Ceritasilat Novel Online

Darah Pendekar 8

Eps 8 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

"Kami semua mentaati perintah Liu-Bengcu!"

Demikianlah teriakan-teriakan mereka. Liu Pang mengangguk-angguk dan mengangkat tangan menyuruh mereka tenang.

"Tugas kita masih banyak dan bukan ringan. Kalian semua harus selalu ingat bahwa kita adalah pasukan rakyat, kita datang dari rakyat, oleh karena itu, aku melarang siapapun juga mengganggu rakyat disepanjang perjalanan. Rakyat jelata, kaum tani, adalah sekutu kita. Tanpa dukungan mereka kita akan lemah dan jatuh. Maka, siapa berani mengganggu rakyat disepanjang perjalanan, merampok, menyerang apa lagi membunuh atau melarikan wanita, akan dihukum mati dan mungkin tanganku sendiri yang akan melaksanakan hukuman itu!"

Suara pemimpin ini terdengar begitu penuh wibawa dan semua orang menjadi gentar.

"Liu-beng-cu, jangan khawatir. Kita sendiri juga datang dari rakyat, mana mungkin kita akan mengganggu mereka? Kalau ada yang berani melanggar pantangan itu, kami kira Bengcu tidak perlu turun tangan karena teman-teman yang lain tentu akan turun tangan mencegah atau menghukumnya!"

Demikian seorang diantara mereka berkata.

"Kita sekarang berada didekat Lok-yang. Kita tidak tahu bagaimana keadaan kota ini, bagaimana sikap para pembesar di Lok-yang. Kita tidak boleh bertindak sembrono dan nanti setelah kita mengenal benar keadaan kota itu, barulah kita berunding lagi untuk mengatur siasat bagaimana harus mengambil tindakan. Biarkan pasukan beristirahat dan menyusun kekuatan disini. Aku sendiri bersama muridku, nona Ho Pek Lian, akan memasuki kota dan melakukan penyelidikan. sebarkan beberapa orang kawan yang cukup tinggi ilmunya untuk menyusup kekota melakukan penyelidikan pula. Akan tetapi ingat, mereka yang diselundupkan harus berani bertanggung jawab dan memilih mati dari pada membuka rahasia kita kepada musuh."

Setelah berunding dan mengatur siasat, Liu Pang bersama Pek Lian lalu berangkat untuk bertugas sebagai mata-mata dikota Lok-yang.

Liu Pang menyamar sebagai seorang petani dan muridnya juga.

Rambut pemimpin yang hitam lebat itu kini berobah putih, juga mukanya berkeriputan walaupun badannya nampak sehat dan terbakar matahari, seperti seorang kakek petani yang biasa bekerja berat ditempat terbuka.

Pek Lian juga melumuri muka, leher dan bagian kulit tubuhnya yang nampak dengan ramuan yang membuat kulit yang putih mulus itu menjadi kehitaman.

Alisnya yang indah bentuknya itu dibikin tebal, bibirnya yang kecil dan merah basah itu digosok ramuan yang membuat bibirnya menjadi kasar dan agak kebiruan.

Ia berobah sebagai seorang gadis dusun yang lugu dan tidak mengenal cara berias.

Rambutnya juga agak kasar dan kotor, digelung seder-hana seperti gelung gadis dusun.

Setelah menyamar dengan baik, keduanya berangkat pada senja hari itu memasuki kota Lok-yang.

Kota ini ramai dan kelihatan sibuk sekali, kesibukan yang agaknya tidak wajar karena banyak nampak perajurit berkeliaran.

Banyak pula pengungsi-pengungsi yang mengaso diemper-emper toko, yakni mereka yang datang dari luar kota karena takut akan berita perang yang terjadi.

Pasukan-pasukan penjaga berkeliling dan meronda dengan muka bengis dan mata tajam menyelidik.

Akan tetapi, penyamaran Liu Pang dan Pek Lian amat sempurna sehingga tidak ada seorangpun yang tertarik kepada kakek dusun dan gadisnya ini.

Ketika mereka sedang berjalan ditepi jalan raya, mereka berpapasan dengan seregu perajurit yang terdiri dari belasan orang.

Akan tetapi pasukan kecil ini tidak berjalan dalam bentuk barisan, melainkan berjalan dengan kacau dan diantara mereka bahkan ada yang jalannya terhuyung-huyung karena mabok.

Tentu pasukan ini sedang bebas tugas dan menghibur diri dikota.

juga tidak nampak seorangpun yang memimpin dan mereka itu menyeringai ketika melihat Pek Lian.

Biarpun sudah menyamar sebagai seorang gadis dusun yang tidak terlalu cantik dan tidak sangat menonjol daya tariknya, akan tetapi bagaimanapun juga, ia masih nampak sebagai seorang gadis dusun yang muda dan bertubuh padat.

Ini saja sudah cukup menggerakkan nafsu berahi sementara anggauta pasukan kecil itu, terutama mereka yang juga sudah dipengaruhi arak.

"Heh-heh, manis, mari ikut dengan kami. Tanggung engkau akan kenyang lahir batin, heh-heh-heh!"

Seorang diantara mereka berkata, dan tangannya menyambar kearah buah dada Pek Lian.

Gadis ini miringkan tubuhnya, dengan gerakan biasa saja bukan gerakan ahli silat, seperti seorang gadis yang ketakutan.

Ia membiarkan tangan itu mengenai lengannya, akan tetapi perajurit mabok itu begitu menyentuh lengan yang gempal dan lunak lalu mencubit.

"Aduhh!"

Pek Lian menjerit tanpa mengerahkan tenaga dan cepat melangkah mundur "Ha-ha, kakek dusun.

Berapa kau mau jual anak gadismu ini?

Jual saja kepada kami untuk semalam ini.

Kami sudah bosan dilayani pelacur-pelacur!"

"Benar, aku ingin tidur dengan gadis dusun yang sehat ini!"

Pek Lian sudah mengepal tinju dan akan mengamuk, akan tetapi lengannya dipegang oleh Liu Pang yang segera berkata sambil menarik muridnya.

"Saudara-saudara harap jangan mengganggu kami. Gadisku ini sudah dipesan oleh Coa-ciangkun dan kalau kalian mengganggu, tentu akan kami laporkan!"

Tentu saja Liu Pang hanya ngawur menyebut Coa-ciangkun.

Akan tetapi agaknya ngawurnya itu kebetulan karena para perajurit itu terkejut, saling pandang, lalu seorang diantara mereka yang tidak mabok berkata.

"Paman, harap jangan marah. Kami tidak tahu bahwa nona ini adalah pesanan Coa-ciangkun. Nah, nona, kami ucapkan selamat, yang baik-baik saja melayani Coa-ciangkun yang perutnya gendut itu!"

Mereka lalu pergi sambil tertawa-tawa dan wajah Pek Lian masih merah sekali karena marah.

Akan tetapi suhunya sudah mengajaknya melanjutkan perjalanan sambil menyumpah-nyumpah perlahan.

Guru dan murid ini memasuki sebuah kedai makan yang sederhana akan tetapi cukup luas dan mempunyai meja kursi yang dapat menampung sedikitnya tiga puluh orang.

Tempat itu ramai dan terdapat beberapa orang perajurit yang sedang bercakap-cakap.

Liu Pang mengajak muridnya duduk agak jauh dari para perajurit itu, dan Pek Lian sengaja duduk menghadap kearah mereka dan agar mukanya yang ditengah jalan tadi sudah lebih diperjelek lagi nampak oleh mereka dan melenyapkan selera mereka untuk menggoda.

setelah memesan bakmi dan beberapa masakan sederhana lainnya berikut minuman teh, Liu Pang memperhatikan percakapan para perajurit itu.

Mereka bercerita tentang jatuhnya beberapa kota dan dusun ketangan pasukan Liu Pang yang kuat.

Mereka bercerita pula tentang pasukan pemberontak Chu Siang Yu dari arah barat dan utara.

"Eh, Lo Ciang, kau pikir mana yang lebih kuat antara pasukan Liu Pang dan pasukan Chu Siang Yu itu?"

Seorang diantara mereka bertanya kepada rekannya yang berkumis panjang dan yang lebih tua, juga agaknya si kumis ini yang lebih mengerti keadaan karena dialah yang bercerita dengan bersemangat, terdorong oleh arak yang sudah banyak diminumnya.

Yang ditanya menggeleng-geleng kepala lalu mengerutkan alis seperti orang berpikir dalam-da-lam, lalu berkata.

"Sukar dikatakan siapa lebih kuat. Chu Siang Yu adalah keturunan jenderal, disamping ahli silat pandai, juga dia pandai sekali dalam hal ilmu perang. Pasukan-pasukannya amat kuat dan terlatih. Sedangkan Liu Pang yang disebut Liu-Bengcu itu biar amat lihai ilmu silatnya akan tetapi dia bukan ahli mengatur barisan. biarpun demikian, dia seorang pendekar gagah perkasa, dan pergerakannya memperoleh dukungan para pendekar dan juga rakyat jelata, maka diapun amat kuat dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan."

"Ah, ceritamu menakutkan, Lo Ciang. Lalu, apakah kau pikir pasukan-pasukan pemerintah tidak akan mampu membasmi mereka itu?"

Si kumis menghela napas panjang..

"Sukar sekali! Kekuatan bala tentara kita hanya pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian seorang dan hanya pasukan itu yang dapat diandalkan. Pasukan-pasukan daerah tak dapat diharapkan lagi karena banyak daerah yang merasa tidak puas dan ada gejala-gejala hendak memberontak sendiri. Lihat saja adanya pasukan-pasukan asing dan liar itu"

"Sssttt..., Lo Ciang. Jangan sembarangan engkau bicara. Hati-hatilah. kau lihat, kepala daerah kita sendiri menerima kedatangan pimpinan pasukan asing beberapa hari yang lalu. Siapa tahu diantara mereka ada yang berada disini?"

"Takut apa? Komandan kita sendiri, Gui-ciangkun, juga tidak suka dengan adanya pasukan asing itu. Kemarin hampir saja Gui-ciang(kun atasan kita itu bentrok dengan Bouw-ciangkun, karena urusan pasukan asing itu, ketika diadakan rapat para pimpinan kota. Kebetulan aku bertugas mengawal Gui-ciangkun kepertemuan itu."

Pada saat itu, nampak empat orang perajurit memasuki kedai dan mereka langsung menuju kemeja dimana duduk empat orang perajurit rekan mereka tadi.

Empat orang pendatang baru ini nampak loyo dan seorang diantara mereka terbalut lengannya.

Mereka lalu duduk diatas bangku-bangku yang disediakan oleh para pelayan dan delapan orang perajurit itu duduk menghadapi meja.

"Eh, engkau kenapa?"

Tanya si kumis melihat betapa empat orang rekannya itu kelihatan lelah, bahkan ada pula yang mukanya benjol-benjol bekas pukulan.

"Kami baru saja bentrok dengan pasukan Bouw-ciangkun yang dibantu oleh beberapa orang pasukan asing itu. Pasukan asing itu ternyata pandai main banting sehingga kami mengalami banyak kerugian."

"Keparat! Orang-orang liar itu semakin berani saja, berani menyerang perajurit tuan rumah!"

Seorang diantara mereka berseru marah.

"Kenapa kalian sampai bentrok dengan pasukan Bouw-ciangkun?"

Si kumis bertanya dan agaknya dia merupakan anggauta pasukan yang tertua diantara mereka dan paling dihormati.

"Siapa tidak marah? Tadinya keributan terjadi hanya soal perebutan pelacur, hal yang biasa saja. Akan tetapi mereka berani mengatakan bahwa pasukan kita katanya akan dilucuti dan dipenjarakan karena Gui-ciangkun kita berani menentang kehendak kepala daerah dan tiga komandan lainnya. Bahkan katanya, Gui-ciangkun akan dihukum mati karena beliau berani menyarankan agar kita semua mendekati Liu-Bengcu dengan jalan damai dan bersahabat. Huh, mereka sungguh menghina. Jumlah kita ada seribu orang, masa akan begitu mudah saja dilucuti dan dipenjarakan?"

"Mereka sombong dan membual!"

Kata yang lain-lain. Akan tetapi si kumis mengerutkan alisnya.

"Belum tentu kalau ancaman mereka itu hanya bual kosong saja. Dalam keadaan seperti sekarang ini, apapun dapat saja terjadi. Kita harus waspada dan siapa tahu komandan kita dalam bahaya. Bagaimanapun juga, jumlah mereka semua itu kalau digabung ada empat lima kali lipat dari pada kekuatan pasukan kita, dan masih ada pasukan liar yang membantu. Sebaiknya kita lekas kembali kemarkas dan melaporkan kepada Gui-ciangkun!"

Setelah membayar harga makanan, delapan orang perajurit itu lalu meninggalkan kedai.

Akan tetapi baru saja mereka tiba diluar kedai, mereka berpapasan dengan dua belas orang perajurit yang melihat seragam mereka agak kuning tentu bukan rekan-rekan dari delapan orang perajurit pertama.

Dan mereka berhadapan didepan kedai dengan sikap tegang.

Ternyata dua belas orang perajurit itu adalah anak-buah pasukan Bouw-ciangkun!

Karena, kedua rombongan yang sudah saling mendendam ini berpapasan tepat didepan pintu, maka bentrokan agaknya tak dapat dihindarkan lagi.

"Minggir kalian! Kami hendak masuk!"

Bentak seorang diantara dua belas orang perajurit seragam kuning itu.

"Kalian yang minggir dan biarkan kami keluar dulu!"

Bentak seorang diantara kelompok perajurit si kumis yang seragamnya agak biru.

"Nona Ho, engkau duduk saja disini. Agaknya mereka akan berkelahi dan aku akan membantu anak-buah Gui-ciangkun,"

Bisik Liu Pang kepada muridnya dan Pek Lian mengangguk.

Tentu saja gurunya ingin membantu anak-buah Gui-ciangkun dan menentang pasukan-pasukan yang bersekongkol dengan pasukan asing itu.

Perang mulut segera disusul perkelahian.

Dua belas orang itu mencabut senjata dan hal ini mengejutkan delapan orang perajurit anak-buah Gui-ciangkun.

Biasanya, perkelahian antara perajurit hanya menggunakan tangan kosong sehingga tidak sampai membunuh lawan.

Akan tetapi agaknya dua belas orang anak-buah Bouw-ciangkun ini sudah begitu nekat sehingga begitu menyerang mereka menggunakan senjata tajam.

Tentu saja merekapun segera mencabut golok masing-masing dan ributlah didepan kedai itu.

Para tamu yang makan-minum didalam kedai menjadi seriba salah dan panik.

Mau keluar, didepan justeru menjadi medan perkelahian.

Maka mereka semua berbondong-bondong lari kebelakang, hendak melarikan diri dari pintu belakang dan karena pintu belakang itu kecil sekali, melalui lorong kecil, mereka berebutan, berhimpitan sehingga keadaan didalam kedai itu tidak kalah kacaunya dengan keadaan diluar.

Delapan orang perajurit anak-buah Gui-ciangkun itu pasti akan celaka karena mereka kalah banyak, kalau saja tidak ada uluran tangan secara diam-diam oleh Liu Pang.

Dengan menggunakan segenggam kacang goreng, Liu Pang membantu mereka.

Tanpa diketahui orang, berjejal diantara mereka yang berani nonton perkelahian diluar kedai, Liu Pang menggunakan jari-jari tangannya untuk menyentil kacang-kacang itu kearah para anak-buah Bouw-ciangkun.

Biarpun hanya sebutir kacang goreng, akan tetapi kalau meluncur dengan amat cepatnya dan menyambar mata, hidung, pipi atau mulut, sama nyerinya dengan kalau disambit dengan batu.

Dalam keadaan kesakitan itu, mudah bagi anak-buah Gui-ciangkun untuk membabat dan merobohkan mereka dengan golok.

Akhirnya, dua belas orang itu roboh semua, terluka oleh bacokan-bacokan golok anak-buah Gui-ciangkun, bahkan diantaranya ada yang tewas!

Melihat akibat perkelahian itu, si kumis menjadi khawatir sekali.

"Hayo kita cepat kembali kemarkas melapor kepada ciangkun!"

Katanya dan delapan orang itupun berlari-larian menuju kemarkas mereka.

Liu Pang mengajak muridnya untuk pergi membayangi setelah membayar harga makanan kepada pengurus kedai yang sudah pucat dan menggigil ketakutan itu.

Akan tetapi, dasar pedagang, biarpun didepan kedainya terjadi perkelahian dan kini ada dua belas orang mandi darah menggeletak disitu, dia tidak pernah salah menghitung harga makanan dan minuman, dan biarpun tangannya menggigil, sigap saja dia menerima pembayaran!

Akan tetapi, sebelum delapan orang itu tiba dimarkas mereka, ditengah jalan mereka disusul serombongan perajurit berkuda, anak-buah pasukan Bouw-ciangkun yang sudah mendengar akan terjadinya perkelahian didepan kedai makanan itu.

"Itu dia! Mereka pembunuh kawan-kawan kita didepan kedai itu. Tangkap mereka! Lucuti senjata mereka sekarang. Bunuh! Mereka agaknya hendak memberontak!"

Delapan orang itu melawan, akan tetapi belasan orang perajurit berkuda itu dibantu oleh tiga orang perajurit asing dan terjadilah perkelahian yang berat sebelah.

Liu Pang tidak dapat membantu secara menggelap seperti tadi karena mereka berada ditempat terbuka.

Pula, bagi pemimpin ini, ada hal-hal yang jauh lebih penting lagi untuk dilaksanakan dari pada hanya menyelamatkan nyawa delapan orang perajurit itu.

Menolong mereka secara berterang berarti membuka penyamarannya dan hal ini amat merugikan bagi tugasnya.

"Nona, engkau cepat kembali kepasukan kita. Katakan kepada gurumu Hek-coa Ouw Kui Lam itu dan para saudara lain bahwa aku memerintahkan agar mereka mengatur pasukan untuk mengurung kota ini. Besok pagi-pagi sebelum matahari terbit, pasukan kita harus sudah berada diluar benteng. Kita hancurkan pasukan asing dan pasukan pengkhianat dikota ini!"

"Suhu sendiri bagaimana?"

"Aku akan menemui Gui-ciangkun dan menyelamatkan sisa pasukannya, setidaknya sampai besok pagi. Kalau aku berhasil menggerakkan hati Gui-ciangkun, maka kita dapat menggempur kota dari luar dan dalam. Pasukan yang seribu orang kekuatannya bukan main-main, kalau pandai menggunakan dapat berguna sekali."

"Baiklah, suhu."

"Seperti biasa, aku akan melepas panah api hijau sebagai tanda penyerbuan!"

Pek Lian lalu menyelinap pergi dan cepat meninggalkan kota, kembali kepasukannya.

Sementara itu, Liu Pang membalik dan melihat betapa delapan orang perajurit anak-buah Gui-ciangkun itu dibantai habis oleh pasukan berkuda yang dibantu oleh tiga orang asing tinggi besar yang kalau dia tidak salah duga tentulah orang-orang liar dari luar Tembok Besar, dari daerah Mongol.

Liu Pang segera meninggalkan tempat itu dan seorang diri dia mencari benteng pasukan yang dipimpin oleh Gui-ciangkun.

Tidak sukar baginya untuk mencarinya karena setiap orang tahu belaka dimana adanya benteng kecil itu.

Sebuah barak pasukan yang dikelilingi oleh parit yang lebar dan dalam.

Terdapat sebuah pintu gerbang besar dan yang menghubungkan pintu besar itu dengan seberang parit adalah sebuah jembatan gantung dari besi Liu Pang mempergunakan ilmunya untuk mendekati parit, menyelinap ketempat gelap dan mempelajari keadaan benteng itu.

Dari luar sudah nampak kesibukan didalam benteng.

Jembatan gantung terangkat keatas dan agaknya disetiap penjuru terjaga ketat.

Banyak pula yang mondar-mandir dengan sikap tegak.

Suasananya jelas menunjukkan kesiap-siagaan dan agaknya berita tentang perkelahian itu sudah sampai pula didalam benteng.

Liu Pang tetap bersembunyi, memikirkan rencana yang kiranya dapat dilakukan untuk menyelamatkan benteng ini dan menggandeng pasukan Gui-ciangkun sehingga dapat dimanfaatkan besok, membantu penyerbuan pasukannya dari luar benteng.

(Lanjut ke

Jilid 20) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 20 Dia masih sangsi apakah Gui-ciangkun mau menerimanya kalau dia datang berterang.

Apa lagi dia menyamar sebagai seorang; kakek petani dan tidak ada seorangpun yang mengenal wajah Liu-bengcu.

Tiba-tiba, selagi Liu Pang mencari akal dan merenung, terdengarlah sorak-sorai dan derap kaki kuda yang banyak sekali mendatangi tempat itu.

Sepasukan tentara yang berjumlah ratusan, bahkan mungkin ada seribu orang, datang mengepung benteng itu.

Dari seragam mereka yang agak kekuningan, Liu Pang dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak-buah Bouw-ciangkun.

Dugaannya memang tepat, bahkan yang memimpin pasukan itu adalah Bouw-ciangkun sendiri, seorang perwira yang bertubuh pendek gendut.

Disebelah pembesar ini nampak beberapa orang perwira pasukan asing.

Terdengar bunyi terompet dan pintu gerbang diseberang terbuka.

Muncullah seorang perwira tinggi kurus.

Perwira ini bukan lain adalah Gui ciangkun sendiri yang sengaja keluar menyambut kedatangan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Bouw-ciangkun, rekannya.

Kota Lok-yang dijaga oleh empat pasukan besar, dan dua diantaranya dikepalai oleh Gui-ciangkun dan Bouw-ciangkun.

Jembatan gantung tidak diturunkan dan kini dua orang komandan pasukan itu berdiri berhadapan, dipisahkan oleh parit yang lebar itu.

"Gui-ciangkun, menyerahlah engkau dan pasukanmu dengan baik-baik dari pada harus digempur dan dihancurkan!"

Teriak Bouw-ciangkun dengan sikap garang. Perutnya yang gendut sekali itu bergerak-gerak ketika dia bicara. Gui-ciangkun mengerutkan alisnya.

"Bouw-ciangkun, kita adalah rekan, sama-sama menjaga keselamatan kota ini sebagai komandan pasukan kita masing-masing. Engkau tidak berhak bicara seperti itu kepadaku, apa lagi untuk menangkapku dan minta pasukanku menyerah!"

"Hemm, engkau masih belum menginsyafi dosa-dosamu? Engkau membiarkan anak-buahmu membunuhi anak-buahku didepan kedai!"

Teriak Bouw-ciangkun.

"Perkelahian antara perajurit adalah soal biasa. Akan tetapi anak-buahku yang delapan orang itu dibantai oleh belasan orang-orangmu yang dibantu oleh orang-orang liar. Kinipun aku melihat engkau bersanding dengan perwira-perwira bangsa liar, sungguh menjemukan sekali, dan engkau berani bicara tentang pasukanku harus menyerah?"

"Orang she Gui, engkau hendak memberontak?"

"Orang she Bouw, engkaulah yang hendak memberontak dengan bersekongkol bersama pasukan-pasukan asing yang liar!"

Bouw-ciangkun marah sekali. Dia mencabut pedangnya, mengangkat pedangnya keatas sambil berteriak.

"Pasukan panah, seraaanggggg!"

Pasukan berkuda itu segera bertebaran dan mulailah mereka menyerang dengiui anak panah kearah benteng.

Bouw-ciangkun tentu saja segera bersembunyi dan berlindung karena dari bentengpun datang anak panah seperti hujan sebagai serangan balasan.

Korban kedua pihak mulai berjatuhan.

Kini seluruh pasukan Bouw-ciangkun dikerahkan dan jumlah mereka tidak berselisih banyak dengan pasukan Gui-ciangkun.

Perang anak panah itu amat gencar akan tetapi sampai tengah malam, belum juga Bouw-ciangkun yang dibantu oleh pasukan kecil bangsa asing itu mampu menyeberangi parit.

Beberapa usaha mereka lakukan, akan tetapi mereka selalu menghadapi perlawanan gigih.

Perahu-perahu yang mereka kerahkan tenggelam dan mereka terpaksa mundur kembali ketika pasukan dari benteng melempar-lemparkan batu-batu besar kearah perahu-perahu itu dan menghujani anak-buah perahu-perahu itu dengan anak panah.

"Bakar saja benteng itu!"

Teriak Bouw-ciangkun marah. Melihat betapa anak-buah Bouw-ciangkun kini mempersiapkan bahan-bahan bakar dan panah-panah berapi, hati Liu Pang menjadi gelisah juga.

"Celaka,"

Pikirnya.

"Kalau digunakan api, tentu habislah benteng itu!"

Dia tidak tahu bagaimana dia seorang diri akan mampu menolong benteng itu.

Akan tetapi, sebelum perintah menyerang dengan panah api dikeluarkan, tiba-tiba terdengar bunyi terompet tanda bahwa ada pembesar datang.

Yang muncul adalah seorang pembesar gagah berkuda, diapit oleh dua orang perwira tinggi dan dikawal oleh pasukan pengawal yang berpakaian indah.

Kiranya dia adalah Jenderal Lai, yaitu panglima daerah timur dan sepanjang pantai, panglima yang menjadi pembantu Jenderal Beng Tian itu.

Tentu saja para komandan dikota Lok-yang termasuk bawahannya dan melihat munculnya panglima ini, Bouw-ciangkun cepat memberi hormat dan menyambutnya sehingga penyerangan dengan panah api itu tertunda.

Dengan muka merah dan alis berkerut, Jenderal Lai menegur.

"Bouw-ciangkun apa artinya pengepungan dan penyerangan terhadap benteng rekannya sendiri itu."

Bouw-ciangkun lalu melaporkan tentang apa yang telah terjadi, tentang bentrokan antara anak-buahnya dan anak-buah Gui-ciangkun.

Tentu saja dalam laporan kepada atasannya ini dia menimpakan semua kesalahan kepada Gui-ciangkun yang dicapnya pemberontak.

"Saya mengundangnya baik-baik untuk saya bawa menghadap Lai-goanswe, akan tetapi dia tidak mau, bahkan menggunakan kata-kata kasar dan menantang. Saya sudah menegurnya dan mengancamnya agar dia menyerah tanpa perlawan-an, akan tetapi Gui-ciangkun membangkang dan menentang,"

Demikian perwira gendut itu menutup pelaporannya. Jenderal yang terhitung masih muda, baru berusia empat puluh lima tahun itu mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar tegas.

"Bouw-ciangkun! Seorang perajurit, apapun pangkatnya, harus mentaati peraturan dan berdisiplin. Engkau sendiripun telah melakukan pelanggaran dalam hal ini. Tanpa surat perintahku untuk membawanya menghadap, mana mungkin Gui-ciangkun mentaatimu? Kami tidak berpihak siapapun dalam keributan ini. Besok pagi akan kupanggil Gui-ciangkun. Aku ingin agar suasana menjadi jernih. Kekuatan kita tidak boleh dipecah-pecah seperti ini karena hal itu hanya akan mengeruhkan suasana dan melemahkan kedudukan kita sendiri. Nah, sekarang tariklah pasukanmu dan kembalilah ke bentengmu sendiri!"

Setelah pasukan Bouw-ciangkun ditarik kembali, tempat itu menjadi sunyi kembali.

Hanya didalam benteng itu saja yang masih terjadi kesibukan, yaitu para perajurit merawat teman-teman yang terluka.

Gui-ciangkun memeriksa anak-buahnya dan memerintahkan agar penjagaan dilanjutkan dengan ketat.

Liu Pang melihat semua itu dan pemimpin para pendekar ini merasa prihatin sekali.

Keadaan didaerah sungguh kacau-balau.

Pasukan saling hantam sendiri dan agaknya pemerintah tidak akan dapat mengatasi keadaan.

Kalau dibiarkan berlarut-larut, disemua tempat tentu akan muncul pemberontakan-pemberontakan dan kalau api itu sudah membakar negara, akan sukarlah untuk dipadamkan.

Kaisar dan para pembantunya di Kotaraja agaknya tidak tahu atau tidak memperdulikan keadaan negara yang terancam bahaya gawat ini.

Mereka itu hanya pandai mengumbar nafsu, bersenang-senang di Kotaraja dan menganggap ringan pemberontakan-pemberontakan itu.

Bahkan Kaisar agaknya hanya tahu bahwa yang melakukan pemberontakan adalah Chu Siang Yu saja, diutara dan barat.

Padahal, keadaan di timur dan selatan tidak kalah gawatnya.

Daerah yang dianggap aman ini sebenarnya sedang bergolak dan sewaktu-waktu akan meledak menjadi pemberontakan yang akan menghancurkan pemerintah.

Pasukan asing berkeliaran didaerah ini dan banyak pembesar dan pasukan yang bersekongkol dengan mereka.

celakanya, pemerintah pusat bahkan percaya akan laporan para pembesar yang sebenarnya merupakan musuh dalam selimut itu, para pembesar yang bersekongkol dengan orang-orang asing, percaya akan laporan mereka bahwa Liu Pang dan para pendekarlah yang memberontak!

Padahal, yang menjadi dasar pada gerakannya adalah untuk menyelamatkan negara dan pemerintah, untuk menghalau pasukan asing dan menghajar para pembesar yang bersekongkol dengan mereka.

"Pasukan pemerintah yang kuat kini hanya tinggal yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian, demikian dalam persembunyiannya Liu Pang berpikir.

"Dan Beng-goanswe itu kini sibuk mengerahkan tenaga untuk membendung gerakan Chu Siang Yu. Dan pergolakan di timur dan selatan tidak akan ada yang dapat mencegah lagi. Siapa lagi yang dapat menyelamatkan negara dari tangan pasukan asing dan penjual-penjual negara itu?"

Dengan pikiran ini, bulatlah tekad dihati Liu Pang untuk menyelamatkan negara, apapun akibatnya.

Dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menduduki daerah, membasmi pasukan asing, menghancurkan pula kekuatan-kekuatan yang bersekongkol dengan pasukan asing dan hendak memberontak.

Mulai saat itu, berobahlah pendirian Liu Pang.

Kalau tadinya dia masih merasa segan dan takut-takut untuk menentang Kaisar karena didasar hatinya terdapat kesetiaan terhadap pemerintah, kini perasaan itu semakin menipis, bahkan lenyap karena dia mulai menimpakan kesalahan kepada Kaisar yang dianggapnya tidak cakap mengatur pemerintahan sehingga negara terancam bahaya.

Dia sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan gerakannya, memperbesar pasukannya dan memperluas daerah kekuasaannya untuk menyaingi Chu Siang Yu.

Mula-mula Liu Pang memang didorong oleh jiwa patriot, akan tetapi kini mulai bercampur dengan ambisi.

Kemenangan dan sukses adalah hal-hal yang amat berbahaya bagi kita manusia pada umumnya.

Dalam keadaan berjuang, yang ada hubungannya dengan perjuangan berdasarkan kepatriotan, memang cita-citanya nampak bersih dan murni, yakni membebaskan tanah air dari bangsa dari keadaan yang buruk, membela rakyat tertindas dan segala slogan yang baik-baik lagi.

Dalam keadaan berjuang, biasanya lubuk hati masih murni dan perjuangan dilakukan dengan setia dan jujur, bersih dari pada mementingkan diri sendiri, penuh kesetia-kawanan dan pengorbanan diri dengan rela.

Akan tetapi, setelah perjuangan selesai dan kemenangan dicapai, setelah memperoleh kemuliaan yang berupa bergelimangnya harta kekayaan dan menjulangnya nama kehormatan, maka akan terjadilah perubahan dalam batin kita pada umumnya.

Di dalam perjuangan, yang dituju adalah kepentingan bangsa dan kepentingan pribadi sudah tenggelam kedalam kepentingan bangsa sehingga kejujuran dan kesetiaan terhadap kawan amat terasa.

Akan tetapi, setelah memperoleh kemuliaan, yang dipentingkan tentu saja adalah kemuliaannya sendiri dan setiap orang yang berani menggoyahkan kedudukannya, dengan dalih apapun, dengan dalih kepentingan bangsa sekalipun, akan ditentang mati-matian.

Hal ini sudah terjadi berulang kali, tercatat dalam sejarah semua bangsa didunia.

Dikala melakukan perjuangan mengejar kemenangan, semua orang tentu bersatu padu, akan tetapi setelah perjuangan berhasil dan kemenangan dicapai, semua orang saling berebut, memperebutkan hasil dari pada kemenangan itu.

Yang berhasil memperoleh kemuliaan akan mempertahankannya mati-matian, sebaliknya yang tidak kebagian akan berusaha untuk mengganggu dan memperebutkan kedudukan.

Tentu saja kita menutupi segala keinginan itu dengan berbagai macam dalih yang muluk-muluk, dan biasanya selalu nama rakyat dipergu-nakan untuk menutupi keinginan pribadi yang bersumber kepada pementingan diri sendiri.

Nama rakyat hanya dicatut saja, diperalat untuk mencapai apa yang dikejarnya dan kalau yang dicapai sudah dapat, rakyatpun dilupakan.

Setelah berpikir sejepak, Liu Pang cepat meninggalkan tempat itu dan cepat mengejar pasukan.

Bouw-ciangkun yang kembali, ke benteng mereka sendiri.

Dia telah mempunyai rencana yang dianggapnya tepat untuk melancarkan penyerbuan pasukannya besok pagi.

Gui-ciangkun mengadakan rapat darurat dengan para perwira pembantunya malam itu juga.

Dia juga sudah mendengar akan kemunculan Jenderal Lai dan tahulah dia bahwa Bouw-ciangkun tentu mengadukannya kepada Jenderal Lai.

mengingat bahwa tiga orang perwira tinggi lainnya, dikota Lok-yang telah menjadi antek kepala daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing, maka dia tentu akan kalah suara dan Jenderal Lai tentu akan lebih percaya keterangan mereka.

Besok pagi dia tentu akan ditangkap dan pasukannya dianggap pemberontak.

"Tidak sudi aku menyerah!"

Demikian dia mengambil keputusan didepan para pembantunya sambil menggebrak meja.

"Akan tetapi, ciangkun,"

Seorang pembantunya menyatakan kebingungan hatinya.

"Apakah dengan demikian berarti bahwa kita akan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah secara terbuka?"

"Tidak, kita tidak memberontak melawan pemerintah, melainkan memberontak terhadap penguasa di Lok-yang yang sudah bersekutu dengan orang asing! Kita tidak sudi terseret menjadi manusia pengkhianat penjual negara kepada kekuasaan asing!"

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan daun pintu ruangan itu terbuka dari luar.

Muncul seorang laki-laki gagah perkasa berpakaian sederhana, berusia tiga puluh enam tahun yang bertubuh jangkung dan mukanya kurus akan tetapi sepasang matanya seperti mata harimau, mencorong penuh wibawa.

Dari luar berlompatan para pengawal yang nampak terkejut dan gelisah.

Kepala pengawal berkata.

"Maaf, ciangkun. Dia menyelinap masuk dengan cepat sehingga kami terlambat"

Akan tetapi Gui-ciangkun mengangkat tangan memberi isyarat agar para pengawal jangan sembarangari bergerak.

Dia sudah melihat bahwa orang yang datang secara aneh ini mengempit tubuh yang gendut, tubuh Bouw-ciangkun yang kelihatan lemas tertotok!

Liu Pang memandang kepada Gui-ciangkun dengan sinar mata penuh selidik.

"Gui-ciangkun, benarkah kata-katamu tadi bahwa engkau tidak akan menyerah kepada para pengkhianat itu? baguslah kalau begitu! Ketahuilah bahwa aku Liu Pang!"

Mendengar pengakuan ini, semua orang terkejut dan Gui-ciangkun sendiri memandang terbelalak.

"Liu Bengcu?"

"Benar. Pasukanku telah mengepung kota ini. Bersiaplah Gui-ciangkun dengan semua pasukanmu dan temui aku pada besok pagi diluar benteng kota. Sebagai bukti bahwa aku ingin bekerja-sama dengan pasukanmu, ini kubawakan si pengkhianat Bouw kepadamu. Terserah mau kau apakan dia. Nah, selamat tinggal. Pikirkan baik-baik usulku, tidak banyak waktu lagi!"

Dan Liu Pang melemparkan tubuh gendut itu keatas lantai, kemudian sekali berkelebat tubuhnya meloncat keluar ruangan itu dan sebentar saja lenyap dalam kegelapan malam.

Sebelum kembali kepasukannya, Liu Pang menggunakan kepandaiannya untuk melakukan penyelidikan dan mengelilingi semua penjuru kota, memeriksa keadaan benteng penjagaan kota itu untuk mengetahui bagian mana yang kuat dan mana yang agak lemah.

Pada waktu itu, fajar telah mulai menyingsing.

Langit di timur nampak kemerahan tanda bahwa sang matahari sudah akan menampakkan kehadir-annya dibelahan bumi ini.

Liu Pang sudah selesai dengan penyelidikannya ketika tiba-tiba terdengar sorak-sorai gemuruh diluar benteng kota.

Gembiralah hati pendekar ini.

Pasukan para pendekar telah tiba, tepat pada waktunya, sesuai dengan yang telah direncanakan.

Cepat dia melompat keluar tembok kota dan menggabungkan diri dengan pasukannya.

Pasukan para pendekar itu bersorak gembira melihat sosok tubuh yang melayang turun itu, setelah mengenal bahwa itu adalah tubuh pimpinan mereka yang mereka cinta dan kagumi.

Setelah tiba kembali diantara pasukannya, Liu Pang lalu memimpin sendiri barisannya, dipecah-pecah dan dibagi-bagi tugas pengepungan kota Lok-yang.

Dengan tombak panjang ditangan, pemimpin ini dengan gagahnya memimpin sendiri pasukan yang berada didepan pintu gerbang.

Pek Lian, Hek-coa Ouw Kui Lam dan para pembantu yang lain masing-masing mendapat bagian tugas memimpin pasukan-pasukan yang mengepung kota itu.

Tentu saja didalam kota Lok-yang terjadi kegemparan dan kepanikan.

Apalagi setelah mendengar bahwa pintu gerbang telah ditutup semua dan bahwa kota itu telah dikepung oleh barisan "pemberontak"

Liu Pang!

Para penduduk yang tidak sempat lari mengungsi itu kini bersembunyi didalam rumah masing-masing, bergerombol dan saling berpelukan.

Suami-suami menghibur isterinya, ibu-ibu merangkul anak-anaknya dan berusaha agar si kecil tidak sampai menangis membuat gaduh.

Pria-pria muda dengan lagak gagah tapi hati takut berjaga didepan pintu kamar keluarga masing-masing.

Jenderal Lai cepat memanggil empat orang perwira yang menjadi komandan-komandan pasukan penjaga kota Lok-yang.

Akan tetapi, keadaan menjadi geger ketika Bouw-ciangkun tak dapat ditemukan didalam bentengnya, sedangkan Gui-ciangkun tidak mau menghadap!

Seperti telah kita ketahui, dengan kepandaiannya yang tinggi, malam tadi Liu Pang berhasil menyelundup ke benteng Bouw-ciangkun, menculik perwira gendut ini dan membawanya ke benteng Gui-ciangkun.

Terpaksa Jenderal Lai menunjuk seorang perwira lain untuk menggantikan kedudukan Bouw-ciangkun dan memimpin pasukan.

Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat apapun terhadap Gui-ciangkun.

Benteng Gui-ciangkun masih dijaga ketat dan jembatan gantung masih juga belum diturunkan.

Jelaslah bahwa Gui-ciangkun dan pasukannya hendak memberontak.

Akan tetapi, untuk menggempur dan menghukumnya tidak ada waktu.

Yang penting kini ialah menghadapi pemberontak Liu Pang yang sudah mengepung kota.

Terdengar bunyi terompet dan tambur diluar pintu gerbang, dan Liu Pang menantang perang dengan suara lantang karena teriakannya disertai tenaga khikang yang kuat.

Selagi Jenderal Lai sibuk mengatur pasukan untuk melakukan penjagaan mempertahankan benteng kota, tiba-tiba nampak bayangan orang meloncat turun dari tembok benteng.

Segera terdengar bentakan dan teriakan dari atas benteng dan beberapa batang anak panah meluncur kearah orang itu.

Akan tetapi orang itu yang berpakaian perwira, berlari dengan cepat dan beberapa batang anak panah yang mengenai baju perangnya meleset dan tidak melukainya.

"Cepat sambut orang itu dengan baik!"

Liu Pang berseru dan beberapa orang lalu menyambut perwira itu dan membawanya menghadap Liu Pang. Perwira itu melepas topinya dan memberi hormat sambil berlutut didepan Liu Pang.

"Saya membawa salam hormat dari Gui-ciangkun untuk disampaikan kepada Liu-Bengcu!"

Kata perwira itu agak terengah-engah karena tadi dia harus mengerahkan tenaganya.

"Gui-ciangkun memberitahukan bahwa dia telah mengambil keputusan untuk bergabung dengan pasukan Liu-Bengcu, dan sekarang sudah siap untuk menghadapi gempuran Jenderal Lai yang menganggapnya sebagai pemberontak."

"Bagus! Kalau begitu, kita akan menyerang sekarang! Jangan beri kesempatan kepada Jenderal Lai untuk menyerbu benteng Gui-ciangkun!"

Liu Pang lalu memberi isyarat kepada semua pembantunya dan pasukannya mulai bergerak.

Dari dalam benteng itu, keluarlah tiga orang perwira menunggang kuda.

Munculnya musuh ini segera disambut oleh Pek Lian, Hek-coa Ouw Kui Lam, dan seorang rekan lagi.

Seperti biasa yang dilakukan orang pada jaman itu, setiap peperangan selalu dimulai dengan pertempuran antara jagoan-jagoan mereka.

Kedua pihak bertanding dengan jujur dan gagah sedangkan pasukan masing-masing hanya memberi semangat dengan sorakan-sorakan dan teriakan-teriakan.

Terjadilah pertempuran antara tiga orang jagoan dari Lok-yang melawan Pek Lian, Ouw Kui Lam, dan seorang pendekar lain.

Tentu saja dalam perkelahian perorangan seperti ini, ilmu silat jauh lebih penting dan berguna dari pada ilmu perang.

Belum sampai dua puluh jurus saja, tiga orang perwira jagoan dari Lok-yang itupun roboh dan tewas, disambut sorak-sorai dari para anak-buah pasukan Liu Pang.

Dan karena Liu Pang tidak ingin membiarkan pasukan Gui-ciangkun mengalami kehancuran didalam benteng, dia tidak menanti sampai ada jagoan lain keluar dari benteng musuh, terus saja dia memberi aba-aba dan pasukannya bergerak maju sambil menghujankan anak panah kearah benteng.

Dari benteng musuh datang pula anak panah berhamburan menyambut pasukan yang maju.

Terjadilah pertempuran yang dahsyat.

Biarpun pasukan penjaga kota Lok-yang cukup banyak dan kuat, bahkan diam-diam dibantu pula oleh pasukan asing tanpa diketahui oleh Jenderal Lai sendiri, namun karena kini pasukan yang dipimpin oleh Gui-ciangkun juga membantu melakukan pengacauan dari dalam, akhirnya, menjelang tengah hari, pintu gerbang besar dapat dibobolkan dan Liu Pang memimpin pasukannya menyerbu kedalam kota.

Gegerlah kini keadaan dalam kota.

pertempuran terjadi dimana-mana diseluruh kota.

rakyat menjadi panik dan berlari-larian menyelamatkan diri.

Kebakaran-kebakaran terjadi disana-sini membuat keadaan menjadi semakin kacau dan membuat orang-orang menjadi semakin panik.

Suara gaduh dan hiruk-pikuk memenuhi udara, kadang-kadang terdengar pekik kesakitan dan raungan orang menghadapi maut.

Pertempuran yang kacau-balau dan tidak teratur sama sekalipun terjadilah dimana-mana.

Pertempuran antar kelompok dan antar perorangan terjadi dijalan-jalan, dilorong-lorong, dihalaman rumah orang.

kebakaran makin menjalar luas.

Liu Pang sendiri bersama lima puluh orang pengawal yang selalu membantu dan melindunginya, menerjang kearah gedung gubernuran untuk menduduki gedung yang menjadi pusat pemerintahan didaerah itu.

Akan tetapi usahanya ini tidaklah mudah karena selalu dirintangi oleh pasukan musuh yang agaknya hendak mempertahankan gedung, itu dengan mati-matian.

Apa lagi, jalan besar menuju kegedung kepala daerah itu penuh dengan rakyat tua muda yang berlarian mengungsi dan menyelamatkan diri, sehingga mereka ini menghambat majunya Liu Pang yang selalu melarang anak-buahnya mengganggu rakyat.

Dengan menunggang seekor kuda putih yang besar, Liu Pang terus menghajar musuh dengan gagahnya.

Dia sudah berhati-hati sekali agar jangan sampai salah tangan melukai rakyat yang berlari-larian mengungsi, akan tetapi karena suasana begitu kacau, tanpa disengaja kudanya melanggar tubuh seorang laki-laki berpakaian pelayan yang setengah tua.

Pelayan tua itu diiringkan oleh beberapa orang pelayan lain dan dia jatuh tunggang langgang ketika terlanggar oleh kuda putih besar itu.

Liu Pang terkejut sekali dan sesuai dengan wataknya yang gagah dan selalu memperhatikan orang kecil, diapun cepat melompat turun dari atas kudanya dan membantu orang tua itu untuk bangun.

Dengan ramah Liu Pang minta maaf dan sekalian bertanya kepada kakek itu dimana letaknya gedung sang gubernur.

"Tak jauh lagi, disana..."

Kakek itu menunjuk kearah barat.

Kemudian, tertatih-tatih orang itu melanjutkan perjalanannya mengungsi dipapah para pelayan pengikut yang lain.

Liu Pang tidak memperhatikan lagi rombongan pelayan itu dan melanjutkan penyerbuannya kearah gedung kepala daerah seperti yang ditunjukkan oleh pelayan tua tadi.

Dan sekarang terjadi hal yang mengherankan.

Perlawanan pasukan musuh tidaklah seketat tadi, bahkan kini mereka dapat maju sampai kegedung gubernuran tanpa banyak halangan!

Cepat Liu Pang memimpin pasukannya menyerbu kedalam gedung, dan ternyata gedung itu sudah kosong.

Semua penghuninya agaknya telah kabur.

Bahkan para pelayan dan pengawalnya juga tidak ada lagi, gardu-gardu penjaga kosong.

Para perwira pasukan asing yang katanya mondok digedung itupun tidak nampak bayangannya.

Sungguh aneh, bagaimana mereka mampu meloloskan diri dari gedung dikota yang sudah dikepung dan diserbu itu?

Apakah mereka mungkin melarikan diri dengan menyamar, lalu menjadi satu dengan rakyat yang berlari-larian dan mengungsi berbondong-bondong itu?

Tiba-tiba dia teringat akan rombongan pelayan yang tadi ditabrak kudanya.

Ah, kini dia teringat.

Muka pelayan tua itu.

Tidak pantas sebagai pelayan, mukanya terlalu putih dan gerakannya terlalu halus.

Dan pelayan tua itu diiringkan banyak sekali pelayanyang membawa banyak buntalan pula.

Ah, betapa bodohnya!

"Tolol sekali aku!

Orang itu tentu gubernur dan para pengawalnya!"

Cepat Liu Pang keluar dari gedung dan melarikan kudanya, pergi menyusul.

Akan tetapi, kemanapun dia mencarinya, dia tidak berhasil menemukan rombongan gubernur yang mengungsi itu.

Pintu gerbang terbuka lebar dan padat oleh para penghuni yang mengungsi keluar kota.

Menjelang senja, pertempuran berakhir.

Sisa pasukan penjaga kota melarikan diri dan kota Lok-yang diduduki oleh Liu Pang.

Tentu saja pasukan Liu Pang menjadi gembira dan besar hati oleh kemenangan gemilang ini.

Jenderal Lai juga melarikan diri, dan banyak perwira yang tewas.

Gui-ciangkun diterima sebagai pembantu Liu Pang dan pasukannya bergabung dengan induk pasukan besar dari pendekar itu yang kini menjadi semakin besar.

Pesta kemenangan dirayakan!

Dalam keadaan seperti itu, para perajurit makan-minum sampai mabok dan mereka itu sama sekali lupa akan teman-temannya yang gugur dalam pertempuran itu.

Yang teringat hanyalah bahwa mereka masih hidup dan menang!

Di dalam pesta ini, Liu Pang lalu mulai mengatur pasukannya.

Dia berpikir bahwa kalau pasukannya yang semakin besar itu dibiarkan kacau tanpa peraturan, akhirnya dia sendiri yang tidak akan mampu mengendalikan.

Kini sudah tiba saatnya pasukannya harus merupakan bala tentara yang teratur, dengan pembantu-pembantunya dijadikan perwira-perwira sesuai dengan kepandaian, jasa dan kedudukan masing-masing seperti dalam ketentaraan.

Untuk menyusun peraturan-peraturan ini, tenaga Gui-ciangkun sangat berguna dan bersama Gui-ciangkun, Liu Pang mulai menyusun pasukannya dan pembantunya.

Didalam benteng itu mereka telah menyita banyak sekali pakaian dan kini para pembantu dibagi-bagi pakaian sesuai dengan kedudukan dan pangkat mereka yang ditentukan oleh Liu Pang.

Suasana pesta menjadi gembira sekali.

Karena mereka itu sebagian besar, yaitu para pembantu utama, terdiri dari pendekar-pendekar yang ahli ilmu silat, maka pesta ini tak dapat dihindarkan lagi lalu diramaikan dengan pertunjukan ilmu silat yang sekaligus menjadi arena pibu (mengadu kepandaian silat) secara persahabatan.

Pibu diadakan karena Liu Pang ingin mengenal kepandaian para pembantu baru dan ingin memilih pembantu-pembantu baru yang pandai.

Ho Pek Lian mewakili gurunya untuk bertin-dak sebagai penguji.

Beberapa orang pimpinan pasukan maju, akan tetapi tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan Pek Lian.

Bahkan bekas guru pertamanya sendiri, Ouw Kui Lam seorang diantara Huang-ho suhiap, tidak mampu menandinginya.

Ilmu kepandaian Pek Lian memang sudah cukup tinggi.

Bukan saja dara ini telah mewarisi ilmu-ilmu dari empat pendekar Huang-ho suhiap dan kemudian dilatih ilmu pedang oleh Liu Pang sendiri, akan tetapi juga gadis ini selama ini telah digembleng oleh pengalaman-pengalaman yang hebat, bertemu orang-orang pandai dan menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh keturunan orang-orang sakti.

Setelah melihat bahwa tidak ada lagi yang berani maju melawannya, Pek Lian hendak mundur dan mengaso.

Akan tetapi tiba-tiba muncullah seorang pemuda yang berwajah tampan sekali, seorang pemuda yang keluar dari kelompok perajurit rendahan.

Pakaiannya amat sederhana, dari bahan yang murah, akan tetapi nampaknya rapi dan bersih.

Pemuda ini agaknya tidak mau mempergunakan kesempatan dalam kemenangan itu untuk melucuti pakaian lawan dan memakainya, melainkan tetap mengenakan pakaian biasa seorang petani.

"Harap nona sudi memberi petunjuk kepadaku,"

Katanya sederhana.

Pek Lian mengerutkan alisnya dan memandang heran.

Diantara para pengikut pibu tadi, semua terdiri dari para pimpinan pasukan, tidak ada seorangpun perajurit biasa yang berani maju.

Pemuda ini jelas hanya seorang perajurit biasa saja.

Hal ini sudah mengherankan, pula, ia merasa seperti pernah melihat wajah tampan ini, akan tetapi ia lupa lagi kapan dan dimana.

Bagaimanapun juga, pibu itu diadakan secara terbuka dan tanpa batas, maka siapapun juga yang maju haruslah dilayani.

Maka iapun tersenyum ramah dan melangkah kembali kedepan, ketenglah ruangan indah itu, karena pertemuan pesta itu dilakukan diruangan luas dari gedung gubernur yang lantainya marmar licin dan bersih.

"Baiklah, silahkan maju,"

Katanya sambil memasang kuda-kuda.

"Maafkan!"

Pemuda itu lalu membuka serangan.

Gerakannya biasa saja, seenaknya dan seperti tidak bertenaga.

Akan tetapi, ketika Pek Lian mengelak dan mulai membalas, diam-diam dara itu terkejut.

Serangannya dapat dipatahkan dengan amat mudahnya oleh pemuda perajurit rendahan ini!

Tentu saja ia merasa penasaran dan mulailah ia memberi "isi"

Kepada serangan berikutnya.

Akan tetapi sama saja, berturut-turut ia menyerang dan semua serangannya kandas tanpa hasil!

Bahkan pemuda itupun membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah cepatnya.

Ramai sekali perkelahian pibu itu sampai semua orang memandang dengan mata terbelalak.

Terdengar pujian-pujian disana-sini dan semua orang merasa kecelik.

Tak ada seorangpun mengira bahwa pemuda sederhana itu ternyata memiliki ilmu silat yang cukup lihai sehingga mampu menandingi Pek Lian sampai belasan jurus.

Makin lama, makin kagum dan heranlah mereka karena yang belasan jurus itu akhirnya menjadi sampai puluhan jurus dan mendekati seratus jurus akan tetapi pemuda itu belum juga terdesak, apa lagi kalah!

Ternyata permainan silat mereka nampak seimbang.

Bahkan diam-diam Liu Pang yang memandang dengan penuh perhatian juga dapat menduga bahwa pemuda itu tentu memiliki tenaga sinkang yang kuat dan bahwa pemuda itu sengaja mengalah terhadap Pek Lian dan tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

Seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, pikirnya kagum.

Sementara itu, si pemuda tampan agaknya merasa sudah cukup menguji kepandaian dan dia sengaja memperlambat elakannya ketika tamparan tangan kiri Pek Lian menyambar kearah kepalanya sehingga biarpun kepalanya tidak sampai terkena pukulan, akan tetapi bahu kanannya tertampar dan diapun terhuyung kebelakang.

Cepat dia menjura kepada Pek Lian.

"Banyak terimakasih atas petunjuk nona!"

Lalu diapun kembali ketempat duduknya disambut sorak-sorai para perajurit yang merasa kagum kepada rekan mereka yang muda namun lihai ini.

Akan tetapi sebelum pemuda itu tiba ditempat duduknya, nampak bayangan berkelebat dan ternyata Liu Pang telah berdiri didepannya dan pemimpin ini tersenyum.

"Aku merasa sangat kagum atas kepandaianmu, saudara muda. Tidak kusangka bahwa diantara rekan-rekan yang membantuku, terdapat seorang pendekar muda yang amat lihai. Nah, terimalah rasa kagumku dengan secawan arak!"

Liu Pang yang sudah membawa secawan arak itu lalu memberikan cawan penuh arak itu kepada si pemuda.

Melihat betapa pemimpin besar ini menghormatinya dengan secawan arak, wajah si pemuda menjadi merah seketika karena girang, bangga dan juga terharu dan malu.

Dan kenyataan bahwa Liu Pang dapat berkelebat cepat membawa secawan penuh arak tanpa tumpah, membuktikan betapa lihainya pemimpin ini.

"Terimakasih, sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi saya,"

Pemuda itu menjawab dan menerima cawan arak itu.

Akan tetapi, begitu tangannya menyentuh cawan, dia terkejut bukan main karena terasa hawa panas dan tenaga kuat mendorongnya dari tangan Liu Pang!

Tahulah dia bahwa pemimpin ini memang sengaja hendak mengujinya dengan tenaga sinkang.

Pemuda itu tersenyum dan diapun melanjutkan gerakannya menerima cawan arak.

Terjadi pertemuan dua tenaga sinkang dan akibatnya, cawan arak itu pindah ketangan si pemuda akan tetapi keduanya tergetar dan mundur!

Liu Pang mundur sampai tiga langkah sedangkan si pemuda mundur sampai empat langkah, akan tetapi arak itu sedikitpun tidak tumpah dari cawannya.

Liu Pang memandang kaget dan juga kagum.

Tahulah dia bahwa pemuda ini benar-benar lihai bukan main, jauh lebih lihai dibandingkan dengan Pek Lian, bahkan dalam hal tenaga sinkang juga hampir dapat mengimbanginya!

"Maaf, siapakah guru saudara?

Bolehkah saya mengenal namanya yang mulia?"

Tanya Liu Pang, sikapnya bukan sebagai pemimpin terhadap bawahan, melainkan sebagai seorang pendekar yang bertemu kawan baru yang sama lihainya.

"Harap Liu-Bengcu sudi memaafkan saya. Sesungguhnya, saya terseret oleh kegembiraan pesta kemenangan ini sehingga lupa diri dan tadi lancang memasuki pibu. Bukan lain hanya untuk ikut bergembira. Akan tetapi saya hanyalah seorang perajurit pejuang, dan tentang asal-usul saya, harap Bengcu sudi memberi kelonggaran dan kebebasan kepada saya untuk sementara ini tidak menceritakannya."

Ucapan itu dikeluarkan dengan nada sedih dan juga dengan sikap sopan, maka biarpun hatinya merasa penasaran sekali, Liu Pang tidak menjadi marah.

Sementara itu, Pek Lian memandang tajam, mengingat-ingat dimana kiranya ia pernah bertemu dengan pemuda ini, namun ia tetap tidak mampu mengingatnya.

Liu Pang merasa sangat terkesan hatinya oleh pemuda tampan itu.

Maka pemuda itu langsung saja diangkat menjadi pembantu dekatnya, sebagai pengawal pribadi karena selain suka, diapun ingin benar mengetahui asal-usul pemuda aneh yang amat lihai ini.

Dia menghadiahkan pakaian perwira karena pemuda itu diangkatnya sebagai komandan pengawal, dan diberi hadiah sebatang pedang rampasan yang amat baik.

Karena gembira dan didorong oleh kawan-kawannya, pemuda itu mengenakan pakaian perwira itu dan dia kelihatan semakin tampan dan gagah.

Kini dia mendapat kehormatan untuk duduk dikursi para pembantu dekat Liu Pang dan pesta dilanjutkan dengan penuh kegembiraan sampai pagi.

Kita tinggalkan dulu mereka yang sedang merayakan pesta kemenangan didalam kota Lok-yang yang baru mereka duduki itu dan mari kita mengikuti perjalanan Chu Seng Kun, Chu Bwee Hong, Kwa Siok Eng, dan A-hai.

Seperti telah diceritakan dibagian depan, empat orang muda ini meninggalkan Pek Lian dan pasukan Liu Pang yang sedang menyusun kekuatan itu dan mereka berangkat menuju ke Kotaraja.

Mereka berempat itu tidak tahu bahwa gerak-gerik mereka semenjak meninggalkan pasukan Liu Pang telah diperhatikan orang.

Mereka baru tahu akan bahaya setelah pada hari kedua, ketika mereka memasuki sebuah hutan yang sunyi, tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah tidak kurang dari tiga puluh orang dari balik pohon dan semak-semak, dan mereka berempat sudah dikepung!

Para pengepung itu rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi, dan biarpun mereka itu berpakaian preman, namun gerakan mereka yang teratur itu membayangkan bahwa mereka adalah anggauta-anggauta pasukan yang terpimpin rapi.

Dan memang tidak keliru karena mereka adalah pasukan pemerintah yang pilihan dan menyamar sebagai orang biasa.

Pasukan seperti ini bertugas menggempur para pemberontak secara diam-diam dan kini mereka telah mengepung empat orang yang mereka tahu adalah anggauta-angauta pemberontak yang baru saja meninggalkan pasukan Liu Pang dan agaknya akan bertugas sebagai mata-mata.

"Pemberontak-pemberontak hina, menyerahlah sebelum, kami menggunakan kekerasan!"

Bentak seorang diantara mereka yang bertubuh tinggi kurus. Mereka ini adalah pasukan khusus dibawah kekuasaan Jenderal Lai, merupakan pasukan pilihan.

"Siapa pemberontak?"

A-hai balas membentak.

"Jangan menuduh orang sembarangan dan tentang hina itu, kiranya kalianlah yang hina karena menuduh orang dengan fitnah keji!"

Akan tetapi jawaban A-hai itu tidak diperdulikan dan tiga puluh orang itu sudah menyerbu untuk menangkap mereka.

Agaknya, melihat bahwa diantara empat orang itu terdapat dua orang dara yang begitu cantik-cantik dan manis-manis, mereka itu berlumba untuk menangkap Bwee Hong dan Siok Eng sehingga Seng Kun dan A-hai tidak ada yang menyerang!

Bagaikan serombongan srigala menyerang dua ekor domba mereka menubruk kearah Bwee Hong dan Siok Eng, dengan tangan terulur panjang, jari-jari tangan terbuka hendak mencengkeram daging lunak kulit mulus itu.

Akan tetapi, segera terdengar teriakan-teriakan mereka ketika dua orang gadis itu menyambut serangan mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat sedikitnya ada lima orang terjungkal!

Tentu saja teman-temannya terkejut sekali dan pemimpin mereka yang tinggi kurus itu lalu mengeluarkan aba-aba.

"Serang dan bunuh mereka! Hati-hati, mereka ini lihai, gunakan senjata I"

Dan kini mereka menyerbu dengan senjata pedang atau golok!

Mengamuklah Seng Kun, Bwee Hong, dan Siok Eng, sedangkan A-hai hanya berdiri bengong saja sambil berkali-kali mencoba untuk melerai dengan kata-kata dan nasihat-nasihat!

Masih untung bagi A-hai bahwa Seng Kun selalu menjaganya sehingga tidak ada seorangpun pengeroyok dapat mendekatinya.

Dan tiga orang yang mengamuk itu adalah orang-orang muda keturunan orang-orang sakti yang telah memiliki ilmu kepandaian hebat, maka biarpun kepungan itu ketat, sampai puluhan jurus lewat, tiga orang muda itu masih belum dapat mereka lukai, apa lagi mereka merobohkan.

Bagaimanapun juga, Seng Kun maklum bahwa mereka terancam bahaya.

kalau tidak ada A-hai disitu, mereka bertiga tentu dapat melarikan diri.

Tiba-tiba tercium bau asap hio yang keras dan lima orang pengeroyok roboh dengan mata mendelik dan dari lubang pori-pori ditubuh mereka nampak bintik-bintik darah!

Itulah pukulan sakti dari Tai-bong-pai dan melihat ini, Seng Kun berseru.

"Nona Kwa, jangan bunuh orang!!"

Dia merasa ngeri membayangkan betapa dara yang amat cantik dan sikapnya juga halus ini dapat membunuh orang secara demikian kejinya, walau pun dia tahu bahwa memang gadis itu adalah puteri ketua Tai-bong-pai yang tentu saja mewarisi ilmu-ilmu yang sakti dan keji dari Tai-bong-pai.

"Tidak, taihiap, bukan aku"

Bau asap hio semakin keras dan kembali ada lima orang pengeroyok yang roboh dan mati mendelik seperti lima orang pertama.

Melihat ini, para pengeroyok terkejut sekali dan pemimpin mereka agaknya sudah mendengar akan ilmu kesaktian ini.

Dia berteriak ketakutan.

"Iblis-iblis Tai-bong-pai datang! Lari!"

Dan larilah mereka tunggang-langgang, meninggalkan mayat sepuluh orang kawan mereka itu.

Terdengar suara ketawa halus dan muncullah seorang nenek berusia lima puluh tahun lebih yang cantik, berpakaian serba putih sederhana.

"Ibu!"

Kwa Siok Eng cepat merangkul wanita itu yang ternyata adalah Kwa-hujin (nyonya Kwa) isteri ketua Tai-bong-pai.

"Anak nakal, baru sekarang engkau pulang? Ah, kiranya engkau bersama dengan kedua orang penolong kita dan penyelamat nyawamu? Bu-kongcu, Bu-siocia, selamat bertemu!"

Nyonya itu menyapa halus kepada Seng Kun dan Bwee Hong. Dua orang muda yang kini shenya sudah berganti menjadi Chu itu tidak membantah dan cepat maju memberi hormat kepada nyonya yang lihai itu.

"Bibi datang menyelamatkan kami, terimakasih,"

Kata Seng Kun dan Bwee Hong juga memberi hormat.

"Ilmu bibi sungguh sadis sekali! Membunuh orang begitu mudah dan mengerikan! Aih, sungguh merupakan ilmu siluman!"

A-hai berkata sambil bergidik ngeri.

Nyonya Kwa mengerutkan alisnya dan perlahan-lahan menoleh kearah A-hai, kedua tangannya menegang.

Ada orang berani mencela seperti itu, berarti harus mati!

Kwa Siok Eng dapat melihat sikap ibunya ini, maka ia mempererat rangkulannya dan berbisik, bisikan halus yang hanya terdengar oleh ibunya saja.

"Ibu, dia seorang sahabat baik, hanya... otaknya agak miring. Harap ibu maafkan "

Nyonya itu terbelalak lalu menarik napas panjang.

Heran ia mengapa puterinya dan dua orang penolong itu mau saja bersahabat dengan seorang gila!

Akan tetapi iapun tidak mau lagi memperdulikan pemuda itu dan ia segera menegur puterinya.

"Sampai begitu lama engkau tidak pulang, juga kakakmu pergi tanpa memberi tahu. Engkau hendak pergi kemanakah bersama kedua orang penolong ini?"

"In-kong hendak ke Kotaraja dan aku ikut kesana, kemudian dia hendak mengantar aku pulang, ibu,"

Jawab Siok Eng.

"Hemm, negara sedang kalut, suasana sedang kacau dan berbahaya begini, lebih baik engkau ikut bersamaku lekas pulang. Ayahmu sudah marah-marah terus."

"Tapi, ibu "

Seng Kun merasa tidak enak.

"Nona Kwa, sebaiknya kalau nona ikut ibu nona pulang lebih dulu."

"Tapi... tapi bukankah inkong mau singgah ditempat kami?"

Nada suara gadis itu kecewa bukan main.

"Baiklah, setelah urusanku selesai, aku akan menyediakan waktu untuk berkunjung."

Wajah yang manis itu berseri.

"Harap inkong jangan melanggar janji. Aku sudah menjelaskan jalan menuju ke Tai-bong-pai. Aku akan menanti-nanti siang malam, inkong, jangan lupa"

"Baiklah."

Mereka lalu berpisah.

Gadis Tai-bong-pai itu dan ibunya lalu berangkat, diantar oleh belasan orang Tai-bong-pai yang muncul seperti setan saja, tanpa suara, tanpa mengatakan sesuatu dan gerakan mereka mengerikan dan penuh rahasia.

A-hai bergidik.

"Ihh! Tak sangka bahwa nona Kwa punya ibu seperti iblis! Dan para pengikutnya itu. Baunya dupa lagi. Ih, seperti sekumpulan arwah-arwah saja."

Seng Kun tersenyum.

"Sudahlah, saudara A-hai, mari kita lanjutkan perjalanan kita."

"Nanti dulu! Apakah sepuluh mayat itu dibiarkan begitu saja? Kita harus mengubur mereka lebih dulu!"

Diam-diam Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dengan kagum. Biarpun gila, sinting atau tolol, pemuda ini sungguh masih memiliki budi yang luhur.

"Jangan sentuh mereka itu, saudara A-hai. Tubuh mereka telah keracunan dan menyentuh mereka saja dapat membuat kita kehilangan nyawa. Nanti tentu teman-temannya akan datang dan mengurus mayat mereka ini. Mari kita pergi sebelum teman-teman mereka ini datang dan mengganggu kita lagi."

A-hai terpaksa ikut pergi sambil menggeleng-geleng kepala.

"Ilmu setan, dunia kejam dan gila, semua manusia kejam dan gila!"

Dia mengomel terus seolah-olah dia lupa bahwa dia juga manusia dan berada didunia yang sama.

Kini mengertilah Seng Kun bahwa perjalanan menuju ke Kotaraja itu bukan merupakan perjalanan yang aman.

Banyak halangan disepanjang jalan, terutama sekali mereka harus dapat menghindari pertemuan dengan pasukan kepala daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing, dan jangan sampai diketahui oleh mata-mata mereka yang agaknya telah disebar dimana-mana.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, nampak jelas pengaruh dan akibat dari perang.

Dusun-dusun sepi ditinggalkan penghuninya yang pergi mengungsi jauh keselatan.

Bahkan kota-kota kecil yang tadinya ramai kini nampak sunyi karena para pedagang tidak berani berdagang.

Sawah ladang tidak terpelihara, ditinggalkan begitu saja oleh para petani yang pergi mengungsi.

Semenjak jaman dahulu sebelum sejarah sampai jaman kapanpun, selama manusia belum sadar, perang masih akan selalu timbul.

Perang merupakan puncak kebudayaan merusak dari manusia.

Perang adalah keji dan kejam, apapun yang menjadi dalih dan alasannya bagi yang membela dan mempertahankannya.

Perang merupakan puncak adanya konflik lahir yang timbul dari kebencian, dan sebab adanya konflik lahir sesungguhnya didasari oleh adanya konflik batin dalam diri sendiri, diri setiap orang manusia.

Karena itu, selama konflik batin dalam diri kita masing-masing belum musnah, jangan harap konflik lahir akan berhenti dan jangan mengharap pula karenanya perang akan lenyap dari permukaan bumi.

Karena tidak ingin bertemu dengan pasukan-kepada Kaisar, kalau ada, ataupun pasukan para penguasa setempat yang bersekongkol dengan pasukan asing, maka Seng Kun mengajak adik dan temannya itu untuk mengambil jalan liar, masuk keluar hutan, kadang-kadang melewati lorong-lorong kecil bahkan jalan-jalan setapak.

Seng Kun ingin sekali segera sampai di Kotaraja dimana dia akan cepat menghadap Kaisar dan menceritakan segala-galanya agar jangan sampai kesalah-pahaman antara beberapa kekuatan itu terpecah-belah dan mengakibatkan perang saudara yang menghancur-kan.

Karena diapun maklum bahwa apabila pasukan yang mendukung Liu Pang itu bentrok dengan pasukan penguasa daerah dibantu oleh pasukan pemerintah pusat, hal itu tentu akan berarti kehancuran.

Didaerah barat dan utara saja pasukan pemerintah sudah sibuk menghadapi pemberontakan Chu Siang Yu yang semakin kuat.

Kalau Liu Pang dan pasukannya dapat berbaik kembali dengan pemerintah pusat dan dipercaya untuk menumpas pasukan asing dan mereka yang bersekongkol, mungkin pemerintah dapat diselamatkan.

Pada suatu siang ketika mereka keluar dari sebuah hutan besar, dari jauh nampak berbondong-bondong pengungsi berlari-lari hendak menyelamatkan diri kedalam hutan besar.

Melihat ini, Seng Kun segera menghampiri mereka dan mencari keterangan apa yang telah dan sedang terjadi.

"Pasukan setempat bersama pasukan dari Kotaraja sedang mengadakan pembersihan besar-besaran. Para pendekar dan siapa saja yang bisa silat ditangkapi. Orang yang menyimpan senjatapun, senjata pusaka keturunan nenek moyang, juga ditangkap dan mereka semua dituduh sebagai anak-buah Liu-Bengcu,"

Demikian seorang diantara para pengungsi memberi keterangan.

Seng Kun mengerutkan alisnya.

Apa yang dikhawatirkannya telah terbukti.

Agaknya pemerintah pusat telah terkena hasutan para penguasa setempat dan memusuhi Liu Pang.

"Siapakah panglima yang memimpin pasukan dari Kotaraja itu, lopek?"

Tanyanya.

"Orang-orang menyebutnya Lai-goanswe."

Mendengar ini, Seng Kun cepat mengajak Bwee Hong dan A-hai menyingkir.

"Lai-goanswe adalah tangan kanan Jenderal Beng Tian. Celaka, kita benar terlambat. Kelihatannya pemerintah pusat sudah termakan hasutan para penguasa daerah yang memutar-balikkan fakta sehingga kini pasukan Liu-Bengcu benar-benar dianggap sebagai pemberontak. Kaisar kini malah membantu para penguasa yang sesungguhnya hendak berkhianat dan bersekongkol dengan pasukan asing untuk menentang Liu-Bengcu"

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tanya adiknya.

"Aku harus cepat dapat menemui Lai-goanswe sendirian. Akan kuperingatkan dia tentang persekongkolan antara para penguasa setempat dengan para pasukan asing itu,"

Kata Seng Kim dengan tegas. Kemudian dia menoleh kepada A-hai yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan sikap orang yang tidak mengerti.

"Saudara A-hai, sungguh aku merasa menyesal sekali mengingat akan kepentinganmu. Karena keadaan yang serba kacau ini, maka maksud kami berdua untuk berusaha mengobati penyakitmu yang sering bingung itu menjadi terlantar. Padahal, sekarang ini kami harus sering kali terjun kedalam tempat-tempat berbahaya dan keselamatan kami sendiri terancam dalam usaha kami menjernihkan suasana. Apakah tidak lebih baik kalau saudara mencari tempat yang aman dulu untuk bersembunyi, dan besok kalau sudah aman, kalau urusan kami sudah selesai, kami pasti akan mencarimu"

"Ehhh??"

A-hai kelihatan terkejut dan tiba-tiba saja, sepasang mata yang tadinya nampak ketololan itu kini berkilat tajam, lalu meredup kembali ketika matanya bentrok dengan pandang mata Bwee Hong.

Seng Kun menjadi gelisah juga.

Jangan-jangan si sinting ini kambuh.

Bisa berabe kalau begitu.

"Tidak! Kalau kalian berdua memperbolehkan, aku akan tetap mengikuti kalian, kemanapun kalian pergi. Bersama kalian, aku merasa kuat dan mempunyai harapan. Selama ini aku hidup dalam kegelapan. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan akan kemana. Siapa adanya aku ini sebenarnya, akupun tidak tahu"

Suara pemuda itu mengandung duka, pandang matanya menatap wajah Bwee Hong dengan penuh permohonan. Bwee Hong merasa kasihan sekali dan iapun menarik napas panjang.

"Koko, biarlah dia ikut bersama kita,"

Katanya lirih.

Seng Kun juga menghela napas panjang dan sesungguhnya, tanpa diminta adiknyapun dia merasa tidak tega untuk meninggalkan A-hai begitu saja, terutama sekali karena memang hatinya sudah amat tertarik untuk berusaha menyembuhkan pemuda yang luar biasa ini.

"Baiklah kalau begitu, baik-buruk dan suka-dukanya kita hadapi bertiga"

A-hai girang bukan main, wajahnya yang tampan gagah itu berseri dan matanya berkilat. Sejenak lenyaplah sinar ketololan dari pandang mata nya.

"Terimakasih, terimakasih, hatiku girang sekali, kalian baik sekali!"

Karena khawatir kalau-kalau pemuda itu akan menari-nari sehingga menarik perhatian banyak orang, Seng Kun lalu mengajak Bwee Hong dan A-hai melanjutkan perjalanan.

Para pengungsi memandang heran dan juga khawatir melihat tiga orang muda itu menuju kearah yang baru saja mereka tinggalkan.

Sungguh bodoh bepergian ketempat yang tidak aman itu, pikir mereka, apa lagi kalau mengajak seorang gadis yang demikian cantiknya.

Mencari penyakit saja!

Tiga orang muda itu melanjutkan perjalanan.

Ketika mereka tiba diluar sebuah dusun dikaki bukit, tak nampak seorangpun.

Agaknya semua orang telah pergi mengungsi.

Akan tetapi ketika mereka mendekati pintu dusun, terdengar suara hiruk-pikuk orang-orang berkelahi.

Cepat mereka menghampiri dan ternyata ada belasan orang laki-laki yang pakaiannya seperti para ahli silat sedang dikepung dan dikeroyok oleh hampir lima puluh orang perajurit.

Para pendekar terdesak hebat dan melihat keadaan ini, tanpa ragu-ragu lagi Seng Kun dan Bwee Hong lalu turun tangan membantu para pendekar.

A-hai hanya menonton saja dari jauh.

Masuknya kakak-beradik yang amat lihai ini segera merobah keadaan.

Pengeroyokan para perajurit kacau-balau dan para pendekar itu dapat melawan dengan baik.

"Kita lari! Kembali keatas!"

Teriak seorang diantara mereka.

Dengan bantuan yang amat kuat dari Seng Kun dan Bwee Hong, belasan orang itu akhirnya dapat lolos dari kepungan dan melarikan diri kearah bukit.

Seng Kun sudah menarik tangan A-hai dan bersama adiknya, diapun terpaksa melarikan diri bersama belasan orang itu karena mereka menjadi buruan para perajurit.

Akan tetapi, melihat kelihaian Seng Kun dan Bwee Hong, para perajurit itu tidak berani mengejar terlalu dekat, hanya membayangi dari jauh saja.

Ketika belasan orang pendekar itu bersama Seng Kun, Bwee Hong, dan A-hai tiba di puncak bukit, ternyata disitu terdapat puluhan orang pendekar.

Jumlah mereka seluruhnya ada lima puluh orang dan mereka ini adalah pendekar-pendekar daerah itu yang bergabung menjadi suatu kelompok untuk menentang pasukan pemerintah yang mereka tahu diselewengkan oleh pemimpin mereka untuk melawan pemerintah dan bersekongkol dengan orang-orang Mongol.

Para pendekar ini dipimpin oleh seorang muda yang gagah perkasa, seorang pemuda yang pakaiannya serba putih dan dipunggungnya nampak sepasang pedang.

Usia pemuda ini kurang lebih tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan sikapnya jujur terbuka.

Pemuda ini sebenarnya bukan pendekar daerah itu, melainkan seorang pendekar pendatang yang kebetulan merantau ditempat itu dan karena dia memiliki kepandaian tinggi, maka oleh para pendekar diapun diangkat menjadi pimpinan.

Dia bernama Kwan Hok dan tentu saja dia lihai karena pemuda ini adalah seorang diantara murid-murid Yap-lojin ketua Thian kiam-pang!

Kwan Hok ini masih adik kandung dari mendiang Kwan Tek, murid kedua dari ketua Thian-kiam-pang yang telah tewas ditangan kaki tangan Raja Kelelawar.

Sebagai pimpinan kelompok pendekar itu, setelah menerima laporan dari teman-temannya, Kwau Hok menyambut Seng Kun, Bwee Hong, dan A-hai dengan hormat dan ramah.

"Terimakasih atas bantuan sam-wi yang gagah,"

Katanya.

"Sehingga teman-teman kami dapat lolos dari kepungan pasukan."

A-hai cepat mengangkat tangannya dan menggoyangnya berkali-kali diatas.

"Tidak, aku tidak masuk hitungan, karena aku hanya nonton saja!"

Kwan Hok memandang heran, akan tetapi karena pemuda tampan yang menyangkal bantuannya itu datang sebagai kawan dari Seng Kun dan Bwee Hong, dia tetap saja bersikap ramah dan hormat.

Mereka lalu berkenalan dan Seng Kun bersama adiknya dan A-hai menerima jamuan para pendekar itu dengan gembira, Setelah selesai makan-minum, Seng Kun lalu minta diri.

"Kami bertiga hanya kebetulan saja lewat disini. Kami tidak dapat berdiam terlalu lama disini dan kami akan melanjutkan perjalanan sekarang juga."

Kwan Hok dan teman-temannya nampak kecewa. Bantuan dua orang yang demikian lihai itu amat menguntungkan bagi perjuangan mereka.

"Ah, mengapa sam-wi tergesa-gesa? Sam-wi adalah tiga orang gagah, kalau tidak pada saat seperti sekarang ini menyumbangkan tenaga demi nusa dan bangsa, lalu kapan lagi? Marilah sam-wi ikut bersama kami, bersama berjuang demi nusa bangsa!"

"Saudara yang gagah, kalian ini agaknya hanya bersenang-senang saja, tidak manguasai keadaan didaerah-daerah. Para penguasa daerah berkhianat dan bersekutu dengan orang-orang asing, mempersiapkan pemberontakan atau ingin berdiri sendiri didaerah masing-masing. Rakyat terancam perang saudara yang besar, dan dalam kemelut ini, muncul seorang Bengcu yang memimpin para pendekar diseluruh negeri untuk mengatasi keadaan. Maka kamipun berniat untuk menggabungkan diri dengan pasukan besar pemimpin rakyat itu,"

Jawab Kwan Hok.

"Kau maksudkan L.iu-Bengcu?"

Tanya A-hai. Pemuda ini dapat mengingat orang-orang yang baru dikenalnya dalam keadaan waras, walaupun dia lupa sama sekali akan masa lalunya.

"Ah, jadi sam-wi sudah mengenal Liu-Bengcu?"

Tanya Kwan Hok girang dan semua pendekar memandang lebih hormat lagi kepada tiga orang tamu mereka itu.

"Tentu saja kami mengenal baik karena kami pun baru saja berpisah dari pasukan Liu-Bengcu,"

Kata Seng Kun sejujurnya.

Pada saat itu terdengar bunyi terompet dan seorang pendekar tergopoh masuk melaporkan bahwa bukit itu telah dikepung oleh pasukan yang besar jumlahnya.

Sedikitnya ada lima ratus orang pasukan mengepung bukit itu!

Mendengar laporan ini, Kwan Hok segera melakukan pemeriksaan, diikuti pula oleh tiga orang tamunya.

Bukit itu merupakan tempat pertahanan yang amat baik.

Tidak ada jalan naik ke puncak kecuali melalui lorong yang sempit dan terjal.

puncak bukit itu dikelilingi jurang yang tidak mungkin dapat dicapai kecuali melalui lorong itu.

Sebuah lorong terjal sempit yang kanan kirinya diapit tebing.

Hanya seekor kuda atau paling banyak tiga orang dapat melalui lorong ini secara bersama.

Dan tentu saja mudah bagi para pendekar untuk menghalang serbuan dari luar, yaitu dengan jalan menjaga lorong ini dari atas kedua tebing.

Dengan anak panah atau bahkan dengan melemparkan batu-batu saja, tak mungkin musuh dapat menyerbu masuk.

Sebelum melewati lorong yang panjangnya ada lima puluh meter itu mereka tentu sudah tertimbun batu dari atas.

Dari atas tebing itu, Kwan Hok dan teman-temannya dapat melihat pasukan yang mengepung bukit.

Dia lalu mengatur penjagaan.

Batu-batu dan anak panah dipersiapkan dan para pendekar siap untuk menghujankan anak panah atau batu-batuan kebawah apabila ada perajurit berani mencoba untuk melalui lorong.

Setelah mengatur penjagaan dan memerintahkan teman-teman untuk berjaga secara bergilir, Kwan Hok mengajak tiga orang tamunya turun kebawah tebing dan dia lalu mengumpulkan sisa teman-temannya yang tidak sedang tugas berjaga untuk mengadakan rapat.

Rapat diadakan ditempat terbuka, dilapangan puncak itu, didepan pondok-pondok kecil mereka.

Seng Kun, Bwee Hong, dan A-hai yang oto-matis telah diterima sebagai segolongan atau bahkan kawan seperjuangan, juga ikut menghadiri rapat itu.

Bahkan dengan jujur Kwan Hok minta nasihat mereka karena menganggap bahwa mereka yang sudah mengenal Liu-Bengcu ini tentu sedikit banyak dapat membantunya mengatur siasat.

"Kita berkekuatan lima puluh tiga orang,"

Kwan Hok berkata, lebih banyak ditujukan kepada tiga orang tamunya dari pada kawan-kawannya walaupun mereka semua berkumpul dan mendengarkan.

"Sedangkan menurut taksiranku, jumlah pasukan yang mengepung bukit ini ada enam ratus orang. Kita harus mencari siasat yang baik untuk dapat meloloskan diri dari kepungan yang berbahaya ini"

"Kulihat tempat ini amat baik untuk bertahan. Betapapun kuatnya dan besarnya jumlah pasukan musuh, kalau jalan masuk hanya melalui satu lorong sempit itu, sampai bagaimanapun mereka tidak mungkin dapat menyerbu naik ke Puncak. Akan tetapi, kalau mereka terus mengepung, kitapun tidak dapat keluar dan kita dapat menjadi kehausan atau kelaparan!"

Kata Bwee Hong.

"Pendapat nona memang benar sekali. Karena baiknya tempat pertahanan ini, maka kami sengaja memilihnya sebagai markas kami. Tentang minuman, tidak perlu kita khawatir karena dibelakang puncak terdapat sumber air. Akan tetapi mengenai makanan, kami hanya mempunyai persediaan untuk dua tiga hari saja."

"Bagaimana kalau kita mengajak damai saja? Aku sudah bosan dengan perang dan bunuh-membunuh ini!"

Tiba-tiba A-hai berkata dan semua orang memandang dengan mata terbelalak.

Akan tetapi agaknya Kwan Hok sudah dapat menduga bahwa tamu yang satu ini memang aneh sekali wataknya.

Dan sebagai murid Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang, tentu saja diapun tidak merasa heran karena didunia kang-ouw, diantara orang-orang sakti, banyak memang yang berwatak aneh-aneh.

"Yang memulai dengan kekerasan adalah mereka, mengajak mereka berdamai sama dengan mengajak srigala-srigala kelaparan untuk berdamai,"

Kata Kwan Hok.

"Bagaimana kalau kita serbu saja keluar malam ini? Biar kita akan jatuh banyak korban, akan tetapi kitapun dapat membunuh mereka sebanyaknya dan tentu ada sebagian dari kita yang dapat lolos!"

Kata seorang pendekar penuh semangat.

"Musuh terlalu kuat, perbandingannya satu lawan sepuluh. Itu hanya akan menjadi bunuh diri yang sia-sia belaka,"

Kata Kwan Hok tidak setuju. Kemudian dia teringat sesuatu dan menarik napas panjang penuh penyesalan.

"Sayang, kalau suteku berada disini, tentu dia akan dapat mencari akal. Dia cerdik sekali dan selalu mempunyai akal yang baik."

"Siapakah sutemu itu?"

Tanya Seng Kun.

"Dia putera guruku sendiri."

"Dan siapakah gurumu?"

"Guruku adalah ketua Thian-kiam-pang"

"Ahh!!"

Seru Bwee Hong dan Seng Kun hampir berbareng dan dara itu melanjutkan.

"Kiranya saudara adalah murid dari Yap-pangcu? Sungguh pertemuan yang menggembirakan sekali"

"Nona mengenal suhu?"

"Bukan hanya mengenal lagi, akan tetapi beliau pernah menyelamatkan aku dilautan, bahkan kami pernah bersama-sama mengalami hal-hal yang mengerikan di Ban-kwi-to!"

Jawab Bwee Hong. Tentu saja Kwan Hok merasa semakin girang dan semakin dekat dengan tiga orang tamunya setelah dia mendengar bahwa tiga orang tamunya ini bersahabat baik dengan gurunya.

"Sebaiknya kita mencari siasat. Mari kita tinjau keadaan puncak, siapa tahu ada jalan baik bagi kita untuk lolos,"

Kata Seng Kun.

"Baiklah, akupun ingin memeriksa lagi persediaan pangan kita,"

Jawab Kwan Hok.

Lalu bersama tiga orang tamunya, Kwan Hok pergi kebelakang puncak, menyuruh kawan-kawannya tetap melakukan penjagaan secara bergilir dan jangan sembarangan bergerak sebelum menerima petunjuknya, kecuali para penjaga lorong diatas kedua tebing yang sudah mendapat perintah untuk turun tangan mencegah apabila ada pihak musuh yang berani mencoba untuk memasuki lorong.

Mereka berempat lalu menuju kebelakang pun-cak.

Setelah melakukan pemeriksaan sendiri, Seng Kun dan Bwee Hong terpaksa membenarkan pendapat Kwan Hok bahwa tidak ada jalan lain bagi para pendekar untuk meloloskan diri.

Hanya ada dua pilihan, yaitu menyerbu keluar lewat lorong dan melawan mati-matian, atau bertahan disitu sampai mereka tidak kuat lagi karena kelaparan!

"Hemm, agaknya sekarang banyaknya persediaan pangan menjadi soal terpenting!"

Kata Seng Kun.

"Demikian pula perhitunganku,"

Jawab Kwan Hok.

"Mari kita memeriksa persediaan pangan itu. Kami sembunyikan didalam sebuah gua dibawah tanah agar aman dan tidak sampai terbakar apabila musuh menggunakan panah api untuk membakar markas kami."

Di belakang puncak itu terdapat sebuah gua yang tertutup oleh batu besar sekali.

Dibutuhkan tenaga sepuluh orang untuk memindahkan batu itu.

Akan tetapi, mereka bertiga, dibantu oleh A-hai yang tanpa disadarinya sendiri memiliki tenaga melebihi sepuluh orang, berhasil mendorong batu itu kepinggir.

Hal ini amat mengagumkan hati Kwan Hok dan dia makin merasa yakin bahwa tiga orang tamunya itu, termasuk pemuda ketolol-tololan, adalah orang-orang muda yang berilmu tinggi.

Setelah batu besar itu tergeser, nampaklah sebuah mulut gua yang besarnya hanya cukup dimasuki dua orang.

Akan tetapi ketika mereka sudah masuk, nampak jalan menurun dan ternyata gua itu menembus kebawah tanah, dimana terdapat sebuah ruangan yang luas juga, dapat memuat seratus orang lebih!

Yang amat menyenangkan, disudut kiri gua itu terdapat lubang-lubang besar dari mana hawa dapat keluar masuk, dan lubang-lubang ini berada dilambung tebing sehingga tidak dapat dicapai oleh orang luar, juga tidak nampak dari puncak karena terhalang tebing.

Hanya burung-burung sajalah kiranya yang dapat memasuki gua bawah tanah itu dari lubang-lu-bang yang merupakan jendela-jendela buatan alam itu.

Bersama hawa, masuk pula sinar matahari yang membuat gua itu cukup terang.

Tepat seperti yang diperhitungkan oleh Kwan Hok, persediaan gandum dan sayur kering hanya cukup untuk dua tiga hari saja, atau paling lama lima hari kalau dihemat sekali.

Akan tetapi Seng Kun tidak memperhatikan persediaan itu, melainkan termenung dan termangu-mangu sehingga Bwee Hong menegurnya.

"Koko, ada apakah?"

"Aku ada akal!"

Tiba-tiba Seng Kun berkata dan wajahnya berseri.

"Ah, bagus sekali. Akal yang bagaimana?"

Tanya Kwan Hok.

"Gua ini cukup luas untuk menjadi tempat persembunyian kita semua, dan hawa udaranyapun cukup. Kita biarkan musuh mengira kita kelaparan dan kita masuk kedalam guha ini, lalu menutupnya dengan batu. Didepan batu dan diatasnya kita tumpuki kayu-kayu bakar yang banyak sekali, kemudian kita bakar dan kita meninggalkan pakaian atas kita diantara kayu-kayu bakar itu sehingga menimbulkan dugaan bahwa para pendekar, karena kelaparan dan tidak mampu melawan lagi, telah membunuh diri. Bukankah hal itu patut dilakukan oleh para pendekar yang tidak sudi ditawan dan lebih baik mati membakar diri beramal-ramai setelah tiada tenaga lagi untuk melawan?"

Kwan Hok terbelalak.

Akal yang aneh sekali, akan tetapi setelah dipikir-pikir, merupakan siasat yang baik juga.

Memang andaikata mereka semua kelaparan dan tiada tenaga untuk melawan, apakah mereka akan membiarkan menjadi orang-orang tawanan?

Masuk diakal pula siasat membunuh diri beramai-ramai dengan membakar diri itu.

"Akan tetapi untuk melakukan pembakaran kayu-kayu itu harus ada seorang yang tinggal diluar gua!"

Kata Bwee Hong.

"Benar!"

Sambung Kwan Hok.

"Bagaimana hal itu dapat dilakukan dan siapa yang akan tinggal diluar?"

"Memang kenyataannya begitu. Harus ada seorang yang berani berkorban demi keselamatan kawan-kawannya, dan tinggal diluar untuk membakar kayu-kayu itu dan untuk memberi keterangan kepada musuh kabur dia ditawan bahwa para pendekar telah membunuh diri semua,"

Jawab Seng Kun.

"Kurasa ini jauh lebih baik dari pada bertahan sampai kelaparan atau membunuh diri dengan jalan menyerbu dengan nekat melalui lorong. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu kalau musuh percaya, tentu mereka meninggalkan tempat ini dan kita selamat. Andaikata musuh tidak percaya dan berhasil menemukan guha itu, masih belum terlambat bagi kita untuk menyerbu keluar dan melawan mati-matian, membuka jalan darah berusaha lolos."

"Bagus sekali!"

Kwan Hok kini memandang dengan wajah berseri gembira.

"Tentang orang yang mau mengorbankan diri dan tinggal diluar, kurasa banyak yang mau melakukannya, bahkan aku sendiripun, tidak ragu-ragu untuk melakukannya. Mari kita jumpai kawan-kawan dan merundingkan akal baik ini!"

Dari fihak pasukan pemerintah daerah, bukan tidak ada usaha untuk menyerbu naik ke puncak bukit.

Akan tetapi karena jalan naik hanya melalui lorong, setelah beberapa kali mereka mencoba untuk menyerbu dan selalu disambut hujan anak panah dan batu yang menewaskan beberapa orang perajurit, mereka tidak lagi berani mencoba.

"Biarkan mereka mampus sendiri kelaparan disana!"

Kata pemimpin mereka dengan marah.

pemimpin mereka itu adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan namun dingin dan matanya menyeramkan, berpakaian serba putih dan rambutnya riap-riapan, tangannya memegang senjatanya yang luar biasa, yaitu sebuah cangkul panjang melengkung, seperti cangkul para penggali kuburan.

Dia ini bukan lain adalah Kwa Sun Tek yang berjuluk Song-bun-kwi (Setan Berkabung), putera dari ketua Tai-bong-pai itu.

Seperti telah kita ketahui, Kwa Sun Tek ini telah mengabdikan dirinya kepada pemberontak Chu Siang Yu untuk mengadakan persekutuan dengan para penguasa didaerah timur dan selatan, untuk mengacau pemerintah dan membagi-bagi kekuatan pemerintah sehingga pergerakan Chu Siang Yu dari barat dapat dilakukan lebih lancar lagi.

Dan seperti kita ketahui, usaha Kwa Sun Tek itu berhasil baik.

Dia dapat bersekongkol dengan para penguasa daerah dan para pasukan asing, lalu menggunakan siasat mengadu domba antara pasukan pemerintah yang setia kepada Kaisar dengan pasukan-pasukan Liu Pang, tentu saja dengan tujuan agar kekuatan pemerintah berkurang dan juga untuk menghantam Liu Pang yang dianggap sebagai saingan.

Melihat betapa pasukan pemerintah daerah tidak mampu menyergap ke puncak bukit, bahkan ada belasan orang luka-luka atau tewas tertimpa batu dan terkena anak panah, Kwa Sun Tek menjadi marah sekali.

Dia menasihatkan komandan pasukan untuk memperketat kepungan dan tidak membiarkan para pendekar di puncak itu lolos.

Setiap hari dia sendiri mencoba penjagaan musuh dengan memasuki lorong dan setiap kali ada batu-batu dan anak panah turun, dia dengan mudah dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi pada hari ketiga, ketika Kwa Sun Tek berjalan memasuki lorong, hanya ada beberapa buah batu kecil dan anak panah yang luncurannya lemah menyerangnya.

Melihat ini, giranglah hatinya.

"Mereka telah lemah kelaparan! Mari kita menyerbu keatas!"

Teriaknya dan benar saja, ketika mereka menyerbu dan memasuki lorong sempit itu, tidak ada serangan terlalu hebat, bahkan lalu tidak ada serangan sama sekali dari kedua tebing.

Akan tetapi, lorong itu terlalu sempit sehingga membutuhkan banyak waktu bagi semua perajurit untuk dapat lewat.

Sementara itu, para pendekar telah berkumpul didepan gua yang batunya telah digeser dan dimana telah tersedia tumpukan kayu yang banyak sekali.

Mereka kini berebut, memperebutkan tugas untuk tinggal sendirian diluar gua!

Melihat ini, Kwan Hok lalu melangkah maju.

"Kalian semua masuklah kegua dan aku sendiri yang akan tinggal disini!"

Ketika semua orang mengajukan keberatan, pendekar muda ini membentak.

"Ini sebuah perintah! Aku yang akan berjaga disini membakar kayu ini dan kalian harus cepat masuk. Tanggalkan baju atas kalian!"

Para pendekar itu menanggalkan baju atas mereka dan memandang kepada Kwan Hok dengan muka pucat, bahkan ada yang matanya basah karena melihat betapa pemimpin mereka hendak mengorbankan diri demi keselamatan mereka.

Seng Kun dan Bwee Hong memandang dengan terharu.

Betapa gagahnya murid Yap-lojin ini!

Begitu beraninya mengorbankan diri demi teman-temannya, demi perjuangan membela nusa bangsa!

Terlepas dari baik buruknya alasan perjuangan, namun sikap ini saja, yang sudah melenyapkan kepentingan diri pribadi, sungguh amat mengagumkan, gagah perkasa dan patriotik!

"Tidak!

Tidak boleh ini dilakukan!"

Tiba-tiba A-hai maju dan berkata lantang.

Seng Kun dan Bwee Hong memandang terbelalak.

Mereka sudah tahu bahwa pemuda ini aneh, dan dibalik kegilaannya tersembunyi suatu watak yang amat luar biasa dan mereka tidak dapat menduga lebih dahulu apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh pemuda ini.

"Apa maksudmu, saudara A-hai?"

Seng Kun bertanya.

"Tidak pantas kalau seorang diantara kalian harus tinggal diluar dan mengorbankan diri! Tidak ada seorangpun diantara kalian yang pantas untuk mengorbankan diri dan tinggal diluar untuk membakar tumpukan kayu ini!"

"Eh?"

Kwan Hok terbelalak heran.

"Akan tetapi, siasat ini harus dilakukan dan sekarang pasukan pemerintah telah mulai menyerbu naik. Harus ada seorang yang melakukannya dan bagaimana saudara mengatakan bahwa tidak ada yang pantas melakukannya?"

"Satu-satunya orang yang patut melakukan tugas itu hanyalah aku!"

"A-hai!"

Bwee Hong berseru.

"Saudara A-hai, engkau tidak boleh"

Seng Kun juga berkata setengah berteriak. A-hai tersenyum, bukan senyum tolol lagi sekali ini. Dia mengangkat dadanya yang memang bidang dan kokoh itu.

"Mengapa tidak boleh? Bahaya maut tidak hanya mengancam kelompok pejuang ini, melainkan kalian juga, terutama sekali nona Bwee Hong! Dan kalian semua masih belum tentu selamat, kalau gua itu ketahuan kalian akan membutuhkan semua tenaga untuk melawan dan menyelamatkan diri. Tenaga setiap orang amatlah penting, kecuali tenagaku. Aku tidak bisa berkelahi dan bahkan hanya akan mengganggu kalian saja yang harus melindungiku. Nah, biarlah aku memanfaatkan tenaga tak berharga ini untuk membakar kayu dan memberi keterangan bahwa para pejuang telah membakar diri karena tidak mau tertawan. Dan barangkali... siapa tahu, belum tentu mereka membunuh orang seperti aku!"

Seng Kun memandang terbelalak penuh kagum.

Dia tahu bahwa dibalik penyakit yang membuat A-hai kadang-kadang menjadi linglung dan beringas itu terdapat watak pendekar yang amat hebat, yang tidak berkejap mata sedikitpun dalam menghadapi maut untuk membela dan menyelamatkan orang lain!

"A-hai, jangan!"

Bwee Hong berkata lagi. Seng Kun merangkul A-hai dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Tapi dia benar! Dia benar sekali dan kita harus menurut sarannya itu!"

Katanya dengan terharu. Seorang pendekar datang berlarian, mengabarkan bahwa kini hampir semua perajurit musuh sudah melalui lorong sempit.

"Masuklah kalian semua. Nona Bwee Hong, masuklah cepat!"

Kata A-hai dan sinar matanya tajam berseri ketika dia menatap wajah Bwee Hong.

Nona itu membalas pandang matanya dan tak terasa lagi matanya menjadi panas.

Karena tahu bahwa air matanya hampir runtuh, Bwee Hong mengeluh lalu membalik dan melompat masuk kedalam gua, diikuti oleh para pendekar yang sudah menanggalkan baju atas mereka dan menumpuk serta melemparkan baju-baju itu diatas tumpukan kayu.

Barulah setelah semua orang masuk, batu besar itu digeser dari dalam dan dibantu dari luar oleh dorongan kedua tangan A-hai!

Tidak ada seorangpun yang berani menyangka bahwa tanpa bantuan orang lainpun, kalau A-hai dapat menggunakan sinkangnya, batu itu akan dapat digesernya sendirian dengan amat mudah.

Kinipun, dalam keadaan "penuh semangat,"

Sebagian tenaga sinkangnya timbul dan tanpa banyak kesukaran batu besar itu kini telah menutupi lubang gua yang dari luar hanya kecil saja itu.

A-hai lalu menggunakan api membakar kayu yang bertumpuk didepan dan diatas gua.

Karena tumpukan kayu itu kering sekali, sebentar saja api berkobar besar dan A-hai terpaksa harus menjauhkan diri karena tidak tahan oleh panasnya api.

Pasukan yang menyerbu ke puncak bukit itu terkejut melihat api besar bernyala di Puncak.

Kwa Sun Tek cepat berlari kedepan dan ketika melewati pondok-pondok darurat, dia menendangi semua pintu hanya untuk melihat bahwa semua pondok itu kosong!

Dia merasa penasaran dan bersama anak-buah pasukan dia lari keatas.

Disana, di puncak itu, agak menurun sedikit dibelakang puncak, mereka melihat kobaran api yang bernyala besar dan agak jauh dari situ nampak seorang laki-laki berdiri bengong memandang kearah api seperti orang melamun.

Tentu saja Kwa Sun Tek menjadi curiga dan cepat dia meloncat kearah A-hai yang berdiri dengan bengong, tidak dibuat-buat karena dia seperti melihat hal-hal aneh didalam api yang bernyala-nyala itu.

Nyala api seolah-olah membentuk wajah-wajah yang sekelebatan saja dan mengingatkan dia akan wajah seorang yang amat dekat dengan hatinya.

Wajah Bwee Hong?

Atau Pek Lian?

Atau wajah ibunya, adiknya ataukah kakaknya?

Dia tidak tahu dengan pasti, hanya merasa yakin bahwa yang diingatnya dan dilihatnya sekelebatan dalam api itu adalah wajah seorang wanita.

Ketika Kwa Sun Tek melakukan serangan dengan pukulan dahsyat kearah A-hai, pemuda ini sama sekali tidak sadar, juga tidak mengelak ataupun menangkis.

Melihat sikap orang yang diserangnya itu jelas tidak memiliki kepandaian silat, Kwa Sun Tek terkejut dan heran.

Bukankah kabarnya yang berkumpul di puncak bukit ini adalah para pendekar?

Karena berita itulah maka dia diperbantukan untuk menghancurkan gerombolan pendekar itu.

Dan orang ini sama sekali tidak pandai silat.

Diapun merobah pukulannya, diganti dengan cengkeraman dan ketika tangannya mencengkeram lengan A-hai, juga tidak ada sedikitpun tenaga perlawanan maka Kwa Sun Tek mengendurkan cengkeramannya.

Biarpun sudah dikendurkan, tetap saja A-hai berteriak.

"Aduhhh!"

Lalu dia memandang kepada orang yang memegangi lengannya itu, juga melihat datangnya banyak perajurit.

"Hei, apa salahku? Kenapa aku ditangkap?"

"Hayo katakan, siapa engkau?"

Kwa Sun Tek membentak.

"Jangan bohong atau kubunuh kau!"

Dia merasa curiga sekali melihat sikap ketolol-tololan dari pemuda itu.

"Aku? Aku A-hai, tukang nyalakan api,"

Jawab A-hai seenaknya, sedikitpun tidak bermaksud membohong.

"Jawab yang betul!"

Bentak seorang anggauta Tai-bong-pai sambil menampar.

"Plakk!"

Pipi A-hai kena tampar keras sekali, sampai pemuda itu merasa pening dan pipinya merah membengkak.

"Hei, kenapa kau pukul-pukul anak orang tanpa dosa? Sudah kujawab benar bahwa aku tukang nyalakan api! Apakah kau tidak melihat aku sedang menyalakan api sekarang? Pegang saja sendiri dengan tanganmu, api atau bukan yang kunyalakan itu!"

"Tolol! Apa itu tukang nyalakan api? Tukang masak?"

Bentak Kwa Sun Tek yang mencegah anak-buahnya untuk memukul lagi.

"Tukang masak? Ya, ya, aku tukang nyalakan api dan tukang masak, masak daging orang!"

A-hai menjawab sambil tersenyum-senyum, lupa lagi akan tamparan tadi karena dia teringat bahwa dia harus mengatakan bahwa para pendekar telah membakar diri.

Bukankah itu sama saja dengan memasak daging orang?

Tentu saja Kwa Sun Tek semakin heran dan juga marah.

"Tolol, bicara yang betul! Tukang masak daging orang bagaimana yang kau maksudkan? Hayo katakan, dimana adanya para pendekar?"

A-hai menunjuk kearah api yang berkobar kobar.

"Mereka telah membakar diri, semua! mereka tidak sudi menyerah dan mereka membunuh diri dengan membakar dirinya."

Kata-kata ini sudah dihafalkan sejak tadi oleh A-hai. Tentu saja Kwa Sun Tek tidak mau percaya.

"Cari diseluruh puncak!"

Perintahnya dan dia sendiripun ikut mencari sambil terus memegangi lengan A-hai.

Akan tetapi, dicari sampai kemanapun tidak nampak bayangan seorangpun pendekar.

Tak mungkin mereka dapat lolos.

Bukit itu telah dikepung.

Benarkah cerita si tolol ini?

Kwa Sun Tek lalu menyuruh pasukan membongkar api yang bernyalanyala itu.

Tidak mudah melaksanakan ini karena api sedang berkobar amat besarnya memakan kayu yang bertumpuk tumpuk.

Dan diantara timbunan abu dan kayu yang menjadi arang, mereka menemukan pakaian-pakaian yang terbakar.

Maka mereka mulai percaya bahwa para pendekar telah membunuh diri, memilih bakar diri dari pada menyerah.

"Kita bakar juga orang ini!"

Kata seorang komandan sambil menyeret A-hai.

Akan tetapi Kwa Sun Tek melarangnya.

Kwa Sun Tek bukan orang bodoh.

Dia tidak menemukan bekas abu tulang manusia diantara puing itu.

Hanya si tolol inilah satu-satunya orang yang tinggal, dan dia yakin bahwa si tolol ini tentu merupakan satu-satunya orang pula yang mengetahui kemana perginya semua pendekar itu dan bagaimana caranya dapat lolos.

Akan tetapi, Kwa Sun Tek juga bukan orang bodoh dan dia dapat melihat benar-benar bahwa pemuda itu berada dalam keadaan tidak wajar, mengalami guncangan jiwa yang hebat dan ketololannya itu bukanlah pura-pura atau dibuat-buat.

Maka, tidak ada lain jalan baginya kecuali membiarkan A-hai ditawan oleh pasukan dan dibawa kekota didaerah itu disebelah utara Sungai kuning.

Setelah para pendekar mengetahui bahwa pasukan telah meninggalkan bukit itu, mereka keluar dengan hati-hati dan pertama-tama yang keluar adalah Seng Kun dan Bwee Hong.

Kakak-beradik ini keluar dengan jantung berdebar penuh kegelisahan dan kekhawatiran.

Mereka membayangkan akan melihat mayat A-hai terkapar disitu, dibunuh oleh pasukan pemerintah.

Akan tetapi, tak seorangpun mayat mereka temukan disekitar puing-puing bekas yang dibakar.

Mereka terus mencari-cari akan tetapi tidak dapat menemukan jejak A-hai.

Timbul harapan baru didalam hati kakak-beradik ini.

Wajah mereka tidak sepucat tadi, bahkan Bwee Hong mulai berseri.

(Lanjut ke

Jilid 21) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 21

"Tentu dia ditawan,"

Kata Seng Kun.

"Benar, mari kita kejar pasukan itu, koko. Kita harus dapat menolong dan membebaskan A-hai,"

Kata Bwee Hong. Kakaknya mengangguk dan mereka berdua segera berpamit dari pasukan para pendekar itu untuk pergi menyusul pasukan dan menyelamatkan A-hai.

"Kami merasa menyesal sekali bahwa demi untuk menyelamatkan kami, sahabatmu terpaksa harus menjadi korban dan ditawan,"

Kata Kwan Hok.

"Bagi kami, saudara A-hai adalah seorang pahlawan dan sungguh kecewa sekali hati kami bahwa ji-wi tidak dapat terus menemani kami untuk berjuang bersama."

"Kami mempunyai urusan sendiri, saudara Kwa. Dan kemana sekarang pasukanmu ini akan pergi?"

"Kami hendak menggabungkan diri dengan pasukan Liu-Bengcu yang kabarnya telah berhasil menduduki Lok-yang."

Merekapun berpisah.

Seng Kun dan Bwee Hong menggunakan ilmu berlari cepat, mengejar pasukan yang jejaknya mudah diikuti.

Menjelang senja, mereka dapat menyusul pasukan itu dan legalah hati mereka ketika mereka melihat A-hai dalam keadaan selamat dan sehat benar saja menjadi tawanan pasukan itu.

Pasukan memasuki pintu gerbang kota dan dibawa masuk kedalam benteng tanpa kakak-beradik ini mampu berbuat sesuatu.

Mereka tidak berani nekat menyerbu karena hal itu selain membahayakan diri mereka, juga membahayakan keselamatan A-hai sendiri.

Mereka hendak menyusup kedalam kota, melakukan penyelidikan dan berusaha merampas kembali A-hai dari benteng.

Ketika mereka tiba dipintu gerbang, muncul sepasukan perajurit berkuda yang mengiringkan seorang perwira tinggi yang pakaiannya gemerlapan mewah.

Itulah Lai-goanswe, jenderal pembantu Jenderal Beng Tian.

Seperti diketahui, jenderal ini bertugas didaerah timur dan sudah beberapa kali dia mengalami kegagalan dalam menghadapi gerakan Liu Pang dan pasukannya.

"Itulah orang yang kita cari!"

Seng Kun berbisik kepada adiknya.

"Mari kita menemuinya!"

Seng Kun dan Bwee Hong lalu meloncat kedepan, menghadang pasukan itu dan Seng Kun mengangkat tangannya keatas sambil berseru.

"Kami mohon bicara dengan Lai-goanswe...!"

Pada waktu itu, negara sedang kacau-balau, pertempuran terjadi dimana-mana, maka tentu saja perbuatan Seng Kun ini menimbulkan kecurigaan.

Juga Lai-goanswe yang maklum akan banyaknya mata-mata pihak pemberontak, mengerutkan alisnya dan memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap pemuda dan dara yang berani menghadang perjalanannya itu.

belasan orang pengawal lalu mengepung dan hendak menangkap Seng Kun dan Bwee Hong dengan kekerasan.

Akan tetapi, dua orang kakak-beradik ini tentu saja tidak sudi membiarkan diri ditangkap.

Kaki tangan mereka bergerak dan belasan orang pengawal itu terpelanting kekanan kiri.

Diam-diam Jenderal Lai terkejut dan makin yakinlah dia bahwa tentu dua orang ini merupakan pendekar-pendekar yang memberontak pula.

"Siapkan pasukan panah!"

Perintahnya dan sepasukan yang memegang busur telah datang dan siap untuk menyerang dua orang kakak-beradik itu.

Melihat ini, Seng Kun merasa khawatir kalau-kalau perkelahian menjadi semakin berlarut.

Dia tidak takut, akan tetapi dia tahu bahwa bukan inilah caranya untuk mendekati jenderal itu.

"Tahan dulu!"

Bentaknya sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya terdengar amat lantang berwibawa.

"Harap Lai-goanswe tidak salah menilai orang! Ketahuilah bahwa saya adalah utusan pribadi dari Sribaginda Kaisar. Inilah buktinya!"

Dan Seng Kun cepat mengeluarkan sehelai bendera yang ada tanda kebesaran Kaisar.

Itulah sebuah lengki (bendera utusan Kaisar) yang dikenal baik oleh Jenderal Lai.

Dia menjadi ragu-ragu, akan tetapi cepat memerintahkan pasukan panah mundur dan memberi perintah kepada para pengawalnya untuk menggiring dua orang muda itu kemarkas yang berada didalam kota.

Legalah hati Seng Kun dan dia bersama adiknya berjalan diantara pasukan itu, kembali kedalam kota karena Jenderal Lai agaknya akan memeriksa dan bicara dengan mereka.

Lai-goanswe sendiri tetap naik kuda dan alisnya berkerut.

selama beberapa bulan ini, Jenderal Lai mengalami kegagalan-kegagalan yang membuatnya merasa amat penasaran, juga malu.

Ketika rombongan ini tiba dipintu gerbang benteng yang terjaga ketat, muncullah seorang perwira muda yang gagah.

Dia ini Kwa Sun Tek yang telah berganti pakaian sebagai perwira, karena memang putera ketua Tai-bong-pai yang banyak berjasa ini bersama hampir lima puluh orang anak-buahnya telah diangkat menjadi perwira dan pasukan istimewa oleh gubernur dan diperbantukan dalam benteng itu.

Hal ini adalah siasat sang gubernur agar pemerintah pusat tidak tahu akan persekongkolannya dengan berbagai pihak untuk memperkuat kedudukan.

Ketika Kwa Sun Tek melihat Seng Kun dan Bwee Hong, dia terkejut sekali, mengenal mereka berdua dan membentak.

"Pemberontak-pemberontak mereka ini!"

Dan langsung saja dia menyerang dengan pukulan dahsyat kearah Seng Kun.

Tentu saja pemuda inipun tidak tinggal diam dan cepat menangkis, dan karena dia sudah maklum akan kelihaian kakak dari Kwa Siok Eng ini, maka diapun menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkangnya.

"Dessss!"

Pertemuan dua tenaga sinkang yang amat dahsyat itu membuat keduanya tergetar mundur, akan tetapi ternyata Kwa Sun Tek terdorong sampai tiga langkah lebih jauh, dibandingkan dengan Seng Kun.

Hal ini membuat dia penasaran dan dia sudah siap melakukan serangan dengan pukulan yang lebih ampuh.

Akan tetapi, Jenderal Lai yang kembali karena mendengar suara ribut-ribut, membentaknya.

"Hentikan perkelahian itu!"

Tentu saja Kwa Sun Tek tidak berani membantah, hanya berkata.

"Harap paduka ketahui bahwa mereka ini adalah anggauta-anggauta pasukan pemberontak!"

"Kami bukan pemberontak dan hal ini tentu telah goanswe ketahui dari lengki yang kami perlihatkan tadi,"

Kata Seng Kun.

Hati jenderal itu menjadi bimbang dan akhirnya dia memerintahkan Seng Kun dan Bwee Hong dibawa kedalam kantornya, juga dia memerintahkan perwira muda itu ikut pula.

Setelah dihadapkan kepada Jenderal Lai didalam kantornya yang terjaga ketat oleh para pengawal, Seng Kun lalu menceritakan segala persoalan yang diketahuinya.

Bahkan dia menceritakan pula pengalamannya ketika dia berada bersama pasukan Liu Pang.

"Kami diutus oleh Sribaginda Kaisar untuk menyelidiki dan mencari Menteri Ho yang diculik orang. Akan tetapi kami terlambat dan Menteri Ho telah terbunuh. Pasukan Liu-Bengcu juga gagal menyelamatkannya. Hal ini membuat para pendekar penasaran. Hendaknya goanswe ketahui bahwa para pendekar itu sama sekali tidak bermaksud memberontak terhadap pemerintah, melainkan terhadap penguasa-penguasa daerah yang bersekongkol dengan orang-orang asing. Agaknya, para penguasa daerah itu berhasil mengadu domba antara pasukan para pendekar dan pasukan pemerintah. Kami sengaja hendak menemui goanswe sebagai perwira tinggi yang memegang komando atas semua pasukan pemerintah didaerah timur dan selatan, untuk menjelaskan duduknya persoalan. Kalau goanswe mau melakukan pendekatan dengan Liu-Bengcu, kami yakin semua pertempuran ini dapat dihentikan dan bersama-sama Liu-Bengcu, goanswe dapat membersihkan negara dari para pemberontak aseli yang bersekongkol dengan pasukan asing."

"Semua itu bohong belaka, Lai-goanswe!"

Tiba-tiba Kwa Sun Tek mencela dengan suara lantang.

"Hamba sendiri yang melihat betapa dua orang ini ikut pula memberontak dan membantu pasukan Liu Pang menentang pasukan pemerintah. Banyak saksinya akan kenyataan ini dan harap paduka tidak sampai terkena bujukannya yang beracun. Liu Pang sudah jelas merupakan pemberontak, bahkan kini telah merampas dan menduduki Lok-yang, bagaimana mungkin paduka diminta untuk bersekutu dengan pemberontak itu?"

Jenderal Lai menjadi bimbang.

Keterangan Seng Kun tadi berkesan dihatinya karena diapun menaruh kecurigaan kepada para penguasa daerah yang suka berhubungan dengan pasukan asing.

Akan tetapi bantahan perwira muda itupun amat meyakinkan.

"Bagaimana keteranganmu tentang dirampas dan didudukinya Lok-yang oleh Liu Pang?"

Tanyanya kepada Seng Kun. Tentu saja pemuda ini menjadi bingung. Dia sendiri tidak tahu, hanya mendengar saja bahwa Liu-Bengcu telah menduduki Lok-yang.

"Tentu ada hal-hal yang memaksanya melakukan itu, goanswe. Mungkin penguasa di Lok-yang juga bersekutu dengan pasukan asing!"

Jenderal Lai menggebrak meja.

"Tahan ucapanmu! Aku sendiri yang ikut mempertahankan kota itu dari serbuan pemberontak Liu, dan kau berani bilang aku bersekutu dengan orang asing?"

"Bukan Lai-goanswe, akan tetapi para penguasa setempat."

"Harap paduka jangan percaya, semua omongannya itu beracun! "

Kwa Sun Tek berkata lagi. Bwee Hong yang sejak tadi diam saja menjadi marah.

"Engkaulah yang beracun! Siapa tidak tahu akan hal itu? Kami adalah utusan Sribaginda Kaisar dan untuk ini kakakku mempunyai bendera tanda utusan Kaisar. Pula, ayah kami adalah seorang yang berkedudukan tinggi di Istana, mana mungkin kami yang berada diluar lalu membantu pemberontak?"

Seng Kun memandang adiknya, akan tetapi ucapan itu telah dikeluarkan dan hal ini amat menarik perhatian Jenderal Lai.

"Siapakah ayahmu yang berada di Istana, nona?"

Karena adiknya sudah terlanjur bicara, Seng Kun lalu berkata.

"Saya bernama Chu Seng Kun dan adik saya ini Chu Bwee Hong. Ayah kami adalah kepala kuil Istana Thian-to-tang."

"Ahhh! Bu Hong Sengin?"

Jenderal itu bertanya dan hatinya kecut.

Bu Hong Sengin, biarpun hanya seorang pendeta yang mengurus kuil Istana Thian-to-tang, adalah paman dari Kaisar dan tentu saja mempunyai pengaruh dan kekuasaan besar.

Kalau kedua orang ini adalah benar putera-puterinya, tentu saja dia tidak boleh sembarangan mencelakakan mereka, apa lagi mereka ini masih utusan Kaisar yang membawa lengki!

"Sudahlah, untuk sementara ini kalian terpaksa kami tahan disini.

Aku akan mencari keterangan tentang kalian ke Istana, untuk menyatakan apakah benar-benar kalian adalah utusan Sribaginda Kaisar."

"Akan tetapi, kami mempunyai tugas penting dan kami harus cepat-cepat kembali ke Istana untuk melapor kepada Sribaginda!"

Seng Kun membantah.

"Jangan membantah! di Kotaraja dan Istana sendiri sekarang ini sedang kalut"

Tiba-tiba sang jenderal menghentikan kata-katanya dan merasa kelepasan bicara.

"Apa apakah yang terjadi di Istana?"

Seng Kun cepat bertanya. Akan tetapi, jenderal itu bangkit dan meninggalkan ruangan dan berkata kepada Kwa Sun Tek.

"Tahan mereka itu, jangan sampai terlepas. Akan tetapi kalau aku membutuhkan, mereka itu harus ada ditempat!"

Seng Kun dan Bwee Hong tidak dapat berbuat sesuatu dan tentu saja mereka tidak berani melawan ketika digiring memasuki kamar tahanan dimarkas itu.

Diam-diam.

Kwa Sun Tek menjadi girang sekali.

Musuh-musuhnya ini yang telah banyak mengganggu dan menggagalkan rencananya sekarang terjatuh kedalam tangannya.

Dia berpikir-pikir, apa yang akan dilakukan terhadap dua orang itu, terutama sekali terhadap Bwee Hong yang cantik jelita.

Dengan wajah berseri dan sepasang mata mengerling tajam kearah Bwee Hong, Kwa Sun Tek sendiri memimpin para pengawal yang menggiring dua orang kakak-beradik itu menuju kekamar tahanan.

Diam-diam Seng Kun dan Bwee Hong merasa khawatir.

Mereka berdua yakin akan ketegasan Lai-goanswe sebagai panglima perang, akan tetapi tentu saja mereka tidak dapat percaya kepada putera Tai-bong-pai yang berhati curang dan palsu ini.

Selagi rombongan pengawal itu mengantar Seng Kun dan Bwee Hong kekamar tahanan mereka, tiba-tiba muncul seorang perwira yang segera menemui Kwa Sun Tek dan berkata dengan suara serius.

"Taihiap... eh, ciangkun! Engkau dipanggil menghadap oleh Jenderal Lai, sekarang juga. Ada urusan penting sekali!"

Kwa Sun Tek ragu-ragu dan kecewa, akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah.

"Bawa mereka ini kepenjara bawah tanah bersama si gila itu. Awas, jangan ganggu mereka dan jangan sampai mereka lolos. Kalian bertanggung jawab!"

Setelah berkata demikian, pergilah pemuda Tai-bong-pai itu bersama perwira yang diutus oleh Lai-goanswe.

Sementara itu, Chu Seng Kun merasa curiga sekali melihat bahwa perwira yang memanggil pemuda Tai-bong-pai itu dikenalnya sebagai seorang diantara perwira-perwira yang berada di Ban-kwi-to, Yaitu perwira yang bersekongkol dengan pasukan asing, jelaslah bahwa persekutuan itu telah menjalar sampai kekota besar, bahkan ditempat ini, didekat Kotaraja, seolah-olah didepan hidung Kaisar sendiri, persekongkolan itu berjalan lancar.

Sungguh keadaan sudah teramat gawat.

Akan tetapi dia tidak berdaya sebelum Lai-goanwse memperoleh keterangan dari Kaisar sendiri tentang kedudukannya sebagai utusan Kaisar.

Kamar tahanan dibawah tanah itu melalui lorong bawah tanah yang diterangi oleh lampu-lampu, biarpun waktu itu siang hari.

Dan didalam sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat, mereka didorong masuk.

Didalamnya mereka melihat A-hai!

Pemuda ini duduk bersila dan kelihatan teainenung.

Akan tetapi begitu melihat mereka berdua, A-hai mlenjadi girang sekali.

"Ah, aku sudah khawatir sekali akan keadaan kalian!"

Teriaknya.

"Syukurlah kita dapat bertemu kembali dalam keadaan sehat!"

"Ya, akan tetapi bertemu dalam kamar tahanan yang kokoh kuat!"

Seng Kun menambahkan.

"Tidak apa!"

A-hai berkata gembira.

"Yang penting adalah selamat dan sehat. Apa artinya bertemu di Istana yang indah kalau dalam keadaan tidak sehat dan tidak selamat? Betul tidak, nona Hong?"

Bwee Hong terpaksa tersenyum.

Biarpun ucapan itu terdengar kekanak-kanakan, namun harus diakui bahwa memang tepat dan tak dapat dibantah.

Ia mengangguk membenarkan sehingga A-hai menjadi semakin gembira.

Akan tetapi Seng Kun tidak banyak melayani pemuda sinting itu dan dia sudah mulai memeriksa keadaan kamar tahanan itu.

Sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat memang.

Dindingnya dari batu yang sebelah dalamnya dilapisi baja.

Juga pintu itu amat kuatnya sehingga ketika Seng Kun mencoba untuk mendorongnya, sedikitpun tidak bergoyang.

Bwee Hong juga memeriksa seluruh dinding, mencari jalan keluar.

Mereka maklum bahwa selama mereka masih dalam kamar tahanan, bahaya selalu mengancam karena mereka tahu bahwa mereka terjatuh kedalam tangan komplotan itu, dan Lai-goanswe sendiri tidak tahu adanya komplotan itu.

Karena Seng Kun sudah membongkar rahasia, tentu komplotan itu, dibawah pimpinan pemuda Tai-bong-pai, tidak akan membiarkan mereka lolos dengan selamat.

Maka, mereka harus dapat keluar dari tempat ini, sebelum terlambat.

Kalau kakak-beradik itu sibuk memeriksa seluruh dinding dan mencari kemungkinan lolos, A-hai masih enak-enak duduk saja diatas lantai dan kini tangannya mengetuk-ngetuk lantai.

Agaknya dia juga merasa kesal didiamkan saja oleh dua orang kawannya itu.

"Tuk-tuk-tuk-tuk!"

Tangannya, yang diluar kesadarannya sendiri memiliki tenaga mujijat itu, mengetuk-ngetuk lantai menggunakan sepotong batu kecil yang ditemukannya ditempat tahanan itu.

Kini dia memindahkan batu itu dari tangan kanan ketangan kiri dan mengetuk-ngetuknya kembali keatas lantai disebelah kirinya.

"Tuk-tuk-tung-tung-tung-tunggg!"

Tiba-tiba Seng Kun meloncat, mendekat.

"Saudara A-hai, coba kau pukul lagi lantai sebelah kananmu."

A-hai memandang heran dan menurut.

"Tuk-tuk-tukk!"

"Sekarang sebelah kirimu."

Kembali A-hai menurut.

"Tung-tung-tunggg!"

Jelas sekali terdengar perbedaan bunyi. Seng Kun berjongkok dan menggunakan jari tangannya mengetuk-ngetuk bagian kiri A-hai itu, diatas lantai batu.

"Tung-tung-tunggg...!"

Melihat ini, Bwee Hong juga ikut berjongkok dan mengetuk-ngetuk lantai disana-sini dan ternyata yang terdengar bunyi "tung-tung"

Hanya disekitar sebelah kiri A-hai.

"Ah, ada lubang dibawah sini!"

Bisik Bwee Hong. Kakaknya mengangguk dan mengerutkan alisnya.

"Agaknya ini merupakan satu-satunya harapan kita. Saudara A-hai dan kau juga Bwee Hong, berdirilah didepan terali pintu dan beri isyarat kalau ada penjaga datang. Aku akan berusaha membongkar lantai ini."

Tanpa berkata sesuatu, Bwee Hong dan A-hai lalu berdiri dipintu, dimana terdapat jeruji baja yang kuat.

Tidak nampak adanya penjaga didepan pintu itu.

Para penjaga berkumpul agak jauh dari situ walaupun mereka tidak pernah lengah dan selalu memandang kearah kamar tahanan.

Melihat ini, Bwee Hong lalu memberi isyarat dengan tangannya.

Seng Kun lalu mengerahkan seluruh tenaganya, disalurkan kepada kedua lengannya dan setelah merasa cukup kuat, dia lalu menggunakan kedua tangannya menghantam lantai itu.

"Brakkkkk!"

Lantai itu pecah dan ambrol dan ternyata dibawahnya memang berlubang.

Bagaimanapun juga suara itu menarik perhatian para penjaga.

Mereka berlarian mendatangi tempat itu.

Melihat ini, Bwee Hong cepat menarik tangan A-hai dan bersama Seng Kun mereka lalu menutupi lubang itu dengan tubuh mereka yang sengaja direbahkan miring diatas lantai.

Seng Kun dan Bwee Hong pura-pura memijiti tubuh A-hai yang setengah dipaksa untuk rebah menelungkup diatas lubang.

"Kenapa? Apa yang terjadi?"

Tanya komandan penjaga melihat mereka yang berada didalam kamar tahanan itu.

"Teman karni ini pening dan terjatuh. Tapi tidak apa-apa, sebentar lagi tentu dia sembuh. Memang dia mempunyai penyakit ayan yang kadang-kadang kumat!"

Kata Seng Kun.

Diam-diam A-hai mengomel dikatakan bahwa dia mempunyai penyakit ayan.

Para penjaga tertawa lalu pergi lagi setelah melihat bahwa memang tidak terjadi apa-apa dikamar itu, tidak terdapat tanda-tanda bahwa tiga orang tawanan itu akan melarikan diri.

"Kita tunggu sampai gelap,"

Bisik Seng Kun.

Mereka tetap rebah-rebahan menutupi lubang dan setelah kamar itu menjadi gelap karena memang tidak diberi penerangan, barulah Seng Kun memeriksa lubang.

Lubang itu cukup besar untuk dapat dimasuki dan ketika dia memasuki lubang, ternyata disebelah bawah terdapat sebuah lorong seperti yang pernah mereka lihat lorong-lorong dibawah tanah dari Ke pulauan Ban-kwi-to.

Maka mereka bertigapun cepat maju kedepan dengan hati-hati karena keadaan didalamnya gelap sama sekali.

Setelah berjalan beberapa lamanya, mereka tiba dijalan buntu.

Didepan mereka menghadang dinding batu yang keras.

"Celaka, terowongan ini merupakan jalan buntu!"

Kata Seng Kun, mengeluh karena kalau mereka ketahuan dan para penjaga mengejar, tentu mereka akan tertawan kembali. Diterowongan yang sempit itu tidak mungkin mereka melakukan perlawanan.

"Lihat, bagian ini tanahnya lunak dan bercampur pasir. Bagaimana kalau kita membuat jalan dari sini?"

Bwee Hong berseru.

Seng Kun setuju dan mereka bertiga lalu mulai menggali.

Dan memang benar, tanah itu mudah digali, apa lagi oleh sepasang tangan kakak-beradik yang kuat itu.

Tak lama kemudian mereka melihat batu landasan atau fondamen bangunan rumah.

"Wah, kita sampai dibawah rumah orang!"

Dengan jari tangannya yang kuat, Seng Kun lalu membuat lubang dilantai rumah yang berada diatas mereka.

Segera terdengar suara orang-orang bercakap-cakap melalui lubang kecil itu dan mereka terkejut.

Seng Kun dan adiknya segera mengenal suara pemuda Tai-bong-pai yang menawan mereka!

Mereka bertiga mendengarkan dengan jantung berdebar tegang.

Kiranya diatas mereka merupakan sebuah ruangan dimana Kwa Sun Tek sedang mengadakan rapat dengan beberapa orang sekutunya, diantaranya terdapat kepala daerah Lok-yang, juga Malisang, kepala Suku Mongol yang bersekutu dengan para pemberontak.

"Boleh jadi pasukan pemerintah sudah tidak begitu kuat karena mereka harus menentang gerakan Chu Siang Yu dari barat, akan tetapi kita harus memperhitungkan kekuatan Liu Pang,"

Demikian kepala daerah Lok-yang bicara.

"Daerahku telah dikuasainya. Untung aku masih dapat lolos dengan menyamar sebagai pelayan. Padahal, pasukan penjaga kota dan dibantu oleh pasukan koksu sudah cukup kuat, namun kami kalah, dan kehilangan banyak perajurit."

"Kami juga kehilangan banyak anak-buah,"

Kata orang Mongol itu dengan suara kaku.

"Kami tidak mengira bahwa Liu Pang dapat bergerak sedemikian cepatnya, dan terutama sekali yang membikin kami gagal adalah kenyataan bahwa dalam pasukan tuan terdapat pengkhianatnya, yaitu Gui-ciangkun dan pasukannya."

Koksu atau kepala Suku Mongol itu terdengar kecewa dan penasaran.

"Akan tetapi sekarang, hal itu tidak perlu terulang kembali. Pasukan-pasukan kami telah berdatangan disepanjang pantai. Tak lama lagi mereka akan dapat berkumpul untuk membantu kita semua."

Mendengar percakapan ini, diam-diam Seng Kun mengerutkan alisnya dan hatinya khawatir sekali.

"Celaka,"

Pikirnya.

"Keselamatan, negara sungguh terancam. Pasukan asing dalam jumlah banyak telah mendarat. Sedangkan bangsa sendiri malah saling bermusuhan karena saling memperebutkan kedudukan. Pasukan Chu Siang Yu yang kuat itu memberontak. Para gubernur juga memberontak dengan diam-diam. Pemerintah pusat menghadapi begitu banyak ancaman pemberontakan. Agaknya negara sudah berada diambang kehancuran."

Tak lama kemudian, rapat diatas itupun bubar dan keadaan menjadi sepi.

Seng Kun mengintai dari lubang kecil yang dibuat jarinya tadi.

Memang ruangan itu sudah kosong sama sekali.

Mereka lalu membongkar lantai dan keluar dari lorong bawah tanah itu.

Ternyata mereka berada didalam ruangan yang menjadi bagian dari gedung gubernuran.

Hari masih larut malam dan merekapun cepat menyelinap keluar ruangan itu, bersembunyi didalam gelap.

Seng Kun menjadi pemimpin dan dua orang kawannya mengikuti dari belakang.

Mereka hendak mencari jalan untuk keluar dari gedung itu.

Akan tetapi, baru saja mereka tiba disamping gedung, mereka mendengar suara ribut-ribut dan melihat banyak sekali perajurit membawa obor.

Diantara mereka terdapat Kwa Sun Tek yang berteriak-teriak marah.

"Mereka takkan dapat pergi jauh! Sudah pasti masih berada didalam gedung. Hayo kepung gedung dan jangan sampai membiarkan seorangpun lolos!"

"Celaka, kita telah ketahuan!"

Bisik Seng Kun dan diapun mengajak Bwee Hong dan A-hai untuk mundur kembali memasuki gedung!

Seng Kun berpikir cepat dan.

tak lama kemudian dia sudah terus masuk kedalam gedung menyuruh A-hai dan Bwee Hong bersembunyi dan segera menangkap seorang pelayan yang agaknya terkejut mendengar ribut-ribut diluar gedung.

"Cepat bawa kami kedalam kamar gubernur!"

Seng Kun mengancam sambil mencengkeram tengkuk pelayan itu.

Cengkeramannya membuat pelayan itu merasa kesakitan dan tanpa banyak cakap lagi diapun, mengangguk-angguk dan pergilah mereka bertiga mengikuti pelayan kekamar sang gubernur.

Dengan kepandaiannya, Seng Kun mendorong pintu terbuka setelah Bwee Hong melumpuhkan dua orang pengawal jaga diluar pintu, kemudian, sebelum sang gubernur yang baru saja bangun karena kaget itu sempat berteriak Seng Kun telah menangkapnya dan mengancam.

"Kalau sayang nyawa, jangan banyak bergerak dan jangan mengeluarkan suara!"

"Ampun... jangan bunuh"

"Keluarkan kereta, selundupkan kami keluar dari kota ini. Kalau kami selamat, engkaupun hidup!"

Hardik Seng Kun dengan suara lirih akan tetapi penuh ancaman.

"Baik... baik!"

Di bawah ancaman Seng Kun dan Bwee Hong, akhirnya pembesar itu mengenakan pakaian kebesaran lalu membawa mereka ketempat kereta, membangunkan kusir kereta dan tak lama Kemudian, keretapun bergerak keluar dari halaman samping gedung.

Beberapa orang perajurit melihat dengan heran, bahkan ada seorang perwira yang berseru kepada kusir kereta, bertanya.

gubernur, dibawah ancaman Seng Kun, menyingkap tirai jendela kereta dan berkata bahwa dia ingin memeriksa dan melihat sendiri keluar gedung, mencari tahu tentang kerusuhan-kerusuhan yang terjadi dikota.

Beberapa pasukan pengawal siap hendak mengiringkan kereta, akan tetapi gubernur itu menolak dan memerintahkan mereka menjaga gedung baik-baik.

Setelah berhasil keluar dari pintu gerbang gedung itu, Seng Kun lalu menotok kusir kereta dan dia sendiri lalu duduk menggantikan tempat kusir.

"Saudara A-hai, engkau duduklah disampingku sebagai pembantu,"

Katanya.

Si gubernur gendut duduk berdua saja dengan Bwee Hong dan hal ini agaknya melegakan hatinya.

Disangkanya bahwa dara secantik itu tentu tidak kejam dan tidak begitu kuat, maka dia sudah mulai melihat kekanan kiri untuk mencari kesempatan menyelamatkan diri.

Melihat ini, Bwee Hong berkata.

"Kalau engkau melakukan yang bukan-bukan, aku akan menghancurkan kepalamu seperti ini!"

Dan Bwee Hong menggunakan tangannya meremas lengan kursi dalam kereta yang terbuat dari kayu keras.

Lengan kursi itu hancur ketika dicengkeramnya.

Melihat ini seketika muka si gubernur menjadi pucat dan diapun tidak lagi berani berkutik, maklum bahwa gadis cantik jelita inipun lihai bukan main dan agaknya tidak kalah kejam dibandingkan dengan orang yang kini menggantikan kusirnya.

Maka diapun pasrah saja dengan muka pucat, hati berdebar dan tubuh menggigil.

Kereta berhasil melalui pintu gerbang kota dengan selamat.

Para perwira dan pasukan penjaga, biarpun terheran-heran, tidak berani mengganggu melihat sang gubernur duduk didalam kereta dengan santai bersama seorang wanita muda yang cantik.

Mereka mengira bahwa sang gubernur sedang mencari angin bersama seorang selirnya yang terkasih dan tidak ingin diganggu, maka tidak ada pasukan pengawalnya dan hanya ditemani oleh kusir dan pembantunya.

Akan tetapi, tidak semua pasukan setolol itu.

Ada beberapa orang perwira yang merasa curiga sekali.

Tidak seperti biasa seorang gubernur melakukan perjalanan malam seperti itu, tanpa kawalan dan keluar dari kota.

Mereka lalu mempersiapkan pasukan dan diam-diam membayangi kereta itu dari jauh.

Ketika kereta melalui pintu, tiba-tiba saja perwira-perwira dan pasukannya itu menghadang didepan kereta.

"Tahan dulu!"

Bentak seorang diantara para perwira.

"Harap taijin maafkan kelancangan kami, akan tetapi dalam keadaan yang gawat ini kami harus bertindak hati-hati dan kami ingin merasa yakin bahwa taijin dalam keadaan selamat."

Bwee Hong mencengkeram tengkuk pembesar itu yang menjadi semakin ketakutan.

"Hayo katakan bahwa engkau selamat dan suruh mereka semua minggir!"

Desis dara itu kepada sang gubernur. Akan tetapi, gubernur itu menjadi demikian takutnya sehingga sukar baginya untuk mengeluarkan suara.

"Selamat, aku selamat sebaiknya kalian pergilah"

Melihat sikap gugup ketakutan dan mendengar suara yarig menggigil dan tersendat-sendat itu, tentu saja para perwira menjadi semakin curiga.

"Kepung! Tangkap penjahat!"

"Heh, mereka adalah tawanan-tawanan yang meloloskan diri itu!"

Tentu saja keadaan menjadi geger dan para perajurit lari mendatangi dan kereta itu dikepung.

Seng Kun dan Bwee Hong sudah melompat turun dan mereka berdua mengamuk.

Biarpun dikepung dan dikeroyok banyak perajurit, kalau mereka menghendaki, dua orang kakak-beradik ini agaknya akan mudah untuk melarikan diri.

Akan tetapi mereka teringat akan A-hai yang masih saja duduk ditempat kusir dan memandang perkelahian itu dengan bingung.

Banyak perajurit sudah roboh terkena tamparan dan tendangan kakak-beradik yang tangguh itu.

"Saudara Seng Kun! Nona Hong, kalian larilah saja dan jangan hiraukan aku!"

Berkali-kali A-hai minta mereka melarikan diri.

Dia tahu bahwa kakak-beradik itu tidak mau lari karena hendak melindungi dia.

Hal ini membuat hatinya terasa amat tidak enak.

Dia sendiri tidak mampu melawan.

Apa lagi melawan, bahkan melihat mereka berdua dikeroyok saja hatinya sudah menjadi gelisah sekali.

Bwee Hong mengerutkan alisnya.

Harus ada akal untuk menyelamatkan A-hai, dan satu-satunya akal hanyalah membuat pemuda itu mengamuk!

Kalau ia dan kakaknya harus membawa A-hai dari situ sambil melawan pengeroyokan, sungguh tidak mungkin.

Selain A-hai tidak akan mau, juga kalau muncul lawan berat seperti putera Tai-bong-pai, akan berbahaya sekali.

Akan tetapi bagaimana ia harus berbuat untuk dapat membuat A-hai kumat dan timbul kelihaiannya?

Seorang pengeroyok menyerang Bwee Hong dari samping dengan tusukan tombaknya.

Bwee Hong menangkap tombak itu dan tiba-tiba menjerit, lalu roboh bersama penusuknya, mandi darah!

Melihat ini, Seng Kun terkejut bukan main.

Hampir dia tidak percaya bahwa adiknya akan roboh sedemikian mudahnya, diserang oleh seorang perajurit biasa dengan tombak.

Tubuhnya meloncat dan meluncur bagaikan halilintar menyambar dan para pengeroyok adiknya terpelanting kekanan kiri.

Dengan muka pucat dia melihat adiknya menggeletak berlumuran darah.

"Hong-moi"

Teriaknya.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda dan sepasukan perajurit datang dipimpin oleh Kwa Sun Tek yang lihai.

Bahkan kepala Suku Mongol yang tinggi besar itupun datang bersama pemuda Tai-bong-pai itu!

Celaka, pikir Seng Kun.

Matilah mereka sekarang.

Adiknya yang merupakan pembantu amat lihainya, telah menggeletak dan agaknya terluka cukup parah.

Dia seorang diri mana mampu bertahan?

Apa lagi kalau harus melindungi adiknya yang terluka dan A-hai yang masih duduk diatas kereta.

Melihat datangnya pasukan bantuan yang kuat, kini para perajurit sudah mulai maju lagi mengeroyok Seng Kun yang terpaksa harus melindungi tubuh adiknya.

Pada saat itu, tiba-tiba saja terdengar teriakan yang amat dahsyat dan memekakkan telinga, lengkingan yang seperti bukan keluar dari mulut manusia, disusul berkelebatnya sesosok tubuh manusia yang melayang turun dari atas kereta.

Tubuh itu melayang kearah Bwee Hong yang masih rebah miring mandi darah, lalu dengan mata beringas dia menggunakan tangan kiri menyambar tubuh Bwee Hong dan memanggul diatas pundaknya.

Orang ini bukan lain adalah A-hai yang telah "Kumat"

Gilanya ketika melihat Bwee Hong roboh mandi darah.

Kini, dengan tubuh Bwee Hong dipanggul diatas pundaknya, dia memandang kedepan dengan sikap beringas mengerikan, sepasang matanya mencorong dan mengandung penuh nafsu membunuh.

Melihat ini, tentu saja beberapa orang perajurit mengepung dan menyerangnya.

Akan tetapi, sambil mengeluarkan suara mendengus pendek, A-hai menggerakkan tangan kanannya dengan cepat dan terdengarlah jerit-jerit mengerikan dan lima orang perajurit telah roboh dengan tubuh kaku dan mata mendelik, mati!

Tidak ada setetespun darah keluar, tidak ada sedikitpun luka nampak ditubuh mereka.

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan dan para perajurit menjadi ngeri ketakutan.

Bahkan Seng Kun sendiripun yang melihat jelas akibat gerakan tangan A-hai itu, diam-diam merasa serem dan ngeri.

Ilmu apakah yang dipergunakan A-hai sehingga akibatnya sedemikian hebatnya?

Melihat kelihaian dua orang pemuda yang mengamuk itu, majulah Kwa Sun Tek yang dibantu oleh Malisang, raksasa Mongol kepala suku yang menjadi sekutu pemberontak itu.

Dia menubruk kearah A-hai yang memanggul gadis pingsan itu, menggunakan kedua lengannya yang panjang dan besar itu untuk mencengkeram kedepan seperti gerakan seekor biruang menerkam.

Akan tetapi, A-hai kembali mendengus pendek dan tangan kanannya menyambut dengan dorongan.

"Bresss.."

Pertemuan dua tenaga besar seolah-olah menggetarkan udara dan akibatnya, raksasa Mongol itu terjengkang dan terbanting jatuh, lalu bergulingan dan meloncat bangun kembali.

Matanya terbelalak saking kagetnya dan hampir dia tidak dapat percaya bahwa ada seorang pemuda yang menggunakan sebelah tangan saja untuk menyambut tubrukannya yang mengandung tenaga amat besar itu.

A-hai sendiri tergetar karena besarnya tenaga lawan, akan tetapi dia hanya melangkah mundur sebanyak empat langkah saja.

Melihat kehebatan pemuda ini, Malisang maju lagi dan kini dia dibantu oleh beberapa orang perwira pengawalnya yang sudah mencabut pedang, Namun, A-hai menyambut pengeroyokan tujuh orang itu dengan sebelah tangan kanan saja dan hebatnya, pemuda yang biasanya lemah dan bodoh itu kini tiba-tiba saja berobah menjadi seorang yang selain gagah perkasa, juga cerdik dan lengan kanannya itu kebal senjata, bahkan jari-jari tangannya dapat dipergunakan untuk menangkis senjata tajam lawan tanpa terluka sedikitpun!

Sepak terjangnya menggiriskan sehingga Malisang minta bantuan lebih banyak temannya lagi.

Sementara itu, Seng Kun juga sudah bertanding melawan Kwa Sun Tek, tokoh muda Tai-bong-pai.

Mula-mula mereka berdua berkelahi dengan tangan kosong, akan tetapi melihat betapa pemuda jangkung tampan itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, terlalu kuat baginya, Kwa Sun Tek lalu mempergunakan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang cangkul penggali kuburan.

Terjadilah perkelahian yang amat seru, akan tetapi karena Kwa Sun Tek juga dibantu oleh banyak orang, Seng Kun mulai terdesak pula.

Juga A-hai terdesak karena pemuda ini selalu harus melindungi sambaran senjata yang mengancam tubuh Bwee Hong yang dipanggulnya.

Seng Kun menggeser kedudukannya agar mendekati A-hai dan dia berseru.

"Saudara A-hai, mari kita melarikan diri!"

Berkali-kali dia mendesak, akan tetapi A-hai sama sekali tidak memperdulikannya, bahkan ketika Seng Kun terlalu mendekatinya, pemuda sinting ini menggunakan tangannya untuk menyampok sehingga Seng Kun terhuyung!

Kiranya setelah kumat, A-hai sama sekali tidak mengenalnya lagi!

Maka terpaksa Seng Kun menjauh lagi dan melanjutkan amukannya.

Diam-diam dia mengeluh.

Tidak mungkin bagi mereka berdua, betapapun lihainya A-hai, akan dapat bertahan menghadapi pengeroyokan sedemikian banyaknya anak-buah pasukan.

Tentu saja semua ini dilihat jelas oleh Bwee Hong yang dipondong oleh A-hai.

Dara ini tadi memang hanya pura-pura saja membiarkan dirinya seolah-olah terkena serangan senjata lawan.

padahal, darah yang menodai pakaiannya itu bukanlah darahnya sendiri, melainkan darah lawannya.

Ia berhasil mengelabuhi A-hai dan berhasil pula membikin pemuda itu kumat sintingnya.

Akan tetapi sungguh celaka, kini A-hai mengamuk dan tidak mau melarikan diri seperti yang dianjurkan berkali-kali oleh kakaknya.

Iapun tahu bahwa betapapun lihainya A-hai, tidak mungkin dapat bertahan kalau terus-menerus menghadapi pengeroyokan ratusan, bahkan ribuan orang perajurit.

Maka, diangkatnya kepalanya mendekati telinga pemuda sinting itu dan iapun berbisik.

"A-hai, lihatlah, kakakku sudah terdesak. Mari kita pergi dari sini!"

"Hemmm? Pergi?"

A-hai menunduk dan memandang wajah dara itu. Matanya yang buas itu membuat Bwee Hong sendiri menjadi ngeri.

"Koko, mari kita lari! A-hai, hayo loncati tembok disana itu!"

Bwee Hong berseru sambil menekan-nekan pundak A-hai.

Seng Kun girang sekali melihat bahwa adiknya ternyata selamat dan kini kakak ini baru mengerti bahwa robohnya Bwee Hong tadi ternyata hanyalah siasat untuk "membangkitkan"

A-hai.

"Baik, mari kita pergi!"

Katanya sambil merobohkan dua orang perajurit dan pemuda inipun mempergunakan ginkangnya yang amat hebat untuk melayang kearah tembok bagaikan seekor burung terbang saja.

"Hayo kita pergi, A-hai!"

Kata pula Bwee Hong.

"Pergi? Baik, ibu!"

Dan A-hai lalu meloncat dengan kecepatan yang membuat Bwee Hong terkejut dan ngeri. Akan tetapi, lebih terkejut dan heran lagi hatinya ketika tadi ia mendengar A-hai menyebutnya "ibu!"

"Kejar!"

"Tangkap!"

"Bunuh!!"

Teriakan-teriakan itu menggerakkan para perajurit untuk mengejar, akan tetapi begitu A-hai menggerakkan tangan kebelakang dan empat orang roboh terpelanting dan tewas, mereka menjadi jerih dan akhirnya mereka bertiga dapat lolos dari pengejaran para perajurit.

Tentu saja Kwa Sun Tek menjadi marah dan khawatir.

Tawanan-tawanan itu diserahkan kepadanya dan menjadi tanggung jawabnya, raaka tentu saja sama sekali tidak boleh lolos!

Dia mengerahkan pasukannya, dibantu oleh Malisang, melakukan pengejaran secepatnya.

Ketika pasukan itu tiba dipintu gerbang, baru saja pintu gerbang dibuka, terdengar derap kaki kuda dan muncullah Jenderal Lai diikuti oleh pasukan pengawalnya.

Melihat jenderal ini, tentu saja Kwa Sun Tek terkejut dan cepat memberi hormat bersama para pembantunya.

Jenderal Lai mengerutkan alisnya dan memandang tajam.

"Ada kejadian apa lagi ini? Kenapa sampai terdengar dipukulnya tanda bahaya segala?"

Tentu saja Kwa Sun Tek merasa canggung dan gugup.

Akan tetapi dia tidak mungkin dapat menyembunyikan kenyataan, maka dengan hati-hati dia lalu bercerita bahwa tiga orang tawanan itu memberontak dan melarikan diri dengan jalan kekerasan.

"Kami sedang berusaha mengejar mereka, Lai-ciangkun."

Jenderal Lai terkejut sekali mendengar ini. Dia marah.

"Hemm, mengapa engkau begini ceroboh dan membiarkan tawanan penting lolos?"

"Kami tentu akan dapat menangkap mereka kembali!"

Kata Malisang melihat kemarahan Jenderal itu. Jenderal Lai menengok dan melihat raksasa rambut putih itu dia membentak.

"Siapa pula orang ini?"

Kwa Sun Tek sudah terkejut sekali mendengar Malisang ikut bicara tadi, dan kini dengan gugup dia menjawab.

"Dia adalah seorang pengawal pribadi saya, goanswe!"

"Hayo kejar dan tangkap mereka kembali!"

Akhirnya sang jenderal memberi perintah sambil memutar kudanya memasuki kota kembali.

Kwa Sun Tek bersama Malisang lalu mengerahkan pasukan dan melakukan pengejaran keluar kota.

Chu Seng Kun diam-diam merasa kagum bukan main kepada A-hai.

Biarpun pemuda sinting yang sedang kumat itu memanggul tubuh Bwee Hong, akan tetapi dia dapat berlari dengan kecepatan yang luar biasa.

Seng Kun sendiri adalah keturunan dari Tabib Sakti Tanpa Bayangan yang sudah terkenal memiliki ginkang nomor satu didunia persilatan.

Akan tetapi sekali ini dia harus mengakui bahwa ginkang atau ilmu meringankan tubuh dari pemuda sinting itu tidak kalah olehnya.

Bahkan dia harus mengerahkan semua tenaganya untuk dapat mengimbangi kecepatan lari A-hai.

Mereka keluar masuk hutan dan naik turun bukit-bukit.

Setelah mereka tiba ditepi sebuah sungai yang jernih airnya, Bwee Hong berbisik kepada A-hai.

"A-hai, berhenti! Turunkan aku disini!"

Memang aneh sekali.

Dalam keadaan kumat, pemuda ini tidak mau perduli, bahkan tidak mengenal semua orang.

Akan tetapi seperti ketika berhadapan dengan Pek Lian, kini dia amat patuh kepada Bwee Hong.

Biarpun tadinya beringas dan buas, mendengar suara Bwee Hong, dia menjadi lemah dan penurut sekali.

Dan suasana yang tenang ditempat itu agaknya cepat memulihkannya kembali dari kambuhnya.

Dia menurunkan Bwee Hong, lalu dia duduk diatas sebongkah batu besar, termenung sejenak, memandang kekanan kiri seperti orang terheran-heran atau seperti baru saja bangun dari mimpi buruk, kemudian dia menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya sambil mengeluh panjang pendek.

"Aduh, kepalaku! Kepalaku!"

Dengan perasaan iba Bwee Hong mendekatinya, lalu memegang pundaknya dengan sikap halus.

"Kepalamu kenapa, A-hai? Bagaimana rasanya?"

"Aduhh pening, pusing sekali. Ahhhh"

Dan tiba-tiba saja A-hai terkulai dan tentu jatuh terguling dari atas batu kalau tidak cepat-cepat dipegang oleh Bwee Hong. Pemuda itu sudah roboh pingsan! "A-hai! A-hai! Engkau kenapakah, A-hai?"

Bwee Hong yang merangkulnya itu mengguncang-guncangnya, hatinya penuh dengan perasaan iba. Wajah A-hai yang tadinya kemerahan dengan mata beringas itu kini perlahan-lahan berobah menjadi pucat.

"Tenanglah, Hong-moi, biarkan dia terlentang diatas rumput. Dia sedang mengalami perobahan seperti biasa, setelah tadi mengalami guncangan batin yang hebat dan yang membuatnya kumat. Bagaimanapun juga, siasatmu itu bagus sekali dan telah menyelamatkan kita."

"Ah, itu merupakan jalan satu-satunya, yaitu membuat dia kumat. Sebetulnya, kalau tidak terpaksa, aku tidak tega melihat dia kumat seperti itu, dan engkau tahu, koko, ketika kumat tadi, dia menyebut aku ibu!"

Seng Kun memandang wajah pemuda yang kini rebah terlentang dengan muka pucat itu dan meraba-raba dagunya yang masih halus belum ditumbuhi jenggot.

"Hemm, tentu ada rahasia dibalik itu semua, rahasia yang menyangkut ibunya. Agaknya dahulu terjadi peristiwa hebat sekali yang membuat batinnya terguncang secara luar biasa."

"Kita sudah melihat dia beberapa kali kumat dan agaknya dia kumat karena guncangan batin, terutama sekali apabila dia melihat darah. Adik Pek Lian juga menceritakan demikian. Aku hampir merasa pasti bahwa masa lalunya yang telah dilupakannya itu apabila dia dalam keadaan biasa, tentulah sangat serem dan mengerikan. Tentu masa lalunya itu penuh dengan peristiwa yang berlepotan darah dan pembunuhan. Dan peristiwa itu sangat melukai hatinya sehingga sampai sekarangpun mempengaruhi batinnya. Kurasa, apabila dia sedang kumat, dia justeru sedang hidup kembali dalam masa lalu yang terlupakan itu, dia menjadi buas dan penuh dengan hawa nafsu membunuh! Bagaimana pendapatmu, koko?"

Seng Kun mengangguk-angguk.

"Cocok dengan pendapatku. Pemuda ini sekarang mempunyai dua dunia, yaitu dunia yang terlupakan itu dan yang dimasukinya sewaktu-waktu selagi dia kumat. Dan dunia sekarang, yaitu dunia sesudah masa lalu itu, dan dalam dunianya yang sekarang ini, dia sama-sekali sudah melupakan masa lalu itu, bahkan dia sudah berobah menjadi pemuda yang lemah dan tidak mengenal ilmu silat."

"Benar, koko. Hanya satu hal yang tidak berubah, yaitu wataknya sebagai seorang pendekar! Kalau menurut penglihatanmu, penyakit apakah yang dideritanya? Koko, untuk masa ini, ilmu pengobatanmu mungkin yang nomor satu didunia setelah ayah eh, kakek kita meninggal dunia. Coba berilah keterangan mengenai penyakit yang diderita A-hai, aku ingin sekali mendengamya."

Seng Kun menarik napas panjang dan menatap wajah A-hai yang masih pingsan seperti orang tidur nyenyak itu.

"Hemm, terus-terang saja, adikku. Aku sendiri belum dapat memastikan penyakit apa yang dideritanya, hanya dapat meraba-raba dan mengira-ngira saja. Akan tetapi setelah melihat keadaannya dan mendengar cerita mengenai dirinya, aku merasa yakin bahwa dia mengalami gangguan pada jalinan syaraf otaknya. Ada gangguan yang membuat otaknya terganggu sehingga terjadi kelainan. Telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan dan mendatangkan luka pada susunan otaknya sehingga merusak daya kerjanya, membuat dia kehilangan ingatannya saat dia kecil sampai beberapa saat yang lalu. Didalam buku kakek, aku pernah membaca tentang gangguan yang dapat mengakibatkan kerusakan daya kerja otak. Benturan kepala yang keras dapat mengakibatkan kerusakan. Keracunan racun-racun tertentu dapat juga merusak syaraf otak dan mengakibatkan ketidak-normalan. Juga peristiwa-peristiwa yang amat hebat dapat mengguncangkan batin sedemikian hebatnya sehingga mengakibatkan pula kelainan pada susunan otak dan mendatangkan kegilaan. Ada pula penyakit yang merupakan penyakit keturunan, penyakit gila keturunan yang kadang-kadang muncul kadang-kadang tidak, seperti keadaan A-hai ini. Akan tetapi aku melihat gejala-gejala berbeda dari pada diri A-hai dengan penyakit gila keturunan, karena A-hai hanya kambuh kalau batinnya terguncang oleh kengerian saja. Sayang kita tidak mengenal asal-usul dan masa lalunya. Kalau kita mengetahuinya, tentu akan lebih mudah untuk mengenal jenis penyakitnya dan tentu saja lebih mudah pula untuk mencoba memberi pengobatannya."

"Habis, bagaimana baiknya, koko? Aku ingin sekali melihat dia sembuh. Dia sudah berbuat banyak terhadap kita, dia sudah melepas budi besar walaupun tidak disengajanya."

"Itulah, kita harus menyelidiki dengan cermat. Belum tentu yang menimpa dirinya itu merupakan suatu penyakit. Mungkin akibat guncangan batin yang hebat. Atau dapat juga jalinan syaraf rusak karena peredaran darah yang kacau. Keracunan darah melalui luka dapat saja merusak syaraf otak. Kita harus menyelidiki"

"Lalu bagaimana caranya? Bagaimana kita bisa membuka rahasia penyakitnya?"

Seng Kun mengerutkan alisnya dan menggunakan pikirannya.

Sebelum adiknya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu mengenai diri A-hai, hal ini sudah sering kali direnungkannya.

Tidak, dia ingin mengobati A-hai bukan karena merasa berhutang budi.

Andaikata A-hai tidak pernah melepas budi sekalipun, tetap saja dia ingin mengobatinya.

Yang mendorongnya adalah wataknya sebagai ahli pengobatan.

Setiap orang ahli pengobatan yang benar-benar mencintai keahliannya, tentu akan merasa ditantang apabila menghadapi seorang yang menderita penyakit berat dan aneh.

Makin berat dan makin aneh penyakitnya, makin besarlah gairahnya untuk memeranginya, untuk melawan dan menundukkan penyakit itu.

Dia merasa ditantang oleh seorang lawan yang menarik!

"Satu-satunya jalan ialah mengetahui sebabnya mengenai dunia masa lalunya itu.

Siapakah dia sebenarnya, bagaimana asal-usulnya dan apa yang terjadi dengan dia pada saat-saat terakhir masa lalunya itu?

Dan siapa keluarganya, dari mana asalnya?

Kalau kita mengetahui asal-usulnya, kita dapat mengajaknya ketempat itu.

Tempat-tempat yang sudah sangat dikenalnya, kampung halaman dimana dia tumbuh diwaktu masa kanak-kanak, akan membantu dia untuk cepat menemukan dirinya kembali.

Akan tetapi dalam keadaan sekarang, tak mungkin hal itu terjadi.

Dia sendiripun sudah lupa akan asal-usulnya, bagaimana kita akan dapat menyelidikinya?

Hanya ada satu jalan, akan tetapi..."

Seng Kun tidak melanjutkan.

"Tetapi bagaimana, koko?"

Tanya adiknya tak sabar.

"Engkau tahu, untuk dapat memperoleh keterangan yang paling mudah mengenai masa lalunya, tentu saja pada saat-saat dia kumat. Karena dalam keadaan normal dia lupa sama sekali mengenai dirinya. Dan pada saat dia kumat tentu dia tahu akan keadaan dirinya dimasa lalu, hanya dia berbahaya sekali. Ilmu kepandaian silat kita sama sekali bukan apa-apa dibandingkan dengan dia. Dan perasaannya amat halus. Sekali dia tersinggung, kita akan dengan amat mudah saja tewas ditangannya."

Bwee Hong mengangguk-angguk. Iapun sudah mengenal kehebatan A-hai kalau sedang kumat.

"Lalu bagaimana baiknya? Apakah kita akan diam saja melihat penderitaannya yang hebat itu?"

Tanyanya sedih dan matanya menjadi basah ketika ia memandang kewajah pemuda yang masih pingsan itu. Melihat kesedihan adiknya, Seng Kun menjadi kasihan dan dia menyentuh tangan adiknya.

"Hong-moi, sebenarnya aku telah memikirkan suatu jalan, akan tetapi aku tidak berani mengatakannya karena aku amat mengkhawatirkan resikonya."

"Katakanlah, jalan apa itu? Kalau perlu, kita harus berani menempuh resikonya."

"Begini, adikku. Sebuas-buasnya binatang, pada dasarnya masih memiliki kasih sayang, apa lagi manusia. Seluruh mahluk dipermukaan bumi ini, dari binatang yang paling buas dan tak berakal budi, sampai kepada manusia, semua tunduk oleh rasa kasih sayang ini. Aku melihat betapa A-hai, dalam keadaannya yang paling buas selagi kumat, masih juga mempunyai kelemahan dan tunduk terhadap perasaan suci itu. Dia mempunyai tanggapan tersendiri kepadamu. Ingatkah engkau sewaktu dia berlutut didepanmu ketika dia kumat dipulau terlarang itu? Dan tadi? Dia begitu buas dan mengerikan, akan tetapi terhadap engkau dia seperti seorang anak kecil yang lemah dan taat. Maka, menurut dugaanku, hanya engkaulah seorang didunia ini yang dapat mendekati hatinya sewaktu dia kumat. Dengan senjata kasih sayang yang ada pada dirinya itu, engkau akan dapat menundukkannya diwaktu dia kumat dan menjadi buas. Akan tetapi bagaimanapun juga, engkau adalah adikku. Aku tidak berani mengambil resiko yang terlalu besar. Sekali saja salah jalan, nyawamu bisa melayang. Sewaktu dia kumat, akupun tidak mampu melindungi dirimu lagi. Dan lebih sukar lagi, saat kumatnya itu demikian singkat sehingga tidak banyak waktu lagi untuk melakukan penyelidikan"

Pada saat itu terdengar suara keluhan dan A-hai nampak menggeliat bangun.

"Koko, dia telah siumam"

A-hai bangkit duduk dan memandang kekanan kiri dengan bingung. Melihat Bwee Hong dan Seng Kun berada disitu, diapun bertanya heran.

"Eh, apa yang telah terjadi? dimana pengeroyok-pengeroyok itu, dimana pula kereta kita? Kita berada dimanakah?"

"Engkau pingsan dan kita bawa kesini,"

Kata Seng Kun membohong agar pemuda itu tidak banyak berpikir dan menjadi bingung.

A-hai masih bengong dan nampak termenung.

Seolah-olah dia hendak mengingat sesuatu dan dia merasa seperti mimpi, mimpi aneh.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan bermalam disebuah pondok tua yang tiada penghuninya lagi, diluar sebuah dusun kecil.

Mereka membuat api unggun dan Bwee Hong menangkap tiga ekor ayam hutan kemudian mereka makan daging ayam hutan panggang.

Setelah itu, mereka membuat api unggun dan sambil duduk mengelilingi api unggun mereka bercakap-cakap.

"A-hai, sebenarnya, dimanakah tempat tinggalmu, maksudku kampung halamanmu?"

Bwee Hong bertanya, memancing dan mencoba kalau-kalau pemuda itu dapat mengingatnya. A-hai menundukkan mukanya.

"Entahlah, aku tidak ingat sama sekali. Nona tentu Sudah tahu bahwa aku sudah lupa sama sekali tentang diriku, lupa siapa aku ini, siapa orang tuaku. Bagaimana aku tahu dimana kampung halamanku?"

"Akan tetapi engkau tentu masih ingat akan tempat-tempat yang kau kunjungi untuk yang pertama kali dan yang terakhir kali, bukan?"

"Tentu saja,"

Jawab A-hai sambil tersenyum sedih.

"Tempat yang terakhir adalah disini, bukan?"

Dia menepuk tanah dimana dia duduk dekat api unggun.

"Dan yang pertama kali kau kunjungi? Yang masih kau ingat pada pertama kalinya sesudah waktu yang terlupakan olehmu itu, dimanakah itu?"

A-hai mengerutkan alisnya, seperti hendak menggali dalam benaknya ingatan-ingatan lama.

Sampai berkeringat wajahnya.

Seng Kun memperhatikan dan diam saja.

Dia menyerahkan hal itu kepada adiknya saja, akan tetapi dengan cermat dia memperhatikan wajah A-hai.

Wajah itu kini berkeringat, seolah-olah pekerjaan mengingat-ingat merupakan pekerjaan yang amat berat dan melelahkan baginya.

"Sapi kuda kerbau domba... ah, pendeknya banyak ternak dan aku menggembalanya, dipadang rumput..., benar, dipadang rumput yang segar dan hijau."

"Padang rumput? Menggembala ternak?"

Bwee Hong bertanya sambil saling pandang dengan kakaknya "Benar, tempat itulah yang bisa kuingat, sampai kini. Lebih lama dari waktu itu aku tidak ingat lagi."

"Jadi... saat engkau menjadi penggembala itulah saat terakhir yang dapat kau ingat dan sebelum saat itu engkau lupa?"

"Benar. Menjadi penggembala dipadang rumput itulah bagiku menjadi permulaan dari hidupku sampai sekarang. Aneh, bukan?"

A-hai tersenyum getir.

Tiba-tiba Seng Kun meloncat bangun, diikuti oleh Bwee Hong, sedangkan A-hai tetap duduk saja, tidak tahu bahwa kakak-beradik itu telah mendengar suara orang datang ketempat itu.

barulah A-hai memandang dengan kaget ketika melihat munculnya dua orang yang bukan lain, adalah Kwa Sun Tek dan Malisang, diikuti oleh para perwira anak-buah mereka.

Kiranya setelah mendapat teguran keras dari Jenderal Lai, pemuda Tai-bong-pai ini mati-matian mencari jejak buronan mereka dan akhirnya dapat menemukan tiga orang muda itu disitu.

Biarpun Kwa Sun Tek sendiri merasa gentar melihat A-hai yang masih enak-enak duduk didekat api unggun, namun dia mengandalkan pasukannya dan bertekad untuk menangkap kembali tiga orang itu.

Seng Kun dan Bwee Hong maklum bahwa menghadapi mereka ini tidak ada gunanya untuk banyak cakap lagi, maka kakak-beradik ini segera menerjang kedepan.

Seng Kun menyerang Kwa Sun Tek sedangkan Bwee Hong menandingi Malisang.

Akan tetapi, beberapa belas orang perwira pengawal ikut mengeroyok sehingga keadaan kedua orang kakak-beradik ini sebentar saja terdesak hebat.

Celakanya, A-hai berada dalam keadaan normal sehingga seperti biasa, pemuda ini hanya memandang dengan bingung saja.

Selagi dua orang kakak-beradik itu terdesak hebat, tiba-tiba terdengar suara orang melengking nyaring dan panjang dan nampak pula dua gulung sinar putih berkelebatan menyilaukan mata, disusul patahnya senjata-senjata para pengeroyok dan robohnya beberapa orang diantara mereka.

muncullah seorang pemuda gagah tampan berpakaian putih-putih yang mengamuk dengan sepasang pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat.

"Yap-twako!.!"

Bwee Hong berseru girang sekali ketika mengenal pemuda ini.

Kiranya yang datang adalah Yap Kiong Lee, pemuda lihai dari Thian-kiam-pang itu.

Permainan pedangnya hebat bukan main dan ketika pemuda itu akhirnya terjun kedalam perkelahian membantu Seng Kun dan Bwee Hong, pemuda Tai-bong-pai dan pembantunya si raksasa Mongol itupun merasa kewalahan.

Tiga orang pendekar ini mengamuk dan akhirnya para pengeroyok itu terpaksa mundur.

Kiong Lee lalu mengajak mereka melarikan diri.

Seng Kun cepat menyambar lengan A-hai dan diajaknya pemuda itu lari.

Mereka menghilang didalam kegelapan malam dan karena Kwa Sun Tek merasa jerih terhadap pemuda yang memegang sepasang pedang, pengejaran yang dilakukannya amat terlambat dan hanya seperti orang membayangi dari jauh saja.

Empat orang muda itu berlari terus dan setelah malam terganti pagi, baru mereka berhenti ditepi jalan gunung.

A-hai terengah-engah dan mengomel panjang pendek.

"Orang-orang tak berperi-kemanusiaan itu! Mengejar-ngejar dan hendak membunuh, membikin orang menjadi hidup tak aman saja!"

Dia menyusuti keringatnya dengan ujung lengan bajunya. Seng Kun dan Bwee Hong menjura kepada Yap Kiong Lee.

"Kami menghaturkan terimakasih atas pertolongan Yap-twako sehingga kami dapat lolos dengan selamat."

"Ah, diantara kita, masih perlukah bersikap sungkan?"

Jawab Yap Kiong Lee dengan sederhana.

"Sungguh kemunculan Yap-twako selalu seperti seorang dewa penyelamat saja,"

Kata Bwee Hong.

"Ketika aku terancam gelombang lautan, engkau muncul dan menyelamatkan aku, dan sekarang, selagi kami dikurung dan didesak, engkau muncul pula menolong kami. Yap-twako, bagaimana engkau bisa muncul ditempat ini?"

Pendekar berpakaian putih itu menarik napas panjang.

"Orang yang benar selalu dilindungi Thian. Tentu kalian adalah orang-orang yang benar maka setiap kali terancam bahaya, ada saja yang kebetulan datang membantu. Aku diutus oleh suhu lagi. Urusan apa lagi kalau bukan urusan siauw-sute yang nakal itu? Dia telah kabur lagi dan sekali ini dia mengajak Ngo-sute Kwan Hok."

"Kwan Hok?"

Seng Kun berseru.

"Ah, adikmu yang kelima itu sekarang menjadi pemimpin para pendekar yang melawan pemerintah daerah yang memberontak. Kami bersama dia kemarin dulu dan kalau tidak salah dia dan kawan-kawannya akan menggabungkan diri dengan pasukan Liu-bengcu."

"Apakah kalian tidak melihat siauw-sute Yap. Kim?"

Tanya Yap Kiong Lee yang menjadi kaget dan juga gembira mendengar keterangan itu.

"Tidak, kami tidak melihatnya."

"Aih, dimana lagi si bengal itu?"

Kiong Lee termenung kesal.

Ngo-sutenya telah diketahui kabarnya, akan tetapi ternyata Ngo-sutenya itu berpisah dari Yap Kim.

Gurunya memesan kepadanya agar menemukan sutenya itu.

Negara sedang dalam keadaan ricuh, dimana-mana terjadi pertempuran.

Kepandaian Yap Kim memang sudah cukup tinggi, akan tetapi wataknya yang aneh itu bisa mencelakakan dirinya sendiri.

Seperti peristiwa beberapa waktu yang lalu, sutenya itu gulung-gulung dengan seorang dari Ban-kwi-to, yaitu Si Kelabang Hijau.

Padahal semua orang didunia kang-ouw tahu belaka betapa jahatnya iblis-iblis Ke pulauan Ban-kwi-to itu.

"Ngo-sutemu itupun tidak tahu kemana perginya siauw-sutemu,"

Kata Bwee Hong.

"Biarlah, aku akan menemui Ngo-sute dulu, baru kami akan mencarinya. Kalian bertiga hendak pergi kemanakah?"

Tanya Kiong Lee.

"Kami hendak ke Kotaraja, menghadap Sribaginda Kaisar,"

Kata Seng Kun singkat.

Karena dia percaya penuh kepada tokoh Thian-kiam-pang ini, maka diapun menceritakan bahwa dia diutus Kaisar untuk mencari Menteri Ho dan kini dia hendak melaporkan hasil penyelidikannya.

"Bahkan aku akan bentangkan semua peristiwa yang aneh-aneh didaerah, tentang bersihnya perjuangan Liu-Bengcu dan palsunya para pejabat daerah yang bersekongkol dengan orang-orang asing dan mereka inilah yang sebenarnya hendak memberontak."

"Ah, kalian terlambat!"

Kata Yap Kiong Lee.

"Apa maksudmu?"

Tanya Seng Kun terkejut.

"Kaisar tidak berada di Istana. Sudah sebulan lebih Sribaginda tidak berada di Istana."

Pemuda perkasa itu nampak ragu-ragu, menoleh kekanan kiri, kemudian berkata dengan suara berbisik.

"Sebaiknya jangan memasuki Istana dalam saat-saat ini. Berbahaya sekali. Sribaginda Kaisar tidak ada di Istana, dan yang berkuasa adalah Perdana Menteri Li Su. Orang ini luar biasa palsu, kejam dan liciknya. Beberapa hari yang lalu dia mengirimkan putera mahkota keutara, ketempat Jenderal Beng Tian memimpin pasukan yang bertempur melawan pemberontak."

Chu Seng Kun terkejut dan merasa heran.

"Putera mahkota dikirim kemedan pertempuran? Untuk apa?"

"Perdana Menteri Li Su mengirimkannya dengan dalih agar putera mahkota dapat menambah pengalaman dan membantu Panglima Beng Tian. Akan tetapi, semua orang juga tahu bahwa dia hanya ingin menyingkirkan putera mahkota sehingga dalam Istana yang sedang kosong itu dia boleh berkuasa sebebasnya tanpa pengganggu atau saingan. Semua orang tidak berani menentang karena sebagai Perdana Menteri, kalau Sribaginda tidak ada, dialah yang paling berkuasa."

"Ah, tidak kusangka keadaan di Istana sekacau itu!"

Kata Seng Kun penasaran. Yap Kiong Lee menarik napas panjang.

"Mudah dilihat bahwa negeri kita ini terancam malapetaka, sebentar lagi tentu akan porak-poranda. Diluar Istana keadaan begini kacau, penuh dengan pemberontakan dan pejabat-pejabat daerah ingin berkuasa sendiri, orang-orang jahat mempergunakan kesempatan untuk mencari keuntungan sebanyaknya, dimana-mana terjadi perebutan kekuasaan. Sedangkan didalam Istana sendiri sudah mulai nampak kericuhan. Semua orang yang tidak disukainya, disingkirkannya dengan kekuasaannya, diganti kedudukan mereka dengan antek-anteknya. Karena kekuasaan mutlak berada ditangannya, para Menteri yang setia kepada kerajaan tidak ada yang berani menentangnya."

"Apakah di Istana tidak ada keluarga kerajaan yang dapat mempengaruhinya?"

Tanya Bwee Hong.

"Tidak ada! Subo sendiri, yang masih sanak dekat, bibi dari Sribaginda Kaisar, sama sekali tidak pernah mencampuri pemerintahan. Putera mahkota yang tahu akan urusan pemerintahan dikirim ke garis depan pertempuran. Sedangkan putera-putera Sribaginda yang lain masih kecil, sedangkan puteri-puterinya tentu tak banyak dapat berdaya. Memang sebenarnya ada seorang pangeran lagi yang sudah dewasa, yaitu adik tiri putera mahkota. Akan tetapi dia jarang berada di Istana. Tabiatnya sangat jahat dan nakal. Sejak kecil Sribaginda sendiri tidak menyukainya. Bahkan Sribaginda selalu dengan halus mengusahakan agar putera yang satu ini jangan berada didalam Istana."

"Eh, aku belum mendengar tentang hal ini!"

Kata Seng Kun heran.

"Bagaimanakah dia sebagai pangeran dianggap nakal dan tidak disukai oleh Sribaginda yang menjadi ayahnya sendiri?"

"Entahlah, entah rahasia apa yang ada dibalik kelahiran pangeran ini sebagai putera Kaisar. Yang jelas, dia nakal sekali, sejak kecil tidak menurut dan selalu membawa kemauan sendiri. kabarnya sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat, dan melakukan hal-hal yang memalukan. Setelah besar dia bergaul dengan orang-orang jahat, dan kalau di Istana, kerjanya hanya mengganggu selir-selir ayahnya dan mencuri benda-benda berharga dan pusaka-pusaka Istana."

"Ihhh!"

Bwee Hong berseru tak senang.

"Sribaginda Kaisar tahu akan keadaan puteranya yang lihai ilmu silatnya, maka sering diberi tugas membasmi penjahat atau memadamkan pemberontakan. Malah ketika terjadi pembantaian para sasterawan yang menentang pembakaran kitab-kitab, karena takut kalau kalau para sasterawan dilindungi oleh para pendekar, Sribaginda juga mengutus puteranya ini untuk mengepalai pasukan dan melaksanakan pembantaian itu."

"Apakah dia lihai sekali?"

Tanya Seng Kun, tertarik.

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya, apa lagi bertanding. Dia putera Kaisar, siapa berani menentangnya? Akan tetapi kabar angin mengatakan bahwa dia memang lihai bukan main, mempelajari banyak macam ilmu silat, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam."

"Kalau dia begitu lihai, apa dia tidak dapat mempengaruhi Perdana Menteri?"

Tanya Seng Kun. Yap Kiong Lee tersenyum pahit dan menarik napas panjang.

"Perdana Menteri Li Su orangnya cerdik dan licik sekali. Pangeran itu kini memang berada di Istana, akan tetapi dia dinina-bobokkan oleh Perdana Menteri Li Su, setiap hari berpesta pora, bahkan dengan bantuan Perdana Menteri, wanita manapun di Istana, baik masih gadis maupun isteri pembesar lain, dapat saja diambilnya dan menjadi permainannya. Nah, bukankah keadaannya amat berbahaya di Istana? Seolah-olah disana berkumpul binatang-binatang buas yang sedang merajalela."

Seng Kun masih merasa penasaran.

"Yap-twako, bukankah Menteri Kang dan para Menteri lain yang jujur, yang tadinya dipecat, kini telah bekerja kembali, kecuali Menteri Ho? Bukankah mereka itu merupakan sekumpulan Menteri yang takkan tinggal diam saja kalau Perdana Menteri Li Su bertin-dak sewenang-wenang di Istana?"

Kiong Lee menghela napas.

"Agaknya engkau belum tahu akan perkembangan selanjutnya setelah para Menteri yang jujur ditarik kembali. Keadaan di Istana sudah berkembang sedemikian buruknya sehingga setelah para Menteri yang jujur itu kembali, kekuasaan pemerintahan menjadi terpecah-belah. Mereka selalu bermusuhan, akan tetapi karena fihak Perdana Menteri Li Su dan antek-anteknya masih jerih terhadap wibawa Sribaginda Kaisar yang didukung oleh Jenderal Beng Tian sehingga mereka tidak berani bersikap sewenang-wenang. Akan tetapi, kini Panglima Beng Tian sendiri repot mengurus pemadaman pemberontakan diutara dan barat, sedangkan Sribaginda juga pergi, maka tentu saja keadaan menjadi berobah sama sekali."

"Ah, begitukah?"

Bwee Hong mengeluh.

Ia tahu bahwa ayahnya sendiri, ayah kandungnya, biarpun masih terhitung paman dari Sribaginda Kaisar, namun kini ayahnya hanya menjadi seorang pendeta, kepala kuil yang tidak mempunyai kekuasaan, maka tentu saja tidak berani menentang Perdana Menteri.

"Bagaimana baiknya sekarang, koko?"

"Kalau keadaannya seperti itu, kita harus berhati-hati. Kita tetap ke Kotaraja, akan tetapi kita harus masuk pada malam hari. Kita melihat-lihat dulu suasana disana. Yap-twako, terimakasih atas semua keteranganmu yang amat berharga ini. Dan kalau engkau hendak mencari ngo-sutemu itu, sebaiknya kalau engkau pergi kebukit dimana kami saling berpisah. Kalau tidak ada, berarti dia sudah pergi membawa kawan-kawannya bergabung dengan pasukan besar Liu-Bengcu."

Yap Kiong Lee menggeleng kepala "Suteku itu benar-benar gegabah sekali.

Ini tentu akibat kebengalan siauw-sute.

Ibu kandung siauw-sute adalah seorang wanita bangsawan Istana, dia sendiri masih berdarah keluarga kerajaan, masih saudara misan dengan Sribaginda Kaisar, akan tetapi sekarang dia malah bergabung dengan musuh kerajaan.

Bukankah itu luar biasa sekali?"

"Mengapa dunia begini kacau?"

Tiba-tiba A-hai yang sejak tadi termenung saja mendengarkan, kini membuka mulut.

"Orang-orang kaya saling memperebutkan harta, orang-orang berpangkat saling memperebutkan kedudukan, orang-orang berilmu saling bersaing mengadu kepintaran sehingga dunia menjadi tidak aman dan kacau! Alangkah bahagianya menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa, tidak berpangkat apa-apa dan tidak punya ilmu apa-apa kalau begitu!"

Tiga orang pendekar itu termangu mendengar ucapan seorang yang dianggap sinting ini karena ucapan itu begitu tepat seperti ujung pedang menusuk jantung, membuat mereka tak mampu menjawab karena memang seperti itulah keadaannya!

Kita tinggalkan dulu mereka yang saling berpisah, yaitu Kiong Lee pergi mencari sute-sutenya dan Seng Kun bersama Bwee Hong dan A-hai pergi menuju ke Kotaraja.

Mari kita melihat keadaan Liu Pang dan muridnya, Ho Pek Lian.

Seperti telah kita ketahui, Liu Pang dengan pasukannya yang dibantu oleh banyak petani dan rakyat jelata, telah berhasil menduduki kota Lok-yang.

Lia Pang tidak tinggal diam dikota itu, melainkan setelah memberi waktu cukup bagi pasukannya untuk beristirahat dan setiap hari mengadakan latihan-latihan untuk memperkuat barisannya, diapun menggerakkan pasukan itu keutara.

Pasukannya bergerak menyeberangi Sungai Huang-ho dan berkemah di lembah utara sungai besar itu, bermaksud untuk mulai menyerang memasuki Propinsi Shan-si.

Propinsi Shan-si merupakan propinsi yang luas dan jalan menuju ke Kotaraja yang berada disebelah barat, yaitu diPropinsi Shen-si.

Lok-yang merupakan ibu kota kedua setelah Kotaraja Tiangan.

Sebenarnya, untuk menuju ke Tiangan dari Lok-yang tidak perlu menyeberangi Sungai Huang-ho, akan tetapi ini merupakan siasat dari Liu Pang.

Dia ingin menyerbu dari utara dengan jalan menggunakan Sungai Wei-ho yang menjadi cabang Sungai Huang-ho.

Kebetulan Sungai Wei-ho mengalir ditepi kota Tiangan.

Sebagian pula dia kerahkan melalui darat sehingga Kotaraja akan dapat terkepung dari berbagai jurusan.

Untuk keperluan ini, dia sengaja memecah pasukannya yang jumlahnya mencapai belasan ribu itu menjadi beberapa kelompok.

Setiap kelompok dipimpin orang-orang kepercayaannya, termasuk pula pemuda tampan yang baru saja menjadi pengawal pribadinya.

Pemuda ini memimpin seribu orang perajurit pilihan yang kesemuanya diambil dari para pendekar silat.

Tugas pasukan ini adalah mengawal dan membantu Liu Pang dalam gelanggang pertempuran.

Didalam pasukan ini terdapat pula Pek Lian.

Setelah membagi-bagi barisannya, Liu.

Pang memberi mereka waktu untuk beristirahat dan menyusun kekuatan.

Diapun ingin melakukan penyelidikan terlebih dahulu dan untuk tugas ini, dia sendiri yang pergi bersama Pek Lian dan pengawal pribadinya yang baru.

Karena pengawal baru ini selalu merahasiakan riwayat dan asal-usulnya, maka Liu Pang memberi dia julukan Bu Beng Han (Pahlawan Tanpa Nama) dan menyebutnya Bu Beng (Tanpa Nama) saja; Pemberian nama ini diterima dengan gembira oleh si pemuda tampan.

Berangkatlah mereka bertiga, Liu Pang, Pek Lian dan Bu Beng dengan penyamaran sebagai petani-petani biasa.

Mereka segera melakukan perjalanan menuju kekota Sian-cung yang letaknya diperbatasan antara Shan-si dan Shen-si, di lembah Sungai Huang-ho.

Disepanjang perjalanan, mereka melihat suasana yang menyedihkan.

Kampung-kampung dan dusun-dusun sunyi dan rusak, ditinggalkan penghuninya karena perang.

Kalau toh ada penghuni-penghuni kampung karena mereka tidak ada tempat lain untuk mengungsi, keadaan mereka amat menyedihkan.

Diganggu oleh perampok-perampok, hasil sawah ladang merekapun kadang-kadang dihabiskan pasukan atau perampok-perampok.

Tubuh mereka kurus kering dan banyak yang menderita busung lapar!

Pasukan pemerintah daerah yang kalah perang dan mundur, melalui dusun-dusun ini dan mereka itu tiada ubahnya perampok-perampok liar, bahkan lebih ganas karena mereka itu agaknya hendak membalaskan kekalahan mereka kepada para petani dusun.

Liu Pang adalah pemimpin para petani, pikir mereka, oleh karena itu, mereka melampiaskan dendam kepada para petani dusun.

Ketika malam tiba, mereka bertiga terpaksa bermalam disebuah dusun yang hampir kosong-kosong.

Rumah-rumah rusak ditinggalkan penghuninya, dan kalau ada beberapa orang yang masih tinggal dirumahnya, pintu-pintu rumah itu tak pernah dibuka.

Liu Pang mengajak pengawal dan muridnya untuk mendiami sebuah ramah kosong.

Mereka membawa perbekalan dan setelah memasang beberapa batang lilin, mereka makan roti kering yang mereka bawa sebagai bekal.

untuk menghalau nyamuk dan dingin, mereka membuat api unggun.

Liu Pang dan Pek Lian sudah duduk untuk beristirahat.

Mereka melihat Bu Beng Han berdiri termenung diambang pintu.

Pemuda itu memandang keluar, kearah kegelapan dan nampak termangu-mangu.

Liu Pang berbisik kepada muridnya.

"Nona Ho, kau carilah air dibelakang dan buatlah minuman teh sekedar pengusir rasa haus. Aku ingin bercakap-cakap dengan Bu Beng. Nampaknya ada sesuatu yang dirisaukannya."

Liu Pang lalu bangkit dan menghampiri Bu Beng Han.

Pek Lian sendiri lalu keluar dari dalam pondok itu melalui pintu belakang untuk mencari air.

Dengan cerdik Liu Pang mengajaknya duduk diluar pondok, diatas akar-akar pohon yang menonjol dipermukaan tanah.

Mula-mula Liu Pang mengajaknya bicara tentang gerakan mereka, tentang dusun-dusun yang ditinggalkan para penghuninya, tentang para pembesar daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing.

Semua itu dilayani oleh Bu Beng dengan penuh semangat.

Akan tetapi ketika Liu Pang membelokkan percakapan kearah dirinya, pemuda itu terdiam.

"Bu Beng, aku melihat engkau sebagai seorang pendekar gagah perkasa, juga seorang patriot yang sejati. Diantara kita yang seperjuangan ini kiranya sudah tidak ada rahasia lagi. Akan tetapi mengapa engkau tetap merahasiakan dirimu? Bukan berarti aku tidak percaya kepadamu, akan tetapi kalau engkau berterus-terang dan aku mengetahui asal-usulmu, betapa baiknya hal itu dan betapa leganya hatiku. Apa lagi kalau saja aku dapat membantumu mengatasi kerisauan yang mengganggu hatimu, aku akan senang sekali."

Pemuda itu menjura dan menarik napas panjang.

"Maafkan saya, Bengcu. Akan tetapi, belum saatnya bagi saya untuk menceritakan keadaan keluarga saya. Terus-terang saja, saya datang dari keluarga yang tidak berbahagia sama sekali, biarpun ayah dan ibu saya sangat mencinta saya. mereka mendidik ilmu silat secara amat keras kepada saya sehingga saya hampir-hampir tidak ada waktu untuk bermain-main dan beristirahat. Kadang-kadang saya merasa bosan sendiri dan ingin lari saja. Akan tetapi, kakak saya selalu menasihati saya dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang. Bagaimanapun juga, setelah dewasa, hati saya memberontak dan larilah saya meninggalkan mereka."

Liu-Bengcu mengangguk-angguk.

"Ah, begitukah? Akan tetapi, kepandaian silatmu demikian tinggi, tentu engkau datang dari keluarga yang luar biasa. Tingkat kepandaian kakak dan orang tuamu tentu tinggi bukan main!"

Bu Beng Han tersenyum pahit.

"Bengcu sungguh terlalu memuji. Kepandaian kami sekeluarga tidak sedemikian hebat. Memang, apabila dibandingkan dengan kakak serta ayah, kepandaian saya mungkin hanya separuhnya saja. Soalnya, sebagian besar ilmu silat yang saya pelajari, kakak sayalah yang melatih dan membimbingnya."

"Ahh?"

Liu Pang berseru kagum.

"Kalau begitu, tentu kakakmu itu lihai sekali!"

"Kakakku itu"

Tiba-tiba Bu Beng menghentikan kata-katanya dan berbisik.

"saya mendengar gerakan orang dari jauh, harap Bengcu bersembunyi dan beri tahu nona Ho...!"

Liu Pang juga sudah mendengarnya dan sekali bergerak dia sudah melompat kedalam pondok dan memadamkan lilin.

Akan tetapi Pek Lian tidak nampak, agaknya belum kembali mencari air.

ketika dia mendengar gerakan orang-orang didepan pondok, cepat dia mengintai dan terkejutlah pendekar ini melihat bahwa Bu Beng kini telah berdiri berhadapan dengan dua orang yang berpakaian perwira.

Liu Pang mengenal mereka.

Pemuda Tai-bong-pai yang amat lihai dan pemimpin pasukan asing yang bertubuh raksasa dan berambut putih itu.

Dua orang lawan yang lihai bukan main.

"Engkau tentu mata-mata, lebih baik menyerah!"

Bentak pemuda Tai-bong-pai itu.

"Boleh kau coba menangkapku!"

Bu Beng mengejek. Kwa Sun Tek marah sekali dan diapun sudah menubruk dengan kecepatan kilat.

"Wuuuttt...!"

Dengan langkah ringan Bu Beng Han mengelak dan tubrukan itu hanya mengenai angin kosong belaka.

Marahlah Kwa Sun Tek.

Dia merasa dipermainkan dan kini dia menyerang lagi, bukan untuk menangkap melainkan untuk memukul.

Padahal, pukulan pemuda Tai-bong-pai ini amat dahsyat dan jarang ada orang mampu bertahan kalau terkena pukulannya yang selain amat kuat juga mengandung hawa beracun itu.

Melihat pukulan yang demikian ampuhnya, Bu Beng Han mengerahkan tenaganya menangkis.

"Desss!"

Dua tenaga raksasa bertemu dan akibatnya Bu Beng Han terjengkang dan untung dia memiliki kegesitan sehingga dia mampu berjungkir balik sebelum tubuhnya terbanting.

Akan tetapi Kwa Sun Tek juga terdorong mundur tiga langkah.

Tahulah pemuda Tai-bong-pai itu bahwa orang yang disangkanya mata-mata ini ternyata memiliki kepandaian tinggi.

Dia mengerti bahwa anak-buah pasukan Liu Pang memang banyak yang lihai.

"Bagus, engkau jelas mata-mata!"

Bentaknya dan kini dia menyerang dengan sungguh-sungguh, menggunakan pukulan mujijat yaitu Ilmu Pukulan Penghisap Darah!

Bu Beng Han melawan dengan pengerahan tenaga dan kepandaiannya, akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, dia merasa lengannya sakit-sakit dan ternyata ada sedikit butiran-butiran darah keluar dari kulit kedua lengannya.

"Ih, ilmu setan!"

Teriaknya dan diapun cepat mempergunakan kegesitannya menghindarkan beradunya lengannya dengan lengan lawan. Kwa Sun Tek tertawa bergelak dan mendesak terus.

"Hemm. buang-buang waktu saja!"

Kata malisang melihat betapa Kwa Sun Tek seperti hendak mempermainkan lawan dan memamerkan kepandaian, kemudian raksasa inipun menerjang maju membantu Kwa Sun Tek!

Tentu saja Bu Beng Han menjadi semakin repot.

Menghadapi pemuda Tai-bong-pai itu seorang diri saja dia sudah kewalahan, apa lagi kini dikeroyok.

Melihat ini Liu Pang meloncat keluar dan menyerang Malisang dengan pukulan-pukulan maut.

Raksasa ini terkejut dan menangkis dan merekapun sudah berkelahi dengan mati-matian.

Keadaan mereka payah.

Bu Beng Han terdesak hebat dan Liu Pang ternyata tidak mampu mendesak lawannya yang bertenaga gajah itu.

Dia telak dapat mempergunakan pedangnya karena dalam penyamaran sebagai petani, dia harus meninggalkan pedang.

Padahal, Liu Pang adalah seorang pendekar pedang yang kelihaiannya menurun separuh lebih tanpa pedang.

"Kita harus lari!"

Teriak Liu Pang kepada pembantunya. Akan tetapi pada saat itu Malisang berseru.

"Ha-ha, engkau adalah Liu Pang, si pemberontak! Ha-ha-ha, Kwa-taihiap, kita untung besar, dapat kakap tanpa pengawal disini!"

Mendengar ini, Kwa Sun Tek memandang cermat dan diapun terkejut, juga girang ketika mengenal petani itu.

"Benar, tahan dia Malisang, jangan sampai lolos!"

"Bu Beng, lari melalui pintu belakang!"

Teriak pula Liu Pang dan diapun sudah melompat kebelakang, memasuki rumah kosong itu.

Bu Beng mengelak dari sebuah pukulan maut, juga meloncat kedalam rumah.

Akan tetapi dua orang lawan mereka juga meloncat mengejar dan demikian cepatnya gerakan Kwa Sun Tek sehingga sebelum Bu Beng Han sempat mengelak, punggungnya telah kena tamparan tangan Kwa Sun Tek.

"Plakkk!!"

Tubuh pemuda itu terkapar ketengah ruangan, hampir menabrak tiang rumah itu. (Lanjut ke

Jilid 22) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 22

"Liu-Twako, cepat lari!"

Tiba-tiba dia berteriak.

Bagi para anggauta pasukan Liu Pang, pemimpin ini hanya memiliki dua sebutan, yaitu Bengcu (ketua/pemimpin) atau twako (kakak).

Setelah berteriak demikian, biarpun dia terluka dalam, Bu Beng Han mengumpulkan seluruh tenaganya dan dia meloncat menghantam tiang rumah itu.

"Braakkkkkk!"

Tiang patah dan atap rumah itu runtuh, menimbulkan suara hiruk-pikuk.

Namun, perbuatan Bu Beng Han yang nekat itu ternyata berhasil.

Karena takut tertimpa atap yang ambruk, tentu saja Kwa Sun Tek dan Malisang berloncatan pergi menyelamatkan diri dan kesempatan ini dipergunakan oleh Liu Pang dan Bu Beng Han untuk melarikan diri kedalam kegelapan malam.

Tentu saja Kwa Sun Tek dan Malisang tidak mau tinggal diam dan mereka melakukan pengejaran sambil mengerahkan anak-buahnya.

Akan tetapi dua orang pendekar itu sudah menghilang kedalam sebuah hutan yang gelap diluar dusun itu.

Melakukan pengejaran terhadap orang-orang yang memiliki ilmu silat selihai Liu-Bengcu dan pemuda tampan itu berarti mengundang bahaya maut kalau hal itu dilakukan didalam hutan yang amat gelap, maka terpaksa Kwa Sun Tek hanya melakukan pencarian dengan hati-hati nekali, tidak tergesa-gesa sehingga dia dan kawan-kawannya tertinggal jauh dan kehilangan jejak buruannya.

Pada keesokan harinya, Liu Pang sudah keluar dari dalam hutan itu, menggandeng lengan Bu Beng Han yang menderita luka cukup parah akibat pukulan yang dilontarkan oleh tokoh Tai-bong-pai itu.

"Gila, dia memiliki pukulan-pukulan iblis!"

Bu Beng Han mengomel.

"Tentu saja, dia adalah seorang tokoh Tai-bong-pai. Untung engkau masih dapat bertahan terhadap pukulan mautnya, Bu Beng."

"Liu-twako, dimanakah nona Ho?"

Bu Beng Han bertanya dengan khawatir.

"Entahlah. Malam tadi ia pergi mencari air. Akan tetapi ia cukup cerdik dan berpengalaman, tentu ia dapat menjauhkan diri dari pasukan musuh itu. Nanti saja kita mencarinya. Sekarang yang terpenting kita harus dapat menyelamatkan diri karena engkau terluka. Ssstt, ada pasukan datang!"

Liu Pang menarik lengan pemuda itu dan mereka menyusup kedalam semak-semak dibalik pohon besar, bersembunji sambil mengintai.

Baru lega dan giranglah hati kedua orang ini ketika melihat bahwa yang datang bukanlah pasukan musuh, melainkan sepasukan orang gagah yang dipimpin oleh seorang pria gagah perkasa yang bersenjatakan sepasang pedang.

Liu Pang masih berhati-hati karena belum mengenal mereka, akan tetapi begitu melihat pria bersenjata sepasang pedang itu, Bu Beng Han segera keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah berseri.

"Ngo-suheng!"

Serunya girang. Pria berpedang sepasang itu menoleh dan terkejut, akan tetapi wajahnya berseri dan diapun meloncat mendekati.

"Kim-sute! kau disini?"

Alisnya berkerut ketika dia melihat wajah sutenya.

"Eh, Kim-sute, engkau kenapakah? Terluka?"

Bu Beng Han yang ternyata adalah Yap Kim putera Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang itu mengangguk lemah.

"Aku terluka oleh pukulan iblis dari seorang tokoh Tai-bong-pai."

Sementara itu, Liu Pang juga keluar dari tempat sembunyinya. Yap Kim segera memperkenalkan ngo-suhengnya kepada pemimpin itu.

"Liu-twako, ini adalah suheng saya yang kelima bernama Kwan Hok. Ngo-suheng, inilah Liu-twako, pemimpin para pendekar yang terkenal itu."

Tentu saja Kwan Hok girang bukan main, juga bangga dapat bertemu dan berkenalan dengan orang yang selama ini amat dikaguminya sebagai seorang gagah perkasa yang berjiwa pahlawan itu.

"Hemm, apakah sekarang engkau masih saja hendak menyembunyikan keadaanmu dariku?"

Tanya Liu Pang kepada Yap Kim setelah dia membalas penghormatan Kwan Hok dan kawan-kawannya.

Yap Kim menghela napas panjang.

Kini melihat betapa ngo-suhengnya malah menjadi pemimpin sepasukan pendekar, dia merasa tidak perlu lagi menyembunyikan keadaan dirinya.

"Terus-terang saja, Liu-twako, ayahku adalah ketua Thian-kiam-pang."

"Ah, kiranya putera Yap-lojin yang lihai itu!"

Liu Pang berseru girang sekali.

Kini orang-orang Thian-kiam-pang membantu perjuangannya, sungguh membesarkan hati sekali.

Apa lagi ketika mendengar pengakuan Kwan Hok bahwa para pendekar yang dipimpin murid Thian-kiam-pang ini memang sedang mencarinya untuk menggabungkan diri, hati Liu-Bengcu menjadi girang sekali.

Akan tetapi, pada waktu itu, Yap Kim terluka cukup parah, maka terpaksa mereka lalu pergi ketebing-tebing Sungai Huang-ho yang terjal untuk menyembunyikan diri.

Sampai malam tiba, fihak musuh yang melakukan pengejaran belum nampak dan mereka mengaso ditebing sungai.

Yap Kim mengobati dirinya dengan bersamadhi, menghimpun hawa murni dan suhengnya bercakap-cakap dengan Liu Pang.

Ternyata banyak hal penting dapat diceritakan oleh Kwan Hok kepada pemimpin ini, mengenai kedudukan pasukan musuh.

"Di dalam kota Sian-cung itu terdapat pasukan pilihan dari Kotaraja yang dipimpin oleh Jenderal Lai. Akan tetapi, antara pasukan Jenderal Lai dari Kotaraja dan pasukan-pasukan kepala daerah terdapat rasa tidak akur dan saling mencurigai. Dan hendaknya Liu-Bengcu ketahui bahwa didalam pasukan kepala daerah itu terdapat dua orang perwiranya yang memiliki kepandaian seperti iblis."

Demikian antara lain Kwan Hok bercerita.

"Tidak salah! Kami malah sudah bertemu dan bentrok dengan dua orang itu. Yang melukai sutemu justeru adalah seorang diantara mereka, yaitu tokoh Tai-bong-pai, sedangkan yang seorang lagi bertubuh raksasa. Aku merasa curiga dan menduga bahwa dia itu tentulah orang asing yang bersekongkol dengan pasukan daerah. Dua orang itulah bersama pasukannya yang mengejar-ngejar kami berdua, padahal muridku sendiri masih belum ketahuan kemana perginya"

Tiba-tiba terdengar sorak sorai dan muncullah Kwa Sun Tek dan Malisang, diikuti oleh pasukannya yang terdiri dari dua puluh orang pilihan yang menjadi anak-buah Malisang.

Ternyata mereka ini telah mengurung tempat itu dan kini melakukan penyerbuan serentak.

Tentu saja Kwan Hok dan kawan-kawannya segera melakukan perlawanan.

Liu Pang dan Kwan Hok segera bergerak maju mengeroyok Malisang yang lihai itu, bahkan Yap Kim biarpun sudah terluka, masih membantu suhengnya untuk mengeroyok kakek raksasa itu.

Biarpun dikeroyok oleh tiga orang, Malisang mengamuk dan sepak terjangnya memang menggiriskan.

Pukulan-pukulannya seperti halilintar menyambar, dan lebih berbahaya lagi adalah cengkeraman kedua tangannya yang besar dengan lengan yang panjang itu.

Sekali terkena cengkeraman itu, jangan harap dapat terlepas!

Sementara itu, Kwa Sun Tek mengamuk dan kasihanlah para pendekar yang mengeroyoknya, menjadi korban dari pukulan iblisnya.

Banyak pendekar terkapar dengan kulit tubuh berbintik-bintik darahnya sendiri, dan bau hio menyengat hidung.

Bau ini keluar dari keringat Kwa Sun Tek dan dalam keadaan seperti itu, tokoh Tai-bong-pai ini berada dalam puncak keganasannya.

Agaknya, para pendekar itu tentu akan tewas semua ditangan Kwa Sun Tek kalau saja pada saat itu tidak muncul sesosok bayangan yang meluncur dengan cepat.

Begitu tiba, dua orang anak-buah Kwa Sun Tek terjungkal dan kini bayangan itu menerjang Kwa Sun Tek, sedangkan bayangan kedua yang bertubuh ramping juga sudah menerjang, Malisang, membantu Liu Pang dan kawan-kawannya.

"Ngo-sute! Siauw-sute!"

Bayangan pertama berseru girang ketika mengenal dua orang adik seperguruan itu.

Kiranya dia adalah Yap Kiong Lee yang gagah perkasa, murid utama dari ketua Thian-kiam-pang dan merupakan tokoh muda yang paling lihai dari perguruan itu.

Adapun orang kedua yang datang adalah Ho Pek Lian yang dengan bantuannya membuat Malisang agak repot juga karena dikeroyok empat.

Sementara itu, anak-buah Kwa Sun Tek digempur oleh para pendekar sehingga terjadilah pertempuran yang amat seru di lembah sungai yang bertebing tinggi itu.

Yang paling seru dan hebat adalah perkelahian antara Song-bun-kwi (Iblis Berkabung) Kwa Sun Tek melawan Yap Kiong Lee.

Keduanya adalah keturunan datuk-datuk persilatan yang amat hebat kepandaiannya.

Kwa Sun Tek sebagai putera ketua Tai-bong-pai telah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian peninggalan dari datuk Cui-beng Kui-ong pendiri Tai-bong-pai dan dia telah menguasai ilmu-ilmu Pukulan Sakti Penghisap Darah, Ilmu Pukulan Mayat Hidup dan memiliki pula tenaga sakti Asap Hio yang membuat keringatnya berbau dupa harum.

Akan tetapi lawannya, Yap Kiong Lee, merupakan ahli waris dari datuk Sin-kun butek datuk pendekar dari utara itu.

Selain telah mewarisi ilmu kesaktian Thian-hui Khong-ciang (Tangan Kosong Api Langit) dan Hong-i Sin-kun (Silat Sakti Angin Puyuh), juga pemuda ini adalah ahli ilmu pedang pasangan dari Thian-kiam-pang!

Kini, karena bertemu lawan tangguh, keduanya mengeluarkan ilmu-ilmu simpanan mereka dan terjadilah perkelahian dahsyat dan mengerikan.

Beberapa orang pendekar yang mencoba memasuki gelanggang perkelahian mereka, cepat mundur dan ada yang terjengkang dengan darah berbintik-bintik merembes keluar melalui pori-pori kulit lengan mereka!

Juga fihak anak-buah Kwa Sun Tek yang berani mendekat, tersambar hawa pukulan Api Langit dan merekapun terkapar dengan muka gosong terbakar!

Hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan Yap Kiong Lee memang hebat.

Mengeluarkan hawa panas dan seperti meledak-ledak, menggetarkan keadaan sekelilingnya.

Setiap kali lengannya bertemu dengan lengan Kwa Sun Tek, keduanya tergetar hebat dan keduanya terpental.

Ternyata tenaga mereka seimbang dan mereka saling serang, saling desak dengan mati-matian.

Koksu atau pemimpin suku liar Mongol itu, si raksasa Malisang, kini harus memeras keringat menghadapi pengeroyokan empat orang setelah Pek Lian maju.

Melihat betapa Yap Kim yang terluka parah maju, tadi Liu Pang diam saja karena memang lawannya amat tangguh.

Akan tetapi melihat ada Pek Lian yang datang membantu, Liu Pang berseru agar Yap Kim mundur karena perkelahian amat membahayakan dirinya.

Akan tetapi, pemuda ini amat pemberani dan berhati baja, maka biarpun diteriaki agar mundur, tetap saja dia melanjutkan pengeroyokannya.

Repotlah Malisang oleh pengeroyokan empat orang ini.

Terutama sekali pedang dari Kwan Hok dan Liu Pang amat merepotkan dirinya.

Kwan Hok telah membagi pedangnya, menyerahkan sebatang dari sepasang pedangnya kepada pemimpin ini.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi antara para pendekar melawan pasukan pengawal Kwa Sun Tek juga makin memuncak.

Ramai dan seru.

Akan tetapi, makin lama makin nampak bahwa para pendekar dapat mendesak musuh.

Banyak anak-buah pasukan musuh roboh dan terbunuh.

Perkelahian antara Yap Kiong Lee dan Kwa Sun Tek juga sudah mencapai puncaknya dan sedikit demi sedikit Kiong Lee mulai dapat mendesak lawannya.

Kwa Sun Tek melawan dengan gigih dan keduanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu simpanan mereka.

"Hiaaaatttt!"

Suara lengkingan nyaring keluar dari tenggorokan Kiong Lee ketika pemuda ini menangkis pukulan lawan sambil membarengi melontarkan sebuah tendangan kilat dengan kaki kirinya.

"Desss!"

Kaki itu tepat menghantam pinggang dan tubuh Kwa Sun Tek terlempar kebelakang, menghantam sebatang pohon dengan amat kerasnya.

Pohon itu tumbang seketika!

Akan tetapi, dengan cekatan Kwa Sun Tek dapat meloncat bangun, tubuhnya bergoyang-goyang dan dari hidung serta mulutnya keluarlah darah segar.

Dia telah terluka cukup parah oleh tendangan kilat tadi.

Akan tetapi Kiong Lee merasa betapa kaki kirinya nyeri sekali.

Cepat dia mengeluarkan sebutir pel yang segera ditelannya, kemudian memeriksa kakinya.

Ternyata sepatunya ada tanda-tanda darah dan ketika dia membukanya, nampaklah darah merembes keluar dari pori-pori kakinya sampai sebatas mata kaki kirinya.

Kiong Lee merasa ngeri juga.

Lawannya benar-benar memiliki ilmu yang menyeramkan.

Pada saat itu, terdengar sorak-sorai dari kejauhan.

Seorang pendekar datang berlari-lari dan berkata kepada Liu Pang yang masih mendesak si raksasa Malisang.

"Liu-Bengcu, pasukan, pemerintah dibawah pimpinan Jenderal Lai datang!"

Tentu saja para pendekar terkejut dan kecewa mendengar ini.

Mereka sudah hampir berhasil menguasai keadaan dan mengalahkan musuh, akan tetapi sekarang datang barisan yang dipimpin oleh Jenderal Lai.

Tentu saja mereka tidak berani menghadapi ancaman pasukan besar itu.

Liu Pang lalu menganjurkan para pendekar untuk melarikan diri.

Malisang dan Kwa Sun Tek tidak berani mengejar, karena selain anak-buah mereka banyak yang sudah tewas, juga keadaan Kwa Sun Tek yang sudah terluka parah itu tidak memungkinkan pemuda ini untuk bertanding lagi.

Liu Pang lalu mengajak semua orang untuk melarikan diri kembali keperkemahan pasukannya, di lembah Huang-ho.

Mereka disambut oleh pasukan pendekar dan Liu Pang lalu memperkenalkan Yap Kiong Lee dan Kwan Hok, dua orang murid Thian-Idam-pang itu, kepada para pembantunya.

Semua orang menjadi kagum terhadap Kiong Lee ketika mendengar betapa pemuda perkasa ini mampu menandingi bahkan mengalahkan tokoh Tai-bong-pai yang memiliki ilmu penghisap darah yang mengerikan itu.

Kiong Lee segera mengobati Yap Kim, ditunggui oleh Kwan Hok.

Dia menegur Yap Kim dengan halus.

Seperti biasa, Yap Kim diam saja dan hanya menunduk, merasa bahwa dia memang bersalah.

Akan tetapi ketika kakak angkat yang juga menjadi kakak seperguruan yang membimbingnya dalam ilmu silat itu mengajaknya pulang, dia menolak keras.

"Tidak, twako. Aku tidak mau pulang kerumah yang sunyi membosankan itu. Aku tidak mau bertemu dengan ayah yang selalu mengasingkan diri ditempat samadhinya. Aku tidak mau bertemu dengan ibu yang selalu berdiam di Istana membantu Kaisar lalim itu. Ibu selalu bersahabat dengan pembesar-pembesar lalim penindas rakyat. Aku ingin bersama kawan-kawan berjuang diantara rakyat. Kalau twako memaksa aku pulang, lebih baik engkau bunuh sajalah aku!"

Mendengar ucapan sutenya ini, Kiong Lee termangu-mangu.

Didalam hatinya dia harus mengakui bahwa apa yang diucapkan oleh adiknya itu memang benar.

Gurunya seperti sudah mengasingkan diri dari dunia ramai, kerjanya hanya bersamadhi saja didalam kamarnya.

Sedangkan subonya bahkan telah memisahkan diri dari suhunya, subonya begitu ambisius untuk menjadi tokoh Istana.

Dia dapat mengerti bagaimana perasaan Yap Kim sebagai putera tunggal dari ayah dan ibu yang saling berpisah dan saling bertolak belakang itu.

Dia sendiripun, yang hanya menjadi murid utama dan putera angkat, kadang-kadang juga merasakan kepahitan kenyataan ini.

Sementara itu, dibagian belakang perkemahan pusat, Liu Pang juga bercakap-cakap dengan muridnya.

Dia ingin sekali tahu apa yang telah terjadi dengan muridnya yang tiba-tiba menghilang kemudian secara mendadak muncul pula bersama Yap Kiong Lee.

"Suhu, kita semua harus berterimakasih kepada Yap-twako. Tanpa ada dia yang turun tangan, agaknya kita semua sukar untuk menyelamatkan diri. Aku sendiripun tentu akan celaka kalau tidak ada dia yang menolong."

Dara itu lalu menceritakan pengalamannya malam itu.

Seperti kita ketahui, ia disuruh oleh Liu Pang untuk mencari air dan membuat minuman teh.

Ketika ia pergi kebelakang rumah, kesebuah sumur yang agak jauh terpencil ditempat sunyi dan selagi ia hendak menimba air tiba-tiba ia dikejutkan oleh bayangan orang berkelebat.

Ia mengangkat muka dan kiranya disitu telah muncul seorang laki-laki bertubuh kecil pendek, berpakaian mewah dan tangannya memegang sebatang cambuk.

Biarpun cuaca hanya diterangi oleh bulan sepotong, namun Pek Lian segera mengenal orang itu.

Dia mengenal laki-laki bertubuh pendek kecil bermata sipit yang duduk dipagar sumur itu.

Si cebol itupun memandang tajam lalu tersenyum menyeringai.

"Hi-hi-hik, kita bertemu lagi, nona manis! Ternyata dunia ini tidak begitu luas lagi, hi-hi-hik! dimanakah kawan-kawanmu yang cantik-cantik itu?"

Suaranya juga kecil mencicit seperti suara tikus.

Pek Lian bergidik dan teringat akan barisan tikus dilorong-lorong bawah tanah.

Bagaimanakah iblis ini bisa sampai ditempat ini?

Iblis ini adalah putera tetok-ci Si Tikus Beracun, iblis muda yang berjuluk Siauw-thian-ci.

Apakah orang-orang Ban-kwi-to telah keluar dari sarang mereka semua?

Tentu saja Pek Lian tidak sudi menyerah begitu saja dan tanpa menjawab sedikitpun, ia sudah menyerang dengan pedangnya Siauw-thian-ci tertawa dan menghadapi gadis itu dengan menggunakan cambuknya.

Terjadilah perkelahian yang sengit.

Sebenarnya, ilmu silat dari si katai ini tidaklah berapa tinggi.

Orang-orang Ban-kwi-to memang tidak memiliki ilmu kepandaian yang terlalu hebat.

Mereka hanya mengandalkan penggunaan racun saja, maka Siauw-thian-ci, biarpun menjadi putera dari orang pertama Ban-kwi-to, juga hanya memiliki ilmu silat yang seimbang saja dibandingkan dengan Pek Lian.

Biarpun gerakan cambuknya aneh dan buas, namun menghadapi pedang dara itu, dia tidak mampu mendesaknya.

Setelah perkelahian itu berlangsung puluhan jurus dan belum juga dia mampu menundukkan Pek Lian, Siauw-thian-ci menjadi penasaran dan marah sekali.

"Bocah bandel, engkau belum juga mau menyerah?"

Bentaknya dan tiba-tiba cambuknya meledak ketika dia menyerang.

Pek Lian mengelak dan balas menusuk, akan tetapi dia terkejut sekali melihat sinar hitam meluncur keluar dari dalam cambuk itu!

Ternyata musuh mempergunakan senjata rahasia yang agaknya dipasang didalam cambuk dan kini ada beberapa batang jarum hitam menyambar kearah leher dan dadanya.

Terpaksa ia menarik kembali pedangnya dan memutar senjata itu, menyampok runtuh semua jarum yang menyambar kearahnya.

Pada saat itu, tangan kiri Siauw-thian-ci mengebutkan sehelai saputangan lebar berwarna hitam dan ada debu hijau menyambar kedepan.

Pek Lian terkejut dan meloncat kebelakang, akan tetapi hidungnya sudah mencium bau yang amis memuakkan.

Tak tertahankan lagi ia muntah-muntah karena perutnya mual dan pada saat ia muntah-muntah itu, ujung cambuk Siauw-thian-ci mematuk pergelangan tangannya.

Seketika Pek Lian merasakan lengannya lumpuh dan pedangnya terlepas, dan dilain saat, cambuk panjang itu seperti seekor ular telah membelit tubuhnya.

Ia sudah terbelenggu dan tidak mampu bergerak ketika Siauw-thian-ci menotoknya sambil tertawa-tawa.

Pek Lian tak mampu bergerak lagi ketika ia dipondong dan dilarikan dari sumur itu.

Kiranya tak jauh dari situ terdapat seekor kuda dan tubuhnya lalu ditelungkupkan diatas punggung kuda.

Si cebol sudah meloncat keatas punggung kuda dan melarikan binatang itu.

Pek Lian tidak tahu dibawa kemana ia, akan tetapi akhirnya ia melihat bahwa ia dibawa masuk kedalam pintu gerbang sebuah kota.

Agaknya para perajurit yang berjaga disitu sudah mengenal Siauw-thian-ci karena pintu gerbang dibuka dan para perajurit tertawa-tawa fnelihat si cebol ini datang membawa tangkapan seorang dara cantik.

Sambil tertelungkup melintang diatas punggung kuda, Pek Lian mendengar suara para penjaga itu.

"Hemm, dia sudah mendapatkan seorang gadis cantik lagi. Hampir setiap malam dia selalu mencari pengganti baru!"

"Husssh, jangan keras-keras bicara. Jangan-jangan engkau nanti hanya tinggal tulang-tulang saja digerogoti tikus-tikusnya yang mengerikan. Hiih, kemarin itu untung ada Kwa-taihiap yang mencegahnya, kalau tidak tentu akupun sudah habis dimakan tikus-tikusnya."

Mendengar percakapan itu, Pek Lian merasa ngeri.

Kiranya manusia tikus ini telah bersekutu dengan tokoh Tai-bong-pai dan pasukan asing.

Ia tidak mampu bergerak, akan tetapi matanya dapat mengerling dan ia melihat bahwa si cebol itu menghentikan kudanya didepan sebuah rumah penginapan.

Malam sudah larut dan suasananya sunyi sekali.

Penginapan itupun sudah tutup daun pintunya dan Pek Lian merasa ngeri ketika ia dipondong turun dari kuda, kemudian si katai itu mengetuk daun pintu.

Ketika daun pintu terbuka, ternyata diruangan depan masih terang-benderang.

Disudut ruangan itu nampak sepasang laki-laki dan wanita setengah tua sedang asyik bermain catur.

Tentu saja Pek Lian terkejut sekali ketika mengenal mereka itu.

Suami-isteri cabul dari Ban-kwi-to, Imkan Siang-mo!

Bouw Mo-ko, kakek berusia enam puluh tahun lebih yang kecil kurus itu tanpa menoleh agaknya sudah tahu akan kedatangan Siauw-thian-ci, dan dia menegur.

"Engkau baru datang? Mana paman-paman dan bibi-bibimu yang lain?"

Si Tikus Muda itu melihat paman dan bibi gurunya, menjadi gembira.

"Ah, kiranya paman guru dan bibi guru sudah datang lebih dulu! Aku belum melihat yang lain-lain."

Diam-diam Pek Lian mengeluh.

Ternyata fihak pemberontak agaknya memperoleh bantuan banyak golongan sesat termasuk tokoh-tokoh Ban-kwi-to ini.

Sungguh merupakan lawan berat dan Liu-Bengcu harus cepat diberi tahu akan hal ini.

Akan tetapi bagaimana mungkin ia meloloskan diri dari tangan iblis-iblis ini?

Setelah dia menjalankan biji caturnya dan menanti isterinya mendapat giliran, Bouw Mo-ko menoleh, memandang kepada murid keponakannya.

Pada saat itulah dia baru melihat gadis yang dipanggul oleh Siauw-thian-ci dan seketika dia bangkit berdiri.

"Heiii! Itu adalah gadis tawananku tempo hari yang lolos. Bagus engkau sudah dapat menangkapkannya untukku, ha-ha. Berikan kepadaku!"

Diapun lalu melangkah maju dan mengulur tangan hendak mencengkeram Pek Lian yang tidak mampu bergerak karena tertotok itu dan merampasnya dari panggilan Siauw-thian-ci.

Akan tetapi si cebol itu meloncat kebelakang, mengelak dan memandang marah.

"Susiok, ia ini milikku! Aku yang menangkapnya dan siapapun juga tidak boleh merampasnya!"

Matanya mendelik dan tangan kanannya sudah siap dengan senjata cambuknya, sikapnya mengancam seperti seekor anjing hendak direbut tulang yang sudah berada didepan mulutnya.

"Apa? kau berani melawan dan tidak mentaati susiokmu? Gadis ini milikku, dan engkau hanya membantuku menangkapnya kembali. Berikan!"

"Tidak!"

"Engkau sungguh tidak mau memberikannya kepadaku?"

"Tidak!"

"Bocah keparat, engkau pantas dihajar!"

Bouw Mo-ko menubruk kedepan, tangan kiri meraih kearah tubuh Pek Lian sedangkan tangan kanannya menghantam dengan tangan terbuka kearah kepala murid keponakannya.

Siauw-thian-ci maklum akan kelihaian susioknya ini, akan tetapi dia tidak takut.

Dia meloncat mundur, melempar tubuh Pek Lian yang tak mampu bergerak itu kesudut ruangan dan cambuknya diputar cepat, meledak-ledak membalas serangan paman gurunya.

Paman dan murid keponakan itu segera terlibat dalam perkelahian sengit mati-matian!

Demikianlah watak orang-orang dari golongan sesat.

Untuk memperebutkan sesuatu, mereka tidak segan-segan untuk saling serang, kalau perlu saling bunuh.

Dan anehnya, Hoan Mo-li, nenek gendut galak yang tadi bermain catur bersama suaminya, agaknya tidak perduli atau tidak tahu akan perkelahian itu dan masih enak-enak saja mengerutkan alis memutar otak untuk mengajukan langkah biji caturnya yang tadi terdesak.

Orang-orang golongan sesat memang selalu mendambakan kebebasan dalam kehidupan mereka.

Akan tetapi, terdapat dua macam kebebasan dalam sikap.

kaum sesat ini bersikap bebas semau gue, bebas yang liar dan bebas yang didasari untuk senang dan menang sendiri.

Kebebasan macam ini bukanlah kebebasan namanya karena kebebasan seperti ini merupakan semacam ikatan atau belenggu yang kuat dari nafsu ingin senang sendiri.

Yang dinamakan kebebasan hidup bukan sekedar bebas dari pengaruh pendapat orang lain.

Kebebasan adalah kebebasan yang wajar, bebas dari si aku yang selalu ingin mengejar kesenangan dan mencapai kemenangan sendiri.

Sungguhpun bebas dan tidak terikat oleh apapun, namun tetap saja ada suatu tertib diri yang tidak kaku, yang bukan timbul dari ingin menyenangkan atau ingin disenangkan, ingin menghormat atau dihormat, tertib diri ini tidak mengandung pamrih, melainkan timbul dari hati yang disinari cinta kasih sehingga batin yang demikian itu tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan atau menyusahkan orang lain!

Perkelahian antara dua orang tokoh Ban-kwi-to itu hebat bukan main.

Ilmu silat mereka memang tidaklah amat tinggi, akan tetapi mereka itu mempergunakkan racun!

Dan sekali orang Ban-kwi-to mempergunakan senjata racun, mereka tidak berlaku kepalang tanggung.

Rumah penginapan itu menjadi geger.

Para tamu yang tadinya sudah mengaso dalam kamar, mendengar suara ribut-ribut itu ada yang keluar.

Akan tetapi sungguh celaka bagi mereka yang kamarnya berdekatan dengan ruangan itu, karena diantara para tamu itu ada yang terkena jarum atau pasir beracun yang dikeluarkan oleh dua orang itu.

Mereka yang terkena senjata rahasia beracun ini, langsung roboh dan mendelik dengan nyawa putus!

Apa lagi melihat bermacam binatang kecil seperti kelabang, kalajengking, bahkan beberapa ekor lebah beracun beterbangan, para tamu menjadi panik dan melarikan diri.

Setelah keadaan menjadi semakin ricuh, agaknya barulah Hoan Moli menaruh perhatian.

Inipun karena ia sudah selesai melangkahkan biji caturnya.

"Heii, suami tolol, kini giliranmu menggerakkan biji catur!"

Teriaknya dan ketika ia menoleh dan melihat suaminya berkelahi melawan Siauw-thian-ci, ia mengerutkan alisnya.

"Siauw-thian-ci, tikus kecil keparat. Hentikan ribut-ribut ini dan biarkan suamiku melanjutkan permainan caturnya denganku! Suami tolol, kalau engkau tidak cepat melanjutkan permainan, kupatahkan hidungmu!"

Akan tetapi, dua orang yang sedang "gembira"

Saling serang amat asyiknya itu, mana mau mendengarkan ucapan si nenek galak?

Mereka masih terus saling serang dan mengobral senjata-senjata dan binatang-binatang berbisa mereka seolah-olah hendak memamerkan kehebatan masing-masing.

Hoan Moli menjadi kesal rupanya dan iapun menoleh kearah Pek Lian yang masih rebah miring disudut setelah tadi dilemparkan oleh Siauw-thian-ci.

Maka bangkitlah Hoan Moli dari tempat duduknya, sekali loncat ia sudah mendekati Pek Lian.

"Hi-hik, si genit ini kiranya yang menjadi gara-gara sampai paman dan keponakan saling hantam sendiri. Dasar kaum laki-laki, mata keranjang dan tidak boleh melihat perempuan cantik. Dari pada sekeluarga berkelahi karena perempuan, lebih baik perempuan genit ini kubunuh saja!"

Ia mengangkat tangan dan Pek Lian sudah menanti saat kematiannya ditangan wanita gendut itu.

Akan tetapi Hoan Moli menahan tangannya, dan menatap wajah Pek Lian yang manis itu sambil tertawa ha-ha-hi-hi.

"Wajah begini cantik, pipi begini halus, tentu saja laki-laki mata keranjang ingin mencium dan membelainya. Coba hendak kulihat apakah mereka masih akan memperebutkan dirimu kalau mukamu kubikin rusak dan menjadi buruk. hi-hi-hik!"

Wanita itu terkekeh-kekeh seolah-olah ia memperoleh pikiran yang amat menyenangkah dan lucu.

Dikeluarkannya sebuah botol kecil berisi cairan kuning.

Pada saat itu, Pek Lian sudah berhasil membebaskan diri dari pengaruh totokan dan jalan darahnya sudah pulih kembali, membuat ia mampu bergerak.

Pada saat wanita gendut itu membuka tutup botol dan menuangkan cairan kuning kearah wajahnya, Pek Lian cepat menggulingkan tubuhnya sehingga beberapa tetes cairan kuning yang tadinya dimaksudkan untuk mengenai mukanya kini menetes keatas lantai.

Terdengar bunyi desis dan nampak asap mengepul, dan permukaan lantai itu menjadi berlubang-lubang seperti terbakar!

Pek Lian bergidik ngeri.

Kalau cairan kuning itu tadi mengenai mukanya, tentu kulit mukanya yang dimakan cairan itu dan mukanya akan berlubang-lubang dan menjadi muka setan yang amat menjijikkan!

Sementara itu, Hoan mali terkekeh girang melihat gadis itu bergulingan dengan muka ngeri ketakutan.

Dikejarnya gadis itu sambil mengacung-acungkan botol yang isinya masih setengahnya lebih.

Melihat orang tersiksa merupakan kesenangan tersendiri bagi nenek ini.

Melihat orang ketakutan karena ancaman sik-saan amat menggembirakan hatinya.

Agaknya seperti itulah setan-setan penjaga neraka kalau menyiksa orang berdosa, seperti digambarkan dalam dongeng-dongeng lama.

Tanpa kita sadari, sifat atau perasaan sadis seperti ini, yaitu merasa gembira melihat mahluk atau orang lain ketakutan atau tersiksa atau menderita, agaknya menjadi semacam penyakit yang menghinggapi diri kita masing-masing.

Kalau kita mau mengamati dengan jujur, akan nampaklah penyakit itu melekat dibatin kita.

Kitapun selalu merasa senang atau gembira melihat mahluk atau orang lain tersiksa, terutama sekali kalau ada kebencian dalam hati kita terhadap mahluk atau orang lain itu, kebencian yang timbul dari perasaan dirugikan.

Kalau kita mau membuka mata melihat dengan jujur, bukankah ada rasa gembira dalam hati melihat mahluk-mahluk yang merugikan kita seperti nyamuk, kutu busuk dan sebagainya kita bunuh perlahan-lahan, kita siksa sebagai pelam-piasan dari pada dendam karena kita diganggu?

Bukankah ada rasa gembira atau girang dalam hati kita, diluar kesadaran kita, kalau kita mendengar bahwa orang yang kita benci, atau bangsa yang kebetulan sedang kita musuhi, menderita malapetaka?

Bukankah hati kita bersorak gembira kalau kita melihat atau mendengar orang yang tidak kita sukai, penjahat-penjahat dalam film atau cerita misalnya, menerima hukuman dan siksaan yang amat sadis?

Bukankah kadang-kadang datang keinginan atau harapan dalam batin kita melihat orang yang kita benci mengalami penderitaan seberat-beratnya?

Hoan Moli terus mengejar Pek Lian.

Kalau ia mau, dari jauhpun dapat saja ia melemparkan botol itu agar isinya tumpah mengenai muka Pek Lian.

Akan tetapi ia tidak akan puas kalau hanya demikian.

Ia ingin melihat jelas ketika tetesan cairan kuning beracun itu mengenai muka yang cantik itu dan menggerogoti kulitnya, ingin melihat gadis itu menggeliat-geliat seperti cacing terkena panas, maka iapun terus mengejar.

Akhirnya, ia dapat menangkap Pek Lian.

Dengan tangan kirinya ia menjambak rambut gadis itu, memaksa muka yang pucat dengan mata terbelalak ngeri itu terlentang dan ia sudah siap menuangkan isi botol sambil terkekeh-kekeh.

"Wuuuuutttt... plakkk!"

Botol kecil itu terlempar dan mengenai dinding, isinya tumpah semua, menyebabkan dinding dan lantai mengeluarkan asap dan berlubang-lubang.

Kiranya pada saat yang amat berbahaya bagi Pek Lian itu, nampak sesosok bayangan putih berkelebat memasuki ruangan dan pemuda ini cepat menendang kearah tangan Hoan Moli yang memegang botol sehingga botolnya terlempar.

Pek Lian cepat menggulingkan tubuhnya, akan tetapi karena ia tadi amat ketakutan, tubuhnya menjadi lemas dan ia hampir pingsan.

Pemuda itu adalah Yap Kiong Lee.

Kebetulan sekali pemuda yang sedang mencari-cari sutenya inipun bermalam ditempat penginapan itu, akan tetapi dia bersembunyi saja dikamarnya dan diam-diam melakukan penyelidikan ketika dia melihat betapa suami-isteri cabul dari Ban-kwi-to itu berada disitu.

Ketika terjadi keributan, diapun keluar dan terkejutlah dia melihat Pek Lian terancam bahaya.

Maka diselamatkannya Pek Lian dari ancaman mengerikan itu.

Melihat Pek Lian masih terbelenggu kedua tangannya dan nampak lemas, Kiong Lee cepat menyambar tubuhnya dan dipanggulnya tubuh dara itu dipundak kirinya.

Sementara itu, Hoan Moli tadi terkejut sekali.

Lengannya seperti patah rasanya dan racun dibotol itu sudah terbuang sia-sia.

Marahlah wanita ini dan iapun mengeluarkan teriakan seperti seekor serigala, dan iapun menyerbu dan menyerang Kiong Lee dengan ganas, dengan kedua tangan membentuk cakar.

Akan tetapi dengan tenang saja Kiong Lee mengelak dan ketika kaki kirinya menyambar, Hoan Moli nyaris terkena tendangan.

Barulah wanita itu terkejut dan maklum bahwa ia menghadapi lawan yang lihai.

Sementara itu, Bouw Mo-ko dan Siauw-thian-ci yang tadinya saling hantam sendiri secara mati-matian, kini tiba-tiba saja menghentikan perkelahian mereka dan serentak keduanya membantu Hoan Moli mengeroyok Kiong Lee!

Biarpun dia seorang ahli pedang pasangan, karena tangan kiri memanggul Pek Lian dipundaknya, Kiong Lee hanya mencabut sebatang pedang saja dan dengan pedang ini dia mempertahankan diri dari amukan tiga orang itu.

Sebetulnya, tingkat kepandaian Kiong Lee sudah jauh lebih tinggi dari pada mereka dan biarpun pemuda perkasa ini memanggul tubuh Pek Lian, dia tidak akan kewalahan menghadapi pengeroyokan mereka bertiga.

Akan tetapi, musuh-musuhnya adalah iblis-iblis yang licik dan mempergunakan senjata rahasia dan racun-racun berbahaya.

Terpaksa Kiong Lee harus mengerahkan tenaga dan memainkan pedangnya untuk menangkis dan menolak semua racun.

Melihat orang-orang yang hendak menonton, Kiong Lee menyuruh mereka menyingkir dan menjauhi ruangan itu.

Akan tetapi tetap saja ada beberapa orang yang terhuyung dan roboh karena ruangan itu kini penuh dengan asap dan hawa yang berbau memuakkan dan mengandung racun-racun ganas.

Biarpun Kiong Lee amat lihai, Bau memuakkan dan mengandung hawa beracun itu membuat dia repot dan kepalanya terasa pusing.

Dia melihat bahwa Pek Lian juga sudah pingsan karena bau keras itu.

Maka diapun lalu memutar pedangnya membuat tiga orang lawan mundur dan dia meloncat keluar ruangan itu, terus melarikan diri.

Tiga orang Ban-kwi-to yang merasa penasaran melakukan pengejaran, akan tetapi dalam hal ilmu meringankan tubuh dan berlari cepat, mereka bertiga itu masih belum mampu menandingi Kiong Lee sehingga belum juga dapat menyusul pemuda ini yang menyelinap diantara rumah-rumah orang.

Terjadi kejar-kejaran dan tiga orang tokoh Ban-kwi-to itu berteriak-teriak disepanjang jalan bahwa ada mata-mata musuh, anak-buah Liu Pang, memasuki kota.

Teriakan-teriakan ini menimbulkan kegemparan dan banyak perajurit mulai berkeliaran ikut mencari diseluruh kota itu.

Di antara banyak perajurit yang berkeliaran dan ubek-ubekan mencari kesemua penjuru kota itu, terdapat dua orang berpakaian perwira yang ikut pula mencari-cari.

Mereka ini bukan lain adalah Kiong Lee dan Pek Lian!

Setelah Pek Lian siuman dari pingsannya, mereka berdua lalu menawan dua orang perwira, melucuti pakaian mereka dan menotok lalu membelenggu dan menyumpal mulut mereka, dan mengenakan pakaian seragam perwira itu.

Dengan penyamaran ini, Kiong Lee dan Pek Lian bebas berkeliaran tanpa ada yang menaruh curiga.

Kiong Lee dan Pek Lian akhirnya tiba dipintu gerbang sebelah selatan.

Dengan sikap gagah Kiong Lee menghampiri para penjaga pintu gerbang dan memerintahkan agar dia dan Pek Lian dibukakan pintu karena mereka berdua hendak keluar dari pintu gerbang itu.

"Ada mata-mata berkeliaran didalam kota. Kami harus menutup pintu gerbang dan tidak membiarkan seorangpun keluar. Demikian perintah atasan!"

Bantah komandan jaga.

"Siapa yang tak tahu akan perintah itu?"

Bentak Kiong Lee.

"Kamipun sudah mendengarnya. Akan tetapi, kami mempunyai dugaan keras bahwa para penjahat mata-mata itu sudah meninggalkan kota dan kami ingin melakukan pengejaran. Kalau kalian mencegah kami dan sampai mata-mata itu jauh meninggalkan kota, kami akan melaporkan hal ini kepada atasan!"

Mendengar ancaman Kiong Lee ini, para penjaga pintu gerbang menjadi bingung.

Akhir-akhir ini memang banyak pasukan datang dan mereka tidak mengenal semua perwira yang baru tiba.

Pintu gerbang lalu dibuka perlahan-lahan dan kedua orang pendekar itu segera cepat menyelinap keluar dan berlari cepat.

Pada saat itu, serombongan pasukan juga mendatangi pintu gerbang.

Jenderal Lai yang memimpin pasukan itu untuk ikut mencari, menjadi marah melihat pintu gerbang dibuka.

"Hei, siapa berani lancang membuka pintu gerbang? Bukankah sudah kami perintahkan agar semua pintu gerbang ditutup dan tak seorangpun boleh lolos keluar?"

Bentaknya. Dengan muka pucat komandan jaga lalu menghadap dan memberi hormat kepada panglima itu.

"Harap paduka maafkan. Kami membuka pintu hanya untuk membiarkan dua orang perwira keluar karena mereka hendak mengejar mata-mata yang melarikan diri,"

Panglima itu melotot dan marah sekali.

"Tolol kamu! Merekalah mata-mata itu!"

Dan diapun menyuruh pasukan melakukan pengejaran keluar kota.

Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 4

Baca Juga: Gelang Kemala 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert