Eps 9 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.
Akan tetapi sudah terlambat.
Dua orang buronan itu sudah menghilang didalam gelap dan mereka semua tidak tahu kearah mana harus mengejar.
Yap Kiong Lee dan Ho Pek Lian merasa lega setelah dapat lolos dan mereka berdua segera membuang pakaian perwira yang dipakai diluar pakaian mereka sendiri itu.
Pek Lian mengucap terimakasih atas pertolongan Kiong Lee.
"Berkali-kali Yap-twako menolongku, sungguh budimu besar sekali."
"Sudahlah, nona. Lebih baik kau ceritakan bagaimana engkau sampai tertawan oleh iblis dari Pulau Selaksa Setan itu."
Pek Lian lalu bercerita tentang semua pengalamannya.
"Aku sedang melakukan penyelidikan tentang keadaan fihak musuh, bersama guruku, Liu-Bengcu, dan bersama Bu Beng ah, sekarang aku ingat! Setelah bertemu dengan iblis-iblis Ban-kwi-to dan bertemu denganmu, baru aku ingat. Benar, dia adalah sutemu yang nakal itu, Yap Kim putera ketua Thian-kiam-pang!"
Pek Lian berseru gembira.
Tadinya memang ia merasa sudah mengenal wajah Bu Beng Han, akan tetapi ia lupa lagi kapan dan dimana.
Sekarang tiba-tiba saja ia teringat bahwa ia pernah bertemu dengan pemuda itu di Ban-kwi-to, ketika pemuda itu bersama-sama dengan Thian-te Tok-ong atau cengyangkang Si Kelabang Hijau, orang kelima.
Dari iblis-iblis Ban-kwi-to, berada dike pulauan itu!
Tentu saja Kiong Lee gembira sekali mendengar bahwa sutenya yang dicari-carinya itu sudah berada bersama para pendekar, bahkan membantu Liu Pang!
Dia mendengarkan penuturan gadis itu yang bukan hanya menceritakan kemunculan Yap Kim yang aneh dan yang kini hanya dikenal sebagai Bu Beng Han.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan kedusun sunyi itu dan seperti telah kita ketahui, kedatangan Kiong Lee dan Pek Lian ini amat tepat saatnya karena Liu Pang dan Yap Kim sedang terancam bahaya maut dan akhirnya Kiong Lee dapat menyelamatkan mereka dan kembali kemarkas pasukan para pendekar di lembah Huang-ho.
"Demikianlah, suhu. Untung sekali aku bertemu dengan Yap-twako sehingga kita semua dapat terbebas dari pada bahaya maut."
Pek Lian mengakhiri ceritanya. Liu Pang mengerutkan alisnya.
"Wah kalau benar pemuda Tai-bong-pai itu bersahabat dengan para iblis Ban-kwi-to... hemm, berat juga bagi kita. Agaknya kini para pengkhianat itu selain bersekongkol dengan pasukan asing, juga tidak segan-segan memperalat orang-orang dunia hitam."
"Akan tetapi, tidak semua orang Tai-bongrpai jahat, suhu. Aku mengenal beberapa orang diantara mereka, bahkan adik perempuan dari Kwa Sun Tek itupun merupakan seorang gadis yang biarpun wataknya aneh, namun menghargai kegagahan dan sama sekali tidak jahat"
Liu Pang menghela napas panjang.
"Tidak aneh, didalam keadaan negara sedang kacau-balau, tentu bermunculan kaum penjahat untuk mengeduk keuntungan sebesar-besarnya, dengan cara dan jalan apapun."
Malam itu juga, Liu Pang mengadakan musyawarah dengan para pembantunya, yaitu para pimpinan pasukan pendekar yang sudah menggabungkan diri dengan pasukan induk yang dipimpinnya.
Di dalam musyawarah itu hadir pula Yap Kiong Lee.
Akhirnya pendekar ini, murid utama dan juga putera angkat ketua Thian-kiam-pang ini terpaksa mengalah terhadap sute atau adik angkatnya yang amat disayangnya itu.
Dia terpaksa ikut pula berunding dan membantu gerakan yang dipimpin oleh Liu Pang, yang telah menarik perhatian Yap Kim dan bahkan telah dibantu oleh pendekar muda ini yang merasa bersimpati.
Setelah menceritakan keadaan pasukan mereka yang mulai kuat karena datangnya banyak bantuan dari rakyat petani dan juga banyaknya perajurit kerajaan yang menyeberang dan membantu, Liu-beng-cu berkata lantang.
"Di hadapan kita terdapat dua kekuatan yang biarpun berdiri sendiri-sendiri, namun pada waktu ini mereka bergabung menjadi satu untuk menghadapi kita. Yang satu adalah pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Jenderal Lai, sedangkan kekuatan kedua adalah pasukan pembesar daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing. Kita harus mencari akal agar keduanya itu terpisah sehingga kedudukan mereka tidaklah begitu kuat dan memudahkan kita untuk maju terus."
Semua orang yang menghadiri rapat itu mengerutkan alis dan berpikir.
Tiba-tiba seorang diantara mereka, yang berpakaian perwira tinggi bangkit berdiri.
Dia ini adalah Siong-ciangkun, seorang bekas komandan tentara kerajaan yang sudah menyeberang membantu gerakan Liu Pang, seorang ahli perang yang usianya sudah hampir enam puluh tahun.
"Memang benar sekali pendapat Liu-twako bahwa kita harus mencari akal yang baik untuk menceraikan mereka. Akan tetapi sebelum kita mencari akal, sebaiknya kita mempelajari dahulu keadaan kekuatan seluruh bala tentara kerajaan pada saat ini. Setelah itu baru saya akan mengemukakan akal saya."
Liu Pang mengangguk-angguk.
"Siong-ciangkun tentu lebih mengetahui keadaan bala tentara kerajaan pada umumnya, silahkan ciangkun menggambarkan agar kita semua mengetahuinya."
"Seperti kita ketahui, Jenderal Lai adalah pembantu utama Panglima Besar Beng Tian. Jenderal Lai ditugaskan untuk menghentikan gerakan pasukan kita agar tidak menjalar ke Kotaraja. Jenderal Beng Tian sendiri bersama induk pasukannya yang terbesar sedang dikerahkan ke barat, membendung gerakan pasukan Chu Siang Yu yang semakin kuat itu. Saya mendengar bahwa Kaisar kini mengutus pangeran mahkota untuk memimpin tentara cadangan dari Kotaraja untuk membantunya"
Bekas perwira kerajaan itu berhenti sebentar dan dengan pandang matanya menyapu para hadirin yang duduk memperhatikannya.
Yap Kiong Lee yang selalu dekat dengan Istana di Kotaraja menarik napas panjang.
Tentu saja dia tahu akan semua itu, bahkan tahu lebih mendalam keadaan di Istana dari pada bekas perwira itu.
Melihat sikap ini, Siong-ciangkun bertanya kepadanya.
"Bukankah demikian, Yap-taihiap?"
Yap Kiong Lee mengangguk.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Siong-ciangkun. Akan tetapi sesungguhnya bukan Kaisar yang mengutus pangeran mahkota membawa pasukan ke garis depan peperangan, melainkan Perdana Menteri Li Su. Harap saudara sekalian ketahui bahwa keadaan di Istana Kotaraja sungguh berobah. Penuh rahahasia dan semua orang berada dalam ketegangan dan kebingungan. Kaisar tidak pernah kelihatan, bahkan semua orang berani menduga bahwa Kaisar tidak berada di Istana, tidak berada di Kotaraja lagi. Entah dimana, tidak ada yang tahu atau dapat menduga. Bahkan subo sendiri yang menjadi pengawal pribadi Kaisar, juga tidak tahu! Yang diketahui hanyalah bahwa Kaisar telah melimpahkan kekuasaannya kepada Perdana Menteri Li Su untuk urusan kenegaraan dan kepada thaikam kepala, yaitu Chao Kao untuk urusan dalam Istana, lalu Kaisar menghilang!" . Semua orang terheran-heran mendengar ini, hampir tidak percaya. Akan tetapi karena pemuda itu baru saja datang dari Kotaraja dan mereka tahu bahwa subo dari pendekar itu adalah Siang Houw Nio-nio, bibi dan juga pengawal pribadi Kaisar, maka mereka menaruh kepercayaan dan menanti pemuda itu melanjutkan ceritanya. Liu Pang juga merasa tertarik sekali. Dia menganggap betapa pentingnya berita itu, maka diapun mendesak, minta agar pemuda itu suka melanjutkan ceritanya. Yap Kiong Lee menghela napas panjang.
"Setelah Perdana Menteri Li Su berkuasa di Kotaraja, bergandeng tangan dengan Chao-thaikam, maka mulailah kemelut menggelapkan Kotaraja. Wakil Perdana Menteri Kang dan para Menteri setia yang tadinya sudah diangkat kembali oleh Kaisar, satu demi satu disingkirkan."
"Ahhh! "
Para pendekar mengepal tinju mereka dengan muka merah dan semua merasa penasaran dan marah.
"Penyingkiran mereka dilakukan secara halus dan dirahasiakan, maka tidak sampai tersiar keluar Kotaraja."
Murid utama Thian-kiam-pang itu melanjutkan.
"Semua orang yang masih setia menjatuhkan harapan mereka kepada putera mahkota, akan tetapi pada suatu hari, pangeran itu dikirim ke garis depan. Saya dapat mengerti bahwa semua ini tentulah akal muslihat Li Su dan Chao Kao itu, yang kini sebagai kedok, mengangkat putera Kaisar kedua yang berwatak jelek itu sebagai pengganti putera mahkota, dan menjadi boneka ditangan mereka. Kini yang berkuasa adalah panglima-panglima dan Menteri-Menteri yang menjadi kaki tangan kedua orang lalim itu. Hanya Jenderal Beng Tian, Jenderal Lai, putera mahkota sendiri dan orang-orang seperti mereka itulah yang benar-benar setia dan merupakan patriot-patriot yang mengabdi kepada kerajaan. Oleh karena itu saya sungguh mengharapkan kebijaksanaan Liu-Bengcu clan saudara sekalian untuk kelak memikirkan nasib mereka itu, yang saya tahu adalah orang-orang yang menjunjung kegagahan dan kesetiaan."
Liu Pang mengangguk-angguk.
"Terimakasih atas semua keterangan yang amat penting itu, Yap-sicu. Keadaan itu makin mendorong kita untuk segera turun tangan menghancurkan mereka yang jahat itu. Nah, Siong-ciangkun, harap suka menjelaskan bagaimana rencana siasatmu itu?"
"Untuk dapat memisahkan dua kekuatan yang bergabung itu, kita harus memecah barisan kita menjadi tiga bagian. Sebagian kecil melewati markas Jenderal Lai dan bersikap seolah-olah menghindarkan diri tidak menghendaki bentrokan, langsung saja kedepan dan menyerang atau menduduki kota kecil didepan. Ini untuk mengejutkan pasukan Jenderal Lai agar dia segera melakukan pengejaran."
"Maksudmu menggunakan siasat memancing harimau meninggalkan sarang?"
"Benar, Liu-twako. Kalau pasukan kerajaan itu sudah meninggalkan benteng melakukan pengejaran, kita menggunakan tiga perlima bagian pasukan untuk menghadangnya agar pasukan itu tidak dapat kembali kemarkas, kita memotong jalan. Sementara itu. yang seperlima bagian lagi kita pergunakan untuk menggempur benteng dan menyerang pasukan pejabat daerah yang bersekongkol dengan orang-orang asing itu."
Mereka lalu ramai membicarakan dan mengatur siasat seperti yang diusulkan oleh Siong-ciangkun.
Kekuatan pertama yang bertugas memancing harimau keluar dari sarang hanya merupakan seperlima bagian dari pasukan, dipimpin oleh Hek-coa Ouw Kui Lam dan para pendekar lain.
Bagian kedua merupakan pasukan inti yang besarnya tiga perlima bagian, dipimpin oleh tiga orang murid Thian-kiam-pang sendiri, dikepalai oleh Yap Kim dan dibantu oleh Yap Kiong Lee dan Kwan Hok murid kelima Thian-kiam-pang dan diperkuat oleh Siong-ciangkun sebagai penasihat.
Adapun bagian ketiga, yaitu hanya seperlima bagian, dipimpin sendiri oleh Liu Pang dan dibantu oleh Pek Lian.
Pasukan inilah yang bertugas untuk menduduki dan menyerbu benteng yang dikosongkan oleh Jenderal Lai nanti, untuk menghancurkan pasukan daerah yang dibantu oleh orang-orang asing itu, musuh utama dari pasukan para pendekar.
Setelah siasat diatur dan rencana sudah matang, pasukan dibagi-bagi.
Sesuai dengan rencana, pasukan pertama berangkatlah, menghindarkan markas besar Jenderal Lai, lalu menuju kekota kecil didepan.
Sementara itu, diam-diam pasukan besar yang dipimpin oleh tiga saudara seperguruan Thian-kiam-pang juga meninggalkan sarang dan mencari posisi yang baik untuk nanti melakukan pemotongan atau penghadangan terhadap pasukan Jenderal Lai.
Liu Pang sendiri dibantu oleh Ho Pek Lian, bersama pasukannya menyelinap dan mendekati benteng musuh dengan hati-hati pada malam hari itu juga.
Mereka bersembunyi ditepi sebuah sungai kecil yang airnya jernih, menanti saat baik sampai pasukan besar Jenderal Lai meninggalkan benteng.
Mereka harus menanti dengan sabar, mungkin sehari, dua hari atau tiga hari sampai Jenderal Lai melakukan pengejaran dengan pasukannya terhadap pasukan para pendekar yang menyerang kota kecil didepan.
Pada keesokan harinya setelah matahari terbenam, barulah Liu Pang menerima kabar bahwa gerakan pertama dari pasukan pertama telah berhasil mengepung kota kecil didepan, dalam gerakan memancing harimau meninggalkan sarang.
Kota kecil itu diserbu dan pasukan para pendekar sengaja membiarkan kepala daerah dan para pengawalnya lolos, agar mereka dapat mengabarkan kepada Jenderal Lai dan mengharapkan bantuan Jenderal ini.
Seperti yang telah direncanakan, ternyata hasilnya memang tepat.
Jenderal Lai yang mendengar bahwa pasukan para pendekar menduduki kota kecil didepan, menjadi geram.
"Kurang ajar sekali Liu Pang itu! Dia dan pasukannya takut menghadapi pasukanku dan sengaja mengambil jalan memutar untuk bergerak kearah Kotaraja. Hemm, hal ini tak boleh dibiarkan saja!"
Diapun lalu memerintahkan para perwiranya untuk mempersiapkan pasukan mereka.
Berangkatlah pasukan kerajaan yang besar dengan megah, menuju kekota kecil untuk merampas kembali kota itu, menghalangi pasukan Liu Pang menuju ke Kotaraja dan menghajar mereka.
Mendengar pelaporan tentang gerakan Jenderal Lai ini yang telah masuk perangkap sesuai dengan siasatnya, Liu Pang merasa girang sekali.
Cepat diapun mempersiapkan pasukannya untuk menyerbu ke benteng yang telah ditinggalkan pasukan kerajaan itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terjadilah hal yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka.
Terjadilah kegemparan ketika sebagian besar dari para anak-buah pasukan pendekar itu mengeluh, memegangi perut mereka yang terasa sakit sekali!
Mereka semua telah keracunan!
Hanya sebagian kecil saja yang tidak keracunan dan mereka ini tentu saja sibuk dan bingung menolong teman-teman yang mengaduh-aduh tak berdaya itu.
Liu Pang dan Pek Lian sendiri segera merasakan betapa perut mereka mulas dan nyeri.
Terkejutlah mereka dan maklumlah Liu Pang bahwa mereka semua telah keracunan.
Untunglah bahwa dia dan muridnya memiliki sinkang yang kuat dan daya tahan lebih tangguh, dan pula agaknya malah mereka tidak begitu banyak terkena racun seperti anak-buah mereka.
Setelah mengadakan pemeriksaan dan melihat betapa terdapat banyak ikan yang mabok dan mati didalam sungai kecil, tahulah Liu Pang bahwa air sungai itulah yang mengandung racun.
Tahulah dia bahwa fihak musuh amatlah cerdiknya dan agaknya fihak musuh sudah tahu akan tempat persembunyian mereka itu dan mencampuri air sungai dengan racun.
"Ini tentu perbuatan iblis Tai-bong-pai itu!"
Pek Lian teringat dan gurunya mengangguk.
Liu Pang dan para pembantunya segera membagi-bagi obat penawar.
Untunglah bahwa racun yang telah larut dengan air sungai itu hanya terbatas kekuatannya, hanya membuat mabok dan sakit perut saja, tidak sampai mematikan walaupun cukup membuat mereka tak berdaya dan lemas badan.
Selagi mereka sibuk mengobati diri, menjelang tengah malam itu terdengarlah sorak-sorai dan datanglah pasukan kepala daerah yang tinggal dibenteng itu, dibantu oleh pasukan asing, menyerang para pendekar yang sedang dilanda sakit perut dan keracunan.
Pasukan ini dipimpin sendiri oleh Song-bun-kwi Kwa Sun Tek dan Malisang raksasa Mongol yang lihai itu dan terjadilah pembantaian terhadap pasukan para pendekar.
Untung malam itu gelap sehingga para pendekar yang melawan mati-matian itu dapat melarikan diri cerai-berai memasuki hutan-hutan gelap mencari selamat sendiri-sendiri.
Pasukan para pendekar ini, dalam keadan masih dilanda sakit perut, dapat dikatakan hancur total walaupun banyak juga diantara mereka yang berhasil selamat.
Liu Pang sendiri bersama muridnya, dengan pedang ditangan mengamuk.
Namun, menghadapi Kwa Sun Tek dan Malisang, guru dan murid inipun tidak kuat bertahan dan akhirnya mereka berdua terpaksa menyelamatkan diri berlindung pada kegelapan malam dan kekacauan yang terjadi ditepi sungai kecil itu.
Dengan dilindungi oleh belasan orang pengawalnya yang terdiri dari pendekar-pendekar yang memiliki ilmu silat cukup tinggi, Liu Pang dan Pek Lian melarikan diri, dikejar oleh pemuda Tai-bong-pai dan raksasa Mongol.
"Ha-ha-ha, Kwa-taihiap, engkau pimpin saja pasukan kita hancurkan semua pemberontak ini, habiskan mereka. Berikan orang she Liu itu kepadaku"
Kata Malisang dan dengan dua losin pengawal diapun melakukan pengejaran terhadap Liu Pang dan teman-temannya.
Pengejaran itu akhirnya berhasil dan Liu Pang bersama muridnya, dilindungi oleh sebelas orang pengawal, dikepung ketika mereka keluar dari dalam hutan.
Perkelahian seru terjadi secara keroyokan.
Maklum betapa lihainya Malisang, Liu Pang sendiri maju menghadapinya, sedangkan Pek Lian membantu para pengawal menandingi para pengawai musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak itu.
Biarpun Liu Pang terkenal dengan ilmu pedangnya yang lihai, namun pada saat itu dia mengalami pukulan lahir batin.
Batinnya tertekan menyaksikan betapa pasukannya dipukul cerai-berai oleh musuh, betapa siasatnya telah digagalkan fihak musuh bahkan dia kena ditipu sehingga pasukannya menderita kerugian besar.
Lahirnya, diapun telah minum air beracun yang biarpun tidak membahayakan keselamatan nyawanya, namun cukup membuat tubuhnya lemas dan tenaganya berkurang.
Karena itu, kecepatannyapun banyak berkurang sehingga beberapa kali dia terkena hantaman tangan Milasang yang amat kuat itu.
Melihat keadaan gurunya, Pek Lian cepat menerjang maju membantu mengeroyok Malisang yang tertawa-tawa girang karena raksasa ini sudah memastikan bahwa malam itu dia tentu akan berhasil membekuk pemberontak besar Liu Pang ini, baik dalam keadaan hidup maupun mati.
"Suhu, mari kita pergi!"
Tiba-tiba Pek Lian menusukkan pedangnya kearah dada Malisang.
Ketika raksasa ini menggerakkan tangan untuk mencengkeram kedepan, kedua tangannya berani menghadapi senjata tajam karena kebal dan kuat, Pek Lian menarik kembali pedangnya, menggandeng tangan gurunya dan mengajak gurunya yang sudah terkena beberapa kali pukulan keras itu untuk bersama-sama meloncat kedalam sungai.
"Byuurrr!"
Keduanya ditelan air yang gelap dan dengan pengerahan seluruh tenaganya, sambil menggigit pedangnya, Pek Lian membantu gurunya untuk menyeberangi sungai, sedangkan para pengawalnya menahan Malisang dan kawan-kawannya yang hendak melakukan pengejaran.
Dalam usaha ini, beberapa orang pendekar yang menolong dan melindungi guru dan murid itu roboh dan tewas, lainnya terpaksa melarikan diri karena kekuatan fihak musuh jauh lebih besar.
Pasukan yang dipimpin oleh Liu Pang itu benar-benar mengalami hantaman yang tidak kepalang tanggung.
Ratusan orang pendekar tewas dalam penyerbuan ini dan lainnya kembali mengalami nasib seperti yang pernah berkali-kali mereka alami, yaitu cerai-berai melarikan diri mencari keselamatan masing-masing untuk kelak menyusun kembali kekuatan mereka.
Bagaimanapun juga, mereka itu tidak pernah kehilangan semangat perlawanan, sesuai dengan watak mereka sebagai pendekar yang hanya memiliki satu tujuan, yaitu menentang kekuasaan lalim.
Sejarah berulang terus.
Golongan yang menamakan dirinya penentang kejaliman, yang menganggap diri mereka sebagai pembela rakyat jelata, atau penegak keadilan yang berjuang dengan semangat bernyalanyala, rela berkorban apa saja yang dimilikinya, bahkan rela berkorban nyawa, selalu bangkit menentang golongan yang pada saat itu berkuasa dan yang dianggap sebagai golongan yang lalim, golongan penindas dan golongan yang jahat.
Fihak penentang kekuasaan yang ada selalu menganggap diri mereka sebagai golongan yang baik menentang golongan yang jahat!
Dan sebaliknya, fihak yang pada saat itu berkuasa, tentu saja menganggap fihak yang menentang itu sebagai perusuh-perusuh, pengacau-pengacau dan peru-sak-perusak ketenteraman, sebagai pemberontak-pemberontak yang hanya bergerak demi satu ambisi, yakni merebut kekuasaan.
Fihak yang berkuasa tentu saja menganggap golongan penentang itu sebagai yang jahat, yang hendak menyengsarakan kehidupan rakyat dengan adanya kekacauan dan pengrusakan.
Jadi, kedua fihak itu selalu mendasarkan "perjuangan"
Mereka demi kebaikan rakyat, demi kebaikan dan demi menentang kejahatan dan kebusukan!
Hal ini berulang ribuan kali dalam sejarah, didalam negeri manapun juga.
Selalu nama rakyat dipergunakan untuk perjuangan mereka, juga rakyat ditarik sana-sini untuk dijadikan sekutu, untuk memperkuat landasan mereka.
Dan bagaimana kalau sampai golongan yang menentang kekua-saan yang ada itu mencapai kemenangan, berhasil menggulingkan kekuasaan yang ada dan fihak penentang ini kemudian menggantikan kedudukan dan menjadi yang berkuasa?
Sejarahpun berulang kembali!
Cepat atau lambat muncullah lagi golongan-golongan yang menentangnya, golongan yang sekali lagi mempergunakan nama rakyat dan kebenaran dan keadilan untuk menentang kekuasaan baru itu, untuk menumbangkannya, untuk merebut kekuasaan!
Pengulangan sejarah pertentangan antara yang berkuasa dan yang menentang ini selalu mengakibatkan satu hal, yaitu kerusuhan, kekacauan, dan tentu saja rakyat jelata yang menanggung akibatnya!
Rakyat bagaikan pohon-pohon kecil dilanda badai peperangan, daun-daunnya rontok, kembang-kembangnya gugur, bahkan batang-batangnya tumbang dan mati.
Rakyat mengalami ketakutan, penderitaan, korban kekerasan-kekerasan yang mengerikan.
Padahal, semua gerakan yang dinamakan perjuangan itu selalu memakai nama demi rakyat!
Memang sungguh menyedihkan, namun ini merupakan kenyataan yang dapat dilihat oleh kita semua didunia ini.
Mengapa harus demikian?
Kalau semua golongan itu benar-benar berjuang demi rakyat jelata seperti yang selalu didengang-dengungkan, bukankah tujuan mereka semua itu sama, yakni demi kesejahteraan, demi kemakmuran rakyat?
Apakah kemakmuran rakyat dapat dicapai dengan perang, dengan bunuh-bunuhan, dengan kekacauan-kekacauan, dengan perebutan kekuasaan yang pada hakekatnya hanyalah menjadi pamrih dan ambisi beberapa orang yang gila kekuasaan belaka?
Mengapa semua golongan itu tidak membuang senjata saja, menggantikan dengan alat-alat pembangunan, memimpin rakyat, mendidik, mengajak rakyat untuk benar-benar membangun lahir batinnya menuju kepada kemakmuran dan kesejahteraan hidup, yang penuh damai, penuh ketente-raman, jauh dari permusuhan atau kebencian, jauh dari kekacauan?
Sungguh menyedihkan!
Yang jelas, rakyat hanya menjadi korban nafsu kemurkaan beberapa gelintir orang saja yang mabok akan kekuasaan.
Orang-orang gila yang selalu mengejar kekuasaan, yang tidak segan-segan melakukan apapun juga demi mencapai ambisi, bahkan kalau perlu menggunakan nama rakyat, kalau perlu mengorbankan rakyat, asal tujuan nafsunya tercapai dan dia akhirnya duduk di puncak kekuasaan bersama teman-temannya?
Dan mereka selalu menaburi cara mencapai tujuan yang amat busuk ini dengan bunga rampai, dengan slogan-slogan yang muluk-muluk, demi rakyat, demi keadilan dan kebenaran, bahkan mereka tidak segan-segan untuk sekali waktu mengatakan Demi Tuhan!
Ya ampun, semoga rakyat diseluruh dunia akan terbuka matanya dan tidak terbuai oleh taburan bunga rampai yang harum dan muluk-muluk itu, dan semoga rakyat dapat melihat bahwa dibalik semua itu tersembunyi bangkai membusuk dari nafsu mengejar kekuasaan, kemuliaan dan kesenangan sehingga rakyat tidak sudi lagi dicekoki racun terbalut gula!
Dalam keadaan lelah lahir batin, Liu Pang akhirnya dapat membebaskan diri dari pengejaran musuh-musuhnya.
Dia dan muridnya berhasil menyeberangi sungai dan melanjutkan pelarian mereka menjelang subuh itu, tertatih-tatih dan dalam keadaan lemas.
Mereka terpaksa berhenti disebuah kuburan yang sunyi dipagi hari itu, karena Liu Pang harus beristirahat dan merawat luka-lukanya.
"Suhu, tempat ini sunyi dan sebaiknya kita berhenti disini untuk merawat luka suhu yang perlu beristirahat sebelum kita melanjutkan perjalanan,"
Kata Pek Lian dan Liu Pang mengangguk lesu.
Karena pukulan-pukulan yang dideritanya dari raksasa Mongol itu cukup hebat, selama sehari itu Liu Pang bersila, menghimpun tenaga dan hawa murni sambil menelan beberapa macam obat.
Pada senja harinya, barulah dia dapat memulihkan tenaganya dan luka-luka yang dideritanya menjadi sembuh atau setidaknya tidak mendatangkan rasa nyeri lagi.
Sehari itu, Pek Lian merawat dan menjaga gurunya, memasakkan air dan mencari makan sekedarnya.
Malam itu bulan sepotong muncul diantara awan tipis.
Guru dan murid yang merasa berduka atas kekalahan mereka itu duduk menghadapi makan malam yang hanya terdiri dari daging ayam hutan panggang sambil bercakap-cakap.
"'Suhu, sungguh tidak kusangka bahwa fihak musuh sedemikian lihai dan cerdiknya. Juga banyak orang lihai diantara mereka."
Gurunya mengangguk-angguk dani menghela napas panjang.
"Di sana ada tokoh Tai-bong-pai yang jahat sekali dan amat lihai, hampir saja racun-racunnya membunuh kita sepasukan! Dan raksasa Mongol itupun amat lihai, tenaganya kuat dan tubuhnya kebal. Sungguh tidak kusangka, rencana kita dapat gagal, padahal sudah kita susun baik-baik. Kita malah yang menjadi sasaran serangan mereka. Orang-orang yang bergabung dalam benteng itu kiranya bukan orang-orang sembarangan."
"Agaknya demikianlah, suhu. Disana berkumpul pembesar-pembesar daerah dan perwira-perwira yang banyak pengalaman, bahkan dibantu oleh pasukan asing yang tentu saja dipimpin oleh orang-orang pandai disamping tokoh-tokoh kaum sesat yang lihai."
Tiba-tiba Liu Pang memberi isyarat kepada muridnya agar diam.
Hidung mereka kembang-kempis dan jantung mereka berdebar tegang ketika tiba-tiba mereka mencium bau asap dupa wangi yang semerbak menusuk hidung!
ditempat seperti itu, dikuburan tua yang sepi tercium bau dupa.
Sungguh menyeramkan!
Guru dan murid itu segera memandang kekanan kiri dengan sikap yang waspada dan seluruh urat syaraf mereka menegang dalam kesiap-siagaan.
Mereka memandang kearah gundukan-gundukan tanah kuburan yang tersebar ditempat luas itu.
Akan tetapi, tempat itu benar-benar sunyi, tak nampak ada seorangpun manusia, bahkan tidak ada sesuatupun yang nampak bergerak.
Kadang-kadang, selapis awan tipis menyembunyikan bulan yang sinarnya memang lemah itu, membuat suasana menjadi semakin menyeramkan.
Akan tetapi, hidung mereka masih menangkap bau dupa terbakar walaupun mereka tidak melihat adanya asap.
Kadang-kadang bau itu sedemikian kerasnya seolah-olah dupa yang terbakar itu berada amat dekat dengan mereka.
Pek Lian gemetar dan bulu tengkuknya berdiri.
Ia sudah mengenal bau ini dan otomatis ketika ada bau keras datang dari arah belakangnya, ia menoleh cepat.
"Hiiihhh!"
Ia menjerat tertahan dan tangannya menangkap lengan suhunya.
"Ada apa?"
Bisik gurunya kaget sambil menoleh tanpa melihat sesuatu yang mencurigakan.
"Di sana tadi.. ah, kemana perginya?"
"Sttt, tenanglah. Apa yang kau lihat?"
Gurunya berbisik dan bersikap waspada.
"Tadi tadi kulihat disana, dibelakang gundukan tanah itu, seorang laki-laki dan seorang wanita melihat kesini. Pakaian dan wajah mereka putih pucat seperti mayat. Tapi sekarang menghilang"
"Hemm, aku tidak melihat ada orang. Tenangkan hatimu, nona Ho,"
Kata Liu Pang yang setiap kali teringat bahwa Pek Lian adalah puteri Menteri Ho selalu menyebutnya nona walaupun gadis itu adalah muridnya.
Tiba-tiba mereka terkejut sekali ketika mendengar suara orang tertawa.
"Ha-ha-ha-ha! Pemberontak Liu Pang, mana mungkin engkau lolos dari tanganku?"
Tiba-tiba muncullah raksasa Mongol Malisang bersama belasan orang pembantunya yang telah mengepung tempat itu dengan senjata ditangan dan dengan sikap mengancam sekali!
Karena tidak melihat jalan lain untuk melarikan diri, Liu Pang dan Pek Lian segera menghunus pedang dan merekapun mengamuk.
Liu Pang diserang oleh Malisang yang dibantu oleh dua orang perwira Mongol lainnya sedangkan anak-buah lainnya mengeroyok Pek Lian.
Terjadilah perkelahian seru dan mati-matian ditanah kuburan itu, perkelahian dalam cuaca remang-remang yang hanya diterangi oleh bulan kecil sepotong.
Tentu saja guru dan murid itu segera terdesak dan terhimpit, berada dalam keadaan gawat dan berbahaya sekali karena mereka berdua itu jauh kalah kuat.
Terpaksa guru dan murid itu kini saling melindungi dengan berdiri beradu punggung dengan pedang melintang didepan dada.
Malisang tertawa bergelak melihat keadaan kedua orang buruannya yang sudah tersudut ini.
"Ha-ha-ha, Liu Pang, engkau seperti seekor tikus yang sudah terjepit dipojok. Lebih baik menyerah saja untuk kubelenggu dari pada harus kuseret sebagai mayat."
Dengan muka merah dan mata terbelalak Liu Pang melintangkan pedangnya didepan dada.
"Mati dalam pertempuran merupakan kehormatan bagi seorang pejuang. Kalau ada kemampuan, majulah dan tak perlu banyak cerewet lagi!"' bentaknya menantang. Malisang mengeluarkan bentakan nyaring memberi aba-aba kepada anak-buahnya untuk mendesak dan menyerang guru dan murid yang sudah tersudut itu.
"Trang-trang-tranggg!!"
Tiba-tiba nampak sinar berkelebatan dan beberapa buah golok dan pedang yang dipergunakan anak-buah pasukan Mongol untuk menyerang guru dan murid itu terlempar dan patah-patah, jatuh berhamburan sedangkan mereka sendiri terhuyung mundur sambil memegangi tangan mereka yang terasa panas.
Melihat ini, Malisang terkejut sekali dan cepat memandang.
Kiranya disitu telah muncul dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita setengah tua yang bermuka pucat-pucat dan berpakaian putih-putih dengan gerakan dingin menyeramkan seperti mayat-mayat hidup!
Melihat mereka, Pek Lian juga kaget sekali, mengenal bahwa itulah muka dua orang yang tadi dilihatnya muncul dibalik gundukan tanah kuburan lalu menghilang seperti setan.
Nenek itu menghampiri Pek Lian lalu berkata.
"Nona Ho, selamat bertemu kembali!"
Terkejut dan heranlah Pek Lian mendengar teguran ini.
Ia memandang penuh perhatian dan dibawah sinar bulan yang suram, wajah nenek itu nampak masih membayangkan kecantikan akan tetapi wajah itu amat pucat sehingga mengerikan.
Akan tetapi ia segera mengenal wajah itu, apa lagi setelah hidungnya mencium bau dupa wangi keluar dari tubuh nenek itu.
"Bibi Kwa!"
Pek Lian berseru girang karena kini iapun ingat bahwa nenek ini adalah ibu dari Kwa Siok Eng, atau nyonya ketua Tai-bong-pai yang lihai itu!
Sementara itu, Liu Pang juga sudah dapat menduga siapa adanya kakek dan nenek itu karena dia pernah mendengar cerita muridnya.
Diapun memandang dengan mata terbelalak.
Sebagai seorang pendekar pedang, tentu saja dia pernah mendengar nama Tai-bong-pai, perkumpulan manusia iblis yang mengerikan, bahkan diapun sudah tahu bahwa pemuda lihai yang membantu para pengkhianat adalah tokoh muda Tai-bong-pai pula.
Kalau yang muncul ini suami-isteri ketua Tai-bong-pai, berarti mereka ini adalah ayah-ibu pemuda Kwa Sun Tek, dan tentu dia akan celaka!
Akan tetapi, nenek itu kini menudingkan telunjuknya kepada muka Malisang dan dengan suara dingin nenek itu berkata.
"Orang asing. Pergilah engkau dari sini, bawa anak-buahmu dan jangan engkau berani mengganggu nona ini kalau engkau masih ingin hidup lebih lama lagi!"
Malisang adalah seorang kepala suku yang lihai dan bertubuh kuat, tidak pernah merasa takut terhadap lawan yang bagaimanapun juga.
Kini melihat munculnya sepasang kakek dan nenek yang telah menentangnya itu, tentu saja dia menjadi marah sekali.
Apa lagi ketika mendengar ucapan nenek itu yang amat memandang rendah kepadanya, dia segera mengeluarkan suara menggeleng seperti seekor biruang dan diapun menubruk kedepan dengan kedua lengannya yang panjang itu menyerang dari kanan kiri dan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka mencengkeram.
"Duk! Duk!"
Tubuh Malisang terdorong mundur oleh tangkisan yang dilakukan oleh kakek itu yang mewakili isterinya.
Malisang terkejut sekali, akan tetapi kakek itu juga mengeluarkan seruan marah ketika merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat bertemu dengan lengan raksasa Mongol yang bertenaga raksasa itu.
Malisang segera menyerang lagi, mengerahkan kekuatan dan kekebalannya.
Akan tetapi, kini yang dilawannya adalah ketua Tai-bong-pai, seorang tokoh yang memiliki ilmu mujijat.
Baru Kwa Sun Tek saja, tokoh muda Tai-bong-pai itu, sudah amat lihai.
Apa lagi kakek ini adalah ayahnya, ketua Tai-bong-pai yang tentu saja telah menguasai ilmu-ilmu siluman dari Tai-bong-pai dengan sempurna.
Baru belasan jurus saja, Malisang telah terdorong beberapa kali dan akhirnya roboh terguling dengan darah merembes keluar dari tubuhnya bercampur keringatnya.
Dia telah terkena ilmu ampuh Tai-bong-pai, yaitu Pukulan Penghisap Darah!
Semua anak-buahnya memandang dengan mata terbelalak, bahkan Liu Pang sendiri sampai bergidik.
Sementara itu, Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai, bersikap sesuai dengan sikap seorang ketua yang berwibawa dan menghargai kedudukannya.
Melihat lawannya roboh dan menjadi korban ilmunya, dia lalu mengeluarkan dua buah pel merah dan dilemparkannya dua butir pel itu kearah malisang sambil berkata.
"Di antara kita tidak ada permusuhan, jangan sampai engkau mati oleh pukulanku. Minumlah dua butir pel penawar itu!"
Malisang merasa malu sekali.
Akan tetapi diapun maklum bahwa kalau tidak memperoleh obat penawar, nyawanya terancam bahaya maut, maka diapun melupakan kerendahan diri dan mengambil dua butir pel itu dan terus saja ditelannya.
Seketika darah yang merembes keluar dari pori-pori kulit tubuhnya berhenti dan hatinyapun lega.
Karena dia merasa malu dan tahu bahwa melawan tiada gunanya lagi, diapun lalu pergi dari tempat itu, diiringkan oleh anak-buahnya, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi.
Tentu saja Liu Pang dan Pek Lian merasa lega melihat raksasa Mongol itu dan anak-buahnya telah dapat diusir pergi dari situ walaupun diam-diam Liu Pang masih meragukan apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh suami-isteri iblis Tai-bong-pai yang menyeramkan itu.
"Nona Ho, apakah engkau melihat puteri kami yang nakal itu? Kami khawatir sekali, ia pergi tanpa pamit, padahal ia belum sembuh benar"
Karena Pek Lian sendiri juga merasa ngeri menyaksikan sepasang suami-isteri yang seperti mayat hidup itu dan tidak mengenal betul bagaimana sesungguhnya watak mereka, iapun tidak banyak bicara dan hanya menjawab.
"Saya sendiri tidak tahu, bibi."
Pek Lian masih meragukan keadaan suami-isteri ini.
Keadaan mereka penuh rahasia.
Memang harus diakuinya bahwa Kwa Siok Eng adalah seorang gadis yang baik sekali, akan tetapi bukankah kakak gadis itu kini bahkan bersekongkol dengan para pasukan asing dan juga menjadi kaki tangan pemberontak yang bersekutu dengan pejabat-pejabat daerah?
Sukar diduga keadaan orang-orang Tai-bong-pai, maka ia merasa lebih aman kalau tidak mendekati dan bergaul dengan mereka.
"Sudahlah, mari kita mencari ditempat lain,"
Kata nenek itu kepada suaminya dan sekali berkelebat, dua orang itu lenyap dari situ seperti menghilang saja.
Hanya bau dupa harum yang lapat-lapat masih dapat tercium oleh Liu Pang dan muridnya.
Mereka berdua bergidik ngeri.
Sungguh, banyak terdapat orang-orang lihai yang aneh didunia ini dan agaknya, dalam keadaan negara dilanda kekacauan, tokoh-tokoh dari dunia hitam, yang amat lihai dan aneh-aneh pada bermunculan keluar dari sarang mereka.
Setelah suami-isteri itu pergi, barulah Pek Lian teringat akan putera mereka yang kini bersekutu dengan pasukan asing dan ia merasa menyesal mengapa hal itu tidak dibicarakannya dengan mereka tadi.
Setidaknya ia telah mengenal dan mendapatkan kesan baik dari ibu Siok Eng dan siapa tahu ketua Tai-bong-pai itu tidak mengetahui akan perbuatan kakak gadis itu dan akan menentangnya.
Karena maklum bahwa agaknya fihak musuh tidak akan melepaskan mereka begitu saja, Liu Pang lalu mengajak muridnya untuk melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat itu, mengambil jalan memutar melalui tempat-tempat gelap untuk mencari dan menggabungkan diri dengan pasukan lain yang dipimpin oleh para tokoh Thian-kiam-pang.
Mereka mengambil jalan di lembah bukit yang terjal dan sunyi, dengan hati-hati mereka melalui jurang-jurang dan tanah yang penuh dengan dinding-dinding karang dan gua-gua.
Setelah matahari menyingsing, mereka beristirahat sambil bersembunyi didalam sebuah guha dimana mereka bersila untuk memulihkan tenaga.
Setelah merasa yakin bahwa daerah itu sunyi dan tidak nampak gerakan manusia, mereka melanjutkan perjalanan.
Menjelang malam, mereka tiba ditepi sebuah sungai.
"Hati-hati ada asap didepan itu, tentu ada orangnya disana,"
Kata Liu Pang.
Mereka lalu menyelinap dan dengan bantuan kegelapan malam, guru dan murid ini mendekati tempat itu.
Kini mereka dapat melihat dengan jelas dari tempat sembunyi mereka.
Didepan sebuah gua kecil nampak seorang laki-laki yang berpakaian indah pesolek, duduk menghadapi sebuah api ung-gun.
Laki-laki ini memanggang daging kelinci yang sudah mulai matang dan mengeluarkan bau sedap, sedangkan didekatnya duduk seorang gadis yang menundukkan mukanya dan gadis itu termenung menatap kedalam api unggun seperti orang yang sedang bersedih.
Di tempat persembunyian mereka yang aman dan cukup jauh dari tempat orang yang mereka intai, Pek Lian menyentuh tangan gurunya dan berbisik.
"Suhu, dia adalah si jahat Jai-hwa Toat-beng-kwi yang tersohor itu."
Liu Pang mengangguk dan memandang penuh perhatian. Laki-laki tampan pesolek itu kini menyodorkan sepotong daging kelinci kepada si gadis yang bermuka pucat dan sedih.
"Nih, makanlah, agar engkau tidak nampak lesu begitu."
Gadis itu memandang dengan mata kosong dan agaknya takut untuk menolak.
Diterimanya potongan daging panggang itu dan gadis itupun makan karena memang perutnya amat lapar.
Jai-hwa Toat-beng-kwi tersenyum dan diapun makan potongan daging yang lain.
"Nah, begitu bagus. Kalau engkau mentaati semua perintahku, tentu engkau akan senang."
Keduanya makan daging panggang dan minum dari sebuah guci besar yang agaknya terisi arak karena tercium bau arak ketika laki-laki itu meminumnya.
Gadis itupun terpaksa minum arak walaupun ia kelihatan tersedak dan tidak biasa.
Kini pria itu menyalakan ujung huncwe emasnya dan terciumlah bau asap tembakau.
"'Aku sudah banyak mendengar tentang jahanam itu,"
Bisik Liu Pang.
"Gadis itu tentu seorang korbannya. Akan tetapi kita tidak usah mengusiknya. Penjahat seperti dia banyak muslihatnya. jangan-jangan urusan kita malah menjadi berantakan. kaum sesat seperti mereka itu kini bersatu dibawah Si Raja Kelelawar, sangat berbahaya kalau mencari perkara dengan mereka. Dia sendiri sih tidak perlu ditakuti, akan tetapi kalau kawan-kawannya muncul, berbahaya juga. Mari kita menghindar saja."
Akan tetapi sebelum guru dan murid itu sempat pergi, tiba-tiba terdengar siulan nyaring yang menuju ketempat itu.
Terpaksa mereka menyelinap dan bersembunyi lagi sambil mengintai.
Sesosok bayangan hitam berkelebat datang dan ternyata ia adalah seorang wanita yang berwajah cantik dan bertubuh ramping.
Usianya kurang dari tiga puluh tahun dan gerakannya cepat sekali, dan kini setelah berdiri didekat api unggun, matanya yang jeli mengerling kearah si Jai-hwa Toat-beng-kwi, lalu kerling mata itu menyambar kearah si gadis yang bermuka sedih dan wanita ini tersenyum mengejek, bibirnya yang merah berjebi.
"Pekpi Siauw-kwi Si Maling Cantik!"
Pek Lian berbisik dengan kaget ketika mengenal wanita ini.
Akan tetapi, ternyata bukan wanita penjahat ini saja yang muncul karena berturut-turut muncul pula orang-orang yang didunia kang-ouw sudah terkenal sebagai tokoh-tokoh kaum sesat.
Ada sembilan orang banyaknya dan kini Jai-hwa Toat-beng-kwi bangkit berdiri dan mengomel.
"Wah, sampai penat-penat badanku menanti kalian. Nah, inilah surat dari Ong-ya! Siauw-kwi, bacalah keras-keras agar semua orang mendengarnya!"
Kata jai-hwa Toat-beng-kwi sambil melemparkan segulung kertas kearah Si Maling Cantik.
Kertas gulungan itu menyambar cepat dan ditangkap oleh Pekpi Siauw-kwi yang segera membuka gulungannya dan terdengarlah suaranya yang lembut namun nyaring itu.
"Sekalian rakyatku yang malang-melintang dirimba raya dan sungai telaga, dengarlah baik-baik! Saat ini negara sedang dalam keadaan kalut. pemberontakan terjadi dimana-mana. Negara berada dalam bahaya keruntuhan. Dari arah barat dan timur para pemberontak sedikit demi sedikit menduduki daerah-daerah. Kini tinggal beberapa daerah saja disekitar Kotaraja yang masih tersisa. Nah, sekaranglah saat kejayaan yang aku janjikan kepada kalian itu tiba. Berkumpullah kalian semua ke Kotaraja. Akan kuberikan tugas-tugas penting. Kita akan bersuka ria dan kejayaan berada ditangan kita!"
Mendengar bunyi surat yang dibacakan oleh Pekpi Siauw-kwi, semua orang menyambut gembira.
"Hidup Tuanku Raja Kelelawar! Hidup Ong-ya!"
Kalau saja mereka semua belum menyaksikan sendiri kehebatan orang yang kini menjadi pemimpin mereka itu, tentu para tokoh sesat ini tidak akan mudah begitu saja mempercayai janji yang dikeluarkan sedemikian mudahnya.
Bergerak di Kotaraja!
Sungguh merupakan perbuatan nekat dan biasanya hal ini akan dianggap seperti orang mencari mati saja.
Akan tetapi kaum sesat itu kini sudah percaya sepenuhnya kepada Raja Kelelawar dan apapun yang diperintahkannya akan mereka taati tanpa banyak ragu lagi.
Sambil bersorak-sorak, para tokoh sesat itu meninggalkan tempat itu, dan Jai-hwa Toat beng-kwi sendiri lalu menarik tangan gadis korbannya, kemudian memondongnya dan penjahat cabul itupun berkelebat pergi.
Liu Pang dan Pek Lian masih bersembunyi.
Biarpun para tokoh sesat itu sudah lama pergi, mereka masih saja bersembunyi ditempat tadi.
Bulan sepotong tertutup awan, malam amat gelap dan kini api unggun itu telah padam.
Didalam kegelapan ini sukar diketahui apakah benar-benar tempat itu telah bersih dari orang-orang jahat itu.
Hanya dengan ketajaman pendengaran saja Liu Pang meneliti keadaan ditempat itu dan mereka mengambil keputusan untuk menanti dulu sebelum meninggalkan tempat persembunyian mereka.
"Hemm, keadaan menjadi semakin gawat,"
Bisik Liu Pang kepada muridnya.
"Golongan sesat yang dipimpin Raja Kelelawar itu ternyata sudah terjun pula dalam pergolakan negara, bahkan mereka itu langsung bergerak ke Kotaraja. Ini benar-benar merupakan hal yang amat gawat. Jenderal Beng Tian dan putera mahkota sudah tidak berada di Kotaraja dan kini keadaan akan menjadi semakin kalut. Kiranya di Istana yang dapat diandalkan kini hanyalah pasukan pengawal Istana saja. Sedangkan barisan kita sendiri kini masih tertahan didaerah ini. Untuk mencapai Kotaraja masih melalui jalan yang panjang dan sukar. Bagaimanapun juga, kita harus cepat dapat mencapai Kotaraja, jangan sampai didahului oleh pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu. Apa lagi kalau Istana sampai dikuasai oleh iblis-iblis pimpinan Raja Kelelawar, ahh... jangan sampai terjadi hal itu! Kita harus cepat mencari pasukan kita." (Lanjut ke
Jilid 23) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 23 Tiba-tiba Liu Pang memegang tangan muridnya dan menyuruhnya jangan bergerak.
Bulan sepotong telah terlepas dari cengkeraman awan dan didalam cuaca yang suram-muram itu nampak bayangan yang berkelebat halus namun cepat sekali.
Tahu-tahu, seperti setan saja ditempat itu, tak jauh dari tempat persembunyian mereka, nampak dua orang kakek berjenggot putih panjang.
Mereka adalah dua orang kakek yang mengenakan jubah panjang berwarna coklat dan dibagian dada jubah itu nampak jelas lukisan naga terbuat dari pada benang kuning emas.
Liu Pang dan Pek Lian tidak berani bergerak.
Dari gerak-gerik kedua orang kakek itu, guru dan murid ini dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang memiliki kesaktian dan sedikit saja mereka mengeluarkan suara tentu akan terdengar oleh dua orang kakek itu.
Seorang diantara mereka, yang lebih muda, menuding kearah bekas api unggun dan terdengar suaranya lirih.
"Lihat, suheng. Iblis-iblis itu tentu baru saja berkumpul disini. Sungguh mengherankan, mereka itu biasanya bergerak sendiri-sendiri, kalau sampai mereka dapat berkumpul, tentu telah terjadi hal yang amat luar biasa."
"Benar, memang telah terjadi hal yang luar biasa,"
Kata temannya.
"Munculnya seorang pelindung seperti Raja Kelelawar memberi kesempatan kepada mereka untuk tumbuh, keadaan mereka seperti harimau tumbuh sayap. Mereka merajalela mengganggu rakyat yang sudah cukup menderita sengsara akibat peperangan-peperangan itu. mereka itu menjadi semakin berani dan ganas karena mereka tahu bahwa dalam keadaan seperti sekarang ini, tidak ada kekuatan yang berani menghalangi mereka. Pasukan pemerintah sedang sibuk menanggulangi para pemberontak. Musuh bebuyutan mereka, yaitu para pendekar, bahkan kini sibuk melawan pemerintah."
"Para iblis itu mengganas di Kotaraja sekalipun, takkan ada yang menghalangi. Bukankah ini sudah keterlaluan sekali? Bagaimana jadinya dengan negara ini nanti?"
"Sayang, kita sedang melaksanakan tugas yang diberikan oleh suhu. Kalau tidak, sudah kuhancurkan orang-orang itu tadi!"
Orang yang lebih muda mengepal tinju dengan sikap marah.
"Sabarlah, sute. Nanti kalau tugas kita selesai kita cari orang-orang itu. Hayo kita pergi, benteng itu tidak jauh lagi dari sini."
Mereka berkelebat dan lenyap dari tempat itu.
Gerakan para iblis sesat tadi memang sudah hebat dan menunjukkan betapa mereka itu rata-rata berkepandaian tinggi.
Akan tetapi, tingkat kepandaian dua orang ini bahkan melebihi mereka itu dan melihat betapa mereka berkelebat lenyap, Liu Pang menghela napas panjang.
"Kedua orang itu lihai bukan main. Gerakan mereka sedikitpun tidak meninggalkan suara. Entah dari golongan manakah mereka itu? Agaknya mereka tidak menyukai golongan Chu Siang Yu maupun golongan kita. Dan mereka amat membenci anak-buah Raja Kelelawar. Mereka juga tidak suka kepada golongan yang mengkhianati pemerintah. Hemm, sungguh aneh, mereka itu dari golongan mana dan berpihak kepada siapakah?"
"Suhu, aku mengenal jubah mereka. Mereka itu masih seperguruan dengan kakak-beradik Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong. Kalau tidak salah, orang-orang tadi masih terhitung susiok kakak-beradik itu. Guru orang-orang tadi adalah murid kedua dari mendiang Tabib Sakti Tanpa Bayangan. Aku bahkan pernah berjumpa dengan guru mereka itu, yaitu ditempat kediaman murid keturunan Sin-kun butek, yaitu ketua Thian-kiam-pang. Agaknya diantara kedua orang tua itu terdapat persahabatan yang erat. Kalau mengingat bahwa isteri ketua Thian-kiam-pang adalah keluarga Kaisar, maka kurasa kedua orang itupun tentu termasuk pengikut Kaisar."
Liu Pang mengangguk-angguk.
"Dan mereka hendak pergi ke benteng, apa sebenarnya tugas yang mereka terima dari guru mereka itu?"
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati sekali dan setelah lewat tengah malam, tibalah mereka disuatu padang rumput Kini bintang bertaburan dilangit bersih sehingga cahaya cukup menerangi keadaan sekeliling.
"Suhu, lihat disana itu! Apakah itu?"
Pek Lian menunjuk jauh kedepan.
Guru dan murid itu memandang dan jauh didepan nampak pemandangan yang amat menarik.
Seolah-olah ribuan bintang dilangit itu bergerak turun dan berbaris diatas bumi, merupakan barisan panjang berkelap-kelip.
"Hemm, itu sudah pasti sebuah barisan pasukan yang cukup besar, begitu panjang. Sedikitnya tentu ada lima ribu orang, dan ada iring-iringan kereta lagi, hemim entah pasukan mana yang bergerak pada malam hari ini?"
Mereka lalu cepat menyelinap diantara pohon-pohon dan mendekati, kemudian bersembunyi dibalik pohon-pohon besar dan lebat.
Kini bunyi derap kaki dan ringkik kuda, juga bunyi roda kereta sudah terdengar oleh mereka, diseling berkerincingnya senjata para anak-buah pasukan.
Dugaan Liu-Bengcu yang berpengalaman itu memang tepat.
Yang sedang bergerak itu adalah sepasukan besar yang bersenjata lengkap.
Mereka berdua tidak berani terlalu mendekatkan diri, dan hanya mengintai dari balik batang-batang pohon besar yang berada dilereng bukit itu.
Pada saat itu terdengar derap kaki kuda mendekat dan nampaklah beberapa orang perajufit pengawal mengiringkan dua orang raksasa.
Pek Lian terkejut sekali mengenal bahwa raksasa pertama adalah Malisang, kepala suku Bangsa Mongol yang bersekongkol dengan pasukan daerah itu.
Kiranya orang Mongol ini sudah sembuh kembali setelah terluka oleh pukulan mujijat ketua Tai-bong,-pai dan kini sudah berada disini, agaknya memimpin pasukan besar yang melakukan gerakan diwaktu malam itu.
Akan tetapi, gadis ini lebih kaget lagi ketika mengenal raksasa kedua yang lebih besar lagi tubuhnya dari pada si tokoh Mongol.
Dan iapun menjadi gentar ketika mengenal bahwa raksasa ini ternyata adalah Tiat-siang-kwi (Setan Gajah Besi), tokoh kedua dari para iblis Ban-kwi-to itu!
Tentu saja guru dan murid itu tak berani banyak berkutik ketika melihat betapa dua orang raksasa bersama pengawalnya itu kini berhenti didekat pohon-pohon tempat mereka bersembunyi!
"Ha-ha!"
Raksasa Ban-kwi-to itu tertawa bergelak ketika mereka itu memandang kearah pasukan yang lewat dibawah.
"Kalau Kotaraja sedang kalut, dengan barisanmu yang kuat ini, langsung menyerang Kotaraja terus menduduki Istananya, apakah sukarnya?"
"Ho-ho, saudara Tiat-siang-kwi mudah saja bicara! Keadaan Istana dan Kotaraja memang kalut, akan tetapi bukan itulah yang selama ini memusingkan kami, melainkan si petani Liu Pang itulah! Kalau pasukannya sudah kami hancurkan, barulah kita berkesempatan menyerbu Kotaraja."
"Hemm, aku tidak tahu tentang siasat perang. Akan tetapi engkau tahu bahwa kami mau membantu karena pasukanmu hendak menyerbu Istana di Kotaraja,"
Kata pula si raksasa dengan suaranya yang lantang.
"Tentu saja, tentu saja. Jangan khawatir, kalau kita sudah menyerbu Istana, tentu kami akan memberi kesempatan seluasnya kepada engkau dan saudara-saudaramu untuk berpesta-pora sepuasnya di Istana. ha-ha-ha!"
"Huhh!"
Tiba-tiba raksasa dari Bankwi-to itu mendengus dan berdesah seperti seekor kerbau. Dia celingukan kekanan kiri, kebelakang dan hidungnya terdengar mendengus-dengus.
"Aku mencium bau daging wanita muda! Ada wanita muda disekitar tempat ini!"
Tentu saja Pek Lian terkejut setengah mati mendengar ini. Raksasa pemakan daging manusia ini benar-benar memiliki penciuman yang tajam seperti srigala saja. Akan tetapi Malisang tertawa.
"Saudara Tiat-siang-kwi benar-benar memiliki penciuman yang hebat. Memang ada wanita-wanita didalam barisan itu. Didalam kereta itu terdapat para wanita keluarga gubernur yang ikut mengungsi dan kita kawal!"
"Bukan, bukan mereka! Wanita ini berada disini, disekitar tempat ini!"
Kata raksasa itu dan dengan langkah lebar dia lalu menghampiri pohon besar dimana Liu Pang dan muridnya bersembunyi.
Ketika itu, guru dan murid ini bersembunyi diatas pohon besar itu, diantara dahan-dahan dan daun-daun pohon yang lebat.
Tentu saja melihat raksasa itu menghampiri pohon, Pek Lian bergidik dan jantungnya seperti akan pecah rasanya karena berdegup kencang penuh ketegangan.
Liu Pang sendiri sudah bersiap-siap untuk meloncat turun dan kalau perlu mengadu nyawa melindungi muridnya.
Akan tetapi, ketika tiba dibawah pohon besar itu, Tiat-siang-kwi bukan menengok keatas, melainkan membungkuk kebawah dan tangannya menyambar kearah sehelai ikat pinggang yang berkembang merah.
"Inilah wanita itu!"
Katanya sambil memandang ikat pinggang itu yang ternyata sebagian tertanam dalam tanah. Malisang menghampiri dan memandang heran.
"Eh, ini tanah galian baru!"
Katanya dan diapun membantu raksasa itu menarik ikat pinggang yang sebagian besar tertanam itu.
Tanah terbuka dan keluarlah sesosok tubuh wanita yang sudah menjadi mayat!
Dari atas, Liu Pang dan Pek Lian memandang dengan hati ngeri dan mengenal bahwa itulah gadis yang mereka lihat bersama Jai-hwa Toat-beng-kwi itu!
Kiranya gadis korban penjahat cabul itu telah dibunuh dan mayatnya dikubur secara sembarangan dibawah pohon itu.
"Heii! Mayat siapakah itu?"
Terdengar seruan orang dan seorang pria muda yang rambutnya riap-riapan tahu-tahu muncul disitu. Dia adalah Kwa Sun Tek, tokoh muda Tai-bong-pai itu.
"Entahlah, kami temukan ia terkubur disini,"
Jawab Malisang. Kwa Sun Tek berjongkok memeriksa.
"Hemm, bukan mayat orang yang kami cari,"
Katanya sambil bangkit berdiri lagi.
"Kwa-sicu, apa maksudmu?"
Tanya Malisang yang merasa heran melihat sikap pemuda ini seperti orang marah-marah dan mencari-cari sesuatu.
"Sungguh kurang ajar sekali!"
Kwa Sun Tek mengomel.
"Para penjahat itu sungguh tidak memandang sebelah mata kepada kita! Berani mengganggu barisan kita yang besar. Seorang dayang gubernur telah diculik, berikut beberapa buah perhiasan yang dibawa oleh keluarga gubernur. Bukankah itu perbuatan yang lancang dan menantang sekali? Seorang diantara mereka, kalau tidak salah yang berjuluk Pekpi Siauw-kwi, terkena pukulanku, akan tetapi ia gesit sekali dan dapat melarikan diri. Malam amat gelap dan mereka lari kedalam hutan, bagaimana aku dapat mengejar mereka?"
"Aih, sudahlah, mengapa urusan kecil begitu harus dibesarkan. Urusan besar kita bisa kapiran. Hayo kita berangkat, perjalanan malam ini harus mencapai tempat tujuan sebelum matahari terbit."
Merekapun lalu pergi meninggalkan bawah pohon besar itu.
Dari atas pohon, Liu Pang dan Pek Lian menyaksikan iring-iringan yang besar dan ternyata bahwa pasukan itu terdiri dari pasukan pejabat daerah bersama pasukan asing.
Mereka agaknya meninggalkan benteng karena takut akan serbuan pasukan Liu Pang.
Pada akhir barisan itu nampak kereta-kereta, diantaranya gerobak suami-isteri Ban-kwi-to yang sudah amat dikenal oleh Pek Lian itu.
Melihat ini, Liu Pang berpikir.
"Wah, sungguh gawat. Ternyata para gubernur daerah itu bukan hanya bersekongkol dengan orang-orang asing, akan tetapi juga dibantu oleh kaum sesat."
Setelah barisan itu lewat dan suasana disitu menjadi sunyi lagi, Liu Pang dan muridnya turun dari batang pohon besar itu.
Sejenak keduanya berdiri memandang kepada mayat gadis yang masih menggeletak dibawah pohon.
Liu Pang menarik napas panjang.
"Gadis yang malang"
"Dan biarpun sudah menjadi mayat, ia masih berjasa dan menyelamatkan kita, suhu,"
Kata Pek Lian.
Mereka lalu menggali lubang dan mengubur mayat gadis itu.
Setelah itu, keduanya lalu dengan hati-hati melanjutkan perjalanan.
Semua pengalaman yang dialami oleh Liu Pang bersama muridnya dalam perjalanan ini, sungguh amat berharga baginya.
Tanpa disengaja dia telah memperoleh banyak keterangan mengenai keadaan musuh-musuhnya sehingga dari semua pengalaman ini dapat dipergu-nakannya untuk menyusun siasatnya kelak ketika dia memimpin pasukannya sampai berhasil.
Sudah terlalu lama kita meninggalkan Seng Kun dan Bwee Hong, kakak-beradik yang melakukan perjalanan ke Kotaraja dan diikuti oleh A-hai itu.
Makin mendekati Kotaraja, kakak-beradik ini melihat betapa keadaan semakin kacau dan kekalutan amat terasa.
Memang arus para pengungsi berkurang akan tetapi ketegangan terasa dimana-mana.
Kota-kota menjadi sunyi, dusun-dusun diliputi ketegangan dan ketakutan.
Para penjahat berpesta-pora, melakukan aksi dimana saja, terutama sekali disekitar Kotaraja.
Para penjahat ini tahu bahwa para perajurit sedang sibuk bertempur menghadapi pemberontak.
Kekuatan petugas keamanan hanya lemah dan sedikit saja, bahkan para petugas keamanan sendiri ikut-ikutan bersikap sewenang-wenang karena tidak diawasi oleh atasan mereka yang sibuk sendiri.
Para penjahat yang memiliki kepandaian seperti menjadi Raja-Raja kecil atau penguasa-penguasa yang menguasai kota-kota besar.
Biasanya, selain para petugas keamanan, juga para pendekar menentang mereka ini.
Akan tetapi kini para pendekar banyak yang meninggalkan rumah dan bergabung dengan pasukan pendekar menentang pemerintah dan menentang para pengacau.
Keadaan sungguh kalut dan hukum rimbapun berlakulah.
Siapa kuat dia menang.
Para hartawan dan para pejabat, orang-orang terkemuka dan mampu, menggaji barisan tukang pukul untuk menjaga keselamatan keluarga mereka, atau setidaknya mereka ini mendekati para penjahat, menyogok sana-sini agar keluarga mereka tidak diganggu.
Segala macam perbuatan kejipun terjadilah dimalam hari.
Penindasan, perampokan, perkosaan dan kerusuhan karena persainganpun terjadi hampir setiap hari.
Keadaannya amat menyedihkan.
Seng Kun dan Bwee Hong melihat semua ini.
A-hai juga melihatnya, akan tetapi pemuda yang linglung ini seperti tidak mengacuhkannya atau tidak menyadari keadaan.
Sebaliknya, kakak-beradik yang berjiwa pendekar itu merasa berduka sekali.
Mereka prihatin menyaksikan keadaan ini, melihat bahwa bagaimanapun juga, akhirnya yang paling menderita adalah rakyat jelata yang miskin dan lemah.
Rakyat yang tidak mempunyai pelindung dan tidak kuasa melindungi diri sendiri inilah yang ditindas, diinjak-injak, disiksa, dibunuh, diperkosa hak-haknya, Sedikitpun tidak ada kemampuan untuk membalas dan biasanya hanya menangis saja.
Pada suatu pagi yang cerah, tiga orang muda ini memasuki sebuah kota kecil yang terletak disebelah tenggara Kotaraja.
Sebuah jalan raya yang cukup besar terbentang didepan, memasuki pintu gerbang utara untuk menuju kearah Kotaraja.
Kota kecil ini biasanya cukup ramai akan tetapi sekarang dibalik keramaian itu terasa adanya ketegangan dan rasa takut membayang dalam pandang mata setiap orang yang masih melanjutkan usahanya berdagang.
Baru sampai dipintu gerbang saja, tiga orang muda itu sudah melihat hal yang amat mengherankan.
Mereka melihat betapa setiap orang yang lewat disitu menghampiri sebuah sudut dipintu gerbang.
Disitu berdiri sebuah guci besar, tingginya ada satu meter dan mulut guci itu lebar, lalu menyempit dibagian leher.
Setiap orang yang menghampiri guci itu lalu memasukkan uang kedalam mulut guci.
Dibelakang guci itu duduk bersila seorang laki-laki yang bertubuh kekar dan berjenggot lebat.
Disekitar tempat itu terdapat enam orang laki-laki yang rata-rata berwajah serem dan bersikap galak.
Mereka inilah yang mengamati setiap ada orang memasukkan uang kedalam guci, dan orang-orang yang memasukkan uang itupun dengan sengaja memperlihatkan jumlah uang yang dimasukkannya, seolah-olah hendak memperlihatkan bahwa mereka telah memasukkan jumlah uang yang secukupnya.
Dari sikap mereka yang menghampiri guci, dapat terlihat bayangan rasa gentar dan takut terhadap orang-orang yang menjaga guci itu.
Tentu saja tiga orang muda itu merasa heran bukan main.
Mula-mula mereka tidak tahu apa artinya guci yang dimasuki uang oleh mereka yang lewat dipintu gerbang itu.
Maka Seng Kun dan Bwee Hong juga meragu dan berdiri memandang ketika ada seorang nenek datang menghampiri guci itu dengan mulut kemak-kemik dan muka pucat, mata terbelalak membayangkan rasa takut.
Nenek itu berusia hampir enam puluh tahun, memikul keranjang sayuran yang kosong.
Melihat pakaiannya, tentu ia seorang nenek dusun yang baru saja pulang dari kota menjual hasil ladangnya berapa sayur-sayuran.
Dengan tangan gemetar, nenek itu mengambil sepotong uang logam dan hendak memasukkannya kedalam mulut guci.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras dan nenek itu terkejut, tangannya menggigil dan mukanya pucat memandang kepada laki-laki tinggi besar yang membentaknya tadi.
"Nenek mau mampus! Berani engkau menghina kami dengan memberi uang kecil yang tiada harganya itu?"
Seorang diantara enam laki-laki galak itu membentak dan menghampiri dengan sikap mengancam.
"Ampun saya saya tidak punya uang"
Nenek itu berkata dengan suara gemetar dan merangkapkan kedua tangan, memberi soja berka-li-kali.
"Nenek pelit! Siapa tidak tahu bahwa engkau pagi tadi lewat membawa sayuran sepikul? Hayo cepat beri lima kali itu!"
"Akan tetapi... ah... cucu saya sakit panas... uang penjualan sayur nanti untuk membeli obat"
"Alasan! Biar cucumu mampus! Cepat berikan uang itu!"
"Tidak tidak... nanti bagaimana cucuku"
"Plak!"
Laki-laki kasar itu menggerakkan tangan menampar dan nenek itu terkena tamparan pada pipinya, membuatnya terpelanting.
"Nenek pelit bosan hidup!"
Laki-laki kasar yartg marah itu melangkah lebar dan hendak melanjutkan serangannya dengan sebuah tendangan.
"Manusia berhati kejam seperti binatang!"
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Bwee Hong sudah berada disitu, menyambar tubuh nenek itu sehingga terluput dari tendangan.
Dengan sikap halus Bwee Hong mengajak nenek itu berdiri ditepi jalan, membersihkan baju nenek itu dan menyerahkan beberapa mata uang perak sambil berkata.
"Nenek, pakailah uang ini untuk membeli obat cucumu dan cepatlah pergi meninggalkan tempat ini."
Nenek itu menerima uang perak dengan mata basah.
Ia mengenal mata uang itu dan cepat pergi terbongkok-bongkok.
Sementara itu, laki-laki tinggi besar tadi memandang kepada Bwee Hong dengan muka merah.
Dia hendak marah, akan tetapi begitu melihat wajah yang cantik jelita itu, kemarahannya lenyap seperti awan tipis ditiup angin.
Sebaliknya, dia malah tersenyum lebar dan matanya terbelalak menatap wajah yang luar biasa manisnya itu.
"Ah, kiranya ada bidadari dari kahyangan yang datang membagi berkah! Nona manis, kalau nona yang mintakan, biarlah semua orang tidak usah membayar apa-apa asal nona suka menemani kami ditempat ini untuk bersenang-senang!"
Muka Bwee Hong menjadi merah sekali mendengar ucapan yang tidak sopan itu dan iapun melangkah maju, tangan kirinya bergerak menampar muka laki-laki itu.
Enam orang itu adalah orang-orang kasar yang biasa merajalela dengan mengandalkan kekuatan, maka tentu saja mereka adalah tukang-tukang pukul yang pandai ilmu silat.
Melihat nona cantik itu menggerakkan tangan menamparnya, si tinggi besar itu tertawa dan menggerakkan tangan untuk meraih dan hendak menangkap tangan kiri Bwee Hong yang menampar.
Akan tetapi, tiba tiba ada bayangan menyambar dari bawah dan tahu-tahu kaki kanan Bwee Hong sudah mendahului tangan kirinya, menendang tinggi keatas dan menyambar kearah muka pria itu dengan kecepatan kilat.
"Plakkk!"
Laki-laki itu mengaduh, terpelanting dan meraba pipinya yang tiba tiba saja membengkak, dan darah segar mengalir dari bibirnya karena beberapa buah giginya telah rontok terkena tendangan kaki Bwee Hong.
Kiranya nona ini tidak sudi menyentuh muka orang dengan tangan dan tangan kirinya tadi hanya merupakan gerakan memancing belaka sedangkan yang sungguh-sungguh menyerang adalah kakinya.
Lima orang temannya terkejut dan juga mulai marah melihat kawan mereka mengalami penghinaan seperti itu.
Mengertilah mereka bahwa nona cantik ini ternyata pandai ilmu silat.
Bagaimanapun juga, mereka masih memandang rendah.
Boleh jadi nona ini pandai dan berhasil menendang muka kawan mereka, akan tetapi menghadapi mereka semua, tentu nona ini, tidak akan mampu berbuat banyak.
Kemarahan mereka membuat mereka mengambil keputusan untuk menangkap dan membalas dendam dengan menghina dara ini.
"Perempuan tak tahu diuntung! Kita tangkap dan kita permainkan ia sepuas kita!"
Kata seorang diantara mereka yang berkumis tebal dan bertubuh gendut pendek.
Lima orang itu dengan kedua tangan mencengkeram seperti lima ekor harimau hendak memperebutkan seekor domba, lalu menubruk kedepan dari semua jurusan.
Akan tetapi, lima orang itu yang kini dibantu oleh orang pertama yang giginya rontok tadi, sekali ini benar-benar kecelik.
Telah berbulan-bulan lamanya mereka ini, dikepalai oleh orang tinggi besar yang masih duduk bersila, bersikap sewenang-wenang dikota kecil itu, merajalela seperti Raja-Raja kecil memeras rakyat dan melakukan apa saja seenak perut mereka sendiri, tanpa ada yang dapat menentang mereka.
Kini, mereka kecelik dan benar-benar bertemu batunya.
Mereka hanya melihat tubuh nona yang langsing itu lenyap lalu nampak bayangan berkelebatan dan bagaikan terbang saja Bwee Hong berloncatan kesana-sini, membagi-bagi tendangan dengan kedua kakinya, susul-menyusul dan ganti-berganti.
Terdengar suara kaki bertemu dengan dagu, dengan dada, dengan perut, disusul teriakan kesakitan dan enam orang itu sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dari kaki Bwee Hong dan merekapun terpelanting jatuh bangun dan mengaduh-aduh.
Ada yang perutnya mendadak menjadi mulas, ada yang dadanya sesak sukar bernapas, ada yang patah tulang dan ada pula yang mulutnya berdarah giginya rontok!
Hebat memang sepak terjang Bwee Hong dengan kecepatannya yang membuat semua lawannya roboh tanpa mereka ketahui apa yang sebenarnya menyambar dirinya dan membuat mereka roboh tadi.
Tiba-tiba terdengar suara geraman hebat seperti seekor srigala marah dan tahu-tahu laki-laki tinggi besar yang tadi duduk bersila dibelakang guci uang, melompat keatas dan dengan kedua lengan bersilang membentuk cakar harimau, orang itu sudah menubruk kearah Bwee Hong.
Jelaslah bahwa dari gerakannya, orang ini jauh lebih lihai dari pada enam orang temannya tadi dan memang sesungguhnya dia adalah kepala dari gerombolan penjahat itu yang tentu saja memiliki ilmu silat yang lebih lihai.
Ilmu silatnya adalah ilmu silat harimau dan dengan loncatan itu, dia sudah menerkam kearah Bwee Hong, mencengkeram kearah kepala dan dada gadis itu.
Akan tetapi Bwee Hong sudah siap sedia menghadapi serangan ini maka begitu terkaman itu tiba, ia sudah dapat mengelak dengan amat cepatnya dan membalas dengan tendangan kearah perut orang tinggi besar itu.
"Dukk!"
Orang itu menangkis dengan lengannya dan dari tangkisan ini tahulah Bwee Hong bahwa lawannya hanya memiliki tenaga kasar saja.
Sebaliknya orang itu, begitu menangkis, tangannya sudah mencengkeram hendak menangkap kaki yang menendang.
Akan tetapi, tangan Bwee Hong sudah menyambar kedepan dan tangan kirinya yang membentuk paruh burung sudah menyambar kearah mata lawan.
Kagetlah laki-laki itu karena gerakan gadis itu sedemikian cepatnya sehingga hampir saja dia tidak mampu menghindarkan dirinya lagi.
Hanya dengan membuang dirinya kebelakang dia dapat mengelak, akan tetapi Bwee Hong telah menyusulkan tendangan berantainya yang amat lihai itu-Lawannya berusaha mengelak dan menangkis, hanya empat kali berhasil dan tendangan susulan yang kelima kalinya tanpa dapat dicegah lagi telah mengenai lambungnya.
"Dukk... augghhh!"
Tubuh yang tinggi besar itupun terpelanting dan si tinggi besar itu tak mampu bangun lagi karena roboh pingsan.
Menyaksikan betapa kepala mereka yang amat mereka andalkan itu ternyata roboh pula oleh gadis cantik itu, enam orang kasar tadi menjadi terbelalak dan muka mereka berobah pucat sekali.
Sementara itu, A-hai sejak tadi nonton saja dan diapun tahu apa artinya guci uang itu.
Agaknya, pemuda inipun menjadi penasaran sekali?
"Memaksa orang memberikan uangnya, sama saja dengan perampokan disiang hari, ditempat ramai pula.
Sungguh keterlaluan!"
Sambil berkata demikian, A-hai lalu mengangkat guci uang itu, menuangkan isinya sehingga banyak uang berhamburan keluar dari guci.
Tumpukan uang itu lalu ditendang dan disebar-sebarkannya.
Tentu saja menjadi rebutan orang-orang yang banyak lalu-lalang, ditempat itu.
Enam orang kasar itu tidak berani banyak bergerak, bahkan diam-diam mereka lalu menggotong pimpinan mereka dan mengambil langkah seribu melarikan diri dari tempat itu.
Mereka merasa takut sekali.
Baru gadis itu saja sudah membuat mereka tidak mampu melawan, apa lagi kalau dua orang pemuda yang datang bersama dara itu juga turun tangan.
Bisa celaka mereka, mungkin akan mati semua mereka.
Maka merekapun segera menghmbil langkah aman dan melarikan diri.
Tiga orang muda itu lalu memasuki kota kecil dan melihat-lihat keadaan.
Berita tentang dihajarnya para pencoleng oleh gadis cantik yang datang bersama dua orang muda itu segera tersiar dan ramai dibicarakan orang.
Banyak orang diam-diam bersyukur bahwa dalam keadaan kalut seperti itu masih ada pendekar yang suka turun tangan membasmi kejahatan.
Peristiwa itu mendatangkan secercah sinar harapan dalam hati mereka yang tadinya sudah menjadi muram dan tak acuh karena kekalutan yang melanda kehidupan mereka selama ini.
Tiga orang muda itu melihat bahwa biarpun didalam kota kecil itu masih terdapat orang-orang berpakaian seragam, yaitu para penjaga keamanan kota, namun sikap mereka itu tak acuh walaupun masih jelas nampak keangkuhan dan ketinggian hati mereka.
Sore hari itu, setelah memperoleh kamar penginapan, Bwee Hong, Seng Kun dan A-hai keluar dan memasuki sebuah restoran.
Ternyata, biar dalam keadaan kalut, restoran itu menyediakan makanan yang cukup lengkap sehingga Bwee Hong merasa gembira ketika memesan masakan kesayangannya.
Seperti juga para pengusaha lainnya, restoran yang cukup besar itupun memelihara belasan orang tukang pukul yang berjaga didalam ruangan dan juga didepan pintu.
Tiga orang muda itu sedang enak-enaknya makan masakan yang mereka pesan ketika terdengar suara ribut-ribut diluar pintu.
Karena mereka itu kebetulan memperoleh tempat duduk didekat pintu, maka mereka dapat melihat bahwa yang ribut-ribut itu adalah percekcokan antara seorang pengemis tua dengan para tukang pukul penjaga atau pelindung keamanan restoran itu.
Percekcokan mulut yang kemudian diteruskan menjadi perkelahian.
Dan ternyata pengemis tua itu lihai bukan main.
Pengemis jembel yang mengempit tongkat hitam itu hanya menggunakan sebelah tangan kirinya saja, akan tetapi belasan orang tukang pukul yang mengeroyoknya terpelanting kekanan kiri, jatuh bangun dan dihajar kalang-kabut.
Akhirnya, semua tukang pukul sudah roboh terguling dan tidak berani melawan lagi.
Pengemis tua yang bertubuh pendek kecil akan tetapi perutnya buncit itu lalu mengeluarkan sebuah kantong butut, dilemparkannya kantong itu.
kearah meja kasir yang berada didekat pintu.
"Penuhi kantongku itu!"
Bentaknya dan matanya yang kemerahan itu melotot. Melihat ini Bwee Hong memandang kepada kakaknya, sinar matanya minta pertimbangan. Seng Kun berbisik.
"Jangan ikut campur. Lihat disudut itu. Disana ada empat orang petugas keamanan kota, pakaiannya seperti perwira, akan tetapi mereka itu pura-pura tidak melihat keributan ini. Mengapa kita harus campur tangan?"
Majikan restoran itu yang duduk dimeja keuangan, terpaksa memenuhi kantong butut itu dengan uang, kemudian menyerahkannya kepada si pengemis dengan sikap takut-takut.
Pengemis itu menerima kantong, isi kantongnya lalu dituangkan kedalam kantong besar yang diikat dipunggungnya.
Kemudian, kantong butut kosong itu dilemparkannya keatas meja yang dihadapi Bwee Hong, Seng Kun dan A-hai.
"Nona tadi telah mengabaikan biaya yang menjadi kewajiban semua orang yang lewat dipintu gerbang, sekarang harus nona penuhi kantong itu dengan uang, baru aku mau menghabiskan perkara itu!"
A-hai memandang dengan mata terbelalak ketakutan.
Dia sudah melihat betapa lihainya pengemis tua itu.
Akan tetapi, Bwee Hong sudah menjadi marah dan iapun meloncat bangun dari kursinya, bertolak pinggang diluar pintu restoran menghadapi pengemis itu sambil tersenyum mengejek.
"Huh, kukira engkau adalah jembel tua yang hanya mencari derma, kiranya engkau jembel busuk yang menjadi sekutu para pencoleng itu. memuakkan sekali...!"
Pengemis tua itu membelalakkan matanya yang merah dan diapun memutar tongkat yang tadi ketika dia dikeroyok selalu dikempitnya saja tanpa pernah dipergunakan itu.
Baru dengan sebelah tangan kosong saja dia sudah mampu merobohkan belasan orang tukang pukul.
Dapat dibayangkan betapa lihainya kalau mempergunakan tongkatnya itu sebagai senjata.
Akan tetapi, pengemis yang sudah tua itu agaknya tahu malu dan merasa sungkan kalau dia sebagai seorang tokoh besar harus menandingi seorang gadis cantik yang begitu muda.
Maka matanya yang merah mengerling kearah A-hai dan Seng Kun, lalu mulutnya mengomel.
"Tak tahu malu ada dua orang lelaki membiarkan teman wanitanya yang maju. Kalau kalian bukan pengecut, majulah dan jangan berlindung dibelakang wanita!"
Biarpun dia sendiri tidak sadar bahwa dia memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi A-hai sama sekali bukan seorang pengecut. Dia bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya kearah muka pengemis itu.
"Eh, kakek pengemis jangan engkau bicara seenaknya saja, ya! Aku bukan tukang berkelahi seperti engkau, akan tetapi jangan bilang kalau aku pengecut!"
Bwee Hong cepat berkata.
"A-hai, sudahlah, jangan ikut campur. Yang menghajar para pencoleng dipintu gerbang adalah aku, maka kini akulah yang akan mempertanggung-jawabkan perbuatan itu terhadap datuknya pencoleng ini!"
Ia lalu melangkah maju dan mengejek.
"Jembel-busuk, kalau engkau takut melawan aku, pergilah dengan cepat dan jangan banyak cerewet lagi!"
"Perempuan rendah!"
Pengemis itu marah dan tongkatnya meluncur bagaikan kilat menusuk kearah leher Bwee Hong.
Akan tetapi terkejutlah dia ketika melihat tubuh gadis didepannya itu tiba-tiba lenyap dan tahu-tahu dari samping gadis itu telah membalas serangannya dengan sebuah tendangan kilat yang nyaris mengenai lambungnya.
Kakek itu cepat meloncat kedepan sambil mengelebatkan tongkatnya menangkis, akan tetapi Bwee Hong sudah menarik kembali kakinya.
Terjadilah perkelahian yang seru dan cepat sekali.
Gerakan pengemis itu ternyata amat gesit, akan tetapi menghadapi Bwee Hong dia masih kalah jauh dalam hal kecepatan.
Perkelahian dalam tempo yang amat cepat ini membuat mereka yang melihatnya menjadi silau dan kabur pandangannya.
Seng Kun memandang sejenak penuh perhatian lalu diapun melanjutkan makan-minum dengan sikap tenang.
A-hai yang juga nonton dengan gelisah, melihat betapa Seng Kun tidak mengacuhkan adiknya yang sedang berkelahi itu, menegur.
"Engkau ini bagaimana sih? Adikmu berkelahi melawan pengemis yang demikian lihainya dan engkau enak-enak makan-minum saja!"
Seng Kun mengangkat muka memandang wajah yang tampan gagah itu sambil tersenyum.
"Habis harus bagaimana aku?"
"Bantulah, atau hentikanlah perkelahian itu!"
"Tidak apa, ia tidak akan kalah."
"Bagaimana engkau tahu"
A-hai menengok lagi dan dia terbelalak melihat betapa tahu-tahu pengemis tua itu telah terpelanting jauh, entah terkena pukulan atau tendangan Bwee Hong yang berdiri bertolak pinggang dengan sikap menantang.
"Bawa kantong busukmu dan enyahlah!"
Kata Bwee Hong sambil melemparkan kantong kosong yang tadi oleh si pengemis dilemparkan keatas meja.
Pengemis itu memungut kantong itu, lalu bangkit berdiri dan memandang kearah Bwee Hong, Seng Kun dan A-hai.
Matanya yang sudah merah itu menjadi lebih merah lagi ketika dia berkata.
"Kalian mempunyai perhitungan dengan kami, orang-orang rimba hijau dan sungai telaga. Hati-hatilah kalian!"
Setelah jembel tua itu pergi, Bwee Hong dan dua orang pemuda itu melanjutkan makan-minum, tidak memperdulikan pandang mata orang-orang yang ditujukan kearah mereka dengan kagum.
Setelah kenyang dan membayar harga makanan, merekapun kembali kekamar hotel mereka.
Malam itu, Seng Kun dan Bwee Hong bersikap waspada, tidak seperti A-hai yang sudah tidur sore-sore.
Kakak-beradik ini maklum bahwa peristiwa sore dan pagi hari tadi tentu masih akan berkelanjutan.
Mereka maklum bahwa para penjahat yang agaknya menguasai kota kecil itu, setelah mendapat hajaran, tentu akan berusaha membalas dendam dan mendatangkan jagoan-jagoan mereka yang lebih lihai.
Oleh karena itu, Seng Kun meninggalkan kamarnya dimana dia tinggal bersama A-hai dan bercakap-cakap sambil berjaga dengan adiknya diruangan depan adiknya.
Dan apa yang mereka khawatirkan dan nanti-nantikan itu memang sungguh terjadi.
Menjelang tengah malam, ketika mereka sudah bosan menanti dan hendak tidur, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara harimau mengaum.
Keduanya masih duduk dengan tenang akan tetapi dengan jantung berdebar dan urat syaraf menegang ketika daun pintu terbuka dengan mudahnya dari luar, seolah-olah didobrak oleh tenaga raksasa dan muncullah seorang kakek tinggi besar yang mengenakan jubah kulit harimau.
Kakek itu usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, akan tetapi tubuhnya masih nampak tegap dan membayangkan tenaga besar, rambutnya yang dibungkus kain hitam itu masih nampak hitam lebat, dengan cambang bauk membuat wajahnya nampak menyeramkan.
Jubahnya dari kulit harimau tutul dan sepasang matanya bersinar-sinar galak.
Berturut-turut muncul pula enam orang laki-laki yang kesemuanya bersikap kasar dan bertubuh tegap.
Seng Kun bangkit berdiri dan menghadapi mereka.
Bwee Hong juga sudah bangkit dan mendampingi kakaknya.
Sejenak mereka saling beradu pandang dan tiba-tiba kakek tinggi besar itu tertawa.
Suara ketawanya menyeramkan karena diseling gerengan-gerengan seperti auman harimau.
Dia adalah seorang tokoh besar didunia penjahat, seorang diantara Sam-ok (Si Tiga Jahat) dan dialah yang kini menjadi seorang diantara, pembantu-pembantu dan kepercayaan Raja Kelelawar.
Orang ini adalah Sanhek-houw Si Harimau Gunung.
Para pencoleng yang siang tadi dihajar oleh Bwee Hong, juga si pengemis lihai, adalah anak-buahnya.
Ketika mendengar pelaporan betapa anak-buahnya, juga si pengemis lihai yang diserahi tugas mengamati dan memimpin para anak-buah yang beroperasi dikota kecil itu, dihajar oleh seorang gadis cantik, tentu saja Sanhek-houw menjadi marah dan penasaran sekali.
Maka, malam itu, dengan diiringkan oleh beberapa orang pembantunya, dia mendatangi rumah penginapan dimana gadis dan dua orang muda itu berada.
Pemilik rumah penginapan dan para penjaganya sudah sejak tadi menyembunyikan diri begitu mendengar suara auman harimau itu, yang mereka kenal sebagai tanda kemunculan "Raja"
Penjahat yang menguasai kota itu.
Ketika datang sendiri dan melihat bahwa yang dianggapnya musuh berbahaya itu hanyalah seorang gadis muda yang cantik bersama seorang pemuda tampan yang kelihatannya lemah, Sanhek-houw tak dapat menahan ketawanya.
Tentu saja dia memandang rendah kepada anak-anak ini.
"Ha-ha-ha, benarkah bahwa kalian bocah-bocah ini yang siang dan sore tadi mengacau dikota ini?"
Tanyanya, suaranya menggetar dan parau menyeramkan.
Seng Kun yang dapat menduga bahwa orang ini tentu merupakan tokoh besar penjahat dan merupakan lawan tangguh, sudah mendahului adiknya, melangkah maju dan berkata dengan suara halus.
