Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bodoh 9

Eps 9 Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Bodoh - Kho Ping Hoo.

Keadaannya berbahaya sekali karena selain tidak ada yang merawatnya, juga ia tidak dapat makan sesuatu.

Akan tetapi, pada hari ke empat, panasnya mengurang dan ia dapat menggerakkan tubuhnya merangkak perlahan ke mulut gua.

Ia melihat tetumbuhan kecil di mulut gua itu dan oleh karena ia merasa lapar sekali, ia mengambil daun-daun muda dan memakannya!

Demikianlah, ia hidup dengan sengsara sekali selama berbulan-bulan di dalam gua itu, hanya makan akar-akar pohon dan daun-daun yang berada di dekat gua.

Setelah tubuhnya menjadi kuat kembali, barulah ia merayap-rayap dengan jalan mencari pegangan pada akar-akar pohon dan menginjak batu-batu karang yang menonjol, berdaya keluar dari tempat tahanan alam ini!

Setelah ia dapat menginjak tanah datar lagi, ternyata bahwa tempat itu jauh berbeda dengan keadaan lereng gunung di mana Yousuf tinggal.

Bagian bukit ini penuh dengan hutan-hutan liar dan tanpa ia sadari ia telah tiba di bagian utara gunung itu, sedangkan tempat tinggal Yousuf adalah di bagian selatan.

Ia juga tidak ingat lagi bahwa ia telah berada di gua itu selama tiga bulan lebih!

Kwee An lalu memasuki sebuah hutan yang terdekat dan mencari buah-buah yang banyak tumbuh dari pohon-pohon besar di situ, dan makanlah ia sepuas dan sekenyangnya.

Akan tetapi, baru saja ia turun dari pohon, tiba-tiba dari hutan muncul serombongan orang yang segera datang mengurungnya sambil berteriak-teriak.

Orang-orang ini berpakaian aneh, setengah pakaian Han dan setengah Mongol.

Potongan tubuh den wajah mereka bagus dan tiada banyak bedanya dengan orang-orang Han biasa, akan tetapi bahasa mereka terdengar aneh dan mirip bahasa Mongol.

Mereka ini adalah sekelompok sisa dari bangsa Haimi yang telah dipukul pecah dan diusir oleh bangsa Mongol.

Orang-orang Haimi ini sebenarnya masih memiliki darah campuran, yaitu darah Han dan Mongol dan mereka mempunyai potongan muka yang boleh disebut tampan.

Kwee An merasa terheran-heran melihat bahwa semua orang yang aneh ini mempunyai kumis yang bagus dan panjang dan dilingkarkan ke atas.

Akan tetapi mereka semua mencukur habis jenggot mereka, bahkan yang sudah agak tua pun tidak memelihara jenggot, hanya memelihara kumis yang melintang di bawah hidung!

Lebih aneh lagi, bahkan orang-orang setengah dewasa yang berada di antara mereka, juga memelihara kumis pula!

Rombongan orang berkumis melintang ini mengepung Kwee An sambil mengajaknya bercakap-cakap dalam bahasa mereka yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

"Apakah yang kalian kehendaki? Aku tidak mengerti,"

Kata Kwee An kepada mereka sambil tersenyum dan mengangkat pundak.

Betapapun juga, ia melihat sikap mereka bukan seperti orang-orang liar yang hendak mencelakakan atau menyerangnya, maka hatinya menjadi lega.

Tiba-tiba seorang di antara mereka yang telah putih rambutnya, akan tetapi masih memiliki kumis yang hitam indah melintang di bawah hidungnya, maju menghampirinya dan bertanya dalam bahasa Han campuran yang kaku.

"Siapakah kau dan darimana kau datang?"

Kwee An merasa girang sekali. Ia cepat menjura memberi hormat kepada orang tua itu dan menjawab.

"Sukur sekali kau bisa bicara bahasa Han, Lopek. Siauwte bernama Kwee An dan aku datang ke sini bukan disengaja, hanya kebetulan saja. Tempat apakah ini dan siapakah kalian ini?"

Dengan sukar sekali kakek ini menjawab.

"Kami adalah bangsa Haimi yang mengikuti pemimpin kami dan sekarang tinggal di hutan ini. Telah bertahun-tahun kami tidak bertemu dengan orang Han, maka kami merasa heran sekali dapat bertemu dengan kau di sini."

"Mengapa kalian mengurungku?"

Tanya Kwee An dengan hati tidak enak juga.

"Kau harus ikut kami menghadap kepada pemimpin kami di dalam hutan."

Biarpun tidak merasa keberatan untuk bertemu dengan pemimpin orang-orang Haimi ini, akan tetapi Kwee An tidak senang juga karena ia seakan-akan hendak dipaksa dan dijadikan tawanan pula, apa perlunya ia harus menghadap pimpinan mereka?

Adapun orang-orang yang mengelilinginya, terutama yang muda-muda, memandangnya seakan-akan ia adalah seorang yang lucu.

Ia merasa betapa pandang mata mereka ini semua ditujukan kepada hidungnya hingga diam-diam Kwee An merasa heran dan beberapa kali ia menggunakan ujung lengan baju untuk menggosok-gosok hidungnya karena kuatir kalau-kalau tanpa disengaja ia telah mengotorkan hidungnya, ia tidak tahu bahwa para pemuda berkumis panjang itu memandangnya dengan tertawa-tawa karena geli melihat ia tidak berkumis sama sekali!

Bagi mereka, melihat seorang pria tidak berkumis sama dengan melihat harimau tak berkumis atau kera tak berbulu!

Seorang di antara mereka, yang berwajah tampan dan mempunyai kumis kecil panjang melingkar ke atas sedangkan usianya paling banyak baru lima belas tahun, bahkan maju mendekatinya dan sambil menunjuk ke bawah hidung Kwee An, ia tertawa-tawa berkata dalam bahasanya.

Semua orang tertawa mendengar ucapan pemuda tanggung ini dan biarpun tidak mengerti bahasa mereka, namun Kwee An dapat merasa, bahwa ia dijadikan bahan olok-olok.

"Tidak, aku tidak mau pergi menghadap pemimpinmu!"

Kata Kwee An yang merasa sebal dan marah juga.

Orang tua itu melangkah mundur dua tindak dan bicara dalam bahasanya sendiri, yang maksudnya memberi tahu kepada semua kawannya bahwa orang asing ini tidak mau menghadap kepala mereka.

Tiba-tiba sikap orang-orang yang tadinya tertawa-tawa itu berubah.

Mereka lalu mundur dan ketika tangan mereka bergerak, mereka semua telah mencabut golok kecil dengan tangan kiri dan melepaskan sebuah cambuk panjang dengan tangan kanan.

Sikap mereka mengancam sekali.

"Eh, eh, apakah kalian hendak memaksaku?"

Tanya Kwee An kepada kakek tadi yang juga sudah mencabut keluar sebatang cambuk panjang berwarna merah dan sebuah golok kecil yang tajam sekali. Kakek itu mengangguk.

"Kalau kau tidak mau menghadap dengan suka rela, terpaksa kami akan memaksamu. Setiap orang yang lewat di sini, harus menghadap kepada pemimpin kami oleh karena daerah ini menjadi daerah kami dan berada di bawah kekuasaan kami! Jangan kau mencoba untuk melawan, anak muda, karena kau takkan keluar dari tempat ini dengan bernyawa kalau kau tidak menuruti permintaan kami!"

Tiba-tiba, anak muda belasan tahun yang tadi memperolok-oloknya, melompat maju ke hadapan Kwee An sambil memutar-mutar cambuknya ke atas.

Cambuk itu berbunyi keras sekali, menyambar-nyambar di atas dengan ganasnya hingga diam-diam Kwee An menjadi terkejut dan juga kagum.

Tak mudah menggerakkan cambuk seperti itu kalau tidak memiliki kepandaian dan tidak melatih diri dengan baik.

Cambuk itu dapat merupakan senjata yang berbahaya!

"Siapakah anak ini dan apa kehendaknya?"

Tanya Kwee An kepada kakek itu. Orang tua itu berkata dengan suara dingin.

"Dia adalah putera pemimpin kami yang merasa tidak puas melihat sikapmu. Ia menganggap kau tidak menghormat ayahnya maka sekarang ia menantang kau untuk mengadu cambuk!"

"Mengadu cambuk? Apa artinya itu?"

"Ini adalah semacam adu kepandaian yang menjadi tradisi bangsa kami. Orang yang mengadu kepandaian memegang cambuk di tangan kanan dan golok di tangan kiri. Yang boleh dipergunakan untuk menyerang hanyalah cambuk itu saja, sedangkan golok itu digunakan untuk mencoba membabat putus cambuk lawan. Siapa yang cambuknya dapat putus berarti kalah. Apabila keduanya dapat menjaga hingga cambuk masing-masing tidak terputus, maka siapa yang terbanyak mendapat luka cambukan, ia kalah."

Kwee An mengangguk-angguk dan ia memandang kepada pemuda belasan tahun itu dengan kagum.

Sikapnya memang gagah sekali, tubuhnya kuat, sepasang matanya menyinarkan keberanian besar, sedangkan kedua tengan yang memegang senjata itu nampak tetap dan sigap.

"Aku terima tantangannya,"

Kata Kwee An dengan wajah berseri karena ia ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaian anak muda yang tampan itu.

Ketika kakek itu memberi tahu bahwa Kwee An menerima tantangan pemuda itu, sikap mereka berubah lagi.

Kalau tadi mereka bersungut-sungut dan marah, sekarang mereka bersorak dan bergembira, karena mereka memang menghargai kegagahan dan melihat bahwa Kwee An berani melawan pemuda yang menjadi jago di antara mereka itu, mereka merasa kagum!

Segera mereka berpencar dan duduk di atas rumput mengelilingi mereka dan memberi tempat yang cukup luas untuk kedua orang yang hendak bertanding itu.

Sedangkan kakek itu lalu memberi pinjarnan sebatang cambuk panjang dan sebuah golok kepada Kwee An.

Sebetulnya Kwee An tidak gentar untuk menghadapi pemuda tanggung itu dengan tangan kosong, akan tetapi oleh karena ia kuatir kalau-kalau dianggap memandang rendah, ia lalu menerima kedua senjata itu dan memegang di tangan dengan sembarangan saja.

Tentu saja sikapnya ini menjadikan buah tertawaan lagi oleh karena bagi mereka, cara memegang kedua macam senjata itu saja sudah menunjukkan tingkat kepandaian pemegangnya.

Menurut teori mereka, memegang cambuk itu harus di atas kepala dan selalu diayun-ayun dan diputar-putar, sedangkan tangan kiri yang memegang golok harus membalikkan golok itu dengan bagian yang tajam di atas agar mudah menangkis dan memutuskan cambuk lawan.

Akan tetapi Kwee An memegang cambuk yang tergantung ke bawah, sedangkan goloknya ia pegang seperti orang memegang golok untuk bersilat.

Pemuda tanggung itu tiba-tiba berseru keras dan Kwee An maklum bahwa itu tentu tanda bahwa lawannya hendak mulai menyerang, maka dengan tenang dan waspada ia berdiri memasang kuda-kuda dan memandang tajam.

Benar saja, cambuk pemuda itu tiba-tiba berbunyi keras dan berkelebat menyambar ke arah lehernya.

Kwee An mengelak cepat sambil merendahkan tubuhnya, akan tetapi ternyata bahwa yang menyambar lehernya adalah bagian tengah cambuk itu, sedangkan ujungnya yang kecil lemas dan masih panjang itu tiba-tiba dapat bergerak ke arah dadanya.

Inilah tenaga lweekang yang dapat menggerakkan cambuk itu pada ujungnya seakan-akan cambuk itu hidup.

Melihat ini, Kwee An merasa kagum juga dan cepat ia mengelak lagi dengan lompatan cepat ke samping.

Ia terlepas dari pada serangan pertama dan semua orang yang duduk mengelilingi tempat itu dan menonton, mengeluarkan seruan-seruan karena mereka merasa heran, melihat cara Kwee An mempertahankan diri.

Memang, mereka itu biasanya tidak mengandalkan kecepatan tubuh untuk mengelak dari serangan dan biasanya apabila diserang, mereka menggunakan golok di tangan kiri untuk menangkis dan mencoba memutuskan cambuk lawan, sedangkan cambuk sendiri harus segera dikerjakan untuk mengirim serangan balasan.

Hingga ilmu cambuk mereka itu pada hakekatnya didasarkan atas kecepatan membalas serangan dan ketepatan menangkis dengan golok.

Gerakan Kwee An yang cepat itu membuat mereka terherah-heran, akan tetapi ketika pemuda itu menyerang terus bertubi-tubi hingga cambuknya menyambar-nyambar sambil memperdengarkan suara keras mengurung seluruh tubuh Kwee An, dan betapa Kwee An lalu mempergunakan ginkangnya berkelebat ke sana ke mari di antara sinar dan ujung cambuk, semua orang menjadi bengong karena tiba-tiba saja mereka tidak melihat lagi tubuh Kwee An dan hanya melihat bayangannya saja berkelebatan.

Bahkan kakek tua itu pun tiada habisnya mengeluarkan seruan memuji.

Tiba-tiba pemuda tanggung itu menghentikan serangannya dan dengan muka merah karena penasaran dan marah, ia bicara dengan suara keras kepada Kwee An yang juga berdiri tenang.

Kakek itu lalu berkata dari tempat duduknya.

"Ia merasa penasaran karena kau tidak menggunakan cara bertanding yang biasa. Kau mempergunakan cara berkelahi terhadap musuh, sedangkan permainan ini sama sekali bukan berkelahi, hanya mengadu kepandaian. Sekarang kaupilih, hendak berkelahi mengadu jiwa atau hendak bertanding mengadu kepandaian? Kalau hendak bertanding, kau harus membalas dengan cara yang sama dan menyerang dengan cambukmu!"

Kwee An terkejut. Tanpa disengaja ia telah melukai perasaan pemuda tanggung itu, maka ia lalu berkata.

"Baiklah, aku akan membalas dengan serangan cambuk. Aku akan merampas cambuk dari tangannya!"

Ketika kakek itu memberitahukan hal ini kepada pemuda itu, ia lalu tersenyum senang dan mulai menyerang lagi.

Kini Kwee An tidak mau mempergunakan ginkangnya lagi, dan ketika cambuk lawan menyambar, ia pun lalu menggerakkan cambuk di tangannya dan menggerakkan tenaga lweekangnya hingga cambuknya lalu membelit cambuk lawan.

Ketika ia berseru keras dan membetot, tak tertahan lagi pemuda tanggung itu berteriak kaget dan terlepaslah cambuk itu dari tangannya.

"Nah, aku menang, karena cambuknya telah dapat kurampas!"

Kata Kwee An kepada kakek itu yang duduk memandang cara tadi dengan mata terbelalak heran.

Juga semua orang, termasuk pemuda tanggung itu, merasa heran sekali.

Bagaimana cambuk dapat dipakai untuk merampas senjata demikian mudahnya?

Akan tetapi, pemuda itu melangkah maju dan kembali mengeluarkan kata-kata keras dengan muka penasaran.

Setelah ia habis berkata-kata, terdengar semua orang yang duduk mengelilingi mereka itu tertawa bergelak.

"Ada apa lagi?"

Tanya Kwee An kepada kakek yang menjadi juru bahasa itu. Kakek itu pun tersenyum geli mendengar kata-kata anak muda tadi.

"Ia bilang bahwa laki-laki tanpa kumis memang seperti seorang perempuan yang berhati lemah. Ia menganggap kau tidak tahan melihat darah seperti seorang perempuan, dan karena kau tidak berkumis, maka tentu saja kau berhati curang dan mempergunakan ilmu sihir yang jahat untuk mengalahkannya. Ia tidak merasa kalah karena selain cambuknya tidak putus oleh golokmu, ia pun tidak mendapat luka satu pun dari cambukmu, ia menantangmu bertanding secara laki-laki, jangan seperti seorang perempuan!"

Merahlah muka Kwee An mendengar ini.

Ia lalu melempar cambuk yang dirampasnya itu kepada pemuda tadi, dan setelah berseru keras, ia mulai menyerang dengan cambuknya yang disabetkan ke arah pinggang pemuda itu!

Pemuda itu berseru gembira dan mengangkat golok, dengan membabat keras dan cepat sekali dengan maksud memutuskan cambuk Kwee An yang berarti bahwa ia akan memperoleh kemenangan!

Kwee An terkejut juga melihat gerakan golok itu oleh karena ternyata ketika menangkis pemuda tanggung itu mempergunakan gerakan silat golok Bidadari Memalang Pintu!

Ia maklum bahwa sabetan golok itu berbahaya sekali bagi keselamatan cambuknya, maka ia menggerakkan tangannya dan cambuk memutar kembali lalu menyerampang kedua kaki pemuda itu dengan gerakan cepat oleh karena ia mengira bahwa pemuda itu tentu tidak memiliki ilmu ginkang hingga lemah pada pergerakan kaki dan kegesitannya.

Akan tetapi ia kecele karena dengan cepat, pemuda itu melompat ke atas dan dari atas cambuknya menyambar ke arah kepala Kwee An!

Kembali Kwee An terkejut.

Gerakan melompat tadi adalah gerakan ilmu silat bernama Ikan Melompati Ombak!

Maka ia tidak berlaku sungkan-sungkan lagi dan menerjang dengan cambuknya yang diputar cepat sekali mengurung tubuh itu!

Pemuda tanggung itu makin gembira nampaknya dan melawan dengan hebat dan ternyata bagi Kwee An bahwa ilmu kepandaian bermain cambuk dari pemuda ini benar-benar lihai!

Kini para penonton bersorak dengan gembira sekali, karena mereka kini menyaksikan pertandingan main cambuk yang benar-benar hebat dan ramai!

Bahkan kakek tadi mengeluarkan sebuah huncwe (pipa tembakau) yang pendek, lalu mengepulkan asap dari huncwenya dan ia duduk menonton dengan asyiknya seakan-akan yang sedang berlangsung di depannya adalah pertunjukan yang amat indah menarik!

Betapapun pandai permainan cambuk anak muda itu, namun ia bukanlah lawan Kwee An yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Untuk menangkis tiap sabetan lawan, Kwee An tidak perlu menggunakan goloknya, karena cambuknya cukup digunakan untuk menangkis, sedangkan tiap kali pemuda itu menyabet cambuknya, dengan mengerahkan lweekangnya, Kwee An dapat membuat cambuknya menjadi lemas, licin kuat hingga ketika beradu dengan mata golok, cambuknya hanya terpental saja dan tak dapat diputuskan!

Ia mulai mengirim cambukan dan mula-mula ia hanya mencambuk punggung pemuda itu saja.

Bukan main herannya semua penonton ketika melihat betapa tiap kali Kwee An mengayun cambuk, selalu ujung cambuknya mengenai punggung lawannya!

Juga pemuda tanggung itu merasa heran dan penasaran karena tidak ia sangka sama sekali bahwa pemuda asing tanpa kumis ini ternyata seorang jago cambuk yang luar biasa!

Ia adalah seorang jago yang nomor satu di antara para pemuda dan telah lama dikagumi, tak nyana bahwa sekarang ia menjadi korban cambuk seorang pemuda tanpa kumis dan sama sekali tak dapat membalas!

Maka ia menjadi marah dan penasaran sekali, lalu menyerang terus dengan nekad walaupun bajunya di bagian punggung telah robek semua oleh ujung cambuk Kwee An!

Memang Kwee An tidak bermaksud melukai pemuda itu hingga tiap kali cambuknya mengenai sasaran, ia selalu menyimpan tenaga dan tidak membuat kulit lawan menjadi terluka, hanya merobek-robek bajunya saja.

Tadinya Kwee An bermaksud agar supaya pemuda itu menginsafi kelemahannya dan suka mengaku kalah, akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu bahkan mendesak makin nekad, ia menjadi penasaran juga.

Ia mulai menambah tenaga pada ujung cambuknya dan pecahlah kulit punggung pemuda itu terkena ujung cambuk.

Darah mengalir membasahi bajunya yang sudah sobek.

Alangkah heran hati Kwee An ketika tiba-tiba semua orang bersorak melihat darah itu, seakan-akan menyaksikan peristiwa yang menggembirakan dan yang menambahkan keindahan pada pertandingan itu!

Kwee An mengirim beberapa kali cambukan yang membuat kulit punggung lawannya penuh dengan darah karena kulit itu terpukul pecah.

Sungguhpun Kwee An tidak bermaksud melukainya terlalu dalam, namun seharusnya cambukan-cambukan itu cukup menyakitkan.

Akan tetapi anehnya, bukan menyerah, bahkan pemuda itu menjadi makin nekad dan menyerang makin hebat!

Kwee An menjadi kewalahan juga.

Melihat dari sikap pemuda ini dan sorak-sorakan para penonton yang menjadi gembira, ia maklum bahwa pemuda tanggung yang gagah ini tentu mengambil keputusan hendak melawan sampai darahnya habis atau sampai tidak kuat lagi, sedangkan para penonton makin merasa gembira saja.

Ketika ia mengerling dan memandang ke arah kakek tua tadi, ternyata bahwa kakek itu pun sedang menonton sambil mengepul-ngepulkan asap huncwenya, seakan-akan menikmati pemandangan yang menyenangkan hati!

Maka Kwee An lalu mendapat akal.

Ia mulai mengeluarkan ilmu silat yang berdasarkan ilmu silat warisan Hek Mo-ko.

Tubuhnya berkelebat dan melompat ke atas dan bergerak mengelilingi pemuda itu yang menjadi pening dan kabur matanya.

Tiba-tiba, tanpa terlihat orang lain, Kwee An mengulurkan jari tangan dan dengan tepat sekali menotok jalan darah thian-hu-hiat hingga pemuda itu roboh dengan lemas tanpa dapat bergerak lagi!

Melihat pemuda itu roboh dengan lemas semua orang mengira bahwa pemuda itu tentu telah lelah dan terlalu banyak mengeluarkan darah, maka dianggap kalah dan semua orang lalu menolongnya!

Kwee An juga pura-pura menolongnya, akan tetapi ketika ia mengangkat pundak pemuda itu, ia menekan dengan jarinya hingga totokannya tadi dapat dilenyapkan, hingga kesehatan pemuda itu pulih kembali.

Pemuda itu hanya memandang dengan heran dan kagum, lalu tiba-tiba ia berdiri, memeluk leher Kwee An dan menciumi pipinya!

Inilah tanda dari persahabatan dan kekaguman, hingga tadinya Kwee An merasa heran sekali.

Akan tetapi setelah ia mendapat keterangan dari kakek itu, ia merasa lega dan senang.

Semua orang tiada habisnya memuji dan mengagumi Kwee An dan seketika itu juga Kwee An mendapat julukan Malaikat Cambuk!

Betapa tidak?

Pemuda tanggung itu adalah putera pemimpin mereka yang memiliki ilmu cambuk tertinggi di antara anak-anak muda di situ, sekarang Kwee An dapat mengalahkannya tanpa menderita cambukan sekali pun!

Kini semua orang bukan memaksa, akan tetapi membujuk-bujuk Kwee An untuk menemui pemimpin mereka.

Melihat keramahan mereka ini, Kwee An merasa kurang enak hati untuk menolaknya, maka ia lalu ikut mereka masuk ke dalam hutan yang liar itu.

Kedatangan mereka disambut oleh banyak orang dan kembali Kwee An terheran-heran, oleh karena semua orang laki-laki di kampung itu berkumis!

Kumis mereka semodel, yaitu panjang melintang dan dipilin ke atas, membuat mereka nampak gagah dan keren!

Akan tetapi yang membuatnya benar-benar tidak mengerti adalah bahwa anak-anak muda yang baru dua belas atau tiga belas tahun pun mempunyai kumis macam itu!

Ketika melihat seorang anak laki-laki paling banyak berusia sebelas tahun sudah kumisan, Kwee An tidak terasa pula mengulurkan tangan untuk memeriksa apakah kumis itu tulen.

Akan tetapi ketika ia mencabutnya perlahan, anak itu berteriak kesakitan dan semua orang menjadi heran melihat kelakuan Kwee An itu!

Hanya kakek juru bahasa tadi saja yang mengerti akan maksudnya, maka ia berkata.

"Semua kumis yang kami pakai adalah kumis tulen, kumis yahg tumbuh dengan sewajarnya dari kulit!"

"Tapi... tapi anak kecil itu... usianya baru sebelas tahun!"

Kata Kwee An dengan heran sekali. Kakek itu tertawa.

"Mengapa tidak? Usia sebelas tahun sudah dewasa! Menurut kebiasaan kami, anak laki-laki yang telah berusia sepuluh tahun, dianggap dewasa dan padanya lalu dikenakan upacara tumbuh kumis, yaitu dengan perayaan gembira, anak itu dinyatakan dewasa dan di atas bibirnya lalu digosok dengan obat tumbuh kumis. Dalam waktu setahun saja kumisnya akan tumbuh dengan baiknya seperti yang kaulihat pada anak tadi."

Baru mengerti Kwee An setelah mendengar penuturan ini.

Pantas semua orang memelihara kumis.

Yang lebih mengherankannya lagi ialah ketika orang-orang wanitanya muncul.

Mereka ini rata-rata berkulit halus putih dan biarpun potongan muka hampir sama dengan orang-orang Han, namun mata mereka lebar-lebar dan bagus.

Akan tetapi ketika wanita-wanita itu tertawa, Kwee An terkejut oleh karena gigi mereka yang kecil dan berderet rapi itu berwarna hitam mengkilat!

Diam-diam Kwee An mengeluh menyayangkan mengapa wanita-wanita cantik manis itu bergigi hitam!

Ia dibawa menghadap pada seorang Haimi yang bertubuh tinggi besar dan yang mempunyai kumis indah dan panjang sekali.

Matanya lebar berpengaruh, usianya belum tua benar, paling banyak empat puluh tahun.

Ketika melihat Kwee An, ia lalu turun dari tempat duduknya dan menyambutnya dengan ramah.

"Sahabat, kunjungan seorang Han merupakan kehormatan besar sekali bagi kami!"

Bukan main dan herannya hati Kwee An mendengar betapa pemimpin Haimi ini dapat bicara bahasa Han dengan amat baiknya! Ia lalu menjura dan berkata girang.

"Akulah yang mendapat kehormatan besar sekali dapat bertemu dengan orang-orang gagah bangsa Haimi, dan girang sekali hatiku karena ternyata bahwa selain kakek itu kau pun pandai berbahasa Han!"

Tempat di mana Kwee An disambut oleh kepala suku bangsa Haimi itu adalah sebuah pondok yang cukup besar terbuat dari pada kayu-kayu hutan.

Pada saat itu, dari ruang dalam muncul seorang wanita muda dan ketika Kwee An memandang, ia menjadi kagum.

Dara ini cantik sekali, terutama sepasang matanya yang lebar dan indah.

Dengan gerakan lemah lembut dan tanpa sungkan-sungkan lagi, dara muda itu mengambil tempat duduk di dekat pemimpin itu dan memandang Kwee An dengan sinar mata kagum, memandang dengan langsung tanpa malu-malu seperti biasa kelakuan gadis-gadis bangsanya sendiri!

Oleh karena dipandang secara demikian itu, Kwee Anlah yang merasa malu dan sungkan!

"Ini adalah puteriku yang bernama Meilani,"

Kata pemimpin itu kepada Kwee An dan gadis itu tersenyum kepadanya.

Kembali datang rasa kecewa dalam hati pemuda itu ketika melihat betapa senyum manis dikacau oleh cahaya gigi yang hitam berkilau itu.

Mengapa orang merusak gigi yang bagus itu?

Pemuda yang tadi dikalahkan oleh Kwee An, lalu menghampiri ayahnya dan menuturkan tentang pertandingan tadi kepada ayahnya dengan menggerak-gerakkan tangannya.

Ia memandang kepada Kwee An dengan kagum dan agaknya ia memuji-muji kepandaian Kwee An karena Kwee An melihat betapa pemimpin itu memandangnya dengan mata terbelalak, sedangkan Meilani bahkan lalu berdiri dari tempat duduknya dan menghampirinya sambil memandangnya penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki, seperti seorang memeriksa dan menaksir-naksir benda yang indah menarik!

Kwee An tidak berani bergerak ketika didekati oleh dara ini dan ketika gadis ini mendekatinya ia mencium keharuman yang ganjil, seperti bau bunga mawar!

Ketika Kwee An mengerling ternyata ruang yang luas itu telah penuh orang-orang, laki-laki dan wanita, serta kanak-kanak yang kesemuanya memandangnya dengan kagum!

Dikelilingi oleh sekian banyak laki-laki berkumis sedangkan ia sendiri tidak, dan sekian banyak wanita-wanita cantik yang bergigi hitam, ia merasa seakan-akan ia berada di dunia lain!

"Anak muda, ketahuilah bahwa aku adalah Sanoko, pemimpin rombongan bangsaku yang terdiri dari dua ratus jiwa lebih.

Meilani adalah puteriku dan pemuda yang kaukalahkan tadi adalah puteraku.

Kau siapakah dan di mana kau mempelajari ilmu cambuk yang hebat hingga telah mengalahkan puteraku?"

Pertanyaan ini diajukan dengan mata memandang kagum.

"Aku bernama Kwee An, tentang ilmu cambuk itu, sesungguhnya aku belum pernah mempelajarinya. Hanya sedikit ilmu silat bangsaku pernah kupelajari hingga aku dapat mempertahankan diri terhadap serangan cambuk puteramu."

Tiba-tiba gadis yang bernama Meilani itu lalu bicara kepada ayahnya, dan ternyata suaranya merdu dan nyaring. Ayahnya tertawa bergelak, lalu bertanya kepada Kwee An.

"Kwee-taihiap, apakah kau juga pandai bermain golok?"

Mendengar bahwa kepala suku bangsa Haimi ini tiba-tiba menyebut taihiap (pendekar besar), Kwee An merasa sungkan juga, maka sambil merendah ia menjawab.

"Aku pernah mempelajari sedikit ilmu pedang, akan tetapi sayang sekali pedangku itu telah hilang di jalan."

Ketika Sanoko menterjemahkan ucapan Kwee An kepada anak perempuannya, tiba-tiba gadis itu berlari masuk ke dalam rumah dan keluar pula sambil membawa sebatang pedang yang terbungkus kain kuning.

Ia lalu menyerahkan pedang itu kepada Kwee An yang ketika menerima dan melihat pedang itu, menjadi terkejut sekali karena pedang itu bukan pedang sembarangan, akan tetapi sebuah pedang mustika yang ringan sekali dan tajam serta mengeluarkan cahaya kekuningan!

Meilani lalu bicara kepada ayahnya yang menjelaskan pada Kwee An.

"Anakku Meilani dulu pernah menemukan golok dan pedang ini di dalam sebuah gua dan oleh karena kami tidak pernah mempelajari ilmu pedang, hanya mempelajari sedikit ilmu golok, maka pedang ini tidak ada yang dapat menggunakannya. Maka karena anakku juga pernah belajar main golok, ia sekarang minta supaya kau suka melawannya dengan pedang ini dan apabila kau dapat mengalahkannya, maka pedang ini dihadiahkan kepadamu!"

Bukan main girang hati Kwee An, oleh karena ia maklum bahwa ini benar-benar pedang yang ampuh dan tajam. Pada tempat dekat gagang ini melihat ukiran dua huruf "Oei Kang"

Yang berarti "Baja Kuning".

Akan tetapi, pada saat itu ia tidak sempat memperhatikan keadaan Oei-kang-kiam itu terlebih teliti lagi oleh karena ia merasa kaget mendengar bahwa dara cantik bergigi hitam itu mengajaknya pibu!

Tak pernah disangkanya bahwa gadis itu pun pandai ilmu golok.

Ketika ia melihat golok itu, ia maklum pula bahwa golok itu pun terbuat daripada logam yang sama dengan pedangnya, karena mengeluarkan cahaya kekuningan.

Sebagai seorang ahli silat, tentu saja Kwee An tidak menolak ditantang pibu, maka ia segera menjawab.

"Baik, hanya kuharap saja Nona Meilani akan berlaku murah hati kepadaku."

Setelah mendengar jawaban pemuda itu, Meilani lalu bertindak keluar dari pondok, diikuti oleh ayahnya dan adiknya.

Kwee An juga keluar dari situ membawa pedang Oei-kang-kiam, dan semua orang lalu keluar pula dengan wajah berseri gembira, seakan-akan mereka hendak menghadiri pesta perayaan yang menarik hati.

Setelah berada di halaman pondok yang luas, Meilani lalu melompat dengan gerakan ringan dan lincah sambil membawa goloknya.

Gadis ini lalu mempererat ikat pinggangnya, mengikat pula dua kuncir rambutnya lalu diselipkan di dalam baju di belakang punggung.

Setelah itu, dengan gagah dan cantik, ia berdiri menanti Kwee An dengan golok di tangan kanan dan senyum manis menghias bibirnya.

Ketika melihat gerakan gadis yang melompat tadi, Kwee An merasa kagum juga karena Meilani ternyata memiliki gerakan yang gesit.

Maka ia menjadi gembira juga dan sambil memegang pedang Oei-kang-kiam di tangan kanan, ia lalu membuat gerakan Naga Sakti Menembus Awan, melompat ke hadapan gadis itu.

Ia telah melompat cepat dari tempat yang jauhnya kira-kira lima tombak, maka gerakannya ini disambut dengan tampik sorak oleh semua penonton yang secara cepat sekali mengelilingi tempat adu silat itu!

Melihat bahwa pemuda ini telah melompat di depannya, Meilani berseru nyaring yang maksudnya memberitahu bahwa ia hendak mulai menyerang.

Ia menggerakkan goloknya, diputar-putar di atas kepala seperti gerakan orang Haimi bermain cambuk, kemudian tubuhnya menerjang dengan sebuah lompatan cepat dan golok itu menyambar ke arah leher Kwee An!

Seperti juga pedang Oei-kang-kiam, golok di tangan gadis itu tipis dan tajam, akan tetapi ringan sekali hingga gerakan Meilani cepat sekali datangnya.

Kwee An hendak mencoba pedangnya, maka ia lalu mengangkat pedang menangkis.

Terdengar suara nyaring dan ketika dua batang senjata itu beradu, dari pedang dan golok yang terbuat dari logam yang sama itu keluarlah bunga-bunga api berwarna hijau.

Meilani berseru kaget karena ketika goloknya beradu dengan Oei-kang-kiam, hampir saja senjata itu terlepas dari pegangannya!

"Hebat sekali tenagamu!"

Katanya dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Kwee An, akan tetapi yang membuat para pendengarnya, terutama Sanoko, menjadi kagum, karena ia tahu bahwa puterinya itu telah diberi latihan tenaga dalam yang cukup tinggi maka dengan sekali tangkis saja membuat puterinya memuji, tentu pemuda tanpa kumis itu benar-benar lihai!

Meilani lalu memutar-mutar goloknya dan memainkan ilmu golok yang cukup hebat.

Golok di tangannya berubah menjadi sinar kuning yang bergulung-gulung bagaikan gelombang menderu mengancam diri Kwee An, akan tetapi Kwee An lalu mengeluarkan ilmu pedangnya Hai-liong-koamsut yang dulu ia pelajari dari Nelayan Cengeng.

Melihat betapa pemuda itu berkelebat cepat sekali seakan-akan menerobos di antara sinar goloknya dan kadang-kadang lenyap dari pandangan matanya, Meilani menjadi terkejut sekali.

Sedangkan semua penonton menjadi melongo keheranan melihat kehebatan ilmu sitat Kwee An dan pertandingan yang seru itu membuat mereka menahan napas dan lupa untuk bersorak.

Sanoko juga merasa kagum sekali karena puterinya yang tadinya menggerakkan golok hendak mengurung, kini bahkan kena dikurung oleh pedang Kwee An.

Saking tegangnya, ia sampai berdiri dari tempat duduknya dan memandang dengan penuh perhatian.

Gerakan pedang Kwee An benar-benar merupakan seekor naga laut yang mengamuk hingga diam-diam ia mengakui bahwa belum pernah ia menyaksikan ilmu silat sedemikian lihainya.

Kwee An yang merasa gembira karena mendapatkan pedang yang baik sekali, mendemonstrasikan ilmu pedangnya tanpa bermaksud melukai lawannya, hanya mengurungnya dengan pedang saja.

Kalau ia mau, dengan mudah saja ia dapat menjatuhkan Meilani, akan tetapi mana hatinya tega untuk melukai gadis cantik yang tidak bermaksud buruk terhadap dirinya itu.

Dikurung oleh sinar pedang Kwee An yang lihai, lambat laun Meilani merasa pening dan pandangan matanya kabur.

Tiba-tiba ia berseru keras dan segera tubuhnya melompat tinggi dan jauh.

Ketika ia turun, ia berdiri memandang dengan wajah kemerah-merahan, kemudian setelah memandang dengan kagum kepada pemuda itu ia lalu melemparkan goloknya kepada Kwee An yang disambut dengan baik oleh tangan kiri Kwee An!

Melihat hal ini, semua orang bersorak riang dan bahkan ada beberapa orang yang menghampiri Kwee An, memeluk dan menciumi pipinya hingga pemuda itu merasa geli sekali karena merasa betapa kumis-kumis mereka itu seakan-akan mengitik-itiknya.

Kakek yang dapat berbahasa Han itu pun menghampirinya dan menjura sambil berkata.

"Kionghi, kionghi, (selamat, selamat)...!"

Kwee An hanya menyangka bahwa kakek itu memberi selamat atas kemenangannya, maka alangkah terkejutnya ketika Sanoko datang menghampirinya, memeluknya sambil berkata dengan suara yang penuh keharuan.

"Kwee An, puteriku telah memilih jodohnya dan aku merasa girang sekali mendapat seorang mantu seperti engkau!"

"Apa...? Apa maksudmu...?"

Ia bertanya sambil memandang dengan mata terbelalak heran.

"Meilani telah memberikan goloknya dan kau telah menerimanya dengan baik, masih bertanya apa lagi? Harap kau berlaku seperti seorang laki-laki sejati dan jangan berpura-pura atau malu-malu. Upacara pernikahan dilakukan besok pagi dan sementara itu, kau boleh mengadakan persiapan dan dibantu oleh pamanku ini!"

Kata Sanoko sambil menunjuk kepada kakek penghisap huncwe yang ternyata adalah pamannya sendiri.

Kemudian ia masuk ke dalam rumah dengan tindakan kaki gagah.

Kwee An berdiri bagaikan sebuah patung dan ketika kakek itu menariknya menuju ke sebuah pondok tak berjauhan dari tempat itu, Kwee An segera bertanya.

"Lopek, apakah maksudnya ini semua?"

"Barangkali kau tidak tahu, anak muda. Sudah menjadi kebiasaan kami bahwa apabila seorang gadis memberikan goloknya pada seorang pemuda dan pemberian itu diterimanya, maka itu berarti bahwa mereka telah mengikat diri menjadi jodoh masing-masing. Tadi Meilani telah memberikan goloknya kepadamu dan kau telah menerimanya, maka berarti bahwa kau adalah jodoh Meilani. Kau boleh merasa bangga dan bahagia oleh karena Meilani adalah gadis tercantik di antara bangsa kami dan telah banyak pemuda yang merindukannya. Selain berkepandaian tinggi dan menjadi puteri kepala kami, dia juga berilmu tinggi dan berbudi baik. Tidak kaulihatkah betapa cantik jelitanya dia?"

Pucatlah wajah Kwee An mendengar ini.

"Tapi... tapi... bukan maksudku untuk menerimanya sebagai... sebagai... jodohku. Aku tidak tahu akan kebiasaan menerima golok itu. Ia melemparkan goloknya kepadaku, sudah tentu saja kusambut dengan tangan. Lopek tolonglah aku karena aku sungguh-sungguh tak dapat menerima perjodohan ini!"

Wajah kakek itu berubah tak senang.

"Mengapa begitu? Apakah dia kurang cantik? Anak muda, ingatlah bahwa di seluruh daerah ini tak mungkin kau akan mendapatkan seorang gadis seperti Meilani. Dia telah memilihmu tanpa mempedulikan wajahmu yang tidak patut karena tidak berkumis, semata-mata karena ia kagum melihat kelihaian ilmu pedangmu. Sanoko juga telah menyetujuinya, maka kau tidak boleh menolak. Penolakanmu ini akan berarti penghinaan kepada kami seluruh suku bangsa Haimi dan tentu kau akan dikeroyok dan dibunuh kalau kau berani menolak. Untung bahwa penolakanmu ini hanya terdengar olehku yang masih dapat berpikir panjang, kalau terdengar oleh orang lain terutama oleh Sanoko, tentu kau akan dibunuh!"

Bukan main terkejut hati Kwee An mendengar ini. Ia segera berdiri dan sambil menyerahkan kembali golok Meilani kepada kakek itu, ia lalu berkata.

"Lopek, kau kembalikan golok ini dan sampaikan salam serta hormatku kepada Sanoko, serta penyesalan dan maafku kepada Meilani, karena kalau memang demikian halnya, sekarang juga aku mau pergi agar jangan timbul hal-hal yang tidak diinginkan."

Akan tetapi begitu menerima kembali golok baja kuning itu kakek ini lalu melompat berdiri dengan sikap mengancam.

"Tidak bisa, anak muda! Ketahuilah bahwa perbuatanmu ini hanya akan membuat Meilani malu sekali dan pasti ia akan membunuh diri, sesuai dengan adat kami. Dan karena ini, sebagai paman kakek gadis itu, aku takkan membiarkan kau pergi! Kau baru bisa meninggalkan tempat ini setelah melewati mayatku!"

"Jangan, Lopek, biarkan aku pergi!"

Kata Kwee An dengan gugup akan tetapi, kakek itu lalu menyerangnya dengan golok di tangan!

Penyerangannya hebat sekali, jauh lebih lihai daripada gerakan golok Meilani, hingga Kwee An terpaksa mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Mo-ko.

Dan sekali tubuhnya berkelebat dan tangannya diulurkan, golok itu telah terampas olehnya!

"Kau benar-benar lihai, nah, kaubunuhlah dulu aku sebelum pergi dari sini!"

Lemaslah tubuh Kwee An.

Ia merasa bingung sekali.

Kalau sampai benar-benar gadis itu membunuh diri karena ia tinggal pergi, ia merasa tidak tega sekali.

Maka ia lalu memandang kakek itu dengan mata mengandung permintaan tolong.

"Kakek, aku... tidak dapat melukaimu. Kalian telah berlaku amat baik kepadaku, begitu ramah tamah, bagaimana aku sampai hati mendatangkan malapetaka? Akan tetapi, perkawinan itu sungguh-sungguh tak mungkin kulakukan. Ketahuilah bahwa aku telah mempunyai seorang tunangan. Aku tidak bisa kawin dengan gadis lain."

Mendengar ini, kakek itu berpikir keras.

"Kalau menurut kebiasaan kami, tiada halangan bagi seorang pemuda untuk mempunyai dua orang isteri, sungguhpun hal itu jarang sekali terjadi. Aku maklum akan penolakanmu, dan ternyata kau memang seorang yang baik budi. Baiknya diatur begini saja, yang terpenting bagi seorang gadis kami ialah upacara pernikahan. Apabila upacara itu telah dilangsungkan, kau tidak berhalangan untuk meninggalkan isterimu walaupun tidak menjadi isteri dalam arti sesungguhnya. Setelah upacara selesai, kau boleh pergi kalau itu benar-benar kau kehendaki dan Meilani hanya akan merasa malu dan membunuh diri. Dengan demikian, kau tidak menghina bangsa kami dan tidak menghina Meilani."

"Akan tetapi, Lopek, tentu Meilani akan memandang aku sebagai seorang laki-laki berhati rendah dan seakan-akan menipunya kalau setelah melakukan upacara pernikahan aku lalu pergi meninggalkannya!"

Kwee An membantah.

"Jangan kuatir, sebelum upacara dilangsungkan malam ini juga aku akan memberitahukan kepadanya bahwa kau menjalankan upacara hanya untuk melindungi mukanya dari perasaan rendah dan malu, dan bahwa kau tidak mungkin menjadi suaminya karena kau telah mempunyai calon istri lain."

Kwee An memegang tangan kakek itu dengan pernyataan terima kasihnya karena ia anggap itu adalah cara terbaik.

Malam itu, lima orang gadis yang berwajah manis-manis dan bergigi hitam mengkilap, menyerbu masuk ke kamarnya di pondok kakek itu.

Sambil tertawa-tawa dan bicara tidak karuan karena tidak dimengerti oleh Kwee An, gadis-gadis itu menghampiri Kwee An.

Ada yang memegang tangannya dan menarik-nariknya, ada yang memegang kepalanya, dan ada pula yang hendak menggunakan sesuatu untuk digosokkan di bawah hidungnya.

Kwee An terkejut sekali dan dengan hati berdebar ketakutan ia lalu memberontak dan melepaskan diri dari serbuan kelima orang gadis itu!

"Eh, eh, kalian pergilah!

Keluar dari kamar ini!

Apakah kalian gila dan hendak menggangguku?"

Katanya dengan keras dan mata terbelalak.

Akan tetapi oleh karena kelima orang gadis itu tidak mengerti ucapannya, mereka hanya tertawa saja dan menghampirinya kembali!

Kwee An lari ke sana ke mari di dalam kamarnya, akan tetapi dikejar-kejar oleh para gadis itu sambil tertawa-tawa!

Karena merasa ngeri dan takut, Kwee An berteriak dan tak lama kemudian, datanglah kakek penghisap huncwe itu ke dalam kamarnya untuk melihat apakah yang terjadi di situ.

Melihat betapa Kwee An telah melompat ke atas pembaringan dan berdiri mepet di sudut sambil memandang lima orang gadis yang mengurungnya dengan mata terbelalak bagaikan seekor tikus melihat lima ekor kucing, tak tertahan lagi kakek itu tertawa bergelak!

Girang sekali hati Kwee An melihat kedatangan kakek itu dan ia lalu melompat turun dan lari ke belakang tubuh kakek tadi.

"Lopek, tolonglah aku. Mereka ini apakah tiba-tiba menjadi gila?"

"Ini termasuk upacara perayaan pernikahan yang akan dilangsungkan besok. Mereka datang untuk menggodamu dan untuk menggosok hidungmu dengan obat penumbuh kumis!"

"Apa?"

Kwee An berseru sambil menutupi hidungnya dengan tangan kanan, seakan merasa ngeri sekali bahwa hidungnya tadi telah terkena obat itu dan tumbuh kumis!

"Aku tidak mau...

aku tidak mau, Lopek.

Usirlah mereka keluar!"

Sedangkan di dalam hatinya, Kwee An berkata.

"Alangkah akan kagetnya Ma Hoa kalau ia kelak melihat aku berkumis panjang menjungat ke atas!"

Kakek itu lalu mengucapkan perkataan kepada para gadis itu yang lalu pergi sambil terkekeh-kekeh, akan tetapi ketika mereka memandang Kwee An, mereka merasa kecewa sekali!

Kwee An menghela napas panjang karena lega hatinya melihat gadis-gadis itu sudah pergi.

"Bagaimana Lopek, apakah kau memberi tahu dan berterus terang kepada Meilani?"

Kakek itu mengangguk dengan muka sedih.

"Dan marahkah dia kepadaku?"

"Tidak, tidak marah. Hanya kecewa dan berduka. Kau... kau memang kejam."

"Eh, mengapa kau berkata demikian, Lopek? Pernikahan ini terjadi karena salah sangka dan bukan terjadi atas kehendakku. Bahkan upacara ini pun terpaksa kulakukan hanya untuk menolong dia."

Kakek itu mengangguk-angguk dan kembali menghela napas.

"Alangkah baiknya kalau kau benar-benar menjadi suami Meilani dan menjadi anggota keluarga kami. Kepandaianmu lihai sekali dan kau dapat kami harapkan untuk membantu kami mengusir para pengganggu kami, keparat-keparat Mongol itu!"

Tergerak hati Kwee An melihat wajah kakek yang telah keriputan itu nampak sedih sekali.

"Lopek, untuk membantu kalian, tak perlu aku harus menjadi keluarga saja. Kalau memang terdapat kesulitan dan aku bisa membantu, pasti aku akan membantu sekuat tenaga. Katakanlah, apakah yang telah terjadi dan apa pula yang diperbuat oleh orang-orang Mongol kepada bangsamu?"

Setelah menghela napas berulang-ulang kakek itu bercerita.

"Bangsa kami, yaitu suku bangsa Haimi, adalah yang besar dan memiliki kebudayaan tinggi. Akan tetapi, oleh karena kami merupakan bangsa perantau dan tidak punya tempat tinggal yang tetap, maka inilah yang merupakan kelemahan kami. Selama beberapa tahun ini, kami selalu mendapat pukulan dan gangguan dari bangsa Mongol yang memperluas daerah kekuasaan mereka. Banyak anggota keluarga kami dibinasakan, wanita diculik, dan harta benda kami dirampas! Hinaan-hinaan ini terpaksa kami terima dengan cucuran air mata dan dengan helaan napas, karena kami tidak berdaya. Makin banyak kami melakukan perlawanan, makin banyak jatuh korban di pihak kami hingga makin lama makin kecillah jumlah keluarga kami, oleh karena pihak Mongol memang jauh lebih kuat daripada kami. Telah lama kami mengimpikan datangnya bintang penolong, dan setelah kini kau datang, maka besarlah harapanku dan harapan Sanoko bahwa kaulah orangnya yang dapat menolong kami membalas dendam kepada orang-orang Mongol serta mengusir mereka kalau berani datang mengganggu lagi. Akan tetapi, memang nasib bangsaku yang buruk... kau bahkan mengecewakan kami, menghancurkan hati puteri kami yang bernasib malang..."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, dari kedua mata kakek itu mengalirlah beberapa butir air mata! Kwee An merasa terharu sekali dan ia segera memegang lengan kakek itu.

"Lopek, jangan kau kuatir. Aku bersumpah bahwa aku akan mengusir dan menghajar orang-orang Mongol yang berani mengganggu kalian. Tunjukkan di mana mereka berada, akan kudatangi dan kuhajar mereka!"

Kata-kata ini diucapkan dengan penuh semangat hingga kakek itu dapat tersenyum lagi.

"Hal itu mudah, nanti kalau upacara perkawinan sudah dilanjutkan akan kutunjukkan padamu di mana keparat-keparat itu berada."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, kakek itu telah memberi sesetel pakaian Haimi yang indah kepada Kwee An, lengkap dengan ikat kepala yang lebar.

"Pakailah ini, hanya untuk memenuhi syarat upacara adat."

Agar jangan melukai perasaan kakek itu dan semua orang, terpaksa Kwee An lalu mengenakan pakaian itu.

"Ah, kau memang gagah sekali. Kalau kau membiarkan kumismu tumbuh, kau akan menjadi pemuda yang paling tampan di antara kami dan kau akan menjadi suami yang cocok sekali bagi Meilani! Sayang... sayang..."

Kata kakek itu sambil memandang dengan kagum. Kemudian sambil menabuh kendang dan tambur, serombongan anak gadis "mengambil"

Pengantin laki-laki dan diiringkan menuju ke pondok pengantin perempuan. Ketika kedua mempelai dipertemukan, Kwee An melihat betapa wajah "isterinya"

Itu basah dengan air mata dan diam-diam ia lalu menghela napas panjang dan terkenanglah ia kepada Ma Hoa.

Ah, alangkah baiknya kalau yang menjadi mempelai wanita itu Ma Hoa.

Seorang pendeta Haimi membaca doa-doa dalam bahasa Haimi, akan tetapi dari cara-cara ia membaca doa, tahulah Kwee An bahwa upacara adat ini berdasarkan Agama Buddha yang telah berubah, disesuaikan dengan kepercayaan nenek moyang mereka.

Kwee An harus mengakui kecantikan Meilani yang benar-benar jelita itu, hanya kalau mengingat gigi yang dihitamkan itu, ia merasa sayang sekali.

Pada saat upacara dilakukan, tiba-tiba seorang pemuda Haimi datang dengan tergesa-gesa dan melaporkan sesuatu kepada Sanoko.

Mendengar laporan ini, ributlah orang-orang yang berada di situ.

Bahkan Meilani lalu membuka penutup mukanya dan segera mengambil goloknya yang telah dikembalikan oleh Kwee An.

"Apakah yang telah terjadi?"

Kwee An bertanya kepada Sanoko yang memberi aba-aba dan mengatur orang-orangnya yang telah berkumpul dengan senjata di tangan.

"Seorang Perwira Mongol yang kosen dan yang sering mengganggu kami telah datang dengan seorang kawannya. Dia telah menculik dua orang gadis dan membunuh tiga orang pemuda kami!"

"Keparat!"

Kwee An memaki sambil mencabut Oei-kang-kiam "Hayo tunjukkan di mana ia berada!"

"Kami hendak mengeroyoknya, karena kepandaiannya tinggi sekali!"

Kata Sanoko dengan ragu-ragu.

"Jangan kuatir, biar aku yang menghadapinya!"

Maka semua orang lalu mengiringkan pemuda itu, berlari keluar dari hutan.

Akan tetapi ketika mereka tiba di tempat yang dimaksudkan, ternyata bahwa dua orang gadis yang diculik itu telah tertolong oleh orang lain!

Dan pada saat itu, kedua orang jahat itu sedang bertempur melawan seorang gadis yang gagah perkasa.

Hampir saja Kwee An menjerit karena girang, terkejut dan heran.

Ternyata bahwa dua orang pengacau yang dimaksudkan itu adalah Ke Ce sendiri dan Bo Lang Hwesio!

Sedangkan gadis berambut riap-riapan yang cantik jelita dan yang memainkan sepasang bambu runcing dengan hebatnya melawan kedua orang kosen itu, bukan lain ialah Ma Hoa sendiri!!

"Hoa-moi...!"

Kwee An berseru dan ia segera menerjang maju pedangnya. Ketika Ma Hoa memandang, ia terbelalak heran melihat kekasihnya berada di tempat itu dan mengenakan pakaian yang aneh itu.

"Koko mari kita gempur bangsat-bangsat ini dan membalas dendam!"

Katanya sambil mengerjakan kedua batang bambu runcingnya dengan hebat dan luar biasa.

Biarpun merasa heran sekali melihat betapa kekasihnya itu dapat memainkan senjata aneh secara lihai itu, namun Kwee An tidak sempat bertanya.

Ia lalu memutar pedangnya dan menyerang Bo Lang Hwesio yang bersenjata sebatang pedang pula karena kewalahan menghadapi Ma Hoa dengan tangan kosong saja.

Melihat munculnya Kwee An, Ke Ce menjadi jerih karena ia maklum bahwa setelah kini gadis itu memiliki ilmu silat yang demikian lihainya, maka ditambah dengan bantuan Kwee An yang juga lihai sekali, tak mungkin pihaknya akan memperoleh kemenangan.

Apalagi ia melihat bahwa serombongan besar orang-orang Haimi dengan golok mereka di tangan juga ikut datang pula.

Orang Mongol yang licik ini lalu berseru keras dan segera melompat pergi dengan maksud melarikan diri.

Akan tetapi, Ma Hoa tentu saja tidak mau melepaskannya.

Sambil berseru nyaring, dara itu lalu melompat ke atas sebuah batu besar dan ketika Ke Ce lari, ia segera menyambar turun dengan kedua bambu runcing di tangan, bagaikan seekor burung rajawali menyambar korbannya.

Ke Ce menjadi terkejut sekali ketika tiba-tiba dari atas terdengar bentakan Ma Hoa yang halus tapi nyaring.

"Bangsat keji hendak lari ke mana?"

Ke Ce menengok ke belakang dan mempercepat larinya oleh karena tadi ia telah merasa betapa lihai sepasang bambu runcing di tangan gadis ini hingga ia merasa percuma saja untuk melawan terus.

Ia hendak mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk melarikan diri, akan tetapi Ma Hoa mengejar sambil berlompatan hingga sebentar saja ia sudah melompati kepala Ke Ce dan berdiri menghadang di depan pemuda Mongol itu!

"Kalau mau lari, hanya boleh lari ke neraka untuk menerima hukuman!"

Kata lagi Ma Hoa sambil mengirim tusukan dengan bambu runcingnya, yang kiri ke arah lawan, sedangkan yang kanan ke arah jalan darah di dada!

Ke Ce terkejut sekali melihat betapa ginkang gadis ini sudah sedemikian sempurnanya dan terlebih kaget lagi ketika ia menghadapi serangan berbahaya itu.

Ia membuang diri ke kiri, bergulingan di atas tanah sampai beberapa kaki jauhnya lalu melompat berdiri dan cepat menggerakkan kedua tangannya hendak mengirim pukulan Angin Topan yang hebat!

Akan tetapi Ma Hoa sudah siap menghadapi ilmu pukulan yang pernah membuat ia dan Kwee An terjungkal ke dalam jurang itu, maka sambil berseru keras ia melompat ke kiri dan cepat sekali tangan kanannya bergerak.

Bambu runcing di tangan kanannya lalu meluncur melebihi anak panah terlepas dari busur cepatnya dan sebelum Ke Ce dapat berkelit, kembali bambu runcing di tangan kirinya meluncur menyusul bambu pertama!

Cep, cep!

Kedua bambu runcing itu menancap di tubuh Ke Ce, sebatang di tengah dada dan sebatang lagi di lehernya.

Tubuh orang Mongol itu roboh dan nyawanya melayang pergi meninggalkan tubuh pada saat itu juga!

Terdengar sorak sorai riuh rendah dari orang-orang Haimi ketika melihat betapa musuh besar mereka itu binasa!

Ma Hoa segera menghampiri tubuh Ke Ce, mencabut keluar dua bambu runcingnya dan membersihkan ujung bambu itu pada pakaian lawannya.

Kemudian ia menghampiri rombongan orang Haimi yang menyambutnya dengan berlutut.

Ma Hoa mendekati Meilani dan mengangkat bangun gadis yang cantik itu, akan tetapi ketika ia bertanya, gadis itu menjawab dengan bahasa yang asing baginya.

Gadis itu hanya menunjuk ke arah Kwee An dan Ma Hoa menengok.

Ternyata bahwa Kwee An sedang bertempur hebat melawan Bo Lang Hwesio.

Kepandaian Bo Lang Hwesio benar-benar lihai, karena biarpun Kwee An telah mengeluarkan Ilmu Pedang Hai-liong-kiamsut, namun hwesio itu dapat menahan serangannya dengan baik dan bahkan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya!

Kwee An lalu mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Mo-ko, dan sambil mainkan ilmu silat ini dengan tangan kiri, barulah ia dapat mengimbangi desakan Bo Lang Hwesio.

Namun, dalam lweekang ia masih kalah setingkat hingga tiap kali pedang mereka bertemu, Kwee An merasa betapa tangannya gemetar!

Untungnya ia memegang pedang Oei-kang-kiam yang ampuh, kalau ia memegang pedang biasa tentu pedangnya akan dapat dipatahkan oleh pedang Bo Lang Hwesio yang selain merupakan pedang mustika, juga digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi itu.

Melihat ini, Ma Hoa berseru.

"An-ko, jangan kuatir, aku membantumu!"

Tubuh gadis ini berkelebat dan segera kedua batang bambu runcingnya menyerang dengan hebat sekali.

Bo Lang Hwesio harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, karena baru menghadapi Kwee An seorang saja biarpun ia tidak akan kalah akan tetapi sudah amat sukar merobohkan anak muda itu, kini ditambah dengan permainan bambu runcing Ma Hoa dalam gerakan Ilmu Silat Bambu Kuning yang luar biasa, ia menjadi sibuk sekali!

Dengan perlahan akan tetapi tentu, Ma Hoa dan Kwee An mendesak hwesio itu hingga keringat dingin mulai mengucur keluar dari jidat Bo Lang Hwesio.

Kwee An merasa gembira sekali oleh karena ia mendapat kenyataan betapa gerakan ilmu silat Ma Hoa amat lihai.

Sedangkan Bo Lang Hwesio amat gelisah menghadapi serangan sepasang orang muda yang lihai ini.

Dia pun amat heran menyaksikan ilmu silat gadis itu karena ia teringat bahwa yang memiliki limu Silat Bambu Kuning ini hanyalah seorang pertapa sakti yang bernama Hok Peng Taisu!

Mengapa tiba-tiba gadis ini dapat memiliki ilmu kepandaian ini?

Ketika Ma Hoa mendesak makin hebat, akhirnya ujung bambu di tangan kirinya berhasil menusuk pundak Bo Lang Hwesio yang berteriak kesakitan oleh karena biarpun ia memiliki lweekang yang membuat kulitnya menjadi kebal, namun tetap saja ujung bambu yang tajam itu telah melukainya.

Sambil berseru hebat ia memutar pedangnya dan ketika kedua lawannya mengelak, ia lalu melompat ke belakang dengan cepat dan kabur dari tempat itu.

Ma Hoa hendak mengejar, akan tetapi Kwee An mencegahnya dan berkata.

"Yang mencelakai kita dulu adalah Ke Ce. Biarlah kita ampuni jiwa rendah hwesio itu!"

Ma Hoa dan Kwee An berdiri saling pandang dan sekarang setelah musuh pergi, mereka saling pandang dengan perasaan terharu sekali.

Tak terasa lagi dari mata mereka mengalir air mata karena girang dan terharu, seakan-akan melihat kekasihnya baru bangkit dari lubang kuburan!

Bagaikan ditarik oleh tenaga mujijat, keduanya saling rangkul sambil berbisik.

"Koko..."

"Moi-moi... serasa dalam mimpi dapat berjumpa dengan kau lagi..."

"Koko..."

Kata Ma Hoa setelah melepaskan diri dari rangkulan Kwee An dan memandang kepada pemuda itu dengan mata basah tapi bibir tersenyum.

"kau... kelihatan lucu sekali! Dari mana kauperoleh pakaian seperti itu?"

"Untung saja kau tidak melihat aku berkumis seperti mereka itu!"

Kata Kwee An sambil menahan ketawanya.

Ma Hoa heran mendengar ini dan ketika ia menengok, orang-orang Haimi telah lari menghampiri mereka, dan Meilani lalu memegang tangan Kwee An dengan mesra, oleh karena ia tidak tahu bahwa Ma Hoa adalah wanita yang menjadi tunangan pemuda ini.

Hati Meilani terlalu girang, karena Ke Ce terbunuh mati dan terlampau bangga karena betapapun juga, pemuda yang gagah berani dan yang telah berhasil mengusir musuh itu adalah "suaminya".

"Engko An, siapakah gadis manis ini?"

"Dia adalah isterinya, lihiap!"

Kata Sanoko.

"dan aku adalah pemimpin suku bangsa Haimi, juga menjadi ayah mertua Kwee An!"

Bukan main terkejut hati Ma Hoa mendengar keterangan Sanoko ini dan ia memandang kepada Kwee An dengan wajah pucat. Kwee An memegang tangan Ma Hoa dan berkata.

"Tenanglah, Moi-moi, hal ini memerlukan penjelasan!"

Kemudian ia berkata kepada Sanoko dengan suara tegas.

"Dengarlah Sanoko! Kau tentu sudah mendengar keterangan dari Pamanmu dan ketahuilah bahwa Nona ini adalah tunanganku yang kuceritakan itu!"

Karena di situ terdapat banyak orang orang Haimi, biarpun mereka tidak mengerti percakapan mereka, namun Kwee An merasa tidak enak karena kalau sampai terjadi salah paham, maka Ma Hoa tentu akan marah sekali dan Meilani akan tersinggung, maka ia lalu memberi isyarat kepada Sanoko dan kakek penghisap huncwe untuk ikut bicara di tempat yang agak jauh dari mereka.

Meilani hanya memandang dengan heran dan tidak mengerti, akan tetapi ia tidak berani ikut bicara mencampuri pembicaraan mereka yang dilakukan dalam bahasa Han yang tidak dimengertinya.

"Lopek, sekarang harap kau suka ceritakan hal ini terus terang kepada tunanganku, agar tidak sampai terjadi salah paham,"

Kata Kwee An kepada kakek itu setelah mereka berada jauh dari rombongan itu.

"Lihiap, kata-kata Kwee-taihiap ini memang benar. Biarpun ia terpaksa menjalankan upacara pernikahan dengan Meilani, akan tetapi itu hanya untuk menjaga kehormatan puteri kami itu saja, dan Kwee-taihiap tadinya juga berkeras menolak, akan tetapi akhirnya menyetujui untuk melakukan upacara pernikahan berdasarkan menolong gadis itu."

Maka dengan panjang lebar kakek itu lalu menuturkan bagaimana telah terjadi kesalahpahaman ketika Kwee An menerima golok dari Meilani, dan betapa kalau pemuda itu tidak memenuhi kebiasaan adat mereka, maka gadis itu tentu akan membunuh diri karena malu.

Ma Hoa mendengarkan semua ini dengan terharu.

Tadinya ia marah sekali, akan tetapi setelah tahu akan duduknya perkara, ia merasa kasihan sekali kepada Meilani.

"An-ko, kalau kau memang suka kepada gadis itu, kawinlah dengan dia dan jangan kaupikirkan aku lagi!"

"Eh, eh, Moi-moi, mengapa kau berkata demikian? Selain dengan kau aku tidak mau kawin dengan wanita lain! Setelah mendengar keterangan tadi, apakah kau masih juga merasa cemburu kepadaku?"

"Bukan cemburu, akan tetapi aku merasa kasihan sekali kepada Meilani!"

Kemudian Ma Hoa lalu bertindak menghampiri Meilani dan memeluknya.

Biarpun Meilani tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, akan tetapi oleh karena ia sudah mendengar dari Kwee An bahwa pemuda itu tidak bisa menjadi suaminya karena telah bertunangan dengan seorang gadis Han, maka ia dapat juga menduga.

Ketika melihat hubungan antara Ma Hoa dengan Kwee An, ia dapat menduga pula bahwa gadis inilah tentu yang menjadi tunangan Kwee An dan ia tidak hanya kagum akan kelihaian Ma Hoa, akan tetapi juga kagum melihat kecantikannya, hingga ia merasa bahwa memang gadis itu lebih cocok menjadi calon isteri Kwee An.

Ketika Ma Hoa memeluknya, ia hanya dapat mengalirkan air mata saja.

Sanoko juga sudah tahu akan hal itu dan dia pun tidak merasa kecewa oleh karena ternyata bahwa "gadis saingan"

Puterinya adalah seorang pendekar wanita yang bahkan lebih membunuh bangsanya!

Maka ketika kedua orang muda itu berpamit, ia hanya menghaturkan selamat jalan dan terima kasih.

Meilani tidak kuat melihat Kwee An pergi, maka ia mendahului lari masuk ke dalam hutan dan menangis di dalam pondoknya dengan hati hancur.

Sedangkan semua orang Haimi ketika melihat Kwee An meninggalkan "isterinya"

Yang baru saja menikah dengannya, merasa tidak puas, akan tetapi mereka tidak berani banyak bertanya, hanya merasa berduka mengingat akan nasib Meilani.

Demikianlah, Ma Hoa dan Kwee An meninggalkan orang-orang Haimi itu dengan diikuti pandangan mata mereka yang merasa kagum sekali melihat betapa kedua orang muda bangsa Han itu berlari cepat sekali melebihi larinya rusa!

Tentu saja Kwee An dan Ma Hoa merasa bahagia sekali dapat bertemu dalam keadaan selamat, bahkan ketika mendengar dari Ma Hoa bahwa gadis itu telah mempelajari Ilmu Silat Bambu Kuning yang luar biasa dari Hok Peng Taisu, Kwee An menjadi gembira dan girang sekali.

Sebaliknya, ketika Kwee An menceritakan betapa ia telah menderita sakit sampai berbulan-bulan di dalam gua dalam keadaan menderita dan sengsara, kekasihnya menjadi terharu dan merasa iba sekali.

Namun, masih saja dalam perasaan hati Ma Hoa merasa tidak enak oleh karena peristiwa yang terjadi dengan Kwee An ketika terpaksa menikah dengan Meilani itu.

"Koko,"

Katanya di tengah perjalanan.

"agaknya kau suka kepada gigi hitam! Bagaimana kalau aku membikin hitam gigiku."

Kwee An tersenyum pahit.

"Sudahlah, Hoa-moi, jangan kau menggoda terus. Sesungguhnya aku merasa ngeri tiap kali teringat akan gigi hitam dan kumis melintang!"

Ma Hoa tertawa.

"Kalau kubayangkan sungguh lucu. Kau berkumis panjang melintang yang ujungnya melingkar ke atas, sedangkan aku bergigi hitam mengkilap!"

"Betapapun juga, mereka adalah orang-orang baik. Bangsa Haimi itu dan nasib mereka buruk sekali. Moi-moi, biarlah kita jangan bicara tentang mereka lagi. Sekarang yang terpenting ialah, ke mana kita harus mencari Lin Lin, Cin Hai dan Paman Yousuf?"

"Lin-lin dan Paman Yo dikejar-kejar oleh orang-orang Turki yang datang dari barat daya. Sebelum bertemu dengan kau, aku banyak mendengar orang bercerita bahwa di daerah Kansu dan Cinghai di barat kini terdapat orang-orang Turki yang menjadi pedagang. Aku mendengar bahwa di Kansu pemandangannya amat indah dan disana terdapat gua-gua kuno yang terkenal. Kalau hendak mendengar tentang Lin-lin dan Paman Yo, baiknya kita merantau ke barat dan menyelidiki orang-orang Turki itu, sekalian melihat pemandangan di kedua daerah itu. Bagaimana pendapatmu?"

Bagi Kwee An, jangankan harus pergi merantau dan menikmati perjalanan ke daerah-daerah yang indah dan menarik hati, biarpun harus ke neraka sekalipun, kalau bersama Ma Hoa, ia akan pergi dengan senang hati.

"Dugaanmu ini memang berdasar juga. Mudah-mudahan saja Cin Hai juga berpendapat sama dan pergi ke barat pula,"

Katanya.

Demikianlah, kedua sejoli itu lalu mulai melakukan perjalanan ke barat melalui sepanjang tapal batas Mongolia.

Dalam menyeberangi Propinsi-propinsi Sui-yuan dan Ning-sia.

Siapa yang pernah melakukan perjalanan dengan seorang tunangan atau kekasih yang dicinta, dan mencinta, tentu akan maklum pula bahwa di dalam perjalanan itu, yang terasa hanyalah kegembiraan besar.

Segala benda di dunia ini nampak seakan-akan bercahaya gemilang dan berseri, setiap daun dan bunga tersenyum manis, setiap suara terdengar bagaikan nyanyi indah dan merdu!

Pendeknya, Ma Hoa dan Kwee An melakukan perjalanan dengan hati penuh kebahagiaan dan kegembiraan.

Apalagi mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang belum pernah mereka kunjungi hingga pemandangan yang ganjil di daerah itu menambah kegembiraan mereka.

Suatu hari di tapal batas daerah Sui-yuan, ketika mereka sedang berjalan cepat melalui sebuah daerah yang berbukit, tiba-tiba mereka mendengar seruan seperti yang biasanya dikeluarkan oleh orang yang sedang berkelahi.

