sun adalah orang yang bijaksana, maka diapun mengerti isi hati kedua orang isterinya itu.
Dia mengangguk-angguk menyatakan setuju.
"Dan sepatutnyalah kalau membiarkan Lian Hong menentukan pilihannya sendiri,"
Kata Kui Lan. Ciu Khai Sun kembali mengangguk.
"Apa yang kalian katakan adalah benar dan tepat. Betapapun juga, kita sebagai orang tua tentu saja tidak boleh menutup mata kalau melihat puteri kita melakukan pilihan yang keliru. Sudah sepatutnya kalau kita membantunya dan memperingatkan dia kalau dia salah pilih agar kelak dia tidak menyesal. Memang amat sukar memilih di antara dua orang pemuda itu. Keduanya gagah perkasa dan telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat lihai dari Pendekar Lembah Naga. Kitalah yang untung besar kalau dapat mempunyai mantu seorang di antara mereka. Betapapun juga, kita harus hati-hati dan membuka mata lebar-lebar untuk melihat, siapa di antara mereka itu yang lebih cocok untuk menjadi suami anak kita."
Selama beberapa hari semenjak dua orang pemuda Lembah Naga itu tiba di rumah keluarga Ciu, hubungan antara mereka dengan Bun Hong dan Lian Hong menjadi amat akrabnya.
Kedua orang saudara she Ciu itu minta petunjuk dalam hal ilmu silat kepada mereka, dan dua orang pendekar muda Lembah Naga itupun dengan senang hati memberi petunjuk.
Terutama sekali Thian Sin yang dengan pandai berusaha menarik hati Lian Hong atau memperlihatkan sikap yang amat mesra dan baik terhadap diri gadis itu.
Melihat sikap Thian Sin itu, Han Tiong seperti biasa menahan dirinya dan Han Tiong lebih banyak mendekati Bun Hong untuk memberi petunjuk dalam hal ilmu silat, Dan membiarkan Thian Sin lebih mendekati Lian Hong.
Hal itu adalah karena memang Thian Sin jauh lebih pandai bergaul dibandingkan dengan Han Tiong, apalagi bergaul dengan wanita.
Thian Sin memiliki bakat untuk itu, dan dia tidak malu-malu untuk bersikap manis terhadap wanita, tidak seperti Han Tiong yang merasa malu-malu.
terutama sekali malu diketahui orang lain bahwa dia hendak bermanis-manis terhadap wanita.
Apalagi, pemuda ini memiliki perasan yang amat peka, dan melihat betapa Thian Sin tidak menyembunyikan perasaan suka terhadap Lian Hong yang mudah dilihat dari sikapnya, maka diapun mundur teratur, sungguhpun harus diakuinya di dalam hatinya sendiri bahwa dia telah jatuh hati kepada dara itu!
Kurang lebih dua minggu kemudian, pada suatu senja ketika keluarga itu bersama dua orang tamunya berkumpul, makan malam sambil bercakap-cakap, datanglah seorang tamu dari Su-couw yang membawa kabar yang amat mengejutkan.
Tamu itu adalah seorang pegawai Pouw-an-piauwkiok di Su-couw, yaitu perusahaan pengawal atau ekspedisi yang dipimpin oleh Kui Beng Sin.
Piauwsu (pengawal) dari Su-couw itu menceritakan bahwa Kui Beng Sin yang mengawal sendiri sebuah kereta yang penuh terisi barang-barang berharga milik seorang pembesar di Su-couw yang dikirim ke selatan, yaitu ke Sin-yang, telah diganggu gerombolan perampok yang mengakibatkan kereta itu dilarikan perampok.
Kui Beng Sin terluka cukup parah dan sebagian besar anak buah piauwkiok itu telah tewas.
Mendengar laporan itu, Ciu Khai Sun mengerutkan alisnya.
"Di mana terjadinya perampokan itu dan apakah sudah diketahui siapa perampoknya?"
"Perampokan itu terjadi dekat kota Sin-yang di sebelah utara kota itu, di hutan yang berada di lembah Sungal Luai. Kui-piauwsu mengawalnya sendiri mengingat bahwa barang-barang itu amat berharga, akan tetapi tetap saja dia dan semua pembantunya tidak kuat menghadapi gerombolan yang amat kuat itu."
"Hemm... di lembah Sungai Luai? Setahuku di sana biasanya aman, tidak terdapat perampok, dan andaikata ada juga, tentu para perampok itu telah mengenal bendera Pouw-an-piauwkiok,"
Ciu Khai Sun berkata sambil mengelus jenggotnya.
Sebagai seorang piauwsu tentu saja dia mengetahui daerah itu, yang masih termasuk daerah Propinsi Ho-nan dan tidak jarang anak buahnya mengawal barang melalui daerah selatan itu.
"Itulah yang mengejutkan, Ciu-piauwsu,"
Kata orang itu.
"Gerombolan perampok itu agaknya merupakan gerombolan baru di daerah itu yang datang dari lain tempat. Menurut para anggauta Pouw-an-piauwkiok yang berhasil menyelamatkan diri, gerombolan itu dipimpin oleh dua orang laki-laki setengah tua yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dan anak buah merekapun tidak lebih hanya sepuluh orang saja yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh."
"Engkau harus tolong Beng Sin-twako,"
Kata Kui Lan juga Kui Lin mendesak suaminya untuk menolong.
Kui Beng Sin adalah kakak tiri dua orang wanita kembar ini, satu ayah berlainan ibu, oleh karena itu, mendengar akan malapetaka yang menimpa diri kakak tiri mereka itu, tentu saja mereka membujuk suami mereka untuk menolongnya.
"Barang-barang milik pembesar itu berharga sekali, dan inilah yang menyusahkan Kui-piauwsu. Pembesar itu menuntut penggantian, dan agaknya, biar seluruh harta milik Pouw-an-piauwkiok dijual sekalipun, belum tentu akan dapat mengganti harga barang-barang itu yang jumlahnya ribuan tail emas. Dalam keadaan terluka parah, Kui-piauwsu menghadapi semua ini dan dia benar-benar merasa tak berdaya. Kami mengingat akan hubungan keluarga dengan Ciu-piauwsu, maka kami memberanikan diri untuk menyampaikan berita ini."
Cim Khai Sun mengangguk-angguk.
"Pulanglah, dan kami akan mempertimbangkan apa yang kiranya akan dapat kami lakukan."
Setelah orang itu pergi, Kui Lan dan Kui Lin menangis.
Mereka merasa kasihan dan juga khawatir sekali mendengar akan kemalangan yang menimpa kakak tiri mereka itu.
Pada saat itu, Thian Sin berkata.
"Harap paman dan bibi suka menenangkan hati. Biarlah saya yang akan berangkat mengejar perampok-perampok laknat itu, membasmi mereka dan merampas kembali barang-barang yang mereka rampok untuk menolong Pouw-an-piauwkiok."
"Benar apa yang dikatakan oleh Sin-te, paman,"
Kata Han Tiong.
"Biarlah kami berdua pergi mengejar perampok-perampok itu."
"Aku ikut!"
Kata Lian Hong.
"Akupun ikut!"
Kata Bun Hong.
Ciu Khai Sun tersenyum dan dua orang isterinya memandang kepada dua orang pemuda Lembah Naga itu dengan kagum.
"Ah, kalian anak-anak baik. Bagaimana mungkin aku dapat membiarkan kalian pergi menghadapi perampok-perampok lihai itu? Ayah kalian tentu akan marah kalau sampai terjadi sesuatu dengan kalian dan bagaimana tanggung-jawabku?"
"Tidak, paman,"
Kata Han Tiong, suaranya tegas.
"Bahkan sebaliknya, kalau ayah mendengar bahwa kami diam saja melihat malapetaka yang menimpa diri Paman Kui Beng Sin yang sudah saya kenal itu, tentu ayah akan sangat marah kepada kami. Biarkan kami pergi, paman."
"Aku tanggung bahwa kami akan dapat merampas kembali barang-barang yang mereka rampok itu, paman!"
Kata Thian Sin tegas.
Ciu Khai Sun menarik napas panjang, hatinya lega.
Tentu saja dia percaya sepenuhnya kepada mereka berdua, karena dia yakin bahwa kepandaian mereka, melihat cara mereka memberi petunjuk kepada Lian Hong dan Bun Hong, tentu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu, biar kupersiapkan pasukan piauwsu untuk membantu kalian."
"Tidak perlu, paman. Biar kami berdua pergi sendiri saja,"
Jawab Han Tiong.
"Ayah, aku ikut!"
Kata pula Lian Hong.
"Aku juga, biarkan kami ikut bersama Sin-ko dan Tiong-ko!"
Sambung Bun Hong.
"Aihh, anak-anak, apa kalian kira dua orang kakakmu itu hendak pergi pelesir?"
Kui Lan mencela.
"Kalian ini seperti anak kecil saja. Kedua orang kakakmu hendak menempuh bahaya, masa kalian hendak ikut?"
Kui Lin juga mengomel.
"Ayah selama ini mengajarkan ilmu silat, dan sekarang terbuka kesempatan bagi kami untuk menambah pengalaman, kenapa kami tidak boleh ikut?"
Lian Hong membantah.
"Benar, kita hanya boleh ikut dengan rombongan piauwsu saja, dan hanya diberi kesempatan berhadapan dengan segala pencopet, maling dan perampok kecil saja. Ayah, sekarang Sin-ko dan Tiong-ko hendak melakukan urusan besar, menghadapi perampok-perampok lihai, maka biarlah kami meluaskan pengalaman dan ikut dengan mereka,"
Kata Bun Hong.
"Setidaknya, kita tidak boleh enak-enak saja mambiarkan mereka pergi menghadapi bahaya sendiri!"
Lian Hong menambah pula. Ciu Khai Sun menarik napas panjang.
"Kalian ini sungguh seperti anak-anak kecil saja. Menurut pelaporan, perampok-perampok itu amat lihai sehingga para piauwsu Pouw-an-piauwkiok sampai banyak yang tewas, bahkan Saudara Kui Beng Sin sendiri sampai terluka parah. Jangan kalian main-main, ini bukan urusan kecil."
Melihat wajah Lian Hong cemberut dan mendekati tangis karena kecewa mendengar pencegahan ayahnya itu, Thian Sin segera berkata.
"Paman, sayalah yang akan melindungi adik Lian Hong dan menjamin keselamatannya dan bertanggung jawab kalau ada apa-apa menimpa dirinya!"
Ucapannya itu dilakukan dengan penuh kesungguhan hati sehingga suami dan dua orang isterinya itu diam-diam saling lirik.
Juga Han Tiong terkejut mendengar pernyataan yang membayangkan keadaan hati adiknya itu, dan merasa tidak enak mendengar betapa adiknya itu hanya berjanji melindungi Lian Hong saja.
Maka diapun cepat berkata dengan suara tenang.
"Benar, paman. Dan saya akan melindungi adik Bun Hong. Kami berdua yang menjamin keselamatan mereka."
Mendengar ucapan dua orang pemuda Lembah Naga itu, Bun Hong dan Lian Hong menjadi girang sekali.
"Kami akan berhati-hati, ayah!"
Kata Lian Hong.
"Kami hanya akan menonton Sin-ko dan Tiong-ko menundukkan penjahat, dan kalau perlu membantu,"
Sambung Bun Hong.
Akhirnya, keluarga itu merasa tidak enak kalau menolak terus.
Dua orang pemuda Lembah Naga itu siap untuk menghadapi penjahat, bahkan berjanji untuk melindungi dua orang anak mereka.
Kalau mereka berkeras tidak membolehkan, bukankah hal itu membayangkan bahwa mereka takut kalau-kalau terjadi sesuatu menimpa diri anak mereka?
Dan sikap seperti itu jelas tidak membayangkan kegagahan seorang pendekar!
"Baiklah, baiklah..."
Akhirnya Ciu Khai Sun berkata dan dua orang anaknya itu girang sakali.
Mereka lalu berkemas karena dua orang pemuda Lembah Naga itu akan berangkat besok pagi-pagi sekali.
Kebetulan sekali, Bun Hong pernah ikut rombongan piauwsu melakukan perjalanan ke selatan, maka dia tahu di mana adanya lembah Sungai Luai itu dan dapat bertindak sebagai penunjuk jalan.
Dua belas orang itu duduk melingkari api unggun yang besar.
Malam itu amat dingin mereka lebih suka duduk di luar mengelilingi api unggun besar daripada tidur di dalam pondok-pondok di mana mereka tidak dapat membuat api unggun besar.
Biarpun mereka itu tidak dapat tidur karena hawa dingin, namun mereka bergembira, minum-minum arak sampai sepuas mereka dan makan daging panggang dan roti yang halus.
"Ha-ha-ha, sungguh sayang, di malam sedingin ini kita terpaksa harus tinggal sendirian di tempat dingin ini."
"Alangkah senangnya kalau kita bisa berada di kota ditemani oleh wanita cantik!"
Macam-macam ucapan keluar dari mulut mereka, diseling suara ketawa ringan, akan tetapi juga ucapan mereka bernada kecewa karena mereka agaknya terpaksa bersembunyi di tempat sunyi dalam hutan di tepi sungai itu.
Dua orang yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, yang bersikep penuh wibawa dan jelas merupakan pimpinan mereka, sedang menggerogoti paha kijang yang mereka panggang tadi.
"Hemm, mengapa kalian ini cerewet seperti nenek-nenek bawel saja?"
Tegur seorang di antara dua orang pemimpin itu, yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dan mukanya hitam.
"Taijin (pembesar) hanya menyuruh kita bersembunyi selama tiga hari tiga malam, dan kalian masih terus mengomel. Tinggal semalam ini dan besok kita boleh pergi sesuka hati."
"Dengan hadiah uang yang memenuhi kantong, kalian akan dapat hidup seperti raja di kota, setiap malam ditemani wanita cantik dan membeli apa saja yang kalian inginkan. Untuk semua itu, kita hanya diharuskan menyembunyikan diri tiga hari, apa susahnya?"
Kata orang ke dua, yaitu pemimpin yang mukanya penuh brewok, akan tetapi tubuhnya kecil kurus, sungguh tidak sepadan dengan mukanya yang menyeramkan.
"Maaf, kami tidak mengomel, hanya kedinginan,"
Kata seorang anak buah.
"Ha-ha-ha, sungguh lucu kalau diingat tingkah piauwsu gendut itu. Kenapa twako (kakak tertua) tidak membunuhnya saja seperti para piauwsu lainnya?"
Si Tinggi Besar itu minum araknya, lalu mengusap bibir dengan lengan baju dan berkata.
"Enak saja kau bicara! Si Gendut itu memiliki ilmu golok Go-bi-pai yang lumayan dan kita dikeroyok jumlah yang lebih besar. Sudah untung kita berhasil melarikan kereta dan tidak seorangpun di antara kita yang terluka parah."
"Kalau tidak dikeroyok banyak, Si Gendut itu tentu telah mampus di tanganku!"
Kata pemimpin ke dua yang bertubuh kecil dan mukanya brewok.
"Akan tetapi mengapa taijin menyuruh kita bersembunyi? Takut apa sih?"
Seorang anak buah bertanya.
"Orang bodoh macam engkau ini tahu apa? Barang-barang itu harus diselamatkan dulu sampai ke Sin-yang tanpa ada yang tahu. Kalau sudah selamat, barulah keadaan benar-benar beres dan berhasil, dan kita boleh pergi meninggalkan tempat persembunyian ini. Sebelum lewat tengah malam ini, kita masih bertugas sebagai perampok-perampok lembah Sungai Luai, ha-ha-ha!"
Si Muka Hitam tinggi besar yang merupakan pimpinan pertama itu tertawa dengan gembira sekali.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan penuh kegembiraan dua belas orang itu meninggalkan hutan.
Akan tetapi ketika tiba di tepi hutan, tiba-tiba mereka berhenti karena mereka melihat empat orang muda, yaitu tiga orang pemuda dan seorang dara, berjalan memasuki hutan itu.
"Ah, dara itu cantik sekali, seperti bidadari!"
Kata Si Muka Hitam raksasa.
"Patut kalau malam nanti menemani aku, ha-ha-ha!"
"Twako, ingat, mulai hari ini kita sudah bukan perampok-perampok lagi!"
Kata pemimpin ke dua memperingatkan kawannya.
"Sute, kau bodoh! Justeru sebelum kita meninggalkan hutan, berarti kita masih perampok dan munculnya mereka itu sungguh kebetulan sekali. Kita serang dan lukai mereka, rampok pakaian dan bekal mereka, dan tentang gadis itu... ha-ha, jangan khawatir, aku yang akan membawanya. Dengan demikian, tiga orang muda itu akan mengabarkan bahwa kita memanglah perampok-perampok lembah Sungai Luai. Ha-ha, dan mereka boleh mencari-cari sampai mati perampok-perampok itu yang tentu saja akan lenyap."
Semua orang setuju dan tertawa-tawa, dan mengikuti Si Tinggi Besar itu keluar dari hutan, dengan langkah lebar menyambut empat orang muda yang datang dari luar hutan itu.
Empat orang muda ini bukan lain adalah Han Tiong, Thian Sin, Bun Hong dan Lian Hong!
Melihat belasan orang yang menyeringai dan bersikap kasar itu keluar dari dalam hutan, Han Tiong memberi isyarat kepada saudara-saudaranya dan mereka berhenti dan menanti dengan sikap tenang.
Matahari pagi telah menerobos masuk melalui celah-celah daun pohon dan biarpun cuaca belum terlalu terang, akan tetapi mereka sudah dapat melihat dengan jelas dua belas orang pria yang keluar dari dalam hutan itu.
Yang berjalan di depan sendiri adalah seorang pria tinggi besar seperti raksasa yang bermuka hitam bersama seorang laki-laki kecil kurus yang tingginya sampai di pundak orang pertama, akan tetapi muka pria ke dua ini penuh brewok dan kelihatan menyeramkan sekali.
Akan tetapi yang mengherankan hati Han Tiong dan Thian Sin adalah kenyataan yang nampak oleh pandang mata mereka yang tajam bahwa mereka itu bersikap kasar yang dibuat-buat agar mendatangkan kesan bahwa mereka itu orang-orang kasar!
"Agaknya merekalah orang-orangnya,"
Kata Thian Sin lirih.
"Mungkin, akan tetapi kita harus hati-hati dan jangan salah turun tangan terhadap orang lain,"
Kata Han Tiong.
Kini dua belas orang itu telah tiba di depan mereka dan Si Tinggi Besar yang sejak tadi menatap dengan pandang mata penuh kekurangajaran kepada Lian Hong, kini berdiri sambil bertolak pinggang, memandang mereka berempat itu dan kembali pandang matanya berhenti pada wajah Lian Hong, kemudian tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, empat orang muda sungguh bernyali besar berani lewat di wilayah kekuasaan kami! Hayo cepat keluarkan pajak jalan kalau kalian ingin selamat!"
Si Tinggi Besar ini, walaupun lagaknya agak dibuat-buat, mencoba untuk menirukan lagak seorang kepala rampok tulen.
Akan tetapi Ciu Bun Hong, sebagai putera seorang kepala piauwsu yang sudah sering juga ikut mengawal barang-barang bersama para piauwsu dan sudah mengenal perampok-perampok dan lagak serta kebiasaan mereka, memandang agak ragu-ragu kepada belasan orang itu.
Sikap orang-orang ini bukan seperti sikap perampok-perampok yang berkeliaran di hutan-hutan dan biasa dengan kehidupan yang keras dan sukar.
Kulit mereka tidak kasar, rambut dan pakaian mereka terawat, hanya sikap mereka saja yang kasar dan seperti lagak para perampok, akan tetapi sikap ini dapat ditiru atau dibuat-buat.
"Mereka bukan perampok,"
Bisiknya kepada Thian Sin yang berdiri di dekatnya.
Sementara itu, Han Tiong yang mewakili rombongannya, sudah menghadapi Si Tinggi Besar itu, sikapnya tenang dan dia memandang penuh selidik, meragu apakah gerombolan di depannya ini yang telah merampok barang-barang kawalan Kui Beng Sin.
"Saudara-saudara yang gagah, kami tidak tahu apa yang kalian maksudkan. Kami adalah empat orang muda yang sedang melancong, tidak mempunyai apa-apa yang berharga. Harap kalian suka (Lanjut ke
Jilid 17) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 membiarkan kami lewat."
Mendengar ucapan Han Tiong itu Si Tinggi Besar tertawa bergelak, diikuti oleh teman-temannya karena ucapan pemuda yang kelihatan lemah itu mereka anggap sebagai tanda ketakutan, sungguhpun pada sikap empat orang muda itu sama sekali tidak nampak tanda-tanda takut.
"Ha-ha-ha, kamipun tahu bahwa kalian hanyalah empat muda yang sederhana dan agaknya tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi kami melihat bahwa kalian membawa sesuatu yang amat berharga, yang tak dapat disamakan dengan barang berharga apapun dan tak dapat terbeli dengan uang. Nah, kami menginginkan kalian meninggalkannya kepada kami."
Han Tion mengerutkan alisnya.
"Benda berharga? Apa yang kalian maksudkan? Kami tidak membawa apapun kecuali sedikit uang untuk bekal membeli makan..."
Akan tetapi dua belas orang itu tertawa-tawa dan Si Tinggi Besar menudingkan telunjuknya ke arah Lian Hong sambil berkata.
"Apakah yang lebih berharga daripada nona manis ini? Kami tidak butuh uang, kami sendiri sudah mempunyai cukup banyak, akan tetapi nona manis ini amat menarik hatiku, kalian harus meninggalkannya untukku...!"
"Keparat bermulut busuk!"