"Sobat, sesungguhnya bukan kami yang mengacau, melainkan teman-temanmu itu, dan kami hanya membela orang yang tertindas saja."
"Ha-ha-ha, orang muda, aku mendengar bahwa yang memukul anak-buahku adalah seorang gadis cantik. Ia itukah orangnya?"
Sanhek-houw menudingkan telunjuknya kearah Bwee Hong. Bwee Hong sudah sejak tadi menjadi marah. Ia tidak sesabar kakaknya dan kini mendengar pertanyaan itu, iapun menjawab lantang.
"Benar! Akulah yang menghajar pencoleng-pencoleng busuk itu. Habis, engkau mau apa ""
"Bagus! Engkau harus menyerahkan diri untuk kutangkap dan menerima hukuman!"
Kata Sanhek-houw.
"Hemrn, andaikata aku mau iuga, pedangku ini yang tidak membolehkan aku menyerah kepada segala macam penjahat kejam!"
Kata Bwee Hong sambil menghunus pedangnya.
"Ha-ha-ha, engkau kuda betina liar yang cantik, memang patut untuk ditundukkan dulu sebelum dijinakkan! ha-ha-ha!"
Kakek tinggi besar itu menggerakkan tangannya dan ada angin menyambar dahsyat ketika lengannya yang panjang mencuat dan mencengkeram kearah dada Bwee Hong.
"Dukkk!"
Seng Kun menangkis dari samping.
Harimau Gunung terkejut ketika merasa betapa tangkisan pemuda itu membuat lengannya tergetar.
Tahulah dia bahwa pemuda ini ternyata berisi juga, maka diapun mengeluarkan suara auman yang menggetarkan seluruh bangunan rumah penginapan itu, kemudian diapun menyerang Seng Kun dengan kalang-kabut.
Sepak terjangnya memang kasar sekali, dan mengandung kebuasan, apa lagi serangannya itu disertai gerengan-gerengan seperti harimau.
Dan meruanglah, tokoh hitam ini mempunyai pembawaan seperti harimau.
Biasanya, kemunculannya selalu ditemani oleh sepasang harimau kumbang, akan tetapi sekali ini, dalam tugasnya mengacau dan menuju ke Kotaraja, dia terpaksa meninggalkan sepasang binatang peliharaan itu didalam kandang.
Dan ilmu silatnya juga merupakan ilmu silat yang gerakan-gerakannya didasari gerakan binatang harimau yang buas.
Kedua tangannya membentuk cakar harimau, yang disebut Houw-jiauwkang dan dengan cakarnya ini dia mampu merobek-robek tubuh orang, bahkan cengkeramannya dapat menghan-curkan batu karang saking kuatnya.
Seng Kun terkejut bukan main menyaksikan kehebatan lawan ini.
Beberapa kali dia terhuyung ketika mengadu tenaga dan beberapa kali nyaris kulit dagingnya terkena cengkeraman dan menjadi korban Ilmu Houw-jiauw-kang!
Terpaksa Seng Kun lalu menghunus pedangnya dan melindungi dirinya dengan putaran pedangnya.
Melihat ini, Sanhek-houw tertawa bergelak dan meloloskan sebatang rantai yang ujungnya bertongak jangkar terbuat dari pada baja yang selain kuat juga berat sekali!
Terjadilah perkelahian yang lebih seru lagi didalam ruangan yang cukup luas itu.
Enam orang laki-laki pengikut Sanhek-houw hanya menonton sambil mengepung ruangan itu dengan sikap mereka yang congkak.
Diam-diam Seng Kun mengeluh.
Ternyata lawannya ini benar-benar amat tangguh, bukan sembarang tokoh sesat, melainkan seorang datuk yang lihai bukan main.
Pedangnya selalu terpental ketika bertemu dengan senjata lawan yang berat dan segera dia terdesak oleh gerakan senjata lawan yang berat dan panjang itu.
Melihat keadaan kakaknya, Bwee Hong meloncat maju dan membantu.
Enam orang teman Sanhek-houw hendak bergerak mencegah, akan tetapi Sanhek-houw tertawa.
"Ha-ha-ha, biarlah ia maju untuk menghangatkan suasana, ha-ha!"
Karena pemimpin mereka membolehkan, maka enam orang itupun tidak berani bergerak dan membiarkan gadis itu mengeroyok Sanhek-houw yang ternyata memang tangguh itu.
Bagaimanapun juga, setelah Bwee Hong maju dan kakak-beradik itu mengandalkan ginkang mereka yang luar biasa, Sanhek-houw mulai kewalahan dan terpaksa selalu memutar senjatanya melindungi diri.
Dia tidak mampu mengimbangi kecepatan gerakan kakak-beradik itu, walaupun dia menang kuat dan juga senjatanya lebih menguntungkan, lebih panjang, berat dan juga mudah digerakkan karena merupakan rantai yang lemas.
Melihat ini, tanpa diperintah lagi, enam orang itupun menghunus senjata mereka, ada yang menggunakan golok, ada yang menggunakan tombak atau pedang, menyerbu dan membantu Sanhek-houw.
Tentu saja kini kakak-beradik itu yang berbalik terkepung dan terdesak hebat!
Melihat ini, Bwee Hong menjadi khawatir sekali.
Ia tahu bahwa kalau ia dan kakaknya kalah, tentu kakaknya akan dibunuh dan ia sendiri...
ah, ngeri ia memikirkan nasibnya kalau sampai terjatuh ketangan orang-orang kejam, ini.
Pada saat itu, ia melihat A-hai muncul dari pintu dengan wajah masih memperlihatkan bekas tidur dan kini A-hai berdiri terbelalak dan nampak khawatir sekali.
Berkali-kali A-hai mengangkat tangan keatas seperti hendak mencegah atau melerai perkelahian itu.
Melihat munculnya A-hai, Bwee Hong tahu bahwa hanya pemuda sinting itulah yang akan mampu menyelamatkan ia dan kakaknya.
Dan satu-satunya jalan hanyalah merangsangnya, mengguncang batinnya agar dia kumat, seperti yang pernah dilakukannya.
Itulah satu-satunya jalan dan jalan lain tidak ada lagi.
Ia maklum bahwa para penjahat ini tidak akan membiarkan ia dan Seng Kun lolos dengan selamat.
Andaikata mereka berdua mempergunakan ginkang untuk melarikan diri sekalipun, lalu bagaimana dengan A-hai?
Tentu pemuda itu akan dibantai oleh para penjahat dan tak mungkin ia membiarkan hal ini terjadi.
Dan untuk akal seperti ini memang ia sudah membuat persiapan sebelumnya.
Ketika ia melakukan perjalanan bersama A-hai, ia maklum bahwa ada dua hal terdapat pada diri pemuda sinting ini, yang satu amat merugikan akan tetapi yang lain amat menguntungkan.
Yang merugikan adalah bahwa pemuda ini dalam keadaan sadar merupakan seorang pemuda yang bodoh dan lemah, tidak tahu apa-apa.
Akan tetapi yang menguntungkan adalah bahwa pemuda ini dapat "Dibikin"
Menjadi lihai.
Maka iapun sudah mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu, dalam keadaan darurat seperti sekarang ini, mempergunakan akal dan siasat untuk membangunkan pemuda itu, untuk membuatnya menjadi kumat gilanya dan juga lihainya!
Pada saat itu, Seng Kun sudah kewalahan benar-benar dan tiba-tiba, sapuan senjata rantai yang berat itu menyerempet kakinya dan tubuh Seng Kun terjungkal!
Kinilah saatnya, pikir Bwee Hong, sebelum terlambat.
Maka iapun melolos sebatang pisau belati, lalu menjerit dan menghadap kepada A-hai, pisau belatinya bergerak seolah-olah menikam perut sendiri, tangannya mencengkeram keperutnya dan iapun roboh, dari perutnya bercucuran darah merah membasahi lantai dan pakaiannya.
Sepasang mata A-hai terbelalak, mukanya seketika menjadi pucat.
Kemudian dia mendelik, dari mulutnya keluar teriakan parau.
"Ibuuu!!"
Dan tubuhnya mencelat kedepan.
Diapun berlutut dan menubruk tubuh Bwee Hong, dirangkulnya dan diciumnya gadis itu.
Tentu saja Bwee Hong merasa tubuhnya panas dingin ketika ia merasa betapa wajahnya diciumi oleh pemuda itu, ciuman seorang anak yang menangisi ibunya dengan air mata bercucuran.
Kaki tangannnya menjadi dingin dan tubuhnya menggigil.
Hal ini membuat A-hai menjadi semakin khawatir.
Wajah pemuda yang biasanya membayangkan ketololan dan tadi nampak ketakutan itu kini berubah sama sekali.
Kini wajah itu membayangkan kedukaan, kemarahan dan menyeramkan, penuh nafsu membunuh.
Matanya berkilat liar dan Bwee Hong yang terbelalak kengerian itu ketika memandang penuh perhatian, tiba-tiba melihat sebuah tonjolan berwarna biru sebanyak tiga buah dipelipis kiri A-hai.
Tonjolan yang tiga bintik itu letaknya berbentuk segi tiga dan setiap tonjolan sebesar ujung sumpit.
Padahal biasanya, seingat Bwee Hong, tidak pernah terdapat tonjolan seperti itu dipelipis A-hai.
Kini A-hai yang melihat bahwa nona yang disebut ibunya itu masih hidup, merebahkan Bwee Hong dengan lembut keatas tanah, kemudian sekali menggerakkan tubuh, dia sudah meloncat dan membalik, menghadapi Sanhek-houw.
Harimau Gunung Hitam ini memandang kepada A-hai, juga terheran akan tetapi tentu saja dia tidak memandang sebelah mata kepada pemuda yang tidak waras ini.
Melihat A-hai berdiri tegak menghadapinya dengan sinar mata yang buas mengerikan, hati tokoh hitam ini merasa tidak senang.
"Mampuslah!"
Bentaknya dan diapun menubruk dengan kedua tangannya setelah tadi menyimpan kembali senjata rantainya yang dianggapnya tidak perlu dipergunakannya lagi.
Dia merasa yakin bahwa sekali hantam dia akan mampu merobohkan dan menewaskan pemuda ini, baru kemudian dia akan melanjutkan serangannya terhadap kakak-beradik itu.
"Dukkk!!"
San-hek-houw terpelanting dan terbanting keatas lantai.
Dia mengeluarkan suara gerengan sambil bergulingan.
Selain kesakitan, dia juga kaget setengah mati.
Tak disangkanya bahwa pemuda yang seperti gila itu memiliki tenaga sedemikian dahsyatnya.
Dia tadi merasa seperti membentur gunung baja!
Melihat ini, enam orang teman Sanhek-houw menjadi marah dan merekapun menyerang maju dengan serentak.
Dari mulut A-hai keluar lengkingan yang mengerikan dan tubuh pemuda ini menerjang bagaikan badai, menyambut enam orang itu.
Segera terdengar pekik-pekik kesakitan dan enam orang itu sudah dicengkeramnya, ada yang dibanting, ada yang dilontarkan, seperti orang mencabuti dan membuang rumput saja.
Dalam waktu beberapa gebrakan saja, enam orang itu sudah malang-melintang, roboh tak mampu bangkit kembali!
San-hek-houw marah bukan main.
Kembali gerengannya menggetarkan ruangan itu dan diapun meloncat keluar dari ruangan.
Dianggapnya tempat itu kurang luas, apa lagi setelah ada enam tubuh teman-temannya malang-melintang.
Dia keluar dari rumah penginapan dan menanti dikebun samping.
A-hai mengejar dan setelah tiba disitu, dia disambut serangan yang buas oleh Sanhek-houw yang kini sudah melolos rantainya.
A-hai menyambutnya dan terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat, juga liar dan buas.
mereka sama buasnya, akan tetapi Seng Kun dan Bwee Hong yang mengikuti pula jalannya perkelahian, melihat betapa Sanhek-houw terdesak hebat oleh gerakan silat A-hai yang aneh.
Rantai yang menyambar-nyambar itu selalu dapat dielakkan atau ditangkis oleh A-hai, seolah-olah gerakannya otomatis mengikuti gerakan lawan dan balasan serangan A-hai yang kelihatannya kacau-balau itu sesungguhnya pada dasarnya mengandung gerakan ilmu silat yang aneh dan tinggi.
"Wuuuuttt... plakk!"
Tiba-tiba ujung rantai yang dipasangi jangkar baja itu dapat ditangkap oleh A-hai.
Sanhek-houw menggerakkan tangannya yang memegang gagang rantai dan rantai itu seperti hidup melingkari kepala dan menjerat leher pemuda itu.
Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong terkejut bukan main dan siap menolong karena melihat A-hai terancam bahaya tercekik lehernya.
Akan tetapi, rantai yang menjerat leher A-hai itu tidak mampu mencekik leher yang nampak berotot dan kuat itu.
bahkan kini A-hai secara tiba-tiba mengangkat kakinya menendang, suatu gerakan yang tidak disangka-sangka oleh Sanhek-houw yang menduga bahwa pemuda itu tentu menjadi panik dan berusaha melepaskan rantai yang menjirat leher.
"Desss...!"
Tendangan yang amat keras itu membuat tubuh Sanhek-houw yang tinggi besar terlempar dan rantainya terlepas, tertinggal ketangan A-hai dan sebagian masih melingkari leher pemuda itu.
"Huhh!"
A-hai membuang rantai itu dan dengan langkah lebar menghampiri Sanhek-houw yang kini sudah bangkit berdiri.
Akan tetapi, baru saja dia berdiri, A-hai sudah menyerangnya dengan tamparan-tamparan dan pukulan-pukulan bertubi-tubi, kelihatannya semua serangan itu kacau, akan tetapi justeru cara yang kacau itulah yang membuat lawan bingung dan tanpa dapat dicegah lagi, Sanhek-houw yang masih merasa pening karena terbanting tadi, terkena sebuah pukulan tangan kiri, tepat pada dadanya.
"Desss!"
Terdengar datuk kaum sesat itu mengeluh dan kembali tubuhnya terjengkang dan sekali ini bahkan terguling-guling, baru berhenti ketika tubuhnya tertabrak pohon.
Dia kembali mengeluh, menggoyang-goyangkan kepalanya karena dia melihat bintang-bintang bertaburan dan menari-nari, dari mulutnya mengalir darah segar.
A-hai masih melangkah lebar mengejarnya.
melihat betapa pada wajah A-hai nampak sinar beringas dan penuh nafsu membunuh, Seng Kun yang tidak ingin melihat A-hai menjadi pembunuh kejam terhadap lawan yang sudah kalah itu, lalu meloncat dekat dan tanpa dipikir lagi dia berteriak melarang.
"Saudara A-hai, jangan bunuh orang!"
Akan tetapi, pada saat itu, A-hai sudah tidak ingat apa-apa lagi, yang ada hanya perasaan duka bercampur kemarahan yang membuat dia beringas dan ingin menghajar siapapun juga yang menghalanginya.
Kini melihat Seng Kun berani menghadangnya, diapun menganggap pemuda ini musuhnya.
Dia mengeluarkan suara gerengan hebat dan segera menerjang kearah Seng Kun.
Seng Kun terkejut, namun dia juga mengerti bahwa hal itu dilakukan oleh A-hai dalam keadaan tidak sadar.
Cepat dia menangkis karena untuk mengelak amat berbahaya.
Dia tadi sudah melihat perkelahian antara A-hai dan Sanhek-houw dan melihat betapa setiap kali pukulannya dielakkan lawan, pukulan itu masih dilanjutkan dengan aneh dan terus mengejar lawan.
Lebih aman menangkis dari pada mengelak.
"Dukkk!"
Hebat bukan main tenaga yang mendorong pukulan A-hai itu sehingga begitu menangkis, seketika tubuh Seng Kun terdorong, terjengkang dan pantatnya terbanting keras diatas tanah!
Akan tetapi A-hai menyusulkan pukulan yang mengandung hawa pukulan amat hebatnya kearah Seng Kun yang rebah diatas tanah.
"Blaaarrr!"
Debu dan tanah berhamburan.
Pukulan itu tidak mengenai tubuh Seng Kun yang sudah bergulingan dan wajah pemuda ini menjadi pucat.
Kalau pukulan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat tadi mengenai tubuhnya, belum tentu dia akan sanggup bertahan.
"Jangan!!"
Tiba-tiba Bwee Hong menjerit dan jeritan yang melengking tinggi ini mengejutkan A-hai.
Sementara itu, Sanhek-houw mempergunakan kesempatan ini untuk lari meninggalkan tempat berbahaya itu.
Mendengar jeritan itu, A-hai termangu-mangu, lalu menoleh dan meninggalkan Seng Kun, kini menghadapi Bwee Hong.
Mukanya merah padam seperti dibakar, seluruh darah ditubuhnya seolah-olah berkumpul dikepalanya.
Tiga bintik tonjolan biru itu makin jelas nampak dipelipisnya.
Matanya inengeluarkan sinar berkilat-kilat, liar menakutkan, membuat Bwee Hong yang sebenarnya memiliki ketabahan besar dan bukan seorang penakut, kini berdiri bengong dengan kedua kaki gemetar, menggigil ketakutan!
Ngeri hatinya membayangkan bahwa pemuda yang dihadapinya ini adalah orang yang gila, bukan gila biasa, melainkan gila yang amat berbahaya karena memiliki ilmu yang amat mengerikan.
Kini A-hai berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, dan kedua lengannya digerak-gerakkan secara aneh, kedepan, keatas, kesamping, bukan seperti orang bersilat, akan tetapi hebatnya, gerakan kedua lengan itu mengeluarkan hawa yang kuat sehingga terdengar bunyi "Wuuuuttt...wuuuttt...
wuuuttt!"
Melihat ini, dari tempat dia rebah, Seng Kun cepat mengirim suara dari jauh, menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit sehingga bisikannya hanya dapat ditangkap oleh adiknya itu.
"Hong-moi, tenanglah. Engkau senyumlah, cepat. Jangan panik karena diapun akan menjadi panik. Pasrah saja, jangan kelihatan takut, bujuk dia dengan kata-kata manis. Senyumlah dan dia akan menurut segala kata-katamu, percayalah!"
Tentu saja hal ini jauh lebih mudah dikatakan dari pada dilakukan.
Dalam keadaan hatinya kecut, berdebar cemas dan takut, bagaimana orang disuruh senyum?
Bagaimanapun juga, Bwee Hong segera mentaati perintah kakaknya dan diapun tersenyum manis.
Mula-mula senyumnya merupakan senyum kecut, senyum dipaksakan.
Akan tetapi, ketika ia melihat betapa sinar mata yang buas dari A-hai itu seketika agak melunak dan gerak-gerik kedua lengan itu lebih lambat dan ragu-ragu, kini Bwee Hong benar-benar tersenyum, senyum lega yang membuat senyumnya nampak benar-benar manis sekali, dengan lesung pipit dipipi kirinya.
"A-hai, tenanglah, A-hai, tidak ada apa-apa yang perlu dibuat gelisah atau marah lagi. Aku Bwee Hong... ingatkah engkau? Aku Bwee Hong dan dia itu kakakku, Seng Kun koko!"
Dengan suara yang halus merdu dan ramah, dengan pandang mata yang lunak dan halus, dengan senyum menghias bibir, Bwee Hong membujuk.
A-hai sejenak memandang wajah gadis itu dengan bingung, akan tetapi lambat-laun pandang matanya yang tadinya buas itu menjadi makin lembut, lalu dia tertegun dan berdiri seperti patung, kedua tangan kini tergantung dikanan kiri tubuhnya.
Mukanya ditundukkan dan sepasang matanya dipejamkan.
Seng Kun melihat ini semua dengan penuh perhatian.
Ketika dia melihat betapa wajah A-hai itu kini merah padam, tiba-tiba dia teringat akan soal pengobatan dan diapun seperti memperoleh petunjuk.
"Hong-moi, dia mengalami serangan darah yang membanjir kekepala. Lihat, mukanya begitu merah sebaliknya kedua tangannya putih pucat seperti kehilangan darah. Tekanan darahnya kelihatan sangat kuat dan semua mengalir kearah kepalanya. Ini sangat berbahaya bagi jiwanya. kalau dia tidak lekas-lekas jatuh pingsan seperti biasanya, darah itu akan mengalir semakin kuat dan hal ini akan dapat memecahkan dinding-dinding pembuluh darahnya dan mengalir keluar melalui mata, hidung, telinga dan merusak otak-otaknya. Dia akan tewas dalam keadaan yang mengerikan!"
Wajah Bwee Hong seketika pucat mendengar ini dan diapun pernah membaca tentang ini dan sekarang ia teringat, maka kekhawatirannya memuncak.
"Koko, apa yang harus kita lakukan?"
"Cepat, engkau harus bertindak. Dekati dia, tetap bujuk dengan halus. Lihat, urat-uratnya sudah mengembung, sebentar lagi dapat pecah! siapkan sebatang jarum emas. Hati-hati, jangan sampai dia melihatnya. Berusahalah menusuknya dijalan darah balik tengkuk. Tapi ingat! Jangan sampai dia tahu dan curiga. Begitu dia tahu, dia tentu akan mengira engkau menyerangnya dan kalau dia menyerangmu, aku sendiri belum tentu dapat menyelamatkanmu! Cepat, Hong moi, tapi hati-hati"
Biarpun Seng Kun bersikap setenang mungkin, tetap saja suaranya terdengar gugup dan agak gemetar.
Hal ini tentu saja membuat Bwee Hong menjadi semakin gelisah dan ngeri.
Amatlah menegangkan saat itu bagi Bwee Hong dan Seng Kun.
A-hai berada diambang kematian, kalau tidak tertolong, sebentar lagi akan tewas secara mengerikan sekali, akan tetapi hal ini sedikitpun tidak disadari sendiri olehnya.
Sedangkan kakak-beradik ahli pengobatan itu ingin sekali menyelamatkan nyawanya, akan tetapi merekapun tahu bahwa sedikit saja mereka salah gerak atau diterima salah oleh A-hai dan menimbulkan kecurigaan pemuda yang dilanda penyakit hilang ingatan itu, mereka akan mati konyol karena mereka berdua tidak akan mampu menandingi kelihaiannya.
Yang paling tegang adalah perasaan Bwee Hong karena ialah yang harus bertindak.
Ditangannyalah terletak keselamatan nyawa A-hai, juga keselamatan mereka berdua sendiri.
Ia harus dapat bertindak cepat dan tepat tanpa keraguan.
Maka iapun melangkah maju mendekati A-hai yang masih berdiri seperti patung itu.
Tadi ketika ia hendak melangkah maju, melihat A-hai memejamkan kedua matanya, diam-diam ia telah mengeluarkan sebatang jarum emas yang kini digenggamnya.
Begitu ia melangkah maju, A-hai membuka kedua matanya dan kembali Bwee Hong merasa ngeri.
Sepasang mata pemuda itu, walaupun tidak beringas dan liar seperti tadi, akan tetapi masih nampak merah penuh darah dan menakutkan sekali.
"A-hai, ingatlah, aku Bwee Hong sahabat baikmu. Ingat? Aku bukan musuhmu, aku tidak akan mengganggumu..."
Ia melangkah maju sampai dekat sekali dan tiba-tiba A-hai memandang dengan matanya yang merah, bibirnya berbisik-bisik aneh, penuh keraguan.
"Hong-moi... ah, Hong-moi!"
Suaranya seperti orang merintih atau hendak menangis dan tiba-tiba saja kedua lengannya merangkul Bwee Hong.
Tentu saja dara ini menjadi kaget dan juga heran.
Bagaimana A-hai yang berada dalam keadaan lupa ingatan ini sekarang menyebutnya Hong-moi, seolah-olah teringat akan namanya?
Dan pelukan yang mesra itu membuat ia gelagapan dan bingung.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bisikan kakaknya melalui Ilmu Coan-im-jip-bit.
"Hayo cepat, tusukkan jarum itu selagi dia lengah. Cepat, antara dua jari dibelakang telinga kirinya. Cepat, jangan sampai terlambat dan pembuluhnya pecah"
Suara Seng Kun terdengar penuh kekhawatiran.
Teringatlah Bwee Hong akan tugasnya lagi.
iapun pura-pura balas merangkul leher pemuda itu dan setelah meraba-raba, cepat ia menusukkan jarum emas itu ditempat yang tepat.
"Aduhhh...!"
A-hai mengaduh lirih dan rangkulannya mengendur.
Bwee Hong yang takut kalau-kalau pemuda itu mengamuk, cepat melepaskan dirinya dengan hati was-was.
Akan tetapi ternyata A-hai tidak mengamuk dan masih berdiri seperti patung.
Akan tetapi kini matanya yang tadinya merah dan liar itu meredup.
Perlahan-lahan muka yang merah padam menjadi putih dan bagian-bagian tubuhnya yang lain kembali menjadi merah.
Tiga buah tonjolan biru dipelipisnya itupun perlahan-lahan mengempis dan menghilang.
Kemarahan dan keadaan yang tadi membayang diwajahnyapun mulai surut dan perlahan-lahan hilang.
Sejenak dia menunduk, kadang-kadang kedua matanya dipejamkan, dan kadang-kadang tubuhnya menggigil sedikit.
Akhirnya, keadaannya menjadi tenang, agaknya perobahan yang amat hebat pada dirinya telah berlangsung dengan selamat dan baik.
Tak lama kemudian, A-hai mengangkat mukanya.
Wajahnya sudah seperti biasa, wajah yang lembut dan jujur.
"Aduh tubuhku dingin sekali"
Dan diapun agak menggigil.
Bwee Hong menjadi gembira bukan main.
Ingin rasanya ia bersorak kegirangan melihat pemuda itu telah dapat diselamatkan dan tidak terasa lagi kedua matanya menjadi basah saking terharu dan lega rasa hatinya.
Ia melangkah dekat dan kini A-hai memandangnya dengan wajah membayangkan keheranan.
"Siapakah engkau, nona?"
Tentu saja Bwee Hong menjadi terkejut bukan main, langkahnya terhenti dan ia menatap wajah A-hai dengan bengong, tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Pada saat itu, kembali terdengar bisikan kakaknya.
"Awas, dia belum sembuh sama sekali seperti yang kau kira. Dia masih tetap dalam keadaan kumat dan masih berpijak dimasa lalunya yang hilang itu. Dia tidak mengenal siapa engkau akan tetapi dia tidak berbahaya lagi, meskipun ilmunya selalu siap untuk dipergunakan. Jarum yang kau tusukkan tadi hanya membuat darah yang berkumpul dikepalanya dapat menyebar lagi keseluruh tubuh. Sebentar lagi kalau tekanan darahnya sudah normal, dia akan kembali menjadi kawan kita yang lemah dan ketololan itu. Nah, lihat, matanya kini menjadi sayu dan sebentar lagi dia akan mendusin, seperti orang baru bangkit dari tidur. Nah, sekarang inilah tiba saatnya seperti yang kita bicarakan dahulu. Saat-saat dia seperti inilah kita harus dapat mengetahui masa lalunya. Saat seperti inilah dimana dia berada dalam keadaan kumat akan tetapi mudah diajak bicara. Sekarang cobalah, tanyakan siapa dirinya. Cepat sebelum dia kembali lagi dalam keadaannya yang lupa ingatan."
Bwee Hong memberanikan diri dan dara inipun menjura kearah A-hai seperti orang yang baru saling jumpa. Pemuda itupun berdiri memandangnya dengan terheran-heran.
"Saudara, bolehkah aku mengenal namamu?"
Tanya Bwee Hong dengan suara lembut dan sikap menghormat.
"Apa? Nama? Namaku namaku Thian Hai!"
"Saudara dari perguruan manakah?"
Bwee Hong bertanya lagi, jantungnya berdebar tegang karena ia mulai dapat menyingkap tabir rahasia yang menyelimuti diri pemuda aneh ini.
"Aku... aku... dari... ooohhh"
Tiba-tiba A-hai terjerembab kedepan.
Tentu saja Bwee Hong cepat menyambutnya dengan kedua lengan karena kalau tidak tentu pemuda itu akan terpelanting.
A-hai nampak bingung, lalu mengangkat muka memandang.
"Ahh..."
Dan diapun cepat melepaskan dirinya.
"Nona Hong, mana penjahat tadi? Sudah pergikah dia?"
Suaranya kembali seperti suara A-hai yang tolol!
Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dan mereka merasa gemas dan mendongkol sekali.
Penjahat berbahaya itu lari tunggang-langgang karena dihajar A-hai, dan kini pemuda itu bertanya dimana adanya penjahat itu.
Bagaimanapun juga, mereka telah dapat sedikit lebih maju dalam mengungkap tabir rahasia pemuda itu, iyalah bahwa nama pemuda yang mereka kenal sebagai A-hai itu adalah Thian Hai.
Apa shenya dan dari mana asalnya belum mereka ketahui.
Malam, itu juga Seng Kun mengajak A-hai dan Bwee Hong untuk meninggalkan rumah penginapan dan melanjutkan perjalanan karena dia khawatir kalau-kalau Sanhek-houw datang lagi membawa teman-teman yang lebih banyak dan lebih kuat.
Untung malam itu ada bulan menerangi perjalanan mereka.
Ditengah perjalanan, Bwee Hong memuji kakaknya.
"Kun-koko, engkau benar-benar pantas menjadi ahli waris sucouw kita Bu-Eng Sin-yok-ong. Semua keteranganmu tentang penyakit yang diderita oleh saudara Thian Hai ini cocok semua. Kini tinggal mencari dan melaksanakan cara-cara pengobatannya saja."
"Thian Hai? Siapa yang bernama Thian Hai? Akukah?"
A-hai bertanya heran.
"Kalau begitu, kalian telah menemukan rahasiaku dan tahu siapa sebenarnya aku?"
"Sabarlah, saudara A-hai. Kami sedang melakukan penyelidikan dan mudah-mudahan kami dapat membantumu untuk menemukan kembali dirimu."
"Kalian sahabat-sahabat baik..., sahabat-sahabat baik"
Kata A-hai dengan suara terharu dan juga kecewa karena mereka itu ternyata belum dapat menemukan rahasianya.
Mereka berhenti di puncak sebuah bukit dan A-hai menjauhkan diri, berdiri memandang kedepan, kebawah dimana terhampar pemandangan yang remang-remang karena sinar bulan tidak mungkin dapat memberi penerangan yang jelas.
"Kun-ko, ketika dia tadi kumat, aku melihat ada tiga buah tonjolan biru dipelipis kirinya. Akan tetapi sekarang tidak tampak lagi. Apakah itu?"
Tanya Bwee Hong. Mereka duduk diatas batu-batu gunung untuk beristirahat. Mendengar ini, Seng Kun nampak kaget.
"Tiga tonjolan biru dipelipis? Benarkah itu? Coba kita periksa. Saudara A-hai, maukah engkau datang kesini sebentar?"
A-hai yang sedang berdiri melamun itu, terkejut dan menoleh, lalu menghampiri mereka.
"Di bawah sana ada dusun. Ah, perutku lapar benar. Kalau saja kita dapat segera kesana, aku akan memesan ayam panggang!"
Bwee Hong tertawa juga mendengar ucapan ini.
"Akupun sudah lapar. Nanti kita lanjutkan perjalanan, akan tetapi didusun mana ada ayam panggang?"
"Saudara A-hai, aku hendak memeriksa pelipismu sebentar, bolehkah?"
"Pelipisku? Ada apa dengan pelipisku? Tapi, tentu saja boleh!"
Kakak-beradik itu lalu memeriksa pelipis kiri A-hai.
Kulit pelipis itu kini nampak bersih saja, tidak ada tanda apa-apa.
Akan tetapi ketika Seng Kun meraba bagian itu, lapat-lapat dia merasa seperti ada tiga buah benda kecil bulat dibawah kulit.
"Hemmm"
Ahli obat muda itu bergumam sambil meraba-raba.
"Seperti gumpalan daging mengeras karena memar. Atau kalau tidak, tentu darah yang menggumpal karena terlanggar benda keras, atau eh, ini, satu diantara tiga tonjolan ini persis melintang dipembuluh darah otak depan"
"Mungkinkah benda itu yang menyebabkan penyakitnya?"
Tanya si adik serius.
"Entahlah, mungkin juga. Aku belum bisa memastikan, harus memeriksanya dengan teliti lebih dulu. Penyakit yang berdekatan dengan otak amatlah berbahaya kalau keliru pengobatannya."
Kakak-beradik itu lalu termenung, nampak murung. Melihat ini A-hai menjadi tidak sabar.
"Aih, kenapa susah-susah memikirkan penyakitku? Lihat, sinar matahari pagi sudah mulai nampak disana. Lebih baik kita turun dan mencari dusun untuk sarapan!"
Kakak-beradik itu tersenyum dan menyatakan setuju.
"Perutku sudah lapar, biar aku jalan dulu, akan kucarikan warung nasi untuk kita!"
Dan A-hai lalu berjalan cepat menuruni puncak bukit itu.
"Saudara A-hai, hati-hatilah, masih gelap dan jalannya licin!"
Bwee Hong memperingatkan dan bersama kakaknya ia mengejar.
Akan tetapi, sungguh amat mengherankan hati dua orang muda ahli ginkang ini ketika mereka tidak melihat A-hai lagi, tidak mampu menyusul pemuda itu.
Jalan menurun itu memang agak sukar dan licin, apa lagi karena mereka belum mengenal jalan itu, dan cuaca masih gelap sehingga mereka harus melangkah hati-hati agar jangan sampai terpeleset masuk jurang.
Padahal, A-hai yang berada dalam keadaan biasa itu tidak mempunyai kepandaian apa-apa, jangankan berlari cepat.
Akan tetapi bagaimana kini A-hai dapat meninggalkan mereka?
Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa pemuda itu telah mengenal baik tempat dan jalan ini.
Akan tetapi mana mungkin?
Andaikata A-hai pernah mengenalnya pula, tentu sekarang dia telah melupakan jalan itu.
Matahari telah muncul ketika kakak-beradik itu menuruni bukit dan mereka terpaksa berhenti karena ada sebuah sungai menghalang perjalanan mereka.
Tidak nampak sebuahpun perahu ditempat sunyi itu, juga tidak ada jembatan penyeberang.
"Eh, kemana dia?"
Bwee Hong memandang kekanan kiri.
"Saudara A-hai!"
Seng Kun berteriak.
"Dimana engkau?"
Tidak ada jawaban. Tiba-tiba Bwee Hong yang meloncat keatas batu dan memandang keseberang sungai berseru.
"Heiiii, itu dia! diseberang sungai!"
Seng Kun memandang dan benar saja.
Mereka melihat tubuh A-hai diseberang sungai.
Pemuda itu sedang melenggang dengan santainya, menuju kesebuah dusun yang dapat dilihat dari seberang sini.
Seng Kun lalu mengerahkan khikangnya dan berteriak memanggil.
"Saudara A-hai!!! Tunggu dulu! dimana kita harus menyeberang? apakah memakai perahu? dimana??"
"Jangan-jangan dia tadi berenang,"
Bwee Hong berkata dan ia merasa ogah kalau harus berenang menyeberangi sungai itu yang walaupun tidak berapa lebar, akan tetapi airnya berlumpur dan kelihatan dalam.
Teriakan yang menggema karena didorong tenaga khikang itu terdengar oleh A-hai diseberang sana.
Dia menoleh, kemudian menggerakkan bahu dan dengan sikap ketololan diapun berjalan kembali ketepi sungai lalu dia menghilang dibalik semak-semak ditepi sungai seberang sana.
Sampai lama dia tidak muncul-muncul.
"Eh, eh, kemana dia? Kenapa malah bersembunyi? Dia menghilang dibalik semak-semak. Apakah dia buang air besar?"
Bwee Hong mengomel.
"Atau ketiduran?"
"Ha-ha, jangan bergurau!"
Keduanya lalu mendekati tepi sungai dan melcngak-longok keseberang, mencari-cari bayangan A-hai yang belum juga nampak.
Tiba-tiba kakak-beradik itu cepat mengggerakkan tubuh membalik ketika mendengar langkah kaki orang dan mereka memandang dengan mata terbelalak ketika melihat bahwa yang datang melangkah itu bukan lain adalah A-hai!
"Ehhh!
Ohhh!
Bagaimana engkau tadi menyeberang?
Kami tidak melihatmu..."
"Hemm, engkau tentu lewat disebuah terowongan, bukan?"
Seng Kun yang cerdik menduga. A-hai makin bingung, dan sikapnya semakin ketololan ketika dia melihat dua orang yang biasanya cerdik itu kini nampak kebingungan.
"Benar..., aku memang lewat dibawah air sungai. Kenapa kalian heran? Memang itulah satu-satunya jalan untuk menyeberang!"
Akan tetapi ucapan itu membuat Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dan menjadi semakin terheran-heran.
Apakah A-hai ini sudah benar-benar menjadi gila sekarang, pikir mereka.
Tentu saja mereka tidak percaya begitu saja.
"Jangan main-main, saudara A-hai. Katakanlah bagaimana kita dapat menyeberangi sungai ini,"
Kata Bwee Hong. A-hai mengerutkan alisnya dan menjadi penasaran.
"Kalian tidak percaya? Marilah ikut aku!"
Katanya dan dengan lagak kasar karena penasaran dia menggandeng tangan kedua orang itu dan ditariknya menuju kebalik pohon-pohon lalu nampaklah bahwa dibalik semak-semak belukar terdapat sebuah jalan terowongan yang melewati dasar sungai.
Agak gelap disitu sehingga Bwee Hong dan Seng Kun saling berpegangan tangan.
Akan tetapi A-hai melangkah seenaknya saja sambil menggandeng tangan Seng Kun dan sebentar saja dia sudah membawa kakak-beradik itu menyeberang dan mereka muncul dibelakang semak-semak ditepi seberang sana.
Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong merasa heran sekali.
Jelaslah bahwa jalan penyeberangan ini bukan jalan umum karena tempatnya tersembunyi dan dimulut terowongan ditumbuhi semak belukar yang liar sehingga menutupi jalan itu.
Seng Kun memandang wajah A-hai dengan penuh perhatian, juga gadis itu memandang kepadanya penuh selidik.
"Saudara A-hai, bagaimanakah engkau bisa mengetahui adanya jalan terowongan menyeberangi sungai ini?"
"Mengetahui?"
A-hai menjawab dan tertegun bingung.
Aku...
aku tidak mengetahui.
Aku tadi berjalan sambil membayangkan panggang ayam yang kupesan nanti diwarung dusun.
Aku ingin makan sekenyangnya, uangku masih cukup.
Aku tidak memikirkan jalan yang kulalui dan tahu-tahu aku masuk terowongan itu dan sampai diseberang.
Kenapa sih?
Bukankah terowongan itu memang jalan satu-satunya untuk menyeberang?
Apakah aku telah salah jalan?"
Ditanya demikian, kakak-beradik itu saling pandang dan menjadi bingung sendiri bagaimana harus menjawab.
"Sudahlah,"
Kata Seng Kun kepada adiknya.
"Mari kita cepat pergi kedusun didepan untuk mencari sarapan."
"Dusun itu berada disana! Mari!"
Kata A-hai dan kembali kakak-beradik itu saling pandang dengan heran, akan tetapi tidak berkata sesuatu melainkan mengikuti A-hai yang melangkah tegap menuju kesuatu arah tertentu.
Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah dusun dan biarpun tidak mengeluarkan sebuah katapun, namun ada perobahan terjadi pada wajah A-hai yang tampan.
wajah itu berseri gembira dan diapun membawa dua orang sahabatnya menuju kesebuah warung.
Dusun itu tidak begitu besar.
Rumah-rumahnya berjajar sampai ditepi sungai.
Agaknya memang hanya sebuah dusun nelayan.
Beberapa buah perahu berjajar ditepi seberang ini dan ada jaring-jaring yang sedang dijemur.
Beberapa orang nelayan wanita tampak sibuk bekerja.
Ada yang menjahit jaring yang robek, ada yang sedang menjemur ikan-ikan hasil tangkapan mereka dihalaman rumah masing-masing.
Bau amis ikan merangsang hidung.
Sebuah dusun nelayan sederhana.
Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba diujung jalan itu muncul seorang pendek bertopi lebar keluar dari sebuah kedai minuman.
Dia bergegas menuju kesebuah gerobak pembawa barang yang berdiri didepan sebuah gardu.
Cepat Seng Kun menarik tangan adiknya dan A-hai untuk menyelinap kebelakang sebuah rumah.
Melihat ini, A-hai bertanya.
"Ada apakah?"
"Ssttt!"
Seng Kun memberi tanda dengan telunjuk ditempelkan dibibir, tanda bahwa dia minta kedua orang itu tidak banyak mengeluarkan suara.
Kemudian dia mengajak mereka menyelinap dan mengambil jalan memutar mencapai warung yang dimaksudkan oleh A-hai untuk dikunjungi tadi.
Disini mereka duduk ditempat terlindung, akan tetapi dengan bebas mereka dapat melihat kearah jalan raya didepan.
"Koko, ada apakah? Engkau melihat sesuatu yang mencurigakan?"
Bwee Hong bertanya kepada kakaknya.
"Kalian melihat orang yang keluar dari kedai minuman diujung jalan sana tadi?"
Dia balas bertanya.
"Ya, tapi kenapa?"
Bwee Hong mendesak.
"Apakah engkau tidak mengenalnya? Biarpun dia menyamar seperti itu, aku masih ingat cara dia berjalan dan juga perawakannya. Akupun belum yakin benar, akan tetapi sebaiknya kita berhati-hati. Nah, dia akan lewat didepan sini, mari kita perhatikan."
Tak lama kemudian, lewatlah didepan warung itu sebuah gerobak kecil ditutup rapat dan dihela oleh seekor kuda yang dikusiri oleh seorang laki-laki bertubuh pendek tegap yang berpakaian sederhana, mukanya ditutup caping lebar sehingga yang nampak hanyalah dagunya.
Ketika gerobak itu lewat, terciumlah bau yang amis agak busuk, amat memuakkan seperti bau bangkai atau bau ikan asin yang belum jadi.
Bwiee Hong menggeleng kepala ketika gerobak itu sudah lewat.
"Siapa dia? Aku tidak mengenalnya. Bukankah dia hanya seorang pedagang ikan asin yang datang kedusun ini untuk berbelanja ikan asin?"
A-hai juga menggeleng kepala.
"Aku tidak mengenal dia!"
Seng Kun menghela napas panjang.
"Aku teringat akan seorang yang perawakannya persis orang itu, seorang yang kepandaian silatnya amat tinggi. Gayanya ketika tadi berjalan sama seperti orang itu, ialah Pek-lui-kong Tong Ciak, jagoan Soa-hu-pai, komandan pengawal Istana yang lihai itu! Betapa lihai dia. Pernah aku berkenalan dengan pukulannya yang ampuh. Akan tetapi, aku juga belum yakin bahwa orang tadi adalah Tong-ciangkun yang sesungguhnya. Perlu apa dia menyamar seperti itu? Dan kenapa pula dia berada disini? Padahal, keadaan di Istana sendiri sedang dalam kemelut?"
Mereka menduga-duga akan tetapi tidak menemukan jawaban yang masuk akal sehingga akhirnya Seng Kun terpaksa membuang sangkaannya dan membenarkan pendapat Bwee Hong dan A-hai bahwa orang tadi hanyalah seorang pedagang ikan asin yang kebetulan memiliki bentuk tubuh yang serupa dengan Pek-lui-kong Tong Ciak.
membayangkan kemungkinan ini, Seng Kun mentertawakan kekhawatirannya sendiri.
Pada saat itu, pemilik warung kecil itu mendekati mereka dengan wajah berseri karena sepagi itu sudah ada tamu datang kewarungnya.
warungnya hanyalah sebuah kedai makan yang sederhana dan pagi itu hanya menyediakan bubur, nasi, sedikit sayur kemarin dan ikan asin.
Ketika dia menanyakan pesanan mereka, tiba-tiba saja dengan cepat A-hai berkata.
"Aku minta ayam panggang satu!"
Mendengar pesanan yang tak masuk akal melihat warung itu hanya sederhana sekali, Bwee Hong dan Seng Kun memandang kepada A-hai dan hendak menegurnya.
Akan tetapi pada saat itu, pemilik warung memandang kepada A-hai dan kelihatan terkejut sekali.
"Kongcu!"
Dia berseru.
"Aih, saya benar-benar linglung, tidak mengenali kongcu. Habis, kongcu berpakaian seperti ini sih! dimana nona kecil? Tentu sekarang sudah besar, ya? Sudah empat tahun lebih kongcu tidak singgah disini. Ya, sejak gu-lojin meninggal dunia."
Bwee Hong dan Seng Kun terkejut dan memandang heran, akan tetapi yang lebih heran dan bingung lagi adalah A-hai sendiri.
Dia memandang dengan alis berkerut, akan tetapi sedikitpun dia tidak mengenal orang itu.
Jantungnya berdebar keras dan dengan hati tegang dia bangkit berdiri, tangannya menyambar baju pemilik warung itu dan dengan gemetar dia berseru.
"Engkau... engkau mengenal siapa aku? Ah, cepat katakan! Siapakah aku ini? Siapa pula nona kecil yang kau tanyakan itu?"
Si pemilik warung menjadi pucat dan ketakutan.
Apa lagi karena cengkeraman tangan A-hai pada bajunya demikian keras dan pemuda yang tegap itu kelihatan melotot dari memandang kepadanya dengan mata berapi-api.
"Ahhh, kongcu eh, aku aku mungkin yang salah lihat!"
"Mungkin"
Beberapa orang yang duduk didalam warung dan sedang makan bubur, menjadi terkejut melihat adegan itu dan wajah mereka membayangkan rasa hati yang tidak senang. Melihat ini, Seng Kun cepat melerai.
"Sabarlah, saudara A-hai, jangan membuat onar disini. Kita adalah orang asing ditempat ini. Tenanglah dan mari bicara baik-baik."
A-hai terpaksa melepaskan cengkeramannya dan dengan wajah agak pucat diapun duduk kembali. Bwee Hong lalu memesan makanan nasi, sayur dan ikan asin.
"Tenanglah, saudara A-hai,"
Seng Kun berbisik.
"Sabar saja, nanti setelah makanan dihidangkan, dengan halus kita menanyakan hal itu kepadanya."
Tiga orang tamu pertama telah meninggalkan warung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Seng Kun. Ketika pemilik warung datang menghidangkan pesanan mereka, dengan suara halus Seng Kun bertanya.
"Paman, tolong ceritakan bagaimana engkau sampai mengenal teman kami ini?"
Kakek pemilik warung itu nampak gugup. Dia menggeleng kepala, memandang kepada A-hai sejenak, lalu menggeleng kepala lagi.
"Tidak, saya tidak mengenalnya. Maaf, saya tadi telah salah lihat, maaf"
"Sungguh, paman, kami tidak apa-apa. Kami hanya ingin tahu siapa yang paman sebut kongcu tadi. Kami tidak bermaksud buruk, paman."
Bwee Hong ikut membujuk dengan suara yang halus.
Melihat sikap gadis ini, hati si pemilik warung agak berani dan kalau tadi dia tidak berani bicara adalah karena sikap A-hai yang kasar.
Maka diapun berceritalah.
"Saya memang mengenal seorang kongcu yang wajahnya mirip sekali dengan tuan ini. Saya tidak tahu nama lengkapnya, kami hanya menyebut dia Souw-kongcu saja. Juga kami tidak mengenal nama lengkap dari gu-lojin yang sering dikunjungi oleh Souw-kongcu. Dia selalu singgah diwarung kami ini apabila mengunjungi gu-lojin yang berdiam ditengah hutan itu. Dan Souw-kongcu itu kalau singgah kesini tentu selalu memesan ayam panggang! Sebenarnya kami tidak menjualnya, akan tetapi khusus untuk dia, saya tentu menyembelihkan ayam kami sendiri. Dan dia ini... eh, maksud saya beliau itu sering pula mengajak puterinya yang mungil... ehh!" (Lanjut ke
Jilid 24) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 24 Tukang warung itu menghentikan ceritanya karena terkejut melihat betapa tiga orang pendengarnya itu tersentak.
A-hai terkejut sekali karena merasa ada sesuatu menyentuh perasaan hatinya ketika pemilik warung itu menyebut tentang seorang gadis kecil.
Mungkinkah aku sudah mempunyai anak, pikirnya dengan keras.
Sementara itu, Bwee Hong merasa kaget dan seperti ada sesuatu yang hilang ketika mendengar bahwa yang disebut kongcu itu telah mempunyai seorang puteri.
Dengan wajah agak berobah pucat ia memandang kepada A-hai yang nampak termangu-mangu dan seperti orang yang berusaha mengingat-ingat sesuatu dengan sia-sia.
Seng Kun sendiri termangu-mangu dan penuh dugaan, akan tetapi jelas bahwa dia merasa sangat tertarik.
Tiba-tiba A-hai menggebrak meja dan menangis tersedu-sedu, menelungkupkan mukanya diatas meja.
"A-hai... engkau manusia gila! Siapakah sebenarnya diriku ini?"
Kakak-beradik itu merasa terharu sekali dan dari kanan kiri mereka merangkul pundak A-hai.
"Saudara A-hai, harap jangan khawatir. Kami akan membantumu menyelidiki segala sesuatu tentang dirimu. Tenanglah, siapa tahu kita akan dapat membuka tabir rahasiamu ditempat ini."
Setelah dibujuk oleh kakak-beradik itu, A-hai berhenti menangis, mengusap air matanya dengan kedua kepalan tangannya dan diapun tersenyum masam.
"Terimakasih, kalian sungguh amat baik kepadaku"
Seng Kun lalu berkata kepada pemilik warung itu, suaranya membujuk.
"Paman, kami bertiga sungguh tidak ingin menyusahkan paman dan kami tidak mempunyai niat buruk. Akan tetapi, terus-terang saja kami merasa amat tertarik akan cerita paman tentang kongcu itu, dan juga tentang gu-lojin. Kami tentu akan memberi imbalan jasa kepadamu kalau engkau suka menceritakan sejujurnya kepada kami tentang kongcu itu, dan tentang gu-lojin. Ceritakanlah, paman, apakah kongcu itu sering membawa teman kalau dia sedang membeli makanan disini?"
Pemilik warung itu menggeleng kepala.
"Souw-kongcu tidak pernah membawa teman maupun pengawal. Dia sakti bukan main. Lihat, saya mempunyai pedang eh, golok besar peninggalan Souw-kongcu."
Pemilik warung itu berlari kedalam dan tak lama kemudian dia sudah kembali lagi sambil membawa sebuah golok yang tebal dan besar, kelihatan berat sekali dan golok itu dibawanya dengan kedua tangannya.
Seng Kun bertiga segera melihat dan memeriksa golok itu.
Golok itu tebalnya hampir dua senti, dan dibagian tengah somplak seperti terkena pukulan benda keras.
Ketika Bwee Hong memeriksa lebih teliti, ia terkejut sekali.
Gadis itu melihat betapa ditempat yang somplak dari golok itu terdapat tiga buah lubang dan susunan lubang itu persis seperti tiga buah tonjolan yang terdapat dipelipis kiri A-hai, yaitu berbentuk segi tiga!
"Tolong kau ceritakan tentang golok ini, paman."
Seng Kun membujuk pemilik warung itu.
"Golok besar ini milik seorang bajak sungai yang mampir didusun ini, dan kebetulan dia memasuki warung saya. Pada saat itu, kebetulan pula Souw-kongcu sedang berada disini menikmati eh, ayam panggangnya."
Dia melirik kearah A-hai dengan takut-takut, dan pada saat itu A-hai juga sedang menghadapi pesanannya tadi, yaitu panggang ayam!
"Bajak sungai membuat onar disini.
Souw-kongcu menjadi marah dan mereka berkelahi.
Akan tetapi baru segebrakan saja, bajak itu tewas!
Golok besarnya yang dipakai menangkis jari-jari tangan Souw-kongcu somplak dan jari-jari itu tetap mengenai pelipis bajak sungai sehingga roboh dan tewas seketika."
Tiga orang itu mendengarkan dengan penuh takjub. Bwee Hong saling berpandangan dengan kakaknya.
"Jari tangan? Jadi ini bekas jari tangan?"
Ia menunjuk kearah lubang-lubang pada golok itu dan melirik kearah pelipis A-hai, keduanya mulai mengerti sekarang.
Mereka berdua melihat betapa susunan bekas jari tangan pada golok itu sama benar dengan susunan tiga tonjolan pada pelipis A-hai.
Dan bekas-bekas jari itu tentu merupakan semacam ilmu menotok yang amat ampuh dan kuat.
Entah ilmu totok apa dan dari perguruan mana mereka tidak mengenalnya dan tidak dapat menduganya.
Akan tetapi mereka merasa yakin bahwa antara A-hai dan perguruan itu tentu ada hubungannya yang dekat, entah sebagai kawan ataukah sebagai lawan.
Seng Kun mengerutkan alisnya.
Dia sejak tadi mengingat-ingat, perguruan mana yang memiliki ilmu menotok tiga jari yang bekasnya merupakan bentuk segi tiga seperti itu, akan tetapi dia tidak ingat, atau juga mungkin belum pernah mendengarnya.
Tiba-tiba dia bangkit berdiri.
Mereka sudah selesai makan karena tadi mereka bicara sambil makan.
"Paman, tolong kau tunjukkan dimana rumah gu-lojin itu."
"Benar, paman. Bantulah kami. Kalau tidak ada yang menjaga, tutup sebentar warungmu ini dan kami akan memberi kerugian kepadamu,"
Sam-bung Bwee Hong dengan sikap manis.
Kakek pemilik warung itu mempunyai seorang pembantu, maka setelah memesan kepada pemban-tunya, diapun lalu mengantar tiga orang tamunya pergi kehutan tak jauh dari dusun itu.
"Biarlah saya mengantar sam-wi, bukan karena upahnya melainkan mengingat bahwa mendiang gu-lojin adalah seorang yang amat baik, sedangkan Souw-kongcu amat ramah dan dermawan. Rumah mendiang gu-lojin itu tidak jauh dari sini, beliau tinggal seorang diri dan kesukaannya adalah melukis. Marilah!"
Memang benar keterangan kakek itu.
Hutan itu tidak jauh letaknya dari dusun dan ditengah hutan itu terdapat sebuah rumah yang sudah rusak karena tidak terawat.
Gentengnya banyak yang pecah dan bocor.
Pintunya sudah miring hampir roboh dan dinding rumah itupun banyak yang pecah karena diterjang akar-akar pohon yang menutupi rumah itu.
Seng Kun dan adiknya yang sejak tadi diam-diam memperhatikan A-hai, melihat sesuatu yang aneh pada diri orang muda ini.
Begitu memasuki hutan, A-hai berjalan seperti dengan sendirinya menuju kerumah itu dan setiba disitu, seperti orang gila A-hai lari kesana-sini mengitari rumah, seperti orang yang sedang mencari-cari sesuatu.
Seng Kun menyentuh lengan adiknya dan memberi isyarat agar membiarkan saja apapun yang akan dilakukan oleh A-hai.
A-hai memasuki rumah itu dan tak lama kemudian diapun keluar dari kamar belakang dan tangannya membawa sebuah boneka dari batu giok yang amat indah.
Ukiran pada boneka itu amat halus dan ternyata boneka itu adalah patung seorang puteri bangsawan Istana dengan rambut disanggul tinggi.
Cantik bukan main boneka itu dan kakak-beradik itu diam-diam amat mengaguminya karena boneka itu terbuat dari pada batu giok hijau yang jernih warnanya.
Tanpa berkata-kata, A-hai memberikan boneka itu kepada Bwee Hong yang menerimanya dan memeriksanya bersama Seng Kun.
"Koko, boneka giok ini merupakan benda yang tak ternilai harganya. Eh ada tulisan dibawah alas kakinya. Coba lihat, ukiran tulisannya kecil-kecil namun jelas."
"Bagaimana bunyinya?"
Tanya Seng Kun.
"Hadiah ulang tahun untuk puteriku Lian Cu."
Bwee Hong membaca.
Tiba-tiba A-hai kembali lari kesana-sini mencari sesuatu.
Dia berhenti didepan sebuah batu nisan yang hampir terpendam dibawah tanah.
Melihat pemuda itu mengamati batu nisan seperti orang linglung, si pemilik warung mendekatinya.
"Ini adalah makam... aduhhh...!"
Belum habis dia bicara, tiba-tiba tangan kiri A-hai sudah mencengkeram lehernya dengan kuat.
"Hayo katakan! Ini adalah makam... bocah... bocah itu...!"
Teriaknya seperti orang kesetanan.
"Bu... bukan... bukan..."
Kata si pemilik warung ketakutan.
"Ini adalah makam gu-lojin...!"
Seng Kun dan Bwee Hong cepat mendekat dan melerai.
"Saudara A-hai, harap engkau tenang saja. Kita sedang menyelidiki semua ini, harus dilakukan dengan sabar,"
Kata Bwee Hong dengan halus. A-hai melepaskan si pemilik warung dan diapun duduk diatas tanah, didepan tanah kuburan itu dan menutupi mukanya.
"Saudara Seng Kun, nona Hong, cepatlah kalian beri tahu padaku akan asal-usulku. Siapakah sebenarnya aku ini? Siapakah bocah perempuan kecil itu? Jangan-jangan ia benar-benar anakku. Lihat boneka itu, aku seperti telah mengenalnya baik-baik. Benarkah aku adalah Souw-kongcu itu, seperti yang dikatakan oleh pemilik warung ini? Aihh, kenapa gu-lojin ini juga sudah mati sehingga kita tidak dapat bertanya kepadanya"
A-hai kelihatan amat berduka memandang kearah batu nisan.
Melihat keadaan A-hai dan mendengar ratapannya, hati Bwee Hong tergerak dan tanpa disadarinya lagi iapun menghampiri orang muda itu, duduk didekatnya dan membujuknya.
Bwee Hong merasa iba hati melihat A-hai, biarpun ia merasa betapa didalam hatinya terdapat suatu kegetiran.
Hatinya tergores setelah ia menduga bahwa besar kemungkinan A-hai adalah Souw-kongcu yang telah mempunyai seorang puteri.
Diluar kesadarannya sendiri, dara yang cantik jelita ini telah jatuh hati kepada A-hai!
"Saudara A-hai, janganlah terlalu berduka.
Percayalah, aku akan membantumu untuk menyelidiki rahasia tentang dirimu, percayalah..."
Kata gadis itu dengan suara halus dan menggetar penuh perasaan.
A-hai yang sedang hanyut dalam kedukaan, begitu ada uluran tangan, tanpa sadar diapun menangkap tangan yang kecil mungil itu dan menggenggamnya dengan erat.
Gerakan ini membuat Bwee Hong hampir tak dapat menahan air matanya dan sejenak ia membiarkan tangannya digenggam pemuda itu sebelum dengan halus ia menariknya dan iapun duduk berdekatan dengan A-hai.
Melihat keadaan mereka ini, diam-diam Seng Kun menjadi prihatin dan serba salah.
"Apakah ini tanda bahwa adikku jatuh cinta kepadanya? Aih, kalau begitu, sungguh kasihan sekali Hong-moi"
Ketika kakak-beradik itu mengajak A-hai kembali kedusun karena matahari telah condong ke barat, A-hai menolak keras.
"Tidak, aku akan tinggal disini dan bermalam disini. Biarpun aku sendiri tidak ingat dan tidak tahu, akan tetapi aku merasa bahwa aku dekat sekali dengan tempat ini. Kalian berdua pulanglah kedusun dan biarkan aku sendiri malam ini tidur disini,"
Katanya berkeras.
Akan tetapi kakak-beradik itu, terutama sekali Bwee Hong, tidak tega membiarkan A-hai tinggal disitu seorang diri.
Mereka khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu menimpa diri pemuda yang masih kehilangan ingatannya itu.
Maka mereka lalu menyuruh si pemilik warung pulang kedusun terlebih dahulu dan mereka hendak menemani A-hai bermalam dirumah tua itu.
Seng Kun dan Bwee Hong membiarkan A-hai yang masih duduk termenung didepan batu nisan kuburan.
Mereka lalu memasuki rumah, membersihkan ruangan yang tidak bocor untuk dipakai beristirahat malam nanti.
"Bagaimana pendapatmu tentang A-hai, Hong-moi?"
Tanya Seng Kun ketika mereka sedang sibuk bekerja membersihkan ruangan itu.
"Koko, agaknya kita telah sampai pada ujung dari tabir rahasia kehidupan masa lalunya. Aku yakin bahwa tidak lama lagi kita akan dapat memberi tahu kepadanya siapa sebenarnya dia. Penyelidikan itu dapat kita mulai dari tempat ini, yang kita temukan secara kebetulan sekali."
"Maksudmu?"
Seng Kun menegas.
"Engkau tentu ingat betapa secara tidak sengaja dia menemukan terowongan dibawah sungai itu, kemudian ketika dia memesan ayam panggang dan ketika dia menemukan boneka giok tadi? Pada saat-saat itu dia hanya dibimbing oleh nalurinya saja. Dia tidak mempergunakan akal dan pikiran, tidak mempergunakan otak. Mungkin kalau pada saat dia hendak menyeberangi sungai dia tidak membayangkan ayam panggang, dia akan kebingungan dan tidak tahu bagaimana harus menyeberang. Karena dia melamunkan ayam panggang, maka nalurinya yang menuntunnya pergi ketempat terowongan itu. Seperti halnya kalau kita pulang kerumah sendiri, kita tidak usah harus berpikir lagi kemana kita akan berbelok. Gerakan kaki kita seperti terjadi dengan sendirinya."
"Engkau benar,"
Seng Kun mengangguk.
"Dan itu berarti bahwa tempat-tempat ini sudah sangat dikenalnya dahulu. Tempat dan suasana itulah yang membuat dia tiba-tiba menginginkan ayam panggang pada saat perutnya terasa lapar, secara otomatis dia menginginkan ayam panggang yang dipesannya diwarung itu, dan otomatis pula membawa kakinya menuju keterowongan. Dan karena dia mengenal baik tempat ini pula maka nalurinya menuntunnya menemukan boneka dan batu nisan."
"Koko, itu berarti bahwa A-hai adalah... Souw-kongcu itu, bukan? Souw-kongcu yang sudah punya isteri dan anak?"
Dalam pertanyaan ini terkandung suara yang getir. Seng Kun dapat merasakan hal ini, akan tetapi diapun terpaksa mengangguk membenarkan.
"Kurasa demikian. Kini kita tinggal melanjutkan penyelidikan kita. Siapakah Souw-kongcu itu? tokoh dari mana?"
"Hemm, menurut penuturan pemilik warung, tentu dia itu seorang pendekar yang lihai sekali dan bekas tangannya masih nampak pada golok itu."
"Akan tetapi kalau benar dia itu Souw-kongcu yang lihai itu, kenapa justeru pelipisnya sendiri terluka oleh totokan tiga jari yang hebat itu? Adikku, kita harus menyelidiki lebih teliti sebelum mengambil kesimpulan. Belum tentu dia itu Souw-kongcu yang pandai menotok tiga jari dalam bentuk segi tiga. Mungkin A-hai ini kakak atau adiknya, atau sanak keluarganya yang mempunyai wajah mirip sehingga penjaga warung itu mengenalnya."
Mendengar ucapan ini, tentu saja timbul lagi harapan didalam hati Bwee Hong dan wajahnya nampak berseri.
Hal ini tidak terlepas dari pengamatan Seng Kun dan kakak ini menarik napas panjang.
Benar-benar ia sudah jatuh cinta, pikirnya.
Pada saat itu A-hai melangkah masuk dan membantu mereka membersihkan ruangan itu.
Setelah selesai, mereka duduk diatas lantai yang sudah bersih.
"Saudara A-hai, tempat ini sepi dan tenang. Bagaimana kalau kami mulai memeriksa penyakitmu?"
Kata Seng Kun. A-hai mengangguk.
"Silahkan."
Seng Kun, dibantu oleh adiknya, lalu mulai melakukan pemeriksaan.
Mula-mula dia memeriksa mata, lalu lidah dan tenggorokan, dan dengan amat teliti dia memeriksa denyut nadi kedua pergelangan tangan A-hai.
Didalam pengobatan tradisionil Tiongkok, pemeriksaan lewat denyut nadi merupakan bagian yang terpenting.
Seorang yang sudah ahli benar, dapat merasakan gejala-gejala macam penyakit lewat denyut urat nadi itu.
Setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, makin yakinlah hati kakak dan adik itu bahwa sumber penyakit yang menghilangkan ingatan A-hai terletak pada kekacauan jalan darah dikepala!
Maka Seng Kun lalu langsung memeriksa pelipis kiri.
Seng Kun meraba-raba pelipis itu, kemudian menggunakan jarum perak menoreh kulit disekitar benjolan-benjolan itu.
Darah menetes dan dia memperhatikan tetesan darah yang keluar, Kemudian menyuruh Bwee Hong memeriksa darah itu dengan seksama.
Akhirnya, setelah memeriksa dengan teliti, Seng Kun menarik napas panjang.
"Saudara A-hai, benjolan-benjolan dipelipismu ini adalah akibat terkena ilmu totok urat yang amat hebat. Melihat bekas dan akibat totokan ini, aku mempunyai dugaan bahwa ilmu itu adalah semacam Sam-ci Tiam-hwe-louw (Ilmu Totok Tiga Jari) yang luar biasa ampuhnya dan yang memang khusus untuk menotok urat-urat kematian. Akan tetapi entah karena ilmu kepandaian si penotok itu yang belum sempurna ataukah karena Ilmu kepandaianmu yang lebih unggul dari padanya, akibat dari totokan itu tidak sampai menewaskanmu, melainkan hanya mengakibatkan memar diurat jalan darah yang tertotok. Memar itu menyebabkan darah matang menyumbat hiat-to (jalan darah) yang menuju keotak tidak mendapatkan aliran darah yang wajar seperti biasanya. Tentu saja hal ini membuat otak tidak dapat bekerja dengan baik. Masih untung bahwa totokan itu hanya mengakibatkan tersumbatnya jalan darah menuju kebagian otak yang depan saja sehingga engkau masih mampu berpikir walaupun sebagian lagi telah tidak bekerja sehingga engkau tidak ingat akan masa lalumu. Kalau totokan itu mengakibatkan tersumbatnya jalan darah kesemua bagian dari otak, engkau akan hidup seperti seorang bayi yang tidak pernah mengetahui apa-apa!"
Mendengar keterangan terperinci ini, Bwee Hong merasa bulu tengkuknya meremang.
"Akan tetapi, koko. Kenapa pada waktu kumat, dia memperoleh kembali ingatan-ingatannya walaupun hanya sebagian saja?"
Kakaknya mengangguk-angguk.
"Mudah diperkirakan, Hong-moi. Engkau pernah mengatakan bahwa manusia mempunyai naluri. Nah, aku yakin bahwa ada suatu peristiwa yang sangat berpengaruh atas naluri saudara A-hai pernah terjadi dimasa lalunya. Kita tidak tahu persis apa adanya peristiwa itu, akan tetapi mudah diperkirakan bahwa peristiwa itu ada hubungannya dengan darah manusia. Maka apabila dia melihat genangan darah, otomatis terjadilah guncangan hebat pada batinnya. Nah, akibat guncangan batin yang hebat inilah maka jantungnya bekerja beberapa kali lebih keras dari biasanya. Dan karena jantung bekerja keras, tentu saja tekanan aliran darah menjadi sedemikian kuatnya sehingga darah dapat juga sedikit menembus sumbatan itu dan dapat mengalir keotak yang kering itu, biarpun hanya dengan sukar sekali. Dengan demikian, untuk saat-saat itu otak yang membeku dapat bekerja kembali walaupun belum sempurna benar. Dan setelah pengaruh guncangan itu habis, maka berhenti pula aliran darah itu. Engkau tadi melihat, ketika aku menusukkan jarum dibagian atas dan bawah benjolkan, aliran darahnya berbeda-beda, ada yang tetesannya cukup deras ada pula yang sama sekali tidak keluar?"
Bwee Hong mengangguk-angguk kagum sedangkan A-hai hanya mendengarkan dengan bengong saja.
"Kun-ko, engkau sungguh hebat. Keteranganmu dapat menjelaskan persoalannya. Lalu mengapa apabila saudara A-hai sedang kumat dia melupakan semua orang? Termasuk juga kita?"
Seng Kun tersenyum.
"Aku sudah memperhatikan hal itu. Lihatlah satu tonjolan ini tidak berada didalam urat, akan tetapi mengenai bagian diluar urat. Inilah yang menyelamatkan saudara A-hai, selamat dari kelumpuhan total dari otaknya. Akan tetapi tonjolan ini justeru terletak dalam kumpulan otot-otot pelipis dan rahang. Dengan demikian, apabila otot-otot itu mengejang karena saudara A-hai sedang marah, tonjolan itu malah mendesak dan menghimpit urat didekatnya dengan otomatis. Dengan demikian, maka bagian yang normal dari otak itulah yang justeru tidak kebagian darah karena himpitan itu. Mengertikah engkau?"
Bwee Hong mengangguk.
"Akan tetapi, lalu bagaimanakah agar supaya aliran darah keotak itu dapat terbuka kembali semuanya sehingga otak dapat bekerja kembali dengan wajar?"
"Inilah yang harus kita kerjakan, yaitu berusaha menghilangkan sumbatan-sumbatan itu. Akan tetapi hal ini tidaklah mudah. Darah yang mengental itu sudah sedemikian kerasnya sehingga aku khawatir kekuatan obat saja tidak akan mampu mencairkannya kembali. Padahal kalau kita menghilangkannya dengan pembedahan, berarti kita akan merusak pembuluh darah dan ini berbahaya sekali. Satu-satunya cara ialah membuat lubang darurat dibagian darah yang mengental itu. Akan tetapi cara seperti itu bukan merupakan pengobatan yang sekaligus dapat menyembuhkan. Setiap setahun sekali, harus dibuat lagi lubang baru karena lubang yang lama itu lambat-laun akan tertutup lagi oleh darah. Dan... itu berarti saudara A-hai ini akan selalu tergantung kepada kita yang harus membuatkan lubang darurat baru setiap tahun. Nah, sekarang terserah kepada saudara A-hai sendiri."
"Saudara Seng Kun dan nona Hong! Lakukanlah sesuka hati kalian terhadap diriku. Aku menyerah sepenuhnya kepada kalian. Pokoknya aku bisa tahu siapa sebenarnya aku ini!"
Seng Kun mengangguk girang.
Sebagai seorang ahli pengobatan, tentu saja menghadapi seorang dengan gangguan penyakit seperti A-hai ini dia merasa ditantang dan dia akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menanggulangi dan mengalahkan penyakit itu.
Dan kalau A-hai bersikap pasrah, maka hal itu sudah merupakan bantuan yang amat besar artinya bagi pengobatannya.
"Baiklah kalau begitu. Akan tetapi sebelum membuat lubang pada bagian darah kental yang menyumbat jalan darah itu, lebih dahulu aku akan membedah dan mengambil gumpalan darah yang berada diluar jalan darah, yang menghalang dikumpulan otot pelipis itu. Hal ini untuk mencegah agar otak yang normal tidak tertutup lagi jalan darahnya sewaktu engkau marah atau dalam keadaan kumat. Nah, Hong-moi, siapkan alatnya dan mari kita bekerja!"
A-hai disuruh rebah miring kekanan sehingga pelipis kirinya berada diatas.
Dengan dibantu adiknya, Seng Kun duduk bersila didekatnya, dengan teliti mengamati ketika Bwee Hong mempergunakan jarum-jarumnya untuk menusuk beberapa jalan darah ditengkuk dan pundak.
Tusukan-tusukan ini untuk menghilangkan rasa perih dan nyeri ketika pembedahan dilakukan.
Kemudian mulailah Seng Kun mengerjakan pisaunya yang tajam.
Karena pembedahan itu hanya kecil dan sederhana saja, hanya harus dilakukan dengan amat teliti dan hati-hati agar jangan sampai merusak jaringan darah, tak lama kemudian gumpalan darah kental itu dapat dikeluarkan.
A-hai tidak merasa sakit, dan baru setelah luka itu dijahit dan diobati, kemudian jarum-jarum yang menusuk beberapa bagian badan itu diambil, dia merasa betapa pelipisnya agak perih.
"Nah, saudara A-hai, mulai saat ini, biarpun engkau sedang kumat, engkau akan tetap mengenal siapa saja yang pernah kau kenal, termasuk kami,"
Kata Seng Kun.
"Terimakasih, sungguh kalian selain pandai, juga amat berbudi,"
A-hai berkata dengan terharu.
Sementara itu, malampun tiba.
Ruangan itu mulai gelap.
Bwee Hong menyalakan lilin membuat penerangan.
Kemudian mereka bertiga makan roti kering yang dibawa sebagai bekal oleh gadis itu.
Ketika Bwee Hong melihat betapa A-hai mengunyah roti itu dengan kaku, iapun tertawa.
"Saudara A-hai, untuk beberapa hari jahitan dipelipismu itu akan sedikit mengganggu apabila engkau sedang makan."
"Ah, tidak apa. Yang penting kini sebagian penyakit lupaku sudah hilang. Saudara Seng Kun, kapankah lubang dipembuluh darah itu akan dibuat? Aku sudah tidak sabar lagi menanti."
"Hemm, saudara A-hai, jangan tergesa-gesa. Pembuatan lubang itu tidak boleh sembarangan. Harus dilakukan sedikit demi sedikit, setiap kali mau tidur malam. Kalau dibuat secara mendadak, besar bahayanya darah yang mengalir kedalam otak terlalu banyak dan tiba-tiba itu akan mendatangkan guncangan. Jalan darah yang tersumbat itu seakan-akan air dibendung. Kalau bendungan itu dibuka secara tiba-tiba dan sekaligus, tentu akan terjadi banjir yang akan merusak saluran. Demikian pula dengan jalan darah itu, yang semula tersumbat sampai sekian lama, kalau dibuka sekaligus, ada bahayanya darah yang membanjir itu selain merusak jalan darah, juga dapat menimbulkan guncangan pada otak. Kesembuhan itu harus terjadi setahap demi setahap dan memerlukan kesabaran."
"Wah, kalau begitu, berapa kalikah aku harus mengalami tusukan jarummu untuk membuat lubang itu?"
"Tidak terlalu banyak, kukira tidak lebih dari sepuluh kali tusukan atau sepuluh hari saja. Tidak terlalu lama, bukan?"
"Kalau begitu, kuharap engkau suka mulai sekarang juga, lebih cepat lebih baik bagiku.
"Akan tetapi baru saja engkau mengalami pembedahan"
Bwee Hong mencela.
"Tidak mengapa! Aku sudah tidak merasakan nyeri lagi, nona."
"Baiklah kalau begitu, saudara A-hai. Nah, engkau rebahlah lagi seperti tadi. Akan tetapi sekali ini, sehabis penusukan pertama, engkau harus tidur dan banyak istirahat, tidak boleh banyak bergerak."
A-hai mengangguk dan dengan penuh semangat diapun merebahkan diri.
Seng Kun menotok jalan darah dikedua pundak dan punggung sedangkan Bwee Hong lalu menusukkan jarum-jarumnya disekitar pelipis.
A-hai segera tertidur pulas oleh totokan-totokan dan tusukan jarum-jarum itu.
Dengan hati-hati Seng Kun lalu mempersiapkan jarumnya.
Lebih dulu dia duduk melakukan siulian dan mengheningkan pikiran, Kemudian mengumpulkan hawa murni disalurkan dikedua lengannya.
Barulah dia berani melakukan penusukan itu.
Kedua tangannya bergerak mantap, jari-jari tangannya tidak gemetar dan sepasang matanya memandang tajam, setiap gerakan dilakukan dengan tepat.
Dia tahu betapa berbahayanya pekerjaan yang dilakukannya itu.
Sedikit saja meleset atau salah, ada bahaya nyawa A-hai akan melayang!
Dia harus dapat menancapkan jarumnya mengenai sasaran, yaitu gumpalan darah itu, jangan sampai merusak pembuluh darah dan jangan sampai mengenai jalan darah lain walaupun yang kecil sekali.
Beberapa kali tusukannya masih belum menghasilkan apa-apa.
Darah masih belum menetes keluar.
Dia mulai berkeringat, bahkan Bwee Hong yang melayaninya juga mengeluarkan peluh dingin karena dara inipun tahu akan besarnya bahaya yang mengancam nyawa A-hai.
Akhirnya, pada tusukan yang kesekian kalinya ketika jarum dicabut, nampak darah hitam sedikit mengalir keluar.
Kakak-beradik itu merasa sangat puas.
Seng Kun menyudahi pekerjaannya.
"Untuk yang pertama kali cukuplah, biar dia tidur nyenyak. Mari kita keluar mencari hawa segar,"
Kata Seng Kun sambil menyeka keringat yang memenuhi dahi dan lehernya.
"Baiklah, koko. Engkau keluarlah lebih dulu. Aku akan membersihkan alat-alat pengobatan kita dan menyimpannya. Nanti aku akan menyusulmu keluar."
Seng Kun mengangguk dan melangkah keluar.
Dia tahu bahwa adiknya itu masih belum tega meninggalkan A-hai seorang diri setelah menjalani pengobatan sangat berbahaya itu.
Diluar hawanya sangat sejuk.
Bulan sepotong yang melayang diantara awan-awan nampak indah sekali.
Tanpa disadarinya, Seng Kun melangkah perlahan-lahan menuju kemakam gu-lojin yang berada tidak jauh dari rumah tua itu.
Akan tetapi ketika dia sudah tiba didekat makam, mendadak dia menahan langkah kakinya dan matanya terbelalak.
Dibatu nisan itu nampak seorang laki-laki duduk bersandar, matanya melotot dan lidahnya terjulur keluar.
Jelaslah bahwa orang itu sudah mati!
Cepat Seng Kun mendekati dan memeriksanya.
Kiranya orang itu adalah kakek penjaga warung, dan baru saja mati.
Badannya masih hangat dan ketika Seng Kun memeriksa lehernya, dia mengumpat.
"Sungguh kejam pembunuh itu! Seperti iblis! Orang ini mati karena diinjak lehernya. Bekas sepatu kaki penginjak itu masih nampak nyata."
Tiba-tiba Seng Kun meloncat bangkit berdiri dan siap siaga ketika dia mendengar suara ketawa parau dan lantang didekatnya.
Dia cepat menoleh, akan tetapi tidak nampak bayangan orang.
Dia mengerutkan alisnya.
Tidak mungkin ada iblis tertawa.
Tentu suara orang dan dia hampir yakin bahwa suara ketawa itu adalah suara si pembunuh kejam yang mentertawakannya.
Dia merasa penasaran dan marah.
Orang sekejam itu pasti bukan orang baik-baik dan harus dilawannya.
Maka diapun mencari kearah suara ketawa yang kini terdengar lagi dari arah sungai.
Akhirnya, ditepi sungai itu, nampak seorang laki-laki pendek gemuk duduk diatas batu, kakinya direndam diair dan mukanya menengadah memandang bulan.
Laki-laki ini usianya hampir lima puluh tahun, tubuhnya pendek gemuk dengan perut yang gendut, tangan kirinya memegang sebatang tongkat besar berbentuk alu, yaitu alat penumbuk padi, berwarna putih.
Itulah senjata yang berat dan keras, terbuat dari pada baja putih.
Melihat orang ini, hati Seng Kun terkejut.
Dia mengenal senjata itu dan dia tahu bahwa dia berhadapan dengan orang kedua dari Sam-ok, kawan dari Sanhek-houw.
Inilah Sin-go Mo Kai Ci, Si Buaya Sakti yang menjadi Raja diantara bajak-bajak sungai, seorang diantara pembantu-pembantu Raja Kelelawar.
Selagi Seng Kun merasa ragu karena dia belum tahu benar apakah datuk sesat ini yang membunuh kakek pemilik warung, tiba-tiba si gendut pendek itu menoleh kepadanya dan bertanya.
"Engkau mencari pembunuh tukang wjarung?"
Tentu saja Seng Kun kaget dan mengangguk karena pertanyaan itu langsung mengenai perasaan hatinya yang sedang bertanya-tanya.
Si gendut pendek itu tertawa.
Dibawah sinar bulan, perut gendutnya bergerak-gerak naik turun dan karena kini dia sudah bangkit berdiri, dia kelihatan sekali pendeknya.
"Ha-ha-ha-ha, dan engkau akan menemaninya disana!"
Tiba-tiba saja tubuh yang gendut pendek itu meloncat.
Demikian cepat gerakannya, sama sekali tidak pantas melihat tubuhnya yang gendut itu dan didahului oleh gulungan sinar putih dari senjatanya, datuk sesat ini telah menyerang Seng Kun.
Hebat sekali serangannya itu, mengandung tenaga yang kuat sehingga terdengar suara angin bersiutan menyambar-nyambar.
Seng Kun maklum akan kelihaian lawan, maka diapun melawan sambil mengerahkan tenaganya dan karena dia bertangan kosong, maka dia mengandalkan ginkangnya yang hebat untuk menghindarkan diri dari ancaman senjata alu baja yang berat itu.
Biarpun gerakannya amat cepat, namun ternyata Si Buaya Sakti itu lihai bukan main, bahkan dibandingkan dengan Sanhek-houw, dia tidak kalah lihai.
Serangannya juga bersifat liar dan bahkan dia lebih ulet.
Karena bertangan kosong, terpaksa Seng Kun beberapa kali menerima hantaman alu dengan tangkisan lengannya yang membuat dia beberapa kali terpelanting.
Lewat tiga puluh jurus lebih, Seng Kun terdesak.
Tiba-tiba terdengar jeritan suara wanita dari dalam rumah tua.
Tentu saja hati Seng Kun terkejut dan penuh kekhawatiran.
Adiknya berada didalam rumah tua itu dan yang mengeluarkan jeritan itu tentulah adiknya.
Saking kaget dan khawatirnya, dia menoleh dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sin-go Mo Kai Ci untuk mencengkeram pundak Seng Kun dan pemuda itu seketika merasa tubuhnya lumpuh tidak mampu bergerak lagi.
"Ha-ha-ha, engkau mendengar jeritan gadis itu? Heh-heh, Sanhek-houw tentu sedang memperkosanya. Heh-heh-heh!"
Seng Kun terbelalak dan roboh pingsan mendengar kata-kata keji itu. Si Buaya Sakti tidak perduli, bahkan kelihatan gembira sekali. Dia menyeret tubuh Seng Kun kearah rumah tua sambil berteriak-teriak.
"Heii, bangsat tua! Sudah selesaikah engkau? Nih, bocah itu telah kuhajar setengah mampus. Kurang ajar engkau! Katamu, ilmu kepandaiannya bukan main hebatnya. Tidak tahunya cuma sebegitu saja!"
Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Si Buaya Sakti melemparkan tubuh Seng Kun kedekat mayat pemilik warung, lalu dia duduk diatas batu nisan, mulutnya memaki-maki dan menyumpah-nyumpah dengan suaranya yang tinggi melengking seperti suara wanita.
"Hayo, cepatlah! Bandot tua yang tidak tahu diri! Sudah mau masuk lobang kubur masih gemar main perempuan!"
Akan tetapi tidak ada suara sedikitpun dari dalam rumah itu, tidak ada sedikitpun jawaban terhadap kata-kata dan makiannya.
Hal ini membuat Si Buaya Sakti menjadi semakin uring-uringan dan akhirnya dia merasa penasaran.
Bagaimanapun juga, rekannya itu tidak akan berani menghinanya dengan membiarkan dia berteriak-teriak sendirian saja sejak tadi, seperti orang gila.
Dia lalu bangkit berdiri, meludah ketanah, kemudian menyeringai dan berjalanlah dia menuju kerumah tua itu.
Sambil tersenyum-senyum nakal dia menghampirri jendela dan dengan lagak seorang bocah nakal diapun lalu mengintai kedalam sambil cengar-cengir.
Akan tetapi, matanya terbelalak dan liar mencari-cari.
Kamar itu kosong!
Tidak nampak ada gerakan orang disitu.
Tubuh yang gendut itu dengan ringannya melayang masuk ruangan itu melalui jendela.
Diatas lantai nampak seorang pemuda terlentang dalam keadaan tidur pulas.
Disudut ruangan itu terdapat pakaian si gadis berserakan.
Akan tetapi gadis itu sendiri tidak berada disitu.
Juga Sanhek-houw tidak nampak bayangannya.
kemanakah mereka pergi?
Si Buaya Sakti mengepal tinju, mengamang-amangkan tinjunya keatas lalu membanting-banting kakinya yang besar dan pendek itu keatas lantai sampai rumah itu tergetar.
"Bedebah! Keparat! Bangsat hina! Benar-benar kurang ajar! Teman disuruh berkelahi, sedangkan dia sendiri enak-enak pergi dengan perempuan, bersenang-senang tanpa memperdulikan teman. Tanpa pamit lagi. Keparat, kuhajar engkau nanti!"
Si Buaya Sakti menjadi marah bukan main, tubuhnya meloncat keluar lagi dan dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah tiba didepan nisan.
Karena dia sedang marah, dia lalu menghampiri tubuh Seng Kun yang terkapar diatas tanah ketika dia melemparkannya tadi dan dengan buas dia lalu menginjak sambil mengerahkan tenaganya kearah dadanya.
"Krekk! Krekkk!!"
Si Buaya Sakti terkejut bukan main. Korban yang diinjaknya itu lalu disepaknya dan diapun meludahinya. Daun-daun dan ranting-ranting berhamburan dari "tubuh"
Yang diinjaknya tadi.
"Gila! Anjing babi keparat jahanam laknat! Siapa berani mempermainkan Si Buaya Sakti? Siapa yang bosan hidup didunia ini dan berani main-main dengan aku? Akan kulumatkan kepalamu, kuhancurkan dadamu!"
Alu baja itu diamang-amangkannya dan matanya melotot, mencari-cari kesegenap penjuru. Kiranya yang diinjak dadanya tadi hanyalah pakaian yang diisi dengan daun-daun dan ranting-ranting kecil.
"Aku berada disini!"
Suara itu halus dan terdengar perlahan dari atas sebatang pohon tua yang tinggi.
Si Buaya Sakti terkejut dan memandang keatas.
Kiranya diatas sebuah dahan panjang yang tinggi, duduklah seorang kakek bersama dua orang pemuda, seorang diantara dua pemuda itu adalah Seng Kun, pemuda yang tadi dirobohkannya.
Kini tiga orang itu melayang turun dengan gerakan yang amat ringan seperti daun-daun kering yang rontok dari dahannya.
Setelah dapat memandang jelas wajah kakek itu, Si Buaya Sakti semakin kaget.
Dia mengenal wajah kakek sederhana yang memegang tongkat ini.
Beberapa tahun yang lalu, kakek tua renta yang sederhana dan kelihatan lemah ini pernah bertanding ginkang dengan Raja Kelelawar dan bahkan mengalahkan Rajanya itu!
Tentu saja dia terkejut dan gentar.
Dia tahu bahwa kakek ini lihai bukan main.
Apa lagi disitu masih ada pula dua orang pemuda yang juga bukan merupakan lawan yang lunak.
Akan tetapi, dia adalah Si buaya Sakti, pembantu utama dari Raja Kelelawar, dia seorang datuk kaum sesat yang terkenal sebagai Rajanya kaum bajak sungai.
Orang seperti dia tentu saja pantang untuk memperlihatkan takut.
Sambil mengeluarkan suara gerengan keras diapun memutar alu bajanya dan menyerang kedepan.
"Tranggg!"
Bunga api berpijar ketika sebatang pedang menangkis alu baja itu.
Kiranya yang menangkis dengan pedang adalah pemuda kedua yang datang bersama kakek itu.
Dia adalah Kwee Tiong Li, pemuda yang pernah menjadi murid pemberontak Chu Siang Yu, dan pernah menjadi ketua Lembah Yang-ce.
Seperti telah diceritakan dibagian depan, pemuda ini bertemu dengan kakek Kam Song Ki yang menjadi murid ketiga dari mendiang Bu-Eng Sin-yok-ong.
Setelah diselamatkan oleh kakek itu.
Kwee Tiong Li yang berjodoh untuk menjadi murid kakek itu lalu ikut bersama kakek itu mempelajari ilmu silat, sehingga dia yang memang tadinya sudah lihai memperoleh kemaiuan yang pesat sekali.
Pemuda yang mukanya agak kemerahan ini mempergunakan pedangnya.
Dan setelah mereka berdua saling serang selama lima puluh jurus, harus diakui oleh Si Buaya Sakti bahwa ilmu pedang pemuda ini hebat bukan main, dan kalau dilanjutkan, tentu dia akan celaka.
Apa lagi kalau Seng Kun dan kakek lihai itu maju.
Maka, tanpa malu-malu lagi, dia lalu meloncat kebelakang untuk melarikan diri.
Kwee Tiong Li tidak mengejarnya, akan tetapi ujung pedangnya sempat menyerempet bahu kiri Si Buaya Sakti sehingga bajunya robek dan berdarah.
Sementara itu, ketika Kwee Tiong Li sedang bertanding melawan Si Buaya Sakti, Seng Kun menengok kearah rumah tua.
Dia maklum bahwa dengan adanya si kakek sakti, tidak perlu dikhawatirkan pemuda itu akan kalah melawan Si Buaya Sakti.
Maka diapun meninggalkan tempat itu dan mencari adiknya kerumah tua.
Dengan hati berdebar tegang, Seng Kun memasuki rumah itu, langsung menuju kedalam ruangan dimana tadi dia meninggalkan A-hai dalam keadaan tidur pulas dan dijaga oleh Bwee Hong.
Akan tetapi, dia hanya melihat A-hai yang masih rebah dan tertidur pulas, sedangkan adiknya sudah tidak nampak lagi.
Yang ada hanyalah pakaian adiknya yang berserakan disudut ruangan.
Tentu saja hatinya menjadi pilu dan gelisah.
kemanakah perginya Bwee Hong?
Apa yang telah terjadi dengan adiknya?
Ketika dia keluar lagi dari rumah itu, perkelahian antara Kwee Tiong Li dan Si Buaya Sakti sudah berakhir dan penjahat itu sudah kabur entah kemana.
Seng Kun lalu menghampiri kedua orang yang tadi telah menolongnya.
Tadi ketika dia dilempar dalam keadaan pingsan oleh Si Buaya Sakti didekat mayat pemilik warung, dia telah ditolong dan dibawa naik keatas pohon oleh seorang kakek.
Kemudian seorang pemuda yang datang bersama kakek itu mempergunakan daun dan ranting yang dibungkus pakaian untuk menggantikan tubuhnya.
Dengan beberapa kali totokan, diapun sadar dan bebas dari totokan Si Buaya Sakti, dan dengan isyarat, kakek dan pemuda itu menyuruh dia berdiam diri dan mereka menanti sampai Si Buaya Sakti muncul dengan marah-marah dari dalam rumah tua.
"Ji-wi telah menyelamatkan nyawa saya, untuk itu saya menghaturkan banyak terimakasih. Akan tetapi saya telah kehilangan adik perempuan saya yang saya tinggalkan didalam rumah tua itu. Saya khawatir kalau adik saya menjadi korban kejahatan kaum sesat itu. Mohon bantuan ji-wi untuk menyelamatkan adik saya."
Kakek Kam Song Ki merangkapkan kedua tangan didepan dada lalu menancapkan tongkatnya keatas tanah.
"Siancai, negara sedang dalam kekacauan dan semua penjahat merajalela, seolah-olah semua iblis telah keluar dari neraka untuk mendatangkan onar dipermukaan bumi. Kami baru datang dan kebetulan saja dapat menyelamatkanmu, orang muda. Kami tidak tahu kemana perginya adikmu itu."
"Tadi adik perempuan saya berada didalam rumah tua. Ditempat ini hanya terdapat sebuah dusun. Kalau ada yang menculiknya, tentu kedusun itulah dibawanya. Saya akan mencari kesana!"
Kata Seng Kun.
"Biarlah kami ikut bersamamu dan sedapat mungkin membantumu,"
Kata pemuda itu.
Mereka tidak sempat berkenalan karena Seng Kun sedang berada dalam keadaan gelisah sekali memikirkan keselamatan adiknya.
Kalau benar adiknya diserang oleh Sanhek-houw, tentu adiknya kalah dan kalau sampai adiknya diculik oleh datuk itu, celakalah!
Merekapun mulai mencari-cari jejak.
Karena malam itu hanya diterangi bulan sepotong, maka sukarlah mencari jejak orang dan akhirnya mereka menuju kedusun dengan mengambil jalan setapak.
Dengan teliti Seng Kun berjalan didepan dan ditengah perjalanan ini dia membungkuk dan mengambil sepotong sepatu wanita yang dikenalnya sebagai sepatu Bwee Hong.
Tentu saja hatinya menjadi semakin gelisah dan dia mempercepat langkah.
Hatinya tegang karena jejak itu telah ditemukan berupa sepatu adiknya.
Tentu adiknya telah dilarikan penjahat menuju kedusun itu.
Dusun itu sepi sekali.
Semua rumah telah menutup pintunya rapat-rapat dan didepan rumah-rumah itu tidak dipasangi lampu.
Seng Kun menjadi tidak sabar dan mulailah dia memanggil-manggil nama adiknya.
Suaranya bergema didusun itu, namun tidak terdengar jawaban.
Kemudian dia mulai memanggil nama Sanhek-houw dengan nada suara marah.
"San-hek-houw, iblis busuk! Keluarlah kalau jantan dan mari kita bertanding sampai seorang diantara kita tewas! Jangan menjadi pengecut hina yang melarikan seorang wanita!"
Namun teriakan-teriakannya inipun tidak ada jawaban.
Seng Kun mulai gelisah sekali dan keringat dingin membasahi bajunya.
Dia tidak dapat menduga dirumah yang mana iblis itu bersembunyi.
Memeriksa rumah itu satu demi satu akan memakan waktu dan dia harus cepat-cepat menyelamatkan adiknya.
Saking jengkelnya dia mengancam.
"Kubakar semua rumah disini apabila engkau tetap sembunyi!!"
Kakek Kam Song Ki menyentuh pundaknya.
"Tenanglah, tidak perlu membakar rumah penduduk yang tidak bersalah. Kemarahan hanya akan menyeret kita kepada tindakan yang sesat."
Setelah berkata demikian, kakek itu lalu mengerahkan khikangnya kearah rumah para penduduk dan berteriak, suaranya gemuruh menggetarkan daun-daun pintu dan-jendela rumah-rumah itu.
"Saudara-saudara penghuni dusun ini semua! Kami tahu jumlah kalian tidak banyak. Keluarlah kalian semua. Semuanya, tidak boleh ada yang tinggal didalam! Yang tidak mau keluar, rumahnya akan kami bakar. Cepat!!"
Mendengar seruan yang menggelegar ini, para penghuni ramah dusun itu terkejut dan ketakutan.
Satu demi satu merekapun keluarlah dari ramah mereka, menggendong anak-anak yang masih kecil dan menuntun kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah hampir tidak kuat berjalan.
Kepala dusun itu sendiri, setelah hilang kagetnya dan melihat bahwa tiga orang yang minta mereka semua keluar itu hanyalah seorang kakek dan dua orang pemuda yang nampaknya bukan orang jahat, lalu menghampiri mereka.
"Ada urusan apakah maka sam-wi minta kami semua keluar?"
Tanya kepala dusun.
"Kami mencari seorang kakek iblis yang melarikan seorang wanita. Mungkin dia bersembunyi disebuah diantara rumah-rumah dusun ini,"
Kata Seng Kun tak sabar. Kepala dusun lalu menanyai semua orang akan tetapi mereka semua menjawab bahwa tidak ada kakek iblis bersembunyi dirumah mereka.
"Sam-wi mendengar sendiri. Warga dusun kami tidak tahu tentang kakek itu, harap sam-wi mencari saja kelain tempat,"
Kata kepala dusun dengan bangga karena semua anak-buahnya ternyata tidak ada yang melakukan kesalahan.
"Akan tetapi kenapa kalian semua tidak mau membuka pintu seperti ketakutan ketika melihat kedatangan kami?"
Seng Kun bertanya penasaran.
"Soalnya sore tadi terjadi kerusuhan diwarung makan itu. Dua orang penjahat memaksa pemilik warung untuk menunjukkan dimana rumah gu-lojin."
Pada saat itu terdengar rintihan orang.
Kakek Kam dan dua orang pendekar muda itu cepat meloncat dan mendekat.
Ternyata seorang nelayan muda tergolek berlumuran darah ditepi sungai.
Tubuh bawahnya masih terbenam keair, nampaknya dengan susah payah dia baru saja berenang ketempat itu.
Kepala dusun yang sudah mengejar kesitu segera mengenai nelayan muda ini dan menegur, menanyainya.
Akan tetapi nelayan itu hanya mengeluh dan tidak mampu bicara, napasnya memburu.
Melihat ini, kakek Kam Song Ki lalu menghampiri dan menggunakan dua buah jari tangannya untuk mengobati nelayan muda itu.
Melihat betapa kakek itu menekuk telunjuk dan jari tengah, lalu menggunakan dua jari yang ditekuk itu untuk menjepit urat dibagian tengkuk dan pundak, Seng Kun memandang heran.
Itulah ilmu pengobatan dari perguruannya, yaitu cubitan pada otot yang disebut "ning"!
Sebentar saja nelayan itu sadar dan dapat bicara.
"Jahat-jahat perahuku dirampas aku dipukul ahhh"
Dan nelayan itu meringis seperti orang menangis.
Setelah dibujuk, akhirnya nelayan muda itu menceritakan betapa tadi, ketika dia mendayung perahunya hendak pulang, dengan membawa muatan ikan hasil tangkapan yang cukup banyak, dengan hati gembira, dia dipanggil oleh dua orang yang berdiri ditepi sungai.
Karena mengira bahwa dua orang itu hendak menumpang perahunya dan hatinya sedang bergembira, diapun minggir.
Sungguh tidak disangkanya bahwa dua orang itu jahat sekali.
Keranjang ikannya yang penuh itu mereka tendang keluar sehingga tumpah kedalam air, kemudian nelayan itu yang hendak melawan, dipukul sampai tercebur kedalam sungai dan perahunya dirampas!
Sungguh mereka jahat..."
Dia menangis.
"Ikan-ikanku dibuang, perahuku dirampas dan aku dipukuli"
"Bagaimana macamnya kedua orang itu?"
Seng Kun bertanya.
"Yang seorang pendek gendut membawa tongkat besar putih, seorang lagi tinggi besar"
"Tak salah lagi. Merekalah itu!"
Seng Kun berseru marah.
"Tahukah engkau kemana mereka pergi?"
Nelayan muda itu menggeleng kepala, akan tetapi karena agaknya dia mengharapkan orang akan mencari dan menghajar kedua penjahat itu dan mendapatkan perahunya, dia berkata.
"Ketika aku minggir, mula-mula mereka bertanya kepadaku dimana letaknya dusun Kim-le mungkin mereka kesana"
"Mari kita susul kesana!"
Kata Seng Kun tak sabar lagi.
Dibantu oleh dua orang penolongnya, tak lama kemudian Seng Kun menyewa sebuah perahu dan melakukan pengejaran kearah dusun Kim-le.
Seng Kun sendiri bersama Tiong Li membantu si nelayan mendayung dan biarpun perahu sudah meluncur cepat, tetap saja Seng Kun menganggapnya terlalu lambat dan dia kelihatan gelisah bukan main.
Melihat itu, kakek itu menghibur.
"Orang muda, sabarlah. Serahkan saja kesemuanya kepada Thian. Disamping usaha menyelamatkan adikmu, berdoalah saja agar adikmu itu selamat. Dengan membiarkan hati gelisah, hal itu akan mengeruhkan pikiran dan hanya akan membuat tindakanmu menjadi kacau tanpa perhitungan lagi. Jangan membiarkan pikiranmu membayangkan hal-hal buruk menimpa diri adikmu, hal itu hanya akan mengundang datangnya kegelisahan yang tiada gunanya."
Seng Kun tersadar dan dia menjadi lebih tenang.
Baru sekarang dia teringat betapa tidak pantasnya sikapnya selama ini.
Dua orang ini telah menyelamatkannya dari tangan Si Buaya Sakti, juga kini bahkan membantunya mencari adiknya.
Akan tetapi dia sama sekali belum tahu siapa adanya mereka dan tidak pernah menanyakannya!
"Harap ji-wi sudi memaafkan saya yang bersikap tak mengenal budi.
Karena gelisah memikirkan adik saya, maka saya belum sempat memperkenalkan diri.
Harap ji-wi ketahui bahwa saya bernama Seng Kun, she Bu, dan adik saya itu adalah Bu Bwee Hong.
Mohon tanya, siapakah nama Lo-cianpwe yang mulia dan juga saudara yang gagah perkasa ini?"
Kakek itu terbelalak memandang wajah Seng Kun.
"Engkau she Bu? Dan ginkangmu tadi ketika berlari... hemm, orang muda, nama keturunanmu itu mengingatkan aku akan seorang yang bernama Bu Cian"
Kini Seng Kun yang menjadi terkejut mendengar disebutnya nama itu karena nama itu adalah nama ayah dari ayah angkatnya atau juga paman kakeknya.
Bu Kek Siang!
"Apakah yang Lo-cianpwe maksudkan itu adalah mendiang kakek Bu Cian, si datuk utara?"
"Ha-ha-ha, benar, dia menjadi datuk ahli sinkang dan ahli obat diutara"
"Lo-cianpwe, beliau itu adalah kakek buyut saya, juga kakek guru"
"Ehh? Engkau anak siapakah?"
Kakek Kam Song Ki terbelalak lagi.
"Apakah engkau mengenal Bu Kek Siang?"
"Mendiang Bu Kek Siang adalah ayah angkat saya juga guru saya, juga paman kakek saya"
"Ayah angkat, juga guru, juga paman kakek? Bagaimana ini? Dan sudah mendiang?"
Kakek itu bertanya secara bertubi-tubi.
"Benar, Lo-cianpwe. Ayah angkat saya Bu Kek Siang dan isterinya, telah meninggal dunia. Sejak kecil kami berdua, saya dan adik Bwee Hong, dirawat dan dididik oleh beliau, diaku anak sendiri. Diwaktu beliau hendak meninggal dunia, barulah beliau memberi tahu bahwa kami berdua sebenarnya she Chu dan terhitung cucu keponakan beliau karena mendiang ibu kami adalah keponakan beliau."
"She Chu?"
Tiba-tiba Kwee Tiong Li bertanya.
"Saudara Seng Kun, kalau boleh aku bertanya, siapakah nama ayah kandungmu yang she Chu itu?"
Tentu saja Tiong Li bertanya demikian karena pada waktu itu, she Chu hanya dimiliki oleh keluarga dekat dari Kaisar saja, seperti juga gurunya yang pertama, yaitu pemberontak Chu Siang Yu yang masih keturunan Jenderal Chu yang terkenal berdarah keluarga Kaisar pula.
Sebenarnya Seng Kun tidak suka memperkenalkan ayah kandungnya karena dia tidak ingin diketahui bahwa dia masih berdarah bangsawan Istana.
Akan tetapi mengingat bahwa dua orang itu adalah penolongnya, maka terpaksa dia mengaku juga.
"Ayah kandungku bernama Chu Sin, akan tetapi sekarang telah berganti nama menjadi Bu Hong Tojin."
"Aihhh! Sungguh luar biasa! Pangeran Chu Sin yang kini menjadi kepala kuil di Istana? Kiranya engkau masih sanak keluarga atau sedarah dengan Bengcu (pemimpin) Chu Siang Yu!"
Teriak Tiong Li gembira.
"Siancai! Dan akupun sudah mendengar akan kehebatan Pangeran Chu Sin yang menentang Istana. Ah, anak baik, tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Bu Kek Siang itu adalah muridku, murid keponakan. Ayahnya, mendiang Bu Cian adalah twa-suhengku."
Seng Kun memandang terbelalak, kemudian menjatuhkan diri berlutut.
"Teecu sudah merasa heran ketika susiok-couw tadi menyadarkan nelayan dengan cubitan "ning"
Dari perguruan teecu. Kiranya susiok-couw adalah kalau teecu tidak salah, kakek Kam Song Ki yang mulia!"
"Ha-ha-ha, kiranya orang sendiri malah. Dan engkau tahu, dia ini, Kwee Tiong Li, adalah muridku dan tadinya menjadi murid dan pembantu utama dari pemberontak Chu Siang Yu yang masih sanakmu juga. ha-ha, dunia ini sungguh tidak berapa luas!"
Tentu saja Seng Kun merasa girang dan kakek itupun kini makin bersemangat untuk mencari dan menolong Bwee Hong yang ternyata adalah cucu muridnya sendiri.
Perahu didayung lebih cepat lagi untuk menuju kedusun Kini-le, dimana mereka harapkan akan dapat menyusul dua orang iblis yang melarikan Bwee Hong itu.
*** Setelah menguburkan mayat wanita yang telah menyelamatkan mereka, Liu Pang dan Pek Lian lalu melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati.
Mereka tidak ingin bertemu dengan musuh yang kini dibantu oleh para datuk sesat.
Agar dapat melakukan perjalanan yang aman dan tersembunyi, mereka menyeberangi padang rumput.
yang luas dan setelah fajar menyingsing tibalah mereka disebuah lembah bukit.
Tiba-tiba, dipagi hari itu, mereka mendengar suara terompet bersahut-sahutan.
Tentu ada perkemahan tentara, pikir Liu Pang yang tidak asing dengan suara terompet seperti itu.
Mereka berdua lalu mendaki puncak bukit dan meneliti kebawah.
Sinar matahari pagi memandikan bagian bawah bukit menjadi keemasan dan indah sekali.
Akan tetapi sinar mata kedua orang itu sama sekali tidak dapat merasakan keindahannya karena pandang mata mereka sibuk mencari-cari dan akhirnya mereka menemukan apa yang dicari oleh pandang mata mereka.
Ratusan buah, bahkan ribuan kemah bertebaran dibalik bukit.
Liu Pang memincingkan mata dan berseru gembira.
"Ah, itu adalah pasukan kita!"
Tentu saja Pek Lian juga merasa gembira sekali.
Dari bendera yang berkibar di puncak tenda iapun dapat mengenal tanda-tanda dari pasukan mereka sendiri.
Mereka lalu cepat menuruni bukit dan berlari-lari menuju keperkemahan itu.
Ketika mereka tiba diluar hutan kecil yang seolah-olah menjadi pintu gerbang perkemahan itu, tiba-tiba puluhan batang anak panah menyambar seperti hujan kearah mereka.
Guru dan murid ini cepat mengelak dan mencabut pedang untuk melindungi tubuh dari sambaran anak panah.
Lalu bermunculan belasan orang bersenjata yang segera mengeroyok guru dan murid itu.
Liu Pang dari Pek Lian tidak sempat menerangkan siapa keadaan mereka, dan mereka berduapun tahu bahwa para pengeroyok yang terdiri dari pasukan peronda ini adalah perajurit-perajurit baru yang menggabung selagi mereka berdua pergi sehingga tidak mengenal mereka.
"Berhenti!"
Tiba-tiba terdengar bentakan menggeledek dan muncullah seorang perwira muda yang berwajah tampan dan gagah.
Para pengeroyok terkejut, membuka jalan dan memberi hormat kepada pemuda itu.
Dibelakang pemuda tampan ini berjalan seorang pemuda lain yang berpakaian serba putih sederhana.
"Liu-Bengcu! Nona Ho!"
Pemuda tampan itu berseru. Dia Yap Kim, putera Yap-lojin, pemuda yang bengal itu. Kemudian dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, harap Bengcu maafkan, mereka ini adalah bekas pasukan pemerintah yang dibawa oleh Gui-ciangkun yang bergabung dengan kita."
Liu Pang mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Pantas, mereka sangat tangkas!"
Para perajurit terkejut setengah mati ketika mendengar bahwa dua orang yang mereka keroyok tadi bukan lain adalah Liu-Bengcu, pemimpin besar mereka, dan nona Ho yang namanya sudah amat terkenal diantara para anggauta pejuang pendekar itu!
Mereka segera minta maaf, dan dengan besar hati Liu Pang berkata.
"Mengapa minta maaf? Tindakan kalian tadi sungguh mengagumkan dan memang demikianlah seharusnya sikap pasukan peronda. Kalau kalian tidak menyerang kami, mungkin aku malah akan menegur kalian!"
Pasukan itu tentu saja merasa girang karena setelah menyerang pemimpin besar itu, mereka tidak mendapat marah, malah menerima pujian!
Kedatangan Liu Pang dan Pek Lian disambut dengan amat gembira oleh para pimpinan pasukan.
Mereka sudah merasa khawatir sekali akan lenyapnya pemimpin besar itu.
Dan kini tahu-tahu muncul bersama Pek Lian yang dalam keadaan selamat pula.
Mereka semua berkumpul dan memberi laporan kepada pemimpin besar mereka.
Ternyata gerakan mereka seperti yang sudah mereka renca-nakan ketika menghadapi pasukan besar Lai-goanswe itu berhasil dengan baik sesuai dengan siasat mereka.
Kota kecil berhasil diduduki dan pasukan besar Jenderal Lai dihadang oleh pasukan inti dari Liu Pang yang dipimpin oleh para pendekar Thian-kiam-pang.
Pasukan Lai-goanswe dapat dipukul kocar-kacir, sebagian melarikan diri, dan sebagian malah menakluk dan kini menggabung dengan para pemberontak.
"Bagus!"
Liu Pang merasa girang sekali.
biarpun dia sendiri nyaris menjadi korban akan tetapi ternyata gerakan pasukannya berhasil dan hal inilah yang terpenting baginya.
Sekarang dimanakah adanya Lai-goanswe?"
Tanyanya dengan girang. Yap Kim menghela napas panjang.
"Itulah, twako!"
Keluhnya. Semua pimpinan pasukan para pendekar itu kadang-kadang menyebut twako kepada Liu Pang.
"Itulah sebabnya mengapa para peronda tadi langsung menyerang twako dan nona Ho tanpa bertanya lagi. Malam tadi muncul dua orang sakti yang membebaskan Lai-goanswe. Aku dan kakakku Kiong Lee melakukan pengejaran, akan tetapi terpaksa kami melepaskan mereka. Aku sendiri tidak dapat melawan mereka dan kakakku sungkan untuk melawan mereka"
"Maafkan saya, Liu-Bengcu. Mereka adalah sahabat-sahabat kami sendiri. Antara perguruan kami dan perguruan mereka terjalin persahabatan yang erat. Guru saya dan ketua mereka adalah sahabat lama."
Kiong Lee menyambung penuturan adiknya dan sikapnya menjadi sungkan sekali.
"Heran, siapakah mereka?"
Liu Pang bertanya.
"Mereka adalah dua orang berjubah coklat dari Liong-i-pang."
Mendengar bahwa dua orang penculik tawanan itu adalah orang-orang Perkumpulan Jubah Naga, Liu Pang dan Pek Lian saling pandang.
"Ah, mereka!"
Liu Pang dan muridnya telah melihat kedua orang itu ketika mereka mengintai pertemuan para tokoh kaum sesat dan mendengar bahwa kedua orang itu hendak pergi ke benteng.
Kiranya mereka itu pergi keperkemahan ini dan menculik tawanan yang cukup penting!
Lai-goan-swe adalah tangan kanan Jenderal Beng Tian.
Jadi, membebaskan Panglima Lai itukah tugas yang mereka dapat dari guru mereka seperti yang telah didengarnya bersama Pek Lian ketika dua orang berjubah naga itu saling bercakap-cakap?
Ataukah suatu tugas yang lain lagi?
Akan tetapi urusan itu segera dikesampingkan dan Liu Pang lalu mengajak para pembantunya berunding.
Para pimpinan itu berniat untuk menggempur kota disebelah depan, akan tetapi Liu Pang menentang keinginan mereka.
"Jangan kerahkan semua tenaga kesana. Biarlah sepasukan kecil saja mengacau disitu. Kita perlu menggerakkan seluruh kekuatan kita menuju ke Kotaraja. jangan sampai kita kedahuluan oleh pasukan pemberontak Chu Siang Yu."
Liu Pang lalu menceritakan pengalamannya ketika dia melihat para tokoh sesat yang kini dipergunakan pula oleh para pemberontak.
Maka diaturlah siasat mereka dan pembagian kerja.
Hek-coa Ouw Kui Lam, satu-satunya diantara Huang-ho suhiap yang masih hidup, juga pernah menjadi guru Pek Lian, menerima tugas memimpin seribu orang pasukan untuk menggempur dan mengacau kota disebelah depan.
Hal ini juga amat penting untuk menutupi gerakan mereka yang sebenarnya, yaitu gerakan keutara, menuju Kotaraja.
Pasukan mereka amat besar kini, setelah banyak petani dan pasukan-pasukan pemerintah yang kalah datang menggabungkan diri.
Sampai laksaan orang.
Pasukan besar ini terpaksa harus dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok.
Kelompok terkuat berada didepan dan dipimpin oleh Liu Pang sendiri, dibantu oleh para pendekar Thian-kiam-pang.
Ho Pek Lian memimpin pasukan perbekalan, dibantu oleh para pendekar yang lain dan dibelakang sekali terdapat sebuah pasukan lain yang menjadi penjaga bagian belakang agar jangan sampai terjadi pembokongan dari pihak musuh.
Yap Kiong Lee, pendekar yang dianggap paling lihai diantara mereka semua, bertugas sebagai penghubung antar pasukan-pasukan itu.
Pagi-pagi sekali, pasukan-pasukan inipun bergerak setelah pasukan yang dipimpin Hek-coa Ouw Kui Lam mulai melakukan penyerangan kepada kota didepan.
Sehari penuh pasukan-pasukan itu bergerak dan diwaktu matahari terbenam tibalah mereka disuatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit.
Mereka lalu berkemah dan Liu Pang sendiri menempati sebuah bekas pesanggrahan yang terdapat ditempat itu.
Kota besar Pao-keng yang menjadi kota benteng penting untuk Kotaraja, terletak hanya belasan li disebelah depan, dibalik bukit.
Setelah mereka berhasil menguasai kota Pao-keng, maka mereka akan berhadapan dengan benteng Kotaraja sendiri!
Maka, Liu Pang lalu memilih tempat ini sebagai pusat atau benteng induk.
Malam itu amatlah sunyi.
Pasukan yang sudah sehari penuh melakukan perialanan yang cukup melelahkan memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat.
Akan tetapi mereka tidak lepas dari kewaspadaan.
Setiap kemah dijaga dengan ketat dan bergilir.
Liu Pang sendiri bersama Yap Kiong Lee nampak meronda mengelilingi perkemahan.
Hal ini membesarkan semangat para perajurit dan setiap peronda yang bertemu dengan pemimpin besar ini tentu memberi hormat dengan tegapnya.
Di perkemahan para pemimpin terjadi ketegangan sedikit ketika nampak seorang pejuang atau pendekar ditegur oleh peronda karena memasuki daerah penjagaan mereka.
Orang itu bertubuh gendut agak pendek, kepalanya yang botak gundul ditutupi sebuah kopyah warna hitam.
sukar ditaksir usianya karena malam itu gelap, akan tetapi dari sinar api unggun diluar kemah dapat diketahui bahwa dia bukanlah muda lagi.
"Siapa engkau berani memasuki tempat ini tanpa ijin!"
Bentak peronda dan enam orang penjaga sudah menghampirinya.
"Hemm, apakah kalian tidak melihat bendera pengenalku ini?"
Orang itu mengacungkan sebuah bendera kecil, tanda bahwa dia adalah seorang utusan dari pasukan perbekalan yang dipimpin oleh nona Ho Pek Lian.
"Aku diutus untuk menghadap Panglima Yap Kim."
"Engkau juga anggauta barisan kita, tentu engkau sudah tahu akan peraturannya! Untuk menghadap Panglima Yap Kim, harus menanti dan kami akan membuat laporan dulu. Bukannya berindap-indap seperti maling begitu!"
Kepala jaga membentak marah.
Mendengar ini, sepasang mata itu melotot dan mukanya berobah gelap mengerikan.
Kemudian orang pendek gendut itu tersenyum menyeringai, lalu menggerakkan kedua tangan kedepan seperti orang menghormat.
"Aku salah... aku salah maafkanlah!"
Setelah berkata demikian, diapun membalikkan tubuhnya dan pergi.
Akan tetapi, pada saat itu, terjadilah kegemparan diantara para penjaga.
Seorang demi seorang menjerit dan roboh, tubuh mereka kejang-kejang dan mata mereka mendelik, mulut berbuih dan kulit tubuh mereka, terutama dibagian muka nampak kehijauan.
Tentu saja jeritan-jeritan mereka menarik perhatian.
Semua orang keluar dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat enam orang penjaga itu tewas tak lama kemudian, tewas dalam keadaan mengerikan karena muka mereka berobah hijau.
Tentu saja suasana menjadi gempar dan orang-orang mulai mencari-cari orang pendek gendut tadi.
Sementara itu, si pendek gendut mempergunakan kesempatan selagi keadaan kacau untuk menyelinap mendekati perkemahan terbesar.
Dengan gerakan yang amat gesit dia berhasil menyelinap masuk.
Akan tetapi ketika dia tiba disebuah ruangan, mendadak muncul Pek Lian yang juga sudah mendengar akan adanya keributan itu.
Si gendut tidak sempat bersembunyi lagi dan perjum-paan itu tidak dapat dihindarkan.
"Kau! Si Kelabang Hijau! Awas!"
"Siapppp..., ada pengacau disini!"
Pek Lian berteriak-teriak setelah mengenal si pendek gendut itu yang bukan lain adalah Thian-te Tok-ong atau cengyakang, Si Kelabang Hijau yang merupakan tokoh kelima dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to!
Pek Lian tahu bahwa dalam hal ilmu silat, memang tokoh ini tidak sangat lihai, akan tetapi Raja Racun ini sungguh amat berbahaya dengan racun-racunnya.
Ketika banyak penjaga menyerbu kesitu, Pek Lian cepat berseru.
"Awas, dia membawa racun-racun berbahaya. Jangan dekati dia!"
Akan tetapi banyak diantara para penjaga yang marah-marah karena mendengar bahwa orang ini sudah membunuh enam orang penjaga, tidak perduli dan mereka sudah menerjang dengan senjata mereka.
Akan tetapi, iblis gendut itu meniupkan sesuatu kearah mereka dan orang-orang itupun berjatuhan dan kejang-kejang keracunan!
"Iblis busuk!"
Pek Lian membentak dan menyerang dengan pedangnya.
Ia berhati-hati maka ketika si gendut meniupkan racun kearahnya, Pek Lian dapat meloncat kesamping, mengelak sambil menggerakkan pedangnya menyerang dari samping.
Karena ilmu pedang nona Ho Pek Lian cukup berbahaya, tokoh ketujuh Pulau Ban-kwi-to itupun tidak berani lengah dan cepat dia mengelak mundur.
Pek Lian merasa sukar untuk dapat menangkap atau merobohkan tokoh ini.
pertama, bagaimanapun juga, tingkat kepandaiannya sudah kalah, apa lagi ditambah dengan kehebatan kakek itu dalam menggunakan racun, membuat ia tidak berani terlalu mendekatinya.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah Yap Kim.
"Engkau!"
Bentak Yap Kim melihat bekas sahabatnya itu.
"Keparat, apakah engkau mau membiusku lagi?"
Melihat pemuda tampan ini, wajah yang menyeramkan itu berseri, akan tetapi agaknya bentakan Yap Kim membuat alisnya berkerut dan hatinya tertusuk.
"Aih, adikku yang baik, janganlah berkata kasar begitu. Telah lama aku mencarimu, mari engkau ikut pergi bersamaku."
Suaranya halus dan penuh bujukan.
Pada saat itu, Liu Pang dan para pendekar lain sudah pula berada disitu dan Yap Kim yang sudah marah sekali, kini menubruk maju dan menyerang dengan pedangnya.
Sepasang pedangnya berkelebatan menjadi dua gulung sinar dan pemuda itu telah mainkan sepasang pedangnya dengan Ilmu Pedang Langit yang amat ampuh dari perguruannya.
Menghadapi serangan Yap Kim, Si Kelabang Hijau terdesak.
Dia merasa sayang kepada Yap Kim, maka masih merasa ragu-ragu untuk mencelakai pemuda itu.
Melihat lawan terdesak, dengan kemunculan Yap Kim, hati Pek Lian menjadi besar dan dengan penuh semangat, gadis inipun maju membantu Yap Kim.
Pemuda ini terkejut sekali dan cepat mencegah.
"Nona, jangan dekat"
Akan tetapi terlambat sudah.
Nampak asap mengepul dan Pek Lian mengeluh.
Tahu-tahu tubuhnya sudah disambar oleh Si Kelabang Hijau.
Dalam keadaan pingsan, nona itu berada dalam kekuasaan si gendut pendek yang mengangkatnya tinggi-tinggi diatas kepala.
"Ha-ha, majulah kalian dan nona ini akan kubunuh lebih dulu!"
Melihat ini, Yap Kim menjadi pucat dan tidak berani bergerak. Suasana menjadi tegang.
"Tahan, jangan menyerangnya!"
Tiba-tiba Liu Pang membentak keras melarang para penjaga yang marah dan hendak menyerang orang itu.
"Ha-ha, itu baru baik. Nah, Kim-te, ayo engkau ikut bersamaku, kalau tidak, nona ini akan kubunuh didepanmu!"
Yap Kim ragu-ragu. Liu Pang juga menjadi tak berdaya dan serba salah. Tiba-tiba Yap Kim mendengar bisikan suara kakaknya, mengiang didekat telinganya.
"Kim-sute, turuti kemauannya dan bawalah dia lewat mayat-mayat diluar itu. Aku akan menolong."
Singkat saja pesan itu akan tetapi Yap Kim mengerti sudah. Sambil tersenyum pahit seperti orang yang tidak berdaya lagi diapun menyimpan sepasang pedangnya.
"Tidak ada pilihan lain bagiku kecuali menuruti kehendakmu, Tok-ong. Akan tetapi, awas, kalau engkau mengganggu nona itu aku bersumpah untuk membunuhmu!"
Dia sengaja bersikap keras agar lawan tidak curiga akan adanya siasat kakaknya, dan juga untuk memberi kesempatan kepada kakaknya melakukan siasat yang belum dia ketahui bagaimana itu.
"Heh-heh, baiklah, adikku yang ganteng. mari, engkau membuka jalan, aku tidak mau kalau ada kecurangan."
Yap Kim lalu melangkah keluar, memperlihatkan sikap ragu-ragu dan bingung.
Seperti tanpa disengaja, dia berjalan melalui mayat-mayat para penjaga yang tadi roboh dan tewas menjadi korban keganasan racun Si Kelabang Hijau.
Ratusan perajurit berbaris dikanan kiri, siap dengan senjata mereka.
Akan tetapi Liu Pang selalu menahan mereka agar jangan turun tangan.
Semua orang bergerak memberi jalan ketika Yap Kim dan Si kelabang Hijau yang masih memondong tubuh Pek Lian yang pingsan itu lewat.
Diam-diam tokoh kelima Ban-kwi-to itu bergidik juga ketika melewati barisan perajurit yang semua memandang kepadanya penuh kebencian itu.
Yap Kim kini melalui depan pos penjagaan dimana terdapat mayat-mayat malang-melintang, yaitu mayat para penjaga yang tadi dibunuh oleh Si Kelabang Hijau.
Tokoh sesat ini, sambil memondong tubuh Pek Lian, mengikuti langkah-langkah Yap Kim, melangkahi mayat-mayat itu sambil menyeringai dan memandang kearah para perajurit yang berdiri dikanan kiri.
"Heh-heh, kalian lihat mereka ini! Jangan memaksa aku membunuh lagi. Begitu ada yang bergerak melawanku, aku akan membuang racun-racun yang akan membunuh seluruh pasukan yang berada disini. Yang tidak langsung mati akan tersiksa, tubuhnya akan ditumbuhi jamur-jamur menular yang tidak dapat diobati dan nyerinya bukan main, heh-heh-heh. Dan dia akan mati perlahan-lahan aduhhh!!"
Ketika sambil mengejek tadi Si Kelabang hijau melangkahi sesosok mayat lainnya, tiba-tiba "mayat"
Itu menggerakkan tangan dan iblis itupun terjungkal dan tubuhnya lemas karena tertotok, sedangkan tubuh Pek Lian sudah pindah ketangan "mayat"
Itu yang bukan lain adalah Yap Kiong Lee!
Kiranya pendekar ini merebahkan diri diantara mayat-mayat itu dan ketika Yap Kim mengenal suhengnya yang rebah miring, segera dia tahu siasat apa yang dijalankan kakaknya itu, maka diapun lalu melangkahi tubuh kakaknya.
Melihat iblis itu terjungkal dan Pek Lian sudah diselamatkan, para perajurit bersorak dan mereka itu langsung saja menggerakkan senjata untuk melumatkan tubuh iblis itu.
Tiba-tiba, membuat semua orang terkejut sekali, terdengar suara melengking tinggi disusul bentakan.
"Tahan! Jangan serang dia!!!"
Tentu saja semua orang, termasuk Yap Kim dan Liu Pang yang sudah mengejar kesitu, terkejut dan heran mendengar bahwa Yap Kiong Lee yang membentak melarang semua orang membunuh Si Kelabang Hijau.
"Suheng, iblis ini layak mampus!"
Yap Kim sendiri sampai menegur suhengnya atau kakak angkatnya itu.
Akan tetapi Kiong Lee tidak menjawab, melainkan melangkah mendekati Si Kelabang Hijau sehingga timbul dugaan dihati semua orang bahwa pemuda ini hendak membunuh iblis itu dengan tangannya sendiri maka mencegah orang lain membunuhnya.
Akan tetapi Kiong Lee hanya membentak.
"Iblis keji, hayo serahkan obat penawar racunmu untuk nona Ho!"
Barulah semua orang tahu dan Liu Pang cepat memandang kearah wajah Pek Lian yang berada dipondongan pemuda murid pertama dari Thian kiam-pang itu.
Kiranya wajah itu pucat kehijauan seperti wajah mayat!
Terkejutlah dia dan seperti juga Yap Kim, kini dia mengerti mengapa tadi Kiong Lee melarang iblis itu dibunuh.
Tentu karena satu-satunya orang yang dapat menolong nyawa Pek Lian hanya iblis itu sendiri!
Dugaan Liu Pang dan Yap Kim memang tepat.
Begitu merampas tubuh Pek Lian dari tangan Si Kelabang Hijau, Kiong Lee merasa sesuatu yang tidak wajar pada diri gadis itu.
Cepat dia memeriksa dan tahulah dia bahwa iblis itu telah meracuni Pek Lian!
Sungguh licik dan keji sekali iblis itu, lebih dahulu menciptakan perisai atau semacam sandera agar dia tidak sampai dicelakai lawan.
Maka Kiong Lee lalu melarang iblis itu diserang.
Si Kelabang Hijau tak mampu bergerak.
Hebat sekali totokan jago muda Thian-kiam-pang itu.
Akan tetapi dia masih mampu menggerakkan mata dan mulutnya untuk bicara.
"Heh-heh-heh, satu nyawa ditukar satu nyawa, itu sudah adil namanya. Bunuhlah aku, dan aku akan pergi berdua bersama nona manis itu kealam baka. Betapa menggembirakan! Mungkin dia akan menjadi pelayanku disana, tidak ada yang melindunginya seperti disini, heh-heh-heh!"
Tentu saja Kiong Lee dan semua orang marah sekali. Kalau mungkin, mereka tentu takkan segan untuk mencincang hancur tubuh ibhs itu. Akan tetapi Kiong Lee menahan kemarahannya.
"Keluarkanlah obat penawarnya dan kami akan membebaskanmu."
"Heh-heh, bagaimana aku dapat mempercayaimu?"
"Iblis busuk! Aku adalah seorang pendekar, bukan seorang penjahat macam engkau!"
Kiong Lee membentak. Pemuda yang pendiam ini marah juga mendengar kata-kata yang menghina itu.
"Uhhh, siapa percaya ucapan pendekar?"
Kiong Lee sadar bahwa iblis ini sengaja membakar hatinya, maka diapun menjadi tenang kembali. Menghadapi iblis Ban-kwi-to harus tenang dan tidak boleh menuruti perasaan marah.
"Lalu apa kehendakmu? Nona Ho terancam maut, akan tetapi engkaupun tak mungkin dapat terlepas dari ancaman maut."
"Hanya ada satu orang yang kupercaya janjinya, dia adalah Liu-Bengcu. Biarkan dia yang berjanji bertukar nyawa, dan aku akan percaya."
Liu Pang melangkah maju. Menghadapi orang jahat seperti itu, yang amat keji, haruslah tegas.
"Baiklah, aku berjanji akan membebaskanmu kalau engkau memberikan obat penawar racun untuk nona Ho Pek Lian."
"Bagus! Nah, bebaskan aku."
Terpaksa Kiong Lee membebaskan totokannya dan siap untuk menghantam kalau-kalau iblis itu melakukan kecurangan.
Akan tetapi, setelah kini tidak ada sandera ditangannya, Si Kelabang Hijau juga tidak terlalu bodoh untuk menggunakan kekerasan.
Sambil menyeringai dia mengeluarkan sebungkus obat seperti gajih, lalu mengoleskan obat itu pada leher Pek Lian dimana terdapat luka kecil berwarna hijau gelap bekas tusukan jarumnya.
"Minumkan pel ini padanya,"
Katanya menyerahkan tiga butir obat pel berwarna merah kepada Kiong Lee.
Dengan bantuan Yap Kim, Kiong Lee lalu memaksakan tiga butir pel itu memasuki perut Pek Lian.
Tak lama kemudian, gadis itu mengeluh dan membuka matanya, warna hijau pada kulit mukanyapun meluntur dan akhirnya hilang.
Begitu sadar dan melihat Si Kelabang Hijau, Pek Lian mencabut pedangnya yang tadi terlepas dan sudah disarungkan kembali oleh Yap Kim.
Akan tetapi Liu Pang memegang lengannya, kemudian pemimpin ini memberi perintah kepada para pembantunya.
"Biarkan dia pergi!"
Semua orang mengepal tinju dan menggigit gigi saking gemasnya melihat betapa iblis itu dibiarkan pergi.
Iblis itu telah membunuh banyak perajurit dan sekarang terpaksa dibiarkan pergi begitu saja!
Sebaliknya, sambil menyeringai dan tertawa ha-ha-hi-hi Si Kelabang Hijau yang merasa kecewa sekali karena tidak berhasil membawa pergi Yap Kim, bahkan mengalami kekalahan, memandang kepada mereka semua dan berkata mengancam.
"Awas kalian semua! Beberapa hari lagi akan kuhancurkan kalian dengan pasukan kami yang tidak kalah banyaknya dengan pasukan kalian!"
Diapun pergi tanpa diganggu karena tidak ada yang berani melanggar janji sang pemimpin.
Setelah iblis itu pergi, Liu Pang memerintahkan agar mayat para perajurit diurus baik-baik dan agar penjagaan dilakukan lebih ketat lagi.
Kemudian dia mengajak semua pembantunya masuk kemah dan berunding.
Liu Pang mengerutkan alisnya, nampak khawatir.
"Ancaman iblis tadi bukanlah gertak sambal belaka. Aku sudah melihat sendiri betapa para iblis Ban-kwi-to telah bersekutu dengan pemberontak dan pasukan asing. Hanya belum kita ketahui berapa besarnya kekuatan mereka dan dimana mereka bersarang. Untuk mengetahui keadaan mereka ini amatlah penting, maka biarlah besok aku akan pergi lagi bersama nona Ho untuk melakukan penyelidikan."
Para pembantunya menyatakan tidak setuju dan kekhawatiran mereka kalau kembali pemimpin mereka akan pergi sendiri melakukan penyelidikan. Akan tetapi pemimpin besar itu membantah.
"Penyelidikan ini merupakan suatu tindakan perjuangan yang amat penting, maka harus aku sendiri yang pergi. Sementara itu, sebagai wakil yang menggantikan aku memimpin barisan kita, kuserahkan kepada saudara muda Yap Kim."
Semua pemimpin menyambut gemibira karena mereka sudah mengenal kegagahan pemuda ini. Akan tetapi Yap Kim sendiri menjadi gugup dan wajahnya berobah, tangannya digoyang-goyang menolak.
"Aih, Liu-twako, mana saya berani menerima tugas yang demikian amat pentingnya? Saya... saya masih terlalu muda, saya tidak berani menerimanya"
"Saya kira, kedudukan wakil Bengcu itu dapat diserahkan kepada saudara Yap Kiong Lee yang memiliki kepandaian paling tinggi diantara kita, dan dibantu oleh saudara Yap Kim"
Kata Pek Lian.
"Aih, mana berani menerimanya?"
Yap Kiong Lee juga menolak. Kini semua pemimpin, didahului oleh Liu Pang dan Pek Lian, bangkit dan menjura dengan hormat kepada dua orang murid Thian-kiam-pang itu.
"Kami semua memohon kepada ji-wi agar sudi menerima dan membantu perjuangan para pendekar dan rakyat!"
Kata Liu Pang. Yap Kiong lee saling pandang dengan adiknya ketika mereka cepat membalas penghormatan itu dan Kiong Lee berkata.
"Baiklah, sebaiknya sute Yap Kim yang menerimanya karena diapun telah menjadi seorang diantara para pejuang, bahkan sudah mengenakan pakaian seragam perwira. Biarlah saya membantu dari belakang saja, sebagai orang luar yang menaruh perasaan kagum terhadap perjuangan ini. Akan tetapi, kalau saya harus langsung memimpin pasukan melawan Kaisar, sungguh sama artinya dengan saya menentang suhu dan subo yang melindungi Kaisar."
Akhirnya Yap Kim menerima pula kedudukan wakil Bengcu itu dan pada keesokan harinya pagi-pagi buta, Liu Pang dan Pek Lian berangkat melakukan perjalanan mereka untuk menyelidiki keadaan musuh.
Liu Pang menyamar sebagai seorang dusun pencari kayu sedangkan Pek Lian juga mengenakan pakaian sederhana seorang gadis dusun dengan bertopi lebar dan kulit mukanya yang putih mulus itu dilumuri warna kecoklatan sehingga kecantikannya tidak lagi menyolok.
Sambil memikul kayu kering, berangkatlah Liu Pang bersama muridnya yang dalam penyamaran itu diaku sebagai anaknya.
"Suhu, kita menuju kemanakah?"
Tanya Pek Lian setelah mereka keluar dari dalam hutan yang menjadi pintu masuk benteng mereka itu.
"Pasukan musuh itu hanya berselisih setengah malam saja dengan barisan kita, dan mereka juga menuju kearah barat laut. Tentu mereka menuju ke Kotaraja. Kita harus berjalan menuju ke barat, tentu akan bertemu dengan barisan mereka."
Mereka melakukan perjalanan cepat menuju ke barat.
Akan tetapi setelah lewat setengah hari dan matahari sudah naik tinggi diatas kepala mereka, belum juga mereka bertemu dengan barisan musuh.
Mereka melihat suasana panik dan kacau sudah melanda kota-kota dan dusun-dusun yang mereka lalui.
Berita tentang kemungkinan pecahnya perang sudah sampai didaerah dekat Kotaraja dan banyak penduduk yang merasa resah dan siap-siap mengemasi barang agar memudahkan mereka kalau sewaktu-waktu harus lari mengungsi.
Karena merasa lapar dan perlu beristirahat, Liu Pang dan Pek Lian lalu memasuki sebuah kedai makan disebuah kota kecil.
Baru saja mereka makan, datang empat orang laki-laki berpakaian pemburu dan wajah serta tubuh mereka nampak lesu dan lelah.
Pemilik kedai makanan menyambut mereka yang agaknya sudah menjadi langganan lama.
(Lanjut ke
Jilid 25) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 25
"Mana hasil buruan kalian? Apakah sudah habis terjual semua? Aih, agaknya kalian lupa untuk menyisihkan daging kijang untukku!"
Katanya ramah. Seorang diantara mereka yang pipinya codet bekas terluka kuku harimau, mengeluh dan menjawab.
"Ah, A-Kiu, engkau tidak tahu betapa sialnya kami! Sebetulnya kami telah memperoleh hasil buruan yang lumayan juga. Akan tetapi kemarin sore kami bertemu dengan pasukan tentara yang banyak sekali dan mereka itu dikawlal orang-orang yang memiliki ilmu seperti iblis. Hasil buruan kami dirampas semua, bahkan nyaris kami dibunuh kalau kami tidak cepat-cepat melarikan diri."
"Tapi tapi kalian adalah orang-orang gagah"
Pemilik warung itu merasa penasaran.
"Hemm, apa daya kami melawan pasukan besar? Apa lagi mereka dikawal oleh orang-orang kang-ouw yang menyeramkan. Bayangkan saja, seorang diantara mereka yang seperti raksasa makan seekor anak harimau hidup-hidup!"
"Hidup-hidup?"
Mata pemilik warung terbelalak.
"Ya, induk harimau kami robohkan dan tewas, anaknya masih hidup kami tangkap. Ketika dirampas oleh mereka, raksasa itu langsung menerkam anak harimau dan tanpa membunuhnya lebih dulu, tanpa memanggang dagingnya, begitu saja leher anak harimau itu digigit dan darahnya dihisap."
"Hiiihhh!"
Pemilik kedai itu bergidik dan nampak ketakutan, lalu mengundurkan diri untuk mempersiapkan hidangan bagi empat orang langganannya.
Tentu saja Liu Pang dan Pek Lian yang mendengarkan semua itu merasa tertarik dan juga girang.
Besar kemungkinan yang diceritakan mereka itu adalah pasukan musuh yang mereka sedang kejar dan cari.
"Ah, keamanan terancam oleh perang"
Liu Pang mendekati mereka dan berkata.
"Kami orang-orang dusun sungguh merasa bingung harus mengungsi kemana. Kalau boleh saya bertanya, dimanakah saudara sekalian bertemu dengan pasukan itu?"
Dengan gaya bahasa dusun, Liu Pang dapat mengelabuhi empat orang pemburu itu yang agaknya masih merasa tegang sehingga mereka suka sekali menceritakan pengalaman hebat yang baru saja mereka temui itu.
Dengan pancingan-pancingan yang tidak kentara, akhirnya Liu Pang dapat mengumpulkan keterangan bahwa pasukan itu adalah pasukan besar yang mengawal iring-iringan kereta para pembesar beserta keluarganya, dan bahwa diantara para pemimpinnya terdapat orang-orang kang-ouw yang menyeramkan.
Dari keterangan mereka, Liu Pang dapat mengetahui bahwa semua tokoh Ban-kwi-to telah lengkap bersama pasukan musuh itu.
Dengan aksi seolah-olah ketakutan dan hendak cepat pulang untuk mempersiapkan keluarganya mengungsi, Liu Pang mengajak Pek Lian meninggalkan kedai dan kota kecil itu.
"Wah, sungguh berbahaya! Semua tokoh Ban-kwi-to agaknya sudah lengkap berkumpul dan membantu pasukan musuh. Belum lagi tokoh-to-koh sesat yang lain dan belum kita ketahui. Mari kita cepat menyusul dan menyelidiki keadaan mereka."
Akan tetapi, ketika mereka tiba ditepi kota, mereka melihat dua orang laki-laki tua berjubah coklat sedang berjalan dengan cepat. Melihat mereka, Liu Pang berbisik kepada muridnya.
"Lihat, orang-orang Liong-i-pang itu lagi! Mau apa mereka? Dan dimana Lai-goanswe yang mereka culik?"
Guru dan murid ini cepat membayangi mereka yang berjalan cepat keluar kota.
Baiknya mereka mengambil jalan disepanjang jalan umum yang cukup ramai sehingga perbuatan guru dan murid itu tidak menarik perhatian.
Pek Lian yang pernah bentrok dengan kedua orang kakek Liong-i-pang itu, membenamkan topinya lebih dalam untuk menyembunyikan mukanya.
Dua orang berjubah naga itu menuju kesebuah kedai arak yang berdiri terpencil sendirian disebuah tikungan jalan.
Disinilah para pedagang, perantau, dan mereka yang kebetulan lewat dijalan raya ini, melepaskan lelah dan makan-minum.
melihat warung arak ini, Pek Lian terkejut.
"Suhu, teecu pernah melihat tempat ini."
Ia lalu menceritakan betapa ia pernah bersama Seng Kun dan Bwee Hong dalam perjalanan mencari ayahnya dahulu itu, sampai diwarung ini.
Disinilah ia berjumpa dengan A-hai yang menjadi tukang pengantar arak dan kusir gerobak arak.
Ditempat ini pula muncul tokoh-tokoh sesat anak-buah Raja Kelelawar, yaitu Sanhek-houw dan Si Buaya Sakti yang kemudian menawan Seng Kun dan A-hai.
Liu Pang berbisik kepada muridnya agar berhati-hati.
Setelah dia meneliti penyamaran muridnya dan merasa yakin bahwa penyamaran itu cukup sempurna, mereka berdua lalu memasuki warung itu pula, memilih tempat disudut sebelah dalam.
Matahari mulai condong ke barat dan wajah mereka tertutup bayangan dinding, akan tetapi dari tempat itu mereka dapat melihat dua orang Liong-i-pang itu dengan jelas Dua orang Liong-i-pang itu duduk dikursi agak luar dan tak lama kemudian, selagi mereka berdua minum, datanglah seorang pemuda yang memakai jubah hijau.
Pemuda itu disambut oleh kedua orang Liong-i-pang, duduk semeja dan mengeluarkan sehelai surat untuk diserahkan kepada dua orang itu.
Tiba-tiba nampak, bayangan orang berkelebat cepat dan tahu-tahu seorang wanita cantik telah menerjang kearah kakek jubah coklat yang tinggi besar dan yang sedang membaca surat.
Penyerangan itu dibarengi bantuan dua orang lain yang juga menyerang si pemegang surat sedangkan wanita cantik itu memukul tangan yang memegang surat untuk merampas surat itu.
Hebat dan cepat sekali gerakan wanita cantik itu bersama dua orang kawannya, akan tetapi kakek jubah naga itu lebih hebat lagi.
Dia memang terkejut diserang tiba-tiba, akan tetapi sambil membentak keras, kedua tangannya bergerak dan tubuhnya bangkit berdiri.
Sekaligus dia menangkis dan akibatnya, wanita cantik itu bersama dua orang kawannya terdorong sampai terjengkang dan terhuyung!
Akan tetapi, surat yang dipegang oleh kakek jubah naga itu terlepas dan terdorong oleh angin pukulan mereka yang berkelahi, surat itu terbang kedekat meja dimana Liu Pang dan Pek Lian duduk.
Dua orang kakek Liong-i-pang itu memang lihai bukan main.
Padahal, dengan kaget sekali Pek Lian mengenal bahwa wanita cantik itu adalah Pekpi Siauw-kwi Si Maling Cantik, tokoh sesat yang amat lihai itu!
Dan empat orang temannya juga kesemuanya memiliki gerakan yang lihai tanda bahwa mereka bukan orang-orang sembarangan.
Namun, mereka berlima itu kewalahan menghadapi dua orang kakek Liong-i-pang.
Bahkan, kakek Liong-i-pang yang tinggi besar, yang dikenal oleh Pek Lian sebagai Bhong Kim Cu yang pernah menyerbu kerumah keluarga Bu Kek Siang, dengan tendangannya membuat Maling Cantik kembali terhuyung.
Ketika itu, Maling Cantik hendak menubruk surat yang terlepas tadi, akan tetapi ia terhuyung oleh tendangan dan kakek Bhong Kim Cu kini telah menyambar kembali surat yang tadi terlepas dan memasukkannya kedalam saku jubahnya.
Melihat betapa ia dan kawan-kawannya kewalahan, Si Maling Cantik lalu mengeluarkan suara tinggi melengking, lalu bersama empat orang kawannya iapun meloncat keluar warung melarikan diri.
Dua orang kakek jubah coklat tidak mengejar, melainkan cepat membayar harga minuman dan meninggalkan tempat itu pula.
Tinggal Liu Pang dan Pek Lian yang masih duduk disitu.
Warung itu sudah sepi karena perkelahian tadi membuat semua tamu lari cerai-berai ketakutan.
"Tadi aku sempat membaca beberapa huruf disurat itu. Sayang aku tidak dapat merampasnya. Aku membaca beberapa huruf yang penting, yaitu kata-kata "Kaisar, pemberontakan, dan Pesanggrahan Hutan Cemara."
Huruf-huruf itu dapat memberi petunjuk. Tentu ada hubungannya dengan Kaisar, juga dengan pemberontakan."
"Dan apa artinya Pesanggrahan Hutan Cemara itu, suhu?"
Pek Lian bertanya.
"Aku sedang memikirkan itu ah, sekarang aku ingat., Tak jauh dari sini, di puncak bukit terdapat sebuah hutan cemara dan memang disitu terdapat sebuah pesanggrahan milik Kaisar yang dipergunakan untuk beristirahat diwaktu berburu dihutan-hutan liar dibalik bukit. Tentu ada apa-apa disana. Mari kita kesana!"
Mereka lalu membayar harga minuman dan meninggalkan pemilik kedai yang mengomel panjang pendek karena perkelahian itu amat merugikannya.
Banyak tamu yang lari tanpa lebih dulu membayar harga makanan dan minuman, juga ada beberapa buah bangku dan meja yang rusak, belum lagi perabot-perabot makan yang pecah-pecah.
Hutan cemara itu memang merupakan tempat indah dan tidak mengherankan apabila Kaisar memerintahkan pembangunan sebuah pesanggrahan ditempat ini.
Hutan itu cukup luas dan ditengah-tengah hutan, dikurung pohon-pohon cemara, terdapat sebuah danau.
Pesanggrahan yang merupakan bangunan indah itu berdiri ditepi danau, agak ketengah sehingga sebagian besar bangunan itu dikelilingi danau.
Air danau yang jernih memantulkan bayangan pesanggrahan, mendatangkan pemandangan yang amat indah.
Liu Pang dan Pek Lian tiba dihutan itu menjelang tengah malam.
Dengan hati-hati sekali mereka memasuki hutan.
Ketika mereka menyelinap diantara pohon-pohon cemara memasuki hutan hendak menuju kebangunan pesanggrahan ditepi danau, tiba-tiba mereka mendengar suara orang berkelahi dan dengan berindap-indap merekapun menuju kearah suara itu.
Setelah mereka dapat mendekati tempat perkelahian itu, dibawah sinar bulan mereka dapat mengenal tiga orang yang sedang berkelahi itu.
Kiranya pemuda Tai-bong-pai, yaitu Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, putera ketua Tai-bong-pai yang lihai dan yang bersekongkol dengan orang-orang asing dan para pembesar yang mengkhianati pemerintah, kini sedang bertanding dikeroyok dua oleh orang-orang berjubah biru dan rambutnya riap-riapan.
Disitu berdiri pula empat orang berjubah hijau menonton perkelahian.
Kini nampak betapa Kwa Sun Tek Si Setan Berkabung itu mengeluarkan ilmu silatnya yang aneh, yaitu Ilmu Silat Pukulan Mayat Hidup dan seorang diantara kedua pengeroyoknya yang menangkis pukulan itu, terjengkang!
Seperti lengan mayat yang kaku, Kwa Sun Tek mencengkeram kedepan, kearah orang kedua yang mengeroyoknya sambil membalikkan tubuh.
Orang inipun menangkis dengan tangan kirinya.
"Plakk!"
Dan tubuh orang inipun terpelanting.
Akan tetapi, kedua orang jubah biru itupun lihai sekali.
Mereka sudah mampu berloncatan bangun kembali dan dibantu oleh empat orang kawan mereka yang berjubah hijau, mereka maju lagi.
Kwa Sun Tek dikeroyok enam orang yang lihai.
Namun, pemuda tampan berwajah dingin menyeramkan seperti wajah mayat ini tidak gentar dan gerakan-gerakannya yang aneh membuat enam orang pengeroyoknya bahkan kewalahan.
Akan tetapi, seorang diantara dua kakek berjubah biru kini mengeluarkan suitan-suitan nyaring, agaknya untuk memanggil teman-temannya.
Melihat ini, Kwa Sun Tek terkejut sekali.
tadinya dia sedang melakukan penyelidikan kedaerah yang akan dilewati barisannya.
Tak disangkanya disitu bertemu dengan orang-orang Liong-i-pang yang lihai dan agaknya banyak anggauta Liong-i-pang berada disitu.
Untung dia hanya bertemu yang berjubah hijau dan biru saja, yang tingkatnya masih belum tinggi.
Kalau berjumpa dengan yang tingkatnya lebih tinggi, tentu dia celaka.
Berpikir demikian, Kwu Sun Tek berkelebat pergi melarikan diri dari tempat itu.
Liu Pang yang mengintai merasa bimbang.
Ingin dia membayangi pemuda Tai-bong-pai itu, akan tetapi diapun ingin sekali menyelidiki apa yang dilakukan oleh perkumpulan Liong-i-pang maka mereka berkumpul ditempat ini.
Dia mengambil keputusan untuk menyelidiki tempat itu.
Baca Juga: Pendekar Bodoh 9
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 5