Mereka menjadi tertarik dan segera berlari menuju ke arah suara itu.

Ketika mereka tiba di sebuah tikungan, mereka melihat dua orang sedang bertempur dengan luar biasa hebatnya.

Ketika mereka telah tiba agak dekat, tiba-tiba Ma Hoa memegang lengan tangan Kwee An dan pemuda ini merasa betapa jari-jari tangan Ma Hoa menggigil.

Ia segera memandang wajah kekasihnya yang tiba-tiba berhenti itu, dan melihat betapa wajah Ma Hoa menjadi pucat.

Sepasang mata gadis itu memandang ke arah orang-orang yang sedang bertempur dengan terbelalak penuh keheranan dan nampaknya terkejut sekali bagaikan melihat setan di tengah hari!

Kwee An segera memandang dan memperhatikan dua orang yang bertempur itu tiba-tiba ia pun memandang dengan mulut celangap.

Ma Hoa menggosok-gosok kedua matanya dan bibirnya bergerak mengeluarkan bisikan.

"Koko... apakah kau juga melihat apa yang kulihat?"

Kwee An hanya berkata perlahan.

"Heran.... heran..... bukankah nona yang berpedang itu benar-benar dia ?"

Sanoko juga sudah tahu akan hal itu dan dia pun tidak merasa kecewa oleh karena ternyata bahwa "gadis saingan"

Puterinya adalah seorang pendekar wanita yang bahkan lebih membunuh bangsanya!

Maka ketika kedua orang muda itu berpamit, ia hanya menghaturkan selamat jalan dan terima kasih.

Meilani tidak kuat melihat Kwee An pergi, maka ia mendahului lari masuk ke dalam hutan dan menangis di dalam pondoknya dengan hati hancur.

Sedangkan semua orang Haimi ketika melihat Kwee An meninggalkan "isterinya"

Yang baru saja menikah dengannya, merasa tidak puas, akan tetapi mereka tidak berani banyak bertanya, hanya merasa berduka mengingat akan nasib Meilani.

Demikianlah, Ma Hoa dan Kwee An meninggalkan orang-orang Haimi itu dengan diikuti pandangan mata mereka yang merasa kagum sekali melihat betapa kedua orang muda bangsa Han itu berlari cepat sekali melebihi larinya rusa!

Tentu saja Kwee An dan Ma Hoa merasa bahagia sekali dapat bertemu dalam keadaan selamat, bahkan ketika mendengar dari Ma Hoa bahwa gadis itu telah mempelajari Ilmu Silat Bambu Kuning yang luar biasa dari Hok Peng Taisu, Kwee An menjadi gembira dan girang sekali.

Sebaliknya, ketika Kwee An menceritakan betapa ia telah menderita sakit sampai berbulan-bulan di dalam gua dalam keadaan menderita dan sengsara, kekasihnya menjadi terharu dan merasa iba sekali.

Namun, masih saja dalam perasaan hati Ma Hoa merasa tidak enak oleh karena peristiwa yang terjadi dengan Kwee An ketika terpaksa menikah dengan Meilani itu.

"Koko,"

Katanya di tengah perjalanan.

"agaknya kau suka kepada gigi hitam! Bagaimana kalau aku membikin hitam gigiku."

Kwee An tersenyum pahit.

"Sudahlah, Hoa-moi, jangan kau menggoda terus. Sesungguhnya aku merasa ngeri tiap kali teringat akan gigi hitam dan kumis melintang!"

Ma Hoa tertawa.

"Kalau kubayangkan sungguh lucu. Kau berkumis panjang melintang yang ujungnya melingkar ke atas, sedangkan aku bergigi hitam mengkilap!"

"Betapapun juga, mereka adalah orang-orang baik. Bangsa Haimi itu dan nasib mereka buruk sekali. Moi-moi, biarlah kita jangan bicara tentang mereka lagi. Sekarang yang terpenting ialah, ke mana kita harus mencari Lin Lin, Cin Hai dan Paman Yousuf?"

"Lin-lin dan Paman Yo dikejar-kejar oleh orang-orang Turki yang datang dari barat daya. Sebelum bertemu dengan kau, aku banyak mendengar orang bercerita bahwa di daerah Kansu dan Cinghai di barat kini terdapat orang-orang Turki yang menjadi pedagang. Aku mendengar bahwa di Kansu pemandangannya amat indah dan disana terdapat gua-gua kuno yang terkenal. Kalau hendak mendengar tentang Lin-lin dan Paman Yo, baiknya kita merantau ke barat dan menyelidiki orang-orang Turki itu, sekalian melihat pemandangan di kedua daerah itu. Bagaimana pendapatmu?"

Bagi Kwee An, jangankan harus pergi merantau dan menikmati perjalanan ke daerah-daerah yang indah dan menarik hati, biarpun harus ke neraka sekalipun, kalau bersama Ma Hoa, ia akan pergi dengan senang hati.

"Dugaanmu ini memang berdasar juga. Mudah-mudahan saja Cin Hai juga berpendapat sama dan pergi ke barat pula,"

Katanya.

Demikianlah, kedua sejoli itu lalu mulai melakukan perjalanan ke barat melalui sepanjang tapal batas Mongolia.

Dalam menyeberangi Propinsi-propinsi Sui-yuan dan Ning-sia.

Siapa yang pernah melakukan perjalanan dengan seorang tunangan atau kekasih yang dicinta, dan mencinta, tentu akan maklum pula bahwa di dalam perjalanan itu, yang terasa hanyalah kegembiraan besar.

Segala benda di dunia ini nampak seakan-akan bercahaya gemilang dan berseri, setiap daun dan bunga tersenyum manis, setiap suara terdengar bagaikan nyanyi indah dan merdu!

Pendeknya, Ma Hoa dan Kwee An melakukan perjalanan dengan hati penuh kebahagiaan dan kegembiraan.

Apalagi mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang belum pernah mereka kunjungi hingga pemandangan yang ganjil di daerah itu menambah kegembiraan mereka.

Suatu hari di tapal batas daerah Sui-yuan, ketika mereka sedang berjalan cepat melalui sebuah daerah yang berbukit, tiba-tiba mereka mendengar seruan seperti yang biasanya dikeluarkan oleh orang yang sedang berkelahi.

Mereka menjadi tertarik dan segera berlari menuju ke arah suara itu.

Ketika mereka tiba di sebuah tikungan, mereka melihat dua orang sedang bertempur dengan luar biasa hebatnya.

Ketika mereka telah tiba agak dekat, tiba-tiba Ma Hoa memegang lengan tangan Kwee An dan pemuda ini merasa betapa jari-jari tangan Ma Hoa menggigil.

Ia segera memandang wajah kekasihnya yang tiba-tiba berhenti itu, dan melihat betapa wajah Ma Hoa menjadi pucat.

Sepasang mata gadis itu memandang ke arah orang-orang yang sedang bertempur dengan terbelalak penuh keheranan dan nampaknya terkejut sekali bagaikan melihat setan di tengah hari!

Kwee An segera memandang dan memperhatikan dua orang yang bertempur itu tiba-tiba ia pun memandang dengan mulut celangap.

Ma Hoa menggosok-gosok kedua matanya dan bibirnya bergerak mengeluarkan bisikan.

"Koko... apakah kau juga melihat apa yang kulihat?"

Kwee An hanya berkata perlahan.

"Heran.... heran..... bukankah nona yang berpedang itu benar-benar dia ?"

"Siapa lagi ? Biarpun lupa akan wajah dan bentuk badannya, aku takkan melupakan gerakan dan ilmu silatnya. Dia benar-benar Enci Im Giok!"

"Mari kita membantunya!?"

Kata Kwee An, akan tetapi Ma Hoa menjawab.

"Jangan dulu! Enci Im Giok paling tidak suka dibantu apabila keadaannya tidak terdesak. Lihat, dia sedang mendesak lawannya, dan dua orang pendeta yang menonton itu. Mereka entah kawan atau lawan. Baiknya kita menonton sambil bersembunyi, melihat gelagat."

Keduanya lalu mengintai dari balik pohon.

Ternyata bahwa yang bertempur itu adalah seorang nenek tua yang mengerikan.

Tubuhnya bongkok karena punggungnya tinggi dan di situ terdapat daging yang menonjol, merupakan punggung onta, rambutnya digelung dan diikat dengan saputangan bersulam yang kecil.

Telinganya memakai anting-anting yang besar melingkar.

Nenek itu sedang bertempur dengan tangan kosong menghadapi seorang dara jelita berpakaian merah yang memegang pedang.

Nona ini cantik sekali dan sekali pandang saja orang yang telah pernah melihatnya tak akan ragu-ragu lagi bahwa dia ini bukan lain ialah Ang I Niocu!

Kalau gerakan Ang I Niocu indah menarik dan gesit sekali hingga nampaknya seperti tengah menari dengan pedangnya, gerakan nenek itu tidak kalah hebatnya.

Tubuh nenek itu berlompatan ke atas sambil menyerang dengan cengkeraman-cengkeraman tangan yang jari-jarinya ditekuk bagaikan cakar burung garuda!

Di dekat tempat pertempuran itu, dua orang kakek berdiri menonton dengan tertarik.

Seorang di antara mereka bertubuh tinggi besar, berjubah hitam panjang dan kepalanya ditutup dengan sebuah sorban.

Kakek ke dua adalah seorang tosu yang mukanya penuh cambang bauk.

Pada saat itu, Ang I Niocu sedang mendesak hebat dengan ilmu pedangnya.

Kalau gerakan nenek itu boleh diumpamakan sebagai seekor garuda yang ganas menyambar-nyambar korbannya, Ang I Niocu merupakan seekor burung merah yang indah dan luar biasa gesitnya.

Nenek itu ternyata selain memiliki ginkang yang tinggi dan sempurna, juga memiliki tenaga dalam yang hebat karena selain serangan mencengkeram yang mirip dengan Ilmu Silat Eng-jiauw-kang dari ahli silat Tiongkok Selatan, juga kadang-kadang ia mengirim pukulan-pukulan yang anginnya saja membuat rambut Ang I Niocu berkibar dan awut-awutan!

Akan tetapi, pedang Ang I Niocu amat lihainya, sinar pedangnya dapat mendesak terus hingga nenek itu terpaksa berkelahi sambil mundur.

Ketika nenek itu mundur dan melompat ke atas sebuah batu karang, Ang I Niocu membabat dengan pedangnya ke arah kaki lawannya dengan gerakan Bidadari Menyebar Bunga hingga hampir saja kaki nenek itu terbabat.

Akan tetapi, dengan cepat sekali nenek itu melompat ke atas sambil mengeluarkan teriakan keras, dan ketika tubuhnya masih berada di atas, tiba-tiba kedua tangannya digerakkan dan berhamburanlah hancuran batu menyerang ke arah Ang I Niocu!

Ternyata bahwa ketika nenek itu meloncat ke atas batu karang, kedua tangannya mencengkeram batu karang hingga hancur di dalam kedua tangannya dan kini ia menggunakan hancuran batu karang itu untuk menyerang Ang I Niocu!

Hancuran batu karang yang menjadi kerikil kecil-kecil ini tidak boleh dipandang ringan, oleh karena tenaga lemparannya yang disertai tenaga khikang ini membuat batu-batu kecil itu dapat menembus kulit dan daging, dan setiap potongan kecil merupakan sebuah senjata rahasia yang lihai!

Akan tetapi Ang I Niocu yang berkepandaian tinggi tidak gentar menghadapi serangan hebat ini.

Dengan tenang ia lalu memutar pedangnya hingga tubuhnya seakan-akan terlindung oleh dinding baja dan semua potongan batu kecil itu dapat terpukul jatuh.

Kembali mereka bertempur seru, masing-masing mengeluarkan ilmu kepandaian yang paling tinggi.

Biarpun Ang I Niocu selalu mendesak, namun agaknya tidak mudah menjatuhkan nenek yang lihai itu.

Sebelum kita maju lebih lanjut dengan cerita ini, sebaliknya kita mengikuti dulu pengalaman Ang I Niocu semenjak ia berada di Pulau Kim-san-to, oleh karena pembaca tentu merasa heran bagaimana Ang I Niocu bisa muncul di sini sedangkan dulu ia berada di Pulau Kim-san-to ketika pulau itu terbakar dan meledak?

Baiklah kita mundur sejenak agar selanjutnya cerita ini dapat diikuti dengan lancar.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu mendahului Cin Hai untuk pergi ke Pulau Kim-san-to mencari Lin Lin.

Dengan nekat Gadis Baju Merah itu naik ke atas puncak untuk mencari Lin Lin, akan tetapi bukan Lin Lin yang ia jumpai, bahkan ia melihat pemandangan yang amat mengerikan, yaitu seluruh danau di bukit itu terbakar merupakan neraka yang dahsyat.

Ia melihat bayangan Vayami bagaikan sedang meiambai-lambai memanggilnya dari tengah lautan api itu, maka dengan hati ngeri sekali Ang I Niocu mencari-cari Lin Lin, berlari ke sana ke mari dan suaranya sampai serak karena terus-menerus ia memanggil.

"Lin Lin.... Lin Lin....! Di mana kau...?"

Ketika ia sedang berlari menubruk sana menubruk sini memanggil-manggil Lin Lin seperti orang gila, tiba-tiba sebuah letusan hebat terdengar dan daya tenaga raksasa yang keluar dari ledakan itu membuat tubuh Ang I Niocu terlempar ke atas udara.

Biarpun semangat Ang I Niocu seakan-akan terbang keluar dari tubuhnya karena kehebatan ledakan itu, namun ia masih sempat berteriak lagi memanggil.

"Lin Lin.... Lin Lin.... Hai-ji...."

Kemudian pingsan selagi tubuhhya masih melayang di udara!

Memang mati atau hidup seseorang berada sepenuhnya dalam kekuasaan dan tangan Yang Maha kuasa.

Kalau Tuhan menghendaki, seorang yang telah berada di mulut harimau masih akan dapat tertolong dan hidup, sedangkan seorang segar bugar dapat tiba-tiba mati.

Hal ini harus diakui oleh semua orang karena banyak terjadi bukti-bukti akan kekuasaan yang besar ini.

Tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi dalam tangan Tuhan!

Demikianpun dengan nasib Ang I Niocu.

Agaknya Tuhan belum menghendaki dia terbebas dari hidup di dunia, maka tubuhnya terlempar ke udara tanpa terluka.

Hal ini memang tidak begitu aneh oleh karena dapat diketahui sebab-sebabnya.

Kalau sekiranya Ang I Niocu tidak berada terlalu dekat dengan bukit yang meledak itu, seperti halnya para tentara Turki dan tentara kerajaan yang terbasmi habis seluruhnya, tentu Dara Baju Merah itupun akan tewas juga, termakan oleh api dan minyak panas.

Akan tetapi ketika ledakan terjadi, tubuh Ang I Niocu berada dekat sekali hingga sebelum api dapat membakar tubuhnya, hawa ledakan yang luar biasa kerasnya itu telah membuat tubuhnya terlempar ke udara!

Karena hebatnya tekanan ledakan itu, pakaiannya yang merah sampai terobek ke sana ke mari dan potongannya terlempar lalu melayang-layang terbawa angin yang didatangkan oleh ledakan hingga sepotong dari pakaian ini kemudian ditemukan oleh Cin Hai di atas laut.

Biarpun pada saat ia terlempar ke udara, Ang I Niocu terhindar dari bahaya api yang mengamuk, akan tetapi ia masih belum terlepas dari bahaya maut sama sekali, oleh karena ia telah menjadi pingsan dan kalau ia jatuh kembali, maka tubuhnya tentu akan hancur dan dimakan api!

Namun, memang Tuhan belum menghendaki kematiannya maka kembali Yang Maha Kuasa memperlihatkan kekuasaanNya lagi.

Di antara semua mahluk hidup yang berada di atas Pulau Kim-san-to ketika ledakan terjadi, selain Ang I Niocu yang selamat, masih ada lagi yang lain, yaitu Sin-kim-tiauw atau rajawali sakti berbulu emas.

Kebetulan sekali pada waktu ledakan terjadi, burung rajawali ini sedang terbang tinggi di atas pulau karena ia merasa terkejut melihat sekian banyak orang sedang berperang di atas pulaunya yang biasanya sunyi dan tenteram itu.

Ia terbang berputar-putar di atas sambil berteriak-teriak marah, karena perasaannya memberitahukannya bahwa orang-orang yang demikian banyaknya itu bukanlah orang baik-baik.

Ia hendak mengamuk dan menyerang, akan tetapi tidak berani dan merasa takut menghadapi sekian banyaknya orang, maka kini ia hanya terbang tinggi sambil memekik-mekik marah.

Ketika terjadi ledakan, Sin-kim-tiauw terkejut sekali dan sambil menyambar-nyambar ke bawah dengan marah, ia menjadi bingung dan takut melihat api berkobar hebat membakar pulaunya.

Kemudian, tiba-tiba ia melihat tubuh seorang yang berpakaian merah melayang ke udara dengan kecepatan luar biasa.

Tadinya burung itu merasa terkejut dan takut, oleh karena belum pernah ia melihat orang yang dapat terbang!

Tentu ilmu kepandaiannya lihai sekali, pikirnya.

Maka ia hanya terbang mengelilingi dan tidak berani menyerang, sungguhpun ia merasa marah sekali.

Akan tetapi, ketika Ang I Niocu menjadi pingsan dan tubuhnya menjadi lemas terkulai dan tubuhnya menjadi lemas terkulai dan tubuh itu mulai melayang lagi jatuh ke bawah, Sin-kim-tiauw lalu menyambar dan mencengkeramnya.

Perlu diketahui bahwa Sin-kim-tiauw bukanlah burung liar sembarangan saja, akan tetapi adalah burung peliharaan yang telah dilatih oleh Bu Pun Su dan adik seperguruannya Han Le, hingga burung ini telah dapat membawa apa saja dalam cengkeramannya tanpa melukai.

Maka ketika ia mencengkeram tubuh Ang I Niocu yang pingsan, ia tidak melukai tubuh itu, hanya membawanya terbang menuju ke timur dengan cepat sambil berteriak-teriak girang seperti biasa kalau ia menang berkelahi!

Burung rajawali yang besar itu membawa tubuh Ang I Niocu terus ke timur lalu membelok ka arah tenggara, dan selama itu Ang I Niocu masih saja pingsan tak sadarkan diri karena ledakan hebat itu benar-benar telah mengguncang jantungnya sedangkan perasaan kuatir dan takut membuat semangatnva seakan-akan terbang meninggalkan tubuhnya.

Burung rajawali itu terbang terus dan setelah berputar-putar tinggi di atas pulau yang banyak terdapat di permukaan Laut Tiongkok, lalu menyambar turun ke atas sebuah pulau kecil yang penuh dengan pohon-pohon hijau.

Ketika ia telah terbang rendah di alas pulau itu, tiba-tiba terdengar suara orang bersuit keras dan Sin-kim-tiauw segera terbang ke arah suara suitan itu.

"Eh, Kim-tiauw, siapakah yang kau bawa itu?"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan seorang laki-laki keluar dari sebuah gua memandang kepada Kim-tiauw yang terbang rendah itu.

"Lepaskan dia!"

Teriaknya dan Sin-kim-tiauw dengan taat lalu melepaskan tubuh Ang I Niocu dari cengkeraman kakinya.

Tubuh Dara Baju Merah itu melayang ke bawah dan dengan gerakan cepat, laki-laki itu lalu menyambut tubuhnya.

Merahlah muka laki-laki itu melihat betapa Ang I Niocu hampir tak berpakaian lagi karena pakaiannya yang merah telah robek di sana-sini oleh hawa ledakan tadi!

Cepat-cepat laki-laki itu menanggalkan mantelnya menyelimuti tubuh yang segera dibawanya masuk ke dalam gua dan diletakkannya di atas tanah yang bertilamkan rumput-rumput kering.

Dengan hati-hati laki-laki itu lalu memeriksa nadi pergelangan tangan Ang I Niocu lalu ia menarik napas lega.

Dari sudut gua ia mengambil bungkusan pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kulit buah labu yang telah dikeringkan dan yang digunakan sebagai tempat air.

Ternyata bahwa isinya bukanlah air biasa, akan tetapi sari buah-buahan yang mengandung khasiat menguatkan tubuh dan mendatangkan ketenangan pada hati.

Dengari hati-hati, ia lalu membuka bibir dan mulut Ang I Niocu dengan tangan kanan dan menuangkan sedikit isi tempat air itu ke dalam mulut gadis itu.

Kemudian, setelah menyimpan tempat air ke dalam bungkusannya kembali, ia lalu berdiri memandang wajah dara itu dengan penuh perhatian lalu menarik napas panjang dan keluar dari gua.

Burung rajawali melihat kedatangannya, lalu berjalan menghampiri sambil mengeluarkan keluhan panjang.

"Sin-kim-tiauw, dari manakah kau datang dan siapakah gadis itu? Aku mendengar suara ledakan keras dari arah Pulau Kim-san-to dan melihat api berkobar-kobar. Heran sekali, apakah yang telah terjadi?"

Kim-tiauw itu mengeluarkan keluhan keras dan aneh, lalu mengembangkan sayapnya dan memukul-mukul tanah, seakan-akan hendak menceritakan peristiwa hebat yang menimpa pulaunya, akan tetapi tentu saja laki-laki itu tidak mengerti sama sekali, hanya dia dapat menyangka bahwa tentu telah terjadi hal yang aneh sekali, karena tidak biasa Sin-kim-tiauw berlaku seaneh ini.

Siapakah laki-laki yang tinggal seorang diri di sebuah pulau kecil yang asing dan tiada berkawan ini?

Ia adalah seorang laki-laki yang berwajah cukup tampan, berkening lebar dan sinar matanya tajam berkilat.

Tubuhnya tegap dan sedang, dan usianya paling banyak tiga puluh lima tahun.

Pakaiannya terbuat dari pada bahan kasar berwarna biru dan sebilah pedang tergantung di pinggangnya.

Orang ini sebetulnya adalah seorang pendekar silat yang mengasingkan diri, seorang berilmu tinggi yang patah hati oleh karena kecewa melihat keadaan dunia yang penuh kepalsuan.

Dulu ia tinggal di atas Pulau Kim-san-to, ikut belajar silat kepada suhunya yang bukan lain ialah Han Le atau sute dari Bu Pun Su!

Mereka tinggal bertiga dengan seorang sutenya, karena Han Le mempunyai dua orang murid, yaitu laki-laki ini yang bernama Lie Kong Sian, dan seorang pemuda bernama Song Kun.

Baik Lie Kong Sian maupun Song Kun, keduanya adalah anak-anak yatim piatu yang menjadi korban keganasan tentara Mongol.

Ayah bunda mereka telah tewas ketika tentara Mongol menyerbu dusun-dusun dan mereka berdua mendapat pertolongan dari Han Le yang lalu membawa mereka ke atas Pulau Kim-san-to dan mengangkat mereka menjadi murid.

Biarpun Lie Kong Sian mempunyai bakat baik sekali hingga ia dapat mewarisi kepandaian suhunya, namun ia masih kalah apabila dibandingkan dengan Song Kun yang memiliki bakat.

Luar biasa sekali.

Bahkan Han Le sendiri pernah berkata kepada Lie Kong Sian yang dipercaya penuh dan disayangi seperti anak sendiri.

"Muridku, kau lihat saja, Song Kun kelak akan memiliki ilmu kepandaian yang jarang mendapat tandingan oleh karena anak itu memiliki tulang dan bakat yang luar biasa. Dalam hal ilmu silat, bakat mempunyai pengaruh hebat sekali oleh karena biarpun ilmu silat yang dipelajarinya sama dengan yang kaupelajari, akan tetapi bakatnya dapat membuat ilmu silatnya menjadi lebih lihai dan hebat, karena mendapat tambahan sendiri oleh bakatnya yang baik. Akan tetapi ia masih amat muda, muridku, dan apabila aku telah tidak ada lagi di dunia ini, kaulah yang harus menjadi wakilku untuk menuntunnya ke arah jalan benar."

Bertahun-tahun kedua orang murid ini digembleng oleh Han Le di atas Pulau Kim-san-to, kemudian Han Le mengajak, kedua orang muridnya itu berkelana untuk mencari pengalaman di dunia ramai.

Dan hal inilah yang kemudian membuat Song Kun berubah.

Kelihatanlah watak aselinya ketika pemuda ini melihat benda-benda berharga dan hal-hal yang terjadi di dunia ramai.

Ia mulai menjadi sesat dan pengaruh-pengaruh buruk menguasai hatinya.

Sebuah di antara wataknya yang buruk ialah kesukaannya akan wanita cantik.

Baik Han Le maupun Lie Kong Sian mengetahui hal ini, maka setelah berkelana selama dua tahun, Han Le lalu mengajak Song Kun kembali ke Pulau Kim-san-to dan menyuruh Lie Kong Sian mengembara seorang diri untuk meluaskan pengalaman dan menjalankan pekerjaan sebagai seorang pendekar yang harus menolong sesama hidup yang menderita kesukaran.

Diam-diam Song Kun merasa mendongkol sekali kepada suhunya, akan tetapi ia tidak berani menyatakan dengan terus terang, bahkan ia lalu dengan cerdiknya merubah sikap menjadi penurut dan berbakti sekali.

Ia melayani suhunya dengan amat baiknya, bahkan ketika Bu Pun Su datang berkunjung ke pulau itu, ia dapat pula menipu kakek jembel ini hingga Bu Pun Su juga salah sangka dan memuji murid adik seperguruannya ini, lalu menurunkan semacam kepandaian ilmu silat kepada Song Kun.

Di atas pulau itu, selain Song Kun dan gurunya, telah ada tiga ekor binatang sakti yang dulu dipelihara oleh Bu Pun Su, yaitu Merak Sakti, Rajawali Emas dan Harimau Bertanduk.

Ketika dulu Bu Pun Su bertapa di pulau itu, ia memelihara ketiga ekor binatang ini dan kemudian meninggalkannya kepada Han Le yang tetap berdiam di pulau itu.

Selama Lie Kong sian pergi merantau, Song Kun dapat menipu suhunya dan membujuk hingga Han Le lalu memberi pelajaran ilmu silat yang lebih tinggi lagi.

Dan pada suatu hari, tanpa memberi tahu kepada suhunya, Song Kun minggat dari pulau itu!

Han Le terkejut sekali dan mulailah ia merasa sedih dan jatuh sakit berat di atas pulau itu.

Kebetulan sekali Lie Kong Sian datang ke Pulau Kim-san-to untuk mengunjungi suhunya dan sutenya.

Alangkah terkejutnya ketika ia melihat suhunya dalam keadaan sakit berat.

Cepat-cepat ia menolong dan merawatnya, akan tetapi terlambat.

Agaknya memang sudah menjadi takdir Han Le untuk meninggalkan dunia ini di pulau itu!

Sebelum ia menutup mata, ia meninggalkan pesan kepada Lie Kong Sian.

"Muridku, kalau aku telah mati, kuburkanlah mayatku dalam gua ini, dan juga pedangku ini harus ikut di tanam pula, kemudian kau pergilah mencari sutemu Song Kun. Selidikilah keadaannya karena aku kuatir sekali kalau-kalau ia mencemarkan namaku dengan perbuatan rendah. Akan tetapi, kau berhati-hatilah menghadapinya, Kong Sian, karena ilmu silatnya hampir sempurna. Kalau kau perlu bantuan, kau carilah supekmu Bu Pun Su untuk membantu menangkapnya. Selain supekmu Bu Pun Su, kukira tidak ada orang lain yang akan dapat melawannya!"

Tak lama kemudian, setelah Lie Kong Sian memenuhi pesanan suhunya yang telah meninggal, yaitu mengubur jenezah suhunya berikut pedangnya di dalam gua yang penuh pasir itu, lalu ia meninggalkan Pulau Kim-san-to.

Ketiga ekor binatang sakti masih berdiam di pulau itu dengan sedih dan kesunyian.

Lie Kong Sian berhasil bertemu dengan sutenya, akan tetapi, biarpun ia melihat bahwa sutenya ini menyimpang dari perjalanan hidup yang benar, ia tidak tega untuk minta pertolongan Bu Pun Su.

Semenjak kecil ia hidup di atas pulau, belajar silat bersama sutenya ini hingga ia pandang Song Kun seperti adik sendiri yang amat ia kasihi, maka ketika ia melihat akan kesesatan Song Kun, ia hanya memberi nasihat.

Akan tetapi, benar sebagaimana dugaan suhunya, adiknya itu tidak mau menurut bahkan menantangnya hingga mereka lalu berkelahi!

Tingkat kepandaian mereka memang sama, akan tetapi Song Kun memiliki kecepatan yang lebih hebat hingga akhirnya Lie Kong Sian dapat dikalahkan dan terpaksa melarikan diri.

Hal ini amat mendukakan hati Lie Kong Sian.

Untuk minta bantuan Bu Pun Su, ia tidak tega melihat adiknya terhukum, kalau didiamkan saja bagaimana.

Maka dalam kebimbangan dan keraguannya, ia lalu kembali ke Pulau Kim-san-to dan menangis di depan kuburan suhunya, mengakui akan kelemahannya.

Kemudian ia lalu mengasingkan diri, bertapa di sebuah pulau kosong tak jauh dari Kim-san-to, sebuah pulau kecil yang disebut Pulau Pek-le-to.

Seringkali Merak Sakti terbang ke pulau itu untuk mengunjunginya, dan juga beberapa kali Lie Kong Sian mendayung perahu kecil mengunjungi pulau di mana suhunya dimakamkan itu.

Demikianlah selama beberapa tahun bertapa di Pulau Pek-le-to, Kong Sian menuntut penghidupan tenteram, sampai pada hari itu ia dikejutkan oleh ledakan yang datang dari arah Pulau Kim-san-to.

Kemudian datang Sin-kim-tiauw yang membawa tubuh Ang I Niocu yang pingsan, maka tentu saja ia menjadi heran, akan tetapi kepada siapa ia harus bertanya?

Setelah menepuk-nepuk punggung rajawali itu, Kong Sian kembali ke dalam gua.

Seperti tadi, ia berdiri memandang Ang I Niocu dan kembali ia merasa jantungnya berdebar aneh.

Ia menjadi terkejut sekali oleh karena belum pernah selama hidupnya ia mendapat perasaan seperti ini, sungguhpun telah banyak ia jumpai wanita-wanita cantik selama ia merantau.

Ia maklum pengaruh apa yang mencengkeram hatinya, maka dengan wajah pucat ia segera membuang muka dan tidak mau memandang lagi.

Akan tetapi oleh karena hatinya masih saja berdebar, ia lalu pergi ke sudut gua di mana terdapat sebuah batu besar yang ia tilami jerami kering di atasnya, lalu duduk dan bersamadhi untuk menenteramkan hatinya yang terguncang!

Tak lama kemudian, Kong Sian berhasil menekan perasaan hatinya yang bergelora itu, maka ia lalu turun dari atas batu dan menghampiri Ang I Niocu kembali.

Dilihatnya betapa wajah dara itu merah sekali dan pernapasannya sesak.

Ia mengulurkan tangan meraba jidat gadis itu dan mendapat kenyataan bahwa gadis itu terserang demam hebat.

Maka cepat ia keluar dari gua dan mencari daun obat yang banyak tumbuh di atas pulau Pek-le-to, lalu memeras daun itu dan meminumkan airnya pada Ang I Niocu, kemudian dengan saputangan yang dibasahi air ia lalu mengompres kepala Ang I Niocu.

Kekagetan dan ketakutan yang menyerang Ang I Niocu, ditambah lagi dengan pukulan hawa ledakan yang dahsyat itu, membuat gadis itu pingsan dan menderita sakit demam hebat selama tiga hari.

Dan selama itu, dengan setia dan hati penuh iba Kong Sian menjaga di sampingnya, merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

Akan tetapi selama tiga hari itu, beberapa belas kali terpaksa Lie Kong Sian yang biasa berhati teguh dan beriman baja itu harus pergi duduk untuk bersamadhi dan mengatur pernapasannya menekan perasaan yang menggelora di dalam dadanya!

Pada hari ke empatnya, tubuh Ang I Niocu sudah mulai bergerak-gerak dengan gelisah, akan tetapi tubuhnya ternyata lemah sekali.

Karena pergerakan yang gelisah itu, beberapa kali mantel yang menutupi tubuhnya terbuka dan dengan cepat dan sopan, Kong Sian lalu menutupkannya kembali.

Kemudian ia lalu mengurut jalan darah gadis itu hingga Ang I Niocu merasa mendingan dan tidak begitu gelisah lagi, akan tetapi gadis itu masih belum membuka matanya.

Sambil bergerak perlahan dengan mata tertutup ia berbisik.

"Lin Lin.... Hai-ji...."

Kemudian sambil mengeluarkan ujung lidah yang disapu-sapukan pada bibirnya ia berbisik lagi.

"Air.... air...."

Ketika Kong Sian meraba jidatnya, maka ternyata panasnya telah naik lagi.

Kong Sian merasa kuatir sekali dan segera mengambil air yang telah dimatangkannya, lalu dengan sebuah sendok yang terbuat dari kayu, ia menyuapi air matang ke dalam mulut Ang I Niocu yang menelannya dengan lahap sekali.

Kong Sian lalu mengambil bubur gandum yang tadi di masaknya, lalu dengan perlahan ia menyuapkan bubur ini sesendok demi sesendok ke dalam mulut gadis itu yang menelannya tanpa membuka mata.

Setelah diberi makan bubur, gadis itu lalu tertidur kembali dan panasnya menurun.

Kong Sian tetap menjaga dengan perasaan penuh iba.

Dalam perawatan ini, timbullah rasa cinta yang amat besar dan mendalam di hati pemuda yang telah berusia tiga puluh lima tahun ini.

Memang tadinya Kong Sian mengambil keputusan untuk tidak kawin selama hidupnya dan tinggal di pulau itu menjadi pertapa, mempelajari ilmu batin, ilmu silat, dan ilmu pengobatan.

Akan tetapi semenjak pertemuannya dengan Ang I Niocu dalam keadaan yang ganjil ini, hatinya selalu bergoncang keras dan ia merasa betapa hidup ini baginya menjadi berubah sama sekali.

Sering kali ia duduk di dekat Ang I Niocu dan membayangkan betapa akan hancur hatinya dan kosong hidupnya apabila gadis ini meninggal dunia karena sakitnya.

Setelah dirawat dengan amat teliti dan telaten oleh Kong Sian selama dua hari dua malam dalam keadaan setengah sadar dan belum pernah selama itu Ang I Niocu membuka matanya, maka lenyaplah demam yang menyerangnya.

Tubuhnya menjadi segar kembali dan biarpun tubuhnya masih agak lemah, akan tetapi ia tidak gelisah lagi.

Pada hari ke tujuh semenjak ia tiba di situ, pagi-pagi hari Ang I Niocu membuka kedua matanya bagaikan baru bangun dari alam mimpi yang dahsyat.

Ia bangun sambil tersentak kaget dan begitu membuka mata, ia lalu bangun duduk sambil memanggil nyaring.

"Lin Lin.... Hai-ji....."

Dan cahaya kekuatiran hebat terbayang pada wajahnya yang cantik.

Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia sedang duduk diatas setumpuk rumput kering di dalam sebuah gua dan melihat seorang laki-laki cakap duduk di dekatnya sambil memandangnya dengan kagum sekali karena setelah kini Ang I Niocu membuka matanya Kong Sian merasa seakan-akan ia melihat seorang bidadari yang duduk di situ.

Alangkah indah mata gadis itu!

Ang I Niocu meloncat ke atas karena kagetnya dan terlepaslah mantel penutup tubuhnya, hingga Kong Sian juga buru-buru melompat ke belakang dan memutar tubuhnya membelakangi gadis itu.

"Nona, pakailah mantel itu baik-baik, baru kita bicara!"

Katanya perlahan dan halus.

Sementara itu Ang I Niocu terkejut bukan main melihat betapa pakaiannya telah robek tidak karuan hingga ia hampir telanjang!

Buru-buru dan dengan muka merah karena jengah, ia lalu menyambar mantel itu kembali dan menyelimuti tubuh dengan mantel itu dengan ikat pinggangnya yang berwarna kuning emas.

Setelah selesai, maka dengan mata bernyala ia lalu menubruk dan menyerang Kong Sian dari belakang.

"Bangsat kurang ajar! Kau berani menghinaku?"

Serunya. Mendengar sambaran angin pukulan, Kong Sian merasa terkejut sekali dan cepat ia mengelak sambil berkata.

"Eh, Nona, sabar dulu... aku... aku ...."

Biarpun merasa tubuhnya masih lemah, akan tetapi oleh karena marah maka Ang I Niocu tetap menyerang dengan hebat sambil mengeluarkan ilmu silatnya Kong-ciak Sian.

Kong Sian merasa terkejut sekali oleh karena tentu saja ia mengenal ilmu silat dari suhunya ini, maka dengan heran ia lalu melayani Ang I Niocu dengan baik.

Makin kagumlah ia ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu gerakan gadis ini ternyata lihai sekali dan biarpun tenaganya masih lemah, akan tetapi ginkang dan lweekang gadis ini menyatakan bahwa ia menghadapi seorang pendekar wanita yang tak boleh dibuat gegabah.

Ia pikir bahwa gerakan-gerakan ini membahayakan kesehatan gadis yang baru saja sembuh itu, maka dengan cepat ia lalu membalas serangan Ang I Niocu dengan totokan-totokan luar biasa dan karena Ang I Niocu belum cepat gerakannya disebabkan tubuhnya yang masih lemah, pula oleh karena ilmu kepandaian silat Kong Sian memang masih lebih tinggi, maka sebentar saja pemuda itu berhasil menotok pundak Ang I Niocu yang segera mengeluh dan roboh dengan lemas!

Kong Sian segera mengangkat tubuh Ang I Niocu dan membawanya keluar gua di mana ia menaruh tubuh gadis itu di bawah sebatang pohon dan angin gunung yang sejuk membuat Ang I Niocu merasa nyaman sekali.

"Nona, banyak sekali hal yang perlu kita bicarakan. Harap kau bersabar mendengarkan bicaraku. Pertama-tama yang perlu kauketahui ialah kau sama sekali keliru menyangka padaku. Aku bukanlah orang jahat dan sama sekali aku tidak mempunyai maksud buruk terhadapmu. Ketahuilah bahwa aku adalah seorang yang mengasingkan diri di pulau ini dan tujuh hari yang lalu, Sin-kim-tiauw datang terbang ke mari sambil mencengkeram tubuhmu yang telah pingsan! Kemudian kau jatuh sakit tidak sadarkan diri sampai tujuh hari dan aku merawatmu di dalam gua itu!"

Mendengar ucapan ini, lenyaplah sinar marah dari mata Ang I Niocu danKong Sian lalu mengulur tangan memulihkan totokannya pada pundak gadis itu sambil berkata.

"Biarlah, kalau kau tetap tidak percaya kepadaku, kauseranglah aku lagi, aku tak hendak membalas untuk menyatakan bahwa kata-kataku tadi benar belaka!"

Setelah sadar dari totokan, Ang I Niocu memandang dengan mata bengong dan ia tidak berkutik dari tempat duduk. Tubuhnya masih merasa lemah dan ia menyandarkan diri pada pohon itu.

"Benar-benar masih hidupkah aku?"

Tanyanya perlahan setengah berbisik, karena sekarang ia teringat betapa ia telah dilontarkan ke atas oleh ledakan dahsyat itu dan kemudian ia tidak ingat apa-apa lagi.

Kong Sian tersenyum dan wajahnya yang tadi nampak bersungguh-sungguh itu berubahlah setelah ia tersenyum.

Sekarang ia tampak tampan dan matanya memancarkan seri gembira.

"Tentu saja kau masih hidup, Nona, kalau tidak bagaimana kau bisa berada di sini? Kau berada di Pulau Pek-le-to dan di pulau ini hanya akulah penghuni satu-satunya."

"Bagaimana seekor rajawali dapat membawaku ke sini?"

Di mana burung itu?"

Tanya Ang I Niocu yang masih merasa ragu-ragu oleh karena ia masih kurang percaya kepada cerita yang aneh itu.

Lie Kong Sian lalu berdiri dan bersuit keras.

Dari atas lalu terdengar suara balasan dari seekor burung dan tiba-tiba nampaklah setitik hitam yang tinggi menyambar turun dengan cepatnya.

Setelah tiba dekat, ternyata yang melayang turun itu adalah seekor burung rajawali besar, mengingatkan Ang I Niocu kepada burung rajawali yang dulu menyambar-nyambarnya di atas perahu ketika ia masih mencari Pulau Kim-san-to di atas perahu bersama Cin Hai dan Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio.

Akan tetapi rajawali ini lebih besar dan bulunya indah sekali.

Sin-kim-tiauw terbang rendah lalu turun di depan Kong Sian, memandang kepada Ang I Niocu dengan sepasang matanya yang tajam sinarnya.

"Nah, inilah Sin-kim-tiauw yang membawamu ke sini. Sekarang akulah yang minta keterangan kepadamu bagaimana kau bisa terbawa oleh burung sakti ini."

"Aku.... aku berada di Pulau Kim-san-to dan pulau itu terbakar lalu meledak hingga aku terlempar ke udara oleh ledakan itu kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi. Agaknya ketika tubuhku melayang di udara dalam keadaan pingsan, burung sakti ini menyambar diriku dan membawanya ke sini. Kalau begitu, dia adalah penolong jiwaku!"

Setelah berkata demikian, Ang I Niocu lalu berdiri dan ia berlutut di depan burung itu!

Kim-tiauw itu adalah seekor burung yang luar biasa cerdiknya.

Melihat Ang I Niocu, ia agaknya tahu dan dengan keluhan panjang ia lalu menundukkan kepalanya dan membelai kepala Ang I Niocu dengan lehernya yang berbulu tebal.

Kemudian, sambil memekik girang burung itu lalu terbang ke atas dan berputaran di udara seakan-akan merasa girang sekali bahwa ada orang yang berterima kasih dan berlutut padanya!

"Kau katakan tadi bahwa aku jatuh sakit dan tidak ingat diri sampai tujuh hari di sini?"

Tanya Ang I Niocu sambil menghadapi Kong Sian kembali. Mereka masih duduk di atas rumput, berhadapan. Kong Sian mengangguk.

"Ya, kau pingsan tiga hari tiga malam dan tubuhmu panas sekali. Kau terserang demam hebat dan tiap hari mengigau dalam keadaan tidak ingat orang. Kemudian kau dapat bergerak, akan tetapi kau gelisah dan panas sekali dan sama sekali tidak membuka matamu. Aku telah merasa kuatir sekali dan sudah hampir habis harapanku untuk dapat melihat kau hidup lagi."

Ketika Kong Sian sedang bercerita, Ang I Niocu memandang dengan penuh keheranan.

Duduk berhadapan dengan Kong Sian dan mendengar suara orang ini bercerita tentang keadaannya, ia merasa seakan-akan ia telah menjadi kenalan lama, apa lagi ketika ia dapat menangkap nada suara yang penuh getaran karena terharu pada saat pemuda itu menceritakan kegelisahannya melihat dia sakit!

"Kalau begitu, selama tujuh hari aku menderita sakit...

akan tetapi sungguh heran...

bagaimana aku masih dapat hidup....?"

Kong Sian merasa segan dan malu untuk menceritakan betapa ia merawat gadis ini selama sakit, maka ia hanya menjawab.

"Thian itu adil dan selalu melindungi orang-orang baik, maka Thian telah melindungimu dari keadaan yang membahayakan jiwamu itu."

Ang I Niocu menggeleng kepalanya.

"Betapapun juga, kalau dalam keadaan sakit aku tidak diberi obat dan selama tujuh hari tidak makan apa-apa, tidak mungkin aku akan dapat hidup! Siapakah yang merawatku dan siapa yang memberi makan padaku?"

Merahlah wajah Kong Sian mendengar ini. Sikapnya menjadi canggung sekali dan suaranya menjadi gagap ketika ia menjawab.

"Memang... aku telah... aku yang memberi obat padamu dan... dan melihat kau begitu lemah dan gelisah.... aku memberi bubur gandum kepadamu."

Sinar terima kasih yang amat mendalam terbayang pada mata Ang I Niocu ketika mendengar ini, karena biarpun pemuda itu tidak menceritakannya, ia sudah dapat menduganya.

Sikap ragu-ragu untuk memberitahukan bahwa pemuda itu telah merawatnya, membuat pandangannya terhadap pemuda itu semakin tinggi dan kagum sekali.

Sikap ini menunjukkan betapa tinggi pribadi orang ini.

Akan tetapi tiba-tiba Ang I Niocu teringat akan sesuatu dan sinar kemarahan tercampur keraguan membayang kembali pada wajahnya yang menjadi makin memerah.

"Dan... keadaan pakaianku ini...!"

Ia lalu melompat berdiri lagi, kedua tangannya terkepal.

"katakanlah terus terang, apa yang terjadi dengan pakaianku? Dan mengapa pula kau menyelimutkan dengan mantel? Mantel siapakah ini?"

Pertanyaan ini diucapkan dengan ketus dan marah oleh karena ia merasa bercuriga. Kong Sian menarik napas panjang.

"Nona, kalau saja bukan kau yang bersikap seperti ini dan menyangka yang bukan-bukan terhadap aku, tentu aku akan naik darah dan menjadi marah sekali! Kaukira aku Lie Kong Sian ini orang macam apakah? Nona, kau boleh maki padaku, bahkan kau boleh menyerangku, akan tetapi janganlah sekali-kali kau menyangka aku berlaku rendah dan biadab terhadap dirimu! Ketika Sin-kim-tiauw datang membawamu ke sini, pakaianmu sudah robek semua dan tidak keruan macamnya, maka lalu aku menyelimutimu dengan mantelku. Nah, itulah keadaan yang sebenarnya!"

Sambil berkata demikian, teringatlah Kong Sian akan hal itu hingga ia menundukkan kepala dengan kemalu-maluan.

Kalau saja ia tidak menundukkan mukanya, tentu ia akan melihat betapa Ang I Niocu menjadi merah sekali mukanya dan betapa kedua mata gadis itu mencucurkan air mata!

Tiba-tiba Ang I Niocu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah di depan pemuda itu sambil berkata dengan suara penuh keharuan.

"In-kong (Tuan Penolong), maafkanlah aku yang kasar dan yang telah menuduhmu yang bukan-bukan! Kau telah menolong jiwaku, telah merawatku selama tujuh hari, memberi obat, menyuapkan makan akan tetapi aku yang tertolong bahkan telah menuduhmu yang bukan-bukan! Maafkanlah aku ....."

Ang I Niocu mengucapkan kata-kata ini sambil menangis karena tidak saja ia merasa terharu, akan tetapi ia juga teringat akan semua peristiwa dan ia menguatirkan keadaan Lin Lin dan Cin Hai!

Lie Kong Sian berkata dengan halus.

"Duduklah, Nona, dan legalah hatiku karena sekarang kau telah percaya kepadaku."

Ang I Niocu bangun dan duduk kembali sambil menyusut air matanya dengan ujung mantelnya. Ia kini merasa amat jengah dan malu hingga ia tidak berani memandang langsung kepada pemuda itu.

"Yang amat mengherankan,"

Katanya kemudian.

"mengapa tubuhku tidak terluka sedangkan aku dicengkeram dan dibawa terbang oleh seekor burung rajawali yang begitu besar dan ganas."

