Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pulau Es 4

Eps 4 Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo.

Keng Han merasa girang sekali dan mereka bekerja menaruh bumbu pada daging burung yang lalu dipanggangnya Tercium bau sedap ketika daging burung itu terpanggang.

Tentu saja yang membuat daging itu mengeluarkan bau sedap adalah bumbunya,terutama bawangnya.

Sebentar saja empat ekor daging burung itu matang dan mereka lalu makan.

Ketika Keng Han memandang untuk mencuri lihat wajah yang tertutup kedok itu, dia kecelik.

Gadis itu makan daging burung tanpa memperlihatkan mulutnya.

Tangannya yang membawa daging itu ke balik to"peng sutera dan yang kelihatan hanya kain itu bergerak-gerak ketika mulutnya makan.

Keng Han merasa penasaran sekali.

Dia yakin bahwa gadis ini tentu berwajah cantik jelita luar biasa.

Baru dilihat dari rambutnya yang hitam panjang dan ikal mayang, melihat sinom (anak rambut) yang melingkar-lingkar di dahi dan pelipisnya, dahi yang halus dan putih mulus alis yang seperti dilukis seorang pelukis pandai, melengkung dan kecil hitam, mata yang bagaikan sepasang bintang kejora, tulang pipi yang agak menonjol dan selalu kemerahan bukan oleh pemerah muka, itu saja sudah menunjukkan kecantikan yang luar biasa.

Hidung dan mulutnya tidak nampak, juga dagunya, akan tetapi Keng Han berani bertaruh bahwa hidung dan mulut itu tentu indah sekali.

Setelah makan daging burung pang"gang, Cui In mengeluarkan seguci anggur.

Ia lalu membawa mulut guci ke balik topengnya dan menengadah, minum anggur itu langsung dari mulut guci ke mulutnya.

Kemudian ia menyerahkan guci itu kepada Keng Han.

"Nah, kau minumlah. Anggur ini tidak keras, hanya se"bagai penyegar setelah makan."

Keng Han tertegun.

"Tapi.... mana cawannya, Su-i?"

"Cawan? Untuk apa? Aku tidak mempunyai cawan."

"Untuk minum tentu saja. Kalau tidak ada cawannya, bagaimana aku dapat minum?"

"Bodoh! Minum saja dari mulut guci, apa sukarnya?"

Jantung dalam dada Keng Han berdebar.

Mulut guci itu baru saja beradu dengan mulut nona itu, dan sekarang nona itu menyuruh dia minum dari mulut guci pula!

"Akan tetapi, mana aku berani?

Bukankah guci anggur ini milikmu, Su-i?

Bagaimana aku berani mengotori dengan minum dari mulut guci?"

Gadis tu memandang heran, matanya bersinar-sinar tertimpa cahaya api unggun.

"Engkau ini kenapa? Apakah mulut"mu mengandung penyakit? Apakah engkau sedang menderita sakit batuk yang parah?"

"Tidak, Su-i."

"Nah, kalau begitu minumlah dari mulut guci!"

Kalau gadis itu merasa heran melihat kesungkanan Keng Han yang agaknya terlalu sopan santun itu, sebaliknya Keng Han terheran-heran melihat keterbukaan nona itu yang wataknya begitu polos dan bersih!

Maka dia lalu menenggak anggur, itu dari mulut guci dan memang rasanya segar sekali.

Setelah merasa cukup dia mengembalikan guci kepada pemiliknya dan Cu In menutupkan kembali mulut guci, menyimpannya dalam buntalannya seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang janggal, Kemudian Keng Han teringat.

Bibi gurunya itu perlu beristirahat dan tempat itu demikian kotor.

Dia segera mencari daun-daun kering untuk membersihkan dan menyapu lantai gua yang paling rata.

Kemudan dia mempersilakan Cu In un"tuk duduk atau cebah di situ.

"Silakan Bibi Guru mengaso di sini, tempat ini sudah bersih. Aku akan menjaga di luar gua sambil menjaga agar api unggun tidak padam. Cu In mengikuti pekerjaan Keng Han dengan penuh perhatian, kemudian ketika dipersilakan mengaso, ia mengangguk, bangkit dan melangkah ke dalam gua. Langkahnya! Demikian indah lenggangnya, seperti seekor harimau betina melangkah, demikian lemah gemulai akan tetapi juga demikian kokoh kuat! Cu In duduk di tempat yang sudah dibersihkan itu, lalu merebahkan diri miring berbantalkan buntalan pakaiannya. Sebentar saja gadis itu sudah pulas. Hal ini diketahui oleh Keng Han dari pernapasannya yang lembut dan teratur. Keng Han merasa berbahagia sekali. Dia sendiri merasa heran. Pernah dia merasakan kebahagiaan seperti ini, yaitu ketika dia bertemu dengan Kwi Hong. Dia juga merasa tertarik dan suka sekali kepada dara itu, akan tetapi semenjak dia mengetahui bahwa Kwi Hong bermarga Tao, puteri Pangeran Mahkota, masih saudara sepupunya sendiri, hatinya terasa perih dan dia mencoba melupakan gadis itu. Kemudian dia melakukan perjalanan bersama Bi-kiam Nio-cu. Harus diakuinya bahwa dia juga suka sekali kepada Nio-cu, akan tetapi rasa sukanya itu sekadar bersahahat, bahkan dia menjadi muridnya. Maka ketika Nio-cu bertanya tentang cinta, terus terang dia mengatakan bahwa dia tidak mencinta Nio-cu sebagai seorang pria mencinta wanita, melainkan sebagai murid mencinta guru atau seorang sahabat men"cinta sahabatnya. Dan kini.... perasaannya lain lagi. Dia tertarik kepada Souw Cu In, tertarik oleh kepribadiannya dan dia merasa amat berbahagia dapat bersama dengan gadis itu walaupun hanya semalam! Keng Han termenung memandangi api unggun dan menambah kayu pada api unggun. Dia sama sekali tidak tahu betapa Cu In juga kini membuka matanya memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Gadis ini merasa gelisah sekali ketika ia merasa bahwa hatinya tertarik kepada pemuda ini. Seorang pemuda yang lain sekali daripada pemuda lain. Kaum lelaki yang dijumpainya, selalu ingin membuka kedoknya, selalu memujinya cantik dan selalu mengeluarkan cumbu rayu seribu satu macam untuk menarik perhatiannya. Akan tetapi Keng Han sama sekali tidak! Bahkan ketika disuruh minum anggur dari mulut guci, jelas pemuda itu merasa rikuh sekali. Pemuda ini sungguh sopan dan pandai membawa diri. Di samping itu, juga pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Tadi sudah dibuktikannya ketika dia melawan Swat-hai Lo-kwi. Pemuda ini memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya dan ilmu silatnya juga aneh sekali. Namun, sikapnya demikian biasa, bahwa begitu rendah hati seolah dia seorang pemuda yang lemah dan bodoh sehingga mau mempelajari ilmu totok dari sucinya! Dan wajahnya! Sungguh tampan dan gagah. Tiba-tiba Souw Cu In memejamkan matanya kuat-kuat untuk mengusir perhatiannya terhadap pemuda itu. Tidak! ia tidak ingin tertarik kepada pemuda itu. Ia tidak ingin harus membunuh pemuda itu. Dan ia menghela napas panjang. Ia dan sucinya sudah bersumpah kepada subo mereka untuk tidak jatuh cinta, dan kalau ada pria yang jatuh cinta kepada mereka harus mereka bunuh! "Semua lelaki jahat,"

Demikian subo mereka selalu menekankan ke dalam hati mereka.

"Semua lelaki itu jahat dan palsu, bagaikan kumbang yang selalu mendekati kembang dengan suaranya yang merayu-rayu. Akan tetapi setelah dia memghisap madu kembang itu sampai habis, lalu ditinggalkannya kembang itu begitu saja!"

Dan, kalau menurut keterangan gurunya itu, tidak ada laki-laki yang baik.

Berarti Keng Han juga bukan seorang yang baik.

Mungkin sikapnya yang baik itu pun hanya merupakan akal untuk merayunya belaka!

Tidak, ia tidak boleh tertarik kepadanya!

Lewat tengah malam, Souw Cu In terbangun dari tidurnya.

ia menggeliat karena tubuhnya terasa kaku tidur di lantai yang kasar itu, lalu menutupi mulut dari luar topeng untuk menahan luapnya, dan ia bangkit berdiri.

Dihampirinya Keng Han dan ia berkata dengan suara yang kasar.

"Sekarang engkau boleh mengaso dan tidur, giliranku berjaga."

Katanya. Keng Han merasa heran sekali mendengar ucapan yang bernada ketus itu. Dia memandang dan berkata.

"Tidak perlu, Su-i. Su-i mengaso dan tidurlah, biar aku berjaga di sini sampai malam lewat."

"Tidak!"

Suara Cu In membentak karena dalam perasaannya, sikap baik pemuda ini hanya akal untuk merayunya saja.

"Kau kira aku ini orang macam apa? Engkau sudah berjaga setengah malam, maka setengah malam yang lain menjadi bagianku untuk berjaga!"

Melihat sikap gadis itu demikian galak dan tegas, Keng Han merasa heran sekali.

"Kalau bagitu, biarlah aku juga berjaga di sini saja. Aku tidak merasa mengantuk."

Cu In duduk di dekat api unggun berhadapan dengan pemuda itu terhalang api unggun.

Mereka saling pandang dan Keng Han tak dapat menyembunyikan perasaan kagumnya.

Wajah yang biarpun hanya kelihatan bagian atasnya saja itu demikian indahnya tertimpa sinar api unggun, kemerahan dan begitu halusnya dahi itu.

Ditambah lagi anak rambut yang berjuntai melingkar-lingkar itu.

Begitu manisnya!

"Kau melihat apa?"

Bentak gadis itu dan Keng Han baru menyadari bahwa terlalu lama dia menatap wajah itu.

"Tidak apa-apa, Su-i. Hanya aku heran mengapa Su-i tidak tidur saja mengaso. Malam sudah larut dan biarkan aku yang berjaga di sini.

"Tidak, aku tidak mau tidur."

"Kalau begitu, kita berdua tidak tidur."

Kata Keng Han bersikeras.

"Engkau bandel!"

"Bukan cuma aku bandel."

Keduanya diam dan terasa amat heningnya malam itu.

Yang terdengar hanya suara api makan kayu kering.

Keng Han maklum bahwa gadis ini berwatak aneh sekali.

Bukankah Nio-cu pernah berkata betapa sumoinya ini.lebih kejam darinya?

Akan tetapi dia tidak percaya.

Seorang gadis dengan sinar mata selembut itu tidak mungkin kejam.

"Engkau berasal dari mana?"

Tiba-tiba gadis itu bertanya dan nada suaranya sambil lalu saja, seolah pertanyaan itu hanya untuk mengisi kesepian.

Terhadap Souw Cu In, entah bagaimana, Keng Han tidak ingin menyembu"nyikan rahasianya.

"Aku berasal dari daerah Khitan."

"Engkau orang Khitan?"

"Peranakan Khitan. Ibuku orang Khi"tan, ayahku orang Han."

Dia masih belum berani mengakui ayahnya sebagai seorang pangeran Mancu.

"Pantas. Aku sudah menduga bahwa engkau seorang peranakan. Di mana orang tuamu sekarang?"

"Ibuku masih di Khitan bersama kakekku akan tetapi ayahku...."

"Bagaimana dengan ayahmu? Sudah matikah?"

Keng Han menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang.

"Aku belum pernah melihat ayahku. Semenjak aku dalam kandungan ibu, ayah telah pergi meninggalkan ibu dan sejak itu tidak pernah kembali."

Souw Cu In melempar sepotong kayu di api unggun sehingga bunta-bunga api membubung ke atas.

"Huh!"

Katanya gemas.

"Benar juga kata subo. Lelaki adalah mahluk yang palsu dan kejam!"

"Akan tetapi aku memang sedang mencari ayahku, Su-i. Dia harus menjelaskan mengapa dia tidak pernah pulang menengok ibu. Kalau memang benar dia telah melupakannya dan mengkhianatinya, aku sendiri yang akan menghajarnya!"

"Hemmm, apalagi yang terjadi kalau bukan ayahmu bertemu dengan wanita lain yang lebih cantik lalu ayahmu mengawini wanita itu dan melupakan ibumu?"

"Belum tentu. Kurasa ayahku tidak sejahat itu! Akan tetapi, aku ingin mencarinya sampai dapat! Dan engkau sendiri, Su-i. Maukah engkau bercerita tentang dirimu? Dari Nio-cu aku sudah tahu bahwa engkau juga murid Ang Hwa Nio"cu, dan bawa engkau mempunyai pendirian yang sama dengan Bi-kiam Nio"cu tentang pria. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Maukah engkau bercerita?"

"Hemmm, untuk apa bercerita tentang diriku padamu?"

Sepasang mata itu menatap tajam penuh selidik. Keng Han menghela napas panjang.

"Bukan apa-apa, Su-i. Akan tetapi engkau adalah bibi guruku, dengan adanya hubungan ini, tidak pantaskah kalau aku mengenalmu lebih baik lagi? Agar engkau tidak menjadi seperti orang asing lagi bagiku."

"Engkau sudah mengetahui namaku."

"Ya, aku masih ingat. Nama Su-i adalah Souw Cu In, hanya itu yang kuketahui."

"Aku juga seperti engkau. Hidup keluargaku tidak berbahagia. Ayah ibuku telah meninggal dunia, terbunuh musuh. Ketika itu aku baru berusia lima tahun, lalu aku diambil murid oleh subo. Nah, hanya begitu saja riwayatku dan aku pun sedang mencari-cari seseorang untuk membalas kematian ayah ibuku."

"Musuh besar yang membunuh ayah ibumu itu?"

"Benar. Ah, sudahlah. Kenapa aku menceritakan semua ini kepadamu?"

Ia seperti menegur diri sendiri.

"O ya, ke mana engkau hendak mencari ayahmu itu, Keng Han?"

Mendengar gadis itu tiba-tiba membelokkan percakapan, tahulah Keng Han bahwa gadis itu tidak mau lagi bercerita tentang dirinya, dan dia pun menjawab sejujurnya.

"Aku hendak mencari ayahku di kota raja."

"Ahhh....!"

"Kenapa Su-i terkejut mendengar itu?"

"Tujuan perjalananku juga ke kota raja!"

Bukan main girangnya hati Keng Han mendengar ini.

"Kalau begitu kebetulan sekali, Su-i. Kita dapat melakukan perjalanan bersama."

"Tidak! Besok pagi kita harus berpisah, melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Kalau subo mengetahui, baru malam ini saja kita berada di sini berdua, sudah cukup bagi subo untuk menuduh yang tidak-tidak dan membunuhku!"

"Gurumu amat kejam terhadap laki"laki, Su-i!"

Keng Han memrotes.

"Tidak! Guruku sudah adil. Engkau tidak tahu betapa hatinya telah dihancurkan, kehidupannya telah dilumatkan, oleh kaum pria! Ia hanya membalas dendam! Aku mencari musuh besarku itu, juga untuk mencari musuh besar yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup guruku. Orangnya sama!"

"Ahhh....!"

Keng Han bukan hanya terkejut mendengar ucapan itu, melainkan juga terkejut mendengar suara lain, suara gerakan orang-orang di sekitar mereka!

Akan tetapi karena malam itu gelap sekali dan api unggun itu tidak terlalu besar, dia tidak melihat apa-apa.

"Engkau dengar tadi?"

Souw Cu In bertanya.

Keng Han mengangguk dan keduanya waspada.

Tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan keras di sekitar mereka.

Mereka terkejut dan meloncat berdiri, tidak tahu harus berbuat apa karena musuh tidak nampak dan ledakan-ledakan masih terjadi di sekeliling mereka.

Agaknya musuh menyerang mereka dengan bahan ledakan yang mengeluarkan asap tebal.

Kedua orang itu tidak berani sembarang bergerak karena khawatir kalau-kalau diserang musuh yang tidak kelihatan.

Akan tetapi tiba-tiba keduanya mencium bau keras sekali dan Souw Cu In berseru.

"Tahan napas....!"

Akan tetapi sudah terlambat.

Keduanya sudah menghisap asap terlalu banyak dan mereka terbatuk"batuk roboh terkulai, pingsan.

Kiranya bahan peledak itu mengandung racun pembius yang kuat sekali.

Tubuh Keng Han memang sudah kebal terhadap racun, berkat dia makan daging ular merah.

Akan tetapi yang kebal adalah tubuhnya sehingga andaikata dia terkena makan racun atau dilukai oleh racun, tentu hawa beracun dalam tubuhnya menolak dan membuatnya kebal.

Akan tetapi sekali ini dia terkena racun pembius berupa asap yang memasuki paru-parunya, maka dia pun tidak dapat bertahan dan roboh pingsan seperti Souw Cu In.

Beberapa bayangan orang yang memakai kedok tebal berkelebatan memasuki tabir asap itu dan menghampiri kedua orang yang sudah pingsan itu.

Akan tetapi ketika empat orang itu menghampiri Keng Han dan Cu In, Cu In melompat dan dua orang roboh tewas seketika ter"kena pukulan Tok-ciang (Tangan Beracun).

Kiranya Cu In belum pingsan seperti keadaan Keng Han.

Ketika wanita ini tahu bahwa ada musuh menggunakan asap beracun, ia meneriaki Keng Han, akan tetapi Keng Han yang terlambat.

Ia sendiri baru sedikit menghisap asap beracun dan untuk menyelamatkan diri, ia menjatuhkan diri agar tidak terpengaruh asap yang membubung ke atas.

Setelah ada empat orang datang, Ia cepat menyerang dan setelah merobohkan dua orang, ia pun melompat jauh keluar dari tabir asap itu.

Dua orang berkedok lain menggotong Keng Han membawanya pergi dari situ.

Souw Cu In merasa khawatir sekali, akan tetapi tidak dapat mencegah dengan adanya tabir asap pembius yang menghalanginya.

Setelah tabir asap menipis dan mulai menghilang, barulah ia melakukan pengejaran, akan tetapi dia tidak menemukan jejak mereka, apalagi malam itu gelap sekali dan api unggun yang mereka buat malam tadi sudah hampir padam.

Terpaksa ia duduk kembali dekat api unggun dan menambahkan kayu bakar sehingga api unggun itu membesar kembali.

Akan tetapi ia sudah tidak mungkin dapat tidur lagi dan sambil menanti lewatnya malam, ia duduk bersila, dekat api unggun dan memperhatikan sekelilingnya dengan pendengarannya.

Hatinya gelisah bukan main memikirkan Keng Han dan menduga-duga siapa yang menangkap pemuda itu dan apa alasannya.

Juga ia mengingat-ingat siapa tokoh dunia kang-ouw yang suka mempergunakan alat peledak yang mengandung racun pembius itu.

Ia lalu teringat kepada seorang datuk sesat dari selatan yang berjuluk Ban-tok Kwi-ong (Raja Iblis Selaksa Racun).

Datuk inikah yang melakukannya?

Akan tetapi rasanya tidak mungkin.

Seorang datuk seperti dia itu biasanya memiliki ketinggian hati, tidak mungkin kalau hanya hendak menangkap seorang pemuda saja harus menggunakan peledak racun pembius.

Siapapun yang menangkap pemuda itu, Keng Han berada dalam bahaya dan dia harus menolong pemuda itu.

Keng Han merasa seperti dalam mimpi.

Tahu-tahu setelah dia sadar kembali, dia sudah terbelenggu kaki tangannya, rebah di atas sebuah dipan dan tubuhnya dalam keadaan tertotok.

Semua itu tidak merisaukan hatinya, akan tetapi yang membuat dia khawatir adalah kepalanya.

Kepala itu pening sekali dan masih pening sehingga sukar dia berpikir.

Dia membuka sedikit matanya dan melihat bahwa dirinya berada dalam sebuah kamar, seperti kamar tahanan karena pintunya dari besi dan ada jeruji besi pula di atas pintu.

Di luar kamar itu, dia dapat melihat beberapa orang melalui jeruji besi dan agaknya mereka melakukan penjagaan.

Perlahan-lahan dia pun teringat.

Dia sedang duduk menghadapi api unggun bersama Souw Cu In dan tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan dan asap mengepul tebal lalu dia tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu telah berada di tempat ini dalam keadaan terbelenggu dan tertotok.

Dia merasa bahwa belenggu itu tidak sukar dipatahkan, juga totokan itu dapat dengan mudah dia punahkan.

Akan tetapi kepeningan kepalanya masih terasa, maka dia pun diam saja rebah berbaring menanti perkembangan lebih lanjut sambil memberi waktu kepada kepalanya agar bebas dari kepeningan akibat asap racun pembius itu.

Tidak terlalu lama dia menanti.

Dia mendengar daun pintu besi dibuka orang dan nampak tiga orang memasuki tempat tahanan itu.

Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang segera di"kenalnya.

Kakek Itu adalah Toat-beng Kiam-sian yang pernah bentrok dengan dia.

Dia menegur kakek yang terlalu kejam menghukum tiga orang anak buahnya dan karena itu kakek ini marah sekali kepadanya.

Dia diberi waktu untuk menghadapinya selama sepuluh jurus dan kalau selama itu dia tidak roboh, dia akan dibebaskan.

Dan dia berhasil bertahan sampai sepuluh jurus.

Ketika kakek itu merasa penasaran hendak menggunakan tongkat yang sekarang dipegangnya itu, Bi-kiam Nio-cu menegurnya dan mengingatkan akan janjinya dan kakek itu lalu pergi.

Sekarang kakek itu agaknya yang menyuruh anak buahnya menawannya.

Entah apa yang hendak dilakukan atas dirinya.

Dia pura-pura masih pingsan akan tetapi memperhatikan mereka bertiga dengan telinganya.

"Nah, inilah pemuda itu. Bagaimana pendapatmu, Siu Lan?"

Gadis yang datang bersamanya itu memandang wajah Keng Han penuh perhatian. Gadis ini cukup cantik, dengan pakaiannya yang mewah.

"Dia kelihatan seperti seorang dusun, Ayah."

Kata gadis itu setelah mengamati Keng Han.

"Ha-ha-ha!"

Kakek itu tertawa.

"Jangan melihat pakaiannya, Siu Lan. Lihatlah wajahnya. Bukankah dia tampan dan gagah? Dan tentang ilmu silat, sudah kukatakan bahwa dia lihai juga dan pantas untuk menjadi jodohmu."

"Suhu, saya tidak percaya bahwa dia mampu melawan Sumoi"

Kata pemuda yang datang bersama mereka.

Pemuda ini bertubuh tinggi besar, berwajah gagah namun pandang matanya membayangkan kecongkakan hati.

Jelas dia memandang rendah kepada Keng Han yang meng"geletak tidak berdaya di atas dipan itu.

"Dia tidak pantas untuk melawan Sumoi. Biarlah dia melawan saya lebih dulu. Kalau dia mampu menandingi saya, baru Sumoi boleh mencobanya!"

Toat-beng Kiam-sian tertawa dan mengangguk-angguk.

"Hmmm, pikiran yang baik itu. Boleh engkau mencobanya dulu, Bu Tong."

"Biar saya bebaskan dulu dia dari totokan dan belenggunya!"

Kata pemuda itu yang bernama Gan Bu Tong.

Akan tetapi ketika dia menghampiri dipan, Keng Han mengerahkan tenaganya dan totokan itu pun sudah punah, lalu sekali dia menggerakkan kaki tangannya, ikatan itu pun putus semua!

Keng Han lalu bangkit dan meloncat berdiri menghadapi tiga orang itu.

"Mengapa kalian menangkap aku? Aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, mengapa kalian berbuat begini?"

Tegurnya.

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit, puterinya yang bernama Lo Siu Lan dan muridnya itu terkejut bukan main melihat betapa pemuda itu telah terbebas dari totokan dan dengan mudahnya mematahkan semua belenggu.

Toat-beng Kiam-sian maju dan tertawa.

"Ha-ha-ha, tempo hari engkau dapat menahan sepuluh jurus seranganku, maka hatiku tertarik untuk mengujimu, orang muda. Sekarang lawanlah muridku ini, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"

"Aku tidak ingin bertanding dengan siapapun tanpa sebab. Di antara kita tidak ada urusan, mengapa kita harus bertanding?"

"Hemmm, bocah sombong. Ada atau tidak ada urusan, aku akan menandingimu. Kalau engkau takut, engkau boleh berlutut dan mencium kaki, guru sambil meminta ampun, baru kami akan melepaskanmu."

Kata Bu Tong yang memandang rendah. Keng Han mengerutkan alisnya.

"Aku tidak bersalah apa pun, mengapa harus minta ampun? Aku tidak sudi melakukannya, jangan engkau menghinaku!"

"Aku memang sengaja menghinamu, habis kau mau apa? Aku menantangmu untuk mengadu kepandaian, kalau engkau menolak berarti engkau takut?"

Panas juga rasa hati Keng Han. Dia ditangkap tanpa sebab, kemudian ditantang dan dianggap pengecut kalau tidak berani. Tentu saja dia berani.

"Siapa takut kepada kalian? Aku tidak bersalah apa pun, maka tentu saja aku tidak takut!"

"Ha-ha-ha, bagus. Itu suara seorang laki-laki sejati. Orang muda, marilah kita ke lian-bu-thia dan di sana kita melihat sampai di mana kepandaianmu."

Kata Toat-beng Kiam-sian.

Makin senang hati"nya menyaksikan kegagahan sikap Keng Han.

Sebetulnya, pangcu dari Kwi-kiam"pang ini sudah tertarik sekali kepada Keng Han ketika Keng Han mampu menahan sepuluh jurus serangannya, bahkan mampu menangkis Pukulan Halilintar darinya.

Karena itu, ketika melihat Keng Han bersama Souw Cu In, dia lalu menyuruh para anggauta Kwi-kiam-pang menggunakan obat peledak dan pembius untuk menangkapnya.

Dia bermaksud untuk menjodohkan pemuda ini dengan puterinya, Lo Siu Lan yang selalu menolak pinangan para pemuda karena di antara mereka tidak ada yang mampu menandinginya.

Memang kepandaian Siu Lan sudah hebat sekali.

Bahkan suhengnya, Gan Bu Tong juga tidak dapat menandinginya!

Keng Han menjadi penasaran sekali.

Karena ditantang, maka dia mengikuti mereka menuju ke sebuah ruangan yang luas dan ini merupakan tempat para anggauta Kwi-kiam-pang berlatih silat.

Juga dia melihat bahwa anggauta perkumpulan itu banyak sekali, tidak kurang dari lima puluh orang!

Agaknya sulit baginya untuk meloloskan diri menggunakan kekerasan karena selain harus menghadapi tiga orang itu, juga harus menghadapi para anggauta Kwi-kiam-pang.

Maka dia hendak menebus kebebasannya dalam per"tandingannya itu.

Setelah tiba di lian-bu-thia (tempat berlatih silat), Keng Han telah dihadapi oleh Bu Tong yang bersikap angkuh.

"Nah, bersiaplah engkau untuk melawan aku!"

Kata Bu Tong.

"Nanti dulu."

Kata Keng Han lalu menoleh kepada Toat-beng Kiam-sian.

"Locianpwe adalah seorang yang berkedudukan tinggi, apakah ucapannya da"pat dipercaya?"

Lo Cit membelalakkan matanya, kakek yang kakinya timpang ini marah sekali mendengar pertanyaan itu.

"Bocah sombong, tentu saja ucapanku dapat dipercaya!"

"Heh, nanti dulu. Kalau engkau mampu mengalahkan muridku, engkau harus dapat mengalahkan pula puteriku ini, dan selanjutnya harus mampu bertahan menghadapi aku sampai lima puluh jurus. Kalau sudah begitu barulah engkau tidak akan diganggu lagi bahkan akan kunikahkan dengan puteriku ini. Ha-ha-ha-ha"ha!"

"Nah, kalau begitu, setelah aku dapat mengalahkan pemuda muridmu ini, apakah aku akan dibebaskan dan dibiarkan pergi tanpa diganggu?"

Bukan main kagetnya hati Keng Han mendengar ucapan itu.

Dia hendak dinikahkan dengan gadis cantik itu?

Sungguh keterlaluan sekali peraturan kakek itu.

Dia sendiri tidak ditanya apakah dia suka atau tidak!

"Aku tidak ingin menikah dengan siapapun juga.

Aku hanya minta agar aku dibebaskan dan tidak diganggu lagi.

"Ha-ha-ha, kita lihat saja nanti. Hayo Bu Tong, mulailah dengan seranganmu!"

Kata Lo Cit sambil tertawa senang. Gan Bu Tong sudah mencabut pedangnya.

"Sobat, sebutkan dulu namamu agar engkau jangan mati tanpa nama."

"Namaku Si Keng Han dan aku tidak akan mati melawanmu."

"Nah, di sudut itu ada rak senjata. Boleh engkau pilih untuk menghadapi pedangku!"

Hmmm, pemuda ini memiliki watak yang gagah juga dan tidak curang, pikir Keng Han.

Agaknya mereka ini bukan orang-orang jahat, akan tetapi orang-orang yang suka membawa dan mempertahankan kehendak sendiri.

"Aku tidak membutuhkan senjata-senjata itu. Bahkan aku sendiri juga memiliki sebatang pedang, akan tetapi tidak akan kupergunakan untuk melawanmu. Tangan kakiku sudah cukup untuk kupakai membela diri."

Katanya sambil memperlihatkan pedang bengkoknya yang berada di pinggangnya.

"Si Keng Han, engkau sombong, akan tetapi engkau sendiri yang menentukan. Jangan anggap aku keterlaluan melawanmu dengan pedangku!"

Kata Bu Tong penasaran dan marah karena dia menganggap pemuda itu memandang rendah kepadanya.

Tiba-tiba Lo Siu Lan mencabut pedangnya dan melemparkan pedang itu kepada Keng Han.

"Si Keng Han, pedang Suhengku merupakan senjata ampuh. Semua senjata di rak itu akan patah apabila bertemu dengan pedangnya, maka pakailah pedangku ini!"

Melihat pedang itu melayang ke arahnya, Keng Han menyambutnya, akan tetapi dia berkata kepada gadis itu.

"Terima kasih, Nona. Akan tetapi sungguh aku tidak membutuhkan pedang!"

Dan dia melemparkan kembali pedang itu kepada Siu Lan, lalu menghadapi Bu Tong sambil berseru.

"Aku sudah siap menghadapi seranganmu!"

Gan Bu Tong semakin marah.

Perbuatan sumoinya tadi dianggapnya sebagai pukulan baginya.

Sumoinya agaknya berpihak kepada pemuda ini!

"Lihat serangan pedangku!"

Bentaknya dan dia pun mulai manyerang dengan bacokan pedangnya.

Akan tetapi dengan gesitnya Keng Han mengelak.

Bacokan dan tusukan susul-menyusul menghujam ke arah tubuh Keng Han, namun dengan ilmu Hong-in Bun-hoat Keng Han selalu dapat mengelak dengan cepat sekali.

Setelah belasan jurus mengeliak, barulah dia membalas serangan lawan dengan pukulan-pukulan tangannya yang ampuh.

Ketika pedang lawan menyambar ke arah kepalanya, dia malah maju mendekat dan sekali jari tangannya menyentil pedang, pedang itu terlepas dari tangan Bu Tong, mengeluarkan suara nyaring berdenting ketika jatuh ke atas lantai.

Kalau Keng Han menghendaki, saat yang baik itu tentu dapat dia pergunakan untuk merobohkan lawan.

Akan tetapi dia tidak mau berbuat demikian, melainkan dia mencokel pedang itu dengan kakinya dan pedang itu melayang ke arah pemiliknya.

Bu Tong menangkap pedangnya dan dengan muka merah sekali dia mengundurkan diri karena setelah pedangnya terlepas dia maklum bahwa dia tidak mampu menandingi Keng Han.

Lo Siu Lan gembira sekali melihat betapa Keng Han dapat mengalahkan suhengnya.

Sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah melayang ke depan dan ia berhadapan dengan Keng Han.

Sejenak gadis itu mengamati Keng Han dari atas sampai ke bawah seperti orang menaksir seekor kuda yang hendak dibelinya.

Hal ini tentu saja membuat Keng Han tersipu dan dia cepat mengangkat tangan memberi hormat kepada gadis itu.

"Nona, di antara kita tidak ada permusuhan, harap suka menghabiskan urusan ini dan biarkan aku pergi dengan aman. Aku sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan kalian. Lo Siu Lan menjawab dengan suaranya yang merdu.

"Siapa yang hendak bermusuhan? Kami hanya ingin membuktikan sendiri sampai di mana kelihaianmu dan ternyata engkau mampu mengalahkan suheng Gan Bu Tong. Maka, mari kita main-main sebentar. Akan tetapi, perkumpulan kami disebut Kwi-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Setan), maka aku pun hanya bisa memainkan pedang. Kalau engkau tetap bertangan kosong, sungguh amat tidak enak bagiku."

Kembali diam-diam Keng Han memuji. Gadis ini pun selain tidak curang, juga tidak tinggi hati seperti suhengnya.

"Nona, sudah kukatakan tadi bahwa kalau tidak terpaksa sekali aku tidak pernah menggunakan pedangku, cukup dengan tangan kakiku saja. Maka kalau Nona memaksaku untuk bertanding pergunakanlah pedangmu, aku akan membela diri dengan kedua kaki tanganku saja."

"Bagus, engkau memang seorang pemuda yang berani. Nah, sambutlah pedangku ini, Sobat!"

Lu Siu Lan sudah mencabut pedangnya dan nampak sinar menyambar.

Begitu ia melakukan penyerangan terdengar bunyi pedang berdesing dan sinar kilat menusuk ke arah dada Keng Han.

Baru gebrakan pertama saja tahulah Keng Han bahwa gadis ini memang lebih lihai dibandingkan suhengnya.

Akan tetapi gerakan yang cepat itu tidak membuat Keng Han bingung karena baginya kecepatan gerakan gadis itu masih belum hebat.

Dengan mudahnya dia mengelak dari sambaran pedang.

Gadis itu mendesak terus dan pedangnya berkelebatan, kadang menyerang leher, kadang dada dan ada kalanya menyabet ke arah kedua kaki Keng Han.

Pemuda ini memperlihatkan kegesitannya.

Sampai sepuluh jurus dia mengelak terus, baru pada jurus ke sebelas dia membalas.

Ketika itu pedang di tangan Siu Lan menyembar ke arah dada dengan tusukan kilat.

Keng Han miringkan tubuhnya dan menggunakan dua jari tangan kirinya untuk menjepit pedang itu.

Siu Lan terkejut bukan main karena pedangnya seperti dijepit jepitan baja saja.

Biarpun ia berusaha untuk menariknya, namun pedang itu tidak dapat terlepas dari dua jari tangan Keng Han.

Gadis itu menjadi penasarap dan tangan kirinya sudah meluncur untuk menghantam dada lawan.

Keng Han juga menggerakkan tangan kanannya.

Dia maklum bahwa gadis ini menggunakan pukulan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat, maka dia pun mengerahkan sinkangnya sehingga dari tangan kanannya itu keluar hawa yang sangat panas.

Demikian pula pukulan tangan kiri Siu Lan mengandung hawa panas karena gadis ihi telah menyerang dengan pukulan Halilintar.

"Desssss....!"

Dua telapak tangan bertemu dan tubuh Siu Lan terhuyung ke belakang karena pada saat itu juga Keng Han melepaskan jepitan jari tangannya dari pedang lawan.

Siu Lah cepat mengambil napas panjang untuk menjaga agar dalam dadanya tidak terluka.

Akan tetapi ia tahu bahwa dirinya kalah maka ia pun cepat bersembunyi di balik tubuh ayahnya dan mukanya menjadi merah tersipu dan mulutnya tersenyum malu-malu.

Melihat tingkah puterinya, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit tertawa bergelak.

"Ha"ha-ha, sekarang engkau baru percaya kepada omongan ayahmu? Si Keng Han, engkau telah mengalahkan anakku Siu Lan, maka mulai sekarang engkau harus menjadi suaminya!"

Keng Han terkejut sekali dan memandang kepada kakek timpang itu dengan alis berkerut.

"Apa maksud Locianpwe? Saya tidak akan menikah dengan siapapun juga!"

"Hemmm, dengarlah Si Keng Han. Anakku menolak semua lamaran orang karena ia sudah bersumpah untuk menikah dengan pria yang dapat mengalahkannya dan engkaulah yang sekarang mengalahkannya."

"Akan tetapi sejak semula aku tidak menghendaki pertandingan ini. Aku dipaksa. Aku sama sekali bukan bertanding untuk memperoleh kemenangan dan untuk memperoleh jodoh. Maaf, Locian-pwe, aku tidak dapat menerimanya. Dan sekarang, harap kalian suka membiarkan aku pergi dari sini!"

"Ho-ho-ho, tidak demikian mudah, orang muda! Kalau engkau menolak berjodoh dengan puteriku, hal itu berarti engkau telah menghinaku! Dan siapa menghinaku harus mampus! Akan tetapi karena aku menyukaimu, engkau tidak akan kubunuh. Bersiaplah untuk menahan seranganku sampai lima puluh jurus. Kalau selama lima puluh jurus engkau mampu menahan pedang tongkatku, barulah engkau boleh pergi dari tempat ini!"

Tiba-tiba terdengar bentakan, halus.

"Toat-beng Kiam-sian Lo Cit sungguh tidak tahu malu dan mau menghina yang muda!"

Semua orang terkejut dan menengok.

Ternyata, tanpa dapat diketahui para anak buah Kwi-kiam-pang, Souw Cu In telah muncul di situ.

Toat-beng Kiam-sian, puterinya dan para muridnya tentu saja terkejut dan terheran.

Hanya Keng Han yang menjadi girang bukan main.

"Bibi guru telah datang! Kalian tidak akan memaksaku untuk kawin!"

Katanya dan dia menghampiri Cu In.

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit memandang penuh perhatian dan semakin heran mendengar Keng Han menyebut bibi guru, kepada seorang gadis yang berpakaian putih dan mukanya bagian bawah tertutup sutera putih!

Teringatlah dia kepada Bi-kiam Nio-cu yang dahulu disebut subo oleh pemuda ini.

Tahulah dia bahwa gadis bercadar putih ini pun merupakan se"orang murid dari Ang Hwa Nio-nio atau sumoi dari Bi-kiam Nio-cu.

"Nona, apakah engkau murid Ang Hwa Nio-nio?"

Tanyanya.

"Tidak salah, Pangcu. Aku adalah murid subo Ang Hwa Nio-nio dan Si Keng Han ini adalah murid suci-ku, jadi dia masih murid keponakanku sendiri. Sungguh tidak pantas sekali kalau Pangcu (ketua) hendak memaksanya menikah dengan puterimu. Mana ada paksaan kepada seorang pria untuk menikah? Dan engkau telah menantangnya untuk bertanding selama lima puluh jurus. Bukankah ini namanya menghina yang muda? Apakah engkau tidak akan malu kalau hal ini terdengar oleh dunia kang-ouw?"

Wajah Lo Cit menjadi merah sekali.

Tak disangkanya bahwa wanita bercadar itu telah mengetahui dan agaknya telah mendengar semua percakapan tadi.

Hal ini saja menunjukkan kehebatan ilmu sinkangnya sehingga tak seorang pun tahu akan kehadirannya.

"Bocah bermulut lancang! Siapakah namamu, yang berani bicara seperti Itu kepadaku?"

Lo Cit mencoba mengangkat namanya.