Tiba-tiba Thian Sin sudah meloncat ke depan dan berdiri dekat sekali di depan Si Tinggi Besar itu, sepasang mata pemuda ini mengeluarkan sinar mencorong dan melibat ini, Si Tinggi Besar itu terkejut juga.
Akan tetapi karena dia memandang rendah kepada empat orang muda itu, maka diapun tidak menjadi gentar, sebaliknya mentertawakan sikap Thian Sin.
"Engkau ini bocah kemarin sore hendak berlagak? Pilih saja, kalian tiga pemuda ini dapat melanjutkan perjalanan dengan selamat akan tetapi meninggalkan gadis ini kepadaku, atau kami harus bunuh dulu kalian bertiga dan merampas gadis ini dengan paksa."
"Iblis yang layak mampus!"
Thian Sin sudah hendak menerjang dan menyerang dengan serangan maut, karena hatinya telah dibakar oleh kemarahan hebat mendengar betapa orang kasar itu menghina Lian Hong, akan tetapi lengan kirinya sudah dipegang dengan halus oleh Han Tiong.
Thian Sin menoleh dan melihat sinar mata kakaknya, kemarahannyapun lenyap, dan dia menarik napas panjang lalu melangkah mundur.
"Sobat,"
Kata Han Tiong dengan tenang.
"terus terang saja, kami berempat ini melancong sambil ingin mencari gerombolan yang beberapa hari yang lalu telah merampas barang-barang yang dikawal oleh Pouw-an-piauwkiok di Su-couw. Melihat tempat perampokan yang terjadi di hutan ini, apakah sobat sekalian yang telah melakukan perampokan itu?"
Si Tinggi Besar mengangkat alisnya, memandang dengan mata terbelalak lalu bertukar pandang dengan para anak buahnya.
Akan tetapi, karena dia memang memandang rendah kepada empat orang itu, dia malah memberi isyarat dengan tangannya dan belasan orang itu lalu mengepung empat orang muda ini dari berbagai penjuru karena pertanyaan Han Tiong tadi membuktikan bahwa empat orang muda itu adalah musuh-musuh yang datang berhubungan dengan perampokan itu.
"Ha-ha-ha, kiranya kalian datang untuk barang-barang itu? Wah, kalau begitu kalian tak boleh pergi lagi dari sini dan menjadi tawanan kami!"
Kata Si Tinggi Besar.
"Sobat, kalian telah melakukan sesuatu yang keliru besar. Bukankah Kui-piauwsu yang memimpin Pouw-an-piauwkiok selalu bersikap baik terhadap orang-orang kang-ouw? Kenapa kalian telah mengganggunya dan dengan demikian merusak perhubungan baik antara para piauwsu dan orang-orang di kalangan liok-lim? Harap kalian suka menyerahkan kembali barang-barang itu kepada kami dan tentu kami akan membalas budi itu dan Pouw-an-piauwkiok akan kami anjurkan untuk mengirim sumbangan kepada kalian."
Han Tiong bersikap tenang dan sabar.
Hal ini amat menjengkelkan hati Thian Sin yang menganggap tidak semestinya kakaknya bersikap demikian mengalah dan lunaknya terhadap orang-orang jahat seperti perampok-perampok ini yang bukan hanya telah merampas barang-barang kawalan Pouw-an-piauwkiok, akan tetapi bahkan telah menghina Lian Hong.
Akan tetapi diam-diam Bun Hong dan Lian Hong merasa kagum akan sikap Han Tiong itu.
Sebagai putera puteri ketua piauw-kiok, tentu saja mereka tahu betapa pentingnya sikap Han Tiong itu.
Betapapun juga, akan jauh lebih baik bagi para piauwsu untuk mengikat semacam hubungan yang baik dengan orang-orang di kalangan liok-lim (perampok dan bajak) dan kang-ouw, karena kalau sampai terjadi ikatan permusuhan, tentu pekerjaan mereka tidak akan pernah aman lagi.
Tentu saja kalau sudah tidak dapat ditempuh jalan damai, barulah mengandalkan kepandaian untuk menundukkan para penjahat itu.
"Ha-ha-ha, kami telah mengambil barang-barang itu dengan tenaga dan kepandaian. Apakah kalian empat orang muda ini datang hendak mengambilnya begitu mudah, dengan kata-kata manis belaka? Kami telah mengambil dengan kepandaian, dan siapapun jangan harap dapat mengambil dari kami tanpa lebih dulu mengalahkan kami!"
Kata Si Tinggi Besar dengan sikap congkak.
"Aku akan merampasnya dengan kepandaianku!"
Tiba-tiba Thian Sin berseru lagi dengan suara penuh tantangan.
"Tentu saja kalau kau berani melawanku, manusia busuk!"
Mendengar tantangan ini, tentu saja kepala perampok itu menjadi marah sekali.
Dia menganggap Thian Sin amat lancang, tidak seperti pemuda pertama yang bersikap halus dan sopan kepadanya.
"Keparat, engkau bocah kemarin sore sungguh bermulut besar. Tentu saja aku berani melawanmu, dan bagaimana kalau dalam beberapa jurus engkau kalah?"
Tanyanya dengan nada mengejek.
Thian Sin tersenyum untuk menekan kemarahannya.
Dia sudah tenang lagi sekarang, dan dia merasa betapa bodohnya dapat dipancing kemarahannya tadi.
Akan tetapi diapun maklum bahwa kemarahannya itu terutama sekali adalah karena mendengar betapa Lian Hong dihina oleh orang itu.
"Kalau aku kalah, aku menyerahkan nyawaku kepadamu."
"Ha-ha, tidak begitu mudah. Aku bukannya orang yang suka membunuh orang muda. Kalau kau kalah, engkau akan menjadi tawananku, juga dua orang muda lainnya itu, sedangkan gadis ini... hemm, biarlah dia menjadi tamuku yang baik, ha-ha-ha!"
"Majulah dan jangan banyak bicara!"
Thian Sin membentak karena dia sudah marah lagi mendengar betapa kepala rampok itu kembali telah menghina Lian Hong.
Sambil ketawa kepala perampok itu sudah menggulung lengan bajunya, memperlihatkan dua buah lengan yang besar dan berotot tanda bahwa dua batang lengan itu kuat sekali.
Akan tetapi sebelum mereka bergerak, Lian Hong sudah berkata dengan suara nyaring.
"Sin-ko, karena dia telah menghinaku, biarkan aku menghadapinya!"
Thian Sin juga maklum bahwa gadis itu telah memiliki kepandaian yang lumayan karena ayahnya yang melatihnya sendiri adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lihai.
Pula, dia tidak ingin mengecewakan hati Lian Hong, maka diapun melangkah mundur dan membiarkan gadis itu maju untuk menghadapi kepala perampok itu.
Han Tiong mengerutkan alisnya, merasa khawatir, akan tetapi diapun merasa tidak enak kalau melarang, karena melarang akan bisa menimbulkan salah faham dan bisa disangka memandang rendah dan tidak percaya kepada gadis itu.
Maka diapun hanya berkata.
"Hati-hatilah Hong-moi."
Sementara itu, kepala perampok tinggi besar itu girang bukan main melihat majunya gadis yang sejak tadi telah membuat dia tergila-gila itu.
"Bagus, engkau hendak menyerahkan diri ke dalam pelukanku sekarang juga? Mari, mari... nona manis, ha-ha-ha!"
Dengan marah Lian Hong sudah menerjang maju dan mengirim pukulan ke arah leher orang tinggi besar itu.
Pukulan dara ini cukup mantap dan keras sehingga Si Tinggi Besar yang memiliki kepandaian tinggi itu maklum akan bahayanya pukulan lawan dan biarpun sikapnya memandang ringan, akan tetapi ternyata gerakannya cepat sekali, dan sambil mengelak, kakinya telah menyambar dan menendang ke arah lutut Lian Hong.
Sungguh gerakan yang cukup bagus, cepat dan berbahaya sehingga mengejutkan hati Bun Hong yang mengkhawatirkan keselamatan adiknya.
Akan tetapi, dengan cekatan Lian Hong dapat meloncat dan menyelamatkan lututnya, dan membalas dengan pukulan berbahaya ke arah lambung dari samping.
Akan tetapi dengan mudahnya kepala rampok itu menangkis dan menggerakkan tangan untuk mengubah tangkisan menjadi cengkeraman untuk menangkap lengan gadis itu.
Akan tetapi, dengan memutar pergelangan tangannya, gadis itu mampu menghindarkan lengannya untuk ditangkap.
Perkelahian itu terjadi semakin seru dan Liang Hong yang maklum akan kepandaian kepala perampok yang telah mengalahkan dan melukai Kui Beng Sin dan anak buahnya ini, mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan seluruh kepandaian silat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya.
Akan tetapi, tiga puluh jurus kemudian, nampaklah bahwa Lian Hong bukan lawan kepala perampok itu.
Jelas bahwa dia kalah tenaga dan biarpun dalam hal kecepatan dara ini tidak kalah, namun kekalahan tenaga itu membuat ia repot sekali.
Setiap kali lengan mereka beradu, tubuh dara itu terhuyung dan kedua lengannya terasa nyeri dan di balik bajunya, kulit lengannya telah menjadi matang biru semua!
Melihat adiknya terdesak hebat seperti itu, Bun Hong tak dapat tinggal diam lagi dan diapun meloncat dan menyerang kepala rampok itu.
Melihat ini, si kepala rampok tertawa dan berseru kepada kawan-kawannya.
"Hayo tangkap mereka semua, ha-ha-ha!"
Akan tetapi, sungguh ia terkejut bukan main ketika melihat betapa empat orang teman-temannya yang maju hendak menerjang Thian Sin dan Han Tiong, tiba-tiba saja terjengkang ke belakang begitu dua orang muda itu menggerakkan tubuh mereka!
"Hong-moi, tinggalkan babi hutan ini, biar aku yang menghajarnya."
Kata Thian Sin yang sudah meloncat ke depan dan menghadapi Si kepala perampok.
"Bun Hong-te, hadapi saja anak buahnya, babi ini bagianku!"
Katanya pula kepada Bun Hong.
Karena melihat betapa kepala perampok itu memang lihai sekali, Bun Hong dan Lian Hong lalu meloncat mundur dan mereka siap untuk menghadapi para anak buah perampok yang sudah mengepung mereka.
Kepala perampok itu kini maklum bahwa empat orang muda yang datang ini adalah orang-orang muda yang lihai dan agaknya memang mereka berempat itu merupakan jagoan-jagoan yang didatangkan oleh pihak Pouw-an-piauwkiok untuk merampas kembali barang-barang kawalan itu.
Maka diapun lalu mencabut sebatang golok besar dari punggungnya dan perbuatannya ini ditiru oleh semua anak buahnya yang masing-masing kini telah memegang sebatang golok yang tajam.
Kepala perampok itu tidak mau main-main lagi sekarang, maklum akan keadaan lawan yang tangguh, maka diapun berteriak.
"Bunuh tikus-tikus muda ini, tapi sedapat mungkin tangkap yang wanita!"
Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Thian Sin yang sudah marah itu kini telah menerjangnya dengan dahsyat sekali.
Si Tinggi Besar itu cepat menyambut serangan lawan yang bertangan kosong dengan goloknya, menyambut dengan bacokan golok ke arah kepala Thian Sin sambil berteriak menyeramkan.
"Plakkkkk! Dess...!"
Si Tinggi Besar berseru kaget karena tangkisan Thian Sin yang disertai tamparan itu telah membuat dia terhuyung dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangannya.
Hampir dia tidak dapat percaya akan hal ini!
Mana mungkin pemuda itu menangkis golok besarnya dengan tangan kosong saja malah berbalik menamparnya dengan sedemikian dahsyatnya sehingga sekali gebrakan saja hampir membuatnya roboh?
Sementara itu, belasan orang itu telah mengepung dan menyerang, akan tetapi mereka berhadapan dengan Han Tiong yang begitu menggerakkan kaki tangannya telah menahan mereka, merobohkan mereka dan golok-golok mereka terpelanting ke sana-sini.
Rata-rata belasan orang itu memiliki kepandaian yang cukup tangguh, akan tetapi, menghadapi Han Tiong tentu saja mereka ini merupakan lawan yang terlalu lunak.
Hanya dua orang kakak beradik Ciu itu yang merupakan lawan seimbang dan mereka sudah melawan dua orang perampok yang berusaha untuk merobohkan mereka, Namun dua orang muda ini telah mengeluarkan sebatang pedang dan melawan dengan pedang mereka dengan gigih.
Perkelahian antara kepala perampok dan Thian Sin tidak berlangsung terlalu lama.
Kalau saja dia tidak sungkan kepada kakaknya yang telah meneriakinya agar dia jangan membunuh orang, tentu dalam satu gebrakan saja Thian Sin akan mampu merobohkan lawan dan menewaskannya.
Dia membiarkan kepala perampok itu menghujaninya dengan serangan golok bertubi-tubi, Setelah lewat beberapa jurus, barulah dia membiarkan golok itu lewat dekat kepalanya dan dia hanya sedikit miringkan tubuhnya kemudian sekali tangan kirinya menyambar, dia sudah berhasil menangkap siku tangan kanan lawan yang memegang golok.
Tangkapannya itu seperti sepasang jepitan baja yang amat kuat sehingga si kepala perampok berteriak kesakitan karena tiba-tiba saja lengannya terasa lemas dan lumpuh dan sambungan tulang sikunya seperti remuk.
Namun dia masih menggerakkan tangan kiri untuk mencengkeram ke arah kepala Thian Sin.
Pemuda ini membiarkan tangan lawan sampai dekat, kemudian tangan kanannya menyambut dan dua tangan itu saling cengkeram.
Terdengar suara berkerotoka, dan akibatnya, tulang-tulang jari tangan kiri kepala perampok itu ketika dicengkeram jari-jari tangan kanan Thian Sin, menjadi patah-patah.
Rasa nyeri seperti ujung pedang karatan menusuk jantung, membuat kepala perampok itu menjerit-jerit seperti babi disembelih!
Terdengar bunyi "krek-krekk!"
Dan ketika Thian Sin mendorong tubuh kepala perampok itu terguling dan dia bergulingan dan berkelojotan karena rasa nyeri yang amat sangat terasa oleh kedua tangannya.
Jari-jari tangan kirinya remuk-remuk dan sambungan tulang siku kanannya terlepas!
Goloknya terlempar entah ke mana.
Sementara itu, biarpun dengan lebih lunak, Han Tiong juga sudah merobohkan enam orang perampok yang tidak mungkin dapat melawan lagi karena mereka itu roboh dengan kaki atau tangan yang patah tulangnya.
Empat orang masih mengeroyoknya dan dua orang lagi masih bertanding melawan Bun Hong dan Lian Hong, akan tetapi keadaan dua orang inipun sudah terdesak hebat.
Thian Sin yang baru saja merobohkan si kepala rampok, kini cepat bergerak membantu dan dengan dua kali tendangan saja dia sudah merobohkan dua orang lawan Bun Hong dan Lian Hong, sedangkan bersama Han Tiong dia merobohkan empat orang sisa perampok.
Kini, dua belas orang perampok itu sudah rebah semua tak dapat bangkit kembali.
Peristiwa ini terlalu cepat dan mengejutkan sehingga di samping rasa nyeri yang mereka derita, juga mereka itu masih belum pulih dari rasa kaget dan heran sehingga mereka memandang kepada empat orang muda itu dengan mata terbelalak, juga dengan sikap takut-takut!
Tahulah mereka bahwa mereka berhadapan dengan empat orang pendekar muda, dan terutama dua orang pendekar yang sakti!
"Hemm, sudah kami katakan bahwa perbuatan kalian merampok barang kawalan Pouw-an-piauwkiok adalah perbuatan bodoh.
Nah, sekarang di mana adanya barang-barang itu?"
Han Tiong berkata kepada kepala perampok yang masih merintih-rintih kesakitan itu.
Akan tetapi kepala perampok itu hanya mendelik saja dan tidak menjawab.
Agaknya dia sudah nekad dan hendak menebus kekalahan itu dengan tutup mulut dan tidak mau menyerahkan kembali barang-barang rampasan itu!
"Biar kupaksa dia, Tiong-ko!"
Thian Sin melangkah maju menghampiri kepala perampok itu, akan tetapi kembali Han Tiong mencegahnya.
"Sin-te, orang nekad seperti dia percuma juga dipaksa bicara. Bukankan dia sudah cukup tersiksa dan tetap saja dia tidak mau bicara?"
Thian Sin maklum juga akan hal ini.
Kalau tadi dia memilih si kepala rampok untuk disiksanya adalah karena hatinya masih panas mengingat betapa kepala rampok itu tadi menghina Lian Hong dengan kata-kata kotor.
Maka diapun lalu menghampiri para anak buah perampok dan memilih di antara mereka seorang perampok yang mukanya pucat ketakutan, tubuhnya sudah menggigil ketika Thian Sin menghampirinya.
Perampok ini tadi roboh oleh tendangan kaki Thian Sin yang membuat tulang kering kakinya patah dan membuat dia tidak mampu bangkit berdiri lagi.
"Nah, katakan di mana barang-barang rampokan itu kalau kau tidak ingin kakimu yang sebelah lagi juga kupatahkan tulangnya!"
Kata Thian Sin dengan suara dingin dan sinar matanya mencorong menyeramkan.
"Tapi... tapi..."
Orang itu berkata denga ketakutan dan menoleh kepada kepala rampok yang mendelik kepadanya itu.
Tahulah Thian Sin bahwa anak buah perampok itu takut kepada kepalanya, maka diapun tersenyum mengejek dan berkata.
"Dengar baik-baik, perlu apa kau takuti dia yang sudah tak berdaya itu? Dia tidak dapat mengganggumu lagi, akan tetapi aku dapat! Dan ingat apa yang akan kulakukan padamu. Tidak hanya mematahkan dua batang tulang kakimu, juga dua tulang lenganmu, kemudian kupatahkan kedua tulang pundakmu, kubuntungi dua telingamu dan hidungmu. Lihat, sesudah itu apakah engkau masih dapat disiksa yang lebih hebat lagi."
Dan Thian Sin meraba kaki kanan orang itu yang belum patah tulangnya, mengerahkan sin-kangnya sehingga tampak tangannya terasa dingin menembus celana kaki kanan itu.
Orang itu menarik kakinya seperti disengat binatang berbisa dan mukanya menjadi lebih pucat lagi.
"Tidak... jangan..."
"Katakan di mana barang-barang itu! Jangan kira kalau tidak diberi tahu kami tak dapat mencari dan menemukannya!"
"Di dalam... gua... di dalam hutan ini..."
"Di mana letaknya itu?"
Bentak Thian Sin.
"Sin-ko, aku tahu di mana letak gua dalam hutan ini. Mari!"
Kata Bun Hong. Thian Sin mengangguk dan memandang kepada Han Tiong.
"Pergilah, Sin-te. kau dan Bun Hong pergi mencari barang-barang itu dan aku akan menjaga dan mengurus mereka ini."
"Aku akan membantumu, Tiong-ko."
Kata Lian Hong.
Thian Sin memandang kecewa karena dia ingin agar gadis itu tidak pernah berpisah lagi dari sampingnya.
Akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah dan diapun mengajak Bun Hong mencari gua itu.
Mereka memasuki hutan tak lama kemudian tibalah mereka di depan sebuah gua di mana terdapat dua orang penjaga.
Dua orang perampok yang melihat munculnya dua orang pemuda itu, menjadi terkejut dan segera mereka mencabut golok.
Akan tetapi, hanya dengan dua kali gerakan saja, Thian Sin telah membuat mereka roboh dan pingsan.
Melihat ini, Bun Hong kagum bukan main dan diam-diam dia merasa ngeri juga menyaksikan sepak terjang Thian Sin dan tahulah dia bahwa pemuda ini sungguh memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Akan tetapi diapun tahu bahwa pemuda ini juga seorang yang memiliki hati yang ganas terhadap penjahat, tanpa mengenal ampun, sungguh wataknya menjadi kebalikan dari watak Han Tiong yang selalu tenang, sabar dan penuh kebijaksanaan itu.
Setelah mereka memasuki gua, benar saja, di dalam gua yang besar itu terdapat dua gerobag barang-barang itu, dan mereka berdua bahkan berhasil menemukan beberapa ekor kuda tak jauh dari gua.
Thian Sin dan Bun Hong lalu bekerja cepat.
Mereka menangkap beberapa ekor kuda itu, lalu memasang mereka di depan kereta dan melemparkan tubuh dua orang perampok yang pingsan itu ke atas kereta, kemudian membawa dua buah kereta itu ke tempat di mana terjadi pertempuran tadi.
Ketika mereka tiba di situ, mereka melihat betapa Han Tiong dibantu oleh Lian Hong sibuk merawat para perampok itu!
Dengan ilmunya yang tinggi, Han Tiong telah mengobati mereka dengan totokan-totokan dan bahkan menyambung tulang-tulang yang patah, dan membalut kaki dan tangan yang patah tulangnya.
Melihat ini, Thian Sin meloncat turun dari kereta dan menghampiri kakaknya dengan alis berkerut.
"Tiong-ko, mengapa kau lakukan itu? Bahkan minta kepada Hong-moi untuk membantumu? Sungguh tidak pantas manusia-manusia binatang ini ditolong, apalagi oleh tangan Hong-moi, Sepatutnya mereka ini dibasmi dan dibunuh saja!"
Han Tiong tersenyum dan bangkit berdiri.
"Sin-te, jangan begitu. Bagaimanapun juga, mereka ini adalah manusia-manusia dan yang jahat hanyalah perbuatan mereka yang mereka lakukan karena kegelapan batin mereka. Merekapun dapat menderita seperti kita, mana mungkin aku dapat membiarkan saja mereka merintih dan mengeluh?"
Thian Sin makin tidak puas dengan jawaban itu.
"Habis, mereka ini mau diapakan? Kalau kita yang kalah tadi, kiranya mereka tidak akan mau peduli kepada kita, bahkan mungkin mereka akan membunuh kita, dan Hong-moi... ah, mereka akan melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi!"
Han Tiong menarik napas panjang.
"Mungkin saja mereka lakukan itu, akan tetapi kita bukan mereka dan kita tidak akan melakukan hal-hal yang seperti mereka. Inilah yang membedakan antara orang-orang sadar dan orang tidak sadar, Sin-te, antara orang yang dikuasai nafsu kejahatan dan orang yang tidak membiarkan diri diseret nafsu."
"Lalu mereka ini mau diapakan?"
Desak Thian Sin.
"Kita bawa ke kota, kita serahkan kepada yang berwajib. Bukankah demikian semestinya? Biarlah yang berwajib yang akan menghukum mereka, bukan kita yang akan menghukum mereka."
Perdebatan antara dua orang muda itu diperhatikan oleh semua perampok, dan terutama sekali amat diperhatian oleh Lian Hong.
Juga Bun Hong dapat melihat perbedaan besar antara dua orang muda yang memiliki kepandaian hebat itu.
Semua perampok digiring ke kota Su-couw.
Yang hanya luka dan patah tulang tangannya, diharuskan berjalan kaki, akan tetapi yang tidak dapat berjalan karena tulang kakinya patah, dinaikkan ke atas gerobag yang ditarik oleh kuda-kuda itu dan empat orang muda itu mengawalnya dari depan dan belakang.
Di sepanjang perjalanan, para penghuni dusun menyambut rombongan aneh ini dan sebentar saja tersiarlah berita bahwa empat orang muda itu telah menangkap segerombolan perampok dan merampas kembali barang-barang yang dirampok.
Di kota Su-couw, mereka menyerahkan para penjahat kepada pembesar setempat dan mereka disambut dengan penuh kehormatan dan kegembiraan oleh Kui Beng Sin yang mengerahkan semua anak buah Pouw-an-piauwkiok.
Empat orang muda itu, terutama Han Tiong dan Thian Sin, disambut dengan sorak-sorai, dengan puji-pujian dan Kui Beng Sin seperti melupakan luka-luka di tubuhnya saking gembiranya melihat barang kawalan itu dapat dirampas kembali.
Apalagi ketika dia melihat dan mendapat keterangan bahwa yang menolongnya adalah putera Cia Sin Liong dan Ceng Han Houw, kegembiraannya membuat dia menitikkan air matanya dan dia merangkul Han Tiong dengan girang sekali.
"Ah, kiranya putera Sin Liong jugalah yang menyelamatkan aku dan keluargaku!"
Katanya dengan bangga sekali.
Ciu Khai Sun yang mendengar akan hasil dua orang pemuda bersama dua orang putera-puterinya itu segera menyusul ke Su-couw bersama isteri-isterinya dan pertemuan di antara mereka di rumah Kui Beng Sin sungguh merupakan pertemuan yang amat menggembirakan.
Malam itu juga, Kui Beng Sin mengadakan pesta keluarga untuk menyambut usaha yang amat berhasil dari empat orang muda itu, dan dalam kesempatan ini, Kui Beng Sin juga mengundang Phoa-taikin, yaitu pembesar di Su-couw yang mempunyai barang-barang berharga yang telah dirampok dan berhasil dirampas kembali itu.
Undangan terhadap Phoa-taijin ini juga dimaksudkan untuk memberi selamat kepada pembesar itu yang memperoleh kembali barang-barangnya kembali, juga untuk menyerahkan kembali barang-barangnya karena belum sampai terkirim ke Sin-yang.
Ruangan lebar yang biasanya dipakai untuk tempat berlatih silat itu, di bagian belakang rumah Kui Beng Sing telah dihias dengan meriah dan tempat itu nampak bersih dan rapi.
Beberapa meja ditempatkan di ruangan itu, Mengelilingi sebuah meja besar yang merupakan meja pusat, di mana Kui Beng Sin akan menjamu tamu-tamunya yang terdiri dari keluarga Ciu dari Lok-yang, lalu dua orang pemuda pendekar yang telah berjasa itu, kemudian Phoa-taijin yang kedatangannya masih sedang ditunggu.
Para anak buah Pouw-an-piauwkiok juga ikut berpesta, dan mereka itu duduk melingkari meja-meja yang lain, dengan sikap gembira, akan tetapi juga hormat karena di tengah-tengah ruangan itu terdapat keluarga majikan atau ketua mereka sedang menjamu tamu-tamu agung itu.
Akhirnya, tamu yang ditunggu-tunggu, Phoa-taijin, datang juga, diiringkan oleh dua orang pengawalnya.
Phoa-taijin adalah seorang pembesar yang terkenal di kota Su-couw, sebagai seorang pembesar yang kaya raya dan juga terkenal suka memberi sumbangan kepada semua golongan.
Dia dikenal sebagai seorang pembesar kaya raya yang dermawan!
Orang tidak mau lagi peduli dari mana pembesar itu memperoleh kekayaannya yang besar.
Bagi orang-orang itu, apalagi yang menerima sumbangan langsung, tidak mau tahu lagi dari mana kekayaan si penyumbang didapatkan.
Dari manapun datangnya harta yang disumbangkan, seorang penyumbang akan dipuji-puji sebagai seorang dermawan yang baik hati!
Padahal, kalau orang mau menaruh perhatian dan menyelidiki, tentu dia akan merasa heran bukan main bagaimana seorang yang menjadi pembesar dapat mengumpulkan kekayaan yang demikian melimpah, padahal kalau melihat dari hasilnya sebagai pejabat, biar dia bekerja sampai seratus tahun sekalipun, hasil dari gajinya belum dapat menyamai jumlah seperseratus jumlah kekayaannya yang terkumpul bukan dari hasil kerjanya itu.
Memang Phoa-taijin seorang yang pandai sekali, bukan hanya pandai mengumpulkan kekayaan, akan tetapi juga pandai mengambil hati orang-orang sehingga dia memperoleh nama sebagai seorang pembesar yang baik dan berhati dermawan.
Dia muncul di ruangan itu dengan wajah cerah, mulutnya tersenyum lebar dan pandang matanya berseri-seri.
Dia disambut dengan sopan dan gembira oleh Kui Beng Sin dan isterinya.
Juga Ciu Khai Sun dan dua orang isterinya bangkit berdiri memberi hormat karena biarpun dia tinggal di Lok-yang, namun sebagai seorang ketua piauwkiok yang terkenal, tokoh Siauw-lim itu tentu saja mengenal pembesar yang cukup terkenal di daerah Propinsi Ho-nan ini.
Phoa-taijin membalas penghormatan mereka sambil tertawa gembira dan diapun memandang kepada Ciu Khai Sun, lalu berkata.
"Ah, Ciu-piauwsu juga telah hadir di sini! Kami mendengar bahwa barang-barang kami itu berhasil dirampas kembali berkat keluarga Ciu-piauwau di Lok-yang, benarkah itu?"
Dia melirik ke arah Thian Sin dan Han Tiong, lalu disambungnya.
"Kami mendengar dari Ji-ciangkun yang menerima dan menahan para perampok itu."
Yang disebut Ji-ciangkun adalah pembesar penjaga keamanan yang telah menerima penyerahan para perampok oleh empat orang muda itu.
"Ah, sesungguhnya saya tidak berjasa, dan kedua anak sayapun hanya ikut saja, taijin,"
Kata Ciu Khai Sun merendah. Kui Beng Sin tertawa.
"Taijin, yang berjasa adalah dua orang keponakan kami inilah!"
Dia menunjuk kepada Thian Sin dan Han Tiong yang tadi telah memberi hormat dan kini telah duduk kembali.
"Ketahuilah, taijin, mereka ini adalah keponakan-keponakan saya yang gagah perkasa. Ini adalah Cia Han Tiong, putera dari saudara tiri saya yaitu Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong! Dan seorang ini adalah muridnya, yaitu bernama Ceng Thian Sin. Taijin tentu tidak tahu siapa dia ini! Dia adalah putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan itu!"
Baik Ciu Khai Sun maupun Han Tiong telah memberi isyarat kepada Beng Sin agar tidak memberitahukan hal itu, namun agaknya piauwsu gendut itu tidak sadar akan hal ini.
Dia terlalu bersyukur, berterima kasih dan bergembira sehingga dia memperkenalkan dua orang muda yang dibanggakannya itu, lupa bahwa pembesar itu adalah "orang luar"
Dan bahwa nama Ceng Han Houw bukanlah sembarangan nama yang boleh diumumkan begitu saja, mengingat keadaannya ketika masih hidupnya.
Pangeran itu adalah seorang yang bukan hanya menggegerkan dunia kang-ouw, akan tetapi bahkan menggegerkan pemerintah dan kota raja, dan sebagai seorang pemberontak malah!
Maka, amat tidaklah enak untuk memperkenalkan putera pangeran itu!
Akan tetapi, Kui Beng Sin telah menceritakan hal itu, semua telah terjadi dan Thian Sin hanya duduk dengan tenang.
Juga pembesar itu tidak memperlihatkan sikap lain, kecuali membelalakkan kedua matanya memandang kepada dua orang muda itu dan berseru.
"Ah, siapa kira dua orang muda remaja ini telah memiliki kepandaian yang demikian hebatnya."
Pesta itu berlangsung dengan gembira dan ketika Kui Beng Sin menyampaikan kembali barang-barang milik pembesar she Phoa itu, Phoa-taijin mengucapkan terima kasih dan biarpun barang-barang itu belum dikirim ke tempat tujuan, yaitu Sin-yang, namun pembesar itu merasa girang bahwa tidak ada sedikitpun di antara barang itu yang hilang.
Phoa-taijin minta agar barang-barang itu besok dikembalikan ke gudangnya dan dia tidak lupa untuk memberi hadiah kepada Pouw-an-piauwkiok.
Beberapa hari kemudian, Han Tiong dan Thian Sin berpamit dari keluarga Ciu untuk pulang ke utara.
Ciu Khai Sun telah mempersiapkan surat balasan untuk Cia Sin Liong dan menyerahkan surat itu kepada Han Tiong yang segera menyimpannya dalam bungkusan pakaiannya.
Merekapun menerima pemberian kuda-kuda yang cukup baik dari keluarga Ciu dan mereka berdua diantar sampai ke tepi kota oleh Ciu Bun Hong dan Ciu Lian Hong.
"Hong-te dan Hong-moi, terima kasih atas semua kebaikan kalian. Selamat tinggal, cukup kalian mengantar sampai di sini saja,"
Kata Han Tiong setelah mereka tiba di batas kota.
"Hong-te, terima kasih dan selamat berpisah, Hong-moi... kuharap... kita akan dapat saling bertemu kembali dalam waktu dekat..."
Kata Thian Sin sambil memandang wajah dara itu dan suaranya terdengar mengandung nada bersedih oleh perpisahan yang amat memberatkan hatinya itu.
"Tiong-ko, Sin-ko, selamat jalan dan selamat berpisah,"
Kata kakak beradik itu dan ketika dua orang pemuda itu meloncat ke atas punggung kuda dan mulai menjalankan kuda mereka meninggalkan tempat itu, kakak beradik ini melambaikan tangannya sampai dua orang pemuda itu lenyap di sebuah tikungan.
Melihat adiknya masih melambalkan tangan seperti orang yang merasa sukar sekali untuk melepaskan mereka pergi, Bun Hong berkata sambil tersenyum.
"Tiong-ko tidak akan lama pergi, tentu akan segera ada kabar dari keluarga Cia."
Lian Hong terkejut dan sadar bahwa dia masih melambaikan tangannya.
Mukanya yang cantik itu berubah merah sekali dan dia lalu mencubit lengan kakaknya.
"Ih, siapa yang mengharap-harap kedatangannya?"
Bun Hong hanya tertawa akan tetapi dia tahu bahwa adiknya ini telah jatuh cinta kepada Han Tiong dan dia merasa setuju dan gembira sekali karena diapun lebih suka kalau adiknya menjadi isteri Han Tiong daripada kalau adiknya memilih Thian Sin.
Memang harus diakuinya bahwa dalam hal ketampanan wajah dan daya tariknya sebagai seorang pria, Thian Sin lebih tampan dan lebih menarik.
Akan tetapi, dia melihat betapa Thian Sin berwatak ganas dan bahkan kejam terhadap musuh, sedangkan Han Tiong memiliki watak yang amat mengagumkan hatinya, watak seorang pendekar budiman tulen!
Maka dia yang diberi tugas oleh ayah bundanya untuk mengamat-amati sikap Lian Hong terhadap dua orang pemuda itu, melaporkan apa adanya dan Ciu Khai Sun lalu memberi surat kepada Cia Sin Liong bahwa keluarga mereka menyetujui kalau Lian Hong dijodohkan dengan Cia Han Tiong.
Ketika mereka meninggalkan kota Lok-yang, di sepanjang jalan Thian Sin tiada hentinya membicarakan tentang kebaikan keluarga itu, terutama sekali kebaikan Lian Hong.
Antara lain dia berkata.
"Lian-moi sungguh seorang gadis yang amat hebat! Dia memiliki ilmu silat yang sudah cukup tinggi di antara gadis-gadis lainnya, dan diapun gagah berani. Ingat saja ketika kita menyerbu gerombolan di hutan itu!"
Han Tiong hanya tersenyum, akan tetapi diam-diam hatinya merasa agak gelisah.
Harus diakuinya bahwa dia jatuh cinta kepada Lian Hong, dan dia melihat dengan jelas pula betapa adiknya inipun mencinta mati-matian kepada dara itu!
Melihat betapa kakaknya diam saja, Thian Sin segera menoleh, memandangnya dan berkata.
"Bagaimana pendapatmu, Tiong-ko?"
Thian Si menatap tajam wajah kakaknya karena diam-diam diapun mempunyai dugaan bahwa kakaknya ini kelihatan tertarik dan amat kagum kepada dara itu.
"Maksudmu?"
Han Tiong berbalik mengajukan pertanyaan karena sungguhpun dia sudah mengerti maksudnya, namun dia tidak dapat segera menjawab dan merasa gugup.
"Eh, kau sedang melamunkan apa sih, Tiong-ko sehingga tidak mengerti apa yang kutanyakan? Aku tadi bicara tentang Hong-moi dan aku menanyakan pendapatmu tentang Hong-moi."
"Apa? Hong-moi...? Ah, dia seorang gadis yang baik sekali, mengapa?"
"Tidak apa-apa, Tiong-ko, hanya aku membayangkan betapa akan bahagianya seorang pria kelak yang dapat menjadi suaminya."
Wajah Han Tiong menjadi merah karena ucapan itu dengan tepat menusuk hatinya.
Tepat sekali seperti apa yang sering dia renungkan tentang diri Lian Hong.
"Ah, engkau ini aneh-aneh saja, Sin-te. Setiap orang suami dari wanita manapun juga tentu akan berbahagia sekali kalau dia menikah dengan wanita yang dicintanya dan juga yang mencintanya."
Agaknya karena ada sesuatu yang menahan perasaan hati mereka di Lok-yang, maka biarpun mereka melakukan perjalanan dengan kuda, namun perjalanan itu amatlah lambatnya.
Mereka itu seperti dua orang pemuda yang sedang pesiar saja, menjalankan kuda mereka seenaknya, atau bahkan nampak seolah-olah mereka tidak rela meninggalkan Lok-yang.
Dan memang sejak tadi, bayangan Lian Hong seolah-olah melambaikan tangan dan seperti terdengar suara merdu dara itu memanggil mereka agar kembali ke Lok-yang, atau agar tidak meninggalkannya.
Seperti orang kehilangan sesuatu, dua orang pemuda itu tidak begitu bersemangat melakukan perjalanan dan hari mulai sore ketika mereka berhenti di sebuah dusun dan bermalam di sebuah rumah penginapan sederhana.
Setelah makan sore yang sederhana pula di dusun itu, mereka beristirahat.
Padahal, bukan tubuh mereka yang lelah, melainkan semangat mereka yang padam atau seperti tertinggal di dekat Lian Hong.
Bahkan tak lama kemudian merekapun nampaknya sudah tidur dan tidak terdengar bercakap-cakap lagi di dalam kamar mereka.
Akan tetapi sesungguhnya mereka itu belum tidur walaupun keduanya sudah memejamkan mata seperti orang pulas.
Thian Sin bangkit dengan hati-hati dan pemuda ini lalu mengulurkan tangannya ke arah bungkusan pakaian mereka yang diletakkan di atas meja.
Dengan hati-hati pula dikeluarkan surat titipan dari Ciu Khai Sun kepada Han Tiong ketika mereka berangkat tadi, dan dengan jantung berdebar dibukanya sampul surat dan dikeluarkannya sehelai surat itu dan dibacanya di bawah sinar lilin yang tidak begitu terang itu.
Kedua tangan yang memegang surat itu gemetar dan wajah Thian Sin menjadi pucat ketika dia membaca isi surat.
Diulanginya lagi dan tetap isi surat itu antara lain bahwa keluarga Ciu menyetujui diikatnya perjodohan antara Lian Hong dan Han Tiong!
Thian Sin memejamkan kedua matanya dan merasa seolah-olah semua isi kamar terputar-putar.
Dia berusaha menenangkan hatinya, akan tetapi makin lama hatinya menjadi semakin panas dan tidak enak.
Dimasukkannya lagi surat itu ke dalam sampulnya dan disimpannya kembali ke dalam buntalan pakaian, kemudian dia melirik ke arah Han Tiong yang masih tidur nyenyak.
Lalu dengan sikap aneh, dengan sepasang mata yang kadang-kadang bersinar-sinar kadang-kadang meredup, dia turun dari atas pembaringan, membuka daun pintu dan keluar dari kamar itu.
Han Tiong tahu akan semua perbuatan Thian Sin itu.
Di dalam hatinya, dia terkejut dan merasa tidak senang sekali menyaksikan kelancangan adiknya yang berani membuka surat dari Ciu Khai Sun untuk ayahnya.
Akan tetapi karena merasa heran dengan kelakuan adiknya ini, juga karena dia tidak tega untuk membikin malu adiknya dengan menegurnya pada saat itu juga, maka Han Tiong pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidur nyenyak.
Ketika dia melihat Thian Sin mengembalikan surat lalu keluar dari kamar, dia mengira bahwa Thian Sin agaknya tidak dapat tidur dan hanya ingin mencari hawa sejuk di luar.
Dan diapun tidak akan menegurnya tentang surat itu, karena dianggapnya bahwa Thian Sin tentu hanya ingin tahu saja dan tidak bermaksud buruk, buktinya surat itu dikembalikannya tanpa diganggu.
Maka tidurlah Han Tiong, tidak menyangka sama sekali apa yang telah terjadi di luar.
Thian Sin sama sekali bukan seperti yang disangkanya berjalan-jalan di luar!
Pemuda itu setelah tiba di luar rumah penginapan, lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan gin-kangnya, lalu secepatnya kembali ke kota Lok-yang!
Perjalanan yang dilakukannya ini jauh lebih cepat daripada ketika mereka berdua meninggalkan kota Lok-yang yang berkuda siang tadi karena Thian Sin menggunakan ilmu berlari cepat.
Dia tidak mau menunggang kuda karena tidak ingin kakaknya mengetahui bahwa dia pergi ke Lok-yang.
Dia harus pergi ke sana, harus menemui Lian Hong!
Tekad inilah yang membuat dia lari secepat angin menuju ke kota itu.
Rumah keluarga Ciu sepi sekali malam itu.
Agaknya semua orang telah tidur.
Akan tetapi benarkah itu?
Kiranya tidak semua penghuninya telah pulas.
Lian Hong belum tidur dan dara ini masih duduk di atas pembaringannya.
Sejak ia merebahkan diri tadi, hatinya terasa gelisah saja dan ia tidak dapat tidur.
Bayangan dua orang pemuda ying siang tadi pergi, selalu terbayang olehnya.
Dia tidak tahu bahwa ada bayangan berkelebat dengan kecepatan luar biasa di atas genteng rumahnya.
Bayangan itu adalah Thian Sin yang sudah mengenal benar di mana letak kamar Lian Hong dan ke situlah dia menuju.
Setelah mengintai dari atas genteng dan melihat bayangan Lian Hong di dalam kesuraman cahaya lilin kecil itu masih duduk di atas pembaringan, Thian Sin menjadi girang sekali.
Gadis itu belum tidur!
Maka diapun lalu meloncat turun dengan hati-hati sekali dari atas genteng, menghampiri jendela kamar itu dan mengetuknya dengan lirih tiga kali.
Hening sejenak, lalu terdengar suara Lian Hong.
"Siapa...?"
"Ssttt... aku, Hong-moi... aku Thian Sin..."
"Hehh...? Sin-ko...? Ada apa... mengapa...?"
"Hong-moi, keluarlah, kita bicara di luar. Aku ingin bicara denganmu, penting sekali!"
Bisik pula Thian Sin.
Daun pintu kamar itupun dibuka dari dalam dan keluarlah Lian Hong.
Dia terpesona memandang dara itu yang nampak lebih cantik daripada biasanya!
Lian Hong telah mengenakan pakaian ringkas dan ditutupnya dengan mantel merah.
Rambutnya agak kusut karena tadi sudah rebah untuk tidur.
Sepasang matanya terbelalak penuh keheranan memandang wajah pemuda itu.
"Sin-ko, kau di sini...? Apa yang terjadi dan..."
"Ssttt... mari kita bicara di taman, Hong-moi. Jangan sampai mengagetkan keluargamu."
Thian Sin mendahului gadis itu berjalan keluar dari situ, menuju ke taman yang letaknya di samping kanan rumah.
Dengan ragu-ragu dan heran akan tetapi tanpa bertanya atau membantah lagi, Lian Hong mengikutinya.
Ia tentu saja tidak menaruh curiga apa-apa terhadap pemuda yang telah dipercayakan sepenuh hatinya itu.
"Duduklah, Hong-moi, aku mau bicara,"
Kata Thian Sin dan melihat sikap pemuda itu begitu sungguh-sungguh, Lian Hong menjadi makin terheran-heran, akan tetapi diapun lalu duduk di atas bangku batu, berhadapan dengan pemuda itu, dipisahkan oleh meja batu yang bundar.
"Sin-ko, ada apakah? Mengapa engkau berada di sini? Bukankah kalian telah berangkat tadi? Dan di mana Tiong-ko?"
"Hong-moi, aku minta dengan sangat agar engkau suka bersikap jujur dan berterus terang kepadaku, karena hal ini sama saja dengan urusan mati hidup bagiku."
"Eh... apa artinya ini, Sin-ko? Apa yang kau maksudkan dengan ucapanmu itu? Aku sungguh tidak mengerti!"
"Artinya, Hong-moi, bahwa aku... aku cinta padamu."
Lian Hong memandang bayangan pemuda itu dengan mata terbelalak.
Tempat itu hanya diterangi oleh bintang-bintang di langit sehingga biarpun mereka duduk berhadapan, hanya terhalang sebuah meja batu, namun mereka hanya dapat melihat bayangan masing-masing.
Lian Hong bukan terkejut mendengar pernyataan cinta dari penuda itu, karena memang sudah dapat menduganya, karena sinar mata, juga suara pemuda itu jelas membayangkan perasaan hatinya.
Ia hanya terheran-heran mendengar betapa Thian Sin yang sudah meninggalkan kota Lok-yang itu, kini datang pada malam hari untuk menyatakan cintanya!
Melihat dara itu hanya diam saja dan agaknya memandang kepadanya dengan penuh keheranan, Thian Sin yang sudah dapat melampaui garis yang menggelisahkan hatinya, yaitu pengakuan cinta tadi, kini melanjutkan, suaranya lebih tenang.
"Hong-moi, lebih baik aku bicara terus terang, dan kuharap engkau juga suka bersikap jujur, Hong-moi, sejak aku bertemu denganmu, aku telah jatuh cinta padamu. Engkau tentu merasakan pula hal ini dan kalau aku tidak salah sangka, melihat sikapmu kepadaku, kalau belum boleh dikatakan mencinta. Hong-moi, benarkah ucapanku ini bahwa engkaupun mencintaku?"
Setelah didesak-desak, akhirnya Lian Hong yang sejak tadi belum dapat menghilangkan rasa terkejut dan herannya, kini menarik napas panjang.
Ia merasa sukar untuk menjawab pertanyaan yang begitu tiba-tiba datangnya, apalagi pertanyaan tentang cinta!
"Sin-ko...
bagaimana aku harus menjawabmu?
Engkau adalah putera angkat dan juga murid Paman Cia Sin Liong, dan engkau bersama Tiong-ko sudah begitu baik kepada kami, bahkan kalian telah memperlihatkan kegagahan dengan merampas kembali barang-barang yang dirampok gerombolan itu.
Tentu saja aku merasa kagum dan suka padamu..."
"Dan engkau bersedia untuk menjadi isteriku, Hong-moi?"
"Aihhh...!"
Lian Hong setengah menjerit karena sungguh tidak mengira akan menerima pertanyaan semacam itu.
"Jawablah sejujurnya, kuminta kepadamu, berterus-teranglah..."
"Ah, Sin-ko, bagaimana aku harus menjawab pertanyaan seperti itu? Soal perjodohan... ah, itu adalah urusan orang tuaku, soal jodoh adalah urusan mereka... mana mungkin aku dapat menjawab sendiri...?"
"Hong-moi, mari kita bicara secara terbuka saja, karena jawaban-jawananmu yang berterus-terang amat penting bagiku. Dengarlah. Aku sudah tahu bahwa ayahmu telah menitipkan surat kepada Tiong-ko. Nah, sekarang katakanlah terus terang, apakah engkau mencinta Tiong-ko? Jawablah Hong-moi, apakah engkau lebih mencinta Tiong-ko daripada aku? Karena aku mempunyai keyakinan bahwa engkau cinta kepadaku, maka berita tentang ikatan jodoh antara engkau dan Tiong-ko itu sungguh mengejutkan hatiku. Aku harus mengetahui isi hatimu, Hong-moi. Siapakah yang kau pilih antara kami? Siapakah yang lebih kau cinta?"
Lian Hong menundukkan mukanya.
Ia tentu saja sudah diberi tahu oleh kakaknya, Bun Hong, tentang ikatan jodoh itu dan memang ia sudah ditanya oleh kakaknya tentang itu dan ia sudah mengambil keputusan dan berterus terang kepada kakaknya bahwa ia memilih Han Tiong.
Berdasarkan pilihannya itulah ayahnya mengirim surat kepada Pendekar Lembah Naga.
"Sin-ko, bagaimana harus kukatakan? Aku suka kepada kalian berdua, kagum dan juga bangga. Kalian adalah dua orang pemuda yang hebat."
"Tapi... tapi... kalau engkau dihadapkan pada pilihan ini, siapakah yang lebih kau beratkan, Hong-moi...? Aku ataukah Tiong-ko? Jawablah, agar hatiku tidak merasa penasaran lagi, Hong-moi!"
Thian Sin mendesak.
Lian Hong menarik napas panjang.
Memang sesungguhnya ia merasa bingung dan amat sukar untuk mengakui hal itu di depan yang bersangkutan.
Di depan kakaknya, ia dapat mengaku terus terang dengan rasa canggung sedikit saja, akan tetapi bagiamana mungkin ia dapat mengaku terus terang di depan orang yang bersangkutan?
Apalagi karena ia tahu bahwa pengakuannya tentu akan menyakitkan perasaan hati Thian Sin karena ia memilih Han Tiong!
Akan tetapi ia teringat bahwa Thian Sin, seperti juga Han Tiong, adalah seorang pemuda yang gagah perkasa lahir batin, maka tentu akah dapat menerima segala kenyataan, betapa pahit sekalipun.
Dan terhadap seorang pendekar seperti Thian Sin, tidak baiklah kalau tidak berterang terang.
Maka dara ini lalu menarik napas panjang, mengambil keputusan tetap dan terdengarlah jawabannya yang didengarkan oleh Thian Sin dengan penuh perhatian.
"Sin-ko, baiklah, aku akan berterus terang karena engkau menghendakinya. Sesungguhnya, sejak engkau dan Tiong-ko berada di sini, melihat kegagahan kalian berdua, aku merasa amat tertarik dan terpikat. Terus terang saja, belum pernah aku mempunyai perasaan terhadap seorang pria seperti perasaanku terhadap kalian berdua. Dan kalau ditanya siapakah di antara kalian yang lebih kusukai, akan sukarlah aku untuk menjawabnya. Kalian memiliki daya tarik yang sama kuatnya bagiku dan andaikata aku disuruh memilih di antara kalian, aku akan menjadi bingung. Akan tetapi, terus terang saja, ada sesuatu yang membuat aku lebih condong kepada Tiong-ko. Yaitu... maafkan aku, Sin-ko, karena... karena aku menyaksikan keganasanmu terhadap para gerombolan itu. Engkau... engkau agak kejam, Sin-ko. Dan Tiong-ko begitu bijaksana..."
Hening sekali saat itu setelah Lian Hong menghentikan kata-katanya.
Dara itu menundukkan mukanya.
Biarpun ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas di dalam cuaca yang suram itu, namun ia tetap tidak berani mengangkat mukanya.
Sementara itu, Thian Sin mengepal tinju dan merasa penasaran.
Kalau hanya itu yang membuat Lian Hong memilih Han Tiong daripada dia, sungguh membuatnya penasaran!
"Akan tetapi, Hong-moi.
Aku bersikap ganas dan kejam terhadap penjahat!
Dan memang demikian watak seorang pendekar sejati, bukan?
Kalau kita sebagai pendekar-pendekar yang mempertahankan kebenaran dan keadilan tidak menghukum keras penjahat-penjahat itu, tentu di dunia ini semakin banyak kejahatan merajalela dan para penjahat tidak akan takut melakukan segala macam kejahatan yang paling keji karena tidak ada yang ditakutinya lagi!"
"Maaf, Sin-ko. Aku tidak dapat membantahmu, akan tetapi aku merasa lebih setuju dengan sikap Tiong-ko yang menundukkan kejahatan dengan kepandaian akan tetapi menundukkan hati para penjahat itu dengan kelembutan dan cinta kasih. Aku tidak dapat melupakan betapa Tiong-ko dengan perasaan penuh kasih mengobati para penjahat itu, dan kalau engkau melihat pandang mata para penjahat itu terhadap Tiong-ko... ah, aku tidak dapat melupakan itu dan saat itulah yang meyakinkan hatiku bahwa aku akan hidup tenang dan bahagia di samping Tiong-ko..."
"Akan tetapi, kalau penjahat-penjahat itu dimanjakan, tentu mereka tidak akan pernah merasa kapok! Terlalu enak bagi mereka yang jahat dan keji itu memperoleh pengampunan dan memperoleh perlakuan yang lunak. Tiong-ko terlalu lemah dan kelemahan hatinya itu sewaktu-waktu bahkan akan mencelakainya sendiri!"
Lian Hong merasa tidak setuju dalam hatinnya, akan tetapi ia tidak mampu membantah atau menjawab, maka iapun hanya mendengarkan saja semua kata-kata Thian Sin yang berusaha membenarkan sikap dan tindakannya.
Pendapat Thian Sin itu mungkin sekali juga merupakan pendapat umum atau kebanyakan dari kita, yaitu yang berpendapat bahwa tindakan kekejaman terhadap orang-orang yang bersalah atau yang melakukan kejahatan adalah tindakan yang benar.
Biasanya, tindakan itu kita namakan keadilan!
Akan tetapi benarkah demikian?
Benarkah itu kalau kita menyiksa seorang yang kita namakan penjahat, bahkan kalau kita membunuhnya, maka penyiksaan atau pembunuhan itu dapat dinamakan keadilan?
Sebaiknya kalau kita menyelidiki dulu persoalan ini sebelum kita memberinya suatu nama seperti keadilan!
Kita selidiki apa perbedaan antara perbuatan kejam dan dianggap adil!
Apakah dasar yang mendorong ke arah tindakan yang kejam, menakuti orang, menyiksa orang?
Atau bahkan membunuh orang?
Semua perbuatan kejam itu tentu mempunyai dasar yang sama, yaitu kebencian.
Kebencianlah yang membuat seorang melakukan tindakan kejam, baik itu dinamakan kejahatan maupun keadilan.
Kebencian di dalam hati ini tentu saja meniadakan cinta kasih.
Siapapun yang melakukan tindakan kejam, baik dia itu dinamakan penjahat ataupun pendekar, pada dasarnya sama saja, yaitu melampiaskan kebencian.
Ini bukanlah berarti bahwa kejahatan atau kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang yang kita namakan jahat itu harus didiamkan saja!
Sama sekali tidak demikian.
Akan tetapi, alangkah jauh bedanya antara hukuman yang sifatnya mendidik dan hukuman yang sifatnya membalas dendam!
Balas dendam adalah akibat kebencian yang melahirkan perbuatan-perbuatan kejam seperti menyiksa dan membunuh.
Sebaliknya, hukuman yang sifatnya mendidik tidak dapat dinamakan kekejaman karena tidak dilakukan dengan hati yang membenci.
Jeweran pada telinga anak dari seorang ayah dapat merupakan hukuman mendidik, dapat pula merupakan pelampiasan kebencian.
Kalau si ayah itu marah, jengkel di waktu menjewer, maka perbuatannya itu adalah perbuatan yang didorong oleh kebencian.
Sebaliknya, kalau jeweran itu dilakukan tanpa kebencian, maka itu adalah perbuatan yang mengandung maksud mendidik, dan antara dua jeweran yang sama ini terdapat perbedaan bumi langit.
Biasanya, kata keadilan hanya dipergunakan oleh mereka yang dipenuhi kebencian untuk menuntut balas.
Jelaslah bahwa segala macam perbuatan yang didasari oleh kebencian, maka perbuatan semacam itu sudah pasti kejam dan jahat.
Sebaliknya, perbuatan apapun yang dilakukan dengan dasar cinta kasih, maka perbuatan itu pasti benar dan baik.
"Kalau bukan para pendekar yang membasmi orang-orang jahat, habis siapa lagi? Sebagian besar para pejabat pemerintah malah menjadi sahabat-sahabat para penjahat! Mana mungkin mengandalkan para pejabat untuk membasmi kejahatan? Siapa yang akan membela dan melindungi rakyat daripada penjahat-penjahat yang keji? Siapa lagi kalau bukan para pendekar yang harus membasmi habis para penjahat keji dan pembunuh-pembunuh itu?"
"Sin-ko, aku tidak mengerti, akan tetapi dengan membunuhi dan membasmi para pembunuh, bukankah itu berarti kita telah menciptakan segolongan pembunuh lain?"
"Ah, tidak bisa! Para pendekar tidak akan membunuhi rakyat atau orang-orang yang benar, hanya akan membasmi orang-orang jahat!"
Lian Hong tidak bicara lagi karena iapun tidak mengerti benar akan apa yang diperdebatkan oleh Thian Sin yang dikecewakan hatinya itu.
Ia hanya tidak suka akan kekejaman yang diperlihatkan Thian Sin, sebaliknya ia setuju dan kagum akan kebijaksanaan dan kelembutan yang dilakukan oleh Han Tiong terhadap para penjahat.
Tiba-tiba Thian Sin berhenti bicara dan dia meloncat berdiri dengan demikian cepatnya sehingga Lian Hong menjadi terkejut sekali.
Akan tetapi pemuda itu sudah memegang lengannya dan berbisik.
"Awas... ada banyak orang..."
Dan dia mengajak Lien Hong lari menyusup ke dalam taman, di balik semak-semak dan mengintai keluar.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat banyak sekali orang telah mengepung rumah dan taman itu, orang-orang itu adalah pasukan besar, karena pakaian mereka seragam!
Dan di antara banyak pasukan itu, Thian Sin melihat banyak orang pula yang berpakaian biasa dan gerakan mereka gesit dan tangkas, tanda bahwa mereka ini memiliki ilmu silat yang lihai!
Dan yang membuat mereka merasa lebih kaget lagi adalah ketika melihat betapa di antara pasukan itu ada yang mulai membakar rumah itu!
Segera terjadi kegaduhan ketika keluarga Ciu terbangun dan menyerbu keluar rumah mereka yang mulai terbakar itu.
Ciu Khai Sun meloncat ke luar dan berteriak dengan nyaring.
"Siapa membakar rumah? Eh, apa artinya semua pasukan ini?"
"Tangkap pemberontak! Tangkap anak pemberontak Ceng Han Houw! Basmi pemberontak dan pengkhianat...!"
Teriakan-teriakan itu terdengar dari seluruh penjuru rumah di mana terdapat pasukan yang besar jumlahnya dan kini pasukan-pasukan itu telah maju menyerbu.
Mereka itu sama sekali bukan hendak menangkap pemberontak seperti yang mereka teriakkan, melainkan mereka itu langsung menyerang Ciu Khai Sun bersama dua orang isterinya dan juga Bun Hong yang sudah berdiri di depan pintu!
Tentu saja keluarga itu segera bergerak membela diri dan mereka tidak diberi kesempatan lagi untuk bertanya atau memprotes.
Pasukan itu sudah menyerbu dengan membabi-buta, bahkan dibantu oleh beherapa orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan yang berpakaian biasa, bukan pasukan pemerintah.
Ciu Khai Sun, Kui Lan, Kui Lin dan Bun Hong terpaksa melawan dan mengamuk untuk mempertahankan nyawa mereka karena para penyerbu itu menyerang untuk membunuh, bukan untuk menangkap.
Percuma saja Ciu Khai Sun berteriak-teriak untuk mencoba menghentikan mereka.
Agaknya mereka memang telah menerima perintah untuk membunuh semua penghuni rumah yang mereka bakar itu.
Bahkan di antara para penyerbu itu ada yang sudah menyerbu masuk melalui pintu samping dan merampoki segala macam barang yang berada di dalam rumah.
Dan mereka tidak peduli, siapa saja yang nampak dalam rumah itu, sampai pelayan-pelayan, mereka bunuh dengan bacokan-bacokan golok.
Sementara itu, ketika melihat betapa pasukan itu membakar rumah, Thian Sin dan Lian Hong menjadi terkejut dan marah sekali.
Apalagi setelah Lian Hong mendengar teriakan-teriakan ayahnya, juga teriakan-teriakan kedua ibunya dan kakaknya yang agaknya telah melawan para penyerbu.
"Keparat!"
Teriaknya dan iapun lari hendak menuju ke depan hendak membantu ayah bundanya.
Akan tetapi di situ telah muncul pula banyak pasukan yang langsung menyerangnya.
Melihat ini, Thian Sin mengeluarkan seruan panjang dan tubuhnya telah menerjang maju menyambut pasukan yang menyerang Lian Hong itu dan sekali terjang, dia sudah merobohkan empat orang perajurit!
Dalam waktu singkat saja, Thian Sin telah dikepung oleh banyak perajurit, juga oleh beberapa orang berpakaian preman yang lihai.
Dia mengamuk dan hatinya khawatir sekali karena dia tidak melihat Lian Hong yang terpisah dengan dia dalam pengeroyokan demikian banyaknya pasukan.
Karena mengkhawatirkan keadaan keluarga Ciu, terutama keselamatan Lian Hong, Thian Sin menjadi marah bukan main.
Apalagi dia tadi mendengar teriakan-teriakan itu, yang katanya hendak menangkap pemberontak, putera dari pemberontak Ceng Han Houw.
"Di sinilah aku! Di sinilah Ceng Thian Sin, putera Ceng Han Houw!"
Bentaknya nyaring dan kakinya merobohkan seorang pengeroyok yang hendak membacoknya dari belakang.
"Jangan ganggu orang lain, inilah aku putera Ceng Han Houw!"
Terjadilah perkelahian yang amat hebat.
Tidak kurang dari tiga puluh orang perajurit dan dibantu oleh beberapa orang yang lihai-lihai, mengepung dan mengeroyok Thian Sin.
Thian Sin sudah merobohkan belasan orang, namun pengeroyoknya tidak berkurang, bahkan mengepungnya semakin ketat.
Dengan kemarahan meluap-luap, apalagi karena rumah itu telah terbakar semakin berkobar, Thian Sin lalu mencabut pedang Gin-hwa-kiam, pemberian neneknya dan mulailah dia mengamuk dengan pedangnya, dengan tamparan-tamparan tangan kirinya atau dengan tendangan-tendangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh kedua kakinya.
Hebat bukan main sepak terjangnya dan para pengeroyoknya banyak yang roboh.
Darah muncrat-muncrat dari tubuh para pengeroyoknya yang kena disambar sinar perak pedangnya, Dan kini yang mengeroyoknya hanyalah orang-orang yang tidak berpakaian seragam, melainkan orang-orang berpakaian preman yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi.
Di antara mereka itu ada yang berpakaian pengemis, mengingatkan Thian Sin kepada para anggauta Bu-tek Kai-pang, anak buah Lam-sin, datuk selatan itu.
Tidak kurang dari lima belas orang yang rata-rata berilmu tinggi mengeroyoknya, dengan berbagai macam senjata.
Namun Thian Sin tidak menjadi gentar, dan dia terus mengamuk.
Akan tetapi kini dia merasa gelisah sekali karena dia tidak tahu bagaimana dengan keadaan keluarga Ciu, terutama Lian Hong!
Maka, sambil melawan dia mulai mengalihkan gelanggang pertempuran menuju ke depan rumah, di mana dia tadi mendengar teriakan-teriakan keluarga Ciu.
Melihat gerakan ini, para pengepung itu mengira bahwa Thian Sin hendak melarikan diri, maka merekapun mengejar dan tetap mengepungnya, bahkan kini agaknya perkelahian hanya terpusat di sini karena tidak terdengar perkelahlan di tempat lain.
Ketika dia tiba di depan rumah, Thian Sin terbelalak dan wajahnya pucat sekali.
Api yang berkobar membakar rumah itu cukup menerangi tempat itu dan dengan jelas dia dapat melihat mayat-mayat berserakan banyak sekali, mayat-mayat pasukan yang berpakaian seragam dan di antara mereka itu terdapat pula mayat Ciu Khai Sun, kedua isterinya, dan Bun Hong!
Hampir saja Thian Sin menjerit ketika dia melihat ini dan dia meloncat ke arah mayat Ciu Khai Sun dengan cepat sekali, berjongkok dan memeriksa.
Akan tetapi sebatang tombak menyambar dari belakang, disusul bacokan pedang dari samping.
(Lanjut ke
Jilid 18) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18
"Tranggg... desss! Creppp!"
Dua orang itu memekik dan roboh, seorang terkena tamparan tangan kiri Thian Sin dan yang ke dua tertusuk lambungnya oleh pedang Gin-hwa-kiam.
Thian Sin cepat memeriksa dua orang isteri Ciu Khai Sun dan juga mayat Bun Hong.
Semuanya telah tewas!
Tewas dengan tubuh penuh luka-luka, tanda bahwa mereka itu telah mengamuk dengan mati-matian dan hal inipun dapat dibuktikan dengan banyaknya korban, yaitu mayat-mayat pasukan pengeroyok yang berserakan di sekeliling tempat itu!
Keluarga ini telah tewas dalam keadaan yang menyedihkan, namun harus diakui tewas dalam keadaan gagah perkasa.
Dan semuanya itu karena dia!
Bukankah pasukan itu datang untuk mencari dia sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw?
Dan dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan diri Lian Hong!
"Hai, keparat semua!
Inilah Ceng Thian Sin putera Ceng Han Houw!
Majulah dan terimalah pembalasanku!"
Dan diapun mengamuk lagi.
Sepak terjangnya amat menggiriskan karena tidak ada lawan manapun yang sanggup menahan sambaran pedangnya, pukulan tangan kirinya atau tendangan kakinya!
Dia dikepung, dikeroyok, akan tetapi yang mawut adalah para pengeroyok itu sendiri.
Banjir darah terjadi di dekat rumah yang terbakar itu.
Entah herapa jam lamanya Thian Sin mengamuk.
Seluruh tubuhnya menjadi basah oleh keringatnya sendiri dan basah oleh darah musuh.
Makin lama makin banyak saja pihak pengeroyok yang roboh tewas.
Sedikitnya, sejak dia mulai mengamuk tadi, ada tiga empat puluhan orang yang roboh di tangan Thian Sin dan dia seperti seekor harimau yang haus darah saja, tidak mengenal puas.
Bahkan dia menjadi semakin buas dan sepak terjangnya makin menggiriskan.
Akhirnya, para pengeroyok itu menjadi gentar.
Mereka maklum bahwa kalau dilanjutkan, agaknya pemuda ini akan membunuh mereka semua sampai tidak ada seorangpun yang ketinggalan!
Maka, larilah mereka, dan sisa pasukan pemerintah juga melarikan diri ketika melihat orang-orang yang lihai itu tidak berani melawan lagi.
Thian Sin mengejar dan merobohkan sebanyak-banyaknya orang yang mungkin dia lakukan.
Kemudian dia menangkap seorang perwira yang mencoba untuk menyelinap ke tempat gelap.
Dibantingnya perwira itu ke atas tanah.
"Ngekk!"
Dan perwira itu merintih, tulang pundaknya patah.
Thian Sin menempelkan pedangnya yang berlumuran darah itu ke leher perwira itu.
"Cepat, ceritakan mengapa pasukan melakukan ini!"
Ketika dia melihat perwira itu meragu, dia menekan pedangnya dan kulit leher itupun terobek sedikit dan berdarah.
"Baik... baik... kami hanya diperintah... mula-mula komandan kami menerima laporan dari... dari Su-couw..."
Thian Sin adalah pemuda yang cerdik sekali.
Mendengar disebutnya kota Su-couw, diapun langsung menghubungkan tentang perampokan barang-barang kawalan Pouw-an-piauwkiok itu dengan peristiwa hebat ini.
Dia teringat bahwa yang mendengar akan keadaan dirinya, yaitu sebagai orang luar, bahwa dia adalah putera Pangeran Ceng Hen Houw, hanyalah seorang saja, yaitu Phoa-taijin.
"Phoa-taijin...?"
Dia membentak dengan sikap mengancam.
"Ya... ya benar...!"
"Mengapa? Hayo katakan mengapa dia melakukan ini?"
Bentaknya dan perwira itu menggeleng-geleng kepala karena memang dia tidak tahu.
Dia hanya tahu bahwa Phoa-taijin melaporkan tentang adanya putera pemberontak Ceng Han Houw di rumah ketua Hui-eng-piauwkiok di Lok-yang, dan komandannya segera bertindak mengepung rumah itu.
Anehnya, Phoa-taijin dari Su-couw itu juga mengirim bala bantuan berupa dua puluh lebih orang-orang yang berilmu tinggi di antaranya ada beberapa orang pengemis.
"Tidak... tidak tahu..."
Perwira itu berkata dan kata-katanya berhenti di tengah jalan karena Thian Sin telah menggerakkan pedangnya dan perwira itu tewas seketika dengan leher hampir putus!
Malam itu juga, lewat tengah malam, Thian Sin telah berada di atas gedung tempat tinggal Phoa-taijin!
Sejak mengamuk tadi, dia tidak pernah lagi menyimpan pedangnya yang masih berlepotan darah dan kalau saja ada sinar menerangi wajahnya, orang tentu akan merasa ngeri melihat wajah yang tampan itu, kini penuh dengan kekejaman, penuh dengan kemarahan, dan sinar matanya mencorong penuh dendam seperti mata iblis dalam dongeng!
Dia tidak ingin langsung turun tangan, melainkan hendak menyelidiki terlebih dahulu mengapa pembesar ini melakukan hasutan agar keluarga Ciu dibasmi.
Kalau memang niatnya hanya menangkap dia sebagai putera Ceng Han Houw, mengapa pasukan itu bertindak demikian?
Membakar dan menyerang sampai seluruh anggauta keluarga Ciu terbasmi habis?
Tiba-tiba dia melihat tiga orang yang berpakaian preman dan seorang komandan pasukan memasuki rumah itu dengan sikap tergesa-gesa.
Dia dapat menduga bahwa tentu mereka ini adalah orang-orang yang tadi ikut menyerbu rumah keluarga Ciu dan kini dengan tergopoh-gopoh mereka tentu hendak melapor kepada Phoa-taijin!
Maka diapun cepat menyelinap, meloncat turun dari atas, memasuki pekarangan belakang, lalu menyelinap ke dalam melalui tembok belakang.
Akhirnya dia dapat mengintai dari belakang jendela, ke dalam ruangan di mana dia mendengar orang bicara dengan suara perlahan namun serius sekali.
Jantungnya berdebar penuh amarah yang ditahan-tahannya ketika dia mengenal suara Phoa-taijin yang sedang bicara dengan suara mengandung penyesalan besar.
"Apa? Anak pangeran pemberontak itu tidak dapat ditangkap atau dibunuh dan bahkan telah membunuh banyak orang? Dan puteri Ciu-piauwsu juga dapat lolos? Ah, bagaimana kalian ini? Pasukan seratus orang ditambah orang-orang yang terkenal sebagai anak buah tiga datuk See-thian-ong, Lam-sin dan Pak-san-kui, masih tidak mampu merobohkan seorang pemuda remaja seperti anak pemberontak she Ceng itu? Sungguh celaka, kalian tiada guna sama sekali!"
"Tapi, taijin. Keluarga Ciu telah dapat dibasmi, lolos seorang anak perempuan saja mengapa? Dan tentang pemberontak she Ceng itu, memang dia lihai sekali..."
Terdengar suara orang lain.
"Saya belum mengerti mengapa taijin memusuhi keluarga Ciu?"
Seorang lain dengan suara serak.
"Bodoh, apakah kau tidak mendengar betapa keluarga Ciu dan dua orang keponakannya itu yang telah menggagalkan siasat kami ketika kami menyuruh orang-orang menyamar perampok untuk merampok barang-barang yang kusuruh kawal Pouw-an-piauwkiok? Kalau mengandalkan orang-orang bodoh seperti kalian, mana mungkin kita berhasil mengumpulkan harta untuk menyokong gerakan kawan-kawan di utara?"
Thian Sin mengerutkan alisnya.
Biarpun hanya samar-samar saja, dia kini dapat menduga bahwa para perampok itu adalah orang-orangnya Phoa-taijin sendiri yang diutus untuk menyarnar sebagai perampok dan merampas barang-barangnya sendiri!
Mungkin dengan maksud memeras Pouw-an-piauwkiok untuk bertanggung jawab dan mengganti barang-barangnya yang berharga.
Dan karena kemudian barang-barang itu ditemukan kembali, usaha itu gagal oleh dia dan Han Tiong yang menjadi tamu keluarga Ciu, maka pembesar itu kini melakukan serangan balasan dan kebetulan dia mendengar tentang putera Pangeran Ceng Han Houw, maka hal itu dijadikan dalih untuk melaporkan bahwa di rumah Ciu-piauwsu terdapat putera pangeran pemberontak Ceng Han Houw.
"Aku berada di sini!"
Tiba-tiba Thian Sin tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan dia sudah menerjang jendela itu.
"Braakkkkk!"
Daun jendela itu pecah dan diapun sudah meloncat ke dalam.
"Pembesar keparat she Phoa! Inilah Ceng Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw, datang untuk mengirim nyawa kotormu ke neraka jahanam!"
Akan tetapi empat orang yang berada di dalam kamar itu, yaitu tiga orang berpakaian preman dan seorang berpakaian komandan telah mencabut senjata masing-masing dan segera menubruk dan menyerangnya dengan ganas, akan tetapi juga dengan hati gentar ketika mengenal bahwa yang menerobos masuk ini bukan lain adalah pemuda putera pangeran pemberontak yang amat lihai itu.
Melihat serangan empat orang ini, Thian Sin sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan mengerahkan tenaga sin-kangnya, membuat tubuhnya menjadi lunak seperti karet, lunak namun kuat sekali dan begitu tiga batang pedang dan sebatang ruyung itu menimpa tubuhnya, Tenaga sin-kang itu menyambut empat senjata itu dan langsung dia mengerahkan Thi-khi-i-beng sehingga daya pukulan yang mengandung tenaga sin-kang empat orang itu tersedot seketika.
Empat orang itu berteriak kaget, maka mereka mengerahkan tenaga untuk menarik kembali senjata masing-masing.
Namun, mereka tidak mengenal Thi-khi-i-beng.
Makin mereka mengerahkan tenaga, makin hebat pula tenaga sin-kang mereka tersedot dan pada saat itu, sinar pedang perak berkelebat dan robohlah empat orang itu dengan mandi darahnya sendiri dan tewas seketika.
Phoa-taijin sudah melarikan diri melalui sebuah lorong, akan tetapi tiba-tiba bayangan Thian Sin menyambar dan pemuda ini sudah menangkap tengkuk si pembesar yang segera menjerit-jerit seperti seekor anjing tersiram air panas.
"Ampun... ampun... Taihiap...!"
"Keparat jahanam! Engkau mengerahkan orang-orang untuk membunuhku, ya? Nah, ini aku Ceng Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw. kau mau apa sekarang!"
"Ampuun... aku... aku hanya melakukan tugas sebagai pejabat pemerintah. Aku harus membantu pemerintah... dan karena... ayahmu dahulu pernah memberontak maka... aku... aku..."
"Cacing busuk! Kalau begitu, kenapa bukan hanya aku saja yang hendak dibunuh, akan tetapi seluruh keluarga Ciu dibasmi? Engkau membalas karena kami mengagalkan siasatmu ketika menyuruh orang-orang merampok barang-barangmu sendiri dari tangan Pouw-an-piauwkiok itu, ya? Hayo katakan, siapa itu kawan-kawanmu yang berada di utara..."
Wajah yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat, akan tetapi sinar matanya nampak penuh harapan ketika pembesar itu memandang kepada wajah Thian Sin kemudian kepada apa yang berada di belakang pemuda itu melalui atas pundak Thian Sin.
Pemuda ini cukup waspada.
Pandang mata pembesar itu membuatnya mencurahkan perhatian pendengarannya ke belakang dan tahulah dia bahwa ada dua tiga orang bergerak di belakangnya.
Dia menanti sampai angin serangan mereka menyambar dekat dan tanpa menoleh dia menggerakkan pedang Gin-hwa-kiam ke belakang.
Tiga orang itu menjerit dan roboh mandi darah!
Melihat ini, Phoa-taijin berlutut dan tubuhnya menggigil ketakutan.
"Hayo jawab!"
"Mereka... mereka itu... ah... para datuk kaum kang-ouw... telah bersekutu... eh, dengan mereka yang bergerak di utara... orang-orang bangsa Mancu..."
"Siapa para datuk itu? Hayo jawab, cepat!"
"See-thian-ong, Lam-sin, dan Pak-san-kui..."
"Hem, juga Tung-hai-sian?"
"Tidak... tidak... belum, sedang dihubungi... dia yang keras kepala..."
"Setan, mampuslah kau !"
Thian Sin menggerakkan pedangnya beberapa kali, terdengar tulang terbacok beberapa kali disusul jerit-jerit melengking dari pembesar itu dan ketika Thian Sin meninggalkannya dan meloncat pergi, Yang tertinggal pada Phoa-taijin itu hanyalah sebuah tubuh tanpa kaki tanpa tangan telinga dan tanpa hidung.
Tubuh yang menjadi pendek karena kedua kakinya terputus sebatas paha dan kedua lengan terputus sebatas pundak itu bergerak-gerak aneh dan mandi darah.
Sungguh merupakan pemandangan yang amat mengerikan.
Matanya melotot dan mulutnya mengeluarkan suara aneh, seperti tangis setengah tawa.
Menyeramkan sekali.
Sekarang Thian Sin sudah dikepung lagi dan kembali dia mengamuk.
Kiranya para pengawal di rumah pembesar Phoa itu telah mengambil bala bantuan dan kini tidak kurang dari tiga puluh pasukan keamanan kota Su-couw telah mengeroyoknya.
Namun Thian Sin tidak mau melarikan diri, hal yang sebetulnya mudah baginya.
Tidak, dia tidak akan lari, dia akan mengamuk sampai semua pengeroyoknya terbasmi habis!
Tubuhnya telah lelah sekali, dan batinnya tertekan hebat karena kematian keluarga Ciu dan lenyapnya Lian Hong, akan tetapi kemarahannya membuat dia lupa akan segala itu, dan dia mengamuk seperti seekor harimau yang haus darah.
Pakaiannya telah robek-robek terkena senjata sejak dia mengamuk di Lok-yang tadi, akan tetapi tidak dipedulikannya, karena tubuhnya yang dilindungi kekebalan Thian-te Sin-ciang membuat senjata-senjata itu tidak melukai kulit dagingnya.
Dan memang sepak terjang Thian Sin hebat sekali.
Biarpun pengeroyoknya kini merupakan orang-orang yang baru saja terjun ke dalam gelanggang pertempuran, masih segar badannya, namun sebentar saja sudah ada enam orang yang roboh mandi darah oleh sambaran pedangnya.
"Inilah Ceng Thian Sin! Inilah putera Pangeran Ceng Han Houw! Hayo majulah kalian semua anjing-anjing keparat kalau ingin kuantar nyawa kalian ke neraka!"
Thian Sin mengamuk sambil berteriak-teriak.
"Sin-te...!"
Sesosok bayangan berkelebat dan sebuah tangan yang kuat menangkap pergelangan tangan kanan Thian Sin.
Teriakan-teriakan Thian Sin tadilah yang mendatangkan Han Tiong!
Ketika Han Tiong mendusin dari tidur nyenyak dan tidak melihat Thian Sin, dia merasa terkejut dan juga terheran-heran sekali.
Ke manakah adiknya itu yang belum juga pulang?
Dia lalu keluar dan semakin heran karena tidak menemukan adiknya di luar rumah penginapan kecil itu.
Di luar sunyi sekali karena malam telah larut.
Dua ekor kuda mereka masih ada.
Hatinya terasa tidak enak dan diapun kembali ke dalam kamarnya, menyalakan lilin dan mengambil sampul surat yang tadi dibaca oleh Thian Sin.
Biarpun dia tahu bahwa perbuatannya ini sungguh melanggar aturan, yaitu melihat isi surat yang ditujukan kepada ayahnya, akan tetapi karena khawatir akan keadaan Thian Sin, dia memaksakan diri mengambil surat itu dan membacanya.
Kedua tangannya gemetar ketika dia membaca tentang ikatan jodoh antara dia dan Lian Hong.
Hatinya gembira dan girang sekali, akan tetapi juga berdebar penuh ketegangan ketika dia teringat kepada Thian Sin.
Mengertilah dia sekarang mengapa Thian Sin kelihatan gelisah.
Akan tetapi, ke mana perginya adiknya itu?
Kudanya masih ada dan pakaian adiknya juga masih terbungkus dan berada di atas meja.
Tiba-tiba dia merasa khawatir sekali, membayangkan betapa dalam kekecewaannya itu Thian Sin kembali ke Lok-yang untuk memprotes ikatan jodoh itu!
Siapa tahu!
Thian Sin memiliki watak aneh dan keras.
Dugaan ini semakin kuat ketika dia menanti-nanti dan belum juga adiknya pulang.
Maka dia lalu mengambil keputusan nekad untuk pergi menyusul adiknya.
Dia membawa buntalan-buntalan pakaian lalu menitipkan dua ekor kuda itu pada penjaga rumah penginapan dan dengan cepat dia lalu mengerahkan ilmu berlari cepat, menyusul adiknya yang disangkanya tentu pergi ke Lok-yang itu.
Tak pernah disangkanya sama sekali betapa waktu itu, ketika dia sedang berlari cepat sekali menuju ke kota Lok-yang dan baru tiba di pertengahan jalan, adiknya itu sedang mengamuk mati-matian di luar rumah keluarga Ciu yang terbakar!
Dan ketika akhirnya Han Tiong tiba di kota Lok-yang, dia telah melihat nyala api berkobar itu dari arah rumah keluarga Ciu dan mendengar orang-orang yang kelihatan panik di luar rumah-rumah mereka dan bicara simpang siur tentang penyerbuan pasukan di rumah Hui-eng-piauwkiok!
Dapat dibayangkan betapa cemas rasa hati Han Tiong mendengar itu dan dia mempercepat larinya ke arah rumah keluarga Ciu.
Dan dapat dibayangkan betapa terkejut dan hancur hatinya ketika dia melihat puluhan mayat berserakan di antara puing-puing dan di luar rumah yang masih terbakar, dan di antara mayat-mayat itu dia melihat mayat Ciu Khai Sun, Kui Lan, Kui Lin dan Ciu Bun Hong!
Tentu saja Han Tiong segera menubruk mayat-mayat itu dan dia bahkan menangis.
Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya dipegang oleh beberapa buah tangan yang kuat dari belakang dan kanan kiri.
Han Tiong menoleh dan melihat, bahwa yang menangkapnya adalah tangan-tangan dari tiga orang perajurit.
Melihat bahwa pakaian para perajurit yang telah menjadi mayat berserakan di tempat itu, tahulah dia bahwa mereka ini adalah teman-teman dari orang-orang yang telah menyerbu, membakar rumah dan membunuh keluarga Ciu.
Maka diapun lalu meloncat dan sekali menggerakkan tubuhnya, tiga orang yang memegangnya itu terpelanting.
Mereka bangkit lagi dan mencabut senjata, bahkan kini banyak berdatangan perajurit-perajurit yang bertugas menjaga di tempat itu dan Han Tiong sudah dikepung.
Akan tetapi pemuda ini tidak mengamuk seperti yang telah dilakukan oleh adiknya tadi, dia lalu menghindarkan semua serangan, mengelak, menangkis, kemudlan menangkap seorang di antara mereka dan melarikan diri ke tempat gelap.
Para perajurit mengejar-ngejarnya, namun tak seorang di antara mereka mampu menyusul dan sebentar saja Han Tiong telah pergi jauh membawa seorang yang telah ditotoknya.
Di tempat sunyi, Han Tiong melepaskan orang itu dan membebaskan totokannya.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi kalau engkau suka memberitahukan apa yang telah terjadi."
Melihat sikap Han Tiong yang halus itu, si perajurit tidak takut lagi dan diapun lalu menceritakan dengan singkat bahwa pasukan diutus oleh komandan mereka, atas laporan Phou-taijin, untuk menangkap pemberontak yang katanya keturunan Pangeran Ceng Han Houw, di rumah Ciu-piauwsu.
Akan tetapi, para pembantu yang dikirim oleh Phoa-taijin, yang rata-rata amat lihai itu, begitu datang lalu langsung saja membakar rumah dan menyerbu sehingga terjadi pertempuran hebat yang mengakibatkan keluarga Ciu tewas semua.
"Dan keturunan Pangeran Ceng Han Houw itu sendiri?"
Han Tiong mendesak, jantungnya berdebar tegang karena dia seperti melihat bekas amukan adiknya.
Siapa lagi yang dapat mengamuk seperti itu, membunuh puluhan perajurit, kalau bukan adiknya?
"Pemuda itu luar biasa, menyeramkan sekali.
Siapa yang dekat dengannya tentu mati!"
"Di mana dia sekarang?"
"Tidak tahu... tidak tahu, dia telah pergi menghilang begitu saja."
"Dan di mana pula Nona Ciu? Puteri dari keluarga Ciu yang tewas itu?"
"Tidak tahu... hanya kabarnya lolos..."
Han Tiong lalu menotok orang itu sampai pingsan dan diapun lalu copet melarikan diri menuju ke Su-couw.
Dia menduga bahwa tentu adiknya itupun melakukan seperti yang dia perbuat tadi, yaitu memaksa seorang perajurit untuk menceritakan keadaannya dan begitu mendengar bahwa semua penyerbuan itu gara-gara Phoa-taijin yang secara kebetulan mendengar bahwa Thian Sin adalah putera Pangeran Ceng Han Houw, tentu adiknya itu pergi ke Su-couw.
Cepat diapun menyusul ke sana dengan hati berat dirundung duka kalau dia membayangkan kembali mayat-mayat keluarga Ciu.
Tak disangkanya akan terjadi hal seperti itu, kalau saja dia mengundurkan kepergiannya satu hari saja.
Kalau dia masih berada di situ ketika terjadi penyerbuan, siapa tahu dia akan mampu mencegah terjadinya malapetaka hebat itu.
Akan tetapi, semua telah terjadi.
Keluarga Ciu telah tewas dan sekarang yang terpenting adalah mencari Thian Sin dan Lian Hong, dua orang yang dia harap mudah-mudahan masih dalam keadaan selamat.
Ketika dia tiba di Su-couw, langsung dia mencari rumah gedung Phoa-taijin dan sungguh kebetulan sekali dia mendengar teriakan Thian Sin yang menantang-nantang.
Cepat dia meloncat ke atas genteng dan melayang ke dalam.
Melihat keadaan Thian Sin, di bawah sinar lampu yang cukup terang di pelataran itu, Han Tiong bergidik!
Pakaian adiknya sudah robek-robek dan penuh dengan darah!
Pedangnya juga berlepotan darah dan sinar mata adiknya itu seperti bukan manusla lagi!
Maka, tanpa membuang waktu lagi, dia meloncat turun dan menangkap pergelangan tangan kanan adiknya.
"Sin-te, ingatlah...!"
Dia berkata lagi.
Thian Sin menoleh dan melihat kakaknya, dia merintih, kemudian roboh pingsan di dalam pelukan Han Tiong.
Cepat Han Tiong memondong tubuhnya, menyambar pedang Gin-hwa-kiam dan membawa adiknya itu lari sambil memutar pedang untuk menangkis semua senjata yang menyambar ke arah mereka.
Berkat ketangkasannya, Han Tiong dapat cepat melarikan diri keluar dari Su-couw dan langsung dia melarikan diri ke dalam hutan di lereng gunung.
Setelah melihat bahwa tidak ada lagi orang yang mengejar mereka, dia lalu menurunkan tubuh Thian Sin di bawah sebatang pohon besar.
Dia memeriksa tubuh adiknya itu.
Tidak ada luka, baik luar maupun dalam.
Adiknya pingsan karena lelah, karena tertekan batinnya.
Maka diapun lalu mendiamkannya saja, dan diapun duduk bersila di dekat adiknya untuk mengatur pernapasan karena dia sendiri juga tertekan dengan kedukaan dan kekhawatiran.
Baru saja terang tanah, Thian Sin mengerang dan tiba-tiba meloncat bangun.
Ketika Han Tiong juga meloncat berdiri, Thian Sin tiba-tiba menyerangnya dengan hebat, dengan pukulan-pukulan mematikan.
Baiknya Han Tiong bersikap waspada maka dia dapat mengelak dan menangkis beberapa kali sambil berseru.
"Sin-te, sudah gilakah engkau sehingga tidak mengenalku? kau lihat baik-baik, aku adalah Han Tiong!"
Tiba-tiba Thian Sin menghentikan serangannya, memandang kepada wajah Han Tiong, kemudian dia menjadi lemas, menjatuhkan dirinya berlutut dan menangis mengguguk seperti anak kecil!
Han Tiong juga berlutut dan merangkul adiknya, diam-diam dia menyusut beberapa butir air matanya.
"Adikku... ah, Sin-te... tenangkanlah hatimu. Aku tahu... aku telah melihatnya... akan tetapi, kita harus dapat menenangkan hati kita, Sin-te."
"Tiong-ko... aduh, Tiong-ko... betapa aku tidak akan sedih? Semua itu adalah gara-gara aku! Keluarga Ciu binasa karena aku! Karena aku yang menjadi anak pangeran terkutuk itu!"
"Sin-te! Jangan bicara yang bukan-bukan. Ceritakan, apa yang telah terjadi dan mengapa engkau berada di Lok-yang dan Su-couw?"
Thian Sin menenangkan hatinya, lalu duduk bersila sejenak.
Han Tiong membiarkan adiknya, bahkan diapun lalu duduk bersila.
Akhirnya terdengar Thian Sin menarik napas panjang dan suaranya telah menjadi tenang kembali ketika dia bercerita.
"Tiong-ko, maafkanlah aku, Tiong-ko. Aku... aku malam tadi membaca surat titipan Paman Ciu untuk ayah..."
"Aku sudah tahu, adikku."
"Kau tahu? Dan kau diam saja..."
Han Tiong tersenyum duka.
"Keinginan tahu seorang muda bukanlah kesalahan yang terlalu besar, lupakanlah saja, Sin-te."
"Lupakanlah? Ah, Tiong-ko, engkau tidak tahu betapa jahat adikmu ini. Aku membaca surat itu, isinya mengikatkan perjodohan antara engkau dan Hong-moi. Dan aku penasaran! Aku yang tak tahu diri ini! Aku penasaran dan aku kembali ke Lok-yang. Aku harus bicara dengan Hong-moi!"
"Ah!"
Han Tiong terkejut sekali dan hatinya cemas.
Apakah yang telah dilakukan adiknya ini?
Itulah yang dicemaskannya.
"Aku berhasil memanggil Hong-moi keluar dan kami bicara penjang lebar. Dan dia memang cinta kepadamu, Tiong-ko, dia memilih engkau karena... karena aku... hemm, aku orang yang kejam dan jahat!"
"Sin-te, jangan berkata demikian. kau seperti merasa penasaran!"
"Pada waktu itu memang aku penasaran! Dan selagi kami bicara, terdengar suara ribut-ribut dan pasukan anjing jahanam itu telah menyerbu. Mereka berteriak-teriak katanya hendak menangkap aku, anak pemberontak, akan tetapi kenyataannya mereka membakar rumah dan menyerbu. Aku tentu saja tidak tinggal diam. Melihat Paman Ciu sekeluarganya melawan, akupun lalu mengamuk. Akan tetapi, eh... betapa hancur hatiku melihat mayat-mayat mereka berempat..."
Dan pemuda itu memejamkan mata dan mengerutkan alisnya, menahan gelombang duka yang menyerangnya.
"Akupun telah melihat mereka, Sin-te. Dan... dan... Hong-moi, bagaimana dengan dia?"
Tanya Hen Tiong, suaranya agak gemetar.
"Tidak tahu, Tiong-ko... tidak tahu... lenyap begitu saja... aku tidak tahu ke mana ia pergi... ah, hal itu membuatku semakin sedih karena malapetaka yang menimpanya adalah karena aku. Aku harus mencarinya sampai dapat, Tiong-ko!"
"Jangan, Sin-te. Urusan yang terjadi ini terlalu besar. Ingat, pasukan pemerintah mencampuri dan setelah engkau membunuh sekian banyaknya perajurit, tentu pemerintah takkan tinggal diam saja. Tentang Hong-moi, ke mana engkau hendak mencarinya? Tidak ada jejak darinya..."
"Kalau perlu, aku akan siksa semua perajurit yang ada di Lok-yang, dan memaksa mereka itu mengaku di mana adanya Hong-moi!"
"Hemm, perbuatan itu bodoh, Sin-te. Kukira Hong-moi berhasil melarikan diri. Kalau ia tertawan misalnya, tentu engkau atau aku sudah mendengarnya. Engkau tidak boleh sembarangan pergi mencarinya setelah apa yang terjadi malam tadi, Sin-te."
"Habis apakah kita harus mendiamkan saja Hong-moi terancam bahaya dan tidak kita ketahui bagaimana nasibnya? Begitu kejamkah engkau, Tiong-ko? Dan... ia adalah calon isterimu sendiri!"
Kalimat terakhir ini diucapkan dengan nada berteriak penuh rasa penasaran.
Han Tiong menarik napas panjang.
"Sin-te, haruskah aku memperlihatkan atau memamerkan rasa dukaku karena kematian keluarga Ciu dan kegelisahanku karena hilangnya Hong-moi? Kita harus bersikap tenang dalam menghadapi segala hal, Sin-te. Saat ini, pemerintah tentu telah mendengar tentang peristiwa itu dan mata-mata tentu telah disebar untuk mencari kita. Menghadapi persoalan yang besar ini, tiada lain jalan bagi kita selain melaporkannya kepada ayah dan minta pendapat ayah bagaimana selanjutnya kita harus bertindak. Kita tidak boleh bertindak sembarangan. Ingat, kita menghadapi pemerintah yang tidak mungkin kita lawan begitu saja, Sin-te."
Akhirnya, biarpun dengan hati penuh rasa penasaran, Thian Sin mentaati kakaknya.
Dia bukan takut, melainkan segan untuk membantah dan membikin susah atau marah kakaknya yang amat dikasihinya ini.
Biarpun pilihan Lian Hong kepada kakaknya itu sedikit banyak mendatangkan rasa iri hati dan juga menghancurkan perasaannya yang sudah jatuh cinta kepada dara itu, namun dia tidak dapat membenci kakaknya ini.
Dia terlampau sayang dan terlampau kagum terhadap kakaknya sehingga tidak mungkin dia membencinya, bahkan sekarangpun dia tidak mau membantahnya terus karena tidak mau menyusahkan hati kakaknya yang dia tahu amat sayang kepadanya itu.
Maka, Dengan cepat, setelah mengambil kuda mereka, dua orang muda inipun melakukan perjalanan pulang ke Lembah Naga.
Dapat dibayangican betapa kaget rasa hati Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu, isterinya, ketika mereka berdua melihat dua orang putera itu datang dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki mereka sambil menangis!
Han Tiong dan Thian Sin menangis!
Tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa hebatnya maka dapat membuat dua orang muda yang tak pernah menangis ini sekarang mengguguk sambil berlutut di depan mereka, tanpa dapat mengeluarkan kata-kata sedikitpun.
Melihat keadaan dua orang muda, Bhe Bi Cu sudah menjadi gelisah sekali.
Dia berlutut pula di dekat Han Tiong dan mengguncang-guncang pundak putera kandungnya itu.
"Apakah yang telah terjadi? Tiong-ji... ada apakah? Mengapa kalian menangis? Thian Sin, ceritakanlah, apa yang telah terjadi?"
Melihat kegelisahan isterinya, Cia Sin Liong Si Pendekar dari Lembah Naga itu segera menyentuh pundaknya dengan halus, memberi isyarat dengan pandang matanya agar isterinya itu tenang kembali.
Bi Cu yang melihat pandang mata suaminya, menahan tangis dan duduk kembali sambil memandang dua orang muda itu dengan khawatir sekali.
Kini Sin Liong yang berkata-kata dengan suara yang penuh wibawa.
"Han Tiong! Thian Sin! Kalian ini pemuda-pemuda macam apa? Menangis seperti anak-anak kecil. Lupakah kalian bahwa nafsu kedukaan, seperti juga nafsu-nafsu lain, hanya akan melemahkan batin kita dan menghilangkan kewaspadaan? Tidak ada hal yang bagaimana pahit sekalipun yang akan dapat meruntuhkan ketenangan hati seorang pendekar! Hayo hentikan tangis kalian itu dan berceritalah dengan tenang!"
Dua orang muda itu memejamkan kedua mata dan menahan napas, dan akhirnya mereka berdua dapat menenangkan hati mereka dan tidak terisak-isak lagi sungguhpun kedua mata mereka masih basah.
Kemudian Han Tiong menceritakan perjalanan mereka dan semua yang mereka alami, mulai dari pengalaman mereka di kota raja, pertemuan mereka dengan putera Pak-san-kui yaitu Siangkoan Wi Hong, kemudian kunjungan mereka berdua ke Cin-ling-san lalu kunjungan ke Bwee-hoa-san, tempat kediaman Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.
Di bagian ini, Thian Sin membantu kakaknya, bahkan dia menceritakan kegembiraannya bertemu dengan neneknya, ibu dari mendiang ibunya dan betapa neneknya itu telah memberikan Gin-hwa-kiam kepadanya, dan betapa mereka berdua menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi dari kakek dan nenek itu.
Pendekar Lembah Naga dan isterinya tertarik sekali mendengarkan penurutan dua orang muda itu, apalagi ketika mereka menceritakan tentang kunjungan mereka ke dalam pesta ulang tahun Tung-hai-sian di Ceng-tao bersama Cia Kong Liang, tentang peristiwa yang terjadi di dalam pesta ulang tahun yang dikunjungi oleh wakil-wakil para datuk itu.
Kemudian dua orang muda itu menceritakan kunjungan mereka ke Lok-yang di mana mereka telah berjumpa dengan keluarga Ciu dan menyerahkan surat yang dititipkan oleh Pendekar Lembah Naga kepada mereka.
Dan begitu menceritakan keadaan mereka di Lok-yang, sikap dan suara dua orang muda itu berubah dan kedukaan menyelimuti wajah mereka sehingga mudah bagi Sin Liong dan isterinya untuk menduga bahwa tentu terjadi sesuatu di Lok-yang.
Membayangkan betapa terjadi sesuatu atas diri keluarga dua orang adiknya, adik seibu berlainan ayah, yaitu Kui Lan dan Kui Lin, berdebar juga rasa jantung pendekar itu dan kegelisahan mulai menyelimuti hatinya.
Akhirnya cerita dua orang muda itu sampailah kepada peristiwa yang mengerikan itu, dan untuk ini, Thian Sin yang merasa betapa dialah yang bersalah dan menjadi biang keladi peristiwa itu, hanya menundukkan kepalanya dan membiarkan kakaknya yang bercerita.
"Sungguh tidak pernah kami kira bahwa peristiwa perampasan kembali barang-barang kawalan Paman Kui Beng Sin itu mendatangkan akibat yang amat hebat, ayah."
Han Tiong melanjutkan ceritanya dengan suara agak gemetar.
"Pada malam terakhir kami berada di Lok-yang secara tiba-tiba saja pasukon pemerintah menyerbu, membakar rumah Paman Ciu dan menyerang secara membabi-buta! Kami berdua tentu saja membantu keluarga Ciu, mengadakan perlawanan, namun fihak musuh terlalu banyak, bahkan pasukan itu dibantu oleh orang-orang pandai yang ternyata adalah anak buah dari tiga datuk sesat See-thian-ong, Lam-sin, dan Pak-san-kui. Dan dalam pertempuran itu, rumah keluarga Ciu terbakar habis dan Paman Ciu Khai Sun, kedua Bibi Kui Lan dan Kui Lin, juga Ciu Bun Hong... mereka berempat itu... ah, mereka semua tewas...!"
"Ohhhhh...!"
Bi Cu menjerit dan terbelalak, mukanya pucat sekali.
"Hemm...!"
Cia Sin Liong memejamkan kedua matanya seolah-olah hendak menolak penglihatan yang nampak oleh cerita puteranya itu.
Sejenak keadaan hening sekali dan dua orang muda itupun menundukkan muka.
"Tapi mengapa? Mengapa?"
Akhirnya Sin Liong berkata.
"Aku yang bersalah, ayah! Karena kesalahankulah maka hal itu terjadi! Karena aku putera pangeran pemberontak Ceng Han Houw maka hal itu terjadi! Mereka itu berteriak-teriak hendak menangkap putera pangeran pemberontak, akulah yang berdosa, keluarga Ciu tewas semua karena aku seorang! Aku anak keturunan pangeran terkutuk...!"
"Thian Sin!"
Cia Sin Liong membentak dengan keren.
Akan tetapi Thian Sin yang seperti merasa dikejar-kejar dosa itu seolah-olah tidak mendengar bentakan ayah angkatnya.
"Aku telah meneriakkan bahwa aku di situ, agar mereka jangan mengganggu keluarga Ciu, aku telah mengamuk, aku telah membunuh puluhan orang perajurit, akan tetapi tidak berdaya menyelamatkan mereka. Ayah, ibu, aku telah membasmi mereka sebanyak mungkin, lalu aku memaksa mereka mengaku dan ternyata yang menghasut adalah Phoa-taijin! Pembesar laknat itu ternyata telah mengatur sendiri perampokan barang-barangnya yang dikawal Paman Kui Beng Sing untuk mengumpulkan uang pengganti, dia... dia bersekongkol dengan para datuk, dan mereka itu berhubungan dengan orang-orang di utara, bangsa Mangcu yang katanya hendak memberontak. Aku telah menyiksa pembesar itu, memaksanya mengaku, kemudian aku telah menghukumnya, membuntungi kaki tangannya, telinganya, hidungnya..."
"Sin-te...!"
Han Tiong berseru.
"Biarlah, Tiong-ko, akulah yang berdosa, akulah yang menyebabkan keluarga Ciu terbasmi. Namun kematian mereka telah diantarkan oleh kematian puluhan orang musuh, dan akan masih banyak lagi, lebih banyak lagi penjahat-penjahat yang akan kubunuh untuk membalaskan kematian mereka! See-thian-ong, Lam-sin, Pak-san-kui... dan semua penjahat di dunia ini akan kubasmi untuk membalaskan sakit hatiku ini!"
"Thian Sin! Diam kau !"
Tiba-tiba Sin Liong membentak, bentakan yang disertai pengerahan tenaga khi-kang sehingga ruangan itu tergetar dan Thian Sin sendiri yang langsung diserang itu melonjak dan terkejut sekali.
Dia memandang wajah ayah angkatnya, melihat sepasang mata yang seperti naga itu, dan diapun sadarlah.
Dia menyentuh lantai dengan dahinya berulang kali sambil merintih minta maaf.
Mereda kemarahan Sin Liong melihat Thian Sin minta-minta maaf seperti itu dan terbayanglah wajah Pangeran Ceng Han Houw.
Dia menarik napas panjang dan merasa kasihan sekali kepada pemuda ini, akan tetapi juga khawatir.
"Sudahlah, engkau patut selalu ingat bahwa ketenangan batin seorang pendekar tidak akan tergoyahkan oleh peristiwa apapun juga. Kalau engkau menuruti perasaan dan nafsu dendam menguasai batinmu, maka engkaupun akan menjadi sama jahatnya dengan mereka. Han Tiong, teruskan ceritamu."
Wajah pemuda ini agak pucat oleh sikap Thian Sin yang penuh emosi tadi.
Dia tadi sudah berusaha untuk menyembunyikan segala perbuatan Thian Sin di Lok-yang, akan tetapi dalam kedukaan dan kemarahannya, Thian Sin malah mengakui sendiri sehingga diapun tidak akan banyak bicara lagi.
"Ayah, melihat Sin-te mengamuk di rumah pembesar di Su-couw itu, aku segera memaksanya pergi. Keluarga Ciu tewas semua, kecuali Adik Ciu Lian Hong yang lenyap entah ke mana. Mungkin sekali dia berhasil melarikan diri, karena kalau tertawan, tentu kami telah mendengarnya. Sin-te hendak nekat mencarinya, akan tetapi karena peristiwa itu hebat sekali, membawa pasukan pemerintah yang banyak tewas di tangan Sin-te, maka aku memaksanya untuk pulang dan melaporkannya kepada ayah. Dan ini... ini adalah surat yang sebelum peristiwa itu terjadi, pada pagi harinya, diberikan kepada Paman Ciu Khai Sun untuk disampaikan kepada ayah."
Han Tiong menyerahkan surat itu kepada ayahnya.
Pada wajah yang gagah dari pendekar sakti yang telah mulai tua ini, nampak keharuan ketika dia membaca surat tulisan adik iparnya yang telah tewas!
Tulisan seorang yang telah mati, berarti pesannya yang terakhir.
Pesan untuk menjodohkan Lian Hong dengan Han Tiong!
Jadi Han Tiong yang dipilih oleh keluarga itu, keluarga yang terbasmi habis, kecuali Lian Hong seorang.
"Han Tiong... kau harus... harus mencari Lian Hong, calon isterimu itu sampai dapat. Sekarang juga!"
Akhirnya dia berkata.
"Ah, dia baru saja datang!"
Bantah isterinya yang tidak rela melepaskan puteranya untuk pergi lagi pada hari dia kembali dari perantauannya selama hampir setahun itu.
Suaminya menyerahkan surat itu kepada isterinya.
Bhe Bi Cu membacanya dan diapun merasa terharu sekali.
"Bagaimanapun juga, jangan sekarang kau pergi, Tiong-ji, kau baru saja tiba dan belum beristirahat, juga belum menyediakan perlengkapan. Kini kau melakukan perjalanan yang tak tentu tujuannya, mencari tunanganmu yang belum kau ketahui jejak kepergiannya."
"Kau boleh bersiap-siap, Han Tiong. Demi ibumu, biarlah kau berada di rumah selama dua hari dan besok lusa engkau harus berangkat mencarinya sampai dapat. Ini merupakan tugas suci bagimu."
"Baik, ayah."
Kemudian pendekar itu memandang Thian Sin lalu berkata.
"Dan engkau perlu untuk berlatih lagi, Thian Sin. Ilmu silatmu sudah cukup, apalagi engkau telah menerima petunjuk-petunjuk dari kakek dan nenekmu. Akan tetapi, menyaksikan sepak terjangmu di Lok-yang dan Su-couw, dan sikapmu tadi, engkau sungguh masih harus berlatih diri dengan keras untuk memperkuat batinmu. Ingat, Thian Sin, kelemahan batin merupakan suatu yang amat gawat bagi seorang pendekar, karena hal itu kelak bisa mencelakakan dirimu sendiri. Nah, mulai sekarang engkau harus lebih banyak berlatih samadhi dan menguasai nafsu itu, bukannya diperbudak atau sewaktu-waktu engkau dapat dikuasainya sehingga melakukan perbuatan secara membuta, hanya menurutkan dorongan nafsu. Mengerti?"
"Tapi... tapi, ayah... saya ingin sekali membantu Tiong-ko mencari Hong-moi..."
"Tidak! Dengan kelemahan batinmu seperti sekarang ini, engkau bukannya membantu, bahkan mungkin saja menimbulkan kekacauan yang lain dan malah bisa menggagalkan tugas suci Han Tiong yang cukup berat. Engkau tinggal di rumah dan berlatih samadhi!"
Thian Sin mengangguk dan menundukkan mukanya, tidak membantah lagi.
Setelah mendengarkan penuturan Han Tiong lebih lanjut tentang segala yang mereka tanyakan mengenai perjalanan mereka berdua selama hampir setahun ini, kedua orang muda ini lalu mengundurkan diri untuk beristirahat.
Akan tetapi pada keesokan harinya, ketika Han Tiong bangun pagi-pagi sekali, ternyata Thian Sin telah tidak ada di dalam kamarnya dan melihat pembaringannya, memang pemuda itu agaknya tidak tidur sama sekali.
Thian Sin telah pergi tanpa pamit!
Dan agaknya kepergian itu dilakukan malam tadi sehingga setelah ketahuan kini, tentu sudah amat jauh karena sudah semalam melarikan diri.
Cia Sin Liong menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya, lalu menggeleng-geleng kepalanya.
"Ah, kukira akan dapat menundukkannya, setelah dia digembleng pula oleh Lie Seng Koko, siapa kira dia masih seperti seekor kuda binal yang sukar untuk ditundukkan. Melihat sikapnya kemarin... hemm, sungguh aku merasa khawatir sekali. Han Tiong, kalau engkau berangkat mencari tunanganmu, engkau juga perhatikanlah kalau-kalau dapat menemukan jejaknya dan kalau bisa, kau bujuklah dia agar pulang atau biarlah kau perbolehkan dia ikut bersamamu dan membantumu. Kulihat hanya kepadamu sajalah dia itu dapat tunduk."
"Baik, ayah,"
Jawab Han Tiong yang diam-diam merasa prihatin sekali.
Dia tahu bahwa hati adiknya itu hancur, bukan hanya oleh kematian keluarga Ciu, akan tetapi juga karena patah hati.
Adiknya itu mencinta Lian Hong, dan melihat kenyataan betapa Lian Hong dijodohkan dengan dia tentu saja hati Thian Sin menjadi sakit.
Biarlah dia tidak perlu menceritakan hal itu kepada ayah bundanya, Dan kelak, kalau Lian Hong sudah dapat ditemukan, baru dia akan bicara tentang hal ini kepada ayah bundanya.
Kalau perlu, dia akah mengalah dan mundur, membiarkan Thian Sin berbahagia di samping Lian Hong.
Tentu saja kalau gadis itu memang menghendakinya, yang penting sekarang adalah menemukan dara itu.
Tiga hari kemudian, barulah Han Tiong berangkat, dibekali cukup uang dan nasihat-nasibat oleh ayah bundanya yang mengantar kepergiannya dengan pandang mata prihatin.
Dan karena Han Tiong sendiri tidak tahu di mana adanya Lian Hong atau ke mana perginya, maka satu-satunya jalan baginya hanyalah mengunjungi Lok-yang kembali, atau setidaknya dia akan mencari di sekitar daerah Propinsi Ho-nan.
Memang tepat dugaan Han Tiong.
Thian Sin nekat malam itu minggat meninggalkan Lembah Naga karena patah hati!
Dia tidak merasa perlu lagi tinggal di Lembah Naga.
Untuk apa?
Lian Hong sudah menjadi calon isteri kakaknya, dan malah dia tidak boleh membantu kakaknya mencari dara itu!
Kalau dia tinggal di Lembah Naga, setiap hari dia hanya akan menyesali dirinya sendiri saja.
Tidak, dia harus pergi!
Dia harus mempelajari ilmu-ilmu peninggalan ayahnya.
Dia memang putera kandung Pangeran Ceng Han Houw yang dicap pemberontak.
Dia memang anak orang jahat, dan sekarang dia telah menjadi pemberontak pula setelah dia membunuh pasukan pemerintah.
Biarlah dia hidup sendiri dengan segala kejelekannya.
Dan dia akan membalas dendam kematian keluarga Ciu, juga dendamnya sendiri.
Telah terlalu sering hatinya dibikin sakit oleh para penjahat dan betape dia selama ini selalu menahan-nahan dendamnya.
Beberapa kali dia harus merasa kecewa dalam hidupnya.
Ayahnya dan ibunya dibunuh orang, dan karena teringat bahwa ayah bundanya dibunuh oleh para pasukan pemerintah itulah maka dia malam itu mengamuk dan membunuhi para prajurit itu dengan penuh kebencian, bukan semata-mata karena ingin membela keluarga Ciu.
Berapa kali dia patah hati karena putus cinta.
Pertama dengan Cu Ing yang dipisahkan darinya dengan paksa.
Ke dua, dia kehilangan Loa Hwi Leng yang terbunuh oleh orang-orang Jeng-hwa-pang.
Dia sakit hati dan mendendam kepada banyak orang!
Kepada pasukan kerajaan yang membunuh orang tuanya dan membunuh keluarga Ciu, kepada Raja Agahai pamannya di utara yang ikut pula mencelakakan orang tuanya, kepada Jeng-hwa-pang, kepada See-thian-ong, kepada Lam-sin, Pak-san-kui dan masih banyak lagi, dan pendeknya, kepada semua penjahat di dunia ini!
"Aku akan basmi mereka!"
Berkali-kali dia berkata ketika dia lari di malam hari itu, menuju ke selatan dan dengan cerdik dia mengambil jalan liar, bukan jalan umum karena dia tahu bahwa mungkin sekali kakaknya akan menyusul dan mencarinya.
Dia harus pandai menyembunyikan diri dan tidak sampai berjumpa dengan kakaknya, karena dia tahu bahwa kalau sampai dia berhadapan muka dengan Han Tiong, dia tidak mungkin dapat membantah lagi kalau kakaknya itu mengajaknya pulang.
Sekali ini, kepergiannya memang sudah direncanakan sejak dia pulang dan menghadap ayah angkatnya bersama Han Tiong.
Maka dia tidak lupa membawa kitab-kitab peninggalan ayahnya.
Selama ini dia belum sempat mempelajarinya, karena ayah angkatnya melarangnya.
"Ilmu milik mendiang ayah kandungmu memang hebat, Thian Sin, akan tetapi sayang, ilmu itu mengandung pengaruh yang amat tidak baik. Sifat ayahmu banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmunya itulah."
Demikian ayah angkatnya berkata dan selama ini dia mentaati dan tidak pernah menyentuh kitab-kitab itu.
Akan tetapi, kini dia membawa kitab-kitab itu dan dia harus mempelajarinya.
Dia sudah pernah membalik-balik lembarannya dan dapat mengerti dengan mudah.
Juga kunci-kunci rahasia kitab itu masih diingatnya baik.
Kitab-kitab tulisan ayah kandungnya itu memang mengandung rahasia-rahasia yang hanya depat dipecahkan olehnya, dengan menggunakan kunci-kunci rahasia yang pernah diajarkan ayahnya kepadanya.
Pertama-tama dia akan mencari Pak-san-kui.
Datuk kaum sesat ini adalah ayah Siangkoan Wi Hong dan sekarang, tanpa adanya Han Tiong di sampingnya, dia akan menghajar Siangkoan Wi Hong dan akan membunuhnya!
Juga dia akan menantang Pak-san-kui yang sudah mengirim anak buahnya ikut mengeroyok dan membunuh keluarga Ciu Khai Sun.
Dia sudah banyak mendengar tentang Pak-san-kui, Bahkan ayah angkatnya sudah banyak bercerita tentang datuk kaum sesat di daerah utara ini.
Dia tahu bahwa Pak-san-kui tinggal di kota Tai-goan, di Propinsi Shan-si dan ke sanalah dia kini menuju.
Pada saat itu, Ceng Thian Shin telah berusia sembilan belas tahun.
Wajahnya memang tampan sekali, gerak-geriknya halus.
Dilihat sepintas lalu saja, dia lebih pantas menjadi seorang pemuda pelajar yang lemah.
Siapa mengira bahwa pemuda ini menyembunyikan ilmu silat yang amat hebat, banyak macam ilmu silat tinggi dikuasainya dan dia merupakan seorang pendekar sakti yang amat lihai.
Pedang Gin-hwa-kiam pemberian neneknya disembunyikannya di balik jubahnya dan dia melakukan perjalanan cepat menyusup-nyusup hutan, naik bukit dan menuruni jurang, mengambil jalan liar agar tidak sampai dapat disusul oleh kakaknya.
Pak-san-kui adalah seorang kakek yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, hampir tujuh puluh tahun malah, dan dia memang diakui sebagai datuk oleh kaum sesat atau golongan hitam di deerah utara.
Namanya adalah Siangkoan Tiang dan di kota Tai-goan di mana dia hidup sebagai seorang hartawan besar, dia lebih dikenal sebagai Siangkoan-wangwe (hartawan Siangkoan).
Rumah gedungnya besar seperti istana, dikelilingi pagar tembok yang tebal seperti benteng dan di depan pintu gerbangnya selalu terdapat penjaga-penjaga yang berpakaian seragam kuning, pakaian ahli-ahli silat yang gagah.
Pak-san-kui Siangkoan Tiang ini tidak seperti para datuk lainnya, tidak mempunyai perkumpulan yang dipimpinnya.
Akan tetapi jangan dikira bahwa dia tidak mempunyai anak buah!
Dia mempunyai tidak kurang dari lima puluh orang anak buah yang menjadi pesuruh-pesuruh atau tukang-tukang pukulnya yang rata-rata memiliki ilmu silat lumayan karena tentu saja sebagai seorang datuk, Pak-san-kui tidak sudi mempunyai anak buah yang lemah!
Dan biarpun dia tidak mempunyal perkumpulan dan tidak membuka perguruan, namun dia mempunyai kurang lebih sepuluh orang anak buah yang dipilihnya dari semua anak buahnya, Yang merupakan orang-orang berbakat, lalu mengambil mereka sebagai muridnya.
Sebagian besar dari anak-anak buah itu adalah bekas-bekas penjahat di daerah utara yang takluk kepada datuk ini.
Murid-murid kepala yang paling diandalkan oleh Pak-san-kui adalah Pak-thian Sam-liong, Tiga orang kakek berusia lima puluh tahun yang terkenal dengan ilmu gabungan mereka, yaitu Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga).
Pakaian tiga orang murid kepala inipun ringkas dan gagah, berwarna putih-putih dengan sabuk biru dan kemanapun mereka pergi, tiga orang ini selalu membawa pedang di punggung mereka.
Di bawah murid kepala ini, terdapat beberapa orang murid lagi yang cukup tangguh dan mereka semua inilah pelaksana-pelaksana yang mewakili Pak-san-kui dalam berurusan dengan segala golongan di daerah utara.
Pak-san-kui bukan hanya terkenal kaya raya, akan tetapi dia juga mempunyai hubungan yang amat erat dengan para pembesar di kota-kota, sampai di kota raja!
Pengaruhnya luas sekali dan dialah, Atau setidaknya murid-muridnya yang dipercayalah, yang menjadi semacam jembatan bagi setiap orang yang memerlukan bantuan para pembesar itu.
Melalui Pak-san-kui maka pembesar itu suka memberi jasa-jasa baik terhadap para pedagang, para hartawan yang membutuhkan bantuan pembesar-pembesar itu dengan imbalan yang cukup besar.
Dan semua hubungan itu melalui Pak-san-kui!
Tentu saja sebagai jembatan, Pak-san-kui memperoleh tanda terima kasih dari kedua fihak.
Selain itu, juga Pak-san-kui telah menundukkan semua gerombolan penjahat sehingga dari mereka inipun dia memperoleh banyak sumbangan sebagai tanda takluk.
Bahkan semua rumah judi, rumah pelacuran, dan rumah pemadatan yang besar-besar, berada di bawah kekuasaan Pak-san-kui.
Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruhnya besar dan kekayaannya makin lama semakin besar juga.
Seperti telah kita kenal, hartawan ini mempunyai seorang putera saja, yaitu Siangkoan Wi Hong yang tampan, halus dan pandai main musik, bersajak, akan tetapi juga lihai ilmu silatnya itu.
Jarang ada orang sempat menyaksikan ilmu silat kakek hartawan ini.
Akan tetapi didesas-desuskan bahwa kepandaiannya seperti malaikat, dan huncwe panjang bergagang emas yang selalu dibawanya ke mana-mana itu merupakan senjata yant amat awnpuh.
Dan hartawan ini memang lebih patut menjadi hartawan daripada ahli silat tinggi, karena tubuhnya yang jangkung, Wajahnya yang terpelihara baik-baik dan tampan, sikapnya yang ramah, Pakaiannya yang mewah, semua itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang datuk yang sakti.
Amat mudah bagi Thian Sin untuk menemukan rumah gedung Pak-san-kui di kota Tai-goan itu.
Setiap orang, siapapun juga yang ditanyainya, tentu tahu di mana letak rumah gedung itu walaupun orang lebih mengenal Pak-san-kui sebagai Siangkoan-wangwe.
Tadinya Thian Sin sendiri bingung melihat yang ditanya tentang Pak-san-kui tidak tahu, akan tetapi ketika pemilik restoran di mana dia makan mendengar disebutnya Pak-san-kui, dia cepat berkata bahwa yang dicari pemuda itu tentulah Siangkoan-wangwe.
Dan Thian Sin segera membenarkan karena dia teringat bahwa nama putera Pak-san-kui adalah Siangkoan Wi Hong.
"Ya, benar. Siangkoan-wangwe, di mana rumahnya?"
Semua orang dengan cepat memberi keterangan di mana adanya rumah gedung hartawan itu, dan di luar tahunya Thian Sin, pemilik restoran diam-diam telah mengutus seorang pegawainya untuk memperingatkan kepada hartawan itu atau anak buahnya bahwa ada seorang pemuda tampan asing yang mencarinya.
Mudah diketahui bahwa pemuda yang mencari itu tentulah seorang asing yang datang dari jauh, pertama karena logat bicaranya berbeda, ke dua, kalau pemuda itu orang daerah Tai-goan, tak mungkin tidak tahu di mana adanya rumah Siangkoan-wangwe!
Karena adanya laporan inilah maka ketika Thian Sin berhadapan dengan para penjaga pintu gerbang rumah gedung yang berpakaian serba kuning itu dan mendengar bahwa dia minta berjumpa dengan Siangkoan-wangwe, dia dipersilakan memasuki pintu gerbang, akan tetapi begitu dia masuk, daun pintu gerbang dari besi itu ditutup rapat dan dia telah dikurung oleh beberapa orang penjaga yang membawa tombak dan golok!
Thian Sin bersikap tenang sekali.
Setelah kini merantau seorang diri dan seorang diri pula menghadapi bahaya, dia bersikap tenang.
Dia tahu bahwa dia telah berani memasuki gua macan, oleh karena itu dia tidak mau menuruti perasaan hatinya.
Dia sudah memperoleh pelajaran pahit dan sekarang dia harus bersikap cerdik.
Dia bukan seorang tolol yang nekat mencari mati dengen menantang Pak-san-kui begitu saja.
Dia harus pandai bersiasat.
Maka, dikepung oleh beberapa orang yang berpakaian kuning itu, dia tersenyum saja.
"Hemm, beginikah caranya Pak-san-kui yang terkenal itu menyambut seorang tamu yang hendak bertemu dengannya? Menyambut dengan pengeroyokan seperti sikap seorang tukang pukul murahan saja?"
Katanya mengejek dan sengaja menaikkan nada suaranya, agar terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam gedung besar itu!
Dan pancingannya itu memang berhasil.
Dari dalam gedung muncullah seorang pemuda tampan yang membawa yang-kim, dan bukan lain dia adalah Siangkoan Wi Hong.
"Aha, kiranya si pemberontak berani muncul di sini!"
Kata Siangkoan Wi Hong dengan suara mengejek, akan tetapi dia tersenyum dan memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata menunjukkan kekagumannya.
Memang putera Pak-san-kui ini merasa kagum kepada Thian Sin yang dianggapnya seorang pemuda yang pandai bersajak, penuh keberanian, dan mempunyai ilmu kepandaian hebat.
Dia sendiri harus mengakui bahwa dia tidak mampu menandingi putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw ini!
Melihat munculnya putera Pak-san-kui itu, Thian Sin tersenyum pula dan membungkuk.
"Nah, kalau puteranya yang keluar menyambut masih mendingan! Siangkoan-kongcu, jangan sembarangan bicara tentang pemberontak, nanti engkau bisa mendapat marah dari ayahmu. Ada banyak macam pemberontak di dunia ini dan yang paling berbahaya adalah para pemberontak yang bersembunyi dan tidak melakukan pemberontakannya secara berterang!"
Thian Sin teringat akan pengakuan Phoa-taijin, maka dia berani menyindir dengan kata-kata itu.
Dia merasa yakin bahwa datuk utara, ayah dari pemuda di depannya ini tentu bersekutu dengan orang-orang Mancu yang merencanakan pemberontakan.
"Bocah sombong! Engkau telah berani memberontak dan mengacau di Lok-yang dan Su-couw, dan sekarang berani muncul di sini, menjual lagak? Tangkap dia!"
Bentak Siangkoan-kongcu yang sudah meloncat maju.
Beberapa orang penjaga sudah mengurung pula, siap untuk menyerang Thian Sin yang sudah terkurung di tengah-tengah.
Akan tetapi Thian Sin bersikap tenang dan masih tersenyum, sama sekali tidak kelihatan gentar.
"Aku tidak percaya bahwa Siangkoan Wi Hong, putera tunggal Pak-san-kui yang terkenal lihai itu kini hendak mengandalkan pengeroyokan anak buahnya yang tidak berarti untuk menyambut seorang tamu yang hendak bicara!"
Ucapan ini membuat Siangkoan Wi Hong meragu.
Kalau dia melanjutkan pengeroyokan, sungguh sama saja dengan menjatuhkan namanya sendiri di depan mata para anak buahnya!
Akan tetapi, pada saat itu, terdengar suara tertawa dari dalam gedung dan tiba-tiba saja muncul seorang kakek bertubuh jangkung yang memegang sebatang huncwe panjang.
Biarpun selama hidupnya belum pernah berjumpa dengan Pak-san-kui, akan tetapi Thian Sin sudah memperoleh gambaran tentang datuk ini dari kakaknya yang pernah bertemu ketika masih kecil, maka begitu kakek itu muncul, dia sudah dapat menduganya dan cepat dia menjura dengan sikap hormat, menyembunyikan kebencian hatinya di balik senyum ramah.
"Siangkoan-locianpwe suka keluar sendiri, ini berarti suatu kehormatan besar begiku!"
Katanya sambil memberi hormat. Kakek itu tertawa dan matanya terbelalak kagum.
"Inikah putera Pangeran Ceng Han Houw yang telah membikin geger dan telah membuntungi orang she Phoa itu? Ha-ha-ha, sungguh pentas menjadi putera pangeran yang pernah merebut gelar Jagoan Nomor Satu di dunia! Hei, Ceng Thian Sin, engkau sungguh menyenangkan sekali, tepat seperti yang telah diceritakan oleh puteraku. Mari, mari, kita ke lian-bu-thia karena sebelum bicara lebih lanjut aku ingin sekali menguji kepandaianmu."
Thian Sin menyembunyikan kekhawatirannya.
Dia tahu bahwa dia berada di tempat berbahaya, dan sekali masuk, entah dia akan dapat keluar lagi atau tidak.
Maka sambil tersenyum diapun berkata.
"Saya sama sekali tidak dapat percaya bahwa seorang datuk seperti Siangkoan-locianpwe akan sudi untuk menjebak dan mencelakai seorang pemuda tanpa nama seperti saya ini!"
Kakek itu menghembuskan asap dari pipa tembakaunya dan tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, berani dan lihai dan cerdik pula! Orang muda, apa kau kira kau akan mampu lolos dari jangkauan huncweku kalau aku menghendaki nyawamu? Perlu apa aku mesti pakai menjebak seperti perbuatan seorang pengecut? Masuklah dan aku sendiri menjamin bahwa tidak akan ada yang mengganggumu, apalagi menjebakmu. Kita adalah orang-orang segolongan, atau setidaknya, mendiang Pangeran Ceng Han Houw andaikata sekarang masih hidup, tentu merupakan seorang sahabatku yang paling baik."
Lega rasa hati Thian Sin.
Ternyata siasatnya ketika dia bicara tentang pemberontakan sambil menyinggung keadaan Pak-san-kui tadi berhasil.
Kakek itu tidak akan memusuhinya, bahkan agaknya, melihat sikapnya, akan menariknya sebagai sekutu atau sahabat.
Baik, dia akan melihat keadaan dan tidak akan terburu nafsu membalas dendam kematian keluarga Ciu.
Sekarang dia tidak mempunyai siapapun juga, maka dia harus pandai menjaga diri sendiri dan berlaku cerdik.
"Baiklah, locianpwe, aku percaya penuh kepada ucapan seorang besar seperti locianpwe."
Dan dengan sikap tenang diapun melangkah masuk mengikuti kakek itu.
Di belakangnya berjalan Siangkoan Wi Hong yang juga amat kagum kepada pemuda remaja ini.
Lian-bu-thia itu luas sekali, dindingnya putih bersih dan dihias tulisan-tulisan yang bergaya gagah.
Di sudut ruangan itu terdapat sebuah rak senjata yang penuh dengan senjata-senjata selengkapnya.
Juga terdapat alat-alat untuk latihan silat, bahkan ada patok-patok bunga bwee untuk latihan kuda-kuda dan langkah-langkah silat, ada karung-karung terisi bubuk pasir dan bubuk besi untuk latihan mengeraskan tangan dan sebagainya.
Hawa dalam ruangan lian-bu-thia (ruangan bermain silat) itu cukup segar karena dikelilingi jendela beruji besi.
Lantainya juga bersih dan tidak licin.
Pendeknya, lian-bu-thia yang terawat dan baik sekali.
Ketika mereka memasuki lian-bu-thia itu terdapat tiga orang kakek setengah tua yang sedang latihan silat dan mereka ini ternyata adalah Pak-thian Sam-liong!
Melihat guru dan juga majikan mereka masuk bersama Siangkoan-kongcu dan seorang pemuda, mereka segera memberi hormat dan mengenakan pakaian mereka yang tadi mereka buka dan mereka hanya memakai celana.
Akan tetapi ketika ini melihat dan mengenal Thian Sin, mereka terkejut sekali dan memandang dengan alis berkerut.
Akan tetapi dengan sikap gembira sekali, Pak-san-kui lalu melepaskan mantelnya yang terbuat dari bulu tebal dan dia menyerahkan huncwenya kepada seorang di antara Pak-thian Sam-liong yang segera mengisinya dengan tembakau dari sebuah kantong tembakau yang diberikan oleh kakek itu kepadanya.
Baju sutera hartawan itu mewah sekali dan dia tersenyum memandang kepada Thian Sin.
"Ceng-sicu, aku telah mendengar bahwa sebagai putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw, engkau memiliki ilmu silat yang hebat sekali!"
"Ah, berita itu terlalu dilebih-lebihkan, locianpwe,"
Thian Sin berkata merendah, sikap yang memperlihatkan kecerdikannya.
Sebelum dia tahu sampai di mana kehebatan kepandaian musuh ini, dia harus bersikap hati-hati, pikirnya, apalagi dia berada di dalam rumah datuk ini.
"Hemm, sama sekali tidak dilebih-lebihkan kalau engkau sudah dapat mengalahkan tiga orang (Lanjut ke
Jilid 19) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 muridku dan juga puteraku.
Bahkan kabarnya engkau telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, sungguh luar biasa.
Semuda ini kabarnya telah memiliki Thi-khi-i-beng, benarkah itu?"
"Locianpwe terlalu memuji,"
Kata Thian Sin.
"Ha-ha-ha, oleh karena itu, untuk membuktikan apakah benar semua berita yang kuterima itu, apakah benar engkau sedemikian lihainya ataukah hanya murid-muridku dan puteraku saja yang tolol, maka sungguh kebetulan sekali engkau datang. Sebelum kita bicara lebih lanjut, marilah kita main-main barang beberapa jurus dan harap engkau tidak perlu untuk mengeluarkan seluruh ilmu kepandaianmu."
Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah ke tengah ruangap lian-bu-thia, menggapaikan tangan ke arah muridnya yang mengisi huncwe tadi.
Sang murid cepat mengantarkan huncwe gurunya dan dengan penuh hormat lalu menyalakan geretan api dan membakar tembakau di ujung huncwe sehingga tak lama kemudian nampak asap putih mengepul dan tercium bau tembakau yang harum.
Pak-san-kui mengepulkan asap dari hidungnya dan mengangguk kepada Thian Sin.
"Ceng Thian Sin, kau majulah dan mari kita main-main!"
Thian Sin segera melangkah maju dan bersikap waspada.
Memang dia ingin sekali mencoba sampai di mana kelihaian orang tua ini, seorang di antara para datuk.
Kalau dia mampu menandinginya, dia tentu akan membunuh datuk ini, untuk membalaskan kematian keluarga Ciu.
Akan tetapi kalau datuk ini terlalu pandai dan terlalu lihai baginya, dia akan menggunakan akal.
Sambil tersenyum dia lalu menjura dan berkata.
"Aku yang muda hanya melayani kehendak locianpwe, silakan, locianpwe!"
"Baik-baik, kau siaplah, orang muda!"
Tiba-tiba kakek ini melangkah maju, tangan kirinya menyambar sembarangan saja ke arah kepala Thian Sin.
Biarpun tangan itu hanya menyambar perlahan saja, namun ada angin sambaran yang amat kuat mendahului tangannya.
Thian Sin menggeser kaki ke belakang untuk mengelek, akan tetapi sebelum dia membalas serangan oembarangan itu, tahu-tahu tangan yang sudah dielakkannya dan lewat itu masih terus menyambar ke arah kepalanya, bahkan kini dua jari dari tangan itu menusuk ke arah matanya dengan kecepatan kilat!
Tentu saja dia terkejut bukan main, karena lawannya itu tidak melangkah maju, akan tetapi bagaimana tangannya masih terus depat mengejarnya?
Ketika dia memendang sambil meloncat cepat ke kiri untuk mengelak, kiranya lengan kiri kakek itu dapat diulur panjang sampai hampir dua kali panjang lengan biasa!
Itulah ilmu yang amat luar biasa dan amat berbahaya, pikirnya.
Maka sambil mengelak tadi, diapun sudah membalas dengan tamparannya dengan menggunakan Ilmu Thian-te Sin-ciang!
Dari tangannya sampai terdengar suara bersuit keras saking hebatnya pukulan itu.
Memang Thian Sin yang maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat tangguh, telah mempergunakan semua tenaganya dalam mengirim serangan balasan ini.
Agaknya kakek ini sudah menduga akan tamparan ini dan diapun sengaja menangkis dengan lengan kirinya yang sudah ditarik kembali tentu saja sambil mengerahkan tenaganya karena dia maklum bahwa pemuda ini hebat bukan main.
"Dukkk...!"
Keduanya tergetar dan terpaksa mundur selangkah. Kakek itu memandang kagum sekali.
"Itukah Thian-te Sin-ciang? Bukan main hebatnya!"
Katanya memuji sambil tersenyum.
Sudah lama dia mendengar akan ilmu ini dan hari ini dia benar-benar menghadapi ilmu itu yang dilakukan oleh seorang pemuda gemblengan.
Akan tetapi Thian Sin mengira bahwa kakek itu memandang rendah kepadanya, maka diapun lalu mainkan Ilmu Silat San-in Kun-hoat yang hebat, yaitu ilmu pusaka dari Cin-ling-pai.
Menghadapi desakan serangan ilmu silat tinggi ini, apalagi kalau setiap pukulannya mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang, kakek itu mengeluarkan seruan kagum dan kini diapun bergerak aneh, tubuhnya kadang-kadang berputar untuk mengelak dan lagi-lagi tangannya kirinya dengan lemas yang dapat terulur panjang itu membalas dengan serangan yang tak terduga-duga.
"Ha-ha. Inikah San-in Kun-hoat? Bagus sekali!"
Thian Sin merasa penasaran.
Ilmu silatnya dapat dikenal orang, maka diapun lalu menggantinya dengan teriakan dari ilmu silat yang baru saja dipelajarinya dari Kakek Yap Kun Liong, yaitu Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun.
Pukulan-pukulannya seperti angin cepatnya dan tubuhnya berputaran, menyerang lawan dari delapan penjuru.
Memang Pat-hong Sin-kun (Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) ini amat cepatnya.
"Eh, eh, apa ini? Seperti gerakan Pat-kwa..."
Kakek itu menebak-nebak heran akan tetapi harus diakui bahwa dia lihai sekali karena semua serangan Thian Sin dapat dielakkannya dengan tangkisan atau dengan putaran-putaran tubuh secara aneh, bahkan setiap pukulan selalu dibalasnya dengan kontan.
Namun, Thian Sin juga selalu dapat menangkis semua pukulan itu dan dia tetap waspada karena sebegitu jauhnya, kakek itu belum pernah menggunakan huncwenya untuk menyerang.
Padahal, seperti yang pernah dia dengar, huncwe itulah yang merupakan senjata maut kakek itu, maka kini perhatian Thian Sin selalu ditujukan ke arah huncwe itu.
Dan dugaannya memang tepat.
Ketika kakek itu agak repot menghadapi Pat-hong Sin-kun, tiba-tiba saja setelah mengelak, huncwenya menyambar.
Thian Sin cepat mengelak, akan tetapi ketika huncwe itu lewat di atas kepalanya, tiba-tiba saja ada api menyambar ke arah mukanya.
Api itu keluar dari tempat tembakau dan merupakan bunga api yang menyambar cepat sekali ke arah matanya!
Tentu saja Thian Sin menjadi terkejut bukan main dan ketika dia dengan kecepatan kilat melempar tubuh ke belakang, tangan kiri kakek itu yang mulur panjang telah menampar punggungnya!
Tamparan yang dilakukan ketika dia mengelak dari sambaran api sehingga tubuh yang lagi dilempar ke belakang itu tidak mungkin mengelak lagi dan untuk menangkispun tidak sempat lagi, maka pemuda itu hanya dapat mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang melindungi punggungnya.
"Plakk!"
Thian Sin melompat untuk mengurangi tenaga tamparan itu, dan kakek itupun berseru heran ketika tamparannya itu merasa betapa kulit punggung itu lemas dan lunak seperti karet.
Tahulah dia bahwa punggung itu terlindung oleh tenaga sin-kang yang amat kuatnya dan sama sekali tidak terluka oleh pukulannya tadi.
Dia menjadi semakin kagum, tahulah dia bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang yang disohorkan dunia kang-ouw itu ternyata tidak kosong belaka.
Thian Sin merasa penasaran.
Memang benar dia belum kalah, akan tetapi karena dia telah terkena satu kali tamparan, maka berarti dia yang terdesak.
Kini dia maju dan menyerang lagi dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun!
Begitu dia mulai mainkan ilmu silat yang amat indah dan juga amat kuat ini kakek itu sudah berseru kagum.
"Wah, inilah Thai-kek Sin-kun! Bukan main!"
Dan diapun mencoba untuk membobolkan benteng pertahanan ilmu silat itu dengan serangan-serangan huncwenya, sambil mencoba untuk mengacaukan garis pertahanan lawan dengan lengan kirinya yang dapat mulur itu.
Namun, pertahanan Thian Sin amat kuatnya sehingga ke manapun juga huncwe dan tangan kiri itu menyerang, Dia selalu sudah dapat menyambutnya dengan tangkisan kuat ataupun dengan elakan yang indah.
Kedua lengannya berani menangkis huncwe itu karena dilindungi tenaga Thian-te Sin-ciang.
Beberapa kali kakek itu memuji.
Biarpun dia telah mengerahkan tenaganya, namun belum juga dia mampu merobohkan lawan.
Memang, dia tidak sepenuhnya mainkan huncwenya, melainkan huncwenya itu hanya lebih banyak menggertak saja dan dia menyerang dengan tangan kirinya.
Hal ini adalah karena dia merasa malu kalau harus merobohkan lawan dengan huncwenya, padahal pemuda itu juga bertangan kosong.
Memang hal ini juga yang dimaklumi oleh Thian Sin.
Setiap kali kakek ini menggunakan huncwenya, dia memandang silau oleh hamburan api yang muncrat ke sana-sini, Dan gerakan huncwe itu memang aneh bukan main, bahkan kalau kakek itu mau, agaknya pertahanan Thai-kek Sin-kun juga tidak mampu mempertahankan dirinya.
Akan tetapi kakek itu selalu menahan huncwenya dan melanjutkan dengan serangan tangan kiri yang cukup aneh dan ampuh itu.
Setelah lewat lima puluh jurus, kakek itu kini menggerakkan huncwenya dengan aneh.
Huncwe itu diputar-putar, menjadi gulungan sinar api yang menyilaukan mata.
Terpaksa Thian Sin mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi huncwe ini dan kembali dia kecurian!
Lengan kiri kakek itu memanjang dan menghantamnya dari belakang, kini bukan ditujukan ke punggung, melainkan ke tengkuknya!
Tentu saja hal ini amat berbahaya, maka pada saat terakhir, Thian Sin sudah mengerahkan Thi-khi-i-beng.
"Plakkk! Aughhhhh...!"
Kakek itu mengeluarkan teriakan kaget, lalu disambungnya.
"Wah, ini Thi-khi-i-beng, ya?"
Dan huncwenya menyambar, lalu ada rasa panas pada tengkuk Thian Sin sehingga sesaat tenaga Thi-khi-i-beng membuyar dan kakek itupun sudah dapat menarik kembali tangan kirinya!
Kiranya kakek itu mampu memunahkan Thi-khi-i-beng dengan bantuan api huncwenya!
"Ha-ha, hebat sekali kau , Ceng Thian Sin!
Semuda ini sudah banyak ilmunya yang hebat-hebat!
Tapi jangan harap kau akan dapat menangkan aku, orang muda.
Keluarkan pedangmu di balik jubah itu, dan mari hadapi huncweku dengan senjata!"
Kembali Thian Sin terkejut.
Bukas saja kakek ini berhasil memunahkan Thi-khi-i-beng, akan tetapi juga tahu akan pedangnya dan menantangnya menggunakan pedang.
Apa artinya dia menggunakan pedang kalau Thian-te Sin-ciang, Thi-khi-i-beng dan Thai-kek Sin-kun saja tidak mampu mengalahkan kakek ini?
Dan kakek itu agaknya belum mengeluarkan ilmu huncwenya yang sungguh-sungguh!
Mengertilah Thian Sin bahwa dia memang masih kalah oleh kakek ini, maka dia menekan rasa penasaran di dalam hatinya dan dia berkata dengan suara ramah dan merendah.
"Saya datang bukan dengan maksud memusuhi locianpwe, mengapa saya harus mempergunakan pedang?"
Kakek itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, kata-katamu memang enak didengar. Akan tetapi aku sudah mendengar betapa ganasnya engkau menggunakan pedangmu ketika engkau mengamuk di Lok-yang dan Su-couw. Nah, orang muda, engkau berpedang dan aku memegang huncwe, kita lihat siapa lebih unggul!"
"Ayah, agaknya dia tidak berani kalau-kalau pedangnya akan melukai dirinya sendiri, ha-ha!"
Siangkoan Wi Hong tertawa, sengaja membakar hati Thian Sin.
Thian Sin sudah siap dengan siasatnya dan menekan semua kemarahan dan kebencian, akan tetapi ternyata dia masih belum kuat dan mendengar ejekan ini, tangan kanannya bergerak dan nampaklah sinar perak ketika Gin-hwa-kiam tercabut.
Melihat pedang yang tipis dan pendek ini, Pak-san-kui tertawa.
"Ha-ha-ha, kiranya pedang seorang wanita! Eh, Ceng Thian Sin, apakah pedang itu pedang tanda mata dari seorang kekasihmu?"
"Harap locianpwe jangan menghina!"
Thian Sin berteriak, menahan diri agar tidak memaki kakek itu.
"Ini adalah pedang pemberian nenekku! Nah, sambutlah!"
Diapun lalu menggerakkan pedang itu dan karena dia tidak mempelajari ilmu pedang khusus, maka diapun lalu mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang kalau dimainkan dengan pedang dapat menjadi Thai-kek Sin-kiam.
Cukup hebat gerakannya dan begitu pedang diputar nampak gulungan sinar perak.
"Hemm!"
Kakek itu mendengus dan nampak kecewa, lalu menggerakkan huncwenya dan begitu huncwe bergerak, terkejutlah Thian Sin.
Sudah diduganya memang bahwa senjata huncwe ini adalah keistimewaan kakek itu, akan tetapi tak pernah disangkanya demikian hebat huncwe itu.
Baru belasan gebrakan saja dia sudah tidak mampu balas menyerang.
Gerakan huncwe itu merupakan gulungan api!
Dan selain cepat, juga amat aneh sehingga sukar diikuti.
Dia mempertahankan dengan memutar pedang melindungi tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba, setelah lewat dua puluh jurus, terdengar suara keras sekali dan pedangnya terpental, hampir terlepas dari pegangan tangannya, kemudian huncwe itu sudah datang dekat sekali dengan mukanya, seperti hendak membakarnya, maka dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan baru dapat menghindarkan diri.
Kakek itu tertawa.
"Orang muda she Ceng, jangan kau terlalu pelit! Yang kau keluarkan sejak tadi adalah ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai. Mengapa engkau tidak mengeluarkan ilmu peninggalan ayah kandungmu? Jangan dikira aku tidak tahu. Aku sudah mendengar bahwa Ceng Han Houw pernah merajai dunia persilatan karena dia memiliki ilmu silat jungkir balik yang amat lihai. Hayo, kau keluarkantah ilmu itu dan kita bertanding sungguh-sungguh!"
Thian Sin kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa kakek ini tahu pula akan hal itu.
"Sayang, aku baru saja meninggalkan Lembah Naga dan belum sempat mempelajari ilmu-ilmu itu. Tunggulah setahun lagi, kalau aku sudah melatih ilmu-ilmu itu, aku akan mencarimu dan kita bertanding lagi, locianpwe."
"Ha-ha-ha, siapa mau kau bohongi? Kalau kudesak engkau, tentu engkau terpaksa akan mengeluarkan ilmu simpanan itu untuk kulihat!"
Setelah berkata demikian, kembali huncwe maut itu bergerak dengan kecepatan kilat.
Thian Sin memutar pedang melindungi dirinya dan berusaha melawan sekuat tenaga.
Namun, dia hanya dapat bertahan sampai tiga puluh jurus saja dan tiba-tiba kembali terdengar suara keras.
Kini huncwe atau gulungan sinar api itu berputar-putar dan pedangnya seperti "terlibat"
Dan ikut berputar, kemudian, tiba-tiba saja pedangnya terlepas dan huncwe itu menyambar.
Dia mengelak untuk disambut tangan kiri dan dia cepat mengerahkan Thi-khi-i-beng, akan tetapi terasa panas pada punggungnya dan Thi-khi-i-beng itu membuyar, lalu dia menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk melindungi punggungnya yang dicengkeram tangan kiri lawan.
Akan tetapi, jari-jari tangan itu meremas dan memutar sedemikian rupa sehingga otot-ototnya terkena remasan dan tiba-tiba saja Thian Sin roboh dengan lemas.
Kakek itu tertawa dan dengan marah Thian Sin berusaha untuk bangun, akan tetapi setiap kali dia menggerakkan tubuhnya, dia menahan rasa nyeri yang amat sangat di punggungnya dan roboh lagi.
Punggungnya itu seolah-olah patah tulangnya dan dengan punggung seperti itu, maka tentu saja dia tidak mampu menggerakkan lagi tangan kakinya karena setiap gerakan kaki tangan sudah tentu mengandalkan kekuatan dari punggung.
"Ayah, kenapa tidak dibunuh saja orang ini?"
Tiba-tiba Siangkoan Wi Hong berkata sambil meloncat maju dengan yang-kim yang berbahaya itu di tangannya.
Thian Sin maklum bahwa sekali pukul saja, dia sudah tidak berdaya menghindar dan nyawanya akan melayang.
Akan tetapi dia kini rebah terlentang dengan sinar mata terbelalak penuh keberanian, seolah-olah dengan sinar matanya itu dia menantang maut!
"Ha-ha, jangan dibunuh.
Aku sudah berjanji bahwa dia masuk ke sini dalam keadaan hidup, maka keluarnya dari sinipun dalam keadaan hidup.
Akan tetapi hidup yang bagaimana?
Ha-ha-ha, ingin aku melihat bagaimana wajah Pangeran Ceng Han Houw, jagoan nomor satu itu kalau dapat melihat puteranya yang tampan gagah, berubah menjadi seorang manusia tapadaksa yang tidak berguna sama sekali."
Thian Sin merasa ngeri juga membayangkan ancaman ini.
Tentu kakek itu akan membuatnya sebagai seorang manusia dengan cacad yang membuat dia selama hidupnya tidak berguna.
Itu lebih hebat daripada kalau dia dibunuh!
Maka diapun cepat mempergunakan akal.
"Pak-san-kui, kalau ayahku masih hidup, atau kalau aku sudah mempelajari ilmu-ilmu dari ayahku, aku yakin engkau tidak akan berani bersikap seperti ini!"
Pak-san-kui memandang kepadanya dan mengangguk-angguk.
"Mungkin sekali, akan tetapi sayang, ayahmu telah tidak ada lagi dan engkau ternyata hanya merupakan murid Cin-ling-pai yang baik sekali, sama sekali tidak mewarisi kepandaian ayahmu. Dan engkau sudah membuat Phoa-taijin menjadi manusia yang hidup tidak matipun tidak, maka akupun hendak membikin engkau seperti dia."
"Orang macam Phoa-taijin itu tidak dibunuhpun masih untung! Apa gunanya orang seperti dia yang begitu ceroboh? Menggunakan perampok-perampok tolol untuk menjalankan siasat, kemudian membasmi keluarga Ciu. Tahukah locianpwe siapa Ciu Khai Sun? Dia tokoh besar Siauw-lim-pai dan apa artinya itu? Artinya bahwa gerakan sekutu locianpwe itu akan mendapat tentangan yang besar dan kuat. Kalau Phoa-taijin cerdik, tentu dia mempergunakan orang-orang yang lebih lihai agar usaha merampok itu berhasil baik, dan juga tidak nanti membunuh orang Siauw-lim-pai! Locianpwe, aku adalah putera Pangeran Ceng Han Houw, karena itu aku membunuh sebanyak mungkin pasukan pemerintah. Apakah kenyataan ini tidak cukup membuka mata bahwa aku adalah seorang sekutu locianpwe yang cukup baik, bahkan jauh lebih baik daripada orang she Phoa yang tolol itu?"
Kakek itu mendengarkan dengan alis berkerut, akan tetapi wajahnya mulai berubah dan sinar matanya berseri.
"Dan andaikata benar omonganmu, dan aku menjadikan engkau sekutu, lalu apa gunanya engkau bagiku?"
"Locianpwe, mendiang ayahku adalah seorang jagoan nomor satu di dunia. Tentu locianpwe sudah mendengar akan ilmu-ilmu yang dimilikinya, ilmu-ilmu hebat dan mujijat Hok-lion Sin-ciang (Tangan Sakti Penakluk Naga), dan ilmu dengan jungkir balik yang disebut Hok-te Sin-kun (Silat Sakti Balikkan Bumi)."
Wajah kakek itu makin berseri dan dia mengangguk.
"Hanya dongeng saja! Buktinya, putera tunggalnyapun tidak mampu mainkan dua ilmu itu!"
"Sudah kukatakan bahwa karena selama ini aku ikut di Lembah Naga dan mempelajari ilmu-ilmu Cin-ling-pai, maka aku tidak sempat mempelajarinya. Akan tetapi kalau locianpwe berminat, bebaskanlah dulu aku dan kita dapat bicara."
"Ayah, hati-hati terhadap anak ini, dia pandai bicara pula,"
Kata Siangkoan Wi Hong.
Baca Juga: Si Bangau Merah 1
Baca Juga: Bu Kek Siansu 10