"Tak usah kau merasa heran, Nona. Sin-kim-tiauw bukanlah burung rajawali biasa. Ia sudah terlatih baik sekali oleh Supekku yang sakti, dan mungkin hanya Supek Bu Pun Su saja yang dapat melatihnya."

Ang I Niocu mengangkat kepalanya dan memandang tajam.

"Apa? Jadi kau adalah murid keponakan dari Suhu Bu Pun Su?"

Kong Sian juga memandang heran.

"Benar, mendiang Suhuku yang bernama Han Le adalah sute dari Supek Bu Pun Su. Nona, ketika kau menyerangku di dalam gua tadi kau telah mainkan Ilmu Silat Kong-ciak Sinna. Dari siapakah kau memperoleh ilmu itu?"

Dengan girang sekali Ang I Niocu berkata.

"Kalau begitu, kau masih terhitung suhengku (kakak seperguruan) karena aku pernah menerima latihan silat dari Suhu Bu Pun Su! Biarpun sesungguhnya Suhu Bu Pun Su masih menjadi susiok couwku sendiri karena mendiang ayahku adalah murid keponakannya. Akan tetapi akhir-akhir ini aku mendapat latihan Kongciak-sinna dan Pek-in -hoat-sut dari Suhu Bu Pun Su hingga aku boleh juga menyebutnya Suhu!"

Bukan main girang rasa hati Kong Sian "Ah, ah, dunia ini memang tidak berapa luas!

Siapa tahu bahwa aku telah menolong seorang saudara sendiri.

Sumoi, sungguh-sungguh aku merasa girang sekali mendengar ini.

Akan tetapi, siapakah mendiang Ayahmu?"

"Ayahku adalah Kiang Liat,"

Jawab Ang I Niocu dengan singkat oleh karena ia merasa malu membicarakan ayahnya yang mati karena gila! Kong Sian mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Aku pernah mendengar dari Suhu tentang ayahmu itu yang berjuluk Jian-jiu-sianjin (Manusia Dewa Tangan Seribu). Ketika merantau, aku pernah mendengar nama besar dari seorang pendekar wanita yang berjuluk Ang I Niocu, apakah kau sendiri orang itu?"

Ang I Niocu mengangguk.

"Memang itu nama julukanku yang kosong tak berisi. Namaku adalah Kiang Im Giok, seorang yatim piatu yang hidup sunyi dan penuh penderitaan."

"Sumoi, kata-katamu ini benar-benar menyentuh jiwaku. Aku Lie Kong Sian juga merasa bosan sekali di dunia ramai karena hidupku sebatang kara penuh kesunyian."

Keduanya berdiam sampai lama, dan tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Kemudian Kong Sian minta kepada Ang I Niocu untuk menceritakan pengalamannya ia sampai dapat berada di Pulau Kim-san-to.

Dengan panjang lebar Ang I Niocu lalu menceritakan semua pengalamannya dan menyebut nama-nama Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Nelayan Cengeng dan juga nama Yousuf dan lain-lain.

Setelah selesai bercerita, Kong Sian lalu menepuk kepalanya sendiri sambil berkata.

"Ah, memang aku yang percuma dihidupkan di atas dunia ini! Telah terjadi peristiwa yang besar dan demikian banyaknya serta membutuhkan tenaga bantuanku, akan tetapi yang kukerjakan hanyalah duduk melamun di pulau ini! Sampai-sampai Pulau Kim-san-to telah kutinggalkan bertahun-tahun hingga sekarang lenyap dimakan api! Ah, arwah Suhu tentu marah melihat sikapku ini. Memang aku seorang yang berjiwa lemah!"

Ia menghela napas berulang-ulang dan merasa kecewa terhadap diri sendiri.

"Suheng, kau adalah seorang gagah dan mulia dan melihat gerakanmu ketika kau menotok roboh padaku tadi, aku yakin bahwa ilmu kepandaianmu tentu tinggi sekali. Mengapa kausia-siakan diri di tempat ini? Mengapa kau tidak mau terjun di dunia ramai dan melakukan darma bakti sebagai seorang yang berkepandaian? Kalau kau mengasingkan diri di tempat ini, bukankah berarti sia-sia saja kau mempelajari kepandaian sampai bertahun-tahun?"

Seperti biasa Ang I Niocu selalu merasa bahwa ia lebih berpengalaman dan lebih "berakal"

Daripada orang lain, maka di dalam ucapannya ini terkandung nasihat-nasihat, teguran dan penyesalan, seperti biasa orang-orang tua menasehati anak-anak atau guru menasehati murid.

Memang, selama ia menjelajah di dunia kang-ouw, yang disegani oleh Ang I Niocu dan yang membuat ia tunduk hanyalah Bu Pun Su seorang, sedangkan kepada lain-lain orang ia bersikap "lebih tinggi".

Kong Sian tersenyum mendengar ucapannya ini.

"Sumoi, memang demikianlah dipandang sepintas lalu. Akan tetapi, selama kau malang melintang di dunia ramai, apakah yang kau dapat? Hanya permusuhan, kejahatan, dan perkelahian mengadu jiwa, bunuh-membunuh sesama manusia. Aku sudah bosan menghadapi semua itu. Di sini aku mendapat ketenteraman jiwa dan tidak terpengaruh oleh kejahatan-kejahatan manusia yang terjadi di dunia ramai. Memang, sewaktu-waktu aku tentu keluar, dari sini untuk meninjau dunia ramai hingga tidak terputus hubunganku dengan manusia umumnya, akan tetapi, tempat ini telah kupilih untuk menjadi tempat tinggalku yang tetap di mana aku dapat hidup dengan tenteram dan aman sentausa!"

Ucapan ini membuat Ang I Niocu tertegun.

Terutama kata-kata pertanyaan yang diucapkan oleh suhengnya ini berkesan di dalam hatinya.

Apakah yang ia dapat selama ini?

Hanya kesedihan, kekecewaan, dan permusuhan belaka.

Demikianlah, kedua orang itu lalu bercakap-cakap dengan asyiknya, menceritakan pengalaman masing-masing.

Ketika mendengar tentang Cin Hai yang menjadi murid Bu Pun Su dan yang amat dipuji kepandaiannya oleh Ang I Niocu, Lie Kong Sian merasa kagum sekali.

"Ah, ingin sekali aku bertemu dengan dia itu! Memang sungguh mengagumkan bahwa seorang pemuda yang masih demikian muda sudah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian pokok dari Supek Bu Pun Su. Suhu dulu pernah menyatakan bahwa ilmu pengertian pokok segala gerakan ilmu silat adalah kepandaian tunggal Supek yang membuat ia menjadi seorang yang tiada lawannya dalam dunia persilatan. Dan ia sudah mampu mencipta sendiri ilmu pedangnya. Sungguh mengagumkan."

Diam-diam Kong Sian membandingkan anak muda itu dengan sutenya Song Kun yang juga amat lihai ilmu silatnya.

Sambil merawat dan memulihkan kesehatannya, Ang I Niocu berdiam di pulau itu dan melatih ilmu-ilmu silat bersama Kong Sian.

Ia telah menggunakan waktu senggang untuk menjahit kembali pakaiannya hingga kini tak perlu lagi ia menyelimuti diri dengan mantel pemuda itu.

Dalam latihan ilmu silat, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda itu benar-benar hebat dan lihai sekali hingga boleh dikata masih lebih tinggi setingkat daripada ilmu kepandaiannya sendiri.

Oleh karena ini, ia mendapat petunjuk-petunjuk dari suhengnya ini yang juga merasa kagum sekali melihat kepandaian sumoinya.

Ketika mendengar tentang Song Kun, Ang I Niocu menyatakan pendapatnya.

"Suheng sudah terang bahwa sutemu itu jahat dan membahayakan keselamatan umum, mengapa kau tidak pergi mencari dan menasihatinya?"

"Dulu sudah pernah aku mencarinya, akan tetapi dia tidak mau mendengar nasihatku,"

Jawab Kong Sian dengan suara sedih.

"Kalau begitu, kau harus menggunakan kekerasan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk memberantas kejahatan, dan siapapun juga orangnya yang berlaku jahat, harus kita berantas!"

"Kami bahkan telah bertempur dan aku tak dapat mengalahkan. Ilmu kepandaiannya walaupun tidak lebih daripada kepandaianku, namun ia memiliki bakat luar biasa serta kelincahan yang mengagumkan sekali. Dan..... dan aku tidak tega melihat ia mendapat celaka. Aku amat menyayangnya seperti adik sendiri, sumoi."

Ang I Niocu memandangnya tajam dan kagum.

"Kau memang seorang berhati mulia, akan tetapi kau terlalu lemah, Suheng. Agaknya, kalau kau sudah mencinta seseorang, kau akan membelanya sampai mati! Sayang tidak ada seseorang wanita yang mendapat kehormatan menerima cinta hatimu itu, Suheng. Alangkah bahagianya seorang wanita yang mendapat cinta hati seorang mulia seperti kau ini!"

Ucapan ini sebetulnya hanya muncul dari watak yang jujur dari Ang I Niocu karena ia merasa betapa ada persesuaian antara dia dan Kong Sian.

Dia sendiri pun kalau sudah mencinta orang, ia rela membelanya dengan taruhan jiwa sekalipun.

Seperti halnya Lin Lin dan Cin Hai, ia rela untuk mengorbankan jiwa demi kebahagiaan mereka!

Akan tetapi, tak disangkanya, ketika mendengar ucapan yang diucapkan sewajarnya ini, tiba-tiba Kong Sian menjadi pucat sekali.

"Suheng, kau..... kau kenapakah?"

Sambil menundukkan kepala dan tak berani menentang mata Ang I Niocu, Kong Sian lalu berkata perlahan.

"Sumoi, sebetulnya lidahku seakan-akan beku untuk mengeluarkan ucapan ini, akan tetapi, biarlah aku berterus terang saja. Sebelum bertemu dengan kau, tak pernah terpikir olehku tentang diri seorang wanita dan aku telah mengambil keputusan untuk hidup menyendiri di pulau ini sampai mati. Akan tetapi.... setelah aku bertemu dengan kau... bahkan sebelum aku mengetahui siapa adanya kau, melihat kau menderita sakit tanpa mengetahui apakah kau orang baik-baik atau orang jahat, hatiku sudah.... tertarik sekali kepadamu dan... dan...."

Kemudian ia mengangkat mukanya dan dengan wajah pucat ia memandang kepada gadis itu dengan mata sayu.

"Sumoi... maafkan kata-kataku ini... kita sama-sama hidup tidak berisi sakan-akan kosong dan sunyi. Maukah kau..... maukah kau menghabiskan sisa hidupmu dengan aku di pulau ini?"

Warna merah menjalar di seluruh muka Ang I Niocu sampai ke telinganya, dan matanya terbelalak ketika ia memandang pemuda itu.

"Suheng..... apakah maksudmu?"

Tanyanya dengan suara gemetar.

"Sumoi, kalau kau sudi, marilah kita hidup bersama di pulau ini.... maksudku, kita hidup sebagai suami isteri!"

Kini mata Ang I Niocu memandang tajam.

"Mengapa, Suheng? Mengapa kau mengajukan usul ini? Apakah yang mendorongmu?"

Sementara itu, Kong Sian sudah dapat menetapkan hatinya yang tadi berguncang. Dengan gagah ia lalu mengangkat muka memandang wajah Ang I Niocu sepenuhnya.

"Sumoi, biarlah kau mendengar pengakuanku. Biarpun kau akan mentertawaiku, akan mencaci, biarlah! Aku cinta kepadamu, Sumoi, sebagai cinta seorang laki-laki terhadap seorang wanita! Belum pernah ada perasaan demikian di hatiku, akan tetapi setelah aku melihatmu, aku cinta padamu, cinta dengan sepenuh jiwaku! Maka, sekarang aku mengajukan pinangan kepadamu, Sumoi, kalau kau sudi, sukalah kiranya kau menjadi isteriku dan kita menghabiskan sisa hidup sebagai suami isteri di pulau ini."

Tiba-tiba tanpa dapat ditahan lagi, mengalirlah air mata dari kedua mata Ang I Niocu hingga Kong Sian menjadi terkejut dan berkata halus.

"Sumoi, kalau aku menyinggung dan melukai hatimu, ampunkanlah aku. Aku tidak akan memaksamu, Sumoi, demi Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau kau tidak suka menerima katakanlah tanpa ragu-ragu atau sungkan-sungkan lagi. Aku takkan menyesal kepadamu, hanya akan menyesali diri sendiri yang bodoh dan tidak tahu diri!"

Sambil menghapus air matanya, Ang I Niocu menggelengkan kepala berkali-kali dan berkata.

"Bukan demikian, Suheng. Jangan kau salah sangka. Aku... aku hanya merasa terharu sekali mendengar pernyataanmu yang sama sekali tak pernah kusangka-sangka itu. Aku telah menerima budi pertolonganmu yang besar yang selama hidupku takkan pernah kulupa. Kau telah menolong jiwaku dan kalau seandainya tidak ada kau, aku Kiang Im Giok pasti sudah mati! Dan seandainya aku tidak terjatuh dalam tanganmu, akan tetapi dalam tangan laki-laki lain ah... entah nasib apa yang akan kuderita! Kau seorang gagah dan mulia, Suheng, terlalu mulia bagiku..... aku.... aku seorang yang jahat dan kotor! Ketahuilah, ketika aku masih muda, aku telah jatuh cinta yang akhirnya mengorbankan nyawa Ayahku sendiri. Aku tidak berharga bagimu, Suheng."

"Im Giok, aku sudah tahu akan hal itu dari Suhuku. Aku pernah mendengar betapa kekasihmu dibunuh oleh ayahmu sendiri. Akan tetapi, kau tidak bersalah dalam hal itu. Ayahmu meninggal dunia oleh karena serangan penyakit jantung yang berbahaya. Wajar bagi seorang gadis untuk jatuh cinta!"

"Bukan itu saja, Suheng. Semenjak peristiwa itu, aku membenci laki-laki! Banyak pemuda yang jatuh cinta kepadaku, sengaja kupermainkan perasaan cintanya hingga mereka menjadi seperti gila! Aku berlagak membalas perasaan mereka dan apabila mereka telah menjadi gila betul-betul, aku meninggalkannya. Banyak yang sudah menjadi korban, bahkan seorang pemuda yang baik budi bernama Kang Ek Sian, yang bahkan telah dipilih oleh Suhu Bu Pun Su sendiri untuk menjadi suamiku, telah kupermainkan dan kupatahkan hatinya!"

Kong Sian menggeleng kepala dan menarik napas dalam.

"Memang kau telah berlaku kejam dan sesat, Sumoi, akan tetapi pengakuanmu ini meringankan dosamu, tanda bahwa kau telah insyaf. Aku tidak menyesal mendengar ini dan tidak mengurangi rasa cintaku padamu."

"Masih ada lagi, Suheng....."

Kata Ang I Niocu sambil mengusap air mata yang menitik ke atas pipinya.

"aku.... aku yang tidak tahu diri telah jatuh hati akhirnya! Dan aku jatuh hati serta mencinta dengan sepenuh jiwaku kepada seorang pemuda yang usianya jauh lebih muda dariku, padahal ketika aku bertemu dengan dia, aku telah berusia dua puluh tahun lebih dan dia baru berusia dua belas tahun! Aku.... aku yang tidak tahu malu ini diam-diam mencinta padanya, dan.... dan orang itu adalah Cin Hai, murid Suhu Bu Pun Su yang pernah kuceritakan padamu!"

"Hm, jadi karena itukah maka kau mati-matian hendak mengorbankan nyawamu menolong Lin Lin seperti yang kau ceritakan itu? Sumoi, kau benar-benar seorang mulia yang bernasib malang dan patut dikasihani! Aku dapat membayangkan betapa suci dan mulia rasa cintamu terhadap Cin Hai! Melihatpemuda itu mencinta seorang gadis lain, kau tidak sakit hati, bahkan kau berdaya sekuat tenaga hendak mempertemukan mereka! Aku tahu, Sumoi, aku dapat menyelami jiwamu dan aku merasa bersyukur sekali bahwa kau dapat mengatasi perasaan-perasaan yang kurang baik. Sumoi, cerita dan pengakuanmu ini mempertinggi nilai dirimu dalam pandanganku."

Ang I Niocu mengangkat muka dan memandang heran.

"Apa? Kau tidak marah kepadaku, Suheng? Tidak memandang rendah padaku setelah segala apa yang kuceritakan padamu itu?"

Kong Sian menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum dan dari matanya bersinar cinta kasih yang diliputi kekaguman hati.

"Pengakuanmu bahkan mempertebal rasa cintaku, Sumoi. Sudah wajar bagi setiap manusia untuk menjalankan kekeliruan, akan tetapi, setiap kekeliruan akan musnah apabila orang itu menyadari dan menginsyafinya. Kau adalah seorang mulia."

Lemaslah seluruh anggota tubuh Ang I Niocu mendengar ini dan ia lalu menjatuhkan dirinya duduk di atas rumput sambil menangis.

"Im Giok, jangan kau merasa berat untuk menolak permintaanku tadi. Aku maklum bahwa aku memang mungkin terlalu tua bagimu dan...."

"Tidak Suheng. Usia kita tidak berselisih jauh."

"Apa??? ]angan kau membohongi aku, Sumoi!"

Kata Kong Sian dengan heran. Ang I Niocu tersenyum sedih diantara air matanya.

"Aku tidak membohong, Suheng. Memang mungkin aku nampak lebih muda oleh karena aku banyak makan telur dari pek-tiauw (rajawali putih), akan tetapi sesungguhnya aku telah berusia tiga puluh lebih, sedikitnya tiga puluh dua tahun!"

Kong Sian mengangguk-angukkan kepalanya karena sebagai seorang ahli pengobatan yang menerima warisan kepandaian dari Han Le, ia maklum akan khasiat yang besar dari telur burung rajawali putih.

"Pantas, pantas! Dan hal ini lebih-lebih menunjukkan kegagahanmu, karena tidak sembarangan orang dapat mengambil telur pek-tiauw! Melihat wajahmu, agaknya kau paling banyak baru berusia dua puluh lima lebih! Bagaimana Sumoi. Bersediakah kau menerima aku yang bodoh dan buruk rupa sebagai kawan hidupmu?"

Ang I Niocu menggunakan tangan untuk menutup mukanya.

Ia merasa bingung sekali.

Di dalam hati ia mengaku bahwa mungkin di dunia ini tidak ada seorang pemuda yang layak dan patut menjadi suaminya selain Kong Sian.

Kepandaiannya tinggi melebihinya sendiri, rupanya tampan dan sikapnya halus dan sopan santun.

Pribadinya tinggi dan hal ini sudah ia buktikan ketika pemuda itu mendapatkan dirinya yang berada dalam keadaan setengah telanjang itu dan ketika pemuda ini merawatnya dengan penuh kesabaran dan ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda ini betul-betul mencintanya dengan sepenuh jiwa.

Terutama sekali, dalam hal usia pemuda ini sebanding dengan dia!

Apa lagi?

Pemuda ini bahkan telah menolong jiwanya hingga sampai mati pun belum tentu ia bisa membalas budinya.

Akan tetapi, kalau ia menerima pinangan itu, seakan-akan ia terlalu murah memberi harga pada dirinya!

Ia memang berwatak tinggi hati dan keras, dan tidak mau ditundukkan dengan mudah.

Akan tetapi, untuk menolak ia pun tidak berani!

"Suheng,"

Katanya setelah berpikir dengan masak-masak.

"aku harus menghaturkan beribu terima kasih atas budi kecintaanmu itu. Bagaimana aku dapat menolak pinangan seorang seperti kau? Akan tetapi hal ini terjadi terlalu tiba-tiba hingga aku belum dapat memutuskannya karena masih merasa bingung! Sekarang beginilah saja, Suheng. Biarlah kauanggap aku telah menerima pinanganmu itu dan aku pun takkan malu-malu mengaku bahwa aku telah menjadi tunanganmu. Akan tetapi, soal pernikahan antara kita baru dapat terlaksana setelah kau memenuhi beberapa syarat!"

Kong Sian tersenyum dan dari ucapan ini saja ia yang sudah paham akan tabiat manusia, dapat mengetahui bahwa gadis kekasih hatinya ini memiliki adat yang tinggi dan keras!

Ia menjawab sambil masih tersenyum.

"Sumoi, katakanlah, apa syarat-syaratmu itu?"

"Pertama, kau harus menanti sampai aku dapat bertemu kembali dengan kawan-kawanku, terutama dengan Cin Hai dan Lin Lin. Sebelum aku dapat mempertemukan kedua sejoli ini atau melihat mereka telah berkumpul kembali, tak mungkin aku dapat mengikat diri dengan laki-laki lain!"

Kong Sian mengangguk-angguk, karena maklum akan isi hati Ang I Niocu.

"Kedua, kita harus mendapat perkenan dari Suhu Bu Pun Su, oleh karena dulu Beliau mempunyai maksud dan kehendak untuk menjodohkan aku dengan Kang Ek Sian, yang biarpun mencintaku, akan tetapi tak kubalas cintanya itu."

Syarat ke dua ini diam-diam menggirangkan hati Kong Sian, oleh karena dari ucapan terakhir yang menyatakan bahwa gadis ini tidak menerima pinangan Kang Ek Sian oleh karena tidak mencintanya, hampir menyatakan bahwa biarpun sedikit, gadis ini "ada hati"

Kepadanya, kalau tidak, tentu ia akan menolaknya pula! Maka ia mengangguk-angguk kembali dengan mulut tersenyum.

"Ke tiga,"

Kata lagi Ang I Niocu.

"kau harus keluar dari pulau ini dan turun ke dunia ramai untuk mencari sutemu Song Kun itu dan memenuhi pesan Suhumu, yaitu menasihatinya atau menggunakan kekerasan terhadapnya."

"Ah, yang ke tiga ini berat sekali, Sumoi! Kau tahu bahwa aku amat mencintanya dan tidak tega untuk mencelakakannya!"

"Inilah kelemahan yang membuat hatiku tidak puas! Kau tidak tega kepada Sutemu karena kau mencintanya, akan tetapi apakah kau bertega hati melihat betapa wanita-wanita diganggunya? Kelemahanmu ini menimbulkan ketidak-adilan dalam hatimu yang tidak layak dan tidak patut dipunyai oleh seorang pendekar silat."

Kong Sian menghela napas dan menjawab.

"Biarlah, hal ini perlu kurenungkan dan kupikirkan baik-baik, sumoi. Masih ada lagikah syarat-syaratmu?"

Pertanyaan ini membuat Ang I Niocu menjadi merah mukanya karena ia telah merasa keterlaluan mengajukan sekian banyak syarat. Akan tetapi, syarat-syarat itu setidaknya dapat "mengangkat"

Harga dirinya, tidak semurah kalau ia menerimanya mentah-mentah! "Masih ada satu lagi,"

Katanya dengan muka merah dan menundukkan kepala.

"akan tetapi yang terakhir ini baru akan kuceritakan kalau kau telah memenuhi yang ketiga itu."

"Baiklah, Sumoi. Kuterima syarat-syaratmu."

Kemudian Lie Kong Sian meloloskan pedangnya dari pinggang dan memberikan itu kepada Ang I Niocu berkata.

"Sumoi, terimalah Cian-hong-kiam ini sebagai bukti daripada ikatan yang ada di antara kita, dan biarlah Thian yang menjadi saksi atas pertunangan kita ini."

Kata-kata ini diucapkan dengan suara menggetar hingga mengharukan hati Ang I Niocu yang menerima pedang itu.

Kemudian Ang I Niocu mengambil perhiasan rambutnya yang terbuat daripada mutiara dan memberikannya kepada Kong Sian.

"Aku tidak mempunyai apa-apa, Suheng dan biarlah benda ini menjadi bukti daripada kesetiaanku."

Tidak ada upacara yang mengesahkan pertunangan mereka itu selain daripada penukaran barang yang dilakukan dengar sikap sederhana ini akan tetapi diramaikan oleh pertemuan pandang mata mereka yang menembus ke hati masing-masing.

Setelah itu, Ang I Niocu lalu berpamit hendak pergi mencari Cin Hai dan Lin Lin.

Kong Sian lalu mengambil perahunya dan ia lalu mengantarkan tunangannya itu sampai ke darat di pesisir Tiongkok.

Si Rajawali Emas tidak ketinggalan, ikut mengantar sambil terbang di atas perahu itu.

Ketika keduanya telah mendarat dan Ang I Niocu hendak meninggalkannya, mereka saling pandang dan Ang I Niocu berbisik.

"Semoga Thian memberkahi perjodohan kita dan semoga cita-cita kita bersama akan terlaksana, Koko."

Kedua mata Kong Sian menjadi basah karena terharu dan girang mendengar sebutan ini dan makin yakinlah ia bahwa diam-diam Ang I Niocu juga mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan hatinya.

"Selamat Jalan, Moi-moi, dan Sin-kim-tiauw biarlah mengawanimu."

Ang I Niocu girang sekali. Ia berkata epada burung rajawali itu.

"Sin-kim-tiauw, kau ikutlah padaku!"

Burung itu agaknya mengerti ucapan ini, karena ia lalu menoleh kepada Kong Sian seakan-akan minta perkenannya. Ia takkan berani pergi sebelum mendapat perkenan dari Kong Sian.

"Pergilah kau ikut dia, Kim-tiauw, dan jagalah dia baik-baik!"

Burung itu lalu mengeluarkan bunyi karena girang dan ketika Ang I Niocu berlari cepat-cepat meninggalkan tempat itu, ia lalu terbang dan mengejar.

Kong Sian kembali ke pulaunya untuk merenungkan peristiwa yang tak tersangka-sangka telah terjadi dalam hidupnya itu.

Demikianlah kisah pengalaman Ang I Niocu yang disangka telah tewas itu.

Beberapa bulan lamanya ia merantau mencari-cari Cin Hai dan Lin Lin.

Ia kembali ke pesisir dari mana ia menyeberang ke Pulau Kim-san-to, akan tetapi ia tidak mendapatkan jejak kawan-kawannya hingga ia lalu menuju ke barat.

Oleh karena mendengar bahwa Lin Lin ikut dengan seorang Turki dan bahwa pada waktu itu daerah Kansu banyak terdapat orang-orang Turki, ia lalu merantau ke barat.

Pada suatu hari ia tiba di sebuah bukit di daerah Sui-yan.

Ia berlari cepat akan tetapi Sin-kim-tiauw telah mendahuluinya, terbang rendah sambil mengeluarkan bunyi karena ia merasa girang bahwa Ang I Niocu tidak dapat mengejarnya!

Tiba-tiba burung itu memekik keras dan pekik kemarahan ini mengherankan Ang I Niocu dan membuatnya mempercepat larinya.

Ketika ia tiba di tempat itu, ia menjadi marah sekali oleh karena melihat betapa tiga orang-orang tua sedang melempar-lempar batu kecil ke arah Sin-kim-tiauw yang beterbangan dan menyambar-nyambar di atas mereka dengan marah!

Burung itu cepat mengelak dan mengebut sambitan batu dengan sayapnya dan orang-orang tua itu berseru kagum.

"Burung bagus!"

Ketiga orang tua itu adalah seorang nenek buruk rupa, berhidung panjang dan bongkok seperti hidung kakak tua, dan berpunggung bongkok seperti punggung onta, sedangkan dua orang tua lainnya adalah seorang kakek berjubah hitam dan bersorban dan seorang lagi tosu yang bermata lebar.

Melihat betapa rajawali itu dapat mengelak dari setiap sambitan, bahkan sebuah batu yang dikebut oleh sayapnya terbalik meluncur ke arah nenek itu, Si Nenek Tua yang buruk menjadi marah.

"Burung siluman! Rasakan sambitanku ini!"

Dan ketika ia menggerakkan tangan kanannya, puluhan batu-batu kecil melayang dengan hebatnya ke arah tubuh rajawali emas!

Sin-kim-tiauw cepat mengelak dan mengebut dengan sayapnya, akan tetapi sebuah dari pada batu-batu itu tepat mengenai pahanya hingga ia merasa sakit sekali dan memekik-mekik kesakitan!

"Nenek jahat!

Jangan kau mengganggu burungku!"

Ang I Niocu berseru marah sambil melompat ke hadapan nenek itu.

Ketika melihat seorang gadis baju merah melompat maju dan menegurnya, nenek itu menjadi marah dan tanpa berkata sesuatu lalu menyerang dengan cengkeraman tangannya ke arah pundak Ang I Niocu!

Dara Baju Merah ini segera mengangkat lengan dan menangkis, akan tetapi ia menjadi terhuyung ke belakang oleh karena ternyata bahwa tenaga lengan tangan nenek itu besar sekali!

Melihat kelihaian nenek ini, Ang I Niocu segera mencabut pedangnya Cian-hong-kiam pemberian Lie Kong Sian dan segera menyerang dengan cepat.

Dan pada saat ia bertempur dengan seru melawan nenek bongkok itu, datanglah Kwee An dan Ma Hoa yang terheran-heran melihat Dara Baju Merah yang tadinya disangka telah mati itu!

Dua orang kakek yang tadinya hanya menjadi penonton saja, ketika melihat betapa Nona Baju Merah ternyata lihai sekali ilmu pedangnya dan dapat mendesak nenek bongkok, segera berseru keras, dan maju menyerbu dengan kebutan ujung lengan baju mereka yang panjang.

Ang I Niocu merasa terkejut oleh karena sambaran angin pukulan mereka ternyata lebih hebat daripada serangan nenek bongkok itu, terutama pendeta yang bersorban!

Maka ia lalu memutar pedangnya dengan lebih cepat lagi, mainkan ilmu pedangnya Ngo-lian-hoan-kiamhwat.

Kwee An dan Ma Hoa melihat hal ini lalu menerjang dengan pedang di tangan, membantu Ang I Niocu.

Mereka berdua telah bermufakat untuk diam saja dan tidak menegur Ang I Niocu, untuk membuktikan bahwa benar-benar Dara Baju Merah itu Ang I Niocu.

Ketika melihat dua bayangan berkelebat membantunya dan ternyata bahwa dua orang penolong itu adalah Kwee An dan Ma Hoa, bukan main girangnya dan segea menegur.

"Ma Hoa... Kwee An.,."

Berdebarlah tubuh kedua anak muda itu mendengar suara ini karena kini mereka tak perlu merasa ragu-ragu lagi, terutama sekali Ma Hoa yang tak dapat menahan isaknya!

Sambil menangkis ujung lengan baju pendeta bersorban yang melayang ke arah mukanya, ia berseru dengan isak tertahan.

"Enci Im Giok...!"

Juga Kwee An berseru girang.

"Ang I Niocu...!"

Sementara itu, ketiga orang tua yang mendengar nama Ang I Niocu disebut-sebut, segera melompat mundur dengan terkejut.

Kesempatan ini digunakan oleh Ma Hoa dan Ang I Niocu untuk saling tubruk dan saling peluk.

"Enci Im Giok..., kau... kau masih hidup...?"

"Adik Ma Hoa..."

Mereka berpelukan sambil mencucurkan air mata karena girang dan keduanya saling pandang dan tersenyum.

"Ha, ha, jadi kau adalah Ang I Niocu, Ma Hoa, dan Kwee An?"

Berkata tosu tadi.

"Kebetulan sekali!"

Juga nenek bongkok itu lalu berkata.

"Hm, memang sudah takdir bahwa kalian harus mampus di tangan kami! Ang I Niocu, ketahuilah bahwa aku adalah Siok Kwat Moli dan kedua kakek ini adalah sahabat-sahabat baikku. Mereka bernama Wai Sauw Pu dan Lok Kun Tojin."

Ia menunjuk ke arah pendeta bersorban lalu ke arah tosu itu.

"Tak perlu aku bercerita panjang lebar mengapa kami memusuhi kalian, cukup kalau kuberi tahu bahwa Hai Kong Hosiang yang kalian siksa itu adalah suhengku!"

Mengertilah Ang I Niocu dan kedua orang kawannya sekarang, dan mereka maklum bahwa pertempuran mati-matian tak dapat dielakkan lagi.

"Memang burung gagak selalu berkawan dengan burung-burung mayat juga!"

Kata Ang I Niocu sambil tersenyum sindir.

"Hai Kong Hosiang belum terhitung jahat kalau belum mempunyai seorang sumoi seperti kau ini dan mempunyai sahabat-sahabat yang terdiri dari pendeta-pendeta palsu pula!"

Bukan main marahnya ketiga orang itu mendengar hinaan ini.

Sambil berseru keras, nenek itu lalu mencabut keluar senjata yang istimewa, yaitu sehelai sabuk kuning emas yang panjang hingga ketika ia pegang dengan kedua tangan maka merupakan sepasang senjata lemas yang luar biasa.

Wai Sauw Pu pendeta yang bersorban itu adalah seorang dari Sin-kiang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan ia pun telah kena terbujuk oleh Hai Kong Hosiang hingga ikut pula membela pendeta gundul itu.

Pendeta bersorban ini mengeluarkan senjatanya yang jarang terlihat, yaitu seuntai tasbeh terbuat daripada gading gajah yang merupakan lingkaran panjang.

Lok Kun Tojin, seorang pertapa yang sakti dari Thaisan, juga mencabut senjatanya yang lebih lihai, yaitu sepasang roda memakai tali hingga roda-roda itu kalau digerakkan bisa berputaran bagaikan kitiran dan membuat bingung kepada lawannya.

Sambil berseru keras, ketiga orang itu lalu menyerbu.

Si Nenek bongkok menghadapi Ang I Niocu, pendeta bersorban menghadapi Ma Hoa, dan tosu itu menghadapi Kwee An.

Pertempuran hebat segera berlangsung dengan ramai sekali.

Ang I Niocu memegang pedang Cian-hoan-kiam pemberian Lie Kong Sian, sebatang pedang pusaka yang ampuh.

Kwee An memegang pedang Oei-kang-kiam pemberian Meilani, juga pedang pusaka hingga ia tidak takut menghadapi roda-roda Lok Kun Tojin.

Sedangan Ma Hoa dengan sepasang bambu runcingnya yang dimainkan secara luar biasa itu dapat mengimbangi permainan tasbeh yang hebat dari Wai Sauw Pu!

Setelah bertempur belasan jurus, ketiga orang tua itu baru benarbenar merasa terkejut oleh karena tadinya mereka memandang rendah kepada tiga orang lawan muda itu yang sama sekali tak pernah mereka sangka demikian lihainya.

Ang I Niocu maklum akan kelihaian Kwee An, maka ia tidak perlu menguatirkan keadaan pemuda itu, akan tetapi tadinya ia merasa cemas melihat betapa Ma Hoa menghadapi kakek bersorban yang nampaknya kuat dan lihai sekali.

Namun begitu ia melihat permainan bambu runcing Ma Hoa, diam-diam ia merasa amat kagum dan juga heran, maka dengan hati gembira Ang I Niocu lalu melayani nenek bongkok sambil berkata kepada Ma Hoa.

"Adikku, kau kini hebat sekali!"

Mendengar pujian ini, Ma Hoa lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang baru saja didapatnya dari Hok Peng Taisu dan biarpun tasbeh di tangan kakek bersorban itu luar biasa gerakannya, akan tetapi sepasang bambu runcingnya juga merupakan senjata lihai yang gerakannya belum dikenal oleh Wai Sauw Pu!

Adapun rajawali emas yang masih beterbangan dan berputar-putar di atas kepala mereka yang sedang bertempur, kini mulai menyambar turun dan membantu.

Yang terutama dibantunya ialah Ang I Niocu dan beberapa kali ia menyerang kepala nenek bongkok itu hingga Si Nenek Bongkok memaki-maki kalang kabut.

"Burung jahanam! Burung siluman! Akan kusembelih lehermu, kumakan dagingmu mentah-mentah!"

Sambil berkata demikian, dengan tangan kanan menggunakan sabuknya untuk melayani Ang I Niocu sedangkan ujung sabuk di tangan kiri beberapa kali mengebut ke arah Sin-kim-tiauw tiap kali burung itu menyambar turun.

Tiba-tiba ketika burung itu menyambar turun tosu yang berkelahi melawan Kwee An, menggerakkan roda di tangan kirinya dan roda itu terputar cepat menyambar ke arah burung yang terbang di atas kepala nenek bongkok itu!

Ternyata bahwa tali yang di tengah-tengah roda amat panjangnya hingga roda itu dapat terbang tinggi dan jauh!

Hampir saja rajawali itu terkena hantaman roda, baiknya ia cepat mengelak dan terbang ke atas sambil berteriak marah.

Kini ia menyambar turun dan menyerang Lok Kun Tojin!

"Sin-kim-tiauw, jangan!"

Teriak Ang I Niocu oleh karena gadis ini maklum betapa lihainya roda-roda tosu itu.

Akan tetapi rajawali yang sedang marah ini mana mau mendengarkan cegahannya, tetap menyerang dan menyambar-nyambar dengan ganasnya.

"Sin-kim-tiauw, tak maukah kau menurut perintahku?"

Bentak Ang I Niocu dan suaranya menyatakan kemarahan besar yang terdorong oleh kekuatirannya.

Rajawali itu terkejut mendengar bentakan Ang I Niocu dan pada saat itu, sebuah roda dari Lok Kun Tojin dengan keras mengenai dadanya!

Burung itu terpental ke atas udara sambil berteriak-teriak kesakitan.

Kemudian, karena merasa dadanya sakit sekali dan pula karena mendongkol mendengar bentakan dan cegahan Ang I Niocu yang dibelanya, ia lalu terbang tinggi sekali dan terus terbang pergi jauh!

Ang I Niocu merasa cemas sekali, sebaliknya Lok Kun Tojin merasa pukulan rodanya tadi amat berbahaya dan keras.

Jangankan kulit daging, bahkan batu karang pun akan hancur apabila terpukul oleh rodanya, akan tetapi burung itu tidak tewas karenanya bahkan lalu terbang pergi dengan cepat!

Dengan Ilmu Silat Bambu Runcing yang lihai, Ma Hoa dapat membikin jerih hati lawannya yang sebenarnya masih lebih tinggi ilmu silatnya.

Sedangkan ilmu pedang Ang I Niocu juga membuat nenek bongkok itu merasa gentar.

Tak pernah disangkanya bahwa musuh-musuh suhengnya yang muda-muda memiliki ilmu kepandaian yang begini luar biasa.

Tidak heran apabila suhengnya yang lihai itu sampai kena dikalahkan.

Sebaliknya, biarpun ilmu pedang yang dimiliki Kwee An juga bukan ilmu pedang sembarangan, yaitu ilmu pedang Kim-san-pai warisan suhunya yang pertama, yaitu Eng Yang Cu, dan Ilmu Pedang Hai-liong-kiam-sut warisan Nelayan Cengeng, akan tetapi sepasang roda di tangan tosu yang menjadi lawannya itu benar-benar luar biasa.

Beberapa kali pemuda ini hampir saja menjadi korban pukulan roda, untung ia masih dapat mengelak sambil mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Mo-ko, hingga Lok Kun Tojin merasa kagum.

Jarang sekali tosu ini mendapat lawan yang dapat mengimbangi ilmu kepandaiannya dan sekarang, baru saja ia turun gunung dan bertemu dengan musuh-musuh sahabatnya, ia telah bertemu dengan seorang pemuda yang dapat bertahan melawannya sampai hampir seratus jurus!

Kwee An maklum bahwa apabila dilanjutkan, ia takkan menang dan juga kedua orang kawannya belum tentu akan dapat menang pula, maka ketika ia melihat rajawali terbang pergi, ia mendapat akal dan berkata.

"Bagus, Sin-kim-tiauw tentu akan memanggil Suhumu!"

Benar saja, ucapan ini membuat ketiga orang tua itu merasa kaget dan kuatir, baru murid-muridnya saja sudah begini lihai, apalagi kalau suhunya yang datang! Maka, nenek bongkok itu berkata.

"Jiwi bengyu, mari kita pergi! Kita jumpai Hai Kong lebih dulu, lain kali mudah untuk mengambil nyawa ketiga tikus kecil itu!"

Ketiga orang tua itu lalu melompat pergi dan segera lari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Ang I Niocu yang mempunyai watak tidak mau kalah itu merasa penasaran dan kecewa, maka ia menegur Kwee An,"Kongcu, mengapa kau menggunakan akal mengusir mereka?"

"Mereka itu sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan kita, untuk apa berkelahi mati-matian?"

Kata Kwee An sambil menarik napas lega.

"Akan tetapi, Sin-kim-tiauw telah dilukainya!"

Kata Ang I Niocu.

"Belum tentu kim-tiauw itu terluka, karena kalau benar terluka, bagaimana ia bisa terbang begitu tinggi dan cepat?"

Ma Hoa membela kekasihnya.

"Enci Im Giok, mereka itu lihai sekali. Sudahlah jangan membicarakan mereka pula yang perlu sekarang kauceritakanlah pengalamanmu. Kami semua, terutama Cin Hai dan Lin Lin, merasa berduka sekali, karena menyangka bahwa kau tentu sudah meninggal di atas Pulau Kim-san-to yang terbakar hebat dan meledak itu."

Sambil berkata demikian, Ma Hoa lalu memegang tangan Ang I Niocu dan ketiganya lalu duduk di bawah sebatang pohon untuk beristirahat dan bercakap-cakap.

Mendengar disebutnya nama Cin Hai dan Lin Lin, lenyaplah rasa kecewa dari wajah Ang I Niocu yang cantik, dan sekarang wajahnya berseri gembira.

"Apa katamu? Lin Lin dan Cin Hai, apakah benar-benar mereka itu selamat dan sudah saling bertemu?"

Ma Hoa lalu menuturkan pengalaman-pengalamannya dan menuturkan segala peristiwa yang terjadi semenjak mereka berpisah juga pengalamannya sendiri ketika terjatuh dari atas tebing bersama Kwee An.

Mendengar itu, Ang I Niocu mengucap syukur karena kawan-kawan baiknya telah terhindar dari bahaya maut, akan tetapi ketika mendengar betapa kini kedua orang muda itu tidak tahu bagaimana nasib Lin Lin dan Yousuf yang dikejar-kejar orang-orang Turki, di mana pula adanya Cin Hai, ia menghela napas dan berkata.

"Ah, sungguh kasihan sekali Lin Lin dan Cin Hai. Baru saja bertemu, sudah harus berpisah pula. Sekarang kita harus mencari mereka sampai dapat."

"Memang kami berdua pun sedang mencari jejak mereka, Niocu."

Kata Kwee An.

"Yang mengejar Lin Lin dan Yo-siokhu adalah orang-orang Turki, maka ketika mendengar bahwa di daerah Kansu banyak terdapat orang-orang Turki, kami lalu menuju ke barat untuk menyelidiki di sana. Tidak tahunya kebetulan sekali kita saling bertemu di sini."

"Sayang sekali Sin-kim-tiauw telah terbang pergi, entah di mana ia sekarang berada,"

Kata Ang I Niocu.

Tentu saja ketiga orang muda ini tidak tahu bahwa Rajawali Sakti itu telah bertemu dengan Bu Pun Su hingga tertolong jiwanya, karena kakek jembel ini yang melihat Sin-kim-tiauw terbang tinggi di udara, lalu mengerahkan tenaga khikangnya memanggil, kemudian ia mengobati luka di dada burung sakti itu yang selanjutnya mengikuti kakek jembel itu.

Setelah menanti sampai senja, burung itu tidak juga kembali, Ang I Niocu, Kwee An, dan Ma Hoa lalu melanjutkan perjalanan mencari Lin Lin ke arah barat.

Tujuan mereka adalah Propinsi Kansu sebelah barat.

Cin Hai melarikan Pek-gin-ma dengan cepat, diikuti oleh burung bangau di atas kepalanya.

Ia telah menjelajah di sekitar daerah perbatasan Tiongkok dan Mongol untuk mencari jejak Lin Lin dan Yousuf, akan tetapi sia-sia belaka.

Akhirnya, tepat sebagaimana yang diduga oleh Kwee An dan Ma Hoa ia lalu menuju ke barat oleh karena ia pun berpikir bahwa boleh jadi Yousuf melarikan diri ke barat.

Pada suatu hari, ketika ia sedang menjalankan kudanya perlahan sambil merenungkan nasibnya yang selalu terpisah dari Lin Lin, ia merasa seakan-akan ada orang mengikutinya dari belakang.

Beberapa kali ia menoleh, akan tetapi ia tidak melihat bayangan seorang pun.

Akan tetapi, apabila ia melanjutkan perjalanannya, kembali ia merasa seakan akan sepasang mata memandangnya dan sepasang kaki berjalan cepat dengan amat ringannya di belakang kuda.

Dengan tiba-tiba Cin Hai berpaling lagi, akan tetapi kembali ia kecele, oleh karena ia tidak melihat ada orang.

Setankah yang mengikutinya?

Atau orang yang berkepandaian tinggi?

Seingatnya, yang mungkin mengikutinya secara luar biasa cepatnya dan diam-diam, tidak ada orang lain kecuali suhunya yang akan sanggup melakukannya.

Akan tetapi tak mungkin suhunya mengikuti dengan diam-diam.

Cin Hai lalu melarikan kudanya cepat-cepat, akan tetapi kembali ia mendengar tindakan kaki yang amat ringannya mengikutinya dengan cepat pula.

Ketika ia menengok, masih saja kosong di belakangnya, tidak nampak seorang pun.

Sungguh mengherankan, dan dengan penasaran ia lalu turun dari kudanya dan berjalan sambil menuntun Pek-gin-ma.

Setelah berjalan kaki, Cin Hai makin merasa yakin bahwa benar-benar ada orang yang mengikutinya dari belakang dan orang ini tentu berkepandaian tinggi sekali oleh karena selain tindakan kakinya yang ringan sekali, juga tiap kali menengok, orang itu telah dapat melenyapkan diri dan bersembunyi dengan cara yang luar biasa.

Ia dapat menduga bahwa dengan mengandalkan ginkangnya yang sempurna, tentu orang itu telah melompat ke belakang pohon pada saat ia menengok, oleh karena di sepanjang jalan yang dilaluinya memang terdapat banyak sekali pohon-pohon besar.

Oleh karena ini, ia lalu mendapat akal.

Ia sengaja menuntun kudanya keluar dari tempat itu dan melalui jalan yang membelok ke kanan di mana tidak terdapat sebatang pohon juga.

Ia hendak melihat apakah orang itu masih berani mengikutinya dan kalau ia menengok, orang itu hendak lari bersembunyi ke mana?

Benar saja, ketika ia melalui jalan yang tidak berpohon, tindakan kaki yang mengikutinya lalu berhenti.

Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya ketika ia mendengar lagi suara tindakan kaki itu di belakangnya.

Alangkah beraninya orang itu, pikirnya penasaran dan secepat kilat ia menggerakkan kepala berpaling memandang ke bekakang.

Dan kini ia melihat seorang laki-laki yang berpakaian indah sedang berjalan dengan seenaknya, sama sekali tidak gugup atau hendak pergi bersembunyi ketika ia menengok!

"Sobat, kenapa kau mengikuti aku?"

Tanya Cin Hai gemas.

Orang itu tertawa, suara ketawanya nyaring dan tinggi, mengandung ejekan seperti biasanya suara ketawa orang yang berwatak sombong.

Orang ini masih muda, paling banyak berusia tiga puluh tahun, tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan gagah, keningnya tinggi sedangkan pakaiannya terdiri dari baju warna kuning dan celananya biru.

Di luar bajunya masih memakai sehelai mantel abu-abu yang indah sekali.

Pada rambutnya yang hitam itu nampak hiasan dari batu giok yang merupakan seekor naga terbang.

Cin Hai merasa heran karena setelah dekat, ia melihat betapa pada kedua pipi laki-laki ini nampak warna kemerah-merahan yang tidak aseli, seakan-akan pipi itu dibedaki dengan yanci dan bedak seperti biasa dipakai wanita bersolek!

Setelah tertawa nyaring laki-laki pesolek ini lalu berkata.

"Aku berjalan di belakangmu atau di depanmu, maupun di sebelahmu, apakah hubungannya dengan kau? Aku berjalan di atas kedua kakiku sendiri dan jalan ini adalah jalan umum! Padamu tidak ada sesuatu yang menarik hatiku, kecuali kuda putih ini dan burung bangau itu!"

Ia tertawa lagi sambil memandang dengan mata mengandung ejekan.

Biarpun hatinya mendongkol, akan tetapi Cin Hai dapat merasakan juga bahwa ucapan orang ini ada benarnya juga.

Ia berjalan sendiri dan tidak mengganggunya, mengapa ia harus merasa penasaran dan gemas?

Maka timbul kejenakaannya dan ia menjawab.

"Peribahasa kuno menyatakan bahwa orang harus berlaku waspada terhadap orang yang berada di belakangnya dan tak perlu takut kepada orang yang berada di hadapannya! Kau selalu berjalan di belakang, bahkan dengan cara bersembunyi, maka teringatlah aku akan peribahasa itu. Bukan maksudku hendak menyebutmu pengecut, akan tetapi maksud peribahasa itu bahwa orang harus berhati-hati terhadap orang yang selalu melakukan hal dengan sembunyi-sembunyi karena orang demikian itu adalah seorang yang berbahaya dan berwatak pengecut!"

Ucapan yang diputar-putar ini biarpun tidak langsung memaki, akan tetapi telah dua kali Cin Hai menyebut orang di depannya itu sebagai pengecut!

Laki-laki pesolek itu tidak menjadi marah, hanya tersenyum dibuat-buat dan ia meloloskan sehelai tali yang banyak bergantungan di ujung bajunya, lalu mempermainkan tali itu di antara jari tangannya.

"Kau pandai berkelakar anak muda, tapi tetap saja aku menganggap bahwa kuda dan burungmu itu lebih baik daripadamu!"

Pada saat itu burung bangau melayang dari atas melihat betapa Cin Hai berhadapan dengan orang asing, ia lalu menyambar ke atas kepala orang itu.

"Ang-siang-kiam, jangan kurang ajar!"

Seru Cin Hai, akan tetapi dengan tenang seakan-akan tidak diserang oleh seekor burung bangau yang besar dan ganas, orang itu lalu menggerakkan tangannya ke arah burung itu, kemudian ia menjura kepada Cin Hai sambil berkata.

"Ah, burungmu mulai membosankan aku, anak muda. Selamat tinggal!"

Bukan main terkejut hati Cin Hai ketika merasa betapa dari kedua tangan orang yang sedang menjura kepadanya itu, menyambar angin pukulan yang hebat ke arah dadanya!

Cin Hai buru-buru membungkukkan tubuhnya dan balas menjura sambil mengerahkan khikangnya dan ketika dua tenaga mereka bertemu keduanya melangkah mundur dua tindak!

Ternyata bahwa tenaga mereka berimbang.

Orang itu memandang kepada Cin Hai dengan mulut tersenyum mengejek, akan tetapi kedua matanya mengeluarkan pandangan kagum.

"Bagus, bagus, aku telah bertemu dengan seorang ahli!"

Tubuhnya lalu berkelebat dan sebentar saja lenyaplah ia dari pandang mata Cin Hai.

Pemuda ini merasa heran dan kagum, akan tetapi ketika memandang ke arah burung bangau yang telah terbang turun, keheranannya berubah kekagetan karena ia melihat betapa burung itu sedang bergulingan di atas tanah dan mencakar-cakar paruhnya sendiri!

Ketika Cin Hai menghampiri, ternyata bahwa sepasang paruh burung yang seperti sepasang pedang merah itu telah terikat menjadi satu oleh tali yang tadi dipegang oleh laki-1aki pesolek itu!

Ia cepat menggunakan pedangnya memutuskan tali yang mengikat paruh burung bangau, akan tetapi ternyata bahwa tali itu kuat sekali dan tidak mudah diputuskan.

Setelah ia mengerahkan tenaga, barulah tali istimewa itu dapat diputuskan dan burung itu lalu terbang tinggi dengan ketakutan!

Cin Hai mengeluarkan keringat dingin.

Bukan main lihainya orang itu yang dengan sehelai tali dapat membuat burung itu tidak berdaya.

Orang yang dapat melontarkan tali hingga dapat melibat dan mengikat burung yang sedang terbang menyambarnya, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu silatnya!

Masih untung bahwa orang itu tidak turun tangan dan memusuhinya, kalau terjadi demikian belum tentu ia akan dapat mengalahkan lawan yang sedemikian tangguhnya itu!

Teringatlah Cin Hai akan kata-kata suhunya bahwa di dunia terdapat banyak sekali orang-orang pandai.

Ia lalu menaiki punggung Pek-gin-ma lagi dan bersuit memberi tanda kepada burung bangau untuk melanjutkan perjalanan menuju ke barat.

Ketika ia telah melakukan perjalanan sampai beberapa puluh li jauhnya, hari telah menjadi senja dan ia tiba di luar sebuah kota yang temboknya telah terlihat dari situ.

Tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda di sebelah belakang.

Ia berhenti dan alangkah herannya ketika melihat bahwa kira-kira seperempat li jauhnya di sebelah belakang, ada seorang penunggang kuda yang juga menghentikan kudanya!

Ia lalu menggerakkan Pek-gin-ma lagi dan ternyata orang itu pun melarikan kudanya pula.

Ketika ia berhenti dengan tiba-tiba, orang itu pun berhenti.

"Kurang ajar!"

Kata Cin Hai sambil membalikkan kudanya dan melarikan kuda mengejar orang yang mengikutinya itu!

Ia sudah merasa bosan untuk diikuti orang saja dan siapapun juga orang itu, ia akan menghajarnya!

Orang itu pun membalikkan tubuh kuda dan melarikan kudanya dengan cepat dan Cin Hai makin merasa heran oleh karena kini ia dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang Turki yang tinggi kurus!

Orang yang dikejarnya itu melarikan kudanya ke dalam sebuah hutan dan ketika Cin Hai mengejar dan memasuki hutan pula, tiba-tiba dari depan melayang belasan batang anak panah yang kesemuanya mengarah dada, leher, dan perut!

"Pengecut!"

Ia berseru marah sambil mempergunakan ujung lengan bajunya mengebut ke depan hingga berhasil memukul jatuh semua anak panah, kemudian ia mengeprak kudanya agar berlari lebih cepat.

Akan tetapi tiba-tiba rumput yang diinjak oleh kudanya itu nyeplos ke bawah dan tubuh Pek-gin-ma terjeblos ke dalam lubang perangkap yang besar dan yang ditutup oleh rumput-rumput hijau!

Cin Hai cepat melompat dari kudanya hingga tidak ikut terjeblos ke dalam lubang itu.

Ia mendengar kudanya meringkik ngeri dan ketika ia memandang ke dalam lubang, ternyata bahwa Pek-gin-ma telah tertusuk oleh tiga batang tombak yang sengaja dipasang di dalam lubang itu!

Melihat tubuh kudanya berkelojotan, dengan marah dan hati penuh rasa iba, Cin Hai lalu menarik keluar pedangnya dan menusuk punggung kuda itu ke arah jantungnya hingga kuda itu mati seketika itu juga!

Kalau ia tidak melakukan tikaman ini, kuda itu pasti akan mati, akan tetapi harus menderita lebih dulu beberapa lamanya.

Kemudian, Cin Hai memburu ke depan hedak mencari orang Turki tadi, akan tetapi ia tidak melihat bayangan orang di dalam hutan itu!

Ia mencari-cari terus dan berteriak-teriak memaki-maki akan tetapi setelah hari sudah mulai gelap dan belum juga ia mendapatkan musuh yang curang itu, terpaksa ia pergi meninggalkan hutan dengan hati marah sekali.

Burung bangau yang terbang di atas hutan itu pun tidak melihat adanya musuh dan burung ini tidak berani turun seakan-akan ia masih merasa gentar menghadapi lawan yang tadi telah secara aneh dapat mengikat paruhnya!

Cin Hai melanjutkan perjalanan menuju ke kota di depan itu sambil berlari cepat.

Hatinya gemas sekali oleh karena ia merasa telah dipermainkan orang.

Kota yang dimasukinya adalah sebuah kota yang cukup ramai dan di situ ia melihat banyak orang-orang Mongol, serta orang-orang dari suku bangsa lain.

Setelah mencari kamar di sebuah rumah penginapan, Cin Hai lalu keluar dari kamarnya untuk melihat-lihat dan sekalian mencari jejak Lin Lin, juga ingin sekali bertemu dengan orang Turki tinggi kurus yang dilihatnya tadi.

Ia melihat sebuah rumah makan besar yang penuh tamu, lalu masuk memesan makanan.

Pelayan membawanya ke loteng, oleh karena di bagian bawah telah penuh.

Ketika ia memasuki tangga loteng, tiba-tiba ia mendengar percakapan tamu di loteng itu yang membuatnya segera menahan tindakan kakinya dan mendengarkan dengan teliti.

Seorang di antara tamu-tamu itu telah membicarakan dan menyebut nama Yousuf!

"Yousuf sedang sakit dan tak berdaya kalau kita menyerbu dengan tiba-tiba dan berbareng, apa sukarnya menundukkan gadis itu?"

Hanya sedemikianlah yang dapat didengar oleh Cin Hai, oleh karena ketika pelayan muncul, percakapan itu lalu dilakukan dalam bahasa Turki yang ia tak mengerti sama sekali.

Ia berjalan menundukkan muka, akan tetapi ia memperhatikan mereka.

Ternyata bahwa ruang atas itu kosong dan hanya terdapat empat orang duduk mengelilingi sebuah meja penuh mangkok berisi hidangan.

Seorang di antaranya adalah seorang laki-laki berbangsa Turki, sedangkan yang tiga orang lainnya adalah seorang nenek bongkok, seorang kakek bersorban, dan seorang pula berpakaian seperti tosu.

Mereka ini bukan lain ialah Giok Kwat Moli si Nenek Bongkok, Wai Sauw Pu si Kakek Bersorban, dan, Lok Kun Tojin, tiga orang yang dulu pernah bertemu dan bertempur melawan Ang I Niocu, Kwee An, dan Ma Hoa!

Akan tetapi Cin Hai belum pernah melihat mereka.

Ketiga orang tua itu ternyata pandai bercakap-cakap dalam bahasa Turki hingga Cin Hai hanya duduk mendengarkan penuh perhatian dan biarpun tidak mengerti sama sekali, akan tetapi beberapa kali ia mendengar nama Yousuf disebut-sebut, hingga diam-diam ia berdebar girang.

Tadi mereka menyebut seorang gadis yang hendak mereka keroyok, bukankah gadis yang dimaksudkan itu Lin Lin adanya?

Cin Hai tidak tahu bahwa keempat orang itu merasa mendongkol dan marah karena percakapan mereka terganggu oleh kedatangannya, oleh karena biarpun mereka mengerti bahasa Turki, akan tetapi mereka lebih suka bercakap-cakap dalam bahasa Han tanpa didengar oleh telinga lain orang.

Tiba-tiba mereka itu bicara dalam bahasa Han lagi, akan tetapi pembicaraan mereka kini telah berubah dan Cin Hai mendengar tosu itu berkata dengan keras.

"Memang sugguh menyebalkan orang-orang sekarang, terutama anak-anak mudanya. Mereka bisanya hanya bersolek dan menjual lagak belaka. Yang paling kubenci adalah pemuda-pemuda yang berpakaian seakan-akan ia seorang sasterawan pandai, akan tetapi sebetulnya dia tak mengerti apa-apa. Kalau melihat orang pemuda berpakaian pelajar, timbul keinginanku untuk mencekik lehernya!"

Tiga orang kawannya tertawa lebar dan ketika Cin Hai memandang ternyata bahwa dengan terang-terangan mereka berempat sedang memandang kepadanya.

Ia maklum bahwa empat orang itu tentu sengaja menghinanya oleh karena ia memang mengenakan pakaian sebagai seorang pelajar dan pedangnya disembunyikan ke dalam bajunya yang lebar dan panjang.

Hanya ia belum mengerti mengapa mereka itu menghinanya tanpa sebab.

"Yang menyebalkan ialah bahwa mereka itu tidak insyaf bahwa kehadiran mereka tidak disukai orang. Dan sama sekali tidak mengerti bahwa kehadiran mereka mengganggu percakapan orang lain!"

Terdengar suara nenek bongkok dan Cin Hai mengerti bahwa mereka itu merasa terganggu, maka berusaha menakut-nakutinya agar ia segera berpindah tempat ke ruang bawah!

Akan tetapi ia tidak peduli dan ketika masakan yang dipesannya datang, ia lalu makan seakan-akan di ruang atas itu tidak terdapat lain orang kecuali dia sendiri!

Tiba-tiba tosu bercambang bauk itu membersihkan kerongkongannya dengan suara yang menjijikkan sekali.

Hal ini dilakukan berkali-kali dibarengi suara tertawa dari kawan-kawannya hingga Cin Hai hampir tak dapat menahan sabar lagi.

Lenyaplah nafsu makannya karena merasa jijik dan sambil menoleh dan meletakkan sumpitnya, ia berkata.

"Heran sekali, mengapa orang-orang tua dan pendeta-pendeta di sini demikian tidak tahu kesopanan dan bersikap seperti orang-orang liar?"

Ucapan Cin Hai ini membuat Wai Sauw Pu, kakek bersorban itu, marah sekali.

Ia bangun berdiri dan tubuhnya yang tinggi besar itu membuat ia nampak garang sekali.

Tangan kanannya menyambar sepasang sumpitnya dan sekali ia menggerakkan tangan, sebatang sumpit itu menyambar dan menancap di meja Cin Hai sampai setengahnya lebih!

Cin Hai mendongkol sekali karena terang-terangan mereka itu hendak menghina dan mengajaknya berkelahi.

Dengan tenang ia lalu memegang sumpitnya dan dengan perlahan ia memukulkan sumpitnya pada sumpit yang tertancap di atas mejanya sambil berseru.

"Kakek tua, hati-hatilah kau menggunakan sumpitmu, jangan sampai terloncat ke meja lain!"

Ketika sumpit yang tertancap di atas meja itu kena dipukul oleh sumpitnya, sumpit itu mencelat dan melayang kembali ke arah Wai Sauw Pu yang masih berdiri di dekat mejanya sendiri.

Kakek bersorban itu menangkap sumpitnya yang melayang kembali sambil tertawa bergelak dan berkata.

"Ha, ha, tidak tahunya bukan sembarang kutu buku, dan memiliki juga sedikit punsu (kepandaian). Kau patut menerima penghormatanku. Terimalah sepotong daging sebagai penghormatan!"

Sambil berkata demikian, ia menusuk sepotong daging dan ketika ia mengayun tangannya, sumpit berikut daging yang tertusuk melayang ke arah mulut Cin Hai.

Pemuda ini merasa marah sekali, maka ia hendak mendemonstrasikan kepandaiannya.

Ia tidak mengelak atau menangkap sumpit yang menyambar ke arah mulutnya itu, hanya miringkan kepala sedikit dan ketika sumpit itu lewat di depan mulutnya, ia membuka mulut dan menggigit ujungnya.

Daging dan sumpit dapat tergigit olehnya dan ketika ia meniup, sumpit itu meluncur ke atas lantai dan patah menjadi dua!

Kemudian ia menghadapi Wai Sauw Pu dan mengerahkan tenaga khikang lalu menyemburkan daging dari mulutnya itu kepada kakek itu, disusul dengan kata-kata.

"Kakek yang baik, kubayar lunas penghormatanmu dan terimalah kembali daging busukmu!"

Daging yang disemburkan itu cepat sekali meluncur ke arah mulut Wai Sauw Pu.

Kini terkejutlah kakek ini dan ia segera miringkan kepala hendak berkelit akan tetapi semburan Cin Hai ini selain cepat, juga tidak terduga hingga biarpun daging itu tidak mengenai mulutnya, akan tetapi masih menyerempet pipinya hingga terasa pedas dan pipinya ternoda oleh kuah daging itu!

Wai Sauw Pu menjadi marah sekali.

Dengan tindakan kaki lebar ia lalu menghampiri Cin Hai yang juga belum berdiri dengan tenang.

"Tikus kecil! Berani betul kau berlaku kurang ajar di depanku!"

Teriak Wai Sauw Pu dengan marah sekali.

"Kakek yang baik, pernahkah kau mendengar sebuah ujar-ujar kuno yang sangat baik! Ujar-ujar itu menyatakan, bahwa menghormat orang lain berarti menghormat diri sendiri! Kau dan kawan-kawanmu sengaja menggangguku padahal aku tidak melakukan sesuatu yang salah! Kalau kau tidak menghormat bahkan menghina orang lain, bukankah itu menyalahi ujar-ujar itu? Menghormati orang lain berarti menghormat diri sendiri, sebaliknya menghina orang lain berarti menghina diri sendiri karena dengan perbuatanmu yang menghina orang lain itu hanya menyatakan betapa rendahnya martabatmu!"

Mendengar ucapan ini, tertegunlah hati Wai Sauw Pu dan ia mulai menduga bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan.

Akan tetapi, untuk daerah barat nama Wai Sauw Pu sudah terkenal sekali dan apa lagi ia dihina oleh pemuda itu di depan ketiga orang kawannya, maka tentu saja ia tidak mau mengalah.

"Anak muda, siapakah kau yang berani bermain gila di depan Wai Sauw Pu si Malaikat Tasbeh? Katakan siapa namau agar aku tidak menghajar segala oang yang tidak bernama!"

Cin Hai berpura-pura memperlihatkan muka terkejut dan ketakutan mendengar nama yang sesungguhnya belum pernah dikenalnya itu.

"Ah, kiranya aku berhapan dengan seorang malaikat? Tentu kau masih terhitung keluarga dengan Giam-lo-ong (Malaikat Pencabut Nyawa), karena menurut cerita orang Giam-lo-ong juga bertubuh tinggi besar seperti kau! Aku hanya seorang biasa saja, mana ada kehormatan untuk memperkenalkan nama kepada malaikat? Sudahlah, kakek yang baik, kaumaafkan aku saja dan jangan kau mencabut nyawaku!"

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara sewajarnya dan tidak mengandung ejekan akan tetapi cukup memerahkan telinga Wai Sauw Pu.

"Boleh, boleh! Kau boleh minta maaf akan tetapi kau harus mencukur gundul dulu kepalamu di hadapanku, baru aku bisa memberi maaf dan tidak menghancurkan kepalamu!"

Cin Hai adalah seorang yang mempunyai kesabaran besar, akan tetapi tidak ada ucapan yang akan melebihi sakitnya terasa di dalam hatinya selain menyuruh dia menggundul kepalanya!

Ucapan yang dikeluarkan oleh Wai Sauw Pu tanpa disengaja itu mengingatkan dia akan hinaan-hinaan yang dideritanya ketika ia masih kanak-kanak dan berkepala gundul.

Maka ia lalu menjawab.

"Pikiranmu cocok sekali dengan keinginan hatiku! Aku pun ingin sekali melihat benda apakah yang tersembunyi di dalam sorbanmu itu! Ingin sekali aku melihat warna kulit kepalamu, apakah kulitnya sama tebalnya dengan mukamu!"

"Keparat!"

Teriak Wai Sauw Pu dan tahu-tahu tangannya telah menarik keluar lihai tasbehnya, senjatanya yang ampuh itu!

Dan tanpa mengeluarkan peringatan lagi, tahu-tahu tasbehnya telah meluncur dan menyerang ke arah kepala Cin Hai!

Pemuda ini dengan tenang lalu mengelak segera mempergunakan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na untuk menghadapi tasbeh kakek itu dengan tangan kosong!

Tidak hanya Wai Sauw Pu yang terkejut melihat gerakan pemuda yang luar biasa cepatnya itu, bahkan kawan-kawannya juga memandang dengan heran dan kagum.

Biarpun tasbeh itu membuat gerakan yang melingkar-lingkar dan mencegah seluruh jalan keluar, namun dengan cepat tubuh Cin Hai dapat berkelebat mengikuti gulungan sinar senjata dan menghindarkan diri dari setiap sambaran tasbeh!

"Kakek yang baik, kaubukalah sorbanmu!"

Sambil berkata demikian, kedua tangan Cin Hai cepat bergerak dan dengan gerakan Kong-ciak-jio-cu atau Merak Sakti Merampas Mustika, ia mencengkeram ke arah kepala Wai Sauw Pu dengan tangan kirinya!

Kakek itu terkejut sekali dan mengelak ke kanan, akan tetapi secepat kilat tangan kanan Cin Hai menyusul dan sebelum Wai Sauw Pu sempat berkelit, sorbannya telah dapat dicengkeram dan direnggutkan dari kepalanya oleh Cin Hai.

Tertawalah anak muda itu ketika melihat betapa kepala Wai Sauw Pu ternyata gundul pelontos seperi kepalanya dulu!

"Ha, ha, ha!

Pantas saja kau minta aku mencukur gundul rambutku, tidak tahunya kau telah mendahuluiku mencukur gundul kepalamu!

Ha, ha, alangkah licinnya!

Lalat pun akan terpeleset apabila hinggap di kepalamu!"

Biarpun merasa marah sekali, ketiga kawan Wai Sauw Pu terpaksa menahan ketawa mereka mendengar kata-kata yang lucu ini.

Mereka bertiga lalu meloloskan senjata masing-masing dan menerjang maju hingga Cin Hai terkurung di tengah-tengah.

Melihat gerakan mereka diam-diam Cin Hai terkejut juga karena tidak disangkanya bahwa ilmu kepandaian keempat orang ini ternyata benar-benar tinggi dan hebat!

Ia pikir takkan ada gunanya untuk melawan mati-matian kepada mereka itu, karena bukankah mereka ini mempunyai hubungan dengan lenyapnya Yousuf dan Lin Lin?

Maka ia lalu melompat ke sana ke mari dan membuat gerakan-gerakan Tarian Bidadari hingga tubuhnya dengan mudah dapat mengelak dari setiap serangan, sambil berkata.

"Aduh, lihai... lihai sekali, aku terima kalah!"

Ia lalu melompat ke atas dan cepat pergi dari tempat itu, bersembunyi di tempat gelap di luar rumah makan.

Empat orang itu segera mengejar dan melompat turun dari loteng hingga semua tamu yang mengenal mereka sebagai orang-orang berilmu tinggi menjadi panik dan lari ketakutan!

Dengan marah keempat orang itu mencari-cari, akan tetapi Cin Hai dapat menyembunyikan diri dengan baik, bahkan lalu mengikuti mereka ketika mereka pergi dengan berlari cepat sekali.

Keempat orang yang diikuti Cin Hai itu menuju ke sebelah timur kota dan mereka memasuki sebuah pondok.

Cin Hai menggunakan ilmu ginkangnya yang tinggi untuk mengintai tanpa diketahui oleh penghuni pondok.

Ketika ia memandang, alangkah kagetnya oleh karena keempat orang itu ternyata mengadakan pertetnuan dengan tiga orang tosu bangsa Han yang bukan lain orangnya ialah Kang-lam Sam-lojin, ketiga tokoh besar dari Liong-san-pai yang pernah menjad guru-gurunya dulu!

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 4

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert