Eps 4 Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sadis - Kho Ping Hoo.
"Apa? kau hendak memukul?"
Bentak seorang di antara mereka dan orang itu sudah mengayun tangan memukul ke arah Han Tiong.
Akan tetapi pemuda ini hanya mengelak sedikit dan dia terus mendorong mereka keluar dari kamar tanpa membalas.
Setelah keduanya tak dapat bertahan dan terdorong keluar, dia lalu menutupkan lagi pintu kamarnya.
Dua orang itu menggedor-gedor dari luar, akan tetapi Han Tiong diam saja dan dia melarang Thian Sin yang marah-marah hendak menghajar mereka itu.
Akhirnya dua orang mabuk itu pergi juga.
"Tiong-ko, engkau terlalu sabar!"
Thian Sin mencela.
Orang-orang mabuk kurang ajar itu sepatutnya diberi hajaran biar kapok!
"Adikku yang baik, bukankah engkau tahu bahwa mereka itu mabuk dan tidak sadar?
Kita yang tidak mabuk dan yang sadar sepatutnya kalau mengalah."
"Tapi mereka memukulmu tadi!"
"Memang, dan itulah kalau orang mabuk. Kalau aku yang tidak mabuk balas memukul, habis lalu apa bedanya antara dia yang mabuk dan aku yang tidak mabuk? Adikku, bukan berarti bahwa aku sabar, melainkan karena mana mungkin aku marah terhadap orang mabuk?"
Mereka tidur lagi dan malam itu tidak terjadi hal-hal menarik.
Pada keesokan harinya, mereka berdua melanjutkan pesiar mereka untuk melihat-lihat kota raja yang amat ramai itu.
Mereka pergi ke pasar dan Han Tiong bersama adiknya membeli beberapa macam buah-buahan yang belum pernah mereka makan atau bahkan lihat sebelumnya.
Dengan kedua tangan membawa keranjang-keranjang terisi buah macam-macam, mereka berjalan kembali ke losmen.
Ketika mereka tiba di sebuah mulut gang yang sempit di dekat pasar, tiba-tiba saja seorang pemuda tinggi besar menabrak Han Tiong.
Karena tidak menyangka-nyangka, biarpun dia dapat mengatur kakinya sehingga tidak sampai jatuh, namun dua buah keranjang terisi buah-buahan itu terbuka keranjangnya dan buah-buahan itu berceceran dan menggelinding di atas tanah!
"He, di mana matamu?"
Bentak pemuda tinggi besar itu dan dari belakangnya datang lima orang pemuda lain, juga bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar berlagak seperti jagoan-jagoan muda yang banyak terdapat di kota-kota besar.
Mereka dengan angkuh lalu menginjak-injak buah-buahan yang berserakan di jalan itu.
"Heiii, itu buah-buah kami...!"
Thian Sin membentak marah, akan tetapi Han Tiong mengedipkan matanya kepada adiknya, lalu dia menjura kepada Si Tinggi Besar yang menabraknya tadi.
"Harap kau maafkan saya, sobat. Karena tempat ini sempit dan aku lengah, maka telah menabrakmu. Sudahlah, kesalahanku itu ditebus dengan hilangnya semua buah-buah yang kubeli."
Si Tinggi Besar itu sejenak memandangnya, kemudian tertawa-tawa, diikuti oleh lima orang temannya.
Mereka mentertawakan Han Tiong, akan tetapi anehnya mereka tidak menghalang ketika Han Tiong mengajak adiknya pergi cepat-cepat dari tempat itu, diikuti suara ketawa mereka.
"Ah, Tiong-ko, sungguh penasaran sekali!"
Demikian Thian Sin mengeluh ketika mereka tiba kembali di kamar losmen mereka.
Pemuda ini masih merasa marah, mukanya merah dan kadang-kadang dia mengepal tinju tangannya.
"Apa maksudmu Sin-te?"
"Aku merasa malu bukan main harus lari terbirit-birit dari lima orang berandal tadi. Betapa ingin aku menghajar mereka sampai jatuh bangun. Kenapa kita harus bersikap sedemikian pengecut dan membiarkan mereka menghina kita, Tiong-ko? Apakah perbuatan kita itu tidak menimbulkan buah tertawaan dan sama sekali bukan selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar melainkan lebih patut menjadi sikap pengecut dan penakut?"
Han Tiong tersenyum tenang, memandang wajah adiknya dengan tajam lalu berkata, suaranya tenang dan tegas.
"Adikku yang baik, engkaupun tahu bahwa justeru seorang pendekar adalah orang yang tidak mudah marah menurutkan perasaannya saja. Kalau kita menghadapi orang gila, apakah kita juga harus menjadi gila pula."
"Tapi mereka itu bukan gila, mereka itu orang-orang jahat!"
Thian Sin membantah.
"Mereka itu gila, adikku. Kalau mereka itu menggunakan kekerasan, lalu kita menghadapi mereka dengan kekerasan pula, lalu apa bedanya antara mereka dengan kita?"
Mereka gila dan kitapun akan menjadi gila pula.
Mereka itu adalah orang-orang gila karena mereka mencari dan memancing keributan tanpa urusan dan sebab, mereka itu orang-orang sakit yaitu batin mereka yang sakit.
Sebaliknya, kita yang waras ini, yang mampu menjauhkan diri menghindari keributan, mengapa kita harus melayani mereka?
Bukankah itu akan menjadi sama gilanya, sama sakitnya, dan sama jahatnya?"
"Tapi, koko, sungguh penasaran sekali kalau kita, putera-putera dari Pendekar Lembah Naga, harus lari terbirit-birit menghadapi tikus-tikus pasar itu!"
Han Tiong tersenyum lebar dan merangkul pundak adiknya.
"Aihh, Sin-te, apakah masih kurang gemblengan yang diberikan oleh Paman Lie Seng dan oleh ayah sendiri kepada kita? Kalau semua pendekar di dunia sudi melayani pengacau-pengacau kecil seperti mereka tadi tentu keributan akan terjadi setiap hari dan para pendekar tidak ada waktu lagi untuk menghadapi urusan-urusan besar. Mereka itu hanyalah orang-orang yang sengaja hendak memancing keributan karena itulah kesenangan mereka. Kalau kita melayani, berarti kita ini malah membantu kekacauan mereka. Sudahlah, anggap saja tadi itu sebagai latihan mental bagimu, adikku."
Akhirnya Thian Sin mau juga menerima semua alasan kakaknya dan diapun melihat kebenarannya.
Memang sesungguhnyalah, dia sudah digembleng sedemikian rupa oleh ayah angkat atau juga pamannya, telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sunggub tidak sepatutnya kalau kepandaian itu dipergunakan hanya untuk urusan yang sedemikian remehnya.
Justeru kalau dia terkena pancingan pemuda-pemuda berandalan tadi, hal itu hanya menunjukkan bahwa dia bukanlah sebagai pendekar yang sudah "masak".
Maka hatinyapun menjadi dingin dan tenang kembali.
"Adikku, kota raja ini ternyata bukan merupakan tempat yang menyenangkan, dan ternyata penuh dengan orang-orang jahat seperti pernah diceritakan oleh ayah. Betapa jauhnya perbedaan kehidupan di desa dan di kota. Di dusun begitu aman tenteram dan kejahatan manusia tidak begitu menyolok, sebaliknya di kota raja ini suasananya demikian panas, dan hampir tidak pernah aku melihat wajah-wajah yang membayangkan kedamalan hati. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita saja Sin-te. Tidak enak kalau terlalu lama berdiam di lempat seperti ini."
"Terserah kepadamu, Tiong-ko, akan tetapi jangan lupa bahwa kita telah berjanji untuk singgah di tempat kediaman Siangkoan Wi Hong."
Han Tiong mengangguk dan mengerutkan alisnya.
Di dalam hatinya, dia tidak begitu suka kepada pemuda pesolek yang berhati kejam itu, akan tetapi karena dia memang sudah menerima undangan, dan pula diapun tahu bahwa adiknya ini diam-diam amat kagum dan suka kepada orang she Siangkoan itu.
"Baik, Sin-te. Kita singgah sebentar di rumahnya, kemudian melanjutkan perjalanan kita menuju ke Cin-ling-san."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi kedua orang pemuda itu telah meninggalkan losmen dan mereka lalu pergi mencari rumah tinggal Siangkoan Wi Hong.
Ternyata tidak sukar untuk mencari rumah gedung besar di samping toko itu, karena memang nama Siangkoan Wi Hong telah terkenal di kota raja.
Dan ternyata sepagi itu, Siangkoan Wi Hong telah duduk di serambi depan sambil memandang ke jalan, wajahnya berseri dan pakaiannya tetap pesolek dan mewah seperti biasanya.
Hebatnya, di atas meja di dekatnya nampak alat musik yang-kimnya itu.
Agaknya alat ini tak pernah terpisah dari dekatnya, dan memang sesungguhnya demikianlah.
Yang-kim ini merupakan senjata yang amat diandalkan di samping merupakan alat musik yang amat disukainya.
Ketika pemuda kaya itu melihat munculnya Han Tiong dan Thian Sin, dia tersenyum dan bangkit menyambut dengan wajah gembira.
"Ah, selamat pagi, selamat pagi! Gembira sekali hatiku mendapat kunjungan kalian! Silakan duduk... eh, mari kita sarapan pagi di dalam taman saja sambil menikmati bunga-bunga indah."
Dengan ramahnya Siangkoan Wi Hong lalu mengajak mereka untuk langsung memasuki taman bunga di sebelah kiri gedungnya dan mengajak mereka duduk di pondok kecil terbuka yang beraneka warna.
Memang indah dan segar nyaman sekali hawa di dalam taman itu.
Tanpa diperintah lagi, dua orang pelayan wanita yang muda-muda berdatangan membawa minuman.
Siangkoan Wi Hong memesan agar dibawakan makanan, kemudian ditambahkannya agar dipanggilkan tiga orang nona dari Rumah Bunga Seruni!
Thian Sin dan Han Tiong tidak mengerti apa yang dimaksudkan ketika Siangkoan Wi Hong berkata.
"Katakan kepada bibi pemilik Rumah Bunga Seruni agar Kim Hiang dan dua orang kawannya cepat datang ke sini, sekarang juga!"
Dua orang pemuda Lembah Naga itu sama sekali tidak tahu bahwa Rumah Bunga Seruni adalah sebuah rumah pelacuran tingkat tinggi yang paling terkenal di kota raja, tempat yang hanya dapat dikunjungi oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan-hartawan karena segala sesuatu di tempat itu teramat mahal.
Juga mereka tidak mengira sama sekali bahwa tuan rumah ini telah memesan tiga orang pelacur pilihan untuk melayani mereka!
Han Tiong dan Thian Sin menjadi sungkan dan malu-malu ketika para pelayan datang membawa hidangan yang amat banyak dan bermacam-macam.
Sungguh luar biasa royalnya tuan rumah, karena hidangan yang dihadapkan mereka itu sama sekali bukan sarapan pagi, melainkan lebih mewah daripada makan siang atau makan malam!
Dan kedua orang pemuda ini menjadi semakin tersipu malu ketika tak lama kemudian datang tiga orang gadis cantik jelita yang berpakaian indah dan memakai minyak wangi yang semerbak harum, juga sikap mereka amat lincah dan genit, walaupun harus mereka akui bahwa mereka bertiga itu selain cantik sekali juga tidak kasar, melainkan genit-genit halus seperti dara-dara remaja yang jinak-jinak merpati!
Diam-diam Han Tiong terkejut dan juga terheran-heran mengapa ada tiga orang dara muda seperti ini yang mau datang menemani mereka, hal yang sungguh luar biasa sekali.
Akan tetapi alisnya berkerut ketika Siangkoan Wi Hong memperkenalkan mereka sebagai "bunga"
Pilihan dari Rumah Bunga Seruni!
Biarpun dia sama sekali tidak berpengalaman, namun berkat luasnya bacaan buku-buku yang telah dibacanya Han Tiong dan juga Thian Sin dapat menduga bahwa tiga orang wanita ini adalah pelacur-pelacur kelas tinggi seperti juga halnya pelacur yang pernah menemani kongcu ini di rumah makan tempo hari.
Maka, Han Tiong merasa kikuk dan malu sekali dilayani oleh para pelacur itu, sedangkan Thlan Sin juga nampak "alim", padahal di dalam hatinya dia merasa gembira sekali.
Hanya karena sungkan kepada kakaknya sajalah maka dia pura-pura alim!
Melihat betapa kikuknya sikap dua orang tamunya menghadapi para pelacur itu, Siangkoan Wi Hong bersikap bijaksana dan dengan mulutnya dia menyuruh mereka mundur dan hanya membiarkan mereka bermain yang-kim, suling dan bernyanyi saja, tidak lagi memperkenankan mereka mendekati dan melayani dua orang tamunya.
"Siangkoan-loheng, bagaimana jadinya dengan putera Ji-cianbu itu? Apa yang terjadi ketika engkau dipanggil oleh Ji-cianbu dari rumah makan itu?"
Thian Sin tak dapat menahan hatinya untuk memancing tuan rumah dengan pertanyaan ini.
Kakaknya menganggap pemuda ini curang, kejam dan jahat, akan tetapi dia sendiri merasa tertarik dan menganggap pemuda ini amat gagah perkasa dan juga ramah menyenangkan.
Maka dia ingin mendengar bagaimana pandangan Siangkoan Wi Hong sendiri tentang urusannya dengan keluarga Ji itu, dan apakah pemuda hartawan itu mau mengakui semua perbuatannya.
Mendengar pertanyaan itu, Siangkoan Wi Hong tertawa gembira dan mengangkat cawan arak lalu minum araknya.
Kemudian dia meletakkan cawan kosong di atas meja, tertawa lagi dengan gembira seolah-olah dia tak dapat menahan kegelian hatinya membayangkan kembali peristiwa yang lucu.
"Ha-ha-ha-ha, aku sudah memberi hajaran kepada keluarga Ji yang brengsek itu! Ha-ha, puas benar hatiku. Orang-orang macam ayah dan anak itu sudah sepatutnya kalau diberi hajaran keras. Kalian tahu apa yang telah kulakukan? Aku telah memeras lima puluh tail emas dari kantong Kapten Ji itu, ha-ha-ha!"
Thian Sin saling pandang dengan kakaknya dan di dalam sinar mata Thian Sin nampak cahaya kemenangan, seolah-olah pandang matanya berkata.
"Lihat, bukankah dia ini gagah dan jujur?"
"Aku memang sengaja memukul anaknya, dan tukang-tukang pukulnya dengan pukulan yang mengancam keselamatan nyawa mereka agar ayahnya datang dan memang benar dugaanku. Maka, aku menyembuhkan anaknya asal ayahnya mau membayar lima puluh tail emas. Ha-ha-ha, ayah dan anak busuk itu memang patut dihajar!"
"Mengapa loheng menganggap mereka busuk?"
Thian Sin mendesak, memandang kagum.
"Tidakkah busuk mereka? Kalian sudah menyaksikan sikap anak Ji-ciangkun itu yang sombong dan kasar dan sudah biasa dia bersikap sewenang-wenang kepada rakyat, memaksa wanita dan sebagainya. Dan ayahnya... hemm, coba bayangkan, sebagai berpangkat kapten seperti dia mampu membayarku lima puluh tail emas secara tunai! Kalau menurut jumlah gajinya, biar dia bekerja sampai seratus tahunpun dia belum dapat menyimpan lima puluh tail emas! Ayahnya tukang korup besar, pencuri uang negara dan rakyat, anaknya sebagai yang sewenang-wenang, tidakkah pantas mereka itu dihajar?"
Kembali Siangkoan Wi Hong tortawa dan Thian Sin mengerling ke arah kakaknya, kekaguman terbayang pada wajahnya yang tampan.
"Akan tetapi, Saudara Siangkoan berarti main-main dengan nyawa orang. Nyaris tiga orang itu terbunuh..."
Han Tiong berkata mencela halus.
Siangkoan Wi Hong memandang kepada Han Tiong dengan alis terangkat, seperti heran mendengar kata-kata ini, akan tetapi kemudian dia tersenyum.
"Saudara Cia Han Tiong tidak mengerti agaknya tentang jiwa pendekar! Pula, andaikata tiga orang itu mampus, bukankah itu berarti menyingkirkan malapetaka bagi para penghuni kota raja?"
Han Tiong menunduk dan tidak mau membantah lagi, dan tiba-tiba terdengar langkah orang memasuki pondok taman itu dan mucullah sebagai laki-laki muda tinggi besar berpakaian pengawal atau tukang pukul.
Dengan sikap gagah orang itu memberi hormat kepada Siangkoan Wi Hong sambil berkata.
"Maaf kalau saya mengganggu, kongcu. Akan tetapi di luar terdapat Kang-thouw-kwi (Setan Kepala Baja) yang minta bertemu dengan kongcu."
"Hemm... Kang-thouw-kwi? Baik, antarkan dia ke lian-bu-thia (ruang berlatih silat) dan suruh dia menanti di sana. Aku akan datang segera!"
Kata Siangkoan Wi Hong.
Akan tetapi pada saat itu, Han Tiong dan Thian Sin terkejut melihat pengawal tinggi besar itu karena mereka berdua mengenalnya sebagai pemuda berandal yang mengepalai gerombolan lima orang yang mengganggu mereka di pasar!
Thian Sin sudah bangkit berdiri dengan muka merah, akan tetapi Han Tiong memegang lengannya dan menariknya untuk duduk kembali.
Si Tinggi Besar itu memandang kepada mereka sambil tersenyum mengejek, kemudian pergi keluar dari pondok.
Han Tiong kini memandang kepada tuan rumah dengan suara tenang namun tegas dia lalu berkata.
"Saudara Siangkoan, kami minta penjelasan tentang diri pembantumu tadi. Dia pernah mengganggu kami di pasar dan ternyata dia adalah pembantumu. Apakah sebenarnya artinya kenyataan ini?"
Tentu saja mereka berdua menjadi heran ketika melihat pemuda kaya itu tertawa geli, kemudian Siangkoan Wi Hong menjawab.
"Memang benar, dia adalah pembantuku dan gangguan yang dia lakukan bersama teman-temannya itu adalah atas perintahku."
"Apa? Apa maksudmu dengan itu?"
Thian Sin berseru kaget dan heran, juga penasaran sekali.
"Tidak ada maksud buruk. Aku hanya ingin menguji kalian. dua orang mabuk di losmen itu adalah orang-orangku yang kusuruh menguji kalian. Akan tetapi aku kecewa karena ternyata aku salah duga. Kalian hanyalah dua orang pelajar yang bijaksana dan sabar sekali, bukan..."
Melihat tuan rumah menghentikan kata-katanya, Han Tiong menyambung.
"Bukan dua orang pendekar seperti yang kau sangka?"
Siangkoan Wi Hong tersenyum lebar dan mengangguk, kemudian bangkit berdiri dan menjura.
"Maaf, melihat sikap kalian yang tabah dan mengagumkan, tadinya aku menyangka bahwa kalian tentu memiliki ilmu silat yang tinggi. Karena ingin tahu maka aku menyuruh orang-orangku mencoba kalian. Kiranya mereka gagal dan aku merasa bersalah kepada ji-wi (anda berdua), maka maafkanlah. Sekarang, ada tamu yang agaknya hendak mengadu kepandaian silat denganku, tidak tahu apakah ji-wi ingin menonton adu pibu ataukah tidak?"
Han Tiong tadinya ingin minta diri saja, akan tetapi melihat wajah adiknya dia tahu betapa adiknya ingin sekali nonton pertandingan, dan dia sendiripun diam-diam amat tertarik dan ingin menyaksikan sampai di mana kehebatan tuan rumah ini yang agaknya hendak melayani tamu yang berjuluk Kang-thouw-kwi itu.
Maka diapun mengangguk dan menjawab.
"Kalau kami tidak mengganggu, kami ingin melihat."
"Bagus! Mari silakan ikut bersamaku!"
Kata pemuda itu dengan sikap gembira karena betapapun juga, dia ingin memamerkan kepandaiannya kepada dua orang tamu ini.
Han Tiong dan Thian Sin mengikuti tuan rumah meninggalkan pondok dalam taman, memasuki gedung itu dari pintu belakang dan menuju ke sebuah ruangan yang amat luas, sebuah ruangan lian-bu-thia, yaitu ruantgan tempat berlatih silat yang mewah sekali, dengan hiasan dinding berbentuk lukisan-lukisan binatang yang gagah seperti harimau, burung bangau, naga, dan lain-lain binatang yang dianggap mempunyai gerakan-gerakan gagah dan yang dijadikan dasar bermacam gerakan ilmu silat.
Di sudut ruangan yang luas itu terdapat beberapa rak tempat senjata yang penuh dengan belasan alat-alat berlatih dan olah raga seperti batu-batu besar untuk diangkat, karung-karung pasir dan sebagainya.
Di sebelah kiri, dekat dinding, terdapat belasan bangku dan sebagai kakek bangkit dari bangku yang didudukinya ketika melihat tiga orang pemuda itu memasuki ruangan.
Han Tiong dan Thian Sin memandang penuh perhatian.
Kakek itu uslanya lebih dari enam puluh tahun, rambutnya sudah putih sebagian, sinar matanya mengandung kecemasan dan kedukaan, pakaiannya sederhana dan pandang matanya ditujukan kepada Siangkoan Wi Hong setelah dengan sikap tak acuh dia melempar pandang kepada Han Tiong dan Thian Sin.
Dengan sikap tenang Siangkoan Wi Hong mempersilakan dua orang tamunya duduk di atas bangku.
Han Tiong dan Thian Sin lalu duduk dan hati mereka tertarik sekali untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah betdiri berhadapan dan saling pandang dengan sinar mata penuh selidik, akhirnya kakek itu berkata.
"Maaf, apakah saya berhadapan dengan Siangkoan-kongcu?"
Yang ditanya mengangguk, tangan kanannya mempersilakan tamunya untuk duduk.
"Silakan duduk, Lo-enghiong."
Kakek itu nampak tidak sabar, akan tetapi melihat sikap pemuda itu yang amat tenang, diapun duduklah sambil menarik napas panjang.
Siangkoan Wi Hong sendiripun lalu duduk menghadapi kakek itu.
"Apakah Lo-enghiong ini yang berjuluk Kang-thouw-kwi? Dan kepentingan apakah yang mendorong Lo-enghiong untuk datang berkunjung?"
Tiba-tiba sinar mata kakek itu menjadi keras dan suaranyapun penuh dengan nada marah ketika dia menjawab.
"Saya datang untuk bicara tentang cucu saya Lee Si!"
Siangkoan Wi Hong agaknya memang sudah maklum, maka jawaban itu tidak mengejutkannya.
Sambil tersenyum ramah dia berkata.
"Tentang Lee Si? Ada apakah dengan dia, Lo-enghiong? Sudah lama saya tidak berjumpa dengan dia. Baik-baik sajakah cucumu itu, Lo-enghlong?"
"Siangkoan-kongcu, harap kongcu tidak berpura-pura lagi. Saya datang untuk mendapatkan pertanggungan jawab kongcu atas diri cucu saya itu."
"Pertanggungan jawab yang bagaimanakah yang kau maksudkan, Lo-enghiong?"
Kakek itu semakin tidak sabar nampaknya.
Dia mengepal tangan kanannya dan suaranya terdengar lantang.
"Cucuku Lee Si itu baru berusia lima belas tahun dan kongcu telah mencemarkan dia! Pertanggungan jawab apalagi kalau bukan minta agar kongcu mengawininya?"
Han Tiong dan Thian Sin terkejut, memandang dengan hati tegang.
Tak mereka sangka bahwa kakek ini datang untuk urusan begitu!
Mereka memandang kepada Siangkoan Wi Hong dengan alis berkerut karena tidak mengira bahwa pemuda kaya itu dapat berbuat sejahat itu, mencemarkan gadis orang!
Akan tetapi Siangkoan Wi Hong tersenyum lebar, sikapnya tenang-tenang saja.
"Hemm, aku tidak pernah mencemarkan siapapun..."
"Kongcu hendak menyangkal? Cucuku telah mengaku dan harap kongcu bersikap sebagai sebagai jantan untuk tidak menyangkal perbuatan kongcu sendiri!"
Kakek itu membentak marah.
"Siapa menyangkal?"
Dia lalu menoleh kepada dua orang pemuda yang menjadi tamunya.
"Coba ji-wi dengarkan baik-baik. Aku mengenal sebagai dara manis bernama Lee Si, dan dia sendiri yang jatuh cinta padaku. Kami berdua, dengan suka sama suka, suka rela tanpa unsur paksaan dari fihak manapun, telah memadu kasih. Eh, kini tahu-tahu Lo-enghiong ini datang menuntut pertanggungan jawab! Pertanggungan jawah apa? Tidak ada janji antara Lee Si dan aku untuk menikah! Hubungan kami adalah suka rela dan suka sama suka, bukan aku yang memaksa dia..."
"Siangkoan-kongcu! Aku adalah sebagai tua, tidak perlu menggunakan kata-kata sangkalan yang tak berujung pangkal! Jelas bahwa cucuku telah kau rusak, sekarang kami datang untuk minta pertanggungan jawab, agar engkau suka mengawini cucuku. Bukankah hal ini sudah wajar? Apakah engkau hendak menolak?"
Kakek itu bangkit berdiri.
Melihat sikap kakek itu mulai kasar, Siangkoan Wi Hong mengerutkan alisnya dan senyumnya lenyap.
Dia juga bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu.
"Kang-thouw-kwi, jangan kau bicara sembarangan! Aku, orang she Siangkoan adalah sebagai laki-laki yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya! Hubunganku dengan Lee Si adalah hubungan suka sama suka, tidak ada janji ikatan perjodohan. Dan tidak ada setan manapun yang akan dapat memaksaku kawin dengan dia!"
"Siangkoan-kongcu! Berani engkau menghina sebagai tua seperti aku dan hendak menodai nama keluargaku?"
Kakek itu membentak.
"Hemm, apakah karena engkau berjuluk Kang-thouw-kwi aku lalu harus takut dan tunduk kepadamu?"
"Siangkoan Wi Hong! Jangan mengira bahwa aku tidak tahu siapa engkau! Engkau adalah putera Pak-san-kui Siangkoan Tiang locianpwe yang kubormati. Sungguh tidak tahu diri kalau aku berani menentang putera beliau! Akan tetapi, engkau sebagai putera sebagai locianpwe telah mempergunakan kekayaanmu, ketampananmu dan kepandaianmu untuk merayu cucuku yang masih terlalu muda sehingge dia terjatuh dan kau cemarkan, kemudian sekarang engkau tidak mau bertanggung jawab! Hemm, orang muda. Aku tahu bahwa aku bukanlah lawan keluarga Siangkoan Tiang locianpwe, akan tetapi untuk membela kehormatan keluargaku, aku siap untuk mempertaruhkannya dengan nyawa sekalipun! Kalau engkau mau bertanggung jawab dan mengawini Lee Si, kami akan menganggapnya sebagai suatu kehormatan besar, akan tetap kalau engkau menolak, biarlah kutebus dengan nyawaku!"
Siangkoan Wi Hong tersenyum mengejek.
"Maksudmu, engkau hendak menantangku mengadakan pibu?"
"Hanya ada dua pilihan, engkau menerima permintaanku atau sebagai di antara kita akan mencuci noda itu dengan darah."
"Bagus sekali, memang akupun ingin merasakan sampai bagaimana kerasnya kepala itu sehingga dijuluki Setan Kepala Baja!"
Setelah berkata demikian, sekali bergerak, tubuh muda itu telah melayang ke tengah ruangan itu dan dia menggapai dengan sikap menantang sekali.
"Mari, Kang-thouw-kwi!"
Kakek itu memandang dengan muka merah dan mata mendelik, kemudian dengan langkah lebar diapun menghampiri pemuda itu.
Mereka berdiri berhadapan dan dengan sikap masih marah, sambil tersenyum pemuda itu berkata.
"Kang-thouw-kwi, kita bertanding sebagai sahabat ataukah sebagai musuh? Mengingat akan wajah Lee Si yang manis, tentu aku suka memaafkan kekasaranmu tadi dan biarlah kita mengadu ilmu sebagai sahabat."
"Tidak! Aku tidak menganggapmu sebagai putera Pak-san-kui, melainkan sebagai laki-laki pengecut yang telah mencemarkan kehormatan keluarga kami dan menodai cucuku. Engkau harus mampus di tanganku atau aku yang mati di tanganmu!"
Siangkoan Wi Hong mejebikan bibirnya.
"Hemm, melihat usiamu, engkau tidak lama lagi hidup di dunia, akan tetapi agaknya engkau sudah bosan hidup. Nah, kalau engkau ingin mati, majulah!"
Kakek itu mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah menerjang dengan dahsyatnya, gerakannya mantap dan kuat sekali ketika tubuhnya menerjang maju, tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar disusul tangan kanan yang mencengkeram ke arah kepala lawan.
Gerakannya itu seperti gerakan seekor harimau buas yang menggunakan kedua kaki depan untuk mencengkeram dan dari jari-jari kedua tangannya terdengar suara berkerotokan tulang-tulang yang amat kuat!
Namun, Siangkoan Wi Hong sudah dapat mengelak dengan gerakan lincah.
Sementara itu, ketika tadi mendengar disebutnya nama Pak-san-kui, dua orang pemuda itu terkejut bukan main dan saling pandang.
Kini, rasa kagum dan suka di dalam hati Thian Sin mulai berubah oleh rasa marah.
Pamannya, atau ayah angkatnya, sudah bercerita tentang Pak-san-kui, bahkan Han Tiong sendiri bersama ibunja pernah menjadi tawanan Pek-san-kui, kemudian menjadi tawanan yang diperlakukan manis seperti tamu-tamu agung.
Pak-san-kui adalah datuk kaum sesat di wilayah utara dan ternyata pemuda ini adalah putera datuk itu!
Pantas saja demikian lihai dan juga kaya raya.
Dan mendengar jawaban-jawaban pemuda itu terhadap Kang-thouw-kwi, mendengar betapa pemuda itu telah mencemarkan gadis cucu kakek itu, Han Tiong mengerutkan alisnya dan diam-diam dia berfihak kepada Kang-thouw-kwi walaupun dia sendiri tidak pernah mengenalnya dan tidak tahu orang macam apa adanya kakek itu.
Sedangkan Thian Sin kini diam-diam ingin sekali mencoba kepandaian Siangkoan Wi Hong yang dalam pandangannya kini nampak sebagai scorang pemuda yang sombong, angkuh dan memandang rendah orang lain!
Memang ada sifat-sifat yang mengagumkan hatinya terdapat pada diri pemuda itu, akan tetapi setelah dia mengetahui bahwa pemuda itu adalah putera Pak-san-kui yang pernah mengganggu ayah dan ibu angkatnya, timbul rasa tidak senang dan bermusuh di dalam hatinya terhadap Siangkoan Wi Hong.
"Heiiiiittttt...!"
Untuk ke sekian kalinya kakek itu menyerang dengan dahsyatnya.
Dari gerakannya di waktu menyerang, nampak jelas betapa benci dan marahnya kakek itu kepada Siangkoan Wi Hong dan semua serangannya itu adalah serangan maut yang amat dahsyat dan berbahaya.
Namun, pemuda itu benar-benar memiliki kelincahan yang luar biasa dan dengan gin-kang yang lebih sempurna, dia selalu dapat mengelak dan menghindarkan diri dari setiap serangan, bahkan membalas pula dengan tamparan-tamparan yang tidak kalah hebatnya.
Akan tetapi, kalau pemuda itu lebih mengandalkan kelincahannya sehingga selalu dapat mengelak dari serangan lawan, sebaliknya Kang-thouw-kwi ini lebih mengandalkan kekebalan tubuhnya sehingga biarpun sudah tiga kali dia terkena tamparan tangan pemuda itu, namun dia hanya terhuyung saja dan tidak terluka.
"Hemm, engkau masih dapat bertahan juga?"
Kata Siangkoan Wi Hong setelah pertandingan itu berlangsung lima puluh jurus dan melibat betapa kakek itu tidak roboh oleh tiga kali pukulannya.
Kini dia mengubah gerakan silatnya dan ternyata dia mempergunakan gerakan meliuk-liuk seperti seekor ular.
Kedua lengannya itu seperti kepala ular yang mematuk-matuk dan kini setiap patukan itu ditujukan kepada jalan darah maut dari tubuh lawan.
Menghadapi serangan ini yang agaknya merupakan satu di antara ilmu-ilmu simpanan pemuda itu, Kang-thouw-kwi mulai terdesak hebat dan beberapa kali dia terhuyung terkena totokan-totokan yang sebenarnya merupakan totokan-totokan maut, akan tetapi agaknya kekebalan tubuh kakek itu yang membuat dia hanya terhuyung saja.
Marahlah Kang-thouw-kwi.
Memang dia sudah tidak mempedulikan keselamatan nyawanya lagi.
Maka dia lalu mengeluarkan teriakan panjang dan tiba-tiba dia meloncat ke belakang, kemudian, bagaikan seekor kerbau yang marah, dia lari ke depan dengan kepala menunduk, seperti seekor kerbau merendahkan diri dan hendak menerjang fihak lawan menggunakan kepalanya untuk menyeruduk!
Melihat kni, Siangkoan Wi Hong tersenyum dan pemuda ini lalu berdiri tegak, sengaja memasang perutnya untuk diseruduk sambil bertolak pinggang dengan sikap angkuh sekali.
Dua orang pemuda Lembah Naga memandang dengan mata terbelalak.
Dari Cia Sin Liong mereka pernah mendengar akan adanya ilmu serangan menggunakan kepala ini.
Kepala yang terlatih baik dapat menyeruduk tembok sampai jebol dan kalau kepala yang terlatih dan sudah kebal itu menyerang lawan, maka akibatnya amat berbahaya, tulang-tulang iga akan patah-patah dan setidaknya isi perut akan terguncang dan terluka parah!
Akan tetapi pemuda itu bukannya siap menyingkir atau menangkis, sebaliknya malah memasang perutnya, sengaja membiarkan perutnya untuk diseruduk!
Mereka dapat menduga pemuda itupun memiliki sin-kang yang amat kuat dan dengan tenaga sin-kang yang memenuhi perut, memang dapat juga dia menerima serudukan itu tanpa terluka karena perutnya terlindung oleh hawa yang padat dan kuat, dan paling hebat dia akan terdorong saja tanpa mengalami luka.
Akan tetapi kalau tenaga sin-kangnya itu tidak jauh lebih kuat daripada tenaga dorongan kepala lawan, banyak bahayanya dia akan menderita luka guncangan di dalam perutnya.
Kang-thouw-kwi yang merundukkan kepalanya itu, dengan kerling mata ke depan diapun melihat posisi lawan, maka dia merasa dipandang rendah dan kemarahannya memuncak.
Dia mengerahkan seluruh tenaga karena dia mengandalkan kalah menangnya dalam serangan terakhir ini.
Larinya makin kencang dan setelah jarak antara dia dan lawan tinggal dua meter lagi, tubuhnya lalu meloncat dan meluncur ke depan, kepalanya lebih dulu mengarah perut lawan yang sengaja dikembungkan itu.
Akan tetapi, begitu kepala itu menyentuh perut, tiba-tiba saja perut yang dikembungkan itu tiba-tiba membalik menjadi dikempiskan dan dari dalam perut itu timbul daya sedot yang amat kuat sehingga kepala itu tersedot masuk ke dalam rongga perut sampai ke bawah hidung!
Dan kedua jari tangan Siangkoan Wi Hong sudah bergerak dengan kecepatan kilat menotok ke arah kedua pundak lawan tiba-tiba menjadi lumpuh tergantung lemas!
Bukan main kagumnya hati Kang-thouw-kwi.
Dia merasa betapa kepalanya seolah-olah memasuki sebuah perapian yang panas sekali.
Maklum dia akan kelihaian pemuda ini, maka diapun cepat mengerahkan sin-kang di tubuhnya untuk menahan karena dia tidak dapat meronta lagi untuk melepaskan diri, apalagi setelah kedua lengannya lumpuh tertotok itu.
Akan tetapi, betapapun dia menahannya, tetap saja dia merasa kepalanya seperti direbus dan perlahan-lahan, seluruh tubuhnya mulai menggigil, dia maklum bahwa sekali dia kehilangan kesadaran, dia akan tewas!
Han Tiong dan Thian Sin yang melihat peristiwa ini, diam-diam terkejut bukan main dan mereka itu kagum akan kelihaian Siangkoan Wi Hong.
Tahulah mereka bahwa kini nyawa kakek itu berada dalam bahaya, aplagi melihat betapa pemuda itu dengan berdiri dan bertolak pinggang masih mengerahkan sin-kang untuk membunuh kakek itu, sedangkan tubuh kakek itu mulai menggigil, kedua lengannya lumpuh seperti seekor cecak yang kepalanya terjepit pintu, hanya kedua kaki saja yang meronta sedikit.
Thian Sin tak dapat menahan kemarahannya lagi, akan tetapi dengan sikap tenang dia lalu bangkit dari bangkunya, menghampiri ke tengah ruangan itu.
Siangkoan Wi Hong memandang kepadanya, agaknya merasa heran dan tidak dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh pemuda pelajar yang lemah namun pemberani itu.
"Kakek bodoh, kalau kepandaianmu hanya sebegini, bagaimana kau berani bermain gila di depan putera Pak-san-kui?"
Kata Thian Sin lirih sambir menggunakan tangan kirinya menepuk pinggul kakek itu yang menonjol.
"Plak-plak-plak!"
Tiga kali dia menepuk dan akibatnya sungguh hebat.
Mula-mula wajah Siangkoan Wi Hong berubah pucat, kemudian pada tepukan ke tiga, pemuda itu meloncat ke belakang sambil melepaskan kepala kakek itu dari jepitan perutnya dan dia kini berdiri sambil menarik napas panjang untuk melindungi perutnya yang tadi tergetar hebat, matanya menatap wajah Thian Sin.
Dia tadi merasa betapa ada tenaga yang amat dingin menyerbu ke perutnya melalui kepala kakek itu, yang membuat seluruh isi perutnya terasa dingin sampai menusuk jantung.
Maka dia terkejut sekali dan terpaksa melepaskan korbannya.
Kakek itu begitu terlepas lalu terguling dan sekali Thian Sin menyambar pundaknya dan menariknya bangun, ternyata dia telah terbebas dari totokan!
Melihat keadaan yang gawat ini, Han Tiong cepat menghampiri adiknya dan dia sudah menjura dengan sikap hormat sekali kepada Siangkoan Wi Hong.
"Ah, Saudara Siangkoan, adikku telah berlaku lancang, harap kau sudi memaafkan kami dan suka menghabiskan urusan dengan orang tua ini sampai di sini saja."
Siangkoan Wi Hong masih terkejut sekali dan dia sudah melupakan kakek itu, kini seluruh perhatiannya tercurah kepada dua orang tamunya yang benar-benar mengejutkan hatinya ini.
Mendengar ucapan Han Tiong, dia hanya berkata.
"Bukan aku yang mencari perkara, melainkan dia."
Han Tiong lalu menghadapi kakek itu dan berkata.
"Loenghiong, berlaku nekat bukanlah sikap yang bijaksana dan gagah. Membuang nyawa dengan sia-sia bukan merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit dalam keluargamu."
Kakek itu kini sudah terbuka matanya, tahu bahwa dua orang muda itu telah menyelamatkan nyawanya dan bahwa mereka itu lihai bukan main.
Tepukan-tepukan pada pinggulnya tadi mendatangkan hawa dingin luar biasa yang meluncur melalui tubuhnya dan sampai di kepalanya, membuat perut yang menjepit kepalanya terpaksa melepaskannya.
Dia tahu berhadapan dengan orang-orang pandai, maka diapun menarik napas panjang dan menjura kepada Thian Sin dan Han Tiong.
"Aku tua bangka yang tiada berguna memang seharusnya lebih keras mendidik cucu, salah kami sendiri dan terima kasih atas pertolongan ji-wi Taihiap."
Maka diapun pergi dari tempat itu tanpa berpamit lagi kepada Siangkoan Wi Hong yang memandang tak peduli karena kini dia terus memandang kepada dua orang muda itu.
Setelah kakek itu pergi, barulah dia berkata sambil memandang kepada dua orang muda itu berganti-ganti.
"Hemm, kiranya dugaan dan kecurigaanku ternyata benar! Kalian adalah dua orang pandai yang menyembunyikan kepandaian dan berpura-pura lemah dan bodoh."
Dia menatap tajam kepada Han Tiong, lalu berkata.
"Dan bukankah Saudara Cia Han Tiong ini benar-benar putera Pendekar Lembah Naga yang pernah menjadi tamu ayah beberapa tahun yang lalu?"
Han Tiong tahu bahwa kini tidak mungkin lagi baginya untuk menyembunyikan diri.
Dengan tenang diapun berkata.
"Dugaanmu memang benar, sobat. Aku sekeluarga pernah menerima penghormatan dari Pak-san-kui, ayahmu."
"Dan aku adalah Ceng Thian Sin!"
Thian Sin menyambung cepat.
"She Ceng...?"
Siangkoan Wi Hong terkejut memandang pemuda tampan yang pandai pula bersajak dan bernyanyi itu.
"Benar!"
"Kalau begitu... mendiang Ceng Han Houw..."
"Dia adalah ayahku!"
"Ah, jadi engkau inilah puteranya yang dikabarkan terlepas dari pembasmian dan berhasil menghilang itu? Sungguh tak kusangka akan dapat bertemu dengan dua orang seperti kalian!"
Siangkoan Wi Hong nampak gembira bukan main, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.
Diam-diam Han Tiong terkejut mendengar pengakuan Thian Sin.
Adiknya itu sungguh lancang sekali memperkenalkan diri.
Mereka masih berada di kota raja dan memperkenalkan diri sebagai putera Ceng Han Houw yang dimusuhi pemerintah itu sungguh amat berbahaya.
Maka dia cegat menjura ke arah Siangkoan Wi Hong.
"Saudara Siangkoan, kami berterima kasih atas semua kebaikanmu kepada kami. Nah, perkenankan kami untuk melanjutkan perjalanan."
Akan tetapi, pemuda hartawan itu cepat mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata dengan cepat.
"Nanti dulu, tahan dulu, sahabat-sahabatku yang baik! Setelah mengetahui siapa kalian, dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak mungkin aku membiarkan kalian pergi begitu saja tanpa lebih dulu berkenalan dengan ilmu silat kalian. Kesempatan baik ini tak boleh kulepaskan begitu saja! Kalian harus lebih dulu menandingi aku dalam pibu, baru kulepaskan kalian pergi!"
"Akan tetapi, kami bukanlah musuh-musuhmu!"
Han Tiong membantah dan menolak. Siangkoan Wi Hong tertawa gembira.
"Ha-ha-ha! Sahabat atau musuh bagiku sama saja, asal orangnya lihai. Tidak seperti kakek kerbau tadi yang menjemukan! Bagiku punya teman lihai atau musuh lihai, itulah yang amat menyenangkan. Sekarang, putera Pendekar Lembah Naga dan putera Pangeran Ceng Han Houw, kedua-duanya merupakan pendekar-pendekar sakti yang namanya pernah menggemparkan dunia, telah berada di sini berhadapan dengan aku, maka bagaimanapun juga kalian harus menandingi aku dalam adu ilmu silat!"
Setelah berkata demikian sebelum dua orang pemuda itu menjawab, Siangkoan Wi Hong bertepuk tangan tiga kali dan bermunculan enam orang dari pintu belakang.
Mereka ini bukan lain adalah pemuda tinggi besar dan lima orang temannya yang pernah mengganggu dua orang pemuda itu di pasar.
Si tinggi besar itu memandang kepada dua orang pemuda Lembah Naga dengan senyum mengejek dan mereka semua menanti perintah dari tuan muda mereka.
"Kia Tong, sekarang engkau dan kawan-kawanmu boleh mencoba mereka ini. Hati-hati, mereka berdua bukanlah orang-orang lemah seperti yang kalian kira,"
Kata Siangkoan Wi Hong dengan senyum gembira.
"Tapi, kongcu perlukah kami berenam yang maju? Biarkan saya sendiri menghajar dua cacing buku ini!"
Kata Si Tinggi Besar yang dipanggil Kia Tong itu.
Sepasang mata Siangkoan Wi Hong biasanya lembut dan ramah itu tiba-tiba mendelik dan suaranya terdengar ketus.
"Tolol! Kalian maju berenampun jangan harap akan menang!"
Terkejutlah Kia Tong dan dia tidak berani membantah pula, lalu memberi isyarat kepada lima orang temannya untuk maju kersama.
Sementara itu, Thian Sin sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Tiong-ko, sekali ini kita tidak bisa membiarkan tikus-tikus ini berlagak. Biarkan aku menghajar mereka!"
Han Tiong juga maklum bahwa sekarang tidak mungkin lagi mereka menyingkirkan diri dan menghindarkan perkelahian, maka dia mengangguk, akan tetapi berkata dengan suara penuh peringatan.
"Ingat, jangan kau membunuh orang, Sin-te!"
Giranglah hati Thian Sin memperoleh perkenan kakaknya ini.
Dia lalu melangkah maju ke tengah ruangan yang luas itu.
Dengan anggukan kepalanya, Siangkoan Wi Hong lalu memberi isyarat kepada enam orang itu yang segera maju mengepung Thian Sin.
Si Tinggi Besar masih bersikap sombong, karena betapapun juga, dia masih memandang rendah kepada pemuda yang kelihatan lemah dan yang pernah melarikan diri tunggang-langgang ketika dia mengganggunya di pasar itu.
Melihat betapa enam orang itu hanya mengepungnya, Thian Sin membentak.
"Tikus-tikus busuk, majulah kalau kalian memang berani!"
Si Tinggi Besar menjadi marah.
"Serbu...!"
Dia memberi aba-aba dan lima orang pembantunya serentak maju menyerang Thian Sin dari lima jurusan.
Mereka berlima ini merupakan pembantu-pembantu Siangkoan Wi Hong, maka tentu saja kepandaian mereka sudah cukup tangguh, lebih tinggi dibandingkan dengan para tukang pukul biasa saja.
Maka kini serangan merekapun merupakan serangan gaya silat yang cukup kuat dan cepat, bukan sekedar mengandalkan tenaga kasar belaka.
Thian Sin teringat akan pesan kakaknya, maka dia menahan kemarahannya dan tidak ingin menurunkan tangan maut.
Akan tetapi teringat betapa dia dan kakaknya dihina di pasar, betapa buah-buah yang dibelinya jatuh berhamburan di atas tanah, betapa dia dan kakaknya ditertawakan dan diejek, maka kini dia menggerakkan tangan menangkis setiap pukulan sambil mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang!
Terdengar bunyi "krek!"
Setiap kali dia menangkis dan lima kali dia menangkis pukulan lima orang itu.
Akibatnya, lima orang itu terpelanting roboh dan ketika mereka merangkak bangun, mereka mengaduh-aduh sambil memegangi lengan mereka yang tadi tertangkis karena lengan mereka itu ternyata telah patah tulangnya dan tentu saja mereka tidak dapat menyerang lagi.
Rasa nyeri membuat mereka meringis dan melangkah mundur sambil memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.
Juga Siangkoan Wi Hong terkejut bukan main.
Dia memang sudah dapat menduga akan kelihaian Thian Sin putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw itu, akan tetapi tidak disangkanya bahwa pemuda yang halus itu ternyata demikian tangkas, kuat dan ganas, bertangan besi, sekali tangkis mematahkan lengan lima orang penyerangnya!
Tahulah dia bahwa orang-orangnya itu sama sekali bukan merupakan tandingan pemuda ini akan tetapi untuk mencegahnya dia sudah terlambat, karena kini Si Tinggi Besar sudah menyambar sebatang golok besar dari rak senjata dan dengan marah dia sudah menerjang dengan goloknya ke arah Thian Sin.
Kalau dia mau, tentu saja Siangkoan Wi Hong dapat dan masih ada kesempatan untuk mencegah pembantunya ini, akan tetapi dia memang ingin melihat bagaimana Thian Sin akan menghadapi serangan golok dari pembantunya yang cukup lihai ini.
Thian Sin tetap tidak bergerak dari tempatnya.
Dia menanti sampai bacokan golok itu menyambar dekat dengan kepalanya, lalu tiba-tiba tangan kirinya bergerak menangkis golok besar itu dengan jari-jari tangannya dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang.
"Krokkk!"
Golok itu patah menjadi dua potong dan secepat kilat tangan Thian Sin bergerak dua kali disusul gerakan kaki dua kali dan...
tubuh Si Tinggi Besar itu terlempar, terjengkang dan terbanting ke belakang, goloknya terlepas jauh.
Dia tidak dapat merangkak bangkit seperti teman-temannya tadi karena kalau teman-temannya itu hanya menderita tulang sebelah lengan yang patah, dia sendiri menderita patah tulang kedua lengan dan kedua kakinya!
Terpaksa teman-temannya, dengan sebelah tangan saja, membantunya dan menggotongnya keluar dari tempat itu!
Siangkoan Wi Hong menjadi semakin kagum akan tetapi juga terkejut.
Pemuda putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw itu benar-benar hebat dan bertangan maut, pikirnya.
Teringat dia akan cerita tentang mendiang pangeran yang pernah menjagoi di dunia kang-ouw itu dan diam-diam diapun bersikap waspada karena maklum bahwa pemuda itu benar-benar tidak boleh dipandang ringan.
Akan tetapi dengan wajah penuh senyum ramah dia melangkah maju menghadapi Thian Sin sambil menjura.
"Ah, kiranya ilmu kepandaian Saudara Ceng amat hebat dan tinggi! Sungguh aku seperti katak dalam tempurung, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata!"
Akan tetapi Han Tiong sudah menjura kepadanya.
"Saudara Siangkoan harap suka maafkan adikku, dan perkenankanlah kami pergi dari sini dan tidak merusak suasana persahabatan antara kita."
Siangkoan Wi Hong menoleh kepada Han Tiong.
Dia memang seorang pemuda yang cerdik sekali.
Dia sudah mendengar akan hubungan antara Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong dengan mendiang Pangeran Ceng Han Houw.
Pangeran itu merupakan kakak angkat dari Cia Sin Liong, dan juga ada hubungan darah antara isteri pangeran itu dengan Pendekar Lembah Naga, yaitu saudara misan, keduanya adalah cucu-cucu dari pendiri Cin-ling-pai.
Maka diam-diam diapun melakukan pilihan.
Menurut riwayat sang pangeran, maka keturunan ini lebih condong untuk menjadi segolongan dengan dia, sedangkan pemuda she Cia itu tentu saja merupakan ahli waris Cin-ling-pai dan tetap menjadi musuh golongannya.
Maka, sedapat mungkin dia harus menjadikan Ceng Thian Sin ini sebagai sebagai sahabat, sedangkan Cia Tiong harus dimusuhinya!
"Ah, Saudara Cia Han Tiong.
Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak peduli apakah kalian menjadi kawan atau lawan, bagiku sama saja asalkan kawan atau lawan itu lihai, semua menyenangkan hatiku.
Keturunan mendiang Pangeran Ceng Han Houw sudah jelas amat hebat kepandaiannya dan membuat hatiku kagum sekali, tidak tahu sampai di mana kelihaian keturunan dari ketua Cin-ling-pai.
Apakah lebih hebat daripada kepandaian keturunan Pangeran Ceng?
Kiranya begitulah, dan aku ingin sekali mencoba kepandaianmu.
Mari, majulah!"
Jelas bahwa kini pemuda hartawan itu menujukan tantangan kepada Cia Han Tiong.
Akan tetapi pancingan dan tantangannya itu tidak mengenai sasaran.
Han Tiong menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Aku datang ini bukan untuk berkelahi, melainkan memenuhi undanganmu, sebagai kenalan."
"Hemm, apakah engkau takut, Saudara Cia?"
"Terserah penilaianmu,"
Jawab Han Tiong tenang. Akan tetapi, Thian Sin sudah mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi merah.
"Siapa bilang kami takut padamu?"
Bentaknya.
"Tiong-ko, biarlah aku melawan si sombong ini!"
Thian Sin tidak memberi kesempatan kepada kakaknya untuk menjawab dan dia langsung maju menghadapi Siangkoan Wi Hong sambil membentak.
"Tidak perlu kakakku turun tangan, akupun sudah cukup untuk menandingimu!"
Biarpun hatinya menyesal mengapa pemuda keturunan ketua Cin-ling-pai itu tidak melayaninya dan kini bahkan putera pangeran itu yang maju, akan tetapi Siangkoan Wi Hong tidak menolak.
Betapapun juga dia harus menunjukkan kelihaiannya dan karena selama ini dia belum pernah kalah oleh siapapun juga, timbul semacam kesombongan di dalam hatinya dan kepercayaan diri yang berlebihan sehingga dia memandang ringan semua orang.
"Baik sekali, biariah kita main-main sebentar, Saudara Ceng!"
Baru saja kata-katanya terhenti, tangannya sudah melakukan serangan.
Dengan tangan terkepal, tangan itu menyambar dari pinggang kanannya, dengan kepalan terputar amat kuatnya menyambar ke arah pusar Thian Sin!
Pemuda ini tahu akan bahayanya pukulan seperti itu.
Kepalan terputar itu laju seperti peluru baja saja dan dapat minimbulkan luka-luka hebat di dalam rongga perut, maka dia pun cepat menggerakkan lengan kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga sedangkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah dada lawan.
"Dukkk!"
Tangkisan Thian Sin itu bertemu dengan lengan Siangkoan Wi Hong, membuat mereka berdua tergetar, dan pemuda hartawan itu juga menggunakan lengan kirinya untuk menangkis hantaman tangan kiri dengan jari-jari terbuka yang amat kuat dan yang akan mampu mematahkan tulang-tulang dadanya itu.
"Dukk!"
Kembali kedua lengan mereka bertemu dan keduanya tergetar hebat.
Hal ini mengejutkan Siangkoan Wi Hong karena dari pertemuan lengan dua kali ini saja maklumlah dia bahwa Thian Sin memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat!
Maka, mengingat betapa pemuda ini tadi merobohkan semua pembantunya, dan melihat kenyataan akan kuatnya tenaga sin-kangnya, Siangkoan Wi Hong tidak berani memandang rendah lagi.
Senyumnya menghilang dari wajahnya yang tampan dan mulailah dia menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga dan kepandaiannya.
Kedua tangannya mengeluarkan hawa pukulan dahsyat ketika dia menghujankan serangan kepada Thian Sin.
Namun Thian Sin sudah siap menghadapinya.
Pemuda Lembah Naga inipun sudah tahu bahwa putera Pak-san-kui ini merupakan seorang lawan yang tangguh, maka diapun cepat menggerakkan tubuhnya untuk mengelak, menangkis dan juga membalas dengan pukulan-pukulan yang tidak kalah dahsyatnya.
Terjadilah serang menyerang, saling pukul elak dan tangkis bertubi-tubi.
Berkali-kali kedua lengan mereka saling bertemu, makin lama makin kuat sehingga pertemuan itu seperti menggetarkan seluruh ruangan dan kadang-kadang kelau pertemuan antara kedua lengan itu amat kuatnya, tubuh mereka tidak hanya tergetar, bahkan terdorong mundur.
Pertandingan itu makin lama makin seru dan agaknya mereka itu seimbang, baik mengenai kecepatan maupun tenaga.
Setelah lewat lima puluh jurus dan belum dapat mendesak lawannya sama sekali, Siangkoan Wi Hong baru benar-benar terkejut karena tahulah dia bahwa kepandaian Thian Sin ternyata tidak kalah olehnya!
Dia lalu mengeluarkan suara melengking tinggi dan menyerang lawan dari atas, dengan kedua lengan bergerak-gerak, kedua tangan membentuk cakar seperti seekor burung garuda yang menyambar-nyambar dari atas.
"Brettt-brettt...!"
Thian Sin meloncat ke belakang dengan kaget.
Serangan lawan yang amat cepat dan aneh itu biarpun telah dielakkan dan ditangkisnya, tetap saja masih mengenai pundaknya dan membuat bajunya terobek di bagian kedua pundaknya!
Dia terkejut sekali sungguhpun kulit dagingnya dilindungi kekebalan Thian-te Sin-ciang dan tidak terluka.
Memang gerakan lawan itu amat aneh dan tidak mudah menghadapi seorang lawan yang menyerang dari atas seperti itu.
Ilmu silatnya dilatih untuk menghadapi lawan sebagai manusia, yaitu yang bergerak di sekeliling dirinya, bukan menghadapi manusia burung yang datang dari atas.
Setelah berhasil merobek baju di kedua pundak lawan, timbul kembali kesombongan Siangkoan Wi Hong dan diapun tertawa dengan gembira.
Hal ini membuat wajah Thian Sin menjadi merah dan dia sudah menjadi marah sekali.
"Wuuutt... wuuuttt...!"
Angin menyambar-nyambar hebat ketika dia menggunakan pukulan dan tamparan Thian-te Sin-ciang yang amat hebat.
Siangkoan Wi Hong terkejut bukan main karena hawa pukulan itu saja sudah terasa olehnya dan dia cepat berloncatan mundur.
"Sin-te, jangan...!"
Han Tiong memperingatkan dan Thian Sin sadar bahwa kalau dia mendesak lawan dengan pukulan-pukulan sakti itu, memang kalau sampai lawan terkena mungkin saja dia akan melakukan pembunuhan.
Maka diapun cepat mengubah gerakannya dan kini dia mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun.
Dengan ilmu silat yang tangguh di bagian pertahanan ini, dia mampu membendung serangan-serangan lawan yang menggunakan ilmu silat seperti burung garuda beterbangan itu, Mampu mengelak, menangkis dan juga membalas serangan.
Betapapun juga, tetap saja dia berada di fihak yang diserang dan didesak, kira-kira dalam perbandingan satu kali menyerang tiga kali diserang!
Hal ini membuat Thian Sin merasa penasaran sekali.
Memang hebat sekali ilmu silat lawannya itu.
Memang ilmu yang dimainkan Siangkoan Wi Hong itu adalah ilmu silat keluarganya yang amat diandalkan dan hanya dikeluarkan kalau menghadapi lawan tangguh.
Ilmu silat itu diberi nama Go-bi Sin-eng-jiauw (Cakar Garuda Go-bi) yang bersumber pada ilmu silat Go-bi-pai.
Akan tetapi oleh Pak-san-kui dasar ilmu silat Go-bi-pai itu telah diubah dan ditambah sedemikian rupa, dicampur dengan ilmu Eng-jiauw-kang yang berasal dari daerah Korea sehingga terciptalah ilmu Go-bi Sin-eng-jiauw yang amat ampuh itu.
Selain gerakan dalam ilmu silat ini aneh, tubuh berloncatan seperti garuda yang beterbangan menyambar-nyambar lawan, juga jari-jari tangan yang membentuk cakar itu seolah-olah berubah menjadi cakar baja yang amat kuat, dapat dipakai untuk menahan senjata tajam dan memiliki kekebalan seperti ilmu Thian-te Sin-ciang!
Sudah seratus jurus mereka bertanding dan Thian Sin masih terus terdesak, bahkan beberapa kali tubuhnya kena cakaran yang untung tidak sampai terluka, hanya bajunya saja yang robek karena kulit tubuhnya telah terlindung oleh sin-kangnya.
Hal ini membuat Siangkoan Wi Hong tertawa-tawa dan membuat Thian Sin makin penasaran.
Ketika dia melihat tangan kiri lawan yang berbentuk cakar itu menyerang ke arah mukanya, dia cepat menangkis, akan tetapi cakaran tangan kanan lawan ke arah dadanya sama sekali tidak ditangkis atau dielakannya.
"Plak!"
Cakar tangan kanan Siangkoan Wi Hong mengenai dada Thian Sin.
"Ahhhhh...!"
Siangkoan Wi Hong berteriak kaget, matanya terbelalak ketika dia merasa betapa tangan kanannya itu melekat pada dada lawan dan tenaga sin-kangnya membanjir keluar melalui telapak tangannya yang tersedot oleh dada lawan.
Dalam kagetnya, pemuda ini mengerahkan sin-kang untuk menarik kembali tangannya, akan tetapi makin hebat dia mengerahkan tenaga, makin hebat pula tenaga sin-kangnya tersedot keluar.
"Thi-khi-i-beng..."
Teriaknya kaget dan mukanya menjadi pucat.
Dia telah mendengar dari ayahnya akan ilmu yang istimewa ini.
Akan tetapi sebelum dia sempat melakukan sesuatu, tangan kiri Thian Sin sudah menyambar dan menampar punggungnya.
"Bukkk!"
Tubuh Siangkoan Wi Hong terpelanting dan dia roboh, lalu muntahkan darah segar. (Lanjut ke
Jilid 13) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 Hantaman dengan tenaga Thian-te Sin-ciang pada punggungnya itu biarpun tidak melukai punggung yang terlindung kekebalan, namun telah mengguncangkan isi dadanya dan membuat dia terluka di sebelah dalam, tidak terlalu parah namun cukup membuat dia muntah darah dan tidak mungkin melanjutkan pertandingan.
Melihat ini, Han Tiong cepat meloncat menghampiri dan dengan ilmu It-sin-ci, yaitu dengan satu jari telunjuk tangan kanannya, dia menotok tiga tempat, di sepanjang tulang punggung Siangkoan Wi Hong untuk menyembuhkan orang itu, sambil menariknya bangun, lalu dia menjura dengan hormat.
"Harap Saudara Siangkoan sudi memaafkan kami berdua,"
Katanya, kemudian dia memberi isyarat kepada adiknya dan mereka berdua meninggalkan ruangan itu, Terus keluar dari dalam rumah dan bergegas meninggalkan kota raja yang oleh Han Tiong dianggap sebagai tempat berbahaya itu.
Siangkoan Wi Hong masih terlalu kaget dan merasa terpukul kehormatannya karena dia telah dikalahkan, maka diapun hanya menarik napas panjang berulang-ulang.
Dia tahu dari totokan-totokan tadi bahwa kepandaian Cia Han Tiong kiranya bahkan lebih lihai daripada kepandaian Thian Sin yang telah mengalahkannya.
Timbul rasa penasaran dan dia ingin memperdalam ilmunya kepada ayahnya dan diapun merasa kecewa, mengapa tadi dia tidak mempergunakan yang-kim untuk melawan pemuda Lembah Naga itu.
Dia telah menderita rugi sebagai akibat memandang rendah lawan.
Akan tetapi menyesalpun tiada guna.
Dua orang pemuda itu telah pergi dan dalam keadaan terluka itu tak mungkin dia akan dapat melawan lagi.
Dengan hati penuh rasa penasaran dan menyesal, hari itu juga Siangkoan Wi Hong meninggalkan kota raja dan kembali ke Tai-goan, tempat tinggal Pak-san-kui Siangkoan Tiang, ayahnya yang hidup sebagai datuk kaya raya.
Han Tiong dan Thian Sin yang baru saja meninggalkan kota raja, kini merasa amat gembira dan takjub menikmati pemandangan alam yang amat indah di Pegunungan Cin-ling-san.
Setelah berhari-hari tinggal di kota raja yang demikian sesak dengan manusia yang demikian bising dan di mana mereka menemukan masalah-masalah yang tidak enak sekali, kini tempat yang berhawa sejuk dan segar, bersih dan hening itu nampak teramat indah dan menyenangkan!
Memang sesungguhnyalah, kita harus mengakui adanya kenyataan betapa ulah manusia, yaitu diri sendiri, telah membuat dunia ini menjadi suatu tempat tinggal yang kotor dan tidak enak ditinggali.
Alam yang begitu sejuk, segar dan bersih seperti yang terdapat di pegunungan atau di dusun-dusun sunyi, segera berubah menjadi panas, pengap dan kotor setelah penuh oleh manusia.
Banyak memang terdapat mahluk hidup di dunia ini, namun, betapapun nyaring suara mahluk-mahluk itu, tidak ada yang seperti suara manusia ketika mereka saling bicara.
Suara manusia pada umumnya sudah penuh dengan nafsu, penuh dengan keinginan mengejar senang, penuh dengan kedukaan, penuh dengan kemarahan, kebencian!
Kalau kita memasuki sebuah pasar yang penuh manusia, mendengarkan suara, manusia dalam pasar itu, lalu membandingkannya dengan suara burung-burung dan binatang-binatang di dalam hutan, akan nampak perbedaan yang teramat besar.
Kita tidak pernah dapat menikmati hidup, tidak pernah dapat menikmati sebuah tempat.
Yang tinggal di kota ingin lari ke gunung, lari dari kebisingan dan menganggap bahwa keheningan akan lebih menyenangkan.
Sebaliknya, kalau dia sudah tinggal di gunung, diapun masih akan menderita karena merasa kesepian dan ingin kembali ke kota!
Jarang terdapat orang yang benar-benar dapat menikmati keindahan alam, dan kalaupun ada, hanya dapat dihitung dengan jari saja agaknya!
Kita baru dapat menikmati keindahan alam apabila kita tidak membanding-bandingkan, apabila pikiran kita kosong, tidak dipenuhi kesibukan, apabila di dalam pikiran tidak terdapat gambaran tentang si aku dan tentang apa yang kusenangi dan tidak kusenangi.
Keindahan dan kebahagiaan bukan berada di luar diri kita sendiri, keindahan dan kebahagiaan hanya terdapat pada jiwa yang bebas, Bebas dari ikatan suka dan tidak suka yang menjadi permainan pikiran, yaitu pencipta si aku.
Senja itu memang indah bukan main!
Han Tiong dan Thian Sin yang kebetulan datang dari arah timur, dapat menikmati keindahan senja itu sepenuhnya.
Kata-kata tidaklah cukup untuk menggambarkan keindahan pada saat itu, keindahan senja tidak dapat digambarkan, hanya dapat dirasakan.
Seakan-akan terbuka pintu sorga dalam dongeng-dongeng nun jauh di langit barat.
Langit yang pada kakinya seperti terjadi kebakaran, memerah jingga di lereng belakang bukit.
Makin tinggi makin muda warna merah itu sampai menjadi warna setengah merah setengah kuning, dilatarbelakangi warna kebiruan, biru yang mengandung kehijauan, maka terjadilah percampuran warna antara merah, kuning dan biru, Warna-warna pokok, yang membentuk segala macam warna yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Dan di antara langit yang dicoreng-moreng bermacam warna itu, di antara awan-awan yang menghitam kelabu dan yang membentuk bermacam corak dan bentuk yang melampaui segala yang dapat dikhayalkan otak, nampak sinar-sinar kuning emas dari matahari senja yang sudah mulai bersembunyi di balik puncak Gunung Cin-ling-san.
Makin jauh matahari tenggelam, makin remang-remang cuaca dan keremangan itu seperti mendatangkan suatu keheningan yang baru, keheningan yang ajaib menyelimuti seluruh permukaan bumi.
Pohon-pohon mulai menyembunyikan diri, menarik diri dari penonjolan di waktu siang, membuat persiapan untuk tenggelam dalam kegelapan yang segera akan tiba.
Sebatang pohon yang-liu yang tinggi nampak di kejauhan, terpencil dan merupakan sesuatu yang hitam menentang keindahan warna-warni itu, dengan cabang-cabangnya yang melengkung indah dan halus, seolah-olah menunduk dan menghormati suasana yang hening, sedikitpun tidak bergerak, tidak seperti pada saat-saat lain di mana pohon yang-liu itu merupakan pohon yang paling luwes menari-nari lemah gemulai tertiup angin berdesir.
Beberapa burung merupakan kelompok terbang mendatang dari selatan, seolah-olah merupakan seekor mahluk besar yang bergerak sambil mengeluarkan bunyi bercicit-cicit nyaring karena gerakannya yang seirama.
Anehnya gerakan terbang dan bunyi bercicit itu tidak mengganggu keheningan, bahkan merupakan bagian dari keheningan yang maha mendalam itu, Sehingga terdapat perpaduan yang aneh antara yang hening dan yang bising, yang diam dan bergerak.
Keadaan tadi yang diam dan hening seperti keadaan mati mengandung gerah dan bunyi yang menjadi pertanda hidup itu, sehingga di dalam kematian itu terkandung kehidupan dan di dalam kehidupan itupun terkandung kematian, keduanya tak terpisahkan lagi.
Dua orang kakak beradik itu juga merupakan bagian daripada keheningan maha luas itu dan mereka seperti dua titik tenggelam ke dalam suatu keluasan yang membuat mereka tidak ada artinya lagi, yang berarti hanyalah keluasan itu sendiri, keheningan itu sendiri di mana mereka tergulung.
Sampai beberapa lamanya, mereka berdua terpesona, melangkah tanpa terasa, namun dengan batin yang sadar akan semua itu, dan kebahagiaan yang mujijat memenuhi rongga dada.
"Ah, tak terasa hari telah mulai gelap. Mari kita mempercepat langkah, itu puncak Cin-ling-san sudah nampak dari sini, Sin-te."
Kata Han Tiong dan ucapan ini seperti menyeret mereka kembali ke dalam alam dunia fana.
"Mari, Tiong-ko,"
Jawab Thian Sin singkat, hatinya masih penuh pesona.
Baru saja tiba di luar pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi perkampungan Cin-ling-pai, mereka telah disambut oleh para murid Cin-ling-pai yang melakukan penjagaan.
Karena kini Han Tiong telah menjadi seorang pemuda dewasa dan ketika dia mengunjungi Cin-ling-pai dia masih kecil, pula karena waktu itu malam telah tiba dan tempat itu hanya diterangi oleh beberapa buah teng yang tergantung di pintu gerbang, maka tidak ada murid Cin-ling-pai yang mengenalnya.
"Berhenti!"
Bentak murid Cin-ling-pai dan beberapa orang murid telah mengepung dua orang pemuda itu.
"Siapakah kalian dan ada perlu apa malam-malam begini datang ke sini?"
Melihat sikap mereka yang gagah itu, Han Tiong tersenyum.
"Agaknya saudara-saudara tidak lagi mengenalku. Beberapa tahun yang lalu, kurang lebih delapan tahun yang lalu, aku pernah datang bersama ayah dan ibu untuk berkunjung kepada ketua Cin-ling-pai."
"Eh, siapakah engkau...?"
Tanya pemimpin para penjaga itu sambil mencoba untuk mengenal wajah yang nampak tenang dan jujur itu.
"Kami datang dari Lembah Naga!"
Kata Thian Sin yang sudah tidak sabar lagi.
Kini semua murid Cin-ling-pai terkejut dan makin mendekat untuk melihat wajah mereka.
Mereka masih belum dapat mengenal Han Tiong bahkan sama sekali tidak mengenal wajah Thian Sin yang tampan itu.
"Lembah Naga...?"
Tanya mereka gagap.
"Ketua Cin-ling-pai Cia Bun Houw adalah kakek kami."
Kata Han Tiong.
"Ohhh...! Jadi kongcu ini adalah putera Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong...?"
Han Tiong mengangguk dan para murid Cin-ling-pai itu dengan gembira lalu mengiringkan Han Tiong dan Thian Sin masuk, sedangkan beberapa orang anak murid Cin-ling-pai sudah lebih dulu berlari-lari ke dalam untuk memberi kabar gembira itu kepada ketua mereka.
Tak lama kemudian, nampak Kakek Cia Bun Houw dan Nenek Yap In Hong keluar menyambut.
Cia Bun Houw telah menjadi seorang kakek yang usianya enam puluh tahun, sedangkan Nenek Yap In Hong sudah berusia lima puluh delapan tahun.
Akan tetapi, ketua Cin-ling-pai itu masih nampak sehat dan segar, sedangkan isterinyapun memiliki tubuh yang langsing dan biarpun rambutnya sudah banyak yang putih, namun garis-garis mukanya masih jelas membayangkan bekas-bekas kecantikan dan kegagahan.
Biarpun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah jumpa dengan kakek dan neneknya itu, dan biarpun mereka sudah menjadi tua, namun Han Tiong masih mengenal mereka dan cepat diapun maju menghampiri, menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang tua itu.
Thian Sin juga mengikuti perbuatan kakaknya, karena betapapun juga, kakek yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai ini adalah paman dari ibunya.
Cia Bun Houw dan Yap In Hong ketika tadi mendengar laporan bahwa ada tamu dua orang pemuda yang mengaku datang dari Lembah Naga dan mengaku bahwa ketua Cin-ling-pai adalah kakeknya, bergegas keluar dengan gembira.
Mereka sudah menduga bahwa tentu Cia Han Tiong yang datang, hanya mereka agak merasa heran mengapa ada dua orang pemuda.
Setahu mereka, Han Tiong tidak mempunyai adik.
Yap In Hong tersenyum memandang kepada Han Tiong.
Cucu ini telah menjadi seorang pemuda yang bersikap gagah dan wajahnya membayangkan kejujuran dan ketenangan, sedangkan sinar matanya tajam penuh wibawa.
"Aih, engkau tentu Han Tiong! Sudah menjadi seorang pemuda dewasa sekarang? Bagaimana dengan ayah-bundamu? Mereka baik-baik sajakah?"
"Terima kasih, ayah dan ibu dalam keadaan baik-baik dan mereka menitipkan salam hormat kepada kakek dan nenek berdua,"
Jawab Han Tiong dengan sikap hormat.
"Han Tiong, siapakah pemuda ini?"
Tanya Cia Bun Houw dan dia bersama isterinya memandang kepada wajah yang tampan, sinar mata yang tajam penuh membayangkan kecerdikan dan sikap yang lemah lembut dari pemuda yang berlutut di dekat Han Tiong itu.
"Dia ini adalah adik angkat saya, akan tetapi sesungguhnya diapun masih keluarga sendiri, karena dia adalah putera tunggal mendiang Bibi Lie Ciauw Si. Namanya adalah Ceng Thian Sin."
"Ahhh...!"
Yap In Hong menahan seruannya.
Cia Bun Houw juga terkejut dan terbayanglah olehnya akan segala yang dialami oleh keponakannya, Lie Ciauw Si itu.
"Dia she Ceng, jadi dia adalah keturunan dari Ceng Han Houw?"
Kemudian disambungnya dengan suara lirih.
"Dan Lie Ciauw Si telah meninggal dunia?"
Thian Sin memberi hormat.
"Benar sekali, Ceng Han Houw dan Lie Ciauw Si adalah mendiang ayah-bunda saya."
Cia Bun Houw merasa terharu dan dia cepat membangkitkan pemuda ini sedangkan Yap In Hong juga memegang pundak Han Tiong menyuruhnya bangun.
"Mari, mari kita bicara di dalam..."
Kata kakek dan nenek itu dengan ramah dan merekapun lalu memasuki rumah induk Cin-ling-pai yang cukup besar itu.
Setelah mandi dan makan malam, baru kedua orang pemuda Lembah Naga itu dipersilakan memasuki ruang duduk di mana telah menanti kakek dan nenek mereka.
Tadinya Han Tiong mengira bahwa tentu dia akan bertemu dengan Cia Kong Liang, pamannya yang sebaya dengan dia hanya tiga tahun lebih tua, akan tetapi ketika dia tidak melihat adanya pemuda yang telah dikenalnya itu di ruangan duduk, dia yang sudah disuruh duduk bersama Thian Sin, segera bertanya.
"Kong-kong, di manakah adanya Paman Cia Kong Liang? Kenapa sejak tadi saya tidak melihatnya?"
"Ah, pamanmu? Dia baru kemarin berangkat pergi ke Bwee-hoa-san untuk menengok bibinya, yaitu Enci Cia Giok Keng yang kabarnya sakit,"
Jawab Cia Bun Houw.
Mendengar disebutnya nama Cia Giok Keng ini, Thian Sin mengerutkan alisnya dan sambil memandang kepada kakaknya dia berkata, suaranya lirih dan mengandung getaran haru.
"Bukankah... beliau itu... nenekku, ibu mendiang ibuku? Ah, Tiong-ko, betapa ingin hatiku untuk berjumpa dengan nenekku itu... sudah begitu sering kumendengar tentang beliau dari ibu..."
Dia berhenti bicara karena teringat bahwa dia berada di depan ketua Cin-ling-pai dan isterinya, dan betapa kekanak-kanakan sikapnya tadi.
Akan tetapi Cia Bun Houw mengelus jenggotnya, diam-diam merasa terharu juga teringat akan riwayat kehidupan pemuda yang amat tampan ini.
"Sungguh baik sekali kalau engkau mempunyai keinginan itu di hatimu, Thian Sin. Memang sudah sepatutnyalah kalau engkau pergi mengunjungi nenekmu. Beliau sudah tua dan kunjunganmu sebagai wakil mendiang ibumu tentu akan menggirangkan hatinya."
Kedatangan dua orang pemuda itu sungguh merupakan suatu hal yang amat membahagiakan hati Cia Bun Houw dan isterinya sehingga hampir semalam suntuk mereka berempat bercakap-cakap dalam ruangan itu, di mana kakek dan nenek itu minta kepada Thian Sin untuk menceritakan segala hal yang telah terjadi dan menimpa keluarga Ceng Han Houw yang menyedihkan itu.
Cia Bun Houw dan isterinya hanya dapat saling pandang dan kadang-kadang menarik napas panjang ketika mendengar betapa Pangeran Ceng Han Houw tewas dalam pengeroyokan dan betapa isterinya Lie Ciauw Si, dengan gagah perkasa membela suaminya sampai darah terakhir.
"Ibumu adalah seorang isteri yang hebat!"
Demikian komentar kakek dan nenek itu kepada Thian Sin setelah mereka mendengar penuturannya.
Mereka sama sekali tidak memberi komentar apa-apa mengenai diri Pangeran Ceng Han Houw.
Dan Thian Sin bukan seorang bodoh.
Dia amat cerdik dan diapun sudah tahu apa yang terkandung dalam hati kakek dan nenek itu setelah mendengar ceritanya.
Dia tahu bahwa dalam pandangan mereka, dalam pandangan semua keluarga Cin-ling-pai, Ayahnya hanyalah seorang laki-laki yang berambisi besar dan tidak segan-segan untuk memberontak, sehingga kematian ayahnya adalah kematian seorang pemberontak yang sudah wajar menerima hukuman, sebaliknya kematian ibunya adalah kematian seorang wanita perkasa yang setia dan mencinta suaminya!
Mendengar betapa neneknya, Cia Giok Keng, yang hidup bersama suaminya, yaitu pendekar Yap Kun Liong di puncak Bwee-hoa-san kini telah berusia kurang lebih tujuh puluh lima tahun itu, Thian Sin merasa khawatir kalau-kalau dia tidak akan dapat bertemu lagi dengan neneknya yang sudah tua itu.
Maka kemudian diambil keputusan bahwa dua orang pemuda itu pada besok pagi-pagi akan berangkat ke Bwee-hoa-san menyusul Cia Kong Liang yang telah menuju ke pegunungan itu pada hari kemarin.
Sebaiknya kita mengikuti perjalanan Cia Kong Liang.
Seperti kita ketahui, suami isteri pendekar ketua Cin-ling-pai itu hanya mempunyai seorang putera, yaitu Cia Kong Liang.
Adapun Cia Sin Liong, Pendekar Lembah Naga, adalah putera dari ketua Cin-ling-pai itu dari seorang wanita yang lain (baca cerita Pendekar Lembah Naga).
Sebagai putera tunggal, tentu saja Cia Kong Liang sejak kecil digembleng oleh ayah bundanya yang berilmu tinggi dengan bermacam ilmu silat.
Dari ayahnya, dia digembleng dengan ilmu-ilmu khas Cin-ling-pai seperti Thai-kek Sin-kun, San-in-kun-hoat dan sebagainya, dan dari ayah bundanya itu dia menerima ilmu Thian-te Sin-ciang yang hebat, karena merupakan penggabungan dari Thian-te Sin-ciang kedua orang tuanya, bahkan ibunya juga mengajarkan penggunaan Siang-tok-swa (Pasir Harum Beracun).
Akan tetapi, sesuai dengan watak seorang pendekar, pemuda ini tidak menggunakan pasir beracun, melainkan kepandaian itu dapat dilakukan dengan segala macam pasir atau tanah.
Pendeknya, segala macam tanah kalau sudah berada di tangan pemuda ini dan dipergunakannya sebagai senjata rahasia, merupakan serangan yang amat berbahaya bagi lawan.
Cia Kong Liang bertubuh tegap dan gagah sekali.
Pakaiannya tidak mewah akan tetapi juga tidak terlalu sederhana dan selalu rapi.
Sinar matanya yang tajam pada wajahnya yang tampan gagah itu mengandung keangkuhan, seolah-olah memandang rendah kepada orang lain, memandang orang lain dari tempat ketinggian!
Memang sesungguhnyalah bahwa pemuda Cin-ling-pai ini memiliki watak yang agak tinggi hati.
Dia tidak sombong, melainkan agak memandang rendah kepada orang lain.
Dia berwatak pendekar, dan merasa dirinya seorang pendekar perkasa, putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal dan disegani, oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila ketinggian hati menyentuh batin pemuda yang perkasa dan masih belum masak ini, sungguhpun usianya sudah dua puluh dua tahun.
Kong Liang melakukan perjalanan seenaknya sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang perjalanannya.
Dia mewakili ayah bundanya untuk dua urusan.
Pertama adalah manengok suami isteri pendekar Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng, kakek dan nenek yang menjadi kakak dari ayah dan ibunya itu, Dan kedua kalinya dia harus mewakili ayah bundanya, bahkan mewakili Cin-ling-pai untuk hadir dalam pesta ulang tahun dari datuk persilatan di pantai timur, yaitu Tung-hai-sian (Dewa Laut Timur) yang juga mengirim undangan kepada ketua Cin-ling-pai.
Masih banyak waktu, pikirnya, karena hari ulang tahun itu masih satu bulan lebih lagi.
Karena perjalanan yang dilakukan seenaknya itu, maka dua hari kemudian barulah Kong Liang tiba di Bwee-hoa-san.
Hati pemuda ini lega melihat betapa paman dan bibi tuanya itu dalam keadaan selamat, walaupun memang benar bibi tuanya nampak lesu dan tidak bersemangat.
Yap Kun Liong yang dahulu terkenal sekali sebagai seorang pendekar yang berilmu tinggi (baca cerita Petualang Asmara), Hini telah menjadi seorang kakek yang usianya sudah tujuh puluh enam tahun.
Rambutnya sudah hampir putih semua, akan tetapi tubuhnya yang tinggi agak kurus itu masih dapat berdiri tegak dan gerak-geriknya masih sigap dan ringan.
Demikian pula, Cia Giok Keng, puteri pendiri Cin-ling-pai itupun masih kelihatan sigap, akan tetapi pada saat itu wajahnya agak pucat dan nampak tidak bersemangat, lesu seperti orang yang tidak sehat.
Yap Kun Liong dan isterinya merasa gembira sekali melihat kedatangan keponakan mereka itu dan setelah Kong Liang menceritakan tentang keadaan orang tua mereka yang berada dalam keadaan selamat dan sehat, Yap Kun Liong lalu berkata, sikapnya tenang akan tetapi alisnya berkerut.
"Kong Liang, tentu saja kami merasa gembira melihat engkau datang berkunjung dan menjenguk kami dua orang tua yang kesepian ini. Akan tetapi, di samping kegembiraan kami, juga hati kami merasa risau karena sebelum urusan kami selesai, engkau datang. Kami harap saja engkau tidak akan terlibat dalam urusan kami ini."
Pemuda itu memandang wajah paman dan bibinya dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Memang sejak tadi dia dapat menduga bahwa tentu ada sesuatu yang merisaukan hati mereka terutama sekali hati bibinya.
"Paman, urusan apakah yang merisaukan hati paman dan bibi berdua?"
Dia merasa heran bagaimana ada urusan yang dapat merisaukan hati paman dan bibinya yang gagah perkasa ini, apaiagi dalam usia setinggi itu dan berada di tempat yang demikian sunyi.
Agaknya tak mungkin lagi mereka itu menemui urusan-urusan yang menimbulkan kesukaran.
Yap Kun Liong menarik napas panjang.
"Karena bibimu sedang kurang sehat, ditambah dengan munculnya urusan ini, sungguh menimbulkan ketidaktenteraman juga."
"Kong Liang, setua ini kami masih diancam oleh orang-orang jahat, dan aku telah siap menghadapi mereka dengan kekerasan, akan tetapi pamanmu ini telah menjadi lemah, dia tidak setuju sehingga timbul pertentangan di antara kami."
Tiba-tiba Cia Giok Keng berkata sambil melirik ke arah suaminya.
Kong Liang sudah mendengar bahwa bibinya ini memiliki watak yang keras di waktu mudanya, dan agaknya, biarpun sekarang sudah tua, namun kekerasan dalam menghadapi musuh itu masih nampak, berbeda dengan pamannya yang agaknya sudah menjadi orang yang tidak bersemangat untuk menghadapi kekerasan.
"Paman dan bibi, apakah yang telah terjadi? Musuh siapakah yang berani mengancam ji-wi (anda berdua)?"
Yap Kun Liong memandang isterinya, kemudian menoleh kepada keponakannya dan berkata.
"Kong Liang, urusan ini tidak ada sangkut-pautnya denganmu, akan tetapi oleh karena engkau sudah dewasa dan kebetulan engkau berada di sini, biarlah engkau ketahui semuanya. Nah, dua hari yang lalu kami menerima surat ini, kau bacalah sendiri."
Cia Kong Liang menerima gulungan surat itu dan membukanya dengan sikap tenang, sikap yang mengagumkan paman dan bibinya yang mengamati semua gerak-geriknya.
Lalu dibacanya surat itu, dengan alisnya yang tebal itu berkerut, sepasang matanya bersinar-sinar ketika dia membaca surat itu, wajahnya sema sekali tidak menunjukkan perasaan apa-apa akan tetapi pandang matanya berkilat mengejutkan ketika dia menatap wajah paman dan bibinya berganti-ganti.
Kemudian, untuk meyakinkan hatinya, dia membaca sekali lagi.
Pada hari ke tiga setelah surat ini dibaca sebelum matahari terbit, Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng akan mati berikut semua mahluk bernyawa yang berada pada kalian, sebagai pembayar hutang!
Tertanda, KETURUNAN PADANG BANGKAI.
"Paman dan bibi, apa artinya surat ini? Siapa pengirimnya dan mengapa dia mengirimkan surat seperti ini?"
Akhirnya Kong Liang bertanya, suaranya tetap tenang akan tetapi pada pandang matanya terkandung kemarahan terhadap si penulis surat.
Yap Kun Liong menghela napas.
"Siancai (damai)... sungguh tak kusangka bahwa setua ini kami masih saja dicari musuh dan dimusuhi orang. Kami sendiri tidak tahu siapa penulis surat ini, akan tetapi melihat yang menandainya, kiranya mudah diduga bahwa mereka ini tentulah keturunan atau segolongan dengan Ang-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Merah) dan isterinya, Coa-tok Sian-li (Bidadari Racun Ular), suami isteri yang dulu pernah menjadi majikan dari Padang Bangkai di dekat Lembah Naga. Kurang lebih empat puluh tahun yang lalu (baca Cerita Dewi Maut), dalam suatu pertandingan ketika kami membantu pemerintah untuk menghadapi pemberontak, yaitu pasukan liar Sabutai, kami telah menewaskan mereka, aku merobohkan Ang-bin Ciu-kwi dan bibimu itu menewaskan isterinya, yaitu Coa-tok Sian-li. Kami sama sekali tidak mengira bahwa urusan empai puluh tahun yang lalu itu akan berekor sampai sekarang. Ah, usia setua ini, sudah mendekati akhir usia, masih saja dimusuhi orang."
Kembali kakek itu menarik napas panjang.
"Aku tidak takut!"
Tiba-tiba Nenek Cia Giok Keng berkata.
"Biarpun sudah tua begini, aku tidak akan undur selangkahpun menghadapi musuh!"
"Aihh... sudahlah, engkau sedang tidak sehat, mengapa harus menuruti perasaan marah? Kemarahan amatlah tidak baik bagi orang-orang tua seperti kita,"
Suaminya menghibur.
"Paman dan bibi harap jangan khawatir. Serahkan saja hal ini kepada saya. Tiga hari berarti besok pagi kalau surat ini sudah dua hari paman terima. Kalau musuh datang, blarlah saya yang akan menghadapi mereka!"
Kata Kong Liang dengan sikap gagah.
"Engkau tidak perlu ikut campur, anakku."
"Tapi, paman. Bukankah mereka itu mengaku keturunan dari Padang Bangkai? Dan kalau sekarang yang menghadapi adalah saya, sebagai keturunan paman pula, bukankah hal itu sudah adil dan selayaknya? Dahulu, penghuni Padang Bangkai lawan paman dan bibi, sekarang keturunan mereka biarlah saya yang menghadapinya."
Yap Kun Liong menarik napas panjang.
"Kong Liang, menurut kata hati bibimu, kita harus melawan dan bibimu memang benar, biarpun kami berdua sudah tua, namun karena kami selama ini hidup dalam sehat maka kiranya kami masih dapat melidungi diri sendiri. Akan tetapi, sampai sekarang aku masih merasa menyesal kalau kuingat betapa dahulu aku menanam banyak sekali benih-benih permusuhan sehingga sampai di hari tua masih saja dimusuhi orang."
"Tapi itu sudah kewajiban paman dan bibi sebagai pendekar-pendekar! Kita harus selalu menentang kejahatan!"
Yap Kun Liong menggeleng kepalanya.
"Sejak ribuan tahun kita dibuai oleh khayal seorang pendekar, anakku. Akan tetapi, bagaimana, hasilnya? Sudah banyak sekali orang-orang yang kita anggap jahat itu kita basmi, kita bunuh, akan tetapi kejahatan tetap saja merajalela sampai sekarang! Kita bisa membunuh orangnya dengan kekerasan, akan tetapi kejahatan tidak mungkin dapat terbasmi oleh kekerasan."
"Tapi, kebenaran hanya dapat ditegakkan melalui kekerasan!"
"Demikianlah pendapat kaum pendekar pada umumnya. Akan tetapi begitukah sesungguhnya? Berhasilkah semua kekerasan yang dilakukan untuk membasmi kejahatan? Kurasa tidak mungkin! Kejahatan adalah kekerasan, maka membasminya dengan kekerasan berarti melakukan kejahatan dalam bentuk lain. Bayangkan saja. Kita menganggap seorang pembunuh itu jahat dan kita menentanghya lalu membunuhnya! Berarti kitapun menjadi pembunuh yang tiada bedanya dengan pembunuh yang kita bunuh!"
"Tapi, paman!"
Kong Liang membantah.
"Biarpun keduanya itu sama membunuhnya, akan tetapi alasannya sungguh berbeda! Penjahat membunuh karena hendak berbuat jahat demi keuntungan dirinya sendiri, akan tetapi seorang pendekar membunuh justeru untuk menolong orang lain terbebas daripada kejahatan selanjutnya!"
Yap Kun Liong tersenyum.
"Memang demikianlah anggapan setiap orang pendekar dan kami berdua dulupun beranggapan demikian, bahkan bibimu masih sukar melihat kejahatan betapa tidak benarnya anggapan seperti itu. Apapun alasannya, melakukan kekerasan, melakukan pembunuhan, sudah pasti mengandung kebencian dan pembunuhan. Dan setiap kebencian itu sudah pasti mendatangkan pertentangan dan permusuhan yang tiada hentinya. Tidak mungkin memadamkan api dengan api lain. Tidak mungkin melenyapkan kekerasan dengan kekerasan pula."
"Saya masih tetap belum mengerti, paman. Bukankah dengan tindakan kita yang menentang kaum penjahat, berarti kita berusaha untuk membuat dunia ini tenteram dan melenyapkan semua bentuk kejahatan agar rakyat dapat hidup dengan tenang dan makmur?"
"Kejahatan memang dapat ditundukkan oleh kekerasaan, akan tetapi penundukan itu hanya sementara karena yang tunduk oleh paksaan hanyalah orang-orang yang menyimpan dendam dan sakit hati. Buktinya, kami dahulu berhasil menundukkan majikan-majikan Padang Bangkai yang dianggap jahat, bahkan berhasil membunuh mereka. Akan tetapi apakah hal itu berarti kami berhasil menghentikan kejahatan? Bahkan yang jelas, keturunan mereka mendendam kepada kami dan sekarang buktinya mereka itu, agaknya setelah merasa kuat, datang untuk menuntut balas. Kekerasan selalu menghasilkan kekerasan lain! Kebencian lain. Perdemalan tidak mungkin diciptakan oleh peperangan! Kalau toh dapat, itu hanya karena satu fihak kalah dan terpaksa tunduk, namun dendam bernyala di hati yang kalah dan setiap ada kesempatan, tentu mereka akan menuntut balas dan damai macam itu hanya sementara saja."
Baru sekarang ini Cia Kong Liang mendengar hal seperti itu, maka dia merasa bingung sekali dan akhirnya dia bertanya.
"Habis, kalau begitu, apakah semua orang jahat itu harus didiamkan saja dan kita kaum pendekar tidak harus menentang mereka? Lalu kalau begitu, dengan apakah kejahatan dapat dihilangkan dari dunia ini, paman?"
Yap Kun Liong tersenyum.
"Jangan tanya kepadaku, aku sendiri juga tidak tahu, Kong Liang. Agaknya hanyalah penyadaran lewat batin, agaknya hanyalah cinta kasih saja yang akan dapat melenyapkan kejahatan. Yang jelas, kalau menggunakan pedang, melalui darah dan pembunuhan, rasanya tidak mungkin kejahatan akan lenyap dari permukaan bumi ini."
Kong Liang tidak berani membantah lagi, akan tetapi di dalam hatinya dia merasa tidak setuju sama sekali.
"Habis, apakah yang harus kita lakukan pada besok pagi-pagi kalau mereka itu datang dan hendak membunuh paman dan bibi berdua?"
Akhirnya dia bertanya dengan suara mengandung kekhawatiran.
"Jangan engkau sembarangan turun tangan, Kong Liang. Biarkan aku seorang menghadapi mereka. Aku ingin mendamaikan urusan ini. Akan kuhadapi dengan kelembutan agar mereka itu sadar dan tidak melanjutkan dendam permusuhan yang tiada gunanya ini."
"Hemm, kaum sesat yang jahat itu mana mau tahu tentang damai? Bagaimana kalau mereka itu berkeras dan hendak membunuh kita? Apakah kita akan diam saja?"
Cia Giok Keng bertanya penasaran.
"Tenanglah, biarkan aku menghadapi mereka. Kita lihat saja narti bagaimana perkembangannya. Aku tidak percaya bahwa mereka tidak akan mau mendengarkan kata-kata yang baik."
Karena Yap Kun Liong berkeras dengan kehendaknya untuk menghadapi fihak musuh dengan jalan damai, akhirnya isterinyapun tidak mau membantah dan mereka lalu membicarakan hal yang mengenai keadaan fihak kedua keluarga dan bercakap-cakap dengan gembira.
Kesehatan Cia Giok Keng agaknya pulih kembali dengan kedatangan keponakannya itu.
Memang sesungguhnyalah, dia merasa gembira sekali dengan kedatangan Cia Kong Liang, bukan hanya gembira karena memperoleh kunjungan keponakannya yang disayangnya itu, akan tetapi juga diam-diam hatinya lega karena dia maklum bahwa pemuda itu merupakan seorang pemuda yang sakti dan telah mewarisi kepandaian adiknya yang menjadi ketua Cin-ling-pai, Maka tentu saja dia dapat mengandalkan bantuan Kong Liang kalau musuh yang datang itu terlalu kuat.
Memang dia amat percaya akan kesaktian suaminya, Yap Kun Liong, akan tetapi suaminya, juga dia sendiri, sudah amat tua dan sudah belasan tahun lebih tidak pernah berkelahi.
Malam itu Yap Kun Liong tidur dengan nyenyak.
Pendekar tua ini seolah-olah sudah melupakan ancaman dalam surat itu.
Akan tetapi tidak demikian dengan Cia Giok Keng.
Nenek ini sukar sekali pulas karena perasaannya selalu membayangkan datangnya musuh-musuh yang tentu amat tangguh itu.
Fihak musuh tentu bukanlah orang-orang tolol yang hendak mengantar nyawa.
Kalau mereka sudah berani datang secara itu, yaitu dengan mengirim dulu peringatan, tentu mereka itu sudah merasa yakin akan kekuatan mereka sendiri.
Nenek ini tidak tahu bahwa keponakannya, Cia Kong Liang, malam itu beberapa kali bangun dan keluar dari kamar untuk meronda, memeriksa di sekitar pondok sunyi itu, kemudian lewat tengah malam, Kong Liang tidak tidur lagi melainkan duduk bersila untuk berjaga-jaga.
Pada keetokan harinya, pagi-pagi sekali puncak Bwee-hoa-san diselimuti kabut.
Pondok kecil tempat tinggal suami isteri tua itu juga terbungkus kabut.
Hawa cukup dingin dan suasana amatlah sunyinya.
Bahkan burung-burung agaknya malas untuk meninggalkan pohon karena kabut demikian tebalnya.
Matahari juga masih jauh tenggelam di balik bukit di timur, akan tetapi cahayanya sudah mulai mengusir kegelapan malam sehingga kabut mulai nampak keputihan bergerak perlahan seperti sekumpulan domba malas yang digiring meninggalkan puncak.
"Kukuruyuuuuukkk...!"
Tiba-tiba keruyuk jago di dalam kandang di belakang pondok itu terdengar nyaring dan merdu.
Keruyuk perlama yang bergema di seluruh permukaan puncak.
Keruyuk pertama ini segera disambut oleh keruyuk ayam hutan yang pendek-pendek suaranya, namun yang nyaringnya melebihi suara ayam jago peliharaan penghuni pondok itu.
Dan nun jauh di bawah puncak, terdengar keruyuk ayam yang lain lagi.
Mulailah keruyuk ayam bersahut-sahutan, sebagai permulaan tanda bahwa sang malam telah mulai mengundurkan diri untuk memberi tempat kepada matahari.
"Kukuru... kokkk!"
Keruyuk itu terhenti di tengah-tengah.
Cia Kong Liang membuka mata.
Dia masih duduk bersamadhi.
Dia dapat mendengar dengan jelas suara keruyuk yang putus di tengah-tengah tadi, mengerti bahwa hat itu tidak wajar.
Ada sesuatu yang membuat ayam jantan itu menghentikan keruyuknya.
Sesuatu yang tidak wajar dan mencurigakan sekali.
Tiba-tiba terdengar gonggong anjing peliharaan pamannya, anjing kecil berbulu tebal.
Akan tetapi, tiba-tiba gonggong itupun terhenti tiba-tiba dengan bunyi "kokk!"
Dan suasana menjadi sunyi bukan main.
Sunyi yang menyeramkan dan menegangkan, karena terhentinya bunyi keruyuk ayam jago dan anjing itu sungguh tidak wajar dan menjadi tanda bahwa pasti telah terjadi sesuatu yang menyeramkan.
Dengan hati-hati sekali Cia Kong Liang lalu turun dari atas pembaringan, menyambar pedang Hong-cu-kiam, memakai pedang pemberian ayahnya itu sebagai sabuk pada pinggangnya, kemudian memakai sepatunya dan dengan hati-hati sekali dia membuka daun jendela.
Dia tidak berani lancang meloncat keluar, melainkan dengan hati-hati dia naik ke ambang jendela, kemudian keluar dan berjingkat-jingkat menuju ke belakang melalui samping rumah, lalu bersembunyi di balik tiang di samping pondok.
Cuaca masih remang-remang, akan tetapi dia dapat melihat bahwa ada beberapa buah benda hitam berserakan di pelataran belakang.
Ketika dia memandang dengan penuh perhatian, jantungnya berdebar tegang.
Tidak salah lagi, benda-benda itu adalah bangkai beberapa ekor ayam dan seekor anjing!
Dia mengepal tinju.
Musuh-musuh pamannya telah datang!
Dan, sesuai dengan isi surat, telah mulai melakukan pembunuhan-pembunuhan, mula-mula mereka membunuh ayam-ayam dalam kandang kemudian membunuh anjing yang agaknya dapat mencium kedatangan mereka tadi.
Kong Liang merasa betapa jantungnya berdebar dan hatinya panas sekali.
Sungguh kurang ajar musuh-musuh yang datang ini, pikirnya.
Dia sudah ingin meloncat keluar dan menantang musuh-musuh itu ketika tiba-tiba dia melihat berkelebatnya orang dan kiranya pamannya, Yap Kun Liong, telah berada di situ, berdiri di tengah-tengah pekarangan itu dengan tegak.
"Yap Kun Liong telah berada di sini, yang mempunyai urusan dengan aku silakan datang!"
Terdengar pendekar tua itu berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.
"Bagus sekali, orang she Yap telah siap menerima kematian!"
Terdengar suara wanita yang nyaring dan berturut-turut, Dari tiga penjuru nampak bayangan-bayangan berkelebatan cepat dan tahu-tahu di situ telah muncul empat orang!
Orang pertama yang muncul adalah seorang dara yang usianya masih muda, tidak lebih dari sembilan belas tahun, pakaiannya terbuat dari sutera yang halus namun potongannya ringkas sehingga mencetak tubuhnya yang langsing dan padat, rambutnya digelung dengan hiasan emas permata, di punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagang dan sarungnya diukur indah, dihias ronce-ronce warna kuning, kedua lengannya memakai gelang emas.
Seorang dara yang manis sekali dan diapun sama sekali tidak kelihatan seperti orang jahat karena selain manis diapun berwajah ramah penuh senyum, sungguhpun pada saat itu dia memandang kepada kakek Yap Kun Liong dengan sinar mata mengandung kemarahan dan kebencian.
Adapun tiga orang lainnya adalah laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, ketiganya mengenakan pakaian serba putih seperti orang berkabung dan wajah mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang biasa hidup menghadapi kesulitan dan kekerasan.
Yang termuda di antara mereka mempunyai tahi lalat besar di tepi hidungnya, seorang lagi berjenggot panjang sampai ke dada, sedangkan yang tertua kehilangan sebelah telinga kirinya.
Tiga orang kakek inipun masing-masing mempunyai sebatang pedang tergantung di punggung mereka.
Kalau dara itu hanya tersenyum dan memandang tajam, tiga orang kakek itu tertawa girang dan orang tertua yang telinga kirinya lenyap itu berkata.
"Setelah Yap Kun Liong muncul, mana wanita bernama Cia Giok Keng itu? Suruh dia keluar sekalian menerima kematian!"
Yap Kun Liong sudah memesan kepada isterinya agar jangan keluar, akan tetapi dia merasa khawatir melihat sikap orang-orang yang datang ini.
Kalau mereka mengeluarkan kata-kata kasar, dia tidak berani menentukan bahwa isterinya akan dapat bersabar untuk tidak keluar.
Maka cepat dia lalu menjura kepada mereka.
"Cu-wi berempat telah datang,"
Katanya sambil melirik ke arah bangkai anjing dan beberapa ekor ayam itu.
"dan kalau aku tidak salah menduga, agaknya cu-wi yang mengirim surat tiga hari yang lalu. Apakah cu-wi masih ada hubungan dengan Padang Bangkai? Bukankah Padang Bangkai telah menjadi wilayah kediaman Pendekar Lembah Naga?"
Dia memancing, karena dia tahu bahwa kini yang mendiami Istana Lembah Naga adalah Cia Sin Liong dan Padang Bangkai merupakan bagian dari Lembah Naga.
"Yap Kun Liong, lupakah engkau kepada Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li? Mereka itu adalah kakek dan nenekku, aku So Cian Ling hari ini datang untuk membalas dendam kematian mereka! Suruh Cia Giok Keng keluar untuk menebus kematian nenekku seperti engkau, yang harus menebus kematian kakekku!"
Kata dara itu dengan suaranya yang nyaring.
"Dan kami bertiga adalah murid-murid mereka, kami bertigalah yang mewarisi ilmu-ilmu dari suhu Ang-bin Ciu-kwi dan subo Coa-tok Sian-li. Sayang ketika mereka terbunuh, kami baru berusia sepuluh tahun lebih, akan tetapi kami mewarisi ilmu-ilmu mereka dan setelah belajar selama puluhan tahun, hari ini kami datang untuk membalas dendam!"
Kata kakek yang telinga kirinya buntung. Yap Kun Liong mengangguk-angguk.
"Memang, tidak perlu kusangkal bahwa Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang ketika itu menjadi penghuni Padang Bangkai telah tewas di tangan kami. Akan tetapi tahukah kalian berempat mengapa mereka itu bertentangan dengan kami dan tewas dalam pertempuran? Karena mereka berdua itu membantu pemberontak, yaitu Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko dua orang iblis yang menjadi guru raja liar Sabutai. Antara mereka dan kami tidak ada urusan pribadi dan pada waktu itu mereka membantu pemberontak dan kami membantu pemerintah. Nah, dengan demikian, kematian mereka itu adalah kematian yang wajar, bukan karena urusan pribadi. Oleh karena itu, perlukah ada dendam sakit hati? Andaikata kami gugur ketika mengabdi kepada pemerintah, apakah keluarga kami juga akan mendendam dan sakit hati atas kematuan kami? Kami rasa tidak. Nah, terutama sekali engkau, nona! Engkau masih begini muda, perlukah engkau hidup menanggung dendam yang tidak ada artinya itu? Bukankah sebaiknya kalau nona sadar dan bahwa kakek dan nenek nona itu tewas karena akibat daripada perbuatan mereka sendiri dan bahkan dapat dijadikan contoh agar nona sendiri tidak sampai melakukan penyelewengan di dalam hidup?"
"Tua bangka she Yap! Tidak perlu kau membujuk-bujuk!"
Bentak kakek bertelinga satu.
"Hemm, pengecut kau ! Saking takut mati engkau hendak membujuk kami?"
Bentak kakek berjenggot panjang. Yap Kun Liong tetap tenang.
"Kalian tidak mengerti. Orang setua aku ini sudah tidak takut akan kematian lagi. Tanpa kalian bunuhpun kematian agaknya sudah dekat denganku dan sewaktu-waktu akan datang menjemputku dan aku sudah siap untuk itu. Aku hanya tidak ingin nona muda ini melakukan hal yang akan membuat dia menyesal kelak. Nona So, sekali lagi kuharap engkau suka merenungkan hal ini."
So Cian Ling, dara muda itu, mengerutkan alisnya dan diapun meragu.
Sesungguhnya dia hanyalah cucu angkat saja dari Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li.
Mereka, majikan Padang Bangkai itu, tidak mempunyai anak, hanya pernah memungut anak perempuan yang ketika terjadi keributan yang mengakibatkan mereka tewas itu dapat menyelamatkan diri.
Anak perempuan ini akhirnya menikah dengan seorang anak buah dari See-thian-ong, yaitu yang kini menjadi datuk nomor satu di wilayah barat.
Anak perempuan itu adalah ibu dari So Cian Ling!
Dari ibunyalah dia tahu bahwa ibunya itu, anak angkat dari Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang tewas oleh pendekar-pendekar sakti Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.
Tentu saja hal itu sama sekali tidak menimbulkan kesan di dalam hatinya.
Akan tetapi ibunya sering kali mengingatkannya akan hal itu.
Dan kebetulan sekali ayahnya adalah anak buah See-thian-ong dan pada suatu hari, See-thian-ong melihat dia dan memuji bakatnya, bahkan lalu dia diangkat menjadi murid oleh datuk yang sakti itu sampai dia memperoleh ilmu silat yang tinggi!
Akan tetapi, biarpun demikian, dia tidak pernah mempunyai pikiran untuk mencari pembunuh kakek dan nenek angkatnya itu.
Kemudian, muncullah tiga orang kakek itu.
Mereka ini adalah pewaris dari kitab-kitab yang terisi ilmu-ilmu kepandaian dari mendiang Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang berhasil dilarikan oleh seorang anak buah Padang Bangkai ketika terjadi keributan.
Dan mereka bertiga inilah yang diam-diam merasa sakit hati dan mendendam.
Setelah mempelajari ilmu-ilmu itu mereka lalu terkenal dengan julukan See-ouw Sam-ciu-ong (Tiga Raja Arak dari Telaga Barat).
Akan tetapi pada suatu hari mereka bentrok dengan See-thian-ong dan mereka itu ketiganya ditundukkan dan menakluk!
Di sinilah mereka bertemu dengan ibu So Cian Ling dan oleh bujukan-bujukan See-ouw Sam-ciu-ong itulah akhirnya So Cian Ling, dibujuk pula oleh ibunya, pergi dan membantu tiga orang kakek itu untuk menuntut balas kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng yang telah ditemukan tempat tinggalnya oleh tiga orang kakek itu.
Demikianlah sedikit keadaan So Cian Ling, dara murid See-thian-ong yang amat lihai itu.
"Nona So, kalau memang nona masih berkeras dan merasa bahwa nona benar untuk menuntut balas, nah, silakan. Aku orang tua Yap Kun Liong tidak takut mati dan daripada dalam usia setua ini harus menanam permusuhan lagi, biarlah nona membunuhku dan aku tidak akan melakukan perlawanan."
Mendengar kata-kata ini dan melihat sikap kakek yang berdiri tegak dengan agung itu, hati So Cian Ling sudah menjadi gentar dan tunduk.
Tak mungkin dia dapat turun tangan membunuh seorang kakek yang begini agung sikapnya dan gagah perkasa.
Dia sudah tunduk dan merasa kagum, bahkan mulai merasa malu atas sikapnya dan juga atas perbuatan tiga orang kakek itu membunuhi anjing dan ayam-ayam itu.
So Cian Ling ragu-ragu dan bengong, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau bahkan dikatakan.
Akan tetapi, kakek ke tiga yang bertahi lalat di dekat hidungnya, agaknya sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Tua bangka pengecut!"
Teriaknya dan dia sudah menerjang ke depan dan memukulkan tangan kanannya yang terkepal ke dada Yap Kun Liong.
Tentu saja, sebagai seorang pendekar yang telah memiliki tingkat kepandaian ilmu silat yang amat tinggi, secara otomatis tenaga sin-kang dari pusar telah menjalar ke arah dada yang akan terpukul.
Kakek ini amat lihai, bahkan dialah pewaris pertama dari ilmu mujijat Thi-khi-i-beng dari pendiri Cin-ling-pai sehingga kalau dia menghendaki, tentu saja dengan mudah dia dapat menangkis, mengelak atau juga menerima pukulan itu tanpa melukai dirinya.
Akan tetapi, kakek ini sudah mengambil keputusan untuk menghindarkan kekerasan dan menghadapi kekerasan lawan dengan kelembutan dan usaha damai, maka diapun cepat menarik kembali tenaganya dan menerima pukulan itu dengan begitu saja, tanpa disertai tenaga sin-kang yang melindungi tubuhnya.
"Bukkk!"
Pukulan itu keras sekali dan karena tubuh tua itu tidak terlindung sin-kang, maka tubuh Yap Kun Liong terlempar sampai tiga meter jauhnya lalu terbanting ke atas tanah sampai bergulingan!
Sejak tadi, Cia Kong Liang sudah merasa marah bukan main dan hanya karena hormatnya kepada paman yang menjadi kakak ibunya itu maka dia bertahan diri dan hanya mengintai saja dengan muka berubah merah mendengar betapa kakek itu dihina orang.
Akan tetapi ketika dia melihat paman tuanya itu dipukul sampai tunggang langgang dan dia tahu bahwa pamannya itu sama sekali tidak mau mengerahkan tenaga, dia terkejut bukan main.
Pukulan itu bisa mematikan!
Akan tetapi pada saat itu, dua orang kakek, yaitu yang bertahi lalat dan yang berjenggot panjang, kakek ke tiga dan ke dua, sudah berloncatan untuk menyerang Yap Kun Liong yang belum bangkit duduk.
Dan pada saat itu nampak berkelebat bayangan dua orang yang tahu-tahu sudah tiba di depan Yap Kun Liong dan dua orang pemuda telah menangkis pukulan dua orang kakek itu.
"Plak! Plak!"
Dua orang kakek itu terkejut merasakan betapa kuatnya lengan yang menangkis serangan mereka terhadap Yap Kun Liong sehingga mereka itu cepat meloncat ke belakang sambil memandang dengan penuh selidik.
Kiranya yang muncul dengan cepat dan tak terduga-duga itu adalah dua orang pemuda yang usianya belum ada dua puluh tahun, yang seorang bertubuh tegap berwajah gagah dengan sepasang mata yang penuh wibawa, sedangkan pemuda yang kedua amat tampan dan juga bersikap gagah.
"Hemm, tidakkah kalian malu, memukul orang tua yang sama sekali tidak mau melawan?"
Thian Sin, pemuda yang tampan itu, menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek bertahi lalat di dekat hidung.
Mereka itu adalah Han Tiong dan Thian Sin.
Biarpun mereka itu berangkat belakangan, namun karena mereka berdua melakukan perjalanan cepat, Maka pada pagi itu mereka telah dapat menyusul dan tiba di puncak Bwe-hoa-san dan kebetulan sekali mereka sempat melihat munculnya empat orang musuh yang datang untuk membunuh kakek dan nenek itu!
Begitu melihat Yap Kun Liong dipukul, Han Tiong yang sudah pernah bertemu dengan mereka dan mengenal mereka, cepat meloncat disusul adiknya yang telah dibisiki bahwa kakek itu adalah kakek tirinya, atau ayah tiri ibunya, dan cepat mereka menangkis serangan ke dua itu.
Sementara itu.
dengan terheran-heran, Kong Liang juga meloncat keluar, bersama dengan Cia Giok Keng yang juga sudah meloncat keluar.
Melihat munculnya mereka itu, dua orang kakek yang tadi ditangkis oleh Han Tiong dan Thian Sin, menjadi marah dan mereka sudah mencabut pedang masing-masing dan menyerang dua orang pemuda yang melindungi kakek yang hendak mereka bunuh itu.
"Bagus, kalian hendak menjadi pembuka jalan ke akhirat bagi kakek dan nenek itu? Mampuslah!"
Bentak kakek berjenggot panjang sambil menyerang Han Tiong.
Pemuda ini cepat mengelak dan balas menyerang.
Juga kakek bertahi lalat telah menusukkan pedangnya ke arah leher Thian Sin yang cepat mengelak.
"Manusia-manusia berwatak iblis!"
Thian Sin berteriak marah sekali dan membalas dengan dahsyat, memukul dengan Thian-te Sin-ciang.
Mula-mula, Yap Kun Liong yang sudah bangkit berdiri tanpa terluka, hanya merasa dadanya agak nyeri, juga isterinya dan Kong Liang, terkejut dan terheran melihat munculnya dua orang pemuda itu, kemudian mereka merasa khawatir sekali melihat betapa dua orang kakek yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu mencabut pedang dan menyerang dua orang pemuda itu untuk kemudian terheran-heran ketika melihat betapa pemuda-pemuda itu dapat mengelak dengan lincahnya dan ketika mereka mengenal pukulan Thian-te Sin-ciang!
Ketika Yap Kun Liong melihat gerakan Han Tiong dan Thian Sin yang berdasarkan ilmu silat Thai-kek Sin-kun, wajahnya berseri-seri dan dia mulai mengenal Han Tiong.
"Eh, bukankah dia itu Han Tiong?"
Teriaknya sambil menuding ke arah Han Tiong yang masih diserang bertubi-tubi oleh lawannya.
"Benar! Dia itu Han Tiong putera Sin Liong!"
Kata Cia Giok Keng girang.
Kong Liang juga teringat dan mengenal Han Tiong, maka diapun menjadi girang sekali melihat bahwa seorang di antara dua pemuda itu adalah keponakannya sendiri.
Kini mereka bertiga menduga-duga siapa adanya pemuda tampan yang datang bersama Han Tiong.
Melihat sepak terjangnya, ternyata dia lebih ganas, jauh bedanya dengan gerakan Han Tiong yang tenang sehingga Yap Kun Liong mengerutkan alisnya.
Pemuda itu memiliki pukulan-pukulan yang amat ganas, pikirnya.
Akan tetapi jelas bahwa semua gerakannya menunjukkan bahwa dia adalah murid Cin-ling-pai yang sudah pandai sekali, yaitu memiliki ilmu-ilmu yang amat dikenalnya.
Demikian pula dengan Cia Giok Keng dan Kong Liang yang menduga bahwa tentu pemuda itu setidaknya merupakan adik-adik seperguruan dari Han Tiong.
Kini mereka hanya menonton dan tidak merasa khawatir lagi karena ternyata dua orang pemuda itu biarpun bertangan kosong, mampu menghadapi dua orang lawan yang berpedang.
Hanya Kong Liang yang masih mengerutkan alisnya dengan khawatir.
Keponakannya itu masih muda dan lawan itu bukan lawan yang ringan.
Ingin dia maju membantu, akan tetapi dia tahu bahwa pamannya tidak akan menyukai itu, dan pula dia sendiripun pantang untuk melakukan pengeroyokan.
"Han Tiong, kau mundurlah dan biarkan pamanmu menghadapi iblis itu!"
Teriaknya.
"Biarlah, Paman Kong Liang, saya masih sanggup menandinginya!"
Jawab Han Tiong dan mendengar itu, tahulah Thian Sin bahwa pemuda gagah perkasa itu adalah Cia Kong Liang, putera ketua Cin-ling-pai.
Diam-diam dia merasa tidak senang.
Paman yang muda dan sebaya itu sombong, terlalu memandang rendah kepada Han Tiong.
Maka diapun lalu mengubah gerakannya dan tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk mendesaknya dengan pedang.
Dia bergerak lebih cepat daripada gerakan pedang lawan.
Kakek bertahi lalat di dekat hidung itu terkejut bukan main dan dia menjadi bingung karena tubuh lawannya yang muda itu seolah-olah telah berubah menjadi beberapa orang banyaknya, saking cepatnya pemuda itu bergerak.
Tak disangkanya sama sekali bahwa dia akan berhadapan dengan seorang pemuda selihai ini.
Dan sebelum dia sempat memperkuat segi pertahanan, tiba-tiba sebuah tamparan yang amat keras mengenai pergelangan tangannya.
Padahal pedangnya tadi menyambar dengan ganas dan ternyata pemuda itu menerima pedang itu dengan tangan telanjang, menangkis pedang dan melanjutkan dengan tamparan yang mengenai pergelangan tangannya.
"Plakk!"
Pedang itu terlepas dan terlempar sedangkan kakek itu berteriak kesakitan dan terhuyung ke belakang.
Thian Sin meloncat dan mengirim pukulan maut dengan Thian-te Sin-ciang, akan tetapi tiba-tiba Han Tiong meloncat dan menangkis pukulannya.
"Sin-te, jangan bunuh orang!"
Kakak ini membentak dan pukulan Thian Sinpun ditarik kembali.
Pada saat Han Tiong mencegah adiknya ini, kakek berjenggot panjang melihat kesempatan baik dan menusukkan pedangnya ke arah dada Han Tiong pada saat Han Tiong menangkis pukulan maut adiknya itu.
Semua orang terkejut melihat ini, dan hampir saja Kong Liang bergerak meloncat, akan tetapi dengan gerakan indah sekali Han Tiong melempar diri ke bawah dan kakinya menyambar.
"Desss!"
Tendangan itu tepat mengenai tangan yang memegang pedang dan pedang itupun terlepas!
Akan tetapi kakek berjenggot itu masih penasaran dan diapun menubruk tubuh Han Tiong yang masih rebah di atas tanah sehabis menendangnya tadi.
"Plakk!"
Tubuh kakek berjenggot panjang itu terpelanting dan kiranya dia telah kena ditampar oleh Thian Sin yang sudah marah sekali.
Hanya karena teringat akan larangan kakaknya, maka tamparan itupun ditujukan kepada pundak kiri kakek itu.
Kakek itu bangkit sambil meringis karena tulang pundaknya yang kena tamparan itu patah-patah, sepertl juga kakek yang terpukul pergelangan tangannya itupun kini memegangi pergelangan tangannya yang patah tulangnya.
Tentu saja kakek bertahi lalat dan kakek berjenggot panjang itu tidak mungkin dapat bertempm lagi setelah tulang pergelangan tangan dan tulang pundaknya patah.
Kini kakek pertama yang kehilangan telinga kirinya itu maju.
Wajahnya agak pucat karena dia sangat terkejut menyaksikan kekalahan dua orang sutenya.
Berbeda dengan dua orang kakek pertama tadi, kakek yang buntung telinga kirinya ini bersikap hati-hati.
"Ah, kiranya di sini berkumpul orang-orang muda yang lihai,"
Katanya untuk menutupi rasa kaget dan kecewanya.
"Baiklah, dua orang dari kami telah kalah, akan tetapi bukan berarti bahwa kami semua telah menyerah. Masih ada kami berdua yang belum maju. Nah, siapakah yang akan menghadapi aku?"
Katanya sambil mencabut pedangnya.
Dari cara dia mencabut pedang dan dari bunyi pedangnya, yang berdesing nyaring sekali ketika dicabut, jelaslah bahwa tingkat kepandaian kakek yang buntung telinga kirinya ini lebih tinggi dibandingkan dengan dua orang kakek tadi.
Melihat ini, Kong Liang menjadi khawatir akan keselamatan keponakannya, maka dia sudah meloncat ke depan dan memegang lengan Han Tiong.
"Han Tiong, kau mundurlah. Kakek ini lawanku!"
"Paman,"
Kata Han Tiong yang memberi isyarat kepada Thian Sin untuk mundur pula.
Karena keadaan, maka Han Tiong belum sempat banyak bicara dengan kakek dan nenek itu, hanya memberi hormat sambil berlutut yang diturut pula oleh Thian Sin yang juga belum sempat memperkenalkan diri.
Yap Kun Liong memberi isyarat dengan tangan menyuruh mereka berdiri dan mereka semua kini menonton Kong Liang yang menghadapi kakek telinga buntung.
Kakek itu menyilangkan pedangnya di depan dada sambil berkata.
"Orang muda, aku telah siap, engkau mulailah!"
Sebetulnya, dengan segala ilmu kepandaian yang telah diwarisinya dari ayah dan ibunya, biar dia menghadapi lawan berpedang ini dengan tangan kosong sekalipun belum tentu Kong Liang akan kalah.
Akan tetapi pemuda ini tidak mau membuang waktu, maka diapun sudah mencabut pedang yang melingkar di pinggangnya dan nampaklah sinar keemasan berkelebat ketika Hong-cu-kiam telah berada di tangannya.
Pedang tipis ini mengeluarkan sinar berkilauan dan melihat ini agak gentar jugalah kakek buntung telinganya itu.
Dan tanpa banyak cakap lagi, Kong Liang sudah menyerang dengan pedangnya dan begitu menggerakkan pedang, dia sudah mainkan Siang-bhok Kiam-sut yang hebat!
Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut (Pedang Kayu Harum) merupakan ilmu pedang pusaka dari Cin-ling-pai, yaitu merupakan ilmu pedang asli dari pendiri Cin-ling-pai, pendekar sakti Cia Keng Hong dan tentu saja hanya keturunan pendekar itu saja yan mewarisi ilmu pedang ini.
Cia Bun Houw mewarisinya dari Cia Keng Hong dan kini ilmu pedang itu diwariskan pula kepada Cia Kong Liang.
Maka, begitu pemuda ini memainkan Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, dengan menggunakan sebatang pedang pusaka seperti Hong-cu-kiam yang amat tipis dan ringan sehingga sesuai sekali kalau dipakai untuk mainkan Siang-bhok Kiam-sut, Kakek yang buntung telinganya itu menjadi terkejut dan bingung sekali.
Cia Kong Liang memang memiliki gerakan yang amat tangkas dan kuat, diapun tidak mau memberi hati kepada lawannya, maka begitu mereka bergebrak, dia sudah terus mendesak amat dahayatnya, sedikitpun tidak memberi kelonggaran sehingga dari jurus pertama, kakek yang buntung telinganya itu sama sekali tidak mampu balas menyerang, melainkan hanya menangkis, mengelak sambil main mundur terus.
Han Tiong dan Thian Sin memandang kagum.
Mereka juga banyak mempelajari ilmu silat, akan tetapi mereka tidak mengenal Siang-bhok Kiam-sut dan kini mereka memandang dengan kagum karena memang gerakan ilmu pedang ini selain amat indah juga aneh.
Dan memang hal ini disengaja oleh Kong Liang yang tahu dengan pasti bahwa Pendekar Lembah Naga, yaitu kakak tirinya, biarpun terkenal amat lihai, tidak pernah menerima pelajaran Siang-bhok Kiam-sut, dan oleh karena itu kedua pemuda itupun sudah pasti tidak akan mengenal Siang-bhok Kiam-sut!
Kalau dia mainkan ilmu lain, besar kemungkinan dua orang pemuda itu akan mengenalnya dan hal itu tentu tidak menimbulkan kesan.
Memang, biarpun dia sendiri mencoba untuk menutupinya, namun pada diri pemuda Cin-ling-pai ini terdapat suatu watak yang ingin dipuji dan dikagumi.
Mungkin hal ini timbul karena dia merasa dimanjakan oleh kedua orang tuanya yang selain hanya mempunyai putera dia seorang, juga telah berusia agak lanjut ketika memperoleh dia sebagai keturunan tunggal.
Dan memang ilmu pedang itu luar biasa sekali, apalagi dimainkan dengan baiknya oleh Kong Liang.
Biarpun kakek bertelinga buntung satu itu berusaha mati-matian, namun dia sama sekali tidak mampu membalas dan sampai hampir tiga puluh jurus dia selalu diserang dan didesak hebat.
Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangan kirinya dan sinar kehijauan yang halus meluncur dari tangan kiri ke arah tubuh Kong Liang.
Thian Sin dan Han Tiong terkejut bukan main karena mereka maklum apa artinya sinar-sinar lembut itu.
Itu adalah jarum-jarum halus sebagai senjata rahasia kakek itu.
Jarum-jarum ini amat berbahaya, disebut Coa-tok-ciang (Jarum Racun Ular) dan kalau jarum ini sampai mengenai kulit lawan, Racun yang berada di ujung jarum itu dapat terbawa darah dan akibatnya seperti orang digigit ular berbisa saja.
Bahkan Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng juga terkejut dan khawatir.
Akan tetapi Cia Kong Liang tidak mengecewakan menjadi putera Cin-ling-pai.
Begitu melihat menyambarnya sinar hijau, dia sudah memutar pedangnya dan meloncat ke belakang, kemudian berjungkir balik ke atas dan meluncur turun setelah semua jarum itu dapat ditangkis pedangnya dan lewat di bawah kakinya.
Begitu tubuhnya meluncur, pedangnya sudah menyambar dengan kecepatan kilat ke arah ubun-ubun, kedua pundak, dada dan pusar lawan, demikian cepatnya bertubi-tubi sehingga seolah-olah yang menyerang itu bukan sebatang pedang, melainkan lima batang!
"Ihhh...!"
Kakek itu terkejut dan mengelak mundur sambil menangkis. Terdengar bunyi berdencingan (Lanjut ke
Jilid 14) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 ketika dua pedang itu bertemu dengan keras berkali-kali, akan tetapi tiba-tiba kakek itu berteriak kaget dan terjengkang!
Sebatang jarum, jarumnya sendiri, telah menancap di dadanya sebelah kiri, menembus bajunya dan menancap sampai setengahnya lebih.
Itulah sebatang jarum yang tadi dapat ditangkap oleh tangan kiri Kong Liang tanpa dapat dilihat oleh lawan dan kini jarum itu telah makan tuannya!
Kong Liang menerjang terus, hendak mengirim tusukan maut, akan tetapi Yap Kun Liong berseru keras.
"Kong Liang, jangan...!"
Namun pedang telah digerakkan, tak mungkin dapat ditarik kembali dan pemuda itu hanya dapat memiringkan tangannya saja sehingga pedang yang tadi menusuk dada, kini menyeleweng dan hanya mengenai pangkal lengan.
Namun luka yang didatangkan tusukan itu cukup lebar dan dalam, membuat kakek itu mengaduh dan meloncat mundur.
Pangkal lengan kanannya luka, juga dadanya yang sebelah kiri terkena jarum beracun yang perlu harus cepat diobatinya, maka tentu saja dia tidak dapat melanjutkan pertandingan dan melangkah mundur dengan muka pucat.
"Hemm, sungguh sayang pada paman ini telah gagal. Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng, kuharap kalian suka maju sendiri agar perhitungan antara kita dapat dilunaskan sekarang juga. Kalian mati di tanganku atau aku yang akan tewas di tangan kalian seperti kakek dan nenekku."
Kata dara manis itu dan tidak nampak dia menggerakkan kakinya, Akan tetapi tahu-tahu tubuhnya telah melayang ke tengah taman itu.
Ini saja sudah menunjukkan betapa lihainya dara ini dan melihat betapa ketika tubuhnya melayang tadi kedua tangannya digerakkan seperti burung, menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang ahli dalam ilmu gin-kang yang disebut Hui-heng-sut (Ilmu Lari Terbang) dan orang yang memiliki ilmu ini amat berbahaya karena gerakannya amat ringan seperti seekor burung saja.
Dara itu berdiri tegak menghadap ke arah kakek dan nenek itu, sikapnya tenang dan tabah, nampak gagah sekali sehingga diam-diam Thian Sin merasa kagum bukan main.
Hebat dara ini, pikirnya dengan jantung berdebar karena dia merasa tertarik sekali.
Tanpa disadari dia sudah melangkah maju dan berkata.
"Biarlah aku menghadapi nona ini!"
"Sin-te, jangan lancang!"
Han Tiong mencela adiknya.
"Kalian mundurlah,"
Kata Kong Liang yang masih memegang pedang Hong-cu-kiam di tangannya, sambil melangkah maju.
"Nona ini agaknya memiliki kepandaian, biarlah aku yang mewakili paman dan bibi memberi hajaran kepadanya!"
Dara itu tadi sudah menatap wajah Thian Sin dan sejenak keduanya saling pandang, dan keduanya merasa tertarik.
Dara itu mendapat kenyataan betapa tampan dan gagahnya pemuda yang pertama kali maju ini dan harus diakuinya bahwa belum pernah dia bertemu dengan seorang pemuda yang begini menarik hatinya.
Akan tetapi, majunya Kong Liang dan teguran kakaknya itu membuat Thian Sin mundur kembali sungguhpun dia masih terus memandang wajah dara yang amat manis dan menarik hatinya itu.
Dan dara itupun terpaksa kini memandang Kong Liang yang tadi telah merobohkan kakek telinga buntung.
Tahulah dara ini bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tangguh, akan tetapi sedikitpun dia tidak gentar.
"Pertandingan ini adalah untuk mengadu nyawa, oleh karena itu aku tidak ingin membunuh atau terbunuh oleh orang yang tidak kuketahui siapa. Kalau aku tidak salah, engkau adalah orang dari Cin-ling-pai, bukan?"
Dara itu bertanya.
"Aku telah memperkenalkan diriku. Aku bernama So Cian Ling, murid dari See-thian-ong. Akan tetapi aku datang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan guruku, melainkan mewakili arwah nenek dan kakekku untuk membalas dendan kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng."
Sikap dara itu sungguh tenang dan juga gagah, tidak seperti orang dari golongan jahat dan kasar.
Apalagi ketika dia mengaku bahwa dia adalah murid See-thian-ong, Yap Kun Liong dan isterinya, juga para pemuda itu terkejut sekali.
Mereka sudah mendengar akan nama See-thian-ong yang dianggap sebagai datuk dunia bagian barat, yang setingkat dengan Pak-san-kui dari utara, atau dengan Tung-hai-sian dari timur dan Lam-sin dari selatan!
Kiranya dara ini adalah murid datuk barat, maka dapat diduga bahwa dia tentu lihai sekali, jauh lebih lihai daripada tiga orang kakek yang telah kalah tadi.
Diam-diam Cia Kong Liang juga terkejut, bukan hanya karena ternyata bahwa dara ini adalah murid See-thian-ong yang terkenal, akan tetapi juga betapa dara ini telah dapat menduga bahwa dia datang dari Cin-ling-pai hanya dengan melihat gerakan-gerakannya tadi.
Maka diapun menjawab cepat.
"Memang benar, aku adalah putera ketua Cin-ling-pai dan keponakanku di sana itu adalah putera Pendekar Lembah Naga. Nah, kami semua telah berada di sini untuk melindungi paman dan bibiku yang sudah tua. Engkau sungguh sudah bosan hidup berani menentang paman dan bibiku."
Dara itu juga terkejut, bukan hanya mendengar bahwa pemuda di depannya ini adalah putera ketua Cin-ling-pai, akan tetapi juga mendengar bahwa pemuda-pemuda yang lain itu datang dari Lembah Naga, bahkan seorang di antaranya adalah putera Pendekar Lembah Naga.
Tahulah dia bahwa dia benar-benar sial, akan tetapi karena sudah terlanjur, dia tidak akan undur lagi.
"Siapapun yang melindungi mereka, aku tidak peduli. Kematian kakek dan nenekku harus ditebus! Nah, majulah!"
Tantangnya dan sekali tangannya bergerak ke belakang dia telah mencabut pedangnya dan nampak sinar putih seperti perak.
Ternyata pedangnya itupun merupakan sebatang pedang pusaka yang indah dan juga ampuh.
"Bagus, bersiaplah engkau!"
Bentak Kong Liang dan sekali bergerak dia sudah mengirim serangan bertubi-tubi sampai lima kali beruntun!
Akan tetapi, dengan tangkas sekali nona itu menangkis sampai lima kali dan balas menyerang, sekali serang juga sudah mengirim tusukan dan bacokan sampai lima kali berturut-turut yang semua telah dapat dielakkan dan ditangkis oleh Kong Liang.
Ketika pemuda ini menangkis untuk ke lima kalinya, dia sengaja mengerahkan tenaganya.
"Trang...!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat.
Cepat mereka memeriksa pedang masing-masing, akan tetapi dengan hati lega mereka mendapat kenyataan bahwa pedang mereka tidak rusak.
Pada saat itu, Yap Kun Liong sudah meloncat datang dan menengahi.
"Kong Liang, kau mundurlah dan biarkan aku sendiri menyelesalkan urusan pribadiku ini."
Mendengar ucapan pamannya ini, tentu saja Kong Liang cepat mundur dan menyimpan kembali pedangnya, memakainya sebagai ikat pinggang.
"Nona So, sungguh sedih sekali hatiku melihat bahwa urusan ini berlarut-larut. Aku tidak ingin membuat keluargaku terikat dengan urusan permusuhan yang tidak ada artinya ini. Nah, kalau memang benar-benar engkau mendendam atas kematian Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, kau bunuhlah aku, dan aku tidak akan melawan sama sekali. Aku tidak menyesal bahwa dahulu aku menentang mereka, karena sesungguhnyalah bahwa mereka berdua itu adalah suami isteri yang amat jahat dan menyeleweng dalam kehidupan mereka! Aku melihat nona bukanlah orang seperti mereka itu, akan tetapi nona berkeras hendak membalas dendam kematian mereka. Nah, aku menyerahkan nyawaku kepadamu agar dendam ini dapat dihabiskan sampai di sini saja."
Melihat kakek yang penuh wibawa itu memasang dada dan siap menerima kematian, dara itu melangkah mundur dan mukanya berubah agak pucat.
Dia memandang ragu-ragu dan melihat keadaan suami isteri tua yang gagah perkasa, apalagi tiga orang pemuda yang jelas merupakan pendekar-pendekar perkasa dan amat mengagumkan itu, dia sudah mulai dapat melihat bahwa agaknya tidak salah lagi bahwa permusuhan antara kakek dan nenek angkatnya bersama suami isteri pendekar ini tentu terjadi karena kesalahan kakek dan nenek angkatnya.
Apalagi kalau mendengar penuturan Yap Kun Liong bahwa kematian itu terjadi dalam perang.
Akhirnya dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada tiga orang kakek yang sudah terluka tadi.
"Sudahlah, mari kita pergi dari sini!"
"Tetapi... tetapi... dendam kita..."
Kakek yang buntung telinga kirinya membantah.
"Sudah, tidak ada urusan dendam lagi bagiku. Aku tidak mau lagi mendengar bujukan kalian!"
Kata So Cian Ling dan dia lalu menengok, memandang kepada Thian Sin lalu bibirnya membentuk senyum yang mewakili hatinya, dan sekali meloncat dia lenyap dari situ.
Tiga orang kakek itu tentu saja sudah kehilangan nyalinya melihat dara itu tidak mau membantu mereka, dan tanpa pamit mereka itupun berlari pergi.
Baru sekarang, setelah semua pengacau pergi, kakek dan nenek itu merasa gembira sekali.
Yap Kun Liong lalu memandang Han Tiong dan berkata.
"Bocah nakal, mengapa kau datang tanpa memberi tahu? Mengagetkan saja! Dan kau sudah begini besar, dan gagah perkasa seperti ayahmu. Hebat sekali gerakan-gerakanmu tadi."
"Ah, saya masih banyak mengharapkan petunjuk dari locianpwe,"
Kata Han Tiong dengan sikap merendah, lalu memandang kepada Kong Liang sambil berkata.
"Paman Kong Liang, ilmu pedangmu tadi sungguh membuat aku kagum bukan main!"
Kong Liang tersenyum, diam-diam merasa bangga.
Akan tetapi dia memandang kepada Thian Sin dan bertanya kepada Han Tiong.
"Siapakah temanmu ini, Han Tiong?"
"Ya, siapakah dia ini?"
Cia Giok Keng menyambung dan sejak tadi dia menatap wajah pemuda yang tampan itu.
Ditanya begini, sebelum Han Tiong menjawab, Thian Sin sudah menjatuhkan diri di depan Cia Giok Keng sambil berkata.
"Nenek, cucumu yang bodoh mohon ampun bahwa baru sekarang dapat datang menghadap."
Tentu saja Cia Giok Keng menjadi kaget dan bingung, akan tetapi pada saat itu Han Tiong berkata dengan hati terharu.
"Dia ini adalah Ceng Thian Sin yang menjadi adik angkat saya dan menjadi murid ayah, dia adalah putera dari Paman Ceng Han Houw dan Bibi Lie Ciauw Si."
"Ehh...?"
Cia Giok Keng menjerit dan mengangkat bangkit pemuda itu, menatap wajahnya dan kemudian merangkulnya.
"Cucuku...! Ah, cucuku, tak kusangka bahwa aku akan dapat berjumpa dengan anak Ciauw Si..."
Suaranya mengandung isak.
"Cucuku, di manakah mereka? Mengapa ibumu tidak ikut datang bersamamu menengokku...?"
Ditanya tentang ibunya, tentu saja Thian Sin merasa seperti ditusuk jantungnya.
Dia menunduk, menahan air matanya agar tidak keluar dari matanya yang terasa panas itu, kemudian dapat juga dia berkata lirih.
"Maafkan nek... mereka... ayah dan ibu telah tiada..."
Sepasang mata tua itu terbelalak, muka yang memang sudah agak pucat itu menjadi semakin pucat.
"Apa...? Bagaimana...?"
Dan nenek itu tentu sudah roboh kalau tidak dipeluk cucunya.
Yap Kun Liong cepat menghampiri dan memondong tubuh isterinya yang pingsan, lalu berkata kepada tiga orang muda itu.
"Mari kita bicara di dalam..."
Keadaan menjadi menyedihkan ketika tiga orang pemuda itu mengikuti kakek yang memondong tubuh nenek yang pingsan itu memasuki pondok, setelah merebahkan Cia Giok Keng di atas dipan dan mengurut beberapa jalan darahnya, akhirnya nenek itu mengeluh dan membuka matanya.
Akan tetapi begitu dia melihat Thian Sin duduk di dekat situ, diapun menangis dan teringat lagi.
"Ah, Ciauw Si... Ciauw Si anakku... mengapa engkau yang masih muda telah mati lebih dulu? Betapa buruk nasibmu, anakku..."
Thian Sin menggigit bibirnya dan menahan agar jangan ikut menangis mendengar neneknya itu menangis sambil meratap.
Yap Kun Liong menghibur isterinya.
"Sudahlah, kematian akan datang kepada siapapun juga, muda maupun tua. Menyedihi si mati hanya melemahkan batin dan badan saja, dan tidak ada manfaatnya. Lebih baik kita mendengarkan Thian Sin menceritakan kematian ayah bundanya."
Cia Giok Keng menyusut air matanya lalu memandang kepada cucunya, menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang tertekan.
"Cucuku, ceritakanlah bagaimana ibumu sampai tewas?"
Dengan lirih dan hati-hati Thian Sin lalu bercerita tentang pengeroyokan pasukan, baik pasukan dari Kerajaan Beng yang dibantu oleh pasukan dari Raja Agahai di utara, dan betapa dia sendiri oleh ibu dan ayahnya diungsikan sebelum malapetaka itu datang, mengungsi ke kuil pamannya, yaitu Hong San Hwesio Lie Seng dan belajar di bawah asuhan pamannya itu bersama Han Tiong, dan betapa kemudian dia ikut bersama kakak angkatnya itu dan mempelajari ilmu silat di Lembah Naga.
Mendengar penuturan itu, Yap Kun Liong berkata.
"Hemm, segala macam perbuatan manusia tiada bedanya dengan menanam benih yang tentu akan menumbuhkan pohon yang berkembang dan berbuah. Bunga dan buahnya tidak akan lepas daripada sifat benih yang ditanam itu sendiri. Oleh karena itu, segala akibat takkan lepas daripada sebabnya dan kita tidak perlu menyesal. Ciauw Si terbawa oleh akibat daripada perbuatan suaminya, maka hal itupun tidak perlu disesalkan."
"Tapi, anakku adalah seorang wanita gagah. Tidak semestinya terbunuh demikian menyedihkan. Kematiannya tidak mungkin dapat didiamkan saja! Para pembunuhnya tidak dapat membedakan siapa salah siapa benar, dan para pembunuhnya itu harus dibalas!"
Yap Kun Liong memegang lengan isterinya.
"Tenang dan sabarlah. Apakah engkau akan mengulang apa yang telah dilakukan oleh cucu dari para penghuni Padang Bangkai tadi, yaitu hidup diracuni dendam?"
"Ah, tapi mereka itu lain lagi! Kakek dan nenek mereka adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya dibunuh! Akan tetapi Ciauw Si anakku! Apa salahnya? Salahnya dia hanya jatuh cinta kepada seorang yang..."
"Sudahlah, perlu apa menggali hal-hal yang sudah lalu? Mereka telah tiada, akan tetapi mereka meninggalkan seorang putera dan dia telah menjadi seorang pemuda yang begini gagah,"
Kata Yap Kun Liong yang cepat mencegah isterinya melanjutkan kata-katanya mencela mendiang Ceng Han Houw di depan puteranya sendiri.
"Cucuku...!"
Cia Giok Keng lalu merangkul Thian Sin dan menangis.
Betapapun juga, kunjungan tiga orang pemuda itu, terutama sekali hadirnya Thian Sin di situ, mendatangkan kegembiraan dalam hati nenek itu dan membuatnya sehat kembali.
Tiga orang pemuda itu tinggal di puncak Bwee-hoa-san, melayani kakek dan nenek itu sehingga mereka merasa berbahagia sekali.
Giok Keng merasa amat gembira dan amat mencinta cucunya.
Saking girang dan senangnya terhadap cucunya, dia menyerahkan pedang pusakanya, yaitu Gin-hwa-kiam kepada Thian Sin, bahkan mengajarkan ilmu silat memainkan sabuk sebagai senjata yang ampuh.
Memang nenek ini amat ahli mempergunakan sabuk panjang sebagai senjata dan sabuk ini memang lihai bukan main, dapat mempergunakan untuk menghadapi senjata tajam lawan dan melilit serta merampasnya.
Juga Yap Kun Liong tidak tinggal diam.
Dia merasa gembira dekat dengan tiga orang pemuda yang berbakat dan gagah perkasa itu, dan dia tahu bahwa inilah kesempatan terakhir baginya.
Dia sudah tua, tidak mempunyai anak kecuali Yap Mei Lan yang telah pergi keluar negeri bersama suaminya, Souw Kui Beng (baca cerita Pendekar Lembah Naga).
Maka kalau dia tidak meninggalkan ilmu-ilmunya tentu tak lama lagi akan terbawa mati.
Dan siapa lagi yang lebih pantas menerima ilmu-ilmunya itu kecuali tiga orang pemuda ini?
Yap Kun Liong merasa kagum bukan main melihat watak Cia Han Tiong.
Dia tahu bahwa pemuda ini memiliki kebijaksanaan yang luar biasa, yang amat menonjol dan jauh melampaui dua orang pemuda lainnya.
Dan diapun diam-diam merasa prihatin dan khawatir melihat sifat-sifat ganas yang dimiliki Thian Sin.
Dalam percakapan berdua dengan Thian Sin, Yap Kun Liong banyak memberi nasihat-nasihat dan menanamkan jiwa kependekaran kepada pemuda ini, dan diapun mengajarkan Ilmu Pat-hong Sin-kun dan Pek-in-ciang yang amat lihai kepada Thian Sin.
Kepada Cia Kong Liang dia mengajarkan Siang-liong-pang dan Im-yang Sin-kun.
Dan kepada Cia Han Tiong dia telah memberikan kitab yang selama ini merupakan pusakanya yang amat disayangnya, yaitu kitab Keng-lun Tai-pun ciptaan Bun Ong yang mengandung pelajaran yang amat halus dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang benar-benar berbakat!
Demikianlah, tiga orang pemuda itu tinggal di situ sampai hampir satu bulan lamanya, dan mereka bertiga merasa gembira bukan main memperoleh ilmu-ilmu dari kakek dan nenek itu.
Kemudian karena waktunya bagi Cia Kong Liang telah tiba untuk mewakili orang tuanya menghadiri undangan dari Tung-hai-sian di Ceng-tao Propinsi Shan-tung yang merayakan ulang tahun, mereka bertiga meninggalkan puncak Bwee-hoa-san, diantar oleh pandang mata kesepian oleh kakek dan nenek itu!
Han Tiong dan Thian Sin diajak Kong Liang untuk ikut ke Ceng-tao, menemaninya mengunjungi pesta ulang tahun itu.
Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng juga menganjurkan kepada dua orang pemuda itu untuk ikut.
"Tung-hai-sian adalah datuk kang-ouw yang amat disegani di dunia timur, oleh karena itu dalam pesta perayaan itu tentu hadir banyak sekali orang-orang kang-ouw dan tokoh-tokoh besar. Pertemuan dengan mereka itu amat penting bagi kalian orang-orang muda,"
Demikian Yap Kun Liong berkata.
Han Tiong dan Thian Sin memang juga ingin meluaskan pengalaman, maka tentu saja ajakan itu mereka terima dengan hati gembira.
Mereka melakukan perjalanan ke timur dengan cepat dan di sepanjang perjalanan mereka bertiga itu bergembira.
Maklumlah, biarpun Kong Liang disebut paman oleh mereka, namun usia mereka sebaya.
Kong Liang berusia dua puluh dua tahun, Han Tiong sembilan belas tahun dan Thian Sin delapan belas tahun.
"Ingat, kita bertiga mewakili Cin-ling-pai dan karena Cin-ling-pai sudah dikenal di seluruh dunia, maka kita harus menjaga gerak-gerik kita yang tentu akan diperhatikan orang. Dan karena aku yang bertanggung jawab atas nama Cin-ling-pai, maka kuminta agar kalian tidak sembarangan melakukan sesuatu sebelum ada ketentuan dariku. Di sana berkumpul banyak sekali orang kang-ouw, maka kalau kalian salah bertindak sedikit saja dapat menimbulkan kegemparan dan kalau sampai nama Cin-ling-pai terbawa, tentu ayah akan marah kepadaku."
"Baiklah, paman. Kami hanya ikut saja dan nonton, tentu saja kami tidak akan berani membuat ribut. Bukankah begitu, Sin-te?"
Thian Sin hanya mengangguk, akan tetapi karena dia memang kadang-kadang mendongkol melihat sikap Kong Liang yang seolah-olah menganggap mereka berdua masih "hijau"
Dan bersikap kepada mereka seolah-olah mereka itu masih kanak-kanak, lalu berkata.
"Kami mengerti, Paman Kong Liang. Pendeknya, biarlah engkau yang menjadi pemimpinnya, dan kami hanya mentaati saja."
Ucapan ini sewajarnya saja bagi Kong Liang yang mengangguk senang, akan tetapi Han Tiong yang telah mengenal watak adik angkatnya ini, benar-benar tahu bahwa adiknya itu merasa mendongkol dan dalam kata-katanya tadi terkandung ejekan.
Siapakah adanya Tung-hai-sian (Dewa Laut Timur) ini?
Mari kita berkenalan dengan tokoh yang terkenal sebagai datuk kaum persilatan di wilayah timur dan bahkan di sepanjang pantai timur.
Sebetulnya, Dewa Laut Timur ini adalah bekas seorang bajak laut yang pernah menggemparkan seluruh permukaan laut yang amat luas dan namanya dikenal oleh semua pelaut baik pelaut Tiongkok, Jepang, maupun Korea.
Dia adalah seorang "samurai"
Jepang, seorang pendekar Jepang yang pernah menjadi pengacau atau pemberontak yang amat terkenal di Jepang.
Sebetulnya dia bukanlah seorang samurai biasa saja.
Kakeknya adalah seorang panglima besar yang bernama Minamoto, seorang pengikut Daig II yang dijatuhkan dari kedudukannya oleh Ashikaga Takauji.
Karena junjungannya kalah dan jatuh, Panglima Besar Minamoto ini melarikan diri dan bersembunyi di pulau kosong bersama keluarganya.
Di tempat ini mereka hidup sebagai nelayan biasa, akan tetapi bekas panglima itu tidak pernah padam cita-citanya, yaitu untuk sekali waktu keturunannya kembali ke Jepang untuk membalas dendam terhadap kaisar baru!
Dia menurunkan ilmu-ilmunya kepada seorang cucunya yang berbakat, dan cucunya inilah yang sekarang menjadi Dewa Laut Timur!
Tung-hai-sian ini dikenal di Tiongkok sepanjang pantai timur dengan nama Bin Mo To, yaitu sebutan dalam bahasa Tionghoa untuk nama Minimoto, karena dia memakai nama besar kakeknya.
Setelah dia dewasa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, Minimoto muda ini meninggalkan pulau kosong untuk memenuhi cita-cita kakeknya.
Di Jepang dia mengalahkan banyak jagoan samurai, menjadi pemimpin pemberontak dan berusaha memberontak terhadap istana yang pada waktu itu diperintah oleh Kaisar Muromaci.
Akan tetapi usahanya gagal oleh karena usahanya ini ditentang oleh para pengikut aliran Zen Buddhis yang amat kuat.
Dia gagal, pasukannya dihancurkan dan diapun dikejar-kejar.
Maka larilah Minimoto dan menjadi buronan.
Mulai saat itulah dia memasuki dunia penjahat, menjadi bajak laut dan karena dia terlahir di pulau kosong dan digembleng oleh segala macam ilmu oleh kakeknya, maka diapun memiliki keahlian ilmu dalam air laut yang amat hebat.
Maka ketika dia menjadi bajak laut, sebentar saja namanya ditakuti semua orang.
Pekerjaannya membajak kapal-kapal ini membuat dia berhasil mengumpulkan banyak harta.
Pada usia empat puluh tahun, dia menghentikan pekerjaannya membajak dan bertempat tinggal di Korea, di mana dia hidup menjadi semacam "datuk"
Yang menerima "bagi hasil"
Dari para penjahat yang takut dan segan kepadanya.
Namun, setelah tinggal di Korea selama lebih dari sepuluh tahun, kembali dia harus angkat kaki karena dimusuhi oleh Kerajaan Korea.
Itulah sebabnya, dalam usia kurang lima puluh tahun, Minimoto atau Bin Mo To yang berjuluk Tung-hai-sian, julukan yang diperolehnya setelah dia tinggal di Ceng-tao, pindah ke kota itu dan di situ dia tidak lagi berani menjadi datuk secara terang-terangan.
Tung-hai-sian Bin Mo To berusaha untuk membersihkan namanya dan mendirikan perkumpulan yang dinamai Mo-kiam-pang (perkumpulan Pedang Iblis), sebuah perkumpulan silat.
Perkumpulan ini tidak secara terang-terangan melakukan kejahatan, Akan tetapi seluruh penjahat di wilayah itu semua tunduk terhadap perkumpulan ini karena setiap penjahat yang tidak tunduk tentu akan berhadapan dengan pedang iblis yang amat ganas.
Maka diam-diam Tung-hai-sian diangkatlah oleh dunia hitam sebagai datuk yang mereka takuti.
Tung-hai-sian yang kaya raya dan lihai ini amat berpengaruh, dapat menguasai para pembesar setempat dengan sogokan-sogokan yang berani.
Sebagian besar perusahaan pengawal, yaitu piauwkiok, seolah-olah menjadi anak buahnya dan semua membayar semacam "pajak"
Kepadanya kalau menghendaki pekerjaan mereka tidak terganggu.
Perusahaan pengawal yang memakai bendera kuning kecil bergambarkan pedang bersilang dan tengkorak, yaitu tanda dari Mo-kiam-pang, dapat terlindung karena tak seorangpun penjahat berani mengganggunya.
Dan untuk memperoleh bendera kecil ini tentu saja perusahaan itu harus membelinya dengan harga mahal.
Juga Tung-hai-sian menanam banyak modal dalam perusahaan-perusahaan besar di kota-kota pelabuhan besar sehingga kekayaannya semakin bertambah.
Tung-hai-sian Bin Mo To ini mempunyai banyak isteri atau selir, tidak kurang dari dua puluh orang, akan tetapi di antara para isterinya itu, hanya isteri ke dua sajalah yang mempunyai seorang anak perempuan.
Isteri ke dua itu adalah seorang wanita Korea dan diperisterinya ketika dia masih tinggal di Korea, bahkan anaknyapun terlahir di Korea.
Anak itu baru berusia tujuh tahun ketika dia pindah ke Ceng-tao dan kini anak itu telah berusia tujuh belas tahun, seorang anak perempuan yang cantik, bertubuh tinggi langsing seperti ibunya, berani dan tangkas dan lincah seperti ayahnya.
Dara ini diberi nama Bin Biauw, dan tentu saja sebagai seorang puteri Tung-hai-sian yang menjadi pendiri dan ketua perkumpulan Mo-kiam-pang, Bin Biauw ini adalah seorang ahli pedang.
Demikianlah sedikit riwayat dari Tung-hai-sian.
Kini datuk ini mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh, suatu hal yang baru dapat dilakukannya di bumi Tiongkok ini, di mana dia dapat hidup bebas dari pengejaran yang berwajib dan hidup sebagai seorang terhormat!
Undangan itu tentu saja mengandung maksud.
Pertama, dia hendak memperkenalkan diri kepada para tokoh kang-ouw sebagai datuk timur yang sepuluh tahun lebih ini tak pernah menemui tanding!
Dan selain itu, juga dia hendak mencari-cari jodoh untuk puterinya yang telah berusia tujuh belas tahun.
Tentu saja dia tidak sudi mencari mantu di antara tokoh-tokoh sesat.
Puterinya tidak akan menjadi isteri seorang bajingan!
Dia sendiri adalah keturunan samurai, keturunan jago dan pendekar kenamaan, maka puterinya harus memperoleh jodoh setidaknya seorang pendekar gemblengan pula!
Inilah sebabnya maka dia mengundang semua perkumpulan besar kecil di dunia kang-ouw, bukan terbatas pada golongan sesat belaka.
Dan demikian pula sebabnya maka Cin-ling-pai juga menerima undangan yang kini diwakili oleh Cia Kong Liang yang mengajak dua orang keponakannya.
Rumah gedung milik Tung-hai-sian di kota Ceng-tao itu amat besar, dengan pekarangan depan luas sekali, juga dengan sebuah taman yang indah dan luas di sebelah kiri dan belakang rumah gedung yang seperti istana pembesar tinggi itu.
Di sebelah kanan gedung itu terdapat rumah-rumah petak tempat tinggal para murid atau pembantunya, tokoh-tokoh Mo-kiam-pang yang tingkatnya sudah tinggi, ada belasan orang banyaknya.
Adapun para murid lainnya berkumpul di sebuah rumah perkumpulan yang lebih besar lagi, yang berada di jalan itu juga, tidak begitu jauh dari rumah gedung tempat tinggal Tung-hai-sian.
Pada hari yang telah ditentukan itu, para tamu membanjiri kota Ceng-tao dan suasana di gedung keluarga itu amat meriah.
Pekarangan depan yang amat luas itu dijadikan ruangan tamu yang dihias dengan bunga-bunga dan kertas-kertas berwarna.
Tempat itu dapat menampung seribu orang, dan tamu yang datang sedikitnya ada lima ratus orang dari bermacam golongan.
Boleh dibilang dari hampir semua perkumpulan-perkumpulan dunia persilatan, Baik dari golongan bersih maupun dari golongan kotor, apa yang disebut kaum putih dan kaum hitam, mengirimkan wakil, bahkan banyak pula yang ketuanya memerlukan hadir sendiri.
Thian Sin dan Han Tiong yang mengikuti Kong Liang hadir di tempat yang luas itu, dari jauh melihat pula hadirnya seorang pemuda pesolek tampan yang membuat mereka terkejut karena tidak disangkanya mereka akan melihat pemuda itu di situ.
Pemuda itu bukan lain adalah Siangkoan Wi Hong.
Si pemuda pesolek, pemain yang-kim yang pandai.
Kiranya pemuda itu hadir mewakili ayahnya, yaitu Pak-san-kui yang dianggap sebagai datuk utara.
Tidaklah mengherankan kalau dia disambut sebagai tamu agung ditempatkan di ruangan kehormatan, yaitu panggung yang dibuat sengaja untuk menyambut tamu-tamu yang dihormati.
Siangkoan Wi Hong datang bersama tiga orang kakek yang juga dikenal oleh Han Tiong.
Dia teringat betapa dahulu ayahnya pernah diuji oleh Pak-san-kui, diadu dengan tiga orang kakek itu yang berjuluk Pak-thian Sam-liong, yaitu murid-murid Pak-san-kui yang lihai.
Dan tiga orang pemuda itupun terkejut ketika melihat hadirnya seorang dara manis yang bukan lain adalah So Cian Ling, murid dari See-thian-ong atau keturunan penghuni Padang Bangkai yang pernah datang untuk membalas dendam kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng itu!
Dara cantik manis itu datang mewakili suhunya, ditemani oleh seorang suhunya yang kelihatan gagah dan berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun.
Juga wakil-wakil dari See-thian-ong in memperoleh kursi di panggung kehormatan.
Tiga orang pemuda yang mengaku wakil Cin-ling-pai itu tidak memperoleh kursi di panggung kehormatan dan hal ini saja menyatakan bahwa datuk kaum sesat itu tidak memandang tinggi kepada fihak Cin-ling-pai!
Akan tetapi hal itu tidak mendatangkan perubahan pada wajah Kong Liang yang tampan itu, sungguhpun sebenarnya hati merasa panas sekali!
Memang pemuda ini sudah pandai menyimpan perasaannya.
Betapapun juga Han Tiong dan Thian Sin yang merasa lega karena dengan mendapat duduk di golongan tamu biasa mereka tidak harus bertemu muka dengan Siangkoan Wi Hong dan So Cian Ling.
Semua tokoh kang-ouw melihat-lihat dan merasa heran mengapa seorang di antara empat datuk, yaitu Lam-sin (Malaikat Selatan) tidak nampak mengirim wakilnya, padahal nama Lam-sin juga amat terkenal sungguhpun jarang ada orang yang pernah bertemu dengan orangnya.
Hanya namanya sajalah yang amat terkenal, dan nama itu dibuat terkenal oleh para anggautanya, yaitu golongan pengemis!
Lam-sin ini di selatan menjadi ketua dari sebuah perkumpulan pengemis yang terkenal dengan nama yang amat sombong, yaitu Bu-tek Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tanpa Tanding)!
Dan memang menurut kabar angin, perkumpulan ini memiliki anggauta-anggauta yang semua memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan anggauta mereka tidaklah banyak, ketanya hanya dua puluh orang lebih namun rata-rata amat lihai sehingga nama Bu-tek Kai-pang itu ditakuti semua orang, apalagi ketuanya yang hanya dikenal sebagai Lam-sin atau Malaikat Selatan.
Lam-sin sendiri tidak pernah keluar, akan tetapi setiap ada pengemis sakti dari Bu-tek Kai-pang melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia kang-ouw, Tentu nama Lam-sin semakin terangkat karena setiap pengemis sakti itu amat menjunjung tinggi nama Lam-sin sebagai guru dan majikan mereka!
Pendeknya, sampai sekarang nama Lam-sin merupakan tokoh misterius yang hanya dikenal nama namun belum dikenal rupanya itu.
Pesta itu berjalan dengan amat meriah.
Suguhan-suguhan yang dihidangkan adalah masakan-masakan yang mahal dan araknya juga arak pilihan, pendeknya benar-benar merupakan pesta seorang yang kaya raya.
Semua ini masih diramaikan dengan serombongan penari dan penyanyi yang didatangkan dari Nan-king, yang tentu saja amat mahal bayarannya.
Selagi pesta itu berlangsung meriah, tiba-tiba seorang pembantu fihak tuan rumah yang bertugas sebagai pengacara bangkit berdiri di atas panggung di mana para penari baru saja mengundurkan diri.
Musikpun berhenti dan terdengar suara orang itu lantang.
"Dimohon perhatian cu-wi yang mulia! Atas perintah fihak tuan rumah, kami memberitahukan bahwa acara hiburan ditunda untuk memberi kesempatan kepada Bin-siocia yang hendak memberi selamat kepada Bin-loya (tuan Besar Bin). Hendaknya cu-wi maklum bahwa Bin-siocia adalah puteri tunggal dari Tuan Besar Bin Mo To yang mulia. Dan sebagai hadiah untuk ayahnya, Bin-siocia berkenan hendak mempertunjukkan tarian pedang!"
Tentu saja pengumuman itu disambut dengan tepuk sorak riuh karena para tamu tentu saja ingin sekali melihat ilmu pedang dari puteri Tung-hai-sian Bin Mo To.
Hanya beberapa orang saja di antara para tamu, termasuk para pembesar di Ceng-tao, yang sudah tahu bahwa Bin-siocia adalah seorang dara yang amat cantik dan manis, dan yang kabarnya memiliki ilmu silat yang amat tinggi, paling tinggi di antara anak buah atau murid-murid datuk itu sendiri!
Tiba-tiba terdengar musik ditabuh, yaitu tambur dan gembreng dan terompet.
Selagi tambur dipukul gencar, dari dalam keluarlah seorang dara berpakaian serba merah, baju dan celana merah muda, ikat pinggang merah tua, pita rambut merah tua dan di dadanya terdapat hiasan dari sutera kuning, kedua kakinya mengenakan sepatu hitam yang mengkilap.
Bukan main cantik manis dan gagahnya dara itu nampaknya.
Pakaiannya dari sutera tipis itu menempel ketat di tubuhnya, membuat tubuhnya nampak menonjol dan padat menggairahkan, namun juga menimbulkan segan karena sikapnya amat gagah.
Dia berlari keluar, berlari kecil seperti seorang penari yang lincah, dan wajahnya yang manis itu tersenyum ketika dia memandang kepada para tamu dan mengangguk sebagai tanda terima kasih karena para tamu menyambutnya dengan tepuk tangan riuh.
Ketika dara itu tersenyum, Nampak dua buah lesung pipit di kanan kiri mulutnya, dan memang dara ini manis sekali.
Mulutnya merupakan daya tarik yang paling kuat dari wajahnya, sebuah mulut yang amat indah, dengan bibir melengkung penuh berkulit tipis seolah-olah setiap saat bibir itu akan pecah dan mengeluarkan darah karena bibir itu nampak demikian merah dan basah.
Ketika dia tersenyum dan kedua bibir itu agak terpisah merenggang, nampak kilauan gigi putih seperti mutiara.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan ronce berwarna kuning emas.
Dara itu adalah Bin Biauw, puteri remaja berusia tujuh belas tahun yang merupakan anak tunggal dari Tung-hai-sian Bin Mo To!
Setelah berlari berputaran di atas panggung sambil memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap di depan dada kepada para penonton yang menjadi tamu, Bin Biauw lalu menghampiri panggung di mana ayahnya duduk.
Semua mata kini memandang ke arah tuan rumah.
Tung-hai-sian adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun yang mengenakan pakaian mewah, di kanan kirinya duduk dua orang wanita setengah tua yang juga berpakaian mewah.
Di sebelah kanan itu adalah isterinya yang pertama, sedangkan di sebelah kirinya adalah isterinya yang ke dua atau ibu kandung Bin Biauw.
Isteri pertamanya tidak mempunyai anak dan dia adalah seorang wanita Jepang, tidak seperti ibu Bin Biauw yang merupakan wanita Korea, bertubuh tinggi langsing seperti Bin Biauw.
Tung-hai-sian sendiri bertubuh pendek tegap dan bersikap gagah, biarpup usianya sudah enam puluh tahun namun dia masih nampak kuat, hanya kepalanya saja yang sudah botak kelimis, hanya ditumbuhi rambut di bagian belakang dan dekat telinga sampai ke pelipis.
Ubun-ubun dan atas dahinya sudah tidak ada rambutnya sama sekali.
Di pinggangnya tergantung sebatang pedang samurai yang sarungnya amat indah.
Sepasang matanya yang lebar itu amat tajam, dan alisnya hanya merupakan bundaran hitam kecil saja yang ditumbuhi rambut pendek-pendek.
Biarpun Tung-hai-sian sudah menjadi datuk dunia persilatan di daratan Tiongkok, bahkan sudah berganti nama dengan nama Bin Mo To sebagai pengganti nama Minamoto, namun kakek ini dalam kesempatan gembira merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh tahun itu mengenakan pakaian seorang Samurai Jepang!
Kakinya juga memakai sandal model Jepang dan dia kelihatan bangga sekali berpakaian seperti itu!
Bin Biauw menghampiri ayahnya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya.
Kakek ini merangkul dan mencium kepala puterinya sambil tertawa gembira.
Setelah mengucapkan selamat dengan suara lirih yang tertindih oleh suara musik, dara itu lalu bangkit dan berlari lagi ke atas panggung, sesudah menghormat ke empat penjuru, tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan tahu-tahu dia sudah mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kilat sehingga mengejutkan semua orang.
Itu adalah sebatang pedang pusaka yang hebat, pikir mereka.
Kemudian dara itu mulai bersilat pedang, atau menari pedang, karena gerakannya lemah gemulai seperti orang menari mengikuti irama tambur dan gembreng, akan tetapi di dalam gerakan tari lemah gemulai ini terkandung kekuatan yang dahsyat, yang menyambar setiap kali pedang berkelebat dan semua orang yang hadir, kebanyakan ahli-ahli silat, dapat melihat betapa ujung pedang tergetar setiap kali digerakkan, Getaran yang mendatangan suara mengaung!
Jelaslah bahwa dara ini bukan sekedar menari biasa.
Sungguhpun tari-tarian itu merupakan gerakan-gerakan yang amat indah, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi langsing, namun jelas bahwa dara itu sedang mainkan ilmu silat yang selain indah juga amat tangguh sekali!
Dan benarlah dugaan mereka karena semakin lama, gerakan itu semakin cepat dan ketika bunyi tambur dan gembreng sudah menjadi cepat sekali, dara itu lenyap, yang nampak hanya bayangan merah terbungkus oleh gulungan sinar pedang putih berkeredepan menyilaukan mata.
Semua orang bertepuk tangan memuji karena memang harus mereka akui bahwa jarang mereka menyaksikan ilmu pedang yang demikian hebatnya.
Tiba-tiba Tung-hai-sian mengambil sebatang lilin merah yang bernyala, dan dia melontarkan lilin itu ke arah puterinya sambil berseru.
"Sambutlah, anak Biauw!"
Tiba-tiba bayangan yang dibungkus gulungan sinar itu berhenti dan nampak dara itu berdiri tegak menanti sampai lilin yang dilontarkan itu tiba di atasnya, kemudian, secepat kilat pedangnya bergerak ke kanan kiri...
dan lilin bernyala itu agaknya seperti tertahan oleh sesuatu di udara, dan berulah sesudah dara itu menghentikan gerakannya, lilin itu terjatuh ke atas lantai dan...
berserakan menjadi belasan potong, sedangkan ujung lilin yang bernyala kini ternyata telah menempel di ujung pedang!
Tentu saja kepandaian seperti itu adalah kepandaian yang merupakan keahlian karena dilatih, akan tetapi betapapun juga, tanpa memiliki gerakan yang cepat dan kuat, tidak mungkin dapat melakukan seperti itu.
Dan meledaklah tepuk tangan para tamu yang merasa kagum sekali.
"Bagus, kiam-hoat (ilmu pedang) yang bagus sekali!"
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring mengatasi kegaduhan tepuk tangan itu.
Semua orang menoleh, juga Bin Biauw menoleh.
Ternyata yang berseru itu adalah Thian Sin!
Saking kagumnya, bahkan hanya melihat ilmu peding itu melainkan terutama sekali melihat kecantikan dara itu, Thian Sin lupa diri dan dia memuji sambil bangkit berdiri.
Melihat ulah adiknya, Han Tiong terkejut sekali dan dia maklum bahwa adiknya itu tentu tertarik sekali kepada dara yang cantik itu, karena diapun sudah tahu akan kelemahan hati adiknya terhadap wanita cantik.
Sementara itu, ketika menengok dan melihat pemuda yang amat tampan itu, Bin Biauw menjadi merah mukanya, akan tetapi dia menahan senyum dan mengerling malu-malu.
Hati siapa takkan merasa girang dan bangga kalau dipuji, terutama sekali hati seorang wanita yang selalu haus akan pujian, dan lebih-lebih lagi kalau pemujinya itu seorang pemuda yang demikian gantengnya?
Juga Bin Mo To yang bangkit berdiri, dari atas dapat melihat pemuda tampan gagah yang mengeluarkan seruan pujian itu, maka dia lalu tersenyum dan memberi perintah kepada pengacara dengan kata-kata lirih.
Pengacara itu segera bangkit dan menuju ke panggung, lalu berkata dengan lantang.
"Kami menyampaikan permintaan Bin-loya kepada cu-wi yang terhormat, bahwa untuk meramaikan pesta dan untuk menguji kepandaian Bin-siocia, maka dipersilakan kepada para pendekar muda yang mau menambah meriah pesta ini untuk melayani Bin-siocia bermain pedang!"
Ucapan itu tentu saja disambut dengan riuh-rendah dan semua tamu tertawa.
Pengumuman itu sudah tidak aneh lagi artinya bagi orang-orang kang-ouw.
Kalau seorang ayah memberi kesempatan kepada orang-orang muda untuk bertanding dengan puterinya, hal itu dapat diartikan bahwa sang ayah hendak mencarikan jodoh bagi puterinya!
Hampir semua tokoh kang-ouw tentu saja menghendaki mantu yang lihai bagi puterinya, maka selalu diadakan sayembara pertandingan silat untuk memilih mantu.
Dan agaknya datuk wilayah timur inipun tidak ketinggalan.
Akan tetapi, siapakah yang berani untuk maju?
Sebagian besar dari mereka sudah kehilangan nyali menyaksikan permainan pedang dari Bin Biauw tadi, yang memang amat lihai.
Apalagi kalau diingat bahwa dara itu adalah puteri tunggal dari Tung-hai-sian, mereka merasa lebih sungkan dan segan lagi.
Tidak boleh main-main dengan keluarga datuk itu!
Semua orang memandang ke arah Thian Sin yang masih berdiri, juga dara itu sendiri memandang kepadanya, agaknya mengharapkan pemuda tampan itu untuk maju.
Dan Thian Sin memang sudah merasa gatal tangan dan hatinya untuk maju menandingi nona manis itu, akan tetapi tiba-tiba dia merasa tangannya disentuh dan ditarik oleh kakaknya dan terdengar bisikan Kong Liang.
"Thian Sin, kau duduklah!"
Teringatlah Thian Sin bahwa dia hanya ikut saja dengan pamannya itu dan dia sama sekali tidak diperbolehkan bergerak sebelum mendapat perkenan Cia Kong Liang, maka diapun lalu duduk kembali.
Bin Biauw kelihatan kecewa, Akan tetapi tidak demikian dengan Tung-hai-sian, karena datuk ini tentu saja tidak menghendaki seorang mantu dari golongan rendah, yaitu golongan tamu yang duduk di bawah panggung.
Sejak tadi perhatiannya tertuju kepada Siangkoan Wi Hong.
Pemuda yang baru pertama kali dilihatnya ini tentu saja amat menarik perhatiannya, setelah memperkenalkan diri sebagai putera Pak-san-kui!
Pemuda yang cukup tampan dan gagah, apalagi putera Pak-san-kui, sungguh akan merupakan pasangan yang cocok bagi puterinya, setingkat, bahkan segolongan!
Maka, diam-diam dia mengharapkan pemuda itu untuk maju menandingi puterinya agar dia dapat melihat kelihaian pemuda itu yang dia yakin tentu berkepandaian tinggi sebagai putera Pak-san-kui.
Ternyata tidak ada orang yang berani sembarangan naik ke panggung untuk menyambut ajakan Tung-hai-sian tadi.
Banyak di antara mereka yang merasa jerih untuk menandingi ilmu pedang yang demikian lihainya dari Bin Biauw, akan tetapi sebagian besar di antara mereka itu lebih merasa segan terhadap Tung-hai-sian sendiri.
Apalagi mereka yang duduk di bawah panggung, andaikata di antara mereka ada yang merasa kuat melawan Bin Biauw sekalipun, agaknya mereka masih harus pikir-pikir beberapa kali untuk berani memamerkan kepandaian di depan datuk itu, apalagi dalam kesempatan di mana hadir begitu banyak tokoh-tokoh besar dunia persilatan.
Pembicaraan atau pengatur acara tadi telah menerima bisikan-bisikan dari Tung-hai-sian, maka setelah melihat bahwa di antara para tamu tidak ada yang berani maju dia lalu angkat bicara lagi dengan sikap ramah.
"Bin-loya telah mohon kepada cu-wi untuk meramaikan pesta dan melayani Bin-siocia beberapa jurus, apakah cu-wi merasa sungkan? Kami melihat bahwa di sini hadir wakil-wakil dari tokoh-tokoh besar, bahkan ada wakil-wakil dari See-thian-ong dan dari Pak-san-kui Locianpwe, diharap agar cu-wi yang mewakili kedua locianpwe sudi memberi petunjuk kepada Bin-siocia, selain untuk memeriahkan pesta juga hitung-hitung untuk memperkekal persahabatan, demikian pesan Bin-loya."
Mendengar ucapan itu, So Cian Ling bergerak di tempat duduknya, akan tetapi dia dilarang oleh suhengnya dan sang suheng inilah yang bangkit berdiri.
Dia adalah seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus, mukanya agak pucat dan matanya sipit, pakaiannya sederhana dari kain berwarna kuning.
Pria ini bernama Ciang Gu Sik dan merupakan murid pertama atau murid kepala dari See-thian-ong, itu datuk wilayah barat yang terkenal.
Akan tetapi, dalam hal ilmu silat, dia masih sedikit di bawah tingkat So Cian Ling, sungguhpun dara itu merupakan sumoinya.
Hal ini adalah karena So Ciang Ling amat disayang oleh See-thian-ong sehingga murid wanita inilah yang menerima ilmu-ilmu simpanan Sang Datuk!
Betapapun juga, tingkat kepandaian Ciang Gu Sik sudah terhitung tinggi dan karena sudah percaya penuh akan kepandaiannya, maka dia dipercaya untuk mewakili See-thian-ong dalam memenuhi undangan Tung-hai-sian itu, sedangkan So Cian Ling hanya ikut suhengnya untuk menambah pengalaman saja.
Ketika tadi melihat puteri tuan rumah itu bermain pedang, diam-diam So Cian Ling juga merasa kagum akan keindahan ilmu pedang itu.
Akan tetapi dia merasa bahwa dia akan sanggup menandingi ilmu pedang yang indah itu, Akan tetapi tentu saja dia tidak peduli, karena kedatangannya hanya ikut sang suheng dan hanya ingin menambah pengalaman dengan menjumpai orang-orang pandai dari segala fihak.
Akan tetapi ketika dia melihat seorang pemuda di bawah panggung memuji ilmu pedang itu dan dia mengenal Thian Sin sebagai pemuda tampan yang amat menarik hatinya ketika dia dan para pamannya bertemu dengan pemuda itu di puncak Bwee-hoa-san, diam-diam hatinya merasa...
cemburu dan panas!
Inilah sebabnya maka dia berniat untuk menandingi Bin Biauw, bukan hanya untuk mengalahkan dara itu, melainkan terutama sekali untuk memperlihatkan kepada Thian Sin bahwa dia tidak kalah oleh dara puteri tuan rumah.
Akan tetapi suhengnya melarangnya karena suheng ini maklum bahwa yang dikehendaki oleh tuan rumah adalah majunya tamu-tamu pria!
Dia sendiri bukan seorang pria yang suka kepada wanita sehingga sampai berusia tiga puluh lima tahun dia masih belum menikah.
Dia tidak merasa tertarik kepada Bin Biauw, akan tetapi pemuda ini amat menjunjung tinggi nama gurunya.
Oleh karena itu, ketika nama gurunya disebut-sebut, dia merasa penasaran juga.
Kalau dia tidak maju, tentu orang-orang di situ akan mengira bahwa wakil dari See-thian-ong takut untuk menghadapi puteri tuan rumah dan hal itu berarti gurunya akan dipandang rendah.
Begitu Ciang Gu Sik bangkit berdiri dan tubuhnya yang tinggi kurus itu melangkah maju ke depan, semua tamu memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang, juga gembira karena ternyata ajakan atau tantangan itu kini diterima seorang tamu yang duduk di bagian kehormatan.
Bin Biauw juga memandang kepada pria itu dan alisnya sedikit berkerut.
Dia sudah bermufakat dengan ayahnya untuk memilih calon jodoh, dan melihat pria yang maju ini, jelas bahwa dia tidak akan sudi berjodoh dengan orang ini!
Sungguhpun dia tahu dan sudah diperkenalkan tadi bahwa pria ini adalah murid kepala dari See-thian-ong!
Ciang Gu Sik maklum bahwa majunya itu diikuti oleh pandang mata semua tokoh kang-ouw yang hadir, dan bahwa majunya itu bukanlah suatu hal yang boleh dibuat main-main karena dia mewakili gurunya, maka dia lalu memberi hormat ke arah tempat duduk Tung-hai-sian, kemudian dia menjura ke empat penjuru, kemudian dia bicara, ditujukan kepada para tamu.
"Cu-wi yang mulia. Sesungguhnya saya tidak akan berani lancang maju ke panggung ini untuk memamerkan kepandaian. Akan tetapi karena tadi wakil dari Bin-locianpwe menyebut nama guru kami, yaitu See-thian-ong, maka sebagai wakil beliau dan murid kepala, terpaksa saya maju untuk atas nama suhu membantu memeriahkan pesta ini."
Setelah berkata demikian, dia lalu membalikkan tubuh menghadapi Bin Biauw, menjura dan berkata.
"Maafkan saya yang lancang berani memajukan diri untuk melayanimu, nona."
"Ah, aku malah gembira sekali bahwa murid utama dari See-thian-ong Locianpwe mau untuk maju dan memberi petunjuk kepadaku yang bodoh."
Kata Bin Biauw dengan gayanya yang lincah.
Sementara itu, pembicara yang mewakili Tung-hai-sian sudah memperoleh bisikan pula dari majikannya dan dia berkata dengan lantang.
"Permainan silat bersama diadakan selama lima puluh jurus saja. Kalau selama lima puluh jurus tidak ada fihak yang kalah, berarti bahwa kedua fihak sama kuatnya dan memiliki tingkat yang sama! Demikianlah keputusan dari Bin-loya!"
Bin Biauw tersenyum manis, menggerakkan pedangnya di depan dada dan berkata.
"Silakan Ciang-sicu memilih senjata!"
Ciang Gu Sik meraba pinggangnya dan mengeluarkan senjatanya yang ternyata adalah sebuah senjata yang disebut Kim-coa-joan-pian (Cambuk Ular Emas), semacam ruyung lemas yang dapat dipergunakan sebagai ikat pinggang, gagangnya berbentuk kepala ular terbuat dari pada emas.
"Tar-tarr!"
Pecut itu meledak dua kali di atas kepalanya.
"Bin-siocia, saya sudah siap!"
Katanya dengan tangan kanan yang memegang joan-pian di atas kepala dan tangan kiri miring di depan dada, kaki kiri diangkat dan ditekuk di depan tubuhnya, sikapnya tenang dan kokoh sekali.
Bin Biauw tersenyum, lalu membentak.
"Lihat serangan!"
Pedangnya sudah meluncur dengan cepat membentuk sinar kilat menuju ke dada lawan.
"Tar! Tringgg...!"
Joan-pian itu berubah menjadi lurus kaku dan menangkis pedang, kemudian mcluncur ke samping.
Pada saat itu, pedang yang tertangkis sudah menerjang lagi, dan pecut itu dari samping menyambar ke arah pundak dan sambungan siku yang memegang pedang, melakukan totokan untuk mendahului gerakan pedang.
"Hemm...!"
Bin Biauw terpaksa mengelak dan dengan sendirinya tusukannyapun batal, dan diam-diam dia tahu bahwa lawannya ini amat tenang dan amat lihai maka dia berlaku hati-hati dan segera memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga tubuhnya diselimuti gulungan sinar pedang yang berkilauan!
Melihat ini, murid See-thian-ong itupun cepat memutar joan-pian di tangannya sehingga nampak sinar keemasan bergulung-gulung.
Joan-pian itu memang gagangnya terbuat dari emas murni dan joan-piannya sendiri terbuat daripada baja diselaput emas maka sinarnya menjadi keemasan.
Nampaklah pemandangan yang amat indah menyilaukan mata ketika dua gulungan sinar yang putih berkilauan dan keemasan saling sambar dan saling desak.
Bagi mata orang yang kurang tinggi kepandaiannya, Tentu sukar untuk dapat mengikuti gerakan kedua orang itu.
Gerakan mereka cepat dan kuat, dan keduanya mengadu kepandaian dengan pengerahan tenaga dan keduanya berusaha untuk menang karena pertandingan itu bagi mereka merupakan adu kepandaian untuk mempertahankan nama guru mereka masing-masing.
Bin Biauw tidak lagi bertanding untuk menguji kepandaian seorang pria yang mungkin menjadi calon jodohnya, melainkan hendak mempertahankan nama ayah dan juga gurunya agar tidak kalah oleh murid See-thian-ong datuk dari barat itu, sebaliknya Ciang Gu Sik sama sekali bukan melawan dara itu karena tertarik kepadanya melainkan juga hendak memperlihatkan bahwa See-thian-ong tidak kalah dari Tung-hai-sian!
Jadi pertandingan itu mewakili datuk barat dan datuk timur, masing-masing tidak mau kalah.
Oleh karena itu, pertandingan itu hebat sekali dan hal ini dirasakan oleh semua orang, terutama sekali oleh mereka yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan yang dapat mengikuti jalannya pertandingan itu dengan jelas.
So Cian Ling memandang jalannya pertandingan itu dengan alis berkerut.
Dia mengerti bahwa suhengnya itu terus didesak dan dia merasa menyesal mengapa suhengnya tidak membiarkan dia saja yang maju tadi, karena dia merasa dapat menandingi puteri Tung-hai-sian itu.
Biarpun suhengnya eukup lihai dengan joan-piannya, akan tetapi dibandingkan dengan lawan, dia itu kalah senjata, dalam arti kata kalah ampuh senjatanya sehingga keunggulan senjata itu membuat lawan dapat lebih menindih dan mendesaknya.
Memang kalau hanya lima puluh jurus saja, belum tentu Bin Biauw akan mampu mengalahkan suhengnya, Akan tetapi kini jelas nampak oleh semua tokoh kang-ouw bahwa suhengnya itu telah terdesak dan lebih banyak menangkis daripada menyerang!
Dan semua orang yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi tentu sudah dapat menduga bahwa kalau dilanjutkan lebih dari lima puluh jurus, suhengnya itu tentu akan kalah!
Penglihatan So Cian Ling itu memang benar.
Dengan ilmu pedangnya yang hebat, Bin Biauw mulai mendesak lawannya dan betapapun murid See-thian-ong itu berusaha untuk balas menyerang, tetap saja dia harus melindungi diri lebih dulu dan setelah lawan menyerang tiga jurus, barulah dia mampu membalas dengan satu kali serangan.
Dia didesak terus dan main mundur, akan tetapi dia masih mampu mempertahankan sampai wakil Tung-hai-sian berseru.
"Lima puluh jurus telah lewat! Kedua fihak tidak ada yang kalah, berarti keduanya sama kuat!"
Bin Biauw menarik pedangnya dan berdiri sambil tersenyum manis, melintangkan pedangnya di depan dada.
Ciang Gu Sik juga menarik joan-piannya, dan dia menjura.
"Ilmu pedang Bin Siocia sungguh amat tangguh!"
Katanya dengan jujur.
"Ah, Ciang-sicu terlalu merendah dan mengalah!"
Kata Bin Biauw sambil tetap bersenyum.
Para penonton menyambut dengan tepuk sorak, dan tentu saja tepuk sorak itu ditujukan untuk memuji Bin Biauw.
Dengan muka agak kemerahan, murid See-thian-ong itu kembali ke tempat duduknya, disambut oleh So Cian Ling dengan alis berkerut karena betapapun juga, peristiwa itu membuat dara ini merasa penasaran dan tersinggung.
Bin Biauw masih berdiri di atas panggung.
Hatinya merasa penasaran.
Mengapa pemuda tampan di bawah panggung tadi tidak berani naik?
Kalau pemuda itu yang melayaninya, tentu dia akan merasa gembira sekali!
Tapi Kong Liang sudah berbisik-bisik kepada dua orang keponakannya itu.
"Jangan kalian sembarangan bergerak. Di sini terdapat banyak sekali tokoh kang-ouw yang lihai. Dan ternyata tuan rumah tidak menghargai Cin-Ling-pai. Hemm, kalian lihat saja hal ini tak dapat kudiamkan saja!"
"Apakah paman hendak melayani nona itu?"
Thian Sin berbisik.
"Kalau perlu, akan kuperlihatkan bahwa kita tidaklah kalah oleh mereka yang duduk di atas panggung!"
Diam-diam Kong Liang merasa penasaran dan marah karena dia dan dua orang keponakannya, walaupun sudah mengaku sebagai wakil Cin-ling-pai, tetap saja dipersilakan duduk di bawah panggung.
Ini dianggapnya suatu penghinaan bagi Cin-ling-pai!
"Ah, di sinipun tidak apa-apa, apa sih bedanya dengan di atas panggung, paman?"
Han Tiong berkata karena memang di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa penasaran, tidak seperti Thian Sin yang setuju dengan pendapat paman itu.
"Bagi kita pribadi memang tidak ada bedanya, akan tetapi kita membawa nama Cin-ling-pai, dan kalau orang tidak menghormati Cin-ling-pai, aku tidak bisa tinggal diam saja!"
"Biarlah aku menghadapi nona itu, paman, mewakilimu dan Cin-ling-pai,"
Kata Thian Sin.
"Thian Sin, jangan kau gegabah! Nona itu lihai sekali ilmu pedangnya. Kalau kau mewakili Cin-ling-pai dan sampai kalah, bukankah berarti nama Cin-ling-pai makin hancur lagi? Pula, kalau engkau sampai terluka oleh pedang nona itu, bukankah aku akan mendapat marah dari ayah? Aku yang bertanggung jawab atas keselamatan kalian berdua. Selain nona itu, di sini banyak orang pandai. Lebih baik kalian diam saja dan hanya bersiap-siap membantu kalau ada terjadi kecurangan terhadap diriku."
Thian Sin hendak membantah akan tetapi pandang mata Han Tiong membuat dia terdiam.
Sementara itu, pembantu Tung-hai-sian sudah berseru lagi dengan suara lantang dan gembira.
"Siapa lagi di antara para pendekar yang ingin memeriahkan pesta, silakan maju. Tadi dari fihak Locianpwe See-thian-ong telah ada waklinya yang maju, maka oleh Bin-loya diharapkan majunya wakil dari Pak-san-kui Locianpwe dan juga dari Lam-sin Locianpwe yang belum nampak wakilnya. Silakan, silakan. Nona kami masih sabar menunggu!"
Siangkoan Wi Hong berbisik-bisik dengan Pak-thian Sam-liong, tiga orang laki-laki gagah yang menjadi murid kepala Pak-san-kui.
Mereka bertiga itu setuju kalau Siangkoan Wi Hong maju karena mereka tahu bahwa Siangkoan-kongcu mereka itu memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripada mereka sendiri dan lebih pantas kalau kongcu itu yang menandingi puteri tuan rumah, selain untuk mempertahankan nama Pak-san-kui, juga untuk mencoba kalau-kalau berjodoh dengan nona manis puteri Tung-hai-sian itu.
"Akan tetapi kalian tahu bahwa aku tidak ingin menikah, suheng!"
Kata Siangkoan Wi Hong berbisik.
Tiga orang suheng itupun tahu akan hal ini.
Siangkoan Wi Hong adalah seorang pemuda yang sejak remaja sudah suka bermain-main dengan wanita, bahkan banyak mempunyai selir di mana-mana.
Akan tetapi anehnya, pemuda ini tidak pernah mau mengikatkan diri dengan pernikahan, maka biarpun dia kagum melihat kecantikan Bin Biauw, tetap saja dia tidak bermaksud untuk membiarkan diri menjadi calon suami nona itu.
Kalau hanya berkenalan dan bermain-main, tentu dia akan menyambutnya dengan senang sekali!
"Kongcu, saat ini, soal perkawinan tidaklah begitu penting.
Yang terpenting adalah mempertahankan kehormatan ayah kongcu sebagai datuk utara!
Kalau kini puteri datuk timur dan murid datuk barat telah memperlihatkan kepandaian, apa kata orang kalau kita diam saja?
Disangka bahwa wakil-wakil datuk utara tidak berani muncul!"
Siangkoan Wi Hong menarik napas panjang dan diapun bangkit berdiri.
Melihat ini, hati Tung-hai-sian girang sekali.
Dia ingin sekali melihat sampai di mana kelihaian putera Pak-san-kui itu yang kabarnya merupakan seorang yang selain lihai dan dikenal sebagai datuk, juga seorang yang amat kaya raya.
Kiranya sudah cocoklah kalau dia berbesan dengan Pak-san-kui, akan tetapi dia harus melihat dulu kemampuan pemuda yang tampan dan pesolek itu.
Maka dengan girang dia lalu bertepuk tangan, diikuti oleh para tamu yang duduk di ruangan kehormatan, dan wakil pembicara itu lalu berteriak "Siangkoan-kongcu, putera dari Locianpwe Pak-san-kui, berkenan untuk maju meramaikan pesta!"
Mendengar ini semua orang memandang dan ketika melihat seorang pemuda yang tampan dan berpakaian mewah menuju ke tengah panggung sambil membawa sebuah alat musik yang-kim yang kedua ujungnya berbentuk gagang dan runcing pedang, mereka bertepuk tangan.
Akan tetapi Siangkoan Wi Hong menghampiri tempat duduk Tung-hai-sian, lalu menjura dengan hormat.
"Paman Tung-hai-sian,"
Katanya dengan sikap ramah dan dia sengaja menyebut "paman"
Agar lebih akrab.
"Saya mewakili ayah, Pak-san-kui Siangkoan Tiang, untuk menyampaikan selamat kepada paman dan semoga paman diberi berkah panjang umur. Sekarang, karena diundang untuk memeriahkan pesta, terpaksa saya berlancang tangan untuk turut memperlihatkan kebodohan. Akan tetapi tentu paman tahu bahwa di antara kita terdapat ikatan persahabatan, oleh karena itu saya tidak setuju kalau main-main ini dianggap sebagai pertandingan. Biarlah saya nenemani saja puteri paman untuk sekedar meramaikan pesta."
Hati Tung-hai-sian makin girang menyaksikan sikap yang ramah dan halus ini.
Pemuda ini patut menjadi jodoh Bin Biauw, pikirnya.
Dia mengangguk.
"Baiklah, dan terima kasih atas kebaikanmu dan kebaikan keluarga Pak-san-kui yang terhormat."
Siangkoan Wi Hong lalu menghampiri panggung, lalu menjura ke empat penjuru dan berkata lantang.
"Kami sebagai wakil dari ayah Pak-san-kui Siangkoan Tiang terpaksa maju melayani Bin-siocia untuk bermain-main sebentar agar fibak kami jangan djanggap tidak bersedia memeriahkan pesta,"
Ucapannya mendapat sambutan tepuk tangen pula.
"Nona, harap jangan bersikap kejam terhadap saya,"
Kata Siangkoan Wi Hong sambil tersenyum manis ketika dia menjura kepada Bin Biauw.
Nona ini sejak tadi memandang kepada tamu ini dan memang dia sudah tahu bahwa putera Pak-san-kui ini seorang pemuda yang tampan gagah dan pesolek.
Akan tetapi sejak pertemuan pertama, ketika dia diperkenalkan, dia merasa tidak begitu suka kepada pemuda ini karena pandang mata pemuda ini kepadanya seolah-olah orang yang meremehkan!
Pemuda ini amat angkuh terhadap wanita!
Sungguhpun pandai bersikap manis dan mengeluarkan kata-kata merayu, namun pemuda seperti ini tentu akan selalu memandang ringan kepada wanita.
"Sebaliknya, saya mohon petunjuk dari Siangkoan-kongcu,"
Jawabnya dengan ramah pula.
Dia sendiri seorang dara yang lincah gembira, maka kalau dia hanya menjadi sahabat, tentu keduanya akan merasa cocok.
"Bin-siocia, engkau pandai sekali menari, dan sedikit banyak aku sudah biasa memainkan yang-kim, maka kalau engkau menari pedang dan aku mainkan yang-kim, bukankah cocok sekali?"
Siangkoan Wi Hong berkata, lalu dia memegang gagang yang-kim yang seperti gagang pedang itu, mengayun benda itu, jari-jari tangan kirinya mengejar dan terdengarlah bunyi "tang-ting-tang-ting"
Yang berirama dan merdu!
Banyak tamu tertawa melihat lagak kongcu ini, dan mengira bahwa kongcu itu hanya berkelakar saja.
Akan tetapi beberapa orang yang tajam pandang matanya, terkejut karena dalam suara tang-ting-tang-ting itu terkandung tenaga getaran yang mengejutkan.
Jelas bahwa yang-kim itu bukan dibunyikan sembarangan saja!
Dan kini yang-kim itu mulai menyambar turun dan membentuk kuda-kuda yang kokoh kuat.
"Silakan, nona!"
Bin Biauw juga sudah menduga akan kelihaian lawan ini.
Sebagai putera tunggal Pak-san-kui, sudah pasti pemuda ini lihai sekali, apalagi ketika yang-kim itu berbunyi tadi diapun (Lanjut ke
Jilid 15) Pendekar Sadis (Seri ke 05
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 merasakan getaran yang kuat menyerangnya, membuat dia cepat mmggunakan hawa murni untuk melindungi dadanya.
Kini melihat fihak lawan sudah memasang kuda-kuda, dia juga membentak.
"Lihat pedang!"
Dan pedangnya sudah menerjang ke depan dengan kecepatan kilat, disusul dengan gulungan sinar pedang yang sudah berkelebatan ke sana-sini bagaikan halilintar menyambar-nyambar ke atas kepala lawan!
"Bagus!"
Siangkoan Wi Hong menggerakkan yang-kimnya menangkis.
"Trangg...!"
Kemudian diapun memutar yang-kimnya dan segera nampak sinar bergulung-gulung dan di dalam sinar itu muncul suara yang-kim yang merdu!
Kiranya pemuda itu mainkan yang-kim, mainkan sebagai senjata ampuh dan juga dengan sentilan-sentilan jari-jari tangan kiri yang membuat yang-kim itu mengeluarkan suara!
Dan memang ilmu pedang yang dimainkan Bin Biauw amat indahnya, maka segera nampak perpaduan yang amat indah.
Nona itu seolah-olah tidak sedang menyerang, melainkan sedang menari-nari dan mereka itu lebih patut menjadi pasangan, yang wanita menari yang pria mengikutinya dengan suara yang-kim!
Akan tetapi, sesungguhnya keduanya sedang mengeluarkan kepandaian masing-masing.
Diam-diam, Thian Sin dan Han Tiong menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian dan mereka berdua mendapatkan kenyataan bahwa setelah mempergunakan yang-kim sebagai senjata, putera Pak-san-kui itu ternyata lihai bukan main!
Kiranya memang keistimewaannya adalah mempergunakan yang-kim itu sebagai senjata!
Kalau dulu ketika berhadapan dengan Thian Sin dia mempergunakan yang-kimnya itu, agaknya tidak akan mudah bagi Thian Sin untuk mengalahkannya.
Memang hebat pemude itu.
Yang-kimnya bukan hanya merupakan senjata yang ampuh, terbuat dari logam yang dapat dipakai untuk menangkis senjata pusaka, akan tetapi juga suara yang keluar dari yang-kim itu merupakan serangan-serangan ke arah batin dan jantung lawan!
Fihak lawan dapat digetarkan jantungnya lewat suara-suara itu, bahkan dapat dikacaukan pikirannya selagi mereka bertanding!
Hal ini agaknya belum diketahui benar oleh Bin Biauw, maka dara ini merasa penasaran ketika melihat betapa semua serangannya gagal oleh tangkisan alat musik lawan.
Bin Biauw mulai marah.
Harus diakuinya bahwa pemuda itu cukup tampan dan gagah, akan tetapi melihat betapa pemuda itu melawannya sambil tersenyum-senyum mengejek dan setiap gerakannya diikuti suara yang-kim sehingga seolah-olah mempermainkannya atau mengejeknya.
Hal ini membuat dia penasaran sekali dan akhirnya dia menjadi marah.
Dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan gerakannya berubah semakin cepat sehingga akhirnya Siangkoan Wi Hong menjadi kelabakan dan terdesak juga.
Akan tetapi tiba-tiba yang-kim itu mengeluarkan bunyi yang aneh, suaranya nyaring sekali dan makin lama meninggi dan tiba-tiba saja permainan pedang Bin Biauw menjadi kacau-balau!
Ternyata suara yang-kim itu merupakan serangan suara yang amat hebat, membuat dara itu merasa kacau pikirannya dan pening kepalanya, jantungnya berdebar-debar!
Maka, kalau tadi dia mendesak, sekarang sebaliknya malah gerakan pedangnya menjadi kacau dan kadang-kadang nampak dia terhuyung!
Melihat ini, diam-diam Tung-hai-sian menjadi terkejut dan juga girang.
Ternyata kepandaian pemuda putera Pak-san-kui itu hebat!
Maka dia memberi isyarat kepada pembantunya agar membiarkan kedua orang muda itu melanjutken pertempuran karena dia percaya bahwa keduanya mampu menjaga diri dan juga dia merasa yakin bahwa pemuda itu tidak akan mau mencelakai puterinya.
Dan memang sesungguhnya demikianlah.
Dengan bantuan suara yang-kimnya, kini keadaannya menjadi terbalik dan kalau Siangkoan Wi Hong menghendaki, kiranya dia akan dapat mengalahkan Bin Biauw, atau setidaknya mendesaknya dengan hebat.
Akan tetapi dia adalah seorang yang cerdik.
Biarpun dia tidak berniat untuk diambil mantu, akan tetapi dia tahu bahwa dia harus bersahabat dengan fihak Tung-hai-sian dan kalau dia dapat berpacaran dengan dara ini, berpacaran saja tanpa ikatan perkawinan, tentu dia akan gembira sekali!
Maka diapun hanya menyerang tanpa mendesak, sungguhpun kini permainan Bin Biauw tidak setangkas tadi karena dia merasa bingung oleh suara yang-kim yang seperti menusuk-nusuk telinganya itu.
Tiba-tiba mendengar suara tambur dan gembreng dibunyikan riuh-rendah, tentu saja suara ini menelan suara yang-kim dan tiba-tiba Bin Biauw memperoleh ketangkasannya kembali setelah dia tidak lagi terganggu oleh suara yang-kim.
Dia merasa penasaran dan marah oleh gangguan yang-kim tadi.
Dianggapnya pemuda tadi curang dan berkelahi mengandalkan ilmu siluman dengan suara yang-kim tadi.
Kini Bin Biauw kembali mengamuk dan kembali Siangkoan Wi Hong terdesak.
Pada saat itu, Tung-hai-sian sendiri melompat ke tempat pertempuran sambil tertawa.
"Cukup... cukup... sudah mendekati seratus jurus!"
Hebat sekali kakek ini, begitu dia "masuk", dia mampu menolak yang-kim dan pedang dengan hawa pukulan tangannya yang dikembangkan ke kanan kiri dan dua orang muda itu terdorong ke belakang!
Siangkoan Wi Hong terkejut dan kagum sekali, maklum bahwa tingkat kepandaian kakek pendek ini amat tinggi, setingkat dengan ayahnya barangkali.
"Maafkan kebodohan saya!"
Siangkoan Wi Hong menjura. Kembali Tung-hai-sian tertawa.
"Kepandaian putera Pak-san-kui benar-benar hebat!"
Katanya dan kesempatan ini dipergunakan oleh Siangkoan Wi Hong untuk menjura kepada kakek itu sambil berkata, suaranya halus dan lantang, terdengar oleh semua tamu.
"Paman, saya kira Bin-siocia sudah terlalu banyak bermain pedang dan sudah lelah. Oleh karena itu, kalau diperkenankan, biarlah saya mewakilinya melayani orang-orang yang masih ingin memperlihatkan kepandaian di panggung ini untuk meramaikan pesta."
Tung-hai-sian tertawa.
"Aih, engkau baik sekali, Siangkoan-kongcu dan kami menghargai sekali bantuanmu untuk meramaikan pesta kami. Akan tetapi siapakah lagi di antara sahabat-sahabat yang berada di panggung ini yang masih suka maju memperlihatkan kepandaian dan meramaikan pesta?"
"Paman Tung-hai-sian yang terhormat, bukankah di bawah panggung masih terdapat banyak sekali tamu yang lihai?"
Siangkoan Wi Hong berkata sambil tertawa dan secara sambil lalu dia mengerling ke arah para tamu di bawah panggung sebelah kanan di mana duduk Han Tiong dan Thian Sing "Bahkan jumlah tamu di bawah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan para tamu yang duduk di atas panggung."
"Aih, anak yang baik, jangan main-main. Sedangkan para tamu yang duduk di atas panggung saja tidak ada yang maju memperlihatkan kepandaian, apalagi yang berada di bawah panggung."
"Eh, apakah paman hendak mengatakan bahwa mereka itu hanyalah orang-orang kelas rendahan saja? Ha-ha, tak kusangka sama sekali bahwa keturunan mendiang Pangeran Ceng Han Houw kini hanya menjadi tokoh kelas rendahan saja!"
"Keturunan Pangeran Ceng Han Houw?"
Datuk yang bertubuh katai itu berseru kaget dan memandang heran, bahkan semua tamu yang mendengar disebutnya nama ini menjadi terkejut.
Mereka memandang ke kanan kiri untuk mencari-cari keturunan orang yang pernah menggemparkan seluruh dunia persilatan itu.
Benarkah pangeran yang amat terkenal itu mempunyai keturunan dan bahkan sekarang hadir di tempat itu?
Sementara itu, mendengar semua kata-kata itu, Thian Sin tak mampu lagi menahan kemarahannya dan tanpa dapat dicegah oleh Kong Liang dan Han Tiong, dia sudah meloncat naik ke atas panggung sambil berteriak.
"Siangkoan Wi Hong, siapa takut padamu? Hayo majulah kalau engkau memang laki-laki!"
Melihat majunya pemuda yang amat tampan ini, Tung-hai-sian terkejut dan juga memandang heran.
"Apakah... apakah engkau yang disebut keturunan Pangeran Ceng Han Houw?"
Tanyanya.
"Benar, saya Ceng Thian Sin adalah putera tunggal Pangeran Ceng Han Houw. Tadi orang she Siangkoan ini mengajukan tantangan, nah, saya datang untuk menyambut tantangannya itu!"
Kata Thian Sin sambil menjura kepada orang tua itu.
Tung-hai-sian menjadi gembira sekali.
Tentu saja sebagai seorang datuk persilatan, diapun mempunyai semacam penyakit, yaitu suka sekali menonton pertandingan silat, apalagi kalau hal itu dilakukan oleh orang-orang yang pandai.
Putera Pangeran Ceng Han Houw?
Dia sendiri belum pernah bertemu dengan pangeran yang telah meninggal dunia itu, akan tetapi nama besarnya telah didengarnya, sebagai seorang jagoan yang tak pernah terkalahkan, demikian menurut kabar yang didengarnya.
Tentu saja dia memandang pemuda itu dengan sinar mata lain dan dia ingin sekali melihat bagaimana kepandaian putera pangeran yang amat terkenal itu.
Dan pemuda ini putera seorang pangeran!
Biarpun pangeran yang sudah menjadi pemberontak, betapapun juga putera pangeran, berdarah bangsawan tinggi!
Ini saja sudah menarik perhatiannya dan dia segera mundur sambil berkata.
"Silakan... silakan...!"
Siangkoan Wi Hong adalah seorang pemuda yang amat cerdik.
Ketika tadi dia melihat hadirnya Han Tiong dan Thian Sing sudah timbul akalnya untuk membalas kekalahannya tempo hari, dan kalau mungkin mengalahkan dan menghina pemuda-pemuda itu di depan orang banyak, dan kalau tidak mungkin, mengadu domba antara mereka dengan fihak tuan rumah!
Itulah sebabnya maka dia sengaja merendahkan mereka atau memanaskan hati mereka, yang hanya diterima sebagai tamu-tamu rendahan saja oleh Tung-hai-sian!
Tapi sungguh tak disangkanya bahwa Thian Sin demikian beraninya untuk muncul juga dan mengaku sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw dan menantangnya!
Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa takut!
Memang dia pernah kalah oleh Thian Sin, akan tetapi kekalahannya itu adalah karena dia menghadapi pemuda itu dengan tangan kosong, dan dia tidak mengira bahwa putera pangeran itu memiliki Ilmu Thi-khi-i-beng yang amat lihai itu.
Kini dia memegang yang-kimnya, dan dia tahu bahwa lawannya memiliki Thi-khi-i-beng, dia tahu bagaimana harus menghadapinya dan sekali ini dia tidak akan kalah!
Maka sambil tersenyum dia menghadapi Thian Sin.
"Ha-ha-ha, engkau anak pemberontak, masih berani banyak lagak? Bersiaplah dan keluarkan senjatamu!"
Siangkoan Wi Hong menantang. Thian Sin tersenyum mengejek.
"Engkau boleh berbesar hati karena memegang senjata yang-kimmu, Siangkoan Wi Hong, akan tetapi aku merasa cukup menghadapimu dengan kedua tangan kosong saja!"
Semua orang termasuk Tung-hai-sian, terkejut mendengar ini dan menganggap pemuda keturunan Pangeran Ceng Han Houw itu terlalu tinggi hati.
Menghadapi yang-kim putera Pak-san-kui yang amat lihai itu dengan tangan kosong?
Akan tetapi, sikap dan wajah Thian Sin sudah menarik hati Bin Biauw, dan memang tadipun dia sudah mengharapkan pemuda yang memuji ilmu pedangnya ini untuk naik ke panggung sebelum Siangkoan Wi Hong muncul.
Maka, melihat kini pemuda itu muncul dan mendengar bahwa pemuda tampan itu adalah putera seorang pangeran, dan melihat kegagahannya yang hendak melayani Siangkoan Wi Hong yang bersenjata yang-kim dengan tangan kosong, Bin Biauw segera melangkah maju dan berkata kepada Siangkoan Wi Hong.
"Harap Siangkoan-kongcu suka mundur. Aku sendiri akan menghadapi orang she Ceng ini!"
Siangkoan Wi Hong pura-pura kaget, sungguhpun di dalam hatinya dia merasa senang.
Betapapun juga, agaknya dia akan berhasil mengadu domba antara Thian Sin dan fihak tuan rumah!
"Ah, tapi aku sudah sanggup untuk menandinginya..."
"Siangkoan-kongcu, ingat bahwa engkau tadi bertindak sebagai wakilku, tanpa bertanya apakah aku mau kau wakili ataukah tidak. Dan sekarang aku mau menyatakan bahwa aku tidak ingin kau wakili untuk menghadapi siapapun yang naik ke panggung ini. Aku hendak menghadapinya sendiri!"
Bin Biauw tidak tersenyum lagi, melainkan memandang Siangkoan Wi Hong dengan mata bersinar-sinar penuh tantangan!
Siangkoan Wi Hong menggerakkan pundak seperti orang yang tidak berdaya, lalu memandang kepada Thian Sin.
"Hemm, agaknya belum tiba saatnya engkau roboh di tanganku, Ceng Thian Sin. Biarlah kita bertemu di lain kesempatan!"
Dia lalu menghadapi Bin Biauw dan berkata kepada nona itu.
"Silakan, nona. Akan tetapi hati-hatilah, bocah setan ini berbahaya juga. Awas, jangan sampai dia menggunakan Thi-khi-i-beng!"
Mendengar disebutnya ilmu mujijat yang bagi kebanyakan orang kang-ouw hanya merupakan semacam dongeng itu, semua orang terkejut, tidak terkecuali Tung-hai-sian.
Akan tetapi Bin Biauw menjadi marah.
"Aku tahu bagaimana harus menghadapi lawan-lawanku!"
Bentaknya dan Siangkoan Wi Hong lalu kembali ke tempat duduknya.
Thian Sin menjadi bingung setelah Siangkoan Wi Hong pergi meninggalkan dia dan berhadapan dengan nona manis itu.
Dia memandang dengan penuh keraguan, tidak tahu harus berbuat apa.
"Akan tetapi... aku... aku tidak hendak melawanmu, nona..."
Bin Biauw tersenyum manis.
"Apakah engkau menganggap aku kurang berharga untuk menandingimu dalam ilmu silat?"
"Bukan... bukan begitu... tapi..."
Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh Kong Liang telah berada di atas panggung.
Semua tamu terkejut.
Itulah gerakan yang amat ringan dan cepatnya, membayangkan gin-kang tingkat tinggi!
Dan kini semua mata ditujukan kepada pemuda yang bertubuh tegap dan gagah ini, yang berdiri tegak dan memandang kepada Thian Sin lalu berkata.
"Thian Sin, kau kembalilah ke tempatmu!"
Thian Sin memandang pamannya dan dia tahu bahwa pamannya itu marah sekali kepadanya.
Teringatlah dia bahwa dia datang sebagai "anggauta"
Rombongan wakil Cin-ling-pai dan bahwa tadi dia meloncat ke atas panggung tanpa perkenan pamannya, maka dia merasa bersalah.
Tadi dia berbuat seperti itu karena tak dapat menahan kemarahan hatinya ketika nama ayahnya disebut-sebut oleh Siangkoan Wi Hong.
Kini, berhadapan dengan pamannya yang marah, dia mengangguk.
"Maafkan, paman,"
Katanya dan diapun melompat turun, kembali ke tempat duduknya di dekat Han Tiong yang memegang lengan adiknya dan menyuruhnya sabar dengan tepukan tangan pada bahunya.
Sementara itu, Cia Kong Liang yang kini telah berdiri di atas panggung, segera memberi hormat ke arah tempat duduk Tung-hai-sian dan ke empat penjuru, ke arah penonton.
Sikapnya dingin dan sinar matanya angkuh.
Memang sejak tadi dia sudah menjadi marah.
Pertama-tama, karena dia sebagai wakil, apalagi putera ketua Cin-ling-pai diberi tempat duduk di bawah panggung.
Kemudian, percakapan antara fihak tuan rumah dan putera Pak-san-kui itu sungguh menyinggung perasaannya, yaitu bahwa mereka yang duduk di bawah panggung hanyalah tamu-tamu kelas rendahan saja!
Hal ini tak mungkin dapat dibiarkannya saja, karena dengan membiarkan hal itu berarti dia mengakui bahwa Cin-ling-pai adalah perkumpulan "kelas rendahan"
Dan hal ini tentu akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw kalau mendengar bahwa putera ketua Cin-ling-pai dihina dalam pesta datuk kaum sesat itu!
Betapapun juga, dia masih menahan sabar, teringat akan pesan ayahnya agar dia tidak sembarangan membikin ribut di luar.
Akan tetapi, dengan majunya Thian Sin, dia tidak mungkin dapat mendiamkannya saja.
Thian Sin adalah keponakannya, dan dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan keponakan itu.
Juga, dia khawatir kalau-kalau Thian Sin akan celaka kalau maju bertanding.
Semua itu ditambah lagi dengan rasa penasaran ketika mendengar Siangkoan Wi Hong menyebut-nyebut Ilmu Thi-khi-i-beng yang dikatakannya dimiliki oleh Thian Sin.
Dia sendiri belum tahu bahwa ilmu mujijat dari kakeknya, yaitu pendiri Cin-ling-pai itu telah diturunkan kepada Thian Sin, padahal ayahnya sendiri yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai juga tidak mewarisi ilmu itu, apalagi dia!
Benarkah ilmu itu telah diwarisi oleh Thian Sin putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang kabarnya jahat itu?
Dia merasa penasaran, maka dia lalu meloncat ke atas panggung dan menyuruh Thian Sin turun, yang diturut oleh keponakannya itu.
Kini dia harus memberi penjelasan akan sikapnya.
"Cu-wi yang terhormat,"
Katanya ditujukan kepada fihak tuan rumah dan juga para tamu.
"Saya adalah Cia Kong Liang, datang ke sini untuk mewakili ayah saya, yaitu ketua Cin-ling-pai, memenuhi undangan fihak tuan rumah, bersama dua orang keponakan saya, yang seorang diantaranya adalah Ceng Thian Sin tadi. Nah, sebagai wakil Cin-ling-pai, kami mengajukan diri, bukan untuk memamerkan kepandaian, melainkan memperlihatkan bahwa kepandaian seseorang tidak dapat diukur dari kekayaan atau nama besar, juga untuk sekedar membantu memeriahkan suasana pesta. Biarlah kami sekalian menjadi wakil dari para tamu kelas rendahan yang duduk di bawah panggung!"
Ucapan Cia Kong Liang ini nadanya keras sekali, seolah-olah menampar muka tuan rumah sehingga wajah Tung-hai-sian seketika menjadi pucat, kemudian berubah merah.
Dia merasa tidak enak sekali dan diam-diam menyesalkan para pembantunya yang kurang teliti sehingga pemuda-pemuda wakil dari perkumpulan-perkumpulan besar diberi tempat di bawah, bahkan putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw juga diberi tempat di bawah panggung!
Akan tetapi, diam-diam diapun gembira melihat bahwa pemuda perkasa deri Cin-ling-pai itu mau melayani puterinya.
Dengan demikian, semakin banyak kini bermunculan pemuda-pemuda yang baik sehingga memudahkan pemilihannya.
Mula-mula Siangkoan Wi Hong, lalu putera pangeran itu yang belum sempat disaksikannya sampai di mana tingkat ilmu silatnya sungguhpun dia sudah girang sekali mendengar dari Siangkoan Wi Hong tadi bahwa putera pangeran itu memiliki ilmu mujijat Thi-khi-i-beng.
Selain putera pangeran itu, kini putera ketua Cin-ling-pai!
Dia sendiri pernah mendengar tentang Cin-ling-pai, akan tetapi karena sudah lama sekali Cin-ling-pai tidak pernah menonjolkan diri di dunia kang-ouw, maka nama Cin-ling-pai tidak terkenal lagi dan nama besarnya seolah-olah semakin pudar.
Maka kini kemunculan putera ketua Cin-ling-pai menarik perhatian para tokoh kang-ouw, terutama sekali kaum tuanya yang dulu pernah mengalami masa jayanya perkumpulan itu.
Sejak tadi Bin Biauw memandang dan memperhatikan Cia Kong Liang dari kepala sampai ke kaki dan dara ini merasa kagum bukan main!
Pemuda ini sungguh gagah!
Biarpun tidak setampan pemuda putera pangeran tadi, namun pemuda ini gagah perkasa dan sikapnya demikian penuh wibawa dan matang, kokoh kuat dan penuh keberanian!
Kalau saja ilmu silatnya sehebat sikapnya ini, maka dia adalah seorang pemuda yang amat hebat!
Maka ingin sekali dia menguji kepandaian pemuda ini, apakah selihai ilmu silat Siangkoan Wi Hong yang agaknya memandang rendah wanita itu?
Pemuda ini sama sekali tidak memandangnya dengan sikap merendahkan, bahkan memandangnya dengan sekilas saja dengan pandang mata sopan!
"Terima kasih bahwa Cia-enghiong suka memberi petunjuk kepadaku yang bodoh,"
Katanya sambil tersenyum manis.
Akan tetapi sikap Kong Liang biasa saja tidak membalas senyum itu, melainkan berkata dengan sikap hormat dan tegas.
"Silakan, ilmu pedang nona indah dan lihai, namun saya kira saya akan mampu menjaga diri."
Bin Biauw gembira sekali dan dia sudah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat.
Kong Liang juga melepaskan pedang Hong-cu-kiam yang tadinya melingkari pinggangnya dan nampaklah sinar keemasan yang menyilaukan mata.
Melihat ini, Bin Biauw memuji.
"Po-kiam (pedang pusaka) yang bagus! Cia-enghiong, bersiaplah dan lihat serangan!"
Dia menyebut eng-hiong (pendekar) kepada pemuda yang berwibawa ini, dan di dalam hatinya, dara ini sudah tunduk kepada putera Cin-ling-pai ini!
Bin Biauw sudah menyerang dengan gerakan yang amat cepat.
Akan tetapi Kong Liang tidak pindah dari tempat dia berdiri, bahkan kakinyapun tidak tergeser.
Dia tidak mempedulikan sinar pedang yang bergulung-gulung itu, hanya setiap kali sinar pedang berkelebat ke arahnya, dia menggerakkan Hong-cu-kiam menangkis.
"Cringgg...!"
Tangkisan pertama itu mengejutkan hati Bin Biauw karena seluruh tangan kanannya tergetar hebat.
Tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat dan bahwa pedang tipis bersinar emas itu benar-benar merupakan pedang yang ampuh.
Maka dia bersikap hati-hati dan menyerang dengan lebih cepat.
Namun, ke mana juga pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan sinar emas yang menangkisnya!
Padahal pemuda itu sama sekali tidak menggeser kaki.
Bahkan ketika dia menyerang dari belakang, sinar emas itupun sudah menangkis di belakang tubuh pemuda itu.
Terdengar bunyi berdencing nyaring berkali-kali dan nampak bunga api berpijaran menyilaukan mata ketika semakin lama semakin seringlah pedang Bin Biauw bertemu dengan pedang yang berubah menjadi gulungan sinar emas yang menyilaukan mata itu.
Hebatnya, pemuda itu selain tidak pernah membalas serangan, juga tubuhnya hampir tidak mengubah kedudukan kakinya, hanya memutar tubuh ke kanan atau kiri dan ke manapun sinar pedang Bin Biauw menyambar, selalu tentu bertemu dengan sinar emas yang menangkisnya.
Dengan ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, Kong Liang dapat membentuk pertahanan yang seperti benteng baja kokohnya dan tidak mudah ditembus oleh sinar pedang Bin Biauw.
Apalagi dia memang memiliki sin-kang yang kuat sekali, sehingga setiap tangkisan yang disertai tenaga membuat lengan dara itu merasa tergetar hebat.
Makin lama, serangan Bin Biauw menjadi semakin lemah dan belum lima puluh jurus kemudian, ketika Kong Liang memperkuat tenaganya dan menangkis terdengar bunyi "trangg...!"
Keras sekali dan tubuh Bin Biauw terhuyung ke belakang.
Dia menghentikan serangannya, dahinya penuh keringat dan wajahnya menjadi merah sekali, mulutnya tersenyum malu-malu dan matanya mengerling tajam melebihi tajam pedangnya, dan diapun menjura.
"Cia-enghiong sungguh pandai, saya mengaku kalah!"
Setelah berkata demikian, dara itu lalu mundur dan lari menuju ke tempat duduk ayahnya dengan muka merah dan sikap malu-malu!
Melihat ini, Tung-hai-sian mengerti bahwa selain pemuda putera ketua Cin-ling-pai itu memang lebih lihai dari puterinya, juga agaknya Bin Biauw sudah jatuh hati kepada pemuda itu, maka mengalah sebelum dikalahkan.
Diapun bangkit berdiri dan di bawah tepuk tangan para tamu yang menyambut kemenangan Cia Kong Liang dengan girang, terutama mereka yang duduk di bawah panggung, karena betapapun juga, tadi Kong Liang mengatakan bahwa dia mewakili para tamu di bawah panggung, dia menghampiri pemuda itu.
"Cia-sicu sungguh memiliki ilmu pedang yang lihai sekali. Itukah yang disohorkan orang sebagai Siang-bhok Kiam-sut?"
Kata datuk itu sambil tersenyum.
Diam-diam Kong Liang terkejut juga.
Ilmu pedang ini menurut ayahnya, selama belasan tahun tidak pernah dimainkan di depan umum, apalagi dipergunakan dalam pertandingan, maka kini begitu melihatnya, padahal hanya dipergunakan sebagai pertahanan saja, kakek ini telah mampu menerkanya dengan tepat, menandakan bahwa kakek ini memang memiliki pengetahuan yang luas sekali.
"Pandangan locianpwe amat tajam dan memang tadi adalah Siang-bhok Kiam-sut dari perkumpulan kami."
"Bagus, bagus... dan maafkan kami yang telah berlaku kurang teliti sehingga sicu dan rombongan memperoleh tempat duduk di bawah panggung. Sekarang silakan sicu dan dua orang keponakan sicu untuk duduk di atas panggung, agar kita dapat bicara dengan enak."
Kong Liang adalah seorang pemuda yang angkuh, akan tetapi dia bukan orang yang suka disanjung.
Kalau tadi dia maju untuk memperlihatkan kepandaiannya, hanyalah agar orang jangan memandang rendah kepada Cin-ling-pai, bukan berarti dia ingin disanjung dan dipuji.
Andaikata nama Cin-ling-pai tidak disebut-sebut, atau andaikata para tamu yang duduk di bawah panggung tidak dianggap sebagai kelas rendahan, kiranya diapun akan menahan rasa penasaran dan kemarahannya.
Kini, setelah dia berhasil memperlihatkan kepandaiannya yang tidak usah kalah dibandingkan dengan puteri tuan rumah atau para tamu dari panggung, sudah cukuplah baginya.
"Terima kasih, locianpwe. Bagi kami, duduk di bawah panggungpun tidak mengapa asal orang tidak memandang rendah kepada kami yang duduk di bawah!"
Jawabnya sambil membalas dengan penghormatan, kemudian dia melompat turun dari atas panggung.
"Cia-sicu, sebelum pulang aku ingin bicara dengan sicu lebih dulu!"
Kakek itu berseru dari atas panggung.
"Baik, locianpwe."
Jawab Kong Liang yang kembali ke tempat duduknya semula.
Dia disambut oleh Han Tiong dengan senyum akan tetapi Thian Sin nampak muram wajahnya.
Pemuda ini merasa tidak puas dengan sikap pamannya itu.
Cia Kong Liang terlalu sombong dan mengandalkan dirinya sendiri, seolah-olah dia yang paling lihai!
Sikap pamannya itu seolah-olah menganggap dia dan kakaknya masih kanak-kanak saja!
Dan caranya mencegah dia bertanding dengan Bin Biauw benar-benar membuat dia kecewa dan mendongkol.
Akan tetapi diapun tidak banyak cakap, hanya menunduk saja.
Setelah para tamu mulai berpamitan, Thian Sin berkata kepada Han Tiong sengaja bicara keras agar terdengar pula oleh Kong Liang.
"Tiong-ko, mari kita pulang. Kita harus segera pergi ke Lok-yang, memenuhi pesan ayah mengunjungi Paman Ciu Khai Sun."
"Engkau benar, adikku. Paman, marilah kita berpamit. Para tamu mulai pulang dan kami berdua masih harus melakukan perjalanan jauh ke Lok-yang."
Kong Liang bangkit berdiri dan menarik napas panjang.
Dia tadi sedang termenung ketika beberapa kali dia memandang ke arah tempat duduk Bin Biauw dan melihat betapa dara itu selalu memandang ke arahnya dan kadang-kadang tersenyum manis.
Tadi, ketika dia naik ke panggung untuk memperlihatkan kepandaian, sedikitpun tidak mempunyai niat untuk memperhatikan dara itu, dan biarpun seperti para tamu lain dia dapat menduga bahwa majunya Bin Biauw ke atas panggung sesungguhnya untuk mencari jodoh, namun sedikitpun juga dia tidak mempunyai niat untuk memasuki sayembara yang tidak diumumkan itu.
Kini, setelah dia dapat menangkan Bin Biauw dan mendengar ucapan dan melihat sikap Tung-hai-sian, Diam-diam dia mengerti bahwa agaknya fihak keluarga itu tertarik kepadanya dan diam-diam diapun baru merasa bingung karena sesungguhnya dia sama sekali belum mempunya pikiran untuk mencari jodoh, sungguhpun sudah sering ayah bundanya mengemukakan keinginan mereka untuk mempunya mantu.
Mereka bertiga lalu bersama para tamu yang lain menghampiri panggung di mana Tung-hai-sian menerima para tamu yang berpamit.
Ketika melihat Kong Liang dan dua orang pemuda keponakannya, Bin Biauw bangkit dengan kaget dan memegang tangan ayahnya, alisnya berkerut seakan-akan hendak memperlihatkan kekecewaannya melihat pemuda gagah perkasa itu hendak meninggalkan tempat itu.
Tung-hai-sian Bin Mo To juga segera melangkah maju menyambut Kong Liang, Han Tiong dan Thian Sin.
"Locianpwe, kami bertiga mohon diri dan kami menghaturkan terima kasih atas segala penyambutan Locianpwe sekeluarga,"
Kata Kong Liang sambil memberi hormat, diturut oleh dua orang keponakannya.
"Eh, Cia-sicu, kenapa tergesa-gesa? Saya ingin bicara dengan sicu... penting sekali..."
Kata kakek itu, akan tetapi pada saat itu terdapat tamu-tamu lain yang datang berpamit, maka dia tidak dapat bicara dengan leluasa.
Setelah rombongan tamu itu disambutnya dan terbuka kesempatan, Kong Liang berkata dengan suara smgguh-sungguh.
"Maaf, locianpwe, bukan saya tidak bersedia, hanya karena kami masih ada urusan yang harus segera kami selesaikan, maka terpaksa kami tidak dapat menanti lebih lama lagi. Kami mohon diri."
"Cia-sicu... kalau begitu, begini saja. Sampaikan hormat dan salamku kepada ketua Cin-ling-pai, ayahmu, dan sampaikan kepada beliau bahwa dalam waktu dekat ini saya akan datang berkunjung kepada beliau di Cin-ling-san, untuk... bicara... eh, untuk mempererat persahabatan antara kita."
Wajah Kong Liang berubah merah akan tetapi sikapnya tetap tenang.
Dia tahu apa yang dimaksud oleh kakek itu.
Tiada lain tentu akan membicarakan urusan perjodohan.
Apalagi?
Antara Cin-ling-pai dan para datuk kaum sesat tidak ada sangkut-paut dan urusan apa-apa.
"Baiklah, akan saya sampaikan, locianpwe. Selamat tinggal, dan... Nona Bin, selamat tinggal dan terima kasih."
Bin Biauw membalas penghormatan pemuda itu.
"Sampai berjumpa kembali, Cia... koko..."
Kata dara itu dengan sikap manis sekali.
Setelah mereka bertiga meninggalkan tempat itu, di tengah perjalanan Thian Sin tidak dapat menahan perasaan hatinya dan berkata sambil tersenyum masam.
"Ah, Paman Kong Liang telah berhasil sekali ini."
Kong Liang memandang kepada putera pangeran itu.
"Berhasil? Apa maksudmu?"
"Paman tidak hanya telah mengalahkan pedang Nona Bin, melainkan juga telah menundukkan hatinya dan juga menaklukkan ayahnya."
"Hemm, Thian Sin, coba jelaskan, apa maksud kata-katamu ini!"
"Kenapa paman masih pura-pura lagi? Tung-hai-sian sudah menjelaskan sikapnya, hendak datang menemui ketua Cin-ling-pai. Apalagi kalau tidak hendak membicarakan urusan pernikahan? Ah, kionghi (selamat), paman!"
Dan Thian Sin benar-benar memberi selamat dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada.
"Gila!"
Kong Liang membentak, mukanya berubah merah.
"Apa kau kira begitu mudah menentukan urusan kawin? Yang penting adalah dua orang yang bersangkutan!"
"Wah, sikap Nona Bin sudah jelas. Bukankah tadi diapun tiba-tiba saja menyebutmu... dengan sebutan koko yang mesra? Dan paman sendiri, ahh, masih pura-pura lagi?"
"Thian Sin, jangan sembarangan bicara kau !"
Kong Liang yang merasa malu itu menjadi marah, atau pura-pura marah.
Melihat ini, Han Tiong yang sejak tadi memperhatikan adiknya, cepat menengahi dan berkata.
"Paman, Thian Sin hanya main-main saja. Sin-te, jangan kau goda paman. Mari kita percepat perjalanan kita yang masih jauh."
Akan tetapi ketika mereka baru saja keluar dari kota Ceng-tao dan tiba di kaki pegunungan yang sunyi, mereka melihat beberapa orang berdiri menghadang mereka di tengah jalan dan tiga orang pemuda ini memandang dengan penuh perhatian.
Mereka segera mengenal dua orang diantara mereka, yaitu Siangkoan Wi Hong yang memanggul yang-kimnya dan seorang dara cantik manis berpakaian mewah yang bukan lain adalah So Cian Ling murid dari See-thian-ong, Dara keturunan penghuni Padang Bangkai yang pernah datang untuk membalas dendam kepada Kakek Yap Kun Liong dan Nenek Cia Giok Keng itu!
Di samping dua orang muda yang lihai ini nampak tiga orang kakek yang dikenal oleh Han Tiong, yaitu Pak-thian Sam-liong, tiga orang kakek murid-murid Pak-san-kui yang pernah dikalahkan oleh ayahnya beberapa tahun yang lalu.
Juga di samping dara manis itu berdiri Ciang Gu Sik, murid kepala See-thian-ong yang berusia tiga puluh lima tahun itu, yang pernah bertanding melawan Bin Biauw dan amat lihai dengan joan-pian berselaput emas itu.
Melihat betapa enam orang itu bersikap mengancam, Kong Liang mengerutkan alisnya dan berkata kepada dua orang keponakannya dengan bisikan.
"Kalian diamlah saja. Mereka itu lihai, biar aku yang menghadapi mereka kelau terpaksa aku harus melawan mereka. Kalian boleh melihat saja dan siap-siap saja untuk membela diri kalau diserang."
Thian Sin tersenyum mengejek, akan tetapi Han Tiong mengangguk, dan menyentuh lengan adiknya yang sudah gatal-gatal tangan hendak menantang musuh itu.
Dengan sikap yang tenang namun berwibawa, ketabahan yang amat besar, Kong Liang mendahului dua orang keponakannya dan mengambil sikap seolah-olah dia hendak melindungi dua orang pemuda keponakannya itu.
Dia berjalan terus sampai tiba di depan enam orang yang menghadangnya, lalu berkata dengan sopan namun tegas.
"Harap cu-wi suka minggir dan membiarkan kami lewat."
Bagaimanakah putera Pak-san-kui dan murid See-thian-ong itu dapat berkumpul menjadi satu dan menghadang di tempat itu?
Memang, di antara empat orang datuk, yaitu See-thian-ong, Pak-san-kui, Tung-hai-sian dan Lam-sin, maka datuk dari barat See-thian-ong dan dari utara Pak-san-kui telah lama saling mengadakan hubungan seperti rekan seangkatan atau segolongan, Maka tidak mengherankan apabila Siangkoan Wi Hong sudah lama mengenal So Cian Ling.
Ketika Siangkoan Wi Hong melihat betapa pemuda putera ketua Cin-ling-pai itu dapat mengalahkan, bahkan menundukkan hati Bin Biauw dan bahkan Tung-hai-sian nampak tertarik untuk mengambil mantu pemuda itu, diam-diam Siangkoan Wi Hong merasa tidak senang sekali.
Bukan karena dia sendiri ingin memperisteri Bin Biauw, melainkan karena Tung-hai-sian telah dianggapnya sebagai orang segolongan dengan ayahnya sebagai datuk timur.
Adapun pemuda itu adalah putera Cin-ling-pai, golongan yang menamakan dirinya "pendekar"
Dan yang sejak dahulu telah menjadi fihak yang menentang dan ditentang golongan para datuk.
Kalau sampai Tung-hai-sian menjadi besan ketua Cin-ling-pai, Tentu hal itu berarti akan melemahkan golongan mereka.
Inilah sebabnya maka Siangkoan Wi Hong lalu cepat-cepat menghubungi para murid See-thian-ong mengajak dua orang murid See-thian-ong untuk melakukan penghadangan terhadap tiga orang dari Cin-ling-pai itu.
Hal ini disetujui Ciang Gu Sik yang berpemandangan sama dengan Siangkoan Wi Hong, sedangkan So Cian Ling yang pernah berhadapan dengan tiga orang perbuda itu sebagai lawan ketika dia hendak membalas dendam kepada Kakek Yap Kun Liong dan Nenek Cia Giok Keng, juga penuh semangat menyokong maksud ini.
Demikianlah, Siangkoan Wi Hong ditemani tiga orang Pak-thian Sam-liong, dan dua orang murid See-thian-ong itu bersama-sama memotong jalan dan menghadang tiga orang pemuda yang tadi menjadi tamu sebagai wakil Cin-ling-pai itu.
"Tring-tranggg...!"
Yang-kim di tangan Siangkoan Wi Hong itu berbunyi, disusul suara tertawa pemuda tampan pesolek itu.
"Ha-ha-ha, sudah lengkap tiga-tiganya berkumpul di sini, ha-ha-ha! Putera ketua Cin-ling-pai, putera Pendekar Lembah Naga, dan putera Pangeran Ceng Han Houw! Wah-wah, tiga serangkai yang cocok! Pantas saja sikapnya sombong bukan main!"
Han Tiong yang pernah berkenalan dengan pemuda ini, bahkan pernah disambut sebagai sahabat dan dijamu makan, merasa tidak enak kalau harus bermusuhan dengannya, maka dia sudah cepat berkata.
"Saudara Siangkoan, kami adalah orang-orang yang lebih mengutamakan persahabatan, tidak ingin mencari permusuhan, harap engkau tidak mengganggu kami."
"Han Tiong, mundurlah dan biarkan aku menghadapi orang-orang liar ini!"
Cia Kong Liang berkata dengan suara nyaring dan tajam karena memang dia sudah marah sekali menyaksikan sikap Siangkoan Wi Hong.
Mendengar ucapan Han Tiong yang dianggapnya terlalu merendahkan diri itu kemarahannya makin berkobar.
Dia sudah melangkah maju di depan Han Tiong dan dia menghadapi Siangkoan Wi Hong dengan sikap penuh wibawa dan sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga saja.
"Memang benar bahwa kami tidak mencari permusuhan, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kami takut menghadapi siapapun juga yang hendak memusuhi kami! Kalau aku tidak salah melihat, kalian ini adalah orang-orangnya Pak-san-kui dan See-thian-ong, bukan? Nah, apa maksud kalian menghadang perjalanan kami dan bersikap seperti ini?"
Enam orang itu nampak jerih juga menyaksikan sikap yang gagah dari putera ketua Cin-ling-pai itu, bahkan Siangkoan Wi Hong yang biasanya tenang dan tertawa-tawa itu, yang biasanya amat mengandalkan kepada diri sendiri, kini diam-diam merasa girang bahwa dia mempunyai teman-teman yang lihai karena terus terang saja, kalau dia harus menghadapi pemuda Cin-ling-pai ini seorang diri saja, dia masih akan berpikir panjang.
Akan tetapi pada saat itu, sebelum ada yang menjawab pertanyaan Kong Liang, terdengar suara keras.
"Mana orang Cin-ling-pai? Biar kami menghadapinya!"
Dan nampaklah bayangan orang berkelebat dari atas pohon dan dua tubuh yang melayang itu berjungkir balik seperti bola-bola besar, berputar-putar dan baru turun di depan Kong Liang.
Cara mereka meloncat dari atas dan berjungkir balik itu hebat sekali, seperti permainan akrobatik para pemain sirkus yang terlatih baik saja.
Dan ketika semua orang memandang, kiranya mereka itu adalah dua orang laki-laki berpakaian pengemis!
Usia mereka sekitar lima puluh tahun, pakaian mereka terbuat dari kain tambal-tambalan beraneka macam dan warna, akan tetapi pakaian itu tidak butut seperti pakaian pengemis-pengemis biasa, melainkan bersih dan agaknya memang hanya merupakan pakaian model pengemis, yaitu berbagai macam kain baru ditembel-tembel menjadi pakaian.
Di punggung mereka, seperti model orang membawa pedang, nampak sebatang tongkat, entah terbuat dari bahan apa, hanya kelihatan hitam dan butut.
"Aha, kiranya dua orang gagah dari Bu-tek Kai-pang?"
Seru Siangkoan Wi Hong dengan girang sekali ketika melihat munculnya dua orang kakek pengemis ini.
Dia tidak mengenal pribadi semua anggauta Bu-tek Kai-pang yang jumlahnya dua puluh empat orang itu, akan tetapi melihat pakaian mereka dan tongkat yang mereka namakan "Hok-mo-pang" (Tongkat Penakluk Iblis) itu, tahulah dia bahwa mereka itu adalah dua orang anggauta Bu-tek Kai-pang yang dipimpin atau diketuai Lam-sin (Malaikat Selatan) yaitu datuk selatan.
Dua orang pengemis itu menjura ke arah Siangkoan Wi Hong dan seorang di antara mereka, yang hidungnya melengkung seperti hidung burung hantu, berkata.
"Selamat bertemu, Siangkoan-kongcu dan bukankah sam-wi (tuan bertiga) adalah Pak-thian Sam-liong yang perkasa? Selamat jumpa!"
Pak-thian Sam-liong, tiga orang murid Pak-san-kui menjura dengan hormat.
"Dan selamat bertemu pula kepada dua orang murid See-thian-ong Locianpwe!"
Pengemis ke dua, yang mukanya merah sekali, berkata kepada So Cian Ling dan Ciang Gu Sik yang cepat membalas pemghormatan mereka pula.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 7
Baca Juga: Jodoh Rajawali 12