"Namaku Souw Cu In, dan memang aku orang biasa saja. Akan tetapi apa yang kau lakukan ini memang memalukan sekali, Pangcu. Pertama, engkau menggunakan bahan peledak yang mengandung racun pembius untuk menangkap Si Keng Han. Kemudian engkau memaksanya menikah dengan puterimu dan yang terakhir engkau baru mau membebaskannya kalau sudah bertanding denganmu selama lima puluh jurus! Sungguh memalukan!"

"Memang sungguh memalukan!"

Keng Han ikut-ikutan bicara.

"Mana aku mampu menahan serangannya sampai lima puluh jurus? Ini sama saja dengan memaksaku tinggal di sini dan mengawini puterinya yang tidak kucinta. Mana ada aturan begitu, ya, Bibi Guru?"

"Memang tidak ada aturan seperti itu di dunia kang-ouw, kecuali dunianya orang-orang sesat. Tentu Kwi-kiam Pang"cu tidak akan suka disebut orang sesat!"

Kata lagi Souw Cu In.

Lo Siu Lan menjadi marah sekali.

Ia marah karena melihat hubungan yang akrab antara Keng Han dan Cu In.

Biarpun mereka mengaku sebagai bibi guru dan murid keponakan, akan tetapi keduanya masih muda dan wanita bercadar itu nampak cantik jelita dan tubuhnya begitu ramping seperti batang pohon liu.

Ia merasa cemburu sekali!

"Perempuan hina!

Buka cadarmu dan perlihatkan mukamu!

Engkau telah berani mencampuri urusan kami!"

Berkata demikian, Lo Siu Lan telah mencabut pedangnya. Souw Cu In mendengus seperti orang mengejek.

"Dan engkau, sungguh tidak malu hendak memaksa seseorang menjadi suamimu!"

"Keparat!"

Lo Siu Lan menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi bagaikan bayangan saja, tubuh Souw Cu In telah meloncat ke samping dan tiba-tiba ada sinar putih mencuat dan tahu-tahu pedang di tangan Siu Lan terlibat dan terampas!

Siu Lan terkejut dan melompat mundur.

Cu In mengambil pedang itu dan melemparkannya kembali kepada Siu Lan.

"Siapa yang keparat masih patut diselidiki!"

Kata Cu In.

Biarpun marah sekali, Siu Lan tidak berani sembarangan lagi bergerak.

Dalam segebrakan saja pedangnya telah terampas!

Lo Cit juga kaget melihat hal ini.

Gadis bercadar itu lihai bukan main.

"Siapa yang sudah masuk ke sini tidak boleh sembarangan keluar. Kalau Si Keng Han ingin membebaskan diri, dia harus melalui pertandingan denganku. Tidak usah sampai lima puluh jurus, melihat dia masih muda biarlah kuberi waktu...."

"Sepuluh jurus!"

Kata Keng Han.

"Sepuluh jurus sudah merupakan waktu yang lama, melihat aku yang masih begini muda harus melawan Pangcu yang tua dan berpengalaman!"

Toat-beng Kiam-sian tertegun.

Dulu pernah dia menyerang pemuda ini sampai sepuluh jurus dan ternyata dia tidak dapat merobohkan.

Akan tetapi ketika itu dia tidak menggunakan pedang tongkatnya.

Kalau dia menggunakan pedang tongkatnya, mungkin dalam satu atau dua jurus saja dia sudah mampu mengalahkan pemuda itu.

"Keng Han, sepuluh jurus pun sudah terlalu lama. Engkau tidak akan dapat bertahan menghadapi pedangnya walau hanya lima jurus saja!"

Ucapan ini bernada sungguh-sungguh penuh kekhawatiran, padahal sebenarnya merupakan pancingan yang amat cerdik dari Souw Cu In.

Gadis ini sudah melihat kelihaian Keng Han yang dapat menandingi seorang datuk besar seperti Swat-hai Lo-kwi.

Kalau pemuda itu mampu menandingi Swat-hai Lo-kwi, maka menghadapi Toat"beng Kiam-sian dalam sepuluh jurus saja tidak mungkin dia dikalahkan, apalagi dalam lima jurus.

Bahkan mungkin sampai puluhan jurus akan mampu bertahan.

Mendengar ucapan dan melihat sikap Souw Cu In, Toat-beng Kiam-sian membentak.

"Baiklah, sepuluh jurus! Kalau pedangku selama sepuluh jurus belum mampu mengalahkanmu, engkau boleh pergi dari sini tanpa diganggu!"

"Keng Han, berhati-hatilah. Pedang tongkat itu amat lihai sekali!"

Kembali Souw Cu In berseru.

"Hayo, orang muda. Kau boleh menggunakan senjata apa pun, boleh kau pilih dari rak senjata itu untuk menghadapi pedangku!"

Kata kakek itu sambil mengangkat tongkat di tangannya yang dalamnya terisi pedang.

"Lo-pangcu! Keng Han tidak pernah menggunakan senjata, maka kalau kau menggunakan pedang, itu licik sekali namanya!"

"Dia boleh memilih senjata yang di"sukainya! Aku tidak peduli, dia mau ber"senjata atau tidak!"

"Jangan khawatir, Bibi Guru. Aku memiliki pedangku ini!"

Keng Han mencabut pedang bengkoknya yang selama ini belum pernah dia pakai untuk berkelahi.

Akan tetapi, mendengar nasihat Souw Cu In, dia tahu bahwa tentu ilmu pedang kakek timpang itu hebat dan dahsyat, maka kini dia menggunakan pedang pemberian ibunya atau pedang peninggalan ayah kandungnya.

Melihat pemuda itu memegang sebatang pedang bengkok, Gan Bu Tong tertawa.

"Ha-ha-ha, dia memegang sebatang pisau pemotong ayam!"

Dia mengejek.

"Diam, Suheng! Engkau sudah dikalahkannya dengan mudah!"

Kata Lo Siu Lan ketus. Akan tetapi Toat-beng Kiam-sian memandang rendah pedang bengkok itu.

"Orang muda, bersiaplah menghadapi seranganku!"

Bentaknya dan pedangnya sudah menyambar bagaikan kilat cepatnya.

"Singgggg....!"

Keng Han terkejut bukan main.

Dahsyat sekali pedang itu menyambar, beberapa kali lipat lebih cepat dan kuat daripada pedang yang dimainkan Lo Siu Lan tadi.

Akan tetapi dia sudah siap, dengan gerakan tangkas dia mengelak sambil memutar pedang bengkoknya menangkis.

"Tranggg....!"

Nampak bunga api berpercikan dan keduanya merasa betapa tangan yang memegang pedang menjadi panas den tergetar.

"Jurus pertama....!"

Souw Cu In menghitung dengan suara nyaring sekali. (Lanjut ke

Jilid 09) Pusaka Pulau Es (Seri ke 17 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 Lo Cit merasa penasaran dan mulailah dia mengayun pedangnya dan menyerang dari segala jurusan dan dengan kecepatan kilat.

Memang tidak kosong saja julukannya Dewa Pedang karena memang hebat sekali ilmu pedangnya.

Namun, Keng Han juga memiliki ilmu Hong-in Bun-hoat yang sakti.

Dengan berloncatan ke sana-sini dan pedang bengkoknya mencorat-coret menuliskan huruf-huruf, dia dapat menghindarkan diri dari semua serangan kakek itu.

"Jurus ke dua.... ke tiga....ke empat....!"

Souw Cu In menghitung terus jurus-jurus yang dimainkan oleh kakek itu.

Pada jurus ke enam, Keng Han sama sekali belum tersentuh pedang lawan, bahkan kini dia mampu membalas dengan gerakan corat-coretnya yang membingungkan lawan.

"Jurus ke delapan....!"

Toat-beng Kiam-sian menjadi marah bukan main.

Sudah delapan jurus lewat dan lawannya masih mampu menandinginya, bahkan mampu membalas serangan"nya.

Dan dia sendiri tidak mengenal ilmu silat pedang lawan yang seperti corat-coret menuliskan huruf itu.

Dia membentak keras sambil berjongkok dan menyabetkan pedangnya untuk membabat kedua kaki lawan.

"Hyaaaaattttt....!"

Keng Han meloncat ke atas dengan gerakan ringan seperti seekor buruhg terbang sehingga babatan itu hanya lewat di bawah kedua kakinya.

"Jurus ke sembilan....!"

Cu In berseru girang, akan tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan ia memandang, dengan hati cemas ketika melihat serangan jurus ke sepuluh.

Kini Lo Cit menggerakkan pedangnya ke atas, menyambut tubuh Keng Han yang melompat turun dan bukan pedangnya saja yang menyerang, akan tetapi juga tangan kirinya menghantam dengan ilmu pukulan Halilintar!

Bukan main hebatnya pukulan dan tusukan pedang ini dan tubuh Keng Han masih berada di udara.

Sementara itu, melihat serangan lawan yang nekat dan berbahaya, Keng Han menggerakkan pedang bengkoknya untuk menangkis dan tangan kirinya juga dihantamkan ke depan menyambut pukulan Halilintar lawan.

"Tranggg.... desss....!"

Hebat bukan main pertemuan kedua pedang itu, akan tetapi lebih dahsyat lagi pertemuan kedua telapak tangan.

Akibatnya, tubuh Lo Cit terdorong sehingga dia terhuyung ke belakang, sedangkan Keng Han turun ke bawah dengan selamat.

"Jurus ke sepuluh!"

Bentak Cu In.

Akan tetapi agaknya Lo Cit tidak mempedulikan teriakan itu dan kini bahkan menyerang lagi dengan lebih dahsyat ke arah Keng Han.

Dan bersama dengan majunya Lo Cit, kini beberapa orang murid, di antaranya Gan Bu Tong juga hendak melakukan pengeroyokan.

Melihat gelagat yang tidak baik ini, Cu In sudah meluncurkan sabuk suteranya yang berubah menjadi sinar putih menyerang kearah Lo Siu Lan.

Siu Lan terkejut akan tetapi tidak sempat mengelak dan tahu-tahu pinggangnya telah terlibat ujung sabuk dan sekali Cu In menarik, tubuh Siu Lan terdorong ke arahnya dan ia sudah menangkap gadis itu dan menodongkan jari-jari tangan kirinya ke atas ubun-ubun kepala Siu Lan.

"Tahan semua senjata atau aku akan membunuh Siu Lan!"

Teriak Cu In dengan suara nyaring.

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit menengok dan wajahnya berubah ketika dia melihat puterinya telah berada dalam ancaman tangan Cu In.

Dia maklum bahwa sekali menggerakkan tangan itu ke arah ubun-ubun kepala anaknya, gadis itu tentu akan tewas!

"Tahan semua senjata dan mundur!"

Bentaknya kepada para muridnya. Semua mundur dan memandang ke arah Cu In yang masih mengancam Siu Lan.

"Keng Han, mari kita pergi dari sini. Awas, jangan ada yang mengikuti kami kalau ingin gadis ini selamat!"

Kembali Cu In membentak dan ia mendorong Siu Lan berjalan di depan sedangkan ia dan Keng Han berjalan di belakangnya.

Dengan cara ini mereka dapat keluar dari sarang Kwi-kiam-pang tanpa ada yang berani menghalangi.

Setelah tiba di luar, Cu In menotok Siu Lan sehingga gadis ini menjadi lemas dan roboh tak berdaya, kemudian mereka berdua berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Belasan li mereka berlari meninggalkan tempat itu sampai mereka memasuki sebuah hutan di lereng bukit.

Mereka berhenti melepas lelah dan Keng Han berkata dengan nada suara menegur.

"Su"i, kenapa menggunakan cara yang curang itu untuk menyelamatkan diri?"

"Curang katamu? Bagaimana dengan Toat-beng Kiam-sian itu? Sudah sepuluh jurus engkau bertahan terhadap serangannya, ehhh, dia malah menyerang lagi dan maju mengeroyok. Mereka demikian banyak, bagaimana mungkin kita dapat melawan mereka? Kalau aku tidak menggunakan akal itu, apa kaukira kita bisa keluar dengan selamat. Keng Han menundukkan mukanya, harus mengaku kebenaran ucapan gadis itu.

"Ah, mengapa di dunia ini banyak orang yang tidak sungkan berlaku curang seperti ketua Kwi-kiam-pang tadi?"

"Itulah! Merupakan pelajaran pertama bagimu kalau engkau memasuki dunia kang-ouw, yaitu, jangan mudah percaya kepada siapapun juga atau engkau akan tertipu. Lebih banyak orang yang curang daripada yang jujur, lebih banyak yang jahat daripada yang baik. Nah, sekarang tiba saatnya kita harus berpisah mengambil jalan masing-masing."

"Su-i,"

Kata Keng Han dengan suara sungguh-sungguh.

"Kalau perjalanan kita sama, menuju ke satu jurusan, yaitu kota raja, kenapa kita tidak melakukan perjalanan bersama saja?"

"Tidak pantas seorang pemuda melakukan perjalanan bersama seorang gadis!"

"Aih, Su-i, bukankah engkau ini bibi guruku? Kenapa tidak pantas? Yang penting kita tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas. Pula, agaknya memang sudah semestinya kita melakukan perjalanan bersama sehingga dapat saling melindungi. Bayangkan saja, kalau kita tidak melakukan perjalanan bersama, engkau sudah celaka di tangan Tung"hai Lo-mo dan aku sudah celaka di tangan Toat-beng Kiam-sian! Dengan berdua, kita dapat mengatasi semua bahaya itu."

Souw Cu In termenung, agaknya melihat kebenaran dalam ucapan pemuda itu dan ia mempertimbangkan. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan bertanya.

"Keng Han, apakah engkau murid keluarga Pulau Es?"

"Bukan, Su-i. Bahkan aku selama hidup belum pernah bertemu dengan mereka."

"Akan tetapi ilmu silatmu itu.... aku pernah mendengar subo bercerita tentang ilmu-ilmu keluarga itu. Katanya ada ilmu yang sifatnya seperti mencorat"coret dengan tangan atau pedang, yang disebut Hong-in Bun-hoat, dan tadi engkau menggunakan ilmu itu, bukan?"

Terhadap gadis ini Keng Han tidak ingin berbohong.

"Memang sesungguhnya aku tadi memainkan ilmu Hong-in Bun"hoat."

"Dan kau bilang bukan murid Pulau Es?"

"Bukan, Su-i. Aku tidak berbohong. Kudapatkan ilmu ini di sebuah gua di Pulau Hantu, bersama ilmu-ilmu lain."

"Ilmu apa saja? Ah, kau tidak perlu mengaku kalau hendak merahasiakannya."

"Kepadamu aku tidak ingin menyembunyikan apa-apa, Su-i. Selain Hong-in Bun-hoat, aku juga menemukan pelajaran ilmu silat Toat-beng Bian-kun, ilmu tenaga sakti Hwi-yang Sin-kang dan Swat"im Sin-kang."

Gadis itu terbelalak dan Keng Han terpesona. Sepasang mata itu demikian indahnya ketika terbelalak, seperti bintang kembar yang bercahaya terang.

"Tapi semua itu adalah ilmu-ilmu keluarga Pulau Es!"

"Entahlah, Su-i. Aku hanya menemukannya di Pulau Hantu dan telah kupelajari semua itu selama lima tahun."

"Pantas saja engkau mampu menandingi Swat-hai Lo-kwi dan Toat-beng Kiam-sian. Dan suci telah mengangkatmu sebagai murid! Betapa lucunya. Padahal suci sendiri tak mungkin mampu menandingimu. Bahkan subo sendiri belum tentu mampu. Engkau telah menguasai ilmu"ilmu langka yang sakti, Keng Han."

Keng Han tersipu.

"Aih, Bibi Guru terlalu memuji. Aku hanya seperti seekor burung yang baru belajar terbang dan baru saja meninggalkan sarangnya. Aku tidak mempunyai pengalaman apa-apa, maka kalau Su-i sudi melakukan perjalanan bersamaku, aku dapat belajar banyak."

"Tidak bisa! Kalau subo mengetahui aku melakukan perjalanan dengan seorang pemuda, tentu ia akan marah sekali dan aku harus membunuhmu! Nah, pergilah!"

"Akan tetapi, Su-i.... Suara Keng Han penuh permohonan dan penuh kekecewaan.

"Tidak ada tapi-tapian, Keng Han. Kita harus berpisah. Pergilah, atau aku akan marah kepadamu!"

"Su-i....!"

Kata Keng Han, akan tetapi melihat sinar mata itu mencorong marah, dia lalu memberi hormat dan berkata.

"Baiklah, Su-i, aku tidak berani membantah. Harap Su-i berhati-hati di jalan dan jagalah dirimu baik-baik, Su-i."

Dengan wajah sedih sekali Keng Han lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan gadis itu.

Dia merasa tubuhnya menjadi lemas dan segala sesuatu nampak buruk baginya.

Dia merasa kesepian, merasa ditinggalkan oleh sesuatu yang amat berharga baginya.

Kalau tadinya, segala hal nampak menyenangkan, kini menjadi menyedihkan.

Dia menengok dan tidak melihat lagi bayangan Cu In.

Kesedihan dan kesepian melanda dirinya sehingga Keng Han tidak mampu melangkah lagi.

Dia menjatuhkan dirinya duduk di atas batu dan termenung.

Hidupnya terasa hampa.

Kerinduan kepada Cu In begitu mencengkeram hatinya.

Membayangkan bahwa dia tidak akan dapat bertemu lagi dengan gadis itu, membuat matanya menjadi basah dan hampir saja dia menangis seperti anak kecil kalau tidak ditahan-tahannya.

Tiba-tiba dia, menyadari keadaannya dan menepuk kepalanya sendiri.

"Huh! Kenapa engkau menjadi cengeng seperti itu?"

Dia merasa malu kepada diri sendiri, malu kepada Souw Cu In. Kalau bibi gurunya itu melihat keadaannya, tentu ia akan menegurnya.

"Tolol! Cengeng!"

Keng Han memaki diri sendiri sambil bangkit berdiri dan dengan langkah tegap dia melanjutkan perjalanannya menuju ke timur, ke kota raja!

Dia masih memiliki tugas yang teramat penting.

Mencari ayah kandungnya.

Souw Cu In sendiri merasa kesepian dan hatinya terasa berat harus berpisah dari Keng Han.

Gadis ini merasa heran sekali.

Belum pernah ia merasa kehilangan seperti ini!

Apalagi kehilangan seorang sahabat, seorang pria.

Tekanan yang diberikan subonya sejak ia masih kecil membuat ia menganggap setiap orang pria itu palsu dan jahat.

Apalagi setelah ia melihat sendiri betapa kaum pria selalu bersikap menjemukan kalau bertemu dengannya di manapun.

Pria semua mata keranjang dan ingin menggoda kalau bertemu dengannya.

Akan tetapi kini ia bertemu Keng Han yang sama sekali berlainan dengan pria yang seringkali ia bayangkan dan yang pernah ia temukan.

Keng Han sama sekali tidak kurang ajar, bahkan amat sopan dan bersikap baik sekali kepadanya.

Maka, begitu Keng Han meninggalkannya dengan sikap demikian kecewa dan sedih, ia merasa kasihan sekali dan ikut pula berduka dan kehilangan.

Baru sekarang ia merasa kesepian melanda hatinya.

Akan tetapi gadis yang dididik menjadi keras hati ini dapat menekan perasaannya dan ia pun melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat sekali.

Pada suatu hari tibalah ia di sebuah dusun yang cukup besar dan ramai.

Bahkan ia menemukan sebuah kedai makan di dusun itu.

Karena perutnya sudah lapar Souw Cu In memasuki kedai itu dan memesan makanan dan minuman teh.

Kedai teh itu sudah banyak tamu yang sedang makan.

Seperti biasa dialami Cu In, begitu ia memasuki kedai makan itu, banyak mata memandang dan banyak kepala menengok lalu terdengar suara berbisik-bisik dan tawa yang dibuat-buat.

Namun ia tidak mempedulikan,itu semua dan memesan makanannya kepada pela"yan yang menghampirinya.

Tiga orang pria yang duduk di meja sebelahnya, menghentikan makan mereka ketika melihat Cu In.

Mereka itu terdiri dari orang-orang yang berpakaian, gagah, berusia antara tiga puluh dan empat puluh tahun.

Seorang di antara mereka, yang berusia tiga puluh tahun, agaknya menjadi pemimpin mereka.

"Sayang ia bercadar sehingga kita tidak dapat melihat. mukanya,"

Kata seorang di antara mereka yang berusia hampir empat puluhan tahun.

"Aku yakin ia cantik seperti bidadari,"

Kata orang kedua yang usianya empat puluhan tahun.

"Sudahlah, lanjutkan makan kalian dan jangan pedulikan orang lain."

Kata pemuda yang berusia tiga puluhan tahun.

Dia itu bertubuh tinggi besar dan nampak gagah dan tampan, mukanya bundar dan sepasang matanya lebar sehingga wajah itu nampak asing.

"Akan tetapi, Kongcu, yang ini berbeda dengan wanita biasa. Kami berani bertaruh bahwa ia seorang yang luar biasa sekali, penuh rahasia karena muka itu bercadar."

Kata orang pertama. Orang yang disebut kongcu itu mencela.

"Kalau orang menutupi mukanya, apalagi kalau ia wanita, tentu itu cacat. Sudahlah, mari kita cepat selesaikan makan, kita harus melanjutkan perjalanan!"

Mereka melanjutkan makan minum dan karena Cu In makan cepat dan tidak banyak, gadis ini lebih dulu selesai dan segera membayar makanan dan pergi meninggalkan kedai makanan itu tanpa mempedulikan orang lain.

Tiga orang itu juga sudah selesai makan dan mereka juga cepat-cepat meninggalkan kedai.

Ketika Cu In berjalan keluar dari dusun itu, ia pun tahu bahwa tiga orang itu membayanginya.

Ia pura-pura tidak tahu dan melangkah terus.

Akan tetapi setelah tiba di jalan yang sepi, tiga orang ini berlari cepat menyusulnya.

"Tahan dulu, Nona!"

Terdengar suara pria pertama yang berkumis dan berjenggot seperti kambing.

Cu In berhenti dan menghadapi tiga orang itu.

Ia melihat bahwa dua, diantara mereka memandangnya dengan mulut menyeringai, akan tetapi pemuda berusia tiga puluhan tahun yang berwajah tam"pan dan gagah itu bersikap acuh tak acuh.

"Nona, tadi kita melihatmu di rumah makan."

Kata orang kedua yang hidungnya pesek.

"Lalu, mengapa kalian mengejarku?"

Tanya Cu In dengan ketus.

"Begini, Nona. Aku dan temanku ini bertaruh. Aku yakin bahwa wajahmu cantik seperti bidadari, sebaliknya dia yakin bahwa wajahmu cacat dan buruk. Nah, karena itu kami harap Nona suka membuka cadar Nona itu sebentar saja agar kami dapat melihatnya dan menen"tukan siapa yang menang bertaruh."

"Aku tidak peduli kalian bertaruh atau tidak, akan tetapi aku tidak akan membuka cadarku!"

Kata Cu In dengan suara ketus dan marah.

"Aih, Nona. Mengap Nona begitu pelit? Memperlihatkan muka sebentar saja, apa keberatan. Nah, kalau begitu biarlah aku yang membuka dan menying"kap cadar itu!"

Kata si jenggot kambing dan tangannya meraih ke arah cadar di muka Cu In. Gadis ini mengelak mundur dan sambaran tangan itu luput.

"Siapa berani membuka cadarku dia akan mati!"

Kata Cu In dengan suara membentak.

Akan tetapi agaknya si jenggot kambing dan si hidung pesek menganggap kosong gertakan Cu In ini.

Bahkan si hidung pesek tertawa.

"Ha-ha-ha, Thian"ko. Mari kita bertaruh lagi, siapa di antara kita yang lebih dulu dapat mem"buka cadar Nona ini!"

Si jenggot kambing tertawa.

"Ha-ha"ha, baik sekali! Jadi taruhan kita ada dua, mengenai muka gadis ini dan siapa yang lebih dulu menyingkap cadar!"

Keduanya lalu menerjang maju dan tangan mereka meraih untuk menyambar cadar putih yang menutupi muka Cu In.

Laki-laki ketiga yang berwajah tampan itu masih memandang dengan tidak peduli.

Marah sekali hati Cu In.

Cepat ia mengelak sambil berloncatan dari serangan kedua orang yang hendak merenggut cadarnya dan ia pun menampar dengan pukulan Tangan Beracun.

Akan tetapi kagetlah ia melihat betapa dua orang itu pun mampu mengelak dengan cepat.

Kini keadaannya berubah.

Dua orang itu bukan berebutan membuka cadar melainkan mengeroyok gadis itu.

Terjadilah perkelahian yang seru.

Akan tetapi, dua orang itu kecelik karena kini mereka bertemu batunya.

Ternyata gadis bercadar itu lihai bukan main dan mereka terdesak hebat oleh pukulan dan tendangan Cu In.

Padahal, kedua orang itu mengira bahwa mereka adalah orang-orang lihai yang jarang bertemu tanding!

Melihat ini, sepasang mata lebar dari pemuda tampan itu bersinar-sinar.

"Kalian mundurlah!"

Bentaknya, dan kini dia sendiri yang maju melawan Cu In.

Dua orang kawannya menaati perintahnya dan mundur menjadi penonton.

Cu In terkejut setengah mati.

Pemuda itu ternyata lihai bukan main, berani menangkis Tangan Beracunnya dan setiap kali tertangkis ia merasa lengannya tergetar hebat.

Pemuda itu memiliki ilmu silat yang aneh dan juga memiliki tenaga sinkang amat kuatnya.

Cu In yang maklum bahwa kawannya tangguh, segera melolos sabuk suteranya yang menjadi senjatanya yang ampuh, dan mulai menyerang dengan sabuk suteranya.

Akan tetapi pemuda itu dapat mengelak atau menangkis sambil men"coba untuk menangkap ujung sabuk sutera putih itu.

Akan tetapi usahanya selalu gagal.

Sabuk sutera itu seolah hidup di tangan Cu In, bergerak seperti seekor ular dan setiap kali ditangkap dapat melesat cepat menghindar lalu menyerang lagi dengan patukan yang mengarah jalan darah karena sesungguhnya senjata lemas itu dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah.

Selagi ramai-ramainya kedua orang ini bertanding, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar suara Keng Han.

"Bibi guru harap minggir biar aku yang menghadapinya?"

Bagaimana Keng Han dapat tiba di situ!

Perjalanannya dengan Cui In memang searah, sama-sama ke timur sehingga tidak aneh kalau dia juga lewat di situ.

Ketika dari jauh melihat perkelahian itu, jantungnya berdebar penuh kegembiraan dan ketegangan karena seorang wanita yang berpakaian putih bersenjata sabuk sutera putih itu siapa lagi kalau bukan Souw Cu In?

Melihat orang yang dirindukannya ini hatinya merasa girang sekali, akan tetapi juga tegang melihat betapa lawan bibi gurunya itu amat tangguh.

Apalagi setelah dekat dia mengenal pemuda itu sebagai Gulam Sang yang pernah ditandinginya!

Gulam Sang, putera mendiang gurunya!

Bahkan gurunya sebelum meninggal dunia berpesan agar dia bekerja sama dengan puteranya itu.

Maka cepat dia meloncat datang dan menyuruh bibi gurunya minggir.

Gulam Sang juga mengenal Keng Han sebagai pemuda tangguh yang pernah dilawannya.

Dia menjadi penasaran karena tadi belum sempat mengalahkan Cu In yang sudah didesaknya.

"Siapakah engkau yang mencampuri urusan kami?"

Bentaknya dan dia memandang kepada Keng Han dengan mata yang lebar itu mencorong.

"Bukankah namamu Gulam Sang dan engkau adalah putera dari Gosang Lama?"

Tanya Keng Han sambil membalas pan"dang mata mencorong itu. Gulam Sang nampak terkejut dan melangkah mundur setindak mendengar pertanyaan itu.

"siapa engkau? Apa hubunganmu dengan Gosang Lama?"

Keng Han melihat betapa kekejutan pemuda tinggi besar itu dibuat-buat karena suaranya Masih biasa saja, hanya tadi seolah sengaja melangkah mundur.

"Aku adalah muridnya. Sebelum suhu Gosang Lama meninggal dunia, dia berpesan kepadaku agar dapat bekerja sama denganmu. Akan, tetapi kenapa engkau bertempur melawan bibi guruku ini? Ia adalah bibi guruku dan mustahil ia melakukan kesalahan sehingga engkau turun tangan bertempur dengannya."

Wajah Gulam Sang berubah kemerahan dan dia menoleh kepada dua orang kawannya.

"Kawan-kawanku ini yang usil maka terjadi perkelahian. Mereka hendak menyingkap tabir yang menutupi wajah Nona ini."

Keng Han mengerti mengapa mereka berkelahi.

Tentu saja bibi gurunya tidak sudi dibuka cadarnya dan masih beruntung mereka berdua itu tidak sampai dipukul mati.

"Kalian sudah bertindak lancang. Mengingat engkau putera suhu Gosang Lama, biarlah aku mintakan ampun kepada bibi guruku."

Kata Keng Han sambil menoleh.

Akan tetapi ternyata Cui In sudah tidak nampak, sudah pergi dari tempat itu tanpa pamit.

Ketika tadi Keng Han muncul, Cu In juga merasa berbahagia sekali.

Akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda tinggi besar itu putera guru Keng Han, Cu In menjadi marah dan pergi tanpa pamit.

"Eh, ke mana bibi guru?"

Si jenggot kambing yang menjawab.

"Ia sudah pergi sejak tadi."

Keng Han memandang kepada si jenggot kambing dan si hidung pesek dengan marah.

"Kalian berdua telah melakukan kesalahan, hayo cepat minta maaf kepadaku dan aku akan memaafkan atas nama bibi guruku!"

Kedua orang itu memandang kepada Gulam Sang yang mengangguk. Keduanya lalu mengangkat kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada Keng Han.

"Harap sampaikan maaf kami kepada nona tadi."

"Saudara yang baik, siapakah namamu dan sejak kapan engkau menjadi murid ayahku?"

"Namaku Si Keng dan sejak berusia sepuluh tahun aku menjadi murid Gosang Lama selama lima tahun."

"Kalau begitu engkau masih saudaraku sendiri walaupun aku sendiri sejak kecil tidak pernah bertemu dengan mendiang ayahku. Apa saja yang dipesankan ayah kepadamu sebelum dia meninggal?"

"Dia berpesan agar aku bekerja sama denganmu, saling bantu."

"Bagus sekali! Mari kita kembali ke dusun dan mencari penginapan agar kita leluasa bicara."

Keng Han tidak menolak, karena percuma saja andaikata dia akan mengejar Cu In yang pergi tanpa pamit .

Dan dia pun ingin mengenal lebih baik putera suhunya ini yang berkepandaian tinggi dan yang menurut Dalai Lama pernah menjadi murid Dalai lama yang sakti.

Mereka kembali ke dusun dan menyewa kamar, kemudian bercakap-cakap berdua saja di kamar yang disewa Keng Han.

"Nah, sekarang katakan apa yang hendak kaubicarakan, Gulam Sang. Kerja sama yang bagaimana yang dapat kita bersama lakukan."

"Nanti dulu, Keng Han. Aku ingin tahu siapakah orang tuamu dan sekarang ini engkau hendak ke mana? Kita harus terbuka dan menceritakan keadaan masing-masing, baru kita dapat bekerja sama, bukan?"

Keng Han mengangguk-angguk.

Dia belum percaya kepada pemuda tinggi besar ini, akan tetapi bagaimanapun juga, pemuda ini adalah putera Gosang Lama yang pernah menjadi gurunya yang baik.

"Terus terang saja, saudara Golam Sang. Ibuku adalah seorang wanita Khitan, puteri seorang kepada suku di sana dan ayahku...."

Ia berhenti dan meragu. Harus dikatakankah rahasia tentang ayahnya? "Dan ayahmu tentu bukan orang Khi"tan!"

Kala Golam Sang.

"Engkau benar. Ayahku adalah seorang pangeran kerajaan Ceng."

"Ahhh....!"

Gulam Sang nampak ter"kejut.

"Siapa nama ayahmu yang pangeran itu?"

"Nama ayahku adalah Tao Seng, jadi aku she Tao Keng Han."

"Ahhh....!"

Kembali Golam Sang terkejut.

"Apakah Pangeran Tao Seng yang dihukum buang itu?"

"Agaknya engkau mengetahui banyak hal tentang ayahku, saudara Golam Sang."

"Aku hanya mendengar saja bahwa ada dua orang pangeran yang dihukum buang."

"Dan tahukah engkau di mana ayahku itu sekarang?"

"Aku tidak tahu, mungkin di kota raja, mungkin masih di tempat pembuangannya, di Barat. Akan tetapi engkau tentu dapat mencari keterangan di kota raja. Kebetulan aku mengenal seorang pensiunan pejabat tinggi yang dahulu berhubungan erat dengan ayahmu. Kau carilah dia di kota raja dan dia pasti akan dapat memberitahu di mana ayahmu. Namanya Ji Soan dan dikenal dengan sebutan Ji-wangwe (hartawan Ji) karena sekarang dia telah menjadi seorang saudagar yang kaya raya. Kau tanyakan kepada siapa saja di mana ru"mahnya Ji-wangwe dan tentu engkau akan dapat menemukannya."

"Ah, terima kasih, Gulam Sang. Keteranganmu ini penting sekali bagiku. Besok pagi-pagi aku akan langsung menuju ke kota raja untuk mencari Ji"wangwe itu."

"Kabarnya, ayahmu itu difitnah dan dia dihukum dalam keadaan penasaran sekali."

"Difitnah?"

Tanya Keng Han, ingin sekali tahu.

"Ya, kabarnya yang melakukan fitnah adalah seorang pangeran lain yang kini menjadi Pangeran Mahkota."

"Aku mendengar dari ibuku bahwa ayahku itu adalah Pangeran Mahkota."

"Mungkin benar demikian. Mungkin karena dia seorang Pangeran Mahkota, ada pangeran lain yang iri hati dan melakukan fitnah sehingga dia dihukum buang."

"Siapakah pangeran jahat itu?"

"Dia adalah Pangeran Mahkota Tao Kuang. Akan tetapi urusan itu aku pun tidak tahu banyak. Yang lebih mengetahui adalah Hartawan Ji itulah. Bagaimanapun juga, Pangeran Tao Kuang dan Kaisar Cia Cing itu adalah musuh be"sarmu karena merekalah yang mencelakakan dan menghukum ayahmu."

"Kalau benar ayah terhukum dengan penasaran, aku akan membalas dendam!"

Kata Keng Han dengan hati panas.

"Bagus! Dalam hal ini, kita dapat bekerja sama. Kita sama-sama berjuang menggulingkan pemerintahan Ceng yang dipegang oleh Cia Cing dan kelak di"pegang oleh Pangeran Tao Kuang itu!. Kita bekerja sama dengan teman-teman seperjuangan."

"Hemmm, kau maksudkan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang dulu kaubantu mengeroyok kami itu? Mereka itu bukan orang-orang baik. Aku sudah mendengar sepak terjang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai itu. Mereka adalah orang"orang jahat yang berkedok perjuangan. Bagaimana kita dapat bekerja sama dengan mereka?"

"Nah, di sini letaknya kesalah-pahaman itu. Engkau berpikiran seperti ketua Thian-li-pang itu. Kalau kita benar-benar hendak berjuang menentang pemerintahan, kita harus mempersatukan semua tenaga dari pihak manapun. Kita harus bersatu padu tanpa mempedulikan watak masing-masing, untuk bersama-sama mengadapi pasukan pemerintah yang kuat. Aku lebih condong menyetujui pendapat ketua Bu-tong-pai!"

"Ah, engkau juga hadir ketika ada rapat besar itu?"

"Tentu saja. Aku hadir sebagai pendengar saja. Nah, bagaimana pendapatmu?"

Keng Han meragu.

"Agaknya engkau benar. Aku harus membalas dendam atas kematian ayahku kalau benar dia sudah mati secara penasaran dan difitnah. Aku suka bekerja sama denganmu, Gulam Sang."

Gulam Sang menjabat tangan Keng Han.

"Bagus, kita akan bekerja sama kelak. Kau tunggu saja di rumah Hartawan Ji, karena dia pun telah menjadi sekutu kami untuk melakukan pemberontakan. Pergilah engkau ke sana, cari keterangan tentang ayahmu dan katakan kepada Ji-wangwe bahwa engkau adalah sahabat dan sekutuku yang suka untuk bekerja sama."

Demikianlah, Keng Han yang masih hijau dalam pengalamannya itu percaya sepenuhnya kepada Gulam Sang karena orang ini adalah putera gurunya yang sudah meninggalkan pesan agar dia bekerja sama dengan Gulam Sang.

Yo Han dan Tan Sian Li tidak dapat membantah atau melarang lagi ketika Yo Han Li menyatakan pendapatnya bahwa ia ingin merantau untuk mencari pengalaman.

"Bukankah Ibu dahulu ketika masih muda juga suka merantau mencari pengalaman di dunia kang-ouw sehingga Ibu dijuluki Si Bangau Merah di dunia kang"ouw? Juga Ayah mendapat julukan Pen"dekar Tangan Sakti karena perantauannya di dunia kang-ouw. Saya hanya ingin merantau dan meluaskan pengalaman saja. Saya tidak ingin mendapatkan nama julukan dan saya akan selalu berhati-hati agar jangan terpancing dalam per"musuhan."

Demikian ucapan Yo Han Li yang membuat ayah ibunya tidak dapat membantah lagi dan terpaksa memberi ijin kepada puterinya untuk merantau.

Siapa tahu dalam perantauannya itu puteri mereka akan bertemu dengan jodoh"nya.

Mereka tidak perlu khawatir karena sekarang Han Li sudah memiliki tingkat kepandaian yang sebanding dengan ting"kat ibunya, sudah cukup kuat untuk menjaga diri.

"Baiklah, kami mengijinkan engkau untuk pergi merantau meluaskan pengalaman. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan pergi lebih lama dari setahun. Dalam waktu setahun engkau harus sudah pulang."

Kata Yo Han.

"Di dunia kang"ouw sedang kacau karena partai besar seperti Bu-tong-pai hendak memberontak dan mengajak partai-partai sesat untuk bekerja sama. Engkau jangan terpikat oleh mereka itu. Perjuangan kita lain sifatnya. Kita pantang bekerja sama dengan penjahat dan kita bergerak melihat suasana."

"Aku berjanji, Ayah."

Kata Han Li.

"Hati-hatilah, anakku,"

Kata Tan Sian Li.

"Jangan engkau mencari permusuhan dengan siapapun. Biarpun engkau harus membela kebenaran dan keadilan, mem"bela yang tertindas dan menentang yang jahat, namun kalau tidak terpaksa sekali jangan engkau membunuh orang. Dan yang harus kau ingat benar, jangan sekali-kali percaya begitu saja kepada mulut manis seseorang, karena di dunia kang-ouw banyak sekali penjahat yang bermuka dan bermulut manis. Engkau harus pandai menjaga harga dirimu, walaupun tidak perlu tinggi hati. Kalau sekiranya ada bahaya mengancam, sebut nama julukan ayahmu dan nama julukanku, mungkin dapat menolongmu."

"Baik, Ibu. Aku akan selalu ingat akan nasihat Ayah dan Ibu."

Tiga hari kemudian, Yo Han Li berangkat meninggalkan Thian-li-pang yang berpusat di Bukit Naga itu dan turun gunung untuk memulai dengan perantau"annya.

Ia membawa sebuah buntalan pakaian dan sekantung uang.

Tidak lupa ia membawa pula sebatang pedang pemberian ayahnya yang selalu dipakainya untuk berlatih silat pedang.

Ayah dan ibunya mengantar puteri mereka sampai keluar pintu gerbang.

Bagaimanapun juga, kedua orang tua ini mengkhawatirkan puteri mereka yang merupakan anak tunggal.

Mereka tahu bahwa justeru kecantikan gadis itu yang akan banyak mendatangkan gangguan pada puteri mereka.

Yo Han Li yang berusia delapan belas tahun itu memang cantik.

Wajahnya mirip dengan ibunya.

Mukanya bulat telur kulitnya putih mulus, mata agak lebar dan hidungnya mancung, mulutnya selalu tersenyum agak menengejek dan dihias lesung pipit di pipi kiri.

Tubuhnya sedang dan ramping.

Ia berpakaian sederhana, dari sutera berwarna biru dan kuning, sepatunya dari kulit berwarna hitam.

Ia membawa pedang di pinggangnya dan buntalan pakaiannya berada di punggungnya.

Apa yang dikhawatirkan ayah ibu gadis itu ternyata terbukti, bahkan baru sehari setelah gadis itu meninggalkan rumahnya.

Sore itu tibalah ia di sebuah bukit yang masih bertetangga dengan Bukit Naga.

Dari bukit itu, kalau ia menoleh, ia akan melihat Bukit Naga yang dari situ nampak memanjang dan berlekuk-lekuk, seperti tubuh seekor naga dan karena bentuknya itulah maka bukit itu disebut Bukit Naga.

Ketika Han Li sedang melangkah maju dengan cepat untuk mencari dusun di mana ia boleh melewatkan malam, tiba-tiba muncul dua belas orang laki-laki yang kelihatan kasar.

Pakaian mereka tidak karuan dan sikap mereka kasar sekali, mata mereka liar dan bengis, dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar yang muka codet, yaitu terdapat cacat bekas goresan senjata pada pipi kirinya.

Melihat seorang gadis berjalan seorang diri, dua belas orang itu tertawa senang dan si muka codet itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, sungguh tidak kusangka di tempat sesunyi ini terdapat seorang nona yang cantiknya seperti bidadari! Eh, Manis, engkau siapakah dan hendak pergi ke mana?"

Han Li belum pernah bertemu dengan orang-orang macam itu, akan tetapi ia sudah mendengar banyak cerita tentang orang-orang kasar yang biasanya menjadi perampok dari ibu dan ayahnya.

Maka kini ia pun dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan segerombolan perampok.

"Aku seorang gadis perantau yang hendak mencari dusun di depan sana. Harap kalian tidak menghalangiku pergi."

"Ha-ha-ha, untuk apa mencari dusun? Kalau hanya hendak melewatkan malam, ikutilah bersama kami dan kita bersenang-senang. Kami mempunyai banyak arak dan kami telah menangkap beberapa ekor lembu dari dusun yang kami lewati. Kita berpesta pora. Mari, Nona!"

Katanya dan tangan si codet itu sudah dijulurkan ke depan untuk merangkul pinggang yang ramping itu.

Dengan cepat Han Li sudah menangkah mundur.

Pandang matanya mencorong ketika ia berkata, suaranya masih lembut namun mengandung ancaman.

"Sudah kukatakan, harap jangan halangi dan ganggu aku atau kalian akan menyesal nanti!"

"Ehhh? Engkau mengancam kami?"

"Ho-ho-ho-ha-ha, agaknya karena engkau membawa pedang engkau dapat mengancam kami?"

"Menyerahlah, Nona, dan aku akan bersikap manis padamu. Kalau engkau berkeras, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan menangkapmu!"

"Hemmm, sombongnya! Boleh kau coba kalau engkau mampu menangkap aku!"

Kata Han Li dan seluruh urat syaraf di tubuhnya siap untuk menghadapi penyerangan lawan.

"Heiii, kalian dengar, kawan-kawan? Ia menantangku, ha-ha-ha!"

Semua anak buah juga tertawa.

"Jangan sampai ia terluka, sayang kalau sampai terluka, Toako! Jangan sampai kulit yang putih mulus itu lecet!"

"Ha-ha-ha, sekali ringkus saja ia pun akan berada dalam pelukanku. Kalian lihat saja!"

Tiba-tiba si codet menubruk dengan amat cepatnya, kedua lengan yang panjang dikembangkan dan jari-jari kedua tangannya menyambar ke depan untuk menerkam Han Li.

Namun dengan lincah dan mudah saja Han Li menyelinap dan mengelak dari terkaman itu.

Ia melihat bahwa lawannya itu hanya seorang yang mengandalkan kekuatan otot saja dan gerakannya terlalu lamban baginya.

Begitu mengelak, ia sudah menyelinap ke belakang si codet dan sekali kaki kirinya bergerak, sepatu hitamnya sudah menendang pantat si codet sehingga tubuh tinggi besar itu jatuh tersungkur!

Semua anak buah kaget bukan main melihat betapa pimpinan mereka tertendang roboh oleh gadis itu hanya dalam segebrakan saja.

Akan tetapi si codet menjadi penasaran dan marah sekali karena malu.

Dia merangkak bangun kemudian menghadapi Han Li dengan muka bengis dan kemerahan, kedua tangannya dibuka seperti cakar harimau dan tanpa banyak cakap lagi kini dia menyerang dengan pukulan dan tamparan.

Sepak terjangnya ganas dan liar seperti seekor harimau.

Namun bagi Han Li gerakan itu terasa amat lambat sehingga amat mudah baginya untuk mengelak ke kanan kiri dan setelah mendapatkan kesempatan, tangan kirinya menampar, kini mengenai leher si codet yang kembali terpelanting roboh dan sekali ini agak lambat dapat bantuan.

Kepalanya terasa pening dan lehernya terasa seperti patah!

Akan tetapi hajaran kedua kali itu agaknya tidak membuat kepala gerombolan perampok itu jera.

Dia bahkan mencabut golok besarnya dari pinggang dan memutar-mutar golok itu di atas kepala dengan sikap mengancam.

Dia tidak lagi menyayang gadis cantik itu dan kalau perlu akan disembelihnya untuk meredakan kemarahannya.

Melihat cara orang mencabut golok dan memutar-mutar di atas kepalanya, tahulah Han Li bahwa orang ini hanya memiliki ilmu silat biasa saja, maka ia pun tidak mau mencabut pedangnya.

Ia siap menghadapi serbuan orang bergolok itu dengan tangan kosong saja.

Bocah setan, mampuslah kau sekarang!

bentak si codet dan dia sudah menyerang dengan ganasnya.

Goloknya berayun dari kanan ke kiri membabat ke arah leher Han Li.

Dengan menundukkan kepala Han Li sudah mengelak.

Golok lewat menyambar di atas kepalanya, lalu membalik menyambar dari kiri ke kanan membabat pinggangnya!

Dengan geseran kaki ke belakang kembali Han Li membiarkan golok itu lewat.

Setelah dua kali tacokannya dapat dielakkan lawan, si codet menjadi semakin penasaran.

"Hyaaaaattt....!"

Dia berteriak nyaring dan kini goloknya menusuk ke arah perut gadis itu.

Han Li menggeser kaki ke kiri dan ketika golok itu lewat dekat perutnya, ia melangkah maju dan secepat kilat tangannya menampar, kini dengan tenaga lebih dan tamparan tangannya menghantam bawah leher kepala perampok itu.

"Plakkk.... ughhhhh....!"

Tubuh itu terbanting keras dan tidak dapat bangun kembali.

Tamparan tadi amat hebatnya dan membuat kepalanya seperti remuk, bumi berputar dan matanya menjadi juling.

Sebelas orang anak buahnya melihat betapa pimpinan mereka roboh segera mencabut golok masing-masing dan dengan teriakan-teriak dahsyat mereka menyerbu dan mengeroyok Han Li yang bertangan kosong dari berbagai jurusan.

Akan tetapi mereka terkejut bukan main.

Gadis yang tadi berada di tengah-tengah mereka tiba-tiba.

melayang ke atas dan sudah berada di belakang mereka.

Mereka membalik, akan tetapi dua kali kaki Han Li melayang dan dua orang di antara mereka roboh.

Han Li mengamuk di antara pengeroyokan gerombolan itu dan membagi-bagi tendangan dan tamparan tangannya yang ampuh.

Dalam waktu beberapa menit saja dua belas orang itu sudah jatuh bangun dan akhirnya, dipimpin oleh si codet, mereka melarikan diri seperti sekawanan monyet melihat singa betina mengamuk.

Han Li tersenyum geli dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya, mengebutkan pakaiannya agar bebas dari kotoran debu, kemudian ia pun melanjutkan perjalanan seperti tak pernah terjadi sesuatu.

Ia sudah mendapatkan pengalaman yang menarik dan ia sudah memenuhi pesan ayah ibunya, yaitu menentang kejahatan dan tidak sembarangan membunuh orang.

Kalau ia menghendaki, kiranya tidak sukar baginya untuk membunuh semua lawan tadi.

Han Li melanjutkan perjalanannya.

Yang dituju adalah ke kota raja.

Ia sudah mendapat keterangan dari ayah ibunya di manakah adanya kota raja, dan ia ingin sekali melihat kota yang besar dan indah itu.

Sudah banyak ia mendengar tentang keindahan kota raja, namun belum pernah ia melihatnya.

Dengan cepat ia menuruni lereng bukit itu menuju ke sebuah dusun yang dilihatnya dari lereng bukit tadi dan mencari tempat untuk bermalam di dusun itu.

Sepasang suami isteri petani yang sederhana dengan senang hati memberikan kamar mereka untuk Han Li yang menyewanya.

Beberapa pekan telah lewat tanpa ada halangan sesuatu yang mengganggu perjalanan Yo Han Li.

Pada suatu pagi tibalah ia di tepi Sungai Kuning di daerah Propinsi Shansi.

Niatnya akan pergi ke kota Tai-goan dan dari sana terus ke kota Peking.

Ia berjalan menyusuri sungai besar itu untuk mencari tumpangan perahu yang akan dapat menyeberangkannya.

Akan tetapi tepi di mana ia tiba itu sunyi, tidak ada dusun nelayan di situ.

dan perahu-perahu yang sedang berlayar itu berada di tengah sungai sehingga ia tidak dapat menghubungi mereka.

Tiba-tiba ia melihat seorang kakek sedang memancing ikan.

Kakek itu duduk di atas sebongkah batu di tepi sungai dan memegangi tangkai pancing dari batang bambu kecil, matanya penuh perhatian memandang joran pancingnya.

Memang itulah nikmatnya seorang pemancing ikan.

Memperhatikan joran pancingnya dengan penuh harapan dan begitu joran pancingnya bergerak, begitu tangan yang memegang tangkai pancing itu merasakan sentakan, itu tandanya umpan disambar ikan dan pada saat yang tepat menggerakkan tangkai pancingnya ke atas agar pancing dapat menusuk mulut ikan!

Han Li tidak mengerti tentang seni memancing ikan.

Kalau pemancing ikan sedang mencurahkan segenap perhatian kepada joran pancingnya, dia sama sekali tidak boleh ditegur atau diganggu.

Karena tidak tahu, Han Li menghampiri kakek itu dari belakang dan bertanya.

"Kakek yang baik, tahukah engkau di mana aku bisa menyewa perahu untuk menyeberangkan aku?"

Kakek yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada joran pancingnya dan melupakan segala yang berada di sekelilingnya itu terkejut dan marah.

"Apakah engkau tidak melihat bahwa aku sedang memancing?"

Bentaknya tanpa menoleh. Han Li terkejut.

"Maafkan kalau aku mengganggu. Kalau engkau dapat memberi keterangan padaku di mana aku dapat menyewa perahu, biarlah aku beri sedikit uang agar engkau dapat membeli ikan, daripada susah payah memancing."

Tapi kakek itu menjadi lebih marah lagi.

"Aku tidak butuh ikannya! Aku membutuhkan ketenangan memancingnya. Kalau aku ingin ikan, tidak usah beli dan menangkap ikan apa sih sukarnya? Kau lihat!"

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan ujung tangkai pancing-nya ke dalam air seperti orang menusuk dengan tombak dan ketika dia mengangkat tangkai pancing itu....

di ujung tangkai dari bambu itu sudah tertusuk seekor ikan besar yang menggelepar-gelepar.

Han Li terkejut sekali.

Ia maklum bahwa kakek ini seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia memberi hormat dan berkata.

"Harap Locianpwe suka memaafkan kalau aku sudah mengganggu ketenangan Locianpwe."

"Enak saja mengganggu ketenangan, engkau bahkan sudah menghilangkan seleraku mancing!"

Kakek itu melemparkan ikan dan tangkai pancingnya ke air lalu membalikkan tubuhnya sambil melompat berdiri.

Ternyata kakek itu gemuk dan pendek sekali masih kalah tinggi dibandingkan Han Li.

Wajahnya seperti kanak-kanak, telinganya lebar dan matanya kemerahan.

Wajah itu mendatang-kan rasa ngeri dalam hati Han Li.

Ketika kakek itu melihat Han Li, matanya terbelalak dan mulutnya menyeringai.

"Aha, kiranya yang menggangguku adalah seorang gadis yang cantik jelita. Nona, engkau ini manusia ataukah penunggu sungai ini?"

Dalam ucapan dan pandang mata itu terkandung keceriwisan seorang yang mata keranjang, maka Han Li lalu memutar tubuhnya hendak pergi dari situ tanpa men-jawab pertanyaan tadi.

Akan tetapi ketika ia memutar tubuh dan melangkah, tiba-tiba ada bayangan orang melewatinya dan tahu-tahu kakek itu telah berdiri di depannya.

"Ho-ho-ho, nanti dulu, Nona. Engkau sudah menggangguku dan hendak pergi begitu saja. Tidak bisa, tidak boleh! Engkau harus dihukum untuk gangguanmu tadi."

"Locianpwe, atas kesalahan itu aku telah minta maaf dan bersedia mengganti kerugianmu. Harap Locianpwe tidak menghalangiku dan biarkan aku melanjutkan perjalananku."

"Ha-ha-ha, enak saja! Orang yang sudah menggangguku selagi memancing, seharusnya dihukum mati. Akan tetapi melihat engkau begini cantik, biarlah hukuman itu kuubah. Engkau tidak akan kuhukum mati, melainkan harus menjadi pelayanku selama satu minggu!"

"Engkau keterlaluan, Locianpwe. Aku tidak mau menjadi pelayanmu walau hanya sehari, apalagi seminggu."

"Hemmm, keputusan hukumanmu tidak dapat diubah lagi. Mau atau tidak engkau harus menjadi pelayanku selama semingu."

"Aku tidak sudi dan harap jangan halangi aku pergi!"

Kata Han Li dengan marah dan ia lalu membalikkan tubuh lagi untuk meninggalkan kakek pendek gemuk itu.

Akan tetapi kembali ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu telah berada di depannya lagi, mengembangkan kedua tangannya sambil menyeringai.

"Engkau tidak boleh pergi sebelum aku membebaskanmu!"

Katanya.

Han Li menjadi marah sekali.

Dengan tangan kirinya ia mendorong pundak kakek itu sambil mengerah-kan tenaga sinkangnya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tangannya bertemu dengan pundak yang sekokoh baja dan tubuh itu sama sekali tidak tergoyangkan dorongannya!

"Ha-ha-ha, mana bisa engkau menyuruhku pergi!"

Kakek itu mengejek.

Dalam kemerahannya, Han Li lalu menggunakan tangan kanannya untuk menampar dada kakek itu.

Tamparannya ini kuat sekali karena ia mengerahkan, tenaga sin-kang.

"Wuuuuuttt....plakkk!"

Untuk kedua kalinya ia terkejut dan merasa heran.

Tamparan-nya tadi sedemikian kuatnya sehingga akan mampu menghancurkan sebongkah batu.

Akan tetapi ketika mengenai dada kakek itu, pukulannya tidak berarti sama sekali, tenaga sinkangnya seperti tenggelam dan hilang sendiri.

Ini hebat!

Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek sakti yang agaknya berniat jahat terhadap dirinya, Han Li lalu menyerang dengan ilmu silat Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah) yang dipelajari dari ibunya!

Kakek itu pun mengeluarkan seruan heran dan tubuhnya demikian cepatnya mengelak ke sana sini, lalu dia berseru sambil meloncat ke belakang.

"Hei, bukankah ini Ang-ho Sin-kun? Apa hubunganmu dengan Si Bangau Merah?"

Han Li merasa bangga bahwa kakek ini mengenal ilmu silat ibunya.

"Beliau adalah ibu kandungku!"

"Ho-ho-ho, kebetulan sekali, tidak dapat menghajar ibunya, anaknya pun boleh mewakilinya. Nah, sekarang hukumanmu ditambah lagi. Engkau harus menjadi pelayanku selama satu bulan penuh. Tidak boleh ditawar-tawar lagi dan kelak engkau boleh bercerita kepada Si Bangau Merah bahwa engkau pernah menjadi pelayan-ku selama satu bulan! Ha-ha-ha!"

"Kakek yang sesat! Kalau ayahku mengetahui hal ini, engkau tentu akan dihajar sampai setengah mampus! Ayah kandungku adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han!"

"Ha-ha-ha, aku sudah tahu karena aku mendengar bahwa Si Bangau Merah telah menikah dengan Si Tangan Sakti. Karena itu, sampai hari ini perasaan penasaran di hatiku kupendam saja. Dan sekarang engkau muncul tanpa kusangka-sangka. Biarlah rasa penasaran ini kutumpahkan kepadamu!"

"Apa kesalahan ibuku sehingga engkau hendak membalas dendam melalui penghinaan atas diriku?"

"Dulu, di waktu mudanya, Si Bangau Merah pernah mencampuri urusanku dan membikin malu sehingga belasan tahun aku tidak ada muka untuk muncul di dunia kang-ouw. Akan tetapi sekarang, ha-ha-ha, biar ia dibantu suaminya, aku tidak akan merasa gentar. Nah, hayo cepat berlutut dan beri hormat kepada majikanmu!"

"Aku tidak sudi!"

Jawab Han Li.

"Kalau begitu aku akan memaksamu berlutut!"

Kakek itu lalu menggerakkan tangan kirinya ke arah pundak Han Li.

Han Li cepat mengelak, akan tetapi tetap saja merasa pundaknya dilanda angin yang mengandung hawa panas.

Ia meloncat ke belakang dan cepat mencabut pedangnya.

"Kalau engkau tidak menghentikan perbuatanmu, terpaksa pedangku ikut bicara!"

"Ha-ha-ha, pedang mainan kanak-kanak itu kau pakai untuk menakut-nakuti aku? Ha-ha-ha-ho-ho!"

Han Li maklum bahwa kakek ini sudah nekat, maka ia lalu memainkan ilmu silat Koai-liong-kiamsut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang ia pelajari dari ibunya pula.

ilmu pedang ini hebat bukan main, ketika ia menggerakkan pedangnya, pedang itu mengaum-aum seperti seekor singa marah.

Pedangnya ber-kelebatan dan membentuk gulungan sinar pedang yang dahsyat.

Ilmu pedang ini berasal dari Lembah Naga Siluman yang dikuasai oleh Kam Hong.

Kam Hong mengajarkan kepada puterinya, Kam Bi Eng dan Kam Bi Eng menurunkan kepada Tan Sian Li Si Bangau Merah.

Kini Tan Sian Li menurunkan kepada puterinya, Yo Han Li.

Sebetulnya, ilmu pedang ini merupakan gabungan ilmu pedang dan ilmu silat suling dan biasanya Tan Sian Li memainkannya dengan sebatang suling berselaput emas.

Akan tetapi Yo Han Li tidak suka menggunakan suling maka oleh ibunya lalu diganti pedang.

Biarpun dengan pedang ilmu itu menjadi Ilmu Pedang Naga Siluman namun unsur-unsur ilmu Suling Emas masih terkandung di dalam-nya, maka kehebatannya luar biasa.

Kakek itu berilmu tinggi karena sesungguhnya dia adalah seorang tokoh datuk selatan yang berjuluk Lam-hai Koai-jin (Orang Aneh Laut Selatan).

Biarpun usianya sudah enam puluh tahun namun wajahnya seperti kanak-kanak dan wataknya keras, Bahkan dia mempunyai watak mata keranjang pula.

Melihat Han Li yang demikian cantiknya, timbul nafsunya dan ingin dia mempermainkan gadis itu.

Apalagi ketika mendengar bahwa gadis itu puteri Si Bangau Merah, nafsunya makin menjadi.

Dahulu, dua puluhan tahun yang lalu, ketika dia masih bertualang di selatan, pernah dia bertemu dengan Si Bangau Merah dan hendak mempermainkannya, akan tetapi dia dikalahkan oleh pendekar wanita itu.

Maka, kini dia hendak membalas dendamnya kepada puteri musuh besarnya itu.

Namun, menghadapi permainan pedang Han Li, kakek itu menjadi sibuk dan kewalahan juga.

Setelah berloncatan mundur dan ke kanan kiri untuk mengelak, akhirnya dia menyambar tangkai pancingnya dan dengan senjata istimewa ini dia melakukan perlawanan.

Tangkai pancing dari bambu itu bersiutan menyambar-nyambar dan dapat dipergunakan untuk menangkis pedang lawan tanpa khawatir patah atau putus.

Juga tangkai pancing itu lebih panjang dari pedang sehingga kakek itu lebih leluasa menyerang Han Li.

Gadis ini terkejut bukan main.

Ia memang sudah menduga bahwa kakek itu lihai sekali, akan tetapi sama sekali tidak mengira, bahwa dengan tangkai pancing bambu seperti itu kakek itu mampu melawan bahkan mendesaknya!

Ujung tangkai itu kini menyerang dengan totokan-totokan ke arah jalan darahnya.

Selain itu, juga tangkai pancing itu berputar-putar seperti dayung lebar dan ujungnya seperti seekor lebah yang mengancam kepala dan lehernya.

Pada saat yang amat gawat bagi Han Li, tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh-kekeh.

"Heh-heh-heh, datuk Lam-hai Koai-jin sekarang telah menjadi seorang pengecut yang menyerang seorang gadis yang pantas menjadi cucunya!"

Mendengar suara tawa ini, kakek itu menahan gerakan tangkai pancingnya dan kesempatan ini dipergunakan oleh Han Li yang sudah terdesak itu untuk melompat ke belakang.

Ternyata yang datang dan tertawa itu adalah seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun, tubuhnya tinggi kurus seperti orang kurang makan, pakaiannya juga penuh tambalan walaupun bersih dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu.

Dari pakaiannya saja sudah dapat diduga bahwa kakek ini seorang pengemis.

Rambutnya sudah putih semua dibiarkan tergantung di sekeliling pundak dan lehernya.

Melihat pengemis tua ini, Lam-hai Koai-jin terkejut.

dan segera mengenalnya.

"Lu Tong Ki, gembel tua bangka busuk, mau apa engkau mencampuri urusanku? Gadis ini telah mengganggu aku yang sedang enak-enak memancing ikan,maka perlu kuberi hukuman. Bukankah itu sudah adil?"

"Memang adil, heh-heh-heh. Akan tetapi bagaimana caranya gadis ini mengganggumu dan hukuman apa yang hendak kau berikan kepadanya?"

"Ia mengganggu ketenanganku memancing ikan."

"Dia bohong, Kek!"

Han Li cepat berkata.

"Aku hanya menghampiri dia dan bertanya di mana aku bisa mendapatkan tukang perahu untuk menyeberangkan aku ke seberang sana. Tahu-tahu dia marah dan menyerangku!"

"Heh-heh-heh, dan hukuman apa yang akan kau berikan kepada Nona ini, Koai-jin?"

"Aku hanya minta agar ia menjadi pelayanku selama beberapa hari...."

"Tidak begitu, Kek. Dia minta aku berlutut di depannya sebagai majikanku dan dia hendak menjadikan aku pelayannya selama satu bulan!"

Kata pula Han Li dengan suara nyaring.

"Wah-wah-wah, ini sudah keterlaluan sekali namanya. Tidak malukah engkau, Koai-jin, menghina dan mengganggu seorang gadis muda seperti itu?"

"Kai-ong (Raja Pengemis), jangan engkau usil dan mencampuri urusanku atau terpaksa aku harus menghajarmu pula!"

Kakek yang bernama Lu Tong Ki yang berjuluk Kai-ong itu tertawa panjang.

"Heh-heh-heh-heh-heh! Engkau hendak menghajarku? Sejak kapan engkau berani mengeluarkan kesombongan seperti itu? Dan bagaimana engkau hendak menghajarku? Dengan apa?"

"Dengan ini!"

Lam-hai Koai-jin berteriak marah sambil menggerakkan tangkai pancingnya.

Kalau tadi ketika melawan Han Li dia menggenggam pancingnya sehingga pancing itu tidak akan melukai Han Li, sekarang dia melepaskan pancingnya sehingga ketika dia menyerang, pancing berupa kaitan besi kecil menyambar dahsyat ke arah muka Kai-ong.

Akan tetapi Lu Tong Ki bersikap tenang sekali.

Begitu pancing itu menyambar dekat, tongkat bambu di tangannya bergerak.

"Trakkk!"

Pancing itu terpental ketika tertangkis tongkat bambu itu dan selanjutnya kedua kakek itu saling menyerang dan tubuh mereka berkelebatan dengan cepat sekali.

Bagi orang biasa yang melihatnya, tentu tidak akan mampu mengikuti gerakan, mereka karena dua orang itu seperti berubah menjadi bayang-bayang saja.

Akan tetapi Han Li sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat maka ia dapat mengikuti gerakan mereka dan ia merasa kagum bukan main.

Kedua orang kakek itu mempergunakan kecepatan gerakan mereka untuk memperoleh kemenangan dan agaknya dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) keduanya seimbang.

Sinar tongkat bergumul dengan sinar tangkai pancing sedangkan pancingnya sendiri sudah sejak tadi putus talinya.

Karena tidak mampu menang dalam hal kecepatan gerakan, Lam-hai Koai-jin lalu memperlambat gerakannya dan kini dia menggerakkan tangkai pancingnya dan juga menggerakkan tangan kirinya yang terisi penuh tenaga sin-kang.

Melihat ini, Lu Tong Ki juga mengimbangi lawan dan dia pun mengerahkan tenaga sin-kang untuk menandingi pukulan Koai-jin.

Mereka ini saling pukul dan suara pukulan mereka menderu-deru, membuat pohon-pohon di sekeliling mereka bergoyang dan daunnya runtuh berguguran.

Dengan penasaran sekali Koai-jin melempar tangkai pancingnya dan kini tubuhnya berjongkok.

Tubuh yang pendek itu berjongkok sampai pantatnya hampir menyentuh tanah dan dalam keadaan berjongkok itu dia memukulkan kedua tangannya yang terbuka ke depan, dan dari dalam mulutnya terdengar suara "kok-kok-kok!"

Nyaring sekali.

Han Li merasa geli karena sikap dan suara Koai-jin seperti seekor katak besar yang menggembung perutnya.

Akan tetapi agaknya Kai-ong tidak memandang rendah serangan seperti katak besar ini.

Dia pun menancapkan tongkatnya ke atas tanah, menekuk kedua lututnya dan dia juga mendorongkan kedua tangannya untuk menyambut serangan lawan.

Jarak di antara mereka ada dua meter, akan tetapi ketika dua tenaga dahsyat itu bertemu, Han Li merasa ada getaran hebat melanda dirinya sehingga ia cepat duduk bersila dan mengarahkan sin-kang agar jangan sampai terluka.

Ia melihat betapa kedua orang kakek itu tergetar, akan tetapi tubuh Koai-jin terpental dan bergulingan ke belakang sedangkan tubuh Kai-ong hanya bergoyanggoyang saja.

Lam-hai Koai-jin terpental masuk ke dalam sungai.

Terdengar suara berjebur dan tubuhnya lenyap ditelah air.

Han Li cepat berlari ke tepi sungai dan melihat.

Ternyata tubuh itu tidak tersembul kembali.

"Ah, dia mati Kek....?"

Tanyanya kepada Kai-ong yang juga sudah berdiri di dekatnya memandang ke air sungai yang dalam itu. (Lanjut ke

Jilid 10) Pusaka Pulau Es (Seri ke 17 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10

"Heh-heh-heh, dia mati? Hemmm, agaknya engkau belum mengenal siapa Lam-hai Koai-jin. Dia datuk besar Laut Selatan, bagaimana bisa mati tercebur ke dalam sungai? Tidak, saat ini dia pasti sudah muncul jauh dari sini, entah berapa jauhnya karena ketika tercebur tadi, dia menyelam. Dia memang seekor katak buduk besar yang lihai!"

"Ahhh....!"

Gadis itu berseru kagum.

"Akan tetapi engkau telah dapat mengalahkannya, Locianpwe!"

Han Li menyebut locianpwe untuk menghormati kakek pengemis yang ternyata amat sakti itu.

"Heh-heh-heh, jangan sebut aku Locianpwe atau aku tidak akan sudi bicara denganmu. Namaku Lu Tong Ki, sebut saja aku kakek atau Kai-ong karena memang itu julukanku jelek-jelek aku ini raja lho, walaupun hanya raja pengemis, heh-heh-heh!"

"Baiklah, aku akan menyebutmu Kakek atau Kai-ong. Aku berterima kasih sekali kepadamu, Kakek, karena kalau engkau tidak datang mengusir Katak Buduk itu, entah apa jadinya dengan diriku."

Kai-ong menggeleng-geleng kepalanya dan mulutnya mengeluarkan suara "Tak, Tak, Tak, Engkau tentu akan celaka sekali!

Katak Buduk itu memang jahat, orang yang paling jahat di selatan dan sampai tua tetap saja dia mata keranjang dan jahat sekali.

Akan tetapi aku melihat ilmu pedangmu hebat sekali, dan ilmu pedang seperti itu setahuku hanyalah Koai-liong-kiam-sut.

Benarkah demikian?"

"Pandanganmu tajam sekali, Kek. Memang benar aku tadi memainkan Koai-liong Kiam-sut."

"Aha! Kalau begitu, apa hubungannya dengan Lembah Naga Siluman? Bukankah ilmu itu milik Pendekar Suling Emas dan Naga Siluman, Locianpwe Kam Hong?"

"Beliau adalah kakek buyutku, Kek."

Raja Pengemis itu nampak girang bukan main.

"Kalau begitu engkau tentu puteri Si Bangau Merah dan Pendekar Tangan Sakti, bukan?"

"Benar sekali."

"Heh-heh-heh, pantas saja Katak Buduk tadi hendak menghinamu karena aku mendengar dia pernah dikalahkan ibumu."

"Dia juga mengatakan demikian tadi, Kek."

"Engkau hendak ke manakah dan siapa pula namamu?"

"Namaku Yo Han Li, dan aku sedang dalam perjalanan menuju ke kota raja. Aku tadi mencari tukang perahu untuk menyewa perahunya menyeberangi sungai ini."

"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku pun hendak ke kota raja, sudah terlalu lama aku tidak menikmati masakan di dapur istana. Dan aku mempunyai sebuah perahu kecil. Tuh di sana perahuku. Han Li, maukah engkau menyeberang bersamaku dan melakukan perjalanan bersamaku ke kota raja?"

"Tentu saja aku mau, Kek. Akan tetapi...."

Ia memandang pakaian kakek itu.

"Aku tidak mau kalau kau ajak mengemis. Aku membawa bekal uang cukup banyak."

"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Biarpun pengemis, aku ini rajanya, tahu? Mana ada seorang raja mengemis!"

"Akan tetapi pakaianmu itu, Kek. Penuh tambalan. Biar nanti kubelikan pakaian yang lebih pantas untukmu."

"Oho, kau kira yang kupakai ini pakaian apa? Ini adalah pakaian kebesaranku sebagai Raja Pengemis, tahukah engkau? Biar ditukar dengan pakaian kaisar sekalipun, aku tidak akan mau. Dan di dalam buntalan ini masih ada beberapa stel pakaian kebesaran. Jangan khawatir, aku setiap hari mandi dan bertukar pakaian. Biar pengemis, aku bukan pengemis busuk, heh-heh-heh!"

Wajah Han Li berubah kemerahan.

"Aku pun tidak mengatakan engkau demikian, Kek. Akan tetapi, orang melakukan perjalanan harus ada hubungannya. Sedangkan aku tidak mempunyai hubungan apa pun denganmu. Bagaimana kalau aku menyebut suhu dan menjadi muridmu? Sebagai suhu dan muridnya, tentu tidak aneh melakukan perjalanan bersama."

Kakek itu tertawa dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Han Li.

"Gadis cerdik, engkau ingin aku mengajarkan ilmu silat kepadamu? Bagaimana kalau kelak Pendekar Tangan Sakti dan Si Bangau Merah mengetahui? Tentu mereka akan menjadi marah kepadaku."

"Tidak, aku jamin. Kalau orang tuaku bertanya, aku akan mengaku bahwa akulah yang ingin menjadi muridmu, bukan engkau yang minta aku menjadi muridmu."

"Heh-heh-heh, engkau memang cerdik sekali."

Melihat kakek itu tidak membantah lagi, Yo Han Li lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek iti sambil menyebut "suhu".

Lu Tong Ki segera membangunkan Han Li.

"Sudahlah, tidak perlu banyak memakai peradatan. Aku memang suka menerimamu menjadi murid. Engkau puteri sepasang pendekar besar dan engkau berbakat sekali. Akan tetapi, yang dapat menandingi ilmu-ilmumu hanya sebuah saja padaku, yaitu Ta-kwi-tung (Tongkat Pemukul Iblis). Itulah yang akan kuajarkan kepadamu sambil melakukan perjalanan ke kota raja."

"Terima kasih, Suhu."

"Nah, sekarang mari kita seberangi sungai ini, Han Li."

Kata kakek itu sambil meloncat ke dalam sebuah perahu kecil yang berada di pantai.

Kiranya kakek itu tadi datang berperahu.

Han Li juga menyusul Lu Tong Ki meloncat kedalam perahu.

Kalau tadi ketika kakek itu meloncat, perahu sama sekali tidak bergoyang seolah yang hinggap di perahu itu hanya seekor burung.

Akan tetapi ketika Han Li meloncat, perahu itu bergoyang sedikit.

Ini saja menunjukkan bahwa dalam hal gin-kang, kakek itu telah memiliki ilmu yang tinggi sekali.

Karena perahu itu hanya mempunyai sebuah dayung, Han Li lalu meminta dayung itu dari gurunya dan sebagai seorang murid yang baik, ialah yang mendayung perahu itu menyeberang ke pantai timur.

Lu Tong Ki tidak membantah dan membiarkan muridnya mendayung perahu itu.

Perahu meluncur dengan cepatnya karena Han Li mengerahkan sin-kang untuk mendayung perahu itu.

Ketika perahu itu tiba di seberang sungai, dari perahu mereka dapat melihat seorang wanita berpakaian putih sedang dikeroyok oleh belasan orang yang memegang pedang.

Wanita itu bersenjatakan sabuk sutera putih dan gerakan-nya ringan seperti seekor burung bangau putih.

Namun, belasan orang pengeroyoknya itu membentuk barisan pedang yang lihai sekali sehingga wanita itu agaknya berada dalam keadaah berbahaya dan ke manapun ia bergerak, selalu ia bertemu dengan pedang para pengeroyok yang sudah mengepungnya dengan barisan yang teratur rapi.

Kai-ong Lu Tong Ki berkata kepada Han Li.

"Han Li, kalau melihat perkelahian itu, apa yang akan kau lakukan? Kau hendak membantu pihak yang mana?"

Han Li berdiri di perahu dan memandang sejenak.

"Aku akan melerai dan menegur belasan orang yang mengeroyok seorang wanita itu, Suhu. Kalau mereka tidak mau menurut, tentu aku akan membantu wanita itu. Ia amat lihai, akan tetapi para pengeroyoknya menggunakan barisan yang amat kuat."

"Engkau benar dan lakukanlah!"

Kata kakek pengemis itu sambil tersenyum.

Mendengar ucapan gurunya, Han Li segera melompat ke darat dan lari menghampiri mereka yang sedang bertanding.

Han Li telah mencabut pedangnya dan menerjang para pengeroyok sambil berseru.

"Tahan senjata!"

Dua orang pengeroyok yang pedangnya bertemu dengan Han Li terkejut karena pedang mereka terpental, hampir terlepas dari pegangan.

Yang lain lalu berhenti mengeroyok gadis berpakaian putih yang bukan lain adalah Souw Cu In itu.

"Berhenti dulu!"

Kata Han Li sambil memandang kepada Cu In.

"Kalian ini belasan orang laki-laki mengapa mengeroyok seorang wanita? Itu curang namanya!"

"Siapa kau berani mencampuri urusan kami?"

"Tidak peduli aku siapa akan tetapi kalau melihat kecurangan aku tidak akan tinggal diam. Kalau kalian ini bertanding satu lawan satu aku tentu tidak akan campur tangan."

"Perempuan ini lancang. Hajar saja!"

Terdengar teriakan mereka dan kembali mereka bergerak dengan teratur dan menggerakkan pedang untuk menyerang, sekali ini bukan hanya Cu In yang dikeroyok, akan tetapi juga Han Li.

Han Li menggerakkan pedangnya dan Cu In menggerakkan sabuk suteranya.

Gerakan kedua orang gadis ini begitu hebatnya sehingga barisan pedang itu mulai menjadi kacau.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan semua pengeroyok mengundurkan diri mendengar bentakan ini dan di situ telah muncul seorang kakek berusia enam puluhan tahun yang memegang sebatang tongkat dan mendatangi tempat itu dengan terpincang-pincang.

Ternyata kaki kiri kakek ini timpang sehingga jalannya terpin-cang-pincang.

Melihat kakek itu, Cu In terkejut karena dia mengenal kakek itu sebagai Toat-beng Kiam-sian Lo Cit yang amat lihai itu.

Baru-baru ini dia dan Keng Han dapat meloloskan diri dari pengeroyokan kakek ini bersama anak buahnya.

Tadi ketika dia menyeberangi sungai dan di daratan timur bertemu dengan belasan orang itu yang mengeroyoknya dengan pedang, dia sudah menduga bahwa mereka tentulah anak buah Kwi-kiam-pang.

Agaknya di antara mereka ada yang mengenal ia yang pernah bermusuhan dengan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau!"

Kakek itu menuding ke arah Cu In.

"Sekarang jangan harap engkau akan dapat lolos dari tanganku!"

Berkata demikian kakek itu lalu menggerakkan tongkat pedangnya menyerang Cu In.

Gadis ini mengelak dan Han Li membantu, akan tetapi para anak buah Kwi-kiam-pang sudah maju pula mengeroyoknya.

Serangan Lo Cit terhadap Cu In amat hebatnya sehingga dalam waktu pendek saja Cu In sudah terdesak hebat.

Juga Han Li yang dikeroyok anak buah Kwi-kiam-pang yang mernbentuk barisan telah terdesak.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.

"Ha-ha-ha, Pangcu dari Kwi-kiam-pang ternyata hanyalah seorang pengecut yang mengeroyok dua orang gadis muda!"

Mendengar ucapan itu, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit meloncat mundur untuk melihat.

Ketika melihat seorang kakek berpakaian tambal-tambalan, dia mengerutkan alisnya.

Dia menudingkan tongkat pedangnya ke arah muka pengemis itu dan membentak.

"Bukankah engkau Lu Tong Ki yang di juluki Kai-ong? Mau apa engkau mencampuri urusan pribadiku!"

"Heh-heh-heh, tentu saja aku mencampuri karena yang dikeroyok itu adalah muridku. Bebaskan kedua orang gadis itu dan aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi."

Lo Cit sebetulnya merasa jerih terhadap kakek yang namanya terkenal sekali di antara para datuk itu, akan tetapi dia berbesar hati karena di situ terdapat belasan orang murid-murid utamanya yang sudah pandai membentuk barisan pedang yang amat lihai.

"Kalahkan dulu kami kalau engkau ingin bebas!"

Tantangnya dan dia sudah menggerakkan pedang yang tersembunyi dalam tongkatnya itu untuk menye-rang Kai-ong.

Melihat pimpinan mereka sudah menyerang kakek pengemis yang baru tiba itu, anak buah Kwi-kiam-pang kembali menyerbu ke arah Cu In dan Han Li.

Dua orang gadis itu menggerakkan senjata mereka dan bekerja sama melakukan perlawanan.

Pertempuran antara Lo Cit melawan Kai-ong amat ramai dan hebatnya.

Ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang, hanya Kai-ong memiliki kecepatan yang lebih dari lawannya sehingga serangan tongkatnya membuat Li Cit agak kewalahan.

Biarpun ilmu pedang Lo Cit amat dahsyat, akan tetapi karena gerakannya kalah cepat, dialah yang terdesak.

Sementa-ra itu, setelah kini dibantu Han Li, Cu In mengamuk dan dapat mendesak para pengeroyoknya.

Anak buah Kwi-kiam-pang yang membentuk kiamtin (barisan pedang) mulai kacau dan kocar-kacir diamuk dua orang gadis perkasa itu.

Namun Kai-ong agaknya maklum bahwa kalau datang lebih banyak anak buah Kwi-kiam-pang, tentu keadaan mereka menjadi berbahaya sekali.

Juga dia maklum bahwa Dewa Pedang itu mempunyai anak perempuan dan murid yang lihai.

Kalau mereka datang mengeroyok, kekuatan mereka bertambah dan tentu dia bersama dua orang gadis itu menjadi repot, dia memutar tongkatnya dengan cepat membuat Lo Cit terkejut dan mundur.

"Lo Cit, biarlah lain kali saja kita lanjutkan perkelahian ini, aku masih mempunyai banyak urusan. Han Li dan engkau Nona, mari kita pergi!"

Sebetulnya Han Li dan Cu In merasa heran mengapa orang tua itu mengajak mereka pergi, padahal keadaan mereka tidak kalah, bahkan sedang mendesak lawan.

Akan tetapi Han Li tidak berani membantah perintah gurunya.

"Enci, mari kita pergi!"

Ajaknya kepada Cu In.

Cu In sendiri maklum bahwa tanpa bantuan gadis dan gurunya itu, tentu ia akan celaka di tangan musuh, maka ia pun melompat keluar dari gelanggang perkelahian dan mengikuti Han Li yang sudah melarikan diri bersama gurunya.

Melihat tiga orang itu melarikan diri, Lo Cit yang tahu diri tidak mengejar.

Keadaannya tadi sudah terdesak, jelas kekuatan musuh lebih besar.

Mengejar berarti mencari penyakit, maka dia pun tidak mau mengejar, dan mengajak anak buahnya untuk kembali ke bukit Kwi-san.

Setelah yakin bahwa mereka tidak dikejar, Kai-ong berhenti berlari dan dua orang gadis itu pun berhenti.

Kai-ong tertawa-tawa.

"Heh-heh-heh, baru sekali ini aku berlari-larian seperti orang dikejar anjing!"

"Akan tetapi, Suhu. Kita sama sekali tidak kalah, malah kita mendesak lawan, kenapa Suhu mengajak kami melarikan diri?"

"Benar, Locianpwe, orang-orang Kwi-kiam-pang adalah orang-orang jahat yang perlu dihajar. Kenapa Locianpwe mengajak kami melarikan diri?"

Tanya pula Cu In dengan hati penasaran.

"Heh-heh-heh, kalian tahu. Kalau aku mengajak kalian melarikan diri itu adalah untuk keselamatan kalian! Aku mengenal Kwi-kiam-pang. Selain mereka itu lihai, juga mereka licik dan curang sekali, suka mempergunakan alat-alat rahasia dan jumlah mereka banyak. Kalau yang lain-lain berdatangan, bagaimana aku akan mampu menyelamat-kan kalian. Lebih baik pergi selagi mereka terdesak sehingga mereka tidak berani mengejar, heh-heh-heh!"

"Sudah lama aku mendengar kecerdikan Kai-ong, dan ternyata memang Locianpwe cerdik sekali!"

Puji Cu In.

"Eh? Engkau mengenal nama julukanku?"

"Sudah lama aku mengenalnya, Locianpwe dan hari ini aku beruntung mendapat pertolongan Locianpwe dan Adik ini."

"Enci, tidak ada kata tolong-menolong. Sudah menjadi kewajiban kami untuk turun tangan menentang yang jahat. Enci, namaku Yo Han Li, dan bolehkah kami tahu siapa nama Enci?"

"Hemmm, melihat ilmu pedangmu tadi engkau tentu puteri dari Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan Si Bangau Merah, bukan?"

"Ah, Enci ternyata berpanda-ngan luas dan memiliki banyak pengalaman sehingga mengenal pula ilmu pedangku. Siapakah engkau, Enci yang baik?"

"Namaku Souw Cu In dari Beng-san."

"He-he-heh, engkau dari Beng-san? Melihat sepak terjangmu yang hebat dengan sabuk suteramu, tentu engkau ini murid Ang Hwa Nio-nio. Benarkah?"

Cu In memberi hormat.

"Locianpwe berpandangan luas dan tentu mengenal Subo."

Kai-ong mengerutkan alisnya.

"Hemm, siapa tidak mengenal Ang Hwa Nio-nio dan muridnya Bi-kiam Nio-cu yang tanpa berkedip suka membunuhi orang? Nama mereka terkenal sekali!"

Mendengar ini, Cu In juga mengerutkan alisnya.

Ia sendiri harus mengakui bahwa subonya dan sucinya amat kejam terhadap kaum pria.

Salah sedikit saja tentu akan mereka bunuh!

Ia sendiri tidak demikian dan selalu menentang perbuatan yang kejam itu.

dan karena ini pula ia selalu menyembunyikan mukanya agar tidak dilihat pria dan tidak ada pria yang tertarik kepadanya, agar dia tidak usah menyakiti atau membunuh pria itu.

"Subo dan suci memang tersohor, aku lebih suka tidak dikenal orang."

Katanya perlahan dan suaranya mengandung penyesalan besar.

"Sekarang aku harus pergi, dan sekali lagi terima kasih atas pertolongan Ji-wi (Kalian)!"

Setelah berkata demikian, gadis berpakaian putih itu lalu berkelebat lenyap dari situ. Han Li menghela napas panjang.

"Sayang sekali ia pergi. Aku ingin berkenalan lebih lanjut dan ingin melihat wajahnya, Suhu."

"Ah, sudahlah. Lebih baik ia lekas pergi dan tidak bersama kita agar kita tidak berurusan dengannya. Ia menyembunyikan mukanya tentu bukan tanpa sebab, apalagi kalau mengingat watak suci dan subonya."

"Kenapa suci dan subonya, Suhu?"

"Mereka adalah pembunuh-pembunuh kejam. Kalau ada laki-laki berani menegur atau memuji atau bahkan memandang mereka terlalu lama laki-laki itu tentu akan dibunuhnya! Mereka itu pembenci kaum pria yang sudah hampir gila barangkali!"

"Ahhh....! Akan tetapi aku melihat enci Souw Cu In tadi begitu lemah lembut dan aku yakin dia pasti memiliki wajah yang cantik sekali."

"Hemmm, siapa tahu? Menurut pengalamanku, wanita yang memiliki wajah cantik tentu selalu ingin memamerkan kecantikannya itu, bukan malah disembunyikan di balik cadar. Aku ragu apakah ia memiliki wajah cantik, seperti yang kau duga!"

"Akan tetapi, wajahnya bagian atas demikian indahnya, terutama sepasang matanya. Tidak mungkin kalau dari hidung ke bawah tidak sempurna."

"Sudahlah, bagaimanapun juga, ia hendak menyembunyikan diri di balik cadar. Itu adalah haknya. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan kita."

Guru dan murid ini melanjutkan perjalanan dan makin lama Han Li semakin sayang kepada gurunya.

Gurunya bersikap manis budi, lemah lembut dan mengajarkan ilmu tongkat dengan sungguh-sungguh.

Ia merasa seolah melakukan perjalanan bersama kakeknya sendiri.

Para pendekar dan ketua perkumpulan persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan yang lain-lain merasa heran sekali melihat sikap Thian It Tosu ketua Bu-tong-pai yang secara tiba-tiba begitu bersemangat untuk memberontak terhadap kerajaan Ceng.

Dan yang lebih mengherankan mereka lagi adalah betapa ketua ini sekarang tidak segan untuk bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Bahkan banyak tokoh Bu-tong-pai sendiri merasa heran akan sikap ketua mereka ini.

Akan tetapi karena Thian It Tosu mempunyai alasan yang kuat, yaitu untuk berjuang harus menyatukan segala kekuatan, mereka pun tidak berani membantah.

Pada suatu hari Thian It Tosu memanggil para sute dan muridnya dalam suatu rapat.

Ketua Bu-tong-pai ini masih merasa tidak enak dan tidak sehat badannya sehingga suaranya juga masih parau.

"Pinto merasa tidak sehat dan untuk memulihkan kesehatan, pinto harus beristirahat dan bersamadhi. Selama pinto bersamadhi, tidak seorang pun boleh mengganggu pinto."

Para sute dan murid menyatakan setuju dan tidak akan melang-gar perintah ketua itu. Thian It Tosu yang bertubuh tinggi besar itu menghela napas lega.

"Masih ada satu pesanan lagi. Kalau dalam beberapa hari ini datang seorang pemuda bernama Gulam Sang, harap kalian menerimanya sebagai seorang tamu kehormatan dan melayaninya sebaik-baiknya. Dia adalah seorang tokoh Lama Jubah Kuning yang berilmu tinggi dan dia sudah menjanjikan kerja sama dengan pinto. Para Lama Jubah Kuning akan menjadi sekutu kita dalam perjuangan."

Kembali semua orang menyatakan taat akan pesan itu.

Dan sejak hari itu Thian It Tosu mengurung diri di dalam sebuah ruangan tertutup untuk bersamadhi.

Pesan Thian It Tosu benar terjadi.

Tiga hari kemudian muncullah seorang pemuda gagah dan tampan, bermuka bundar dengan mata lebar, di Bu-tong-pai dan mengaku bernama Gulam Sang.

"Aku bernama Gulam Sang berasal dari Tibet. Aku sudah menerima pesan dari Thian It Tosu untuk bergabung di sini. Dapatkah aku bertemu dengan Thian It Tosu?"

"Ketua kami sedang bersamadhi dan sama sekali tidak boleh diganggu, akan tetapi beliau sudah memesan kepada kami agar menerima Kongcu (Tuan Muda) sebagai tamu terhormat. Silakan Kongcu menanti di sini sampai suhu keluar dari tempat pertapaannya sehingga dapat bertemu dan bicara."

"Ah, tidak mengapa kalau begitu. Memang tidak baik mengganggu pangcu (ketua) yang sedang bersamadhi. Baiklah, aku akan tinggal di sini menunggu sampai beliau keluar dan aku dapat melewatkan waktuku dengan berjalan-jalan menikmati keindahan Pegunungan Bu-tong-pai. Para tosu dan murid Bu-tong-pai diam-diam merasa heran dan tidak senang karena Gulam Sang yang dikatakan seorang tokoh Lama Jubah Kuning itu ternyata minum arak dan makan daging. Ketika Gulam Sang melihat keheranan mereka, dia tertawa dan memberi alasan.

"Dahulu aku memang seorang pendeta Lama yang tentu saja pantang minum arak dan makan daging. Akan tetapi karena sekarang aku menjadi orang biasa, bukan pendeta lagi, maka pantangan itu pun aku tinggalkan."

Dan setiap hari Gulam Sang meninggalkan Bu-tong-pai, setelah hari mulai gelap baru kembali.

Tak seorang pun mengetahui apa saja yang dikerjakan orang aneh ini.

Tiga hari kemudian, Thian It Tosu keluar dari ruangan samadhinya.

Selama tiga hari itu, hanya seorang saja diperbolehkan memasuki ruangan samadhi, yaitu Thian Tan Tosu, seorang sutenya, untuk mengirim makanan.

Tentu saja begitu keluar dari ruangan samadhinya, Thian It Tosu menerima pelaporan tentang kunjungan Gulam Sang.

"Biarkanlah kalau dia pergi setiap hari, karena tentu dia ada hubungannya dengan usaha perjuangan kita. Kalau dia pulang, suruh Thian Tan Tosu mengantarnya memasuki kamar samadhiku. Pinto akan menemuinya di sana."

Tidak lama Thian It Tosu keluar, setelah menerima laporan-laporan, Dia pun masuk lagi ke dalam kamar itu.

Dan sore harinya, Gulam Sang pulang ke Bu-tong-pai.

Para tosu memberitahu kepadanya bahwa Thian It Tosu tadi memesan agar dia diajak masuk ke ruangan samadhi.

Gulam Sang menjadi gembira dan diantar oleh Thian Tan Tosu, dia pun masuk ke dalam ruangan samadhi itu.

Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang mereka bicarakan.

Bahkan Thian Tan Tosu juga tidak tahu karena setelah membawa Gulam Sang masuk, dia pun disuruh keluar lagi.

Sampai jauh malam barulah Gulam Sang keluar dari ruangan itu lalu memasuki kamarnya sendiri.

Pada keesokan harinya, Gulam Sang berpamit dari para tosu karena dia hendak pergi ke kota raja untuk mengadakan kontak hubungan dengan sekutunya di sana.

"Malam tadi hal itu sudah kubicarakan dengan Thian It Tosu dan aku sudah berpamit kepadanya. Kalau beliau keluar, katakan saja bahwa aku sudah berangkat ke kota raja."

Demikian pesannya kepada para tosu Bu-tong-pai.

Dan setelah Gulam Sang berangkat pergi, pada keesokan harinya Thian It Tosu sudah keluar dari kamar samadhinya dan memimpin Bu-tong-pai seperti biasa.

Akan tetapi banyak terjadi hal yang membingungkan para tosu yang lain.

Thian It Tosu seringkali menerima kunjungan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan bahkan tokoh-tokoh dari dunia sesat!

Mereka tidak diijinkan hadir dalam pertemuan itu se-hingga tidak tahu apa yang dibicarakan oleh ketua mereka dengan tokoh-tokoh sesat itu.

Dan para tosu Bu-tong-pai hanya dapat merasa heran dan khawatir.

Pada suatu hari, terjadilah hal yang menggempar-kan para tokoh dan murid Bu-tong-pai.

Hari itu kembali Thian It Tosu menerima beberapa orang Pek-lian-pai.

Menjelang sidang, terdengar suara gaduh dan para tosu yang berlari menuju ke ruangan sidang yang tertutup itu, melihat tubuh seorang tosu terlempar keluar dan ketika mereka semua melihat, ternyata tubuh itu adalah Beng An Tosu yang telah tewas!

Selagi mereka ramai membicarakan hal itu, Thian It Tosu muncul dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Itulah jadinya kalau ada yang lancang berani mengintai dan mendengarkan percakapan kami. Pinto kira yang mengintai itu tentu mata-mata musuh, maka pinto menyerangnya sehingga dia tewas. Kiranya dia adalah sute (adik seperguruan) Beng An Tosu sendiri! Biarlah hal ini menjadi peringatan bagi kalian agar jangan ada yang berani lancang mendengarkan atau mengintai kami!"

Semua anggauta Bu-tong-pai benar-benar merasa heran bukan main.

Beng An Tosu merupakan seorang tosu yang jujur dan setia, bahkan biasanya amat dipercaya oleh Thian It Tosu.

Dan sekarang Beng An Tosu tewas di tangan ketua mereka sendiri!

Mulailah para tosu Bu-tong-pai merasa tidak puas dan menduga bahwa ketua mereka agaknya sudah dipengaruhi oleh para tokoh sesat itu.

Akan tetapi apa yang dapat mereka lakukan?

Pada suatu hari, banyak tamu berdatangan dan berkunjung ke Bu-tongpai.

Mereka disambut oleh Thian It Tosu sendiri.

Kepada para anggauta Bu-tong-pai yang terheran-heran melihat hadirnya para tokoh dan datuk sesat, Thiat It Tosu memperingatkan mereka bahwa untuk berhasilnya perjuangan, dia tidak mempedulikan golongan dari mana yang akan membantunya.

Memang istimewa para tamu yang berdatangan di waktu itu.

Thian-yang-cu dari Bu-tong-pai yang merupakan murid utama dari Thian It Tosu, dan juga Thian Tan Tosu, dipercaya untuk membantu ketua Bu-tong-pai itu menyambut para tamu.

Selain dua orang tosu ini, tidak ada orang lain boleh mencampuri dan hanya menjadi penonton dari jauh saja.

Tokoh-tokoh besar dari dunia persilatan golongan sesat berdatangan.

Koai Tosu tokoh Pat-kwa-pai bersama beberapa orang temannya anggauta Pat-kwa-pai datang lebih dulu.

Kemudian Thian-yang-ji tokoh Pek-lian-pai juga bersama belasan orang kawannya.

Kemudian muncul pula Swat-hai Lo-kwi yang sudah tua dan rambutnya sudah putih semua itu!

Swat-hai Lo-kwi datang bersama Tung-hai Lo-mo yang tidak pernah ketinggalan membawa dayung bajanya.

Bahkan Ban-tok Kwi-ong, datuk sesat dari selatan itu juga muncul.

Mereka semua dipersilakan masuk ke dalam ruangan besar tertutup, mengadakan rapat yang penuh rahasia sehingga anak buah Bu-tong-pai sendiri tidak ada yang boleh mendengarkan.

Thian It Tosu yang memimpin rapat itu nampak bersemangat dan gembira sekali.

Dengan berapi-api dia berkata.

"Saudara sekalian, kita tidak perlu mempedulikan para pejuang yang tidak mau bekerja dengan kita. Setidaknya mereka itu pasti tidak akan membantu pemerintah Mancu."

"Pangcu kapan kita bergerak? Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat hancurnya kerajaan Ceng!"

Kata Swathai Lo-kwi.

"Benar, aku pun sudah siap dengan sedikitnya lima puluh orang teman untuk mulai bergerak menyerang musuh!"

Kata Tung-hai Lo-mo.

"Harap saudara sekalian bersabar. Kita harus sabar dan memakai perhitu-ngan yang masak,"

Kata Thian It Tosu.

"Kalian masih ingat ketika pertemuan dahulu itu? Gadis yang memperingatkan kita agar jangan memberontak itu telah kami selidiki dan ternyata dara itu adalah puteri dari Putera Mahkota!"

"Ahhh....!!"

Semua orang berseru kaget.

"Jangan panik! Karena itu, kita harus berhati-hati karena tentu gadis itu akan bercerita kepada ayahnya dan tentu keadaan kita telah diamati dari jauh dan mungkin pemerintah telah menyebar mata-mata. Kalau kita bergerak, baru mengumpulkan banyak orang saja sudah akan ketahuan dan sebelum kita bergerak, tentu kita akan dipukul lebih dulu, dan kita harus ingat bahwa kekuatan pasukan pemerintah amat besar."

"Lalu bagai-mana kita akan bergerak dan mulai perjuang?"

Tanya Ban-tok Kwiong.

"Sabar! Kita harus menggunakan siasat. Kami perhitungkan, kalau beberapa orang di antara kita yang berilmu tinggi, seperti Swat-hai. Lo-kwi, Tung-hai Lomo, Ban-tok Kwi-ong dan beberapa orang lagi pergi ke kota raja dan berhasil menyusup ke dalam istana, akan mudah bagi kita untuk membunuh kaisar dan Putera Mahkota! Kalau hal itu terjadi, tentu akan terjadi kekacauan di istana dan kita akan berusah ajar yang menjadi pengganti kaisar orang yang berpihak kepada kita. Semua itu akan diatur oleh sekutu kita yang kini juga sedang berada di kota raja, yaitu Gulam Sang."

"Ah, Lama Jubah Kuning itu?"

Terdengar beberapa orang bertanya.

"Benar, akan tetapi sekarang dia bukanlah pendeta Lama lagi. Dia sudah menghubungi beberapa orang hartawan yang akan membiayai semua rencana kita, juga dia akan berhubungan dengan para pangeran di istana. Kalau pangeran pilihan kita yang menggantikan menjadi kaisar, tentu segalanya akan mudah diatur selanjutnya."

"Akan tetapi, tidak mudah menyusup ke dalam istana. Pekerjaan itu berbahaya dan nyawa taruhannya."

Kata Swat-hai Lo-kwi.

"Harap Lo-kwi jangan khawatir. Hal itu pun serahkan saja kepada Gulam Sang Kongcu. Dia yang akan mengatur sehingga kalian semua akan menyusup ke dalam istana tanpa dicurigai. Misalnya menjadi guru silat seorang pangeran, atau ahli pengobatan dari pangeran lain, atau juga pembantu baru. Pendeknya, kalian akan dapat masuk ke istana dengan berterang, tentu saja dengan menyamar. Semua itu telah direncanakan oleh Gulam Sang Kongcu. Kalian tinggal menanti berita selanjutnya dari kami."

Telah lama kita tinggalkan Tao Seng dan Tao San, dua orang pangeran yang telah dijatuhi hukuman buang oleh kaisar karena usaha mereka untuk membunuh Putera Mahkota Tao Kuang, akan tetapi mengalami kegagalan karena Pangeran Tao Kuang ditolong oleh Liang Cun yang berjuluk Sin-tung Koai-jin dan puterinya, yaitu Liang Siok Cu.

Seperti telah diceritakah di bagian depan, Liang Siok Cu kemudian menjadi selir Pangeran Tao Kuang yang kemudian melahirkan Tao Kwi Hong.

Bagaimana dengan dua orang pangeran yang dibuang itu?

Mereka dijatuhi hukuman buang selama dua puluh tahun dan telah dilupakan orang.

Akan tetapi, mereka tidaklah lenyap begitu saja.

Juga mereka tidak mati dalam pembu-angan mereka, walaupun mereka hidup sengsara.

Tidak, mereka masih hidup dan pada suatu hari mereka bahkan kembali ke kota raja karena hukuman mereka telah habis.

Keluarga kaisar bersikap tak acuh kepada mereka yang dianggap telah melakukan kejahatan yang memalukan.

Tao Seng dan adik tirinya, Tao San, kini telah menjadi dua orang laki-laki setengah tua.

Tao Seng kini berusia empat puluh lima tahun dan Tao San berusia empat puluh empat tahun.

Mereka mengumpulkan harta kekayaan mereka dan menjadi pedagang yang berhasil.

Mereka menjadi kaya raya dan untuk membuang riwayat yang memalukan di waktu yang lalu.

Tao Seng kini memakai nama Ji dan terkenal dengan sebutan Ji Wan-gwe (Hartawan Ji), sedangkan Tao San menggunakan nama San Wan-gwe (Hartawan San).

Hanya keluarga kaisar saja yang tahu bahwa Ji Wan-gwe dan San Wan-gwe adalah bekas Pangeran Tao Seng dan Tao San.

Karena ketika mereka dihukum buang masih muda, maka setelah lewat dua puluh tahun, mereka sudah tidak mempunyai keluarga lagi.

Setelah menjadi hartawan, keduanya lalu mengambil isteri dan membentuk keluarga baru.

Keliru kalau ada yang menganggap bahwa kedua orang pangeran itu telah menjadi jera atau sadar akan kesalahan mereka.

Sama sekali tidak dan sebaliknya malah.

Peristiwa hukuman bagi mereka itu mendatangkan dendam kesumat yang membuat mereka tidak segan untuk mencari jalan membalas dendam mereka.

Di dalam pembuangan mereka di barat, pada suatu hari Pangeran Tao Seng bertemu dengan seorang pemuda yang menarik hatinya.

Ketika itu dia berusia empat puluh tahun dan pemuda itu berusia dua puluh lima tahun.

Pemuda itu menarik perhatiannya karena pemuda itu memiliki ilmu silat yang tinggi bahkan pandai pula dalam ilmu sihir.

Pemuda itu adalah Gulam Sang!

Gulam Sang sendiri adalah seorang pelarian dari Tibet.

Dia adalah murid para pendeta Lama termasuk Dalai Lama, akan tetapi akhirnya dia berkhianat dan memihak Pendeta Lama Jubah Kuning untuk memberontak.

Maka dia dikejar-kejar dan melarikan diri ke timur sampai bertemu dengan Pangeran Tao Seng.

Mungkin karena nasib sama, mereka segera menjadi akrab, dan akhirnya Pangeran Tao Seng melihat bahwa pemuda itu kelak akan amat berguna baginya, Maka dia lalu mengangkat Gulam Sang sebagai puteranya!

Mula-mula Gulam Sang merasa ragu untuk menerimanya, karena walaupun Tao Seng adalah seorang pangeran akan tetapi pangeran buangan!

Akan tetapi Pangeran Tao Seng lalu menceritakan ambisinya.

Dia hendak membalas dendam dan merebut kekuasaan kaisar!

Kalau dia berhasil menjadi kaisar, maka dia akan mengangkat Gulam Sang menjadi Pangeran Mahkota yang kelak akan menggantikan dia menjadi kaisar.

Janji muluk inilah yang menarik hati Gulam Sang dan akhirnya dia menerima menjadi putera Pangeran Tao Seng.

Demikianlah, setelah hukuman mereka habis dan Pangeran Tao Seng bersama Pangeran Tao San kembali ke timur, Gulam Sang juga ikut pergi ke kota raja Peking, di mana dia dikenal sebagai putera Tao Seng yang.

bernama Tai Lam Sang.

"Kita mempunyai cita-cita besar,"

Demikian Tao Seng bicara kepada Tao San dan Gulam Sang.

"Akan tetapi jangan dikira mudah saja. untuk membuat cita-cita kita menjadi kenyataan. Selama lima tahun ini engkau banyak belajar dariku, Lam Sang. Engkau mempelajari sastra dan budaya sehingga tahu bagaimana untuk menjadi seorang pribumi. Akan tetapi untuk dapat berhasil, engkau harus pergi menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw. Terutama sekali hubungilah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, dan dalam hubungan itu sebaiknya kalau engkau menggunakan namamu sendiri dan mengaku saja dari Lama Jubah Kuning. Kita harus menyusun kekuatan dan untuk itu, engkaulah yang harus bertugas mengadakan hubungan-hubungan dengan mereka. Kalau saatnya sudah tiba, baru kita turun tangan."

Tao Seng mengajak Tao San dan Gulam Sang bercakap-cakap tentang rencanya.

Semua rencana diatur oleh Tao Seng dan pelaksananya adalah Gulam Sang yang memiliki kecerdikan dan kepandaian luar biasa.

Dengan mudahnya, melalui ilmu silatnya yang tinggi dan ilmu sihirnya, dia dapat mempengaruhi Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Didatanginya para pimpinan kedua perkumpulan, itu dan di depan mereka dia membuktikan kehebatan kepandaiannya.

Setelah mendengar bahwa Gulam Sang adalah seorang Tibet dan dari Lama Jubah Kuning, mereka semua percaya dan menariknya sebagai sekutu dan sahabat.

Tercapailah rencana pertama dari Tao Seng, yaitu mencari sekutu yang memiliki banyak anak buah dan yang memusuhi pemerintah.

"Lam Sang, aku tahu benar bahwa orang pribumi bangsa Han pada umum-nya tidak suka akan pemerintah Mancu yang mereka anggap sebagai penjajah. Mereka itu mendendam dan mereka belum ada yang sungguh-sungguh bergerak karena merasa kekuatan mereka belum ada. Akan tetapi, begitu kekuatan mereka dianggap cukup, tentu mereka bergerak menyerang pemerintah. Karena itu, tugasmu ke dua adalah membujuk partai-partai bersih, para pendekar, terutama dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, dan lain-lain. Mereka itu kalau dipersatukan, merupakan kekuatan yang amat besar karena mereka memiliki pendekar-pendekar yang sakti. Nah, engkau harus mencari akal bagaimana untuk dapat mempengaruhi mereka sehingga mereka mau diajak bersekutu dan memberontak."

Kembali Tao Seng membuat rencana yang amat cerdik.

Ditambah dengan kecerdikannya sendiri, Gulam Sang lalu mulai bergerak.

Dia melakukan penyelidikan terhadap perkumpulan-perkum-pulan silat besar itu dan mencari kelemahankelemahan mereka.

Akan tetapi sukar sekali menemukan kelemahan mereka, sampai akhirnya dia mendengar betapa ketua Bu-tong-pai yang bernama Thian It Tosu berada dalam keadaan yang tidak sehat.

Akan tetapi kekuasaan tosu itu besar sekali.

Setiap katanya merupakan hukum bagi para anak murid Bu-tong-pai dan lebih dari itu, Bu-tong-pai terkenal di antara semua partai dan dihormati.

Kalau saja dia dapat menguasai Bu-tong-pai!

Dengan pikiran ini dia lalu mulai mempelajari keadaan Thian It Tosu, kebiasaan-kebiasaannya, tingkah lakunya.

Ketua yang berusia enam puluh tahun itu bertubuh tinggi besar, mirip dengan tubuhnya.

Ini merupakan modal utama baginya.

Setelah mempelajari dengan baik, mulailah dia bertindak.

Mula-mula dia menguji diri sendiri.

Dengan ilmunya menyamar, dia menggunakan topeng tipis terbuat dari karet yang menutupi mukanya sehingga mukanya berubah menjadi muka Thian It Tosu, lengkap dengan jenggot dan kumisnya yang panjang.

Topeng itu demikian sempurna sehingga kalau tidak dikupas dari mukanya, tidak akan ada yang tahu bahwa dia memakai topeng.

Pakaiannya pun persis dengan pakaian jubah tosu dan pada suatu senja, dalam cuaca remang-remang, dia pun berjalan dekat Bu-tong-san dan sengaja berjalan berpapasan dengan lima orang murid Bu-tong-pai.

Melihat dia serta-merta lima orang murid itu memberi hormat dan menyebutnya suhu.

Dia menirukan suara Thiat It Tosu.

"Hemmm, sudah larut senja begini baru pulang. Kalian dari mana?"

"Kami pergi berburu dan sekalian mencari kayu bakar, Suhu."

Jawab kelima orang murid itu.

Gulam Sang merasa gembira sekali karena ujiannya terhadap dirinya sendiri yang menyamar sebagai Thian It Tosu berhasil baik.

Pada lain harinya, dia sengaja muncul di siang hari menemui murid-murid yang sedang bekerja di luar dan tidak ada seorang pun murid yang meragukan bahwa dia adalah Thian It Tosu.

Setelah yakin benar baru dia melanjutkan rencananya.

Dia melakukan pengintaian dan pada suatu hari dia melihat Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu pergi berdua turun gunung.

Dia sudah menyelidiki dengan jelas siapa adanya dua orang tosu ini.

Thian-tan Tosu adalah sute dari Thian It Tosu sedangkan Thian-yang-cu adalah seorang murid utama dari Thian It Tosu.

Dia juga sudah mempelajari keadaan dua orang tosu ini dan maklum bahwa dia mampu menalukkannya, baik dengan ilmu silat maupun dengan ilmu sihirnya.

Dengan menyamar sebagai Thian It Tosu, di tempat yang sunyi di lereng bukit dia muncul menghadang dua orang yang sedang melakukan perjalanan itu.

Begitu bertemu dengan Thian It Tosu palsu ini, Thian-tan Tosu dan Thian-yangcu segera memberi hormat.

"Suheng....!"

"Suhu....!"

"Hemmm, Sute dan Thian-yang-cu, kalian hendak pergi ke mana?"

Tanya Gulam Sang atau Thian It Tosu palsu itu. Kedua orang itu memandang heran.

"Apakah Suheng sudah lupa lagi? Baru tadi Suheng yang minta kami untuk mencari sumbangan ke kota, untuk membeli bahan pakaian kita semua."

"Oh, benar juga, Sute, sudah lama pinto tidak melihat kemajuan ilmu silatmu. Juga engkau Thian-yang-cu. Sebagai murid utama engkau harus memiliki ilmu silat yang tinggi."

"Saya mohon petunjuk, Suheng"

Kata Thian-tan Tosu.

"Teecu (murid) mohon petunjuk Suhu,"

Kata Thian-yang-cu.

"Baik, sekarang kalian berdua coba untuk bertanding dengan pinto agar pinto dapat melihat di mana letak kekurangan-kekurangan kalian. Maju dan seranglah!"

"Teecu tidak berani, Suhu."

"Berani atau tidak, engkau harus melawanku bertanding. Kalau tidak, bagaimana pinto mengetahui kelemahanmu dan memberi petunjuk?"

"Suheng, akhir-akhir ini kesehatan Suheng terganggu, sungguh tidak baik mengeluarkan banyak tenaga untuk berlatih."

Thian-tan Tosu juga mencegah.

"Sute, engkau tidak memperoleh banyak kemajuan, untuk melawanmu bertanding, pinto tidak perlu menggunakan banyak tenaga. Kalau kalian sungkan menyerang lebih dulu, baiklah pinto yang menyerang lebih dulu. Lihat pukulan!"

Dengan cepat Thian It Tosu menyerang dengan pukulan kedua tangannya ke arah dua orang itu.

Akan tetapi Thian-yang-cu dan Thiantan Tosu dapat mengelak dengan sigapnya dan kedua orang ini tidak dapat menolak lagi.

Mereka harus mengeluarkan kepandaiannya agar dinilai oleh sang ketua.

Akan tetapi serangan mereka dapat dielakkan oleh tosu yang selama ini nampak kurang sehat itu.

Gerakannya demikian cepatnya sehingga serangan dua orang tokoh Bu-tong-pai itu mengenai angin saja.

Kemudian, terdengar Thian It Tosu membentak, kedua kakinya ditekuk rendah, kedua tangan didorongkan ke depan dan akibatnya, Thian-tan Tosu terhuyung ke belakang dan Thian-yang-cu terpental beberapa meter jauhnya!

Kedua orang itu terkejut bukan main.

Mereka tidak mengenal pukulan sang ketua, pukulan aneh dengan kaki ditekuk itu, akan tetapi daya pukulan itu sungguh dahsyat bukan main.

Thian-yang-cu yang ilmu silatnya sudah cukup tinggi merasa sesak dadanya, sedangkan Thian-tan Tosu merasa kepalanya pening.

Thian-yang-cu segera memberi hormat dan berkata dengan malu-malu.

"Teecu memang bodoh dan lemah."

Dia merasa malu sekali bahwa menghadapi gurunya, mengeroyok pula dengan paman gurunya, mereka berdua dikalahkan dalam beberapa gebrakan saja!

Itu pun suhunya menahan tenaganya.

Kalau tenaga sinkang yang dahsyat itu dikeluarkan semua, mungkin mereka berdua tidak mampu bangkit lagi.

"Wah, suheng agaknya telah menciptakan jurus pukulan baru yang amat hebat!"

Kata pula Thian-tan Tosu dengan kagum.

"Hemmm, kalian yang bodoh, kalian yang lemah, tidak ada kemajuan sama sekali. Sungguh menyebalkan dan menyedihkan sekali!"

"Suhu....!"

"Suheng....!"

"Diam! Kalian membuatku kecewa. Kalau kepandaian kalian hanya sebegitu saja, padahal kalian adalah dua orang terpenting sesudah pinto, apa jadinya nanti dengan Bu-tong-pai? Akan menjadi bahan tertawaan saja. Dengar baik-baik, aku melarang kalian membicarakan lagi tentang latihan kita tadi! Mengerti?"

"Baik, Suheng."

"Baik, Suhu."

Thian It Tosu sudah tidak mempedulikan keduanya lagi dan membalikkan tubuhnya lalu berke-lebat cepat lenyap dari situ.

Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu saling pandang dengan heran.

Mengapa ketua mereka yang biasanya ramah dan halus lembut tutur sapanya itu mendadak menjadi begitu galak?

Akan tetapi larangan tadi amat berkesan di dalam hati mereka dan suara ketua itu seolah masih berdengung berulang-ulang di telinga mereka.

"Thian-yang-cu, kau pikir bagaimana baiknya sekarang?"

"Susiok (Paman Guru), sebaiknya kita kembali dan menghadap Suhu, mohon agar diajari ilmu pukulan baru yang dahsyat tadi."

"Kalau dia marah?"

"Biar kita tanggung berdua. Pelajaran itu penting sekali untuk memperkuat Bu-tong-pai, Susiok. Dan memang sudah sepatutnya kalau suhu mengajarkan kepada kita."

"Akan tetapi karena dia sudah melarang kita membicarakan hal itu, tentu berarti dia tidak suka terdengar oleh orang lain. Maka, kita harus mencari saat yang tepat selagi suheng berada seorang diri untuk menghadapi dan mohon diberi pelajaran itu."

Kedua orang itu lalu kembali ke Bu-tong-pai.

Dan pada sore harinya, ketika Thian It Tosu sedang berjalan-jalan di taman bunga perkumpulan itu seorang diri dan di sekitar tempat itu sunyi tidak nampak seorang pun murid Bu-tong-pai, muncullah Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu, segera berlutut di depan Thian It Tosu sedangkan Thian-tan Tosu memberi hormat dengan membungkuk dan mengangkat kedua tangan di depan dada.

Thian It Tosu adalah seorang tosu yang ramah dan lembut, akan tetapi dia pun keras memegang disiplin dan semua peraturan Bu-tong-pai harus ditaati.

Merasa terganggu ketika berjalan-jalan itu, dia mengerutkan alisnya dan bertanya kepada mereka dengan singkat.

"Apa maksudnya ini? Kalian mau apa?"

Dua orang itu menjadi gentar mendengar pertanyaan singkat itu.

Mereka mengira bahwa Thian It Tosu marah, dan sebelum mereka sempat menjawab tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang mereka.

"Siancai-siancai-siancai....! Dari mana datangnya orang yang berani menyamar sebagai pinto?"

Ketika dua orang menoleh, mereka terpengaruh melihat ada seorang Thian It Tosu yang lain berada di situ.

Semuanya sama, bentuk tubuhnya, wajahnya, suaranya.

Hanya bedanya, yang baru muncul ini bersuara lembut, sedangkan yang pertama tadi nampak marah.

Dengan sendirinya kedua orang itu berpihak kepada yang baru datang.

Yang pertama itulah yang palsu.

Mereka berani memastikan hal itu.

Bukankah yang pertama bersikap aneh dan keras terhadap mereka bahkan merobohkan mereka dengan pukulan aneh dan ampuh?

"Suheng, orang itu adalah orang yang memalsukan dan menyamar sebagai Suheng!"

Kata Thian-tan Tosu kepada tosu yang baru muncul.

"Benar, Suhu! Harap Suhu memberi hajaran kepadanya. Akan tetapi dia lihai sekali, Suhu."

Kata pula Thian-yang-cu dan keduanya sudah meloncat ke belakang tosu yang baru muncul. Thian It Tosu yang pertama tercengang.

"Eh, lelucon macam apa ini? Pinto Thian It Tosu. Saudara siapakah dan mengapa menyamar sebagai pinto?"

"Siancai....! Ini yang dinamakan maling teriak maling. Sute dan kau Thian-yang-cu, karena kesehatanku masih terganggu, bantulah pinto menangkap maling ini!"

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 5

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert